[back to topmdi.net]

Sejuknya Kampung Halaman

Welcome to topmdi - ebook collection 


Seri Arya Manggada IV
Sejuknya Kampung Halaman Oleh : SH MINTARDJA
Jilid 1
SINAR matahari pagi yang cerah telah menyegarkan tubuh Manggada dan Laksana yang berjalan di belakang Ki Pandi. Mereka melintasi bulak panjang yang digelari padi-padi muda. Yang nampak dari ujung sampai ke ujung cakrawala adalah warna yang hijau segar. Satu-satu titik embun yang masih bergayut nampak berkilat-kilat memantulkan cahaya matahari.
Ki Pandi yang bongkok itu berjalan sambil menundukkan kepalanya. Nampaknya memang ada yang sedang direnungkannya. Sementara itu di belakang mereka, Manggada dan Laksana masih juga sempat berkelakar Dengan dahi yang berkerut Laksana berkata "Sebenarnya aku merasa kecewa terhadap sikap Winih" "Kenapa?” bertanya Manggada "bukankah ia bersikap baik terhadap kita. Jika kelak kita kembali, maka ia masih akan tetap menganggap kita sebagai kakaknya sendiri" "Itulah sebabnya aku menjadi kecewa?” "Kenapa?” desak Manggada.
"Aku lebih senang jika kelak, apabila kita kembali, kita, setidak-tidaknya aku, dianggap sebagai orang lain. Namun diterima dengan baik” jawab Laksana. "Aku tidak tahu maksudmu” gumam Manggada. "Ah, kau. Penalaranmu memang tumpul. Kau tahu, jika aku dianggap sebagai kakaknya, aku akan tetap saja menjadi kakaknya. Tetapi jika aku dianggap orang lain, maka mungkin, hanya mungkin, kedudukanku terhadap Winih akan dapat berubah. Ia terlalu cantik untuk menjadi adikku" Manggada tertawa. Katanya “Kau memang gila. Kau kira kau pantas bermimpi seperti itu" Laksanapun tertawa pula, sehingga Ki Pandipun telah berpaling sambil bertanya “Ada apa?" Manggadalah yang menjawab “Laksana sedang bermimpi" "Mimpi apa?” bertanya Ki Pandi pula. "Mimpi tentang seorang gadis yang cantik. Tetapi gadis itu berilmu sangat tinggi, sehingga jika gadis itu marah, maka Laksana di hadapannya akan menjadi seekor tikus di hadapan seekor kucing yang sedang menyusui dan bahkan sedang lapar” jawab Manggada.
Ki Pandipun tersenyum pula. Ia segera tahu, apa yang sedang dijadikan bahan kelakar anak-anak muda itu. Karena itu, maka iapun berkata “Aku tahu. Mimpi yang demikian adalah mimpi yang wajar bagi anak-anak muda. Jika seorang anak muda ingin melihat mimpinya menjadi kenyataan, maka ia harus berjuang. Bukan menunggu seperti menunggu titiknya embun di siang hari” "Ah, tidak Ki Pandi” jawab Laksana "Manggada berbohong. Aku sama sekali tidak bermimpi, karena bermimpipun aku tidak berani" "Kenapa tidak berani?” bertanya Ki Pandi justru sambil tertawa. "Aku bukan apa-apa Ki Pandi. Eh, sepantasnya aku menjadi cantriknya” jawab Laksana. "Jangan begitu” berkata Ki Pandi. Lalu katanya “Aku tahu bahwa kalian tidak bersungguh-sungguh. Tetapi pada kesempatan lain, jika kalian bersungguh-sungguh, maka kalian harus berbuat sesuatu" "Berbuat apa?” bertanya Manggada. "He, nampaknya kau yang justru lebih dahulu ingin berbuat sesuatu itu” potong Laksana.
Manggada tertawa. Katanya “Tidak. Aku hanya ingin tahu. Seperti yang dikatakan oleh Ki Pandi, mungkin pada kesempatan lain aku menjadi seekor tikus" Ki Pandi yang kemudian berjalan di antara kedua orang anak muda itu kemudian berkata “Nah, anak-anak muda. Agar kalian tidak sekedar menjadi tikus, maka kalian harus belajar menjadi kucing" Manggadalah yang menyahut “Tetapi berapa panjang waktu yang diperlukan begi seekor tikus untuk menjadi seekor kucing" Ki Pandi menepuk bahu Manggada sambil berkata “Kalian telah dihinggapi penyakit rendah diri" Manggada memang tidak membantah. Katanya “Di lingkungan keluarga Kiai Gumrah, kami berdua benar-benar merasa tidak berarti apa-apa” "Kalian memang salah menilai diri kalian” berkata Ki Pandi "kalian mengira bahwa harga diri seseorang semata-mata ditentukan oleh kemampuannya dalam olah kanuragan. He, bukankah Winih itu dapat mengatakan kepada kalian bahwa kepribadian seseorang merupakan bagian dari harga diri seseorang" Kedua orang anak muda itu mengangguk-anguk.
Sementara Ki Pandi berkata selanjutnya "Sebaiknya kalian mulai sekarang berusaha untuk menghapus perasaan rendah diri itu. Jika perasaan itu terlanjur barakar di dalam diri kalian, maka akibatnya akan menjadi kurang baik bagi kalian. Kalian akan terpisah, dan bahkan memisahkan diri dari pergaulan yang seharusnya tidak perlu. Kalian membayang-bayangi diri kalian dengan berbagai macam penilaian yang tidak berarti. Kau ingin satu contoh yang ujud tentang seseorang yang mempunyai perasaan rendah diri" Kedua orang anak muda itu tidak menjawab. Sedangkan Ki Pandi berkata selanjutnya "Nah, aku adalah contoh yang dekat di hadapan kalian. Aku adalah seorang yang ditelan oleh perasaan rendah diri itu. Sejak aku menjadi cacat, maka aku merasa tidak pantas lagi bergaul dengan banyak orang. Aku jarang sekali berkumpul dengan anak-anak muda sebayaku waktu itu. Aku lebih senang menyendiri dan hidup di dunia angan-angan. Selebihnya aku telah memaksa diri untuk menguasai berbagai macam ilmu. Dalam perguruanpun aku masih saja dibayangi oleh perasaan rendah diri itu. Untuk menutupinya, maka aku berusaha untuk menjadi salah seorang di antara murid-murid terbaik diperguruanku" Ki Pandi itu berhenti sejenak. Wajahnya nampak menjadi bersungguh-sungguh. Lalu katanya pula "Namun betapapun juga aku memiliki ilmu yang tinggi, tetapi hidupku tidak banyak berarti, justru karena kepribadianku rapuh. Aku tetap terasing dari pergaulan. Dan aku tetap menjadi seseorang yang lain dari kehidupan yang wajar" "Tetapi Ki Pandi sudah berbuat banyak untuk memerangi dunia hitam” berkata Manggada. "Tetapi gerakku sangat terbatas. Kadang-kadang aku memang merasa diriku menjadi pahlawan. Tetapi perasaan itu adalah sekedar untuk mengimbangi perasaan rendah diriku, sehingga justru karena itu, maka aku seakan-akan menjadi manusia lain dari kewajaran hidup seseorang. Bahkan mungkin seperti hantu yang sesekali muncul kemudian menghilang lagi" Kedua anak muda itu terdiam. Mereka tidak tahu, apa yang harus mereka katakan. Sementara itu Ki Pandi masih berkata “Sekarang aku melihat anak-anak muda yang juga merasa rendah diri. Tetapi aku tahu, bahwa kalian merasa rendah diri hanya pada satu sisi, yaitu pada sisi olah kanuragan. Jika apa yang kalian anggap kekurangan itu sudah terangkat, maka kalian tentu tidak akan merasa rendah diri lagi. Berbeda dengan aku. Apapun yang dapat aku perbuat, tetapi cacat ini akan selalu melekat padaku, sehingga aku akan tetap merasa rendah diri untuk sepanjang umurku" "Tetapi bukankah Ki Pandi menyadari bahwa perasaan rendah diri itu seharusnya disingkirkan, karena tidak berarti apa-apa dan bahkan hanya merugikan diri sendiri, sebagaimana Ki Pandi nasehatkan kepada kami?” bertanya Laksana. Ki Pandi itu tersenyum. Katanya "Memang agaknya lebih mudah untuk menasehati orang lain daripada menasehati diri sendiri" Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun keduanya tidak bertanya lebih banyak lagi. Untuk beberapa saat mereka sempat merenungi diri mereka, bagaimana mereka merasa sangat kecil di antara raksasa-raksasa di dunia olah kanuragan. Bahkan Winih, gadis yang cantik itupun memiliki ilmu yang tinggi pula. Sementara itu, matahari telah memanjat langit semakin tinggi. Panasnya terasa mulai menggatalkan kulit. Di langit, awan yang tipis mengalir tertiup angin semilir. Daun pohon turi yang tumbuh di sebelah menyebelah jalan menggeliat perlahan-lahan. Dalam pada itu, tiba-tiba saja Manggada bertanya “Ki Pandi. Apakah Ki Pandi mengetahui tentang tombak dan payung yang disimpan oleh Kiai Gumrah itu" Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Aku tidak tahu pasti. Tetapi menurut dugaaanku, pusaka-pusaka itu adalah lambang perguruan mereka" "Tetapi menurut Kiai Gumrah, ada tanda-tanda dari pemilik pusaka-pusaka itu. Hanya mereka yang memiliki tanda-tanda itulah yang akan dapat mengambil pusaka-pusaka itu” desis Laksana. "Mungkin benar. Tetapi tanda-tanda yang dimaksud justru dibawa oleh salah seorang atau dua murid yang lain. Mungkin Kiai Padma yang disebut juragan itu. Mungkin orang lain” jawab Ki Pandi. "Tetapi apa hubungannya dengan pendapat Panembahan Lebdagati bahwa jika sampai purnama besok lusa pusakapusaka itu belum dimandikan dengan darah yang masih mengalir di jantung, maka tuahnya akan hilang?” bertanya Manggada. "Bukankah kau tahu latar belakang kepercayaan Panembahan itu? Tetapi mungkin ada maksud lain yang dapat dipertimbangkan. Mungkin Panembahan itu memang berniat membunuh orang-orang yang sementara dapat bekerja bersamanya. Dengan alasan mempertahankan tuah pada pusaka-pusaka itu, maka ia akan menusuk setiap jantung dari orang-orang yang untuk sementara dapat bekerja bersamanya merampas pusaka-pusaka itu. Tetapi aku yakin, bahwa bukan Panembahan itu saja yang merencanakan pengkhianatan seperti itu. Tentu juga yang lain-lain. Kiai Kajar, pemimpin Padepokan Susuhing Angin, Kiai Windu Kusuma dan orangorang yang terlibat di dalamnya, karena pusaka-pusaka itu memang benar-benar benda yang harganya sangat mahal. Emas dan permata yang melekat pada pusaka-pusaka itu akan dapat dipergunakan untuk membeli sebuah negeri" "Tetapi darimana Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya mendapatkan benda-benda itu" "Aku tidak tahu pasti. Tetapi sebagaimana pernah aku dengar tanpa mengetahui kebenarannya, bahwa perguruan Kiai Gumrah itu didirikan oleh seorang bangsawan keturunan Majapahit. Pusaka-pusaka itu tentu juga berasal dari Majapahit jika berita yang aku dengar itu benar” jawab Ki Pandi. Manggada dan Laksana menganguk-angguk pula. Namun mereka tidak bertanya lagi. Sehingga untuk sesaat kemudian, merekapun berjalan sambil berdiam diri. Dalam pada itu, haripun beringsut dari waktu ke waktu. Ketika matahari mulai menuruni sisi langit, maka ketiga orang itu telah singgah di sebuah kedai yang terhitung ramai. Beberapa orang telah singgah di kedai itu ketika Ki Pandi, Manggada dan Laksana melangkah masuk. Tetapi ketika Manggada dan Laksana akan melangkah ke tengah-tengah ruangan kedai itu, Ki Pandi menggamit mereka sambil berkata “Kita duduk di sudut itu saja" "Kenapa?” bertanya Manggada. "Tidak menjadi perhatian banyak orang” jawab Ki Pandi. Manggada dan Laksana tidak membantah. Merekapun mengikut Ki Pandi yang memilih tempat di sudut sebagaimana kebiasaan Ki Pandi yang lebih senang menyendiri. Meskipun demikian, ada juga beberapa orang anak muda yang memperhatikannya. Nampaknya justru anak-anak muda dari lingkungan orang berada. Sambil sekali-sekali memandang Ki Pandi, mereka menahan tertawa mereka disela-sela bisik-bisik lirih. Namun kadang-kadang suara tertawa mereka meledak tanpa dikendalikan lagi. Namun nampaknya Ki Pandi tidak menghiraukan mereka. Kepada Manggada dan Laksana ia berdesis “Aku sudah terlalu sering menjadi bahan tertawaan. Dan itu membuat aku semakin merasa rendah diri" "Aku akan membungkam mulut mereka yang tertawa itu” desis Laksana. Manggada sudah menjadi berdebar-debar bahwa Laksana benar-benar akan membuat keributan. Tetapi Ki Pandi sendirilah yang mencegahnya "Sudahlah. Aku merasa bahwa ujudku memang pantas untuk ditertawakan. Tetapi aku tidak kenal mereka dan mereka tidak kenal kau. Besok aku tidak akan bertemu dengan mereka lagi. Karena itu, biarkan saja mereka" Laksana yang sudah siap untuk bangkit berdiri, menarik nafas dalam-dalam. Dicobanya untuk mengendapkan kembali perasaannya yang bergejolak. Namun ternyata Ki Pandi sempat menikmati minuman dan makanan yang dipesannya. "Jarang sekali aku sempat mendapatkan minuman dan makanan seperti ini” berkata Ki Pandi "biasanya aku minum air dari belik atau pancuran. Kemudian makan apa saja yang diketemukan. Buah-buahan dan akar-akaran. Namun sekalisekali juga nasi dengan garam. Jika aku kembali ke rumah Ki Ajar Pangukan, maka aku dapat makan lebih teratur" Kedua anak muda itu termangu-mangu sejenak. Dengan dahi yang berkerut Manggada bertanya “Dimana Ki Ajar Pangukan sekarang" "Ia masih tetap berada di rumahnya yang dahulu. Ia tidak berpindah-pindah. Tetapi seperti aku, Ki Ajar memang sering mengembara. Namun sekali waktu, kami berada bersamasama lagi di rumah itu” jawab Ki Pandi. Manggada mengangguk kecil. Katanya “Sekali waktu aku ingin bertemu kembali dengan Ki Ajar" "Besok pada suatu saat, kita datang ke rumahnya” sahut Ki Pandi. Namun Laksana hampir tidak dapat memperhatikan pembicaraan itu. Perhatiannya justru tertuju kepada anakanak muda yang masih saja memperhatikan Ki Pandi sambil sekali-sekali tertawa tertahan. "Marilah” berkata Ki Pandi "jika kalian sudah cukup, kita tinggalkan saja tempat ini" Laksanalah yang kemudian berdiri dan melangkah mendapatkan pemilik kedai itu. Demikianlah, setelah membayar harga makanan dan minumannya, maka ketiga orang itu telah meninggalkan kedai itu. Tanpa berpaling lagi, Ki Pandi melangkahi tlundak pintu dan turun ke halaman diikuti oleh Manggada dan Laksana. Ketiga orang itupun menepi ketika mendengar derap kaki beberapa ekor kuda. Ketika mereka berpaling, ternyata anakanak muda di kedai itulah yang melarikan kuda mereka mendahului Ki Pandi, Manggada dan Laksana. Ketiganya harus menutup hidung mereka karena debu yang kelabu berhamburan di belakang kaki-kaki kuda itu. Mereka bertiga masih mendengar anak-anak muda itu tertawa berkepanjangan. Sementara Ki Pandi berusaha untuk menghibur dirinya sendiri "Mereka tidak mentertawakan aku" Beberapa saat kemudian, mereka telah berada kembali di sebuah bulak yang terhitung panjang. Sementara matahari sudah menjadi semakin rendah. Di kejauhan mereka melihat hutan yang terbentang memanjang kearah Barat. Didepan hutan itu terdapat gumukgumuk kecil yang ditumbuhi gerumbul-gerumbul perdu yang membatasinya dengan daerah persawahan. "Anak-anak muda” berkata Ki Pandi "hutan itu sangat menarik perhatianku. Sudah beberapa kali aku berada di dalamnya untuk sekedar mengamati isinya. Kedua ekor harimauku juga ada di hutan itu" "Jadi Ki Pandi sudah sering pergi ke hutan itu?” bertanya Manggada. "Ya. Jika kalian bersedia, kita akan bermalam di hutan itu malam nanti” ajak Ki Pandi. Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Dengan ragu-ragu Manggada bertanya kepada adik sepupunya itu "Bagaimana jika kita bermalam di hutan itu semalam sebagaimana dikatakan oleh Ki Pandi" "Aku tidak berkeberatan” jawab Laksana. "Baiklah” berkata Ki Pandi "kita akan langsung menuju ke hutan itu" Demikianlah, maka bertiga mereka telah meninggalkan jalan yang mereka lalui. Mereka telah meloncati tanggul parit, mengikuti jalan pintas sepanjang pematang sawah menuju kepadang perdu dengan gumuk-gumuk kecil yang berserakan. Hanya ada satu dua batang pohon yang agak besar tumbuh disela-sela gumuk-gumuk kecil itu. Namun semakin dekat dengan hutan yang lebat itu, maka pepohonanpun menjadi semakin banyak. Sebelum matahari terbenam, mereka telah berada di dalam hutan itu. Meskipun matahari masih nampak di langit, tetapi semakin dalam mereka memasuki hutan itu, maka rasarasanya malam sudah mulai turun. Tetapi dari sela-sela daun pepohonan yang rimbun masih nampak berkas-berkas cahaya matahari yang berhasil menyusup menimpa pohon-pohon raksasa yang bertebaran di antara beribu-ribu batang pohon yang seakan-akan saling berdesakan. Manggada dan Laksana bukan untuk yang pertama kali memasuki hutan-hutan yang lebat. Ketika mereka masih berguru, mereka sudah sering mencari harimau untuk dikuliti. Kulitnya dapat mereka jual kepada beberapa orang pedagang yang memang mencari kulit harimau sebagai barang dagangan. Namun pamannyapun kemudian telah menasehatkan agar mereka menghentikan kegiatan itu. Kemudian Manggada dan Laksana juga telah menyeberangi hutan Jatimalang bersama Ki Wiradadi yang kehilangan anak gadisnya. Justru di seberang hutan itulah Manggada dan Laksana bertemu dengan Ki Pandi dan Ki Ajar Pangukan. Karena itu, keduanya memang tidak terlalu canggung berada di dalam hutan yang terhitung lebat itu. "Hutan ini merupakan hutan yang jarang disentuh kaki manusia” berkata Ki Pandi. Lalu katanya selanjutnya "Hutan ini termasuk hutan yang lebat, sebagaimana hutan Jatimalang. Tetapi hutan ini tidak menyembunyikan satu lingkungan sebagaimana yang terdapat di belakang hutan Jatimalang" "Jadi apa yang menarik dari hutan ini?” bertanya Laksana. "Tidak seperti hutan Jatimalang yang miring karena letaknya di kaki gunung. Hutan ini datar. Ada rawa-rawa di dalamnya. Pohon-pohon raksasa yang jumlahnya lebih banyak. Batu-batu besar yang berserakan di dalamnya sebagaimana terdapat gumuk-gumuk kecil di padang perdu itu. Sedangkan dikedung bagian Barat hutan ini terdapat sarang sejenis buaya kerdil yang liar dan buas" "Buaya kerdil?” ulang Manggada. "Ya. Sejenis buaya yang tidak begitu besar. Tetapi justru sangat berbahaya. Geraknya lebih tangkas dan kebiasaannya bergerombol dan bergerak bersama-sama. Ketika terjadi perkelahian antara sekelompok buaya itu dengan sekelompok anjing hutan yang juga banyak terdapat di hutan ini, aku sempat merasa ngeri. Kedua-duanya merupakan jenis binatang yang bergerombol dan berkelahi bersama-sama" Tetapi ketika Manggada dan Laksana akan melangkah ke tengah-tengah ruangan kedai itu, Ki Pandi menggamit mereka sambil berkata “Kita duduk di sudut itu saja” Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Nampaknya selain berceritera, Ki Pandi juga memberikan peringatanperingatan dini kepada Manggada dan Laksana. Sementara itu, maka langitpun menjadi semakin buram. Dari balik pegunungan disisi Timur, bulan yang hampir purnama mulai muncul. Meskipun demikian, di dalam hutan itu rasa-rasanya memang menjadi semakin kelam. Namun mata Manggada dan Laksana sudah terlatih sejak mereka masih berguru pada Ki Citrabawa. Mereka sering memasuki hutan di malam hari untuk menangkap harimau. Malam itu mereka bertiga bermalam di hutan itu. Sebenarnya bahwa di dalam hutan itu keadaannya jauh lebih berbahaya daripada keadaan di luar. Jika mereka bermalam dipa-tegalan atau bahkan dibanjar padukuhan, maka mereka tidak akan diganggu oleh binatang buas sebagaimana jika mereka berada di dalam hutan. Ketika mereka menemukan tempat yang agak lapang, maka mereka bertigapun beristirahat di atas sebuah batu yang besar dan tergolek dibawah sebatang pohon yang besar pula. Satusatunya sinar bulan jatuh pula di atas tanah yang lembab. Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak, ketika ia melihat Ki Pandi mengambil serulingnya. Kemudian diletakkannya ujung serulingnya di mulutnya. Sejenak kemudian terdengar suaranya yang membumbung menggetarkan dedaunan. Tidak terdengar lagu atau nadaTiraikasih Website http://kangzusi.com/ nada dalam irama yang manis. Tetapi tidak lebih dari satu suitan yang nyaring. Ternyata beberapa saat kemudian, terdengar aum harimau di kejauhan. Bersahutan. Manggada dan Laksanapun segera mengetahui, bahwa dua ekor harimau Ki Pandi telah mendengar isyarat pemiliknya. Karena itu, ketika dalam keremangan malam yang ditaburi cahaya bulan itu mereka melihat dua ekor harimau, maka Manggada dan Laksana justru merasa lebih tenang. Apalagi ketika kedua ekor harimau itu mendekat dan mendekam di sebelah batu besar itu. Untuk beberapa saat kemudian, Manggada dan Laksana sempat memperhatikan suara-suara malam di hutan yang lebat. Bagi mereka suara-suara itu memang tidak asing lagi. Hutan yang pernah dirambahnya di malam hari juga memperdengarkan suara-suara yang hampir sama. Ketika bulan menjadi semakin tinggi, maka cahayanya telah menembus dedaunan yang agak jarang di atas tempat duduk ketiga orang itu. Laksana yang duduk memeluk lututnya, sekali-sekali menepak nyamuk yang hinggap dan menggigit kulitnya. Dalam pada itu, maka Ki Pandi yang untuk beberapa saat berdiam diri itupun berkata “Anak-anak muda. Kalian telah cukup lama mengembara. Bagaimana pendapat kalian, jika pengembaraan kalian ditambah satu bulan lagi" Manggada dan laksana tidak begitu memahami kata-kata Ki Pandi itu. Karena itu, maka Manggadapun bertanya “Maksud Ki Pandi" "Kita akan tertahan sebulan lagi di perjalanan” jawab Ki Pandi. "Tetapi Pajang sudah dekat. Kemudian beberapa langkah lagi kita akan sampai ke tujuan” jawab Laksana. "Ya. Aku tahu. Tetapi sebelum kalian sampai, apakah kalian bersedia menjalani laku sebulan lamanya bersamaku di hutan ini? Kita akan mulai nanti saat bulan purnama, dua hari lagi. Dan kita akan mengakhiri disaat purnama sebulan kemudian” berkata Ki Pandi. "Tetapi kita sudah terlalu lama berada di perjalanan” berkata Manggada. "Jika waktu yang sudah terlalu lama itu ditambah dengan satu bulan lagi, maka tentu tidak akan terasa lebih lama” sahut Ki Pandi. "Tetapi laku apa yang harus kami jalani. Ki Pandi?” bertanya Manggada kemudian. "Jika kalian bersedia, maka kalian akan mendapatkan banyak sekali bahan-bahan yang akan dapat melengkapi ilmu kalian. Mungkin tataran ilmu kalian tidak meningkat dengan jelas. Tetapi unsur-unsur ilmu kalian akan menjadi semakin lengkap. Kalian akan memiliki banyak cara untuk mengatasi kesulitan apabila kalian berhadapan dengan lawan yang berilmu tinggi sekalipun” jawab Ki Pandi. Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Dengan ragu-ragu Laksana bertanya “Laku apa yang akan kita jalani seandainya kami bersedia melakukannya" Ki Pandi menarik nafas panjang. Namun kemudian katanya dengan nada dalam "Anak-anak muda, jika kalian bersedia, kalian akan aku minta menjalani Tapa Ngidang selama satu bulan di hutan ini. Dari purnama sampai ke purnama. Memang tidak ada hubungannya dengan kebulatan bulan di langit. Jika aku menyebutnya dari purnama sampai ke purnama itu sekedar sebagai ancar-ancar waktu saja" Kedua orang anak muda itu saling berpandangan sejenak. Dengan dahi yang berkerut Manggada bertanya ”Lalu apakah yang harus kami jalani dengan Tapa Ngidang itu" "Kita berlaku seperti seekor kijang di dalam hutan ini” jawab Ki Pandi. "Seperti kijang?” ulang Laksana "aku tidak dapat membayangkan, apa saja yang harus kami lakukan” "Anak-anak muda, di hutan yang tidak pernah dikunjungi orang ini, bahkan orang mencari kayu sekalipun, kita akan menanggalkan semua pakaian kita. Kita akan memakai cawat dari kulit kayu. Kita akan hidup di hutan ini dengan cara seperti seekor kijang. Kita akan makan dan minum dari apa saja yang kita temukan di hutan ini. Kita akan menjelajah hutan dari ujung sampai ke ujung" "Lalu apa yang akan kami dapatkan dari laku itu?” bertanya Manggada. "Anak-anak muda. Tapa Ngidang bukan berarti kita menjadi kijang. Kita memang berlaku seperti kijang. Kita tetap saja dalam pribadi kita masing-masing. Kita tetap seseorang yang mempunyai akal budi. Jika kita lepaskan pakaian kita, karena pakaian itu dapat mengganggu gerak kita, serta pakaian kita akan dapat menjadi rusak, sedangkan hal itu sebenarnya tidak perlu. Kita akan berlari-lari di dalam lebatnya dedaunan dan akar-akar serta sulur-sulur kayu bahkan di antara semak dan duri. Tetapi kita tidak seperti kijang yang hanya dapat melarikan diri jika bertemu dengan binatang buas. Tetapi kita akan mampu melawannya, atau kita dapat memanjat pohon. Sedangkan seekor kijang tidak dapat melakukannya. Dengan laku itu kita akan melihat dan mengamati apa saja yang dilakukan oleh binatang binatang hutan. Dari seekor harimau, buaya di rawa-rawa, berjenis-jenis kera pepohonan, ular bahkan binatang-binatang kecil sampai ke tikus tanah. Bagaimana mereka mencari mangsanya, namun juga bagaimana binatang-binatang yang lebih lemah menyelamatkan dirinya dari tangan binatang-binatang yang jauh lebih kuat" Manggada dan Laksana menarik nafas dalam-dalam. Mereka membayangkan betapa beratnya laku yang harus dijalaninya. Dingin malam, gatalnya dedaunan yang berbulu, goresan-goresan duri dan ranting-ranting perdu. Bahkan racun dari serangga-serangga berbisa serta sengat lebah lebah raksasa. Untuk beberapa saat kedua anak itu mulai merenung. Namun akhirnya Manggada itupun berkata kepada Laksana "Marilah kita coba. Kita berharap bahwa laku itu akan memberikan arti bagi kita, khususnya di dalam olah kanuragan" "Tidak hanya olah kanuragan” berkata Ki Pandi "tetapi kalian juga akan mengenal jenis-jenis tanaman jauh lebih banyak. Kalian juga akan dapat mengenali tingkah laku binatang yang sebelumnya tidak pernah kalian lihat. Selain itu, kalian juga akan mengenali jenis-jenis tanah di dalam hutan serta arti matahari dan bulan. Kalian akan lebih mengenali siang dan malam karena kalian tidak akan pernah menghindarinya. Hujan, angin dan dinginnya malam” Laksanapun ternyata mengangguk sambil menjawab “Baiklah. Kita akan menunda perjalanan pulang kita sebulan lagi, meskipun kita sudah tidak terlalu jauh lagi dari rumah" Demikianlah, maka Ki Pandi telah mempersiapkan anakanak muda itu untuk menjalani laku Tapa Ngidang. Sebelum purnama naik, selama dua hari mereka membiasakan diri serta mengenali isi hutan itu. Mereka mulai makan apa yang ada serta minum dari sulur-sulur kayu yang dipotong ujungnya atau air belik yang bening dibawah pohon-pohon raksasa. Menjelang purnama, maka Ki Pandi mengajari anak-anak muda itu membuat pakaian dari kulit kayu. Beberapa lembar kulit kayu yang berserat, dikeringkan. Kemudian kulit kayu itu ditumbuk perlahan-lahan sehingga menjadi lemas, sehingga jika dikenakannya tidak membuat kulit mereka menjadi lecet. Merekapun telah membuat tali dari serat kekayuan untuk membuat tali ikat pinggang. Ketika semua perlengkapan dan pakaian khusus mereka sudah siap, maka menjelang malam merekapun telah melepaskan pakaian mereka, membungkusnya dengan rapi dan diikatkan pada dahan pohon yang cukup besar, sehingga tidak mudah jatuh, bahkan diambil oleh binatang yang memanjat, terutama kera. Demikian bulan mulai nampak di langit, maka bertiga mereka telah mengenakan pakaian yang mereka buat dari kulit kayu. "Malam ini tentu akan terasa sangat dingin bagi kalian. Gatal-gatal pada kulit kalian serta perasaan-perasaan lain yang tidak menyenangkan. Tetapi kalian harus menganggap bahwa hal itu merupakan pendadaran, apakah kalian pantas menjalani laku Tapa Ngidang atau tidak" Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Dingin malam yang kemudian turun memang nulai terasa menyentuh kulit. Tetapi mereka sebelumnya juga sudah sering melepas baju mereka di malam hari. Bahkan ketika mereka masih menempa diri, maka mereka sudah terbiasa berada di hutan tanpa baju meskipun tidak mengenakan pakaian khusus dari kulit kayu. Malam itu Manggada dan Laksana masih belum mengalami laku yang sebenarnya, selain hanya berjalan menyusuri hutan yang sepi itu. Sekali-sekali, jika mereka sampai di tempat yang agak lapang, mereka sempat memandangi bulatnya bulan dari sela-sela dedaunan. Namun kemudian langitpun rasa-rasanya segera menjadi pepat sekali setelah mereka menyusup kembali di antara pohon-pohon raksasa. Tetapi malam itu Ki Pandi sudah mengatakan bahwa sejak esok pagi, mereka akan benar-benar meenjalani laku Tapa Ngidang. Demikianlah, lewat tengah malam mereka mencari tempat untuk tidur. Menurut Ki Pandi, yang terbaik bagi mereka adalah tidur di atas dahan yang besar. Manggada dan Laksana sependapat. Mereka pernah mengalaminya, tidur di atas dahan sebatang pohon yang besar. Tetapi Ki Pandi minta keduanya tetap berhati-hati. Salah seorang dari antara kalian harus tetap terjaga. Disini ada sejenis harimau yang berkeliaran di dahan-dahan. Macan Kumbang yang berwarna hitam. Selain itu, mungkin kera-kera yang nakal akan dapat juga mengganggu. Selain binatangbinatang berkaki dan buas, maka ular harus mendapat perhatian mereka pula. Malam itu, Manggada dan Laksana memang sulit untuk dapat tidur. Rasa-rasanya mereka berarap bahwa harimauharimau peliharaan Ki Pandi akan lewat. Kehadiran kedua ekor harimau itu akan dapat membuat mereka lebih tenang. Tetapi agaknya Ki Pandi sudah memberi isyarat agar kedua ekor harimaunya itu menjauh. Namun meskipun hanya sesaat-sesaat Manggada dan Laksana dapat juga tidur bergantian. Ketika bulan tenggelam, serta cahaya fajar mulai nampak, maka Manggada yang menggeliat sambil duduk dialas dahan yang besar itu berkata “Dimana kita mandi" "Siapa yang akan mandi?” bertanya Ki Pandi. "Aku. Kita. Bukankah kita akan mandi" "Kita tidak perlu mandi dengan teratur sebagaimana sebelumya. Mungkin nanti, besok atau lusa kita akan menyeberangi sungai yang mengalir ditengah-tengah hutan ini. Dalam kesempatan itu, kita sekaligus akan mandi” jawab Ki Pandi. Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Laksanapun bertanya “Jadi mungkin kita belum tentu mandi dalam sehari? Justru saat kita bergulat dengan tanah berlumpur, pepohonan dan sampah yang tertimbun karena daun-daun kering yang berguguran. Bahkan mungkin lugut yang gatal dari beberapa jenis pohon dan dedaunan. Bahkan juga keringat kita sendiri yang tentu akan banyak mengalir" Ki Pandi mengangguk sambil menjawab “Ya. Kita tidak akan mandi. Kecuali jika kita menyeberangi sungai. Tetapi ingat, bahwa di kedung di tikungan sungai yang mengalir di hutan ini, banyak terdapat buaya kerdil yang sangat liar dan buas" Manggada dan Laksana hanya dapat mengangguk-angguk saja. "Nah, sekarang kita benar-benar akan melakukan Tapa Ngidang itu. Marilah. Ikuti aku. Kita akan menjelajahi hutan ini. Tentu saja pertama-tama untuk mengenalinya. Namun kemudian benar-benar memperhatikan dan memahami isinya ” Ki Pandi berhenti sejenak. Lalu katanya lagi "Tapa Ngidang yang sebenarnya termasuk Tapa Mbisu. Tetapi kita tidak akan melakukannya. Kita akan tetap berbicara karena kita memang dapat berbicara" Manggada dan Laksana itupun kemudian melangkah mengikuti Ki Pandi yang bongkok itu. Mula-mula mereka berjalan saja di antara pohon-pohon raksasa. Sekali-sekali mereka memang melihat semak-semak yang berguncang. Seekor kijang berlari dengan kencangnya. Ki Pandi itu berjalan semakin lama semakin cepat. Bahkan kemudian ia mulai berlari-lari kecil. Menyusup semak-semak dan meloncati batang-batang kayu yang roboh. Manggada dan Laksana hanya mengikutinya saja. Keduanya juga ikut menyusup semak-semak dan meloncati batangbatang kayu yang roboh. Demikianlah, maka mereka telah melintas hutan yang panjang itu. Ketika mereka sampai di sebuah rawa yang menggenang, maka mereka telah melingkari tepi-tepi rawa itu. Berbagai tumbuh-tumbuhan air tumbuh di dalam rawa-rawa itu. Tidak kalah hebatnya dengan batang-batang pohon yang tumbuh di tanah. Pada hari yang pertama itu, agaknya Ki Pandi masih belum memperkenalkan Manggada dan Laksana dengan isi rawarawa itu. Karena itu, maka mereka tidak berhenti. Hanya kakikaki mereka sajalah yang berdecak pada air berlumpur di ujung rawa-rawa itu. Ki Pandi memang belum membawa anak-anak muda itu sepenuhnya pada laku yang terlalu berat. Tetapi Ki Pandi menuntun sedikit demi sedikit agar keduanya tidak mengalami gangguan badani, juga jiwani. Namun ternyata Manggada dan Laksana yang dengan mantap menjalani laku itu, telah menunjukkan betapa mereka dengan sungguh-sungguh melakukan apa saja yang diperintahkan oleh Ki Pandi. Sejak hari yang pertama, mereka telah menunjukkan, bahwa mereka memiliki bekal yang cukup banyak untuk meningkat pada jenjang kemampuan berikut dan berikutnya. Dengan demikian, maka Ki Pandipun menjadi semakin berharap atas kedua orang anak muda itu. Seperti yang direncanakannya, maka dari hari ke hari, laku yang dijalani menjadi semakin berat. Mereka tidak saja berlari-lari menyusuri hutan itu sejak matahari belum terbit. Tetapi mereka juga mulai berhubungan dengan penghuninya. Mereka mulai memperhatikan isi hutan itu dari jenis binatang yang kecil sampai pada binatang yang terbesar yang terdapat di hutan itu. Berkali-kali mereka bertemu dengan harimau yang bukan milik ki Pandi. Namun jika masih ada kemungkinan untuk menghindar, mereka selalu menghindarinya. Yang mereka perhatikan, bagaimana binatang-binatang itu mempertahankan hidupnya dalam garangnya pergaulan di dalam rimba yang lebat. Tetapi semakin lama mereka berada di hutan, maka mereka tidak selalu dapat menghindari pertarungan yang keras melawan binatang binatang liar di dalam hutan beberapa jenis harimau pernah mereka hadapi. Namun mereka masih menghindar jika bertemu dengan sekelompok anjing hutan liar yang sangat berbahaya. Jika tidak mungkin lagi menghindar, maka Ki Pandi terpaksa memanggil kedua ekor harimaunya untuk mengusir anjing-anjing hutan yang ganas dan licik itu. Namun yang biasa dilakukan oleh ketiga orang itu jika mereka bertemu dengan gerombolan anjing liar adalah dengan memanjat sebatang pohon. Yang menarik perhatian mereka adalah kelompok-kelompok buaya kerdil yang hidup di dalam kedung. Sebuah tikungan sungai yang airnya cukup dalam. Seperti yang diceritakan oleh Ki Pandi, maka Manggada dan Laksana juga sempat melihat, pertarungan yang mengerikan antara sekelompok buaya kerdil melawan sekelompok anjing hutan liar yang lapar. Pertarungan itu dimulai ketika beberapa ekor anjing hutan yang haus minum dari air kedung itu. Tiba-tiba saja seekor di antaranya telah disambar oleh seekor buaya kerdil. Lengking anjing itu ternyata telah memanggil segerombolan kawankawannya. Dengan demikian, maka pertarunganpun tidak dapat dihindarkan ketika sekelompok buaya kerdil naik ke darat. Manggada dan Laksana yang sudah memiliki pengalaman menghadapi benturan kekerasan, masih juga merasa sangat ngeri menyaksikan apa yang terjadi. Kedung itu menjadi merah, mereka tidak jelas melihat bagaimana pertarungan itu berakhir. Namun yang nampak kemudian adalah beberapa ekor anjing hutan terseret ke dalam kedung, sementara beberapa ekor buaya kerdil yang berkulit keras itu dapat juga terkoyak oleh gigi-gigi tajam anjing liar, sehingga beberapa ekor di antaranya harus tertinggal di darat. Mati. "Itulah akibat jika terjadi pertempuran” berkata Ki Pandi "bukan saja antara binatang liar yang buas. Tetapi pertempuran antara sekelompok manusia melawan kelompok yang lain, akibatnya akan sama saja sebagaimana kau lihat yang terjadi di rumah Kiai Windu Kusuma" Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Pandipun berkata selanjutnya "Apalagi manusia mempunyai akal dan penalaran. Mereka dapat berbuat lebih jahat dari binatang-binatang liar itu" Manggada dan Laksana masih saja mendengarkan keterangan Ki Pandi itu sambil mengangguk-angguk. Demikianlah, selama Tapa Ngidang banyak sekali yang dapat dilihat oleh Manggada dan Laksana. Sementara itu, selama berada di hutan itu, Manggada dan Laksana telah menempa diri mereka pula. Selama menjalani laku, maka mereka makan apa saja yang mereka dapatkan di hutan itu. Apa yang dapat dimakan oleh seekor kijang, maka merekapun dapat pula memakannya. Tetapi lebih dari itu, maka merekapun makan apa yang dapat dimakan oleh seekor kera. Bahkan apa yang dapat dimakan oleh seekor harimau. Sebagaimana dikatakan oleh Ki Pandi bahwa mereka tidak menjadi seekor kijang, tetapi mereka tetap berlandaskan akal budi mereka. Karena itu, maka merekapun tetap menggunakan kemampuan membuat api. Kemampuan yang tidak dapat dilakukan seekor harimau jika harimau itu berhasil menangkap seekor kijang atau rusa. Dalam laku Tapa Ngidang, maka Manggada dan Laksana hampir di setiap dini hari, berlari-lari kencang, seperti seekor kijang yang sedang diburu oleh seekor harimau. Menyusup di antara pohon-pohon perdu, melingkari pepohonan, meloncati batang-batang kayu yang melintang, menyusuri tepi rawarawa, menyeberangi sungai dan berloncatan di atas bebatuan serta mengatasi rintangan-rintangan yang lain. Mereka juga melatih ketajaman penglihatan mereka. Kepekaan mereka terhadap keadaan di sekitarnya. Namun juga pernafasan mereka. Dari kehidupan berbagai macam binatang, mereka mendapatkan berbagai macam unsur gerak yang dapat mengisi kekurangan penguasaan mereka atas unsur-unsur gerak yang telah mereka pelajari. Ketrampilan mempergunakan tangan dan kaki, serta ketajaman naluri dan penggraita. Ki Pandi yang mengamati kedua orang anak muda itu memang meyakini, bahwa keduanya akan mendapatkan sesuatu yang sangat berharga selama satu bulan berada di dalam hutan. Bukan saja kemampuan dalan olah kanuragan serta peningkatan tenaga dan daya tahan mereka, tetapi juga ketahanan jiwani yang akan dapat menjadi pendukung landasan pribadi mereka. Dalam pada itu, dari hari ke hari, malampun rasa-rasanya menjadi semakin gelap. Sedikit demi sedikit, kebulatan bulanpun menjadi semakin menyusut, sehingga malampun menjadi gelap pekat. Namun mata Manggada dan Laksana menjadi terbiasa dengan gelapnya malam di dalam hutan. Selain latihan yang dilakukan sedikit demi sedikit sesuai dengan susutnya cahaya bulan, keduanya memang sudah berbekal katajaman penglihatan dan pendengaran. Sehingga sebagaimana sebilah mata pisau yang tajam yang selalu diasah, akan menjadi semakin tajam pula. Dengan demikian, maka apa yang dapat dicapai oleh Manggada dan Laksana selama mereka berada di hutan dalam laku Tapa Ngidang ternyata melampaui apa yang diperkirakan oleh Ki Pandi. Ketika bulan gelap, maka Manggada dan Laksana telah mampu menyerap pengalaman, pengenalan dan pengetahuan sebagaimana diperkirakan akan dapat diserap dalam jarak waktu dari purnama sampai ke purnama. Demikian pula peningkatan kekuatan, ketrampilan dan ketahanan tubuhnya. Namun Ki Pandi tidak menghentikan laku Tapa Ngidang itu hanya setengah bulan. Laku itupun dilanjutkan hingga batas waktu yang sudah ditetapkan. Namun dengan hasil yang jauh lebih banyak dari yang diharapkan. Justru setelah melihat hasil dari laku yang dijalani oleh Manggada dan Laksana, maka pada hari-hari terakhir, Ki Pandi telah membawa anak-anak muda itu memasuki satu laku yang lebih berat. Tiga malam mereka akan menjalani laku dengan berendam di sungai. Mereka memilih tempat yang agak jauh dari kedung, sarang buaya-buaya kerdil yang buas itu. Kemudian tiga malam terakhir mereka berada di hutan itu, menjelang bulan purnama, mereka akan mejalani laku Tapa Ngalong. Di malam hari mereka akan bergayut pada dahan sebatang pohon yang tinggi dengan kaki mereka. Sementara di siang hari mereka tetap menjelajahi hutan itu dari ujung sampai keujung. Mereka sempat melengkapi pengenalan mereka dengan kehidupan burung-burung. Dari burungburung kecil, sampai pada burung-burung buas yang berparuh melengkung. Sekali-sekali mereka berlama-lama berada dibawah sebatang pohon raksasa yang menjadi sarang burung elang yang buas. Namun merekapun kadang-kadang berdiri ditepi hutan melihat burung alap-alap meluncur memburu mangsanya. Namun merekapun melihat bagaimana sejenis burung tekukur mampu melepaskan diri dari terkaman burung alap-alap yang mampu terbang lebih cepat dari burung yang diburunya. Di kesempatan lain, mereka melihat seekor burung srigunting yang bertarung melawan burung elang yang lebih besar yang lebih besar dan buas. Namun kecepatan gerak burung yang lebih kecil itu membuat lawannya menjadi bingung, sehingga elang itu merasa lebih baik menyingkir untuk saja. Demikianlah, haripun merangkak terus, sehingga akhirya laku Tapa Ngidang, berendam di air serta Tapa Ngalong, telah selesai dijalani. Sementara itu, di malam-malam terakhir, langit menjadi terang kembali. Bulan yang gelap semakin lama menjadi semakin terang, sehingga akhirnya, sampailah mereka pada malam purnama. Bulan bulat bertengger di langit. Bintang nampak gemerlapan. Selembar-selembar awan yang tipis mengalir dihembus angin. Ki Pandi menganggap laku yang dijalani oleh Manggada dan Laksana sudah selesai. Menjelang tengah malam, saat inilah bulat berada di puncak, ketiga orang itupun telah mandi keramas di sungai. Mereka membersihkan semua kotoran yang melekat di tubuh mereka, karena selama mereka menjalani laku, mereka tidak dapat mandi setiap hari. Beruntunglah bahwa mereka menjalani laku dengan berendam di dalam air selama tiga malam berturut-turut, sehingga kotoran di tubuh mereka hanyut dibawa arus sungai itu. Selesai dengan mandi keramas, maka merekapun telah mencari pakaian mereka yang mereka simpan. Mereka mulai menanggalkan pakaian mereka yang dibuat dari kulit kayu diikat dengan tali serat pada pinggangnya. Demikian mereka mengenakan pakaian mereka, maka rasarasanya tubuh mereka menjadi hangat. Seluruh tubuh mereka seakan-akan telah terbungkus rapat. Setelah sebulan mereka mengenakan pakaian dari kulit kayu, maka rasa-rasanya dengan berpakaian lengkap, gerak mereka memang menjadi lebih terbatas. Menjelang dini hari, maka merekapun telah mempersiapkan diri untuk keluar dari hutan itu. Ki Pandi mempergunakan kesempatan itu untuk berbicara bersungguh-sungguh dengan Manggada dan Laksana yang telah selesai menjalani laku. "Anak-anak” berkata Ki Pandi "kalian telah melihat, mendengar dan mengalami peristiwa yang bermacam-macam di dalam hutan ini. Kalian telah berlatih dan menempa diri dengan berbagai macam cara. Kalian juga menempa jiwa kalian sehingga kalian menemukan arti dari kesabaran, ketekunan, keuletan, ketabahan dan lebih dari itu, kalian telah lebih banyak mengenali ciptaan dari Yang Maha Agung. Kalian lebih banyak melihat perbedaan antara kehidupan berjenisjenis binatang dengan kehidupan manusia yang berakal budi. Di rimba ini, siapa yang kuat ialah yang menang tanpa menghiraukan kebenaran dan keadilan. Tidak ada usaha dari binatang-binatang itu untuk melindungi yang lemah dan melawan kelaliman. Dengan demikian, maka kalian akan lebih menghormati nilai-nilai yang dijunjung oleh kita manusia jika kita tidak mau disamakan dengan binatang yang hidup di hutan. Kita bukan mahluk yang menganut tatanan kehidupan rimba, siapa yang kuat ialah yang akan menang" Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun katakata Ki Pandi itu benar-benar telah menyentuh hatinya. Dengan demikian semakin terasa pula bahwa Sang Maha Pencipta yang bersifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang memberikan kita akal dan pikiran yang dapat membedakan baik dan buruk, dan tidak menempuh kehidupan sebagaimana kehidupan di dalam rimba yang lebat itu. Namun Ki Pandi itupun kemudian berkata “Meskipun demikian anak-anak muda. Di lingkungan tatanan kehidupan manusia yang yang sewajarnya itu, masih ada juga yang menjalaninya sebagaimana tatanan kehidupan di dalam rimba. Ada satu dua orang, bahkan satu dua kelompok orang yang menganggap dalam tatanan kehidupan menusia itu juga berlaku paugeran siapakah yang kuat merekalah yang menang. Bahkan ada yang menganggap bahwa menelan sesamanya dapat menjadi pilihan yang sah untuk mencapai maksud serta keinginannya" Manggada dan Laksana masih saja mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak menjawab. Sedangkan Ki Pandi masih berkata selanjutnya "Nah, dalam kehidupan yang demikian, di antara orang-orang yang menghormati tata nilai kehidupan serta mereka yang sama sekali tidak menghargainya, kita harus menempatkan diri kita sebaik-baiknya. Kita yang telah mengenali tata kehidupan manusia dan tata kehidupan binatang di hutan, tentu akan mampu dengan landasan nalar dan budi memilih yang terbaik bagi kita dan bertanggung jawab kepada Sang Pencipta" Manggada dan Laksana masih saja mengangguk-angguk. Namun dari sela-sela bibirnya. Manggada berdesis “Kami mengerti, Ki Pandi" "Bagus” berkata Ki Pandi "jika demikian, mulai besok, kita akan memasuki kembali dunia kita dalam tatanan hidup mahluk Sang Pencipta yang dianugerahi akal dan pikiran" Dengan demikian, maka Ki Pandipun membawa dua orang anak muda itu keluar dari hutan. Bulan yang bulat telah jauh condong di sebelah Barat. Namun sinarnya masih nampak gemerlapan memantul dari wajah dedaunan. Manggada dan Laksana kemudian berdiri di padang perdu yang luas bersambung bulak persawahan yang membentang sampai ke cakrawala. "Tidurlah di atas bebatuan itu” berkata Ki Pandi. Manggada dan Laksanapun kemudian duduk di atas sebuah batu yang besar. Namun Manggadapun bertanya “Bagaimana dengan Ki Pandi" "Aku juga akan tidur” jawab Ki Pandi. Namun Ki Pandi melihat keragu-raguan pada kedua orang anak muda itu. Bahkan Laksanapun kemudian berkata “Ki Pandi memang harus beristirahat. Biarlah kami bergantian berjaga-jaga” "Waktunya tinggal sedikit. Sebentar lagi fajar akan datang. Jika kalian berjaga-jaga berganti ganti, maka tidak seorangpun di antara kalian yang sempal tidur. "Tetapi binatang buas dari hutan itu akan dapat sampai ke tempat ini" Ki Pandipun tersenyum. Kemudian, orang bongkok itu telah mengambil serulingnya. Ketika suara seruling yang melengking, maka dua ekor harimau telah muncul dari dalam hutan mendekati Ki Pandi sambil mengibaskan ekornya. "Nah, kita akan tidur” berkata Ki Pandi "biarlah kedua ekor harimau itu disini sampai menjelang pagi. Besok, jika kita meninggalkan hutan ini, harimauku akan tinggal di hutan ini. Biarlah mereka hidup di antara paugeran rimba yang berlaku. Sementara kita akan menjalani hidup dalam tatanan yang berbeda" Kehadiran kedua ekor harimau itu memang membuat Manggada dan Laksana menjadi tenang. Merekapun kemudian berbaring di atas tanah berbatu padas. Meskipun tidak selembarpun alas yang mereka pergunakan, tetapi keadaan itu sudah jauh lebih baik dari saat mereka menjalani laku Tapa Ngidang di dalam hutan. Meskipun hanya sebentar, ternyata mereka sempat memejamkan mata mereka. Menjelang matahari terbit, mereka terbangun. Bulan sudah menginjak batas langit, sementara kedua ekor harimau Ki Pandi sudah tidak nampak lagi. Tetapi Ki Pandi sendiri duduk bersandar sebatang pohon yang tumbuh di padang perdu itu. Manggada dan Laksanapun kemudian membenahi diri dan pakaian mereka. Mereka tidak perlu lagi mandi, karena mereka lewat tengah malam baru saja mandi keramas. "Nah, kita sudah siap sekarang berkata Ki Pandi. "Kita akan menempuh jalan pulang, Ki Pandi” berkata Manggada dengan nada tinggi. Nampak kegembiraan memancar di sorot matanya serta getar suaranya. "Ya. Aku akan ikut bersama kalian sampai ke rumah kalian" "Tidak hanya bersama kami sampai ke rumah kami, tetapi Ki Pandi akan tinggal bersama kami” jawab Manggada. Ki Pandi tersenyum. Katanya ”Tergantung kepada orang tua kalian” "Orang tuaku akan senang sekali menerima kehadiran Ki Pandi. Apalagi jika orang tuaku tahu apa yang telah Ki Pandi lakukan. Bukan saja Ki Pandi telah memberikan tuntunan bagi kami dalam ilmu kanuragan, tetapi juga apa yang lelah Ki Pandi lakukan bagi sesama. Usaha Ki Pandi untuk melawan kekuatan hitam menunjukkan sikap Ki Pandi menghadapi tatanan kehidupan” berkata Manggada. Ki Pandi tersenyum. Katanya “Mudah-mudahan penilaianmu benar anak muda" ”Semua orang akan mengatakan demikian, Ki Pandi” sahut Laksana kecuali Panembahan Lebdagati” Ki Pandi tertawa. Katanya “Kalian pandai memuji. Aku senang mendapat pujian kalian" "Kami tidak memuji” jawab Laksana "kami mengatakan sesuai dengan nurani kami. Ki Pandi tertawa lebih keras lagi. tetapi ia tidak menjawab. Meskipun demikian, hubungannya dengan anak-anak muda itu telah dapat membuatnya tertawa. Ki Pandi sendiri menyadari, bahwa ia jarang sekali sempat tertawa. Mungkin sekali dua kali dalam sepekan, tetapi bersama anak-anak muda itu, ia menjadi lebih sering tertawa. Demikian, maka merekapun berjalan terus. Manggada dan Laksana bersepakat bahwa mereka akan berjalan melewati Pajang. Mereka sudah lama tidak melihat-lihat keadaan kota yang terhitung ramai itu. Ketiga orang itu memang berjalan menyusuri jalan yang langsung menuju Pajang. Manggada dan Laksana tidak ingin lagi berhenti di perjalanan. Mereka sudah terlalu lama mengembara. Semakin dekat dengan Pajang, maka tatanan kehidupan pun mulai berubah. Jalan-jalan terasa lebih ramai. Rumahrumah pun nampak lebih bersih dan terawat. Apalagi ketika mereka memasuki pintu gerbang kota. Maka terasa satu kehidupan yang bergetar lebih cepat. Di jalan-jalan nampak orang yang berjalan hilir mudik. Sekali dua kali nampak orang-orang berkuda lewat. Rasa-rasanya setiap orang melakukan pekerjaan mereka dengan tergesa-gesa. Mereka nampak selalu berpacu dengan waktu. Manggada dan Laksana melihat suasana itu dengan hati yang berdebaran, namun mereka dapat mengerti, bahwa tatanan kehidupan di Pajang memerlukan gerak yang lebih cepat. Waktu seakan-akan selalu memburu, sementara yang harus mereka lakukan masih belum selesai. Manggada dan Laksana yang mulai merasa haus telah mengajak Ki Pandi untuk berhenti di sebuah kedai di pinggir jalan utama. Sambil tersenyum Ki Pandi berkata “Tentu hidangan yang jauh lebih baik dari minuman dan makanan yang kita dapatkan di hutan itu" Manggada dan Laksana tertawa. Disela-sela tertawanya, Manggada berkata “Sulit bagi kita untuk mencari makanan sebagaimana kita dapatkan di hutan itu di seluruh kota ini" Ki Pandipun tertawa pula. Katanya “Tetapi aku juga tidak berkeberatan makan dan minum apa adanya di kedai itu” Manggada dan Laksana tertawa semakin panjang. Demikianlah maka bertiga mereka memasuki kedai yang cukup besar itu. Kedai yang ramai dikunjungi oleh banyak orang. Seperti sebelumnya, maka Ki Pandi telah memilih tempat yang paling terpisah di kedai itu. Mereka duduk di sudut agak ke belakang, dekat pintu butulan yang sempit. Baru ketika mereka sudah duduk, mereka menyadari, bahwa kedai itu termasuk kedai yang terbiasa disinggahi orang-orang yang mempunyai kedudukan yang baik. Ternyata dari pakaian mereka, sikap mereka dan cara mereka berbicara yang satu dengan yang lain. Ki Pandilah yang mula-mula melihat hal itu. Karena itu. maka ia pun berdesis “Kita telah tersesat" "Kenapa?” bertanya Manggada. "Kedai ini nampakya hanya dikunjungi orang-orang yang terpandang di kota ini" Manggada tersenyum. Namun katanya “Tetapi tidak ada larangan bagi siapapun yang masuk untuk membeli makanan dan minuman disini" "Kita mempunyai uang Ki Pandi” sahut Laksana "asal kita membayar harga makanan dan minuman sesuai dengan tarifnya, kita tentu tidak akan dianggap bersalah" "Tetapi lihat orang-orang yang ada di kedai ini” berkata Ki Pandi "mereka memandang kita dengan heran. Mungkin pakaian kita tidak seperti pakaian mereka. Pakaian kita termasuk kusut dan kumal. Yang lain menjadi heran melihat punggungku yang bongkok dan buruk" Manggada menggeleng sambil berkata “Tidak Ki Pandi. Seperti yang Ki Pandi katakan, bahwa Ki Pandi selalu dihantui oleh perasaan rendah diri" Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya “Ya. Mungkin memang demikian. Tetapi sebaikya kita mencari kedai yang lebih kecil yang memang diperuntukkan orang-orang kecil seperti kita" Tetapi Laksana menyahut “Kita sudah terlanjur duduk disini, Ki Pandi. Sebaiknya kita acuhkan saja orang-orang lain itu" Ki Pandi mengangguk-angguk. Ia mencoba untuk tidak memperhatikan orang lain. Tetapi ia mulai memperhatikan berjenis-jenis makanan yang tersedia. Beberapa saat kemudian, maka merekapun telah mendapatkan makan dan minuman yang mereka pesan. Namun pelayan kedai itupun agaknya telah memperlakukan tamu-tamunya menurut ujud lahiriahnya. Karena itu, maka sikapnya kepada Ki Pandi, Manggada dan Laksana juga agak kurang menyenangkan. Tetapi ketiganya memang tidak menghiraukan sikap itu. Merekapun kemudian telah meneguk minuman hangat itu serta makanan yang telah mereka pesan. Ketiganya tidak mau kehilangan selera makan mereka karena hal-hal yang tidak berarti apa-apa bagi mereka. Mereka berpendirian, bahwa setelah mereka meninggalkan kedai itu, maka orang-orang yang memperhatikan mereka, termasuk pelayan kedai itu, tidak akan dijumpainya lagi. Beberapa saat kemudian, maka Ki Pandi, Manggada dan Laksana itu sudah selesai dengan makanan dan minuman mereka. Tubuh mereka yang baru saja ditempa di tengahtengah hutan itupun merasa mejadi semakin segar. Darah mereka menjadi panas dan jantung merekapun rasa-rasanya berdetak semakin mantap. Namun yang dicemaskan Ki Pandi itupun terjadi. Tiba-tiba saja tiga orang anak muda yang nampaknya dari keluarga yang cukup terpandang telah mendekatinya. Seorang di antara mereka sambil tertawa berkata kepada kawannya "Bagaimana mungkin kakek ini mempunyai kelebihan di punggungnya" Kawan-kawan tertawa. Bahkan seorang yang lain ternyata lebih berani lagi. Diusapnya bongkok di punggung Ki Pandi itu sambil berkata “Maaf kek. Aku tidak dapat menahan diri untuk tidak meraba punggung kakek yang sangat memilik perhatian ini.” Kawan-kawannya tertawa semakin keras. Bahkan seorang dari sekelompok anak muda yang yang lain, yang duduk di muka pintu berkata “Bagaimana jika bongkok itu kita ambil dan kita minta pemilik kedai ini untuk menggorengnya?” Seisi kedai itu tertawa meledak. Wajah Ki Pandi memang menjadi merah. Manggada dan Laksana tidak dapat berdiam diri mengalami perlakuan yang sangat buruk itu. tetapi ketika mereka bangkit, Ki Pandi berdesis “Jangan lakukan. Aku minta" "Tetapi itu sudah keterlaluan” sahut Laksana. "Tidak apa-apa. Nanti setelah kita meninggalkan kedai ini, kita tidak akan bertemu lagi dengan orang itu” Manggada menggeram. Tetapi ia tidak mau melanggar perintah Ki Pandi. Namun anak muda yang meraba punggung Ki Pandi itu justru yang menyahut Jangan marah. “Ki Sanak. Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin mengusap punggung ini" Wajah Manggada dan Laksana bagaikan telah membara. Tetapi Ki Pandilah yang menjawab “Aku tidak berkeberatan anak muda" "Bagus jawab anak muda itu kau memang orang yang baik?” anak muda itu berhenti sejenak. Namun kemudian katanya “Tetapi sayang. Aku justru mengharap kedua anak yang bersamamu itu marah" "Tidak. Mereka tidak akan marah. Mereka adalah kemenakan-kemenakanku. Aku Kira, kami memang tidak akan dapat marah kepada kalian anak anak muda” "Ternyata kau cukup cerdik” berkata anak muda yang lain "he, apakah kau tahu siapa kami" "Tidak” jawab Ki Pandi "tetapi kami memang harus menghormati kalian" Anak muda yang masih saja memegangi punggung Ki Pandi itu berkata “ternyata kau bijaksana. Baiklah. Silahkan makan dan minum" Ketiga anak muda itu bergeser menjauh dan kembali duduk di tempatnya semula. Namun anak muda yang berada di depan pintu itu berteriak lagi "He, kenapa kalian tidak jadi mengambil kelebihan pada punggung kakek itu? Ambil dan serahkan pada pemilik kedai ini” Beberapa orang yang ada di kedai itu tertawa. Sementara itu, Ki Pandipun berkata “Marilah. Kita tinggalkan kedai ini. Hal-hal seperti ini akan terulang dan terulang sebagaimana yang terjadi sebelum kita memasuki hutan itu. Karena itu, kalianpun tahu, kenapa aku menjadi rendah diri. Dahulu, ketika aku masih muda, aku berusaha menutupi perasaan ini dengan tingkah laku yang aneh-aneh. Di perguruan aku berusaha untuk menunjukkan kelebihanku dalam olah kanuragan. Aku menjadi sagat mudah tersinggung dan aku sering membuat onar. Tetapi masa-masa seperti itu sudah lampau. Kini aku hanya dapat menerima setiap perlakuan seperti itu dengan menekan perasaanku, karena agaknya tidak pantas lagi bagiku untuk berkelahi di sembarang tempat. Manggada dan Laksana menarik nafas dalam-dalam. Namun dengan nada berat Laksana berkata “Bagaimana jika kami saja yang berkelahi sekarang" Ki Pandi menggeleng. Katanya “Tidak. Jangan” Namun agaknya orang-orang di kedai itu masih saja memperolok-olokkannya. Sekali-sekali terdengar gelak tertawa di antara mereka. Bahkan ampat orang anak muda yang baru masuk kedai itupun telah ikut pula memperolok-olokkannya. Agaknya anak muda itupun termasuk anak-anak muda dari lingkungan yang sama. Namun tiba tiba semua gelak itupun terhenti. Orang-orang yang ada di dalam kedai itu nampak menjadi gelisah. Lebihlebih beberapa kelompok anak muda yang sudah ada di dalam kedai. Sedangkan orang-orang yang lebih tuapun menundukkan kepala mereka. Semua perhatian tiba-tiba telah terikat pada mangkok-mangkok minuman dan makanan mereka. Beberapa saat kemudian, seorang anak muda memasuki kedai itu, diiringi oleh dua orang yang bertubuh tinggi kekar dan berwajah garang. Tiga orang anak muda yang telah memperolok-olokkan Ki Pandi dengan meraba-raba bongkoknya itu nampak menjadi sangat gelisah. Setelah mereka saling memberi isyarat, maka ketiganya tiba-tiba telah bangkit berdiri dan berlari lewat pintu butulan di dekat tempat Ki Pandi duduk. Namun langkahnyapun terhenti. Di luar pintu telah telah berdiri pula seorang yang bertubuh tinggi berbadan kekar seperti dua orang yang mengikuti anak muda yang baru masuk itu. "Apakah kalian akan lari?” bertanya orang yang sudah berdiri di pintu itu. Ketiga anak muda itu melangkah mundur. Wajah mereka menjadi tegang. Sementara anak muda yang baru masuk bersama dua orang itu masih berdiri di pintu kedai itu. "Kau tidak akan dapat lari kemana-mana sekarang” berkata anak muda yang baru datang itu. Ketiga orang anak muda itu memang tidak dapat melarikan diri lagi. Sementara itu. anak-anak muda yang lain nampaknya tidak ingin terlibat. Bahkan orang-orang yang lebih tua tidak ada yang berani berbuat sesuatu. "Aku ingin membuat perhitungan sekarang” berkata anak muda itu "aku mencarimu selama dua hari. Baru sekarang aku menemukanmu disini" Ketiga orang anak muda itu tidak menjawab. Tetapi wajahwajah mereka nampak menjadi sangat tegang. "Dua hari yang lalu kalian telah memukuli saudara sepupuku. Apakah kalian belum mengenal aku?” "Tetapi, tetapi…" salah seorang dari ketiga orang itu menjawab dengan gagap "kami tidak tahu bahwa anak itu sepupumu. Anak itulah yang mendahului menimbulkan persoalan. Justru saat itu kami sedang baristirahat” "Kau dapat mengatakan dengan alasan apapun juga. Tetapi yang sudah terjadi adalah bahwa kalian telah memukuli kemanakanku sampai terluka cukup parah” jawab anak muda itu. "Tetapi anak itulah yang memancing persoalan” jawab salah seorang dari ketiga anak muda itu. "Aku tidak peduli" anak muda itu membentak. Ketiga orang itu menjadi semakin pucat. Sementara itu anak muda itu berkata “Kalian harus tahu siapa aku" "Ya. Kami tahu” jawab anak muda yang menjadi ketakutan itu. “Nah, kita sudah saling mengenal, siapa kalian dan siapa aku. Karena itu terserah kepada kalian, apakah kalian akan melawan atau kalian akan membiarkan kami memperlakukan kalian seperti kalian memperlakukan sepupuku" "Tetapi ia menyerang kami dengan pisau. Kami tidak bersalah" seorang di antara ketiganya hampir berteriak. Tetapi anak muda itu sama sekali tidak menghiraukannya. Selangkah ia maju. Ketika kakinya menyentuh kaki seorang yang duduk sambil menunduk di dekatnya, maka kaki itupun dikibaskannya keras-keras sehingga orang itu telah terpental dari tempat duduknya dan jatuh terguling di tanah. Demikian orang itu berusaha bangkit, maka anak muda itupun membelalakkan matanya sambil berkata “Kau akan mencoba menghina aku, he” "Tidak. Tidak" orang itu menjadi ketakutan "aku sama sekali tidak sengaja. Aku mohon ampun" Anak muda itu melangkah lagi. Iapun kemudian telah memandangi orang-orang yang ada di kedai itu. Bukan hanya ketiga orang anak muda yang menjadi ketakutan itu. Tiba-tiba matanya terhenti ketika ia melihat Ki Pandi, Manggada dan Laksana. Dengan wajah yang tegang ia berkata “Ada juga kutu-kutu busuk yang masuk ke kedai ini" Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia berdesis perlahan sekali "Kalian harus tetap menahan diri " "Apakah kedai ini sudah berubah menjadi ruang makan bagi pengemis-pengemis” berkata anak muda itu keras-keras. Suasana masih tetap diam namun tegang. Adalah di luar dugaan bahwa anak muda itu justru melangkah mendekati Ki Pandi "He, kakek bongkok. Kau kenal aku?" Ki Pandi memandang anak muda itu sekilas. Namun kemudian iapun menggeleng sambil menjawab “Tidak anak muda" "Nah, sekarang kesempatan bagimu untuk mengenalku. Aku adalah penguasa di lingkungan ini. Semua orang harus tunduk kepadaku” Ki Pandi yang memang tidak ingin ribut itu mengangguk sambi menjawab “Aku mengerti anak muda" "Dengar. Aku tidak senang melihat pengemis di kedai ini” geram orang itu. Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Di luar sadarnya, ia memandang berkeliling. Orang-orang yang ada di dalam kedai itu memang orang-orang yang agaknya datang dari tataran yang baik. Tetapi ketika hal itu dibicarakan dengan Manggada dan Laksana, maka keduanya menganggap bahwa kedai itu diperuntukkan bagi siapa saja yang sanggup membayar, sehingga karena itu, maka mereka bertiga tidak segera pergi. Namun ternyata hal itu mempunyai akibat yang panjang. Anak muda itupun kemudian berkata “Baiklah. Kali ini aku maafkan kalian. Tetapi untuk selanjutnya kalian tidak boleh lagi masuk ke dalam kedai ini" "Baiklah anak muda” jawab Ki Pandi "kami akan segera meninggalkan kedai ini" Anak muda itupun telah memanggil pemilik kedai itu dengan isyarat tangannya. Dengan tergesa-gesa pemilik kedai itupun berlari-lari kecil mendekat. "Suruh orang-orang itu pergi setelah membayar” Pemilik kedai itu mengangguk hormat. Katanya “Baiklah anak muda" Manggada tidak menunggu orang itu minta dibayar harga makanan dan minuman yang telah mereka pesan. Ketika orang itu mendekatinya, maka Manggadapun segera bertanya sambil mengambil kampil kecil dari kantong ikat pinggangnya. Di kampil itu masih tersimpan sisa uangnya yang sudah tidak terlalu banyak lagi. Tetapi justru karena mereka sudah berada di jalan pulang, maka mereka tidak akan memerlukan banyak uang lagi di perjalanan. Setelah membayar beberapa keping uang sebagaimana disebut oleh pemilik kedai itu, maka mereka bertigapun melangkah keluar diikuti pandangan berpasang-pasang mata dari orang-orang yang ada di kedai itu. Sebenarnya perasaan Manggada dan Laksana telah memberontak di dalam dadanya. Tetapi mereka sangat menghormati Ki Pandi, sehingga mereka tidak berbuat sesuatu karena Ki Pandi selalu mencegahnya. Demikian Ki Pandi, Manggada dan Laksana keluar dari kedai itu, maka perhatian anak muda itu kembali tertuju kepada ketiga orang anak muda yang masih ada di dalam kedai itu. Semula mereka mengira bahwa perhatian anak muda yang baru datang itu telah beralih. Namun ternyata perhatiannya kembali tertuju kepadanya. Di luar, Ki Pandi, Manggada dan Laksana masih berdiri termangu-mangu. Seorang yang umurnya sudah sebaya dengan Ki Pandi telah datang mendekatinya. “Apakah kau diperlakukan kasar oleh anak-anak di dalam kedai itu? Dan yang terakhir anak muda yang baru datang bersama tiga orang pengawalnya?” bertanya orang itu. "Ah, tidak apa-apa Ki Sanak” jawab Ki Pandi “aku mengenal sikap anak-anak muda yang kadang-kadang meledak-ledak" Orang itu memandang ke pintu kedai itu. Lalu katanya “Tetapi anak-anak itu kadang-kadang memang keterlaluan. Aku melihat apa yang mereka lakukan atas Ki Sanak" Ki Pandi tersenyum. Katanya “Aku sudah melupakannya" "Ki Sanak memang bijaksana” jawab orang itu. Namun katanya kemudian "tetapi hukuman itu akhirnya datang sendiri. Kau belum mengenal anak muda yang datang dengan pengawalnya itu" "Belum Ki Sanak” jawab Ki Pandi. "Anak itu anak orang yang sangat kaya. Orang-orang di sekitar tempat ini, termasuk pemilik kedai itu, mendapat pinjaman uang dari orang tua anak muda itu sebagai modal. Itulah sebabnya maka ia sangat dihormati di lingkungan ini. Kedudukannnya justru melampaui kedudukan Ki Demang sendiri. Ia dapat berbuat apa saja sekehendak hatinya. Nah, tiga orang anak muda itu akan mengalami nasib buruk di tangannya. Ketiga orang pengawalnya itu akan memperlakukan ketiga orang anak muda itu menjadi barang mainan. Mereka pulang dengan tulang-tulang yang retak" "Apakah Ki Demang tidak mampu mengatasinya?" bertanya Ki Pandi “atau barangkali prajurit Pajang" "Ki Demang sudah tidak berdaya. Sementara itu, mereka tidak berani melaporkan kepada prajurit Pajang. Mungkin prajurit Pajang dapat bertindak. Namun nasib mereka yang berani melaporkan itu akan menjadi lebih buruk lagi" Wajah Ki Pandi nampak berkerut. Sementara orang itu berkata “Lebih dari itu, ayah anak muda itu mempunyai banyak kawan di lingkungan keprajuritan. Hubungan yang baik itu sangat mempengaruhi sikap mereka" Ki Pandi mengangguk-angguk. Namun sebelum ia menyahut, maka iapun terkejut melihat anak muda yang terlempar dari pintu kedai itu dan jatuh di halaman. "Ampun. Aku minta ampun” anak muda itu hampir menangis. Seorang yang bertubuh tinggi keker melangkah mendekatinya. Dengan tangkasnya ia menggapai baju anak muda yang terjatuh itu. Kemudian ditariknya sehingga anak muda itu berdiri. Namun sebuah pukulan yang sangat keras telah mengenai perutnya. Anak muda itu terbungkuk kesakitan. Tetapi pukulan yang lain melayang mengenai wajahnya, sehingga sekali lagi anak muda itu terjatuh di halaman. Ki Pandi, Manggada dan Laksana berdiri termangu-mangu. Sedang orang yang sudah sebaya dengan Ki Pandi itu berkata “Lebih baik kita pergi. Jika kita masih tetap disini, maka kita tentu akan dianggap mencampuri persoalan mereka" Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya “Silahkan menyingkir Ki Sanak. Aku akan menonton disini" Orang itu menjadi heran. Dengan nada tinggi ia berkata “Apa yang sebenarnya kau kehendaki? Kau sudah mendapat perlakuan kasar. Kau sudah diusir seperti seorang pengemis meskipun kau mampu membayar harga makanan dan minumanmu. Sekarang kau akan menonton apa yang bakal terjadi disini. Bukankah itu akan berakibat buruk bagi kalian?” "Kasihan anak-anak muda yang bakal mengalami nasib buruk itu” berkata Ki Pandi. "Itu hukuman bagi mereka. Bukankah mereka telah memperolok-olokkan Ki Sanak" "Tetapi kenakalan itu masih merupakan kenakalan anakanak muda. Namun agaknya anak muda yang berpengawal itu telah melakukan perbuatan-perbuatan yang lebih kasar lagi, justru karena ia mempunyai kedudukan yang kuat, serta pengawal yang berilmu tinggi” berkata Ki Pandi “bahkan menurut perhitunganku, anak muda itu tentu juga sering memeras orang-orang yang telah meminjam uang kepada ayahnya di luar pengetahuan ayahnya itu sendiri" "Ya” jawab orang itu ”darimana kau tahu" "Aku hanya menduga” jawab Ki Pandi. Namun kemudian katanya “Meskipun aku juga berprihatin melihat anak-anak muda yang tidak lagi menaruh hormat kepada orang-orang tua sebagaimana dilakukan oleh ketiga orang anak muda yang memperolok-olokkan aku, tetapi aku merasa sangat menyesali sikap dan tindakan anak muda yang berpengawal itu. Tingkah lakunya sudah mengarah pada laku kejahatan, la menakutnakuti orang di satu lingkungan tertentu dan memeras mereka dengan semena-mena” "Aku sependapat Ki Sanak. Tetapi apa yang dapat kau lakukan atas mereka?” sahut orang itu. Namun keadaan menjadi bertambah tegang, ketika dua orang anak muda yang lain dilemparkan keluar pula. Mereka mulai merengek minta ampun. Tetapi ketiga orang yang bertubuh tinggi berbadan kekar dan berwajah garang itu tanpa belas kasihan telah menghajar mereka. Sedangkan anak muda yang ditakuti itu berdiri bertolak pinggang di muka pintu. Ki Pandi berdiri termangu-mangu. Kemudian ia berpaling kepada Manggada dan Laksana sambil berkata “Kalian harus mencegah perlakuan yang sewenang-wenang itu” Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Semula Ki Pandi mencegah mereka untuk turun tangan. Namun tibatiba Ki Pandi itu justru memberikan perintah kepada mereka untuk berbuat sesuatu. Melihat kedua anak muda itu ragu-ragu, maka Ki Pandi pun berkata sekali lagi "Cegah orang itu. Mereka tidak berhak memperlakukan anak-anak muda itu seperti itu. Jika anakanak muda itu bersalah, maka ia harus diserahkan kepada Ki Demang atau bebahu yang ditugaskannya" Manggada dan Laksana mengangguk kecil. Tanpa bertanya lebih lanjut, maka merekapun melangkah mendekati anak muda yang bertolak pinggang itu. Anak muda itu memang menjadi heran melihat kedua orang yang telah diusirnya itu mendatanginya. Dengan lantang anak muda itu membentaknya "He, untuk apa kau datang kepadaku" Suaranya justru telah menghentikan pengawalnya yang masih saja menyakiti ketiga anak muda yang sudah minta ampun itu. Bahkan mulut mereka sudah mulai berdarah, karena bibir mereka yang pecah atau gigi mereka yang terlepas. "Hentikan perbuatan itu Ki Sanak” berkata Manggada. "Perbuatan yang mana?” bertanya anak muda itu. "Anak-anak muda yang dipukuli oleh pengawalmu itu sudah merengek minta ampun. Ternyata mereka memang tidak lebih dari anak-anak yang hanya dapat menangis dan minta ampun jika mereka menghadapi kesulitan, meskipun mereka anak-anak yang tidak tahu diri dan mengenal unggah-ungguh” jawab Manggada. Wajah anak muda itu menjadi merah. Tidak pernah ada orang yang berani mencegah perbualan-perbuatannya. Karena itu, maka iapun berteriak "He, pengemis buruk. Kau tidak mengenal aku, he. Bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku penguasa di lingkungan ini" "Mungkin, tetapi mereka tidak mengakuimu. Akupun bukan orang yang termasuk mempunyai pinjaman kepada orang tuamu. Karena itu, aku dapat bersikap sesuai dengan kemauanku atasmu" "Setan kau" suara anak muda itu mulai bergetar oleh kemarahan yang membakar ubun-ubunnya "kalian mau apa sekarang" Laksanalah yang menyahut “Bagus. Aku menunggu pertanyaan itu. Dengar. Sekarang aku akan mencegah perbuatan orang-orangmu itu. Jika perlu dengan kekerasan" Kemarahan anak muda itu tidak terbendung lagi. Karena itu, maka iapun berteriak kepada orang-orangnya "Koyaklah mulut anak-anak gila ini" Ketiga orang pengawai anak muda itupun meninggalkan korban-korban mereka. Dengan gigi yang gemeretak, maka mereka segera melangkah mendekati Manggada dan Laksana. Ketiga orang anak muda yang tulang-tulangnya bagaikan retak itu berusaha bangkit. Namun mereka hanya dapat beringsut beberapa langkah, sementara Manggada berkata “Jangan takut anak-anak manis. Kau tidak akan dipukuli lagi" Ketiga orang anak muda itupun menjadi heran. Anak-anak, muda itu adalah anak-anak muda yang duduk bersama orang bongkok yang telah diperolok-olokkannya. Ketika itu mereka tidak berbuat apa-apa. Meskipun nampaknya mereka tersinggung, tetapi justru orang bongkok itu sendirilah yang menenangkan mereka, sehingga keduanya tidak berbuat apa-apa. Bahkan ketika salah seorang dari mereka mengharap kedua anak muda itu marah, ternyata keduanya tidak bangkit dari tempat duduknya. Namun kini anak-anak muda itu telah menantang ketiga orang pengawal anak muda yang sangat disegani di lingkungan itu. Dalam pada itu, ketiga orang pengawal itu sudah siap. Namun karena yang akan mereka hadapi hanya dua orang anak muda saja, maka seorang di antara mereka terpaksa mengalah. "Kau bereskan anak-anak yang telah memukuli sepupuku itu” berkata anak muda yang disegani itu. Orang itu memang berpaling kepada tiga orang anak muda yang sudah berhasil bangkit untuk duduk di pinggir halaman itu. Sementara itu Laksanalah yang berteriak kepada mereka "Bangkit. Lawan orang yang akan memukulimu. Bukankah kalian laki-laki sejati? Kalian hanya berani memperolok-olokkan orang tua yang kau anggap tidak mampu berbuat apa-apa. Tetapi menghadapi orang yang kau anggap kuat, kau sama sekali tidak berani berbuat apa-apa. Bahkan merengek minta ampun" "Cukup” bentak anak muda yang membawa tiga orang pengawal itu. Lalu katanya kepada kedua orang pengawalnya "Buat mereka menjadi jera” Kedua orang pengawal itupun segera melangkah maju. Seorang mendekati Manggada dan seorang lagi mendekati Laksana. Dalam pada itu, beberapa orang yang ada di kedai itupun telah keluar. Mereka melihat dua orang anak muda yang datang bersama orang bongkok itu sudah berhadapan dengan orang-orang yang sangat ditakuti di tempat itu. Bahkan Ki Demangpun tidak dapat berbuat apa-apa terhadap mereka. Tetapi kedua orang anak muda yang berpakaian kusut itu nampaknya sama sekali tidak merasa takut. Tetapi beberapa orang berbisik di antara mereka "Mereka belum mengenal kedua orang yang garang dan bengis itu. Mereka tentu akan mematahkan tangan atau kaki keduanya atau bahkan lehernya" Sementara itu, orang yang umurnya sebaya dengan Ki Pandi berkata dengan nada cemas "Kau umpankan anak-anak itu ke dalam mulut serigala yang sangat buas. Kau tentu belum mengenal mereka. Mereka dapat berbuat apa saja yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain. Apalagi terhadap orang yang sudah berani menentang anak muda yang mengendalikan mereka. Anak muda yang nampaknya tampan itu ternyata berhati iblis. Dan kau serahkan anak-anakmu itu ke tangannya yang merah oleh darah. Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Aku tidak berharap demikian. Aku tidak senang melihat tingkah laku anak muda dan pengawal-pengawalnya itu. Karena itu, aku berharap bahwa kedua orang kemenakanku itu dapat sedikit memperingatkannya agar untuk selanjutnya ia berhati-hati" "Apakah kedua kemenakanmu itu mempunyai ilmu kebal?” bertanya orang itu. "Tidak” jawab Ki Pandi. Namun katanya kemudian "Tetapi mereka berbekal niat yang baik" "Niat saja tidak akan menolong mereka. Nasibnya akan menjadi lebih buruk dari ketiga orang anak muda itu” Dalam pada itu, Manggada dan Laksanapun sudah mulai bergeser saling menjauhi. Mereka sudah siap menghadapi kedua orang yang bertubuh tinggi tegap itu. bahkan tenaga merekapun ternyata lebih kuat dari orang kebanyakan. Orang-orang yang bertubuh raksasa itulah yang kemudian mulai menyerang. Mereka seakan-akan tidak memperhitungkan perlawanan kedua orang anak muda itu. Raksasa yang melawan Manggada itu justru telah melangkah maju sambil mejulurkan tangannya untuk menangkap anak muda itu, seakan-akan anak muda itu bukannya sasaran yang dapat bergerak dan apalagi melawan. Manggada yang melihat lawannya itu ingin menangkapnya begitu saja, justru merasa tersinggung. Beberapa langkah ia mundur. Tidak untuk menghindari tangan lawannya yang akan menangkap lengannya itu. Tetapi ia justru mengambil ancangancang. Bahwa Manggada merasa tersingggung itu telah membuatnya berusaha untuk memberikan peringatan kepada lawannya pada serangannya yang pertama. Demikianlah, ketika raksasa itu masih saja melangkah maju, maka dengan tiba-tiba saja Manggada telah melenting sambil memiringkan tubuhnya. Dikerahkannya tenaganya untuk melontarkan serangan kearah dada orang itu untuk menunjukkan bahwa lawannya tidak dapat menganggapnya seorang yang tidak berdaya. Tubuh Manggada meluncur dengan derasnya. Kakinya terjulur lurus menyamping. Langsung kearah dada. Namun ternyata yang tidak terduga-duga itu terjadi. Manggada sendiri terkejut ketika kakinya menghantam dada orang itu. Ternyata pertahanan orang itu telah terguncang. Bahkan kemudian orang itu bagaikan dilemparkan langsung jatuh terbanting di tanah. Terdengar mulutnya mengumpat kasar. Dengan sigapnya ia melenting untuk bangkit berdiri. Tetapi ternyata tubuhnya pun segera terhuyung-huyung. Ia hanya mampu berdiri beberapa kejap. Kemudian sekali lagi tubuhnya jatuh terguling. Bahkan dari mulutnya telah mengalir darah. Orang itu mengerang kesakitan. Dipeganginya dadanya dengan kedua tangannya sambil menggeliat-geliat. Betapa wajahnya membayangkan kesakitan yang sangat. Bahkan kemudian nafasnya menjadi sesak. "Gila” teriak anak muda yang disegani itu "apa yang telah terjadi denganmu" Tetapi orang bertubuh raksasa itu tidak dapat menjawab. Dari mulutnya masih terdengar erang kesakitan. Ki Pandi menjadi cemas. Ia tidak mengharap Manggada membunuh orang itu. Namun Ki Pandipun memaklumi, bahwa setelah berada di hutan selama sebulan, maka Manggada kehilangan pengamatan atas tingkat ilmunya. Manggada sendiri tidak sadar, bahwa ilmunya telah jauh meningkat dibandingkan sebelum ia menjalani laku Tapa Ngidang di hutan dari purnama sampai ke purnama. Sementara itu, seorang di antara raksasa yang sudah berhadapan dengan Laksanapun menjadi cemas. Agaknya anak muda yang seorang lagi itupun memiliki kemampuan yang setingkat. Tetapi orang yang sudah siap menghadapi Laksana itu berkata pada diri sendiri "Orang dungu itu telah lengah, sehingga ia tidak berdaya sama sekali ketika serangan itu datang" Karena itu, maka orang itupun telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menghadapi anak muda yang seorang lagi itu. Sementara itu, anak muda yang ditakuti itupun berteriak kepada pengawal yang seorang lagi "Gantikan orang dungu itu. ia tidak pantas menjadi pengawalku lagi. Selesaikan kedua orang anak iblis itu. Apapun yang terjadi atas mereka" Perintah itu jelas. Mereka tidak perlu mengekang diri lagi. bahkan seandainya anak-anak itu terbunuh oleh tangantangan mereka yang kasar itu. Manggada mundur beberapa langkah. Yang terjadi itu benar-benar di luar dugaannya sendiri. Karena itu, maka ia justru harus menilai kembali tenaga dan kemampuannya. Bahkan tanpa mengerahkan tenaga dalamnya. Yang kemudian mulai menyerang adalah orang yang berhadapan dengan Laksana. Sebenarnyalah bahwa Laksana sendiri juga menjadi bimbang oleh kekuatan dan kemampuannya sendiri. Karena itu, maka Laksana harus mulai dari dasar kekuatannya, ia mulai mejajagi kekuatan dan kemampuan lawannya. Iapun tidak ingin jika lawannya kemudian terbunuh dalam pertempuran itu. Namun dalam beberapa saat, laksanapun segera mengetahui, bahwa kekuatan lawannya yang bertubuh raksasa itu tidak akan mampu menggetarkan pertahanannya. Karena itu, maka Laksanapun tidak perlu bersusah payah menghindari serangan-serangan lawannya. Tetapi ia selalu menangkis dan bahkan membentur serangan lawannya. Dengan demikian, maka Laksana sekaligus dapat menjajagi bukan saja kekuatan dan kemampuan lawannya, tetapi kekuatan dan kemampuannya sendiri pula. Ternyata orang bertubuh raksasa itu tidak banyak mempunyai kesempatan. Serangan-serangannya selalu kandas seakan-akan tidak berarti bagi lawannya yang masih muda itu. Setiap terjadi benturan, maka rasa-rasanya tulang-tulangnya menjadi retak. Demikian pula orang yang kemudian menggantikan kawannya yang kesakitan itu, Iapun segera mulai terdesak, namun Manggada berusaha untuk lebih mengendalikan diri. Ia tidak ingin membunuh seorangpun. Bahkan iapun mulai menjadi cemas ketika ia melihat orang yang terbaring itu sama sekali tidak bergerak lagi. Ki Pandi yang juga melihat orang itu tidak bergerak lagi, segera mendekatinya. Namun ternyata orang itu masih hidup. Namun tubuhnya sudah menjadi lemah sekali. Meskipun demikian, pernafasannya masih cukup baik. Ki Pandipun termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berteriak kepada pemilik kedai yang berdiri termangumangu di pintu kedainya sambil gemetar "Ambil air, cepat" Pemilik kedai itu sekan-akan telah bergerak dengan sendirinya. Berlari-lari ia mengambil semangkuk air dan diserahkannya kepada Ki Pandi yang berjongkok di sebelah orang itu, sementara Manggada dan Laksana masih bertempur di halaman. Ki Pandi kemudian telah mengambil sebutir obat dari kantong ikat pinggangnya. Kemudian menyisipkannya di bibir orang itu. Sambil menitikkan air di mulut orang itu Ki Pandi berkata “Telanlah. Keadaanmu akan berangsur baik" Antara sadar dan tidak, maka orang itupun telah menelan air yang dituangkan perlahan-lahan di mulutnya. Obat yang diselipkan di bibir orang itupun lelah menjadi larut pula ikut tertelan lewat kerongkongannya. Terasa darahnya yang menjadi hangat merambat lewat urat-uratnya, mengalir ke seluruh tubuhnya. Perasaan sakit pun sedikit demi sedikit telah berkurang, sementara tenaganya terasa sedikit segar. Meskipun dadanya masih sakit dan tulang-tulangnya terasa nyeri, namun obat itu telah sangat membantunya mengurangi penderitaannya. Sementara itu, pertempuran masih berlangsung, namun sudah tidak seimbang lagi. Manggada dan laksana telah mendesak lawannya sehingga sama sekali tidak berdaya lagi. Mereka tinggal dapat meloncat-loncat menghindar, berlari-lari kecil mengambil jarak dan balikan nampak di wajah mereka, betapa mereka mulai dicengkam oleh kecemasan yang sangat. Sekali-sekali serangan Manggada dan Laksana telah mengenai tubuh mereka. Perasaan sakit dan nyeri telah mencengkam seluruh tubuh mereka, lawan Manggada hidungnya sudah mulai berdarah. Sementara lawan Manggada matanya nampak lembab dan kebiru-biruan. Anak muda yang disegani itu ternyata tidak mau melihat kenyataan. Ketika kedua pengawalnya itu tidak lagi mampu berbuat sesuatu, maka ia masih saja berteriak "Bunuh anakanak iblis itu. Jangan takut, aku yang akan mempertanggung jawabkannya" Tetapi kedua orang pengawalnya yang bertubuh raksasa itu tidak mampu berbuat sesuatu. Mereka tidak mampu lagi menghindari dan bahkan menangkis serangan-serangan anakanak muda itu. Bahkan ketika Laksana sedikit terdorong melayangkan tangannya menebas dengan sisi telapak tangannya mengenai kening lawannya, maka lawannya itupun merasa bumi tempatnya berpijak menjadi berputar. Laksana yang sudah siap melancarkan serangan berikutnya, telah tertahan dan bahkan mengurungkannya. Dibiarkannya lawannya berusaha memperbaiki keseimbangaannya yang goyah. Anak muda yang disegani itu menjadi semakin marah. Ketika orang yang berusaha untuk berdiri tegak itu gagal, sehingga ia jatuh terduduk, maka anak muda itupun berteriak "He, pengecut. Kenapa kau malah duduk disitu. bangkit, bunuh lawanmu atau kau akan dihukum cambuk oleh ayah" Orang itu memang masih berusaha untuk bangkit, tetapi ia tidak mampu lagi. Kepalanya benar-benar terasa pening dan segalanya telah berputar. "Bangkit” teriak anak muda itu. Laksana yang mendengar teriakan-teriakan itu justru tidak tahan lagi. Justru karena lawannya sudah tidak berdaya. Karena itu, maka ketika anak muda itu berteriak sekali lagi dan bahkan lebih keras, maka Laksana telah meloncat menghampirinya. Dengan cepat tangannya telah menggapai baju anak itu dan menariknya sambil berkata “Kenapa kau hanya berteriak-teriak saja. Kenapa bukan kau sendiri yang memasuki arena dan berkelahi" Anak muda itu terkejut. Ia tidak pernah mengalami perlakuan yang demikian, karena itu, maka iapun berteriak "Lepaskan bajuku. Kau akan menyesal dengan perlakuanmu" Tetapi Laksana tidak melepaskannya. Justru tangannya terayun menampar wajah anak muda itu sambil membentak "Diam kau, atau aku buat kau terdiam" Tamparan di wajahnya itu benar-benar mengejutkannya. Bagaimana mungkin hal seperti itu terjadi. Seorang anak muda yang berpakaian kumal telah berani menamparnya. Tetapi Laksana masih saja memegangi bajunya sambil membentak-bentaknya "Ayo. Aku tantang kau berkelahi. Mau tidak mau" Sebelum anak itu menjawab, maka Laksana telah menyeretnya dan mendorongnya ke halaman. Demikian kerasnya dorongan Laksana sehingga anak muda itu telah jatuh terjerembab. Wajahnya terantuk tanah, sehingga menjadi kotor karenanya. Laksana yang berdiri di dekatnya membentaknya “bangkit. Kita berkelahi" Anak itu benar-benar menjadi bingung. Orangnya yang terakhirpun telah terbaring pula di tanah. Sebenarnya Manggada tahu, bahwa lawannya itu masih mungkin untuk bangkit dan memberikan perlawanan. Tetapi agaknya orang itu tidak melihat lagi harapan untuk dapat bertahan, sehingga karena itu, ketika ia terjatuh, maka iapun berpura tidak lagi mampu berdiri. Karena anak muda itu masih belum bangkit, maka Laksana telah memarik lagi bajunya. Sekali lagi Laksana menampar wajah anak muda itu. Tiba-tiba saja anak muda itu telah kehilangan pegangan. Ia tidak terbiasa berbuat sesuatu selain berteriak-teriak memberikan perintah. Ketika kemudian orang-orang yang mengawalnya itu tidak berdaya, maka anak muda itupun tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Karena itu, ketika Laksana mengguncang bajunya, maka tiba-tiba saja anak itu menagis. "Ampun. Aku minta ampun" Hampir saja Laksana tidak mampu mengendalikan dirinya. Tetapi kemudian Laksana itu menyadari, bahwa anak muda itu telah benar-benar menjadi ketakutan. Karena itu, maka Laksana pun telah melepaskannya dan berkata “Aku akan datang lagi ke lingkungan ini. Jika kau masih berbuat sebagaimana kau lakukan sekarang, maka aku akan menghancurkanmu. Katakan kepada ayahmu, bahwa aku akan tetap berbuat tanpa harus tunduk kepadamu dan kepada ayahmu. Disini tentu ada paugeran yang berlaku bagi setiap orang. Termasuk kau dan ayahmu, sehingga kalian tidak dapat berbuat sekehendakmu sendiri" Anak muda itu tidak dapat menjawab sama sekali. Tangisnya justru menjadi-jadi. Rasa-rasanya anak muda itu tidak lagi merasa malu. Orang yang menyaksikan peristiwa itu memang menjadi berdebar-debar. Mereka yakin bahwa orang-orang yang berani melawan anak muda itu tentu orang yang sama sekali tidak mengenalnya. Namun yang perasaanya terguncang bukan saja anak muda yang menangis itu, tetapi tiga orang anak muda yang telah dihajar oleh ketiga pengawal anak muda yang menangis itupun menjadi sangat gelisah menghadapi kenyataan itu. Mereka tidak dapat mengerti, kenapa kedua anak muda yang berpakaian kusut itu tidak berbuat sesuatu atas diri mereka ketika mereka memperolok-olokkan orang tua yang bongkok yang justru mencegahnya. Jika saja kedua anak muda itu tidak dapat dikendalikan oleh orang yang bongkok itu, maka mereka bertiga akan mengalami nasib yang lebih buruk lagi. Sementara itu, Laksana telah melepaskan anak muda yang menangis itu. Sedangkan Manggada pun telah bergeser menjauh. Ki Pandi yang telah memberikan obat kepada salah seorang pengawal yang dadanya terluka di dalam itupun telah bangkit dan berdiri pula. "Marilah” berkata Ki Pandi “kita tinggalkan saja tempat ini. Kita tidak mempunyai kepentingan apa-apa lagi disini" Manggada telah melangkah mendekati Ki Pandi. Tetapi Laksana justru melangkah mendekati ketiga orang anak muda yang telah memperolok-olokkan Ki Pandi yang masih saja bingung manghadapi kenyataan itu. Laksana yang kemudian berdiri di hadapan ketiga orang anak muda itu berkata “Sekarang kalian bangkit berdiri" Ketiga orang anak muda itupun benar-benar ketakutan. Karena itu, merekapun dengan gemetar telah bangkit berdiri pula, betapapun tubuh mereka masih merasa nyeri. Tiba-tiba Laksana telah menyambar ikat kepala mereka, membantingnya di tanah dan menginjaknya. Sambil mengusap kepala ketiga orang anak muda itu ia berkata “Tiba-tiba saja aku ingin mengusap kepala kalian. Kepala anak-anak muda yang tidak lebih dari pengecut. Kenapa kalian sama sekali tidak berani melawan? Apakah kalian hanya berani memperolok-olokkan orang tua yang kau anggap tidak berdaya? Atau kau anggap pengemis sebagaimana dikatakan oleh anak cengeng itu" Ketiganya sama sekali tidak menjawab. Merekapun sama sekali tidak berbuat apa-apa ketika kepala mereka diguncangguncang oleh Laksana. Ketiga anak muda itu melangkah mundur. Wajah mereka menjadi tegang. Sementara anak muda yang baru masuk bersama dua orang itu masih berdiri di pintu kedai itu. Ki Pandi hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Sementara Manggada hanya memandanginya saja. Namun akhirnya Ki Pandi itu memberinya isyarat untuk meninggalkan anak-anak muda itu. Bertiga merekapun kemudian bersiap meninggalkan kedai itu dengan meninggalkan berbagai macam kesan di hati orang-orang yang menyaksikannya. Bahkan orang yang umurnya sebaya dengan Ki Pandi itu melangkah mendekatinya sambil berkata “Maafkan aku Ki Sanak. Aku tidak mengenal Ki Sanak sebelumnya, Jika Ki Sanak tidak berkeberatan, apakah Ki Sanak dapat memberitahukan kepadaku, siapa Ki Sanak itu sebenarnya" Ki Pandi tersenyum. Katanya “Kami adalah pengembara yang tidak berarti apa-apa. Tetapi peristiwa ini telah sangat menarik perhatian kami, sehingga agaknya kami akan sering lewat jalan ini" Demikianlah, sejenak kemudian maka Ki Pandi telah mengajak Manggada dan Laksana meninggalkan tempat itu. Merekapun kemudian melangkah menyusuri jalan panjang. Namun kemudian mereka berbelok memasuki jalan yang lebih kecil. Sambil berjalan meninggalkan tempat itu, mereka menyadari, bahwa apa yang terjadi telah menjadi tontonan orang banyak. Bukan saja orang-orang yang ada di kedai itu. Tetapi orang-orang yang kebetulan lewat, juga terhenti untuk menyaksikan apa yang terjadi. Bahkan Ki Pandi, Manggada dan Laksana telah bertemu dengan ampat orang prajurit berkuda yang berpacu menuju ke arah yang berlawanan. Sebenarnyalah bahwa ternyata ada juga yang melaporkan peristiwa itu ke sebuah barak prajurit, sehingga Senapati yang mendapat laporan itu telah mengirimkan ampat orang prajurit berkuda untuk melerai keadaan. Namun ketika mereka sampai di kedai itu, maka perkelahianpun sudah berhenti. Tetapi para prajurit itu masih menemukan orang-orang yang telah terluka serta anak-anak muda yang kesakitan. Juga anak muda yang telah menangis itu meskipun sudah berhasil menguasai gejolak perasaannya sehingga tangisnya pun telah berhenti. Dari orang-orang yang masih mengerumuni halaman kedai itu meskipun dari jarak yang tidak terlalu dekat, para prajurit telah mendapat keterangan apa yang telah terjadi. Karena itu, para prajurit itu minta pemilik kedai itu datang ke barak untuk memberikan keterangan tentang perkelahian di kedainya itu. "Tetapi tiga di antara para pelaku itu sudah pergi” berkata pemilik kedai itu. "Nanti di barak kau akan dimintai keterangan selengkapnya” berkata prajurit yang tertua. Sementara itu Ki Pandi, Manggada dan Laksana sudah berjalan semakin jauh. Para prajurit itu memang tidak berusaha mencarinya. Merekapun sudah mengenali anak muda dengan ketiga orang pengawal itu, sehingga para prajurit itu sudah mengira bahwa anak muda itulah yang bersalah. Namun ia agaknya telah terbentur pada sekelompok orang berilmu tinggi, sehingga ketiga orang pengawalnya itu tidak berdaya sama sekali. Kepada anak muda yang cengeng itu prajurit yang tertua berkata “Kaupun setiap saat diperlukan harus datang ke barak" Anak muda yang sudah tidak menangis lagi itu berkata “Aku akan memberitahukan kepada ayahku atas perlakuan kalian" Prajurit itu ternyata telah tersinggung. Meskipun mereka mengetahui siapakah ayah anak itu, serta hubungannya yang luas dengan para Senapati dan pemimpin di Pajang, namun dalam menjalankan tugasnya, prajurit itu tidak mau direndahkan. Karena itu, maka prajurit yang tertua itu mendekatinya sambil berkata “Coba, katakan sekali lagi. Maka aku akan menumbat mulutmu dengan pedangku" Anak muda itu menjadi ketakutan kembali. Bahkan mulutnya mulai bergetar dan matanya mulai mengembun lagi. Tetapi prajurit itu tidak mau memperpanjang persoalan. Iapun kemudian telah mendekati tiga orang anak muda yang masih kesakitan sambil berkata “Kalianpun harus bersiap-siap dan datang jika kalian kami panggil" "Kami akan melakukannya” jawab ketiganya hampir berbareng. Demikianlah, maka para prajurit itupun meninggalkan kedai itu. Sedangkan orang-orang yang berkerumunpun telah pergi pula satu persatu. Sedangkan ketiga anak muda yang kesakitan itupun dengan sisa tenaganya berusaha untuk menjauhi tempat itu pula. Yang tinggal kemudian hanyalah anak muda dan ketiga orang pengawalnya. Seorang yang berpura-pura tidak dapat bangkit itu telah berdiri. Yang lainpun mulai dapat bangkit dan duduk sambil bersandar pada tangannya. Pengawal yang dadanya terluka di dalam itu sudah menjadi bertambah baik pula keadaannya setelah Ki Pandi mengobatinya. Pemilik kedai dan pelayan-pelayannyalah yang kemudian berusaha menolong mereka dan membawanya ke dalam kedai. Dalam pada itu, Ki Pandi, Manggada dan Laksana sudah menjadi semakin jauh. Mereka tidak lagi mengikuti jalan induk yang akan sampai ke pintu gerbang kota yang lain. Tetapi mereka telah memilih jalan yang lebih kecil dan keluar dari kota Pajang lewat pintu gerbang samping yang lebih kecil. "Satu hal yang tanpa kalian sengaja tetapi dapat memberikan petunjuk penting bagi kalian” berkata Ki Pandi. "Tentang apa, Ki Pandi?” bertanya Manggada. "Kalian masih belum mampu menilai dengan tepat kemampuan kalian sendiri” jawab Ki Pandi. Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Mereka memang masih harus menilai lagi kemampuan mereka yang sudah meningkat setelah mereka berada di hutan dari purnama sampai ke purnama. Dalam pada itu, Ki Pandipun berkata pula "agaknya angger Manggada masih terkejut melihat serangannya yang hampir saja membunuh orang bertubuh raksasa itu. Seandainya daya tahan orang itu tidak cukup tinggi, maka ia tentu sudah tidak tertolong lagi" Manggada mengangguk-angguk. Sebenarnyalah bahwa ia masih belum tahu pasti, seberapa tinggi tataran ilmu serta kekuatan tenaganya setelah ia melakukan Tapa Ngidang. Namun hal itu juga tergantung kepada kemampuan serta daya tahan lawannya. Tetapi Manggada dan Laksana memang menyadari, bahwa mereka harus melakukan pengamatan lebih seksama tentang peningkatan ilmu'mereka itu. "Kita akan melakukannya setelah kalian berada di rumah nanti” berkata Ki Pandi. Manggada dan Laksana mengangguk-angguk mengiakan. Dengan sungguh-sungguh Manggada berkata “Kami tentu akan sangat berterima kasih Ki Pandi. Jika pada suatu saat paman melihat bagaimana kami dapat meningkatkan kemampuan kami, maka paman tentu akan sangat bergembira. Sudah tentu ayah juga " "Semuanya itu sudah tentu sebagian besar tergantung kepada kalian berdua sendiri. Kemauan kalian serta tenaga dasar yang ada di dalam diri kalian” berkata Ki Pandi. Lalu katanya pula "Tetapi tentu saja dengan harapan, bahwa apa yang telah kalian miliki itu akan berarti bagi sesama. Bukan sebaliknya justru merugikan sesama" Manggada dan Laksana masih saja mengangguk-angguk. Beberapa kali mereka mendengar petunjuk itu. Bukan saja dari Ki Pandi, tetapi juga dari guru mereka, dari orang tua mereka dan bahkan dari Kiai Gumrah. Demikianlah, mereka bertigapun telah melanjutkan perjalanan mereka justru menjauhi Pajang. Mereka telah berjalan lagi di antara bulak-bulak sawah. Kehidupan mulai nampak berbeda dari kehidupan di kota yang sibuk. JalanTiraikasih Website http://kangzusi.com/ jalan tidak lagi terlalu ramai. Tatanan rumah dan halaman. Bahkan sifat dan kebiasaan penghuni-penghuninya. Semakin jauh mereka dari kota, maka mereka tidak lagi merasa dikelilingi oleh kesibukan dan ketergesa-gesaan. Tetapi juga tidak lagi dibayangi oleh kehidupan anak-anak muda yang menggelisahkan, meskipun jumlah mereka sebenarnya terhitung kecil. Meskipun sebenarnya kenakalan itu ada dimana-mana, tetapi karena kahidupan di kota yang berbeda dengan kehidupan di luarnya, maka ujud kenakalannyapun berbeda pula. Dalam pada itu, agaknya Ki Pandipun sedang memikirkan sikap anak-anak muda yang baru saja ditemuinya. Dengan nada rendah Ki Pandi itupun berkata “Angger berdua. Di sepanjang perjalanan kita, maka kita sudah melihat berbagai macam sikap dan sifat anak anak muda. Anak anak muda yang ada di sekitar Kiai Gumrah. Kau kenal anak-anak muda yang nakal bahkan keterlaluan sehingga sudah merugikan banyak orang seperti Rambatan. Tetapi kau kenal juga anakanak muda yang baik di padukuhan itu. Kau kenal juga Darpati dan Winih" Manggada dan Laksana menjadi termangu-mangu sejenak. Ternyata banyak hal yang diketahui oleh Ki Pandi. Agaknya Ki Pandi dapat membaca perasaan anak-anak itu. Katanya kemudian"Aku mengetahuinya dari sedikit pengamatanku. Namun juga dari ceritera Kiai Gumrah” ia berhenti sejenak, lalu "kau lihat anak-anak mada di perjalanan kita ke Pajang, sebelum dan sesudah kita melampaui hutan itu. Sehingga dengan demikian, maka kau akan dapat membuat perbandingan-perbandingan. Justru kalian juga termasuk anak-anak muda, maka kalian tentu mempunyai kesempatan untuk menentukan sikap dan pilihan bagi jalan kehidupan kalian" Manggada dan Laksana itupun mengangguk-angguk. Sementara Ki Pandi berkata “Memang ada di antara anak-anak muda yang memilih untuk hidup dalam kesenangan dan kepuasan keduniawian yang dapat langsung dirasakannya sesaat. Tetapi ada yang meletakkan harapannya pada masa depan. Bahkan ada yang memikirkan ruang lingkup kehidupan yang lebih luas dari kehidupan dirinya sendiri" Manggada dan Laksana mendengarkan keterangan itu dengan bersungguh-sungguh pula. Agaknya Ki Pandi memang tersentuh melihat kehidupan anak-anak muda yang dijumpainya dalam perjalanan hidupnya. Dalam pada itu, maka merekapun melangkah semakin lama semakin jauh dari Pajang. Mereka sudah berada di antara hijaunya tanaman di sawah dan pategalan. Angin terasa semilir berhembus mengguncang batang-batang padi muda yang nampak segar terendam di air yang tergenang. Wajah kedua anak muda itu manjadi semakin cerah. Lebihlebih lagi Manggada. Mereka sudah memasuki jalan yang langsung menuju padukuhannya. Kampung halamannya. Laksanapun pernah mengunjungi pamannya itu. Meskipun itu sudah lama terjadi, tetapi lamat-lamat ia masih dapat mengenali jalan yang dilaluinya, karena agaknya masih belum banyak berubah. "Perjalanan kita sudah menjadi semakin dekat” berkata Manggada dengan wajah yang mamancarkan kegembiraannya. Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya “Keluarga kalian tentu akan bergembira pula menerima kedatangan kalian" "Ya. Jika saja ayah tahu bahwa kami sudah agak lama berangkat dari rumah paman, maka ayah dan ibu tentu sudah menunggu-nunggu dengan cemas. Kedatangan kami tentu akan sangat menggembirakan mereka” desis Manggada. Ki Pandi mengangguk-angguk. Tetapi rasa-rasanya ia akan ikut bergembira melihat pertemuan antara anak-anak muda itu dengan kedua orang tuanya. Demikianlah ketika mereka mendekati padukuhan Gemawang yang terletak di Kademangan Kalegen, maka merekapun menjadi berdebardebar. Sudah lama Manggada meninggalkan Kademangan Kalegen, sementara Laksana juga pernah mengunjungi pamannya ketika ia menginjak remaja. Terasa angin yang sejuk berhembus perlahan menggoyang dedaunan. Padukuhan Gemawang yang merupakan bagian dari Kademangan Kalegen nampak tenang dikejauhan. Pohon nyiur yang berdiri berjajar di batas padukuhan seakan-akan melambai menyambut kedatangan Manggada dan sepupunya Laksana. Ketika mereka memasuki regol padukuhan di bawah lindungan bayangan pepohonan, Manggada menarik nafas sambil berdesis, yang seakan-akan hanya ditujukan kepada dirinya sendiri saja "Alangkah sejuknya udara di kampung halaman" Namun Laksana yang mendengarnya berdesis juga "Ya, alangkah sejuknya" Bahkan Ki Pandipun menyahut “Setelah kita berjemur dipanasnya matahari menjelang sore hari, maka berlindung di bawah bayang pepohonan memang terasa sejuk sekali" Laksana yang justru berjalan di depan berkata “Aku masih ingat dengan jelas, kemana kakiku harus melangkah" Manggada tertawa. Katanya “Kau tentu masih ingat jalanjalan di padukuhan Gemawang. Bahkan di kademangan Kalegen. Bukankah kau pernah berada disini beberapa lama ketika itu" "Ya” jawab Laksana "belum banyak terdapat perubahan sampai sekarang ini" Namun tiba-tiba Manggada mengerutkan dahinya ketika ia melihat seorang anak kecil berlari ketakutan melihat kehadiran mereka. Bahkan kemudian ia sempat memperhatikan halaman di sebelah menyebelah jalan. Dari regol-regol halaman ia melihat beberapa buah rumah yang pintunya tertutup rapat. Bahkan halaman-halaman rumah dan jalan-jalanpun rasarasanya terlalu sepi. Tidak seorangpun dijumpainya di jalanjalan. Anak kecil yang dilihatnya justru berlari ketakutan dan hilang di balik regol. Ketika ia berpaling kepada Ki Pandi, maka dilihatnya dahi Ki Pandipun berdesis “Apakah sejak dahulu padukuhan ini terlalu lengang" "Tidak” jawab Manggada "padukuhan ini terhitung padukuhan yang besar. Jalan ini merupakan jalan induk yang paling banyak dilalui orang di padukuhan ini. Betapa sepinya sebuah padukuhan, tetapi tentu tidak sesepi ini" Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya “Apakah ada sesuatu yang membuat padukuhan ini terlalu sepi" "Memang mungkin Ki Pandi. Tetapi apa” sahut Manggada. Ki Pandi mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun bertanya “Apakah rumahmu berada di sisi lain dari padukuhan ini?” bertanya Ki Pandi. "Rumah kami ada ditengah-tengah padukuhan” jawab Manggada. Ki Pandi mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak berbicara apapun lagi. Ketiga orang itu berjalan semakin ke dalam. Namun suasananya masih saja tetap lengang. Mereka semakin berdebar-debar ketika melihat seorang anak yang akan berlari melintasi jalan padukuhan. Tetapi ketika anak itu melihat mereka, maka iapun segera berbalik dan berlari masuk ke dalam regol halaman rumahnya. Ketiga orang itu memperhatikan keadaan itu dengan dahi yang berkerut. Teka-teki itu rasa-rasanya semakin menggelitik. Namun ketegangan perasaan mereka menjadi berkurang ketika mereka melihat seorang yang berjalan sambil membawa cangkul di pundaknya. Orang itupun nampaknya agak tergesa, sehingga langkahnya pun menjadi panjangpanjang. "Paman Wangking” desisi Manggada yang mempercepat langkanya pula. Beberapa langkah sebelum mereka berpapasan, orang itu tiba-tiba telah berbelok turun ke jalan yang lebih kecil. Namun Manggada itu berlari-lari mandapatkannya sambil memanggil namanya "Paman. Paman Wangking" Orang itu memang berhenti. Wajahnya menjadi tegang. Namun dengan tajamnya ia memandangi Manggada yang berlari-lari mendapatkannya sambil bertanya “Paman, apakah paman tidak ingat lagi kepadaku" "Kau siapa?” bertanya orang yang dipanggilnya Wangking itu. "Aku Manggada" "Manggada, he kaukah itu" "Ya paman. Aku Manggada. Paman ingat sekarang" Orang itu meletakkan cangkulnya. Ditepuknya pundak Manggada sambil berkata “Kau sudah sebesar ini sekarang. Hampir saja aku tidak mengenalmu lagi. Dimana saja kau selama ini" "Aku berada di rumah paman” jawab Manggada. Lalu katanya “Ini adik sepupuku. Dan ini Ki Pandi. Seseorang yang banyak membantuku dalam perjalanan hidupku" Orang itu berpaling kepada Ki Pandi sambil mengangguk hormat. Sementara itu Ki Pandipun berkata “Adalah kebetulan bahwa kami menempuh perjalanan yang searah" "Jika ada kesempatan, silahkan singgah di rumahku Ki Pandi” berkata orang itu "rumahku tinggal beberapa langkah saja dari sini" "Terimakasih Ki Wangking. Besok, aku akan memerlukan singgah” jawab Ki Pandi. "Aku sudah agak lama meninggalkan ayah dan ibu, paman. Aku ingin melihatnya lebih dahulu. Besok aku antar Ki Pandi singgah di rumah Ki Wangking” berkata Manggada. Namun kemudian Iapun bertanya “Tetapi rasa-rasanya padukuhan ini menjadi sangat sepi sekarang, paman. Biasanya rumah-rumah belum menutup pintu di saat seperti ini" "Sebentar lagi senja turun” jawab Ki Wangking. "Ya. Tetapi suasananya terasa lain sekali dengan hari-hari yang pernah aku saksikan di padukuhan ini beberapa tahun yang lalu” berkata Manggada kemudian "bahkan aku melihat anak-anak yang ketakutan melihat kami lewat" Ki Wangkingpun melihat sekelilingnya. Rasa-rasanya memang aneh, bahwa orang itu nampak gelisah. Padahal sejak dilahirkan, Ki Wangking tinggal di padukuhan itu. Bahkan kemudian katanya “Baiklah Manggada. Pulanglah. Ayah dan ibumu tentu sudah menunggu" namun kemudian ditambahkannya "menurut pengetahuanku di rumahmu kini sedang ada tamu. Tetapi aku kurang tahu, siapakah tamu di rumahmu itu. "Tamu?” bertanya Manggada. "Ya. Tetapi saatnya memang agak kurang tepat. Tetapi tamu di rumahmu itu tentu tidak tahu apa yang sedang terjadi di padukuhan ini” berkata Ki Wangking. "Apakah yang sebenarnya terjadi?” bertanya Manggada. "Ayahmu akan dapat mengatakan kepadamu nanti. Cepatcepat sajalah pulang” berkata Ki Wangking. Namun kemudian iapun berkata dengan nada gelisah "Marilah. Aku juga ingin segera sampai ke rumah" "Terima kasih, paman” sahut Manggada. Ternyata Ki Wangking itupun segera melangkah sambil menjinjing cangkulnya "Marilah anak-anak muda. Marilah Ki Pandi. Aku tunggu kalian singgah" Manggada, Laksana dan Ki Pandi menjadi semakin heran. Namun kemudian merekapun segera melanjutkan langkah mereka. Mereka justru semakin ingin cepat-cepat sampai ke rumah Manggada untuk mengetahui apa yang tengah terjadi di padukuhan itu. Di tikungan, mereka melihat seorang perempuan melintas. Cepat sekali. Namun Manggada segera mengenal perempuan itu. Karena itu, maka iapun telah memanggilnya "Bibi, bibi Gangsal" Perempuan itu memang berpaling. Ketika ia melihat Manggada maka iapun berkata tertahan "Apakah aku berhadapan dengan Manggada yang sering mamanjat pohon duwet di rumah sebelah" "Ya bibi. Bukankah rumah sebelah itu rumah Pamrih, anak yang umurnya sebayaku kawan memanjat pohon duwet itu" "Manggada” Perempuan itu mengangguk-angguk "Kau sudah begitu besar. Tetapi kemana kau selama ini?” bertanya perempuan itu. "Aku berada di rumah paman, bibi” jawab Manggada. Perempuan itu nampaknya masih ingin bertanya lebih panjang. Tetapi tiba-tiba wajahnya berkerut. Katanya “Pulanglah ngger. Bukankah kau belum sampai ke rumahmu" "Belum bibi” jawab Manggada. "Nah, pulanglah, sebentar lagi senja turun” berkata perempuan itu "aku juga harus segera pulang" Manggada tidak sempat memperkenalkan saudara sepupunya dan Ki Pandi. Namun bahwa semua orang nampaknya merasa gelisah, menjadi semakin terasa. Sehingga karena itu, maka Manggada pun semakin ingin cepat sampai di rumah. Demikianlah, mereka bertiga tidak berhenti lagi. Mereka tidak lagi bertemu dengan seorang pun. Ketika senja turun, maka semua pintu rumah menjadi semakin tertutup rapat. Mereka bertiga hanya dapat melihat cahaya lampu minyak yang menyusup di antara lubang dinding yang tidak rapat. Sementara regol-regol halaman pada umurnya memang tidak tertutup rapat. Ketika Manggada sampai dilmuka regol halaman rumahnya, maka pintu rumahnyapun sudah tertutup. Tetapi pintu regolnya masih sedikit terbuka. Rumah Manggada adalah sebuah rumah yang sedang. Lengkap dengan pringgitan, pendapa dan gandok. Dua buah seketheng di sebelah-menyebelah pendapa memisahkan longkangan dengan halaman depan yang memang agak luas. Jantung Manggada terasa bergejolak semakin cepat. Kepada Ki Pandi Manggada itu berkata “Inilah rumahku, Ki Pandi” Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya “Rumah yang bagus" "Rumah yang sederhana” sahut Manggada. "Tetapi rumahmu terpelihara dengan rapi, Manggada. Bersih dan terawat baik" "Ayah dan ibu memang senang merawat rumah, termasuk halamannya dan tanam-tanaman di atasnya” jawab Manggada. Ki Pandi mengangguk-angguk, sementara itu senjapun menjadi semakin temaram. Di pendapa rumah orang tua Manggada, lampu sudah menyala. Demikian pula di serambi gandok dan bahkan di seketheng. Namun rumah itu nampak sepi. Ketiga orang itupun kemudian memasuki halaman rumah. Manggada mempersilahkan Ki Pandi naik ke pendapa dan duduk di atas tikar pandan yang memang sudah digelar di pringgitan. Manggada yang menjadi berdebar-debar mendekati pintu pringgitan. Sementara Laksana ikut saja di belakangnya. Perlahan-lahan Manggada mengetuk pintu. Semula ia ingin mengganggu kedua orang tuanya dan mengejutkan mereka. Namun karena suasana nampaknya tidak menguntungkan, maka niatnya diurungkan. Ia tidak mau benar-benar membuat orang tuanya benar-benar terkejut. Ternyata ketukannya itu segera didengar oleh orang yang berada di belakang pintu. Sesaat Manggada dan Laksana mendengar orang-orang berbisik di dalam. Baru kemudian dengan suara yang ragu terdengar seseorang bertanya “Siapa di luar" Meskipun sudah lama Manggada meninggalkan rumahnya, namun Manggada masih ingat benar. Suara itu suara ayahnya. Karena itu, maka Manggada itupun segera menyahut “Ini kami ayah. Manggada dan Laksana" "Manggada dan Laksana" terdengar suara perempuan. Ibu Manggada. Sejenak kemudian pintu pringgitan itupun terbuka. Dengan tergesa-gesa seseorang telah mengangkat selarak pintu. Ketika pintu dibuka, maka ayah dan ibu Manggada berdiri di muka pintu. Demikian mereka melihat Manggada, maka ibunya segera memeluknya, sementara ayah Manggada memegangi kedua bahu Laksana sambil mengguncangguncangnya. Seperti anaknya, maka Laksana nampak tumbuh menjadi anak muda yang kokoh kuat. Tangan ayah Manggada segera merasakan betapa kerasnya tulang-tulang Laksana dan betapa liat kulitnya. Namun yang kemudian terkejut adalah Manggada dan Laksana. Ternyata di belakang ayah dan ibu Manggada berdiri ayah dan ibu Laksana. "Ayah dan ibu ada disini?” bertanya Laksana gagap. Ibu Laksanapun memeluknya pula. Setitik air mata menetes di bahu anaknya. Ia menahan tangis ketika melepas anaknya itu pergi bersama Manggada. Tetapi setelah kegelisahan mencengkam jantungnya, maka kini ia bertemu lagi dengan anaknya. "Marilah, masuklah" ayah Manggada mampersilahkan keduanya. Tetapi Manggada berkata “Ayah. Aku datang bersama seseorang. Seseorang yang telah banyak membantu dan bahkan melindungi aku selama dalam perjalanan" Ayah Manggada mengerutkan dahinya Namun kemudian katanya “Persilahkan ia masuk" Manggadapun kemudian melangkah mendekati Ki Pandi diikuti oleh ayahnya. Ki Pandipun kemudian telah bangkit berdiri pula. Dengan hormat ia mengangguk dalam-dalam. Demikian pula ayah Manggada, sementara Manggada berkata “Ki Pandi. Ini Ayahku. Kebetulan ayah dan ibu Laksana pun ada disini pula" Kepada ayahnya, Manggada telah memperkenalkan Ki Pandi pula. Dikatakannya bahwa selama dalam perjalanan Ki Pandi telah banyak berbuat bagi Manggada dan Laksana. "Aku mempersilahkan Ki Pandi duduk di dalam saja” ayahnya mempersilahkan. Memang tidak terbiasa bagi orang yang baru dikenalnya langsung dipersilahkan duduk di ruang dalam. Biasanya seorang tamu diterima di pendapa atau di pringgitan. Tetapi Ki Pandi yang sudah menangkap suasana di padukuhan itupun mengerti, kenapa ia dipersilahkan masuk ke ruang dalam. Demikianlah, maka sejenak kemudian, mereka sudah berada di ruang dalam rumah keluarga Manggada. Suasana yang gembira meliputi pertemuan itu. "Aku sudah hampir sepuluh hari berada di rumah ini” berkata Ki Citrabawa kepada Manggada dan Laksana "sejak kalian meninggalkan rumah kami, maka kami tidak lagi mendengar kabar beritanya. Kami berharap kalian datang menengok kami. Tetapi sampai kegelisahan kami memuncak, kalian sama sekali tidak muncul. Ketika kami tidak tahan lagi, terutama ibumu, maka kami telah pergi menyusul kalian. Demikian kami sampai di rumah ini, kegelisahan itu justru semakin bertambah, karena ternyata kalian belum sampai di rumah ini” "Maafkan kami paman” jawab Manggada dengan nada rendah. "Ketika paman dan bibimu datang kemarin Manggada, serta menceritakan bahwa kalian sudah lama berangkat meninggalkan rumah pamanmu, jantungku dan jantung ibumu rasa-rasanya akan terlepas dari tangkainya” berkata ayah Manggada. Manggada dan Laksana hanya menundukkan kepalanya saja. Mereka memang bersalah, karena dengan demikian maka mereka telah membuat kedua keluarga mereka sangat gelisah. Apalagi setelah Ki Citrabawa datang mengunjungi Ki Kertasana, ayah Manggada. "Aku bertemu dengan kedua anak muda ini di belakang hutan Jatimalang” berkata Ki Pandi menyela. "Hutan Jatimalang" Ki Citrabawa mengulang hampir tidak percaya "kenapa kalian sampai ke belakang hutan Jatimalang" "Ceriteranya panjang paman” jawab Manggada. "Baiklah” berkata Ki Citrabawa "besok kalian harus berceritera panjang sepanjang perjalanan kalian" "Baik paman. Namun yang dapat kami beritahukan, seandainya kami tidak bertemu dengan Ki Pandi dan Panembahan Lebdagati, mungkin kami memang tidak akan dapat sampai ke rumah ini" Tetapi Ki Pandipun menyahut “Aku hanya menjadi penunjuk jalan karena agaknya keduanya kebingungan” "Kami mengucapkan terima kasih Ki Pandi” berkata Ki Kertasana sambil mengangguk-angguk. Lalu katanya selanjutnya "agaknya mereka telah bertualang" "Itulah yang kami cemaskan, kakang” sahut Ki Citrabawa "karena itu, aku sudah banyak berpesan ketika mereka meninggalkan rumahku, bahwa mereka tidak perlu merasa perlu untuk mencoba kemampuan mereka terhadap siapapun dan terhadap apapun" Manggada dan Laksana hanya berdiam diri saja. Namun Ki Pandilah yang kemudian berkata “Mereka memang tidak berusaha untuk mencoba ilmu mereka dengan siapapun. Tetapi agaknya mereka tertarik untuk menjenguk betapa jauhnya cakrawala. Jika kemudian mereka harus mempertahankan dirinya, itu adalah perbuatan yang wajar bagi setiap orang yang merasa terancam. Namun satu hal yang dapat dibanggakan dari kedua anak muda itu adalah, dorongan nurani mereka untuk membantu kesulitan orang lain" Ki Kertasana dan Ki Citrabawa mengangguk-angguk. Satu kebanggaan memang bergejolak di dalam dada orang-orang tua Manggada dan Laksana itu. Namun Ki Kertasana itu berkata “Tetapi selama ini dada kami bagaikan dipanggang di atas api" Ki Pandi tersenyum, katanya “Selama perjalanan mereka, kedua anak muda ini tentu mendapat banyak sekali pengalaman meskipun kadang-kadang cukup berbahaya. Namun Tuhan Yang Maha Pengasih masih tetap melindungi mereka" Dalam pada itu, maka Nyi Kertasana dan Nyi Citrabawa pun telah minta diri pergi ke dapur untuk membuat minuman dan menyiapkan makan malam. Demikian kedua orang perempuan itu meninggalkan ruang dalam, maka Manggada yang sudah tidak sabar lagi itupun bertanya “Ayah. Ketika kami memasuki padukuhan Gemawang ini terasa suasananya terasa agak berbeda. Apakah hal seperti itu hanya terjadi di padukuhan Gemawang atau diseluruh Kademangan Kalegen?” "Suasana apa yang kau rasakan?” bertanya Ki Kertasana. "Lengang dan gelisah” jawab Manggada. Ki Kertasana mengangguk-angguk. Katanya “Ya. Suasana itu telah mencengkam padukuhan ini. Meskipun juga sedikit terasa di padukuhan lain di Kademangan Kalegen, tetapi tidak sedalam di padukuhan Gemawang" "Kenapa demikian ayah? Apa yang telah terjadi disini” bertanya Manggada pula. "Satu kebetulan, dalam suasana yang mencengkam itu, paman dan bibimu datang kemari, sehingga mereka tidak dapat melihat-lihat suasana yang sewajarnya di padukuhan ini. Apalagi karena kalian berdua masih belum sampai di rumah. Kegelisahan yang mencengkam padukuhan ini masih ditambah lagi dengan kegelisahan yang mencuat dari dada ini" Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Namun kemudian keduanya telah menunduk lagi. Sementara itu, Ki Kertasana melanjutkan "Kegelisahan ini bermula dari berita bahwa dua orang kakak beradik yang sudah lama hilang dari padukuhan ini akan kembali lagi.
0oo0

Jilid 2
"HANYA karena dua orang yang telah lama pergi akan kembali, maka padukuhan ini menjadi sangat gelisah?” bertanya Laksana. "Ya. Itulah yang terjadi” jawab Ki Kertasana. Lalu katanya "Tetapi persoalannya talak hanya sekedar dua orang kakak beradik itu akan kembali pulang. Tetapi tentu ada persoalan lain yang menyangkut kepulangan mereka itu” "Persoalan apa yang telah memhuat sesisi pedukuhan mi gelisah, ayah" bertanya Manggada. “Apakah kau masih ingat dua orang penghuni padukuhan ini yang bernama Wira Sabet dan Sina Gentong" bertanya Ki Kertasana "Nah, mereka berdua itulah yang akan pulang” Manggada mencoba mengingat-ingat. Kemudian anak muda itu mangangguk-angguk sambil berkata “Ya. Aku ingat keduanya rumah mereka yang seorang berada di dekat banjar dan yang seorang lagi di sebelah padukuhan. Anak Ki Wira Sabet itu sebaya dengan aku. la kawan bermain waktu aku masih belum meninggalkan padukuhuan ini” "Nah, apakah kau ingat bagaimana Ki Wira Sabet itu pergi" bertanya ayahnya. Manggada termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil berdesis "Tidak. Aku tidak ingat” Ki Kertasana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya “Ceriteranya memang sangat tidak menarik. Seumurmu waktu itu, kau tentu tidak banyak mengerti. Tetapi sekarang kau sudah dewasa, maka tidak ada salahnya jika kau mengerti alasan kepergian mereka berdua” Manggada dan Laksana mendengarkan ceritera ayahnya dengan sungguh-sungguh. Sementara Ki Kertasana meneruskannya "Saat itu Sura Gentong masih nampak jauh lebih muda dari sekarang Ia ternyata telah berhubungan dengan seorang perempuan yang sudah bersuami, sementara ia sendiri telah beristeri. Ketika orang-orang padukuhan ini sedang memikirkan untuk menyelasaikan persoalannya yang rumit, maka yang tidak diharapkan itu telah terjadi. Sura Gentong dan perempuan itu menjadi gila. Agaknya mereka sepakat untuk mengambil jalan pintas. Sura Gentong membunuh isterinya dan perempuan itu meracun suaminya sampai mati. Tetapi keduanya tidak sempat melarikan diri seperti yang direncanakan. Keduanya gagal melarikan diri karena tetangga-tetangga yang mendengar keributan di rumah Sura Gentong yang membunuh isterinya itu segera mengepungnya dipimpin langsung oleh Ki Jagabaya. Tetapi hal itu didengar pula oleh kakak Sura Gentong. Wira Sabet ternyata membela adiknya. Ketika, terjadi ketegangan dan bahkan kemudian keributan, maka Wira Sabet justru telah melukai Ki Jagabaya. Untunglah bahwa nyawa Ki Jagabaya dapat diselamatkan. Namun Wira Sabet dan Sura Gentong ternyata berhasil melarikan diri, luput dari kejaran orang-orang pedukuhan ini” Manggada mengangguk-angguk. Katanya “Ya. Aku ingat keributan yang terjadi itu. Tetapi aku memang tidak tahu sebabnya” "Nah, sejak saat itu. Wira Sabet dan Sura Gentong menjadi buruan dan tidak berani lagi menginjakkan kakinya di padukuhan ini” "Tetapi sekarang mereka akan kembali" bertanya Manggada. "Ya. Itulah yang menggelisahkan” jawab ayahnya. "Kenapa menggelisahkan? Kenapa orang-orang padukuhan ini tidak bersikap sebagaimana beberapa tahun yang lalu? Bersama-sama menghadapi keduanya. Bukankah dengan demikian maka keduanya tidak akan berani berbuat apa-apa sebagaimana saat itu" bertanya Manggada. "Ternyata keadaannya sudah berubah. Lebih dari lima tahun keduanya berguru kepada seorang yag sakti di kaki Gunung Kendeng. Nah. dengan ilmu yang tinggi itu, mereka kembali ke kampung halaman. Bahkan bukan hanya berdua, tetapi bersama kawan-kawan seperguruan mereka” "Darimana orang-orang padukuhan ini mengetahuinya bahwa keduanya akan kembali bersama saudara-saudara seperguruan mereka?” bertanya Manggada pula. "Wira Sabet dan Sura Gentong telah menemui seseorang yang sedang berada di sawah. Ia sengaja memberitahukan hal itu untuk disebar-luaskan kapada penghuni padukuhan ini. Bahkan dengan pesan, mereka pada suatu saat akan datang untuk menuntut balas. Sura Gentong semakin mendendam sejak perempuan yang menjadi sumber persoalan itu ternyata telah mati pula “Apakah orang-orang di padukuhan ini membunuhnya” bertanya Laksana. “Tidak. Perempuan itu memang ditangkap waktu itu dan dibawa ke rumah Ki Jagabaya. Tetapi perempuan itu sangat menyesali perbuatannya. Ia sudah terlanjur membunuh suaminya. Sementara itu ia tidak berhasil melarikan diri bersama Sura Gentong, karena Sura Gentong sendiri harus menghindari kemarahan orang-orang padukuhan ini. Karena itu, maka dalam penyesalan yang tidak tertahankan, perempuan itu telah membunuh diri di ruang tahanannya. Ketika seorang pembantu di rumah Ki Jagabaya akan memberikan makan paginya, ternyata perempuan itu sudah meninggal, tergantung pada selendangnya yang diikatkan pada rusuk atap rumah dengan memanjat geledeg bambu yang ada di bilik itu” Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sementara Ki Pandi mengerutkan dahinya. Dengan suara berat Ki Pandi itu berdesis “Satu sisi gelap dari kehidupan seseorang. Betapapun manusia dianugerahi akal dan pikiran, namun kadang-kadang manusia sendiri tidak mampu memanfaatkan dengan baik” Manggada dan Laksanapun segera teringat kehidupan beberapa jenis binatang di hutan. Mereka tidak mempunyai akal dan pikiran sebagaimana manusia, sehingga mereka tidak tahu arti baik dan buruk. Tidak pula tahu benar dan salah. Dalam pada itu, Ki Kertasana itupun berkata selanjutnya "Nah, keadaan itulah yang telah membuat suasana padukuhan ini menjadi gelisah. Bahkan Ki Jagabaya menjadi gelisah pula. Dalam keadaan yang sulit ini, ia tidak berhasil mendapat dukungan dari siapapun di padukuhan ini, karena semua orang dibayangi oleh ketakutan untuk membantunya” "Tetapi jika orang-orang padukuhan ini bergerak bersamasama, maka Wira Sabet dan Sura Gentong tentu akan berpikir dua kali untuk membalas dendam. Bagaimanapun juga mereka tentu tidak ingin hidup dalam suasana yang buruk, yang diwarnai permusuhan dan dendam, sehingga setiap bangun dari tidur, ia sudah merasa dikelilingi oleh musuhmusuhnya” "Tetapi tidak ada orang yang berani melakukannya, memusuhi keduanya akan dapat berarti mati bagi mereka” berkata Ki Kertasana dengan sungguh sungguh. "Apakah ayah menduga keduanya akan sampai hati membunuh tetangga mereka sendiri" bertanya Manggada. "Ya, Iblis telah singgah dan bahkan menetap di hati mereka. Dendam itu telah membuat jantung mereka membara” Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Manggada telah berpaling kepada Ki Pandi dan kemudian kepada pamannya. Meskipun agak ragu namun Manggada itupun bertanya “Paman. Seperti kedua orang itu, kami juga baru pulang. Apakah menurut paman, kami dapat membantu Ki Jagabaya yang mengalami kesulitan, bahkan mungkin kegelisahan yang sangat” Ki Citrabawa menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Jika kau merasa terdorong untuk membantu mereka yang hidupnya terancam oleh dendam dan kekelaman hati. maka kalian dapat melakukannya. Tetapi jika baru sekedar ingin memamerkan kemampuan kalian, maka lebih baik kalian tinggal di belakang pintu tertutup sebagaimana orang lain di padukuhan ini” “Kami benar-benar ingin membantu, paman. Bukankah dengan demikian, maka banyak kerja yang terbengkalai, orang yang pergi ke sawah dengan tergesa-gesa pulang dan menutup pintu. Perempuan yang pergi ke pasar di pagi hari pun harus berlari-lari pula. Sedang anak-anak tidak lagi berani bermain di halaman" jawab Manggada. Ki Citrabawa mengangguk-angguk, katanya “Baiklah jika demikian. Besok, pergilah ke rumah Ki Jagabaya, mungkin kalian juga harus menemui Ki Bekel” “Baik paman” jawab Manggada “Besok, kami akan menemui mereka” “Tetapi ingnat Manggada. Keduanya tidak berdiri sendiri. Mereka sudah terikat dalam satu keluarga sebuah perguruan. Karena itu. maka saudara-saudara seperguruan mereka akan melibatkan diri pula jika harga diri mereka diganggu” "Baik, paman" jawab Manggada “kami akan berhati-hati” "Nah, kau dengar Laksana" berkata ayahnya “kau bukan anak padukuhan Gemawang. Karena itu, kau harus sangat berhati-hati jika kau melibatkan diri ke dalam persoalan ini” "Ya ayah" jawab Laksana "aku akan mengingat semua petunjuk kakang Manggada, karena kakang Manggada tentu lebih mengetahui medannya daripada aku” "Selanjutnya aku tentu akan mohon paman untuk tetap tinggal untuk sementara disini. Bahkan aku juga mohon Ki Pandi untuk tinggal bersama kami”' berkata Manggada kemudian. Ki Pandi tersenyum katanya “Jika hanya untuk menemani kalian berdua, aku tentu tidak berkeberatan” "Ya, Ki Pandi, tetapi satu hal yang hendaknya Ki Pandi ingat, bukankah Ki Pandi akan mengajari kami membunyikan seruling sampai kami benar-benar mampu melagukan gending-gending kewiraan, namun juga kidung kesejukan dan kedamaian?” Ki Pandi justru tertawa, sementara Ki Kertasana dan Ki Citrabawa hanya termangu-mangu saja. Namun baik Ki Kertasana maupun Ki Citrabawa telah menduga bahwa Ki Pandi yang nampaknya tidak lebih dari seorang yang bertubuh bongkok, namun ia tentu seorang yang berilmu tinggi. Tetapi pembicaraan itupun terputus, kerena Nyi Kertasana dan Nyi Citrabawa telah memasuki ruangin itu pula sambil membawa hidangan makan malam bagi mereka Setelah makan malam, Manggada dan Laksana masih duduk-duduk di ruang dalam bersama keluarganya dan pamannya serta Ki Pandi. Laksana telah bercerita panjang lebar tentang pengembaraannya dan agaknya sulit untuk dikekang, sekali-sekali anak muda itu telah bercerita pula tentang Ki Pandi. "Ah, anak itu ternyata memang senang bergurau" sahut Ki Pandi sambil tersenyum "ia juga senang memuji seseorang agak berlebihan. Tetapi aku tahu, ia tidak bermaksud apa-apa kecuali sekedar bergurau” Ki Kertasana dan Ki Citrabawa tertawa. Dengan nada rendah Ki Kertasana berkata “Laksana memang senang bergurau, tetapi aku mempercayainya” Ki Pandipun tertawa juga. Tetapi ia masih berkata “Aku justru menjadi berdebar-debar jika ceritera angger Laksana itu dipercaya. Karena hal itu akan merupakan beban bagiku” Laksana justru tertunduk diam meskipun ia harus menahan tertawanya. Malam itu Manggada dan Laksana menjadi anak-anak muda yang dimanjakan. Mereka tidur di bilik yang bersih diterangi lampu minyak di atas ajug-ajug di sudut biliknya serta disediakan selimut kain panjang untuk melawan angin. Tetapi kedua orang anak muda itu justru merasa canggung. Sebulan lamanya mereka berada di tengah-tengah hutan yang lebat, dengan hanya sekedar menggunakan kulit kayu sebagai pengganti pakaiannya. Justru karena itu, maka mereka tidak segera dapat tidur, untuk beberapa saat mereka masih saja berbincang kesanakemari. Namun akhirnya pembicaraan mereka tersangkut pada persoalan yang sedang membuat padukuhan Gemawang di Kademangan Kalegen itu terasa panas. “Besok kita akan menemui Ki Jagabaya” desis Manggala. “Ya” sahut Laksana “kita akan melibatkan diri langsung, justru aku ingin menemui dengan kedua orang itu” “Jika sudah bertemu?” bertanya Manggada. Laksana menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab, Bahkan kemudian ia memiringkan tubuhnya membelakangi Manggada sambil menguap. "Aku ingin tidur" desisnya. Di bilik yang berada di gandok, Ki Pandi justru sudah tidur nyenyak. Orang tua itu seakan-akan dengan sengaja telah mengosongkan dirinya dari berbagai macam persoalan dan ingin benar-benar menikmati istirahatnya. Di umurnya yang semakin tua Ki Pandi yang terbiasa bertualang itu, sekali-sekali juga ingin berada dalam lingkungan keluarga yang sewajarnya seperti di rumah Ki Kertasana itu. Tetapi pagi-pagi benar Ki Pandi sudah bangun. Ketika Manggada pergi ke sumur untuk menimba air mengisi pakiwan, Ki Pandi justru sudah mengisi pakiwan itu sampai penuh. "Sebaiknya aku dan Laksana sajalah yang mengisi jambangan di pakiwan itu, Ki Pandi" berkata Manggada. Ki Pandi tersenyum. Katanya “Bukankah aku sekali-sekali juga ingin mandi di pakiwan?” "Maksudku, biar sajalah Ki Pandi mandi. Tetapi kami sajalah yang mengisinya” "Bukankah sama saja? Asal jambangan itu tidak menjadi kosong” jawab Ki Pandi. "Tetapi sebaiknya kami yang muda-muda sajalah yang mengisinya. Agaknya itu akan lebih pantas” Ki Pandi menepuk bahu Manggada sambil berkata “Aku akan mandi kau isi kembali jambangan itu” Demikianlah, setelah mandi dan berbenah diri, maka Ki Pandi, Manggada dan Laksana telah duduk di serambi gandok. Namun kemudian merekapun diminta untuk masuk ke ruang dalam untuk minum minuman hangat yang telah disediakan oleh Nyi Kertasana serta beberapa potong makanan yang dibuat oleh Nyi Citrabawa. Sambil makan, maka Manggada dan Laksana kembali menyatakan keinginannya untuk menemui Ki Jagabaya. "Baiklah" sahut Ki Kertasana "tetapi sekali lagi aku pesan kepada kalian, agar kalian berhati-hati. Kalian harus menyesuaikan diri dengan semua rencana Ki Jagabaya. Kalian jangan membuat rencana tersendiri tanpa setahu Ki Jagabaya. Apalagi memotong kebijaksanaan Ki Jagabaya” "Baiklah ayah. Jika kami menemui Ki Jagabaya hari ini. kami baru akan menjajagi persoalan yang sebenarnya dihadapi oleh seisi padukuhan ini. Kami tentu akan memohon pertimbangan ayah dan paman Citrabawa. Selebihnya tentu juga Ki Pandi” jawab Manggada. "Pergilah. Bawa diri kalian baik-baik”pesan Ki Kertasana. Sejenak kemudian, maka Manggada dan Laksana telah menyusuri jalan padukuhan menuju ke rumah Ki Jagabaya. Seperti yang telah mereka lihat, padukuhan Gemawang itu menjadi sangat lengang. Bahkan keduanya hampir tidak pernah menjumpai orangorang yang pernah mereka kenal. Anak-anak kecil juga tidak bermain-main di halaman. Mereka pada umumnya lebih senang bermain di longkangan rumahnya. Manggada dan Laksana berjalan dengan jantung yang berdebar-debar. Seisi padukuhan Gemawang itu memang benar-benar sedang dicengkam oleh kegelisahan. Ketika mereka sampai di regol halaman rumah Ki Jagabaya, maka regol itu tertutup pula. Tetapi ketika Manggada mendorong regol itu, maka regol itupun terbuka. Ternyata regol itu tidak diselarak dari dalam. Dengan ragu-ragu keduanya menuju ke pendapa, tetapi mereka tidak melihat siapapun. Karena itu, maka mereka telah pergi ke pintu seketeng. Ternyata pintu seketeng itu tertutup, bahkan diselarak dari dalam. Kedua anak muda itu berpandangan sejenak. Namun kemudian Manggadapun berdesis “Aku akan mencoba mengetok pintu seketeng ini. Mudah-mudahan ada yang mendengar” Laksana mengangguk sambil menjawab “Ya. Kita memang harus mengetuk pintu. Atau melingkari gandok dan langsung pergi ke dapur” Manggadapun kemudian mengetuk pintu seketeng itu. Perlahan-lahan. Namun karena tidak ada seorangpun yang menyahut, maka iapun megetuk semakin keras. Untuk beberapa saat memang tidak ada yang menyahut. Tetapi kemudian keduanya mendengar langkah orang menuju ke pintu. Dengan nada berat terdengar seseorang bertanya “Siapa di luar?” "Aku" sahut Manggada. "Aku, siapa” bertanya suara itu pula. "Manggada” "Manggada? Aku belum pernah mendengar nama itu” Manggada termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berkata “Aku anak Ki Kertasana” "Anak Ki Kertasana? Bukankah anak Ki Kertasana tidak berada di rumahnya?” "Ya. Tetapi kemarin aku sudah pulang” Nampaknya suara Manggada cukup meyakinkan. Karena itu. maka terdengar orang di belakang pintu seketeng itu mengangkat selarak dan kemudian mendorong pintu sehingga terbuka. Yang berdiri di belakang pintu ternyata seorang anak muda yang sedikit lebih tua dari Manggada dan Laksana. Namun Manggada segera dapat mengenalinya. Anak muda itu tentu anak Ki Jagabaya. “Bukankah kau Sampurna” bertanya Manggada. Anak muda itu mengerutkan dahinya. Tetapi iapun segera teringat. Anak muda itu adalah Manggada. Kawannya bermain, meskipun umurnya berselisih dua tiga tahun. "Marilah Manggada, masuklah. Kita duduk di serambi” berkata Sampurna yang wajahnya menjadi cerah. Manggada dan Laksana melangkah masuk. Manggada kemudian telah memperkenalkan Laksana, adik sepupunya itu. Ketiganyapun kemudian melangkah ke pandapa setelah Sampurna menyelarak pintu itu lagi. Sambil melangkah ke serambi samping, Manggadapun bertanya “Apakah kau akan pergi ke satu upacara?” “Tidak" jawab Sampurna "aku tidak akan pergi ke manamana” "Tetapi kau berpakaian lengkap" sahut Manggada. Sampurna mendorong kerisnya kepunggungnya. Katanya “Aku tidak akan pergi ke sebuah upacara. Tetapi dalam keadaan seperti sekarang ini, maka aku merasa perlu untuk selalu bersiap-siap” Manggada mengangguk-angguk. Katanya “Ya. Aku melihat suasana yang menegangkan” "Apakah Ki Kertasana tidak berceritera tentang keadaan padukuhan Gemawang di saat-saat terakhir?” bertanya Sampurna. “Ya Ayah sudah berceritera" jawab Manggada. Sampurna menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun membuka pintu serambi dan sekali lagi mempersilahkan kedua anak-anak muda itu duduk di serambi samping. “Seluruh padukuhan ini terasa sangat sepi” berkata Manggala kemudian. “Ya, seluruh padukuhan ini sedang dibayangai oleh ketakutan. Berita akan kembalinya Wira Sabet dan Sura Gentong telah membuat semua orang menjadi gelisah. Termasuk ayah. Karena ayah dianggap musuh utama kedua orang itu” jawab Sampurna. “Dimana Ki Jagabaya sekarang?” bertanya Manggada. "Ayah sedang pergi ke rumah Ki Bekel. Bagaimanapun juga, ayah harus tetap menjalankan tugasnya. Meskipun ia harus bekerja sendiri” jawab Sampurna. "Kenapa sendiri? Bagaimana dengan bebahu padukuhan ini dan apakah hal ini sudah dilaporkan kepada Ki Demang Kalegen?” "Ki Bekel sudah memberikan laporan. Namun tidak banyak yang dapat dilakukan oleh Ki Demang di Kalegen. Agaknya nama Wira Sabet dan Sura Gentong benar-benar ditakuti. Apalagi setelah diketahui bahwa Wira Sabet dan Sura Gentong ternyata lelah bekerja sama dengan Ki Sapa Aruh” "Ki Sapa Aruh? Maksudmu ada seseorang yang bernama Sapa Aruh" bertanya Manggada. "Ya. Memang nama yang aneh. Tetapi orang yang bernama Sapa Aruh itu adalah orang yang memang ditakuti. Bukan hanya di Kademangan Kalegen, tetapi untuk satu lingkungan yang luas” "Aku belum pernah mendengar nama itu. Ayahpun tidak menyebut nama Ki Sapa Aruh” berkata Manggada. "Nama itu sudah lama dikenal. Tetapi bahwa Wira Sabet dan Sura Gentong diketahui berhubungan dengan Ki Sapa Aruh itu memang baru beberapa hari ini. Kabar yang diterima Ki Bekel tentang hal itu justru dari Kademangan. Mungkin Ki kertasana memang belum mengetahui hal itu” Manggada mengangguk-angguk. Katanya "Sebelum orangorang padukuhan ini mengetahui bahwa Wira Sabet dan Sura Gentong berhubungan dengan Ki Sapa Aruh. mereka sudah menjadi ketakutan. Apalagi jika kemudian mereka mengetahuinya. "Ya. Sebagaimana para bebahu Kademangan dan bahkan Ki Demang sendiri menjadi gelisah karenanya” "Apakah Wira Sabet dan Sura Gentong itu telah mengupah Ki Sapa Aruh untuk membantu mereka” bertanya Laksana. "Tetapi ingat Manggada. Keduanya tidak berdiri sendiri. Mereka sudah terikat dalam satu keluarga sebuah perguruan. Karena itu, saudara-saudara seperguruannya akan melibatkan diri pula jika harga diri mereka tersinggung" "Agaknya tidak demikian" jawab Sampurna "Ki Sapa Aruh memang sengaja melibatkan diri karena kepentingannya sendiri. Jika ia berpihak kepada Wira Sabet dan Sura Gentong, maka hal itu akan dapat mengesahkan tindakan-tindakan yang diambilnya kemudian yang jutru bagi kepentingannya sendiri. Merampok dan perbuatan-perbuatan serupa” Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sementara Sampurna berkata “Karena itu, maka agaknya ayah tidak dapat bersandar kepada siapapun juga kecuali kepada dirinya sendiri. Tetapi ayah sudah bertekad, apapun yang terjadi, ayah akan tetap berpijak pada tugas kewajibannya” "Apakah di seluruh Kademangan ini benar-benar tidak ada orang yang dapat diajak bekerja bersamanya? Ki Jagabaya Kademangan Kalegen misalnya” "Pada umumnya mereka tidak mau terlibat dalam permusuhan dengan Ki Sapa Aruh karena mencampuri persoalan orang lain. Agaknya persoalan antara ayah dan kedua orang kakak beradik itu dianggap persoalan pribadi sehingga siapa yang melibatkan diri dianggap mencampuri persoalan orang lain” "Kedudukan Ki Jagabaya memang menjadi sulit" berkata Manggada. "Itulah sebabnya ayah memanggil aku pulang” "O" Manggada mengerutkan keningnya "kemana kau selama ini sehingga kau harus dipanggil pulang” "Aku berguru kepada kakek yang juga guru ayah semasa mudanya Tetapi karena ayah kemudian sendiri menghadapi persoalan yang terhitung gawat, maka aku telah dipanggil pulang” jawab Sampurna Pembicaraan mereka tiba-tiba terhenti. Seorang gadis keluar sambil membawa minuman hangat. Agaknya Nyi Jagabaya mengetahui bahwa di serambi ada dua orang tamu. Demikian gadis itu meletakkan mangkuk-mangkuk minuman, maka Sampurna itupun bertanya kepada Manggada "Kau ingat anak ini?” Manggada termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menjawab “Ya. Tentu” "Siapa” bertanya Sampurna lagi. Manggada mulai membayangkan masa remajanya. Gadis itu adalah adik Sampurna. Di masa remaja anak-anak padukuhan Gemawang tidak membatasi permainan antara anak-laki-laki dan perempuan. Kadang-kadang mereka bermain bersama. Namun kadang-kadang memang bermain terpisah antara anak laki-laki dan perempuan. Tiba-tiba saja meluncur dari sela-sela bibirnya "Tantri, lengkapnya Endang Bintarti” "Ingatanmu ternyata cukup cerah. Tantri, siapakah anak muda ini? Kau tentu masih mengenalnya” Tantri yang masih masih berdiri sambil memegang nampan itu termangu-mangu. Namun wajahnya mulai menjadi semburat merah. Anak muda itu memang kawan bermainnya di masa kanak kanak. Tetapi kini ia sudah seorang anak muda yang mulai menginjak dewasa. Sedang dirinya sendiripun sudah menjadi seorang gadis. Tetapi kakaknya itu mendesaknya. ”He, kau ingat namanya?” Tantri itu menunduk. Tetapi kemudian terdengar ia menyahut nama "Manggada” “Nah, kau ternyata masih ingat. Ia memang Manggada. Sedang yang seorang lagi adalah saudara sepupunya. Namanya Laksana. Aku juga baru mengenalnya” Tantri mengangguk hormat Sementara itu Laksanapun mengangguk pula sambil mencoba untuk tersenyum. Tetapi Tantri tidak lama berdiri di serambi itu. Iapun kemudian telah meninggalkan tamu-tamunya kembali ke dapur. Kepada ibunya Tantri berceritera bahwa kedua orang tamu kakaknya itu adalah Manggada dan adik sepupunya. "Manggada" ibunya mengingat-ingat. "Anak laki-laki Ki Kertasana" sahut Tantri. "O" ibunya mengangguk-angguk "bukankah ia sudah lama meninggalkan padukuhan ini?” “Ya. Bahkan Manggada pergi lebih dahulu daripada kakang Sampurna” Ibunya masih saja mengangguk-angguk "Ya. Berselisih beberapa tahun” Di serambi, Sampurna telah mempersilahkan Manggada dan Laksana minum. Sampurnapun menceriterakan pula bahwa ia pergi kemudian setelah Manggada beberapa tahun mendahuluinya. "Kedatanganmu tentu memberikan sedikit ketenangan bagi ayahmu" berkata Manggada. "Aku memang akan mencoba membantu tugas ayah meskipun aku tahu bahwa Wira Sabet dan Sura Gentong memiliki ilmu yang tinggi setelah ia menempa diri dalam sebuah perguruan. Apalagi setelah keduanya menghubungkan namanya dengan Ki Sapa Aruh. Kekuatan meieka benar-benar menggetarkan jantung. Tetapi ayah tidak dapat ingkar akan kewajibannya apapun yang terjadi. Karena aku anaknya, maka akupun harus membantunya sejauh dapat aku lakukan” Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Dengan nada rendah Laksana berkata “Satu tugas yang sangat berat” “Ya" jawab Sampurna "menurut kenyataannya, kami hanya berdua saja. Aku dan ayah. Sementara itu, jumlah kawankawan Wira Sabet dan Sura Gentong belum dapat kami ketahui. Mungkin lima, mungkin enam atau bahkan lebih” "Jika hanya lima atau enam, kenapa orang se Kademangan tidak berani melawan mereka” bertanya Laksana. ”Betapapun tinggi ilmunya, namun melawan orang se Kademangan, maka sulit bagi mereka untuk dapat menang” "Tetapi korbannya tentu banyak sekali. Nah, orang-orang Kademangan ini tidak mau menjadi salah seorang dari korban yang berjatuhan itu. Isteri-isteri merekapun berkeberatan. Demikian pula ayah dan ibu mereka atau kekasih mereka” "Tetapi bukankah kita tidak tahu, siapakah korban itu kemudian" sahut Manggada. "Justru karena itu. Setiap orang merasa bahwa korban itu kemungkinan adalah diri mereka, suami mereka atau anakanak mereka yang telah mereka besarkan sejak anak itu lahir” Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sementara itu. Sampurna berkata "Tetapi biarlah. Ayah akan tetap bekerja dengan apa yang ada padanya” Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak, namun kemudian Manggada pun berkata kepada Sampurna “Sebenarnya aku sudah mendengar keberatan terutama orang-orang padukuhan ini, untuk membantu ayahmu yang dianggap sebagai musuh bebuyutan oleh kedua orang itu, meskipun ayahmu tidak bersalah. Seharusnya, ayahmulah yang mendendam, karena ayahmu. pernah dilukai sampai keadaannya sangat gawat. Namun justru kedua orang itulah yang mendendam ayahmu” "Perempuan yang akan melarikan diri dengan Sura Gentong itu meninggal di rumah ini.” jawab Sampurna "meskipun perempuan itu membunuh dirinya sendiri, namun dendam kedua orang itu ditujukan terutama kepada ayah. Merekapun mengira bahwa kemarahan orang-orang padukahan itu kepada keduanya sehingga keduanya harus mengalami perlakuan buruk adalah karena ayah telah menghasut orang-orang sepadukuhan” Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Meskipun agak ragu, Manggadapun kemudian berkata “Sampurna, kedatanganku kemari, sebenarnyalah karena aku ingin menghadap Ki Jagabaya. Setelah kami mendengar kesulitan yang dihadapi ayahmu, maka kami berniat untuk menyatakan kesediaan diri kami sekeluarga untuk ikut membantunya. Mungkin tenaga kami sekeluarga tidak berarti apa-apa bagi Ki Jagabaya, tetapi kami hanya ingin memancing keberanian orang-orang padukuhan ini untuk bangkit. Jika berhasil dan kemudian banyak orang yang menyatakan kesediaannya membantu kesulitan Ki Jagabaya. Maka rasa-rasanya kami dapat mengatasi kedua orang itu meskipun kemudian ia bekerja sama dengan Ki Sapa Aruh” Sampurna mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia tersenyum sambil bertanya “Jadi kau dan keluargamu menyatakan bersedia untuk membantu ayah?” "Ya, seperti yang aku katakan tadi, yang penting bukan kemampuan kami. Tetapi kesediaan kami hendaknya dapat membangunkan orang-orang Gemawang khususnya. Kami ingin menggelitik setiap laki-laki di padukuhan ini” "Bagus Manggada Ayah tentu akan mengucapkan terima kasih yang sangat besar kepadamu dan keluargamu” jawab Sampurna. Namun kemudian nada suaranya menurun "tetapi jika terjadi sesuatu atas keluargamu atau satu dua di antara keluargamu, maka kami akan merasa tetah bersalah karena kami telah menyeret keluargamu ke dalam bencana” "Tidak Sampurna" jawab Manggada "persoalannya bukan sekedar ayahmu. Apa yang dnakukan ayahmu itu adalah karena ayahmu seorang Jagabaya. Seandainya ayahmu bukan seorang Jagabaya, maka agaknya iapun tidak akan terlibat sangat jauh dalam persoalan ini” Sampurna memandang Manggada dan Laksana berganti-ganti. Keduanya masih sangat muda. Beberapa tahun lebih muda dari dirinya sendiri. "Manggada" berkata Sampurna kemudian "jika kau menyatakan bersedia untuk membantu ayah bersama keluargamu, berapa orang keluargamu yang sanggup benar-benar membantu ayah dalam pengertian yang paling keras Maksudku, apakah kalian bersedia untuk bertempur?” "Tentu Sampurna" jawab Manggada "kami tentu akan bersedia bertempur yang tentu saja setingkat dengan kemampuan kami. Sedangkan yang aku maksud sekeluarga adalah keluarga kami yang terdiri dari lima orang laki-laki Kami berdua, ayah, paman yang kebetulan ayah Laksana ini, dan seorang tamu kami. Seorang yang sudah tua. Tetapi dalam ketuaannya, ia masih nampak kuat dan tegar” Sampurna mengangguk-angguk. Katanya “Kami mengucapkan terima kasih. Tetapi aku minta kalian berpikir dua tiga kali, jika kaitan memang sudah mantap, maka biarlah ayah mengumumkannya. Mudah-mudahan seperti yang kalian maksudkan, orang yang lain akan terpancing dan mengikuti jejak kalian” “Kami sudah berpikir dengan masak” jawab Manggada “jika Ki Jagabaya tidak berkeberatan, maka kami benar-benar akan melakukannya. Seperti juga Ki Jagabaya, adapun yang terjadi pada keluarga kami” Sampurna menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Terima kasih. Aku akan menyampaikannya kepada ayah” "Nanti sore aku akan datang lagi untuk mohon keterangan langsung dan Ki Jagabaya, apakah Ki Jagabaya akan setuju atau tidak” "Ayah tentu akan setuju, karena ayah memang memerlukan kawan. Jika kemudian ayah tidak setuju, itu tentu bukan karena ayah tidak mempercayai kebersihan hati kalian, tetapi semata-mata ayah tidak ingin menyulitkan kedudukan keluargamu di padukuhan ini” berkata Sampurna. Demikianlah, maka Manggada dan Laksanapun kemudian telah minta diri. Namun Sampurna menahannya sejenak agar mereka dapat bertemu dengan ibunya. Nyi Jagabaya telah mengajak Tantri untuk menemui Manggada dan Laksana. Ternyata demikian Nyi Jagabaya melihat Manggada, maka ia tidak melupakan wajah itu. Apalagi Manggada memang sering bermain di rumahnya, karena ia adalah kawan bermain Tantri dan Sampurna. Manggada dan Laksana mohon maaf, ketika Nyi Jagabaya menahan mereka, agar mereka menunggu Ki Jagabaya. “Nanti sore kami akan datang lagi Nyi” jawab Manggada. Demikianlah, maka Manggada dan Laksanapun meninggalkan rumah Ki Jagabaya. Sampurna mengantar mereka sampai di regol halaman. Demikian Manggada dan Laksana turun ke jalan, maka Sampurna itupiun berpesan ”Berhati-hatilah kalian berdua. Jalan menjadi sepanas bara api” Manggada dan Laksana tersenyum. Sambil menganggukangguk Manggada menjawab “Aku akan berhati-hati” Sampurna menunggu beberapa saat di regol halaman rumahnya yang jarang terbuka meskipun tidak diselarak Baru ketika Manggada dan Laksana melangkah beberapa puluh langkah, maka Sampurnapun segera menutup pintu dan masuk lewat pintu seketeng yang kemudian telah diselaraknya pula. Ketika kemudian Sampurna menyatakan keinginan Manggada sekeluarga untuk membantu Ki Jagabaya. maka Nyi Jagabayapun berkata “Kita dapat mengucapkan terima kasih dan bangkit kembali dengan harapan-harapan, atau sebaliknya kita merasa kasihan kepada keluarga Ki Kertasana karena dengan langkah yang diambilnya itu. mereka akan terancam” Sampurna mengangguk-angguk pula. Dengan nada dalam ia berkata “Biarlah ayah memutuskan. Tetapi tanpa tanpa bantuan orang lain, maka segala usaha ayah tentu akan siasia, kita tahu kedua orang itu telah menempa diri dilandasi oleh dendam yang menyala di hati mereka. Apalagi mereka telah bekerjasama dengan Ki Sapa Aruh yang namanya sangat ditakuti itu” Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Sebagai isteri seorang Jagabaya, maka iapun harus siap menghadapi keadaan seperti itu. Nyi Jagabaya juga menyadari sepenuhya tentang tugas tugas yang diemban oleh suaminya sebagai seorang yang bertanggung jawab terhadap ketenangan hidup seisi padukuhan. Nyi Jagabaya itupun bergumam hampir kepada dirinya sendiri ”Justru karena itu, apakah keluarga Ki Kertasana itu menyadari sepenuhnya akan akibat yang dapat terjadi atas langkah yang diambilnya? Apakah keluarga Ki Kertasana itu memiliki sekedar kemampuan untuk melindungi diri mereka” Sampurna termangu-mangu sejenak. Tetapi iapun kemudian bertanya "Niat itu sendiri harus kita hargai, ibu Tetapi untuk selanjutnya biarlah ayah yang menentukan. Ketika kemudian Ki Jagabaya kembali dari rumah Ki Bekel, maka Sampurnapun segera menemui ayahnya serta menyampaikan kesediaan keluarga Ki Kertasana untuk membantunya jika terjadi sesuatu karena dendam Wira Sabet dan Sura Gentong. Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia berkata “Satu langkah yang berani. Aku tentu akan mengucapkan terima kasih” "Ibu justru mencemaskan nasib mereka” ayahnya berkata berkata itu kepada Sampurna kemudian. "Tetapi aku tentu tidak dapat mencegahnya. Jika aku menolak akan dapat terjadi salah paham. Kita akan dapat dianggap merendahkan keluarga itu. Apalagi secara jujur, kita memang memerlukan kesediaan orang-orang padukuhan ini untuk bangkit” "Manggada juga mengatakan, bahwa keluarganya ingin memancing sikap para penghuni padukuhan ini” "Baiklah. Aku akan menemui mereka” berkata Ki Jagabaya. "Manggada akan kembali kemari nanti" berkata Sampurna. "Biarlah aku pergi ke rumah Ki Kertasana. Disana aku dapat bertemu bukan saja dengan anak-anak itu. Tetapi juga dengan orang tuanya. Mudah mudahan yang dikatakan Manggada itu bukan sekedar mimpi seorang anak muda tanpa mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinannya lebih jauh” berkata Ki Jagabaya. Sampurna mengangguk-angguk. Sebenarnya ia ingin ikut pergi ke rumah Ki Kertasana, tetapi ia tidak dapat meninggalkan ibu dan adiknya tanpa kawan seorangpun. Pembantu yang ada di rumah itu tentu tidak akan dapat berbuat sesuatu jika datang bahaya mengancam ibu dan adiknya. Karena itu, menjelang sore hari, Ki Jagabaya telah pergi sendiri ke rumah Ki Kertasana, mendahului kedatangan Manggada dan Laksana di rumahnya. Kedatangan Ki Jagabaya memang mengejutkan. Karena itu dengan tergopoh-gopoh Ki Kertasana mempersilahkan ki Jagabaya naik ke pendapa. "Kedatangan Ki Jagabaya tidak kami duga. Anakku tadi memang berniat menghadap Ki Jagabaya. Sore ini ia sudah bersiap-siap untuk menghadap pula sebagaimana dijanjikannya” berkata Ki Kertasana. Ki Jagabaya tersenyum, katanya “Aku memang ingin datang ke rumahmu, disini aku dapat bertemu dengan anakmu dengan Ki Kertasana sendiri, dengan sepupunya dan pamannya, ia mengatakan bahwa ada beberapa orang laki laki di rumah ini” “Benar Ki Jagabaya. Adikku ada disini pula” jawab Ki Kertasana. “Nah, aku ingin bertemu dan berbicara dengan mereka sehubungan dengan kedatangan anakmu ke rumahku yang ditemui oleh anakku, Sampurna” “Ya, Ki Jagabaya. Manggada memang mengatakan bahwa di rumah Ki Jagabaya ia ditemui oleh angger Sampurna, karena Ki Jagabaya sedang pergi ke rumah Ki Bekel” jawab Ki Kertasana. "Apakah Ki Kertasana tidak berkeberatan jika aku bertemu dengan mereka” bertanya Ki Jagabaya. "Tentu tidak Ki Jagabaya. Baiklah, aku akan memanggil mereka untuk menemui Ki Jagabaya” Ki Kertasana itupun kemudian telah masuk ke ruang dalam. Dipanggilnya Ki Citrabawa. Ki Pandi, Manggada dan Laksana untuk menemui Ki Jagabaya. Demikian mereka duduk di pendapa, maka Ki Kertasanapun telah memperkenalkan mereka kepada Ki Jagabaya kecuali Manggada yang memang pernah dikenal oleh Ki Jagabaya saat Manggada masih remaja, karena Manggada adalah kawan Sampurna dan sering bermain ke rumahnya. Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Kemudian katanya “Menurut anakmu Manggada, yang agaknya telah mendengar persoalan yang terjadi di padukuhan Gemawang ini. Ki Kertasana sekeluarga telah menyatakan diri bersedia membantu tugas-tugasku sebagai seorang Jagabaya. Dalam hal ini mengalami kegelisahan orang-orang Gemawang karena tingkah laku Wira Sabet dan Sura Gentong” Ki Kertasana menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia menjawab “Ki Jagabaya. Keinginan itu datang dari anakku dan sepupunya setelah mereka melihat kejanggalan yang terjadi di padukuhan ini. Lengang dan gelisah. Karena keduanya berniat dengan sungguh-sungguh, maka kami yang tua-tua tentu tidak akan begitu saja melepaskan mereka. Karena itu, maka kami menyatakan untuk bersedia ikut bersama mereka” "Aku mengucapkan terima kasih Ki Kertasana. Aku memang menunggu kesediaan orang-orang padukuhan ini untuk bersama-sama mengatasi persoalan yang sedang kita hadapi bersama. Tetapi ternyata bahwa hati orang-orang Gemawang memang tidak lebih besar dari biji sawi. Kecil, kerdil dan 'pengecut. Karena itu, pernyataan yang diucapkan oleh Manggada itu telah menggetarkan hatiku dan anakku. Rasarasanya pada saat-saat yang paling gawat ini kami tidak sendiri” "Ki Jagabaya" berkata Ki Kertasana "kesediaan kami untuk bersama-sama dengan Ki Jagabaya dalam hal ini, bukan karena kami memiliki kemampuan lebih baik dari tetanggatetangga kami. Tetapi semata-mata karena kami merasa ikut bertanggung jawab atas keselamatan padukuhan Gemawang ini. Lebih dari itu, kami berharap bahwa kesediaan kami ini akan dapat memancing keberanian laki-laki Gemawang manghadapi persoalan yang gawat atas padukuhan dan tatanan kehidupannya” Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Katanya “Kami mengerti Ki Kertasana. Kami memang memerlukan sikap seperti itu. Namun demikian, maka biarlah kedua anak dan kemenakanmu itu mengerti, bahwa persoalan yang kita hadapi memang sangat gawat. Orang-orang Gemawang tidak berani bukan saja menghadapi, bahkan menyebut namanyapun mereka sudah gemetar. Menurut berita yang aku terima dari Kademangan, Wira Sabet dan Sura Gentong sudah menyatukan dirinya dengan Ki Sapa Aruh” ”Aku juga baru mendengar dari Manggada setelah manggada pulang dari rumah Ki Jagabaya” jawab Ki Kertasana. “Nah. hubungan kedua orang itu dengan Ki Sapa Aruh telah membuat kedudukan mereka menjadi semakin menakutkan Orang-orang Gemawang, bahkan orang-orang Kademangan Kalegen menjadi semakin ketakutan” berkata Ki Jagabaya "bukan maksudku menakut-nakuti kalian, tetapi aku minta kalian mengetahui dengan pasti, apa yang sedang kita hadapi sekarang” “Medannya memang sangat gawat, Ki Jagabaya. Tetapi jika kita tidak bangkit, maka apa yang akan terjadi dengan padukuhan ini?” "Jadi kalian sudah tahu pasti, apa yang sedang kita hadapi sekarang di Gcmawang Ki Kertasana” bertanya Ki Jagabaya. “Ya. Ki Jagabaya. Sekali lagi, kami hanya berniat untuk memancing keberanian orang-orang Gemawang” jawab Ki Kertasana. "Kemungkinan yang sangat buruk akan dapat terjadi atas kalian sekeluarga jika Wira Sabet dan Sura Gentong menganggap bahwa kalian ikut bersalah. Sebagaimana aku maka kalian harus menerima hukuman, sementara orangorang Gemawang udak juga berani bangkit” "Apa boleh buat, Ki Jagabaya. Tetapi aku harap setidaktidaknya ada beberapa orang yang yang bersedia membantu Ki Jagabaya sebagaimana kami lakukan” Ki Jagabaya mengangguk-angguk Dengan nada dalam ia berkata “Aku sangat menghargai sikapmu Ki Kertasana Seberapapun bantuan yang kau berikan, tentu akan sangat berarti bagi kami. Setidak-tidaknya akan semakin mendorong hati kami untuk menjalankan tugas kami. karena ternyata masih ada juga orang yang menghargai tugas-tugas kami” "Itu sebenarnya adalah tugas kami orang padukuhan, karena apa yang Ki Jagabaya lakukan itu adalah karena kedudukan Ki Jagabaya. Sementara kami, orang-orang padukuhan inilah yang membebankan kedudukan itu di pundak Ki Jagabaya” Ki Jagabaya tersenyum. Katanya “Sudah lama aku tidak mendengar seseorang mengatakan hal itu, Ki Kertasana. Karena itu, maka hatiku rasa-rasanya membengkak mendengar kata-katamu” "Aku tidak bermaksud apa-apa, Ki Jagabaya. Aku mengatakan apa adanya sesuai dengan perasaanku” sahut Ki Kertasana. "Baiklah. Jika demikian maka aku menjadi semakin mantap” berkata Ki Jagabaya, yang kemudian telah minta diri untuk kembali pulang. Tetapi Ki Kertasana masih menahannya ketika kemudian minuman dan makananpun dihidangkan. Demikianlah, maka kedatangan Ki Jagabaya ke rumah Ki Kertasana itu mempunyai arti tersendiri bagi keluarga Ki Kertasana. Mereka seakan-akan telah terikat dalam satu persetujuan dengan Ki Jagabaya, bahwa mereka akan membantu kesulitan-kesulitan yang akan dialami oleh Ki Jagabaya dalam tugasnya, terutama untuk menghadapi Wira Sabet dan Sura Gentong. Bahkan kemudian orang yang bernama Ki Sapa Aruh itu. Namun hal itu memang sudah mereka kehendaki. Mereka memang berniat untuk ikut membebaskan padukuhan mereka dari ketakutan. Sepeninggal Ki Jagabaya, Ki Kertasana telah memberitahukan kepada Manggada dan Laksana, bahwa mereka untuk selanjutnya tidak akan dapat mencuci tangan jika terjadi sesuatu. "Kami mengerti ayah" sahut Manggada "mudah mudahan yang kita lakukan tidak sia-sia” “Baiklah. Meskipun demikian kalian tidak perlu berkeliling padukuhan dan menyatakan diri sebagai orang-orang yang mempunyai keberanian untuk membantu Ki Jagabaya” pesan Ki Kertasana. ”Tetapi bagaimana kami dapat memancing pendapat orangorang padukuhan ini jika kami tidak berceritera kepada mereka” bertanya Manggada. "Serahkan kepada Ki Jagabaya" jawab Ki Kertasana "biarlah Ki Jagabaya berbicara dengan orang-orang padukuhan ini. Dengan demikian tidak akan ada orang yang menganggap kita terlalu sombong sekedar untuk mendapatkan pujian” Manggada mengangguk-angguk. Sementara Laksana bertanya “Tetapi bukankan kami dibenarkan untuk mendorong dan mempengaruhi orang-orang padukuhan ini, terutama anak-anak mudanya untuk bangkit?” Ki Kertasana termangu mangu sejenak Namun kemudian jawabnya "Ya. Tetapi masih dalam batas kewajaran saja” Demikianlah, maka Manggada dan Laksanapun telah minta diri kepada Ki Kertasana dan Ki Citrabawa. Mereka ingin melihat-lihat keadaan padukuhan yang lengang itu. Setidaktidaknya orang-orang padukuhan itu tidak terlalu dalam dicengkam oleh ketakutan. "Seperti yang dikatakan oleh kakang Kertasana, kalian tidak perlu memamerkan ilmu kalian di sepanjang jalan. Kalian juga tidak perlu menepuk dada dan menyatakan bahwa kalian sama sekali tidak merasa ketakutan karena ulah Wira Sabet dan Sura Gentong” pesan Ki Citrabawa. "Tentu tidak ayah. Kami tidak akan mengatakan apa-apa kecuali berjalan-jalan saja” "Jangan terlalu lama. Sebelum senja kalian harus sudah kembali pulang” pesan Ki Kertasana. Demikianlah, maka Manggada dan Laksana itupun telah turun ke jalan Mereka memang melihat jalan-jalan yang masih lengang. Namun yang dikatakan Laksana pertama kali demikian mereka meninggalkan regol halaman rumah adalah "Gadis yang disebut Tantri itu sangat cantik” “Kau sudah mulai lagi" sahut Manggada "mana lebih cantik. Winih atau Tantri atau siapa?” Laksana tersenyum. Katanya “Banyak gadis-gadis cantik dimana-mana” "Setidak-tidaknya menurut penglihatan matamu” "Tidak. Bukan hanya penglihatan mataku. He, apakah kau tidak mengatakan bahwa Winih cantik. Dan kemudian Tantri juga cantik" jawab Laksana. "Sudahlah. Kita tidak berbicara tentang gadis-gadis cantik saja” sahut Manggada. Laksana tertawa. Katanya “Baiklah. Sekarang kita berbicara tentang jalan yang sepi ini” Namun keduanya kemudian tertarik melihat seorang petani yang berlari-lari kecil sambil menjinjing cangkulnya. Ketika kemudian mereka berpapasan dengan orang itu. maka Manggadapun menyapanya "Paman Langgeng. Bukankah paman itu paman Langgeng? Orang itu berhenti. Tetapi nampak ia masih sangat gelisah. "Kau siapa" orang itu bertanya "Aku Manggada, anak Ki Kertasana” "O. Jadi kau sudah pulang” bertanya orang itu. "Ya, paman” jawab Manggada. Namun dengan gelisah orang yang dipanggil paman Langgeng itu berkata “Pulanglah Bukan waktunya untuk berjalan menyusuri padukuhan” "Ada apa” bertanya Manggada. "Cepat, mari ikut aku” ajak orang itu. Langgeng itu tidak menunggu lagi. Dengan tergesa-gesa ia meninggalkan tempat itu sambil berkata sekali lagi "Cepat. Ikut aku” Manggada dan Laksana yang memang ingin tahu itupun segera berlari-lari kecil mengikuti Langgeng. Dengan nada tinggi Manggada masih bertanya “Ada apa sebenarnya paman?” Langgeng tidak menjawab. Namun ia berjalan semakin cepat. Manggada dan Laksana yang mengikutinya berjalan semakin cepat pula. Beberapa saat kemudian, merekapun telah memasuki sebuah regol halaman yang langsung ditutup oleh Langgeng. Tetapi nampaknya sengaja tidak terlalu rapat dan tidak diselarak pula. "Marilah. Masuklah“ ajak Langgeng. Rumah Langgeng bukan rumah orang berada. Karena itu, maka rumahnya bukan rumah joglo. Pendapanya hanya sebumbungan rumah bentuk limasan. Langgeng mangajak Manggada dan Laksana langsung masuk ke ruang dalam. Pulutnya memang tidak diselarak dari dalam. Namun demikian mereka masuk, maka Langgeng telah menyelarak pintu itu. "Kenapa diselarak” bertanya Manggada. "Agar tidak dimasuki orang" jawab Langgeng. "Kenapa regol itu tidak diselarak” desak Laksana. "Tidak boleh" jawab Langgeng. "Siapa yang tidak memperbolehkan?” bertanya Laksana. "Wira Sabet dan Sura Gentong" jawab Langgeng. Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Manggada bertanya “Siapakah yang mengatakan bahwa Wira Sabet dan Sura Gentong melarang menyelarak pintu regol halaman?” ”Setiap orang mengatakan demikian. Dari mulut ke mulut Wira Sabet dan Sura Gentong tidak senang melihat pintu regol ditutup rapat, apalagi diselarak” Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Agaknya berita dari mulut ke mulut yang agaknya ditaati oleh semua orang merupakan pertanda, seberapa besarnya pengaruh nama Wira Sabet dan Sura Gentong. Apalagi kemudian ditambah dengan orang yang namanya saja telah menggetarkan jantung. Dan bahkan jarang orang yang berani menyebut nama itu. Ki Sapa Aruh. Dalam pada itu, ketika kemudian mereka duduk di amben bambu di ruang dalam itu. Manggada bertanya “Tetapi kenapa paman berlari-lari dari sawah sampai ke rumah paman” "Seorang yang datang dari ujung melihat Wira Sabet lewat bersama dengan dua orang kawannya” “Hanya melihat Wira Sabet lewat" bertanya Manggada. ”Bukan hanya melihat, tetapi itu dapat berarti satu bencana yang sulit dihindari” jawab Langgeng. "Kenapa bencana. Bukankah orang yang memberitahukan hal itu kepada paman juga tidak mengalami sesuatu” bertanya Laksana yang menjadi keheranan. "Itu hanya dapat terjadi satu di antara seribu" jawab Langgeng yang masih saja berdebar-debar. "Apakah pernah ada orang yang mengalami bencana setelah melihat Wira Sabet atau Sura Gentong? Bukankah maksudnya mereka telah dianiaya oleh kedua orang itu?” bertanya Laksana pula. Langgeng termangu-mangu sejenak la memang mencoba mengingat-ingat. ”Apakah ada orang yang pernah mengalaminya” Namun kemudian iapun menggeleng "Agaknya memang belum” "Nah" berkata Manggada "aku percaya bahwa belum ada orang yang mengalami bencana itu karena bencana itu memang belum terjadi kecuali di dalam angan-angan setiap orang” "Tetapi Wira Sabet dan Sura Gentong memang menakutkan” berkata Langgeng dengan dahi yang berkerut. "Ya. Aku percaya. Mereka memang menakutkan, karena mereka memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi lebih menakutkan lagi adalah namanya di dalam angan-angan setiap orang di padukuhan ini” berkata Manggada. Langgeng menarik nafas dalam-dalam. Namun bagaimanapun juga bulu tengkuknya akan berdiri setiap ia mendengar nama Wira Sabet dan Sura Gentong. Apalagi nama Ki Sapa Aruh. Adalah di luar sadarnya, bahwa Langgeng itu telah mengintip keluar lewat lubang dinding di sebelah pintu lereg. Semula ia tidak melihat sesuatu. Yang dilihatnya adalah daun pintu regolnya yang tidak tertutup rapat. Namun tiba-tiba saja daun pintu regol itu bergerak. Perlahan-lahan pintu itu teibuka. langgeng melihat sebuah kepala, yang tersembul dari balik pintu regolnya. Langgeng hampir menjadi pingsan. Tubuhnya menjadi gemetar dan keringatnya membasahi seluruh tubuhnya. Dengan kedua tangan Langgeng bergayut pada tiang di sebelah pintu itu. "Kenapa kau paman” bertanya Manggada dan Laksana hampir berbareng, keduanyapun berlari mendekatinya. "Lihat, siapa itu” desis Langgeng. Manggadapun kemudian telah mengintip pula dari lubang dinding itu. Dilihatnya seseorang berdiri bertolak pinggang memandangi halaman yang kosong itu dari sudut sampai ke sudut. Manggada segera dapat mengenali orang itu sebagaimana ia mengenalinya sebelum ia meninggalkan padukuhan itu. Di telinga Laksana Manggada itu berdesis “Orang itu adalah Wira Sabet” Laksana tidak menunggu. Didorongnya saja Manggada agar Laksana itu mendapat kesempatan untuk meiihat orang yang disebut Wira Sabet itu. Wira Sabet masih berdiri di pintu regol yang terbuka. Di luar pintu nampak dua orang yang berdiri termangu-mangu. "Hanya tiga orang" desis Laksana. Manggada mengerti maksud Laksana. Namun ia menggeleng sambil berkata lirih "Kita belum siap” Laksana terdiam sejenak. Namun kemudian iapun berdesis “Tidak lebih dari seekor kucing hutan” “Sst" Manggada meletakkan jari-jari telunjuknya di mulutnya. Katanya “Telinganya sangat tajam” Keduanya terdiam ternyata Wira Sabet itu tidak melangkah memasuki halaman rumah itu, tetapi ia berputar dan melangkah keluar. Sesaat kemudian, lapun telah hilang dari penglihatan bersama dengan kedua orang pengiringnya. Laksana menarik nafas dalam-dalam. Namun kedua anak muda itu terkejut ketika mereka berpaling kepada Langgeng yang duduk di amben bambu. Wajahnya pucat, keringatnya membasahi seluruh tubuhnya, bahkan pakaiannya, sedangkan bibirnya menjadi gemetar. "Kau kenapa paman” bertanya Manggada yang mendekatinya. Suaranya menjadi gagap. Katanya “Orang-orang itu......” "Ya. Aku masih mengenalnya, la adalah Wira. Sabet" sahut Manggada. "Ya. Ia sudah sampai ke regol rumah ini” Langgeng masih seperti orang menggigil kedinginan. "Tetapi bukankah ia tidak berbuat apa-apa” bertanya Manggada "bukankah ia hanya lewat dan berhenti sesaat di regol rumah paman” Langgeng mengangguk-angguk. Namun katanya “Untunglah bibimu tidak ada di rumah. Jika ia tahu Wira Sabet berdiri di regol, aku kira ia sudah menjadi pingsan” Mangada menarik nafas dalam-dalam. Namun ia sadar, bahwa dengan cara itu Wira Sabet dan Sura Gentong ingin mematangkan keadaan, sehingga datang saatnya ia benarbenar menguasai padukuhan ini dan sekaligus membalas dendam kepada Ki Jagabaya. Sementara itu Laksanapun bertanya kepada Langgeng "Dimana bibi sekarang, paman?” "Ia berada di rumah orang tuanya untuk sementara” jawab langgeng. "Jadi paman sendiri” bertanya Laksana pula. "Ya, Aku sendiri. Barangkali itu lebih baik daripada setiap kali bibimu pingsan ketakutan” Manggada dan Laksana hanya mengangguk-angguk saja. Namun apa yang terjadi atas Langgeng adalah gambaran tentang para penghuni padukuhan Gemawang itu. Untuk beberapa saat lamanya, Manggada dan Laksana berada di rumah Langgeng. Namun kemudian keduanyapun minta diri untuk kembali "Orang itu masih belum jauh. Bagaimana jika mereka kembali dan berpapasan dengan kalian di jalan?” "Kenapa? Asal aku tidak berbuat apa-apa, aku kira mereka pun tidak akan berbuat apa apa pula” jawab Manggada. "Jangan mencari kesulitan Manggada" berkata Langgeng. "Tidak paman. Aku akan berusaha untuk tidak betemu dengan Wira Sabet. Bukankah Wira Sabet pergi ke Selatan? Nah. aku akan pergi ke Utara” Ternyata Langgeng tidak dapat menahan Manggada dan Laksana. Keduama berkeras untuk meninggalkan rumah itu "Menurut pesan ayah. sebelum senja aku sudah harus berada di rumah” berkata Manggada. Langgeng terpaksa melepaskan mereka. Namun, demikian kedua orang anak muda itu keluar dari pintu rumahnya turun ke halaman, maka pintu itupun telah ditutup dan diselarak. Tetapi Langgeng mengamati Manggada dan Laksana dai lubang dinding. Baru setelah ia yakin, Manggada dan Laksana mengambil arah yang berlawanan dengan Wira Sabet. Langgeng itu beringsut dan duduk di amben bambu yang besar di ruang dalam rumahnya. Dalam pada itu. Manggada dan Laksana memang menuju ke arah yang yang berlainan dengan arah yang ditempuh Wira Sabet. Tetapi Manggada telah mengajak Laksana untuk menempuh jalan melingkar, sehingga mereka akan dapat berpapasan langsung dengan orang yang sangat ditakuti itu. Sebenarnyalah ketika mereka muncul di sebuah tikungan, maka dari arah yang lain. mereka melihat Wira Sabet bersama dua orang kawannya menuju ke arahnya. "Kita temui orang itu" berkata Manggada. "Apakah kita akan membuat penyelesaian” bertanya Laksana. "Tidak sekarang. Sura Gentong dan Ki Sapa Aruh akan dapat menghancurkan padukuhan ini Tetapi juga dapat terjadi sebaliknya, kitalah yang tidak akan dapat pulang” "Jadi untuk apa kita menemuinya” bertanya Laksana pula. "Aku yang akan berbicara. Sesuaikan saja sikapmu” Laksana menarik nafas dalam-dalam. Namun Manggada masih berkata “Tetapi kau harus tetap berhati-hati. Ada beberapa kemungkinan dapat terjadi” Laksana mengangguk, sementara itu Wira Sabet telah menjadi semakin dekat. Agaknya Wira Sabetpun menjadi heran melihat dua orang anak muda yang berjalan justru menyongsongnya. Dengan kening yang berkerut ia bertanya kepada kawannya "Siapakah anak-anak gila itu? Apakah mereka sengaja menantang aku?” Kedua orang kawannya tidak menjawab Mereka memang belum mengenal, siapakah kedua orang anak muda itu. Dalam pada itu, bagaimanapun jaga Manggada dan Laksana menjadi berdebar-debar Tetapi Manggada sudah bertekad untuk menemui orang yang ditakuti di seluruh padukuhan dan bahkan Kademangan Kalegen itu. Wajah Wira Sabet benar-benar menjadi tegang. Semakin dekat Manggada dan Laksana, kerut di dahi Wira Sabet itu menjadi semakin dalam. Namun beberapa langkah di hadapannya. Manggada dan Laksana telah berhenti. Dipandanginya wajah Wira Sabet dengan saksama, sehingga Wira Sabet menjadi semakin heran, bahwa anak-anak muda itu berani memandangnya seperti itu. Tetapi sebelum Wira Sabet berbuat sesuatu. Manggada telah melangkah mendekatinya sambil tertawackecil. Sekali ia mengangguk hormat sambil berkata “Paman. Bukankah aku berhadapan dengan paman Wira Sabet?” Wira Sabet termangu-mangu sejenak. Wajahnya memang nampak seram. Namun dengan nada ringan Manggada bertanya “Apakah paman lupa kepadaku?” "Kau ini siapa” bertanya Wira Sabet. "Aku Manggada, paman. Aku anak Ki Kertasana. Bukankah aku sering bermain di jalan di depan rumah paman waktu itu. Tetapi kemudian aku memang pergi meninggalkan padukuhan ini bertahun-tahun, karena aku berada di rumah pamanku. Aku telah diangkat menjadi anaknya. Nah. ini adalah anak pamanku itu. Sehingga dengan demikian, kami telah menjadi dua bersaudara” Wira Sabet masih saja termangu-mangu. Sementara Manggada meneruskan "Bukankah di muka rumah paman Wira Sabet terdapat sebatang pohon manggis. Paman sering memberi aku manggis dan bahkan sering mengijinkan aku memanjat pohon duwet di sebelah pendapa rumah paman" Manggada berhenti sejenak, lalu "Tetapi aku masih remaja waktu itu. Dan itu sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Tetapi jika paman masih mengijinkan, aku masih ingin juga memanjat pohon duwet itu” Wira Sabet justru menjadi bingung menanggapi sikap Manggada Selama ini tidak seorangpun penghuni padukuhan itu yang berani menyapanya. Bahkan orang-orang akan menyingkir dan bersembunyi. Wira Sabet memang berbangga bahwa ia ditakuti oleeh seisi padukuhan dan bahkan seisi Kademangan. Namun keadaan yang tiba-tiba tanpa diduganya itu justru telah merambah, menyentuh perasaannya yang paling dalam Karena itu, maka di luar sadarnya. Wira Sabet berkata “Jika kau mau, ambillah. Duwet itu sedang berbuah sekarang. Tetapi aku sendiri tidak ada di rumah itu” "O, apakah paman Wira Sabet telah pindah rumah. Atau sering bepergian jauh? Tetapi bukankah bibi ada di rumah?” bertanya Manggada. Wira Sabet memang bertambah bingung menanggapi sikap Manggada. Namun Wira Sabet itu sempat bertanya “Sejak kapan kau pulang?” "Kemarin, paman" jawab Manggada. Lalu katanya “Saudara sepupuku, yang kemudian telah menjadi saudaraku setelah aku diangkat anak oleh paman, ingin melihat-lihat padukuhan ini. Tetapi rasa-rasanya padukuhan ini semakin lama menjadi semakin mundur” "Apakah ayahmu tidak menceriterakan apa-apa tentang padukuhan ini” bertanya Wira Sabet pula. "Ayah sudah berceritera bahwa air dari sungai kecil itu sudah berhasil diangkat naik dan dapat mengaliri sawah di bulak sebelah Selatan padukuhan ini, sehingga hasil padi telah meningkat. Tetapi disisi lain ayah juga menceriterakan bahwa orang-orang padukuhan ini menjadi malas bekerja. Rumputrumput dibiarkan tumbuh di sela-sela batang padi. Bahkan air yang sudah terangkat itu lebih banyak disia-siakan. Apalagi pekerjaan-pekerjaan yang lain semakin lama menjadi semakin tidak dihiraukan” Wira Sabet mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia pun memotong kata-kata Manggada “Ayahmu benar. Itulah gambaran kehidupan padukuhan ini sekarang Semua orang menjadi malas dan kehilangan gairah untuk bekerja. Semua ini adalah kesalahan bebahu padukuhan yang tidak mampu menggerakkan para penghuni padukuhan ini. Karena itu, maka harus ada pembaharuan di padukuhan ini” Manggada mengangguk-angguk. Katanya “Jadi, yang dikatakan ayah itu benar? Semula aku meragukannya. Karena itu. maka aku dan saudaraku ini ingin melihat perkembangan terakhir padukuhan Gemawang ini” Namun Wira Sabet berkata “Pulanglah. Bertanyalah kepada ayahmu apa yang sebenarnya terjadi” “Baiklah paman. Tetapi apakah paman bersedia singgah di rumah kami. Ayah ada di rumah sekarang. Pada kesempatan lain, aku akan datang lagi ke rumah paman untuk memanjat pohon duwet itu lagi. Atau barangkali pohon manggis jika musimnya manggis berbuah. "Pergilah kesana. Rumahku itu kosong sekarang. Tetapi aku ijinkan kau mengambil manggis dan duwet” “Terima kasih paman. Nah. sekarang paman mau pergi kemana atau dari mana?” "Seperti kau. Melihat-lihat kemalasan orang-orang padukuhan ini” Manggada tidak bertanya lagi. Wira Sabetpun kemudian telah melangkah melanjutkan perjalanannya. Namun ia masih berpesan "Pulanglah. Bertanyalah apa yang terjadi di padukuhan ini” "Baik paman" jawab Manggada. Demikianlah, maka Wira Sabetpun berjalan terus. Manggada dan Laksana masih termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Laksana itupun berkata “Nampaknya ia masih seperti orang kebanyakan. Ia masih mau menjawab pertanyaan-pertanyaanmu” ”Mudah-mudahan ia masih dapat diajak berbicara. Tetapi entahlah dengan Sura Gentong. Apalagi Ki Sapa Aruh” Keduanyapun kemudian telah melangkah pula menuju ke arah yang berbeda. Namun kemudian keduanya telah memutuskan untuk segera pulang dan memberitahukan perjumpaannya dengan Wira Sabet. Di rumah, kedua anak muda itu menceriterakan apa yang mereka alami Sikap Langgeng yang ketakutan serta tanggapan Wira Sabet terhadap mereka berdua. Nampaknya Wira Sabet masih dapat diajak berbicara. Mungkin juga tentang hal-hal yang lebih besar tentang padukuhan Gemawang ini. Tetapi Ki Kertasana itupun berkata “Kemungkinan yang sangat tipis. Jika ia bersikap sebagaimana kebanyakan orang, itu karena ia mengahadapi satu keadaan yang tiba-tiba, yang sebelumnya tidak pernah diduganya. Tetapi apa yang dilakukan oleh Wira Sabet dan Sura Gentong selama ini, nampaknya dengan sengaja mereka berusaha untuk menkutnakuti semua orang Gemawang, dan bahkan seisi kademangan Kalegen” Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sementara ayahnya itupun berkata selanjutnya “Tetapi lebih dari Wira Sabet, Sura Gentong adalah orang yang kasar dan garang. Sedangkan orang yang bernama Ki Sapa Aruh itu. secara pribadi aku belum mengenalnya. Tetapi nama itu memang cukup menggetarkan jantung orang yang mendengarnya” Manggada dan Laksana masih saja menganguk-angguk. Sementara itu Ki Citrabawapun berkata “Sesuai dengan keterangan kakang Kertasana. maka kalian harus berhati-hati jika kalian bertemu, berpapasan apalagi berhubungan dengan Wira Sabet. Lebih lebih lagi dengan Sura Gentong atau Ki Sapa Aruh. Agaknya peristiwa yang pernah melemparkannya keluar dari padukuhan ini. telah membuat jiwa mereka meledak-ledak selain sifat dan watak mereka yang memang kasar” Manggada dengan nada rendah menjawab "Baik, paman. Kami akan selalu memperhatikan keadaan” "Tetapi apakah kau benar-benar akan pergi ke rumah Wira Sabet” bertanya Ki Kertasana. "Ya" jawab Manggada "kami memang benar-benar ingin datang ke rumahnya. Kami berharap bahwa Wira Sabet itu masih juga menyadari akan pentingnya kendali penalaran atas segala tingkah lakunya Sehingga ia tidak berdiri di atas lambaran dendam semata-mata” "Baiklah" berkata Ki Kertasana "tetapi seperti pesan pamanmu, berhati-hatilah. Orang-orang seperti Wira Sabet memang tidak dapat dijajagi sikapnya. Apa yang kau lihat akan dapat berubah setiap saat” "Besok kami akan pergi ke rumahnya, ayah” berkata Manggada kemudian. Ayahnya menganggukangguk. Namun katanya “Aku kira ia tidak mudah ditemui di rumahnya. Meskipun demikian, kanan dapat mencobanya. Tetapi jika kalian tidak menemuinya di rumahnya yang lebih sering kosong, jangan mencoba mencari ke tempat lain. Apalagi di luar padukuhan ini” Manggada mengangguk kecil. Katanya “Baik ayah. Rasa-rasanya memang sulit untuk mnecari tempat tinggalnya di luar padukuhan ini” Untuk beberapa lamanya mereka masih berbincang-bincang tentang padukuhan yang lengang itu. Namun kemudian, setelah makan malam, maka Manggada dan Laksanapun telah duduk di serambi bersama Ki Pandi. Ki Pandi yang lebih banyak diam dalam pembicaraan tentang keadaan padukuhan itu. berkata “Angger berdua, kalian memang harus sangat berhati-hati menghadapi persoalan ini. Orang yang bernama Sapa Aruh itu memang orang berilmu tinggi. Aku tidak mengira bahwa ia berkeliaran sampai ke tempat ini. Bahkan mungkin sudah cukup lama. ternyata ia telah menjadi hantu yang menakut-nakuti lingkungan ini. Aku kagum melihat keberanian Ki Jagabaya serta kesetiaannya pada tugasnya Tetapi aku tidak yakin. apakah ia memiliki bekal yang cukup untuk menghadapi orang-orang seperti Wira Sabet. Sura Gentong dan kawankawannya. Apalagi orang yang bernama Ki Sapa Aruh itu. Karena itu, ia memang memerlukan orang lain untuk membantunya. Bahkan mungkin lebih tepat disebut melindunginya” "Anak Ki jagabaya itu juga baru pulang dari perguruannya karena dipanggil oleh ayahnya” berkata Manggada. "Aku belum pernah melihat anak itu. Mudah-mudahan ia mempunyai bekal ilmu yang tinggi. Tetapi berdua dengan ayahnya, maka keadaannya akan menjadi sangat gawat. Sampai saat ini rasa-rasanya Wira Sabet dan Sura Gentong masih belum berbuat sesuatu kecuali menakut-nakuti orangorang Gemawang. Karena itu. mereka masih belum berbuat sesuatu atas Ki Jagabaya dan anaknya. Namun pada suatu ketika Ki Jagabaya dan anaknya tentu akan diselesaikan dengan cepat jika tidak mendapat bantuan yang cukup” Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Dengan nada dalam Laksana itu berdesis “Agaknya memang sulit untuk membangkitkan keberanian orang-orang padukuhan ini” "Tetapi kita masih dapat berharap. Sedangkan harapan lain. kita dapat berbicara dengan Wira Sabet” sahut Manggada. "Nampaknya sulit untuk menembus kekerasan hati Wira Sabet dan Sura Gentong mengingat lalar belakang kehidupannya sebagaimana diceiriterakan oleh Ki Kertasana. Namun demikian tidak ada salahnya untuk berbicara dengan Orang itu” Manggada mengerutkan dahinya. Katanya “Setidak-tidaknya uimik menunjukkan kepada mereka, bahwa ada orang yang tidak menjadi ketakutan karena solah tingkahnya itu” "Kau melangkah terlalu cepat" berkata Ki Pandi “aku setuju, tetapi jangan tergesa-gesa. Jika mungkin kita dapat melihat serba sedikit tentang kekuatan yang ada di belakangnya selain Ki Sapa Aruh” Manggada dan Laksana memahami betapa luasnya pengalaman Ki Pandi merasakan kebenaran pesan itu. Tanpa mengetaui serba sedikit apa yang mereka hadapi, maka rasarasanya mereka akan dapat terjebak ke dalam satu pusaran kekuatan yang tidak dapat mereka lawan, atau setidaktidaknya mereka tidak sempat memperhitungkan cara untuk mengatasinya. Malam itu Ki Pandi masih memberikan pesan-pesan khusus menghadapi orang-orang yang jantungnya telah hangus dibakar oleh api dendam. Orang-orang yang demikian agaknya sudah sulit untuk membuat pertimbangan-pertimbangan yang wajar. Sementara Ki Sapa Aruh dapat bekerja sama dengan mereka meskipun latar belakang kepantingannya berbeda. Menjelang tengah malam, pembicaraan mereka baru berakhir. Manggada dan Laksanapun segera menuju ke biliknya. Demikian pula dengan Ki Pandi. Di hari berikutnya. Manggada dan Laksana benar-benar ingin pergi ke rumah Wira Sabet. Ki Kertasana dan Ki Citrabawa masih juga memberikan beberapa pesan. Karena mereka menyadari, betapa orang yang bernama Wira Sabet itu sangat berbahaya. Sesaat kemudian, ketika matahari mulai naik. Manggada dan Laksana sudah turun ke jalan. Jalan-jalan di padukuhan masih tetap lengang. Namun Manggada dan Laksana melihat satu dua orang pergi ke sawah dengan tergesa-gesa. Orang-orang yang berpapasan di jalan sempit juga bertanya kapan anak itu pulang. Seorang yang rambutnya sudah putih, berjalan dengan tenang menyusuri tanggul parit sambil memanggul cangkul. Tidak seperti orang yang lain yang nampak selalu tergesa-gesa, maka orang tua itu telah menarik perhatian Manggada dan Laksana. Karena itu, maka keduanyapun telah mendekatinya. Manggadapun segera dapat mengenalinya. Karena itu. maka Manggadapun segera bertanya “Kakek. Apakah kakek ingat kepadaku, yang dahulu sering mengganggu kakek jika kakek membuat gula kelapa?” Orang tua itu mengerinyitkan alisnya. Dengan suaranya yang lemah ia bertanya “Kau siapa, he?” "Manggada. kek. Anak Ki Kertasana” "O, Jadi kau anak Kertasana? Sekarang kau sudah besar. Sudah sebesar ayahmu. He. siapakah anak muda itu” “Namanya Laksana kek. Sepupuku" jawab Manggada. "Kemana kau selama ini?” bertanya kakek itu. "Di rumah paman. kek. Membantu menggarap sawah” jawab Manggada sambil berjalan di sebelah kakek itu. "Kau pulang pada saat yang kurang baik. Manggada” "Aku tahu, kek. Ayah sudah berceritera” jawab Manggada "tetapi kenapa kakek nampaknya tidak terpengaruh oleh keadaan di padukuhan ini” Orang itu tertawa. Katanya “Bukankah aku sudah tua? Buat apa aku ikut-ikutan menjadi ketakutan seperti orang lain? Aku sudah tidak berarti apa-apa lagi. Aku tidak mempunyai tanggungan seorangpun lagi. Tidak ada isteri, tidak ada anak” “Tetapi bukankah kakek mempunyai isteri dan anak" bertanya Manggada "Dahulu Manggada. Dahulu aku mempunyai isteri dan anak. Tetapi isteriku itu sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Sedang anakku pergi tidak menentu” jawab orang tua itu. Manggada mengangguk-angguk sambil berdesis “Maaf kek. Aku tidak tahu bahwa nenek sudah meninggal. Aku menyatakan ikut berduka kek” "Terima kasih. Manggada. Tetapi. Kematian tidak selalu merupakan kedukaan. Aku kira Tuhan Yang Maha Kuasa sudah menentukan yang paling baik bagi nenekmu itu. Jika ia masih hidup, maka hatinya akan selalu tersiksa” jawab orang tua itu. Manggada mulai merenung. Ia mulai mencoba mengingat keluarga kakek itu. Sementara kakek itupun berkata “Manggada. Sepeninggal nenekmu, aku sudah bukan apa-apa lagi” Wajah Manggada menjadi tegang. Keringatnya mulai mengalir membasahi punggungnya. Ia baru teringat tentang orang tua itu. Orang tua itu adalah ayah Wira Sabet dan Sura Gentong. Karena itu, maka Manggadapun menjadi sangat gelisah. Bahkan ia menjadi gagap "Tetapi, tetapi.......” Laksana menjadi heran melihat sikap Manggada. Tetapi sebelum ia berkata sesuatu, orang tua itu tersenyum sambil berkata “Kau tidak usah menyesali pertanyaanmu, ngger. Sudah sekian tahun kau pergi, sehingga tentu ada sesuatu yang kau lupakan. Juga tentang anak-anakku. Aku sama sekali tidak merasa tersinggung, Manggada. Wira Sabet dan Sura Gentong memang anak-anakku. Keduanyalah yang telah membuat padukuhan ini menjadi seperti kuburan. Itulah sebabnya aku mengatakan bahwa kepergian nenekmu adalah satu hal yang terbaik bagi nenekmu, meskipun dengan demikian, maka aku merasa bahwa hidupku sebenarnya telah berakhir sejak nenekmu meninggal” Laksana yang mendengar kata-kata kakek itu menarik nafas dalam-dalam, ia mengerti, kenapa Manggada menjadi gagap dan bahkan kebingungan. "Aku mohon maaf, kek" berkata Manggada kemudian. Kakek tua itu berhenti. Ditatapnya wajah Manggada dan Laksana berganti-ganti. Dengan nada lembut ia berkata “Kalian berdua adalah anak-anak muda yang sedang tumbuh. Kau dapat bercermin pada pengalaman hidupmu dan pengalaman orang lain. Kau dapat membaca yang manakah yang baik dan yang pantas kau lakukan dan yang manakah yang tidak baik dan tidak pantas kau lakukan. Karena sebenarnyalah kita dapat membedakan, mana yang baik dan mana yang tidak baik” "Ya kek" jawab Manggada. Sementara itu, keringatnya masih saja mengalir di kening dan punggungnya. "Sudahlah. Lupakan pembicaraan kita. Kau jangan menjadi gelisah karenanya. Aku juga akan melupakannya” berkata orang tua itu. "Tetapi bukankah kakek memaafkan aku” bertanya Manggada pula. "Tentu ngger. Tentu. Jika kita tidak memaafkan kesalahan orang lain kepada kita, maka Tuhan Yang Maha Pengampun pun tidak akan memaafkan kesalahan-kesalahan kita” jawab orang tua itu. "Terima kasih, kek” berkata Manggada kemudian. Kakek tua itu menepuk bahunya. Kemudian iapun bertanya “Sekarang kalian akan kemana” bertanya kakek tua itu. Manggada yang masih gelisah tidak berbohong. Jawabnya "Aku akan pergi ke rumah paman Wira Sabet, kek. Kemarin aku bertemu. Paman Wira Sabet menjanjikan kepadaku, bahwa aku diijinkan mengambil buah duwet dan manggis jika kebetulan berbuah.” Wajah kakek itu justru menegang. Dengan dahi yang berkerut ia bertanya “Dimana kau bertemu dengan pamanmu Wira Sabet?” "Di lorong sebelah kek. Paman sedang berjalan-jalan di padukuhan.ini. Kami bertemu dan berbicara beberapa saat. Ternyata paman Wira Sabet juga tidak lupa kepadaku. Ketika aku minta diijinkan untuk mengambil duwet dan manggis sebagaimana masa remajaku, maka paman Wira Sabet tidak berkeberatan” "Tetapi bukankah kau sudah mendengar ceritera tentang pamanmu Wira Sabet dan Sura Gentong” bertanya orang tua itu. "Sudah kek. Tetapi ternyata paman Wira Sabet masih bersikap wajar kepadaku” Orang tua itu mengangguk-angguk. Katanya “Mudah mudahan masih ada tersisa betapapun tipisnya, kesadaran atas tata pergaulan antara sesamanya” Manggada tidak menjawab. Namun ia melihat mata orang tua itu menjadi basah. Tetapi orang tua itu kemudian justru tersenyum dan berkata “Singgahlah di rumahku ngger. Aku hidup seperti sekarang” "Baiklah kek. Nanti aku akan singgah di rumah kakek. Tetapi bukankah kakek sekarang akan pergi ke sawah” Orang tua itu mengangguk-angguk. Katanya “Ya. Aku akan pergi ke sawah. Tidak ada orang yang mengairi sawah. Di padukuhan ini tidak ada orang yang bersedia membantuku lagi. Mereka semakin lama menjadi semakin jauh. Apalagi akhir-akhir ini setelah ada kabar bahwa kedua orang anakku itu akan pulang” "Jika kakek tidak berkeberatan, aku akan membantu kakek” Mata orang tua itu menjadi redup dan bahkan nampak menjadi basah lagi. Namun dengan cepat ia menguasai perasaannya dan berkata "Terima kasih Aku masih kuat untuk melakukan sendiri anak anak muda. Tetapi sekali lagi aku berharap, datanglah ke rumahku. Aku masih membuat gula kelapa seperti dulu” "Sudah setua kakek ini masih juga menyadap legen kelapa?” "Apakah aku sudah nampak tua sekali” bertanya orang itu sambil tersenyum. "Kakek memang sudah nampak tua. Tetapi kakek masih nampak tegar menghadapi hari-hari yang keras bagi kakek” "Sudahlah" berkata orang itu "aku akan pergi ke sawah mumpung masih pagi” "Silahkan kek. Aku akan mengunjungi rumah paman Wira Sabet. Mudah-mudahan ia ada di rumah” Sekali lagi orang itu menepuk bahu Manggada. kemudian Laksana. Namun kemudian orang tua itu telah melangkah pergi menyusuri tanggul parit menuju ke sawah. Manggada dan Laksana berdiri termangu-mangu. Dengan menyesal Manggada berkata “Aku agaknya sudah pikun. Kenapa aku lupa bahwa orang tua itu adalah ayah paman Wira Sabet dan Sura Gentong. Perasaan orang tua itu tentu tersinggung. Namun ia berusaha untuk menahan diri” "Tetapi orang tua itupun dapat mengerti sikap kita, kakang. Karena itu ia tidak marah" sahut Laksana. "Ia tidak marah kepada kita. Tetapi seakan-akan aku telah menaburkan garam pada luka di hatinya” Laksanapun kemudian berkata “Tetapi ia cukup bijaksana. Ia tentu benar-benar akan melupakannya sebagaimana dikatakannya” "Ya" Manggada mengangguk "aku juga yakin” "Nanti atau besok, kita singgah di rumahnya" berkata Laksana "agaknya orang tua itu juga merasa sepi” Manggada dan Laksana masih memandangi orang tua yang berjalan di tanggul parit itu. Ketika seseorang yang muncul dari sebuah lorong dan berjalan searah dengan orang tua itu, maka orang itu telah berusaha mencari jalan lain. Mengambil jalan pintas. "Agaknya orang-orang padukuhan ini juga menjauhinya” berkata Manggada. Laksana mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian berkata “Sudahlah. Kita lanjutkan saja rencana kita untuk mengunjungi rumah Wira Sabet” Berdua mereka telah berjalan lagi menuju ke rumah Wira Sabet. Tetapi seperti yang sudah diduga, rumah itu memang kosong. Rerumputan liar tumbuh di halaman yang kotor oleh daun-daun kering yang berguguran dari pepohonan tanpa pernah dibersihkan. Agaknya keluarga Ki Wira Sabetpun telah meninggalkan padukuhan itu. Sedangkan rumah itupun menjadi kosong. Tetapi ternyata pohon manggis di halaman rumah itu berbuah lebat. Tidak seorangpun berani memasuki halaman itu dan apalagi mengambil buah dari pepohonan yang tumbuh di atasnya. Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak Mereka ragu-ragu untuk memasuki halaman itu meskipun mereka sudah mendapat ijin dari Wira Sabet itu sendiri. Untuk beberapa saat keduanya berdiri termangu-mangu. 'Tidak seorangpun nampak berjalan di jalan yang melewati depan rumah Wira Sabet. "Marilah, kita lihat rumah sebelah" berkata Manggada. "Apakah kita akan singgah di rumah itu?” bertanya Laksana. “Ya Hanya sebentar. Kita ingin mendapat sedikit keterangan tentang rumah Wira Sabet itu” Laksana mengangguk-angguk mengiakan. Karena itu, maka berdua mereka menuju ke regol halaman rumah di sebelah rumah Wira Sabet. "Rumah itu memang tidak terlalu besar Tetapi nampak bersih dan terawat. Sangat berbeda dengari rumah Wira Sabet yang memang kosong itu.” "Aku kenal orang yang tinggal di rumah ini" berkata Manggada. Lalu katanya pula" Namanya paman Resa. Lengkapnya Resadana” Laksana hanya mengangguk-angguk saja. Seperti rumah Langgeng, maka pintu regolnya tidak diselarak. Tetapi pintu rumah itu tertutup rapat dan bahkan tentu diselarak dari dalam. Manggadapun kemudian mengetuk pintu rumah itu perlahan-lahan. Tetapi tidak segera terdengar jawaban dari dalam, sehingga ketukan itu harus diulang beberapa kali. Baru sesaat kemudian, terdengar langkah menuju ke pintu. Terasa bahwa langkah itu tersendat dan ragu. "Siapa" terdengar suara seorang perempuan. ”Aku Manggada, anak Ki Kertasana” jawab Manggada. "Manggada. Benarkah kau Manggada" terdengar suara itu lagi. masih penuh keragu-raguan. Manggada ternyata masih mengenal suara itu. Karena itu, maka iapun menjawab “Ya bibi. Aku Manggada. Bibi Resa tentu masih ingat aku” Sejenak kemudian terdengar selarak pintu diangkat. Seorang perempuan separo baya berdiri di muka pintu. Demikian ia melihat Manggada, maka iapun tersenyum sambil bertanya “Kapan kau datang Manggala. Bukankah sudah lama kau meninggalkan padukuhan ini?” "Dua hari yang lalu, bibi" lalu Manggadapun telah memperkenalkan Laksana "ini adalah saudara sepupuku, bibi” "Marilah. Masuklah" Nyi Resa itu mempersilahkan Manggada ragu-ragu sejenak. Namun Nyi Resa itupun berkata “Marilah. Duduklah di dalam. Pamanmu ada di belakang” Manggada dan Laksanapun kemudian telah masuk di ruang dalam. Sementara itu. Nyi Resapun segera menutup pintu rumahnya rapat-rapat. Sejenak kemudian, maka Ki Resapun telah dipanggil pula. Seperti Nyi Resa, maka Ki Resapun telah mempertanyakan kapan Manggada itu pulang. "Kau sekarang telah menjadi anak muda yang dewasa. tubuhmu nampak berkembang dengan baik. Sejak kanakkanak kau memang sudah nampak bahwa kau akan tumbuh menjadi seorang anak muda yang gagah” "Ah. paman masih saja suka memuji” jawab Manggada. "Tidak. Aku tidak sekedar memuji, tetapi aku berkata sebenarnya?” "Terima kasih, paman" jawab Manggada Namun kemudian Ki Resa itupun bertanya “Tetapi bukankah ayahmu telah menceriterakan apa yang terjadi di padukuhan ini?” "Sudah paman. Maksud paman tentang paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong?” "Ya. Tentang mereka” jawab Ki Resa. Manggadapun kemudian menceritakan perjumpaannya dengan Wira Sabet kemarin, ia memang datang untuk melihat rumah Wira Sabet. "Jadi kau sudah bertemu dan berbicara dengan Wira Sabet” bertanya Ki Resa dengan heran "Ya, paman. Aku sudah mengatakan pula bahwa aku ingin memanjat pohon manggis atau pohon duwet di halaman rumahnya. Paman Wira Sabet ternyata tidak berkeberatan. Namun ternyata rumah itu agaknya sudah lama kosong. Bahkan tidak seorangpun keluarganya yang tinggal” "Rumah itu memang sudah lama kosong. Ketika Wira Sabet melarikan diri dari rumahnya, masih ada keluarganya yang menunggui rumah itu. Namun kemudian merekapun telah pergi pula dan rumah itu ditinggalkan kosong” berkata Ki Resadana” Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Tetapi iapun kemudian bertanya “Lalu dimana paman Wira Sabet sekarang tinggal?” Ki Resa itu menggeleng. Katanya “Tidak seorangpun yang tahu ngger. Tidak ada orang yang berani bertanya. Bahkan melihat Wira Sabet di kejauhanpun orang-orang padukuhan ini sudah melarikan diri. Wira Sabet dan Sura Gentong adalah lambang dari kesulitan dan bencana” “Tetapi ia tidak berbuat apa-apa ketika kami bertemu kemarin” berkata Manggada kemudian. “Meskipun demikian, kau harus berhati-hati, ngger. Perjumpaanmu berikutnya, akan dapat menimbulkan kemungkinan yang lain. Ketika ia sadar bahwa kau adalah bagian dari isi padukuhan ini, maka kau akan dianggap sebagai musuhnya pula” berkata Ki Resa itu kemudian. Manggada termangu-mangu sejenak, sementara Laksana itupun bertanya “Tetapi paman, apakah selama ini paman tidak pernah merasa diganggu oleh Wira Sabet yang rumahnya hanya bersebelahan dengan rumah paman?” "Aku memang tidak ngger. Tetapi Wira Sabet dan Sura Gentong itu sampai saat ini dengan teratur tengah melakukan usaha untuk menakut-nakuti para penghuni padukuhan ini” "Ternyata seisi padukuhan ini memang menjadi ketakutan. Sementara Ki Jagabaya masih tetap setia kepada tugasnya itu harus bekerja seorang diri" sahut Manggada. Ki Resa menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah Ki Resa itu berkata “Sebenarnya orang-orang padukuhan ini juga merasa berkewajiban membantunya. Tetapi kami tidak berdaya sama sekali” "Dahulu seisi padukuhan ini mampu mengusir paman Wira Sabet dan pamar Sura Gentong” desis Manggada. "Tetapi keadaannya sudah berbeda. Dahulu mereka bukan orang-orang berilmu. Tetapi tidak lebih dan kita semuanya. Sekarang, Wira Sabet dan Sura Gentong adalah orang berilmu tinggi” "Tetapi jika kita semuanya bangkit bersama-sama, apakah kita masih juga tidak mampu berbuat apa-apa” bertanya Manggada. Ki Resadana menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya dengan nada berat "Kita tidak akan selalu bersamasama setiap saat. Pada saat kita sendiri-sendiri itulah, nyawa kita semuanya terancam. Hari ini dua orang, besok dua orang dan demikian pu!a di hari-hari berikutnya. Bukankah itu sangat mengerikan” Manggada dan Laksana melihat kecemasan membayang di wajah orang itu. Meskipun demikian Manggada masih juga berkata “Paman, bukankah kita dapat menyiapkan anak-anak muda dan laki-laki yang masih mampu untuk mengangkat senjata untuk meronda setiap saat Kita dapat mengatur dan membagi waktu sebaik-baiknya untuk melakukan pengamanan padukuhan ini. Kita isi gardu-gardu di ujung-ujung lorong. Siang dan malam” "Jika kita berada di sawah atau di ladang” bertanya Ki Resadana. Lalu katanya “Apalagi aku yang tinggal di sebelah dinding halaman rumahnya” Manggada dan Laksana menyadari, bahwa ia tidak akan dapat mendesak Ki Resadana untuk ikut bersamanya memihak Ki Jagabaya. Karena itu, maka Manggada itupun kemudian berkata “Baiklah paman. Kami dapat mengerti perasaan paman. Namun kami berdua mempertimbangkan untuk dapat berbuat sesuatu agar keadaan padukuhan ini menjadi tenang kembali, apapun caranya” Wajah Ki Resadana menjadi tegang. Katanya "Meskipun kau berasal dari padukuhan ini, ngger. Tetapi kau termasuk orang baru disini. Kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin Ki Kertasana sudah berceritera. Tetapi kau tidak dapat membayangkan keadaan yang sesungguhnya di padukuhan ini” "Aku mengerti, paman. Tetapi apakah kita akan membiarkan Ki Jagabaya terhimpit sendirian oleh kuasa Wira Sabet dan Sura Gentong dengan kesetiaannya kepada tugasnya?” “Tetapi kami sayang akan jiwa kami. Ngger” jawab Ki Resadana dengan nada dalam. Manggada dan Laksana akhirnya hanya dapat menganggukangguk. Bahkan kemudian Manggada itupun berkata “Baiklah paman. Kami mohon diri. Kami masih ingin melihat-lihat padukuhan yang sepi ini. Tetapi duwet di halaman rumah paman Wira Sabet itu berbuah lebat. Aku ingin memanjatnya” "Jangan ngger. Kau jangan membuat persoalan dengan orang itu. Sangat berbahaya bagimu” cegah Ki Resadana. "Tetapi aku sudah bertemu sendiri dengan Paman Wira sabet. Aku diijinkan memanjat pohon duwet dan pohon manggis di halaman rumahnya” jawab Manggada. Ki Resadana menarik nafas dalam-dalam Manggada dan Laksana itu ternyata tidak mau mendengarkan peringatannya. Sebenarnyalah setelah Manggada dan Laksana minta diri, maka keduanya benar-benar pergi ke halaman rumah Wira Sabet yang kosong dan menjadi sangat kotor. Seperti yang dikatakan, maka Manggada dan Laksana benar-benar telah memanjat pohon manggis dan pohon duwet. Dari halaman rumahnnya, Ki Resadana itu melihat keduanya bergayut dari satu cabang ke cabang yang lain. Apalagi Manggada yang memanjat pohon duwet yang telah menjadi besar dan tinggi. Ternyata yang melihat anak-anak muda memanjat itu bukan hanya Ki Resadana. Beberapa orang yang lain dengan tidak sengaja melihat juga keduanya memanjat. Melihat tingkah kedua orang anak muda itu, beberapa orang tetangga Wira Sabet menjadi tegang. Tetapi mereka tidak dapat berbuat sesuatu. Orang yang tinggal di rumah yang berseberangan dengan rumah Wira Sabet itu terpaksa keluar dari regol halamannya untuk memperingatkan kedua anak muda itu. Tetapi di luar regol orang itu melihat Ki Resadana yang sambil melihat ke kedua ujung jalan, turun juga ke jalan. "Siapakah anak-anak muda itu?" bertanya orang yang tinggal di seberang jalan. "Anak Ki Kertasana" jawab Ki Resadana. "Apakah anak-anak itu tidak tahu apa yang mereka lakukan” bertanya orang di seberang jalan. Ki Resadana memang mendekati mereka Sekali lagi ia memanggil Manggada. Namun Manggada sambil tersenyum berkata “Duwet putih ini memang manis paman. Sejak kecil aku sudah sering memanjat pohon ini” "Turunlah ngger" minta Ki Resadana "keadaan sudah berubah. Itu terjadi sepuluh tahun yang lalu” "Bagi kami, keadaan tidak berubah" jawab Manggada. Ki Resadana dan orang di seberang jalan menjadi semakin gelisah. Apalagi mereka sudah mendengar bahwa kemarin Wira Sabet telah memasuki padukuhan itu. Bahkan kedua anak muda itu telah bertemu pula dengan mereka Selagi Ki Resadana dan dua orang dari seberang jalan termangu-mangu, maka seseorang telah berjalan tergesagesa, bahkan berlari-lari sambil memanggul cangkulnya. Ketika Ki Resadana bertanya, maka orang itu menjawab sambil meneruskan langkahnya "Wira Sabet datang lagi bersama pengawalnya” "Celaka" desis Ki Resadana. Sementara itu kedua orang yang lain dengan tergesa-gesa telah masuk regol halaman rumah mereka masing-masing. "Ngger, kau dengar, bahwa Wira Sabet memasuki padukuhan ini lagi” teriak ki Resadana. "Tidak apa-apa, paman. Aku sudah mendapat ijinnya” jawab Manggada. Resadana tidak menunggu lebih lama lagi. lapun tidak ingin bertemu dengan Wira Sabet, karena kemungkinan yang buruk akan dapat terjadi atas dirinya. Karena itu, maka Ki Resadanapun segera masuk regol halaman rumahnya. Sekali iagi ia masih sempat memandang Manggada dan Laksana yang memanjat semakin tinggi. Namun kemudian. Ki Resadana itu telah masuk ke dalam rumahnya dengan jantung yang berdebar-debar. Bagaimanapun juga Ki Resadana ini telah mencemaskan nasib kedua orang anak muda yang menurut pendapatnya tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya di padukuhan itu. Sebenarnyalah, beberapa saat kemudian. Wira Sabet itu pun telah memasuki padukuhan. Pertanyaan Manggada kemarin tentang rumahnya ternyata telah menggelitiknya untuk sekai-sekali melihat, apa yang terjadi dengan rumah dan halamannya itu. Karena itu, maka Wira Sabet itupun telah menyusuri jalan yang langsung menuju ke rumahnya. Ketika ia sampai ke depan rumahnya, maka Wira Sabet itupun berhenti, la melihat regol halaman rumahnya terbuka, sedangkan sampah kering berhamburan di halaman. Namun Wira Sabet itu terkejut ketika ia mendengar seseorang berkata “Selamat pagi, paman” Wira sabet mengangkat wajahnya. Jantungnya berdesir ketika ia melihat dua orang anak muda bergayut pada cabang pohon duwet dan pohon manggis. Tetapi sebelum Wira Sabet berkata sesuatu terdengar suara Manggada "Paman, aku benar-benar memanjat pohon duwet ini sebagaimana aku katakan kemarin. Terima kasih atas ijin paman. Duwet putih ini ternyata manis sekali. Sayang sekali, bahwa buahnya dibiarkan tua dan berjatuhan terhambur di bawah batangnya. Seperti dahulu, setiap hari aku akan datang mencari duwet dan manggis yang berbuah lebat tetapi terbuang-buang saja” Wira Sabet itu justru bagaikan terbungkam. Ia tidak dapat berkata sepatahkan. Dipandanginya saja anakanak muda yang masih berada di dahan sambil menggapai buahnya yang memang lebat. Ki Resadana mendengar suara Manggada itu. Debar jantungnya terasa semakin cepat. Sementara itu, Manggada bertanya dari atas pohon "Apakah paman juga ingin membawa duwet dan manggis. Barangkali paman sendiri sudah lama tidak mencicipinya” Wira Sabet masih saja termangu-mangu. Sebelum ia sempat menjawab, Manggada telah berkata pula "Aku akan turun membawa duwet ini bagi paman” Hampir di luar sadarnya, Wira Sabet itu menjawab “Tidak. Tidak usah. Aku tidak memerlukannya” Ternyata Wira Sabet tidak menunggu lebih lama. la tidak senang mendengar pertanyaan-pertanyaan Manggada yang meluncur deras dari mulutnya. Tetapi rasa-rasanya ia tidak dapat menghentikannya. Karena itu. maka Wira sabet itupun segera melangkah pergi meninggalkan halaman rumahnya yang kosong dan kotor itu. Tetapi Manggada masih saja beteriak "Paman, kemana kau paman?” Wira Sabet tidak menjawab. Tetapi ia melangkah terus, menjauhi rumahnya itu. Manggada dan Laksana yang sedang memanjat itu melihat Wira Sabet dan kawan-kawannya pergi menjauh. Mereka berjalan cepat bahkan seperti orang yang sedang ketakutan. Seperti orang-orang padukuhan itu yang melihat kedatangan Wira Sabet itu sendiri. Demikian Wira Sabet dan kawan-kawanma menjauh, maka Manggada dan Laksanapun segera turun. Keduanya tidak langsung pergi. Tetapi keduanya justru kembali ke rumah Ki Resadana. "Luar biasa" desis Ki Resadana sambi! membuka pintu rumahnya ”kalian telah melakukan sesuatu yang sangat berani, yang tentu tidak pernah terpiku dan dilakukan oleh keanak muda padukuhan ini "Aku adalah anak muda dan padukuhan ini paman” "Tetapi kau sudah lama berada di luar padukuhan ini. Kau memang berbeda dengan anak-anak muda yang lain” “Tetapi apa yang kau lakukan, adalah satu hal yang tidak masuk akal bagi kami” "Paman" berkata Manggada "apa yang kami lakukan adalah sekedar untuk mengatakan kepada Wira Sabet, bahwa usahanya untuk menakut-nakuti seisi padukuhan ini tidak berhasil. Setidak-tidaknya kami tidak menjadi ketakutan seperti orang lain. Sebenarnya kami berharap bahwa ada juga orang lain yang berbuat seperti kami. Atau setidak-tidaknya dapat membantu Ki Jagabaya yang setia dalam tugasnya” Ki Resadana menarik nafas dalam-dalaam. Namun bagaimanapun juga ia masih belum mempunyai keberanian untuk berbuat sesuatu, apalagi seperti anak-anak muda itu. Untuk beberapa lama Manggada dan Laksana berada di rumah Ki Resadana. Namun kemudian merekapun minta diri untuk meninggalkan rumah itu. “Kalian akan pergi kemana?” bertanya Ki Resadana. “Pulang. Tetapi kami akan singgah sebentar di rumah ki Jagabaya. Kami ingin berbicara bahwa kami baru saja bertemu dengan Wira Sabet” Ki Resadana termangu-mangu sejenak. Dengan nada dalam iapun kemudian berkata “Memang satu kenyataan bahwa Wira Sabet masih juga dapat diajak berbicara. Tetapi aku tidak tahu, apakah Sura Gentong juga serba sedikit masih tersisa kewajajrannya dalam hubungannya dengan sesama” Manggada mengerutkan dahinya. Dengan nada tinggi ia bertanya “Apakah menurut paman Resadana. Paman Sura Gentong lebih garang dari paman Wira Sabet?” "Ya. Keduanya memang ditakuti 'Tetapi sebenarnyalah belum ada orang yang pernah mengalami kesulitan karena Wira Sabet” "Bagaimana dengan paman Sura Gentong” bertanya Manggada kemudian. "Belum ada seorangpun yang pernah melihat Sura Gentong. Apalagi memasuki padukuhan ini” jawab Resadana. "Tetapi kenapa setiap orang mengatakan bahwa jika seseorang melihat saja, bahkan dari kejauhan paman Wira Sabet atau paman Sura Gentong akan mengalami bencana?” KI Resadana mengangguk-angguk kecil. Jawabnya "Aku sudah mengatakan, bahwa secara teratur keduanya sengaja menyebarkan suasana yang membuat orang-orang padukuhan ini ketakutan” "Nah, paman. Aku akan membantu Ki Jagabaya dengan cara yang sebaliknya. Sebagaimana paman ketahui. Wira Sabet sama sekali tidak menakutkan, la tidak berbuat apa-apa. Karena itu, besok dan besoknya lagi dan balikan kemudian seringkali, aku akan bermain-main di halaman rumah paman Wira Sabet. Kami berdua juga akan memetik duwet atau manggis atau apa saja yang ada” "Tetapi kalian tidak boleh lupa diri. Kalian harus tetap berhati-hati, karena kewajaran sikap Wira Sabet tentu berbeda dengan kewajaran sikap kita” Manggada mengangguk. Ia menyadari akan kebenaran pesan itu. Katanya “Aku mengerti. Terima kasih paman. Aku akan berhati-hati” Demikianlah, maka Manggada dan Laksanapun kemudian telah pergi ke rumah Ki Jagabaya. Mereka tidak lagi bertemu dengan Wira Sabet Agaknya Wira Sabet telah meninggalkan padukuhan itu. Ternyata satu dua orang lelah nampak lagi berjalan tergesa-gesa di jalan padukuhan itu. Ketika sampai ke rumah Ki Jagabaya, maka seperti biasanya pintu regol rumah itu sedikit terbuka. Demikian mereka memasuki halaman, maka merekapun langsung menuju ke seketeng. Ketika Manggada mengetuk pintu sebagaimana dilakukan kemarin, maka seseorang telah melangkah mendekati pintu itu. "Siapa" terdengar seseorang bertanya. "Aku, Sampurna" jawab Manggada yang tahu pasti, bahwa orang yang ada di balik pintu itu adalah Sampurna. Sejenak kemudian, maka selarak pintu itupun telah diangkat. Ketika pintu dibuka, maka sebenarnyalah bahwa yang berdiri di belakang pintu itu adalah Sampurna. Seperti kemarin, maka Sampurna itu berpakaian lengkap dengan sebilah keris di punggungnya. Tetapi Manggada dan Laksana tidak bertanya lagi. apakah Sampurna akan pergi ke upacara. Sambil tersenyum Sampurnapun telah mempersilahkan Manggada dan Laksana masuk seperti kemarin pula, maka pintu itupun segera ditutup dan diselarak. Ketika mereka berjalan ke serambi, Sampurna itu berkata “Aku mempunyai seorang tamu. Nah, tentu kau ingat, siapa anak muda itu” "Apakah ia kawan kita bermain?” bertanya Manggada. "Ya, umurnya setua aku” jawab Sampurna. Manggada mengerutkan dahinya. Tetapi ia belum melihat anak muda itu. Baru kemudian ketika ia memasuki gandok, maka tiba-tiba saja Manggada menyapanya sambil tertawa "Nah. ini tentu Wisesa. Aku tidak akan pernah melupakannya” Anak muda itupun bangkit pula. Dikerutkannya keningnya, sementara Sampurna bertanya “Wisesa. apakah kau melupakannya?” Wisesa memandang Manggada dan Laksana berganti-ganti. Sementara Sampurna berkata “Yang seorang saja. Yang lain memang seorang tamu. Kau tentu belum mengenalnya” "Manggada" desis Wisesa. "Ternyata kamu masih ingat juga" desis Sampurna. "Anak keras kepala itu" berkata Wisesa sambil tertawa "marilah. Siapa yang seorang lagi?” "Laksana. Sepupuku. Ia datang berkunjung kemari” jawab Manggada. Ketika kemudian Manggada dan Laksana duduk, maka pembicaraan merekapun menjadi riuh. Hanya Laksana sajalah yang sekali-sekali tersenyum dan tertawa. "Kenapa kau pulang” bertanya Wisesa kemudian. "Aku menjadi rindu kepada kampung halaman. Demikian aku memasuki kampung halaman mi. maka terasa betapa sejuknya angin yang semilir lembut” jawab Manggada. Yang mendengarkannyapun tertawa. Namun Sampurna berkata “Tetapi setelah kau memasuki lorong-lorongnya, maka kau akan merasa, betapa panasnya terik matahari di padukuhan ini” "Ya” jawab Manggada "tetapi pada sualu saat. padukuhan ini akan menjadi sejuk kembali” "Aku berharap demikian" jawab Sampurna. Namun dalam pada itu, Laksana sempat memperhatikan Wisesa. Ketika Sampurna dan Manggada membicarakan padukuhan itu, agaknya ia menjadi gelisah. Bahkan sama sekali tidak menyahut dan apalagi menanggapi beberapa kali ia justru melemparkan pandangan matanya ke arah pintu serambi. Namun pembicaraan itu terhenti ketika Tantri membawa minuman keluar. Namun iapun kemudian berkata sambil tersenyum "Maaf Manggada. Aku belum tahu kalau tamunya bertambah” Sambil tersenyum Manggada menyahut “Aku sudah merasa cemas, bahwa kami berdua tidak terhitung” Tantri tersenyum pula. Katanya “Sabarlah Manggada Nanti aku buatkan buat kalian” "Terima kasih" Laksanalah yang menyahut. Tantri sempat memandang Laksana sekilas. Namun kemudian gadis itu menundukkan wajahnya meskipun senyumnya masih nampak tergayut dibibirnya. Wisesa memandang Laksana dengan dahi berkerut. Nampaknya ia kurang senang melihat sikap Laksana. Apalagi ketika ia melihat laksana yang memandang Tantri dengan tanpa berkedip Namun sejenak kemudian Tantri itupun telah beringsut dan kembali masuk ke ruang dalam. Sementara Sampurna berkata ”Aku belum mempersilahkan kau minum. Wisesa. Kita menunggu sampai minuman buat Manggada dan Laksana dihidangkan” Wisesa mengangguk. Iapun kemudian mencoba untuk tersenyum pula. Sebenarnyalah bahwa sejenak kemudian, Tantri telah datang lagi sambil membawa minuman buat Manggada dan Laksana. Bahkan kemudian Tantri itu sempat mempersilahkan "Minumlah Manggada” "Terima kasih Tantri” jawab Manggada sambil mengangguk. Manggadapun kemudian berpaling kepada Laksana sambil berkata “Nah, hanya aku yang dipersilahkan minum. Kau tidak” Laksana mengerutkan dahinya. Namun Tantri dengan cepat berkata “Tentu semuanya. Silahkan” Manggada tertawa. Sementara Sampurna berkata “Kau masih seperti dahulu. Kau termasuk anak-anak yang paling ribut di masa remajamu. Tetapi meskipun umurmu beberapa tahun lebih, muda dari aku, kau lebih senang bermain-main dengan anak-anak sebayaku daripada anak-anak sebayamu. He, bukankah kau ingat Wisesa? Tetapi meskipun Manggada termasuk yang paling kecil di antara kita, tetapi ia benar-benar anak yang bandel” "Ya, aku ingat" jawab Wisesa pendek. Namun Sampurna itu berkata selanjutnya "Meskipun demikian. Manggada tidak pernah berani melawan Tantri. Meskipun Tantri perempuan, tetapi ia senang berkelahi di masa remaja kecilnya” "Bohong" sahut Tantri. "Bukankah disini banyak saksi” jawab Sampurna. "Sudah, sudah" potong Tantri. Sampurna yang tertawa itu berkata selanjutnya "Tetapi Manggada tetap bandel dan nakal sampai dewasanya. Jika tidak, maka ia tidak menyatakan niatnya bekerja sama dengan ayah” "Ah, itu adalah kewajiban bagiku. Bagi anak-anak muda padukuhan ini. Bukankah begitu Wisesa" Manggada justru bertanya. "Ya" jawab Wisesa asal saja. Tetapi Sampurna terkejut. Sambil mengerutkan dahinya, ia bertanya “Apakah kau juga akan melakukannya sebagaimana Manggada dan Laksana, sepupunya itu” Wisesa baru mulai berpikir. Dengan ragu-ragu ia bertanya “Maksudmu?” "Manggada dan Laksana telah menyatakan diri dengan suka rela akan membantu ayah mengatasi kemelut yang terjadi di padukuhan ini. Maksudku, persoalan yang menyangkut Wira sabet dan Sura Gentong” "Ah" Wisesa terkejut "apa yang akan dilakukan oleh Manggada dan Laksana?” "Tentu saja kita belum mempunyai rencana apa-apa. Tetapi kesediaannya membantu ayah telah sangat membesarkan hati ayah, bahwa masih ada anak-anak muda yang bersedia melakukan tugas-tugas mulia bagi kampung halamannya” Wisesa mengerutkan dahinya. Tetapi ia tidak menjawab. Dalam pada itu, Tantri mempersilahkan sekali lagi "Nah, silahkan. Minumlah. Aku akan membantu ibu di dapur” "Terima kasih" Laksana lagi yang menyahut. Sepeninggal Tantri, maka Sampurna telah mulai mengenang lagi masa kanak-kanak mereka yang riang dan ceria. Sambil berangan-angan ia berkata “Kita tidak pernah takut bermain di halaman di kebun atau bahkan di prapatanprapatan. Siang atau malam. Apalagi saat bulan terang’ ”namun suaranyapun merendah "Sekarang, anak-anak itu sama sekali tidak berkesempatan lagi. Setidak tidaknya untuk sementara” "Hanya untuk sementara" berkata Manggada kemudian "mudah-mudahan suasana seperti ini segera berakhir” "Maksudmu" tiba-tiba Wisesa bertanya. Sampurnalah yang menjawab “Maksud Manggada, kita akan segera menghentikan tingkah laku Wira Sabet dan Sura Gentong” Wisesa menarik nafas dalam-dalam. Katanya ”Aku sudah memperingatkan Sampurna, bahwa yang dilakukan Ki Jagabaya itu sia-sia. Wira Sabet dan Sura Gentong bukan orang kebanyakan. Apalagi setelah ia bekerja sama dengan Ki Sapa Aruh” ”Jadi maksudmu, suasana seperti ini akan dibiarkan berkepanjangan?” bertanya Sampurna. Lalu katanya “Wisesa, ayah adalah seorang bebahu padukuhan. Bagaimanapun juga ia harus berbuat sesuatu bagi kebaikan padukuhan ini sessuai dengan tugasnya” "Tetapi Ki Jagabaya hanya sendiri, Sampurna. Kau lihat, apakah Ki Bekel dan para bebahu juga mendukung kesetiaan Ki Jagabaya dalam tugasnya” bertanya Wisesa. "Jadi menurut pendapatmu, kita biarkan saja padukuhan ini menjadi sesepi kuburan sekarang ini?” "Tentu tidak" jawab Wisesa "aku sudah mengusulkan, dan barangkali sudah langsung aku sampaikan kepada Ki Jagabaya, bahwa kita harus berani melihat kenyataan. Kita harus berani mendengarkan, apa yang sebenarnya dimaui oleh Wira Sabet dan Sura Gentong. Jika kita dapat memenuhinya, maka persoalannya akan segera dapat diselesaikan” "Memang satu pikiran yang baik" jawab Sampurna "tetapi seperti yang dikatakan oleh ayah, bahwa dengan demikian maka kita akan mengorbankan seisi padukuhan ini” "Ah, aku kira tidak, Sampurna. Memang mungkin kita harus memberikan pengorbanan. Tetapi sepanjang pengorbanan itu wajar, maka kita tidak mempunyai pilihan lain” "Yang sulit adalah ukuran kewajaran itu” berkata Sampurna. "Kita belum pernah mencobanya" berkata Wisesa. Sampurna mengangguk-angguk. Katanya “Memang masuk akal. Tetapi sudah tentu melalui pembicaraan yang panjang dan tentu tawar-menawar. Untuk melakukan hal itu kita memerlukan orang yang berani melakukannya. Sementara orang-orang padukuhan ini merasa bahwa melihat keduanya dari kejauhan saja sudah dianggap satu bencana” "Mungkin Ki Jagabaya dapat melakukannya" berkata Wisesa. "Seandainya ayah ingin mencobanya, apakah kau bersedia bertemu dan berbicara dengan Wira Sabet, Wisesa?” Wajah Wisesa itu tiba-tiba menjadi tegang. Katanya “Kenapa harus aku? Bukankah itu tugas Ki Jagabaya?” "Mungkin itu termasuk tugas ayah. Tetapi tentu ada perantara yang membuat hubungan untuk melakukan satu pembicaraan” "Kenapa tidak kau saja Sampurna” "Aku anak Jagabaya itu. Sebaiknya memang orang lain” jawab Sampurna. Tiba-tiba Manggadalah yang menyahut “Aku bersedia berbicara dengan paman Wira Sabet” "Kau" wajah Wisesa menjadi tegang kembali. “Ya. Aku memang suuah menyatakan kesediaanku untuk membantu Ki Jagabaya. Apa salahnya” bertanya Manggada. Wisesa memandang Manggada dan Sampurna bergantiganti. Dengan nada berat iapun berkata “Kita tidak sedang bermain-main seperti dahulu Manggada. Kita tidak sedang bermain soyang atau bermain ular naga. Juga tidak gobag sodor atau permainan yang lain. Kalau kau dahulu dikenal sebagai anak yang bandel dan keras kepala dalam bermain, akibatnya akan jauh berbeda jika kau menjadi keras kepala sekarang ini” Manggada mengangguk-angguk Katanya ”Hal ini aku lakukan karena aku ingin menyumbangkan sesuatu bagi kampung halaman ini, Wisesa. Tata kehidupan di padukuhan ini harus segera berubah. Dorongan itulah yang memaksa aku untuk bersedia melakukan tugas ini jika Ki Jagabaya sependapat dan membebankannya kepadaku” "Nampaknya, setelah kau pulang dari rantau, kau ingin disebut sebagai pahlawan disini" berkata Wisesa selanjutnya "ketahuilah, bahwa seorang yang melihat Wira Sabet dan Sura Gentong adalah pertanda bahwa orang itu akan mengalami bencana, mungkin datangnya dari kedua orang itu atau dari pengikut mereka atau dari Ki Sapa Aruh” Tetapi Manggada tertawa. Katanya “Berita itu terlalu dibesar-besarkan. Atau sengaja dilontarkan oleh para pengikut paman Wira Sabet dan Sura Gentong” "Kau memang keras kepala. Tetapi jika kemudian batok kepalamu yang keras itu akan berlobang oleh tongkat Wira Sabet, adalah salahmu sendiri" geram Wisesa. "Aku telah bertemu dan berbicara dengan paman Wira Sabet. Aku baru saja memanjat pohon manggis dan duwet di halaman rumahnya justru ditunggui oleh paman Wira Sabet sendiri” "Omong kosong" Wisesa hampir berteriak. "Kenapa harus berbohong? Tetapi jika kau tidak percaya, bertanyalah kepada Ki Resadana dan tetangga yang rumahnya berseberangan dengan rumah paman Wira Sabet” Wajah Wisesa menjadi tegang, sementara Manggada berceritera tentang pertemuannya dengan Wira Sabet, kemarin dan pagi hari itu. “Ternyata aku dapat berbicara dengan paman Wira Sabet seperti biasa. Bahkan paman Wira Sabet tidak berkeberatan aku memanjat pohon manggis dan duwetnya” "Aku tidak percaya" potong Wisesa. Tetapi Sampurna yang menyahut “Aku percaya. Sejak kecil Manggada tidak suka berbohong. Justru karena ia keras kepala. Nanti kita akan berbicara dengan ayah” "Dimana Ki Jagabaya sekarang” bertanya Manggada. "Ayah baru keluar sebentar. Mungkin menemui beberapa bebahu padukuhan. Ayah banyak berceritera tentang kesediaanmu membantunya kepada orang-orang padukuhan ini” berkata Sampurna. Dengan nada datar Wisesa berkata “Memang sekarang kesempatan anak-anak muda padukuhan Gemawaug untuk menjadi pahlawan. Tetapi juga sekarang anak-anak muda yang sombong akan dijerat oleh kesombongannya sendiri” Manggada mengerutkan dahinya. Tetapi ia tidak menjawab. Sementara itu. Wisesapun berkata “Baiklah. Aku akan minta diri. namun aku masih ingin memperingatkan Manggada. Kita kawan bermain sejak kanak-kanak. Karena itu, aku tidak ingin melihat Mangada akan digilas oleh sikap keras kepalanya yang tanpa perhitungan sama sekali. Bahkan kini ia tidak saja bengal dan keras kepala, tetapi juga sombong” "Ah. jangan begitu Wisesa" sahut Manggada "kita sudah lama tidak bertemu. Sebaiknya kita bicarakan saja hal-hal yng baik” "Aku bermaksud baik, Manggada. Sebelum kau terjerumus, aku ingin kau bergeser surut” "Aku akan memikirkannya” jawab Manggada. Demikianlah, maka Wisesa itupun minta diri. Sampurna, Manggada dan Laksanapun bangkit pula dan mengantarnya. Mereka turun dari serambi. "Di mana Tantri, aku akan minta diri” berkata Wisesa itu. "O" Sampurna melangkah kembali “aku akan memanggilnya” Sejenak kemudian Tantri itupun telah keluar bersama Sampurna. Dengan nada tinggi Wisesa itupun berkata “Sudahlah Tantri. Aku hanya singgah saja. Besok aku akan singgah lagi. Besok aku akan membawa bibit kemuning. Bukankah yang kau tanyakan bibit pohon kemuning, bukan bibit pohon pacar?” "Ya. kemuning" jawab Tantri "terima kasih sebelumnya” Sampurna. Manggada dan Laksana mengantar Wisesa sampai ke pintu seketeng. Sampurna mengangkat selarak pintu dan membukanya. Bertiga mereka memperhatikan Wisesa yang melangkah menuju ke pintu regol halaman. Ketika ia keluar dari regol. maka nampak ia ragu-ragu. Kemudian kepalanya menjenguk ke kanan dan ke kiri. Baru kemudian Wisesa turun ke jalan dan sambil menutup pintu regol maka Wisesa itu pergi. Sambil menutup pintu seketeng dan menyelaraknya. Sampurna berkata “Ia sering datang kemari” "O" Manggada mengangguk-angguk. Sementara itu Sampurnapun berkata selanjutnya ”nampaknya ia mulai tertarik kepada Tantri yang menjadi dewasa. Tetapi nampaknya ia tidak senang kepadamu” "Kenapa” bertanya Manggada. "Kau dekat dengan Tantri sejak remaja kecil. Meskipun kau jugalah yang paling sering berkelahi dengan Tantri” Manggada tertawa. Katanya “Itu sudah terjadi bertahuntahun yang lalu. Waktu itu kami masih kanak-kanak. Yang kami pikirkan tidak ada lain kecuali permainan yang kadangkadang memang menimbulkan pertengkaran. Tetapi bukankah Tantri juga sering berkelahi dengan Wisesa” "Bahkan sungguh-sungguh berkelahi" jawab Sampurna "tetapi Wisesa waktu itu masih sering menangis dan melapor kepada orang tuanya. Jika orang tuanya ikut campur, maka Tantri dan kita semuanya berlari menghambur meninggalkan lapangan permainan” Merekapun tertawa serentak. Laksana yang tidak melihat masa kecil itu ikut tersenyum-senyum. Meskipun ia baru saja berkenalan dengan Wisesa, namun kesannya memang kurang menyenangkan. Ketika mereka sampai ke pintu serambi, ternyata Tantri masih berdiri di belakang pintu. Sampurna yang melihat Tantri itu berdiri termangu-mangu, berkata “Wisesa akan lebih sering datang kemari Tantri” "Untuk apa? Ia tidak berani membantu ayah” jawab Tantri. "Wisesa datang memang tidak untuk ayah.” jawab Sampurna. "Lalu apa” bertanya Tantri. "Ia datang untuk menemuimu " jawab Sampurna. "Untuk apa” bertanya Tantri. "Ah, kau bukan gadis kecil yang bertingkah seperti laki-laki lagi. Kau sekarang sudah gadis dewasa. Nah, Wisesa sudah lupa masa-masa kau menggigitnya sampai telinganya berdarah, menangis meraung-raung. Kemudian orang tuanya datang sambil marah-marah” berkata Sampurna sambil tertawa. "Kalau aku sudah dewasa, lalu apa maunya” bertanya Tantri. "Tidak apa-apa. Sebenarnya ia menjadi ketakutan. Ketika seseorang memberitahukan bahwa Wira Sabet memasuki padukuhan ini, ia lari masuk dan singgah di rumah ini” "Nah, bukankah ia tidak mencari aku” sahut Tantri. "Tetapi bukankah seperti parang bermata dua. Ke sana menggores kemari menggores pula. Wisesa bersembunyi sekaligus datang menemuimu” berkata Sampurna sambil tertawa pula. "Ah sudah-sudah. Besok jika ia datang, aku tidak mau membuat minuman buatnya” berkata Tantri. Tiba-tiba saja Laksana memotong "Gigit saja telinganya sekali lagi, Tantri” Sampurna dan Manggada tertawa serentak. Tantri sendiri mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia tertawa sambi! menjawab “Aku akan menggigit hidungnya” Keempatnya tertawa berkepanjangan. Manggada sempat berangan-angan mengenang masa kecilnya. Tantri saat itu memang nakal sekali, la senang berkelahi seperti anak lakilaki. Memanjat dan tingkah laku anak laki-laki yang lain. Namun kemudian Sampurnapun mempersilahkan mereka untuk duduk di serambi sambil berkata “Kita minum lagi. Atau barangkali di dapur ada makanan, biarlah Tantri mengambilnya” Demikianlah, merekapun duduk lagi di serambi. Tantri memang mengambil beberapa potong makanan di dapur. Ternyata ibunya masih mempunyai beberapa bungkus hawughawug dan nagasan. Ketika kemudian Tantri kembali ke dapur untuk membantu ibunya, maka Sampurna itupun berkata “Aku akan berkata kepada ayah. Apakah ayah bersedia berbicara dengan Wira Sabet dan Sura Gentong. Barangkali akan terdapat satu persetujuan yang memungkinkan mengurangi atau bahkan jika mungkin mengatasi ketegangan di padukuhan Gemawang” "Aku akan menjadi perantara" berkata Manggada "aku akan menemui paman Wira Sabet. Mudah-mudahan dalam waktu dekat, ia datang lagi ke padukuhan ini. Karena jika bukan ia yang datang, kita tidak dapat menemukan tempat tinggalnya” Sampurna mengangguk-angguk. Katanya “Ya. Memang sulit untuk mencari tempat tinggalnya. Hal ini memang pernah disampaikan kepada ayah. Tetapi waktu itu ayah kurang memperhatikan karena menurut ayah kemungkinan penyelesaian dengan cara itu kecil sekali. Ayah menganggap bahwa Wira Sabet dan Sura Gentong tidak akan dapat diajak berbicara” "Aku akan mencoba. Besok, lusa dan hari-hari berikutnya aku akan datang ke rumah paman Wira Sabet” Demikianlah keduanya masih berbicara agak panjang tentang rencana itu sambil menunggu Ki Jagabaya pulang. Baru setelah mereka menghabiskan semangkuk minuman dan beberapa bungkus makanan, Ki Jagabaya itu datang. Bahkan Ki Jagabaya itu langsung duduk di serambi bersamasama dengan anak-anak muda itu. Sebelum Manggada dan Laksana berceritera tentang pertemuannya dengan Wira Sabet, Ki Jagabaya itu berkata “Aku mendengar bahwa kalian telah bertemu dan berbicara dengan Wira Sabet” “Ya. Ki Jagabaya" jawab Manggada "kami bertemu dengan paman Wira Sabet di rumahnya. Tetapi dari siapa Ki Jagabaya mengetahui bahwa kami telah bertemu dan berbicara dengan paman Wira Sabet” "Aku bertemu dengan Ki Resadana. Ialah yang berceritera kepadaku bahwa kalian berdua telah melakukan sesuatu yang menurut ki Resadana tidak masuk akal” "Apakah Ki Jagabaya pergi ke rumah Paman Resa” bertanya Manggada pula.

Jilid 3
“TIDAK” jawab Ki Jagabaya “aku bertemu dengan Ki Resa di jalan ketika Ki Resadana sedang pergi ke rumahmu” “Ke rumahku?” bertanya Manggada dengan heran. “Ya. Ki Resadana ingin memberitahukan kepada ayahmu, bahwa kau baru saja mekakukan pekerjaan yang sangat berbahaya. Menurut Ki Resa, ia tidak sampai hati untuk tetap berdiam diri. Jika terjadi sesuatu atas kalian berdua, maka Ki Resadana akan ikut merasa bersalah” Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Sambil mengangguk-angguk Manggada itupun berkata “Ki Resa bermaksud baik. Tetapi paman Resadana tidak tahu maksudku yang sebenarnya meskipun aku sudah mengatakan. Aku berniat untuk menunjukkan kepada paman Wira Sabet bahwa ia bukan hantu di padukuhan ini” Ki Jagabaya tersenyum. Katanya “Ia akan mendapat penjelasan dari ayahmu” Manggada mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Yang kemudian berbicara adalah Sampurna. Ia menyampaikan pendapat Wisesa untuk mencoba berbicara dengan Wira Sabet dan Sura Gentong. Tetapi Ki Jagabaya berkata “Tidak ada gunanya. Kita hanya akan membuang-buang waktu dan tenaga” Namun Sampurna itupun berkata “Manggada bersedia untuk melakukan pembicaraan pendahuluan ayah. Mungkin ada juga gunanya ayah menjajagi maksudnya” “Bukankah sudah jelas bagi kita, dan mereka datang untuk membalas dendam? Mereka dengan telah mengatur menimbulkan ketakutan dan ketegangan pada padukuhan ini. Mereka mengancam orang-orang padukuahn dengan segala macam cara” “Tetapi barangkali kedua orang itu akan dapat dihentikan dengan syarat tertentu. Mungkin mereka mengajukan syaratsyarat itu. Jika saja syarat itu masih wajar, bukankah kita akan dapat memenuhinya?” Ki Jagabaya memandang Manggada dengan kerut di dahi. Namun kemudian ia bertanya “Apakah kau ingin mencobanya?” “Jika Ki Jagabaya setuju, kami akan mencoba berbicara. Tetapi hasilnya, kami tidak dapat mengatakannya” Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah. Jika kau ingin mencobanya, tetapi berhati-hatilah. Bagaimanapun juga kedua orang itu adalah orang-orang yang berbahaya. Bertahun-tahun mereka mempersiapkan diri untuk melakukan balas dendam. Karena itu, agaknya memang sulit untuk mencairkan maksud mereka itu. tetapi agaknya segala cara memang dapat dicoba” “Terima kasih atas kepercayaan Ki Jagabaya. Sebenarnya kami telah didorong untuk ikut membantu memecahkan persoalan-persoalan yang timbul sejauh dapat kami lakukan” “Aku mengerti Manggada. Karena itu sejak semula aku menghargai kesediaanmu itu. Tentu saja segala sesuatunya tidak hanya tergantung kepada kalian berdua” Dengan persetujuan Ki Jagabaya itu, maka Manggada dan Laksana kemudian harus mempersiapkan diri untuk melakukan tugas yang labih berat. Beberapa saat kemudian, maka keduanya itupun telah minta diri. Tantri dan Nyi Jagabaya telah datang pula ke serambi saat keduanya akan meninggalkan rumah itu. “Berhati-hatilah ngger “pesan Nyi Jagabaya. “Ya Nyi. Kami akan berhati-hati” jawab Manggada. Demikianlah, maka Manggada dan Laksana itupun meninggalkan rumah Ki Jagabaya. Di jalan pulang mereka tidak banyak bertemu dengan penghuni padukuhannya. Satu dua orang nampak turun ke jalan dengan tergesa-gesa. Kemudian hilang di balik pintu-pintu regol halaman. “Aku tidak pernah mendengar suara orang menumbuk padi“ berkata Laksana. Manggada mengangguk. Katanya “Ya. Aku tidak tahu bagaimana caranya mereka mendapatkan beras. Mungkin mereka juga menumbuk padi, tetapi di dalam rumah atau di dapur, sehingga suaranya dapat sedikit diredam agar tidak terdengar dari jalan ini” Laksana mengangguk-angguk. Namun keduanya berhenti ketika mereka melihat seekor burung gelatik yang kakinya terikat benang terbang melintasi dinding halaman dan turun ke jalan. Tiba-tiba saja seorang anak muncul dari balik pintu regol. Agaknya gelatik itu adalah milik anak itu yang terlepas saat diunda benang. Tetapi demikian anak itu melihat Manggada dan Laksana, maka serta merta anak itu kembali masuk ke halaman. Manggada sempat menangkap burung yang tidak dapat terbang jauh itu. Kemudian mendorong pintu regol untuk menyerahkan gelatik itu pada pemiliknya. Namun ia tidak melihat seseorang di halaman itu lagi. Karena itu, maka Manggada dan Laksanapun telah masuk pula ke halaman. Sambil mengetuk pinju rumah itu Manggada berkata “Aku mengembalikan burung yang terlepas itu. Bukalah pintu rumahmu. Aku tidak apa-apa. Jangan takut” Manggada dan Laksana mendengar anak itu merengek. Karena itu, ia mengulangi “Ini gelatikmu adik kecil” Pintu rumah itu akhirnya terbuka. Seorang laki-laki berdiri di muka pintu rumah itu. Sejenak Manggada termangu-mangu. Namun kemudian sambil tersenyum ia berdesis “Timbang. Bukankah kau Timbang yang rambutnya selalu dicukur dengan kuncung diubun-ubun?” Orang itu memandang Manggada dengan tajamnya. Namun kemudian iapun tertawa pula sambil berkata “Manggada. Kau tentu Manggada yang sudah sejak lama tidak nampak di padukuhan ini” “Ya, aku Manggada. Dan ini adalah adik sepupuku, Laksana” “Marilah, masuklah “Timbang itu mempersilahkan. Demikianlah, maka kedua orang anak muda itu duduk di ruang depan rumah Timbang yang tidak terlalu besar. Namun rumah yang sederhana itu nampak terpelihara rapi. Sementara itu seorang anak berdiri termangu-mangu didepan pintu ruang dalam. “Siapakah anak ini?” bertanya Manggada. “Anakku” jawab Timbang. “Anakmu? Jadi kau sudah mempunyai anak?” Timbang tersenyum sambil berkata “Ya. Aku kawin muda” “Siapakah isterimu? Apakah juga anak padukuhan ini?” bertanya Manggada. “Ya. Dari padukuhan ini. Tetapi tentu sudah bukan anakanak lagi” jawab Timbang. “Siapakah isterimu itu?” bertanya Manggada. Wajah Timbang itu menjadi kemerah-merahan. Ia sudah menduga bahwa Manggada tentu akan mentertawakannya. Namun demikian, Timbang itupun kemudian menjawab “Perti” Sebenarnyalah Manggada tertawa. Katanya “Aku sudah mengira. Isterimu itu tentu Perti. Sejak kecil kalian selalu berdua. Bahkan kadang-kadang memisahkan diri dari kelompok anak-anak yang sedang bermain” Timbang juga tertawa. Sementara itu Manggada bertanya “Dimana isterimu sekarang, he? Ia tentu tidak akan lupa kepadaku, meskipun sudah lama tidak bertemu” Timbang memang agak ragu-ragu. Katanya “Mungkin ia malu menemuimu” “Kenapa? Jika ia tidak mau keluar, aku akan mencarinya ke dalam” berkata Manggada. Timbang tertawa. Tetapi iapun kemudian bangkit berdiri. Tetapi sebelum ia beranjak pergi, Manggada berkata “Ini gelatik anakmu yang lepas dan terbang keluar halaman”. Timbang tertegun. Namun kemudian ia berlutut di sebelah anaknya sambil berkata “Nah, mendekatlah. Paman itu baik. Ia akan mengembalikan gelatikmu yang terlepas” Anak itu memang ragu-ragu. Namun kemudian iapun melangkah mendekati. Ia menerima burung gelatik yang masih terikat benang yang diberikan oleh Manggada. Namun ayahnyapun berkata “Kau harus mengucapkan apa?” Anak itu memandang wajah Manggada. Wajah itu memang nampak bening dan tidak menakutkan. Karena itu maka anak itupun berkata “Terima kasih, paman” “Bagus“ sahut Manggada sambil menepuk pipi anak itu “kau akan menjadi anak yang pandai” Anak itupun kemudian segera berlari masuk ke ruang dalam. Sementara Manggada berkata “Ia akan menjadi anak pandai. Berbeda dengan kau waktu kecil. Pemalu dan sedikit pemarah. Jika ada anak yang nakal terhadap Perti, kau langsung memukulnya, tidak peduli anak itu jauh lebih besar dari kau sendiri” “Ah, tidak” jawab Timbang sambil memandangi Laksana yang tersenyum-senyum. Katanya kemudian kepada Laksana “Kakak sepupumu ini termasuk anak yang paling suka berkelahi di masa kecilnya. Tetapi ia mempunyai kelebihan. Ia anak yang bandel. Jarang menangis meskipun ia menderita kesakitan yang sangat. Mungkin berkelahi, mungkin dilempar batu anak-anak nakal atau bahkan terjatuh dari pepohonan” Laksanapun tertawa mendengarnya. Ia percaya akan ceritera itu. Manggada sampai dewasanya termasuk anak muda yang mempunyai daya tahan yang sangat tinggi. Pandai memanjat dan memiliki ketrampilan sebagai perkembangan kebiasaan berkelahi di masa kecilnya” Tetapi Manggada itu sendiri berkata “Aku bukan termasuk anak yang suka berkelahi. Hitung. Bukankah aku jarang sekali berkelahi?” Timbangpun tertawa. Namun Manggada berkata pula “Mana Perti itu? Atau aku yang mencarinya sampai kedapur?” Timbang tidak dapat berbuat lain. Iapun kemudian masuk ke ruang dalam rumahnya untuk memanggil isterinya. Perti yang ada di dapur juga tidak dapat menolak ketika suaminya membimbingnya ke ruang depan rumahnya yang tidak besar itu. Kepada isterinya Timbang berkata “Lebih baik kau kesana daripada Manggada melihat isi rumah dan dapur kita” Perti memang menjadi tersipu-sipu. Tetapi iapun kemudian muncul juga di ruang depan. “Nah” berkata Manggada sambil bangkit berdiri “tetapi aku yakin, bahwa yang ini bukan sekedar bermain-main” Perti menunduk untuk mnyembunyikan wajahnya yang kemerah-merahan. Namun kemudian dengan suara lirih ia bertanya “Kapan kau kembali Manggada?” “Baru beberapa hari” jawab Manggada yang kemudian telah dipersilahkan untuk duduk kembali. “Kemana kau selama ini?” bertanya Perti kemudian. “Aku berada di rumah paman. Ini adik sepupuku, putra paman itu” jawab Manggada. Perti menganggukkan kepalanya. Namun ia masih saja banyak menunduk. Manggadalah yang kemudian bertanya “Tetapi bukankah rumahmu dahulu tidak disini, Timbang?” “Ya. Rumah orang tuaku ada di sebelah tikungan itu. Tetapi setelah kami berkeluarga, maka kami membuat gubug kecil ini di tanah milik kakek” jawab Timbang. “Ternyata kalian telah pantas disebut ayah dan ibu” berkata Manggada kemudian. “Kau pun sudah pantas” desis Perti. Manggada tertawa. Sementara Timbang mengingat-ingat “Anak perempuan yang manakah yang di masa kecilmu selalu dekat denganmu di setiap permainan?” “Aku dekat dengan semua kawan-kawanku, laki-laki atau perempuan” jawab Manggada. Tetapi Perti itu berkata “Kau sering berkelahi dengan Tantri waktu kau kecil” Manggada tertawa. Katanya “Ya, justru berkelahi” Demikianlah, beberapa saat mereka sempat berbicara tentang masa kecil mereka. Namun kemudian Perti itu berkata “Baiklah. Silahkan duduk. Aku akan pergi ke dapur. Mungkin kalian haus” “Tidak. Terima kasih. Aku baru saja minum” jawab Manggada yang bahkan kemudian berkata “Aku justru akan minta diri” “Kau pergi kemana saja Manggada?” bertanya Timbang. “Melihat-lihat keadaan padukuhan ini. Nampaknya terlalu sepi dan suasananya tidak menarik” jawab Manggada. “Apakah kau sudah tahu sebabnya?” bertanya Timbang pula. “Sudah. Aku sudah mengatahui sebabnya” jawab Manggada “karena itu aku sedang mencari kawan-kawan bermain yang bersedia ikut memecahkan persoalan ini” “Apa maksudmu?” bertanya Timbang. “Kita harus mencegah suasana seperti ini berkepanjangan. Suasana padukuhan ini harus dikembalikan seperti sediakala. Tenang, tenteram, tetapi hidup dan beriak” jawab Manggada. “Apakah kau belum tahu bahwa persoalannya mempunyai hubungan dengan dendam Wira Sabet dan Sura Gentong?” bertanya Timbang. “Ya. Aku sudah tahu. Karena itu, kami berdua berniat untuk berbicara dengan Wira Sabet dan Sura Gentong untuk mendapatkan penyelesaian yang tuntas sehingga suasana yang tidak menentu ini tidak berkepanjangan. Bayangkan, bahwa sawah dan ladang tidak terpelihara dengan baik sekarang ini. Parit dan jalan-jalan tidak terawat karena semua orang berada dalam ketakutan. Jika keadaan seperti ini berlangsung lama, maka kesejahteraan penghuni padukuhan ini akan menjadi semakin lama semakin menurun. Hasil sawah akan susut dan pategalan bahkan tidak tergarap. Semua orang keluar dari rumahnya dengan tergesa-gesa karena mereka menghindari Wira Sabet dan Sura Gentong” berkata Manggada dengan sungguh-sungguh. “Itu tugas para bebahu. Disini ada Ki Bekel, Ki Jagabaya dan bebahu yang lain. Biarlah mereka mencari penyelesaian. Kita tinggal menunggu” jawab Timbang. Tetapi Manggada berkata sambil tertawa “Kenapa kau tidak marah-marah kepada Wira Sabet dan Sura Gentong seperti masa kanak-kanakmu. Kau sama sekali tidak dapat tersinggung selembar benang pakaianmu. Kecuali oleh Perti” “Ah” Timbang tersenyum. Sementara itu Manggada berkata selanjutnya “Sudahlah. Kami mohon diri. Jika untuk sementara kau masih belum ingin untuk melibatkan diri, berdoa sajalah bagi kami. Mudahmudahan kami dapat menemukan jalan keluar dari persoalan ini” Wajah Timbang menegang. Kemudian katanya “Manggada. Untuk waktu yang lama kau meninggalkan padukuhan ini. Karena itu kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi disini. Karena itu, demi persahabatan kita sejak masa kanak-kanak, aku ingin memberikan peringatan kepadamu, bahwa sebaiknya kau urungkan saja niatmu untuk ikut mencampuri urusan ini” Sebelum Manggada menjawab, Pertipun berkata “Manggada. Tidak seorangpun yang berani berbuat sesuatu disini. Bahkan nampaknya Ki Bekelpun tidak” “Baiklah” sahut Manggada “aku akan memperhatikan pendapatmu. Terima kasih atas kebaikan hatimu, karena aku tahu, peringatan itu kau berikan karena kau masih tetap menganggap aku sahabatmu sebagaimana di masa kanakkanak itu” Demikianlah, maka Manggada dan Laksanapun segera minta diri. Dielusnya kapala anak Timbang itu sambil berkata “Jangan kau lepaskan lagi burung gelatikmu, adik kecil” Anak itu mengangguk, sementara Manggada berkata pula “Paman minta diri, ya” Anak itu mengangguk lagi. Timbang dan Perti mengantar Manggada dan Laksana sampai ke pintu regol. Namun demikian keduanya turun ke jalan, maka Timbangpun segera menutup pintu regol itu. Tetapi tidak diselarak sebagaimana pintu-pintu regol halaman rumah yang lain. Disepanjang jalan pulang, Manggada dan Laksana masih saja memperbincangkan sikap orang-orang padukuhan itu. Tetapi keduanya tidak dapat mengingkari kenyataan, betapa penghuni padukuhan itu dicengkam oleh ketakutan. Demikianlah, beberapa saat kemudian, Manggada dan Laksana telah sampai ke rumah. Demikian mereka masuk ke ruang dalam, maka Ki Kertasanapun memberi isyarat agar keduanya ikut duduk bersama di amben besar di ruang itu bersama Ki Citrabawa dan Ki Pandi. Dengan nada datar Ki Kertasanapun berkata “Baru saja Ki Resa pulang” “Ki Resadana, maksud ayah?” bertanya Manggada. “Ya. Ke Resa yang rumahnya di sebelah rumah Wira Sabet” Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Manggada itupun bertanya “Apa yang dikatakannya?” “Aku tahu, ia bermaksud baik. Ia mencoba untuk memperingatkan kami, orang-orang tua ini. bahwa kau telah melakukan satu perbuatan yang tidak dapat dimengerti oleh Ki Resa bahkan orang-orang sepadukuhan” “Ya. Ki Resapun sudah langsung memperingatkan aku” “Kau harus tahu. bahwa maksud Ki Resa itu baik” berkata Ki Kertasana kemudian. “Ya. Kami mengerti. Lalu, apa yang ayah katakan kemudian kepadanya?” bertanya Manggada. “Aku hanya dapat mengucapkan terima kasih dan berjanji untuk menyampaikan pesannya kepada kalian berdua” jawab Ki Kertasana. Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun kemudian Manggada pun telah menceriterakan kesediaannya untuk berbicara dengan Wira Sabet. “Ki Jagabaya telah mnyetujuinya” berkata Manggada. Ki Kertasana menarik nafas panjang. Kamudian katanya “Memang satu langkah yang berbahaya” “Satu kemungkinan ayah” berkata Manggada “jika kemungkinan ini gagal, maka agaknya tidak ada kemungkinan lain kecuali dengan kekerasan. Cara yang sebaiknya dihindari sejauh-jauhnya. Namun yang justru merupakan cara yang paling sering dipergunakan oleh banyak orang” Ki Kertasana mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah. Jika kalian merasa mampu melakukannya. Namun orang-orang tua hanya dapat berpesan agar kalian sangat berhati-hati. Sesuatu yang tidak terduga mungkin akan terjadi” “Baiklah ayah” jawab Manggada “besok aku akan berusaha menemui paman Wira Sabet. Kami memang berharap bahwa yang dapat kami temui mula-mula adalah paman Wira Sabet. Bukan paman Sura Gentong” Ki Kertasana memang sependapat. Katanya “Agaknya Wira Sabet memang tidak segarang Sura Gentong. Apalagi kesalahan ini bermula dari tingkah laku Sura Gentong. Saat itu Wira Sabet hanya membela adiknya yang dalam keadaan terjepit. Tetapi ternyata ia sudah melukai Ki Jagabaya sehingga karena itu, maka ia telah menjadi buruan pula pada waktu itu. Namun setelah bertahun-tahun berlalu, maka keduanya kembali tidak lagi sebagai buruan, tetapi justru sebagai orang-orang yang sangat ditakuti” “Tetapi bukankah belum pernah ada orang yang membuktikan atau menjajagi kemampuan mereka yang sebenarnya?” bertanya Laksana tiba-tiba. “Nampaknya memang belum. Tetapi sikapnya, kawankawan yang dibawanya serta saudara-saudara seperguruannya telah meyakinkan orang-orang padukuhan ini, bahwa Wira Sabet dan Sura Gentong adalah orang-orang yang sangat ditakuti” Manggada mengangguk-angguk. Sementara Laksanapun berkata “Cara mereka menakuti-nakuti orang-orang padukuhan ini memang pantas mendapat pujian, paman” Ki Kertasana tidak membantah. Namun satu kenyataan bahwa seluruh isi padukuhan itu menjadi ketakutan kecuali Ki Jagabaya dan anak laki-laki. Bahkan Nyi Jagabaya dan Tantri nampaknya juga tidak menjadi ketakutan. Meskipun membayang juga kecemasan. Ternyata anak laki-laki Ki Jagabaya itu selalu membawa keris meskipun ia sedang di rumah. Demikianlah, maka Manggada dan Laksana sudah sepakat, di keesokan harinya, mereka akan berada di halaman rumah Wira Sabet lagi. “Mudah-mudahan Wira Sabet melihat halaman rumahnya yang kotor itu” berkata Laksana. Di malam hari, ketika Manggada dan Laksana duduk di serambi, Ki Pandi telah duduk pula bersama mereka. Ketiganya berbincang tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi jika Wira Sabet dan Sura Gentong tidak dapat diajak berbicara “Kita harus bersepakat dengan Ki Jagabaya. Jika terjadi sesuatu, maka baik pada keluarga Ki Jagabaya, maupun keluarga kita disini, masing-masing membunyikan tanda bahaya. Jika kekuatan kita dan kekuatan yang ada di rumah Ki Jagabaya bergabung, mungkin akan dapat mengatasi kekuatan Wira Sabet dan kawan-kawannya, termasuk Ki Sapa Aruh” berkata Laksana. “Kita disini mempunyai banyak kawan” sahut Manggada “sedangkan Ki Jagabaya hanya dua orang, tetapi isyarat itu mungkin akan mempunyai pengaruh yang lebih luas jika perlawanan memang sudah terjadi” Dalam pada itu, Ki Pandipun berkata “Yang penting memang keluarga ki Jagabayalah yang harus membunyikan isyarat jika terjadi sesuatu atas keluarga mereka. Tetapi Nyi Jagabaya dan anak perempuannya tentu termasuk orangorang yang berani” “Apakah Tantri memiliki kelebihan sebagaimana Winih?” tiba-tiba Laksana bertanya. “Aku kira tidak” jawab Manggada “Tantri tidak pernah meninggalkan rumahnya. Jika ia memiliki kemampuan tentu hanya warisan dari ayahnya. Mungkin serba sedikit Tantri memiliki bekal untuk membela diri” “Baiklah” berkata Laksana “besok kita menemui Wira sabet, kemudian memberikan laporan kepada Ki Jagabaya” Demikian seperti yang mereka rencanakan, maka ketika matahari mulai memanjat kaki langit, Manggada dan Laksanapun telah bersiap. Setelah makan pagi, maka mereka berdua telah pergi ke halaman rumah Wira Sabet. Ketika Ki Resa melihat keduanya, ia menjadi terkejut, Setelah melihat tidak ada orang lain di sepanjang jalan, maka iapun medekati Manggada dan Laksana sambil berkata “Aku kemarin pergi ke rumahmu. Apakah ayahmu tidak mengatakan sesuatu?” “Ya, paman. Ayah memang menyampaikan pesan bagi kami berdua. Bahkan ayah juga sudah berpesan, agar kami tidak datang kembali ke halaman rumah ini” jawab Manggada. “Jadi kenapa kau kembali lagi?” desak Ki Resa. “Kami masih saja selalu ingin berbicara dengan paman Wira Sabet” jawab Manggada. “Sekali lagi aku peringatkan, ngger. Itu sangat berbahaya” “Kami mengucapkan terima kasih paman. Sebagaimana ayah katakan, maksud paman memang baik. Tetapi kami mempunyai pertimbangan tersendiri paman” Ki Resa menarik nafas dalam-dalam. Namun dalam pada itu, dua orang berjalan tergesa-gesa melewati jalan di muka rumah Wira Sabet. Ketika Ki Resa bertanya, apa yang terjadi, maka seorang di antara mereka menjawab “Wira Sabet dan anaknya bersama dua orang pengawalnya akan lewat jalan ini” Kedua orang itu tidak berhenti. Tetapi merekapun berjalan semakin cepat. Dalam pada itu Ki Resapun menjadi gelisah. Katanya “Marilah ngger. Masuk ke rumahku” Tetapi Manggada tersenyum sambil menjawab “Aku disini saja, paman” Karena Manggada dan Laksana tetap tidak mau ketika Ki Resa mendesak, maka Ki Resa sendiri dengan tergesa-gesa masuk ke regol sambil bergumam “Anak-anak yang keras kepala” Sepeninggal Ki Resa, maka Manggada dan Laksanapun telah duduk di tangga rumah Wira Sabet yang tidak terpelihara itu. Namun bagaimanapun juga, keduanya memang menjadi berdebar-debar. Tetapi karena keduanya sudah bertekad untuk menjadi penghubung antara bebahu padukuhan itu dengan Wira Sabet, maka mereka benar-benar berusaha untuk dapat berbicara. Demikianlah, seperti yang dikatakan oleh kedua orang yang dengan tergesa-gesa melintas di jalan di depan rumah itu, maka Wira Sabet benar-benar telah lewat. Bahkan kemudian berhenti dan melangkah memasuki halaman rumahnya. Wira Sabet terkejut ketika ia melihat kedua orang anak muda itu sudah duduk di tangga rumahnya. “Maaf paman. Pagi-pagi kami sudah ada disini. Kami memang tidak mempunyai pekerjaan apapun di rumah. Karena itu, maka kami segera teringat pohon duwet dan pohon manggis yang kebetulan sedang berbuah” berkata Manggada. Wira Sabet tidak sempat menjawab. Tiba-tiba saja Manggada yang melihat anak Wira Sabet yang datang bersama ayahnya itu dengan serta merta telah menyapanya “He, kau Pideksa. Seperti namamu, kau tumbuh menjadi seorang anak muda yang gagah” Manggada memang sebenarnya agak ragu. Apakah Pideksa itu masih juga seperti masa kecil mereka, saat mereka bermain bersama dan sekali-sekali bertengar dan berkelahi, namun kemudian bermain kembali. Tetapi ternyata Pideksa itupun menanggapi. Meskipun anak muda itu harus mengingat sejenak. Tetapi iapun segera melangkah mendekati sambil berkata “Manggada. Bukankah kau Manggada” “Ya” jawab Manggada yang melangkah mendekat sambil berkata “Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Baru beberapa hari aku pulang dari rumah pamanku. Dan ini adalah adik sepupuku” Pideksa memandang Laksana sekilas. Ketika Laksana mengangguk, maka Pideksapun mengangguk pula. “Aku memang mendengar kau baru saja pulang” jawab Pideksa kemudian. “Aku merasa rindu pada kampung halamanku” berkata Manggada. Pideksa mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian “Aku juga sudah lama meninggalkan padukuhan ini. Sekarang aku juga ingin pulang kembali” “Padukuhan ini akan menjadi ceria kembali. Kita akan membangunkan keceriaan masa kanak-kanak kita” berkata Manggada. “Tetapi keadaan sudah berubah” berkata Pideksa yang kemudian berpaling kepada ayahnya. Katanya “Harus ada pembaharuan di padukuhan ini” “Aku sudah pernah mengatakannya kepada Manggada“ berkata Wira Sabet. “Jadi ayah pernah bertemu dengan Manggada sebelumnya?” bertanya Pideksa. “Ya. Bukankah aku sudah mengatakannya? Karena itu, aku sengaja mengajakmu. Bukankah kalian kawan bermain di masa kanak-kanak” Pideksa mengangguk-angguk. Katanya “Ya. Kami adalah kawan bermain di masa kanak-kanak. Tetapi apakah kami masih akan dapat bersahabat seperti di masa kanak-kanak itu?” “Kenapa tidak?” bertanya Manggada. “Sudah aku katakan. Keadaan sudah berubah” jawab Pideksa. Lalu katanya pula “Kita harus berani berbuat sesuatu untuk membangunkan orang-orang padukuhan ini yang tertidur” “Aku sependapat” jawab Manggada dengan serta merta “jika kita, maksudku, anakanak muda bangkit untuk berbuat sesuatu yang berarti, maka segala sesuatunya tentu akan segera menjadi baik” “Kalian tidak perlu berbicara tentang perubahan-perubahan. Itu sudah kami pikirkan. Kalian akan menerima perintahperintah untuk malakukan tugas-tugas kalian” berkata Wira Sabet kemudian. “Tetapi ayah memerlukan pikiran dan pendapat anak-anak muda“ sahut Pideksa. “Itu akan dilakukan kemudian” jawab Wira Sabet “tetapi kamilah yang akan meletakkan dasar-dasar pembaharuan itu” “Itulah yang ingin kami bicarakan dengan paman” berkata Manggada meskipun dengan agak ragu. Wira Sabet mengerutkan keningnya. Dipandanginya Manggada dan Laksana yang baginya merupakan orang-orang aneh di padukuhan itu. Keduanya sama sekali tidak menjadi ketakutan melihat kedatangannya. Namun Wira Sabet berpendapat, mungkin karena kedua orang anak muda itu masih belum tahu benar, apa yang telah terjadi di padukuhan itu. “Apa yang ingin kau bicarakan dengan ayah?” justru Pideksalah yang bertanya. Manggada termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berkata “Paman, aku mohon waktu sejenak untuk berbicara dengan paman. Persoalannya memang demikian mendesak, sementara kami belum tahu dimana paman tinggal” Wajah Wira Sabet berkerut. Sementara itu, dua orang pengikutnyapun memperhatikan Manggada dengan sungguhsungguh. “Kalian akan berbicara tentang apa?” bertanya Wira Sabet meskipun ia tidak begitu senang mendengarnya. “Tentang padukuhan kita ini, paman” jawab Manggada. “Sudah aku katakan, biarlah kami yang meletakkan dasardasar dari perubahan-perubahan yang perlu bagi padukuhan kita. Kalian dan orang-orang padukuhan ini tinggal melaksanakan belandaskan dasar-dasar yang akan kami letakkan itu” Manggada dan Laksana justru melangkah mendekati Wira Sabet, sementara Pideksapun telah bergeser pula. “Paman” berkata Manggada “kami mohon waktu sebentar saja untuk menyampaikan satu pesan” Wira Sabet termangu-mangu sejenak. Namun Pideksalah yang kemudia bertanya “Pesan apa dan dari siapa?” Manggada memandang Wira Sabet sejenak. Ia masih berpengharapan bahwa Wira Sabet akan mau mendengarkannya. Sebenarnyalah Wira Sabet itu berkata “Katakan” “Paman. Di padukuhan ini masih terdapat bebahu-bebahu yang sampai saat ini masih tetap diakui kedudukannya. Karena itu, bukankah lebih baik jika diselenggarakan satu pembicaraan antara paman dan para bebahu? Menurut keterangan yang kami dengar, padukuhan ini tiba-tiba saja telah dicengkam oleh satu keadaan yang tidak pasti. Satu dengan yang lain tidak mengetahui apa yang dikehendaki oleh masing-masing pihak. Akibatnya adalah kebekuan dan ketegangan seperti sekarang ini. Bahkan padukuhan ini seakan-akan sedang diambah oleh wabah yang sangat menakutkan sehingga setiap orang tidak berhubungan yang satu dengan yang lain. Jika keadaan ini berlangsung lebih lama, maka kehidupan di padukuhan ini akan berhenti” Wajah Wira Sabet menjadi tegang. Ia menjadi semakin heran menghadapi sikap kedua orang anak muda itu. Sementara itu, Manggadapun berkata selanjutnya “Karena itu paman, maka diperlukan satu pemecahan. Harus ada jalan keluarnya, agar kehidupan di padukuhan ini dapat kembali seperti sediakala. Kanak-kanak dapat bermain dengan bebas di halaman dan bahkan di jalan-jalan padukuhan. Orang-orang pergi ke sawah dan pategalan tanpa dibayangi oleh ketakutan dan kecemasan. Perempuan yang ditinggal suami pergi ke sawah tidak dihantui oleh hal-hal yang tidak dimengerti” Kening Wira Sabet menjadi semakin berkerut. Namun Manggada itu masih berkata pula “Paman. Jika paman bersedia, maka para bebahu menghendaki untuk berbicara mencari pemecahan yang paling baik bagi padukuhan ini” Wira Sabet menjadi semakin tegang. Namun kemudian iapun bertanya dengan nada berat “Siapa yang memberikan pesan itu? Siapa pula yang menyatakan bersedia untuk melakukan pembicaraan dengan kami?” “Ki Jagabaya” jawab Manggada “jika paman bersedia, maka dapat ditentukan, kapan pembicaraan itu dilakukan dan dimana” Wira Sabet itupun menggeram. Dengan lantang ia berkata “Kau kira aku seorang yang dungu?” Manggada mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia berkata “Mungkin akulah yang dungu. Tetapi mengapa?” “Ki Jagabaya tentu berusaha menjebakku. Ia masih menyimpan dendam di hatinya, karena aku pernah melukainya. Saat itu aku memang tidak sengaja. Dalam keadaan yang hiruk pikuk, maka golok di tanganku telah menggores dadanya, sehingga sebuah luka yang agak dalam menyilang panjang” “Tetapi Ki Jagabaya tidak pernah mengatakannya. Yang disebutnya adalah satu usaha untuk memecahkan satu persoalan yang kini mencengkam padukuhan ini. Tatanan kehidupan yang porak poranda. Kecemasan dan ketakutan yang mencengkan serta ketimpangan-ketimpangan lain yang perlu dibenahi” “Tetapi itu semua hanyalah lamis. Yang sebenarnya adalah, Ki Jagabaya itu ingin membalas dendam dengan cara yang paling licik. Ia tidak berani menentangku perang tanding atau cara lain yang lebih jantan” “Memang tidak, paman“ sahut Manggada “Ki Jagabaya memang berusaha untuk mencari pemecahan masalah dengan mengesampingkan penggunaan kekerasan” “Itu dilakukan karena ia berada dalam ketakutan” Wira Sabet hampir berteriak. “Mungkin paman benar. Ki Jagabaya memang dicengkam oleh ketakutan. Bukan saja bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi seisi padukuhan ini. Karena jika keadaan ini berlangsung lama, maka seperti yang aku katakan tadi, kehidupan di padukuhan ini akan menjadi semakin surut. Orang-orang padukuhan ini akan menjadi kekurangan pangan, kehilangan kesempatan dan akhirnya menjadi putus asa” “Itu adalah salah mereka sendiri. Jika mereka tidak bertindak sewenang-wenang dan tidak merasa bersalah, maka mereka tidak akan merasa ketakutan” “Ketakutan atas dendam dan kebencian terhadap mereka?” “Itu adalah bayangan di kepala mereka masing-masing. Tidak ada yang mendendam dan tidak ada yang menaburkan kebencian. Jika yang dimaksudkan mendendam dan menyebarkan kebencian itu adalah aku dan adikku, maka yang sebenarnya kami berdua hanya ingin membuat satu langkah pembaharuan justru untuk kesejahteraan padukuhan ini” berkata Wira Sabet. Dalam pada itu Pideksapun menyambung “Nah, meskipun kau anak padukuhan ini, tetapi kau dalam persoalan ini dapat dianggap orang baru yang salah menilai keadaan” Tetapi Manggada menjawab “Tetapi justru karena kesalahpahaman itu itulah, maka aku semakin yakin bahwa pertemuan dan pembicaraan itu perlu dilakukan. Dengan saling memberikan penjelasan maka persoalannya akan dapat diluruskan. Bahkan mungkin rancangan paman tentang pembaharuan itu justru akan mendapat dukungan dari para bebahu padukuhan ini” Wira Sabet termangu-mangu sejenak. Namun Pideksalah yang kemudian menyahut “Mungkin pikiran Manggada ada juga benarnya ayah. Jika keinginan ayah dan paman Sura Gentong dapat dimengerti dan diterima oleh para bebahu, bukankah tidak ada alasan untuk menitikkan keringat dan apalagi darah” Wira Sabet masih nampak ragu-ragu. Namun kemudian katanya “Aku akan membicarakannya dengan pamanmu Sura Gentong dan Ki Sapa Aruh” “Jika demikian, maka besok kita akan menemui Manggada lagi” berkata Pideksa. “Baiklah. Besok kau tunggu aku disini pada waktu seperti ini. Aku akan memberikan keterangan tentang pendapatmu itu” “Terima kasih paman” jawab Manggada. “Sekarang, aku aku akan kembali untuk membicarakannya” berkata Wira Sabet itu sambil melangkah. Namun Manggada itu berkata “Paman, bukankah aku masih diijinkan untuk mengambil duwet?” “Ambillah seberapa kau suka” jawab Wira Sabet. “Terima kasih paman” jawab Manggada. Namun kemudian Manggada itupun masih bertanya kepada Pideksa “Pideksa, apakah kau masih juga sering mencari ikan dan ketam di sungai kecil itu?” Pideksa yang juga sudah melangkah mengikuti ayahnya berhenti dan berpaling. Sambil tertawa ia berkata “Itu terjadi masa kanak-kanak kita Manggada. Sekarang kita sudah berubah. Kau tentu tidak pernah pula turun ke sungai untuk mencari ketam dan ikan sejak kau pulang” Manggada mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian tertawa. Ketika Pideksa sudah akan melangkah, Manggada bertanya lagi “Pideksa, apakah kau masih sering bertemu dengan Timbang, Wisesa dan barangkali Sampurna? Apakah kau juga pernah singgah di rumah paman Resa sebelah?” Pideksa tertawa berkepanjangan. Katanya “Mereka tidak pernah nampak. Tetapi akupun jarang sekali datang ke padukuhan ini. Tidak tentu sepuluh hari atau setengah bulan sekali. Meskipun demikian, aku tahu, kau masih juga anak yang paling berani di antara kawan-kawan kita bermain, Manggada” “Apa hubungannya dengan keberanian?” bertanya Manggada. “Aku melihat jawabnya di senyummu itu” jawab Pideksa. Pideksa tidak menunggu jawaban Manggada. Iapun kemudian telah melangkah pergi mengikuti ayahnya yang sudah turun ke jalan. Kedua orang kawan ayahnya yang menyertai merekapun segera pergi pula meninggalkan halaman rumah yang kotor itu. Ternyata Wira Sabet tidak meneruskan perjalanannya mengelilingi padukuhan itu seperti kemarin. Tetapi Wira sabet telah melangkah kembali ke arah darimana ia datang. Sepeninggal Wira Sabet, anaknya dan kawan-kawannya, maka Laksanapun bergumam “Anak itu cukup cerdik” “Ya. Sejak kanak-kanak ia memang terhitung cerdik, tetapi juga licik. Aku tidak tahu apa sebenarnya yang bermain di kepalanya. Apakah ia sejalan dengan sikap ayah dan pamannya atau ada perbedaan-perbedaan yang berarti. Namun bagaimanapun juga, kita harus berhati-hati terhadapnya” sahut Manggada. “Nah, sekarang apa yang akan kita lakukan?” “Kita pergi ke rumah Ki Jagabaya. Tetapi kita akan singgah sebentar di rumah Ki Resa sebelah” “Untuk apa?” bertanya Laksana. “Paman Resa tentu menjadi cemas tentang nasib kita. Karena itu, jika ia melihat kita tidak mengalami sesuatu, maka ia akan menjadi tenang” jawab Manggada. Sebenarnyalah mereka berdua telah singgah di rumah Ki Resa. Demikian mereka dipersilahkan masuk ke ruang dalam, maka Ki Resa itupun berkata “Hatiku tinggal sebesar biji sawi ngger. Aku cemas apakah kalian tidak mengalami nasib buruk” “Ternyata kami tidak mengalami perlakuan buruk, paman. Kita dapat berbicara dengan lebih terbuka. Bahkan Pideksa masih tetap mengenal aku sebagai kawannya bermain di masa kanak-kanak” “Beruntunglah kau” berkata Ki Resa. Namun katanya kemudian “Meskipun demikian, aku tetap memperingatkanmu. Jauhi orang itu sebelum kau mengalami perlakuan yang tidak diharapkan” “Aku berharap bahwa usahaku untuk mendekatinya berhasil, paman” jawab Manggada yang kemudian minta diri untuk meninggalkan rumah Ki Resadana. Ki Resadana hanya dapat menggelengkan kepalanya. Sekali lagi ia bergumam “Anak-anak yang keras kepala” Dalam pada itu, Manggada dan Laksanapun telah pergi ke rumah Ki Jagabaya. Mereka ingin melaporkan hasil pertemuan mereka dengan Wira Sabet. Nampaknya pertemuan antara Wira Sabet dan bebahu padukuhan itu mungkin dilakukan. Namun masih tergantung pada Sura Gentong yang sikapnya lebih keras dari Wira Sabet. Apalagi kesalahan utama pada saat mereka terusir adalah pada Sura Gentong itu. Demikianlah keduanya telah menyusuri jalan-jalan sepi sebagaimana mereka lihat sehari-hari. jika ada satu dua orang lewat, tentu dengan tergesa-gesa. Bahkan dibayangi oleh perasaan takut dan was-was. Mereka merasa bahwa setiap saat dapat terjadi malapetaka atas diri mereka. Ketika Manggada dan Laksana memasuki halaman rumah Ki Jagabaya dan kemudian pergi ke pintu seketeng, maka seperti biasanya pintu itu tertutup dan agaknya diselarak. Karena itu, maka Manggadapun telah mengetuk pintu seketeng itu agak keras. Untuk beberapa saat Manggada dan Laksana menunggu. Baru kemudian mereka mendengar langkah kaki seseorang mendekati pintu seketeng. “Siapa?” terdengar seseorang bertanya. Manggada dan Laksana segera mengetahui bahwa yang betanya itu Sampurna, anak Ki Jagabaya. Karena itu, maka iapun menjawab “Aku, Manggada dan Laksana” Sampurnapun mengenali suara itu. Karena itu, maka tanpa ragu-ragu iapun telah mengangkat selarak pintu seketeng itu. Demikian pintu itu terbuka, maka Sampurnapun mempersilahkan Manggada dan Laksana masuk. Setelah pintu seketeng itu diselarak lagi, maka Sampurnapun mengajak mereka langsung ke serambi. Laksana mengerutkan dahinya ketika melihat Wisesa telah duduk di serambi itu pula. Sampurnalah yang kemudian berkata “Wisesa memenuhi janjinya. Ia membawa bibit pohon kemuning” “O“ Manggada mengangguk-angguk. Iapun kemudian bertanya “Apakah kau mempunyai pohon kemuning di halaman rumahmu?” “Ya” jawab Wisesa “kenapa?” “Karena itulah maka kau dapat membawa bibit pohon kemuning bagi Tantri” jawab Manggada. “Jadi kenapa jika aku membawa bibit pohon kemuning bagi Tantri?” nada suara Wisesa Semakin tinggi. “Kenapa?” Manggada justru menjadi bingung, Namun kemudian ia melanjutkan “Maksudku, karena kau mempunyai pohon kemuning di rumah, maka kau dapat mencangkoknya dan membawanya kemari” “Jadi apa anehnya. Karena bibit pohon kemuning itu kau anggap sesuatu yang perlu dibicarakan?” Manggada menarik nafas dalam-dalam. Ia berniat untuk menanggapinya, namun tiba-tiba saja Laksana menjawab “Maksud kakang Manggada, bibit kemuning itu kau bawa dari rumahmu sendiri. Kau cangkok sendiri, sehingga tidak merugikan orang lain. Tadi paman Wira Sabet mencari bibit kemuning di halaman rumahnya, tetapi sudah hilang. Menilik bekasnya, baru kemarin atau tadi pagi bibit kemuning itu dicungkil orang” “Wira Sabet?” bertanya Wisesa. Tiba-tiba saja wajahnya menjadi tegang “darimana kau tahu bahwa paman Wira Sabet mencari bibit kemuningnya” “Kami baru datang dari rumahnya yang kosong dan kotor itu. Kebetulan paman Wira Sabet tadi datang menengoknya. Maksudnya menengok bibit kemuningnya itu” “Bohong “bentak Wisesa. “Buat apa kami berbohong? Kami sengaja menemuinya, karena kami memang sudah menyediakan diri untuk melakukannya. Kami sudah berjanji kepada Ki Jagabaya” “Kalian hanya membual. Tidak seorangpun yang berani menemui Wira Sabet” geram Wisesa. “Kami tidak berkeberatan jika kau tidak percaya. Tetapi jika Ki Jagabaya tidak mempercayai kami, kami persilahkan Ki Jagabaya menemui Ki Resa yang tinggal di sebelah rumah Wira Sabet yang kosong” Wajah Wisesa benar-benar menjadi tegang. Sementara itu Sampurna berkata “Aku pecaya kalau Manggada dan Laksana telah menemui dan berbicara dengan Wira Sabet seperti yang kemarin dilakukannya” “Ya“ sahut Laksana “bahkan kami sudah mendapat ijin Wira Sabet untuk memanjat dan memetik duwet atau manggis atau apa saja yang ada di halaman rumah itu, kecuali bibit kemuning. Namun ternyata bibit itu hilang” “Apakah Wira Sabet tidak menuduhmu?” bertanya Sampurna. “Aku masih berada di sana waktu itu. Atau paman Wira Sabet memang mempercayai kami bahwa kami tidak akan melakukannya” jawab Laksana. Wajah Wisesa menjadi semakin tegang. Bahkan kemudian menjadi pucat. Dengan gagap ia berkata “Tetapi, tetapi bibit ini aku bawa dari rumahku. Aku dapat membuktikannya. Pada dahan pohon kemuningku nampak bekas potongan baru di bawah cangkokan” “Besok jika paman Wira Sabet bertanya, biarlah aku yang menjawab sebagaimana kau katakan. Tetapi jika paman Wira Sabet tidak bertanya lagi tentang kemuningnya, biarlah kami berdiam diri saja” sahut Laksana kemudian. Tetapi pernyataan Laksana telah membuat Wisesa menjadi sangat gelisah. Seolah-olah ia akan dituduh oleh Wira Sabet, bahwa ia telah mengambil bibit pohon kemuning itu dari halaman rumah Wira Sabet. Namun pembicaraan merekapun terhenti. Tantri yang mendengar kehadiran Manggada dan Laksana telah menghidangkan minuman panas dan beberapa potong makanan. Adalah di luar dugaan, bahwa ketika Tantri menghidangkan minuman itu, Wisesa berkata “Tantri, jangan kau tanam dahulu bibit pohon kemuning itu. Atau kau tanam saja di longkangan dalam sehingga tidak mudah dilihat dari halaman” “Kenapa?” bertanya Tantri. “Ternyata Wira Sabet juga sedang mencari bibit pohon kemuningnya yang hilang” jawab Wisesa. “Kenapa dengan, Wira Sabet. Biar saja ia mencari bibit kemuningnya yang hilang. Besok aku akan menanam bibit itu di halaman depan” jawab Tantri. “Tetapi jangan besok, Jika Wira Sabet melihatnya, maka ia akan mengira bahwa bibit itu adalah miliknya” berkata Wisesa dengan cemas. “Bukankah aku punya mulut untuk menjelaskan, bahwa kemuning itu aku dapat dari kau” “Itulah yang aku cemaskan. Wira Sabet akan menuduhku mengambil bibit itu dari halaman rumahnya” “Tetapi bukankah itu tidak kau lakukan?” bertanya Tantri. “Tidak. Aku tidak mengambil bibit itu dari halaman rumahnya. Apalagi mengambil bibit pohon kemuning, lewat pun aku tidak pernah” jawab Wisesa. “Jika demikian bukankah kau dapat mengatakannya” suara Tantri mulai meninggi. “Orang itu tentu tidak dapat diajak berbicara” sahut Wisesa dengan wajah tegang. “Sebaiknya kau pukul saja mulutnya jika ia menuduhmu tanpa alasan” “Tantri“ potong Wisesa dengan serta merta “jangan berkata begitu. Kata-katamu itu dapat menjeratmu ke dalam kesulitan” “Jika terjadi demikian, aku akan minta kau menolongku” Wajah Wisesa menjadi semakin tegang. Sementara itu Manggada dan Sampurna yang agaknya mengetahui bahwa Laksana hanya sekedar mengganggunya, tertawa di dalam liati. Tetapi mereka membiarkan Wisesa dicengkam oleh kecemasannya. Sementara itu Tantri masih memiliki sifat-sifat kerasnya sejak masa kanak-kanak. Katanya selanjutnya “Jika kau berkeberatan aku menanam pohon kemuningmu di halaman, bawa saja pulang. Maksudku menanam kemuningmu di halaman agar kelak aku selalu dapat memandangi dan menikmati kesejukan dan harum bungannya seandainya satu dua hari kau tidak datang mengunjungiku. Tetapi seleraku sekarang sudah hilang. Ambil dan bawa kembali kemuningmu. Besok aku akan minta kepada Wira Sabet sebatang pohon kemuning” Tiba-tiba saja Laksana menyela “Sebenarnya bukan Wira Sabet sendiri yang memerlukan bibit pohon kemuning itu. Tetapi anaknya, Pideksa yang tadi datang bersama ayahnya di bekas tempat tinggalnya itu” “Omong kosong“ bentak Wisesa. “Aku tidak berbohong” jawab Laksana “sebelum ini aku belum pernah mengenal anak muda yang namanya Pideksa itu. Baru tadi aku melihat dan mengenalnya. Ia datang bersama paman Wira Sabet” “Pideksa” tiba-tiba saja Tantri menyahui “apakah ia ikut bersama ayahnya? Sudah lama aku tidak bertemu. Apakah ia sekarang kembali ke rumahnya? Ia tentu telah tumbuh menjadi anak muda yang gagah, kuat dan berani” “Tantri” potong Wisesa “tetapi ia anak Wira Sabet” “Pideksa adalah kawan kita bermain sejak kanak-kanak, la termasuk satu di antara anak-anak yang berani, kuat dan tampan” “Wajah Wisesa menjadi sangat tegang. Namun tiba-tiba saja dahi Laksana berkerut, la menjadi tidak senang mendengar Tantri memuji Pideksa yang memang tumbuh menjadi anak muda yang gagah sebagaimana namanya. Manggada hampir tidak dapat menahan tertawanya melihat wajah Laksana. Manggada tahu, bahwa ia ingin mengganggu Wisesa. Tetapi ternyata Laksana sendiri terkejut mendengar Tantri memuji anak muda itu. Namun dalam pada itu, pembicaraan merekapun terhenti. Terdengar pintu seketeng diketuk orang. “Itu ayah datang” berkata Sampurna yang mengenali cara ayahnya mengetuk pintu. Sampurnapun kemudian bangkit dan melangkah menuju ke pintu seketeng, sementara Tantripun bangkit pula sambil menjinjing nampan masuk ke ruang dalam. Tetapi di pintu ia sempat berkata kepada Laksana “Jika kau bertemu lagi dengan Pideksa, katakan, salamku baginya” Tantri memang menunggu sejenak, la sempat melihat wajah Wisesa kemerah-merahan. Namun Tantri sendiri tidak memperhatikan bahwa wajah Laksanapun menjadi semakin berkerut. Tetapi Laksana itupun menjawab “Baiklah. Aku akan menyampaikannya” Dalam pada itu, sesaat kemudian, Ki Jagabayapun telah memasuki serambi itu pula. lapun langsung duduk bersama anak-anak muda itu. “Apakah kalian sudah lama duduk disini” bertanya Ki Jagabaya. Yang pertama-tama menjawab adalah Wisesa “Belum paman. Aku datang untuk memenuhi janjiku, membawa bibit pohon kemuning. Tetapi aku minta Tantri tidak segera menanamnya, atau jika ia ingin segera menanam, biarlah ditanam di longkangan” “Kenapa” bertanya Ki Jagabaya. Wisesapun menceriterakan tentang Wira Sabet yang sedang mencari bibit kemuningnya. Ki Jagabaya tertawa, lapun kemudian bertanya kepada Manggada tanpa menyinggung soal bibit kemuning itu lagi “Apakah kau sudah bertemu dengan Wira Sabet?” “Ya, paman” jawab Manggada. “Kau sudah mengatakan kepadanya tentang satu kemungkinan untuk membicarakan persoalan yang sedang mencengkam padukuhan Gemawang ini?” bertanya Ki Jagabaya “Ya. Aku sudah bertemu dan berbicara dengan paman Wira Sabet. Bahkan paman Wira Sabet tadi datang bersama anaknya, Pideksa, kawan bermain di masa kanak-kanak” jawab Manggada. Wisesa yang mendengarkan pembicaraan itu justru menjadi semakin yakin, bahwa Pideksa telah mempersoalkan kemuningnya yang hilang. “Bagaimana hasil pembicaraanmu?” bertanya Ki Jagabaya kemudian. “Menurut pendapatku” jawab Manggada “Paman Wira Sabet akan membuka satu kesempatan satu pembicaraan meskipun syaratnya tentu cukup berat. Tetapi aku tidak tahu, bagaimana, pendapat paman Sura Gentong yang nampaknya bersikap lebih keras” “Itu dapat dimengerti. Persoalannya memang bersumber dari tingkah laku Sura Gentong” jawab Ki Jagabaya. “Ya. Namun paman Wira Sabet masih juga menganggap bahwa Ki Jagabaya mendendamnya karena ketika Wira Sabet berusaha membantu adiknya, ia telah melukai Ki Jagabaya” Ki Jagabaya tersenyum. Katanya “Kita memang saling mencurigai. Tetapi apakah Wira Sabet menentukan satu waktu dan satu tempat untuk pertemuan itu?” “Belum Ki Jagabaya” jawab Manggada “paman Wira Sabet masih ingin berbicara dengan adiknya” Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Sementara Wisesa berkata “Nah, bukankah pendapatku akan dapat menyelamatkan padukuhan Gemawang ini?” Ki Jagabaya justru termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Wajah anak muda itu dengan tajamnya. Sehingga Wisesapun telah menunduk. Namun kemudian Ki Jagabaya itu berkata “Ya Wisesa. Aku hargai pendapatmu. Mudah-mudahan pendapatmu nanti memberikan arti bagi padukuhan Gemawang ini” “Mudah-mudahan paman“ sahut Wisesa sambil mengangguk-angguk. Kebanggaan telah mulai mekar diliatinya. Jika usaha itu berhasil, maka namanya tentu akan selalu disebut-sebut oleh orang-orang padukuhan Gemawang. Wisesa akan dapat dianggap sebagai seorang yang telah membebaskan Gemawang dari cengkeraman ketakutan kecemasan dan kecurigaan. Namun dalam pada itu, Ki Jagabaya itupun berkata “Manggada. Aku tidak bermaksud mengurangi arti dari usahamu. Tetapi kita memang tidak dapat terlalu berpengharapan. Sura Gentong dan apalagi campur tangan Ki Sapa Aruh, akan sangat berpengaruh. Meskipun demikian, kita akan menunggu hasil pertemuanmu kemudian dengan Wira Sabet” “Besok mudah-mudahan paman Wira Sabet dapat memberikan keterangan” jawab Manggada. Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya “Nah, silahkan kalian berbincang sambil minum. Biarlah Tantri membuat minuman hangat lagi. Aku akan beristirahat. Besok, jika aku sudah mendapat keterangan, aku akan menghadap Ki Bekel yang seakan-akan sudah menjadi putus asa sekarang ini” Demikianlah, maka Ki Jagabaya itupun kemudian meninggalkan anak-anak muda itu yang duduk di serambi itu. Wisesa yang agak kecewa dengan pendapat Ki Jagabaya yang terakhir itu berkata “Ki Jagabaya kadang-kadang memang menjadi kehilangan harapan. Seharusnya tidak demikian. Tanda-tandanya sudah menjadi semakin jelas, bahwa persoalan padukuhan ini akan dapat dipecahkan. Jika Ki Jagabaya dan kelompok Wira Sabet itu sempat bertemu, maka akan dapat dipastikan dapat dicapai satu persetujuan. Tetapi padukuhan Gemawang memang harus bersedia memberikan pengorbanan sebagai imbalan kepada kelompok Wira Sabet itu. Tanpa kesediaan Gemawang untuk memberikan imbalan sepantasnya, maka memang sulit untuk dapat dicari penyelesaian” Manggada, Laksana dan ternyata juga Sampurna mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba Laksana berkata “Tetapi ternyata kemudian bahwa yang kami lakukan itu sangat berbahaya. Aku jadi ngeri setelah aku sempat memikirkannya. Karena itu sebaiknya niat untuk menemuinya dibatalkan saja” “Apa?” Wisesa itu hapir berteriak “apa maksudmu?” “Tidak ada maksud apa-apa. Tetapi aku menjadi ketakutan” jawab Laksana. “Tetapi kau sudah menyatakan kesediaaninu kepada Ki Jagabaya untuk melanjutkan pembicaraan itu. “Tadi aku tidak merasa takut. Tiba-tiba saja perasaan takut itu seperti tumbuh di dalam hatiku. Semakin lama menjadi semakin besar dan rimbun. Akhirnya seisi hatiku telah dipenuhi oleh perasaan takut itu” “Tidak. Kau tidak dapat mengurungkannya“ bentak Wisesa. Laksana masih akan menjawab, tetapi Manggada telah mendahului “Baiklah Wisesa. Kami akan tetap berusaha untuk meneruskan tugas kami yang sudah kami rintis ini” Laksana mengerutkan keningnya. Namun ia masih harus menahan tertawanya. Demikian pula Sampurna. Namun Manggada sendiri telah menjadi letih mendengar Laksana yang selalu mengganggu Wisesa. Dalam pada itu, untuk beberapa saat, anak-anak muda itu masih berbincang-bincang. Wisesa masih juga sempat berkata “Kalian tinggal melaksanakan. Mungkin kalian memang mengalami kesulitan atau diperlukan keberanian. Tetapi bagaimanapun juga nilai gagasan yang berarti selalu lebih berharga daripada pelaksanaannya betapapun sulitnya. Gagasan timbul karena kecerdasan penalaran, sedangkan pelaksanaan hanyalah sekedar mewujudkan gagasan itu. betapapun berat dan sulitnya” Manggada mengangguk-angguk. Katanya “Ya. Kami memang harus mengakui. Tanpa gagasan yang baik, maka tidak akan ada kerja yang baik dan bernilai tinggi” “Nah, dengan demikian, maka tidak sewajarnya jika kalian mengurungkan kesediaan kalian untuk berbicara dengan Wira Sabet dan Sura Gentong” Laksana yang sudah beringsut dan siap untuk menyahut, telah didahului pula oleh Manggada “Tidak. Kami tidak akan berhenti berusaha. Apalagi karena Wira Sabet mau mengajak anaknya yang telah kita kenal dengan baik. Mudah-mudahan Pideksa dapat menjadi rambatan untuk mendapatkan satu kesamaan sikap untuk menemukan pemecahan bagi kesulitan yang terjadi di padukuhan Gemawang ini” Wisesa mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah. Aku berharap bahwa kalian berhasil. Jika kalian berhasil, maka kalian akan merupakan bagian dari keberhasilan gagasanku” Laksana hampir tidak dapat menahan diri lagi. Tetapi ketika ia melihat Sampurna tersenyum-senyum, maka lapun menarik nafas dalam-dalam. Namun dalam pada itu, maka Manggada dan Laksana yang sudah merasa cukup lama duduk di serambi rumah Ki Jagabaya itupun telah minta diri. Mereka masih akan berputarputar, jika mungkin menemui kawan-kawan bermain mereka. “Aku sudah bertemu dengan Timbang dan Perti” berkata Manggada. “Mereka sudah mempunyai anak” jawab Sampurna. “Mereka kawin muda” jawab Manggada. “Ya. Mereka harus bekerja keras untuk dapat hidup berkeluarga. Ketika mereka mulai merambah jalan yang mulai lancar setelah bekerja keras, tiba-tiba suasana padukuhan ini berubah. Seperti kebanyakan orang, kesejahteraan keluarga yang mereka rintis itu menjadi semakin menyusut lagi” Manggada mengangguk-angguk. Namun Sampurna masih berkata “Aku dapat mengerti bahwa Timbang tidak dapat ikut melibatkan diri dalam tugas ini. Ia memerlukan waktu dan perhatian sepenuhnya untuk menghidupi keluarganya meskipun anaknya baru seorang. Tetapi dalam keadaan yang rumit ini, maka waktunya sepenuhnya diberikan kepada keluarganya. “Lebih dari itu” sahut Sampurna “jika sesuatu terjadi atasnya, maka keluarganya akan menjadi hancur pula. Orang tua Timbang sebagaimana orang tua Perti tidak termasuk orang tua yang berkecukupan” Manggada masih saja mengangguk-angguk. Namun kemudian ia benar-benar telah minta diri. Bahkan Ki Jagabaya. Tantri dan ibunya juga turut melepas mereka sampai ke pintu seketeng. Sepeninggal Manggada dan Laksana, maka yang duduk di serambi tinggal Sampurna dan Wisesa. Dengan nada tinggi Wisesa itu berkata “Manggada sekarang menjadi semakin bengal dan bahkan sombong. Apalagi adik sepupunya. Apa sebenarnya yang terjadi atas mereka?” “Apakah mereka terhitung sombong?” Sampurna justru bertanya “aku melihat kesungguhan mereka menangani kesulitan yang dialami oleh padukuhan ini” “Itulah yang aku maksudkan, bahwa mereka terlalu sombong” jawab Wisesa. “Bukankah kau juga menganjurkan agar mereka meneruskan tugas yang mereka bebankan atas pundak mereka sendiri?” “Itu karena mereka sudah mulai melakukannya. Namun pada saatnya, jika usaha itu berhasil, keduanya akan menepuk dada, seakan-akan keberhasilan itu adalah karena gagasan mereka” Sampurna tersenyum. Katanya “Betapapun cemerlangnya satu gagasan, tetapi jika gagasan itu tidak dapat mewujud, maka gagasan itu tidak akan berarti sama sekali” “Tetapi gagasan itu merupakan pangkal dari satu langkah pelaksanaan. Tanpa gagasan, tidak akan ada apa-apa” jawab Wisesa. “Ya” Sampurna mengangguk-angguk “aku tidak menolak pendapatmu itu” Wisesa termangu-mangu sejenak. Tetapi untuk sesaat ia justru terdiam. Tangannya sajalah yang kemudian menggapai mangkuk minumannya. Setelah minum seteguk maka Wisesa itupun berkata “Sampurna, tolong katakan kepada Tantri. aku akan minta diri” “O. Begitu, tergesa-gesa?” “Aku sudah lama duduk disini” jawab Wisesa. Sampurnapun kemudian telah memanggil Tantri, karena Wisesa akan minta diri. Meskipun dengan agak segan, maka Tantri telah menuju ke serambi. “Aku akan minta diri. Tantri” berkata Wisesa “besok aku akan datang lagi” Tetapi Tantri itupun justru bertanya “Bagaimana dengan bibit pohon kemuningmu?” “Kenapa?” Wisesa justru bertanya. ”Apakah kau akan membawanya pulang atau akan kau tinggal disini. Jika kau tinggal disini, aku akan menanamnya di halaman depan. Tetapi jika kau berkeberatan, bawa saja bibit itu pulang sekarang” “Tantri, seharusnya kau mengucapkan terima kasih kepadaku, bahwa aku telah membawakan bibit itu untukmu. Bukankah kau menginginkannya?” “Bukankah aku sudah mengucapkan terima kasih itu ketika kau serahkan bibit itu kepadaku?” “Kenapa kau tidak mau mengerti keadaanku? Aku hanya minta kau menunda untuk tidak segera menanam bibit itu di halaman. Jika kau ingin segera menanamnya, tanam saja di longkangan ini” “Aku ingin menanamnya di halaman atau tidak sama sekali” jawab Tantri. Sampurnalah yang kemudian menggamit Tantri. Terbayang di angan-angan Sampurna, Tantri di masa kanak-kanaknya memang sering berkelahi dengan Wisesa Tetapi setelah keduanya dewasa, maka sikap Wisesa mulai mengarah pada bentuk hubungan yang lebih bersunguh-sungguh. Sampurna sendiri tidak akan mencampuri tanggapan Tantri terhadap Wisesa. Itu adalah hak dan wewenang Tantri sendiri sepenuhnya. Namun menanggapi sikap Tantri sebagaimana masa kanak-kanaknya itu, Sampurna ingin mencegahnya. Tantri memang berpaling kepada kakaknya. Sementara Sampurna berkata “Sudahlah, biarlah bibit itu ditinggal disitu” “Tetapi Wisesa berkeberatan aku menanam di halaman” berkata Tantri. “Bukan begitu. Ia hanya minta kau menundanya saja” sahut Sampurna. Tantri tidak menjawab. Tetapi ia menjadi kesal bahwa kakaknya justru telah membantu Wisesa. Tetapi dalam pada itu. Sampurna harus menahan tertawanya. Ia tahu bahwa Laksana tadi tentu hanya sekedar mengganggu Wisesa. Tetapi karena hati Wisesa memang lemah, maka anak muda itu segera menjadi gelisah dan kebingungan tanpa sempat menilai kebenaran dongeng Laksana itu. Demikianlah, maka Wisesa itu telah minta diri. Baik kepada Sampurna maupun kepada Tantri. Namun tanggapan Tantri ternyata tidak sehangat yang diharapkan oleh Wisesa. Meskipun demikian Wisesa masih tetap berpengharapan bahwa Tantri akhirnya akan dapat ditundukkannya. Apalagi jika kemudian gagasannya untuk mencari pemecahan terhadap kesulitan yang dihadapi oleh padukuhan itu berhasil. Ia akan menjadi orang yang dianggap penting di padukuhan Gemawang. Demikian Wisesa keluar dari regol halaman rumah Ki Jagabaya, maka iapun dengan tergesa-gesa melangkah menyusuri jalan pulang. Namun di sepanjang jalan ia masih saja memikirkan sikap Ki Jagabaya. Nampaknya perhatian Ki Jagabaya justru lebih banyak tertuju pada hasil kerja Manggada dan Laksana daripada menilai arti dari gagasannya yang besar itu. “Nampaknya Ki Jagabaya lebih menghargai tenaga Manggada dan Laksana daripada kecemerlangan penalaranku” berkata Wisesa di dalam hatinya. Namun kemudian iapun berkata “Tetapi yang penting adalah penilaian terakhir. Rakyat padukuhan ini tentu akan mengakui kebesaran gagasanku daripada sekedar kerja kasar Manggada dan Laksana” Sementara itu, Manggada dan Laksana memang masih berjalan mengitari padukuhannya yang sepi. Tidak banyak orang yang dijumpainya. Pada umumnya mereka yang sempat diajak berbincang-bincang meskipun hanya beberapa patah kata. memperingatkan agar Manggada dan Laksana menjadi lebih berhati-hati. Atau bahkan menarik diri sama sekali dari keterlibatannya dengan persoalan Wira Sabet dan Sura Gentong. Tetapi Manggada dan Laksana hanya dapat mengucapkan terima kasih kepada mereka. Mereka berdua sudah bertekad untuk melibatkan diri mencari penyelesaian segera sehingga tatanan kehidupan di padukuhan Gcmawang dapat berjalan dengan wajar kembali. Ketika Manggada dan Laksana sampai di rumah, maka merekapun telah menceriterakan apa yang telah mereka alami kepada Ki Kertasana, Ki Citrabawa dan Ki Pandi. Ternyata ketiganya tidak berkeberatan jika kedua anak muda itu meneruskan usaha mereka. Sambil menganggukangguk kecil Ki Kertasana berkata “Jika kalian berhasil menyelesaikan persoalan ini dengan tanpa kekerasan, maka Ki Bekel dan Ki Jagabaya tentu akan berterima kasih. Namun demikian, kalian tidak boleh lengah bahwa kemungkinan yang lain akan dapat terjadi, menilik sikap dan latar belakang kedua orang itu” Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Mereka memang tidak boleh lengah meskipun agaknya Wira Sabet dapat diajak berbicara untuk memecahkan persoalan yang sedang dihadapi oleh padukuhan Gemawang sehingga padukuhan itu akan dapat menemukan ujud kewajarannya sebagaimana sebelumnya. Dalam pada itu, agaknya Ki Pandi juga merasa cemas bahwa sesuatu akan dapat terjadi atas kedua orang anak muda itu. Karena itu, maka katanya kepada Manggada dan Laksana “Jika kalian berdua tidak berkeberatan, ngger. Biarlah besok aku berada di rumah Ki Resadana selama kau menunggu kedatangan Wira Sabet di halaman rumahnya. Besok kita pergi lebih pagi dari saat-saat Wira Sabet biasanya datang. Mudah-mudahan Ki Resa tidak berkeberatan mengijinkan aku berada di rumahnya” Ternyata Ki Kertasana dan Ki Citrabawa tidak berkeberatan. Mereka meyakini bahwa Ki Pandi adalah orang yang berilmu tinggi, sehingga kehadirannya akan dapat menjadi pelindung bagi Manggada dan Laksana apabila diperlukan. Demikianlah, maka merekipun telah mengambil beberapa kesepakatan. Justru karena mereka berhadapan dengan dengan orang-orang yang sifatnya masih belum dimengerti sepenuhnya. Menjelang malam, Ki Pandi yang terbiasa duduk-duduk di serambi bersama Manggada dan Laksana telah berada di serambi sebagaimana biasanya setelah mereka makan malam. Namun ketika gelap mulai menyelimuti padukuhan Gemawang, Ki Pandipun berkata kepada kedua orang anak muda itu “Aku akan melihat halaman rumah Wiira Sabet itu” “Malam-malam begini?” bertanya Manggada. “Bukankah lebih aman jika aku melakukannya di malam hari?” Ki Pandi justru bertanya. “Untuk apa Ki Pandi?” bertanya Laksana pula. “Aku hanya ingin sekedar melihatnya” jawab Ki Pandi. “Tidak lebih dari sebuah lingkungan yang luas, kotor dan bagaikan hutan perdu” berkata Manggada. Ki Pandi tersenyum. Katanya “Kalian tidak usah mengatakannya kepada orang tua kalian. Aku tidak terlalu lama” Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sementara Ki Pandipun kemudian turun ke halaman dan melangkah keluar pintu regol. Manggada dan Laksana masih berada di serambi. Lampu minyak yang redup masih berkedipan di pendapa. “Apakah Ki Pandi benar-benar akan melihat rumah Wira Sabet yang telah kosong itu?” desis Laksana. “Mungkin” sahut Manggada “mungkin ada sesuatu yang akan dilakukan besok” Laksana mengangguk-angguk. Tetapi sulit menebak, apa yang akan dilakukan oleh orang bohgkok itu. Namun keduanya berharap bahwa ki Pandi akan tetap membantu mereka dalam segala keadaan. Ketika malam menjadi semakin dalam, Ki Kertasana yang melihat Manggada dan Laksana masih duduk di serambi telah mendatanginya dan bertanya “Apakah kalian tidak akan segera pergi tidur?” “Nanti ayah” jawab Manggada “udara di dalam terasa panas. Apalagi kami memang belum mengantuk” Beruntunglah bahwa Ki Kertasana tidak bertanya tentang Ki Pandi. Sambil melangkah meninggalkan keduanya, Ki Kertasana berkata “Segera tidur. Mari sudah larut malam” “Baik ayah. Nanti sebentar kami akan segera tidur setelah udara sedikit menjadi sejuk” jawab Manggada. Namun Ki Kertasana itupun segera hilang di balik pintu. Sementara itu Manggada dan Laksana masih saja duduk di serambi. Mereka masih saja menunggu Ki Pandi yang menurut keterangannya tidak akan terlalu lama. Tetapi ternyata sampai tengah malam, Ki Pandi masih belum kembali. “Tetapi aku yakin bahwa ia akan kembali sebelum pagi” desis Manggada. “Ya. Tetapi apa jawab kami jika paman atau ayah menanyakannya?” desis Laksana. “Kita akan berkata berterus terang” jawab Manggada. Laksana mengangguk-angguk. Dengan demikian, maka Laksana justru tidak menjadi gelisah lagi. Namun ternyata seisi rumah itu telah tertidur, sehingga baik Ki Kertasana maupun Ki Citrabawa tidak lagi keluar dan bertanya apapun lagi kepada kedua orang anak muda itu. Meskipun demikian, ketika dini hari tiba, kedua anak muda itu menjadi gelisah lagi. Mereka tidak lagi memikirkan pertanyaan-pertanyaan dari orang tua mereka, tetapi mereka benar-benar gelisah tentang Ki Pandi. Apakah Ki Pandi begitu saja meninggalkan mereka. Namun jantung mereka yang bergejolak rasa-rasanya telah dihembus oleh angin sejuk ketika mereka melihat seorang yang bongkok memasuki regol halaman rumah itu. Berbareng Manggada dan Laksana bangkit berdiri. Sementara Ki Pandi justru mengerutkan dahi. “Kalian belum tidur?” bertanya Ki Pandi. “Kami menunggu” jawab Manggada. “Kenapa? Apakah kalian menduga bahwa aku tidak akan kembali?” bertanya Ki Pandi. “Bukan begitu, Ki Pandi. Tetapi rasa-rasanya tidak adil jika kami tidur nyenyak sementara Ki Pandi sibuk sendiri sampai dini hari” jawab Manggada. Namun ternyata ia tidak dapat menyembunyikan perasaan dan berkata dengan jujur “Tetapi disamping itu, kami memang merasa cemas justru pada saatsaat yang menjadi semakin gawat” Ki Pandi yang kemudian juga duduk di amben di serambi itu tertawa. Katanya “Kalian sudah bukan anak-anak lagi. Tetapi baiklah. Sekarang tidurlah. Aku juga akan tidur. Bukankah masih ada waktu untuk beristirahat?” Manggada dan Laksanapun bangkit berdiri pula ketika Ki Pandi kemudian pergi ke biliknya. Namun Manggada dan Laksana masih juga berbicara di antara mereka tentang Ki Pandi yang pergi sampai dini hari. Meskipun Manggada dan Laksana baru tidur setelah dini, namun seperti biasanya mereka bangun pagi-pagi dan melakukan pekerjaan sehari-hari mereka. Mengisi jambangan di pakiwan dan mengisi gentong di dapur. Seperti yang sudah direncanakan, maka Manggada dan Laksana hari itu berangkat lebih pagi dari hari-hari sebelumnya. Mereka pergi bersama Ki Pandi yang akan berada di rumah Ki Resadana jika Ki Resa tidak berkeberatan. Ketika hal itu disampaikan kepada Ki Resa, maka Ki Resa memang menjadi ragu-ragu. “Ki Pandi tidak akan keluar dari dalam rumah ini paman” berkata Manggada meyakinkan. “Jadi untuk apa Ki Pandi berada disini?” bertanya Ki Resa. “Ki Pandi hanya ingin meyakinkan ayah dan paman, bahwa yang aku lakukan tidak sangat berbahaya sebagaimana dibayangkan oleh ayah dan paman” jawab Manggada. “Akulah yang justru memberikan gambaran bahwa yang kalian lakukan itu sangat berbahaya” berkata Ki Resa kemudian. “Untuk memberikan pertimbangan, maka ayah telah minta Ki Pandi untuk melihat kemungkinan-kemungkinan yang terjadi disini” jawab Manggada. Ki Resadana akhirnya berkata sambil menarik nafas dalamdalam “Baiklah. Tetapi aku minta Ki Pandi tidak menampakkan diri apapun yang terjadi Ia orang asing disini sehingga akan dapat menarik perhatian dan bahkan mungkin menimbulkan persoalan yang berkepanjangan” Ki Pandipun menyahut sambil mengangguk-angguk “Aku akan tetap berada di dalam Ki Resa. Aku juga tidak akan berani keluar rumah, apalagi jika orang-orang yang ditakuti itu sudah datang, aku hanya ingin mendengarkan dari dalam rumah ini sejauh dapat aku tangkap dengan telinga tuaku” “Ya. Sebagian pembicaraan di sebelah dinding memang dapat didengar jika kita berdiri melekat di dinding halaman di belakang gandok” jawab Ki Resa. “Jika kita berdiri di tempat itu, apakah kita dapat dilihat dari luar halaman ini?” “Tidak” jawab Ki Resa “aku juga sering mendengarkan pembicaraaan anak-anak itu dengan Wira Sabet dari belakang dinding justru karena aku mencemaskan keadaan mereka. Tetapi jika orang-orang di halaman sebelah meloncati dinding batas halaman itu, mereka akan melihat bahwa kita sedang memperhatikan dan mendengarkan pembicaraan mereka” Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Jika demikian aku akan dapat mendengarkan dari balik dinding itu” “Tetapi kita harus berhati-hati. Jika nafas kita dapat didengar dari sebelah, maka nasib kita. akan menjadi sangat buruk” Ki Pandi masih saja mengangguk-angguk. Katanya “Aku akan berhati-hati, karena aku tahu akibat yang terjadi jika mereka mengetahuinya” Demikianlah, Ki Resadana memang tidak dapat menolak meskipun sebenarnya labih baik baginya jika tidak ada orang lain di halaman rumahnya. Demikianlah, maka Manggada dan Laksanapun kemudian telah memasuki halaman rumah Wira Sabet yang kotor itu. Seperti kemarin, mereka menunggu Wira Sabet datang untuk memberi keterangan apakah Wira Sabet dan Sura Gentong bersedia untuk berbicara dengan para bebahu padukuhan Gemawang. Seperti yang dijanjikan, maka Wira Sabet telah datang pada waktunya. Seperti kemarin, Wira Sabet datang bersama Pideksa dan dua orang kawannya. Manggada dan Laksanapun segera menyongsongnya. Dengan nada tinggi Manggada berkata “Selamat pagi paman. Kami juga baru saja datang” Wira Sabet mengangguk sarnbil menjawab “Selamat pagi. Kami datang sedikit lebih siang dari kemarin” “Aku kira tidak paman. Matahari itu baru saja naik sepenggalah. Sinarnya belum menggatalkan kulit” “Baiklah” berkata Wira Sabet kemudian dengan nada yang justru agak lunak “Aku akan langsung pada persoalannya” “Ya, paman. Kami memang menunggu-nunggu” desis Manggada. “Aku sudah membicarakan pesan para bebahu padukuhan ini. Aku sudah berbicara dengan Sura Gentong dan Ki Sapa Aruh. Tetapi ternyata mereka berpendapat lain” jawab Wira Sabet. “Maksud paman?” bertanya Manggada dengan jantung yang berdebar-debar. “Aku semula setuju untuk berbicara, mencari kemungkinankemungkinannya. Kami akan mengajukan syarat-syarat untuk menapak pada satu keadaan yang lebih baik daripada sekarang. Tetapi banyak yang tidak aku mengerti. Sura Gentong dan Ki Sapa Aruh banyak memberikan pengertian kepadaku, bahwa usaha itu tidak lebih dari satu jebakan dan pengkhianatan” jawab Wira Sabet. “Kenapa sebuah jebakan dan pengkhianatan? Apakah paman kira, kami masih mempunyai kemungkinan untuk menjebak paman?” bertanya Manggada. “Segala kemungkinan dapat terjadi, Manggada” sahut Pideksa “kami sudah membicarakannya dengan panjang lebar. Hampir saja aku terpengaruh oleh kenangan masa kanakkanakku, sehingga aku mencoba menentang sikap paman Sura Gentong. Namun setelah aku mendapat penjelasan dari paman Sura Gentong dan Ki Sapa Aruh, aku baru menyadari, bahwa pembicaraan tidak akan membuahkan apa-apa bagi kami selain kemungkinan buruk itu. Jebakan dan penghianatan” “Paman“ Manggada berusaha menjelaskan “kami bersikap jujur. Jika kami menjebak paman, kenapa tidak kami lakukan sekarang atau saat paman memasuki padukuhan ini besok atau lusa atau kapan saja? Tidak paman. Kami tidak mempunyai keberanian untuk itu. Sementara itu, orang-orang padukuhan ini menganggap bahwa melihat paman dari kejauhan saja akan dapat mendatangkan malapetaka baginya dan keluarganya. Siapa yang berani menyebut nama paman dan apalagi mencerca nama paman, maka rasa-rasanya orang itu akan tersuruk ke dalam bencana. Nah, dalam keadaan yang demikian, siapa yang berani menjebak dan berkhianat kepada paman Wira Sabet, paman Sura Gentong dan Ki Sapa Aruh yang belum aku kenal” “Luar biasa“ Pideksalah yang berdesis “kau adalah anak muda yang sangat berani. Selama ini aku mengamati tingkah laku orang-orang padukuhan ini. Tidak seorangpun yang berani berpapasan dengan ayah dan paman Sura Gentong. Seperti yang kau katakan, siapa yang sempat melihat ayah dan paman dari kejauhan, mereka akan mengalami malapetaka. Tetapi ternyata bahwa kau masih juga berani menemui ayah sekarang ini” “Aku terlalu yakin akan maksud baikku Pideksa. Aku yakin pula bahwa paman Wira Sabet masih juga sempat mendengarkan kata nuraninya sebagai anak kampung halaman ini. Dasar itulah yang mendorong aku untuk berani melakukan hal ini sekarang. Seberapa dalam dendam terpahat di hati paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong, sedalam dendam yang terukir di hati Ki Jagabaya, namun aku yakin, bahwa lebih dalam lagi hasrat yang mendorong paman dan Ki Jagabaya untuk menemukan satu landasan awal bagi masa depan padukuhan ini” Wira Sabet itupun menarik nafas dalam-dalam. Sementara Pideksa itupun berkata “Aku mengerti Manggada. Tetapi ayah tidak berdiri sendiri. Itulah sebabnya, ayah tidak dapat mengambil keputusan sendiri, apalagi yang menyimpang dari rencana yang sudah disusun dengan mapan oleh ayah, paman dan Ki Sapa Aruh” Manggada termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba saja Manggada dan Laksana terkejut. Seorang yang berwajah garang memasuki halaman rumah yang kotor itu. Sura Gentong. Dengan wajah yang garang ia memandang Manggada dan Laksana yang sedang berbicara dengan Wira Sabet. “Paman Sura Gentong” sapa Manggada. Tetapi sikap Sura Gentong memang berbeda dengan Sikap Wira Sabet. Ketika Manggada beringsut untuk mendekat, Sura Gentong berkata lantang “Tetap di tempatmu, aku akan pancung kepalamu” Manggada tertegun sejenak. Namun seperti juga Laksana, maka Manggadapun segera mengetahui, bahwa ternyata Sura Gentpng jauh lebih kasar dari Wira Sabet. “Inikah bocah edan itu?” geram Sura Gentong. “Ia baru pulang beberapa hari yang lalu, paman” Pideksa yang menjawab. “Aku tidak peduli. Orangorang yang berani menatap wajah Wira Sabet dan Sura Gentong akan dibuat jera untuk selama-lamanya” berkata Sura Gentong. “Maksud paman?” bertanya Pideksa. “Orang itu akan menjadi buta. Tetapi bagi orang yang belum mengenal kami dengan baik, maka dosanya akan diperingan. Ia akan menjadi buta matanya sebelah” “Itu tidak perlu” desis Wira Sabet. “Ia benar-benar orang baru disini” sambung Pideksa. “Aku tidak peduli. Tetapi ia adalah kaki tangannya jagabaya yang tamak itu. Orang yang telah membantu Ki Jagabaya akan mendapat hukuman tersendiri” berkata Sura Gentong. Namun tiba-tiba Wira Sabet berkata “Pergilah. Kali ini kau diampuni” “Tunggu" geram Sura Gentong “apakah kakang sudah mengatakan syarat yang kami minta sebelum pembicaraan dilakukan?” Wira Sabet menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Aku sudah mengatakan, bahwa pembicaraan itu tidak akan dapat dilakukan kapanpun dimanapun” “Bukan begitu pesan Ki Sapa Aruh” berkata Sura Gentong “Ki Sapa Aruh mengisyaratkan bahwa pembicaraan itu dapat saja dilakukan. Tetapi dengan syarat, semua bebahu padukuhan meletakkan jabatan. Ki Sapa Aruh akan memegang jabatan Bekel. Kakang Wira Sabet menjadi Kami Tuwa dan aku menjadi Jagabaya.” Wajah Manggada dan Laksana terasa menjadi panas. Namun keduanya tidak mengatakan sesuatu. Sementara itu Wira Sabet berkata lagi “Cepat pergi. Kalian diampuni kali ini. Tetapi untuk selanjutnya, jika kalian berani menatap wajah kami, maka mata kalian akan menjadi buta” “Masih belum selesai” berkata Sura Gentong “masih ada satu syarat lagi. Karena Ki Jagabaya telah membunuh perempuan calon isteriku, maka ia harus menggantinya. Aku inginkan Tantri menjadi isteriku” Telinga Laksana bagaikan tersentuh bara. Namun ketika ia beringsut, maka Manggada telah menggamitnya. Namun dalam pada itu, sebelum Wira Sabet mengusir lagi kedua anak muda itu, Sura Gentong justru berkata “Aku akan pergi. Jika aku lebih lama disini, aku akan benar-benar membuat sebelah mata anak-anak itu menjadi buta” Tanpa menunggu jawaban, maka Sura Gentong itupun segera meninggalkan halaman rumah Wira Sabet itu. Wira Sabet, Pideksa dan kedua orang kawannya termangumangu sejenak. Namun kemudian Wira Sabet itupun berkata “Sebaiknya kau tidak melibatkan diri dalam hal ini. Temui Ki Jagabaya, katakan syarat yang sudah terlanjur diucapkan oleh Sura Gentong itu yang semula ingin aku sembunyikan saja. Kemudian kau menarik diri dari persoalan ini. Sebaiknya kalian, selalu berada di rumah. Agaknya itu akan lebih baik bagi kalian” Manggada dan Laksana tidak menjawab. Sementara itu Pideksa berkata “Bukankah segala-galanya sudah berubah? Aku tidak dapat menjadi cengeng dengan mengenang masa lalu, karena masa lalu tidak akan pernah datang kembali, betapapun kerinduan menusuk sampai ke pusat jantung. Hatihatilah Manggada. Sebaiknya kau minggir saja dari persoalan ini. Aku tahu bahwa kau tentu berkeberatan. Kau termasuk anak yang keras kepala, berani dan bengal. Tetapi kau cerdas dan bandel” Pideksa tidak menunggu jawaban. Iapun kemudian memberi isyarat kepada ayahnya untuk meninggalkan tempat itu. Namun di regol ia berkata “Ayah masih tetap mengijinkanmu memanjat pohon duwet dan pohon manggis itu” Manggada dan Laksana sama sekali tidak menjawab. Baru setelah mereka pergi, keduanya menarik nafas dalam-dalam. “Sura Gentonglah yang sudah menjadi gila” geram Manggada. “Nampaknya tidak ada jalan lain kecuali dengan kekerasan” desis Laksana. Manggada menarik nafas dalam-dalam. Namun dalam pada itu, keduanya terkejut ketika mereka mendengar semak tersibak. Ketika mereka berpaling dan bergeser selangkah, maka mereka melihat sekilas dua ekor harimau hilang di balik semak-semak yang banyak terdapat di halaman yang luas itu. Kedua orang anak muda itu saling berpandangan. Merekapun yakin bahwa kedua ekor harimau itu adalah harimau Ki Pandi. Merekapun segera tahu pula bahwa selama Ki Pandi pergi semalam, tentu Ki Pandi telah memanggil harimaunya. “Kecuali dengan, serulingnya, Ki Pandi mempunyai cara berhubungan dengan kedua ekor harimaunya dari jarak jauh” berkata Manggada kemudian. Laksana mengangguk-angguk. Namun iapun bergumam “Kenapa Wira Sabet dan Sura Gentong tidak kita selesaikan sama sekali. Kita tahu disini ada Ki Pandi. Apalagi ada dua ekor harimaunya. Seandainya Ki Sapa Aruh dan orangorangnya masih mendendam, maka kekuatan mereka telah jauh menyusut tanpa Wira Sabet dan Sura Gentong” “Tetapi sasaran dendam Ki Sapa Aruh tentu tidak pandang bulu. Orang-orang padukuhan ini akan mengalami nasib buruk, karena kita tidak akan dapat berada di segala tempat. Sementara Ki Sapa Aruh akan dapat mengirimkan orangorangnya kemanapun yang dikehendaki” jawab Manggada. Laksana menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun kemudian mengangguk sambil berdesis “Ya. Ki Sapa aruh dapat berbuat licik sekali” “Kecuali jika kita sempat mematangkan perlawanan orangorang padukuhan ini” berkata Manggada. Laksana tidak menjawab. Tetapi ia masih saja mengangguk-angguk. Demikianlah, maka Manggada dan Laksanapun kemudian keluar dari halaman rumah yang kotor itu. Demikian mereka turun ke jalan, maka merekapun melihat Ki Pandi dan Ki Resadana keluar dari pintu regol. “Nampaknya sulit untuk dapat berbicara dengan mereka” berkata Laksana. “Kami dari balik dinding mendengar pembicaraan kalian dengan Wira Sabet dan kemudian Sura Gentong” berkata Ki Pandi. “Kami berdua akan berbicara dengan Ki Jagabaya” berkata Manggada. “Tetapi siapa yang dimaksud dengan Tantri?” bertanya Ki Pandi. “Seorang gadis kemarin sore“ Ki Resadanalah yang menyahut “umurnya masih belum setua Pideksa” “Ya. Lebih muda dari Pideksa. Ia pantas menjadi anak bungsu Sura Gentong jika ia mempunyai sepuluh orang saudara” sahut Laksana. Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya “Nampaknya memang sulit untuk berbicara dengan Sura Gentong. Sebenarnya tanpa pengaruh Sura Gentong dan Ki Sapa Aruh, Wira Sabet masih dapat diajak berbicara. Tetapi tidak demikian halnya dengan Sura Gentong” Ki Resa mengangguk-angguk. Namun dengan nada cemas ia berkata “Sudahlah ngger. Sebaiknya kalian berdua tidak usah turut campur. Atau bahkan sebaiknya kalian kembali saja ke tempat kalian selama ini tinggal” “Mungkin kami berdua dapat mengungsi, paman. Tetapi bagaimana dengan ayah dan ibu?” jawab Manggada. “Jika perlu bawa saja ayah dan ibu kalian bersama kalian” jawab Ki Resa. “Nampaknya ayah dan ibu tentu berkeberatan. Disini mereka dilahirkan. Disini sawah dan tanah pategalan mereka digelar. Apakah semuanya itu harus ditinggalkan tanpa melakukan pembelaan sama sekali?” “Pembelaan? Apa maksudmu? Apakah kalian akan melawan Wira Sabet dan Sura Gentong?” bertanya Ki Resa. “Jika tidak demikian, maka setidak-tidaknya kami mendapatkan penyelesaian yang terbaik” jawab Manggada. Ki Resa menarik nafas dalam-dalam, la sudah berusaha menemui orang tua kedua anak muda itu. Namun ternyata kedua anak muda itu sama sekali tidak menarik diri. Bahkan orang tua mereka agaknya tidak dengan keras melarang mereka. Namun dengan demikian, timbul sedikit sentuhan di hati Ki Resadana. Jika anak-anak yang untuk waktu yang lama sudah meninggalkan kampung halamannya masih menganggap perlu untuk berbuat sesuatu bagi kebaikan padukuhannya, apakah Ki Resa justru akan mengingkari tugas-tugas semacam itu?. Namun bagaimanapun juga yang dilakukan oleh anak-anak muda itu memerlukan keberanian. Dan keberanian itu tidak dimilikinya dan tidak pula dimiliki oleh orang-orang padukuhan itu. Dalam pada itu, maka Manggada, Laksana dan Ki Pandipun kemudian telah minta diri kepada Ki Resa. Mereka akan memberian laporan tentang kewajiban yang mereka pikul untuk bertemu dan berbicara dengan Wira Sabet dan bahkan Sura Gentong kepada Ki Jagabaya. Ki Resapun kemudian hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kesungguhan kedua orang anak muda itu untuk berbuat sesuatu bagi padukuhan mereka. Seperti yang direncanakan, maka kedua orang anak muda itu memang pergi ke rumah Ki Jagabaya. Namun Ki Pandi tidak pergi bersama mereka. Tetapi Ki Pandi berniat langsung kembali ke rumah Ki Kertasana. Namun sebelum mereka berpisah, Laksana sempat bertanya “Apakah kedua ekor harimau itu akan tetap berada disana?” “Tidak. Biarlah malam nanti keduanya kembali ke hutan. Tetapi tidak perlu hutan yang kita pergunakan untuk Tapa Ngidang itu. Tetapi hutan yang lebih dekat di sebelah Barat padukuhan ini. Meskipun hutan itu kecil, namun kedua ekor harimau itu tidak akan menjadi kelaparan sebagaimana jika keduanya tetap berada di halaman rumah itu. Bahkan jika keduanya kelaparan, mereka akan dapat berbuat hal-hal yang tidak sepatutnya mereka lakukan?” “Apakah mereka dapat menyerang seseorang?” bertanya Laksana. “Tanpa perintahku tidak. Tetapi mereka sering melakukannya terhadap seekor ternak, jika benar-benar kelaparan” jawab Ki Pandi. Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sementara itu, maka merekapun telah sampai ke simpang tiga. Manggada dan Laksana berbelok ke kiri, sedangkan Ki Pandi berbelok ke kanan. Demikianlah, beberapa saat kemudian, maka keduanya telah sampai di rumah Ki Jagabaya. Ternyata Ki Jagabaya tidak sedang bepergian. Namun, lebih dahulu dari mereka berdua, Wisesa telah berada di rumah itu pula. Sampurna seperti biasanya mempersilahkan Manggada dan Laksana duduk di serambi bersama Wisesa. Kepada Tantri yang ada di dapur, Sampurna minta agar ia membuat minuman lagi bagi kedua orang tamu yang datang kemudian itu. Seterusnya Sampurna telah menemui ayahnya untuk memberitahukan kedatangan Manggada dan Laksana. “Baiklah” berkata Ki Jagabaya “sebentar lagi aku datang” Ketika kemudian Sampurna duduk lagi di serambi, maka Tantri telah menghidangkan minuman dan makanan bagi Manggada dan Laksana yang duduk bersama Wisesa. “Darimana saja kalian berdua?” bertanya Tantri. “Aku baru saja pergi ke rumah paman Wira Sabet” jawab Manggada. Namun sementara itu Laksana sibuk memperhatikan Tantri. Apa jadinya jika gadis cantik itu benarbenar harus diserahkan kepada Sura Gentong untuk menebus dendam yang menyala di hati orang yang garang itu. “Apakah kalian bertemu dengan Wira Sabet?” bertanya Tantri pula. “Ya” jawab Manggada “bahkan juga paman Sura Gentong” “Jadi kalian bertemu juga dengan Sura Gentong?” bertanya Sampurna?” “Ya“ Manggada mengangguk-angguk. Lalu katanya pula “Karena itu aku langsung datang kemari untuk melaporkannya kepada Ki Jagabaya” “Apa kata mereka?” bertanya Wisesa “apakah mereka menerima gagasan besarku demi kesejahteraan padukuhan ini?” Manggada termangu-mangu sejenak. Namun Sampurnalah yang menjawab “Biarlah kita menunggu ayah. Manggada dan Laksana akan memberikan laporan kepada ayah” “Apa bedanya? Aku adalah seorang yang telah melahirkan gagasan besar itu” berkata Wisesa “bukankah kita akan membicarakan bersama pada akhirnya?” “Baiklah” berkata Sampurna “karena itu, sebaiknya kita menunggu ayah” Wisesa mengerutkan dahinya. Sebelum ia menjawab Tantri telah bangkit dan melangkah meninggalkan serambi itu. Sejenak kemudian, maka Ki Jagabayapun telah ikut duduk di serambi itu bersama Manggada, Laksana dan Wisesa. Ki Jagabaya itupun segera bertanya “Apakah kau bertemu dengan Wira Sabet dan Sura Gentong?” “Ya, Ki Jagabaya. Aku telah bertemu dengan mereka berdua” “Apakah kau membicarakan tentang satu kemungkinan untuk mengadakan satu pembicaraan?” bertanya Ki Jagabaya. “Ya, sesuai dengan gagasanku” sahut Wisesa. Manggada memandang Wisesa sekilas. Namun ia tidak menghiraukannya lagi. “Kami sudah mencoba untuk berbicara dengan mereka Ki Jagabaya. Sebenarnya aku yakin bahwa paman Wira Sabet akan dapat mengerti dan menerima rencana pembicaraan itu” jawab Manggada.. “Karena itu adalah gagasan terbaik yang dapat dilahirkan oleh seseorang dalam keadaan seperti ini” sahut Wisesa. Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun kemudian mengangguk-angguk sambil berdesis “Ya. Gagasan terbaik” Manggadapun kemudian telah melaporkan pertemuannya dengan Wira Sabet dan Sura Gentong. Manggada menceriterakan perbedaan sikap antara kakak beradik itu. “Apakah syarat yang telah diajukan oleh Sura Gentong?” bertanya Ki Jagabaya. Satu persatu Manggada menguraikan syarat-syarat yang dikehendaki oleh Sura Gentong dan Ki Sapa Aruh. Justru karena Tantri telah meninggalkan serambi Itu, maka Manggadapun berkata “Syarat terakhir yang dikehendaki oleh Sura Gentong adalah ganti atas meninggalnya bakal isterinya saat itu” “Tetapi perempuan itu membunuh diri” berkata Ki Jagabaya “namun nampaknya Sura Gentong menuduh bahwa aku telah membunuhnya. Atau seandainya sebenarnya ia mengetahui, tetapi ia tentu akan berpura-pura tidak mengetahuinya. Dengan demikian maka ia akan dapat menuntut ganti atas kematian isterinya” “Agaknya memang demikian Ki Jagabaya” jawab Manggada. Namun kemudian Ki Jagabaya itu berkata “Apakah ia juga mengatakan ganti seperti apa yang dikehendakinya?” Jantung Manggadapun menjadi berdebar-debar. Rasarasanya sulit untuk mengatakannya, bahwa Sura Gentong menghendaki Tantri, gadis Ki Jagabaya itu. Sejenak Manggada memandang Laksana. Tetapi Laksana menundukkan kepalanya. Akhirnya, meskipun betapa berat bibirnya bergerak, Manggada harus mengatakannya “Ki Jagabaya Yang dikehendaki Sura Gentong adalah Tantri” “Tantri“ suara Ki Jagabaya menghentak. Wajahnya menjadi merah. Demikian pula Sampurna. Bahkan Wisesa. Dengan suara bergetar Wisea berkata “Gila. Apakah Sura Gentong sudah gila? Berapa umur Sura Gentong. Dan berapa umur Tantri” “Ya” desis Manggada “Sura Gentong agaknya, memang sudah gila” Tetapi tiba-tiba Wisesa terkejut. Ia sudah mengumpati Sura Gentong. Wisesa sadar, bahwa ia telah melakukan kesalahan yang sangat besar. Jangankan mengumpati, mencercanya saja, seseorang akan dapat mengalami bencana. Wajah Wisesa menjadi pucat. Keringat dingin mengalir dari seluruh tubuhnya. Tetapi ia sudah terlanjur mengucapkannya. Tetapi Manggada dan Laksana mengira bahwa Wisesa itu menjadi demikian marahnya, sehingga wajahnya justru menjadi pucat dan keringatnya membasahi pakaiannya. Ki Jagabayalah yang benar-benar menjadi marah. Dengan geram ia berkata “Angger berdua. Jika Ki Sapa Aruh ingin menjadi Bekel, Wira Sabet menghendaki kedudukan Kami Tuwal dan Sura Gentong sendiri ingin merampas kedudukanku sebagai Jagabaya, jika hal itu diterima oleh rakyat padukuhan Gemawang, aku tidak akan berkeberatan. Tetapi permintaannya yang terakhir membuat telingaku menjadi panas. Agaknya Sura Gentong benar-benar mencari alasan untuk melakukan kekerasan di paduuhan ini” “Agaknya memang demikian Ki Jagabaya “Laksanalah yang menyahut “Aku juga berpendapat, bahwa tidak ada jalan lain kecuali menghancurkan Sura Gentong dan Ki Sapa Aruh. Jika keduanya dapat di lenyapkan, maka Wira Sabet sendiri tentu masih dapat mempergunakan penalarannya. Demikian pula agaknya dengan anaknya, Pideksa” “Manggada dan Laksana” berkata Ki Jagabaya kemudian “aku berterima kasih atas kesediaan kalian membantu mencari penyelesaian sebaik-baiknya atas persoalan yang terjadi di padukuhan ini. Tetapi ternyata kalian telah terbentur pada sikap yang keras dan menyakitkan hati. Itu bukan salah kalian. Karena itu, agaknya aku tidak mempunyai pilihan lain. Aku akan mempersiapan diri menghadapi mereka apapun yang terjadi. Mungkin keluarga kami akan ditumpas habis. Tetapi aku tidak berkeberatan karena aku menganggap hal itu lebih baik daripada memenuhi permintaan mereka” “Ki Jagabaya tidak sendiri” berkata Laksana “sejak kami menghadap, kami sudah menyatakan bahwa keluarga kami akan berdiri di belakang Ki Jagabaya. Apapun yang terjadi, karena padukuhan ini adalah padukuhan kami, kampung halaman kami” “Tetapi kau tahu bahwa Wira Sabet dan Sura Gentong memiliki kekuatan yang besar sehingga melawan mereka akan dapat berakibat sangat buruk” berkata Ki Jagabaya. “Itu sudah kami perhitungkan” jawab Manggada. Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Katanya “Aku sangat berterima kasih. Nanti aku akan menemui Ki Bekel. Aku akan minta pendapatnya untuk yang terakhir kalinya. Jika Ki Bekel masih saja ragu-ragu, aku akan meninggalkannya” Dalam pada itu, tiba-tiba saja Sampurna berkata kepada Wisesa “Bagaimana dengan kau Wisesa? Kau sudah mendengar betapa menyakitkan hati tuntutan Sura Gentong itu?. Gagasanmu yang besar itu ternyata merupakan satu alasan yang paling baik bagi Sura Gentong untuk menghina keluarga kami. Nah, kami memang harus mempertimbangkannya, apakah kami akan menyerahkan Tantri atau tidak” “Tentu tidak” desis Wisesa. Sampurna termangu-mangu sejenak. Namun dalam kekalutan pikiran, Ki Jagabaya mengerti maksud anak lakilakinya. Karena itu, ia tidak menyela pembicaraan anaknya dengan Wisesa. Sementara itu, Sampurnapun bertanya “Apa yang harus kita lakukan jika Sura Gentong itu datang kemari dan minta untuk membawa Tantri sekarang ini?” Wajah Wisesa yang pucat menjadi semakin pucat. Setiap kali ia teringat bahwa ia terlanjur mengumpati Sura Gentong. ”Satu tindakan yang sangat disesalinya” Namun tiba-tiba Sampurna bertanya “Jika Sura Gentong itu datang untuk mengambil Tantri, apakah kau bersedia menghalanginya dengan cara apapun juga?” Wisesa tergagap. Ia tidak dapat segera menjawab pertanyaan itu. Bahkan rasanya ia menjadi semakin ketakutan, sehingga tubuhnya menjadi sangat dingin. Karena Wisesa tidak segera menjawab, maka Sampurna berkata “Tetapi aku yakin, bahwa akan ada orang yang membantu kami mempertahankannya seandainya kau tidak bersedia melakukan itu Wisesa” Perasaan Wisesa justru telah terguncang-guncang, la manjadi sakit hati jika ada orang yang berjasa melindungi Tantri. Tetapi ia sendiri tidak berani melakukannya, karena Wira Sabet dan Sura Gentong tidak ubahnya sebagai siluman yang sangat menakutkan baginya. Namun justru karena itu, maka Wisesa bahkan menjadi bagaikan orang yang kehabisan akal. Keringatnya sajalah yang mengalir semakin deras. Manggada dan Laksana yang mengerti maksud Sampurna, sama sekali tidak menyahut. Mereka bahkan hanya berdiam diri saja. Namun akhirnya Sampurnapun tidak lagi menyudutkan Wisesa. Tetapi ia berkata bersunguh-sungguh kepada Manggada dan Laksana “Jika demikian, maka kita harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Setiap saat suasana yang panas ini akan dapat meledak” “Kami menunggu perintah Ki Jagabaya” berkata Manggada “jika kami mendengar isyarat, kami akan segera datang” “Baiklah“ Ki Jagabayalah yang menyahut “seperti yang aku katakan tadi, aku akan menemui Ki Bekel. Keadaan sudah memuncak. Agaknya memang tidak ada jalan lain kecuali dengan kekerasan” Demikianlah, maka Manggada dan Laksanapun kemudian telah minta diri. Sementara itu Wisesapun bertanya “Apakah kau akan lewat jalan Selatan?” “Kenapa?” bertanya Manggada. “Kita dapat berjalan bersama-sama” jawab Wisesa. Manggada menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu bahwa Wisesa menjadi tiba-tiba menjadi ketakutan, sehingga ia memerlukan kawan untuk berjalan pulang. Karena itu, maka iapun menjawab “Aku dapat lewat jalan mana saja. Meskipun sedikit berputar, baiklah, aku akan pulang lewat jalan Selatan” Hampir saja Laksana mengganggunya lagi. Tetapi Manggada sudah memandanginya dengan sikap yang bersunguh-sungguh sehingga Laksanapun telah mengurungkan niatnya. Sejenak kemudian, maka Sampurna, Tantri dan ibunya telah melepas Manggada dan Laksana pulang bersama Wisesa, sementara Ki Jagabayapun akan pergi ke rumah Ki Bekel. Di sepanjang jalan Wisesa yang berjalan tergesa-gesa sama sekali tidak mengatakan sesuatu. Ia berjalan paling depan. Namun sekali-sekali ia berpaling sambil berkata “Marilah. Kenapa kalian berjalan sangat lamban?” Tetapi Laksana justru bertanya “Kenapa kau tergesa-gesa?” “Aku masih mempunyai banyak pekerjaan di rumah” jawab Wisesa. Namun Laksana menjawab lagi “Aku tidak. Jika aku tergesagesa, aku akan mengambil jalan lain yang lebih dekat dari jalan ini” Wisesa terdiam. Ia berusaha menahan perasaannya yang bergejolak. Kebenciannya kepada kedua orang anak muda itu menjadi semakin meningkat. Sejak kanak-kanak ia memang tidak begitu senang berkawan dengan Manggada yang dianggapnya sangat nakal, keras kepala dan bengal. Tetapi Manggada itu terlalu dekat dengan Tantri. Meskipun keduanya sering berkelahi, tetapi setiap kali keduanya telah menjadi rukun kembali. Sedangkan kepada Laksana, Wisesa tidak menyukainya demikian ia mengenalnya. Wisesa masih tetap berjalan di paling depan. Namun begitu ia melihat regol rumahnya, maka iapun berkata “Aku tidak telaten berjalan bersama orang-orang malas. Kenapa kau mengambil jalan ini? Sebaiknya aku berjalan saja dahulu” Wisesa tidak menunggu jawaban, la berjalan semakin cepat. Bahkan kemudian berlari-lari kecil masuk ke dalam regol halamannya tanpa berpaling lagi. Laksana tertawa. Tetapi ia tidak berkata sesuatu. Ketika mereka sampai di rumah, maka merekapun segera menceriterakan pertemuan mereka dengan Wira Sabet dan Sura Gentong. Meskipun sebagian telah diceriterakan oleh Ki Pandi yang telah mendahului pulang, namun Manggada dan Laksana masih juga dengan bersungguh-sungguh menceriterakan kembali. Merekapun juga berceritera bahwa mereka telah singgah di rumah Ki Jagabaya dan memberikan laporan tentang pembicaraan mereka dengan Wira Sabet dan Sura Gentong. “Apa yang dikatakan oleh Ki Jagabaya?” bertanya Ki Kertasana. “Ki Jagabaya menjadi sangat marah, la bertekad untuk melawan Wira Sabet dan "Sura Gentong meskipun keduanya telah bekerja sama dengan Ki Sapa Aruh” jawab Manggada. Ki Kertasana menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Nampaknya segala usaha memang akan sia-sia jika sikap Sura Gentong demikian kasarnya. Apaboleh buat jika harus diselesaikan dengan kekerasan” “Kita memang tidak mempunyai pilihan lain. Hanya soal waktu sajalah yang menentukan benturan kekerasan yang bakal terjadi. Tetapi kita tidak tahu seberapa banyak sebenarnya kekuatan lawan itu. Kita juga tidak tahu tataran kemampuan mereka” berkata Ki Pandi. Ki Kertasana, Ki Citrabawa. Manggada dan Laksanapun mengangguk-angguk. Mereka megerti maksud Ki Pandi. Namun mereka memang tidak mempunyai gambaran, bagaimana caranya mereka dapat mengetahui kekuatan lawannya itu. Sementara itu tidak seorangpun tahu, dimana Wira Sabet dan Sura Gentong tinggal. Apalagi Ki Sapa Aruh. Agaknya mereka akan mengalami kesulitan untuk bertanya kepada siapapun tentang kedua orang itu. Seandainya ada yang pernah melihat, tentu tidak lebih dari arah kedatangan mereka. Terutama Wira Sabet yang memang lebih sering nampak daripada Sura Gentong. Itupun agaknya sulit memancing keterangan mereka. Dalam pada itu, maka Manggadapun berkata “Untuk sedikit mengurangi ketakutan yang mencengkam orang-orang padukuhan Gemawang, maka kita memang harus berbuat sesuatu. Jika keberatan mereka serba sedikit timbul, maka mereka akan berbicara setidaknya dimana mereka pernah melihat Wira Sabet atau dari mana ia datang. Mungkin kita dapat menelusuri dan mengetahui tempat tinggal mereka” “Tetapi itu berbahaya sekali ngger” desis Ki Pandi. “Bukankah kita perlu mengetahui gambaran kekuatan mereka?” desis Mangagada. “Tetapi tentu tidak dengan cara itu” sahut Ki Pandi. “Jadi, apa yang sebaiknya kita lakukan?” “Kita akan menyiapkan kemampuan yang ada pada kita setinggi-tingginya. Untuk sementara hanya itu yang dapat kita lakukan” jawab Ki Pandi. Manggada mengangguk-angguk. Demikian pula Laksana. Namun tiba-tiba saja Manggada berkata “Aku ingin membangunkan orang-orang padukuhan ini dengan cara yang lain. Kami berdua akan mengelilingi padukuhan ini berkuda. Aku akan mengajak Sampurna, anak Ki Jagabaya” “Untuk apa?”bertanya Ki Kertasana. “Untuk membesarkan hati orang-orang padukuhan ini” jawab Manggada. “Jika kalian bertemu dengan Wira Sabet atau orangorangnya yang tersinggung atas perbuatan kalian?” bertanya Ki Kertasana. “Apaboleh buat” jawab Manggada “kekerasan nampaknya tidak dapat dihindari. Seandainya akan menjadi api yang menyulut pertempuran, bukankah kita sudah siap meskipun kita belum mengetahui dengan pasti besarnya kekuatan mereka?” Ki Kertasana menarik nafas dalam-dalam. Sementara Manggada berkata “Tetapi jika benturan kekerasan itu memang harus terjadi, biarlah terjadi. Keadaan padukuhan ini harus segera berubah” Orang-orang tua yang mendengar ketetapan hati Manggada itu hanya menarik nafas panjang. Anak semuda Manggada biasanya memang ingin memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapinya dengan cepat. Apalagi setelah cara lain yang lebih lunak sudah ditempuh dan tidak berhasil. Karena itu, maka Ki Kertasana itupun hanya berpesan “Tetapi berhati-hatilah. Kita menghadapi bukan saja orangorang yang mendendam, tetapi juga orang-orang yang tamak seperti Ki Sapa Aruh yang memanfaatkan keadaan dan memTiraikasih Website http://kangzusi.com/ peralat Wira Sabet dan Sura Gentong untuk kepentingannya sendiri” “Baik ayah” jawab Manggada, sementara Laksana berkata “Semakin lama keadaan ini berlangsung, maka orang-orang padukuhan ini akan menjadi semakin ketakutan dan bahkan tidak berani membuka pintu rumahnya, sehingga jika lumbung padi mereka sudah kosong, maka mereka akan dapat menjadikelaparan. Bahkan meskipun padi disawah menguning, tidak seorangpun yang akan berani memetiknya jika Wira Sabet dan Sura Gentong berdiri di tengah-tengah bulak itu” “Ya. Kemungkinan itu dapat terjadi” desis Ki Kertasana. Dengan demikian maka Manggada dan Laksanapun telah minta ijin untuk mempergunakan kuda yang ada di kandang. Mereka akan mempergunakannya untuk mencoba membangkitkan keberanian orang-orang padukuhan yang dicengkam oleh ketakutan itu. Di sore hari, ketika Ki Pandi, Manggada dan Laksana duduk di serambi gandok, maka merekapun terkejut melihat pintu regol yang tidak diselarak itu terbuka. Serentak mereka bangkit berdiri. Namun merekapun menarik nafas dalamdalam ketika mereka melihat Ki Jagabayalah yang memasuki regol halaman itu. “Marilah Ki Jagabaya“ Manggada mempersilahkan. Sejenak kemudian, Ki Jagabaya itupun sudah duduk di pringgitan bersama Ki Kertasana, Ki Citrabawa, Ki Pandi, Manggada dan Laksana. Dengan kecewa Ki Jagabaya menceriterakan sikap Ki Bekel yang masih tetap ragu-ragu. Dengan nada rendah Ki Jagabaya berkata “Ki Bekel tidak dapat berbuat banyak. Ia selalu dibayangi oleh keselamatan keluarganya. Ia mempunyai tujuh orang. anak. Sebagian masih kecil-kecil. Di antara mereka belum ada yang dapat membantu ayahnya jika keadaan menjadi semakin buruk” “Apakah Ki Bekel itu lebih muda dari Ki Jagabaya?” bertanya Ki Pandi. “Ya. Terpaut agak banyak. Aku sudah menjabat sebagai Jagabaya ketika padukuhan ini dijabat oleh ayah Ki Bekel yang sekarang” suara Ki Jagabaya itu merendah “tetapi Ki Bekel yang dahulu memiliki keberanian jauh lebih besar dari Ki Bekel yang sekarang. Namun agaknya aku dapat mengerti, jika Wira Sabet dan Sura Gentong itu datang ke rumah Ki Bekel, maka anak-anaknya tentu akan mengalami nasib buruk, seandainya Ki Bekel itu sendiri melawan” Ki Kertasanapun kemudian menyahut “Jika demikian, maka kita harus menghadapinya tanpa Ki Bekel. Tetapi jika harus terjadi demikian, maka apaboleh buat” “Terima kasih Ki Kertasana dan seluruh keluarga disini yang telah dengan suka-rela membantu kami yang masih berusaha untuk menegakkan harga diri padukuhan ini” “Bagi kami, apa yang kami lakukan itu merupakan bagian dari kewajiban kami sebagai penghuni padukuhan Gemawang, karena kami merasa ikut memiliki sehingga kami pun harus ikut mempertahankannya dari laku yang menyimpang” Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Sementara Manggada mengatakan rencananya untuk berusaha membangkitkan sedikit keberanian orang-orang padukuhan itu. “Baiklah. Aku akan mengatakannya kepada Sampurna. Agaknya ia tidak akan berkeberatan. Demikianlah, setelah mendapat hidangan minuman dan makanan, maka Ki Jagabayapun segera minta diri. Seperti yang direncanakan di keesokan harinya, maka Manggada dan Laksana sucah siap dengan kuda mereka. Sejenak kemudian keduanya telah berderap menyusuri jalan padukuhan. Mula-mula keduanya pergi ke rumah Ki Jagabaya. Kemudian bersama Sampurna yang ternyata sependapat dengan Manggada dan Laksana telah mengelilingi padukuhan mereka. Derap kaki-kaki kuda itu memang menarik perhatian. Orang yang tergesa-gesa berjalan di jalan padukuhan untuk satu keperluan yang mendesak terkejut melihat ketiga orang anak muda itu. Yang langsung mereka kenali adalah Sampurna. Namun kemudian juga Manggada. Seorang laki-laki yang bertubuh kuat kekar memandang ketiganya dengan penuh keheranan. “Angger bertiga, apa kalian menyadari, bahwa yang kalian lakukan itu dapat mengundang kesulitan?” bertanya laki-laki itu. “Kenapa?” bertanya Sampurna. “Wira Sabet dan bahkan Sura Gentong sering datang ke padukuhan ini” “Apa salahanya? Bukankah kami berada di padukuhan kami sendiri? Sebagaimana paman juga berada di padukuhan paman sendiri?” jawab Sampurna. Orang itu mengerutkan dahinya. Katanya “Meskipun demikian, tetapi bukankah kalian tahu bahwa suasana padukuhan ini baru panas?” “Maksud paman?” bertanya Sampurna. “Ah, seperti orang asing saja kau ngger” sahut orang itu. “Maksud paman, padukuhan kita sedang dalam keadaan ketakutan karena Wira Sabet dan Sura Gentong?” bertanya Sampurna pula. “Ya, ngger. Jika angger bertiga bertemu dengan mereka, maka kemungkinan buruk dapat terjadi atas engger bertiga” “Itulah yang ingin kami tunjukkan kepada paman dan kepada seisi padukuhan ini. Kami tidak takut, paman. Kenapa harus takut kepada paman Wira Sabet dan Sura Gentong? Mereka dahulu juga penghuni padukuhan ini. Bukankah kita sudah saling mengenal?” “Kau tiba-tiba menjadi aneh, ngger. Setiap orang menjadi ketakutan dan bersembunyi jika kedua orang itu atau salah seorang daripadanya lewat di padukuhan ini” “Paman. Sekali lagi kami ingin mengatakan kepada semua orang. Kita tidak perlu takut. Aku tidak takut. Manggada dan Laksana ini juga tidak takut. Dan semua orang seharusnya tidak takut menghadapi mereka. Seandainya kedua orang itu ingin berbuat sesuatu yang tidak semestinya di padukuhan iini, maka kita bersama-sama akan bangkit dan mengusir mereka sebagaimana pernah kita lakukan beberapa tahun yang silam” “Angger. Jangan pura-pura tidak tahu. Keduanya bukan Wira Sabet dan Sura Gentong beberapa tahun yang silam. Mereka sekarang adalah dua orang yang berilmu tinggi. Mereka datang bersama saudara-saudara seperguruan mereka dan bahkan bersama Ki Sapa Aruh yang ditakuti oleh banyak orang” Tetapi Sampurna tertawa. Katanya “Satu mimpi buruk paman. Bangunlah. Kita akan melihat satu kenyataan bahwa keduanya akan lari terbirit-birit melihat seisi padukuhan ini bangkit, berkumpul dan dengan berani menentangnya. Tetapi jika kita, penghuni padukuhan ini menjadi ketakutan, maka keduanya akan memasuki padukuhan ini dengan dada tengadah, menakut-nakuti kita dan akhirnya menggilas kita semuanya. Kita kemudian harus tunduk dibawah telapak kakinya dan melakukan segala perintahnya meskipun bertentangan dengan nurani kita sendiri” Orang bertubuh kuat dan kekar itu termangu-mangu. Rasarasanya ia berada di dalam satu dunia yang asing. Sikap ketiga orang anak muda itu aneh. “Ada yang tidak wajar” desis orang itu “ketidak wajaran itu ada pada kalian bertiga atau ada padaku. Tetapi rasa-rasanya aku tersuruk ke dalam satu keadaan yang membingungkan” “Kenapa?” Sampurna masih saja tertawa. Bahkan kemudian Manggada dan Laksanapun tertawa pula melihat orang itu kebingungan. Dengan nada tinggi Manggada berkata “Paman nampak bingung justru karena paman telah terbius oleh dongeng yang tersebar selama ini, bahwa Wira Sabet dan Sura Gentong adalah dua orang yang menakutkan. Tetapi jika paman tidak menjadi ketakutan, maka paman tidak usah bingung. Kita bersama-sama akan mengusir mereka. Bahkan bersama saudara-saudara seperguruannya dan sekaligus Ki Sapa Aruh” “Ini aneh. Aneh sekali bahwa anak-anak muda berani mengatakan hal seperti itu” “Bukan hal yang aneh paman. Justru inilah satu kewajaran sikap orang-orang yang berniat untuk melindungi nama padukuhannya” berkata Sampurna. Lalu katanya pula “Nah, terserah kepada paman. Tetapi menilik ujud tubuh paman yang kuat dan kekar itu, maka Wira Sabet dan Sura Gentong tentu akan berpikir dua kali untuk melawan paman. Orang itu benar-benar menjadi bingung. Biasanya ia melihat orang-orang menjadi ketakutan jika mereka mendengar nama Wira Sabet dan Sura Gentong. Bahkan orang-orang akan segera masuk regol halaman dan hilang dibalik pintu rumahnya. Jika mereka tidak sempat mencapai rumah mereka, maka merekapun akan segera memasuki rumah tetanggatetangganya untuk menyembunyikan diri. Tetapi kali ini ia bertemu dengan anak-anak muda yang menyebut nama Wira Sabet dan Sura Gentong sambil tertawa. Seperti mereka menyebut Ki Jagabaya dan Ki Bekel. Orang yang bertubuh kuat dan kekar itu bergumam “Sampurna itu adalah anak Ki Jagabaya” Sementara itu Sampurna, Manggada dan Laksana telah menjelajahi padukuhan Gemawang. Mereka bertemu dengan orang-orang yang menjadi keheranan seperti orang bertubuh kuat dan kekar itu. Bahkan anak-anak muda sebaya merekapun merasa heran melihat sikap itu. Sikap yang tidak sama seperti sikap orang-orang padukuhan itu pada umumnya. Namun hari itu Sampurna, Manggada dan Laksana telah mulai menggelitik jantung orang-orang padukuhan itu. Mereka memang heran. Tetapi sikap ketiga anak muda itu mulai mereka renungkan. Tetapi sebagian besar dari orang-orang padukuhan itu justru menjadi cemas bahwa anak-anak muda itu akan mengalami kesulitan. Tetapi hari itu, Wira Sabet dan Sura Gentong tidak memasuki padukuhan. Karena itu, maka Sampurna, Manggada dan Laksana dapat mengelilingi padukuhannya tanpa terganggu sama sekali. Meskipun demikian tingkah laku ketiga orang anak muda itu tidak lepas dari pengawasan orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong. Ternyata ada dua orang pengikut mereka yang melihat ketiga orang anak muda berkuda mengelilingi padukuhan tanpa rasa takut sama sekali. Ketika hal itu mereka laporkan kepada Wira Sabet dan Sura Gentong, maka Sura Gentongpun membentak dengan kasar “Siapakah mereka itu?” “Kami belum tahu” jawab pengikutnya. Pideksa yang juga mendengar laporan itu berkata di dalam hatinya “Tentu Manggada dan adik sepupunya itu. Tetapi siapa yang seorang lagi?” Namun Pideksa sama sekali tidak menyebut nama mereka di hadapan pamannya yang garang sekali itu. Wira Sabetpun menggeram. Tetapi gejolak di dadanya berbeda dengan gejolak kemarahan Sura Gentong. Wira Sabet menjadi sangat kecewa terhadap sikap anak-anak muda itu. ia sudah memperingatkan bahwa sebaiknya mereka tidak melibatkan dirinya dalam persoalan yang menyangkut dendam mereka kepada bebahu padukuhan itu. “Mereka memang keras kepala” berkata Wira Sabet di dalam hatinya. Seperti Pideksa iapun segera menduga bahwa anak-anak muda itu tentu Manggada dan Laksana. Tetapi iapun bertanya “Siapakah yang seorang lagi?” Dalam pada itu, Sura Gentongpun berkata lantang kepada pengikutnya “Besok kalian harus mengetahui siapakah ketiga orang anak muda itu” Pengikut Sura Gentong itu mengangguk sambil menjawab “Baik. Besok aku tentu mengetahui siapakah mereka itu” Demikianlah, dihari berikutnya Sampurna, Manggada dan Laksana mengulangi sebagaimana dilakukan sehari sebelumnya. Bertiga mereka mengelilingi padukuhan. Bahkan mereka telah memasuki regol-regol halaman rumah kawankawan mereka untuk menyatakan sikap mereka. Tetapi orang-orang padukuhan itu masih saja menganggap kelakuan ketiga anak muda itu sebagai sesuatu yang aneh, yang tidak masuk akal dan bahkan rasa-rasanya tidak dapat terjadi. Namun yang mereka cemaskan bahwa tingkah laku anakanak muda itu akan menimbulkan kesulitan bagi padukuhan mereka, ternyata memang terjadi. Ketika matahari sedikit melewati puncak langit, maka seorang laki-laki yang masih terhitung muda, berjalan terhuyung-huyung memasuki regol padukuhan. Pakaiannya bukan saja basah oleh keringat, tetapi juga oleh darah. Demikian orang itu sempat berpegangan pada tiang regol padukuhan, maka iapun berteriak dengan sisa kekuatannya “Tolong, tolong” Suaranya melengking menggetarkan udara padukuhan Gemawang. Beberapa orang yang tinggal tidak jauh dari regol itu memang mendengar teriakan itu. Tetapi mereka merasa ragu-ragu untuk keluar dari halaman rumah mereka. Namun ketika orang itu berteriak sekali lagi, maka satu dua orang mulai keluar dari rumahnya. Dengan ragu-ragu mereka mengintip dari balik pintu regol halaman. Baru ketika mereka yakin tidak melihat sesuatu, maka mereka perlahan-lahan dan berhati-hati keluar dan turun ke jalan. Demikian mereka melihat seseorang berdiri berpegangan tiang regol padukuhan, maka tiga orang laki-laki segera berlari mendekatinya. Dengan cepat mereka menangkap orang yang hampir roboh karena kekuatannya seakan-akan telah terkuras sebagaimana darahnya yang mengalir dari tubuhnya. Dengan cepat ketiga orang laki-laki itu telah membawa orang yang terluka itu ke rumah yang terletak di ujung padukuhan. Sementara itu beberapa orang yang lain yang datang kemudian, telah mengikuti mereka memasuki halaman rumah itu pula. “Apa yang telah terjadi?” merekapun telah saling bertanya. Tidak seorangpun yang segera dapat menjawab, sementara orang yang terluka itupun masih sulit untuk dapat diajak berbicara. Baru kemudian, setelah agak menjadi tenang, serta setelah minum beberapa teguk, ia berceritera dengan kata-kata yang sendat tentang apa yang telah terjadi atas dirinya. “Tiga laki-laki itu mencari tiga orang berkuda” berkata orang itu. “Ketiga anak-anak muda itu?” desis seseorang. “Ya” jawab orang yang terluka itu. “Apa yang kau katakan?” bertanya salah seorang yang menolongnya. “Aku tidak dapat berbohong. Mereka mencekikku. Memukulku dan melukai tubuhku dengan pisau” jawab orang itu “aku terpaksa mengatakan bahwa mereka adalah Sampurna, anak Ki Jagabaya, Manggada, anak Ki Kertasana dan sepupunya Laksana” Ketiga orang yang menolongnya itu saling berpandangan. Seorang di antara mereka berkata “Aku sudah memperingatkan ketiga orang anak muda itu. Sebaiknya beritahukan mereka, agar mereka tidak melakukannya lagi, karena mereka benar-benar telah dicari” “Kenapa tidak dibiarkan saja? Biar mereka menjadi jera dan kesombongan mereka sendiri” jawab yang seorang. “Jangan” berkata yang lain lagi “sebaiknya seseorang datang kepada mereka dan memberitahukan kepada mereka, apa yang telah terjadi. Jika mereka sudah melihat sendiri, maka mereka tentu akan memikirkan kembali tingkah laku mereka” Yang lain ternyata sependapat. Karena itu, maka salah seorang dari ketiga orang itu telah memberitahukan kepada orang-orang yang ada di halaman, agar salah seorang dari mereka menemui Sampurna, anak Ki Jagabaya. Sementara yang lain diminta untuk mengamati keadaan. “Mungkin pengikut Sura Gentong itu datang kemari” desis orang itu. Karena orang itu yakin bahwa ketiga orang yang mencari anak-anak muda yang berkuda mengelilingi padukuhan itu adalah pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong. Dengan tergesa-gesa, bahkan berlari-lari kecil seseorang telah pergi ke rumah Ki Jagabaya. Demikian ia bertemu dengan Sampurna, maka ia langsung memberitahukan apa yang telah terjadi di ujung jalan induk padukuhan itu. “Jadi pengikut Sura Gentong telah menyakiti salah seorang penghuni padukuhan ini?” bertanya Sampurna. “Ya” berkata orang itu “ia sekarang masih dirawat. “Aku akan segera datang” berkata Sampurna. Namun Ki Jagabayapun berkata “Aku juga” Lalu katanya kepada orang yang memberitahukan itu “pergilah dahulu. Nanti kami segera menyusul” Orang itu tidak membantah. Iapun segera meninggalkan rumah Ki jagabaya. Kembali ia berlari-lari. Jantungnya berdebar-debar kalau saja ia juga bertemu dengan ketiga orang pengikut Sura Gentong itu. Sejenak kemudian Ki Jagabayapun telah meninggalkan rumahnya bersama Sampurna. Kepada Tantri ia berpesan “Jika terjadi sesuatu, bunyikan isyarat. Kami tentu mendengarnya” “Ya, ayah” jawab Tantri. Sejenak kemudian maka keduanya telah turun ke jalan, Ki Jagabaya hanya berjalan kaki, sementara Sampurna berkuda, karena ia ingin mengajak Manggada dan Laksana. Beberapa saat kemudian, maka orang-orang yang ada di halaman rumah tempat orang yang terluka itu dirawat, telah menyibak. Ki Jagabayalah yang lebih dahulu sampai di rumah itu. Namun sebelum Ki Jagabaya melangkah masuk ke dalam, maka terdengar derap kaki kuda. Sampurna, Manggada dan Laksana telah sampai pula ke tempat itu. Setelah menambatkan kuda-kuda mereka, maka bersama Ki Jagabaya, mereka telah masuk ke ruang dalam untuk melihat keadaan orang yang telah mengalami kesulitan karena tingkah laku para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu.

Jilid 4
KETIKA Ki Jagabaya dan ketiga orang anak muda itu berdiri di tepi pembaringan, maka keadaan orang itu sudah menjadi lebih baik. Lukalukanya sudah dibersihkan dan diobati. Meskipun orang itu kadangkadang masih menyeringai menahan pedih, tetapi ia sudah dapat lebih lancar berbicara. “Mereka mencari Sampurna, Manggada dan Laksana“ berkata orang itu “ketika aku mereka tangkap, maka aku tidak dapat ingkar dan terpaksa mengatakan tentang kalian bertiga” Tetapi di luar dugaan, ketiga orang anak muda itu tidak menjadi ketakutan. Bahkan Manggada bertanya dengan wajah yang tegang oleh kemarahan yang bergejolak di dadanya “Apakah kira-kira mereka masih di tempat mereka menangkapmu?” “Apa yang akan kau lakukan?” bertanya orang itu. “Daripada mereka mencari kami, biarlah kami bertiga mencari mereka” jawab Manggada, Orang-orang yang mendengar jawaban itu memang terkejut. Sementara itu Sampurna berkata pula “Semakin cepat, semakin baik. Keadaan seperti ini tidak boleh terjadi berlarut-larut” Namun seorang di antara mereka yang ada di ruangan itu berkata “Tetapi ingat anak-anak muda. Mereka adalah kaki tangan Wira Sabet dan Sura Gentong” “Kami tidak peduli. Siapapun yang telah memperlakukan keluarga padukuhan kami dengan kasar dan apalagi melukainya, maka mereka harus dibalas” “Tetapi tidak terhadap Wira Sabet dan Sura Gentong” berkata orang yang lain. Namun jawab Ki Jagabaya juga mengejutkan “Biarlah hal itu mereka lakukan. Aku justru sependapat. Apalagi aku sebagai Jagabaya disini bertanggung jawab atas keselamatan dan keamanan padukuhan ini” Orang-orang itu menjadi heran. Selama ini mereka tidak pernah mendengar seseorang yang berani menentang Wira Sabet dan Sura Gentong. Mereka menjadi keheranan dan terkejut melihat pada hari-hari terakhir tiga orang anak muda yang berkuda berkeliling padukuhan. Dan kini bahkan mereka akan langsung menemui ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong” Seorang yang terhitung tua berkata “Angger. Kita jangan kehilangan akal. Pikirkan keputusan angger untuk mencari orang-orang itu sekali lagi. Ki Jagabaya yang terpancang pada tugasnya itu kurang memperhatikan perkembangan Wira Sabet dan Sura Gentong, Ia bukan Wira Sabet dan Sura Gentong yang ketakutan, dan melarikan diri melihat orangorang padukuhan ini datang dengan senjata seadanya. Tetapi ia sekarang adalah murid sebuah perguruan dan sudah memiliki ilmu yang tinggi. Apalagi ia datang bersama beberapa orang seperguruannya dan bahkan telah bekerja bersama dengan Ki Sapa Aruh” Tetapi jawab Ki Jagabaya “Siapa yang mengatakan bahwa Wira Sabet dan Sura Gentong berilmu tinggi? Mereka sendirilah yang mengatakan kepada orang yang sempat ditemuinya untuk menakuti orang-orang padukuhan ini” Orang-orang yang ada di rumah itu menjadi semakin bingung. Sementara Ki Jagabaya berkata kepada Sampurna dan kedua kawannya “Lihat, apakah ketiga orang itu masih ada disana” Sampurna tidak menunggu lebih lama lagi. Bersama Manggada dan Laksana merekapun segera keluar dari rumah itu dan dalam sekejap, kuda-kuda mereka telah berderap menuju ke tempat yang ditunjukkan oleh orang yang terluka itu. Sepeninggal ketiga orang anak muda itu, beberapa orang masih berusaha memperingatkan Ki Jagabaya. Namun Ki Jagabaya justru berkata ”Jangan harapkan aku akan menyerah kepada mereka. Satu pemberitahuan yang pantas kalian dengar, bahwa Wira Sabet, Sura Gentong dan Ki Sapa Aruh berniat untuk merampas padukuhan ini dan menguasainya. Aku akan berjuang mati-matian sekedar untuk mempertahankan jabatanku, tetapi justru karena aku tahu apa yang akan terjadi jika mereka menguasai padukuhan ini. Ki Demang Kalegen tentu akan berada dibawah pengaruh Ki Sapa Aruh, Wira Sabet dan Sura Gentong. Karena itu, sebelum hal itu terjadi, maka aku akan berusaha mencegahnya dengan mengorbankan apa saja yang aku punya jika perlu. Orang-orang yang mendengar tekad Ki Jagabaya itu menarik nafas dalam-dalam. Mereka sadari, bahwa Ki Jagabaya memang benar justru karena ia mengemban tugas. Sikap itu pantas mendapat dukungan dari setiap orang. Tetapi mereka tidak mempunyai keberanian untuk melakukannya. Karena itu, maka orang-orang yang ada di rumah itu hanya terdiam saja. Beberapa saat kemudian, maka Ki Jagabaya itupun minta diri. Ia akan pulang dan kepada orang-orang yang ada di rumah itu ia berkata “Ingat. Aku tidak akan pernah menyerah kepada Wira Sabet dan Sura Gentong” Orang-orang yang mendengar pernyataan itu hanya berdiam diri saja. Namun sepeninggal Ki Jagabaya, beberapa orang mulai berbincang. Mereka mulai menilai sikap Ki Jagabaya yang berani itu. Namun seorang di antara mereka berkata “Ki Jagabaya nampaknya memang seorang bebahu padukuhan yang baik. Tetapi sikap Ki Jagabaya dan anaknya serta kedua kawannya itu dapat berakibat sangat buruk bagi kami. Mungkin Ki Jagabaya sendiri mampu melindungi dirinya sendiri. Tetapi apa yang dapat kami lakukan terhadap para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong? Mereka hari ini melukai seorang warga padukuhan ini. Besok lagi, besok lagi dan bahkan mungkin mereka mulai membunuh” “Kita minta pertanggung-jawaban Ki Jagabaya“ sahut yang lain. “Yang dapat dilakukan oleh Ki Jagabaya memang sangat terbatas. Mungkin ia sendiri akan mengalami kesulitan untuk melindungi dirinya dan keluarganya jika Wira Sabet dan Sura Gentong benar-benar mulai bertindak kasar” berkata yang lain lagi. Seorang yang bermata dalam tiba-tiba saja berkata “Kita akan minta kepada Ki Jagabaya untuk menghentikan perlawanannya” Ternyata pendapat itu mendapat dukungan beberapa orang. Seorang yang bertubuh tinggi berkata “Aku setuju. Ki Jagabaya harus menghentikan perlawanannya” Namun mereka tidak berani berbincang terlalu lama. Jika para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong melihat mereka berkumpul, maka mungkin akan dapat terjadi salah paham yang dapat berakibat buruk bagi mereka. Karena itu maka merekapun segera meninggalkan halaman rumah itu. Bahkan orang yang terluka itupun telah minta diri pula, karena menurut pendapatnya, ia sudah dapat berjalan sampai ke rumahnya. Tetapi salah seorang laki-laki yang menolongnya berkata “Marilah. Aku antar kau sampai ke rumah” Dalam pada itu, maka Sampurná, Manggada dan Laksana telah sampai ke bulak persawahan. Orang yang disakiti itu mengatakan bahwa di tempat itu mereka bertemu dengan tiga orang yang menanyakan tentang tiga orang anak muda yang sering berkuda mengelilingi padukuhan Gemawang. Namun mereka sudah tidak menjumpai seorangpun. “Iblis itu tentu sudah kembali ke sarangnya” geram Sampurna menahan marah. “Besok kita akan menemui mereka” sahut Manggada. “Mudah-mudahan mereka benar-benar mencari kita” berkata Laksana pula. Sampurna menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia bertanya “Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?” “Tidak ada” jawab Manggada “kita kembali ke padukuhan. Kita katakan kepada orang-orang yang ketakutan itu, bahwa mereka tidak perlu takut menghadapi Wira Sabet dan Sura Gentong. Bahkan Ki Sapa Aruh” Demikianlah, maka mereka bertiga telah berderap kembali memasuki padukuhan. Tetapi rumah tempat orang yáng terluka itu mendapat pertolongan sementará, ternyata sudah menjadi sepi. Demikianlah, ketiga orang anak muda itupun langsung menuju ke rumah Ki Jagabaya. Tetapi ketiga anak muda itu terkejut ketika mereka melihat dua orang yang sedang berbincang dengan Ki Jagabaya di serambi. Agaknya pembicaraan mereka tidak menemukan titik temu, sehingga nampaknya sedang terjadi perselisihan di antara mereka dengan Ki Jagabaya. Ketika ketiga orang anak muda itu ikut duduk di serambi, maka mereka segera mengetahui bahwa orang itu telah minta kepada Ki Jagabaya untuk tidak melakukan perlawanan terhadap Wira Sabet dan Sura Gentong. Orang yang datang itu adalah orang yang bermata dalam yang ada pula di antara orang-orang yang mengerumuni orang yang dilukai oleh pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu. “Ki Jagabaya” berkata orang bermata dalam itu tanpa menghiraukan ketiga orang anak muda yang ikut duduk di serambi itu “Ki Jagabaya jangan terpancang pada kedudukan Ki Jagabaya. Mungkin Ki Jagabaya benar. Tetapi sama sekali tidak berperhitungan. Nah, sekarang korban telah mulai jatuh. Untung orang itu tidak dibunuh oleh pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong” Pembicaraan mereka ternyata terputus ketika mereka mendengar pintu sekeeng diketuk orang. Selagi mereka bertanya-tanya siapa lagi yang telah datang, maka terdengar suara seseorang memanggil, Namun yang dipanggil adalah justru nama Tantri. Ki Jagabaya Itupun segera mengetahui bahwa yang datang adalah Wisesa. Dengan kesal Sampurna bangkit dan melangkah menuju ke pintu. Sebenarnyalah bahwa yang berdiri di belakang pintu adalah Wisesa. “Marilah“ Sampurna mempersilahkan. Setelah menutup dan menyelarak pintu, maka Sampurna telah mengajak Wisesa untuk duduk pula di serambi itu. Dalam pada itu, Ki Jagabaya yang tidak menghiraukan kehadiran Wisesa itupun kemudian berkata kepada orang yang bermata dalam itu “Dengar jawabanku sekali lagi. Aku tidak akan pernah tunduk kepada tekanan Wira Sabet dan Sura Gentong. Aku berharap orang-orang padukuhan ini bersedia bersamaku menentang mereka. Tetapi jika kalian tidak berani, maka jangan menghambat usaha kami” “Kami tidak mungkin tinggal diam. Ki Jagabaya, karena yang akan mengalami bencana adalah kami, orang-orang sepadukuhan” jawab orang itu. “Nah, kau tahu kenapa demikian?” bertanya Ki Jagabaya. Orang itu tidak segera menjawab. “Dengar” berkata Ki Jagabaya “karena mereka sebenarnya adalah penakut. Mereka sama sekali tidak berani berbuat apaapa kepadaku. Kepada anakku dan kepada anak-anak muda ini Aku dan anak-anak ini tidak mempunyai kelebihan apa-apa dari kalian Tetapi karena kami berani menentang mereka, maka kami tidak menjadi sasaran usaha mereka menakutnakuti orang-orang padukuhan ini” “Tidak benar” berkata orang itu “Kami tahu Ki Jagabaya mempunyai kelebihan. Anak laki-laki Ki Jagabaya itu tentu juga merasa mempunyai kelebihan. Entahlah dengan anak dan kemanakan Ki Kertasana itu” “Jadi kalian menganggap bahwa aku mempunyai kelebihan dari kalian?” bertanya Ki Jagabaya. “Ya” jawab orang itu. “Jika demikian, yakinlah bahwa aku dan anak-anak muda ini berusaha untuk melindungi kalian” berkata Ki Jagabaya. “Tetapi itu tidak mungkin Ki Jagabaya” berkata orang itu “Wira Sabet dan Sura Gentong serta beberapa orang saudara seperguruannya adalah orang-orang linuwih.” “Omong kosong” bentak Ki Jagabaya yang menjadi marah “mereka tidak berani datang kepadaku. Mereka tentu tahu, jika mereka mematahkan perlawananku, maka mereka tidak akan menemui perlawanan lagi disini. Tetapi mereka tidak berani datang” “Mereka menunggu satu kesempatan yang baik” berkata orang yang bermata dalam itu. “Aku tidak peduli” jawab Ki Jagabaya. “Tetapi kami minta dengan sangat Ki Jagabaya untuk tidak meneruskan perlawanan. Atas nama semua orang di padukuhan ini” “Tidak” jawab Ki Jagabaya yang menjadi semakin marah “jika aku tidak mau, kalian mau apa? Kalian akan menentang aku? Lakukan. Aku akan memperlakukan kalian sebagaimana Wira Sabet dan Sura Gentong melakukan. Kau kira aku tidak dapat melakukan? Kau kira aku tidak dapat menyakiti dan bahkan membunuh orang yang menentang aku? Aku tidak takut seandainya kalian semuanya berpihak Wira Sabet dan Sura Gentong menentang aku. Aku tidak takut seandainya kalian semua ingin mengangkat Wira Sabet dan Sura Gentong menjadi Kami Tuwa dan Jagabaya di padukuhan Gemawang serta mengangkat Ki Sapa Aruh menjadi bekel” Orang bermata dalam itu mengerutkan dahinya, sehingga matanya menjadi semakin dalam. Di luar sadarnya ia berkata “Tentu kami tidak menghendakinya, Ki Jagabaya” “Nah, sekarang kalian dapat memilih. Wira Sabet dan Sura Gentong atau aku” geram Ki Jagabaya. Orang bermata dalam itu memang menjadi bingung. Ia sadar, bahwa Ki Jagabaya adalah seorang yang berilmu. Merekapun menduga bahwa anak laki-lakinya juga berilmu. Karena itu, maka Ki Jagabaya akan dapat memperlakukan para penghuni padukuhan ini sebagaimana dilakukan oleh Wira Sabet dan Sura Gentong. Menyakiti dan bahkan membunuh orang yang tidak mendukungnya. Dengan demikian maka orang-orang padukuhan itu akan terjepit di antara dua kekuatan yang tidak terlawan. Wira Sabet dan Sura Gentong di satu pihak, sedang di pihak yang lain Ki Jagabaya serta anaknya dan tentu dua orang anak muda yang bernama Manggada dan Laksana itu. Sebelum orang itu menjawab, maka Ki Jagabayapun berkata “Nah, sekarang pulanglah. Katakan kepada orangorang Gemawang yang sependapat dengan kau berdua. Katakan, bahwa aku tidak akan pernah mundur. Aku akan menghancurkan siapa saja yang menentang aku. Aku yakin, bahwa aku memiliki kekuatan yang tidak kalah dengan Wira Sabet dan Sura Gentong” Kedua orang itu tidak berani menjawab lagi. Mereka tahu bahwa Ki Jagabaya benar-benar sudah menjadi marah. Namun tiba-tiba di luar dugaan mereka, maka Wisesapun berkata seperti orang mengigau saja “Aku sependapat dengan orang-orang itu. Ki Jagabaya. Ki Jagabaya memang harus menghentikan perlawanan terhadap Wira Sabet dan Sura Gentong. Tidak ada gunanya. Kami tahu, bahwa Ki Jagabaya memiliki kemampuan. Tetapi kemampuan Ki Jagabaya sangat terbatas. Mungkin Ki Jagabaya hanya dapat melindungi diri Ki Jagabaya saja. Tetapi bagaimana dengan orang-orang padukuhan ini atau bahkan keluarga Ki Jagabaya sendiri. Ki Jagabaya mempunyai anak dan isteri” Wajah Ki Jagabaya menjadi merah. Tetapi Ki Jagabaya masih menanam kemarahannya. Dengan suara yang bergetar, Ki Jagabaya itupun bertanya “Jadi, kau setuju jika Sura Gentong mengambil Tantri untuk menjadi isterinya?” “Tidak. Tentu tidak” jawab Wisesa terbata-bata. “Lalu apa yang dapat kau lakukan untuk mencegahnya? Jika aku menghentikan perlawanan, berarti aku harus menyerahkan segala-galanya. Kedudukan. Bukan saja aku sendiri, tetapi semua bebahu padukuhan ini. Kemudian anak perempuanku dan aku yakin, bahwa kemudian juga nyawaku” “Tidak Ki Jagabaya. Kita harus mencari jalan lain” berkata Wisesa. “Jalan yang mana?” bertanya Ki Jagabaya. “Aku mempunyai gagasan yang akan dapat memberikan pemecahan atas persoalan ini” jawab Wisesa. “Gagasan yang besar, yang akan dapat membebaskan kemelut di padukuhan ini sebagaimana pernah kau katakan?” tiba-tiba Laksana memotong. Manggada menggamitnya. Ia tahu, suasananya sedang panas. Ki Jagabaya akan dapat meledak setiap saat. Namun Manggadapun sangat menyesalkan sikap Wisesa yang ternyata masih saja dungu dan cengeng itu. Wisesa memandang Laksana dengan sorot mata penuh kebencian. Namun kemudian ia berkata kepada Ki Jagabaya tanpa menghiraukan Laksana lagi “Ki Jagabaya. Jalan yang terakhir bagi Ki Jagabaya dan keluarga adalah menyingkir dari kademangan Kalegen” “Menyingkir?” Ki Jagabaya mengulangi. “Ya” Wisesa mengangkat wajahnya ”satu gagasan yang paling baik yang dapat diberikan seseorang kepada Ki Jagabaya” jawab Wisesa. Meskipun demikian, Ki Jagabaya itu sempat juga bertanya “Menyingkir ke mana?” “Ke Pajang, ke dalam dinding kota” jawab Wisesa. “Ke rumah siapa? Mengungsi ke istana? Atau ke kandang gajah milik istana?” bertanya Ki Jagabaya yang hampir kehilangan kesabaran. “Ke rumah pamanku” jawab Wisesa sambil menengadahkan dadanya “Aku mempunyai seorang paman yang tinggal di Pajang. Ia adalah seorang prajurit dari pasukan Pengawal istana. Ki Jagabaya dan keluarga Ki Jagabaya akan aman di rumah pamanku yang sangat besar itu. Wira Sabet dan Sura Gentong tentu tidak akan berani mengusik Ki Jagabaya, karena Ki Jagabaya tinggal di rumah seorang prajurit pilihan. Sementara itu, Ki Jagabaya tidak lagi perlu menghiraukan padukuhan ini, apakah Ki Sapa Aruh akan menjadi Bekel, apakah Wira Sabet dan Sura Gentong akan menjadi bebahu, bukan lagi menjadi tanggung jawab Ki Jagabaya” Bibir Ki Jagabaya menjadi gemetar menahan marah. Sementara itu Sampurna hampir tidak dapat menahan dirinya, sedangkan Manggada sekali lagi harus menggamit Laksana yang sudah beringsut setapak. Sambil menahan kemarahan yang hampir meledakkan jantungnya, Ki Jagabaya bertanya “jadi menurut gagasan besarmu, sebaiknya aku mengungsi menghindari beban tugasku?” “Bukan mengungsi Ki Jagabaya. Sebaiknya kita memang mempergunakan istilah menyingkir” jawab Wisesa. “Baiklah Wisesa” berkata Ki Jagabaya “daripada, aku harus menyingkir, aku kira lebih baik aku memenuhi saja permintaan Sura Gentong. Selain jabatan bebahu padukuhan ini, Tantri juga akan aku serahkan” "Tidak” sahut Wisesa dengan serta merta “Tantri tidak boleh jatuh ketangan Sura Gentong” “Aku akan menyerahkannya. Dengan demikian aku akan aman dan tidak akan terganggu lagi. Aku tidak perlu pergi ke Pajang. Tetapi aku akan tetap tinggal di rumah. Sura Gentong akan menjadi menantuku, sehingga akupun akan menjadi orang yang ditakuti seperti Sura Gentong” “Tetapi jangan serahkan Tantri. Lebih baik Ki Jagabaya menyingkir” “Dengar anak cengeng” bentak Ki Jagabaya yang kemarahannya sudah sampai ke ubun-ubun “aku tidak mempunyai pilihan lain” “Tetapi tidak untuk menyerahkan Tantri” sahut Wisesa dengan nada tinggi. “Kecuali jika kau dapat melindungi Tantri dan kami sekeluarga. Maka aku akan bersikap lain” Wajah Wisesa menjadi pucat. Sementara Ki Jagabaya berkata “Aku muak dengan gagasan-gagasan yang tidak dapat dilaksanakan seperti gagasan-gagasanmu itu” Wajah Wisesa menjadi pucat. Ia baru sadar, bahwa Ki Jagabaya benar-benar menjadi sangat marah. Karena itu, maka Wisesa tidak berani lagi mengangkat wajahnya yang kemudian menunduk dalam-dalam. Sementara itu, Ki Jagabayapun telah berkata pula kepada orang bermata tajam “Aku ulangi kata-kataku. Aku tidak akan pernah menyerah kepada Wira Sabet dan Sura Gentong. Bahkan aku menantang siapapun yang berani menghalangi aku, akan mengalami nasib yang sangat buruk. Ternyata aku bukan Orang yang lebih beradab dari Wira Sabet dan Sura Gentong” Kedua orang itupun tidak berani mengucapkan sepatah kata lagi di hadapan Ki Jagabaya, meskipun sebenarnya mereka tetap menginginkan Ki Jagabaya mengurungkan perlawanannya dan bahkan gagasan Wisesa itu telah menimbulkan satu sikap baru untuk menghadapi persoalan yang sedang berlangsung di padukuhan itu. Dalam pada itu, maka Ki Jagabayapun berkata “Nah, sekarang pergilah. Katakan kepada semua orang padukuhan ini. Siapa yang mencoba menentang aku, akan aku hancurkan sama sekali daripada mereka kelak akan berpihak kepada Wira Sabet dan Sura Gentong” Kedua orang itupun segera minta diri pula dengan jantung yang berdebaran. Mereka masih saja cemas ketika Sampurna mengantar mereka ke pintu seketeng. Demikian mereka keluar, maka Sampurnapun berkata “Nah, aku sudah mendengar sikap ayah. Jangan mencoba menentangnya, agar ayah tidak menjadi semakin marah. Sampai saat ini ayah masih berpikir, berjuang untuk padukuhan Gemawang. Tidak untuk dirinya sendiri. Tetapi jika orang-orang Gemawang ini justru menentangnya, maka ayah akan dapat bersikap lain. Sementara itu kalian harus menyadari, tidak seorangpun di padukuhan ini yang mampu melawan ayah dan tentu juga aku dan kedua orang sahabatku itu. Manggada dan Laksana. Ingat kata-kata ayah, bahwa ternyata ayah bukan orang yang lebih beradab dari Wira Sabet dan Sura Gentong. Maksud ayah tentu, apabila orang lain memulainya” Kedua orang itu tidak menjawab. Baru kemudian setelah mereka keluar dari regol halaman rumah Ki Jagabaya, orang yang bermata tajam itu berkata “Kedudukan kita justru menjadi semakin rumit. Dua kekuatan yang tidak dapat kami lawan telah menghimpit kita. Sehingga kita akan dapat mati terjepit ditengahnya” “Apakah kita harus berpihak?” bertanya kawannya. “Berpihak kepada siapa?” bertanya orang bermata dalam. “Kita harus memperhitungkan, kekuatan siapakah yang lebih besar. Wira Sabet dan Sura Gentong yang dibantu oleh Ki Sapa Aruh, atau Ki Jagabaya” “Kekuatan Ki Jagabaya tidak seberapa dibanding dengan kekuatan Wira Sabet dan Sura Gentong” “Tentu masih lebih besar kekuatan Wira Sabet dan Sura Gentong” jawab kawannya. “Jadi menurut pendapatmu, kita akan berpihak kepada Wira Sabet dan Sura Gentong?” bertanya orang bermata tajam itu. “Bukankah itu lebih aman? Kesempatan kita untuk selamat jauh lebih besar” jawab kawannya. “Tetapi apakah dengan demikian kita tidak berkhianat terhadap Ki Jagabaya?” orang bermata tajam itu masih bertanya lagi. “Kita sudah mencoba untuk memperingatkannya. Tetapi Ki Jagabaya tidak mendengarkan peringatan kami. Karena itu, maka kita tentu tidak akan bersalah, jika kita mengambil sikap lain” Tetapi orang bermata tajam itu masih nampak ragu-ragu. Katanya “Kita bicarakan dengan kawan-kawan kita yang lain malam nanti. Kita akan mengumpulkan mereka dan kita akan mengambil keputusan. Bukankah Wira Sabet dan Sura Gentong selama ini tidak pernah datang ke padukuhan malam hari?” “Tetapi itu sangat berbahaya jika ada satu dua orang pengikut mereka yang melihat. Mereka tidak tahu apa yang kami lakukan, sehingga akan dapat menimbulkan salah paham” sahut kawannya Orang bermata tajam itu mengangguk-angguk. lapun menyadari, bahwa para pengikut Wiia Sabet dan Sura Gentong dapat saja mengawasi padukuhan itu di luar pengetahuan mereka. Karena itu, maka niat untuk bertemu dengan orang-orang padukuhan itupun dibatalkannya. Orang bermata tajam itupun kemudian berkata “Kita akan bertemu dan berbicara seorang demi seorang untuk menghindari salah paham.” “Ya. Baru kemudian jika persoalannya sudah jelas kita akan menyatakan sikap. Jika perlu kita akan menemui pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong” Tetapi orang bermata dalam itu masih saja ragu-ragu. Katanya “Kita akan melihat perkembangan keadaan” Kawannya tidak menjawab. Namun ia mengusulkan untuk menemui orang yang telah terluka itu. “Bagaimana pendapatnya tentang sikap Ki Jagabaya itu” berkata kawannya. Ketika keduanya berjalan menyusuri jalan padukuhan, mereka terkejut mendengar derap kaki kuda. Ternyata Sampurna, Manggada dan Laksana telah melarikan kuda mereka di sepanjang jalan padukuhan itu pula. Tetapi hari itu ketiga anak muda itu tidak bertemu dengan orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong. Namun hampir setiap orang yang menemui mereka telah memperingatkan, agar mereka tidak melakukan perbuatan yang sangat berbahaya itu. “Mereka sedang mencari kalian ngger” berkata seorang yang rambutnya sudah ditumbuhi uban. “Terima kasih atas peringatan paman” jawab Sampurna “tetapi persoalannya harus sgera diselesaikan” Orang yang rambut sudah ubanan itu hanya dapat menggelengkan kepalanya saja. Sementara itu, kawan orang yang bermata dalam itu berdesis “Biarkan saja mereka menyombongkan dirinya. Aku juga berharap bahwa mereka benar-benar akan bertemu dengan orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong yang mencari mereka” Kawannya yang bermata dalam itu tidak menjawab. Ketika matahari turun semakin rendah, maka ketiga orang anak muda itupun telah pulang ke rumah mereka masingmasing. Namun mereka telah berjanji, di keesokan harinya mereka akan mencari para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong. Dalam pada itu, lepas senja, setelah makan malam, Ki Jagabaya masih berbincang dengan isteri dan anak-anaknya. Ki Jagabaya ternyata sangat menyesali sikap orang-orang padukuhan Gemawang. Mereka justru minta agar Ki Jagabaya menghentikan perlawanannya terhadap Wira Sabet dan Sura Gentong. “Orang-orang itu benar-benar telah menjadi ketakutan” berkata Sampurna. “Ya. Mereka kehilangan akal. Sementara itu, Wisesa masih saja gila dengan gagasan-gagasannya” desis Ki Jagabaya. “Hampir saja aku memukul mulutnya“ gumam Sampurna. “Pemimpin yang hidupnya tidak berjejak di atas tanah” berkata Ki Jagabaya. “Tetapi ia tidak rela jika Tantri diserahkan kepada Sura Gentong” berkata Sampurna sambil memandang Tantri. “Apa?“ bertanya Tantri dengan suara melengking. “Tidak” jawab Sampurna. “Apa yang kau katakan tadi?” desak Tantri yang bergeser mendekati kakaknya. “Tidak. Aku tidak berkata apa-apa” Sampurna bergeser menjauh sambil tersenyum. “Kau mentertawakan aku, ya“ Tantri mulai menggapai Sampurna. Tetapi Sampurna bergeser semakin jauh “tidak. Aku tidak bermaksud mentertawakanmu. Aku justru mentertawakan Wisesa” “Kau kira aku tidak berani memilin leher anak itu? Sejak kecil ia tidak berani melawan aku” berkata Tantri. “Tetapi ia rajin berkunjung kemari” sahut Sampurna. Tantri tiba-tiba bangkit. Tetapi Sampurna meloncat menjauh sambil berkata “Sudahlah, Tantri. Aku menyerah” “Tidak. Aku belum membalas” sahut Tantri. “Sudahlah” potong Ki Jagabaya “aku benar-benar sedang prihatin” “Tetapi ayah harus menghukumnya. Ia yang mula-mula mengganggu aku” sahut Tantri. “Duduklah yang baik” berkata Ki Jagabaya. Keduanyapun segera duduk kembali.. Sementara Ki Jagabaya berkata “Apa yang dapat kita lakukan jika orangorang padukuhan ini justru menentang kita?” “Ayah” berkata Sampurna kemudian bersungguh-sungguh “besok, aku, Manggada dan Laksana akan mencari orangorang Wira Sabet itu. Kami tidak akan berdiam diri justru mereka mencari kami” “Lalu, apa yang akan kalian lakukan?” bertanya Ki Jagabaya. Sampurna termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya “Bukankah mereka juga mencari kami?” Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah. Kita menunggu perkembangan keadaan” Dalam pada itu, di rumahnya Manggada dan Laksana juga menceriterakan apa yang sudah terjadi. Mereka juga menyesali sikap orang-orang padukuhan Gemawang yang ketakutan, sehingga mereka kehilangan pertimbangan penalaran yang bening. “Jika keadaan berlarut-larut, maka orang-orang padukuhan ini akan benar-benar kehilangan diri mereka” desis Ki Citrabawa. Seperti Sampurna, maka Manggada dan Laksana juga menyatakan, bahwa mereka bukan saja dicari oleh para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong. Tetapi merekalah yang besok akan mencarinya. Demikianlah, kegelisahan dan ketegangan yang semakin memanas telah mewarnai padukuhan Gemawang. Beberapa orang sempat saling mengunjungi untuk membicarakan sikap Ki Jagabaya. Pada umumnya orang-orang Gemawang menganggap Ki Jagabaya itu seorang yang keras kepala, sehingga tidak mau melihat kenyataan yang dihadapinya. Bahkan ada yang menganggap bahwa Ki Jagabaya sekedar berjuang untuk mempertahankan kedudukannya. “Ia sampai hati telah mengorbankan penghuni padukuhan ini” berkata seorang di antara mereka yang ketakutan. Namun ketika matahari kemudian terbit di keesokan harinya, orang-orang padukuhan Gemawang telah mendengar derap kaki kuda berlari-lari di jalan-jalan padukuhan. Tiga orang anak muda telah berkeliaran di atas punggung kuda mereka tanpa mengenal takut sama sekali. Tetapi sikap orang-orang padukuhan itu ternyata telah berubah. Mereka tidak lagi berniat untuk memperingatkan ketiga orang anak muda itu. Bahkan orang-orang Gemawang berharap bahwa ketiga anak muda itu segera menjadi jera, setelah orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong menemukan mereka. Orang yang telah dipukuli oleh pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu berkata kepada seorang tetangganya yang datang mengunjunginya. Ketiga orang itu tentu akan segera menemukan mereka setelah orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong itu mengetahui siapa mereka itu. Jika ketiga orang anak muda itu sudah mengalami seperti yang aku alami, barulah mereka akan menjadi jera dan tidak akan menyombongkan dirinya lagi” Tetangganya mengangguk-angguk sambil bergumam “Apakah karena ayahnya seorang Jagabaya, maka anak itu menjadi demikian sombongnya” “Anak itu salah menilai kekuatan ayahnya sekarang ini” desis orang yang terluka itu. Namun dalam pada itu, Sampurna, Manggada dan Laksana masih saja menelusuri jalan-jalan padukuhan Gemawang tanpa mengenal takut sama sekali. Namun dalam pada itu, ternyata beberapa orang yang pergi ke sawah telah kembali lagi ke padukuhan. Mereka telah melihat tiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong menuju ke padukuhan Seorang di antara mereka berjalan bergegas sambil berkata “Selagi masih ada kesempatan, aku ingin memperingatkan anak-anak muda yang berkeliaran di atas punggung kuda itu” Tetapi kawannya berkata “Untuk apa kita bersusah payah melakukannya? Kita biarkan saja mereka menjadi jera. Tidak kurang dan antara kita yang sudah memperingatkan mereka. Tetapi dengan sombong mereka menolaknya. Bahkan mereka juga sudah tahu bahwa tiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong mencari mereka. Tetapi mereka dengan sombong pala justru mencari ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu. Bukankah itu sudah berlebihan?” Seorang yang lain justru berkata “Aku ingin melihat ketiga orang anak muda yang sombong itu dipukuli babak belur oleh pengikutnya Wira Sabet dan Sura Gentong sebagaimana seorang dari antara kita kemarin” “Bagaimana jika mereka bertiga dibunuh oleh para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong?” bertanya orang yang pertama. Kawan-kawannya itu terdiam. Nampaknya mereka memang berpikir sambil melangkah cepat-cepat pulang. Tiba-tiba seorang dari antara mereka berkata “Tidak. Mereka tidak akan dibunuh. Tetapi mereka akan dibuat jera dan bahkan kuda mereka akan dirampas. Itu saja” Yang lain mengangguk-angguk. Sementara itu, mereka telah memasuki padukuhan Gemawang. Berlari-lari kecil mereka berjalan di jalan padukuhan menuju ke rumah mereka masing-masing. Namun seorang di antara mereka masih berkata “Aku ingin melihat anak-anak sombong itu dipukuli” Demikianlah, maka sejenak kemudian, orang-orang itu telah hilang di belakang regol halaman mereka masing-masing. Namun sebenarnyalah bahwa ada di antara mereka yang memang ingin melihat Sampurna, Manggada dan Laksana disakiti oleh para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong, agar mereka menjadi jera. Bahkan dengan demikian Ki Jagabaya akan dapat menjadi sadar. Ternyata ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu telah memasuki padukuhan Gemawang tanpa mengenal takut. Seorang di antara mereka telah berteriak “He orang-orang Gemawang. Kali ini kami tidak akan berbuat apaapa atas kalian. Jangan takut. Kami hanya akan menangkap ketiga orang anak muda yang sombong itu. Tetapi jika kita tidak berhasil menangkap mereka, maka kami akan mengambil tiga orang yang manapun yang dapat kami tangkap di antara para penghuni padukuhan ini” Teriakan-teriakan itu bergema menusuk ke dalam setiap pintu rumah. Orang-orang Gemawang itu menjadi ketakutan. Mereka berharap agar para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu dapat bertemu dengan Sampurna, Manggada dan Laksana. Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja terdengar derap kaki kuda. Ternyata Sampurna, Manggada dan Laksana yang menyusuri jalan padukuhan itu tidak mengetahui bahwa tiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong berada di padukuhan itu. Tidak ada seorangpun yang telah memberitahukan kepada mereka. Meskipun orang-orang yang berlari-lari kecil menghindari kehadiran ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu ada yang berpapasan dengan ketiga orang anak muda itu. Tetapi mereka tidak memberitahukannya. Namun orang-orang itu kemudian menjadi kecewa. Bagaimanapun juga mereka merasa ngeri, apa yang akan terjadi dengan ketiga orang anak muda itu apabila mereka benar-benar bertemu dengan orang-orang yang sedang mencari mereka itu. Demikian pula orang-orang yang berada di sebelahmenyebelah jalan padukuhan. Baru saja mereka mendengar teriakan orang-orang yang mereka takuti itu, tiba-tiba merekapun mendengar derap kaki kuda. “Apa yang akan terjadi dengan anak-anak muda itu?” bertanya orang-orang itu di dalam hati mereka. Dalam pada itu, ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong yang juga mendengar derap kaki kuda segera bersiap. Mereka merasa bahwa mereka akan segera dapat melakukan tugas mereka dengan baik. “Kita akan menangkap mereka dan membawa mereka menghadap Ki Wira Sabet dan Ki Sura Gentong” berkata salah seorang dari ketiga orang itu. “Jika mereka melawan, kita benar-benar akan mempergunakan kekerasan” desis yang lain. Mereka tidak berbicara lebih jauh. Mereka mulai melihat tiga orang anak muda di punggung kudanya mendekati mereka. Dengan serta merta, maka ketiga orang itupun segera berloncatan ketengah jalan dan memberi isyarat ketiga orang penunggang kuda itu untuk berhenti. Sampurna yang berkuda di paling depan segera memberi isyarat pula kepada Manggada dan Laksana. Dengan serta merta ketiganya telah menarik kendali kuda mereka sehingga ketiganya telah berhenti sebelah mereka menjadi terlalu dekat dengan ketiga orang itu. “Tentu. mereka itulah yang kita cari” desis Sampurna. Laksana tidak menunggu lebih lama lagi. Ia adalah orang yang pertama meloncat turun dari punggung kudanya. Manggada dan Sampurnapun segera telah meloncat turun pula. Mereka telah mengikat kuda mereka pada batang perdu di pinggir jalan itu. Baru kemudian mereka bertiga melangkah mendekati ketiga orang yang telah menunggu itu. Ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong ilu termangu-mangu sejenak. Mereka justru merasa heran. Ketiga orang anak muda itu sama sekali tidak nampak menjadi gentar. “Mereka memang sombong” geram salah seorang dari ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu. Kawannyapun menyahut “Sebentar lagi mereka akan menjadi jera” Sementara itu yang seorang lagi berkata “Kita lumatkan dahulu mereka sebelum kita bawa menghadap Ki Wira Sabet dan Ki Sura Gentong” Kedua kawannya tidak menyahut, sementara itu Laksana, Sampurna dan Manggada telah menjadi semakin dekat. Laksana yang berdiri dipating depan itulah yang bertanya “He, siapakah kalian yang telah berani menghentikan kami bertiga yang sedang menelusuri jalan-jalan padukuhan kami sendiri” “Anak iblis” geram orang tertua dari ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu “kau-kira kau berbicara dengan siapa?” “Jika aku tahu, aku tidak akan bertanya” sahut Laksana dengan lantang” “Kami datang untuk menangkap kalian dan membawa kalian ke tempat kami” jawab salah seorang dari ketiga orang itu. Laksana tertawa. Katanya “Kau kira, kau berbicara dengan siapa, he?” Ketiga orang itu menggeram. Hampir bersamaan mereka mengumpat. Seorang di antara mereka berkata “Siapakah di antara kalian yang bernama Sampurna, anak Ki Jagabaya? Hampir bersamaan pula ketiga orang anak muda itu menjawab “Aku” Tetapi mereka bertiga justru terkejut. Sejenak mereka saling berpandangan. Namun kemudian mereka bertiga tertawa meledak. Wajah ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu menjadi merah padam. Mereka sama sekali tidak mengira, bahwa mereka akan mendapat perlakuan yang demikian menyakitkan hati dari tiga orang anak-anak yang masih muda, sementara seisi padukuhan itu menjadi ketakutan melihat mereka bertiga datang” Dengan suara bergetar menahan kemarahan, seorang di antara mereka berteriak “Cukup. Aku akan mengoyak mulut kalian” Tetapi Laksana justru menjawab “Jangan terlalu garang Ki Sanak. Kalian tidak berarti apa-apa disini. Jika Paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong melihat kehadiran kalian di daerah kuasanya, maka kalian akan segera dihancurkan sampai lumat” “Kau memang gila” geram orang itu “aku adalah bagian dari kuasa Ki Wira Sabet dan Ki Sura Gentong” “Nah, kenapa kau tidak mengatakan sejak semula. Jika kami tahu bahwa kalian adalah bagian dari kuasa paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong, maka sampaikan salam kami kepada mereka. Khususnya kepada paman Wira Sabet. Hari ini, kami akan mengambil duwet dan manggis di halaman rumahnya seperti biasanya” Kemarahan ketiga orang itu telah membakar ubun-ubun mereka. Karena itu, seorang di antara mereka berteriak “Dengar, kami akan membuat kalian menjadi lumat. Kami akan mematahkan tulang-tulang kalian dan kemudian menyeret kalian menghadap Ki Wira Sabet dan Ki Sura Gentong” Tetapi jawaban Laksana sangat menyakitkan hati “He, kenapa kalian hanya datang bertiga? Kalian tahu bahwa kami bertiga. Seharusnya kalian datang sedikitnya bersembilan, karena takaran kemampuan kami adalah tiga orang di antara kalian” Orang-orang itu ternyata tidak tahan lagi mendengar ucapan Laksana itu. Karena itu, maka orang yang tertua di antara ketiga orang itupun berteriak “Selesaikan mereka dengan cara kita” Orang-orang yang tinggal di pinggir jalan itu menjadi berdebar-debar. Mereka mendengar bentakan-bentakan kasar. Tetapi mereka juga mendengar suara tertawa nyaring. Bahkan satu dua kalimat dapat mereka dengar ketika kalimat-kalimat itu diucapkan dengan keras. Mereka mendengar ancamanancaman yang mengerikan. Sementara suara tertawa membuat mereka menjadi bingung. “Anak-anak muda itu nampaknya sama sekali tidak menjadi ketakutan” berkata orang-orang di sebelah-menyebelah jalan itu kepada diri sendiri. Apalagi ketika kemudian mereka mendengar seseorang berkata keras-keras “Jangan ganggu aku. Aku akan menyelesaikan ketiga orang itu seorang diri. Kecuali jika aku akan mati di tangan mereka” Kata-kata itu ternyata telah diucapkan oleh Laksana. Sampurna termangu-mangu sejenak. Sementara Manggada berkata “Kita lihat saja apakah anak sombong itu dapat benarbenar berhasil” Sampurna tidak segera menjawab. Namun Laksanapun berkata sambil tertawa “Kalian tidak usah ragu-ragu. Aku tentu akan berhasil” Kemarahan ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong yang merasa ditakuti oleh orang sepadukuhan itu benar-benar tidak tertahankan lagi. Karena itu, sebelum Laksana selesai berbicara, maka seorang di antara mereka telah meloncat menyerang dengan garangnya. Tetapi Laksana benar-benar tangkas. Ia masih menyelesaikan kalimatnya ketika ia meloncat mengelak. Bahkan ia berkata lebih lanjut “Minggir. Aku akan menunjukkan satu permainan yang bagus bagi kalian” Kedua orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong yang lainpun telah menyerang Laksana pula. Seorang di antara mereka berkata “Kita koyakkan mulutnya lebih dahulu. Baru kita selesaikan yang lain” Tetapi Laksana yang pernah ditempa oleh ayahnya sendiri bersama Manggada, yang kemudian mendapat landasan ilmu dari Ki Ajar Pangukan dan pengalaman yang luas selama ia tinggal bersama Kiai Gumrah dan yang terakhir tapa Ngidang di hutan, telah membuatnya menjadi anak muda pilihan. Karena itu, maka ia benar-benar berniat memberikan kesan yang mantap kepada orang-orang padukuhan Gemawang serta kepada para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong, bahwa padukuhan Gemawang tidak perlu menjadi ketakutan. Kesan itu ternyata tidak tanggung-tanggung. Ia sendiri berniat untuk mengalahkan ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong, agar dengan demikian, yang terjadi itu akan benar-benar dapat meyakinkan. Demikianlah, maka sejenak kemudian telah terjadi perkelahian antara Laksana dan ketiga orang itu. Seperti kijang Laksana berloncatan. Kakinya menjadi demikian ringannya sehingga seakan-akan tidak berjejak di atas tanah. Tetapi ketiga lawannya juga bukan orang kebanyakan. Mereka adalah orang-orang yang sudah berpengalaman melakukan kekerasan. Namun agaknya mereka tidak dilandasi oleh dasar-dasar ilmu yang mapan. Karena itu, maka mereka meskipun bertiga, tidak segera dapat mengatasi lawannya yang hanya seorang dan tidak lebih dari anak yang masih terlalu muda bagi mereka. Dalam pada itu, orang-orang yang tinggal di sebelah menyebelah jalan itu benar-benar dicengkam oleh ketegangan. Seorang yang memiliki sedikit keberanian telah dengan sangat hati-hati mendekati pintu regol. dari sela-sela pintunya yang sedikit terbuka ia sempat melihat apa yang terjadi. Orang itu hampir tidak percaya kepada penglihatannya. Seorang dari ketiga orang anak muda yang sering berkuda menyusuri jalan-jalan padukuhan itu tengah bertempur melawan tiga orang yang tentu pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong Bukan karena kedua orang kawan anak muda itu menjadi ketakutan dan tidak berani membantunya. Tetapi kedua anak muda yang lain berdiri di pinggir jalan dengan gaya orang yang sedang menonton aduan ayam di kalangan. “Apa yang sebenarnya terjadi?” bertanya orang itu kepada diri sendiri. Namun di luar sadarnya, maka orang itu justru tidak beranjak dari tempatnya. Ternyata tidak hanya seorang saja yang telah mengintip pertempuran itu. Di seberang jalan, di balik pintu regol yang sedikit terbuka, maka seseorang telah mengintip pula. Sebenarnyalah bahwa Laksana telah bertempur seorang diri melawan ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu. Dengan tangkasnya ia berloncatan. Menghindari seranganserangan ketiga orang itu. Namun kemudian dengan cepat melancarkan serangan yang tiba-tiba terhadap salah seorang dari ketiga orang lawannya. Demikian cepatnya, sehingga ketiga orang lawannya itu kadang-kadang memang menjadi bingung menghadapinya. Namun karena pengalaman mereka yang luas, maka ketiga orang itupun tidak segera dapat ditundukkan oleh Laksana. Tetapi sebaliknya mereka bertiga juga tidak dapat menguasai anak yang masih terhitung muda itu. Sementara itu, Sampurna dan Manggada memang tidak melibatkan dirinya Mereka justru sekali-sekali bertepuk tangan. Bahkan kemudian mereka mulai dengan lantang berteriak memberikan dorongan kepada Laksana yang sekalisekali memang hurus berloncatan surut oleh desakan ketiga orang lawannya yang bertempur semakin lama menjadi semakin kasar. Tetapi setelah berhasil mendapat pijakan yang mapan, maka Laksanalah yang kemudian dengan kecepatan yang sangat tinggi melibat ketiga orang lawannya. Seperti angin pusaran, Laksana berputaran sehingga kadang-kadang lawannya menjadi kehilangan arah. Tetapi memang tidak terlalu mudah bagi Laksana untuk dapat mengalahkan ketiga orang yang bertempur semakin keras dan kasar itu. Laksana harus meningkatkan kemampuannya semakin tinggi. Tetapi latihan-latihan yang berat sebelumnya, telah memberikan bekal yang sangat berarti bagi Laksana menghadapi ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu. Sementara itu teriakan-teriakan Sampurna dan Manggada memang menarik perhatian. Orang-orang yang tinggal tidak jauh dari tempat pertempuran itu terjadi, menjadi semakin tidak mengerti, apa yang telah terjadi. Sedangkan orang-orang yang berani mengintip dari celah-celah pintu regolnya, seakanakan tidak mempercayai penglihatannya, bahwa salah seorang dari ketiga orang anak muda itu mampu menghadapi tiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong. Sesuatu yang menurut mereka hanya dapat terjadi dalam mimpi yang akan terhapus saat mereka terbangun. Tetapi meskipun mereka mengusap mata mereka, yang terjadi itu memang telah terjadi. Laksana yang bertempur melawan tiga orang lawannya yang bertempur dengan keras dan kasar itu justru menjadi semakin garang, kakinya berloncatan dengan cepat, seakanakan tidak berjejak di atas tanah. Sekali-sekali ia melenting menyerang, namun kemudian meloncat menghindari serangan. Ketiga orang tawannya yang sudah mulai kelelahan menjadi sangat marah. Anak muda tiu ternyata tidak mudah untuk ditundukkan, meskipun mereka bertiga, tetapi anak muda itu berloncatan dengan tangkas seperti seekor rusa di padang perdu. Dalam pertempuran yang menjadi semakin garang, maka tiba-tiba saja terdengar seseorang mengaduh tertahan. Kaki Laksana tepat mengenai dada salah seorang lawannya. Seorang yang bertubuh tinggi agak kekurus-kurusan. Orang itu ternyata telah terlempar beberapa langkah dan jatuh terbanting di tanah. Untunglah bahwa kepalanya tidak membentur dinding halaman di pinggir jalan itu. Sementara kedua kawannya masih bertempur terus, maka orang itu berusaha untuk bangkit. Dadanya terasa sesak dan nyeri. Seakan-akan tulang-tulang iganya menjadi retak. Bahkan punggungnyapun terasa sakit. Demikian derasnya serangan Laksana, sehingga ketiga orang itu terbanting jatuh, maka punggungnya telah tergores batubatu yang berserakan di jalan. Tetapi orang itu berhasil bangkit berdiri sambil menahan sakit. Untuk beberapa saat ia berdiri termangu-mangu, sementara kedua orang kawannya semakin mengalami kesulitan menghadapi Laksana yang masih saja bertempur dengan tangkasnya. Namun beberapa saat kemudian, maka orang itupun telah mempersiapkan diri untuk kembali memasuki arena pertempuran. Meskipun tulang-tulangnya masih terasa nyeri, namun orang itu kemudian telah meloncat memasuki arena. Tetapi demikian, orang itu mulai menyerang, maka seorang kasarnya tiba-tiba saja telah jatuh terduduk sambil memegangi perutnya. Ternyata sambil berputar, kaki Laksana terayun menghantam perut orang itu Demikian kerasnya, sehingga isi perutnya seakan-akan akan menghambur keluar. Kesakitan yang sangat telah membuatnya kehilangan kekuatan untuk tetap tegak berdiri. Keadaan Laksana menjadi semakin baik. Dua lawannya telah disakitinya. Sehingga tinggal seorang saja yang masih mampu memberikan perlawanan dengan baik. Dalam pada itu, Manggadapun segera memberi isyarat kepada Sampurna untuk berdiri berseberangan. Dengan demikian, maka keduanya teah menutup kemungkinan orangorang itu melarikan diri. Pertempuran masih berlangsung meskipun keseimbangannya telah menjadi semakin jelas. Ketika orang yang perutnya kesakitan itu dapat bangkit berdiri, maka kedua kawannya benar-benar sudah terdesak. Sebelum orang itu sempat memasuki arena pertempuran, maka seorang yang masih belum disakiti itulah yang mengaduh kesakitan. Ketika Laksana sempat menusuk dengan jari-jarinya yang merapat, tepat di arah ulu hati lawannya itu, maka orang itu telah terbungkuk. Pada saat itulah, maka Laksana telah memukul tengkuknya dengan telapak tangannya. Dengan derasnya orang itu telah terjerumus dan jatuh menelungkup di tanah. Wajahnyalah yang telah tersuruk di tanah yang berbatu-batu kerikil. Orang yang dadanya masih kesakitan itu mencoba untuk membantunya. Dengan sisa tenaganya ia menyerang Laksana. Namun usahanya sia-sia. Dengan tangkasnya Laksana bergeser ke samping, kemudian kakinya terjulur dengan cepatnya mengenai lambungnya. Sekali lagi orang itu terdorong surut. Sementara itu, Laksana telah meloncat memburunya. Tangannyalah yang kemudian, terjulur menyambar keningnya. Orang itu tidak sempat berbuat sesuatu. Tubuhnyapun terpelanting jatuh. Kawannya yang seorang lagi ternyata hatinya kuncup, ia tidak lagi nampak garang. Bahkan kemudian ia berdiri saja dengan wajah yang pucat. Ketika Laksana melangkah mendekatinya, maka orang itupun surut kebelakang, sehingga akhirnya ia berdiri melekat dinding. “Aku dapat membunuhmu” geram Laksana. Orang itu tidak menjawab. Perut dan punggungnya masih terasa sakit. Sementara itu, ia tidak mempunyai kesempatan sama sekali. Dengan lantang Laksanapun kemudian memerintahkan ketiga orang itu berkumpul. Dua orang yang masih terbaring itupun berusaha untuk dapat bangkit. Bahkan seorang di antaranya terpaksa harus merangkak untuk melakukan perintah Laksana. Demikian ketiga orang itu duduk bersandar dinding dengan tubuh yang lemah dan sakit-sakitan, maka Laksanapun berkata “Nah, sekarang kalian mendapat kesempatan untuk melihat kenyataan yang ada di padukuhan ini” Karena ketiga orang itu tidak menjawab, maka Laksana itu bertanya pula “He, kenapa kau kemarin menyakiti seorang di antara para penghuni padukuhan ini?” Ketiga orang itu masih tetap berdiam diri. Sehingga Laksana itupun kemudian membentak ”Jawab. Kenapa kau menyakiti salah seorang penghuni padukuhan ini?” Ketika Laksana menyambar baju salah seorang dari ketiganya, yang kebetulan dadanya masih terasa sangat sakit, serta tulang-tulang iganya rasa-rasanya menjadi retak, maka orang itupun mengaduh kesakitan. Tetapi Laksana justru mengguncangnya sambil membentak pula “He, kenapa kau tidak menjawab” Orang itu menjadi semakin kesakitan. karena itu, maka ia terpaksa menjawabnya “Bukan maksudku” “Jadi, maksud siapa?” desak Laksana. “Aku mendapat perintah dari Ki Wira Sabet dan Ki Sura Gentong untuk mengetahui anak-anak muda yang berkeliaran di atas punggung kuda. Kami harus menangkap mereka dan membawanya menghadap. Sebenarnya kami tidak bermaksud menyakiti orang pudukuhan itu. Kami hanya ingin sekedar bertanya. Tetapi ternyata orang itu keras kepala” “Bohong” bentak Laksana “orang-orang padukuhan ini sebagian menjadi ketakutan melihat kalian. Orang itu tidak akan berani berbohong kepadamu atau menolak untuk menjawab. Tetapi kalian tetap saja menyakitinya karena kalian ingin membuat padukuhan ini semakin ketakutan” “Tidak. Sungguh tidak ada niat kami untuk menyakitinya” jawab orang itu. Karena Laksana melepaskan tangannya sambil mendorongnya, maka orang itu terjatuh menimpa dinding halaman. Karena itu, maka orang itupun mengaduh kesakitan. Dalam pada itu maka Manggadalah yang kemudian melangkah mendekati sambil berkata “Nah, sekarang kalian sudah bertemu dan berbicara langsung dengan ketiga orang anak muda yang berkeliaran di punggung kuda. Apakah kalian masih tetap berniat menangkap kami dan membawa kami menghadap paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong?” Orang itu termangu-mangu. Namun kemudian dengan nada rendah ia menjawab “Kami tidak berhasil” Manggada mengangguk-angguk. Sementara itu Sampurna itupun berkata “Ki Sanak. Jika kau tidak berhasil menangkap kami dan membawa kami kepada paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong, maka sampaikan salam kami kepada mereka dan kawan-kawannya. Tetapi sebelum kalian menemui mereka, maka kalian harus menjawab beberapa pertanyaan” Wajah orang itu menjadi semakin pucat. Sementara Sampurna berkata “Pertanyaan-pertanyaan kami sangat sederhana. Karena itu, maka kalian tentu dapat menjawabnya. “Kami tidak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan” jawab orang yang dadanya masih terasa sakit itu. “Terserah kepada kalian” berkata Sampurna “tetapi sebelum kalian menjawab pertanyaan-pertanyaan kami, maka kalian tidak akan kami lepaskan” “Kalian tidak akan berani berbuat seperti itu” berkata orang itu. “Kenapa?” bertanya Sampurna. “Jika kami tidak kembali pada saat yang ditentukan, maka Ki Wira Sabet dan Ki Sura Gentong akan datang sendiri kemari” “Menarik sekali” berkata Sampurna “itulah salah satu pertanyaan yang ingin aku sampaikan kepada kalian. Kapan paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong akan datang kemari. Karena itu, maka sebaiknya kami menahan kalian bertiga sampai mereka benar-benar datang” Orang itu mengumpat di dalam hati. Sementara itu kawannya yang perutnya masih terasa sakit itupun berkata “Jika Ki Wira Sabet dan Ki Sura Gentong datang kemari, mereka tentu tidak hanya berdua. Tentu bersama Pideksa dan beberapa orang pengawal” “Bagus” sahut Sampurna “disini kami tinggal bersuit saja. Anak-anak muda akan berdatangan untuk menyambut paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong serta para pengawalnya” Tetapi orang yang wajahnya tersuruk ke tanah dengan goresan-goresan kecil yang menjadi merah itu berkata “Aku tidak yakin, bahwa anak-anak muda padukuhan ini berani dari keluar regol halaman rumahnya” Jawaban itu membuat Sampurna menjadi marah. Tiba-tiba saja tangannya telah menampar wajah orang itu, sehingga orang itu mengaduh kesakitan. Goresan-goresan yang berwarna merah itu sudah terasa pedih, apalagi telapak tangan Sampurna itu. “Kau menghina kami” geram Sampurna. Orang itu tidak berbicara lagi. Apalagi ketika terasa darah yang hangat mengalir disela-sela bibirnya yang pecah. Yang kemudian bertanya adalah Manggada “Ki Sanak. Katakan kepada kami, dimana tempat tinggal paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong?” Jantung ketiga orang itu rasa-rasanya berdetak semakincepat. Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sangat menakutkan. Mereka bertiga tentu tidak akan dapat menunjukkan dimana tempat tinggal Wira Sabet dan Sura Gentong. Tetapi jika mereka tidak mengatakan, maka ketiga anak muda itu tentu akan memaksanya,. “Anak-anak muda ini memang gila” geram orang-orang itu di dalam hatinya. Mereka sama sekali tidak mengira bahwa di padukuhan Gemawang itu ada juga anak-anak muda yang berilmu tinggi. Manggada memang menunggu sejenak. Tetapi karena tidak ada di antara mereka yang menjawab, maka Manggada telah mengulangi lagi pertanyaannya “Katakan kepada kami, dimana tempat tinggal paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong. Kami tidak mempunyai waktu banyak. Karena itu, sebaiknya kau tidak menunda-nunda jawaban kalian” Adalah di luar dugaan, bahwa orang yang bertubuh tinggi agak kekurus-kurusan itu berkata “Anak-anak muda. Kalian tentu tahu, bahwa kami tidak akan dapat memberikan jawaban itu. Kami tahu, bahwa kalian dapat memaksa kami untuk berbicara dengan cara kalian. Tetapi kami tetap tidak akan berani menjawab, karena jika terloncat dari mulut kami jawaban itu, maka nasib kami akan menjadi sangat buruk” “Tetapi bukankah kau juga memaksa seorang dari penghuni padukuhan ini untuk mengatakan kepada kalian, siapakah kami bertiga?” Orang itu terdiam lagi. Tetapi jantungnya menjadi semakin berdentangan. “Ki Sanak“ berkata Manggada “kami dapat memperlakukan kalian sebagaimana kalian memperlakukan salah seorang tetangga kami yang baik. Bahkan kami dapat menahan kalian sampai kalian bersedia berbicara. Kami tidak takut apakah paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong datang kemari atau tidak. Bahkan seandainya mereka datang dengan saudara-saudara seperguruannya” “Anak-anak muda” berkata orang yang bertubuh tinggi itu “bagaimanapun juga kami tidak akan memilih untuk mengatakan dimana tempat tinggal Ki Wira Sabet dan Ki Sura Gentong. Seandainya kalian akan memperlakukan kami lebih buruk lagi dari perlakuan kami atas tetangga kalian itu, kami memang harus menjalaninya. Tetapi betapapun pahitnya penderitaan kami di tangan kalian, bagi kami tentu masih lebih baik dari hukuman yang akan kami terima jika kami menjawab pertanyaan kalian” “Itukah duniamu? Dunia paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong?” “Ya” jawab orang itu. Manggada menarik nafas dalam-dalam. Ketiga orang itu tentu tidak akan berani mengatakan apa-apa. Bahkan agaknya mereka akan memilih membunuh diri daripada dipaksa untuk mengatakan, dimana letaknya tempat tinggal Wira Sabet dan Sura Gentong. Untuk membuktikan dugaannya itu maka Manggadapun berkata “Ki Sanak. Bagaimanapun juga. kami akan memaksa kalian untuk berbicara. Jangan mengira bahwa kami tidak dapat memperlakukan kalian lebih buruk dari paman Wira Sabet dan Sura Gentong. Kami dapat menghukum kalian dengan hukuman picis” Keringat dingin telah membasahi seluruh pakaian orangorang itu. Bukan saja karena mereka telah memeras tenaganya untuk berkelahi dan kalah, tetapi mereka memang menjadi sangat ngeri mendengar hukuman picis yang disebutsebut oleh anak muda itu. Meskipun demikian, mereka sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk mengkhianati Wira Sabet dan Sura Gentong. Untuk waktu yang cukup lama mereka telah dibentuk untuk menjadi seorang hamba yang setia. Setiap kali mereka selalu mendengar ancaman, bentakan dan bahkan kadang-kadang kekerasan badani. Namun kadang-kadang mereka juga disanjung dan diberi harapan-harapan bagi masa depan mereka. Karena orang itu masih saja ragu-ragu, maka Manggadapun berkata “Nah, pertimbangkan lagi keputusan kalian. Apakah kalian akan berbicara atau tidak” “Anak-anak muda” berkata orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan “aku mohon, bunuh saja kami. Kami tidak mempunyai kesempatan apapun juga. Kematian tentu akan lebih baik daripada mengalami perlakuan Ki Wira Sabet dan Ki Sira Gentong serta beberapa orang saudara seperguruan mereka. Apalagi di antara merekapun terdapat Ki Sapa Aruh” Ketiga orang anak muda itu saling berpandangan sejenak. Namun tiba-tiba saja Manggada berkata “Baik. Jika kalian tidak mau menunjukkan tempat tinggal paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong, maka aku mempunyai usul. Kalian kami bebaskan Tetapi dengan syarat bahwa kalian harus menangkap kami sebagaimana tugas yang diberikan kepada kalian dan membawa kami menghadap paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong.” Wajah orang itu menjadi tegang. Dengan dahi yang berkerut ia bertanya “Apakah kau bergurau?” “Tidak. Aku tidak bergurau” jawab Manggada yang lalu bertanya kepada Laksana “Apakah kau sependapat, bahwa kita akan menyerah saja dan biarlah ketiga orang itu menangkap dan membawa kita?” ”Satu rencana yang bagus” sahut Laksana “aku setuju. Kita akan sampai juga ke tempat tinggal paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong” Sampurnapun kemudian juga menyahut “Baik. Kami akan menyerahkan diri kami” Tetapi Manggada berkata “Kau jangan, Sampurna. Bagimu akan menjadi sangat berbahaya. Kau akan dapat menjadi sasaran dendam paman Wira Sabat dan paman Sura Gentong. Bukankah sasaran utama dendamnya kepada ayahmu?” “Aku tidak akan gentar mengalami perlakuan apapun juga” jawab Sampurna. Namun Laksana juga memperingatkan “Jangan. Kau akan tinggal. Kau akan menyampaikan keputusan kami ini kepada ayah dan paman” “Tetapi rencana ini juga sangat berbahaya bagi kalian.” “Tidak. Paman Wira Sabet pernah kami temui. Ia masih belum melupakan aku yang di masa kecil sering mencari duwet dan manggis di halaman rumahnya. Pohon duwet dan manggis itu masih ada meskipun juga sudah tua” berkata Manggada. “Tetapi itu tidak adil. Jika kalian mengalami sesuatu, maka aku akan menyesal sepanjang hidupku” jawab Sampurna. “Kami akan menjaga diri kami, percayalah. Kami titipkan kuda kami kepadamu. Sampaikan pula rencana ini kepada ayah dan paman” berkata Manggada. Lalu katanya “Dengan demikian, biarlah ayah dan paman membuat rencana berikutnya dengan Ki Jagabaya untuk mengatasinya” Sampurna masih saja ragu-ragu. Sementara itu Manggada berkata “Jika kau ikut bersama kami, maka tidak ada seorangpun yang dapat menyampaikan rencana ini kepada Ki Jagabaya dan kepada ayah serta paman” Sampurna akhirnya dapat diyakinkannya, sehingga iapun kemudian bersedia untuk tinggal. Namun ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itulah yang menjadi bingung. Karena itu, maka Manggada pun menjelaskan rencananya “Nah, kalian dapat memilih. Tinggal disini dengan hukuman picis, atau menangkap kami berdua dan membawa kami menghadap paman Wira Sabet dan Sura Gentong. Agar kalian tidak mendapat hukuman, maka kalian harus mengatakan kepada mereka, bahwa kalian berhasil menangkap kami berdua. Tetapi Sampurna berhasil meloloskan dirinya. Nah, jelas?” Ketiga orang itu masih saja bingung. Seorang di antara mereka berkata “Kami tidak akan dapat melakukannya. Jika kalian jatuh ketangan Ki Wira Sabet dan Ki Sura Gentong, maka nasib kalian akan menjadi sangat buruk. Kalian akan mengalami perlakuan yang tidak kalian bayangkan sebelumnya” “Memang mungkin. Tetapi ini satu-satunya cara bagi kami untuk mengetahui tempat tinggal paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong. Selebihnya, kami akan dapat mengalami beberapa hal tentang isi tempat tinggal mereka. Tetapi orang itu menggeleng. Katanya “Jangan lakukan itu” Sikap orang-orang itu memang menarik perhatian. Manggada dan Laksana bahkan percaya, bahwa ketika orang itu tidak akan mencelakakan mereka dengan sengaja. Tetapi ketiga orang itu benar-benar menjadi bingung. Semula mereka menyangka bahwa anak-anak muda itu sekedar bergurau untuk mengganggu mereka yang telah gagal menjalankan tugas. Namun ternyata anak-anak muda itu bersungguh-sungguh. Sementara itu Manggadapun berkata “Ki Sanak. Dengarkan. Kami telah mengampuni kesalahan kalian. Seharusnya kami dapat memperlakukan kalian apa saja sekehendak kami. Kami sama sekali tidak takut atas pembalasan paman Wira Sabet dan Sura Gentong. Tetapi kami tidak melakukannya. Karena itu, terserah tanggapan kalian atas tingkah laku kami. Sementara itu, kami minta kalian menangkap kami. Membawa kami berdua sebagaimana tugas yang dibebankan kepada kalian. Kalian tidak usah segan. Perlakukan kami sebagaimana kalian memperlakukan orang-orang tangkapan.” Ketiga orang itu saling berpandangan sejenak. Sementara itu Manggada telah menarik Sampurna menjauh dan memberikan beberapa pesan kepadanya. Sampurna mengangguk-angguk, Katanya hampir berbisik “Baiklah. Aku akan mengusahakannya” Demikianlah, Manggada dan Laksana telah memaksa ketiga orang itu untuk membawanya. Dengan nada keras Manggada berkata “Kesempatan ini adalah kesempatan terbaik bagi kalian. Apapun yang terjadi atas diri kami, kalian tidak usah menghiraukannya. Sementara itu, paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong tidak akan menghukum kalian. Karena kalian tidak gagal sepenuhnya. Dua dari tiga orang telah dapat kalian tangkap” “Tetapi kami tidak akan dapat menyaksikan perlakuan Ki Wira Sabet dan Ki Sura Gepong atas kalian” “Itu tergantung kepada sikap kalian. Jika kalian tidak mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, maka nasib kami tidak akan terlalu buruk. Sementara keinginan kami untuk mengetahui tempat tinggal mereka dapat terlaksana” Ketiga orang itu benar-benar sulit untuk mengerti, apa sebenarnya yang dikehendaki oleh anak-anak muda. keinginan yang bagi mereka tidak masuk akal. Rencana itu akan dapat membahayakan jiwa mereka. Karena itu salah seorang dari ketiga orang itu berkata “Anak muda. Kalian telah berbuat di luar dugaan kami. Kalian tidak memaksa kami berbicara dengan cara yang kasar. Bahkan kalian akan membebaskan kami. Dengan demikian, apakah kami akan sampai hati melihat kalian mengalami kesulitan di sarang kami? Anak-anak muda. Kami peringatkan, bahwa Ki Sura Gentong sering menghukum seseorang dengan cara di luar batas ketahanan badani seseorang. Sehingga akibatnya menjadi sangat parah. Mati tidak tetapi hidup pun tidak” Manggada mengerutkan dahinya. Ia masih teringat ancaman Sura Gentong yang diucapkan di halaman rumah Wira Sabet. Namun Manggada masih berharap bahwa berdua dengan Laksana, ia akan dapat mengatasi kesulitan itu. Karena itu, maka ia menjawab “Ki Sanak. Nasibku akan berbeda jika seandainya aku tertangkap saat aku menyusup memasuki sarang itu. Tetapi sekarang aku tertangkap di padukuhanku sendiri, sehingga kesalahanku tentu dianggap tidak seberat jika aku datang ke tempat tinggal mereka” Ketiga orang itu tidak mempunyai pilihan lain. Jika mereka menolak, maka anak-anak muda itu tidak akan melepaskan mereka dan bahkan mungkin merekapun akan mendapat perlakuan buruk di padukuhan itu. Tetapi untuk membawa kedua orang anak muda itu, maka rasa-rasanya sangat berat bagi perasaannya. Bahkan ketiga orang itu sempat juga bertanya kepada diri mereka sendiri “Apakah aku masih mempunyai perasaan?” Namun sikap kedua orang anak muda itu agaknya telah mengguncang jantungnya, dan mengorek endapan perasaannya yang masih tersisa. Dengan demikian, maka ketiga orang itupun terpaksa melakukan permintaan kedua orang anak muda itu. Bertiga mereka menggiring keduanya keluar padukuhan Gemawang. Memang agak aneh, bahwa orang-orang yang menangkap kedua orang anak muda itu keadaannya jauh lebih buruk dari kedua orang tangkapannya. Namun Manggada dan Laksana berkata kepada mereka bertiga ”Jangan cemas. Kami pandai berpura-pura. Disarang paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong, aku akan berpura-pura kesakitan di bagian dalam tubuhku lebih parah dari kalian” Ketiga orang itu tidak menjawab. Tetapi kegelisahan telah mencengkam jantung mereka. Betapapun ganas dan garangnya mereka, namun ternyata sia-sia nuraninya masih juga sempat berbicara. Dalam pada itu, sepeninggal Manggada dan Laksana yang telah dibawa oleh ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu, maka Sampurnapun segera memenuhi pesan Manggada. Cepat-cepat ia pergi ke rumah Ki Kertasana untuk memberitahukan keputusan yang telah diambil oleh Manggada dan Laksana. Ki Kertasana dan Ki Citrabawa memang terkejut. Dengan wajah tegang Ki Kertasana itupun berdesis “Satu petualangan yang tidak berperhitungan” “Ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu justru telah memperingatkan mereka” berkata Sampurna “tetapi Manggada dan Laksana tetap pada keinginannya. Sebenarnya aku juga menyatakan ingin menyertai mereka, tetapi mereka menolak, karena dengan demikian tidak seorangpun yang dapat memberitahukan rencana ini kepada paman” Ki Kertasana dan Ki Citrabawa memang menjadi tegang. Namun Ki Pandilah yang bertanya “Apakah ada pesan yang lain yang harus angger sampaikan?” “Ya” jawab Sampurna “Manggada dan Laksana akan berusaha meninggalkan jejak disepanjang perjalanan mereka” Ki Pandi itupun mengangguk-angguk. Kemudian katanya “Terima kasih ngger. Mudah-mudahan cara yang dipilihnya tidak berakibat sangat buruk bagi mereka” Namun Ki Pandi itupun kemudian berkata kepada Ki Kertasana dan Ki Citrabawa “Aku minta diri. Mudah-mudahan ada cara untuk berbuat sesuatu” “Apa yang akan Ki Pandi lakukan?” bertanya Ki Kertasana. “Aku belum tahu. Setidak-tidaknya mengikuti jejak anakanak itu sampai sejauh jejak itu aku ketemukan” jawab ki Pandi. Ki Kertasana dan Ki Citrabawa yang sudah menduga bahwa Ki Pandi tidak akan membiarkan kedua orang anak muda itu, tidak mencegahnya. Namun Ki Kertasanapun berpesan “Hatihati Ki Pandi. Kita berhadapan dengan orang-orang yang sakit hati dan menyimpan dendam yang dalam sekali di dalam hatinya” “Tetapi dendam itu tidak mutlak ditujukan kepada Manggada dan Laksana” jawab Ki Pandi. Dengan demikian, maka Ki Pandi itupun kemudian telah meninggalkan rumah itu selelah ia mendapat petunjuk dari Sampurna, darimana awal Keberangkatan Manggada dan Laksana. Dengan cepat Ki Pandi menemukan isyarat pertama dari Manggada. Ketika ia sampai di ujung lorong, maka dilihatnya ranting perdu yang berpatahan terinjak kaki. Manggada dan Laksana tentu dengan sengaja melakukannya, karena mereka dengan sengaja telah meninggalkan jejak sebagaimana dikatakannya dalam pesannya lewat Sampurna. Dalam pada itu, yang juga menjadi pening adalah orangorang yang sempat mengintip apa yang telah terjadi. Mereka tidak dapat mengerti, apa yang dilakukan oleh Manggada dan Laksana. Bahkan ketika kedua orang anak muda itu dibawa pergi, beberapa orang telah muncul di jalan. Mereka saling berpandangan dan sejenak kemudian tiga orang telah berkumpul di halaman rumah salah seorang dari mereka. “Aku tidak dapat mengerti, apa yang sebenarnya telah terjadi. Seorang dari ketiga orang anak muda itu mampu mengalahkan tiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong. Namun kemudian dua di antara ketiga anak muda itu menyerahkan diri untuk dibawa ke sarang Ki Wira Sabet dan Ki Sura Gentong” “Ya. Tetapi mereka sempat melarang Sampurna untuk ikut. Memang dendam Wira Sabet dan Sura Gentong kepada Ki Jagabaya akan dapat dilimpahkan kepadanya” berkata yang lain. Namun yang lain lagi berkata “Manggada memang gila. Apa sebenarnya yang dikehendakinya” Orang yang pertamalah yang menyahut “Nampaknya anakanak itu telah mengorbankan segala-galanya, bahkan diri mereka sendiri untuk mengatasi bayangan Wira Sabet dan Sura Gentong yang menakutkan itu” “Tetapi satu hal yang aku anggap tidak masuk akal. Seorang saja di antara mereka telah dapat mengalahkan tiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong yang sangat ditakuti itu. Orang-orang sepadukuhan ini tidak berani berbuat apa-apa terhadap mereka bertiga. Sementara itu seorang anak muda mampu menundukkannya” berkata yang lain. Tetapi kesimpulan yang mereka ambil ternyata tidak sejalan dengan kesimpulan yang dikehendaki oleh anak-anak muda itu. Mereka tidak segera bangkit dan ikut serta melawan ketakutan yang tersebar di padukuhan itu. Tetapi seorang di antara mereka justru berkata “Tetapi kekalahan itu tentu akan membuat Wira Sabet dan Sura Gentong menjadi sangat marah, sehingga mereka akan mengirimkan orang lebih banyak dan lebih garang. Atau bahkan Wira Sabet dan Sura Gentong sendiri yang akan datang” “Tetapi anak-anak muda yang menang itu justru menyerah” sahut yang lain. “Itulah yang dapat membuat kita menjadi gila. Tetapi aku tidak yakin bahwa tingkah anak-anak itu akan mampu menyelamatkan kita dan padukuhan Gemawang dari kegarangan Wira Sabet dan Sura Gentong” berkata yang seorang lagi. “Justru sebaliknya” berkata yang lain “mungkin akan timbul persoalan-persoalan baru yang dapat menambah kesulitan padukuhan ini” Namun mereka tidak berbincang lebih lama. Dua orang di antara merekapun segera meninggalkan halaman rumah itu, kembali ke rumah masing-masing dengan berbagai pertanyaan di dalam hati mereka. Dalam pada itu, Manggada dan Laksana telah berjalan semakin jauh. Laksana tidak tahu, kemana ia akan dibawa. Tetapi Manggada yang memang dilahirkan di padukuhan itu, serta kenakalannya di masa kanak-kanaknya, segera dapat mengerti, kemana mereka pergi. “Jalan ini menuju ke padang perdu di pinggir hutan itu” berkata Manggada di dalam hatinya. Namun jalan yang ditempuh memang bukan jalan yang ramai. Tetapi jalan setapak yang jarang dilalui orang. Bahkan jalan itu kadang-kadang menuruni tebing sungai dan kemudian naik di seberang. Melintasi padang ilalang dan tanah gersang yang tidak digarap Baru kemudian mereka sampai ke padang perdu yang luas sampai ke batas sebuah hutan yang memang tidak terlalu besar. “Agaknya di hutan itu mereka bersarang” berkata Manggada di dalam hatinya. Namun ketika mereka menjadi semakin dekat, pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itupun berkata “Kami harus menutup mata kalian jika kalian memasuki lingkungan kami. Bahkan hal ini seharusnya kami lakukan, sejak kami meninggalkan jalan padukuhan di bulak itu” “Baik” berkata Manggada “lakukanlah. Tetapi sebelumnya beritahu aku, diarah mana sarang kalian dibuat. “Di ujung hutan di sisi sebelat Barat” jawab orang itu. “Di tempat yang menjorok itu?” bertanya Manggada. “Ya” jawab orang itu termangu-mangu. “Baiklah” berkata Manggada “tutuplah mata kami. Sebenarnya jika kami inginkan, kami dapat melarikan diri sekarang, sehingga keinginan kami untuk mengetahui dimana letak sarang kalian sudah kami dapat. Kalian bertiga tentu tidak akan dapat mencegah kami. Tetapi dengan demikian, kalian bertiga akan mengalami penderitaan yang sangat kalian takutkan. Karena itu, biarlah kalian bawa kami ke sarang kalian dengan mata tertutup” Ketiga orang itu saling berpandangan sejenak. Seorang di antara mereka berkata “Ya. Kalian dapat melarikan diri sekarang. Tetapi jika hal itu kalian lakukan, bunuh saja kami bertiga disini. Itu lebih baik bagi kami. Tetapi jika kalian tidak melakukannya. Sebenarnyalah kami ingin mengetahui, apa sebenarnya yang kalian inginkan?” “Kami memang ingin berhubungan dan berbicara lebih banyak dengan paman Wira Sabet dan Sura Gentong” jawab Manggada. “Untuk terakhir kalinya, aku peringatkan kalian, bahwa kalian akan dapat mengalami penderitaan yang tidak berkeputusan” “Mudah-mudahan tidak. Tetapi bukankah kau yang akan mengalaminya jika kami membatalkan niat kami pergi ke sarangmu itu” berkata Manggada “bahkan kau minta agar kami membunuh kalian bertiga” Ketiga orang itu tidak menjawab. Mereka memang masih saja kebingungan. Sementara itu Manggada. berkata pula “Lekas, tutup mata kami sebelum kawan-kawanmu melihat apa yang terjadi sekarang” Orang-orang itu tidak menjawab. Namun mereka melakukan sebagaimana dikatakan oleh Manggada. Sejenak kemudian Manggada dan Laksanapun telah ditutup matanya. Mereka digiring menuju ke sarang Wira Sabet dan Sura Gentong yang memang terletak di tempat yang terpencil dari hubungan dengan sesamanya. “Kita sudah dekat” desis orang yang bertubuh tinggi itu. Manggadapun berdesis “Laksana, kita harus menunjukkan bahwa kita dalam keadaan yang sulit” “Bagaimana aku harus berpura-pura?” “Kau tentu dapat melakukannya” jawab Manggada. Lalu katanya kepada pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu “Lakukan tugas kalian dengan baik” Ketiga orang yang menggiringnya tiaak menyahut. Sebenarnyalah mereka merasa segan untuk berbuat kasar kepada kedua orang anak muda yang tidak dapat dimengerti kemauannya itu. Namun ketika mereka mendekati pagar bambu yang rapat yang mengelilingi sebuah lingkungan yang menjadi barak hunian Wira Sabet dan Sura Gentong, ketiga orang itu memang mulai menjadi kasar. Mereka mendorong Manggada dan Laksana berganti-ganti. Dari kejauhan, dua orang yang mengawasi keadaan di luar dinding barak itu sudah melihat, ketiga orang kawannya datang dengan membawa dua orang tawanan yang matanya tertutup rapat. “Kenapa hanya dua” desis yang seorang. “Seharusnya tiga orang anak muda” sahut yang lain. Tetapi keduanyapun terdiam. Sementara itu ketiga orang yang membawa Manggada dan Laksana itu berusaha untuk menghilangkan bekas atau rasa sakit dengan berjalan tegap tanpa memberikan kesan kesakitan. Ketika ketiga orang itu menjadi semakin dekat dengan dinding baraknya, maka mereka menjadi semakin kasar. Sementara itu sekali-sekali Manggada terhuyung-huyung hampir jatuh tertelungkup jika punggungnya disentuh oleh orang yang menggiringnya. Laksana yang tertutup matanya tidak melihat apa yang dilakukan oleh Manggada. Tetapi ia mendengar seakan-akan Manggada akan terjatuh. Karena itu, maka iapun bertanya “Apa yang terjadi?” Manggada justru berdesah “Sst. Aku pura-pura setengah mati. Kau harus melakukan juga. Jika tidak, maka semuanya akan sia-sia saja” Laksana terdiam. Sementara salah seorang yang menggiringnya itu berdesis “Kita sudah dekat. Ada pengawas di depan” Manggada dan Laksana terdiam. Tetapi jika mereka didorong dengan kasar, maka merekapun berpura-pura akan tertelungkup atau tingkah laku yang lain yang membuat mereka seolah-olah tidak berdaya lagi. Beberapa langkah mendekati dua orang pengawas itu, salah seorang dari ketiga orang yang menggiring Manggada dan Laksana yang ditutup matanya itu berkata “Apakah Ki Lurah ada?” “Ada” jawab salah seorang dari mereka “tetapi bukankah kau harus menangkap tiga orang anak muda?” “Iblis, kecil yang seorang lagi sempat melarikan diri” jawab orang itu “tetapi dua ini sudah mewakili” “Ki Lurah menghendaki tiga” berkata orang itu. “Anak yang seorang itu penakut. Demikian ia melihat kami, maka dilarikannya kudanya menjauh. Tetapi yang dua orang ini tidak sempat melakukannya” Kedua orang pengawas itu mengangguk-angguk. Tetapi yang lain bertanya “Tidak kau bawa kudanya itu?” ”Kudanya berlari seperti sedang berpacu demikian, penunggangnya terjatuh. Kami gagal untuk menangkap. Tetapi orang-orangnya inilah yang lebih penting dari kudanya bagi kami” jawab orang yang bertubuh tinggi itu. Kedua pengawas itu tidak bertanya lagi. Mereka membiarkan ketiga orang itu membawa Manggada dan Laksana memasuki regol pagar barak mereka. Sementara itu, Ki Pandi dengan hati-hati mengikuti jejak ketiga orang yang membawa Manggada dan Laksana. Tidak terlalu sulit baginya. Namun ketika jejak itu menuruni tebing sungai, maka Ki Pandi agak menjadi cemas. Jika mereka menelusuri sungai, maka tentu agak sulit baginya untuk mengikuti jejak mereka. Ia harus mencari jejak itu di seberang sungai, menelusuri tepian. Tetapi yang masih dipertanyakan, ke arah hulu atau udik. Namun Ki Pandi tidak perlu bersusah payah. Ketika ia menyeberangi sungai itu, maka ia langsung dapat melihat jejak kaki di tepian. Jejak yang sengaja dibuat sebagaimana sebelumnya. Dengan demikian, Ki Pandi tidak menemukan kesulitan apaapa untuk mengikuti arah perjalanan Manggada dan Laksana. Tetapi Ki Pandi tidak dapat mengikuti jejak itu sampai ke barak. Dengan ketajaman penglihatannya, Ki Pandi yang bersembunyi di balik rimbunnya pohon perdu melihat Manggada dan Laksana itu dibawa ke barak, sementara dua orang yang mengawasi keadaan itu masih saja berjaga-jaga di tempatnya. Keduanya berjalan hilir mudik untuk mengatasi kejemuan mereka dalam tugas yang melelahkan itu. Agaknya para pengikut Wira Sabet dari Sura Gentong itu lebih senang melakukan tugas-tugas lain daripada berdiri di pinggir hutan untuk mengawasi keadaan. Meskipun sejak semula mereka berada di tempat itu, belum pernah ada. orang yang datang atau bahkan yang tersesat sekalipun sampai ke tempat itu. Namun para pengikut Wira Sabat dan Sura Gentong setiap hari bergantian selalu mengawasi keadaan. Namun karena itu, maka para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu tidak melakukan tugas mereka dengan sungguhsungguh. Mereka lebih banyak menyibukkan diri justru untuk mengusir kejemuan daripada menjalankan tugasnya sebaikbaiknya. Ki Pandi melihat gelagat itu. Karena itu, maka ia ingin memanfaatkan keadaan itu sebaik-baiknya. Sebagai seorang yang berilmu tinggi dan mempunyai ketajaman panggraita, maka Ki Pandi mampu beringsut dari balik gerumbul perdu yang satu ke balik gerumpul perdu yang lain, sehingga akhirnya Ki Pandi itu hilang ke dalam hutan. Dan dalam hutan itulah Ki Pandi ingin melihat, apa yang ada di balik dinding yang cukup tinggi yang dibuat dari bambu yang berjajar rapat. Dalam pada itu, Manggada dan Laksana telah dibawa masuk ke dalam lingkungan barak itu. Di regol dua orang penjaga berdiri di sebelah menyebelah dengan tombak di tangan. “Inikah anak-anak muda yang harus kau ambil?” bertanya seorang penjaga. Orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itulah yang menjawab “Ya. Seorang lagi lepas dari tangan kami” “Kenapa dapat terjadi?” bertanya penjaga. Orang yang membawa Manggada dan Laksana itu merasa tidak perlu menjawab. Karena itu, maka merekapun, berjalan terus menuju ke bangunan induk sarang Wira Sabet dan Sura Gentong itu. Sekali-sekali mereka didorong ke arah yang benar, karena keduanya masih saja ditutup matanya. Manggada dan Laksana hampir jatuh terjerumus ketika kaki mereka terantuk tangga ketika mereka sampai di bagian depan bangunan induk barak itu yang cukup luas dan terbuka, yang dianggapnya sebagai pendapa. Tetapi seorang yang menggiring mereka cepat menangkap tengkuk Manggada dan sekaligus Laksana. Dengan kasar orang itu membentak “Naik tangga itu, anak-anak dungu.” Manggada dan Laksanapun kemudian melangkah dengan hati-hati, naik tangga pendapa yang rendah itu. “Hanya tiga anak tangga” desis Laksana. Orang-orang yang menggiringnya itupun kemudian mendorong Manggada dan Laksana sambil membentak “Duduk” Manggadi dan Laksana masih belum merasa berada di atas tikar. Karena itu, mereka agak ragu-ragu untuk duduk. Tetapi orang-orang yang menggiringnya itu telah mendorong mereka, sehingga Manggada telah terjatuh, sementara Laksana terhuyung-huyung beberapa langkah. “Duduk” bentak orang yang bertubuh tinggi kekuruskurusan. Sekali lagi Manggada dan Laksana merasa tengkuknya ditangkap dan kemudian ditekan untuk duduk di atas lantai tanah yang tidak dilambari sehelai tikar. Namun tiba-tiba saja mereka mendengar seseorang berkata “Jangan terlalu kasar terhadap orang yang sudah tidak berdaya” Manggada dan Laksana termangu-mangu mendengar peringatan itu. Apakah itu satu kebaikan baginya atau justru satu penghinaan, bahwa keduanya sama sekali sudah tidak berdaya. Namun kemudian terdengar suara itu lagi “Kau hanya membawa dua di antara ketiga orang anak muda itu?” “Yang seorang berhasil melarikan diri. Ketika anak itu melihat kami, maka ia langsung melarikan kudanya, sehingga kami tidak dapat mengejarnya. Sementara kedua orang anak muda ini tidak sempat melakukannya. Keduanya justru meloncat turun dan berusaha untuk melawan. Sementara kuda-kuda mereka juga lari dengan cepat menjauh” “Paman Sura Gentong menghendaki ketiga-tiganya. Tetapi untuk sementara dua orang ini sudah cukup” Manggada dan Laksana yang mendengar pembicaraan itu cepat menduga, bahwa orang yang berbicara itu adalah Pideksa. Dalam pada itu. maka Pideksa itupun kemudian memerintahkan agar tutup mata kedua anak muda itu dibuka. Demikian tutup mala itu dibuka, maka Manggada dan laksana melihat sebagaimana mereka duga, Pideksa berdiri beberapa langkah di hadapan mereka. “Maaf Manggada” berkata Pideksa “kami terpaksa mengundang kalian berdua untuk datang ke sarang kami” “Apa maksudmu menangkap kami berdua, Pideksa?” bertanya Manggada. “Kalian berdua, bertiga dengan Sampurna, merupakan orang-orang yang berbahaya di padukuhan Gemawang” jawab Pideksa. “Kenapa?” bertanya Manggada. “Kalian telah melakukan tindakan-tindakan yang menunjukkan bahwa kalian tidak menjadi ketakutan terhadap ayah dan paman Sura Gentong. Kalian telah menghasut orang-orang padukuhan Gemawang untuk tidak takut kepada kami” berkata Pideksa. “Jadi maksudmu, kami, orang-orang Gemawang harus menjadi takut dan kemudian tunduk kepada kalian?” bertanya Manggada. “Ya” jawab Pideksa “kami tidak mempunyai pilihan lain” Pembicaraan itu terhenti. Mereka melihat dua orang yang berjalan menuju kependapa yang bahannya semuanya dari bambu itu. Dari bambu petung yang besar dibuat untuk tiangtiangnya. Bambu wulung dan bahkan bambu apus sebagai kerangka atapnya. Namun bagaimanapun juga Manggada dan Laksana menjadi berdebar-debar. Kedua orang itu dapat melakukan hal-hal yang tidak terduga sebelumnya. Demikian mereka naik ke pendapa, maka seorang di antaranya, Sura Gentong sendiri, bertanya lantang “Mana yang seorang lagi?” “Yang seorang berhasil melarikan diri Ki Sura” jawab orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu agak takut. Namun Pideksa segera menyahut “Sampurna memang seorang penakut sejak kanak-kanak. Ketika mereka melihat ketiga orang yang mencarinya, maka Sampurna segera melarikan kudanya meninggalkan kedua orang kawannya” “Jadi apa artinya kesombongannya selama ini?” “Anak itu dapat diabaikan tanpa Manggada dan Laksana” “Seharusnya tikus itu harus kau tangkap juga” geram Sura Gentong. “Tetapi kami mendapat perintah untuk tidak menangkap mereka di rumah mereka” jawab seorang di antara ketiga orang yang membawa Manggada dan Laksana itu. “Untuk sementara kita memang masih membatasi diri“ yang menyahut adalah Wira Sabet. Namun Sura Gentong itu menggeram “Sebenarnya kita harus sudah bertindak sesuai dengan rencana” “Bukankah Ki Sapa Aruh juga minta agar kita mematangkan keadaan lebih dahulu?” sahut Wira Sabet. Sura Gentong tidak menjawab. Namun kemudian ia berpaling kepada Manggada dan Laksana “Kau ingat apa yang aku katakan kepada kalian di halaman rumah kakang Wira Sabet?” Manggada dan Laksana menjadi semakin berdebar-debar. Namun kemudian Sura Gentong itu bertanya kepada ketiga orang yang membawa kedua orang anak muda itu “He, tidak kau tutup matanya ketika mereka kau bawa kemari?” Yang menjawab adalah Pideksa “Akulah yang membukanya. Baru saja” Sura Gentong itu mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun berkata kepada Manggada dan Laksana “Ada dua pilihan bagi kalian. Kalian tetap berada disini, atau kalian ingin pulang tetapi dengan mata yang buta” Manggada dan Laksana tidak segera menjawab, sehingga Sura Gentong membentaknya keras-keras ”Jawab” Manggada dan Laksana terkejut. Tetapi keduanya masih tetap berdiam diri. Ternyata Sura Gentong memang seorang yang sangat kasar. Tiba-tiba kakinya melayang menghantam lengan Manggada. Manggada terpelanting. Ia bukan saja jatuh terlentang. Tetapi Manggada berguling dilantai yang tidak beralas itu. Bahkan kemudian ia nampak menjadi sangat kesakitan. Mulutnya menyeringai sementara ia menggeliat sambil memegangi lengannya dengan tangannya yang lain. “Anak iblis” geram Sura Gentong. Sementara Laksana menjadi sangat tegang. Tetapi Laksana masih dapat mengekang dirinya, sehingga ia tidak berbuat sesuatu. Sura Gentong ternyata masih saja berteriak”jawab.Kau belum menjawab” “Kami tidak ingin menjadi buta paman” jawab Manggada sambil menyeringai kesakitan. Tetapi Sura Gentong menjadi semakin marah. Bahkan ia berteriak “Dengar pertanyaanku. Apakah kau memilih tinggal disini atau memilih kami lemparkan kembali ke padukuhanmu tetapi dengan mata yang buta?” Manggada terpaksa menjawab “Aku memilih tinggal disini, paman” “Duduk” perintah Sura Gentong lantang. Sementara itu, iapun berpaling kepada Laksana “Bagaimana dengan kau?” “Aku juga memilih tinggal disini” jawab Laksana. “Ternyata kesombongan kalian sama sekali tidak berarti apa-apa. Kau kelilingi padukuhan Gemawang dengan naik kuda, berderap seperti seorang senapati perang. Kau hasut orang-orang Gemawang untuk tidak takut menghadapi kami. Kau kira kami dapat membiarkan orang-orang yang menentang kami?” Laksana menundukkan wajahnya. Sementara Manggada telah duduk lagi di sebelahnya. Tetapi dengan kasar Sura Gentong melemparkan ikat kepala dan menarik rambut Laksana sambil berkata “Apakah kau masih akan menghasut orang-orang Gemawang menentang kami?” “Tidak” jawab Laksana cepat-cepat. Sura Gentong mengguncang kepala Laksana keras-keras sambil berkata “Seharusnya kau tengadahkan wajahmu sebagaimana saat kau berada di punggung kuda berlari-lari mengelilingi padukuhan Gemawang” Laksana masih tetap berdiam diri meskipun rambutnya masih digoncang-goncang oleh Sura Gentong. Namun akhirnya Sura Gentong melepaskan rambut Laksana, tetapi dengan kerasnya ia menampar kening anak muda itu. Laksanalah yang kemudian berguling-guling kesakitan beberapa saat. Ketiga orang yang membawa kedua orang anak muda itu menjadi tegang. Mereka sudah terbiasa menyaksikan orangorang yang mengalami perlakuan kasar. Bahkan lebih dari yang dialami oleh kedua orang anak muda itu. Namun saat itu jantung mereka terasa berdentang semakin cepat. Pideksapun berdiri termangu-mangu. sementara Wira Sabet memandang anak-anak muda itu dengan wajah yang tegang. Dalam pada itu Sura Gentong itupun berkata “Kalian berdua sudah terlanjur melihat tempat tinggal kami. Karena itu, sebelum segala sesuatunya selesai, kalian tidak akan dapat keluar dari tempat ini, kecuali jika mata kalian telah menjadi buta. kalian berdua akan menjadi budak disini. Melakukan segala pekerjaan kasar yang tidak pantas dilakukan oleh orang lain” Manggada dan Laksana tidak menjawab sama sekali. Dalam keadaan yang demikian mereka tidak akan mendapat kesempatan untuk berbicara apapun juga. Karena itu, mereka harus menunggu satu kesempatan untuk berbicara tentang hubungan antara orang-orang itu dengan padukuhan Gemawang. Dalam pada itu, Pideksapun yang kemudian berkala “Serahkan anak-anak gila itu kepadaku, paman” “Kau urus mereka” geram Sura Gentong. Sementara itu, Wira Sabetpun berbicara pula kepada ketiga orang yang membawa kedua orang anak muda itu “Serahkan mereka kepada Watang yang akan menyimpan mereka” “Nanti aku akan berbicara dengan mereka” geram Sura Gentong. Ketiga orang itupun kemudian membawa kedua orang anak muda itu kepada orang yang ternama Watang. Seorang yang mendapat kepercayaan Wira Sabet dan Sura Gentong menahan orang-orang yang dianggapnya berbahaya. Bahkan dari lingkungan mereka sendiri. Tetapi Wira Sabet masih berkata selanjutnya “Pideksa. Temui Watang. katakan kepadanya tentang kedua anak muda itu” Pideksa tanggap akan pesan ayahnya. Karena itu, maka iapun ikut pula bersama ketiga orang yang akan menyerahkan Manggada dan Laksana. “Ambil ikat kepalamu” berkata Pideksa kepada Laksana. Laksanapun kemudian mengambil ikat kepalanya dan dikenakannya asal saja melekat di kepalanya. Diiringi oleh Pideksa dan ketiga orang yang membawanya ke tempat itu, maka Manggada dan Laksana telah di dihadapkan kepada orang yang bersama Watang. Seorang yang bertubuh tinggi besar dan sedikit gemuk Rambut di kepalanya tidak terlalu banyak, sementara ikat kepalanya yang botak itu tanpa menyembunyikan botaknya. Wajah orang itu nampak bengis. Matanya yang dalam memancarkan nafas kebencian. Ketiga orang yang membawa Manggada dan Laksana itu menjadi semakin berdebar-debar. Mereka mengenal Watang sebagai seorang yang tidak berjantung. Ia dapat berbuat apapun yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain. Ketika mereka mendekati sebuah barak yang kokoh di tengah-tengah lingkungan sarang Wira Sabet dan Sura Gentong itu, Pideksa berkata kepada ketiga orang yang membawa Manggada dan Laksana “Beristirahatlah. Kalian telah berhasil menjalankan tugas kalian, meskipun tidak sempurna” Ketiga orng itu nampak ragu-ragu. Mereka memandangi Manggada dan Laksana sesaat dengan tatapan mata yang lain. Namun merekapun kemudian meninggalkan Manggada dan Laksana yang digiring langsung oleh Pideksa. Watang yang melihat Pideksa membawa dua orang anak muda telah menyongsongnya. Dengan suara yang berakitan, bergetar, orang yang bertubuh tinggi besar dan berwajah garang itu bertanya “inikah anak-anak muda Gemawang yang berkeliaran di atas punggung kudanya itu? Bukankah semuanya ada tiga?” “Ya” jawab Pideksa “yang seorang masih luput, ia sempat melarikan diri” “Jika demikian, biarlah dosanya ditanggung oleh kedua orang kawannya itu” “Maksudmu?” bertanya Pideksa. “Jika seharusnya yang dipatahkan satu tangannya, maka untuk menanggung dosa kawannya, maka yang akan aku patahkan adalah dua buah tangannya” “Itukah mimpimu siang dan malam?” bertanya Pideksa. “Bukankah itu tugasku disini?” Watang justru bertanya. “Tetapi dua orang anak muda itu adalah bagianku. Kau tidak boleh mengusiknya. Aku sendiri yang akan menghukum mereka. Ingat. Kau tidak boleh mengusiknya, atau kau sendiri juga akan mengalami perlakuan kasar dari aku atau ayah atau paman Sura Gentong” Watang mengerutkan dahinya. Sementara Pideksa berkata “Aku ingin satu permainan yang utuh dengan kedua orang anak muda itu. Nah, kau tahu maksudku?” Watang mengangguk sampai tersenyum “Aku mengerti anak muda itu” “Nah, jika demikian jangan kecewakan aku” berkata Pideksa kemudian. Watang mengangguk-angguk. Sementara itu Pideksa berkata ”Simpan anak itu baik-baik” “Baik, anak muda” jawab Watang kemudian. Tiba-tiba saja kedua tangan Watang itu menyambar baju Manggada dan Laksana diarah tengkuknya. Didorongnya kedua anak muda itu ke pintu sebuah bilik tahanan yang kuat. Kemudian dengan kakinya, Watang mendorong Manggada dan kemudian Laksana masuk ke dalam bilik itu. Dorongan yang kemudian membuat kedua orang anak muda itu terhuyung-huyung. Namun Manggada kemudian telah jatuh tertelungkup di dalam biliknya. Sementara itu Pideksa berkata “Jangan kurangi hakku, mengerti. Aku tidak mau kecewa” Watang tidak menjawab. Tetapi iapun kemudian menutup pintu dari luar dan kemudian menyelaraknya. Sejenak kemudian Pideksapun lelah meninggalkan bilik tahanan itu dan melangkah kenib di ke pendapa. Adalah di luar kesadaran mereka. bahwa dari sebatang pohon yang tinggi, di dalam hutan yang terletak di sebelah lingkungan tempat tinggal Wira Sabet dan Sura Gentong itu, Ki Pandi sempat melihat kemana Manggada dan Laksana itu digiring dan disimpan. Meskipun Ki Pandi tidak tahu apa yang terjadi seluruhnya, namun setidak-tidaknya ia sudah mengetahui satu di antara bangunan yang ada di lingkungan dinding bambu yang terhitung tinggi itu, sebagai tempat untuk menahan Manggada dan Laksana. Tetapi Ki Pandi tidak dapat berbuat apa-apa, ia tahu bahwa di tempat itu banyak terdapat para pengikut. Wira Sabet dan Sura Gentong dengan beberapa orang saudara seperguruannya. Bahkan mungkin orang yang bernama Ki Sapa Aruh itu juga tinggal di tempat itu pula. Sementara itu, Manggada dan Laksana yang berada di dalam bilik yang tertutup rapat itu, duduk sambil mengusap pakaiannya yang kotor. Dengan nada dalam Manggada berkata “Aku harus mengotori pakaianku dengan beberapa kali berguling-guling dilantai dan bahkan di tanah” “Salahmu” desis Laksana “kenapa kau harus jatuh dan berguling-guling, sehingga aku harus menirukannya juga” Manggada tersenyum. Katanya “Bukankah permainanku meyakinkan mereka” ”Tanpa setiap kali bergulingpun kita akan dapat meyakinkan mereka” sahut laksana. Manggada tertawa tertahan. Katanya “Sudahlah. Kita mempunyai gaya permainan tersendiri” Laksana mengangguk-angguk. Namun kemudian ia bertanya “Bagaimana tanggapanmu tentang sikap Pideksa?” “Aku tidak berprasangka buruk. Bagaimanapun juga, di masa kecil, kami adalah kawan bermain. Aku tidak bermusuhan dengan Pideksa di masa kecilku” jawab Manggada. “Mudah-mudahan. Akupun berpikir demikian. Tetapi dugaan kita dapat salah” jawab Laksana. Tetapi untuk sementara kedua orang anak muda itu berkesimpulan bahwa Pideksa masih berusaha untuk mengekang perlakuan yang sangat buruk terhadap mereka. Dalam pada itu, yang justru menjadi gelisah adalah ketiga orang yang telah membawa Manggada dan Laksana ke barak itu. Perasaan yang belum pernah singgah dihatinya telah membuat mereka tidak mengerti tentang diri mereka sendiri. Bahkan mereka bertiga sempat berbicara tentang nasib kedua orang anak muda itu. “Aku tidak tahu, apa jadinya kedua orang anak yang aneh itu” berkata orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu. “Sikapnya tidak masuk akal bagiku. A tau barangkali mereka memang anak-anak muda yang sombong” jawab kawannya. “Mungkin” sahut yang lain ”sombong dan tidak mengerti apa yang dapat terjadi atas diri mereka jika mereka berada di tangan Ki Wira Sabet dan Ki Sura Gentong. Apalagi Watang yang gila itu dapat berbuat apa saja yang tidak pernah kita bayangkan sekalipun” “Anak-anak itu memang gila. Tetapi kegilaannya telah membuat jantungku berdebaran terus. Aku tiba-tiba merasa berhutang kepada mereka” berkata orang yang bertubuh tinggi itu. Dua orang kawannya yang berjalan mendekati mereka, melihat wajah-wajah yang nampak kusut itu. Seorang di antara mereka bertanya “Kenapa kalian nampak murung?” Yang bertubuh tinggi itulah yang menjawab ”Kemungkinan buruk dapat terjadi atas kita” “Kenapa?” bertanya kawannya itu. “Kami gagal menangkap ketiga orang anak muda berkuda itu. Kami hanya dapat menangkap dua orang” jawab orang yang bertubuh tinggi itu. “Itu lebih baik daripada tidak sama sekali” desis orang itu sambil melangkah pergi. Orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu menarik nafas panjang. Di luar sadarnya ia berkata “Anak-anak muda itu mempunyai ilmu yang sangat tinggi. Seorang saja di antara mereka dapat mengalahkan kita bertiga. Apakah dengan ilmunya yang tinggi itu, ia ingin menjajagi isi barak ini” “Mungkin. Tetapi jika keduanya membentur Ki Wira Sabet dan Ki Sura Gentong, maka keduanya akan mengalami nasib buruk. Apalagi Ki Sapa Aruh” sahut yang lain. Orang yang bertubuh tinggi itu mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian “Terserahlah, apa yang akan terjadi. Aku tidak mau menjadi gila karenanya. Jika terjadi sesuatu atas anak-anak itu, tentu bukan salah kami. Mereka sendiri yang justru memaksa kami membawanya kemari. Sebaliknya, jika anak-anak itu membuat keonaran disini, juga bukan salah kami. Ki Wira Sabet dan Ki Sura Gentong menghendaki mereka dibawa kemari” “Ya” sahut kawannya “kita tidak bersalah terhadap siapapun. Kita melakukan apa yang mereka kehendaki. Baik Ki Wira Sabet dan Ki Sura Gentong, maupun Manggada dan Laksana itu” Ketiganya mengangguk-angguk. Meskipun demikian, rasarasanya ada beban yang tidak dapat mereka letakkan. Sementara itu, Manggada dan Laksana sudah berbaring di dalam bilik tahanannya. Mereka masih belum tahu apa yang dapat terjadi atas diri mereka. Namun ternyata ada juga sedikit kecemasan di hati mereka setelah mereka benar-benar berada di sarang Wira Sabet dan Sura Gentong. Ketika hari mendekati senja, maka Manggada dan Laksana menjadi berdebar-debar ketika selarak pintu dibuka. Watang yang bertubuh tinggi besar dan agak gemuk itu berdiri di muka pintu dengan wajah yang membuat jantung kedua anak muda itu berdeba-debar. Tanpa mengucapkan sepatah katapun. Watang melangkah masuk. Dicengkamnya baju Manggada dan Laksana. Kemudian dengan serta merta keduanya dilemparkan keluar bilik tahanan itu. Keduanya terhuyung-huyung beberapa langkah. Laksana sempat berpegangan sebatang pohon yang hampir saja membentur tubuhnya. Namun Manggada telah jatuh terguling di tanah. Ketika Manggada berusaha dengan susah payah bangkit. Laksana berbalik “Terjatuh lagi” “Sst“ Manggada berdesis. Mereka terdiam ketika Pideksa melangkah mendekati mereka sambil berkata “Ayah dan paman Sura Gentong ingin berbicara dengan kalian” Manggada dan Laksana menjadi gelisah juga. Tetapi agaknya kesempatan itulah yang mereka tunggu. Demikianlah, maka Pideksapun telah membawa Manggada dan Laksana ke pendapa bangunan induk sarang Wira Sabet dan Sura Gentong itu. Di pendapa itu, Wira Sabet dan Sura Gentong telah menunggu. Mereka duduk di atas tikar yang dibentangkan di pendapa itu. Tetapi tikar itu tidak cukup luas apabila Manggada dan Laksana ikut duduk bersama mereka. Karena itu, maka ketika Sura Gentong memerintahkan keduanya untuk duduk, Manggada dan Laksana telah duduk di atas lantai tanpa lambaran tikar sama sekali. Dengan wajah yang tetap garang. Sura Gentongpun bertanya “He, kenapa kau telah melakukan satu perbuatan gila dengan berkuda berkeliling padukuhan?” Manggada termangu-mangu sejenak. Pertanyaan seperti itu memang sudah diduganya. Meskipun demikian Manggada harus menjawabnya dengan sangat berhati-hati. “Paman” berkata Manggada kemudian “sebenarnyalah aku ingin melihat padukuhan kami hidup lagi seperti keadaannya sehari-hari. Dalam keadaan yang tidak sewajarnya itu, maka orang-orang padukuhan tidak dapat melakukan pekerjaan mereka dengan baik. Sawah tidak terpelihara sebagaimana seharusnya, parit-parit yang kering tidak sempat diairi karena bendungan yang pecah. Jalan-jalan yang rusak dan bahkan perempuan-perempuan tidak sempat pergi ke pasar” “Jadi kau ingin menjadi pahlawan, ya. Kau ingin menentang kami disini?” “Sama sekali tidak. Yang kami lakukan sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong. Kami hanya ingin orang-orang Gemawang bekerja seperti biasa. Tanpa rasa takut, karena persoalan antara para bebahu Gemawang dengan paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong akan diselesaikan Oleh mereka, sehingga orang-orang Gemawang tidak usah turut campur” “Tidak” jawab Sura Gentong “kami memang menginginkan mereka menjadi ketakutan. Kami menginginkan agar mereka mendapat kesan, bahwa bebahu yang sekarang memegang pimpinan di padukuhan itu tidak mampu melindungi mereka” “Kami tidak mengetahuinya, paman” “Bohong Kau kira kau dapat membohongi kami? Kau ingat apa yang kau katakan di halaman rumah kakang Wira Sabet? Kau ingat bagaimana kau mencobai untuk membujuk kami agar kami bersedia berbicara dengan Ki Jagabaya. Katakatamu sudah saling bertentangan. Karena itu. aku dapat mengambil kesimpulan bahwa kau memang bermaksud buruk dengan kelakuanmu bertiga itu” “Sebenarnya keinginan itu masih tetap ada di kepalaku, paman. Kami tentu akan merasa berbahagia jika paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong bersedia untuk berbicara” Tiba-tiba saja Sura Gentong itu bangkit dan melangkah mendekati Manggada. “Bukankah aku sudah memberikan syarat untuk membuka pembicaraan? Apakah Ki Jagabaya menyetujui syarat itu?” “Paman” berkata Manggada “bagaimana jika syarat itu paman katakan langsung kepada Ki Jagabaya dalam sebuah perundingan? Sebenarnya yang terpenting orang-orang padukuhan adalah satu penyelesaian yang tuntas, itu saja” Tiba-tiba saja Manggada terkejut. Kaki sura Gentong itu telah berada di atas pundaknya. Katanya “Kau tidak berhak, mengatakan sepatah katapun tentang usaha penyelesaian dalam persoalan Gemawang. Aku sudah mempunyai rencana yang lengkap. Rencana itu akan aku sampaikan kepada Ki Bekel dan para bebahu. Tidak ada perundingan. Persoalan akhir adalah, mereka menerima atau tidak. Jika mereka menerima, maka Gemawangakan segera pulih kembali. Jika tidak, maka terpaksa akan terjadi kekerasan” Manggada menunduk. Pundaknya mulai terasa sakit. Sementara Sura Gentong berkata “Rencana penyelesaianku tetap sebagaimana aku katakan kepadamu di halaman rumah paman Wira Sabet. Tetapi sekarang aku sudah menyusunnya menjadi satu kesatuan pengertian yang terperinci dan dimuat pada sebuah surat yang memang agak panjang. Itu saja” “Apakah paman menghendaki aku membawa surat itu?” “Persetan kau“ kaki Sura Gentong telah mendorong pundak Manggada sehingga Manggada jatuh terlentang. Mulutnya menyeringai menahan sakit “Duduk” bentak Sura Gentong “sudah aku katakan, karena kau telah melihat tempat ini, maka kau akan menjadi budak disini sampai tercapai satu penyelesaian yang tuntas. Tergantung dari penyelesaian itu, apakah kau akan dapat melihat ayah dan ibumu lagi atau tidak” Manggadapun kemudian berusaha untuk duduk. Sementara itu, Sura Gentong telah mendekati Laksana sambil berkata “He, kau orang asing. Kenapa kau ikut campur dalam persoalan padukuhan Gemawang” “Aku hanya ikut-ikutan paman” jawab Laksana “aku adalah adik sepupu kakang Manggada” “Aku sudah tahu“ tangan Sura Gentongpun telah menampar wajah Laksana sehingga wajah Laksana itu terputar menyamping. Yang terdengar kemudian adalah desah kesakitan, sementara kedua tangannya memegangi mulutnya yang kesakitan Yang kemudian juga bangkit adalah Wira Sabet. Dengan kerut di dahinya Wira Sabet itupun bertanya “Apakah yang sudah dilakukan oleh Ki Jagabaya selama ini?” Manggadalah yang menjawab “Ki Jagabaya tidak melakukan apa-apa, paman” “Apakah ia mempersiapkan sekelompok orang untuk membantunya mempertahankan kedudukannya?” “Sepengetahuanku tidak. Tidak ada orang yang akan berani melakukannya, seandainya Ki Jagabaya menghendakinya” jawab Manggada. “Jadi, kenapa menurut pendapatmu, bahwa Ki Jagabaya berani menentang keinginan kami?” bertanya Wira Sabet pula. “Aku tidak tahu paman. Tetapi menurut kata orang, Ki Jagabaya itu terlalu setia kepada kewajibannya, sehingga ia tidak memikirkan akibat yang dapat terjadi atas dirinya” Namun tiba-tiba saja Sura Gentong itupun bertanya pula “He, apakah ayahmu juga berani menentang aku?” “Tidak, paman. Ayah masih seperti dahulu. Ia tidak banyak menyangkutkan diri dengan persoalan di sekitarnya. Ayah lebih baik diam dan demikian pula dalam persoalan sekarang ini. “Tetapi kenapa kau menjadi ribut bersama anak Jagabaya itu sehingga setiap hari kalian selalu bersama-sama dengan Sampurna berkuda di sepanjang jalan padukuhan? Apakah dengan demikian Sampurna mencari pendukung untuk mempertahankan kedudukan ayahnya yang sudah goncang itu?” “Tidak. Sampurna melakukan sebagaimana kami lakukan” jawab Manggada. Namun tiba-tiba saja kaki Sura Gentong telah hinggap pula di tengkuk Manggada “Kau jangan mencoba melindungi anak Jagabaya itu. Atau karena kau sadari bahwa apa yang dilakukannya menyangkut kalian berdua juga?” “Tidak paman. Aku berkata sebenarnya” jawab Manggada. Tetapi kaki Sura Gentong itu menekan Manggada semakin keras, sehingga kepala Manggada semakin menunduk hampir menyentuh lantai. Sementara kakinya masih tetap bersilang, sedangkan tangannya berusaha menyangga tubuhnya. Tetapi Wira Sabet itupun kemudian bertanya kepadanya “Manggada. Apakah Ki Jagabaya pernah mengatakan sesuatu kepadamu dalam hubungannya dengan kami?” “Seperti yang pernah kami katakan kepada paman“ Manggada berhenti sejenak, sementara ia masih saja membungkuk karena kaki Sura Gentong masih menekan tengkuknya. “Aku ingin mendengar jawabannya” berkata Wira Sabet kepada Sura Gentong. Sura Gentong menggeram. Tetapi ia mengangkat kakinya dan memberikan Manggada mengangkat kepalanya pula. “Jawab pertanyaanku dengan jelas” desis Wira Sabet. “Seperti yang pernah kami katakan kepada paman di halaman rumah paman itu” jawab Manggada. “Satu hal yang tidak mungkin” berkata Wira Sabet “selanjutnya tidak akan ada orang yang dapat mempengaruhi sikap kami terhadap padukuhan Gemawang. Apalagi setelah kau berdua ada disini. Seperti yang dikatakan oleh pamanmu Sura Gentong, maka kau akan menjadi budak disini” Manggada tidak menjawab lagi. Sementara itu Wira Sabet pun berkata “Kau akan berada dibawah perintah Pideksa langsung. Kau harus menurut perintahnya. Jika kau dan adik sepupumu itu berani menolak perintahnya, maka kau akan menyesal. Ingat, kau berada di lingkungan kuasa kami” Manggada dan Laksana tidak menjawab. Tetapi kepala mereka menunduk dalam-dalam. “Pideksa” berkata Wira Sabet “bawa anak-anak ini melihatlihat apa saja yang harus mereka lakukan mulai besok.” “Baik, ayah” jawab Pideksa. Ternyata Sura Gentong tidak menahannya ketika Pideksa kemudian berkata “Marilah, ikuti aku” Manggada dan Laksana tidak menjawab. Iapun kemudian mengikuti Pideksa keluar dari pendapa. Dua orang pengawal yang mendapat tugas untuk mengikuti Pideksa yang membawa kedua orang tawanan melangkah di belakang mereka dengan tombak pendek di tangan. Manggada dan Laksana kemudian berjalan di belakang Pideksa menuju ke bagian belakang barak itu. Barak yang dihuni oleh Wira Sabet dan Sura Gentong serta beberapa orang saudara seperguruannya. Meskipun secara khusus orang-orang yang disebut saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong itu tidak nampak menonjol di antara para pengikut yang ada di barak itu, namun Pideksa sempat berdesis kepada Manggada dan Laksana “Ada empat orang saudara seperguruan ayah dan paman Sura Gentong disini. Yang duduk di sudut barak yang terpisah itu adalah satu di antaranya” Manggada dan Laksana memandang orang itu dengan jantung yang berdebaran. Orang itu benar-benar nampak bengis sebagaimana orang yang bernama Watang. Meskipun tubuhnya tidak sebesar Watang. tetapi nampak bahwa orang itu adalah orang yang berilmu. Bukan sekedar orang yang mengandalkan kekuatan tenaganya saja, atau barangkali sedikit kemampuan dasar olah kanuragan. Ketika di antara dua bangunan bambu mereka berpapasan dengan seorang yang bertubuh sedang dan bahkan berwajah tampan, maka Pideksapun berkata “Orang itu adalah salah satunya pula” Manggada dan Laksana mengangguk-angguk kecil. Ternyata ujud orang itu jauh berbeda dengan ujud orang yang duduk di sudut barak yang terpisah itu. Demikian orang itu berdiri beberapa langkah dari Pideksa, orang itu berhenti. Demikian pula Pideksa, sehingga Manggada, Laksana dan dua orang pengawal di belakang merekapun berhenti. Ternyata orang yang berwajah tampan itu tersenyum. Dipandanginya Manggada dan Laksana dengan saksama. Kemudian orang itupun berkata “inikah anak-anak yang diburu oleh ayahmu itu?” “Ya, paman” jawab Pideksa. “Apa sebenarnya kesalahan mereka?” bertanya orang berwajah tampan itu. “Mereka yang dikatakan ayah dan paman Sura Gentong berkeliaran di padukuhan Gemawang di atas punggung kuda bertiga itu paman” jawab Pideksa. Orang itu tertawa. Kepada Manggada dan Laksana ia bertanya “He, apa sebenarnya yang kau lakukan dengan berkuda berkeliling padukuhan itu?” Manggada dan Laksana masih melihat senyum di bibir orang itu. Dengan ragu-ragu Manggada menjawab “Sudah kami katakan kepada paman Wira Sabet dan Sura Gentong pula, bahwa kami sekedar ingin melihat padukuhan Gemawang hidup kembali” Orang itu tertawa pula. Katanya “Ada yang menarik pada kalian berdua dan yang seharusnya bertiga. Kalian adalah anak-anak yang berani. Tetapi keberanian kalian telah melemparkan kalian ke dalam neraka ini” Manggada dan Laksana tidak menjawab. Sementara orang itu bertanya kepada Pideksa “Akan kau bawa kemana anakanak itu, Pideksa?” “Aku akan menunjukkan kepada mereka, apa yang harus mereka kerjakan disini” “Apakah keduanya akan bergabung dengan budak-budak itu?” bertanya orang yang berwajah tampan itu. “Ya” jawab Pideksa. “Jika keduanya sering berkuda berkeliling padukuhannya, maka keduanya tentu dapat memelihara kuda. Nah, apakah kau pernah berpikir bahwa keduanya dapat diserahi untuk memelihara kuda-kuda yang ada di barak ini?” Pideksa berpikir sejenak. Kemudian katanya “Satu gagasan yang baik. Baik, paman. Mereka akan mendapat tugas khusus, memelihara kuda” Orang itu mengangguk-angguk. Kemudian katanya “Hanya ada satu kuda putih di barak ini. Kuda itu adalah kudaku. Hatihati dengan kuda itu. Jika kalian melakukan kesalahan atas kuda putihku, maka tidak akan ada ampun lagi bagi kalian” Manggada dan Laksana tidak menjawab. Sementara itu, orang itu meneruskan langkahnya sambil menepuk pundak Manggada “Selamat bekerja anak-anak. Mudah-mudahan kalian kerasan tinggal disini” Pideksa mengikuti langkah orang itu beberapa lama. Namun kemudian ia mengajak Manggada dan Laksana berjalan terus. Namun Pideksa itu sempat berdesis “Hati-hati dengan orang itu” “Kenapa?” bertanya Manggada di luar sadarnya “nampaknya ia orang baik” “Ia adalah orang yang paling kejam di antara saudara seperguruan ayah. Mungkin pikiran dan perasaannya sejalan dengan paman Sura Gentong” “Tetapi menilik ujud dan sikapnya” desis Laksana. Pideksa tertawa pendek. Katanya “Itulah yang sering menyesatkan anggapan orang atasnya” Manggada dan Laksana menarik nafas dalam-dalam. Tetapi mereka tidak bertanya lagi. Sementara itu, senja sudah turun. Lampu-lampu minyak telah menyala dimana-mana. Pideksa telah mengajak Manggada dan Laksana ke kandang kuda yang terletak agak di bagian belakang barak itu. Laksana menjadi berdebar-debar. Ada beberapa ekor kuda yang ada di kandang itu. Jika berdua saja dengan Manggada mereka harus memelihara kuda itu, maka mereka benar-benar menjadi budak yang malang. “Inilah kuda-kuda itu” berkata Pideksa “kalian harus memelihara dengan baik. Ingat, kuda putih itu adalah kuda yang harus kalian perhatikan melampaui yang lain. Pemiliknya adalah seorang yang mempunyai perangai yang aneh” Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sementara itu Pideksa telah memerintahkan salah seorang pengawalnya memanggil orang yang sebelumnya memelihara kuda itu. Sejenak kemudian, orang itupun telah menghadap. Sambil terbungkuk-bungkuk ketakutan orang itu mendekati Pideksa. “Aku membawa dua orang anak muda untuk menjadi kawan kerjamu disini. Kau sudah menjadi semakin tua. Tenagamu menjadi semakin lemah” berkata Pideksa. Orang tua itu memandang Manggada dan Laksana sejenak. Namun kemudian orang itu mengangguk-angguk sambil berkata “Terima kasih anak muda. Dengan demikian tugasku akan menjadi lebih ringan” “Mulai besok, kalian berdua akan bekerja disini. Tetapi ingat, kalian berdua adalah lawanan kami. Kalian jangan mencoba dan berusaha untuk melarikan diri. Tidak ada jalan yang akan dapat kalian lalui. Jika kalian berusaha memanjat dinding, maka tentu ada seseorang yang melihat kalian, karena orang-orangku selalu mengawasi barak. Yang perlu kalian ketahui, setiap usaha untuk melarikan diri hanya akan berarti satu penderitaan panjang yang tidak berkeputusan” berkata Pideksa. Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sementara itu Pideksa itupun berkata “Marilah. Malam ini kalian berdua masih harus tidur di bilik tahanan ini. Mungkin untuk beberapa malam berikutnya, sementara di siang hari kau bekerja disini. Manggada dan Laksana tidak menjawab. Ketika Pideksa akan mengajak Manggada dan Laksana kembali ke biliknya, maka mereka mendengar derap kaki kuda berlari ke arah mereka. Sejenak kemudian nampak dua orang berkuda melarikan kuda mereka menyusup di antara bangunan-bangunan yang ada di barak itu. Demikian kedua orang itu meloncat turun, maka orang tua yang biasanya memelihara kuda itu tergesa-gesa mendekati mereka dan menerima kedua ekor kuda itu. Kedua orang tertegun melihat Pideksa dan dua orang anak muda di dekat kandang itu. “Siapakah mereka, Pideksa?” bertanya salah seorang dari mereka. “Manggada dan Laksana, paman” jawab Pideksa. “O“ yang seorang di antara mereka mengangguk-angguk sambil melangkah mendekati Manggada dan Laksana “Jadi inilah anak-anak muda yang gagah berani itu?  

Jilid 5
TIBA-TIBA tangan orang itu telah mencengkam pundak Manggada, sehingga Manggada telah menyeringai kesakitan “Kalian memang anakanak muda yang perkasa” Manggada tidak menjawab. Tetapi wajahnya membayangkan ketakutan. Sinar obor di sudut barak membuat wajah Manggada semakin nampak pucat. Orang itu tertawa. Sementara yang seorang lagi telah menepuk pipi Laksana sambil berkata “Kalian masih terlalu kanak-kanak untuk mengenal liku-liku kehidupan seutuhnya. Karena itu, kalian tidak tahu apa yang kalian lakukan dengan pameran keberanian dan sikap seorang pahlawan. Namun akhirnya kalian sekarang berada disini. Jangan menyesal” Manggada dan Laksana tidak menjawab sama sekali. Sementara Pideksa berkata “Paman Sura Gentong telah menyerahkan keduanya kepadaku, paman” Kedua orang itu mengangguk. Seorang di antara mereka berkata “Apakah mereka akan ditugaskan mengurusi kudakuda ini?” “Ya, paman. Karena mereka senang berkuda, maka mereka tentu senang pula mengurusi kuda-kuda” jawab Pideksa. Kedua orang itupun kemudian telah meninggalkan kandang kuda itu. Pideksa menarik nafas panjang. Demikian kedua orang itu hilang di balik bangunan dalam barak itu, maka Pideksapun berkata “Marilah. Kalian harus kembali ke tempat tahanan itu” Manggada dan Laksanapun mengikuti Pideksa yang melangkah meninggalkan kandang itu dan membawanya kembali ke bilik mereka yang dijaga kuat. Watang yang bertanggung jawab atas mereka yang ditahan, memandang kedua anak muda itu dengan mata yang merah. Seperti hantu yang haus menghisap darah korbannya, Watang menatap kedua tawanan itu dengan tajamnya. Tangannya sudah menjadi gatal untuk memilin tangan-tangan kedua orang tawanan itu dan mematahkannya. Tetapi setiap kali Pideksa memperingatkan, bahwa Watang tidak boleh mengusik kedua orang tawanan muda itu. Malampun kemudian turun. Manggada dan Laksana memandang mangkuk yang berisi minum dan makan bagi mereka. Nasi dan sepotong ikan kering. Tetapi makanan yang sangat sederhana itu bukan masalah bagi mereka. Di hutan selama sebulan mereka makan apa saja. Bahkan pucuk dedaunan, meskipun kadang-kadang mereka makan daging panggang dan buah-buahan jika mereka menemukan. Malam itu, Manggada dan Laksana tidak segera dapat tidur. Mereka mencoba mereka-reka apa yang akan mereka alami esok. Namun Manggada sempat berbisik “Masih terasa sisa hubungan masa kanak-kanakku dengan Pideksa. Ia masih juga berusaha melindungi kita” “Paman Wira Sabet ternyata juga baik” berkata Laksana. “Yang benar-benar bersifat permusuhan adalah paman Sura Gentong dan tentunya juga orang yang bernama Ki Sapa Aruh itu. Sementara saudara-saudara seperguruan paman Sura Gentong itu nampaknya hanya ingin menumpang saja untuk ikut menikmati hari-hari mendatang” Manggada mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun berdesis “Kita berharap bahwa ada orang yang mengikuti jejak kita” Laksana termangu-mangu sejenak. Dengan nada rendah iapun berdesis “Yang kita harapkan adalah Ki Pandi itu sendiri. Jika orang lain yang mencobanya, mungkin sekali mereka akan terperosok ke dalam bahaya” Manggada mengangguk pula. Tetapi ia tidak menjawab. Laksanapun kemudian terdiam. Keduanya berusaha untuk dapat tidur. Mungkin besok mereka harus bekerja keras sebagai budak di barak itu. Namun keduanya justru bangkit dan duduk di pembaringan. Di kejauhan mereka mendengar aum harimau. Tidak hanya seekor. Tetapi dua ekor harimau yang mengaum bersentuhan dari sisi yang berbeda. Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Mereka mengenal suara harimau itu. Meskipun aumnya sama dengan aum harimau yang lain, tetapi ada sesuatu yang dapat mereka kenali. “Ki Pandi nampaknya sudah berada di sekitar barak ini” desis Manggada. Laksana tersenyum. Katanya “Mudah-mudahan kita dapat berbuat sesuatu di dalam barak ini” “Tetapi kita tidak boleh tergesa-gesa” Namun justru karena aum harimau itu, maka keduanya kemudian dapat tidur nyenyak hampir sepanjang malam yang tersisa. Tetapi pagi-pagi mereka harus sudah bangun. Watang yang garang itu telah membangunkan mereka. Raksasa itu membuka selarak pintu dari luar dan langsung melangkah ke pembaringan. Tanpa mengatakan sepatah katapun, kedua tangan orang itu telah mencengkeram baju Manggada dan Laksana. Dengan garangnya orang itu menariknya dan melemparkan kedua anak muda itu ke pintu. Manggada dan Laksana jatuh berguling. Dengan susah payah keduanya berusaha untuk bangkit berdiri. Dengan ketakutan keduanya kemudian berdiri di pintu. “Pemalas” geram Watang sambil melangkah mendekat. Sementara Manggada dan Laksana itu melangkah surut. “Kau harus sudah berada di tempat kerjamu” bentak orang itu “tetapi kau masih belum bangun” “Maaf. Kami belum terbiasa” jawab Manggada. Namun tangan orang itu segera terayun ke wajah Manggada. Ketika Manggada melihat tangan orang itu bergerak, maka ia harus meningkatkan daya tahannya, agar rahangnya tidak terlepas. Tetapi Manggada harus terhuyung-huyung dan jatuh tersandar dinding. Kedua tangannya memegangi wajahnya yang kesakitan. Bahkan Manggada itu harus berjongkok menahan sakit sambil mengaduh tertahan. “Ingat” berkata Watang “kalian tidak boleh membantah apa yang aku katakan. Jika saja Pideksa tidak menginginkan kalian, maka kalian telah aku hancurkan disini” Laksana sama sekali tidak menjawab, sementara Manggada masih berjongkok sambil berdesah. “Cepat, pergi ke tempat kerjamu. Dua orang pengawal di luar akan mengantarkanmu” “Baiklah” sahut Laksana “biarlah kami mandi dahulu” Jawaban itu membuat Watang menjadi marah. Tiba-tiba tangannya terayun menghantam perut Laksana. Seperti Manggada iapun harus mengerahkan daya tahannya, sehingga serangan orang itu tidak merontokkan isi perutnya. Namun juga seperti Manggada, Laksana bahkan terlempar keluar dari biliknya dan jatuh berguling di tanah. Dua orang pengawal yang berdiri di luar terkejut. Keduanya adalah justru orang-orang yang telah membawanya ke barak itu. Namun yang seorang lagi tidak ada di antara mereka. Adalah di luar sadar ketika kedua pengawal itu kemudian membantu Laksana berdiri. Watang yang berdiri di muka pintu berkata “Kenapa anak itu harus kalian tolong?” Tetapi salah seorang pengawal itu menjawab “Siapa yang menolongnya? Aku hanya ingin mereka cepat sampai di tempat kerja mereka. Setiap saat kuda-kuda itu akan dipakai. Jika saatnya datang dan kuda-kuda itu belum dibersihkan, maka kau akan bertanggung jawab” “Kenapa aku?” bertanya Watang. “Anak-anak ini menjadi kesakitan dan tidak segera dapat melakukan pekerjaan mereka” Watang tidak menjawab. Namun dengan kakinya ia mendorong Manggada yang berjongkok sambil berkata “Cepat. Jika kau tidak cepat bangkit, aku hancurkan tengkukmu” Manggadapun berusaha untuk segera bangkit. Demikian pula laksana. Tertatih-tatih keduanyapun kemudian digiring oleh kedua orang pengawal ke kandang. “Bukankah kalian dipekerjakan di kandang kuda?” bertanya seorang di antara kedua pengawal itu. “Ya” jawab Manggada sambil berpaling. Ketika ia sadar, bahwa Watang tidak melihat mereka lagi, maka Manggadapun segera berjalan dengan wajar. Kedua orang pengawal itu mengerutkan dahinya. Ketika mereka melihat Laksana juga berjalan dengan tegak dan tidak lagi terbungkuk-bungkuk memegangi perutnya, maka salah seorang pengawai itu bertanya “Kalian tidak apa-apa?” Laksanalah yang menjawab “Raksasa dungu itu hanya mengandalkan tenaga wadagnya saja. Tidak lebih” Kedua pengawal itu mengangguk-angguk. Mereka sudah tahu pasti kemampuan anak muda yang bernama Laksana itu. Bertiga mereka tidak mampu mengalahkannya. Namun Manggadapun kemudian bertanya “Apakah kami tidak boleh mandi dahulu. Bukankah matahari belum terbit?” Pengawal itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya “Kalian mandi bergantian setelah kalian berada di kandang. Jika seseorang di antara para pemimpin barak ini melihat ke kandang, nampaknya kalian sudah berada disana dan sudah mulai bekerja” “Apakah terbiasa disini pekerjaan dimulai sebelum matahari terbit?” bertanya Manggada. “Ya. Bagi budak-budak” jawab pengawal itu. Manggada dan Laksana tidak bertanya lagi. Merekapun berjalan terus menuju ke kandang. Sementara itu, telah terdengar pula bunyi orang menumbuk padi. Di dekat lumbung padi beberapa orang telah mulai menumbuk padi dengan lesung dan lumpang kayu. Sementara beberapa orang yang lain mulai membelah kayu dan mengangkut barang-barang dari satu tempat ke tempat lain. “Apakah mereka juga budak-budak?” bertanya Manggada. “Ya” jawab salah seorang pengawal. “Darimana paman Wira Sabet dan Sura Gentong mendapatkan budak-budak itu?” bertanya Manggada pula. “Aku tidak tahu darimana mereka bawa” jawab pengawal itu. “Tetapi bukankah sasaran paman Wira Sabet dan Sura Gentong adalah padukuhan kami dilandasi dendam yang menyala sejak keduanya meninggalkan padukuhan?” “Mungkin. Tetapi yang terjadi sekarang, keduanya bekerja bersama dengan Ki Sapa Aruh. Nampaknya Ki Sapa Aruh mempunyai sasaran yang lebih luas dari sekedar padukuhan Gemawang” “Kita berada di sebuah gerombolan perampok” desis Laksana. Kedua pengawal itu saling berpandangan. Namun kemudian seorang di antara mereka berkata “Ya. Ki Sapa Aruh mempunyai sebuah jaringan yang luas” “Dan kalian adalah bagian dari mereka?” bertanya Manggada kemudian. “Ya. Kami terperosok ke tempat ini. Kami tidak mempunyai pilihan lain pada waktu itu” Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun mereka mengerti, meskipun keduanya termasuk di dalam lingkungan itu, tetapi di dasar hati mereka masih terdapat sepeletik api penalaran yang jernih. Demikianlah, maka beberapa saat kemudian, Manggada dan Laksana telah berada di kandang. Orang tua yang sudah lebih dahulu menjadi budak dan dipekerjakan di kandang itu telah berada di kandang itu pula. Kedua pengawal itupun kemudian menyerahkan kedua orang anak muda itu sambil berkata “Kakek tua. Awasi kedua anak muda ini. Jika mereka berusaha melarikan diri, maka kau harus membunyikan isyarat. Jika keduanya sampai berhasil menghilang dari barak ini, maka lehermu akan dijeret di tiang gantungan” “Tetapi, kenapa harus aku yang bertanggung jawab?” bertanya orang tua itu dengan suara gemetar. “Kau tidak berhak bertanya. Sekali lagi membuka mulutmu, gigimu yang tersisa itu akan aku patahkan semuanya” Orang tua itu memang terdiam. Kepalanya teranggukangguk kecil. Tetapi ia tidak berkata apa-apa lagi. Demikianlah, kedua orang pengawal itupun segera meniggalkan Manggada dan Laksana di kandang kuda itu. Sepeninggal kedua pengawal itu, maka orang tua itupun berkata “Anak-anak muda. Jangan mencoba untuk melarikan diri. Ternyata leherku menjadi taruhan. Aku sudah tua. Aku tidak mau mati di tiang gantungan” “Kami tidak akan melarikan diri, kek” jawab Manggada “jika kami berani mencoba dan gagal, maka nasib kami akan menjadi sangat buruk. Bukankah kemarin Pideksa itu mengatakannya disini ketika ia membawa kami kemari?” Orang tua itu mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya “Apakah angger semalam dapat tidur?” “Ya, kenapa?” bertanya Manggada. “Jika demikian angger tidak mengalami goncangan perasaan seperti kami dan budak-budak yang lain. Demikian kami sampai di tempat ini” berkata orang tua itu. “Maksud kakek, mengalami ketakutan dan kecemasan?“ bertanya Laksana. “Ya. Begitulah” “Tentu kek. Kami mengalami ketakutan yang amat sangat, sehingga jantung kami berdebaran” Orang tua itu memandang Laksana sejenak. Namun kemudian orang tua itupun tersenyum “Kalian berdua hanya main-main” “Maksud kakek?” bertanya Manggada dengan wajah menegang. “Aku mendengar aum harimau semalam” berkata orang itu. “Kenapa? Bukankah barak ini terletak di hutan yang lebat? Tentu banyak binatang buas yang ada di hutan itu. Termasuk harimau. Harimau kumbang, harimau loreng dan barangkali juga harimau tutul” “Suara harimau itu aneh. Sebelum kalian bermalam disini, tidak pernah ada aum harimau seperti itu” “Apa sebenarnya yang kakek maksud?” desak Manggada. Orang tua itu tiba-tiba saja tertawa. Katanya “Sejak aku melihat kalian kemarin, aku sudah mengira bahwa kalian bukan orang kebanyakan. Maksudku, di dalam diri kalian tersimpan sesuatu. Mungkin kalian dapat mengelabui Wira Sabet, Sura Gentong dan saudara-saudara seperguruannya. Tetapi kau tidak dapat mengelabui mata tuaku” Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Baru kemudian Matiggada bertanya “Kakek mengenal aum harimau itu?” Orang itu tertawa lagi. Katanya “Harimau itu tentu harimau orang bongkok itu. Isyarat itu tentu diberikan kepada kalian berdua, karena sebelumnya, isyarat seperi itu tidak pernah aku dengar” “Jika demikian, maka kakek tentu juga bukan orang kebanyakan. Mungkin kakek saudara seperguruan Ki Pandi” “Bukan. Aku bukan saudara seperguruan Ki Pandi yang bongkok itu. Tetapi aku mengenalnya dengan baik. Iapun mengenal aku dengan baik. Tetapi sudah agak lama kami tidak bertemu” “Aku yakin, bahwa kakek juga memiliki ilmu yang sangat tinggi seperti Ki Pandi” berkata Laksana. “Jarang ada orang yang memiliki ilmu setinggi orang bongkok itu” jawab orang tua itu. Namun kemudian katanya “hati-hatilah dengan Ki Sapa Aruh. Mungkin kalian sulit menyembunyikan kelebihan kalian terhadap orang itu. Namun untungnya, Ki Sapa Aruh jarang datang kemari. Jika ia datang, maka ia tidak pernah memperhatikan kami, budak-budak yang baginya tidak berarti sama sekali ini” “Tetapi kenapa kakek ada disini?” bertanya Laksana. “Jawabnya sama jika ada orang yang bertanya kepada kalian, kenapa kalian berada disini?” Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Manggadapun berkata “Apakah kami boleh mengetahui nama atau sebutan kakek?” “Disini aku dipanggil Sampar. Tetapi orang bongkok itu mengenali aku dengan sebutan, Carang Aking” “Bagaimana kami memanggil kakek?” bertanya Manggada. “Disini sudah tentu kalian memanggil aku kakek Sampar” “Baiklah kek. Tetapi justru sekarang aku berani minta ijin untuk mandi bergantian” berkata Manggada. “Di sudut itu ada sumur. Tetapi jangan menimbulkan banyak suara. Hari masih sangat pagi. Sumur itu memang diperuntukkan bagi orang-orang yang mereka sebut budakbudak” Sejenak kemudian, Manggada dan Laksana sudah mandi bergantian. Namun mereka sudah mulai berkeringat lagi ketika matahari terbit, karena keduanya sibuk membersihkan kandang, menyediakan makan bagi kuda-kuda sekandang, kemudian juga membersihkan kuda-kuda itu. Dalam pada itu, bagaimanapun juga orang tua Manggada dan Laksana menjadi sangat gelisah. Kedua anak muda itu telah mengambil satu langkah yang sangat berbahaya. Namun hati mereka menjadi agak tenang ketika Ki Pandi mengatakan kepada mereka, bahwa Ki Pandi sudah dapat mengetahui dimana kedua orang anak muda itu berada. “Mereka sengaja memberikan petunjuk kepadaku” berkata Ki Pandi. “Jika demikian, apakah kita akan mengambilnya?” berkata Ki Citrabawa. “Jika keduanya tidak dapat keluar dari tempat itu, kita memang akan mengambilnya” berkata Ki Pandi “tetapi tentu kita tidak akan tergesa-gesa. Aku sedang mencari jalan untuk dapat memasuki barak itu nanti malam. Mudah-mudahan aku mendapat kesempatan berhubungan dengan keduanya” “Tetapi itu sangat berbahaya pula” berkata Ki Kertasana. “Mudah-mudahan aku dapat menghindarinya” sahut Ki Pandi. Namun wajahnya menampakkan kesungguhannya untuk melakukan sebagaimana dikatakannya” Ki Kertasana dan Ki Citrabawa yang memang meyakini kemampuan Ki Pandi itu hanya mengangguk-angguk saja. Keduanya percaya bahwa Ki Pandi tidak akan membiarkan Manggala dan Laksana mengalami kesulitan dan apalagi mengalami bencana. Dalam pada itu, Ki Kertasana dan Ki Citrabawa yang sebelumnya seolah-olah tidak melibatkan diri dengan keadaan yang mencengkam padukuhan Gemawang, bahkan orangorang Gemawang menganggap bahwa keduanya bersikap sebagaimana para penghuni yang lain, memutuskan untuk mulai berbuat sesuatu. Justru karena anak-anak mereka sudah terlibat semakin jauh. Karena itu, maka keduanya bersepakat untuk menghubungi Ki Jagabaya untuk menentukan langkah-langkah lebih jauh. Namun setelah Manggada dan Laksana dibawa ke barak Wira Sabet dan Sura Gentong, untuk beberapa hari tidak nampak lagi para pengikut keduanya itu berkeliaran di padukuhan Gemawang. Mungkin mereka menganggap bahwa setelah Manggada dan Laksana berhasil mereka tangkap, maka tidak akan ada lagi orang-orang Gemawang yang akan berani menentang mereka kecuali Ki Jagabaya yang ternyata tidak berhasil membangkitkan keberanian orang-orang Gemawang. Dalam pada itu, Ki Jagabayapun untuk sementara telah mengekang tingkah laku Sampurna agar anaknya itu tidak terperangkap ke dalam kesulitan. “Aku tidak mengira, bahwa Laksana memiliki kemampuan yang sangat tinggi, ayah” berkata Sampurna. Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Katanya “Tentu Manggada juga memiliki kemampuan setingkat dengan adik sepupunya” “Ya” sahut Sampurna “aku menjadi merasa kecil di hadapan mereka” “Adalah satu keberuntungan bagi kita, bahwa kedua orang anak muda itu memahami sikap kita. Bahkan keduanya dengan ikhlas telah membantu kita” “Itulah agaknya mereka dengan berani menemui Ki Wira Sabet dan Ki Sura Gentong. Agaknya jika terpaksa mereka tidak akan menjadi ketakutan untuk memberikan perlawanan” “Banyak yang dapat kita harapkan dari mereka” berkata Ki Jagabaya. Ketika Ki Kertasana dan Ki Citrabawa menemuinya, maka Ki Jagabaya menyambutnya dengan gembira. Ternyata niatnya untuk mempertahankan padukuhan Gemawang bukan sekedar mimpi buruk, beberapa orang yang memiliki kemampuan yang meyakinkan, telah menyatakan dukungan mereka terhadap sikapnya yang teguh. “Jika aku sempat berhubungan dengan Wira Sabet dan Sura Gentong, aku akan menegaskan sikapku lagi” berkata Ki Jagabaya. “Sudah sampai saatnya kita berbuat tegas” berkata Ki Kertasana “Ki Pandi, orang tua yang sekarang tinggal di rumah kami, telah berhasil menemukan barak Wira Sabet dan Sura Gentong” Orang itu tertawa lagi. Katanya “Harimau itu tentu harimau orang bongkok itu. Isyarat itu tentu diberikan kepada kalian berdua, karena sebelumnya, isyarat itu tidak pernah aku dengar” “Tetapi apakah mungkin kita memasuki barak mereka?” desis Ki Citrabawa “bukankah menurut Ki Pandi, barak itu dihuni oleh banyak orang. Selain saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong, di barak itu juga tinggal Ki Sapa Aruh dan para pengikutnya. Sementara Ki Pandi masih belum dapat mengetahui lebih banyak daripada penglihatannya sekilas dari kejauhan” Ki Kertasana menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Kita memang tidak dapat berbuat dengan tergesa-gesa. Tetapi kita juga tidak dapat membiarkan keadaan seperti ini berlangsung terlalu lama” “Baiklah “Ki Jagabaya berkata dengan sungguh-sungguh “kita akan berbuat lebih banyak lagi” Tetapi sementara itu, orang-orang Gemawang sendiri sama sekali tidak membantu. Bahkan mereka masih saja mengusulkan agar Ki Jagabaya mengurungkan niatnya untuk melawan Wira Sabet dan Sura Gentong. Tetapi diam-diam ceritera tentang perkelahian antara Laksana melawan ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu menjalar dari mulut ke mulut. Bagi mereka, apa yang terjadi itu merupakan satu rahasia yang sulit mereka pecahkan. Laksana telah memenangkan perkelahian itu. Tetapi berdua dengan Manggada, mereka justru telah menyerahkan diri dan dibawa ke sarang Wira Sabet dan Sura Gentong. Kenyataan itu ternyata telah menimbulkan tanggapan yang berbeda di antara orang-orang padukuhan Gemawang. Sebagian dari mereka menjadi semakin ketakutan, karena mereka memperhitungkan, akan timbul persoalan-persoalan baru yang akan menambah kesulitan para penghuni padukuhan Gemawang. Tetapi sebagian yang lain mulai mempertimbangkan kemungkinan yang lain pula. Bahwa Manggada dan Laksana telah menyerahkan diri setelah memenangkan satu pertempuran, sangat membingungkan orang-orang Gemawang. Beberapa orang anak muda menganggap bahwa yang dilakukan oleh Manggada dan Laksana adalah satu usaha dengan mempertaruhkan jiwa mereka untuk kepentingan padukuhan Gemawang. “Apakah kita akan membiarkannya?” desis seorang anak muda. “Kita kenal Manggada di masa menjelang remaja. Apakah kini kita akan membiarkannya berjuang sendiri bagi padukuhan ini? Kita harus mencari jawaban, kenapa Manggada dan Laksana justru menyerahkan diri” sahut yang lain. “Kita akan menghubungi Sampurna. Ia tentu tahu pasti, upa yang sedang dilakukan oleh Manggada dan Laksana. Saat itu Manggada dan Laksana mencegah agar Sampurna tidak ikut menyerahkan dirinya” ”Tetapi bagaimana dengan ketiga orang yang sudah dikalahkan itu?” bertanya anak muda yang lain lagi. Akhirnya mereka memutuskan untuk berbicara dengan Sampurna. Dua di antara mereka akan mewakili kawan-kawan mereka menemui Sampurna di rumahnya, karena sejak Manggada dan Laksana ditangkap, Sampurna jarang nampak di jalan-jalan padukuhan Ketika kedua orang itu pergi ke rumah Sampurna, maka mereka telah bertemu dengan Wisesa yang juga akan pergi menemui Tantri. “Kalian akan pergi ke mana?” bertanya Wisesa. “Kami akan menemui Sampurna” jawab salah seorang anak muda itu. “Benar?” bertanya Wisesa pula. “Benar, kenapa?” bertanya anak muda itu. “Kau tidak akan menemui Tantri?” desak Wisesa. “Untuk apa? Kami memerlukan Sampurna” sahut anak muda yang seorang. Anak muda itu tahu bahwa Wisesa nampaknya sangat tertarik kepada Tantri, sehingga setiap anak muda yang datang ke rumah Ki Jagabaya dianggap akan menemui Tantri. Wisesa menarik nafas panjang. Tetapi iapun kemudian bertanya “Untuk apa kalian akan berbicara dengan Sampurna?” “Kami ingin menanyakan, kenapa Manggada dan Laksana yang telah memenangkan perkelahian itu justru harus menyerahkan diri untuk dibawa ke tempat Wira Sabet dan Sura Gentong?” jawab anak muda itu. “Itu hanya omong kosong saja” desis Wisesa “Manggada dan Laksana, dan ternyata juga Sampurna, hanya anak-anak muda yang pandai membual” “Sumber ceritera ini tidak dari Manggada dan Laksana” jawab anak muda itu “juga tidak dari Sampurna. Tetapi dari beberapa orang yang melihat perkelahian itu” Tetapi Wisesa tetap menggeleng. Katanya “Ceritera itu tidak dapat dipercaya. Aku juga sudah mendengar dongeng itu. Katanya Laksana mampu mengalahkan ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong, Bukankah itu tidak masuk akal? Seorang lawan seorangpun Laksana tidak akan dapat berbuat apa-apa. Apalagi melawan tiga orang” “Kita akan bertanya kepada Sampurna” jawab anak muda itu. “Sampurna adalah kawan dekatnya. Tentu ia akan mengiakannya. Bahkan membumbuinya, sehingga ceriteranya akan menjadi semakin sedap” berkata Wisesa kemudian. Mereka tidak meneruskan pembicaraan itu, karena mereka sudah berdiri di regol halaman Ki Jagabaya. Karena itu, maka merekapun kemudian melangkah masuk sambil berdiam diri. Seorang dari antara anak-anak muda itu telah menutup pintu regol. Tetapi tidak diselarak dari dalam. Wisesalah yang mengetuk pintu seketheng. Karena itu, maka Sampurna yang sudah terbiasa mendengar ketukan itu, segera mengetahui bahwa Wisesa telah datang berkunjung. “Ada tamu, Tantri” desis Sampurna. “Kenapa anak itu masih juga datang kemari? Bukankah ayah pernah marah kepadanya?” “Kau kira anak itu punya perasaan?” sahut Sampurna. “Kakang tidak usah membuka pintunya” geram Tantri. “Ah, kasihan. Nanti ia akan menunggu sampai senja. Tetapi kemudian Wisesa tidak berani pulang sendiri, sehingga aku harus mengantarkannya” berkata Sampurna sambil tertawa. “Kenapa harus bersusah-susah mengurusinya?” wajah Tantri menjadi semakin gelap. “Kenapa kau justru marah kepadaku?” bertanya Sampurna. Sebelum Tantri menjawab, pintu itu sudah diketuk pula dengan gaya ketukan Wisesa. Sampurna menarik nafas dalam-dalam, sementara Tantri telah melangkah masuk ke ruang dalam. Sampurnalah yang kemudian membuka pintu seketheng betapapun segannya. Tetapi Sampurna terkejut ketika ia melihat Wisesa tidak sendiri. Dua orang anak muda menyertainya masuk ke halaman samping rumahnya. Tetapi Sampurna mengenal keduanya dengan baik, karena keduanya adalah kawan bermainnya pula. Ketiganyapun kemudian dipersilahkan duduk di serambi. Sementara Sampurna memberitahukan kepada Tantri bahwa tamu tidak hanya seorang, tetapi tiga orang. “Kenapa kalau tiga?” bertanya Tantri dengan wajah gelap. Sampurna tertawa. Katanya “Jika kau menghidangkan minuman, jangan hanya semangkuk buat Wisesa” Tantri tiba-tiba bangkit. Sampurna tahu apa yang akan dilakukan adiknya. Karena itu, maka iapun segera berlari keluar dari dapur. Tetapi suara tertawanya masih tertinggal, sehingga Tantri itupun berkata “Awas kau nanti” Di serambi Sampurna kemudian duduk menemui ketiga orang anak muda itu. Baru kemudian ia mengetahui bahwa dua orang anak muda itu tidak dengan sengaja datang bersama-sama dengan Wisesa. “Kami bertemu di jalan” berkata salah seorang dari kedua orang anak muda itu. “Jadi, apakah kalian mempunyai keperluan lain atau sekedar singgah?” bertanya Sampurna. Karena tidak terbiasa ada orang yang datang menemuinya sejak keadaan padukuhan itu menjadi buram. Seorang dari anak muda itupun menjawab “Sampurna. Kami mengikuti perkembangan terakhir dari perkembangan padukuhan kita ini. Kami telah mendengar bahwa Manggada dan Laksana telah ditangkap dan dibawa oleh para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong. Sementara itu, ada orang yang melihat bahwa sebenarnya Laksana sendiri telah dapat mengalahkan ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu. Sampurna menarik nafas panjang. Perhatian anak muda terhadap peristiwa itu justru memberikan harapan kepadanya. Tetapi Wisesalah yang menyahut “Kenapa kau terpancing oleh berita yang menyesatkan itu. Adalah tidak masuk akal bahwa setelah memenangkan perkelahian itu, Manggada dan Laksana kemudian menjadi tahanan para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong. Apa yang terjadi adalah karena kesombongan keduanya, sehingga keduanya harus menanggung akibat yang mungkin sangat buruk” “Wisesa” berkata Sampurna kemudian “ketika peristiwa itu terjadi, aku berada di antara mereka. Bahkan semula aku telah menyediakan diri untuk ditangkap bersama Manggada dan Laksana. Tetapi Manggada dan Laksana memperingatkan aku, agar aku tidak ikut bersama mereka. Mereka menganggap bahwa tumpuan dendam terutama tertuju kepada ayah, sehingga aku akan dapat menjadi sasaran dendam mereka atau aku akan dapat dijadikan taruhan. Karena itu, maka akupun telah mengurungkan niatku untuk menyerahkan diri sebagaimana Manggada dan Laksana” “Bukankah itu tidak masuk akal?” sahut Wisesa. “Masuk akal atau tidak, tetapi itulah yang terjadi“ jawab Sampurna. “Aku percaya” jawab salah seorang dari kedua orang anak muda itu “aku sudah bertemu pula dengan orang yang telah melihat langsung apa yang terjadi” “Terima kasih” sahut Sampurna. ”Tetapi kami menjadi bingung, kenapa keduanya justru menyerahkan diri mereka?” bertanya salah seorang dari kedua orang anak muda itu. “Manggada dan Laksana menganggap bahwa cara itu adalah cara yang terbaik untuk mengetahui dimana Wira Sabet dan Sura Gentong itu tinggal” jawab Sampurna. “Lalu, apa hasilnya?” Wisesa memotong “meskipun mereka mengetahui tempat tinggal Wira Sabet dan Sura Gentong, namun keduanya kemudian menjadi tawanan, apakah itu berarti bagi kita disini?” “Sekarang memang belum. Tetapi kita berharap bahwa pada suatu saat, pengorbanan mereka akan sangat berarti” “Kami mengerti” sahut salah seorang dari kedua orang anak muda itu “yang ingin kami tanyakan, apakah yang sebaiknya kami lakukan justru setelah Manggada dan Laksana mengorbankan diri mereka. Kami sebenarnya juga merasa cemas, bahwa Manggada dan Laksana akan mengalami nasib buruk” Wajah Sampurna menjadi cerah. Ia melihat perubahan sikap anak-anak muda itu, justru setelah Manggada dan Laksana menyerahkan dirinya meskipun dalam perkelahian yang terjadi, Laksana sendiri dapat mengalahkan tiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong. Dengan nada tinggi Sampurna berkata Satu pertanda yang bagus. Aku minta kalian dapat mempertimbangkan kemungkinan yang dapat kalian lakukan. Ingat, ayah akan tetap mempertahankan sikapnya. Melawan orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong. Ayah memang tidak mempunyai pilihan lain. Ada atau tidak ada yang memberikan bantuan kekuatan, maka ayah akan tetap berusaha membebaskan padukuhan ini dari bayangan Wira Sabet dan Sura Gentong yang menakutkan itu. Ayah sama sekali tidak sedang berjuang untuk mempertahankan kedudukannya. Tetapi lebih daripada itu. Ayah ingin padukuhan kita bebas dari bayangan kelam Wira Sabet dan Sura Gentong. Manggada dan Laksana serta keluarganya mengerti maksud ayah. Karena itu, maka mereka telah menyatakan diri untuk membantu ayah. Bahkan manggada dan Laksana telah mengambil sikap yang sangat berbahaya bagi keselamatan mereka” Kedua orang anak muda itu mengangguk-angguk. Sementara Wisesa berkata “Aku ingin memperingatkan kalian. Jangan main-main dengan Wira Sabet dan Sura Gentong” “Tidak. Kami tidak sedang bermain-main. Bagaimana jika kami menawarkan kesediaanmu melindungi Tantri dari dendam Sura Gentong yang garang itu?” “Kau akan mengadu aku dengan Sura Gentong seperti mengadu jengkerik?” bertanya Wisesa. Sampurna tertawa. Katanya “Sudahlah Wisesa. Sebaiknya kau tinggal di dapur saja. Menjerang air, menanak nasi dan mengukur kelapa” Wajah Wisesa menjadi merah, tetapi ia tidak segera dapat mengatakan sesuatu, justru karena gejolak jantungnya yang semakin cepat. Dalam pada itu, maka Tantripun muncul dari balik pintu membawa hidangan bagi ketiga orang tamunya dan bagi kakaknya. Sekilas ia memandang wajah kakaknya. Ternyata Sampurna tersenyum kepadanya. Hampir saja Tantri menggapai kakaknya di lengannya dan mencubitnya keraskeras. Tetapi sebelum hal itu terjadi, Sampurna sudah bergeser menjauh. Tetapi Tantri tidak duduk di serambi itu. Setelah meletakkan minuman dan makanan, iapun segera masuk kembali ke ruang dalam. Wisesa hampir saja memanggilnya. Tetapi ketika ia teringat bahwa di serambi itu ada dua orang anak muda yang lain, maka niatnya itupun diurungkannya. Dalam pada itu, maka Sampurnapun berkata kepada anakanak muda “Nah, jika kalian memang benar-benar mulai terpanggil untuk menegakkan ketenangan di padukuhan kita ini, marilah. Ayah akan menyambut dengan gembira. Selebihnya, aku ingin mempersilahkan kalian menghimpun kawan-kawan kita yang memiliki keberanian untuk berbuat sesuatu. Aku tahu, bahwa para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong bukan sekedar orang kebanyakan seperti kita. Tetapi dengan lambaran keberanian dan tekad maka kita tentu akan dapat berbuat banyak. Sementara itu di antara kita terdapat anak-anak muda seperti Manggada dan Laksana” Kedua orang anak muda itu mengangguk-angguk. Sementara Sampurna berkata pula “Aku akan menghubungi keluarga Manggada dan Laksana. Mungkin mereka sudah mendengar berita tentang kedua orang anak muda itu” Kedua anak muda itu memang belum menyatakan kesanggupan mereka. Nampaknya mereka masih harus mempertimbangkan beberapa hal. Namun bahwa sepeletik api kepedulian anak-anak muda itu atas keadaan padukuhannya, telah menggembirakan Sampurna. Sejenak kemudian, maka kedua orang anak muda itupun telah minta diri, sementara Wisesa masih ingin tinggal di rumah itu. Apalagi Tantri masih belum menemuinya karena ada kedua orang tamu anak muda yang lain. Sepeninggal kedua anak muda itu, maka Wisesapun berkata “Kau telah memberikan gambaran yang salah kepada anakanak muda itu. Apakah kau kelak tidak akan menyesal menyaksikan mereka mengalami nasib buruk? Seandainya kau berhasil membakar keberanian mereka dan dengan membabi buta melawan orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong yang sudah berpengalaman dan memiliki kemampuan yang tinggi, namun kemudian jatuh korban yang tidak terhitung, kau harus bertanggung jawab” Sampurna termangu-mangu sejenak. Meskipun ia menganggap Wisesa tidak lebih dari seorang anak muda yang cengeng, tetapi pendapatnya itu memang perlu mendapat perhatian. Bukan untuk mengurungkan kesediaan mereka menyelamatkan padukuhan Gemawang, tetapi satu cara untuk tidak membiarkan anak-anak muda itu menjadi korban. Karena Sampurna tidak segera menjawab, maka Wisesa itu berkata selanjutnya “Nah, bukankah kau menjadi ragu-ragu? “Tidak” jawab Sampurna “aku tidak menjadi ragu-ragu. Tetapi pendapatmu memang harus mendapat perhatian. Kami akan tetap melakukan perlawanan, tetapi dengan usaha agar korban tidak terlalu banyak jatuh” “Jika ada satu orang saja yang menjadi korban, maka kaulah yang bertanggung jawab” “Kita semuanya bertanggung jawab” jawab Sampurna. “Tidak. Aku tentu tidak akan bersedia untuk ikut bertanggung jawab, karena aku mempunyai gagasan lain” “Kecuali kau” jawab Sampurna pendek. Sekali lagi wajah Wisesa menjadi merah. Sementara itu Sampurnapun kemudian bangkit berdiri dan meninggalkan ruang itu. Sampurna yang kemudian pergi ke dapur berkata kepada adiknya “Temuilah anak itu. Jika aku terlalu lama berbicara dengan Wisesa. mungkin aku akan kehilangan kesabaran” “Kenapa tidak kau usir saja?” bertanya Tantri. ”Aku masih mencoba mengendalikan diri dan mengingat unggah-unggah. Sebagai tuan rumah, aku masih harus berusaha menghormati seorang tamu betapapun perasaan kita bergejolak” Tantri menggeleng. Katanya “Biar saja ia duduk di serambi” “Jangan begitu Tantri. Temuilah anak itu. Kau dapat saja berusaha untuk menjauhinya. Tetapi dengan baik-baik” “Dengan baik-baik bagaimana? Ia tidak mempunyai perasaan sehingga tidak mungkin aku menolaknya dengan cara baik-baik itu. Kepada Wisesa aku harus berterus terang” “Jangan. Orang-orang cengeng seperti itu akan dapat berbuat licik untuk mencapai maksudnya. Justru karena ia pengecut” Tantri termangu-mangu sejenak. Dengan nada tinggi ia bergumam “Jika ia marah, apa yang akan dilakukannya?” “Justru yang tidak terduga-duga” jawab Sampurna yang kemudian masih membujuk adiknya “Sudahlah. Pergi ke serambi sejenak” Tantri akhirnya pergi juga ke serambi untuk menemui Wisesa. “Tantri” berkata Wisesa setelah Tantri duduk di pendapa “Aku minta kau bantu aku. Cobalah menjelaskan kepada kakakmu, bahwa menyeret anak-anak muda Gemawang untuk melawan Wira Sabet dan Sura Gentong adalah langkah yang sangat berbahaya bagi keselamatan anak-anak muda Gemawang. Mungkin Sampurna sendiri dapat disebut pahlawan kelak. Tetapi ia harus berdiri di atas alas tubuh kawan-kawan kita yang menjadi korban” Telinga Tantri serasa menjadi panas. Tetapi ia justru tidak menjawabnya. Tantri justru berkata tentang persoalan yang lain sama sekali. Dengan nada datar ia berkata “Aku telah membuang bibit pohon kemuning yang kau berikan” “Kenapa?” bertanya Wisesa. “Jadi untuk apa? Kau tidak memperbolehkan pohon itu aku tanam di depan. Padahal aku ingin menanamnya di halaman depan rumah ini” “Tetapi kau tidak perlu membuangnya Tantri. Aku sudah berusaha dengan susah payah” “Aku tidak tahu lagi, buat apa bibit pohon kemuning itu bagiku. Tidak ada tempat lagi untuk menanamnya selain di halaman depan. Sedangkan kau tidak memperbolehkannya” Wisesa menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian Wisesa itupun berkata “Sudahlah. Lupakan saja bibit pohon kemuning itu. Tetapi yang aku minta kemudian, bantu aku, agar kakakmu tidak menjerumuskan kawan-kawan kita ke dalam kesulitan” “Aku sependapat dengan kakang Sampurna. Aku juga mendorong agar ia melakukannya” sahut Tantri. “Tantri, kau jangan sekedar menuruti perasaan. Aku tahu bahwa perempuan memang lebih condong kepada perasaannya dari pada penalarannya. Tetapi yang akan terjadi adalah jatuhnya korban. Tidak hanya satu atau dua orang. Mungkin lima, tujuh atau bahkan sepuluh orang anak muda Gemawang” “Wisesa” jawab Tantri “dengar baik-baik. Untuk mencapai sesuatu perlu pengorbanan. Jika kau sudah pernah mendengar sukurlah. Jika belum, sebaiknya kau sekarang mendengarnya” “Tantri” sahut Wisesa “kau mulai meremehkan aku” “Itu tergantung kepada sikapmu sendiri. Apakah kau pantas dijunjung tinggi atau diremehkan. Bahkan kau selalu saja menghambat segala usaha untuk memulihkan keadaan padukuhan ini” “Tantri, kau jangan asal menuduh. Aku sudah melahirkan gagasan-gagasan besar yang sangat berharga bagi padukuhan kita ini. Tetapi ayahmu dan kedua anak muda yang tertangkap itu tidak mampu melaksanakannya. Itu bukan salahku. Jika gugasanku itu mampu mereka laksanakan, maka tidak akan ada korban yang bakal jatuh” “Ada Wisesa” jawab Tantri. “Tidak. Tidak ada benturan kekerasan” “Korbannya setidak-tidaknya aku. Kemudian keluargaku dan jika kau mempunyai kesadaran yang tinggi dan merasa ikut memiliki, adalah padukuhan Gemawang. Aku akan diambil oleh Sura Gentong, karena ia merasa kehilangan bakal isterinya, perempuan yang akan dilarikannya itu disini. Kemudian dendamnya kepada ayah dan keluarga ini. Selanjutnya, seisi padukuhan akan dimilikinya. Sementara kau bermimpi dengan gagasan-gagasanmu itu” Wisesa mengerutkan dahinya. Sementara Tantri berkata selanjutnya “Sebaiknya kau tidak usah datang lagi kemari, Wisesa” “Tantri“ keringat dingin mulai membasahi punggungnya. “Aku lebih menghormati anak-anak muda seperti Manggada dan Laksana. Atau justru mereka yang mengungsi meninggalkan padukuhan ini daripada kau” “Jangan begitu Tantri. Jika kau tidak sependapat dengan aku, itu tidak apa-apa. Tetapi kau jangan bersikap seperti itu” “Setidak-tidaknya untuk sementara Wisesa. Aku minta maaf, bahwa dalam keadaan yang kemelut ini, jalan pikiran kita tidak sejalan. Entahlah kelak jika segala sesuatunya telah teratasi” Wajah Wisesa menjadi pucat. Ketika sekilas ia memandang wajah Tantri, maka Tantri juga sedang memandanginya dengan tajamnya, sehingga Wisesa itu menundukkan kepalanya. Karena Wisesa tidak menjawab, maka Tantri berkata “Aku tidak bermaksud mengusirmu Wisesa. Tetapi jika kita berbicara lebih banyak lagi, maka perbedaan sikap kita akan menjadi semakin jelas. Karena itu, sebaiknya kita hentikan pembicaraan ini. Mudah-mudahan kau sempat merenunginya dan bangkit bersama anak-anak muda yang lain” Jantung Wisesa memang bergejolak. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Nampaknya Tantri sudah mengambil keputusan yang pahit baginya. “Jika kau akan pulang, maka aku akan mengantarkanmu sampai ke pintu seketheng. Aku harap jalan pikiranmu segera berubah” Meskipun Tantri menganggap Wisesa tidak berperasaan, namun anak muda itu masih dapat mengerti, bahwa sebaiknya ia pulang saja. Tetapi apa yang diharapkan oleh Tantri, bahwa Wisesa akan berubah pendapatnya, yang terjadi justru sebaliknya. Wisesa merasa bahwa sebab dari sikap Tantri itu adalah kedua orang anak muda yang kini berada di tangan Wira Sabet dan Sura Gentong. “Jika benar Laksana dapat mengalahkan ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong, namun kemudian keduanya telah dibawa kesarang mereka, tentu ada maksudmaksud tertentu pada Manggada dan Laksana. Bahkan mungkin mereka bekerja sama dengan orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong itu sendiri” berkata Wisesa kepada diri sendiri. Ternyata pikiran buruk telah tumbuh di dalam jantungnya. Wisesa tidak ingin bahwa Tantri mengagumi Manggada atau Laksana. Atau bahkan kedua-duanya. Karena itu, maka Wisesa berniat untuk bertemu dan berbicara dengan para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong jika mereka datang ke padukuhan itu. Menurut kata beberapa orang, maka para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong memang sudah mulai berkeliaran lagi di padukuhan Gemawang. Sementara itu, Ki Pandi yang mengikuti perkembangan keadaan barak Wira Sabet dan Sura Gentong, telah berhasil berhubungan dengan Manggada dan Laksana. Karena keduanya dinilai tidak berbahaya lagi, serta atas usaha Pideksa yang masih dipengaruhi sisa-sisa kenangan masa kanakkanaknya, maka Manggada dan Laksana telah diperkenankan tidur di sebuah barak kecil bersama Sampar atau yang dikenal oleh Ki Pandi. Ki Carang Aking. Kesempatan itu telah dipergunakan oleh keduanya dengan sebaik-baiknya. Menjelang malam, maka Manggada yang sedang menimba air disumur tidak terlalu jauh dari dinding barak, telah bersenandung dengan lagu yang dikenal benar oleh Ki Pandi. Isyarat itulah yang memungkinkan Ki Pandi dapat bertemu dengan Manggada dan Laksana tanpa diketahui oleh para penjaga barak itu. Bahkan Ki Pandi berhasil masuk bukan saja ke dalam lingkungan dinding barak, tetapi masuk ke dalam barak kecil, yang dipergunakan bagi Sampar, Manggada dan Laksana. Pertemuan Ki Pandi dengan Ki Carang Aking adalah pertemuan dari dua orang yang sudah saling mengenal dengan baik, namun yang sudah cukup lama tidak bertemu. “Ki Sapa Aruh memang jarang berada di barak ini” berkata Sampar yang sehari-hari nampak tua dan lemah. Tetapi di dalam baraknya meskipun wajahnya tetap membayangkan umurnya yang tua, tetapi ia nampak tegar dan kuat. “Apakah tidak dapat diketahui, kapan ia berada disini?” bertanya Ki Pandi. “Tidak. Jika Ki Sapa Aruh datang ke barak ini, ia tidak akan terlalu lama disini. Untungnya, Ki Sapa Aruh tidak begitu menghiraukan kami yang disebut budak-budak. Jika saja ia tertarik untuk bertemu dan berbicara dengan kami sekali dua kali, agaknya memang sulit untuk menyembunyikan diri lagi” jawab Sampar yang dikenal oleh Ki Pandi dengan sebutan Ki Carang Aking. Ki Pandi itupun mengangguk-angguk. Kepada Manggada dan Laksana iapun berpesan “Jika demikian, maka kalian berdua harus berhati-hati. Jika orang itu berada di barak ini, kalian berdua harus berusaha untuk menghindarinya. Aku yakin jika Ki Carang Aking masih mempunyai kemampuan untuk menghindari penglihatan Ki Sapa Aruh. Tetapi kalian berdua tentu akan mengalami kesulitan” Manggada dan Laksana itupun mengangguk kecil, sementara Ki Pandipun berkata “Karena kemungkinan itu, maka sebaiknya kalian tidak terlalu lama berada disini” “Jika mereka pergi, akupun harus pergi” berkata Ki Carang Aking “jika tidak, maka aku akan menjadi sasaran kemarahan Sura Gentongdan saudara-saudara seperguruannya” “Bagaimana dengan Wira Sabet?” bertanya Ki Pandi. ”Meskipun termasuk orang yang garang, tetapi Wira Sabet dan anaknya tidak segarang Sura Gentong dan saudara-saudara seperguruannya” “Baiklah, Ki Carang Aking. Mudah-mudahan Ki Jagabaya dan Sampurna berhasil membangunkan orang-orang Gemawang yang masih tertidur nyenyak” berkata Ki Pandi kemudian. Demikianlah, maka lewat tengah malam, Ki Pandipun dengan hali-hati meninggalkan bilik Ki Carang Aking. Sebagaimana ia masuk, maka iapun berhasil keluar dari barak itu tanpa diketahui oleh para penjaga barak itu. Hubungan itu telah menenangkan keluarga Manggada dan Laksana. Meskipun kecemasan masih tetap ada di antara mereka, karena setiap saat orang yang bernama Ki Sapa Aruh itu akan datang. Ketika Sampurna kemudian datang menghubungi keluarga Manggada dan Laksana, maka Sampurnapun mendapat keterangan tentang kedua orang anak muda yang berada di dalam barak Wira Sabet dan Sura Gentong. “Sasaran mereka kemudian bukan sekedar dendam atas padukuhan Gemawang dan Kademangan Kalegen. Tetapi nampaknya bagi Ki Sapa Aruh dan para pemimpin yang lain, sasaran akan lebih jauh lagi. Sebagaimana sekarang ternyata bahwa barak itu telah menjadi sarang sekelompok perampok dan penyamun yang ganas” berkata Ki Pandi. Namun Ki Pandi itupun berkata selanjutnya “Tetapi untuk beberapa hari, agaknya masih cukup aman bagi Manggada dan Laksana berada di barak itu” Sampurna mengangguk-angguk kecil. Katanya kemudian “Aku melihat, ada perubahan sikap dari anak-anak muda di padukuhan ini selelah Manggada dan Laksana menyerahkan diri. Meskipun ada juga sikap yang justru sebaliknya, yang menganggap bahwa sikap Manggada dan Laksana itu justru akan dapat menimbulkan persoalan-persoalan baru” “Pendapat di padukuhan ini untuk sementara memang akan dapat terpecah. Tetapi jika kita dapat mengatasi bayangan hitam Wira Sabet dan Sura Gentong, maka keadaannya tentu akan segera menjadi baik” berkata Ki Kertasana. “Mudah-mudahan kita dapat segera mengatasinya“ berkata Sampurna kemudian pagi ini ayah masih menghubungi Ki Bekel. Bagaimanapun juga ayah masih berharap, bahwa Ki Bekel dapat bangkit. Pengaruhnya akan menjadi cukup besar” “Mudah-mudahan usaha Ki Jagabaya itu juga akan berhasil, ngger” berkata Ki Kertasana kemudian. Dengan keterangan itu, maka Sampurna menjadi semakin mantap. Ia berharap bahwa segala usaha tidak akan menjadi sia-sia. Namun dengan nada dalam Sampurnapun menyatakan kecemasannya, bahwa korban akan banyak yang berjatuhan. Anak-anak muda Gemawang akan menjadi gampang jika mereka benar-benar harus berkelahi melawan orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong yang sudah berpengalaman serta memiliki dasar-dasar kemampuan olah kanuragan. “Kita memang tidak dapat membentuk mereka menjadi anak-anak muda yang berilmu dalam waktu yang sangat singkat, ngger. Tetapi setidak-tidaknya kita dapat memberikan petunjuk-petunjuk, apa yang sebaiknya harus mereka lakukan jika hal seperti itu benar-benar akan terjadi” “Bagaimana mungkin kita dapat memberikan petunjuk kepada mereka? Akhir-akhir ini, orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong sudah mulai nampak lagi berkeliaran meskipun mereka belum mengambil tindakan-tindakan baru yang dapat membuat orang-orang Gemawang semakin ketakutan” “Kita akan memikirkan satu cara yang paling baik” berkata Ki Kertasana “jika perlu, kita membagi diri. Kitalah yang akan datang kepada anak-anak muda yang menyatakan kesediaan mereka untuk berjuang membebaskan padukuhan ini dari ketakutan dan kecemasan. Kita minta dua atau tiga orang anak muda untuk berkumpul di salah satu rumah di antara mereka. Kemudian salah seorang dari kita akan datang. Kita dapat memberikan petunjuk-petunjuk yang penting. Setidaktidaknya bagaimana cara mereka berlindung di antara orangorang yang memiliki kemampuan olah kanuragan disaat-saat yang paling gawat dalam pertempuran. Namun dalam keadaan yang memungkinkan mereka dapat membantu mengurangi tekanan lawan. Tetapi memang tidak mungkin untuk menghindari korban yang bakal jatuh” Sampurna sependapat dengan jalan pikiran Ki Kertasana meskipun dengan demikian mereka akan menjadi sangat sibuk. Tetapi kesibukan itu masih akan mungkin disembunyikan dari penglihatan orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong. “Ya. Memang berbeda dengan apabila kita mengumpulkan anak-anak muda itu di satu tempat. Apalagi lebih dari sepuluh orang” berkata Sampurna. Demikianlah, maka atas persetujuan Ki Jagabaya, Sampurna telah mulai dengan langkah-langkah yang nyata. Kedua orang anak muda yang pernah datang kepadanya, telah membantunya. Akhirnya Sampurna mendapat dukungan dari beberapa orang anak muda padukuhan Gemawang. Meskipun jumlah mereka tidak terlalu banyak, tetapi justru keberanian mereka menentang pendapat sebagian besar orang-orang Gemawang, bahwa usaha untuk melawan Wira Sabet dan Sura Gentong hanya akan menimbulkan malapetaka, telah menyatakan kesungguhan dan kemantapan niat mereka. Dengan sangat berhati-hati mereka telah menetapkan tempat-tempat berkumpul kelompok-kelompok yang sangat kecil, yang terdiri hanya oleh dua atau tiga orang. Sementara itu, sebagaimana direncanakan, maka beberapa orang yang dianggap memiliki ilmu, justru datang kepada mereka untuk memberikan petunjuk-petunjuk apa yang harus mereka lakukan, jika mereka harus bertempur melawan para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong. Tugas itu memang melelahkan. Ki Jagabaya sendiri, Sampurna, Ki Kertasana, Ki Citrabawa dan bahkan Ki Pandi telah ikut pula membantu mereka, mendatangi rumah-rumah yang telah ditentukan. Mereka juga menuntun bagaimana sebaiknya mereka memegang senjata, mengayunkannya, menangkis dan menghindar. Mereka juga memberi tahukan, bahwa jika keadaan memaksa, jangan nietasa malu untuk bergeser mundur, bahkan berlari-lari untuk mencuri perlindungan di antara pertempuran yang sedang berlangsung. Namun merekapun memberitahukan pula, bahwa mereka akan mendapat kesempatan menyerang mereka yang sedang usik mengejar lawannya. Namun yang lebih penting lagi bagi mereka yang datang kepada kelompok-kelompok kecil itu adalah justru mendorong keberanian mereka untuk berbuat sesuatu bagi kampung halaman. Memang tidak banyak yang dapat diharapkan dalam waktu yang singkat itu. Meskipun setiap hari, orang-orang yang memiliki bekal ilmu itu harus berkunjung dua tiga kali di tempat-tempat yang ditentukan, namun mereka tidak dapat dengan serta merta membuat anak-anak muda itu berkemampuan tinggi. Namun demikian, maka mereka memperkenalkan jenis-jenis senjata dan penggunaannya, maka mereka berharap untuk dapat mengurangi korban yang jatuh dari antara anak-anak muda itu. Sementara itu, orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong telah mulai menakut-nakuti orang padukuhan Gemawang lagi. Dua orang di antara mereka telah berkeliaran di padukuhan tanpa ada orang yang mengganggu. Dalam pada itu, Wisesa yang otaknya dicengkam oleh niat buruk terhadap Manggada dan Laksana, karena setiap kali Tantri memuji mereka, benar-benar ingin menemui kedua orang itu. Betapapun ia dicengkam ketakutan, tetapi ia telah memaksa dirinya untuk melakukannya. Perasaan dengki yang membakar jantungnya itu tidak dapat lagi disingkirkannya. Demikianlah, ketika Wisesa melihat seseorang berjalan tergesa-gesa dan memberitahukan bahwa dua orang pengikut Wira Sabet datang lagi ke padukuhan mereka, maka Wisesapun telah memaksa dirinya untuk menemui keduanya. Kedua orang itu terkejut melihat seorang anak muda dengan sengaja menemuinya. Karena itu, maka kedua orang itupun segera mempersiapkan diri. Tetapi Wisesa sama sekali tidak menunjukkan niatnya untuk melakukan perlawanan. Bahkan masih berjarak beberapa langkah, Wisesa berhenti sambil membungkuk hormat. “Ampun Ki Sanak” berkata Wisesa “aku tidak bermaksud apa-apa” Kedua orang itu telah mengambil jarak. Seorang di antara mereka bertanya dengan suara serak “Kau mau apa?” “Ampun Ki Sanak. Aku ingin memberikan keterangan yang mungkin berarti bagi Ki Sanak” “Keterangan apa?” bertanya orang itu lagi. Wisesapun memandang keadaan di sekelilingnya. Sepi. Tidak ada orang yang turun ke jalan. “Ki Sanak” berkata Wisesa “aku ingin memberitahukan, bahwa ada yang tidak wajar pada Manggada dan Laksana” Kedua orang itu nampak terkejut. Bahkan seorang di antara mereka telah melangkah maju mendekati Wisesa. Sikap orang itu membuat Wisesa kelakuan. Karena itu, maka sambil terbungkuk-bungkuk hormat ia berkata “Ampun, Ki Sanak. Ampun. Aku bermaksud baik” “Katakan, apa yang tidak wajar itu” bentak orang itu. “Menurut ceritera orang, ketika Mangada, Laksana dan Sampurna berkuda berkeliling padukuhan itu dan bertemu dengan tiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong, mereka telah berselisih dan berkelahi” “Kau hanya menyebut namanya saja Wira Sabet dan Sura Gentong?” geram orang itu. “Maksudku, paman Wira Sabet dan paman Wira Gentong” Wisesa menjadi gagap. “Teruskan” desak orang itu. “Dalam perkelahian itu, Laksana sendiri dapat mengalahkan ketiga orang penakut paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong” Wisesa meneruskan. “Apa? Laksana mampu mengalahkan tiga orang kawan kami?” bertanya orang itu dengan nada tinggi. Wisesa menjadi ragu-ragu. Ia melihat seakan-akan ada nyala api di mata kedua orang itu. “Hanya menurut kata orang” jawab Wisesa dengan kaki gemetar. “Setan kau geram yang seorang lagi” berani benar kau mengatakan bahwa tiga orang kawan kami kalah oleh seorang anak muda. He, jika kau belum tahu, dengarlah, Laksana dan Manggada sekarang menjadi tawanan kami” “Itulah yang ingin aku katakan” suara Wisesa menjadi terputus-putus. Namun ia berkata selanjutnya “justru karena Laksana memenangkan perkelahian itu, namun keduanya menjadi tawanan. Jika benar hal itu terjadi, bukankah berarti ada semacam permainan yang harus diperhatikan?” Kedua orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu termangu-mangu. Sementara Wisesa yang merasa sedikit mendapat angin meneruskan “Bukankah hal itu sangat tidak wajar, jika benar-benar telah terjadi?” “Kau lihat sendiri perkelahian itu?” bertanya salah seorang dari keduanya. “Tidak, Ki Sanak, tetapi demikian kata orang. Aku mohon Ki Sanak berhati-hati dengan kedua orang itu. Mereka benarbenar licik. Mungkin mereka mempergunakan uang atau benda-benda berharga lainnya untuk melakukan rencananya” Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Sementara Wisesa berkata pula “Selain daripada itu, ternyata Sampurna di padukuhan ini berhasil mempengaruhi beberapa orang anak muda. Meskipun sampai saat ini jumlahnya belum begitu banyak, tetapi semakin lama tentu akan menjadi semakin banyak. Karena itu, sebaiknya paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong menjadi lebih berhati-hati” “Anak muda” salah seorang dari kedua orang itu menggeram sambil melangkah mendekat. Ketika orang itu kemudian memegangi baju Wisesa, maka rasa-rasanya jantung Wisesa terlepas dari tangkainya “Kau jangan mengigau. Apakah kau bermaksud menakut-nakuti kami?” “Tidak, Ki Sanak. Tidak” bukan saja suara Wisesa yang gemetar, tetapi juga tubuhnya “sudah aku katakan. Aku bermaksud baik. Aku berkata sebenarnya” “Kenapa kau sampai hati memberi tahukan kepada kami tentang hal seperti itu? Bukankah itu berarti satu pengkhianatan bagi kawan-kawanmu sendiri?” Pertanyaan itu sama sekali tidak diduganya. Wajah Wisesa menjadi pucat dan darahnya serasa berhenti mengalir. “Kenapa?” orang itu mengguncang tubuh Wisesa “apa yang kau kehendaki sebenarnya?” Wisesa tidak dapat berpikir lagi. Yang kemudian terlontar dari mulutnya adalah “Ampun. Aku tidak berkhianat. Tetapi aku tidak tahan mendengar gadis yang aku inginkan selalu mengagumi Manggada dan Laksana” “O. Jadi kau dengan licik ingin memenangkan persainganmu untuk memperebutkan seorang gadis? Kau telah memfitnah kawan-kawanmu itu, agar kami menghukumnya” berkata orang yang memegangi baju Wisesa itu. Sementara orang yang lain berkata “Kita bawa anak itu. Biar ia berbicara di hadapan Manggada dan Laksana.” Wisesa menjadi semakin ketakutan. Kakinya serasa menjadi lemah, sehingga iapun telah jatuh berlutut sambil merengek “Ampun. Jangan bawa aku. Aku mohon ampun. Aku bermaksud baik” “Baik buat siapa?” bentak orang itu. Wisesa benar-benar telah menangis. Orang yang tinggal di sebelah jalan, telah mendengar tangis Wisesa. Merekapun mendengar dua orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong membentak-bentak meskipun mereka tidak dapat mendengar dengan jelas kata-kata yang diucapkan. Namun mereka mendengar orang-orang itu menyebut nama Manggada dan Laksana. Namun, apapun yang terjadi, orang-orang itu tidak dapat berbuat apa-apa. Tetapi akhirnya pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu melepaskan baju Wisesa. Ketika orang itu mendorong Wisesa, maka anak itupun telah jatuh terlentang. “Bangun anak cengeng” bentak orang itu. Dengan susah payah Wisesa berusaha untuk bangkit dan duduk di tanah, Kepalanya tunduk, sementara ia masih saja menangis ketakutan. “Baiklah anak cengeng” berkata orang itu “kami akan kembali ke tempat tinggal kami. Kami akan melihat kebenaran kata-katamu. Jika kau berkata sebenarnya, kami akan mengucapkan terima kasih kepadamu. Tetapi jika kau berbohong, maka kaulah yang akan dihukum” Seberkas harapan telah tumbuh lagi dihati Wisesa. ia berharap bahwa orang itu berhasil mengetahui rahasia Manggada dan Laksana, sehingga keduanya akan mendapat hukuman sehingga mereka kelak tidak akan lagi dikagumi oleh Tantri. Sejenak kemudian, maka kedua orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itupun meninggalkan padukuhan Gemawang kembali ke barak mereka. Sementara itu, salah seorang yang tinggal di sebelah jalan ternyata telah memberanikan diri, merayap mendekati dinding rumahnya yang menghadap ke jalan. Ia berusaha untuk mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong itu dengan Wisesa. Meskipun tidak begitu jelas, tetapi keduanya dapat meraba, bahwa Wisesa telah mengadukan Manggada dan Laksana. “Gila anak itu” desis orang di sebelah jalan “ia tidak memikirkan akibatnya. Manggada dan Laksana yang telah melakukan tindakan yang aneh itu akan dapat mengalami perlakuan yang sangat buruk, karena mereka sengaja menyerahkan diri justru setelah Laksana memenangkan perkelahian melawan tiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong” Orang itu justru menjadi gelisah. Tetapi ketakutan yang mencengkam jantungnya, membuatnya kebingungan. Apa yang harus dilakukannya. “Kenapa Wisesa itu memberitahukan hal itu kepada para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong?” pertanyaan itu telah membuat orang itu semakin gelisah. Dalam kegelisahan orang itu telah pergi ke rumah tetangganya dan menceriterakan apa yang didengarnya. Tetapi seperti dirinya sendiri, tetangganya itu juga tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan. Bahkan tetangganya itu berkata “Manggada dan Laksana juga gila. Kenapa ia menyerahkan dirinya jika Laksana telah memenangkan perkelahian melawan ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong” Akhirnya keduanya memang tidak dapat berbuat apa-apa. Sementara itu, kedua orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu langsung kembali ke baraknya. Pemberitahuan Wisesa itu telah menjadi bahan pembicaraan keduanya di sepanjang jalan kembali ke barak mereka itu. Ketika keduanya sampai di barak, maka keduanyapun segera melaporkan hasil pengamatan mereka atas padukuhan Gemawang. Namun keduanya masih belum melaporkan pengaduan Wisesa tentang Manggada dan Laksana. ”Nampaknya segala sesuatunya masih tidak berubah” berkata salah seorang dari mereka. Wira Sabet dan Sura Gentong yang mendengarkan laporan itu mengangguk-angguk. Dengan nada keras Sura Gentong berkata ”Setiap hari kita harus melihat perkembangan keadaan di padukuhan Gemawang. Aku sudah tidak sabar lagi. Kita tinggal menunggu Ki Sapa Aruh. Demikian ia datang, maka kita akan segera bertindak. Semakin banyak kita memberi kesempatan, maka Ki Jagabaya akan menjadi semakin berani. Ia tentu mengira bahwa kita hanya banyak berbicara saja tanpa berbuat apa-apa” Wira Sabet mengangguk-angguk. Katanya “Sebaiknya kita mempersiapkan diri sebaik-baiknya lebih dahulu. Demikian Ki Sapa Aruh datang, maka kita sudah siap. Pagi, siang atau malam kita dapat segera berangkat” Kedua orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu tidak lagi berkepentingan dengan pembicaraan tentang persiapan para penghuni barak itu. Mereka akan berbicara dengan saudara-saudara seperguruan mereka. Karena itu, maka keduanyapun segera minta diri, meninggalkan Wira Sabet dan Sura Gentong. Ternyata keduanyapun segera mencari Manggada dan Laksana, yang dipekerjakan di kandang kuda. Namun sebelumnya keduanya telah mengajak seorang kawannya lagi. Bertiga mereka menemui Manggada dan Laksana di kandang kuda. Namun sebelum mereka berbicara, orang tua yang disebut Sampar telah diminta oleh salah seorang di antara mereka mengambil air sambil membentak “Beginikah caranya kalian memberi makan kuda? Jika kalian memberinya rendeng dan dedak padi, maka airnya harus lebih banyak lagi agar kuda-kuda itu tidak terlalu sulit menelannya. Kecuali jika kalian memberi makan rumput segar, maka kalian tidak perlu air” Tetapi ketika Manggada memungut kelenting untuk mengambil air, maka orang itu membentak pula “Biar orang tua yang malas itu. Kalian akan mendapat tugas lain” Manggada dan Laksana termangu-mangu. Namun orang tua itulah yang kemudian mengambil kelenting itu dan membawanya ke sumur. Demikian orang tua itu pergi, maka salah seorang dari kedua orang yang kembali dari padukuhan Gemawang itu berkata “Manggada dan Laksana. Aku baru saja kembali dari Gemawang untuk melakukan tugas-tugasku sebagaimana biasa. Di Gemawang kami bertemu dengan seorang anak muda yang memberitahukan kepadaku, apa yang telah terjadi dengan kalian berdua. Anak muda itu tahu benar, bahwa kalian hanya berpura-pura saja menyerah dan kami bawa ke barak ini” “Siapa namanya?” bertanya Manggada. “Kami tidak menanyakannya. Tetapi ia anak cengeng. Ia mengatakan bahwa ia tidak tahan mendengar seorang gadis yang ia inginkan mengagumi kalian berdua” “He?” Laksana dengan serta-merta bertanya “gadis yang mana yang kau maksud?” “Kami tidak tahu” Namun Laksanapun tertawa. Katanya “Tentu Wisesa” “Ia juga mengatakan bahwa Sampurna telah berhasil meyakinkan beberapa orang anak muda untuk membantunya” “Setan anak itu. Jadi apa yang akan kalian lakukan?” bertanya Manggada. “Aku akan membungkamnya. Untung ia melaporkannya kepadaku. Jika pada suatu saat ada kawan kami yang lain mendapat laporan pula, maka itu akan sangat berbahaya. Bukan saja bagi kami, tetapi juga bagi kalian” Manggada masih akan menjawab. Tetapi orang itu berdesis “Orang tua itu lelah kembali” Manggada menarik nafas. Katanya “Kau dapat menakutnakutinya agar ia tidak berbicara lagi dengan siapapun. Tetapi kau tidak usah menyakitinya” “Besok aku masih akan pergi ke padukuhan. Tetapi pada suatu saat, tentu orang lain yang akan pergi” berkata orang itu, orang yang pernah dikalahkan oleh Laksana, namun yang kemudian membawa Laksana dan Manggada. ke dalam barak itu. Orang itu mengangguk-angguk. Namun ketika orang tua itu mendekat, orang itu mulai membentak lagi “Cepat. Sebelum Pideksa melihat, kandang ini harus sudah bersih” Manggada dan Laksana tidak menjawab. Tetapi keduanyapun kemudian telah mengambil sapu lidi unluk membersihkan kandang yang sebenarnya sudah bersih. Beberapa saat kemudian, maka ketiga orang itupun segera meninggalkan kandang kuda itu, sementara Sampar tengah menuang air bersih pada kotak makanan kuda. “Aku sudah terbiasa memberi makan kuda dengan rendeng yang dipotong lembut dengan dedak. Aku sudah terbiasa dengan takaran air yang seharusnya. Tetapi tiba-tiba saja orang-orang dungu itu mencoba mengajariku” berkata orang tua itu. “Ki Carang Aking” desis Manggada “ternyata ada sesuatu yang dikatakan orang-orang itu kepada kami” “Apa?” bertanya orang tua yang di barak itu dipanggil Sampar. Manggada dan Laksanapun kemudian berceritera kepada orang tua itu, sebagaimana dikatakan oleh ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu. Orang tua itu mengangguk-angguk. Katanya “Kalian memang harus berhati-hati terhadap anak itu. Sebaiknya kalian beritahukan kepada Ki Pandi, agar ia berhubungan dengan Sampurna” “Mudah-mudahan Ki Pandi datang malam nanti” Ketiganya kemudian berhenti berbicara ketika seorang saudara seperguruan Wira Sabet datang. Seorang yang berwajah tampan dengan senyum yang banyak nampak menghiasi bibirnya. Sambil menepuk bahu Manggada ia berkata “Kalian telah bekerja dengan rajin disini. Kau juga telah memelihara kudanya dengan baik. Terima kasih anak muda” Manggada mengangguk hormat sambil menjawab “Itu sudah kewajiban kami” Orang itu tertawa. Katanya “Aku akan pergi sebentar. Sediakan kudaku. Pasang pula pelananya” Manggada dan Laksanapun kemudian menjadi sibuk. Mereka segera mengeluarkan kuda orang ilu serta memasang pelananya pula. Namun demikian Laksana menuntun kuda itu mendekat, maka orang itu sambil tersenyum dan sekali lagi menepuk bahu Manggada berkata “Membungkuklah anak muda” Manggada menjadi bingung. Ia tidak tahu maksud orang itu. Sekali lagi orang itu berkata “Membungkuklah disini” Manggada tidak bertanya. Tanpa diketahui maksudnya, Manggadapun telah membungkuk di sebelah orang itu. Tetapi orang itu menekan punggung Manggada sambil berkata “Terlalu tinggi. Membungkuklah seperti orang yang merangkak” Manggada telah melakukannya pula meskipun dengan jantung yang berdebar-debar. Namun demikian Manggada melakukannya, maka ia merasa kaki orang itu menapak di punggungnya. Ternyata Manggada telah dipergunakannya alas untuk naik kepunggung kudanya. Manggada mengumpat di dalam hati. Hampir saja ia kehilangan kesabarannya. Namun ketika ia memandang wajah Ki Carang Aking serta kedip matanya, Manggada berusaha menahan hatinya. Namun ia masih terkejut lagi ketika orang itu tertawa sambil menggerakkan kendali kuda. Demikian kudanya mulai berlari, tangan orang itu telah mendorong kepala Manggada sehingga Manggada terhuyung-huyung beberapa langkah. Tetapi Manggada tidak jatuh terguling. Suara tertawa orang itu masih terdengar, sementara kudanya berlari di antara bangunan bambu di barak itu dan kemudian hilang di belakang sudutnya. “Orang gila” geram Manggada “hampir saja aku patahkan lehernya” “Kau masih harus menahan diri” berkata Ki Carang Aking. Manggada mengangguk-angguk. Sementara, Laksana bertanya kepada orang tua itu “Apakah benar bahwa yang nampaknya selalu tersenyum itu adalah orang yang paling garang di antara saudara-saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong?” Orang tua itu mengangguk. Katanya “Ya. Ia adalah orang yang paling kasar dan paling garang. Ujud lahiriahnya ternyata tidak menunjukkan sikap hatinya. Kita memang harus berhatihati terhadapnya” Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Mereka mulai merasakan sikap yang kasar dan sama sekali tidak menghargai orang lain itu. Namun mereka tidak dapat berbicara lebih banyak. Seorang lagi saudara seperguruan Wira Sabet telah datang ke kandang. Orang yang wajahnya nampak bengis dan kasar. Manggada dan Laksanapun kemudian telah sibuk mempersiapkan kuda orang itu. Sementara orang itu berdiri saja tanpa berkata sepatah katapun. Tetapi iapun tidak berbuat apa-apa ketika Laksana menyerahkan kendali kudanya. Demikian orang itu menerima kendali kudanya, maka iapun segera meloncat naik dan meninggalkan kandang kuda itu. “Ia tidak banyak berbicara” berkata Sampar. “Seperti sebuah kedung yang airnya nampak diam. Tetapi tentu kedung yang dalam dan barangkali terdapat beberapa ekor buaya di dalamnya” berkata Laksana. Sampar tertawa. Katanya “Ya. Agaknya memang demikian” Sepeninggal orang itu, maka ketiganyapun lelah kembali ke dalam kerja. Membersihkan kandang dan sekitarnya. Mengisi kotak-kotak tempat makanan dan menyimpan rumput segar sebagai persediaan. Namun setelah beberapa hari di tempat itu, maka Manggada dan Laksanapun mengetahui pula, bahwa segerombolan orang yang dipimpin oleh Wira Sabet dan Sura Gentong itu memang segerombolan perampok yang bergerak di daerah yang luas. Sementara itu Ki Sapa Aruh agaknya telah menghubungkan kelompok itu dengan kelompokkelompok lain yang memiliki kegiatan yang sama. “Kita memang harus menghentikannya” berkata Ki Carang Aking yang sehari-harinya nampak tua dan lemah itu. Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun Laksanapun berkata “Tetapi apakah kita mempunyai cukup kekuatan untuk melakukannya?” “Nanti malam, mudah-mudahan Ki Pandi benar datang. Kita akan menghitung kekuatan kita agar kita tidak terjebak dalam kesulitan” berkata Ki Carang Aking. Manggada dan Laksana memang menanti datangnya malam dengan gelisah. Rasa-rasanya waktu berjalan sangat lamban. Apa saja sudah mereka kerjakan untuk melupakan kegelisahan mereka. Tetapi rasa-rasanya masih saja tersisa waktu yang panjang. Ketika senja turun, keduanya masih belum dapat beristirahat dengan tenang. Masih ada beberapa ekor kuda yang belum kembali ke kandangnya. Bahkan Pideksa dan pamannya, Sura Gentong yang pergi sejak fajar, masih juga belum kembali. Tetapi ternyata Ki Pandi tidak menunggu sampai semua kuda terkumpul. Ia memasuki barak tidak lama setelah malam turun. Menurut Ki Pandi, justru saat-saat yang paling aman, karena para peronda menganggap bahwa saat-saat seperu itu masih belum perlu diawasi dengan ketat. Tetapi baik Ki Pandi maupun Ki Carang Aking tidak menjadi cemas tentang orang-orang yang belum kembali. Mereka akan mendengar derap kaki kuda mendekati kandang sehingga mereka sempat keluar dari bilik mereka sementara Ki Pandi sempat bersembunyi di kolong amben jika perlu. Sebenarnyalah bahwa Ki Pandi dan Ki Carang Aking telah membuat perhitungan, apakah mereka akan dapat menghentikan segerombolan orang yang dipimpin oleh Wira Sabet dan Sura Gentong. “Di padukuhan ada beberapa orang yang dapat diperhitungkan” berkata Ki Pandi. “Berapa orang?” bertanya Ki Carang Aking. “Ki Kertasana, ayah Manggada. Ki Citrabawa, ayah Laksana dan sekaligus gurunya serta guru Manggada. Ki Jagabaya dan anak-anaknya, Sampurna. Menurut beberapa keterangan sebenarnya juga Ki Bekel. Tetapi Ki Bekel telah dibayangi oleh seribu satu macam keraguan dan kecemasan. Kemudian Manggada dan Laksana sendiri” “Selain itu ada Ki Pandi” desis Ki Carang Aking. “Dan Ki Carang Aking” sahut Ki Pandi. “Bagaimana dengan harimau-harimaumu itu?” bertanya Ki Carang Aking. “Bukankah keduanya dapat membantu menakut-nakuti para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong?” Sambung Ki Carang Aking dan yang kemudian berkata pula “Ada dua orang kemanakanku disini” “Kemanakan?” bertanya Ki Pandi. “Mereka juga menjadi budak disini sebagaimana kami” jawab Ki Pandi “tetapi aku berharap bahwa keduanya akan dapat membantu menghentikan kegiatan gerombolan ini” “Sejak kapan mereka ada disini?” bertanya Manggada. “Bersama dengan aku. Kami bertiga bersama-sama disekap di barak ini” jawab Ki Carang Aking. “Apakah aku pernah melihat mereka berdua?” bertanya Laksana ragu. “Tentunya sudah. Mereka adalah anak-anak yang mendapat tugas untuk menyabit rumput bagi kuda-kuda ini” “Yang mana?” bertanya Laksana sambil mengerutkan dahinya. Ki Carang Aking tersenyum. Katanya “Kalian memang jarang berhubungan langsung. Keduanya adalah anak-anak cacat. Seorang nampaknya seperti kehilangan kekuatan di separuh tubuhnya, sedang yang lain nampaknya memang agak kurang lengkap penalarannya” “O” Manggada dan Laksana hampir berbareng menyahut. Sementara itu Laksanapun berkata “Ternyata anak-anak muda itu. Kami memang jarang berhubungan langsung. Tetapi mereka nampak meyakinkan sekali” “Sebagaimana angger berdua” berkata Ki Carang Aking sambil tersenyum. Ki Pandipun tertawa pendek. Katanya “Jika demikian, kita mempunyai harapan” “Ya” jawab Ki Carang Aking “disini kekuatan yang kami ketahui adalah Wira Sabet dan Sura Gentong bersama empat orang saudara seperguruannya. Ki Sapa Aruh yang mudahmudahan tidak menyeret orang lain lagi di dalam barak ini” “Mudah-mudahan tidak. Aku kira ia juga tidak mau disaingi oleh orang lain yang memiliki kemampuan sejajar dengan kemampuannya” berkata Ki Pandi. Namun pembicaraan merekapun terhenti. Mereka mendengar derap kaki kuda. Lebih dari satu. “Tentu Sura Gentong dan Pideksa” berkata Ki Carang Aking. Orang tua itupun kemudian keluar dari biliknya bersama Manggada dan Laksana, sementara Ki Pandi tetap berada di biliknya. Tetapi ia sudah siap untuk bersembunyi, apabila perlu. Namun agaknya Sura Gentong dan Pideksa itu tidak sempat berlama-lama di kandang. Nampaknya keduanya sangat letih, sehingga keduanya ingin segera beristirahat. Demikian Ki Carang Aking, Manggada dan Laksana selesai menyimpan kedua ekor kuda itu serta memberinya minum dan makan, maka keduanyapun segera kembali ke dalam bilik mereka untuk meneruskan pembicaraan mereka dengan Ki Pandi. Sebelum Ki Pandi kemudian meninggalkan bilik itu, Manggada dan Laksana sempat memberitahukan sebagaimana dikatakan oleh orang-orang yang bertemu Wisesa di padukuhan Gemawang. “Sampaikan kepada Sampurna, agar ia menjadi lebih berhati-hati” berkata Ki Carang Aking yang mengikuti pembicaraan itu. Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya “Untunglah bahwa orang yang mendapat pengaduan Wisesa adalah orang-orang yang pernah berhubungan dengan Manggada dan Laksana, sehingga pengaduan itu tidak langsung didengar oleh Wira Sabet dan Sura Gentong” meskipun demikian iapun berkata pula “tetapi bagaimanapun juga hal itu akan menjadi ancaman bagi persiapan yang dilakukan oleh orang-orang padukuhan Gemawang. Jika pengaduannya itu tidak segera mendapat tanggapan, mungkin Wisesa akan mengadu lagi. Kemungkinan buruk dapat terjadi karena Wisesa mungkin akan bertemu dan berbicara dengan orang lain” “Aku sudah berpesan, agar kedua orang itu besok menemui Wisesa dan mengancamnya untuk tidak berbicara lagi tentang hal itu. Mudah-mudahan mereka berhasil menakut-nakuti Wisesa yang hatinya memang tidak lebih besar dari biji sawi itu” Ki Pandi mengangguk-angguk. Namun Sampurna memang harus mendapat peringatan agar menjadi lebih berhati-hati. Ki Pandi juga harus mengingat anak-anak muda yang sedang bersiap-siap untuk membantu Ki Jagabaya menenangkan padukuhan mereka dari kegelisahan yang berkepanjangan. Ki Pandipun kemudian telah minta diri. Namun Manggada pun berpesan “Besok kami berharap Ki Pandi untuk datang lagi. Mungkin ada sesuatu yang dapat kami ceriterakan tentang barak ini” “Baiklah” berkata Ki Pandi “besok pada saat seperti ini aku akan datang lagi. Jika berbahaya, beri aku isyarat. Jika besok saat seperti ini pintu bilikmu ini terbuka lebar, berarti aku harus menunda beberapa saat” “Jadi kami harus menutup pintu bilik ini jika kami menganggap keadaan aman?” bertanya Ki Carang Aking. “Ya” jawab Ki Pandi. “Tetapi bagaimana kami dapat memberitahukan kepadamu, jika kebetulan seseorang ada di dalam bilikku dan minta agar bilik ini ditutup?” “Berbicaralah agak keras sehingga aku dapat mendengar apa yang kalian bicarakan. Kecuali jika kalian bertiga dicekik hantu disini” berkata Ki Pandi. Mereka yang ada di bilik itupun tertawa tertahan. Namun dalam pada itu, maka Ki Pandipun telah minta diri. Dengan sangat berhati-hati ia telah meninggalkan barak itu. Sepeninggal Ki Pandi, Manggada dan Laksana masih berbincang tentang berbagai kemungkinan sambil menunggu kedatangan beberapa orang penghuni barak itu dengan kudaTiraikasih Website http://kangzusi.com/ kuda mereka. Sementara Ki Carang Aking berbaring sambil membayangkan apa yang dapat terjadi di kemudian. Apabila kegiatan Wira Sabet dan Sura Gentong itu tidak dihentikan, maka akibatnya akan parah bagi banyak pihak. Apalagi jika mereka berhasil menguasai padukuhan Gemawang dengan alasan yang telah direka-rekanya, dihubungkan dengan dendam mereka atas orang-orang padukuhan Gemawang. Seolah-olah mereka memang mempunyai hak yang sah untuk melepaskan dendam mereka. Namun mereka telah memperhitungkan kemungkinan yang lebih jauh dari sekedar menguasai padukuhan Gemawang dan bahkan kemudian Kademangan Kalegen. Dengan menguasai Kademangan itu, maka mereka mempunyai landasan yang sangat mapan bagi pekerjaan mereka yang kotor itu. Namun dalam pada itu, telah terdengar pula derap kaki kuda, sehingga mereka bertiga harus bangkit dan menerima kuda yang baru datang itu. Sedangkan untuk menunggu kuda berikutnya, maka bertiga mereka telah membagi waktu. Seorang dari mereka harus tetap terjaga. Jika seorang di antara saudara seperguruan Wira Sabet datang tanpa ada yang mengetahuinya, maka kemarahan mereka akan dapat berakibat sangat buruk bagi Sampar dan kemudian :edua orang anak muda yang membantunya itu. Baru setelah kuda terakhir datang, maka mereka dapat tidur dengan nyenyak sampai dini hari. Namun Manggada, Laksana dan Sampar telah mendapat kesan, bahwa barak itu menjadi sibuk. Sebelum matahari naik dua orang sudah meninggalkan barak itu dengan kudanya. Kemudian Wira Sabet dan Pideksa. Demikian matahari naik lebih tinggi, Sura Gentong dan saudara seperguruannya yang berwajah tampan itu telah pergi pula. Sampar yang tua, yang telah lebih lama berada di tempat itu, berdesis “Kesibukan ini memang mendebarkan” “Kenapa?” bertanya Manggada. “Kesibukan seperti ini adalah pertanda, bahwa mereka menemukan sasaran. Mereka nampaknya sedang meyakinkan, apakah malam nanti mereka dapat melakukannya” “Melakukan apa?” bertanya Laksana. “Perampokan” jawab orang tua itu. Manggada dan Laksana berpandangan sejenak. Namun keduanya tidak berbicara lagi. Mereka sudah mengerti, apa yang kira-kira akan terjadi malam nanti. Hari itu Sampar nampak gelisah. Menjelang tengah hari, maka kedua orang yang menyabit rumput telah datang ke kandang sambil membawa masing-masing sekeranjang rumput segar. Seorang di antara keduanya berjalan dengan sebelah kaki yang timpang. Bahkan tangan dan separuh tubuhnya nampak lemah. Sedangkan yang lain memandang dunia dengan penuh keheranan, meskipun umurnya sudah sepertiga abad. Sekali-kali ia nampak tersenyum-senyum melihat sekelilingnya. Namun kemudian wajahnya menjadi murung. “Inilah kedua kemanakanku itu” berkata Ki Carang Aking. Manggada dan Laksana tersenyum. Mereka yakin bahwa keduanya adalah murid Ki Carang Aking. Karena itu, maka Laksanapun telah mendekati orang yang nampaknya akan terganggu syarafnya itu sambil bertanya “Kau dapat juga menyabit rumput sekeranjang penuh?” Orang itu tertawa. Namun sebelum ia mengucapkan sepatah katapun, Ki Carang Akingpun berkata “Mereka sudah tahu, siapakah kalian” Orang yang tertawa itu tiba-tiba mengerutkan dahinya, sementara Ki Carang Aking berkata “Ia berada di tempat ini dengan tujuan yang sama sebagaimana kita disini. Mereka adalah anak-anak muda Gemawang. Bukankah kalian sudah mendengar nama mereka berdua?” Orang yang sehari-hari nampak seperti terganggu syarafnya itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Jika aku harus melakukan peranan ini sebulan lagi, maka aku benar-benar dapat menjadi gila” Manggada dan Laksana tertawa. Sementara Ki Carang Aking pun tersenyum sambil berkata “Kita sedang berusaha untuk secepatnya menyelesaikan tugas kita disini” Orang yang timpang itupun telah menjadi tegak pula sambil berkata “Aku sudah lelah. Setiap malam aku harus memijit kakiku yang timpang ini” “Kita semua berpura-pura disini” berkata Ki Carang Aking. “Tetapi kedua anak muda ini lain, guru. Mereka tidak perlu menjadi cacat. Mungkin mereka hanya berpura-pura tunduk kepada segala perintah” berkata orang yang pura-pura cacad itu. “Semuanya akan segera kita selesaikan” jawab gurunya. Namun pembicaraan itupun segera terhenti. Mereka mendengar derap kaki kuda yang mendekat. Demikianlah, maka kedua orang yang cacat itupun segera meletakkan keranjang yang penuh rumput itu dan mengambil keranjang yang kosong. Mereka harus pergi lagi ke bagian belakang barak itu untuk menyabit rumput. Mereka harus melakukan pekerjaan itu sehari penuh. Mereka hanya berhenti di siang hari untuk makan. Hari itu memang terasa sibuk. Satu-satu para penghuni barak itupun kembali. Namun agaknya mereka masih harus berbicara panjang di antara mereka. Di sore hari, ketika Manggada dan Laksana baru saja selesai membersihkan kuda-kuda yang baru saja dipakai, tiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong telah datang menemui Manggada dan Laksana. Keduanya dipanggil ke sudut kandang untuk diberi keterangan tentang pertemuan mereka dengan Wisesa hari itu di padukuhan Gemawang. “Kami sudah menakut-nakutinya” berkata salah seorang dari mereka “kami mengatakan bahwa ia telah memfitnah. Bukan saja Manggada dan Laksana, tetapi terutama kawankawan kami yang dikatakan telah kalian kalahkan itu” “O” Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sambil tersenyum Laksana bertanya “Apa katanya?” “Anak itu memang menjadi ketakutan. Bahkan hampir pingsan. Kami memaksanya berjanji untuk tidak memfitnah lagi. Jika sekali lagi ia berbicara tentang kekalahan para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong, maka kami akan mengoyakkan mulutnya. “Aku kira ia benar-benar akan diam” berkata Manggada kemudian, sementara Laksana menyambung “ia tidak akan mempunyai keberanian untuk memperbandingkan sikap kalian dengan kawan-kawan kalian yang lain” “Baiklah” berkata salah seorang dari ketiga orang itu “kami harus segera bersiap-siap untuk tugas khusus malam ini” “Tugas khusus apa?” bertanya Manggada. “Kami mempunyai sasaran yang sangat baik malam ini” Manggada dan Laksanapun segera mengetahui maksud orang itu. Dengan nada datar Manggada bertanya “Dimana?” “Saudagar emas dan permata serta wesi aji. Tiga orang pedagang yang membawa dagangan cukup banyak. Mereka akan berada di rumah saudagar emas dan permata pula. Esok pagi mereka akan bersama-sama pergi ke pesisir Utara dengan membawa dagangannya itu. Ki Sapa Aruh telah memerintahkan kami untuk bergerak. Kami tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang jarang ada. Empat orang pedagang dengan dagangannya telah berkumpul. Seakanakan mereka memang menyediakan emas, permata dan yang tidak kalah nilainya adalah wesi aji itu” “Dimana rumah saudagar itu?” bertanya Manggada sambil lalu. Orang-orang itu sama sekali tidak mencemaskan keduanya, bahwa keduanya akan membocorkan rahasia itu, karena keduanya tidak akan dapat keluar dari tempat itu. Karena itu seorang di antara mereka berkata “Tidak terlalu jauh dari tempat ini. Saudagar itu tinggal di padukuhan Rejandani Kulon. Saudagar emas yang tinggal di Rejandani itu kebetulan anak Ki Demang Rejandani itu sendiri” “Kapan kalian akan berangkat?” bertanya Manggada. “Biasanya kami lakukan tugas itu pada tengah malam,” jawab orang itu. Manggada dan Laksana tidak bertanya lebih banyak lagi. Sementara itu, ketiga orang itupun segera meninggalkan mereka sebelum orang lain memperhatikannya. Sepeninggal ketiga orang itu, maka Manggada dan Laksana segera menghubungi Ki Carang Aking dan menceriterakan apa yang mereka dengar dari ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu. “Menarik sekali” desis Ki Carang Aking “tetapi apa yang dapat kita lakukan karena kita berada disini?” “Kita akan menceriterakan kepada Ki Pandi jika ia benarbenar datang” desis Manggada. Ki Carang Aking mengangguk-angguk kecil. Katanya “Mudah-mudahan ada satu cara untuk membantu saudagarsaudagar itu” Dengan demikian, maka yang dapat mereka lakukan hanyalah menunggu. Namun mereka menyadari, bahwa tugas mereka akan menjadi berat. Mereka tentu akan mendapat perintah untuk menyiapkan tidak hanya lima atau enam ekor kuda. Tetapi tentu lebih dari itu. “Menjelang tengah malam, kuda-kuda itu tentu harus siap” berkata-Ki Carang Aking. “Apakah kita dapat menyiapkan mulai sekarang?” bertanya Laksana. “Bagaimana mungkin” jawab Manggada “bukankah kita tidak tahu bahwa kuda-kuda itu akan dipergunakan malam nanti?” Laksana mengerutkan dahinya. Namun iapun kemudian tertawa kecil sambil berdesis “Ya. Alangkah bodohnya” Karena itu, tidak ada yang dapat mereka kerjakan mendahului perintah, karena hal itu akan dapat membuat para pemimpin barak itu menjadi curiga. Ketika kemudian senja lewat dan malam turun, mereka benar-benar menanti kedatangan Ki Pandi. “Sebagaimana pesan Ki Pandi, kita harus menutup pintu” berkata Laksana. Ki Carang Aking mengangguk-angguk. Sementara itu merekapun duduk di dalam bilik itu sambil berbicara di antara mereka agar jika Ki Pandi berada di luar, ia dapat mendengar bahwa tidak ada orang lain di dalam bilik itu. Ki Pandi memang benar datang. Dari jauh ia sudah melihat pintu tertutup. Karena itu, maka iapun dengan sangat berhatihati mendekati pintu yang tertutup itu. Beberapa saat Ki Pandi memang berdiri di luar. Ia mendengarkan pembicaraan orang-orang yang ada di dalam. Baru ketika ia yakin bahwa tidak ada orang lain, maka iapun telah mengetuk pintu. Tidak terlalu keras, tetapi segera didengar oleh mereka yang ada di dalam bilik itu. Ketika kemudian Ki Pandi duduk di dalam bilik itu, serta pintu telah ditutup kembali, Manggada dan Laksanapun segera menceriterakan rencana para penghuni barak itu untuk merampok beberapa orang saudagar emas, permata serta wesi aji yang akan berkumpul di rumah anak Ki Demang Rejandani dan tinggal di Rejandani Kulon. Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya “Sebaiknya rencana itu kita gagalkan. Kita harus membantu para saudagar itu. Kita memang tidak bersangkutpaut dengan mereka. Jika kita tidak mendengar rencana ini, maka kita tidak akan merasa dibebani penyesalan jika esok kita mendengar berita tentang perampokan itu. Dan mungkin tindak kekerasan yang lain, karena aku yakin keempat orang saudagar itu tidak akan menyerahkan barang dagangan mereka yang nilainya sangat tinggi begitu saja. Kitapun tahu bahwa saudagar keliling yang sering menempuh perjalanan jauh biasanya memiliki kepercayaan diri serta bekal kemampuan olah kanuragan” “Jadi bagaimana menurut Ki Pandi?” bertanya Ki Carang Aking. “Aku akan pergi ke Rejandani itu” berkata Ki Pandi. Lalu katanya “Aku menduga bahwa kekuatan yang dibawa oleh orang-orang dari barak ini cukup besar, sehingga keempat orang itu tidak akan mampu melawan” “Aku sependapat Ki Pandi. Tetapi sayang, bahwa aku tidak dapat membantu, justru sebentar lagi, aku tentu akan mendapat tugas untuk menyiapkan kuda-kuda ini” “Baiklah. Jika demikian aku minta diri. Aku akan pergi ke Rejandani” Ki Carang Aking, Manggada dan Laksana tidak menahannya lebih lama. Kesempatannya tidak terlalu panjang, karena tengah malam nanti, Wira Sabet, Sura Gentong dan saudarasaudara seperguruannya, bahkan beberapa orang pengikutnya yang terpercaya akan merampok saudagar-saudagar itu. Dengan sedikit petunjuk dari Manggada yang sedikit banyak tahu arah Kademangan Rejandani, maka Ki Pandipun telah langsung menuju ke Kademangan itu. Tidak terlalu sulit menemukan rumah Ki Demang. Tetapi waktu menjadi semakin sempit Ketika Ki Pandi memasuki halaman Kademangan, maka Kademangan itu nampaknya sudah menjadi sepi. Tidak ada peronda di rumah itu. Tetapi ada gardu disimpang tiga, hanya beberapa puluh langkah saja dari rumah Ki Demang. Ki Pandi memang menjadi ragu-ragu. Ia berjalan dengan hati-hati mengelilingi rumah itu. Dari jarak yang agak jauh, Ki Pandi melihat beberapa ekor kuda berada di dalam kandang, sehingga ia percaya, bahwa di rumah itu memang sedang ada tamu, sehingga kandang kuda yang cukup besar itu terasa agak sempit bagi beberapa ekor kuda yang ada di dalamnya. Tetapi Ki Pandi sudah bertekad untuk memberitahukan rencana para perampok itu. Karena itulah, maka Ki Pandipun kemudian kembali ke halaman depan. Iapun naik ke pendapa dan melangkah ke pringgitan. Perlahan-lahan ia mengetuk pintu rumah Ki Demang. Sekali dua kali ketukan pintu itu tidak dijawab. Karena itu, maka Ki Pandipun mengetuk lebih keras lagi. Meskipun tidak ada jawaban, namun telinganya yang tajam mendengar langkah-langkah di ruang dalam rumah itu. Karena itu, maka iapun kemudian menunggu pintu itu dibuka. Tetapi Ki Pandi tidak mendengar langkah mendekati pintu. Beberapa saat kemudian, maka langkah-langkah itupun seakan-akan justru menjauh dan kemudian hilang dari pendengarannya. Tetapi tidak lama. Beberapa saat kemudian, ia justru mendengar pintu seketenglah yang terbuka. Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, bahwa pemilik rumah itu, atau bahkan mungkin tamu-tamunya, menjadi sangat berhati-hati. Sebenarnyalah Ki Pandipun kemudian melihat seorang yang muncul dari pintu seketeng. Sambil melangkah ke tangga pendapa orang itu bertanya “Siapakah kau Ki Sanak. Dan apakah keperluanmu malam-malam begini datang kemari?” Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Namun ia menyadari, bahwa dari seketeng sebelah yang lain, dua orang telah keluar pula dan turun ke halaman. Ki Pandi masih berdiri di muka pintu pringgitan. Katanya “Ada sesuatu yang penting dan segera harus aku beri tahukan kepada kalian. Tetapi siapakah di antara kalian putera Ki Demang Rejandani yang menjadi saudagar emas dan permata?” “Aku” jawab orang itu. Orang yang masih terhitung muda dengan kumis yang tebal di atas bibirnya. “Baiklah. Aku mohon kesempatan untuk berbicara sejenak. Maaf, jika aku harus melakukannya dengan cepat, karena waktunya sangat sempit” berkata Ki Pandi. “Siapa sebenarnya kau ini?” bertanya anak Ki Demang itu. “Itu tidak penting. Tetapi aku minta kata-kataku didengar” berkata Ki Pandi. “Apa yang ingin kau katakan?” Ki Pandi melangkah mendekati orang itu. Tetapi orang itu berkata “Berdiri sajalah disitu” “Tetapi yang ingin aku katakan ini penting bagi Ki Sanak, karena bukan saja menyangkut barang-barang dagangan Ki Sanak dan kawan-kawan Ki Sanak, tetapi juga keselamatan Ki Sanak sendiri bersama dengan kawan-kawan Ki Sanak” “Apa yang kau ketahui tentang kami? Kami tidak mempunyai barang-barang berharga. Aku memang mengaku anak Ki Demang. Tetapi bukan pedagang emas dan permata. “Kenapa harus kau ingkari, Ki Sanak. Tetapi siapapun Ki Sanak, aku mohon Ki Sanak menyadari bahwa sekelompok perampok tengah dalam perjalanan kemari. Sebaiknya Ki Sanak membawa barang-barang berharga itu menyingkir dari rumah ini. Sebaiknya rumah ini dikosongkan, sementara satu dua orang pembantu di rumah ini harus diberi pesan, bagaimana mereka menjawab pertanyaan para perampok itu” “Ki Sanak. Jika kau sedang mengigau, sebaiknya kau tidak berada di rumahku. Pergilah” “Aku berkata sebenarnya Ki Sanak. Pembantu itu harus mengatakan bahwa di rumah ini tidak ada tamu. Ki Demang dan Nyi Demang sebaiknya juga meninggalkan rumah ini dan berada di banjar saja bersama para peronda. Pembantu itu dapat mengatakan bahwa Ki Demang dan Nyi Demang sedang pergi” “Ayah dan ibuku memang tidak sedang di rumah, Ki Sanak. Pamanku sedang menikahkan anaknya” “Jika demikian, silahkan kalian pergi. Meskipun aku melihat ada gardu di sebelah, namun kekuatan para perampok itu terlalu besar untuk ditandingi” Anak Ki Demang itu kemudian justru menggeram “Apakah kau salah seorang dari mereka dan berusaha untuk menakutnakuti kami, agar kami tidak memberikan perlawanan?” “Bukan sekedar tidak memberikan perlawanan. Tetapi aku mohon kalian menyingkir” “Pergilah, atau aku bahkan akan menangkapmu” Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Bahkan seorang yang berdiri di sisi lain dari pendapa itu menggeram “Orang bongkok. Kau jangan mencoba mengganggu ketenangan kami” Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam Ternyata orang-orang itu tidak mempercayainya. Mungkin karena ujud lahiriahnya, maka ia dianggap orang yang kurang waras, yang tersesat di Kademangan Rejandani. “Pergilah” berkata anak Ki Demang itu “kami malam ini harus beristirahat sebaik-baiknya. Besok kami akan menempuh perjalanan panjang” “Aku mohon kalian mendengarkan kata-kataku” berkata Ki Pandi sekali lagi. “Kau orang aneh. Untuk apa sebenarnya permainan ini kau lakukan. Apakah kau memang sedang memancing persoalan, atau mencoba membuka kesempatan bagi gerombolanmu untuk masuk ke dalam rumahku? Dengar Ki Sanak, sekali lagi aku peringatkan kau agar pergi. Jika tidak, maka kami akan menangkapmu. Malam ini juga kami akan memerintahkan anak-anak muda untuk memanggil ayah dan mengadilimu” Ki Pandi kehilangan harapannya untuk memberi peringatan kepada orang-orang itu. Sebenarnya ia memang mempunyai pamrih. Jika ia berhasil menyelamatkan emas dan permata dan bahkan wesi aji dari saudagar-saudagar itu, maka pada kesempatan lain, ia akan dapat minta bantuan mereka untuk menyelamatkan padukuhan Gemawang, karena Kademangan Kalegen nampaknya ragu-ragu menghadapi Ki Sapa Aruh. Tetapi nampaknya usaha itu sia-sia. Dengan kecewa Ki Pandipun kemudian melangkah turun dari pendapa. Demikian ia berdiri di halaman, maka ia melihat empat orang yang berada didekat pintu seketeng sebelahmenyebelah. “Wira Sabet dan Sura Gentong cukup teliti memperhitungkan sasarannya. Atau barangkali atas petunjuk Ki Sapa Aruh” berkata Ki Pandi di dalam hatinya. Dengan hati yang berat Ki Pandi melangkah keluar dari halaman rumah itu. Namun sebelum ia keluar dari regol halaman, ia pun masih berkata “Aku minta kalian mengingat peringatanku ini Ki Sanak. Jika terjadi sesuatu atas kalian, maka kalian jangan menyesal.” Keempat orang itu tidak menjawab. Sementara itu, Ki Pandi yang kecewa itupun melangkah keluar lewat pintu regol halaman. “Ada juga orang gila datang malam-malam begini” berkata salah seorang dari mereka” “Lupakan” berkata anak Ki Demang yang berkumis itu “kita masih mempunyai waktu untuk tidur lagi” Tetapi seorang di antara mereka itupun berkata “Perasaanku menjadi tidak enak. Jika orang itu tidak mempunyai keterangan tentang yang dikatakannya itu, apakah sebenarnya tujuannya?” “Mungkin ia memang orang gila” desis yang lain “atau bahkan sedang menjajagi apakah kami menjadi ketakutan” “Sudahlah” berkata anak Ki Demang “Sudahlah. Kita tidur saja lagi” Sementara itu waktu bergulir semakin jauh. Walaupun menjadi semakin malam. Keempat orang itu sudah berada di dalam rumah lagi. Keempat orang itu memang sengaja tidur di ruang dalam bersama-sama. Ketiga orang tamu yang bermalam di rumah itu, tidak dipersilahkan tidur di gandok, karena mereka bersama-sama menjaga barang-barang mereka yang nilainya tinggi. Sejenak kemudian, maka ketiga orang di antara mereka segera tertidur lagi. Yang seorang lagi masih saja merasa gelisah. Ia tidak menjadi ketakutan. Tetapi peringatan yang diberikan orang bongkok itu membuatnya berhati-hati. Ada perasaan tidak enak yang menggelitik jantungnya. Beberapa saat orang itu berbaring tanpa dapat memejamkan matanya. Karena itu maka iapun justru bangkit dan duduk di ruang dalam. Suara-suara malam di luar dinding rumah itu membuat malam menjadi semakin mencengkamnya. Sementara itu, ketiga orang kawannya, termasuk anak Ki Demang telah tertidur nyenyak. Seorang di antara mereka justru mendengkur seirama dengan tarikan nafasnya yang teratur. Orang itu mengerutkan dahinya ketika ia mendengar jauh dalam keheningan malam suara derap kaki kuda. Semakin lama menjadi semakin jelas. Tidak hanya satu dua. Tetapi di telinganya terdengar banyak sekali. Orang itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Bahkan ia sempat bertanya kepada diri sendiri “Apakah karena kegelisahanku, tiba-tiba saja telingaku seakan-akan mendengar derap kaki kuda sedemikian banyaknya?” Tetapi suara derap kaki kuda itu tidak segera lenyap. Bahkan semakin lama menjadi semakin jelas. Orang itu tidak menunggu lebih lama lagi. Iapun segera membangunkan ketiga orang kawannya yang masih tidur nyenyak. “Ada apa?” bertanya anak Ki Demang. “Kau dengar derap kaki kuda itu?” bertanya orang yang membangunkannya. “Kaki kuda apa?” anak Ki Demang itu memang bangkit dan bahkan duduk dibibir amben besar di ruang dalam “Dengarlah baik-baik” berkata orang itu. Kedua orang yang lainpun telah duduk pula. Seorang di antara mereka sempat berkata “Kau dibayangi oleh ceritera orang bongkok itu” Tetapi anak Ki Demang itu justru berdesis “Ya. Aku sudah mendengarnya” Akhirnya keempat orang itu menjadi yakin. Mereka mendengar derap kaki kuda. Dengan cepat keempatnya berloncatan menggapai senjata mereka masing-masing. Anak Ki Demang mengambil tombak di ploncongnya. Sementara seorang kawannya menjinjing pedang panjang. Seorang lagi bersenjata sepasang tongkat baja yang dihubungkan dengan seutas rantai yang agak panjang. Sedangkan seorang lagi menyelipkan kerisnya yang besar dan panjang melampaui ukuran keris kebanyakan di punggungnya. “Apakah orang bongkok itu tidak berbohong?” desis orang yang sejak semula sudah ragu-ragu itu. Ketiga orang kawannya hanya terdiam. Mereka menjadi tegang ketika suara derap kaki kuda itu menjadi semakin dekat. Anak Ki Demang itu menggeretakkan giginya ketika ia mendengar derap kaki kuda itu memasuki halaman rumahnya. “Setan. Orang bongkok itu tidak berbohong. Mungkin ia gila, tetapi ia berkata sebenarnya” “Kita harus bersiap menghadapinya” Sejenak kemudian maka merekapun mendengar orangorang di halaman itu berloncatan turun. Mereka mendengar langkah beberapa orang ke halaman samping, sedangkan beberapa orang yang lain naik ke pendapa. Sementara itu, tiga ekor kuda telah langsung berhenti di depan gardu. Ada lima anak muda yang sedang meronda. Namun ketika ketiga orang berkuda itu mengancam mereka, maka mereka tidak berani berbuat apa-apa. “Jika kalian mencoba melibatkan diri, maka kalian akan menyesal” berkata salah seorang dari ketiga orang berkuda itu. Kelima anak muda itu memang tidak akan dapat melawan mereka, sehingga mereka lebih baik berdiam diri saja di dalam gardu. Sementara itu, orang-orang yang berada di halaman rumah Ki Demang, telah mengawasi segala pintu keluar rumah itu. Bahkan sampai ke pintu dapur sekalipun. Empat orang kemudian telah berdiri di depan pintu pringgitan. Seorang di antara mereka adalah seorang yang umurnya sudah melampaui pertengahan abad. Namun badannya masih nampak, kuat, kekar dan tegar. Orang itulah yang mengetuk pintu pringgitan “Buka pintumu atau aku rusakkan. Kalian yang ada di dalam tidak mempunyai pilihan apapun kecuali mendengarkan dan melakukan segala perintah kami. Kami tahu, bahwa ada empat orang yang ada di dalam. Ki Demang dan Nyi Demang sedang pergi ke peralatan pernikahan kemanakannya” Orang-orang yang berada di dalam rumah itu menjadi semakin tegang. Tetapi tidak seorangpun yang membuka pintunya. Ternyata bukan hanya pintu pringgitan saja yang diketuk. Tetapi pintu butulan di gladri sebelah kanan juga diketuk. Justru lebih keras. Terdengar suara lantang “Buka pintu. Cepat” Tetapi keempat orang itu tidak membuka pintu. Karena itu, maka orang-orang yang berdiri di depan pintu pringgitan itu tidak sabar lagi. Mereka mulai menghentakhentak pintu itu semakin lama menjadi semakin keras. Orang yang sudah berumur lebih setengah abad itu menjadi semakin tidak sabar. Karena itu, maka dengan kekuatannya yang melampaui takaran kekuatan wajarnya, orang itu telah menghentakkan pintu itu, sehingga pintu dari dinding gebyog itu pecah dan roboh ke dalam, sehingga pintu itupun kemudian menjadi menganga. Namun nampaknya tidak diduga sebelumnya, bahwa dengan tiba-tiba empat orang yang ada di ruang dalam itupun telah meloncat menyerang, sehingga orang-orang yang berdiri di pintu itu berloncatan mundur. Dengan kecepatan yang tinggi, keempat orang itu berloncatan melintasi pendapa dan turun ke halaman. Agaknya mereka memilih bertempur di halaman daripada di pendapa. Karena di halaman mereka tidak akan terganggu oleh tiang-tiang yang berdiri tegak membeku. Tetapi demikian keempat orang itu berdiri di pendapa, maka beberapa orang telah menyusul mereka dan bahkan kemudian mengepung mereka. Orang yang mengetuk dan kemudian merusakkan pintu itu pun telah melangkah dan kemudian berdiri di tangga pendapa sambil berkata “Ki Sanak. Aku tahu, kau adalah orang-orang yang berilmu. Tetapi akupun tahu bahwa ilmu kalian masih belum apa-apa bagiku dan bagi orang-orangku. Karena itu, maka sebaiknya kalian menyerah saja. Jika kalian menyerah, maka kalian akan kami perlakukan dengan baik. Tetapi jika kalian melawan, maka nasib kalian akan menjadi lebih buruk lagi” “Kau siapa?” bertanya anak Ki Demang. “Orang memanggilku Ki Sapa Aruh” jawab orang itu. Wajah anak Ki Demang itu menjadi tegang. Sementara itu Ki Sapa Aruh itupun berkata “Kau pernah mendengar namaku? Mungkin namaku memang belum terlalu banyak dikenal disini” Anak Ki Demang menggeram. Ternyata ia memang pernah mendengar nama Ki Sapa Aruh. Namun ketika tiba-tiba saja ia berhadapan, maka hatinya memang menjadi sangat berdebardebar. “Nah, Ki Sanak. Marilah kita menyelesaikan persoalan kita dengan baik. Kami bukan orang yang senang mempergunakan kekerasan untuk tujuan apapun. Kami juga bukan orang yang senang berselisih di antara sesama. Karena itu, marilah kita sama-sama mengekang diri agar tidak terjadi perselisihan” berkata Ki Sapa Aruh dengan nada yang lunak. “Apa maksudmu?” bertanya anak Ki Demang. “Aku datang dengan tujuan yang baik. Aku ingin meneruskan keinginan kawan-kawan kami yang sedang kekurangan untuk minta bantuan kalian untuk sedikit meringankan beban hidup mereka sehari-hari. Adalah tidak wajar jika mereka hidup dalam kekurangan dan bahkan hampir kelaparan, sementara kalian dapat hidup dengan berlebihan” Wajah anak Ki Demang itu menjadi tegang. Dengan nada tinggi ia menyahut “Siapa yang hidup berlebihan?” “Tentu saja yang kami maksudkan adalah kalian. Juga para bebahu Kademangan ini dan para saudagar kaya. Dengan memeras orang-orang yang justru sedang membutuhkan pertolongan, kalian mendapatkan untung yang berlebihan” jawab Ki Sapa Aruh. “Itu tidak benar. Kami tidak hidup berlebihan. Kami memang mencari untung dengan pekerjaan kami. Tetapi bukankah itu wajar? Jika ada sedikit tersisa serta kesempatan untuk hidup kecukupan itu adalah hasil kerja keras kami. Juga para bebahu Kademangan. Sawah pelungguh yang mereka dapatkan di dasari oleh paugeran yang berlaku dan sah. Merekapun harus bekerja keras untuk dapat hidup dengan layak” Tetapi Ki Sapa Aruh tertawa. Katanya “Kau dapat berkata apa saja. Tetapi aku tahu, bahwa kalian telah mendatangi orang-orang yang terjepit oleh satu kebutuhan. Kalian memanfaatkan keterjepitan orang itu untuk dapat membeli perhiasan mereka, emas dan permata dengan harga murah. Kemudian kalian jual perhiasan itu dengan harga yang berlipat” “Ki Sanak” jawab anak Ki Demang “apa sebenarnya yang kalian maui. Kalian tidak perlu mengusik pekerjaan yang memang kami lakukan dengan wajar itu. Kami tidak pernh memaksakan kehendak kami untuk membeli atau menjual apapun kepada kami. Kamipun tidak pernah memaksakan harga kepada mereka yang menjual atau membeli barangbarang dagangan kami” “Baiklah. Apapun alasan kalian, tetapi bagi kami, kalian adalah sama jahatnya dengan lintah yang selalu menghisap darah. Sekarang sudah saatnya kami minta kembali darah yang telah kau hisap dan kau simpan sebagai harta kekayaan yang sangat besar. Nah, berikan emas, permata dan wesi aji yang kalian siapkan dan yang akan kalian bawa besok” “Tidak” jawab anak Ki Demang “kalian tidak dapat merampas milik kami. Hak kami, apapun alasannya” “Ki Sanak. Bukankah aku sudah mengatakan bahwa kami adalah orang-orang yang tidak suka kekerasan? Apalagi aku yang sudah menjadi semakin tua. Aku ingin dapat hidup tenang dan tenteram. Karena itu, aku minta kalian tidak membuat persoalan yang akan dapat menimbulkan perselisihan. “Aku tidak mengerti jalan pikiranmu itu Ki Sapa Aruh. Tegasnya, aku tidak akan memberikan sebutir permatapun kepada kalian” geram anak Ki Demang itu. “Itulah yang tidak aku senangi. Ternyata kau adalah orang yang keras hati, yang mencoba memaksakan tindak kekerasan terjadi” nada suara Ki Sapa Aruhpun meninggi. “Kau jangan berbicara dengan memutar balikkan penalaran orang waras. Sekarang pergilah sebelum kami kehabisan kesabaran” berkata anak Ki Demang yang mulai menjadi pening mendengarkan kata-kata Ki Sapa Aruh. Tetapi Ki Sapa Aruh justru tertawa. Katanya “Orang-orang yang di kepalanya selalu dipenuhi dengan nafsu kekerasan, tentu sulit dapat mengerti keinginanku. Tetapi baiklah. Meskipun kami orang-orang yang tidak suka berselisih, namun kami juga tidak ingin melepaskan landasan hidup kami. Kami akan mewakili orang-orang miskin yang pernah kau cekik lehernya dan kau hisap darahnya sehingga kering. Berikan emas, permata dan wesi aji itu kepada kami” “Tidak” jawab anak Ki Demang. “Jika kau berkeras tidak mau memberikan emas, permata dan wesi aji itu kepada kami, maka dengan terpaksa sekali kami akan mengambilnya” “Kami akan mempertahankan hak kami” jawab anak Ki Demang. Ki Sapa Aruh itu mengerutkan dahinya. Ia sudah cukup panjang berbicara, sehingga kemudian iapun telah memberikan isyarat kepada orang-orangnya untuk bersiap. Keempat orang pedagang emas, permata dan wesi aji itupun bersiap pula menghadapi segala kemungkinan. Namun mereka harus melihat kenyataan, bahwa lawan yang berdiri di sekitarnya terlalu banyak. Sementara itu, keempat orang itupun menyadari bahwa selain orang-orang yang ada di sekitarnya, masih ada yang lain di halaman samping bahkan di halaman belakang. Tetapi keempat orang itu tidak membiarkan miliknya dirampok apapun alasannya. Bahkan yang tidak dapat diikuti dengan nalarnya. Apa yang mereka miliki itu, menurut pendapat mereka adalah hasil kerja keras mereka. Bukan karena memeras, merampas atau menipu orang lain. Karena keempat orang itu tidak mau menyerahkan milik mereka, maka Ki Sapa Aruhpun kemudian telah memerintahkan orang-orangnya untuk segera menangkap keempat orang itu. “Kita akan memaksa mereka melakukan sebagaimana aku katakan” berkata Ki Sapa Aruh “mereka ternyata sama sekali tidak menghargai niat kita untuk menyelesaikan persoalan ini dengan baik-baik tanpa harus melakukan kekerasan” Keempat orang pedagang emas dan permata itu sudah tidak mau mendengar lagi. Justru merekalah yang lebih dahulu menyerang, karena jumlah lawan mereka terlalu banyak, sehingga keempat orang itu tidak ingin mendapat tekanan lebih dahulu. Dengan demikian, maka pertempuranpun segera terjadi. Dengan tangkasnya keempat orang pedagang emas dan permata itu berloncatan di halaman menghadapi lawan yang terlalu banyak. Namun dengan berani keempat orang itu bertempur. Senjata mereka terayun-ayun dengan cepatnya menebas dan mematuk. Ki Sapa Aruh sendiri tidak langsung turun ke arena. Bahkan Wira Sabet dan Sura Gentong yang ikut datang ke rumah itu masih berdiri di tangga pendapa, meskipun mereka sudah menggenggam senjata telanjang di tangan. Tetapi Pideksa sudah mulai terlibat dalam pertempuran itu bersama keempat orang saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong, disamping beberapa orang pengikutnya yang lain. Dalam pada itu, di atas sebatang pohon nangka yang besar, di halaman sebelah, Ki Pandi duduk melekat pada sebatang dahan yang besar. Oleh ketajaman penglihatannya ia dapat menyaksikan pertempuran yang terjadi di halaman rumah Ki Demang itu. Nyala lampu minyak di pendapa dapat sedikit membantunya, sehingga dengan tegang Ki Pandi melihat bahwa keempat orang saudagar itu mulai terdesak. Namun dengan demikian Ki Pandi sempat melihat kemampuan para penghuni barak Wira Sabet dan Sura Gentong itu. Ki Pandipun melihat seberapa jauh tataran ilmu saudara-saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong. Bahkan Ki Pandi juga dapat menilai kemampuan Pideksa, anak Wira Sabet itu. Untuk beberapa saat pertempuran itu berlangsung. Keempat orang saudagar itu masih bertempur dengan berani. Meskipun mereka mulai mengalami kesulitan, tetapi mereka sama sekali tidak menjadi gentar. Agaknya Ki Sapa Aruh menjadi tidak sabar Karena itu, maka iapun memberi isyarat agar Wira Sabet dan Sura Gentong bersama dirinya sendiri segera memasuki arena. “Kita tangkap keempat orang itu hidup-hidup. Kita memang bukan pembunuh-pembunuh yang tidak berjantung. Kita akan mengampuni mereka setelah kita mendapatkan apa yang kita cari” teriak Ki Sapa Aruh yang bersama Wira Sabet dan Sura Gentong telah menuruni arena pertempuran. Pertempuranpun menjadi semakin sengit. Tetapi keempat orang saudagar itu benar-benar telah kehilangan kesempatan untuk mempertahankan diri. Sementara seisi rumah Ki Demang itu sudah terbangun. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Beberapa orang membentak dengan kasar dan mengancam akan membunuh siapapun yang berniat membantu keempat orang saudagar itu. Sebenarnyalah keempat orang saudagar itu menyadari, bahwa mereka tidak akan dapat minta pertolongan kepada siapapun juga. Sehingga karena itu .maka mereka harus menyadarkan diri kepada kemampuan mereka berempat Tetapi mereka memang tidak dapat mengingkari kenyataan. Semakin lama mereka menjadi semakin tidak berdaya. Apalagi setelah Ki Sapa Aruh sendiri, Wira Sabet dan Sura Gentong ikut dalam pertempuran. Dengan cepat kemampuan perlawanan keempat orang saudagar itupun menyusut Ki Pandi yang duduk di atas dahan pohon nangka menyaksikan pertempuran itu dengan sungguh-sungguh. Ia melihat bagaimana Ki Sapa Aruh sendiri turun di gelanggang. Ia sempat melihat unsur-unsur gerak yang dipergunakannya, meskipun Ki Pandi tahu, bahwa Ki Sapa Aruh dalam pertempuran itu tidak merasa perlu untuk menumpahkan segala macam kemampuannya. Namun dalam pada itu, Ki Pandi dapat menilai tataran kemampuan Wira Sabet dan Sura Gentong. Beberapa saat kemudian, maka keempat orang saudagar itu telah menjadi tidak berdaya. Senjata mereka tidak mampu lagi melindungi diri mereka dengan baik. Dalam pertempuran yang tidak terlalu lama itu, maka keempat orang saudagar itu semuanya telah terluka. Sementara itu, Ki Sapa Aruh dengan kemampuannya yang tinggi benar-benar mampu menguasai keempat orang itu bersama-sama dengan Wira Sabet Sura Gentong dan saudarasaudara seperguruannya. “Kita tidak akan membunuh mereka” berkata Ki Sapa Aruh. Pertempuran itupun kemudian telah terhenti. Sura Gentong dengan garangnya telah mendorong anak Ki Demang dengan kakinya, sehingga anak Ki Demang itu jatuh tertelungkup di hadapanKi Sapa Aruh. Tidak ada lagi yang dapat melawan. Senjata-senjata mereka pun telah dirampas. Ki Pandi yang menyaksikan berakhirnya pertempuran itu menjadi tegang. Seorang yang bertubuh sedang, dengan wajah yang tampan serta penampilan yang bersih serta wajah yang cerah ternyata telah memperlakukan keempat orang saudagar itu dengan kasar sebagaimana Sura Gentong. Sementara itu, seorang yang berwajah bengis justru hanya berdiri saja termangu-mangu menyaksikan sikap kawannya itu. “Ki Sanak” berkata Ki Sapa Aruh kemudian “kami memang bukan orang-orang yang haus darah. Sudah aku katakan, bahwa kami ingin menghindari setiap pertengkaran, apalagi kekerasan. Tetapi kalian telah memancing persoalan, sehingga kekerasan telah terjadi. Nah, sekarang, agar pekerjaan kami segera selesai, tunjukkan barang-barang simpanan kalian” Anak Ki Demang itu tidak segera menyahut Meskipun tubuhnya telah menjadi lemah, namun mereka masih mencoba bertahan. Tetapi Ki Pandi terkejut, sehingga debar jantungnya terasa menjadi semakin cepat, ketika ia melihat perlakuan orang yang berwajah tampan itu. Demikian kasarnya dan bahkan buas sekali. Jauh berbeda dengan kesan yang nampak pada ujud lahiriahnya. Ki Sapa Aruh ternyata tidak mencegah perlakuan itu. Bahkan sambil tertawa ia berkata “Nah, Ki Sanak. Aku tidak mempunyai banyak waktu. Jika kau tidak menunjukkan bendabenda berharga itu, maka kami dengan sangat menyesal akan berbuat lebih jauh lagi. Kami akan membakar rumah Ki Demang ini. Aku tidak tahu apakah nilai rumah dan isinya ini lebih besar atau lebih kecil dari benda-benda berharga yang kau pertahankan itu. Selebihnya, kalian akan mengalami perlakuan yang sangat buruk. Kami minta ampun atas kekhilafan kami memperlakukan Ki Sanak tidak sebagaimana seharusnya. Tetapi hal itu kami lakukan atas landasan kesetiaan kami kepada orang-orang yang telah kau peras selama ini” Akhirnya keempat orang itu memang tidak mempunyai pilihan lain. Jika rumah itu benar-benar dibakar, maka Ki Demang akan ikut memikul beban. Karena itu, maka seorang di antara keempat saudagar itu berkata kepada anak Ki Demang “Jangan libatkan Ki Demang dalam persoalan ini” “Maksudmu?” bertanya anak Ki Demang dengan suara parau. “Kita terpaksa menyerahkan apa yang mereka kehendaki, tetapi dengan janji, bahwa rumah ini tidak akan dibakar” “Satu pikiran yang bijaksana” desis Ki Sapa Aruh “seperti berulang kali aku katakan, kami bukan orang-orang yang tidak berjantung. Jika apa yang kami inginkan sudah berada di tangan kami, maka kami tidak akan berbuat lebih jauh lagi” Anak Ki Demang itu tidak dapat mengelak lagi. Ketiga orang kawannya memang sudah nampak terlalu letih dan kesakitan. Tubuh mereka telah terluka sebagaimana anak Ki Demang itu sendiri. Karena itu, maka iapun tidak dapat berbuat lain. Dengan suara yang bergetar ia berkata “Aku akan menunjukkan dimana dagangan kami itu kami simpan” “Katakan” berkata Ki Sapa Aruh. Anak Ki Demang itu berusaha untuk bangkit berdiri sambil berkata “Aku akan menunjukkan” Tetapi di luar dugaan, bahwa sarung pedang orang yang berwajah tampan itu telah menghantam tengkuknya sehingga anak Ki Demang itu jatuh terduduk. Ki Sapa Aruh tertawa. Namun ia berkata “Biar ia mengatakannya. Sarung pedangmu dapat membuatnya pingsan” Anak Ki demang itu berdesah kesakitan. Sementara Ki Sapa Aruh berkata “Katakan saja. Kau tidak usah bersusah payah menunjukkan kepada kami. Aku tidak ingin merepotkan kau dan kawan-kawanmu. Kalian tentu letih dan perlu beristirahat” Hati keempat orang itu menjadi sangat sakit sebagaimana tubuh mereka. Tetapi mereka tidak dapat berbuat sesuatu. Karena anak Ki Demang itu tidak segera mengatakan sebagaimana dikehendaki oleh Ki Sapa Aruh, maka Ki Sapa Aruh itupun melangkah mendekat sambil berdesis “Apakah kau sengaja mengulur waktu? Kau tidak dapat mengharap bantuan dari siapapun. Seandainya ada juga beberapa orang anak muda yang mencoba membantu kalian, maka akibatnya akan menjadi buruk sekali. Korban akan jatuh. Anak-anak muda itu akan terbunuh disini tanpa mengerti kenapa mereka harus mati. Keluarga merekalah kelak yang akan menyadari, bahwa mereka telah menjadi tumbal kekayaan kalian. Keluarga mereka tidak akan pernah mendapatkan imbalan apapun dari kalian meskipun mereka mati karena mereka mempertahankan harta-benda kalian itu” Anak Ki Demang itu menggeram. Tetapi ia memang tidak mempunyai pilihan. Karena itu, maka anak Ki Demang itupun berkata “Yang kalian cari ada di sentong sebelah kiri. Dibawah gledeg bambu tempat pakaianku” Ki Sapa Aruh tertawa. Sambil menepuk wajah anak Ki Demang ia berkata “Ternyata kau adalah seorang anak yang manis. Terima kasih. Aku akan melihatnya. Tetapi aku peringatkan, bahwa kau tidak boleh bohong. Jika kau berbohong, maka kau bukan lagi anak yang manis. Tetapi kau tentu anak yang nakal, yang pantas dicubit pantatnya” Anak Ki Demang tidak menjawab. Ia memang sudah berkata sebenarnya karena ia sama sekali tidak melihat peluang lagi. Ki Sapa Aruhpun kemudian telah mengajak Wira Sabet dan Sura Gentong untuk masuk ke dalam rumah itu. Sementara itu, saudara seperguruan Wira Sabet yang berwajah tampan itu tiba-tiba saja telah menekan punggung anak Ki Demang itu sehingga anak Ki Demang itu hampir saja jatuh terjerembab. Ki Pandi hanya dapat menyaksikan semua itu dari tempatnya bersembunyi. Ia tidak dapat berbuat sesuatu. Jika ia mencampuri persoalan itu, maka keadaannya akan menjadi semakin parah bagi keempat orang saudagar emas itu. Ia sendiri tentu akan terikat dalam pertempuran dengan Ki Sapa Aruh dan tentu beberapa orang akan membantu. Mungkin ia akan dapat meloloskan diri. Tetapi keempat orang itu justru akan menjadi sasaran kemarahan orang-orang itu. Karena itu, maka Ki Pandi hanya dapat menahan gejolak jantung di dalam dadanya. Sementara itu, Ki Sapa Aruh telah hilang di balik pintu pringgitan untuk melihat dan kemudian mengambil barangbarang yang nilainya tentu sangat tinggi.

Jilid 6
BEBERAPA saat kemudian, maka Ki Sapa Aruh telah keluar pula lewat pintu pringgitan. Dengan wajah yang cerah ia telah memanggil Wira Sabet dan Sura Gentong. Ketiga orang itu berbicara sejenak di pintu pringgitan. Kemudian Wira Sabet memberi isyarat kepada saudara-saudara seperguruannya untuk ikut masuk ke dalam rumah itu. Namun Sura Gentong sempat berteriak kepada orang-orangnya “Jaga keempat orang itu agar mereka tidak melarikan diri” Ki Pandi hanya dapat melihat segala yang terjadi itu dengan jantung yang bergejolak. Ia melihat kekerasan terjadi. Tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu. Ki Sapa Aruh dan beberapa orang yang masuk ke dalam rumah itu segera telah keluar pula. Mereka membawa beberapa buah peti kecil yang isinya tentu barang dagangan yang nilainya sangat mahal. Tentu perhiasan emas dan berlian. Bahkan mungkin beberapa buah wesi aji. Mungkin keris dan mata tombak yang dianggap bertuah. Anak Ki Demang dan ketiga orang kawannya yang telah terluka itu hanya dapat memandangi orang-orang yang telah membawa barang dagangan mereka tanpa dapat mencegahnya. Demikianlah, maka beberapa saat kemudian, Ki Sapa Aruh itupun berkata kepada anak Ki Demang dan ketiga orang kawannya “Terima kasih anak-anak. Ternyata kalian adalah anak-anak yang bijaksana. Yang tahu apa yang sebaiknya kalian lakukan. Sekali lagi kami minta maaf, jika ada tingkah laku kami yang tidak berkenan di hati kalian” Keempat orang itu hanya dapat menggeretakkan gigi tanpa dapat berbuat sesuatu. Sejenak kemudian, maka terdengar isyarat. Seorang di antara mereka telah bersuit nyaring. Getar suaranya menyusup pepohonan dan menggetarkan udara Kademangan itu. Isyarat itu ternyata telah disahut oleh pengikut-pengikut mereka yang berada di luar halaman rumah Ki Demang. Mereka yang berada di depan gardu, di simpang empat dan di tempat-tempat lain. Dengan demikian, maka sejenak kemudian, maka Ki Sapa Aruh dan semua pengikutnya telah berderap di atas punggung kuda meninggalkan tempat itu. Bahkan mereka telah membawa beberapa ekor kuda yang ada di rumah Ki Demang. empat di antaranya adalah kuda yang telah disiapkan oleh Ki Demang dan kawan-kawannya untuk dipergunakan di keesokan harinya. Sejenak kemudian, maka halaman rumah Ki Demang itu menjadi sepi. Namun hanya sebentar, karena sebentar kemudian, beberapa orang anak muda yang berada di gardupun telah berdatangan. Bahkan anak-anak muda yang tidak sedang meronda tetapi telah terbangun oleh derap kaki kuda yang berlari-lari di jalan-jalan padukuhan. Tetapi yang mereka temui adalah anak Ki Demang serta tiga orang kawannya yang lemah karena letih, sakit karena luka-luka di tubuhnya serta sakit di hatinya. Anak-anak muda itu telah membantu mereka naik ke pendapa. Memang hanya itulah yang dapat mereka lakukan. Orang-orang yang datang merampok rumah itu sudah pergi jauh. Bahkan seandainya masih berada di halaman itupun, anak-anak muda itu tentu tidak akan dapat mencegah mereka. Anak Ki Demang yang masih kesakitan itupun kemudian berkata kepada anak-anak muda itu “Terima kasih atas perhatian kalian. Sekarang, pulanglah. Yang bertugas ronda, kembalilah ke gardu-gardu perondan” “Bagaimana dengan kalian disini?” bertanya salah seorang di antara anak-anak muda itu. “Tidak apa-apa. Kami dapal merawat diri kami sendiri” Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Seorang di antara mereka berkata “Kami minta maaf, bahwa kami tidak dapat berbuat sesuatu pada saat yang gawat itu” Anak Ki Demang itu mencoba tersenyum. Katanya “Aku mengerti. Orang-orang itu benar-benar orang-orang yang keras dan kasar” Demikianlah, anak-anak muda itupun minta diri. Sebagian dari mereka kembali ke gardu-gardu perondaan. Yang lain pulang ke rumah masing-masing Sedang masih ada satu dua di antara mereka yang lelap berada di rumah Ki Demang. Dalam pada itu. para pembantu rumah itu baru berani keluar ketika mereka yakin, bahwa para perampok telah tidak ada lagi di halaman rumah itu. “Tolong, sediakan air panas buat kami” berkata anak Ki Demang kepada seorang laki-laki separuh baya, pembantunya “kami harus mencuci luka-luka kami” Orang itu mengangguk sambil berdesis “Apa ada pesan yang lain?” “Tidak” jawab anak Ki Demang itu. Ketika pembantu rumah itu turun dari pendapa dan melangkah masuk lewat pintu seketeng, maka mereka yang ada di pendapa itu terkejut. Mereka melihat seorang yang bongkok berjalan dengan ragu-ragu ke arah mereka. Anak-anak muda yang masih berada di pendapa rumah itupun segera berloncatan bangkit untuk mempersiapkan diri. Namun anak Ki Demang itupun berkata “Biarlah orang itu naik” Ki Pandi memang menjadi ragu-ragu. Namun seorang anak muda telah menyongsongnya dan mempersilahkannya naik. Ki Pandipun kemudian duduk bersama anak Ki Demang, kawan-kawannya yang letih dan kesakitan serta beberapa orang anak muda yang masih berada di rumah itu. “Maaf, Ki Sanak” berkata Ki Pandi “aku melihat apa yang terjadi. Tetapi aku tidak dapat berbuat apa-apa. Aku memanjat pohon di halaman sebelah, sehingga aku dapat mendengarkan sebagian dari pembicaraan kalian dengan orang-orang yang merampok Ki Sanak berempat itu” Anak Ki Demang itu mengangguk-angguk kecil. Katanya “Akulah yang harus minta maaf, bahwa aku tidak mendengarkan petunjuk Kiai. Akhirnya aku harus mengalami keadaan seperti ini” “Ki Sanak” berkata Ki Pandi “apakah ada niat kalian untuk melacak benda-benda yang mereka rampok itu?” “Tentu saja niat itu ada, Kiai. Tetapi bagaimana kami dapat melakukannya. Kami tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa mereka terlalu kuat. Bahkan seandainya kami mengerahkan kekuatan se Kademangan, sulit bagi kami unluk dapat mengalahkan mereka. Korbanpun akan berjatuhan” jawab anak Ki Demang. Lalu katanya pula “Aku tidak dapat mengorbankan sedemikian banyaknya orang untuk kepentingan kami berempat. Bukan kepentingan Kademangan ini Kiai” Ki Pandi menarik nafas panjang. Katanya “Aku menghargai sikap Ki Sanak. Tetapi kita juga dibebani tugas untuk menghentikan perbuatan mereka, agar dihari mendatang tidak akan jatuh lagi korban perampokan dan mungkin kekerasan yang dapat menimbulkan kematian” Salah seorang di antara saudagar perluasan itu berkata “Tetapi apa yang dapat kami lakukan, Ki Sanak? Kematian akan berhamburan di antara anak-anak Kademangan Rejandani. Orang tua, saudara dan isteri yang kehilangan orang-orang yang dikasihi akan mengutuk kami berempat” Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berkata “Bagaimana pendapat kalian, jika kami, maksudku bukan hanya aku seorang diri, menawarkan kerja sama. Kami memang berniat untuk menghentikan perbuatan mereka. Kami memang tidak melihat kemungkinan lain kecuali dengan kekerasan. Jika hal ini harus dilakukan, bukan berarti bahwa kita adalah orang-orang yang tidak waras lagi, atau otak kita sudah dikotori dengan impian-impian tentang perang, pembunuhan dan kekerasan-kekerasan serupa. Tetapi justru kami inginkan ketenangan dan ketenteraman” Anak Ki Demang itu mengangguk-angguk. Katanya “Tetapi bagaimanakah caranya?” “Jika Ki Sanak berniat, kita akan dapat membicarakan langkah-langkah yang dapat kita ambil” “Kami memerlukan penjelasan, Kiai” sahut anak Ki Demang. Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya beberapa orang anak muda yang ada di pendapa itu. Baru kemudian ia berkata “Ki Sanak. Jika Ki sanak bersedia, kami akan menghubungi Ki Sanak kemudian. Tentu saja dalam waktu yang tidak terlalu lama” “Baiklah, Kiai. Kami akan menunggu. Tetapi sekali lagi kami nyatakan, bahwa kami berempat tidak ingin mengorbankan banyak orang hanya untuk memperoleh barang-barang kami itu kembali. Betapapun tinggi nilai barang dagangan kami, tetapi tentu tidak akan setinggi nilai nyawa seseorang” Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya “Aku sangat menghormati sikap Ki Sanak. Tetapi baiklah, sekarang aku minta diri. Jika Ki Sanak bertiga bersedia untuk sementara tinggal bersama disini, pada saat lain aku akan dapat menghubungi kalian utuh berempat. Tentu saja jika tidak ada keberatan apapun” “Baik Kiai” jawab salah semang kawan anak Ki Demang itu “kami akan tinggal disini. Tetapi tentu saja tidak untuk waktu yang terlalu lama” Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya “Tentu. Aku akan segera kembali jika segala sesuatunya sudah menjadi jelas” Ki Pandi yang bongkok itupun kemudian telah minta diri. Keempat orang saudagar itu memandanginya dari pendapa. Ketika mereka akan bangkit berdiri, Ki Pandi berkata “Sudahlah. Duduk sajalah. Kalian harus segera mengobati luka-luka kalian. Apakah kalian sudah mempunyai obatnya?” “Sudah Kiai” jawab anak Ki Demang “Ayah mempunyai persediaan beberapa jenis obat-obatan” Ki Pandi mengangguk-angguk. Namun orang bongkok itupun segera melintasi halaman dan hilang di balik regol. Di sisa malam menjelang fajar, Ki Carang Aking yang dipanggil Sampar di barak itu, Manggada dan Laksana menjadi sibuk. Mereka harus menerima dan merawat kuda-kuda yang semalam dipergunakan untuk merampok di Kademangan Rejandani. Dua orang penyabit rumput dan bahkan beberapa orang kawannya telah diminta untuk membantunya. Terutama kuda-kuda para pemimpin barak itu. Wira Sabet, Sura Gentong, Pideksa dan saudara-saudara seperguruan Wira Sabet yang ada di barak itu. Namun ternyata di-antara mereka tidak terdapat Ki Sapa Aruh. Ternyata disisa malam itu Ki Sapa Aruh tidak ikut memasuki barak itu. Tetapi Ki Carang Aking, Manggada dan Laksana menjadi berdebar-debar ketika mereka melihat Wira Sabet, Sura Gentong dan Pideksa membawa beberapa peti kecil. Di antaranya agak panjang. Dengan demikian, maka mereka menduga, bahwa perampokan itu telah berhasil. Ketika mereka sempat berbicara, Manggada berdesis “Apakah Ki Pandi terlambat?” Ki Carang Aking mengangguk kecil. Katanya “Mungkin. Mungkin sekali Ki Pandi terlambat. Mudah-mudahan nanti malam Ki Pandi datang kemari. Kita akan mendapatkan keterangan tentang perampokan itu” Betapapun keinginan Manggada dan Laksana mendesak, tetapi mereka memang harus menunggu untuk mendengar keterangan Ki Pandi secepatnya malam nanti. Tetapi mereka masih dapat mengharapkan ceritera dari pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong yang pernah dikalahkan oleh Laksana di padukuhan Gemawang. Sampai fajar, Manggada, Laksana, Ki Carang Aking serta beberapa orang penyabit rumput masih sibuk di kandang kuda. Baru ketika langit menjadi terang, mereka sempal duduk beristirahat. Tetapi mereka sudah tidak mempunyai kesempatan untuk kembali ke pembaringan. Namun yang mereka harapkan itupun datang, bahwa lebih cepat dari dugaan mereka. Tiga orang pengikut Wira Sabet yang pernah dikalahkan oleh Laksana itupun datang ke kandang. Seorang dari mereka berkata “Hari ini, dua orang di antara kami akan bertugas di Gemawang. Apakah kalian ada pesan untuk anak muda yang cengeng itu?” Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Manggada menggeleng sambil menjawab “Tidak. Tidak ada pesan khusus. Tetapi amati anak itu agar tidak berusaha menemui kawan-kawan kalian yang lain. Kalian harus selalu menakut-nakutinya agar anak itu benar-benar diam” Keduanya mengangguk. Tetapi yang seorang kemudian bertanya “Jika kami tidak menemuinya di jalan-jalan padukuhan?” Manggadapun kemudian memberikan ancar-ancar rumah Wisesa. Katanya “Jika perlu, cari anak itu di rumahnya” “Baiklah” berkata orang itu sambil beranjak pergi. Tetapi Manggada sempat bertanya sambil lalu “Bagaimana tugas kalian semalam?” “Kami berhasil baik” jawab orang itu. “Apakah kalian semalam pergi bersama Ki Sapa Aruh?” bertanya Manggada. “Ya” jawab orang itu. “Apakah Ki Sapa Aruh tidak kembali ke barak ini?” bertanya Laksana. Orang itu menggeleng. Katanya “Tidak. Ki Sapa Aruh langsung pergi ke tempat lain. Ia masih mempunyai tugas penting yang harus dilakukan” “Kapan ia akan datang kemari?” bertanya Manggada pula. “Aku tidak tahu. Tetapi di pekan mendatang, nampaknya Ki Sapa Aruh akan lebih lama berada di tempat ini. Agaknya persoalan padukuhan Gemawang sudah akan di tanganinya dengan sungguh-sungguh. Apalagi mengingat perkembangan di padukuhan itu pada saat terakhir, yang agaknya sudah dilaporkan oleh Ki Wira Sabet dan Sura Gentong kepada Ki Sapa Aruh” “Jadi selama ini persoalannya masih belum di tangani dengan sungguh-sungguh?” “Belum. Selama ini Ki Sapa Aruh masih mempunyai persoalan penting yang harus diselesaikan. Nampaknya persoalan itu sudah selesai sekarang, sehingga menurut pembicaraannya dengan Wira Sabet dan Sura Gentong yang sempal aku dengar, Gemawang dan Kademangan Kalegen baru akan di tangani dengan sungguh-sungguh” Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Sementara orang itu berkata “Bukankah selama ini kami baru berusaha menakut-nakuti dan mematangkan keadaan? Namun dalam suasana yang berkembang sebagaimana kami kehendaki, maka justru telah terjadi perubahan yang berlawanan dari kehendak kami. Sebelum keadaan itu berkembang lebih buruk, sementara Ki Sapa Aruh sudah mempunyai kesempatan, maka persoalan Gemawang dan Kalegen akan segera diselesaikan” Manggada tidak bertanya lagi. Demikian pula Laksana. Sementara Sampar pura-pura tidak mendengarkan pembicaraan itu. Ia masih menyibukkan diri dengan kuda-kuda di kandang. Terutama kuda putih, justru karena pemiliknya orang yang sangat keras dan kasar. Namun, sepeninggal orang-orang itu, maka Manggada dan Laksana telah duduk bersama Ki Carang Aking di belakang kuda. Ternyata mereka telah membicarakan keterangan ketiga, orang pengikut Wira Sabet itu. “Kita harus berbicara dengan Ki Pandi secepatnya” berkata Ki Carang Aking “mudah-mudahan nanti malam ia benar-benar datang. Persoalannya tidak dapat ditunda-tunda lagi” “Kita hanya dapat menunggu” sahut Manggada. Namun kemudian katanya “Tetapi menilik keberhasilan perampokan semalam, maka menurut pendapatku, Ki Pandi akan datang nanti malam. Ki Pandi tentu akan memberi penjelasan tentang usahanya yang gagal itu” Ki Carang Aking mengangguk-angguk. Katanya “Banyak yang dapat kita ketahui disini. Tetapi ternyata gerak kami sangat terbatas. Rasa-rasanya aku ingin mengikuti Ki Pandi untuk dapat lebih banyak bergerak” Ki Carang Aking akan keluar dari barak ini?” bertanya Laksana. Ki Carang Aking mengerutkan dahinya. Namun kemudian sambil tersenyum ia berkata “Tidak. Untuk sementara aku akan tetap bersama disini” Dalam pada itu, Ki Pandi yang sudah berada di rumah Ki Kertasana menceriterakan apa yang telah dilakukannya semalam. Bahkan ia lelah gagal mencegah perampokan atas keempat orang saudagar perhiasan emas, berlian dan bahkan juga wesi aji. “Tetapi aku telah menawarkan kerja sama dengan mereka jika mereka ingin melacak perhiasan dan wesi aji yang berhasil dirampok itu” berkata Ki Pandi “Apakah mereka bersedia?” bertanya Ki Citrabawa. “Nampaknya mereka mempertimbangkannya. Yang tidak mereka inginkan adalah jika mereka harus mengorbankan orang lain untuk mengambil kembali barang dagangan mereka itu” Ki Kertasana dan Ki Citrabawa mengangguk-angguk. Dengan dahi yang berkerut Ki Kertasana bertanya “Apakah mereka bersedia melakukannya bersama kita. Kita bukan sekedar bersedia berkorban untuk mengambil perhiasan yang dirampas itu. Tetapi kita mempunyai kepentingan sendiri” “Itulah yang ingin aku tawarkan kepada mereka” jawab Ki Pandi. “Apakah mereka berempat memiliki bekal yang cukup untuk melakukannya?” bertanya Ki Citrabawa. “Menurut pengamatanku, mereka mempunyai ilmu yang tinggi. Tetapi malam itu mereka menghadapi terlalu banyak lawan, sehingga mereka tidak dapat mempertahankan diri” “Jika demikian, sebaiknya kita segera menghubungi mereka untuk menyusun rencana selanjutnya” berkata Ki Citrabawa pula. “Kita hubungi Ki Jagabaya” berkata Ki Kertasana. Orang-orang padukuhan Gemawang itupun harus berpacu dengan waktu. Karena itu, maka Ki Kertasanapun segera menghubungi Ki Jagabaya untuk membuat rencana lebih jauh. “Baiklah Ki Kertasana” berkata Ki Jagabaya “kita memang harus segera berbuat sesuatu. Sementara kita sudah berhasil menghimpun beberapa orang anak muda. Memberikan sedikit bekal bagi mereka, jika mereka benar-benar akan memasuki barak Wira Sabet dan Sura Gentong” Sampurna yang ikut menemui Ki Kertasana itupun berkata “Kami sudah siap, Ki Kertasana. Sementara Manggada dan Laksana sudah berada di dalam barak itu. Jika kita terlalu lama menunggu, maka aku mencemaskan keadaan Manggada dan Laksana. Jika orang-orang di barak itu tahu, bahwa Manggada dan Laksana sengaja memasuki barak itu, maka keselamatan keduanya akan terancam” “Baiklah” berkata Ki Kerusana “jika kita menganggap bahwa keadaan sudah memungkinkan, maka kita akan dapat segera bergerak. Kita tidak akan menunggu mereka datang ke padukuhan ini karena dengan demikian keadaan padukuhan ini akan menjadi ajang pertempuran. Orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong itu mungkin akan menimbulkan kerusakan yang besar. Bukan saja atas bangunan-bangunan, tetapi mungkin juga atas para penghuni padukuhan ini. Apalagi jika mereka terdesak” Ki Jagabayapun mengangguk-angguk. Sementara itu, Ki Kertasana telah menceriterakan pula tentang keempat orang saudagar yang nampaknya akan bersedia bergabung dengan mereka. Demikianlah, maka mereka sependapat, bahwa mereka harus segera bertindak agar keadaan padukuhan mereka dan bahkan Kademangan mereka tidak menjadi semakin muram sehingga tata kehidupan tidak dapat dikendalikan dengan sewajarnya. Dalam pada itu, pada hari itu juga, dua orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong telah dalang ke padukuhan. Kedatangan mereka seperti biasa menimbulkan kecemasan dan ketakutan. Beberapa orang yang berada di luar halaman, segera masuk dan menutup pintu regol halaman rumah mereka. Namun tidak diselarak sebagaimana selalu mereka lakukan. Kedua orang itu selain menyusuri jalan padukuhan, ternyata mereka sempat singgah pula di rumah Wisesa. Seperti pesan Manggada dan Laksana, maka keduanya berusaha untuk menakut-nakuti Wisesa, agar ia tidak lagi berusaha untuk mempersoalkan keberadaan Manggada dan Laksana di barak Wira Sabet dan Sura Gentong. Ternyata Wisesa benar-benar menjadi ketakutan, sehingga anak muda itu agaknya tidak akan mengucapkannya lagi kepada siapapun juga. Karena jika alasan keberadaan Manggada dan Laksana yang sebenarnya diketahui, yang akan mengalami bencana bukan saja Manggada dan Laksana, tetapi juga ketiga orang yang telah membawanya masuk. Sementara itu Ki Jagabaya dan Sampurna benar-benar telah mempersiapkan rencana untuk justru datang ke barak Wira Sabet dan Sura Gentong. Sampurna hari itu juga telah menghubungi anak-anak muda yang telah menyatakan kesediaannya untuk membantunya membebaskan padukuhan mereka dari bayangan kegarangan Wira Sabet dan Sura Gentong. Ketika kemudian malam turun, maka seperti yang diharapkan, maka Ki Pandi telah mengunjungi Manggada dan Laksana. Ki Carang Akingpun telah ikut terlibat pula dalam pembicaraan yang sungguh-sungguh tentang berbagai hal yang menyangkut rencana Ki Jagabaya untuk justru menyerang barak itu lebih dahulu. “Empat orang saudagar itu akan aku hubungi pula. Jika mereka menyatakan kesediaan mereka, maka kita akan segera mulai” “Nampaknya perhiasan dan wesi aji yang dirampas itu memang dibawa kemari” berkata Ki Carang Aking “dengan demikian, maka jika kita berhasil, maka keempai orang saudagar itu akan mendapatkan barang-barang mereka yang harganya sangat tinggi itu kembali” Namun dalam pada itu, Manggadapun telah mengatakannya pula, bahwa agaknya Ki Sapa Aruh telah berniat untuk dengan bersungguh-sungguh menangani persoalan padukuhan Gemawang dan Kademangan Kalegen. Nampaknya tugas-tugas yang lain akan dikesampingkan. Perkembangan terakhir di padukuhan Gemawang agaknya tidak sejalan dengan rencana Wira Sabet dan Sura Gentong. “Baiklah, Ki Pandi” berkata Ki Carang Aking “Ki Pandi agaknya harus semakin sering mengunjungi kami disini” “Bukankah hampir setiap malam aku datang kemari? “Lebih dari setiap malam” desis Ki Carang Aking. “Jadi maksudmu juga di siang hari?” bertanya Ki Pandi pula. “Tidak. Itu akan sulit dilakukan. Maksudku, jika perlu satu malam dua kali. Mungkin tentang hasil sebuah pembicaraan harus segera kami dengar atau sebaliknya” berkata Ki Carang Aking. Ki Pandi termangu-mangu. Namun kemudian katanya “Jika saja aku masih semuda Manggada dan Laksana” Ki Carang Aking tersenyum. Katanya “Kenapa bukan aku yang mencoba membantu Ki Pandi keluar masuk barak ini” “Itu lebih berbahaya“ Manggadalah yang menyahut “setiap saat orang-orang di barak ini memerlukan kita. Pagi, siang, malam dan kapan saja mereka kehendaki tanpa mengenal waktu. Saat mereka akan pergi dan saat mereka kembali” Ki Carang Aking mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berdesis “Aku tidak terbiasa mengungkung diri seperti ini. Aku terbiasa terbang kesana kemari menuruti keinginan sepasang kakiku ini” Tetapi Ki Pandi segera menyahut “Siapa yang mengikatmu disini? Ki Sapa Aruh?” Ki Carang Aking tersenyum. Katanya “Ya. Ki Sapa Aruh” “Kau mengeluh karena kau telah membawa beban yang kau letakkan sendiri dipundakmu” berkata Ki Pandi. Ki Carang Aking bahkan tertawa. Katanya “Aku tidak mengira bahwa keterkaitanku akan menjadi berlama-lama seperti ini. Tetapi aku agaknya dapat mengharap, bahwa aku akan segera dapat meninggalkan penjara ini, setelah kalian datang” Ki Pandipun tersenyum keluar dari penjara ini ”Demikianlah, maka sejak hari itu, Ki Jagabaya di Gemawang telah meningkatkan segala persiapan meskipun dengan diam-diam. Sementara Ki Pandi lelah menghubungi lagi anak Ki Demang Rejandani yang telah dirampok habis-habisan oleh Ki Sapa Aruh dan para pengikutnya. “Tidak akan ada korban yang sia-sia” berkata Ki Pandi “jika orang-orang Gemawang terlibat dalam hal ini, sama sekali tidak ada hubungannya dengan perhiasan dan wesi aji yang dirampok itu. Tetapi karena orang-orang Gemawang mempunyai kepentingan sendiri. Selama ini mereka berada dalam bayangan kekuatan orang-orang yang telah merampok kalian disini” Bukan saja anak Ki Demang Rejandani yang menemui Ki Pandi. Tetapi Ki Demang sendiri ikut menemuinya dan bahkan Ki Demang itulah yang menjawab “Ki Sanak. Kami akan bekerja sama dengan Ki Sanak. Persoalannya bukan sekedar mereka merampok anakku. Tetapi perampokan itu telah melanggar hak atas orang-orang Kademangan Rejandani. Karena itu, bukan saja anakku dan ketiga orang saudagar kawan-kawannya itu yang akan melibatkan diri. Tetapi aku dan beberapa orang terpilih dari Kademangan ini. Menurut keterangan anakku, kelompok perampok itu adalah kelompok yang sangat kuat. Karena itu, maka tanpa kerja sama dengan pihak lain, Kademangan ini agaknya juga akan mengalami kesulitan” Namun Ki Pandipun telah berterus terang, bahwa orangorang padukuhan Gemawang dan bahkan Kademangan Kalegen dibayangi oleh ketakutan. Nampaknya terhadap orang-orang Gemawang dan Kalegen yang lebih berbicara adalah justru dendam diliati Wira Sabet dan Sura Gentong. “Kami sedang mencari sisa-sisa keberanian di hati anakanak mudanya” berkata Ki Pandi. Ki Demang Rejandani itu mengangguk-angguk. Katanya “Kami dapat mengerti, Ki Sanak. Jika setiap hari mereka selalu ditakuti dengan segala macam cara, maka lambat laun, mereka benar-benar kehilangan keberanian” “Beruntunglah bahwa kami masih menemukan kekuatan yang tersimpan di padukuhan Gemawang sehingga kami masih dapat merencanakan satu langkah yang mungkin sangat berbahaya” berkata Ki Pandi. Namun kemudian kalanya pula “Apalagi yang dihadapi adalah Ki Sapa Aruh” Ki Demang mengerutkan dahinya. Kalanya “Nama itu memang dapat menggelutkan jantung. Tidak ada orang yang dapat melawannya. Karena itu untuk membatasi kemampuannya, harus disiapkan beberapa orang yang khusus akan menghadapinya” “Ya“ Ki Pandi mengangguk-angguk “kita akan membicarakannya dengan matang sebelum kita melangkah. Tetapi kesediaan Ki Demang telah membesarkan hati kami. Ki Jagabaya padukuhan Gemawang akan mengatur segalagalanya” “Baiklah” berkata Ki Demang Rejandani “bahwa mereka telah merampok di daerah kami, tentu menjadi kewajiban kami untuk mencegah hal itu terulang lagi. Adalah juga tugas kami untuk menemukan kembali barang-barang yang telah dirampok itu. Bukan karena sebagian daripadanya adalah milik anakku, tetapi siapapun yang mengalami, maka kami semuanya mempunyai tugas untuk mengambilnya kembali. Karena itu, sebelum penghuni Kademangan ini mengalami nasib seperti orang-orang Gemawang yang telah dicengkam oleh ketakutan karena keberhasilan para pengikut Sapa Aruh untuk menciptakan suasana seperti itu, maka kami harus bertindak lebih cepat” “Ya Ki Demang” berkata Ki Pandi “jika keadaan ini berlangsung terlalu lama, maka Gemawang dan bahkan Kademangan Kalegen benar-benar tidak akan mampu berbuat apa-apa lagi. Dengan demikian maka Gemawang tidak akan pernah dapat bangkit lagi, karena pimpinan padukuhan itu akan berada di tangan Ki Sapa Aruh, yang perlahan-lahan tetapi pasti juga akan menguasai Kademangan Kalegen seluruhnya. “Baiklah Ki Pandi” berkata Ki Demang Rejandani “kami menunggu saat untuk bertindak. Kapanpun, kami sudah siap. Tidak hanya keempat orang yang sudah dirampok itu. Aku sendiri dan beberapa orang terkuat di Kademangan ini akan ikut serta” Kesediaan Ki Demang itu membesarkan hati Ki Pandi. Kesediaan ini kemudian telah diteruskan kepada Ki Kertasana yang kemudian menyampaikannya kepada Ki Jagabaya. “Baiklah” berkata Ki Jagabaya “kita akan segera mulai. Tetapi sebaiknya kita bertemu langsung dan membuat rencana-rencana yang matang dengan Ki Demang, agar kita tidak terperosok ke dalam kesulitan karena salah paham” Sebenarnyalah Ki Jagabaya dan Ki Kertasana serta Ki Pandi telah pergi ke Kademangan Rejandani untuk menemui Ki Demang dan keempat saudagar perhiasan dan wesi aji itu. Akhirnya mereka menentukan, bahwa mereka dalam waktu dekat akan menyerang barak Wira Sabet dan Sura Gentong di sekitar pekan mendatang. “Kita mengalami kesulitan untuk menentukan, apakah kita akan menunggu kedatangan Ki Sapa Aruh atau tidak?” berkata Ki Pandi “jika kita menunggu, maka dapat terjadi kesulitan yang sulit di atasi oleh Manggada dan Laksana, karena sulit untuk mengetahui Ki Sapa Aruh. Tetapi jika tidak menunggu kehadirannya, maka ia akan tetap merupakan duri yang ada di dalam daging bagi ketenangan hidup khususnya di Gemawang” “Ki Pandi benar” berkata Ki Kertasana. Untuk hal itu, maka sebaiknya Ki Pandi berbicara langsung dengan anak-anak itu. Bukankah Ki Pandi dapat memasuki barak itu kapan saja?” “Hanya di waktu malam” jawab Ki Pandi. “Nah, jika demikian, maka nanti malam Ki Pandi dapat membicarakannya dengan Manggada dan Laksana” berkata Ki Kertasana yang selalu dibayangi kecemasan tentang anak dan kemanakannya itu. Ki Pandi mengangguk mengiakan. Katanya kemudian “Besok kita akan berbicara lagi” Demikianlah, maka Ki Jagabaya, Ki Kertasana dan Ki Pandi pun telah minta diri untuk kembali ke Gemawang. Malam itu, seperti biasanya, Ki Pandi mengunjungi Manggada dan Laksana. Ki Pandipun kemudian menceriterakan pertemuannya dengan Ki Jagabaya, Ki Kertasana dan Ki Demang Rejandani. “Aku sanggup menemui mereka esok dengan membawa laporan, bagaimana menurut pendapat kalian dan Ki Carang Aking?” “Memang rumit Ki Pandi. Kedua-duanya mengandung kemungkinan baik tetapi juga kemungkinan buruk” jawab Ki Carang Aking. Namun katanya kemudian “Tetapi aku condong untuk menunggu kedatangan Ki Sapa Aruh. Orang itu harus kita hancurkan sampai tuntas. Agaknya tidak akan terlalu lama lagi. Selebihnya, Ki Sapa Aruh tidak begitu memperhatikan keadaan budak-budaknya, sehingga ia tidak dapat mengenali budak-budak itu dengan baik. Karena itu maka kelebihan satu dua orang di barak itu tidak akan menarik perhatiannya” Ki Pandi mengangguk-angguk. Namun agaknya ia masih mencemaskan nasib Manggadadan Laksana. Karena itu, maka ia pun kemudian bertanya “Seandainya sengaja atau tidak sengaja Ki Sapa Aruh menemukan kalian disini?” “Jika hal itu terjadi, maka apaboleh buat. Jika hidupku harus berakhir disini. Tetapi jika aku mati, maka Ki Sapa Aruh tentu akan mati juga” jawab Ki Carang Aking. Ki Pandi masih mengangguk-angguk. Tetapi seandainya terjadi demikian, maka Manggada dan Laksana masih tetap berada dalam bahaya. Ki Carang Aking yang melihat keragu-raguan itu berkata “Untuk mengatasi kemungkinan itu, maka sebaiknya Ki Pandi segera mempersiapkan orang-orang yang bersedia melibatkan diri untuk melawan para penghuni barak itu. Ki Pandi akan membawa mereka secepat mungkin demikian diketahui Ki Sapa Aruh itu datang” “Baiklah. Meskipun tetap mengandung bahaya, tetapi aku akan menempuh jalan ini. Besok aku akan minta Ki Jagabaya mempersiapkan segala-galanya” berkata Ki Pandi. “Kami akan memberikan isyarat Ki Pandi” berkata Manggada kemudian “jika kami ketahui ia berada disini di siang hari, maka kami akan menaruh sebuah cemeti kuda di ujung senggol timba itu. Bukankah ujung senggot itu akan nampak dari luar dinding?” Sambil tersenyum Ki Pandi menjawab “Dari jarak berapa puluh langkah aku dapat berdiri paling dekat dengan barak ini? Apakah kira-kira mata tuaku masih dapat melihat ujung cemeti itu? Kecuali itu, apakah berarti siang dan malam aku harus menunggui barak ini?” Ki Carang Akingpun tertawa. Katanya “Tetapi aku sependapat bahwa isyarat itu akan ditaruh di ujung senggot timba itu. Jika cemeti itu terlalu kecil, maka kami akan menaruh apa saja di ujung senggot itu” “Bukankah ilu tidak perlu. Setiap malam aku datang kemari” berkata Ki Pandi. “Maksudku, jika Ki Sapa Aruh datang di pagi hari. Maka waktu yang sehari menunggu kedatangan Ki Pandi di malam hari, tentu terlalu lama. Mungkin Ki Sapa Aruh itu sudah sempat melakukan sesuatu disini. Sementara itu, Ki Pandi kami mohon untuk melihat-lihat meskipun dari kejauhan di siang hari.” Ki Pandi tertawa. Katanya “Baiklah. Aku terima beban ini, karena agaknya memang hanya aku yang dapat melakukannya” Demikianlah, maka di tengah malam dengan hati-hati Ki Pandi pun telah keluar dari barak itu dengan meloncati dinding sebagaimana sering dilakukannya. Ternyata Ki Pandi yang meskipun sudah terhitung tua itu, adalah seorang penghubung yang baik, lagi-pagi ia sudah berbicara dengan Ki Kertasana dan Ki Cilrabawa. Ki Kertasana kemudian berbicara dengan Ki Jagabaya dan bersama-sama pergi ke rumah Ki Demang Rejandani dengan Ki Pandi pula. Merekapun kemudian telah mendapatkan kesempatan, bahwa menjelang pekan mendatang, Ki Demang, anaknya bersama tiga orang kawannya dan beberapa orang terkuat dari Kademangan Rejandani akan berada di hutan dekat barak Wira Sabet dan Sura Gentong. Ki Pandi yang sudah terbiasa berada di hutan itu akan mengatur tempat bagi mereka. Demikian pula orang-orang padukuhan Gemawang. Mereka juga akan berkemah di hutan itu pula. Namun dalam pada itu. Manggada dan Laksanapun berusaha untuk mengetahui kapan Ki Sapa Aruh akan datang ke barak itu. Justru sehari sebelum hitungan pekan itu sampai, Ki Sapa Aruh memang sudah berada di barak itu. Tetapi tidak sampai setengah hari. Nampaknya ia masih sangat sibuk sehingga sebelum matahari turun, ia sudah tidak ada lagi di barak. Tetapi pada hari itu juga Manggada dan Laksana mendengar dari orang-orang yang pernah dikalahkan oleh Laksana itu, bahwa Ki Sapa Aruh akan kembali lagi dalam dua hari mendatang. Mereka mengatakan bahwa segala sesuatu sudah dipersiapkan untuk menyelesaikan persoalan padukuhan Gemawang. “Dendam Ki Sura Gentong sudah sampai ke ubun-ubun“ berkata salah seorang dari mereka. “Apakah ia juga mengatakan kepada para pengikutnya tentang dendam itu?” bertanya Laksana. “Ya” jawab orang itu “isterinya telah dibunuh oleh Ki Jagabaya. Karena itu, maka sebagai gantinya, maka ia akan mengambil anak Ki Jagabaya itu sebagai isterinya meskipun anak Ki Jagabaya itu masih terlalu muda” “Itu tidak boleh terjadi” desis Laksana. Tetapi sambil tersenyum Manggada bertanya “Yang mana yang tidak boleh terjadi? Pembalasan dendam itu atau rencana Sura Gentong untuk mengambil anak Ki Jagabaya?” “Kedua-duanya” jawab Laksana. Tetapi Laksana itupun tertawa pula. Demikianlah, maka keterangan itupun lelah disampaikan pula kepada Ki Pandi. Keterangan itulah yang dipergunakan sebagai ancar-ancar kehadiran Ki Sapa Aruh di barak itu. Dengan demikian, maka Ki Pandipun segera mempersiapkan kekuatan yang akan menyerang barak itu. Ki Jagabaya, Ki Kertasana, Ki Citrabawa bersama beberapa orang anak muda yang dipimpin Sampurna telah berkemah di dalam hutan bersama Ki Demang Rejandani, anaknya dan ketiga orang kawannya, bersama beberapa orang yang dianggap memiliki kelebihan dan keberanian di Kademangan Rejandani, Seperti yang dikatakan oleh orang-orang yang pernah dikalahkan oleh Laksana, maka dua hari kemudian, Ki Sapa Aruh benar-benar telah berada di barak itu. Tetapi Ki Sapa Aruh tidak sendiri. Ia datang bersama seorang kawannya dan beberapa orang pengikutnya. Ki Carang Akingpun menjadi semakin berhati-hati. Ia telah memberitahukan kepada kedua orang muridnya yang juga berada di barak itu sebagai dua orang penyabit rumput. Sambil membersihkan kuda di kandang, maka Ki Carang Aking telah memberikan petunjuk-petunjuk kepada Manggada, Laksana dan dua orang muridnya yang sedang memotongmotong rumput bagi kuda-kuda yang sudah dibersihkan itu. Untunglah, bahwa sebentar kemudian matahari turun. Ki Sapa Aruh yang memang tidak banyak menaruh perhatian kepada budak-budak itu tidak sempat melihat kekuatankekuatan yang tersembunyi di sekitar kandang kuda itu. Malam itu, Ki Pandi telah datang pula ke kandang. Namun Ki Carang Aking telah memperingatkannya, bahwa malam itu Ki Sapa Aruh telah berada di barak. “Ia bukan saja mempunyai penglihatan dan pendengaran yang tajam, tetapi penggraitanya melampaui panggraita seekor kuda” Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah. Aku akan segera keluar dari barak ini. Tetapi kita harus membuat persetujuan. Kapan sebaiknya, kami akan menyerang barak ini” “Jangan tertunda-tunda” jawab Ki Carang Aking “jika kalian memang sudah siap, maka sebaiknya kalian melakukan serangan itu” “Besok, saat fajar menyingsing, kami akan memasuki barak ini. Kami sudah mendapat keterangan dari kalian tentang kekuatan yang ada, sehingga kami dapat memperhitungkan kekuatan yang kami miliki” “Tetapi perlu diperhitungkan. Ki Sapa Aruh tidak datang sendiri. Ia datang dengan seorang kawannya yang mungkin juga berilmu tinggi serta empat orang pengikutnya. Agaknya mereka termasuk kepercayaan Ki Sapa Aruh untuk memperkuat kedudukannya disini jika pada saatnya ia akan memasuki padukuhan dan tentu selanjutnya Kademangan Kelegen” berkata Ki Carang Aking selanjutnya. Ki Pandi menganggukangguk. Katanya “Baiklah. Kami akan memperhitungkan kembali kekuatan yang ada pada kami” “Hati-hatilah Ki Pandi” berkata Ki Carang Aking kemudian. Demikianlah, dengan sangat berhati-hati Ki Pandi keluar dari dinding barak itu. Ia sudah terbiasa melakukannya. Tetapi justru karena Ki Sapa Aruh ada di barak itu, maka Ki Pandi harus menjadi lebih berhati-hati. Ketika Ki Pandi berada diperkemahan di hutan sebelah barak itu, maka iapun telah memberitahukan kehadiran Ki Sapa Aruh. “Manggada dan Laksana tidak perlu memasang isyarat di ujung senggot timba. Sebenarnya akupun cemas, bahwa isyarat itu akan dapat memanggil kecurigaan kepada orangorang yang ada di dalam barak itu” berkata Ki Pandi pula. Malam itu juga Ki Jagabaya dan Ki Demang Rejandani memutuskan untuk menyerang perkemahan itu esok saat fajar menyingsing. Karena itu, maka merekapun segera mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Mereka harus benar-benar siap untuk berperang sebagaimana sekelompok prajurit yang turun ke medan. Menurut perhitungan Ki Pandi, maka kekuatan yang ada di perkemahan itu akan dapat mengatasi kekuatan yang ada di dalam barak. Meskipun demikian Ki Pandi itupun memperingatkan, “Namun bagaimanapun juga kita harus menganggap bahwa kita akari berhadapan dengan lawan yang sangat tangguh. Di dalam barak itu tinggal orang-orang yang sudah terbiasa melakukan kekerasan. Bahkan hidup mereka sehari-hari memang diwarnai oleh kekerasan. Suasana yang sangat berbeda dengan suasana hidup kita sehari-hari. Apalagi Ki Sapa Aruh dan kepercayaannya. Mereka nampaknya memiliki kelebihan dari kebanyakan penghuni barak itu. Selain mereka masih ada saudara-saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong” “Baik Ki Pandi” berkata Ki Jagabaya “kita sudah sepakat untuk bertempur dalam satu kekuatan. Mungkin ada di antara kita yang mempercayakan segala kemampuan kita secara pribadi. Tetapi pada dasarnya kita akan bertempur bersamasama. Karena itu, maka jika perlu kita akan bertempur dalam kelompok-kelompok kecil tergantung pada lawan yang akan kita hadapi, karena agaknya sulit bagi kita untuk dapat memilih lawan” Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya “Aku sependapat. Kita akan bertempur dalam satu kebulatan kekuatan” “Di dalam barak itu ada Manggada dan Laksana” berkata Ki Kertasana. “Ya” sahut Ki Pandi “selain mereka masih ada tiga orang yang dapat membantu kita. Seorang tua yang berilmu tinggi bersama dua orang muridnya” “Bagaimana mereka dapat berada disana? Apakah mereka dapat dipercaya?” bertanya Ki Jagabaya. “Mereka sengaja menyusup sebagaimana Manggada dan Laksana. Tetapi tentu dengan cara yang berbeda. Agaknya Ki Carang Aking memang membayangi Ki Sapa Aruh” jawab Ki Pandi. “Tetapi bagaimana kita mengisyaratkan kepada mereka yang ada di dalam barak itu, bahwa kita akan menyerang mereka esok saat fajar menyingsing?” bertanya Ki Demang Rejandani. “Bukankah aku baru saja dari barak itu? Meskipun belum pasti, tetapi aku sudah mengisyaratkan bahwa besok saat fajar menyingsing kita akan menyerang perkemahan itu. Meskipun demikian, biarlah nanti aku memberitahu isyarat lagi kepada mereka” “Ki Pandi akan memasuki barak itu lagi?” bertanya Ki Demang. “Tidak. Itu tidak perlu. Biarlah kedua ekor harimauku memberitahu isyarat itu esok menjelang lajar” “Harimau?” bertanya Ki Demang dan Ki Jagabaya hampir berbareng. Ki Pandi mengerutkan keningnya. Ia tidak sengaja ingin menyebut kedua ekor harimaunya. Namun di luar sadarnya, ia sudah mengatakannya. Karena itu, maka iapun menjawab “Ya. aku memelihara dua ekor harimau yang dapat membantuku dalam keadaan yang khusus. Besok, aku juga akan membawanya. Tetapi mereka tidak akan melibatkan diri jika aku tidak memberikan perintah” Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Tetapi ia masih juga bertanya “Apakah kedua ekor harimau itu tidak dapat salah menyerang kawan sendiri?” “Aku sendiri harus mengendalikannya” jawab Ki Pandi. Demikianlah, maka keputusan itu telah disampaikan kepada semua orang yang berada di perkemahan itu. Merekapun telah mendapat penjelasan, siapakah yang akan mereka hadapi. Cara yang akan mereka pergunakan dalam pertempuran itu, sehingga karena itu, maka Ki Jagabayapun berkata “Seperti yang sudah aku katakan kita tidak akan berpencaran. Seandainya kita memecah kelompok ini, maka kita harus masih tetap berada di dalam kelompok-kelompok meskipun lebih kecil. Kita harus menyadari, bahwa orang-orang yang ada di barak itu secara pribadi memiliki kemampuan dan bahkan kebiasaan untuk melakukan kekerasan. Namun dalam pada itu, kita berbekal tekad untuk memberantas kejahatan sebagaimana sering mereka lakukan. Dengan menghancurkan mereka, maka kita akan menghentikan kejahatan-kejahatan yang akan mereka lakukan kemudian” Demikianlah, maka Ki Jagabayapun telah menasehatkan kepada orang-orang yang berada di perkemahan itu untuk beristirahat. Besok pagi-pagi mereka harus sudah bergerak ke barak itu. Sementara itu, Ki Jagabaya telah menunjuk orang-orang yang khusus untuk menyiapkan perbekalan bagi mereka. Termasuk persediaan makan. Beberapa orang ditugaskan untuk mengambil makanan yang dipersiapkan di padukuhan. Meskipun jaraknya cukup jauh, tetapi itu adalah cara yang paling baik untuk tidak menarik perhatian, karena mereka tidak dapat menyiapkannya di perkemahan. Tugas mereka yang mempersiapkan makan dan minum itu tidak kalah beratnya dari tugas yang dibebankan kepada mereka yang akan memasuki barak Wira Sabet dan Sura Gentong itu. Malam itu, mereka yang akan turun ke medan masih sempat beristirahat meskipun tidak terlalu lama. Karena di dini hari, mereka harus sudah bangun dan mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Karena tugas-tugas kekerasan seperti itu bukannya kebiasaan mereka, maka beberapa orang memang menjadi tegang. Di dinginnya dini hari, keringat mereka sudah mulai membasahi pakaian mereka. Tetapi sikap Ki Jagabaya, Ki Demang Rejandani, Ki Kertasana, Ki Citrabawa dan beberapa orang yang lain cukup meyakinkan, sehingga ketegangan beberapa orang itupun menjadi agak mengendor. Menjelang fajar, maka Ki Jagabaya masih sempat memperingatkan orang-orang yang siap bergerak itu. untuk memeriksa senjata mereka. Di pertempuran yang akan terjadi, senjata-senjata itu jangan mengecewakan. Bahkan beberapa orang telah membawa senjata rangkap. Disamping sebilah pedang, ada yang masih membawa keris atau pisau belati yang panjang. Anak-anak muda Gemawang, yang belum berpengalaman telah mendapat petunjuk bahwa lawan mereka mungkin akan mempergunakan senjata yang tidak biasa mereka jumpai. Mungkin tongkat besi, kapak, rantai baja dan bahkan mungkin senjata lontar seperti paser dan cakram. Karena itu, maka Ki Jagabaya pun telah memperingatkan mereka agar mereka tidak mencoba untuk bertempur seorangseorang. Namun Ki Kertasanapun kemudian berkata “Meskipun kalian harus berhati-hati, tetapi tidak semua orang yang berada di barak itu memiliki kemampuan bertempur. Mungkin mereka nampak garang, tetapi mereka tidak mempunyai otak yang cukup baik untuk membuat perhitungan-perhitungan yang mapan di pertempuran. Karena itu, maka kalianpun jangan sampai kehilangan perhitungan. Jika perlu jangan segan-segan menjauhi lawan yang memang tidak terlawan. Kalian tidak sendiri dalam pertempuran itu” Ketika langit menjadi kemerah-merahan, maka Ki Pandi meninggalkan perkemahan itu untuk memanggil kedua ekor harimaunya. Kemudian diperintahkannya kedua ekor harimau itu mendekati barak dan memberikan isyarat dengan auman mereka yang memang agak berbeda dengan aum harimau kebanyakan. Namun hanya orang-orang tertentu sajalah yang dapat membedakannya. Sementara itu, seperti biasa Ki Carang Aking, Manggada dan Laksana telah berada di kandang saat warna fajar mulai nampak di langit. Sementara kedua murid Ki Carang Aking telah menyiapkan keranjang mereka yang biasa mereka pergunakan untuk menyabit rumput. Namun mereka tidak segera meninggalkan kandang. Mereka sudah mendapat penjelasan dari Ki Carang Aking, bahwa pagi itu akan terjadi sesuatu yang mungkin akan menentukan keberadaan barak itu. “Kita menunggu isyarat” berkata Ki Carang Aking. “Isyarat apa yang akan diberikan oleh Ki Pandi?” desis Manggada. “Mungkin mereka langsung datang menyerang” jawab Ki Carang Aking. Namun dalam pada itu, maka tiba-tiba saja mereka mendengar aum harimau tidak terlalu jauh dari barak itu. Aum harimau yang berbeda dengan aum harimau liar yang berada di hutan itu. Ki Carang Aking yang mengenal suara harimau itupun berdesis “Aum harimau itu. Nampaknya Ki Pandi benar-benar akan datang” Namun yang mendengar suara itu bukannya hanya Ki Carang Aking, kedua muridnya, Manggada dan Laksana saja. Tetapi aum harimau yang mempunyai ciri tersendiri itu juga didengar oleh Ki Sapa Aruh. Ki Sapa Aruhpun kemudian memanggil seorang kawannya yang datang bersamanya serta Wira Sabet dan Sura Gentong. Demikian mereka datang, maka Ki Sapa Aruh itupun segera bertanya “Kalian dengar aum harimau itu?” Wira Sabet dan Sura Gentong termangu-mangu sejenak. Mereka memang tidak begitu menghiraukannya. Namun kawan Ki Sapa Aruh yang datang bersamanya itu langsung berkata “Apakah orang bongkok itu ada disini?” “Maksudmu?” bertanya Sura Gentong. “Apakah di antara orang-orang yang bekerja untukmu disini terdapat orang bongkok?” bertanya Ki Sapa Aruh. “Maksud Ki Sapa Aruh, budak-budak itu?” bertanya Sura Gentong. “Ya” jawab Ki Sapa Aruh. Sura Gentongpun kemudian bertanya kepada Pideksa yang juga telah hadir pula disitu “He, apakah di antara budak-budak itu terdapat orang bongkok?” Pideksa menggeleng sambil berdesis “Tidak paman. Tidak ada orang bongkok di barak ini” Tetapi Ki Sapa Aruh yang tertarik oleh aum harimau itu berkata “Aku ingin melihat orang-orangmu yang ada di barak ini” “Maksud Ki Sapa Aruh?” bertanya Pideksa. “Kumpulkan semua orang. Aku ingin melihat mereka seorang demi seorang” jawab Ki Sapa Aruh. Pideksa tidak segera mengerti maksud Ki Sapa Aruh. Karena itu Ki Sapa Aruh itupun menjelaskan “Semua orang yang kau sebut budak-budak itu harus dikumpulkan sekarang. Mereka semua tentu sudah bangun dan mulai melakukan tugas mereka sendiri-sendiri” “Lakukan Pideksa” berkata Wira Sabet “perintahkan satu dua orang untuk memanggil kawan-kawannya. Jangan ada yang terlampaui seorangpun” “Baik ayah” jawab Pideksa yang kemudian turun ke halaman. Dipanggilnya seorang yang disebutnya budak yang sudah mulai menyapu halaman. Dengan ketakutan budak yang sedang menyapu halaman itu melangkah mendekat sambil merunduk-runduk. “Panggil semua kawan-kawanmu. Ingat, semua budakbudak yang ada di barak ini. Dari mereka yang setiap hari mengisi jambangan pakiwan, mereka yang menumbuk padi, mereka yang menyabit rumput, mereka yang memelihara dan merawat kuda dan semua orang yang lain” “Baik, baik anak muda” jawab orang itu. “Lakukan beranting supaya lebih cepat. Dengar, perintah ini datang dari Ki Sapa Aruh. Karena itu, maka harus kau lakukan dengan sebaik-baiknya” Orang yang menyapu halaman itupun segera berlari-lari memanggil semua orang yang dianggap budak-budak di barak itu. Yang seorang meneruskan panggilan itu kepada yang lain tanpa ada yang terlampaui. Di kandang kuda, Ki Carang Aking menjadi berdebar-debar. Ia sadar, bahwa Ki Sapa Aruh tentu menaruh kecurigaan terhadap sesuatu. “Tentu aum harimau itu” desis Ki Carang Aking. “Apakah Ki Sapa Aruh dapat mengenali suara harimau itu?” bertanya Manggada. “Ki Sapa Aruh adalah orang yang memiliki pengalaman dan pengenalan di dunia olah kanuragan secara luas. Ia tentu sudah mendengar tentang seorang bongkok yang dapat mengendalikan sepasang harimau meskipun mungkin Ki Pandi sendiri belum mengenal Ki Sapa Aruh selain isyarat tentang pribadinya” sahut Ki Carang Aking yang nampak lebih bersungguh-sungguh. “Ki Pandi memang pernah menyebut Ki Sapa Aruh sebagai seorang yang berilmu sangat tinggi” sahut Manggada. “Nah, agaknya Ki Pandi tidak memperhitungkan bahwa isyaratnya itu dapat memanggil perhatian Ki Sapa Aruh” desis Ki Carang Aking. Namun katanya kemudian “tetapi kita tidak usah cemas. Sebentar lagi Ki Pandi dan orang-orang yang menyertainya itu akan datang. Sekarang, marilah kita ikut terkumpul dengan orang-orang yang disebutnya budak-budak itu” Demikianlah, maka beberapa saat kemudian, di halaman depan barak itu, orang-orang yang disebutnya budak-budak itu telah berkumpul. Di antara mereka memang terdapat Manggada, Laksana, Ki Carang Aking dan kedua orang muridnya. Yang ikut menjadi berdebardebar adalah ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong yang telah membawa Manggada dan Laksana memasuki barak itu. Jika akhirnya Manggada dan Laksana dapat dikenali kemampuannya oleh Ki Sapa Aruh, maka ketiga orang itu tentu akan mengalami kesulitan pula. Tetapi untuk mengenal orang-orang yang disebut budak itu, Ki Sapa Aruh memerlukan waktu. Ketika ia mulai menuruni tangga bangunan induk barak itu, maka Ki Jagabaya lelah mulai bergerak. Sekali lagi Ki Jagabaya memperingatkan anak-anak muda Gemawang yang berhasil di gelitik untuk bangkit itu, agar mereka bertempur dalam kelompokkelompok kecil sehingga mereka akan dapat saling membantu. Ki Carang Aking yang tua itu berdiri di deret paling belakang dari antara orang-orang yang disebut budak-budak itu. Sementara Ki Sapa Aruh mulai mengenali orang-orang yang disebut budak-budak itu seorang demi seorang. Ki Carang Aking memang menjadi tegang. Jika Ki Pandi datang terlambat, maka mungkin sekali ia harus mengambil sikap tersendiri. Ki Sapa Aruh termasuk orang yang tidak dapat ditawar lagi sikapnya. Ia akan dapat bertindak tanpa menunggu otaknya sempat membuat pertimbanganpertimbangan lain. Dalam pada itu, langitpun menjadi semakin merah. Di halaman barak itu, Ki Sapa Aruh memanggil orang-orang yang telah berkumpul itu seorang demi seorang. Para penghuni barak itu memperhatikan sikap Ki Sapa Aruh dengan tegang. Mereka menyaksikan, bagaimana Ki Sapa Aruh menyentuh, menekan dada dan punggung seseorang, kemudian mengguncang bahu dan pundaknya. Dua tiga orang sudah lewat. Tetapi tidak ada orang yang mencurigakan. Sementara itu, yang disebut orang bongkok itupun tidak ada pula di antara mereka. Tetapi Ki Sapa Aruh ingin melihat semua orang yang dikumpulkan itu sampai orang yang terakhir. “Jika orang bongkok itu tidak ada di antara mereka, tentu orang lain yang sengaja disusupkan di antara para budak itu” berkata Ki Sapa Aruh kepada kawannya yang berdiri disampingnya ikut melihat kemungkinan-kemungkinan yang tersembunyi pada budak-budak itu. Sementara itu Wira Sabet dan Sura Gentong serta saudarasaudara seperguruannya memperhatikan pengamatan Ki Sapa Aruh itu dengan saksama. Lima, enam dan sepuluh orang telah dilampaui. Sementara itu, langitpun menjadi semakin terang. Bayangan sinar matahari mulai menyeruak keremangan fajar. Dalam pada itu, Ki Jagabaya dan kawan-kawannya telah merayap semakin dekat. Mereka mendekati barak tidak dari arah depan. Tetapi mereka berusaha mendekati pintu butulan. Ki Pandi yang paling mengenal barak itu, berada di paling depan bersama Ki Jagabaya. Mereka berusaha untuk menghindari penglihatan para penghuni barak yang bertugas berjaga-jaga untuk mencapai jarak yang sependek-pendeknya. Para penghuni barak itu memang agak lengah. Mereka merasa tempat mereka itu tidak diketahui oleh siapapun kecuali penghuni barak itu sendiri. Setiap orang yang sudah berada di dalam barak itu tidak akan pernah dapat keluar lagi. Dengan demikian, maka Ki Pandi dan Ki Jagabaya berhasil mendekati pintu butulan pada dinding di sisi sebelah kiri dari lingkungan barak yang tertutup itu. Namun ketika keduanya memberikan isyarat bagi kawan-kawannya yang kemudian mendekati sambil berlari-lari, maka kehadiran mereka telah menarik perhatian seorang penghuni barak itu yang sedang bertugas mengawasi pintu butulan itu. Meskipun pengawasan mereka lebih banyak ditujukan untuk menjaga agar tidak ada budak yang melarikan diri, namun hiruk-pikuk di luar dinding telah memaksanya untuk dengan segera memanjat tangga panggungan di sebelah pintu butulan itu. Orang itupun terkejut ketika ia melihat sekelompok orang telah berada di depan pintu butulan. Dengan serta-merta, orang itupun berteriak memberitahukan bahwa barak mereka telah diserang. “Sekelompok orang berusaha memecahkan pintu butulan dari luar“ teriak orang itu. Teriakan itu didengar oleh penghuni barak yang lain, yang ikut pula berteriak memberitahukan serangan itu. Sementara itu, langit sudah menjadi terang. Cahaya matahari mulai nampak di bibir awan yang tipis yang dihanyutkan angin pagi. Teriakan itu benar-benar mengejutkan seisi barak. Ki Sapa Aruh yang sedang sibuk itupun terkejut pula. Kepada kawannya ia berkata “Tentu orang bongkok itu” “Ya” jawab kawannya “Agaknya ia ingin membunuh dirinya.” “Lanjutkan pekerjaan yang menjemukan ini. Aku akan melihat, apakah benar orang bongkok itu datang. Jika ia benar-benar mencampuri persoalanku, maka aku akan menyelesaikannya sekarang. Hati-hati, tentu ada orangorangnya yang disusupkan di antara budak-budak ini” Kawan Ki Sapa Aruh itu mengangguk. Sementara itu, Ki Sapa Aruhpun telah mengajak Wira Sabet dan Sura Gentong untuk pergi ke pintu butulan. “Biar Pideksa membantumu disini. Yang lain akan pergi bersamaku” berkata Ki Sapa Aruh. Ki Sapa Aruhpun segera meninggalkan tempat itu bersama Wira Sabet dan Sura Gentong. Dua orang saudara seperguruan merekapun ikut pula bersama mereka, sedangkan yang lain menunggui kawan Ki Sapa Aruh yang sedang melihat budak-budak yang ada di halaman itu seorang demi seorang. Ki Carang Aking yang berdiri di deret paling belakang bersama dua orang muridnya serta Manggada dan laksana menarik nafas panjang. Meskipun demikian, mereka masih harus memperhitungkan kawan Ki Sapa Aruh yang tentu terhitung orang berilmu tinggi pula. Seorang demi seorang yang diamatinya telah lepas tanpa menimbulkan kecurigaan. Sentuhan tangannya pada pusat dan simpul-simpul syaraf sama sekali tidak menimbulkan getar yang menarik perhatiannya. Namun menjelang orang-orang yang terakhir membuat Ki Carang Aking menjadi semakin berdebar-debar. Ia harus mengambil satu sikap, jika ternyata orang itu dapat menyentuh dengan kesadaran perabanya, kemampuan Ki Carang Aking itu. Menjelang orang terakhir sebelum kawan Ki Sapa Aruh itu memanggil Ki Carang Aking, maka Ki Carang Aking menggamit Manggada dan Laksana serta memberi isyarat kepada kedua orang muridnya. Dalam pada itu, Ki Jagabaya dan kawan-kawannya ternyata telah mampu memecahkan pintu butulan. Dengan sepotong kayu yang cukup besar, mereka beramai-ramai menghantam pintu itu dari luar. Ketika mereka menghantamkan sepotong kayu itu untuk yang ketiga kalinya, maka pintu itupun pecah dan butulan itupun menganga lebar-lebar. Ki Jagabaya dan kawan-kawannya itupun kemudian telah menyusup memasuki pintu butulan itu. Namun demikian mereka berada di dalam, maka merekapun terhenti. Ki Sapa Aruh, Wira Sabet, Sura Gentong dan saudara-saudara seperguruannya yang menyertainya, telah berdiri menghadang bersama para pengikutnya. Orang-orang yang nampaknya kasar dan keras dengan senjata di tangan mereka masingmasing. Anak-anak muda Gemawang yang datang bersama Ki Jagabaya itu memang menjadi berdebar-debar. Mereka mulai memperhatikan senjata-senjata yang ada di tangan para penghuni barak itu. Seperti telah diberitahukan kepada mereka, bahwa penghuni barak itu mempergunakan berbagai macam senjata yang tidak terbiasa dipergunakan kebanyakan orang. Sebenarnyalah bahwa ada di antara mereka yang membawa tongkat besi, kapak, bindi dan bahkan canggah yang nampak mengerikan. Seorang yang bertubuh gemuk meskipun tidak terlalu tinggi, membawa pedang yang bergerigi di punggungnya. Sedangkan yang lain membawa tombak pendek dengan mata tombak berkait. Senjata-senjata itu memang mengerikan. Tetapi meieka selalu ingat pada pesan Ki Jagabaya, bahwa mereka tidak akan bertempur seorang-seorang, mereka akan bertempur dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari tiga atau empat orang. “Aku sudah mengira” berkata Ki Sapa Aruh “orang bongkok itu menjadi biang keladi yang mengganggu ketenangan padepokan kami ini” “Padepokan? Adakah ini sebuah padepokan yang mengajarkan budi pekerti, unggah-ungguh dan mengajarkan ketakwaan terhadap Yang Maha Esa?” bertanya Ki Pandi. “Kau kira padepokan ini tempat apa?” Ki Sapa Aruh itu ganti bertanya. Namun Ki Jagabaya Gemawang itulah yang menyahut “Bertanyalah kepada Wira Sabet dan Sura Gentong. Ia tahu pasti, tempat ini tempat apa. He, siapakah kau?” “O, jadi kau belum mengenal aku?” Ki Sapa Aruh itupun kemudian berpaling kepada Wira Sabet dan Sura Gentong “Siapakah orang yang sombong ini?” “Orang inilah yang sampai sekarang masih mengaku Jagabaya padukuhan Gemawang. Orang itulah yang telah membunuh isteriku” jawab Sura Gentong. Ki Sapa Aruh mengangguk-angguk. Katanya “Sebaiknya kau mengenal aku, meskipun barangkali kau sudah mengenal namaku. Akulah yang dipanggil Ki Sapa Aruh” Ki Jagabaya mengangguk-angguk di luar sadarnya. Namun ia memang menjadi berdebar-debar, Ia sudah mendengar betapa orang yang bernama Sapa Aruh itu memiliki ilmu yang sangat tinggi. Namun Ki Pandi yang dapat melihat betapa pengaruh nama itu dapat menggetarkan jantung Ki Jagabaya dan barangkali beberapa orang yang lain itupun berkata “Ki Jagabaya. Orang inilah yang namanya selalu disebut-sebut orang. Mungkin bayangan kita tentang Ki Sapa Aruh agak berbeda dengan apa yang kita temui sekarang ini” “Setan bongkok, apa maksudmu?” bertanya Ki Sapa Aruh. “Aku hanya ingin menempatkan kau di tempat yang sewajarnya. Sampai sekarang, orang yang mendengar namamu menjadi berdebar-debar, sementara kau sendiri tidak mempunyai kelebihan apa-apa” jawab Ki Pandi. Ki Sapa Aruh menggeram. Sementara Ki Jagabaya menjadi semakin berdebar-debar. Ia menganggap Ki Sapa Aruh orang yang berilmu sangat tinggi, sehingga untuk menahannya, maka sekelompok orang yang berilmu harus bersama-sama melawannya. Tetapi Ki Pandi nampaknya tidak begitu silau terhadap orang itu. “Kau jangan mencoba menyembunyikan kecemasanmu. Bersiaplah. Aku akan membuktikan, bahwa kau akan menyesali kata-katamu itu” geram Ki Sapa Aruh. Tetapi Ki Pandi menyahut “Jika aku datang kemari, Ki Sapa Aruh, aku memang merencanakan sebuah pertemuan. Biarlah kawan-kawanku yang datang bersamaku berusaha untuk mencegah orang-orangmu yang akan mengganggu permainan kita” Ki Sapa Aruh itupun kemudian memberi isyarat kepada Wira Sabet dan Sura Gentong serta dua orang saudara seperguruannya untuk segera melibatkan dirinya. Sementara itu, langitpun menjadi semakin terang. Ketika Sura Gentong bersiap untuk bertempur, maka iapun berkata “Satu kesempatan yang bagus. Ki Jagabaya, kita membuat perhitungan sekarang” Tetapi Ki Kertasana dengan cepat menyahut “Tidak Ki Sura Gentong. Ki Jagabaya mempunyai tugas tersendiri. Ia memegang pimpinan dalam tugas ini, sehingga ia tidak boleh terikat dalam pertempuran melawan siapapun” “Ki Kertasana. Apa maksudmu?” bertanya Wira Sabet. “Biarlah aku mewakilinya” jawab Ki Kertasana. “Setan kau. Apakah kau tahu apa yang sedang kau lakukan?” bertanya Wira Sabet. “Aku menyadari sepenuhnya, Ki Wira Sabet.” Wajah Wira Sabet menjadi merah. Ia mengenal Ki Kertasana sebagai seorang pendiam yang tidak terlalu banyak melibatkan diri dalam persoalan-persoalan yang terjadi di padukuhan Gemawang. Ia bukan pula termasuk orang-orang yang beramai-ramai mengusirnya dan bahkan rasa-rasanya dengan penuh kebencian orang-orang padukuhan itu akan membunuhnya waktu itu. Tetapi Wira Sabet tidak mempunyai banyak waktu. Sementara itu, beberapa orang benar-benar sudah terlibat dalam pertempuran yang segera menyala. “Jika demikian, bersiaplah untuk mati” geram Wira Sabet “aku tidak peduli siapa kau, karena kau sudah melibatkan diri dalam perbuatan gila ini” Ki Kertasanapun telah bersiap sepenuhnya. Namun ia masih berkata “Ki Wira Sabet, jika aku ikut datang kemari, karena aku ingin mengambil anakku, Manggada yang kau perlakukan dengan kasar disini bersama adik sepupunya, Laksana” Sura Gentong itu memang teringat kepada Manggada yang ada di dalam barak itu bersama sepupunya Laksana. Dengan geram Wira Sabet, itu menyahut “anakmu berusaha merusak rencanaku” Ki Kertasaha tidak berbicara lebih banyak lagi. Iapun kemudian telah bergeser sambil memperpsiapkan diri menghadapi orang yang mendendam seisi padukuhan Gemawang, terutama Ki Jagabaya. Dalam pada itu, maka Sura Gentong pun telah melibat ke dalam pertempuran pula. Namun ia harus berhadapan dengan Ki Citrabawa yang belum dikenalnya. “Aku ayah Laksana. Anak yang telah diambil dan di perlakukan sebagai budak disini” berkata Ki Citrabawa. “Darimana kau tahu bahwa anakmu diperlakukan sebagai budak disini?” bertanya Sura Gentong. Citrabawa tersenyum. Katanya “Kau tentu mencurigai bahwa ada di antara orang-orangmu yang berkhianat” “Ya” jawab Sura Gentong “setelah kami menghancurkan kalian, kami akan dapat menemukannya” Citrabawa tidak sempat menyahut karena Sura Gentong telah mulai menyerangnya. Dengan demikian, maka pertempuranpun segera berkobar. Sementara Ki Sapa Aruh bersiap menghadapi Ki Pandi, maka orang-orang Gemawang dan Rejandani telah terlibat dalam pertempuran. Namun sebelum Ki Sapa Aruh sendiri mulai bertempur, ia sempat melihat anak Demang Rejandani yang pernah dirampoknya. Karena itu, maka iapun berteriak hampir di luar sadarnya “He saudagar perhiasan dan wesi aji anak Demang Rejandani. Kenapa tiba-tiba saja kau ikut dalam rombongan tikus-tikus Gemawang ini?” “Aku akan mengambil milikku itu kembali” jawab anak Ki Demang Rejandani. Tetapi Ki Sapa Aruh itu menjawab “Kau tidak akan mendapatkan perhiasan dan wesi aji itu kembali. Tetapi kau justru akan menyerahkan nyawamu sebagaimana tikus-tikus dari Gemawang ini.” Tetapi Ki Demang yang mendengar pembicaraan itupun berkata “Barak ini akan dihancurkan hari ini. Kami tidak akan memberi kesempatan lagi kepada kalian. Beruntunglah kami, tikus-tikus kecil yang hari ini mendapat perlindungan dari orang-orang berilmu yang akan dapat mematahkan kegiatan kalian untuk selanjurnya” “Setan, siapa kau?” bertanya Ki Sapa Aruh. “Aku Demang Rejandani” jawab Ki Demang. “O, jadi kau bawa anakmu untuk membunuh diri disini” geram Ki Sapa Aruh. Ki Demang tidak menjawab. Iapun segera terlibat dalam pertempuran. Ternyata para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong cukup banyak. Dua orang saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong yang ikut merampok dirumah Ki Demang Rejandani telah bertempur pula melawan saudagarsaudagar perhiasan yang telah diperlakukan dengan kasar itu. Sementara itu, Ki Pandi yang masih berdiri termangumangu itupun kemudian bertanya “Apakah kau sudah selesai dengan sesorahmu. Aku datang untuk mencari kawan bermain. Karena itu, aku jangan kau tinggal berbicara saja dengan setiap orang yang datang memasuki barakmu itu” “Iblis bongkok. Kau akan menyesal dengan kesombonganmu. Kau sudah mengajak orang-orang itu datang kemari. Kematian demi kematian akan membebani saat terakhirmu. Seharusnya jika kau ingin membunuh dirimu, datanglah seorang diri. Jangan mengajak orang lain ikut membunuh diri bersamamu” Ki Pandi mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun bertanya “Apakah kau sudah selesai? Jika kau masih akan berbicara, berbicaralah. Apa saja, sebelum kau akan terdiam untuk selama-lamanya. Aku masih akan memberimu waktu” Ki Sapa Aruh menjadi sangat marah. Ia tidak berbicara lagi. Tetapi iapun dengan serta-merta telah meloncat menyerang Ki Pandi. Tetapi Ki Pandi sudah menyiapkan diri sebaik-baiknya. Karena itu serangan Ki Sapa Aruh itupun mampu dielakkannya. Pertempuranpun kemudian telah menebar. Anak-anak muda Gemawang yang belum berpengalaman tidak melupakan pesan dari Ki Jagabaya. Sementara Sampurna berada di antara mereka sambil memberikan petunjukpetunjuk. Selain anak-anak muda Gemawang, maka orang-orang Kademangan Rejandanipun telah terlibat pula dalam pertempuran yang menjadi semakin sengit. Ki Demang berusaha untuk membangkitkan tekad yang terguncang oleh kenyataan yang mereka hadapi. Namun orang-orang Rejandani itu menjadi berbesar hati ketika mereka sempat melihat anak Ki Demang itu bertempur dengan garang bersama-sama dengan ketiga orang kawannya, sementara rasa-rasanya Ki Demang selalu ada disamping mereka. Ketika pertempuran itu berlangsung semakin sengit, maka di halaman barak itu, Ki Srayatapa, kawan Ki Sapa Aruh yang mengambil alih tugasnya meneliti orang-orang yang dianggap budak di barak itu, sudah sampai pada orang-orang terakhir. Orang yang kemudian dipanggilnya adalah orang tua yang ditugaskan untuk merawat kuda-kuda di kandang. Ketika namanya dipanggil, maka iapun berbisik kepada Manggada “Lindungi aku. Ia akan mengetahui siapa aku dan kami akan bertempur disini” Manggada mengangguk kecil. Ia sadar, bahwa di tempat itu masih ada Pideksa dan dua orang saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong. Tetapi baik Manggada, maupun Laksana, agaknya merasa segan untuk berhadapan dengan Pideksa. Anak muda itu, secara tidak langsung berusaha untuk meringankan tekanantekanan atas diri mereka berdua. Bagaimanapun juga Pideksa adalah kawan bermain Manggada di masa kecilnya. Sisa-sisa persahabatan di masa kecil itu masih saja membekas di dalam dada mereka. Jika pertempuran harus terjadi di tempat itu, maka Manggada dan Laksana akan berusaha berhadapan dengan kedua orang saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong. Meskipun keduanya adalah orang-orang yang berpengalaman, namun Manggada dan Laksanapun selain memiliki pengalaman yang cukup, juga telah menempa diri dalam tataran-tataran yang semakin tinggi. Ketika Manggada memandang wajah tampan salah seorang saudara seperguruan Wira Sabet, maka dadanya menjadi berdebar-debar. Orang yang nampaknya bersih dan ramah itu, justru pernah merendahkannya dan bahkan menghinanya. Orang itu pernah menginjak punggungnya, menganggapnya landasan untuk naik ke punggung kuda dan sikap-sikap yang menyakitkan hati hatinya. Sementara itu, Ki Carang Aking telah melangkah dengan ragu-ragu mendekati Ki Srayatapa, kawan dekat Ki Sapa Aruh. Sejenak kemudian, maka orang tua itu sudah berdiri terbungkuk-bungkuk di hadapan orang yang sedang meneliti orang-orang yang dianggap budak itu untuk menemukan seorang yang dicurigai menyusup ke dalam barak itu. Orang tua itu memang lelah merasa bahwa ia tidak akan dapat melepaskan diri. Karena itu, justru bersiaga menghadapi segala kemungkinan. Ketika Ki Srayatapa meletakkan tangannya di pundak orang tua itu, ia terkejut. Tetapi ia masih tetap menahan diri. Perlahan-lahan ia menyentuh punggung Ki Carang Aking di sebelah-menyebelah tulang belakang. Terasa getaran ilmu yang tinggi menyentuh ujung jari Ki Srayatapa yang sangat peka. Dengan segera ia mengetahui bahwa orang tua itu adalah orang yang berilmu. Karena itu, maka ia tidak akan memberinya kesempatan. Ia ingin langsung menghancurkan simpul-simpul syaraf di punggungnya. Tetapi Ki Carang Aking yang berilmu tinggi itupun merasakan getar syaraf di ujung-ujung jari Ki Srayatapa. Terasa di ujung jari itu denyut jantungnya yang menjadi semakin cepat sejalan dengan gejolak di dadanya. Karena itu, sebelum ujung-ujung jari itu menekan dan menghancurkan simpul-simpul syarafnya, maka Ki Carang Aking itupun segera meloncat menjauh. Ki Srayatapa terkejut. Ia kehilangan kesempatan yang sangat baik. Tetapi orang tua itu memang sudah terlepas dari tangannya. “Kenapa kau menghindar, kek?” bertanya Ki Srayatapa. “Sakit sekali. Punggung tua ini sama sekali tidak tahan atas tekanan yang sangat lemah sekalipun” jawab Ki Carang Aking. Tetapi Ki Srayatapa itu tertawa. Katanya “Bukankah aku belum mulai menekan punggungmu?” Ki Carang Akingpun tertawa pula. Katanya “Jari-jarimu ternyata sangat kasar, sehingga sentuhan lembut sekalipun telah menyakiti kulitku.” Orang-orang yang disebut budak-budak di barak itu menjadi heran dan bahkan kemudian tegang melihat sikap orang tua perawat kuda itu. “Apa yang dilakukan?” mereka saling bertanya di antara para budak itu. Tidak seorangpun yang dapat memberi jawaban. Namun mereka menjadi heran dan bahkan menjadi sangat tegang. Kedua orang saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong itupun bergeser mendekat pula. Hampir berbareng mereka bertanya “Kenapa dengan orang tua itu?” “Sudah berapa lama ia berada disini?” bertanya Ki Srayatapa kepada orang yang berwajah tampan itu. “Sudah lama” jawabnya. “Dan kalian tidak tahu tentang orang tua itu?” bertanya Ki Srayatapa pula. “Kenapa dengan orang itu?” bertanya saudara seperguruannya yang seorang lagi. Ki Srayatapa tersenyum. Katanya “Kalian tidak memperhatikan orang-orang yang kalian jadikan budak-budak kalian itu. Ki Sapa Aruhpun tidak. Ternyata orang ini adalah orang yang sedang dicari oleh Ki Sapa Aruh” “Orang itu tidak bongkok” berkata saudara seperguruan Wira Sabet yang berwajah tampan itu. “Memang bukan orang ini yang disebutnya orang bongkok itu. Tetapi orang ini tidak kalah berbahayanya dengan orang bongkok itu. Isyarat aum harimau peliharaan orang bongkok itu tentu ditujukan kepada orang ini” “Jika demikian, serahkan orang tua itu kepadaku” berkata orang yang berwajah tampan itu. Tetapi Ki Srayatapa itu tertawa. Katanya “Orang ini bukan lawanmu” “Maksud Ki Srayatapa? Apakah anak-anak dapat menyelesaikan jika terhitung orang berilmu tinggi?” “Maksudku bukan anak-anak. Bahkan kaupun tidak akan dapat menyelesaikannya” berkata Ki Srayatapa. “Jadi?” bertanya orang berwajah tampan itu. “Yang dapat menyelesaikan adalah aku atau Ki Sapa Aruh sendiri” jawab Ki Srayatapa. “Jadi?” bertanya saudara seperguruan Wira Sabet yang seorang lagi. “Ia adalah seorang yang berilmu sangat tinggi, sehingga kalian justru tidak melihat kelebihannya. Tetapi perannya di barak ini akan berakhir hari ini” “Kepung orang ini. Ia tidak boleh lepas. Aku sendiri akan menyelesaikannya” Namun ketika orang-orang itu bergeser untuk mengepung Ki Carang Aking, maka hiruk-pikuk pertempuran terdengar semakin mendekat. “Setan” geram Ki Srayalapa “orang-orang ilu tentu lelah mendapat isyarat dari dalam. Dan orang yang memberikan isyarat itu adalah orang ini” “Jika demikian, kita akan meremukkan kepalanya” geram saudara seperguruan Wira Sabet yang berwajah tampan itu. Ki Carang Aking sendiri justru tertawa sambil berkata “Kita jangan disibukkan oleh persoalan kecil ini. Kalian harus tahu, bahwa barak ini sudah jatuh ketangan orang yang kau sebut orang bongkok itu. Bersama orang bongkok itu datang pula Ki Jagabaya Gemawang yang selama ini kalian takut-takuti. Kalian mengira bahwa Gemawang benar-benar sudah menjadi pingsan. Namun hari ini mereka datang untuk menunjukkan bahwa darah anak-anak muda Gemawang masih tetap menghangat di tubuhnya. Bahkan bersama mereka telah datang pula anak Demang Rejandani yang telah kalian rampok habis-habisan. Mereka datang untuk mengambil kembali perhiasan dan wesi aji yang telah kalian rampok itu” “Sudahlah” sahut Ki Srayatapa “kau tidak usah mengigau. Sekarang bersiaplah. Kau akan segera diakhiri disini. Baru kemudian aku dan Ki Sapa Aruh akan mengurusi orang bongkok itu” Kedua saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong itu pun segera mempersiapkan diri. Demikian pula Pideksa dan beberapa orang pengikut yang lain. Namun saudara seperguruan Wira Sabet yang tampan itu terkejut ketika Manggada tiba-tiba saja melangkah mendekatinya sambil berkata “Ki Sanak. Aku ingin kau membungkuk dihadapanku. Aku ingin menginjak punggungmu sebagai landasan. Aku tidak ingin naik kuda sekarang ini. Tetapi aku ingin melihat kau dihinakan sebagaimana pernah kau lakukan atasku” Wajah orang itu menjadi merah seperti bara. Untuk sesaat orang itu justru bagaikan membeku. Kemarahan yang membakar jantungnya membuai mulutnya bagaikan tersumbat. Yang kemudian tertawa pula adalah Laksana. Dengan nada tinggi ia berkata “Kenapa kalian menjadi bingung? He, aku masih mempunyai seseorang untuk diajak bermain. Marilah. Bukankah kau saudara seperguruan paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong?” Saudara seperguruan Wira Sabet yang berwajah bengis itu juga menjadi bingung. Tetapi anak muda yang untuk beberapa iama dijadikan budak untuk merawat kuda itu meskipun seperti seseorang yang sedang bermain-main, namun cukup mengandung kesungguhan. Dalam pada itu, Pideksapun berteriak “He, Manggada dan Laksana, apa yang akan kalian lakukan?” “Pideksa” jawab Manggada “aku memang telah memilih lawan. Aku tidak dapat melawanmu dalam pertempuran yang bakal terjadi. Kita pernah bersahabat di masa kanak-kanak. Sikapmupun masih aku hargai. Aku masih merasakan sisa-sisa persahabatan kita selama kami berada di barak ini” “Tetapi kau harus menyadari, siapakah orang yang kau tantang itu?” Pideksa justru menjadi cemas. “Aku akan mencobanya” jawab Manggada. Kecemasan memang membayang di wajah Pideksa. Namun saudara seperguruan Wira Sabet yang berwajah tampan itu justru mulai tersenyum. Wajahnya mulai nampak cerah lagi. Katanya “Aku kagum kepadamu anak muda. Sejak semula aku memang sudah mengaguminya, bahwa kalian masih berani berkuda berkeliaran di padukuhan Gemawang di saat-saat yang paling gawat. Meskipun akhirnya kalian berhasil ditangkap dan dibawa masuk ke dalam barak ini. Sekarang aku menjadi semakin kagum bahwa kalian berdua berani menantang kami berdua” Manggada dan Laksana tidak menjawab lagi. Namun keduanyapun segera mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan” Ki Srayatapa pun kemudian berkata pula “Anak-anak memang tidak tahu bahwa seharusnya mereka tidak menggenggam bara. Itu bukan satu keberanian. Tetapi satu kebodohan” Tetapi Ki Carang Akinglah yang menyahut “Tidak. Mereka tidak dapat disamakan dengan seorang anak kecil yang tibatiba saja memungut bara. Tetapi keduanya sadar, bagaimana cara memukul seekor serigala. Meskipun serigala itu setampan wajah domba yang manis sekalipun” Ki Srayatapa tidak mengumpatinya. Tetapi ia justru tertawa. Katanya “Jangan terlalu yakin Ki Sanak. Kau sendiri akan mati hari ini” Kedua orang itupun telah bergeser pula. Seakan-akan mereka telah mencari tempat yang terbaik untuk bertempur. Sementara itu Pideksa sendiri menjadi bingung. Namun penyabit rumput yang sehari-hari dianggap kurang waras itupun telah mendekatinya sambil berkata “Kita juga berkesempatan untuk bermain-main” Pideksa menarik nafas panjang. Katanya “Ternyata kalian telah mengelabui kami selama ini” “Ya” jawab murid Ki Carang Aking itu “sebelum kau bertanya, biarlah aku lebih dahulu menjawab. Namaku Sirat. Aku murid perawat kuda yang tua itu” Pideksa mengangguk-angguk. Kalanya “Baiklah. Kita akan berhadapan dalam kedudukan yang berbeda sekarang” Sementara itu, pertempuran yang sengit telah terjadi di dalam lingkungan dinding barak itu. Ki Pandi masih bertempur melawan Ki Sapa Aruh. Keduanya adalah orang-orang berilmu sangat tinggi, sehingga beberapa orang yang menyaksikan menjadi bingung, apakah yang sebenarnya telah terjadi dengan kedua orang itu. Di halaman depan barak itu, Ki Srayatapapun telah bertempur pula melawan Ki Carang Aking, sementara Manggada dan Laksana telah terlibat dalam pertempuran yang garang melawan saudara-saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong. Saudara seperguruan Wira Sabet yang berwajah tampan itu ternyata memang seorang yang sangat bengis. Watak orang itu sangat jauh berbeda dengan ujudnya yang tampan, senyumnya yang banyak nampak tersungging di bibirnya. Bahkan kata-katanya yang kadang-kadang lembut dan ramah. Demikian pertempuran mulai, maka orang itu telah menyerang dengan garang dan bahkan kasar. Seakan-akan orang itu ingin membunuh lawannya pada ayunan serangannya yang pertama. Tetapi orang itu sempat terkejut. Ternyata anak muda yang bernama Manggada dan yang telah menjadi budak beberapa lama di barak itu, tidak dapat langsung dilumatkannya. Bahkan Manggada masih sempat membalas serangan-serangannya dengan serangan pula. “Anak iblis kau” geram orang itu “jika kau tidak segera mati, maka kau akan mengalami kematian yang paling menyengsarakan bagimu” Manggada tidak menjawab. Tetapi ia melihat saat kelengahan lawannya justru pada saat ia berbicara. Karena itu, maka Manggada telah memanfaatkan kesempatan itu, ia tidak menyerang kearah dada atau lambung lawannya, yang tentu akan dapat ditangkis atau dihindarinya. Tetapi tiba-tiba saja Manggada menjatuhkan diri. Kakinya dengan cepat menyapu kaki lawannya. Manggada memang tidak berniat untuk dengan cepat menghentikan perlawanan saudara seperguruan Wira Sabat dengan serangannya itu. Tetapi ia justru ingin menghentak lawannya untuk mempengaruhi ketahanan jiwaninya. Serangan dengan sapuan kaki itu memang tidak didugaduga. Karena itulah, maka sapuan kaki itu benar-benar telah menebas kedua kakinya yang berdiri tegak disaat ia berbicara. Keseimbangan orang itu telah terguncang. Bahkan demikian derasnya sapuan kaki Manggada, maka orang itu telah kehilangan keseimbangannya. Tubuh orang berwajah tampan dan berpakaian rapi itu terbanting jatuh di tanah. Namun dengan sigapnya ia berguling dan kemudian melenting berdiri lagi. Ketika orang itu tegak, ia melihat Manggada berdiri sambil tersenyum memandanginya. Bahkan anak muda itupun kemudian berkata “Kenapa kau kotori pakaianmu yang tentu berharga mahal itu? A ku sendiri tidak peduli bahwa pakaianku akan menjadi kotor, karena setiap hari pakaian ini pula yang aku pakai bahkan tidur di kandang kuda sekalipun” Orang berwajah tampan itu menggeram. Dengan mengerahkan tenaga dan kekuatannya orang itu meloncat menyerang dengan menjulurkan kakinya. Manggada yang mengetahui bahwa serangan itu dilandasi dengan kekuatan yang sangat besar, tidak berniat untuk membenturnya. Dengan tangkasnya ia mengelak, sehingga serangan itu tidak mengenainya sama sekali. Namun dengan demikian, kemarahanpun telah meledak di kepalanya. Anak muda itu benar-benar telah menghinanya dengan cara yang sangat menyakitkan hati. Dalam pada itu, Laksanapun telah bertempur pula melawan saudara seperguruan Wira Sabet yang lain. Saudara seperguruan Wira Sabet yang berwajah garang. Orang itu tidak banyak berbicara. Tetapi ketika pertempuran terjadi, maka orang itu mulai dengan hati-hati. Laksana menanggapi sikap lawannya dengan sikap berhatihati pula. Untuk beberapa saat mereka masih saling menjajagi. Bahkan orang yang pendiam itu sempat memperingatkan dirinya sendiri “Jika anak ini tidak mempunyai bekal yang cukup, ia tidak akan berani melakukan sebagaimana dilakukannya sekarang ini. Sementara itu Pideksa yang bertempur melawan salah seorang murid Ki Carang Aking sempat melihat bagaimana Manggada menjatuhkan saudara seperguruan ayahnya yang berwajah tampan itu. “Tidak masuk akal” desis Pideksa. Manggada adalah anak muda yang umurnya tidak terpaut banyak dengan dirinya. Tetapi Manggada ternyata telah memiliki ilmu yang tinggi. Yang luput dari penglihatan ayahnya dan orang-orang berilmu tinggi lainnya di barak itu. Dengan demikian Pideksapun menyadari, bahwa kehadiran Manggadadan Laksana di barak itu tentu telah disengaja dan diperhitungkannnya dengan sebaik-baiknya, sebagaimana kehadiran Ki Carang Aking yang secara kebetulan mereka bersama-sama di tempatkan di kandang kuda. Dalam pada itu, para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong memang menjadi heran, bahwa budak-budak itu ternyata memiliki ilmu yang tinggi. Bahkan dua orang penyabit rumput yang dianggap tidak waras itupun telah bertempur pula bersama Manggada dan Laksana. Namun dalam pada itu, para pengikut yang lain tidak sempat turun kemedan melawan orang-orang yang selama dalam perbudakan bekerja untuk merawat kuda itu. Arus serangan yang memasuki barak dari pintu butulan itu telah sampai ke halaman depan barak itu. Dengan demikian, maka pertempuran itupun telah menyala di beberapa sudut barak. Betapapun garangnya para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong, bahkan orang-orang yang dibawa Ki Sapa Aruh, namun kehadiran orang-orang Gemawang yang tidak diduganya itu benar-benar telah mengguncang seisi barak itu. Wira Sabet dan Sura Gentong yang telah yakin akan mampu menguasai padukuhan Gemawang dan bahkan kemudian Kademangan Kleringan bersama Ki Sapa Aruh, benar-benar menjadi sangat marah karena serangan yang tiba-tiba dan sama sekali tidak diduga. Keduanya merasa bahwa keberanian orang-orang Gemawang telah benar-benar dihancurkan. Anak-anak muda yang mencoba untuk mengganggu rencananya telah tertangkap dan dibawa ke barak itu. Sura Gentonglah yang sangat menyesal, kenapa ia tidak membunuh saja Ki Jagabaya dan sebelumnya. Dalam pada itu, Ki Sapa Aruh bertempur dengan sengitnya melawan Ki Pandi, orang bongkok namun berilmu tinggi. Keduanya justru telah memisahkan diri dari hiruk pikuk pertempuran. Keduanya seakan-akan telah memilih tempat yang tidak akan terganggu oleh orang lain. Ternyata di halaman barak itu, Ki Srayatapa yang berhadapan dengan perawat kuda tua itupun telah bertempur tanpa terganggu oleh pertempuran di sekitarnya. Agaknya masing-masing telah terikat dan berhadapan dengan lawan mereka. Manggada yang bertempur melawan saudara seperguruan Wira Sabet yang berwajah tampan itu telah mulai meningkatkan ilmu dari tataran ke tataran. Ia sadar, bahwa lawannya itu tentu memiliki kelebihan dari kebanyakan orang. Namun Manggada juga bukan orang kebanyakan. Lawan Manggada memang merasa aneh menghadapi anak muda itu. Anak muda yang dianggapnya budak itu tiba-tiba saja bertempur melawannya. Lawan Manggada menggeram ketika ia benar-benar tidak mampu menghancurkan lawannya dalam waktu singkat. Bahkan ketika ia berusaha dengan mengerahkan kemampuannya, budak yang masih muda itu masih saja mampu mengimbanginya. Sementara itu, lawan Laksana yang berwajah garang itu justru lebih berhati-hati menghadapi lawan yang masih muda. Orang itu meningkatkan ilmunya selapis demi selapis. Ia sadar sepenuhnya, bahwa ia tidak akan dapat dengan cepat mengalahkan lawannya yang muda itu. Bahkan orang itu sempat mengaguminya. Katanya “Jika kau memilik ilmu sedemikian baiknya, demikian pula saudaramu itu, maka aku yakin bahwa kalian memasuki barak ini tentu dengan sengaja. Orang-orangku tidak akan mampu menangkap kalian berdua meskipun orang-orangku itu bertiga” “Kami memang ingin melihat rumah tangga paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong” jawab Laksana. “Aku percaya bahwa kau memang sengaja melakukannya” jawab orang itu. Laksana tidak menjawab. Tetapi sikap lawannya itu justru membuatnya lebih berhati-hati. Ia sadar bahwa lawannya itu menghadapinya dengan bersungguh-sungguh. Tidak sekedar dihanyutkan oleh perasaan marahnya. Di arena pertempuran yang lain, Sampurna dan anak-anak muda Gemawang bertempur melawan para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong. Ternyata anak-anak muda itu tidak mengecewakan. Apalagi di antara mereka terdapat orangorang Rejandani yang dipimpin langsung oleh Ki Demang yang berpengalaman. Sementara pertempuran di barak itu berkobar semakin panas, maka di Gemawang, jalan-jalan masih saja nampak sepi. Orang-orang Gemawang tidak tahu apa yang sudah dilakukan oleh Ki Jagabaya dan beberapa orang anak muda yang ternyata telah berhasil dibangunkan oleh Sampurna. Namun yang mereka ketahui, bahwa mereka tidak melihat Ki Jagabaya dan Sampurna lewat di jalan-jalan padukuhan. Tetapi tidak banyak perubahan sikap terjadi di Gemawang. Sejak semula orang-orang Gemawang memang lebih banyak berada di dalam lingkungan rumah dan halamannya saja. Demikian Manggada dan Laksana dibawa oleh para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong, maka jalan-jalan di Gemawang menjadi semakin sepi. Namun dalam pada itu, Wisesa telah menyempatkan diri pergi ke rumah Ki Jagabaya. Ketika ia mengetuk pintu, maka yang terdengar bukan suara Sampurna, tetapi suara Tantri di belakang pintu seketeng. “Kau siapa?” bertanya Tantri meskipun ia juga sudah terbiasa mendengar irama ketukan pintu Wisesa. “Aku, Tantri” jawab Wisesa. “Untuk apa kau kemari?” bertanya Tantri “sebaiknya kau pulang saja. Bukankah aku pernah mengatakan, bahwa dalam keadaan seperti ini, kita tidak usah bertemu dan berbicara tentang apapun karena akhirnya pembicaraan kita akan berselisih semakin lama semakin jauh” “Tetapi, beri kesempatan aku kali ini saja untuk menemuimu Tantri. Aku hanya sebentar. Tidak lebih” Wisesa justru mulai merengek seperti anak-anak yang kehilangan mainan. Akhirnya hati Tantri menjadi lunak juga. Bagaimanapun juga, Wisesa sudah terlalu sering datang ke rumahnya. Karena itu, maka Tantri itupun mulai mengangkat selarak pintu seketengnya sambil berkata “Baiklah. Aku mempunyai waktu sebentar. Tetapi hanya sebentar” “Aku juga hanya sebentar Tantri” jawab Wisesa. Demikian pintu terbuka, maka Wisesa itupun segera melangkah masuk sambil berkata “Selarak pintunya lagi Tantri” “Tidak. Bukankah kau hanya sebentar?” sahut Tantri, “Meskipun demikian, orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong selalu berkeliaran” jawab Wisesa. “Tetapi tidak hari-hari ini. Wira Sabet dan Sura Gentong serta para pengikutnya tidak akan datang” jawab Tantri. “Kenapa? Setiap saat mereka dapat saja datang kemari” jawab Wisesa. “Hari ini justru ayah pergi ke baraknya bersama anak-anak muda pedukuhan Gemawang yang masih sisa-sisa keberaniannya untuk melakukan apa yang kau takutkan itu Wisesa” “Maksudmu menyerang barak Wira Sabet dan Sura Gentong?” wajah Wisesa menjadi tegang. “Ya” jawab Tantri “ayah tidak mempunyai pilihan lain, sementara Ki Bekel masih saja tetap ragu-ragu” “Tantri, ayahmu dan Sampurna telah menyurukkan kepala anak-anak muda kemulut buaya” “Apa yang sebenarnya kau maui?” bertanya Tantri. “Tetapi kenapa aku tidak kau persilahkan duduk?” bertanya Wisesa. “Kau hanya sebentar disini” jawab Tantri. “Tantri, aku sudah memperingatkan beberapa kali, cara yang ditempuh Ki Jagabaya dan Sampurna itu salah. Sebaiknya mereka tidak mempergunakan kekerasan. Aku sedang memikirkan gagasan-gagasan baru yang dapat menyelesaikan persoalan kita disini dengan Wira Sabet dan Sura Gentong itu” “Telan kembali gagasan-gagasanmu itu” berkata Tantri dengan serta merta “semua orang akan jemu mendengar gagasan-gagasanmu yang tidak pernah sesuai dengan pendapat orang lain” ”Tantri, kenapa kau tiba-tiba menjadi kasar begitu?” bertanya Wisesa. “Sudahlah. Pulanglah” berkata Tantri. “Kau mengusir aku?” “Bukankah kau sendiri mengatakan bahwa kau hanya sebentar?” Wajah Wisesa menjadi merah. Dipandanginya Tantri dengan tajamnya. Sudah lama ia sering mengunjungi gadis itu. Tantri tentu tahu, bahwa kedatangan Wisesa tentu bukannya tanpa maksud. Sebelum Manggadadan Laksana datang ke pedukuhan itu, sikap Tantri dinilainya baik kepadanya. Bahkan Tantri telah memberinya harapan-harapan. Namun tiba-tiba Tantri berubah menjadi keras dan bahkan kasar. Tiba-tiba iblis telah mengembuskan pikiran buruk ke dalam otak anak muda itu. Dengan nada berat Wisesa itu bertanya “Jadi, ayah dan kakakmu sekarang pergi ke barak Wira Sabet dan Sura Gentong?” “Ya” jawab Tantri berperasangka buruk. Tiba-tiba mata Wisesa itu menjadi liar. Ia memandang keliling. Namun ia tidak melihat scorangpun. Tantri mengerutkan dahinya. Ia melihat perubahan sikap dan sorot yang memancar di mata Wisesa. Dengan suara yang bagaikan ditelan di tenggorokan Wisesa berkata “Aku akan bertemu dengan ibumu” “Ibu sedang sibuk di dapur” jawab Tantri. “Siapa saja yang dapat aku ajak bicara di rumah ini?” “Tidak ada” jawab Tantri “dua orang pembantu ayah telah ikut bersama ayah. Pembantu perempuan ibu sedang pergi membeli kebutuhan ibu di dapur.” “Kau bohong” geram Wisesa. “Buat apa aku membohongimu” jawab Tantri “sekarang sebaiknya kau pergi” “Tantri” berkata Wisesa yang menjadi semakin liar “aku memang akan segera pergi. Aku akan pergi bersamamu” “Bersama aku?” bertanya Tantri. “Ya. Aku sangat mencintaimu. Kita akan dapat hidup bersama di luar pedukuhan ini. Aku yakin, bahwa Ki Jagabaya akan gagal dan Wira sabet serta Sura Gentong akan menjadi semakin garang. Kau tentu benar-benar akan diambil menjadi isterinya” “Ayah tidak akan gagal” jawab Tantri. “Kau salah menilai usaha yang dilakukan oleh ayahmu, Tantri” berkata Wisesa itu selanjutnya. “Tidak” jawab Tantri “aku yakin” “Apapun yang terjadi, aku akan membawamu pergi dari rumah ini. Kau dapat berada di rumah nenekku di kademangan lain. Kau akan lepas dari buruan Sura Gentong” “Tidak. Aku tidak akan pergi” jawab Tantri. “Aku akan membawamu” berkata Wisesa kemudian. Tantri melangkah surut ketika Wisesa bergeser mendekatinya. Dengan nada tinggi Tantri berkata “Jadi kau tanyakan ibuku, pembantu-pembantu di rumah ini sekedar untuk meyakinkan bahwa rumah ini kosong, sehingga kau dapat memaksa aku pergi bersamamu kerumah nenekmu?” “Ya. Kau tidak mempunyai pilihan lain” berkata Wisesa dengan mata yang semakin liar. Tantri menjadi semakin ngeri melihat mata Wisesa. Tetapi ia masih menjawab “Wisesa. Kau kira kau dapat membawaku keluar dari halaman ini? Seandainya hal itu dapat kau lakukan, apakah kau akan menyeret aku di sepanjang jalan padukuhan? Aku punya mulut yang dapat berteriak-teriak Wisesa” “Jari-jariku terlalu kuat Tantri. Aku dapat mencekikmu sehingga suaramu tidak akan sempat melintasi kerongkonganmu” “Tetapi aku dapat mati karenanya. Apa gunanya membawa mayatku ke rumah nenekmu? Kau tentu akan mendapat kesulitan jika hal itu kau lakukan. Nah, kau sadari itu?” Wisesa menjadi termangu-mangu. Namun kemudian ia berkata “Tantri, apapun yang akan terjadi, aku akan membawamu pergi dari rumah ini. Kau akan menjadi isteriku. Aku harap kau tidak akan mempersulit perjalanan kita. Kita akan berjalan sebagai sepasang pengantin baru. Aku akan menggandeng tanganmu atau kau akan berpegangan lenganku. Aku minta kau tidak akan berteriak-teriak di sepanjang jalan, karena hal itu hanya, akan membuatmu sengsara. Aku dapat memperlakukan dirimu sekehendakku, bahkan aku akan meyiksamu dengan cara apapun juga. Nah, marilah Tantri. Bukankah kita saling mencintai” “Wisesa. Apakah kau sudah gila? Jika kau paksa aku dengan cara apapun, maka besok ayah akan mencarimu dan membunuhmu” “Ayahmu akan mati di barak Wira Sabet dan Sura Gentong. Orang yang datang kepadanya, tidak akan dapat pulang kembali” “Jika bukan ayah, tentu kakang Sampurna akan melakukannya” “Kakangmu itu juga akan mati” “Jika bukan mereka, tentu Manggada dan Laksana” Mendengar nama itu disebut, Wisesa benar-benar menjadi sangat marah. Katanya “Jangan memaksaku membunuhmu” “Apakah itu pertanda cintamu padaku?” bertanya Tantri. “Jarak antara cinta dan kebencian itu hanya selangkah. Jarak antara mencumbu dan membunuh tidak lebih dari satu lambaian tangan” jawab Wisesa yang matanya sudah menjadi merah. Wajah Tantri memang tegang. Sementara Wisesa bergeser lagi selangkah maju “Tidak ada gunanya kau menolak aku Tantri. Aku dapat berbuat lembut, tetapi aku juga dapat berbuat kasar” “Kau sudah menjadi gila Wisesa” desis Tantri. “Bukan baru sekarang. Sudah lama aku tergila-gila kepadamu. Karena itu, kau jangan membuat aku semakin gila, karena dengan demikian, aku akan dapat lupa diri” Namun jawaban Tantri mengejutkan Wisesa. Ia tersentak sehingga matanya terbelalak. “Wisesa” berkata Tantri “Jika kau akan memaksaku, maka sudah tentu aku akan mempertahankan diri. He, kau ingat masa kanak-kanak kita. Jika kita berkelahi, maka kaulah yang menangis meskipun kau laki-laki. Bukan aku” Sejenak Wisesa tercenung. Namun kemudian ia menggeram “Tetapi aku sekarang bukan anak kecil lagi Tantri. Aku sekarang tumbuh dan menjadi kuat. Kau tidak akan mampu melawan kehendakku” Tetapi Tantri masih menjawab “Aku juga bukan kanakkanak yang hanya dapat mencakar mukamu atau menarik rambutmu jika kita berkelahi. Tetapi sekarang aku mempunyai kemampuan lebih banyak, karena seperti kau, aku sekarang tumbuh menjadi dewasa. “Tantri, apa yang akan kau lakukan?” bertanya Wisesa. “Aku akan melawan jika kau melakukan tindak kekerasan” “Kau masih bermimpi dengan masa kanak-kanakmu itu. Itu sudah lama lampau Tantri” “Ya. Itu sudah lama lampau. Dan dalam waktu yang lama itu, aku menjadi matang menghadapi persoalan-persoalan. Juga menghadapi sikapmu karena kau sudah kehabisan akal. Kau tidak berani melakukan sebagaimana yang telah dilakukan oleh Manggada, Laksana dan kakang Sampurna. Kemudian kau mencoba menutupi harga dirimu itu, kau telah membuat gagasan-gagasan gila yang tidak masuk akal itu” Wisesa menggeram. Ia menjadi marah sekali. Sebagai seorang laki-laki ia benar-benar merasa terhina. Karena itu, maka katanya “Apapun yang akan terjadi, aku akan membawamu. Tubuhmu, hidup atau mati akan aku seret sepanjang jalan sampai ke rumah nenekku” “Apakah kau sudah memikirkan kemungkinan untuk bertemu dengan orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong?” “Mereka tidak akan berkeliaran hari ini. Ayahmu dan orangorang itu sedang pergi ke tempat tinggal mereka” “Mungkin ayah dan kakang Sampurna sudah dikalahkannya. Mereka sedang berkeliaran untuk mencari anak-anak muda di padukuhan ini. Sementara itu mereka menemukan kau dan aku di jalan. Apakah kau sedang menggandeng tanganku, atau aku sedang berpegangan lenganmu atau kau sedang menyeret mayatku” Wajah Wisesa menjadi tegang. Matanya bertambah liar dan bertambah merah pula. Hembusan suara iblis semakin mencengkamnya, sehingga iapun kemudian berkata “Aku tidak perduli. Aku tidak perduli. Aku memerlukanmu” Tangan Wisesa memang terjulur untuk menggapai tangan Tantri. Tetapi Tantri justru telah menangkapnya. Menarik dengan kerasnya, sehingga tubuh Wisesa itu seakan-akan melekat ketubuh Tantri. Namun tiba-tiba saja terdengar Wisesa itu berteriak kesakitan. Tangan Tantri yang lain dengan kerasnya telah memukul perut Wisesa. Ketika kemudian Tantri mendorongnya, maka Wisesa itupun jatuh terlentang sambil menyeringai kesakitan. Tertatih-tatih Wisesa bangkit. Kemarahannya benar-benar telah membakar ubun-ubunya. Dengan geram ia berkata “Tantri. Kau seorang perempuan. Aku seorang laki-laki. Apapun yang dapat kau lakukan, kau tidak akan dapat melawan aku” Namun belum lagi Wisesa terkatub rapat, tangan Tantri telah menyambar mulutnya, sehingga Wisesa mengaduh kesakitan. Ketika ia merasakan cairan yang hangat di mulutnya, maka dengan berdebar-debar Wisesa mengusapnya. Ternyata jari-jarinya menjadi merah oleh darah. Wisesa benar-benar tidak dapat mengekang dirinya. Tantri bukan hanya menyakitinya. Tetapi ia sudah menitikan darah dari sela-sela bibirnya. Karena itu, maka Wisesapun kemudian telah menjulurkan tangannya kearah leher Tantri. Namun yang terjadi benar-benar di luar dugaan. Tantri justru menyambut tangan itu, ditangkapnya pergelangan tangan Wisesa, kemudian Tantri memutar tubuhnya membelakangi anak muda itu. Dengan pundaknya, ia mengangkat tubuh Wisesa dipangkal lengannya, sementara sambil merendah Tantri menarik tangan Wisesa itu kuat-kuat. Wisesa sama sekali tidak menduga, bahwa hal itu akan dilakukan oleh Tantri. Karena itu, maka iapun terlempar, berputar sekali dan kemudian jatuh terbanting di tanah. Wisesa benar-benar berteriak bukan saja karena kesakitan, tetapi putaran tubuhnya itu benar-benar membuat ketakutan. Untuk beberapa saat Wisesa terbaring di tanah. Pungungnya serasa akan patah. Sementara itu Tantri berdiri di sebelahnya sambil bertolak pinggang. “Bangkitlah” desis Tantri. Dengan kakinya ia mengguncang tubuh Wisesa yang masih mengaduh sambil menggeliat. “Bangkitlah” teriak Tantri. ”Kita akan menyelesaikan persoalan kita sampai tuntas. Kau atau aku yang tubuhnya akan diseret sepanjang jalan padukuhan” “Ampun Tantri“ Wisesa merintih, sementara Tantri justru berkata lantang “bangkitlah, bangkit atau aku bunuh kau tanpa perlawanan” “Ampun Tantri, ampun“ Wisesa memang berusaha bangkit meskipun punggungnya bagaikan patah. “Kita selesaikan persoalan kita” geram Tantri. “Ampun, aku mohon ampun Tantri” Wisesa hampir menangis. “Kau masih saja anak cengeng. Kau bukan anak muda yang seperti katamu tumbuh menjadi kuat” “Ampun, aku minta ampun” tangis Wisesa tanpa malu-malu. Sementara itu, terdengar suara pintu serambi “Apa yang terjadi?” Tantri berpaling, dilihatnya ibunya melangkah mendekati anaknya yang masih berdiri tegak sambil bertolak pinggang “Apa yang kau perbuat Tantri” “Ia sudah menghina aku ibu” jawab Tantri. Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Iapun kemudian berdiri di sebelah anak perempuannya sambil berkata “sudahlah. Jangan berkelahi lagi. Biarlah Wisesa bangkit” “Aku sudah menyuruhnya bangkit atau aku cekik lehernya sampai mati” jawab Tantri. “Aku sudah minta ampun“ tangis Wisesa. “Sudahlah. Bangkitlah dan pulang” berkata Nyi Jagabaya. Wisesa berusaha untuk bangkit. Batapapun punggung terasa nyeri. Tapi selagi Nyi Jagabaya menyuruhnya pergi, maka ia akan pergi. Tertatih-tatih Wisesa bangkit dan melangkah pergi setelah ia minta diri kepada Nyi Jagabaya. “Anak itu gila” berkata Tantri “Selagi kami menjadi tegang menunggu ayah dan kakang Sampurna kembali, anak itu mulai berbuat kasar” “Sudahlah. Selarakkan pintu seketeng itu” Sementara itu di barak Wira Sabet dan Sura Gentong, pertempuran masih berlangsung sengit. Ketika keringat mulai membasah di telapak tangan, maka para penghuni barak itu menjadi semakin garang. Namun lawan-lawan mereka menjadi semakin garang pula. Wira Sabet yang bertempur melawan Ki Kertasana menjadi heran. Ia tidak melihat kemampuan orang yang lebih banyak diam itu. Namun tiba-tiba ia kini turun ke gelanggang pertempuran dengan ilmunya yang tinggi. Sementara itu, Ki Citrabawa bertempur dengan sengitnya melawan Sura Gentong. Ternyata Sura Gentong memang jauh lebih kasar dari Wira Sabet sendiri. Apalagi ia sama sekali belum mengenal lawannya sebelumnya. Sementara itu, empat orang saudagar perhiasan itu masih bertempur melawan dua orang saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong. Ternyata bahwa mereka perlahanlahan mulai mendesak kedua orang lawan mereka. Dalam pada itu, budak-budak yang ada di barak itupun menjadi kebingungan. Ada diantara mereka yang justru menjadi gemetar dan terduduk tanpa dapat berbuat apa-apa. Ketakutan yang sangat telah melanda jantungnya. Namun beberapa orang yang tubuhnya kuat masih sempat berbisik yang satu dengan yang lain. Beberapa orang bahkan telah bangkit. Di hatinya tumbuh keberaniannya untuk melibatkan diri dalam pertempuran itu. Jika orang-orang yang menyerang barak itu menang, maka mereka akan mendapat kesempatan untuk bebas dari perbudakan. Karena itu, maka beberapa orangpun telah menyelinap mencari apa saja yang dapat mereka pergunakan sebagai senjata. Ada yang menemukan parang di dapur, ada yang mendapatkan kapak pembelah kayu, linggis pengelupas sabut kelapa atau apa saja. Bahkan potongan-potongan kayu dan selarak-selarak pintu. Dengan demikian, maka pertempuranpun menjadi semakin menebar di seluruh sudut-sudut barak. Budak-budak yang ingin lepas itu juga dibekali dengan dendam kepada isi barak yang bertindak semena-mena terhadap mereka. Para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong menjadi semakin gelisah menghadapi tekanan yang semakin berat. Sementara itu para pemimpin mereka telah terikat pula dalam pertempuran yang rumit. Saudara seperguruan Wira Sabet yang berwajah tampan dan selalu berpakaian rapi itu mengumpat dengan kasarnya, ketika serangan Manggada mulai menyentuh tubuhnya. Ia tidak lagi dapat merendahkan anak muda yang telah menempa dirinya dengan sungguh-sungguh itu. Bahkan dengan laku tapa ngidang di hutan sebelum mereka menginjakkan kakinya di halaman rumahnya. Orang berwajah tampan itu sama sekali tidak menduga bahwa anak muda yang pernah dihinakannya itu pada suatu saat siap membalas sakit hatinya dengan cara yang lebih jantan. Namun orang itu tidak membiarkan dirinya dihinakan. Karena itu, maka iapun mengerahkan segenap kemampuannya untuk menghentikan perlawanan Manggada. Tetapi Manggadapun telah meningkatkan kemampuannya pula. Bahkan bukan orang yang berwajah tampan itulah yang mendesak Manggada, tetapi perlahan-lahan Manggadalah yang telah mendesaknya. Serangan-serangannya yang cepat dan dilandasi dengan kemampuan yang tinggi telah membuat lawannya selalu terdesak. Di bagian lain dari pertempuran itu, Ki Sapa Aruh telah mempertaruhkan segala-galanya untuk mengalahkan orang bongkok itu. Jika ia tidak dapat menghancurkan orang bongkok itu, maka bukan saja dirinya sendiri, namanya yang untuk waktu yang lama ditakuti, tetapi juga barak itu dengan segala isinya Tetapi setiap kali ia meningkatkan tataran ilmunya, maka lawannya yang bongkok itupun mampu melakukannya pula, sehingga dengan demikian, maka pertempuranpun semakin lama menjadi semakin sengit. Orang-orang yang bertempur di sekitarnya yang sempat melihat sekilas pertempuran antara Ki Sapa Aruh dan Ki Pandi itu hanya dapat berdecak kagum, bahwa kedua orang itu memiliki ilmu yang sulit untuk dimengerti. Di halaman barak, Ki Carang Aking masih juga bertempur melawan Ki Srayatapa, yang sama sekali tidak mengira bahwa di barak itu ia akan bertemu dengan orang yang berilmu tinggi, bahkan mampu mengimbangi tingkat ilmunya. Tetapi ia tidak dapat mengingkari kenyataan itu. Yang harus dilakukannya adalah berusaha menghancurkan lawannya yang tua itu. Dalam pada itu, Ki Kertasana yang berhadapan dengan Wira Sabet telah terlibat dalam pertempuran yang sengit pula. Wira Sabet yang tidak mengira bahwa Kertasana yang sudah dikenalnya sejak lama itu ternyata memiliki ilmu yang tinggi. “Kenapa baru sekarang kau tunjukkan kemampuanmu Ki Kertasana?” bertanya Wira Sabet ketika ia harus meloncat mengambil jarak ketika serangan Ki Kertasana menyulitkannya. “Baru sekarang aku merasa perlu mempergunakannya, Ki Wira Sabet. Ternyata kau dan Sura Gentong telah memancing aku dan adikku untuk dengan terpaksa melakukan kekerasan ini karena kami tidak mempunyai pilihan lain” Wira Sabet tidak bertanya lebih jauh. Tetapi dikerahkannya ilmunya yang diterimanya selama ia berguru. Namun ternyata Ki Kertasana memiliki kematangan yang lebih tinggi. Di sisi lain, Sura Gentong dengan garangnya berusaha untuk segera menghabisi Ki Citrabawa. Namun Sura Gentong telah membentur kekuatan ilmu lawannya. Citrabawa yang bukan orang Gemawang itu justru telah mendesak Sura Gentong. Ayah Laksana yang juga sekaligus menjadi gurunya dan guru Manggada itu, memiliki kelebihan dari Sura Gentong meskipun Sura Gentong lelah berguru cukup lama. Namun Sura Gentong yang marah sekali itu tidak mau melihat kenyataan itu. Ia bertempur semakin keras dan bahkan menjadi kasar sebagaimana tingkah lakunya. Kekasarannya itu kadang-kadang memang sempat mendesak Ki Citrabawa. Namun hanya sekedar hentakanhentakan saja. Selanjutnya, maka Ki Citrabawa kembali menguasai medan. Kekalahan-kekalahan yang terjadi kemudian, telah membuat Sura Gentong justru kehilangan akal. Ia menjadi semakin garang, kasar dan bahkan liar. Namun dengan demikian maka ia kehilangan kendali dan pengamalan diri. Kekasaran dan keliaran itulah yang membuat Ki Citrabawa harus meningkatkan ilmunya sampai ketataran tertinggi. Benturan-benturan yang keras tidak dapat dielakkannya lagi. Berkali-kali Sura Gentong harus terlempar jatuh di setiap benturan. Namun demikian ia bangkit, maka seperti seekor badak ia menyerang lawannya. Akhirnya Ki Citrabawa tidak mempunyai pilihan lain. Ia hanya dapat menghentikan perlawanan Sura Gentong itu jika Sura Gentong sudah tidak berdaya sama sekali. Karena itu, maka Ki Citrabawa itupun segera meningkatkan ilmu sampai ketataran tertinggi. Dari Manggada dan Laksana ia telah mendengar sikap Sura Gentong. Apalagi Ki Citrabawa sebelumnya memang belum pernah mengenalnya. Karena itu, maka tanggapannya atas Sura Gentongpun baru terbentuk sejak ia berada di Gemawang. Dengan hentakan puncak kemampuannya, maka Ki Citrabawa menjadi semakin berbahaya. Bahkan kemudian serangan-serangannya seakan-akan telah menggulung semua kemampuan Sura Gentong. Pada saat-saat terakhir dari pertempuran itu, Sura Gentong justru telah bertempur tanpa perhitungan lagi. Senjatanya, sebatang tongkat besi yang berkepala bulatan bergigi lembut, terayun-ayun mengerikan. Namun Ki Citrabawa yang menggenggam pedang di tangannya, memiliki kecepatan gerak yang lebih tinggi. Pedang Ki Citrabawa yang besar itu mampu mengimbangi ayunan tongkat besi lawannya dalam benturan-benturan yang keras. Namun Citrabawa yang mengerahkan tingkat kemampuannya yang tertinggi itu telah berhasil dengan kecepatan melampaui kecepatan ayunan tongkat besi Sura Gentong menembus pertahanannya. Ujung pedang Ki Citrabawa sempat menggores lengan Sura Gentong. Sura Gentong terkejut. Ketika ia bergeser surut, maka ujung pedang Ki Citrabawa sempat membentur tongkat besi Sura Gentong, sehingga tongkat itu terlepas dari tangannya. “Menyerahlah” desis Ki Citrabawa. Tetapi yang dilakukan oleh Sura Gentong adalah justru menarik sebilah luwuk dari sarungnya. Luwuk yang tidak terlalu besar, tetapi tentu berbahaya di tangan Sura Gentong yang kehilangan pengamatan diri itu. Karena itu, maka Ki Citrabawapun dengan cepat sekali menghantam luwuk itu dengan pedangnya. Demikian tiba-tiba sehingga luwuk itu terlepas dari tangan Sura Gentong. Sekali lagi Ki Citrabawa mengacukan pedangnya sambil berkata “Menyerahlah” Tetapi yang terjadi, membuat Ki Citrabawa kehilangan kesabaran. Tiba-tiba saja Sura Gentong telah melemparkan pisau-pisau kecil ke arah lawannya. Ki Citrabawa terkejut. Dengan serta-merta ia berloncatan mengelak. Tetapi sebilah pisau telah tersangkut di lengannya. Kemarahan Ki Citrabawa tidak terbendung lagi. Ujung pedangnyapun kemudian telah memburu lawannya. Satu tusukan yang tepat menukik menembus dada Sura Gentong sampai ke jantung. Sura Gentong tidak sempat mengeluh. Tubuhnya rebah ketika Ki Citrabawa menarik ujung pedangnya. Ia kehilangan nyawanya bersama dengan hilangnya semua angan-angan gilanya. Ki Citrabawa termangu-mangu sejenak. Dipandanginya tubuh yang terbaring diam itu. Sementara di sekitarnya, pertempuran masih berlangsung dengan sengitnya. Namun kematian Sura Gentong adalah isyarat yang paling jelas, bahwa Gemawang akan dapat lepas dari impian-impian gila Sura Gentong yang dilambari oleh dendam yang membara di hatinya. Tetapi kegilaan Sura Gentong bukan sekedar baru mulai sejak ia ingin menguasai Gemawang. Tetapi sejak ia hampir saja dihancurkan oleh orang-orang Gemawang oleh pokalnya sendiri, sehingga Sura Gentong itu harus melarikan diri. Ki Jagabaya yang melihat Sura Gentong terbujur diam telah mendekatinya. Kerut di keningnya menunjukkan gejolak di hatinya. Sementara itu, Ki Pandi yang berilmu sangat tinggi itu masih bertempur melawan Ki Sapa Aruh. Betapapun ditakutinya nama Ki Sapa Aruh. tetapi berhadapan dengan Ki Pandi, ternyata ia tidak mampu berbuat lebih banyak dari sekedar bertahan. Serangan-serangan Ki Pandi semakin lama semakin garang. Benturan-benturan telah terjadi. Beberapa kali Ki Sapa Aruh menerima kerataan, bahwa ia menjadi semakin terdesak. Namun pada saat-saat terakhir, Ki Sapa Aruh telah bertekad untuk mempertaruhkan ilmu puncaknya, la sadar, bahwa Ki Pandi pun tentu akan membentur ilmu puncaknya dengan ilmu andalannya pula. Tetapi Ki Sapa Aruh tidak mempunyai pilihan lain. la harus dengan cepat memenangkan pertempuran, atau hancur sama sekali. Sementara pertempuran di barak itu mencapai puncaknya, maka Ki Sapa Aruh lelah mengerahkan segenap kemampuan ilmunya. Ketika ia menyilangkan tangannya di dadanya, maka Ki Pandi segera mengetahui apa yang akan terjadi. Karena itu, maka Ki Pandi pun telah mengetrapkan ilmu pamungkasnya pula. Ki Citrabawa yang lelah kehilangan lawannya sempat melihat apa yang terjadi. Demikian pula Ki Jagabaya. Mereka melihat dua sosok tubuh yang meluncur bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya. Benturan yang dahsyatpun telah terjadi. Benturan dua sosok tubuh yang dilambari dengan kemampuan ilmu mereka masing-masing yang sangat tinggi. Keduanyapun terlempar beberapa langkah surut. Keduanya jatuh terbanting di tanah. Pertempuran di sekitar peristiwa itu terjadi seakan-akan justru telah terhenti. Mereka menyempatkan diri melihat apa yang telah terjadi Perlahan-lahan Ki Pandi mulai menggeliat. Sambil berdesah menahan nyeri di dadanya, Ki Pandi itu bangkit. Ki Citrabawa dan Ki Jagabayapun telah mendekatinya dengan tergesa-gesa untuk membantu orang bongkok itu duduk. Dengan suara yang lemah dan gemetar, Ki Pandi itupun bertanya “Bagaimana dengan Ki Sapa Aruh? Mereka yang seakan-akan telah melupakan Ki Sapa Aruh itu serentak berpaling. Yang mereka lihat adalah sesosok tubuh yang terbaring diam. “Tolong bantu aku melihatnya” desis Ki Pandi. Ki Citrabawa dan Ki Jagabaya telah membantu Ki Pandi melangkah perlahan-lahan mendekati sosok tubuh Ki Sapa Aruh yang terbaring diam. Ketika Ki Pandi berjongkok disampingnya, dan berdesis memanggil namanya, maka Ki Sapa Aruh itu membuka matanya. Namun mata itu sudah menjadi redup dan bahkan hampir padam sama sekali. Namun dari bibirnya masih terdengar desisnya perlahan “Kau orang yang luar biasa Bongkok” Ki Pandi menarik nafas dalam. Namun kemudian Ki Sapa Aruh pun telah memejamkan matanya untuk selama-lamanya. Ki Pandi itupun kemudian bangkit berdiri dibantu oleh Citrabawa dan Ki Jagabaya. Kepada orang-orang yang berdiri mematung di sekitarnya ia berkata “Apakah pertempuran masih akan diteruskan. Ki Sapa Aruh sudah terbunuh. Sura Gentong juga sudah tidak ada lagi. Segala-galanya kini tergantung kepada Ki Wira Sabet” Wira Sabet termangu-mangu sejenak. Pertempuran di sekitarnya memang tiba-tiba saja telah berhenti. Ternyata seorang saudara seperguruan Wira Sabet telah terbunuh juga dipertempuran itu oleh anak Ki Demang Rejandani dan seorang kawannya. Sementara saudaranya yang lain telah terluka pula. “Tidak ada gunanya kau bertahan Wira Sabet” berkata Ki Pandi kemudian. “Sudahlah Ki Wira Sabet” berkata Ki Kertasana “kita dapat melupakan permusuhan ini. Bukankah kita masih tetap merindukan padukuhan Gemawang yang sejuk, tenang dan damai?” Wira Sabet menundukkan kepalanya. Katanya kemudian “Aku menyerah” “Jika demikian, perintahkan pengikut-pengikutmu menyerah” berkata Ki Kertasana. Wira Sabet memang memeriniahkan pengikut-pengikutnya menyerah. Tidak ada lagi gunanya bertempur terus. Wira Sabet dan pengikutnya tentu tidak akan mampu berbuat banyak. Namun demikian, Ki Srayatapa ternyata tidak mau mengakui kekalahan itu. Dengan lantang ia berkata “Kau pengecut Wira Sabet. Setelah saudaramu terbunuh dan kemudian Ki Sapa Aruh yang telah banyak sekali berjasa kepadamu, kau telah menyerah” “Kematian-kematian berikutnya tidak akan ada artinya lagi Ki Srayatapa” Namun yang menyahut adalah saudara seperguruan Wira Sabet yang berwajah tampan “Aku akan berhenti bertempur setelah mematahkan leher anak yang sombong ini” Tetapi Manggada tidak memberikan banyak waktu. Iapun kemudian berkata “Bersiaplah. Kita selesaikan persoalan kita. Lepas dari persoalan yang terjadi antara barak ini dengan padukuhan Gemawang” Berbeda dengan orang itu, maka lawan Laksana justru telah menghentikan pertempuran itu. Ia menyadari sepenuhnya, bahwa kemampuannya yang dianggapnya sudah cukup tinggi itu, ternyata tidak mampu mengimbangi kemampuan anak yang masih dianggapnya sangat muda itu. Pertempuran di barak itu sebagian besar sudah berhenti Namun Ki Srayatapa sama sekali tidak menghiraukannya. Sementara itu, Ki Carang Aking tidak ingin dianggap licik dengan melibatkan orang lain dalam pertempuran itu. Namun Ki Carang Aking itulah yang kemudian tidak ingin bertempur terlalu lama. Jika yang lain telah berhenti, maka iapun ingin segera berhenti, apapun yang terjadi. Dengan mengerahkan segenap kemampuan ilmu puncaknya, maka Ki Carang Aking telah meloncat menyerang lawannya, Ki Srayatapa. Sementara Ki Srayatapa yang melihat sikap lawannya itupun segera mempersiapkan diri untuk membentur ilmu orang tua perawat kuda itu. Benturan yang keraspun telah terjadi pula. Namun ternyata bahwa tataran ilmu Ki Srayatapa masih selapis dibawah tataran ilmu Ki Carang Aking. Dengan demikian, maka Ki Srayatapa itu telah terlempar beberapa langkah. Iapun kemudian jatuh terguling dengan derasnya. Ia tidak dapat mengelak sama sekali ketika kepalanya kemudian membentur batu bebatur bangunan induk barak itu. Sementara itu, Ki Carang Aking tergetar dan terdorong surut. Tetapi ia masih tetap tegak meskipun ia harus mengatasi perasaan sakit yang menyengat dadanya. Ki Srayatapa tidak sempat mengaduh. Bukan saja karena hentakan ilmu lawannya. Tetapi kepalanya yang membentur batu di bebatur rumahnya itu telah mengalirkan darah. Dalam pada itu, Manggada yang masih bertempur melawan saudara seperguruan Wira Sabet yang berwajah tampan itu berkata “Nah, apakah kau masih belum akan menyerah?” “Persetan” geramnya “aku tidak peduli apakah mereka nanti akan membunuhku. Tetapi kau juga harus mati” Dengan ganasnya orang itupun kemudian telah menyerang Manggada. Namun Manggada yang telah sampai pada tingkat tertinggi ilmunya itu menjadi sangat liat. Tubuhnya menjadi lentur dan geraknya menjadi semakin cepat. Orang berwajah tampan itu sama sekali tidak sempat menyentuh tubuh Manggada.
Namun tiba-tiba orang itupun berkata “He anak sombong. Cari senjata, kita akan bertempur dengan senjata” Manggada termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Ki Kertasana telah melemparkan pedangnya kepada anaknya, sementara orang berwajah tampan itu telah menggenggam pedang pula. Namun justru karena itu, maka pertempuran itu menjadi semakin cepat berakhir. Kemampuan dan kecepatan gerak Manggada ternyata tidak dapat diimbangi oleh lawannya. Karena itu, maka ujung pedang Manggadapun segoressegores telah mengoyak tubuh orang berwajah tampan itu. Tetapi tidak ada tanda-tanda bahwa lawannya itu akan menyerah. Bahkan sambil mengumpat-umpat orang itu bertempur semakin liar meskipun darah telah mengalir membasahi pakaiannya. Manggada yang muda itu ternyata tidak dapat mengekang dirinya lagi. Ia menjadi semakin benci kepada lawannya yang tidak tahu diri itu. Karena itu, maka sebuah loncatan panjang dengan pedang yang lurus terjulur kearah dada telah mengakhiri pertempuran itu. Demikian orang itu roboh di tanah, maka pertempuran di barak itu benar-benar telah berhenti. Laksana yang berdiri termangu-mangu melihat ketiga orang yang pernah menangkapnya dan membawanya masuk ke dalam barak itu bersama dengan Manggada.
Dua orang di antaranya telah terluka, meskipun tidak terlalu parah. Namun seorang murid Ki Carang Akingpun telah terluka pula. Disamping mereka itu, pertempuran itu memang tidak dapat menghindari korban. Seorang anak muda Gemawang telah gugur, disamping beberapa orang yang terluka. Dua di antaranya terhitung parah. Sementara itu, seorang anak muda Rejandani juga guru. Tiga orang terluka cukup parah, termasuk seorang saudagar, kawan anak Ki Demang. Meskipun pertempuran itu telah selesai, tetapi masih ada persoalan lain yang harus diselesaikan. Orang-orang yang menyerah itu akan menjadi persoalan pula bagi Gemawang dan Rejandani.
Namun demikian, maka ancaman-ancaman dan ketakutan tidak akan melanda padukuhan gemawang lagi. Orang-orang Gemawang akan menikmati lagi sejuknya kampung halaman mereka. Sementara itu Wira Sabet telah menunjukkan dimana disimpan perhiasan-perhiasan bukan saja yang telah mereka rampok dari anak Ki Demang Rejandani dan kawan-kawannya. Tetapi juga yang pernah mereka rampok dari banyak orang. Pembicaraan antara Ki Jagabaya Gemawang dan Ki Demang Rejandani menimbulkan kesepakatan bahwa orang-orang yang tertawan itu untuk sementara akan dibawa ke Rejandani, justru karena Rejandani tidak mengalami goncangangoncangan sebagaimana dialami oleh Gemawang dan bahkan Kademangan Kleringan. Namun Ki Demang Rejandani minta agar khususnya Wira Sabet dan saudara seperguruannya yang masih ada, dibawa ke Gemawang. “Di Gemawang ada orang-orang berilmu tinggi” berkata Ki Demang. “Bukankah Rejandani dapat minta bantuan Ki Carang Aking?” bertanya Ki Pandi. Tetapi Ki Carang Aking tersenyum sambil menjawab “Seperti burung yang terlepas dari sangkarnya. Aku akan terbang jauh menembus mega-mega pulih. Sayapku sudah terlalu lama terkekang di barak buruk itu” Tidak seorangpun dapat mengekangnya. Ki Carang Aking memang tidak akan dapat bertahan terlalu lama di satu tempat. Di hari-hari berikutnya, maka Gemawang lelah mulai dengan menata diri kembali. Bayangan ketakutan telah hilang seperti embun yang disengat oleh panasnya sinar matahari.
 Di padukuhan, Ki Jagabaya telah mengijinkan Wira Sabet untuk menempati rumahnya kembali bersama anaknya, Pideksa, bersama tiga orang pengikutnya yang telah dikalahkan oleh Laksana. Baru kemudian hal itu diketahui oleh Wira Sabet dan Pideksa. Tetapi mereka tidak menjadi heran, karena Laksana mampu mengalahkan saudara seperguruan Wira Sabet. Namun Sampurna, Manggada dan Laksana sempat tertawa ketika mereka mendengar ceritera Tantri tentang Wisesa yang mencoba untuk memaksanya mengikutinya ke rumah neneknya. “Sejak saat itu, Wisesa tidak pernah datang lagi” berkata Tantri. Laksana mengangguk-angguk. Tiba-tiba wajahnya nampak bersungguh-sungguh. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu. Namun ternyata untuk mendapatkan kembali kampung halaman yang sejuk, tenteram dan damai serta sejahtera, masih banyak sekali yang harus dikerjakan.
Tamat

 (c) topmdi.net 2011. All Rights Reserved.