Welcome to topmdi - ebook collection
Seri Arya Manggada IV Sejuknya
Kampung Halaman Oleh : SH MINTARDJA Jilid 1 SINAR matahari
pagi yang cerah telah menyegarkan tubuh Manggada dan Laksana yang
berjalan di belakang Ki Pandi. Mereka melintasi bulak panjang yang
digelari padi-padi muda. Yang nampak dari ujung sampai ke ujung
cakrawala adalah warna yang hijau segar. Satu-satu titik embun yang
masih bergayut nampak berkilat-kilat memantulkan cahaya matahari.
Ki Pandi yang bongkok itu berjalan sambil menundukkan kepalanya.
Nampaknya memang ada yang sedang direnungkannya. Sementara itu di
belakang mereka, Manggada dan Laksana masih juga sempat berkelakar
Dengan dahi yang berkerut Laksana berkata "Sebenarnya aku merasa
kecewa terhadap sikap Winih" "Kenapa?” bertanya Manggada "bukankah
ia bersikap baik terhadap kita. Jika kelak kita kembali, maka ia
masih akan tetap menganggap kita sebagai kakaknya sendiri" "Itulah
sebabnya aku menjadi kecewa?” "Kenapa?” desak Manggada. "Aku
lebih senang jika kelak, apabila kita kembali, kita,
setidak-tidaknya aku, dianggap sebagai orang lain. Namun diterima
dengan baik” jawab Laksana. "Aku tidak tahu maksudmu” gumam
Manggada. "Ah, kau. Penalaranmu memang tumpul. Kau tahu, jika aku
dianggap sebagai kakaknya, aku akan tetap saja menjadi kakaknya.
Tetapi jika aku dianggap orang lain, maka mungkin, hanya mungkin,
kedudukanku terhadap Winih akan dapat berubah. Ia terlalu cantik
untuk menjadi adikku" Manggada tertawa. Katanya “Kau memang gila.
Kau kira kau pantas bermimpi seperti itu" Laksanapun tertawa pula,
sehingga Ki Pandipun telah berpaling sambil bertanya “Ada apa?"
Manggadalah yang menjawab “Laksana sedang bermimpi" "Mimpi apa?”
bertanya Ki Pandi pula. "Mimpi tentang seorang gadis yang cantik.
Tetapi gadis itu berilmu sangat tinggi, sehingga jika gadis itu
marah, maka Laksana di hadapannya akan menjadi seekor tikus di
hadapan seekor kucing yang sedang menyusui dan bahkan sedang lapar”
jawab Manggada. Ki Pandipun tersenyum pula. Ia segera tahu, apa
yang sedang dijadikan bahan kelakar anak-anak muda itu. Karena itu,
maka iapun berkata “Aku tahu. Mimpi yang demikian adalah mimpi yang
wajar bagi anak-anak muda. Jika seorang anak muda ingin melihat
mimpinya menjadi kenyataan, maka ia harus berjuang. Bukan menunggu
seperti menunggu titiknya embun di siang hari” "Ah, tidak Ki Pandi”
jawab Laksana "Manggada berbohong. Aku sama sekali tidak bermimpi,
karena bermimpipun aku tidak berani" "Kenapa tidak berani?” bertanya
Ki Pandi justru sambil tertawa. "Aku bukan apa-apa Ki Pandi. Eh,
sepantasnya aku menjadi cantriknya” jawab Laksana. "Jangan begitu”
berkata Ki Pandi. Lalu katanya “Aku tahu bahwa kalian tidak
bersungguh-sungguh. Tetapi pada kesempatan lain, jika kalian
bersungguh-sungguh, maka kalian harus berbuat sesuatu" "Berbuat
apa?” bertanya Manggada. "He, nampaknya kau yang justru lebih dahulu
ingin berbuat sesuatu itu” potong Laksana. Manggada tertawa.
Katanya “Tidak. Aku hanya ingin tahu. Seperti yang dikatakan oleh Ki
Pandi, mungkin pada kesempatan lain aku menjadi seekor tikus" Ki
Pandi yang kemudian berjalan di antara kedua orang anak muda itu
kemudian berkata “Nah, anak-anak muda. Agar kalian tidak sekedar
menjadi tikus, maka kalian harus belajar menjadi kucing" Manggadalah
yang menyahut “Tetapi berapa panjang waktu yang diperlukan begi
seekor tikus untuk menjadi seekor kucing" Ki Pandi menepuk bahu
Manggada sambil berkata “Kalian telah dihinggapi penyakit rendah
diri" Manggada memang tidak membantah. Katanya “Di lingkungan
keluarga Kiai Gumrah, kami berdua benar-benar merasa tidak berarti
apa-apa” "Kalian memang salah menilai diri kalian” berkata Ki Pandi
"kalian mengira bahwa harga diri seseorang semata-mata ditentukan
oleh kemampuannya dalam olah kanuragan. He, bukankah Winih itu dapat
mengatakan kepada kalian bahwa kepribadian seseorang merupakan
bagian dari harga diri seseorang" Kedua orang anak muda itu
mengangguk-anguk. Sementara Ki Pandi berkata selanjutnya
"Sebaiknya kalian mulai sekarang berusaha untuk menghapus perasaan
rendah diri itu. Jika perasaan itu terlanjur barakar di dalam diri
kalian, maka akibatnya akan menjadi kurang baik bagi kalian. Kalian
akan terpisah, dan bahkan memisahkan diri dari pergaulan yang
seharusnya tidak perlu. Kalian membayang-bayangi diri kalian dengan
berbagai macam penilaian yang tidak berarti. Kau ingin satu contoh
yang ujud tentang seseorang yang mempunyai perasaan rendah diri"
Kedua orang anak muda itu tidak menjawab. Sedangkan Ki Pandi berkata
selanjutnya "Nah, aku adalah contoh yang dekat di hadapan kalian.
Aku adalah seorang yang ditelan oleh perasaan rendah diri itu. Sejak
aku menjadi cacat, maka aku merasa tidak pantas lagi bergaul dengan
banyak orang. Aku jarang sekali berkumpul dengan anak-anak muda
sebayaku waktu itu. Aku lebih senang menyendiri dan hidup di dunia
angan-angan. Selebihnya aku telah memaksa diri untuk menguasai
berbagai macam ilmu. Dalam perguruanpun aku masih saja dibayangi
oleh perasaan rendah diri itu. Untuk menutupinya, maka aku berusaha
untuk menjadi salah seorang di antara murid-murid terbaik
diperguruanku" Ki Pandi itu berhenti sejenak. Wajahnya nampak
menjadi bersungguh-sungguh. Lalu katanya pula "Namun betapapun juga
aku memiliki ilmu yang tinggi, tetapi hidupku tidak banyak berarti,
justru karena kepribadianku rapuh. Aku tetap terasing dari
pergaulan. Dan aku tetap menjadi seseorang yang lain dari kehidupan
yang wajar" "Tetapi Ki Pandi sudah berbuat banyak untuk memerangi
dunia hitam” berkata Manggada. "Tetapi gerakku sangat terbatas.
Kadang-kadang aku memang merasa diriku menjadi pahlawan. Tetapi
perasaan itu adalah sekedar untuk mengimbangi perasaan rendah
diriku, sehingga justru karena itu, maka aku seakan-akan menjadi
manusia lain dari kewajaran hidup seseorang. Bahkan mungkin seperti
hantu yang sesekali muncul kemudian menghilang lagi" Kedua anak muda
itu terdiam. Mereka tidak tahu, apa yang harus mereka katakan.
Sementara itu Ki Pandi masih berkata “Sekarang aku melihat anak-anak
muda yang juga merasa rendah diri. Tetapi aku tahu, bahwa kalian
merasa rendah diri hanya pada satu sisi, yaitu pada sisi olah
kanuragan. Jika apa yang kalian anggap kekurangan itu sudah
terangkat, maka kalian tentu tidak akan merasa rendah diri lagi.
Berbeda dengan aku. Apapun yang dapat aku perbuat, tetapi cacat ini
akan selalu melekat padaku, sehingga aku akan tetap merasa rendah
diri untuk sepanjang umurku" "Tetapi bukankah Ki Pandi menyadari
bahwa perasaan rendah diri itu seharusnya disingkirkan, karena tidak
berarti apa-apa dan bahkan hanya merugikan diri sendiri, sebagaimana
Ki Pandi nasehatkan kepada kami?” bertanya Laksana. Ki Pandi itu
tersenyum. Katanya "Memang agaknya lebih mudah untuk menasehati
orang lain daripada menasehati diri sendiri" Manggada dan Laksana
mengangguk-angguk. Namun keduanya tidak bertanya lebih banyak lagi.
Untuk beberapa saat mereka sempat merenungi diri mereka, bagaimana
mereka merasa sangat kecil di antara raksasa-raksasa di dunia olah
kanuragan. Bahkan Winih, gadis yang cantik itupun memiliki ilmu yang
tinggi pula. Sementara itu, matahari telah memanjat langit semakin
tinggi. Panasnya terasa mulai menggatalkan kulit. Di langit, awan
yang tipis mengalir tertiup angin semilir. Daun pohon turi yang
tumbuh di sebelah menyebelah jalan menggeliat perlahan-lahan. Dalam
pada itu, tiba-tiba saja Manggada bertanya “Ki Pandi. Apakah Ki
Pandi mengetahui tentang tombak dan payung yang disimpan oleh Kiai
Gumrah itu" Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Aku tidak
tahu pasti. Tetapi menurut dugaaanku, pusaka-pusaka itu adalah
lambang perguruan mereka" "Tetapi menurut Kiai Gumrah, ada
tanda-tanda dari pemilik pusaka-pusaka itu. Hanya mereka yang
memiliki tanda-tanda itulah yang akan dapat mengambil pusaka-pusaka
itu” desis Laksana. "Mungkin benar. Tetapi tanda-tanda yang dimaksud
justru dibawa oleh salah seorang atau dua murid yang lain. Mungkin
Kiai Padma yang disebut juragan itu. Mungkin orang lain” jawab Ki
Pandi. "Tetapi apa hubungannya dengan pendapat Panembahan Lebdagati
bahwa jika sampai purnama besok lusa pusakapusaka itu belum
dimandikan dengan darah yang masih mengalir di jantung, maka tuahnya
akan hilang?” bertanya Manggada. "Bukankah kau tahu latar belakang
kepercayaan Panembahan itu? Tetapi mungkin ada maksud lain yang
dapat dipertimbangkan. Mungkin Panembahan itu memang berniat
membunuh orang-orang yang sementara dapat bekerja bersamanya. Dengan
alasan mempertahankan tuah pada pusaka-pusaka itu, maka ia akan
menusuk setiap jantung dari orang-orang yang untuk sementara dapat
bekerja bersamanya merampas pusaka-pusaka itu. Tetapi aku yakin,
bahwa bukan Panembahan itu saja yang merencanakan pengkhianatan
seperti itu. Tentu juga yang lain-lain. Kiai Kajar, pemimpin
Padepokan Susuhing Angin, Kiai Windu Kusuma dan orangorang yang
terlibat di dalamnya, karena pusaka-pusaka itu memang benar-benar
benda yang harganya sangat mahal. Emas dan permata yang melekat pada
pusaka-pusaka itu akan dapat dipergunakan untuk membeli sebuah
negeri" "Tetapi darimana Kiai Gumrah dan saudara-saudara
seperguruannya mendapatkan benda-benda itu" "Aku tidak tahu pasti.
Tetapi sebagaimana pernah aku dengar tanpa mengetahui kebenarannya,
bahwa perguruan Kiai Gumrah itu didirikan oleh seorang bangsawan
keturunan Majapahit. Pusaka-pusaka itu tentu juga berasal dari
Majapahit jika berita yang aku dengar itu benar” jawab Ki Pandi.
Manggada dan Laksana menganguk-angguk pula. Namun mereka tidak
bertanya lagi. Sehingga untuk sesaat kemudian, merekapun berjalan
sambil berdiam diri. Dalam pada itu, haripun beringsut dari waktu ke
waktu. Ketika matahari mulai menuruni sisi langit, maka ketiga orang
itu telah singgah di sebuah kedai yang terhitung ramai. Beberapa
orang telah singgah di kedai itu ketika Ki Pandi, Manggada dan
Laksana melangkah masuk. Tetapi ketika Manggada dan Laksana akan
melangkah ke tengah-tengah ruangan kedai itu, Ki Pandi menggamit
mereka sambil berkata “Kita duduk di sudut itu saja" "Kenapa?”
bertanya Manggada. "Tidak menjadi perhatian banyak orang” jawab Ki
Pandi. Manggada dan Laksana tidak membantah. Merekapun mengikut Ki
Pandi yang memilih tempat di sudut sebagaimana kebiasaan Ki Pandi
yang lebih senang menyendiri. Meskipun demikian, ada juga beberapa
orang anak muda yang memperhatikannya. Nampaknya justru anak-anak
muda dari lingkungan orang berada. Sambil sekali-sekali memandang Ki
Pandi, mereka menahan tertawa mereka disela-sela bisik-bisik lirih.
Namun kadang-kadang suara tertawa mereka meledak tanpa dikendalikan
lagi. Namun nampaknya Ki Pandi tidak menghiraukan mereka. Kepada
Manggada dan Laksana ia berdesis “Aku sudah terlalu sering menjadi
bahan tertawaan. Dan itu membuat aku semakin merasa rendah diri"
"Aku akan membungkam mulut mereka yang tertawa itu” desis Laksana.
Manggada sudah menjadi berdebar-debar bahwa Laksana benar-benar akan
membuat keributan. Tetapi Ki Pandi sendirilah yang mencegahnya
"Sudahlah. Aku merasa bahwa ujudku memang pantas untuk ditertawakan.
Tetapi aku tidak kenal mereka dan mereka tidak kenal kau. Besok aku
tidak akan bertemu dengan mereka lagi. Karena itu, biarkan saja
mereka" Laksana yang sudah siap untuk bangkit berdiri, menarik nafas
dalam-dalam. Dicobanya untuk mengendapkan kembali perasaannya yang
bergejolak. Namun ternyata Ki Pandi sempat menikmati minuman dan
makanan yang dipesannya. "Jarang sekali aku sempat mendapatkan
minuman dan makanan seperti ini” berkata Ki Pandi "biasanya aku
minum air dari belik atau pancuran. Kemudian makan apa saja yang
diketemukan. Buah-buahan dan akar-akaran. Namun sekalisekali juga
nasi dengan garam. Jika aku kembali ke rumah Ki Ajar Pangukan, maka
aku dapat makan lebih teratur" Kedua anak muda itu termangu-mangu
sejenak. Dengan dahi yang berkerut Manggada bertanya “Dimana Ki Ajar
Pangukan sekarang" "Ia masih tetap berada di rumahnya yang dahulu.
Ia tidak berpindah-pindah. Tetapi seperti aku, Ki Ajar memang sering
mengembara. Namun sekali waktu, kami berada bersamasama lagi di
rumah itu” jawab Ki Pandi. Manggada mengangguk kecil. Katanya
“Sekali waktu aku ingin bertemu kembali dengan Ki Ajar" "Besok pada
suatu saat, kita datang ke rumahnya” sahut Ki Pandi. Namun Laksana
hampir tidak dapat memperhatikan pembicaraan itu. Perhatiannya
justru tertuju kepada anakanak muda yang masih saja memperhatikan Ki
Pandi sambil sekali-sekali tertawa tertahan. "Marilah” berkata Ki
Pandi "jika kalian sudah cukup, kita tinggalkan saja tempat ini"
Laksanalah yang kemudian berdiri dan melangkah mendapatkan pemilik
kedai itu. Demikianlah, setelah membayar harga makanan dan
minumannya, maka ketiga orang itu telah meninggalkan kedai itu.
Tanpa berpaling lagi, Ki Pandi melangkahi tlundak pintu dan turun ke
halaman diikuti oleh Manggada dan Laksana. Ketiga orang itupun
menepi ketika mendengar derap kaki beberapa ekor kuda. Ketika mereka
berpaling, ternyata anakanak muda di kedai itulah yang melarikan
kuda mereka mendahului Ki Pandi, Manggada dan Laksana. Ketiganya
harus menutup hidung mereka karena debu yang kelabu berhamburan di
belakang kaki-kaki kuda itu. Mereka bertiga masih mendengar
anak-anak muda itu tertawa berkepanjangan. Sementara Ki Pandi
berusaha untuk menghibur dirinya sendiri "Mereka tidak mentertawakan
aku" Beberapa saat kemudian, mereka telah berada kembali di sebuah
bulak yang terhitung panjang. Sementara matahari sudah menjadi
semakin rendah. Di kejauhan mereka melihat hutan yang terbentang
memanjang kearah Barat. Didepan hutan itu terdapat gumukgumuk kecil
yang ditumbuhi gerumbul-gerumbul perdu yang membatasinya dengan
daerah persawahan. "Anak-anak muda” berkata Ki Pandi "hutan itu
sangat menarik perhatianku. Sudah beberapa kali aku berada di
dalamnya untuk sekedar mengamati isinya. Kedua ekor harimauku juga
ada di hutan itu" "Jadi Ki Pandi sudah sering pergi ke hutan itu?”
bertanya Manggada. "Ya. Jika kalian bersedia, kita akan bermalam di
hutan itu malam nanti” ajak Ki Pandi. Manggada dan Laksana
termangu-mangu sejenak. Dengan ragu-ragu Manggada bertanya kepada
adik sepupunya itu "Bagaimana jika kita bermalam di hutan itu
semalam sebagaimana dikatakan oleh Ki Pandi" "Aku tidak
berkeberatan” jawab Laksana. "Baiklah” berkata Ki Pandi "kita akan
langsung menuju ke hutan itu" Demikianlah, maka bertiga mereka telah
meninggalkan jalan yang mereka lalui. Mereka telah meloncati tanggul
parit, mengikuti jalan pintas sepanjang pematang sawah menuju
kepadang perdu dengan gumuk-gumuk kecil yang berserakan. Hanya ada
satu dua batang pohon yang agak besar tumbuh disela-sela gumuk-gumuk
kecil itu. Namun semakin dekat dengan hutan yang lebat itu, maka
pepohonanpun menjadi semakin banyak. Sebelum matahari terbenam,
mereka telah berada di dalam hutan itu. Meskipun matahari masih
nampak di langit, tetapi semakin dalam mereka memasuki hutan itu,
maka rasarasanya malam sudah mulai turun. Tetapi dari sela-sela daun
pepohonan yang rimbun masih nampak berkas-berkas cahaya matahari
yang berhasil menyusup menimpa pohon-pohon raksasa yang bertebaran
di antara beribu-ribu batang pohon yang seakan-akan saling
berdesakan. Manggada dan Laksana bukan untuk yang pertama kali
memasuki hutan-hutan yang lebat. Ketika mereka masih berguru, mereka
sudah sering mencari harimau untuk dikuliti. Kulitnya dapat mereka
jual kepada beberapa orang pedagang yang memang mencari kulit
harimau sebagai barang dagangan. Namun pamannyapun kemudian telah
menasehatkan agar mereka menghentikan kegiatan itu. Kemudian
Manggada dan Laksana juga telah menyeberangi hutan Jatimalang
bersama Ki Wiradadi yang kehilangan anak gadisnya. Justru di
seberang hutan itulah Manggada dan Laksana bertemu dengan Ki Pandi
dan Ki Ajar Pangukan. Karena itu, keduanya memang tidak terlalu
canggung berada di dalam hutan yang terhitung lebat itu. "Hutan ini
merupakan hutan yang jarang disentuh kaki manusia” berkata Ki Pandi.
Lalu katanya selanjutnya "Hutan ini termasuk hutan yang lebat,
sebagaimana hutan Jatimalang. Tetapi hutan ini tidak menyembunyikan
satu lingkungan sebagaimana yang terdapat di belakang hutan
Jatimalang" "Jadi apa yang menarik dari hutan ini?” bertanya
Laksana. "Tidak seperti hutan Jatimalang yang miring karena letaknya
di kaki gunung. Hutan ini datar. Ada rawa-rawa di dalamnya.
Pohon-pohon raksasa yang jumlahnya lebih banyak. Batu-batu besar
yang berserakan di dalamnya sebagaimana terdapat gumuk-gumuk kecil
di padang perdu itu. Sedangkan dikedung bagian Barat hutan ini
terdapat sarang sejenis buaya kerdil yang liar dan buas" "Buaya
kerdil?” ulang Manggada. "Ya. Sejenis buaya yang tidak begitu besar.
Tetapi justru sangat berbahaya. Geraknya lebih tangkas dan
kebiasaannya bergerombol dan bergerak bersama-sama. Ketika terjadi
perkelahian antara sekelompok buaya itu dengan sekelompok anjing
hutan yang juga banyak terdapat di hutan ini, aku sempat merasa
ngeri. Kedua-duanya merupakan jenis binatang yang bergerombol dan
berkelahi bersama-sama" Tetapi ketika Manggada dan Laksana akan
melangkah ke tengah-tengah ruangan kedai itu, Ki Pandi menggamit
mereka sambil berkata “Kita duduk di sudut itu saja” Manggada dan
Laksana mengangguk-angguk. Nampaknya selain berceritera, Ki Pandi
juga memberikan peringatanperingatan dini kepada Manggada dan
Laksana. Sementara itu, maka langitpun menjadi semakin buram. Dari
balik pegunungan disisi Timur, bulan yang hampir purnama mulai
muncul. Meskipun demikian, di dalam hutan itu rasa-rasanya memang
menjadi semakin kelam. Namun mata Manggada dan Laksana sudah
terlatih sejak mereka masih berguru pada Ki Citrabawa. Mereka sering
memasuki hutan di malam hari untuk menangkap harimau. Malam itu
mereka bertiga bermalam di hutan itu. Sebenarnya bahwa di dalam
hutan itu keadaannya jauh lebih berbahaya daripada keadaan di luar.
Jika mereka bermalam dipa-tegalan atau bahkan dibanjar padukuhan,
maka mereka tidak akan diganggu oleh binatang buas sebagaimana jika
mereka berada di dalam hutan. Ketika mereka menemukan tempat yang
agak lapang, maka mereka bertigapun beristirahat di atas sebuah batu
yang besar dan tergolek dibawah sebatang pohon yang besar pula.
Satusatunya sinar bulan jatuh pula di atas tanah yang lembab.
Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak, ketika ia melihat Ki
Pandi mengambil serulingnya. Kemudian diletakkannya ujung
serulingnya di mulutnya. Sejenak kemudian terdengar suaranya yang
membumbung menggetarkan dedaunan. Tidak terdengar lagu atau
nadaTiraikasih Website http://kangzusi.com/ nada dalam
irama yang manis. Tetapi tidak lebih dari satu suitan yang nyaring.
Ternyata beberapa saat kemudian, terdengar aum harimau di kejauhan.
Bersahutan. Manggada dan Laksanapun segera mengetahui, bahwa dua
ekor harimau Ki Pandi telah mendengar isyarat pemiliknya. Karena
itu, ketika dalam keremangan malam yang ditaburi cahaya bulan itu
mereka melihat dua ekor harimau, maka Manggada dan Laksana justru
merasa lebih tenang. Apalagi ketika kedua ekor harimau itu mendekat
dan mendekam di sebelah batu besar itu. Untuk beberapa saat
kemudian, Manggada dan Laksana sempat memperhatikan suara-suara
malam di hutan yang lebat. Bagi mereka suara-suara itu memang tidak
asing lagi. Hutan yang pernah dirambahnya di malam hari juga
memperdengarkan suara-suara yang hampir sama. Ketika bulan menjadi
semakin tinggi, maka cahayanya telah menembus dedaunan yang agak
jarang di atas tempat duduk ketiga orang itu. Laksana yang duduk
memeluk lututnya, sekali-sekali menepak nyamuk yang hinggap dan
menggigit kulitnya. Dalam pada itu, maka Ki Pandi yang untuk
beberapa saat berdiam diri itupun berkata “Anak-anak muda. Kalian
telah cukup lama mengembara. Bagaimana pendapat kalian, jika
pengembaraan kalian ditambah satu bulan lagi" Manggada dan laksana
tidak begitu memahami kata-kata Ki Pandi itu. Karena itu, maka
Manggadapun bertanya “Maksud Ki Pandi" "Kita akan tertahan sebulan
lagi di perjalanan” jawab Ki Pandi. "Tetapi Pajang sudah dekat.
Kemudian beberapa langkah lagi kita akan sampai ke tujuan” jawab
Laksana. "Ya. Aku tahu. Tetapi sebelum kalian sampai, apakah kalian
bersedia menjalani laku sebulan lamanya bersamaku di hutan ini? Kita
akan mulai nanti saat bulan purnama, dua hari lagi. Dan kita akan
mengakhiri disaat purnama sebulan kemudian” berkata Ki Pandi.
"Tetapi kita sudah terlalu lama berada di perjalanan” berkata
Manggada. "Jika waktu yang sudah terlalu lama itu ditambah dengan
satu bulan lagi, maka tentu tidak akan terasa lebih lama” sahut Ki
Pandi. "Tetapi laku apa yang harus kami jalani. Ki Pandi?” bertanya
Manggada kemudian. "Jika kalian bersedia, maka kalian akan
mendapatkan banyak sekali bahan-bahan yang akan dapat melengkapi
ilmu kalian. Mungkin tataran ilmu kalian tidak meningkat dengan
jelas. Tetapi unsur-unsur ilmu kalian akan menjadi semakin lengkap.
Kalian akan memiliki banyak cara untuk mengatasi kesulitan apabila
kalian berhadapan dengan lawan yang berilmu tinggi sekalipun” jawab
Ki Pandi. Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Dengan
ragu-ragu Laksana bertanya “Laku apa yang akan kita jalani
seandainya kami bersedia melakukannya" Ki Pandi menarik nafas
panjang. Namun kemudian katanya dengan nada dalam "Anak-anak muda,
jika kalian bersedia, kalian akan aku minta menjalani Tapa Ngidang
selama satu bulan di hutan ini. Dari purnama sampai ke purnama.
Memang tidak ada hubungannya dengan kebulatan bulan di langit. Jika
aku menyebutnya dari purnama sampai ke purnama itu sekedar sebagai
ancar-ancar waktu saja" Kedua orang anak muda itu saling
berpandangan sejenak. Dengan dahi yang berkerut Manggada bertanya
”Lalu apakah yang harus kami jalani dengan Tapa Ngidang itu" "Kita
berlaku seperti seekor kijang di dalam hutan ini” jawab Ki Pandi.
"Seperti kijang?” ulang Laksana "aku tidak dapat membayangkan, apa
saja yang harus kami lakukan” "Anak-anak muda, di hutan yang tidak
pernah dikunjungi orang ini, bahkan orang mencari kayu sekalipun,
kita akan menanggalkan semua pakaian kita. Kita akan memakai cawat
dari kulit kayu. Kita akan hidup di hutan ini dengan cara seperti
seekor kijang. Kita akan makan dan minum dari apa saja yang kita
temukan di hutan ini. Kita akan menjelajah hutan dari ujung sampai
ke ujung" "Lalu apa yang akan kami dapatkan dari laku itu?” bertanya
Manggada. "Anak-anak muda. Tapa Ngidang bukan berarti kita menjadi
kijang. Kita memang berlaku seperti kijang. Kita tetap saja dalam
pribadi kita masing-masing. Kita tetap seseorang yang mempunyai akal
budi. Jika kita lepaskan pakaian kita, karena pakaian itu dapat
mengganggu gerak kita, serta pakaian kita akan dapat menjadi rusak,
sedangkan hal itu sebenarnya tidak perlu. Kita akan berlari-lari di
dalam lebatnya dedaunan dan akar-akar serta sulur-sulur kayu bahkan
di antara semak dan duri. Tetapi kita tidak seperti kijang yang
hanya dapat melarikan diri jika bertemu dengan binatang buas. Tetapi
kita akan mampu melawannya, atau kita dapat memanjat pohon.
Sedangkan seekor kijang tidak dapat melakukannya. Dengan laku itu
kita akan melihat dan mengamati apa saja yang dilakukan oleh
binatang binatang hutan. Dari seekor harimau, buaya di rawa-rawa,
berjenis-jenis kera pepohonan, ular bahkan binatang-binatang kecil
sampai ke tikus tanah. Bagaimana mereka mencari mangsanya, namun
juga bagaimana binatang-binatang yang lebih lemah menyelamatkan
dirinya dari tangan binatang-binatang yang jauh lebih kuat" Manggada
dan Laksana menarik nafas dalam-dalam. Mereka membayangkan betapa
beratnya laku yang harus dijalaninya. Dingin malam, gatalnya
dedaunan yang berbulu, goresan-goresan duri dan ranting-ranting
perdu. Bahkan racun dari serangga-serangga berbisa serta sengat
lebah lebah raksasa. Untuk beberapa saat kedua anak itu mulai
merenung. Namun akhirnya Manggada itupun berkata kepada Laksana
"Marilah kita coba. Kita berharap bahwa laku itu akan memberikan
arti bagi kita, khususnya di dalam olah kanuragan" "Tidak hanya olah
kanuragan” berkata Ki Pandi "tetapi kalian juga akan mengenal
jenis-jenis tanaman jauh lebih banyak. Kalian juga akan dapat
mengenali tingkah laku binatang yang sebelumnya tidak pernah kalian
lihat. Selain itu, kalian juga akan mengenali jenis-jenis tanah di
dalam hutan serta arti matahari dan bulan. Kalian akan lebih
mengenali siang dan malam karena kalian tidak akan pernah
menghindarinya. Hujan, angin dan dinginnya malam” Laksanapun
ternyata mengangguk sambil menjawab “Baiklah. Kita akan menunda
perjalanan pulang kita sebulan lagi, meskipun kita sudah tidak
terlalu jauh lagi dari rumah" Demikianlah, maka Ki Pandi telah
mempersiapkan anakanak muda itu untuk menjalani laku Tapa Ngidang.
Sebelum purnama naik, selama dua hari mereka membiasakan diri serta
mengenali isi hutan itu. Mereka mulai makan apa yang ada serta minum
dari sulur-sulur kayu yang dipotong ujungnya atau air belik yang
bening dibawah pohon-pohon raksasa. Menjelang purnama, maka Ki Pandi
mengajari anak-anak muda itu membuat pakaian dari kulit kayu.
Beberapa lembar kulit kayu yang berserat, dikeringkan. Kemudian
kulit kayu itu ditumbuk perlahan-lahan sehingga menjadi lemas,
sehingga jika dikenakannya tidak membuat kulit mereka menjadi lecet.
Merekapun telah membuat tali dari serat kekayuan untuk membuat tali
ikat pinggang. Ketika semua perlengkapan dan pakaian khusus mereka
sudah siap, maka menjelang malam merekapun telah melepaskan pakaian
mereka, membungkusnya dengan rapi dan diikatkan pada dahan pohon
yang cukup besar, sehingga tidak mudah jatuh, bahkan diambil oleh
binatang yang memanjat, terutama kera. Demikian bulan mulai nampak
di langit, maka bertiga mereka telah mengenakan pakaian yang mereka
buat dari kulit kayu. "Malam ini tentu akan terasa sangat dingin
bagi kalian. Gatal-gatal pada kulit kalian serta perasaan-perasaan
lain yang tidak menyenangkan. Tetapi kalian harus menganggap bahwa
hal itu merupakan pendadaran, apakah kalian pantas menjalani laku
Tapa Ngidang atau tidak" Manggada dan Laksana mengangguk-angguk.
Dingin malam yang kemudian turun memang nulai terasa menyentuh
kulit. Tetapi mereka sebelumnya juga sudah sering melepas baju
mereka di malam hari. Bahkan ketika mereka masih menempa diri, maka
mereka sudah terbiasa berada di hutan tanpa baju meskipun tidak
mengenakan pakaian khusus dari kulit kayu. Malam itu Manggada dan
Laksana masih belum mengalami laku yang sebenarnya, selain hanya
berjalan menyusuri hutan yang sepi itu. Sekali-sekali, jika mereka
sampai di tempat yang agak lapang, mereka sempat memandangi bulatnya
bulan dari sela-sela dedaunan. Namun kemudian langitpun rasa-rasanya
segera menjadi pepat sekali setelah mereka menyusup kembali di
antara pohon-pohon raksasa. Tetapi malam itu Ki Pandi sudah
mengatakan bahwa sejak esok pagi, mereka akan benar-benar meenjalani
laku Tapa Ngidang. Demikianlah, lewat tengah malam mereka mencari
tempat untuk tidur. Menurut Ki Pandi, yang terbaik bagi mereka
adalah tidur di atas dahan yang besar. Manggada dan Laksana
sependapat. Mereka pernah mengalaminya, tidur di atas dahan sebatang
pohon yang besar. Tetapi Ki Pandi minta keduanya tetap berhati-hati.
Salah seorang dari antara kalian harus tetap terjaga. Disini ada
sejenis harimau yang berkeliaran di dahan-dahan. Macan Kumbang yang
berwarna hitam. Selain itu, mungkin kera-kera yang nakal akan dapat
juga mengganggu. Selain binatangbinatang berkaki dan buas, maka ular
harus mendapat perhatian mereka pula. Malam itu, Manggada dan
Laksana memang sulit untuk dapat tidur. Rasa-rasanya mereka berarap
bahwa harimauharimau peliharaan Ki Pandi akan lewat. Kehadiran kedua
ekor harimau itu akan dapat membuat mereka lebih tenang. Tetapi
agaknya Ki Pandi sudah memberi isyarat agar kedua ekor harimaunya
itu menjauh. Namun meskipun hanya sesaat-sesaat Manggada dan Laksana
dapat juga tidur bergantian. Ketika bulan tenggelam, serta cahaya
fajar mulai nampak, maka Manggada yang menggeliat sambil duduk
dialas dahan yang besar itu berkata “Dimana kita mandi" "Siapa yang
akan mandi?” bertanya Ki Pandi. "Aku. Kita. Bukankah kita akan
mandi" "Kita tidak perlu mandi dengan teratur sebagaimana sebelumya.
Mungkin nanti, besok atau lusa kita akan menyeberangi sungai yang
mengalir ditengah-tengah hutan ini. Dalam kesempatan itu, kita
sekaligus akan mandi” jawab Ki Pandi. Manggada dan Laksana saling
berpandangan sejenak. Namun kemudian Laksanapun bertanya “Jadi
mungkin kita belum tentu mandi dalam sehari? Justru saat kita
bergulat dengan tanah berlumpur, pepohonan dan sampah yang tertimbun
karena daun-daun kering yang berguguran. Bahkan mungkin lugut yang
gatal dari beberapa jenis pohon dan dedaunan. Bahkan juga keringat
kita sendiri yang tentu akan banyak mengalir" Ki Pandi mengangguk
sambil menjawab “Ya. Kita tidak akan mandi. Kecuali jika kita
menyeberangi sungai. Tetapi ingat, bahwa di kedung di tikungan
sungai yang mengalir di hutan ini, banyak terdapat buaya kerdil yang
sangat liar dan buas" Manggada dan Laksana hanya dapat
mengangguk-angguk saja. "Nah, sekarang kita benar-benar akan
melakukan Tapa Ngidang itu. Marilah. Ikuti aku. Kita akan
menjelajahi hutan ini. Tentu saja pertama-tama untuk mengenalinya.
Namun kemudian benar-benar memperhatikan dan memahami isinya ” Ki
Pandi berhenti sejenak. Lalu katanya lagi "Tapa Ngidang yang
sebenarnya termasuk Tapa Mbisu. Tetapi kita tidak akan melakukannya.
Kita akan tetap berbicara karena kita memang dapat berbicara"
Manggada dan Laksana itupun kemudian melangkah mengikuti Ki Pandi
yang bongkok itu. Mula-mula mereka berjalan saja di antara
pohon-pohon raksasa. Sekali-sekali mereka memang melihat semak-semak
yang berguncang. Seekor kijang berlari dengan kencangnya. Ki Pandi
itu berjalan semakin lama semakin cepat. Bahkan kemudian ia mulai
berlari-lari kecil. Menyusup semak-semak dan meloncati batang-batang
kayu yang roboh. Manggada dan Laksana hanya mengikutinya saja.
Keduanya juga ikut menyusup semak-semak dan meloncati batangbatang
kayu yang roboh. Demikianlah, maka mereka telah melintas hutan yang
panjang itu. Ketika mereka sampai di sebuah rawa yang menggenang,
maka mereka telah melingkari tepi-tepi rawa itu. Berbagai
tumbuh-tumbuhan air tumbuh di dalam rawa-rawa itu. Tidak kalah
hebatnya dengan batang-batang pohon yang tumbuh di tanah. Pada hari
yang pertama itu, agaknya Ki Pandi masih belum memperkenalkan
Manggada dan Laksana dengan isi rawarawa itu. Karena itu, maka
mereka tidak berhenti. Hanya kakikaki mereka sajalah yang berdecak
pada air berlumpur di ujung rawa-rawa itu. Ki Pandi memang belum
membawa anak-anak muda itu sepenuhnya pada laku yang terlalu berat.
Tetapi Ki Pandi menuntun sedikit demi sedikit agar keduanya tidak
mengalami gangguan badani, juga jiwani. Namun ternyata Manggada dan
Laksana yang dengan mantap menjalani laku itu, telah menunjukkan
betapa mereka dengan sungguh-sungguh melakukan apa saja yang
diperintahkan oleh Ki Pandi. Sejak hari yang pertama, mereka telah
menunjukkan, bahwa mereka memiliki bekal yang cukup banyak untuk
meningkat pada jenjang kemampuan berikut dan berikutnya. Dengan
demikian, maka Ki Pandipun menjadi semakin berharap atas kedua orang
anak muda itu. Seperti yang direncanakannya, maka dari hari ke hari,
laku yang dijalani menjadi semakin berat. Mereka tidak saja
berlari-lari menyusuri hutan itu sejak matahari belum terbit. Tetapi
mereka juga mulai berhubungan dengan penghuninya. Mereka mulai
memperhatikan isi hutan itu dari jenis binatang yang kecil sampai
pada binatang yang terbesar yang terdapat di hutan itu. Berkali-kali
mereka bertemu dengan harimau yang bukan milik ki Pandi. Namun jika
masih ada kemungkinan untuk menghindar, mereka selalu
menghindarinya. Yang mereka perhatikan, bagaimana binatang-binatang
itu mempertahankan hidupnya dalam garangnya pergaulan di dalam rimba
yang lebat. Tetapi semakin lama mereka berada di hutan, maka mereka
tidak selalu dapat menghindari pertarungan yang keras melawan
binatang binatang liar di dalam hutan beberapa jenis harimau pernah
mereka hadapi. Namun mereka masih menghindar jika bertemu dengan
sekelompok anjing hutan liar yang sangat berbahaya. Jika tidak
mungkin lagi menghindar, maka Ki Pandi terpaksa memanggil kedua ekor
harimaunya untuk mengusir anjing-anjing hutan yang ganas dan licik
itu. Namun yang biasa dilakukan oleh ketiga orang itu jika mereka
bertemu dengan gerombolan anjing liar adalah dengan memanjat
sebatang pohon. Yang menarik perhatian mereka adalah
kelompok-kelompok buaya kerdil yang hidup di dalam kedung. Sebuah
tikungan sungai yang airnya cukup dalam. Seperti yang diceritakan
oleh Ki Pandi, maka Manggada dan Laksana juga sempat melihat,
pertarungan yang mengerikan antara sekelompok buaya kerdil melawan
sekelompok anjing hutan liar yang lapar. Pertarungan itu dimulai
ketika beberapa ekor anjing hutan yang haus minum dari air kedung
itu. Tiba-tiba saja seekor di antaranya telah disambar oleh seekor
buaya kerdil. Lengking anjing itu ternyata telah memanggil
segerombolan kawankawannya. Dengan demikian, maka pertarunganpun
tidak dapat dihindarkan ketika sekelompok buaya kerdil naik ke
darat. Manggada dan Laksana yang sudah memiliki pengalaman
menghadapi benturan kekerasan, masih juga merasa sangat ngeri
menyaksikan apa yang terjadi. Kedung itu menjadi merah, mereka tidak
jelas melihat bagaimana pertarungan itu berakhir. Namun yang nampak
kemudian adalah beberapa ekor anjing hutan terseret ke dalam kedung,
sementara beberapa ekor buaya kerdil yang berkulit keras itu dapat
juga terkoyak oleh gigi-gigi tajam anjing liar, sehingga beberapa
ekor di antaranya harus tertinggal di darat. Mati. "Itulah akibat
jika terjadi pertempuran” berkata Ki Pandi "bukan saja antara
binatang liar yang buas. Tetapi pertempuran antara sekelompok
manusia melawan kelompok yang lain, akibatnya akan sama saja
sebagaimana kau lihat yang terjadi di rumah Kiai Windu Kusuma"
Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Pandipun
berkata selanjutnya "Apalagi manusia mempunyai akal dan penalaran.
Mereka dapat berbuat lebih jahat dari binatang-binatang liar itu"
Manggada dan Laksana masih saja mendengarkan keterangan Ki Pandi itu
sambil mengangguk-angguk. Demikianlah, selama Tapa Ngidang banyak
sekali yang dapat dilihat oleh Manggada dan Laksana. Sementara itu,
selama berada di hutan itu, Manggada dan Laksana telah menempa diri
mereka pula. Selama menjalani laku, maka mereka makan apa saja yang
mereka dapatkan di hutan itu. Apa yang dapat dimakan oleh seekor
kijang, maka merekapun dapat pula memakannya. Tetapi lebih dari itu,
maka merekapun makan apa yang dapat dimakan oleh seekor kera. Bahkan
apa yang dapat dimakan oleh seekor harimau. Sebagaimana dikatakan
oleh Ki Pandi bahwa mereka tidak menjadi seekor kijang, tetapi
mereka tetap berlandaskan akal budi mereka. Karena itu, maka
merekapun tetap menggunakan kemampuan membuat api. Kemampuan yang
tidak dapat dilakukan seekor harimau jika harimau itu berhasil
menangkap seekor kijang atau rusa. Dalam laku Tapa Ngidang, maka
Manggada dan Laksana hampir di setiap dini hari, berlari-lari
kencang, seperti seekor kijang yang sedang diburu oleh seekor
harimau. Menyusup di antara pohon-pohon perdu, melingkari pepohonan,
meloncati batang-batang kayu yang melintang, menyusuri tepi
rawarawa, menyeberangi sungai dan berloncatan di atas bebatuan serta
mengatasi rintangan-rintangan yang lain. Mereka juga melatih
ketajaman penglihatan mereka. Kepekaan mereka terhadap keadaan di
sekitarnya. Namun juga pernafasan mereka. Dari kehidupan berbagai
macam binatang, mereka mendapatkan berbagai macam unsur gerak yang
dapat mengisi kekurangan penguasaan mereka atas unsur-unsur gerak
yang telah mereka pelajari. Ketrampilan mempergunakan tangan dan
kaki, serta ketajaman naluri dan penggraita. Ki Pandi yang mengamati
kedua orang anak muda itu memang meyakini, bahwa keduanya akan
mendapatkan sesuatu yang sangat berharga selama satu bulan berada di
dalam hutan. Bukan saja kemampuan dalan olah kanuragan serta
peningkatan tenaga dan daya tahan mereka, tetapi juga ketahanan
jiwani yang akan dapat menjadi pendukung landasan pribadi mereka.
Dalam pada itu, dari hari ke hari, malampun rasa-rasanya menjadi
semakin gelap. Sedikit demi sedikit, kebulatan bulanpun menjadi
semakin menyusut, sehingga malampun menjadi gelap pekat. Namun mata
Manggada dan Laksana menjadi terbiasa dengan gelapnya malam di dalam
hutan. Selain latihan yang dilakukan sedikit demi sedikit sesuai
dengan susutnya cahaya bulan, keduanya memang sudah berbekal
katajaman penglihatan dan pendengaran. Sehingga sebagaimana sebilah
mata pisau yang tajam yang selalu diasah, akan menjadi semakin tajam
pula. Dengan demikian, maka apa yang dapat dicapai oleh Manggada dan
Laksana selama mereka berada di hutan dalam laku Tapa Ngidang
ternyata melampaui apa yang diperkirakan oleh Ki Pandi. Ketika bulan
gelap, maka Manggada dan Laksana telah mampu menyerap pengalaman,
pengenalan dan pengetahuan sebagaimana diperkirakan akan dapat
diserap dalam jarak waktu dari purnama sampai ke purnama. Demikian
pula peningkatan kekuatan, ketrampilan dan ketahanan tubuhnya. Namun
Ki Pandi tidak menghentikan laku Tapa Ngidang itu hanya setengah
bulan. Laku itupun dilanjutkan hingga batas waktu yang sudah
ditetapkan. Namun dengan hasil yang jauh lebih banyak dari yang
diharapkan. Justru setelah melihat hasil dari laku yang dijalani
oleh Manggada dan Laksana, maka pada hari-hari terakhir, Ki Pandi
telah membawa anak-anak muda itu memasuki satu laku yang lebih
berat. Tiga malam mereka akan menjalani laku dengan berendam di
sungai. Mereka memilih tempat yang agak jauh dari kedung, sarang
buaya-buaya kerdil yang buas itu. Kemudian tiga malam terakhir
mereka berada di hutan itu, menjelang bulan purnama, mereka akan
mejalani laku Tapa Ngalong. Di malam hari mereka akan bergayut pada
dahan sebatang pohon yang tinggi dengan kaki mereka. Sementara di
siang hari mereka tetap menjelajahi hutan itu dari ujung sampai
keujung. Mereka sempat melengkapi pengenalan mereka dengan kehidupan
burung-burung. Dari burungburung kecil, sampai pada burung-burung
buas yang berparuh melengkung. Sekali-sekali mereka berlama-lama
berada dibawah sebatang pohon raksasa yang menjadi sarang burung
elang yang buas. Namun merekapun kadang-kadang berdiri ditepi hutan
melihat burung alap-alap meluncur memburu mangsanya. Namun merekapun
melihat bagaimana sejenis burung tekukur mampu melepaskan diri dari
terkaman burung alap-alap yang mampu terbang lebih cepat dari burung
yang diburunya. Di kesempatan lain, mereka melihat seekor burung
srigunting yang bertarung melawan burung elang yang lebih besar yang
lebih besar dan buas. Namun kecepatan gerak burung yang lebih kecil
itu membuat lawannya menjadi bingung, sehingga elang itu merasa
lebih baik menyingkir untuk saja. Demikianlah, haripun merangkak
terus, sehingga akhirya laku Tapa Ngidang, berendam di air serta
Tapa Ngalong, telah selesai dijalani. Sementara itu, di malam-malam
terakhir, langit menjadi terang kembali. Bulan yang gelap semakin
lama menjadi semakin terang, sehingga akhirnya, sampailah mereka
pada malam purnama. Bulan bulat bertengger di langit. Bintang nampak
gemerlapan. Selembar-selembar awan yang tipis mengalir dihembus
angin. Ki Pandi menganggap laku yang dijalani oleh Manggada dan
Laksana sudah selesai. Menjelang tengah malam, saat inilah bulat
berada di puncak, ketiga orang itupun telah mandi keramas di sungai.
Mereka membersihkan semua kotoran yang melekat di tubuh mereka,
karena selama mereka menjalani laku, mereka tidak dapat mandi setiap
hari. Beruntunglah bahwa mereka menjalani laku dengan berendam di
dalam air selama tiga malam berturut-turut, sehingga kotoran di
tubuh mereka hanyut dibawa arus sungai itu. Selesai dengan mandi
keramas, maka merekapun telah mencari pakaian mereka yang mereka
simpan. Mereka mulai menanggalkan pakaian mereka yang dibuat dari
kulit kayu diikat dengan tali serat pada pinggangnya. Demikian
mereka mengenakan pakaian mereka, maka rasarasanya tubuh mereka
menjadi hangat. Seluruh tubuh mereka seakan-akan telah terbungkus
rapat. Setelah sebulan mereka mengenakan pakaian dari kulit kayu,
maka rasa-rasanya dengan berpakaian lengkap, gerak mereka memang
menjadi lebih terbatas. Menjelang dini hari, maka merekapun telah
mempersiapkan diri untuk keluar dari hutan itu. Ki Pandi
mempergunakan kesempatan itu untuk berbicara bersungguh-sungguh
dengan Manggada dan Laksana yang telah selesai menjalani laku.
"Anak-anak” berkata Ki Pandi "kalian telah melihat, mendengar dan
mengalami peristiwa yang bermacam-macam di dalam hutan ini. Kalian
telah berlatih dan menempa diri dengan berbagai macam cara. Kalian
juga menempa jiwa kalian sehingga kalian menemukan arti dari
kesabaran, ketekunan, keuletan, ketabahan dan lebih dari itu, kalian
telah lebih banyak mengenali ciptaan dari Yang Maha Agung. Kalian
lebih banyak melihat perbedaan antara kehidupan berjenisjenis
binatang dengan kehidupan manusia yang berakal budi. Di rimba ini,
siapa yang kuat ialah yang menang tanpa menghiraukan kebenaran dan
keadilan. Tidak ada usaha dari binatang-binatang itu untuk
melindungi yang lemah dan melawan kelaliman. Dengan demikian, maka
kalian akan lebih menghormati nilai-nilai yang dijunjung oleh kita
manusia jika kita tidak mau disamakan dengan binatang yang hidup di
hutan. Kita bukan mahluk yang menganut tatanan kehidupan rimba,
siapa yang kuat ialah yang akan menang" Manggada dan Laksana
mengangguk-angguk. Namun katakata Ki Pandi itu benar-benar telah
menyentuh hatinya. Dengan demikian semakin terasa pula bahwa Sang
Maha Pencipta yang bersifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang
memberikan kita akal dan pikiran yang dapat membedakan baik dan
buruk, dan tidak menempuh kehidupan sebagaimana kehidupan di dalam
rimba yang lebat itu. Namun Ki Pandi itupun kemudian berkata
“Meskipun demikian anak-anak muda. Di lingkungan tatanan kehidupan
manusia yang yang sewajarnya itu, masih ada juga yang menjalaninya
sebagaimana tatanan kehidupan di dalam rimba. Ada satu dua orang,
bahkan satu dua kelompok orang yang menganggap dalam tatanan
kehidupan menusia itu juga berlaku paugeran siapakah yang kuat
merekalah yang menang. Bahkan ada yang menganggap bahwa menelan
sesamanya dapat menjadi pilihan yang sah untuk mencapai maksud serta
keinginannya" Manggada dan Laksana masih saja mengangguk-angguk.
Tetapi mereka tidak menjawab. Sedangkan Ki Pandi masih berkata
selanjutnya "Nah, dalam kehidupan yang demikian, di antara
orang-orang yang menghormati tata nilai kehidupan serta mereka yang
sama sekali tidak menghargainya, kita harus menempatkan diri kita
sebaik-baiknya. Kita yang telah mengenali tata kehidupan manusia dan
tata kehidupan binatang di hutan, tentu akan mampu dengan landasan
nalar dan budi memilih yang terbaik bagi kita dan bertanggung jawab
kepada Sang Pencipta" Manggada dan Laksana masih saja
mengangguk-angguk. Namun dari sela-sela bibirnya. Manggada berdesis
“Kami mengerti, Ki Pandi" "Bagus” berkata Ki Pandi "jika demikian,
mulai besok, kita akan memasuki kembali dunia kita dalam tatanan
hidup mahluk Sang Pencipta yang dianugerahi akal dan pikiran" Dengan
demikian, maka Ki Pandipun membawa dua orang anak muda itu keluar
dari hutan. Bulan yang bulat telah jauh condong di sebelah Barat.
Namun sinarnya masih nampak gemerlapan memantul dari wajah dedaunan.
Manggada dan Laksana kemudian berdiri di padang perdu yang luas
bersambung bulak persawahan yang membentang sampai ke cakrawala.
"Tidurlah di atas bebatuan itu” berkata Ki Pandi. Manggada dan
Laksanapun kemudian duduk di atas sebuah batu yang besar. Namun
Manggadapun bertanya “Bagaimana dengan Ki Pandi" "Aku juga akan
tidur” jawab Ki Pandi. Namun Ki Pandi melihat keragu-raguan pada
kedua orang anak muda itu. Bahkan Laksanapun kemudian berkata “Ki
Pandi memang harus beristirahat. Biarlah kami bergantian
berjaga-jaga” "Waktunya tinggal sedikit. Sebentar lagi fajar akan
datang. Jika kalian berjaga-jaga berganti ganti, maka tidak
seorangpun di antara kalian yang sempal tidur. "Tetapi binatang buas
dari hutan itu akan dapat sampai ke tempat ini" Ki Pandipun
tersenyum. Kemudian, orang bongkok itu telah mengambil serulingnya.
Ketika suara seruling yang melengking, maka dua ekor harimau telah
muncul dari dalam hutan mendekati Ki Pandi sambil mengibaskan
ekornya. "Nah, kita akan tidur” berkata Ki Pandi "biarlah kedua ekor
harimau itu disini sampai menjelang pagi. Besok, jika kita
meninggalkan hutan ini, harimauku akan tinggal di hutan ini. Biarlah
mereka hidup di antara paugeran rimba yang berlaku. Sementara kita
akan menjalani hidup dalam tatanan yang berbeda" Kehadiran kedua
ekor harimau itu memang membuat Manggada dan Laksana menjadi tenang.
Merekapun kemudian berbaring di atas tanah berbatu padas. Meskipun
tidak selembarpun alas yang mereka pergunakan, tetapi keadaan itu
sudah jauh lebih baik dari saat mereka menjalani laku Tapa Ngidang
di dalam hutan. Meskipun hanya sebentar, ternyata mereka sempat
memejamkan mata mereka. Menjelang matahari terbit, mereka terbangun.
Bulan sudah menginjak batas langit, sementara kedua ekor harimau Ki
Pandi sudah tidak nampak lagi. Tetapi Ki Pandi sendiri duduk
bersandar sebatang pohon yang tumbuh di padang perdu itu. Manggada
dan Laksanapun kemudian membenahi diri dan pakaian mereka. Mereka
tidak perlu lagi mandi, karena mereka lewat tengah malam baru saja
mandi keramas. "Nah, kita sudah siap sekarang berkata Ki Pandi.
"Kita akan menempuh jalan pulang, Ki Pandi” berkata Manggada dengan
nada tinggi. Nampak kegembiraan memancar di sorot matanya serta
getar suaranya. "Ya. Aku akan ikut bersama kalian sampai ke rumah
kalian" "Tidak hanya bersama kami sampai ke rumah kami, tetapi Ki
Pandi akan tinggal bersama kami” jawab Manggada. Ki Pandi tersenyum.
Katanya ”Tergantung kepada orang tua kalian” "Orang tuaku akan
senang sekali menerima kehadiran Ki Pandi. Apalagi jika orang tuaku
tahu apa yang telah Ki Pandi lakukan. Bukan saja Ki Pandi telah
memberikan tuntunan bagi kami dalam ilmu kanuragan, tetapi juga apa
yang lelah Ki Pandi lakukan bagi sesama. Usaha Ki Pandi untuk
melawan kekuatan hitam menunjukkan sikap Ki Pandi menghadapi tatanan
kehidupan” berkata Manggada. Ki Pandi tersenyum. Katanya
“Mudah-mudahan penilaianmu benar anak muda" ”Semua orang akan
mengatakan demikian, Ki Pandi” sahut Laksana kecuali Panembahan
Lebdagati” Ki Pandi tertawa. Katanya “Kalian pandai memuji. Aku
senang mendapat pujian kalian" "Kami tidak memuji” jawab Laksana
"kami mengatakan sesuai dengan nurani kami. Ki Pandi tertawa lebih
keras lagi. tetapi ia tidak menjawab. Meskipun demikian, hubungannya
dengan anak-anak muda itu telah dapat membuatnya tertawa. Ki Pandi
sendiri menyadari, bahwa ia jarang sekali sempat tertawa. Mungkin
sekali dua kali dalam sepekan, tetapi bersama anak-anak muda itu, ia
menjadi lebih sering tertawa. Demikian, maka merekapun berjalan
terus. Manggada dan Laksana bersepakat bahwa mereka akan berjalan
melewati Pajang. Mereka sudah lama tidak melihat-lihat keadaan kota
yang terhitung ramai itu. Ketiga orang itu memang berjalan menyusuri
jalan yang langsung menuju Pajang. Manggada dan Laksana tidak ingin
lagi berhenti di perjalanan. Mereka sudah terlalu lama mengembara.
Semakin dekat dengan Pajang, maka tatanan kehidupan pun mulai
berubah. Jalan-jalan terasa lebih ramai. Rumahrumah pun nampak lebih
bersih dan terawat. Apalagi ketika mereka memasuki pintu gerbang
kota. Maka terasa satu kehidupan yang bergetar lebih cepat. Di
jalan-jalan nampak orang yang berjalan hilir mudik. Sekali dua kali
nampak orang-orang berkuda lewat. Rasa-rasanya setiap orang
melakukan pekerjaan mereka dengan tergesa-gesa. Mereka nampak selalu
berpacu dengan waktu. Manggada dan Laksana melihat suasana itu
dengan hati yang berdebaran, namun mereka dapat mengerti, bahwa
tatanan kehidupan di Pajang memerlukan gerak yang lebih cepat. Waktu
seakan-akan selalu memburu, sementara yang harus mereka lakukan
masih belum selesai. Manggada dan Laksana yang mulai merasa haus
telah mengajak Ki Pandi untuk berhenti di sebuah kedai di pinggir
jalan utama. Sambil tersenyum Ki Pandi berkata “Tentu hidangan yang
jauh lebih baik dari minuman dan makanan yang kita dapatkan di hutan
itu" Manggada dan Laksana tertawa. Disela-sela tertawanya, Manggada
berkata “Sulit bagi kita untuk mencari makanan sebagaimana kita
dapatkan di hutan itu di seluruh kota ini" Ki Pandipun tertawa pula.
Katanya “Tetapi aku juga tidak berkeberatan makan dan minum apa
adanya di kedai itu” Manggada dan Laksana tertawa semakin panjang.
Demikianlah maka bertiga mereka memasuki kedai yang cukup besar itu.
Kedai yang ramai dikunjungi oleh banyak orang. Seperti sebelumnya,
maka Ki Pandi telah memilih tempat yang paling terpisah di kedai
itu. Mereka duduk di sudut agak ke belakang, dekat pintu butulan
yang sempit. Baru ketika mereka sudah duduk, mereka menyadari, bahwa
kedai itu termasuk kedai yang terbiasa disinggahi orang-orang yang
mempunyai kedudukan yang baik. Ternyata dari pakaian mereka, sikap
mereka dan cara mereka berbicara yang satu dengan yang lain. Ki
Pandilah yang mula-mula melihat hal itu. Karena itu. maka ia pun
berdesis “Kita telah tersesat" "Kenapa?” bertanya Manggada. "Kedai
ini nampakya hanya dikunjungi orang-orang yang terpandang di kota
ini" Manggada tersenyum. Namun katanya “Tetapi tidak ada larangan
bagi siapapun yang masuk untuk membeli makanan dan minuman disini"
"Kita mempunyai uang Ki Pandi” sahut Laksana "asal kita membayar
harga makanan dan minuman sesuai dengan tarifnya, kita tentu tidak
akan dianggap bersalah" "Tetapi lihat orang-orang yang ada di kedai
ini” berkata Ki Pandi "mereka memandang kita dengan heran. Mungkin
pakaian kita tidak seperti pakaian mereka. Pakaian kita termasuk
kusut dan kumal. Yang lain menjadi heran melihat punggungku yang
bongkok dan buruk" Manggada menggeleng sambil berkata “Tidak Ki
Pandi. Seperti yang Ki Pandi katakan, bahwa Ki Pandi selalu dihantui
oleh perasaan rendah diri" Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya “Ya.
Mungkin memang demikian. Tetapi sebaikya kita mencari kedai yang
lebih kecil yang memang diperuntukkan orang-orang kecil seperti
kita" Tetapi Laksana menyahut “Kita sudah terlanjur duduk disini, Ki
Pandi. Sebaiknya kita acuhkan saja orang-orang lain itu" Ki Pandi
mengangguk-angguk. Ia mencoba untuk tidak memperhatikan orang lain.
Tetapi ia mulai memperhatikan berjenis-jenis makanan yang tersedia.
Beberapa saat kemudian, maka merekapun telah mendapatkan makan dan
minuman yang mereka pesan. Namun pelayan kedai itupun agaknya telah
memperlakukan tamu-tamunya menurut ujud lahiriahnya. Karena itu,
maka sikapnya kepada Ki Pandi, Manggada dan Laksana juga agak kurang
menyenangkan. Tetapi ketiganya memang tidak menghiraukan sikap itu.
Merekapun kemudian telah meneguk minuman hangat itu serta makanan
yang telah mereka pesan. Ketiganya tidak mau kehilangan selera makan
mereka karena hal-hal yang tidak berarti apa-apa bagi mereka. Mereka
berpendirian, bahwa setelah mereka meninggalkan kedai itu, maka
orang-orang yang memperhatikan mereka, termasuk pelayan kedai itu,
tidak akan dijumpainya lagi. Beberapa saat kemudian, maka Ki Pandi,
Manggada dan Laksana itu sudah selesai dengan makanan dan minuman
mereka. Tubuh mereka yang baru saja ditempa di tengahtengah hutan
itupun merasa mejadi semakin segar. Darah mereka menjadi panas dan
jantung merekapun rasa-rasanya berdetak semakin mantap. Namun yang
dicemaskan Ki Pandi itupun terjadi. Tiba-tiba saja tiga orang anak
muda yang nampaknya dari keluarga yang cukup terpandang telah
mendekatinya. Seorang di antara mereka sambil tertawa berkata kepada
kawannya "Bagaimana mungkin kakek ini mempunyai kelebihan di
punggungnya" Kawan-kawan tertawa. Bahkan seorang yang lain ternyata
lebih berani lagi. Diusapnya bongkok di punggung Ki Pandi itu sambil
berkata “Maaf kek. Aku tidak dapat menahan diri untuk tidak meraba
punggung kakek yang sangat memilik perhatian ini.” Kawan-kawannya
tertawa semakin keras. Bahkan seorang dari sekelompok anak muda yang
yang lain, yang duduk di muka pintu berkata “Bagaimana jika bongkok
itu kita ambil dan kita minta pemilik kedai ini untuk
menggorengnya?” Seisi kedai itu tertawa meledak. Wajah Ki Pandi
memang menjadi merah. Manggada dan Laksana tidak dapat berdiam diri
mengalami perlakuan yang sangat buruk itu. tetapi ketika mereka
bangkit, Ki Pandi berdesis “Jangan lakukan. Aku minta" "Tetapi itu
sudah keterlaluan” sahut Laksana. "Tidak apa-apa. Nanti setelah kita
meninggalkan kedai ini, kita tidak akan bertemu lagi dengan orang
itu” Manggada menggeram. Tetapi ia tidak mau melanggar perintah Ki
Pandi. Namun anak muda yang meraba punggung Ki Pandi itu justru yang
menyahut Jangan marah. “Ki Sanak. Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku
hanya ingin mengusap punggung ini" Wajah Manggada dan Laksana
bagaikan telah membara. Tetapi Ki Pandilah yang menjawab “Aku tidak
berkeberatan anak muda" "Bagus jawab anak muda itu kau memang orang
yang baik?” anak muda itu berhenti sejenak. Namun kemudian katanya
“Tetapi sayang. Aku justru mengharap kedua anak yang bersamamu itu
marah" "Tidak. Mereka tidak akan marah. Mereka adalah
kemenakan-kemenakanku. Aku Kira, kami memang tidak akan dapat marah
kepada kalian anak anak muda” "Ternyata kau cukup cerdik” berkata
anak muda yang lain "he, apakah kau tahu siapa kami" "Tidak” jawab
Ki Pandi "tetapi kami memang harus menghormati kalian" Anak muda
yang masih saja memegangi punggung Ki Pandi itu berkata “ternyata
kau bijaksana. Baiklah. Silahkan makan dan minum" Ketiga anak muda
itu bergeser menjauh dan kembali duduk di tempatnya semula. Namun
anak muda yang berada di depan pintu itu berteriak lagi "He, kenapa
kalian tidak jadi mengambil kelebihan pada punggung kakek itu? Ambil
dan serahkan pada pemilik kedai ini” Beberapa orang yang ada di
kedai itu tertawa. Sementara itu, Ki Pandipun berkata “Marilah. Kita
tinggalkan kedai ini. Hal-hal seperti ini akan terulang dan terulang
sebagaimana yang terjadi sebelum kita memasuki hutan itu. Karena
itu, kalianpun tahu, kenapa aku menjadi rendah diri. Dahulu, ketika
aku masih muda, aku berusaha menutupi perasaan ini dengan tingkah
laku yang aneh-aneh. Di perguruan aku berusaha untuk menunjukkan
kelebihanku dalam olah kanuragan. Aku menjadi sagat mudah
tersinggung dan aku sering membuat onar. Tetapi masa-masa seperti
itu sudah lampau. Kini aku hanya dapat menerima setiap perlakuan
seperti itu dengan menekan perasaanku, karena agaknya tidak pantas
lagi bagiku untuk berkelahi di sembarang tempat. Manggada dan
Laksana menarik nafas dalam-dalam. Namun dengan nada berat Laksana
berkata “Bagaimana jika kami saja yang berkelahi sekarang" Ki Pandi
menggeleng. Katanya “Tidak. Jangan” Namun agaknya orang-orang di
kedai itu masih saja memperolok-olokkannya. Sekali-sekali terdengar
gelak tertawa di antara mereka. Bahkan ampat orang anak muda yang
baru masuk kedai itupun telah ikut pula memperolok-olokkannya.
Agaknya anak muda itupun termasuk anak-anak muda dari lingkungan
yang sama. Namun tiba tiba semua gelak itupun terhenti. Orang-orang
yang ada di dalam kedai itu nampak menjadi gelisah. Lebihlebih
beberapa kelompok anak muda yang sudah ada di dalam kedai. Sedangkan
orang-orang yang lebih tuapun menundukkan kepala mereka. Semua
perhatian tiba-tiba telah terikat pada mangkok-mangkok minuman dan
makanan mereka. Beberapa saat kemudian, seorang anak muda memasuki
kedai itu, diiringi oleh dua orang yang bertubuh tinggi kekar dan
berwajah garang. Tiga orang anak muda yang telah memperolok-olokkan
Ki Pandi dengan meraba-raba bongkoknya itu nampak menjadi sangat
gelisah. Setelah mereka saling memberi isyarat, maka ketiganya
tiba-tiba telah bangkit berdiri dan berlari lewat pintu butulan di
dekat tempat Ki Pandi duduk. Namun langkahnyapun terhenti. Di luar
pintu telah telah berdiri pula seorang yang bertubuh tinggi berbadan
kekar seperti dua orang yang mengikuti anak muda yang baru masuk
itu. "Apakah kalian akan lari?” bertanya orang yang sudah berdiri di
pintu itu. Ketiga anak muda itu melangkah mundur. Wajah mereka
menjadi tegang. Sementara anak muda yang baru masuk bersama dua
orang itu masih berdiri di pintu kedai itu. "Kau tidak akan dapat
lari kemana-mana sekarang” berkata anak muda yang baru datang itu.
Ketiga orang anak muda itu memang tidak dapat melarikan diri lagi.
Sementara itu. anak-anak muda yang lain nampaknya tidak ingin
terlibat. Bahkan orang-orang yang lebih tua tidak ada yang berani
berbuat sesuatu. "Aku ingin membuat perhitungan sekarang” berkata
anak muda itu "aku mencarimu selama dua hari. Baru sekarang aku
menemukanmu disini" Ketiga orang anak muda itu tidak menjawab.
Tetapi wajahwajah mereka nampak menjadi sangat tegang. "Dua hari
yang lalu kalian telah memukuli saudara sepupuku. Apakah kalian
belum mengenal aku?” "Tetapi, tetapi…" salah seorang dari ketiga
orang itu menjawab dengan gagap "kami tidak tahu bahwa anak itu
sepupumu. Anak itulah yang mendahului menimbulkan persoalan. Justru
saat itu kami sedang baristirahat” "Kau dapat mengatakan dengan
alasan apapun juga. Tetapi yang sudah terjadi adalah bahwa kalian
telah memukuli kemanakanku sampai terluka cukup parah” jawab anak
muda itu. "Tetapi anak itulah yang memancing persoalan” jawab salah
seorang dari ketiga anak muda itu. "Aku tidak peduli" anak muda itu
membentak. Ketiga orang itu menjadi semakin pucat. Sementara itu
anak muda itu berkata “Kalian harus tahu siapa aku" "Ya. Kami tahu”
jawab anak muda yang menjadi ketakutan itu. “Nah, kita sudah saling
mengenal, siapa kalian dan siapa aku. Karena itu terserah kepada
kalian, apakah kalian akan melawan atau kalian akan membiarkan kami
memperlakukan kalian seperti kalian memperlakukan sepupuku" "Tetapi
ia menyerang kami dengan pisau. Kami tidak bersalah" seorang di
antara ketiganya hampir berteriak. Tetapi anak muda itu sama sekali
tidak menghiraukannya. Selangkah ia maju. Ketika kakinya menyentuh
kaki seorang yang duduk sambil menunduk di dekatnya, maka kaki
itupun dikibaskannya keras-keras sehingga orang itu telah terpental
dari tempat duduknya dan jatuh terguling di tanah. Demikian orang
itu berusaha bangkit, maka anak muda itupun membelalakkan matanya
sambil berkata “Kau akan mencoba menghina aku, he” "Tidak. Tidak"
orang itu menjadi ketakutan "aku sama sekali tidak sengaja. Aku
mohon ampun" Anak muda itu melangkah lagi. Iapun kemudian telah
memandangi orang-orang yang ada di kedai itu. Bukan hanya ketiga
orang anak muda yang menjadi ketakutan itu. Tiba-tiba matanya
terhenti ketika ia melihat Ki Pandi, Manggada dan Laksana. Dengan
wajah yang tegang ia berkata “Ada juga kutu-kutu busuk yang masuk ke
kedai ini" Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia berdesis
perlahan sekali "Kalian harus tetap menahan diri " "Apakah kedai ini
sudah berubah menjadi ruang makan bagi pengemis-pengemis” berkata
anak muda itu keras-keras. Suasana masih tetap diam namun tegang.
Adalah di luar dugaan bahwa anak muda itu justru melangkah mendekati
Ki Pandi "He, kakek bongkok. Kau kenal aku?" Ki Pandi memandang anak
muda itu sekilas. Namun kemudian iapun menggeleng sambil menjawab
“Tidak anak muda" "Nah, sekarang kesempatan bagimu untuk mengenalku.
Aku adalah penguasa di lingkungan ini. Semua orang harus tunduk
kepadaku” Ki Pandi yang memang tidak ingin ribut itu mengangguk
sambi menjawab “Aku mengerti anak muda" "Dengar. Aku tidak senang
melihat pengemis di kedai ini” geram orang itu. Ki Pandi menarik
nafas dalam-dalam. Di luar sadarnya, ia memandang berkeliling.
Orang-orang yang ada di dalam kedai itu memang orang-orang yang
agaknya datang dari tataran yang baik. Tetapi ketika hal itu
dibicarakan dengan Manggada dan Laksana, maka keduanya menganggap
bahwa kedai itu diperuntukkan bagi siapa saja yang sanggup membayar,
sehingga karena itu, maka mereka bertiga tidak segera pergi. Namun
ternyata hal itu mempunyai akibat yang panjang. Anak muda itupun
kemudian berkata “Baiklah. Kali ini aku maafkan kalian. Tetapi untuk
selanjutnya kalian tidak boleh lagi masuk ke dalam kedai ini"
"Baiklah anak muda” jawab Ki Pandi "kami akan segera meninggalkan
kedai ini" Anak muda itupun telah memanggil pemilik kedai itu dengan
isyarat tangannya. Dengan tergesa-gesa pemilik kedai itupun
berlari-lari kecil mendekat. "Suruh orang-orang itu pergi setelah
membayar” Pemilik kedai itu mengangguk hormat. Katanya “Baiklah anak
muda" Manggada tidak menunggu orang itu minta dibayar harga makanan
dan minuman yang telah mereka pesan. Ketika orang itu mendekatinya,
maka Manggadapun segera bertanya sambil mengambil kampil kecil dari
kantong ikat pinggangnya. Di kampil itu masih tersimpan sisa uangnya
yang sudah tidak terlalu banyak lagi. Tetapi justru karena mereka
sudah berada di jalan pulang, maka mereka tidak akan memerlukan
banyak uang lagi di perjalanan. Setelah membayar beberapa keping
uang sebagaimana disebut oleh pemilik kedai itu, maka mereka
bertigapun melangkah keluar diikuti pandangan berpasang-pasang mata
dari orang-orang yang ada di kedai itu. Sebenarnya perasaan Manggada
dan Laksana telah memberontak di dalam dadanya. Tetapi mereka sangat
menghormati Ki Pandi, sehingga mereka tidak berbuat sesuatu karena
Ki Pandi selalu mencegahnya. Demikian Ki Pandi, Manggada dan Laksana
keluar dari kedai itu, maka perhatian anak muda itu kembali tertuju
kepada ketiga orang anak muda yang masih ada di dalam kedai itu.
Semula mereka mengira bahwa perhatian anak muda yang baru datang itu
telah beralih. Namun ternyata perhatiannya kembali tertuju
kepadanya. Di luar, Ki Pandi, Manggada dan Laksana masih berdiri
termangu-mangu. Seorang yang umurnya sudah sebaya dengan Ki Pandi
telah datang mendekatinya. “Apakah kau diperlakukan kasar oleh
anak-anak di dalam kedai itu? Dan yang terakhir anak muda yang baru
datang bersama tiga orang pengawalnya?” bertanya orang itu. "Ah,
tidak apa-apa Ki Sanak” jawab Ki Pandi “aku mengenal sikap anak-anak
muda yang kadang-kadang meledak-ledak" Orang itu memandang ke pintu
kedai itu. Lalu katanya “Tetapi anak-anak itu kadang-kadang memang
keterlaluan. Aku melihat apa yang mereka lakukan atas Ki Sanak" Ki
Pandi tersenyum. Katanya “Aku sudah melupakannya" "Ki Sanak memang
bijaksana” jawab orang itu. Namun katanya kemudian "tetapi hukuman
itu akhirnya datang sendiri. Kau belum mengenal anak muda yang
datang dengan pengawalnya itu" "Belum Ki Sanak” jawab Ki Pandi.
"Anak itu anak orang yang sangat kaya. Orang-orang di sekitar tempat
ini, termasuk pemilik kedai itu, mendapat pinjaman uang dari orang
tua anak muda itu sebagai modal. Itulah sebabnya maka ia sangat
dihormati di lingkungan ini. Kedudukannnya justru melampaui
kedudukan Ki Demang sendiri. Ia dapat berbuat apa saja sekehendak
hatinya. Nah, tiga orang anak muda itu akan mengalami nasib buruk di
tangannya. Ketiga orang pengawalnya itu akan memperlakukan ketiga
orang anak muda itu menjadi barang mainan. Mereka pulang dengan
tulang-tulang yang retak" "Apakah Ki Demang tidak mampu
mengatasinya?" bertanya Ki Pandi “atau barangkali prajurit Pajang"
"Ki Demang sudah tidak berdaya. Sementara itu, mereka tidak berani
melaporkan kepada prajurit Pajang. Mungkin prajurit Pajang dapat
bertindak. Namun nasib mereka yang berani melaporkan itu akan
menjadi lebih buruk lagi" Wajah Ki Pandi nampak berkerut. Sementara
orang itu berkata “Lebih dari itu, ayah anak muda itu mempunyai
banyak kawan di lingkungan keprajuritan. Hubungan yang baik itu
sangat mempengaruhi sikap mereka" Ki Pandi mengangguk-angguk. Namun
sebelum ia menyahut, maka iapun terkejut melihat anak muda yang
terlempar dari pintu kedai itu dan jatuh di halaman. "Ampun. Aku
minta ampun” anak muda itu hampir menangis. Seorang yang bertubuh
tinggi keker melangkah mendekatinya. Dengan tangkasnya ia menggapai
baju anak muda yang terjatuh itu. Kemudian ditariknya sehingga anak
muda itu berdiri. Namun sebuah pukulan yang sangat keras telah
mengenai perutnya. Anak muda itu terbungkuk kesakitan. Tetapi
pukulan yang lain melayang mengenai wajahnya, sehingga sekali lagi
anak muda itu terjatuh di halaman. Ki Pandi, Manggada dan Laksana
berdiri termangu-mangu. Sedang orang yang sudah sebaya dengan Ki
Pandi itu berkata “Lebih baik kita pergi. Jika kita masih tetap
disini, maka kita tentu akan dianggap mencampuri persoalan mereka"
Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya “Silahkan
menyingkir Ki Sanak. Aku akan menonton disini" Orang itu menjadi
heran. Dengan nada tinggi ia berkata “Apa yang sebenarnya kau
kehendaki? Kau sudah mendapat perlakuan kasar. Kau sudah diusir
seperti seorang pengemis meskipun kau mampu membayar harga makanan
dan minumanmu. Sekarang kau akan menonton apa yang bakal terjadi
disini. Bukankah itu akan berakibat buruk bagi kalian?” "Kasihan
anak-anak muda yang bakal mengalami nasib buruk itu” berkata Ki
Pandi. "Itu hukuman bagi mereka. Bukankah mereka telah
memperolok-olokkan Ki Sanak" "Tetapi kenakalan itu masih merupakan
kenakalan anakanak muda. Namun agaknya anak muda yang berpengawal
itu telah melakukan perbuatan-perbuatan yang lebih kasar lagi,
justru karena ia mempunyai kedudukan yang kuat, serta pengawal yang
berilmu tinggi” berkata Ki Pandi “bahkan menurut perhitunganku, anak
muda itu tentu juga sering memeras orang-orang yang telah meminjam
uang kepada ayahnya di luar pengetahuan ayahnya itu sendiri" "Ya”
jawab orang itu ”darimana kau tahu" "Aku hanya menduga” jawab Ki
Pandi. Namun kemudian katanya “Meskipun aku juga berprihatin melihat
anak-anak muda yang tidak lagi menaruh hormat kepada orang-orang tua
sebagaimana dilakukan oleh ketiga orang anak muda yang
memperolok-olokkan aku, tetapi aku merasa sangat menyesali sikap dan
tindakan anak muda yang berpengawal itu. Tingkah lakunya sudah
mengarah pada laku kejahatan, la menakutnakuti orang di satu
lingkungan tertentu dan memeras mereka dengan semena-mena” "Aku
sependapat Ki Sanak. Tetapi apa yang dapat kau lakukan atas mereka?”
sahut orang itu. Namun keadaan menjadi bertambah tegang, ketika dua
orang anak muda yang lain dilemparkan keluar pula. Mereka mulai
merengek minta ampun. Tetapi ketiga orang yang bertubuh tinggi
berbadan kekar dan berwajah garang itu tanpa belas kasihan telah
menghajar mereka. Sedangkan anak muda yang ditakuti itu berdiri
bertolak pinggang di muka pintu. Ki Pandi berdiri termangu-mangu.
Kemudian ia berpaling kepada Manggada dan Laksana sambil berkata
“Kalian harus mencegah perlakuan yang sewenang-wenang itu” Manggada
dan Laksana termangu-mangu sejenak. Semula Ki Pandi mencegah mereka
untuk turun tangan. Namun tibatiba Ki Pandi itu justru memberikan
perintah kepada mereka untuk berbuat sesuatu. Melihat kedua anak
muda itu ragu-ragu, maka Ki Pandi pun berkata sekali lagi "Cegah
orang itu. Mereka tidak berhak memperlakukan anak-anak muda itu
seperti itu. Jika anakanak muda itu bersalah, maka ia harus
diserahkan kepada Ki Demang atau bebahu yang ditugaskannya" Manggada
dan Laksana mengangguk kecil. Tanpa bertanya lebih lanjut, maka
merekapun melangkah mendekati anak muda yang bertolak pinggang itu.
Anak muda itu memang menjadi heran melihat kedua orang yang telah
diusirnya itu mendatanginya. Dengan lantang anak muda itu
membentaknya "He, untuk apa kau datang kepadaku" Suaranya justru
telah menghentikan pengawalnya yang masih saja menyakiti ketiga anak
muda yang sudah minta ampun itu. Bahkan mulut mereka sudah mulai
berdarah, karena bibir mereka yang pecah atau gigi mereka yang
terlepas. "Hentikan perbuatan itu Ki Sanak” berkata Manggada.
"Perbuatan yang mana?” bertanya anak muda itu. "Anak-anak muda yang
dipukuli oleh pengawalmu itu sudah merengek minta ampun. Ternyata
mereka memang tidak lebih dari anak-anak yang hanya dapat menangis
dan minta ampun jika mereka menghadapi kesulitan, meskipun mereka
anak-anak yang tidak tahu diri dan mengenal unggah-ungguh” jawab
Manggada. Wajah anak muda itu menjadi merah. Tidak pernah ada orang
yang berani mencegah perbualan-perbuatannya. Karena itu, maka iapun
berteriak "He, pengemis buruk. Kau tidak mengenal aku, he. Bukankah
aku sudah mengatakan bahwa aku penguasa di lingkungan ini" "Mungkin,
tetapi mereka tidak mengakuimu. Akupun bukan orang yang termasuk
mempunyai pinjaman kepada orang tuamu. Karena itu, aku dapat
bersikap sesuai dengan kemauanku atasmu" "Setan kau" suara anak muda
itu mulai bergetar oleh kemarahan yang membakar ubun-ubunnya "kalian
mau apa sekarang" Laksanalah yang menyahut “Bagus. Aku menunggu
pertanyaan itu. Dengar. Sekarang aku akan mencegah perbuatan
orang-orangmu itu. Jika perlu dengan kekerasan" Kemarahan anak muda
itu tidak terbendung lagi. Karena itu, maka iapun berteriak kepada
orang-orangnya "Koyaklah mulut anak-anak gila ini" Ketiga orang
pengawai anak muda itupun meninggalkan korban-korban mereka. Dengan
gigi yang gemeretak, maka mereka segera melangkah mendekati Manggada
dan Laksana. Ketiga orang anak muda yang tulang-tulangnya bagaikan
retak itu berusaha bangkit. Namun mereka hanya dapat beringsut
beberapa langkah, sementara Manggada berkata “Jangan takut anak-anak
manis. Kau tidak akan dipukuli lagi" Ketiga orang anak muda itupun
menjadi heran. Anak-anak, muda itu adalah anak-anak muda yang duduk
bersama orang bongkok yang telah diperolok-olokkannya. Ketika itu
mereka tidak berbuat apa-apa. Meskipun nampaknya mereka tersinggung,
tetapi justru orang bongkok itu sendirilah yang menenangkan mereka,
sehingga keduanya tidak berbuat apa-apa. Bahkan ketika salah seorang
dari mereka mengharap kedua anak muda itu marah, ternyata keduanya
tidak bangkit dari tempat duduknya. Namun kini anak-anak muda itu
telah menantang ketiga orang pengawal anak muda yang sangat disegani
di lingkungan itu. Dalam pada itu, ketiga orang pengawal itu sudah
siap. Namun karena yang akan mereka hadapi hanya dua orang anak muda
saja, maka seorang di antara mereka terpaksa mengalah. "Kau bereskan
anak-anak yang telah memukuli sepupuku itu” berkata anak muda yang
disegani itu. Orang itu memang berpaling kepada tiga orang anak muda
yang sudah berhasil bangkit untuk duduk di pinggir halaman itu.
Sementara itu Laksanalah yang berteriak kepada mereka "Bangkit.
Lawan orang yang akan memukulimu. Bukankah kalian laki-laki sejati?
Kalian hanya berani memperolok-olokkan orang tua yang kau anggap
tidak mampu berbuat apa-apa. Tetapi menghadapi orang yang kau anggap
kuat, kau sama sekali tidak berani berbuat apa-apa. Bahkan merengek
minta ampun" "Cukup” bentak anak muda yang membawa tiga orang
pengawal itu. Lalu katanya kepada kedua orang pengawalnya "Buat
mereka menjadi jera” Kedua orang pengawal itupun segera melangkah
maju. Seorang mendekati Manggada dan seorang lagi mendekati Laksana.
Dalam pada itu, beberapa orang yang ada di kedai itupun telah
keluar. Mereka melihat dua orang anak muda yang datang bersama orang
bongkok itu sudah berhadapan dengan orang-orang yang sangat ditakuti
di tempat itu. Bahkan Ki Demangpun tidak dapat berbuat apa-apa
terhadap mereka. Tetapi kedua orang anak muda yang berpakaian kusut
itu nampaknya sama sekali tidak merasa takut. Tetapi beberapa orang
berbisik di antara mereka "Mereka belum mengenal kedua orang yang
garang dan bengis itu. Mereka tentu akan mematahkan tangan atau kaki
keduanya atau bahkan lehernya" Sementara itu, orang yang umurnya
sebaya dengan Ki Pandi berkata dengan nada cemas "Kau umpankan
anak-anak itu ke dalam mulut serigala yang sangat buas. Kau tentu
belum mengenal mereka. Mereka dapat berbuat apa saja yang tidak
dapat dilakukan oleh orang lain. Apalagi terhadap orang yang sudah
berani menentang anak muda yang mengendalikan mereka. Anak muda yang
nampaknya tampan itu ternyata berhati iblis. Dan kau serahkan
anak-anakmu itu ke tangannya yang merah oleh darah. Ki Pandi menarik
nafas dalam-dalam. Katanya “Aku tidak berharap demikian. Aku tidak
senang melihat tingkah laku anak muda dan pengawal-pengawalnya itu.
Karena itu, aku berharap bahwa kedua orang kemenakanku itu dapat
sedikit memperingatkannya agar untuk selanjutnya ia berhati-hati"
"Apakah kedua kemenakanmu itu mempunyai ilmu kebal?” bertanya orang
itu. "Tidak” jawab Ki Pandi. Namun katanya kemudian "Tetapi mereka
berbekal niat yang baik" "Niat saja tidak akan menolong mereka.
Nasibnya akan menjadi lebih buruk dari ketiga orang anak muda itu”
Dalam pada itu, Manggada dan Laksanapun sudah mulai bergeser saling
menjauhi. Mereka sudah siap menghadapi kedua orang yang bertubuh
tinggi tegap itu. bahkan tenaga merekapun ternyata lebih kuat dari
orang kebanyakan. Orang-orang yang bertubuh raksasa itulah yang
kemudian mulai menyerang. Mereka seakan-akan tidak memperhitungkan
perlawanan kedua orang anak muda itu. Raksasa yang melawan Manggada
itu justru telah melangkah maju sambil mejulurkan tangannya untuk
menangkap anak muda itu, seakan-akan anak muda itu bukannya sasaran
yang dapat bergerak dan apalagi melawan. Manggada yang melihat
lawannya itu ingin menangkapnya begitu saja, justru merasa
tersinggung. Beberapa langkah ia mundur. Tidak untuk menghindari
tangan lawannya yang akan menangkap lengannya itu. Tetapi ia justru
mengambil ancangancang. Bahwa Manggada merasa tersingggung itu telah
membuatnya berusaha untuk memberikan peringatan kepada lawannya pada
serangannya yang pertama. Demikianlah, ketika raksasa itu masih saja
melangkah maju, maka dengan tiba-tiba saja Manggada telah melenting
sambil memiringkan tubuhnya. Dikerahkannya tenaganya untuk
melontarkan serangan kearah dada orang itu untuk menunjukkan bahwa
lawannya tidak dapat menganggapnya seorang yang tidak berdaya. Tubuh
Manggada meluncur dengan derasnya. Kakinya terjulur lurus
menyamping. Langsung kearah dada. Namun ternyata yang tidak
terduga-duga itu terjadi. Manggada sendiri terkejut ketika kakinya
menghantam dada orang itu. Ternyata pertahanan orang itu telah
terguncang. Bahkan kemudian orang itu bagaikan dilemparkan langsung
jatuh terbanting di tanah. Terdengar mulutnya mengumpat kasar.
Dengan sigapnya ia melenting untuk bangkit berdiri. Tetapi ternyata
tubuhnya pun segera terhuyung-huyung. Ia hanya mampu berdiri
beberapa kejap. Kemudian sekali lagi tubuhnya jatuh terguling.
Bahkan dari mulutnya telah mengalir darah. Orang itu mengerang
kesakitan. Dipeganginya dadanya dengan kedua tangannya sambil
menggeliat-geliat. Betapa wajahnya membayangkan kesakitan yang
sangat. Bahkan kemudian nafasnya menjadi sesak. "Gila” teriak anak
muda yang disegani itu "apa yang telah terjadi denganmu" Tetapi
orang bertubuh raksasa itu tidak dapat menjawab. Dari mulutnya masih
terdengar erang kesakitan. Ki Pandi menjadi cemas. Ia tidak
mengharap Manggada membunuh orang itu. Namun Ki Pandipun memaklumi,
bahwa setelah berada di hutan selama sebulan, maka Manggada
kehilangan pengamatan atas tingkat ilmunya. Manggada sendiri tidak
sadar, bahwa ilmunya telah jauh meningkat dibandingkan sebelum ia
menjalani laku Tapa Ngidang di hutan dari purnama sampai ke purnama.
Sementara itu, seorang di antara raksasa yang sudah berhadapan
dengan Laksanapun menjadi cemas. Agaknya anak muda yang seorang lagi
itupun memiliki kemampuan yang setingkat. Tetapi orang yang sudah
siap menghadapi Laksana itu berkata pada diri sendiri "Orang dungu
itu telah lengah, sehingga ia tidak berdaya sama sekali ketika
serangan itu datang" Karena itu, maka orang itupun telah
mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menghadapi anak muda yang
seorang lagi itu. Sementara itu, anak muda yang ditakuti itupun
berteriak kepada pengawal yang seorang lagi "Gantikan orang dungu
itu. ia tidak pantas menjadi pengawalku lagi. Selesaikan kedua orang
anak iblis itu. Apapun yang terjadi atas mereka" Perintah itu jelas.
Mereka tidak perlu mengekang diri lagi. bahkan seandainya anak-anak
itu terbunuh oleh tangantangan mereka yang kasar itu. Manggada
mundur beberapa langkah. Yang terjadi itu benar-benar di luar
dugaannya sendiri. Karena itu, maka ia justru harus menilai kembali
tenaga dan kemampuannya. Bahkan tanpa mengerahkan tenaga dalamnya.
Yang kemudian mulai menyerang adalah orang yang berhadapan dengan
Laksana. Sebenarnyalah bahwa Laksana sendiri juga menjadi bimbang
oleh kekuatan dan kemampuannya sendiri. Karena itu, maka Laksana
harus mulai dari dasar kekuatannya, ia mulai mejajagi kekuatan dan
kemampuan lawannya. Iapun tidak ingin jika lawannya kemudian
terbunuh dalam pertempuran itu. Namun dalam beberapa saat,
laksanapun segera mengetahui, bahwa kekuatan lawannya yang bertubuh
raksasa itu tidak akan mampu menggetarkan pertahanannya. Karena itu,
maka Laksanapun tidak perlu bersusah payah menghindari
serangan-serangan lawannya. Tetapi ia selalu menangkis dan bahkan
membentur serangan lawannya. Dengan demikian, maka Laksana sekaligus
dapat menjajagi bukan saja kekuatan dan kemampuan lawannya, tetapi
kekuatan dan kemampuannya sendiri pula. Ternyata orang bertubuh
raksasa itu tidak banyak mempunyai kesempatan. Serangan-serangannya
selalu kandas seakan-akan tidak berarti bagi lawannya yang masih
muda itu. Setiap terjadi benturan, maka rasa-rasanya
tulang-tulangnya menjadi retak. Demikian pula orang yang kemudian
menggantikan kawannya yang kesakitan itu, Iapun segera mulai
terdesak, namun Manggada berusaha untuk lebih mengendalikan diri. Ia
tidak ingin membunuh seorangpun. Bahkan iapun mulai menjadi cemas
ketika ia melihat orang yang terbaring itu sama sekali tidak
bergerak lagi. Ki Pandi yang juga melihat orang itu tidak bergerak
lagi, segera mendekatinya. Namun ternyata orang itu masih hidup.
Namun tubuhnya sudah menjadi lemah sekali. Meskipun demikian,
pernafasannya masih cukup baik. Ki Pandipun termangu-mangu sejenak.
Namun kemudian iapun berteriak kepada pemilik kedai yang berdiri
termangumangu di pintu kedainya sambil gemetar "Ambil air, cepat"
Pemilik kedai itu sekan-akan telah bergerak dengan sendirinya.
Berlari-lari ia mengambil semangkuk air dan diserahkannya kepada Ki
Pandi yang berjongkok di sebelah orang itu, sementara Manggada dan
Laksana masih bertempur di halaman. Ki Pandi kemudian telah
mengambil sebutir obat dari kantong ikat pinggangnya. Kemudian
menyisipkannya di bibir orang itu. Sambil menitikkan air di mulut
orang itu Ki Pandi berkata “Telanlah. Keadaanmu akan berangsur baik"
Antara sadar dan tidak, maka orang itupun telah menelan air yang
dituangkan perlahan-lahan di mulutnya. Obat yang diselipkan di bibir
orang itupun lelah menjadi larut pula ikut tertelan lewat
kerongkongannya. Terasa darahnya yang menjadi hangat merambat lewat
urat-uratnya, mengalir ke seluruh tubuhnya. Perasaan sakit pun
sedikit demi sedikit telah berkurang, sementara tenaganya terasa
sedikit segar. Meskipun dadanya masih sakit dan tulang-tulangnya
terasa nyeri, namun obat itu telah sangat membantunya mengurangi
penderitaannya. Sementara itu, pertempuran masih berlangsung, namun
sudah tidak seimbang lagi. Manggada dan laksana telah mendesak
lawannya sehingga sama sekali tidak berdaya lagi. Mereka tinggal
dapat meloncat-loncat menghindar, berlari-lari kecil mengambil jarak
dan balikan nampak di wajah mereka, betapa mereka mulai dicengkam
oleh kecemasan yang sangat. Sekali-sekali serangan Manggada dan
Laksana telah mengenai tubuh mereka. Perasaan sakit dan nyeri telah
mencengkam seluruh tubuh mereka, lawan Manggada hidungnya sudah
mulai berdarah. Sementara lawan Manggada matanya nampak lembab dan
kebiru-biruan. Anak muda yang disegani itu ternyata tidak mau
melihat kenyataan. Ketika kedua pengawalnya itu tidak lagi mampu
berbuat sesuatu, maka ia masih saja berteriak "Bunuh anakanak iblis
itu. Jangan takut, aku yang akan mempertanggung jawabkannya" Tetapi
kedua orang pengawalnya yang bertubuh raksasa itu tidak mampu
berbuat sesuatu. Mereka tidak mampu lagi menghindari dan bahkan
menangkis serangan-serangan anakanak muda itu. Bahkan ketika Laksana
sedikit terdorong melayangkan tangannya menebas dengan sisi telapak
tangannya mengenai kening lawannya, maka lawannya itupun merasa bumi
tempatnya berpijak menjadi berputar. Laksana yang sudah siap
melancarkan serangan berikutnya, telah tertahan dan bahkan
mengurungkannya. Dibiarkannya lawannya berusaha memperbaiki
keseimbangaannya yang goyah. Anak muda yang disegani itu menjadi
semakin marah. Ketika orang yang berusaha untuk berdiri tegak itu
gagal, sehingga ia jatuh terduduk, maka anak muda itupun berteriak
"He, pengecut. Kenapa kau malah duduk disitu. bangkit, bunuh lawanmu
atau kau akan dihukum cambuk oleh ayah" Orang itu memang masih
berusaha untuk bangkit, tetapi ia tidak mampu lagi. Kepalanya
benar-benar terasa pening dan segalanya telah berputar. "Bangkit”
teriak anak muda itu. Laksana yang mendengar teriakan-teriakan itu
justru tidak tahan lagi. Justru karena lawannya sudah tidak berdaya.
Karena itu, maka ketika anak muda itu berteriak sekali lagi dan
bahkan lebih keras, maka Laksana telah meloncat menghampirinya.
Dengan cepat tangannya telah menggapai baju anak itu dan menariknya
sambil berkata “Kenapa kau hanya berteriak-teriak saja. Kenapa bukan
kau sendiri yang memasuki arena dan berkelahi" Anak muda itu
terkejut. Ia tidak pernah mengalami perlakuan yang demikian, karena
itu, maka iapun berteriak "Lepaskan bajuku. Kau akan menyesal dengan
perlakuanmu" Tetapi Laksana tidak melepaskannya. Justru tangannya
terayun menampar wajah anak muda itu sambil membentak "Diam kau,
atau aku buat kau terdiam" Tamparan di wajahnya itu benar-benar
mengejutkannya. Bagaimana mungkin hal seperti itu terjadi. Seorang
anak muda yang berpakaian kumal telah berani menamparnya. Tetapi
Laksana masih saja memegangi bajunya sambil membentak-bentaknya
"Ayo. Aku tantang kau berkelahi. Mau tidak mau" Sebelum anak itu
menjawab, maka Laksana telah menyeretnya dan mendorongnya ke
halaman. Demikian kerasnya dorongan Laksana sehingga anak muda itu
telah jatuh terjerembab. Wajahnya terantuk tanah, sehingga menjadi
kotor karenanya. Laksana yang berdiri di dekatnya membentaknya
“bangkit. Kita berkelahi" Anak itu benar-benar menjadi bingung.
Orangnya yang terakhirpun telah terbaring pula di tanah. Sebenarnya
Manggada tahu, bahwa lawannya itu masih mungkin untuk bangkit dan
memberikan perlawanan. Tetapi agaknya orang itu tidak melihat lagi
harapan untuk dapat bertahan, sehingga karena itu, ketika ia
terjatuh, maka iapun berpura tidak lagi mampu berdiri. Karena anak
muda itu masih belum bangkit, maka Laksana telah memarik lagi
bajunya. Sekali lagi Laksana menampar wajah anak muda itu. Tiba-tiba
saja anak muda itu telah kehilangan pegangan. Ia tidak terbiasa
berbuat sesuatu selain berteriak-teriak memberikan perintah. Ketika
kemudian orang-orang yang mengawalnya itu tidak berdaya, maka anak
muda itupun tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Karena itu,
ketika Laksana mengguncang bajunya, maka tiba-tiba saja anak itu
menagis. "Ampun. Aku minta ampun" Hampir saja Laksana tidak mampu
mengendalikan dirinya. Tetapi kemudian Laksana itu menyadari, bahwa
anak muda itu telah benar-benar menjadi ketakutan. Karena itu, maka
Laksana pun telah melepaskannya dan berkata “Aku akan datang lagi ke
lingkungan ini. Jika kau masih berbuat sebagaimana kau lakukan
sekarang, maka aku akan menghancurkanmu. Katakan kepada ayahmu,
bahwa aku akan tetap berbuat tanpa harus tunduk kepadamu dan kepada
ayahmu. Disini tentu ada paugeran yang berlaku bagi setiap orang.
Termasuk kau dan ayahmu, sehingga kalian tidak dapat berbuat
sekehendakmu sendiri" Anak muda itu tidak dapat menjawab sama
sekali. Tangisnya justru menjadi-jadi. Rasa-rasanya anak muda itu
tidak lagi merasa malu. Orang yang menyaksikan peristiwa itu memang
menjadi berdebar-debar. Mereka yakin bahwa orang-orang yang berani
melawan anak muda itu tentu orang yang sama sekali tidak
mengenalnya. Namun yang perasaanya terguncang bukan saja anak muda
yang menangis itu, tetapi tiga orang anak muda yang telah dihajar
oleh ketiga pengawal anak muda yang menangis itupun menjadi sangat
gelisah menghadapi kenyataan itu. Mereka tidak dapat mengerti,
kenapa kedua anak muda yang berpakaian kusut itu tidak berbuat
sesuatu atas diri mereka ketika mereka memperolok-olokkan orang tua
yang bongkok yang justru mencegahnya. Jika saja kedua anak muda itu
tidak dapat dikendalikan oleh orang yang bongkok itu, maka mereka
bertiga akan mengalami nasib yang lebih buruk lagi. Sementara itu,
Laksana telah melepaskan anak muda yang menangis itu. Sedangkan
Manggada pun telah bergeser menjauh. Ki Pandi yang telah memberikan
obat kepada salah seorang pengawal yang dadanya terluka di dalam
itupun telah bangkit dan berdiri pula. "Marilah” berkata Ki Pandi
“kita tinggalkan saja tempat ini. Kita tidak mempunyai kepentingan
apa-apa lagi disini" Manggada telah melangkah mendekati Ki Pandi.
Tetapi Laksana justru melangkah mendekati ketiga orang anak muda
yang telah memperolok-olokkan Ki Pandi yang masih saja bingung
manghadapi kenyataan itu. Laksana yang kemudian berdiri di hadapan
ketiga orang anak muda itu berkata “Sekarang kalian bangkit berdiri"
Ketiga orang anak muda itupun benar-benar ketakutan. Karena itu,
merekapun dengan gemetar telah bangkit berdiri pula, betapapun tubuh
mereka masih merasa nyeri. Tiba-tiba Laksana telah menyambar ikat
kepala mereka, membantingnya di tanah dan menginjaknya. Sambil
mengusap kepala ketiga orang anak muda itu ia berkata “Tiba-tiba
saja aku ingin mengusap kepala kalian. Kepala anak-anak muda yang
tidak lebih dari pengecut. Kenapa kalian sama sekali tidak berani
melawan? Apakah kalian hanya berani memperolok-olokkan orang tua
yang kau anggap tidak berdaya? Atau kau anggap pengemis sebagaimana
dikatakan oleh anak cengeng itu" Ketiganya sama sekali tidak
menjawab. Merekapun sama sekali tidak berbuat apa-apa ketika kepala
mereka diguncangguncang oleh Laksana. Ketiga anak muda itu melangkah
mundur. Wajah mereka menjadi tegang. Sementara anak muda yang baru
masuk bersama dua orang itu masih berdiri di pintu kedai itu. Ki
Pandi hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Sementara Manggada
hanya memandanginya saja. Namun akhirnya Ki Pandi itu memberinya
isyarat untuk meninggalkan anak-anak muda itu. Bertiga merekapun
kemudian bersiap meninggalkan kedai itu dengan meninggalkan berbagai
macam kesan di hati orang-orang yang menyaksikannya. Bahkan orang
yang umurnya sebaya dengan Ki Pandi itu melangkah mendekatinya
sambil berkata “Maafkan aku Ki Sanak. Aku tidak mengenal Ki Sanak
sebelumnya, Jika Ki Sanak tidak berkeberatan, apakah Ki Sanak dapat
memberitahukan kepadaku, siapa Ki Sanak itu sebenarnya" Ki Pandi
tersenyum. Katanya “Kami adalah pengembara yang tidak berarti
apa-apa. Tetapi peristiwa ini telah sangat menarik perhatian kami,
sehingga agaknya kami akan sering lewat jalan ini" Demikianlah,
sejenak kemudian maka Ki Pandi telah mengajak Manggada dan Laksana
meninggalkan tempat itu. Merekapun kemudian melangkah menyusuri
jalan panjang. Namun kemudian mereka berbelok memasuki jalan yang
lebih kecil. Sambil berjalan meninggalkan tempat itu, mereka
menyadari, bahwa apa yang terjadi telah menjadi tontonan orang
banyak. Bukan saja orang-orang yang ada di kedai itu. Tetapi
orang-orang yang kebetulan lewat, juga terhenti untuk menyaksikan
apa yang terjadi. Bahkan Ki Pandi, Manggada dan Laksana telah
bertemu dengan ampat orang prajurit berkuda yang berpacu menuju ke
arah yang berlawanan. Sebenarnyalah bahwa ternyata ada juga yang
melaporkan peristiwa itu ke sebuah barak prajurit, sehingga Senapati
yang mendapat laporan itu telah mengirimkan ampat orang prajurit
berkuda untuk melerai keadaan. Namun ketika mereka sampai di kedai
itu, maka perkelahianpun sudah berhenti. Tetapi para prajurit itu
masih menemukan orang-orang yang telah terluka serta anak-anak muda
yang kesakitan. Juga anak muda yang telah menangis itu meskipun
sudah berhasil menguasai gejolak perasaannya sehingga tangisnya pun
telah berhenti. Dari orang-orang yang masih mengerumuni halaman
kedai itu meskipun dari jarak yang tidak terlalu dekat, para
prajurit telah mendapat keterangan apa yang telah terjadi. Karena
itu, para prajurit itu minta pemilik kedai itu datang ke barak untuk
memberikan keterangan tentang perkelahian di kedainya itu. "Tetapi
tiga di antara para pelaku itu sudah pergi” berkata pemilik kedai
itu. "Nanti di barak kau akan dimintai keterangan selengkapnya”
berkata prajurit yang tertua. Sementara itu Ki Pandi, Manggada dan
Laksana sudah berjalan semakin jauh. Para prajurit itu memang tidak
berusaha mencarinya. Merekapun sudah mengenali anak muda dengan
ketiga orang pengawal itu, sehingga para prajurit itu sudah mengira
bahwa anak muda itulah yang bersalah. Namun ia agaknya telah
terbentur pada sekelompok orang berilmu tinggi, sehingga ketiga
orang pengawalnya itu tidak berdaya sama sekali. Kepada anak muda
yang cengeng itu prajurit yang tertua berkata “Kaupun setiap saat
diperlukan harus datang ke barak" Anak muda yang sudah tidak
menangis lagi itu berkata “Aku akan memberitahukan kepada ayahku
atas perlakuan kalian" Prajurit itu ternyata telah tersinggung.
Meskipun mereka mengetahui siapakah ayah anak itu, serta hubungannya
yang luas dengan para Senapati dan pemimpin di Pajang, namun dalam
menjalankan tugasnya, prajurit itu tidak mau direndahkan. Karena
itu, maka prajurit yang tertua itu mendekatinya sambil berkata
“Coba, katakan sekali lagi. Maka aku akan menumbat mulutmu dengan
pedangku" Anak muda itu menjadi ketakutan kembali. Bahkan mulutnya
mulai bergetar dan matanya mulai mengembun lagi. Tetapi prajurit itu
tidak mau memperpanjang persoalan. Iapun kemudian telah mendekati
tiga orang anak muda yang masih kesakitan sambil berkata “Kalianpun
harus bersiap-siap dan datang jika kalian kami panggil" "Kami akan
melakukannya” jawab ketiganya hampir berbareng. Demikianlah, maka
para prajurit itupun meninggalkan kedai itu. Sedangkan orang-orang
yang berkerumunpun telah pergi pula satu persatu. Sedangkan ketiga
anak muda yang kesakitan itupun dengan sisa tenaganya berusaha untuk
menjauhi tempat itu pula. Yang tinggal kemudian hanyalah anak muda
dan ketiga orang pengawalnya. Seorang yang berpura-pura tidak dapat
bangkit itu telah berdiri. Yang lainpun mulai dapat bangkit dan
duduk sambil bersandar pada tangannya. Pengawal yang dadanya terluka
di dalam itu sudah menjadi bertambah baik pula keadaannya setelah Ki
Pandi mengobatinya. Pemilik kedai dan pelayan-pelayannyalah yang
kemudian berusaha menolong mereka dan membawanya ke dalam kedai.
Dalam pada itu, Ki Pandi, Manggada dan Laksana sudah menjadi semakin
jauh. Mereka tidak lagi mengikuti jalan induk yang akan sampai ke
pintu gerbang kota yang lain. Tetapi mereka telah memilih jalan yang
lebih kecil dan keluar dari kota Pajang lewat pintu gerbang samping
yang lebih kecil. "Satu hal yang tanpa kalian sengaja tetapi dapat
memberikan petunjuk penting bagi kalian” berkata Ki Pandi. "Tentang
apa, Ki Pandi?” bertanya Manggada. "Kalian masih belum mampu menilai
dengan tepat kemampuan kalian sendiri” jawab Ki Pandi. Manggada dan
Laksana mengangguk-angguk. Mereka memang masih harus menilai lagi
kemampuan mereka yang sudah meningkat setelah mereka berada di hutan
dari purnama sampai ke purnama. Dalam pada itu, Ki Pandipun berkata
pula "agaknya angger Manggada masih terkejut melihat serangannya
yang hampir saja membunuh orang bertubuh raksasa itu. Seandainya
daya tahan orang itu tidak cukup tinggi, maka ia tentu sudah tidak
tertolong lagi" Manggada mengangguk-angguk. Sebenarnyalah bahwa ia
masih belum tahu pasti, seberapa tinggi tataran ilmu serta kekuatan
tenaganya setelah ia melakukan Tapa Ngidang. Namun hal itu juga
tergantung kepada kemampuan serta daya tahan lawannya. Tetapi
Manggada dan Laksana memang menyadari, bahwa mereka harus melakukan
pengamatan lebih seksama tentang peningkatan ilmu'mereka itu. "Kita
akan melakukannya setelah kalian berada di rumah nanti” berkata Ki
Pandi. Manggada dan Laksana mengangguk-angguk mengiakan. Dengan
sungguh-sungguh Manggada berkata “Kami tentu akan sangat berterima
kasih Ki Pandi. Jika pada suatu saat paman melihat bagaimana kami
dapat meningkatkan kemampuan kami, maka paman tentu akan sangat
bergembira. Sudah tentu ayah juga " "Semuanya itu sudah tentu
sebagian besar tergantung kepada kalian berdua sendiri. Kemauan
kalian serta tenaga dasar yang ada di dalam diri kalian” berkata Ki
Pandi. Lalu katanya pula "Tetapi tentu saja dengan harapan, bahwa
apa yang telah kalian miliki itu akan berarti bagi sesama. Bukan
sebaliknya justru merugikan sesama" Manggada dan Laksana masih saja
mengangguk-angguk. Beberapa kali mereka mendengar petunjuk itu.
Bukan saja dari Ki Pandi, tetapi juga dari guru mereka, dari orang
tua mereka dan bahkan dari Kiai Gumrah. Demikianlah, mereka
bertigapun telah melanjutkan perjalanan mereka justru menjauhi
Pajang. Mereka telah berjalan lagi di antara bulak-bulak sawah.
Kehidupan mulai nampak berbeda dari kehidupan di kota yang sibuk.
JalanTiraikasih Website http://kangzusi.com/ jalan tidak
lagi terlalu ramai. Tatanan rumah dan halaman. Bahkan sifat dan
kebiasaan penghuni-penghuninya. Semakin jauh mereka dari kota, maka
mereka tidak lagi merasa dikelilingi oleh kesibukan dan
ketergesa-gesaan. Tetapi juga tidak lagi dibayangi oleh kehidupan
anak-anak muda yang menggelisahkan, meskipun jumlah mereka
sebenarnya terhitung kecil. Meskipun sebenarnya kenakalan itu ada
dimana-mana, tetapi karena kahidupan di kota yang berbeda dengan
kehidupan di luarnya, maka ujud kenakalannyapun berbeda pula. Dalam
pada itu, agaknya Ki Pandipun sedang memikirkan sikap anak-anak muda
yang baru saja ditemuinya. Dengan nada rendah Ki Pandi itupun
berkata “Angger berdua. Di sepanjang perjalanan kita, maka kita
sudah melihat berbagai macam sikap dan sifat anak anak muda. Anak
anak muda yang ada di sekitar Kiai Gumrah. Kau kenal anak-anak muda
yang nakal bahkan keterlaluan sehingga sudah merugikan banyak orang
seperti Rambatan. Tetapi kau kenal juga anakanak muda yang baik di
padukuhan itu. Kau kenal juga Darpati dan Winih" Manggada dan
Laksana menjadi termangu-mangu sejenak. Ternyata banyak hal yang
diketahui oleh Ki Pandi. Agaknya Ki Pandi dapat membaca perasaan
anak-anak itu. Katanya kemudian"Aku mengetahuinya dari sedikit
pengamatanku. Namun juga dari ceritera Kiai Gumrah” ia berhenti
sejenak, lalu "kau lihat anak-anak mada di perjalanan kita ke
Pajang, sebelum dan sesudah kita melampaui hutan itu. Sehingga
dengan demikian, maka kau akan dapat membuat
perbandingan-perbandingan. Justru kalian juga termasuk anak-anak
muda, maka kalian tentu mempunyai kesempatan untuk menentukan sikap
dan pilihan bagi jalan kehidupan kalian" Manggada dan Laksana itupun
mengangguk-angguk. Sementara Ki Pandi berkata “Memang ada di antara
anak-anak muda yang memilih untuk hidup dalam kesenangan dan
kepuasan keduniawian yang dapat langsung dirasakannya sesaat. Tetapi
ada yang meletakkan harapannya pada masa depan. Bahkan ada yang
memikirkan ruang lingkup kehidupan yang lebih luas dari kehidupan
dirinya sendiri" Manggada dan Laksana mendengarkan keterangan itu
dengan bersungguh-sungguh pula. Agaknya Ki Pandi memang tersentuh
melihat kehidupan anak-anak muda yang dijumpainya dalam perjalanan
hidupnya. Dalam pada itu, maka merekapun melangkah semakin lama
semakin jauh dari Pajang. Mereka sudah berada di antara hijaunya
tanaman di sawah dan pategalan. Angin terasa semilir berhembus
mengguncang batang-batang padi muda yang nampak segar terendam di
air yang tergenang. Wajah kedua anak muda itu manjadi semakin cerah.
Lebihlebih lagi Manggada. Mereka sudah memasuki jalan yang langsung
menuju padukuhannya. Kampung halamannya. Laksanapun pernah
mengunjungi pamannya itu. Meskipun itu sudah lama terjadi, tetapi
lamat-lamat ia masih dapat mengenali jalan yang dilaluinya, karena
agaknya masih belum banyak berubah. "Perjalanan kita sudah menjadi
semakin dekat” berkata Manggada dengan wajah yang mamancarkan
kegembiraannya. Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya “Keluarga kalian
tentu akan bergembira pula menerima kedatangan kalian" "Ya. Jika
saja ayah tahu bahwa kami sudah agak lama berangkat dari rumah
paman, maka ayah dan ibu tentu sudah menunggu-nunggu dengan cemas.
Kedatangan kami tentu akan sangat menggembirakan mereka” desis
Manggada. Ki Pandi mengangguk-angguk. Tetapi rasa-rasanya ia akan
ikut bergembira melihat pertemuan antara anak-anak muda itu dengan
kedua orang tuanya. Demikianlah ketika mereka mendekati padukuhan
Gemawang yang terletak di Kademangan Kalegen, maka merekapun menjadi
berdebardebar. Sudah lama Manggada meninggalkan Kademangan Kalegen,
sementara Laksana juga pernah mengunjungi pamannya ketika ia
menginjak remaja. Terasa angin yang sejuk berhembus perlahan
menggoyang dedaunan. Padukuhan Gemawang yang merupakan bagian dari
Kademangan Kalegen nampak tenang dikejauhan. Pohon nyiur yang
berdiri berjajar di batas padukuhan seakan-akan melambai menyambut
kedatangan Manggada dan sepupunya Laksana. Ketika mereka memasuki
regol padukuhan di bawah lindungan bayangan pepohonan, Manggada
menarik nafas sambil berdesis, yang seakan-akan hanya ditujukan
kepada dirinya sendiri saja "Alangkah sejuknya udara di kampung
halaman" Namun Laksana yang mendengarnya berdesis juga "Ya, alangkah
sejuknya" Bahkan Ki Pandipun menyahut “Setelah kita berjemur
dipanasnya matahari menjelang sore hari, maka berlindung di bawah
bayang pepohonan memang terasa sejuk sekali" Laksana yang justru
berjalan di depan berkata “Aku masih ingat dengan jelas, kemana
kakiku harus melangkah" Manggada tertawa. Katanya “Kau tentu masih
ingat jalanjalan di padukuhan Gemawang. Bahkan di kademangan
Kalegen. Bukankah kau pernah berada disini beberapa lama ketika itu"
"Ya” jawab Laksana "belum banyak terdapat perubahan sampai sekarang
ini" Namun tiba-tiba Manggada mengerutkan dahinya ketika ia melihat
seorang anak kecil berlari ketakutan melihat kehadiran mereka.
Bahkan kemudian ia sempat memperhatikan halaman di sebelah
menyebelah jalan. Dari regol-regol halaman ia melihat beberapa buah
rumah yang pintunya tertutup rapat. Bahkan halaman-halaman rumah dan
jalan-jalanpun rasarasanya terlalu sepi. Tidak seorangpun
dijumpainya di jalanjalan. Anak kecil yang dilihatnya justru berlari
ketakutan dan hilang di balik regol. Ketika ia berpaling kepada Ki
Pandi, maka dilihatnya dahi Ki Pandipun berdesis “Apakah sejak
dahulu padukuhan ini terlalu lengang" "Tidak” jawab Manggada
"padukuhan ini terhitung padukuhan yang besar. Jalan ini merupakan
jalan induk yang paling banyak dilalui orang di padukuhan ini.
Betapa sepinya sebuah padukuhan, tetapi tentu tidak sesepi ini" Ki
Pandi mengangguk-angguk. Katanya “Apakah ada sesuatu yang membuat
padukuhan ini terlalu sepi" "Memang mungkin Ki Pandi. Tetapi apa”
sahut Manggada. Ki Pandi mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun
bertanya “Apakah rumahmu berada di sisi lain dari padukuhan ini?”
bertanya Ki Pandi. "Rumah kami ada ditengah-tengah padukuhan” jawab
Manggada. Ki Pandi mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak berbicara
apapun lagi. Ketiga orang itu berjalan semakin ke dalam. Namun
suasananya masih saja tetap lengang. Mereka semakin berdebar-debar
ketika melihat seorang anak yang akan berlari melintasi jalan
padukuhan. Tetapi ketika anak itu melihat mereka, maka iapun segera
berbalik dan berlari masuk ke dalam regol halaman rumahnya. Ketiga
orang itu memperhatikan keadaan itu dengan dahi yang berkerut.
Teka-teki itu rasa-rasanya semakin menggelitik. Namun ketegangan
perasaan mereka menjadi berkurang ketika mereka melihat seorang yang
berjalan sambil membawa cangkul di pundaknya. Orang itupun nampaknya
agak tergesa, sehingga langkahnya pun menjadi panjangpanjang. "Paman
Wangking” desisi Manggada yang mempercepat langkanya pula. Beberapa
langkah sebelum mereka berpapasan, orang itu tiba-tiba telah
berbelok turun ke jalan yang lebih kecil. Namun Manggada itu
berlari-lari mandapatkannya sambil memanggil namanya "Paman. Paman
Wangking" Orang itu memang berhenti. Wajahnya menjadi tegang. Namun
dengan tajamnya ia memandangi Manggada yang berlari-lari
mendapatkannya sambil bertanya “Paman, apakah paman tidak ingat lagi
kepadaku" "Kau siapa?” bertanya orang yang dipanggilnya Wangking
itu. "Aku Manggada" "Manggada, he kaukah itu" "Ya paman. Aku
Manggada. Paman ingat sekarang" Orang itu meletakkan cangkulnya.
Ditepuknya pundak Manggada sambil berkata “Kau sudah sebesar ini
sekarang. Hampir saja aku tidak mengenalmu lagi. Dimana saja kau
selama ini" "Aku berada di rumah paman” jawab Manggada. Lalu katanya
“Ini adik sepupuku. Dan ini Ki Pandi. Seseorang yang banyak
membantuku dalam perjalanan hidupku" Orang itu berpaling kepada Ki
Pandi sambil mengangguk hormat. Sementara itu Ki Pandipun berkata
“Adalah kebetulan bahwa kami menempuh perjalanan yang searah" "Jika
ada kesempatan, silahkan singgah di rumahku Ki Pandi” berkata orang
itu "rumahku tinggal beberapa langkah saja dari sini" "Terimakasih
Ki Wangking. Besok, aku akan memerlukan singgah” jawab Ki Pandi.
"Aku sudah agak lama meninggalkan ayah dan ibu, paman. Aku ingin
melihatnya lebih dahulu. Besok aku antar Ki Pandi singgah di rumah
Ki Wangking” berkata Manggada. Namun kemudian Iapun bertanya “Tetapi
rasa-rasanya padukuhan ini menjadi sangat sepi sekarang, paman.
Biasanya rumah-rumah belum menutup pintu di saat seperti ini"
"Sebentar lagi senja turun” jawab Ki Wangking. "Ya. Tetapi
suasananya terasa lain sekali dengan hari-hari yang pernah aku
saksikan di padukuhan ini beberapa tahun yang lalu” berkata Manggada
kemudian "bahkan aku melihat anak-anak yang ketakutan melihat kami
lewat" Ki Wangkingpun melihat sekelilingnya. Rasa-rasanya memang
aneh, bahwa orang itu nampak gelisah. Padahal sejak dilahirkan, Ki
Wangking tinggal di padukuhan itu. Bahkan kemudian katanya “Baiklah
Manggada. Pulanglah. Ayah dan ibumu tentu sudah menunggu" namun
kemudian ditambahkannya "menurut pengetahuanku di rumahmu kini
sedang ada tamu. Tetapi aku kurang tahu, siapakah tamu di rumahmu
itu. "Tamu?” bertanya Manggada. "Ya. Tetapi saatnya memang agak
kurang tepat. Tetapi tamu di rumahmu itu tentu tidak tahu apa yang
sedang terjadi di padukuhan ini” berkata Ki Wangking. "Apakah yang
sebenarnya terjadi?” bertanya Manggada. "Ayahmu akan dapat
mengatakan kepadamu nanti. Cepatcepat sajalah pulang” berkata Ki
Wangking. Namun kemudian iapun berkata dengan nada gelisah "Marilah.
Aku juga ingin segera sampai ke rumah" "Terima kasih, paman” sahut
Manggada. Ternyata Ki Wangking itupun segera melangkah sambil
menjinjing cangkulnya "Marilah anak-anak muda. Marilah Ki Pandi. Aku
tunggu kalian singgah" Manggada, Laksana dan Ki Pandi menjadi
semakin heran. Namun kemudian merekapun segera melanjutkan langkah
mereka. Mereka justru semakin ingin cepat-cepat sampai ke rumah
Manggada untuk mengetahui apa yang tengah terjadi di padukuhan itu.
Di tikungan, mereka melihat seorang perempuan melintas. Cepat
sekali. Namun Manggada segera mengenal perempuan itu. Karena itu,
maka iapun telah memanggilnya "Bibi, bibi Gangsal" Perempuan itu
memang berpaling. Ketika ia melihat Manggada maka iapun berkata
tertahan "Apakah aku berhadapan dengan Manggada yang sering mamanjat
pohon duwet di rumah sebelah" "Ya bibi. Bukankah rumah sebelah itu
rumah Pamrih, anak yang umurnya sebayaku kawan memanjat pohon duwet
itu" "Manggada” Perempuan itu mengangguk-angguk "Kau sudah begitu
besar. Tetapi kemana kau selama ini?” bertanya perempuan itu. "Aku
berada di rumah paman, bibi” jawab Manggada. Perempuan itu nampaknya
masih ingin bertanya lebih panjang. Tetapi tiba-tiba wajahnya
berkerut. Katanya “Pulanglah ngger. Bukankah kau belum sampai ke
rumahmu" "Belum bibi” jawab Manggada. "Nah, pulanglah, sebentar lagi
senja turun” berkata perempuan itu "aku juga harus segera pulang"
Manggada tidak sempat memperkenalkan saudara sepupunya dan Ki Pandi.
Namun bahwa semua orang nampaknya merasa gelisah, menjadi semakin
terasa. Sehingga karena itu, maka Manggada pun semakin ingin cepat
sampai di rumah. Demikianlah, mereka bertiga tidak berhenti lagi.
Mereka tidak lagi bertemu dengan seorang pun. Ketika senja turun,
maka semua pintu rumah menjadi semakin tertutup rapat. Mereka
bertiga hanya dapat melihat cahaya lampu minyak yang menyusup di
antara lubang dinding yang tidak rapat. Sementara regol-regol
halaman pada umurnya memang tidak tertutup rapat. Ketika Manggada
sampai dilmuka regol halaman rumahnya, maka pintu rumahnyapun sudah
tertutup. Tetapi pintu regolnya masih sedikit terbuka. Rumah
Manggada adalah sebuah rumah yang sedang. Lengkap dengan pringgitan,
pendapa dan gandok. Dua buah seketheng di sebelah-menyebelah pendapa
memisahkan longkangan dengan halaman depan yang memang agak luas.
Jantung Manggada terasa bergejolak semakin cepat. Kepada Ki Pandi
Manggada itu berkata “Inilah rumahku, Ki Pandi” Ki Pandi
mengangguk-angguk. Katanya “Rumah yang bagus" "Rumah yang sederhana”
sahut Manggada. "Tetapi rumahmu terpelihara dengan rapi, Manggada.
Bersih dan terawat baik" "Ayah dan ibu memang senang merawat rumah,
termasuk halamannya dan tanam-tanaman di atasnya” jawab Manggada. Ki
Pandi mengangguk-angguk, sementara itu senjapun menjadi semakin
temaram. Di pendapa rumah orang tua Manggada, lampu sudah menyala.
Demikian pula di serambi gandok dan bahkan di seketheng. Namun rumah
itu nampak sepi. Ketiga orang itupun kemudian memasuki halaman
rumah. Manggada mempersilahkan Ki Pandi naik ke pendapa dan duduk di
atas tikar pandan yang memang sudah digelar di pringgitan. Manggada
yang menjadi berdebar-debar mendekati pintu pringgitan. Sementara
Laksana ikut saja di belakangnya. Perlahan-lahan Manggada mengetuk
pintu. Semula ia ingin mengganggu kedua orang tuanya dan mengejutkan
mereka. Namun karena suasana nampaknya tidak menguntungkan, maka
niatnya diurungkan. Ia tidak mau benar-benar membuat orang tuanya
benar-benar terkejut. Ternyata ketukannya itu segera didengar oleh
orang yang berada di belakang pintu. Sesaat Manggada dan Laksana
mendengar orang-orang berbisik di dalam. Baru kemudian dengan suara
yang ragu terdengar seseorang bertanya “Siapa di luar" Meskipun
sudah lama Manggada meninggalkan rumahnya, namun Manggada masih
ingat benar. Suara itu suara ayahnya. Karena itu, maka Manggada
itupun segera menyahut “Ini kami ayah. Manggada dan Laksana"
"Manggada dan Laksana" terdengar suara perempuan. Ibu Manggada.
Sejenak kemudian pintu pringgitan itupun terbuka. Dengan
tergesa-gesa seseorang telah mengangkat selarak pintu. Ketika pintu
dibuka, maka ayah dan ibu Manggada berdiri di muka pintu. Demikian
mereka melihat Manggada, maka ibunya segera memeluknya, sementara
ayah Manggada memegangi kedua bahu Laksana sambil
mengguncangguncangnya. Seperti anaknya, maka Laksana nampak tumbuh
menjadi anak muda yang kokoh kuat. Tangan ayah Manggada segera
merasakan betapa kerasnya tulang-tulang Laksana dan betapa liat
kulitnya. Namun yang kemudian terkejut adalah Manggada dan Laksana.
Ternyata di belakang ayah dan ibu Manggada berdiri ayah dan ibu
Laksana. "Ayah dan ibu ada disini?” bertanya Laksana gagap. Ibu
Laksanapun memeluknya pula. Setitik air mata menetes di bahu
anaknya. Ia menahan tangis ketika melepas anaknya itu pergi bersama
Manggada. Tetapi setelah kegelisahan mencengkam jantungnya, maka
kini ia bertemu lagi dengan anaknya. "Marilah, masuklah" ayah
Manggada mampersilahkan keduanya. Tetapi Manggada berkata “Ayah. Aku
datang bersama seseorang. Seseorang yang telah banyak membantu dan
bahkan melindungi aku selama dalam perjalanan" Ayah Manggada
mengerutkan dahinya Namun kemudian katanya “Persilahkan ia masuk"
Manggadapun kemudian melangkah mendekati Ki Pandi diikuti oleh
ayahnya. Ki Pandipun kemudian telah bangkit berdiri pula. Dengan
hormat ia mengangguk dalam-dalam. Demikian pula ayah Manggada,
sementara Manggada berkata “Ki Pandi. Ini Ayahku. Kebetulan ayah dan
ibu Laksana pun ada disini pula" Kepada ayahnya, Manggada telah
memperkenalkan Ki Pandi pula. Dikatakannya bahwa selama dalam
perjalanan Ki Pandi telah banyak berbuat bagi Manggada dan Laksana.
"Aku mempersilahkan Ki Pandi duduk di dalam saja” ayahnya
mempersilahkan. Memang tidak terbiasa bagi orang yang baru
dikenalnya langsung dipersilahkan duduk di ruang dalam. Biasanya
seorang tamu diterima di pendapa atau di pringgitan. Tetapi Ki Pandi
yang sudah menangkap suasana di padukuhan itupun mengerti, kenapa ia
dipersilahkan masuk ke ruang dalam. Demikianlah, maka sejenak
kemudian, mereka sudah berada di ruang dalam rumah keluarga
Manggada. Suasana yang gembira meliputi pertemuan itu. "Aku sudah
hampir sepuluh hari berada di rumah ini” berkata Ki Citrabawa kepada
Manggada dan Laksana "sejak kalian meninggalkan rumah kami, maka
kami tidak lagi mendengar kabar beritanya. Kami berharap kalian
datang menengok kami. Tetapi sampai kegelisahan kami memuncak,
kalian sama sekali tidak muncul. Ketika kami tidak tahan lagi,
terutama ibumu, maka kami telah pergi menyusul kalian. Demikian kami
sampai di rumah ini, kegelisahan itu justru semakin bertambah,
karena ternyata kalian belum sampai di rumah ini” "Maafkan kami
paman” jawab Manggada dengan nada rendah. "Ketika paman dan bibimu
datang kemarin Manggada, serta menceritakan bahwa kalian sudah lama
berangkat meninggalkan rumah pamanmu, jantungku dan jantung ibumu
rasa-rasanya akan terlepas dari tangkainya” berkata ayah Manggada.
Manggada dan Laksana hanya menundukkan kepalanya saja. Mereka memang
bersalah, karena dengan demikian maka mereka telah membuat kedua
keluarga mereka sangat gelisah. Apalagi setelah Ki Citrabawa datang
mengunjungi Ki Kertasana, ayah Manggada. "Aku bertemu dengan kedua
anak muda ini di belakang hutan Jatimalang” berkata Ki Pandi
menyela. "Hutan Jatimalang" Ki Citrabawa mengulang hampir tidak
percaya "kenapa kalian sampai ke belakang hutan Jatimalang"
"Ceriteranya panjang paman” jawab Manggada. "Baiklah” berkata Ki
Citrabawa "besok kalian harus berceritera panjang sepanjang
perjalanan kalian" "Baik paman. Namun yang dapat kami beritahukan,
seandainya kami tidak bertemu dengan Ki Pandi dan Panembahan
Lebdagati, mungkin kami memang tidak akan dapat sampai ke rumah ini"
Tetapi Ki Pandipun menyahut “Aku hanya menjadi penunjuk jalan karena
agaknya keduanya kebingungan” "Kami mengucapkan terima kasih Ki
Pandi” berkata Ki Kertasana sambil mengangguk-angguk. Lalu katanya
selanjutnya "agaknya mereka telah bertualang" "Itulah yang kami
cemaskan, kakang” sahut Ki Citrabawa "karena itu, aku sudah banyak
berpesan ketika mereka meninggalkan rumahku, bahwa mereka tidak
perlu merasa perlu untuk mencoba kemampuan mereka terhadap siapapun
dan terhadap apapun" Manggada dan Laksana hanya berdiam diri saja.
Namun Ki Pandilah yang kemudian berkata “Mereka memang tidak
berusaha untuk mencoba ilmu mereka dengan siapapun. Tetapi agaknya
mereka tertarik untuk menjenguk betapa jauhnya cakrawala. Jika
kemudian mereka harus mempertahankan dirinya, itu adalah perbuatan
yang wajar bagi setiap orang yang merasa terancam. Namun satu hal
yang dapat dibanggakan dari kedua anak muda itu adalah, dorongan
nurani mereka untuk membantu kesulitan orang lain" Ki Kertasana dan
Ki Citrabawa mengangguk-angguk. Satu kebanggaan memang bergejolak di
dalam dada orang-orang tua Manggada dan Laksana itu. Namun Ki
Kertasana itu berkata “Tetapi selama ini dada kami bagaikan
dipanggang di atas api" Ki Pandi tersenyum, katanya “Selama
perjalanan mereka, kedua anak muda ini tentu mendapat banyak sekali
pengalaman meskipun kadang-kadang cukup berbahaya. Namun Tuhan Yang
Maha Pengasih masih tetap melindungi mereka" Dalam pada itu, maka
Nyi Kertasana dan Nyi Citrabawa pun telah minta diri pergi ke dapur
untuk membuat minuman dan menyiapkan makan malam. Demikian kedua
orang perempuan itu meninggalkan ruang dalam, maka Manggada yang
sudah tidak sabar lagi itupun bertanya “Ayah. Ketika kami memasuki
padukuhan Gemawang ini terasa suasananya terasa agak berbeda. Apakah
hal seperti itu hanya terjadi di padukuhan Gemawang atau diseluruh
Kademangan Kalegen?” "Suasana apa yang kau rasakan?” bertanya Ki
Kertasana. "Lengang dan gelisah” jawab Manggada. Ki Kertasana
mengangguk-angguk. Katanya “Ya. Suasana itu telah mencengkam
padukuhan ini. Meskipun juga sedikit terasa di padukuhan lain di
Kademangan Kalegen, tetapi tidak sedalam di padukuhan Gemawang"
"Kenapa demikian ayah? Apa yang telah terjadi disini” bertanya
Manggada pula. "Satu kebetulan, dalam suasana yang mencengkam itu,
paman dan bibimu datang kemari, sehingga mereka tidak dapat
melihat-lihat suasana yang sewajarnya di padukuhan ini. Apalagi
karena kalian berdua masih belum sampai di rumah. Kegelisahan yang
mencengkam padukuhan ini masih ditambah lagi dengan kegelisahan yang
mencuat dari dada ini" Manggada dan Laksana saling berpandangan
sejenak. Namun kemudian keduanya telah menunduk lagi. Sementara itu,
Ki Kertasana melanjutkan "Kegelisahan ini bermula dari berita bahwa
dua orang kakak beradik yang sudah lama hilang dari padukuhan ini
akan kembali lagi.
0oo0
Jilid 2 "HANYA karena dua orang yang
telah lama pergi akan kembali, maka padukuhan ini menjadi sangat
gelisah?” bertanya Laksana. "Ya. Itulah yang terjadi” jawab Ki
Kertasana. Lalu katanya "Tetapi persoalannya talak hanya sekedar dua
orang kakak beradik itu akan kembali pulang. Tetapi tentu ada
persoalan lain yang menyangkut kepulangan mereka itu” "Persoalan apa
yang telah memhuat sesisi pedukuhan mi gelisah, ayah" bertanya
Manggada. “Apakah kau masih ingat dua orang penghuni padukuhan ini
yang bernama Wira Sabet dan Sina Gentong" bertanya Ki Kertasana
"Nah, mereka berdua itulah yang akan pulang” Manggada mencoba
mengingat-ingat. Kemudian anak muda itu mangangguk-angguk sambil
berkata “Ya. Aku ingat keduanya rumah mereka yang seorang berada di
dekat banjar dan yang seorang lagi di sebelah padukuhan. Anak Ki
Wira Sabet itu sebaya dengan aku. la kawan bermain waktu aku masih
belum meninggalkan padukuhuan ini” "Nah, apakah kau ingat bagaimana
Ki Wira Sabet itu pergi" bertanya ayahnya. Manggada termangu-mangu
sejenak. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil berdesis
"Tidak. Aku tidak ingat” Ki Kertasana termangu-mangu sejenak. Namun
kemudian katanya “Ceriteranya memang sangat tidak menarik. Seumurmu
waktu itu, kau tentu tidak banyak mengerti. Tetapi sekarang kau
sudah dewasa, maka tidak ada salahnya jika kau mengerti alasan
kepergian mereka berdua” Manggada dan Laksana mendengarkan ceritera
ayahnya dengan sungguh-sungguh. Sementara Ki Kertasana meneruskannya
"Saat itu Sura Gentong masih nampak jauh lebih muda dari sekarang Ia
ternyata telah berhubungan dengan seorang perempuan yang sudah
bersuami, sementara ia sendiri telah beristeri. Ketika orang-orang
padukuhan ini sedang memikirkan untuk menyelasaikan persoalannya
yang rumit, maka yang tidak diharapkan itu telah terjadi. Sura
Gentong dan perempuan itu menjadi gila. Agaknya mereka sepakat untuk
mengambil jalan pintas. Sura Gentong membunuh isterinya dan
perempuan itu meracun suaminya sampai mati. Tetapi keduanya tidak
sempat melarikan diri seperti yang direncanakan. Keduanya gagal
melarikan diri karena tetangga-tetangga yang mendengar keributan di
rumah Sura Gentong yang membunuh isterinya itu segera mengepungnya
dipimpin langsung oleh Ki Jagabaya. Tetapi hal itu didengar pula
oleh kakak Sura Gentong. Wira Sabet ternyata membela adiknya.
Ketika, terjadi ketegangan dan bahkan kemudian keributan, maka Wira
Sabet justru telah melukai Ki Jagabaya. Untunglah bahwa nyawa Ki
Jagabaya dapat diselamatkan. Namun Wira Sabet dan Sura Gentong
ternyata berhasil melarikan diri, luput dari kejaran orang-orang
pedukuhan ini” Manggada mengangguk-angguk. Katanya “Ya. Aku ingat
keributan yang terjadi itu. Tetapi aku memang tidak tahu sebabnya”
"Nah, sejak saat itu. Wira Sabet dan Sura Gentong menjadi buruan dan
tidak berani lagi menginjakkan kakinya di padukuhan ini” "Tetapi
sekarang mereka akan kembali" bertanya Manggada. "Ya. Itulah yang
menggelisahkan” jawab ayahnya. "Kenapa menggelisahkan? Kenapa
orang-orang padukuhan ini tidak bersikap sebagaimana beberapa tahun
yang lalu? Bersama-sama menghadapi keduanya. Bukankah dengan
demikian maka keduanya tidak akan berani berbuat apa-apa sebagaimana
saat itu" bertanya Manggada. "Ternyata keadaannya sudah berubah.
Lebih dari lima tahun keduanya berguru kepada seorang yag sakti di
kaki Gunung Kendeng. Nah. dengan ilmu yang tinggi itu, mereka
kembali ke kampung halaman. Bahkan bukan hanya berdua, tetapi
bersama kawan-kawan seperguruan mereka” "Darimana orang-orang
padukuhan ini mengetahuinya bahwa keduanya akan kembali bersama
saudara-saudara seperguruan mereka?” bertanya Manggada pula. "Wira
Sabet dan Sura Gentong telah menemui seseorang yang sedang berada di
sawah. Ia sengaja memberitahukan hal itu untuk disebar-luaskan
kapada penghuni padukuhan ini. Bahkan dengan pesan, mereka pada
suatu saat akan datang untuk menuntut balas. Sura Gentong semakin
mendendam sejak perempuan yang menjadi sumber persoalan itu ternyata
telah mati pula “Apakah orang-orang di padukuhan ini membunuhnya”
bertanya Laksana. “Tidak. Perempuan itu memang ditangkap waktu itu
dan dibawa ke rumah Ki Jagabaya. Tetapi perempuan itu sangat
menyesali perbuatannya. Ia sudah terlanjur membunuh suaminya.
Sementara itu ia tidak berhasil melarikan diri bersama Sura Gentong,
karena Sura Gentong sendiri harus menghindari kemarahan orang-orang
padukuhan ini. Karena itu, maka dalam penyesalan yang tidak
tertahankan, perempuan itu telah membunuh diri di ruang tahanannya.
Ketika seorang pembantu di rumah Ki Jagabaya akan memberikan makan
paginya, ternyata perempuan itu sudah meninggal, tergantung pada
selendangnya yang diikatkan pada rusuk atap rumah dengan memanjat
geledeg bambu yang ada di bilik itu” Manggada dan Laksana
mengangguk-angguk. Sementara Ki Pandi mengerutkan dahinya. Dengan
suara berat Ki Pandi itu berdesis “Satu sisi gelap dari kehidupan
seseorang. Betapapun manusia dianugerahi akal dan pikiran, namun
kadang-kadang manusia sendiri tidak mampu memanfaatkan dengan baik”
Manggada dan Laksanapun segera teringat kehidupan beberapa jenis
binatang di hutan. Mereka tidak mempunyai akal dan pikiran
sebagaimana manusia, sehingga mereka tidak tahu arti baik dan buruk.
Tidak pula tahu benar dan salah. Dalam pada itu, Ki Kertasana itupun
berkata selanjutnya "Nah, keadaan itulah yang telah membuat suasana
padukuhan ini menjadi gelisah. Bahkan Ki Jagabaya menjadi gelisah
pula. Dalam keadaan yang sulit ini, ia tidak berhasil mendapat
dukungan dari siapapun di padukuhan ini, karena semua orang
dibayangi oleh ketakutan untuk membantunya” "Tetapi jika orang-orang
padukuhan ini bergerak bersamasama, maka Wira Sabet dan Sura Gentong
tentu akan berpikir dua kali untuk membalas dendam. Bagaimanapun
juga mereka tentu tidak ingin hidup dalam suasana yang buruk, yang
diwarnai permusuhan dan dendam, sehingga setiap bangun dari tidur,
ia sudah merasa dikelilingi oleh musuhmusuhnya” "Tetapi tidak ada
orang yang berani melakukannya, memusuhi keduanya akan dapat berarti
mati bagi mereka” berkata Ki Kertasana dengan sungguh sungguh.
"Apakah ayah menduga keduanya akan sampai hati membunuh tetangga
mereka sendiri" bertanya Manggada. "Ya, Iblis telah singgah dan
bahkan menetap di hati mereka. Dendam itu telah membuat jantung
mereka membara” Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak.
Namun kemudian Manggada telah berpaling kepada Ki Pandi dan kemudian
kepada pamannya. Meskipun agak ragu namun Manggada itupun bertanya
“Paman. Seperti kedua orang itu, kami juga baru pulang. Apakah
menurut paman, kami dapat membantu Ki Jagabaya yang mengalami
kesulitan, bahkan mungkin kegelisahan yang sangat” Ki Citrabawa
menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Jika kau merasa terdorong untuk
membantu mereka yang hidupnya terancam oleh dendam dan kekelaman
hati. maka kalian dapat melakukannya. Tetapi jika baru sekedar ingin
memamerkan kemampuan kalian, maka lebih baik kalian tinggal di
belakang pintu tertutup sebagaimana orang lain di padukuhan ini”
“Kami benar-benar ingin membantu, paman. Bukankah dengan demikian,
maka banyak kerja yang terbengkalai, orang yang pergi ke sawah
dengan tergesa-gesa pulang dan menutup pintu. Perempuan yang pergi
ke pasar di pagi hari pun harus berlari-lari pula. Sedang anak-anak
tidak lagi berani bermain di halaman" jawab Manggada. Ki Citrabawa
mengangguk-angguk, katanya “Baiklah jika demikian. Besok, pergilah
ke rumah Ki Jagabaya, mungkin kalian juga harus menemui Ki Bekel”
“Baik paman” jawab Manggada “Besok, kami akan menemui mereka”
“Tetapi ingnat Manggada. Keduanya tidak berdiri sendiri. Mereka
sudah terikat dalam satu keluarga sebuah perguruan. Karena itu. maka
saudara-saudara seperguruan mereka akan melibatkan diri pula jika
harga diri mereka diganggu” "Baik, paman" jawab Manggada “kami akan
berhati-hati” "Nah, kau dengar Laksana" berkata ayahnya “kau bukan
anak padukuhan Gemawang. Karena itu, kau harus sangat berhati-hati
jika kau melibatkan diri ke dalam persoalan ini” "Ya ayah" jawab
Laksana "aku akan mengingat semua petunjuk kakang Manggada, karena
kakang Manggada tentu lebih mengetahui medannya daripada aku”
"Selanjutnya aku tentu akan mohon paman untuk tetap tinggal untuk
sementara disini. Bahkan aku juga mohon Ki Pandi untuk tinggal
bersama kami”' berkata Manggada kemudian. Ki Pandi tersenyum katanya
“Jika hanya untuk menemani kalian berdua, aku tentu tidak
berkeberatan” "Ya, Ki Pandi, tetapi satu hal yang hendaknya Ki Pandi
ingat, bukankah Ki Pandi akan mengajari kami membunyikan seruling
sampai kami benar-benar mampu melagukan gending-gending kewiraan,
namun juga kidung kesejukan dan kedamaian?” Ki Pandi justru tertawa,
sementara Ki Kertasana dan Ki Citrabawa hanya termangu-mangu saja.
Namun baik Ki Kertasana maupun Ki Citrabawa telah menduga bahwa Ki
Pandi yang nampaknya tidak lebih dari seorang yang bertubuh bongkok,
namun ia tentu seorang yang berilmu tinggi. Tetapi pembicaraan
itupun terputus, kerena Nyi Kertasana dan Nyi Citrabawa telah
memasuki ruangin itu pula sambil membawa hidangan makan malam bagi
mereka Setelah makan malam, Manggada dan Laksana masih duduk-duduk
di ruang dalam bersama keluarganya dan pamannya serta Ki Pandi.
Laksana telah bercerita panjang lebar tentang pengembaraannya dan
agaknya sulit untuk dikekang, sekali-sekali anak muda itu telah
bercerita pula tentang Ki Pandi. "Ah, anak itu ternyata memang
senang bergurau" sahut Ki Pandi sambil tersenyum "ia juga senang
memuji seseorang agak berlebihan. Tetapi aku tahu, ia tidak
bermaksud apa-apa kecuali sekedar bergurau” Ki Kertasana dan Ki
Citrabawa tertawa. Dengan nada rendah Ki Kertasana berkata “Laksana
memang senang bergurau, tetapi aku mempercayainya” Ki Pandipun
tertawa juga. Tetapi ia masih berkata “Aku justru menjadi
berdebar-debar jika ceritera angger Laksana itu dipercaya. Karena
hal itu akan merupakan beban bagiku” Laksana justru tertunduk diam
meskipun ia harus menahan tertawanya. Malam itu Manggada dan Laksana
menjadi anak-anak muda yang dimanjakan. Mereka tidur di bilik yang
bersih diterangi lampu minyak di atas ajug-ajug di sudut biliknya
serta disediakan selimut kain panjang untuk melawan angin. Tetapi
kedua orang anak muda itu justru merasa canggung. Sebulan lamanya
mereka berada di tengah-tengah hutan yang lebat, dengan hanya
sekedar menggunakan kulit kayu sebagai pengganti pakaiannya. Justru
karena itu, maka mereka tidak segera dapat tidur, untuk beberapa
saat mereka masih saja berbincang kesanakemari. Namun akhirnya
pembicaraan mereka tersangkut pada persoalan yang sedang membuat
padukuhan Gemawang di Kademangan Kalegen itu terasa panas. “Besok
kita akan menemui Ki Jagabaya” desis Manggala. “Ya” sahut Laksana
“kita akan melibatkan diri langsung, justru aku ingin menemui dengan
kedua orang itu” “Jika sudah bertemu?” bertanya Manggada. Laksana
menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab, Bahkan kemudian
ia memiringkan tubuhnya membelakangi Manggada sambil menguap. "Aku
ingin tidur" desisnya. Di bilik yang berada di gandok, Ki Pandi
justru sudah tidur nyenyak. Orang tua itu seakan-akan dengan sengaja
telah mengosongkan dirinya dari berbagai macam persoalan dan ingin
benar-benar menikmati istirahatnya. Di umurnya yang semakin tua Ki
Pandi yang terbiasa bertualang itu, sekali-sekali juga ingin berada
dalam lingkungan keluarga yang sewajarnya seperti di rumah Ki
Kertasana itu. Tetapi pagi-pagi benar Ki Pandi sudah bangun. Ketika
Manggada pergi ke sumur untuk menimba air mengisi pakiwan, Ki Pandi
justru sudah mengisi pakiwan itu sampai penuh. "Sebaiknya aku dan
Laksana sajalah yang mengisi jambangan di pakiwan itu, Ki Pandi"
berkata Manggada. Ki Pandi tersenyum. Katanya “Bukankah aku
sekali-sekali juga ingin mandi di pakiwan?” "Maksudku, biar sajalah
Ki Pandi mandi. Tetapi kami sajalah yang mengisinya” "Bukankah sama
saja? Asal jambangan itu tidak menjadi kosong” jawab Ki Pandi.
"Tetapi sebaiknya kami yang muda-muda sajalah yang mengisinya.
Agaknya itu akan lebih pantas” Ki Pandi menepuk bahu Manggada sambil
berkata “Aku akan mandi kau isi kembali jambangan itu” Demikianlah,
setelah mandi dan berbenah diri, maka Ki Pandi, Manggada dan Laksana
telah duduk di serambi gandok. Namun kemudian merekapun diminta
untuk masuk ke ruang dalam untuk minum minuman hangat yang telah
disediakan oleh Nyi Kertasana serta beberapa potong makanan yang
dibuat oleh Nyi Citrabawa. Sambil makan, maka Manggada dan Laksana
kembali menyatakan keinginannya untuk menemui Ki Jagabaya. "Baiklah"
sahut Ki Kertasana "tetapi sekali lagi aku pesan kepada kalian, agar
kalian berhati-hati. Kalian harus menyesuaikan diri dengan semua
rencana Ki Jagabaya. Kalian jangan membuat rencana tersendiri tanpa
setahu Ki Jagabaya. Apalagi memotong kebijaksanaan Ki Jagabaya”
"Baiklah ayah. Jika kami menemui Ki Jagabaya hari ini. kami baru
akan menjajagi persoalan yang sebenarnya dihadapi oleh seisi
padukuhan ini. Kami tentu akan memohon pertimbangan ayah dan paman
Citrabawa. Selebihnya tentu juga Ki Pandi” jawab Manggada.
"Pergilah. Bawa diri kalian baik-baik”pesan Ki Kertasana. Sejenak
kemudian, maka Manggada dan Laksana telah menyusuri jalan padukuhan
menuju ke rumah Ki Jagabaya. Seperti yang telah mereka lihat,
padukuhan Gemawang itu menjadi sangat lengang. Bahkan keduanya
hampir tidak pernah menjumpai orangorang yang pernah mereka kenal.
Anak-anak kecil juga tidak bermain-main di halaman. Mereka pada
umumnya lebih senang bermain di longkangan rumahnya. Manggada dan
Laksana berjalan dengan jantung yang berdebar-debar. Seisi padukuhan
Gemawang itu memang benar-benar sedang dicengkam oleh kegelisahan.
Ketika mereka sampai di regol halaman rumah Ki Jagabaya, maka regol
itu tertutup pula. Tetapi ketika Manggada mendorong regol itu, maka
regol itupun terbuka. Ternyata regol itu tidak diselarak dari dalam.
Dengan ragu-ragu keduanya menuju ke pendapa, tetapi mereka tidak
melihat siapapun. Karena itu, maka mereka telah pergi ke pintu
seketeng. Ternyata pintu seketeng itu tertutup, bahkan diselarak
dari dalam. Kedua anak muda itu berpandangan sejenak. Namun kemudian
Manggadapun berdesis “Aku akan mencoba mengetok pintu seketeng ini.
Mudah-mudahan ada yang mendengar” Laksana mengangguk sambil menjawab
“Ya. Kita memang harus mengetuk pintu. Atau melingkari gandok dan
langsung pergi ke dapur” Manggadapun kemudian mengetuk pintu
seketeng itu. Perlahan-lahan. Namun karena tidak ada seorangpun yang
menyahut, maka iapun megetuk semakin keras. Untuk beberapa saat
memang tidak ada yang menyahut. Tetapi kemudian keduanya mendengar
langkah orang menuju ke pintu. Dengan nada berat terdengar seseorang
bertanya “Siapa di luar?” "Aku" sahut Manggada. "Aku, siapa”
bertanya suara itu pula. "Manggada” "Manggada? Aku belum pernah
mendengar nama itu” Manggada termangu-mangu sejenak. Namun kemudian
iapun berkata “Aku anak Ki Kertasana” "Anak Ki Kertasana? Bukankah
anak Ki Kertasana tidak berada di rumahnya?” "Ya. Tetapi kemarin aku
sudah pulang” Nampaknya suara Manggada cukup meyakinkan. Karena itu.
maka terdengar orang di belakang pintu seketeng itu mengangkat
selarak dan kemudian mendorong pintu sehingga terbuka. Yang berdiri
di belakang pintu ternyata seorang anak muda yang sedikit lebih tua
dari Manggada dan Laksana. Namun Manggada segera dapat mengenalinya.
Anak muda itu tentu anak Ki Jagabaya. “Bukankah kau Sampurna”
bertanya Manggada. Anak muda itu mengerutkan dahinya. Tetapi iapun
segera teringat. Anak muda itu adalah Manggada. Kawannya bermain,
meskipun umurnya berselisih dua tiga tahun. "Marilah Manggada,
masuklah. Kita duduk di serambi” berkata Sampurna yang wajahnya
menjadi cerah. Manggada dan Laksana melangkah masuk. Manggada
kemudian telah memperkenalkan Laksana, adik sepupunya itu.
Ketiganyapun kemudian melangkah ke pandapa setelah Sampurna
menyelarak pintu itu lagi. Sambil melangkah ke serambi samping,
Manggadapun bertanya “Apakah kau akan pergi ke satu upacara?”
“Tidak" jawab Sampurna "aku tidak akan pergi ke manamana” "Tetapi
kau berpakaian lengkap" sahut Manggada. Sampurna mendorong kerisnya
kepunggungnya. Katanya “Aku tidak akan pergi ke sebuah upacara.
Tetapi dalam keadaan seperti sekarang ini, maka aku merasa perlu
untuk selalu bersiap-siap” Manggada mengangguk-angguk. Katanya “Ya.
Aku melihat suasana yang menegangkan” "Apakah Ki Kertasana tidak
berceritera tentang keadaan padukuhan Gemawang di saat-saat
terakhir?” bertanya Sampurna. “Ya Ayah sudah berceritera" jawab
Manggada. Sampurna menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun
membuka pintu serambi dan sekali lagi mempersilahkan kedua anak-anak
muda itu duduk di serambi samping. “Seluruh padukuhan ini terasa
sangat sepi” berkata Manggala kemudian. “Ya, seluruh padukuhan ini
sedang dibayangai oleh ketakutan. Berita akan kembalinya Wira Sabet
dan Sura Gentong telah membuat semua orang menjadi gelisah. Termasuk
ayah. Karena ayah dianggap musuh utama kedua orang itu” jawab
Sampurna. “Dimana Ki Jagabaya sekarang?” bertanya Manggada. "Ayah
sedang pergi ke rumah Ki Bekel. Bagaimanapun juga, ayah harus tetap
menjalankan tugasnya. Meskipun ia harus bekerja sendiri” jawab
Sampurna. "Kenapa sendiri? Bagaimana dengan bebahu padukuhan ini dan
apakah hal ini sudah dilaporkan kepada Ki Demang Kalegen?” "Ki Bekel
sudah memberikan laporan. Namun tidak banyak yang dapat dilakukan
oleh Ki Demang di Kalegen. Agaknya nama Wira Sabet dan Sura Gentong
benar-benar ditakuti. Apalagi setelah diketahui bahwa Wira Sabet dan
Sura Gentong ternyata lelah bekerja sama dengan Ki Sapa Aruh” "Ki
Sapa Aruh? Maksudmu ada seseorang yang bernama Sapa Aruh" bertanya
Manggada. "Ya. Memang nama yang aneh. Tetapi orang yang bernama Sapa
Aruh itu adalah orang yang memang ditakuti. Bukan hanya di
Kademangan Kalegen, tetapi untuk satu lingkungan yang luas” "Aku
belum pernah mendengar nama itu. Ayahpun tidak menyebut nama Ki Sapa
Aruh” berkata Manggada. "Nama itu sudah lama dikenal. Tetapi bahwa
Wira Sabet dan Sura Gentong diketahui berhubungan dengan Ki Sapa
Aruh itu memang baru beberapa hari ini. Kabar yang diterima Ki Bekel
tentang hal itu justru dari Kademangan. Mungkin Ki kertasana memang
belum mengetahui hal itu” Manggada mengangguk-angguk. Katanya
"Sebelum orangorang padukuhan ini mengetahui bahwa Wira Sabet dan
Sura Gentong berhubungan dengan Ki Sapa Aruh. mereka sudah menjadi
ketakutan. Apalagi jika kemudian mereka mengetahuinya. "Ya.
Sebagaimana para bebahu Kademangan dan bahkan Ki Demang sendiri
menjadi gelisah karenanya” "Apakah Wira Sabet dan Sura Gentong itu
telah mengupah Ki Sapa Aruh untuk membantu mereka” bertanya Laksana.
"Tetapi ingat Manggada. Keduanya tidak berdiri sendiri. Mereka sudah
terikat dalam satu keluarga sebuah perguruan. Karena itu,
saudara-saudara seperguruannya akan melibatkan diri pula jika harga
diri mereka tersinggung" "Agaknya tidak demikian" jawab Sampurna "Ki
Sapa Aruh memang sengaja melibatkan diri karena kepentingannya
sendiri. Jika ia berpihak kepada Wira Sabet dan Sura Gentong, maka
hal itu akan dapat mengesahkan tindakan-tindakan yang diambilnya
kemudian yang jutru bagi kepentingannya sendiri. Merampok dan
perbuatan-perbuatan serupa” Manggada dan Laksana mengangguk-angguk.
Sementara Sampurna berkata “Karena itu, maka agaknya ayah tidak
dapat bersandar kepada siapapun juga kecuali kepada dirinya sendiri.
Tetapi ayah sudah bertekad, apapun yang terjadi, ayah akan tetap
berpijak pada tugas kewajibannya” "Apakah di seluruh Kademangan ini
benar-benar tidak ada orang yang dapat diajak bekerja bersamanya? Ki
Jagabaya Kademangan Kalegen misalnya” "Pada umumnya mereka tidak mau
terlibat dalam permusuhan dengan Ki Sapa Aruh karena mencampuri
persoalan orang lain. Agaknya persoalan antara ayah dan kedua orang
kakak beradik itu dianggap persoalan pribadi sehingga siapa yang
melibatkan diri dianggap mencampuri persoalan orang lain” "Kedudukan
Ki Jagabaya memang menjadi sulit" berkata Manggada. "Itulah sebabnya
ayah memanggil aku pulang” "O" Manggada mengerutkan keningnya
"kemana kau selama ini sehingga kau harus dipanggil pulang” "Aku
berguru kepada kakek yang juga guru ayah semasa mudanya Tetapi
karena ayah kemudian sendiri menghadapi persoalan yang terhitung
gawat, maka aku telah dipanggil pulang” jawab Sampurna Pembicaraan
mereka tiba-tiba terhenti. Seorang gadis keluar sambil membawa
minuman hangat. Agaknya Nyi Jagabaya mengetahui bahwa di serambi ada
dua orang tamu. Demikian gadis itu meletakkan mangkuk-mangkuk
minuman, maka Sampurna itupun bertanya kepada Manggada "Kau ingat
anak ini?” Manggada termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun
menjawab “Ya. Tentu” "Siapa” bertanya Sampurna lagi. Manggada mulai
membayangkan masa remajanya. Gadis itu adalah adik Sampurna. Di masa
remaja anak-anak padukuhan Gemawang tidak membatasi permainan antara
anak-laki-laki dan perempuan. Kadang-kadang mereka bermain bersama.
Namun kadang-kadang memang bermain terpisah antara anak laki-laki
dan perempuan. Tiba-tiba saja meluncur dari sela-sela bibirnya
"Tantri, lengkapnya Endang Bintarti” "Ingatanmu ternyata cukup
cerah. Tantri, siapakah anak muda ini? Kau tentu masih mengenalnya”
Tantri yang masih masih berdiri sambil memegang nampan itu
termangu-mangu. Namun wajahnya mulai menjadi semburat merah. Anak
muda itu memang kawan bermainnya di masa kanak kanak. Tetapi kini ia
sudah seorang anak muda yang mulai menginjak dewasa. Sedang dirinya
sendiripun sudah menjadi seorang gadis. Tetapi kakaknya itu
mendesaknya. ”He, kau ingat namanya?” Tantri itu menunduk. Tetapi
kemudian terdengar ia menyahut nama "Manggada” “Nah, kau ternyata
masih ingat. Ia memang Manggada. Sedang yang seorang lagi adalah
saudara sepupunya. Namanya Laksana. Aku juga baru mengenalnya”
Tantri mengangguk hormat Sementara itu Laksanapun mengangguk pula
sambil mencoba untuk tersenyum. Tetapi Tantri tidak lama berdiri di
serambi itu. Iapun kemudian telah meninggalkan tamu-tamunya kembali
ke dapur. Kepada ibunya Tantri berceritera bahwa kedua orang tamu
kakaknya itu adalah Manggada dan adik sepupunya. "Manggada" ibunya
mengingat-ingat. "Anak laki-laki Ki Kertasana" sahut Tantri. "O"
ibunya mengangguk-angguk "bukankah ia sudah lama meninggalkan
padukuhan ini?” “Ya. Bahkan Manggada pergi lebih dahulu daripada
kakang Sampurna” Ibunya masih saja mengangguk-angguk "Ya. Berselisih
beberapa tahun” Di serambi, Sampurna telah mempersilahkan Manggada
dan Laksana minum. Sampurnapun menceriterakan pula bahwa ia pergi
kemudian setelah Manggada beberapa tahun mendahuluinya.
"Kedatanganmu tentu memberikan sedikit ketenangan bagi ayahmu"
berkata Manggada. "Aku memang akan mencoba membantu tugas ayah
meskipun aku tahu bahwa Wira Sabet dan Sura Gentong memiliki ilmu
yang tinggi setelah ia menempa diri dalam sebuah perguruan. Apalagi
setelah keduanya menghubungkan namanya dengan Ki Sapa Aruh. Kekuatan
meieka benar-benar menggetarkan jantung. Tetapi ayah tidak dapat
ingkar akan kewajibannya apapun yang terjadi. Karena aku anaknya,
maka akupun harus membantunya sejauh dapat aku lakukan” Manggada dan
Laksana mengangguk-angguk. Dengan nada rendah Laksana berkata “Satu
tugas yang sangat berat” “Ya" jawab Sampurna "menurut kenyataannya,
kami hanya berdua saja. Aku dan ayah. Sementara itu, jumlah
kawankawan Wira Sabet dan Sura Gentong belum dapat kami ketahui.
Mungkin lima, mungkin enam atau bahkan lebih” "Jika hanya lima atau
enam, kenapa orang se Kademangan tidak berani melawan mereka”
bertanya Laksana. ”Betapapun tinggi ilmunya, namun melawan orang se
Kademangan, maka sulit bagi mereka untuk dapat menang” "Tetapi
korbannya tentu banyak sekali. Nah, orang-orang Kademangan ini tidak
mau menjadi salah seorang dari korban yang berjatuhan itu.
Isteri-isteri merekapun berkeberatan. Demikian pula ayah dan ibu
mereka atau kekasih mereka” "Tetapi bukankah kita tidak tahu,
siapakah korban itu kemudian" sahut Manggada. "Justru karena itu.
Setiap orang merasa bahwa korban itu kemungkinan adalah diri mereka,
suami mereka atau anakanak mereka yang telah mereka besarkan sejak
anak itu lahir” Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sementara
itu. Sampurna berkata "Tetapi biarlah. Ayah akan tetap bekerja
dengan apa yang ada padanya” Manggada dan Laksana saling
berpandangan sejenak, namun kemudian Manggada pun berkata kepada
Sampurna “Sebenarnya aku sudah mendengar keberatan terutama
orang-orang padukuhan ini, untuk membantu ayahmu yang dianggap
sebagai musuh bebuyutan oleh kedua orang itu, meskipun ayahmu tidak
bersalah. Seharusnya, ayahmulah yang mendendam, karena ayahmu.
pernah dilukai sampai keadaannya sangat gawat. Namun justru kedua
orang itulah yang mendendam ayahmu” "Perempuan yang akan melarikan
diri dengan Sura Gentong itu meninggal di rumah ini.” jawab Sampurna
"meskipun perempuan itu membunuh dirinya sendiri, namun dendam kedua
orang itu ditujukan terutama kepada ayah. Merekapun mengira bahwa
kemarahan orang-orang padukahan itu kepada keduanya sehingga
keduanya harus mengalami perlakuan buruk adalah karena ayah telah
menghasut orang-orang sepadukuhan” Manggada dan Laksana
mengangguk-angguk. Meskipun agak ragu, Manggadapun kemudian berkata
“Sampurna, kedatanganku kemari, sebenarnyalah karena aku ingin
menghadap Ki Jagabaya. Setelah kami mendengar kesulitan yang
dihadapi ayahmu, maka kami berniat untuk menyatakan kesediaan diri
kami sekeluarga untuk ikut membantunya. Mungkin tenaga kami
sekeluarga tidak berarti apa-apa bagi Ki Jagabaya, tetapi kami hanya
ingin memancing keberanian orang-orang padukuhan ini untuk bangkit.
Jika berhasil dan kemudian banyak orang yang menyatakan kesediaannya
membantu kesulitan Ki Jagabaya. Maka rasa-rasanya kami dapat
mengatasi kedua orang itu meskipun kemudian ia bekerja sama dengan
Ki Sapa Aruh” Sampurna mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia
tersenyum sambil bertanya “Jadi kau dan keluargamu menyatakan
bersedia untuk membantu ayah?” "Ya, seperti yang aku katakan tadi,
yang penting bukan kemampuan kami. Tetapi kesediaan kami hendaknya
dapat membangunkan orang-orang Gemawang khususnya. Kami ingin
menggelitik setiap laki-laki di padukuhan ini” "Bagus Manggada Ayah
tentu akan mengucapkan terima kasih yang sangat besar kepadamu dan
keluargamu” jawab Sampurna. Namun kemudian nada suaranya menurun
"tetapi jika terjadi sesuatu atas keluargamu atau satu dua di antara
keluargamu, maka kami akan merasa tetah bersalah karena kami telah
menyeret keluargamu ke dalam bencana” "Tidak Sampurna" jawab
Manggada "persoalannya bukan sekedar ayahmu. Apa yang dnakukan
ayahmu itu adalah karena ayahmu seorang Jagabaya. Seandainya ayahmu
bukan seorang Jagabaya, maka agaknya iapun tidak akan terlibat
sangat jauh dalam persoalan ini” Sampurna memandang Manggada dan
Laksana berganti-ganti. Keduanya masih sangat muda. Beberapa tahun
lebih muda dari dirinya sendiri. "Manggada" berkata Sampurna
kemudian "jika kau menyatakan bersedia untuk membantu ayah bersama
keluargamu, berapa orang keluargamu yang sanggup benar-benar
membantu ayah dalam pengertian yang paling keras Maksudku, apakah
kalian bersedia untuk bertempur?” "Tentu Sampurna" jawab Manggada
"kami tentu akan bersedia bertempur yang tentu saja setingkat dengan
kemampuan kami. Sedangkan yang aku maksud sekeluarga adalah keluarga
kami yang terdiri dari lima orang laki-laki Kami berdua, ayah, paman
yang kebetulan ayah Laksana ini, dan seorang tamu kami. Seorang yang
sudah tua. Tetapi dalam ketuaannya, ia masih nampak kuat dan tegar”
Sampurna mengangguk-angguk. Katanya “Kami mengucapkan terima kasih.
Tetapi aku minta kalian berpikir dua tiga kali, jika kaitan memang
sudah mantap, maka biarlah ayah mengumumkannya. Mudah-mudahan
seperti yang kalian maksudkan, orang yang lain akan terpancing dan
mengikuti jejak kalian” “Kami sudah berpikir dengan masak” jawab
Manggada “jika Ki Jagabaya tidak berkeberatan, maka kami benar-benar
akan melakukannya. Seperti juga Ki Jagabaya, adapun yang terjadi
pada keluarga kami” Sampurna menarik nafas dalam-dalam. Katanya
“Terima kasih. Aku akan menyampaikannya kepada ayah” "Nanti sore aku
akan datang lagi untuk mohon keterangan langsung dan Ki Jagabaya,
apakah Ki Jagabaya akan setuju atau tidak” "Ayah tentu akan setuju,
karena ayah memang memerlukan kawan. Jika kemudian ayah tidak
setuju, itu tentu bukan karena ayah tidak mempercayai kebersihan
hati kalian, tetapi semata-mata ayah tidak ingin menyulitkan
kedudukan keluargamu di padukuhan ini” berkata Sampurna.
Demikianlah, maka Manggada dan Laksanapun kemudian telah minta diri.
Namun Sampurna menahannya sejenak agar mereka dapat bertemu dengan
ibunya. Nyi Jagabaya telah mengajak Tantri untuk menemui Manggada
dan Laksana. Ternyata demikian Nyi Jagabaya melihat Manggada, maka
ia tidak melupakan wajah itu. Apalagi Manggada memang sering bermain
di rumahnya, karena ia adalah kawan bermain Tantri dan Sampurna.
Manggada dan Laksana mohon maaf, ketika Nyi Jagabaya menahan mereka,
agar mereka menunggu Ki Jagabaya. “Nanti sore kami akan datang lagi
Nyi” jawab Manggada. Demikianlah, maka Manggada dan Laksanapun
meninggalkan rumah Ki Jagabaya. Sampurna mengantar mereka sampai di
regol halaman. Demikian Manggada dan Laksana turun ke jalan, maka
Sampurna itupiun berpesan ”Berhati-hatilah kalian berdua. Jalan
menjadi sepanas bara api” Manggada dan Laksana tersenyum. Sambil
menganggukangguk Manggada menjawab “Aku akan berhati-hati” Sampurna
menunggu beberapa saat di regol halaman rumahnya yang jarang terbuka
meskipun tidak diselarak Baru ketika Manggada dan Laksana melangkah
beberapa puluh langkah, maka Sampurnapun segera menutup pintu dan
masuk lewat pintu seketeng yang kemudian telah diselaraknya pula.
Ketika kemudian Sampurna menyatakan keinginan Manggada sekeluarga
untuk membantu Ki Jagabaya. maka Nyi Jagabayapun berkata “Kita dapat
mengucapkan terima kasih dan bangkit kembali dengan harapan-harapan,
atau sebaliknya kita merasa kasihan kepada keluarga Ki Kertasana
karena dengan langkah yang diambilnya itu. mereka akan terancam”
Sampurna mengangguk-angguk pula. Dengan nada dalam ia berkata
“Biarlah ayah memutuskan. Tetapi tanpa tanpa bantuan orang lain,
maka segala usaha ayah tentu akan siasia, kita tahu kedua orang itu
telah menempa diri dilandasi oleh dendam yang menyala di hati
mereka. Apalagi mereka telah bekerjasama dengan Ki Sapa Aruh yang
namanya sangat ditakuti itu” Ibunya menarik nafas dalam-dalam.
Sebagai isteri seorang Jagabaya, maka iapun harus siap menghadapi
keadaan seperti itu. Nyi Jagabaya juga menyadari sepenuhya tentang
tugas tugas yang diemban oleh suaminya sebagai seorang yang
bertanggung jawab terhadap ketenangan hidup seisi padukuhan. Nyi
Jagabaya itupun bergumam hampir kepada dirinya sendiri ”Justru
karena itu, apakah keluarga Ki Kertasana itu menyadari sepenuhnya
akan akibat yang dapat terjadi atas langkah yang diambilnya? Apakah
keluarga Ki Kertasana itu memiliki sekedar kemampuan untuk
melindungi diri mereka” Sampurna termangu-mangu sejenak. Tetapi
iapun kemudian bertanya "Niat itu sendiri harus kita hargai, ibu
Tetapi untuk selanjutnya biarlah ayah yang menentukan. Ketika
kemudian Ki Jagabaya kembali dari rumah Ki Bekel, maka Sampurnapun
segera menemui ayahnya serta menyampaikan kesediaan keluarga Ki
Kertasana untuk membantunya jika terjadi sesuatu karena dendam Wira
Sabet dan Sura Gentong. Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam.
Dengan nada dalam ia berkata “Satu langkah yang berani. Aku tentu
akan mengucapkan terima kasih” "Ibu justru mencemaskan nasib mereka”
ayahnya berkata berkata itu kepada Sampurna kemudian. "Tetapi aku
tentu tidak dapat mencegahnya. Jika aku menolak akan dapat terjadi
salah paham. Kita akan dapat dianggap merendahkan keluarga itu.
Apalagi secara jujur, kita memang memerlukan kesediaan orang-orang
padukuhan ini untuk bangkit” "Manggada juga mengatakan, bahwa
keluarganya ingin memancing sikap para penghuni padukuhan ini”
"Baiklah. Aku akan menemui mereka” berkata Ki Jagabaya. "Manggada
akan kembali kemari nanti" berkata Sampurna. "Biarlah aku pergi ke
rumah Ki Kertasana. Disana aku dapat bertemu bukan saja dengan
anak-anak itu. Tetapi juga dengan orang tuanya. Mudah mudahan yang
dikatakan Manggada itu bukan sekedar mimpi seorang anak muda tanpa
mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinannya lebih jauh” berkata Ki
Jagabaya. Sampurna mengangguk-angguk. Sebenarnya ia ingin ikut pergi
ke rumah Ki Kertasana, tetapi ia tidak dapat meninggalkan ibu dan
adiknya tanpa kawan seorangpun. Pembantu yang ada di rumah itu tentu
tidak akan dapat berbuat sesuatu jika datang bahaya mengancam ibu
dan adiknya. Karena itu, menjelang sore hari, Ki Jagabaya telah
pergi sendiri ke rumah Ki Kertasana, mendahului kedatangan Manggada
dan Laksana di rumahnya. Kedatangan Ki Jagabaya memang mengejutkan.
Karena itu dengan tergopoh-gopoh Ki Kertasana mempersilahkan ki
Jagabaya naik ke pendapa. "Kedatangan Ki Jagabaya tidak kami duga.
Anakku tadi memang berniat menghadap Ki Jagabaya. Sore ini ia sudah
bersiap-siap untuk menghadap pula sebagaimana dijanjikannya” berkata
Ki Kertasana. Ki Jagabaya tersenyum, katanya “Aku memang ingin
datang ke rumahmu, disini aku dapat bertemu dengan anakmu dengan Ki
Kertasana sendiri, dengan sepupunya dan pamannya, ia mengatakan
bahwa ada beberapa orang laki laki di rumah ini” “Benar Ki Jagabaya.
Adikku ada disini pula” jawab Ki Kertasana. “Nah, aku ingin bertemu
dan berbicara dengan mereka sehubungan dengan kedatangan anakmu ke
rumahku yang ditemui oleh anakku, Sampurna” “Ya, Ki Jagabaya.
Manggada memang mengatakan bahwa di rumah Ki Jagabaya ia ditemui
oleh angger Sampurna, karena Ki Jagabaya sedang pergi ke rumah Ki
Bekel” jawab Ki Kertasana. "Apakah Ki Kertasana tidak berkeberatan
jika aku bertemu dengan mereka” bertanya Ki Jagabaya. "Tentu tidak
Ki Jagabaya. Baiklah, aku akan memanggil mereka untuk menemui Ki
Jagabaya” Ki Kertasana itupun kemudian telah masuk ke ruang dalam.
Dipanggilnya Ki Citrabawa. Ki Pandi, Manggada dan Laksana untuk
menemui Ki Jagabaya. Demikian mereka duduk di pendapa, maka Ki
Kertasanapun telah memperkenalkan mereka kepada Ki Jagabaya kecuali
Manggada yang memang pernah dikenal oleh Ki Jagabaya saat Manggada
masih remaja, karena Manggada adalah kawan Sampurna dan sering
bermain ke rumahnya. Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Kemudian katanya
“Menurut anakmu Manggada, yang agaknya telah mendengar persoalan
yang terjadi di padukuhan Gemawang ini. Ki Kertasana sekeluarga
telah menyatakan diri bersedia membantu tugas-tugasku sebagai
seorang Jagabaya. Dalam hal ini mengalami kegelisahan orang-orang
Gemawang karena tingkah laku Wira Sabet dan Sura Gentong” Ki
Kertasana menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia menjawab
“Ki Jagabaya. Keinginan itu datang dari anakku dan sepupunya setelah
mereka melihat kejanggalan yang terjadi di padukuhan ini. Lengang
dan gelisah. Karena keduanya berniat dengan sungguh-sungguh, maka
kami yang tua-tua tentu tidak akan begitu saja melepaskan mereka.
Karena itu, maka kami menyatakan untuk bersedia ikut bersama mereka”
"Aku mengucapkan terima kasih Ki Kertasana. Aku memang menunggu
kesediaan orang-orang padukuhan ini untuk bersama-sama mengatasi
persoalan yang sedang kita hadapi bersama. Tetapi ternyata bahwa
hati orang-orang Gemawang memang tidak lebih besar dari biji sawi.
Kecil, kerdil dan 'pengecut. Karena itu, pernyataan yang diucapkan
oleh Manggada itu telah menggetarkan hatiku dan anakku. Rasarasanya
pada saat-saat yang paling gawat ini kami tidak sendiri” "Ki
Jagabaya" berkata Ki Kertasana "kesediaan kami untuk bersama-sama
dengan Ki Jagabaya dalam hal ini, bukan karena kami memiliki
kemampuan lebih baik dari tetanggatetangga kami. Tetapi semata-mata
karena kami merasa ikut bertanggung jawab atas keselamatan padukuhan
Gemawang ini. Lebih dari itu, kami berharap bahwa kesediaan kami ini
akan dapat memancing keberanian laki-laki Gemawang manghadapi
persoalan yang gawat atas padukuhan dan tatanan kehidupannya” Ki
Jagabaya mengangguk-angguk. Katanya “Kami mengerti Ki Kertasana.
Kami memang memerlukan sikap seperti itu. Namun demikian, maka
biarlah kedua anak dan kemenakanmu itu mengerti, bahwa persoalan
yang kita hadapi memang sangat gawat. Orang-orang Gemawang tidak
berani bukan saja menghadapi, bahkan menyebut namanyapun mereka
sudah gemetar. Menurut berita yang aku terima dari Kademangan, Wira
Sabet dan Sura Gentong sudah menyatukan dirinya dengan Ki Sapa Aruh”
”Aku juga baru mendengar dari Manggada setelah manggada pulang dari
rumah Ki Jagabaya” jawab Ki Kertasana. “Nah. hubungan kedua orang
itu dengan Ki Sapa Aruh telah membuat kedudukan mereka menjadi
semakin menakutkan Orang-orang Gemawang, bahkan orang-orang
Kademangan Kalegen menjadi semakin ketakutan” berkata Ki Jagabaya
"bukan maksudku menakut-nakuti kalian, tetapi aku minta kalian
mengetahui dengan pasti, apa yang sedang kita hadapi sekarang”
“Medannya memang sangat gawat, Ki Jagabaya. Tetapi jika kita tidak
bangkit, maka apa yang akan terjadi dengan padukuhan ini?” "Jadi
kalian sudah tahu pasti, apa yang sedang kita hadapi sekarang di
Gcmawang Ki Kertasana” bertanya Ki Jagabaya. “Ya. Ki Jagabaya.
Sekali lagi, kami hanya berniat untuk memancing keberanian
orang-orang Gemawang” jawab Ki Kertasana. "Kemungkinan yang sangat
buruk akan dapat terjadi atas kalian sekeluarga jika Wira Sabet dan
Sura Gentong menganggap bahwa kalian ikut bersalah. Sebagaimana aku
maka kalian harus menerima hukuman, sementara orangorang Gemawang
udak juga berani bangkit” "Apa boleh buat, Ki Jagabaya. Tetapi aku
harap setidaktidaknya ada beberapa orang yang yang bersedia membantu
Ki Jagabaya sebagaimana kami lakukan” Ki Jagabaya mengangguk-angguk
Dengan nada dalam ia berkata “Aku sangat menghargai sikapmu Ki
Kertasana Seberapapun bantuan yang kau berikan, tentu akan sangat
berarti bagi kami. Setidak-tidaknya akan semakin mendorong hati kami
untuk menjalankan tugas kami. karena ternyata masih ada juga orang
yang menghargai tugas-tugas kami” "Itu sebenarnya adalah tugas kami
orang padukuhan, karena apa yang Ki Jagabaya lakukan itu adalah
karena kedudukan Ki Jagabaya. Sementara kami, orang-orang padukuhan
inilah yang membebankan kedudukan itu di pundak Ki Jagabaya” Ki
Jagabaya tersenyum. Katanya “Sudah lama aku tidak mendengar
seseorang mengatakan hal itu, Ki Kertasana. Karena itu, maka hatiku
rasa-rasanya membengkak mendengar kata-katamu” "Aku tidak bermaksud
apa-apa, Ki Jagabaya. Aku mengatakan apa adanya sesuai dengan
perasaanku” sahut Ki Kertasana. "Baiklah. Jika demikian maka aku
menjadi semakin mantap” berkata Ki Jagabaya, yang kemudian telah
minta diri untuk kembali pulang. Tetapi Ki Kertasana masih
menahannya ketika kemudian minuman dan makananpun dihidangkan.
Demikianlah, maka kedatangan Ki Jagabaya ke rumah Ki Kertasana itu
mempunyai arti tersendiri bagi keluarga Ki Kertasana. Mereka
seakan-akan telah terikat dalam satu persetujuan dengan Ki Jagabaya,
bahwa mereka akan membantu kesulitan-kesulitan yang akan dialami
oleh Ki Jagabaya dalam tugasnya, terutama untuk menghadapi Wira
Sabet dan Sura Gentong. Bahkan kemudian orang yang bernama Ki Sapa
Aruh itu. Namun hal itu memang sudah mereka kehendaki. Mereka memang
berniat untuk ikut membebaskan padukuhan mereka dari ketakutan.
Sepeninggal Ki Jagabaya, Ki Kertasana telah memberitahukan kepada
Manggada dan Laksana, bahwa mereka untuk selanjutnya tidak akan
dapat mencuci tangan jika terjadi sesuatu. "Kami mengerti ayah"
sahut Manggada "mudah mudahan yang kita lakukan tidak sia-sia”
“Baiklah. Meskipun demikian kalian tidak perlu berkeliling padukuhan
dan menyatakan diri sebagai orang-orang yang mempunyai keberanian
untuk membantu Ki Jagabaya” pesan Ki Kertasana. ”Tetapi bagaimana
kami dapat memancing pendapat orangorang padukuhan ini jika kami
tidak berceritera kepada mereka” bertanya Manggada. "Serahkan kepada
Ki Jagabaya" jawab Ki Kertasana "biarlah Ki Jagabaya berbicara
dengan orang-orang padukuhan ini. Dengan demikian tidak akan ada
orang yang menganggap kita terlalu sombong sekedar untuk mendapatkan
pujian” Manggada mengangguk-angguk. Sementara Laksana bertanya
“Tetapi bukankan kami dibenarkan untuk mendorong dan mempengaruhi
orang-orang padukuhan ini, terutama anak-anak mudanya untuk
bangkit?” Ki Kertasana termangu mangu sejenak Namun kemudian
jawabnya "Ya. Tetapi masih dalam batas kewajaran saja” Demikianlah,
maka Manggada dan Laksanapun telah minta diri kepada Ki Kertasana
dan Ki Citrabawa. Mereka ingin melihat-lihat keadaan padukuhan yang
lengang itu. Setidaktidaknya orang-orang padukuhan itu tidak terlalu
dalam dicengkam oleh ketakutan. "Seperti yang dikatakan oleh kakang
Kertasana, kalian tidak perlu memamerkan ilmu kalian di sepanjang
jalan. Kalian juga tidak perlu menepuk dada dan menyatakan bahwa
kalian sama sekali tidak merasa ketakutan karena ulah Wira Sabet dan
Sura Gentong” pesan Ki Citrabawa. "Tentu tidak ayah. Kami tidak akan
mengatakan apa-apa kecuali berjalan-jalan saja” "Jangan terlalu
lama. Sebelum senja kalian harus sudah kembali pulang” pesan Ki
Kertasana. Demikianlah, maka Manggada dan Laksana itupun telah turun
ke jalan Mereka memang melihat jalan-jalan yang masih lengang. Namun
yang dikatakan Laksana pertama kali demikian mereka meninggalkan
regol halaman rumah adalah "Gadis yang disebut Tantri itu sangat
cantik” “Kau sudah mulai lagi" sahut Manggada "mana lebih cantik.
Winih atau Tantri atau siapa?” Laksana tersenyum. Katanya “Banyak
gadis-gadis cantik dimana-mana” "Setidak-tidaknya menurut
penglihatan matamu” "Tidak. Bukan hanya penglihatan mataku. He,
apakah kau tidak mengatakan bahwa Winih cantik. Dan kemudian Tantri
juga cantik" jawab Laksana. "Sudahlah. Kita tidak berbicara tentang
gadis-gadis cantik saja” sahut Manggada. Laksana tertawa. Katanya
“Baiklah. Sekarang kita berbicara tentang jalan yang sepi ini” Namun
keduanya kemudian tertarik melihat seorang petani yang berlari-lari
kecil sambil menjinjing cangkulnya. Ketika kemudian mereka
berpapasan dengan orang itu. maka Manggadapun menyapanya "Paman
Langgeng. Bukankah paman itu paman Langgeng? Orang itu berhenti.
Tetapi nampak ia masih sangat gelisah. "Kau siapa" orang itu
bertanya "Aku Manggada, anak Ki Kertasana” "O. Jadi kau sudah
pulang” bertanya orang itu. "Ya, paman” jawab Manggada. Namun dengan
gelisah orang yang dipanggil paman Langgeng itu berkata “Pulanglah
Bukan waktunya untuk berjalan menyusuri padukuhan” "Ada apa”
bertanya Manggada. "Cepat, mari ikut aku” ajak orang itu. Langgeng
itu tidak menunggu lagi. Dengan tergesa-gesa ia meninggalkan tempat
itu sambil berkata sekali lagi "Cepat. Ikut aku” Manggada dan
Laksana yang memang ingin tahu itupun segera berlari-lari kecil
mengikuti Langgeng. Dengan nada tinggi Manggada masih bertanya “Ada
apa sebenarnya paman?” Langgeng tidak menjawab. Namun ia berjalan
semakin cepat. Manggada dan Laksana yang mengikutinya berjalan
semakin cepat pula. Beberapa saat kemudian, merekapun telah memasuki
sebuah regol halaman yang langsung ditutup oleh Langgeng. Tetapi
nampaknya sengaja tidak terlalu rapat dan tidak diselarak pula.
"Marilah. Masuklah“ ajak Langgeng. Rumah Langgeng bukan rumah orang
berada. Karena itu, maka rumahnya bukan rumah joglo. Pendapanya
hanya sebumbungan rumah bentuk limasan. Langgeng mangajak Manggada
dan Laksana langsung masuk ke ruang dalam. Pulutnya memang tidak
diselarak dari dalam. Namun demikian mereka masuk, maka Langgeng
telah menyelarak pintu itu. "Kenapa diselarak” bertanya Manggada.
"Agar tidak dimasuki orang" jawab Langgeng. "Kenapa regol itu tidak
diselarak” desak Laksana. "Tidak boleh" jawab Langgeng. "Siapa yang
tidak memperbolehkan?” bertanya Laksana. "Wira Sabet dan Sura
Gentong" jawab Langgeng. Manggada dan Laksana saling berpandangan
sejenak. Namun kemudian Manggada bertanya “Siapakah yang mengatakan
bahwa Wira Sabet dan Sura Gentong melarang menyelarak pintu regol
halaman?” ”Setiap orang mengatakan demikian. Dari mulut ke mulut
Wira Sabet dan Sura Gentong tidak senang melihat pintu regol ditutup
rapat, apalagi diselarak” Manggada dan Laksana mengangguk-angguk.
Agaknya berita dari mulut ke mulut yang agaknya ditaati oleh semua
orang merupakan pertanda, seberapa besarnya pengaruh nama Wira Sabet
dan Sura Gentong. Apalagi kemudian ditambah dengan orang yang
namanya saja telah menggetarkan jantung. Dan bahkan jarang orang
yang berani menyebut nama itu. Ki Sapa Aruh. Dalam pada itu, ketika
kemudian mereka duduk di amben bambu di ruang dalam itu. Manggada
bertanya “Tetapi kenapa paman berlari-lari dari sawah sampai ke
rumah paman” "Seorang yang datang dari ujung melihat Wira Sabet
lewat bersama dengan dua orang kawannya” “Hanya melihat Wira Sabet
lewat" bertanya Manggada. ”Bukan hanya melihat, tetapi itu dapat
berarti satu bencana yang sulit dihindari” jawab Langgeng. "Kenapa
bencana. Bukankah orang yang memberitahukan hal itu kepada paman
juga tidak mengalami sesuatu” bertanya Laksana yang menjadi
keheranan. "Itu hanya dapat terjadi satu di antara seribu" jawab
Langgeng yang masih saja berdebar-debar. "Apakah pernah ada orang
yang mengalami bencana setelah melihat Wira Sabet atau Sura Gentong?
Bukankah maksudnya mereka telah dianiaya oleh kedua orang itu?”
bertanya Laksana pula. Langgeng termangu-mangu sejenak la memang
mencoba mengingat-ingat. ”Apakah ada orang yang pernah mengalaminya”
Namun kemudian iapun menggeleng "Agaknya memang belum” "Nah" berkata
Manggada "aku percaya bahwa belum ada orang yang mengalami bencana
itu karena bencana itu memang belum terjadi kecuali di dalam
angan-angan setiap orang” "Tetapi Wira Sabet dan Sura Gentong memang
menakutkan” berkata Langgeng dengan dahi yang berkerut. "Ya. Aku
percaya. Mereka memang menakutkan, karena mereka memiliki ilmu yang
tinggi. Tetapi lebih menakutkan lagi adalah namanya di dalam
angan-angan setiap orang di padukuhan ini” berkata Manggada.
Langgeng menarik nafas dalam-dalam. Namun bagaimanapun juga bulu
tengkuknya akan berdiri setiap ia mendengar nama Wira Sabet dan Sura
Gentong. Apalagi nama Ki Sapa Aruh. Adalah di luar sadarnya, bahwa
Langgeng itu telah mengintip keluar lewat lubang dinding di sebelah
pintu lereg. Semula ia tidak melihat sesuatu. Yang dilihatnya adalah
daun pintu regolnya yang tidak tertutup rapat. Namun tiba-tiba saja
daun pintu regol itu bergerak. Perlahan-lahan pintu itu teibuka.
langgeng melihat sebuah kepala, yang tersembul dari balik pintu
regolnya. Langgeng hampir menjadi pingsan. Tubuhnya menjadi gemetar
dan keringatnya membasahi seluruh tubuhnya. Dengan kedua tangan
Langgeng bergayut pada tiang di sebelah pintu itu. "Kenapa kau
paman” bertanya Manggada dan Laksana hampir berbareng, keduanyapun
berlari mendekatinya. "Lihat, siapa itu” desis Langgeng. Manggadapun
kemudian telah mengintip pula dari lubang dinding itu. Dilihatnya
seseorang berdiri bertolak pinggang memandangi halaman yang kosong
itu dari sudut sampai ke sudut. Manggada segera dapat mengenali
orang itu sebagaimana ia mengenalinya sebelum ia meninggalkan
padukuhan itu. Di telinga Laksana Manggada itu berdesis “Orang itu
adalah Wira Sabet” Laksana tidak menunggu. Didorongnya saja Manggada
agar Laksana itu mendapat kesempatan untuk meiihat orang yang
disebut Wira Sabet itu. Wira Sabet masih berdiri di pintu regol yang
terbuka. Di luar pintu nampak dua orang yang berdiri termangu-mangu.
"Hanya tiga orang" desis Laksana. Manggada mengerti maksud Laksana.
Namun ia menggeleng sambil berkata lirih "Kita belum siap” Laksana
terdiam sejenak. Namun kemudian iapun berdesis “Tidak lebih dari
seekor kucing hutan” “Sst" Manggada meletakkan jari-jari telunjuknya
di mulutnya. Katanya “Telinganya sangat tajam” Keduanya terdiam
ternyata Wira Sabet itu tidak melangkah memasuki halaman rumah itu,
tetapi ia berputar dan melangkah keluar. Sesaat kemudian, lapun
telah hilang dari penglihatan bersama dengan kedua orang
pengiringnya. Laksana menarik nafas dalam-dalam. Namun kedua anak
muda itu terkejut ketika mereka berpaling kepada Langgeng yang duduk
di amben bambu. Wajahnya pucat, keringatnya membasahi seluruh
tubuhnya, bahkan pakaiannya, sedangkan bibirnya menjadi gemetar.
"Kau kenapa paman” bertanya Manggada yang mendekatinya. Suaranya
menjadi gagap. Katanya “Orang-orang itu......” "Ya. Aku masih
mengenalnya, la adalah Wira. Sabet" sahut Manggada. "Ya. Ia sudah
sampai ke regol rumah ini” Langgeng masih seperti orang menggigil
kedinginan. "Tetapi bukankah ia tidak berbuat apa-apa” bertanya
Manggada "bukankah ia hanya lewat dan berhenti sesaat di regol rumah
paman” Langgeng mengangguk-angguk. Namun katanya “Untunglah bibimu
tidak ada di rumah. Jika ia tahu Wira Sabet berdiri di regol, aku
kira ia sudah menjadi pingsan” Mangada menarik nafas dalam-dalam.
Namun ia sadar, bahwa dengan cara itu Wira Sabet dan Sura Gentong
ingin mematangkan keadaan, sehingga datang saatnya ia benarbenar
menguasai padukuhan ini dan sekaligus membalas dendam kepada Ki
Jagabaya. Sementara itu Laksanapun bertanya kepada Langgeng "Dimana
bibi sekarang, paman?” "Ia berada di rumah orang tuanya untuk
sementara” jawab langgeng. "Jadi paman sendiri” bertanya Laksana
pula. "Ya, Aku sendiri. Barangkali itu lebih baik daripada setiap
kali bibimu pingsan ketakutan” Manggada dan Laksana hanya
mengangguk-angguk saja. Namun apa yang terjadi atas Langgeng adalah
gambaran tentang para penghuni padukuhan Gemawang itu. Untuk
beberapa saat lamanya, Manggada dan Laksana berada di rumah
Langgeng. Namun kemudian keduanyapun minta diri untuk kembali "Orang
itu masih belum jauh. Bagaimana jika mereka kembali dan berpapasan
dengan kalian di jalan?” "Kenapa? Asal aku tidak berbuat apa-apa,
aku kira mereka pun tidak akan berbuat apa apa pula” jawab Manggada.
"Jangan mencari kesulitan Manggada" berkata Langgeng. "Tidak paman.
Aku akan berusaha untuk tidak betemu dengan Wira Sabet. Bukankah
Wira Sabet pergi ke Selatan? Nah. aku akan pergi ke Utara” Ternyata
Langgeng tidak dapat menahan Manggada dan Laksana. Keduama berkeras
untuk meninggalkan rumah itu "Menurut pesan ayah. sebelum senja aku
sudah harus berada di rumah” berkata Manggada. Langgeng terpaksa
melepaskan mereka. Namun, demikian kedua orang anak muda itu keluar
dari pintu rumahnya turun ke halaman, maka pintu itupun telah
ditutup dan diselarak. Tetapi Langgeng mengamati Manggada dan
Laksana dai lubang dinding. Baru setelah ia yakin, Manggada dan
Laksana mengambil arah yang berlawanan dengan Wira Sabet. Langgeng
itu beringsut dan duduk di amben bambu yang besar di ruang dalam
rumahnya. Dalam pada itu. Manggada dan Laksana memang menuju ke arah
yang yang berlainan dengan arah yang ditempuh Wira Sabet. Tetapi
Manggada telah mengajak Laksana untuk menempuh jalan melingkar,
sehingga mereka akan dapat berpapasan langsung dengan orang yang
sangat ditakuti itu. Sebenarnyalah ketika mereka muncul di sebuah
tikungan, maka dari arah yang lain. mereka melihat Wira Sabet
bersama dua orang kawannya menuju ke arahnya. "Kita temui orang itu"
berkata Manggada. "Apakah kita akan membuat penyelesaian” bertanya
Laksana. "Tidak sekarang. Sura Gentong dan Ki Sapa Aruh akan dapat
menghancurkan padukuhan ini Tetapi juga dapat terjadi sebaliknya,
kitalah yang tidak akan dapat pulang” "Jadi untuk apa kita
menemuinya” bertanya Laksana pula. "Aku yang akan berbicara.
Sesuaikan saja sikapmu” Laksana menarik nafas dalam-dalam. Namun
Manggada masih berkata “Tetapi kau harus tetap berhati-hati. Ada
beberapa kemungkinan dapat terjadi” Laksana mengangguk, sementara
itu Wira Sabet telah menjadi semakin dekat. Agaknya Wira Sabetpun
menjadi heran melihat dua orang anak muda yang berjalan justru
menyongsongnya. Dengan kening yang berkerut ia bertanya kepada
kawannya "Siapakah anak-anak gila itu? Apakah mereka sengaja
menantang aku?” Kedua orang kawannya tidak menjawab Mereka memang
belum mengenal, siapakah kedua orang anak muda itu. Dalam pada itu,
bagaimanapun jaga Manggada dan Laksana menjadi berdebar-debar Tetapi
Manggada sudah bertekad untuk menemui orang yang ditakuti di seluruh
padukuhan dan bahkan Kademangan Kalegen itu. Wajah Wira Sabet
benar-benar menjadi tegang. Semakin dekat Manggada dan Laksana,
kerut di dahi Wira Sabet itu menjadi semakin dalam. Namun beberapa
langkah di hadapannya. Manggada dan Laksana telah berhenti.
Dipandanginya wajah Wira Sabet dengan saksama, sehingga Wira Sabet
menjadi semakin heran, bahwa anak-anak muda itu berani memandangnya
seperti itu. Tetapi sebelum Wira Sabet berbuat sesuatu. Manggada
telah melangkah mendekatinya sambil tertawackecil. Sekali ia
mengangguk hormat sambil berkata “Paman. Bukankah aku berhadapan
dengan paman Wira Sabet?” Wira Sabet termangu-mangu sejenak.
Wajahnya memang nampak seram. Namun dengan nada ringan Manggada
bertanya “Apakah paman lupa kepadaku?” "Kau ini siapa” bertanya Wira
Sabet. "Aku Manggada, paman. Aku anak Ki Kertasana. Bukankah aku
sering bermain di jalan di depan rumah paman waktu itu. Tetapi
kemudian aku memang pergi meninggalkan padukuhan ini bertahun-tahun,
karena aku berada di rumah pamanku. Aku telah diangkat menjadi
anaknya. Nah. ini adalah anak pamanku itu. Sehingga dengan demikian,
kami telah menjadi dua bersaudara” Wira Sabet masih saja
termangu-mangu. Sementara Manggada meneruskan "Bukankah di muka
rumah paman Wira Sabet terdapat sebatang pohon manggis. Paman sering
memberi aku manggis dan bahkan sering mengijinkan aku memanjat pohon
duwet di sebelah pendapa rumah paman" Manggada berhenti sejenak,
lalu "Tetapi aku masih remaja waktu itu. Dan itu sudah terjadi
bertahun-tahun yang lalu. Tetapi jika paman masih mengijinkan, aku
masih ingin juga memanjat pohon duwet itu” Wira Sabet justru menjadi
bingung menanggapi sikap Manggada Selama ini tidak seorangpun
penghuni padukuhan itu yang berani menyapanya. Bahkan orang-orang
akan menyingkir dan bersembunyi. Wira Sabet memang berbangga bahwa
ia ditakuti oleeh seisi padukuhan dan bahkan seisi Kademangan. Namun
keadaan yang tiba-tiba tanpa diduganya itu justru telah merambah,
menyentuh perasaannya yang paling dalam Karena itu, maka di luar
sadarnya. Wira Sabet berkata “Jika kau mau, ambillah. Duwet itu
sedang berbuah sekarang. Tetapi aku sendiri tidak ada di rumah itu”
"O, apakah paman Wira Sabet telah pindah rumah. Atau sering
bepergian jauh? Tetapi bukankah bibi ada di rumah?” bertanya
Manggada. Wira Sabet memang bertambah bingung menanggapi sikap
Manggada. Namun Wira Sabet itu sempat bertanya “Sejak kapan kau
pulang?” "Kemarin, paman" jawab Manggada. Lalu katanya “Saudara
sepupuku, yang kemudian telah menjadi saudaraku setelah aku diangkat
anak oleh paman, ingin melihat-lihat padukuhan ini. Tetapi
rasa-rasanya padukuhan ini semakin lama menjadi semakin mundur”
"Apakah ayahmu tidak menceriterakan apa-apa tentang padukuhan ini”
bertanya Wira Sabet pula. "Ayah sudah berceritera bahwa air dari
sungai kecil itu sudah berhasil diangkat naik dan dapat mengaliri
sawah di bulak sebelah Selatan padukuhan ini, sehingga hasil padi
telah meningkat. Tetapi disisi lain ayah juga menceriterakan bahwa
orang-orang padukuhan ini menjadi malas bekerja. Rumputrumput
dibiarkan tumbuh di sela-sela batang padi. Bahkan air yang sudah
terangkat itu lebih banyak disia-siakan. Apalagi pekerjaan-pekerjaan
yang lain semakin lama menjadi semakin tidak dihiraukan” Wira Sabet
mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia pun memotong kata-kata
Manggada “Ayahmu benar. Itulah gambaran kehidupan padukuhan ini
sekarang Semua orang menjadi malas dan kehilangan gairah untuk
bekerja. Semua ini adalah kesalahan bebahu padukuhan yang tidak
mampu menggerakkan para penghuni padukuhan ini. Karena itu, maka
harus ada pembaharuan di padukuhan ini” Manggada mengangguk-angguk.
Katanya “Jadi, yang dikatakan ayah itu benar? Semula aku
meragukannya. Karena itu. maka aku dan saudaraku ini ingin melihat
perkembangan terakhir padukuhan Gemawang ini” Namun Wira Sabet
berkata “Pulanglah. Bertanyalah kepada ayahmu apa yang sebenarnya
terjadi” “Baiklah paman. Tetapi apakah paman bersedia singgah di
rumah kami. Ayah ada di rumah sekarang. Pada kesempatan lain, aku
akan datang lagi ke rumah paman untuk memanjat pohon duwet itu lagi.
Atau barangkali pohon manggis jika musimnya manggis berbuah.
"Pergilah kesana. Rumahku itu kosong sekarang. Tetapi aku ijinkan
kau mengambil manggis dan duwet” “Terima kasih paman. Nah. sekarang
paman mau pergi kemana atau dari mana?” "Seperti kau. Melihat-lihat
kemalasan orang-orang padukuhan ini” Manggada tidak bertanya lagi.
Wira Sabetpun kemudian telah melangkah melanjutkan perjalanannya.
Namun ia masih berpesan "Pulanglah. Bertanyalah apa yang terjadi di
padukuhan ini” "Baik paman" jawab Manggada. Demikianlah, maka Wira
Sabetpun berjalan terus. Manggada dan Laksana masih termangu-mangu
sejenak. Namun kemudian Laksana itupun berkata “Nampaknya ia masih
seperti orang kebanyakan. Ia masih mau menjawab
pertanyaan-pertanyaanmu” ”Mudah-mudahan ia masih dapat diajak
berbicara. Tetapi entahlah dengan Sura Gentong. Apalagi Ki Sapa
Aruh” Keduanyapun kemudian telah melangkah pula menuju ke arah yang
berbeda. Namun kemudian keduanya telah memutuskan untuk segera
pulang dan memberitahukan perjumpaannya dengan Wira Sabet. Di rumah,
kedua anak muda itu menceriterakan apa yang mereka alami Sikap
Langgeng yang ketakutan serta tanggapan Wira Sabet terhadap mereka
berdua. Nampaknya Wira Sabet masih dapat diajak berbicara. Mungkin
juga tentang hal-hal yang lebih besar tentang padukuhan Gemawang
ini. Tetapi Ki Kertasana itupun berkata “Kemungkinan yang sangat
tipis. Jika ia bersikap sebagaimana kebanyakan orang, itu karena ia
mengahadapi satu keadaan yang tiba-tiba, yang sebelumnya tidak
pernah diduganya. Tetapi apa yang dilakukan oleh Wira Sabet dan Sura
Gentong selama ini, nampaknya dengan sengaja mereka berusaha untuk
menkutnakuti semua orang Gemawang, dan bahkan seisi kademangan
Kalegen” Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sementara ayahnya
itupun berkata selanjutnya “Tetapi lebih dari Wira Sabet, Sura
Gentong adalah orang yang kasar dan garang. Sedangkan orang yang
bernama Ki Sapa Aruh itu. secara pribadi aku belum mengenalnya.
Tetapi nama itu memang cukup menggetarkan jantung orang yang
mendengarnya” Manggada dan Laksana masih saja menganguk-angguk.
Sementara itu Ki Citrabawapun berkata “Sesuai dengan keterangan
kakang Kertasana. maka kalian harus berhati-hati jika kalian
bertemu, berpapasan apalagi berhubungan dengan Wira Sabet. Lebih
lebih lagi dengan Sura Gentong atau Ki Sapa Aruh. Agaknya peristiwa
yang pernah melemparkannya keluar dari padukuhan ini. telah membuat
jiwa mereka meledak-ledak selain sifat dan watak mereka yang memang
kasar” Manggada dengan nada rendah menjawab "Baik, paman. Kami akan
selalu memperhatikan keadaan” "Tetapi apakah kau benar-benar akan
pergi ke rumah Wira Sabet” bertanya Ki Kertasana. "Ya" jawab
Manggada "kami memang benar-benar ingin datang ke rumahnya. Kami
berharap bahwa Wira Sabet itu masih juga menyadari akan pentingnya
kendali penalaran atas segala tingkah lakunya Sehingga ia tidak
berdiri di atas lambaran dendam semata-mata” "Baiklah" berkata Ki
Kertasana "tetapi seperti pesan pamanmu, berhati-hatilah.
Orang-orang seperti Wira Sabet memang tidak dapat dijajagi sikapnya.
Apa yang kau lihat akan dapat berubah setiap saat” "Besok kami akan
pergi ke rumahnya, ayah” berkata Manggada kemudian. Ayahnya
menganggukangguk. Namun katanya “Aku kira ia tidak mudah ditemui di
rumahnya. Meskipun demikian, kanan dapat mencobanya. Tetapi jika
kalian tidak menemuinya di rumahnya yang lebih sering kosong, jangan
mencoba mencari ke tempat lain. Apalagi di luar padukuhan ini”
Manggada mengangguk kecil. Katanya “Baik ayah. Rasa-rasanya memang
sulit untuk mnecari tempat tinggalnya di luar padukuhan ini” Untuk
beberapa lamanya mereka masih berbincang-bincang tentang padukuhan
yang lengang itu. Namun kemudian, setelah makan malam, maka Manggada
dan Laksanapun telah duduk di serambi bersama Ki Pandi. Ki Pandi
yang lebih banyak diam dalam pembicaraan tentang keadaan padukuhan
itu. berkata “Angger berdua, kalian memang harus sangat berhati-hati
menghadapi persoalan ini. Orang yang bernama Sapa Aruh itu memang
orang berilmu tinggi. Aku tidak mengira bahwa ia berkeliaran sampai
ke tempat ini. Bahkan mungkin sudah cukup lama. ternyata ia telah
menjadi hantu yang menakut-nakuti lingkungan ini. Aku kagum melihat
keberanian Ki Jagabaya serta kesetiaannya pada tugasnya Tetapi aku
tidak yakin. apakah ia memiliki bekal yang cukup untuk menghadapi
orang-orang seperti Wira Sabet. Sura Gentong dan kawankawannya.
Apalagi orang yang bernama Ki Sapa Aruh itu. Karena itu, ia memang
memerlukan orang lain untuk membantunya. Bahkan mungkin lebih tepat
disebut melindunginya” "Anak Ki jagabaya itu juga baru pulang dari
perguruannya karena dipanggil oleh ayahnya” berkata Manggada. "Aku
belum pernah melihat anak itu. Mudah-mudahan ia mempunyai bekal ilmu
yang tinggi. Tetapi berdua dengan ayahnya, maka keadaannya akan
menjadi sangat gawat. Sampai saat ini rasa-rasanya Wira Sabet dan
Sura Gentong masih belum berbuat sesuatu kecuali menakut-nakuti
orangorang Gemawang. Karena itu. mereka masih belum berbuat sesuatu
atas Ki Jagabaya dan anaknya. Namun pada suatu ketika Ki Jagabaya
dan anaknya tentu akan diselesaikan dengan cepat jika tidak mendapat
bantuan yang cukup” Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Dengan
nada dalam Laksana itu berdesis “Agaknya memang sulit untuk
membangkitkan keberanian orang-orang padukuhan ini” "Tetapi kita
masih dapat berharap. Sedangkan harapan lain. kita dapat berbicara
dengan Wira Sabet” sahut Manggada. "Nampaknya sulit untuk menembus
kekerasan hati Wira Sabet dan Sura Gentong mengingat lalar belakang
kehidupannya sebagaimana diceiriterakan oleh Ki Kertasana. Namun
demikian tidak ada salahnya untuk berbicara dengan Orang itu”
Manggada mengerutkan dahinya. Katanya “Setidak-tidaknya uimik
menunjukkan kepada mereka, bahwa ada orang yang tidak menjadi
ketakutan karena solah tingkahnya itu” "Kau melangkah terlalu cepat"
berkata Ki Pandi “aku setuju, tetapi jangan tergesa-gesa. Jika
mungkin kita dapat melihat serba sedikit tentang kekuatan yang ada
di belakangnya selain Ki Sapa Aruh” Manggada dan Laksana memahami
betapa luasnya pengalaman Ki Pandi merasakan kebenaran pesan itu.
Tanpa mengetaui serba sedikit apa yang mereka hadapi, maka
rasarasanya mereka akan dapat terjebak ke dalam satu pusaran
kekuatan yang tidak dapat mereka lawan, atau setidaktidaknya mereka
tidak sempat memperhitungkan cara untuk mengatasinya. Malam itu Ki
Pandi masih memberikan pesan-pesan khusus menghadapi orang-orang
yang jantungnya telah hangus dibakar oleh api dendam. Orang-orang
yang demikian agaknya sudah sulit untuk membuat
pertimbangan-pertimbangan yang wajar. Sementara Ki Sapa Aruh dapat
bekerja sama dengan mereka meskipun latar belakang kepantingannya
berbeda. Menjelang tengah malam, pembicaraan mereka baru berakhir.
Manggada dan Laksanapun segera menuju ke biliknya. Demikian pula
dengan Ki Pandi. Di hari berikutnya. Manggada dan Laksana
benar-benar ingin pergi ke rumah Wira Sabet. Ki Kertasana dan Ki
Citrabawa masih juga memberikan beberapa pesan. Karena mereka
menyadari, betapa orang yang bernama Wira Sabet itu sangat
berbahaya. Sesaat kemudian, ketika matahari mulai naik. Manggada dan
Laksana sudah turun ke jalan. Jalan-jalan di padukuhan masih tetap
lengang. Namun Manggada dan Laksana melihat satu dua orang pergi ke
sawah dengan tergesa-gesa. Orang-orang yang berpapasan di jalan
sempit juga bertanya kapan anak itu pulang. Seorang yang rambutnya
sudah putih, berjalan dengan tenang menyusuri tanggul parit sambil
memanggul cangkul. Tidak seperti orang yang lain yang nampak selalu
tergesa-gesa, maka orang tua itu telah menarik perhatian Manggada
dan Laksana. Karena itu, maka keduanyapun telah mendekatinya.
Manggadapun segera dapat mengenalinya. Karena itu. maka Manggadapun
segera bertanya “Kakek. Apakah kakek ingat kepadaku, yang dahulu
sering mengganggu kakek jika kakek membuat gula kelapa?” Orang tua
itu mengerinyitkan alisnya. Dengan suaranya yang lemah ia bertanya
“Kau siapa, he?” "Manggada. kek. Anak Ki Kertasana” "O, Jadi kau
anak Kertasana? Sekarang kau sudah besar. Sudah sebesar ayahmu. He.
siapakah anak muda itu” “Namanya Laksana kek. Sepupuku" jawab
Manggada. "Kemana kau selama ini?” bertanya kakek itu. "Di rumah
paman. kek. Membantu menggarap sawah” jawab Manggada sambil berjalan
di sebelah kakek itu. "Kau pulang pada saat yang kurang baik.
Manggada” "Aku tahu, kek. Ayah sudah berceritera” jawab Manggada
"tetapi kenapa kakek nampaknya tidak terpengaruh oleh keadaan di
padukuhan ini” Orang itu tertawa. Katanya “Bukankah aku sudah tua?
Buat apa aku ikut-ikutan menjadi ketakutan seperti orang lain? Aku
sudah tidak berarti apa-apa lagi. Aku tidak mempunyai tanggungan
seorangpun lagi. Tidak ada isteri, tidak ada anak” “Tetapi bukankah
kakek mempunyai isteri dan anak" bertanya Manggada "Dahulu Manggada.
Dahulu aku mempunyai isteri dan anak. Tetapi isteriku itu sudah
meninggal beberapa tahun yang lalu. Sedang anakku pergi tidak
menentu” jawab orang tua itu. Manggada mengangguk-angguk sambil
berdesis “Maaf kek. Aku tidak tahu bahwa nenek sudah meninggal. Aku
menyatakan ikut berduka kek” "Terima kasih. Manggada. Tetapi.
Kematian tidak selalu merupakan kedukaan. Aku kira Tuhan Yang Maha
Kuasa sudah menentukan yang paling baik bagi nenekmu itu. Jika ia
masih hidup, maka hatinya akan selalu tersiksa” jawab orang tua itu.
Manggada mulai merenung. Ia mulai mencoba mengingat keluarga kakek
itu. Sementara kakek itupun berkata “Manggada. Sepeninggal nenekmu,
aku sudah bukan apa-apa lagi” Wajah Manggada menjadi tegang.
Keringatnya mulai mengalir membasahi punggungnya. Ia baru teringat
tentang orang tua itu. Orang tua itu adalah ayah Wira Sabet dan Sura
Gentong. Karena itu, maka Manggadapun menjadi sangat gelisah. Bahkan
ia menjadi gagap "Tetapi, tetapi.......” Laksana menjadi heran
melihat sikap Manggada. Tetapi sebelum ia berkata sesuatu, orang tua
itu tersenyum sambil berkata “Kau tidak usah menyesali pertanyaanmu,
ngger. Sudah sekian tahun kau pergi, sehingga tentu ada sesuatu yang
kau lupakan. Juga tentang anak-anakku. Aku sama sekali tidak merasa
tersinggung, Manggada. Wira Sabet dan Sura Gentong memang
anak-anakku. Keduanyalah yang telah membuat padukuhan ini menjadi
seperti kuburan. Itulah sebabnya aku mengatakan bahwa kepergian
nenekmu adalah satu hal yang terbaik bagi nenekmu, meskipun dengan
demikian, maka aku merasa bahwa hidupku sebenarnya telah berakhir
sejak nenekmu meninggal” Laksana yang mendengar kata-kata kakek itu
menarik nafas dalam-dalam, ia mengerti, kenapa Manggada menjadi
gagap dan bahkan kebingungan. "Aku mohon maaf, kek" berkata Manggada
kemudian. Kakek tua itu berhenti. Ditatapnya wajah Manggada dan
Laksana berganti-ganti. Dengan nada lembut ia berkata “Kalian berdua
adalah anak-anak muda yang sedang tumbuh. Kau dapat bercermin pada
pengalaman hidupmu dan pengalaman orang lain. Kau dapat membaca yang
manakah yang baik dan yang pantas kau lakukan dan yang manakah yang
tidak baik dan tidak pantas kau lakukan. Karena sebenarnyalah kita
dapat membedakan, mana yang baik dan mana yang tidak baik” "Ya kek"
jawab Manggada. Sementara itu, keringatnya masih saja mengalir di
kening dan punggungnya. "Sudahlah. Lupakan pembicaraan kita. Kau
jangan menjadi gelisah karenanya. Aku juga akan melupakannya”
berkata orang tua itu. "Tetapi bukankah kakek memaafkan aku”
bertanya Manggada pula. "Tentu ngger. Tentu. Jika kita tidak
memaafkan kesalahan orang lain kepada kita, maka Tuhan Yang Maha
Pengampun pun tidak akan memaafkan kesalahan-kesalahan kita” jawab
orang tua itu. "Terima kasih, kek” berkata Manggada kemudian. Kakek
tua itu menepuk bahunya. Kemudian iapun bertanya “Sekarang kalian
akan kemana” bertanya kakek tua itu. Manggada yang masih gelisah
tidak berbohong. Jawabnya "Aku akan pergi ke rumah paman Wira Sabet,
kek. Kemarin aku bertemu. Paman Wira Sabet menjanjikan kepadaku,
bahwa aku diijinkan mengambil buah duwet dan manggis jika kebetulan
berbuah.” Wajah kakek itu justru menegang. Dengan dahi yang berkerut
ia bertanya “Dimana kau bertemu dengan pamanmu Wira Sabet?” "Di
lorong sebelah kek. Paman sedang berjalan-jalan di padukuhan.ini.
Kami bertemu dan berbicara beberapa saat. Ternyata paman Wira Sabet
juga tidak lupa kepadaku. Ketika aku minta diijinkan untuk mengambil
duwet dan manggis sebagaimana masa remajaku, maka paman Wira Sabet
tidak berkeberatan” "Tetapi bukankah kau sudah mendengar ceritera
tentang pamanmu Wira Sabet dan Sura Gentong” bertanya orang tua itu.
"Sudah kek. Tetapi ternyata paman Wira Sabet masih bersikap wajar
kepadaku” Orang tua itu mengangguk-angguk. Katanya “Mudah mudahan
masih ada tersisa betapapun tipisnya, kesadaran atas tata pergaulan
antara sesamanya” Manggada tidak menjawab. Namun ia melihat mata
orang tua itu menjadi basah. Tetapi orang tua itu kemudian justru
tersenyum dan berkata “Singgahlah di rumahku ngger. Aku hidup
seperti sekarang” "Baiklah kek. Nanti aku akan singgah di rumah
kakek. Tetapi bukankah kakek sekarang akan pergi ke sawah” Orang tua
itu mengangguk-angguk. Katanya “Ya. Aku akan pergi ke sawah. Tidak
ada orang yang mengairi sawah. Di padukuhan ini tidak ada orang yang
bersedia membantuku lagi. Mereka semakin lama menjadi semakin jauh.
Apalagi akhir-akhir ini setelah ada kabar bahwa kedua orang anakku
itu akan pulang” "Jika kakek tidak berkeberatan, aku akan membantu
kakek” Mata orang tua itu menjadi redup dan bahkan nampak menjadi
basah lagi. Namun dengan cepat ia menguasai perasaannya dan berkata
"Terima kasih Aku masih kuat untuk melakukan sendiri anak anak muda.
Tetapi sekali lagi aku berharap, datanglah ke rumahku. Aku masih
membuat gula kelapa seperti dulu” "Sudah setua kakek ini masih juga
menyadap legen kelapa?” "Apakah aku sudah nampak tua sekali”
bertanya orang itu sambil tersenyum. "Kakek memang sudah nampak tua.
Tetapi kakek masih nampak tegar menghadapi hari-hari yang keras bagi
kakek” "Sudahlah" berkata orang itu "aku akan pergi ke sawah mumpung
masih pagi” "Silahkan kek. Aku akan mengunjungi rumah paman Wira
Sabet. Mudah-mudahan ia ada di rumah” Sekali lagi orang itu menepuk
bahu Manggada. kemudian Laksana. Namun kemudian orang tua itu telah
melangkah pergi menyusuri tanggul parit menuju ke sawah. Manggada
dan Laksana berdiri termangu-mangu. Dengan menyesal Manggada berkata
“Aku agaknya sudah pikun. Kenapa aku lupa bahwa orang tua itu adalah
ayah paman Wira Sabet dan Sura Gentong. Perasaan orang tua itu tentu
tersinggung. Namun ia berusaha untuk menahan diri” "Tetapi orang tua
itupun dapat mengerti sikap kita, kakang. Karena itu ia tidak marah"
sahut Laksana. "Ia tidak marah kepada kita. Tetapi seakan-akan aku
telah menaburkan garam pada luka di hatinya” Laksanapun kemudian
berkata “Tetapi ia cukup bijaksana. Ia tentu benar-benar akan
melupakannya sebagaimana dikatakannya” "Ya" Manggada mengangguk "aku
juga yakin” "Nanti atau besok, kita singgah di rumahnya" berkata
Laksana "agaknya orang tua itu juga merasa sepi” Manggada dan
Laksana masih memandangi orang tua yang berjalan di tanggul parit
itu. Ketika seseorang yang muncul dari sebuah lorong dan berjalan
searah dengan orang tua itu, maka orang itu telah berusaha mencari
jalan lain. Mengambil jalan pintas. "Agaknya orang-orang padukuhan
ini juga menjauhinya” berkata Manggada. Laksana mengangguk-angguk.
Namun iapun kemudian berkata “Sudahlah. Kita lanjutkan saja rencana
kita untuk mengunjungi rumah Wira Sabet” Berdua mereka telah
berjalan lagi menuju ke rumah Wira Sabet. Tetapi seperti yang sudah
diduga, rumah itu memang kosong. Rerumputan liar tumbuh di halaman
yang kotor oleh daun-daun kering yang berguguran dari pepohonan
tanpa pernah dibersihkan. Agaknya keluarga Ki Wira Sabetpun telah
meninggalkan padukuhan itu. Sedangkan rumah itupun menjadi kosong.
Tetapi ternyata pohon manggis di halaman rumah itu berbuah lebat.
Tidak seorangpun berani memasuki halaman itu dan apalagi mengambil
buah dari pepohonan yang tumbuh di atasnya. Manggada dan Laksana
termangu-mangu sejenak Mereka ragu-ragu untuk memasuki halaman itu
meskipun mereka sudah mendapat ijin dari Wira Sabet itu sendiri.
Untuk beberapa saat keduanya berdiri termangu-mangu. 'Tidak
seorangpun nampak berjalan di jalan yang melewati depan rumah Wira
Sabet. "Marilah, kita lihat rumah sebelah" berkata Manggada. "Apakah
kita akan singgah di rumah itu?” bertanya Laksana. “Ya Hanya
sebentar. Kita ingin mendapat sedikit keterangan tentang rumah Wira
Sabet itu” Laksana mengangguk-angguk mengiakan. Karena itu, maka
berdua mereka menuju ke regol halaman rumah di sebelah rumah Wira
Sabet. "Rumah itu memang tidak terlalu besar Tetapi nampak bersih
dan terawat. Sangat berbeda dengari rumah Wira Sabet yang memang
kosong itu.” "Aku kenal orang yang tinggal di rumah ini" berkata
Manggada. Lalu katanya pula" Namanya paman Resa. Lengkapnya
Resadana” Laksana hanya mengangguk-angguk saja. Seperti rumah
Langgeng, maka pintu regolnya tidak diselarak. Tetapi pintu rumah
itu tertutup rapat dan bahkan tentu diselarak dari dalam.
Manggadapun kemudian mengetuk pintu rumah itu perlahan-lahan. Tetapi
tidak segera terdengar jawaban dari dalam, sehingga ketukan itu
harus diulang beberapa kali. Baru sesaat kemudian, terdengar langkah
menuju ke pintu. Terasa bahwa langkah itu tersendat dan ragu.
"Siapa" terdengar suara seorang perempuan. ”Aku Manggada, anak Ki
Kertasana” jawab Manggada. "Manggada. Benarkah kau Manggada"
terdengar suara itu lagi. masih penuh keragu-raguan. Manggada
ternyata masih mengenal suara itu. Karena itu, maka iapun menjawab
“Ya bibi. Aku Manggada. Bibi Resa tentu masih ingat aku” Sejenak
kemudian terdengar selarak pintu diangkat. Seorang perempuan separo
baya berdiri di muka pintu. Demikian ia melihat Manggada, maka iapun
tersenyum sambil bertanya “Kapan kau datang Manggala. Bukankah sudah
lama kau meninggalkan padukuhan ini?” "Dua hari yang lalu, bibi"
lalu Manggadapun telah memperkenalkan Laksana "ini adalah saudara
sepupuku, bibi” "Marilah. Masuklah" Nyi Resa itu mempersilahkan
Manggada ragu-ragu sejenak. Namun Nyi Resa itupun berkata “Marilah.
Duduklah di dalam. Pamanmu ada di belakang” Manggada dan Laksanapun
kemudian telah masuk di ruang dalam. Sementara itu. Nyi Resapun
segera menutup pintu rumahnya rapat-rapat. Sejenak kemudian, maka Ki
Resapun telah dipanggil pula. Seperti Nyi Resa, maka Ki Resapun
telah mempertanyakan kapan Manggada itu pulang. "Kau sekarang telah
menjadi anak muda yang dewasa. tubuhmu nampak berkembang dengan
baik. Sejak kanakkanak kau memang sudah nampak bahwa kau akan tumbuh
menjadi seorang anak muda yang gagah” "Ah. paman masih saja suka
memuji” jawab Manggada. "Tidak. Aku tidak sekedar memuji, tetapi aku
berkata sebenarnya?” "Terima kasih, paman" jawab Manggada Namun
kemudian Ki Resa itupun bertanya “Tetapi bukankah ayahmu telah
menceriterakan apa yang terjadi di padukuhan ini?” "Sudah paman.
Maksud paman tentang paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong?” "Ya.
Tentang mereka” jawab Ki Resa. Manggadapun kemudian menceritakan
perjumpaannya dengan Wira Sabet kemarin, ia memang datang untuk
melihat rumah Wira Sabet. "Jadi kau sudah bertemu dan berbicara
dengan Wira Sabet” bertanya Ki Resa dengan heran "Ya, paman. Aku
sudah mengatakan pula bahwa aku ingin memanjat pohon manggis atau
pohon duwet di halaman rumahnya. Paman Wira Sabet ternyata tidak
berkeberatan. Namun ternyata rumah itu agaknya sudah lama kosong.
Bahkan tidak seorangpun keluarganya yang tinggal” "Rumah itu memang
sudah lama kosong. Ketika Wira Sabet melarikan diri dari rumahnya,
masih ada keluarganya yang menunggui rumah itu. Namun kemudian
merekapun telah pergi pula dan rumah itu ditinggalkan kosong”
berkata Ki Resadana” Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Tetapi
iapun kemudian bertanya “Lalu dimana paman Wira Sabet sekarang
tinggal?” Ki Resa itu menggeleng. Katanya “Tidak seorangpun yang
tahu ngger. Tidak ada orang yang berani bertanya. Bahkan melihat
Wira Sabet di kejauhanpun orang-orang padukuhan ini sudah melarikan
diri. Wira Sabet dan Sura Gentong adalah lambang dari kesulitan dan
bencana” “Tetapi ia tidak berbuat apa-apa ketika kami bertemu
kemarin” berkata Manggada kemudian. “Meskipun demikian, kau harus
berhati-hati, ngger. Perjumpaanmu berikutnya, akan dapat menimbulkan
kemungkinan yang lain. Ketika ia sadar bahwa kau adalah bagian dari
isi padukuhan ini, maka kau akan dianggap sebagai musuhnya pula”
berkata Ki Resa itu kemudian. Manggada termangu-mangu sejenak,
sementara Laksana itupun bertanya “Tetapi paman, apakah selama ini
paman tidak pernah merasa diganggu oleh Wira Sabet yang rumahnya
hanya bersebelahan dengan rumah paman?” "Aku memang tidak ngger.
Tetapi Wira Sabet dan Sura Gentong itu sampai saat ini dengan
teratur tengah melakukan usaha untuk menakut-nakuti para penghuni
padukuhan ini” "Ternyata seisi padukuhan ini memang menjadi
ketakutan. Sementara Ki Jagabaya masih tetap setia kepada tugasnya
itu harus bekerja seorang diri" sahut Manggada. Ki Resa menarik
nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah Ki Resa itu berkata
“Sebenarnya orang-orang padukuhan ini juga merasa berkewajiban
membantunya. Tetapi kami tidak berdaya sama sekali” "Dahulu seisi
padukuhan ini mampu mengusir paman Wira Sabet dan pamar Sura
Gentong” desis Manggada. "Tetapi keadaannya sudah berbeda. Dahulu
mereka bukan orang-orang berilmu. Tetapi tidak lebih dan kita
semuanya. Sekarang, Wira Sabet dan Sura Gentong adalah orang berilmu
tinggi” "Tetapi jika kita semuanya bangkit bersama-sama, apakah kita
masih juga tidak mampu berbuat apa-apa” bertanya Manggada. Ki
Resadana menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya dengan nada
berat "Kita tidak akan selalu bersamasama setiap saat. Pada saat
kita sendiri-sendiri itulah, nyawa kita semuanya terancam. Hari ini
dua orang, besok dua orang dan demikian pu!a di hari-hari
berikutnya. Bukankah itu sangat mengerikan” Manggada dan Laksana
melihat kecemasan membayang di wajah orang itu. Meskipun demikian
Manggada masih juga berkata “Paman, bukankah kita dapat menyiapkan
anak-anak muda dan laki-laki yang masih mampu untuk mengangkat
senjata untuk meronda setiap saat Kita dapat mengatur dan membagi
waktu sebaik-baiknya untuk melakukan pengamanan padukuhan ini. Kita
isi gardu-gardu di ujung-ujung lorong. Siang dan malam” "Jika kita
berada di sawah atau di ladang” bertanya Ki Resadana. Lalu katanya
“Apalagi aku yang tinggal di sebelah dinding halaman rumahnya”
Manggada dan Laksana menyadari, bahwa ia tidak akan dapat mendesak
Ki Resadana untuk ikut bersamanya memihak Ki Jagabaya. Karena itu,
maka Manggada itupun kemudian berkata “Baiklah paman. Kami dapat
mengerti perasaan paman. Namun kami berdua mempertimbangkan untuk
dapat berbuat sesuatu agar keadaan padukuhan ini menjadi tenang
kembali, apapun caranya” Wajah Ki Resadana menjadi tegang. Katanya
"Meskipun kau berasal dari padukuhan ini, ngger. Tetapi kau termasuk
orang baru disini. Kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Mungkin Ki Kertasana sudah berceritera. Tetapi kau tidak dapat
membayangkan keadaan yang sesungguhnya di padukuhan ini” "Aku
mengerti, paman. Tetapi apakah kita akan membiarkan Ki Jagabaya
terhimpit sendirian oleh kuasa Wira Sabet dan Sura Gentong dengan
kesetiaannya kepada tugasnya?” “Tetapi kami sayang akan jiwa kami.
Ngger” jawab Ki Resadana dengan nada dalam. Manggada dan Laksana
akhirnya hanya dapat menganggukangguk. Bahkan kemudian Manggada
itupun berkata “Baiklah paman. Kami mohon diri. Kami masih ingin
melihat-lihat padukuhan yang sepi ini. Tetapi duwet di halaman rumah
paman Wira Sabet itu berbuah lebat. Aku ingin memanjatnya” "Jangan
ngger. Kau jangan membuat persoalan dengan orang itu. Sangat
berbahaya bagimu” cegah Ki Resadana. "Tetapi aku sudah bertemu
sendiri dengan Paman Wira sabet. Aku diijinkan memanjat pohon duwet
dan pohon manggis di halaman rumahnya” jawab Manggada. Ki Resadana
menarik nafas dalam-dalam Manggada dan Laksana itu ternyata tidak
mau mendengarkan peringatannya. Sebenarnyalah setelah Manggada dan
Laksana minta diri, maka keduanya benar-benar pergi ke halaman rumah
Wira Sabet yang kosong dan menjadi sangat kotor. Seperti yang
dikatakan, maka Manggada dan Laksana benar-benar telah memanjat
pohon manggis dan pohon duwet. Dari halaman rumahnnya, Ki Resadana
itu melihat keduanya bergayut dari satu cabang ke cabang yang lain.
Apalagi Manggada yang memanjat pohon duwet yang telah menjadi besar
dan tinggi. Ternyata yang melihat anak-anak muda memanjat itu bukan
hanya Ki Resadana. Beberapa orang yang lain dengan tidak sengaja
melihat juga keduanya memanjat. Melihat tingkah kedua orang anak
muda itu, beberapa orang tetangga Wira Sabet menjadi tegang. Tetapi
mereka tidak dapat berbuat sesuatu. Orang yang tinggal di rumah yang
berseberangan dengan rumah Wira Sabet itu terpaksa keluar dari regol
halamannya untuk memperingatkan kedua anak muda itu. Tetapi di luar
regol orang itu melihat Ki Resadana yang sambil melihat ke kedua
ujung jalan, turun juga ke jalan. "Siapakah anak-anak muda itu?"
bertanya orang yang tinggal di seberang jalan. "Anak Ki Kertasana"
jawab Ki Resadana. "Apakah anak-anak itu tidak tahu apa yang mereka
lakukan” bertanya orang di seberang jalan. Ki Resadana memang
mendekati mereka Sekali lagi ia memanggil Manggada. Namun Manggada
sambil tersenyum berkata “Duwet putih ini memang manis paman. Sejak
kecil aku sudah sering memanjat pohon ini” "Turunlah ngger" minta Ki
Resadana "keadaan sudah berubah. Itu terjadi sepuluh tahun yang
lalu” "Bagi kami, keadaan tidak berubah" jawab Manggada. Ki Resadana
dan orang di seberang jalan menjadi semakin gelisah. Apalagi mereka
sudah mendengar bahwa kemarin Wira Sabet telah memasuki padukuhan
itu. Bahkan kedua anak muda itu telah bertemu pula dengan mereka
Selagi Ki Resadana dan dua orang dari seberang jalan termangu-mangu,
maka seseorang telah berjalan tergesagesa, bahkan berlari-lari
sambil memanggul cangkulnya. Ketika Ki Resadana bertanya, maka orang
itu menjawab sambil meneruskan langkahnya "Wira Sabet datang lagi
bersama pengawalnya” "Celaka" desis Ki Resadana. Sementara itu kedua
orang yang lain dengan tergesa-gesa telah masuk regol halaman rumah
mereka masing-masing. "Ngger, kau dengar, bahwa Wira Sabet memasuki
padukuhan ini lagi” teriak ki Resadana. "Tidak apa-apa, paman. Aku
sudah mendapat ijinnya” jawab Manggada. Resadana tidak menunggu
lebih lama lagi. lapun tidak ingin bertemu dengan Wira Sabet, karena
kemungkinan yang buruk akan dapat terjadi atas dirinya. Karena itu,
maka Ki Resadanapun segera masuk regol halaman rumahnya. Sekali iagi
ia masih sempat memandang Manggada dan Laksana yang memanjat semakin
tinggi. Namun kemudian. Ki Resadana itu telah masuk ke dalam
rumahnya dengan jantung yang berdebar-debar. Bagaimanapun juga Ki
Resadana ini telah mencemaskan nasib kedua orang anak muda yang
menurut pendapatnya tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya di
padukuhan itu. Sebenarnyalah, beberapa saat kemudian. Wira Sabet itu
pun telah memasuki padukuhan. Pertanyaan Manggada kemarin tentang
rumahnya ternyata telah menggelitiknya untuk sekai-sekali melihat,
apa yang terjadi dengan rumah dan halamannya itu. Karena itu, maka
Wira Sabet itupun telah menyusuri jalan yang langsung menuju ke
rumahnya. Ketika ia sampai ke depan rumahnya, maka Wira Sabet itupun
berhenti, la melihat regol halaman rumahnya terbuka, sedangkan
sampah kering berhamburan di halaman. Namun Wira Sabet itu terkejut
ketika ia mendengar seseorang berkata “Selamat pagi, paman” Wira
sabet mengangkat wajahnya. Jantungnya berdesir ketika ia melihat dua
orang anak muda bergayut pada cabang pohon duwet dan pohon manggis.
Tetapi sebelum Wira Sabet berkata sesuatu terdengar suara Manggada
"Paman, aku benar-benar memanjat pohon duwet ini sebagaimana aku
katakan kemarin. Terima kasih atas ijin paman. Duwet putih ini
ternyata manis sekali. Sayang sekali, bahwa buahnya dibiarkan tua
dan berjatuhan terhambur di bawah batangnya. Seperti dahulu, setiap
hari aku akan datang mencari duwet dan manggis yang berbuah lebat
tetapi terbuang-buang saja” Wira Sabet itu justru bagaikan
terbungkam. Ia tidak dapat berkata sepatahkan. Dipandanginya saja
anakanak muda yang masih berada di dahan sambil menggapai buahnya
yang memang lebat. Ki Resadana mendengar suara Manggada itu. Debar
jantungnya terasa semakin cepat. Sementara itu, Manggada bertanya
dari atas pohon "Apakah paman juga ingin membawa duwet dan manggis.
Barangkali paman sendiri sudah lama tidak mencicipinya” Wira Sabet
masih saja termangu-mangu. Sebelum ia sempat menjawab, Manggada
telah berkata pula "Aku akan turun membawa duwet ini bagi paman”
Hampir di luar sadarnya, Wira Sabet itu menjawab “Tidak. Tidak usah.
Aku tidak memerlukannya” Ternyata Wira Sabet tidak menunggu lebih
lama. la tidak senang mendengar pertanyaan-pertanyaan Manggada yang
meluncur deras dari mulutnya. Tetapi rasa-rasanya ia tidak dapat
menghentikannya. Karena itu. maka Wira sabet itupun segera melangkah
pergi meninggalkan halaman rumahnya yang kosong dan kotor itu.
Tetapi Manggada masih saja beteriak "Paman, kemana kau paman?” Wira
Sabet tidak menjawab. Tetapi ia melangkah terus, menjauhi rumahnya
itu. Manggada dan Laksana yang sedang memanjat itu melihat Wira
Sabet dan kawan-kawannya pergi menjauh. Mereka berjalan cepat bahkan
seperti orang yang sedang ketakutan. Seperti orang-orang padukuhan
itu yang melihat kedatangan Wira Sabet itu sendiri. Demikian Wira
Sabet dan kawan-kawanma menjauh, maka Manggada dan Laksanapun segera
turun. Keduanya tidak langsung pergi. Tetapi keduanya justru kembali
ke rumah Ki Resadana. "Luar biasa" desis Ki Resadana sambi! membuka
pintu rumahnya ”kalian telah melakukan sesuatu yang sangat berani,
yang tentu tidak pernah terpiku dan dilakukan oleh keanak muda
padukuhan ini "Aku adalah anak muda dan padukuhan ini paman” "Tetapi
kau sudah lama berada di luar padukuhan ini. Kau memang berbeda
dengan anak-anak muda yang lain” “Tetapi apa yang kau lakukan,
adalah satu hal yang tidak masuk akal bagi kami” "Paman" berkata
Manggada "apa yang kami lakukan adalah sekedar untuk mengatakan
kepada Wira Sabet, bahwa usahanya untuk menakut-nakuti seisi
padukuhan ini tidak berhasil. Setidak-tidaknya kami tidak menjadi
ketakutan seperti orang lain. Sebenarnya kami berharap bahwa ada
juga orang lain yang berbuat seperti kami. Atau setidak-tidaknya
dapat membantu Ki Jagabaya yang setia dalam tugasnya” Ki Resadana
menarik nafas dalam-dalaam. Namun bagaimanapun juga ia masih belum
mempunyai keberanian untuk berbuat sesuatu, apalagi seperti
anak-anak muda itu. Untuk beberapa lama Manggada dan Laksana berada
di rumah Ki Resadana. Namun kemudian merekapun minta diri untuk
meninggalkan rumah itu. “Kalian akan pergi kemana?” bertanya Ki
Resadana. “Pulang. Tetapi kami akan singgah sebentar di rumah ki
Jagabaya. Kami ingin berbicara bahwa kami baru saja bertemu dengan
Wira Sabet” Ki Resadana termangu-mangu sejenak. Dengan nada dalam
iapun kemudian berkata “Memang satu kenyataan bahwa Wira Sabet masih
juga dapat diajak berbicara. Tetapi aku tidak tahu, apakah Sura
Gentong juga serba sedikit masih tersisa kewajajrannya dalam
hubungannya dengan sesama” Manggada mengerutkan dahinya. Dengan nada
tinggi ia bertanya “Apakah menurut paman Resadana. Paman Sura
Gentong lebih garang dari paman Wira Sabet?” "Ya. Keduanya memang
ditakuti 'Tetapi sebenarnyalah belum ada orang yang pernah mengalami
kesulitan karena Wira Sabet” "Bagaimana dengan paman Sura Gentong”
bertanya Manggada kemudian. "Belum ada seorangpun yang pernah
melihat Sura Gentong. Apalagi memasuki padukuhan ini” jawab
Resadana. "Tetapi kenapa setiap orang mengatakan bahwa jika
seseorang melihat saja, bahkan dari kejauhan paman Wira Sabet atau
paman Sura Gentong akan mengalami bencana?” KI Resadana
mengangguk-angguk kecil. Jawabnya "Aku sudah mengatakan, bahwa
secara teratur keduanya sengaja menyebarkan suasana yang membuat
orang-orang padukuhan ini ketakutan” "Nah, paman. Aku akan membantu
Ki Jagabaya dengan cara yang sebaliknya. Sebagaimana paman ketahui.
Wira Sabet sama sekali tidak menakutkan, la tidak berbuat apa-apa.
Karena itu, besok dan besoknya lagi dan balikan kemudian seringkali,
aku akan bermain-main di halaman rumah paman Wira Sabet. Kami berdua
juga akan memetik duwet atau manggis atau apa saja yang ada” "Tetapi
kalian tidak boleh lupa diri. Kalian harus tetap berhati-hati,
karena kewajaran sikap Wira Sabet tentu berbeda dengan kewajaran
sikap kita” Manggada mengangguk. Ia menyadari akan kebenaran pesan
itu. Katanya “Aku mengerti. Terima kasih paman. Aku akan
berhati-hati” Demikianlah, maka Manggada dan Laksanapun kemudian
telah pergi ke rumah Ki Jagabaya. Mereka tidak lagi bertemu dengan
Wira Sabet Agaknya Wira Sabet telah meninggalkan padukuhan itu.
Ternyata satu dua orang lelah nampak lagi berjalan tergesa-gesa di
jalan padukuhan itu. Ketika sampai ke rumah Ki Jagabaya, maka
seperti biasanya pintu regol rumah itu sedikit terbuka. Demikian
mereka memasuki halaman, maka merekapun langsung menuju ke seketeng.
Ketika Manggada mengetuk pintu sebagaimana dilakukan kemarin, maka
seseorang telah melangkah mendekati pintu itu. "Siapa" terdengar
seseorang bertanya. "Aku, Sampurna" jawab Manggada yang tahu pasti,
bahwa orang yang ada di balik pintu itu adalah Sampurna. Sejenak
kemudian, maka selarak pintu itupun telah diangkat. Ketika pintu
dibuka, maka sebenarnyalah bahwa yang berdiri di belakang pintu itu
adalah Sampurna. Seperti kemarin, maka Sampurna itu berpakaian
lengkap dengan sebilah keris di punggungnya. Tetapi Manggada dan
Laksana tidak bertanya lagi. apakah Sampurna akan pergi ke upacara.
Sambil tersenyum Sampurnapun telah mempersilahkan Manggada dan
Laksana masuk seperti kemarin pula, maka pintu itupun segera ditutup
dan diselarak. Ketika mereka berjalan ke serambi, Sampurna itu
berkata “Aku mempunyai seorang tamu. Nah, tentu kau ingat, siapa
anak muda itu” "Apakah ia kawan kita bermain?” bertanya Manggada.
"Ya, umurnya setua aku” jawab Sampurna. Manggada mengerutkan
dahinya. Tetapi ia belum melihat anak muda itu. Baru kemudian ketika
ia memasuki gandok, maka tiba-tiba saja Manggada menyapanya sambil
tertawa "Nah. ini tentu Wisesa. Aku tidak akan pernah melupakannya”
Anak muda itupun bangkit pula. Dikerutkannya keningnya, sementara
Sampurna bertanya “Wisesa. apakah kau melupakannya?” Wisesa
memandang Manggada dan Laksana berganti-ganti. Sementara Sampurna
berkata “Yang seorang saja. Yang lain memang seorang tamu. Kau tentu
belum mengenalnya” "Manggada" desis Wisesa. "Ternyata kamu masih
ingat juga" desis Sampurna. "Anak keras kepala itu" berkata Wisesa
sambil tertawa "marilah. Siapa yang seorang lagi?” "Laksana.
Sepupuku. Ia datang berkunjung kemari” jawab Manggada. Ketika
kemudian Manggada dan Laksana duduk, maka pembicaraan merekapun
menjadi riuh. Hanya Laksana sajalah yang sekali-sekali tersenyum dan
tertawa. "Kenapa kau pulang” bertanya Wisesa kemudian. "Aku menjadi
rindu kepada kampung halaman. Demikian aku memasuki kampung halaman
mi. maka terasa betapa sejuknya angin yang semilir lembut” jawab
Manggada. Yang mendengarkannyapun tertawa. Namun Sampurna berkata
“Tetapi setelah kau memasuki lorong-lorongnya, maka kau akan merasa,
betapa panasnya terik matahari di padukuhan ini” "Ya” jawab Manggada
"tetapi pada sualu saat. padukuhan ini akan menjadi sejuk kembali”
"Aku berharap demikian" jawab Sampurna. Namun dalam pada itu,
Laksana sempat memperhatikan Wisesa. Ketika Sampurna dan Manggada
membicarakan padukuhan itu, agaknya ia menjadi gelisah. Bahkan sama
sekali tidak menyahut dan apalagi menanggapi beberapa kali ia justru
melemparkan pandangan matanya ke arah pintu serambi. Namun
pembicaraan itu terhenti ketika Tantri membawa minuman keluar. Namun
iapun kemudian berkata sambil tersenyum "Maaf Manggada. Aku belum
tahu kalau tamunya bertambah” Sambil tersenyum Manggada menyahut
“Aku sudah merasa cemas, bahwa kami berdua tidak terhitung” Tantri
tersenyum pula. Katanya “Sabarlah Manggada Nanti aku buatkan buat
kalian” "Terima kasih" Laksanalah yang menyahut. Tantri sempat
memandang Laksana sekilas. Namun kemudian gadis itu menundukkan
wajahnya meskipun senyumnya masih nampak tergayut dibibirnya. Wisesa
memandang Laksana dengan dahi berkerut. Nampaknya ia kurang senang
melihat sikap Laksana. Apalagi ketika ia melihat laksana yang
memandang Tantri dengan tanpa berkedip Namun sejenak kemudian Tantri
itupun telah beringsut dan kembali masuk ke ruang dalam. Sementara
Sampurna berkata ”Aku belum mempersilahkan kau minum. Wisesa. Kita
menunggu sampai minuman buat Manggada dan Laksana dihidangkan”
Wisesa mengangguk. Iapun kemudian mencoba untuk tersenyum pula.
Sebenarnyalah bahwa sejenak kemudian, Tantri telah datang lagi
sambil membawa minuman buat Manggada dan Laksana. Bahkan kemudian
Tantri itu sempat mempersilahkan "Minumlah Manggada” "Terima kasih
Tantri” jawab Manggada sambil mengangguk. Manggadapun kemudian
berpaling kepada Laksana sambil berkata “Nah, hanya aku yang
dipersilahkan minum. Kau tidak” Laksana mengerutkan dahinya. Namun
Tantri dengan cepat berkata “Tentu semuanya. Silahkan” Manggada
tertawa. Sementara Sampurna berkata “Kau masih seperti dahulu. Kau
termasuk anak-anak yang paling ribut di masa remajamu. Tetapi
meskipun umurmu beberapa tahun lebih, muda dari aku, kau lebih
senang bermain-main dengan anak-anak sebayaku daripada anak-anak
sebayamu. He, bukankah kau ingat Wisesa? Tetapi meskipun Manggada
termasuk yang paling kecil di antara kita, tetapi ia benar-benar
anak yang bandel” "Ya, aku ingat" jawab Wisesa pendek. Namun
Sampurna itu berkata selanjutnya "Meskipun demikian. Manggada tidak
pernah berani melawan Tantri. Meskipun Tantri perempuan, tetapi ia
senang berkelahi di masa remaja kecilnya” "Bohong" sahut Tantri.
"Bukankah disini banyak saksi” jawab Sampurna. "Sudah, sudah" potong
Tantri. Sampurna yang tertawa itu berkata selanjutnya "Tetapi
Manggada tetap bandel dan nakal sampai dewasanya. Jika tidak, maka
ia tidak menyatakan niatnya bekerja sama dengan ayah” "Ah, itu
adalah kewajiban bagiku. Bagi anak-anak muda padukuhan ini. Bukankah
begitu Wisesa" Manggada justru bertanya. "Ya" jawab Wisesa asal
saja. Tetapi Sampurna terkejut. Sambil mengerutkan dahinya, ia
bertanya “Apakah kau juga akan melakukannya sebagaimana Manggada dan
Laksana, sepupunya itu” Wisesa baru mulai berpikir. Dengan ragu-ragu
ia bertanya “Maksudmu?” "Manggada dan Laksana telah menyatakan diri
dengan suka rela akan membantu ayah mengatasi kemelut yang terjadi
di padukuhan ini. Maksudku, persoalan yang menyangkut Wira sabet dan
Sura Gentong” "Ah" Wisesa terkejut "apa yang akan dilakukan oleh
Manggada dan Laksana?” "Tentu saja kita belum mempunyai rencana
apa-apa. Tetapi kesediaannya membantu ayah telah sangat membesarkan
hati ayah, bahwa masih ada anak-anak muda yang bersedia melakukan
tugas-tugas mulia bagi kampung halamannya” Wisesa mengerutkan
dahinya. Tetapi ia tidak menjawab. Dalam pada itu, Tantri
mempersilahkan sekali lagi "Nah, silahkan. Minumlah. Aku akan
membantu ibu di dapur” "Terima kasih" Laksana lagi yang menyahut.
Sepeninggal Tantri, maka Sampurna telah mulai mengenang lagi masa
kanak-kanak mereka yang riang dan ceria. Sambil berangan-angan ia
berkata “Kita tidak pernah takut bermain di halaman di kebun atau
bahkan di prapatanprapatan. Siang atau malam. Apalagi saat bulan
terang’ ”namun suaranyapun merendah "Sekarang, anak-anak itu sama
sekali tidak berkesempatan lagi. Setidak tidaknya untuk sementara”
"Hanya untuk sementara" berkata Manggada kemudian "mudah-mudahan
suasana seperti ini segera berakhir” "Maksudmu" tiba-tiba Wisesa
bertanya. Sampurnalah yang menjawab “Maksud Manggada, kita akan
segera menghentikan tingkah laku Wira Sabet dan Sura Gentong” Wisesa
menarik nafas dalam-dalam. Katanya ”Aku sudah memperingatkan
Sampurna, bahwa yang dilakukan Ki Jagabaya itu sia-sia. Wira Sabet
dan Sura Gentong bukan orang kebanyakan. Apalagi setelah ia bekerja
sama dengan Ki Sapa Aruh” ”Jadi maksudmu, suasana seperti ini akan
dibiarkan berkepanjangan?” bertanya Sampurna. Lalu katanya “Wisesa,
ayah adalah seorang bebahu padukuhan. Bagaimanapun juga ia harus
berbuat sesuatu bagi kebaikan padukuhan ini sessuai dengan tugasnya”
"Tetapi Ki Jagabaya hanya sendiri, Sampurna. Kau lihat, apakah Ki
Bekel dan para bebahu juga mendukung kesetiaan Ki Jagabaya dalam
tugasnya” bertanya Wisesa. "Jadi menurut pendapatmu, kita biarkan
saja padukuhan ini menjadi sesepi kuburan sekarang ini?” "Tentu
tidak" jawab Wisesa "aku sudah mengusulkan, dan barangkali sudah
langsung aku sampaikan kepada Ki Jagabaya, bahwa kita harus berani
melihat kenyataan. Kita harus berani mendengarkan, apa yang
sebenarnya dimaui oleh Wira Sabet dan Sura Gentong. Jika kita dapat
memenuhinya, maka persoalannya akan segera dapat diselesaikan”
"Memang satu pikiran yang baik" jawab Sampurna "tetapi seperti yang
dikatakan oleh ayah, bahwa dengan demikian maka kita akan
mengorbankan seisi padukuhan ini” "Ah, aku kira tidak, Sampurna.
Memang mungkin kita harus memberikan pengorbanan. Tetapi sepanjang
pengorbanan itu wajar, maka kita tidak mempunyai pilihan lain” "Yang
sulit adalah ukuran kewajaran itu” berkata Sampurna. "Kita belum
pernah mencobanya" berkata Wisesa. Sampurna mengangguk-angguk.
Katanya “Memang masuk akal. Tetapi sudah tentu melalui pembicaraan
yang panjang dan tentu tawar-menawar. Untuk melakukan hal itu kita
memerlukan orang yang berani melakukannya. Sementara orang-orang
padukuhan ini merasa bahwa melihat keduanya dari kejauhan saja sudah
dianggap satu bencana” "Mungkin Ki Jagabaya dapat melakukannya"
berkata Wisesa. "Seandainya ayah ingin mencobanya, apakah kau
bersedia bertemu dan berbicara dengan Wira Sabet, Wisesa?” Wajah
Wisesa itu tiba-tiba menjadi tegang. Katanya “Kenapa harus aku?
Bukankah itu tugas Ki Jagabaya?” "Mungkin itu termasuk tugas ayah.
Tetapi tentu ada perantara yang membuat hubungan untuk melakukan
satu pembicaraan” "Kenapa tidak kau saja Sampurna” "Aku anak
Jagabaya itu. Sebaiknya memang orang lain” jawab Sampurna. Tiba-tiba
Manggadalah yang menyahut “Aku bersedia berbicara dengan paman Wira
Sabet” "Kau" wajah Wisesa menjadi tegang kembali. “Ya. Aku memang
suuah menyatakan kesediaanku untuk membantu Ki Jagabaya. Apa
salahnya” bertanya Manggada. Wisesa memandang Manggada dan Sampurna
bergantiganti. Dengan nada berat iapun berkata “Kita tidak sedang
bermain-main seperti dahulu Manggada. Kita tidak sedang bermain
soyang atau bermain ular naga. Juga tidak gobag sodor atau permainan
yang lain. Kalau kau dahulu dikenal sebagai anak yang bandel dan
keras kepala dalam bermain, akibatnya akan jauh berbeda jika kau
menjadi keras kepala sekarang ini” Manggada mengangguk-angguk
Katanya ”Hal ini aku lakukan karena aku ingin menyumbangkan sesuatu
bagi kampung halaman ini, Wisesa. Tata kehidupan di padukuhan ini
harus segera berubah. Dorongan itulah yang memaksa aku untuk
bersedia melakukan tugas ini jika Ki Jagabaya sependapat dan
membebankannya kepadaku” "Nampaknya, setelah kau pulang dari rantau,
kau ingin disebut sebagai pahlawan disini" berkata Wisesa
selanjutnya "ketahuilah, bahwa seorang yang melihat Wira Sabet dan
Sura Gentong adalah pertanda bahwa orang itu akan mengalami bencana,
mungkin datangnya dari kedua orang itu atau dari pengikut mereka
atau dari Ki Sapa Aruh” Tetapi Manggada tertawa. Katanya “Berita itu
terlalu dibesar-besarkan. Atau sengaja dilontarkan oleh para
pengikut paman Wira Sabet dan Sura Gentong” "Kau memang keras
kepala. Tetapi jika kemudian batok kepalamu yang keras itu akan
berlobang oleh tongkat Wira Sabet, adalah salahmu sendiri" geram
Wisesa. "Aku telah bertemu dan berbicara dengan paman Wira Sabet.
Aku baru saja memanjat pohon manggis dan duwet di halaman rumahnya
justru ditunggui oleh paman Wira Sabet sendiri” "Omong kosong"
Wisesa hampir berteriak. "Kenapa harus berbohong? Tetapi jika kau
tidak percaya, bertanyalah kepada Ki Resadana dan tetangga yang
rumahnya berseberangan dengan rumah paman Wira Sabet” Wajah Wisesa
menjadi tegang, sementara Manggada berceritera tentang pertemuannya
dengan Wira Sabet, kemarin dan pagi hari itu. “Ternyata aku dapat
berbicara dengan paman Wira Sabet seperti biasa. Bahkan paman Wira
Sabet tidak berkeberatan aku memanjat pohon manggis dan duwetnya”
"Aku tidak percaya" potong Wisesa. Tetapi Sampurna yang menyahut
“Aku percaya. Sejak kecil Manggada tidak suka berbohong. Justru
karena ia keras kepala. Nanti kita akan berbicara dengan ayah”
"Dimana Ki Jagabaya sekarang” bertanya Manggada. "Ayah baru keluar
sebentar. Mungkin menemui beberapa bebahu padukuhan. Ayah banyak
berceritera tentang kesediaanmu membantunya kepada orang-orang
padukuhan ini” berkata Sampurna. Dengan nada datar Wisesa berkata
“Memang sekarang kesempatan anak-anak muda padukuhan Gemawaug untuk
menjadi pahlawan. Tetapi juga sekarang anak-anak muda yang sombong
akan dijerat oleh kesombongannya sendiri” Manggada mengerutkan
dahinya. Tetapi ia tidak menjawab. Sementara itu. Wisesapun berkata
“Baiklah. Aku akan minta diri. namun aku masih ingin memperingatkan
Manggada. Kita kawan bermain sejak kanak-kanak. Karena itu, aku
tidak ingin melihat Mangada akan digilas oleh sikap keras kepalanya
yang tanpa perhitungan sama sekali. Bahkan kini ia tidak saja bengal
dan keras kepala, tetapi juga sombong” "Ah. jangan begitu Wisesa"
sahut Manggada "kita sudah lama tidak bertemu. Sebaiknya kita
bicarakan saja hal-hal yng baik” "Aku bermaksud baik, Manggada.
Sebelum kau terjerumus, aku ingin kau bergeser surut” "Aku akan
memikirkannya” jawab Manggada. Demikianlah, maka Wisesa itupun minta
diri. Sampurna, Manggada dan Laksanapun bangkit pula dan
mengantarnya. Mereka turun dari serambi. "Di mana Tantri, aku akan
minta diri” berkata Wisesa itu. "O" Sampurna melangkah kembali “aku
akan memanggilnya” Sejenak kemudian Tantri itupun telah keluar
bersama Sampurna. Dengan nada tinggi Wisesa itupun berkata “Sudahlah
Tantri. Aku hanya singgah saja. Besok aku akan singgah lagi. Besok
aku akan membawa bibit kemuning. Bukankah yang kau tanyakan bibit
pohon kemuning, bukan bibit pohon pacar?” "Ya. kemuning" jawab
Tantri "terima kasih sebelumnya” Sampurna. Manggada dan Laksana
mengantar Wisesa sampai ke pintu seketeng. Sampurna mengangkat
selarak pintu dan membukanya. Bertiga mereka memperhatikan Wisesa
yang melangkah menuju ke pintu regol halaman. Ketika ia keluar dari
regol. maka nampak ia ragu-ragu. Kemudian kepalanya menjenguk ke
kanan dan ke kiri. Baru kemudian Wisesa turun ke jalan dan sambil
menutup pintu regol maka Wisesa itu pergi. Sambil menutup pintu
seketeng dan menyelaraknya. Sampurna berkata “Ia sering datang
kemari” "O" Manggada mengangguk-angguk. Sementara itu Sampurnapun
berkata selanjutnya ”nampaknya ia mulai tertarik kepada Tantri yang
menjadi dewasa. Tetapi nampaknya ia tidak senang kepadamu” "Kenapa”
bertanya Manggada. "Kau dekat dengan Tantri sejak remaja kecil.
Meskipun kau jugalah yang paling sering berkelahi dengan Tantri”
Manggada tertawa. Katanya “Itu sudah terjadi bertahuntahun yang
lalu. Waktu itu kami masih kanak-kanak. Yang kami pikirkan tidak ada
lain kecuali permainan yang kadangkadang memang menimbulkan
pertengkaran. Tetapi bukankah Tantri juga sering berkelahi dengan
Wisesa” "Bahkan sungguh-sungguh berkelahi" jawab Sampurna "tetapi
Wisesa waktu itu masih sering menangis dan melapor kepada orang
tuanya. Jika orang tuanya ikut campur, maka Tantri dan kita semuanya
berlari menghambur meninggalkan lapangan permainan” Merekapun
tertawa serentak. Laksana yang tidak melihat masa kecil itu ikut
tersenyum-senyum. Meskipun ia baru saja berkenalan dengan Wisesa,
namun kesannya memang kurang menyenangkan. Ketika mereka sampai ke
pintu serambi, ternyata Tantri masih berdiri di belakang pintu.
Sampurna yang melihat Tantri itu berdiri termangu-mangu, berkata
“Wisesa akan lebih sering datang kemari Tantri” "Untuk apa? Ia tidak
berani membantu ayah” jawab Tantri. "Wisesa datang memang tidak
untuk ayah.” jawab Sampurna. "Lalu apa” bertanya Tantri. "Ia datang
untuk menemuimu " jawab Sampurna. "Untuk apa” bertanya Tantri. "Ah,
kau bukan gadis kecil yang bertingkah seperti laki-laki lagi. Kau
sekarang sudah gadis dewasa. Nah, Wisesa sudah lupa masa-masa kau
menggigitnya sampai telinganya berdarah, menangis meraung-raung.
Kemudian orang tuanya datang sambil marah-marah” berkata Sampurna
sambil tertawa. "Kalau aku sudah dewasa, lalu apa maunya” bertanya
Tantri. "Tidak apa-apa. Sebenarnya ia menjadi ketakutan. Ketika
seseorang memberitahukan bahwa Wira Sabet memasuki padukuhan ini, ia
lari masuk dan singgah di rumah ini” "Nah, bukankah ia tidak mencari
aku” sahut Tantri. "Tetapi bukankah seperti parang bermata dua. Ke
sana menggores kemari menggores pula. Wisesa bersembunyi sekaligus
datang menemuimu” berkata Sampurna sambil tertawa pula. "Ah
sudah-sudah. Besok jika ia datang, aku tidak mau membuat minuman
buatnya” berkata Tantri. Tiba-tiba saja Laksana memotong "Gigit saja
telinganya sekali lagi, Tantri” Sampurna dan Manggada tertawa
serentak. Tantri sendiri mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia
tertawa sambi! menjawab “Aku akan menggigit hidungnya” Keempatnya
tertawa berkepanjangan. Manggada sempat berangan-angan mengenang
masa kecilnya. Tantri saat itu memang nakal sekali, la senang
berkelahi seperti anak lakilaki. Memanjat dan tingkah laku anak
laki-laki yang lain. Namun kemudian Sampurnapun mempersilahkan
mereka untuk duduk di serambi sambil berkata “Kita minum lagi. Atau
barangkali di dapur ada makanan, biarlah Tantri mengambilnya”
Demikianlah, merekapun duduk lagi di serambi. Tantri memang
mengambil beberapa potong makanan di dapur. Ternyata ibunya masih
mempunyai beberapa bungkus hawughawug dan nagasan. Ketika kemudian
Tantri kembali ke dapur untuk membantu ibunya, maka Sampurna itupun
berkata “Aku akan berkata kepada ayah. Apakah ayah bersedia
berbicara dengan Wira Sabet dan Sura Gentong. Barangkali akan
terdapat satu persetujuan yang memungkinkan mengurangi atau bahkan
jika mungkin mengatasi ketegangan di padukuhan Gemawang” "Aku akan
menjadi perantara" berkata Manggada "aku akan menemui paman Wira
Sabet. Mudah-mudahan dalam waktu dekat, ia datang lagi ke padukuhan
ini. Karena jika bukan ia yang datang, kita tidak dapat menemukan
tempat tinggalnya” Sampurna mengangguk-angguk. Katanya “Ya. Memang
sulit untuk mencari tempat tinggalnya. Hal ini memang pernah
disampaikan kepada ayah. Tetapi waktu itu ayah kurang memperhatikan
karena menurut ayah kemungkinan penyelesaian dengan cara itu kecil
sekali. Ayah menganggap bahwa Wira Sabet dan Sura Gentong tidak akan
dapat diajak berbicara” "Aku akan mencoba. Besok, lusa dan hari-hari
berikutnya aku akan datang ke rumah paman Wira Sabet” Demikianlah
keduanya masih berbicara agak panjang tentang rencana itu sambil
menunggu Ki Jagabaya pulang. Baru setelah mereka menghabiskan
semangkuk minuman dan beberapa bungkus makanan, Ki Jagabaya itu
datang. Bahkan Ki Jagabaya itu langsung duduk di serambi bersamasama
dengan anak-anak muda itu. Sebelum Manggada dan Laksana berceritera
tentang pertemuannya dengan Wira Sabet, Ki Jagabaya itu berkata “Aku
mendengar bahwa kalian telah bertemu dan berbicara dengan Wira
Sabet” “Ya. Ki Jagabaya" jawab Manggada "kami bertemu dengan paman
Wira Sabet di rumahnya. Tetapi dari siapa Ki Jagabaya mengetahui
bahwa kami telah bertemu dan berbicara dengan paman Wira Sabet” "Aku
bertemu dengan Ki Resadana. Ialah yang berceritera kepadaku bahwa
kalian berdua telah melakukan sesuatu yang menurut ki Resadana tidak
masuk akal” "Apakah Ki Jagabaya pergi ke rumah Paman Resa” bertanya
Manggada
pula.
Jilid 3 “TIDAK” jawab Ki Jagabaya “aku
bertemu dengan Ki Resa di jalan ketika Ki Resadana sedang pergi ke
rumahmu” “Ke rumahku?” bertanya Manggada dengan heran. “Ya. Ki
Resadana ingin memberitahukan kepada ayahmu, bahwa kau baru saja
mekakukan pekerjaan yang sangat berbahaya. Menurut Ki Resa, ia tidak
sampai hati untuk tetap berdiam diri. Jika terjadi sesuatu atas
kalian berdua, maka Ki Resadana akan ikut merasa bersalah” Manggada
dan Laksana saling berpandangan sejenak. Sambil mengangguk-angguk
Manggada itupun berkata “Ki Resa bermaksud baik. Tetapi paman
Resadana tidak tahu maksudku yang sebenarnya meskipun aku sudah
mengatakan. Aku berniat untuk menunjukkan kepada paman Wira Sabet
bahwa ia bukan hantu di padukuhan ini” Ki Jagabaya tersenyum.
Katanya “Ia akan mendapat penjelasan dari ayahmu” Manggada
mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Yang kemudian
berbicara adalah Sampurna. Ia menyampaikan pendapat Wisesa untuk
mencoba berbicara dengan Wira Sabet dan Sura Gentong. Tetapi Ki
Jagabaya berkata “Tidak ada gunanya. Kita hanya akan membuang-buang
waktu dan tenaga” Namun Sampurna itupun berkata “Manggada bersedia
untuk melakukan pembicaraan pendahuluan ayah. Mungkin ada juga
gunanya ayah menjajagi maksudnya” “Bukankah sudah jelas bagi kita,
dan mereka datang untuk membalas dendam? Mereka dengan telah
mengatur menimbulkan ketakutan dan ketegangan pada padukuhan ini.
Mereka mengancam orang-orang padukuahn dengan segala macam cara”
“Tetapi barangkali kedua orang itu akan dapat dihentikan dengan
syarat tertentu. Mungkin mereka mengajukan syaratsyarat itu. Jika
saja syarat itu masih wajar, bukankah kita akan dapat memenuhinya?”
Ki Jagabaya memandang Manggada dengan kerut di dahi. Namun kemudian
ia bertanya “Apakah kau ingin mencobanya?” “Jika Ki Jagabaya setuju,
kami akan mencoba berbicara. Tetapi hasilnya, kami tidak dapat
mengatakannya” Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah. Jika
kau ingin mencobanya, tetapi berhati-hatilah. Bagaimanapun juga
kedua orang itu adalah orang-orang yang berbahaya. Bertahun-tahun
mereka mempersiapkan diri untuk melakukan balas dendam. Karena itu,
agaknya memang sulit untuk mencairkan maksud mereka itu. tetapi
agaknya segala cara memang dapat dicoba” “Terima kasih atas
kepercayaan Ki Jagabaya. Sebenarnya kami telah didorong untuk ikut
membantu memecahkan persoalan-persoalan yang timbul sejauh dapat
kami lakukan” “Aku mengerti Manggada. Karena itu sejak semula aku
menghargai kesediaanmu itu. Tentu saja segala sesuatunya tidak hanya
tergantung kepada kalian berdua” Dengan persetujuan Ki Jagabaya itu,
maka Manggada dan Laksana kemudian harus mempersiapkan diri untuk
melakukan tugas yang labih berat. Beberapa saat kemudian, maka
keduanya itupun telah minta diri. Tantri dan Nyi Jagabaya telah
datang pula ke serambi saat keduanya akan meninggalkan rumah itu.
“Berhati-hatilah ngger “pesan Nyi Jagabaya. “Ya Nyi. Kami akan
berhati-hati” jawab Manggada. Demikianlah, maka Manggada dan Laksana
itupun meninggalkan rumah Ki Jagabaya. Di jalan pulang mereka tidak
banyak bertemu dengan penghuni padukuhannya. Satu dua orang nampak
turun ke jalan dengan tergesa-gesa. Kemudian hilang di balik
pintu-pintu regol halaman. “Aku tidak pernah mendengar suara orang
menumbuk padi“ berkata Laksana. Manggada mengangguk. Katanya “Ya.
Aku tidak tahu bagaimana caranya mereka mendapatkan beras. Mungkin
mereka juga menumbuk padi, tetapi di dalam rumah atau di dapur,
sehingga suaranya dapat sedikit diredam agar tidak terdengar dari
jalan ini” Laksana mengangguk-angguk. Namun keduanya berhenti ketika
mereka melihat seekor burung gelatik yang kakinya terikat benang
terbang melintasi dinding halaman dan turun ke jalan. Tiba-tiba saja
seorang anak muncul dari balik pintu regol. Agaknya gelatik itu
adalah milik anak itu yang terlepas saat diunda benang. Tetapi
demikian anak itu melihat Manggada dan Laksana, maka serta merta
anak itu kembali masuk ke halaman. Manggada sempat menangkap burung
yang tidak dapat terbang jauh itu. Kemudian mendorong pintu regol
untuk menyerahkan gelatik itu pada pemiliknya. Namun ia tidak
melihat seseorang di halaman itu lagi. Karena itu, maka Manggada dan
Laksanapun telah masuk pula ke halaman. Sambil mengetuk pinju rumah
itu Manggada berkata “Aku mengembalikan burung yang terlepas itu.
Bukalah pintu rumahmu. Aku tidak apa-apa. Jangan takut” Manggada dan
Laksana mendengar anak itu merengek. Karena itu, ia mengulangi “Ini
gelatikmu adik kecil” Pintu rumah itu akhirnya terbuka. Seorang
laki-laki berdiri di muka pintu rumah itu. Sejenak Manggada
termangu-mangu. Namun kemudian sambil tersenyum ia berdesis
“Timbang. Bukankah kau Timbang yang rambutnya selalu dicukur dengan
kuncung diubun-ubun?” Orang itu memandang Manggada dengan tajamnya.
Namun kemudian iapun tertawa pula sambil berkata “Manggada. Kau
tentu Manggada yang sudah sejak lama tidak nampak di padukuhan ini”
“Ya, aku Manggada. Dan ini adalah adik sepupuku, Laksana” “Marilah,
masuklah “Timbang itu mempersilahkan. Demikianlah, maka kedua orang
anak muda itu duduk di ruang depan rumah Timbang yang tidak terlalu
besar. Namun rumah yang sederhana itu nampak terpelihara rapi.
Sementara itu seorang anak berdiri termangu-mangu didepan pintu
ruang dalam. “Siapakah anak ini?” bertanya Manggada. “Anakku” jawab
Timbang. “Anakmu? Jadi kau sudah mempunyai anak?” Timbang tersenyum
sambil berkata “Ya. Aku kawin muda” “Siapakah isterimu? Apakah juga
anak padukuhan ini?” bertanya Manggada. “Ya. Dari padukuhan ini.
Tetapi tentu sudah bukan anakanak lagi” jawab Timbang. “Siapakah
isterimu itu?” bertanya Manggada. Wajah Timbang itu menjadi
kemerah-merahan. Ia sudah menduga bahwa Manggada tentu akan
mentertawakannya. Namun demikian, Timbang itupun kemudian menjawab
“Perti” Sebenarnyalah Manggada tertawa. Katanya “Aku sudah mengira.
Isterimu itu tentu Perti. Sejak kecil kalian selalu berdua. Bahkan
kadang-kadang memisahkan diri dari kelompok anak-anak yang sedang
bermain” Timbang juga tertawa. Sementara itu Manggada bertanya
“Dimana isterimu sekarang, he? Ia tentu tidak akan lupa kepadaku,
meskipun sudah lama tidak bertemu” Timbang memang agak ragu-ragu.
Katanya “Mungkin ia malu menemuimu” “Kenapa? Jika ia tidak mau
keluar, aku akan mencarinya ke dalam” berkata Manggada. Timbang
tertawa. Tetapi iapun kemudian bangkit berdiri. Tetapi sebelum ia
beranjak pergi, Manggada berkata “Ini gelatik anakmu yang lepas dan
terbang keluar halaman”. Timbang tertegun. Namun kemudian ia
berlutut di sebelah anaknya sambil berkata “Nah, mendekatlah. Paman
itu baik. Ia akan mengembalikan gelatikmu yang terlepas” Anak itu
memang ragu-ragu. Namun kemudian iapun melangkah mendekati. Ia
menerima burung gelatik yang masih terikat benang yang diberikan
oleh Manggada. Namun ayahnyapun berkata “Kau harus mengucapkan apa?”
Anak itu memandang wajah Manggada. Wajah itu memang nampak bening
dan tidak menakutkan. Karena itu maka anak itupun berkata “Terima
kasih, paman” “Bagus“ sahut Manggada sambil menepuk pipi anak itu
“kau akan menjadi anak yang pandai” Anak itupun kemudian segera
berlari masuk ke ruang dalam. Sementara Manggada berkata “Ia akan
menjadi anak pandai. Berbeda dengan kau waktu kecil. Pemalu dan
sedikit pemarah. Jika ada anak yang nakal terhadap Perti, kau
langsung memukulnya, tidak peduli anak itu jauh lebih besar dari kau
sendiri” “Ah, tidak” jawab Timbang sambil memandangi Laksana yang
tersenyum-senyum. Katanya kemudian kepada Laksana “Kakak sepupumu
ini termasuk anak yang paling suka berkelahi di masa kecilnya.
Tetapi ia mempunyai kelebihan. Ia anak yang bandel. Jarang menangis
meskipun ia menderita kesakitan yang sangat. Mungkin berkelahi,
mungkin dilempar batu anak-anak nakal atau bahkan terjatuh dari
pepohonan” Laksanapun tertawa mendengarnya. Ia percaya akan ceritera
itu. Manggada sampai dewasanya termasuk anak muda yang mempunyai
daya tahan yang sangat tinggi. Pandai memanjat dan memiliki
ketrampilan sebagai perkembangan kebiasaan berkelahi di masa
kecilnya” Tetapi Manggada itu sendiri berkata “Aku bukan termasuk
anak yang suka berkelahi. Hitung. Bukankah aku jarang sekali
berkelahi?” Timbangpun tertawa. Namun Manggada berkata pula “Mana
Perti itu? Atau aku yang mencarinya sampai kedapur?” Timbang tidak
dapat berbuat lain. Iapun kemudian masuk ke ruang dalam rumahnya
untuk memanggil isterinya. Perti yang ada di dapur juga tidak dapat
menolak ketika suaminya membimbingnya ke ruang depan rumahnya yang
tidak besar itu. Kepada isterinya Timbang berkata “Lebih baik kau
kesana daripada Manggada melihat isi rumah dan dapur kita” Perti
memang menjadi tersipu-sipu. Tetapi iapun kemudian muncul juga di
ruang depan. “Nah” berkata Manggada sambil bangkit berdiri “tetapi
aku yakin, bahwa yang ini bukan sekedar bermain-main” Perti menunduk
untuk mnyembunyikan wajahnya yang kemerah-merahan. Namun kemudian
dengan suara lirih ia bertanya “Kapan kau kembali Manggada?” “Baru
beberapa hari” jawab Manggada yang kemudian telah dipersilahkan
untuk duduk kembali. “Kemana kau selama ini?” bertanya Perti
kemudian. “Aku berada di rumah paman. Ini adik sepupuku, putra paman
itu” jawab Manggada. Perti menganggukkan kepalanya. Namun ia masih
saja banyak menunduk. Manggadalah yang kemudian bertanya “Tetapi
bukankah rumahmu dahulu tidak disini, Timbang?” “Ya. Rumah orang
tuaku ada di sebelah tikungan itu. Tetapi setelah kami berkeluarga,
maka kami membuat gubug kecil ini di tanah milik kakek” jawab
Timbang. “Ternyata kalian telah pantas disebut ayah dan ibu” berkata
Manggada kemudian. “Kau pun sudah pantas” desis Perti. Manggada
tertawa. Sementara Timbang mengingat-ingat “Anak perempuan yang
manakah yang di masa kecilmu selalu dekat denganmu di setiap
permainan?” “Aku dekat dengan semua kawan-kawanku, laki-laki atau
perempuan” jawab Manggada. Tetapi Perti itu berkata “Kau sering
berkelahi dengan Tantri waktu kau kecil” Manggada tertawa. Katanya
“Ya, justru berkelahi” Demikianlah, beberapa saat mereka sempat
berbicara tentang masa kecil mereka. Namun kemudian Perti itu
berkata “Baiklah. Silahkan duduk. Aku akan pergi ke dapur. Mungkin
kalian haus” “Tidak. Terima kasih. Aku baru saja minum” jawab
Manggada yang bahkan kemudian berkata “Aku justru akan minta diri”
“Kau pergi kemana saja Manggada?” bertanya Timbang. “Melihat-lihat
keadaan padukuhan ini. Nampaknya terlalu sepi dan suasananya tidak
menarik” jawab Manggada. “Apakah kau sudah tahu sebabnya?” bertanya
Timbang pula. “Sudah. Aku sudah mengatahui sebabnya” jawab Manggada
“karena itu aku sedang mencari kawan-kawan bermain yang bersedia
ikut memecahkan persoalan ini” “Apa maksudmu?” bertanya Timbang.
“Kita harus mencegah suasana seperti ini berkepanjangan. Suasana
padukuhan ini harus dikembalikan seperti sediakala. Tenang,
tenteram, tetapi hidup dan beriak” jawab Manggada. “Apakah kau belum
tahu bahwa persoalannya mempunyai hubungan dengan dendam Wira Sabet
dan Sura Gentong?” bertanya Timbang. “Ya. Aku sudah tahu. Karena
itu, kami berdua berniat untuk berbicara dengan Wira Sabet dan Sura
Gentong untuk mendapatkan penyelesaian yang tuntas sehingga suasana
yang tidak menentu ini tidak berkepanjangan. Bayangkan, bahwa sawah
dan ladang tidak terpelihara dengan baik sekarang ini. Parit dan
jalan-jalan tidak terawat karena semua orang berada dalam ketakutan.
Jika keadaan seperti ini berlangsung lama, maka kesejahteraan
penghuni padukuhan ini akan menjadi semakin lama semakin menurun.
Hasil sawah akan susut dan pategalan bahkan tidak tergarap. Semua
orang keluar dari rumahnya dengan tergesa-gesa karena mereka
menghindari Wira Sabet dan Sura Gentong” berkata Manggada dengan
sungguh-sungguh. “Itu tugas para bebahu. Disini ada Ki Bekel, Ki
Jagabaya dan bebahu yang lain. Biarlah mereka mencari penyelesaian.
Kita tinggal menunggu” jawab Timbang. Tetapi Manggada berkata sambil
tertawa “Kenapa kau tidak marah-marah kepada Wira Sabet dan Sura
Gentong seperti masa kanak-kanakmu. Kau sama sekali tidak dapat
tersinggung selembar benang pakaianmu. Kecuali oleh Perti” “Ah”
Timbang tersenyum. Sementara itu Manggada berkata selanjutnya
“Sudahlah. Kami mohon diri. Jika untuk sementara kau masih belum
ingin untuk melibatkan diri, berdoa sajalah bagi kami. Mudahmudahan
kami dapat menemukan jalan keluar dari persoalan ini” Wajah Timbang
menegang. Kemudian katanya “Manggada. Untuk waktu yang lama kau
meninggalkan padukuhan ini. Karena itu kau tidak tahu apa yang
sebenarnya terjadi disini. Karena itu, demi persahabatan kita sejak
masa kanak-kanak, aku ingin memberikan peringatan kepadamu, bahwa
sebaiknya kau urungkan saja niatmu untuk ikut mencampuri urusan ini”
Sebelum Manggada menjawab, Pertipun berkata “Manggada. Tidak
seorangpun yang berani berbuat sesuatu disini. Bahkan nampaknya Ki
Bekelpun tidak” “Baiklah” sahut Manggada “aku akan memperhatikan
pendapatmu. Terima kasih atas kebaikan hatimu, karena aku tahu,
peringatan itu kau berikan karena kau masih tetap menganggap aku
sahabatmu sebagaimana di masa kanakkanak itu” Demikianlah, maka
Manggada dan Laksanapun segera minta diri. Dielusnya kapala anak
Timbang itu sambil berkata “Jangan kau lepaskan lagi burung
gelatikmu, adik kecil” Anak itu mengangguk, sementara Manggada
berkata pula “Paman minta diri, ya” Anak itu mengangguk lagi.
Timbang dan Perti mengantar Manggada dan Laksana sampai ke pintu
regol. Namun demikian keduanya turun ke jalan, maka Timbangpun
segera menutup pintu regol itu. Tetapi tidak diselarak sebagaimana
pintu-pintu regol halaman rumah yang lain. Disepanjang jalan pulang,
Manggada dan Laksana masih saja memperbincangkan sikap orang-orang
padukuhan itu. Tetapi keduanya tidak dapat mengingkari kenyataan,
betapa penghuni padukuhan itu dicengkam oleh ketakutan. Demikianlah,
beberapa saat kemudian, Manggada dan Laksana telah sampai ke rumah.
Demikian mereka masuk ke ruang dalam, maka Ki Kertasanapun memberi
isyarat agar keduanya ikut duduk bersama di amben besar di ruang itu
bersama Ki Citrabawa dan Ki Pandi. Dengan nada datar Ki Kertasanapun
berkata “Baru saja Ki Resa pulang” “Ki Resadana, maksud ayah?”
bertanya Manggada. “Ya. Ke Resa yang rumahnya di sebelah rumah Wira
Sabet” Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Namun
kemudian Manggada itupun bertanya “Apa yang dikatakannya?” “Aku
tahu, ia bermaksud baik. Ia mencoba untuk memperingatkan kami,
orang-orang tua ini. bahwa kau telah melakukan satu perbuatan yang
tidak dapat dimengerti oleh Ki Resa bahkan orang-orang sepadukuhan”
“Ya. Ki Resapun sudah langsung memperingatkan aku” “Kau harus tahu.
bahwa maksud Ki Resa itu baik” berkata Ki Kertasana kemudian. “Ya.
Kami mengerti. Lalu, apa yang ayah katakan kemudian kepadanya?”
bertanya Manggada. “Aku hanya dapat mengucapkan terima kasih dan
berjanji untuk menyampaikan pesannya kepada kalian berdua” jawab Ki
Kertasana. Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun kemudian
Manggada pun telah menceriterakan kesediaannya untuk berbicara
dengan Wira Sabet. “Ki Jagabaya telah mnyetujuinya” berkata
Manggada. Ki Kertasana menarik nafas panjang. Kamudian katanya
“Memang satu langkah yang berbahaya” “Satu kemungkinan ayah” berkata
Manggada “jika kemungkinan ini gagal, maka agaknya tidak ada
kemungkinan lain kecuali dengan kekerasan. Cara yang sebaiknya
dihindari sejauh-jauhnya. Namun yang justru merupakan cara yang
paling sering dipergunakan oleh banyak orang” Ki Kertasana
mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah. Jika kalian merasa mampu
melakukannya. Namun orang-orang tua hanya dapat berpesan agar kalian
sangat berhati-hati. Sesuatu yang tidak terduga mungkin akan
terjadi” “Baiklah ayah” jawab Manggada “besok aku akan berusaha
menemui paman Wira Sabet. Kami memang berharap bahwa yang dapat kami
temui mula-mula adalah paman Wira Sabet. Bukan paman Sura Gentong”
Ki Kertasana memang sependapat. Katanya “Agaknya Wira Sabet memang
tidak segarang Sura Gentong. Apalagi kesalahan ini bermula dari
tingkah laku Sura Gentong. Saat itu Wira Sabet hanya membela adiknya
yang dalam keadaan terjepit. Tetapi ternyata ia sudah melukai Ki
Jagabaya sehingga karena itu, maka ia telah menjadi buruan pula pada
waktu itu. Namun setelah bertahun-tahun berlalu, maka keduanya
kembali tidak lagi sebagai buruan, tetapi justru sebagai orang-orang
yang sangat ditakuti” “Tetapi bukankah belum pernah ada orang yang
membuktikan atau menjajagi kemampuan mereka yang sebenarnya?”
bertanya Laksana tiba-tiba. “Nampaknya memang belum. Tetapi
sikapnya, kawankawan yang dibawanya serta saudara-saudara
seperguruannya telah meyakinkan orang-orang padukuhan ini, bahwa
Wira Sabet dan Sura Gentong adalah orang-orang yang sangat ditakuti”
Manggada mengangguk-angguk. Sementara Laksanapun berkata “Cara
mereka menakuti-nakuti orang-orang padukuhan ini memang pantas
mendapat pujian, paman” Ki Kertasana tidak membantah. Namun satu
kenyataan bahwa seluruh isi padukuhan itu menjadi ketakutan kecuali
Ki Jagabaya dan anak laki-laki. Bahkan Nyi Jagabaya dan Tantri
nampaknya juga tidak menjadi ketakutan. Meskipun membayang juga
kecemasan. Ternyata anak laki-laki Ki Jagabaya itu selalu membawa
keris meskipun ia sedang di rumah. Demikianlah, maka Manggada dan
Laksana sudah sepakat, di keesokan harinya, mereka akan berada di
halaman rumah Wira Sabet lagi. “Mudah-mudahan Wira Sabet melihat
halaman rumahnya yang kotor itu” berkata Laksana. Di malam hari,
ketika Manggada dan Laksana duduk di serambi, Ki Pandi telah duduk
pula bersama mereka. Ketiganya berbincang tentang
kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi jika Wira Sabet dan Sura
Gentong tidak dapat diajak berbicara “Kita harus bersepakat dengan
Ki Jagabaya. Jika terjadi sesuatu, maka baik pada keluarga Ki
Jagabaya, maupun keluarga kita disini, masing-masing membunyikan
tanda bahaya. Jika kekuatan kita dan kekuatan yang ada di rumah Ki
Jagabaya bergabung, mungkin akan dapat mengatasi kekuatan Wira Sabet
dan kawan-kawannya, termasuk Ki Sapa Aruh” berkata Laksana. “Kita
disini mempunyai banyak kawan” sahut Manggada “sedangkan Ki Jagabaya
hanya dua orang, tetapi isyarat itu mungkin akan mempunyai pengaruh
yang lebih luas jika perlawanan memang sudah terjadi” Dalam pada
itu, Ki Pandipun berkata “Yang penting memang keluarga ki
Jagabayalah yang harus membunyikan isyarat jika terjadi sesuatu atas
keluarga mereka. Tetapi Nyi Jagabaya dan anak perempuannya tentu
termasuk orangorang yang berani” “Apakah Tantri memiliki kelebihan
sebagaimana Winih?” tiba-tiba Laksana bertanya. “Aku kira tidak”
jawab Manggada “Tantri tidak pernah meninggalkan rumahnya. Jika ia
memiliki kemampuan tentu hanya warisan dari ayahnya. Mungkin serba
sedikit Tantri memiliki bekal untuk membela diri” “Baiklah” berkata
Laksana “besok kita menemui Wira sabet, kemudian memberikan laporan
kepada Ki Jagabaya” Demikian seperti yang mereka rencanakan, maka
ketika matahari mulai memanjat kaki langit, Manggada dan Laksanapun
telah bersiap. Setelah makan pagi, maka mereka berdua telah pergi ke
halaman rumah Wira Sabet. Ketika Ki Resa melihat keduanya, ia
menjadi terkejut, Setelah melihat tidak ada orang lain di sepanjang
jalan, maka iapun medekati Manggada dan Laksana sambil berkata “Aku
kemarin pergi ke rumahmu. Apakah ayahmu tidak mengatakan sesuatu?”
“Ya, paman. Ayah memang menyampaikan pesan bagi kami berdua. Bahkan
ayah juga sudah berpesan, agar kami tidak datang kembali ke halaman
rumah ini” jawab Manggada. “Jadi kenapa kau kembali lagi?” desak Ki
Resa. “Kami masih saja selalu ingin berbicara dengan paman Wira
Sabet” jawab Manggada. “Sekali lagi aku peringatkan, ngger. Itu
sangat berbahaya” “Kami mengucapkan terima kasih paman. Sebagaimana
ayah katakan, maksud paman memang baik. Tetapi kami mempunyai
pertimbangan tersendiri paman” Ki Resa menarik nafas dalam-dalam.
Namun dalam pada itu, dua orang berjalan tergesa-gesa melewati jalan
di muka rumah Wira Sabet. Ketika Ki Resa bertanya, apa yang terjadi,
maka seorang di antara mereka menjawab “Wira Sabet dan anaknya
bersama dua orang pengawalnya akan lewat jalan ini” Kedua orang itu
tidak berhenti. Tetapi merekapun berjalan semakin cepat. Dalam pada
itu Ki Resapun menjadi gelisah. Katanya “Marilah ngger. Masuk ke
rumahku” Tetapi Manggada tersenyum sambil menjawab “Aku disini saja,
paman” Karena Manggada dan Laksana tetap tidak mau ketika Ki Resa
mendesak, maka Ki Resa sendiri dengan tergesa-gesa masuk ke regol
sambil bergumam “Anak-anak yang keras kepala” Sepeninggal Ki Resa,
maka Manggada dan Laksanapun telah duduk di tangga rumah Wira Sabet
yang tidak terpelihara itu. Namun bagaimanapun juga, keduanya memang
menjadi berdebar-debar. Tetapi karena keduanya sudah bertekad untuk
menjadi penghubung antara bebahu padukuhan itu dengan Wira Sabet,
maka mereka benar-benar berusaha untuk dapat berbicara. Demikianlah,
seperti yang dikatakan oleh kedua orang yang dengan tergesa-gesa
melintas di jalan di depan rumah itu, maka Wira Sabet benar-benar
telah lewat. Bahkan kemudian berhenti dan melangkah memasuki halaman
rumahnya. Wira Sabet terkejut ketika ia melihat kedua orang anak
muda itu sudah duduk di tangga rumahnya. “Maaf paman. Pagi-pagi kami
sudah ada disini. Kami memang tidak mempunyai pekerjaan apapun di
rumah. Karena itu, maka kami segera teringat pohon duwet dan pohon
manggis yang kebetulan sedang berbuah” berkata Manggada. Wira Sabet
tidak sempat menjawab. Tiba-tiba saja Manggada yang melihat anak
Wira Sabet yang datang bersama ayahnya itu dengan serta merta telah
menyapanya “He, kau Pideksa. Seperti namamu, kau tumbuh menjadi
seorang anak muda yang gagah” Manggada memang sebenarnya agak ragu.
Apakah Pideksa itu masih juga seperti masa kecil mereka, saat mereka
bermain bersama dan sekali-sekali bertengar dan berkelahi, namun
kemudian bermain kembali. Tetapi ternyata Pideksa itupun menanggapi.
Meskipun anak muda itu harus mengingat sejenak. Tetapi iapun segera
melangkah mendekati sambil berkata “Manggada. Bukankah kau Manggada”
“Ya” jawab Manggada yang melangkah mendekat sambil berkata “Sudah
lama sekali kita tidak bertemu. Baru beberapa hari aku pulang dari
rumah pamanku. Dan ini adalah adik sepupuku” Pideksa memandang
Laksana sekilas. Ketika Laksana mengangguk, maka Pideksapun
mengangguk pula. “Aku memang mendengar kau baru saja pulang” jawab
Pideksa kemudian. “Aku merasa rindu pada kampung halamanku” berkata
Manggada. Pideksa mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian “Aku
juga sudah lama meninggalkan padukuhan ini. Sekarang aku juga ingin
pulang kembali” “Padukuhan ini akan menjadi ceria kembali. Kita akan
membangunkan keceriaan masa kanak-kanak kita” berkata Manggada.
“Tetapi keadaan sudah berubah” berkata Pideksa yang kemudian
berpaling kepada ayahnya. Katanya “Harus ada pembaharuan di
padukuhan ini” “Aku sudah pernah mengatakannya kepada Manggada“
berkata Wira Sabet. “Jadi ayah pernah bertemu dengan Manggada
sebelumnya?” bertanya Pideksa. “Ya. Bukankah aku sudah
mengatakannya? Karena itu, aku sengaja mengajakmu. Bukankah kalian
kawan bermain di masa kanak-kanak” Pideksa mengangguk-angguk.
Katanya “Ya. Kami adalah kawan bermain di masa kanak-kanak. Tetapi
apakah kami masih akan dapat bersahabat seperti di masa kanak-kanak
itu?” “Kenapa tidak?” bertanya Manggada. “Sudah aku katakan. Keadaan
sudah berubah” jawab Pideksa. Lalu katanya pula “Kita harus berani
berbuat sesuatu untuk membangunkan orang-orang padukuhan ini yang
tertidur” “Aku sependapat” jawab Manggada dengan serta merta “jika
kita, maksudku, anakanak muda bangkit untuk berbuat sesuatu yang
berarti, maka segala sesuatunya tentu akan segera menjadi baik”
“Kalian tidak perlu berbicara tentang perubahan-perubahan. Itu sudah
kami pikirkan. Kalian akan menerima perintahperintah untuk malakukan
tugas-tugas kalian” berkata Wira Sabet kemudian. “Tetapi ayah
memerlukan pikiran dan pendapat anak-anak muda“ sahut Pideksa. “Itu
akan dilakukan kemudian” jawab Wira Sabet “tetapi kamilah yang akan
meletakkan dasar-dasar pembaharuan itu” “Itulah yang ingin kami
bicarakan dengan paman” berkata Manggada meskipun dengan agak ragu.
Wira Sabet mengerutkan keningnya. Dipandanginya Manggada dan Laksana
yang baginya merupakan orang-orang aneh di padukuhan itu. Keduanya
sama sekali tidak menjadi ketakutan melihat kedatangannya. Namun
Wira Sabet berpendapat, mungkin karena kedua orang anak muda itu
masih belum tahu benar, apa yang telah terjadi di padukuhan itu.
“Apa yang ingin kau bicarakan dengan ayah?” justru Pideksalah yang
bertanya. Manggada termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun
berkata “Paman, aku mohon waktu sejenak untuk berbicara dengan
paman. Persoalannya memang demikian mendesak, sementara kami belum
tahu dimana paman tinggal” Wajah Wira Sabet berkerut. Sementara itu,
dua orang pengikutnyapun memperhatikan Manggada dengan
sungguhsungguh. “Kalian akan berbicara tentang apa?” bertanya Wira
Sabet meskipun ia tidak begitu senang mendengarnya. “Tentang
padukuhan kita ini, paman” jawab Manggada. “Sudah aku katakan,
biarlah kami yang meletakkan dasardasar dari perubahan-perubahan
yang perlu bagi padukuhan kita. Kalian dan orang-orang padukuhan ini
tinggal melaksanakan belandaskan dasar-dasar yang akan kami letakkan
itu” Manggada dan Laksana justru melangkah mendekati Wira Sabet,
sementara Pideksapun telah bergeser pula. “Paman” berkata Manggada
“kami mohon waktu sebentar saja untuk menyampaikan satu pesan” Wira
Sabet termangu-mangu sejenak. Namun Pideksalah yang kemudia bertanya
“Pesan apa dan dari siapa?” Manggada memandang Wira Sabet sejenak.
Ia masih berpengharapan bahwa Wira Sabet akan mau mendengarkannya.
Sebenarnyalah Wira Sabet itu berkata “Katakan” “Paman. Di padukuhan
ini masih terdapat bebahu-bebahu yang sampai saat ini masih tetap
diakui kedudukannya. Karena itu, bukankah lebih baik jika
diselenggarakan satu pembicaraan antara paman dan para bebahu?
Menurut keterangan yang kami dengar, padukuhan ini tiba-tiba saja
telah dicengkam oleh satu keadaan yang tidak pasti. Satu dengan yang
lain tidak mengetahui apa yang dikehendaki oleh masing-masing pihak.
Akibatnya adalah kebekuan dan ketegangan seperti sekarang ini.
Bahkan padukuhan ini seakan-akan sedang diambah oleh wabah yang
sangat menakutkan sehingga setiap orang tidak berhubungan yang satu
dengan yang lain. Jika keadaan ini berlangsung lebih lama, maka
kehidupan di padukuhan ini akan berhenti” Wajah Wira Sabet menjadi
tegang. Ia menjadi semakin heran menghadapi sikap kedua orang anak
muda itu. Sementara itu, Manggadapun berkata selanjutnya “Karena itu
paman, maka diperlukan satu pemecahan. Harus ada jalan keluarnya,
agar kehidupan di padukuhan ini dapat kembali seperti sediakala.
Kanak-kanak dapat bermain dengan bebas di halaman dan bahkan di
jalan-jalan padukuhan. Orang-orang pergi ke sawah dan pategalan
tanpa dibayangi oleh ketakutan dan kecemasan. Perempuan yang
ditinggal suami pergi ke sawah tidak dihantui oleh hal-hal yang
tidak dimengerti” Kening Wira Sabet menjadi semakin berkerut. Namun
Manggada itu masih berkata pula “Paman. Jika paman bersedia, maka
para bebahu menghendaki untuk berbicara mencari pemecahan yang
paling baik bagi padukuhan ini” Wira Sabet menjadi semakin tegang.
Namun kemudian iapun bertanya dengan nada berat “Siapa yang
memberikan pesan itu? Siapa pula yang menyatakan bersedia untuk
melakukan pembicaraan dengan kami?” “Ki Jagabaya” jawab Manggada
“jika paman bersedia, maka dapat ditentukan, kapan pembicaraan itu
dilakukan dan dimana” Wira Sabet itupun menggeram. Dengan lantang ia
berkata “Kau kira aku seorang yang dungu?” Manggada mengerutkan
dahinya. Namun kemudian ia berkata “Mungkin akulah yang dungu.
Tetapi mengapa?” “Ki Jagabaya tentu berusaha menjebakku. Ia masih
menyimpan dendam di hatinya, karena aku pernah melukainya. Saat itu
aku memang tidak sengaja. Dalam keadaan yang hiruk pikuk, maka golok
di tanganku telah menggores dadanya, sehingga sebuah luka yang agak
dalam menyilang panjang” “Tetapi Ki Jagabaya tidak pernah
mengatakannya. Yang disebutnya adalah satu usaha untuk memecahkan
satu persoalan yang kini mencengkam padukuhan ini. Tatanan kehidupan
yang porak poranda. Kecemasan dan ketakutan yang mencengkan serta
ketimpangan-ketimpangan lain yang perlu dibenahi” “Tetapi itu semua
hanyalah lamis. Yang sebenarnya adalah, Ki Jagabaya itu ingin
membalas dendam dengan cara yang paling licik. Ia tidak berani
menentangku perang tanding atau cara lain yang lebih jantan” “Memang
tidak, paman“ sahut Manggada “Ki Jagabaya memang berusaha untuk
mencari pemecahan masalah dengan mengesampingkan penggunaan
kekerasan” “Itu dilakukan karena ia berada dalam ketakutan” Wira
Sabet hampir berteriak. “Mungkin paman benar. Ki Jagabaya memang
dicengkam oleh ketakutan. Bukan saja bagi dirinya sendiri, tetapi
juga bagi seisi padukuhan ini. Karena jika keadaan ini berlangsung
lama, maka seperti yang aku katakan tadi, kehidupan di padukuhan ini
akan menjadi semakin surut. Orang-orang padukuhan ini akan menjadi
kekurangan pangan, kehilangan kesempatan dan akhirnya menjadi putus
asa” “Itu adalah salah mereka sendiri. Jika mereka tidak bertindak
sewenang-wenang dan tidak merasa bersalah, maka mereka tidak akan
merasa ketakutan” “Ketakutan atas dendam dan kebencian terhadap
mereka?” “Itu adalah bayangan di kepala mereka masing-masing. Tidak
ada yang mendendam dan tidak ada yang menaburkan kebencian. Jika
yang dimaksudkan mendendam dan menyebarkan kebencian itu adalah aku
dan adikku, maka yang sebenarnya kami berdua hanya ingin membuat
satu langkah pembaharuan justru untuk kesejahteraan padukuhan ini”
berkata Wira Sabet. Dalam pada itu Pideksapun menyambung “Nah,
meskipun kau anak padukuhan ini, tetapi kau dalam persoalan ini
dapat dianggap orang baru yang salah menilai keadaan” Tetapi
Manggada menjawab “Tetapi justru karena kesalahpahaman itu itulah,
maka aku semakin yakin bahwa pertemuan dan pembicaraan itu perlu
dilakukan. Dengan saling memberikan penjelasan maka persoalannya
akan dapat diluruskan. Bahkan mungkin rancangan paman tentang
pembaharuan itu justru akan mendapat dukungan dari para bebahu
padukuhan ini” Wira Sabet termangu-mangu sejenak. Namun Pideksalah
yang kemudian menyahut “Mungkin pikiran Manggada ada juga benarnya
ayah. Jika keinginan ayah dan paman Sura Gentong dapat dimengerti
dan diterima oleh para bebahu, bukankah tidak ada alasan untuk
menitikkan keringat dan apalagi darah” Wira Sabet masih nampak
ragu-ragu. Namun kemudian katanya “Aku akan membicarakannya dengan
pamanmu Sura Gentong dan Ki Sapa Aruh” “Jika demikian, maka besok
kita akan menemui Manggada lagi” berkata Pideksa. “Baiklah. Besok
kau tunggu aku disini pada waktu seperti ini. Aku akan memberikan
keterangan tentang pendapatmu itu” “Terima kasih paman” jawab
Manggada. “Sekarang, aku aku akan kembali untuk membicarakannya”
berkata Wira Sabet itu sambil melangkah. Namun Manggada itu berkata
“Paman, bukankah aku masih diijinkan untuk mengambil duwet?”
“Ambillah seberapa kau suka” jawab Wira Sabet. “Terima kasih paman”
jawab Manggada. Namun kemudian Manggada itupun masih bertanya kepada
Pideksa “Pideksa, apakah kau masih juga sering mencari ikan dan
ketam di sungai kecil itu?” Pideksa yang juga sudah melangkah
mengikuti ayahnya berhenti dan berpaling. Sambil tertawa ia berkata
“Itu terjadi masa kanak-kanak kita Manggada. Sekarang kita sudah
berubah. Kau tentu tidak pernah pula turun ke sungai untuk mencari
ketam dan ikan sejak kau pulang” Manggada mengerutkan keningnya.
Namun iapun kemudian tertawa. Ketika Pideksa sudah akan melangkah,
Manggada bertanya lagi “Pideksa, apakah kau masih sering bertemu
dengan Timbang, Wisesa dan barangkali Sampurna? Apakah kau juga
pernah singgah di rumah paman Resa sebelah?” Pideksa tertawa
berkepanjangan. Katanya “Mereka tidak pernah nampak. Tetapi akupun
jarang sekali datang ke padukuhan ini. Tidak tentu sepuluh hari atau
setengah bulan sekali. Meskipun demikian, aku tahu, kau masih juga
anak yang paling berani di antara kawan-kawan kita bermain,
Manggada” “Apa hubungannya dengan keberanian?” bertanya Manggada.
“Aku melihat jawabnya di senyummu itu” jawab Pideksa. Pideksa tidak
menunggu jawaban Manggada. Iapun kemudian telah melangkah pergi
mengikuti ayahnya yang sudah turun ke jalan. Kedua orang kawan
ayahnya yang menyertai merekapun segera pergi pula meninggalkan
halaman rumah yang kotor itu. Ternyata Wira Sabet tidak meneruskan
perjalanannya mengelilingi padukuhan itu seperti kemarin. Tetapi
Wira sabet telah melangkah kembali ke arah darimana ia datang.
Sepeninggal Wira Sabet, anaknya dan kawan-kawannya, maka Laksanapun
bergumam “Anak itu cukup cerdik” “Ya. Sejak kanak-kanak ia memang
terhitung cerdik, tetapi juga licik. Aku tidak tahu apa sebenarnya
yang bermain di kepalanya. Apakah ia sejalan dengan sikap ayah dan
pamannya atau ada perbedaan-perbedaan yang berarti. Namun
bagaimanapun juga, kita harus berhati-hati terhadapnya” sahut
Manggada. “Nah, sekarang apa yang akan kita lakukan?” “Kita pergi ke
rumah Ki Jagabaya. Tetapi kita akan singgah sebentar di rumah Ki
Resa sebelah” “Untuk apa?” bertanya Laksana. “Paman Resa tentu
menjadi cemas tentang nasib kita. Karena itu, jika ia melihat kita
tidak mengalami sesuatu, maka ia akan menjadi tenang” jawab
Manggada. Sebenarnyalah mereka berdua telah singgah di rumah Ki
Resa. Demikian mereka dipersilahkan masuk ke ruang dalam, maka Ki
Resa itupun berkata “Hatiku tinggal sebesar biji sawi ngger. Aku
cemas apakah kalian tidak mengalami nasib buruk” “Ternyata kami
tidak mengalami perlakuan buruk, paman. Kita dapat berbicara dengan
lebih terbuka. Bahkan Pideksa masih tetap mengenal aku sebagai
kawannya bermain di masa kanak-kanak” “Beruntunglah kau” berkata Ki
Resa. Namun katanya kemudian “Meskipun demikian, aku tetap
memperingatkanmu. Jauhi orang itu sebelum kau mengalami perlakuan
yang tidak diharapkan” “Aku berharap bahwa usahaku untuk
mendekatinya berhasil, paman” jawab Manggada yang kemudian minta
diri untuk meninggalkan rumah Ki Resadana. Ki Resadana hanya dapat
menggelengkan kepalanya. Sekali lagi ia bergumam “Anak-anak yang
keras kepala” Dalam pada itu, Manggada dan Laksanapun telah pergi ke
rumah Ki Jagabaya. Mereka ingin melaporkan hasil pertemuan mereka
dengan Wira Sabet. Nampaknya pertemuan antara Wira Sabet dan bebahu
padukuhan itu mungkin dilakukan. Namun masih tergantung pada Sura
Gentong yang sikapnya lebih keras dari Wira Sabet. Apalagi kesalahan
utama pada saat mereka terusir adalah pada Sura Gentong itu.
Demikianlah keduanya telah menyusuri jalan-jalan sepi sebagaimana
mereka lihat sehari-hari. jika ada satu dua orang lewat, tentu
dengan tergesa-gesa. Bahkan dibayangi oleh perasaan takut dan
was-was. Mereka merasa bahwa setiap saat dapat terjadi malapetaka
atas diri mereka. Ketika Manggada dan Laksana memasuki halaman rumah
Ki Jagabaya dan kemudian pergi ke pintu seketeng, maka seperti
biasanya pintu itu tertutup dan agaknya diselarak. Karena itu, maka
Manggadapun telah mengetuk pintu seketeng itu agak keras. Untuk
beberapa saat Manggada dan Laksana menunggu. Baru kemudian mereka
mendengar langkah kaki seseorang mendekati pintu seketeng. “Siapa?”
terdengar seseorang bertanya. Manggada dan Laksana segera mengetahui
bahwa yang betanya itu Sampurna, anak Ki Jagabaya. Karena itu, maka
iapun menjawab “Aku, Manggada dan Laksana” Sampurnapun mengenali
suara itu. Karena itu, maka tanpa ragu-ragu iapun telah mengangkat
selarak pintu seketeng itu. Demikian pintu itu terbuka, maka
Sampurnapun mempersilahkan Manggada dan Laksana masuk. Setelah pintu
seketeng itu diselarak lagi, maka Sampurnapun mengajak mereka
langsung ke serambi. Laksana mengerutkan dahinya ketika melihat
Wisesa telah duduk di serambi itu pula. Sampurnalah yang kemudian
berkata “Wisesa memenuhi janjinya. Ia membawa bibit pohon kemuning”
“O“ Manggada mengangguk-angguk. Iapun kemudian bertanya “Apakah kau
mempunyai pohon kemuning di halaman rumahmu?” “Ya” jawab Wisesa
“kenapa?” “Karena itulah maka kau dapat membawa bibit pohon kemuning
bagi Tantri” jawab Manggada. “Jadi kenapa jika aku membawa bibit
pohon kemuning bagi Tantri?” nada suara Wisesa Semakin tinggi.
“Kenapa?” Manggada justru menjadi bingung, Namun kemudian ia
melanjutkan “Maksudku, karena kau mempunyai pohon kemuning di rumah,
maka kau dapat mencangkoknya dan membawanya kemari” “Jadi apa
anehnya. Karena bibit pohon kemuning itu kau anggap sesuatu yang
perlu dibicarakan?” Manggada menarik nafas dalam-dalam. Ia berniat
untuk menanggapinya, namun tiba-tiba saja Laksana menjawab “Maksud
kakang Manggada, bibit kemuning itu kau bawa dari rumahmu sendiri.
Kau cangkok sendiri, sehingga tidak merugikan orang lain. Tadi paman
Wira Sabet mencari bibit kemuning di halaman rumahnya, tetapi sudah
hilang. Menilik bekasnya, baru kemarin atau tadi pagi bibit kemuning
itu dicungkil orang” “Wira Sabet?” bertanya Wisesa. Tiba-tiba saja
wajahnya menjadi tegang “darimana kau tahu bahwa paman Wira Sabet
mencari bibit kemuningnya” “Kami baru datang dari rumahnya yang
kosong dan kotor itu. Kebetulan paman Wira Sabet tadi datang
menengoknya. Maksudnya menengok bibit kemuningnya itu” “Bohong
“bentak Wisesa. “Buat apa kami berbohong? Kami sengaja menemuinya,
karena kami memang sudah menyediakan diri untuk melakukannya. Kami
sudah berjanji kepada Ki Jagabaya” “Kalian hanya membual. Tidak
seorangpun yang berani menemui Wira Sabet” geram Wisesa. “Kami tidak
berkeberatan jika kau tidak percaya. Tetapi jika Ki Jagabaya tidak
mempercayai kami, kami persilahkan Ki Jagabaya menemui Ki Resa yang
tinggal di sebelah rumah Wira Sabet yang kosong” Wajah Wisesa
benar-benar menjadi tegang. Sementara itu Sampurna berkata “Aku
pecaya kalau Manggada dan Laksana telah menemui dan berbicara dengan
Wira Sabet seperti yang kemarin dilakukannya” “Ya“ sahut Laksana
“bahkan kami sudah mendapat ijin Wira Sabet untuk memanjat dan
memetik duwet atau manggis atau apa saja yang ada di halaman rumah
itu, kecuali bibit kemuning. Namun ternyata bibit itu hilang”
“Apakah Wira Sabet tidak menuduhmu?” bertanya Sampurna. “Aku masih
berada di sana waktu itu. Atau paman Wira Sabet memang mempercayai
kami bahwa kami tidak akan melakukannya” jawab Laksana. Wajah Wisesa
menjadi semakin tegang. Bahkan kemudian menjadi pucat. Dengan gagap
ia berkata “Tetapi, tetapi bibit ini aku bawa dari rumahku. Aku
dapat membuktikannya. Pada dahan pohon kemuningku nampak bekas
potongan baru di bawah cangkokan” “Besok jika paman Wira Sabet
bertanya, biarlah aku yang menjawab sebagaimana kau katakan. Tetapi
jika paman Wira Sabet tidak bertanya lagi tentang kemuningnya,
biarlah kami berdiam diri saja” sahut Laksana kemudian. Tetapi
pernyataan Laksana telah membuat Wisesa menjadi sangat gelisah.
Seolah-olah ia akan dituduh oleh Wira Sabet, bahwa ia telah
mengambil bibit pohon kemuning itu dari halaman rumah Wira Sabet.
Namun pembicaraan merekapun terhenti. Tantri yang mendengar
kehadiran Manggada dan Laksana telah menghidangkan minuman panas dan
beberapa potong makanan. Adalah di luar dugaan, bahwa ketika Tantri
menghidangkan minuman itu, Wisesa berkata “Tantri, jangan kau tanam
dahulu bibit pohon kemuning itu. Atau kau tanam saja di longkangan
dalam sehingga tidak mudah dilihat dari halaman” “Kenapa?” bertanya
Tantri. “Ternyata Wira Sabet juga sedang mencari bibit pohon
kemuningnya yang hilang” jawab Wisesa. “Kenapa dengan, Wira Sabet.
Biar saja ia mencari bibit kemuningnya yang hilang. Besok aku akan
menanam bibit itu di halaman depan” jawab Tantri. “Tetapi jangan
besok, Jika Wira Sabet melihatnya, maka ia akan mengira bahwa bibit
itu adalah miliknya” berkata Wisesa dengan cemas. “Bukankah aku
punya mulut untuk menjelaskan, bahwa kemuning itu aku dapat dari
kau” “Itulah yang aku cemaskan. Wira Sabet akan menuduhku mengambil
bibit itu dari halaman rumahnya” “Tetapi bukankah itu tidak kau
lakukan?” bertanya Tantri. “Tidak. Aku tidak mengambil bibit itu
dari halaman rumahnya. Apalagi mengambil bibit pohon kemuning, lewat
pun aku tidak pernah” jawab Wisesa. “Jika demikian bukankah kau
dapat mengatakannya” suara Tantri mulai meninggi. “Orang itu tentu
tidak dapat diajak berbicara” sahut Wisesa dengan wajah tegang.
“Sebaiknya kau pukul saja mulutnya jika ia menuduhmu tanpa alasan”
“Tantri“ potong Wisesa dengan serta merta “jangan berkata begitu.
Kata-katamu itu dapat menjeratmu ke dalam kesulitan” “Jika terjadi
demikian, aku akan minta kau menolongku” Wajah Wisesa menjadi
semakin tegang. Sementara itu Manggada dan Sampurna yang agaknya
mengetahui bahwa Laksana hanya sekedar mengganggunya, tertawa di
dalam liati. Tetapi mereka membiarkan Wisesa dicengkam oleh
kecemasannya. Sementara itu Tantri masih memiliki sifat-sifat
kerasnya sejak masa kanak-kanak. Katanya selanjutnya “Jika kau
berkeberatan aku menanam pohon kemuningmu di halaman, bawa saja
pulang. Maksudku menanam kemuningmu di halaman agar kelak aku selalu
dapat memandangi dan menikmati kesejukan dan harum bungannya
seandainya satu dua hari kau tidak datang mengunjungiku. Tetapi
seleraku sekarang sudah hilang. Ambil dan bawa kembali kemuningmu.
Besok aku akan minta kepada Wira Sabet sebatang pohon kemuning”
Tiba-tiba saja Laksana menyela “Sebenarnya bukan Wira Sabet sendiri
yang memerlukan bibit pohon kemuning itu. Tetapi anaknya, Pideksa
yang tadi datang bersama ayahnya di bekas tempat tinggalnya itu”
“Omong kosong“ bentak Wisesa. “Aku tidak berbohong” jawab Laksana
“sebelum ini aku belum pernah mengenal anak muda yang namanya
Pideksa itu. Baru tadi aku melihat dan mengenalnya. Ia datang
bersama paman Wira Sabet” “Pideksa” tiba-tiba saja Tantri menyahui
“apakah ia ikut bersama ayahnya? Sudah lama aku tidak bertemu.
Apakah ia sekarang kembali ke rumahnya? Ia tentu telah tumbuh
menjadi anak muda yang gagah, kuat dan berani” “Tantri” potong
Wisesa “tetapi ia anak Wira Sabet” “Pideksa adalah kawan kita
bermain sejak kanak-kanak, la termasuk satu di antara anak-anak yang
berani, kuat dan tampan” “Wajah Wisesa menjadi sangat tegang. Namun
tiba-tiba saja dahi Laksana berkerut, la menjadi tidak senang
mendengar Tantri memuji Pideksa yang memang tumbuh menjadi anak muda
yang gagah sebagaimana namanya. Manggada hampir tidak dapat menahan
tertawanya melihat wajah Laksana. Manggada tahu, bahwa ia ingin
mengganggu Wisesa. Tetapi ternyata Laksana sendiri terkejut
mendengar Tantri memuji anak muda itu. Namun dalam pada itu,
pembicaraan merekapun terhenti. Terdengar pintu seketeng diketuk
orang. “Itu ayah datang” berkata Sampurna yang mengenali cara
ayahnya mengetuk pintu. Sampurnapun kemudian bangkit dan melangkah
menuju ke pintu seketeng, sementara Tantripun bangkit pula sambil
menjinjing nampan masuk ke ruang dalam. Tetapi di pintu ia sempat
berkata kepada Laksana “Jika kau bertemu lagi dengan Pideksa,
katakan, salamku baginya” Tantri memang menunggu sejenak, la sempat
melihat wajah Wisesa kemerah-merahan. Namun Tantri sendiri tidak
memperhatikan bahwa wajah Laksanapun menjadi semakin berkerut.
Tetapi Laksana itupun menjawab “Baiklah. Aku akan menyampaikannya”
Dalam pada itu, sesaat kemudian, Ki Jagabayapun telah memasuki
serambi itu pula. lapun langsung duduk bersama anak-anak muda itu.
“Apakah kalian sudah lama duduk disini” bertanya Ki Jagabaya. Yang
pertama-tama menjawab adalah Wisesa “Belum paman. Aku datang untuk
memenuhi janjiku, membawa bibit pohon kemuning. Tetapi aku minta
Tantri tidak segera menanamnya, atau jika ia ingin segera menanam,
biarlah ditanam di longkangan” “Kenapa” bertanya Ki Jagabaya.
Wisesapun menceriterakan tentang Wira Sabet yang sedang mencari
bibit kemuningnya. Ki Jagabaya tertawa, lapun kemudian bertanya
kepada Manggada tanpa menyinggung soal bibit kemuning itu lagi
“Apakah kau sudah bertemu dengan Wira Sabet?” “Ya, paman” jawab
Manggada. “Kau sudah mengatakan kepadanya tentang satu kemungkinan
untuk membicarakan persoalan yang sedang mencengkam padukuhan
Gemawang ini?” bertanya Ki Jagabaya “Ya. Aku sudah bertemu dan
berbicara dengan paman Wira Sabet. Bahkan paman Wira Sabet tadi
datang bersama anaknya, Pideksa, kawan bermain di masa kanak-kanak”
jawab Manggada. Wisesa yang mendengarkan pembicaraan itu justru
menjadi semakin yakin, bahwa Pideksa telah mempersoalkan kemuningnya
yang hilang. “Bagaimana hasil pembicaraanmu?” bertanya Ki Jagabaya
kemudian. “Menurut pendapatku” jawab Manggada “Paman Wira Sabet akan
membuka satu kesempatan satu pembicaraan meskipun syaratnya tentu
cukup berat. Tetapi aku tidak tahu, bagaimana, pendapat paman Sura
Gentong yang nampaknya bersikap lebih keras” “Itu dapat dimengerti.
Persoalannya memang bersumber dari tingkah laku Sura Gentong” jawab
Ki Jagabaya. “Ya. Namun paman Wira Sabet masih juga menganggap bahwa
Ki Jagabaya mendendamnya karena ketika Wira Sabet berusaha membantu
adiknya, ia telah melukai Ki Jagabaya” Ki Jagabaya tersenyum.
Katanya “Kita memang saling mencurigai. Tetapi apakah Wira Sabet
menentukan satu waktu dan satu tempat untuk pertemuan itu?” “Belum
Ki Jagabaya” jawab Manggada “paman Wira Sabet masih ingin berbicara
dengan adiknya” Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Sementara Wisesa
berkata “Nah, bukankah pendapatku akan dapat menyelamatkan padukuhan
Gemawang ini?” Ki Jagabaya justru termangu-mangu sejenak.
Dipandanginya Wajah anak muda itu dengan tajamnya. Sehingga
Wisesapun telah menunduk. Namun kemudian Ki Jagabaya itu berkata “Ya
Wisesa. Aku hargai pendapatmu. Mudah-mudahan pendapatmu nanti
memberikan arti bagi padukuhan Gemawang ini” “Mudah-mudahan paman“
sahut Wisesa sambil mengangguk-angguk. Kebanggaan telah mulai mekar
diliatinya. Jika usaha itu berhasil, maka namanya tentu akan selalu
disebut-sebut oleh orang-orang padukuhan Gemawang. Wisesa akan dapat
dianggap sebagai seorang yang telah membebaskan Gemawang dari
cengkeraman ketakutan kecemasan dan kecurigaan. Namun dalam pada
itu, Ki Jagabaya itupun berkata “Manggada. Aku tidak bermaksud
mengurangi arti dari usahamu. Tetapi kita memang tidak dapat terlalu
berpengharapan. Sura Gentong dan apalagi campur tangan Ki Sapa Aruh,
akan sangat berpengaruh. Meskipun demikian, kita akan menunggu hasil
pertemuanmu kemudian dengan Wira Sabet” “Besok mudah-mudahan paman
Wira Sabet dapat memberikan keterangan” jawab Manggada. Ki Jagabaya
mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya “Nah, silahkan kalian
berbincang sambil minum. Biarlah Tantri membuat minuman hangat lagi.
Aku akan beristirahat. Besok, jika aku sudah mendapat keterangan,
aku akan menghadap Ki Bekel yang seakan-akan sudah menjadi putus asa
sekarang ini” Demikianlah, maka Ki Jagabaya itupun kemudian
meninggalkan anak-anak muda itu yang duduk di serambi itu. Wisesa
yang agak kecewa dengan pendapat Ki Jagabaya yang terakhir itu
berkata “Ki Jagabaya kadang-kadang memang menjadi kehilangan
harapan. Seharusnya tidak demikian. Tanda-tandanya sudah menjadi
semakin jelas, bahwa persoalan padukuhan ini akan dapat dipecahkan.
Jika Ki Jagabaya dan kelompok Wira Sabet itu sempat bertemu, maka
akan dapat dipastikan dapat dicapai satu persetujuan. Tetapi
padukuhan Gemawang memang harus bersedia memberikan pengorbanan
sebagai imbalan kepada kelompok Wira Sabet itu. Tanpa kesediaan
Gemawang untuk memberikan imbalan sepantasnya, maka memang sulit
untuk dapat dicari penyelesaian” Manggada, Laksana dan ternyata juga
Sampurna mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba Laksana berkata “Tetapi
ternyata kemudian bahwa yang kami lakukan itu sangat berbahaya. Aku
jadi ngeri setelah aku sempat memikirkannya. Karena itu sebaiknya
niat untuk menemuinya dibatalkan saja” “Apa?” Wisesa itu hapir
berteriak “apa maksudmu?” “Tidak ada maksud apa-apa. Tetapi aku
menjadi ketakutan” jawab Laksana. “Tetapi kau sudah menyatakan
kesediaaninu kepada Ki Jagabaya untuk melanjutkan pembicaraan itu.
“Tadi aku tidak merasa takut. Tiba-tiba saja perasaan takut itu
seperti tumbuh di dalam hatiku. Semakin lama menjadi semakin besar
dan rimbun. Akhirnya seisi hatiku telah dipenuhi oleh perasaan takut
itu” “Tidak. Kau tidak dapat mengurungkannya“ bentak Wisesa. Laksana
masih akan menjawab, tetapi Manggada telah mendahului “Baiklah
Wisesa. Kami akan tetap berusaha untuk meneruskan tugas kami yang
sudah kami rintis ini” Laksana mengerutkan keningnya. Namun ia masih
harus menahan tertawanya. Demikian pula Sampurna. Namun Manggada
sendiri telah menjadi letih mendengar Laksana yang selalu mengganggu
Wisesa. Dalam pada itu, untuk beberapa saat, anak-anak muda itu
masih berbincang-bincang. Wisesa masih juga sempat berkata “Kalian
tinggal melaksanakan. Mungkin kalian memang mengalami kesulitan atau
diperlukan keberanian. Tetapi bagaimanapun juga nilai gagasan yang
berarti selalu lebih berharga daripada pelaksanaannya betapapun
sulitnya. Gagasan timbul karena kecerdasan penalaran, sedangkan
pelaksanaan hanyalah sekedar mewujudkan gagasan itu. betapapun berat
dan sulitnya” Manggada mengangguk-angguk. Katanya “Ya. Kami memang
harus mengakui. Tanpa gagasan yang baik, maka tidak akan ada kerja
yang baik dan bernilai tinggi” “Nah, dengan demikian, maka tidak
sewajarnya jika kalian mengurungkan kesediaan kalian untuk berbicara
dengan Wira Sabet dan Sura Gentong” Laksana yang sudah beringsut dan
siap untuk menyahut, telah didahului pula oleh Manggada “Tidak. Kami
tidak akan berhenti berusaha. Apalagi karena Wira Sabet mau mengajak
anaknya yang telah kita kenal dengan baik. Mudah-mudahan Pideksa
dapat menjadi rambatan untuk mendapatkan satu kesamaan sikap untuk
menemukan pemecahan bagi kesulitan yang terjadi di padukuhan
Gemawang ini” Wisesa mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah. Aku
berharap bahwa kalian berhasil. Jika kalian berhasil, maka kalian
akan merupakan bagian dari keberhasilan gagasanku” Laksana hampir
tidak dapat menahan diri lagi. Tetapi ketika ia melihat Sampurna
tersenyum-senyum, maka lapun menarik nafas dalam-dalam. Namun dalam
pada itu, maka Manggada dan Laksana yang sudah merasa cukup lama
duduk di serambi rumah Ki Jagabaya itupun telah minta diri. Mereka
masih akan berputarputar, jika mungkin menemui kawan-kawan bermain
mereka. “Aku sudah bertemu dengan Timbang dan Perti” berkata
Manggada. “Mereka sudah mempunyai anak” jawab Sampurna. “Mereka
kawin muda” jawab Manggada. “Ya. Mereka harus bekerja keras untuk
dapat hidup berkeluarga. Ketika mereka mulai merambah jalan yang
mulai lancar setelah bekerja keras, tiba-tiba suasana padukuhan ini
berubah. Seperti kebanyakan orang, kesejahteraan keluarga yang
mereka rintis itu menjadi semakin menyusut lagi” Manggada
mengangguk-angguk. Namun Sampurna masih berkata “Aku dapat mengerti
bahwa Timbang tidak dapat ikut melibatkan diri dalam tugas ini. Ia
memerlukan waktu dan perhatian sepenuhnya untuk menghidupi
keluarganya meskipun anaknya baru seorang. Tetapi dalam keadaan yang
rumit ini, maka waktunya sepenuhnya diberikan kepada keluarganya.
“Lebih dari itu” sahut Sampurna “jika sesuatu terjadi atasnya, maka
keluarganya akan menjadi hancur pula. Orang tua Timbang sebagaimana
orang tua Perti tidak termasuk orang tua yang berkecukupan” Manggada
masih saja mengangguk-angguk. Namun kemudian ia benar-benar telah
minta diri. Bahkan Ki Jagabaya. Tantri dan ibunya juga turut melepas
mereka sampai ke pintu seketeng. Sepeninggal Manggada dan Laksana,
maka yang duduk di serambi tinggal Sampurna dan Wisesa. Dengan nada
tinggi Wisesa itu berkata “Manggada sekarang menjadi semakin bengal
dan bahkan sombong. Apalagi adik sepupunya. Apa sebenarnya yang
terjadi atas mereka?” “Apakah mereka terhitung sombong?” Sampurna
justru bertanya “aku melihat kesungguhan mereka menangani kesulitan
yang dialami oleh padukuhan ini” “Itulah yang aku maksudkan, bahwa
mereka terlalu sombong” jawab Wisesa. “Bukankah kau juga
menganjurkan agar mereka meneruskan tugas yang mereka bebankan atas
pundak mereka sendiri?” “Itu karena mereka sudah mulai melakukannya.
Namun pada saatnya, jika usaha itu berhasil, keduanya akan menepuk
dada, seakan-akan keberhasilan itu adalah karena gagasan mereka”
Sampurna tersenyum. Katanya “Betapapun cemerlangnya satu gagasan,
tetapi jika gagasan itu tidak dapat mewujud, maka gagasan itu tidak
akan berarti sama sekali” “Tetapi gagasan itu merupakan pangkal dari
satu langkah pelaksanaan. Tanpa gagasan, tidak akan ada apa-apa”
jawab Wisesa. “Ya” Sampurna mengangguk-angguk “aku tidak menolak
pendapatmu itu” Wisesa termangu-mangu sejenak. Tetapi untuk sesaat
ia justru terdiam. Tangannya sajalah yang kemudian menggapai mangkuk
minumannya. Setelah minum seteguk maka Wisesa itupun berkata
“Sampurna, tolong katakan kepada Tantri. aku akan minta diri” “O.
Begitu, tergesa-gesa?” “Aku sudah lama duduk disini” jawab Wisesa.
Sampurnapun kemudian telah memanggil Tantri, karena Wisesa akan
minta diri. Meskipun dengan agak segan, maka Tantri telah menuju ke
serambi. “Aku akan minta diri. Tantri” berkata Wisesa “besok aku
akan datang lagi” Tetapi Tantri itupun justru bertanya “Bagaimana
dengan bibit pohon kemuningmu?” “Kenapa?” Wisesa justru bertanya.
”Apakah kau akan membawanya pulang atau akan kau tinggal disini.
Jika kau tinggal disini, aku akan menanamnya di halaman depan.
Tetapi jika kau berkeberatan, bawa saja bibit itu pulang sekarang”
“Tantri, seharusnya kau mengucapkan terima kasih kepadaku, bahwa aku
telah membawakan bibit itu untukmu. Bukankah kau menginginkannya?”
“Bukankah aku sudah mengucapkan terima kasih itu ketika kau serahkan
bibit itu kepadaku?” “Kenapa kau tidak mau mengerti keadaanku? Aku
hanya minta kau menunda untuk tidak segera menanam bibit itu di
halaman. Jika kau ingin segera menanamnya, tanam saja di longkangan
ini” “Aku ingin menanamnya di halaman atau tidak sama sekali” jawab
Tantri. Sampurnalah yang kemudian menggamit Tantri. Terbayang di
angan-angan Sampurna, Tantri di masa kanak-kanaknya memang sering
berkelahi dengan Wisesa Tetapi setelah keduanya dewasa, maka sikap
Wisesa mulai mengarah pada bentuk hubungan yang lebih
bersunguh-sungguh. Sampurna sendiri tidak akan mencampuri tanggapan
Tantri terhadap Wisesa. Itu adalah hak dan wewenang Tantri sendiri
sepenuhnya. Namun menanggapi sikap Tantri sebagaimana masa
kanak-kanaknya itu, Sampurna ingin mencegahnya. Tantri memang
berpaling kepada kakaknya. Sementara Sampurna berkata “Sudahlah,
biarlah bibit itu ditinggal disitu” “Tetapi Wisesa berkeberatan aku
menanam di halaman” berkata Tantri. “Bukan begitu. Ia hanya minta
kau menundanya saja” sahut Sampurna. Tantri tidak menjawab. Tetapi
ia menjadi kesal bahwa kakaknya justru telah membantu Wisesa. Tetapi
dalam pada itu. Sampurna harus menahan tertawanya. Ia tahu bahwa
Laksana tadi tentu hanya sekedar mengganggu Wisesa. Tetapi karena
hati Wisesa memang lemah, maka anak muda itu segera menjadi gelisah
dan kebingungan tanpa sempat menilai kebenaran dongeng Laksana itu.
Demikianlah, maka Wisesa itu telah minta diri. Baik kepada Sampurna
maupun kepada Tantri. Namun tanggapan Tantri ternyata tidak sehangat
yang diharapkan oleh Wisesa. Meskipun demikian Wisesa masih tetap
berpengharapan bahwa Tantri akhirnya akan dapat ditundukkannya.
Apalagi jika kemudian gagasannya untuk mencari pemecahan terhadap
kesulitan yang dihadapi oleh padukuhan itu berhasil. Ia akan menjadi
orang yang dianggap penting di padukuhan Gemawang. Demikian Wisesa
keluar dari regol halaman rumah Ki Jagabaya, maka iapun dengan
tergesa-gesa melangkah menyusuri jalan pulang. Namun di sepanjang
jalan ia masih saja memikirkan sikap Ki Jagabaya. Nampaknya
perhatian Ki Jagabaya justru lebih banyak tertuju pada hasil kerja
Manggada dan Laksana daripada menilai arti dari gagasannya yang
besar itu. “Nampaknya Ki Jagabaya lebih menghargai tenaga Manggada
dan Laksana daripada kecemerlangan penalaranku” berkata Wisesa di
dalam hatinya. Namun kemudian iapun berkata “Tetapi yang penting
adalah penilaian terakhir. Rakyat padukuhan ini tentu akan mengakui
kebesaran gagasanku daripada sekedar kerja kasar Manggada dan
Laksana” Sementara itu, Manggada dan Laksana memang masih berjalan
mengitari padukuhannya yang sepi. Tidak banyak orang yang
dijumpainya. Pada umumnya mereka yang sempat diajak
berbincang-bincang meskipun hanya beberapa patah kata.
memperingatkan agar Manggada dan Laksana menjadi lebih berhati-hati.
Atau bahkan menarik diri sama sekali dari keterlibatannya dengan
persoalan Wira Sabet dan Sura Gentong. Tetapi Manggada dan Laksana
hanya dapat mengucapkan terima kasih kepada mereka. Mereka berdua
sudah bertekad untuk melibatkan diri mencari penyelesaian segera
sehingga tatanan kehidupan di padukuhan Gcmawang dapat berjalan
dengan wajar kembali. Ketika Manggada dan Laksana sampai di rumah,
maka merekapun telah menceriterakan apa yang telah mereka alami
kepada Ki Kertasana, Ki Citrabawa dan Ki Pandi. Ternyata ketiganya
tidak berkeberatan jika kedua anak muda itu meneruskan usaha mereka.
Sambil menganggukangguk kecil Ki Kertasana berkata “Jika kalian
berhasil menyelesaikan persoalan ini dengan tanpa kekerasan, maka Ki
Bekel dan Ki Jagabaya tentu akan berterima kasih. Namun demikian,
kalian tidak boleh lengah bahwa kemungkinan yang lain akan dapat
terjadi, menilik sikap dan latar belakang kedua orang itu” Manggada
dan Laksana mengangguk-angguk. Mereka memang tidak boleh lengah
meskipun agaknya Wira Sabet dapat diajak berbicara untuk memecahkan
persoalan yang sedang dihadapi oleh padukuhan Gemawang sehingga
padukuhan itu akan dapat menemukan ujud kewajarannya sebagaimana
sebelumnya. Dalam pada itu, agaknya Ki Pandi juga merasa cemas bahwa
sesuatu akan dapat terjadi atas kedua orang anak muda itu. Karena
itu, maka katanya kepada Manggada dan Laksana “Jika kalian berdua
tidak berkeberatan, ngger. Biarlah besok aku berada di rumah Ki
Resadana selama kau menunggu kedatangan Wira Sabet di halaman
rumahnya. Besok kita pergi lebih pagi dari saat-saat Wira Sabet
biasanya datang. Mudah-mudahan Ki Resa tidak berkeberatan
mengijinkan aku berada di rumahnya” Ternyata Ki Kertasana dan Ki
Citrabawa tidak berkeberatan. Mereka meyakini bahwa Ki Pandi adalah
orang yang berilmu tinggi, sehingga kehadirannya akan dapat menjadi
pelindung bagi Manggada dan Laksana apabila diperlukan. Demikianlah,
maka merekipun telah mengambil beberapa kesepakatan. Justru karena
mereka berhadapan dengan dengan orang-orang yang sifatnya masih
belum dimengerti sepenuhnya. Menjelang malam, Ki Pandi yang terbiasa
duduk-duduk di serambi bersama Manggada dan Laksana telah berada di
serambi sebagaimana biasanya setelah mereka makan malam. Namun
ketika gelap mulai menyelimuti padukuhan Gemawang, Ki Pandipun
berkata kepada kedua orang anak muda itu “Aku akan melihat halaman
rumah Wiira Sabet itu” “Malam-malam begini?” bertanya Manggada.
“Bukankah lebih aman jika aku melakukannya di malam hari?” Ki Pandi
justru bertanya. “Untuk apa Ki Pandi?” bertanya Laksana pula. “Aku
hanya ingin sekedar melihatnya” jawab Ki Pandi. “Tidak lebih dari
sebuah lingkungan yang luas, kotor dan bagaikan hutan perdu” berkata
Manggada. Ki Pandi tersenyum. Katanya “Kalian tidak usah
mengatakannya kepada orang tua kalian. Aku tidak terlalu lama”
Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sementara Ki Pandipun
kemudian turun ke halaman dan melangkah keluar pintu regol. Manggada
dan Laksana masih berada di serambi. Lampu minyak yang redup masih
berkedipan di pendapa. “Apakah Ki Pandi benar-benar akan melihat
rumah Wira Sabet yang telah kosong itu?” desis Laksana. “Mungkin”
sahut Manggada “mungkin ada sesuatu yang akan dilakukan besok”
Laksana mengangguk-angguk. Tetapi sulit menebak, apa yang akan
dilakukan oleh orang bohgkok itu. Namun keduanya berharap bahwa ki
Pandi akan tetap membantu mereka dalam segala keadaan. Ketika malam
menjadi semakin dalam, Ki Kertasana yang melihat Manggada dan
Laksana masih duduk di serambi telah mendatanginya dan bertanya
“Apakah kalian tidak akan segera pergi tidur?” “Nanti ayah” jawab
Manggada “udara di dalam terasa panas. Apalagi kami memang belum
mengantuk” Beruntunglah bahwa Ki Kertasana tidak bertanya tentang Ki
Pandi. Sambil melangkah meninggalkan keduanya, Ki Kertasana berkata
“Segera tidur. Mari sudah larut malam” “Baik ayah. Nanti sebentar
kami akan segera tidur setelah udara sedikit menjadi sejuk” jawab
Manggada. Namun Ki Kertasana itupun segera hilang di balik pintu.
Sementara itu Manggada dan Laksana masih saja duduk di serambi.
Mereka masih saja menunggu Ki Pandi yang menurut keterangannya tidak
akan terlalu lama. Tetapi ternyata sampai tengah malam, Ki Pandi
masih belum kembali. “Tetapi aku yakin bahwa ia akan kembali sebelum
pagi” desis Manggada. “Ya. Tetapi apa jawab kami jika paman atau
ayah menanyakannya?” desis Laksana. “Kita akan berkata berterus
terang” jawab Manggada. Laksana mengangguk-angguk. Dengan demikian,
maka Laksana justru tidak menjadi gelisah lagi. Namun ternyata seisi
rumah itu telah tertidur, sehingga baik Ki Kertasana maupun Ki
Citrabawa tidak lagi keluar dan bertanya apapun lagi kepada kedua
orang anak muda itu. Meskipun demikian, ketika dini hari tiba, kedua
anak muda itu menjadi gelisah lagi. Mereka tidak lagi memikirkan
pertanyaan-pertanyaan dari orang tua mereka, tetapi mereka
benar-benar gelisah tentang Ki Pandi. Apakah Ki Pandi begitu saja
meninggalkan mereka. Namun jantung mereka yang bergejolak
rasa-rasanya telah dihembus oleh angin sejuk ketika mereka melihat
seorang yang bongkok memasuki regol halaman rumah itu. Berbareng
Manggada dan Laksana bangkit berdiri. Sementara Ki Pandi justru
mengerutkan dahi. “Kalian belum tidur?” bertanya Ki Pandi. “Kami
menunggu” jawab Manggada. “Kenapa? Apakah kalian menduga bahwa aku
tidak akan kembali?” bertanya Ki Pandi. “Bukan begitu, Ki Pandi.
Tetapi rasa-rasanya tidak adil jika kami tidur nyenyak sementara Ki
Pandi sibuk sendiri sampai dini hari” jawab Manggada. Namun ternyata
ia tidak dapat menyembunyikan perasaan dan berkata dengan jujur
“Tetapi disamping itu, kami memang merasa cemas justru pada saatsaat
yang menjadi semakin gawat” Ki Pandi yang kemudian juga duduk di
amben di serambi itu tertawa. Katanya “Kalian sudah bukan anak-anak
lagi. Tetapi baiklah. Sekarang tidurlah. Aku juga akan tidur.
Bukankah masih ada waktu untuk beristirahat?” Manggada dan
Laksanapun bangkit berdiri pula ketika Ki Pandi kemudian pergi ke
biliknya. Namun Manggada dan Laksana masih juga berbicara di antara
mereka tentang Ki Pandi yang pergi sampai dini hari. Meskipun
Manggada dan Laksana baru tidur setelah dini, namun seperti biasanya
mereka bangun pagi-pagi dan melakukan pekerjaan sehari-hari mereka.
Mengisi jambangan di pakiwan dan mengisi gentong di dapur. Seperti
yang sudah direncanakan, maka Manggada dan Laksana hari itu
berangkat lebih pagi dari hari-hari sebelumnya. Mereka pergi bersama
Ki Pandi yang akan berada di rumah Ki Resadana jika Ki Resa tidak
berkeberatan. Ketika hal itu disampaikan kepada Ki Resa, maka Ki
Resa memang menjadi ragu-ragu. “Ki Pandi tidak akan keluar dari
dalam rumah ini paman” berkata Manggada meyakinkan. “Jadi untuk apa
Ki Pandi berada disini?” bertanya Ki Resa. “Ki Pandi hanya ingin
meyakinkan ayah dan paman, bahwa yang aku lakukan tidak sangat
berbahaya sebagaimana dibayangkan oleh ayah dan paman” jawab
Manggada. “Akulah yang justru memberikan gambaran bahwa yang kalian
lakukan itu sangat berbahaya” berkata Ki Resa kemudian. “Untuk
memberikan pertimbangan, maka ayah telah minta Ki Pandi untuk
melihat kemungkinan-kemungkinan yang terjadi disini” jawab Manggada.
Ki Resadana akhirnya berkata sambil menarik nafas dalamdalam
“Baiklah. Tetapi aku minta Ki Pandi tidak menampakkan diri apapun
yang terjadi Ia orang asing disini sehingga akan dapat menarik
perhatian dan bahkan mungkin menimbulkan persoalan yang
berkepanjangan” Ki Pandipun menyahut sambil mengangguk-angguk “Aku
akan tetap berada di dalam Ki Resa. Aku juga tidak akan berani
keluar rumah, apalagi jika orang-orang yang ditakuti itu sudah
datang, aku hanya ingin mendengarkan dari dalam rumah ini sejauh
dapat aku tangkap dengan telinga tuaku” “Ya. Sebagian pembicaraan di
sebelah dinding memang dapat didengar jika kita berdiri melekat di
dinding halaman di belakang gandok” jawab Ki Resa. “Jika kita
berdiri di tempat itu, apakah kita dapat dilihat dari luar halaman
ini?” “Tidak” jawab Ki Resa “aku juga sering mendengarkan
pembicaraaan anak-anak itu dengan Wira Sabet dari belakang dinding
justru karena aku mencemaskan keadaan mereka. Tetapi jika
orang-orang di halaman sebelah meloncati dinding batas halaman itu,
mereka akan melihat bahwa kita sedang memperhatikan dan mendengarkan
pembicaraan mereka” Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya kemudian
“Jika demikian aku akan dapat mendengarkan dari balik dinding itu”
“Tetapi kita harus berhati-hati. Jika nafas kita dapat didengar dari
sebelah, maka nasib kita. akan menjadi sangat buruk” Ki Pandi masih
saja mengangguk-angguk. Katanya “Aku akan berhati-hati, karena aku
tahu akibat yang terjadi jika mereka mengetahuinya” Demikianlah, Ki
Resadana memang tidak dapat menolak meskipun sebenarnya labih baik
baginya jika tidak ada orang lain di halaman rumahnya. Demikianlah,
maka Manggada dan Laksanapun kemudian telah memasuki halaman rumah
Wira Sabet yang kotor itu. Seperti kemarin, mereka menunggu Wira
Sabet datang untuk memberi keterangan apakah Wira Sabet dan Sura
Gentong bersedia untuk berbicara dengan para bebahu padukuhan
Gemawang. Seperti yang dijanjikan, maka Wira Sabet telah datang pada
waktunya. Seperti kemarin, Wira Sabet datang bersama Pideksa dan dua
orang kawannya. Manggada dan Laksanapun segera menyongsongnya.
Dengan nada tinggi Manggada berkata “Selamat pagi paman. Kami juga
baru saja datang” Wira Sabet mengangguk sarnbil menjawab “Selamat
pagi. Kami datang sedikit lebih siang dari kemarin” “Aku kira tidak
paman. Matahari itu baru saja naik sepenggalah. Sinarnya belum
menggatalkan kulit” “Baiklah” berkata Wira Sabet kemudian dengan
nada yang justru agak lunak “Aku akan langsung pada persoalannya”
“Ya, paman. Kami memang menunggu-nunggu” desis Manggada. “Aku sudah
membicarakan pesan para bebahu padukuhan ini. Aku sudah berbicara
dengan Sura Gentong dan Ki Sapa Aruh. Tetapi ternyata mereka
berpendapat lain” jawab Wira Sabet. “Maksud paman?” bertanya
Manggada dengan jantung yang berdebar-debar. “Aku semula setuju
untuk berbicara, mencari kemungkinankemungkinannya. Kami akan
mengajukan syarat-syarat untuk menapak pada satu keadaan yang lebih
baik daripada sekarang. Tetapi banyak yang tidak aku mengerti. Sura
Gentong dan Ki Sapa Aruh banyak memberikan pengertian kepadaku,
bahwa usaha itu tidak lebih dari satu jebakan dan pengkhianatan”
jawab Wira Sabet. “Kenapa sebuah jebakan dan pengkhianatan? Apakah
paman kira, kami masih mempunyai kemungkinan untuk menjebak paman?”
bertanya Manggada. “Segala kemungkinan dapat terjadi, Manggada”
sahut Pideksa “kami sudah membicarakannya dengan panjang lebar.
Hampir saja aku terpengaruh oleh kenangan masa kanakkanakku,
sehingga aku mencoba menentang sikap paman Sura Gentong. Namun
setelah aku mendapat penjelasan dari paman Sura Gentong dan Ki Sapa
Aruh, aku baru menyadari, bahwa pembicaraan tidak akan membuahkan
apa-apa bagi kami selain kemungkinan buruk itu. Jebakan dan
penghianatan” “Paman“ Manggada berusaha menjelaskan “kami bersikap
jujur. Jika kami menjebak paman, kenapa tidak kami lakukan sekarang
atau saat paman memasuki padukuhan ini besok atau lusa atau kapan
saja? Tidak paman. Kami tidak mempunyai keberanian untuk itu.
Sementara itu, orang-orang padukuhan ini menganggap bahwa melihat
paman dari kejauhan saja akan dapat mendatangkan malapetaka baginya
dan keluarganya. Siapa yang berani menyebut nama paman dan apalagi
mencerca nama paman, maka rasa-rasanya orang itu akan tersuruk ke
dalam bencana. Nah, dalam keadaan yang demikian, siapa yang berani
menjebak dan berkhianat kepada paman Wira Sabet, paman Sura Gentong
dan Ki Sapa Aruh yang belum aku kenal” “Luar biasa“ Pideksalah yang
berdesis “kau adalah anak muda yang sangat berani. Selama ini aku
mengamati tingkah laku orang-orang padukuhan ini. Tidak seorangpun
yang berani berpapasan dengan ayah dan paman Sura Gentong. Seperti
yang kau katakan, siapa yang sempat melihat ayah dan paman dari
kejauhan, mereka akan mengalami malapetaka. Tetapi ternyata bahwa
kau masih juga berani menemui ayah sekarang ini” “Aku terlalu yakin
akan maksud baikku Pideksa. Aku yakin pula bahwa paman Wira Sabet
masih juga sempat mendengarkan kata nuraninya sebagai anak kampung
halaman ini. Dasar itulah yang mendorong aku untuk berani melakukan
hal ini sekarang. Seberapa dalam dendam terpahat di hati paman Wira
Sabet dan paman Sura Gentong, sedalam dendam yang terukir di hati Ki
Jagabaya, namun aku yakin, bahwa lebih dalam lagi hasrat yang
mendorong paman dan Ki Jagabaya untuk menemukan satu landasan awal
bagi masa depan padukuhan ini” Wira Sabet itupun menarik nafas
dalam-dalam. Sementara Pideksa itupun berkata “Aku mengerti
Manggada. Tetapi ayah tidak berdiri sendiri. Itulah sebabnya, ayah
tidak dapat mengambil keputusan sendiri, apalagi yang menyimpang
dari rencana yang sudah disusun dengan mapan oleh ayah, paman dan Ki
Sapa Aruh” Manggada termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba saja
Manggada dan Laksana terkejut. Seorang yang berwajah garang memasuki
halaman rumah yang kotor itu. Sura Gentong. Dengan wajah yang garang
ia memandang Manggada dan Laksana yang sedang berbicara dengan Wira
Sabet. “Paman Sura Gentong” sapa Manggada. Tetapi sikap Sura Gentong
memang berbeda dengan Sikap Wira Sabet. Ketika Manggada beringsut
untuk mendekat, Sura Gentong berkata lantang “Tetap di tempatmu, aku
akan pancung kepalamu” Manggada tertegun sejenak. Namun seperti juga
Laksana, maka Manggadapun segera mengetahui, bahwa ternyata Sura
Gentpng jauh lebih kasar dari Wira Sabet. “Inikah bocah edan itu?”
geram Sura Gentong. “Ia baru pulang beberapa hari yang lalu, paman”
Pideksa yang menjawab. “Aku tidak peduli. Orangorang yang berani
menatap wajah Wira Sabet dan Sura Gentong akan dibuat jera untuk
selama-lamanya” berkata Sura Gentong. “Maksud paman?” bertanya
Pideksa. “Orang itu akan menjadi buta. Tetapi bagi orang yang belum
mengenal kami dengan baik, maka dosanya akan diperingan. Ia akan
menjadi buta matanya sebelah” “Itu tidak perlu” desis Wira Sabet.
“Ia benar-benar orang baru disini” sambung Pideksa. “Aku tidak
peduli. Tetapi ia adalah kaki tangannya jagabaya yang tamak itu.
Orang yang telah membantu Ki Jagabaya akan mendapat hukuman
tersendiri” berkata Sura Gentong. Namun tiba-tiba Wira Sabet berkata
“Pergilah. Kali ini kau diampuni” “Tunggu" geram Sura Gentong
“apakah kakang sudah mengatakan syarat yang kami minta sebelum
pembicaraan dilakukan?” Wira Sabet menarik nafas dalam-dalam.
Katanya “Aku sudah mengatakan, bahwa pembicaraan itu tidak akan
dapat dilakukan kapanpun dimanapun” “Bukan begitu pesan Ki Sapa
Aruh” berkata Sura Gentong “Ki Sapa Aruh mengisyaratkan bahwa
pembicaraan itu dapat saja dilakukan. Tetapi dengan syarat, semua
bebahu padukuhan meletakkan jabatan. Ki Sapa Aruh akan memegang
jabatan Bekel. Kakang Wira Sabet menjadi Kami Tuwa dan aku menjadi
Jagabaya.” Wajah Manggada dan Laksana terasa menjadi panas. Namun
keduanya tidak mengatakan sesuatu. Sementara itu Wira Sabet berkata
lagi “Cepat pergi. Kalian diampuni kali ini. Tetapi untuk
selanjutnya, jika kalian berani menatap wajah kami, maka mata kalian
akan menjadi buta” “Masih belum selesai” berkata Sura Gentong “masih
ada satu syarat lagi. Karena Ki Jagabaya telah membunuh perempuan
calon isteriku, maka ia harus menggantinya. Aku inginkan Tantri
menjadi isteriku” Telinga Laksana bagaikan tersentuh bara. Namun
ketika ia beringsut, maka Manggada telah menggamitnya. Namun dalam
pada itu, sebelum Wira Sabet mengusir lagi kedua anak muda itu, Sura
Gentong justru berkata “Aku akan pergi. Jika aku lebih lama disini,
aku akan benar-benar membuat sebelah mata anak-anak itu menjadi
buta” Tanpa menunggu jawaban, maka Sura Gentong itupun segera
meninggalkan halaman rumah Wira Sabet itu. Wira Sabet, Pideksa dan
kedua orang kawannya termangumangu sejenak. Namun kemudian Wira
Sabet itupun berkata “Sebaiknya kau tidak melibatkan diri dalam hal
ini. Temui Ki Jagabaya, katakan syarat yang sudah terlanjur
diucapkan oleh Sura Gentong itu yang semula ingin aku sembunyikan
saja. Kemudian kau menarik diri dari persoalan ini. Sebaiknya
kalian, selalu berada di rumah. Agaknya itu akan lebih baik bagi
kalian” Manggada dan Laksana tidak menjawab. Sementara itu Pideksa
berkata “Bukankah segala-galanya sudah berubah? Aku tidak dapat
menjadi cengeng dengan mengenang masa lalu, karena masa lalu tidak
akan pernah datang kembali, betapapun kerinduan menusuk sampai ke
pusat jantung. Hatihatilah Manggada. Sebaiknya kau minggir saja dari
persoalan ini. Aku tahu bahwa kau tentu berkeberatan. Kau termasuk
anak yang keras kepala, berani dan bengal. Tetapi kau cerdas dan
bandel” Pideksa tidak menunggu jawaban. Iapun kemudian memberi
isyarat kepada ayahnya untuk meninggalkan tempat itu. Namun di regol
ia berkata “Ayah masih tetap mengijinkanmu memanjat pohon duwet dan
pohon manggis itu” Manggada dan Laksana sama sekali tidak menjawab.
Baru setelah mereka pergi, keduanya menarik nafas dalam-dalam. “Sura
Gentonglah yang sudah menjadi gila” geram Manggada. “Nampaknya tidak
ada jalan lain kecuali dengan kekerasan” desis Laksana. Manggada
menarik nafas dalam-dalam. Namun dalam pada itu, keduanya terkejut
ketika mereka mendengar semak tersibak. Ketika mereka berpaling dan
bergeser selangkah, maka mereka melihat sekilas dua ekor harimau
hilang di balik semak-semak yang banyak terdapat di halaman yang
luas itu. Kedua orang anak muda itu saling berpandangan. Merekapun
yakin bahwa kedua ekor harimau itu adalah harimau Ki Pandi.
Merekapun segera tahu pula bahwa selama Ki Pandi pergi semalam,
tentu Ki Pandi telah memanggil harimaunya. “Kecuali dengan,
serulingnya, Ki Pandi mempunyai cara berhubungan dengan kedua ekor
harimaunya dari jarak jauh” berkata Manggada kemudian. Laksana
mengangguk-angguk. Namun iapun bergumam “Kenapa Wira Sabet dan Sura
Gentong tidak kita selesaikan sama sekali. Kita tahu disini ada Ki
Pandi. Apalagi ada dua ekor harimaunya. Seandainya Ki Sapa Aruh dan
orangorangnya masih mendendam, maka kekuatan mereka telah jauh
menyusut tanpa Wira Sabet dan Sura Gentong” “Tetapi sasaran dendam
Ki Sapa Aruh tentu tidak pandang bulu. Orang-orang padukuhan ini
akan mengalami nasib buruk, karena kita tidak akan dapat berada di
segala tempat. Sementara Ki Sapa Aruh akan dapat mengirimkan
orangorangnya kemanapun yang dikehendaki” jawab Manggada. Laksana
menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun kemudian mengangguk sambil
berdesis “Ya. Ki Sapa aruh dapat berbuat licik sekali” “Kecuali jika
kita sempat mematangkan perlawanan orangorang padukuhan ini” berkata
Manggada. Laksana tidak menjawab. Tetapi ia masih saja
mengangguk-angguk. Demikianlah, maka Manggada dan Laksanapun
kemudian keluar dari halaman rumah yang kotor itu. Demikian mereka
turun ke jalan, maka merekapun melihat Ki Pandi dan Ki Resadana
keluar dari pintu regol. “Nampaknya sulit untuk dapat berbicara
dengan mereka” berkata Laksana. “Kami dari balik dinding mendengar
pembicaraan kalian dengan Wira Sabet dan kemudian Sura Gentong”
berkata Ki Pandi. “Kami berdua akan berbicara dengan Ki Jagabaya”
berkata Manggada. “Tetapi siapa yang dimaksud dengan Tantri?”
bertanya Ki Pandi. “Seorang gadis kemarin sore“ Ki Resadanalah yang
menyahut “umurnya masih belum setua Pideksa” “Ya. Lebih muda dari
Pideksa. Ia pantas menjadi anak bungsu Sura Gentong jika ia
mempunyai sepuluh orang saudara” sahut Laksana. Ki Pandi
mengangguk-angguk. Katanya “Nampaknya memang sulit untuk berbicara
dengan Sura Gentong. Sebenarnya tanpa pengaruh Sura Gentong dan Ki
Sapa Aruh, Wira Sabet masih dapat diajak berbicara. Tetapi tidak
demikian halnya dengan Sura Gentong” Ki Resa mengangguk-angguk.
Namun dengan nada cemas ia berkata “Sudahlah ngger. Sebaiknya kalian
berdua tidak usah turut campur. Atau bahkan sebaiknya kalian kembali
saja ke tempat kalian selama ini tinggal” “Mungkin kami berdua dapat
mengungsi, paman. Tetapi bagaimana dengan ayah dan ibu?” jawab
Manggada. “Jika perlu bawa saja ayah dan ibu kalian bersama kalian”
jawab Ki Resa. “Nampaknya ayah dan ibu tentu berkeberatan. Disini
mereka dilahirkan. Disini sawah dan tanah pategalan mereka digelar.
Apakah semuanya itu harus ditinggalkan tanpa melakukan pembelaan
sama sekali?” “Pembelaan? Apa maksudmu? Apakah kalian akan melawan
Wira Sabet dan Sura Gentong?” bertanya Ki Resa. “Jika tidak
demikian, maka setidak-tidaknya kami mendapatkan penyelesaian yang
terbaik” jawab Manggada. Ki Resa menarik nafas dalam-dalam, la sudah
berusaha menemui orang tua kedua anak muda itu. Namun ternyata kedua
anak muda itu sama sekali tidak menarik diri. Bahkan orang tua
mereka agaknya tidak dengan keras melarang mereka. Namun dengan
demikian, timbul sedikit sentuhan di hati Ki Resadana. Jika
anak-anak yang untuk waktu yang lama sudah meninggalkan kampung
halamannya masih menganggap perlu untuk berbuat sesuatu bagi
kebaikan padukuhannya, apakah Ki Resa justru akan mengingkari
tugas-tugas semacam itu?. Namun bagaimanapun juga yang dilakukan
oleh anak-anak muda itu memerlukan keberanian. Dan keberanian itu
tidak dimilikinya dan tidak pula dimiliki oleh orang-orang padukuhan
itu. Dalam pada itu, maka Manggada, Laksana dan Ki Pandipun kemudian
telah minta diri kepada Ki Resa. Mereka akan memberian laporan
tentang kewajiban yang mereka pikul untuk bertemu dan berbicara
dengan Wira Sabet dan bahkan Sura Gentong kepada Ki Jagabaya. Ki
Resapun kemudian hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya melihat
kesungguhan kedua orang anak muda itu untuk berbuat sesuatu bagi
padukuhan mereka. Seperti yang direncanakan, maka kedua orang anak
muda itu memang pergi ke rumah Ki Jagabaya. Namun Ki Pandi tidak
pergi bersama mereka. Tetapi Ki Pandi berniat langsung kembali ke
rumah Ki Kertasana. Namun sebelum mereka berpisah, Laksana sempat
bertanya “Apakah kedua ekor harimau itu akan tetap berada disana?”
“Tidak. Biarlah malam nanti keduanya kembali ke hutan. Tetapi tidak
perlu hutan yang kita pergunakan untuk Tapa Ngidang itu. Tetapi
hutan yang lebih dekat di sebelah Barat padukuhan ini. Meskipun
hutan itu kecil, namun kedua ekor harimau itu tidak akan menjadi
kelaparan sebagaimana jika keduanya tetap berada di halaman rumah
itu. Bahkan jika keduanya kelaparan, mereka akan dapat berbuat
hal-hal yang tidak sepatutnya mereka lakukan?” “Apakah mereka dapat
menyerang seseorang?” bertanya Laksana. “Tanpa perintahku tidak.
Tetapi mereka sering melakukannya terhadap seekor ternak, jika
benar-benar kelaparan” jawab Ki Pandi. Manggada dan Laksana
mengangguk-angguk. Sementara itu, maka merekapun telah sampai ke
simpang tiga. Manggada dan Laksana berbelok ke kiri, sedangkan Ki
Pandi berbelok ke kanan. Demikianlah, beberapa saat kemudian, maka
keduanya telah sampai di rumah Ki Jagabaya. Ternyata Ki Jagabaya
tidak sedang bepergian. Namun, lebih dahulu dari mereka berdua,
Wisesa telah berada di rumah itu pula. Sampurna seperti biasanya
mempersilahkan Manggada dan Laksana duduk di serambi bersama Wisesa.
Kepada Tantri yang ada di dapur, Sampurna minta agar ia membuat
minuman lagi bagi kedua orang tamu yang datang kemudian itu.
Seterusnya Sampurna telah menemui ayahnya untuk memberitahukan
kedatangan Manggada dan Laksana. “Baiklah” berkata Ki Jagabaya
“sebentar lagi aku datang” Ketika kemudian Sampurna duduk lagi di
serambi, maka Tantri telah menghidangkan minuman dan makanan bagi
Manggada dan Laksana yang duduk bersama Wisesa. “Darimana saja
kalian berdua?” bertanya Tantri. “Aku baru saja pergi ke rumah paman
Wira Sabet” jawab Manggada. Namun sementara itu Laksana sibuk
memperhatikan Tantri. Apa jadinya jika gadis cantik itu benarbenar
harus diserahkan kepada Sura Gentong untuk menebus dendam yang
menyala di hati orang yang garang itu. “Apakah kalian bertemu dengan
Wira Sabet?” bertanya Tantri pula. “Ya” jawab Manggada “bahkan juga
paman Sura Gentong” “Jadi kalian bertemu juga dengan Sura Gentong?”
bertanya Sampurna?” “Ya“ Manggada mengangguk-angguk. Lalu katanya
pula “Karena itu aku langsung datang kemari untuk melaporkannya
kepada Ki Jagabaya” “Apa kata mereka?” bertanya Wisesa “apakah
mereka menerima gagasan besarku demi kesejahteraan padukuhan ini?”
Manggada termangu-mangu sejenak. Namun Sampurnalah yang menjawab
“Biarlah kita menunggu ayah. Manggada dan Laksana akan memberikan
laporan kepada ayah” “Apa bedanya? Aku adalah seorang yang telah
melahirkan gagasan besar itu” berkata Wisesa “bukankah kita akan
membicarakan bersama pada akhirnya?” “Baiklah” berkata Sampurna
“karena itu, sebaiknya kita menunggu ayah” Wisesa mengerutkan
dahinya. Sebelum ia menjawab Tantri telah bangkit dan melangkah
meninggalkan serambi itu. Sejenak kemudian, maka Ki Jagabayapun
telah ikut duduk di serambi itu bersama Manggada, Laksana dan
Wisesa. Ki Jagabaya itupun segera bertanya “Apakah kau bertemu
dengan Wira Sabet dan Sura Gentong?” “Ya, Ki Jagabaya. Aku telah
bertemu dengan mereka berdua” “Apakah kau membicarakan tentang satu
kemungkinan untuk mengadakan satu pembicaraan?” bertanya Ki
Jagabaya. “Ya, sesuai dengan gagasanku” sahut Wisesa. Manggada
memandang Wisesa sekilas. Namun ia tidak menghiraukannya lagi. “Kami
sudah mencoba untuk berbicara dengan mereka Ki Jagabaya. Sebenarnya
aku yakin bahwa paman Wira Sabet akan dapat mengerti dan menerima
rencana pembicaraan itu” jawab Manggada.. “Karena itu adalah gagasan
terbaik yang dapat dilahirkan oleh seseorang dalam keadaan seperti
ini” sahut Wisesa. Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi
iapun kemudian mengangguk-angguk sambil berdesis “Ya. Gagasan
terbaik” Manggadapun kemudian telah melaporkan pertemuannya dengan
Wira Sabet dan Sura Gentong. Manggada menceriterakan perbedaan sikap
antara kakak beradik itu. “Apakah syarat yang telah diajukan oleh
Sura Gentong?” bertanya Ki Jagabaya. Satu persatu Manggada
menguraikan syarat-syarat yang dikehendaki oleh Sura Gentong dan Ki
Sapa Aruh. Justru karena Tantri telah meninggalkan serambi Itu, maka
Manggadapun berkata “Syarat terakhir yang dikehendaki oleh Sura
Gentong adalah ganti atas meninggalnya bakal isterinya saat itu”
“Tetapi perempuan itu membunuh diri” berkata Ki Jagabaya “namun
nampaknya Sura Gentong menuduh bahwa aku telah membunuhnya. Atau
seandainya sebenarnya ia mengetahui, tetapi ia tentu akan
berpura-pura tidak mengetahuinya. Dengan demikian maka ia akan dapat
menuntut ganti atas kematian isterinya” “Agaknya memang demikian Ki
Jagabaya” jawab Manggada. Namun kemudian Ki Jagabaya itu berkata
“Apakah ia juga mengatakan ganti seperti apa yang dikehendakinya?”
Jantung Manggadapun menjadi berdebar-debar. Rasarasanya sulit untuk
mengatakannya, bahwa Sura Gentong menghendaki Tantri, gadis Ki
Jagabaya itu. Sejenak Manggada memandang Laksana. Tetapi Laksana
menundukkan kepalanya. Akhirnya, meskipun betapa berat bibirnya
bergerak, Manggada harus mengatakannya “Ki Jagabaya Yang dikehendaki
Sura Gentong adalah Tantri” “Tantri“ suara Ki Jagabaya menghentak.
Wajahnya menjadi merah. Demikian pula Sampurna. Bahkan Wisesa.
Dengan suara bergetar Wisea berkata “Gila. Apakah Sura Gentong sudah
gila? Berapa umur Sura Gentong. Dan berapa umur Tantri” “Ya” desis
Manggada “Sura Gentong agaknya, memang sudah gila” Tetapi tiba-tiba
Wisesa terkejut. Ia sudah mengumpati Sura Gentong. Wisesa sadar,
bahwa ia telah melakukan kesalahan yang sangat besar. Jangankan
mengumpati, mencercanya saja, seseorang akan dapat mengalami
bencana. Wajah Wisesa menjadi pucat. Keringat dingin mengalir dari
seluruh tubuhnya. Tetapi ia sudah terlanjur mengucapkannya. Tetapi
Manggada dan Laksana mengira bahwa Wisesa itu menjadi demikian
marahnya, sehingga wajahnya justru menjadi pucat dan keringatnya
membasahi pakaiannya. Ki Jagabayalah yang benar-benar menjadi marah.
Dengan geram ia berkata “Angger berdua. Jika Ki Sapa Aruh ingin
menjadi Bekel, Wira Sabet menghendaki kedudukan Kami Tuwal dan Sura
Gentong sendiri ingin merampas kedudukanku sebagai Jagabaya, jika
hal itu diterima oleh rakyat padukuhan Gemawang, aku tidak akan
berkeberatan. Tetapi permintaannya yang terakhir membuat telingaku
menjadi panas. Agaknya Sura Gentong benar-benar mencari alasan untuk
melakukan kekerasan di paduuhan ini” “Agaknya memang demikian Ki
Jagabaya “Laksanalah yang menyahut “Aku juga berpendapat, bahwa
tidak ada jalan lain kecuali menghancurkan Sura Gentong dan Ki Sapa
Aruh. Jika keduanya dapat di lenyapkan, maka Wira Sabet sendiri
tentu masih dapat mempergunakan penalarannya. Demikian pula agaknya
dengan anaknya, Pideksa” “Manggada dan Laksana” berkata Ki Jagabaya
kemudian “aku berterima kasih atas kesediaan kalian membantu mencari
penyelesaian sebaik-baiknya atas persoalan yang terjadi di padukuhan
ini. Tetapi ternyata kalian telah terbentur pada sikap yang keras
dan menyakitkan hati. Itu bukan salah kalian. Karena itu, agaknya
aku tidak mempunyai pilihan lain. Aku akan mempersiapan diri
menghadapi mereka apapun yang terjadi. Mungkin keluarga kami akan
ditumpas habis. Tetapi aku tidak berkeberatan karena aku menganggap
hal itu lebih baik daripada memenuhi permintaan mereka” “Ki Jagabaya
tidak sendiri” berkata Laksana “sejak kami menghadap, kami sudah
menyatakan bahwa keluarga kami akan berdiri di belakang Ki Jagabaya.
Apapun yang terjadi, karena padukuhan ini adalah padukuhan kami,
kampung halaman kami” “Tetapi kau tahu bahwa Wira Sabet dan Sura
Gentong memiliki kekuatan yang besar sehingga melawan mereka akan
dapat berakibat sangat buruk” berkata Ki Jagabaya. “Itu sudah kami
perhitungkan” jawab Manggada. Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Katanya
“Aku sangat berterima kasih. Nanti aku akan menemui Ki Bekel. Aku
akan minta pendapatnya untuk yang terakhir kalinya. Jika Ki Bekel
masih saja ragu-ragu, aku akan meninggalkannya” Dalam pada itu,
tiba-tiba saja Sampurna berkata kepada Wisesa “Bagaimana dengan kau
Wisesa? Kau sudah mendengar betapa menyakitkan hati tuntutan Sura
Gentong itu?. Gagasanmu yang besar itu ternyata merupakan satu
alasan yang paling baik bagi Sura Gentong untuk menghina keluarga
kami. Nah, kami memang harus mempertimbangkannya, apakah kami akan
menyerahkan Tantri atau tidak” “Tentu tidak” desis Wisesa. Sampurna
termangu-mangu sejenak. Namun dalam kekalutan pikiran, Ki Jagabaya
mengerti maksud anak lakilakinya. Karena itu, ia tidak menyela
pembicaraan anaknya dengan Wisesa. Sementara itu, Sampurnapun
bertanya “Apa yang harus kita lakukan jika Sura Gentong itu datang
kemari dan minta untuk membawa Tantri sekarang ini?” Wajah Wisesa
yang pucat menjadi semakin pucat. Setiap kali ia teringat bahwa ia
terlanjur mengumpati Sura Gentong. ”Satu tindakan yang sangat
disesalinya” Namun tiba-tiba Sampurna bertanya “Jika Sura Gentong
itu datang untuk mengambil Tantri, apakah kau bersedia
menghalanginya dengan cara apapun juga?” Wisesa tergagap. Ia tidak
dapat segera menjawab pertanyaan itu. Bahkan rasanya ia menjadi
semakin ketakutan, sehingga tubuhnya menjadi sangat dingin. Karena
Wisesa tidak segera menjawab, maka Sampurna berkata “Tetapi aku
yakin, bahwa akan ada orang yang membantu kami mempertahankannya
seandainya kau tidak bersedia melakukan itu Wisesa” Perasaan Wisesa
justru telah terguncang-guncang, la manjadi sakit hati jika ada
orang yang berjasa melindungi Tantri. Tetapi ia sendiri tidak berani
melakukannya, karena Wira Sabet dan Sura Gentong tidak ubahnya
sebagai siluman yang sangat menakutkan baginya. Namun justru karena
itu, maka Wisesa bahkan menjadi bagaikan orang yang kehabisan akal.
Keringatnya sajalah yang mengalir semakin deras. Manggada dan
Laksana yang mengerti maksud Sampurna, sama sekali tidak menyahut.
Mereka bahkan hanya berdiam diri saja. Namun akhirnya Sampurnapun
tidak lagi menyudutkan Wisesa. Tetapi ia berkata bersunguh-sungguh
kepada Manggada dan Laksana “Jika demikian, maka kita harus
mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Setiap saat suasana yang panas
ini akan dapat meledak” “Kami menunggu perintah Ki Jagabaya” berkata
Manggada “jika kami mendengar isyarat, kami akan segera datang”
“Baiklah“ Ki Jagabayalah yang menyahut “seperti yang aku katakan
tadi, aku akan menemui Ki Bekel. Keadaan sudah memuncak. Agaknya
memang tidak ada jalan lain kecuali dengan kekerasan” Demikianlah,
maka Manggada dan Laksanapun kemudian telah minta diri. Sementara
itu Wisesapun bertanya “Apakah kau akan lewat jalan Selatan?”
“Kenapa?” bertanya Manggada. “Kita dapat berjalan bersama-sama”
jawab Wisesa. Manggada menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu bahwa
Wisesa menjadi tiba-tiba menjadi ketakutan, sehingga ia memerlukan
kawan untuk berjalan pulang. Karena itu, maka iapun menjawab “Aku
dapat lewat jalan mana saja. Meskipun sedikit berputar, baiklah, aku
akan pulang lewat jalan Selatan” Hampir saja Laksana mengganggunya
lagi. Tetapi Manggada sudah memandanginya dengan sikap yang
bersunguh-sungguh sehingga Laksanapun telah mengurungkan niatnya.
Sejenak kemudian, maka Sampurna, Tantri dan ibunya telah melepas
Manggada dan Laksana pulang bersama Wisesa, sementara Ki Jagabayapun
akan pergi ke rumah Ki Bekel. Di sepanjang jalan Wisesa yang
berjalan tergesa-gesa sama sekali tidak mengatakan sesuatu. Ia
berjalan paling depan. Namun sekali-sekali ia berpaling sambil
berkata “Marilah. Kenapa kalian berjalan sangat lamban?” Tetapi
Laksana justru bertanya “Kenapa kau tergesa-gesa?” “Aku masih
mempunyai banyak pekerjaan di rumah” jawab Wisesa. Namun Laksana
menjawab lagi “Aku tidak. Jika aku tergesagesa, aku akan mengambil
jalan lain yang lebih dekat dari jalan ini” Wisesa terdiam. Ia
berusaha menahan perasaannya yang bergejolak. Kebenciannya kepada
kedua orang anak muda itu menjadi semakin meningkat. Sejak
kanak-kanak ia memang tidak begitu senang berkawan dengan Manggada
yang dianggapnya sangat nakal, keras kepala dan bengal. Tetapi
Manggada itu terlalu dekat dengan Tantri. Meskipun keduanya sering
berkelahi, tetapi setiap kali keduanya telah menjadi rukun kembali.
Sedangkan kepada Laksana, Wisesa tidak menyukainya demikian ia
mengenalnya. Wisesa masih tetap berjalan di paling depan. Namun
begitu ia melihat regol rumahnya, maka iapun berkata “Aku tidak
telaten berjalan bersama orang-orang malas. Kenapa kau mengambil
jalan ini? Sebaiknya aku berjalan saja dahulu” Wisesa tidak menunggu
jawaban, la berjalan semakin cepat. Bahkan kemudian berlari-lari
kecil masuk ke dalam regol halamannya tanpa berpaling lagi. Laksana
tertawa. Tetapi ia tidak berkata sesuatu. Ketika mereka sampai di
rumah, maka merekapun segera menceriterakan pertemuan mereka dengan
Wira Sabet dan Sura Gentong. Meskipun sebagian telah diceriterakan
oleh Ki Pandi yang telah mendahului pulang, namun Manggada dan
Laksana masih juga dengan bersungguh-sungguh menceriterakan kembali.
Merekapun juga berceritera bahwa mereka telah singgah di rumah Ki
Jagabaya dan memberikan laporan tentang pembicaraan mereka dengan
Wira Sabet dan Sura Gentong. “Apa yang dikatakan oleh Ki Jagabaya?”
bertanya Ki Kertasana. “Ki Jagabaya menjadi sangat marah, la
bertekad untuk melawan Wira Sabet dan "Sura Gentong meskipun
keduanya telah bekerja sama dengan Ki Sapa Aruh” jawab Manggada. Ki
Kertasana menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Nampaknya segala usaha
memang akan sia-sia jika sikap Sura Gentong demikian kasarnya.
Apaboleh buat jika harus diselesaikan dengan kekerasan” “Kita memang
tidak mempunyai pilihan lain. Hanya soal waktu sajalah yang
menentukan benturan kekerasan yang bakal terjadi. Tetapi kita tidak
tahu seberapa banyak sebenarnya kekuatan lawan itu. Kita juga tidak
tahu tataran kemampuan mereka” berkata Ki Pandi. Ki Kertasana, Ki
Citrabawa. Manggada dan Laksanapun mengangguk-angguk. Mereka megerti
maksud Ki Pandi. Namun mereka memang tidak mempunyai gambaran,
bagaimana caranya mereka dapat mengetahui kekuatan lawannya itu.
Sementara itu tidak seorangpun tahu, dimana Wira Sabet dan Sura
Gentong tinggal. Apalagi Ki Sapa Aruh. Agaknya mereka akan mengalami
kesulitan untuk bertanya kepada siapapun tentang kedua orang itu.
Seandainya ada yang pernah melihat, tentu tidak lebih dari arah
kedatangan mereka. Terutama Wira Sabet yang memang lebih sering
nampak daripada Sura Gentong. Itupun agaknya sulit memancing
keterangan mereka. Dalam pada itu, maka Manggadapun berkata “Untuk
sedikit mengurangi ketakutan yang mencengkam orang-orang padukuhan
Gemawang, maka kita memang harus berbuat sesuatu. Jika keberatan
mereka serba sedikit timbul, maka mereka akan berbicara setidaknya
dimana mereka pernah melihat Wira Sabet atau dari mana ia datang.
Mungkin kita dapat menelusuri dan mengetahui tempat tinggal mereka”
“Tetapi itu berbahaya sekali ngger” desis Ki Pandi. “Bukankah kita
perlu mengetahui gambaran kekuatan mereka?” desis Mangagada. “Tetapi
tentu tidak dengan cara itu” sahut Ki Pandi. “Jadi, apa yang
sebaiknya kita lakukan?” “Kita akan menyiapkan kemampuan yang ada
pada kita setinggi-tingginya. Untuk sementara hanya itu yang dapat
kita lakukan” jawab Ki Pandi. Manggada mengangguk-angguk. Demikian
pula Laksana. Namun tiba-tiba saja Manggada berkata “Aku ingin
membangunkan orang-orang padukuhan ini dengan cara yang lain. Kami
berdua akan mengelilingi padukuhan ini berkuda. Aku akan mengajak
Sampurna, anak Ki Jagabaya” “Untuk apa?”bertanya Ki Kertasana.
“Untuk membesarkan hati orang-orang padukuhan ini” jawab Manggada.
“Jika kalian bertemu dengan Wira Sabet atau orangorangnya yang
tersinggung atas perbuatan kalian?” bertanya Ki Kertasana. “Apaboleh
buat” jawab Manggada “kekerasan nampaknya tidak dapat dihindari.
Seandainya akan menjadi api yang menyulut pertempuran, bukankah kita
sudah siap meskipun kita belum mengetahui dengan pasti besarnya
kekuatan mereka?” Ki Kertasana menarik nafas dalam-dalam. Sementara
Manggada berkata “Tetapi jika benturan kekerasan itu memang harus
terjadi, biarlah terjadi. Keadaan padukuhan ini harus segera
berubah” Orang-orang tua yang mendengar ketetapan hati Manggada itu
hanya menarik nafas panjang. Anak semuda Manggada biasanya memang
ingin memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapinya dengan cepat.
Apalagi setelah cara lain yang lebih lunak sudah ditempuh dan tidak
berhasil. Karena itu, maka Ki Kertasana itupun hanya berpesan
“Tetapi berhati-hatilah. Kita menghadapi bukan saja orangorang yang
mendendam, tetapi juga orang-orang yang tamak seperti Ki Sapa Aruh
yang memanfaatkan keadaan dan memTiraikasih Website http://kangzusi.com/ peralat Wira
Sabet dan Sura Gentong untuk kepentingannya sendiri” “Baik ayah”
jawab Manggada, sementara Laksana berkata “Semakin lama keadaan ini
berlangsung, maka orang-orang padukuhan ini akan menjadi semakin
ketakutan dan bahkan tidak berani membuka pintu rumahnya, sehingga
jika lumbung padi mereka sudah kosong, maka mereka akan dapat
menjadikelaparan. Bahkan meskipun padi disawah menguning, tidak
seorangpun yang akan berani memetiknya jika Wira Sabet dan Sura
Gentong berdiri di tengah-tengah bulak itu” “Ya. Kemungkinan itu
dapat terjadi” desis Ki Kertasana. Dengan demikian maka Manggada dan
Laksanapun telah minta ijin untuk mempergunakan kuda yang ada di
kandang. Mereka akan mempergunakannya untuk mencoba membangkitkan
keberanian orang-orang padukuhan yang dicengkam oleh ketakutan itu.
Di sore hari, ketika Ki Pandi, Manggada dan Laksana duduk di serambi
gandok, maka merekapun terkejut melihat pintu regol yang tidak
diselarak itu terbuka. Serentak mereka bangkit berdiri. Namun
merekapun menarik nafas dalamdalam ketika mereka melihat Ki
Jagabayalah yang memasuki regol halaman itu. “Marilah Ki Jagabaya“
Manggada mempersilahkan. Sejenak kemudian, Ki Jagabaya itupun sudah
duduk di pringgitan bersama Ki Kertasana, Ki Citrabawa, Ki Pandi,
Manggada dan Laksana. Dengan kecewa Ki Jagabaya menceriterakan sikap
Ki Bekel yang masih tetap ragu-ragu. Dengan nada rendah Ki Jagabaya
berkata “Ki Bekel tidak dapat berbuat banyak. Ia selalu dibayangi
oleh keselamatan keluarganya. Ia mempunyai tujuh orang. anak.
Sebagian masih kecil-kecil. Di antara mereka belum ada yang dapat
membantu ayahnya jika keadaan menjadi semakin buruk” “Apakah Ki
Bekel itu lebih muda dari Ki Jagabaya?” bertanya Ki Pandi. “Ya.
Terpaut agak banyak. Aku sudah menjabat sebagai Jagabaya ketika
padukuhan ini dijabat oleh ayah Ki Bekel yang sekarang” suara Ki
Jagabaya itu merendah “tetapi Ki Bekel yang dahulu memiliki
keberanian jauh lebih besar dari Ki Bekel yang sekarang. Namun
agaknya aku dapat mengerti, jika Wira Sabet dan Sura Gentong itu
datang ke rumah Ki Bekel, maka anak-anaknya tentu akan mengalami
nasib buruk, seandainya Ki Bekel itu sendiri melawan” Ki
Kertasanapun kemudian menyahut “Jika demikian, maka kita harus
menghadapinya tanpa Ki Bekel. Tetapi jika harus terjadi demikian,
maka apaboleh buat” “Terima kasih Ki Kertasana dan seluruh keluarga
disini yang telah dengan suka-rela membantu kami yang masih berusaha
untuk menegakkan harga diri padukuhan ini” “Bagi kami, apa yang kami
lakukan itu merupakan bagian dari kewajiban kami sebagai penghuni
padukuhan Gemawang, karena kami merasa ikut memiliki sehingga kami
pun harus ikut mempertahankannya dari laku yang menyimpang” Ki
Jagabaya mengangguk-angguk. Sementara Manggada mengatakan rencananya
untuk berusaha membangkitkan sedikit keberanian orang-orang
padukuhan itu. “Baiklah. Aku akan mengatakannya kepada Sampurna.
Agaknya ia tidak akan berkeberatan. Demikianlah, setelah mendapat
hidangan minuman dan makanan, maka Ki Jagabayapun segera minta diri.
Seperti yang direncanakan di keesokan harinya, maka Manggada dan
Laksana sucah siap dengan kuda mereka. Sejenak kemudian keduanya
telah berderap menyusuri jalan padukuhan. Mula-mula keduanya pergi
ke rumah Ki Jagabaya. Kemudian bersama Sampurna yang ternyata
sependapat dengan Manggada dan Laksana telah mengelilingi padukuhan
mereka. Derap kaki-kaki kuda itu memang menarik perhatian. Orang
yang tergesa-gesa berjalan di jalan padukuhan untuk satu keperluan
yang mendesak terkejut melihat ketiga orang anak muda itu. Yang
langsung mereka kenali adalah Sampurna. Namun kemudian juga
Manggada. Seorang laki-laki yang bertubuh kuat kekar memandang
ketiganya dengan penuh keheranan. “Angger bertiga, apa kalian
menyadari, bahwa yang kalian lakukan itu dapat mengundang
kesulitan?” bertanya laki-laki itu. “Kenapa?” bertanya Sampurna.
“Wira Sabet dan bahkan Sura Gentong sering datang ke padukuhan ini”
“Apa salahanya? Bukankah kami berada di padukuhan kami sendiri?
Sebagaimana paman juga berada di padukuhan paman sendiri?” jawab
Sampurna. Orang itu mengerutkan dahinya. Katanya “Meskipun demikian,
tetapi bukankah kalian tahu bahwa suasana padukuhan ini baru panas?”
“Maksud paman?” bertanya Sampurna. “Ah, seperti orang asing saja kau
ngger” sahut orang itu. “Maksud paman, padukuhan kita sedang dalam
keadaan ketakutan karena Wira Sabet dan Sura Gentong?” bertanya
Sampurna pula. “Ya, ngger. Jika angger bertiga bertemu dengan
mereka, maka kemungkinan buruk dapat terjadi atas engger bertiga”
“Itulah yang ingin kami tunjukkan kepada paman dan kepada seisi
padukuhan ini. Kami tidak takut, paman. Kenapa harus takut kepada
paman Wira Sabet dan Sura Gentong? Mereka dahulu juga penghuni
padukuhan ini. Bukankah kita sudah saling mengenal?” “Kau tiba-tiba
menjadi aneh, ngger. Setiap orang menjadi ketakutan dan bersembunyi
jika kedua orang itu atau salah seorang daripadanya lewat di
padukuhan ini” “Paman. Sekali lagi kami ingin mengatakan kepada
semua orang. Kita tidak perlu takut. Aku tidak takut. Manggada dan
Laksana ini juga tidak takut. Dan semua orang seharusnya tidak takut
menghadapi mereka. Seandainya kedua orang itu ingin berbuat sesuatu
yang tidak semestinya di padukuhan iini, maka kita bersama-sama akan
bangkit dan mengusir mereka sebagaimana pernah kita lakukan beberapa
tahun yang silam” “Angger. Jangan pura-pura tidak tahu. Keduanya
bukan Wira Sabet dan Sura Gentong beberapa tahun yang silam. Mereka
sekarang adalah dua orang yang berilmu tinggi. Mereka datang bersama
saudara-saudara seperguruan mereka dan bahkan bersama Ki Sapa Aruh
yang ditakuti oleh banyak orang” Tetapi Sampurna tertawa. Katanya
“Satu mimpi buruk paman. Bangunlah. Kita akan melihat satu kenyataan
bahwa keduanya akan lari terbirit-birit melihat seisi padukuhan ini
bangkit, berkumpul dan dengan berani menentangnya. Tetapi jika kita,
penghuni padukuhan ini menjadi ketakutan, maka keduanya akan
memasuki padukuhan ini dengan dada tengadah, menakut-nakuti kita dan
akhirnya menggilas kita semuanya. Kita kemudian harus tunduk dibawah
telapak kakinya dan melakukan segala perintahnya meskipun
bertentangan dengan nurani kita sendiri” Orang bertubuh kuat dan
kekar itu termangu-mangu. Rasarasanya ia berada di dalam satu dunia
yang asing. Sikap ketiga orang anak muda itu aneh. “Ada yang tidak
wajar” desis orang itu “ketidak wajaran itu ada pada kalian bertiga
atau ada padaku. Tetapi rasa-rasanya aku tersuruk ke dalam satu
keadaan yang membingungkan” “Kenapa?” Sampurna masih saja tertawa.
Bahkan kemudian Manggada dan Laksanapun tertawa pula melihat orang
itu kebingungan. Dengan nada tinggi Manggada berkata “Paman nampak
bingung justru karena paman telah terbius oleh dongeng yang tersebar
selama ini, bahwa Wira Sabet dan Sura Gentong adalah dua orang yang
menakutkan. Tetapi jika paman tidak menjadi ketakutan, maka paman
tidak usah bingung. Kita bersama-sama akan mengusir mereka. Bahkan
bersama saudara-saudara seperguruannya dan sekaligus Ki Sapa Aruh”
“Ini aneh. Aneh sekali bahwa anak-anak muda berani mengatakan hal
seperti itu” “Bukan hal yang aneh paman. Justru inilah satu
kewajaran sikap orang-orang yang berniat untuk melindungi nama
padukuhannya” berkata Sampurna. Lalu katanya pula “Nah, terserah
kepada paman. Tetapi menilik ujud tubuh paman yang kuat dan kekar
itu, maka Wira Sabet dan Sura Gentong tentu akan berpikir dua kali
untuk melawan paman. Orang itu benar-benar menjadi bingung. Biasanya
ia melihat orang-orang menjadi ketakutan jika mereka mendengar nama
Wira Sabet dan Sura Gentong. Bahkan orang-orang akan segera masuk
regol halaman dan hilang dibalik pintu rumahnya. Jika mereka tidak
sempat mencapai rumah mereka, maka merekapun akan segera memasuki
rumah tetanggatetangganya untuk menyembunyikan diri. Tetapi kali ini
ia bertemu dengan anak-anak muda yang menyebut nama Wira Sabet dan
Sura Gentong sambil tertawa. Seperti mereka menyebut Ki Jagabaya dan
Ki Bekel. Orang yang bertubuh kuat dan kekar itu bergumam “Sampurna
itu adalah anak Ki Jagabaya” Sementara itu Sampurna, Manggada dan
Laksana telah menjelajahi padukuhan Gemawang. Mereka bertemu dengan
orang-orang yang menjadi keheranan seperti orang bertubuh kuat dan
kekar itu. Bahkan anak-anak muda sebaya merekapun merasa heran
melihat sikap itu. Sikap yang tidak sama seperti sikap orang-orang
padukuhan itu pada umumnya. Namun hari itu Sampurna, Manggada dan
Laksana telah mulai menggelitik jantung orang-orang padukuhan itu.
Mereka memang heran. Tetapi sikap ketiga anak muda itu mulai mereka
renungkan. Tetapi sebagian besar dari orang-orang padukuhan itu
justru menjadi cemas bahwa anak-anak muda itu akan mengalami
kesulitan. Tetapi hari itu, Wira Sabet dan Sura Gentong tidak
memasuki padukuhan. Karena itu, maka Sampurna, Manggada dan Laksana
dapat mengelilingi padukuhannya tanpa terganggu sama sekali.
Meskipun demikian tingkah laku ketiga orang anak muda itu tidak
lepas dari pengawasan orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong.
Ternyata ada dua orang pengikut mereka yang melihat ketiga orang
anak muda berkuda mengelilingi padukuhan tanpa rasa takut sama
sekali. Ketika hal itu mereka laporkan kepada Wira Sabet dan Sura
Gentong, maka Sura Gentongpun membentak dengan kasar “Siapakah
mereka itu?” “Kami belum tahu” jawab pengikutnya. Pideksa yang juga
mendengar laporan itu berkata di dalam hatinya “Tentu Manggada dan
adik sepupunya itu. Tetapi siapa yang seorang lagi?” Namun Pideksa
sama sekali tidak menyebut nama mereka di hadapan pamannya yang
garang sekali itu. Wira Sabetpun menggeram. Tetapi gejolak di
dadanya berbeda dengan gejolak kemarahan Sura Gentong. Wira Sabet
menjadi sangat kecewa terhadap sikap anak-anak muda itu. ia sudah
memperingatkan bahwa sebaiknya mereka tidak melibatkan dirinya dalam
persoalan yang menyangkut dendam mereka kepada bebahu padukuhan itu.
“Mereka memang keras kepala” berkata Wira Sabet di dalam hatinya.
Seperti Pideksa iapun segera menduga bahwa anak-anak muda itu tentu
Manggada dan Laksana. Tetapi iapun bertanya “Siapakah yang seorang
lagi?” Dalam pada itu, Sura Gentongpun berkata lantang kepada
pengikutnya “Besok kalian harus mengetahui siapakah ketiga orang
anak muda itu” Pengikut Sura Gentong itu mengangguk sambil menjawab
“Baik. Besok aku tentu mengetahui siapakah mereka itu” Demikianlah,
dihari berikutnya Sampurna, Manggada dan Laksana mengulangi
sebagaimana dilakukan sehari sebelumnya. Bertiga mereka mengelilingi
padukuhan. Bahkan mereka telah memasuki regol-regol halaman rumah
kawankawan mereka untuk menyatakan sikap mereka. Tetapi orang-orang
padukuhan itu masih saja menganggap kelakuan ketiga anak muda itu
sebagai sesuatu yang aneh, yang tidak masuk akal dan bahkan
rasa-rasanya tidak dapat terjadi. Namun yang mereka cemaskan bahwa
tingkah laku anakanak muda itu akan menimbulkan kesulitan bagi
padukuhan mereka, ternyata memang terjadi. Ketika matahari sedikit
melewati puncak langit, maka seorang laki-laki yang masih terhitung
muda, berjalan terhuyung-huyung memasuki regol padukuhan. Pakaiannya
bukan saja basah oleh keringat, tetapi juga oleh darah. Demikian
orang itu sempat berpegangan pada tiang regol padukuhan, maka iapun
berteriak dengan sisa kekuatannya “Tolong, tolong” Suaranya
melengking menggetarkan udara padukuhan Gemawang. Beberapa orang
yang tinggal tidak jauh dari regol itu memang mendengar teriakan
itu. Tetapi mereka merasa ragu-ragu untuk keluar dari halaman rumah
mereka. Namun ketika orang itu berteriak sekali lagi, maka satu dua
orang mulai keluar dari rumahnya. Dengan ragu-ragu mereka mengintip
dari balik pintu regol halaman. Baru ketika mereka yakin tidak
melihat sesuatu, maka mereka perlahan-lahan dan berhati-hati keluar
dan turun ke jalan. Demikian mereka melihat seseorang berdiri
berpegangan tiang regol padukuhan, maka tiga orang laki-laki segera
berlari mendekatinya. Dengan cepat mereka menangkap orang yang
hampir roboh karena kekuatannya seakan-akan telah terkuras
sebagaimana darahnya yang mengalir dari tubuhnya. Dengan cepat
ketiga orang laki-laki itu telah membawa orang yang terluka itu ke
rumah yang terletak di ujung padukuhan. Sementara itu beberapa orang
yang lain yang datang kemudian, telah mengikuti mereka memasuki
halaman rumah itu pula. “Apa yang telah terjadi?” merekapun telah
saling bertanya. Tidak seorangpun yang segera dapat menjawab,
sementara orang yang terluka itupun masih sulit untuk dapat diajak
berbicara. Baru kemudian, setelah agak menjadi tenang, serta setelah
minum beberapa teguk, ia berceritera dengan kata-kata yang sendat
tentang apa yang telah terjadi atas dirinya. “Tiga laki-laki itu
mencari tiga orang berkuda” berkata orang itu. “Ketiga anak-anak
muda itu?” desis seseorang. “Ya” jawab orang yang terluka itu. “Apa
yang kau katakan?” bertanya salah seorang yang menolongnya. “Aku
tidak dapat berbohong. Mereka mencekikku. Memukulku dan melukai
tubuhku dengan pisau” jawab orang itu “aku terpaksa mengatakan bahwa
mereka adalah Sampurna, anak Ki Jagabaya, Manggada, anak Ki
Kertasana dan sepupunya Laksana” Ketiga orang yang menolongnya itu
saling berpandangan. Seorang di antara mereka berkata “Aku sudah
memperingatkan ketiga orang anak muda itu. Sebaiknya beritahukan
mereka, agar mereka tidak melakukannya lagi, karena mereka
benar-benar telah dicari” “Kenapa tidak dibiarkan saja? Biar mereka
menjadi jera dan kesombongan mereka sendiri” jawab yang seorang.
“Jangan” berkata yang lain lagi “sebaiknya seseorang datang kepada
mereka dan memberitahukan kepada mereka, apa yang telah terjadi.
Jika mereka sudah melihat sendiri, maka mereka tentu akan memikirkan
kembali tingkah laku mereka” Yang lain ternyata sependapat. Karena
itu, maka salah seorang dari ketiga orang itu telah memberitahukan
kepada orang-orang yang ada di halaman, agar salah seorang dari
mereka menemui Sampurna, anak Ki Jagabaya. Sementara yang lain
diminta untuk mengamati keadaan. “Mungkin pengikut Sura Gentong itu
datang kemari” desis orang itu. Karena orang itu yakin bahwa ketiga
orang yang mencari anak-anak muda yang berkuda mengelilingi
padukuhan itu adalah pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong. Dengan
tergesa-gesa, bahkan berlari-lari kecil seseorang telah pergi ke
rumah Ki Jagabaya. Demikian ia bertemu dengan Sampurna, maka ia
langsung memberitahukan apa yang telah terjadi di ujung jalan induk
padukuhan itu. “Jadi pengikut Sura Gentong telah menyakiti salah
seorang penghuni padukuhan ini?” bertanya Sampurna. “Ya” berkata
orang itu “ia sekarang masih dirawat. “Aku akan segera datang”
berkata Sampurna. Namun Ki Jagabayapun berkata “Aku juga” Lalu
katanya kepada orang yang memberitahukan itu “pergilah dahulu. Nanti
kami segera menyusul” Orang itu tidak membantah. Iapun segera
meninggalkan rumah Ki jagabaya. Kembali ia berlari-lari. Jantungnya
berdebar-debar kalau saja ia juga bertemu dengan ketiga orang
pengikut Sura Gentong itu. Sejenak kemudian Ki Jagabayapun telah
meninggalkan rumahnya bersama Sampurna. Kepada Tantri ia berpesan
“Jika terjadi sesuatu, bunyikan isyarat. Kami tentu mendengarnya”
“Ya, ayah” jawab Tantri. Sejenak kemudian maka keduanya telah turun
ke jalan, Ki Jagabaya hanya berjalan kaki, sementara Sampurna
berkuda, karena ia ingin mengajak Manggada dan Laksana. Beberapa
saat kemudian, maka orang-orang yang ada di halaman rumah tempat
orang yang terluka itu dirawat, telah menyibak. Ki Jagabayalah yang
lebih dahulu sampai di rumah itu. Namun sebelum Ki Jagabaya
melangkah masuk ke dalam, maka terdengar derap kaki kuda. Sampurna,
Manggada dan Laksana telah sampai pula ke tempat itu. Setelah
menambatkan kuda-kuda mereka, maka bersama Ki Jagabaya, mereka telah
masuk ke ruang dalam untuk melihat keadaan orang yang telah
mengalami kesulitan karena tingkah laku para pengikut Wira Sabet dan
Sura Gentong
itu.
Jilid 4 KETIKA Ki Jagabaya dan ketiga
orang anak muda itu berdiri di tepi pembaringan, maka keadaan orang
itu sudah menjadi lebih baik. Lukalukanya sudah dibersihkan dan
diobati. Meskipun orang itu kadangkadang masih menyeringai menahan
pedih, tetapi ia sudah dapat lebih lancar berbicara. “Mereka mencari
Sampurna, Manggada dan Laksana“ berkata orang itu “ketika aku mereka
tangkap, maka aku tidak dapat ingkar dan terpaksa mengatakan tentang
kalian bertiga” Tetapi di luar dugaan, ketiga orang anak muda itu
tidak menjadi ketakutan. Bahkan Manggada bertanya dengan wajah yang
tegang oleh kemarahan yang bergejolak di dadanya “Apakah kira-kira
mereka masih di tempat mereka menangkapmu?” “Apa yang akan kau
lakukan?” bertanya orang itu. “Daripada mereka mencari kami, biarlah
kami bertiga mencari mereka” jawab Manggada, Orang-orang yang
mendengar jawaban itu memang terkejut. Sementara itu Sampurna
berkata pula “Semakin cepat, semakin baik. Keadaan seperti ini tidak
boleh terjadi berlarut-larut” Namun seorang di antara mereka yang
ada di ruangan itu berkata “Tetapi ingat anak-anak muda. Mereka
adalah kaki tangan Wira Sabet dan Sura Gentong” “Kami tidak peduli.
Siapapun yang telah memperlakukan keluarga padukuhan kami dengan
kasar dan apalagi melukainya, maka mereka harus dibalas” “Tetapi
tidak terhadap Wira Sabet dan Sura Gentong” berkata orang yang lain.
Namun jawab Ki Jagabaya juga mengejutkan “Biarlah hal itu mereka
lakukan. Aku justru sependapat. Apalagi aku sebagai Jagabaya disini
bertanggung jawab atas keselamatan dan keamanan padukuhan ini”
Orang-orang itu menjadi heran. Selama ini mereka tidak pernah
mendengar seseorang yang berani menentang Wira Sabet dan Sura
Gentong. Mereka menjadi keheranan dan terkejut melihat pada
hari-hari terakhir tiga orang anak muda yang berkuda berkeliling
padukuhan. Dan kini bahkan mereka akan langsung menemui ketiga orang
pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong” Seorang yang terhitung tua
berkata “Angger. Kita jangan kehilangan akal. Pikirkan keputusan
angger untuk mencari orang-orang itu sekali lagi. Ki Jagabaya yang
terpancang pada tugasnya itu kurang memperhatikan perkembangan Wira
Sabet dan Sura Gentong, Ia bukan Wira Sabet dan Sura Gentong yang
ketakutan, dan melarikan diri melihat orangorang padukuhan ini
datang dengan senjata seadanya. Tetapi ia sekarang adalah murid
sebuah perguruan dan sudah memiliki ilmu yang tinggi. Apalagi ia
datang bersama beberapa orang seperguruannya dan bahkan telah
bekerja bersama dengan Ki Sapa Aruh” Tetapi jawab Ki Jagabaya “Siapa
yang mengatakan bahwa Wira Sabet dan Sura Gentong berilmu tinggi?
Mereka sendirilah yang mengatakan kepada orang yang sempat
ditemuinya untuk menakuti orang-orang padukuhan ini” Orang-orang
yang ada di rumah itu menjadi semakin bingung. Sementara Ki Jagabaya
berkata kepada Sampurna dan kedua kawannya “Lihat, apakah ketiga
orang itu masih ada disana” Sampurna tidak menunggu lebih lama lagi.
Bersama Manggada dan Laksana merekapun segera keluar dari rumah itu
dan dalam sekejap, kuda-kuda mereka telah berderap menuju ke tempat
yang ditunjukkan oleh orang yang terluka itu. Sepeninggal ketiga
orang anak muda itu, beberapa orang masih berusaha memperingatkan Ki
Jagabaya. Namun Ki Jagabaya justru berkata ”Jangan harapkan aku akan
menyerah kepada mereka. Satu pemberitahuan yang pantas kalian
dengar, bahwa Wira Sabet, Sura Gentong dan Ki Sapa Aruh berniat
untuk merampas padukuhan ini dan menguasainya. Aku akan berjuang
mati-matian sekedar untuk mempertahankan jabatanku, tetapi justru
karena aku tahu apa yang akan terjadi jika mereka menguasai
padukuhan ini. Ki Demang Kalegen tentu akan berada dibawah pengaruh
Ki Sapa Aruh, Wira Sabet dan Sura Gentong. Karena itu, sebelum hal
itu terjadi, maka aku akan berusaha mencegahnya dengan mengorbankan
apa saja yang aku punya jika perlu. Orang-orang yang mendengar tekad
Ki Jagabaya itu menarik nafas dalam-dalam. Mereka sadari, bahwa Ki
Jagabaya memang benar justru karena ia mengemban tugas. Sikap itu
pantas mendapat dukungan dari setiap orang. Tetapi mereka tidak
mempunyai keberanian untuk melakukannya. Karena itu, maka
orang-orang yang ada di rumah itu hanya terdiam saja. Beberapa saat
kemudian, maka Ki Jagabaya itupun minta diri. Ia akan pulang dan
kepada orang-orang yang ada di rumah itu ia berkata “Ingat. Aku
tidak akan pernah menyerah kepada Wira Sabet dan Sura Gentong”
Orang-orang yang mendengar pernyataan itu hanya berdiam diri saja.
Namun sepeninggal Ki Jagabaya, beberapa orang mulai berbincang.
Mereka mulai menilai sikap Ki Jagabaya yang berani itu. Namun
seorang di antara mereka berkata “Ki Jagabaya nampaknya memang
seorang bebahu padukuhan yang baik. Tetapi sikap Ki Jagabaya dan
anaknya serta kedua kawannya itu dapat berakibat sangat buruk bagi
kami. Mungkin Ki Jagabaya sendiri mampu melindungi dirinya sendiri.
Tetapi apa yang dapat kami lakukan terhadap para pengikut Wira Sabet
dan Sura Gentong? Mereka hari ini melukai seorang warga padukuhan
ini. Besok lagi, besok lagi dan bahkan mungkin mereka mulai
membunuh” “Kita minta pertanggung-jawaban Ki Jagabaya“ sahut yang
lain. “Yang dapat dilakukan oleh Ki Jagabaya memang sangat terbatas.
Mungkin ia sendiri akan mengalami kesulitan untuk melindungi dirinya
dan keluarganya jika Wira Sabet dan Sura Gentong benar-benar mulai
bertindak kasar” berkata yang lain lagi. Seorang yang bermata dalam
tiba-tiba saja berkata “Kita akan minta kepada Ki Jagabaya untuk
menghentikan perlawanannya” Ternyata pendapat itu mendapat dukungan
beberapa orang. Seorang yang bertubuh tinggi berkata “Aku setuju. Ki
Jagabaya harus menghentikan perlawanannya” Namun mereka tidak berani
berbincang terlalu lama. Jika para pengikut Wira Sabet dan Sura
Gentong melihat mereka berkumpul, maka mungkin akan dapat terjadi
salah paham yang dapat berakibat buruk bagi mereka. Karena itu maka
merekapun segera meninggalkan halaman rumah itu. Bahkan orang yang
terluka itupun telah minta diri pula, karena menurut pendapatnya, ia
sudah dapat berjalan sampai ke rumahnya. Tetapi salah seorang
laki-laki yang menolongnya berkata “Marilah. Aku antar kau sampai ke
rumah” Dalam pada itu, maka Sampurná, Manggada dan Laksana telah
sampai ke bulak persawahan. Orang yang disakiti itu mengatakan bahwa
di tempat itu mereka bertemu dengan tiga orang yang menanyakan
tentang tiga orang anak muda yang sering berkuda mengelilingi
padukuhan Gemawang. Namun mereka sudah tidak menjumpai seorangpun.
“Iblis itu tentu sudah kembali ke sarangnya” geram Sampurna menahan
marah. “Besok kita akan menemui mereka” sahut Manggada.
“Mudah-mudahan mereka benar-benar mencari kita” berkata Laksana
pula. Sampurna menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia bertanya
“Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?” “Tidak ada” jawab
Manggada “kita kembali ke padukuhan. Kita katakan kepada orang-orang
yang ketakutan itu, bahwa mereka tidak perlu takut menghadapi Wira
Sabet dan Sura Gentong. Bahkan Ki Sapa Aruh” Demikianlah, maka
mereka bertiga telah berderap kembali memasuki padukuhan. Tetapi
rumah tempat orang yáng terluka itu mendapat pertolongan sementará,
ternyata sudah menjadi sepi. Demikianlah, ketiga orang anak muda
itupun langsung menuju ke rumah Ki Jagabaya. Tetapi ketiga anak muda
itu terkejut ketika mereka melihat dua orang yang sedang berbincang
dengan Ki Jagabaya di serambi. Agaknya pembicaraan mereka tidak
menemukan titik temu, sehingga nampaknya sedang terjadi perselisihan
di antara mereka dengan Ki Jagabaya. Ketika ketiga orang anak muda
itu ikut duduk di serambi, maka mereka segera mengetahui bahwa orang
itu telah minta kepada Ki Jagabaya untuk tidak melakukan perlawanan
terhadap Wira Sabet dan Sura Gentong. Orang yang datang itu adalah
orang yang bermata dalam yang ada pula di antara orang-orang yang
mengerumuni orang yang dilukai oleh pengikut Wira Sabet dan Sura
Gentong itu. “Ki Jagabaya” berkata orang bermata dalam itu tanpa
menghiraukan ketiga orang anak muda yang ikut duduk di serambi itu
“Ki Jagabaya jangan terpancang pada kedudukan Ki Jagabaya. Mungkin
Ki Jagabaya benar. Tetapi sama sekali tidak berperhitungan. Nah,
sekarang korban telah mulai jatuh. Untung orang itu tidak dibunuh
oleh pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong” Pembicaraan mereka
ternyata terputus ketika mereka mendengar pintu sekeeng diketuk
orang. Selagi mereka bertanya-tanya siapa lagi yang telah datang,
maka terdengar suara seseorang memanggil, Namun yang dipanggil
adalah justru nama Tantri. Ki Jagabaya Itupun segera mengetahui
bahwa yang datang adalah Wisesa. Dengan kesal Sampurna bangkit dan
melangkah menuju ke pintu. Sebenarnyalah bahwa yang berdiri di
belakang pintu adalah Wisesa. “Marilah“ Sampurna mempersilahkan.
Setelah menutup dan menyelarak pintu, maka Sampurna telah mengajak
Wisesa untuk duduk pula di serambi itu. Dalam pada itu, Ki Jagabaya
yang tidak menghiraukan kehadiran Wisesa itupun kemudian berkata
kepada orang yang bermata dalam itu “Dengar jawabanku sekali lagi.
Aku tidak akan pernah tunduk kepada tekanan Wira Sabet dan Sura
Gentong. Aku berharap orang-orang padukuhan ini bersedia bersamaku
menentang mereka. Tetapi jika kalian tidak berani, maka jangan
menghambat usaha kami” “Kami tidak mungkin tinggal diam. Ki
Jagabaya, karena yang akan mengalami bencana adalah kami,
orang-orang sepadukuhan” jawab orang itu. “Nah, kau tahu kenapa
demikian?” bertanya Ki Jagabaya. Orang itu tidak segera menjawab.
“Dengar” berkata Ki Jagabaya “karena mereka sebenarnya adalah
penakut. Mereka sama sekali tidak berani berbuat apaapa kepadaku.
Kepada anakku dan kepada anak-anak muda ini Aku dan anak-anak ini
tidak mempunyai kelebihan apa-apa dari kalian Tetapi karena kami
berani menentang mereka, maka kami tidak menjadi sasaran usaha
mereka menakutnakuti orang-orang padukuhan ini” “Tidak benar”
berkata orang itu “Kami tahu Ki Jagabaya mempunyai kelebihan. Anak
laki-laki Ki Jagabaya itu tentu juga merasa mempunyai kelebihan.
Entahlah dengan anak dan kemanakan Ki Kertasana itu” “Jadi kalian
menganggap bahwa aku mempunyai kelebihan dari kalian?” bertanya Ki
Jagabaya. “Ya” jawab orang itu. “Jika demikian, yakinlah bahwa aku
dan anak-anak muda ini berusaha untuk melindungi kalian” berkata Ki
Jagabaya. “Tetapi itu tidak mungkin Ki Jagabaya” berkata orang itu
“Wira Sabet dan Sura Gentong serta beberapa orang saudara
seperguruannya adalah orang-orang linuwih.” “Omong kosong” bentak Ki
Jagabaya yang menjadi marah “mereka tidak berani datang kepadaku.
Mereka tentu tahu, jika mereka mematahkan perlawananku, maka mereka
tidak akan menemui perlawanan lagi disini. Tetapi mereka tidak
berani datang” “Mereka menunggu satu kesempatan yang baik” berkata
orang yang bermata dalam itu. “Aku tidak peduli” jawab Ki Jagabaya.
“Tetapi kami minta dengan sangat Ki Jagabaya untuk tidak meneruskan
perlawanan. Atas nama semua orang di padukuhan ini” “Tidak” jawab Ki
Jagabaya yang menjadi semakin marah “jika aku tidak mau, kalian mau
apa? Kalian akan menentang aku? Lakukan. Aku akan memperlakukan
kalian sebagaimana Wira Sabet dan Sura Gentong melakukan. Kau kira
aku tidak dapat melakukan? Kau kira aku tidak dapat menyakiti dan
bahkan membunuh orang yang menentang aku? Aku tidak takut seandainya
kalian semuanya berpihak Wira Sabet dan Sura Gentong menentang aku.
Aku tidak takut seandainya kalian semua ingin mengangkat Wira Sabet
dan Sura Gentong menjadi Kami Tuwa dan Jagabaya di padukuhan
Gemawang serta mengangkat Ki Sapa Aruh menjadi bekel” Orang bermata
dalam itu mengerutkan dahinya, sehingga matanya menjadi semakin
dalam. Di luar sadarnya ia berkata “Tentu kami tidak menghendakinya,
Ki Jagabaya” “Nah, sekarang kalian dapat memilih. Wira Sabet dan
Sura Gentong atau aku” geram Ki Jagabaya. Orang bermata dalam itu
memang menjadi bingung. Ia sadar, bahwa Ki Jagabaya adalah seorang
yang berilmu. Merekapun menduga bahwa anak laki-lakinya juga
berilmu. Karena itu, maka Ki Jagabaya akan dapat memperlakukan para
penghuni padukuhan ini sebagaimana dilakukan oleh Wira Sabet dan
Sura Gentong. Menyakiti dan bahkan membunuh orang yang tidak
mendukungnya. Dengan demikian maka orang-orang padukuhan itu akan
terjepit di antara dua kekuatan yang tidak terlawan. Wira Sabet dan
Sura Gentong di satu pihak, sedang di pihak yang lain Ki Jagabaya
serta anaknya dan tentu dua orang anak muda yang bernama Manggada
dan Laksana itu. Sebelum orang itu menjawab, maka Ki Jagabayapun
berkata “Nah, sekarang pulanglah. Katakan kepada orangorang Gemawang
yang sependapat dengan kau berdua. Katakan, bahwa aku tidak akan
pernah mundur. Aku akan menghancurkan siapa saja yang menentang aku.
Aku yakin, bahwa aku memiliki kekuatan yang tidak kalah dengan Wira
Sabet dan Sura Gentong” Kedua orang itu tidak berani menjawab lagi.
Mereka tahu bahwa Ki Jagabaya benar-benar sudah menjadi marah. Namun
tiba-tiba di luar dugaan mereka, maka Wisesapun berkata seperti
orang mengigau saja “Aku sependapat dengan orang-orang itu. Ki
Jagabaya. Ki Jagabaya memang harus menghentikan perlawanan terhadap
Wira Sabet dan Sura Gentong. Tidak ada gunanya. Kami tahu, bahwa Ki
Jagabaya memiliki kemampuan. Tetapi kemampuan Ki Jagabaya sangat
terbatas. Mungkin Ki Jagabaya hanya dapat melindungi diri Ki
Jagabaya saja. Tetapi bagaimana dengan orang-orang padukuhan ini
atau bahkan keluarga Ki Jagabaya sendiri. Ki Jagabaya mempunyai anak
dan isteri” Wajah Ki Jagabaya menjadi merah. Tetapi Ki Jagabaya
masih menanam kemarahannya. Dengan suara yang bergetar, Ki Jagabaya
itupun bertanya “Jadi, kau setuju jika Sura Gentong mengambil Tantri
untuk menjadi isterinya?” “Tidak. Tentu tidak” jawab Wisesa
terbata-bata. “Lalu apa yang dapat kau lakukan untuk mencegahnya?
Jika aku menghentikan perlawanan, berarti aku harus menyerahkan
segala-galanya. Kedudukan. Bukan saja aku sendiri, tetapi semua
bebahu padukuhan ini. Kemudian anak perempuanku dan aku yakin, bahwa
kemudian juga nyawaku” “Tidak Ki Jagabaya. Kita harus mencari jalan
lain” berkata Wisesa. “Jalan yang mana?” bertanya Ki Jagabaya. “Aku
mempunyai gagasan yang akan dapat memberikan pemecahan atas
persoalan ini” jawab Wisesa. “Gagasan yang besar, yang akan dapat
membebaskan kemelut di padukuhan ini sebagaimana pernah kau
katakan?” tiba-tiba Laksana memotong. Manggada menggamitnya. Ia
tahu, suasananya sedang panas. Ki Jagabaya akan dapat meledak setiap
saat. Namun Manggadapun sangat menyesalkan sikap Wisesa yang
ternyata masih saja dungu dan cengeng itu. Wisesa memandang Laksana
dengan sorot mata penuh kebencian. Namun kemudian ia berkata kepada
Ki Jagabaya tanpa menghiraukan Laksana lagi “Ki Jagabaya. Jalan yang
terakhir bagi Ki Jagabaya dan keluarga adalah menyingkir dari
kademangan Kalegen” “Menyingkir?” Ki Jagabaya mengulangi. “Ya”
Wisesa mengangkat wajahnya ”satu gagasan yang paling baik yang dapat
diberikan seseorang kepada Ki Jagabaya” jawab Wisesa. Meskipun
demikian, Ki Jagabaya itu sempat juga bertanya “Menyingkir ke mana?”
“Ke Pajang, ke dalam dinding kota” jawab Wisesa. “Ke rumah siapa?
Mengungsi ke istana? Atau ke kandang gajah milik istana?” bertanya
Ki Jagabaya yang hampir kehilangan kesabaran. “Ke rumah pamanku”
jawab Wisesa sambil menengadahkan dadanya “Aku mempunyai seorang
paman yang tinggal di Pajang. Ia adalah seorang prajurit dari
pasukan Pengawal istana. Ki Jagabaya dan keluarga Ki Jagabaya akan
aman di rumah pamanku yang sangat besar itu. Wira Sabet dan Sura
Gentong tentu tidak akan berani mengusik Ki Jagabaya, karena Ki
Jagabaya tinggal di rumah seorang prajurit pilihan. Sementara itu,
Ki Jagabaya tidak lagi perlu menghiraukan padukuhan ini, apakah Ki
Sapa Aruh akan menjadi Bekel, apakah Wira Sabet dan Sura Gentong
akan menjadi bebahu, bukan lagi menjadi tanggung jawab Ki Jagabaya”
Bibir Ki Jagabaya menjadi gemetar menahan marah. Sementara itu
Sampurna hampir tidak dapat menahan dirinya, sedangkan Manggada
sekali lagi harus menggamit Laksana yang sudah beringsut setapak.
Sambil menahan kemarahan yang hampir meledakkan jantungnya, Ki
Jagabaya bertanya “jadi menurut gagasan besarmu, sebaiknya aku
mengungsi menghindari beban tugasku?” “Bukan mengungsi Ki Jagabaya.
Sebaiknya kita memang mempergunakan istilah menyingkir” jawab
Wisesa. “Baiklah Wisesa” berkata Ki Jagabaya “daripada, aku harus
menyingkir, aku kira lebih baik aku memenuhi saja permintaan Sura
Gentong. Selain jabatan bebahu padukuhan ini, Tantri juga akan aku
serahkan” "Tidak” sahut Wisesa dengan serta merta “Tantri tidak
boleh jatuh ketangan Sura Gentong” “Aku akan menyerahkannya. Dengan
demikian aku akan aman dan tidak akan terganggu lagi. Aku tidak
perlu pergi ke Pajang. Tetapi aku akan tetap tinggal di rumah. Sura
Gentong akan menjadi menantuku, sehingga akupun akan menjadi orang
yang ditakuti seperti Sura Gentong” “Tetapi jangan serahkan Tantri.
Lebih baik Ki Jagabaya menyingkir” “Dengar anak cengeng” bentak Ki
Jagabaya yang kemarahannya sudah sampai ke ubun-ubun “aku tidak
mempunyai pilihan lain” “Tetapi tidak untuk menyerahkan Tantri”
sahut Wisesa dengan nada tinggi. “Kecuali jika kau dapat melindungi
Tantri dan kami sekeluarga. Maka aku akan bersikap lain” Wajah
Wisesa menjadi pucat. Sementara Ki Jagabaya berkata “Aku muak dengan
gagasan-gagasan yang tidak dapat dilaksanakan seperti
gagasan-gagasanmu itu” Wajah Wisesa menjadi pucat. Ia baru sadar,
bahwa Ki Jagabaya benar-benar menjadi sangat marah. Karena itu, maka
Wisesa tidak berani lagi mengangkat wajahnya yang kemudian menunduk
dalam-dalam. Sementara itu, Ki Jagabayapun telah berkata pula kepada
orang bermata tajam “Aku ulangi kata-kataku. Aku tidak akan pernah
menyerah kepada Wira Sabet dan Sura Gentong. Bahkan aku menantang
siapapun yang berani menghalangi aku, akan mengalami nasib yang
sangat buruk. Ternyata aku bukan Orang yang lebih beradab dari Wira
Sabet dan Sura Gentong” Kedua orang itupun tidak berani mengucapkan
sepatah kata lagi di hadapan Ki Jagabaya, meskipun sebenarnya mereka
tetap menginginkan Ki Jagabaya mengurungkan perlawanannya dan bahkan
gagasan Wisesa itu telah menimbulkan satu sikap baru untuk
menghadapi persoalan yang sedang berlangsung di padukuhan itu. Dalam
pada itu, maka Ki Jagabayapun berkata “Nah, sekarang pergilah.
Katakan kepada semua orang padukuhan ini. Siapa yang mencoba
menentang aku, akan aku hancurkan sama sekali daripada mereka kelak
akan berpihak kepada Wira Sabet dan Sura Gentong” Kedua orang itupun
segera minta diri pula dengan jantung yang berdebaran. Mereka masih
saja cemas ketika Sampurna mengantar mereka ke pintu seketeng.
Demikian mereka keluar, maka Sampurnapun berkata “Nah, aku sudah
mendengar sikap ayah. Jangan mencoba menentangnya, agar ayah tidak
menjadi semakin marah. Sampai saat ini ayah masih berpikir, berjuang
untuk padukuhan Gemawang. Tidak untuk dirinya sendiri. Tetapi jika
orang-orang Gemawang ini justru menentangnya, maka ayah akan dapat
bersikap lain. Sementara itu kalian harus menyadari, tidak
seorangpun di padukuhan ini yang mampu melawan ayah dan tentu juga
aku dan kedua orang sahabatku itu. Manggada dan Laksana. Ingat
kata-kata ayah, bahwa ternyata ayah bukan orang yang lebih beradab
dari Wira Sabet dan Sura Gentong. Maksud ayah tentu, apabila orang
lain memulainya” Kedua orang itu tidak menjawab. Baru kemudian
setelah mereka keluar dari regol halaman rumah Ki Jagabaya, orang
yang bermata tajam itu berkata “Kedudukan kita justru menjadi
semakin rumit. Dua kekuatan yang tidak dapat kami lawan telah
menghimpit kita. Sehingga kita akan dapat mati terjepit ditengahnya”
“Apakah kita harus berpihak?” bertanya kawannya. “Berpihak kepada
siapa?” bertanya orang bermata dalam. “Kita harus memperhitungkan,
kekuatan siapakah yang lebih besar. Wira Sabet dan Sura Gentong yang
dibantu oleh Ki Sapa Aruh, atau Ki Jagabaya” “Kekuatan Ki Jagabaya
tidak seberapa dibanding dengan kekuatan Wira Sabet dan Sura
Gentong” “Tentu masih lebih besar kekuatan Wira Sabet dan Sura
Gentong” jawab kawannya. “Jadi menurut pendapatmu, kita akan
berpihak kepada Wira Sabet dan Sura Gentong?” bertanya orang bermata
tajam itu. “Bukankah itu lebih aman? Kesempatan kita untuk selamat
jauh lebih besar” jawab kawannya. “Tetapi apakah dengan demikian
kita tidak berkhianat terhadap Ki Jagabaya?” orang bermata tajam itu
masih bertanya lagi. “Kita sudah mencoba untuk memperingatkannya.
Tetapi Ki Jagabaya tidak mendengarkan peringatan kami. Karena itu,
maka kita tentu tidak akan bersalah, jika kita mengambil sikap lain”
Tetapi orang bermata tajam itu masih nampak ragu-ragu. Katanya “Kita
bicarakan dengan kawan-kawan kita yang lain malam nanti. Kita akan
mengumpulkan mereka dan kita akan mengambil keputusan. Bukankah Wira
Sabet dan Sura Gentong selama ini tidak pernah datang ke padukuhan
malam hari?” “Tetapi itu sangat berbahaya jika ada satu dua orang
pengikut mereka yang melihat. Mereka tidak tahu apa yang kami
lakukan, sehingga akan dapat menimbulkan salah paham” sahut kawannya
Orang bermata tajam itu mengangguk-angguk. lapun menyadari, bahwa
para pengikut Wiia Sabet dan Sura Gentong dapat saja mengawasi
padukuhan itu di luar pengetahuan mereka. Karena itu, maka niat
untuk bertemu dengan orang-orang padukuhan itupun dibatalkannya.
Orang bermata tajam itupun kemudian berkata “Kita akan bertemu dan
berbicara seorang demi seorang untuk menghindari salah paham.” “Ya.
Baru kemudian jika persoalannya sudah jelas kita akan menyatakan
sikap. Jika perlu kita akan menemui pengikut Wira Sabet dan Sura
Gentong” Tetapi orang bermata dalam itu masih saja ragu-ragu.
Katanya “Kita akan melihat perkembangan keadaan” Kawannya tidak
menjawab. Namun ia mengusulkan untuk menemui orang yang telah
terluka itu. “Bagaimana pendapatnya tentang sikap Ki Jagabaya itu”
berkata kawannya. Ketika keduanya berjalan menyusuri jalan
padukuhan, mereka terkejut mendengar derap kaki kuda. Ternyata
Sampurna, Manggada dan Laksana telah melarikan kuda mereka di
sepanjang jalan padukuhan itu pula. Tetapi hari itu ketiga anak muda
itu tidak bertemu dengan orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong.
Namun hampir setiap orang yang menemui mereka telah memperingatkan,
agar mereka tidak melakukan perbuatan yang sangat berbahaya itu.
“Mereka sedang mencari kalian ngger” berkata seorang yang rambutnya
sudah ditumbuhi uban. “Terima kasih atas peringatan paman” jawab
Sampurna “tetapi persoalannya harus sgera diselesaikan” Orang yang
rambut sudah ubanan itu hanya dapat menggelengkan kepalanya saja.
Sementara itu, kawan orang yang bermata dalam itu berdesis “Biarkan
saja mereka menyombongkan dirinya. Aku juga berharap bahwa mereka
benar-benar akan bertemu dengan orang-orang Wira Sabet dan Sura
Gentong yang mencari mereka” Kawannya yang bermata dalam itu tidak
menjawab. Ketika matahari turun semakin rendah, maka ketiga orang
anak muda itupun telah pulang ke rumah mereka masingmasing. Namun
mereka telah berjanji, di keesokan harinya mereka akan mencari para
pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong. Dalam pada itu, lepas senja,
setelah makan malam, Ki Jagabaya masih berbincang dengan isteri dan
anak-anaknya. Ki Jagabaya ternyata sangat menyesali sikap
orang-orang padukuhan Gemawang. Mereka justru minta agar Ki Jagabaya
menghentikan perlawanannya terhadap Wira Sabet dan Sura Gentong.
“Orang-orang itu benar-benar telah menjadi ketakutan” berkata
Sampurna. “Ya. Mereka kehilangan akal. Sementara itu, Wisesa masih
saja gila dengan gagasan-gagasannya” desis Ki Jagabaya. “Hampir saja
aku memukul mulutnya“ gumam Sampurna. “Pemimpin yang hidupnya tidak
berjejak di atas tanah” berkata Ki Jagabaya. “Tetapi ia tidak rela
jika Tantri diserahkan kepada Sura Gentong” berkata Sampurna sambil
memandang Tantri. “Apa?“ bertanya Tantri dengan suara melengking.
“Tidak” jawab Sampurna. “Apa yang kau katakan tadi?” desak Tantri
yang bergeser mendekati kakaknya. “Tidak. Aku tidak berkata apa-apa”
Sampurna bergeser menjauh sambil tersenyum. “Kau mentertawakan aku,
ya“ Tantri mulai menggapai Sampurna. Tetapi Sampurna bergeser
semakin jauh “tidak. Aku tidak bermaksud mentertawakanmu. Aku justru
mentertawakan Wisesa” “Kau kira aku tidak berani memilin leher anak
itu? Sejak kecil ia tidak berani melawan aku” berkata Tantri.
“Tetapi ia rajin berkunjung kemari” sahut Sampurna. Tantri tiba-tiba
bangkit. Tetapi Sampurna meloncat menjauh sambil berkata “Sudahlah,
Tantri. Aku menyerah” “Tidak. Aku belum membalas” sahut Tantri.
“Sudahlah” potong Ki Jagabaya “aku benar-benar sedang prihatin”
“Tetapi ayah harus menghukumnya. Ia yang mula-mula mengganggu aku”
sahut Tantri. “Duduklah yang baik” berkata Ki Jagabaya. Keduanyapun
segera duduk kembali.. Sementara Ki Jagabaya berkata “Apa yang dapat
kita lakukan jika orangorang padukuhan ini justru menentang kita?”
“Ayah” berkata Sampurna kemudian bersungguh-sungguh “besok, aku,
Manggada dan Laksana akan mencari orangorang Wira Sabet itu. Kami
tidak akan berdiam diri justru mereka mencari kami” “Lalu, apa yang
akan kalian lakukan?” bertanya Ki Jagabaya. Sampurna termangu-mangu
sejenak. Namun kemudian katanya “Bukankah mereka juga mencari kami?”
Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah. Kita menunggu
perkembangan keadaan” Dalam pada itu, di rumahnya Manggada dan
Laksana juga menceriterakan apa yang sudah terjadi. Mereka juga
menyesali sikap orang-orang padukuhan Gemawang yang ketakutan,
sehingga mereka kehilangan pertimbangan penalaran yang bening. “Jika
keadaan berlarut-larut, maka orang-orang padukuhan ini akan
benar-benar kehilangan diri mereka” desis Ki Citrabawa. Seperti
Sampurna, maka Manggada dan Laksana juga menyatakan, bahwa mereka
bukan saja dicari oleh para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong.
Tetapi merekalah yang besok akan mencarinya. Demikianlah,
kegelisahan dan ketegangan yang semakin memanas telah mewarnai
padukuhan Gemawang. Beberapa orang sempat saling mengunjungi untuk
membicarakan sikap Ki Jagabaya. Pada umumnya orang-orang Gemawang
menganggap Ki Jagabaya itu seorang yang keras kepala, sehingga tidak
mau melihat kenyataan yang dihadapinya. Bahkan ada yang menganggap
bahwa Ki Jagabaya sekedar berjuang untuk mempertahankan
kedudukannya. “Ia sampai hati telah mengorbankan penghuni padukuhan
ini” berkata seorang di antara mereka yang ketakutan. Namun ketika
matahari kemudian terbit di keesokan harinya, orang-orang padukuhan
Gemawang telah mendengar derap kaki kuda berlari-lari di jalan-jalan
padukuhan. Tiga orang anak muda telah berkeliaran di atas punggung
kuda mereka tanpa mengenal takut sama sekali. Tetapi sikap
orang-orang padukuhan itu ternyata telah berubah. Mereka tidak lagi
berniat untuk memperingatkan ketiga orang anak muda itu. Bahkan
orang-orang Gemawang berharap bahwa ketiga anak muda itu segera
menjadi jera, setelah orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong
menemukan mereka. Orang yang telah dipukuli oleh pengikut Wira Sabet
dan Sura Gentong itu berkata kepada seorang tetangganya yang datang
mengunjunginya. Ketiga orang itu tentu akan segera menemukan mereka
setelah orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong itu mengetahui siapa
mereka itu. Jika ketiga orang anak muda itu sudah mengalami seperti
yang aku alami, barulah mereka akan menjadi jera dan tidak akan
menyombongkan dirinya lagi” Tetangganya mengangguk-angguk sambil
bergumam “Apakah karena ayahnya seorang Jagabaya, maka anak itu
menjadi demikian sombongnya” “Anak itu salah menilai kekuatan
ayahnya sekarang ini” desis orang yang terluka itu. Namun dalam pada
itu, Sampurna, Manggada dan Laksana masih saja menelusuri
jalan-jalan padukuhan Gemawang tanpa mengenal takut sama sekali.
Namun dalam pada itu, ternyata beberapa orang yang pergi ke sawah
telah kembali lagi ke padukuhan. Mereka telah melihat tiga orang
pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong menuju ke padukuhan Seorang di
antara mereka berjalan bergegas sambil berkata “Selagi masih ada
kesempatan, aku ingin memperingatkan anak-anak muda yang berkeliaran
di atas punggung kuda itu” Tetapi kawannya berkata “Untuk apa kita
bersusah payah melakukannya? Kita biarkan saja mereka menjadi jera.
Tidak kurang dan antara kita yang sudah memperingatkan mereka.
Tetapi dengan sombong mereka menolaknya. Bahkan mereka juga sudah
tahu bahwa tiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong mencari
mereka. Tetapi mereka dengan sombong pala justru mencari ketiga
orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu. Bukankah itu sudah
berlebihan?” Seorang yang lain justru berkata “Aku ingin melihat
ketiga orang anak muda yang sombong itu dipukuli babak belur oleh
pengikutnya Wira Sabet dan Sura Gentong sebagaimana seorang dari
antara kita kemarin” “Bagaimana jika mereka bertiga dibunuh oleh
para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong?” bertanya orang yang
pertama. Kawan-kawannya itu terdiam. Nampaknya mereka memang
berpikir sambil melangkah cepat-cepat pulang. Tiba-tiba seorang dari
antara mereka berkata “Tidak. Mereka tidak akan dibunuh. Tetapi
mereka akan dibuat jera dan bahkan kuda mereka akan dirampas. Itu
saja” Yang lain mengangguk-angguk. Sementara itu, mereka telah
memasuki padukuhan Gemawang. Berlari-lari kecil mereka berjalan di
jalan padukuhan menuju ke rumah mereka masing-masing. Namun seorang
di antara mereka masih berkata “Aku ingin melihat anak-anak sombong
itu dipukuli” Demikianlah, maka sejenak kemudian, orang-orang itu
telah hilang di belakang regol halaman mereka masing-masing. Namun
sebenarnyalah bahwa ada di antara mereka yang memang ingin melihat
Sampurna, Manggada dan Laksana disakiti oleh para pengikut Wira
Sabet dan Sura Gentong, agar mereka menjadi jera. Bahkan dengan
demikian Ki Jagabaya akan dapat menjadi sadar. Ternyata ketiga orang
pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu telah memasuki padukuhan
Gemawang tanpa mengenal takut. Seorang di antara mereka telah
berteriak “He orang-orang Gemawang. Kali ini kami tidak akan berbuat
apaapa atas kalian. Jangan takut. Kami hanya akan menangkap ketiga
orang anak muda yang sombong itu. Tetapi jika kita tidak berhasil
menangkap mereka, maka kami akan mengambil tiga orang yang manapun
yang dapat kami tangkap di antara para penghuni padukuhan ini”
Teriakan-teriakan itu bergema menusuk ke dalam setiap pintu rumah.
Orang-orang Gemawang itu menjadi ketakutan. Mereka berharap agar
para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu dapat bertemu dengan
Sampurna, Manggada dan Laksana. Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja
terdengar derap kaki kuda. Ternyata Sampurna, Manggada dan Laksana
yang menyusuri jalan padukuhan itu tidak mengetahui bahwa tiga orang
pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong berada di padukuhan itu. Tidak
ada seorangpun yang telah memberitahukan kepada mereka. Meskipun
orang-orang yang berlari-lari kecil menghindari kehadiran ketiga
orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu ada yang berpapasan
dengan ketiga orang anak muda itu. Tetapi mereka tidak
memberitahukannya. Namun orang-orang itu kemudian menjadi kecewa.
Bagaimanapun juga mereka merasa ngeri, apa yang akan terjadi dengan
ketiga orang anak muda itu apabila mereka benar-benar bertemu dengan
orang-orang yang sedang mencari mereka itu. Demikian pula
orang-orang yang berada di sebelahmenyebelah jalan padukuhan. Baru
saja mereka mendengar teriakan orang-orang yang mereka takuti itu,
tiba-tiba merekapun mendengar derap kaki kuda. “Apa yang akan
terjadi dengan anak-anak muda itu?” bertanya orang-orang itu di
dalam hati mereka. Dalam pada itu, ketiga orang pengikut Wira Sabet
dan Sura Gentong yang juga mendengar derap kaki kuda segera bersiap.
Mereka merasa bahwa mereka akan segera dapat melakukan tugas mereka
dengan baik. “Kita akan menangkap mereka dan membawa mereka
menghadap Ki Wira Sabet dan Ki Sura Gentong” berkata salah seorang
dari ketiga orang itu. “Jika mereka melawan, kita benar-benar akan
mempergunakan kekerasan” desis yang lain. Mereka tidak berbicara
lebih jauh. Mereka mulai melihat tiga orang anak muda di punggung
kudanya mendekati mereka. Dengan serta merta, maka ketiga orang
itupun segera berloncatan ketengah jalan dan memberi isyarat ketiga
orang penunggang kuda itu untuk berhenti. Sampurna yang berkuda di
paling depan segera memberi isyarat pula kepada Manggada dan
Laksana. Dengan serta merta ketiganya telah menarik kendali kuda
mereka sehingga ketiganya telah berhenti sebelah mereka menjadi
terlalu dekat dengan ketiga orang itu. “Tentu. mereka itulah yang
kita cari” desis Sampurna. Laksana tidak menunggu lebih lama lagi.
Ia adalah orang yang pertama meloncat turun dari punggung kudanya.
Manggada dan Sampurnapun segera telah meloncat turun pula. Mereka
telah mengikat kuda mereka pada batang perdu di pinggir jalan itu.
Baru kemudian mereka bertiga melangkah mendekati ketiga orang yang
telah menunggu itu. Ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura
Gentong ilu termangu-mangu sejenak. Mereka justru merasa heran.
Ketiga orang anak muda itu sama sekali tidak nampak menjadi gentar.
“Mereka memang sombong” geram salah seorang dari ketiga orang
pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu. Kawannyapun menyahut
“Sebentar lagi mereka akan menjadi jera” Sementara itu yang seorang
lagi berkata “Kita lumatkan dahulu mereka sebelum kita bawa
menghadap Ki Wira Sabet dan Ki Sura Gentong” Kedua kawannya tidak
menyahut, sementara itu Laksana, Sampurna dan Manggada telah menjadi
semakin dekat. Laksana yang berdiri dipating depan itulah yang
bertanya “He, siapakah kalian yang telah berani menghentikan kami
bertiga yang sedang menelusuri jalan-jalan padukuhan kami sendiri”
“Anak iblis” geram orang tertua dari ketiga orang pengikut Wira
Sabet dan Sura Gentong itu “kau-kira kau berbicara dengan siapa?”
“Jika aku tahu, aku tidak akan bertanya” sahut Laksana dengan
lantang” “Kami datang untuk menangkap kalian dan membawa kalian ke
tempat kami” jawab salah seorang dari ketiga orang itu. Laksana
tertawa. Katanya “Kau kira, kau berbicara dengan siapa, he?” Ketiga
orang itu menggeram. Hampir bersamaan mereka mengumpat. Seorang di
antara mereka berkata “Siapakah di antara kalian yang bernama
Sampurna, anak Ki Jagabaya? Hampir bersamaan pula ketiga orang anak
muda itu menjawab “Aku” Tetapi mereka bertiga justru terkejut.
Sejenak mereka saling berpandangan. Namun kemudian mereka bertiga
tertawa meledak. Wajah ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura
Gentong itu menjadi merah padam. Mereka sama sekali tidak mengira,
bahwa mereka akan mendapat perlakuan yang demikian menyakitkan hati
dari tiga orang anak-anak yang masih muda, sementara seisi padukuhan
itu menjadi ketakutan melihat mereka bertiga datang” Dengan suara
bergetar menahan kemarahan, seorang di antara mereka berteriak
“Cukup. Aku akan mengoyak mulut kalian” Tetapi Laksana justru
menjawab “Jangan terlalu garang Ki Sanak. Kalian tidak berarti
apa-apa disini. Jika Paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong melihat
kehadiran kalian di daerah kuasanya, maka kalian akan segera
dihancurkan sampai lumat” “Kau memang gila” geram orang itu “aku
adalah bagian dari kuasa Ki Wira Sabet dan Ki Sura Gentong” “Nah,
kenapa kau tidak mengatakan sejak semula. Jika kami tahu bahwa
kalian adalah bagian dari kuasa paman Wira Sabet dan paman Sura
Gentong, maka sampaikan salam kami kepada mereka. Khususnya kepada
paman Wira Sabet. Hari ini, kami akan mengambil duwet dan manggis di
halaman rumahnya seperti biasanya” Kemarahan ketiga orang itu telah
membakar ubun-ubun mereka. Karena itu, seorang di antara mereka
berteriak “Dengar, kami akan membuat kalian menjadi lumat. Kami akan
mematahkan tulang-tulang kalian dan kemudian menyeret kalian
menghadap Ki Wira Sabet dan Ki Sura Gentong” Tetapi jawaban Laksana
sangat menyakitkan hati “He, kenapa kalian hanya datang bertiga?
Kalian tahu bahwa kami bertiga. Seharusnya kalian datang sedikitnya
bersembilan, karena takaran kemampuan kami adalah tiga orang di
antara kalian” Orang-orang itu ternyata tidak tahan lagi mendengar
ucapan Laksana itu. Karena itu, maka orang yang tertua di antara
ketiga orang itupun berteriak “Selesaikan mereka dengan cara kita”
Orang-orang yang tinggal di pinggir jalan itu menjadi
berdebar-debar. Mereka mendengar bentakan-bentakan kasar. Tetapi
mereka juga mendengar suara tertawa nyaring. Bahkan satu dua kalimat
dapat mereka dengar ketika kalimat-kalimat itu diucapkan dengan
keras. Mereka mendengar ancamanancaman yang mengerikan. Sementara
suara tertawa membuat mereka menjadi bingung. “Anak-anak muda itu
nampaknya sama sekali tidak menjadi ketakutan” berkata orang-orang
di sebelah-menyebelah jalan itu kepada diri sendiri. Apalagi ketika
kemudian mereka mendengar seseorang berkata keras-keras “Jangan
ganggu aku. Aku akan menyelesaikan ketiga orang itu seorang diri.
Kecuali jika aku akan mati di tangan mereka” Kata-kata itu ternyata
telah diucapkan oleh Laksana. Sampurna termangu-mangu sejenak.
Sementara Manggada berkata “Kita lihat saja apakah anak sombong itu
dapat benarbenar berhasil” Sampurna tidak segera menjawab. Namun
Laksanapun berkata sambil tertawa “Kalian tidak usah ragu-ragu. Aku
tentu akan berhasil” Kemarahan ketiga orang pengikut Wira Sabet dan
Sura Gentong yang merasa ditakuti oleh orang sepadukuhan itu
benar-benar tidak tertahankan lagi. Karena itu, sebelum Laksana
selesai berbicara, maka seorang di antara mereka telah meloncat
menyerang dengan garangnya. Tetapi Laksana benar-benar tangkas. Ia
masih menyelesaikan kalimatnya ketika ia meloncat mengelak. Bahkan
ia berkata lebih lanjut “Minggir. Aku akan menunjukkan satu
permainan yang bagus bagi kalian” Kedua orang pengikut Wira Sabet
dan Sura Gentong yang lainpun telah menyerang Laksana pula. Seorang
di antara mereka berkata “Kita koyakkan mulutnya lebih dahulu. Baru
kita selesaikan yang lain” Tetapi Laksana yang pernah ditempa oleh
ayahnya sendiri bersama Manggada, yang kemudian mendapat landasan
ilmu dari Ki Ajar Pangukan dan pengalaman yang luas selama ia
tinggal bersama Kiai Gumrah dan yang terakhir tapa Ngidang di hutan,
telah membuatnya menjadi anak muda pilihan. Karena itu, maka ia
benar-benar berniat memberikan kesan yang mantap kepada orang-orang
padukuhan Gemawang serta kepada para pengikut Wira Sabet dan Sura
Gentong, bahwa padukuhan Gemawang tidak perlu menjadi ketakutan.
Kesan itu ternyata tidak tanggung-tanggung. Ia sendiri berniat untuk
mengalahkan ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong, agar
dengan demikian, yang terjadi itu akan benar-benar dapat meyakinkan.
Demikianlah, maka sejenak kemudian telah terjadi perkelahian antara
Laksana dan ketiga orang itu. Seperti kijang Laksana berloncatan.
Kakinya menjadi demikian ringannya sehingga seakan-akan tidak
berjejak di atas tanah. Tetapi ketiga lawannya juga bukan orang
kebanyakan. Mereka adalah orang-orang yang sudah berpengalaman
melakukan kekerasan. Namun agaknya mereka tidak dilandasi oleh
dasar-dasar ilmu yang mapan. Karena itu, maka mereka meskipun
bertiga, tidak segera dapat mengatasi lawannya yang hanya seorang
dan tidak lebih dari anak yang masih terlalu muda bagi mereka. Dalam
pada itu, orang-orang yang tinggal di sebelah menyebelah jalan itu
benar-benar dicengkam oleh ketegangan. Seorang yang memiliki sedikit
keberanian telah dengan sangat hati-hati mendekati pintu regol. dari
sela-sela pintunya yang sedikit terbuka ia sempat melihat apa yang
terjadi. Orang itu hampir tidak percaya kepada penglihatannya.
Seorang dari ketiga orang anak muda yang sering berkuda menyusuri
jalan-jalan padukuhan itu tengah bertempur melawan tiga orang yang
tentu pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong Bukan karena kedua orang
kawan anak muda itu menjadi ketakutan dan tidak berani membantunya.
Tetapi kedua anak muda yang lain berdiri di pinggir jalan dengan
gaya orang yang sedang menonton aduan ayam di kalangan. “Apa yang
sebenarnya terjadi?” bertanya orang itu kepada diri sendiri. Namun
di luar sadarnya, maka orang itu justru tidak beranjak dari
tempatnya. Ternyata tidak hanya seorang saja yang telah mengintip
pertempuran itu. Di seberang jalan, di balik pintu regol yang
sedikit terbuka, maka seseorang telah mengintip pula. Sebenarnyalah
bahwa Laksana telah bertempur seorang diri melawan ketiga orang
pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu. Dengan tangkasnya ia
berloncatan. Menghindari seranganserangan ketiga orang itu. Namun
kemudian dengan cepat melancarkan serangan yang tiba-tiba terhadap
salah seorang dari ketiga orang lawannya. Demikian cepatnya,
sehingga ketiga orang lawannya itu kadang-kadang memang menjadi
bingung menghadapinya. Namun karena pengalaman mereka yang luas,
maka ketiga orang itupun tidak segera dapat ditundukkan oleh
Laksana. Tetapi sebaliknya mereka bertiga juga tidak dapat menguasai
anak yang masih terhitung muda itu. Sementara itu, Sampurna dan
Manggada memang tidak melibatkan dirinya Mereka justru sekali-sekali
bertepuk tangan. Bahkan kemudian mereka mulai dengan lantang
berteriak memberikan dorongan kepada Laksana yang sekalisekali
memang hurus berloncatan surut oleh desakan ketiga orang lawannya
yang bertempur semakin lama menjadi semakin kasar. Tetapi setelah
berhasil mendapat pijakan yang mapan, maka Laksanalah yang kemudian
dengan kecepatan yang sangat tinggi melibat ketiga orang lawannya.
Seperti angin pusaran, Laksana berputaran sehingga kadang-kadang
lawannya menjadi kehilangan arah. Tetapi memang tidak terlalu mudah
bagi Laksana untuk dapat mengalahkan ketiga orang yang bertempur
semakin keras dan kasar itu. Laksana harus meningkatkan kemampuannya
semakin tinggi. Tetapi latihan-latihan yang berat sebelumnya, telah
memberikan bekal yang sangat berarti bagi Laksana menghadapi ketiga
orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu. Sementara itu
teriakan-teriakan Sampurna dan Manggada memang menarik perhatian.
Orang-orang yang tinggal tidak jauh dari tempat pertempuran itu
terjadi, menjadi semakin tidak mengerti, apa yang telah terjadi.
Sedangkan orang-orang yang berani mengintip dari celah-celah pintu
regolnya, seakanakan tidak mempercayai penglihatannya, bahwa salah
seorang dari ketiga orang anak muda itu mampu menghadapi tiga orang
pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong. Sesuatu yang menurut mereka
hanya dapat terjadi dalam mimpi yang akan terhapus saat mereka
terbangun. Tetapi meskipun mereka mengusap mata mereka, yang terjadi
itu memang telah terjadi. Laksana yang bertempur melawan tiga orang
lawannya yang bertempur dengan keras dan kasar itu justru menjadi
semakin garang, kakinya berloncatan dengan cepat, seakanakan tidak
berjejak di atas tanah. Sekali-sekali ia melenting menyerang, namun
kemudian meloncat menghindari serangan. Ketiga orang tawannya yang
sudah mulai kelelahan menjadi sangat marah. Anak muda tiu ternyata
tidak mudah untuk ditundukkan, meskipun mereka bertiga, tetapi anak
muda itu berloncatan dengan tangkas seperti seekor rusa di padang
perdu. Dalam pertempuran yang menjadi semakin garang, maka tiba-tiba
saja terdengar seseorang mengaduh tertahan. Kaki Laksana tepat
mengenai dada salah seorang lawannya. Seorang yang bertubuh tinggi
agak kekurus-kurusan. Orang itu ternyata telah terlempar beberapa
langkah dan jatuh terbanting di tanah. Untunglah bahwa kepalanya
tidak membentur dinding halaman di pinggir jalan itu. Sementara
kedua kawannya masih bertempur terus, maka orang itu berusaha untuk
bangkit. Dadanya terasa sesak dan nyeri. Seakan-akan tulang-tulang
iganya menjadi retak. Bahkan punggungnyapun terasa sakit. Demikian
derasnya serangan Laksana, sehingga ketiga orang itu terbanting
jatuh, maka punggungnya telah tergores batubatu yang berserakan di
jalan. Tetapi orang itu berhasil bangkit berdiri sambil menahan
sakit. Untuk beberapa saat ia berdiri termangu-mangu, sementara
kedua orang kawannya semakin mengalami kesulitan menghadapi Laksana
yang masih saja bertempur dengan tangkasnya. Namun beberapa saat
kemudian, maka orang itupun telah mempersiapkan diri untuk kembali
memasuki arena pertempuran. Meskipun tulang-tulangnya masih terasa
nyeri, namun orang itu kemudian telah meloncat memasuki arena.
Tetapi demikian, orang itu mulai menyerang, maka seorang kasarnya
tiba-tiba saja telah jatuh terduduk sambil memegangi perutnya.
Ternyata sambil berputar, kaki Laksana terayun menghantam perut
orang itu Demikian kerasnya, sehingga isi perutnya seakan-akan akan
menghambur keluar. Kesakitan yang sangat telah membuatnya kehilangan
kekuatan untuk tetap tegak berdiri. Keadaan Laksana menjadi semakin
baik. Dua lawannya telah disakitinya. Sehingga tinggal seorang saja
yang masih mampu memberikan perlawanan dengan baik. Dalam pada itu,
Manggadapun segera memberi isyarat kepada Sampurna untuk berdiri
berseberangan. Dengan demikian, maka keduanya teah menutup
kemungkinan orangorang itu melarikan diri. Pertempuran masih
berlangsung meskipun keseimbangannya telah menjadi semakin jelas.
Ketika orang yang perutnya kesakitan itu dapat bangkit berdiri, maka
kedua kawannya benar-benar sudah terdesak. Sebelum orang itu sempat
memasuki arena pertempuran, maka seorang yang masih belum disakiti
itulah yang mengaduh kesakitan. Ketika Laksana sempat menusuk dengan
jari-jarinya yang merapat, tepat di arah ulu hati lawannya itu, maka
orang itu telah terbungkuk. Pada saat itulah, maka Laksana telah
memukul tengkuknya dengan telapak tangannya. Dengan derasnya orang
itu telah terjerumus dan jatuh menelungkup di tanah. Wajahnyalah
yang telah tersuruk di tanah yang berbatu-batu kerikil. Orang yang
dadanya masih kesakitan itu mencoba untuk membantunya. Dengan sisa
tenaganya ia menyerang Laksana. Namun usahanya sia-sia. Dengan
tangkasnya Laksana bergeser ke samping, kemudian kakinya terjulur
dengan cepatnya mengenai lambungnya. Sekali lagi orang itu terdorong
surut. Sementara itu, Laksana telah meloncat memburunya.
Tangannyalah yang kemudian, terjulur menyambar keningnya. Orang itu
tidak sempat berbuat sesuatu. Tubuhnyapun terpelanting jatuh.
Kawannya yang seorang lagi ternyata hatinya kuncup, ia tidak lagi
nampak garang. Bahkan kemudian ia berdiri saja dengan wajah yang
pucat. Ketika Laksana melangkah mendekatinya, maka orang itupun
surut kebelakang, sehingga akhirnya ia berdiri melekat dinding. “Aku
dapat membunuhmu” geram Laksana. Orang itu tidak menjawab. Perut dan
punggungnya masih terasa sakit. Sementara itu, ia tidak mempunyai
kesempatan sama sekali. Dengan lantang Laksanapun kemudian
memerintahkan ketiga orang itu berkumpul. Dua orang yang masih
terbaring itupun berusaha untuk dapat bangkit. Bahkan seorang di
antaranya terpaksa harus merangkak untuk melakukan perintah Laksana.
Demikian ketiga orang itu duduk bersandar dinding dengan tubuh yang
lemah dan sakit-sakitan, maka Laksanapun berkata “Nah, sekarang
kalian mendapat kesempatan untuk melihat kenyataan yang ada di
padukuhan ini” Karena ketiga orang itu tidak menjawab, maka Laksana
itu bertanya pula “He, kenapa kau kemarin menyakiti seorang di
antara para penghuni padukuhan ini?” Ketiga orang itu masih tetap
berdiam diri. Sehingga Laksana itupun kemudian membentak ”Jawab.
Kenapa kau menyakiti salah seorang penghuni padukuhan ini?” Ketika
Laksana menyambar baju salah seorang dari ketiganya, yang kebetulan
dadanya masih terasa sangat sakit, serta tulang-tulang iganya
rasa-rasanya menjadi retak, maka orang itupun mengaduh kesakitan.
Tetapi Laksana justru mengguncangnya sambil membentak pula “He,
kenapa kau tidak menjawab” Orang itu menjadi semakin kesakitan.
karena itu, maka ia terpaksa menjawabnya “Bukan maksudku” “Jadi,
maksud siapa?” desak Laksana. “Aku mendapat perintah dari Ki Wira
Sabet dan Ki Sura Gentong untuk mengetahui anak-anak muda yang
berkeliaran di atas punggung kuda. Kami harus menangkap mereka dan
membawanya menghadap. Sebenarnya kami tidak bermaksud menyakiti
orang pudukuhan itu. Kami hanya ingin sekedar bertanya. Tetapi
ternyata orang itu keras kepala” “Bohong” bentak Laksana
“orang-orang padukuhan ini sebagian menjadi ketakutan melihat
kalian. Orang itu tidak akan berani berbohong kepadamu atau menolak
untuk menjawab. Tetapi kalian tetap saja menyakitinya karena kalian
ingin membuat padukuhan ini semakin ketakutan” “Tidak. Sungguh tidak
ada niat kami untuk menyakitinya” jawab orang itu. Karena Laksana
melepaskan tangannya sambil mendorongnya, maka orang itu terjatuh
menimpa dinding halaman. Karena itu, maka orang itupun mengaduh
kesakitan. Dalam pada itu maka Manggadalah yang kemudian melangkah
mendekati sambil berkata “Nah, sekarang kalian sudah bertemu dan
berbicara langsung dengan ketiga orang anak muda yang berkeliaran di
punggung kuda. Apakah kalian masih tetap berniat menangkap kami dan
membawa kami menghadap paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong?”
Orang itu termangu-mangu. Namun kemudian dengan nada rendah ia
menjawab “Kami tidak berhasil” Manggada mengangguk-angguk. Sementara
itu Sampurna itupun berkata “Ki Sanak. Jika kau tidak berhasil
menangkap kami dan membawa kami kepada paman Wira Sabet dan paman
Sura Gentong, maka sampaikan salam kami kepada mereka dan
kawan-kawannya. Tetapi sebelum kalian menemui mereka, maka kalian
harus menjawab beberapa pertanyaan” Wajah orang itu menjadi semakin
pucat. Sementara Sampurna berkata “Pertanyaan-pertanyaan kami sangat
sederhana. Karena itu, maka kalian tentu dapat menjawabnya. “Kami
tidak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan” jawab orang yang dadanya
masih terasa sakit itu. “Terserah kepada kalian” berkata Sampurna
“tetapi sebelum kalian menjawab pertanyaan-pertanyaan kami, maka
kalian tidak akan kami lepaskan” “Kalian tidak akan berani berbuat
seperti itu” berkata orang itu. “Kenapa?” bertanya Sampurna. “Jika
kami tidak kembali pada saat yang ditentukan, maka Ki Wira Sabet dan
Ki Sura Gentong akan datang sendiri kemari” “Menarik sekali” berkata
Sampurna “itulah salah satu pertanyaan yang ingin aku sampaikan
kepada kalian. Kapan paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong akan
datang kemari. Karena itu, maka sebaiknya kami menahan kalian
bertiga sampai mereka benar-benar datang” Orang itu mengumpat di
dalam hati. Sementara itu kawannya yang perutnya masih terasa sakit
itupun berkata “Jika Ki Wira Sabet dan Ki Sura Gentong datang
kemari, mereka tentu tidak hanya berdua. Tentu bersama Pideksa dan
beberapa orang pengawal” “Bagus” sahut Sampurna “disini kami tinggal
bersuit saja. Anak-anak muda akan berdatangan untuk menyambut paman
Wira Sabet dan paman Sura Gentong serta para pengawalnya” Tetapi
orang yang wajahnya tersuruk ke tanah dengan goresan-goresan kecil
yang menjadi merah itu berkata “Aku tidak yakin, bahwa anak-anak
muda padukuhan ini berani dari keluar regol halaman rumahnya”
Jawaban itu membuat Sampurna menjadi marah. Tiba-tiba saja tangannya
telah menampar wajah orang itu, sehingga orang itu mengaduh
kesakitan. Goresan-goresan yang berwarna merah itu sudah terasa
pedih, apalagi telapak tangan Sampurna itu. “Kau menghina kami”
geram Sampurna. Orang itu tidak berbicara lagi. Apalagi ketika
terasa darah yang hangat mengalir disela-sela bibirnya yang pecah.
Yang kemudian bertanya adalah Manggada “Ki Sanak. Katakan kepada
kami, dimana tempat tinggal paman Wira Sabet dan paman Sura
Gentong?” Jantung ketiga orang itu rasa-rasanya berdetak
semakincepat. Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sangat
menakutkan. Mereka bertiga tentu tidak akan dapat menunjukkan dimana
tempat tinggal Wira Sabet dan Sura Gentong. Tetapi jika mereka tidak
mengatakan, maka ketiga anak muda itu tentu akan memaksanya,.
“Anak-anak muda ini memang gila” geram orang-orang itu di dalam
hatinya. Mereka sama sekali tidak mengira bahwa di padukuhan
Gemawang itu ada juga anak-anak muda yang berilmu tinggi. Manggada
memang menunggu sejenak. Tetapi karena tidak ada di antara mereka
yang menjawab, maka Manggada telah mengulangi lagi pertanyaannya
“Katakan kepada kami, dimana tempat tinggal paman Wira Sabet dan
paman Sura Gentong. Kami tidak mempunyai waktu banyak. Karena itu,
sebaiknya kau tidak menunda-nunda jawaban kalian” Adalah di luar
dugaan, bahwa orang yang bertubuh tinggi agak kekurus-kurusan itu
berkata “Anak-anak muda. Kalian tentu tahu, bahwa kami tidak akan
dapat memberikan jawaban itu. Kami tahu, bahwa kalian dapat memaksa
kami untuk berbicara dengan cara kalian. Tetapi kami tetap tidak
akan berani menjawab, karena jika terloncat dari mulut kami jawaban
itu, maka nasib kami akan menjadi sangat buruk” “Tetapi bukankah kau
juga memaksa seorang dari penghuni padukuhan ini untuk mengatakan
kepada kalian, siapakah kami bertiga?” Orang itu terdiam lagi.
Tetapi jantungnya menjadi semakin berdentangan. “Ki Sanak“ berkata
Manggada “kami dapat memperlakukan kalian sebagaimana kalian
memperlakukan salah seorang tetangga kami yang baik. Bahkan kami
dapat menahan kalian sampai kalian bersedia berbicara. Kami tidak
takut apakah paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong datang kemari
atau tidak. Bahkan seandainya mereka datang dengan saudara-saudara
seperguruannya” “Anak-anak muda” berkata orang yang bertubuh tinggi
itu “bagaimanapun juga kami tidak akan memilih untuk mengatakan
dimana tempat tinggal Ki Wira Sabet dan Ki Sura Gentong. Seandainya
kalian akan memperlakukan kami lebih buruk lagi dari perlakuan kami
atas tetangga kalian itu, kami memang harus menjalaninya. Tetapi
betapapun pahitnya penderitaan kami di tangan kalian, bagi kami
tentu masih lebih baik dari hukuman yang akan kami terima jika kami
menjawab pertanyaan kalian” “Itukah duniamu? Dunia paman Wira Sabet
dan paman Sura Gentong?” “Ya” jawab orang itu. Manggada menarik
nafas dalam-dalam. Ketiga orang itu tentu tidak akan berani
mengatakan apa-apa. Bahkan agaknya mereka akan memilih membunuh diri
daripada dipaksa untuk mengatakan, dimana letaknya tempat tinggal
Wira Sabet dan Sura Gentong. Untuk membuktikan dugaannya itu maka
Manggadapun berkata “Ki Sanak. Bagaimanapun juga. kami akan memaksa
kalian untuk berbicara. Jangan mengira bahwa kami tidak dapat
memperlakukan kalian lebih buruk dari paman Wira Sabet dan Sura
Gentong. Kami dapat menghukum kalian dengan hukuman picis” Keringat
dingin telah membasahi seluruh pakaian orangorang itu. Bukan saja
karena mereka telah memeras tenaganya untuk berkelahi dan kalah,
tetapi mereka memang menjadi sangat ngeri mendengar hukuman picis
yang disebutsebut oleh anak muda itu. Meskipun demikian, mereka sama
sekali tidak mempunyai keberanian untuk mengkhianati Wira Sabet dan
Sura Gentong. Untuk waktu yang cukup lama mereka telah dibentuk
untuk menjadi seorang hamba yang setia. Setiap kali mereka selalu
mendengar ancaman, bentakan dan bahkan kadang-kadang kekerasan
badani. Namun kadang-kadang mereka juga disanjung dan diberi
harapan-harapan bagi masa depan mereka. Karena orang itu masih saja
ragu-ragu, maka Manggadapun berkata “Nah, pertimbangkan lagi
keputusan kalian. Apakah kalian akan berbicara atau tidak”
“Anak-anak muda” berkata orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan
“aku mohon, bunuh saja kami. Kami tidak mempunyai kesempatan apapun
juga. Kematian tentu akan lebih baik daripada mengalami perlakuan Ki
Wira Sabet dan Ki Sira Gentong serta beberapa orang saudara
seperguruan mereka. Apalagi di antara merekapun terdapat Ki Sapa
Aruh” Ketiga orang anak muda itu saling berpandangan sejenak. Namun
tiba-tiba saja Manggada berkata “Baik. Jika kalian tidak mau
menunjukkan tempat tinggal paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong,
maka aku mempunyai usul. Kalian kami bebaskan Tetapi dengan syarat
bahwa kalian harus menangkap kami sebagaimana tugas yang diberikan
kepada kalian dan membawa kami menghadap paman Wira Sabet dan paman
Sura Gentong.” Wajah orang itu menjadi tegang. Dengan dahi yang
berkerut ia bertanya “Apakah kau bergurau?” “Tidak. Aku tidak
bergurau” jawab Manggada yang lalu bertanya kepada Laksana “Apakah
kau sependapat, bahwa kita akan menyerah saja dan biarlah ketiga
orang itu menangkap dan membawa kita?” ”Satu rencana yang bagus”
sahut Laksana “aku setuju. Kita akan sampai juga ke tempat tinggal
paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong” Sampurnapun kemudian juga
menyahut “Baik. Kami akan menyerahkan diri kami” Tetapi Manggada
berkata “Kau jangan, Sampurna. Bagimu akan menjadi sangat berbahaya.
Kau akan dapat menjadi sasaran dendam paman Wira Sabat dan paman
Sura Gentong. Bukankah sasaran utama dendamnya kepada ayahmu?” “Aku
tidak akan gentar mengalami perlakuan apapun juga” jawab Sampurna.
Namun Laksana juga memperingatkan “Jangan. Kau akan tinggal. Kau
akan menyampaikan keputusan kami ini kepada ayah dan paman” “Tetapi
rencana ini juga sangat berbahaya bagi kalian.” “Tidak. Paman Wira
Sabet pernah kami temui. Ia masih belum melupakan aku yang di masa
kecil sering mencari duwet dan manggis di halaman rumahnya. Pohon
duwet dan manggis itu masih ada meskipun juga sudah tua” berkata
Manggada. “Tetapi itu tidak adil. Jika kalian mengalami sesuatu,
maka aku akan menyesal sepanjang hidupku” jawab Sampurna. “Kami akan
menjaga diri kami, percayalah. Kami titipkan kuda kami kepadamu.
Sampaikan pula rencana ini kepada ayah dan paman” berkata Manggada.
Lalu katanya “Dengan demikian, biarlah ayah dan paman membuat
rencana berikutnya dengan Ki Jagabaya untuk mengatasinya” Sampurna
masih saja ragu-ragu. Sementara itu Manggada berkata “Jika kau ikut
bersama kami, maka tidak ada seorangpun yang dapat menyampaikan
rencana ini kepada Ki Jagabaya dan kepada ayah serta paman” Sampurna
akhirnya dapat diyakinkannya, sehingga iapun kemudian bersedia untuk
tinggal. Namun ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong
itulah yang menjadi bingung. Karena itu, maka Manggada pun
menjelaskan rencananya “Nah, kalian dapat memilih. Tinggal disini
dengan hukuman picis, atau menangkap kami berdua dan membawa kami
menghadap paman Wira Sabet dan Sura Gentong. Agar kalian tidak
mendapat hukuman, maka kalian harus mengatakan kepada mereka, bahwa
kalian berhasil menangkap kami berdua. Tetapi Sampurna berhasil
meloloskan dirinya. Nah, jelas?” Ketiga orang itu masih saja
bingung. Seorang di antara mereka berkata “Kami tidak akan dapat
melakukannya. Jika kalian jatuh ketangan Ki Wira Sabet dan Ki Sura
Gentong, maka nasib kalian akan menjadi sangat buruk. Kalian akan
mengalami perlakuan yang tidak kalian bayangkan sebelumnya” “Memang
mungkin. Tetapi ini satu-satunya cara bagi kami untuk mengetahui
tempat tinggal paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong. Selebihnya,
kami akan dapat mengalami beberapa hal tentang isi tempat tinggal
mereka. Tetapi orang itu menggeleng. Katanya “Jangan lakukan itu”
Sikap orang-orang itu memang menarik perhatian. Manggada dan Laksana
bahkan percaya, bahwa ketika orang itu tidak akan mencelakakan
mereka dengan sengaja. Tetapi ketiga orang itu benar-benar menjadi
bingung. Semula mereka menyangka bahwa anak-anak muda itu sekedar
bergurau untuk mengganggu mereka yang telah gagal menjalankan tugas.
Namun ternyata anak-anak muda itu bersungguh-sungguh. Sementara itu
Manggadapun berkata “Ki Sanak. Dengarkan. Kami telah mengampuni
kesalahan kalian. Seharusnya kami dapat memperlakukan kalian apa
saja sekehendak kami. Kami sama sekali tidak takut atas pembalasan
paman Wira Sabet dan Sura Gentong. Tetapi kami tidak melakukannya.
Karena itu, terserah tanggapan kalian atas tingkah laku kami.
Sementara itu, kami minta kalian menangkap kami. Membawa kami berdua
sebagaimana tugas yang dibebankan kepada kalian. Kalian tidak usah
segan. Perlakukan kami sebagaimana kalian memperlakukan orang-orang
tangkapan.” Ketiga orang itu saling berpandangan sejenak. Sementara
itu Manggada telah menarik Sampurna menjauh dan memberikan beberapa
pesan kepadanya. Sampurna mengangguk-angguk, Katanya hampir berbisik
“Baiklah. Aku akan mengusahakannya” Demikianlah, Manggada dan
Laksana telah memaksa ketiga orang itu untuk membawanya. Dengan nada
keras Manggada berkata “Kesempatan ini adalah kesempatan terbaik
bagi kalian. Apapun yang terjadi atas diri kami, kalian tidak usah
menghiraukannya. Sementara itu, paman Wira Sabet dan paman Sura
Gentong tidak akan menghukum kalian. Karena kalian tidak gagal
sepenuhnya. Dua dari tiga orang telah dapat kalian tangkap” “Tetapi
kami tidak akan dapat menyaksikan perlakuan Ki Wira Sabet dan Ki
Sura Gepong atas kalian” “Itu tergantung kepada sikap kalian. Jika
kalian tidak mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, maka nasib kami
tidak akan terlalu buruk. Sementara keinginan kami untuk mengetahui
tempat tinggal mereka dapat terlaksana” Ketiga orang itu benar-benar
sulit untuk mengerti, apa sebenarnya yang dikehendaki oleh anak-anak
muda. keinginan yang bagi mereka tidak masuk akal. Rencana itu akan
dapat membahayakan jiwa mereka. Karena itu salah seorang dari ketiga
orang itu berkata “Anak muda. Kalian telah berbuat di luar dugaan
kami. Kalian tidak memaksa kami berbicara dengan cara yang kasar.
Bahkan kalian akan membebaskan kami. Dengan demikian, apakah kami
akan sampai hati melihat kalian mengalami kesulitan di sarang kami?
Anak-anak muda. Kami peringatkan, bahwa Ki Sura Gentong sering
menghukum seseorang dengan cara di luar batas ketahanan badani
seseorang. Sehingga akibatnya menjadi sangat parah. Mati tidak
tetapi hidup pun tidak” Manggada mengerutkan dahinya. Ia masih
teringat ancaman Sura Gentong yang diucapkan di halaman rumah Wira
Sabet. Namun Manggada masih berharap bahwa berdua dengan Laksana, ia
akan dapat mengatasi kesulitan itu. Karena itu, maka ia menjawab “Ki
Sanak. Nasibku akan berbeda jika seandainya aku tertangkap saat aku
menyusup memasuki sarang itu. Tetapi sekarang aku tertangkap di
padukuhanku sendiri, sehingga kesalahanku tentu dianggap tidak
seberat jika aku datang ke tempat tinggal mereka” Ketiga orang itu
tidak mempunyai pilihan lain. Jika mereka menolak, maka anak-anak
muda itu tidak akan melepaskan mereka dan bahkan mungkin merekapun
akan mendapat perlakuan buruk di padukuhan itu. Tetapi untuk membawa
kedua orang anak muda itu, maka rasa-rasanya sangat berat bagi
perasaannya. Bahkan ketiga orang itu sempat juga bertanya kepada
diri mereka sendiri “Apakah aku masih mempunyai perasaan?” Namun
sikap kedua orang anak muda itu agaknya telah mengguncang
jantungnya, dan mengorek endapan perasaannya yang masih tersisa.
Dengan demikian, maka ketiga orang itupun terpaksa melakukan
permintaan kedua orang anak muda itu. Bertiga mereka menggiring
keduanya keluar padukuhan Gemawang. Memang agak aneh, bahwa
orang-orang yang menangkap kedua orang anak muda itu keadaannya jauh
lebih buruk dari kedua orang tangkapannya. Namun Manggada dan
Laksana berkata kepada mereka bertiga ”Jangan cemas. Kami pandai
berpura-pura. Disarang paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong, aku
akan berpura-pura kesakitan di bagian dalam tubuhku lebih parah dari
kalian” Ketiga orang itu tidak menjawab. Tetapi kegelisahan telah
mencengkam jantung mereka. Betapapun ganas dan garangnya mereka,
namun ternyata sia-sia nuraninya masih juga sempat berbicara. Dalam
pada itu, sepeninggal Manggada dan Laksana yang telah dibawa oleh
ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu, maka
Sampurnapun segera memenuhi pesan Manggada. Cepat-cepat ia pergi ke
rumah Ki Kertasana untuk memberitahukan keputusan yang telah diambil
oleh Manggada dan Laksana. Ki Kertasana dan Ki Citrabawa memang
terkejut. Dengan wajah tegang Ki Kertasana itupun berdesis “Satu
petualangan yang tidak berperhitungan” “Ketiga orang pengikut Wira
Sabet dan Sura Gentong itu justru telah memperingatkan mereka”
berkata Sampurna “tetapi Manggada dan Laksana tetap pada
keinginannya. Sebenarnya aku juga menyatakan ingin menyertai mereka,
tetapi mereka menolak, karena dengan demikian tidak seorangpun yang
dapat memberitahukan rencana ini kepada paman” Ki Kertasana dan Ki
Citrabawa memang menjadi tegang. Namun Ki Pandilah yang bertanya
“Apakah ada pesan yang lain yang harus angger sampaikan?” “Ya” jawab
Sampurna “Manggada dan Laksana akan berusaha meninggalkan jejak
disepanjang perjalanan mereka” Ki Pandi itupun mengangguk-angguk.
Kemudian katanya “Terima kasih ngger. Mudah-mudahan cara yang
dipilihnya tidak berakibat sangat buruk bagi mereka” Namun Ki Pandi
itupun kemudian berkata kepada Ki Kertasana dan Ki Citrabawa “Aku
minta diri. Mudah-mudahan ada cara untuk berbuat sesuatu” “Apa yang
akan Ki Pandi lakukan?” bertanya Ki Kertasana. “Aku belum tahu.
Setidak-tidaknya mengikuti jejak anakanak itu sampai sejauh jejak
itu aku ketemukan” jawab ki Pandi. Ki Kertasana dan Ki Citrabawa
yang sudah menduga bahwa Ki Pandi tidak akan membiarkan kedua orang
anak muda itu, tidak mencegahnya. Namun Ki Kertasanapun berpesan
“Hatihati Ki Pandi. Kita berhadapan dengan orang-orang yang sakit
hati dan menyimpan dendam yang dalam sekali di dalam hatinya”
“Tetapi dendam itu tidak mutlak ditujukan kepada Manggada dan
Laksana” jawab Ki Pandi. Dengan demikian, maka Ki Pandi itupun
kemudian telah meninggalkan rumah itu selelah ia mendapat petunjuk
dari Sampurna, darimana awal Keberangkatan Manggada dan Laksana.
Dengan cepat Ki Pandi menemukan isyarat pertama dari Manggada.
Ketika ia sampai di ujung lorong, maka dilihatnya ranting perdu yang
berpatahan terinjak kaki. Manggada dan Laksana tentu dengan sengaja
melakukannya, karena mereka dengan sengaja telah meninggalkan jejak
sebagaimana dikatakannya dalam pesannya lewat Sampurna. Dalam pada
itu, yang juga menjadi pening adalah orangorang yang sempat
mengintip apa yang telah terjadi. Mereka tidak dapat mengerti, apa
yang dilakukan oleh Manggada dan Laksana. Bahkan ketika kedua orang
anak muda itu dibawa pergi, beberapa orang telah muncul di jalan.
Mereka saling berpandangan dan sejenak kemudian tiga orang telah
berkumpul di halaman rumah salah seorang dari mereka. “Aku tidak
dapat mengerti, apa yang sebenarnya telah terjadi. Seorang dari
ketiga orang anak muda itu mampu mengalahkan tiga orang pengikut
Wira Sabet dan Sura Gentong. Namun kemudian dua di antara ketiga
anak muda itu menyerahkan diri untuk dibawa ke sarang Ki Wira Sabet
dan Ki Sura Gentong” “Ya. Tetapi mereka sempat melarang Sampurna
untuk ikut. Memang dendam Wira Sabet dan Sura Gentong kepada Ki
Jagabaya akan dapat dilimpahkan kepadanya” berkata yang lain. Namun
yang lain lagi berkata “Manggada memang gila. Apa sebenarnya yang
dikehendakinya” Orang yang pertamalah yang menyahut “Nampaknya
anakanak itu telah mengorbankan segala-galanya, bahkan diri mereka
sendiri untuk mengatasi bayangan Wira Sabet dan Sura Gentong yang
menakutkan itu” “Tetapi satu hal yang aku anggap tidak masuk akal.
Seorang saja di antara mereka telah dapat mengalahkan tiga orang
pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong yang sangat ditakuti itu.
Orang-orang sepadukuhan ini tidak berani berbuat apa-apa terhadap
mereka bertiga. Sementara itu seorang anak muda mampu
menundukkannya” berkata yang lain. Tetapi kesimpulan yang mereka
ambil ternyata tidak sejalan dengan kesimpulan yang dikehendaki oleh
anak-anak muda itu. Mereka tidak segera bangkit dan ikut serta
melawan ketakutan yang tersebar di padukuhan itu. Tetapi seorang di
antara mereka justru berkata “Tetapi kekalahan itu tentu akan
membuat Wira Sabet dan Sura Gentong menjadi sangat marah, sehingga
mereka akan mengirimkan orang lebih banyak dan lebih garang. Atau
bahkan Wira Sabet dan Sura Gentong sendiri yang akan datang” “Tetapi
anak-anak muda yang menang itu justru menyerah” sahut yang lain.
“Itulah yang dapat membuat kita menjadi gila. Tetapi aku tidak yakin
bahwa tingkah anak-anak itu akan mampu menyelamatkan kita dan
padukuhan Gemawang dari kegarangan Wira Sabet dan Sura Gentong”
berkata yang seorang lagi. “Justru sebaliknya” berkata yang lain
“mungkin akan timbul persoalan-persoalan baru yang dapat menambah
kesulitan padukuhan ini” Namun mereka tidak berbincang lebih lama.
Dua orang di antara merekapun segera meninggalkan halaman rumah itu,
kembali ke rumah masing-masing dengan berbagai pertanyaan di dalam
hati mereka. Dalam pada itu, Manggada dan Laksana telah berjalan
semakin jauh. Laksana tidak tahu, kemana ia akan dibawa. Tetapi
Manggada yang memang dilahirkan di padukuhan itu, serta kenakalannya
di masa kanak-kanaknya, segera dapat mengerti, kemana mereka pergi.
“Jalan ini menuju ke padang perdu di pinggir hutan itu” berkata
Manggada di dalam hatinya. Namun jalan yang ditempuh memang bukan
jalan yang ramai. Tetapi jalan setapak yang jarang dilalui orang.
Bahkan jalan itu kadang-kadang menuruni tebing sungai dan kemudian
naik di seberang. Melintasi padang ilalang dan tanah gersang yang
tidak digarap Baru kemudian mereka sampai ke padang perdu yang luas
sampai ke batas sebuah hutan yang memang tidak terlalu besar.
“Agaknya di hutan itu mereka bersarang” berkata Manggada di dalam
hatinya. Namun ketika mereka menjadi semakin dekat, pengikut Wira
Sabet dan Sura Gentong itupun berkata “Kami harus menutup mata
kalian jika kalian memasuki lingkungan kami. Bahkan hal ini
seharusnya kami lakukan, sejak kami meninggalkan jalan padukuhan di
bulak itu” “Baik” berkata Manggada “lakukanlah. Tetapi sebelumnya
beritahu aku, diarah mana sarang kalian dibuat. “Di ujung hutan di
sisi sebelat Barat” jawab orang itu. “Di tempat yang menjorok itu?”
bertanya Manggada. “Ya” jawab orang itu termangu-mangu. “Baiklah”
berkata Manggada “tutuplah mata kami. Sebenarnya jika kami inginkan,
kami dapat melarikan diri sekarang, sehingga keinginan kami untuk
mengetahui dimana letak sarang kalian sudah kami dapat. Kalian
bertiga tentu tidak akan dapat mencegah kami. Tetapi dengan
demikian, kalian bertiga akan mengalami penderitaan yang sangat
kalian takutkan. Karena itu, biarlah kalian bawa kami ke sarang
kalian dengan mata tertutup” Ketiga orang itu saling berpandangan
sejenak. Seorang di antara mereka berkata “Ya. Kalian dapat
melarikan diri sekarang. Tetapi jika hal itu kalian lakukan, bunuh
saja kami bertiga disini. Itu lebih baik bagi kami. Tetapi jika
kalian tidak melakukannya. Sebenarnyalah kami ingin mengetahui, apa
sebenarnya yang kalian inginkan?” “Kami memang ingin berhubungan dan
berbicara lebih banyak dengan paman Wira Sabet dan Sura Gentong”
jawab Manggada. “Untuk terakhir kalinya, aku peringatkan kalian,
bahwa kalian akan dapat mengalami penderitaan yang tidak
berkeputusan” “Mudah-mudahan tidak. Tetapi bukankah kau yang akan
mengalaminya jika kami membatalkan niat kami pergi ke sarangmu itu”
berkata Manggada “bahkan kau minta agar kami membunuh kalian
bertiga” Ketiga orang itu tidak menjawab. Mereka memang masih saja
kebingungan. Sementara itu Manggada. berkata pula “Lekas, tutup mata
kami sebelum kawan-kawanmu melihat apa yang terjadi sekarang”
Orang-orang itu tidak menjawab. Namun mereka melakukan sebagaimana
dikatakan oleh Manggada. Sejenak kemudian Manggada dan Laksanapun
telah ditutup matanya. Mereka digiring menuju ke sarang Wira Sabet
dan Sura Gentong yang memang terletak di tempat yang terpencil dari
hubungan dengan sesamanya. “Kita sudah dekat” desis orang yang
bertubuh tinggi itu. Manggadapun berdesis “Laksana, kita harus
menunjukkan bahwa kita dalam keadaan yang sulit” “Bagaimana aku
harus berpura-pura?” “Kau tentu dapat melakukannya” jawab Manggada.
Lalu katanya kepada pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu
“Lakukan tugas kalian dengan baik” Ketiga orang yang menggiringnya
tiaak menyahut. Sebenarnyalah mereka merasa segan untuk berbuat
kasar kepada kedua orang anak muda yang tidak dapat dimengerti
kemauannya itu. Namun ketika mereka mendekati pagar bambu yang rapat
yang mengelilingi sebuah lingkungan yang menjadi barak hunian Wira
Sabet dan Sura Gentong, ketiga orang itu memang mulai menjadi kasar.
Mereka mendorong Manggada dan Laksana berganti-ganti. Dari kejauhan,
dua orang yang mengawasi keadaan di luar dinding barak itu sudah
melihat, ketiga orang kawannya datang dengan membawa dua orang
tawanan yang matanya tertutup rapat. “Kenapa hanya dua” desis yang
seorang. “Seharusnya tiga orang anak muda” sahut yang lain. Tetapi
keduanyapun terdiam. Sementara itu ketiga orang yang membawa
Manggada dan Laksana itu berusaha untuk menghilangkan bekas atau
rasa sakit dengan berjalan tegap tanpa memberikan kesan kesakitan.
Ketika ketiga orang itu menjadi semakin dekat dengan dinding
baraknya, maka mereka menjadi semakin kasar. Sementara itu
sekali-sekali Manggada terhuyung-huyung hampir jatuh tertelungkup
jika punggungnya disentuh oleh orang yang menggiringnya. Laksana
yang tertutup matanya tidak melihat apa yang dilakukan oleh
Manggada. Tetapi ia mendengar seakan-akan Manggada akan terjatuh.
Karena itu, maka iapun bertanya “Apa yang terjadi?” Manggada justru
berdesah “Sst. Aku pura-pura setengah mati. Kau harus melakukan
juga. Jika tidak, maka semuanya akan sia-sia saja” Laksana terdiam.
Sementara salah seorang yang menggiringnya itu berdesis “Kita sudah
dekat. Ada pengawas di depan” Manggada dan Laksana terdiam. Tetapi
jika mereka didorong dengan kasar, maka merekapun berpura-pura akan
tertelungkup atau tingkah laku yang lain yang membuat mereka
seolah-olah tidak berdaya lagi. Beberapa langkah mendekati dua orang
pengawas itu, salah seorang dari ketiga orang yang menggiring
Manggada dan Laksana yang ditutup matanya itu berkata “Apakah Ki
Lurah ada?” “Ada” jawab salah seorang dari mereka “tetapi bukankah
kau harus menangkap tiga orang anak muda?” “Iblis, kecil yang
seorang lagi sempat melarikan diri” jawab orang itu “tetapi dua ini
sudah mewakili” “Ki Lurah menghendaki tiga” berkata orang itu. “Anak
yang seorang itu penakut. Demikian ia melihat kami, maka
dilarikannya kudanya menjauh. Tetapi yang dua orang ini tidak sempat
melakukannya” Kedua orang pengawas itu mengangguk-angguk. Tetapi
yang lain bertanya “Tidak kau bawa kudanya itu?” ”Kudanya berlari
seperti sedang berpacu demikian, penunggangnya terjatuh. Kami gagal
untuk menangkap. Tetapi orang-orangnya inilah yang lebih penting
dari kudanya bagi kami” jawab orang yang bertubuh tinggi itu. Kedua
pengawas itu tidak bertanya lagi. Mereka membiarkan ketiga orang itu
membawa Manggada dan Laksana memasuki regol pagar barak mereka.
Sementara itu, Ki Pandi dengan hati-hati mengikuti jejak ketiga
orang yang membawa Manggada dan Laksana. Tidak terlalu sulit
baginya. Namun ketika jejak itu menuruni tebing sungai, maka Ki
Pandi agak menjadi cemas. Jika mereka menelusuri sungai, maka tentu
agak sulit baginya untuk mengikuti jejak mereka. Ia harus mencari
jejak itu di seberang sungai, menelusuri tepian. Tetapi yang masih
dipertanyakan, ke arah hulu atau udik. Namun Ki Pandi tidak perlu
bersusah payah. Ketika ia menyeberangi sungai itu, maka ia langsung
dapat melihat jejak kaki di tepian. Jejak yang sengaja dibuat
sebagaimana sebelumnya. Dengan demikian, Ki Pandi tidak menemukan
kesulitan apaapa untuk mengikuti arah perjalanan Manggada dan
Laksana. Tetapi Ki Pandi tidak dapat mengikuti jejak itu sampai ke
barak. Dengan ketajaman penglihatannya, Ki Pandi yang bersembunyi di
balik rimbunnya pohon perdu melihat Manggada dan Laksana itu dibawa
ke barak, sementara dua orang yang mengawasi keadaan itu masih saja
berjaga-jaga di tempatnya. Keduanya berjalan hilir mudik untuk
mengatasi kejemuan mereka dalam tugas yang melelahkan itu. Agaknya
para pengikut Wira Sabet dari Sura Gentong itu lebih senang
melakukan tugas-tugas lain daripada berdiri di pinggir hutan untuk
mengawasi keadaan. Meskipun sejak semula mereka berada di tempat
itu, belum pernah ada. orang yang datang atau bahkan yang tersesat
sekalipun sampai ke tempat itu. Namun para pengikut Wira Sabat dan
Sura Gentong setiap hari bergantian selalu mengawasi keadaan. Namun
karena itu, maka para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu tidak
melakukan tugas mereka dengan sungguhsungguh. Mereka lebih banyak
menyibukkan diri justru untuk mengusir kejemuan daripada menjalankan
tugasnya sebaikbaiknya. Ki Pandi melihat gelagat itu. Karena itu,
maka ia ingin memanfaatkan keadaan itu sebaik-baiknya. Sebagai
seorang yang berilmu tinggi dan mempunyai ketajaman panggraita, maka
Ki Pandi mampu beringsut dari balik gerumbul perdu yang satu ke
balik gerumpul perdu yang lain, sehingga akhirnya Ki Pandi itu
hilang ke dalam hutan. Dan dalam hutan itulah Ki Pandi ingin
melihat, apa yang ada di balik dinding yang cukup tinggi yang dibuat
dari bambu yang berjajar rapat. Dalam pada itu, Manggada dan Laksana
telah dibawa masuk ke dalam lingkungan barak itu. Di regol dua orang
penjaga berdiri di sebelah menyebelah dengan tombak di tangan.
“Inikah anak-anak muda yang harus kau ambil?” bertanya seorang
penjaga. Orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itulah yang
menjawab “Ya. Seorang lagi lepas dari tangan kami” “Kenapa dapat
terjadi?” bertanya penjaga. Orang yang membawa Manggada dan Laksana
itu merasa tidak perlu menjawab. Karena itu, maka merekapun,
berjalan terus menuju ke bangunan induk sarang Wira Sabet dan Sura
Gentong itu. Sekali-sekali mereka didorong ke arah yang benar,
karena keduanya masih saja ditutup matanya. Manggada dan Laksana
hampir jatuh terjerumus ketika kaki mereka terantuk tangga ketika
mereka sampai di bagian depan bangunan induk barak itu yang cukup
luas dan terbuka, yang dianggapnya sebagai pendapa. Tetapi seorang
yang menggiring mereka cepat menangkap tengkuk Manggada dan
sekaligus Laksana. Dengan kasar orang itu membentak “Naik tangga
itu, anak-anak dungu.” Manggada dan Laksanapun kemudian melangkah
dengan hati-hati, naik tangga pendapa yang rendah itu. “Hanya tiga
anak tangga” desis Laksana. Orang-orang yang menggiringnya itupun
kemudian mendorong Manggada dan Laksana sambil membentak “Duduk”
Manggadi dan Laksana masih belum merasa berada di atas tikar. Karena
itu, mereka agak ragu-ragu untuk duduk. Tetapi orang-orang yang
menggiringnya itu telah mendorong mereka, sehingga Manggada telah
terjatuh, sementara Laksana terhuyung-huyung beberapa langkah.
“Duduk” bentak orang yang bertubuh tinggi kekuruskurusan. Sekali
lagi Manggada dan Laksana merasa tengkuknya ditangkap dan kemudian
ditekan untuk duduk di atas lantai tanah yang tidak dilambari
sehelai tikar. Namun tiba-tiba saja mereka mendengar seseorang
berkata “Jangan terlalu kasar terhadap orang yang sudah tidak
berdaya” Manggada dan Laksana termangu-mangu mendengar peringatan
itu. Apakah itu satu kebaikan baginya atau justru satu penghinaan,
bahwa keduanya sama sekali sudah tidak berdaya. Namun kemudian
terdengar suara itu lagi “Kau hanya membawa dua di antara ketiga
orang anak muda itu?” “Yang seorang berhasil melarikan diri. Ketika
anak itu melihat kami, maka ia langsung melarikan kudanya, sehingga
kami tidak dapat mengejarnya. Sementara kedua orang anak muda ini
tidak sempat melakukannya. Keduanya justru meloncat turun dan
berusaha untuk melawan. Sementara kuda-kuda mereka juga lari dengan
cepat menjauh” “Paman Sura Gentong menghendaki ketiga-tiganya.
Tetapi untuk sementara dua orang ini sudah cukup” Manggada dan
Laksana yang mendengar pembicaraan itu cepat menduga, bahwa orang
yang berbicara itu adalah Pideksa. Dalam pada itu. maka Pideksa
itupun kemudian memerintahkan agar tutup mata kedua anak muda itu
dibuka. Demikian tutup mala itu dibuka, maka Manggada dan laksana
melihat sebagaimana mereka duga, Pideksa berdiri beberapa langkah di
hadapan mereka. “Maaf Manggada” berkata Pideksa “kami terpaksa
mengundang kalian berdua untuk datang ke sarang kami” “Apa maksudmu
menangkap kami berdua, Pideksa?” bertanya Manggada. “Kalian berdua,
bertiga dengan Sampurna, merupakan orang-orang yang berbahaya di
padukuhan Gemawang” jawab Pideksa. “Kenapa?” bertanya Manggada.
“Kalian telah melakukan tindakan-tindakan yang menunjukkan bahwa
kalian tidak menjadi ketakutan terhadap ayah dan paman Sura Gentong.
Kalian telah menghasut orang-orang padukuhan Gemawang untuk tidak
takut kepada kami” berkata Pideksa. “Jadi maksudmu, kami,
orang-orang Gemawang harus menjadi takut dan kemudian tunduk kepada
kalian?” bertanya Manggada. “Ya” jawab Pideksa “kami tidak mempunyai
pilihan lain” Pembicaraan itu terhenti. Mereka melihat dua orang
yang berjalan menuju kependapa yang bahannya semuanya dari bambu
itu. Dari bambu petung yang besar dibuat untuk tiangtiangnya. Bambu
wulung dan bahkan bambu apus sebagai kerangka atapnya. Namun
bagaimanapun juga Manggada dan Laksana menjadi berdebar-debar. Kedua
orang itu dapat melakukan hal-hal yang tidak terduga sebelumnya.
Demikian mereka naik ke pendapa, maka seorang di antaranya, Sura
Gentong sendiri, bertanya lantang “Mana yang seorang lagi?” “Yang
seorang berhasil melarikan diri Ki Sura” jawab orang yang bertubuh
tinggi kekurus-kurusan itu agak takut. Namun Pideksa segera menyahut
“Sampurna memang seorang penakut sejak kanak-kanak. Ketika mereka
melihat ketiga orang yang mencarinya, maka Sampurna segera melarikan
kudanya meninggalkan kedua orang kawannya” “Jadi apa artinya
kesombongannya selama ini?” “Anak itu dapat diabaikan tanpa Manggada
dan Laksana” “Seharusnya tikus itu harus kau tangkap juga” geram
Sura Gentong. “Tetapi kami mendapat perintah untuk tidak menangkap
mereka di rumah mereka” jawab seorang di antara ketiga orang yang
membawa Manggada dan Laksana itu. “Untuk sementara kita memang masih
membatasi diri“ yang menyahut adalah Wira Sabet. Namun Sura Gentong
itu menggeram “Sebenarnya kita harus sudah bertindak sesuai dengan
rencana” “Bukankah Ki Sapa Aruh juga minta agar kita mematangkan
keadaan lebih dahulu?” sahut Wira Sabet. Sura Gentong tidak
menjawab. Namun kemudian ia berpaling kepada Manggada dan Laksana
“Kau ingat apa yang aku katakan kepada kalian di halaman rumah
kakang Wira Sabet?” Manggada dan Laksana menjadi semakin
berdebar-debar. Namun kemudian Sura Gentong itu bertanya kepada
ketiga orang yang membawa kedua orang anak muda itu “He, tidak kau
tutup matanya ketika mereka kau bawa kemari?” Yang menjawab adalah
Pideksa “Akulah yang membukanya. Baru saja” Sura Gentong itu
mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun berkata kepada Manggada
dan Laksana “Ada dua pilihan bagi kalian. Kalian tetap berada
disini, atau kalian ingin pulang tetapi dengan mata yang buta”
Manggada dan Laksana tidak segera menjawab, sehingga Sura Gentong
membentaknya keras-keras ”Jawab” Manggada dan Laksana terkejut.
Tetapi keduanya masih tetap berdiam diri. Ternyata Sura Gentong
memang seorang yang sangat kasar. Tiba-tiba kakinya melayang
menghantam lengan Manggada. Manggada terpelanting. Ia bukan saja
jatuh terlentang. Tetapi Manggada berguling dilantai yang tidak
beralas itu. Bahkan kemudian ia nampak menjadi sangat kesakitan.
Mulutnya menyeringai sementara ia menggeliat sambil memegangi
lengannya dengan tangannya yang lain. “Anak iblis” geram Sura
Gentong. Sementara Laksana menjadi sangat tegang. Tetapi Laksana
masih dapat mengekang dirinya, sehingga ia tidak berbuat sesuatu.
Sura Gentong ternyata masih saja berteriak”jawab.Kau belum menjawab”
“Kami tidak ingin menjadi buta paman” jawab Manggada sambil
menyeringai kesakitan. Tetapi Sura Gentong menjadi semakin marah.
Bahkan ia berteriak “Dengar pertanyaanku. Apakah kau memilih tinggal
disini atau memilih kami lemparkan kembali ke padukuhanmu tetapi
dengan mata yang buta?” Manggada terpaksa menjawab “Aku memilih
tinggal disini, paman” “Duduk” perintah Sura Gentong lantang.
Sementara itu, iapun berpaling kepada Laksana “Bagaimana dengan
kau?” “Aku juga memilih tinggal disini” jawab Laksana. “Ternyata
kesombongan kalian sama sekali tidak berarti apa-apa. Kau kelilingi
padukuhan Gemawang dengan naik kuda, berderap seperti seorang
senapati perang. Kau hasut orang-orang Gemawang untuk tidak takut
menghadapi kami. Kau kira kami dapat membiarkan orang-orang yang
menentang kami?” Laksana menundukkan wajahnya. Sementara Manggada
telah duduk lagi di sebelahnya. Tetapi dengan kasar Sura Gentong
melemparkan ikat kepala dan menarik rambut Laksana sambil berkata
“Apakah kau masih akan menghasut orang-orang Gemawang menentang
kami?” “Tidak” jawab Laksana cepat-cepat. Sura Gentong mengguncang
kepala Laksana keras-keras sambil berkata “Seharusnya kau
tengadahkan wajahmu sebagaimana saat kau berada di punggung kuda
berlari-lari mengelilingi padukuhan Gemawang” Laksana masih tetap
berdiam diri meskipun rambutnya masih digoncang-goncang oleh Sura
Gentong. Namun akhirnya Sura Gentong melepaskan rambut Laksana,
tetapi dengan kerasnya ia menampar kening anak muda itu. Laksanalah
yang kemudian berguling-guling kesakitan beberapa saat. Ketiga orang
yang membawa kedua orang anak muda itu menjadi tegang. Mereka sudah
terbiasa menyaksikan orangorang yang mengalami perlakuan kasar.
Bahkan lebih dari yang dialami oleh kedua orang anak muda itu. Namun
saat itu jantung mereka terasa berdentang semakin cepat. Pideksapun
berdiri termangu-mangu. sementara Wira Sabet memandang anak-anak
muda itu dengan wajah yang tegang. Dalam pada itu Sura Gentong
itupun berkata “Kalian berdua sudah terlanjur melihat tempat tinggal
kami. Karena itu, sebelum segala sesuatunya selesai, kalian tidak
akan dapat keluar dari tempat ini, kecuali jika mata kalian telah
menjadi buta. kalian berdua akan menjadi budak disini. Melakukan
segala pekerjaan kasar yang tidak pantas dilakukan oleh orang lain”
Manggada dan Laksana tidak menjawab sama sekali. Dalam keadaan yang
demikian mereka tidak akan mendapat kesempatan untuk berbicara
apapun juga. Karena itu, mereka harus menunggu satu kesempatan untuk
berbicara tentang hubungan antara orang-orang itu dengan padukuhan
Gemawang. Dalam pada itu, Pideksapun yang kemudian berkala “Serahkan
anak-anak gila itu kepadaku, paman” “Kau urus mereka” geram Sura
Gentong. Sementara itu, Wira Sabetpun berbicara pula kepada ketiga
orang yang membawa kedua orang anak muda itu “Serahkan mereka kepada
Watang yang akan menyimpan mereka” “Nanti aku akan berbicara dengan
mereka” geram Sura Gentong. Ketiga orang itupun kemudian membawa
kedua orang anak muda itu kepada orang yang ternama Watang. Seorang
yang mendapat kepercayaan Wira Sabet dan Sura Gentong menahan
orang-orang yang dianggapnya berbahaya. Bahkan dari lingkungan
mereka sendiri. Tetapi Wira Sabet masih berkata selanjutnya
“Pideksa. Temui Watang. katakan kepadanya tentang kedua anak muda
itu” Pideksa tanggap akan pesan ayahnya. Karena itu, maka iapun ikut
pula bersama ketiga orang yang akan menyerahkan Manggada dan
Laksana. “Ambil ikat kepalamu” berkata Pideksa kepada Laksana.
Laksanapun kemudian mengambil ikat kepalanya dan dikenakannya asal
saja melekat di kepalanya. Diiringi oleh Pideksa dan ketiga orang
yang membawanya ke tempat itu, maka Manggada dan Laksana telah di
dihadapkan kepada orang yang bersama Watang. Seorang yang bertubuh
tinggi besar dan sedikit gemuk Rambut di kepalanya tidak terlalu
banyak, sementara ikat kepalanya yang botak itu tanpa menyembunyikan
botaknya. Wajah orang itu nampak bengis. Matanya yang dalam
memancarkan nafas kebencian. Ketiga orang yang membawa Manggada dan
Laksana itu menjadi semakin berdebar-debar. Mereka mengenal Watang
sebagai seorang yang tidak berjantung. Ia dapat berbuat apapun yang
tidak dapat dilakukan oleh orang lain. Ketika mereka mendekati
sebuah barak yang kokoh di tengah-tengah lingkungan sarang Wira
Sabet dan Sura Gentong itu, Pideksa berkata kepada ketiga orang yang
membawa Manggada dan Laksana “Beristirahatlah. Kalian telah berhasil
menjalankan tugas kalian, meskipun tidak sempurna” Ketiga orng itu
nampak ragu-ragu. Mereka memandangi Manggada dan Laksana sesaat
dengan tatapan mata yang lain. Namun merekapun kemudian meninggalkan
Manggada dan Laksana yang digiring langsung oleh Pideksa. Watang
yang melihat Pideksa membawa dua orang anak muda telah
menyongsongnya. Dengan suara yang berakitan, bergetar, orang yang
bertubuh tinggi besar dan berwajah garang itu bertanya “inikah
anak-anak muda Gemawang yang berkeliaran di atas punggung kudanya
itu? Bukankah semuanya ada tiga?” “Ya” jawab Pideksa “yang seorang
masih luput, ia sempat melarikan diri” “Jika demikian, biarlah
dosanya ditanggung oleh kedua orang kawannya itu” “Maksudmu?”
bertanya Pideksa. “Jika seharusnya yang dipatahkan satu tangannya,
maka untuk menanggung dosa kawannya, maka yang akan aku patahkan
adalah dua buah tangannya” “Itukah mimpimu siang dan malam?”
bertanya Pideksa. “Bukankah itu tugasku disini?” Watang justru
bertanya. “Tetapi dua orang anak muda itu adalah bagianku. Kau tidak
boleh mengusiknya. Aku sendiri yang akan menghukum mereka. Ingat.
Kau tidak boleh mengusiknya, atau kau sendiri juga akan mengalami
perlakuan kasar dari aku atau ayah atau paman Sura Gentong” Watang
mengerutkan dahinya. Sementara Pideksa berkata “Aku ingin satu
permainan yang utuh dengan kedua orang anak muda itu. Nah, kau tahu
maksudku?” Watang mengangguk sampai tersenyum “Aku mengerti anak
muda itu” “Nah, jika demikian jangan kecewakan aku” berkata Pideksa
kemudian. Watang mengangguk-angguk. Sementara itu Pideksa berkata
”Simpan anak itu baik-baik” “Baik, anak muda” jawab Watang kemudian.
Tiba-tiba saja kedua tangan Watang itu menyambar baju Manggada dan
Laksana diarah tengkuknya. Didorongnya kedua anak muda itu ke pintu
sebuah bilik tahanan yang kuat. Kemudian dengan kakinya, Watang
mendorong Manggada dan kemudian Laksana masuk ke dalam bilik itu.
Dorongan yang kemudian membuat kedua orang anak muda itu
terhuyung-huyung. Namun Manggada kemudian telah jatuh tertelungkup
di dalam biliknya. Sementara itu Pideksa berkata “Jangan kurangi
hakku, mengerti. Aku tidak mau kecewa” Watang tidak menjawab. Tetapi
iapun kemudian menutup pintu dari luar dan kemudian menyelaraknya.
Sejenak kemudian Pideksapun lelah meninggalkan bilik tahanan itu dan
melangkah kenib di ke pendapa. Adalah di luar kesadaran mereka.
bahwa dari sebatang pohon yang tinggi, di dalam hutan yang terletak
di sebelah lingkungan tempat tinggal Wira Sabet dan Sura Gentong
itu, Ki Pandi sempat melihat kemana Manggada dan Laksana itu
digiring dan disimpan. Meskipun Ki Pandi tidak tahu apa yang terjadi
seluruhnya, namun setidak-tidaknya ia sudah mengetahui satu di
antara bangunan yang ada di lingkungan dinding bambu yang terhitung
tinggi itu, sebagai tempat untuk menahan Manggada dan Laksana.
Tetapi Ki Pandi tidak dapat berbuat apa-apa, ia tahu bahwa di tempat
itu banyak terdapat para pengikut. Wira Sabet dan Sura Gentong
dengan beberapa orang saudara seperguruannya. Bahkan mungkin orang
yang bernama Ki Sapa Aruh itu juga tinggal di tempat itu pula.
Sementara itu, Manggada dan Laksana yang berada di dalam bilik yang
tertutup rapat itu, duduk sambil mengusap pakaiannya yang kotor.
Dengan nada dalam Manggada berkata “Aku harus mengotori pakaianku
dengan beberapa kali berguling-guling dilantai dan bahkan di tanah”
“Salahmu” desis Laksana “kenapa kau harus jatuh dan
berguling-guling, sehingga aku harus menirukannya juga” Manggada
tersenyum. Katanya “Bukankah permainanku meyakinkan mereka” ”Tanpa
setiap kali bergulingpun kita akan dapat meyakinkan mereka” sahut
laksana. Manggada tertawa tertahan. Katanya “Sudahlah. Kita
mempunyai gaya permainan tersendiri” Laksana mengangguk-angguk.
Namun kemudian ia bertanya “Bagaimana tanggapanmu tentang sikap
Pideksa?” “Aku tidak berprasangka buruk. Bagaimanapun juga, di masa
kecil, kami adalah kawan bermain. Aku tidak bermusuhan dengan
Pideksa di masa kecilku” jawab Manggada. “Mudah-mudahan. Akupun
berpikir demikian. Tetapi dugaan kita dapat salah” jawab Laksana.
Tetapi untuk sementara kedua orang anak muda itu berkesimpulan bahwa
Pideksa masih berusaha untuk mengekang perlakuan yang sangat buruk
terhadap mereka. Dalam pada itu, yang justru menjadi gelisah adalah
ketiga orang yang telah membawa Manggada dan Laksana ke barak itu.
Perasaan yang belum pernah singgah dihatinya telah membuat mereka
tidak mengerti tentang diri mereka sendiri. Bahkan mereka bertiga
sempat berbicara tentang nasib kedua orang anak muda itu. “Aku tidak
tahu, apa jadinya kedua orang anak yang aneh itu” berkata orang yang
bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu. “Sikapnya tidak masuk akal
bagiku. A tau barangkali mereka memang anak-anak muda yang sombong”
jawab kawannya. “Mungkin” sahut yang lain ”sombong dan tidak
mengerti apa yang dapat terjadi atas diri mereka jika mereka berada
di tangan Ki Wira Sabet dan Ki Sura Gentong. Apalagi Watang yang
gila itu dapat berbuat apa saja yang tidak pernah kita bayangkan
sekalipun” “Anak-anak itu memang gila. Tetapi kegilaannya telah
membuat jantungku berdebaran terus. Aku tiba-tiba merasa berhutang
kepada mereka” berkata orang yang bertubuh tinggi itu. Dua orang
kawannya yang berjalan mendekati mereka, melihat wajah-wajah yang
nampak kusut itu. Seorang di antara mereka bertanya “Kenapa kalian
nampak murung?” Yang bertubuh tinggi itulah yang menjawab
”Kemungkinan buruk dapat terjadi atas kita” “Kenapa?” bertanya
kawannya itu. “Kami gagal menangkap ketiga orang anak muda berkuda
itu. Kami hanya dapat menangkap dua orang” jawab orang yang bertubuh
tinggi itu. “Itu lebih baik daripada tidak sama sekali” desis orang
itu sambil melangkah pergi. Orang yang bertubuh tinggi
kekurus-kurusan itu menarik nafas panjang. Di luar sadarnya ia
berkata “Anak-anak muda itu mempunyai ilmu yang sangat tinggi.
Seorang saja di antara mereka dapat mengalahkan kita bertiga. Apakah
dengan ilmunya yang tinggi itu, ia ingin menjajagi isi barak ini”
“Mungkin. Tetapi jika keduanya membentur Ki Wira Sabet dan Ki Sura
Gentong, maka keduanya akan mengalami nasib buruk. Apalagi Ki Sapa
Aruh” sahut yang lain. Orang yang bertubuh tinggi itu
mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian “Terserahlah, apa yang
akan terjadi. Aku tidak mau menjadi gila karenanya. Jika terjadi
sesuatu atas anak-anak itu, tentu bukan salah kami. Mereka sendiri
yang justru memaksa kami membawanya kemari. Sebaliknya, jika
anak-anak itu membuat keonaran disini, juga bukan salah kami. Ki
Wira Sabet dan Ki Sura Gentong menghendaki mereka dibawa kemari”
“Ya” sahut kawannya “kita tidak bersalah terhadap siapapun. Kita
melakukan apa yang mereka kehendaki. Baik Ki Wira Sabet dan Ki Sura
Gentong, maupun Manggada dan Laksana itu” Ketiganya
mengangguk-angguk. Meskipun demikian, rasarasanya ada beban yang
tidak dapat mereka letakkan. Sementara itu, Manggada dan Laksana
sudah berbaring di dalam bilik tahanannya. Mereka masih belum tahu
apa yang dapat terjadi atas diri mereka. Namun ternyata ada juga
sedikit kecemasan di hati mereka setelah mereka benar-benar berada
di sarang Wira Sabet dan Sura Gentong. Ketika hari mendekati senja,
maka Manggada dan Laksana menjadi berdebar-debar ketika selarak
pintu dibuka. Watang yang bertubuh tinggi besar dan agak gemuk itu
berdiri di muka pintu dengan wajah yang membuat jantung kedua anak
muda itu berdeba-debar. Tanpa mengucapkan sepatah katapun. Watang
melangkah masuk. Dicengkamnya baju Manggada dan Laksana. Kemudian
dengan serta merta keduanya dilemparkan keluar bilik tahanan itu.
Keduanya terhuyung-huyung beberapa langkah. Laksana sempat
berpegangan sebatang pohon yang hampir saja membentur tubuhnya.
Namun Manggada telah jatuh terguling di tanah. Ketika Manggada
berusaha dengan susah payah bangkit. Laksana berbalik “Terjatuh
lagi” “Sst“ Manggada berdesis. Mereka terdiam ketika Pideksa
melangkah mendekati mereka sambil berkata “Ayah dan paman Sura
Gentong ingin berbicara dengan kalian” Manggada dan Laksana menjadi
gelisah juga. Tetapi agaknya kesempatan itulah yang mereka tunggu.
Demikianlah, maka Pideksapun telah membawa Manggada dan Laksana ke
pendapa bangunan induk sarang Wira Sabet dan Sura Gentong itu. Di
pendapa itu, Wira Sabet dan Sura Gentong telah menunggu. Mereka
duduk di atas tikar yang dibentangkan di pendapa itu. Tetapi tikar
itu tidak cukup luas apabila Manggada dan Laksana ikut duduk bersama
mereka. Karena itu, maka ketika Sura Gentong memerintahkan keduanya
untuk duduk, Manggada dan Laksana telah duduk di atas lantai tanpa
lambaran tikar sama sekali. Dengan wajah yang tetap garang. Sura
Gentongpun bertanya “He, kenapa kau telah melakukan satu perbuatan
gila dengan berkuda berkeliling padukuhan?” Manggada termangu-mangu
sejenak. Pertanyaan seperti itu memang sudah diduganya. Meskipun
demikian Manggada harus menjawabnya dengan sangat berhati-hati.
“Paman” berkata Manggada kemudian “sebenarnyalah aku ingin melihat
padukuhan kami hidup lagi seperti keadaannya sehari-hari. Dalam
keadaan yang tidak sewajarnya itu, maka orang-orang padukuhan tidak
dapat melakukan pekerjaan mereka dengan baik. Sawah tidak
terpelihara sebagaimana seharusnya, parit-parit yang kering tidak
sempat diairi karena bendungan yang pecah. Jalan-jalan yang rusak
dan bahkan perempuan-perempuan tidak sempat pergi ke pasar” “Jadi
kau ingin menjadi pahlawan, ya. Kau ingin menentang kami disini?”
“Sama sekali tidak. Yang kami lakukan sebenarnya tidak ada
hubungannya sama sekali dengan paman Wira Sabet dan paman Sura
Gentong. Kami hanya ingin orang-orang Gemawang bekerja seperti
biasa. Tanpa rasa takut, karena persoalan antara para bebahu
Gemawang dengan paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong akan
diselesaikan Oleh mereka, sehingga orang-orang Gemawang tidak usah
turut campur” “Tidak” jawab Sura Gentong “kami memang menginginkan
mereka menjadi ketakutan. Kami menginginkan agar mereka mendapat
kesan, bahwa bebahu yang sekarang memegang pimpinan di padukuhan itu
tidak mampu melindungi mereka” “Kami tidak mengetahuinya, paman”
“Bohong Kau kira kau dapat membohongi kami? Kau ingat apa yang kau
katakan di halaman rumah kakang Wira Sabet? Kau ingat bagaimana kau
mencobai untuk membujuk kami agar kami bersedia berbicara dengan Ki
Jagabaya. Katakatamu sudah saling bertentangan. Karena itu. aku
dapat mengambil kesimpulan bahwa kau memang bermaksud buruk dengan
kelakuanmu bertiga itu” “Sebenarnya keinginan itu masih tetap ada di
kepalaku, paman. Kami tentu akan merasa berbahagia jika paman Wira
Sabet dan paman Sura Gentong bersedia untuk berbicara” Tiba-tiba
saja Sura Gentong itu bangkit dan melangkah mendekati Manggada.
“Bukankah aku sudah memberikan syarat untuk membuka pembicaraan?
Apakah Ki Jagabaya menyetujui syarat itu?” “Paman” berkata Manggada
“bagaimana jika syarat itu paman katakan langsung kepada Ki Jagabaya
dalam sebuah perundingan? Sebenarnya yang terpenting orang-orang
padukuhan adalah satu penyelesaian yang tuntas, itu saja” Tiba-tiba
saja Manggada terkejut. Kaki sura Gentong itu telah berada di atas
pundaknya. Katanya “Kau tidak berhak, mengatakan sepatah katapun
tentang usaha penyelesaian dalam persoalan Gemawang. Aku sudah
mempunyai rencana yang lengkap. Rencana itu akan aku sampaikan
kepada Ki Bekel dan para bebahu. Tidak ada perundingan. Persoalan
akhir adalah, mereka menerima atau tidak. Jika mereka menerima, maka
Gemawangakan segera pulih kembali. Jika tidak, maka terpaksa akan
terjadi kekerasan” Manggada menunduk. Pundaknya mulai terasa sakit.
Sementara Sura Gentong berkata “Rencana penyelesaianku tetap
sebagaimana aku katakan kepadamu di halaman rumah paman Wira Sabet.
Tetapi sekarang aku sudah menyusunnya menjadi satu kesatuan
pengertian yang terperinci dan dimuat pada sebuah surat yang memang
agak panjang. Itu saja” “Apakah paman menghendaki aku membawa surat
itu?” “Persetan kau“ kaki Sura Gentong telah mendorong pundak
Manggada sehingga Manggada jatuh terlentang. Mulutnya menyeringai
menahan sakit “Duduk” bentak Sura Gentong “sudah aku katakan, karena
kau telah melihat tempat ini, maka kau akan menjadi budak disini
sampai tercapai satu penyelesaian yang tuntas. Tergantung dari
penyelesaian itu, apakah kau akan dapat melihat ayah dan ibumu lagi
atau tidak” Manggadapun kemudian berusaha untuk duduk. Sementara
itu, Sura Gentong telah mendekati Laksana sambil berkata “He, kau
orang asing. Kenapa kau ikut campur dalam persoalan padukuhan
Gemawang” “Aku hanya ikut-ikutan paman” jawab Laksana “aku adalah
adik sepupu kakang Manggada” “Aku sudah tahu“ tangan Sura Gentongpun
telah menampar wajah Laksana sehingga wajah Laksana itu terputar
menyamping. Yang terdengar kemudian adalah desah kesakitan,
sementara kedua tangannya memegangi mulutnya yang kesakitan Yang
kemudian juga bangkit adalah Wira Sabet. Dengan kerut di dahinya
Wira Sabet itupun bertanya “Apakah yang sudah dilakukan oleh Ki
Jagabaya selama ini?” Manggadalah yang menjawab “Ki Jagabaya tidak
melakukan apa-apa, paman” “Apakah ia mempersiapkan sekelompok orang
untuk membantunya mempertahankan kedudukannya?” “Sepengetahuanku
tidak. Tidak ada orang yang akan berani melakukannya, seandainya Ki
Jagabaya menghendakinya” jawab Manggada. “Jadi, kenapa menurut
pendapatmu, bahwa Ki Jagabaya berani menentang keinginan kami?”
bertanya Wira Sabet pula. “Aku tidak tahu paman. Tetapi menurut kata
orang, Ki Jagabaya itu terlalu setia kepada kewajibannya, sehingga
ia tidak memikirkan akibat yang dapat terjadi atas dirinya” Namun
tiba-tiba saja Sura Gentong itupun bertanya pula “He, apakah ayahmu
juga berani menentang aku?” “Tidak, paman. Ayah masih seperti
dahulu. Ia tidak banyak menyangkutkan diri dengan persoalan di
sekitarnya. Ayah lebih baik diam dan demikian pula dalam persoalan
sekarang ini. “Tetapi kenapa kau menjadi ribut bersama anak Jagabaya
itu sehingga setiap hari kalian selalu bersama-sama dengan Sampurna
berkuda di sepanjang jalan padukuhan? Apakah dengan demikian
Sampurna mencari pendukung untuk mempertahankan kedudukan ayahnya
yang sudah goncang itu?” “Tidak. Sampurna melakukan sebagaimana kami
lakukan” jawab Manggada. Namun tiba-tiba saja kaki Sura Gentong
telah hinggap pula di tengkuk Manggada “Kau jangan mencoba
melindungi anak Jagabaya itu. Atau karena kau sadari bahwa apa yang
dilakukannya menyangkut kalian berdua juga?” “Tidak paman. Aku
berkata sebenarnya” jawab Manggada. Tetapi kaki Sura Gentong itu
menekan Manggada semakin keras, sehingga kepala Manggada semakin
menunduk hampir menyentuh lantai. Sementara kakinya masih tetap
bersilang, sedangkan tangannya berusaha menyangga tubuhnya. Tetapi
Wira Sabet itupun kemudian bertanya kepadanya “Manggada. Apakah Ki
Jagabaya pernah mengatakan sesuatu kepadamu dalam hubungannya dengan
kami?” “Seperti yang pernah kami katakan kepada paman“ Manggada
berhenti sejenak, sementara ia masih saja membungkuk karena kaki
Sura Gentong masih menekan tengkuknya. “Aku ingin mendengar
jawabannya” berkata Wira Sabet kepada Sura Gentong. Sura Gentong
menggeram. Tetapi ia mengangkat kakinya dan memberikan Manggada
mengangkat kepalanya pula. “Jawab pertanyaanku dengan jelas” desis
Wira Sabet. “Seperti yang pernah kami katakan kepada paman di
halaman rumah paman itu” jawab Manggada. “Satu hal yang tidak
mungkin” berkata Wira Sabet “selanjutnya tidak akan ada orang yang
dapat mempengaruhi sikap kami terhadap padukuhan Gemawang. Apalagi
setelah kau berdua ada disini. Seperti yang dikatakan oleh pamanmu
Sura Gentong, maka kau akan menjadi budak disini” Manggada tidak
menjawab lagi. Sementara itu Wira Sabet pun berkata “Kau akan berada
dibawah perintah Pideksa langsung. Kau harus menurut perintahnya.
Jika kau dan adik sepupumu itu berani menolak perintahnya, maka kau
akan menyesal. Ingat, kau berada di lingkungan kuasa kami” Manggada
dan Laksana tidak menjawab. Tetapi kepala mereka menunduk
dalam-dalam. “Pideksa” berkata Wira Sabet “bawa anak-anak ini
melihatlihat apa saja yang harus mereka lakukan mulai besok.” “Baik,
ayah” jawab Pideksa. Ternyata Sura Gentong tidak menahannya ketika
Pideksa kemudian berkata “Marilah, ikuti aku” Manggada dan Laksana
tidak menjawab. Iapun kemudian mengikuti Pideksa keluar dari
pendapa. Dua orang pengawal yang mendapat tugas untuk mengikuti
Pideksa yang membawa kedua orang tawanan melangkah di belakang
mereka dengan tombak pendek di tangan. Manggada dan Laksana kemudian
berjalan di belakang Pideksa menuju ke bagian belakang barak itu.
Barak yang dihuni oleh Wira Sabet dan Sura Gentong serta beberapa
orang saudara seperguruannya. Meskipun secara khusus orang-orang
yang disebut saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong itu
tidak nampak menonjol di antara para pengikut yang ada di barak itu,
namun Pideksa sempat berdesis kepada Manggada dan Laksana “Ada empat
orang saudara seperguruan ayah dan paman Sura Gentong disini. Yang
duduk di sudut barak yang terpisah itu adalah satu di antaranya”
Manggada dan Laksana memandang orang itu dengan jantung yang
berdebaran. Orang itu benar-benar nampak bengis sebagaimana orang
yang bernama Watang. Meskipun tubuhnya tidak sebesar Watang. tetapi
nampak bahwa orang itu adalah orang yang berilmu. Bukan sekedar
orang yang mengandalkan kekuatan tenaganya saja, atau barangkali
sedikit kemampuan dasar olah kanuragan. Ketika di antara dua
bangunan bambu mereka berpapasan dengan seorang yang bertubuh sedang
dan bahkan berwajah tampan, maka Pideksapun berkata “Orang itu
adalah salah satunya pula” Manggada dan Laksana mengangguk-angguk
kecil. Ternyata ujud orang itu jauh berbeda dengan ujud orang yang
duduk di sudut barak yang terpisah itu. Demikian orang itu berdiri
beberapa langkah dari Pideksa, orang itu berhenti. Demikian pula
Pideksa, sehingga Manggada, Laksana dan dua orang pengawal di
belakang merekapun berhenti. Ternyata orang yang berwajah tampan itu
tersenyum. Dipandanginya Manggada dan Laksana dengan saksama.
Kemudian orang itupun berkata “inikah anak-anak yang diburu oleh
ayahmu itu?” “Ya, paman” jawab Pideksa. “Apa sebenarnya kesalahan
mereka?” bertanya orang berwajah tampan itu. “Mereka yang dikatakan
ayah dan paman Sura Gentong berkeliaran di padukuhan Gemawang di
atas punggung kuda bertiga itu paman” jawab Pideksa. Orang itu
tertawa. Kepada Manggada dan Laksana ia bertanya “He, apa sebenarnya
yang kau lakukan dengan berkuda berkeliling padukuhan itu?” Manggada
dan Laksana masih melihat senyum di bibir orang itu. Dengan
ragu-ragu Manggada menjawab “Sudah kami katakan kepada paman Wira
Sabet dan Sura Gentong pula, bahwa kami sekedar ingin melihat
padukuhan Gemawang hidup kembali” Orang itu tertawa pula. Katanya
“Ada yang menarik pada kalian berdua dan yang seharusnya bertiga.
Kalian adalah anak-anak yang berani. Tetapi keberanian kalian telah
melemparkan kalian ke dalam neraka ini” Manggada dan Laksana tidak
menjawab. Sementara orang itu bertanya kepada Pideksa “Akan kau bawa
kemana anakanak itu, Pideksa?” “Aku akan menunjukkan kepada mereka,
apa yang harus mereka kerjakan disini” “Apakah keduanya akan
bergabung dengan budak-budak itu?” bertanya orang yang berwajah
tampan itu. “Ya” jawab Pideksa. “Jika keduanya sering berkuda
berkeliling padukuhannya, maka keduanya tentu dapat memelihara kuda.
Nah, apakah kau pernah berpikir bahwa keduanya dapat diserahi untuk
memelihara kuda-kuda yang ada di barak ini?” Pideksa berpikir
sejenak. Kemudian katanya “Satu gagasan yang baik. Baik, paman.
Mereka akan mendapat tugas khusus, memelihara kuda” Orang itu
mengangguk-angguk. Kemudian katanya “Hanya ada satu kuda putih di
barak ini. Kuda itu adalah kudaku. Hatihati dengan kuda itu. Jika
kalian melakukan kesalahan atas kuda putihku, maka tidak akan ada
ampun lagi bagi kalian” Manggada dan Laksana tidak menjawab.
Sementara itu, orang itu meneruskan langkahnya sambil menepuk pundak
Manggada “Selamat bekerja anak-anak. Mudah-mudahan kalian kerasan
tinggal disini” Pideksa mengikuti langkah orang itu beberapa lama.
Namun kemudian ia mengajak Manggada dan Laksana berjalan terus.
Namun Pideksa itu sempat berdesis “Hati-hati dengan orang itu”
“Kenapa?” bertanya Manggada di luar sadarnya “nampaknya ia orang
baik” “Ia adalah orang yang paling kejam di antara saudara
seperguruan ayah. Mungkin pikiran dan perasaannya sejalan dengan
paman Sura Gentong” “Tetapi menilik ujud dan sikapnya” desis
Laksana. Pideksa tertawa pendek. Katanya “Itulah yang sering
menyesatkan anggapan orang atasnya” Manggada dan Laksana menarik
nafas dalam-dalam. Tetapi mereka tidak bertanya lagi. Sementara itu,
senja sudah turun. Lampu-lampu minyak telah menyala dimana-mana.
Pideksa telah mengajak Manggada dan Laksana ke kandang kuda yang
terletak agak di bagian belakang barak itu. Laksana menjadi
berdebar-debar. Ada beberapa ekor kuda yang ada di kandang itu. Jika
berdua saja dengan Manggada mereka harus memelihara kuda itu, maka
mereka benar-benar menjadi budak yang malang. “Inilah kuda-kuda itu”
berkata Pideksa “kalian harus memelihara dengan baik. Ingat, kuda
putih itu adalah kuda yang harus kalian perhatikan melampaui yang
lain. Pemiliknya adalah seorang yang mempunyai perangai yang aneh”
Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sementara itu Pideksa telah
memerintahkan salah seorang pengawalnya memanggil orang yang
sebelumnya memelihara kuda itu. Sejenak kemudian, orang itupun telah
menghadap. Sambil terbungkuk-bungkuk ketakutan orang itu mendekati
Pideksa. “Aku membawa dua orang anak muda untuk menjadi kawan
kerjamu disini. Kau sudah menjadi semakin tua. Tenagamu menjadi
semakin lemah” berkata Pideksa. Orang tua itu memandang Manggada dan
Laksana sejenak. Namun kemudian orang itu mengangguk-angguk sambil
berkata “Terima kasih anak muda. Dengan demikian tugasku akan
menjadi lebih ringan” “Mulai besok, kalian berdua akan bekerja
disini. Tetapi ingat, kalian berdua adalah lawanan kami. Kalian
jangan mencoba dan berusaha untuk melarikan diri. Tidak ada jalan
yang akan dapat kalian lalui. Jika kalian berusaha memanjat dinding,
maka tentu ada seseorang yang melihat kalian, karena orang-orangku
selalu mengawasi barak. Yang perlu kalian ketahui, setiap usaha
untuk melarikan diri hanya akan berarti satu penderitaan panjang
yang tidak berkeputusan” berkata Pideksa. Manggada dan Laksana
mengangguk-angguk. Sementara itu Pideksa itupun berkata “Marilah.
Malam ini kalian berdua masih harus tidur di bilik tahanan ini.
Mungkin untuk beberapa malam berikutnya, sementara di siang hari kau
bekerja disini. Manggada dan Laksana tidak menjawab. Ketika Pideksa
akan mengajak Manggada dan Laksana kembali ke biliknya, maka mereka
mendengar derap kaki kuda berlari ke arah mereka. Sejenak kemudian
nampak dua orang berkuda melarikan kuda mereka menyusup di antara
bangunan-bangunan yang ada di barak itu. Demikian kedua orang itu
meloncat turun, maka orang tua yang biasanya memelihara kuda itu
tergesa-gesa mendekati mereka dan menerima kedua ekor kuda itu.
Kedua orang tertegun melihat Pideksa dan dua orang anak muda di
dekat kandang itu. “Siapakah mereka, Pideksa?” bertanya salah
seorang dari mereka. “Manggada dan Laksana, paman” jawab Pideksa.
“O“ yang seorang di antara mereka mengangguk-angguk sambil melangkah
mendekati Manggada dan Laksana “Jadi inilah anak-anak muda yang
gagah berani
itu?
Jilid 5 TIBA-TIBA tangan orang itu telah
mencengkam pundak Manggada, sehingga Manggada telah menyeringai
kesakitan “Kalian memang anakanak muda yang perkasa” Manggada tidak
menjawab. Tetapi wajahnya membayangkan ketakutan. Sinar obor di
sudut barak membuat wajah Manggada semakin nampak pucat. Orang itu
tertawa. Sementara yang seorang lagi telah menepuk pipi Laksana
sambil berkata “Kalian masih terlalu kanak-kanak untuk mengenal
liku-liku kehidupan seutuhnya. Karena itu, kalian tidak tahu apa
yang kalian lakukan dengan pameran keberanian dan sikap seorang
pahlawan. Namun akhirnya kalian sekarang berada disini. Jangan
menyesal” Manggada dan Laksana tidak menjawab sama sekali. Sementara
Pideksa berkata “Paman Sura Gentong telah menyerahkan keduanya
kepadaku, paman” Kedua orang itu mengangguk. Seorang di antara
mereka berkata “Apakah mereka akan ditugaskan mengurusi kudakuda
ini?” “Ya, paman. Karena mereka senang berkuda, maka mereka tentu
senang pula mengurusi kuda-kuda” jawab Pideksa. Kedua orang itupun
kemudian telah meninggalkan kandang kuda itu. Pideksa menarik nafas
panjang. Demikian kedua orang itu hilang di balik bangunan dalam
barak itu, maka Pideksapun berkata “Marilah. Kalian harus kembali ke
tempat tahanan itu” Manggada dan Laksanapun mengikuti Pideksa yang
melangkah meninggalkan kandang itu dan membawanya kembali ke bilik
mereka yang dijaga kuat. Watang yang bertanggung jawab atas mereka
yang ditahan, memandang kedua anak muda itu dengan mata yang merah.
Seperti hantu yang haus menghisap darah korbannya, Watang menatap
kedua tawanan itu dengan tajamnya. Tangannya sudah menjadi gatal
untuk memilin tangan-tangan kedua orang tawanan itu dan
mematahkannya. Tetapi setiap kali Pideksa memperingatkan, bahwa
Watang tidak boleh mengusik kedua orang tawanan muda itu. Malampun
kemudian turun. Manggada dan Laksana memandang mangkuk yang berisi
minum dan makan bagi mereka. Nasi dan sepotong ikan kering. Tetapi
makanan yang sangat sederhana itu bukan masalah bagi mereka. Di
hutan selama sebulan mereka makan apa saja. Bahkan pucuk dedaunan,
meskipun kadang-kadang mereka makan daging panggang dan buah-buahan
jika mereka menemukan. Malam itu, Manggada dan Laksana tidak segera
dapat tidur. Mereka mencoba mereka-reka apa yang akan mereka alami
esok. Namun Manggada sempat berbisik “Masih terasa sisa hubungan
masa kanak-kanakku dengan Pideksa. Ia masih juga berusaha melindungi
kita” “Paman Wira Sabet ternyata juga baik” berkata Laksana. “Yang
benar-benar bersifat permusuhan adalah paman Sura Gentong dan
tentunya juga orang yang bernama Ki Sapa Aruh itu. Sementara
saudara-saudara seperguruan paman Sura Gentong itu nampaknya hanya
ingin menumpang saja untuk ikut menikmati hari-hari mendatang”
Manggada mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun berdesis “Kita
berharap bahwa ada orang yang mengikuti jejak kita” Laksana
termangu-mangu sejenak. Dengan nada rendah iapun berdesis “Yang kita
harapkan adalah Ki Pandi itu sendiri. Jika orang lain yang
mencobanya, mungkin sekali mereka akan terperosok ke dalam bahaya”
Manggada mengangguk pula. Tetapi ia tidak menjawab. Laksanapun
kemudian terdiam. Keduanya berusaha untuk dapat tidur. Mungkin besok
mereka harus bekerja keras sebagai budak di barak itu. Namun
keduanya justru bangkit dan duduk di pembaringan. Di kejauhan mereka
mendengar aum harimau. Tidak hanya seekor. Tetapi dua ekor harimau
yang mengaum bersentuhan dari sisi yang berbeda. Manggada dan
Laksana saling berpandangan sejenak. Mereka mengenal suara harimau
itu. Meskipun aumnya sama dengan aum harimau yang lain, tetapi ada
sesuatu yang dapat mereka kenali. “Ki Pandi nampaknya sudah berada
di sekitar barak ini” desis Manggada. Laksana tersenyum. Katanya
“Mudah-mudahan kita dapat berbuat sesuatu di dalam barak ini”
“Tetapi kita tidak boleh tergesa-gesa” Namun justru karena aum
harimau itu, maka keduanya kemudian dapat tidur nyenyak hampir
sepanjang malam yang tersisa. Tetapi pagi-pagi mereka harus sudah
bangun. Watang yang garang itu telah membangunkan mereka. Raksasa
itu membuka selarak pintu dari luar dan langsung melangkah ke
pembaringan. Tanpa mengatakan sepatah katapun, kedua tangan orang
itu telah mencengkeram baju Manggada dan Laksana. Dengan garangnya
orang itu menariknya dan melemparkan kedua anak muda itu ke pintu.
Manggada dan Laksana jatuh berguling. Dengan susah payah keduanya
berusaha untuk bangkit berdiri. Dengan ketakutan keduanya kemudian
berdiri di pintu. “Pemalas” geram Watang sambil melangkah mendekat.
Sementara Manggada dan Laksana itu melangkah surut. “Kau harus sudah
berada di tempat kerjamu” bentak orang itu “tetapi kau masih belum
bangun” “Maaf. Kami belum terbiasa” jawab Manggada. Namun tangan
orang itu segera terayun ke wajah Manggada. Ketika Manggada melihat
tangan orang itu bergerak, maka ia harus meningkatkan daya tahannya,
agar rahangnya tidak terlepas. Tetapi Manggada harus
terhuyung-huyung dan jatuh tersandar dinding. Kedua tangannya
memegangi wajahnya yang kesakitan. Bahkan Manggada itu harus
berjongkok menahan sakit sambil mengaduh tertahan. “Ingat” berkata
Watang “kalian tidak boleh membantah apa yang aku katakan. Jika saja
Pideksa tidak menginginkan kalian, maka kalian telah aku hancurkan
disini” Laksana sama sekali tidak menjawab, sementara Manggada masih
berjongkok sambil berdesah. “Cepat, pergi ke tempat kerjamu. Dua
orang pengawal di luar akan mengantarkanmu” “Baiklah” sahut Laksana
“biarlah kami mandi dahulu” Jawaban itu membuat Watang menjadi
marah. Tiba-tiba tangannya terayun menghantam perut Laksana. Seperti
Manggada iapun harus mengerahkan daya tahannya, sehingga serangan
orang itu tidak merontokkan isi perutnya. Namun juga seperti
Manggada, Laksana bahkan terlempar keluar dari biliknya dan jatuh
berguling di tanah. Dua orang pengawal yang berdiri di luar
terkejut. Keduanya adalah justru orang-orang yang telah membawanya
ke barak itu. Namun yang seorang lagi tidak ada di antara mereka.
Adalah di luar sadar ketika kedua pengawal itu kemudian membantu
Laksana berdiri. Watang yang berdiri di muka pintu berkata “Kenapa
anak itu harus kalian tolong?” Tetapi salah seorang pengawal itu
menjawab “Siapa yang menolongnya? Aku hanya ingin mereka cepat
sampai di tempat kerja mereka. Setiap saat kuda-kuda itu akan
dipakai. Jika saatnya datang dan kuda-kuda itu belum dibersihkan,
maka kau akan bertanggung jawab” “Kenapa aku?” bertanya Watang.
“Anak-anak ini menjadi kesakitan dan tidak segera dapat melakukan
pekerjaan mereka” Watang tidak menjawab. Namun dengan kakinya ia
mendorong Manggada yang berjongkok sambil berkata “Cepat. Jika kau
tidak cepat bangkit, aku hancurkan tengkukmu” Manggadapun berusaha
untuk segera bangkit. Demikian pula laksana. Tertatih-tatih
keduanyapun kemudian digiring oleh kedua orang pengawal ke kandang.
“Bukankah kalian dipekerjakan di kandang kuda?” bertanya seorang di
antara kedua pengawal itu. “Ya” jawab Manggada sambil berpaling.
Ketika ia sadar, bahwa Watang tidak melihat mereka lagi, maka
Manggadapun segera berjalan dengan wajar. Kedua orang pengawal itu
mengerutkan dahinya. Ketika mereka melihat Laksana juga berjalan
dengan tegak dan tidak lagi terbungkuk-bungkuk memegangi perutnya,
maka salah seorang pengawai itu bertanya “Kalian tidak apa-apa?”
Laksanalah yang menjawab “Raksasa dungu itu hanya mengandalkan
tenaga wadagnya saja. Tidak lebih” Kedua pengawal itu
mengangguk-angguk. Mereka sudah tahu pasti kemampuan anak muda yang
bernama Laksana itu. Bertiga mereka tidak mampu mengalahkannya.
Namun Manggadapun kemudian bertanya “Apakah kami tidak boleh mandi
dahulu. Bukankah matahari belum terbit?” Pengawal itu
termangu-mangu. Namun kemudian katanya “Kalian mandi bergantian
setelah kalian berada di kandang. Jika seseorang di antara para
pemimpin barak ini melihat ke kandang, nampaknya kalian sudah berada
disana dan sudah mulai bekerja” “Apakah terbiasa disini pekerjaan
dimulai sebelum matahari terbit?” bertanya Manggada. “Ya. Bagi
budak-budak” jawab pengawal itu. Manggada dan Laksana tidak bertanya
lagi. Merekapun berjalan terus menuju ke kandang. Sementara itu,
telah terdengar pula bunyi orang menumbuk padi. Di dekat lumbung
padi beberapa orang telah mulai menumbuk padi dengan lesung dan
lumpang kayu. Sementara beberapa orang yang lain mulai membelah kayu
dan mengangkut barang-barang dari satu tempat ke tempat lain.
“Apakah mereka juga budak-budak?” bertanya Manggada. “Ya” jawab
salah seorang pengawal. “Darimana paman Wira Sabet dan Sura Gentong
mendapatkan budak-budak itu?” bertanya Manggada pula. “Aku tidak
tahu darimana mereka bawa” jawab pengawal itu. “Tetapi bukankah
sasaran paman Wira Sabet dan Sura Gentong adalah padukuhan kami
dilandasi dendam yang menyala sejak keduanya meninggalkan
padukuhan?” “Mungkin. Tetapi yang terjadi sekarang, keduanya bekerja
bersama dengan Ki Sapa Aruh. Nampaknya Ki Sapa Aruh mempunyai
sasaran yang lebih luas dari sekedar padukuhan Gemawang” “Kita
berada di sebuah gerombolan perampok” desis Laksana. Kedua pengawal
itu saling berpandangan. Namun kemudian seorang di antara mereka
berkata “Ya. Ki Sapa Aruh mempunyai sebuah jaringan yang luas” “Dan
kalian adalah bagian dari mereka?” bertanya Manggada kemudian. “Ya.
Kami terperosok ke tempat ini. Kami tidak mempunyai pilihan lain
pada waktu itu” Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun mereka
mengerti, meskipun keduanya termasuk di dalam lingkungan itu, tetapi
di dasar hati mereka masih terdapat sepeletik api penalaran yang
jernih. Demikianlah, maka beberapa saat kemudian, Manggada dan
Laksana telah berada di kandang. Orang tua yang sudah lebih dahulu
menjadi budak dan dipekerjakan di kandang itu telah berada di
kandang itu pula. Kedua pengawal itupun kemudian menyerahkan kedua
orang anak muda itu sambil berkata “Kakek tua. Awasi kedua anak muda
ini. Jika mereka berusaha melarikan diri, maka kau harus membunyikan
isyarat. Jika keduanya sampai berhasil menghilang dari barak ini,
maka lehermu akan dijeret di tiang gantungan” “Tetapi, kenapa harus
aku yang bertanggung jawab?” bertanya orang tua itu dengan suara
gemetar. “Kau tidak berhak bertanya. Sekali lagi membuka mulutmu,
gigimu yang tersisa itu akan aku patahkan semuanya” Orang tua itu
memang terdiam. Kepalanya teranggukangguk kecil. Tetapi ia tidak
berkata apa-apa lagi. Demikianlah, kedua orang pengawal itupun
segera meniggalkan Manggada dan Laksana di kandang kuda itu.
Sepeninggal kedua pengawal itu, maka orang tua itupun berkata
“Anak-anak muda. Jangan mencoba untuk melarikan diri. Ternyata
leherku menjadi taruhan. Aku sudah tua. Aku tidak mau mati di tiang
gantungan” “Kami tidak akan melarikan diri, kek” jawab Manggada
“jika kami berani mencoba dan gagal, maka nasib kami akan menjadi
sangat buruk. Bukankah kemarin Pideksa itu mengatakannya disini
ketika ia membawa kami kemari?” Orang tua itu mengangguk-angguk.
Namun kemudian katanya “Apakah angger semalam dapat tidur?” “Ya,
kenapa?” bertanya Manggada. “Jika demikian angger tidak mengalami
goncangan perasaan seperti kami dan budak-budak yang lain. Demikian
kami sampai di tempat ini” berkata orang tua itu. “Maksud kakek,
mengalami ketakutan dan kecemasan?“ bertanya Laksana. “Ya.
Begitulah” “Tentu kek. Kami mengalami ketakutan yang amat sangat,
sehingga jantung kami berdebaran” Orang tua itu memandang Laksana
sejenak. Namun kemudian orang tua itupun tersenyum “Kalian berdua
hanya main-main” “Maksud kakek?” bertanya Manggada dengan wajah
menegang. “Aku mendengar aum harimau semalam” berkata orang itu.
“Kenapa? Bukankah barak ini terletak di hutan yang lebat? Tentu
banyak binatang buas yang ada di hutan itu. Termasuk harimau.
Harimau kumbang, harimau loreng dan barangkali juga harimau tutul”
“Suara harimau itu aneh. Sebelum kalian bermalam disini, tidak
pernah ada aum harimau seperti itu” “Apa sebenarnya yang kakek
maksud?” desak Manggada. Orang tua itu tiba-tiba saja tertawa.
Katanya “Sejak aku melihat kalian kemarin, aku sudah mengira bahwa
kalian bukan orang kebanyakan. Maksudku, di dalam diri kalian
tersimpan sesuatu. Mungkin kalian dapat mengelabui Wira Sabet, Sura
Gentong dan saudara-saudara seperguruannya. Tetapi kau tidak dapat
mengelabui mata tuaku” Manggada dan Laksana saling berpandangan
sejenak. Baru kemudian Matiggada bertanya “Kakek mengenal aum
harimau itu?” Orang itu tertawa lagi. Katanya “Harimau itu tentu
harimau orang bongkok itu. Isyarat itu tentu diberikan kepada kalian
berdua, karena sebelumnya, isyarat seperi itu tidak pernah aku
dengar” “Jika demikian, maka kakek tentu juga bukan orang
kebanyakan. Mungkin kakek saudara seperguruan Ki Pandi” “Bukan. Aku
bukan saudara seperguruan Ki Pandi yang bongkok itu. Tetapi aku
mengenalnya dengan baik. Iapun mengenal aku dengan baik. Tetapi
sudah agak lama kami tidak bertemu” “Aku yakin, bahwa kakek juga
memiliki ilmu yang sangat tinggi seperti Ki Pandi” berkata Laksana.
“Jarang ada orang yang memiliki ilmu setinggi orang bongkok itu”
jawab orang tua itu. Namun kemudian katanya “hati-hatilah dengan Ki
Sapa Aruh. Mungkin kalian sulit menyembunyikan kelebihan kalian
terhadap orang itu. Namun untungnya, Ki Sapa Aruh jarang datang
kemari. Jika ia datang, maka ia tidak pernah memperhatikan kami,
budak-budak yang baginya tidak berarti sama sekali ini” “Tetapi
kenapa kakek ada disini?” bertanya Laksana. “Jawabnya sama jika ada
orang yang bertanya kepada kalian, kenapa kalian berada disini?”
Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian
Manggadapun berkata “Apakah kami boleh mengetahui nama atau sebutan
kakek?” “Disini aku dipanggil Sampar. Tetapi orang bongkok itu
mengenali aku dengan sebutan, Carang Aking” “Bagaimana kami
memanggil kakek?” bertanya Manggada. “Disini sudah tentu kalian
memanggil aku kakek Sampar” “Baiklah kek. Tetapi justru sekarang aku
berani minta ijin untuk mandi bergantian” berkata Manggada. “Di
sudut itu ada sumur. Tetapi jangan menimbulkan banyak suara. Hari
masih sangat pagi. Sumur itu memang diperuntukkan bagi orang-orang
yang mereka sebut budakbudak” Sejenak kemudian, Manggada dan Laksana
sudah mandi bergantian. Namun mereka sudah mulai berkeringat lagi
ketika matahari terbit, karena keduanya sibuk membersihkan kandang,
menyediakan makan bagi kuda-kuda sekandang, kemudian juga
membersihkan kuda-kuda itu. Dalam pada itu, bagaimanapun juga orang
tua Manggada dan Laksana menjadi sangat gelisah. Kedua anak muda itu
telah mengambil satu langkah yang sangat berbahaya. Namun hati
mereka menjadi agak tenang ketika Ki Pandi mengatakan kepada mereka,
bahwa Ki Pandi sudah dapat mengetahui dimana kedua orang anak muda
itu berada. “Mereka sengaja memberikan petunjuk kepadaku” berkata Ki
Pandi. “Jika demikian, apakah kita akan mengambilnya?” berkata Ki
Citrabawa. “Jika keduanya tidak dapat keluar dari tempat itu, kita
memang akan mengambilnya” berkata Ki Pandi “tetapi tentu kita tidak
akan tergesa-gesa. Aku sedang mencari jalan untuk dapat memasuki
barak itu nanti malam. Mudah-mudahan aku mendapat kesempatan
berhubungan dengan keduanya” “Tetapi itu sangat berbahaya pula”
berkata Ki Kertasana. “Mudah-mudahan aku dapat menghindarinya” sahut
Ki Pandi. Namun wajahnya menampakkan kesungguhannya untuk melakukan
sebagaimana dikatakannya” Ki Kertasana dan Ki Citrabawa yang memang
meyakini kemampuan Ki Pandi itu hanya mengangguk-angguk saja.
Keduanya percaya bahwa Ki Pandi tidak akan membiarkan Manggala dan
Laksana mengalami kesulitan dan apalagi mengalami bencana. Dalam
pada itu, Ki Kertasana dan Ki Citrabawa yang sebelumnya seolah-olah
tidak melibatkan diri dengan keadaan yang mencengkam padukuhan
Gemawang, bahkan orangorang Gemawang menganggap bahwa keduanya
bersikap sebagaimana para penghuni yang lain, memutuskan untuk mulai
berbuat sesuatu. Justru karena anak-anak mereka sudah terlibat
semakin jauh. Karena itu, maka keduanya bersepakat untuk menghubungi
Ki Jagabaya untuk menentukan langkah-langkah lebih jauh. Namun
setelah Manggada dan Laksana dibawa ke barak Wira Sabet dan Sura
Gentong, untuk beberapa hari tidak nampak lagi para pengikut
keduanya itu berkeliaran di padukuhan Gemawang. Mungkin mereka
menganggap bahwa setelah Manggada dan Laksana berhasil mereka
tangkap, maka tidak akan ada lagi orang-orang Gemawang yang akan
berani menentang mereka kecuali Ki Jagabaya yang ternyata tidak
berhasil membangkitkan keberanian orang-orang Gemawang. Dalam pada
itu, Ki Jagabayapun untuk sementara telah mengekang tingkah laku
Sampurna agar anaknya itu tidak terperangkap ke dalam kesulitan.
“Aku tidak mengira, bahwa Laksana memiliki kemampuan yang sangat
tinggi, ayah” berkata Sampurna. Ki Jagabaya mengangguk-angguk.
Katanya “Tentu Manggada juga memiliki kemampuan setingkat dengan
adik sepupunya” “Ya” sahut Sampurna “aku menjadi merasa kecil di
hadapan mereka” “Adalah satu keberuntungan bagi kita, bahwa kedua
orang anak muda itu memahami sikap kita. Bahkan keduanya dengan
ikhlas telah membantu kita” “Itulah agaknya mereka dengan berani
menemui Ki Wira Sabet dan Ki Sura Gentong. Agaknya jika terpaksa
mereka tidak akan menjadi ketakutan untuk memberikan perlawanan”
“Banyak yang dapat kita harapkan dari mereka” berkata Ki Jagabaya.
Ketika Ki Kertasana dan Ki Citrabawa menemuinya, maka Ki Jagabaya
menyambutnya dengan gembira. Ternyata niatnya untuk mempertahankan
padukuhan Gemawang bukan sekedar mimpi buruk, beberapa orang yang
memiliki kemampuan yang meyakinkan, telah menyatakan dukungan mereka
terhadap sikapnya yang teguh. “Jika aku sempat berhubungan dengan
Wira Sabet dan Sura Gentong, aku akan menegaskan sikapku lagi”
berkata Ki Jagabaya. “Sudah sampai saatnya kita berbuat tegas”
berkata Ki Kertasana “Ki Pandi, orang tua yang sekarang tinggal di
rumah kami, telah berhasil menemukan barak Wira Sabet dan Sura
Gentong” Orang itu tertawa lagi. Katanya “Harimau itu tentu harimau
orang bongkok itu. Isyarat itu tentu diberikan kepada kalian berdua,
karena sebelumnya, isyarat itu tidak pernah aku dengar” “Tetapi
apakah mungkin kita memasuki barak mereka?” desis Ki Citrabawa
“bukankah menurut Ki Pandi, barak itu dihuni oleh banyak orang.
Selain saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong, di barak itu
juga tinggal Ki Sapa Aruh dan para pengikutnya. Sementara Ki Pandi
masih belum dapat mengetahui lebih banyak daripada penglihatannya
sekilas dari kejauhan” Ki Kertasana menarik nafas dalam-dalam.
Katanya “Kita memang tidak dapat berbuat dengan tergesa-gesa. Tetapi
kita juga tidak dapat membiarkan keadaan seperti ini berlangsung
terlalu lama” “Baiklah “Ki Jagabaya berkata dengan sungguh-sungguh
“kita akan berbuat lebih banyak lagi” Tetapi sementara itu,
orang-orang Gemawang sendiri sama sekali tidak membantu. Bahkan
mereka masih saja mengusulkan agar Ki Jagabaya mengurungkan niatnya
untuk melawan Wira Sabet dan Sura Gentong. Tetapi diam-diam ceritera
tentang perkelahian antara Laksana melawan ketiga orang pengikut
Wira Sabet dan Sura Gentong itu menjalar dari mulut ke mulut. Bagi
mereka, apa yang terjadi itu merupakan satu rahasia yang sulit
mereka pecahkan. Laksana telah memenangkan perkelahian itu. Tetapi
berdua dengan Manggada, mereka justru telah menyerahkan diri dan
dibawa ke sarang Wira Sabet dan Sura Gentong. Kenyataan itu ternyata
telah menimbulkan tanggapan yang berbeda di antara orang-orang
padukuhan Gemawang. Sebagian dari mereka menjadi semakin ketakutan,
karena mereka memperhitungkan, akan timbul persoalan-persoalan baru
yang akan menambah kesulitan para penghuni padukuhan Gemawang.
Tetapi sebagian yang lain mulai mempertimbangkan kemungkinan yang
lain pula. Bahwa Manggada dan Laksana telah menyerahkan diri setelah
memenangkan satu pertempuran, sangat membingungkan orang-orang
Gemawang. Beberapa orang anak muda menganggap bahwa yang dilakukan
oleh Manggada dan Laksana adalah satu usaha dengan mempertaruhkan
jiwa mereka untuk kepentingan padukuhan Gemawang. “Apakah kita akan
membiarkannya?” desis seorang anak muda. “Kita kenal Manggada di
masa menjelang remaja. Apakah kini kita akan membiarkannya berjuang
sendiri bagi padukuhan ini? Kita harus mencari jawaban, kenapa
Manggada dan Laksana justru menyerahkan diri” sahut yang lain. “Kita
akan menghubungi Sampurna. Ia tentu tahu pasti, upa yang sedang
dilakukan oleh Manggada dan Laksana. Saat itu Manggada dan Laksana
mencegah agar Sampurna tidak ikut menyerahkan dirinya” ”Tetapi
bagaimana dengan ketiga orang yang sudah dikalahkan itu?” bertanya
anak muda yang lain lagi. Akhirnya mereka memutuskan untuk berbicara
dengan Sampurna. Dua di antara mereka akan mewakili kawan-kawan
mereka menemui Sampurna di rumahnya, karena sejak Manggada dan
Laksana ditangkap, Sampurna jarang nampak di jalan-jalan padukuhan
Ketika kedua orang itu pergi ke rumah Sampurna, maka mereka telah
bertemu dengan Wisesa yang juga akan pergi menemui Tantri. “Kalian
akan pergi ke mana?” bertanya Wisesa. “Kami akan menemui Sampurna”
jawab salah seorang anak muda itu. “Benar?” bertanya Wisesa pula.
“Benar, kenapa?” bertanya anak muda itu. “Kau tidak akan menemui
Tantri?” desak Wisesa. “Untuk apa? Kami memerlukan Sampurna” sahut
anak muda yang seorang. Anak muda itu tahu bahwa Wisesa nampaknya
sangat tertarik kepada Tantri, sehingga setiap anak muda yang datang
ke rumah Ki Jagabaya dianggap akan menemui Tantri. Wisesa menarik
nafas panjang. Tetapi iapun kemudian bertanya “Untuk apa kalian akan
berbicara dengan Sampurna?” “Kami ingin menanyakan, kenapa Manggada
dan Laksana yang telah memenangkan perkelahian itu justru harus
menyerahkan diri untuk dibawa ke tempat Wira Sabet dan Sura
Gentong?” jawab anak muda itu. “Itu hanya omong kosong saja” desis
Wisesa “Manggada dan Laksana, dan ternyata juga Sampurna, hanya
anak-anak muda yang pandai membual” “Sumber ceritera ini tidak dari
Manggada dan Laksana” jawab anak muda itu “juga tidak dari Sampurna.
Tetapi dari beberapa orang yang melihat perkelahian itu” Tetapi
Wisesa tetap menggeleng. Katanya “Ceritera itu tidak dapat
dipercaya. Aku juga sudah mendengar dongeng itu. Katanya Laksana
mampu mengalahkan ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong,
Bukankah itu tidak masuk akal? Seorang lawan seorangpun Laksana
tidak akan dapat berbuat apa-apa. Apalagi melawan tiga orang” “Kita
akan bertanya kepada Sampurna” jawab anak muda itu. “Sampurna adalah
kawan dekatnya. Tentu ia akan mengiakannya. Bahkan membumbuinya,
sehingga ceriteranya akan menjadi semakin sedap” berkata Wisesa
kemudian. Mereka tidak meneruskan pembicaraan itu, karena mereka
sudah berdiri di regol halaman Ki Jagabaya. Karena itu, maka
merekapun kemudian melangkah masuk sambil berdiam diri. Seorang dari
antara anak-anak muda itu telah menutup pintu regol. Tetapi tidak
diselarak dari dalam. Wisesalah yang mengetuk pintu seketheng.
Karena itu, maka Sampurna yang sudah terbiasa mendengar ketukan itu,
segera mengetahui bahwa Wisesa telah datang berkunjung. “Ada tamu,
Tantri” desis Sampurna. “Kenapa anak itu masih juga datang kemari?
Bukankah ayah pernah marah kepadanya?” “Kau kira anak itu punya
perasaan?” sahut Sampurna. “Kakang tidak usah membuka pintunya”
geram Tantri. “Ah, kasihan. Nanti ia akan menunggu sampai senja.
Tetapi kemudian Wisesa tidak berani pulang sendiri, sehingga aku
harus mengantarkannya” berkata Sampurna sambil tertawa. “Kenapa
harus bersusah-susah mengurusinya?” wajah Tantri menjadi semakin
gelap. “Kenapa kau justru marah kepadaku?” bertanya Sampurna.
Sebelum Tantri menjawab, pintu itu sudah diketuk pula dengan gaya
ketukan Wisesa. Sampurna menarik nafas dalam-dalam, sementara Tantri
telah melangkah masuk ke ruang dalam. Sampurnalah yang kemudian
membuka pintu seketheng betapapun segannya. Tetapi Sampurna terkejut
ketika ia melihat Wisesa tidak sendiri. Dua orang anak muda
menyertainya masuk ke halaman samping rumahnya. Tetapi Sampurna
mengenal keduanya dengan baik, karena keduanya adalah kawan
bermainnya pula. Ketiganyapun kemudian dipersilahkan duduk di
serambi. Sementara Sampurna memberitahukan kepada Tantri bahwa tamu
tidak hanya seorang, tetapi tiga orang. “Kenapa kalau tiga?”
bertanya Tantri dengan wajah gelap. Sampurna tertawa. Katanya “Jika
kau menghidangkan minuman, jangan hanya semangkuk buat Wisesa”
Tantri tiba-tiba bangkit. Sampurna tahu apa yang akan dilakukan
adiknya. Karena itu, maka iapun segera berlari keluar dari dapur.
Tetapi suara tertawanya masih tertinggal, sehingga Tantri itupun
berkata “Awas kau nanti” Di serambi Sampurna kemudian duduk menemui
ketiga orang anak muda itu. Baru kemudian ia mengetahui bahwa dua
orang anak muda itu tidak dengan sengaja datang bersama-sama dengan
Wisesa. “Kami bertemu di jalan” berkata salah seorang dari kedua
orang anak muda itu. “Jadi, apakah kalian mempunyai keperluan lain
atau sekedar singgah?” bertanya Sampurna. Karena tidak terbiasa ada
orang yang datang menemuinya sejak keadaan padukuhan itu menjadi
buram. Seorang dari anak muda itupun menjawab “Sampurna. Kami
mengikuti perkembangan terakhir dari perkembangan padukuhan kita
ini. Kami telah mendengar bahwa Manggada dan Laksana telah ditangkap
dan dibawa oleh para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong. Sementara
itu, ada orang yang melihat bahwa sebenarnya Laksana sendiri telah
dapat mengalahkan ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong
itu. Sampurna menarik nafas panjang. Perhatian anak muda terhadap
peristiwa itu justru memberikan harapan kepadanya. Tetapi Wisesalah
yang menyahut “Kenapa kau terpancing oleh berita yang menyesatkan
itu. Adalah tidak masuk akal bahwa setelah memenangkan perkelahian
itu, Manggada dan Laksana kemudian menjadi tahanan para pengikut
Wira Sabet dan Sura Gentong. Apa yang terjadi adalah karena
kesombongan keduanya, sehingga keduanya harus menanggung akibat yang
mungkin sangat buruk” “Wisesa” berkata Sampurna kemudian “ketika
peristiwa itu terjadi, aku berada di antara mereka. Bahkan semula
aku telah menyediakan diri untuk ditangkap bersama Manggada dan
Laksana. Tetapi Manggada dan Laksana memperingatkan aku, agar aku
tidak ikut bersama mereka. Mereka menganggap bahwa tumpuan dendam
terutama tertuju kepada ayah, sehingga aku akan dapat menjadi
sasaran dendam mereka atau aku akan dapat dijadikan taruhan. Karena
itu, maka akupun telah mengurungkan niatku untuk menyerahkan diri
sebagaimana Manggada dan Laksana” “Bukankah itu tidak masuk akal?”
sahut Wisesa. “Masuk akal atau tidak, tetapi itulah yang terjadi“
jawab Sampurna. “Aku percaya” jawab salah seorang dari kedua orang
anak muda itu “aku sudah bertemu pula dengan orang yang telah
melihat langsung apa yang terjadi” “Terima kasih” sahut Sampurna.
”Tetapi kami menjadi bingung, kenapa keduanya justru menyerahkan
diri mereka?” bertanya salah seorang dari kedua orang anak muda itu.
“Manggada dan Laksana menganggap bahwa cara itu adalah cara yang
terbaik untuk mengetahui dimana Wira Sabet dan Sura Gentong itu
tinggal” jawab Sampurna. “Lalu, apa hasilnya?” Wisesa memotong
“meskipun mereka mengetahui tempat tinggal Wira Sabet dan Sura
Gentong, namun keduanya kemudian menjadi tawanan, apakah itu berarti
bagi kita disini?” “Sekarang memang belum. Tetapi kita berharap
bahwa pada suatu saat, pengorbanan mereka akan sangat berarti” “Kami
mengerti” sahut salah seorang dari kedua orang anak muda itu “yang
ingin kami tanyakan, apakah yang sebaiknya kami lakukan justru
setelah Manggada dan Laksana mengorbankan diri mereka. Kami
sebenarnya juga merasa cemas, bahwa Manggada dan Laksana akan
mengalami nasib buruk” Wajah Sampurna menjadi cerah. Ia melihat
perubahan sikap anak-anak muda itu, justru setelah Manggada dan
Laksana menyerahkan dirinya meskipun dalam perkelahian yang terjadi,
Laksana sendiri dapat mengalahkan tiga orang pengikut Wira Sabet dan
Sura Gentong. Dengan nada tinggi Sampurna berkata Satu pertanda yang
bagus. Aku minta kalian dapat mempertimbangkan kemungkinan yang
dapat kalian lakukan. Ingat, ayah akan tetap mempertahankan
sikapnya. Melawan orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong. Ayah
memang tidak mempunyai pilihan lain. Ada atau tidak ada yang
memberikan bantuan kekuatan, maka ayah akan tetap berusaha
membebaskan padukuhan ini dari bayangan Wira Sabet dan Sura Gentong
yang menakutkan itu. Ayah sama sekali tidak sedang berjuang untuk
mempertahankan kedudukannya. Tetapi lebih daripada itu. Ayah ingin
padukuhan kita bebas dari bayangan kelam Wira Sabet dan Sura
Gentong. Manggada dan Laksana serta keluarganya mengerti maksud
ayah. Karena itu, maka mereka telah menyatakan diri untuk membantu
ayah. Bahkan manggada dan Laksana telah mengambil sikap yang sangat
berbahaya bagi keselamatan mereka” Kedua orang anak muda itu
mengangguk-angguk. Sementara Wisesa berkata “Aku ingin
memperingatkan kalian. Jangan main-main dengan Wira Sabet dan Sura
Gentong” “Tidak. Kami tidak sedang bermain-main. Bagaimana jika kami
menawarkan kesediaanmu melindungi Tantri dari dendam Sura Gentong
yang garang itu?” “Kau akan mengadu aku dengan Sura Gentong seperti
mengadu jengkerik?” bertanya Wisesa. Sampurna tertawa. Katanya
“Sudahlah Wisesa. Sebaiknya kau tinggal di dapur saja. Menjerang
air, menanak nasi dan mengukur kelapa” Wajah Wisesa menjadi merah,
tetapi ia tidak segera dapat mengatakan sesuatu, justru karena
gejolak jantungnya yang semakin cepat. Dalam pada itu, maka
Tantripun muncul dari balik pintu membawa hidangan bagi ketiga orang
tamunya dan bagi kakaknya. Sekilas ia memandang wajah kakaknya.
Ternyata Sampurna tersenyum kepadanya. Hampir saja Tantri menggapai
kakaknya di lengannya dan mencubitnya keraskeras. Tetapi sebelum hal
itu terjadi, Sampurna sudah bergeser menjauh. Tetapi Tantri tidak
duduk di serambi itu. Setelah meletakkan minuman dan makanan, iapun
segera masuk kembali ke ruang dalam. Wisesa hampir saja
memanggilnya. Tetapi ketika ia teringat bahwa di serambi itu ada dua
orang anak muda yang lain, maka niatnya itupun diurungkannya. Dalam
pada itu, maka Sampurnapun berkata kepada anakanak muda “Nah, jika
kalian memang benar-benar mulai terpanggil untuk menegakkan
ketenangan di padukuhan kita ini, marilah. Ayah akan menyambut
dengan gembira. Selebihnya, aku ingin mempersilahkan kalian
menghimpun kawan-kawan kita yang memiliki keberanian untuk berbuat
sesuatu. Aku tahu, bahwa para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong
bukan sekedar orang kebanyakan seperti kita. Tetapi dengan lambaran
keberanian dan tekad maka kita tentu akan dapat berbuat banyak.
Sementara itu di antara kita terdapat anak-anak muda seperti
Manggada dan Laksana” Kedua orang anak muda itu mengangguk-angguk.
Sementara Sampurna berkata pula “Aku akan menghubungi keluarga
Manggada dan Laksana. Mungkin mereka sudah mendengar berita tentang
kedua orang anak muda itu” Kedua anak muda itu memang belum
menyatakan kesanggupan mereka. Nampaknya mereka masih harus
mempertimbangkan beberapa hal. Namun bahwa sepeletik api kepedulian
anak-anak muda itu atas keadaan padukuhannya, telah menggembirakan
Sampurna. Sejenak kemudian, maka kedua orang anak muda itupun telah
minta diri, sementara Wisesa masih ingin tinggal di rumah itu.
Apalagi Tantri masih belum menemuinya karena ada kedua orang tamu
anak muda yang lain. Sepeninggal kedua anak muda itu, maka Wisesapun
berkata “Kau telah memberikan gambaran yang salah kepada anakanak
muda itu. Apakah kau kelak tidak akan menyesal menyaksikan mereka
mengalami nasib buruk? Seandainya kau berhasil membakar keberanian
mereka dan dengan membabi buta melawan orang-orang Wira Sabet dan
Sura Gentong yang sudah berpengalaman dan memiliki kemampuan yang
tinggi, namun kemudian jatuh korban yang tidak terhitung, kau harus
bertanggung jawab” Sampurna termangu-mangu sejenak. Meskipun ia
menganggap Wisesa tidak lebih dari seorang anak muda yang cengeng,
tetapi pendapatnya itu memang perlu mendapat perhatian. Bukan untuk
mengurungkan kesediaan mereka menyelamatkan padukuhan Gemawang,
tetapi satu cara untuk tidak membiarkan anak-anak muda itu menjadi
korban. Karena Sampurna tidak segera menjawab, maka Wisesa itu
berkata selanjutnya “Nah, bukankah kau menjadi ragu-ragu? “Tidak”
jawab Sampurna “aku tidak menjadi ragu-ragu. Tetapi pendapatmu
memang harus mendapat perhatian. Kami akan tetap melakukan
perlawanan, tetapi dengan usaha agar korban tidak terlalu banyak
jatuh” “Jika ada satu orang saja yang menjadi korban, maka kaulah
yang bertanggung jawab” “Kita semuanya bertanggung jawab” jawab
Sampurna. “Tidak. Aku tentu tidak akan bersedia untuk ikut
bertanggung jawab, karena aku mempunyai gagasan lain” “Kecuali kau”
jawab Sampurna pendek. Sekali lagi wajah Wisesa menjadi merah.
Sementara itu Sampurnapun kemudian bangkit berdiri dan meninggalkan
ruang itu. Sampurna yang kemudian pergi ke dapur berkata kepada
adiknya “Temuilah anak itu. Jika aku terlalu lama berbicara dengan
Wisesa. mungkin aku akan kehilangan kesabaran” “Kenapa tidak kau
usir saja?” bertanya Tantri. ”Aku masih mencoba mengendalikan diri
dan mengingat unggah-unggah. Sebagai tuan rumah, aku masih harus
berusaha menghormati seorang tamu betapapun perasaan kita
bergejolak” Tantri menggeleng. Katanya “Biar saja ia duduk di
serambi” “Jangan begitu Tantri. Temuilah anak itu. Kau dapat saja
berusaha untuk menjauhinya. Tetapi dengan baik-baik” “Dengan
baik-baik bagaimana? Ia tidak mempunyai perasaan sehingga tidak
mungkin aku menolaknya dengan cara baik-baik itu. Kepada Wisesa aku
harus berterus terang” “Jangan. Orang-orang cengeng seperti itu akan
dapat berbuat licik untuk mencapai maksudnya. Justru karena ia
pengecut” Tantri termangu-mangu sejenak. Dengan nada tinggi ia
bergumam “Jika ia marah, apa yang akan dilakukannya?” “Justru yang
tidak terduga-duga” jawab Sampurna yang kemudian masih membujuk
adiknya “Sudahlah. Pergi ke serambi sejenak” Tantri akhirnya pergi
juga ke serambi untuk menemui Wisesa. “Tantri” berkata Wisesa
setelah Tantri duduk di pendapa “Aku minta kau bantu aku. Cobalah
menjelaskan kepada kakakmu, bahwa menyeret anak-anak muda Gemawang
untuk melawan Wira Sabet dan Sura Gentong adalah langkah yang sangat
berbahaya bagi keselamatan anak-anak muda Gemawang. Mungkin Sampurna
sendiri dapat disebut pahlawan kelak. Tetapi ia harus berdiri di
atas alas tubuh kawan-kawan kita yang menjadi korban” Telinga Tantri
serasa menjadi panas. Tetapi ia justru tidak menjawabnya. Tantri
justru berkata tentang persoalan yang lain sama sekali. Dengan nada
datar ia berkata “Aku telah membuang bibit pohon kemuning yang kau
berikan” “Kenapa?” bertanya Wisesa. “Jadi untuk apa? Kau tidak
memperbolehkan pohon itu aku tanam di depan. Padahal aku ingin
menanamnya di halaman depan rumah ini” “Tetapi kau tidak perlu
membuangnya Tantri. Aku sudah berusaha dengan susah payah” “Aku
tidak tahu lagi, buat apa bibit pohon kemuning itu bagiku. Tidak ada
tempat lagi untuk menanamnya selain di halaman depan. Sedangkan kau
tidak memperbolehkannya” Wisesa menarik nafas dalam-dalam. Namun
kemudian Wisesa itupun berkata “Sudahlah. Lupakan saja bibit pohon
kemuning itu. Tetapi yang aku minta kemudian, bantu aku, agar
kakakmu tidak menjerumuskan kawan-kawan kita ke dalam kesulitan”
“Aku sependapat dengan kakang Sampurna. Aku juga mendorong agar ia
melakukannya” sahut Tantri. “Tantri, kau jangan sekedar menuruti
perasaan. Aku tahu bahwa perempuan memang lebih condong kepada
perasaannya dari pada penalarannya. Tetapi yang akan terjadi adalah
jatuhnya korban. Tidak hanya satu atau dua orang. Mungkin lima,
tujuh atau bahkan sepuluh orang anak muda Gemawang” “Wisesa” jawab
Tantri “dengar baik-baik. Untuk mencapai sesuatu perlu pengorbanan.
Jika kau sudah pernah mendengar sukurlah. Jika belum, sebaiknya kau
sekarang mendengarnya” “Tantri” sahut Wisesa “kau mulai meremehkan
aku” “Itu tergantung kepada sikapmu sendiri. Apakah kau pantas
dijunjung tinggi atau diremehkan. Bahkan kau selalu saja menghambat
segala usaha untuk memulihkan keadaan padukuhan ini” “Tantri, kau
jangan asal menuduh. Aku sudah melahirkan gagasan-gagasan besar yang
sangat berharga bagi padukuhan kita ini. Tetapi ayahmu dan kedua
anak muda yang tertangkap itu tidak mampu melaksanakannya. Itu bukan
salahku. Jika gugasanku itu mampu mereka laksanakan, maka tidak akan
ada korban yang bakal jatuh” “Ada Wisesa” jawab Tantri. “Tidak.
Tidak ada benturan kekerasan” “Korbannya setidak-tidaknya aku.
Kemudian keluargaku dan jika kau mempunyai kesadaran yang tinggi dan
merasa ikut memiliki, adalah padukuhan Gemawang. Aku akan diambil
oleh Sura Gentong, karena ia merasa kehilangan bakal isterinya,
perempuan yang akan dilarikannya itu disini. Kemudian dendamnya
kepada ayah dan keluarga ini. Selanjutnya, seisi padukuhan akan
dimilikinya. Sementara kau bermimpi dengan gagasan-gagasanmu itu”
Wisesa mengerutkan dahinya. Sementara Tantri berkata selanjutnya
“Sebaiknya kau tidak usah datang lagi kemari, Wisesa” “Tantri“
keringat dingin mulai membasahi punggungnya. “Aku lebih menghormati
anak-anak muda seperti Manggada dan Laksana. Atau justru mereka yang
mengungsi meninggalkan padukuhan ini daripada kau” “Jangan begitu
Tantri. Jika kau tidak sependapat dengan aku, itu tidak apa-apa.
Tetapi kau jangan bersikap seperti itu” “Setidak-tidaknya untuk
sementara Wisesa. Aku minta maaf, bahwa dalam keadaan yang kemelut
ini, jalan pikiran kita tidak sejalan. Entahlah kelak jika segala
sesuatunya telah teratasi” Wajah Wisesa menjadi pucat. Ketika
sekilas ia memandang wajah Tantri, maka Tantri juga sedang
memandanginya dengan tajamnya, sehingga Wisesa itu menundukkan
kepalanya. Karena Wisesa tidak menjawab, maka Tantri berkata “Aku
tidak bermaksud mengusirmu Wisesa. Tetapi jika kita berbicara lebih
banyak lagi, maka perbedaan sikap kita akan menjadi semakin jelas.
Karena itu, sebaiknya kita hentikan pembicaraan ini. Mudah-mudahan
kau sempat merenunginya dan bangkit bersama anak-anak muda yang
lain” Jantung Wisesa memang bergejolak. Tetapi ia tidak dapat
berbuat apa-apa. Nampaknya Tantri sudah mengambil keputusan yang
pahit baginya. “Jika kau akan pulang, maka aku akan mengantarkanmu
sampai ke pintu seketheng. Aku harap jalan pikiranmu segera berubah”
Meskipun Tantri menganggap Wisesa tidak berperasaan, namun anak muda
itu masih dapat mengerti, bahwa sebaiknya ia pulang saja. Tetapi apa
yang diharapkan oleh Tantri, bahwa Wisesa akan berubah pendapatnya,
yang terjadi justru sebaliknya. Wisesa merasa bahwa sebab dari sikap
Tantri itu adalah kedua orang anak muda yang kini berada di tangan
Wira Sabet dan Sura Gentong. “Jika benar Laksana dapat mengalahkan
ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong, namun kemudian
keduanya telah dibawa kesarang mereka, tentu ada maksudmaksud
tertentu pada Manggada dan Laksana. Bahkan mungkin mereka bekerja
sama dengan orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong itu sendiri”
berkata Wisesa kepada diri sendiri. Ternyata pikiran buruk telah
tumbuh di dalam jantungnya. Wisesa tidak ingin bahwa Tantri
mengagumi Manggada atau Laksana. Atau bahkan kedua-duanya. Karena
itu, maka Wisesa berniat untuk bertemu dan berbicara dengan para
pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong jika mereka datang ke padukuhan
itu. Menurut kata beberapa orang, maka para pengikut Wira Sabet dan
Sura Gentong memang sudah mulai berkeliaran lagi di padukuhan
Gemawang. Sementara itu, Ki Pandi yang mengikuti perkembangan
keadaan barak Wira Sabet dan Sura Gentong, telah berhasil
berhubungan dengan Manggada dan Laksana. Karena keduanya dinilai
tidak berbahaya lagi, serta atas usaha Pideksa yang masih
dipengaruhi sisa-sisa kenangan masa kanakkanaknya, maka Manggada dan
Laksana telah diperkenankan tidur di sebuah barak kecil bersama
Sampar atau yang dikenal oleh Ki Pandi. Ki Carang Aking. Kesempatan
itu telah dipergunakan oleh keduanya dengan sebaik-baiknya.
Menjelang malam, maka Manggada yang sedang menimba air disumur tidak
terlalu jauh dari dinding barak, telah bersenandung dengan lagu yang
dikenal benar oleh Ki Pandi. Isyarat itulah yang memungkinkan Ki
Pandi dapat bertemu dengan Manggada dan Laksana tanpa diketahui oleh
para penjaga barak itu. Bahkan Ki Pandi berhasil masuk bukan saja ke
dalam lingkungan dinding barak, tetapi masuk ke dalam barak kecil,
yang dipergunakan bagi Sampar, Manggada dan Laksana. Pertemuan Ki
Pandi dengan Ki Carang Aking adalah pertemuan dari dua orang yang
sudah saling mengenal dengan baik, namun yang sudah cukup lama tidak
bertemu. “Ki Sapa Aruh memang jarang berada di barak ini” berkata
Sampar yang sehari-hari nampak tua dan lemah. Tetapi di dalam
baraknya meskipun wajahnya tetap membayangkan umurnya yang tua,
tetapi ia nampak tegar dan kuat. “Apakah tidak dapat diketahui,
kapan ia berada disini?” bertanya Ki Pandi. “Tidak. Jika Ki Sapa
Aruh datang ke barak ini, ia tidak akan terlalu lama disini.
Untungnya, Ki Sapa Aruh tidak begitu menghiraukan kami yang disebut
budak-budak. Jika saja ia tertarik untuk bertemu dan berbicara
dengan kami sekali dua kali, agaknya memang sulit untuk
menyembunyikan diri lagi” jawab Sampar yang dikenal oleh Ki Pandi
dengan sebutan Ki Carang Aking. Ki Pandi itupun mengangguk-angguk.
Kepada Manggada dan Laksana iapun berpesan “Jika demikian, maka
kalian berdua harus berhati-hati. Jika orang itu berada di barak
ini, kalian berdua harus berusaha untuk menghindarinya. Aku yakin
jika Ki Carang Aking masih mempunyai kemampuan untuk menghindari
penglihatan Ki Sapa Aruh. Tetapi kalian berdua tentu akan mengalami
kesulitan” Manggada dan Laksana itupun mengangguk kecil, sementara
Ki Pandipun berkata “Karena kemungkinan itu, maka sebaiknya kalian
tidak terlalu lama berada disini” “Jika mereka pergi, akupun harus
pergi” berkata Ki Carang Aking “jika tidak, maka aku akan menjadi
sasaran kemarahan Sura Gentongdan saudara-saudara seperguruannya”
“Bagaimana dengan Wira Sabet?” bertanya Ki Pandi. ”Meskipun termasuk
orang yang garang, tetapi Wira Sabet dan anaknya tidak segarang Sura
Gentong dan saudara-saudara seperguruannya” “Baiklah, Ki Carang
Aking. Mudah-mudahan Ki Jagabaya dan Sampurna berhasil membangunkan
orang-orang Gemawang yang masih tertidur nyenyak” berkata Ki Pandi
kemudian. Demikianlah, maka lewat tengah malam, Ki Pandipun dengan
hali-hati meninggalkan bilik Ki Carang Aking. Sebagaimana ia masuk,
maka iapun berhasil keluar dari barak itu tanpa diketahui oleh para
penjaga barak itu. Hubungan itu telah menenangkan keluarga Manggada
dan Laksana. Meskipun kecemasan masih tetap ada di antara mereka,
karena setiap saat orang yang bernama Ki Sapa Aruh itu akan datang.
Ketika Sampurna kemudian datang menghubungi keluarga Manggada dan
Laksana, maka Sampurnapun mendapat keterangan tentang kedua orang
anak muda yang berada di dalam barak Wira Sabet dan Sura Gentong.
“Sasaran mereka kemudian bukan sekedar dendam atas padukuhan
Gemawang dan Kademangan Kalegen. Tetapi nampaknya bagi Ki Sapa Aruh
dan para pemimpin yang lain, sasaran akan lebih jauh lagi.
Sebagaimana sekarang ternyata bahwa barak itu telah menjadi sarang
sekelompok perampok dan penyamun yang ganas” berkata Ki Pandi. Namun
Ki Pandi itupun berkata selanjutnya “Tetapi untuk beberapa hari,
agaknya masih cukup aman bagi Manggada dan Laksana berada di barak
itu” Sampurna mengangguk-angguk kecil. Katanya kemudian “Aku
melihat, ada perubahan sikap dari anak-anak muda di padukuhan ini
selelah Manggada dan Laksana menyerahkan diri. Meskipun ada juga
sikap yang justru sebaliknya, yang menganggap bahwa sikap Manggada
dan Laksana itu justru akan dapat menimbulkan persoalan-persoalan
baru” “Pendapat di padukuhan ini untuk sementara memang akan dapat
terpecah. Tetapi jika kita dapat mengatasi bayangan hitam Wira Sabet
dan Sura Gentong, maka keadaannya tentu akan segera menjadi baik”
berkata Ki Kertasana. “Mudah-mudahan kita dapat segera mengatasinya“
berkata Sampurna kemudian pagi ini ayah masih menghubungi Ki Bekel.
Bagaimanapun juga ayah masih berharap, bahwa Ki Bekel dapat bangkit.
Pengaruhnya akan menjadi cukup besar” “Mudah-mudahan usaha Ki
Jagabaya itu juga akan berhasil, ngger” berkata Ki Kertasana
kemudian. Dengan keterangan itu, maka Sampurna menjadi semakin
mantap. Ia berharap bahwa segala usaha tidak akan menjadi sia-sia.
Namun dengan nada dalam Sampurnapun menyatakan kecemasannya, bahwa
korban akan banyak yang berjatuhan. Anak-anak muda Gemawang akan
menjadi gampang jika mereka benar-benar harus berkelahi melawan
orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong yang sudah berpengalaman
serta memiliki dasar-dasar kemampuan olah kanuragan. “Kita memang
tidak dapat membentuk mereka menjadi anak-anak muda yang berilmu
dalam waktu yang sangat singkat, ngger. Tetapi setidak-tidaknya kita
dapat memberikan petunjuk-petunjuk, apa yang sebaiknya harus mereka
lakukan jika hal seperti itu benar-benar akan terjadi” “Bagaimana
mungkin kita dapat memberikan petunjuk kepada mereka? Akhir-akhir
ini, orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong sudah mulai nampak lagi
berkeliaran meskipun mereka belum mengambil tindakan-tindakan baru
yang dapat membuat orang-orang Gemawang semakin ketakutan” “Kita
akan memikirkan satu cara yang paling baik” berkata Ki Kertasana
“jika perlu, kita membagi diri. Kitalah yang akan datang kepada
anak-anak muda yang menyatakan kesediaan mereka untuk berjuang
membebaskan padukuhan ini dari ketakutan dan kecemasan. Kita minta
dua atau tiga orang anak muda untuk berkumpul di salah satu rumah di
antara mereka. Kemudian salah seorang dari kita akan datang. Kita
dapat memberikan petunjuk-petunjuk yang penting. Setidaktidaknya
bagaimana cara mereka berlindung di antara orangorang yang memiliki
kemampuan olah kanuragan disaat-saat yang paling gawat dalam
pertempuran. Namun dalam keadaan yang memungkinkan mereka dapat
membantu mengurangi tekanan lawan. Tetapi memang tidak mungkin untuk
menghindari korban yang bakal jatuh” Sampurna sependapat dengan
jalan pikiran Ki Kertasana meskipun dengan demikian mereka akan
menjadi sangat sibuk. Tetapi kesibukan itu masih akan mungkin
disembunyikan dari penglihatan orang-orang Wira Sabet dan Sura
Gentong. “Ya. Memang berbeda dengan apabila kita mengumpulkan
anak-anak muda itu di satu tempat. Apalagi lebih dari sepuluh orang”
berkata Sampurna. Demikianlah, maka atas persetujuan Ki Jagabaya,
Sampurna telah mulai dengan langkah-langkah yang nyata. Kedua orang
anak muda yang pernah datang kepadanya, telah membantunya. Akhirnya
Sampurna mendapat dukungan dari beberapa orang anak muda padukuhan
Gemawang. Meskipun jumlah mereka tidak terlalu banyak, tetapi justru
keberanian mereka menentang pendapat sebagian besar orang-orang
Gemawang, bahwa usaha untuk melawan Wira Sabet dan Sura Gentong
hanya akan menimbulkan malapetaka, telah menyatakan kesungguhan dan
kemantapan niat mereka. Dengan sangat berhati-hati mereka telah
menetapkan tempat-tempat berkumpul kelompok-kelompok yang sangat
kecil, yang terdiri hanya oleh dua atau tiga orang. Sementara itu,
sebagaimana direncanakan, maka beberapa orang yang dianggap memiliki
ilmu, justru datang kepada mereka untuk memberikan petunjuk-petunjuk
apa yang harus mereka lakukan, jika mereka harus bertempur melawan
para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong. Tugas itu memang
melelahkan. Ki Jagabaya sendiri, Sampurna, Ki Kertasana, Ki
Citrabawa dan bahkan Ki Pandi telah ikut pula membantu mereka,
mendatangi rumah-rumah yang telah ditentukan. Mereka juga menuntun
bagaimana sebaiknya mereka memegang senjata, mengayunkannya,
menangkis dan menghindar. Mereka juga memberi tahukan, bahwa jika
keadaan memaksa, jangan nietasa malu untuk bergeser mundur, bahkan
berlari-lari untuk mencuri perlindungan di antara pertempuran yang
sedang berlangsung. Namun merekapun memberitahukan pula, bahwa
mereka akan mendapat kesempatan menyerang mereka yang sedang usik
mengejar lawannya. Namun yang lebih penting lagi bagi mereka yang
datang kepada kelompok-kelompok kecil itu adalah justru mendorong
keberanian mereka untuk berbuat sesuatu bagi kampung halaman. Memang
tidak banyak yang dapat diharapkan dalam waktu yang singkat itu.
Meskipun setiap hari, orang-orang yang memiliki bekal ilmu itu harus
berkunjung dua tiga kali di tempat-tempat yang ditentukan, namun
mereka tidak dapat dengan serta merta membuat anak-anak muda itu
berkemampuan tinggi. Namun demikian, maka mereka memperkenalkan
jenis-jenis senjata dan penggunaannya, maka mereka berharap untuk
dapat mengurangi korban yang jatuh dari antara anak-anak muda itu.
Sementara itu, orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong telah mulai
menakut-nakuti orang padukuhan Gemawang lagi. Dua orang di antara
mereka telah berkeliaran di padukuhan tanpa ada orang yang
mengganggu. Dalam pada itu, Wisesa yang otaknya dicengkam oleh niat
buruk terhadap Manggada dan Laksana, karena setiap kali Tantri
memuji mereka, benar-benar ingin menemui kedua orang itu. Betapapun
ia dicengkam ketakutan, tetapi ia telah memaksa dirinya untuk
melakukannya. Perasaan dengki yang membakar jantungnya itu tidak
dapat lagi disingkirkannya. Demikianlah, ketika Wisesa melihat
seseorang berjalan tergesa-gesa dan memberitahukan bahwa dua orang
pengikut Wira Sabet datang lagi ke padukuhan mereka, maka Wisesapun
telah memaksa dirinya untuk menemui keduanya. Kedua orang itu
terkejut melihat seorang anak muda dengan sengaja menemuinya. Karena
itu, maka kedua orang itupun segera mempersiapkan diri. Tetapi
Wisesa sama sekali tidak menunjukkan niatnya untuk melakukan
perlawanan. Bahkan masih berjarak beberapa langkah, Wisesa berhenti
sambil membungkuk hormat. “Ampun Ki Sanak” berkata Wisesa “aku tidak
bermaksud apa-apa” Kedua orang itu telah mengambil jarak. Seorang di
antara mereka bertanya dengan suara serak “Kau mau apa?” “Ampun Ki
Sanak. Aku ingin memberikan keterangan yang mungkin berarti bagi Ki
Sanak” “Keterangan apa?” bertanya orang itu lagi. Wisesapun
memandang keadaan di sekelilingnya. Sepi. Tidak ada orang yang turun
ke jalan. “Ki Sanak” berkata Wisesa “aku ingin memberitahukan, bahwa
ada yang tidak wajar pada Manggada dan Laksana” Kedua orang itu
nampak terkejut. Bahkan seorang di antara mereka telah melangkah
maju mendekati Wisesa. Sikap orang itu membuat Wisesa kelakuan.
Karena itu, maka sambil terbungkuk-bungkuk hormat ia berkata “Ampun,
Ki Sanak. Ampun. Aku bermaksud baik” “Katakan, apa yang tidak wajar
itu” bentak orang itu. “Menurut ceritera orang, ketika Mangada,
Laksana dan Sampurna berkuda berkeliling padukuhan itu dan bertemu
dengan tiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong, mereka telah
berselisih dan berkelahi” “Kau hanya menyebut namanya saja Wira
Sabet dan Sura Gentong?” geram orang itu. “Maksudku, paman Wira
Sabet dan paman Wira Gentong” Wisesa menjadi gagap. “Teruskan” desak
orang itu. “Dalam perkelahian itu, Laksana sendiri dapat mengalahkan
ketiga orang penakut paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong” Wisesa
meneruskan. “Apa? Laksana mampu mengalahkan tiga orang kawan kami?”
bertanya orang itu dengan nada tinggi. Wisesa menjadi ragu-ragu. Ia
melihat seakan-akan ada nyala api di mata kedua orang itu. “Hanya
menurut kata orang” jawab Wisesa dengan kaki gemetar. “Setan kau
geram yang seorang lagi” berani benar kau mengatakan bahwa tiga
orang kawan kami kalah oleh seorang anak muda. He, jika kau belum
tahu, dengarlah, Laksana dan Manggada sekarang menjadi tawanan kami”
“Itulah yang ingin aku katakan” suara Wisesa menjadi terputus-putus.
Namun ia berkata selanjutnya “justru karena Laksana memenangkan
perkelahian itu, namun keduanya menjadi tawanan. Jika benar hal itu
terjadi, bukankah berarti ada semacam permainan yang harus
diperhatikan?” Kedua orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu
termangu-mangu. Sementara Wisesa yang merasa sedikit mendapat angin
meneruskan “Bukankah hal itu sangat tidak wajar, jika benar-benar
telah terjadi?” “Kau lihat sendiri perkelahian itu?” bertanya salah
seorang dari keduanya. “Tidak, Ki Sanak, tetapi demikian kata orang.
Aku mohon Ki Sanak berhati-hati dengan kedua orang itu. Mereka
benarbenar licik. Mungkin mereka mempergunakan uang atau benda-benda
berharga lainnya untuk melakukan rencananya” Kedua orang itu saling
berpandangan sejenak. Sementara Wisesa berkata pula “Selain daripada
itu, ternyata Sampurna di padukuhan ini berhasil mempengaruhi
beberapa orang anak muda. Meskipun sampai saat ini jumlahnya belum
begitu banyak, tetapi semakin lama tentu akan menjadi semakin
banyak. Karena itu, sebaiknya paman Wira Sabet dan paman Sura
Gentong menjadi lebih berhati-hati” “Anak muda” salah seorang dari
kedua orang itu menggeram sambil melangkah mendekat. Ketika orang
itu kemudian memegangi baju Wisesa, maka rasa-rasanya jantung Wisesa
terlepas dari tangkainya “Kau jangan mengigau. Apakah kau bermaksud
menakut-nakuti kami?” “Tidak, Ki Sanak. Tidak” bukan saja suara
Wisesa yang gemetar, tetapi juga tubuhnya “sudah aku katakan. Aku
bermaksud baik. Aku berkata sebenarnya” “Kenapa kau sampai hati
memberi tahukan kepada kami tentang hal seperti itu? Bukankah itu
berarti satu pengkhianatan bagi kawan-kawanmu sendiri?” Pertanyaan
itu sama sekali tidak diduganya. Wajah Wisesa menjadi pucat dan
darahnya serasa berhenti mengalir. “Kenapa?” orang itu mengguncang
tubuh Wisesa “apa yang kau kehendaki sebenarnya?” Wisesa tidak dapat
berpikir lagi. Yang kemudian terlontar dari mulutnya adalah “Ampun.
Aku tidak berkhianat. Tetapi aku tidak tahan mendengar gadis yang
aku inginkan selalu mengagumi Manggada dan Laksana” “O. Jadi kau
dengan licik ingin memenangkan persainganmu untuk memperebutkan
seorang gadis? Kau telah memfitnah kawan-kawanmu itu, agar kami
menghukumnya” berkata orang yang memegangi baju Wisesa itu.
Sementara orang yang lain berkata “Kita bawa anak itu. Biar ia
berbicara di hadapan Manggada dan Laksana.” Wisesa menjadi semakin
ketakutan. Kakinya serasa menjadi lemah, sehingga iapun telah jatuh
berlutut sambil merengek “Ampun. Jangan bawa aku. Aku mohon ampun.
Aku bermaksud baik” “Baik buat siapa?” bentak orang itu. Wisesa
benar-benar telah menangis. Orang yang tinggal di sebelah jalan,
telah mendengar tangis Wisesa. Merekapun mendengar dua orang
pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong membentak-bentak meskipun
mereka tidak dapat mendengar dengan jelas kata-kata yang diucapkan.
Namun mereka mendengar orang-orang itu menyebut nama Manggada dan
Laksana. Namun, apapun yang terjadi, orang-orang itu tidak dapat
berbuat apa-apa. Tetapi akhirnya pengikut Wira Sabet dan Sura
Gentong itu melepaskan baju Wisesa. Ketika orang itu mendorong
Wisesa, maka anak itupun telah jatuh terlentang. “Bangun anak
cengeng” bentak orang itu. Dengan susah payah Wisesa berusaha untuk
bangkit dan duduk di tanah, Kepalanya tunduk, sementara ia masih
saja menangis ketakutan. “Baiklah anak cengeng” berkata orang itu
“kami akan kembali ke tempat tinggal kami. Kami akan melihat
kebenaran kata-katamu. Jika kau berkata sebenarnya, kami akan
mengucapkan terima kasih kepadamu. Tetapi jika kau berbohong, maka
kaulah yang akan dihukum” Seberkas harapan telah tumbuh lagi dihati
Wisesa. ia berharap bahwa orang itu berhasil mengetahui rahasia
Manggada dan Laksana, sehingga keduanya akan mendapat hukuman
sehingga mereka kelak tidak akan lagi dikagumi oleh Tantri. Sejenak
kemudian, maka kedua orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong
itupun meninggalkan padukuhan Gemawang kembali ke barak mereka.
Sementara itu, salah seorang yang tinggal di sebelah jalan ternyata
telah memberanikan diri, merayap mendekati dinding rumahnya yang
menghadap ke jalan. Ia berusaha untuk mendengar apa yang sedang
dibicarakan oleh orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong itu dengan
Wisesa. Meskipun tidak begitu jelas, tetapi keduanya dapat meraba,
bahwa Wisesa telah mengadukan Manggada dan Laksana. “Gila anak itu”
desis orang di sebelah jalan “ia tidak memikirkan akibatnya.
Manggada dan Laksana yang telah melakukan tindakan yang aneh itu
akan dapat mengalami perlakuan yang sangat buruk, karena mereka
sengaja menyerahkan diri justru setelah Laksana memenangkan
perkelahian melawan tiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong”
Orang itu justru menjadi gelisah. Tetapi ketakutan yang mencengkam
jantungnya, membuatnya kebingungan. Apa yang harus dilakukannya.
“Kenapa Wisesa itu memberitahukan hal itu kepada para pengikut Wira
Sabet dan Sura Gentong?” pertanyaan itu telah membuat orang itu
semakin gelisah. Dalam kegelisahan orang itu telah pergi ke rumah
tetangganya dan menceriterakan apa yang didengarnya. Tetapi seperti
dirinya sendiri, tetangganya itu juga tidak tahu apa yang sebaiknya
dilakukan. Bahkan tetangganya itu berkata “Manggada dan Laksana juga
gila. Kenapa ia menyerahkan dirinya jika Laksana telah memenangkan
perkelahian melawan ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura
Gentong” Akhirnya keduanya memang tidak dapat berbuat apa-apa.
Sementara itu, kedua orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu
langsung kembali ke baraknya. Pemberitahuan Wisesa itu telah menjadi
bahan pembicaraan keduanya di sepanjang jalan kembali ke barak
mereka itu. Ketika keduanya sampai di barak, maka keduanyapun segera
melaporkan hasil pengamatan mereka atas padukuhan Gemawang. Namun
keduanya masih belum melaporkan pengaduan Wisesa tentang Manggada
dan Laksana. ”Nampaknya segala sesuatunya masih tidak berubah”
berkata salah seorang dari mereka. Wira Sabet dan Sura Gentong yang
mendengarkan laporan itu mengangguk-angguk. Dengan nada keras Sura
Gentong berkata ”Setiap hari kita harus melihat perkembangan keadaan
di padukuhan Gemawang. Aku sudah tidak sabar lagi. Kita tinggal
menunggu Ki Sapa Aruh. Demikian ia datang, maka kita akan segera
bertindak. Semakin banyak kita memberi kesempatan, maka Ki Jagabaya
akan menjadi semakin berani. Ia tentu mengira bahwa kita hanya
banyak berbicara saja tanpa berbuat apa-apa” Wira Sabet
mengangguk-angguk. Katanya “Sebaiknya kita mempersiapkan diri
sebaik-baiknya lebih dahulu. Demikian Ki Sapa Aruh datang, maka kita
sudah siap. Pagi, siang atau malam kita dapat segera berangkat”
Kedua orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu tidak lagi
berkepentingan dengan pembicaraan tentang persiapan para penghuni
barak itu. Mereka akan berbicara dengan saudara-saudara seperguruan
mereka. Karena itu, maka keduanyapun segera minta diri, meninggalkan
Wira Sabet dan Sura Gentong. Ternyata keduanyapun segera mencari
Manggada dan Laksana, yang dipekerjakan di kandang kuda. Namun
sebelumnya keduanya telah mengajak seorang kawannya lagi. Bertiga
mereka menemui Manggada dan Laksana di kandang kuda. Namun sebelum
mereka berbicara, orang tua yang disebut Sampar telah diminta oleh
salah seorang di antara mereka mengambil air sambil membentak
“Beginikah caranya kalian memberi makan kuda? Jika kalian memberinya
rendeng dan dedak padi, maka airnya harus lebih banyak lagi agar
kuda-kuda itu tidak terlalu sulit menelannya. Kecuali jika kalian
memberi makan rumput segar, maka kalian tidak perlu air” Tetapi
ketika Manggada memungut kelenting untuk mengambil air, maka orang
itu membentak pula “Biar orang tua yang malas itu. Kalian akan
mendapat tugas lain” Manggada dan Laksana termangu-mangu. Namun
orang tua itulah yang kemudian mengambil kelenting itu dan
membawanya ke sumur. Demikian orang tua itu pergi, maka salah
seorang dari kedua orang yang kembali dari padukuhan Gemawang itu
berkata “Manggada dan Laksana. Aku baru saja kembali dari Gemawang
untuk melakukan tugas-tugasku sebagaimana biasa. Di Gemawang kami
bertemu dengan seorang anak muda yang memberitahukan kepadaku, apa
yang telah terjadi dengan kalian berdua. Anak muda itu tahu benar,
bahwa kalian hanya berpura-pura saja menyerah dan kami bawa ke barak
ini” “Siapa namanya?” bertanya Manggada. “Kami tidak menanyakannya.
Tetapi ia anak cengeng. Ia mengatakan bahwa ia tidak tahan mendengar
seorang gadis yang ia inginkan mengagumi kalian berdua” “He?”
Laksana dengan serta-merta bertanya “gadis yang mana yang kau
maksud?” “Kami tidak tahu” Namun Laksanapun tertawa. Katanya “Tentu
Wisesa” “Ia juga mengatakan bahwa Sampurna telah berhasil meyakinkan
beberapa orang anak muda untuk membantunya” “Setan anak itu. Jadi
apa yang akan kalian lakukan?” bertanya Manggada. “Aku akan
membungkamnya. Untung ia melaporkannya kepadaku. Jika pada suatu
saat ada kawan kami yang lain mendapat laporan pula, maka itu akan
sangat berbahaya. Bukan saja bagi kami, tetapi juga bagi kalian”
Manggada masih akan menjawab. Tetapi orang itu berdesis “Orang tua
itu lelah kembali” Manggada menarik nafas. Katanya “Kau dapat
menakutnakutinya agar ia tidak berbicara lagi dengan siapapun.
Tetapi kau tidak usah menyakitinya” “Besok aku masih akan pergi ke
padukuhan. Tetapi pada suatu saat, tentu orang lain yang akan pergi”
berkata orang itu, orang yang pernah dikalahkan oleh Laksana, namun
yang kemudian membawa Laksana dan Manggada. ke dalam barak itu.
Orang itu mengangguk-angguk. Namun ketika orang tua itu mendekat,
orang itu mulai membentak lagi “Cepat. Sebelum Pideksa melihat,
kandang ini harus sudah bersih” Manggada dan Laksana tidak menjawab.
Tetapi keduanyapun kemudian telah mengambil sapu lidi unluk
membersihkan kandang yang sebenarnya sudah bersih. Beberapa saat
kemudian, maka ketiga orang itupun segera meninggalkan kandang kuda
itu, sementara Sampar tengah menuang air bersih pada kotak makanan
kuda. “Aku sudah terbiasa memberi makan kuda dengan rendeng yang
dipotong lembut dengan dedak. Aku sudah terbiasa dengan takaran air
yang seharusnya. Tetapi tiba-tiba saja orang-orang dungu itu mencoba
mengajariku” berkata orang tua itu. “Ki Carang Aking” desis Manggada
“ternyata ada sesuatu yang dikatakan orang-orang itu kepada kami”
“Apa?” bertanya orang tua yang di barak itu dipanggil Sampar.
Manggada dan Laksanapun kemudian berceritera kepada orang tua itu,
sebagaimana dikatakan oleh ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura
Gentong itu. Orang tua itu mengangguk-angguk. Katanya “Kalian memang
harus berhati-hati terhadap anak itu. Sebaiknya kalian beritahukan
kepada Ki Pandi, agar ia berhubungan dengan Sampurna” “Mudah-mudahan
Ki Pandi datang malam nanti” Ketiganya kemudian berhenti berbicara
ketika seorang saudara seperguruan Wira Sabet datang. Seorang yang
berwajah tampan dengan senyum yang banyak nampak menghiasi bibirnya.
Sambil menepuk bahu Manggada ia berkata “Kalian telah bekerja dengan
rajin disini. Kau juga telah memelihara kudanya dengan baik. Terima
kasih anak muda” Manggada mengangguk hormat sambil menjawab “Itu
sudah kewajiban kami” Orang itu tertawa. Katanya “Aku akan pergi
sebentar. Sediakan kudaku. Pasang pula pelananya” Manggada dan
Laksanapun kemudian menjadi sibuk. Mereka segera mengeluarkan kuda
orang ilu serta memasang pelananya pula. Namun demikian Laksana
menuntun kuda itu mendekat, maka orang itu sambil tersenyum dan
sekali lagi menepuk bahu Manggada berkata “Membungkuklah anak muda”
Manggada menjadi bingung. Ia tidak tahu maksud orang itu. Sekali
lagi orang itu berkata “Membungkuklah disini” Manggada tidak
bertanya. Tanpa diketahui maksudnya, Manggadapun telah membungkuk di
sebelah orang itu. Tetapi orang itu menekan punggung Manggada sambil
berkata “Terlalu tinggi. Membungkuklah seperti orang yang merangkak”
Manggada telah melakukannya pula meskipun dengan jantung yang
berdebar-debar. Namun demikian Manggada melakukannya, maka ia merasa
kaki orang itu menapak di punggungnya. Ternyata Manggada telah
dipergunakannya alas untuk naik kepunggung kudanya. Manggada
mengumpat di dalam hati. Hampir saja ia kehilangan kesabarannya.
Namun ketika ia memandang wajah Ki Carang Aking serta kedip matanya,
Manggada berusaha menahan hatinya. Namun ia masih terkejut lagi
ketika orang itu tertawa sambil menggerakkan kendali kuda. Demikian
kudanya mulai berlari, tangan orang itu telah mendorong kepala
Manggada sehingga Manggada terhuyung-huyung beberapa langkah. Tetapi
Manggada tidak jatuh terguling. Suara tertawa orang itu masih
terdengar, sementara kudanya berlari di antara bangunan bambu di
barak itu dan kemudian hilang di belakang sudutnya. “Orang gila”
geram Manggada “hampir saja aku patahkan lehernya” “Kau masih harus
menahan diri” berkata Ki Carang Aking. Manggada mengangguk-angguk.
Sementara, Laksana bertanya kepada orang tua itu “Apakah benar bahwa
yang nampaknya selalu tersenyum itu adalah orang yang paling garang
di antara saudara-saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong?”
Orang tua itu mengangguk. Katanya “Ya. Ia adalah orang yang paling
kasar dan paling garang. Ujud lahiriahnya ternyata tidak menunjukkan
sikap hatinya. Kita memang harus berhatihati terhadapnya” Manggada
dan Laksana mengangguk-angguk. Mereka mulai merasakan sikap yang
kasar dan sama sekali tidak menghargai orang lain itu. Namun mereka
tidak dapat berbicara lebih banyak. Seorang lagi saudara seperguruan
Wira Sabet telah datang ke kandang. Orang yang wajahnya nampak
bengis dan kasar. Manggada dan Laksanapun kemudian telah sibuk
mempersiapkan kuda orang itu. Sementara orang itu berdiri saja tanpa
berkata sepatah katapun. Tetapi iapun tidak berbuat apa-apa ketika
Laksana menyerahkan kendali kudanya. Demikian orang itu menerima
kendali kudanya, maka iapun segera meloncat naik dan meninggalkan
kandang kuda itu. “Ia tidak banyak berbicara” berkata Sampar.
“Seperti sebuah kedung yang airnya nampak diam. Tetapi tentu kedung
yang dalam dan barangkali terdapat beberapa ekor buaya di dalamnya”
berkata Laksana. Sampar tertawa. Katanya “Ya. Agaknya memang
demikian” Sepeninggal orang itu, maka ketiganyapun lelah kembali ke
dalam kerja. Membersihkan kandang dan sekitarnya. Mengisi
kotak-kotak tempat makanan dan menyimpan rumput segar sebagai
persediaan. Namun setelah beberapa hari di tempat itu, maka Manggada
dan Laksanapun mengetahui pula, bahwa segerombolan orang yang
dipimpin oleh Wira Sabet dan Sura Gentong itu memang segerombolan
perampok yang bergerak di daerah yang luas. Sementara itu Ki Sapa
Aruh agaknya telah menghubungkan kelompok itu dengan
kelompokkelompok lain yang memiliki kegiatan yang sama. “Kita memang
harus menghentikannya” berkata Ki Carang Aking yang sehari-harinya
nampak tua dan lemah itu. Manggada dan Laksana mengangguk-angguk.
Namun Laksanapun berkata “Tetapi apakah kita mempunyai cukup
kekuatan untuk melakukannya?” “Nanti malam, mudah-mudahan Ki Pandi
benar datang. Kita akan menghitung kekuatan kita agar kita tidak
terjebak dalam kesulitan” berkata Ki Carang Aking. Manggada dan
Laksana memang menanti datangnya malam dengan gelisah. Rasa-rasanya
waktu berjalan sangat lamban. Apa saja sudah mereka kerjakan untuk
melupakan kegelisahan mereka. Tetapi rasa-rasanya masih saja tersisa
waktu yang panjang. Ketika senja turun, keduanya masih belum dapat
beristirahat dengan tenang. Masih ada beberapa ekor kuda yang belum
kembali ke kandangnya. Bahkan Pideksa dan pamannya, Sura Gentong
yang pergi sejak fajar, masih juga belum kembali. Tetapi ternyata Ki
Pandi tidak menunggu sampai semua kuda terkumpul. Ia memasuki barak
tidak lama setelah malam turun. Menurut Ki Pandi, justru saat-saat
yang paling aman, karena para peronda menganggap bahwa saat-saat
seperu itu masih belum perlu diawasi dengan ketat. Tetapi baik Ki
Pandi maupun Ki Carang Aking tidak menjadi cemas tentang orang-orang
yang belum kembali. Mereka akan mendengar derap kaki kuda mendekati
kandang sehingga mereka sempat keluar dari bilik mereka sementara Ki
Pandi sempat bersembunyi di kolong amben jika perlu. Sebenarnyalah
bahwa Ki Pandi dan Ki Carang Aking telah membuat perhitungan, apakah
mereka akan dapat menghentikan segerombolan orang yang dipimpin oleh
Wira Sabet dan Sura Gentong. “Di padukuhan ada beberapa orang yang
dapat diperhitungkan” berkata Ki Pandi. “Berapa orang?” bertanya Ki
Carang Aking. “Ki Kertasana, ayah Manggada. Ki Citrabawa, ayah
Laksana dan sekaligus gurunya serta guru Manggada. Ki Jagabaya dan
anak-anaknya, Sampurna. Menurut beberapa keterangan sebenarnya juga
Ki Bekel. Tetapi Ki Bekel telah dibayangi oleh seribu satu macam
keraguan dan kecemasan. Kemudian Manggada dan Laksana sendiri”
“Selain itu ada Ki Pandi” desis Ki Carang Aking. “Dan Ki Carang
Aking” sahut Ki Pandi. “Bagaimana dengan harimau-harimaumu itu?”
bertanya Ki Carang Aking. “Bukankah keduanya dapat membantu
menakut-nakuti para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong?” Sambung
Ki Carang Aking dan yang kemudian berkata pula “Ada dua orang
kemanakanku disini” “Kemanakan?” bertanya Ki Pandi. “Mereka juga
menjadi budak disini sebagaimana kami” jawab Ki Pandi “tetapi aku
berharap bahwa keduanya akan dapat membantu menghentikan kegiatan
gerombolan ini” “Sejak kapan mereka ada disini?” bertanya Manggada.
“Bersama dengan aku. Kami bertiga bersama-sama disekap di barak ini”
jawab Ki Carang Aking. “Apakah aku pernah melihat mereka berdua?”
bertanya Laksana ragu. “Tentunya sudah. Mereka adalah anak-anak yang
mendapat tugas untuk menyabit rumput bagi kuda-kuda ini” “Yang
mana?” bertanya Laksana sambil mengerutkan dahinya. Ki Carang Aking
tersenyum. Katanya “Kalian memang jarang berhubungan langsung.
Keduanya adalah anak-anak cacat. Seorang nampaknya seperti
kehilangan kekuatan di separuh tubuhnya, sedang yang lain nampaknya
memang agak kurang lengkap penalarannya” “O” Manggada dan Laksana
hampir berbareng menyahut. Sementara itu Laksanapun berkata
“Ternyata anak-anak muda itu. Kami memang jarang berhubungan
langsung. Tetapi mereka nampak meyakinkan sekali” “Sebagaimana
angger berdua” berkata Ki Carang Aking sambil tersenyum. Ki Pandipun
tertawa pendek. Katanya “Jika demikian, kita mempunyai harapan” “Ya”
jawab Ki Carang Aking “disini kekuatan yang kami ketahui adalah Wira
Sabet dan Sura Gentong bersama empat orang saudara seperguruannya.
Ki Sapa Aruh yang mudahmudahan tidak menyeret orang lain lagi di
dalam barak ini” “Mudah-mudahan tidak. Aku kira ia juga tidak mau
disaingi oleh orang lain yang memiliki kemampuan sejajar dengan
kemampuannya” berkata Ki Pandi. Namun pembicaraan merekapun
terhenti. Mereka mendengar derap kaki kuda. Lebih dari satu. “Tentu
Sura Gentong dan Pideksa” berkata Ki Carang Aking. Orang tua itupun
kemudian keluar dari biliknya bersama Manggada dan Laksana,
sementara Ki Pandi tetap berada di biliknya. Tetapi ia sudah siap
untuk bersembunyi, apabila perlu. Namun agaknya Sura Gentong dan
Pideksa itu tidak sempat berlama-lama di kandang. Nampaknya keduanya
sangat letih, sehingga keduanya ingin segera beristirahat. Demikian
Ki Carang Aking, Manggada dan Laksana selesai menyimpan kedua ekor
kuda itu serta memberinya minum dan makan, maka keduanyapun segera
kembali ke dalam bilik mereka untuk meneruskan pembicaraan mereka
dengan Ki Pandi. Sebelum Ki Pandi kemudian meninggalkan bilik itu,
Manggada dan Laksana sempat memberitahukan sebagaimana dikatakan
oleh orang-orang yang bertemu Wisesa di padukuhan Gemawang.
“Sampaikan kepada Sampurna, agar ia menjadi lebih berhati-hati”
berkata Ki Carang Aking yang mengikuti pembicaraan itu. Ki Pandi
mengangguk-angguk. Katanya “Untunglah bahwa orang yang mendapat
pengaduan Wisesa adalah orang-orang yang pernah berhubungan dengan
Manggada dan Laksana, sehingga pengaduan itu tidak langsung didengar
oleh Wira Sabet dan Sura Gentong” meskipun demikian iapun berkata
pula “tetapi bagaimanapun juga hal itu akan menjadi ancaman bagi
persiapan yang dilakukan oleh orang-orang padukuhan Gemawang. Jika
pengaduannya itu tidak segera mendapat tanggapan, mungkin Wisesa
akan mengadu lagi. Kemungkinan buruk dapat terjadi karena Wisesa
mungkin akan bertemu dan berbicara dengan orang lain” “Aku sudah
berpesan, agar kedua orang itu besok menemui Wisesa dan mengancamnya
untuk tidak berbicara lagi tentang hal itu. Mudah-mudahan mereka
berhasil menakut-nakuti Wisesa yang hatinya memang tidak lebih besar
dari biji sawi itu” Ki Pandi mengangguk-angguk. Namun Sampurna
memang harus mendapat peringatan agar menjadi lebih berhati-hati. Ki
Pandi juga harus mengingat anak-anak muda yang sedang bersiap-siap
untuk membantu Ki Jagabaya menenangkan padukuhan mereka dari
kegelisahan yang berkepanjangan. Ki Pandipun kemudian telah minta
diri. Namun Manggada pun berpesan “Besok kami berharap Ki Pandi
untuk datang lagi. Mungkin ada sesuatu yang dapat kami ceriterakan
tentang barak ini” “Baiklah” berkata Ki Pandi “besok pada saat
seperti ini aku akan datang lagi. Jika berbahaya, beri aku isyarat.
Jika besok saat seperti ini pintu bilikmu ini terbuka lebar, berarti
aku harus menunda beberapa saat” “Jadi kami harus menutup pintu
bilik ini jika kami menganggap keadaan aman?” bertanya Ki Carang
Aking. “Ya” jawab Ki Pandi. “Tetapi bagaimana kami dapat
memberitahukan kepadamu, jika kebetulan seseorang ada di dalam
bilikku dan minta agar bilik ini ditutup?” “Berbicaralah agak keras
sehingga aku dapat mendengar apa yang kalian bicarakan. Kecuali jika
kalian bertiga dicekik hantu disini” berkata Ki Pandi. Mereka yang
ada di bilik itupun tertawa tertahan. Namun dalam pada itu, maka Ki
Pandipun telah minta diri. Dengan sangat berhati-hati ia telah
meninggalkan barak itu. Sepeninggal Ki Pandi, Manggada dan Laksana
masih berbincang tentang berbagai kemungkinan sambil menunggu
kedatangan beberapa orang penghuni barak itu dengan kudaTiraikasih
Website http://kangzusi.com/ kuda
mereka. Sementara Ki Carang Aking berbaring sambil membayangkan apa
yang dapat terjadi di kemudian. Apabila kegiatan Wira Sabet dan Sura
Gentong itu tidak dihentikan, maka akibatnya akan parah bagi banyak
pihak. Apalagi jika mereka berhasil menguasai padukuhan Gemawang
dengan alasan yang telah direka-rekanya, dihubungkan dengan dendam
mereka atas orang-orang padukuhan Gemawang. Seolah-olah mereka
memang mempunyai hak yang sah untuk melepaskan dendam mereka. Namun
mereka telah memperhitungkan kemungkinan yang lebih jauh dari
sekedar menguasai padukuhan Gemawang dan bahkan kemudian Kademangan
Kalegen. Dengan menguasai Kademangan itu, maka mereka mempunyai
landasan yang sangat mapan bagi pekerjaan mereka yang kotor itu.
Namun dalam pada itu, telah terdengar pula derap kaki kuda, sehingga
mereka bertiga harus bangkit dan menerima kuda yang baru datang itu.
Sedangkan untuk menunggu kuda berikutnya, maka bertiga mereka telah
membagi waktu. Seorang dari mereka harus tetap terjaga. Jika seorang
di antara saudara seperguruan Wira Sabet datang tanpa ada yang
mengetahuinya, maka kemarahan mereka akan dapat berakibat sangat
buruk bagi Sampar dan kemudian :edua orang anak muda yang
membantunya itu. Baru setelah kuda terakhir datang, maka mereka
dapat tidur dengan nyenyak sampai dini hari. Namun Manggada, Laksana
dan Sampar telah mendapat kesan, bahwa barak itu menjadi sibuk.
Sebelum matahari naik dua orang sudah meninggalkan barak itu dengan
kudanya. Kemudian Wira Sabet dan Pideksa. Demikian matahari naik
lebih tinggi, Sura Gentong dan saudara seperguruannya yang berwajah
tampan itu telah pergi pula. Sampar yang tua, yang telah lebih lama
berada di tempat itu, berdesis “Kesibukan ini memang mendebarkan”
“Kenapa?” bertanya Manggada. “Kesibukan seperti ini adalah pertanda,
bahwa mereka menemukan sasaran. Mereka nampaknya sedang meyakinkan,
apakah malam nanti mereka dapat melakukannya” “Melakukan apa?”
bertanya Laksana. “Perampokan” jawab orang tua itu. Manggada dan
Laksana berpandangan sejenak. Namun keduanya tidak berbicara lagi.
Mereka sudah mengerti, apa yang kira-kira akan terjadi malam nanti.
Hari itu Sampar nampak gelisah. Menjelang tengah hari, maka kedua
orang yang menyabit rumput telah datang ke kandang sambil membawa
masing-masing sekeranjang rumput segar. Seorang di antara keduanya
berjalan dengan sebelah kaki yang timpang. Bahkan tangan dan separuh
tubuhnya nampak lemah. Sedangkan yang lain memandang dunia dengan
penuh keheranan, meskipun umurnya sudah sepertiga abad. Sekali-kali
ia nampak tersenyum-senyum melihat sekelilingnya. Namun kemudian
wajahnya menjadi murung. “Inilah kedua kemanakanku itu” berkata Ki
Carang Aking. Manggada dan Laksana tersenyum. Mereka yakin bahwa
keduanya adalah murid Ki Carang Aking. Karena itu, maka Laksanapun
telah mendekati orang yang nampaknya akan terganggu syarafnya itu
sambil bertanya “Kau dapat juga menyabit rumput sekeranjang penuh?”
Orang itu tertawa. Namun sebelum ia mengucapkan sepatah katapun, Ki
Carang Akingpun berkata “Mereka sudah tahu, siapakah kalian” Orang
yang tertawa itu tiba-tiba mengerutkan dahinya, sementara Ki Carang
Aking berkata “Ia berada di tempat ini dengan tujuan yang sama
sebagaimana kita disini. Mereka adalah anak-anak muda Gemawang.
Bukankah kalian sudah mendengar nama mereka berdua?” Orang yang
sehari-hari nampak seperti terganggu syarafnya itu menarik nafas
dalam-dalam. Katanya “Jika aku harus melakukan peranan ini sebulan
lagi, maka aku benar-benar dapat menjadi gila” Manggada dan Laksana
tertawa. Sementara Ki Carang Aking pun tersenyum sambil berkata
“Kita sedang berusaha untuk secepatnya menyelesaikan tugas kita
disini” Orang yang timpang itupun telah menjadi tegak pula sambil
berkata “Aku sudah lelah. Setiap malam aku harus memijit kakiku yang
timpang ini” “Kita semua berpura-pura disini” berkata Ki Carang
Aking. “Tetapi kedua anak muda ini lain, guru. Mereka tidak perlu
menjadi cacat. Mungkin mereka hanya berpura-pura tunduk kepada
segala perintah” berkata orang yang pura-pura cacad itu. “Semuanya
akan segera kita selesaikan” jawab gurunya. Namun pembicaraan itupun
segera terhenti. Mereka mendengar derap kaki kuda yang mendekat.
Demikianlah, maka kedua orang yang cacat itupun segera meletakkan
keranjang yang penuh rumput itu dan mengambil keranjang yang kosong.
Mereka harus pergi lagi ke bagian belakang barak itu untuk menyabit
rumput. Mereka harus melakukan pekerjaan itu sehari penuh. Mereka
hanya berhenti di siang hari untuk makan. Hari itu memang terasa
sibuk. Satu-satu para penghuni barak itupun kembali. Namun agaknya
mereka masih harus berbicara panjang di antara mereka. Di sore hari,
ketika Manggada dan Laksana baru saja selesai membersihkan kuda-kuda
yang baru saja dipakai, tiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura
Gentong telah datang menemui Manggada dan Laksana. Keduanya
dipanggil ke sudut kandang untuk diberi keterangan tentang pertemuan
mereka dengan Wisesa hari itu di padukuhan Gemawang. “Kami sudah
menakut-nakutinya” berkata salah seorang dari mereka “kami
mengatakan bahwa ia telah memfitnah. Bukan saja Manggada dan
Laksana, tetapi terutama kawankawan kami yang dikatakan telah kalian
kalahkan itu” “O” Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sambil
tersenyum Laksana bertanya “Apa katanya?” “Anak itu memang menjadi
ketakutan. Bahkan hampir pingsan. Kami memaksanya berjanji untuk
tidak memfitnah lagi. Jika sekali lagi ia berbicara tentang
kekalahan para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong, maka kami akan
mengoyakkan mulutnya. “Aku kira ia benar-benar akan diam” berkata
Manggada kemudian, sementara Laksana menyambung “ia tidak akan
mempunyai keberanian untuk memperbandingkan sikap kalian dengan
kawan-kawan kalian yang lain” “Baiklah” berkata salah seorang dari
ketiga orang itu “kami harus segera bersiap-siap untuk tugas khusus
malam ini” “Tugas khusus apa?” bertanya Manggada. “Kami mempunyai
sasaran yang sangat baik malam ini” Manggada dan Laksanapun segera
mengetahui maksud orang itu. Dengan nada datar Manggada bertanya
“Dimana?” “Saudagar emas dan permata serta wesi aji. Tiga orang
pedagang yang membawa dagangan cukup banyak. Mereka akan berada di
rumah saudagar emas dan permata pula. Esok pagi mereka akan
bersama-sama pergi ke pesisir Utara dengan membawa dagangannya itu.
Ki Sapa Aruh telah memerintahkan kami untuk bergerak. Kami tidak
boleh menyia-nyiakan kesempatan yang jarang ada. Empat orang
pedagang dengan dagangannya telah berkumpul. Seakanakan mereka
memang menyediakan emas, permata dan yang tidak kalah nilainya
adalah wesi aji itu” “Dimana rumah saudagar itu?” bertanya Manggada
sambil lalu. Orang-orang itu sama sekali tidak mencemaskan keduanya,
bahwa keduanya akan membocorkan rahasia itu, karena keduanya tidak
akan dapat keluar dari tempat itu. Karena itu seorang di antara
mereka berkata “Tidak terlalu jauh dari tempat ini. Saudagar itu
tinggal di padukuhan Rejandani Kulon. Saudagar emas yang tinggal di
Rejandani itu kebetulan anak Ki Demang Rejandani itu sendiri” “Kapan
kalian akan berangkat?” bertanya Manggada. “Biasanya kami lakukan
tugas itu pada tengah malam,” jawab orang itu. Manggada dan Laksana
tidak bertanya lebih banyak lagi. Sementara itu, ketiga orang itupun
segera meninggalkan mereka sebelum orang lain memperhatikannya.
Sepeninggal ketiga orang itu, maka Manggada dan Laksana segera
menghubungi Ki Carang Aking dan menceriterakan apa yang mereka
dengar dari ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu.
“Menarik sekali” desis Ki Carang Aking “tetapi apa yang dapat kita
lakukan karena kita berada disini?” “Kita akan menceriterakan kepada
Ki Pandi jika ia benarbenar datang” desis Manggada. Ki Carang Aking
mengangguk-angguk kecil. Katanya “Mudah-mudahan ada satu cara untuk
membantu saudagarsaudagar itu” Dengan demikian, maka yang dapat
mereka lakukan hanyalah menunggu. Namun mereka menyadari, bahwa
tugas mereka akan menjadi berat. Mereka tentu akan mendapat perintah
untuk menyiapkan tidak hanya lima atau enam ekor kuda. Tetapi tentu
lebih dari itu. “Menjelang tengah malam, kuda-kuda itu tentu harus
siap” berkata-Ki Carang Aking. “Apakah kita dapat menyiapkan mulai
sekarang?” bertanya Laksana. “Bagaimana mungkin” jawab Manggada
“bukankah kita tidak tahu bahwa kuda-kuda itu akan dipergunakan
malam nanti?” Laksana mengerutkan dahinya. Namun iapun kemudian
tertawa kecil sambil berdesis “Ya. Alangkah bodohnya” Karena itu,
tidak ada yang dapat mereka kerjakan mendahului perintah, karena hal
itu akan dapat membuat para pemimpin barak itu menjadi curiga.
Ketika kemudian senja lewat dan malam turun, mereka benar-benar
menanti kedatangan Ki Pandi. “Sebagaimana pesan Ki Pandi, kita harus
menutup pintu” berkata Laksana. Ki Carang Aking mengangguk-angguk.
Sementara itu merekapun duduk di dalam bilik itu sambil berbicara di
antara mereka agar jika Ki Pandi berada di luar, ia dapat mendengar
bahwa tidak ada orang lain di dalam bilik itu. Ki Pandi memang benar
datang. Dari jauh ia sudah melihat pintu tertutup. Karena itu, maka
iapun dengan sangat berhatihati mendekati pintu yang tertutup itu.
Beberapa saat Ki Pandi memang berdiri di luar. Ia mendengarkan
pembicaraan orang-orang yang ada di dalam. Baru ketika ia yakin
bahwa tidak ada orang lain, maka iapun telah mengetuk pintu. Tidak
terlalu keras, tetapi segera didengar oleh mereka yang ada di dalam
bilik itu. Ketika kemudian Ki Pandi duduk di dalam bilik itu, serta
pintu telah ditutup kembali, Manggada dan Laksanapun segera
menceriterakan rencana para penghuni barak itu untuk merampok
beberapa orang saudagar emas, permata serta wesi aji yang akan
berkumpul di rumah anak Ki Demang Rejandani dan tinggal di Rejandani
Kulon. Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya
“Sebaiknya rencana itu kita gagalkan. Kita harus membantu para
saudagar itu. Kita memang tidak bersangkutpaut dengan mereka. Jika
kita tidak mendengar rencana ini, maka kita tidak akan merasa
dibebani penyesalan jika esok kita mendengar berita tentang
perampokan itu. Dan mungkin tindak kekerasan yang lain, karena aku
yakin keempat orang saudagar itu tidak akan menyerahkan barang
dagangan mereka yang nilainya sangat tinggi begitu saja. Kitapun
tahu bahwa saudagar keliling yang sering menempuh perjalanan jauh
biasanya memiliki kepercayaan diri serta bekal kemampuan olah
kanuragan” “Jadi bagaimana menurut Ki Pandi?” bertanya Ki Carang
Aking. “Aku akan pergi ke Rejandani itu” berkata Ki Pandi. Lalu
katanya “Aku menduga bahwa kekuatan yang dibawa oleh orang-orang
dari barak ini cukup besar, sehingga keempat orang itu tidak akan
mampu melawan” “Aku sependapat Ki Pandi. Tetapi sayang, bahwa aku
tidak dapat membantu, justru sebentar lagi, aku tentu akan mendapat
tugas untuk menyiapkan kuda-kuda ini” “Baiklah. Jika demikian aku
minta diri. Aku akan pergi ke Rejandani” Ki Carang Aking, Manggada
dan Laksana tidak menahannya lebih lama. Kesempatannya tidak terlalu
panjang, karena tengah malam nanti, Wira Sabet, Sura Gentong dan
saudarasaudara seperguruannya, bahkan beberapa orang pengikutnya
yang terpercaya akan merampok saudagar-saudagar itu. Dengan sedikit
petunjuk dari Manggada yang sedikit banyak tahu arah Kademangan
Rejandani, maka Ki Pandipun telah langsung menuju ke Kademangan itu.
Tidak terlalu sulit menemukan rumah Ki Demang. Tetapi waktu menjadi
semakin sempit Ketika Ki Pandi memasuki halaman Kademangan, maka
Kademangan itu nampaknya sudah menjadi sepi. Tidak ada peronda di
rumah itu. Tetapi ada gardu disimpang tiga, hanya beberapa puluh
langkah saja dari rumah Ki Demang. Ki Pandi memang menjadi
ragu-ragu. Ia berjalan dengan hati-hati mengelilingi rumah itu. Dari
jarak yang agak jauh, Ki Pandi melihat beberapa ekor kuda berada di
dalam kandang, sehingga ia percaya, bahwa di rumah itu memang sedang
ada tamu, sehingga kandang kuda yang cukup besar itu terasa agak
sempit bagi beberapa ekor kuda yang ada di dalamnya. Tetapi Ki Pandi
sudah bertekad untuk memberitahukan rencana para perampok itu.
Karena itulah, maka Ki Pandipun kemudian kembali ke halaman depan.
Iapun naik ke pendapa dan melangkah ke pringgitan. Perlahan-lahan ia
mengetuk pintu rumah Ki Demang. Sekali dua kali ketukan pintu itu
tidak dijawab. Karena itu, maka Ki Pandipun mengetuk lebih keras
lagi. Meskipun tidak ada jawaban, namun telinganya yang tajam
mendengar langkah-langkah di ruang dalam rumah itu. Karena itu, maka
iapun kemudian menunggu pintu itu dibuka. Tetapi Ki Pandi tidak
mendengar langkah mendekati pintu. Beberapa saat kemudian, maka
langkah-langkah itupun seakan-akan justru menjauh dan kemudian
hilang dari pendengarannya. Tetapi tidak lama. Beberapa saat
kemudian, ia justru mendengar pintu seketenglah yang terbuka. Ki
Pandi menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, bahwa pemilik rumah
itu, atau bahkan mungkin tamu-tamunya, menjadi sangat berhati-hati.
Sebenarnyalah Ki Pandipun kemudian melihat seorang yang muncul dari
pintu seketeng. Sambil melangkah ke tangga pendapa orang itu
bertanya “Siapakah kau Ki Sanak. Dan apakah keperluanmu malam-malam
begini datang kemari?” Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Namun ia
menyadari, bahwa dari seketeng sebelah yang lain, dua orang telah
keluar pula dan turun ke halaman. Ki Pandi masih berdiri di muka
pintu pringgitan. Katanya “Ada sesuatu yang penting dan segera harus
aku beri tahukan kepada kalian. Tetapi siapakah di antara kalian
putera Ki Demang Rejandani yang menjadi saudagar emas dan permata?”
“Aku” jawab orang itu. Orang yang masih terhitung muda dengan kumis
yang tebal di atas bibirnya. “Baiklah. Aku mohon kesempatan untuk
berbicara sejenak. Maaf, jika aku harus melakukannya dengan cepat,
karena waktunya sangat sempit” berkata Ki Pandi. “Siapa sebenarnya
kau ini?” bertanya anak Ki Demang itu. “Itu tidak penting. Tetapi
aku minta kata-kataku didengar” berkata Ki Pandi. “Apa yang ingin
kau katakan?” Ki Pandi melangkah mendekati orang itu. Tetapi orang
itu berkata “Berdiri sajalah disitu” “Tetapi yang ingin aku katakan
ini penting bagi Ki Sanak, karena bukan saja menyangkut
barang-barang dagangan Ki Sanak dan kawan-kawan Ki Sanak, tetapi
juga keselamatan Ki Sanak sendiri bersama dengan kawan-kawan Ki
Sanak” “Apa yang kau ketahui tentang kami? Kami tidak mempunyai
barang-barang berharga. Aku memang mengaku anak Ki Demang. Tetapi
bukan pedagang emas dan permata. “Kenapa harus kau ingkari, Ki
Sanak. Tetapi siapapun Ki Sanak, aku mohon Ki Sanak menyadari bahwa
sekelompok perampok tengah dalam perjalanan kemari. Sebaiknya Ki
Sanak membawa barang-barang berharga itu menyingkir dari rumah ini.
Sebaiknya rumah ini dikosongkan, sementara satu dua orang pembantu
di rumah ini harus diberi pesan, bagaimana mereka menjawab
pertanyaan para perampok itu” “Ki Sanak. Jika kau sedang mengigau,
sebaiknya kau tidak berada di rumahku. Pergilah” “Aku berkata
sebenarnya Ki Sanak. Pembantu itu harus mengatakan bahwa di rumah
ini tidak ada tamu. Ki Demang dan Nyi Demang sebaiknya juga
meninggalkan rumah ini dan berada di banjar saja bersama para
peronda. Pembantu itu dapat mengatakan bahwa Ki Demang dan Nyi
Demang sedang pergi” “Ayah dan ibuku memang tidak sedang di rumah,
Ki Sanak. Pamanku sedang menikahkan anaknya” “Jika demikian,
silahkan kalian pergi. Meskipun aku melihat ada gardu di sebelah,
namun kekuatan para perampok itu terlalu besar untuk ditandingi”
Anak Ki Demang itu kemudian justru menggeram “Apakah kau salah
seorang dari mereka dan berusaha untuk menakutnakuti kami, agar kami
tidak memberikan perlawanan?” “Bukan sekedar tidak memberikan
perlawanan. Tetapi aku mohon kalian menyingkir” “Pergilah, atau aku
bahkan akan menangkapmu” Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Bahkan
seorang yang berdiri di sisi lain dari pendapa itu menggeram “Orang
bongkok. Kau jangan mencoba mengganggu ketenangan kami” Ki Pandi
menarik nafas dalam-dalam Ternyata orang-orang itu tidak
mempercayainya. Mungkin karena ujud lahiriahnya, maka ia dianggap
orang yang kurang waras, yang tersesat di Kademangan Rejandani.
“Pergilah” berkata anak Ki Demang itu “kami malam ini harus
beristirahat sebaik-baiknya. Besok kami akan menempuh perjalanan
panjang” “Aku mohon kalian mendengarkan kata-kataku” berkata Ki
Pandi sekali lagi. “Kau orang aneh. Untuk apa sebenarnya permainan
ini kau lakukan. Apakah kau memang sedang memancing persoalan, atau
mencoba membuka kesempatan bagi gerombolanmu untuk masuk ke dalam
rumahku? Dengar Ki Sanak, sekali lagi aku peringatkan kau agar
pergi. Jika tidak, maka kami akan menangkapmu. Malam ini juga kami
akan memerintahkan anak-anak muda untuk memanggil ayah dan
mengadilimu” Ki Pandi kehilangan harapannya untuk memberi peringatan
kepada orang-orang itu. Sebenarnya ia memang mempunyai pamrih. Jika
ia berhasil menyelamatkan emas dan permata dan bahkan wesi aji dari
saudagar-saudagar itu, maka pada kesempatan lain, ia akan dapat
minta bantuan mereka untuk menyelamatkan padukuhan Gemawang, karena
Kademangan Kalegen nampaknya ragu-ragu menghadapi Ki Sapa Aruh.
Tetapi nampaknya usaha itu sia-sia. Dengan kecewa Ki Pandipun
kemudian melangkah turun dari pendapa. Demikian ia berdiri di
halaman, maka ia melihat empat orang yang berada didekat pintu
seketeng sebelahmenyebelah. “Wira Sabet dan Sura Gentong cukup
teliti memperhitungkan sasarannya. Atau barangkali atas petunjuk Ki
Sapa Aruh” berkata Ki Pandi di dalam hatinya. Dengan hati yang berat
Ki Pandi melangkah keluar dari halaman rumah itu. Namun sebelum ia
keluar dari regol halaman, ia pun masih berkata “Aku minta kalian
mengingat peringatanku ini Ki Sanak. Jika terjadi sesuatu atas
kalian, maka kalian jangan menyesal.” Keempat orang itu tidak
menjawab. Sementara itu, Ki Pandi yang kecewa itupun melangkah
keluar lewat pintu regol halaman. “Ada juga orang gila datang
malam-malam begini” berkata salah seorang dari mereka” “Lupakan”
berkata anak Ki Demang yang berkumis itu “kita masih mempunyai waktu
untuk tidur lagi” Tetapi seorang di antara mereka itupun berkata
“Perasaanku menjadi tidak enak. Jika orang itu tidak mempunyai
keterangan tentang yang dikatakannya itu, apakah sebenarnya
tujuannya?” “Mungkin ia memang orang gila” desis yang lain “atau
bahkan sedang menjajagi apakah kami menjadi ketakutan” “Sudahlah”
berkata anak Ki Demang “Sudahlah. Kita tidur saja lagi” Sementara
itu waktu bergulir semakin jauh. Walaupun menjadi semakin malam.
Keempat orang itu sudah berada di dalam rumah lagi. Keempat orang
itu memang sengaja tidur di ruang dalam bersama-sama. Ketiga orang
tamu yang bermalam di rumah itu, tidak dipersilahkan tidur di
gandok, karena mereka bersama-sama menjaga barang-barang mereka yang
nilainya tinggi. Sejenak kemudian, maka ketiga orang di antara
mereka segera tertidur lagi. Yang seorang lagi masih saja merasa
gelisah. Ia tidak menjadi ketakutan. Tetapi peringatan yang
diberikan orang bongkok itu membuatnya berhati-hati. Ada perasaan
tidak enak yang menggelitik jantungnya. Beberapa saat orang itu
berbaring tanpa dapat memejamkan matanya. Karena itu maka iapun
justru bangkit dan duduk di ruang dalam. Suara-suara malam di luar
dinding rumah itu membuat malam menjadi semakin mencengkamnya.
Sementara itu, ketiga orang kawannya, termasuk anak Ki Demang telah
tertidur nyenyak. Seorang di antara mereka justru mendengkur seirama
dengan tarikan nafasnya yang teratur. Orang itu mengerutkan dahinya
ketika ia mendengar jauh dalam keheningan malam suara derap kaki
kuda. Semakin lama menjadi semakin jelas. Tidak hanya satu dua.
Tetapi di telinganya terdengar banyak sekali. Orang itu
menggeleng-gelengkan kepalanya. Bahkan ia sempat bertanya kepada
diri sendiri “Apakah karena kegelisahanku, tiba-tiba saja telingaku
seakan-akan mendengar derap kaki kuda sedemikian banyaknya?” Tetapi
suara derap kaki kuda itu tidak segera lenyap. Bahkan semakin lama
menjadi semakin jelas. Orang itu tidak menunggu lebih lama lagi.
Iapun segera membangunkan ketiga orang kawannya yang masih tidur
nyenyak. “Ada apa?” bertanya anak Ki Demang. “Kau dengar derap kaki
kuda itu?” bertanya orang yang membangunkannya. “Kaki kuda apa?”
anak Ki Demang itu memang bangkit dan bahkan duduk dibibir amben
besar di ruang dalam “Dengarlah baik-baik” berkata orang itu. Kedua
orang yang lainpun telah duduk pula. Seorang di antara mereka sempat
berkata “Kau dibayangi oleh ceritera orang bongkok itu” Tetapi anak
Ki Demang itu justru berdesis “Ya. Aku sudah mendengarnya” Akhirnya
keempat orang itu menjadi yakin. Mereka mendengar derap kaki kuda.
Dengan cepat keempatnya berloncatan menggapai senjata mereka
masing-masing. Anak Ki Demang mengambil tombak di ploncongnya.
Sementara seorang kawannya menjinjing pedang panjang. Seorang lagi
bersenjata sepasang tongkat baja yang dihubungkan dengan seutas
rantai yang agak panjang. Sedangkan seorang lagi menyelipkan
kerisnya yang besar dan panjang melampaui ukuran keris kebanyakan di
punggungnya. “Apakah orang bongkok itu tidak berbohong?” desis orang
yang sejak semula sudah ragu-ragu itu. Ketiga orang kawannya hanya
terdiam. Mereka menjadi tegang ketika suara derap kaki kuda itu
menjadi semakin dekat. Anak Ki Demang itu menggeretakkan giginya
ketika ia mendengar derap kaki kuda itu memasuki halaman rumahnya.
“Setan. Orang bongkok itu tidak berbohong. Mungkin ia gila, tetapi
ia berkata sebenarnya” “Kita harus bersiap menghadapinya” Sejenak
kemudian maka merekapun mendengar orangorang di halaman itu
berloncatan turun. Mereka mendengar langkah beberapa orang ke
halaman samping, sedangkan beberapa orang yang lain naik ke pendapa.
Sementara itu, tiga ekor kuda telah langsung berhenti di depan
gardu. Ada lima anak muda yang sedang meronda. Namun ketika ketiga
orang berkuda itu mengancam mereka, maka mereka tidak berani berbuat
apa-apa. “Jika kalian mencoba melibatkan diri, maka kalian akan
menyesal” berkata salah seorang dari ketiga orang berkuda itu.
Kelima anak muda itu memang tidak akan dapat melawan mereka,
sehingga mereka lebih baik berdiam diri saja di dalam gardu.
Sementara itu, orang-orang yang berada di halaman rumah Ki Demang,
telah mengawasi segala pintu keluar rumah itu. Bahkan sampai ke
pintu dapur sekalipun. Empat orang kemudian telah berdiri di depan
pintu pringgitan. Seorang di antara mereka adalah seorang yang
umurnya sudah melampaui pertengahan abad. Namun badannya masih
nampak, kuat, kekar dan tegar. Orang itulah yang mengetuk pintu
pringgitan “Buka pintumu atau aku rusakkan. Kalian yang ada di dalam
tidak mempunyai pilihan apapun kecuali mendengarkan dan melakukan
segala perintah kami. Kami tahu, bahwa ada empat orang yang ada di
dalam. Ki Demang dan Nyi Demang sedang pergi ke peralatan pernikahan
kemanakannya” Orang-orang yang berada di dalam rumah itu menjadi
semakin tegang. Tetapi tidak seorangpun yang membuka pintunya.
Ternyata bukan hanya pintu pringgitan saja yang diketuk. Tetapi
pintu butulan di gladri sebelah kanan juga diketuk. Justru lebih
keras. Terdengar suara lantang “Buka pintu. Cepat” Tetapi keempat
orang itu tidak membuka pintu. Karena itu, maka orang-orang yang
berdiri di depan pintu pringgitan itu tidak sabar lagi. Mereka mulai
menghentakhentak pintu itu semakin lama menjadi semakin keras. Orang
yang sudah berumur lebih setengah abad itu menjadi semakin tidak
sabar. Karena itu, maka dengan kekuatannya yang melampaui takaran
kekuatan wajarnya, orang itu telah menghentakkan pintu itu, sehingga
pintu dari dinding gebyog itu pecah dan roboh ke dalam, sehingga
pintu itupun kemudian menjadi menganga. Namun nampaknya tidak diduga
sebelumnya, bahwa dengan tiba-tiba empat orang yang ada di ruang
dalam itupun telah meloncat menyerang, sehingga orang-orang yang
berdiri di pintu itu berloncatan mundur. Dengan kecepatan yang
tinggi, keempat orang itu berloncatan melintasi pendapa dan turun ke
halaman. Agaknya mereka memilih bertempur di halaman daripada di
pendapa. Karena di halaman mereka tidak akan terganggu oleh
tiang-tiang yang berdiri tegak membeku. Tetapi demikian keempat
orang itu berdiri di pendapa, maka beberapa orang telah menyusul
mereka dan bahkan kemudian mengepung mereka. Orang yang mengetuk dan
kemudian merusakkan pintu itu pun telah melangkah dan kemudian
berdiri di tangga pendapa sambil berkata “Ki Sanak. Aku tahu, kau
adalah orang-orang yang berilmu. Tetapi akupun tahu bahwa ilmu
kalian masih belum apa-apa bagiku dan bagi orang-orangku. Karena
itu, maka sebaiknya kalian menyerah saja. Jika kalian menyerah, maka
kalian akan kami perlakukan dengan baik. Tetapi jika kalian melawan,
maka nasib kalian akan menjadi lebih buruk lagi” “Kau siapa?”
bertanya anak Ki Demang. “Orang memanggilku Ki Sapa Aruh” jawab
orang itu. Wajah anak Ki Demang itu menjadi tegang. Sementara itu Ki
Sapa Aruh itupun berkata “Kau pernah mendengar namaku? Mungkin
namaku memang belum terlalu banyak dikenal disini” Anak Ki Demang
menggeram. Ternyata ia memang pernah mendengar nama Ki Sapa Aruh.
Namun ketika tiba-tiba saja ia berhadapan, maka hatinya memang
menjadi sangat berdebardebar. “Nah, Ki Sanak. Marilah kita
menyelesaikan persoalan kita dengan baik. Kami bukan orang yang
senang mempergunakan kekerasan untuk tujuan apapun. Kami juga bukan
orang yang senang berselisih di antara sesama. Karena itu, marilah
kita sama-sama mengekang diri agar tidak terjadi perselisihan”
berkata Ki Sapa Aruh dengan nada yang lunak. “Apa maksudmu?”
bertanya anak Ki Demang. “Aku datang dengan tujuan yang baik. Aku
ingin meneruskan keinginan kawan-kawan kami yang sedang kekurangan
untuk minta bantuan kalian untuk sedikit meringankan beban hidup
mereka sehari-hari. Adalah tidak wajar jika mereka hidup dalam
kekurangan dan bahkan hampir kelaparan, sementara kalian dapat hidup
dengan berlebihan” Wajah anak Ki Demang itu menjadi tegang. Dengan
nada tinggi ia menyahut “Siapa yang hidup berlebihan?” “Tentu saja
yang kami maksudkan adalah kalian. Juga para bebahu Kademangan ini
dan para saudagar kaya. Dengan memeras orang-orang yang justru
sedang membutuhkan pertolongan, kalian mendapatkan untung yang
berlebihan” jawab Ki Sapa Aruh. “Itu tidak benar. Kami tidak hidup
berlebihan. Kami memang mencari untung dengan pekerjaan kami. Tetapi
bukankah itu wajar? Jika ada sedikit tersisa serta kesempatan untuk
hidup kecukupan itu adalah hasil kerja keras kami. Juga para bebahu
Kademangan. Sawah pelungguh yang mereka dapatkan di dasari oleh
paugeran yang berlaku dan sah. Merekapun harus bekerja keras untuk
dapat hidup dengan layak” Tetapi Ki Sapa Aruh tertawa. Katanya “Kau
dapat berkata apa saja. Tetapi aku tahu, bahwa kalian telah
mendatangi orang-orang yang terjepit oleh satu kebutuhan. Kalian
memanfaatkan keterjepitan orang itu untuk dapat membeli perhiasan
mereka, emas dan permata dengan harga murah. Kemudian kalian jual
perhiasan itu dengan harga yang berlipat” “Ki Sanak” jawab anak Ki
Demang “apa sebenarnya yang kalian maui. Kalian tidak perlu mengusik
pekerjaan yang memang kami lakukan dengan wajar itu. Kami tidak
pernh memaksakan kehendak kami untuk membeli atau menjual apapun
kepada kami. Kamipun tidak pernah memaksakan harga kepada mereka
yang menjual atau membeli barangbarang dagangan kami” “Baiklah.
Apapun alasan kalian, tetapi bagi kami, kalian adalah sama jahatnya
dengan lintah yang selalu menghisap darah. Sekarang sudah saatnya
kami minta kembali darah yang telah kau hisap dan kau simpan sebagai
harta kekayaan yang sangat besar. Nah, berikan emas, permata dan
wesi aji yang kalian siapkan dan yang akan kalian bawa besok”
“Tidak” jawab anak Ki Demang “kalian tidak dapat merampas milik
kami. Hak kami, apapun alasannya” “Ki Sanak. Bukankah aku sudah
mengatakan bahwa kami adalah orang-orang yang tidak suka kekerasan?
Apalagi aku yang sudah menjadi semakin tua. Aku ingin dapat hidup
tenang dan tenteram. Karena itu, aku minta kalian tidak membuat
persoalan yang akan dapat menimbulkan perselisihan. “Aku tidak
mengerti jalan pikiranmu itu Ki Sapa Aruh. Tegasnya, aku tidak akan
memberikan sebutir permatapun kepada kalian” geram anak Ki Demang
itu. “Itulah yang tidak aku senangi. Ternyata kau adalah orang yang
keras hati, yang mencoba memaksakan tindak kekerasan terjadi” nada
suara Ki Sapa Aruhpun meninggi. “Kau jangan berbicara dengan memutar
balikkan penalaran orang waras. Sekarang pergilah sebelum kami
kehabisan kesabaran” berkata anak Ki Demang yang mulai menjadi
pening mendengarkan kata-kata Ki Sapa Aruh. Tetapi Ki Sapa Aruh
justru tertawa. Katanya “Orang-orang yang di kepalanya selalu
dipenuhi dengan nafsu kekerasan, tentu sulit dapat mengerti
keinginanku. Tetapi baiklah. Meskipun kami orang-orang yang tidak
suka berselisih, namun kami juga tidak ingin melepaskan landasan
hidup kami. Kami akan mewakili orang-orang miskin yang pernah kau
cekik lehernya dan kau hisap darahnya sehingga kering. Berikan emas,
permata dan wesi aji itu kepada kami” “Tidak” jawab anak Ki Demang.
“Jika kau berkeras tidak mau memberikan emas, permata dan wesi aji
itu kepada kami, maka dengan terpaksa sekali kami akan mengambilnya”
“Kami akan mempertahankan hak kami” jawab anak Ki Demang. Ki Sapa
Aruh itu mengerutkan dahinya. Ia sudah cukup panjang berbicara,
sehingga kemudian iapun telah memberikan isyarat kepada
orang-orangnya untuk bersiap. Keempat orang pedagang emas, permata
dan wesi aji itupun bersiap pula menghadapi segala kemungkinan.
Namun mereka harus melihat kenyataan, bahwa lawan yang berdiri di
sekitarnya terlalu banyak. Sementara itu, keempat orang itupun
menyadari bahwa selain orang-orang yang ada di sekitarnya, masih ada
yang lain di halaman samping bahkan di halaman belakang. Tetapi
keempat orang itu tidak membiarkan miliknya dirampok apapun
alasannya. Bahkan yang tidak dapat diikuti dengan nalarnya. Apa yang
mereka miliki itu, menurut pendapat mereka adalah hasil kerja keras
mereka. Bukan karena memeras, merampas atau menipu orang lain.
Karena keempat orang itu tidak mau menyerahkan milik mereka, maka Ki
Sapa Aruhpun kemudian telah memerintahkan orang-orangnya untuk
segera menangkap keempat orang itu. “Kita akan memaksa mereka
melakukan sebagaimana aku katakan” berkata Ki Sapa Aruh “mereka
ternyata sama sekali tidak menghargai niat kita untuk menyelesaikan
persoalan ini dengan baik-baik tanpa harus melakukan kekerasan”
Keempat orang pedagang emas dan permata itu sudah tidak mau
mendengar lagi. Justru merekalah yang lebih dahulu menyerang, karena
jumlah lawan mereka terlalu banyak, sehingga keempat orang itu tidak
ingin mendapat tekanan lebih dahulu. Dengan demikian, maka
pertempuranpun segera terjadi. Dengan tangkasnya keempat orang
pedagang emas dan permata itu berloncatan di halaman menghadapi
lawan yang terlalu banyak. Namun dengan berani keempat orang itu
bertempur. Senjata mereka terayun-ayun dengan cepatnya menebas dan
mematuk. Ki Sapa Aruh sendiri tidak langsung turun ke arena. Bahkan
Wira Sabet dan Sura Gentong yang ikut datang ke rumah itu masih
berdiri di tangga pendapa, meskipun mereka sudah menggenggam senjata
telanjang di tangan. Tetapi Pideksa sudah mulai terlibat dalam
pertempuran itu bersama keempat orang saudara seperguruan Wira Sabet
dan Sura Gentong, disamping beberapa orang pengikutnya yang lain.
Dalam pada itu, di atas sebatang pohon nangka yang besar, di halaman
sebelah, Ki Pandi duduk melekat pada sebatang dahan yang besar. Oleh
ketajaman penglihatannya ia dapat menyaksikan pertempuran yang
terjadi di halaman rumah Ki Demang itu. Nyala lampu minyak di
pendapa dapat sedikit membantunya, sehingga dengan tegang Ki Pandi
melihat bahwa keempat orang saudagar itu mulai terdesak. Namun
dengan demikian Ki Pandi sempat melihat kemampuan para penghuni
barak Wira Sabet dan Sura Gentong itu. Ki Pandipun melihat seberapa
jauh tataran ilmu saudara-saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura
Gentong. Bahkan Ki Pandi juga dapat menilai kemampuan Pideksa, anak
Wira Sabet itu. Untuk beberapa saat pertempuran itu berlangsung.
Keempat orang saudagar itu masih bertempur dengan berani. Meskipun
mereka mulai mengalami kesulitan, tetapi mereka sama sekali tidak
menjadi gentar. Agaknya Ki Sapa Aruh menjadi tidak sabar Karena itu,
maka iapun memberi isyarat agar Wira Sabet dan Sura Gentong bersama
dirinya sendiri segera memasuki arena. “Kita tangkap keempat orang
itu hidup-hidup. Kita memang bukan pembunuh-pembunuh yang tidak
berjantung. Kita akan mengampuni mereka setelah kita mendapatkan apa
yang kita cari” teriak Ki Sapa Aruh yang bersama Wira Sabet dan Sura
Gentong telah menuruni arena pertempuran. Pertempuranpun menjadi
semakin sengit. Tetapi keempat orang saudagar itu benar-benar telah
kehilangan kesempatan untuk mempertahankan diri. Sementara seisi
rumah Ki Demang itu sudah terbangun. Tetapi mereka tidak dapat
berbuat apa-apa. Beberapa orang membentak dengan kasar dan mengancam
akan membunuh siapapun yang berniat membantu keempat orang saudagar
itu. Sebenarnyalah keempat orang saudagar itu menyadari, bahwa
mereka tidak akan dapat minta pertolongan kepada siapapun juga.
Sehingga karena itu .maka mereka harus menyadarkan diri kepada
kemampuan mereka berempat Tetapi mereka memang tidak dapat
mengingkari kenyataan. Semakin lama mereka menjadi semakin tidak
berdaya. Apalagi setelah Ki Sapa Aruh sendiri, Wira Sabet dan Sura
Gentong ikut dalam pertempuran. Dengan cepat kemampuan perlawanan
keempat orang saudagar itupun menyusut Ki Pandi yang duduk di atas
dahan pohon nangka menyaksikan pertempuran itu dengan
sungguh-sungguh. Ia melihat bagaimana Ki Sapa Aruh sendiri turun di
gelanggang. Ia sempat melihat unsur-unsur gerak yang
dipergunakannya, meskipun Ki Pandi tahu, bahwa Ki Sapa Aruh dalam
pertempuran itu tidak merasa perlu untuk menumpahkan segala macam
kemampuannya. Namun dalam pada itu, Ki Pandi dapat menilai tataran
kemampuan Wira Sabet dan Sura Gentong. Beberapa saat kemudian, maka
keempat orang saudagar itu telah menjadi tidak berdaya. Senjata
mereka tidak mampu lagi melindungi diri mereka dengan baik. Dalam
pertempuran yang tidak terlalu lama itu, maka keempat orang saudagar
itu semuanya telah terluka. Sementara itu, Ki Sapa Aruh dengan
kemampuannya yang tinggi benar-benar mampu menguasai keempat orang
itu bersama-sama dengan Wira Sabet Sura Gentong dan saudarasaudara
seperguruannya. “Kita tidak akan membunuh mereka” berkata Ki Sapa
Aruh. Pertempuran itupun kemudian telah terhenti. Sura Gentong
dengan garangnya telah mendorong anak Ki Demang dengan kakinya,
sehingga anak Ki Demang itu jatuh tertelungkup di hadapanKi Sapa
Aruh. Tidak ada lagi yang dapat melawan. Senjata-senjata mereka pun
telah dirampas. Ki Pandi yang menyaksikan berakhirnya pertempuran
itu menjadi tegang. Seorang yang bertubuh sedang, dengan wajah yang
tampan serta penampilan yang bersih serta wajah yang cerah ternyata
telah memperlakukan keempat orang saudagar itu dengan kasar
sebagaimana Sura Gentong. Sementara itu, seorang yang berwajah
bengis justru hanya berdiri saja termangu-mangu menyaksikan sikap
kawannya itu. “Ki Sanak” berkata Ki Sapa Aruh kemudian “kami memang
bukan orang-orang yang haus darah. Sudah aku katakan, bahwa kami
ingin menghindari setiap pertengkaran, apalagi kekerasan. Tetapi
kalian telah memancing persoalan, sehingga kekerasan telah terjadi.
Nah, sekarang, agar pekerjaan kami segera selesai, tunjukkan
barang-barang simpanan kalian” Anak Ki Demang itu tidak segera
menyahut Meskipun tubuhnya telah menjadi lemah, namun mereka masih
mencoba bertahan. Tetapi Ki Pandi terkejut, sehingga debar
jantungnya terasa menjadi semakin cepat, ketika ia melihat perlakuan
orang yang berwajah tampan itu. Demikian kasarnya dan bahkan buas
sekali. Jauh berbeda dengan kesan yang nampak pada ujud lahiriahnya.
Ki Sapa Aruh ternyata tidak mencegah perlakuan itu. Bahkan sambil
tertawa ia berkata “Nah, Ki Sanak. Aku tidak mempunyai banyak waktu.
Jika kau tidak menunjukkan bendabenda berharga itu, maka kami dengan
sangat menyesal akan berbuat lebih jauh lagi. Kami akan membakar
rumah Ki Demang ini. Aku tidak tahu apakah nilai rumah dan isinya
ini lebih besar atau lebih kecil dari benda-benda berharga yang kau
pertahankan itu. Selebihnya, kalian akan mengalami perlakuan yang
sangat buruk. Kami minta ampun atas kekhilafan kami memperlakukan Ki
Sanak tidak sebagaimana seharusnya. Tetapi hal itu kami lakukan atas
landasan kesetiaan kami kepada orang-orang yang telah kau peras
selama ini” Akhirnya keempat orang itu memang tidak mempunyai
pilihan lain. Jika rumah itu benar-benar dibakar, maka Ki Demang
akan ikut memikul beban. Karena itu, maka seorang di antara keempat
saudagar itu berkata kepada anak Ki Demang “Jangan libatkan Ki
Demang dalam persoalan ini” “Maksudmu?” bertanya anak Ki Demang
dengan suara parau. “Kita terpaksa menyerahkan apa yang mereka
kehendaki, tetapi dengan janji, bahwa rumah ini tidak akan dibakar”
“Satu pikiran yang bijaksana” desis Ki Sapa Aruh “seperti berulang
kali aku katakan, kami bukan orang-orang yang tidak berjantung. Jika
apa yang kami inginkan sudah berada di tangan kami, maka kami tidak
akan berbuat lebih jauh lagi” Anak Ki Demang itu tidak dapat
mengelak lagi. Ketiga orang kawannya memang sudah nampak terlalu
letih dan kesakitan. Tubuh mereka telah terluka sebagaimana anak Ki
Demang itu sendiri. Karena itu, maka iapun tidak dapat berbuat lain.
Dengan suara yang bergetar ia berkata “Aku akan menunjukkan dimana
dagangan kami itu kami simpan” “Katakan” berkata Ki Sapa Aruh. Anak
Ki Demang itu berusaha untuk bangkit berdiri sambil berkata “Aku
akan menunjukkan” Tetapi di luar dugaan, bahwa sarung pedang orang
yang berwajah tampan itu telah menghantam tengkuknya sehingga anak
Ki Demang itu jatuh terduduk. Ki Sapa Aruh tertawa. Namun ia berkata
“Biar ia mengatakannya. Sarung pedangmu dapat membuatnya pingsan”
Anak Ki demang itu berdesah kesakitan. Sementara Ki Sapa Aruh
berkata “Katakan saja. Kau tidak usah bersusah payah menunjukkan
kepada kami. Aku tidak ingin merepotkan kau dan kawan-kawanmu.
Kalian tentu letih dan perlu beristirahat” Hati keempat orang itu
menjadi sangat sakit sebagaimana tubuh mereka. Tetapi mereka tidak
dapat berbuat sesuatu. Karena anak Ki Demang itu tidak segera
mengatakan sebagaimana dikehendaki oleh Ki Sapa Aruh, maka Ki Sapa
Aruh itupun melangkah mendekat sambil berdesis “Apakah kau sengaja
mengulur waktu? Kau tidak dapat mengharap bantuan dari siapapun.
Seandainya ada juga beberapa orang anak muda yang mencoba membantu
kalian, maka akibatnya akan menjadi buruk sekali. Korban akan jatuh.
Anak-anak muda itu akan terbunuh disini tanpa mengerti kenapa mereka
harus mati. Keluarga merekalah kelak yang akan menyadari, bahwa
mereka telah menjadi tumbal kekayaan kalian. Keluarga mereka tidak
akan pernah mendapatkan imbalan apapun dari kalian meskipun mereka
mati karena mereka mempertahankan harta-benda kalian itu” Anak Ki
Demang itu menggeram. Tetapi ia memang tidak mempunyai pilihan.
Karena itu, maka anak Ki Demang itupun berkata “Yang kalian cari ada
di sentong sebelah kiri. Dibawah gledeg bambu tempat pakaianku” Ki
Sapa Aruh tertawa. Sambil menepuk wajah anak Ki Demang ia berkata
“Ternyata kau adalah seorang anak yang manis. Terima kasih. Aku akan
melihatnya. Tetapi aku peringatkan, bahwa kau tidak boleh bohong.
Jika kau berbohong, maka kau bukan lagi anak yang manis. Tetapi kau
tentu anak yang nakal, yang pantas dicubit pantatnya” Anak Ki Demang
tidak menjawab. Ia memang sudah berkata sebenarnya karena ia sama
sekali tidak melihat peluang lagi. Ki Sapa Aruhpun kemudian telah
mengajak Wira Sabet dan Sura Gentong untuk masuk ke dalam rumah itu.
Sementara itu, saudara seperguruan Wira Sabet yang berwajah tampan
itu tiba-tiba saja telah menekan punggung anak Ki Demang itu
sehingga anak Ki Demang itu hampir saja jatuh terjerembab. Ki Pandi
hanya dapat menyaksikan semua itu dari tempatnya bersembunyi. Ia
tidak dapat berbuat sesuatu. Jika ia mencampuri persoalan itu, maka
keadaannya akan menjadi semakin parah bagi keempat orang saudagar
emas itu. Ia sendiri tentu akan terikat dalam pertempuran dengan Ki
Sapa Aruh dan tentu beberapa orang akan membantu. Mungkin ia akan
dapat meloloskan diri. Tetapi keempat orang itu justru akan menjadi
sasaran kemarahan orang-orang itu. Karena itu, maka Ki Pandi hanya
dapat menahan gejolak jantung di dalam dadanya. Sementara itu, Ki
Sapa Aruh telah hilang di balik pintu pringgitan untuk melihat dan
kemudian mengambil barangbarang yang nilainya tentu sangat
tinggi.
Jilid 6 BEBERAPA saat kemudian, maka Ki
Sapa Aruh telah keluar pula lewat pintu pringgitan. Dengan wajah
yang cerah ia telah memanggil Wira Sabet dan Sura Gentong. Ketiga
orang itu berbicara sejenak di pintu pringgitan. Kemudian Wira Sabet
memberi isyarat kepada saudara-saudara seperguruannya untuk ikut
masuk ke dalam rumah itu. Namun Sura Gentong sempat berteriak kepada
orang-orangnya “Jaga keempat orang itu agar mereka tidak melarikan
diri” Ki Pandi hanya dapat melihat segala yang terjadi itu dengan
jantung yang bergejolak. Ia melihat kekerasan terjadi. Tetapi ia
tidak dapat berbuat sesuatu. Ki Sapa Aruh dan beberapa orang yang
masuk ke dalam rumah itu segera telah keluar pula. Mereka membawa
beberapa buah peti kecil yang isinya tentu barang dagangan yang
nilainya sangat mahal. Tentu perhiasan emas dan berlian. Bahkan
mungkin beberapa buah wesi aji. Mungkin keris dan mata tombak yang
dianggap bertuah. Anak Ki Demang dan ketiga orang kawannya yang
telah terluka itu hanya dapat memandangi orang-orang yang telah
membawa barang dagangan mereka tanpa dapat mencegahnya. Demikianlah,
maka beberapa saat kemudian, Ki Sapa Aruh itupun berkata kepada anak
Ki Demang dan ketiga orang kawannya “Terima kasih anak-anak.
Ternyata kalian adalah anak-anak yang bijaksana. Yang tahu apa yang
sebaiknya kalian lakukan. Sekali lagi kami minta maaf, jika ada
tingkah laku kami yang tidak berkenan di hati kalian” Keempat orang
itu hanya dapat menggeretakkan gigi tanpa dapat berbuat sesuatu.
Sejenak kemudian, maka terdengar isyarat. Seorang di antara mereka
telah bersuit nyaring. Getar suaranya menyusup pepohonan dan
menggetarkan udara Kademangan itu. Isyarat itu ternyata telah
disahut oleh pengikut-pengikut mereka yang berada di luar halaman
rumah Ki Demang. Mereka yang berada di depan gardu, di simpang empat
dan di tempat-tempat lain. Dengan demikian, maka sejenak kemudian,
maka Ki Sapa Aruh dan semua pengikutnya telah berderap di atas
punggung kuda meninggalkan tempat itu. Bahkan mereka telah membawa
beberapa ekor kuda yang ada di rumah Ki Demang. empat di antaranya
adalah kuda yang telah disiapkan oleh Ki Demang dan kawan-kawannya
untuk dipergunakan di keesokan harinya. Sejenak kemudian, maka
halaman rumah Ki Demang itu menjadi sepi. Namun hanya sebentar,
karena sebentar kemudian, beberapa orang anak muda yang berada di
gardupun telah berdatangan. Bahkan anak-anak muda yang tidak sedang
meronda tetapi telah terbangun oleh derap kaki kuda yang
berlari-lari di jalan-jalan padukuhan. Tetapi yang mereka temui
adalah anak Ki Demang serta tiga orang kawannya yang lemah karena
letih, sakit karena luka-luka di tubuhnya serta sakit di hatinya.
Anak-anak muda itu telah membantu mereka naik ke pendapa. Memang
hanya itulah yang dapat mereka lakukan. Orang-orang yang datang
merampok rumah itu sudah pergi jauh. Bahkan seandainya masih berada
di halaman itupun, anak-anak muda itu tentu tidak akan dapat
mencegah mereka. Anak Ki Demang yang masih kesakitan itupun kemudian
berkata kepada anak-anak muda itu “Terima kasih atas perhatian
kalian. Sekarang, pulanglah. Yang bertugas ronda, kembalilah ke
gardu-gardu perondan” “Bagaimana dengan kalian disini?” bertanya
salah seorang di antara anak-anak muda itu. “Tidak apa-apa. Kami
dapal merawat diri kami sendiri” Anak-anak muda itu
mengangguk-angguk. Seorang di antara mereka berkata “Kami minta
maaf, bahwa kami tidak dapat berbuat sesuatu pada saat yang gawat
itu” Anak Ki Demang itu mencoba tersenyum. Katanya “Aku mengerti.
Orang-orang itu benar-benar orang-orang yang keras dan kasar”
Demikianlah, anak-anak muda itupun minta diri. Sebagian dari mereka
kembali ke gardu-gardu perondaan. Yang lain pulang ke rumah
masing-masing Sedang masih ada satu dua di antara mereka yang lelap
berada di rumah Ki Demang. Dalam pada itu. para pembantu rumah itu
baru berani keluar ketika mereka yakin, bahwa para perampok telah
tidak ada lagi di halaman rumah itu. “Tolong, sediakan air panas
buat kami” berkata anak Ki Demang kepada seorang laki-laki separuh
baya, pembantunya “kami harus mencuci luka-luka kami” Orang itu
mengangguk sambil berdesis “Apa ada pesan yang lain?” “Tidak” jawab
anak Ki Demang itu. Ketika pembantu rumah itu turun dari pendapa dan
melangkah masuk lewat pintu seketeng, maka mereka yang ada di
pendapa itu terkejut. Mereka melihat seorang yang bongkok berjalan
dengan ragu-ragu ke arah mereka. Anak-anak muda yang masih berada di
pendapa rumah itupun segera berloncatan bangkit untuk mempersiapkan
diri. Namun anak Ki Demang itupun berkata “Biarlah orang itu naik”
Ki Pandi memang menjadi ragu-ragu. Namun seorang anak muda telah
menyongsongnya dan mempersilahkannya naik. Ki Pandipun kemudian
duduk bersama anak Ki Demang, kawan-kawannya yang letih dan
kesakitan serta beberapa orang anak muda yang masih berada di rumah
itu. “Maaf, Ki Sanak” berkata Ki Pandi “aku melihat apa yang
terjadi. Tetapi aku tidak dapat berbuat apa-apa. Aku memanjat pohon
di halaman sebelah, sehingga aku dapat mendengarkan sebagian dari
pembicaraan kalian dengan orang-orang yang merampok Ki Sanak
berempat itu” Anak Ki Demang itu mengangguk-angguk kecil. Katanya
“Akulah yang harus minta maaf, bahwa aku tidak mendengarkan petunjuk
Kiai. Akhirnya aku harus mengalami keadaan seperti ini” “Ki Sanak”
berkata Ki Pandi “apakah ada niat kalian untuk melacak benda-benda
yang mereka rampok itu?” “Tentu saja niat itu ada, Kiai. Tetapi
bagaimana kami dapat melakukannya. Kami tidak dapat mengingkari
kenyataan, bahwa mereka terlalu kuat. Bahkan seandainya kami
mengerahkan kekuatan se Kademangan, sulit bagi kami unluk dapat
mengalahkan mereka. Korbanpun akan berjatuhan” jawab anak Ki Demang.
Lalu katanya pula “Aku tidak dapat mengorbankan sedemikian banyaknya
orang untuk kepentingan kami berempat. Bukan kepentingan Kademangan
ini Kiai” Ki Pandi menarik nafas panjang. Katanya “Aku menghargai
sikap Ki Sanak. Tetapi kita juga dibebani tugas untuk menghentikan
perbuatan mereka, agar dihari mendatang tidak akan jatuh lagi korban
perampokan dan mungkin kekerasan yang dapat menimbulkan kematian”
Salah seorang di antara saudagar perluasan itu berkata “Tetapi apa
yang dapat kami lakukan, Ki Sanak? Kematian akan berhamburan di
antara anak-anak Kademangan Rejandani. Orang tua, saudara dan isteri
yang kehilangan orang-orang yang dikasihi akan mengutuk kami
berempat” Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun
berkata “Bagaimana pendapat kalian, jika kami, maksudku bukan hanya
aku seorang diri, menawarkan kerja sama. Kami memang berniat untuk
menghentikan perbuatan mereka. Kami memang tidak melihat kemungkinan
lain kecuali dengan kekerasan. Jika hal ini harus dilakukan, bukan
berarti bahwa kita adalah orang-orang yang tidak waras lagi, atau
otak kita sudah dikotori dengan impian-impian tentang perang,
pembunuhan dan kekerasan-kekerasan serupa. Tetapi justru kami
inginkan ketenangan dan ketenteraman” Anak Ki Demang itu
mengangguk-angguk. Katanya “Tetapi bagaimanakah caranya?” “Jika Ki
Sanak berniat, kita akan dapat membicarakan langkah-langkah yang
dapat kita ambil” “Kami memerlukan penjelasan, Kiai” sahut anak Ki
Demang. Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya beberapa
orang anak muda yang ada di pendapa itu. Baru kemudian ia berkata
“Ki Sanak. Jika Ki sanak bersedia, kami akan menghubungi Ki Sanak
kemudian. Tentu saja dalam waktu yang tidak terlalu lama” “Baiklah,
Kiai. Kami akan menunggu. Tetapi sekali lagi kami nyatakan, bahwa
kami berempat tidak ingin mengorbankan banyak orang hanya untuk
memperoleh barang-barang kami itu kembali. Betapapun tinggi nilai
barang dagangan kami, tetapi tentu tidak akan setinggi nilai nyawa
seseorang” Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya “Aku sangat
menghormati sikap Ki Sanak. Tetapi baiklah, sekarang aku minta diri.
Jika Ki Sanak bertiga bersedia untuk sementara tinggal bersama
disini, pada saat lain aku akan dapat menghubungi kalian utuh
berempat. Tentu saja jika tidak ada keberatan apapun” “Baik Kiai”
jawab salah semang kawan anak Ki Demang itu “kami akan tinggal
disini. Tetapi tentu saja tidak untuk waktu yang terlalu lama” Ki
Pandi mengangguk-angguk. Katanya “Tentu. Aku akan segera kembali
jika segala sesuatunya sudah menjadi jelas” Ki Pandi yang bongkok
itupun kemudian telah minta diri. Keempat orang saudagar itu
memandanginya dari pendapa. Ketika mereka akan bangkit berdiri, Ki
Pandi berkata “Sudahlah. Duduk sajalah. Kalian harus segera
mengobati luka-luka kalian. Apakah kalian sudah mempunyai obatnya?”
“Sudah Kiai” jawab anak Ki Demang “Ayah mempunyai persediaan
beberapa jenis obat-obatan” Ki Pandi mengangguk-angguk. Namun orang
bongkok itupun segera melintasi halaman dan hilang di balik regol.
Di sisa malam menjelang fajar, Ki Carang Aking yang dipanggil Sampar
di barak itu, Manggada dan Laksana menjadi sibuk. Mereka harus
menerima dan merawat kuda-kuda yang semalam dipergunakan untuk
merampok di Kademangan Rejandani. Dua orang penyabit rumput dan
bahkan beberapa orang kawannya telah diminta untuk membantunya.
Terutama kuda-kuda para pemimpin barak itu. Wira Sabet, Sura
Gentong, Pideksa dan saudara-saudara seperguruan Wira Sabet yang ada
di barak itu. Namun ternyata di-antara mereka tidak terdapat Ki Sapa
Aruh. Ternyata disisa malam itu Ki Sapa Aruh tidak ikut memasuki
barak itu. Tetapi Ki Carang Aking, Manggada dan Laksana menjadi
berdebar-debar ketika mereka melihat Wira Sabet, Sura Gentong dan
Pideksa membawa beberapa peti kecil. Di antaranya agak panjang.
Dengan demikian, maka mereka menduga, bahwa perampokan itu telah
berhasil. Ketika mereka sempat berbicara, Manggada berdesis “Apakah
Ki Pandi terlambat?” Ki Carang Aking mengangguk kecil. Katanya
“Mungkin. Mungkin sekali Ki Pandi terlambat. Mudah-mudahan nanti
malam Ki Pandi datang kemari. Kita akan mendapatkan keterangan
tentang perampokan itu” Betapapun keinginan Manggada dan Laksana
mendesak, tetapi mereka memang harus menunggu untuk mendengar
keterangan Ki Pandi secepatnya malam nanti. Tetapi mereka masih
dapat mengharapkan ceritera dari pengikut Wira Sabet dan Sura
Gentong yang pernah dikalahkan oleh Laksana di padukuhan Gemawang.
Sampai fajar, Manggada, Laksana, Ki Carang Aking serta beberapa
orang penyabit rumput masih sibuk di kandang kuda. Baru ketika
langit menjadi terang, mereka sempal duduk beristirahat. Tetapi
mereka sudah tidak mempunyai kesempatan untuk kembali ke
pembaringan. Namun yang mereka harapkan itupun datang, bahwa lebih
cepat dari dugaan mereka. Tiga orang pengikut Wira Sabet yang pernah
dikalahkan oleh Laksana itupun datang ke kandang. Seorang dari
mereka berkata “Hari ini, dua orang di antara kami akan bertugas di
Gemawang. Apakah kalian ada pesan untuk anak muda yang cengeng itu?”
Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Namun kemudian
Manggada menggeleng sambil menjawab “Tidak. Tidak ada pesan khusus.
Tetapi amati anak itu agar tidak berusaha menemui kawan-kawan kalian
yang lain. Kalian harus selalu menakut-nakutinya agar anak itu
benar-benar diam” Keduanya mengangguk. Tetapi yang seorang kemudian
bertanya “Jika kami tidak menemuinya di jalan-jalan padukuhan?”
Manggadapun kemudian memberikan ancar-ancar rumah Wisesa. Katanya
“Jika perlu, cari anak itu di rumahnya” “Baiklah” berkata orang itu
sambil beranjak pergi. Tetapi Manggada sempat bertanya sambil lalu
“Bagaimana tugas kalian semalam?” “Kami berhasil baik” jawab orang
itu. “Apakah kalian semalam pergi bersama Ki Sapa Aruh?” bertanya
Manggada. “Ya” jawab orang itu. “Apakah Ki Sapa Aruh tidak kembali
ke barak ini?” bertanya Laksana. Orang itu menggeleng. Katanya
“Tidak. Ki Sapa Aruh langsung pergi ke tempat lain. Ia masih
mempunyai tugas penting yang harus dilakukan” “Kapan ia akan datang
kemari?” bertanya Manggada pula. “Aku tidak tahu. Tetapi di pekan
mendatang, nampaknya Ki Sapa Aruh akan lebih lama berada di tempat
ini. Agaknya persoalan padukuhan Gemawang sudah akan di tanganinya
dengan sungguh-sungguh. Apalagi mengingat perkembangan di padukuhan
itu pada saat terakhir, yang agaknya sudah dilaporkan oleh Ki Wira
Sabet dan Sura Gentong kepada Ki Sapa Aruh” “Jadi selama ini
persoalannya masih belum di tangani dengan sungguh-sungguh?” “Belum.
Selama ini Ki Sapa Aruh masih mempunyai persoalan penting yang harus
diselesaikan. Nampaknya persoalan itu sudah selesai sekarang,
sehingga menurut pembicaraannya dengan Wira Sabet dan Sura Gentong
yang sempal aku dengar, Gemawang dan Kademangan Kalegen baru akan di
tangani dengan sungguh-sungguh” Manggada dan Laksana saling
berpandangan sejenak. Sementara orang itu berkata “Bukankah selama
ini kami baru berusaha menakut-nakuti dan mematangkan keadaan? Namun
dalam suasana yang berkembang sebagaimana kami kehendaki, maka
justru telah terjadi perubahan yang berlawanan dari kehendak kami.
Sebelum keadaan itu berkembang lebih buruk, sementara Ki Sapa Aruh
sudah mempunyai kesempatan, maka persoalan Gemawang dan Kalegen akan
segera diselesaikan” Manggada tidak bertanya lagi. Demikian pula
Laksana. Sementara Sampar pura-pura tidak mendengarkan pembicaraan
itu. Ia masih menyibukkan diri dengan kuda-kuda di kandang. Terutama
kuda putih, justru karena pemiliknya orang yang sangat keras dan
kasar. Namun, sepeninggal orang-orang itu, maka Manggada dan Laksana
telah duduk bersama Ki Carang Aking di belakang kuda. Ternyata
mereka telah membicarakan keterangan ketiga, orang pengikut Wira
Sabet itu. “Kita harus berbicara dengan Ki Pandi secepatnya” berkata
Ki Carang Aking “mudah-mudahan nanti malam ia benar-benar datang.
Persoalannya tidak dapat ditunda-tunda lagi” “Kita hanya dapat
menunggu” sahut Manggada. Namun kemudian katanya “Tetapi menilik
keberhasilan perampokan semalam, maka menurut pendapatku, Ki Pandi
akan datang nanti malam. Ki Pandi tentu akan memberi penjelasan
tentang usahanya yang gagal itu” Ki Carang Aking mengangguk-angguk.
Katanya “Banyak yang dapat kita ketahui disini. Tetapi ternyata
gerak kami sangat terbatas. Rasa-rasanya aku ingin mengikuti Ki
Pandi untuk dapat lebih banyak bergerak” Ki Carang Aking akan keluar
dari barak ini?” bertanya Laksana. Ki Carang Aking mengerutkan
dahinya. Namun kemudian sambil tersenyum ia berkata “Tidak. Untuk
sementara aku akan tetap bersama disini” Dalam pada itu, Ki Pandi
yang sudah berada di rumah Ki Kertasana menceriterakan apa yang
telah dilakukannya semalam. Bahkan ia lelah gagal mencegah
perampokan atas keempat orang saudagar perhiasan emas, berlian dan
bahkan juga wesi aji. “Tetapi aku telah menawarkan kerja sama dengan
mereka jika mereka ingin melacak perhiasan dan wesi aji yang
berhasil dirampok itu” berkata Ki Pandi “Apakah mereka bersedia?”
bertanya Ki Citrabawa. “Nampaknya mereka mempertimbangkannya. Yang
tidak mereka inginkan adalah jika mereka harus mengorbankan orang
lain untuk mengambil kembali barang dagangan mereka itu” Ki
Kertasana dan Ki Citrabawa mengangguk-angguk. Dengan dahi yang
berkerut Ki Kertasana bertanya “Apakah mereka bersedia melakukannya
bersama kita. Kita bukan sekedar bersedia berkorban untuk mengambil
perhiasan yang dirampas itu. Tetapi kita mempunyai kepentingan
sendiri” “Itulah yang ingin aku tawarkan kepada mereka” jawab Ki
Pandi. “Apakah mereka berempat memiliki bekal yang cukup untuk
melakukannya?” bertanya Ki Citrabawa. “Menurut pengamatanku, mereka
mempunyai ilmu yang tinggi. Tetapi malam itu mereka menghadapi
terlalu banyak lawan, sehingga mereka tidak dapat mempertahankan
diri” “Jika demikian, sebaiknya kita segera menghubungi mereka untuk
menyusun rencana selanjutnya” berkata Ki Citrabawa pula. “Kita
hubungi Ki Jagabaya” berkata Ki Kertasana. Orang-orang padukuhan
Gemawang itupun harus berpacu dengan waktu. Karena itu, maka Ki
Kertasanapun segera menghubungi Ki Jagabaya untuk membuat rencana
lebih jauh. “Baiklah Ki Kertasana” berkata Ki Jagabaya “kita memang
harus segera berbuat sesuatu. Sementara kita sudah berhasil
menghimpun beberapa orang anak muda. Memberikan sedikit bekal bagi
mereka, jika mereka benar-benar akan memasuki barak Wira Sabet dan
Sura Gentong” Sampurna yang ikut menemui Ki Kertasana itupun berkata
“Kami sudah siap, Ki Kertasana. Sementara Manggada dan Laksana sudah
berada di dalam barak itu. Jika kita terlalu lama menunggu, maka aku
mencemaskan keadaan Manggada dan Laksana. Jika orang-orang di barak
itu tahu, bahwa Manggada dan Laksana sengaja memasuki barak itu,
maka keselamatan keduanya akan terancam” “Baiklah” berkata Ki
Kerusana “jika kita menganggap bahwa keadaan sudah memungkinkan,
maka kita akan dapat segera bergerak. Kita tidak akan menunggu
mereka datang ke padukuhan ini karena dengan demikian keadaan
padukuhan ini akan menjadi ajang pertempuran. Orang-orang Wira Sabet
dan Sura Gentong itu mungkin akan menimbulkan kerusakan yang besar.
Bukan saja atas bangunan-bangunan, tetapi mungkin juga atas para
penghuni padukuhan ini. Apalagi jika mereka terdesak” Ki Jagabayapun
mengangguk-angguk. Sementara itu, Ki Kertasana telah menceriterakan
pula tentang keempat orang saudagar yang nampaknya akan bersedia
bergabung dengan mereka. Demikianlah, maka mereka sependapat, bahwa
mereka harus segera bertindak agar keadaan padukuhan mereka dan
bahkan Kademangan mereka tidak menjadi semakin muram sehingga tata
kehidupan tidak dapat dikendalikan dengan sewajarnya. Dalam pada
itu, pada hari itu juga, dua orang pengikut Wira Sabet dan Sura
Gentong telah dalang ke padukuhan. Kedatangan mereka seperti biasa
menimbulkan kecemasan dan ketakutan. Beberapa orang yang berada di
luar halaman, segera masuk dan menutup pintu regol halaman rumah
mereka. Namun tidak diselarak sebagaimana selalu mereka lakukan.
Kedua orang itu selain menyusuri jalan padukuhan, ternyata mereka
sempat singgah pula di rumah Wisesa. Seperti pesan Manggada dan
Laksana, maka keduanya berusaha untuk menakut-nakuti Wisesa, agar ia
tidak lagi berusaha untuk mempersoalkan keberadaan Manggada dan
Laksana di barak Wira Sabet dan Sura Gentong. Ternyata Wisesa
benar-benar menjadi ketakutan, sehingga anak muda itu agaknya tidak
akan mengucapkannya lagi kepada siapapun juga. Karena jika alasan
keberadaan Manggada dan Laksana yang sebenarnya diketahui, yang akan
mengalami bencana bukan saja Manggada dan Laksana, tetapi juga
ketiga orang yang telah membawanya masuk. Sementara itu Ki Jagabaya
dan Sampurna benar-benar telah mempersiapkan rencana untuk justru
datang ke barak Wira Sabet dan Sura Gentong. Sampurna hari itu juga
telah menghubungi anak-anak muda yang telah menyatakan kesediaannya
untuk membantunya membebaskan padukuhan mereka dari bayangan
kegarangan Wira Sabet dan Sura Gentong. Ketika kemudian malam turun,
maka seperti yang diharapkan, maka Ki Pandi telah mengunjungi
Manggada dan Laksana. Ki Carang Akingpun telah ikut terlibat pula
dalam pembicaraan yang sungguh-sungguh tentang berbagai hal yang
menyangkut rencana Ki Jagabaya untuk justru menyerang barak itu
lebih dahulu. “Empat orang saudagar itu akan aku hubungi pula. Jika
mereka menyatakan kesediaan mereka, maka kita akan segera mulai”
“Nampaknya perhiasan dan wesi aji yang dirampas itu memang dibawa
kemari” berkata Ki Carang Aking “dengan demikian, maka jika kita
berhasil, maka keempai orang saudagar itu akan mendapatkan
barang-barang mereka yang harganya sangat tinggi itu kembali” Namun
dalam pada itu, Manggadapun telah mengatakannya pula, bahwa agaknya
Ki Sapa Aruh telah berniat untuk dengan bersungguh-sungguh menangani
persoalan padukuhan Gemawang dan Kademangan Kalegen. Nampaknya
tugas-tugas yang lain akan dikesampingkan. Perkembangan terakhir di
padukuhan Gemawang agaknya tidak sejalan dengan rencana Wira Sabet
dan Sura Gentong. “Baiklah, Ki Pandi” berkata Ki Carang Aking “Ki
Pandi agaknya harus semakin sering mengunjungi kami disini”
“Bukankah hampir setiap malam aku datang kemari? “Lebih dari setiap
malam” desis Ki Carang Aking. “Jadi maksudmu juga di siang hari?”
bertanya Ki Pandi pula. “Tidak. Itu akan sulit dilakukan. Maksudku,
jika perlu satu malam dua kali. Mungkin tentang hasil sebuah
pembicaraan harus segera kami dengar atau sebaliknya” berkata Ki
Carang Aking. Ki Pandi termangu-mangu. Namun kemudian katanya “Jika
saja aku masih semuda Manggada dan Laksana” Ki Carang Aking
tersenyum. Katanya “Kenapa bukan aku yang mencoba membantu Ki Pandi
keluar masuk barak ini” “Itu lebih berbahaya“ Manggadalah yang
menyahut “setiap saat orang-orang di barak ini memerlukan kita.
Pagi, siang, malam dan kapan saja mereka kehendaki tanpa mengenal
waktu. Saat mereka akan pergi dan saat mereka kembali” Ki Carang
Aking mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berdesis “Aku tidak
terbiasa mengungkung diri seperti ini. Aku terbiasa terbang kesana
kemari menuruti keinginan sepasang kakiku ini” Tetapi Ki Pandi
segera menyahut “Siapa yang mengikatmu disini? Ki Sapa Aruh?” Ki
Carang Aking tersenyum. Katanya “Ya. Ki Sapa Aruh” “Kau mengeluh
karena kau telah membawa beban yang kau letakkan sendiri dipundakmu”
berkata Ki Pandi. Ki Carang Aking bahkan tertawa. Katanya “Aku tidak
mengira bahwa keterkaitanku akan menjadi berlama-lama seperti ini.
Tetapi aku agaknya dapat mengharap, bahwa aku akan segera dapat
meninggalkan penjara ini, setelah kalian datang” Ki Pandipun
tersenyum keluar dari penjara ini ”Demikianlah, maka sejak hari itu,
Ki Jagabaya di Gemawang telah meningkatkan segala persiapan meskipun
dengan diam-diam. Sementara Ki Pandi lelah menghubungi lagi anak Ki
Demang Rejandani yang telah dirampok habis-habisan oleh Ki Sapa Aruh
dan para pengikutnya. “Tidak akan ada korban yang sia-sia” berkata
Ki Pandi “jika orang-orang Gemawang terlibat dalam hal ini, sama
sekali tidak ada hubungannya dengan perhiasan dan wesi aji yang
dirampok itu. Tetapi karena orang-orang Gemawang mempunyai
kepentingan sendiri. Selama ini mereka berada dalam bayangan
kekuatan orang-orang yang telah merampok kalian disini” Bukan saja
anak Ki Demang Rejandani yang menemui Ki Pandi. Tetapi Ki Demang
sendiri ikut menemuinya dan bahkan Ki Demang itulah yang menjawab
“Ki Sanak. Kami akan bekerja sama dengan Ki Sanak. Persoalannya
bukan sekedar mereka merampok anakku. Tetapi perampokan itu telah
melanggar hak atas orang-orang Kademangan Rejandani. Karena itu,
bukan saja anakku dan ketiga orang saudagar kawan-kawannya itu yang
akan melibatkan diri. Tetapi aku dan beberapa orang terpilih dari
Kademangan ini. Menurut keterangan anakku, kelompok perampok itu
adalah kelompok yang sangat kuat. Karena itu, maka tanpa kerja sama
dengan pihak lain, Kademangan ini agaknya juga akan mengalami
kesulitan” Namun Ki Pandipun telah berterus terang, bahwa orangorang
padukuhan Gemawang dan bahkan Kademangan Kalegen dibayangi oleh
ketakutan. Nampaknya terhadap orang-orang Gemawang dan Kalegen yang
lebih berbicara adalah justru dendam diliati Wira Sabet dan Sura
Gentong. “Kami sedang mencari sisa-sisa keberanian di hati anakanak
mudanya” berkata Ki Pandi. Ki Demang Rejandani itu
mengangguk-angguk. Katanya “Kami dapat mengerti, Ki Sanak. Jika
setiap hari mereka selalu ditakuti dengan segala macam cara, maka
lambat laun, mereka benar-benar kehilangan keberanian” “Beruntunglah
bahwa kami masih menemukan kekuatan yang tersimpan di padukuhan
Gemawang sehingga kami masih dapat merencanakan satu langkah yang
mungkin sangat berbahaya” berkata Ki Pandi. Namun kemudian kalanya
pula “Apalagi yang dihadapi adalah Ki Sapa Aruh” Ki Demang
mengerutkan dahinya. Kalanya “Nama itu memang dapat menggelutkan
jantung. Tidak ada orang yang dapat melawannya. Karena itu untuk
membatasi kemampuannya, harus disiapkan beberapa orang yang khusus
akan menghadapinya” “Ya“ Ki Pandi mengangguk-angguk “kita akan
membicarakannya dengan matang sebelum kita melangkah. Tetapi
kesediaan Ki Demang telah membesarkan hati kami. Ki Jagabaya
padukuhan Gemawang akan mengatur segalagalanya” “Baiklah” berkata Ki
Demang Rejandani “bahwa mereka telah merampok di daerah kami, tentu
menjadi kewajiban kami untuk mencegah hal itu terulang lagi. Adalah
juga tugas kami untuk menemukan kembali barang-barang yang telah
dirampok itu. Bukan karena sebagian daripadanya adalah milik anakku,
tetapi siapapun yang mengalami, maka kami semuanya mempunyai tugas
untuk mengambilnya kembali. Karena itu, sebelum penghuni Kademangan
ini mengalami nasib seperti orang-orang Gemawang yang telah
dicengkam oleh ketakutan karena keberhasilan para pengikut Sapa Aruh
untuk menciptakan suasana seperti itu, maka kami harus bertindak
lebih cepat” “Ya Ki Demang” berkata Ki Pandi “jika keadaan ini
berlangsung terlalu lama, maka Gemawang dan bahkan Kademangan
Kalegen benar-benar tidak akan mampu berbuat apa-apa lagi. Dengan
demikian maka Gemawang tidak akan pernah dapat bangkit lagi, karena
pimpinan padukuhan itu akan berada di tangan Ki Sapa Aruh, yang
perlahan-lahan tetapi pasti juga akan menguasai Kademangan Kalegen
seluruhnya. “Baiklah Ki Pandi” berkata Ki Demang Rejandani “kami
menunggu saat untuk bertindak. Kapanpun, kami sudah siap. Tidak
hanya keempat orang yang sudah dirampok itu. Aku sendiri dan
beberapa orang terkuat di Kademangan ini akan ikut serta” Kesediaan
Ki Demang itu membesarkan hati Ki Pandi. Kesediaan ini kemudian
telah diteruskan kepada Ki Kertasana yang kemudian menyampaikannya
kepada Ki Jagabaya. “Baiklah” berkata Ki Jagabaya “kita akan segera
mulai. Tetapi sebaiknya kita bertemu langsung dan membuat
rencana-rencana yang matang dengan Ki Demang, agar kita tidak
terperosok ke dalam kesulitan karena salah paham” Sebenarnyalah Ki
Jagabaya dan Ki Kertasana serta Ki Pandi telah pergi ke Kademangan
Rejandani untuk menemui Ki Demang dan keempat saudagar perhiasan dan
wesi aji itu. Akhirnya mereka menentukan, bahwa mereka dalam waktu
dekat akan menyerang barak Wira Sabet dan Sura Gentong di sekitar
pekan mendatang. “Kita mengalami kesulitan untuk menentukan, apakah
kita akan menunggu kedatangan Ki Sapa Aruh atau tidak?” berkata Ki
Pandi “jika kita menunggu, maka dapat terjadi kesulitan yang sulit
di atasi oleh Manggada dan Laksana, karena sulit untuk mengetahui Ki
Sapa Aruh. Tetapi jika tidak menunggu kehadirannya, maka ia akan
tetap merupakan duri yang ada di dalam daging bagi ketenangan hidup
khususnya di Gemawang” “Ki Pandi benar” berkata Ki Kertasana. Untuk
hal itu, maka sebaiknya Ki Pandi berbicara langsung dengan anak-anak
itu. Bukankah Ki Pandi dapat memasuki barak itu kapan saja?” “Hanya
di waktu malam” jawab Ki Pandi. “Nah, jika demikian, maka nanti
malam Ki Pandi dapat membicarakannya dengan Manggada dan Laksana”
berkata Ki Kertasana yang selalu dibayangi kecemasan tentang anak
dan kemanakannya itu. Ki Pandi mengangguk mengiakan. Katanya
kemudian “Besok kita akan berbicara lagi” Demikianlah, maka Ki
Jagabaya, Ki Kertasana dan Ki Pandi pun telah minta diri untuk
kembali ke Gemawang. Malam itu, seperti biasanya, Ki Pandi
mengunjungi Manggada dan Laksana. Ki Pandipun kemudian
menceriterakan pertemuannya dengan Ki Jagabaya, Ki Kertasana dan Ki
Demang Rejandani. “Aku sanggup menemui mereka esok dengan membawa
laporan, bagaimana menurut pendapat kalian dan Ki Carang Aking?”
“Memang rumit Ki Pandi. Kedua-duanya mengandung kemungkinan baik
tetapi juga kemungkinan buruk” jawab Ki Carang Aking. Namun katanya
kemudian “Tetapi aku condong untuk menunggu kedatangan Ki Sapa Aruh.
Orang itu harus kita hancurkan sampai tuntas. Agaknya tidak akan
terlalu lama lagi. Selebihnya, Ki Sapa Aruh tidak begitu
memperhatikan keadaan budak-budaknya, sehingga ia tidak dapat
mengenali budak-budak itu dengan baik. Karena itu maka kelebihan
satu dua orang di barak itu tidak akan menarik perhatiannya” Ki
Pandi mengangguk-angguk. Namun agaknya ia masih mencemaskan nasib
Manggadadan Laksana. Karena itu, maka ia pun kemudian bertanya
“Seandainya sengaja atau tidak sengaja Ki Sapa Aruh menemukan kalian
disini?” “Jika hal itu terjadi, maka apaboleh buat. Jika hidupku
harus berakhir disini. Tetapi jika aku mati, maka Ki Sapa Aruh tentu
akan mati juga” jawab Ki Carang Aking. Ki Pandi masih
mengangguk-angguk. Tetapi seandainya terjadi demikian, maka Manggada
dan Laksana masih tetap berada dalam bahaya. Ki Carang Aking yang
melihat keragu-raguan itu berkata “Untuk mengatasi kemungkinan itu,
maka sebaiknya Ki Pandi segera mempersiapkan orang-orang yang
bersedia melibatkan diri untuk melawan para penghuni barak itu. Ki
Pandi akan membawa mereka secepat mungkin demikian diketahui Ki Sapa
Aruh itu datang” “Baiklah. Meskipun tetap mengandung bahaya, tetapi
aku akan menempuh jalan ini. Besok aku akan minta Ki Jagabaya
mempersiapkan segala-galanya” berkata Ki Pandi. “Kami akan
memberikan isyarat Ki Pandi” berkata Manggada kemudian “jika kami
ketahui ia berada disini di siang hari, maka kami akan menaruh
sebuah cemeti kuda di ujung senggol timba itu. Bukankah ujung
senggot itu akan nampak dari luar dinding?” Sambil tersenyum Ki
Pandi menjawab “Dari jarak berapa puluh langkah aku dapat berdiri
paling dekat dengan barak ini? Apakah kira-kira mata tuaku masih
dapat melihat ujung cemeti itu? Kecuali itu, apakah berarti siang
dan malam aku harus menunggui barak ini?” Ki Carang Akingpun
tertawa. Katanya “Tetapi aku sependapat bahwa isyarat itu akan
ditaruh di ujung senggot timba itu. Jika cemeti itu terlalu kecil,
maka kami akan menaruh apa saja di ujung senggot itu” “Bukankah ilu
tidak perlu. Setiap malam aku datang kemari” berkata Ki Pandi.
“Maksudku, jika Ki Sapa Aruh datang di pagi hari. Maka waktu yang
sehari menunggu kedatangan Ki Pandi di malam hari, tentu terlalu
lama. Mungkin Ki Sapa Aruh itu sudah sempat melakukan sesuatu
disini. Sementara itu, Ki Pandi kami mohon untuk melihat-lihat
meskipun dari kejauhan di siang hari.” Ki Pandi tertawa. Katanya
“Baiklah. Aku terima beban ini, karena agaknya memang hanya aku yang
dapat melakukannya” Demikianlah, maka di tengah malam dengan
hati-hati Ki Pandi pun telah keluar dari barak itu dengan meloncati
dinding sebagaimana sering dilakukannya. Ternyata Ki Pandi yang
meskipun sudah terhitung tua itu, adalah seorang penghubung yang
baik, lagi-pagi ia sudah berbicara dengan Ki Kertasana dan Ki
Cilrabawa. Ki Kertasana kemudian berbicara dengan Ki Jagabaya dan
bersama-sama pergi ke rumah Ki Demang Rejandani dengan Ki Pandi
pula. Merekapun kemudian telah mendapatkan kesempatan, bahwa
menjelang pekan mendatang, Ki Demang, anaknya bersama tiga orang
kawannya dan beberapa orang terkuat dari Kademangan Rejandani akan
berada di hutan dekat barak Wira Sabet dan Sura Gentong. Ki Pandi
yang sudah terbiasa berada di hutan itu akan mengatur tempat bagi
mereka. Demikian pula orang-orang padukuhan Gemawang. Mereka juga
akan berkemah di hutan itu pula. Namun dalam pada itu. Manggada dan
Laksanapun berusaha untuk mengetahui kapan Ki Sapa Aruh akan datang
ke barak itu. Justru sehari sebelum hitungan pekan itu sampai, Ki
Sapa Aruh memang sudah berada di barak itu. Tetapi tidak sampai
setengah hari. Nampaknya ia masih sangat sibuk sehingga sebelum
matahari turun, ia sudah tidak ada lagi di barak. Tetapi pada hari
itu juga Manggada dan Laksana mendengar dari orang-orang yang pernah
dikalahkan oleh Laksana itu, bahwa Ki Sapa Aruh akan kembali lagi
dalam dua hari mendatang. Mereka mengatakan bahwa segala sesuatu
sudah dipersiapkan untuk menyelesaikan persoalan padukuhan Gemawang.
“Dendam Ki Sura Gentong sudah sampai ke ubun-ubun“ berkata salah
seorang dari mereka. “Apakah ia juga mengatakan kepada para
pengikutnya tentang dendam itu?” bertanya Laksana. “Ya” jawab orang
itu “isterinya telah dibunuh oleh Ki Jagabaya. Karena itu, maka
sebagai gantinya, maka ia akan mengambil anak Ki Jagabaya itu
sebagai isterinya meskipun anak Ki Jagabaya itu masih terlalu muda”
“Itu tidak boleh terjadi” desis Laksana. Tetapi sambil tersenyum
Manggada bertanya “Yang mana yang tidak boleh terjadi? Pembalasan
dendam itu atau rencana Sura Gentong untuk mengambil anak Ki
Jagabaya?” “Kedua-duanya” jawab Laksana. Tetapi Laksana itupun
tertawa pula. Demikianlah, maka keterangan itupun lelah disampaikan
pula kepada Ki Pandi. Keterangan itulah yang dipergunakan sebagai
ancar-ancar kehadiran Ki Sapa Aruh di barak itu. Dengan demikian,
maka Ki Pandipun segera mempersiapkan kekuatan yang akan menyerang
barak itu. Ki Jagabaya, Ki Kertasana, Ki Citrabawa bersama beberapa
orang anak muda yang dipimpin Sampurna telah berkemah di dalam hutan
bersama Ki Demang Rejandani, anaknya dan ketiga orang kawannya,
bersama beberapa orang yang dianggap memiliki kelebihan dan
keberanian di Kademangan Rejandani, Seperti yang dikatakan oleh
orang-orang yang pernah dikalahkan oleh Laksana, maka dua hari
kemudian, Ki Sapa Aruh benar-benar telah berada di barak itu. Tetapi
Ki Sapa Aruh tidak sendiri. Ia datang bersama seorang kawannya dan
beberapa orang pengikutnya. Ki Carang Akingpun menjadi semakin
berhati-hati. Ia telah memberitahukan kepada kedua orang muridnya
yang juga berada di barak itu sebagai dua orang penyabit rumput.
Sambil membersihkan kuda di kandang, maka Ki Carang Aking telah
memberikan petunjuk-petunjuk kepada Manggada, Laksana dan dua orang
muridnya yang sedang memotongmotong rumput bagi kuda-kuda yang sudah
dibersihkan itu. Untunglah, bahwa sebentar kemudian matahari turun.
Ki Sapa Aruh yang memang tidak banyak menaruh perhatian kepada
budak-budak itu tidak sempat melihat kekuatankekuatan yang
tersembunyi di sekitar kandang kuda itu. Malam itu, Ki Pandi telah
datang pula ke kandang. Namun Ki Carang Aking telah
memperingatkannya, bahwa malam itu Ki Sapa Aruh telah berada di
barak. “Ia bukan saja mempunyai penglihatan dan pendengaran yang
tajam, tetapi penggraitanya melampaui panggraita seekor kuda” Ki
Pandi mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah. Aku akan segera keluar
dari barak ini. Tetapi kita harus membuat persetujuan. Kapan
sebaiknya, kami akan menyerang barak ini” “Jangan tertunda-tunda”
jawab Ki Carang Aking “jika kalian memang sudah siap, maka sebaiknya
kalian melakukan serangan itu” “Besok, saat fajar menyingsing, kami
akan memasuki barak ini. Kami sudah mendapat keterangan dari kalian
tentang kekuatan yang ada, sehingga kami dapat memperhitungkan
kekuatan yang kami miliki” “Tetapi perlu diperhitungkan. Ki Sapa
Aruh tidak datang sendiri. Ia datang dengan seorang kawannya yang
mungkin juga berilmu tinggi serta empat orang pengikutnya. Agaknya
mereka termasuk kepercayaan Ki Sapa Aruh untuk memperkuat
kedudukannya disini jika pada saatnya ia akan memasuki padukuhan dan
tentu selanjutnya Kademangan Kelegen” berkata Ki Carang Aking
selanjutnya. Ki Pandi menganggukangguk. Katanya “Baiklah. Kami akan
memperhitungkan kembali kekuatan yang ada pada kami” “Hati-hatilah
Ki Pandi” berkata Ki Carang Aking kemudian. Demikianlah, dengan
sangat berhati-hati Ki Pandi keluar dari dinding barak itu. Ia sudah
terbiasa melakukannya. Tetapi justru karena Ki Sapa Aruh ada di
barak itu, maka Ki Pandi harus menjadi lebih berhati-hati. Ketika Ki
Pandi berada diperkemahan di hutan sebelah barak itu, maka iapun
telah memberitahukan kehadiran Ki Sapa Aruh. “Manggada dan Laksana
tidak perlu memasang isyarat di ujung senggot timba. Sebenarnya
akupun cemas, bahwa isyarat itu akan dapat memanggil kecurigaan
kepada orangorang yang ada di dalam barak itu” berkata Ki Pandi
pula. Malam itu juga Ki Jagabaya dan Ki Demang Rejandani memutuskan
untuk menyerang perkemahan itu esok saat fajar menyingsing. Karena
itu, maka merekapun segera mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Mereka
harus benar-benar siap untuk berperang sebagaimana sekelompok
prajurit yang turun ke medan. Menurut perhitungan Ki Pandi, maka
kekuatan yang ada di perkemahan itu akan dapat mengatasi kekuatan
yang ada di dalam barak. Meskipun demikian Ki Pandi itupun
memperingatkan, “Namun bagaimanapun juga kita harus menganggap bahwa
kita akari berhadapan dengan lawan yang sangat tangguh. Di dalam
barak itu tinggal orang-orang yang sudah terbiasa melakukan
kekerasan. Bahkan hidup mereka sehari-hari memang diwarnai oleh
kekerasan. Suasana yang sangat berbeda dengan suasana hidup kita
sehari-hari. Apalagi Ki Sapa Aruh dan kepercayaannya. Mereka
nampaknya memiliki kelebihan dari kebanyakan penghuni barak itu.
Selain mereka masih ada saudara-saudara seperguruan Wira Sabet dan
Sura Gentong” “Baik Ki Pandi” berkata Ki Jagabaya “kita sudah
sepakat untuk bertempur dalam satu kekuatan. Mungkin ada di antara
kita yang mempercayakan segala kemampuan kita secara pribadi. Tetapi
pada dasarnya kita akan bertempur bersamasama. Karena itu, maka jika
perlu kita akan bertempur dalam kelompok-kelompok kecil tergantung
pada lawan yang akan kita hadapi, karena agaknya sulit bagi kita
untuk dapat memilih lawan” Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya “Aku
sependapat. Kita akan bertempur dalam satu kebulatan kekuatan” “Di
dalam barak itu ada Manggada dan Laksana” berkata Ki Kertasana. “Ya”
sahut Ki Pandi “selain mereka masih ada tiga orang yang dapat
membantu kita. Seorang tua yang berilmu tinggi bersama dua orang
muridnya” “Bagaimana mereka dapat berada disana? Apakah mereka dapat
dipercaya?” bertanya Ki Jagabaya. “Mereka sengaja menyusup
sebagaimana Manggada dan Laksana. Tetapi tentu dengan cara yang
berbeda. Agaknya Ki Carang Aking memang membayangi Ki Sapa Aruh”
jawab Ki Pandi. “Tetapi bagaimana kita mengisyaratkan kepada mereka
yang ada di dalam barak itu, bahwa kita akan menyerang mereka esok
saat fajar menyingsing?” bertanya Ki Demang Rejandani. “Bukankah aku
baru saja dari barak itu? Meskipun belum pasti, tetapi aku sudah
mengisyaratkan bahwa besok saat fajar menyingsing kita akan
menyerang perkemahan itu. Meskipun demikian, biarlah nanti aku
memberitahu isyarat lagi kepada mereka” “Ki Pandi akan memasuki
barak itu lagi?” bertanya Ki Demang. “Tidak. Itu tidak perlu.
Biarlah kedua ekor harimauku memberitahu isyarat itu esok menjelang
lajar” “Harimau?” bertanya Ki Demang dan Ki Jagabaya hampir
berbareng. Ki Pandi mengerutkan keningnya. Ia tidak sengaja ingin
menyebut kedua ekor harimaunya. Namun di luar sadarnya, ia sudah
mengatakannya. Karena itu, maka iapun menjawab “Ya. aku memelihara
dua ekor harimau yang dapat membantuku dalam keadaan yang khusus.
Besok, aku juga akan membawanya. Tetapi mereka tidak akan melibatkan
diri jika aku tidak memberikan perintah” Ki Jagabaya
mengangguk-angguk. Tetapi ia masih juga bertanya “Apakah kedua ekor
harimau itu tidak dapat salah menyerang kawan sendiri?” “Aku sendiri
harus mengendalikannya” jawab Ki Pandi. Demikianlah, maka keputusan
itu telah disampaikan kepada semua orang yang berada di perkemahan
itu. Merekapun telah mendapat penjelasan, siapakah yang akan mereka
hadapi. Cara yang akan mereka pergunakan dalam pertempuran itu,
sehingga karena itu, maka Ki Jagabayapun berkata “Seperti yang sudah
aku katakan kita tidak akan berpencaran. Seandainya kita memecah
kelompok ini, maka kita harus masih tetap berada di dalam
kelompok-kelompok meskipun lebih kecil. Kita harus menyadari, bahwa
orang-orang yang ada di barak itu secara pribadi memiliki kemampuan
dan bahkan kebiasaan untuk melakukan kekerasan. Namun dalam pada
itu, kita berbekal tekad untuk memberantas kejahatan sebagaimana
sering mereka lakukan. Dengan menghancurkan mereka, maka kita akan
menghentikan kejahatan-kejahatan yang akan mereka lakukan kemudian”
Demikianlah, maka Ki Jagabayapun telah menasehatkan kepada
orang-orang yang berada di perkemahan itu untuk beristirahat. Besok
pagi-pagi mereka harus sudah bergerak ke barak itu. Sementara itu,
Ki Jagabaya telah menunjuk orang-orang yang khusus untuk menyiapkan
perbekalan bagi mereka. Termasuk persediaan makan. Beberapa orang
ditugaskan untuk mengambil makanan yang dipersiapkan di padukuhan.
Meskipun jaraknya cukup jauh, tetapi itu adalah cara yang paling
baik untuk tidak menarik perhatian, karena mereka tidak dapat
menyiapkannya di perkemahan. Tugas mereka yang mempersiapkan makan
dan minum itu tidak kalah beratnya dari tugas yang dibebankan kepada
mereka yang akan memasuki barak Wira Sabet dan Sura Gentong itu.
Malam itu, mereka yang akan turun ke medan masih sempat beristirahat
meskipun tidak terlalu lama. Karena di dini hari, mereka harus sudah
bangun dan mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Karena tugas-tugas
kekerasan seperti itu bukannya kebiasaan mereka, maka beberapa orang
memang menjadi tegang. Di dinginnya dini hari, keringat mereka sudah
mulai membasahi pakaian mereka. Tetapi sikap Ki Jagabaya, Ki Demang
Rejandani, Ki Kertasana, Ki Citrabawa dan beberapa orang yang lain
cukup meyakinkan, sehingga ketegangan beberapa orang itupun menjadi
agak mengendor. Menjelang fajar, maka Ki Jagabaya masih sempat
memperingatkan orang-orang yang siap bergerak itu. untuk memeriksa
senjata mereka. Di pertempuran yang akan terjadi, senjata-senjata
itu jangan mengecewakan. Bahkan beberapa orang telah membawa senjata
rangkap. Disamping sebilah pedang, ada yang masih membawa keris atau
pisau belati yang panjang. Anak-anak muda Gemawang, yang belum
berpengalaman telah mendapat petunjuk bahwa lawan mereka mungkin
akan mempergunakan senjata yang tidak biasa mereka jumpai. Mungkin
tongkat besi, kapak, rantai baja dan bahkan mungkin senjata lontar
seperti paser dan cakram. Karena itu, maka Ki Jagabaya pun telah
memperingatkan mereka agar mereka tidak mencoba untuk bertempur
seorangseorang. Namun Ki Kertasanapun kemudian berkata “Meskipun
kalian harus berhati-hati, tetapi tidak semua orang yang berada di
barak itu memiliki kemampuan bertempur. Mungkin mereka nampak
garang, tetapi mereka tidak mempunyai otak yang cukup baik untuk
membuat perhitungan-perhitungan yang mapan di pertempuran. Karena
itu, maka kalianpun jangan sampai kehilangan perhitungan. Jika perlu
jangan segan-segan menjauhi lawan yang memang tidak terlawan. Kalian
tidak sendiri dalam pertempuran itu” Ketika langit menjadi
kemerah-merahan, maka Ki Pandi meninggalkan perkemahan itu untuk
memanggil kedua ekor harimaunya. Kemudian diperintahkannya kedua
ekor harimau itu mendekati barak dan memberikan isyarat dengan auman
mereka yang memang agak berbeda dengan aum harimau kebanyakan. Namun
hanya orang-orang tertentu sajalah yang dapat membedakannya.
Sementara itu, seperti biasa Ki Carang Aking, Manggada dan Laksana
telah berada di kandang saat warna fajar mulai nampak di langit.
Sementara kedua murid Ki Carang Aking telah menyiapkan keranjang
mereka yang biasa mereka pergunakan untuk menyabit rumput. Namun
mereka tidak segera meninggalkan kandang. Mereka sudah mendapat
penjelasan dari Ki Carang Aking, bahwa pagi itu akan terjadi sesuatu
yang mungkin akan menentukan keberadaan barak itu. “Kita menunggu
isyarat” berkata Ki Carang Aking. “Isyarat apa yang akan diberikan
oleh Ki Pandi?” desis Manggada. “Mungkin mereka langsung datang
menyerang” jawab Ki Carang Aking. Namun dalam pada itu, maka
tiba-tiba saja mereka mendengar aum harimau tidak terlalu jauh dari
barak itu. Aum harimau yang berbeda dengan aum harimau liar yang
berada di hutan itu. Ki Carang Aking yang mengenal suara harimau
itupun berdesis “Aum harimau itu. Nampaknya Ki Pandi benar-benar
akan datang” Namun yang mendengar suara itu bukannya hanya Ki Carang
Aking, kedua muridnya, Manggada dan Laksana saja. Tetapi aum harimau
yang mempunyai ciri tersendiri itu juga didengar oleh Ki Sapa Aruh.
Ki Sapa Aruhpun kemudian memanggil seorang kawannya yang datang
bersamanya serta Wira Sabet dan Sura Gentong. Demikian mereka
datang, maka Ki Sapa Aruh itupun segera bertanya “Kalian dengar aum
harimau itu?” Wira Sabet dan Sura Gentong termangu-mangu sejenak.
Mereka memang tidak begitu menghiraukannya. Namun kawan Ki Sapa Aruh
yang datang bersamanya itu langsung berkata “Apakah orang bongkok
itu ada disini?” “Maksudmu?” bertanya Sura Gentong. “Apakah di
antara orang-orang yang bekerja untukmu disini terdapat orang
bongkok?” bertanya Ki Sapa Aruh. “Maksud Ki Sapa Aruh, budak-budak
itu?” bertanya Sura Gentong. “Ya” jawab Ki Sapa Aruh. Sura
Gentongpun kemudian bertanya kepada Pideksa yang juga telah hadir
pula disitu “He, apakah di antara budak-budak itu terdapat orang
bongkok?” Pideksa menggeleng sambil berdesis “Tidak paman. Tidak ada
orang bongkok di barak ini” Tetapi Ki Sapa Aruh yang tertarik oleh
aum harimau itu berkata “Aku ingin melihat orang-orangmu yang ada di
barak ini” “Maksud Ki Sapa Aruh?” bertanya Pideksa. “Kumpulkan semua
orang. Aku ingin melihat mereka seorang demi seorang” jawab Ki Sapa
Aruh. Pideksa tidak segera mengerti maksud Ki Sapa Aruh. Karena itu
Ki Sapa Aruh itupun menjelaskan “Semua orang yang kau sebut
budak-budak itu harus dikumpulkan sekarang. Mereka semua tentu sudah
bangun dan mulai melakukan tugas mereka sendiri-sendiri” “Lakukan
Pideksa” berkata Wira Sabet “perintahkan satu dua orang untuk
memanggil kawan-kawannya. Jangan ada yang terlampaui seorangpun”
“Baik ayah” jawab Pideksa yang kemudian turun ke halaman.
Dipanggilnya seorang yang disebutnya budak yang sudah mulai menyapu
halaman. Dengan ketakutan budak yang sedang menyapu halaman itu
melangkah mendekat sambil merunduk-runduk. “Panggil semua
kawan-kawanmu. Ingat, semua budakbudak yang ada di barak ini. Dari
mereka yang setiap hari mengisi jambangan pakiwan, mereka yang
menumbuk padi, mereka yang menyabit rumput, mereka yang memelihara
dan merawat kuda dan semua orang yang lain” “Baik, baik anak muda”
jawab orang itu. “Lakukan beranting supaya lebih cepat. Dengar,
perintah ini datang dari Ki Sapa Aruh. Karena itu, maka harus kau
lakukan dengan sebaik-baiknya” Orang yang menyapu halaman itupun
segera berlari-lari memanggil semua orang yang dianggap budak-budak
di barak itu. Yang seorang meneruskan panggilan itu kepada yang lain
tanpa ada yang terlampaui. Di kandang kuda, Ki Carang Aking menjadi
berdebar-debar. Ia sadar, bahwa Ki Sapa Aruh tentu menaruh
kecurigaan terhadap sesuatu. “Tentu aum harimau itu” desis Ki Carang
Aking. “Apakah Ki Sapa Aruh dapat mengenali suara harimau itu?”
bertanya Manggada. “Ki Sapa Aruh adalah orang yang memiliki
pengalaman dan pengenalan di dunia olah kanuragan secara luas. Ia
tentu sudah mendengar tentang seorang bongkok yang dapat
mengendalikan sepasang harimau meskipun mungkin Ki Pandi sendiri
belum mengenal Ki Sapa Aruh selain isyarat tentang pribadinya” sahut
Ki Carang Aking yang nampak lebih bersungguh-sungguh. “Ki Pandi
memang pernah menyebut Ki Sapa Aruh sebagai seorang yang berilmu
sangat tinggi” sahut Manggada. “Nah, agaknya Ki Pandi tidak
memperhitungkan bahwa isyaratnya itu dapat memanggil perhatian Ki
Sapa Aruh” desis Ki Carang Aking. Namun katanya kemudian “tetapi
kita tidak usah cemas. Sebentar lagi Ki Pandi dan orang-orang yang
menyertainya itu akan datang. Sekarang, marilah kita ikut terkumpul
dengan orang-orang yang disebutnya budak-budak itu” Demikianlah,
maka beberapa saat kemudian, di halaman depan barak itu, orang-orang
yang disebutnya budak-budak itu telah berkumpul. Di antara mereka
memang terdapat Manggada, Laksana, Ki Carang Aking dan kedua orang
muridnya. Yang ikut menjadi berdebardebar adalah ketiga orang
pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong yang telah membawa Manggada dan
Laksana memasuki barak itu. Jika akhirnya Manggada dan Laksana dapat
dikenali kemampuannya oleh Ki Sapa Aruh, maka ketiga orang itu tentu
akan mengalami kesulitan pula. Tetapi untuk mengenal orang-orang
yang disebut budak itu, Ki Sapa Aruh memerlukan waktu. Ketika ia
mulai menuruni tangga bangunan induk barak itu, maka Ki Jagabaya
lelah mulai bergerak. Sekali lagi Ki Jagabaya memperingatkan
anak-anak muda Gemawang yang berhasil di gelitik untuk bangkit itu,
agar mereka bertempur dalam kelompokkelompok kecil sehingga mereka
akan dapat saling membantu. Ki Carang Aking yang tua itu berdiri di
deret paling belakang dari antara orang-orang yang disebut
budak-budak itu. Sementara Ki Sapa Aruh mulai mengenali orang-orang
yang disebut budak-budak itu seorang demi seorang. Ki Carang Aking
memang menjadi tegang. Jika Ki Pandi datang terlambat, maka mungkin
sekali ia harus mengambil sikap tersendiri. Ki Sapa Aruh termasuk
orang yang tidak dapat ditawar lagi sikapnya. Ia akan dapat
bertindak tanpa menunggu otaknya sempat membuat
pertimbanganpertimbangan lain. Dalam pada itu, langitpun menjadi
semakin merah. Di halaman barak itu, Ki Sapa Aruh memanggil
orang-orang yang telah berkumpul itu seorang demi seorang. Para
penghuni barak itu memperhatikan sikap Ki Sapa Aruh dengan tegang.
Mereka menyaksikan, bagaimana Ki Sapa Aruh menyentuh, menekan dada
dan punggung seseorang, kemudian mengguncang bahu dan pundaknya. Dua
tiga orang sudah lewat. Tetapi tidak ada orang yang mencurigakan.
Sementara itu, yang disebut orang bongkok itupun tidak ada pula di
antara mereka. Tetapi Ki Sapa Aruh ingin melihat semua orang yang
dikumpulkan itu sampai orang yang terakhir. “Jika orang bongkok itu
tidak ada di antara mereka, tentu orang lain yang sengaja disusupkan
di antara para budak itu” berkata Ki Sapa Aruh kepada kawannya yang
berdiri disampingnya ikut melihat kemungkinan-kemungkinan yang
tersembunyi pada budak-budak itu. Sementara itu Wira Sabet dan Sura
Gentong serta saudarasaudara seperguruannya memperhatikan pengamatan
Ki Sapa Aruh itu dengan saksama. Lima, enam dan sepuluh orang telah
dilampaui. Sementara itu, langitpun menjadi semakin terang. Bayangan
sinar matahari mulai menyeruak keremangan fajar. Dalam pada itu, Ki
Jagabaya dan kawan-kawannya telah merayap semakin dekat. Mereka
mendekati barak tidak dari arah depan. Tetapi mereka berusaha
mendekati pintu butulan. Ki Pandi yang paling mengenal barak itu,
berada di paling depan bersama Ki Jagabaya. Mereka berusaha untuk
menghindari penglihatan para penghuni barak yang bertugas
berjaga-jaga untuk mencapai jarak yang sependek-pendeknya. Para
penghuni barak itu memang agak lengah. Mereka merasa tempat mereka
itu tidak diketahui oleh siapapun kecuali penghuni barak itu
sendiri. Setiap orang yang sudah berada di dalam barak itu tidak
akan pernah dapat keluar lagi. Dengan demikian, maka Ki Pandi dan Ki
Jagabaya berhasil mendekati pintu butulan pada dinding di sisi
sebelah kiri dari lingkungan barak yang tertutup itu. Namun ketika
keduanya memberikan isyarat bagi kawan-kawannya yang kemudian
mendekati sambil berlari-lari, maka kehadiran mereka telah menarik
perhatian seorang penghuni barak itu yang sedang bertugas mengawasi
pintu butulan itu. Meskipun pengawasan mereka lebih banyak ditujukan
untuk menjaga agar tidak ada budak yang melarikan diri, namun
hiruk-pikuk di luar dinding telah memaksanya untuk dengan segera
memanjat tangga panggungan di sebelah pintu butulan itu. Orang
itupun terkejut ketika ia melihat sekelompok orang telah berada di
depan pintu butulan. Dengan serta-merta, orang itupun berteriak
memberitahukan bahwa barak mereka telah diserang. “Sekelompok orang
berusaha memecahkan pintu butulan dari luar“ teriak orang itu.
Teriakan itu didengar oleh penghuni barak yang lain, yang ikut pula
berteriak memberitahukan serangan itu. Sementara itu, langit sudah
menjadi terang. Cahaya matahari mulai nampak di bibir awan yang
tipis yang dihanyutkan angin pagi. Teriakan itu benar-benar
mengejutkan seisi barak. Ki Sapa Aruh yang sedang sibuk itupun
terkejut pula. Kepada kawannya ia berkata “Tentu orang bongkok itu”
“Ya” jawab kawannya “Agaknya ia ingin membunuh dirinya.” “Lanjutkan
pekerjaan yang menjemukan ini. Aku akan melihat, apakah benar orang
bongkok itu datang. Jika ia benar-benar mencampuri persoalanku, maka
aku akan menyelesaikannya sekarang. Hati-hati, tentu ada
orangorangnya yang disusupkan di antara budak-budak ini” Kawan Ki
Sapa Aruh itu mengangguk. Sementara itu, Ki Sapa Aruhpun telah
mengajak Wira Sabet dan Sura Gentong untuk pergi ke pintu butulan.
“Biar Pideksa membantumu disini. Yang lain akan pergi bersamaku”
berkata Ki Sapa Aruh. Ki Sapa Aruhpun segera meninggalkan tempat itu
bersama Wira Sabet dan Sura Gentong. Dua orang saudara seperguruan
merekapun ikut pula bersama mereka, sedangkan yang lain menunggui
kawan Ki Sapa Aruh yang sedang melihat budak-budak yang ada di
halaman itu seorang demi seorang. Ki Carang Aking yang berdiri di
deret paling belakang bersama dua orang muridnya serta Manggada dan
laksana menarik nafas panjang. Meskipun demikian, mereka masih harus
memperhitungkan kawan Ki Sapa Aruh yang tentu terhitung orang
berilmu tinggi pula. Seorang demi seorang yang diamatinya telah
lepas tanpa menimbulkan kecurigaan. Sentuhan tangannya pada pusat
dan simpul-simpul syaraf sama sekali tidak menimbulkan getar yang
menarik perhatiannya. Namun menjelang orang-orang yang terakhir
membuat Ki Carang Aking menjadi semakin berdebar-debar. Ia harus
mengambil satu sikap, jika ternyata orang itu dapat menyentuh dengan
kesadaran perabanya, kemampuan Ki Carang Aking itu. Menjelang orang
terakhir sebelum kawan Ki Sapa Aruh itu memanggil Ki Carang Aking,
maka Ki Carang Aking menggamit Manggada dan Laksana serta memberi
isyarat kepada kedua orang muridnya. Dalam pada itu, Ki Jagabaya dan
kawan-kawannya ternyata telah mampu memecahkan pintu butulan. Dengan
sepotong kayu yang cukup besar, mereka beramai-ramai menghantam
pintu itu dari luar. Ketika mereka menghantamkan sepotong kayu itu
untuk yang ketiga kalinya, maka pintu itupun pecah dan butulan
itupun menganga lebar-lebar. Ki Jagabaya dan kawan-kawannya itupun
kemudian telah menyusup memasuki pintu butulan itu. Namun demikian
mereka berada di dalam, maka merekapun terhenti. Ki Sapa Aruh, Wira
Sabet, Sura Gentong dan saudara-saudara seperguruannya yang
menyertainya, telah berdiri menghadang bersama para pengikutnya.
Orang-orang yang nampaknya kasar dan keras dengan senjata di tangan
mereka masingmasing. Anak-anak muda Gemawang yang datang bersama Ki
Jagabaya itu memang menjadi berdebar-debar. Mereka mulai
memperhatikan senjata-senjata yang ada di tangan para penghuni barak
itu. Seperti telah diberitahukan kepada mereka, bahwa penghuni barak
itu mempergunakan berbagai macam senjata yang tidak terbiasa
dipergunakan kebanyakan orang. Sebenarnyalah bahwa ada di antara
mereka yang membawa tongkat besi, kapak, bindi dan bahkan canggah
yang nampak mengerikan. Seorang yang bertubuh gemuk meskipun tidak
terlalu tinggi, membawa pedang yang bergerigi di punggungnya.
Sedangkan yang lain membawa tombak pendek dengan mata tombak
berkait. Senjata-senjata itu memang mengerikan. Tetapi meieka selalu
ingat pada pesan Ki Jagabaya, bahwa mereka tidak akan bertempur
seorang-seorang, mereka akan bertempur dalam kelompok-kelompok kecil
yang terdiri dari tiga atau empat orang. “Aku sudah mengira” berkata
Ki Sapa Aruh “orang bongkok itu menjadi biang keladi yang mengganggu
ketenangan padepokan kami ini” “Padepokan? Adakah ini sebuah
padepokan yang mengajarkan budi pekerti, unggah-ungguh dan
mengajarkan ketakwaan terhadap Yang Maha Esa?” bertanya Ki Pandi.
“Kau kira padepokan ini tempat apa?” Ki Sapa Aruh itu ganti
bertanya. Namun Ki Jagabaya Gemawang itulah yang menyahut
“Bertanyalah kepada Wira Sabet dan Sura Gentong. Ia tahu pasti,
tempat ini tempat apa. He, siapakah kau?” “O, jadi kau belum
mengenal aku?” Ki Sapa Aruh itupun kemudian berpaling kepada Wira
Sabet dan Sura Gentong “Siapakah orang yang sombong ini?” “Orang
inilah yang sampai sekarang masih mengaku Jagabaya padukuhan
Gemawang. Orang itulah yang telah membunuh isteriku” jawab Sura
Gentong. Ki Sapa Aruh mengangguk-angguk. Katanya “Sebaiknya kau
mengenal aku, meskipun barangkali kau sudah mengenal namaku. Akulah
yang dipanggil Ki Sapa Aruh” Ki Jagabaya mengangguk-angguk di luar
sadarnya. Namun ia memang menjadi berdebar-debar, Ia sudah mendengar
betapa orang yang bernama Sapa Aruh itu memiliki ilmu yang sangat
tinggi. Namun Ki Pandi yang dapat melihat betapa pengaruh nama itu
dapat menggetarkan jantung Ki Jagabaya dan barangkali beberapa orang
yang lain itupun berkata “Ki Jagabaya. Orang inilah yang namanya
selalu disebut-sebut orang. Mungkin bayangan kita tentang Ki Sapa
Aruh agak berbeda dengan apa yang kita temui sekarang ini” “Setan
bongkok, apa maksudmu?” bertanya Ki Sapa Aruh. “Aku hanya ingin
menempatkan kau di tempat yang sewajarnya. Sampai sekarang, orang
yang mendengar namamu menjadi berdebar-debar, sementara kau sendiri
tidak mempunyai kelebihan apa-apa” jawab Ki Pandi. Ki Sapa Aruh
menggeram. Sementara Ki Jagabaya menjadi semakin berdebar-debar. Ia
menganggap Ki Sapa Aruh orang yang berilmu sangat tinggi, sehingga
untuk menahannya, maka sekelompok orang yang berilmu harus
bersama-sama melawannya. Tetapi Ki Pandi nampaknya tidak begitu
silau terhadap orang itu. “Kau jangan mencoba menyembunyikan
kecemasanmu. Bersiaplah. Aku akan membuktikan, bahwa kau akan
menyesali kata-katamu itu” geram Ki Sapa Aruh. Tetapi Ki Pandi
menyahut “Jika aku datang kemari, Ki Sapa Aruh, aku memang
merencanakan sebuah pertemuan. Biarlah kawan-kawanku yang datang
bersamaku berusaha untuk mencegah orang-orangmu yang akan mengganggu
permainan kita” Ki Sapa Aruh itupun kemudian memberi isyarat kepada
Wira Sabet dan Sura Gentong serta dua orang saudara seperguruannya
untuk segera melibatkan dirinya. Sementara itu, langitpun menjadi
semakin terang. Ketika Sura Gentong bersiap untuk bertempur, maka
iapun berkata “Satu kesempatan yang bagus. Ki Jagabaya, kita membuat
perhitungan sekarang” Tetapi Ki Kertasana dengan cepat menyahut
“Tidak Ki Sura Gentong. Ki Jagabaya mempunyai tugas tersendiri. Ia
memegang pimpinan dalam tugas ini, sehingga ia tidak boleh terikat
dalam pertempuran melawan siapapun” “Ki Kertasana. Apa maksudmu?”
bertanya Wira Sabet. “Biarlah aku mewakilinya” jawab Ki Kertasana.
“Setan kau. Apakah kau tahu apa yang sedang kau lakukan?” bertanya
Wira Sabet. “Aku menyadari sepenuhnya, Ki Wira Sabet.” Wajah Wira
Sabet menjadi merah. Ia mengenal Ki Kertasana sebagai seorang
pendiam yang tidak terlalu banyak melibatkan diri dalam
persoalan-persoalan yang terjadi di padukuhan Gemawang. Ia bukan
pula termasuk orang-orang yang beramai-ramai mengusirnya dan bahkan
rasa-rasanya dengan penuh kebencian orang-orang padukuhan itu akan
membunuhnya waktu itu. Tetapi Wira Sabet tidak mempunyai banyak
waktu. Sementara itu, beberapa orang benar-benar sudah terlibat
dalam pertempuran yang segera menyala. “Jika demikian, bersiaplah
untuk mati” geram Wira Sabet “aku tidak peduli siapa kau, karena kau
sudah melibatkan diri dalam perbuatan gila ini” Ki Kertasanapun
telah bersiap sepenuhnya. Namun ia masih berkata “Ki Wira Sabet,
jika aku ikut datang kemari, karena aku ingin mengambil anakku,
Manggada yang kau perlakukan dengan kasar disini bersama adik
sepupunya, Laksana” Sura Gentong itu memang teringat kepada Manggada
yang ada di dalam barak itu bersama sepupunya Laksana. Dengan geram
Wira Sabet, itu menyahut “anakmu berusaha merusak rencanaku” Ki
Kertasaha tidak berbicara lebih banyak lagi. Iapun kemudian telah
bergeser sambil memperpsiapkan diri menghadapi orang yang mendendam
seisi padukuhan Gemawang, terutama Ki Jagabaya. Dalam pada itu, maka
Sura Gentong pun telah melibat ke dalam pertempuran pula. Namun ia
harus berhadapan dengan Ki Citrabawa yang belum dikenalnya. “Aku
ayah Laksana. Anak yang telah diambil dan di perlakukan sebagai
budak disini” berkata Ki Citrabawa. “Darimana kau tahu bahwa anakmu
diperlakukan sebagai budak disini?” bertanya Sura Gentong. Citrabawa
tersenyum. Katanya “Kau tentu mencurigai bahwa ada di antara
orang-orangmu yang berkhianat” “Ya” jawab Sura Gentong “setelah kami
menghancurkan kalian, kami akan dapat menemukannya” Citrabawa tidak
sempat menyahut karena Sura Gentong telah mulai menyerangnya. Dengan
demikian, maka pertempuranpun segera berkobar. Sementara Ki Sapa
Aruh bersiap menghadapi Ki Pandi, maka orang-orang Gemawang dan
Rejandani telah terlibat dalam pertempuran. Namun sebelum Ki Sapa
Aruh sendiri mulai bertempur, ia sempat melihat anak Demang
Rejandani yang pernah dirampoknya. Karena itu, maka iapun berteriak
hampir di luar sadarnya “He saudagar perhiasan dan wesi aji anak
Demang Rejandani. Kenapa tiba-tiba saja kau ikut dalam rombongan
tikus-tikus Gemawang ini?” “Aku akan mengambil milikku itu kembali”
jawab anak Ki Demang Rejandani. Tetapi Ki Sapa Aruh itu menjawab
“Kau tidak akan mendapatkan perhiasan dan wesi aji itu kembali.
Tetapi kau justru akan menyerahkan nyawamu sebagaimana tikus-tikus
dari Gemawang ini.” Tetapi Ki Demang yang mendengar pembicaraan
itupun berkata “Barak ini akan dihancurkan hari ini. Kami tidak akan
memberi kesempatan lagi kepada kalian. Beruntunglah kami,
tikus-tikus kecil yang hari ini mendapat perlindungan dari
orang-orang berilmu yang akan dapat mematahkan kegiatan kalian untuk
selanjurnya” “Setan, siapa kau?” bertanya Ki Sapa Aruh. “Aku Demang
Rejandani” jawab Ki Demang. “O, jadi kau bawa anakmu untuk membunuh
diri disini” geram Ki Sapa Aruh. Ki Demang tidak menjawab. Iapun
segera terlibat dalam pertempuran. Ternyata para pengikut Wira Sabet
dan Sura Gentong cukup banyak. Dua orang saudara seperguruan Wira
Sabet dan Sura Gentong yang ikut merampok dirumah Ki Demang
Rejandani telah bertempur pula melawan saudagarsaudagar perhiasan
yang telah diperlakukan dengan kasar itu. Sementara itu, Ki Pandi
yang masih berdiri termangumangu itupun kemudian bertanya “Apakah
kau sudah selesai dengan sesorahmu. Aku datang untuk mencari kawan
bermain. Karena itu, aku jangan kau tinggal berbicara saja dengan
setiap orang yang datang memasuki barakmu itu” “Iblis bongkok. Kau
akan menyesal dengan kesombonganmu. Kau sudah mengajak orang-orang
itu datang kemari. Kematian demi kematian akan membebani saat
terakhirmu. Seharusnya jika kau ingin membunuh dirimu, datanglah
seorang diri. Jangan mengajak orang lain ikut membunuh diri
bersamamu” Ki Pandi mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun bertanya
“Apakah kau sudah selesai? Jika kau masih akan berbicara,
berbicaralah. Apa saja, sebelum kau akan terdiam untuk
selama-lamanya. Aku masih akan memberimu waktu” Ki Sapa Aruh menjadi
sangat marah. Ia tidak berbicara lagi. Tetapi iapun dengan
serta-merta telah meloncat menyerang Ki Pandi. Tetapi Ki Pandi sudah
menyiapkan diri sebaik-baiknya. Karena itu serangan Ki Sapa Aruh
itupun mampu dielakkannya. Pertempuranpun kemudian telah menebar.
Anak-anak muda Gemawang yang belum berpengalaman tidak melupakan
pesan dari Ki Jagabaya. Sementara Sampurna berada di antara mereka
sambil memberikan petunjukpetunjuk. Selain anak-anak muda Gemawang,
maka orang-orang Kademangan Rejandanipun telah terlibat pula dalam
pertempuran yang menjadi semakin sengit. Ki Demang berusaha untuk
membangkitkan tekad yang terguncang oleh kenyataan yang mereka
hadapi. Namun orang-orang Rejandani itu menjadi berbesar hati ketika
mereka sempat melihat anak Ki Demang itu bertempur dengan garang
bersama-sama dengan ketiga orang kawannya, sementara rasa-rasanya Ki
Demang selalu ada disamping mereka. Ketika pertempuran itu
berlangsung semakin sengit, maka di halaman barak itu, Ki Srayatapa,
kawan Ki Sapa Aruh yang mengambil alih tugasnya meneliti orang-orang
yang dianggap budak di barak itu, sudah sampai pada orang-orang
terakhir. Orang yang kemudian dipanggilnya adalah orang tua yang
ditugaskan untuk merawat kuda-kuda di kandang. Ketika namanya
dipanggil, maka iapun berbisik kepada Manggada “Lindungi aku. Ia
akan mengetahui siapa aku dan kami akan bertempur disini” Manggada
mengangguk kecil. Ia sadar, bahwa di tempat itu masih ada Pideksa
dan dua orang saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong.
Tetapi baik Manggada, maupun Laksana, agaknya merasa segan untuk
berhadapan dengan Pideksa. Anak muda itu, secara tidak langsung
berusaha untuk meringankan tekanantekanan atas diri mereka berdua.
Bagaimanapun juga Pideksa adalah kawan bermain Manggada di masa
kecilnya. Sisa-sisa persahabatan di masa kecil itu masih saja
membekas di dalam dada mereka. Jika pertempuran harus terjadi di
tempat itu, maka Manggada dan Laksana akan berusaha berhadapan
dengan kedua orang saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong.
Meskipun keduanya adalah orang-orang yang berpengalaman, namun
Manggada dan Laksanapun selain memiliki pengalaman yang cukup, juga
telah menempa diri dalam tataran-tataran yang semakin tinggi. Ketika
Manggada memandang wajah tampan salah seorang saudara seperguruan
Wira Sabet, maka dadanya menjadi berdebar-debar. Orang yang
nampaknya bersih dan ramah itu, justru pernah merendahkannya dan
bahkan menghinanya. Orang itu pernah menginjak punggungnya,
menganggapnya landasan untuk naik ke punggung kuda dan sikap-sikap
yang menyakitkan hati hatinya. Sementara itu, Ki Carang Aking telah
melangkah dengan ragu-ragu mendekati Ki Srayatapa, kawan dekat Ki
Sapa Aruh. Sejenak kemudian, maka orang tua itu sudah berdiri
terbungkuk-bungkuk di hadapan orang yang sedang meneliti orang-orang
yang dianggap budak itu untuk menemukan seorang yang dicurigai
menyusup ke dalam barak itu. Orang tua itu memang lelah merasa bahwa
ia tidak akan dapat melepaskan diri. Karena itu, justru bersiaga
menghadapi segala kemungkinan. Ketika Ki Srayatapa meletakkan
tangannya di pundak orang tua itu, ia terkejut. Tetapi ia masih
tetap menahan diri. Perlahan-lahan ia menyentuh punggung Ki Carang
Aking di sebelah-menyebelah tulang belakang. Terasa getaran ilmu
yang tinggi menyentuh ujung jari Ki Srayatapa yang sangat peka.
Dengan segera ia mengetahui bahwa orang tua itu adalah orang yang
berilmu. Karena itu, maka ia tidak akan memberinya kesempatan. Ia
ingin langsung menghancurkan simpul-simpul syaraf di punggungnya.
Tetapi Ki Carang Aking yang berilmu tinggi itupun merasakan getar
syaraf di ujung-ujung jari Ki Srayatapa. Terasa di ujung jari itu
denyut jantungnya yang menjadi semakin cepat sejalan dengan gejolak
di dadanya. Karena itu, sebelum ujung-ujung jari itu menekan dan
menghancurkan simpul-simpul syarafnya, maka Ki Carang Aking itupun
segera meloncat menjauh. Ki Srayatapa terkejut. Ia kehilangan
kesempatan yang sangat baik. Tetapi orang tua itu memang sudah
terlepas dari tangannya. “Kenapa kau menghindar, kek?” bertanya Ki
Srayatapa. “Sakit sekali. Punggung tua ini sama sekali tidak tahan
atas tekanan yang sangat lemah sekalipun” jawab Ki Carang Aking.
Tetapi Ki Srayatapa itu tertawa. Katanya “Bukankah aku belum mulai
menekan punggungmu?” Ki Carang Akingpun tertawa pula. Katanya
“Jari-jarimu ternyata sangat kasar, sehingga sentuhan lembut
sekalipun telah menyakiti kulitku.” Orang-orang yang disebut
budak-budak di barak itu menjadi heran dan bahkan kemudian tegang
melihat sikap orang tua perawat kuda itu. “Apa yang dilakukan?”
mereka saling bertanya di antara para budak itu. Tidak seorangpun
yang dapat memberi jawaban. Namun mereka menjadi heran dan bahkan
menjadi sangat tegang. Kedua orang saudara seperguruan Wira Sabet
dan Sura Gentong itupun bergeser mendekat pula. Hampir berbareng
mereka bertanya “Kenapa dengan orang tua itu?” “Sudah berapa lama ia
berada disini?” bertanya Ki Srayatapa kepada orang yang berwajah
tampan itu. “Sudah lama” jawabnya. “Dan kalian tidak tahu tentang
orang tua itu?” bertanya Ki Srayatapa pula. “Kenapa dengan orang
itu?” bertanya saudara seperguruannya yang seorang lagi. Ki
Srayatapa tersenyum. Katanya “Kalian tidak memperhatikan orang-orang
yang kalian jadikan budak-budak kalian itu. Ki Sapa Aruhpun tidak.
Ternyata orang ini adalah orang yang sedang dicari oleh Ki Sapa
Aruh” “Orang itu tidak bongkok” berkata saudara seperguruan Wira
Sabet yang berwajah tampan itu. “Memang bukan orang ini yang
disebutnya orang bongkok itu. Tetapi orang ini tidak kalah
berbahayanya dengan orang bongkok itu. Isyarat aum harimau
peliharaan orang bongkok itu tentu ditujukan kepada orang ini” “Jika
demikian, serahkan orang tua itu kepadaku” berkata orang yang
berwajah tampan itu. Tetapi Ki Srayatapa itu tertawa. Katanya “Orang
ini bukan lawanmu” “Maksud Ki Srayatapa? Apakah anak-anak dapat
menyelesaikan jika terhitung orang berilmu tinggi?” “Maksudku bukan
anak-anak. Bahkan kaupun tidak akan dapat menyelesaikannya” berkata
Ki Srayatapa. “Jadi?” bertanya orang berwajah tampan itu. “Yang
dapat menyelesaikan adalah aku atau Ki Sapa Aruh sendiri” jawab Ki
Srayatapa. “Jadi?” bertanya saudara seperguruan Wira Sabet yang
seorang lagi. “Ia adalah seorang yang berilmu sangat tinggi,
sehingga kalian justru tidak melihat kelebihannya. Tetapi perannya
di barak ini akan berakhir hari ini” “Kepung orang ini. Ia tidak
boleh lepas. Aku sendiri akan menyelesaikannya” Namun ketika
orang-orang itu bergeser untuk mengepung Ki Carang Aking, maka
hiruk-pikuk pertempuran terdengar semakin mendekat. “Setan” geram Ki
Srayalapa “orang-orang ilu tentu lelah mendapat isyarat dari dalam.
Dan orang yang memberikan isyarat itu adalah orang ini” “Jika
demikian, kita akan meremukkan kepalanya” geram saudara seperguruan
Wira Sabet yang berwajah tampan itu. Ki Carang Aking sendiri justru
tertawa sambil berkata “Kita jangan disibukkan oleh persoalan kecil
ini. Kalian harus tahu, bahwa barak ini sudah jatuh ketangan orang
yang kau sebut orang bongkok itu. Bersama orang bongkok itu datang
pula Ki Jagabaya Gemawang yang selama ini kalian takut-takuti.
Kalian mengira bahwa Gemawang benar-benar sudah menjadi pingsan.
Namun hari ini mereka datang untuk menunjukkan bahwa darah anak-anak
muda Gemawang masih tetap menghangat di tubuhnya. Bahkan bersama
mereka telah datang pula anak Demang Rejandani yang telah kalian
rampok habis-habisan. Mereka datang untuk mengambil kembali
perhiasan dan wesi aji yang telah kalian rampok itu” “Sudahlah”
sahut Ki Srayatapa “kau tidak usah mengigau. Sekarang bersiaplah.
Kau akan segera diakhiri disini. Baru kemudian aku dan Ki Sapa Aruh
akan mengurusi orang bongkok itu” Kedua saudara seperguruan Wira
Sabet dan Sura Gentong itu pun segera mempersiapkan diri. Demikian
pula Pideksa dan beberapa orang pengikut yang lain. Namun saudara
seperguruan Wira Sabet yang tampan itu terkejut ketika Manggada
tiba-tiba saja melangkah mendekatinya sambil berkata “Ki Sanak. Aku
ingin kau membungkuk dihadapanku. Aku ingin menginjak punggungmu
sebagai landasan. Aku tidak ingin naik kuda sekarang ini. Tetapi aku
ingin melihat kau dihinakan sebagaimana pernah kau lakukan atasku”
Wajah orang itu menjadi merah seperti bara. Untuk sesaat orang itu
justru bagaikan membeku. Kemarahan yang membakar jantungnya membuai
mulutnya bagaikan tersumbat. Yang kemudian tertawa pula adalah
Laksana. Dengan nada tinggi ia berkata “Kenapa kalian menjadi
bingung? He, aku masih mempunyai seseorang untuk diajak bermain.
Marilah. Bukankah kau saudara seperguruan paman Wira Sabet dan paman
Sura Gentong?” Saudara seperguruan Wira Sabet yang berwajah bengis
itu juga menjadi bingung. Tetapi anak muda yang untuk beberapa iama
dijadikan budak untuk merawat kuda itu meskipun seperti seseorang
yang sedang bermain-main, namun cukup mengandung kesungguhan. Dalam
pada itu, Pideksapun berteriak “He, Manggada dan Laksana, apa yang
akan kalian lakukan?” “Pideksa” jawab Manggada “aku memang telah
memilih lawan. Aku tidak dapat melawanmu dalam pertempuran yang
bakal terjadi. Kita pernah bersahabat di masa kanak-kanak.
Sikapmupun masih aku hargai. Aku masih merasakan sisa-sisa
persahabatan kita selama kami berada di barak ini” “Tetapi kau harus
menyadari, siapakah orang yang kau tantang itu?” Pideksa justru
menjadi cemas. “Aku akan mencobanya” jawab Manggada. Kecemasan
memang membayang di wajah Pideksa. Namun saudara seperguruan Wira
Sabet yang berwajah tampan itu justru mulai tersenyum. Wajahnya
mulai nampak cerah lagi. Katanya “Aku kagum kepadamu anak muda.
Sejak semula aku memang sudah mengaguminya, bahwa kalian masih
berani berkuda berkeliaran di padukuhan Gemawang di saat-saat yang
paling gawat. Meskipun akhirnya kalian berhasil ditangkap dan dibawa
masuk ke dalam barak ini. Sekarang aku menjadi semakin kagum bahwa
kalian berdua berani menantang kami berdua” Manggada dan Laksana
tidak menjawab lagi. Namun keduanyapun segera mempersiapkan diri
menghadapi segala kemungkinan” Ki Srayatapa pun kemudian berkata
pula “Anak-anak memang tidak tahu bahwa seharusnya mereka tidak
menggenggam bara. Itu bukan satu keberanian. Tetapi satu kebodohan”
Tetapi Ki Carang Akinglah yang menyahut “Tidak. Mereka tidak dapat
disamakan dengan seorang anak kecil yang tibatiba saja memungut
bara. Tetapi keduanya sadar, bagaimana cara memukul seekor serigala.
Meskipun serigala itu setampan wajah domba yang manis sekalipun” Ki
Srayatapa tidak mengumpatinya. Tetapi ia justru tertawa. Katanya
“Jangan terlalu yakin Ki Sanak. Kau sendiri akan mati hari ini”
Kedua orang itupun telah bergeser pula. Seakan-akan mereka telah
mencari tempat yang terbaik untuk bertempur. Sementara itu Pideksa
sendiri menjadi bingung. Namun penyabit rumput yang sehari-hari
dianggap kurang waras itupun telah mendekatinya sambil berkata “Kita
juga berkesempatan untuk bermain-main” Pideksa menarik nafas
panjang. Katanya “Ternyata kalian telah mengelabui kami selama ini”
“Ya” jawab murid Ki Carang Aking itu “sebelum kau bertanya, biarlah
aku lebih dahulu menjawab. Namaku Sirat. Aku murid perawat kuda yang
tua itu” Pideksa mengangguk-angguk. Kalanya “Baiklah. Kita akan
berhadapan dalam kedudukan yang berbeda sekarang” Sementara itu,
pertempuran yang sengit telah terjadi di dalam lingkungan dinding
barak itu. Ki Pandi masih bertempur melawan Ki Sapa Aruh. Keduanya
adalah orang-orang berilmu sangat tinggi, sehingga beberapa orang
yang menyaksikan menjadi bingung, apakah yang sebenarnya telah
terjadi dengan kedua orang itu. Di halaman depan barak itu, Ki
Srayatapapun telah bertempur pula melawan Ki Carang Aking, sementara
Manggada dan Laksana telah terlibat dalam pertempuran yang garang
melawan saudara-saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong.
Saudara seperguruan Wira Sabet yang berwajah tampan itu ternyata
memang seorang yang sangat bengis. Watak orang itu sangat jauh
berbeda dengan ujudnya yang tampan, senyumnya yang banyak nampak
tersungging di bibirnya. Bahkan kata-katanya yang kadang-kadang
lembut dan ramah. Demikian pertempuran mulai, maka orang itu telah
menyerang dengan garang dan bahkan kasar. Seakan-akan orang itu
ingin membunuh lawannya pada ayunan serangannya yang pertama. Tetapi
orang itu sempat terkejut. Ternyata anak muda yang bernama Manggada
dan yang telah menjadi budak beberapa lama di barak itu, tidak dapat
langsung dilumatkannya. Bahkan Manggada masih sempat membalas
serangan-serangannya dengan serangan pula. “Anak iblis kau” geram
orang itu “jika kau tidak segera mati, maka kau akan mengalami
kematian yang paling menyengsarakan bagimu” Manggada tidak menjawab.
Tetapi ia melihat saat kelengahan lawannya justru pada saat ia
berbicara. Karena itu, maka Manggada telah memanfaatkan kesempatan
itu, ia tidak menyerang kearah dada atau lambung lawannya, yang
tentu akan dapat ditangkis atau dihindarinya. Tetapi tiba-tiba saja
Manggada menjatuhkan diri. Kakinya dengan cepat menyapu kaki
lawannya. Manggada memang tidak berniat untuk dengan cepat
menghentikan perlawanan saudara seperguruan Wira Sabat dengan
serangannya itu. Tetapi ia justru ingin menghentak lawannya untuk
mempengaruhi ketahanan jiwaninya. Serangan dengan sapuan kaki itu
memang tidak didugaduga. Karena itulah, maka sapuan kaki itu
benar-benar telah menebas kedua kakinya yang berdiri tegak disaat ia
berbicara. Keseimbangan orang itu telah terguncang. Bahkan demikian
derasnya sapuan kaki Manggada, maka orang itu telah kehilangan
keseimbangannya. Tubuh orang berwajah tampan dan berpakaian rapi itu
terbanting jatuh di tanah. Namun dengan sigapnya ia berguling dan
kemudian melenting berdiri lagi. Ketika orang itu tegak, ia melihat
Manggada berdiri sambil tersenyum memandanginya. Bahkan anak muda
itupun kemudian berkata “Kenapa kau kotori pakaianmu yang tentu
berharga mahal itu? A ku sendiri tidak peduli bahwa pakaianku akan
menjadi kotor, karena setiap hari pakaian ini pula yang aku pakai
bahkan tidur di kandang kuda sekalipun” Orang berwajah tampan itu
menggeram. Dengan mengerahkan tenaga dan kekuatannya orang itu
meloncat menyerang dengan menjulurkan kakinya. Manggada yang
mengetahui bahwa serangan itu dilandasi dengan kekuatan yang sangat
besar, tidak berniat untuk membenturnya. Dengan tangkasnya ia
mengelak, sehingga serangan itu tidak mengenainya sama sekali. Namun
dengan demikian, kemarahanpun telah meledak di kepalanya. Anak muda
itu benar-benar telah menghinanya dengan cara yang sangat
menyakitkan hati. Dalam pada itu, Laksanapun telah bertempur pula
melawan saudara seperguruan Wira Sabet yang lain. Saudara
seperguruan Wira Sabet yang berwajah garang. Orang itu tidak banyak
berbicara. Tetapi ketika pertempuran terjadi, maka orang itu mulai
dengan hati-hati. Laksana menanggapi sikap lawannya dengan sikap
berhatihati pula. Untuk beberapa saat mereka masih saling menjajagi.
Bahkan orang yang pendiam itu sempat memperingatkan dirinya sendiri
“Jika anak ini tidak mempunyai bekal yang cukup, ia tidak akan
berani melakukan sebagaimana dilakukannya sekarang ini. Sementara
itu Pideksa yang bertempur melawan salah seorang murid Ki Carang
Aking sempat melihat bagaimana Manggada menjatuhkan saudara
seperguruan ayahnya yang berwajah tampan itu. “Tidak masuk akal”
desis Pideksa. Manggada adalah anak muda yang umurnya tidak terpaut
banyak dengan dirinya. Tetapi Manggada ternyata telah memiliki ilmu
yang tinggi. Yang luput dari penglihatan ayahnya dan orang-orang
berilmu tinggi lainnya di barak itu. Dengan demikian Pideksapun
menyadari, bahwa kehadiran Manggadadan Laksana di barak itu tentu
telah disengaja dan diperhitungkannnya dengan sebaik-baiknya,
sebagaimana kehadiran Ki Carang Aking yang secara kebetulan mereka
bersama-sama di tempatkan di kandang kuda. Dalam pada itu, para
pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong memang menjadi heran, bahwa
budak-budak itu ternyata memiliki ilmu yang tinggi. Bahkan dua orang
penyabit rumput yang dianggap tidak waras itupun telah bertempur
pula bersama Manggada dan Laksana. Namun dalam pada itu, para
pengikut yang lain tidak sempat turun kemedan melawan orang-orang
yang selama dalam perbudakan bekerja untuk merawat kuda itu. Arus
serangan yang memasuki barak dari pintu butulan itu telah sampai ke
halaman depan barak itu. Dengan demikian, maka pertempuran itupun
telah menyala di beberapa sudut barak. Betapapun garangnya para
pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong, bahkan orang-orang yang dibawa
Ki Sapa Aruh, namun kehadiran orang-orang Gemawang yang tidak
diduganya itu benar-benar telah mengguncang seisi barak itu. Wira
Sabet dan Sura Gentong yang telah yakin akan mampu menguasai
padukuhan Gemawang dan bahkan kemudian Kademangan Kleringan bersama
Ki Sapa Aruh, benar-benar menjadi sangat marah karena serangan yang
tiba-tiba dan sama sekali tidak diduga. Keduanya merasa bahwa
keberanian orang-orang Gemawang telah benar-benar dihancurkan.
Anak-anak muda yang mencoba untuk mengganggu rencananya telah
tertangkap dan dibawa ke barak itu. Sura Gentonglah yang sangat
menyesal, kenapa ia tidak membunuh saja Ki Jagabaya dan sebelumnya.
Dalam pada itu, Ki Sapa Aruh bertempur dengan sengitnya melawan Ki
Pandi, orang bongkok namun berilmu tinggi. Keduanya justru telah
memisahkan diri dari hiruk pikuk pertempuran. Keduanya seakan-akan
telah memilih tempat yang tidak akan terganggu oleh orang lain.
Ternyata di halaman barak itu, Ki Srayatapa yang berhadapan dengan
perawat kuda tua itupun telah bertempur tanpa terganggu oleh
pertempuran di sekitarnya. Agaknya masing-masing telah terikat dan
berhadapan dengan lawan mereka. Manggada yang bertempur melawan
saudara seperguruan Wira Sabet yang berwajah tampan itu telah mulai
meningkatkan ilmu dari tataran ke tataran. Ia sadar, bahwa lawannya
itu tentu memiliki kelebihan dari kebanyakan orang. Namun Manggada
juga bukan orang kebanyakan. Lawan Manggada memang merasa aneh
menghadapi anak muda itu. Anak muda yang dianggapnya budak itu
tiba-tiba saja bertempur melawannya. Lawan Manggada menggeram ketika
ia benar-benar tidak mampu menghancurkan lawannya dalam waktu
singkat. Bahkan ketika ia berusaha dengan mengerahkan kemampuannya,
budak yang masih muda itu masih saja mampu mengimbanginya. Sementara
itu, lawan Laksana yang berwajah garang itu justru lebih
berhati-hati menghadapi lawan yang masih muda. Orang itu
meningkatkan ilmunya selapis demi selapis. Ia sadar sepenuhnya,
bahwa ia tidak akan dapat dengan cepat mengalahkan lawannya yang
muda itu. Bahkan orang itu sempat mengaguminya. Katanya “Jika kau
memilik ilmu sedemikian baiknya, demikian pula saudaramu itu, maka
aku yakin bahwa kalian memasuki barak ini tentu dengan sengaja.
Orang-orangku tidak akan mampu menangkap kalian berdua meskipun
orang-orangku itu bertiga” “Kami memang ingin melihat rumah tangga
paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong” jawab Laksana. “Aku percaya
bahwa kau memang sengaja melakukannya” jawab orang itu. Laksana
tidak menjawab. Tetapi sikap lawannya itu justru membuatnya lebih
berhati-hati. Ia sadar bahwa lawannya itu menghadapinya dengan
bersungguh-sungguh. Tidak sekedar dihanyutkan oleh perasaan
marahnya. Di arena pertempuran yang lain, Sampurna dan anak-anak
muda Gemawang bertempur melawan para pengikut Wira Sabet dan Sura
Gentong. Ternyata anak-anak muda itu tidak mengecewakan. Apalagi di
antara mereka terdapat orangorang Rejandani yang dipimpin langsung
oleh Ki Demang yang berpengalaman. Sementara pertempuran di barak
itu berkobar semakin panas, maka di Gemawang, jalan-jalan masih saja
nampak sepi. Orang-orang Gemawang tidak tahu apa yang sudah
dilakukan oleh Ki Jagabaya dan beberapa orang anak muda yang
ternyata telah berhasil dibangunkan oleh Sampurna. Namun yang mereka
ketahui, bahwa mereka tidak melihat Ki Jagabaya dan Sampurna lewat
di jalan-jalan padukuhan. Tetapi tidak banyak perubahan sikap
terjadi di Gemawang. Sejak semula orang-orang Gemawang memang lebih
banyak berada di dalam lingkungan rumah dan halamannya saja.
Demikian Manggada dan Laksana dibawa oleh para pengikut Wira Sabet
dan Sura Gentong, maka jalan-jalan di Gemawang menjadi semakin sepi.
Namun dalam pada itu, Wisesa telah menyempatkan diri pergi ke rumah
Ki Jagabaya. Ketika ia mengetuk pintu, maka yang terdengar bukan
suara Sampurna, tetapi suara Tantri di belakang pintu seketeng. “Kau
siapa?” bertanya Tantri meskipun ia juga sudah terbiasa mendengar
irama ketukan pintu Wisesa. “Aku, Tantri” jawab Wisesa. “Untuk apa
kau kemari?” bertanya Tantri “sebaiknya kau pulang saja. Bukankah
aku pernah mengatakan, bahwa dalam keadaan seperti ini, kita tidak
usah bertemu dan berbicara tentang apapun karena akhirnya
pembicaraan kita akan berselisih semakin lama semakin jauh” “Tetapi,
beri kesempatan aku kali ini saja untuk menemuimu Tantri. Aku hanya
sebentar. Tidak lebih” Wisesa justru mulai merengek seperti
anak-anak yang kehilangan mainan. Akhirnya hati Tantri menjadi lunak
juga. Bagaimanapun juga, Wisesa sudah terlalu sering datang ke
rumahnya. Karena itu, maka Tantri itupun mulai mengangkat selarak
pintu seketengnya sambil berkata “Baiklah. Aku mempunyai waktu
sebentar. Tetapi hanya sebentar” “Aku juga hanya sebentar Tantri”
jawab Wisesa. Demikian pintu terbuka, maka Wisesa itupun segera
melangkah masuk sambil berkata “Selarak pintunya lagi Tantri”
“Tidak. Bukankah kau hanya sebentar?” sahut Tantri, “Meskipun
demikian, orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong selalu
berkeliaran” jawab Wisesa. “Tetapi tidak hari-hari ini. Wira Sabet
dan Sura Gentong serta para pengikutnya tidak akan datang” jawab
Tantri. “Kenapa? Setiap saat mereka dapat saja datang kemari” jawab
Wisesa. “Hari ini justru ayah pergi ke baraknya bersama anak-anak
muda pedukuhan Gemawang yang masih sisa-sisa keberaniannya untuk
melakukan apa yang kau takutkan itu Wisesa” “Maksudmu menyerang
barak Wira Sabet dan Sura Gentong?” wajah Wisesa menjadi tegang.
“Ya” jawab Tantri “ayah tidak mempunyai pilihan lain, sementara Ki
Bekel masih saja tetap ragu-ragu” “Tantri, ayahmu dan Sampurna telah
menyurukkan kepala anak-anak muda kemulut buaya” “Apa yang
sebenarnya kau maui?” bertanya Tantri. “Tetapi kenapa aku tidak kau
persilahkan duduk?” bertanya Wisesa. “Kau hanya sebentar disini”
jawab Tantri. “Tantri, aku sudah memperingatkan beberapa kali, cara
yang ditempuh Ki Jagabaya dan Sampurna itu salah. Sebaiknya mereka
tidak mempergunakan kekerasan. Aku sedang memikirkan gagasan-gagasan
baru yang dapat menyelesaikan persoalan kita disini dengan Wira
Sabet dan Sura Gentong itu” “Telan kembali gagasan-gagasanmu itu”
berkata Tantri dengan serta merta “semua orang akan jemu mendengar
gagasan-gagasanmu yang tidak pernah sesuai dengan pendapat orang
lain” ”Tantri, kenapa kau tiba-tiba menjadi kasar begitu?” bertanya
Wisesa. “Sudahlah. Pulanglah” berkata Tantri. “Kau mengusir aku?”
“Bukankah kau sendiri mengatakan bahwa kau hanya sebentar?” Wajah
Wisesa menjadi merah. Dipandanginya Tantri dengan tajamnya. Sudah
lama ia sering mengunjungi gadis itu. Tantri tentu tahu, bahwa
kedatangan Wisesa tentu bukannya tanpa maksud. Sebelum Manggadadan
Laksana datang ke pedukuhan itu, sikap Tantri dinilainya baik
kepadanya. Bahkan Tantri telah memberinya harapan-harapan. Namun
tiba-tiba Tantri berubah menjadi keras dan bahkan kasar. Tiba-tiba
iblis telah mengembuskan pikiran buruk ke dalam otak anak muda itu.
Dengan nada berat Wisesa itu bertanya “Jadi, ayah dan kakakmu
sekarang pergi ke barak Wira Sabet dan Sura Gentong?” “Ya” jawab
Tantri berperasangka buruk. Tiba-tiba mata Wisesa itu menjadi liar.
Ia memandang keliling. Namun ia tidak melihat scorangpun. Tantri
mengerutkan dahinya. Ia melihat perubahan sikap dan sorot yang
memancar di mata Wisesa. Dengan suara yang bagaikan ditelan di
tenggorokan Wisesa berkata “Aku akan bertemu dengan ibumu” “Ibu
sedang sibuk di dapur” jawab Tantri. “Siapa saja yang dapat aku ajak
bicara di rumah ini?” “Tidak ada” jawab Tantri “dua orang pembantu
ayah telah ikut bersama ayah. Pembantu perempuan ibu sedang pergi
membeli kebutuhan ibu di dapur.” “Kau bohong” geram Wisesa. “Buat
apa aku membohongimu” jawab Tantri “sekarang sebaiknya kau pergi”
“Tantri” berkata Wisesa yang menjadi semakin liar “aku memang akan
segera pergi. Aku akan pergi bersamamu” “Bersama aku?” bertanya
Tantri. “Ya. Aku sangat mencintaimu. Kita akan dapat hidup bersama
di luar pedukuhan ini. Aku yakin, bahwa Ki Jagabaya akan gagal dan
Wira sabet serta Sura Gentong akan menjadi semakin garang. Kau tentu
benar-benar akan diambil menjadi isterinya” “Ayah tidak akan gagal”
jawab Tantri. “Kau salah menilai usaha yang dilakukan oleh ayahmu,
Tantri” berkata Wisesa itu selanjutnya. “Tidak” jawab Tantri “aku
yakin” “Apapun yang terjadi, aku akan membawamu pergi dari rumah
ini. Kau dapat berada di rumah nenekku di kademangan lain. Kau akan
lepas dari buruan Sura Gentong” “Tidak. Aku tidak akan pergi” jawab
Tantri. “Aku akan membawamu” berkata Wisesa kemudian. Tantri
melangkah surut ketika Wisesa bergeser mendekatinya. Dengan nada
tinggi Tantri berkata “Jadi kau tanyakan ibuku, pembantu-pembantu di
rumah ini sekedar untuk meyakinkan bahwa rumah ini kosong, sehingga
kau dapat memaksa aku pergi bersamamu kerumah nenekmu?” “Ya. Kau
tidak mempunyai pilihan lain” berkata Wisesa dengan mata yang
semakin liar. Tantri menjadi semakin ngeri melihat mata Wisesa.
Tetapi ia masih menjawab “Wisesa. Kau kira kau dapat membawaku
keluar dari halaman ini? Seandainya hal itu dapat kau lakukan,
apakah kau akan menyeret aku di sepanjang jalan padukuhan? Aku punya
mulut yang dapat berteriak-teriak Wisesa” “Jari-jariku terlalu kuat
Tantri. Aku dapat mencekikmu sehingga suaramu tidak akan sempat
melintasi kerongkonganmu” “Tetapi aku dapat mati karenanya. Apa
gunanya membawa mayatku ke rumah nenekmu? Kau tentu akan mendapat
kesulitan jika hal itu kau lakukan. Nah, kau sadari itu?” Wisesa
menjadi termangu-mangu. Namun kemudian ia berkata “Tantri, apapun
yang akan terjadi, aku akan membawamu pergi dari rumah ini. Kau akan
menjadi isteriku. Aku harap kau tidak akan mempersulit perjalanan
kita. Kita akan berjalan sebagai sepasang pengantin baru. Aku akan
menggandeng tanganmu atau kau akan berpegangan lenganku. Aku minta
kau tidak akan berteriak-teriak di sepanjang jalan, karena hal itu
hanya, akan membuatmu sengsara. Aku dapat memperlakukan dirimu
sekehendakku, bahkan aku akan meyiksamu dengan cara apapun juga.
Nah, marilah Tantri. Bukankah kita saling mencintai” “Wisesa. Apakah
kau sudah gila? Jika kau paksa aku dengan cara apapun, maka besok
ayah akan mencarimu dan membunuhmu” “Ayahmu akan mati di barak Wira
Sabet dan Sura Gentong. Orang yang datang kepadanya, tidak akan
dapat pulang kembali” “Jika bukan ayah, tentu kakang Sampurna akan
melakukannya” “Kakangmu itu juga akan mati” “Jika bukan mereka,
tentu Manggada dan Laksana” Mendengar nama itu disebut, Wisesa
benar-benar menjadi sangat marah. Katanya “Jangan memaksaku
membunuhmu” “Apakah itu pertanda cintamu padaku?” bertanya Tantri.
“Jarak antara cinta dan kebencian itu hanya selangkah. Jarak antara
mencumbu dan membunuh tidak lebih dari satu lambaian tangan” jawab
Wisesa yang matanya sudah menjadi merah. Wajah Tantri memang tegang.
Sementara Wisesa bergeser lagi selangkah maju “Tidak ada gunanya kau
menolak aku Tantri. Aku dapat berbuat lembut, tetapi aku juga dapat
berbuat kasar” “Kau sudah menjadi gila Wisesa” desis Tantri. “Bukan
baru sekarang. Sudah lama aku tergila-gila kepadamu. Karena itu, kau
jangan membuat aku semakin gila, karena dengan demikian, aku akan
dapat lupa diri” Namun jawaban Tantri mengejutkan Wisesa. Ia
tersentak sehingga matanya terbelalak. “Wisesa” berkata Tantri “Jika
kau akan memaksaku, maka sudah tentu aku akan mempertahankan diri.
He, kau ingat masa kanak-kanak kita. Jika kita berkelahi, maka
kaulah yang menangis meskipun kau laki-laki. Bukan aku” Sejenak
Wisesa tercenung. Namun kemudian ia menggeram “Tetapi aku sekarang
bukan anak kecil lagi Tantri. Aku sekarang tumbuh dan menjadi kuat.
Kau tidak akan mampu melawan kehendakku” Tetapi Tantri masih
menjawab “Aku juga bukan kanakkanak yang hanya dapat mencakar mukamu
atau menarik rambutmu jika kita berkelahi. Tetapi sekarang aku
mempunyai kemampuan lebih banyak, karena seperti kau, aku sekarang
tumbuh menjadi dewasa. “Tantri, apa yang akan kau lakukan?” bertanya
Wisesa. “Aku akan melawan jika kau melakukan tindak kekerasan” “Kau
masih bermimpi dengan masa kanak-kanakmu itu. Itu sudah lama lampau
Tantri” “Ya. Itu sudah lama lampau. Dan dalam waktu yang lama itu,
aku menjadi matang menghadapi persoalan-persoalan. Juga menghadapi
sikapmu karena kau sudah kehabisan akal. Kau tidak berani melakukan
sebagaimana yang telah dilakukan oleh Manggada, Laksana dan kakang
Sampurna. Kemudian kau mencoba menutupi harga dirimu itu, kau telah
membuat gagasan-gagasan gila yang tidak masuk akal itu” Wisesa
menggeram. Ia menjadi marah sekali. Sebagai seorang laki-laki ia
benar-benar merasa terhina. Karena itu, maka katanya “Apapun yang
akan terjadi, aku akan membawamu. Tubuhmu, hidup atau mati akan aku
seret sepanjang jalan sampai ke rumah nenekku” “Apakah kau sudah
memikirkan kemungkinan untuk bertemu dengan orang-orang Wira Sabet
dan Sura Gentong?” “Mereka tidak akan berkeliaran hari ini. Ayahmu
dan orangorang itu sedang pergi ke tempat tinggal mereka” “Mungkin
ayah dan kakang Sampurna sudah dikalahkannya. Mereka sedang
berkeliaran untuk mencari anak-anak muda di padukuhan ini. Sementara
itu mereka menemukan kau dan aku di jalan. Apakah kau sedang
menggandeng tanganku, atau aku sedang berpegangan lenganmu atau kau
sedang menyeret mayatku” Wajah Wisesa menjadi tegang. Matanya
bertambah liar dan bertambah merah pula. Hembusan suara iblis
semakin mencengkamnya, sehingga iapun kemudian berkata “Aku tidak
perduli. Aku tidak perduli. Aku memerlukanmu” Tangan Wisesa memang
terjulur untuk menggapai tangan Tantri. Tetapi Tantri justru telah
menangkapnya. Menarik dengan kerasnya, sehingga tubuh Wisesa itu
seakan-akan melekat ketubuh Tantri. Namun tiba-tiba saja terdengar
Wisesa itu berteriak kesakitan. Tangan Tantri yang lain dengan
kerasnya telah memukul perut Wisesa. Ketika kemudian Tantri
mendorongnya, maka Wisesa itupun jatuh terlentang sambil menyeringai
kesakitan. Tertatih-tatih Wisesa bangkit. Kemarahannya benar-benar
telah membakar ubun-ubunya. Dengan geram ia berkata “Tantri. Kau
seorang perempuan. Aku seorang laki-laki. Apapun yang dapat kau
lakukan, kau tidak akan dapat melawan aku” Namun belum lagi Wisesa
terkatub rapat, tangan Tantri telah menyambar mulutnya, sehingga
Wisesa mengaduh kesakitan. Ketika ia merasakan cairan yang hangat di
mulutnya, maka dengan berdebar-debar Wisesa mengusapnya. Ternyata
jari-jarinya menjadi merah oleh darah. Wisesa benar-benar tidak
dapat mengekang dirinya. Tantri bukan hanya menyakitinya. Tetapi ia
sudah menitikan darah dari sela-sela bibirnya. Karena itu, maka
Wisesapun kemudian telah menjulurkan tangannya kearah leher Tantri.
Namun yang terjadi benar-benar di luar dugaan. Tantri justru
menyambut tangan itu, ditangkapnya pergelangan tangan Wisesa,
kemudian Tantri memutar tubuhnya membelakangi anak muda itu. Dengan
pundaknya, ia mengangkat tubuh Wisesa dipangkal lengannya, sementara
sambil merendah Tantri menarik tangan Wisesa itu kuat-kuat. Wisesa
sama sekali tidak menduga, bahwa hal itu akan dilakukan oleh Tantri.
Karena itu, maka iapun terlempar, berputar sekali dan kemudian jatuh
terbanting di tanah. Wisesa benar-benar berteriak bukan saja karena
kesakitan, tetapi putaran tubuhnya itu benar-benar membuat
ketakutan. Untuk beberapa saat Wisesa terbaring di tanah. Pungungnya
serasa akan patah. Sementara itu Tantri berdiri di sebelahnya sambil
bertolak pinggang. “Bangkitlah” desis Tantri. Dengan kakinya ia
mengguncang tubuh Wisesa yang masih mengaduh sambil menggeliat.
“Bangkitlah” teriak Tantri. ”Kita akan menyelesaikan persoalan kita
sampai tuntas. Kau atau aku yang tubuhnya akan diseret sepanjang
jalan padukuhan” “Ampun Tantri“ Wisesa merintih, sementara Tantri
justru berkata lantang “bangkitlah, bangkit atau aku bunuh kau tanpa
perlawanan” “Ampun Tantri, ampun“ Wisesa memang berusaha bangkit
meskipun punggungnya bagaikan patah. “Kita selesaikan persoalan
kita” geram Tantri. “Ampun, aku mohon ampun Tantri” Wisesa hampir
menangis. “Kau masih saja anak cengeng. Kau bukan anak muda yang
seperti katamu tumbuh menjadi kuat” “Ampun, aku minta ampun” tangis
Wisesa tanpa malu-malu. Sementara itu, terdengar suara pintu serambi
“Apa yang terjadi?” Tantri berpaling, dilihatnya ibunya melangkah
mendekati anaknya yang masih berdiri tegak sambil bertolak pinggang
“Apa yang kau perbuat Tantri” “Ia sudah menghina aku ibu” jawab
Tantri. Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Iapun kemudian berdiri di
sebelah anak perempuannya sambil berkata “sudahlah. Jangan berkelahi
lagi. Biarlah Wisesa bangkit” “Aku sudah menyuruhnya bangkit atau
aku cekik lehernya sampai mati” jawab Tantri. “Aku sudah minta
ampun“ tangis Wisesa. “Sudahlah. Bangkitlah dan pulang” berkata Nyi
Jagabaya. Wisesa berusaha untuk bangkit. Batapapun punggung terasa
nyeri. Tapi selagi Nyi Jagabaya menyuruhnya pergi, maka ia akan
pergi. Tertatih-tatih Wisesa bangkit dan melangkah pergi setelah ia
minta diri kepada Nyi Jagabaya. “Anak itu gila” berkata Tantri
“Selagi kami menjadi tegang menunggu ayah dan kakang Sampurna
kembali, anak itu mulai berbuat kasar” “Sudahlah. Selarakkan pintu
seketeng itu” Sementara itu di barak Wira Sabet dan Sura Gentong,
pertempuran masih berlangsung sengit. Ketika keringat mulai membasah
di telapak tangan, maka para penghuni barak itu menjadi semakin
garang. Namun lawan-lawan mereka menjadi semakin garang pula. Wira
Sabet yang bertempur melawan Ki Kertasana menjadi heran. Ia tidak
melihat kemampuan orang yang lebih banyak diam itu. Namun tiba-tiba
ia kini turun ke gelanggang pertempuran dengan ilmunya yang tinggi.
Sementara itu, Ki Citrabawa bertempur dengan sengitnya melawan Sura
Gentong. Ternyata Sura Gentong memang jauh lebih kasar dari Wira
Sabet sendiri. Apalagi ia sama sekali belum mengenal lawannya
sebelumnya. Sementara itu, empat orang saudagar perhiasan itu masih
bertempur melawan dua orang saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura
Gentong. Ternyata bahwa mereka perlahanlahan mulai mendesak kedua
orang lawan mereka. Dalam pada itu, budak-budak yang ada di barak
itupun menjadi kebingungan. Ada diantara mereka yang justru menjadi
gemetar dan terduduk tanpa dapat berbuat apa-apa. Ketakutan yang
sangat telah melanda jantungnya. Namun beberapa orang yang tubuhnya
kuat masih sempat berbisik yang satu dengan yang lain. Beberapa
orang bahkan telah bangkit. Di hatinya tumbuh keberaniannya untuk
melibatkan diri dalam pertempuran itu. Jika orang-orang yang
menyerang barak itu menang, maka mereka akan mendapat kesempatan
untuk bebas dari perbudakan. Karena itu, maka beberapa orangpun
telah menyelinap mencari apa saja yang dapat mereka pergunakan
sebagai senjata. Ada yang menemukan parang di dapur, ada yang
mendapatkan kapak pembelah kayu, linggis pengelupas sabut kelapa
atau apa saja. Bahkan potongan-potongan kayu dan selarak-selarak
pintu. Dengan demikian, maka pertempuranpun menjadi semakin menebar
di seluruh sudut-sudut barak. Budak-budak yang ingin lepas itu juga
dibekali dengan dendam kepada isi barak yang bertindak semena-mena
terhadap mereka. Para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong menjadi
semakin gelisah menghadapi tekanan yang semakin berat. Sementara itu
para pemimpin mereka telah terikat pula dalam pertempuran yang
rumit. Saudara seperguruan Wira Sabet yang berwajah tampan dan
selalu berpakaian rapi itu mengumpat dengan kasarnya, ketika
serangan Manggada mulai menyentuh tubuhnya. Ia tidak lagi dapat
merendahkan anak muda yang telah menempa dirinya dengan
sungguh-sungguh itu. Bahkan dengan laku tapa ngidang di hutan
sebelum mereka menginjakkan kakinya di halaman rumahnya. Orang
berwajah tampan itu sama sekali tidak menduga bahwa anak muda yang
pernah dihinakannya itu pada suatu saat siap membalas sakit hatinya
dengan cara yang lebih jantan. Namun orang itu tidak membiarkan
dirinya dihinakan. Karena itu, maka iapun mengerahkan segenap
kemampuannya untuk menghentikan perlawanan Manggada. Tetapi
Manggadapun telah meningkatkan kemampuannya pula. Bahkan bukan orang
yang berwajah tampan itulah yang mendesak Manggada, tetapi
perlahan-lahan Manggadalah yang telah mendesaknya.
Serangan-serangannya yang cepat dan dilandasi dengan kemampuan yang
tinggi telah membuat lawannya selalu terdesak. Di bagian lain dari
pertempuran itu, Ki Sapa Aruh telah mempertaruhkan segala-galanya
untuk mengalahkan orang bongkok itu. Jika ia tidak dapat
menghancurkan orang bongkok itu, maka bukan saja dirinya sendiri,
namanya yang untuk waktu yang lama ditakuti, tetapi juga barak itu
dengan segala isinya Tetapi setiap kali ia meningkatkan tataran
ilmunya, maka lawannya yang bongkok itupun mampu melakukannya pula,
sehingga dengan demikian, maka pertempuranpun semakin lama menjadi
semakin sengit. Orang-orang yang bertempur di sekitarnya yang sempat
melihat sekilas pertempuran antara Ki Sapa Aruh dan Ki Pandi itu
hanya dapat berdecak kagum, bahwa kedua orang itu memiliki ilmu yang
sulit untuk dimengerti. Di halaman barak, Ki Carang Aking masih juga
bertempur melawan Ki Srayatapa, yang sama sekali tidak mengira bahwa
di barak itu ia akan bertemu dengan orang yang berilmu tinggi,
bahkan mampu mengimbangi tingkat ilmunya. Tetapi ia tidak dapat
mengingkari kenyataan itu. Yang harus dilakukannya adalah berusaha
menghancurkan lawannya yang tua itu. Dalam pada itu, Ki Kertasana
yang berhadapan dengan Wira Sabet telah terlibat dalam pertempuran
yang sengit pula. Wira Sabet yang tidak mengira bahwa Kertasana yang
sudah dikenalnya sejak lama itu ternyata memiliki ilmu yang tinggi.
“Kenapa baru sekarang kau tunjukkan kemampuanmu Ki Kertasana?”
bertanya Wira Sabet ketika ia harus meloncat mengambil jarak ketika
serangan Ki Kertasana menyulitkannya. “Baru sekarang aku merasa
perlu mempergunakannya, Ki Wira Sabet. Ternyata kau dan Sura Gentong
telah memancing aku dan adikku untuk dengan terpaksa melakukan
kekerasan ini karena kami tidak mempunyai pilihan lain” Wira Sabet
tidak bertanya lebih jauh. Tetapi dikerahkannya ilmunya yang
diterimanya selama ia berguru. Namun ternyata Ki Kertasana memiliki
kematangan yang lebih tinggi. Di sisi lain, Sura Gentong dengan
garangnya berusaha untuk segera menghabisi Ki Citrabawa. Namun Sura
Gentong telah membentur kekuatan ilmu lawannya. Citrabawa yang bukan
orang Gemawang itu justru telah mendesak Sura Gentong. Ayah Laksana
yang juga sekaligus menjadi gurunya dan guru Manggada itu, memiliki
kelebihan dari Sura Gentong meskipun Sura Gentong lelah berguru
cukup lama. Namun Sura Gentong yang marah sekali itu tidak mau
melihat kenyataan itu. Ia bertempur semakin keras dan bahkan menjadi
kasar sebagaimana tingkah lakunya. Kekasarannya itu kadang-kadang
memang sempat mendesak Ki Citrabawa. Namun hanya sekedar
hentakanhentakan saja. Selanjutnya, maka Ki Citrabawa kembali
menguasai medan. Kekalahan-kekalahan yang terjadi kemudian, telah
membuat Sura Gentong justru kehilangan akal. Ia menjadi semakin
garang, kasar dan bahkan liar. Namun dengan demikian maka ia
kehilangan kendali dan pengamalan diri. Kekasaran dan keliaran
itulah yang membuat Ki Citrabawa harus meningkatkan ilmunya sampai
ketataran tertinggi. Benturan-benturan yang keras tidak dapat
dielakkannya lagi. Berkali-kali Sura Gentong harus terlempar jatuh
di setiap benturan. Namun demikian ia bangkit, maka seperti seekor
badak ia menyerang lawannya. Akhirnya Ki Citrabawa tidak mempunyai
pilihan lain. Ia hanya dapat menghentikan perlawanan Sura Gentong
itu jika Sura Gentong sudah tidak berdaya sama sekali. Karena itu,
maka Ki Citrabawa itupun segera meningkatkan ilmu sampai ketataran
tertinggi. Dari Manggada dan Laksana ia telah mendengar sikap Sura
Gentong. Apalagi Ki Citrabawa sebelumnya memang belum pernah
mengenalnya. Karena itu, maka tanggapannya atas Sura Gentongpun baru
terbentuk sejak ia berada di Gemawang. Dengan hentakan puncak
kemampuannya, maka Ki Citrabawa menjadi semakin berbahaya. Bahkan
kemudian serangan-serangannya seakan-akan telah menggulung semua
kemampuan Sura Gentong. Pada saat-saat terakhir dari pertempuran
itu, Sura Gentong justru telah bertempur tanpa perhitungan lagi.
Senjatanya, sebatang tongkat besi yang berkepala bulatan bergigi
lembut, terayun-ayun mengerikan. Namun Ki Citrabawa yang menggenggam
pedang di tangannya, memiliki kecepatan gerak yang lebih tinggi.
Pedang Ki Citrabawa yang besar itu mampu mengimbangi ayunan tongkat
besi lawannya dalam benturan-benturan yang keras. Namun Citrabawa
yang mengerahkan tingkat kemampuannya yang tertinggi itu telah
berhasil dengan kecepatan melampaui kecepatan ayunan tongkat besi
Sura Gentong menembus pertahanannya. Ujung pedang Ki Citrabawa
sempat menggores lengan Sura Gentong. Sura Gentong terkejut. Ketika
ia bergeser surut, maka ujung pedang Ki Citrabawa sempat membentur
tongkat besi Sura Gentong, sehingga tongkat itu terlepas dari
tangannya. “Menyerahlah” desis Ki Citrabawa. Tetapi yang dilakukan
oleh Sura Gentong adalah justru menarik sebilah luwuk dari
sarungnya. Luwuk yang tidak terlalu besar, tetapi tentu berbahaya di
tangan Sura Gentong yang kehilangan pengamatan diri itu. Karena itu,
maka Ki Citrabawapun dengan cepat sekali menghantam luwuk itu dengan
pedangnya. Demikian tiba-tiba sehingga luwuk itu terlepas dari
tangan Sura Gentong. Sekali lagi Ki Citrabawa mengacukan pedangnya
sambil berkata “Menyerahlah” Tetapi yang terjadi, membuat Ki
Citrabawa kehilangan kesabaran. Tiba-tiba saja Sura Gentong telah
melemparkan pisau-pisau kecil ke arah lawannya. Ki Citrabawa
terkejut. Dengan serta-merta ia berloncatan mengelak. Tetapi sebilah
pisau telah tersangkut di lengannya. Kemarahan Ki Citrabawa tidak
terbendung lagi. Ujung pedangnyapun kemudian telah memburu lawannya.
Satu tusukan yang tepat menukik menembus dada Sura Gentong sampai ke
jantung. Sura Gentong tidak sempat mengeluh. Tubuhnya rebah ketika
Ki Citrabawa menarik ujung pedangnya. Ia kehilangan nyawanya bersama
dengan hilangnya semua angan-angan gilanya. Ki Citrabawa
termangu-mangu sejenak. Dipandanginya tubuh yang terbaring diam itu.
Sementara di sekitarnya, pertempuran masih berlangsung dengan
sengitnya. Namun kematian Sura Gentong adalah isyarat yang paling
jelas, bahwa Gemawang akan dapat lepas dari impian-impian gila Sura
Gentong yang dilambari oleh dendam yang membara di hatinya. Tetapi
kegilaan Sura Gentong bukan sekedar baru mulai sejak ia ingin
menguasai Gemawang. Tetapi sejak ia hampir saja dihancurkan oleh
orang-orang Gemawang oleh pokalnya sendiri, sehingga Sura Gentong
itu harus melarikan diri. Ki Jagabaya yang melihat Sura Gentong
terbujur diam telah mendekatinya. Kerut di keningnya menunjukkan
gejolak di hatinya. Sementara itu, Ki Pandi yang berilmu sangat
tinggi itu masih bertempur melawan Ki Sapa Aruh. Betapapun
ditakutinya nama Ki Sapa Aruh. tetapi berhadapan dengan Ki Pandi,
ternyata ia tidak mampu berbuat lebih banyak dari sekedar bertahan.
Serangan-serangan Ki Pandi semakin lama semakin garang.
Benturan-benturan telah terjadi. Beberapa kali Ki Sapa Aruh menerima
kerataan, bahwa ia menjadi semakin terdesak. Namun pada saat-saat
terakhir, Ki Sapa Aruh telah bertekad untuk mempertaruhkan ilmu
puncaknya, la sadar, bahwa Ki Pandi pun tentu akan membentur ilmu
puncaknya dengan ilmu andalannya pula. Tetapi Ki Sapa Aruh tidak
mempunyai pilihan lain. la harus dengan cepat memenangkan
pertempuran, atau hancur sama sekali. Sementara pertempuran di barak
itu mencapai puncaknya, maka Ki Sapa Aruh lelah mengerahkan segenap
kemampuan ilmunya. Ketika ia menyilangkan tangannya di dadanya, maka
Ki Pandi segera mengetahui apa yang akan terjadi. Karena itu, maka
Ki Pandi pun telah mengetrapkan ilmu pamungkasnya pula. Ki Citrabawa
yang lelah kehilangan lawannya sempat melihat apa yang terjadi.
Demikian pula Ki Jagabaya. Mereka melihat dua sosok tubuh yang
meluncur bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya. Benturan
yang dahsyatpun telah terjadi. Benturan dua sosok tubuh yang
dilambari dengan kemampuan ilmu mereka masing-masing yang sangat
tinggi. Keduanyapun terlempar beberapa langkah surut. Keduanya jatuh
terbanting di tanah. Pertempuran di sekitar peristiwa itu terjadi
seakan-akan justru telah terhenti. Mereka menyempatkan diri melihat
apa yang telah terjadi Perlahan-lahan Ki Pandi mulai menggeliat.
Sambil berdesah menahan nyeri di dadanya, Ki Pandi itu bangkit. Ki
Citrabawa dan Ki Jagabayapun telah mendekatinya dengan tergesa-gesa
untuk membantu orang bongkok itu duduk. Dengan suara yang lemah dan
gemetar, Ki Pandi itupun bertanya “Bagaimana dengan Ki Sapa Aruh?
Mereka yang seakan-akan telah melupakan Ki Sapa Aruh itu serentak
berpaling. Yang mereka lihat adalah sesosok tubuh yang terbaring
diam. “Tolong bantu aku melihatnya” desis Ki Pandi. Ki Citrabawa dan
Ki Jagabaya telah membantu Ki Pandi melangkah perlahan-lahan
mendekati sosok tubuh Ki Sapa Aruh yang terbaring diam. Ketika Ki
Pandi berjongkok disampingnya, dan berdesis memanggil namanya, maka
Ki Sapa Aruh itu membuka matanya. Namun mata itu sudah menjadi redup
dan bahkan hampir padam sama sekali. Namun dari bibirnya masih
terdengar desisnya perlahan “Kau orang yang luar biasa Bongkok” Ki
Pandi menarik nafas dalam. Namun kemudian Ki Sapa Aruh pun telah
memejamkan matanya untuk selama-lamanya. Ki Pandi itupun kemudian
bangkit berdiri dibantu oleh Citrabawa dan Ki Jagabaya. Kepada
orang-orang yang berdiri mematung di sekitarnya ia berkata “Apakah
pertempuran masih akan diteruskan. Ki Sapa Aruh sudah terbunuh. Sura
Gentong juga sudah tidak ada lagi. Segala-galanya kini tergantung
kepada Ki Wira Sabet” Wira Sabet termangu-mangu sejenak. Pertempuran
di sekitarnya memang tiba-tiba saja telah berhenti. Ternyata seorang
saudara seperguruan Wira Sabet telah terbunuh juga dipertempuran itu
oleh anak Ki Demang Rejandani dan seorang kawannya. Sementara
saudaranya yang lain telah terluka pula. “Tidak ada gunanya kau
bertahan Wira Sabet” berkata Ki Pandi kemudian. “Sudahlah Ki Wira
Sabet” berkata Ki Kertasana “kita dapat melupakan permusuhan ini.
Bukankah kita masih tetap merindukan padukuhan Gemawang yang sejuk,
tenang dan damai?” Wira Sabet menundukkan kepalanya. Katanya
kemudian “Aku menyerah” “Jika demikian, perintahkan
pengikut-pengikutmu menyerah” berkata Ki Kertasana. Wira Sabet
memang memeriniahkan pengikut-pengikutnya menyerah. Tidak ada lagi
gunanya bertempur terus. Wira Sabet dan pengikutnya tentu tidak akan
mampu berbuat banyak. Namun demikian, Ki Srayatapa ternyata tidak
mau mengakui kekalahan itu. Dengan lantang ia berkata “Kau pengecut
Wira Sabet. Setelah saudaramu terbunuh dan kemudian Ki Sapa Aruh
yang telah banyak sekali berjasa kepadamu, kau telah menyerah”
“Kematian-kematian berikutnya tidak akan ada artinya lagi Ki
Srayatapa” Namun yang menyahut adalah saudara seperguruan Wira Sabet
yang berwajah tampan “Aku akan berhenti bertempur setelah mematahkan
leher anak yang sombong ini” Tetapi Manggada tidak memberikan banyak
waktu. Iapun kemudian berkata “Bersiaplah. Kita selesaikan persoalan
kita. Lepas dari persoalan yang terjadi antara barak ini dengan
padukuhan Gemawang” Berbeda dengan orang itu, maka lawan Laksana
justru telah menghentikan pertempuran itu. Ia menyadari sepenuhnya,
bahwa kemampuannya yang dianggapnya sudah cukup tinggi itu, ternyata
tidak mampu mengimbangi kemampuan anak yang masih dianggapnya sangat
muda itu. Pertempuran di barak itu sebagian besar sudah berhenti
Namun Ki Srayatapa sama sekali tidak menghiraukannya. Sementara itu,
Ki Carang Aking tidak ingin dianggap licik dengan melibatkan orang
lain dalam pertempuran itu. Namun Ki Carang Aking itulah yang
kemudian tidak ingin bertempur terlalu lama. Jika yang lain telah
berhenti, maka iapun ingin segera berhenti, apapun yang terjadi.
Dengan mengerahkan segenap kemampuan ilmu puncaknya, maka Ki Carang
Aking telah meloncat menyerang lawannya, Ki Srayatapa. Sementara Ki
Srayatapa yang melihat sikap lawannya itupun segera mempersiapkan
diri untuk membentur ilmu orang tua perawat kuda itu. Benturan yang
keraspun telah terjadi pula. Namun ternyata bahwa tataran ilmu Ki
Srayatapa masih selapis dibawah tataran ilmu Ki Carang Aking. Dengan
demikian, maka Ki Srayatapa itu telah terlempar beberapa langkah.
Iapun kemudian jatuh terguling dengan derasnya. Ia tidak dapat
mengelak sama sekali ketika kepalanya kemudian membentur batu
bebatur bangunan induk barak itu. Sementara itu, Ki Carang Aking
tergetar dan terdorong surut. Tetapi ia masih tetap tegak meskipun
ia harus mengatasi perasaan sakit yang menyengat dadanya. Ki
Srayatapa tidak sempat mengaduh. Bukan saja karena hentakan ilmu
lawannya. Tetapi kepalanya yang membentur batu di bebatur rumahnya
itu telah mengalirkan darah. Dalam pada itu, Manggada yang masih
bertempur melawan saudara seperguruan Wira Sabet yang berwajah
tampan itu berkata “Nah, apakah kau masih belum akan menyerah?”
“Persetan” geramnya “aku tidak peduli apakah mereka nanti akan
membunuhku. Tetapi kau juga harus mati” Dengan ganasnya orang itupun
kemudian telah menyerang Manggada. Namun Manggada yang telah sampai
pada tingkat tertinggi ilmunya itu menjadi sangat liat. Tubuhnya
menjadi lentur dan geraknya menjadi semakin cepat. Orang berwajah
tampan itu sama sekali tidak sempat menyentuh tubuh Manggada.
Namun tiba-tiba orang itupun berkata “He anak sombong. Cari
senjata, kita akan bertempur dengan senjata” Manggada termangu-mangu
sejenak. Namun kemudian Ki Kertasana telah melemparkan pedangnya
kepada anaknya, sementara orang berwajah tampan itu telah
menggenggam pedang pula. Namun justru karena itu, maka pertempuran
itu menjadi semakin cepat berakhir. Kemampuan dan kecepatan gerak
Manggada ternyata tidak dapat diimbangi oleh lawannya. Karena itu,
maka ujung pedang Manggadapun segoressegores telah mengoyak tubuh
orang berwajah tampan itu. Tetapi tidak ada tanda-tanda bahwa
lawannya itu akan menyerah. Bahkan sambil mengumpat-umpat orang itu
bertempur semakin liar meskipun darah telah mengalir membasahi
pakaiannya. Manggada yang muda itu ternyata tidak dapat mengekang
dirinya lagi. Ia menjadi semakin benci kepada lawannya yang tidak
tahu diri itu. Karena itu, maka sebuah loncatan panjang dengan
pedang yang lurus terjulur kearah dada telah mengakhiri pertempuran
itu. Demikian orang itu roboh di tanah, maka pertempuran di barak
itu benar-benar telah berhenti. Laksana yang berdiri termangu-mangu
melihat ketiga orang yang pernah menangkapnya dan membawanya masuk
ke dalam barak itu bersama dengan Manggada. Dua orang di
antaranya telah terluka, meskipun tidak terlalu parah. Namun seorang
murid Ki Carang Akingpun telah terluka pula. Disamping mereka itu,
pertempuran itu memang tidak dapat menghindari korban. Seorang anak
muda Gemawang telah gugur, disamping beberapa orang yang terluka.
Dua di antaranya terhitung parah. Sementara itu, seorang anak muda
Rejandani juga guru. Tiga orang terluka cukup parah, termasuk
seorang saudagar, kawan anak Ki Demang. Meskipun pertempuran itu
telah selesai, tetapi masih ada persoalan lain yang harus
diselesaikan. Orang-orang yang menyerah itu akan menjadi persoalan
pula bagi Gemawang dan Rejandani. Namun demikian, maka
ancaman-ancaman dan ketakutan tidak akan melanda padukuhan gemawang
lagi. Orang-orang Gemawang akan menikmati lagi sejuknya kampung
halaman mereka. Sementara itu Wira Sabet telah menunjukkan dimana
disimpan perhiasan-perhiasan bukan saja yang telah mereka rampok
dari anak Ki Demang Rejandani dan kawan-kawannya. Tetapi juga yang
pernah mereka rampok dari banyak orang. Pembicaraan antara Ki
Jagabaya Gemawang dan Ki Demang Rejandani menimbulkan kesepakatan
bahwa orang-orang yang tertawan itu untuk sementara akan dibawa ke
Rejandani, justru karena Rejandani tidak mengalami
goncangangoncangan sebagaimana dialami oleh Gemawang dan bahkan
Kademangan Kleringan. Namun Ki Demang Rejandani minta agar khususnya
Wira Sabet dan saudara seperguruannya yang masih ada, dibawa ke
Gemawang. “Di Gemawang ada orang-orang berilmu tinggi” berkata Ki
Demang. “Bukankah Rejandani dapat minta bantuan Ki Carang Aking?”
bertanya Ki Pandi. Tetapi Ki Carang Aking tersenyum sambil menjawab
“Seperti burung yang terlepas dari sangkarnya. Aku akan terbang jauh
menembus mega-mega pulih. Sayapku sudah terlalu lama terkekang di
barak buruk itu” Tidak seorangpun dapat mengekangnya. Ki Carang
Aking memang tidak akan dapat bertahan terlalu lama di satu tempat.
Di hari-hari berikutnya, maka Gemawang lelah mulai dengan menata
diri kembali. Bayangan ketakutan telah hilang seperti embun yang
disengat oleh panasnya sinar matahari. Di padukuhan, Ki
Jagabaya telah mengijinkan Wira Sabet untuk menempati rumahnya
kembali bersama anaknya, Pideksa, bersama tiga orang pengikutnya
yang telah dikalahkan oleh Laksana. Baru kemudian hal itu diketahui
oleh Wira Sabet dan Pideksa. Tetapi mereka tidak menjadi heran,
karena Laksana mampu mengalahkan saudara seperguruan Wira Sabet.
Namun Sampurna, Manggada dan Laksana sempat tertawa ketika mereka
mendengar ceritera Tantri tentang Wisesa yang mencoba untuk
memaksanya mengikutinya ke rumah neneknya. “Sejak saat itu, Wisesa
tidak pernah datang lagi” berkata Tantri. Laksana mengangguk-angguk.
Tiba-tiba wajahnya nampak bersungguh-sungguh. Tetapi ia tidak
mengatakan sesuatu. Namun ternyata untuk mendapatkan kembali kampung
halaman yang sejuk, tenteram dan damai serta sejahtera, masih banyak
sekali yang harus dikerjakan.
Tamat
|