|
,,Dengan latihan dari delapan tahun aku melawan Hoe Koet Sin Tjiang," ia berkata kemudian. ,,Aku tidak menjangka hebatnja pukulan Thian Ok itu berada diluar dugaanku, maka sjukurlah aku masih dapat melindungi tulang-tulangku jang sudah tua ini. Mulai saat ini aku tidak mau lagi muntjul dalam dunia Kang-ouw!"
|
|
|
[ada bagian yang hilang] Lie It girang berbareng kaget. Hian Song sudah lantas bekerdja terlebih djauh. Dengan hanja satu tabasan, belengguan putus, hingga ia mendjadi merdeka. ,,Lekas, ambil pakaiannja Maitjan dan pakai itu!" kata Hian Song.
|
|
ITULAH djeritannja Lie It, jang terluka. Perhatian semua orang tertarik oleh tingkah polanja Pek Yoe Siangdjin, jang menjangka Hee-houw Kian, hingga dia bentrok dengan Hoe Poet Gie, dengan begitu, pertempuran diantara Lie It dan Tat So seperti dibiarkan sadja, tidak tahunja, pertempuran itu berlangsung terus, dan dengan hebat, hingga tahu2 terdengarlah djeritan si pangeran.
|
|
BARU sekarang Lie It sadar. ,,Ah, kiranja dialah jang menjerang Thia Tat So dengan djarumnja...!" katanja dalam hati. Tapi ia heran. Maka pikirnja pula : „Mengapa dia menjuruh aku mesti lekas menjingkir dari sini ? Mungkinkah rahasiaku sudah terbuka ?" Ia pun mendjadi bingung.
|
|
DIWAKTU magrib, tibalah mereka dikota radja. Langsung mereka menudju kegedung tetamu dimana lantas ada orang jang menjambut, untuk melajani mereka.
|
|
„SAUDARA Tay, aku tidak menjangka sekali disini kita dapat bertemu. Aku djusteru hendak berbitjara dengan kau."
|
|
BAGIAN : 69 LIE IT DALAM PENJAMARAN „KAU tadi membilang ada orang jang akan memudjikanmu, siapakah dia?" tanja Lie It. ,,Dialah seorang gagah Rimba Persilatan jang aku kenal begitu lekas aku tiba digurun Utara ini." mendjawab orang jang ditanja.
|
|
BAGIAN : 67 KAROSI SELANG tiga djam, in melihat tendanja mereka itu semuanja belasan buah, dan satu jang ditengah, didepannja didjaga oleh dua pengawal.
|
|
BAGIAN : 65 PENINGGALAN GURUNJA HIAN SONG menjaksikan itu semua, ia tidak berani mengediar imam itu. Ia menjangka orang masih tangguh sebab sudah terluka masih dapat melukakan Siok Tow, hingga ia memikir haruslah ia tjepat menolong soeheng itu.
|
|
BAGIAN : 63 YOE TAM SIN NIE DIDALAM ada sinar terang dari sebuah liang angin. Sinar itu membikin Hian Song dapat melihat segala apa dengan njata. Lantas ia mendjadi heran. Ia melihat sebuah medja batu diatas mana ada bertjokol seorang niekouw atau pendeta wanita, dikitari sekosol batu marmer hingga dia mirip patung dewi atau malaikat.
|
|
BAGIAN : 61 TOK SIAN LIE BERSAMA BIAT TOUW SIN KOEN IA terus mengikuti djedjak orang. Ia memandjat makin tinggi, sampai disebuah puntjak. Di sini ia melihat sebuah rumah diantara banjak pepohonan bagaikan rimba.
|
|
BAGIAN : 58 MENGEDJAR SI PENTJULIK TAPI tidak dapat si nona berpikir lama-lama, selagi lawanan pengungsi itu kaget dan heran dan berbitjara ramai satu dengan lain, ia lompat bangun untuk lari menjusul. Karena kudanja dipakai si wanita Uighur, terpaksa ia lari dengan memakai ilmu ringan tubuhnja.
|
|
BAGIAN : 57 ANAK SI WANITA UIGHUR DI TJULIK IA BERSYUKUR Lie It tidak terbinasa didalam djurang, ia berduka karena mereka berpisah. Tapi, berpisah hidup itu suatu penderitaan hebat. Maka selama delapan tahun itu, entah beberapa kali ia pernah mengutjurkan airmata.
|
|
BAGIAN : 56 SI WANITA UIGHUR KUDA PUTIH dapat lari keras, selang dua hari, Hian Song sudah dapat melihat bagian tertinggi dari gunung Thian San mendjulang kelangit, masuk kedalam mega. Djusteru hatinja lega, diluar dugaannja, dihari ke-tiga, tjuatja berubah dengan tiba-tiba.
|
|
BAGIAN : 55 PERDJALANAN DI GUNUNG THIAN SAN SESUDAH delapan tahun itu maka datanglah pula bulan kesembilan awal musim rontok jang sama, saat dari musnanja rumput-rumput di tanah perbatasan.
|
|
BAGIAN : 54 MENGANTAR HONG BWE KHIM LIE IT, dan si nona tidak mengedjar. Lie It lantas memasang mata. Ia mau tjari si katjung hweeshio jang djahat, tetapi dia itu tidak nampak mata hidungnja.
|
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
|
|
Page 1 of 32 |