Sayap Sayap Terkembang 01

 

SAYAP-SAYAP YANG TERKEMBANG

 

 SH MINTARJA

 

 SEORANG laki-laki remaja berwajah secerah pagi yang mulai dibayangi oleh cahaya matahari duduk di atas punggung kuda yang berderap disebuahpadang rumput yang tidak terlalu luas.Di tangannya, anak muda remaja itu menggenggam sebatang tombak yang sudah terayun siap dilontarkan.Ketika kudanya berlari mendekati sebuah tiang bambu maka dengan sepenuh renaga remaja itu melemparkan tombaknya.Tombak itu meluncur dengan deras.Dengan tepat tombak itu menyambar sepotong batang pisang yang tertancap di ujung tiang bambu setinggi tubuhnya dibalut dengan sabut kelapa dan melekat erat pada tiang bambu itu.

 

 Ketika kemudian kuda itu berlari menjauh, terdengar tepuk tangan seseorang sambil berseru, "Bagus Risang.Kau benar-benar telah berhasil.Kau memiliki kemampuan bidik yang sangat tinggi.Sambil mengendalikan kuda, kau berhasil mengenai sasaranmu dengan tombakmu."

 

 Kuda itu berlari melingkar sekali.Kemudian berhenti di hadapan seorang yang kelihatan sudah tua meskipun tubuhnya masih tetap tegap dan kuat.

 

 Laki-laki remaja itu meloncat turun sambil tersenyum.Katanya, "Aku mengenainya lagi kakek."

 

 "Ya," jawab orang tua itu "kau sudah mengenainya beberapa kali.Bukan sekadar kebetulan.Aku yakin sekarang, bahwa kau memang dibekali dengan kelebihan itu.Kau mempunyai kemampuan bidik yang sangat tajam.Bukan saja dengan tombak, tetapi dengan senjata yang lain.Kau sudah menunjukkan kemampuan bidikmu dengan mempergunakan anak panah, bahkan bandil dan melempar dengan batu sekalipun."

 

 "Kakek yang mengajari aku," jawab remaja itu.

 

 Orang tua itu menggeleng.Katanya, "Kemampuan ini kau dapatkan bukan sekadar karena latihan-latihan.Tetapi kau sudah membawa bekal kemampuan itu sejak kau dilahirkan.Karena itu bersukurlah atas kurnia itu.Latihan-latihan yang keras yang kau lakukan sekadar meningkatkannya.Seorang yanglain , yang berlatih sebagaimana kau lakukan, belum tentu memiliki ketajaman bidikan seperti kau."

 

 "Kakek selalu memuji," berkata remaja itu.

 

 "Kakek memang memuji.Tetapi bukannya tidak ada dasarnya," berkata orang tua itu sambil menepuk bahunya.

 

 Remaja itu tertawa.Namun kemudian iapun berkata "Aku akan mengulanginya lagi."

 

 "Sudah waktunya kau beristirahat.Marilah, kita kembali ke pondok," berkata orang tua itu.

 

 Laki-laki remaja itu menengadahkan wajahnya ke langit.Dilihatnya matahari sudah mulai memanjat naik. Sinarnya terasa hangat di tubuhnya yang berkeringat.

 

 "Marilah," berkata orang tua itu."Setelah beristirahat kau dapat melakukan tugasmu yang lain."

 

 Remaja itu mengangguk.Ketika kemudiania berpaling, maka dilihatnya tombaknya masih menancap pada sasarannya.Karena itu katanya, "Aku akan mengambil tombakku."

 

 "Marilah, kita langsung kembali," berkata orang tua yang melangkah ke arah kudanya yang terikat pada sebatang pohon perdu.

 

 Keduanyapun kemudian berkuda meninggalkan tempat itu.Remaja itu sempat menyambar tombaknya dan kemudian membawanya meninggalkan sasaran yang sudah beberapa kali dikenainya.

 

 Ketika keduanya sudah ke luar daripadang rumput, maka kuda merekapun mulai berlari.Tetapi tidak begitu cepat.Kaki-kaki kuda itu berderap di atas tanah berbatu padas.Namun yang agaknya tidak terlalu sering dilalui orang.Tetapi dengan demikian justru kebetulan bagi Risang dan Kiai Badra yang menemukan tempat itu untuk berlatih.

 

 Sambil membenahi pakaian mereka, maka kedua ekor kuda itu telah memasuki jalan yang lebih besar.

 

 Di jalur jalan itu mereka mulai bertemu dengan beberapa orang yang berjalan sambil membawa beberapa macam barang.Agaknya merekaakan pergi ke pasar untuk menjualnya.Seorang perempuan membawa barang-barang anyaman dari bambu.Sementara itu, seorang ibu dan gadis remajanya membawa hasil sawahnya.

 

 Di hadapan kedua orang penunggang kuda itu memang terdapat sebuah padukuhan yang agak besar.Di padukuhan itu terdapat sebuah pasar yang cukup ramai, karena pasar itu bukan saja menampung penjual dan pembeli dari padukuhan itu.Tetapi dari seluruh Kademangan menganggap pasar itu sebagai pusat hubungan jual beli, karena di padukuhan-padukuhan lain tidak terdapat pasar seramai itu.Yang ada tidak lebih dari warung-warung kecil yang hanya dipergunakan sepekan sekali bergantian.Pada hari pertama di padukuhan yang ujung, kemudian dihari kedua di padukuhan sebelah dalam.Di hari berikutnya di padukuhanlain dan juga dihari keempat dan kelima.

 

 KETIKA kedua penunggang kuda itu mendekati padukuhan yang agak besar itu, perhatian Risang banyak tertuju pada bulak yang sedang dilewatinya. 

 

 Sebelum mereka meninggalkan bulak yang agak panjang itu, Risang sempat berkata, "Sebetulnya penggunaan tanah ini dapat ditingkatkan kakek."

 

 "Ya," jawab Kiai Badra."Orang-orang Kademangan ini masih belum menyadari, betapa pentingnya untuk bekerja lebih keras.Sebenarnya kemungkinan yang jauh lebih baik dapat dilakukan disini.Tetapi diperlukan orang yang dapat membuka hati orang-orang di Kademangan ini."

 

 Risang mengangguk-angguk.Namunia pun kemudian menarik kendali kudanya.Ia tidak akan memasuki padukuhan di depan dengan membawa tombak di tangan, karena akan menarik perhatian orang banyak.Apalagi jika mereka masuk ke dalam pasar.Agak berbeda dengan senjata yang lebih pendek. Tidak seorang punakan menyapa mereka yang membawa parang atau pedang pendek yang diselipkan di ikat pinggang, karena hal itu telah menjadi kebiasaan.

 

 Kiai Badra pun telah ikut berbelok pula.Jalan itulah memang yang sering mereka lalui.

 

 Kuda-kuda itu pun kemudian berlari semakin cepat ketika sinar matahari menjadi semakin gatal.Mereka melalui beberapa bulak lagi dan akhirnya menuju kesebuah padepokan kecil.

 

 Sebenarnyalah bahwa Risang oleh Kiai Badra telah dibawa kesebuah padepokan yang sepi dan agak terpencil.Padepokan itu bukan padepokan Kiai Badra sebelumnya dan bukan pula padepokan Kiai Soka.Namun ternyata bahwa Risang sudah ditempatkan disebuah padepokan baru yang belum dikenal.

 

 Hal itu dilakukan bukan sekadar karena kecurigaan orang-orang Sembojan terhadap Nyai Wiradana yang muda, yang ternyata tidak terbunuh dalam perang tanding, serta Ki Rangga Gupita, bahwa mereka akan berusaha untuk melenyapkan Risang.Tetapi juga terdorong oleh keinginan orang-orang tua, termasuk ibunya sendiri untuk memberikan bekal yang cukup bagi anak itu.Karena itu, maka setelah Risang menjelang remaja, maka Risang telah dibawa oleh Kiai Badra untuk menyepi.Justru pada saat-saat Tanah Perdikan Sembojan berkembang terus menuju ke tingkat yang lebih tinggi dan mapan.Terutama mengenai kesejahteraan rakyatnya.

 

 Kiai Badra dan Kiai Soka ternyata sependapat bahwa Risang perlu ditempa untuk menjadi seorang anak muda yang baik lahir dan batinnya.Yang kuat dan teguh wadagnya namun juga hatinya.Iaharus mencerminkan seorang anak muda yang sadar akan dirinya dan semua kewajibannya.Terutama kewajibannya terhadap Penciptanya. Dengan landasan kesadarannyaakan kewajibannya terhadap Yang Maha Agung, maka segala tingkah lakunya akan terkendali.

 

 Karena itulah, maka harus diciptakan satu suasana yang sungguh-sungguh bagi Risang, agaria dapat sepenuhnya memusatkan nalar budinya untuk menerima tuntunan yang akan sangat berarti bagi bekal hidupnya kelak.

 

 Untuk memberikan ketenangan kepadanya agaria dapat bekerja keras namun dengan tenang, maka Risang telah dibawa oleh Kiai Badra ke tempat yang terpencil dan tidak banyak dikenal oleh orang lain.Semula Risang memang keberatan untuk berada di tempat yang sepi itu.Namun kakeknya berkata bahwa hal itu diperlukan baginya.

 

 "Kau harus membentuk dirimu," berkata Kiai Badra.

 

 "Bukankah hal itu dapat dilakukan dimana-mana?" bertanya Risang.

 

 Kiai Badra tersenyum.Katanya, "Benar anakmanis .Tetapi bukankah tempat yang kita pergunakan itu juga mempengaruhi keadaan kita? Jika kita berada di tempat yang ramai, maka kitaakan mudah terganggu.Mungkin kesibukan dan keramaian di sekitar kita akan merampas sebagian waktu yang sebenarnya dapat kita pergunakan untuk mendalami sesuatu yang jauh lebih berarti."

 

 Risang memang merasa enggan meninggalkan ibunya di Tanah Perdikan.Risang sadar bahwa ayahnya sudah tidak ada.Iaadalah satu-satunya anak. Jikaia pergi, maka hati ibunya akan menjadi sangat sepi.  

 

 NAMUN ibunya sendiri berkata kepadanya, "Pergilah anakku.Ibu memangakan kesepian.Tetapi ibu mempunyai kesibukan tersendiri disini. Akuakan bekerja keras untuk menjadikan Tanah Perdikan ini tanah yang pantas buat kau kelak. Bukan berarti bahwa ibuakan menutup segala kemungkinan bagimu untuk berbuat lebih baik atas tanah ini.Apa yang dapat ibu lakukan hanyalah sekadar permulaan.Tetapi kelak dengan modal yang ada, kau harus membuat tanah ini jauh lebih baik.Tanah ini harus memiliki kembali kebesaran kakekmu, Ki Gede Sembojan. Karena kebesaran tanah ini harus surut pada saat ayahmu memerintah atasnama kakekmu yang terbunuh.

 

 Setiap orang memang mempunyai kekurangan.Ayahmu kurang tekun mempelajari ilmu, baik kanuragan maupun pengetahuan tentang pemerintahan.Jadikan itu perbandingan dengan masa-masa yangakan kau jalani.Sembojan harus menjadi semakin besar.Bukan semakin surut."

 Risang yang remaja itu mengertiapa yang dikatakan oleh ibunya. Karena itu, makaia pun kemudian tidak menolak mengikut cicitnya ke tempat yang dianggapnya terpencil dan sepi.

 

 Namun di tempat itu Risang telah menempa diri untuk menjadi seorang yang siap mengarungi gejolak kehidupan.Apalagi jikaia harus menerima kedudukan kakeknya, Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang masih dipangku oleh ibunya itu.

 

 Dalam pada itu, Risang dan Kiai Badra telah memasuki jalan sempit melintasipadang perdu. Namun kemudian memasuki daerah subur yang seakan-akan terpisah dari lingkungan yang lain.

 

 Ditengah-tengah bulak di balikpadang perdu itu terdapat sebuah padepokan kecil yang dihuni oleh hanya beberapa orang.Termasuk Kiai Badra dan Risang.Namun di tempat itu tinggal pula Gandar serta dua orang saudara seperguruan yang ternyata tidak lagi ingin meninggalkan Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung.Keduanya telah sepakat untuk tetap berada bersama anak Sembojan itu, dan tidak kembali ke lingkungan sebelumnya.

 

 Meskipun letak lingkungan itu terpisah olehpadang perdu dari Kademangan terdekat, namun isi dari lingkungan itu mempunyai hubungan yang sangat baik dengan orang-orang Kademangan itu.Bahkan isi dari lingkungan kecil itu telah dianggap sebagai keluarga dari Kademangan terdekat.

 

 Namun bagi orang luar, mereka memiliki pengenalan yang berbeda dari yang sebenarnya.Tidak seorang pun dari isi Kademangan itu yang tahu bahwa penghuni lingkungan kecil yang terpencil itu adalah orang-orang Sembojan.

 

 Orang-orang Kademangan Bibis yang bersebelahan dengan Kademangan Ngadiraja ditepi sungai Lorog itu, mengenal para penghuni lingkungan yang agak terpisah itu sebagai orang-orang dari sebuah perguruan yang memisahkan diri dari induknya, untuk kemudian membangun sebuah padepokan sendiri.

 

 Sebenarnyalah bahwa isi dari lingkungan kecil itu memang memberikan kesan yang demikian kepada orang-orang bahkan juga kepada Ki Demang Bibis.Kepada para penguhuni Kademangan yang masih belum berkembang itu, Kiai Badra menyebut dirinya dan para penghuni dari lingkungan kecil yang terpisah itu sebagai orang-orang yang tidak puas dengan arahan yang diberikan oleh pimpinan padepokannya.

 

 Ketika untuk pertama kalinya Ki Demang datang mengunjungi lingkungan kecilnya itu Kiai Badra berkata, "Sebenarnyalah bahwa kami yang harus datang menghadap Ki Demang untuk mohon ijin membuka sebuah padepokan kecil di tepi Kali Lorog ini."

 

 "Ki Sanak," berkata Ki Demang Bibis."Kami tidak berkeberatan Ki Sanak membuka hutan kecil ini dan membuat sebuah padepokan. Tetapi Ki Sanak tidak dapatsama sekali melepaskan diri dari kehidupan Kademangan Bibis, karena hutan ini terletak dekat sekali dengan kehidupan yang sudah lebih tua.Yaitu Kademangan Bibis itu.Bahkan sebagian orang-orang Bibis menganggap bahwa hutan ini termasuk daerah wewengkon Bibis."

 

 "Kami mohon maaf Ki Demang," berkata Kiai Badra yang menyebut dirinya dengannama lain."Kami tidak mengetahuinya, sehingga kami telah membuka hutan ini dan membuat satu lingkungan kehidupan yang baru."

 

 .SEBENARNYA yang Ki Sanak lakukan itu menguntungkan bagi Kademangan Bibis.Kami memang sudah merencanakan untuk memperluas Kademangan ini.Sementara itu, hutan kecil ini memang merupakan tanah cadangan yang sangat baik dan subur," berkata Ki Demang. 

 

 "Ki Demang," berkata Kiai Badra."Kami akan melakukan semua pesan Ki Demang.Kami akan senang sekali jika kami kemudian dapat menjadi keluarga Kademangan Bibis."

 

 "Tetapi Ki Sanak ini berasal darimana?" bertanya Ki Demang.

 

 Kiai Badra pun mulai membuat sebuah cerita tentang asal usul dari isi padepokan itu.Dikatakannya bahwa mereka telah memisahkan diri dari perguruan induknya, ketika mereka menyadari bahwa perguruan induknya mulai bergeser dari kemurniannya.

 

 "Aku sudah tua Ki Demang," berkata Kiai Badra."Jika aku berbuat tidak baik menurut penilaian sesama, apalagi menurut penilaian Yang Maha Agung, maka aku tidak akan mempunyai kesempatan untuk memperbaikinya.Seharusnya orang-orang tua seumurku merasa semakin dekat dengan sumber hidupnya itu.Bukan malahan menjauhi jalan yang digariskannya.Karena itu Ki Demang, aku telah memisahkan diri, membuat sebuah lingkungan kehidupan kecil ini untuk mendapatkan ketentraman.Di samping itu aku masih tetap mengembangkan ilmu yang aku dapat dari perguruanku yang lama, meskipun dengan tujuan yang kemudian agak berbeda."

 

 Ki Demang mengangguk-angguk.Sementara itu Kiai Badra memang merasa bahwaia telah berbohong kepada Ki Demang yang baik itu.Tetapi Kiai Badra berkata di dalam hatinya, "Maksudku baik. Aku dan orang-orang di lingkungan ini tidakakan berbuat buruk, apalagi berbuat jahat.Jika kelak kami dapat membuktikannya, maka Ki Demang akan berterima kasih kepada kami."

 

 Sebenarnyalah bahwa hubungan antara Ki Demang Bibis dan kehidupan di lingkungan kecil itu berlangsung baik.Bahkan Ki Demang merasa heran melihat orang-orang yang bekerja keras untuk membangun lingkungannya yang baru.Mereka membuka hutan kecil namun lebat itu dengan tanpa mengenal lelah.Sementara itu, mereka telah mengusahakan pula ujung daripadang perdu itu untuk dijadikan tanah garapan.Tetapi agaknya tanah dibekas hutan kecil itu lebih subur dari tanah bekas hutan perdu disebelahnya.

 

 Meskipun tidak terlalu luas, tetapi akhirnya Kiai Badra dan beberapa orang yang bersamanya berhasil mendapatkan tanah garapan yang untuk sementara dapat dipergunakannya, namun yang masih selalu dikembangkannya.Bahkan kemudian atas ijin Ki Demang, beberapa anak-anak muda melibatkan diri pula.Mereka yang semula terdesak oleh kehidupan karena tanah garapannya kurang baik dan tidak mendapat air, telah menyatakan diri, untuk ikut serta membuka hutan itu.

 

 "Tetapi kita tidak menentukan satu lingkungan keluarga yang khusus," berkata Kiai Badra kepada anak-anak muda itu."Kami akan merupakan satu keluarga dengangaya hidup sebuah padepokan."

 

 "Kami akan ikut di dalamnya," jawab seorang anak muda."Aku sendiri tidak akan mempunyai harapan lagi di masa depan, karena tanah ayahku tidak terlalu luas, sementara itu saudaraku semua berjumlah sepuluh orang."

 

 Kiai Badra memang tidak menolak.Anak-anak muda itu diterimanya ke dalam keluarga padepokan yang dibangunnya.Sehingga dengan demikian, maka Kiai Badra telah mendapat kawan yang kemudian telah menyatakan diri menjadi cantrik pada padepokan kecil itu.

 

 Sejak semula Kiai Badra telah mengajar para cantrik itu untuk bekerja keras.Anak-anak muda itu tidak lagi sempat malas-malasan sebagaimana sering mereka lakukan di rumah mereka.Bukan karena mereka memang pada dasarnya malas, tetapi karena tidak ada yang dapat mereka kerjakan, sementara pikiran mereka kurang hidup untuk menciptakan kerja yang berarti.

 

 Tetapi di padepokan itu, kerja bagaikan tidak ada habisnya.Sejak mereka bangun pagi-pagi benar, sampai saatnya matahariakan terbenam. Namun karena mereka mengerjakan dengan kesadaranakan arti kerja mereka itu sendiri, maka mereka melakukannya dengan senang hati.

 

 AKHIRNYA anak-anak muda itu melihat juga hasil kerja mereka.Sawah yang subur, air yang mengalir dengan teratur dan padepokan yang hijau dan sejuk.Sebuah kolam yang menyimpan ikan-ikan besar dari berbagai jenis.Ternak yang berkeliaran dan beberapa ekor lembu dan kuda di kandang.

 

 Dengan bangga anak-anak muda itu bercerita kepada keluarga mereka di Kademangan Bibis pada saat-saat mereka berkunjung.Anak muda yang mempunyai sepuluh orang saudara berkata kepada ayah dan ibunya, "Agar warisan ayah dan ibu tidak terbagi menjadi bagian-bagian yang sempit dan tidak berarti, maka siapakah di antara saudara-saudaraku yang ingin bersamaku hidup di padepokan itu?

 

 Di padepokan itu kita dapat bekerja dan menuntut ilmu.Pada saatnya kelak kitaakan mendapat bekal yang pantas untuk menempuh satu kehidupan yang lebih baik dari berjejal-jejal di lingkungan yang sempit ini.Pemimpin padepkokan kami mempunyai rencana yang sangat baik, yang telah disetujui oleh Ki Demang Bibis. Kamiakan memperluas tanah persawahan dengan mengurangi luas hutan. Kelak, jika kami berkeluarga, maka kamiakan mendapat bagian kami.Tanah garapan bagi keluarga kami."

 

 Hal itu memang sangat menarik.Adiknya dengan serta merta menyatakan diri untuk ikut bersama kakaknya itu.Mereka mempunai harapan yang lebih baik bagi masa depan mereka. Karena tanah garapan ayah mereka tidakakan banyak memberikan bekal hidup bagi mereka.

 

 Tetapi hanya mereka yang mau bekerja keras sajalah yang kerasan tinggal di padepokan itu.Mereka yang memang pada dasarnya malas bekerja,akan merasa tersiksa dan tidak akan tahan tinggal di padepokan kecil itu.

 

 Demikianlah, beberapa saat kemudian, Risang dan Kiai Badra telah sampai ke pintu gerbang padepokannya.Sementara itu para cantrik telah bekerja dengan penuh kesungguhan di padepokan.Sedangkan yanglain telah pergi ke sawah dan pategalan.

 

 Risang dan Kiai Badra itu pun langsung pergi ke kandang.Setelah memasukkan kuda mereka, maka keduanya pun bergantian pergi ke pekiwan dan berbenah diri.

 

 "Apa yang telah kau capai dengan latihan-latihanmu?" bertanya Gandar kepada Risang.

 

 Risang tersenyum.Katanya, "Bertanyalah kepada kakek."

 

 Gandar pun tersenyum.Sambil berpaling kepada Kiai Badraia bertanya, "Apakah sudah ada kemajuan?"

 

 "Sudah Sindura," jawab Kiai Badra.

 

 Gandar tersenyum.Setiap kaliia mendengar nama barunya tersebut, ia masih merasa asing. Tetapi seperti yang lain, makaia telah mengenakan nama itu untuk tidak segera dikenali bahwa ia adalah Gandar orang dari Sembojan.

 

 Kiai Badra dan Risang pun merasa asing juga seperti Gandar jika mereka disebutnama baru mereka.Demikian pula Sambi Wulung dan Jati Wulung.Dengan nama-nama baru mereka, maka mereka merasa lebih tenang bekerja di padepokan itu.

 

 Nama itu terlalu baik," desis Gandar."Apakah ada nama yang lebih sederhana?" "Kenapa baru sekarang?" sahut Kiai Badra."Orang-orang Bibis sudah telanjur menyebutmu sebagai Sindura. 

 

 Menurut pendapatku nama itu sesuai dengan ukuran tubuhmu yang besar, karena menurut gambaranku, nama Sindura adalah nama seorang yang bertubuh kekar seperti kau."

 

 "Mungkin tubuhku yang seperti kerbau ini pantas dinamakan Sindura, tetapi bagaimana dengan wajahku yang jelek ini?" bertanya Gandar.

 

 "Kau selalu merasa jelek.Siapa bilang kau jelek?" bertanya Risang."Jangan berkata begitu," desis Gandar.

 

 "Sudahlah," berkata Kiai Badra."Sesuai atau tidak sesuai, pergunakan nama itu.Yang penting karenanama itu sudah telanjur kau pergunakan. Itu saja, sebagaimana orang-orang Bibis memanggil Risang dengannama Barata.Bukankah nama-nama itu hanya kalian pergunakan untuk sementara?"

 

 "Dan sebagaimana kakek dipanggil Kiai Tapis?" sahut Risang.Namun tiba-tibaia bertanya kepada Gandar."He, kau tahu artinya tapis?Tapis itu berarti habis sama sekali."

 

 Gandar mengerutkan keningnya.Namunia pun kemudian tersenyum sambil memandang Kiai Badra yang juga tersenyum.

 

 "Kek," tiba-tiba Risang bertanya."Apa sebenarnya yang habis itu?""Tapis dapat berarti habis, tetapi dapat juga berarti seluruhnya.Tidak ada yang tersisa.Nah, yang seluruhnya dan tidak ada yang tersisa adalah ilmuku.Ilmuku akan kuberikan kepadamu sampai tapis," jawab Kiai Badra.

 

 Tetapi Risang tertawa.Katanya, "Tentu baru sekarang kakek memikirkannya.Ketika kakek memilih nama itu, tentu tidak terpikir akan artinya."

 

 Kiai Badra yang disebut Kiai Tapis itu tertawa.Gandar pun tertawa juga.Demikian juga Risang.

 

 "Sudahlah," berkata Kiai Badra kemudian."Sekarang beristirahatlah.Kemudian kauakan melakukan tugasmu yang lain."

 

 "Baik kek," jawab Risang.

 

 Sejenak kemudian Risang pun pergi ke dapur.Seorang yang bertugas di dapur ternyata sedang menyenduk nasi hangat ke dalam ceting bambu.

 

 "Ha, nasih hangat," berkata Risang yang disebut Barata oleh para cantrik dan orang-orang Bibis.

 

 "Apakah kau sudah lapar Barata?" bertanya cantrik yang sedang menyenduk nasi itu.

 

 "Sudah.Aku baru pulang daripadang rumput," jawab Barata.

 

 "Kau berlatih naik kuda?" bertanya cantrik itu.

 

 "Bukan hanya naik kuda, tetapi naik kuda sambil melontarkan tombak," jawab Barata."Memang menyenangkan sekail.Tetapi juga melelahkan."

 

 "Dan membuatmu cepat lapar," sahut cantrik itu.

 

 Barata tertawa, katanya, "Ya.Agaknya kau tanggap sekali.dantepat pada waktunya nasi pun masak."

 

 Cantrik itu tertawa.Lalu katanya, "Nah, jika demikian makanlah.Di dalam kuali itu terdapar sayur dan lembayung.Tidak terlalu pedas sebagaimaka kau sukai."

 

 "Terima kasih," jawab Barata."Tentu enak sekali, justru perutku sedang lapar sekali."

 

 Barata pun kemudian telah mengambil nasi dan sayur lembayung.Di dalam tenong yang terletak di paga terdapat telur kamal.Barata pun telah mengambil sebuah dan mengupasinya.

 

 "Apakah yanglain belum makan?" bertanya Barata.

 

 "Belum.Hari ini kau adalah orang yang pertama," jawab cantrik itu.

 

 "O, tetapi bukankah tidak setiap hari," bertanya Barata.

 

 Cantrik itu tersenyum.Kemudiania pun telah meletakkan nasi di paga itu pula.

 

 Barata tidak terlalu lama berada di dapur.Iapun kemudian melangkah ke pintu sambil berkata kepada cantrik yang bertugas di dapur itu, "Terima kasih.Aku akan pergi ke sawah."

 

 "Kau makan terlalu sedikit," berkata cantrik itu.

 

 "Ah, jangan begitu.Itu pun sebenarnya aku belum cukup kenyang.Bukankah biasanya aku makan tiga mangkuk penuh?" jawab Barata.

 

 Cantri itu tertawa berkepanjangan.Sementara Barata telah ke luar dari dapur

 

 ADALAH menjadi kebiasaan Risang yang disebut Barata itu untuk pergi ke sawah bersama Gandar.Bersama beberapa orang cantrik yang terdiri dari anak-anak muda Bibis yang bergabung dengan padepokan itu, Barata mengerjakan sawahnya dengan tekun.Barata dan Gandar yang kemudian bernama Sindura itu tidak sekadar mengerjakan sawah sebagaimana harus dikerjakan.Tetapi mereka berpikir bagaimana mereka mengembangkan sawahnya.Peningkatan hasil sawah tidak semata-mata karena usaha untuk memperbaiki mutu tanamannya.Dengan mengairi air secukupnya maka tanaman pun menjadi subur.Rabuk merupakancara yang baik untuk meningkatkan hasil panen. 

 

 Karena itu, maka atas izin Ki Demang Bibis dan Ki Demang dari Ngadiraja, maka Barata telah membuat bendungan di Kali Lorog.Dengan bendungan itu, air dapat naik dan mengalir ke parit-parit yang menusuk tanah persawahan sampai ke ujung-ujungnya.Dengan demikian maka hampir seluruh tanah persawahan yang digarap oleh penghuni padepokan kecil di Kademangan Bibis itu telah dapat dicapai oleh air Kali Lorog.

 

 Dengan demikian, maka padepokan kecil itu benar-benar telah dikelilingi sawah yang hijau subur disepanjang tahun.Sedangkan di bagian lain terdapat pategalan yang memberikan berbagai jenis buah-buahan.

 

 Orang-orang Bibis yang menyaksikan tanaman orang-orang padepokan di sawah garapan mereka rasa-rasanya menjadi ingin juga memiliki.Karena itu, beberapa orang tua yang anak-anaknya telah berada di padepokan itu selalu bertanya kepada anak-anaknya itu jika mereka menengok keluarganya di rumah.Bagaimanakah caranya membuat sawah menjadi demikian suburnya.Padahal tanah yang digarap adalah sama-sama tanah di Kademangan Bibis.

 

 Bahkan Ki Demang Bibis pun setiap kali melihat-lihat padepokan itu selalu disentuh oleh satu keinginan, bahwa sawah di Kademangan Bibis yanglain pun sebaiknya dapat digarap seperti sawah orang-orang padepokan itu.

 

 "Kami akan membantu Ki Demang," berkata Sindura kepada Ki Demang."Anak-anak Bibis sendiri yang ada disini sudah memiliki pengetahuan yang cukup untuk dapat dikembangkan di luar lingkungan padepokan."

 

 "Baiklah," berkata Ki Demang."Jika pada suatu saat kalian sudah merasa cukup dan tidak lagi terlalu banyak pekerjaan yang harus kalian lakukan, kami orang-orang Kademangan Bibis akan minta tolong kepada kalian, untuk membantu mengembangkan tanah persawahan dan pategalan di Bibis."

 

 "Tentu Ki Demang," jawab Sindura."Jika Ki Demang memerlukan, sejak hari ini pun kami dapat membantu Ki Demang, meskipun sangat terbatas.Tetapi kita dapat memulainya."

 

 "Kami tentu akan sangat bersenang hati," jawab Ki Demang.

 

 Sindura telah melaporkan hal itu kepada Kiai Tapis.Ternyata Kiai Tapis pun sependapat. Agar hubungan padepokan itu dengan Kademangan Bibis semakin erat, serta untuk melatih Barata berbuat sesuatu bagi satu lingkungan, makaia pun memanggilnya dan berkata, "Barata.Ki Demang Bibis memerlukan bantuan kita.Bukankah kita melihat, bahwa daerah persawahan orang-orang Bibis sebenarnya masih mampu ditingkatkan?Nah, usahakan untuk meningkatkan tanah persawahan dan pategalan mereka."

 

 Barata yang remaja itu termangu-mangu.Namun Kiai Tapis berkata selanjutnya."Tentu bukan kau sendiri.Tetapi Sinduraakan menemaninya. Pamanmu Sambi Wulung dan Jati Wulung pun sekali-kaliakan dapat membantumu.Tetapi keduanya aku perlukan untuk mengawasi kerja para cantrik yang masih belum siap benar untuk dilepaskan."

 

 "Dan aku akan terpisah dari kerja di padepokan ini?' bertanya Barata.

 

 "Tentu tidak," jawab Kiai Tapis."Kau tidak memerlukan banyak waktu bagi Bibis.Ki Demang tidak terlalu tergesa-gesa.Setapak demi setapak sudah memadai asal perubahan-perubahan itu dapat kau mulai di Kademangan Bibis.Ki Demang tidak menuntut perubahan dengan serta merta.Karena itu, kau dan Sindura tidak perlu mempergunakan waktumu seluruhnya bagi Bibis."

 

 BARATA mengangguk-angguk.Sementara itu Kiai tapis berkata selanjutnya."yangpenting Barata, kau harus banyak bergaul.Kau tidak boleh terpisah dan pergaulan bebas. Jika kau hanya berada di padepokan terpencil ini saja, maka kauakan mempunyai sikap dan pandangan hidup yang sempit.Namun ingat, sebagaimana aku harus berpesan kepada Gandar, jangan memberikan kesan sesuatu tentang Sembojan.Untuk sementara kau harus tetap terpisah dari Tanah Perdikan itu.Kita berada di tempat yang tidak terlalu jauh dari Tanah Perdikan Sembojan meskipun rasa-rasanya kita memang sudah terpisah dari Tanah Perdikan itu." 

 

 "Baik kek," jawab Barata."Aku akan melakukannya.Mudah-mudahan aku berhasil dan memberikan kesan yang baik kepada Ki Demang."

 

 "Sindura akan selalu memberimu petunjuk-petunjuk yang kau perlukan," berkata Kiai Tapis.

 

 Demikianlah, maka hubungan antara Bibis dan padepokan itu pun menjadi semakin dekat.Barata dan Sindura menjadi sering datang ke Bibis untuk memberi beberapa petunjuk untuk meningkatkan kesejahteraan orang-orang Bibis.

 

 Beberapa orang bebahu di Kademangan Bibis dengan sungguh-sungguh berusaha untuk melakukan petunjuk-petunjuk Sindura dan Barata, yang mereka nilai telah berhasil.Mereka pun menggerakkan orang-orang Bibis untuk lebih banyak memperhatikan saluran-saluran air.Parit-parit yang kering harus dibersihkan, sehingga air yang naik dari Kali Lorogakan dapat mencapai lingkungan yang semakin luas.

 

 "Jangan malas mempergunakan rabuk," berkata seorang bebahu."Kita mempunyai ternak di kandang.Jangan disia-siakan kotorannya."

 

 Ternyata bahwa atas kerja keras Ki Demang dan para bebahu, maka orang-orang Bibis pun seakan-akan mulai bangun.Mereka mulai melakukan kerja yang sebelumnya tidak pernah mereka lakukan.Meskipun kerja itu terasa berat, tetapi mereka telah melihat keberhasilan orang-orang padepokan yang jumlahnya tidak terlalu banyak.

 

 Anak-anak muda yang berasal dari Bibis pun mendapat kesempatan pula untuk membantu melakukan kerja yang kadang-kadang harus ditangani oleh orang banyak.Semula tidak terpikir oleh orang-orang Bibis untuk memperbaiki bendungan yang sudah banyak yang rusak, sehingga tidak cukup banyak air yang dapat naik.Baru ketika mereka melihat bendungan yang dibuat oleh orang-orang padepokan kecil itu, maka mereka menyadari betapa pentingnya air.Tetapi mereka pun tidak segera melakukan sesuatu.Sehingga akhirnya Sindura berhasil menggelitik Ki Demang untuk mengerahkan orang-orang Bibis memperbaiki bendungan.

 

 "Jika dilakukan oleh orang banyak, maka kerja itu tidak akan terasa berat, berkata Sindura. "Ketika kami membuat bendungan, maka kami memang merasa betapa kerja itu merupakan kerja yang berat.Untuk waktu yang cukup lama sebelumnya, kami menyiapkan brunjung-brunjung bambu.Kemudian kami isi dengan batu dan kami letakkan menyilang aliran Kali Lorog.Di antara batu-batu itu harus kami isi dengan bebatuan yang lebih kecil, sangkrah dan tanah."

 

 "Kami juga melakukannya seperti itu," jawab salah seorang bebahu.

 

 "Dahulu," desis Sindura, "Tetapi berapa tahun berselang. Kini bendungan itu sudah tidak banyak dapat menahan air danapa lagi menaikkannya ke parit-parit.Karena itu, bendungan itu harus segera diperbaiki."

 

 Namun ternyata bahwa usaha memperbaiki bendungan itu mendapat tanggapan yang baik sekali dari orang-orang Bibis, sehingga dengan demikian maka kerja itu benar-benar menjadi terasa ringan.Beberapa orang dengan suka rela telah membuat brunjung-brunjung di rumah masing-masing, yang kemudian telah mereka bawa ke tepian.Beramai-ramai orang-orang Bibis mengisi brunjung itu dengan batu.

 

 Bersamaan dengan kerja memperbaiki bendungan, maka orang-orang Bibis yanglain telah memperbaiki parit-parit yang sudah banyak yang rusak pula.Parit-parit yang sudah lama tidak dialiri air dan seakan-akan tidak berguna lagi. Jika kelak bendungan itu selesai, maka parit-parit itu tentuakan mengalir lagi

 

 DENGAN demikian maka orang-orang Bibis pun telah bekerja keras sebagaimana diharapkan oleh Barata dan Sindura.Meskipun kerja mereka tidak seberat kerja orang-orang padepokan, namun rasa-rasanya Kademangan Bibis itu menjadi hidup. 

 

 Ketika bendungan kemudian telah selesai diperbaiki dan air pun sudah naik, serta parit-parit pun telah bersih dan siap untuk mengalirkan air dari bendungan, maka Bibis telah mengadakan upacara kecil di bendungan.Parit yang sudah baik itu telah ditutup untuk sementara.Pada upacara yang diadakan itu, maka tunggul yang menyambung parit yang menampung air yang naik ke Kali Lorog ituakan dibuka, sehingga air seakan-akan mulai masuk mengalir ke dalam parit itu.

 

 Demikian gembiranya orang-orang Bibis, maka pada upacara kecil itu telah dipasang janur kuning dibendungan dan terutama di atas parit.Ki Demangakan mengayunkan cangkul pertama kali untuk membuka tanggul yang menyumbat parit itu.

 

 Yang hadir dari padepokan bukan saja beberapa anak muda Bibis sendiri.Tetapi juga Barata dan Sindura.Bahkan Kiai Tapis pun telah diminta untuk menyaksikan kegembiraan orang-orang Bibis.

 

 "Jika upacara nanti selesai, kami akan makan bersama," berkata Ki Demang kepada tamu-tamunya.Ki Demang telah menyediakan tiga jodang makanan serta nasi wadug dan ingkung ayam.Sementara itu beberapa orang yanglain , ternyata telah membawa ancak berisi nasi dan lauk-pauknya pula untuk dimakan bersama-sama di bendungan yang baru itu.

 

 Namun persoalan yang pertama mulai timbul bagi orang-orang padepokan.Justru pada saat mereka berusaha untuk membantu meningkatkan kesejahteraan hidup orang-orang Bibis.

 

 Ternyata bahwa tidak semua orang Bibis merasa senang dengan hadirnya bendungan baru itu.Yang penting sebenarnya bagi mereka bukan bendungan itu sendiri.Tetapi bahwa orang-orang Bibis seakan-akan telah memalingkan wajah mereka kepada orang-orang yang berada di padepokan kecil itu.

 

 Ketika beberapa orang anak muda memasuki padepokan itu, sebenarnya beberapa orang sudah merasa tidak senang.Apalagi ketika orang-orang padepokan itu mulai menanamkan pengaruhnya di Kademangan Bibis.

 

 Lowar seorang anak muda yang termasuk di antara mereka yang tidak senang dengan hadirnya pengaruh baru itu telah menemui seorang laki-laki yang dianggap gegedug disebuah padukuhan di lingkungan Kademangan Bibis.Laki-laki yang bertubuh tinggi besar berjambang dan berkumis lebat itu pun termasuk orang yang menentang kehadiran orang-orang padepokan di Kademangan itu.

 

 "Ki Demang telah memanggil penyakit di Kademangan ini," berkata Lowar.Lalu, "Paman, sebaiknya kita berbuat sesuatu agar orang-orang padepokan itu tidak merasa diri mereka orang-orang yang dapat berbuat apa saja di Kademangan orang."

 

 Laki-laki yang garang itu mengangguk-angguk.Namun kemudian katanya, "Kita akan membuat bukan saja mereka menjadi jera.Tetapi juga Ki Demang.Kita harus menunjukkan satu sikap yang meyakinkan, bahwa orang-orang itu tidak kita perlukan disini."

 

 "Apa yang akan paman lakukan?" bertanya Lowar.

 

 "Kita pergi ke bendungan.Kita tunjukkan bahwa kita tidak senang atas kehadirannya orang-orang padepokan itu," jawab laki-laki berjambang itu.

 

 "Apa yang akan kita lakukan?Berdua saja?" bertanya Lowar.

 

 "Jangan bodoh.Panggil pamanmu Gina dan Sableng.Katakan kepada mereka, bahwa mereka dipanggil paman Truna.Ajak anak laki-laki mereka masing-masing," berkata laki-laki yang bernama Truna itu.

 

 Lowar mengangguk-angguk.Dengan tergesa-gesaia pun kemudian menghubungi Gina dan Sableng.Dua laki-laki yang dianggap gegedug pula seperti Truna.

 

 Ternyata niat Truna itu sejalan dengan pikiran Gina dan Sableng.Dengan serta merta mereka menerima tawaran itu.Mereka kemudian telah pergi ke rumah Truna membawa anak laki-laki masing-masing

 

 MEREKA ternyata tidak mempunyai banyak waktu.Ketika mereka berkumpul di rumah Truna, maka Truna pun telah memberikan beberapa pesan kepada mereka. 

 

 "Kita akan menunjukkan sikap bahwa kita tidak senang terhadap orang-orang padepokan itu.Apakah mereka mengira, tanpa mereka kita tidak dapat membuat bendungan seperti itu?" geram Truna.

 

 "Aku sependapat," jawab Gina.Tetapiia pun bertanya, "Tetapi kakang Truna, bukankah nyatanya selama ini kita tidak memperbaiki bendungan itu?"

 

 "Dia anak setan," bentak Truna."Jadi kau sudah bersikap lain?"

 

 "Tidak.Aku tidakakan berubah sikap.Tetapi sekadar pertanyaan untuk menguji diri," jawab Gina.

 

 "Persetan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu," geram Sableng pula."Marilah kita pergi.Aku ingin melihat wajah orang-orang padepokan.Aku memang sudah pernah bertemu dengan mereka di jalan-jalan.Tetapi aku masih belum mengenal mereka dengan baik, karena aku tidak pernah memperhatikan mereka."

 

 Gina tertawa.Katanya, "Kita selalu ketakutan untuk melihat hal yang sebenarnya.Tetapi aku tidak.Aku sudah dengan sengaja menentang kebenaran sekalipun jika itu aku kehendaki.Aku tidak peduli, apakah yang kita lakukan itu salah atau tidak.Karena itu meskipun aku melihat kebenaran, akusama sekali tidak goyah.Tekad yang ada di dalam dadaku adalah menentang sesuatu, meskipun itu kebenaran."

 

 "Kau memang anak demit.Kau kira aku takut," geram Truna, "Tetapi kau tidak usah banyak mulut.Kita pergi ke sungai.Kita ikut makan.Tetapi kesan kita jelas.Jika orang-orang mencegah kita, maka kita akan mempergunakan kekerasan."

 

 "Nah, begitu," berkata Gina."Bendungan itu memang satu kenyataan.Orang-orang padepokan telah dibantu orang-orang Bibis untuk memperbaiki bendungan yang selama ini telantar.Kerja itu memang berguna.Tetapi kitaakan merusakkan suasana itu.Karena kita tidak senang melihat pengaruh orang-orang padepokan itu mulai mencengkam Kademangan Bibis.Nah, marilah hal itu kita lakukan dengan sadar, karena kita tidak mau disebut orang-orang yang tidak dapat melihat sesuatu yang berarti.Tetapi yang berarti itu tidak kita kehendaki."

 

 "Cukup," bentak Sableng."Kau ikut atau tidak."Gina tertawa, katanya, "Marilah.Kita pergi ke bendungan."

 

 Ketiga orang gegedug itu pun kemudian telah pergi ke bendungan diikuti oleh Lowar dan dua orang anak muda, anak Gina dan anak Sableng.Anak-anak gegedug itu pun telah nampak bersikap sebagaimana ayah mereka.Di antara anak-anak muda, maka anak Gina dan Sableng itu pun ditakuti oleh kawan-kawan mereka, karena keduanya memiliki kelebihan dari anak-anak muda yang lain.

 

 Sementara itu, di bendungan Ki Demang sedang memberikan sesorah kepada orang-orang Bibis yang memerlukan pergi untuk menyaksikan kegembiraan mereka yang telah berhasil memperbaiki bendungan itu.Meskipun air yang naik belum dapat mencapai tanah persawahan di seluruh Kademangan, tetapi beberapa padukuhan telah dapat memanfaatkan air.

 

 BEBERAPA orang yang berdiri di bagian belakang kerumunan orang-orang Bibis di bendungan itu mulai menjadi berdebar-debar ketika mereka melihat tiga orang gegedug dari Kademangan Bibis itu datang ke bendungan.Mereka mulai mencemaskan keramaian itu.Karena orang-orang Bibis sudah mengenal dengan baik, siapakah mereka bertiga.Orang-orang yang berbuat sesuka hati mereka sendiri. Namun karena mereka adalah orang-orang yang memiliki kelebihan, maka seakan-akanapa saja yang mereka lakukan tidak terhalangi. 

 

 Ki Demang yang sedang sesorah itu pun melihat kehadiran mereka pula.Karena itu, maka hatinya pun menjadi berdebar-debar pula. Jika orang-orang itu membuat keributan, maka keramaian ituakan bubar dengan kesan yang buruk.

 

 Karena itu, demikian Ki Demang selesai dengan sesorahnya, yang mengharap rakyat Bibis dapat memanfaatkan bendungan itu sebaik-baiknya dan memelihara sebagaimana milik mereka sendiri, makaia pun telah menggamit Ki Jagabaya.

 

 "Orang-orang itu ada pula disini," desis Ki Demang.

 

 "Siapa?" bertanya Ki Jagabaya.

 

 "Gegedug itu," sahut Ki Demang.

 

 Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam.Tetapi kehadiran orang-orang itu memang memberikan pertanda kurang baik.Karena itu, maka Ki Jagabaya pun telah memanggil dua orang anak muda pembantunya.Katanya kepada anak-anak muda itu, "Awasi mereka."

 

 "Tetapi kami tidak berani berbuat apa-apa atas mereka," jawab anak-anak muda itu.

 

 "Awasi saja," berkata Ki Jagabaya."Jika mereka berbuat sesuatu, laporkan kepada kami."

 

 "Lalu kitaakan berbuat apa?" bertanya salah seorang dari anak-anak muda itu.

 

 Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam.Namun kemudian katanya, "Sudahlah.Awasi saja mereka.Mudah-mudahan mereka hanya ingin menonton."

 

 Kedua anak muda itu tidak menjawab.Keduanya pun kemudian bergeser meninggalkan Ki Jagabaya yang duduk di atas tanggul disebelah bendungan bersama beberapa orang bebahu dan orang-orang dari padepokan.Sebentar lagi mereka yang berada di bendungan ituakan menyaksikan, bagiamana tanggul penyumbat parit induk akan dibuka. Ki Demangakan mengayunkan cangkul untuk pertama kalinya.

 

 Kedua orang anak muda itusama sekali tidak berani mendekati ketiga orang gegedug itu.Namun agaknya ketiga gegedug itu tidak berbuat apa-apa. Mereka hanya berdiri saja di antara orang-orang Bibis yang lain.

 

 Namun orang-orang yang menyadari, bahwa mereka berdiri di dekat ketiga gegedug itu pun berusaha untuk bergeser sedikit demi sedikit menjauhinya.

 

 Agaknya Truna memang masih belum ingin berbuat sesuatu.Mereka memang menunggu untuk dapat ikut makan bersama, karena agaknya Ki Demang telah membawa jodang.Pada saat itulah merekaakan berbuat sesuatu untuk menunjukkan rasa tidak senang mereka atas pengaruh orang-orang padepokan yang semakin dalam di Kademangan Bibis.

 

 Karena itu, maka acara-acara berlangsung tanpa terganggu.Juga ketika Ki Demang mengayunkan cangkul pertama untuk membuka tanggul yang menyumbat parit induk.

 

 Tepuk tangan yang gemuruh menyambut ayunan cangkul Ki Demang itu.Kemudian disusul oleh beberapa orang anak muda yang membuka tanggul, sehingga akhirnya air telah mengalir dan memasuki parit induk itu.

 

 Bukan saja sorak sorai yang gemuruh tetapi hati rakyat Bibis itu benar-benar tersentuh oleh peristiwa itu.Bendungan itu memang telah dibuat pula oleh orang-orang Bibis.Tetapi sudah lama sekali bendungan itu tidak mendapat perhatian mereka.Bertahun-tahun, sehingga air yang mengalir ke parit induk itu pun menjadi semakin lama semakin sedikit.

 

 Jika kemudian mereka melihat air yang mengalir di parit induk itu kembali sebagaimana saat bendungan itu dibuat, rasa-rasanya jantung orang-orang Bibis itu pun telah terkembang

 

 DALAM pada itu, setelah air mengalir ke parit induk, maka yangakan mereka lakukan kemudian adalah tinggal makan minum bersama-sama untuk menyatakan kegembiraan hati.Ki Demang telah membuka tiga buah jodang yang dibawanya. Sementara itu, orang-orang yang lain telah membawa ancak pula yang isinya untuk dimakan bersama-sama dengan tetangga-tetangganya. 

 

 Ketiga orang gegedug yang berada di bendungan itu pun segera menyusup di antara orang-orang yang duduk sambil menghadapi ancak berisi makanan, nasi dan lauk-pauknya itu.Ketiganya telah melangkah mendekati Ki Demang yang duduk bersama para bebahu dan para tamu dari padepokan.

 

 "Kami ingin mengucapkan selamat Ki Demang," berkata Truna.

 

 Jantung Ki Demang memang berdesir.Namunia pun berkata, "Terima kasih Truna.Marilah.Kita syukuri keberhasilan kita dengan makan bersama."

 

 Truna itu pun kemudian duduk pula bersama Ki Demang dan para bebahu.Demikian pula Gina dan Sableng.Dengan lahapnya mereka ikut makan bersama Ki Demang, para bebahu dan para tamu.Ketiganya hampir tidak berkata sepatah kata pun kecuali menyuapi mulut mereka dengan suapan-suapan yang besar.

 

 Barata memperhatikan ketiga orang itu dengan dada yang berdebaran.Mereka kelihatannya tidak memperhatikan unggah-ungguh yang dianut oleh orang-orang Bibis yang lain.Apalagi dihadapan pemimpinnya dan beberapa orang tamu.

 

 Tetapi karena Ki Demang sendiri dan para bebahu Bibis agaknya tidak berkeberatan atas sikap mereka, maka Barata pun mencoba untuk tidak menghiraukan mereka pula, betapapun hatinya terasa tergelitik karenanya.

 

 Ketikaia sekilas memandang Kiai Tapis, agaknya orang tua itu pun tidak menghiraukan apa yang terjadi.Demikian pula Sindura.

 

 Namun sikap orang-orang itu semakin lama memang semakin menjengkelkan.Ketika mereka sudah kenyang, maka mereka pun mulai menunjukkan sikap yang menantang.

 

 Truna yang memandang Ki Demang yang sudah mencuci tangannya dengan tajamnya, kemudian berdesis, "Ki Demang, apa untungnya Ki Demang membuat keramaian seperti ini?"

 

 Ki Demang mengerutkan keningnya.Ternyata orang-orang itu sudah mulai membuat persoalan.Seperti beberapa kali sudah mereka lakukan jika mereka mempunyai pendapat yang berbeda dengan Ki Demang, maka mereka langsung menyampaikannya dan menuntut perubahan.

 

 Dalam beberapa hal, Ki Demang memang tidak dapat berbuat banyak.Ketiga orang itu, apalagi dengan anak-anak mereka, yang juga nampak berkeliaran di bendungan itu, memang sulit untuk diatasi.Ki Jagabaya yang duduk pula bersama Ki Demang menjadi sangat tegang.

 

 "Apa maksudmu Truna?" bertanya Ki Demang.

 

 "Ki Demang.Bukankah bendungan ini sudah ada sejak lama.Dahulu kitalah yang membuat bendungan ini.Waktu itu aku masih muda.Aku ikut kerja keras membuat brunjung, mengisi batu dan menyilangkannya di Kali Lorog. Kenapa tiba-tiba sekarang Ki Demang menghormati oranglain yang seakan-akan begitu saja mengambil alih kepemimpinan Kademangan Bibis?" geram Truna.

 

 "Benar Ki Demang," berkata Sableng."Seharusnya kita menghormati diri kita sendiri.Kita berbangga bahwa kita mempunyai sebuah bendungan yang kuat dan mampu menaikkan air dan mengalir ke sawah-sawah. Bukan orang lain."

 

 "Ya, memang bukan orang lain," sahut Ki Demang."Kita merayakan kemenangan kita sendiri, bahwa kita telah melakukan kerja yang besar.Kita telah dapat memperbaiki dan memulihkan bendungan itu.Kita yang terbangun dari tidur bertahun-tahun."

 

 "Jangan berpura-pura Ki Demang," berkata Truna."Kita sekarang ini seakan-akan sedang menghormati orang-orang yang bukan keluarga kita sendiri.Orang-orang Bibis sendiri tiba-tiba saja menjadi kagum kepada orang lain yang dianggap berjasa dalam kerja ini.Kenapa orang-orang Bibis tidak menjadi kagum kepada diri sendiri."

 

 YA.Kita mengagumi diri kita sendiri.Karena itu, kita sekarang bersenang-senang untuk itu.Seperti sudah aku katakan, bahwa kita telah memenangkan perjuangan ini.Kita, bukan orang lain," jawab Ki Demang. 

 

 Tiba-tiba saja Gina pun tertawa.Katanya, "Marilah kita tidak berpura-pura.Kita tahu,apa yang sebenarnya terjadi.Selama ini kita memang tidur lelap.Bendungan itu sudah berpuluh tahun kita buat.Ketika bendungan itu semakin lama menjadi semakin rusak, kita tidak berbuat apa-apa.Baru kemudian ketika kita melihat daerah subur disekitar padepokan itu, serta kehadiran orang-orang padepokan di Kademangan kita, maka kita seakan-akan telah terbangun.Atas petunjuk orang-orang padepokan itu, kita melakukan kerja besar dan berhasil.Hal itulah yang agaknya dimaksud oleh Ki Demang sebagai satu kemenangan. Tetapi kita tidak dapat mengingkari bahwa kemenangan ini disebabkan karena oranglain telah turut campur dalam persoalan kita, sehingga kita kehilangan kesempatan untuk bangun sendiri dan atas kehendak sendiri berbuat bagi Kademangan kita.Itulah yang aku tidak senang."

 

 "Gina, apa yang kau katakan itu?" berkata Truna.

 

 "Ya.Aku memang ingin berkata jujur," jawab Gina."Tetapi aku tidak senang terhadap keadaan ini.Begitu saja."

 

 "Tetapi apa salahnya kita menerima uluran tangan orang-orang padepokan yang telah bersedia mengaku menjadi anggota keluarga besar Kademangan Bibis," jawab Ki Jagabaya.

 

 "Itu hanya satucara untuk merampas milik kita.Lihat, mereka telah membuka hutan kita.Berapa luas tanah yang sudah mereka ambil begitu saja," berkata Gina.

 

 "Aku telah memberikan izin itu," sahut Ki Demang."Apalagi yang mereka lakukan itu untuk kepentingan kita juga.Anak-anak kita yang tidak lagi memiliki masa depan dengan berpijak pada tanah yang sudah ada. Sementara itu, orang-orang lain itu sendiri hanya adalima atau enam orang.Selebihnya adalah kita sendiri.Orang-orang Bibis."

 

 "Nah, yang beberapa orang itulah yang menentukan segala-galanya.Agaknya mereka pun akan menentukan pula keadaan di seluruh Kademangan Bibis," berkata Truna kemudian.

 

 Barata mendengarkan pembicaraan itu dengan jantung yang berdegup semakin keras.Bahkan rasa-rasanyaia ingin meloncat menerkam ketiga orang itu untuk membuat mereka diam. Namun karena Kiai Tapis sendiri hanya tersenyum-senyum saja, maka rasa-rasanya justru dadanya akan meledak.

 

 Sindura pun menjadi berdebar-debar pula. Tetapiia masih berusaha untuk mendengarkan perkembangan pembicaraan itu.Namun menilik sikap ketiga orang itu, maka agaknya sulit untuk ditemukan satu pengertian yang utuh.Bahkan agaknya kebijaksanaan Ki Demang dan memaksanya untuk membuat perubahan-perubahan.

 

 Dalam pada itu, Ki Jagabaya pun berkata, "Sudahlah.Kita sedang merayakan keberhasilan kita.Jangan merusak suasana itu."

 

 Tetapi Truna tersenyum sambil berkata, "Ki Jagabaya.Sebaiknya biarlah aku berbicara dengan Ki Demang."

 

 "Tetapi aku adalah Jagabaya disini," bentak Ki Jagabaya.

 

 Tetapi jawab Truna sangat menyakitkan hati, "Kau ingin menunjukkan kepada tamu-tamu kita yang terhormat, bahwa kau mampu melakukan tugasmu dengan baik?Bahwa kau adalah seorang Jagabaya yang disegani."

 

 Wajah Ki Jagabaya menjadi merah.Tetapi sebenarnyalah bahwaia memang tidak ingin menunjukkan kelemahannya. Namunia benar-benar berada dalam kesulitan karena sikap ketiga gegedug itu.

 

 "Nah Ki Jagabaya," berkata Sableng."Bersikap wajar sajalah kepada kami. Kami tidakakan berbuat apa-apa terhadapmu.Kami hanya ingin memperingatkan Ki Demang, bahwa orang-orang padepokan itu tidak kita perlukan. Kita harus mengambil kembali anak-anak muda kita yang ada di padepokan itu, dan memaksa orang-orang padepokan itu mengembalikan tanah kita yang telah mereka rampas

 

 MULUT Ki Demang dan Ki Jagabaya memang bagaikan tersumbat.Mereka tidak segera dapat menjawab.Ketiga orang itu bagi Bibis adalah orang-orang yang paling ditakuti.Namun mereka jugalah orang yang paling banyak membuat persoalan.Bahkan kadang-kadang kekisruhan. Karena itu Ki Demang dan Ki Jagabaya tidak segera menyahut, sementara itu dada Barata sudah menjadi penuh sesak, dan bahkan rasa-rasanya dadanya itu akan meledak, maka Barata yang remaja itu pun menyahut, "Ki Sanak.Kenapa kalian bersikap memusuhi kami?" 

 

 Truna berpaling ke arah Barata.Dengan senyum yang asamia menjawab, "Seharusnya kau tahu sendiri, kenapa kami bersikap tidak baik terhadap kalian.Karena itu, selagi kami belum melangkah dengan sikap yang lebih keras, pergi sajalah dari Bibis ini.Cari hutan liar yang tidak menjadi hak dan cadangan garapan sebuah Kademangan atau Tanah Perdikan.Kalian dapat membuka hutan itu seluas kalian sukai."

 

 "Jika kami membuka hutan itu Ki Sanak, kami sudah mendapat izin dari Ki Demang.Kami tidak begitu saja menebangi hutan yang nampaknya memang merupakan tanah cadangan bagi Kademangan Bibis.Dan bahkan kami sudah menyatakan diri bersedia menjadi warga dari keluarga Bibis yang besar itu.Jika kami berbuat sesuatu di Bibis, karena kami mendasari langkah-langkah kami itu dengan landasan pikiran bahwa kami telah berbuat di kampung halaman sendiri," jawab Barata.

 

 Sindura yang memang sudah menjadi marah pula,sama sekali tidak mencegahnya. Bahkan Kiai Tapis pun tidak mencegah pula.

 

 "Itulah salah kalian yang terbesar," berkata Truna."Bahwa kau mengaku menjadi keluarga Bibis.Tetapi jangan kau kira bahwa kami tidak tahu rencana kalian yang jahat itu."

 

 "Aku tidak mempunyai rencana apa-apa," suara Barata pun mulai menjadi keras."Kau jangan mengada-ada.Seluruh rakyat Bibis mensyukuri peristiwa itu.Tetapi kenapa kau justru sebaliknya?Apakah kau ingin rakyat Bibis tetap dalam kemiskinan karena sawahnya yang kering, sehingga kau akan dapat leluasa berbuat sekehendak hatimu di antara orang-orang yang merasa rendah diri dan tertekan ini?"

 

 "Persetan," bentak Gina."Meskipun kau benar, tetapi bahwa kau telah mengucapkan kata-kata itu maka kau telah menyakiti hati kami."

 

 "Katamu berbelit-belit Gina," potong Sableng."Anak yang demikian itu sudah sepantasnya diberi sedikit pelajaran atas kesombongannya."

 

 Barata tidak menjawab.Tetapiia tidak merasa keberatan bahwa ia harus melayani orang-orang yang keras kepala itu. Dengan demikian,ia dapat menunjukkan bahwa isi padepokan itu tidak akan menyerah karena gertakan-gertakan yang tidak berujung pangkal seperti yang dilakukan oleh ketiga orang gegedug itu.Meskipun nampaknya Ki Demang dan Ki Jagabaya serta para bebahu Kademangan itu tidak dapat bertindak atas mereka.

 

 Namun Gina seakan-akan tidak menghiraukan kata-kata Sableng.Katanya, "Nah anak muda.Berjongkoklah dihadapanku, membungkuk dan menyembah kepada kami bertiga.Kau akan diampuni."

 

 "Gila," geram Truna."Kau selalu menganggap semua persoalan sebagai permainan saja."

 

 "Aku tidak main-main," jawab Gina.

 

 "Tidak.Bukan sekadar minta maaf.Tetapi kalian harus pergi dari Bibis," bentak Truna.

 

 Tetapi Barata menggeleng.Katanya, "Yang berhak membuat keputusan adalah Ki Demang.Tetapi sekarang, keputusan Ki Demang pun tidakakan mengikat kami lagi, karena kami tahu, jika Ki Demang mengambil sikap yang lain dari sikapnya semula, itu adalah karena pengaruh kalian bertiga.Bukan kehendak Ki Demang secara murni."

 

 "Bagaimana kau berani berkata seperti itu," Truna benar-benar menjadi marah.Sementara Ki Demang dan Ki Jagabaya justru menjadi bingung.Mereka tidak tahu apakah yang sebaiknya mereka lakukan.Karena ketiga orang gegedug itu jika sudah berkumpul memang merupakan persoalan yang sulit untuk dipecahkan.Apalagi jika terjadi kekerasan.Bagi Bibis, ketiga orang itu tidakakan dapat dicegah oleh seisi Kademangan sekalipun, apalagi jika mereka melibatkan anak-anak mereka.

 

 SEBELUM Ki Demang dapat berbuat sesuatu, maka Truna itu pun tiba-tiba berteriak, "He anak-anak, seret anak ini dan lemparkan ke luar keramaian ini. Ia tidak pantas di antara kita, orang-orang Bibis yang bergembira karena kerja kita ini." 

 

 Orang-orang yang hadir di bendungan itu pun menjadi bingung menghadapi keadaan itu, sementara itu Lowar serta anak-anak kedua gegedug itu pun telah mulai bergerak mendekati Barata.

 

 Barata menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dipandanginya Kiai Tapis. Ketika ia melihat Kiai Tapis mengangguk, maka Barata pun telah tersenyum pula.

 

 Sindura pun ternyata tidak mencegah peristiwa yang akan terjadi itu. Ia justru mengharap hal itu terjadi untuk menunjukkan bahwa mereka tidak akan berbuat banyak terhadap orang-orang padepokan, sebagaimana memang dikehendaki pula oleh Barata.

 

 Dalam pada itu, Lowar dan kedua anak muda yang kasar itu pun telah mendekati Barata yang masih tetap duduk, sementara

 

 orang-orang Bibis menjadi semakin berdebar-debar.

 

 Lowar ternyata benar-benar seorang yang kasar. Ia tidak mengatakan sepatah kata pun ketika tiba-tiba saja ia telah menangkap dan menarik tangan Barata.

 

 Ki Demang, Ki Jagabaya dan para bebahu pun serentak telah berdiri. Tetapi Truna berkata, "Ki Demang sebaiknya tidak usah ikut campur. Demikian pula para bebahu yang lain."

 

 "Tetapi anak itu adalah tamuku," sahut Ki Demang.

 

 "Mereka tidak mempunyai kedudukan yang lebih baik dari kami disini," jawab Truna.

 

 Ki Demang memang tidak dapat berbuat apa-apa. Apalagi para bebahu yang lain. Sementara itu Kiai Tapis dan Sindura pun telah berdiri pula. Tetapi mereka sama sekali tidak menunjukkan kegelisahan di wajah mereka. Namun orang-orang disekitarnya sama sekali tidak menghiraukan keduanya, karena perhatian mereka tertuju kepada ketiga orang anak muda yang menyeret Barata yang remaja itu ke bendungan.

 

 "Bagus," seru Truna. "Lemparkan ke bendungan. Jika anak itu tidak dapat berenang, adalah nasibnya yang sangat buruk. Mungkin saudara-saudaranya itu sempat menolongnya. Sesudah itu usir mereka dari Bibis. Padepokan itu harus dibakar menjadi abu. Tanah garapan mereka harus dikembalikan kepada Kademangan Bibis."

 

 Ketiga anak muda yang menyeret Barata itu memang akan melemparkannya ke bendungan. Air yang tergenang cukup dalam dan berwarna keruh itu, akan dapat menenggelamkan jika Barata tidak dapat berenang.

 

 Sejenak kemudian, maka ketiga orang yang telah menyeret Barata itu pun telah berada di atas bendungan. Dengan geramnya mereka bertiga itu berusaha untuk mengayun Barata dan melemparkannya ke dalam air.

 

 Tetapi yang terjadi telah membuat orang-orang Bibis menjadi semakin tegang. Ternyata telah terjadi keributan kecil. Barata yang akan dilemparkan itu meronta. Namun kemudian terjadi benar-benar di luar dugaan. Yang terlempar ke dalam air justru bukannya Barata, tetapi justru Lowar dan kedua anak muda yang lain.

 

 BAHKAN anak Sableng pun telah berteriak-teriak sebelum ia tercebur ke dalam air. Ternyata bahwa anak Sableng itu tidak pandai berenang. Sejenak kemudian terjadi tontonan yang sangat menggelikan. Meskipun demikian tidak seorang pun yang berani bergerak dari tempatnya. Apalagi menertawakan ketiga orang yang tercebur ke dalam air. 

 

 Hanya Barata sajalah yang tertawa sambil bertolak pinggang. Dengan lantang ia berkata, "Marilah minggirlah. Siapa yang paling cepat naik ke bendungan, maka ia adalah orang yang paling cepat terlempar kembali ke dalam air."

 

 Lowar mengumpat dengan kata-kata kotor. Tetapi bersama anak Gina ia berusaha untuk menolong anak Sableng yang tidak dapat berenang.

 

 Melihat ketiga orang itu, Barata seakan-akan telah mendapat kegembiraan tersendiri. Namun ternyata ia membiarkan Lowar mendorong anak Sableng ke tepi.

 

 Justru Barata lah yang telah menerima tangan anak yang hampir tenggelam itu dan menariknya ke atas bendungan. Kemudian membiarkan anak itu duduk dengan nafas terengah-engah.

 

 Sementara itu Lowar dan anak Gina pun telah naik ke bendungan pula. Wajah mereka menjadi merah oleh kemarahan yang menghentak-hentak dada.

 

 "Anak iblis. Aku bunuh kau," geram Lowar.

 

 Tetapi Barata tetap tertawa. Katanya, "Kita mempunyai banyak kesempatan untuk bergurau sekarang. Biarlah orang-orang Bibis yang ada di sekitar bendungan itu mendapat hiburan yang agak lain dari yang selalu dilihatnya sehari-hari.

 

 "Persetan," anak Gina itu pun berteriak.

 

 Sementara itu Sableng pun telah melangkah mendekati anaknya. Truna dan Gina pun mengikutinya pula mendekati anak-anak muda yang berada di atas bendungan itu. Namun demikian, di belakang mereka Gandar yang dipanggil Sindura itu pun melangkah menyusuri bendungan pula.

 

 Truna yang marah itu pun kemudian berteriak, "Kalian tidak berhati-hati. Nah, kalian telah melihat, betapa liciknya anak padepokan itu. Sekarang jangan beri kesempatan lagi kepadanya. Bersungguh-sungguhlah. Lemparkan anak itu ke dalam air dan jangan beri kesempatan lagi untuk menepi."

 

 Lowar dan anak Gina itu pun telah bersiap-siap. Mereka pun marah pula seperti Truna dan orang-orang tua mereka. Namun sementara itu anak Sableng masih belum dapat ikut serta. Perutnya terasa mual karena banyak air yang masuk ke dalam mulutnya. Air yang keruh dan kotor.

 

 Barata memang sudah siap menghadapi kedua anak muda itu. Ketika ia melihat ketiga orang gegedug itu meniti bendungan, hatinya memang menjadi berdebar-debar. Tetapi karena Sindura pun mengikuti mereka, maka Barata menjadi tenang karenanya.

 

 Lowar dan anak Gina yang marah telah bersiap menyerang Barata dan melemparkannya ke dalam air. Mereka menjadi lebih berhati-hati, agar bukan mereka lagi yang terjerumus ke dalam bendungan.

 

 Tetapi Barata pun telah bersiap pula. Sehingga karena itu, ketika kedua orang anak muda yang ingin mendorongnya itu melangkah mendekat, maka ia telah benar-benar siap.

 

 Yang mula-mula menyerang adalah Lowar. Ia telah menyerang Barata dengan kakinya. Jika ia berhasil mengenai dada Barata, maka anak itu akan terdorong dan jatuh menelentang ke dalam air.

 

 Namun serangan itu tidak berarti apa-apa. Barata berhasil bergeser selangkah ke samping, sehingga kaki itu sama sekali tidak menyentuhnya. Namun Barata justru telah memukul kaki itu dengan sisi telapak tangannya.

 

 "Setan," geram Lowar yang melihat ayunan tangan itu. Dengan serta merta ia telah menarik kakinya kembali. Tetapi ketika kakinya itu menyentuh tanah, maka kakinya yang lainlah yang siap terayun. Tetapi ternyata bahwa anak Gina telah mendahului. Kakinya meloncat dengan loncatan panjang, sementara tangannya menjulur lurus mengarah kening.

 

 Sekali lagi Barata harus mengelakkan serangan itu. Ia bergerak mundur setapak sambil memiringkan kepalanya. Ternyata bahwa tangan anak Gina itu tidak menggapainya.

 

 NAMUN kaki Barata agaknya lebih panjang dari tangan anak muda itu. Sebelum lawannya menarik kakinya, Barata telah memiringkan tubuhnya. Kakinya bergerak cepat langsung mengenai ketiak anak Gina yang terbuka. 

 

 Anak muda itu terdorong selangkah surut. Namun hampir saja ia kehilangan keseimbangannya dan terjerumus sekali lagi ke dalam air.

 

 Lowar yang sudah siap untuk menyerang, terpaksa mengurungkan serangannya, karena garis serangannya tiba-tiba saja telah terhalang oleh anak Gina yang terdorong surut itu.

 

 Lowar memang tertahan. Ia menjadi kecewa dan mengumpat kasar. Karena itu, maka ia pun kemudian berkata kepada Barata, "He anak padepokan yang sombong. Jika kau benar-benar berani, marilah kita berkelahi di tempat yang luas, yang akan dapat menunjukkan kemampuan kita yang sebenarnya."

 

 "Agar kalian dapat leluasa berkelahi berpasangan," sahut Barata.

 

 "Tutup mulutmu," bentak Lowar. "Jangan menyesal jika aku akan meremukkan bibirmu dan merontokkan gigimu."

 

 "Aku sudah siap," jawab Barata.

 

 Lowar tidak menunggu jawaban lagi. Tetapi ia berkata kepada anak Gina, "Kita meloncat turun."

 

 Ia pun segera meloncat turun ke bawah bendungan. Dengan sikap yang garang ia berdiri di tepian yang berpasir basah. Disana sini terdapat bebatuan yang kecil sampai dengan batu sebesar kerbau.

 

 Anak Gina pun termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian menyusul Lowar pula, meloncat turun sambil berteriak, "Jika kau bukan pengecut, turunlah."

 

 Barata termangu-mangu sejenak. Namun ketika ia berpaling ke arah Sindura, maka Sindura pun mengangguk pula.

 

 Karena itu, maka Barata pun telah meloncat turun pula. Demikian ia berada di atas pasir tepian, maka ia pun telah bersiap menghadapi kedua lawannya.

 

 Lowar ingin bertindak cepat. Dengan serta merta ia pun telah menyerang Barata. Bertumpu pada tumitnya, ia memutar tubuhnya. Kakinya terentang dan terayun mengarah lambung lawannya.

 

 Tetapi Barata tidak terkejut mendapat serangan itu. Dengan langkah kecil ia bergeser dan mengelakkan serangan itu. Namun pada saat yang sama anak Gina telah menyerang pula. Anak Gina itu meloncat mendekat dan mengayunkan tangannya. Anak Gina memang ingin menghantam mulut Barata sebagaimana dikatakan oleh Lowar.

 

 Tetapi Barata telah menangkis serangan itu. Ia berhasil memukul tangan anak Gina itu ke samping. Ketika anak Gina itu berputar sedikit, maka Barata mempergunakan saat itu sebaik-baiknya. Sekali lagi ia menyerang anak muda itu. Dengan melangkah selangkah maju maka Barata mengayunkan tangannya. Yang kemudian dikenainya adalah lambung anak Gina itu.

 

 Terdengar anak itu terpekik perlahan. Dengan serta merta ia meloncat menjauh sambil menyeringai menahan sakit. Barata ingin mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya, selagi anak Gina itu masih belum siap menghadapi serangan berikutnya.

 

 Tetapi Lowarlah yang kemudian telah meloncat menyerang. Kakinya sekali lagi terjulur panjang mengarah ke perutnya.

 

 Kaki Lowar yang kuat mengenai siku Barata. Demikian kerasnya sehingga Barata itu tergetar dan bergeser setapak surut. Namun Lowar pun seakan-akan telah terpental pula selangkah. Hampir saja ia jatuh telentang. Namun ia masih berhasil menguasai keseimbangannya.

 

 Yang berada di atas tanggul, Sableng telah mengguncang-guncang anaknya. Dengan kasar ia berkata, "Anak tidak tahu malu. Cepat bangkit dan turun ke dalam arena itu."

 

 Anaknya sebenarnya masih mual dan pening. Namun ia memang takut kepada ayahnya dan malu kepada kedua orang kawannya itu. Maka dipaksanya dirinya untuk bangkit. Dengan sisa tenaganya, maka ia menghentakkan kedua tangannya sebelah menyebelah, seakan-akan ingin menunjukkan bahwa tenaganya telah pulih kembali.

 

 "Cepat," teriak Sableng. "Ingat, kau adalah anak muda terbaik di Kademangan ini."

 

 ***

 

 Tetapi tiba-tiba saja Gina menyahut, "Anakkulah yang terbaik." "Kita akan melihatnya nanti," geram Sableng. Anak Sableng itu pun dengan tergesa-gesa telah meloncat turun. Tetapi agaknya karena itu justru kakinya menjadi kurang mapan. Ketika kaki anak muda itu menyentuh pasir, maka tiba-tiba saja tubuhnya menjadi goyah, karena telapak kakinya miring, sehingga ia pun terjatuh meskipun tidak terlalu keras. 

 

 Anak Sableng itu memang tidak paduli menjadi kesakitan. Tetapi ia benar-benar malu ketika ayahnya berteriak pula, "Anak dungu. Hati-hatilah. Jangan biarkan anak padepokan yang sombong itu menertawakanmu."

 

 Anak Sableng itu menggeram. Lalu katanya dengan suara lantang, "Aku akan memutar lehermu sampai patah."

 

 Yang tertawa adalah Gandar yang berdiri di atas tanggul. Dengan lantang pula ia berkata, "Mana kau dapat mematahkan lehernya. Baru meloncat turun dari bendungan saja kau sudah terjatuh. Sementara itu di dalam perutmu tersimpan beberapa mangkuk air yang keruh itu. Jika kau minum dua tiga hari mendatang, mungkin airnya sudah menjadi agak jernih."

 

 "Tutup mulutmu," teriak Sableng. "Apakah kau mau ikut campur?"

 

 "Tidak," jawab Gandar yang dikenal bernama Sindura itu. "Biarlah anak-anak bermain dengan sesamanya yang sebaya. Atau barangkali agak lebih tua sedikit, karena kemenakanku itu memang masih remaja."

 

 "Persetan," teriak Truna. "Jika kau tidak mau diam, aku yang akan menyumbat mulutmu dengan brunjung."

 

 Sindura memang diam. Tetapi perhatiannya kemudian tertuju kepada Barata yang harus berkelahi melawan tiga orang.

 

 Ternyata Sindura memang harus memperhatikan dengan seksama. Barata memang sudah berlatih dengan keras. Ia telah mengikuti segala petunjuk Kiai Badra untuk menempa dirinya. Sehingga dengan demikian maka Barata telah menjadi seorang remaja yang kuat dan tangkas. Ia sudah mendasari dirinya dengan ilmu kanuragan, sehingga Sindura yakin, bahwa bekal Barata akan jauh lebih banyak dari ketiga orang lawannya.

 

 Tetapi ketiga orang lawannya itu tentu telah mendapat tempaan pula. Selain dari orang tua mereka, hidup mereka penuh dengan tempaan pengalaman. Mereka tentu sudah terlalu sering berkelahi melawan siapapun juga. Bahkan mungkin melawan dua atau tiga orang sekaligus, sementara hal itu tidak terjadi atas Barata. Remaja itu belum pernah bersungguh-sungguh berkelahi melawan kekerasan yang apalagi kasar seperti ketiga orang lawannya itu. Namun tiba-tiba Barata itu langsung dihadapkan kepada tiga orang sekaligus. Meskipun ia mempunyai bekal yang cukup, namun mungkin sekali anak itu akan menjadi bingung.

 

 Namun ternyata bahwa Barata mampu menempatkan dirinya. Meskipun ketiga lawannya menjadi semakin keras dan kasar, tetapi tidak sebagaimana diduga oleh Sindura bahwa ia menjadi bingung.

 

 Dengan tangkasnya Barata meloncat, melenting dan menghindar. Namun tiba-tiba saja ia meluncur dengan cepatnya, menyerang lawannya. Tangannya yang kadang-kadang bersilang di dada, kuncup melekat tubuhnya, namun kadang-kadang mengembang seperti sayap elang yang menukik menyambar mangsanya.

 

 Ternyata bahwa Barata sama sekali tidak mengecewakan. Dalam usianya yang masih remaja itu, ia sudah menunjukkan kemantapan gerak dan kecepatan mengambil sikap. Ia tidak menjadi bingung karena serangan yang datang bersamaan. Namun ia mampu memilih gerak yang paling menguntungkan menghadapi keadaan yang gawat.

 

 Sindura mengangguk-angguk. Ketika ia berpaling ke arah Truna, maka dilihatnya laki-laki bertubuh kekar, berjambang dan berkumis lebat itu menjadi tegang. Bahkan kemudian terdengar ia mengumpat, "He anak-anak tikus. Kenapa kalian tidak mampu segera memilin leher anak padepokan yang sombong itu?"

 

 "Jangan membuat persoalan," geram Gina. "Itu anakku. Dan aku bukan tikus. Kau kira jambangmu itu membuat aku takut?"

 

 "Persetan," geram Truna. "Kita harus berbuat sesuatu."

 

 ***

 

 KETIKA Gina kembali memperhatikan perkelahian itu, maka ia melihat Lowarlah yang terlempar jauh. Untunglah ia jatuh di atas pasir dan tidak membentur batu. 

 

 Namun ketika Lowar sempat bangkit, maka anak Gina dan Sableng itu pun yang terbanting di atas pasir. Demikian kerasnya, sehingga anak Sableng yang di dalam perutnya itu tersimpan air keruh rasa-rasanya tidak sanggup lagi untuk bangkit.

 

 Sejenak suasana menjadi tegang. Barata berdiri di atas pasir yang basah dengan kaki renggang. Ketiga orang lawannya berdiri mengelilinginya. Anak Sableng yang betapapun sakit tubuhnya, namun ia pun telah memaksa diri untuk berdiri pula sebagaimana kedua orang kawannya.

 

 Namun demikian, anak-anak muda itu sudah merasa bahwa mereka tidak akan mampu melawan Barata yang masih remaja itu. Semakin lama rasa-rasanya Barata itu menjadi semakin cepat bergerak dan semakin kuat pula.

 

 "Apakah anak ini mempunyai ilmu iblis?" bertanya anak-anak muda itu di dalam hatinya.

 

 Namun apapun yang mereka hadapi, adalah satu kenyataan bahwa mereka mengalami kesulitan untuk mengatasinya.

 

 Untuk beberapa saat anak-anak muda itu masih berdiri tegak di atas pasir. Mereka nampaknya memang saling menunggu. Namun dalam keadaan yang jauh berbeda.

 

 Barata masih nampak segar dan cerah, sedangkan ketiga orang lawannya sudah mulai menjadi kepayahan dan dibeberapa bagian tubuhnya terasa sangat sakit. Lowar merasa punggungnya bagaikan retak, sedangkan anak Gina yang beberapa kali terbanting, tulang-tulangnya bagaikan saling terlepas dari sendinya. Yang lebih parah lagi adalah anak Sableng. Agaknya baginya sudah tidak ada kesempatan lagi. Hanya karena perasaan malu kepada kedua kawannya sajalah maka ia masih sanggup berdiri di atas pasir tepian.

 

 "Marilah," berkata Barata. "Permainan kita belum selesai. Jika kalian masih ingin melanjutkan permainangaya Kademangan Bibis ini, aku masih bersedia, meskipun permainan seperti ini bukan ciri permainan padepokanku."

 

 "Persetan," teriak Truna. "Hancurkan anak sombong itu. Kenapa kalian hanya berdiri bingung seperti kerbau dungu ?"

 

 Tetapi mereka tidak menghiraukannya. Katanya, "Meloncatlah. Menerkamlah seperti seekor harimau, atau kalau tidak seperti seekor serigala atau kucing hutan. Atau barangkali seperti kadal buntung."

 

 Ketiga anak muda itu masih tetap termangu-mangu. Tetapi mereka tidak segera menyerang. Mereka masih berusaha untuk mengatur pernafasan dan berusaha mengurangi rasa sakit.

 

 Truna nampaknya tidak sabar lagi. Sekali lagi ia berteriak, "Apakah kalian memang membiarkan anak padepokan itu menjadi semakin sombong dan besar kepala?"

 

 Ginalah yang tiba-tiba saja tertawa sambil berkata, "Kalian menjadi ketakutan he? Baiklah. Kita akan jujur menghadapi kenyataan ini. Kalian bertiga sudah kalah. Tetapi anakku masih lebih baik keadaannya daripada anak Sableng yang katanya anak muda terbaik di Kademangan ini."

 

 "Tutup mulutmu Gina," teriak Truna.

 

 Tetapi Gina berkata terus, "Kenapa kita harus menyembunyikan kenyataan? Anak-anak kita sudah kalah, aku akan memukuli anak yang sombong itu. Aku tidak peduli, apakah pantas atau tidak pantas. Pokoknya aku ingin memukulinya sekarang."

 

 Gina sudah bersiap-siap untuk meloncat turun.Tetapi tiba-tiba langkahnya tertahan ketika ia mendengar Sindura bertanya, "Ki Sanak, apakah kau mau ikut campur?"

 

 "Apa yang kau tanyakan? Ikut campur? Terserah apa namanya. Seperti sudah aku katakan, pokoknya aku tidak senang dengan kekalahan yang dialami oleh anak-anak kita. Karena itu aku akan memukuli kemenakanmu itu," jawab Gina.

 

 "Baiklah," berkata Sindura. "Aku pakai caramu. Aku juga akan memukulimu. Aku tidak senang kau mencampuri persoalan anak-anak. Karena itu maka aku akan memukulimu. Menceburkan kau ke bendungan dan apa saja sesuka hatiku."

 

 ***

 

 "PERSETAN," geram Gina. "Kau tahu siapa aku he?" "Tidak. Aku baru melihatmu sekarang ini. Meskipun aku telah menyatakan diri menjadi keluarga Bibis, tetapi memang masih banyak yang belum sempat aku lihat," jawab Sindura. 

 

 "Pantas," berkata Gina selanjutnya. "Jika kau sudah mengenal aku maka kau tentu tidak akan berkata begitu."

 

 "Kenapa?" bertanya Sindura.

 

 "Kau tentu mengenal, bahwa aku adalah seorang gegedug di Kademangan ini," jawab Gina. "Siapa yang berani menghina aku, maka tebusannya mahal sekali.Ada dua macam tebusan yang dapat aku tuntut daripadanya. Membayar uang yang besar jumlahnya, atau aku pukuli setengah mati."

 

 "Apakah kau berhak berbuat demikian?" bertanya Sindura.

 

 "Kenapa tidak," justru Gina berganti bertanya.

 

 "Menuntut uang tebusan itu?" Sindura masih bertanya lagi.

 

 "Aku tidak peduli, berhak atau tidak berhak. Tidak seorang pun dapat menentang kehendakku," geramnya.

 

 "Jika demikian aku pun akan menirukanmu. Aku tuntut kau memberi ganti rugi kepadaku karena kau akan memukuli anakku. Seratus keping atau aku pukuli kau seratus kali," berkata Sindura.

 

 "O, orang ini agaknya memang orang gila," berkata Gina sambil melangkah mendekati Sindura.

 

 Namun Sindura itupun berkata lebih lanjut, "Lihat, bahwa ketiga anak muda yang paling diandalkan disini sudah dikalahkan oleh kemenakanku. Apa katamu? Ketiganya sudah tidak berani menyerang lagi."

 

 Namun tiba-tiba Sindura berkata, "Barata. Yakinkan kepada dirimu sendiri, bahwa lawan-lawanmu telah kau kalahkan."

 

 "Baiklah paman," jawab Barata.

 

 Ia pun kemudian mempersiapkan dirinya kembali. Sementara itu ketiga lawannya pun terkejut pula mendengar teriakan Sindura. Apalagi ketika mereka melihat Barata telah siap untuk menyerang.

 

 Langkah Gina memang terhenti. Perhatiannya kemudian tertuju kepada ketiga orang anak muda dibawah bendungan. Seorang di antara anak-anak muda itu adalah anaknya.

 

 "Bersiaplah," berkata Barata kemudian. "Kita akan sampai pada puncak permainan kita. Kita akan menentukan siapakah yang unggul dalam permainan ini, aku atau kalian bertiga. Siapa yang menang berhak untuk melemparkan lawannya ke bendungan.

 

 Jika ada di antara kalian yang tidak mampu berenang, itu adalah salah kalian sendiri."

 

 Ketiga anak muda yang sudah dalam keadaan yang payah itu terpaksa mempersiapkan diri mereka. Bagaimana pun juga, selama mereka masih dapat melawan, maka mereka tidak akan membiarkan diri mereka menjadi sasaran dan tidak berusaha untuk melindungi dirinya sama sekali.

 

 Sejenak kemudian ternyata bahwa Barata memang sudah bersiap untuk menyerang. Dengan demikian maka ketiga lawannya pun telah bersiap pula untuk melindungi diri.

 

 Barata memang benar-benar telah menyerang. Yang mula-mula diserangnya adalah Lowar. Dengan susah payah Lowar berusaha untuk menghindari serangan itu. Sementara itu anak Gina dan anak Sableng telah bergerak serentak untuk menarik perhatian Barata, agar ia tidak memburu Lowar dan menyerangnya sampai mati.  

 

 TETAPI gerak mereka terasa terlalu lamban. Ketika keduanya menyerang, maka Barata dengan mudah mengelakkan dirinya. Namun kemudian ia pun meloncat sambil mengayunkan kakinya. Dua kali kakinya terayun. Anak Gina dan anak Sableng itu telah terlempar jatuh. Anak Gina masih mencoba untuk bangkit. Tetapi anak Sableng masih saja terbaring di atas pasir. Anak yang kesakitan itu mengeluh sambil menggeliat. Ia memang berusaha untuk bangkit. Tetapi sisa-sisa tenaganya tidak lagi mampu mengangkatnya. 

 

 Adalah di luar dugaan bahwa Gina tiba-tiba saja berteriak, "Nah, bukankah anakku lebih baik dari anakmu, Sableng?"

 

 "Persetan," geram Sableng. "Tetapi jika kau ingin merombak wajahmu, mari kita mencoba disini."

 

 "Aku tidak berkeberatan. Tetapi aku ingin menyelesaikan orang yang sangat sombong ini lebih dahulu," berkata Gina sambil memandang kearah Sindura, "Jadi benar kita akan berkelahi?"

 

 "Aku tidak akan berkelahi. Aku hanya mempunyai sebuah keinginan, yaitu memukulimu. Kau tidak usah bertanya sebabnya apa. Aku hanya ingin, karena kau tidak membayar uang yang aku minta karena kau telah menghina aku."

 

 Gina memang tidak sabar lagi. Namun ia masih juga berpaling. Ia melihat anaknya berdiri gemetar. Namun perlahan-lahan tetapi pasti, lawan Barata satu demi satu telah jatuh terbaring di tepian berpasir Kali Lorog.

 

 "Baik," berkata Gina. "Anakku memang kalah. Aku akan memukuli kemenakanmu itu. Tetapi karena kau mencoba menghalangi, maka kau akan aku selesaikan lebih dahulu. Mungkin kau akan mengalami goncangan jiwa yang jauh lebih parah dari kemenakanmu itu."

 

 Sindura tidak menjawab. Tetapi ia pun telah mempersiapkan dirinya menghadapi gegedug itu. Sebagaimana kebiasaannya, Sindura tidak pernah merendahkan orang lain. Apalagi terhadap orang yang sudah disebut gegedug.

 

 Truna yang marah melihat kekalahan anak-anak muda itu, ternyata sempat memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh Gina. Sementara Sableng telah meloncat turun dan melangkah mendekati anaknya yang hampir pingsan.

 

 "Anak setan," geram Sabeng. "Kau sakiti anakku he?"

 

 Barata memandang Sableng itu dengan tajamnya. Agaknya para gegedug itu memang terbiasa berbuat sekehendak hati mereka tanpa dihalangi.

 

 Sekilas ia melihat Sindura yang harus menghadapi Gina. Karena itu, Barata merasa bahwa ia harus menghadapi Sableng jika orang itu menuntut kekalahan anaknya.

 

 Sementara itu Truna masih berdiri ditempatnya. Sekali-kali ia memperhatikan Gina, namun kadang-kadang ia memperhatikan Sableng yang berjongkok didekat tubuh anaknya yang terbaring.

 

 "Ki Sanak," berkata Barata. "Aku sama sekali tidak sengaja menyakiti anakmu. Bukankah aku hanya membela diri? Anakmulah yang telah mendahului menyerang aku, justru bertiga. Apakah dalam keadaan yang demikian aku harus berdiam diri? Apakah aku akan membiarkan kepalaku dipukuli tanpa membela?"

 

 "Persetan," geram Sableng. "Aku wajib menuntut balas. Aku adalah seorang ayah. Salah atau benar, anak muda itu adalah anakku."

 

 Tetapi yang kemudian terdengar adalah teriakan Gina, "Sableng. Sudah aku katakan, aku akan memukuli anak itu, karena ia telah mengalahkan anakku. Jangan kau ganggu. Biarlah ia menyaksikan lebih dahulu pamannya yang sombong ini aku lemparkan ke dalam air. Baru aku akan memukulinya sampai pingsan."

 

 Sableng memang berpaling. Tetapi ia sama sekali tidak menghiraukan kata-kata Gina.

 

 Yang kemudian bergerak adalah Truna. Katanya, "Biarlah Sableng mengurusi anak itu. Marilah pamannya ini kita beri sedikit pelajaran."

 

 "Tetapi anak itu," desis Gina.

 

 "Biarlah," jawab Truna.

 

 Gina termangu-mangu. Namun Truna justru telah berdiri disebelahnya sambil berkata, "Jadi kau mencampuri persoalan ini Ki Sanak."

 

 "Pertanyaan yang aneh. Bukankah kau yang membuat persoalan yang kau tujukan kepada orang-orang padepokan, Nah, orang-orang padepokan itu termasuk aku."  

 

 "BAIKLAH," berkata Gina. "Aku akan berterus terang. Pokoknya semua orang padepokan harus dipukuli dan diusir dari padepokan itu dengan kekerasan." 

 

 Sindura pun menjawab, "Sekarang kesempatan bagi kita untuk menentukan. Kau berdua memukuli aku atau aku akan memukul kau berdua. Sementara itu, kemenakanku yang remaja itu akan memukuli Sableng sampai pingsan pula."

 

 Sindura yang sempat menengok kepada Barata, melihat bahwa anak itu siap melawan Sableng. Karena itu, maka Sindura itu pun justru berkata, "Barata, cobalah melayaninya. Aku akan meyakinkan dua orang gegedug ini, bahwa mereka tidak akan dapat memaksakan kehendaknya kepada orang-orang padepokan.

 

 Barata mengangguk kecil. Katanya, "Aku akan mencobanya paman."

 

 "Bagus," sahut Sindura. "Jika kau mengalami kesulitan, maka aku akan melibatkan diri pula."

 

 "Kau ternyata lebih sombong dari anak itu," geram Truna. "Kau kira kau tidak akan terlempar ke dalam bendungan itu?"

 

 Sindura tidak menjawab. Agaknya ia benar-benar harus menunjukkan kepada orang-orang yang disebut gegedug itu, bahwa mereka bukannya orang-orang yang dapat berbuat apa saja yang mereka inginkan.

 

 Sejenak kemudian Gina yang mendendam Sindura karena kekalahan anaknya itu pun telah bergerak. Ia bergeser justru mendekat. Hampir tergapai oleh jari-jari tangan yang terjulur.

 

 Sindura melihat sikap Gina itu dengan hati-hati. Orang itu terlampau yakin akan kemampuannya. Agaknya ia belum pernah membentur kekuatan yang seimbang. Meskipun demikian, Sindura itu benar-benar telah mempersiapkan diri. Ia belum dapat menduga, seberapa jauh tingkat kemampuan lawan-lawannya itu.

 

 Memang Ginalah yang pertama-tama menyerang Sindura. Ia melangkah maju sambil mengayunkan tangannya tidak terlalu keras untuk memancing gerak Sindura. Namun ketika Sindura bergeser menghindar, tiba-tiba dengan kecepatan yang tidak terduga, Gina telah menyerang dengan kakinya. Demikian kerasnya sehingga sambaran anginnya terasa ditubuh Sindura yang dengan terkejut meloncat surut.

 

 "Hampir saja dadanya pecah," geram Gina.

 

 "Luar biasa," desis Sindura. "Kecepatan gerak yang dipadu dengan kekuatan yang sangat besar."

 

 Gina tidak menjawab. Ia melangkah lagi mendekat seperti sikapnya semula. Namun ia mulai menyerang dengan kakinya. Perlahan dan tidak berbahaya sama sekali.

 

 Sindura memperhitungkan gerak lawannya. Ia menduga bahwa lawannya tidak akan mempergunakan cara yang sama untuk mencuri kesempatan. Meskipun demikian Sindura tetap waspada menghadapi kecepatan gerak lawannya itu.

 

 Namun ternyata perhitungan Sindura keliru. Ketika Sindura menghindari serangan kaki yang lemah itu, tiba-tiba saja Gina meloncat mendekat. Tangannya yang mengepal terjulur lurus ke arah dada.

 

 "Mati kau," teriak Gina.

 

 Sindura sekali lagi terkejut. Bukan karena pukulan lawan, tetapi justru karena Gina mengulangi caranya yang mengejutkan lawan.

 

 Tetapi ketika Gina mengulanginya sekali lagi, maka Sindura berkata di dalam hatinya, "Orang ini memiliki kekuatan yang besar, tetapi agaknya orang ini memang dungu. Jika cara itu diulang-ulanginya, maka lawannya akan dapat membaca apa yang akan dilakukannya. Tetapi dapat terjadi, bahwa ia sengaja melakukannya, agar jika ia mengubah cara itu, lawannya akan benar-benar terkejut."

 

 Karena itu, maka Sindura tetap selalu berhati-hati. Ia tidak mau terkecoh oleh cara-cara yang kurang sesuai dengan pengenalannya dan perhitungannya.

 

 Namun ternyata bahwa Gina tidak sekadar memancingnya. Ia memang terlalu dungu bagi Sindura yang memiliki ilmu yang tinggi. Karena itu, maka bagi Sindura, Gina akan dengan mudah dapat diselesaikan.

 

 Tetapi Sindura tidak melakukannya. Ia memang mengulur waktu. Apalagi ketika kemudian Truna juga melibatkan dirinya. Dengan sengaja Sindura memberikan kesempatan kepada kedua lawannya untuk menyerangnya, bahkan menyentuh tubuhnya.

 

 ***

 

 Ki Demang, Ki Jagabaya dan para bebahu menjadi tegang menyaksikan peristiwa yang terjadi itu. Ki Demang yang kemudian justru berkeringat sebagaimana mereka yang bertempur, memang berharap-harap cemas. Ia tahu bahwa orang-orang yang berada di padepokan itu adalah orang-orang dari sebuah perguruan yang memisahkan diri. Karena itu, ia berharap bahwa orang-orang padepokan itu akan dapat sedikit memberi peringatan kewadagan kepada ketiga orang gegedug itu.

 

 Meskipun demikian Ki Demang pun menjadi cemas, bahwa justru yang terjadi adalah sebaliknya. Jika orang-orang padepokan itu tidak dapat mengatasi kemampuan ketiga gegedug itu, maka nasib orang-orang padepokan itu akan menjadi sangat buruk. Mereka akan diusir dari padepokan. Hasil jerih payah mereka yang sudah berujud tanah garapan akan dirampas oleh ketiga orang gegedug itu meskipun mereka mempergunakan istilah dikembalikan kepada Kademangan Bibis.

 

 Kegelisahan itu menjadi semakin tajam ketika ia melihat beberapa kali Sindura dapat disentuh oleh kedua orang lawannya. Sementara itu Sindura sama sekali tidak berhasil membalasnya.

 

 Sebenarnyalah Sindura memang memberikan kesempatan kepada kedua orang itu untuk berkelahi melawannya. Ia memang ingin melihat Barata bertempur melawan Sableng. Dengan demikian, maka ia dapat mengamati tingkat kemampuan Barata yang sebenarnya. Bukan sekadar dalam latihan-latihan. Dengan bertempur melawan lawan yang sebenarnya maka Barata harus benar-benar mempergunakan ilmunya.

 

 Dalam pada itu, di bawah bendungan, di tepian berpasir Barata memang berhadapan dengan Sableng yang marah karena anaknya mengalami cidera. Bukan saja diperutnya tersimpan air keruh dari bandungan, tetapi tulang punggungnya bagaikan patah dan sendi-sendinya terlepas.

 

 Barata yang remaja itu harus berusaha untuk mampu mengimbangi kemarahan Sableng yang memiliki pengalaman yang luas di dunia kekerasan. Namun Barata telah dibekali dengan ilmu yang dipelajarinya dengan tekun. Latihan-latihan yang berat serta kemauan yang keras.

 

 Karena itu, meskipun Sableng telah dianggap sebagai gegedug di Kademangan Bibis, namun menghadapi seorang anak laki-laki remaja, ia mengalami kesulitan.

 

 Ternyata bahwa Barata mampu bergerak dengan cepat. Justru karena ia harus berhadapan dengan seorang yang dianggapnya gegedug, maka ia harus berhati-hati. Sejak semula Barata telah melengkapi tata geraknya dengan segenap ilmu yang telah dimilikinya.

 

 Sableng yang merasa dirinya tidak terkalahkan di Bibis merasa terkejut menghadapi anak laki-laki remaja itu. Ternyata anak itu sulit sekali untuk disentuh. Anak itu mampu meloncat-loncat secepat kijang bermain di rerumputan. Bahkan justru anak itulah yang telah lebih dahulu mengenai tubuh Sableng.

 

 Sableng mengumpat kasar ketika lambungnya merasa sakit. Meskipun kaki yang mengenainya adalah kaki anak laki-laki yang masih remaja, namun dilambari dengan ilmu yang mulai mapan, maka sentuhan kaki itu benar-benar terasa sakit.

 

 Karena itu kemarahan Sableng pun semakin lama menjadi semakin meningkat. Rasa-rasanya ia ingin segera menerkam anak itu dan meremasnya menjadi debu.

 

 Tetapi ternyata segala usahanya sia-sia. Jika ia meloncat dengan tangan terkembang, maka Barata melenting lebih cepat kesamping. Bahkan tiba-tiba kakinya telah terjulur menghantam tangan Sableng.

 

 Sableng hanya dapat mengumpat, karena Barata pun segera meloncat menjauh.

 

 Demikianlah terjadi beberapa kali. Sableng ternyata tidak mampu mengatasi kecepatan gerak anak laki-laki remaja itu. Bahkan semakin lama anak itulah yang semakin sering menyakitinya. Sekali lagi anak itu mengenai lengannya. Namun kemudian lambungnya dan dadanya. Sedangkan Sableng sendiri sama sekali tidak mampu menyentuh Barata, bahkan bajunya sekalipun.

 

 Sementara itu, Sindura masih juga bertempur melawan kedua lawannya. Jika mereka itu dengan cepat dikalahkan, maka tentu akan mempengaruhi perlawanan Sableng, sehingga ia tidak akan dapat melihat lebih jelas lagi ujud dari kemampuan Barata. Karena itu maka ia dengan segaja membiarkan kedua lawannya masih tetap bertempur melawannya.

 

 SEPENINGGAL ketiga orang itu, maka rasa-rasanya di bendungan itu menjadi tenang. Orang-orang Bibis tidak lagi merasa ketakutan bahwa ketiga orang itu akan berbuat aneh-aneh lagi. Bahkan sebagian dari mereka beranggapan bahwa bukan saja saat itu. Tetapi dihari-hari mendatang, para gegedug masih harus menghitung-hitung jika mereka ingin berbuat sesuatu. Apalagi orang-orang padepokan itu telah menyatakan diri menjadi bagian dari keluarga Kademangan Bibis. 

 

 Dalam pada itu, upacara yang pokok dari pernyataan syukur dan kegembiraan orang-orang Bibis itu memang telah selesai. Karena itu, maka Ki Demang pun berniat untuk segera menutup pertemuan itu.

 

 Berulang kali Ki Demang menyatakan terima kasihnya kepada para penghuni padepokan yang dipimpin oleh Kiai Tapis itu. Bahkan juga kepada penghuni padepokan yang berasal dari Bibis sendiri, karena anak-anak muda itu pun masih tetap ikut bekerja keras bagi Kademangannya.

 

 Sejenak kemudian, maka pertemuan itu pun telah selesai. Kiai Tapis, Sindura dan Barata pun kembali ke padepokannya. Anak-anak muda Bibis yang menjadi penghuni padepokan itu masih tinggal, karena mereka masih ingin bermain-main dengan kawan-kawannya.

 

 Ketika Kiai Tapis, Sindura dan Barata sampai ke padepokan, maka mereka masih sempat membicarakan apa yang telah terjadi. Bahkan Sambi Wulung dan Jati Wulung pun telah ikut pula mendengarnya.

 

 Namun yang kemudian menjadi pokok pembicaraan adalah ilmu yang telah dipergunakan oleh Barata untuk melawan Sableng.

 

 Baik Kiai Tapis maupun Sindura telah memberikan banyak bahan-bahan pertimbangan kepada Barata. Tetapi mereka pun dapat menunjukkan kekuatan-kekuatan Barata.

 

 "Marilah, kita ke sanggar," berkata Sindura.

 

 "Paman sempat memperhatikan perkelahian itu?" bertanya Barata. "Bukankah paman sendiri sedang berkelahi melawan kedua orang gegedug itu?"

 

 "Keduanya tidak memerlukan pemusatan nalar budi. Aku sempat memperhatikan unsur-unsur gerak yang kau pergunakan," jawab Sindura.

 

 Demikianlah maka Sindura, Barata dan bahkan Kiai Tapis, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah ikut pula masuk ke dalam sanggar. Dengan jelas Gandar menunjukkan beberapa kesalahan yang telah dilakukan Barata.

 

 "Untunglah bahwa lawanmu bukan orang yang mampu melihat keseluruhan suasana dalam perkelahian itu, sehingga ia tidak melihat kesempatan-kesempatan yang sebenarnya kau berikan kepadanya karena kesalahanmu," berkata Gandar.

 

 Risang mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud Gandar itu. Karena itu, maka bersama Gandar keduanya mulai mencoba kemungkinan-kemungkinan lain yang sebaiknya dipergunakan oleh Risang dalam kesempatan seperti yang baru saja terjadi itu.

 

 Risang memperhatikan semua petunjuk itu dengan tekun. Ia pun kemudian dengan bersungguh-sungguh telah melatih diri melakukan sebagaimana diberitahukan oleh Gandar dan bahkan juga oleh Kiai Tapis yang sempat menyaksikan perkelahiannya itu lebih banyak dari Gandar.

 

 Ternyata bahwa keringat yang mengalir dari tubuh Risang di sanggar itu jauh lebih banyak dari pada saat-saat ia berkelahi di bendungan. Namun dengan demikian Gandar ingin menunjukkan kesalahan-kesalahan Risang itu segera sebelum anak itu melupakannya.

 

 Dalam pada itu, ternyata telah terjadi satu perkembangan tata kehidupan yang baru di Kademangan Bibis. Beberapa padukuhan yang mendapar air lagi dari Kali Lorog itu merasa dibebani oleh kewajiban untuk mempergunakan air itu sebaik-baiknya. Mereka merasa tidak seharusnya menyia-nyiakan kerja yang telah mereka lakukan di bendungan.

 

 Namun disisi lain telah terjadi pula perubahan. Tiga orang gegedug yang selalu berbuat menurut kepentingan mereka sendiri dan mengagungkan kelebihan mereka, harus mengubah cara hidup mereka. Dengan kekalahan mereka, terutama Sableng yang dikalahkan oleh seorang anak laki-laki remaja, membuatnya sangat berprihatin, bahkan mendendam. Namun Sableng pun sadar, bahwa ia tidak dapat berbuat apa-apa terhadap orang-orang padepokan itu.

 

  

 

 TRUNA pun merasa dihinakan pula oleh Sindura. Tetapi seperti Sableng, maka ia tidak dapat berbuat apa-apa. Baginya orang-orang padepokan itu ternyata terlalu kuat. Yang agak berbeda sikapnya dari keduanya adalah Gina. Ia mengakui kekalahannya sepenuhnya. Bahkan kepada anak laki-lakinya ia berkata, "Kau tidak boleh menjadi sakit hati. Kau harus mengakui dengan jujur bahwa kau kalah. Aku pun kalah." 

 

 Anak laki-lakinya mengangguk-angguk. Sementara itu Gina justru berkata, "Aku akan pergi ke padepokan."

 

 "Untuk apa?" bertanya anaknya.

 

 "Aku ingin bersahabat dengan orang-orang padepokan itu. Kita harus minta maaf," berkata Gina. "Bahkan aku berpendapat, sebaiknya kau ikut bersama beberapa orang anak muda tinggal di padepokan itu. Tetapi kau harus jujur. Kau tidak boleh mempunyai niat buruk."

 

 Anak laki-lakinya mengangguk-angguk. Katanya, "Terserah kepada ayah sajalah."

 

 "Kau mau atau tidak?" bertanya ayahnya.

 

 Anak laki-lakinya mengangguk-angguk.

 

 Demikianlah, maka Gina dan anaknya telah pergi ke padepokan. Dengan sepenuh hati Gina menyatakan keinginannya untuk menyerahkan anaknya kepada Kiai Tapis agar diperkenankan tinggal di padepokan itu.

 

 "Aku sudah berpesan kepadanya, agar ia bertindak jujur. Anak itu tidak boleh mempunyai niat buruk," berkata Gina.

 

 Kiai Tapis yang menerima kehadiran Gina itu mengangguk-angguk. Katanya, "Ki Sanak, aku percaya kepadamu dan kepada anakmu. Tinggalkan anakmu disini."

 

 "Aku akan membawanya pulang. Ia perlu mempersiapkan diri. Tetapi biarlah pekan mendatang ia datang lagi," berkata Gina.

 

 "Baiklah Ki Sanak, eh, barangkali aku dapat menyebut namamu?" desis Kiai Tapis.

 

 "Namaku sudah Kiai ketahui. Gina. Lengkapnya Ginapada," jawab Gina. "Dan anakku ini namanya Supada. Mirip dengan namaku."

 

 Kiai Tapis mengangguk-angguk. Katanya, "Terserah kepada Ki Sanak. Mana yang baik bagi Supada. Aku akan menerimanya dengan senang hati."

 

 "Tetapi aku mohon Kiai dapat memberikan penjelasan kepada anak-anak muda yang telah lebih dahulu berada di padepokan ini, agar tidak terjadi salah paham," berkata Ginapada.

 

 "Serahkan hal itu kepada kami," berkata Kiai Tapis sambil tersenyum.

 

 Ginapada itu pun mengangguk-angguk. Tetapi rasa-rasanya hatinya menjadi terbuka. Ia melihat jalan yang lebih baik yang dapat dilalui oleh anaknya daripada sekadar membanggakan kelebihannya di antara anak-anak muda Bibis. Dengan demikian maka anaknya itu pun menjadi jauh dengan anak-anak muda sebayanya sebagaimana Lowar dan anak Sableng.

 

 Ketika Ginapada kemudian pulang ke padukuhan, maka disepanjang jalan ia telah memberikan banyak petunjuk kepada anaknya, bahwa sebaiknya ia menilai kembali apa yang pernah dilakukannya dan melihat masa depan yang lebih baik.

 

 Anaknya mengangguk-angguk. Meskipun sebagian dari pesan ayahnya itu masih belum sesuai hatinya, tetapi anak itu memang mencoba untuk mengerti.

 

 Sementara itu, peristiwa yang terjadi di bendungan memberikan peringatan kepada Kiai Tapis dan seisi padepokan kecil itu, bahwa persoalan-persoalan memang dapat saja timbul di kemudian hari. Truna dan Sableng yang sakit hati akan dapat saja mengembangkan persoalan kecil itu. Mereka mempunyai kawan-kawan yang tinggal di Kademangan lain. Bahkan juga di Kademangan Ngadiraja. Juga diseberang Kali Lorog dan di tempat-tempat yang jauh.

 

 "Kenapa persoalan-persoalan seperti itu datang juga mengganggu ketenangan kami," berkata Kiai Tapis. "Kami mencari tempat yang sepi dan terpencil ini dengan niat untuk dapat dengan tenang menempa diri dan mempelajari berbagai macam ilmu. Namun datang juga persoalan yang tidak terduga. Jika persoalan ini berkembang dan merambat sampai ke telinga orang-orang yang kita singkiri, akibatnya akan menjadi gawat." .

 

 ***

 

 "MUDAH-MUDAHAN tidak sejauh itu Kiai," jawab Sindura. "Meskipun demikian kita memang harus berhati-hati." "Kita harus menyiapkan Risang sebaik-baiknya sebelum ia kembali ke Tanah Perdikan Sembojan," berkata Kiai Tapis. "Agar ia tidak menjadi seorang pemimpin yang kosong seperti Ki Wiradana. Keberhasilan Ki Gede Sembojan membangun Tanah Perdikannya tidak dibarengi keberhasilannya membina anaknya. Baik di bidang kewadagan maupun dibidang kejiwaan." 

 

 "Ya. Ki Gede sudah gagal membina anaknya," desis Gandar.

 

 Tetapi dengan nada rendah Kiai Tapis berkata, "Nampaknya Ki Gede pernah juga mempunyai bayangan hitam di dalam liku-liku hidupnya. Namun semuanya itu sudah terhapus oleh keberhasilan membina Tanah Perdikan Sembojan. Ternyata bahwa ia mempunyai persoalan yang khusus dengan Kalamerta."

 

 Gandar mengangguk-angguk kecil. Namun katanya, "Mudah-mudahan Risang berhasil mengatasi saingannya."

 

 Kiai Tapis pun mengangguk-angguk kecil. Namun beban yang berat terasa selalu menekan pundaknya.

 

 Namun dalam pada itu, padepokan kecil itu masih saja selalu berkembang, sejalan dengan perkembangan Kademangan Bibis. Supada yang berada di padepokan itu ternyata memenuhi harapan ayahnya. Ia tidak lagi menjadi anak yang bengal. Ia justru menjadi sahabat yang baik bagi anak-anak muda Bibis yang berada di padepokan.

 

 Untuk memenuhi harapan anak-anak muda Bibis, maka Sindura pun telah memberikan beberapa latihan olah kanuragan. Hal itu bukan saja untuk kepentingan anak-anak muda itu sendiri, tetapi jika pada satu saat bahaya yang sebenarnya mengancam padepokan itu, maka padepokan kecil itu sudah bersiap.

 

 Bagaimana pun juga Gandar masih mencemaskan kemungkinan buruk yang dapat ditimbulkan oleh dendam yang membakar hati Warsi dan Ki Rangga Gupita. Meskipun waktu yang sepuluh tahun telah mengantari peristiwa-peristiwa yang mendebarkan itu, namun dendam yang sudah berakar di hati tidak akan dapat terhapus. Demikian pula agaknya dengan Ki Rangga dan Warsi.

 

 Bahkan kemudian Ki Randukeling telah ikut campur merupakan persoalan yang lebih tajam. Apalagi dengan kehadiran Ajar Paguhan. Meskipun belum ada kepastian tentang keterlibatan mereka langsung pada jalan hidup Warsi dan Ki Rangga Gupita, namun dalam dunia olah kanuragan, hal itu akan dapat terjadi.

 

 Namun Gandar tidak mencemaskan Iswari. Dalam waktu sepuluh tahun ia justru telah ditempa oleh Kiai dan Nyai Soka untuk memperdalam ilmu Janget Kinatelon. Jika Warsi memang menghendaki perang tanding, maka Iswari tidak akan mengecewakan. Meskipun Nyai Soka menjadi semakin tua serta garis-garis umur didahinya nampak semakin dalam, tetapi ia masih mempunyai kemampuan yang jarang ada duanya.

 

 Yang harus diperhatikan pula adalah Risang itu sendiri. Anak Wiradana yang lain, yang lahir dari istri keduanya adalah juga seorang laki-laki. Tidak seorang pun di antara para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan yang mengetahui dimana Puguh itu berada. Tetapi jika ia juga berada di tangan Ki Randuleing dan Ajar Paguhan, maka masa datang bagi Puguh tentu akan berkiblat juga pada Tanah Perdikan Sembojan. Seandainya Puguh tidak lagi merasa mungkin untuk mengambil kedudukan ayahnya, karena mungkin juga pengaruh Pajang, dan sikap orang-orang Sembojan sendiri, namun Puguh akan dapat selalu mengganggu ketenangan hidup Risang dan bahkan mungkin ia akan menuntut bagian warisan dari Risang, karena Puguh adalah anak Ki Wiradana yang sah seperti juga Risang. Bahkan mungkin pula terjadi, seperti sikap ibunya, Puguh akan menantang Risang untuk berperang tanding.

 

 Karena itu, maka kesimpulan yang diambil oleh Gandar adalah, "Risang harus menjadi seorang anak muda yang memiliki ilmu yang tinggi."

 

 PIKIRAN itu sejalan dengan pikiran Kiai Badra. Namun ternyata bahwa Kiai Badra tidak semata-mata berkisar pada diri Risang sendiri. Jika Risang memiliki kemampuan yang tinggi, maka ia akan dapat menjadi pelindung yang baik. Dengan kemampuannya ia akan dapat menjadi sehabat yang siap untuk menolong sesama. Sehingga dengan demikian maka Risang benar-benar akan dapat mengabdikan hidupnya kepada Sumber hidupnya dan kepada sesamanya. 

 

 Dengan landasan pikiran itulah maka Kiai Badra benar-benar berusaha untuk menempa Risang agar ia menjadi seorang yang benar-benar berilmu tinggi sebagaimana kakek dan ibunya. Sementara itu Risang sendiri dengan sepenuh minat telah bekerja keras untuk memenuhi keinginan Kiai Badra itu, dilambari dengan kesadaran akan tanggung jawabnya sebagai cucu Kepala Tanah Perdikan yang kelak akan menggantikan kedudukan itu.

 

 Karena itulah, maka Risang tidak pernah mengeluh jika ia harus melakukan latihan-latihan yang berat. Tidak hanya disanggar, tetapi kadang-kadang Kiai Badra dan Gandar membawanya di alam terbuka. Di sungai, dipadang perdu, dipadang rumput dan kadang-kadang di dalam hutan. Atas bimbingan Kiai Badra, Gandar dan kadang-kadang juga Sambi Wulung dan Jati Wulung, maka Risang mengalami penempaan diri yang berat.

 

 Namun dalam usia remaja itu, Risang telah menunjukkan kelebihannya. Kecerdasan nalar budinya dan ketajaman panggraitanya. Sehingga dengan demikian maka orang-orang yang membimbingnya memang mempunyai harapan yang besar, bahwa Risang akan dapat menjadi anak muda yang jarang ada duanya.

 

 Di samping latihan-latihan yang berat, Risang mempunyai kebiasaan yang menarik. Dalam saat-saat senggang maka ia mempunyai kesenangan memperhatikan cara hidup berbagai jenis binatang. Dari binatang yang kecil sampai binatang yang besar.

 

 Beberapa kali Risang bersama Gandar berada di hutan untuk melihat-lihat berbagai jenis binatang yang hidup dalam satu susunan kehidupan yang keras seakan-akan tanpa perlindungan bagi yang lemah. Pernah Risang duduk di atas dahan pohon untuk waktu yang lama sambil memperhatikan keadaan disekitarnya. Risang sempat menyaksikan seekor harimau yang menerkam seekor kijang yang terlambat melarikan diri. Namun hatinya tergetar juga pada suatu saat Risang melihat seekor ular yang besar tergantung pada cabang sebatang pohon raksasa. Ular itu membelit dengan ekornya, sementara kepalanya yang tergantung itu pun bagaikan terayun-ayun dekat di atas tanah.

 

 Untuk beberapa lama Risang menunggu ular itu dari kejauhan di atas dahan sebatang pohon yang besar pula. Dari celah-celah pepohonan hutan ia dapat melihat, apa yang dilakukan oleh ular itu. Namun ternyata bahwa hampir semua binatang hutan telah menyingkir. Sehingga untuk waktu yang lama, ular itu tidak dapat menangkap seekor binatang pun.

 

 Risang tidak dapat menunggui binatang itu terlalu lama. Ia pun kemudian turun dan beranjak pergi. Namun langkahnya terhenti ketika ia melihat seekor ular sebesar pergelangan tangannya yang sedang mengintai seekor tikus yang lengah. Tikus tanah yang besarnya hampir sama dengan seekor kelinci, sedang bersiap-siap untuk menggali lubang. Ketika tikus tanah itu mulai bergerak menggali maka tiba-tiba kepala ular itu terjulur. Begitu cepatnya menyambar tikus tanah itu.

 

 Tetapi ternyata bahwa tikus tanah itu bergerak lebih cepat. Demikian nalurinya menyentuhnya, maka tiba-tiba kaki belakangnya telah melemparkan seonggok tanah tepat mengenai mata ular itu, sehingga ular itu mengurungkan patukannya dan justru bergeser mundur.

 

 Kesempatan itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh tikus tanah itu untuk melarikan diri. Namun ular yang marah itu pun masih berusaha untuk mengejarnya meskipun agaknya ia akan ketinggalan. Tetapi Risang tidak tahu apa yang terjadi kemudian atas tikus itu.

 

 ***

 

 TERNYATA bahwa pengamatannya atas berbagai macam binatang itu memberikan manfaat juga kepadanya. Dalam pengembangan ilmunya, maka gerak burung-burung yang cepat dan lincah sangat mempengaruhinya. Burung sikatan yang menyambar bilalang. Burung air yang menyambar ikan yang sedang berenang dibawah permukaan air. Alap-alap yang kecil namun yang mampu mengejar dan menaklukkan burung merpati yang lebih besar. 

 

 "Paman," berkata Risang pada suatu saat kepada Gandar, "Aku dengar bahwa ada perguruan-perguruan yang memberikan pertanda dari perguruannya sebagai lambang yang tentu saja mempunyai arti yang baik menurut para pengikutnya itu?"

 

 "Ya," jawab Gandar. "Memang ada perguruan yang memberikan pertanda bagi perguruan itu. Bertanyalah kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung. Mereka pun mempunyai pertanda tersendiri. Namun mereka memang berniat untuk meninggalkan perguruannya itu."

 

 "Jika demikian kenapa kita tidak memberikan pertanda bagi perguruan kita?" bertanya Risang.

 

 "Biasanya perguruan itu menentukan nama lebih dahulu, barulah lambangnya. Kita memang tidak menentukan nama dan perlambang itu."

 

 Risang mengangguk-angguk. Namun kemudian ia berkata, "Kita akan menentukan nama untuk perguruan ini."

 

 Tetapi Gandar termangu-mangu. Bahkan ia pun bertanya, "Bukan maksud kita mendirikan satu perguruan disini."

 

 "Apa salahnya?" berkata Risang. "Kita sudah berada disini. Kita sudah bekerja keras untuk membangunkan padepokan ini. Maka wajarlah jika kita akan membangunkan sebuah perguruan. Kiai Badra akan menjadi cikal bakal dari sebuah perguruan yang akan kita dirikan."

 

 "Tetapi kita disini bersumber dari beberapa perguruan. Sambi Wulung dan Jati Wulung mempunyai ciri perguruannya, yang berbeda dari perguruanku sendiri," berkata Gandar.

 

 "Bukankah ciri itu dapat diganti dengan ciri yang akan kita buat?" bertanya Risang.

 

 "Maksudku bukan sekadar ciri sebuah lingkaran yang terbelah sama. Itu adalah lambang. Tetapi ciri dari unsur-unsur ilmu perguruan itu sendiri. Bukankah kau mulai mengenali ciri-ciri? Kau pun mempelajari ilmu dengan ciri-ciri yang khusus yang kau warisi dari kakekmu itu," jawab Gandar.

 

 Risang mengangguk-angguk. Ia mengerti keterangan yang diberikan oleh Gandar. Namun kemudian ia berkata, "Aku akan mengusulkan kepada kakek untuk membuat satu perguruan di padepokan ini. Aku akan mengumpulkan orang-orang yang memiliki bekal ilmu dengan ciri yang berbeda-beda itu untuk menentukan ciri khusus dari perguruan kita kelak. Bukan satu hal yang mustahil. Tentu ada persamaan di antara kita yang ada disini. Kita kembangkan persamaan itu dan kemudian akan menjadi ciri dari perguruan kita. Kemudian kita akan membuat nama dan lambang dari perguruan ini."

 

  ***

 

 RISANG tersenyum sambil mengangguk. Tetapi katanya, "Sudahlah kakek. Sudah saatnya aku memasuki sanggar bersama paman Gandar." Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, "Baiklah. Tetapi hati-hatilah." 

 

 Sejenak kemudian maka Risang pun telah berada di sanggar. Ia memang mendapat kesempatan dari kakeknya yang juga gurunya untuk berlatih bersama Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung. Kiai Badra percaya kepada orang-orang itu, bahwa mereka tidak akan mengacaukan landasan ilmu Risang yang diterimanya dari Kiai Badra. Bahkan mereka termasuk orang-orang yang cukup berpengalaman.

 

 Sebenarnyalah bahwa dalam latihan-latihan yang dilakukan oleh Risang bersama dengan ketiga orang itu sama sekali tidak mengganggu landasan ilmunya. Justru Risang yang remaja itu telah mampu menilai tata gerak dan unsur-unsur yang dilakukan berhadapan dengan unsur-unsur gerak yang lain. Bahkan dengan tidak menyatakan lebih dahulu, Risang telah melihat ciri-ciri sebagaimana pernah disebut oleh Gandar dari perguruan-perguruan yang berbeda. Ia melihat ciri-ciri perguruan Sambi Wulung dan Jati Wulung memang berbeda dengan ciri-ciri yang terdapat pada unsur-unsur gerak yang dikuasai oleh Gandar.

 

 Ketika ia kemudian beristirahat di sanggar itu, maka Risang pun berkata kepada Gandar, "Bagaimana pendapat paman sendiri?"

 

 "Tentang apa?" bertanya Gandar.

 

 "Tentang perguruan itu? Aku memang melihat ciri-ciri yang berbeda pada unsur-unsur gerak dari perguruan-perguruan yang berbeda. Tetapi apakah kita tidak dapat menyusun kembali ilmu yang sudah kita miliki masing-masing untuk menemukan beberapa persamaan yang kemudian dapat kita sebut sebagai ciri perguruan ini? Kakek dan nenek telah berhasil menemukan satu kekuatan yang mereka sebut Janget Kinatelon. Padahal Kiai Badra tidak memiliki ciri-ciri yang sama dengan Kiai Soka dan Nyai Soka di dalam pengungkapan ilmunya. Namun mereka dapat mewariskan kepada ibu satu jenis ilmu," berkata Risang.

 

 Gandar tersenyum.Anak itu memang seorang anak yang cerdas. Dalam usia remajanya ia telah memikirkan kemungkinan yang rumit itu, namun memang tidak mustahil.

 

 Bahkan Gandar pun kemudian bertanya kepada Risang, "Bagaimana pendapat Kiai Badra sendiri?"

 

 "Aku belum pernah menanyakannya kepada kakek. Tetapi aku sudah memberikan isyarat, bahwa aku memang akan bertanya pendapat kakek sendiri."

 

 Gandar tersenyum. Katanya, "Memang mungkin dapat dicoba. Jika Kiai Badra tidak berkeberatan, maka ilmu yang disebut Janget Kinatelon itu akan dapat menjadi puncak dari ilmu dari perguruan itu."

 

 "Nah," tiba-tiba wajah Risang menjadi sangat cerah, "Aku akan mohon pendapat kakek."

 

 Ternyata bahwa Risang benar-benar pada satu malam berbicara dengan kakeknya tentang kemungkinan seperti yang pernah dibicarakannya dalam sanggar dengan Gandar.

 

 Kiai Badra mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian berkata sambil tersenyum, "Kita sedang menjajagi satu kemungkinan, Risang. Kita belum menentukan satu kepastian tentang rencana ini."

 

 "Ya kakek," jawab Risang. "Mudah-mudahan kita mengarah pada satu kepastian."

 

 Kiai Badra mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, "Janget Kinatelon telah kami susun bertiga. Karena itu, maka untuk melakukan sesuatu atas ilmu itu, maka aku harus mendapat persetujuan dari Kiai dan Nyai Soka. Apalagi ilmu yang aku miliki hanya merupakan satu sisi dari keseluruhan wajah Janget Kinatelon itu."

 

 "Satu sisi yang telah menyatu sebagai ujud yang bulat," berkata Risang. "Kakek. Meskipun sumber mengalir pada kakek tidak sama dengan Kiai Soka dan Nyai Soka, tetapi apa yang sudah menjadi kebulatan itu sudah kakek kuasai pula?"

 

 Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, "Baiklah. Aku akan membicarakannya. Ibumu adalah orang yang pertama-tama memiliki ilmu itu dengan bulat dan utuh. Namun untuk sementara belum saatnya kita berhubungan dengan Tanah Perdikan Sembojan dengan terbuka. Kemungkinan-kemungkinan yang tidak kita harapkan masih dapat terjadi."

 

 ***

 

 RISANG mengangguk-angguk. Agaknya memang tidak terlalu sederhana untuk mendirikan satu perguruan tersendiri. Meskipun demikian, rasa-rasanya ia lebih tertarik kepada satu perguruan daripada Tanah Perdikan Sembojan. 

 

 Tetapi ia tentu tidak akan dapat ingkar, jika saatnya ia harus kembali ke Sembojan setelah ia memiliki perisai yang kokoh bagi dirinya sendiri.

 

 Sambil menunggu perkembangan tentang keinginannya itu, Risang tetap melakukan kegiatannya sehari-hari. Kerja di padepokan, di sawah, membantu orang-orang Kademangan dan menempa diri untuk mendapat landasan ilmu yang akan sangat berarti bagi dirinya.

 

 Namun dalam pada itu, Kiai Badra bukannya tidak memikirkan keinginan cicitnya itu. Dalam waktu-waktu luang ia pun selalu memikirkannya. Ketika ia tinggal disebuah padepokan kecil bersama Gandar dan cucunya sebelum menjadi istriKi Wiradana,ia tidak memikirkan untuk mendirikan satu perguruan tersendiri. Namun kini tiba-tiba cicitnyalah yang ingin melakukannya.

 

 Dalam umurnya yang semakin tua, maka Kiai Badra memang merasa bahwa sebaiknya ia memang meninggalkan sesuatu setelah masa hidupnya lewat. Bukan sekadar meninggalkan cucu dan cicitnya itu saja.

 

 Karena itu, maka pada satu hari tiba-tiba saja Kiai Badra memanggil Risang dan berkata kepadanya, "Baik-baiklah kau berada di padepokan. Kakek akan pergi barang dua tiga hari."

 

 "Kakek akan kemana? Jika kakek pergi ke Tanah Perdikan, apakah aku diperkenankan ikut? Aku sudah rindu kepada ibu," berkata Risang.

 

 "Lain kali kau boleh ikut," berkata Kiai Badra. "Tetapi kali ini jangan. Kau berada di padepokan bersama Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung."

 

 "Kakek akan pergi seorang diri?" bertanya Risang.

 

 "Agaknya lebih baik begitu," jawab Kiai Badra. "Jika aku sendiri, maka agaknya tidak banyak persoalan yang timbul di perjalanan."

 

 Risang memandang kakeknya dengan tatapan mata yang redup. Kiai Badra yang dapat menangkap perasaan cicitnya itu berkata, "Jangan cemas Risang. Meskipun kakek sudah semakin tua, tetapi kakek masih dapat mengenal dengan baik jalan menuju ke Tanah Perdikan Sembojan. Kakek akan berjalan di malam hari untuk menghindarkan diri dari pengenalan orang yang tidak kita inginkan."

 

 Risang menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia pun bertanya, "Apakah di malam hari justru kakek tidak dicurigai?"

 

 "Memang mungkin. Tetapi sebaiknya aku menempuh perjalanan lewat jalan-jalan bulak yang sepi dan kemungkinan untuk bertemu dengan seseorang akan sangat kecil sekali. Aku harus menghindari padukuhan-padukuhan, apalagi yang dimulut-mulut lorongnya terdapat gardu yang berisi anak-anak muda yang meronda," berkata Kiai Badra.

 

 Risang mengangguk-angguk. Katanya, "Perjalanan yang cukup panjang."

 

 "Ya. Tetapi aku sudah terbiasa menempuh perjalanan sepanjang itu. Bahkan jauh lebih panjang," berkata Kiai Badra.

 

 Risang mengangguk-angguk. Namun anak yang cerdas itu mengetahui, bahwa kakeknya tentu akan berbicara dengan Kiai Soka dan Nyai Soka tentang rencana untuk mendirikan satu perguruan. Bahkan mungkin juga ibunya, orang yang pertama-tama secara lengkap menerima ilmu Janget Kinatelon.

 

 "Kapan kakek akan berangkat?" bertanya Risang.

 

 "Aku akan berbicara dengan paman-pamanmu Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung," berkata Kiai Badra.

 

 Risang pun kemudian telah meninggalkan ketiganya, Kiai Badra dengan singkat telah menyatakan keinginannya untuk pergi ke Tanah Perdikan dalam waktu dua atau tiga hari.

 

 "Aku serahkan padepokan ini kepada kalian berempat," berkata Kiai Badra. "Berhati-hatilah terhadap orang-orang yang kurang senang atas kehadiran padepokan kecil ini di Kademangan Bibis. Orang-orang yang pernah dengan terus-menerus menyatakan penolakannya itu masih harus selalu mendapat perhatian. Mungkin mereka benar-benar sudah menganggap tidak ada persoalan lagi sebagaimana salah seorang di antara mereka yang justru telah menitipkan anaknya di padepokan ini. Tetapi apakah yang lain juga mempunyai sikap yang sama."

 

 . ayap-Sayap Yang Terkembang 035    

 

 NAMUN meskipun Kiai Badra telah menjadi semakin tua, bahkan menurut ujud lahiriahnya orang tua itu hampir memasuki saat-saat pikun dan menjadi lemah, tetapi ternyata bahwa Kiai Badra masih tetap seorang yang tangkas dan cekatan.

 

 Ilmu yang melambari dirinya memang sempat mempengaruhi sikap dan tingkah lakunya. Meskipun demikian dengan penuh kesadaran Kiai Badra merasa, bahwa akhirnya ia akan memasuki masa keterbatasannya. Tidak seorang pun akan mampu menghindarinya. Meskipun Kiai Badra pernah mengenal ilmu yang mampu mempertahankan ujud kewadagan untuk tetap nampak tidak menjadi tua, namun bagaimanapun juga akhirnya saat itu akan datang jika sudah saatnya datang. Karena itu memang tidak ada niatnya untuk melawan arus kekuasaan Sumber Hidupnya, karena justru ia harus pasrah seutuhnya.

 

 Dengan langkah-langkah yang cepat, Kiai Badra menyusuri kegelapan. Jarak yang ditempuh memang panjang. Untuk kebanyakan orang mungkin akan memerlukan waktu jauh lebih lama dari Kiai Badra yang tua itu.

 

 Seperti yang direncanakan, maka Kiai Badra telah memilih jalan yang menghindari padukuhan-padukuhan. Ia tidak mau setiap kali dihentikan dan harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kadang-kadang memang sulit untuk dijawab. Apalagi jika Kiai Badra memang ingin menyembunyikan kenyataan tentang dirinya sendiri.

 

 Namun ketika Kiai Badra berada ditengah-tengah bulak yang tidak terlalu panjang, yang disebelah menyebelah ditanami batang-batang jagung, maka ketajaman telinganya telah menangkap keributan meskipun agak jauh, justru di jalan yang akan dilaluinya. Semakin lama suara itu menjadi semakin dekat, sehingga Kiai Badra yakin, bahwa sekelompok orang sedang berlari-lari menuju ke arahnya.

 

 Dengan cepat, Kiai Badra telah meloncat dan menghilang di dalam rimbunnya batang-batang jagung yang subur.

 

 Sambil menahan nafasnya Kiai Badra kemudian melihat sekelompok orang yang berjalan dengan cepat melintas. Tetapi ada di antara mereka yang berusaha memperhatikan sebelah menyebelah bulak itu.

 

 "Kita kehilangan mereka," desis salah seorang di antara orang-orang yang melintas itu.

 

 Kata-kata itu agaknya telah menghambat langkah-langkah sekelompok orang itu. Bahkan beberapa puluh langkah dari tempat Kiai Badra bersembunyi, orang-orang berhenti. Mereka nampaknya ragu-ragu sejenak. Beberapa orang justru telah melangkah kembali beberapa langkah sambil berkata, "Mereka tentu masuk ke dalam lebatnya batang-batang jagung."

 

 "Ya," berkata yang lain. "Memang sulit untuk menemukan mereka."

 

 "Bagaimana dengan kawan-kawan kita yang melintas pematang?" bertanya yang lain lagi.

 

 Tiba-tiba seorang di antara mereka berteriak memecahkan heningnya malam, "He, yang disana. Apakah kalian menemukan?"

 

 Dari kejauhan terdengar jawab lamat-lamat tetapi cukup terang, "Tidak. Kami kehilangan jejak. Mereka menghilang."

 

 "Setan," geram seseorang."Mereka telah melukai dua orang di antara kita."

 

  ***

 

 "MEREKA berilmu tinggi. Kita harus berhati-hati," terdengar seorang yang lain berkata. Menilik suaranya orang itu sudah lebih tua dari yang lain. "Meskipun berilmu tinggi, tetapi jumlah kita berlipat ganda. Mereka hanya bertiga atau paling banyak berempat menurut penglihatan kita. Sedangkan kita sekian banyak orang," sahut seorang yang agaknya masih muda. 

 

 Sejenak orang-orang itu termangu-mangu. Namun tiba-tiba saja terdengar teriakan dari arah lain memecah ketegangan, "He, kita temukan mereka disini. Cepat."

 

 Sekelompok orang itu tiba-tiba menjadi ribut. Seorang bertanya, "Mereka tertangkap."

 

 "Belum tentu. Tetapi mereka dapat diketahui berada disana," sahut yang lain.

 

 "Dimana?" tiba-tiba seseorang bertanya.

 

 "Kau dengar suara itu," bentak yang lain lagi. "Mari kita kesana. Mereka tentu ada dibawah bendungan."

 

 Sekelompok orang itu pun segera berlari-lari. Namun mereka sempat berteriak kepada orang-orang yang berada disisi yang lain. "Mereka berada disungai, dibawah bendungan. Cepat. Kita harus menangkap mereka."

 

 Kiai Badra yang bersembunyi di antara batang-batang jagung menjadi termangu-mangu. Ketika orang-orang yang berkelompok itu telah menjauh, maka ia pun dengan hati-hati ke luar dari persembunyiannya.

 

 Sejenak Kiai Badra menjadi ragu-ragu. Tetapi ia didesak oleh satu keinginan untuk mengetahui, apa yang telah terjadi di bawah bendungan.

 

 Kiai Badra belum pernah melihat bendungan itu. Tetapi ia tidak akan mengalami kesulitan untuk mencari sungai yang membujur ditengah-tengah sawah itu. Apalagi Kiai Badra dapat menduga dari mana arah suara orang yang berteriak itu.

 

 Untuk beberapa saat Kiai Badra masih termangu-mangu ditempatnya. Ia benar-benar bimbang. Apakah ia akan melihat yang dapat memungkinkannya terlibat, atau tidak sama sekali. Tetapi menilik keterangan orang-orang yang sedang mencarinya, orang-orang itu adalah orang-orang berilmu tinggi. Jika terjadi bencana atas orang-orang padukuhan itu, dan ia pada suatu saat mendengarnya tentang peristiwa itu, maka ia tentu akan sangat menyesal.

 

 Namun akhirnya Kiai Badra itu memutuskan untuk melihat apa yang terjadi meskipun ia merasa wajib untuk sangat membatasi diri.

 

 "Jika tidak perlu sekali, aku tidak boleh terlibat," berkata Kiai Badra itu kepada diri sendiri.

 

 Namun ia pun mulai memikirkan, seandainya orang-orang yang diburu itu benar-benar penjahat yang berbahaya, maka apa yang sepantasnya dilakukan terhadap mereka. Seandainya ia melibatkan diri dan berhasil mengalahkan para penjahat itu, apakah para penjahat itu akan diserahkan kepada orang-orang padukuhan?"

 

 Jika demikian, maka para penjahat itu tentu akan dibunuh oleh orang-orang padukuhan yang marah itu.

 

 "Tetapi apakah aku akan membiarkan justru orang-orang padukuhan itu yang akan dibunuh? Tentu tidak hanya seorang. Sebagaimana dikatakan tadi, dua orang telah terluka. Apalagi jika mereka benar-benar telah terlibat ke dalam pertempuran yang sebenarnya. Mungkin tiga, mungkin empat. Bukan hanya terluka, tetapi dapat terjadi, mereka benar-benar terbunuh dalam benturan kekerasan itu. Jika mereka berempat dan setiap orang membunuh seorang yang berniat menangkapnya, maka akan terbunuh empat orang. Jika seorang membunuh dua orang?" Kiai Badra tiba-tiba menjadi sangat gelisah.

 

 Karena itu, maka ia pun telah bergerak untuk pergi ke bendungan.

 

 Tetapi Kiai Badra tertegun dalam kegelapan ia melihat batang jagung disebelah jalan bergerak-gerak. Semakin lama semakin mendekat. Sehingga akhirnya Kiai Badra mengetahui bahwa beberapa orang sedang berlari menyusup di sela-sela batang jagung.

 

 Dengan demikian maka Kiai Badra justru tidak beranjak dari tempatnya. Ia bahkan menunggu, siapa yang akan meloncat keluar dari rimbunnya batang-batang jagung itu. Kiai Badra memperhitungkan, bahwa mereka tentu bukan orang-orang padukuhan yang berlari-lari ke bendungan. Tidak melalui sawah. Bahkan tidak melalui pematang, apalagi merusak batang-batang jagung seperti itu.

 

 ***

 SEBENARNYALAH sejenak kemudian telah berloncatan empat orang melangkahi parit yang tidak terlalu luas. Sejenak kemudian mereka pun telah berlari di jalan itu pula. Ternyata keempat orang itupun terkejut melihat seseorang berdiri dihadapan mereka. 

 

 Tetapi justru Kiai Badra tidak terkejut sama sekali, karena ia memang sudah melihat sebelumnya.

 

 "Siapa kau?" tiba-tiba seorang di antara mereka menggeram.

 

 "Akulah yang harus bertanya kepada kalian Ki Sanak," sahut Kiai Badra. "Siapakah kalian sebenarnya. Dua orang tetangga kami telah kalian lukai. Nah, kalian harus membayar kesalahan itu dengan harga yang wajar."

 

 "Apa maksudmu? Kau seorang diri akan menangkap kami?" bertanya seorang yang lain.

 

 "Kalian memang harus ditangkap," jawab Kiai Badra.

 

 "Sebaiknya kau tidak ikut campur," bentak orang yang lain. "Persoalannya adalah sangat pribadi."

 

 "Kalian menganggap bahwa perampokan itu soal pribadi," bertanya Kiai Badra.

 

 "Siapa yang merampok?" orang yang paling tua di antara mereka justru bertanya, "Jika yang kau maksud kami, kami sama sekali tidak merampok. Kami datang untuk mengambil hak kami. Kamilah yang mempunyai piutang. Kedua orang itu segan untuk membayar utang mereka, sehingga terjadi selisih paham. Kami terpaksa bertindak tegas. Tetapi kami masih sadar, sehingga kami belum membunuhnya."

 

 Kiai Badra termangu-mangu. Agaknya persoalannya tidak sebagaimana di duga. Namun demikian Kiai Badra itu pun berkata, "Tetapi orang-orang padukuhan kami menganggap bahwa kalian telah merampok."

 

 "Omong kosong," geram yang tertua di antara mereka. "Kami menuntut hak kami yang telah digelapkan oleh kedua orang yang terluka itu. Itu pun karena keduanya telah berusaha melawan dengan kekerasan senjata."

 

 "Baiklah," berkata Kiai Badra. "Jika demikian, marilah. Kita pergi ke rumah Ki Bekel. Kita akan membicarakan masalah ini dengan wajar."

 

 "Tidak ada campur tangan orang lain," sahut orang tertua itu. "Persoalannya sangat pribadi. Tetapi persoalannya memang bukan rahasia. Kedua orang itu telah membawa uang dari rumah perjudian. Nah, kami harus mengambil kembali uang itu, karena sebagian besar dari uang yang dibawa itu adalah uang kami."

 

 "Bagaimana mungkin," desis Kiai Badra.

 

 "Keduanya adalah juga penjudi seperti kami. Tetapi keduanya sangat licik. Untuk menghindari kemungkinan buruk, maka orang itu telah menyediakan semacam kartu yang bernilai uang. Kartu itulah yang dipergunakan sebagai pembayaran curang, karena mereka terikat untuk menukarkan kartu-kartu itu kembali. Kami mengetahui dengan pasti, siapakah yang menang dan siapakah yang kalah. Seorang akan berjudi selama saat yang ditentukan. Tidak ada seorang yang belum waktunya meninggalkan arena setelah menang banyak sekali. Kami baru selesai jika kami telah sampai pada jangka waktu yang telah kami setujui menang atau kalah. Selanjutnya kami dapat membuat perjanjian baru.Yang tidak ingin meneruskan, dapat menukarkan uangnya kembali dan mengembalikan kartu-kartu yang bernilai uang itu."

 

 Kiai Badra mengangguk-angguk. Ia sudah mengerti kelanjutan cerita itu, sehingga ia pun berkata, "Kedua orang itu telah melarikan uang yang disimpannya dan ditukar untuk sementara dengan kartu-kartu itu?"

 

 "Ya. Bukankah itu satu pengkhianatan atau bahkan satu perampokan yang licik," sahut orang tertua di antara mereka. "Karena itu aku datang kepada mereka."

 

 "Ki Sanak," berkata Kiai Badra. "Aku ulangi. Biarlah persoalan ini kita bicarakan dengan Ki Bekel dan para bebahu agar dapat selesai dengan tuntas."

 

 "Aku tidak mau berurusan dengan orang lain meskipun Ki Bekel atau para babahu atau Ki Demang atau Sultan Pajang sekalipun," sahut orang tertua. Lalu, "Karena itu jangan mencampuri persoalan kami."

 

 "CARAMU menyakiti hati orang-orang padukuhan," berkata Kiai Badra. "Seharusnya kalian tidak berbuat seperti itu." "Apa yang harus kami lakukan?" bertanya orang itu. "Kau bicarakan masalahnya dengan pemimpin padukuhan itu. Ki Bekel tentu akan mengerti dan justru akan membantumu," berkata Kiai Badra. "Sudahlah Ki Sanak," berkata orang itu. "Jangan ganggu kami. Kami akan membuat perhitungan dengan kedua orang itu." 

 

 "Tetapi kau sudah melukai mereka," berkata Kiai Badra.

 

 "Tetapi persoalannya belum selesai," jawab orang itu. "Uang itu belum dikembalikan."

 

 "Jika tidak dikembalikan?" bertanya Kiai Badra.

 

 "Tidak ada jalan lain. Kami terpaksa menyelesaikan menurut paugeran yang ada pada kami," jawab orang itu.

 

 "Membunuh?" bertanya Kiai Badra.

 

 "Ya. Sekarang kami akan memasuki lagi padukuhan selagi orang-orang padukuhan berada di bendungan. Jika kami kehilangan waktu dan bertemu dengan orang-orang padukuhan, maka persoalannya akan jadi lain. Kami tentu akan mempertahankan diri dan mungkin ujung-ujungnya senjata kami akan menumpahkan darah lagi. Sampai sekarang kami masih mencoba menghindar dengan memancing orang-orang padukuhan itu ke bendungan."

 

 Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Namun demikian ia pun berkata, "Ki Sanak. Aku tetap menganjurkan agar kalian bertemu dengan Ki Bekel. Dengan demikian maka kalian akan berhasil mendapatkan uang kalian atau cara pengembalian yang dapat dibicarakan tanpa kekerasan. Tetapi jika kalian akan melakukan kekerasan atas kedua orang yang telah terluka itu, maka aku kira kalian akan gagal sehingga kalian terpaksa harus membunuh mereka."

 

 "Sudahlah," geram orang itu. "Pergilah. Jangan ganggu aku."

 

 "Aku tidak akan pergi. Jika kau tidak mau bertemu dengan Ki Bekel. Mungkin sebagian dari ceritamu benar. Tetapi tentu ada persoalan lain yang tidak benar."

 

 Wajah orang tertua di antara keempat orang itu menjadi tegang. Dengan keras orang itu berkata, "Jika demikian kau adalah orang yang pertama harus aku singkirkan. Bahkan jika perlu aku akan membunuhmu."

 

 "Jangan berkata begitu Ki Sanak. Aku hanya sekadar memperingatkan bahwa ada cara yang lebih baik," berkata Kiai Badra.

 

 "Kalau begitu, terima kasih," berkata orang itu. "Tetapi peringatanmu tidak mengikat," Lalu katanya kepada kawan-kawannya, "Marilah, kita tinggalkan orang ini."

 

 Namun ketika mereka mulai bergerak, Kiai Badra berkata, "Jangan tinggalkan aku sendiri dalam keadaan seperti ini."

 

 Orang tertua di antara keempat orang itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, "Kau akan mempermainkan kami Ki Sanak."

 

 Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Agaknya ia memang tidak akan dapat ingkar lagi, bahwa ia akan terlibat. Karena itu, maka ia pun berkata, "Sudahlah Ki Sanak. Jika kau memang tidak ingin terjadi sesuatu di padukuhan itu, pergilah. Jangan kembali ke padukuhan. Kau tidak akan terlibat dalam benturan dengan siapapun juga."

 

 Tetapi keempat orang yang menyadari, bahwa mereka berhadapan dengan seseorang yang setidak-tidaknya mempunyai keyakinan kepada diri sendiri untuk berani menghadapi keempat orang itu sekaligus, segera bersiap. Orang yang tertua di antara mereka berkata, "Ki Sanak. Kau sudah nampak tua. Tetapi agaknya kau mempunyai kepercayaan yang sangat tinggi terhadap dirimu sendiri. Kau dengan tenang telah berani mencegah kami berempat untuk datang kembali ke padukuhan itu. Tanpa kemampuan yang dapat kau banggakan, maka kau tidak akan berani berbuat demikian."

 

 "Aku hanya ingin mencegah benturan kekerasan, apalagi kematian yang mungkin terjadi dalam benturan itu," berkata Kiai Badra.

 

 ***

 

 TETAPI kau belum mengenal kami. Itu kesalahanmu kali ini. Mungkin kau menganggap bahwa kami lebih dari orang-orang padukuhan itu. Karena itu, jangan menyesal jika ternyata kau akan mengalami nasib buruk disini," berkata orang itu. 

 

 Kiai Badra mengangguk-angguk sambil menjawab, "Kau benar Ki Sanak. Aku telah bersikap terlalu berani mencegah tingkah laku kalian. Empat orang yang tentu juga mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri untuk dapat mengalahkan orang sepadukuhan. Tetapi sekali lagi aku beritahukan, bahwa sebenarnyalah aku terdorong oleh satu keinginan untuk mencegah benturan dengan orang-orang padukuhan yang tentu tidak akan dapat mengelakkan diri dari korban-korban yang bakal kau ambil dari mereka."

 

 "Marilah," berkata orang itu kepada kawan-kawannya. "Kita tidak mempunyai banyak kesempatan. Jika orang ini berani mencegah kita berempat, maka kita pun akan melayaninya berempat. Kita akan dengan cepat menyelesaikan pekerjaan kita di padukuhan ini. Berhati-hatilah. Orang ini tentu orang yang merasa dirinya berilmu tinggi."

 

 Keempat orang itu pun segera bergerak. Mereka telah mengepung Kiai Badra dari empat arah. Agaknya keempat orang itu memang ingin segera menyelesaikannya.

 

 Kiai Badra termangu-mangu sejenak. Menilik sikapnya, orang-orang itu memang orang-orang yang berilmu tinggi. Namun Kiai Badra memang belum mengetahui tingkat ilmu mereka berempat. Mungkin ilmu mereka sejajar, tetapi mungkin pula tidak.

 

 Karena itu, maka Kiai Badra harus berhati-hati menghadapi mereka yang ingin segera menghentikan perlawanannya.

 

 Sejenak kemudian, orang-orang itu pun mulai bergerak. Seorang di antara mereka telah mengayunkan tangannya. Namun tidak terlalu keras sehingga Kiai Badra tidak perlu meloncat menghindar. Ia bergeser mundur selangkah. Tetapi tiba-tiba justru orang yang berada di arah lainnya yang meloncat menyambarnya. Tangannya terayun deras sekali mengarah ke tengkuknya.

 

 Namun Kiai Badra masih sempat mengelak. Sambil merendahkan lututnya ia membungkukan kepalanya.

 

 Gerak itu ternyata sudah diperhitungkan oleh lawannya-lawannya. Tiba-tiba kaki seorang di antara mereka telah bergerak pula dengan cepat menyambar kening Kiai Badra yang sedang dirundukkan itu.

 

 Kiai Badra menggeliat. Ia sadar, bahwa orang-orang itu benar-benar ingin dengan cepat menyelesaikannya.

 

 Dengan demikian maka Kiai Badra pun telah mengimbanginya pula. Ia pun segera bergeser sambil menggeliat. Namun telah diperhitungkan pula serangan-serangan lain yang datang beruntun.

 

 "Liat juga orang tua ini," berkata orang tertua di antara keempat orang itu, "He, siapa namamu?"

 

 Kiai Badra meloncat ke samping namun ia segera harus berputar menghindari serangan beruntun. Ketika dua orang yang lain menyerangnya pula, maka orang tua itu terpaksa meloncat panjang.

 

 "Bertanyalah kepada Ki Bekel," jawab Kiai Badra.

 

 "Kau kira aku percaya bahwa kau orang padukuhan ini?" berkata orang tertua di antara mereka.

 

 "Terserah kepada kalian. Percaya atau tidak percaya. Itu hak kalian. Tetapi jika kalian dapat aku tangkap, kalian akan aku hadapkan kepada Ki Bekel. Orang-orang padukuhan inilah yang akan mengadili kalian," sahut Kiai Badra.

 

 Kiai Badra tidak sempat berbicara lebih panjang lagi. Serangan keempat orang itu datang semakin lama semakin cepat, susul menyusul. Namun kadang-kadang beruntun dan bersamaan pula serta datang dari arah yang berlawanan.

 

 Kiai Badra benar-benar harus meningkatkan kemampuannya. Keempat orang itu memang orang-orang berilmu. Namun Kiai Badra telah berhasil menjajagi kemampuan mereka, sehingga agaknya ia masih akan sanggup menundukkan mereka. .

 

 ***

 

 "TETAPI jika sedikit saja aku membuat kesalahan, maka rasa-rasanya akulah yang akan terkapar di bulak ini," berkata Kiai Badra kepada diri sendiri, karena sebenarnyalah ada di antara keempat orang itu yang berilmu lebih tinggi dari yang lain. Orang yang tertua di antara mereka adalah orang yang berbekal cukup untuk bertualang di dunia olah kanuragan yang keras dan kasar. Karena itu, bagaimana pun juga Kiai Badra tidak boleh meremehkan lawan-lawannya. Sesuatunya masih mungkin terjadi. Justru mungkin masih di luar dugaannya. 

 

 Sementara itu keempat lawan Kiai Badra itu berusaha untuk dapat dengan cepat melumpuhkan orang tua yang dianggapnya telah mengganggunya. Mereka pun telah meningkatkan tekanan mereka, sehingga keempat orang itu telah bergerak berputaran. Mereka menyerang susul menyusul dengan cepat dari arah yang berbeda-beda.

 

 Dengan nada tinggi orang tertua di antara mereka itu pun berkata, "Kita percepat gerak ini. Orang itu sudah tua. Betapapun tinggi ilmunya, ia akan segera diburu oleh nafasnya yang terengah-engah."

 

 Ternyata bahwa ketiga orang kawan-kawannya pun segera tanggap. Mereka segera meningkatkan ilmu mereka sehingga pertempuran itu pun menjadi semakin cepat.

 

 Tetapi dugaan mereka atas Kiai Badra itu ternyata keliru. Kiai Badra yang sudah berpuluh tahun melatih jalur pernafasannya memungkinnya untuk mengatasi desah yang diperhitungkan akan segera memburu dilubang hidungnya karena ketuaannya.

 

 Meskipun Kiai Badra tidak dapat mengelak atas pengaruh umurnya yang semakin tua, tetapi ternyata bahwa berbekal ilmu, pengalaman dan latihan-latihan ia masih tetap seorang tua yang berbahaya bagi keempat lawannya itu.

 

 Ketika keempat orang itu menjadi semakin garang dan keras, maka Kiai Badra pun menjadi semakin meningkatkan kemampuannya pula. Bahkan Kiai Badra yang merasa bahwa perjalanannya masih cukup jauh tidak mau berlama-lama bermain-main dengan mereka.

 

 Sejenak kemudian, ketika keempat orang itu mulai bertempur dengan menghentak-hentak untuk memancing agar orang tua itu mengerahkan tenaganya, ternyata Kiai Badra telah berbuat lain. Tiba-tiba saja melenting dengan cepatnya, menyerang dua orang lawan yang berada disisi yang berdekatan. Demikian cepatnya, sehingga sulit bagi keempat orang itu untuk mengetahui apa yang telah terjadi atas diri mereka.

 

 Ternyata dua orang di antara mereka telah mengalami kesulitan. Serangan orang tua itu datang menyambar seperti burung sikatan. Cepat dan sulit untuk dihindari. Ketika tangan Kiai Badra terayun, lawannya memang berusaha untuk bergeser. Tetapi tiba-tiba saja kakinyalah yang berputar. Demikian cepatnya, sehingga lawannya tidak mampu berbuat sesuatu ketika tumit Kiai Badra itu mengenai lambungnya. Demikian kerasnya, sehingga rasa-rasanya perutnya menjadi sangat mual sementara lambungnya menjadi sangat nyeri.

 

 Lawannya yang lain yang berusaha menolongnya dengan menyerang orang tua itu, sama sekali tidak dapat mengenai sasarannya. Bahkan demikian kakinya terayun, maka dengan tangkas Kiai Badra menggeliat justru sambil meloncat maju. Sikunyalah yang mengenai dada sebelah kiri dari lawannya yang menyerang itu.

 

 ***

 

 "TETAPI jika sedikit saja aku membuat kesalahan, maka rasa-rasanya akulah yang akan terkapar di bulak ini," berkata Kiai Badra kepada diri sendiri, karena sebenarnyalah ada di antara keempat orang itu yang berilmu lebih tinggi dari yang lain. Orang yang tertua di antara mereka adalah orang yang berbekal cukup untuk bertualang di dunia olah kanuragan yang keras dan kasar. Karena itu, bagaimana pun juga Kiai Badra tidak boleh meremehkan lawan-lawannya. Sesuatunya masih mungkin terjadi. Justru mungkin masih di luar dugaannya. 

 

 Sementara itu keempat lawan Kiai Badra itu berusaha untuk dapat dengan cepat melumpuhkan orang tua yang dianggapnya telah mengganggunya. Mereka pun telah meningkatkan tekanan mereka, sehingga keempat orang itu telah bergerak berputaran. Mereka menyerang susul menyusul dengan cepat dari arah yang berbeda-beda.

 

 Dengan nada tinggi orang tertua di antara mereka itu pun berkata, "Kita percepat gerak ini. Orang itu sudah tua. Betapapun tinggi ilmunya, ia akan segera diburu oleh nafasnya yang terengah-engah."

 

 Ternyata bahwa ketiga orang kawan-kawannya pun segera tanggap. Mereka segera meningkatkan ilmu mereka sehingga pertempuran itu pun menjadi semakin cepat.

 

 Tetapi dugaan mereka atas Kiai Badra itu ternyata keliru. Kiai Badra yang sudah berpuluh tahun melatih jalur pernafasannya memungkinnya untuk mengatasi desah yang diperhitungkan akan segera memburu dilubang hidungnya karena ketuaannya.

 

 Meskipun Kiai Badra tidak dapat mengelak atas pengaruh umurnya yang semakin tua, tetapi ternyata bahwa berbekal ilmu, pengalaman dan latihan-latihan ia masih tetap seorang tua yang berbahaya bagi keempat lawannya itu.

 

 Ketika keempat orang itu menjadi semakin garang dan keras, maka Kiai Badra pun menjadi semakin meningkatkan kemampuannya pula. Bahkan Kiai Badra yang merasa bahwa perjalanannya masih cukup jauh tidak mau berlama-lama bermain-main dengan mereka.

 

 Sejenak kemudian, ketika keempat orang itu mulai bertempur dengan menghentak-hentak untuk memancing agar orang tua itu mengerahkan tenaganya, ternyata Kiai Badra telah berbuat lain. Tiba-tiba saja melenting dengan cepatnya, menyerang dua orang lawan yang berada disisi yang berdekatan. Demikian cepatnya, sehingga sulit bagi keempat orang itu untuk mengetahui apa yang telah terjadi atas diri mereka.

 

 Ternyata dua orang di antara mereka telah mengalami kesulitan. Serangan orang tua itu datang menyambar seperti burung sikatan. Cepat dan sulit untuk dihindari. Ketika tangan Kiai Badra terayun, lawannya memang berusaha untuk bergeser. Tetapi tiba-tiba saja kakinyalah yang berputar. Demikian cepatnya, sehingga lawannya tidak mampu berbuat sesuatu ketika tumit Kiai Badra itu mengenai lambungnya. Demikian kerasnya, sehingga rasa-rasanya perutnya menjadi sangat mual sementara lambungnya menjadi sangat nyeri.

 

 Lawannya yang lain yang berusaha menolongnya dengan menyerang orang tua itu, sama sekali tidak dapat mengenai sasarannya. Bahkan demikian kakinya terayun, maka dengan tangkas Kiai Badra menggeliat justru sambil meloncat maju. Sikunyalah yang mengenai dada sebelah kiri dari lawannya yang menyerang itu.

 

 ***

 

 DUA orang bersama-sama telah disakitinya. Demikian nyerinya sehingga keduanya untuk sesaat seolah-olah tidak mampu lagi berbuat sesuatu. Bahkan orang yang telah dikenai lambungnya itu pun telah berjongkok sambil memijit lambungnya yang kesakitan. Sementara orang lain dadanya bagaikan menjadi sesak. Karena itu, maka orang itu pun telah bergeser menjauh untuk mengatur pernafasannya. 

 

 Dua orang yang lain terkejut melihat peristiwa beruntun dan begitu cepat terjadi itu. Namun mereka tidak dapat tinggal diam. Dengan serta merta keduanya telah berusaha menyerang bersama-sama.

 

 Kiai Badralah yang kemudian meloncat beberapa langkah ke luar dari kepungan keempat orang itu, yang dua di antaranya tidak mampu lagi menahannya untuk tetap berada dalam lingkaran. Ketika dua orang lainnya memburunya, Kiai Badra pun telah siap menghadapi mereka.

 

 Tetapi kedua orang itu pun kemudian menjadi ragu-ragu. Berempat mereka tidak dapat dengan segera mengalahkan orang tua itu. Apalagi ketika dua orang kawannya telah mengalami kesulitan di dalam dirinya.

 

 Namun karena itu, maka tiba-tiba saja seorang di antara kedua orang itu menarik pedangnya sambil berkata lantang, "Orang tua tidak tahu diri. Apakah kau memang benar-benar ingin mati?"

 

 Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, "Apakah kau bersungguh-sungguh?"

 

 "Ya," geram orang itu.

 

 "Apakah aku juga harus bersungguh-sungguh?" bertanya Kiai Badra pula.

 

 Pertanyaan Kiai Badra itu memang mengejutkan. Namun pada nada suaranya terasa getaran yang menekan jantung orang-orang itu. Keyakinan yang sangat besar akan kemampuan diri sendiri serta kenyataan yang telah mereka alami, membuat orang tertua di antara keempat orang itu berpikir ulang.

 

 Melihat sikap orang tua itu, maka orang tertua di antara mereka pun menjadi ragu-ragu. Bahkan kemudian katanya kepada kawannya, "Dua orang kawan kita sudah disakitinya. Karena itu, maka sebaiknya kita menilai orang ini dengan wajar. Orang tua ini tentu seorang yang berilmu tinggi."

 

 "Kau tidak usah memuji seperti itu," berkata kawannya. "Kita akan menyelesaikan persoalan kita."

 

 "Dengan pedang ini aku akan mengakhiri kesombongannya," berkata kawannya lagi.

 

 Tetapi orang tertua itu menggeleng. Katanya, "Kita tidak mempunyai waktu. Orang-orang yang dibendungan itu akan segera menyebar lagi untuk mencari kita. Sebagian dari mereka tentu akan kemari lagi."

 

 Kiai Badra termangu-mangu melihat sikap orang itu. Namun kemudian katanya, "Ki Sanak. Aku tidak akan melepaskan kalian. Sebaiknya kalian bertemu dengan Ki Bekel. Persoalan kalian akan dapat diselesaikan dengan tuntas."

 

 "Tetapi bukankah kau minta agar kami meninggalkan tempat ini?" bertanya orang tertua itu.

 

 "Dan bukankah kau menolaknya dan bahkan telah terjadi perkelahian?" Kiai Badra ganti bertanya.

 

 Orang tertua di antara orang itu pun menarik nafas dalam-dalam. Tetapi penglihatannya yang lebih tajam dari ketiga orang kawannya meyakinkannya, bahwa ia tidak akan dapat memenangkan perkelahian itu meskipun mereka berempat bersenjata. Orang tertua di antara keempat orang itu yakin, bahwa orang tua itu tentu memiliki ilmu yang tidak dapat mereka atasi.

 

 Karena itu, maka orang tertua itupun kemudian bertanya, "Apakah maksud Ki Sanak sebenarnya?"

 

 "Kita bertemu Ki Bekel. Kita bicarakan semuanya dengan baik sehingga kalian tidak perlu melakukan kekerasan seperti itu. Sebab betapapun tinggi kemampuan kalian, tentu satu ketika kalian akan dapat dikalahkan oleh orang lain dan seterusnya. Tidak ada yang dapat dengan mutlak menang atas siapapun juga," berkata Kiai Badra.

 

 ***

 

 Orang tertua itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya kepada kawan-kawannya, "Kita tidak mempunyai pilihan lain. Kita memang lebih baik berbicara terus terang." "Aku tidak akan menyerah," berkata orang yang telah menggenggam pedang, "Sejak kapan kakang tiba-tiba menjadi orang yang begitu lemah?" 

 

 "Aku melihat kesempatan untuk berbicara," berkata orang tertua itu. "Aku tidak mau mati ditangan orang-orang padukuhan dengan cara yang paling menyakitkan hati."

 

 "Kita hanya berhadapan dengan orang tua itu," jawab orang yang berpedang.

 

 "Sekarang. Tetapi sebentar lagi, orang-orang itu akan berdatangan. Apalagi jika orang tua itu memberikan isyarat. Kau kira orang-orang di bendungan yang kehilangan kita itu akan tetap berada dibendungan dan mencari kita di antara batu-batu kerikil di tepian?" sahut orang yang tertua.

 

 Orang berpedang itu mula-mula tidak dapat mengerti sikapnya. Tetapi akhirnya ia pun harus mengakui. Orang tua itu memang memiliki ilmu yang tinggi, yang akan dapat melumpuhkan mereka berempat. Jika orang tua itu marah, maka mereka berempat akan diserahkan kepada orang-orang padukuhan dalam keadaan yang berbeda, sehingga keadaan mereka pun sangat mencemaskan.

 

 Namun dalam pada itu, tiba-tiba seorang di antara mereka berdesis, "Bagaimana dengan anak itu?"

 

 Kawan-kawannya tertegun sejenak. Namun seorang di antara mereka berkata pula, "Apakah anak itu sudah disingkirkan?"

 

 "Tentu sudah," jawab orang tertua di antara mereka. "Kita tidak usah memikirkannya."

 

 "Anak siapa?" bertanya Kiai Badra. "Apakah kalian telah menculik seorang anak?"

 

 "Bukan kanak-kanak," jawab orang tertua. "Ia telah meningkat remaja. Remaja dari lingkungan kami sendiri."

 

 "Siapa?" bertanya Kiai Badra.

 

 "Seandainya aku sebut sebuah nama, kau pun tidak akan mengetahuinya," jawab orang tertua di antara mereka. "Ia adalah anak seorang Kepala Tanah Perdikan. Ia harus mulai diperkenalkan dengan kehidupan yang keras untuk menempa dirinya."

 

 Dada Kiai Badra menjadi berdebar-debar. Di luar sadarnya ia masih juga berkata, "Sebut namanya."

 

 "Tidak ada gunanya," jawab orang tertua itu

 

 Kiai Badra mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, "Baiklah. Jadi anak Kepala Tanah Perdikan itu kau ajari merampok."

 

 "Kami tidak merampok," jawab orang tertua itu tegas. "Persoalannya adalah persoalan yang terjadi dalam perjudian."

 

 "Jadi kau ajari anak itu berjudi?" berkata Kiai Badra.

 

 "Tidak.Kami tidak mengajarinya berjudi. Tetapi ia harus melihat dunia yang keras bagi bekal hidupnya," berkata orang tertua itu.

 

 Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia berusaha untuk mengerti lebih banyak lagi. Katanya, "Apakah ayah anak itu tidak menjadi marah karenanya?"

 

 "Kepala Tanah Perdikan itu sudah tidak ada lagi. Ibunya tidak mempunyai keberatan dan pengalaman itu memang akan membuatnya masak pada usia dewasanya," berkata orang tertua itu. "Anak itu akan mempunyai pengalaman yang lengkap. Yang baik dan yang buruk. Kini ia sedang berhadapan dengan orang-orang yang licik. Tetapi anak itu tidak perlu terlibat langsung."

 

 Kiai Badra termangu-mangu sejenak. Tiba-tiba saja ia ingat kepada Risang. Anak seorang pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan yang terbunuh sebelum sempat diwisuda. Namun tiba-tiba pula Kiai Badra juga teringat kepada Puguh. Hampir saja ia menyebut nama itu. Tetapi niat itu pun diurungkannya. Jika ia sempat menyebut nama itu, orang-orang itu pun akan menjadi curiga pula kepadanya. Bahkan mungkin orang-orang itu akan sempat menghubungkannya dengan kedudukan yang sebenarnya di Tanah Perdikan Sembojan.

 

 Dalam pada itu, tiba-tiba saja ada keseganan padanya untuk terkait dengan persoalan keempat orang itu. Jika keempat orang itu sempat memperhatikannya, maka mungkin sekali ceriteranya kepada kawan-kawannya akan didengar oleh orang yang pernah mengenalinya, apabila yang dimaksud dengan anak Kepala Tanah Perdikan itu benar Puguh.

  

 

 ***

 

 KARENA itu, maka Kiai Badra menganggap bahwa lebih baik baginya untuk menghindarkan diri dari pengenalan yang lebih teliti dari keempat orang itu.Ada semacam kecemasannya, bahwa pertemuan itu merupakan pangkal tolak penelusuran yang dilakukan oleh Ki Randukeling karena Kiai Badra pun mengetahui bahwa Ki Randukeling adalah orang yang juga berilmu tinggi. 

 

 Dengan demikian maka Kiai Badra pun bertanya, "Nah Ki Sanak. Apakah yang akan Ki Sanak lakukan sekarang?"

 

 "Bukankah kami harus bertemu dengan Ki Bekel seperti yang Ki Sanak katakan?" jawab orang tertua di antara mereka.

 

 "Nah itu lebih baik," berkata Kiai Badra. "Segala sesuatunya dapat dibicarakan dengan baik. Kau tidak usah mempergunakan kekerasan. Jika ternyata kedua orang itu memang bersalah, maka biarlah Ki Bekel mengadili orang-orangnya sendiri. Tetapi hutang piutang dalam persoalan yang menyangkut perjudian memang tidak akan dapat dipecahkan. Hutang piutang dalam arena perjudian atau bahkan penggelapan sekalipun sebagaimana kau katakan telah dilakukan oleh kedua orang itu, akan sulit untuk diusut dan bahkan cenderung untuk dianggap tidak pernah terjadi."

 

 "Itulah sebabnya kami mengambil jalan pintas," berkata salah seorang di antara keempat orang itu.

 

 "Tetapi bukankah persoalannya kemudian menyangkut seluruh kehidupan di padukuhan itu?" bertanya Kiai Badra.

 

 "Baiklah Ki Sanak," berkata orang tertua di antara mereka. "Kami akan berbicara dengan Ki Bekel."

 

 Kiai Badra masih akan berbicara lagi. Namun tiba-tiba dikejauhan terdengar seorang berteriak, "Kami kehilangan jejak mereka, kami tidak dapat menemukannya."

 

 "Mereka tentu belum terlalu jauh," teriak yang lain dari arah yang berbeda. "Kita menyebar lagi."

 

 Suara itu pun kemudian lenyap disepinya malam. Tetapi Kiai Badra dan keempat orang itu tahu, bahwa orang-orang padukuhan itu telah menyebar.

 

 "Marilah," berkata Kiai Badra. "Kita pergi ke padukuhan."

 

 Namun orang tertua di antara mereka itu pun berkata, "Ki Sanak. Aku tahu kau bukan orang padukuhan ini."

 

 Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Siapapun aku, aku ingin melihat kalian bertemu dengan Ki Bekel."

 

 "Jika saja kau mau menyebut nama dan kedudukanmu," desis orang tertua di antara mereka.

 

 Kiai Badra tertawa. Katanya, "Sedangkan anak-anak saja kau sembunyikan pertanda dirinya."

 

 Orang itu mengerutkan keningnya. Namun Kiai Badra kemudian berkata, "Baiklah. Aku memang bukan orang yang merasa perlu merahasiakan diriku. Aku memang seorang pengembara yang hanya sekadar singgah di tempat ini karena peristiwa yang baru saja terjadi. Jika Ki Sanak sudi memanggil, aku bernama Santawiguna. Aku berasal dari Demak."

 

 Orang tertua di antara keempat orang itu mengangguk-angguk. Katanya, "Tidak seorang pun akan dapat membantah nama apapun yang kau sebut. Tetapi tidak sepantasnya pula kami mencurigai nama dan asal usul Ki Sanak."

 

 "Itulah sebabnya maka aku pun agak segan menyebut nama dan asal usulku. Kau yang sudah merahasiakan sesuatu, tentu menganggap bahwa orang lain pun telah melakukan hal yang sama. Karena itu, terserah kepadamu, kau percaya atau tidak," berkata Kiai Badra.

 

 Namun dalam pada itu, Kiai Badra berkata pula, "Kita pergi ke padukuhan. Kita akan berbicara dengan Ki Bekel."

 

 Keempat orang itu menarik nafas dalam-dalam. Namun akhirnya mereka berlima pun telah melangkah menuju ke padukuhan, setelah orang yang menarik pedang itu menyarungkan kembali senjatanya.

 

 Dalam pada itu, ketika mereka mendekati padukuhan, tiba-tiba saja mereka melihat beberapa orang berlari-lari. Namun tiba-tiba mereka tertegun dan salah seorang di antara mereka berkata, "Itulah mereka."

 

 "Tunggu," berkata Kiai Badra.

 

 ***

 

 "HE," orang itu berteriak. "Mereka berada disini." "Ya. Kami memang menunggu kedatangan kalian," berkata Kiai Badra. Namun beberapa orang telah berteriak lagi memanggil kawan-kawannya. 

 

 Beberapa orang memang berlari-lari datang. Bahkan sekelompok yang lain berlarian lewat pematang, sehingga mereka justru berada di belakang Kiai Badra dan keempat orang yang akan dibawanya menemui Ki Bekel.

 

 "Kepung mereka," berteriak seseorang. "Jangan sampai lolos."

 

 Kiai Badra memang menunggu hiruk pikuk itu mereda. Kemudian baru ia mencoba berteriak mengatasi suara orang-orang yang marah itu. "Nah, Ki Sanak. Dengarlah. Aku akan memberikan penjelasan."

 

 "Penjelasan apa?" teriak seorang di antara mereka yang marah itu. "Menyerah sajalah. Kita akan membawa kalian ke padukuhan. Kalian telah melukai dua orang tetangga kami."

 

 "Kami memang ingin berbicara dengan Ki Bekel," berkata Kiai Badra.

 

 "Ki Bekel memerintahkan kepada kami untuk menangkap dan mengikat kalian. Bahkan perintah Ki Bekel, jika kalian melawan maka kami diberi wewenang untuk menangkap kalian hidup atau mati."

 

 "Apapun yang kalian sebutkan, tetapi beri kesempatan kami berbicara dengan Ki Bekel. Persoalannya akan segera selesai tanpa pertumpahan darah," berkata Kiai Badra. "Sebenarnya akulah yang telah membujuk mereka berempat untuk dengan secara baik berhubungan dengan kalian. Tidak dengan kekerasan."

 

 "Jangan mengigau. Kami akan menangkap kalian. Bukan untuk berbicara dengan Ki Bekel, tetapi untuk diadili," berkata seorang yang agaknya mempunyai pengaruh di antara orang-orang padukuhan itu.

 

 "Ki Sanak," berkata Kiai Badra. "Kita belum tahu dengan jelas, persoalan apa yang terjadi. Aku bukan di antara mereka. Tetapi aku serba sedikit tahu, apa yang telah terjadi sebenarnya. Jika orang-orang ini sudah bertemu dengan Ki Bekel, maka aku segera meninggalkan tempat ini, karena sebenarnya aku tidak mempunyai sangkut paut langsung dengan mereka maupun dengan kalian."

 

 "Cukup," bentak orang yang memimpin sekelompok orang padukuhan itu, "Menyerahlah kalian berlima."

 

 Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Namun sementara itu seorang berkata, "Ternyata mereka berlima. Bukan hanya berempat."

 

 "Lebih dari lima. He, dimana anak-anak yang ada di antara mereka?" bertanya seorang tiba-tiba.

 

 "Ya. Tentu sudah disembunyikannya. Jika demikian, maka mereka terdiri dari banyak orang," berkata yang lain.

 

 Kiai Badra termangu-mangu. Namun kemudian katanya, "Aku ingin memperingatkan untuk yang terakhir kalinya Ki Sanak. Berilah kesempatan orang-orang ini bertemu dengan Ki Bekel. Biarlah orang-orang ini mengatakan yang sebenarnya. Bawa dua orang yang terluka itu menghadap. Biarlah keduanya ikut menentukan, apa yang akan kalian lakukan kemudian," Kiai Badra berhenti sejenak, lalu katanya kepada keempat orang itu. "Tetapi bukankah kalian tidak berbohong?"

 

 "Tidak Aku berkata sebenarnya. Sebagian besar dari kata-kataku benar," jawab orang tertua di antara keempat orang itu.

 

 "Sebagian besar," ulang Kiai Badra sambil mengangguk-angguk. "Tetapi yang sebagian besar itu pun sudah memadai."

 

 Dalam pada itu orang yang memimpin orang-orang padukuhan itu pun berkata lantang, "Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan. Berikan tangan kalian. Kami akan mengikatnya."

 

 "Jangan memaksa begitu," jawab Kiai Badra. "Dengar kata-kataku, atau aku justru tidak ikut campur lagi tentang persoalan ini."

 

 Orang padukuhan itu menjadi tegang. Dengan nada marah ia berkata, "Jangan permainkan kami."

 

 Orang tertua di antara keempat orang itu pun kemudian berkata kepada Kiai Badra, "Nah, apakah dengan cara ini kita akan dapat bertemu dengan Ki Bekel sebagaimana kau katakan?"

 

 ***

 

 KIAI BADRA menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya kepada orang-orang padukuhan, "Baiklah. Jika kalian tidak mau memberi kesempatan kepada orang-orang ini bertemu dengan Ki Bekel, maka biarlah mereka mempergunakan cara sebagaimana ingin mereka tempuh. Nah, kalian harus mempergunakan senjata. Mungkin kalian memang akan dapat menangkap mereka berempat, tetapi lebih dari separo di antara kalian akan mati. Nah, bersiaplah, siapa yang akan mati lebih dahulu. Sebaiknya kalian saling memberikan pesan, mungkin kepada istri kalian atau kepada anak-anak kalian. Besok padukuhan ini akan berkabung karena sebuah iring-iringan mayat akan dibawa ke kuburan." 

 

 Kiai Badra berhenti sejenak. Ia ingin melihat sentuhan dari kata-katanya.

 

 Ternyata orang-orang padukuhan itupun menjadi ragu-ragu. Beberapa orang saling berpandangan sejenak. Namun orang yang paling berpengaruh di antara mereka itu pun berkata, "Omong kosong. Kau kira kami tidak dapat mempergunakan senjata? Kami membawa senjata yang akan dapat membunuh kalian."

 

 "Semakin tajam kalian membawa senjata, akan semakin berbahaya bagi kalian sendiri," jawab Kiai Badra. Lalu katanya, "Nah, jika demikian silakan. Aku akan menonton satu pembantaian yang akan sangat mengerikan. Panggil kawan-kawanmu lebih dahulu, agar pekerjaan keempat orang ini cepat sekali. Mungkin mereka pun akan mati, tetapi kematiannya akan diikuti oleh lebih dari separo di antara kalian seperti sudah aku katakan tadi."

 

 Sekali lagi kata-kata Kiai Badra menyentuh jantung orang-orang padukuhan itu.

 

 Tetapi agaknya pemimpin dari orang-orang padukuhan yang berjumlah terlalu banyak hanya bagi lima orang itu merasa memiliki kemampuan yang cukup untuk mengatasi betapapun tinggi ilmu mereka. Karena itu, maka katanya, "Jangan banyak bicara. Bersiaplah untuk mati."

 

 "Baik," orang tertua di antara keempat orang itu berkata lantang, "Aku sudah kehilangan kesabaranku. Sejak semula memang aku ingin membunuh sebanyak-banyaknya. Tetapi orang tua itu menghalangiku. Jika sekarang kalian sendiri justru menghendaki demikian, mari, siapa yang akan mati lebih dahulu dari lebih separo di antara isi padukuhan. Bahkan aku sudah siap membakar semua rumah dan banjar padukuhan."

 

 Orang tertua di antara keempat orang itu tiba-tiba saja telah menarik pedang sambil berkata, "Sekali lagi aku katakan, jika aku hendak berbicara dengan Ki Bekel itu adalah karena orang tua itu memaksaku."

 

 Orang-orang padukuhan itu memang menjadi gentar. Karena itu mereka menjadi ragu-ragu. Namun pemimpin di antara orang padukuhan itu agaknya memang keras kepala. Ia pun telah mengacu-acukan parangnya yang besar sambil berkata, "Cepat, kita tangkap mereka hidup atau mati."

 

 Namun tiba-tiba saja di luar perhitungannya, orang tertua di antara keempat orang itu telah meloncat. Demikian cepatnya, sehingga pemimpin dari orang-orang padukuhan itu tidak tahu bagaimana terjadinya, sehingga parangnya itu telah terloncat dari tangannya.

 

 ***

 

 "AKU sudah mendapat jalan yang barangkali dapat ditempuh untuk menelusurinya," berkata Kiai Badra kepada diri sendiri. Lalu, "Dua orang yang terluka di padukuhan itu tentu mempunyai hubungan dengan anak itu. Atau setidak-tidaknya ia tahu bahwa di antara mereka yang berada di lingkungan perjudiannya, ada seorang remaja. Mudah-mudahan hal itu dapat aku pergunakan kelak untuk menemukan jalur pengamatan atas Puguh." 

 

 Penemuan yang tidak diduganya itu telah memberikan sedikit harapan bagi Kiai Badra, bahwa bukan Risang saja yang akan mungkin diamati oleh Ki Randukeling atau orang-orang yang ada di sekitarnya. Tetapi mereka pun harus mendapat kesempatan pula untuk mengamati perkembangan Puguh, sehingga bagi keduanya akan didapatkan keseimbangan seandainya terjadi sesuatu.

 

 "Bagaimanapun juga, persoalan di antara kedua orang anak itu akan tetap berkembang," berkata Kiai Badra di dalam hatinya, "Jika tidak saat mereka menjadi anak-anak muda, maka dihari tua pun ledakan itu akan dapat terjadi."

 

 Namun dalam pada itu, Kiai Badra memang merasa sedikit terlambat. Baik atau buruk, Puguh sudah mendapatkan pengalaman yang lebih luas dalam hubungannya dengan dunia kanuragan. Dalam usianya Puguh sudah terlibat dalam persoalan-persoalan yang dapat menempa ilmunya bukan saja dalam latihan-latihan. Tetapi agaknya dikesempatan-kesempatan lain, anak itu telah banyak melihat dan mengalami benturan ilmu. Sementara itu Risang masih dalam tataran latihan-latihan betapapun kerasnya.

 

 "Masih ada waktu," berkata Kiai Badra di dalam hatinya sambil mempercepat langkahnya. Ia tidak banyak memikirkan lagi keempat orang yang ditinggalkannya. Agaknya dengan berbicara baik-baik dengan Ki Bekel, persoalan mereka akan dapat dipecahkan. Sementara itu keempat orang itu belum sempat mengamati wajahnya dengan seksama.

 

 "Pada kesempatan lain, aku harus bertemu dengan dua orang yang telah dilukai oleh orang-orang itu," berkata Kiai Badra di dalam hatinya. "Tidak sulit untuk mencari keduanya. Kepada semua orang dapat ditanyakan, dua orang yang pernah dilukai oleh sekelompok pejudi yang pernah merasa dirugikan."

 

 Demikianlah Kiai Badra mempercepat langkahnya. Ia sudah kehilangan waktu untuk melayani keempat orang di padukuhan itu. Namun kesan yang didapat Kiai Badra, orang-orang padukuhan itu pun bukan orang-orang yang ramah."

 

 Dengan mempercepat perjalanannya serta menempuh jalan-jalan pintas, maka Kiai Badra menjadi semakin dekat dengan Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi karena persoalan yang dihadapinya di tengah jalan maka Kiai Badra tidak dapat memasuki Tanah Perdikan sebelum fajar. Bahkan ketika matahari mulai menyingsing, Kiai Badra baru memasuki batas Tanah Perdikan Sembojan.

 

 Tetapi di Tanah Perdikan Sembojan sendiri Kiai Badra tidak akan banyak mendapat perhatian. Meskipun ia lama tidak berada di Tanah Perdikan, tetapi setiap pertanyaan selalu dijawabnya, bahwa ia berada di padukuhannya sendiri. Sedangkan setiap orang Tanah Perdikan memang mengetahui bahwa Kiai Badra memang bukan berasal dari Tanah Perdikan itu sendiri.

 

 Namun demikian Kiai Badra pun masih tetap berusaha untuk memasuki padukuhan induk dengan melalui jalan yang dianggapnya tidak akan terlalu banyak orang yang menyapanya.

 

 Ketika ia memasuki regol rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan maka beberapa orang memang terkejut. Dengan tergesa-gesa mereka memberitahukan kepada Iswari, bahwa Kiai Badra telah datang mengunjunginya.

 

 Iswari pun bergegas menyongsongnya dan mempersilakan kakeknya naik. Tetapi Iswari tidak menerima kakeknya di pendapa. Dipersilakannya Kiai Badra langsung ke ruang dalam.

 

 Iswari memang sudah sangat rindu kepada kakeknya yang sudah agak lama tidak mengunjunginya. Selebihnya, ia pun ingin segera mendengar segala sesuatunya tentang anak laki-lakinya yang hanya satu-satunya itu.

 

 ***

 

 Setelah mempertanyakan keselamatan Kiai Badra sendiri, maka Iswari pun segera mempertanyakan anak laki-lakinya dan seluruh keluarga di tempat yang terasing dan yang belum pernah dikunjunginya itu. 

 

 "Semuanya baik saja Iswari," berkata kakeknya. "Tidak ada persoalan yang perlu dicemaskan. Semuanya berjalan menurut rencana. Sementara itu tempat itu pun masih tetap terpencil dan tidak banyak diketahui orang."

 

 Iswari mengangguk-angguk. Katanya, "Syukurlah. Mudah-mudahan sampai saatnya sesuai dengan keinginan kita, tidak terjadi sesuatu."

 

 Kiai Badra pun mengangguk-angguk. Namun kemudian ia berkata, "Nanti sajalah aku bercerita tentang padepokan terpencil itu. Dimana Kiai dan Nyai Soka?"

 

 "Keduanya sedang berjalan-jalan," jawab Iswari. "Sejak menjelang fajar keduanya sudah ke luar dan berjalan-jalan mengelilingi Tanah Perdikan ini. Selain untuk tetap mempertahankan atau setidak-tidaknya menghambat kemunduran wadag kakek dan nenek yang menjadi semakin tua, mereka pun berusaha untuk setiap hari melihat perkembangan Tanah Perdikan itu, sekaligus meronda jika Tanah Perdikan itu disentuh oleh niat buruk."

 

 "Tentu Tanah Perdikan ini begitu luasnya," berkata Kiai Badra. "Mereka tidak melihat aku memasuki Tanah Perdikan. Seandainya aku berniat jahat?"

 

 Iswari hanya tersenyum saja. Namun kemudian ketika dihidangkan minuman panas, Iswari pun segera mempersilakan.

 

 "Aku memang haus," berkata Kiai Badra.

 

 Sejenak kemudian maka Kiai Badra pun telah meneguk minuman hangat dan beberapa potong makanan. Sementara itu, sejenak kemudian maka Kiai dan Nyai Soka pun telah datang pula.

 

 Orang-orang tua itu pun nampak gembira sekali dapat bertemu setelah untuk waktu yang agak lama terpisah. Menjelang hari-hari senja di umur mereka, maka rasa-rasanya pertemuan seperti itu memberikan kegembiraan tersendiri.

 

 Tetapi Kiai Badra memang belum menceritakan niat kedatangannya. Ia masih mempergunakan waktunya untuk menceritakan padepokan kecilnya. Hubungan yang sangat baik dengan padukuhan dan bahkan Kademangan terdekat. Padepokannya telah dianggap sebagai keluarga dari Kademangan itu. Apalagi setelah banyak anak-anak Kademangan yang memang berniat tinggal di padepokan.

 

 "Meskipun ada juga keberatannya," berkata Kiai Badra. "Semakin banyak orang yang mengenali padepokan itu, semakin terbuka pula keadaannya. Untunglah bahwa sebagian besar adalah anak-anak Kademangan itu sendiri, sehingga hubungannya akan tetap terbatas."

 

 Kiai dan Nyai Soka mengangguk-angguk. Cerita Kiai Badra tentang padepokannya sangat menarik bagi keduanya, sehingga sebagaimana sifat orang-orang tua, termasuk orang-orang yang berilmu tinggi sekalipun, selalu banyak yang ingin diketahui dan dilihatnya.

 

 Bahkan Nyai Soka pun telah berkata, "Sebenarnya aku ingin menengoknya."

 

 "Aku juga," berkata Kiai Soka. "Tetapi apakah hal itu tidak merugikan kedudukan padepokan itu sementara ini?"

 

 Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Pada saatnya aku akan mengundang kalian untuk mengunjungi kami."

 

 "Mudah-mudahan tidak terlalu lama," berkata Nyai Soka. "He, bukankah umur kita menjadi semakin mendekati batas?"

 

 "Aku lebih tua dari kau," berkata Kiai Badra. "Bagaimana pun juga kau memperdalam ilmu, tetapi umurmu tidak akan dapat melampaui umurku, karena kau adikku."

 

 Nyai Soka tertawa. Demikian pula Kiai Soka dan Iswari.

 

 Demikianlah pembicaraan itu pun menjadi semakin menebar kesana kemari. Namun akhirnya Iswari telah mempersilakan Kiai Badra untuk beristirahat.

 

 "Aku akan mandi dahulu," berkata Kiai Badra. "Nanti aku akan berbicara banyak lagi tentang padepokanku."

 

 ***

 

 DEMIKIANLAH maka Kiai Badra telah pergi ke pakiwan. Kemudian setelah membenahi diri, Iswari mempersilakannya untuk makan bersamanya dan bersama Kiai dan Nyai Soka. Pada saat-saat yang demikian, biasanya mereka membicarakan masalah-masalah yang cukup penting. 

 

 Sebenarnyalah, ketika mereka sudah selesai makan, Kiai Badra tidak menunda lagi persoalan yang dibawanya dari padepokannya. Meskipun ia semalam suntuk berjalan dan tidak tidur sekejap pun, namun ia masih belum ingin beristihat, karena rasa-rasanya ia masih belum meletakkan beban yang dibawanya.

 

 Kiai Badra pun kemudian telah menyampaikan keinginan Risang untuk membuat satu perguruan tersendiri. Ia tidak tahu, dorongan apakah yang telah membuatnya begitu ingin menyebut dirinya salah seorang murid dari sebuah padepokan. Agaknya semula Risang hanya ingin mempunyai satu ciri atau lambang yang dapat ditunjukkan kepada orang lain tentang dirinya atau padepokannya. Namun akhirnya perkembangan menjadi satu keinginan untuk menyusun satu perguruan tersendiri dengan nama dan lambangnya sekaligus.

 

 Iswari mengerutkan keningnya. Namun Nyai Soka telah memberikan tanggapan yang serta merta, "Menarik sekali."

 

 "Kau setuju Nyai?" bertanya Kiai Badra.

 

 "Kenapa tidak?" sahut Nyai Soka. "Namun segala sesuatunya terserah kepada Iswari."

 

 Kiai Badra mengangguk-angguk. Sementara itu Kiai Soka pun berkata, "Memang ada baik dan buruknya yang harus diperhitungkan, manakah yang lebih besar antara baik dan buruknya itu. Jika di padepokan itu akan didirikan satu perguruan, maka sikap itu harus dipertanggung jawabkan. Baik terhadap mereka yang ada di padepokan itu, maupun kepada dunia olah kanuragan. Mungkin akan timbul geseran-geseran baru, karena jika kehadiran itu didengar oleh perguruan-perguruan lain, tentu ada yang menerima baik dan ada yang menolaknya."

 

 "Aku sudah mengatakannya kepada Risang," sahut Kiai Badra. "Mungkin kehadiran satu perguruan akan dapat menimbulkan benturan-benturan yang tidak kita inginkan."

 

 "Kakek," berkata Iswari kemudian. "Bukankah kakek tidak tergesa-gesa meninggalkan Tanah Perdikan? Maksudku, bukankah kakek akan bermalan disini barang satu dua malam?"

 

 "Ya. Aku akan bermalam disini," berkata Kiai Badra.

 

 "Jika demikian, maka kami akan dapat membicarakannya dengan tidak tergesa-gesa. Mungkin nanti malam atau bahkan mungkin besok," berkata Iswari.

 

 Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, "Aku sependapat. Kita mempunyai kesempatan berpikir."

 

 "Baiklah," desis Nyai Soka. "Biarlah nanti malam aku merenungkannya semalam suntuk."

 

 Kiai Badra tersenyum. Tetapi ia pun kemudian berkata, "Jika demikian maka biarlah aku bercerita tentang perjalananku."

 

 "Ceritera tentang apa?" bertanya Nyai Soka.

 

 "Tentu ceritera yang menarik," jawab Kiai Badra. "Aku telah menemukan sesuatu di perjalanan."

 

 Orang-orang yang mendengarkan kata-kata Kiai Badra itu memang menjadi tertarik. Apalagi ketika Kiai Badra berkata, "Satu penemuan yang sangat berarti."

 

 "Apakah kau menemukan tambang emas?" bertanya Nyai Soka.

 

 Kiai Badra mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian berkata, "Lebih dari sekadar tambang emas."

 

 Dengan singkat Kiai Badra pun telah bercerita tentang seorang anak Kepala Tanah Perdikan yang sudah kehilangan ayahnya.

 

 "Menilik cara petualangan yang ditempuhnya, aku menduga bahwa yang dimaksud adalah Puguh," berkata Kiai Badra kemudian.

 

 Iswari menarik nafas dalam-dalam. Katanya dengan nada berat, "Anak penari jalanan itu!"

 

 "Ya," jawab Kiai Badra. "Tetapi hal itu masih harus diyakinkan."

 

 Orang-orang yang mendengarkan ceritera Kiai Badra itu mengangguk-angguk. Mereka harus menanggapinya dengan sungguh-sungguh. Apalagi jika benar bahwa anak itu adalah Puguh, anak Warsi yang kemudian hidup bersama Ki Rangga.

 

 ***

 

 MESKIPUN mereka sudah cukup lama tidak mendengar beritanya, tetapi mereka masih tetap menganggap, dendam Warsi yang sampai ke ubun-ubun itu tidak dapat begitu saja dilupakan. 

 

 Setiap kali Iswari selalu memperingatkan diri sendiri, bahwa ia tidak boleh lengah. Bahkan setiap kali Iswari berada di sanggar, maka ia masih berusaha untuk selalu mematangkan dan meningkatkan ilmunya yang berpuncak pada ilmu Janget Kinatelon, yang berlandaskan kepada tiga sumber kekuatan ilmu yang sangat tinggi.

 

 Namun Iswari pun sadar, bahwa Ki Randukeling pun ternyata tidak bekerja sendiri. Dengan demikian maka perkembangan Warsi pun akan dapat menjadi semakin pesat.

 

 "Apakah dalam waktu yang sekian tahun itu, ia berhasil melampaui kemampuanku?" pertanyaan itu tidak dapat disingkirkan dari lubuk hati Iswari. Namun justru pertanyaan itu telah mendorong Iswari untuk bekerja lebih keras lagi disetiap saat dibawah bimbingan Kiai Soka dan Nyai Soka, dua orang di antara tiga orang yang telah menyusun ilmu Janget Kinatelon.

 

 Dalam keadaan yang demikian, maka Kiai Badra telah menemukan satu kemungkinan untuk dapat melacak anak Warsi itu, yang diperhitungkan pada satu saat akan bertemu dan berbenturan ilmu dengan Risang.

 

 Sementara itu Kiai Badra pun kemudian berkata, "Aku sudah mempunyai satu cara untuk menelusuri, apakah anak itu benar Puguh atau bukan."

 

 Yang mendengar keterangan Kiai Badra itu pun mengangguk-angguk. Mereka memang sependapat dengan rencana Kiai Badra untuk menghubungi kedua orang yang pernah terluka itu. Bagaimana pun juga keduanya tentu pernah berhubungan dengan Puguh sendiri atau setidak-tidaknya orang-orang yang mengawalnya.

 

 "Ternyata pengawalnya terdiri dari empat ataulima orang. Bahkan mungkin lebih," berkata Kiai Badra.

 

 "Memang perlu," sahut Kiai Soka. "Dunia yang dimasukinya adalah dunia yang sangat garang. Keras, kasar dan berbahaya. Karena itu, ia memang memerlukan banyak kawan."

 

 Kiai Badra mengangguk-angguk. Sementara itu Iswari berkata, "Apakah kakek benar-benar akan menelusurinya?"

 

 "Tentu. Dengan demikian, kita akan dapat membayangi, paling tidak mengamati perkembangan anak itu. Apalagi jika kita berhasil menemukan padepokannya."

 

 Iswari mengangguk-angguk. Meskipun demikian ia pun bertanya, "Kakek, mengamati padepokan Ki Randukeling adalah tugas yang sangat berat. Sementara itu tugas kakek sendiri di padepokan itu pun memerlukan perhatian sepenuhnya, apalagi jika Risang memang benar-benar menginginkan sebuah padepokan yang khusus bagi sebuah perguruan dengan nama dan ciri tersendiri."

 

 Kiai Badra mengangguk-angguk. Namun katanya, "Mungkin aku dapat minta tolong kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung, yang agaknya telah memutuskan tidak akan kembali lagi ke perguruannya. Keduanya telah lekat dengan Risang, sebagaimana Risang sangat akrab dengan kedua pamannya yang mempunyai kegemaran bercerita, meskipun dari sumber yang berbeda."

 

 ayap-Sayap Yang Terkembang 051    

 

 ISWARI mengangguk-angguk pula. Katanya, "Jika kakek menganggap hal itu baik, maka aku pun tidak berkeberatan untuk membantu jika diperlukan." 

 

 "Baiklah," berkata Kiai Badra. "Aku akan membicarakan dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung. Mudah-mudahan mereka menganggap dan dapat melaksanakan rencana ini dengan baik. Tetapi kemungkinan lain, merekalah yang akan selalu tetap berada di padepokan bersama Gandar, jika akulah yang harus berbuat sesuatu untuk menemukan sebuah padepokan yang dipimpin Ki Randukeling dengan penghuni-penghuninya Ki Rangga Gupita, Warsi dan Puguh."

 

 "Mungkin kita akan menemukan jalan yang lebih baik kelak," berkata Kiai dan Nyai Soka.

 

 Untuk beberapa lamanya mereka masih berbicara tentang beberapa hal. Baik yang menyangkut padepokan terpencil itu, maupun tentang Risang sendiri.

 

 Sebenarnyalah Iswari telah merenungkan keinginan anaknya. Ia sadar, jika perguruan itu benar-benar disusun, maka Risang akan dihadapkan pada dua pilihan. Tetap berada di padepokannya atau kembali ke Sembojan untuk menjabat sebagai Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

 

 Ternyata bagi Iswari hal itu cukup pelik. Kiai Badra pun telah memikirkannya pula. Sementara itu agaknya Nyai Soka belum berpikir sampai sejauh itu. Ia melihat satu kemungkinan yang akan dapat mengangkat derajat Risang.

 

 Hari itu Iswari memang sering merenung. Baginya tidak ada orang lain yang paling pantas untuk memegang jabatan Kepala Tanah Perdikan selain Risang. Untuk bertahun-tahun jabatan itu kosong atas persetujuan Pajang, karena Iswari telah melaporkan segala sesuatunya mengenai Tanah Perdikan Sembojan.

 

 Parapemimpin Pajang memberi kesempatan untuk membiarkan Iswari memegang jabatan itu untuk sementara, sehingga kelak saatnya akan menyerahkannya kepada anak Ki Wiradana.

 

 Nyai Soka melihat kesibukan perasaan Iswari. Karena itu, maka ketika Iswari sedang merenung justru di dapur, Nyai Soka mendekatinya. Katanya, "Kau memikirkan anakmu?"

 

 "Ya nek," jawab Iswari.

 

 Nyai Soka menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Aku menanggapi cerita Kiai Badra dengan serta merta, sebelum aku berpikir. Baru kemudian aku sadari, bahwa Risang adalah calon Kepala Tanah Perdikan di Sembojan. Karena itu, aku setuju dengan kau, bahwa sebaiknya dipikirkan masak-masak, apa yang sebaiknya dilakukan oleh anak itu. Sementara itu Kiai Badra yang sudah memiliki padepokan tersendiri, sejak semula memang tidak ingin menyusun perguruan sebagaimana Kiai Soka. Sampai saat ini padepokan kami, maksudku aku dan Kiai Soka, masih ada. Masih juga dipelihara dengan baik. Tetapi Kiai Soka juga tidak bersedia untuk mendirikan satu perguruan yang secara khusus diberi nama dan ciri-cri. Selain nama dari padepokan itu saja sebagai nama sebuah padukuhan. Justru Sambi Wulung dan Jati Wulung adalah orang-orang yang datang dari sebuah perguruan dengan cirinya yang khusus. Namun ciri itu lebih banyak menunjukkan ikatan antara keduanya daripada sebuah perguruan yang mapan."

 

 Iswari mengangguk-angguk. Katanya, "Jika perguruan itu berdiri, apakah Tanah Perdikan ini akan ditangani hanya dengan sebagian waktu, sementara sebagian waktunya akan diserahkan kepada padepokan dan perguruannya? Selama ini kita sudah berbuat apa saja bagi kepentingan Tanah Perdikan ini."

 

 "Iswari," berkata Nyai Soka, lalu, "Perguruan itu dapat saja berdiri. Tetapi dengan janji, bahwa keterlibatan Risang sangat dibatasi."

 

 "Risanglah yang menginginkan perguruan itu berdiri," berkata Iswari.

 

 "Ia memerlukan penjelasan," sahut Nyai Soka.

 

 "Nek," berkata Iswari. "Aku merasa sangat rindu kepada anak itu. Sebenarnya jika semua pihak menyetujui aku akan ikut dengan kakek ke padepokan kecil itu untuk bertemu dengan Risang. Kecuali kerinduan seorang ibu kepada anaknya, tetapi rasa-rasanya aku juga ingin berbicara langsung dengan Risang tentang rencananya itu."

 

 ***

 

 SEBENARNYA Bibi ingin sekali untuk mendapat kesempatan ikut dan bertemu dengan Risang. Bibi pun telah menjadi sangat rindu. Tetapi Iswari berkata, "Lain kali kau akan mendapat kesempatan." Bibi mengangguk. Tetapi di matanya membayang air mata yang kemudian mengalir dipipinya. 

 

 Iswari tersenyum. Katanya, "Bertanyalah kepada para bebahu. Orang yang seperti kau ini tidak pantas untuk menitikkan air mata. Seperti anak kecil yang ingin ikut ibunya pergi ke pasar."

 

 Bibi pun berusaha untuk tersenyum pula. Sambil mengusap matanya ia berkata, "Aku tidak merasa memperanakkannya."

 

 Iswari menepuk bahu Bibi yang kekar menurut ukuran seorang perempuan. Katanya, "Kau juga ibunya."

 

 Bibi mengangguk. Tetapi air di matanya itu belum juga mau kering.

 

 "Sudahlah," berkata Iswari. "Kau masih akan mendapat kesempatan. Kali ini aku sedang merintis jalan."

 

 Demikianlah keduanya berangkat menjelang senja, dengan perhitungan bahwa mereka akan ke luar dari Tanah Perdikan Sembojan disaat hari sudah menjadi gelap.

 

 Sebenarnyalah ketika matahari tenggelam, keduanya sudah berada di ambang perbatasan. Iswari telah membenahi pakaiannya, sehingga dimalam hari ia nampak benar-benar seperti seorang laki-laki. Dalam ujud lahiriah, tidak akan ada seorang pun yang menduganya, bahwa ia adalah seorang perempuan. Ia juga mengenakan ikat kepala sebagaimana laki-laki mengenakannya.

 

 Demikianlah, maka mereka pun telah menyusuri gelapnya malam menempuh jalan yang sebaliknya dari yang pernah ditempuh oleh Kiai Badra.

 

 Namun ketika perjalanan mereka menjadi semakin jauh, Kiai Badra berkata, "Kami akan singgah sejenak di padukuhan yang pernah aku ceritakan."

 

 "Apakah tidak akan mengganggu perjalanan ini, kek?" bertanya Iswari.

 

 "Mudah-mudahan tidak. Tetapi jika terjadi sesuatu, maka modal kita adalah, bahwa kita tentu akan dapat melarikan diri dari tangan orang-orang padukuhan itu," berkata Kiai Badra.

 

 Iswari mengangguk-angguk. Katanya, "Terserah saja kepada kakek. Tetapi kepada siapa kita akan bertanya tentang orang-orang yang menurut kakek sudah terluka itu?"

 

 "Kita akan langsung menemui Ki Bekel," berkata Kiai Badra. "Tetapi ingat, aku mempunyai nama lain."

 

 "Siapa nama kakek?" bertanya Iswari.

 

 Kiai Badra mengingat-ingat sejenak. Saat itu ia asal saja mengucapkan sebuah nama. Namun akhirnya ia menjawab, "Namaku Santawiguna."

 

 Iswari tersenyum. Tetapi sebelum ia bertanya sesuatu, Kiai Badra pun telah mendahuluinya, "Lebih baik kau tidak usah berbicara. Meskipun ujudmu seperti laki-laki, tetapi kau tidak akan dapat mengubah suaramu menjadi suara seorang laki-laki."

 

 "Baik kek," jawab Iswari. "Aku akan menjadi pendengar yang baik. Atau barangkali aku adalah cucu kakek yang bisu?"

 

 Kiai Badra tertawa. Namun ia masih membantah, "Orang bisu pun dapat dibedakan suaranya antara seorang laki-laki dan seorang perempuan. Karena itu yang baik, kau diam saja."

 

 "Baik kek," jawab Iswari sambil tertawa.

 

 Seperti yang mereka rencanakan, maka kedua orang itu telah menuju ke padukuhan yang pernah dilalui oleh Kiai Badra. Padukuhan yang pernah menghentikan langkahnya beberapa saat.

 

 Ketika mereka mendekati padukuhan itu, maka padukuhan itu benar-benar telah tertidur nyenyak. Bahkan orang-orang yang berada di gardu pun telah banyak yang tidur pula. Seorang di antara mereka yang duduk bersandar dinding pun agaknya telah tertidur pula.

 "Nampaknya orang-orang padukuhan ini telah berjaga-jaga setelah terjadi peristiwa yang menggemparkan itu," berkata Kiai Badra hampir berbisik. .

 

 KARENA itu, maka Kiai Badra pun berkata, "Baiklah. Aku akan menunggu sampai besok. Tetapi jika malam nanti terjadi sesuatu yang menelan korban jiwa di padukuhan ini, kalian berdualah yang bertanggung jawab." 

 

 Wajah kedua orang itu menjadi tegang. Dengan gagap seorang di antara mereka bertanya, "Apa yang akan terjadi?"

 

 "Karena itu beri kesempatan kami bertemu dengan Ki Bekel," desis Kiai Badra.

 

 Kedua orang itu menjadi kebingungan. Sementara itu Kiai Badra berkata, "Sudahlah. Sampaikan salamku kepada Ki Bekel. Mudah-mudahan kalian berdua besok masih sempat bertemu dengan Ki Bekel. Karena mungkin kalian berdualah yang akan menjadi korban. Tetapi mungkin juga orang lain. Bahkan mungkin Ki Bekel sendiri."

 

 Kedua orang itu menjadi semakin bingung. Namun ketika Kiai Badra akan beranjak pergi, kedua orang itu hampir berbareng memanggil, "Ki Sanak."

 

 "Bagaimana?" bertanya Kiai Badra.

 

 "Apakah Ki Sanak sajalah yang membangunkan sendiri Ki Bekel?" desis seorang di antara keduanya.

 

 "Bagaimana mungkin aku membangunkannya?" bertanya Kiai Badra.

 

 Sejenak kedua orang itu menjadi tegang. Mereka tidak segera dapat mengambil keputusan. Namun akhirnya seorang di antara mereka berkata, "Aku yang akan membangunkannya. Tetapi Ki Sanak yang harus bertanggung jawab."

 

 "Baiklah," jawab Kiai Badra. "Aku yang bertanggung jawab."

 

 Kedua orang peronda itu masih juga ragu-ragu sejenak. Namun kemudian seorang di antara mereka berkata, "Marilah. Ikut aku."

 

 Kiai Badra dan Iswari pun kemudian telah mengikuti peronda itu, sementara yang seorang lagi tetap berada di gardu. Bahkan orang itu telah membangunkan kedua orang kawannya yang memang tertidur nyenyak.

 

 Orang yang membawa Kiai Badra dan Iswari kependapa memang ragu-ragu untuk membangunkan Ki Bekel. Tetapi mengingat kata-kata orang tua itu, bahwa sesuatu akan terjadi malam nanti, ia pun memberanikan diri mengetuk dinding rumah Ki Bekel.

 

 Beberapa kali terdengar suara ketukan yang semakin lama semakin keras, sementara Kiai Badra dan Iswari menunggu dengan berdebar-debar pula.

 

 Namun sejenak kemudian terdengar suara batuk-batuk di dalam. Orang yang mengetuk pintu itu bergeser selangkah sambil berdesis, "Jika Ki Bekel marah, kaulah yang bertanggung jawab."

 

 "Ya. Aku yang bertanggung jawab," sahut Kiai Badra.

 

 Dalam pada itu, terdengar orang yang ada di dalam itu menyapa, "Siapa di luar?"

 

 Kiai Badra memberikan isyarat agar peronda itu menjawab.

 

 "Aku Ki Bekel. Peronda di gardu," jawab orang itu.

 

 "Kenapa malam-malam?" bertanya Ki Bekel.

 

 "Ada tamu Ki Bekel," jawab orang itu.

 

 "Tamu? Malam begini ada tamu?" bertanya Ki Bekel dengan suara parau.

 

 "YA. Ada sesuatu yang penting yang ingin disampaikan kepada Ki Bekel," berkata peronda itu pula. Agaknya Ki Bekel menaruh perhatian pula. Jika tidak ada sesuatu yang penting maka tidak akan ada orang yang malam-malam berani membangunkannya. 

 

 Karena itu, betapapun beratnya mata Ki Bekel yang mengantuk itu, namun ia pun telah melangkah ke pintu pringgitan. Perlahan-lahan ia mengangkat selarak.

 

 Pada saat yang demikian, ketika Kiai Badra dan Iswari bergeser mendekat pintu, peronda itu telah menundukkan tombaknya sambil berdesis, "Kau disitu saja."

 

 Kiai Badra mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak mau melibatkan diri dalam persoalan. Karena itu, maka ia pun mengurungkan langkahnya.

 

 Sejenak kemudian maka pintu pringgitan itu pun terbuka. Ki Bekel dengan segan melangkah ke luar pintu sambil bertanya kepada peronda itu, "Ada apa?"

 

 Peronda itu menunjuk kepada Kiai Badra dan Iswari sambil berkata, "Kedua orang itulah yang berkepentingan dengan Ki Bekel malam ini. Menurut keduanya, keadaan menjadi gawat."

 

 "Gawat? Apa yang terjadi?" bertanya Ki Bekel sambil mengerutkan keningnya.

 

 "Silakan Ki Bekel berbicara dengan kedua orang itu," berkata peronda itu.

 

 Ketika Ki Bekel berpaling ke arah Kiai Badra, maka ia pun termangu-mangu sejenak untuk mengingat, siapakah orang tua itu.

 

 Namun Kiai Badralah yang lebih dahulu menyebut tentang dirinya, "Ki Bekel. Aku adalah Santawiguna, yang malam itu bersama-sama dengan empat orang yang sebelumnya telah dikejar-kejar oleh orang-orang padukuhan ini."

 

 Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, "Aku ingat sekarang, meskipun saat itu aku tidak jelas menatap wajah Ki Sanak. Tetapi malam itu kita memang kehilangan seorang tua yang mula-mula bersama-sama dengan empat orang yang dikejar-kejar itu," Ki Bekel mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun bertanya, "Tetapi kenapa malam itu Ki Sanak telah menghilang?"

 

 "Aku mempunyai keperluan yang sangat penting yang tidak dapat aku tunda-tunda lagi. Karena itu, maka aku telah meninggalkan keempat orang itu."

 

 "Marilah," berkata Ki Bekel mempersilakan.

 

 Ki Bekel telah mempersilakan kedua tamunya untuk duduk di pringgitan. Selembar tikar pandan kemudian telah dibentangkan oleh peronda yang membangunkannya.

 

 Sejenak kemudian ketiga orang itu pun telah duduk. Sejenak mereka sempat mengingat apa yang pernah terjadi di padukuhan itu, kecuali Iswari yang hanya mendengar cerita Kiai Badra.

 

 "Apa yang ingin Ki Sanak beritahukan dengan keadaan yang disebut gawat itu?" bertanya Ki Bekel.

 

 "Ki Bekel," desis Kiai Badra. "Yang pertama, sebelum aku berbicara tentang langkah-langkah berikutnya, aku ingin bertanya tentang peristiwa malam itu. Apakah malam itu dapat diselenggarakan satu pembicaraan sehingga menemukan satu penyelesaian yang baik?"

 

 Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, "Tidak terlalu baik. Tetapi tidak terjadi kekerasan. Keempat orang itu memaksa untuk mengambil kembali uangnya yang telah digelapkan oleh kedua orang yang telah dilukainya itu."

 

 Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, "Sayangnya penggelapan itu terjadi ditempat perjudian, sehingga kedua orang itu memang dapat ingkar."

 

 "Keduanya memang tidak dapat dituntut. Tetapi yang pahit bagi keduanya adalah, bahwa orang-orang yang marah itu telah mengancam akan membunuhnya. Mereka akan bertindak sendiri jika tidak ada saluran yang dapat membantu mereka mengambil kembali uangnya. Padahal menurut pengamatanku, keempat orang itu memang akan dapat benar-benar bertindak kasar jika kedua orangku itu tidak memenuhinya.

  

 ***

 

 KIAI BADRA mengangguk-angguk. Katanya, "Apakah Ki Bekel tidak tahu menahu sebelumnya tentang kedua orang itu?" Ki Bekel menggeleng. Katanya, "Aku tidak tahu sebelumnya, bahwa kedua orang-orangku itu adalah penjudi-penjudi yang besar. Dan bahkan telah mau menggelapkan uang dalam lingkungan perjudian. Karena itu, maka tidak terlalu banyak yang dapat kami lakukan untuk melindungi mereka. Kami, orang-orang padukuhan ini hanya menganjurkan kepada keduanya yang malam itu sudah dilukai, untuk menyediakan uang sebagaimana yang digelapkannya dan mengembalikannya." 

 

 "Bagaimana sikap orang-orang padukuhan ini?" bertanya Kiai Badra.

 

 "Setelah mereka mengetahui keadaan yang sebenarnya, maka mereka tidak lagi menjadi garang terhadap keempat orang itu. Bahkan orang-orang padukuhan ini menjadi kecewa, bahwa dua orang di antara kami telah berada di lingkungan yang hitam itu," jawab Ki Bekel. Lalu, "Ketika malam itu kami mendengar kedua orang itu berteriak-teriak minta tolong sambil berlari ke gardu, maka orang-orang padukuhan ini dengan serta merta telah berusaha menolong mereka. Mereka menganggap bahwa keduanya, tetangga kami, telah dirampok orang."

 

 Kiai Badra mengangguk-angguk. Lalu katanya, "Ki Bekel. Kami minta maaf, bahwa malam-malam begini kami berusaha untuk bertemu dengan Ki Bekel. Sebenarnyalah kami berdua ingin berbicara dengan kedua orang yang terluka itu. Mungkin kami dapat memberikan jalan kepada mereka."

 

 "Jadi Ki Sanak akan berusaha untuk memberikan kesempatan keduanya tetap menggelapkan uang itu? Atau barangkali Ki Sanak ingin menolong agar kedua orang itu tetap berada di dalam lingkungan para pejudi itu?"

 

 "Bukan Ki Bekel," jawab Kiai Badra. "Yang penting bagiku bukan lingkungan perjudiannya, tetapi keselamatannya."

 

 "Bukankah dengan demikian kau tetap memberinya jalan untuk tidak berusaha mengembalikan uang yang digelapkannya? Aku tidak mau kedua orang itu menjadi noda-noda yang hitam bagi padukuhan ini. Sebagaimana Ki Sanak tahu, orang-orang padukuhan ini memang bukan orang-orang yang ramah, baik hati dan mampu dengan cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan di luar padukuhan ini. Tetapi kami tahu bahwa di dalam lingkungan kami terdapat pejudi besar seperti kedua orang itu."

 

 Kiai Badra mengangguk-angguk. Tetapi katanya, "Ki Bekel, aku minta ijin untuk menemui mereka."

 

 Ki Bekel mengangguk-angguk. Sejenak ia merenung. Namun kemudian katanya, "Baiklah. Jika kau dapat mengusahakan jalan ke luar, bagaimana pun juga, kami akan berterima kasih. Batas waktu yang diberikan oleh keempat orang itu adalah sampai saat hari pertama bulan mendatang."

 

 "Terima kasih Ki Bekel," desis Kiai Badra. "Jika demikian kami mohon diri. Kami mohon maaf, bahwa kami telah mengganggu Ki Bekel. Mungkin Ki Bekel memerlukan waktu untuk beristirahat."

 

 "Apakah Ki Sanak sudah pernah melihat rumah mereka?" bertanya Ki Bekel.

 

 "Belum Ki Bekel," jawab Kiai Badra. "Agaknya kami memang memerlukan ancar-ancar."

 

 "Biarlah peronda itu mengantarkan Ki Sanak sampai ke rumah mereka. Keduanya adalah kakak beradik yang tinggal di satu rumah, meskipun keduanya sudah mempunyai keluarga sendiri-sendiri," berkata Ki Bekel.

 

 Sekali lagi Kiai Badra mengucapkan terima kasih, sementara Ki Bekel memerintahkan dua orang di antara peronda-peronda itu untuk mengantar kedua tamunya.

 

 Ketika mereka kemudian minta diri, maka seperti pesan Kiai Badra, Iswari sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan ketika mereka minta diri, Iswari hanya mengangguk-angguk saja dalam-dalam sambil tersenyum tanpa mengucapkan kata-kata.

 

 ***

 

 KI BEKEL memang merasa heran atas sikap itu. Tetapi ia pun kemudian menduga, bahwa orang itu tentu mempunyai cacat. "Sayang. Orang yang tanpan itu ternyata bisu," berkata Ki Bekel kepada diri sendiri. Demikianlah maka Kiai Badra dan Iswari telah di antar ke rumah kedua orang yang pernah dilukai oleh empat orang kasar yang menggemparkan padukuhan itu. 

 

 Ketika peronda itu mengetuk pintu, maka seisi rumah itu memang menjadi ketakutan. Namun peronda itu pun telah menyebut namanya dan berkata dengan nada rendah. "Aku mengantarkan dua orang tamu yang telah menemui Ki Bekel."

 

 Kedua orang yang dicari oleh Kiai Badra itu masih saja ragu-ragu untuk membuka pintu rumahnya. Namun peronda itu meyakinkan mereka, katanya, "KI Bekellah yang memerintahkan aku mengantarkan kemari."

 

 Akhirnya keduanya pun telah membuka pintu betapapun mereka ragu-ragu.

 

 Namun ketika mereka melihat dua orang yang ujudnya tidak sekasar keempat orang yang pernah melukainya, maka keduanya pun mempersilakan kedua orang tamunya itu masuk ke ruang dalam.

 

 "Kita akan berbicara di dalam," berkata salah seorang dari keduanya.

 

 Peronda yang mengantar Kiai Badra dan Iswari pun kemudian telah minta diri untuk kembali ke rumah Ki Bekel.

 

 Setelah duduk sejenak, maka yang nampaknya lebih tua di antara kedua orang itu pun mulai bertanya, "Siapakah Ki Sanak berdua?"

 

 "Aku adalah Santawiguna," jawab Kiai Badra yang dengan singkat menceritakan apa yang telah dilakukannya beberapa hari yang lalu.

 

 Kedua orang itu mengangguk-angguk. Yang tertua itu pun kemudian berkata, "Jadi Ki Sanak yang disebut dengan Santa itu?"

 

 "Ya. Santawiguna," jawab Kiai Badra. Lalu katanya, "Ki Sanak, sebenarnyalah aku mempunyai kepentingan dengan Ki Sanak."

 

 Kedua orang itu termangu-mangu. Dengan curiga yang muda di antara mereka berkata, "Tetapi apakah kalian bukan orang yang sengaja di kirim oleh Puguh?"

 

 "Puguh?" ulang Kiai Badra dengan jantung yang berdebar-debar. Juga Iswari tiba-tiba saja darahnya bagaikan mengalir lebih cepat.

 

 Keduanya tidak menduga, bahwa demikian cepat mereka mendengar nama itu disebut.

 

 Tetapi Kiai Badra berusaha untuk menguasai perasaannya. Bahkan kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia bertanya, "Siapakah Puguh itu? Apakah salah seorang dari keempat orang itu bernama Puguh?"

 

 "Tidak," jawab yang muda. "Tidak seorang pun di antara mereka bernama Puguh. Tetapi seorang laki-laki remaja yang menjelang usia dewasalah yang bernama Puguh. Orang-orang itu adalah pengawal remaja yang bernama Puguh itu."

 

 "Jadi uang yang kau gelapkan itu uang Puguh itu?" bertanya Kiai Badra.

 

 Kedua orang itu menundukkan kepalanya. Namun tanpa menjawab Kiai Badra sudah dapat menangkap kenyataan tentang keduanya dalam hubungannya dengan Puguh.

 

 "Ki Sanak," berkata Kiai Badra. "Sebenarnyalah aku juga mempunyai minat seperti kalian. Tetapi bukan untuk menggelapkan uang. Aku telah membawa kemanakanku untuk dapat ikut memasuki dunia perjudian itu."

 

 Kedua orang itu terkejut. Mereka tidak mengira bahwa orang itu menaruh minat juga untuk ikut berjudi.

 

 "Ki Sanak," berkata Kiai Badra. "Aku sudah berpengalaman. Tetapi pengalamanku lain dengan pengalaman Ki Sanak. Menurut yang pernah terjadi atas diriku, jika aku berjudi dengan jujur, maka ternyata aku akan menang."

 

 "Ah," sahut yang muda dengan serta merta, "Aku kurang yakin Ki Sanak. Setiap penjudi tentu berbuat curang. Jika Ki Santa mencoba berjudi dengan jujur, maka Ki Santa akan menjadi santapan lawan-lawan berjudi."

 

 "Ki Sanak," berkata Kiai Badra. "Umurku sudah hampir mendekati ujung abad. Aku sudah berjudi lebih dari limapuluh tahun. Nah, umur kalian berapa? Pengalaman kalian tentang judi tidak akan dapat menyamai aku," Kiai Badra berhenti sejenak, lalu, "Marilah, bawa aku ke tempat itu."

 

 ***

 

 KEDUA orang itu saling berpandangan. Namun yang tertua di antara mereka berkata, "Kami belum gila Ki Santa."

 

 "Kenapa?" bertanya Kiai Badra.

 

 "Dalam keadaan seperti ini, apakah aku harus masuk ke dalam wuwu. Kau tahu bahwa aku sedang terlibat persoalan dengan Puguh yang mempunyai sejumlah pengawal sebagaimana kau lihat. Jika mereka melihat aku memasuki tempat itu, maka aku akan mengalami kesulitan. Meskipun aku tidak berbuat apa-apa lagi, tetapi sebelum aku mengembalikan apa yang mereka minta, maka aku dapat dibantainya."

 

 "Tetapi apakah kau tidak mempunyai sandiwara saat-saat kau melakukan penukaran uang dengan kartu-kartu yang bernilai uang itu, sehingga akan dapat melindungimu dari tangan Puguh dan orang-orangnya?"

 

 "Tidak ada yang dapat mencegah tingkah laku para pengikut Puguh itu," jawab yang muda.

 

 "Bukankah itu sebagian besar karena salah kalian sendiri?" bertanya Kiai Badra. "Jika kalian tahu bahwa sekelompok orang memiliki kekuatan yang tidak terlawan, kenapa kalian berani mempermainkan uang mereka?"

 

 "Ki Sanak," berkata yang tua. "Kita sama-sama mengetahui pengaruh uang terhadap diri kita. Kadang-kadang kita menjadi lupa segala-galanya sehingga saat itu aku tidak ingat lagi, apa yang mungkin terjadi. Uang yang ada ditangan kami membuat kami buta."

 

 Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian berkata, "Baiklah. Dalam keadaan seperti kami memang tidak akan dapat memaksa. Tetapi apakah kalian dapat memberikan ancar-ancar, dimana letak tempat perjudian itu?"

 

 "Ki Sanak. Aku tidak tahu apakah kau orang yang cukup kaya untuk memasuki tempat perjudian itu. Tetapi perjudian itu adalah hanya dikunjungi oleh orang-orang yang kaya," berkata yang muda.

 

 "Tetapi bagaimana mungkin kalian mendapat kepercayaan ditempat itu?" bertanya Kiai Badra.

 

 "Kami sudah lama berjudi ditempat itu. Semakin lama semakin akrab dengan setiap orang. Akhirnya kami telah berusaha membuat satu permainan tersendiri di antara perjudian itu," jawab yang muda pula.

 

 "Apa keuntunganmu dengan usahamu itu?" bertanya Kiai Badra pula.

 

 "Yang menang akan memberikan bagian kepada kami," jawab yang muda itu pula.

 

 Kiai Badra mengangguk-angguk. Namun sekali lagi ia mendesak, "Beritahukan kepadaku. Dimana tempatnya. Aku mempunyai barang-barang berharga yang dapat aku jual. Aku pun tahu bagaimana mendapatkan uang untuk berjudi sebagaimana sudah aku lakukan selama limapuluh tahun."

 

 Kedua orang bersaudara itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian seorang di antara mereka bertanya, "Apa yang kalian katakan kepada Ki Bekel? Ki Bekel membenci kami berdua karena kami berdua berjudi. Jika kau berterus terang, tentu Ki Bekel tidak akan terlalu baik hati memerintahkan peronda itu mengantarmu kemari."

 

 Kiai Badra tersenyum. Katanya, "Cerdas juga kau Ki Sanak. Aku memang tidak mengatakan hal seperti itu. Tetapi aku mengatakan bahwa kalian terancam malam ini, sehingga aku perlu menghubungi kalian."

 

 Keduanya menarik nafas dalam-dalam, sementara Kiai Badra berkata, "Tetapi rahasiaku adalah rahasiamu. Ingat, bahwa akulah sebenarnya yang telah menyelamatkan nyawamu. Jika tidak, maka empat orang itu telah siap untuk membunuh kalian, justru saat orang-orang padukuhan sibuk mencari mereka di bendungan."

 

 Kedua orang itu memang menjadi tegang. Sementara itu Kiai Badra berkata, "Sudahlah. Aku memang tidak mau melibatkan kalian dalam persoalan kalian dengan remaja yang kalian sebut bernama Puguh itu. Beri aku ancar-ancar. Aku akan datang sendiri tanpa kalian."

 

 ***

 

 KEDUA orang itu memang masih ragu-ragu. Sehingga Kiai Badra perlu meyakinkan, "Apakah kerugian kalian jika kalian memberitahukan tempat itu kepadaku. Segala sesuatunya akan kami lakukan diluar hubungan kami dengan kalian. Di sebelah Barat Pajang, kami merasa jemu. Lawan kami tidak berubah hampir setiap hari. Mereka pun semakin lama menjadi semakin melarat karena mereka tidak tahu, bagaimana mendapatkan uang untuk berjudi. Mereka sama sekali tidak tahu, bahwa dengan memeras darah seseorang, kita akan dapat mengumpulkan modal untuk berjudi. 

 

 "Kalian perampok?" bertanya kedua orang itu.

 

 Kiai Badra tertawa. Katanya, "Jika kau benar-benar pejudi yang baik, kau tidak akan bertanya. Kau pun tidak akan membawa lari uang siapapun dalam rumah perjudian itu. Tanpa berbuat curang. Nah, itulah ramuan kami, sehingga kami dapat memenangkan perjudian itu."

 

 Kedua orang itu termangu-mangu. Tetapi mereka tidak dapat mengambil kesimpulan lain daripada menganggap bahwa orang yang menyebut dirinya Santawiguna itu adalah seorang perampok. Mungkin dengan cara yang khusus, atau cara yang justru paling biadab yang pernah dilakukan oleh para pejudi.

 

 Dalam pada itu, yang tua pun kemudian berkata, "Baiklah. Aku akan memberikan ancar-ancar kepada kalian. Tetapi selanjutnya adalah tanggung jawab kalian sendiri."

 

 Kiai Badra tersenyum. Katanya, "Semuanya akan menjadi tanggung jawab kami."

 

 "Tetapi aku minta, Ki Sanak juga berusaha meringankan bebanku. Jika Ki Sanak menang di dalam perjudian, maka sebaiknya Ki Sanak membantuku serba sedikit, aku harus mengumpulkan uang cukup banyak untuk menggantikan uang yang sudah telanjur kami pakai," berkata yang tua di antara mereka.

 

 "Apakah uang itu sudah habis sama sekali," bertanya Kiai Badra.

 

 "Memang masih ada sebagian. Tetapi untuk mengganti yang sudah telanjur kami pakai itu pun ternyata cukup berat bagi kami," jawabnya.

 

 Kiai Badra mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia berkata, "Lain kali berhati-hatilah. Jangan mudah terbakar oleh keinginan yang ternyata dapat menjeratmu sendiri. Jika malam itu, aku tidak secara kebetulan bertemu dengan orang-orang yang akan membunuhmu, mungkin kau sudah mati," Kiai Badra berhenti sejenak, lalu. "Nah, dimana letaknya tempat perjudian itu?"

 

 "Agak jauh dari tempat ini," berkata orang itu. "Memang agak sulit untuk memberikan ancar-ancar jika Ki Sanak memang belum pernah melihat tempat itu. Selain jauh, tempat itu memang tersembunyi," wajah orang itu tiba-tiba menjadi tegang. "He, apakah kau akan merampok tempat itu? Jangan bermimpi untuk melakukannya. Tempat itu dijaga oleh orang-orang yang berilmu tinggi. Jika kau mencoba melakukannya, maka kau akan menjadi bahan pertunjukan yang menarik disana.Para penjaganya akan memperlakukan kau sebagai seekor harimau dungu di arena rampokan. Ujung-ujung tombak akan membuat tubuhmu arang keranjang. Atau barangkali parang, golok dan jenis-jenis senjata yang lain sebelum kau disiram dengan air garam." .

 

 ***

 

 KIAI BADRA tersenyum. Katanya, "Memang mengerikan. Tetapi sekali lagi aku merasa heran, bahwa kau telah berani melakukan penggelapan seperti itu?" "Aku tidak merampok tempat itu. Tetapi aku melarikan uang titipan yang aku tukar dengan kartu-kartu bernilai uang." "Tetapi kau belum mengatakan kepadaku, dimana letak tempat itu," desis Kiai Badra. 

 

 Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Memang mash tampak keragu-raguan di sorot matanya. Bahkan kadang-kadang keduanya saling berpandangan sesaat. Kemudian keduanya telah menundukkan kepalanya pula.

 

 "Kalian masih tetap ragu-ragu? Atau barangkali aku harus berbuat sesuatu?" bertanya Kiai Badra.

 

 "Apa yang akan kalian lakukan?" bertanya salah seorang dari kedua kakak beradik itu.

 

 "Aku dapat berbuat macam-macam. Bahkan jika kalian kehendaki, aku dapat mencekik kalian," jawab Kiai Badra. "Atau menyerahkan kalian kepada orang-orang padukuhan ini. Bukankah mereka membenci kalian berdua? Aku dapat bercerita apa saja kepada Ki Bekel tentang kalian berdua sehingga kalian benar-benar akan dipencilkan oleh tetangga-tetangga kalian di padukuhan ini. Saatnya pembalasan pun akan segera datang dari orang-orang yang kehilangan uang yang kau gelapkan itu."

 

 "Cukup," kedua orang itu hampir berteriak. Yang tua pun kemudian berkata, "Baiklah. Aku akan memberikan ancar-ancar dari tempat perjudian itu. Tetapi kau tanggung sendiri segala akibat yang terjadi jika kau ingin merampok tempat itu."

 

 "Gila. Aku tidak ingin merampok," bentak Kiai Badra. "Aku ingin ikut berjudi ditempat itu."

 

 Kedua bersaudara itu saling berpandangan sejenak. Yang tertua di antara mereka pun kemudian berkata,"Ki Sanak. Tempat perjudian itu menjadi satu dengan arena sabung ayam yang dibuka sepekan dua kali."

 

 "Tempatnya," potong Kiai Badra. "Aku ingin mendengar nama tempat itu. Mungkin padukuhan, mungkin Kademangan atau mungkin tempat-tempat lain yang akan dapat kami kenali. Tetapi ingat. Jika kalian berbohong, maka kalian akan menyesali akibat yang dapat terjadi atas kalian."

 

 Yang tertua itupun berkata lebih lanjut, "Baiklah Ki Sanak. Aku tidak akan berbohong. Tetapi apakah Ki Sanak akan menemukan tempat itu atau tidak, aku pun tidak bertanggung jawab."

 

 "Kami akan mencari sampai ketemu sesuai dengan petunjuk yang akan kau berikan," sahut Kiai Badra.

 

 "Arena sabung ayam itu berada di lingkungan yang terasing di kaki Gunung Kukusan," berkata yang tertua.

 

 "Sebut satu tempat yang terdekat dengan tempat itu," desis Kiai Badra.

 

 "Maksudmu?" bertanya orang itu.

 

 "Aku harus mempunyai landasan sebagai tempat bertolak untuk menemukannya," jawab Kiai Badra. Orang itu menarik nafas.Tetapi ia pun mengerti, bahwa harus ada petunjuk yang lebih jelas daripada mengitari Gunung Kukusan.

 

 Karena itu, maka orang itu pun berkata, "Kau dapat mulai dari Kademangan Nggebayan. Kau akan mulai memanjat lambung Gunung Kukusan ke arah sumber air Kali Kedawung.Ada beberapa padukuhan kecil yang akan kau lalui. Salah satu di antaranya adalah padukuhan Muncar. Di dekat padukuhan itu terdapat sebuah belumbang yang berair jernih sekali, dikelilingi oleh beberapa pohon preh yang besar-besar."

 

 "Jadi tempat perjudian itu berada ditepi belumbang?" bertanya Kiai Badra.

 

 "Sebuah sendang alam. Beberapa puluh patok dari tempat itu terdapat sebuah gerojogan di lereng tebing yang tidak terlalu tinggi. Meskipun gerojogan itu tidak terlalu besar, tetapi gerojogan itu adalah sumber air bagi sendang yang dikelilingi batang preh yang besar. Memang ada beberapa mata air kecil di antara pohon-pohon raksasa itu. Tetapi air yang paling banyak datang dari gerojogan itu," berkata yang tertua.

 

 "TEMPAT perjudian itu ada dimana?" desak Kiai Badra. "Memang dibangun rumah secara khusus. Dari sendang itu terdapat jalan kecil menuju ke tempat perjudian yang terletak di tengah-tengah hutan di lereng Gunung Kukusan itu," jawab orang itu. 

 

 Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, "Aku akan pergi ke tempat itu. Aku akan menjadi anggota baru. Tetapi dalam waktu dekat aku akan menguras semua uang yang ada di tempat perjudian itu dengan sah. Seperti yang aku katakan, aku selalu berjudi dengan jujur, karena itu adalah landasan kemenanganku."

 

 Nampaknya ada sesuatu yang ingin dikatakan oleh yang muda di antara kedua bersaudara itu. Tetapi setiap kali niatnya itu diurungkan. Bahkan kakaknya seakan-akan memberikan isyarat kepadanya, agar ia tidak mengatakan sesuatu.

 

 Kiai Badra yang sudah mendapat keterangan tentang lingkungan perjudian itu pun segera minta diri. Ia akan melanjutkan perjalanannya membawa Iswari ke sebuah padepokan kecil untuk bertemu dengan anak laki-lakinya yang sedang menempa diri.

 

 "Silakan Kiai," berkata kedua orang itu hampir berbareng.

 

 Namun sepeninggal Kiai Badra, yang muda dari kedua bersaudara itu berkata, "Apakah orang itu mungkin dapat mencapai lingkungan yang dimaksud kakang?"

 

 "Maksudmu?" bertanya kakaknya.

 

 "Bukankah tidak seorang pun yang diperkenankan memasuki lingkungan itu tanpa ditanggung oleh salah seorang yang sudah dipercaya oleh para anggota yang lain? Jika orang tua itu pergi sendiri kesana tanpa orang lain yang dapat menanggungnya, maka ia agaknya akan mati terbunuh," berkata yang muda.

 

 Tetapi kakaknya justru tertawa berkepanjangan. Katanya, "Apa salahnya jika orang tua yang sombong itu mati dibantai oleh para penjaga rumah perjudian itu? Orang itu tidak akan mengganggu kita lagi."

 

 Yang muda mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya sambil mengangguk-angguk, "Kau benar. Biar saja orang itu mati dirampok oleh para petugas yang kasar dan tamak itu. Mereka mendapat wewenang untuk membunuh. Dan mereka tentu dengan senang hati melakukannya karena dengan demikian mereka akan dapat mengambil uang yang dibawa oleh orang tua itu. Sebagai seorang yang akan memasuki daerah perjudian, maka orang tua itu tentu membawa uang cukup banyak."

 

 "Nah, sudahlah. Kita tidak perlu memikirkannya," berkata yang tua. "Orang itu tentu akan dihancurkan. Kita tidak akan diganggu lagi dengan bermacam-macam pertanyaan dan bahkan barangkali pada suatu saat ia merencanakan untuk memeras kita. Mereka dapat menakut-nakuti dengan berbagai macam kelemahan kita disini, sebagaimana dilakukan baru-baru saja untuk memaksa kita menyebut tempat perjudian itu."

 

 Keduanya pun kemudian tertawa pendek sambil mengangguk-angguk. Yang mudalah yang berdesis, "Nasibnya agaknya memang buruk."

 

 Sementara itu Kiai Badra dan Iswari telah melanjutkan perjalanan. Mereka menembus gelapnya malam menuju ke sebuah padepokan yang terpencil letaknya, tetapi tidak terpencil dalam pergaulan di Kademangan yang berada disebelah padepokan itu.

 

 Namun perjalanan keduanya masih membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan untuk memasuki tempat perjudian yang memang dibuat ditempat yang tersembunyi itu.

 

 "Apakah kakek yakin akan dapat berhubungan dengan anak laki-laki yang bernama Puguh itu?" bertanya Iswari.

 

 "Mudah-mudahan kita dapat berhubungan dengan anak itu," jawab Kiai Badra. "Bahkan kita berniat untuk dapat mengetahui, dimana ia tinggal. Mudah-mudahan dengan demikian kita akan dapat menemukan persembunyian orang tuanya."

 

 Iswari mengangguk-angguk. Katanya, "Apakah kakek akan memasuki daerah perjudian itu sendiri? Dan apakah menurut kakek, tidak ada kesulitan apapun jika kakek akan menjadi anggota baru dari tempat perjudian itu?"

  

 ***

 

 "TEMPAT perjudian itu ada dimana?" desak Kiai Badra. "Memang dibangun rumah secara khusus. Dari sendang itu terdapat jalan kecil menuju ke tempat perjudian yang terletak di tengah-tengah hutan di lereng Gunung Kukusan itu," jawab orang itu. 

 

 Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, "Aku akan pergi ke tempat itu. Aku akan menjadi anggota baru. Tetapi dalam waktu dekat aku akan menguras semua uang yang ada di tempat perjudian itu dengan sah. Seperti yang aku katakan, aku selalu berjudi dengan jujur, karena itu adalah landasan kemenanganku."

 

 Nampaknya ada sesuatu yang ingin dikatakan oleh yang muda di antara kedua bersaudara itu. Tetapi setiap kali niatnya itu diurungkan. Bahkan kakaknya seakan-akan memberikan isyarat kepadanya, agar ia tidak mengatakan sesuatu.

 

 Kiai Badra yang sudah mendapat keterangan tentang lingkungan perjudian itu pun segera minta diri. Ia akan melanjutkan perjalanannya membawa Iswari ke sebuah padepokan kecil untuk bertemu dengan anak laki-lakinya yang sedang menempa diri.

 

 "Silakan Kiai," berkata kedua orang itu hampir berbareng.

 

 Namun sepeninggal Kiai Badra, yang muda dari kedua bersaudara itu berkata, "Apakah orang itu mungkin dapat mencapai lingkungan yang dimaksud kakang?"

 

 "Maksudmu?" bertanya kakaknya.

 

 "Bukankah tidak seorang pun yang diperkenankan memasuki lingkungan itu tanpa ditanggung oleh salah seorang yang sudah dipercaya oleh para anggota yang lain? Jika orang tua itu pergi sendiri kesana tanpa orang lain yang dapat menanggungnya, maka ia agaknya akan mati terbunuh," berkata yang muda.

 

 Tetapi kakaknya justru tertawa berkepanjangan. Katanya, "Apa salahnya jika orang tua yang sombong itu mati dibantai oleh para penjaga rumah perjudian itu? Orang itu tidak akan mengganggu kita lagi."

 

 Yang muda mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya sambil mengangguk-angguk, "Kau benar. Biar saja orang itu mati dirampok oleh para petugas yang kasar dan tamak itu. Mereka mendapat wewenang untuk membunuh. Dan mereka tentu dengan senang hati melakukannya karena dengan demikian mereka akan dapat mengambil uang yang dibawa oleh orang tua itu. Sebagai seorang yang akan memasuki daerah perjudian, maka orang tua itu tentu membawa uang cukup banyak."

 

 "Nah, sudahlah. Kita tidak perlu memikirkannya," berkata yang tua. "Orang itu tentu akan dihancurkan. Kita tidak akan diganggu lagi dengan bermacam-macam pertanyaan dan bahkan barangkali pada suatu saat ia merencanakan untuk memeras kita. Mereka dapat menakut-nakuti dengan berbagai macam kelemahan kita disini, sebagaimana dilakukan baru-baru saja untuk memaksa kita menyebut tempat perjudian itu."

 

 Keduanya pun kemudian tertawa pendek sambil mengangguk-angguk. Yang mudalah yang berdesis, "Nasibnya agaknya memang buruk."

 

 Sementara itu Kiai Badra dan Iswari telah melanjutkan perjalanan. Mereka menembus gelapnya malam menuju ke sebuah padepokan yang terpencil letaknya, tetapi tidak terpencil dalam pergaulan di Kademangan yang berada disebelah padepokan itu.

 

 Namun perjalanan keduanya masih membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan untuk memasuki tempat perjudian yang memang dibuat ditempat yang tersembunyi itu.

 

 "Apakah kakek yakin akan dapat berhubungan dengan anak laki-laki yang bernama Puguh itu?" bertanya Iswari.

 

 "Mudah-mudahan kita dapat berhubungan dengan anak itu," jawab Kiai Badra. "Bahkan kita berniat untuk dapat mengetahui, dimana ia tinggal. Mudah-mudahan dengan demikian kita akan dapat menemukan persembunyian orang tuanya."

 

 Iswari mengangguk-angguk. Katanya, "Apakah kakek akan memasuki daerah perjudian itu sendiri? Dan apakah menurut kakek, tidak ada kesulitan apapun jika kakek akan menjadi anggota baru dari temapt perjudian itu?"

 

 "TENTU ada kesulitannya," berkata Kiai Badra. "Tetapi kita dapat mencoba. Mungkin bukan aku sendiri untuk menghindarkan pengenalan Puguh atau keluarganya yang akan dapat membaca wajahku dari keterangan mereka yang melihatku. Meskipun aku sudah menjadi semakin tua, tetapi jika mereka cukup cermat menceritakan bagian-bagian dari keadaanku, Ki Randukeling tentu akan dapat mengenalnya." 

 

 Iswari mengangguk-angguk. Tetapi ia pun masih bertanya, "Siapa yang akan datang ke tempat perjudian itu?"

 

 "Mungkin Sambi Wulung dan Jati Wulung. Tetapi juga bukan Gandar," berkata Kiai Badra.

 

 Iswari masih mengangguk-angguk. Katanya, "Mungkin tempat itu akan sangat berbahaya bagi orang baru."

 

 "Aku sudah menduganya. Tempat yang demikian merupakan tempat yang tidak terjangkau oleh paugeran dari manapun juga. Tidak dari paugeran Pajang dan tidak pula terjangkau oleh kekuasaan Madiun," berkata Kiai Badra.

 

 Iswari mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, "Tempat itu mempunyai paugeran sendiri yang harus ditaati oleh semua orang yang berada di dalam lingkungannya."

 

 "Ya. Tetapi orang yang memiliki kekuatan yang melampaui kekuatan orang lain akan dapat menentukan paugeran sekehendak hatinya sendiri. Siapa yang kuat, ialah yang berkuasa," sahut Kiai Badra.

 

 "Seperti paugeran di dalam rimba atas binatang-binatang liar," desis Iswari. "Bahwa binatang yang kuat akan mengorbankan binatang-binatang yang kecil bagi kepentingan dirinya.

 

 Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, "Itulah gambaran kehidupan di tempat perjudian itu. Sama sekali tidak ada perlindungan terhadap yang lemah. Siapa yang memasuki tempat itu harus merasa dirinya kuat dan berani menghadapi kekuatan lain yang ada pula di dalamnya. Dalam keadaan terbatas mereka memang menaati paugeran yang mereka buat bersama. Tetapi pada keadaan yang khusus, maka terjadilah kekuasaan sebagaimana terjadi menurut paugeran rimba belantara."

 

 Iswari adalah seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Tetapi mendengar keterangan kakeknya itu merasa juga kulitnya meremang. Justru karena ia seorang perempuan.

 

 "Sayang," berkata Iswari. "Aku tentu tidak mungkin berada di tempat itu."

 

 "Ya," berkata Kiai Badra. "Bukan karena ditempat itu tidak ada seorang perempuan yang menjadi gila karena perjudian, tetapi ciri-cirimu akan cepat dikenali oleh keluarga Puguh jika ia bercerita tentang seorang perempuan ditempat perjudian."

 

 "Apakah ada juga perempuan ditempat itu?" bertanya Iswari.

 

 "Mungkin ada juga satu dua orang. Perempuan yang memiliki ilmu dan keberanian. Tetapi juga memiliki sifat-sifat yang kasar dan keras," jawab Kiai Badra.

 

 Iswari mengangguk-angguk. Namun ia sependapat dengan kakeknya.Para pengawal remaja yang bernama Puguh itu akan dapat menyebut ciri-cirinya sehingga ia akan dapat dikenali oleh Ki Randukeling atau Warsi.

 Sambil membicarakan beberapa kemungkinan, maka akhirnya mereka pun mendekati padepokannya yang terpencil di dalam lingkungan Kademangan Bibis. Namun yang semakin lama rasa-rasanya menjadi semakin dekat dan semakin akrab dengan seluruh isi Kademangan itu.

 

 Namun ternyata bahwa mereka tidak dapat mencapai padepokan itu dihari yang masih gelap. Ketika matahari terbit, mereka masih berada di perjalanan. Namun Kiai Badra tidak begitu cemas lagi, bahwa kehadirannya akan menarik perhatian orang lain. Orang-orang Bibis yang berada di sawah tidak akan heran melihat ia lewat pada saat yang bagaimana pun juga. Jika orang-orang Bibis perhatiannya tertarik, tentu karena ia berjalan dengan seorang laki-laki yang agak aneh menurut pandangan mereka dan belum pernah mereka kenal sebelumnya.

 

 TETAPI untunglah bahwa Iswari mampu menempatkan dirinya. Jika mereka berpapasan orang yang berada di sawah di lingkungan Kademangan Bibis dan bertanya kepada mereka, maka Iswari tidak pernah mengucapkan jawaban. Kiai Badralah yang selalu menjawab semua pertanyaan, sementara Iswari hanya mengangguk hormat sambil tersenyum. 

 

 "Cucuku memang seorang pemalu," desis Kiai Badra yang dikenal dengan nama Kiai Tapis oleh orang-orang Bibis.

 

 Seseorang yang tidak mengetahui bahwa Kiai Badra sedang melakukan perjalanan bertanya dengan heran, "Jadi Kiai untuk beberapa hari tidak ada di padepokan?"

 

 "Ya," jawab Kiai Tapis. "Tetapi masih ada yang lain. Aku hanya pergi sendiri."

 

 "Tetapi ketika Kiai kembali, tidak sendiri," berkata orang itu.

 

 Kiai Tapis tertawa. Katanya, "Sudahlah. Ternyata aku merasa kantuk sekali."

 

 "Salah Kiai sendiri," berkata orang itu. "Kenapa berjalan di malam hari? Bukankah lebih enak berjalan disiang hari."

 

 "Di malam hari udara terasa sejuk sekali," berkata Kiai Tapis.

 

 "Tetapi akibatnya Kiai akan selalu terkantuk-kantuk untuk tiga hari tiga malam," sahut orang itu.

 

 Kiai Tapis tidak menjawab. Tetapi ia hanya tersenyum saja. Keduanya pun kemudian melanjutkan, perjalanan. Semakin tinggi matahari, maka mereka pun menjadi semakin dekat dengan padepokan kecil yang dibuat oleh Kiai Tapis dilingkungan kademangan Bibis.

 

 Ketika mereka memasuki padepokan itu, maka isi padepokan itupun terkejut. Mereka tidak mengira bahwa Kiai Badra akan datang bersama Iswari.

 

 Risang sendiri terkejut bukan buatan. Ia memang sudah sangat rindu kepada ibunya. Karena itu, ketika ia melihat ibunya datang bersama kakeknya, maka ia pun telah berlari menyongsongnya dan memeluknya erat-erat, seakan-akan tidak akan dilepaskannya lagi.

 

 Iswari pun sangat rindu pula kepada anaknya. Karena itu, maka ia pun telah memeluk anaknya pula. Sambil mencium keningnya ia bertanya, "Bagaimana dengan kau Risang?"

 

 Risang menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia melepaskan pelukannya, maka ia pun menjawab, "Baik ibu."

 

 "Kau senang tinggal disini?" bertanya ibunya.

 

 "Senang sekali ibu. Apalagi jika ibu juga tinggal disini," jawab Risang.

 

 Ibunya tersenyum. Diusapnya kepala anaknya sambil berkata, "Sebenarnya ibu senang pula tinggal di padepokan seperti ini."

 

 Risang memandang wajah ibunya sejenak. Dilihatnya mata ibunya menjadi basah. Namun bibirnya yang tersenyum kemudian berkata, "Kau tampak segar Risang."

 

 "Lingkungan ini memang memberikan kesegaran ibu," jawab Risang.

 

 Kiai Badra mengangguk-angguk melihat keduanya. Katanya kemudian, "Marilah. Masuklah ke rumah anakmu."

 

 Iswari pun kemudian bersama Risang, Gandar dan Kiai Badra sendiri segera naik ke pendapa. Sementara itu Sambi Wulung dan Jati Wulung pun telah menyusul pula.

 

 Untuk beberapa saat mereka saling mengucapkan selamat. Baru kemudian Kiai Badra berkata, "Aku minta kalian memberikan perhatian khusus bagi Iswari. Ia bukan seorang perempuan disini.Tetapi seorang laki-laki. Para cantrik tidak boleh mengetahui bahwa ia adalah ibu Risang. Jika didengar oleh orang-orang Kademangan dan membicarakannya, mungkin pada satu saat akan sampai juga ke telinga Warsi dan Ki Randukeling."

 

 "Tetapi bukankah Risang memang mempunyai seorang ibu?" bertanya Gandar.

 

 "Iswari telanjur datang dalam ujud yang demikian," berkata Kiai Badra. "Dan bukankah dalam waktu beberapa hari, selama ia berada disini, ia dapat selalu mengenakan pakaian seorang laki-laki?"

 

 ***

 

 Jika terpaksa berbicara, maka suaranya tentu suara seorang perempuan," desis Sambi Wulung. "Ia adalah seorang laki-laki pemalu yang jarang sekali berbicara," jawab Kiai Badra. 

 

 "Agaknya aku akan mengalami kesulitan dengan ujudku," berkata Iswari sambil tersenyum.

 

 "Tidak," jawab Kiai Badra. "Tetapi jika kau berada di halaman atau di kebun, kau harus membawa seorang atau lebih kawan yang akan menjawab semua pertanyaan orang-orang yang menemuimu."

 

 "Baiklah," berkata Iswari. "Aku akan berusaha untuk tidak sangat menarik perhatian. Namun kemudian ia pun bertanya, "Lalu siapa aku disini?"

 

 "Kau adalah paman Risang yang disini dikenal bernama Barata. Kau datang dari Pajang untuk menengoknya," jawab Kiai Badra.

 

 Iswari mengangguk-angguk. Namun katanya, "Tetapi bukankah orang lain yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang aku?"

 

 "Ya," Kiai Badra pun tertawa.

 

 Demikianlah, maka Iswari untuk beberapa hari berada di padepokan itu. Meskipun ia tidak bebas untuk melihat-lihat isi padepokan itu seorang diri, namun untuk beberapa lama ia masih tetap dapat bertahan untuk tidak berbicara sepatah kata pun dengan para penghuni padepokan itu. Sikapnya memang memberikan kesan bahwa ia adalah seorang yang sangat pemalu.

 

 Namun dalam pada itu, ternyata ada beberapa hal yang sempat mereka bicarakan. Agaknya Kiai Badra lebih tertarik untuk berbicara tentang tempat perjudian itu daripada keinginan Risang untuk mendirikan satu perguruan tersendiri di padepokan itu.

 

 Karena itu, maka Kiai Badra justru telah membicarakannya lebih dahulu dengan orang-orang terdekat di padepokan itu bersama dengan Iswari.

 

 "Kita berkepentingan untuk melihat tempat itu," berkata Kiai Badra.

 

 "Aku setuju kek," sahut Risang. "Aku akan ikut pergi ke tempat itu."

 

 "Ah, kau," desis Kiai Badra. "Kau masih terlalu kanak-kanak untuk melihat tempat perjudian yang agaknya dibayangi oleh sikap-sikap keras dan kasar itu."

 

 Risang mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab.

 

 Sementara itu Kiai Badra dan Iswari agaknya terlalu berhati-hati untuk berbicara secara terbuka sepenuhnya dengan kehadiran Risang. Bahkan keduanya sama sekali belum menyebut nama Puguh yang menjadi sasaran utama pengamatan mereka. Meskipun Risang tahu serba sedikit, bahwa ada orang yang tidak menyenanginya serta tidak menghendaki kehadirannya di Sembojan, tetapi bagi remaja itu, semuanya masih belum diungkapkan sepenuhnya untuk menjaga perasaan dan sikapnya.

 

 Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung agaknya tanggap juga akan hal itu, sehingga pembicaraan mereka terbatas pada tempat perjudian itu sendiri sebagai sasaran. Meskipun secara terpisah mereka telah mendengar apa yang sebenarnya mereka kehendaki ditempat itu.

 

 Namun ada juga cara untuk menyisihkan Risang dari pembicaraan itu. Ketika Iswari minta agar Risang memetik jambu air untuknya, maka Risang itu pun telah meninggalkan pertemuan itu..

 

 ***

 

 "INGAT, tidak untuk ibumu. Tetapi untuk pamanmu," berkata Iswari sambil menepuk bahu anaknya. Risang tertawa. Ia sama sekali tidak menduga, bahwa itu hanyalah satu cara untuk menyingkirkannya dari pembicaraan itu. 

 

 Tanpa Risang maka pembicaraan itu dapat lebih terbuka. Agaknya Kiai Badra telah langsung mengarah kepada penugasan untuk melihat-lihat lingkungan yang sangat berbahaya itu.

 

 "Kami akan dengan senang hati melakukannya," berkata Sambi Wulung.

 

 "Kita akan menilai, manakah yang lebih menguntungkan jika kalian atau aku sendiri yang pergi," berkata Kiai Badra.

 

 "Bukankah kakek tidak ingin dikenali oleh para pengikut Ki Randukeling?" bertanya Iswari.

 

 "Jika aku yang pergi, tentu tidak memasuki tempat perjudian itu sendiri. Tetapi aku harus melihatnya dari luar lingkungan," jawab Kiai Badra.

 

 Iswari mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, "Bagaimana jika kita pergi bersama-sama? Maksudku aku dan kakek berada di luar dan mengamati tempat itu dari jarak tertentu, sedangkan Sambi Wulung dan Jati Wulung akan masuk ke dalamnya"

 

 Kiai Badra merenung sejenak. Ketika memandang wajah Gandar maka kelihatannya Gandar mengerutkan dahinya. Bahkan ia pun kemudian bertanya, "Lalu, aku bagaimana?"

 

 Kiai Badra tersenyum. Katanya, "Risang memerlukan kawan disini. Ia masih belum dapat dilepaskan sendiri. Bersamamu maka ia akan dapat berbuat sesuatu. Bukan saja bagi padepokan ini, tetapi juga untuk meningkatkan ilmunya."

 

 Gandar menarik nafas dalam-dalam. Ia memang tidak dapat berlaku seperti anak-anak yang merajuk karena ditinggal pergi ke pasar oleh ibunya.

 

 Ternyata bahwa Kiai Badra pun cenderung melakukannya seperti yang dikatakan oleh Iswari. Tetapi menurut Kiai Badra tidak sebaiknya bersama Iswari. Karena itu katanya, "Iswari. Bukan maksudku untuk mengecilkan kemampuanmu. Tetapi kau adalah Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Sementara itu kita masih belum tahu, apa yang ada di sekitar tempat perjudian yang kasar itu. Jika kita terjebak dalam persoalan yang berkepanjangan, maka kau akan meninggalkan Sembojan terlalu lama."

 

 "Bukankah aku sudah menyerahkan kepemimpinan kepada orang-orang yang aku tinggalkan?" bertanya Iswari.

 

 "Tetapi Pemangku yang sah adalah kau," jawab Kiai Badra.

 

 Iswari menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Kiai Badra pun berkata, "Karena itu, sebaiknya kau kembali ke Tanah Perdikan. Tentu saja setelah kau berada di padepokan ini untuk beberapa hari. Aku akan pergi bersama Sambi Wulung dan Jati Wulung. Namun dengan acara yang berbeda."

 

 Iswari mengangguk-angguk kecil. Sebenarnya ia ingin pergi bersama kakeknya untuk melihat tempat perjudian sebagaimana disebut oleh dua orang kakak beradik yang menjadi sasaran kemarahan para pengikut seorang laki-laki remaja yang bernama Puguh. Seorang remaja yang mungkin merupakan orang yang penting dalam garis kehidupan Risang. Namun memang mungkin juga terjadi kekeliruan, karena remaja yang bernama Puguh itu sekedar persamaan nama.

 

 Tetapi agaknya kakeknya tidak sependapat, sehingga pada saatnya ia harus kembali dan berada di antara orang-orang Tanah Perdikan Sembojan.

 

 Ketika kemudian Risang kembali dengan membawa sebakul kecil jambu air yang masak dan berwarna merah, maka agaknya sudah ditemukan satu keputusan, bahwa Kiai Badra akan pergi juga ke tempat yang pernah disebut sebagai tempat perjudian itu bersama Sambi Wulung dan Jati Wulung. Namun Kiai Badra akan merupakan seorang pengunjung gelap bagi tempat itu, sementara Sambi Wulung dan Jati Wulung akan dengan terbuka berusaha memasukinya.

 

 Dalam pada itu, ketika Risang telah duduk di antara mereka, pembicaraan mereka pun telah bergeser. Mereka mulai membicarakan keinginan Risang untuk mendirikan satu perguruan tersendiri di padepokan itu.

 

 ***

 

 BANYAK pertimbangan yang telah diberikan. Namun akhirnya Iswari berkata, "Apakah perguruan itu kelak akan kau tinggalkan begitu saja jika saatnya datang kau harus berada di Sembojan?" "Jika aku harus kembali ke Sembojan, lalu bagaimana dengan padepokan ini?" bertanya Risang pula. 

 

 Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, "Risang. Sejak semula, kita tidak ingin mendirikan satu padepokan yang akan kita huni untuk seterusnya. Jika padepokan ini kelak kita tinggalkan, maka padepokan ini akan menjadi hadiah yang sangat menyenangkan bagi orang-orang Bibis. Ki Demang Bibis akan dapat menjadikan padepokan ini sebagai tempat untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan anak-anak mudanya. Tetapi jika kita sudah menyatakan untuk mendirikan satu perguruan, maka perguruan itu harus diusahakan agar langgeng dan bukan sekadar permainan untuk sesaat."

 

 "Apakah sebuah perguruan tidak boleh berpindah tempat?" bertanya Risang. "Seandainya padepokan ini menjadi perguruan, lalu pada kesempatan lain perguruan itu berpindah ke Sembojan, apakah tidak mungkin."

 

 Kiai Badra mengangguk-angguk. Sambil memandang Iswari ia menjawab, "Memang mungkin. Pusat sebuah perguruan memang mungkin berpindah tempat."

 

 "Nah, jika demikian, apakah keberatannya?" bertanya Risang.

 

 Kiai Badra masih mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, "Risang. Kemungkinan itu dapat saja dijajagi. Tetapi kita memerlukan waktu untuk memikirkannya masak-masak. Sebuah perguruan akan menyangkut hari depan sekelompok orang. Bukan sekadar desakan keinginan."

 

 "Sudah tentu, kek," jawab Risang. "Kita akan memikirkannya. Mungkin berlama-lama sampai kita menemukan sesuatu yang akan dapat menentukan ujud dari perguruan itu."

 

 "Jika demikian, baiklah," berkata Iswari. "Tetapi dengan satu pengertian, bahwa padepokan ini bukan satu-satunya tempat bagi perguruan itu."

 

 "Jadi ibu sependapat," bertanya Risang.

 

 "Sebut dengan paman," desis Kiai Badra.

 

 "Disini tidak ada orang lain," sahut Risang.

 

 Iswari tersenyum. Katanya, "Aku sependapat Risang. Mungkin perguruan itu akan memberikan arti bagi perkembangan dan pelestarian ilmu Janget Kinatelon."

 

 Kiai Badralah yang kemudian mengerutkan keningnya sambil menyahut, "Kaulah orang yang memiliki ilmu itu."

 

 Iswari menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Jika Risang telah sampai waktunya untuk berada di kedudukannya, maka aku kira padepokan dan sebuah perguruan akan memberikan arti bagi sisa hidupku."

 

 "Ibu," desis Risang, "Itukah yang ibu kehendaki?"

 

 "Memang sebuah perguruan bukan tempat sekadar wadah untuk mengumpulkan beberapa orang. Tetapi harus dengan penglihatan panjang ke depan," berkata Iswari. "Dan itu sangat menarik."

 

 Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, "Jika demikian baiklah. Kita akan memikirkannya dengan sungguh-sungguh. Menyusun tataran-tataran pengetahuan bagi para cantrik, serta kedudukan mereka di dalam lingkungan perguruan."

 

 "Aku adalah cantrik yang tertua," berkata Sambi Wulung.

 

 Namun Jati Wulung menyahut, "Apakah kami belum ketinggalan seandainya kami akan menyatakan diri sebagai cantrik yang pertama?"

 

 Iswari tertawa. Katanya, "Paman memang aneh. Paman adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Jika cantrik-cantrik dari perguruan itu setingkat dengan paman berdua, maka perguruan kami akan menjadi perguruan yang luar biasa kuatnya."

 

 "Akulah yang paling tua," sahut Gandar. "Tentu saja bukan umurnya, tetapi aku berada di lingkungan ini lebih dahulu dari Ki Sambi Wulung dan Ki Jati Wulung, meskipun agaknya umurku lebih muda." .

 

 ***

 

 Kiai Badra dan Risang pun akhirnya tertawa juga, sementara Gandar berkata pula. "Kita kelak akan menentukan, siapakah yang tertua di antara kita. Kita akan berlomba lari mengelilingi bukit." Tetapi Sambi Wulung menjawab, "Tidak. Bukan berlomba lari. Tetapi kita akan berjudi saja. Mungkin setelah aku keluar dari rumah perjudian itu aku akan menjadi semakin terampil." 

 

 Risang pun kemudian tertawa berkepanjangan. Dengan nada tinggi ia berkata, "Nah, jika demikian kita akan dapat membayangkan, perguruan apakah yang kira-kira akan berdiri."

 

 Namun dalam pembicaraan yang singkat itu dapat diambil satu kesimpulan bahwa orang-orang yang ikut dalam pembicaraan telah berniat untuk membicarakan lagi dengan lebh terperinci kemungkinan untuk mendirikan sebuah perguruan. Satu langkah yang besar tidak dapat dilakukan dengan serta merta dan tanpa persiapan dan perhitungan yang matang.

 

 Tetapi yang dalam waktu dekat harus segera dilakukan adalah usaha untuk memasuki tempat perjudian sebagaimana dikatakan oleh dua orang kakak beradik yang mempunyai persoalan dengan para pengawal Puguh.

 

 Demikianlah maka selama Iswari berada di padepokan itu, selain melepaskan kerinduan kepada anaknya, ia pun telah mengikuti beberapa pembicaran serta mengambil beberapa kesimpulan. Tentang perguruan yang akan direncanakan pelaksanaannya, tidak terlalu mengikat waktunya. Namun mereka tidak dapat berlama-lama dengan rencana mereka untuk melihat dan mengamati tempat perjudian yang akan dapat menjadi jembatan untuk melacak jejak Puguh. Jika mereka berhasil, maka hal itu akan merupakan sebagian dari langkah-langkah pengamanan bagi Risang dan juga bagi Tanah Perdikan Sembojan.

 

 Setelah beberapa lama Iswari berada di padepokan, serta rasa-rasanya kerinduannya kepada anaknya telah terlepas dari perasaannya, maka ia pun telah memutuskan untuk kembali ke Tanah Perdikan. Sementara itu Kiai Badra pun telah menentukan pula rencana untuk pergi ke tempat perjudian di kaki Gunung Kukusan itu.

 

 "Kita berangkat bersama-sama," berkata Kiai Badra kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung. Lalu, "Kita singgah di Sembojan untuk berbicara dengan Kiai Soka dan Nyai Soka. Kemudian kita akan melanjutkan perjalanan ke kaki Gunung Kukusan itu."

 

 Namun sebelum mereka berangkat, ternyata mereka telah mendengar satu berita yang mendebarkan dari Ki Demang di Bibis. Ternyata telah tersebar berita, bahwa terjadi sedikit persoalan di Pajang. Langit yang cerah seakan-akan telah menjadi mendung.

 

 "Ki Pemanahan telah meninggalkan istana Pajang," berkata Ki Demang.

 

 "Kenapa?" bertanya Kiai Badra.

 

 "Agaknya sesuatu telah terjadi. Mungkin kesalahpahaman. Tetapi mungkin pula orang tua itu telah tersinggung perasaannya," berkata Ki Demang.

 

 Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Bukan saja berita itu membuatnya berdebar-debar. Tetapi ternyata bahwa hubungan antara Tanah Perdikan Sembojan dan Pajang telah menjadi semakin jauh pula. Mungkin justru karena keadaan menjadi bertambah baik, sehingga rasa-rasanya tidak ada persoalan lagi yang harus dibicarakan. Bantuan Pajang yang lambat laun tidak diperlukan secara mutlak, membuat jarak antara Tanah Perdikan dengan Pajang. Dengan demikian maka perkembangan yang terjadi di Pajang, tidak segera diketahui oleh Tanah Perdikan Sembojan.

 

 "Ki Lurah Reksabaya tidak pernah mengatakannya," desis Iswari pada kesempatan lain. "Sejak ia berada di Tanah Perdikan Sembojan menggantikan petugas dari Pajang yang terdahulu, ia banyak memberikan penjelasan tentang perkembangan yang terjadi di Pajang. Tetapi Ki Lurah tidak pernah menyebut peristiwa yang mendebarkan itu, meskipun hampir setiap pekan, Ki Lurah kembali ke Pajang."

 

 "Kau dapat bertanya kepadanya," berkata Kiai Badra. "Mungkin dengan sengaja Ki Lurah menyembunyikan peristiwa itu."

 

 ISWARI mengangguk-angguk. Katanya, "Baiklah aku sampai ke Tanah Perdikan Sembojan, maka aku akan segera menemuinya." Kiai Badra mengangguk-angguk pula. Katanya, "Jika terjadi lagi pergolakan, maka persoalannya akan dapat menyangkut Tanah Perdikan Sembojan. Sementara ini kita masih menunggu Risang cukup dewasa untuk ditetapkan memegang pimpinan di Tanah Perdikan Sembojan sebagai Kepala Tanah Perdikan. Tetapi jika terjadi sesuatu atas pemegang pimpinan di Pajang, maka akan dapat memancing niat Warsi untuk kembali ke Tanah Perdikan sambil membawa Puguh." 

 

 "Mungkin," berkata Iswari. "Setidak-tidaknya kedudukan Tanah Perdikan Sembojan akan dapat terguncang."

 

 "Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu di Pajang. Jika yang terjadi sekadar salah paham, mudah-mudahan akan segera dapat diselesaikan," berkata Kiai Badra. "Kita tahu, bahwa Sultan Hadiwijaya maupun Ki Gede Pemanahan adalah orang-orang yang cukup matang jiwanya. Langkah-langkahnya tidak akan sekadar dilandasi oleh perasaan. Tetapi tentu sudah dengan perhitungan yang mapan."

 

 "Justru itu," desis Iswari. "Jika Ki Gede Pemahanan meninggalkan Pajang, tentu telah diperhitungkannya masak-masak sebab dan akibatnya.

 

 Kiai Badra mengangguk-angguk. Namun mereka tidak membiarkannya lebih mendalam ketika Risang kemudian datang dan berada di antara mereka.

 

 Yang kemudian mereka bicarakan adalah rencana mereka untuk berangkat meninggalkan padepokannya.

 

 Sampai saatnya Iswari meninggalkan padepokan, tidak seorang pun yang mengetahui, bahwa Iswari adalah seorang perempuan. Bukan saja orang-orang Kademangan Bibis yang memang melihat kehadiran seseorang di padepokan termasuk Ki Demang. Tetapi orang-orang padepokan sendiri menganggap bahwa paman Barata itu adalah seorang yang pemalu, bahkan sebagian dari mereka menganggapnya sebagai orang yang sangat sombong.

 

 Sebenarnya Risang menginginkan bahwa ibunya berada di padepokan itu lebih lama lagi. Tetapi ia pun mengerti, bahwa ibunya mengemban tugas yang lebih berat di Tanah Perdikan Sembojan, tidak dapat terlalu lama meninggalkan tugasnya itu.

 

 Padepokan itu pun kemudian terasa sepi ketika Kiai Badra, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah berangkat bersama Iswari yang akan kembali ke Sembojan. Yang tinggal di padepokan itu tinggal Gandar menemaninya.

 

 Namun ternyata bahwa Risang mampu mengisi waktu-waktunya yang terasa sepi itu dengan memasuki sanggarnya bersama Gandar. Kesendiriannya justru telah membuatnya semakin tekun tanpa mengenal waktu, sehingga kadang-kadang justru Gandar telah memperingatkannya, bahwa ia memerlukan istirahat.

 

 "Kita memang harus bekerja keras Risang. Tetapi kau tidak dapat melampaui batas kekuatan wadagmu. Memang kemampuan wadag itu pun dapat ditingkatkan. Tetapi pada batas tertentu, maka kita tidak akan dapat memaksanya lebih jauh lagi. Karena sebenarnyalah kita, manusia adalah dalam serba keterbatasan," berkata Gandar.

 

 Risang mengangguk-angguk. Sementara Gandar berkata pula, "Jika kita melupakan hal itu Risang, maka justru wadag kita tidak akan dapat mendukung keinginan kita. Itulah sebabnya, maka Kiai Badra menentukan cara-cara dan waktu yang tertentu dan terbatas. Namun keterikatan pada rencana yang mapan, akan banyak membantu peningkatan kemampuan."

 

 Risang mengangguk-angguk pula. Katanya, "Jika kemampuan sedang melonjak, rasa-rasanya tubuh ini tidak mau dikekang lagi."

 

 "Namun kita tidak boleh lepas dari penalaran," berkata Gandar kemudian.

 

 "Aku mengerti," berkata Risang.

 

 "Aku tidak berkeberatan kau meningkatkan usaha untuk mempercepat penguasaan dasar ilmu yang ditentukan bagimu. Namun tidak dengan memaksakan wadagmu," berkata Gandar pula.

 

 "Baiklah," sahut Risang. "Namun aku memerlukan waktu-waktu khususku untuk menambah latihan-latihan dari sekadar kebiasaan seperti sebelumnya. Rasa-rasanya padepokan ini menjadi semakin sepi jika aku terlalu banyak beristirahat."

 

 ***

 

 "AKU akan membantumu," berkata Gandar kemudian. Lalu katanya, "Memperdalam ilmu bukannya harus dilakukan dengan mempergunakan wadag kita. Kita dapat duduk merenungi langkah-langkah yang dapat kita lakukan. Kau dapat membuat perhitungan nalar dengan ilmu yang sudah kau miliki. Mungkin kau dapat membuat lukisan-lukisan sederhana tentang gerak dan sikap. Bahkan kau dapat mempergunakan kesempatan seperti itu untuk mengenali tubuhmu lebih banyak. Kau akan dapat mencari kesadaran kekuatan dan menemukan titik-titik yang paling lemah sebagaimana pernah diberitahukan oleh Kiai Badra kepadamu." 

 

 Risang mengerutkan keningnya. Namun kemudian wajahnya menjadi berseri. Katanya, "Aku mengerti. Aku akan dapat mengisi seluruh waktuku."

 

 Tetapi Gandar menggeleng. Katanya, "Bagaimana pun juga, kau memerlukan waktu yang cukup untuk beristirahat, agar wadagmu tidak menjadi korban kemauanmu yang tidak terkendali. Jika wadagmu mengalami kesulitan, maka apa yang dapat kau lakukan dengan ilmumu? Memang mungkin ada satu dua orang yang kehilangan kemampuan wadag, namun masih dapat mempergunakan ilmunya dengan tajam. Tetapi salah satu sarana penting bagi hidupnya telah tidak mampu dipergunakannya sebagaimana sewajarnya. Tentu akan lebih memiliki wadag yang baik daripada wadag yang cacat atau tidak dapat dipergunakan sepenuhnya dalam tataran ilmu yang sama.

 

 Risang mengangguk-angguk. Namun ia sudah menemukan satu cara yang baik untuk berlatih agar wadagnya tidak mengalami keletihan yang berlebihan.

 

 Dalam kesempatan tertentu Risang memang telah membuat gambar sederhana langkah dan sikap. Ia tidak saja membentuk dirinya dengan latihan-latihan. Tetapi ia berusaha untuk dapat mengembangkan kemampuan dasarnya dengan goresan-goresan. Dengan penalaran dan pengamatan yang cermat.

 

 Pada kesempatan lain, dicobanya gambar-gambar yang dibuatnya itu dengan gerak-gerak wadagnya di dalam sanggar dibawah pengamatan Gandar.

 

 Dengan demikian maka Risang tidak saja mengembangkan ilmunya atas dasar penemuannya di saat-saat latihan, tetapi juga berdasarkan atas penalarannya.

 

 Gandar yang mengamati cara Risang berlatih itu ternyata menganggap bahwa Risang akan dapat maju dengan cepat. Sementara itu ilmu yang dikembangkannya pun cukup berbobot, karena dilakukan lewat dua jalur. Perhitungan nalarnya dan latihan-latihan kewadagan. Bagi Risang dan Gandar latihan memang bukan sekadar mengulang-ulang gerak yang sudah dipahami. Tetapi di saat-saat latihan, ilmu itu sendiri memang harus berkembang. Apalagi telah dialasi dengan perhitungan sebelumnya, sesuai dengan pengenalan Risang atas keadaan tubuh yang diamati pada tubuhnya sendiri disamping pengenalannya sebagaimana diberitahukan oleh Kiai Badra, Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung. .

 

 ***

 

 DENGAN cermat Risang berusaha mengenali bagian-bagian tubuhnya yang paling lemah. Sasaran-sasaran utama yang mematikan serta sasaran-sasaran lain yang dapat menghambat gerak lawan. Dari Kiai Badra, Risang sudah mengenal beberapa simpul syaraf yang dapat membuat lawannya tidak lagi mampu meneruskan perlawanannya. Risang memang belum dapat dengan tepat menekan titik-titik kelemahan seperti yang pernah diberitahukan kepadanya. Ia memang masih harus berlatih jauh lebih banyak untuk dapat dengan sentuhan ujung jarinya membuat lawannya seakan-akan tertidur atau mengalami kelumpuhan sementara pada seluruh tubuhnya atau sebagian saja. 

 

 Namun di samping latihan-latihan kewadagan, Kiai Badra pun telah menuntun Risang untuk melakukan semedi. Pemusatan nalar budi untuk memandang hakekat dari persoalan yang dihadapinya sehingga mengental di dalam dirinya.

 

 Tetapi lebih daripada itu semua, maka Risang tidak pernah melupakan bahwa ia harus menyembah kepada sumber hidupnya. Saat-saat ia harus hadir dihadapan-Nya dan menghubungkan diri dengan-Nya. Bahkan bukan hanya sesaat-sesaat, namun sebagaimana diajarkan oleh Kiai Badra, bahwa semuanya itu harus tercermin di dalam sikap hidupnya sehari-hari.

 

 Dengan demikian maka Risang pun telah tumbuh dalam keseimbangan antara perkembangan wadagnya, ilmunya dan nilai-nilai jiwaninya.

 

 Dalam pada itu, Iswari yang telah menempuh perjalanan dengan selamat, telah berada di Tanah Perdikan Sembojan. Kiai Badra memang sempat berbicara dengan Kiai Soka dan Nyai Soka atas rencana untuk mengamati tempat perjudian itu. Bahkan ternyata bahwa Kiai Soka telah tertarik pula untuk ikut pergi bersamanya.

 

 "Remaja-remaja yang rindu bertamasya," desis Nyai Soka.

 

 Kiai Soka tersenyum, katanya, "Jika saatnya nanti dewasa, maka aku akan bertamasya dengan kau, dara yang menginjak usia mekarnya."

 

 Kiai Soka dan Iswari tertawa berkepanjangan. Namun Nyai Soka masih sempat juga berkelakar, "Tetapi jangan terlalu lama. Kau harus ingat, bahwa aku menunggumu."

 

 Kiai Soka dan Kiai Badra pun tertawa pula.

 

 Demikianlah, maka empat orang telah meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan menuju ke kaki Gunung Kukusan. Mereka harus menemukan Kademangan Nggebayan. Kemudian mereka akan naik ke lambung Gunung melewati padukuhan-padukuhan kecil, sehingga akhirnya mereka akan sampai ke padukuhan kecil yang bernama Muncar.

 

 Sementara itu, maka Iswari telah menghubungi seorang perwira prajurit Pajang yang berada di Tanah Perdikan Sembojan untuk meyakinkan, apakah berita yang didengarnya dari Ki Demang Bibis itu benar.

 

 Ketika hal itu ditanyakan kepada Ki Lurah Reksabaya, maka Ki Lurah itu pun termangu-mangu. Dengan nada ragu ia justru bertanya, "Apa hal itu penting bagi Nyai?"

 

 "Ki Lurah," berkata Iswari. "Bukankah bagiku lebih baik mendengarnya langsung dari para pejabat di Pajang daripada sekadar desas-desus?"

 

 Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Baiklah Nyai. Aku kira memang demikian. Sebaiknya Nyai mendengarnya langsung daripada cerita-cerita yang mungkin telah berkembang atau susut."

 

 "Karena itulah maka aku menemui Ki Lurah. Selama ini Ki Lurah tidak pernah mengatakan sesuatu," berkata Nyai Wiradana.

 

 "Aku selama ini menganggap bahwa hal itu tidak begitu penting bagi Tanah Perdikan ini. Namun setelah Nyai mendengar sebagian dari orang lain, maka sebaiknya aku memang memberitahukannya," berkata Ki Lurah.

 

 "Jadi, bagaimana yang terjadi sebenarnya?" bertanya Iswari.

 

 "Memang Ki Gede Pemanahan telah meninggalkan Pajang. Tidak ada pesan yang ditinggalkan. Tetapi menurut dugaan kami, Ki Gede merasa kecewa, bahwa setelah berjuang untuk menegakkan Pajang bahkan sejak gugurnya Arya Penangsang dari Jipang yang sudah sekian tahun, tanah Mentaok masih belum diberikan."

 

 "Mentaok?" bertanya Iswari.

  

 ***

 

 "TENTU Nyai sudah mendengar, bahwa sebagian pertanda terima kasih Sultan Pajang atas perjuangan yang tidak mengenal lelah itu Ki Gede Pemanahan dan Ki Penjawi maka Sultan telah menjanjikan memberikan penghargaan Tanah Pati memang telah diberikan oleh Sultan Hadiwijaya kepada Ki Penjawi dan bahkan telah menjadi semakin besar. Tetapi Mentaok sampai sekarang masih belum diterima oleh Ki Gede Pemanahan," berkata Ki Lurah Reksabaya. 

 

 "Itukah tujuan pengabdian Ki Gede Pemanahan?" bertanya Iswari.

 

 "Tidak. Tentu bukan," jawab Ki Lurah. "Ki Pemanahan telah mengabdi dengan tulus. Tidak ada pamrihnya sama sekali di saat-saat perjuangan yang berat itu berlangsung. Namun kemudian terjadilah perkembangan yang tidak dikehendaki oleh semua pihak. Justru karena Pati telah diserahkan. Seakan-akan Sultan Hadiwijaya, sebagai seorang Raja, telah ingkar janji. Padahal menurut keyakinan kita, sabda pendita ratu. Ki Gede Pemanahan mulai merasa dikesampingkan dari janji yang semula tidak diharapkannya, sehingga akhirnya puncak kekecewaannya justru mencengkamnya setelah beberapa orang membicarakannya."

 

 Iswari mengangguk-angguk. Katanya, "Menurut tangkapanku, Ki Lurah agaknya menganggap bahwa Ki Gede Pemanahan berada di pihak yang benar sementara Sultan Pajanglah yang telah mengingkarinya."

 

 "Nyai. Yang aku katakan ini adalah justru keterangan yang diberikan oleh Sultan sendiri," berkata Ki Lurah. "Tentu saja dengan penjelasan, bahwa Sultan sama sekali tidak berniat untuk mengingkari janjinya. Mentaok masih berujud hutan belantara. Penduduknya baru sedikit dan perkembangan daerah itu memang lamban. Sultan Hadiwijaya ingin menunggu sampai Tanah Mentaok itu menjadi lebih ramai dan terasa hidup."

 

 Iswari mengangguk-angguk. Katanya, "Jadi seorang Ki Gede Pemanahan masih juga kehilangan kesabarannya?"

 

 "Banyak persoalan yang mempengaruhinya," berkata Ki Lurah. "Sehingga akhirnya terjadilah seperti yang terjadi itu. Ki Gede meninggalkan Pajang tanpa dapat dicegah lagi."

 

 Iswari menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, "Apakah akan timbul persoalan baru lagi? Pajang rasa-rasanya masih baru mulai berkembang. Waktu yang ada rasa-rasanya menjadi terlalu pendek meskipun terasa juga aku semakin tua. Risang tumbuh semakin besar."

 

 "Kadang-kadang kita memang berpacu dengan waktu. Kadang-kadang kita terasa waktu itu berjalan lama sekali, terutama disaat kita menunggu. Namun waktu itu berjalan cepat seperti bayangan jika kita mengenang masa lalu," desis Ki Lurah.

 

 "Ya Ki Lurah," sahut Iswari. Lalu, "Tetapi langkah-langkah apakah yang akan diambil oleh Pajang?"

 

 "Agaknya Sultan Hadiwijaya tidak pernah berniat untuk ingkar janji. Kanjeng Sultan telah memutuskan untuk memberikan Tanah Mentaok itu secepatnya kepada Ki Gede, kapan saja dikehendaki," jawab Ki Lurah.

 

 "Agaknya Ki Gede Pemanahan memang tidak ingin menunggu tanah itu menjadi ramai. Menurut pendengaranku, Ki Gede Pemanahan dengan para pengikutnya sudah siap untuk menebang hutan dan menjadikan sebuah negeri. Bahkan Sultan Hadiwijaya pernah mengatakan, jika Ki Gede Pemanahan berniat demikian, akan ada baiknya bagi Pajang. Orang yang sudah mulai memadat, akan dapat bergeser membuka tanah baru di Mentaok. Tanah pertanian yang menjadi semakin sempit, akan menjadi luas dan mereka yang tidak akan lagi mempunyai tanah garapan yang cukup, akan dapat menentukan masa depannya di Tanah Mentaok itu."

 

 Iswari mengangguk-angguk. Dengan demikian ia sudah mendapat gambaran yang lebih jelas tentang sikap Ki Gede Pemanahan. Agaknya Sultan di Pajang tidak berniat untuk mempersulit dan mempertajam persoalan.

 

 "Mudah-mudahan persoalan itu cepat selesai," berkata Iswari. .

 

 ***  

 

 "MUDAH-MUDAHAN. Menurut dugaan kami, Ki Gede pun akan segera memahami keadaan dan tidak akan melakukan langkah-langkah yang dapat menimbulkan kesulitan," berkata Ki Lurah selanjutnya. "Tetapi entahlah putera Ki Gede Pemanahan yang selama ini telah dianggap putera Sultan Hadiwijaya itu sendiri." 

 

 "Siapa?" bertanya Iswari.

 

 "Reden Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar," jawab Ki Lurah.

 

 "Bagaimana dengan sikap Raden Sutawijaya?" bertanya Iswari.

 

 "Mungkin karena kemudaannya," jawab Ki Lurah. "Sikapnya agaknya lebih keras dari sikap ayahnya."

 

 Iswari mengangguk-angguk kecil. Tetapi ia pun kemudian berdesis, "Tetapi bagaimana keadaan Pajang sekarang? Maksudku apakah hal itu mempengaruhi kehidupan sehari-hari?"

 

 "Tidak," jawab Ki Lurah. "Kehidupan sehari-hari berjalan seperti biasanya. Tidak ada pengaruh yang langsung atas kehidupan itu."

 

 "Syukurlah," Iswari mengangguk-angguk. "Jika terjadi goncangan-goncangan di ujung kepala, maka ekornya pun akan ikut terguncang pula sebagaimana saat terjadi pertentangan antara Pajang dan Jipang."

 

 "Aku mengerti kecemasan Nyai," sahut Ki Lurah. "Tetapi agaknya tidak akan terjadi kegoncangan yang lebih besar."

 

 Iswari berdesis perlahan, "Mudah-mudahan. Tanah Perdikan ini baru mulai mapan. Anak-anak yang hilang dan kembali ke ayah bundanya, baru menyesuaikan dirinya. Demikian pula anak-anak muda Tanah Perdikan baru berusaha untuk melupakan pertentangan yang pernah terjadi."

 

 "Sebagaimana Nyai ketahui, Ki Gede Pemanahan dan Kanjeng Sultan di Pajang adalah saudara seperguruan. Mereka tidak akan pernah melupakannya. Karena itu, maka keduanya tentu tidak akan berpegang pada sikap masing-masing yang mutlak," berkata Ki Lurah.

 

 "Sekali lagi, mudah-mudahan putera Ki Gede Pemanahan itu pun tidak bersikap terlalu keras," desis Iswari.

 

 Ki Lurah hanya mengangguk-angguk saja. Namun memang terbayang diwajahnya kecemasannya tentang Raden Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar itu. Meskipun belum dikatakan kepada Iswari, namun Ki Lurah itu mengerti kekerasan sikap anak muda itu. Pada satu saat, ketika beberapa orang perwira muda berada di paseban, menjelang hadirnya Kanjeng Sultan, bergurau dan mengatakan bahwa Alas Mentaok hanya berisi harimau dan anjing hutan, mungkin beruk atau rusa dan bahwa Mentaok tidak akan pernah menjadi ramai, apalagi menjadi sebuah negeri, maka Raden Sutawijaya dengan marah meninggalkan paseban sambil bersumpah, bahwa Raden Sutawijaya tidak akan menginjak paseban itu lagi sebelum Alas Mentaok menjadi negeri yang ramai. Sikap itu dilakukan justru sebelum ayahandanya, Ki Gede Pemanahan meninggalkan Pajang.

 

 Namun Ki Lurah tidak mengatakannya. Iswari yang melihat sesuatu terkilas di wajah Ki Lurah, bertanya, "Apakah ada sesuatu yang ingin Ki Lurah katakan?"

 

 "Tidak. Tidak ada apa-apa lagi. Itulah keadaan yang sebenarnya terjadi di Pajang. Sekali lagi, jangan mencemaskannya," sahut Ki Lurah.

 

 Iswari mengangguk-angguk. Namun ia memang menjadi sedikit tenang setelah mendengar langsung keterangan dari Ki Lurah Reksabaya yang bertugas di Tanah Perdikan Sembojan.

 

 Sementara itu, yang berada di perjalanan menuju ke Kademangan Nggebayan telah membagi diri. Sambi Wulung dan Jati Wulung menempuh jalan yang berbeda dengan Kiai Badra dan Kiai Soka. Sambi Wulung dan Jati Wulung berusaha untuk dapat memasuki tempat perjudian yang juga merupakan tempat sabung ayam itu melalui pintu. Sementara Kiai Badra dan Kiai Soka akan mengamatinya dari jarak tertentu.

 

 Namun Kiai Badra telah berpesan kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung, agar mereka berhati-hati. Tentu tidak mudah untuk dapat memasuki tempat itu tanpa ada seorang pun yang pernah dikenalnya atau bahkan dapat menanggungnya.

 

 MEREKA ternyata tidak terlampau sulit untuk menemukan Kademangan Nggebayan. Baik Sambi Wulung dan Jati Wulung, maupun Kiai Badra dan Kiai Soka. Ternyata mereka tidak datang bersamaan di Kademangan itu. Kiai Badra dan Kiai Soka memasuki Kademangan itu sehari kemudian setelah Sambi Wulung dan Jati Wulung.

 

 Namun Kiai Badra dan Kiai Soka masih melihat bekas-bekas kehadiran Sambi Wulung dan Jati Wulung. "Gaya Sambi Wulung dan Jati Wulung memang ngedab-edabi," desis Kiai Soka. Kiai Badra hanya tersenyum saja. Sementara itu kedua orang tua itu telah berada di banjar Kademangan Nggebayan. Dengan senang hati, penunggu banjar itu memberi tempat kepada kedua orang tua itu untuk menginap. Dari penunggu banjar itu Kiai Badra dan Kiai Soka mendengar cerita, apa yang terjadi di banjar itu sehari sebelum mereka datang. "Dua orang gila kemarin mengamuk disini," berkata penunggu banjar itu. "Kenapa?" bertanya Kiai Badra. "Kami tidak tahu sebab-sebabnya," jawab penunggu banjar itu. "Namun tiba-tiba saja terjadi perselisihan antara dua orang yang menginap disini dengan beberapa orang lainnya." "Bukan dengan orang-orang Kademangan ini?" bertanya Kiai Badra. "Tidak. Bukan dengan orang-orang Kademangan ini," jawab penunggu banjar itu. "Oh, bukankah dengan demikian mereka telah mengganggu ketenangan Kademangan ini?" bertanya Kiai Soka. Penunggu banjar itu menarik nafas dalam-dalam. Namun sambil mengeluh ia berkata, "Hal seperti itu sudah sering terjadi di Kademangan ini." "O," Kiai Soka menjadi heran. "Kenapa sering terjadi?" Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian diamatinya kedua orang itu dengan wajah tegang. Lalu katanya dengan nada bimbang. "Jangan-jangan aku juga berhadapan dengan orang-orang serupa dengan orang-orang gila itu?" "Ah, kami adalah orang-orang tua," desis Kiai Badra. "Yang mengamuk juga orang-orang tua, meskipun belum setua Ki Sanak berdua," jawab penunggu banjar itu. Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Kami datang dalam keadaan kami seperti ini. Apakah yang dapat kami lakukan? Bukan maksud kami ingin tahu segala-galanya. Tetapi justru karena kami berada ditempat ini." Penjaga itu masih nampak ragu-ragu. Namun dimatanya, kedua orang itu orang-orang yang sudah terlalu tua. Karena itu, maka penjaga itu tidak menaruh curiga kepada keduanya, bahwa keduanya akan membuat persoalan di Kademangan itu. Apalagi sekadar mendengarkan cerita tentang peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di Kademangan itu. Sejenak penunggu banjar itu masih ragu-ragu. Namun kemudian katanya, "Ki Sanak. Kademangan ini merupakan pintu gerbang yang menuju ke lingkungan yang mengerikan di lambung Gunung Kukusan itu." "O, tentang apa?" bertanya Kiai Soka. "Ki Sanak," berkata orang itu. "Di daerah Song Lawa ada sebuah tempat yang merupakan sumber dari segala keributan itu." "Song Lawa?" bertanya keduanya hampir berbareng. "Ya. Jika mendaki kaki Gunung Kukusan ini melalui padukuhan-padukuhan Muncar, maka kalian akan sampai ke satu tempat yang bernama Song Lawa. Tempat untuk menyabung ayam dan tempat perjudian yang tersembunyi," berkata penunggu banjar itu. "O, tempat menyabung ayam," sahut Kiai Badra. "Menyenangkan sekali. Aku di waktu muda juga sering melihat sabung ayam. "Apakah kami boleh melihat sabung ayam itu?" "Jangan mimpi orang-orang tua," berkata penunggu banjar itu. .  

 

 SELAIN tempat sabung ayam dan tempat berjudi, maka tempat itu juga merupakan tempat pembantaian yang semena-mena. Tidak ada paugeran yang berlaku ditempat itu. Semuanya dapat berbuat apa saja menurut keinginan sendiri. Yang kuat akan dapat menentukan kemauannya apa saja. yang lemah harus licik agar tetap dapat hidup ditempat itu. Mereka harus mampu mengambil hati agar mendapat perlindungan, atau mengupah orang-orang untuk menjaga keselamatannya." 

 

 "O, sangat mengerikan," desis Kiai Soka. "Apakah tempat seperti itu dibiarkan saja oleh Ki Demang di Nggabayan ini?"

 

 "Apa yang dapat kami lakukan?" desis penunggu banjar itu. "Di Kademangan ini tidak ada orang yang cukup kuat untuk mengatasinya. Apalagi daerah Song Lawa itu tidak berada di kukuban Kademangan Nggabayan. Namun akibat dari tempat sabung ayam dan perjudian itu sangat tidak menyenangkan bagi kami disini."

 

 "Apa yang ki Sanak katakan sering terjadi itu?" bertanya Kiai Badra.

 

 "Orang-orang yang akan pergi ke Song Lawa biasanya melalui Kademangan ini. Jika beberapa kelompok di antara mereka bertemu disini dan mereka berniat bermalam di banjar ini, maka kadang-kadang mereka sudah berselisih sebelum mereka sampai ditempat perjudian itu. Mereka sudah berkelahi disini dan kadang-kadang benar-benar membuat orang-orang ngGebayan ini menjadi gila."

 

 "Orang-orang yang memuakkan," desis Kiai Soka.

 

 "Jangan berkata begitu dihadapan orang lain yang belum kau kenal. Jika kebetulan kau bertemu dengan orang seperti yang kemarin datang kemari, maka kau akan mengalami nasib yang buruk."

 

 "Siapa?" bertanya Kiai Badra.

 

 "Tidak ada orang yang tahu. Tetapi perselisihan itu tiba-tiba terjadi di banjar ini," berkata penunggu banjar itu. Lalu, "Tetapi sungguh luar biasa. Dua orang yang nampaknya kakak beradik. Apakah saudara kandung atau sekadar saudara seperguruan. Mereka bertempur melawan lebih dari lima orang. Tetapi keduanya itu mengamuk seperti orang gila. Bukan hanya kelima orang itu saja. Tetapi sekelompok lain yang juga tidak tahu sebabnya telah terlibat pula."

 

 "Bukan main," desis Kiai Soka.

 

 "Ternyata dua orang itu mampu mengalahkan lawan-lawannya. Mereka melukai lebih dari tiga orang. Seorang terbunuh dan yang lain melarikan diri," berkata penunggu banjar itu. Lalu ia pun bercerita lebih lanjut, "Ki Sanak. Disini mereka mulai bertempur. Memang tidak tahu sebabnya. Tetapi dua orang itu telah menebar. Yang seorang berada di sudut halaman yang sebelah sana, yang lain disebelah ini."

 

 Kiai Badra dan Kiai Soka pun kemudian mengangguk-angguk dengan penuh perhatian.

 

 Sementara itu, penunggu banjar itu pun telah bercerita dengan penuh minat pula. Katanya, "Aku belum pernah melihat orang segarang mereka berdua."

 

 "Apa yang dilakukan?" bertanya Kiai Soka. (Bersambung

 

 PENUNGGU banjar itu pun menceritakan apa yang telah dilihatnya di banjar itu. Dua orang yang disebut kakak beradik itu tiba-tiba saja telah memencar. Beberapa orang lain telah membagi diri. Sehingga setiap orang dari kedua kakak beradik itu harus melawan masing-masing tiga orang. Tetapi yang tiga orang itu tidak mampu menundukkan kedua orang yang disebut kakak beradik itu. 

 

 Meskipun orang-orang yang mengeroyoknya itu juga bukan orang kebanyakan, namun agaknya mereka tidak memiliki ilmu yang setingkat dengan kedua orang kakak beradik itu.

 

 "Dengan pedang di tangan keduanya benar-benar mengerikan," berkata penunggu banjar itu lebih lanjut. Lalu katanya pula, "Ketika seorang terbunuh dan yang lain luka-luka, maka orang-orang itu mulai bergeser menjauh. Mereka berusaha untuk berlindung di banjar, sementara ada sekelompok orang lain di banjar ini. Kedua orang itu tiba-tiba telah mengamuk. Semua orang mereka lawan dengan garangnya. Orang-orang yang semula tidak terlibat itu pun terpaksa melibatkan dirinya pula. Sehingga dengan demikian hiruk pikuk telah terjadi."

 

 "Memang mengerikan," desis Kiai Soka. "Tetapi apakah yang terbunuh itu orang yang akan pergi ke Song Lawa?"

 

 "Ya. Mereka adalah pejudi-pejudi yang memang sudah kami kenal. Hanya dua orang itu sajalah yang agaknya belum pernah melalui jalur ini," berkata penunggu banjar itu.

 

 Namun menurut ciri-ciri yang diceritakannya, Kiai Badra dan Kiai Soka yakin bahwa keduanya adalah Sambi Wulung dan Jati Wulung yang agaknya dengan cepat mendahului kedua orang tua itu mencapai Kademangan Nggebayan sehari sebelum keduanya sampai.

 

 Tetapi penunggu banjar itu tidak bercerita lebih panjang. Ia hanya mengatakan bahwa orang-orang disekitar banjar itu terpaksa mengubur orang yang terbunuh kemarin.

 

 Namun penunggu banjar itu memang orang yang baik. Kiai Badra dan Kiai Soka telah diajaknya untuk pergi ke belakang banjar. Di dapur mereka diberi makan dan minum secukupnya.

 

 "Tidak semua orang yang menginap aku suguhi makan dan minum," berkata penunggu banjar itu. "Apalagi jika mereka datang berkelompok. Aku dapat menjadi miskin jika aku harus menyediakan makan bagi setiap orang. Kecuali mereka yang memang memesan kepadaku untuk menyediakan makan dan minum dengan memberikan imbalan secukupnya."

 

 "Ada juga yang berbuat demikian?" bertanya Kiai Badra.

 

 "Ya," jawab penunggu banjar itu. "Biasanya mereka tidak terlalu hemat dengan uang. Apalagi jika mereka yang turun dari Song Lawa dan membawa kemenangan. Biasanya mereka memberikan uang tanpa menghitung dan memesan jenis makanan yang mahal-mahal."

 

 "Apa itu merupakan satu keuntungan atau hanya menambah beban kerja saja bagi Ki Sanak?" bertanya Kiai Soka sambil tersenyum.

 

 "Ah kau," desis penunggu banjar itu. "Agaknya karena itu aku tetap disini. Jika tidak ada penghasilan khusus seperti itu, aku tidak akan berada disini. Hampir setiap pekan sekali tentu terjadi perselisihan disini. Aku dapat membayangkan, apa yang terjadi di Muncar bahkan di Song Lawa sendiri."

 

 "Tetapi apakah Kademangan ini satu-satunya jalan menuju ke Song Lawa?" bertanya Kiai Badra.

 

 "Tidak," jawab orang itu. "Sebagian lagi tidak melewati Kademangan ini. Ada yang mengambil jalan pintas meskipun agak sulit. Tetapi sebagian dari mereka lebih senang berjalan lewat Kademangan ini. Mereka yang ingin beristirahat disini, dapat mempergunakan banjar ini. Meskipun sebenarnya banjar ini tidak disediakan bagi mereka. Mula-mula kami memang berkeberatan. Tetapi beberapa orang telah memaksa, sementara kami tidak dapat berbuat apa-apa. Ki Jagabaya pernah dipukuli oleh sekelompok penjudi karena Ki Jagabaya berusaha mengusir mereka dari banjar ini. Sejak itu, maka banjar ini terbuka bagi mereka. Meskipun agak terpaksa."

  

 KIAI BADRA dan Kiai Soka mengangguk-angguk. Namun mereka telah mendapat sedikit gambaran tentang tempat sabung ayam dan tempat perjudian yang ternyata mempunyai nama tersendiri, Song Lawa. Namun yang agaknya memberikan kesan tentang kehidupan di tempat terpencil itu. 

 

 Ketika Kiai Badra dan Kiai Soka telah selesai makan, maka mereka dipersilakan untuk pergi ke serambi samping banjar Kademangan itu.

 

 Namun ketika keduanya ke luar dari dapur, maka mereka terkejut karena hadirnya beberapa orang berkuda di halaman.

 

 "Empat orang," berkata Kiai Badra.

 

 Sebelum Kiai Badra sempat menjawab, maka tiba-tiba seorang di antara para penunggang kuda itu meloncat turun sambil memanggil, "He, kau kemarilah."

 

 Kiai Badra dan Kiai Soka saling berpandangan sejenak. Namun justru karena keduanya tidak segera mendekat, orang itu berteriak lebih keras, "he, kemarilah kau."

 

 Namun untunglah bahwa suara itu didengar oleh penunggu banjar itu. Karena itu, maka ia pun telah ke luar dari dapur.

 

 "Biarlah aku yang mendekat," berkata penunggu banjar itu.

 

 Ternyata bahwa orang itu tidak berteriak lagi setelah seseorang mendekatinya.

 

 Penunggu banjar yang sudah terlalu sering berhubungan dengan bermacam-macam watak orang, sama sekali tidak merasa canggung berhadapan dengan orang-orang berkuda itu. Bahkan ketika ia melihat salah seorang yang masih duduk di punggung kuda, ia pun menyapanya dengan akrab," Kau Kiai."

 

 Orang itu pun tertawa. Katanya, "Aku datang lagi untuk menebus kekalahanku."

 

 "Maksud kedatangan Ki Sanak semuanya?" bertanya penunggu banjar itu.

 

 "Kami ingin beristirahat disini sebelum besok kami akan naik. Kami akan meninggalkan kuda-kuda kami disini. Kuda sebaik kudaku akan dapat menimbulkan persoalan di Song Lawa," berkata orang yang sudah meloncat turun dari kudanya itu.

 

 Penunggu banjar itu mengerutkan keningnya. Katanya, "Tetapi tidak ada orang yang dapat mengamati kuda-kuda itu disini. Apalagi jika ada orang yang nampak tertarik kepada kuda-kuda itu. Mereka akan dengan serta merta mengambilnya tanpa dapat aku cegah."

 

 "Kau takut," bertanya orang itu.

 

 Penunggu banjar itu termangu-mangu sejenak. Namun itu pun kemudian tertawa sambil menjawab, "Tentu. Aku tidak mempunyai bekal apapun untuk melakukannya."

 

 Orang yang disebutnya Kiai itu pun tertawa. Katanya, "Ia berkata jujur. Memang tidak akan dapat mencegah seandainya seseorang akan mengambilnya."

 

 "Lalu?" bertanya kawannya.

 

 "Ada dua pilihan. Kita tinggalkan dengan kemungkinan diambil orang lain, atau kita akan membawanya dan mempertahankannya jika ada orang yang menginginkannya," sahut yang disebut Kiai itu.

 

 Namun sebelumnya orang yang sudah turun dari kudanya itu menjawab, maka yang lain telah meloncat turun pula sambil berkata, "Kita pikirkan besok. Sekarang kita beristirahat disini. Makan dan tidur."

 

 "Baiklah," berkata orang yang dipanggil Kiai itu. "Kita akan beristirahat sampai besok."

 

 Demikianlah, maka mereka pun kemudian mengikat kuda-kuda mereka pada patok-patok yang sudah disediakan. Seorang di antara mereka kemudian telah memberikan beberapa keping uang sambil berkata, "Sediakan makan buat kami. Jika makan yang kau masak itu tidak enak, awas."

 

 Penunggu banjar itu tertawa. Katanya, "Jangan cemas. Aku adalah juru masak terbaik di Kademangan ini."

 

 "Aku percaya," berkata orang yang dipanggil Kiai itu. "Tetapi jangan terlalu lama. Kau dapat segera menangkap paling sedikit dua ekor ayam."

 

 ***

 

 "Tentu. Aku sudah menyisihkan ayam yang paling baik buat kalian sekarang ini. Aku sudah mengira bahwa musim sabung ayam kali ini, kalian juga akan datang. Terutama Kiai Windu." Orang yang dipanggil Kiai Windu itu tertawa. Katanya, "Sudah aku katakan. Aku ingin menebus kekalahanku." 

 

 "Atau memperdalam jurang yang sudah digalinya," sahut seorang kawannya.

 

 Yang lain pun tertawa pula.

 

 Sejenak kemudian maka orang-orang itu telah masuk ke ruang dalam banjar Kademangan itu. Mereka mendapat sebuah bilik yang cukup besar untuk mereka berempat.

 

 Sementara itu, penunggu banjar itu telah meninggalkan keempat tamunya. Ia singgah sejenak di serambi sambil berdesis, "Aku telah mendapatkan uang itu tanpa berjudi di Song Lawa. Meskipun tidak banyak, tetapi jika sering terjadi maka aku akan dapat menabung serba sedikit."

 

 Kiai Badra tersenyum sambil berkata, "Ternyata ada juga imbalannya. Jika hal itu terjadi setiap hari, maka kau memang akan dapat menjadi kaya.

 

 "Tetapi setiap kali ada juga orang-orang gila seperti yang kemarin singgah. Jangankan memberi uang. Tamu-tamuku yang lain menjadi bercerai-berai. Bahkan ditinggalkannya sesosok mayat di banjar ini."

 

 "Semacam neraca. Kau memang tidak boleh menjadi terlalu kaya," berkata Kiai Soka.

 

 "Ya. Sekali-kali aku memang harus mengumpati orang-orang seperti itu," geram penunggu banjar itu.

 

 "Seperti yang mengamuk itu?" bertanya Kiai Soka pula.

 

 "Ya. Bahkan telah merusak pula," keluhnya.

 

 Kiai Badra dan Kiai Soka hanya mengangguk-angguk saja. Sementara itu penunggu banjar itu berkata, "Sudahlah. Aku akan menangkap dua ekor ayam."

 

 "Apakah kami dapat membantu?" bertanya Kiai Badra dan Kiai Soka hampir berbareng.

 

 "Kalian mau membantu apa?" bertanya penunggu banjar itu.

 

 "Menangkap ayam atau barangkali menanak nasi atau apa?" jawab Kiai Badra.

 

 "Semua harus aku kerjakan sendiri untuk menjaga agar masakan yang akan aku suguhkan kepada orang-orang itu masakan yang paling enak yang pernah mereka jumpai," jawab penunggu banjar itu.

 

 "Yang harus memasak suguhan itu kau atau istrimu?" bertanya Kiai Badra.

 

 "Aku sendiri. Isteriku tidak dapat masak. Bahkan menanak nasi pun tidak dapat," jawab penunggu banjar itu. Namun katanya kemudian, "Beristirahatlah. Uang yang diberikan cukup untuk menyediakan makan dan minum termasuk kalian berdua."

 

 Orang itu tidak menunggu Kiai Badra dan Kiai Soka menjawab. Ia pun segera melangkah pergi untuk menangkap dua ekor ayam.

 

 Kiai Badra dan Kiai Soka yang berada di serambi sebentar kemudian telah mendengar orang-orang yang berada di dalam banjar itu berkelakar menurut cara mereka. Suara mereka bagaikan memenuhi banjar itu, bahkan mengumandang keras sekali.

 

 Kata-kata yang kasar terlontar dari mulut mereka diselingi suara tertawa dan umpatan-umpatan yang menggetarkan telinga.

 

 "Satu gambaran kecil dari tempat yang disebut Song Lawa itu," berkata Kiai Badra.

 

 "Ya. Kekerasan, kekerasan dan kata-kata yang kotor," desis Kiai Soka.

 

 Malam itu, Kiai Badra dan Kiai Soka ikut mendapat suguhan sebagaimana empat orang yang bermalam di banjar itu. Ternyata penunggu banjar itu tidak hanya menyembelih dua ekor ayam. Tetapi tiga ekor ayam. Dengan demikian maka Kiai Badra dan Kiai Soka ikut pula bujana bersama keempat orang itu meskipun ditempat yang berbeda.

 

 Namun pagi-pagi benar Kiai Badra dan Kiai Soka telah mohon diri kepada penunggu banjar itu. Dengan berulang kali mengucapkan terima kasih akhirnya Kiai Badra berkata, "Kami mohon diri untuk meneruskan pengembaraan kami.

 

 "KI SANAK," berkata penunggu banjar itu. "Sebenarnya Ki Sanak berdua ini akan pergi kemana. Kalian sudah terlalu tua untuk mengembara. Apakah kalian tidak mempunyai sanak kadang yang dapat menjadi tumpuan di akhir hayat kalian?" 

 

 "Kami memang pengembara Ki Sanak," jawab Kiai Badra. "Tetapi pada saatnya kami memang harus menentukan sikap untuk mengakhiri pengembaraan kami."

 

 "Tetapi sampai kapan? Kalian berdua sudah terlalu tua. Keriput wajah kalian serta rambut kalian yang sudah menjadi seperti kapas itu membuat hati ini menjadi iba melihat kalian berjalan menyusuri jalan-jalan padukuhan. He, apakah yang kalian makan disepanjang perjalanan?"

 

 Kedua orang tua itu tersenyum. Sekali lagi Kiai Soka mengucapkan terima kasih dengan tulus. Katanya, "Ki Sanak. Ki Sanak terlalu baik kepada kami. Jika ada kesempatan, kami ingin singgah lagi di padukuhan ini. Sekarang kami mohon diri. Sebenarnya terbesit keinginan kami untuk melihat sabung ayam di Song Lawa. Tetapi cerita Ki Sanak tentang Song Lawa membuat kami takut mendekat."

 

 "Jangan pergi kesana," berkata penunggu banjar itu. "Keempat orang itu adalah contoh dari orang-orang yang berada di tempat sabung ayam dan perjudian itu. Kasar dan keras. Lebih dari itu, tempat itu dikawal oleh orang-orang yang bersenjata dan tidak kenal belas kasihan. Mereka adalah pembunuh-pembunuh yang tidak tahu akan arti tindakannya."

 

 "Tentu tidak Ki Sanak. Tidak ada keberanian kami untuk pergi kesana. Atau mungkin kami sudah tidak mampu untuk mendaki jalan yang menanjak menuju ke padukuhan Muncar untuk kemudian mencapai tempat yang mengerikan itu," berkata Kiai Soka.

 

 Ketika Kiai Badra dan Kiai Soka melangkah turun ke halaman, maka penunggu banjar itu berkata, "Selamat jalan kakek-kakek tua. Semoga kalian selamat sampai ke rumah kalian."

 

 Kiai Badra dan Kiai Soka termangu-mangu ketika penunggu banjar itu memberikan beberapa keping uang kepada mereka sambil berkata, "Mungkin kalian haus di perjalanan. Jika sekali-kali kalian ingin membeli minuman panas, uang ini mungkin akan berarti bagi kalian."

 

 Keduanya tidak dapat menolak. Justru untuk tidak menarik perhatian. Namun penunggu banjar itu memberikan uangnya dengan ikhlas pula, sehingga memang tidak sepantasnya untuk tidak diterima.

 

 Demikianlah, sambil sekali lagi mengucap terima kasih maka Kiai Badra dan Kiai Soka itu telah meninggalkan banjar menyusuri jalan padukuhan, sementara hari masih gelap.

 

 Ketika kedua orang itu ke luar dari padukuhan induk Kademangan Nggebayan, maka Kiai Soka itu pun berdesis, "Orang itu sangat baik."

 

 "Ya. Agaknya ia memang orang yang baik hati," jawab Kiai Badra. "Namun yang aku ingin tahu, kenapa Sambi Wulung dan Jati Wulung menjadi demikian keras sikapnya."

 

 "Penunggu banjar tidak tahu sebabnya. Namun agaknya keduanya terdorong oleh keadaan," desis Kiai Soka.

 

 Kiai Badra mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, "Lebih baik kita mencari jalan lain. Jika keempat orang itu nanti meninggalkan banjar, mungkin mereka akan melampaui kita dan bahkan menjadi curiga terhadap kita."

 

 Kiai Soka menarik nafas dalam-dalam. Dengan demikian ia mengerti bahwa mereka harus menempuh jalan lain. Mereka harus mulai menyusup gerumbul-gerumbul perdu atau melintasi padang ilalang. Dengan demikian maka mulailah pengembaraan mereka yang sebenarnya mendekati tempat sabung ayam dan sering disebut Song Lawa.

 

 "Sambi Wulung dan Jati Wulung tentu melewati jalan ini," berkata Kiai Badra.

 

 Kiai Soka mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, "Kita melintasi pematang ini. Kita akan memasuki pategalan itu."

 

 "Jika ada pemiliknya?" bertanya Kiai Badra.

 

 "Kita menyusuri pinggirnya saja," jawab Kiai Soka. (Bersambung  

 

 MEREKA pun kemudian meloncati tanggul parit dan menyusuri pematang menuju ke pategalan yang tidak terlalu jauh dari jalan yang mendekati lambung Gunung Kukusan. Karena itu, maka perjalanan mereka berikutnya merupakan perjalanan yang akan menjadi semakin berat. 

 

 Namun, meskipun keduanya memang sudah tua sebagaimana ujud mereka, tetapi ternyata bahwa mereka masih cukup terampil. Mereka meloncati parit dan pematang tanpa kecanggungan. Bahkan kedua orang yang rambutnya sudah memutih itu sama sekali tidak menjadi terengah-engah.

 

 Ketika matahari terbit, mereka telah berada di antara pepohonan pategalan. Mereka kemudian melintas dan turun ke padang perdu. Keuntungan keduanya adalah justru karena jalan yang naik ke padukuhan-padukuhan di lambung gunung itu adalah berkelok-kelok dan ditumbuhi beberapa jenis pepohonan di pinggirnya, sehingga dari padang perdu, keduanya dapat melihat arah jalan yang semakin lama nampaknya menjadi semakin sempit dan rumpil.

 

 "Kita harus menemukan padukuhan Muncar. Menurut kedua orang yang sedang diburu itu, jalan menuju ketempat sabung ayam itu melewati sebuah belumbang alam yang berair sangat bening.

 

 "Kita harus menemukan padukuhan Muncar itu lebih dahulu," berkata Kiai Badra.

 

 Pengalaman pengembaraan mereka, telah menuntun mereka menuju ke padukuhan Muncar. Penunggu banjar itu mengatakan, bahwa Muncar berada di pinggir jalan yang menuju ke Song Lawa. Meskipun ia tidak menyebut belumbang yang berair bening itu, namun kedua keterangan itu dapat dipergunakannya sebagai ancar-ancar.

 

 Ternyata mereka harus berjalan jauh. Muncar memang tidak terlalu dekat dengan padukuhan Kademangan Nggebayan. Sehingga karena itu, mereka harus mengamati ciri-ciri yang dikatakan oleh penunggu banjar itu dengan seksama.

 

 "Itulah batu karang yang dimaksudkan," berkata Kiai Badra.

 

 "Kita baru mendapat separo jalan," desis Kiai Soka.

 

 Kiai Badra tersenyum. Namun mereka sudah terlalu biasa menempuh perjalanan yang sangat jauh sekalipun. Karena itu, maka jarak antara padukuhan Muncar dan Kademangan Nggebayan tidak menjadi persoalan bagi mereka.

 

 Setelah beberapa saat mereka berjalan, maka mereka sempat melihat debu yang mengepul di jalan yang menuju ke padukuhan Muncar. Beberapa ekor kuda nampaknya berderap dengan cepat melintasi jalan yang berkelok-kelok memanjat lambung Gunung Kukusan.

 

 Kiai Badra dan Kiai Soka yang sudah menjadi agak jauh dari jalan yang semula mereka lalui, sempat berlindung di balik pohon-pohon perdu.

 

 "Nah, itulah mereka," berkata Kiai Badra.

 

 "Memang empat orang," desis Kiai Soka.

 

 "Mungkin masih ada orang lain yang akan memanjat lambung Gunung itu. Mungkin berjalan kaki atau dengan cara lain," berkata Kiai Badra pula.

 "TERNYATA kita datang tepat pada waktunya. Musim sabung ayam. Dalam musim yang begini, tempat itu tentu lebih ramai daripada jika bukan musimnya," sahut Kiai Soka. 

 

 Kiai Badra mengangguk-angguk. Dipandanginya debu yang mengepul semakin lama semakin jauh mendahului perjalanan mereka. Namun dengan demikian kedua orang tua itu yakin, bahwa mereka telah menempuh jalan yang benar.

 

 Semakin lama perjalanan mereka pun menjadi semakin tinggi. Mereka segera mengenali padukuhan Muncar ketika mereka melihat sepasang pohon randu alas yang besar. Kemudian mereka pun dapat menemukan jalan yang menuju ke belumbang sebagaimana dikatakan oleh dua orang kakak beradik yang pernah dikunjungi oleh Kiai Badra.

 

 Dan akhirnya, mereka pun sempat menemukan jalur jalan menuju ke Song Lawa, tempat sabung ayam dan perjudian yang terpencil.

 

 Kedua orang itu pun menjadi semakin berhati-hati. Mereka merayap semakin jauh dari jalan yang menghubungkan tempat itu dengan tempat yang disebut Song Lawa. Mereka tidak ingin mengikuti jalan itu terlalu dekat. Bagi mereka jalan itu cukup menjadi ancar-ancar arah perjalanan mereka.

 

 Dengan demikian maka keduanya pun telah memasuki hutan di lereng bukit. Agaknya padukuhan sudah menjadi sangat jarang. Sehingga kedua orang tua itu merasa agak lebih aman.

 

 Beberapa pertanda telah menunjukkan, bahwa mereka memang akan segera sampai ke daerah yang disebut Song Lawa itu, daerah yang tentu bukan pesanggrahan yang nyaman dan tenang. Tetapi tempat itu tentu merupakan tempat yang hiruk pikuk dan penuh dengan kekerasan dan kekasaran.

 

 Namun Kiai Badra dan Kiai Soka itu kemudian tertegun ketika mereka melihat beberapa puluh langkah disamping, keempat penunggang kuda itu berhenti. Agaknya mereka memang telah dihentikan oleh seseorang atau lebih.

 

 "Apa yang terjadi?" bertanya Kiai Badra.

 

 "Kita akan melihatnya," sahut Kiai Soka.

 

 Kedua orang tua itu pun dengan sangat berhati-hati telah mendekati jalan yang mereka anggap sebagai ancar-ancar itu. Mereka kemudian berhenti beberapa belas langkah dari jalan itu. Namun dari tempat mereka kemudian berlindung, mereka telah dapat melihat jelas apa yang telah terjadi.

 

 "Sambi Wulung dan Jati Wulung," desis Kiai Badra.

 

 Kiai Soka mengangguk-angguk. Ia pun melihat Sambi Wulung dan Jati Wulung telah menghentikan keempat orang berkuda itu.

 

 "Orang-orang berkuda itu baru sampai disini?" bertanya Kiai Soka.

 

 "Mungkin mereka berhenti di belumbang itu atau dimana saja," jawab Kiai Badra.

 

 Mereka pun kemudian saling berdiam diri sambil mengamati apa yang telah terjadi.

 

 "Untuk apa kalian menghentikan kami?" bertanya salah seorang penunggang kuda itu.

 

 "Ki Sanak," Sambi Wulung justru bertanya, "Bukankah kalian akan pergi ke Song Lawa?"

 

 "Kebetulan sekali. Kami juga akan pergi ke Song Lawa. Kami memerlukan seseorang yang mau menanggung kami berdua agar kami berdua dapat masuk ke lingkungan daerah Sabung Ayam itu," bertanya Sambi Wulung.

 

 "Aku tidak mengenal kalian berdua. Dan aku pun tidak melihat kepentingan apapun untuk menanggung kalian berdua," jawab penunggang kuda itu.

 

 "Kita sekarang memperkenalkan diri," jawab Sambi Wulung. "Kemudian bawa kami masuk. Kami akan memberikan sebagian dari kemenangan kami kepada kalian jika kalian bersedia."

 

 "Jangan mengigau. Kau tidak akan menang seandainya kalian dapat memasuki lingkungan sabung ayam itu," jawab orang berkuda itu. "Minggirlah. Kami akan lewat."

 

 "Katakan bahwa kalian akan menanggung kami berdua, atau kalian tidak akan pergi ke tempat itu," geram Jati Wulung. .

 

 ***

 

 "IBLIS," orang berkuda itu mengumpat, "Kau mengancam kami." "Bukan hanya mengancam. Tetapi kami akan menghancurkan kalian disini. Mengambil bekal kalian karena aku yakin kalian tentu membawa bekal banyak untuk memasuki Song Lawa," berkata Sambi Wulung dengan garang. 

 

 Tetapi keempat orang itu tertawa hampir bersamaan. Seorang di antara mereka memegang perutnya sambil berkata di antara derai tertawanya itu, "Apakah kau sudah gila he? Mungkin kau orang yang sama sekali tidak mengenal dunia ini, terutama dunia kanuragan dan dunia perjudian."

 

 "Aku memang belum mengenal dunia perjudian dan sabung ayam di Song Lawa. Tetapi aku sudah mengelilingi tanah ini dari ujung sampai ke ujung. Aku sudah memasuki tempat perjudian di tujuhpuluh delapan tempat. Dari tempat perjudian di serambi yang tiris sampai ke istana yang megah," jawab Jati Wulung.

 

 Keempat orang itu tertawa semakin keras. Seorang di antara mereka kemudian berkata, "Minggir. Atau aku tenteng kepalamu memasuki Song Lawa. Tidak ada orang yang akan mempersoalkan dimana aku mendapatkan kepalamu itu. Tubuhmu yang tertinggal disini akan menjadi makanan anjing-anjing liar dari hutan-hutan di lereng Gunung Kukusan ini."

 

 Sambi Wulung tiba-tiba membentak dengan kasar, "Cepat. Katakan bahwa kalian akan menanggung aku memasuki tempat perjudian itu. Aku tidak mau menunggu terlalu lama. Aku tidak mempunyai waktu untuk bergurau disini. Mungkin ditempat perjudian aku akan dapat bergurau lebih baik."

 

 "Jadi kalian berdua benar-benar sudah gila? Baiklah. Kami benar-benar akan memenggal leher kalian dan membawa kepala kalian memasuki Song Lawa," jawab seorang di antara orang-orang berkuda itu.

 

 Dalam pada itu, seorang di antara mereka pun telah meloncat turun dari kudanya dan mengikat kudanya itu pada sebatang pohon di pinggir jalan. Dengan nada berat ia pun berkata, "Bersiaplah untuk mati."

 

 Ketiga orang kawannya pun telah berloncatan turun pula. Termasuk orang yang disebut Kiai Windu.

 

 Sambi Wulung dan Jati Wulung tiba-tiba sudah memencar. Mereka telah bersiap untuk menyerang.

 

 "Cepat ikat kudamu dan bersiap, agar kalian tidak menyebut kami curang," geram Jati Wulung.

 

 Orang-orang berkuda itu pun segera mengikat kuda mereka. Dalam pada itu Kiai Windu pun berkata, "Agaknya mereka benar-benar ingin terbunuh disini, menjelang pintu gerbang yang menuju ke satu tempat yang diimpikannya. Mereka lebih baik mati daripada tidak dapat masuk Song Lawa."

 

 "Jangan banyak bicara," bentak Jati Wulung. "Aku tidak mempunyai banyak waktu."

 

 Keempat orang berkuda itu pun segera mempersiapkan diri, sementara Sambi Wulung dan Jati Wulung telah mulai bergerak untuk menyerang.

 

 Keempat orang itu memang terkejut melihat sikap Sambi Wulung dan Jati Wulung yang garang itu. Sebelum mereka berbuat sesuatu mereka sudah harus berloncatan menghindari serangan kedua orang yang garang itu.

 

 Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak berhenti pada serangan yang pertama. Mereka pun segera memburu lawan-lawan mereka yang berloncatan menghindar itu. Justru semakin cepat dan semakin kuat.

 

 "Orang ini memang gila," geram Kiai Windu.

 

 Tiba-tiba saja Kiai Windu yang marah itu pun telah mempercepat tata geraknya. Ia tidak lagi sekadar menghindari serangan Sambi Wulung, tetapi pada satu kesempatan, maka Kiai Windu itulah yang menyerang.

 

 Dengan demikian maka pertempuran di antara mereka pun menjadi semakin keras dan kasar. Mereka saling menyerang, memburu dan bahkan berteriak dengan umpatan-umpatan yang kotor.

 

 Kiai Soka menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Kenapa Sambi Wulung dan Jati Wulung dapat berbuat seperti itu?"

 

 ***  

 

 "MEREKA ingin menyesuaikan diri dengan nafas kehidupan di Song Lawa," sahut Kiai Badra. Kiai Soka mengangguk-angguk. Nampaknya Sambi Wulung dan Jati Wulung memang telah memaksa diri untuk berbuat kasar dan keras, agar mereka pantas memasuki tempat yang disebut Song Lawa itu. Keduanya tidak akan dapat bersikap lembut dan dilandasi dengan unggah-ungguh yang mapan. Agaknya keduanya ingin memasuki tempat itu dengan cara yang sesuai dengan kehidupan ditempat sabung ayam dan perjudian itu. 

 

 Untuk beberapa saat lamanya, Kiai Badra dan Kiai Soka melihat mereka bertempur. Ternyata keempat orang berkuda itu juga bukan orang-orang yang tidak berilmu. Mereka pun mampu bergerak cepat dan pada benturan-benturan yang terjadi, mereka pun menunjukkan kekuatan mereka yang dilandasi dengan tenaga cadangan di dalam diri mereka.

 

 Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung memang memiliki kelebihan. Mereka mampu mendesak keempat orang lawannya, sehingga mereka terpaksa berloncatan surut.

 

 Dalam keadaan yang gawat, maka orang yang disebut Kiai Windu telah menarik senjatanya. Sebilah keris yang besar yang semula terselip di punggungnya. Sementara dua orang yang lain pun segera menarik pedang mereka pula. Yang seorang lagi memiliki senjata yang khusus. Dua potong besi yang dua jengkal panjangnya dihubungkan rantai yang tidak terlalu panjang.

 

 Sambi Wulung dan Jati Wulung yang melihat lawan-lawannya bersenjata telah menarik senjatanya pula. Senjata yang terbiasa dipakai oleh kebanyakan orang. Pedang.

 

 Sejenak kemudian maka pertempuran pun menjadi semakin seru. Kedua belah pihak telah berusaha untuk menekan lawannya. Namun seperti yang sudah terjadi, keempat orang itu pun telah terdesak. Sambi Wulung dan Jati Wulung mampu bergerak dengan kecepatan yang luar biasa. Pedang mereka pun berputaran mengerikan. Bahkan berputaran pula dengan melontarkan desing yang tajam.

 

 Ketika Sambi Wulung dan Jati Wulung bergerak semakin cepat, maka tiba-tiba saja seorang di antara mereka telah tergores pedang di lengannya.

 

 Dengan serta merta orang itu berloncatan surut. Orang itu adalah orang yang bersenjatakan dua batang tongkat besi yang dihubungkan dengan rantai.

 

 Kawannya pun telah meloncat surut pula. Bahkan kedua orang yang lain pun telah berloncatan pula meninggalkan lawan mereka.

 

 Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak mengejar mereka. Namun keduanya justru berdiri tegak sambil mengacungkan pedang mereka.

 

 "Jangan lari," geram Sambi Wulung. "Jika kalian lari, aku akan mendapatkan empat ekor kuda yang tegar. Tentu kuda mahal harganya.

 

 "Setan. Jangan rampok kuda-kuda kami," geram Kiai Windu.

 

 "Pertahankan kudamu jika kalian mampu," Sambi Wulung hampir berteriak.

 

 Keempat orang itu mengumpat. Namun mereka merasa bahwa sulit bagi mereka untuk mengalahkan kedua orang itu. Sementara mereka berempat merasa bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki kemampuan yang tinggi.

 

 "Ilmu iblis manakah yang dimiliki oleh kedua orang itu?" desis Kiai Windu yang ternyata memiliki ilmu yang paling tinggi dari keempat orang itu.

 

 "Cepat," Jati Wulunglah yang kemudian membentak, "Ambil kuda-kuda kalian atau aku bawa ke Song Lawa untuk aku jual disana. Mungkin ada orang yang memerlukan kuda dan bersedia menanggung kami berdua memasuki Song Lawa itu."

 

 "Setan," geram orang yang bersenjata tongkat berantai itu.

 

 "Nah, kalian dapat memilih. Kami ambil kuda-kuda kalian atau tidak," bertanya Jati Wulung.

 

 "Tentu tidak," jawab Kiai Windu.

 

 "Baik. Kami akan menyerahkan kembali kuda-kuda kalian. Tetapi dengan syarat, bawa kami masuk ke Song Lawa," geram Jati Wulung.  

 

 Kiai Windu tidak segera menjawab. Sekilas dipandanginya kawan-kawannya. Sementara itu salah seorang di antara mereka yang membawa pedang berkata, "Kau kira jika kau sudah masuk ke Song Lawa tidak akan menemui kesulitan?"

 

 "Kami akan mengatasi kesulitan itu," berkata Sambi Wulung.

 

 Keempat orang itu termangu-mangu. Tetapi mereka memang tidak mempunyai pilihan lain. Mereka tidak akan dapat mengalahkan kedua orang itu. Bukan saja mereka tidak ingin kehilangan kudanya, tetapi mereka juga tidak mau kehilangan nyawanya.

 

 Beberapa saat keempat orang itu masih ragu-ragu. Sementara Jati Wulung membentak semakin keras, "Jawab, atau aku harus mengambil langkah sendiri, membawa kuda-kuda kalian ke Song Lawa."

 

 Kiai Windulah yang kemudian menjawab. Katanya, "Baiklah. Kami akan menanggung kalian memasuki Song Lawa itu. Tetapi apa yang terjadi kemudian bukan tanggung jawab kami."

 

 "Jika kami dapat memasuki Song Lawa, maka kami akan bertanggung jawab atas diri kami sendiri," berkata Sambi Wulung. Lalu, "Bahkan jika kami menang seperti yang biasa kami alami, maka kami akan memberikan bagian kepada kalian berempat, sepadan dengan jumlah kemenangan kami."

 

 Kiai Windu itu mengangguk-angguk. Katanya, "Baiklah. Marilah. Ikut kami."

 

 "Kita akan berjalan kaki," berkata Sambi Wulung. "Tidak seorang pun di antara kita yang akan naik kuda. Kalian harus menuntun kuda-kuda kalian."

 

 Keempat orang itu tidak dapat menolak. Karena itu Kiai Windu itu pun berkata, "Kau akan menyesal setelah kau berada di dalam lingkungan sabung ayam itu."

 

 "Kalian tidak perlu berkhianat," berkata Sambi Wulung. "Jika hal itu terjadi dengan sendirinya, kami akan mengatasinya. Tetapi jika hal itu terjadi karena pengkhianatan kalian, maka kalian berempat akan mati."

 

 "Setidak-tidaknya kalian berempat tidak dapat mengalahkan kami," jawab Jati Wulung.

 

 Orang itu pun tidak menjawab lagi. Sementara itu, keempat orang itu pun telah melangkah mendekati kudanya.

 

 "Marilah," berkata Kiai Windu.

 

 Sesaat kemudian mereka berenam pun telah melanjutkan perjalanan.

 

 Ternyata jarak ke Song Lawa sudah tidak terlalu jauh lagi. Beberapa saat kemudian, Kiai Badra dan Kiai Soka yang meneruskan perjalanan mereka, segera melihat ciri-ciri dari satu lingkungan terpisah dari dunia lain dengan kebiasaan tersendiri. Song Lawa.

 

 Sambi Wulung dan Jati Wulung telah mempergunakan cara yang sesuai dengan lingkungan yang akan didatanginya," berkata Kiai Badra.

 

 "Ya. Sampai disini agaknya ia berhasil," sahut Kiai Soka. "Mudah-mudahan ia tidak mengalami kesulitan."

 

 "Tidak mengalami kesulitan dan tidak dikenali oleh orang-orang yang mengawal laki-laki remaja yang bernama Puguh itu," sahut Kiai Badra.

 

 Kiai Soka mengangguk-angguk. Namun ia pun kemudian berdesis, "Kita harus sangat berhati-hati. Mungkin pengawalan tempat itu menyebar sampai jarak yang cukup jauh."

 

 "Ya. Agaknya memang demikian," sahut Kiai Badra sambil menunjuk dua orang bersenjata yang berjalan beberapa puluh langkah dihadapan mereka.

 

 Keduanya pun bersembunyi di balik batang-batang perdu. Namun mereka berusaha untuk dapat melihat lingkungan yang terasing itu.

 

 Agaknya keduanya beruntung berada di tempat yang agak lebih tinggi dari jalur jalan yang menuju dan kemudian memasuki lingkungan yang disebut Song Lawa itu. Ternyata di jalur jalan itu mereka melihat pintu-pintu gerbang yang berlapis. Kemudian pagar yang bersap pula. Pagar yang terbuat dari kayu yang dijajar rapat lebih tinggi dari tubuh seseorang. Pada lapis ketiga pagar itu menjadi lebih tinggi. .

 

 ***

 

 Dari tempat yang agak lebih tinggi, Kiai Badra dan Kiai Soka sempat melihat keadaan di dalam lapis-lapis pagar itu. Di lapis kedua Sambi Wulung dan Jati Wulung masih tertahan bersama keempat orang yang berkuda itu. Agaknya para penjaga pintu gerbang itu tidak memberikan ijin kepada Kiai Windu dan kawan-kawannya untuk membawa kuda mereka masuk. 

 

 Ternyata bahwa mereka telah mengikat kuda-kuda mereka di patok-patok yang sudah tersedia. Disebelahnya sudah terdapat beberapa ekor kuda yang lain, yang telah datang lebih dahulu.

 

 Kiai Badra dan Kiai Soka ikut menjadi tegang ketika melihat mereka berenam berdiri dimuka pintu gerbang. Beberapa orang penjaga yang garang nampaknya dengan teliti mengamati mereka seorang demi seorang.

 

 Dari jarak yang cukup jauh, Kiai Badra dan Kiai Soka tidak dapat melihat terlalu jelas apa yang terjadi. Meskipun mereka adalah orang-orang yang memiliki ketajaman penglihatan melampaui orang-orang kebanyakan.

 

 Dalam pada itu, di depan pintu gerbang pada lapis yang ketiga, Kiai Windu dan kawan-kawannya telah menunjukkan pertanda bahwa mereka adalah orang-orang yang sudah dianggap keluarga di lingkungan sabung ayam itu. Mereka dapat menunjukkan sebuah tanda yang terbuat dari perunggu berbentuk bulat. Ditengah-tengahnya dipahatkan gambar seekor ayam jantan dengan kepala tegak. Kemudian beberapa ciri yang khusus terpahat dibawah gambar ayam itu.

 

 "Bagaimana dengan kedua orang ini?" bertanya penjaga pintu gerbang.

 

 Kiai Windu termangu-mangu sejenak. Sementara itu Sambi Wulung dan Jati Wulung menjadi tegang. Mereka berdiri dekat dibelakang keempat orang berkuda yang akan menanggung mereka memasuki tempat yang mendebarkan itu.

 

 Namun Kiai Windu pun kemudian berkata, "Mereka adalah orang-orang baru. Kami berempat menanggung mereka selama mereka berada di tempat itu."

 

 "Apa jaminannya?" bertanya penjaga yang garang itu.

 

 "Kami berempat," jawab Kiai Windu.

 

 Penjaga itu mengangguk-angguk. Sementara itu para penjaga yang lain nampaknya menaruh perhatian pula kepada mereka.

 

 Sambi Wulung dan Jati Wulung sendiri hanya menunggu keputusan mereka. Apakah mereka diperkenankan memasuki daerah itu atau tidak.

 

 Namun agaknya pemimpin dari para petugas dipintu itu tidak mau bertanggung jawab sendiri. Karena itu, maka pemimpin penjaga pintu gerbang itu berkata, "Tunggulah disini. Aku akan melaporkannya."

 

 Keenam orang itu harus menunggu. Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak dapat memaksa untuk memasuki gerbang itu. Mereka tidak dapat memancing persoalan justru sebelum mereka berada di dalam.

 

 Sementara pemimpin penjaga itu melaporkan kehadiran mereka, keenam orang itu telah bergeser menepi. Kiai Windu sempat berdesis kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung. "Kau dengar. Kami berempatlah yang menjadi tanggungan kami. Jika kalian berbuat sesuatu yang kurang baik disini, kami berempat akan ikut diperlakukan buruk. Kita di tempat ini tidak dapat memamerkan kemampuan dan ilmu kita. Disini terlalu banyak orang berilmu tinggi. Meskipun aku akui, ilmu kalian berdua ternyata lebih tinggi dari yang aku duga, tetapi setiap pelanggaran ketentuan yang berlaku disini, akan menimbulkan melapetaka."

 

 KIAI WINDU tertawa. Katanya, "Mereka orang-orang baik." Kedua orang berjambang itu kemudian telah mempersilakan Kiai Windu berenam untuk memasuki pintu gerbang. Sementara itu orang berjambang itu pun berkata, "Hanya bila kami sudah yakin bahwa mereka tidak akan merugikan Song Lawa, maka kami akan memberikan pertanda keluarga. Aku belum tahu berapa pekan ia kerasan tinggal disini untuk seterusnya, maka ia akan dapat menjadi kawan yang sangat baik bagi kami. Tetapi atas tanggungan Kiai." 

 

 Kiai Windu tersenyum. Betapa kecutnya. Namun ia memang berharap bahwa kedua orang itu tidak akan berbuat sesuatu yang dapat menyeret namanya ke dalam kesulitan.

 

 Dari kejauhan Kiai Badra dan Kiai Soka melihat bahwa keenam orang itu telah memasuki pintu gerbang utama. Sambil menarik nafas dalam-dalam Kiai Badra berdesis, "Pintu kesulitan pertama telah dilewati."

 

 "Masih banyak masalah yang akan mereka hadapi," sahut Kiai Soka.

 

 "Ya. Dan kita tidak akan dapat mengikuti dari jarak yang jauh ini. Apalagi jika malam gelap," berkata Kiai Badra.

 

 "Di malam hari kita akan mendekat," gumam Kiai Soka. "Tetapi di siang hari kita dapat berada disini. Jaraknya tidak terlalu dekat, tetapi juga tidak terlalu jauh. Dari tempat yang tinggi ini kita dapat melihat keseluruhan lingkungan Song Lawa."

 

 "Tetapi kita tidak dapat melihat apa yang terjadi dibawah atap barak-barak yang berserakan di dalam lingkungan dinding kayu itu," jawab Kiai Badra.

 

 Kiai Soka pun segera tanggap. Karena itu katanya, "Kau bermaksud memasuki tempat itu di malam hari?"

 

 Kiai Badra tertawa. Tetapi ia tidak menjawab. Bahkan katanya, "Mereka telah hilang. Mereka memasuki salah satu barak yang ada di dalam lingkungan Song Lawa."

 

 Kiai Soka mengangguk-angguk. Katanya, "Barak-barak itu tentu mempunyai beban tugas yang berbeda-beda."

 

 "Agaknya memang demikian," jawab Kiai Badra. "Yang satu untuk bermalam orang-orang yang memasuki tempat itu. Dan itu agaknya yang paling panjang itu. Satu lagi untuk berjudi. Satu lagi menyediakan makan dan minum. Tidak bedanya dengan sebuah kedai. Dan entah untuk apa lagi. Yang berasap itu tentu dapur."

 

 Kiai Soka tersenyum. Katanya, "Agaknya dapur itulah yang paling kau kenal."

 

 "Bukankah itu lebih baik daripada mengenali tanah kosong di bagian belakang barak-barak itu," sahut Kiai Badra sambil tertawa.

 

 "Itulah yang mengerikan," berkata Kiai Soka. Orang tua itu tidak tersenyum lagi. Bahkan wajahnya menjadi bersungguh-sungguh. Katanya, "Berapa orang yang sudah dikubur ditempat itu?"

 

 "Itu adalah gambaran kehidupan di lingkungan ini," berkata Kiai Badra. "Mudah-mudahan Sambi Wulung dan Jati Wulung dapat mengatasinya."

 

 "Seharusnya jika mereka sudah berhasil memasuki lingkungan itu, mereka tidak usah berbuat aneh-aneh agar mereka mendapat kesempatan untuk tetap berada di dalamnya," desis Kiai Soka. "Jika mereka berdua masih memaksa diri untuk bertingkah-laku kasar, maka mereka akan dapat dilemparkan ke lubang kubur di tanah kosong itu."

 

 Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, "Mudah-mudahan keduanya cukup bijaksana."

 

 Kiai Soka tidak menjawab.

 

 Untuk beberapa saat mereka masih mengawasi tempat sabung ayam itu. Tetapi mereka tidak melihat sesuatu. Mereka melihat arena sabung ayam di halaman tengah yang kosong. Agaknya sabung ayam itu masih belum dimulai dalam satu dua hari lagi."

 

 Satu dua orang memang nampak melintas di halaman, sementara ada lagi dua orang peronda yang mengelilingi tempat itu. Namun belum ada kesan kesibukan yang berarti.

 KIAI BADRA dan Kiai Soka pun kemudian bergeser menjauh. Mereka memasuki hutan kecil di lereng gunung. Nampaknya tempat yang jarang sekali didatangi oleh seseorang. Bahkan oleh pencari kayu bakar sekalipun. Mereka melihat dahan-dahan kering berserakan tanpa ada yang memungutnya. 

 

 Namun agaknya hutan yang masih belum disentuh itu merupakan simpanan yang sangat berarti bagi lembah dan dataran dibawahnya. Di tebing-tebing terjal nampak air mengalir perlahan-lahan. Namun kemudian berkumpul menjadi air terjun yang cukup deras.

 

 Kedua orang itu pun kemudian telah mencari tempat untuk beristirahat. Mereka kemudian menemukan batu padas yang agak datar di pinggir hutan itu.

 

 Sementara itu Sambi Wulung dan Jati Wulung telah berada di dalam lingkungan Song Lawa. Satu tempat sabung ayam dan perjudian yang tidak terjangkau oleh paugeran Pajang. Lingkungan yang telah membuat tata kehidupan menurut irama mereka sendiri.

 

 "Kalian akan bertempat tinggal selama disini ditempat yang biasa kalian pergunakan," berkata seorang yang mendapat tugas menerima tamu yang mendapat penyerahan dari para pengawal, kepada Kiai Windu. Lalu, "Tempat itu dapat kami siapkan untuk enam orang. Tidak empat orang."

 

 "Terima kasih," sahut Kiai Windu. "Kami akan langsung yang disediakan itu."

 

 Mereka pun kemudian memasuki sebuah barak yang panjang, yang disekat-sekat oleh dinding bambu yang rangkap.

 

 Kiai Windu berenam telah ditempatkan disebuah bilik yang agak besar yang diisi dengan sebuah amben yang panjang yang akan dapat dipergunakan oleh enam orang yang meskipun tidak terlalu longgar.

 

 "Memang agak berdesakan," berkata Kiai Windu.

 

 "Apakah kita dapat memilih ruangan?" bertanya Sambi Wulung.

 

 "Tidak," jawab Kiai Windu. "Kita harus menerima apa yang sudah disediakan. Jika kita memaksa, akan segera timbul keributan."

 

 Sambi Wulung mengangguk-angguk. Ternyata apa yang diharapkannya dari Sambi Wulung dan Jati Wulung terpenuhi. Keduanya dengan bijaksana mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Mereka tidak lagi berniat membuat persoalan. Kecuali jika persoalan itu datang pada mereka.

 

 Barulah di dalam bilik itu Kiai Windu dan kawan-kawannya mendengar pengakuan Sambi Wulung dan Jati Wulung tentang namanya, Sambi Wulung menyebut dirinya bernama Wanengbaya dan Jati Wulung mengaku bernama Wanengpati.

 

 "Tentu bukan nama-nama asli kalian," tebak Kiai Windu. "Kalian mengganti nama kalian dengan nama yang garang, agar kalian pun kelihatan garang pula."

 

 "Nama itu diberikan oleh ayahku sejak aku lahir," jawab Sambi Wulung.

 

 Kiai Windu tertawa. Katanya, "Jangan mengigau seperti itu. Apakah kau belum mempunyai anak meskipun kalian sudah hampir pikun? Kalian tentu tidak akan memberi nama anak yang baru lahir dengan sebutan seperti itu."

 

 Sambi Wulung tiba-tiba menundukkan kepalanya. Tanpa disengaja ia telah menggali kepahitan hidup dimasa mudanya. Ia dan Jati Wulung memang tidak lagi mempersoalkan anak. Namun pada saat-saat tertentu, hatinya tergelitik pula karenanya.

 

 "Jangan bicara tentang anak," desisnya.

 

 "Maaf. Aku tidak sengaja menyinggung perasaanmu," berkata Kiai Windu. Lalu katanya, "Nah, sebaiknya kita beristirahat. Tempat ini tempat kita."

 

 Sambi Wulung mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak segera merebahkan dirinya seperti ketiga orang kawan Kiai Windu. Bersama Jati Wulung dan Kiai Windu sendiri, ia masih duduk dan berbicara tentang beberapa hal.

 

 Namun tiba-tiba mereka terkejut karena mereka mendengar pertengkaran di ruang sebelah.  

 

 KETIKA Sambi Wulung dan Jati Wulung bangkit dari tempat duduknya, Kiai Windu berdesis, "Jangan campuri persoalan orang lain disini. Jika kita mencampuri persoalan orang lain, itu berarti kita sudah membuat persoalan." 

 

 Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun Jati Wulung yang mengaku bernama Wanengpati itu bertanya, "Bagaimana jika terjadi sesuatu yang gawat?"

 

 "Setiap orang harus dapat mengatasi persoalan mereka sendiri. Bahkan harus mati sekalipun tidak akan ada orang yang akan melibatkan dirinya."

 

 "Kalau hanya melihat? Maksudku seperti menonton sabung ayam itu sendiri?" bertanya Wanengbaya.

 

 Kiai Windu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Kalau hanya melihat saja, aku kira tidak akan timbul persoalan. Tetapi jangan terlalu dekat."

 

 Wanengbaya dan Wanengpati mengangguk-angguk pula. Keduanya pun segera mengemasi diri. Mereka memang ingin melihat siapakah perempuan yang telah berani memasuki tempat seperti ini. Bahkan sepercik pertanyaan ada di dalam hati mereka, "Apakah perempuan itu Warsi?"

 

 Wanengbaya dan Wanengpati memang belum terlalu mengenal dan dikenal oleh Warsi. Namun demikian ada kemungkinan bahwa perempuan itu akan dapat mengenalinya. Karena itu, maka keduanya memang harus berhati-hati.

 

 Bahkan Wanengbaya berdesis perlahan di telinga Wanengpati, "Jika benar Warsi, maka kita harus berhati-hati. Apalagi jika ia datang bersama Ki Randukeling."

 

 "Apakah kita harus berbuat sesuatu?" bertanya Wanengpati.

 

 "Justru kita harus pandai menghindar," jawab Wanengbaya.

 Wanengpati mengangguk-angguk. Namun mereka pun kemudian melangkah mendekati pintu. Sementara itu Kiai Windu yang sudah duduk kembali berkata sekali lagi, "Jangan campuri persoalan siapapun dan dalam keadaan yang bagaimanapun jika kau tidak mau mendapat kesulitan."

 

 Wanengbaya dan Wanengpati mengangguk.

 

 Dalam pada itu, keduanya telah berdiri di pintu. Perlahan-lahan keduanya melangkah keluar. Mereka sudah diberi tahu oleh Kiai Windu, dimana letak pakiwan. Karena itu, maka mereka mempunyai alasan untuk ke luar dari barak itu.

 

 Perlahan-lahan keduanya menyusuri lorong sempit di dalam barak itu. Ketika mereka berada di pintu bilik sebelah, maka keduanya sempat melihat seorang perempuan dengan pakaian laki-laki sedang bertengkar dengan seorang laki-laki. Dua orang lainnya berdiri termangu-mangu memperhatikan keduanya yang sedang marah itu.

 

 Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak memperhatikan keduanya lebih lama karena mereka tidak dapat berhenti di depan pintu bilik itu, agar mereka tidak dituduh ingin mencampuri persoalan orang lain.

 

 "Bukan Warsi," desis Sambi Wulung.

 

 "Ya. Memang bukan Warsi," jawab Jati Wulung.

 

 Dengan demikian maka keduanya memang tidak mempunyai kepentingan apapun juga. Meskipun hati mereka sebenarnya memang tergelitik untuk mengetahui persoalan di antara kedua orang yang bertengkar itu, namun mereka harus menahan diri.

 

 Sebenarnyalah keduanya memang pergi ke pakiwan. Di longkangan yang terdapat di antara barak yang dipergunakan dan barak yang lain, yang juga dipergunakan untuk bermalam para tamu dari Song Lawa itu, keduanya bertemu dengan seorang yang benar-benar bertubuh raksasa. Bukan saja tubuhnya yang tinggi besar melampaui ukuran kebanyakan itu yang menarik perhatian, tetapi ia juga mengenakan ikat pinggang kulit dengan timang emas. Beberapa butir berlian nampak berkilat-kilat pada timang emasnya itu. Tanpa mengenakan baju, orang itu seakan-akan sengaja memamerkan kekayaannya. Di punggungnya terselip keris dengan pendok emas pula. Seperti pada timangnya, maka pada kerisnya nampak juga beberapa butir berlian yang berkilau. Sedangkan pada jari-jarinya beberapa bentuk cincin dengan mata batu-batu yang sangat mahal di samping bermata berlian.

 

 ***

 

 NAMUN Sambi Wulung dan Jati Wulung memaksa diri tidak menghiraukan orang itu sebagaimana orang itu tidak menghiraukan mereka. Tetapi ketika mereka menjadi semakin jauh, Sambi Wulung berkata, "Orang itu tentu orang yang sangat kaya." 

 

 "Aku menyangsikan, apakah kekayaan itu didapatnya dengan cara yang wajar," sahut Jati Wulung.

 

 Sambi Wulung mengangguk-angguk. Dari pakiwan keduanya memang langsung kembali ke dalam bilik mereka. Tetapi mereka tertahan di lorong sempit dalam barak itu, karena agaknya pertengkaran di antara perempuan dan laki-laki itu menjadi semakin seru, sehingga keduanya telah menarik pedang masing-masing.

 

 Beberapa orang yang agaknya sekelompok dengan keduanya berusaha untuk melerai mereka meskipun agak mengalami kesulitan.

 

 "Jangan campuri urusanku," teriak perempuan itu.

 

 "Aku tidak mencampuri persoalan orang lain. Tetapi persoalanmu adalah persoalanku. Kita, kau dan iparmu itu berangkat bersama-sama dengan kami. Apalagi kami berada di Song Lawa yang dua tiga hari lagi akan menjadi semakin garang."

 

 Orang yang sudah agak tua di antara mereka pun berkata, "Persoalan di antara kita di Song Lawa ini akan menimbulkan pertanyaan banyak orang. Kenapa justru persoalan di antara kita sendiri."

 

 Kedua orang yang bertengkar itu agaknya sempat berpikir. Namun perempuan yang sangat marah itu pun kemudian berkata, "Jika kita tidak menyelesaikannya di tempat ini, maka pada suatu saat tidak akan mendapatkan kesempatan."

 

 "Jika kau tetap menghendaki cara ini, maka aku tidak akan berkeberatan," jawab orang lain.

 

 "Kita lupakan saja," berkata orang tertua. "Setidak-tidaknya untuk waktu yang kita perlukan berada ditempat ini."

 

 Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak mengetahui dengan pasti persoalan apakah yang terjadi di antara mereka. Namun yang bertengkar itu agaknya adalah saudara ipar.

 

 "Perempuan itu garang juga," berkata Sambi Wulung.

 

 Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun ia berdesis, "Ternyata memang tidak ada orang yang tertarik pada pertengkaran ini selain orang-orang dari kelompok mereka sendiri. Orang-orang yang berada dibilik sebelahnya itupun sama sekali tidak menjengukkan kepalanya.

 

 Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung terkejut ketika perempuan itu tiba-tiba memandangi mereka. Bahkan menyibak orang-orang sekelompoknya melangkah mendekati Sambi Wulung dan Jati Wulung.

 

 "Kenapa kau disini? Kau mau mencampuri persoalan kami," bertanya perempuan itu dengan nada yang garang.

 

 Sambi Wulunglah yang menjawab dengan tanpa perubahan kesan di wajahnya, "Aku akan lewat. Aku berada dibilik seberang. Tetapi aku tertahan disini. Aku tidak dapat menerobos kalian di saat kalian bertengkar. Karena itu aku menunggu."

 

 "Persetan," geram perempuan itu. "Lewatlah. Cepat."

 

 ***

 

 NAMUN Sambi Wulung dan Jati Wulung memaksa diri tidak menghiraukan orang itu sebagaimana orang itu tidak menghiraukan mereka. Tetapi ketika mereka menjadi semakin jauh, Sambi Wulung berkata, "Orang itu tentu orang yang sangat kaya." "Aku menyangsikan, apakah kekayaan itu didapatnya dengan cara yang wajar," sahut Jati Wulung. 

 

 Sambi Wulung mengangguk-angguk. Dari pakiwan keduanya memang langsung kembali ke dalam bilik mereka. Tetapi mereka tertahan di lorong sempit dalam barak itu, karena agaknya pertengkaran di antara perempuan dan laki-laki itu menjadi semakin seru, sehingga keduanya telah menarik pedang masing-masing.

 

 Beberapa orang yang agaknya sekelompok dengan keduanya berusaha untuk melerai mereka meskipun agak mengalami kesulitan.

 

 "Jangan campuri urusanku," teriak perempuan itu.

 

 "Aku tidak mencampuri persoalan orang lain. Tetapi persoalanmu adalah persoalanku. Kita, kau dan iparmu itu berangkat bersama-sama dengan kami. Apalagi kami berada di Song Lawa yang dua tiga hari lagi akan menjadi semakin garang."

 

 Orang yang sudah agak tua di antara mereka pun berkata, "Persoalan di antara kita di Song Lawa ini akan menimbulkan pertanyaan banyak orang. Kenapa justru persoalan di antara kita sendiri."

 

 Kedua orang yang bertengkar itu agaknya sempat berpikir. Namun perempuan yang sangat marah itu pun kemudian berkata, "Jika kita tidak menyelesaikannya di tempat ini, maka pada suatu saat tidak akan mendapatkan kesempatan."

 

 "Jika kau tetap menghendaki cara ini, maka aku tidak akan berkeberatan," jawab orang lain.

 

 "Kita lupakan saja," berkata orang tertua. "Setidak-tidaknya untuk waktu yang kita perlukan berada ditempat ini."

 

 Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak mengetahui dengan pasti persoalan apakah yang terjadi di antara mereka. Namun yang bertengkar itu agaknya adalah saudara ipar.

 

 "Perempuan itu garang juga," berkata Sambi Wulung.

 

 Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun ia berdesis, "Ternyata memang tidak ada orang yang tertarik pada pertengkaran ini selain orang-orang dari kelompok mereka sendiri. Orang-orang yang berada dibilik sebelahnya itupun sama sekali tidak menjengukkan kepalanya.

 

 Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung terkejut ketika perempuan itu tiba-tiba memandangi mereka. Bahkan menyibak orang-orang sekelompoknya melangkah mendekati Sambi Wulung dan Jati Wulung.

 

 "Kenapa kau disini? Kau mau mencampuri persoalan kami," bertanya perempuan itu dengan nada yang garang.

 

 Sambi Wulunglah yang menjawab dengan tanpa perubahan kesan di wajahnya, "Aku akan lewat. Aku berada dibilik seberang. Tetapi aku tertahan disini. Aku tidak dapat menerobos kalian di saat kalian bertengkar. Karena itu aku menunggu."

 

 "Persetan," geram perempuan itu. "Lewatlah. Cepat."

 

 ***

 

 NAMUN Sambi Wulung dan Jati Wulung memaksa diri tidak menghiraukan orang itu sebagaimana orang itu tidak menghiraukan mereka. Tetapi ketika mereka menjadi semakin jauh, Sambi Wulung berkata, "Orang itu tentu orang yang sangat kaya." "Aku menyangsikan, apakah kekayaan itu didapatnya dengan cara yang wajar," sahut Jati Wulung. 

 

 Sambi Wulung mengangguk-angguk. Dari pakiwan keduanya memang langsung kembali ke dalam bilik mereka. Tetapi mereka tertahan di lorong sempit dalam barak itu, karena agaknya pertengkaran di antara perempuan dan laki-laki itu menjadi semakin seru, sehingga keduanya telah menarik pedang masing-masing.

 

 Beberapa orang yang agaknya sekelompok dengan keduanya berusaha untuk melerai mereka meskipun agak mengalami kesulitan.

 

 "Jangan campuri urusanku," teriak perempuan itu.

 

 "Aku tidak mencampuri persoalan orang lain. Tetapi persoalanmu adalah persoalanku. Kita, kau dan iparmu itu berangkat bersama-sama dengan kami. Apalagi kami berada di Song Lawa yang dua tiga hari lagi akan menjadi semakin garang."

 

 Orang yang sudah agak tua di antara mereka pun berkata, "Persoalan di antara kita di Song Lawa ini akan menimbulkan pertanyaan banyak orang. Kenapa justru persoalan di antara kita sendiri."

 

 Kedua orang yang bertengkar itu agaknya sempat berpikir. Namun perempuan yang sangat marah itu pun kemudian berkata, "Jika kita tidak menyelesaikannya di tempat ini, maka pada suatu saat tidak akan mendapatkan kesempatan."

 

 "Jika kau tetap menghendaki cara ini, maka aku tidak akan berkeberatan," jawab orang lain.

 

 "Kita lupakan saja," berkata orang tertua. "Setidak-tidaknya untuk waktu yang kita perlukan berada ditempat ini."

 

 Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak mengetahui dengan pasti persoalan apakah yang terjadi di antara mereka. Namun yang bertengkar itu agaknya adalah saudara ipar.

 

 "Perempuan itu garang juga," berkata Sambi Wulung.

 

 Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun ia berdesis, "Ternyata memang tidak ada orang yang tertarik pada pertengkaran ini selain orang-orang dari kelompok mereka sendiri. Orang-orang yang berada dibilik sebelahnya itupun sama sekali tidak menjengukkan kepalanya.

 

 Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung terkejut ketika perempuan itu tiba-tiba memandangi mereka. Bahkan menyibak orang-orang sekelompoknya melangkah mendekati Sambi Wulung dan Jati Wulung.

 

 "Kenapa kau disini? Kau mau mencampuri persoalan kami," bertanya perempuan itu dengan nada yang garang.

 

 Sambi Wulunglah yang menjawab dengan tanpa perubahan kesan di wajahnya, "Aku akan lewat. Aku berada dibilik seberang. Tetapi aku tertahan disini. Aku tidak dapat menerobos kalian di saat kalian bertengkar. Karena itu aku menunggu."

 

 "Persetan," geram perempuan itu. "Lewatlah. Cepat."

 

 ***   

 

 Sambi Wulung dan Jati Wulung pun kemudian melangkah di lorong sempit di antara bilik-bilik di barak yang panjang itu. Beberapa orang memang harus menepi. 

 

 Perempuan itu ternyata memperhatikan Sambi Wulung dan Jati Wulung sehingga mereka hilang memasuki pintu biliknya. Agaknya perempuan itu ingin tahu, apakah keduanya benar-benar berada di bilik itu atau sekadar ingin melihat pertengkaran yang terjadi itu.

 

 Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung benar-benar telah memasuki bilik itu.

 

 Kiai Windu ternyata masih duduk ditempatnya bersandar dinding. Ketika keduanya masuk, maka Kiai Windu itu pun berkata, "Aku merasa agak cemas."

 

 "Tentang kami?" bertanya Sambi Wulung.

 

 "Ya. Kalian orang baru disini," desis Kiai Windu.

 

 "Kami berusaha untuk menyesuaikan diri," berkata Jati Wulung. Lalu, "Aku pernah berada ditempat perjudian Gresik. Tetapi suasananya jauh lebih tertib. Prahu-prahu yang lewat bengawan menurunkan orang-orang dari jauh memasuki tempat perjudian yang lebih besar dari tempat ini."

 

 Kiai Windu mengerutkan keningnya. Katanya, "Aku belum pernah berada di Gresik. Tetapi apakah tempat itu juga tempat untuk menyabung ayam?"

 

 "Ada lebih dari tujuh kalangan sabung ayam," jawab Sambi Wulung. "Sepuluh tempat bermain dadu. Tempat panahan yang luas dan apakah disini juga ada binten?"

 

 Kiai Windu menggeleng. Katanya, "Disini tidak ada binten. Panahan disini kurang menarik meskipun ada. Yang terbanyak adalah permainan dadu."

 

 Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Dengan nada berat Sambi Wulung berkata, "Aku juga ingin tidur."

 

 "Silakan," berkata Kiai Windu. "Aku tidak mengantuk."

 

 Sambi Wulung pun kemudian merebahkan dirinya di antara amben yang besar berjajar dengan ketiga kawan Kiai Windu. Sedangkan Jati Wulung masih juga belum merasa mengantuk.

 

 Tiga orang kawan Kiai Windu itupun sudah tertidur nyenyak. Sementara Sambi Wulung pun segera tertidur pula. Yang kemudian masih duduk dan berbincang adalah Kiai Windu dan Jati Wulung.

 

 Dalam pada itu Jati Wulung pun telah bertanya kepada Kiai Windu, "Bagaimana kita makan disini?"

 

 "Disini ada semacam kedai. Kita dapat memesan makanan sesuai dengan selera kita. Namun tentu saja hanya yang mungkin disediakan," jawab Kiai Windu.

 

 "Jadi disediakan beberapa jenis lauk pauk disini?" bertanya Jati Wulung.

 

 "Ya," jawab Kiai Windu. "Nanti kita akan melihatnya."

 

 Jati Wulung mengangguk-angguk. Sementara itu Kiai Windu bertanya, "Apakah kau tidak ingin tidur lebih dahulu?"

 

 "Tidak. Aku tidak terbiasa tidur di siang hari," jawab Jati Wulung. "Betapapun letihnya. Apalagi menjelang senja seperti ini."

 

 Tetapi Kiai Windu itu tersenyum. Katanya, "Ternyata kalian adalah orang-orang yang sangat berpengalaman."

 

 "Kenapa?" bertanya Jati Wulung.

 

 "Kau bukan saja terbiasa tidur di siang hari. Tetapi kau dan saudaramu itu terbiasa tidur bergantian. Apalagi kalian berdua belum mengenal aku dengan baik," desis Kiai Windu.

 

 "Kau pun memiliki pengalaman yang luas. Kau kira aku tidak tahu bahwa kau mendapat giliran berjaga-jaga yang pertama. Justru saat yang paling gawat ketika kita memasuki tempat seperti ini?" desis Jati Wulung.

 

 Kiai Windu itu pun tertawa pendek. Diperhatikannya ketiga kawannya yang tertidur lelap. Namun seorang di antara mereka nampak gelisah. Meskipun lukanya yang tidak terlalu dalam itu sudah diobati, namun agaknya masih juga terasa pedih.

 

 **

 

 KETIKA malam menjadi semakin malam, maka yang tertidur itu pun justru telah terbangun. Setelah membenahi diri, maka mereka bersama-sama meninggalkan bilik mereka untuk pergi ke kedai di bagian belakang dari tempat perjudian yang disebut Song Lawa itu. 

 

 Karena Sambi Wulung dan Jati Wulung nampak ragu-ragu untuk meninggalkan bilik mereka maka Kiai Windu pun berkata, "Kita tidak usah mencemaskan barang-barang kita. Tidak ada seorang pencuri pun yang berani masuk ke tempat ini."

 

 Keduanya mengangguk-angguk. Namun Jati Wulung menyahut, "Di tempat lain, keadaannya berbeda. Justru perampok-perampok besar telah berusaha untuk ikut memasuki tempat seperti ini. Mereka bukan saja mencuri, tetapi mereka akan merampok dengan kekerasan."

 

 "Disini penjagaannya cukup kuat untuk melawan perampok-perampok seperti itu," desis Kiai Windu.

 

 Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun ia tidak berbicara lagi.

 

 Mereka berenam pun kemudian telah berada di bagian belakang dari tempat perjudian dan sabung ayam itu. Sebenarnyalah tempat itu memang cukup luas. Di halaman samping memang terdapat tempat untuk beradu keterampilan memanah. Tetapi bukan sekadar keterampilan. Mereka mempergunakan nilai-nilai panahan itu untuk perjudian dengan taruhan yang tinggi.

 

 Di belakang ternyata terdapat sebuah kedai yang besar. Beberapa buah amben dan lincak bambu terdapat di kedai itu. Ketika mereka berenam memasuki kedai itu, ternyata di dalam kedai itu sudah terdapat beberapa orang yang sedang makan dan minum. Dengan tingkah laku yang kasar mereka betebaran di beberapa amben dan lincak bambu. Dari jarak yang panjang mereka berbicara sambil berteriak-teriak.

 

 Sambi Wulung dan Jati Wulung termangu-mangu ketika mereka melihat perempuan yang ribut di dalam biliknya itu ada pula di antara mereka yang sudah lebih dahulu duduk di kedai itu. Bahkan seorang perempuan yang lain pun ada di kedai itu pula. Seorang perempuan yang nampak tegar dan agak gemuk. Hampir mirip dengan Bibi, duduk di sudut kedai itu menghadapi nasi dan lauk pauknya.

 

 Keenam orang itu pun kemudian mengambil tempat yang agak terpisah. Betapa kasarnya Kiai Windu dan kawan-kawannya, ternyata mereka masih juga mempergunakan pikiran dan kadang-kadang bersikap tenang dan mapan pula.

 

 Seorang di antara merekalah yang kemudian pergi memesan makan dan minum bagi keenam orang itu.

 

 Beberapa saat kemudian, nasi hangat sebakul kecil telah dihidangkan. Beberapa macam lauk pauk dan sayur yang masih berasap. Sambal terasi yang baunya membuat mereka bertambah lapar.

 

 Meskipun malam sudah mendekati pertengahannya, tetapi ternyata di kedai itu masih banyak orang yang makan minum atau sekadar berbicara dan berkelakar.

 

 Namun ketika keenam orang itu sedang sibuk menyuapi mulut mereka, maka beberapa orang telah memasuki kedai itu pula. Suara mereka telah lebih dahulu bagaikan mengguncang seisi kedai itu. Tertawa yang keras diselingi dengan umpatan kasar.

 

 Ruangan yang luas itu bagaikan bergetar ketika perempuan yang agak gemuk, yang duduk di sudut itu kemudian berteriak, "He, jangan berbicara terlalu keras dan kasar. Bukankah ini sudah hampir tengah malam?"

 

 Orang itu memang terdiam sejenak. Namun suara tertawa mereka pun meledak lagi. Seorang di antara mereka menjawab, "Jangan marah Nyai. Kau sendiri berteriak-teriak dengan suaramu yang melengking meniti rusuk-rusuk atap kedai itu. Sudahlah, biarlah kita berlaku seperti biasanya. Bukankah tempat ini merupakan tempat segala orang dengan segala tingkah lakunya?"

 

 Perempuan yang agak gemuk itu termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian bergumam, "Persetan kalian."

 

 ***

 

 Tanpa menghiraukan mereka yang baru datang itu lagi, maka perempuan gemuk itu telah melanjutkan makannya. Sesuap demi sesuap. Namun ternyata perempuan itu makan banyak sekali. Sambi Wulung dan Jati Wulunglah yang agaknya juga tertarik sekali oleh kehadiran orang-orang itu. Ketika Jati Wulung bergeser, maka Sambi Wulung pun menahannya sambil berdesis, "Sudahlah." 

 

 Kiai Windu mengerutkan keningnya. Dengan nada rendah ia bertanya, "Kenapa?"

 

 Sambi Wulung menggeleng. Katanya, "Tidak apa-apa."

 

 Kiai Windu termangu-mangu. Meskipun kedua orang itu belum lama dikenalnya, tetapi rasa-rasanya Kiai Windu telah menangkap watak keduanya yang keras dan garang. Kedua orang yang mengaku bernama Wanengbaya dan Wanengpati itu.

 

 Sambi Wulung dan Jati Wulung memang tidak memperhatikan mereka lagi. Namun justru orang-orang itulah yang telah melihat Sambi Wulung dan Jati Wulung, duduk di antara enam orang sambil makan dan minum.

 

 Tiba-tiba saja kelakar mereka pun terhenti. Mereka saling menggamit dan berbisik.

 

 "Dua orang gila di Nggebayan itu," desis seorang di antara mereka.

 

 "Aku sudah mengira bahwa kita akan bertemu lagi disini," sahut yang lain.

 

 "Mereka justru berenam sekarang," berkata yang lain lagi.

 

 Tidak ada yang menyahut. Tetapi mereka pun merasa, bahwa mereka mempunyai lebih banyak kawan di tempat itu.

 

 Namun mereka tidak lagi berkelakar, berteriak dan mengumpat kasar meskipun Sambi Wulung dan Jati Wulung nampaknya tidak menghiraukan mereka.

 

 Untuk beberapa saat, ruangan itu telah menjadi hening. Namun kehehingan itu segera dipecahkan lagi ketika seorang yang berwajah keras, bermata setajam mata burung hantu, bertubuh tinggi agak kekurus-kurusan, memasuki kedai itu. Dengan nada tinggi tiba-tiba saja ia berkata lantang, "he, Nyai. Kau ada disini."

 

 "Kau," perempuan yang agak gemuk itu pun berteriak.

 

 Laki-laki yang bertubuh tinggi agak kekurus-kurusan itu pun kemudian mendekatinya. Tetapi langkahnya terhenti, ketika tiba-tiba seorang perempuan yang lain, yang di siang harinya hampir saja bertempur dengan kawannya sendiri tiba-tiba saja telah berdiri dan berjalan mendekati laki-laki itu. Dengan nada rendah ia berkata, "kau datang juga?"

 

 Laki-laki itu terkejut. Agaknya ia tidak mengira bahwa ia akan bertemu dengan perempuan itu ditempat perjudian dan sabung ayam itu.

 

 "Kenapa kau disini?" bertanya laki-laki itu.

 

 "Seperti kau juga berada disini," jawab perempuan itu.

 

 Laki-laki yang bertubuh tinggi itu tergagap sejenak. Namun kemudian katanya, "Aku sudah terbiasa berada ditempat ini."

 

 "Jangan pura-pura tidak tahu," desis perempuan itu. "Aku juga sudah sering berada disini. Meskipun barangkali tidak sesering kau."

 

 Laki-laki itu mengangguk-angguk. Katanya, "Baiklah. Silakan. Kita akan bertemu di permainan dadu lusa. Atau barangkali kau juga ingin bertaruh di tempat sabung ayam?"

 

 "Kau memang berpura-pura bodoh atau memang sudah pikun," berkata perempuan itu. "Setiap aku disini, aku selalu berada di lapangan panahan."

 

 "O, ya," laki-laki itu mengangguk-angguk.

 

 "Kau masih berhutang kepadaku," berkata perempuan itu.

 

 Laki-laki itu tertawa. Katanya, "Akan aku bayar dengan cara yang kau kehendaki."

 

 Tetapi laki-laki itu tidak sempat berbicara lebih panjang. Tiba-tiba saja perempuan yang agak gemuk itu telah mendekatinya. Sambil memegangi lengannya dengan kedua tangannya itu bertanya, "Kau akan makan?"

 

 Laki-laki itu tergagap. Tetapi ia pun menjawab, "Ya. Aku akan makan."

 

 DIGANDENGNYA laki-laki itu dan disorongnya duduk disebelah tempat duduknya disebuah amben kecil. Katanya, "Disini sudah disediakan makan yang cukup. Bukankah kau senang makan pete rebus dengan sambal terasi yang sangat pedas?" 

 

 Laki-laki itu masih berpaling ke arah perempuan yang seorang lagi. Tetapi perempuan itu sudah melangkah kembali ketempat kawan-kawannya duduk.

 

 "Perempuan yang cantik," desis perempuan yang agak gemuk itu.

 

 Laki-laki yang bertubuh tinggi itu tidak menjawab. Namun ia pun kemudian memperhatikan makan yang tersedia dihadapan perempuan yang agak gemuk itu.

 

 "Tinggal ini?" bertanya laki-laki.

 

 "Bukankah ini pesanku?" bertanya perempuan itu, lalu, "Aku akan memesan buatmu."

 

 "Terima kasih," jawab laki-laki itu.

 

 Perempuan itu pun kemudian bangkit. Ia menuju kepada penjual di kedai ittu untuk memesan beberapa macam makanan.

 

 Sambi Wulung dan Jati Wulung yang baru pertama kali memasuki daerah Song Lawa itu pun semakin mengenal, apa yang ada di dalam lingkungan yang terasing itu. Namun keduanya berpaling ke arah Kiai Windu ketika orang itu bertanya, "Kau heran melihat kehidupan disini? Bagaimana dengan Gresik?"

 

 "Di Gresik semuanya lebih teratur. Tidak ada orang yang bertindak menurut keinginan sendiri," jawab Sambi Wulung.

 

 Kiai Windu mengangguk-angguk. Tetapi mereka segera tertarik pada pertengkaran yang terjadi di sudut lain. Dua orang laki-laki yang terhitung masih muda nampaknya telah berselisih. Semakin lama pertengkaran itu menjadi semakin kasar dan keras.

 

 Orang-orang yang ada di kedai itu hanya berpaling saja memandangi mereka. Namun orang-orang itu sama sekali tidak berbuat sesuatu. Mereka sibuk dengan kepentingan mereka masing-masing. Laki-laki yang bertubuh tinggi dan perempuan yang agak gemuk itu pun hanya berpaling saja. Keduanya segera tenggelam dalam kesibukan mereka sendiri. Keduanya pun melanjutkan makan dan bergurau sejadi-jadinya.

 

 Sambi Wulung dan Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam. Tetapi Kiai Windu pun berkata, "Tidak ada orang yang membuat-buang waktu untuk mengurusi orang lain."

 

 Sambi Wulung dan Jati Wulung hanya mengangguk-angguk saja.

 

 Sementara itu, kedua orang yang bertengkar itu agaknya sudah tidak dapat menahan diri lagi. Karena itu, maka yang seorang di antara mereka mulai memukul lawannya bertengkar.

 

 Perkelahian pun segera terjadi. Semakin lama menjadi semakin seru. Keduanya ternyata memiliki keterampilan yang tinggi, sehingga dengan demikian, maka perkelahian pun menjadi seimbang.

 

 Untunglah bahwa keduanya bergeser keluar kedai, sehingga tidak merusakkan suasana dan peralatan di dalam kedai itu, sementara pemiliki kedai itu sudah melangkah mendekati keduanya seandainya keduanya merusakkan kedainya.

 

 Ternyata pemilik kedai atau orang yang dikuasakan, yang baru ke luar dari belakang dinding, adalah orang yang bertubuh raksasa, yang pantas membuka kedai di tempat yang garang seperti itu. Wajahnya menunjukkan kekerasan sikap dan hatinya.

 

 "Itukah pemiliknya?" tiba-tiba Sambi Wulung berdesis.

 

 "Ya," jawab Kiai Windu. "Yang lain itu adalah orang-orang yang diupahnya. Tetapi jangan mengira bahwa mereka bukan orang-orang yang tidak mampu berkelahi."

 

 Sambi Wulung terdiam. Namun ketika kedua kaki laki-laki muda itu berkelahi di luar kedai, maka raksasa pemilik kedai itu sama sekali tidak mengganggu mereka.

 

 Perkelahian itu berlangsung semakin sengit. Namun ternyata bahwa keduanya sama sekali tidak bersenjata. Meskipun demikian ketika serangan-serangan dari kedua belah pihak mulai mengenai tubuh mereka, maka mereka pun mulai menyeringai menahan sakit. .

 

 DI bawah lampu minyak yang menggapai halaman kedai itu, keduanya nampak semakin garang dan keras. Namun beberapa saat kemudian seorang yang lain telah datang. Dengan serta merta orang itu telah memasuki arena perkelahian. Namun ternyata bukan membantu salah seorang di antara mereka yang berkelahi. Tetapi ia justru menyerang kedua-duanya. 

 

 Kedua laki-laki muda itu ternyata dibawah pengaruh laki-laki yang datang kemudian. Ternyata mereka pun telah berhenti berkelahi, ketika mereka menyadari kehadirannya.

 

 "Setan," geram laki-laki yang baru datang itu. "Kalian telah berkelahi lagi."

 

 "Ia telah mulai lagi," sahut yang seorang. Tetapi yang lain segera memotong, "Bukan aku. Ia telah menggangguku."

 

 "Aku rontokkan gigi kalian. Pergi," geram laki-laki yang datang kemudian.

 

 Keduanya tidak membantah. Namun ketika keduanya mulai beranjak, terdengar suara raksasa pemilik kedai itu, "Bayar dahulu."

 

 "O," kedua laki-laki yang berkelahi itu termangu-mangu. Namun seorang di antara mereka menjawab, "Aku belum sempat makan."

 

 "Tetapi kau sudah memesan, dan pesanan itu sudah dihidangkan. Jika kau tidak sempat makan itu salahmu sendiri," geram raksasa itu.

 

 Laki-laki yang datang kemudian itu pun berkata pula. "Bayar."

 

 Kedua laki-laki muda itu pun kemudian terpaksa mengeluarkan beberapa keping uang untuk membayar makanan yang belum sempat mereka makan.

 

 Ketika ketiga laki-laki di halaman itu pergi, maka raksasa itu pun tidak segera masuk kembali. Ia telah duduk pula disebuah amben bambu di sudut kedai itu mengamati orang-orang yang ditengah malam masih juga berada di dalam kedainya.

 

 Ki Windu dan kawan-kawannya sama sekali tidak memperhatikannya lagi. Hanya Sambi Wulung dan Jati Wulung sajalah yang sekali-kali masih memandang raksasa itu. Bahkan kemudian Jati Wulung berkata, "Sehari orang itu tentu makan seekor kambing."

 

 Tetapi tiba-tiba Kiai Windu berdesis, "Sst. Jangan memperolok-olok begitu. Ia bukan jenis orang yang suka bergurau. Jika ia marah, maka kita akan mendapatkan kesulitan."

 

 "Kenapa?" bertanya Sambi Wulung.

 

 "Kekuatannya melampaui kekuatan seekor kerbau," jawab Kiai Windu. "Tidak ada seorang pun yang berani menantangnya. Jika ada, maka orang itu tentu akan menjadi bahan olok-olok, karena ia akan menjadi cacat atau bahkan mati."

 

 "Mati?" Sambi Wulung menjadi heran, "Apakah ia berhak membunuh tanpa batasan?"

 

 "Jangan lupa. Kita berada di Song Lawa," jawab Kiai Windu.

 

 Sambi Wulung mengangguk-angguk. Bahkan sambil menunjuk sebuah bangunan yang agak terpisah ia berkata, "Kau lihat rumah kecil itu?"

 

 "Ya," jawab Sambi Wulung.

 

 "Rumah itu khusus dibuat bagi mereka yang menjadi putus asa setelah mengalami kekalahan yang tidak terhitung lagi disini. Atau mungkin karena hal-hal lain. Mereka dapat membunuh diri di sana dengan cara yang mereka sukai. Di dalam rumah kecil itu terdapat bermacam-macam senjata dan tali gantungan yang dapat dipergunakan setiap saat. Setiap pagi dan sore, dua orang petugas akan membersihkan tempat itu dan menguburkan mayat-mayat," berkata Kiai Windu.  

 

 ***

 

 Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, "Memang luar biasa. Di tempat-tempat lain aku tidak pernah menjumpai hal seperti itu. Di sebelah Barat Pajang, di Gresik, di Bergota dan ditempat-tempat lain yang pernah aku datangi." 

 

 "Mungkin. Tetapi tempat-tempat itu tidak terletak di lereng Gunung Kukusan," sahut Kiai Windu.

 

 Sambi Wulung mengangguk-angguk. Katanya, "Ya. Agaknya tempat ini merupakan tempat yang paling wingit dari tempat-tempat yang pernah aku datangi."

 

 "Kau pernah ke tempat judi di Bergota?" bertanya Kiai Windu.

 

 "Ya. Kenapa?" bertanya Sambi Wulung.

 

 "Aku juga pernah datang ketempat itu," jawab Kiai Windu.

 

 "Tetapi kita belum pernah bertemu," berkata Sambi Wulung kemudian.

 

 "Aku baru dua kali. Sudah lama aku tidak pernah datang lagi ke Bergota," berkata Kiai Windu pula.

 

 Sambi Wulung tidak menyahut. Ia tertarik kepada orang baru yang memasuki warung itu. Namun ternyata orang itu tidak berbuat apa-apa selain duduk dan memesan makanan.

 

 Beberapa saat Sambi Wulung, Jati Wulung serta Kiai Windu dengan kawan-kawannya masih duduk di kedai itu. Ketika malam menjadi semakin malam, maka mereka berenam pun meninggalkan kedai itu dan kembali ke dalam bilik mereka.

 

 Namun ternyata bahwa keadaan telah berubah. Beberapa orang lagi telah memasuki tempat itu, justru ditengah malam. Dengan demikian maka keadaan pun menjadi semakin riuh. Meskipun tengah malam telah lewat.

 

 "Kita mendapat semakin banyak kawan disini," berkata Kiai Windu.

 

 "Ya. Semakin dekat dengan hari-hari yang ditentukan, maka penghuni tempat ini akan menjadi semakin banyak," berkata Jati Wulung. Lalu, "Tetapi apakah barak-barak ini akan dapat menjadi penuh?"

 

 "Lebih dari lima musim aku datang ketempat ini," jawab Kiai Windu. "Barak-barak ini biasanya terisi hampir penuh."

 

 "Keributan-keributan terjadi setiap hari?" bertanya Sambi Wulung.

 

 "Ya. Setiap hari. Di kalangan sabung ayamlah yang paling banyak terjadi. Kemudian di tempat bermain dadu. Yang paling sedikit terjadi keributan adalah di lapangan panahan di belakang. Meskipun demikian pernah terjadi beberapa kali perang tanding dengan panah karena mereka berselisih pendapat tentang taruhan mereka."

 

 "Perang tanding sampai mati?" bertanya Jati Wulung.

 

 "Ada yang mati dan ada yang tidak," jawab Kiai Windu.

 

 Jati Wulung pun kemudian mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut.

 

 Beberapa saat kemudian mereka pun telah berbaring di pembaringan. Tetapi Sambi Wulung tidak segera memejamkan matanya. Bahkan kemudian, ia telah bangkit dan duduk di sudut pembaringan dihadapan pintu yang tertutup rapat, bahkan diselarak.

 

 Kiai Windu tidak menegurnya. Ia tahu, bahwa orang itu mendapat giliran untuk berjaga-jaga. Sambi Wulung tidak mau berjaga-jaga sambil berbaring, karena ia akan dapat terseret ke dalam mimpi tanpa disadarinya.

 

 Namun seorang kawan Kiai Windu telah bangkit pula dan duduk di sebelah Sambi Wulung.

 

 "Kau tidak mengantuk?" bertanya orang itu.

 

 Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun duduk bersandar dinding sambil berdesis, "Kenapa kau tidak tidur seperti kawan-kawanmu?"

 

 "Sebagaimana kau, yang juga tidak mau tidur?" jawab orang itu.

 

 Sambi Wulung tersenyum. Katanya, "Di tempat seperti ini kita memang perlu berhati-hati."

 

 Orang itu hanya mengangguk saja. Namun ia pun kemudian juga beringsut mencari sandaran pada dinding.

 

 Ternyata barak itu tidak pernah sepi tiap malamnya. Masih saja terdengar orang-orang berbicara. Kadang-kadang terdengar pula suara tertawa.

 

 Menjelang pagi, Jati Wulung pun telah terbangun. Demikian pula seorang kawan Kiai Windu yang lain, sehingga yang berjaga-jaga pun kemudian telah berganti.

 

 ***   

 

 KETIKA Kiai Windu memberitahukan hal itu kepada Sambi Wulung, maka Sambi Wulung pun berkata, "Satu kesalahan yang besar telah dilakukan oleh mereka yang berkuasa di Song Lawa." 

 

 "Kenapa?" bertanya Kiai Windu.

 

 "Seharusnya mereka mempunyai kekuatan cukup untuk menertibkan tempat ini. Melerai setiap perselisihan dan mengatur setiap permainan," berkata Sambi Wulung.

 

 "Itu hanya memperbanyak pekerjaan saja," jawab Kiai Windu.

 

 "Tetapi orang-orang yang gila pada perjudian tetap lemah, tidak akan takut datang kemari untuk ikut bermain dadu atau bertaruh pada sabung ayam," berkata Sambi Wulung. "Dengan demikian maka pengunjung di tempat ini akan menjadi semakin ramai, sehingga pemasukan pun akan bertambah lagi.

 

 Kiai Windu mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, "Benar juga. Tetapi segala sesuatu akan dapat terjadi di luar tempat ini. Misalnya, orang-orang yang dendam terhadap mereka yang menang tetapi lemah, akan dapat membalas dendam di perjalanan kembali ke tempat tinggal masing-masing."

 

 "Tempat ini harus menyediakan pengantar sampai ke padukuhan-padukuhan yang melindunginya dengan paugeran," jawab Sambi Wulung.

 

 Kiai Windu mengerutkan keningnya. Tetapi ia berdesis, "Mungkin hal seperti itu dapat dilakukan. Tetapi agaknya mempunyai banyak kesulitan. Meskipun demikian jika ada kesempatan dapat juga disampaikan kepada mereka yang bertugas disini."

 

 Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun menyadari bahwa cara itu akan sangat sulit diterapkan di daerah lereng Gunung Kukusan yang sudah terbiasa dengan caranya yang lama. Yang sebenarnya di rasa mengganggu bagi para penghuni lereng Gunung Kukusan yang lain, sebagaimana orang-orang padukuhan Nggebayan yang selalu dibayangi oleh kecemasan.

 

 Dalam pada itu, Kiai Windu pun kemudian berkata kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung. "Kau tunggu kami di dalam. Kami akan ke luar sebentar menengok kuda-kuda kami. Meskipun kuda-kuda itu sudah dirawat oleh orang-orang yang khusus ditugaskan, tanpa ditilik langsung, mungkin akan mengalami perlakuan yang kurang baik karena mereka merawat bukan milik mereka sendiri."

 

 Sambi Wulung mengerutkan keningnya. Tetapi ia pun kemudian bertanya, "Bagaimana jika kami ikut keluar sebentar? Rasa-rasanya ingin juga melihat suasana di luar dinding yang membuat lingkungan ini bagaikan menjadi pengab."

 

 "Jangan keluar," cegah Kiai Windu. "Kau belum mempunyai tanda yang dapat kau pergunakan untuk masuk dan keluar. Jika yang bertugas di pintu gerbang itu orang lain yang lebih bebal dari yang terdahulu tanpa mau mendengarkan penjelasan, maka persoalannya akan sulit. Karena itu, lebih baik kalian berdua berada di dalam. Ingat, kalian akan diberi tanda itu jika kalian dianggap baik dan tidak berbahaya."

 

 "Bukankah disini dapat berbuat apa saja?" bertanya Jati Wulung.

 

 "Maksudnya tentu saja berbahaya bagi tempat ini. Bukan bagi para pengunjung yang lain," jawab Kiai Windu.

 

 Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk.

 

 "Berhati-hatilah. Kami tidak akan lama. Jika kalian merasa sulit untuk mengekang diri melihat segala macam tingkah laku orang disini, masuk saja ke dalam bilik dan berbaring untuk menghilangkan kesal," berkata Kiai Windu kemudian.

 

 "Baiklah. Kami akan menunggu," sahut Sambi Wulung.

 

 Demikianlah, maka Kiai Windu dan ketiga orang kawannya pun telah menuju ke pintu gerbang untuk menengok kuda-kuda yang mereka tinggalkan. Agaknya kuda-kuda itu memang kuda-kuda yang mahal dan sudah barang tentu kuda yang baik.

 

 Sepeninggal Kiai Windu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung masih melihat-lihat keadaan. Mereka pun kemudian berjalan menuju ke arena panahan yang luas. Ketika dilihatnya beberapa orang yang nampaknya sedang memperhatikan jarak dari tempat memanah dan sasaran, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung pun telah melangkah menuju ke sudut lapangan yang luas itu. Keduanya pun kemudian duduk dibawah sebatang pohon rambutan yang kebetulan tidak sedang berbuah. .  

 

 SAMBIL bersandar batang pohon rambutan itu Sambi Wulung sempat memperhatikan kesibukan yang semakin meningkat. Sedangkan Jati Wulung kemudian telah berbaring di atas rerumputan. Sejuk juga rasanya udara di lereng Gunung Kukusan itu. Apalagi angin yang lemah bertiup dari arah ngarai. 

 

 Jati Wulung yang berbaring itu, tanpa disadarinya telah dirayapi oleh perasaan kantuk. Matanya perlahan-lahan telah terpejam.

 

 Tetapi ia terkejut ketika Sambi Wulung telah menggamitnya sambil berdesis, "Lihat."

 

 Jati Wulung pun tergagap. Dengan serta merta ia telah bangkit dan memandang ke arah pandangan Sambi Wulung.

 

 "Kau melihat apa?" bertanya Jati Wulung.

 

 "Anak muda itu!" desis Sambi Wulung.

 

 Keduanya pun kemudian memperhatikan seorang anak muda yang berpakaian rapi dan baik dengan bahan yang cukup mahal. Dua orang yang agaknya pengawalnya berjalan disampingnya sebelah menyebelah. Menilik sikap dan bentuk tubuhnya, maka kedua pengawal itu tentu bukan orang kebanyakan. Mereka tentu orang-orang yang berilmu tinggi.

 

 "Apakah anak itu yang kita cari disini?" desis Sambi Wulung.

 

 Jati Wulung tidak menjawab, tetapi ia terangguk-angguk kecil.

 

 Namun Sambi Wulung pun kemudian berdesis, "Tetapi agaknya anak itu lebih tua dari Risang."

 

 "Ujudnya memang demikian," sahut Jati Wulung. "Jika anak itu lebih tua dari Risang, tentu bukan anak itu yang kita cari."

 

 Sambi Wulung mengangguk-angguk pula sambil berkata, "Wajahnya pun sama sekali tidak mirip dengan Risang. Bagaimanapun keduanya seayah, sehingga tentu ada kesamaan betapapun kecilnya."

 

 "Ya," sahut Jati Wulung. "Tetapi kita belum memperhatikan dengan baik. Kita baru melihatnya dari jarak yang agak jauh. Mungkin kita akan mendapat kesempatan untuk mendekati anak muda itu."

 

 Sambi Wulung tidak berkata. Namun anak muda itu telah melintas.

 

 Namun yang beberapa saat kemudian Sambi Wulung dan Jati Wulung masih berada di tempatnya. Tetapi mereka pun tidak lagi memperhatikan orang yang mondar-mandir di lapangan yang akan dipergunakan untuk arena panahan itu. Bahkan Jati Wulung telah berbaring lagi sambil berkata, "Aku tiba-tiba menjadi malas disini. Aku mengantuk."

 

 "Kau semalaman kurang tidur," berkata Sambi Wulung. "Lewat tengah malam kita masih berada di kedai. Kemudian kau tidur sebentar. Namun menjelang pagi, akulah yang tidur."

 

 "Tidak. Sebenarnya jauh dari cukup. Tetapi rasa-rasanya udara memang segar disini. Agak dingin, namun tidak terlalu menggigit. Di hari yang cerah begini aku justru menjadi sangat mengantuk," sahut Jati Wulung.

 

 "Tidurlah," berkata Sambi Wulung. "Aku akan duduk sambil menunggu Kiai Windu datang."

 

 "Mereka agaknya akan langsung ke dalam bilik," berkata Jati Wulung.

 

 Sambi Wulung tidak menyahut. Tetapi ia kembali duduk bersandar pada batang pohon rambutan yang cukup besar itu, sementara Jati Wulung berbaring sambil berbantal kedua telapak tangannya.

 

 Menurut penglihatan Sambi Wulung memang semakin banyak orang yang berada di tempat yang disebut Song Lawa itu. Perempuan pun menjadi semakin banyak pula. Bahkan di antaranya perempuan-perempuan muda yang agaknya tidak untuk berjudi. Tetapi mereka adalah perempuan-perempuan yang lebih banyak bersolek untuk menggoncang hati-hati yang lemah dari laki-laki yang pada umumnya secara wadag terlalu kuat. Meskipun agaknya perempuan-perempuan muda seperti itu tidak memiliki kemampuan ilmu kanuragan, tetapi mereka berada di bawah perlindungan para petugas di Song Lawa, sehingga siapa yang berani mempermainkannya, maka mereka akan berhadapan dengan raksasa-raksasa yang banyak berkeliaran.

 

 TIBA-TIBA saja di luar sadarnya Sambi Wulung berkata, "Jauhi mereka agar kita tidak kehilangan jalur tugas kita." Jati Wulung yang sudah terpejam matanya itu perlahan-lahan beringsut. Tanpa membuka matanya ia bertanya, "Apa yang harus dijauhi?" "Perempuan-perempuan muda yang sengaja didatangkan kemari," jawab Sambi Wulung. 

 

 Namun justru tiba-tiba saja Jati Wulung bangkit. Dengan nada tinggi ia bertanya, "Yang mana?"

 

 "Awas," desis Sambi Wulung. "Jika kau mempunyai persoalan dengan salah seorang dari mereka, maka kau akan dapat kehilangan semua kesempatan yang sudah kita peroleh selama ini."

 

 "Bukankah aku tidak apa-apa?" bertanya Jati Wulung.

 

 "Tetapi begitu kau mendengar tentang perempuan-perempuan muda, maka kau sudah kehilangan kantukmu," berkata Sambi Wulung.

 

 Jati Wulung tertawa. Katanya, "Kau selalu curiga. Aku hanya ingin tahu saja."

 

 Sambi Wulung tidak menjawab. Tetapi ia pun telah mengangkat wajahnya ke satu arah.

 

 Sebenarnyalah bahwa Jati Wulung pun melihat tiga orang perempuan muda yang lewat diiringi oleh dua orang raksasa petugas dari Song Lawa tersebut.

 

 "Sama sekali tidak menarik," berkata Jati Wulung.

 

 Sambi Wulung berpaling ke arah Jati Wulung yang kemudian duduk disisinya. Sambil tersenyum ia berkata, "Tidur sajalah."

 

 "Nanti dulu. Aku memang tiba-tiba menjadi tidak mengantuk lagi," jawab Jati Wulung.

 

 Sambi Wulung tertawa pula. Katanya, "Kau memang harus berhati-hati."

 

 Jati Wulung pun tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab.

 

 Tetapi yang kemudian lewat bukan lagi perempuan-perempuan muda yang rias berlebihan. Yang kemudian melintas di lapangan itu adalah Kiai Windu dan tiga orang kawan-kawannya.

 

 Ternyata bahwa Kiai Windu telah melihat Sambi Wulung dan Jati Wulung yang duduk di bawah pohon rambutan itu. Karena itu, maka mereka pun telah mendekatinya pula.

 

 Sambil tersenyum Sambi Wulung berkata, "Kalian agaknya telah mengikuti perempuan-perempuan itu."

 

 "Ah," sahut Kiai Windu. "Akukan sudah tua. Aku lebih senang bertaruh di arena sabung ayam daripada mempertaruhkan uangku untuk hal-hal seperti itu. Bahkan mungkin sebelum aku sempat bertaruh dadu, uangku sudah habis tuntas. Bahkan mungkin aku akan dapat menjual kudaku."

 

 Sambi Wulung berpaling ke arah Jati Wulung sambil berkata, "Nah, kau dengar?"

 

 "Bukankah aku tidak berbuat apa-apa?" jawab Jati Wulung.

 

 Sambi Wulung, Kiai Windu dan kawan-kawannya tertawa. Dengan nada rendah Kiai Windu berkata, "Mereka adalah pemeras-pemeras yang kasar disini. Namun ada juga orang yang merasa senang dengan pemerasan-pemerasan itu. Dengan bekerja sama dengan para petugas Song Lawa, maka mereka dapat menguras seseorang sampai kering. Tetapi ada juga orang yang merasa dirinya tidak diperas."

 

 DEMIKIANLAH, maka mereka pun kemudian telah selesai. Setelah membayar makanan yang mereka makan, mereka pun telah meninggalkan kedai itu. "Kau lagi yang membayar?" bertanya Sambi Wulung. "Nanti akulah yang membayar." "Kau hanya berdua. Kami berempat," berkata Kiai Windu. "Tetapi adalah kewajiban kami untuk membayarnya," sahut Jati Wulung. 

 

 "Baiklah," jawab Kiai Windu. "Tetapi jika kami yang membayar itu pun bukan aku. Tetapi kami bergantian empat orang."

 

 Sambi Wulung dan Jati Wulung tertawa. Tetapi mereka tidak berbicara lagi.

 

 Namun dalam pada itu Sambi Wulung dan Jati Wulung memang harus berhati-hati. Di Nggebayan mereka telah membunuh seorang yang menurut pendapat Sambi Wulung dan Jati Wulung sangat deksura. Bagaimana pun juga keduanya tidak mau dihina. Sementara kawan-kawan dari orang yang terbunuh itu sudah ada di Song Lawa itu pula. Meskipun nampaknya mereka tidak secara serta merta mendendamnya, tetapi kemungkinan buruk memang dapat terjadi."

 

 Ternyata bahwa kawan Kiai Windu itu tidak melupakan janjinya. Karena itu, maka katanya, "Aku akan menemui orang-orang Macan Ireng itu. Bukankah kami berjanji untuk bertemu di lapangan."

 

 "Satu tontonan yang tentu akan menarik. Tempat ini sudah terlalu ramai untuk berkelahi sekarang," berkata Kiai Windu.

 

 "Tetapi aku tidak ingkar janji," jawab kawannya.

 

 Kiai Windu menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, "Baiklah. Tetapi sebaiknya kalian berkelahi tanpa senjata."

 

 "Aku tidak dapat memilih. Terserah orang Macan Ireng itu," jawab kawan Kiai Windu.

 

 Kiai Windu mengangguk-angguk. Ia memang tidak dapat memaksa kehendaknya kepada orang-orang Macan Ireng.

 

 Sejenak kemudian maka mereka pun telah berada di lapangan. Mereka berdiri agak menepi, karena ternyata beberapa orang masih sibuk mempersiapkan lapangan itu untuk dipergunakan pertandingan memanah yang diperjudikan.

 

 Beberapa saat mereka menunggu. Namun ternyata sejenak kemudian mereka melihat sekelompok berjalan menuju ke arah mereka.

 

 Kiai Windu terkejut. Katanya, "Apakah mereka semua orang-orang Macan Ireng?"

 

 "Entah," jawab kawannya. "Beberapa orang di antara mereka adalah orang-orang yang sudah terbiasa berada di Song Lawa."

 

 Kiai Windu menggeram. Katanya, "Persetan. Aku memang mengenal mereka yang sudah sering datang ketempat ini. Mereka tidak pernah menyebut dirinya orang-orang Macan Ireng. Tetapi dua di antara mereka adalah orang-orang Kalamerta."

 

 "Kalamerta," hampir di luar sadarnya Sambi Wulung berdesis.

 

 "Ya. Bekas gerombolan Kalamerta yang semula sudah bercerai berai, namun berhasil dihimpun pula oleh pewarisnya," jawab Kiai Windu.

 

 "Aku sudah mendengar tentang hancurnya gerombolan Kalamerta sepeninggal pemimpinnya," desis Jati Wulung.

 

 "Pemimpinnya telah dibunuh oleh pemimpin Tanah Perdikan Sembojan. Orang yang memiliki ilmu yang luar biasa, yang pernah mempunyai persoalan dengan Kalamerta jauh sebelumnya. Bukan dengan gerombolannya. Tetapi persoalan pribadi yang diselesaikan dengan perang tanding. Tetapi Kalamerta terbunuh dan Ki Gede Sembojan yang juga hampir mati sampyuh itu dapat disembuhkan oleh seorang ahli pengobatan yang berilmu tinggi. Namun ia tetap cacat," berkata Kiai Windu.

 

 "Apakah pemimpin Tanah Perdikan itu juga sering datang kemari untuk berjudi?" bertanya Sambi Wulung.

 

 "Tidak. Pemimpin Tanah Perdikan itu sudah mati," jawab Kiai Windu.

 

 "Lalu, apa hubungannya dengan orang-orang itu?" bertanya Sambi Wulung pula

  

 ***   

 

 DEMIKIANLAH, maka mereka pun kemudian telah selesai. Setelah membayar makanan yang mereka makan, mereka pun telah meninggalkan kedai itu. "Kau lagi yang membayar?" bertanya Sambi Wulung. "Nanti akulah yang membayar." "Kau hanya berdua. Kami berempat," berkata Kiai Windu. "Tetapi adalah kewajiban kami untuk membayarnya," sahut Jati Wulung. 

 

 "Baiklah," jawab Kiai Windu. "Tetapi jika kami yang membayar itu pun bukan aku. Tetapi kami bergantian empat orang."

 

 Sambi Wulung dan Jati Wulung tertawa. Tetapi mereka tidak berbicara lagi.

 

 Namun dalam pada itu Sambi Wulung dan Jati Wulung memang harus berhati-hati. Di Nggebayan mereka telah membunuh seorang yang menurut pendapat Sambi Wulung dan Jati Wulung sangat deksura. Bagaimana pun juga keduanya tidak mau dihina. Sementara kawan-kawan dari orang yang terbunuh itu sudah ada di Song Lawa itu pula. Meskipun nampaknya mereka tidak secara serta merta mendendamnya, tetapi kemungkinan buruk memang dapat terjadi."

 

 Ternyata bahwa kawan Kiai Windu itu tidak melupakan janjinya. Karena itu, maka katanya, "Aku akan menemui orang-orang Macan Ireng itu. Bukankah kami berjanji untuk bertemu di lapangan."

 

 "Satu tontonan yang tentu akan menarik. Tempat ini sudah terlalu ramai untuk berkelahi sekarang," berkata Kiai Windu.

 

 "Tetapi aku tidak ingkar janji," jawab kawannya.

 

 Kiai Windu menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, "Baiklah. Tetapi sebaiknya kalian berkelahi tanpa senjata."

 

 "Aku tidak dapat memilih. Terserah orang Macan Ireng itu," jawab kawan Kiai Windu.

 

 Kiai Windu mengangguk-angguk. Ia memang tidak dapat memaksa kehendaknya kepada orang-orang Macan Ireng.

 

 Sejenak kemudian maka mereka pun telah berada di lapangan. Mereka berdiri agak menepi, karena ternyata beberapa orang masih sibuk mempersiapkan lapangan itu untuk dipergunakan pertandingan memanah yang diperjudikan.

 

 Beberapa saat mereka menunggu. Namun ternyata sejenak kemudian mereka melihat sekelompok berjalan menuju ke arah mereka.

 

 Kiai Windu terkejut. Katanya, "Apakah mereka semua orang-orang Macan Ireng?"

 

 "Entah," jawab kawannya. "Beberapa orang di antara mereka adalah orang-orang yang sudah terbiasa berada di Song Lawa."

 

 Kiai Windu menggeram. Katanya, "Persetan. Aku memang mengenal mereka yang sudah sering datang ketempat ini. Mereka tidak pernah menyebut dirinya orang-orang Macan Ireng. Tetapi dua di antara mereka adalah orang-orang Kalamerta."

 

 "Kalamerta," hampir di luar sadarnya Sambi Wulung berdesis.

 

 "Ya. Bekas gerombolan Kalamerta yang semula sudah bercerai berai, namun berhasil dihimpun pula oleh pewarisnya," jawab Kiai Windu.

 

 "Aku sudah mendengar tentang hancurnya gerombolan Kalamerta sepeninggal pemimpinnya," desis Jati Wulung.

 

 "Pemimpinnya telah dibunuh oleh pemimpin Tanah Perdikan Sembojan. Orang yang memiliki ilmu yang luar biasa, yang pernah mempunyai persoalan dengan Kalamerta jauh sebelumnya. Bukan dengan gerombolannya. Tetapi persoalan pribadi yang diselesaikan dengan perang tanding. Tetapi Kalamerta terbunuh dan Ki Gede Sembojan yang juga hampir mati sampyuh itu dapat disembuhkan oleh seorang ahli pengobatan yang berilmu tinggi. Namun ia tetap cacat," berkata Kiai Windu.

 

 "Apakah pemimpin Tanah Perdikan itu juga sering datang kemari untuk berjudi?" bertanya Sambi Wulung.

 

 "Tidak. Pemimpin Tanah Perdikan itu sudah mati," jawab Kiai Windu.

 

 "Lalu, apa hubungannya dengan orang-orang itu?" bertanya Sambi Wulung pula.

 

 ***   

 

 "TIDAK ada," jawab Kiai Windu. "Tetapi dua orang Kalamerta itu merupakan dua orang di antara mereka yang sering mengawal anak muda yang aku katakan. Masih terlalu muda." "Remaja?" desak Jati Wulung. "Begitulah. Remaja yang bernama Puguh itu. Menilik kedua orang itu serta kawan-kawannya yang lain, maka agaknya Puguh itu pun telah berada disini pula," berkata Kiai Windu kemudian. 

 

 Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak boleh terlalu menunjukkan perhatian mereka terhadap laki-laki remaja yang bernama Puguh itu.

 

 Beberapa saat kemudian, maka orang-orang yang datang bersama dengan orang dari gerombolan Macan Ireng itu sudah menjadi semakin dekat. Orang yang telah memasukkan ciri gerombolannya ke dalam mangkuk kawan Kiai Windu itu berjalan paling depan. Sambil tersenyum ia pun kemudian berhenti beberapa langkah dihadapan kawan Kiai Windu yang memang menyongsongnya.

 

 "Ternyata kau jantan," berkata orang dari gerombolan Macan Ireng itu.

 

 "Aku tidak pernah ingkar janji," jawab kawan Kiai Windu. "Apalagi dalam persoalan seperti ini."

 

 "Bagus," jawab gerombolan Macan Ireng itu. "Tetapi sayang. Keadaan di dalam lingkungan ini tidak terlalu baik untuk melakukan perang tanding. Aku ingin melakukannya di luar."

 

 Kawan Kiai Windu termangu-mangu. Ia merasa bahwa ia tidak memiliki keterangan yang dapat dianggap lengkap untuk memasuki arena, sehingga ia meragukan kejujuran orang Macan Ireng itu. Jika ia memenuhi permintaannya dan ternyata ia terjun ke dalam satu jebakan, maka ia akan mengalami kesulitan, sementara itu ia memang menduga bahwa orang-orang Macan Ireng adalah orang-orang yang licik. Langkah-langkah yang dilakukan oleh gerombolan itu atas pamannya memang menimbulkan kesan bahwa gerombolan itu bukanlah terdiri dari orang-orang yang jujur.

 

 Karena itu kawan Kiai Windu itu tidak segera menjawab, maka orang dari gerombolan Macan Ireng itu mendesak, "He, apa katamu?"

 

 Tetapi kawan Kiai Windu itu menggeleng. Katanya, "Kenapa kita harus ke luar dari Song Lawa? Disini kita mempunyai kesempatan yang luas. Jika kau ingin kita lakukan ditempat yang tersembunyi, kita dapat mencarinya di dalam lingkungan Song Lawa. Tidak diluarnya."

 

 "Kau takut?" bertanya orang Macan Ireng itu.

 

 "Ya," jawab kawan Kiai Windu. "Aku takut kau menjadi licik dan berusaha menjebakku. Menurut penglihatanku, kau memang sangat licik. Bukankah yang pernah kau lakukan, atau katakanlah orang-orang dari gerombolanmu mencerminkan kelicikanmu itu?"

 

 Orang Macan Ireng itu menjadi tegang. Dengan geram ia berkata, "Kau menghina kami. Dendamku menjadi semakin dalam. Sementara itu kau bersikap seperti seorang pengecut."

 

 "Aku memang pengecut di hadapan orang yang licik. Nah, aku tantang kau berkelahi di dalam lingkungan Song Lawa. Tidak akan ada orang yang mengganggu. Jika ada orang yang menonton biarlah mereka menjadi saksi," berkata kawan Kiai Windu. "Justru dihadapan saksi-saksi itu kita dapat menilai, siapakah yang menang dengan sikap jujur."

 

 Suasana memang menjadi tegang. Ketika beberapa orang bergeser, maka Kiai Windu dan kawan-kawannya yang lain pun bergeser pula. Nampaknya Kiai Windu dan kawan-kawannya itu telah menganggap diri mereka satu.

 

 Sambi Wulung dan Jati Wulung termangu-mangu. Apakah mereka juga akan melibatkan diri?

 

 Dalam ketegangan itu tiba-tiba terdengar suara seorang remaja melengking, memanggil nama seseorang.

 

 Beberapa orang telah berpaling. Tetapi seorang di antara mereka yang mengikuti dari gerombolan Macan Ireng ittu bergegas mendekatinya.

 

 "Kau memanggil aku?" bertanya orang itu.

 

 "Apakah yang kau lakukan disini," bertanya remaja itu.

 

 “AKU melihat kawanku yang terlibat dalam perselisihan dengan orang-orang itu,” jawab orang yang dipanggilnya. “Kau atau kawanmu?” bertanya remaja itu. “Kawanku,” jawab yang dipanggil. “Dan kau melibatkan diri? Disini urusan seseorang adalah urusannya sendiri. Bukan urusan orang lain,” berkata remaja itu. “Tetapi ia kawanku,” orang yang dipanggil itu berusaha menjelaskannya. 

 

 “Persetan,” remaja itu membentak. “Kau datang ke tempat ini bersamaku. Kau hanya berurusan dengan aku. Tidak dengan orang lain meskipun itu kawanmu. Ikut aku bersama semua orang-orangku.”

 

 Orang yang dipanggil itu tidak membantah. Ketika remaja itu kemudian pergi, maka orang itu pun telah memberikan isyarat, agar beberapa kawannya pun pergi juga mengikuti remaja itu.

 

 Yang dipanggil hanya empat orang. Sejenak orang Macan Ireng itu termangu-mangu. Namun ia pun mengumpat, “Anak bengal itu telah mengganggu rencanaku menyelesaikan persoalan ini dengan tikus gila itu.”

 

 “Bukankah kau merencanakan satu kecurangan?” bertanya kawan Kiai Windu.

 

 “Baiklah,” berkata orang Macan Ireng itu. “Pada satu hari, akan datang kesempatanku untuk membalas dendam.”

 

 Kawan Kiai Windu tidak menjawab. Sementara itu, maka orang Macan Ireng itupun telah beranjak.

 

 Tetapi langkahnya terhenti ketika kawan Kiai Windu berkata, “Kau lihat, bahwa orang-orang yang bekerja di lapangan itu sama sekali tidak menghiraukan kita, meskipun seandainya kita saling membunuh disini? Mereka hanya akan menguburkan mayat, siapakah di antara kita yang mati. Tetapi mereka akan minta upah kepada yang menang, karena mereka harus menguburkan mayat itu.”

 

 “Persetan dengan mereka,” geram orang Macan Ireng itu sambil melangkah pergi.

 

 Beberapa langkah sepeninggal orang-orang Macan Ireng, maka Kiai Windu berdesis, “Mereka memang akan berbuat licik. Untung kau sempat berpikir.”

 

 “Mereka memang akan menjebakmu tanpa malu-malu,” sahut Jati Wulung.

 

 Namun tiba-tiba saja Kiai Windu berdesis, “Anak itulah yang bernama Puguh.”

 

 “He?” Sambi Wulung dan Jati Wulung agak terkejut.

 

 “Kenapa?” bertanya Kiai Windu. “Apakah kau menaruh perhatian khusus terhadap Puguh?”

 

 “Sama sekali tidak. Tetapi aku memang menaruh perhatian terhadap semua remaja yang ada ditempat ini. Bahkan mereka yang baru saja memasuki usia dewasanya. Kita yang tua-tua ini sebentar lagi sudah akan memasuki lubang kubur. Kematian kita tidak akan ada yang menangisinya. Apalagi jika kita mati dibilik yang memang disediakan untuk membunuh diri itu. Tetapi anak-anak muda apalagi yang sedang menginjak usia dewasa dan mereka yang masih remaja, maka hari depan mereka masih panjang. Sementara itu disini mereka mendapat kesempatan untuk berjudi, berkelahi, membunuh dan tidak kalah berbahayanya adalah perempuan-perempuan kedai itu,” sahut Sambi Wulung.

 

 “Kau memang aneh,” berkata Kiai Windu. “Aku kira tidak ada tiga atau empat orang di lingkungan ini yang mempunyai sikap seperti sikapmu itu. Bahkan orang tua anak-anak muda dan remaja itu pun aku kira tidak mempunyai pikiran sejauh itu.”

 

 “Tentu banyak yang lain,” berkata Sambi Wulung. “Terucapkan atau tidak.”

 

 “Aku semula juga tidak berpikir seperti itu. Tetapi kini aku mulai memikirkannya,” berkata Kiai Windu.

 

 “Bagaimana jika kita usulkan, bahwa batas umur perlu ditentukan di Song Lawa yang gila ini,” berkata Jati Wulung.

 

 “Mereka tidak akan sependapat,” jawab Kiai Windu.

 

 “Mereka siapa?” bertanya Jati Wulung.

 

 "MUNGKIN karena mereka sudah terbiasa berada disini," berkata Sambi Wulung di dalam hatinya. Ketika mereka makan siang, maka rasa-rasanya kedai itu pun menjadi semakin sesak. Mereka duduk berhimpitan. Mereka tidak dapat duduk mengelilingi makanan dan minuman mereka, karena mereka harus memberikan tempat kepada orang-orang lain. Bahkan ada di antara orang-orang yang makan itu justru duduk-duduk di luar kedai, di bawah rindangnya dedaunan. 

 

 Dalam pada itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah melihat beberapa kelompok orang yang mempersiapkan beberapa perangkat gamelan di sudut-sudut lingkungan perjudian Song Lawa itu.

 

 "Untuk apa?" bertanya Sambi Wulung.

 

 "Disetiap sudut akan ada janggrung malam nanti," jawab Kiai Windu.

 

 "Lengkaplah kemaksiatan di tempat ini," desis Jati Wulung.

 

 "Apakah hal seperti ini tidak kau bayangkan sebelumnya?" bertanya Kiai Windu.

 

 Sambi Wulung dan Jati Wulung termangu-mangu. Namun kemudian Sambi Wulung berkata, "Di tempat-tempat lain tidak diperlengkapi dengan kemaksiatan yang begini kasar. He, jika kau memang pernah pergi ke tempat perjudian di Gresik, kau tentu dapat mengatakan bahwa tempat itu terlalu kasar dan kotor."

 

 "Kau sudah memasuki tempat yang bukan sewajarnya," berkata Kiai Windu. "Jangan menyesal jika kau melihat sesuatu yang kasar, kotor, jorok dan tidak sewajarnya pula.

 

 "Aku mengerti," berkata Sambi Wulung.

 

 Namun tiba-tiba Kiai Windu berkata, "Kau menjadi orang aneh disini."

 

 "Justru baru pertama kali aku datang ke tempat ini," jawab Sambi Wulung.

 

 Sebenarnyalah, ketika malam turun, maka di sudut-sudut lingkungan perjudian itu telah siap beberapa lingkaran janggrung. Ketika oncor telah terpasang, maka suara gamelan pun mulai terdengar. Agak riuh, dengan irama yang panas.

 

 Hampir semua orang yang ada di tempat itu telah ke luar dari barak-barak mereka. Melihat lingkungan yang menjadi lebih terang dari biasanya. Apalagi disudut-sudut lingkungan itu.

 

 Sambi Wulung dan Jati Wulung masih berada di biliknya bersama Kiai Windu dan ketiga orang kawan-kawannya ketika gamelan sudah terdengar. Seorang kawan Kiai Windu berkata, "He, apakah kita tidak akan melihat janggrung?"

 

 Kiai Windu memandang Sambi Wulung dan Jati Wulung yang malas. Namun ia pun bertanya, "Bagaimana dengan kalian?"

 

 "Aku malah, Kiai," jawab Sambi Wulung.

 

 "Seharusnya kau tidak boleh malas," berkata Kiai Windu. "Bukankah kau berniat mengenal anak-anak muda dan yang remaja itu?"

 

 "Ya," jawab Sambi Wulung.

 

 "Nah, marilah kita pergi," ajak Kiai Windu.

 

 Sambi Wulung memandang Jati Wulung yang duduk bersandar dinding justru sambil memejamkan matanya. Namun ketika Sambi Wulung bertanya kepadanya, maka ia pun telah membuka matanya, "Apakah kita akan pergi?"

 

 Sejenak ia berpikir. Sementara seorang kawan Kiai Windu berkata, "Tledeknya masih baru."

 

 "Darimana kau tahu?" bertanya Kiai Windu.

 

 "Hanya kira-kira," jawab kawannya. "Bukankah Wanengpati lebih senang tledek yang baru sebagaimana yang berada di kedai siang dan sore ini?"

 

 Jati Wulung mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian bergumam, "Baiklah. Kita melihat janggrung."

 

 Demikianlah mereka berenam telah ke luar pula dari bilik mereka. Sementara itu bilik-bilik yang lain pun agaknya telah kosong pula. Ternyata bahwa janggrung itu memang sangat menarik. Bukan saja bagi pengunjung laki-laki yang datang di Song Lawa, tetapi juga perempuan-perempuan yang telah ada di dalam lingkungan tempat perjudian itu pula.

 

 Ketika Sambi Wulung dan Jati Wulung bersama Kiai Windu dan kawan-kawannya datang ke salah satu lingkungan janggrung itu, agaknya pertunjukan memang baru di mulai. Para penari masih menari tanpa pasangan. Mereka menarikan tarian yang panas dan melagukan tembang yang menggelitik.

 

 BEBERAPA orang melingkari arena pertunjukan itu. Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung melihat bahwa kemaksiatan di tempat itu benar-benar lengkap ketika beberapa orang laki-laki yang duduk-duduk di tempat gelap telah mulai meneguk tuak. 

 

 "Kiai," berkata Sambi Wulung. "Sudah berapa kali kau kunjungi tempat ini?"

 

 "Tiga kali," jawab Kiai Windu. "Kenapa?"

 

 "Aku sudah empat kali," sahut seorang kawan Kiai Windu.

 

 "Selalu ada kegiatan seperti ini?" bertanya Sambi Wulung.

 

 "Ya," jawab Kiai Windu.

 

 "Dalam keadaan seperti apakah tidak mudah terjadi singgungan-singgungan? Apalagi mereka yang sudah mulai mabuk?" desis Sambi Wulung.

 

 "Keadaan seperti ini memang rawan sekali. Tetapi lihatlah di sekitar tempat ini," berkata Kiai Windu.

 

 "Apa?" bertanya Sambi Wulung.

 

 "Orang-orang yang akan mengusung mayat-mayat yang mungkin akan jatuh di malam ini telah siap," berkata Kiai Windu. "Namun pada umumnya mereka masih juga menahan diri agar besok mereka dapat ikut bertaruh disabung ayam atau di tempat bermain dadu dan panahan."

 

 Sambi Wulung mengangguk-angguk. Katanya, "Mudah-mudahan kali ini pun demikian."

 

 Kiai Windu tidak menjawab. Tetapi ia mengajak mereka untuk pergi ke arena pertunjukan yang lain.

 

 Seperti di arena yang baru saja mereka tinggalkan, maka yang nampak adalah beberapa orang tledek muda yang menari dengan irama yang panas. Mereka tersenyum-senyum kepada orang yang mengerumuninya. Seolah-olah dengan sengaja mengundang mereka untuk memasuki arena.

 

 Tetapi suasananya masih belum terlalu panas. Orang-orang yang berkerumun masih lebih senang melihat tledek-tledek itu menari. Sementara orang-orang yang berkerumun itu hanya sekadar menonton, meneriaki penari-penari yang terlalu banyak solah dan sekali-kali bertepuk seiring dengan irama gamelan yang hangat.

 

 Ketika keenam orang itu bergeser ke sudut yang lain, ternyata ditempat itu, pertunjukan baru akan dimulai. Beberapa orang penari memasuki arena. Sejenak mereka memandang berkeliling sambil tersenyum, disambut dengan tepuk tangan orang-orang yang berada disekelilingnya.

 

 "Agak terlambat di banding dengan ditempat-tempat lain," desis Jati Wulung.

 

 Yang lain tidak menjawab. Tetapi mereka telah mengambil tempat yang cukup mapan di bawah sebatang pohon gayam.

 

 Namun perhatian mereka tertarik ketika tiba-tiba saja seorang perempuan yang diiringi oleh seorang laki-laki yang bertubuh raksasa sebagaimana para petugas di tempat itu menyelinap di antara mereka yang menonton pertunjukan itu.

 

 Dengan kerut kening, Sambi Wulung, Jati Wulung dan Kiai Windu dengan kawan-kawannya melihat perempuan itu menghentakkan tangannya.

 

 "Benar, orang itu yang kau cari?" bertanya laki-laki raksasa itu.

 

 "Perempuan itu memang cantik," desis perempuan yang mendesak maju itu dan berdiri di depan Kiai Windu dan kawan-kawannya.

 

 "Tetapi kau tidak salah lihat?" bertanya kawannya sekali lagi.

 

 "Tidak. Perempuan itulah yang telah mengambil suamiku, namun yang kemudian menyurungnya kedalam perselisihan dengan para petugas disini. Sehingga akhirnya suamiku itu terbunuh disini," berkata perempuan itu.

 

 "Kau tahu petugas yang manakah yang telah membunuh suamimu?" bertanya laki-laki raksasa itu.

 

 "Aku tidak tahu yang mana," jawab perempuan itu. "Tetapi itu tidak penting. Aku ingin perempuan itu hidup-hidup."

 

 "Aku akan mengambilnya," geram laki-laki raksasa itu.

 

 "Jangan sekarang," cegah perempuan itu."Akumasihinginbermaindadu.Jika kita sudah selesai, maka kita cari keterangan, dimana tempat tinggalnya. Aku lebih senang berurusan dengan perempuan itu di luar lingkungan Song Lawa."

 

  “BAIKLAH. Tetapi kita harus menyadari, bahwa dimana pun juga perempuan itu tentu mempunyai pelindung. Karena itu, maka untuk mengambilnya, kita harus benar-benar siap melakukannya,” berkata laki-laki bertubuh raksasa itu. 

 

 “Bukankah kita juga tidak hanya berdua?” desis perempuan itu.

 

 Laki-laki itu tidak menjawab. Namun mereka telah tenggelam dalam tarian yang telah dimulainya. Bahkan laki-laki raksasa itu sempat juga berkata, “Perempuan itu memang cantik.”

 

 “Kau juga akan terseret ke dalam pelukannya?” bertanya perempuan itu.

 

 Laki-laki itu tertawa. Katanya, “Nilaimu lain dengan nilai tledek itu meskipun seandainya kecantikanmu sama dengan kecantikannya.”

 

 “Persetan,” geram perempuan itu.

 

 Namun laki-laki itu masih saja tertawa.

 

 Demikianlah maka sejenak kemudian lingkungan perjudian yang disebut Song Lawa itu menjadi ramai. Semakin malam maka irama gamelan pun menjadi semakin hangat. Empat lingkaran keramaian yang dipanaskan oleh tari janggrung yang semakin kasar membuat orang-orang yang mengerumuninya menjadi semakin gembira. Beberapa orang yang mulai menjadi mabuk telah ikut menari-nari. Mereka pun telah memasuki kebiasaan para penari janggrung yang kasar. Mereka memberikan keping-keping uang kepada para tledek yang menari berputar-putar untuk dapat ikut menari sebagai pasangannya.

 

 Dalam pada itu, Sambi Wulung, Jati Wulung dan Kiai Windu dengan ketiga orang kawannya ternyata hanya melihat-lihat saja. Tidak seorang pun di antara mereka yang ikut meneguk tuak yang dapat memabukkan. Tidak pula ikut menari bersama-sama dengan penari janggrung.

 

 Ketika keadaan menjadi semakin panas, maka tidak dapat dielakkan lagi telah terjadi benturan-benturan kekerasan. Namun seperti yang dikatakan oleh Kiai Windu, pada umumnya mereka masih berusaha untuk menahan diri, karena besok mereka ingin ikut serta dalam sabung ayam, atau permainan dadu serta panahan yang diperjudikan.

 

 Namun ketika Sambi Wulung dan Jati Wulung melihat remaja yang disebut bernama Puguh itu berada dibawah sebatang pohon preh tidak terlalu jauh dari salah satu arena tari janggrung itu, maka keduanya telah saling menggamit.

 

 Kiai Windu segera mengerti maksud keduanya ketika keduanya dengan hati-hati agar tidak menarik perhatian telah mendekati anak muda itu.

 

 Ternyata Sambi Wulung telah berpura-pura memapah Jati Wulung seakan-akan sedang mabuk. Kemudian melemparkannya sehingga Jati Wulung itu terjatuh tidak terlalu jauh dari remaja bernama Puguh yang duduk dikelilingi oleh empat orang pengawalnya.

 

 Ketika debu terhambur, maka salah seorang pengawal Puguh itu pun mengumpat, “Orang gila. Kau kotori pakaian kami he?”

 

 Sambi Wulunglah yang menyahut, “Maaf Ki Sanak. Adikku memang orang yang tidak tahu diri. Sudah tua masih juga ribut dengan tari janggrung dan bahkan telah mabuk pula.”

 

 Seperti yang lain, pengawal Puguh itu pun tidak lagi mempersoalkannya. Agaknya mereka pun lebih senang bermain besok daripada malam ini harus terjadi keributan, karena mereka memang datang untuk berjudi.

 

 Sambi Wulung dan Jati Wulung telah duduk tidak terlalu jauh dari Puguh dan para pengawalnya. Jati Wulung masih saja bersikap seperti orang mabuk, sehingga Kiai Windu yang juga mendekatinya meskipun masih tetap memelihara jarak, tertawa sambil berbisik kepada kawan-kawannya, “Mereka adalah orang-orang aneh.”

 

 “Mungkin mereka mempunyai persoalan dengan anak muda itu,” desis seorang kawannya.

 

 “Tidak,” jawab Kiai Windu. “Ia menaruh perhatian terlalu besar terhadap anak-anak muda dan remaja yang berada ditempat maksiat seperti ini.”

 

 “Menarik sekali untuk diperhatikan,” berkata kawan Kiai Windu yang lain.

 

 “Tetapi mereka benar-benar orang yang berilmu sangat tinggi. Namun ternyata mereka tidak sekasar yang kita duga sebelumnya, sebagaimana mereka menghentikan kita dan melukai salah seorang di antara kita,” berkata Kiai Windu.  

 

 "NAMA yang bagus," jawab Sambi Wulung. "Mungkin. Nama itu mungkin dapat dianggap nama yang baik. Tetapi nama itu tidak berarti apa-apa bagiku," jawab Puguh.

 

 Sambi Wulung mulai heran menghadapi sikap anak yang bernama Puguh itu. Bahkan tiba-tiba saja anak itu bertanya, "Ki Sanak. Kau memikirkan keadaanku? Mungkin kau bertanya di dalam hatimu, jika kanak-kanak ingusan seperti aku berada ditempat ini, apakah jadinya aku di kemudian hari."

 

 Sambi Wulung justru berdesah. Namun anak itu berkata selanjutnya, "Tidak seorang pun yang memikirkan hari kemudianku. Apakah aku akan menjadi seorang Tumenggung atau menjadi brandal yang paling buruk atau apapun yang ingin aku lakukan. Hidupku memang ditempa oleh kekerasan dan dendam. Apalagi?"

 

 Sambi Wulung termangu-mangu. Namun pengawalnyalah yang berkata, "Puguh memang seorang yang bekerja keras menempa ilmunya. Mungkin terlalu keras sehingga sebagian dari masa kanak-kanaknya hilang."

 

 Hampir diluar sadarnya Sambi Wulung berkata, "Sebenarnya masa remajamu dapat kau nikmati. Tetapi justru tidak disini."

 

 "Aku tidak mempunyai tempat yang lain yang dapat memberikan kegembiraan kepadaku selain disini," jawab Puguh. "Agaknya disini aku dapat berbuat apa saja dengan tanggung jawabku sendiri bersama orang-orang yang memang diserahkan kepadaku untuk mengawani aku disini."

 

 "Tetapi biaya kesenanganmu ditempat ini terlalu mahal," berkata Sambi Wulung.

 

 "Jika aku kalah. Tetapi jika aku menang, maka aku akan mendapatkan berlipat ganda," jawab Puguh.

 

 "Kau pernah memenangkan permainan disini?" bertanya Sambi Wulung.

 

 Puguh menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Tidak. Aku belum pernah menang. Tetapi kalau tidak kalah aku memang pernah. Maksudku tidak kalah dan tidak menang. Aku keluar dari tempat ini membawa uang sebagaimana aku memasukinya. Tetapi aku pun pernah ditipu orang disini. Memang mengherankan, bahwa ditempat seperti ini ada juga orang yang berani menipuku."

 

 "Ditipu orang?" Sambi Wulung mengulang.

 

 Tetapi Puguh tidak mau menjawab. Bahkan ia pun berkata, "Panggil perempuan yang sedang menari itu. Beberapa saja ia minta uang."

 

 "Untuk apa kau panggil penari itu?" hampir di luar sadarnya Sambi Wulung bertanya.

 

 Puguh tertawa. Katanya, "Kau tahu, bahwa aku sudah memasuki lingkungan ini sejak beberapa tahun sebelumnya. Sekarang umurku telah mendekati lima belas tahun. Aku sudah dewasa sekarang."

 

 "Belum. Kau belum dewasa," desis Sambi Wulung.

 

 Puguh tertawa. Namun katanya kemudian, "Bawa kawanmu yang mabuk itu pergi. Aku tahu, kau tidak senang akan sikapku. Tetapi kau harus ingat, bahwa kita berada di Song Lawa. Disini tidak ada kewajiban untuk menyenangkan orang lain." .

 

 SAMBI WULUNG menarik nafas dalam-dalam. Namun sekali lagi Puguh berkata, "Bawa kawanmu yang mabuk itu pergi." Sambi Wulung pun kemudian telah mengguncang Jati Wulung yang masih terbaring. Tetapi Jati Wulung sama sekali tidak menjawabnya. Karena itu, maka Sambi Wulung pun telah mengangkat dan memapah Jati Wulung untuk membawanya pergi. 

 

 Keduanya menyusuri dinding Song Lawa yang remang-remang oleh cahaya obor. Namun kemudian keduanya telah turun ke lorong yang langsung menuju ke dalam barak mereka.

 

 "Bawa aku ke dalam bilik," berkata Jati Wulung.

 

 "Kaulah yang ganti harus menggendongku semalam suntuk," geram Sambi Wulung. "Kau kira kau tidak cukup berat."

 

 "Pergunakan tenaga cadangan dan ilmumu untuk memapah aku," desis Jati Wulung.

 

 "Gila kau," jawab Sambi Wulung.

 

 Mereka tertegun ketika mereka bertemu dengan Kiai Windu dan kawan-kawannya sebelum mereka memasuki pintu barak. Kiai Windu pun telah tertawa sambil berkata, "Besok, biarlah aku yang berpura-pura mabuk."

 

 "Sst," desis Jati Wulung.

 

 "Tidak ada orang," jawab Kiai Windu. "Semua orang sudah keluar dari biliknya.

 

 Jati Wulung tidak menyahut. Tetapi demikian mereka memasuki barak itu, maka Sambi Wulung telah mendorong Jati Wulung sambil berkata, "Berjalan sendiri."

 

 Jati Wulung hampir saja menimpa dinding. Namun ia tertawa sambil berkata, "Besok harus dilakukan lagi jika kau ingin berbicara dengan anak muda yang lain."

 

 Sambi Wulung menjawab, "Tidak perlu. Tanpa mabuk-mabukan dapat dicari cara lain. Aku sudah cemas bahwa orang-orang itu akan dapat mengetahui bahwa kau hanya berpura-pura."

 

 "Aku sudah melakukan peranku dengan baik sekali," jawab Jati Wulung.

 

 "Tetapi mulutmu sama sekali tidak berbau tuak," jawab Sambi Wulung.

 

 Jati Wulung tiba-tiba saja tertawa. Namun ia pun kemudian telah berjalan ke bilik mereka.

 

 Dalam pada itu, bilik-bilik yang lain memang masih kosong. Para penghuninya masih saja melihat keramaian di sudut-sudut lingkungan Song Lawa yang merupakan dunia tersendiri.

 

 Ketika mereka memasuki barak mereka, Jati Wulung berdesis, "Apa saja yang kemudian dilakukan oleh Puguh?"

 

 "Jangan sebut itu. Aku tidak berani membayangkannya," jawab Sambi Wulung.

 

 Jati Wulung memang tidak mengatakannya lebih lanjut, sehingga karena itu, maka ia pun telah terdiam.

 

 Tetapi dalam kediamannya Jati Wulung itu pun telah berbaring dipembaringannya.

 

 "Apakah kita tidak akan keluar lagi?" bertanya Kiai Windu.

 

 "Aku ingin merenungi malam ini di dalam bilik ini," jawab Sambi Wulung.

 

 Kiai Windu tersenyum. Katanya, "Kau dengar suara gamelan itu? Semakin malam menjadi semakin panas. Penarinya berganti-ganti tanpa habis-habisnya."

 

 "Besok kita dapat menemui mereka di Kedai," berkata Jati Wulung sambil memejamkan matanya.

 

 "Tetapi dalam keadaan yang berbeda," jawab Kiai Windu.

 

 "Aku sedang mabuk sekarang," jawab Jati Wulung.

 

 Mereka pun kemudian tertawa. Namun suara tertawa mereka pun terputus ketika mereka mendengar suara perempuan melengking. Agaknya perempuan yang berada di bilik sebelah itu pun telah kembali ke dalam biliknya.

 

 "Perempuan-perempuan yang tidak tahu akan harga dirinya," geram perempuan itu yang terdengar dari bilik Sambi Wulung.

 

 "Itu sudah pekerjaannya," terdengar seorang laki-laki menyahut.

 

 "Jika kau memerlukannya, kenapa kau ikuti aku kembali ke bilik ini?" perempuan itu membentak.

 

  

 

 .

 

  

 

  “AKU sudah mengantuk. Besok aku akan ikut bertaruh pada sabung ayam,” jawab laki-laki itu. Sementara itu terdengar suara laki-laki yang lain. “Uangku lebih baik aku pergunakan untuk bertaruh besok daripada harus diberikan kepada tledek-tledek itu.” 

 

 “Kalian berpikir tentang uang?” berkata perempuan itu. “Tetapi sama sekali tidak tentang kesetiaan.”

 

 “Kesetiaan? Apa maksudmu?” bertanya laki-laki itu.

 

 “Jika kau tidak mau bersinggungan dengan perempuan itu bukannya karena kau tidak mempunyai uang, mengantuk atau alasan-alasan lain. Tetapi semata-mata karena kalian tidak mau mengkhianati istri kalian. Mengantuk atau tidak mengantuk, tidak mempunyai uang atau menyimpan uang sepedati, kalian sama sekali tidak akan berbicara tentang tledek-tledek seperti itu,” geram perempuan itu.

 

 Tetapi yang terdengar adalah suara tertawa beberapa orang laki-laki. Lebih dari dua orang. Seorang di antaranya berkata, “Apa artinya kesetiaan itu bagiku? He, jawab. Berapa kali kau sudah kawin? Bercerai, kawin lagi? Bahkan sekali waktu kau mempunyai dua orang suami.”

 

 “Tutup mulutmu,” tiba-tiba saja terdengar suara pedang yang ditarik dari sarungnya.

 

 “Sudahlah,” terdengar suara berat. “Sejak kemarin kau selalu menarik pedangmu. Apakah kau tidak dapat berbuat lain daripada marah-marah di antara sesama kita?”

 

 Pertengkaran itu memang mereda. Bahkan kemudian tidak lagi terdengar suara seseorang. Tetapi yang terdengar adalah hentakan-hentakan pada barang-barang dan alat-alat yang ada di dalam bilik sebelah.

 

 “Tledek itu memang dapat menimbulkan persoalan antara seorang perempuan dan laki-laki yang mungkin suaminya, bahkan orang lain sekali pun,” desis Jati Wulung sambil memejamkan matanya.

 

 “Tidur sajalah,” berkata Sambi Wulung.

 

 Kiai Windu yang kemudian juga berbaring tersenyum. Katanya, “Sebaiknya kita memang beristirahat. Besok kita akan melihat sesuatu yang kita tunggu. Bukankah kalian berdua belum pernah menyaksikannya?”

 

 “Ya,” sahut Sambi Wulung. “Besok kita akan menyaksikannya.”

 

 Namun ternyata Jati Wulung dan Sambi Wulung tetap tidak mau tidur bersama-sama. Bagaimana pun juga mereka tetap tidak mengetahui kemungkinan yang dapat terjadi di tempat yang belum mereka ketahui dengan jelas itu. Karena itu, maka mereka masih juga tidur bergantian.

 

 Kiai Windu yang mengetahui kesiagaan keduanya itu hanya tersenyum saja. Meskipun dalam tingkat ilmu Kiai Windu masih dibawah kemampuan Sambi Wulung dan Jati Wulung, tetapi ia pun memiliki pengalaman yang luas pula.

 

 Sampai lewat tengah malam suara gamelan masih terdengar riuh dan panas. Penari janggrung yang turun ke arena telah berganti-ganti. Beberapa orang kepalanya telah menjadi pengab karena berkelahi. Bahkan beberapa orang telah pingsan. Satu lagi jiwa telah melayang sebelum perjudian benar-benar dimulai.

 

 Dalam pada itu, Kiai Badra dan Kiai Soka yang mengamati keadaan di tempat perjudian itu dari luar mencoba untuk mendekati di malam hari. Meskipun mereka tidak melihat apa yang ada di dalam dinding yang mengelilingi tempat yang disebut Song Lawa itu, namun mereka tahu, apa yang sedang berlangsung.

 

 “Gending-gending yang menggelitik,” desis Kiai Soka.

 

 Kiai Badra tertawa. Katanya, “Kau masih juga ingat gending-gending untuk tayub?”

 

 “Lebih panas dari tayub yang tertib,” jawab Kiai Soka. “Tentu sedang berlangsung tari janggrung.”

 

 Kiai Badra masih tertawa tertahan. Katanya, “Mudah-mudahan Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak tenggelam dalam dunia yang menghanyutkan itu.”

 

 Kiai Soka mengangguk-angguk. Katanya, “Jika aku masih tiga puluh tahun lebih muda, maka aku akan berusaha untuk memasuki tempat itu tanpa mengingat bahayanya.”

 

 .

 

 "BARANGKALI Kiai ingin mencobanya sekarang?" bertanya Kiai Badra. Kiai Soka juga menahan tertawanya. Namun keduanya tidak bergeser terlalu dekat dengan dinding Song Lawa. Keduanya terpaksa bersembunyi dibalik gerumbul ketika dua orang petugas dari Song Lawa itu nganglang disekitar dinding lingkungan perjudian itu. Demikian petugas itu menjadi semakin jauh, maka Kiai Badra dan Kiai Soka keluar dari persembunyiannya. 

 

 Nampaknya belum ada persoalan yang penting yang harus mereka tangani. Menurut perhitungan kedua orang tua itu, keramian yang diselenggarakan malam itu tentu ada maksudnya.

 

 "Mungkin besok perjudian yang ada di dalam lingkungan Song Lawa itu akan dimulai," berkata Kiai Badra.

 

 "Mungkin," sahut Kiai Soka. "Keramaian malam ini merupakan pertanda dari permulaan itu."

 

 "Beberapa hari persiapan-persiapan telah dilakukan dengan baik. Sehingga nampaknya segala sesuatunya memang sudah siap," berkata Kiai Badra.

 

 "Mudah-mudahan Sambi Wulung dan Jati Wulung berhasil berhubungan dengan anak muda yang bernama Puguh itu," desis Kiai Soka.

 

 Dengan demikian maka kedua orang tua itu pun berusaha untuk dapat mengelilingi lingkungan Song Lawa, untuk melihat segala sesuatunya. Mereka tidak tahu, apakah pada suatu hari keduanya terpaksa memasukinya.

 

 Menjelang dini hari, maka kedua orang itu pun mulai bergeser menjauh. Suara gamelanpun sudah menjadi semakin letih. Satu dari empat arena janggrung telah menyelesaikan kegiatannya. Tledek yang menari di arena sudah tidak kelihatan sorang pun, sementara para pemukul gamelan sudah menjadi letih pula.

 

 Beberapa saat kemudian satu lagi telah menyelesaikan permainannya pula. Dan menjelang fajar, maka suara gamelan pun telah berhenti. Para pemukul gamelan tidak beranjak dari tempatnya. Mereka langsung saja membaringkan diri dan tidur di antara gamelan mereka.

 

 Ketika fajar mulai memerah di langit, maka para petugas di Song Lawa telah siap. Mereka telah membangunkan para penabuh gamelan yang belum sempat tidur puas.

 

 "Sebentar lagi segalanya akan dimulai. Kalian harus meramaikannya dengan suara gamelan. Sabung ayam akan menjadi ramai. Demikian pula permainan dadu. Di lapangan akan dilangsungkan panahan," berkata para petugas itu.

 

 Meskipun masih mengantuk, namun para penabuh itu telah pergi ke pakiwan, mencuci muka dan membenahi diri bersiap di belakang gamelan. Namun mereka tidak lagi akan mengiringi tari janggrung. Mereka akan sekadar membunyikan gamelan untuk meramaikan saat dimulainya musim perjudian.

 

 Demikianlah ketika kemudian matahari mulai naik, maka segala persiapan telah selesai. Arena sabung ayam pun telah dipersiapkan sebagaimana tempat bermain dadu. Di lapangan, beberapa sasaran panahan pun telah tergantung. Bahkan disisi lapangan terdapat sasaran yang lebih kecil yang dipergunakan untuk paseran. Untuk jenis ini dipergunakan lapangan yang tidak terlalu luas. Sasarannya memang mirip dengan sasaran untuk panahan yang terdiri dari tiga bagian, yaitu kepala, leher, dada dan biasanya dipergunakan jeruk bali untuk digantungkan dibawah sasaran pokok. Mereka yang mengenai jeruk itu, justru akan mendapat denda.

 

 Demikianlah, tanpa sesorah dan penjelasan apapun, maka seorang yang bertubuh tinggi tegap sebagaimana kebanyakan raksasa yang bertugas di tempat itu telah memukul kentongan dengan nada dara muluk.

 

 Suara kentongan itu telah disambut oleh suara gamelan yang berada di sudut-sudut lingkungan Song Lawa itu, sehingga dengan demikian maka diseluruh lingkungan Song Lawa itu, telah diriuhkan oleh suara-suara gamelan dan beberapa kentongan yang saling bersahutan.

 

 SUARA kentongan dan gamelan itu ternyata telah bergetar dan membentur lereng Gunung Kukusan, berkumandang menelusuri lembah dan tebing-tebing curam. 

 

 Kiai Badra dan Kiai Soka yang berada di gerumbul perdu di lereng Gunung Kukusan itu pun mendengar pula suara yang riuh itu. Mereka yang tidak mengetahui berbagai pertanda yang ada di Song Lawa itu hanya dapat menduga, bahwa musim perjudian saat ini telah dimulai.

 

 Sebenarnyalah, maka arena sabung ayam pun telah penuh dengan orang-orang yang akan bertaruh. Mereka harus membayar untuk memasuki arena itu. Demikian pula mereka yang memasuki barak permainan dadu dan lapangan untuk panahan dan paseran yang dianggap sebagai permainan sejenis. Bedanya, bahwa pada paseran seseorang melemparkan paser dengan tangannya ke sasaran, sementara pada panahan dipergunakan busur untuk melontarkan anak panah pada sasaran yang lebih jauh dari paseran.

 

 Demikian matahari semakin tinggi, maka Song Lawa semakin hangat dan jumlahnya pun menjadi semakin besar.

 

 Dalam pada itu, maka Kiai Windu telah bertanya kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung, "Kalian akan memasuki yang mana? Taruhan sabung ayam, permainan dadu atau ikut panahan atau paseran atau hanya sekadar ikut taruhan pada panahan dan paseran?"

 

 Sambi Wulung dan Jati Wulung termangu-mangu. Sebenarnyalah mereka tidak memikirkan sebelumnya, kemana mereka akan pergi. Namun ketika mereka teringat bahwa anak-anak muda lebih senang berada di tempat panahan, maka Sambi Wulung pun berkata, "Aku akan melihat panahan lebih dahulu. Aku harus mengerti cara bertaruh. Baru kemudian ikut bertaruh."

 

 "Kalian akan ikut panahan atau sekadar bertaruh?" bertanya Kiai Windu.

 

 "Kami akan melihat suasananya lebih dahulu," jawab Sambi Wulung.

 

 Kiai Windu pun mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun berkata, "Aku pergi bersama kalian."

 

 "Kenapa kalian akan pergi bersama kami? Apakah kalian tidak mempunyai rencana tersendiri? Atau kalian memang ingin mengawasi kami?" bertanya Sambi Wulung.

 

 "Jangan salah mengerti Ki Sanak," jawab Kiai Windu. "Aku sudah sering datang ke tempat ini. Karena itu, aku tidak merasa perlu tergesa-gesa. Aku akan melihat-lihat dan baru kemudian menentukan apa yang akan kami lakukan. Musim perjudian ini akan dilakukan untuk waktu yang cukup lama. Jika masih banyak orang yang berminat dalam waktu sepuluh hari masih belum akan ditutup. Nah, bukankah banyak tersedia waktu untuk menghabiskan uang disini dan kemudian pergi ke bilik kecil itu untuk membunuh diri."

 

 "Baiklah," sahut Sambi Wulung. "Tetapi sebenarnya kami ingin membuat kalian terikat kepada kami."

 

 "Sudah kami katakan," Jati Wulung menyambung. "Setelah berada di dalam lingkungan Song Lawa, kami akan bertanggung jawab atas diri kami sendiri."

 

 Kiai Windu tersenyum. Katanya, "Apa salahnya jika kita pergi bersama-sama. Setelah dua atau tiga hari, kalian akan menghubungi petugas disini bersama kami untuk mendapat pertanda bahwa kalian adalah keluarga yang sah dari tempat perjudian ini."

 

 Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun mereka tidak menjawab lagi.

 

 Mereka berenam pun kemudian telah pergi ke lapangan panahan yang agak luas. Tempat itu memang tidak terlalu berdesakan sebagaimana tempat-tempat yang lain. Juga tidak terlalu gemuruh teriakan-teriakan orang bertaruh sebagaimana di tempat sabung ayam.

 

 Namun keenam orang itu pun tidak segera berbuat sesuatu. Mereka masih berdiri saja menyaksikan beberapa orang yang sudah duduk di atas tikar dengan busur dan anak panah.

 

 "Setiap orang yang ikut serta dalam panahan dan paseran harus membayar. Baru mereka mendapat tempat untuk duduk menghadap sasaran," berkata Kiai Windu.  

 

 SAMBI WULUNG dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun agaknya mereka baru dalam tingkat melihat-lihat. Ketika panas menjadi semakin terik, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung telah duduk di bawah sebatang pohon di pinggir lapangan. Namun dari tempatnya mereka dapat menyaksikan panahan yang semakin lama memang menjadi semakin menarik. 

 

 Tetapi ternyata tidak demikian bagi Sambi Wulung dan Jati Wulung, karena ternyata anak muda yang mereka cari tidak berada ditempat itu.

 

 "Mungkin besok atau besok lusa," berkata Sambi Wulung kepada Jati Wulung hampir berbisik.

 

 Jati Wulung mengangguk-angguk. Katanya, "Kita masih mempunyai waktu. Tetapi mudah-mudahan kita tidak akan mengatakan demikian jika semuanya sudah lewat."

 

 Sambi Wulung tersenyum meskipun hambar. Katanya, "Apakah sebaiknya kita mencarinya ditempat lain?"

 

 "Agaknya mereka pun baru melihat-lihat. Pada saat kita keluar justru mereka memasuki lapangan ini," sahut Jati Wulung.

 

 Sambi Wulung mengangguk-angguk. Katanya, "Baiklah. Kita menunggu disini."

 

 Dalam pada itu, Kiai Windu dan ketiga orang kawan-kawannya ternyata masih juga belum melibatkan dirinya dalam taruhan. Agaknya ia masih ingin melihat siapakah di antara para pemanah yang paling baik yang akan dapat dijadikan landasan bagi taruhannya.

 

 Tetapi menurut penglihatan Sambi Wulung dan Jati Wulung beberapa orang berada dalam tataran yang sama, sehingga yang menang dan yang kalah terjadi silih berganti. Satu rambahan menang, namun dalam rambahan berikutnya mengalami kekalahan. Namun bagi mereka yang termasuk pemanah-pemanah terbaik, nilai mereka hanya terpaut sedikit saja.

 

 Namun dalam pada itu, ketika Kiai Windu duduk pula di dekat Sambi Wulung, maka Sambi Wulung itu pun bertanya, "Anak-anak dari manakah yang menjadi cucuk dari panahan itu? Apakah orang tua mereka tidak merasa cemas, bahwa kehidupan disini akan mempengaruhi cara hidup mereka kelak."

 

 Kiai Windu melihat anak-anak berumur sekitar sepuluh tahun berlari-lari mengambil anak panah dari mereka yang bertaruh dengan panahan itu. Anak-anak panah yang meluncur ke sasaran, yang mengenai atau tidak, setelah setiap rambahan selesai, maka anak-anak ittu berlari-larian mengambil dan menyerahkan kepada para pemanah. Untuk itu anak-anak itu mendapat upah yang cukup mereka pergunakan untuk membeli makanan dan beberapa macam kesenangan mereka.

 

 Dengan nada rendah Kiai Windu menjawab, "Mereka adalah anak-anak dari orang-orang yang bekerja disini. Mungkin pelayan di kedai, mungkin para petugas di gedogan kuda atau para penabuh gamelan. Mungkin juga anak raksasa-raksasa yang mengawasi tempat ini."

 

 Sambi Wulung mengangguk-angguk. Namun ia pun berdesis, "Anak-anak tanpa hari depan. Mereka hanya akan menjadi orang seperti kita yang berkeliaran di tempat-tempat perjudian seperti ini."

 

 KIAI WINDU menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak menjawab lagi. Beberapa saat kemudian masih duduk di bawah rimbunnya pepohonan di pinggir jalan. Sementara itu, maka mereka yang bertaruh di lapangan menjadi semakin kepanasan. Bukan saja oleh matahari di langit yang bagaikan membakar, tetapi juga oleh hati yang panas di dalam dada masing-masing. Yang menang ingin menang lebih banyak lagi, sementara yang kalah ingin mendapatkan kekalahan mereka kembali. Sedangkan yang pasti mendapat uang tanpa menanggung kemungkinan kalah adalah anak-anak yang diupah untuk mengambil anak panah yang dilepaskan untuk setiap rambahan. 

 

 Untuk mendorong gairah para pemanah maka anak-anak pemungut anak panah itu telah berteriak-teriak menyebut anak panah yang mereka layani masing-masing. Bahkan di antara mereka yang memberikan isyarat untuk mengarahkan anak panah agar tepat mengenai sasaran.

 

 Dengan nada melengking seorang anak itu berteriak, "Sikatan, langkung."

 

 Pemanah yang memiliki anak panah yang dinamai Sikatan mengetahui ia memanah terlalu tinggi melampaui kepala sasaran. Namun terdengar anak yang lain berteriak, "Jalak Sumurup," Pemanah yang memiliki anak panah bernama Jalak itu pun mengetahui bahwa anak panahnya terlalu rendah sehingga menyusup di bawah sasaran.

 

 Suara anak-anak itu bersahutan berganti-ganti memberikan isyarat kepada pemanahnya masing-masing. Sementara rambahan demi rambahan pun telah berlangsung. Keping-keping uang berpindah dari seorang ke yang lain, namun kemudian berputar kembali kepada orang yang pertama.

 

 "Anak itu tidak akan kemari hari ini," terdengar Jati Wulung berdesis.

 

 "Jadi, apakah sebaiknya kita berpindah tempat?" bertanya Sambi Wulung.

 

 Jati Wulung termangu-mangu. Namun sebelum mereka beranjak dari tempatnya, ternyata beberapa orang telah memasuki lapangan. Seorang di antaranya adalah seorang anak muda. Namun anak muda itu bukan Puguh.

 

 "Nah,anakitudatang ,"desisKiaiWindu .

 

 Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak dapat mengatakan bahwa yang mereka tunggu sebenarnya adalah Puguh. Namun mereka justru tidak dapat dengan serta merta meninggalkan tempat itu.

 

 Karena itu maka Sambi Wulung pun berdesis, "Kita tidak dapat pergi sekarang."

 

 Jati Wulung mengerti. Karena itu, maka ia pun mengangguk-angguk kecil.

 

 Untuk beberapa saat anak muda itu berdiri sambil bertolak pinggang menyaksikan panahan yang sedang berlangsung itu.

 

 Kiai Windu yang kemudian bangkit dan bergeser berkata kepada Sambi Wulung, "Wirakrama adalah seorang pemanah yang sangat baik. Ia sering menang dalam panahan. Tetapi ia selalu kalah di tempat lain.

 

 "Apakah ia akan turun hari ini?" bertanya seorang kawan Kiai Windu.

 

 "Aku tidak tahu. Marilah kita mendekat," berkata Kiai Windu.

 

 "Apakah kau masih memikirkan timang emas yang dipalsukan itu?" bertanya Sambi Wulung.

 

 Kiai Windu justru tersenyum. Katanya, "Tidak. Aku tidak akan mempersoalkannnya.

 

 Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak beranjak dari tempatnya ketika Kiai Windu dan ketiga kawannya bergeser lebih dekat ke belakang orang-orang yang duduk berderet mengarah ke sasaran. Ternyata bahwa setiap sasaran telah diperuntukkan bagi beberapa orang dalam kelompok mereka masing-masing, sehingga beberapa sasaran yang berjajar itu pun telah dipergunakan untuk beberapa kelompok pemanah.

 

 Untuk beberapa saat Wirakrama masih belum turun. Ketika seorang yang bertubuh raksasa mendekatinya dan agaknya menawarkan kesempatan untuk ikut, anak muda itu menggeleng sambil berkata, "Nanti saja."

 

 Orang yang menawarkan kesempatan itu tidak memaksanya. Ia pun kemudian meninggalkan anak muda itu yang masih saja berdiri bertolak pinggang.

 

 NAMPAKNYA ia berusaha untuk menilai kemampuan para peserta panahan itu, agar ia tidak meyakinkan dirinya bahwa ia akan menang. Kiai Windu yang beringsut mendekat, sengaja menampakkan dirinya pada anak muda itu. Sebagaimana diharapkan maka anak muda itu memang terkejut. Namun Kiai Windu masih saja berpura-pura tidak menghiraukannya. 

 

 Anak muda itu memberi isyarat kepada tiga orang pengawalnya untuk mendekatinya. Mereka pun kemudian saling berbisik. Namun tidak jelas apa yang mereka katakan.

 

 Tetapi anak muda itu tidak segera beranjak. Ia nampaknya masih menunggu karena beberapa kali ia berpaling. Demikian pula ketiga orang pengawalnya.

 

 Ternyata beberapa saat kemudian, seorang yang bertubuh tinggi agak kurus telah memasuki lapangan itu pula. Orang itu langsung mendekati Wirakrama sambil menunjuk beberapa kelompok orang yang sedang mengikuti panahan.

 

 Tetapi Wirakrama menggeleng. Agaknya orang itu juga menganjurkan agar Wirakrama ke lapangan panahan.

 

 Namun dalam pada itu, ternyata Wirakrama telah memberitahukan kepada orang itu, bahwa di tempat itu ada seseorang yang pernah berhubungan dengan mereka sebelumnya. Tanpa berpaling Wirakrama memberitahukan arah Ki Windu berdiri.

 

 Orang yang bertubuh tinggi itulah yang kemudian memandang ke arah Kiai Windu berdiri seakan-akan belum melihat Wirakrama dan kawan-kawannya.

 

 Orang yang bertubuh tinggi itu mengerutkan keningnya. Namun ketika kemudian Wirakrama mengangguk, orang bertubuh tinggi itu telah melangkah mendekati Kiai Windu.

 

 "Kiai," orang itu kemudian telah menggamit Kiai Windu.

 

 Kiai Windu pura-pura terkejut melihat kedatangannya. Sambil tertawa ia bertanya, "He, Ki Sanak. Kau datang juga sekarang?"

 

 "Ya Kiai. Mengantar angger Wirakrama," jawab orang itu.

 

 "O, angger Wirakrama ada disini pula?" bertanya Kiai Windu kemudian.

 

 Orang yang bertubuh tinggi itu menunjuk ke arah Wirakrama berdiri bersama beberapa orang pengawalnya.

 

 Kiai Windu mengangguk-angguk. Sambil tersenyum ia berkata kepada orang bertubuh tinggi itu, "Aku akan menunggu angger Wirakrama turun ke lapangan."

 

 "Kiai akan turun pula?" bertanya orang bertubuh tinggi itu.

 

 Kiai Windu menggeleng. Katanya, "Tidak hari ini."

 

 Orang bertubuh tinggi itu termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba ia pun bertanya, "Apakah Kiai masih merasa mempunyai persoalan dengan angger Wirakrama?"

 

 "O, tidak," jawab Kiai Windu. "Bukankah pinjamannya telah dibayar?"

 

 "Timang emas itu?" bertanya yang bertubuh tinggi.

 

 "Ya. Timang emas itu," jawab Kiai Windu.

 

 Orang bertubuh tinggi itu mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun bertanya, "Apakah timang itu Kiai jual atau masih Kiai simpan untuk dipergunakan sendiri?"

 

 "Aku masih menyimpannya. Aku senang dengan timang itu, sehingga setiap kali aku memakainya. Terutama dalam pertemuan-pertemuan dengan orang-orang besar. Besar menurut ukuranku," Kiai Windu itu tertawa.

 

 Orang bertubuh tinggi itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia pun kemudian mengangguk-angguk sambil berdesis, "Syukurlah jika Kiai menyukainya. Timang itu memang timang yang baik dan mahal. Memang pantas jika Kiai memakainya dalam pertemuan-pertemuan dengan orang-orang yang Kiai sebut orang-orang besar itu."

 

 "Apakah angger Wirakrama juga menyukainya?" bertanya Kiai Windu.

 

 "Ya," jawab orang itu. "Angger Wirakrama menyukainya. Barang itu merupakan barang yang sangat berharga baginya. Seandainya persoalan itu tidak timbul dengan Kiai, maka ia tidak akan menyerahkan timangnya. Seandainya ia terlibat persoalan utang dengan orang lain, ia tentu berusaha untuk membayarnya dengan barang-barang lain." (Bersambung

 

 KIAI WINDU mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja ia berkata, "Ki Sanak. Jika demikian, apakah angger Wirakrama berhasrat untuk menebusnya kembali? Bukankah ia datang kali ini dengan uang yang banyak? Bahkan belum dipergunakannya sama sekali. Jika angger Wirakrama ingin menebusnya seharga utangnya pada waktu itu, aku akan menyerahkannya. Sayang, jika barang itu merupakan barang kesayangannya." "O," orang itu menjadi gagap. Namun ia menjawab juga, "Tentu tidak Kiai. Sebagai seorang yang berpegang pada harga diri, maka apa yang telah dilakukannya tidak akan dicabut kembali atau disesali." 

 

 "Bukandicabutkembali,"jawabKiaiWindu ."Justru akulah yang menawarkannya. Biarlah angger sempat memakainya lagi."

 

 "Tidak Kiai," jawab orang bertubuh tinggi itu. "Biarlah benda itu ada pada Kiai. Satu kenangan yang barangkali akan berarti bagi Kiai."

 

 Tetapi Kiai Windu tertawa. Katanya, "Ki Sanak. Ketahuilah. Bekalku kali ini tidak terlalu banyak. Jika pada satu saat aku kehabisan uang disini, maka mungkin aku akan minta tolong kepada angger Wirakrama. Kita akan sama-sama mendapat keuntungan. Aku mendapat uang, dan angger Wirakrama mendapat benda yang disenanginya kembali."

 

 Orang bertubuh tinggi itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, "Angger juga tidak membawa bekal lebih banyak dari musim judi yang lalu. Tetapi jika masih ada uang tersisa, maka aku kira hal itu dapat dibicarakan kemudian."

 

 Kiai Windu tertawa. Katanya, "Baiklah. Nah, silakan. Bukankah angger Wirakrama merupakan orang terbaik di lapangan panahan ini, terutama pada batas umurnya?"

 

 Orang bertubuh tinggi itu tertawa. Katanya, "Ya. Tetapi agaknya ia masih belum ingin turun sekarang."

 

 "Memang seumurnya masih saja dipengaruhi oleh keinginan anak-anak muda. Ia masih ingin melihat kesana-kemari, sebagaimana kebiasaannya. Baru kemudian ia akan memasuki arena pilihannya," berkata Kiai Windu.

 

 Orang bertubuh tinggi itu mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, "Silakan Kiai. Aku akan kembali kepada anak muda itu."

 

 Kiai Windu mengangguk sambil tersenyum, "Silakan. Tetapi jangan lupa. Katakan kepadanya, bahwa jika aku memerlukan uang, maka aku akan menyerahkan kembali timang itu."

 

 Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, "Baiklah. Aku akan mengatakannya."

 

 Kiai Windu kemudian melihat orang bertubuh tinggi itu kembali kepada Wirakrama. Sementara Wirakrama yang berdiri ditempat yang agak jauh mengangguk kepada Kiai Windu yang membalasnya sambil tersenyum.

 

 Dari kejauhan Kiai Windu melihat, orang bertubuh tinggi itu agaknya telah memberitahukan pesannya, sehingga anak muda itu nampak mengerutkan dahinya. Tetapi agaknya ia berusaha untuk menahan diri, agar tidak menimbulkan kesan apapun tentang pesan Kiai Windu itu.

 Untuk beberapa lama Kiai Windu masih berdiri ditempatnya. Namun kemudian ia pun telah bergeser dan berlindung dibawah bayang-bayang dedaunan karena matahari menjadi semakin tinggi.

 

 Ketiga orang kawannya memandanginya sambil tersenyum pula, sementara itu Sambi Wulung dan Jati Wulung yang sudah lebih dahulu berteduh bergeser pula mendekatinya. Dengan nada berat Sambi Wulung bertanya, "Apakah kau benar-benar akan mengembalikan timang itu?"

 

 "Akubelumtahu,"jawabKiaiWindu ."Kita melihat keadaan. Sebenarnya aku merasa jengkel atas kecurangan itu. Tetapi aku belum mengambil keputusan untuk membuat persoalan dengan anak muda itu."

 

 Sambi Wulung tertawa. Katanya, "Sudahlah. Bukankah kau akan menang lagi kali ini?"

 

 "Namanya berjudi," jawab Kiai Windu. "Tidak seorang pun tahu apakah kita akan menang atau kalah. Kecuali jika kita melakukannya dengan tidak jujur."

 

 "SULIT untuk bermain panahan dengan tidak jujur, atau bahkan bermain dadu pun tidak dapat dilakukan dengan tidak jujur, karena saat melontarkan dadu itu disaksikan banyak orang. Sedangkan dalam kalangan sabung ayam sebagian besar ditentukan oleh ayam yang sedang bersabung. Jika orang-orang yang bertaruh cukup berpengalaman, maka pada sabung ayam pun sulit dilakukan kecurangan dengan cara apapun juga, karena orang-orang yang berpengalaman itu akan segera dapat melihatnya," berkata Jati Wulung sambil berbaring diatas rerumputan. 

 

 "He, ternyata kau benar-benar seorang pemalas," desis Kiai Windu. "Dimana pun kau selalu berbaring."

 

 Jati Wulung tersenyum. Katanya, "Bukankah disini kita mendapat kesempatan untuk bermalas-malasan."

 

 Kiai Windu masih akan menjawab. Namun tiba-tiba terdengar beberapa orang bersorak di arena panahan. Ternyata seseorang telah berhasil mengenai kepala sasaran. Satu hasil yang gemilang, karena dengan demikian ia mendapat penilaian tertinggi untuk satu rambahan itu.

 

 Ketika orang-orang yang berteduh itu berdiri untuk melihat siapakah yang mendapat nilai tertinggi itu, Jati Wulung masih saja tetap berbaring ditempatnya sambil berkata, "Siapapun yang mengenainya, kita tetap tidak mengenalnya."

 

 Tetapi Sambi Wulung tiba-tiba berkata, "Bukan main. Seorang perempuan."

 

 "He, seorang perempuan," bertanya Jati Wulung sambil bangkit dengan tergesa-gesa, "Yang mana?"

 

 Kiai Windu tertawa. Katanya, "Bukankah kau tahu bahwa tidak seorang perempuan pun yang telah turun ke arena hari ini?"

 

 "Anak setan," Jati Wulung mengumpat sambil menguak maju. Ia kemudian justru berdiri paling depan sambil mengawasi seluruh arena.

 

 Beberapa orang masih saja tertawa.Kawan-kawanKiaiWindupuntertawa pula.

 

 Beberapa saat mereka masih berdiri ditempatnya. Namun Sambi Wulung pun kemudian berkata kepada Jati Wulung, "Marilah. Kita akan melihat-lihat ke tempat yang lain."

 

 Jati Wulung mengangguk sambil bergeser. Katanya, "Marilah. Disini rasa-rasanya mataku menjadi silau melihat panahan ditempat yang panasnya semakin menyengat. Mungkin sore nanti kita akan dapat melihat panahan dengan mapan. Kita dapat memilih tempat disini sebelah Barat yang agak tinggi itu."

 

 Tetapi ketika keduanya mulai bergerak, Kiai Windu pun berkata, "Marilah. Kami pun akan ikut kalian. Kita lihat arena sabung ayam yang ramai itu."

 

 Sambi Wulung dan Jati Wulung saling berpandangan sejenak. Tetapi mereka tidak menolak untuk pergi bersama-sama Kiai Windu. Apalagi Kiai Windu adalah orang yang lebih banyak mengenal lingkungan itu dari mereka berdua.

 

 Ternyata bahwa di hari pertama itu, perjudian masih belum terlalu ramai. Seperti juga ditempat panahan. Yang bertaruh masih dapat membuat perhitungan-perhitungan dengan nalar yang jernih.

 

 Karena itu, maka suasana ditempat perjudian itu masih nampak tertib dan tidak terlalu kasar. Jika terjadi perselisihan-perselisihan, masih mungkin mereka selesaikan dengan cara yang lebih lunak daripada menghunus pedang.

 

 Di tempat sabung ayam pun nampaknya masih belum terlalu sesak. Tetapi teriakan-teriakan di antara mereka yang bertaruh untuk ayam aduan yang dipilihnya, terdengar bagaikan menggetarkan dinding-dinding disekitarnya.

 

 Ketika keenam orang itu memasuki arena yang terdiri dari beberapa kalangan sabung ayam, mereka memang tidak segera tertarik untuk menyaksikan, apalagi bertaruh. Yang dicari Sambi Wulung dan Jati Wulung adalah kesempatan untuk berkenalan dengan Puguh. Namun agaknya Puguh masih juga belum tampak di arena sabung ayam itu.

 

 "Dimana anak itu," desis Jati Wulung di telinga Sambi Wulung.

 

 "Apakah anak itu sudah berada di permainan dadu?" sahut Sambi Wulung. (Bersambung

 

 Tetapi keduanya tidak dengan serta merta meninggalkan tempat itu. Apalagi ketika ternyata kemudian dua orang kawan Kiai Windu telah mendekati salah satu kalangan untuk melihat ayam yang sedang bertempur dengan serunya. 

 

 Tiba-tiba saja Jati Wulung berdesis, "Aku haus sekali."

 

 "Aku juga," ternyata Kiai Windu pun menyahut.

 

 "Apakah kita harus ke kedai itu?" bertanya Sambi Wulung.

 

 "Tidak," jawab Kiai Windu. "Jika sabung ayam sudah mulai, disebelah ini ada kedai minuman meskipun hanya sekadarnya. Tidak sebesar dari penjual di kedai induk itu."

 

 "Kita minum," berkata Sambi Wulung.

 

 Mereka pun kemudian pergi ke kedai kecil disebelah tempat sabung ayam itu. Seorang kawan Kiai Windu tidak segera ikut mereka, tetapi ia justru menyusul kawannya dilingkaran sabung ayam.

 

 "Nanti, kami akan menyusul," berkata orang itu.

 

 "Kau akan mulai bertaruh?" bertanya Sambi Wulung.

 

 "Tidak," jawab kawan Kiai Windu itu. "Aku hanya ingin melihat-lihat lebih dahulu."

 

 Demikianlah, Kiai Windu, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah pergi ke kedai disebelah tanpa ketiga orang yang lain. Namun mereka tertegun bahwa ternyata di kedai itu sudah duduk lebih dahulu seorang anak muda pula. Hanya satu dua tahun lebih tua dari Puguh. Namun nampak sikapnya jauh lebih kasar dari Puguh sendiri.

 

 Ketika Kiai Windu sedang sibuk menikmati wedang sere panas dan mengunyah sepotong makanan, maka Jati Wulung sempat berkata, "Aku merasa agak heran. Ternyata Puguh tidak sekasar yang aku duga. Bahkan nampaknya anak-anak muda sebayanya bersikap jauh lebih buruk dari sikap Puguh itu sendiri. Wirakrama yang sombong, dan anak ini yang sikapnya seperti serigala kelaparan."

 

 "Jangan mencari perkara," berkata Sambi Wulung.

 

 Jati Wulung terdiam. Tetapi ia tidak senang sama sekali melihat sikap anak muda itu. Anak muda yang agak gemuk yang nampaknya dikawani oleh orang-orang yang berilmu pula.

 

 Namun terjadilah peristiwa yang menggemparkan. Sejenak kemudian, tanpa disangka-sangka, Puguh telah datang pula ke kedai itu. Tetapi belum lagi ia duduk, anak muda yang agak gemuk itu telah berkata kasar, "Nah, monyet itu datang pula kemari."

 

 Puguh juga terkejut. Ia surut selangkah ketika anak muda yang agak gemuk itu meloncat dari tempat duduknya.

 

 "Kenapa?" bertanya Puguh agak kebingungan.

 

 "Jangan berpura-pura tidak tahu he?" geram orang itu. Lalu katanya, "Kau larikan perempuan itu."

 

 "Siapa?" nampaknya Puguh benar-benar tidak mengerti.

 

 "Kau bawa perempuan itu tanpa kau lepaskan semalam suntuk," geram anak muda yang agak gemuk.

 

 "Aku tidak tahu maksudmu," berkata Puguh pula. (Bersambung

  

 "Jangan pura-pura. Kau panggil penari itu dan kemudian ia hilang dari arena sampai pagi," anak muda yang kasar itu hampir berteriak. Puguh menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Aku memang memanggilnya. Tetapi tidak lebih dari sekadar berbicara sambil makan makanan yang dibeli kawanku dari kedai itu. Aku memang memberi uang cukup kepadanya." 

 

 "Untuk apa uang itu?" bertanya anak muda itu dengan kasar.

 

 "Aku senang kepada perempuan itu," jawab Puguh. "Karena itu aku minta ia tidak perlu menari lagi. Aku suruh ia pergi dari arena. Karena aku tidak ingin merugikannya, maka aku beri ia uang."

 

 "Kau beri uang untuk sekadar pergi dari arena?" bertanya anak muda yang kasar itu.

 

 "Ya, kenapa?" bertanya Puguh.

 

 Anak muda yang kasar itu tertawa berkepanjangan. Katanya, "Apakah kau sudah gila. Kau sudah sering berada ditempat ini membayar seorang tledek hanya untuk pergi dari bawah oncor dan dari sisi gamelan?"

 

 Puguh menjadi tidak senang melihat sikapnya. Katanya, "Cari perempuan itu, dan bertanyalah kepadanya apa yang aku lakukan. Aku baginya masih terlalu kanak-kanak."

 

 Anak muda yang kasar itu tertawa semakin keras. Namun tiba-tiba saja ia berkata, "Aku akan membalas sakit hatiku. Aku harus memukulimu sepuluh kali sekarang."

 

 "Gila. Kau kira kau ini siapa he?" wajah Puguh menjadi merah. "Sejak musim judi yang lalu, kau memang mencari persoalan saja untuk satu perkelahian. Jika kau memaksa terus seperti itu, aku terpaksa melayanimu."

 

 "Nah, kita akan berkelahi jika kau berani," berkata anak muda itu. "Tanpa orang lain, pengawal-pengawalku tidak akan ikut campur. Tetapi jika kau takut berkelahi sendiri, biarlah pengawalmu membantumu."

 

 "Jangan menghina aku seperti itu," berkata Puguh. "Jika kau memang menantangku, aku terima tantanganmu itu."

 

 Anak muda yang agak gemuk dan kasar itu tertawa. Kemudian dengan nada datar ia berkata, "Kita akan berkelahi sekarang. Kita tidak usah mencari tempat. Disini kita berkelahi. Tentu akan lebih menarik dari sabung ayam itu. Tetapi jika tanganku telanjur mematahkan tangan atau kakimu, itu bukan salahku."

 

 Puguh tidak menjawab. Tetapi ia pun kemudian memberi isyarat kepada beberapa orang pengawalnya untuk mundur. Dengan nada rendah ia berkata, "Jangan ganggu aku."

 

 Para pengawalnya memang melangkah surut. Sementara itu, anak muda yang agak gemuk dan kasar itu melangkah satu-satu mendekati Puguh.

 

 Ternyata seperti kebiasaan orang-orang yang sudah berada di Song Lawa, orang-orang disekitarnya sama sekali tidak menghiraukan apa yang terjadi sepanjang tidak menyangkut diri mereka sendiri.

 

 Beberapa orang yang ada di sekitar tempat itu, bahkan dua orang yang ada di dalam kedai kecil itu seakan-akan tidak berpaling sama sekali. Hanya Sambi Wulung, Jati Wulung sajalah yang memperhatikannya benar-benar tertuju kepada mereka. Sementara Kiai Windu justru memperhatikan keduanya sambil tersenyum. Katanya, "Nampaknya kau berdua yang menjadi lebih tegang daripada mereka yang akan berkelahi."

 

 Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Persoalan anak-anak muda memang menarik. Apapun yang terjadi atas mereka."

 

 Kiai Windu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak berbicara lagi. Dihadapannya minuman hangatnya, sementara matahari menjadi semakin tinggi. Ketika ia meneguk mangkuk minumannya, maka keringatnya menjadi semakin banyak mengalir.

 

 Sambi Wulung dan Jati Wulung pun tetap duduk ditempatnya. Sementara itu kedua anak muda itu pun telah mulai bergerak sambil mempersiapkan diri.

 

 Sejenak kemudian, maka anak muda yang bertubuh agak gemuk itu dengan kasar telah menyerang. Tangannya yang terkembang telah terayun deras mengarah kedada Puguh. Namun Puguh memang sudah siap menghadapinya. Dengan sigapnya ia mengelak. Tetapi ia bukan saja merendah sambil bergeser mundur, tetapi tiba-tiba saja ia telah melenting sambil memutar tubuhnya. Kakinyalah yang terayun mendatar mengarah ke lambung..

 

 ANAK muda yang gemuk itu terkejut. Ternyata Puguh mampu bergerak sangat cepat, sehingga karena itu, maka anak muda yang gemuk itu terpaksa melontar mundur. Puguhlah yang kemudian tidak mau membiarkan lawannya. Dengan cepat pula ia memburunya. Tubuhnya yang bagaikan tidak berbobot itu seakan-akan terbang lurus mendatar. 

 

 Anak muda yang agak gemuk itu melihat serangan yang datang demikian cepatnya. Tidak ada kesempatan untuk melenting menghindar. Karena itu, maka ketika tumit Puguh menyambarnya, ia pun dengan serta merta telah menjatuhkan dirinya sehingga serangan itu tidak menyentuhnya.

 

 Demikian tubuh Puguh terbang melintas di atasnya, ia pun segera meloncat bangkit. Dengan cepat anak yang agak gemuk itulah yang kemudian memburunya. Dengan keras pula ia telah menyerang, demikian kaki Puguh menjejak tanah.

 

 Tetapi Puguh masih sempat melihat sasaran yang datang itu. Namun waktunya tidak memungkinkannya untuk menghindar. Karena itu, maka ia pun telah menyilangkan tangannya didadanya.

 

 Yang terjadi adalah satu benturan kekuatan yang keras. Tangan anak muda yang gemuk yang terjulur lurus ke arah dada itu telah membentur pertahanan Puguh. Ternyata benturan itu terjadi demikian kerasnya, sehingga kedua kaki Puguh yang baru saja sempat tegak itu berguncang. Selangkah ia terdorong surut. Namun ia berhasil memperbaiki keadaannya sehingga ia tetap berdiri tegak dengan tangan bersilang di dada.

 

 Sementara itu lawannya yang agak gemuk dan kasar itu telah terdorong jauh lebih panjang surut. Bahkan hampir saja ia tidak mampu mempertahankan keseimbangannya. Dengan susah payah ia berhasil berdiri tegak sambil mengumpat kotor.

 

 Puguh tidak menjawab sama sekali. Tetapi ia sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

 

 Kedua kelompok pengawal berdiri ditempat masing-masing. Orang-orang yang mengawal anak muda yang gemuk itu nampaknya juga lebih kasar dari para pengawal Puguh, meskipun dilihat pada sorot matanya, pengawal Puguh itupun merupakan orang-orang yang keras dan kasar. Namun dari ujud lahiriahnya, mereka masih lebih baik dari pengawal-pengawal anak muda yang agak gemuk itu.

 

 Ternyata kedua anak muda itu masih juga berkelahi dengan sengitnya. Keduanya memiliki dasar-dasar kemampuan olah kanuragan yang baik dan lengkap. Namun agaknya kekuatan dasar kewadagan Puguh yang tubuhnya lebih kecil dari lawannya itu justru lebih besar. Itulah sebabnya, maka kadang-kadang anak muda yang agak gemuk itu tergetar dalam benturan-benturan yang terjadi.

 

 Sambi Wulung dan Jati Wulung memperhatikan perkelahian itu dengan seksama. Keduanya sempat menilai kemampuan Puguh yang cukup mendebarkan itu. Bahkan keduanya sempat bertanya kepada diri mereka sendiri, “Bagaimanakah imbangan kekuatan dan kemampuan anak itu dibanding dengan Risang?”

 

 Baik Sambi Wulung maupun Jati Wulung menjadi ragu-ragu. Apakah ilmu Risang lebih baik dari Puguh.”

 

 Ketika keduanya mengerutkan keningnya dengan sedikit tegang, Kiai Windu menggamitnya, Katanya, “Minummu menjadi dingin.”

 

 “O,” Sambi Wulung dan Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah Sambi Wulung menjawab, “Aku memang menunggu sampai agak dingin. Udara sudah terlalu panas.”

 

 Kiai Windu tersenyum. Sementara itu Sambi Wuung dan Jati Wulung telah meneguk minumannya yang tidak lagi terlalu panas. Namun mereka tidak memalingkan perhatian mereka dari kedua orang anak muda yang berkelahi itu. Bahkan seorang yang sedang minum di tempat itu pun telah memperhatikan pula meskipun yang lain lebih senang menikmati minuman dan makanan.

 

 “Memang menarik,” desis Kiai Windu. “Mereka masih kanak-kanak. Tetapi mereka sudah mampu menunjukkan tata perkelahian yang mapan. Bukan asal saja berkelahi. Wirakrama tidak dapat melakukan seperti itu. Anak muda yang berbaju hitam di sabung ayam itu pun tidak.”

 

 “Siapakah anak muda yang agak gemuk itu sebenarnya?” bertanya Sambi Wulung.

 

 "Sebenarnya?" bertanya Kiai Windu. "Aku tidak tahu. Aku hanya melihat anak itu disini. Kenapa kau nampaknya menaruh perhatian lebih besar pada anak-anak itu? Atau barangkali kau menduganya sesuatu atas anak itu?" 

 

 Sambi Wulung menggeleng. Namun yang menjawab adalah Jati Wulung. "Anak itu menjengkelkan sekali. Aku tiba-tiba saja jadi benci kepadanya tanpa sebab."

 

 Kiai Windu tertawa. Katanya, "Karena itu disini jangan memperhatikan orang lain."

 

 Jati Wulung tidak menjawab. Namun tiba-tiba katanya, "Kita salah duga terhadap anak yang bernama Puguh itu. Ia memang memanggil penari itu. Ia mengakui menyenangi penari itu. Tetapi ia hanya menyuruhnya pergi dari arena."

 

 "Kau percaya kepada kata-katanya?" bertanya Kiai Windu.

 

 Jati Wulung ragu-ragu. Namun Kiai Windulah yang berkata lebih lanjut, "Aku percaya."

 

 Jati Wulung mengangguk-angguk. Demikian pula Sambi Wulung.

 

 Dalam pada itu, perkelahian pun menjadi semakin keras. Anak muda yang agak gemuk itu memang menjadi kasar. Bahkan tiba-tiba saja tangannya menggenggam debu dan dilontarkan ke wajah Puguh. Untunglah bahwa Puguh melihatnya sehingga ia sempat meloncat mundur beberapa langkah sambil memalingkan wajahnya. Namun ketika anak muda yang kasar itu memburunya, Puguh telah siap untuk melawannya.

 

 Semakin lama maka menjadi semakin jelas, bahwa Puguh akan dapat memenangkan perkelahian itu. Setiap kali serangannya berhasil mengenai tubuh lawannya, sehingga setiap kali anak muda yang kasar itu berdesis menahan sakit. Bahkan ketika Puguh dengan keras menyerangnya dengan kaki terjulur dan mengenai dada anak yang gemuk itu, maka anak muda itu pun telah terpelanting jatuh.

 

 Namun anak itu sempat bangkit sambil mengumpat dengan kasar.

 

 "Gila. Anak setan. Aku bunuh kau," geramnya.

 

 Puguh tidak menjawab. Tetapi ia pun sudah siap menghadapi segala kemungkinan.

 

 Sejenak kemudian, maka perkelahian itu pun telah berlangsung lagi. Kiai Windu yang memungut sepotong makanan berkata kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung. "He, kalian mau makan apa?"

 

 Sambi Wulung sempat tersenyum. Tetapi Jati Wulung sama sekali tidak berpaling. Ia benar-benar memperhatikan bagaimana Puguh kemudian benar-benar menguasai lawannya.

 

 "Risang harus tahu, bahwa Puguh pun memiliki kemampuan yang sangat besar," berkata Jati Wulung maupun Sambi Wulung dalam hatinya.

 

 Sebenarnyalah hati Jati Wulung maupun Sambi Wulung sebenarnya merasa cemas melihat kemampuan Puguh yang sangat besar. Kekuatannya dan agaknya juga kekerasan hatinya. Meskipun Puguh tidak nampak sekasar lawannya, tetapi ternyata bahwa ia juga mampu berkelahi dengan keras.

 

 Dalam pada itu, anak yang kasar itu kemudian ternyata semakin tidak mampu mengimbangi kekuatan Puguh yang besar serta keterampilannya olah kanuragan. Karena itu, beberapa kali anak muda itu telah dikenai serangan Puguh. Bahkan beberapa kali anak muda itu terhuyung-huyung jatuh. Meskipun ia mampu bangkit lagi, namun beberapa saat kemudian serangan Puguh telah menjatuhkannya lagi.

 

 Ketika beberapa orang pengawalnya bergeser, maka para pengawal Puguh pun telah bergerak pula.

 

 Tetapi Puguh telah berkata lantang, "Kita sepakat untuk berkelahi tanpa orang lain."

 

 Anak muda yang agak gemuk itu nafasnya menjadi terengah-engah. Ketika ia jatuh lagi, maka ia pun telah bangkit dengan susah payah. Namun ternyata ia pun masih menyadari keadaannya. Anak muda itu merasa bahwa Puguh memang memiliki kemampuan yang lebih tinggi. Karena itu, ia justru tidak menarik senjatanya. Jika Puguh kemudian juga bersenjata, maka kemungkinan yang lebih buruk akan dapat terjadi atas dirinya.

 

 KARENA itu, maka ketika Puguh melangkah maju, anak muda itu justru melangkah surut. Dengan nada terputus-putus karena menahan sakit di tubuhnya anak muda itu berkata, "Aku akui kelebihanmu kali ini Puguh. Tetapi di musim perjudian yang akan datang, aku akan membunuhmu." "Besok atau lusa, sebelum musim perjudian ini selesai aku sudah membunuhmu lebih dahulu," geram Puguh. 

 

 "Persetan," wajah anak muda itu menjadi tegang.

 

 Namun Puguh tidak menjawab lagi. Dipandanginya saja anak muda yang kasar itu pergi. Beberapa orang pengawalnya menggeretakkan giginya. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa.

 

 "Kau biarkan anak gila itu pergi," desis seorang pengawal Puguh.

 

 "Lalu, apa yang baik aku lakukan? Memilin lehernya dan membunuhnya?" bertanya Puguh.

 

 Pengawalnya tidak menjawab. Tetapi mereka masih saja memandang anak muda yang agak gemuk serta beberapa orang pengawalnya pergi.

 

 Sejenak kemudian barulah Puguh mengibaskan debu pada pakaiannya. Ketika lawannya menaburkan debu, maka pakaiannya memang menjadi kotor. Untunglah bahwa debu itu tidak mengenai matanya.

 

 Sambi Wulung dan Jati Wulung yang semula memperhatikan perkelahian itu pun segera telah berkisar. Mereka menghadapi minuman mereka dan mengambil sepotong makanan pula. Namun mereka berharap bahwa Puguh akan duduk pula di kedai itu. Meskipun mereka tidak akan sempat bertanya apapun, karena anak muda itu tentu masih terpengaruh oleh keadaan yang baru saja terjadi, namun jika anak muda itu berbicara bersama dengan para pengawalnya, mungkin dari pembicaraan itu, mereka akan dapat menangkap sesuatu.

 

 Sebenarnyalah Puguh yang baru saja berkelahi itu agaknya memang menjadi haus. Bersama para pengawalnya, ia pun kemudian telah duduk pula di sebuah amben panjang di kedai kecil itu. Sedangkan dua orang lainnya yang sudah lebih lama berada di kedai itu telah bangkit dan meninggalkan tempatnya.

 

 Setelah Puguh memesan minuman, maka sebenarnyalah ia masih dipengaruhi oleh gejolak perasaannya. Dengan nada geram ia berkata, "Anak itu masih saja selalu mengganggu. Apakah sebenarnya yang dimaui?"

 

 Seorang pengawal menyahut, "Aku sudah berusaha untuk mendapat keterangan tentang anak muda itu. Tetapi tidak seorang pun yang dapat mengatakan selain apa yang dapat pula kita lihat disini."

 

 "Pengawalnya cukup kuat," sahut Puguh. "Tetapi jika ia masih saja membuat persoalan akulah yang mungkin akan membunuhnya. Mudah-mudah ia menjadi jera."

 

 Para pengawal Puguh itu mengangguk-angguk. Ketika mereka memandang ke arah orang-orang yang baru saja meninggalkan mereka, ternyata orang-orang itu berhenti dan berbicara dengan sungguh-sungguh. Tetapi jarak mereka sudah terlalu jauh untuk mendengar pembicaraan mereka.

 

 Baru sejenak kemudian anak muda yang agak gemuk itu hilang dibalik dinding disudut tikungan disebelah dinding arena sabung ayam.

 

 Puguh kemudian mulai memperhatikan minumannya. Namun ia masih juga bergemang, "Pakaianku menjadi kotor. Ia berkelahi dengan licik."

 

 Namun dalam pada itu pengawalnya berkata, "Tetapi kau telah menunjukkan kemampuan yang tinggi. Latihan-latihan yang kau lakukan ternyata tidak sia-sia Dalam keadaan yang gawat, kau sendiri sudah dapat mengatasi persoalan."

 

 "Bukan hanya aku yang mampu berkelahi. Anak yang gemuk itu juga mampu berkelahi," jawab Puguh.

 

 "Tetapi sebagaimana kau lihat. Ia telah kau kalahkan. Sementara itu beberapa anak muda yang lain selalu tergantung kepada pengawalnya. Kau tidak. Kau sendiri mampu menjaga dirimu tanpa seorang pengawal pun. Namun karena nampaknya kau memang masih terlalu muda, maka sebaiknya kami menyertaimu."

 

 PUGUH termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun mulai meneguk minumannya. "Jika kita kembali ke padepokan, kau harus berlatih lebih baik lagi. Siapa tahu, anak yang gemuk itu benar-benar mendendammu. Pada satu hari yang mungkin memang akan terjadi di musim perjudian yang akan datang, orang itu benar-benar berusaha membunuhmu," berkata salah seorang pengawal. "Apakah di musim perjudian yang akan datang, kita akan berada di sini pula?" bertanya Puguh. 

 

 "Itu terserah kepadamu," jawab salah seorang pengawalnya. "Tetapi sekadar untuk mendapatkan pengalaman, maka disini kita dapat melihat seribu wajah dengan seribu watak serta tingkah laku."

 

 "Memang menarik," berkata Puguh. "Tetapi rasa-rasanya menjadi jemu juga akhirnya."

 

 Parapengawalnya termangu-mangu. Namun kemudian Puguh pun kemudian berkata, "Baru besok aku akan memasuki tempat permainan dadu.

 

 "Apakah kita tidak melihat panahan sekarang?" bertanya seorang pengawalnya.

 

 "Apakah Wirakrama yang sombong itu akan turun?" bertanya Puguh.

 

 Tetapi pengawalnya menggeleng. Katanya, "Aku belum tahu."

 

 "Ia seorang pemanah yang baik,"berkata pengawalnya yang lain. "Tetapi ia tidak mampu menjaga dirinya sendiri. Segalanya tergantung kepada para pengawalnya."

 

 Setelah meneguk beberapa teguk, Puguh pun berkata, "Baiklah. Kita melihat panahan."

 

 "Kau akan turun?" bertanya seorang pengawalnya.

 

 Puguh mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, "Aku belum tahu. Tetapi hari ini aku belum berminat untuk ikut dalam permainan yang manapun."

 

 Parapengawalnya tidak menjawab lagi. Sementara Puguh kemudian membayar minuman dan makanan yang telah mereka minum dan mereka makan.

 

 Sejenak kemudian, maka Puguh dan para pengawalnya itu pun segera meninggalkan kedai kecil itu. Namun mereka melangkah dengan malas, karena hari itu mereka memang masih belum berminat untuk ikut perjudian jenis yang manapun.

 

 Sambi Wulung dan Jati Wulung tiba-tiba saja menarik nafas dalam-dalam, sehingga Kiai Windu mengerutkan keningnya sambil bertanya, "Kenapa kalian seakan-akan merasa terlepas dari ketegangan?"

 

 Keduanya memang terkejut mendengar pertanyaan itu. Namun kemudian Sambi Wulung menjawab, "Aku memang terpengaruh oleh perkelahian yang baru saja terjadi antara anak-anak muda di tempat seperti ini."

 

 Kiai Windu tertawa. Katanya, "Minumlah minuman kalian."

 

 Keduanya mengangguk-angguk. Sejenak kemudian maka mereka pun telah menghabiskan minuman mereka dan beberapa potong makanan.

 

 Sambi Wulunglah yang kemudian membayarnya sambil berdesis, "Akulah sekarang yang membayar."

 

 KIAI WINDU tersenyum. Namun ia tidak menjawab. Demikianlah mereka pun kemudian meninggalkan kedai itu. Sebelum mereka melihat ditempat yang lain, maka mereka telah singgah di tempat sabung ayam. Ternyata tempat itu sudah menjadi semakin ramai. Mereka yang bertaruh pun sudah menjadi semakin banyak. Bahkan taruhannya pun sudah meningkat semakin tinggi. 

 

 Sambi Wulung dan Jati Wulung memang menjadi berdebar-debar melihat uang dalam jumlah yang besar telah berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain. Meskipun untuk memasuki tempat itu mereka juga sudah dibekali dengan uang cukup, namun mereka merasa terlalu kecil sebagai penjudi dibanding dengan orang-orang yang telah lebih dahulu pernah datang ditempat itu di musim-musim perjudian sebelumnya.

 

 Kiai Windu pun kemudian memanggil ketiga orang kawannya yang telah menjadi sangat asyik melihat sabung ayam itu. Bahkan di luar sadar, mereka pun kadang-kadang telah ikut berteriak-teriak.

 

 "He," desis Kiai Windu. "Apakah kau masih akan berada disini?"

 

 Ketiganya termangu-mangu. Namun kemudian, "Kita akan kemana?"

 

 Kiai Windu memandang Sambi Wulung dan Jati Wulung bergantian. Lalu ia pun bertanya, "Kau belum akan mulai?"

 

 Keduanya menggeleng. Namun tiba-tiba saja Jati Wulung berkata, "Aku sudah letih berkeliling."

 

 "Lalukaumauapa?"bertanyaKiaiWindu .

 

 "Aku akan beristirahat saja sambil melihat panahan," jawab Jati Wulung.

 

 Kiai Windu mengangguk-angguk. Katanya, "Baiklah. Kita pergi ke tempat panahan."

 

 Tetapi salah seorang dari kawannya berkata, "Aku disini saja."

 

 "Kau sudah akan mulai?" bertanya Kiai Windu.

 

 "Belum. Tapi aku ingin melihat suasananya sampai nanti sore," jawab orang itu.

 

 Ternyata kedua orang kawannya yang lain juga lebih senang berada ditempat sabung ayam itu. Sehingga karena itu mereka tidak ikut dengan Kiai Windu.

 

 Dalam pada itu Jati Wulung pun sempat berbisik ditelinga Sambi Wulung, "Kita harus mengumpulkan modal lebih besar lagi menilik taruhan orang-orang yang ikut dalam taruhan sabung ayam itu.

 

 Sambi Wulung mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab.

 

 Waktu mereka kemudian telah mereka habiskan sebagian besar untuk melihat panahan dan paseran. Namun kedua orang itu sudah mengambil keputusan, bahwa mereka akan menambah modal mereka dalam panahan itu.

 

 "Aku kira kita akan dapat mengimbangi kemampuan mereka," berkata Sambi Wulung.

 

 "Tetapi anak-anak muda yang dianggap sebagai pemanah-pemanah yang baik itu belum turun hari ini," berkata Jati Wulung.

 

 Demikianlah, hari itu keduanya baru sekadar melihat-lihat arena perjudian itu bersama Kiai Windu. Mereka juga singgah sejenak di barak tempat orang-orang bermain dadu. Sebuah perselisihan kecil telah terjadi antara dua orang yang ikut bertaruh dengan para petugas, sehingga hampir saja kedua orang itu dilemparkan keluar Namun persoalan mereka ternyata dapat diatasi, sehingga kedua orang itu masih tetap diperkenankan untuk ikut dalam permainan dadu itu.

 

 Di hari berikutnya Sambi Wulung dan Jati Wulung memang sudah berniat untuk turun ke lapangan panahan. Tetapi mereka tidak akan melakukannya dengan serta merta. Mereka akan melihat-lihat dahulu. Baru kemudian mereka akan turun sebagaimana dikatakan oleh Jati Wulung, bahwa mereka berniat untuk menambah modal mereka, meskipun kemungkinan yang sebaliknya memang dapat terjadi.

 

 Ketika malam turun, maka arena sabung ayam dan tempat panahan pun menjadi sepi. Tetapi tempat permainan dadu justru menjadi semakin ramai.

 

 TETAPI Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak begitu berminat untuk mulai dengan permainan itu. Karena itu, maka mereka hanya menengok saja. Kemudian mereka habiskan waktu mereka untuk berada di bilik. Berganti-ganti mereka menyempatkan diri untuk tidur dalam waktu yang agak panjang. 

 

 Berbeda dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung, Kiai Windu dan ketiga orang kawannya berada cukup lama di arena permainan dadu. Tetapi ternyata mereka berempat pun masih belum mulai bertaruh.

 

 Ketika lewat tengah malam mereka kembali ke dalam bilik, mereka melihat Jati Wulung yang sedang tidur dengan nyenyaknya sementara Sambi Wulung duduk bersila sambil menyilangkan tangannya di dada.

 

 Ketika Kiai Windu tersenyum, Sambi Wulung berkata, "Apa kau masih akan bertanya, kenapa kau belum tidur?"

 

 "Tidak," berkata Kiai Windu sambil tertawa.

 

 Sambi Wulung pun tersenyum pula. Tetapi ialah yang justru bertanya, "Nampaknya kau menang di permainan dadu itu?"

 

 "Sekeping pun aku belum ikut bertaruh," jawab Kiai Windu.

 

 "Apakah kebiasaanmu memang begitu?" bertanya Sambi Wulung.

 

 "Ya. Aku baru mulai pada hari ketiga atau justru keempat, ketika orang-orang lain mulai kehilangan akal. Tetapi untuk tidak menarik perhatian, di hari kedua kadang-kadang aku juga ikut meskipun hanya sekadarnya," jawab Kiai Windu.

 

 "Dalam tempat seperti ini, ternyata kau masih mampu juga mengendalikan diri," berkata Sambi Wulung.

 

 "Kalian pun harus dapat berbuat seperti itu," desis Kiai Windu. "Jika kita dicengkam oleh perasaan saja, maka akhirnya kita akan menjadi orang yang pertama sekali mempergunakan bilik disudut itu."

 

 Sambi Wulung mengangguk-angguk. Sementara itu ternyata Jati Wulung telah terbangun pula. Masih sambil memejamkan matanya ia berkata, "Tidur. Ayo tidur sajalah."

 

 Sambi Wulung tersenyum. Katanya, "Tidurlah. Bukankah giliranmu sekarang tidur?"

 

 Jati Wulung tidak menjawab lagi.

 

 Sejenak kemudian, maka orang-orang yang lain pun telah berbaring pula. Ternyata seorang di antara mereka duduk disebelah Sambi Wulung sambil berdesis, "Kita memang harus berhati-hati ditempat seperti ini. Apalagi di hari-hari ketiga, keempat dan seterusnya. Beberapa orang telah mulai kehilangan akal. Namun banyak juga yang sempat mengendalikan dirinya.

 

 "Bagaimana dengan anak-anak muda itu?" bertanya Sambi Wulung.

 

 "Mereka hampir selalu kalah. Tetapi nampaknya kekalahan itu bukan soal bagi mereka, sehingga mereka seakan-akan tidak pernah nampak gelisah. Ketika datang membawa uang cukup banyak pula," jawab kawan Kiai Windu itu.

 

 Sambi Wulung mengangguk-angguk. Ketika seorang kawan Kiai Windu yang lain, yang telah berbaring mendekam, maka Sambi Wulung pun tahu, bahwa orang itu agaknya ingin dapat tidur nyenyak tanpa terganggu oleh pembicaraannya.

 

 Karena itu, maka sejenak kemudian kamar itu pun menjelang hening.

 

 Ketika matahari terbit, maka segala sesuatunya mulai sibuk lagi di Song Lawa itu. Memang masih ada beberapa orang yang karena mereka bermain dadu hampir semalam suntuk masih tidur pulas.

 

 Tetapi persaingan-persaingan di lapangan panahan telah dilakukan. Sasaran untuk kelompok-kelompok pemanah telah dipasang paseran. Sementara di arena sabung ayam pun semua persiapan telah dilakukan.

 

 Dalam pada itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung pun sudah bersiap. Kiai Windu yang ingin menyaksikan keduanya turun di arena berkata sambil tersenyum, "Aku ingin melihat, apakah kalian akan dapat menambah modal kalian untuk turun ke permainan dadu atau justru malah sebaliknya. Jika kalian kalah dalam panahan, aku minta kalian tidak dengan cepat berputus asa."

 

 SAMBI WULUNG dan Jati Wulung tertawa. Dengan nada tinggi Jati Wulung berkata, "Kiai, bukan baru kali ini aku turun ke arena perjudian. Sudah aku katakan, bahwa aku telah mendatangi beberapa tempat perjudian yang lebih besar dari tempat ini. Tetapi tidak segila Song Lawa ini."

 

 Kiai Windu mengangguk-angguk. Sementara itu seorang kawannya berkata, "Marilah. Kita makan dahulu."

 

 Setelah mereka makan di kedai, maka mereka pun telah pergi ke lapangan panahan. Ternyata bahwa panahan telah mulai beberapa rambahan. Beberapa orang telah berkeringat, sementara pertarungan disetiap kalangan nampaknya ramai dan seimbang. Sebenarnyalah mereka yang turun ke lapangan panahan tentu orang-orang yang merasa dirinya memiliki kemampuan yang tinggi.

 

 Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak segera turun ke arena. Untuk beberapa saat mereka masih melihat-lihat arena yang manakah yang paling baik untuk dimasuki.

 

 Sambi Wulung dan Jati Wulung termangu-mangu sejenak, ketika mereka melihat beberapa anak muda ada di lapangan panahan. Tetapi ternyata mereka tidak berada pada kelompok yang sama. Wirakrama berada di kelompok dua sementara Puguh berada di kelompok lima. Sedangkan anak muda yang agak gemuk dan kasar itu agaknya masih melihat-lihat seperti beberapa orang lain disekitar lapangan panahan itu.

 

 "Nah, kapan kau akan mulai?" bertanya Kiai Windu.

 

 Sambi Wulung dan Jati Wulung berpaling. Tetapi mereka tidak menjawab. Keduanya hanya tersenyum saja, sementara Kiai Windu menjadi termangu-mangu.

 

 Beberapa saat Sambi Wuung sempat menilai sekelompok pamanah pada kelompok tiga. Agaknya Sambi Wulung yakin, jika ia memasuki kelompok itu, maka ia tidak akan kalah.

 

 Karena itu, maka Sambi Wulung pun telah mendekati kelompok ketiga sementara Jati Wulung berdiri termangu-mangu sambil menilai orang-orang di kelompok keenam.

 

 Kepada seorang petugas Sambi Wulung menyatakan diri untuk memasuki kelompok ketiga.

 

 "Kau tidak membawa busur dan anak panah sendiri?" bertanya petugas itu.

 

 "Tidak. Bukankah disini ada persediaan?" bertanya Sambi Wulung.

 

 "Memang ada. Tetapi jangan bagi para pemanah yang baik memakai busur dan anak panah dari persediaan disini. Mereka biasanya memakai busur dan anak panah mereka masing-masing, karena mereka telah mengenal benar sifat dan watak busur dan anak panah mereka," berkata petugas itu.

 

 Sambi Wulung tersenyum. Katanya, "Aku tidak mempunyai busur dan anak panah."

 

 "He," petugas yang juga bertubuh raksasa itu heran, "Jika kau tidak mempunyai busur dan anak panah, bagaimana kau dapat berlatih memanah?"

 

 Sambi Wulung mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun menjawab, "Maksudku, busur dan anak panah yang pantas untuk dibawa keluar dan turun di arena seperti ini."

 

 Petugas itu menganggu-angguk. Namun ia pun kemudian mempersilakan Sambi Wulung yang menyebut dirinya Wanengbaya itu untuk memilih beberapa busur yang memang disediakan.

 

 Beberapa saat Sambi Wulung itu memilih. Ketika ia kemudian mendapat busur dan anak panah yang dianggapnya sesuai berat dan panjangnya, maka ia pun telah mempergunakannya.

 

 Ketika ia sudah duduk di deretan para pemanah di kelompok ketiga, maka ternyata Jati Wulung masih berdiri tegak. Ternyata di kelompok keenam itu terdapat seorang yang memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Seorang yang berkumis lebat, bertubuh tinggi tegap. Hampir disetiap rambahan anak panahnya ada yang hinggap disasaran.

 

 Ketika rambahan-rambahan berikutnya berlangsung, orang itu menjadi semakin menarik perhatian. Ketika tiba-tiba saja anak panahnya hinggap di kepala sasaran, maka beberapa orang penontonpun telah bertepuk tangan sambil bersorak. Bahkan beberapa orang pengikut dikelompok itu ikut bertepuk tangan pula. .

 

 JATI WULUNG mengangguk-angguk. Dengan kenyataan itu maka ia pun berkata kepada diri sendiri, “Agaknya orang inilah yang membuat kelompok ini tidak diikuti oleh terlalu banyak orang. Sementara itu, hampir tanpa sadar, orang yang berdiri disebelahnya berkata, “Orang itu memang gila. Hampir disetiap musim ia berada di Song Lawa. Disini ia biasanya menang, meskipun dipermainan dadu ia selalu kalah.” 

 

 Jati Wulung mengangguk-angguk. Ia pun kemudian bertanya, “Apakah tidak ada orang lain yang pernah mengimbangi kemampuannya?”

 

 “Jangan sekali. Setinggi-tingginya seseorang akan dapat mengimbanginya. Tetapi tidak melampauinya,” berkata orang itu.

 

 Jati Wulung tidak menyahut. Tetapi ia memperhatikan beberapa orang pemanah yang lain yang memang nampaknya menjadi gelisah, meskipun sekali-kali mereka ikut bertepuk pula.

 

 Namun dalam pada itu, sebelum Jati Wulung memasuki arena, seorang yang masih terhitung muda, berwajah tampan dan berpakaian rapi telah memasuki arena. Seorang pengawalnya membawa busur dan anak panah yang bagus sekali. Agak lebih bagus dengan busur dan anak panah para peserta lain.

 

 Dengan demikian maka Jati Wulung telah manahan diri barang sejenak. Ia ingin melihat orang baru itu. Apakah ia akan dapat mengimbangi atau bahkan melampaui pemanah yang berkumis tebal itu.

 

 Pemanah yang berpakaian rapi itu pun kemudian telah mulai pula melontarkan anak panahnya. Pada rambahan-rambahan pertama ia masih belum menunjukkan kelebihannya. Tetapi pada rambahan-rambahan berikutnya, ternyata orang berpakaian rapi itu mampu menyaingi orang yang berkumis lebat itu.

 

 Dengan demikian maka di kelompok enam itu, panahan menjadi sangat menarik. Beberapa kali terdengar sorak dan tepuk tangan di antara para penonton bagi kedua orang itu.

 

 “Mereka memang memiliki kemampuan iblis,” desis orang disebelah Jati Wulung itu.

 

 “Memang luar biasa,” sahut Jati Wulung.

 

 Namun Jati Wulung pun berpaling ketika seorang menggamitnya. Ternyata seorang di antara kawan-kawan Kiai Windu.

 

 “Wanengbaya sudah mulai. Apakah kau jadi akan turun atau tidak?” bertanya orang itu.

 

 “Kenapa tergesa-gesa?” bertanya Jati Wulung yang dikenal dengan nama Wanengpati itu.

 

 Kawan Kiai Windu itu pun ikut pula melihat arena. Ternyata ia pun berdesis, “Jangan turun di kelompok ini. Kedua orang itu telah menaruh mata di ujung anak panah mereka masing-masing.”

 

 Jati Wulung mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia bertanya, “Apakah keduanya belum pernah dikalahkan?”

 

 “Hanya orang yang coba-coba saja yang berani memasuki arena ini atau orang baru seperti kau,” jawab kawan Kiai Windu itu.

 

 Jati Wulung mengangguk-angguk. Dengan seksama ia memperhatikan kedua orang itu. Ternyata sambutan atas keduanya dari para penonton menjadi demikian meriah. Bahkan beberapa orang telah berteriak-teriak sambil bertepuk tangan.

 

 Namun tiba-tiba suasana menjadi hening. Seorang yang berkepala botak telah memasuki arena sambil tertawa. Suaranya meninggi disela-sela kata-katanya. “Luar biasa. Kalian memang pembidik-pembidik yang pantas disegani. Kalian akan dapat menghisap semua uang yang dipertaruhkan di kelompok ini,” orang itu berhenti sejenak, lalu. “Tetapi itu tidak pantas. Harus ada orang lain yang dapat mengimbangi kemampuan kalian. Mungkin kalian belum mengenal aku. Aku memang orang baru di Song Lawa ini.”

 

 Semua orang memandanginya. Orang berkepala botak itu telah duduk di antara para pemanah. Sesaat ditelitinya busur dan anak panahnya yang memang sangat baik dan tentu harganya pun sangat mahal.

 "SILAKAN mulai," berkata orang itu. "Kenapa kalian menjadi seperti orang bingung." "Tidak Ki Sanak," sahut pemanah yang pertama. "Kami tidak menjadi bingung. Kami hanya ingin mengenal kau sebagai orang baru disini. Sudah sepantasnya kami menghormati tamu kami yang datang kemudian." "Terima kasih atas perhatian Ki Sanak," jawab orang berkepala botak itu. Sementara pemanah yang berpakaian rapi itu pun berkata, "Silakan mulai Ki Sanak." 

 

 Orang-orang di dalam kelompok itu pun segera mempersiapkan diri. Anak-anak yang menjadi pemungut anak panah pun telah bersiap pula. Orang berkepala botak itu tidak membiarkan anak Song Lawa itu memungut anak panahnya. Ternyata ia telah membawa sendiri.

 

 "Anak panahku memerlukan perawatan khusus," katanya.

 

 Demikianlah sejenak kemudian orang-orang yang ada di dalam kelompok itu mulai meluncurkan anak panah masing-masing. Susul-menyusul. Masing-masing dengangaya dan cara mereka sendiri-sendiri.

 

 Ternyata bahwa para penonton pun telah bersorak-sorak kembali. Orang berkepala botak itu memang mampu menempatkan dirinya sejajar dengan kedua orang pemanah terbaik sebelumnya.

 

 Parapemanah di kelompok-kelompok yang lain pun nampaknya tertarik pada sorak-sorai itu. Tetapi mereka berusaha untuk memusatkan perhatian mereka pada sasaran dihadapan setiap kelompok masing-masing.

 

 Wirakrama yang merasa dirinya juga memiliki kemampuan yang tinggi berkata kepada diri sendiri, "Besok aku akan berada di kelompok yang gila itu."

 

 Sementara itu, orang yang berkepala botak dan merupakan orang baru itu semakin lama menjadi semakin menarik perhatian. Ia mulai menunjukkan, bahwa ia memiliki kemampuan lebih baik dari setiap orang. Bahkan sekali-kali ia berkata dengan nada sombong, "Ternyata di Song Lawa aku tidak mendapat lawan yang memadai."

 

 Kedua orang pemanah terbaik di kelompok itu sebelumnya memang menjadi panas. Tetapi mereka memang tidak dapat mengingkari kenyataan. Setiap rambahan berlangsung, maka hampir selalu uang taruhan mengalir ke orang yang berkepala botak dan tidak memakai ikat kepalanya itu.

 

 Orang-orang yang mula-mula bertepuk tangan untuk menyambutnya, tiba-tiba menjadi kurang senang karena sikapnya yang sombong. Setiap kali ia selalu berteriak dengan nada tinggi, memuji kemampuannya sendiri.

 

 Namun ia dapat membuktikan bahwa ia mulai menang dalam taruhan itu. Bahkan bukan sedikit.

 

 Ternyata Jati Wulung yang masih berdiri di pinggir arena, tidak dapat menahan diri lagi melihat sikap orang itu. Tanpa Sambi Wulung, maka tidak ada orang yang mengekangnya. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia telah mendatangi petugas dan menyatakan diri untuk masuk ke arena.

 

 "Kau tidak membawa busur dan anak panah?" bertanya petugas itu.

 

 "Pinjami aku," jawab Jati Wulung.

 

 PETUGAS itu menjadi heran. Dengan nada rendah ia bertanya, "Kau sudah melihat, siapa bakal lawan-lawanmu?" "Sudah," jawab Jati Wulung. 

 

 Petugas itu hanya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia memberikan busur dan anak panah dari persediaan yang ada. Sudah tentu bukan busur dan anak panah yang baik.

 

 Ketika Jati Wulung memasuki arena, ternyata tidak kalah menariknya dari saat orang berkepala botak itu turun. Bukan karena sikapnya, kesombongannya atau kata-katanya yang gemuruh disela-sela derai tertawanya. Tetapi justru karena kesederhanaannya. Apalagi busur dan anak panahnya, yang mereka ketahui, dipinjami dari persediaan yang ada di tempat itu.

 

 Demikian Jati Wulung duduk, seorang anak telah siap untuk menjadi pemungut anak panahnya.

 

 Namun ternyata orang berkepala botak itu telah menyapanya, "He Ki Sanak. Apakah kau memang agak kurang waras?"

 

 Jati Wulung termangu-mangu. Sementara itu orang-orang yang telah beberapa kali berada di Song Lawa, melihat orang itu juga orang baru sebagaimana orang berkepala botak itu.

 

 "He, apakah kau selain gila juga tuli?" orang berkepala botak itu hampir berteriak.

 

 Jati Wulung berpaling kepada orang yang botak itu. Namun kemudian ia menunjuk ke arah sasaran sambil berkata, "Sasaran itu ada disana. Marilah, siapakah di antara kita yang dapat mengenai di bagian kepalanya."

 

 Orang berkepala botak itu menggeram sambil berkata, "Kau benar-benar telah menjadi gila. Kau ikut dalam panahan di kelompok ini dengan busur dan anak panah buangan seperti itu."

 

 Jati Wulung tidak menjawab. Tetapi dipandanginya sasaran itu dengan seksama.

 

 Di saat Jati Wulung memasuki arena dengan busur dan anak panah pinjaman, tidak terlalu banyak orang yang memperhatikan, karena kelompok yang dimasukinya tidak menjadi panas seperti kelompok enam yang kemudian diikuti oleh Jati Wulung.

 

 Kawan Kiai Windu yang berada di dekat arena keenam itu menjadi tegang. Ia tahu pasti bahwa Jati Wulung adalah seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi ia belum yakin bahwa ia adalah seorang pembidik yang akan mampu melampaui ketiga orang yang telah memanaskan arena keenam itu.

 

 Sejanak kemudian pada rambahan berikutnya, Jati Wulung telah ikut pula melepaskan anak panahnya. Ketika ia melepaskan anak panahnya yang pertama, maka ia masih menjajagi sifat dan watak busur yang dipergunakannya. Sementara itu, menurut penilikannya, anak panah yang akan dipergunakan meskipun ujudnya kurang baik, tetapi adalah anak panah bisa dan baik lari serta arahanya tidak terlalu buruk.

 

 Ketika anak panahnya yang pertama tidak mengenai sasaran, maka orang berkepala botak itu berteriak, "He, orang yang kurang waras. Berikan saja taruhanmu itu kepadaku tanpa bersusah payah melepaskan anak panah. Kau tidak dapat menyentuh sasaran yang paling buruk sekalipun. Bahkan anak panahmu akan dapat mengenai gundul yang justru kau akan didenda separo dari uang taruhanmu di samping uang taruhanmu itu seluruhnya."

 

 Jati Wulung tidak menjawab. Ia sudah mulai memasang anak panah yang kedua.

 

 Sementara itu, ketiga orang yang terbaik di kelompok itu ternyata telah mulai melepaskan anak panah mereka. Ternyata mereka pun tidak dengan serta merta mengenainya. Bahkan dari enam anak panah, tidak lebih dari dua di antaranya yang akan dapat mengenai sasaran, seperti di rambahan-rambahan sebelumnya. Itu pun sudah merupakan hasil terbaik dari pemanah terbaik saat itu. Bahkan sekali-kali di antara ketiga pemanah itu, dalam satu rambahan tidak lebih dari satu panah yang mengenainya. Sedangkan orang lain, pada beberapa rambahan, barulah anak panah mereka dapat hinggap di sasaran. Tetapi pernah juga terjadi seseorang yang dapat menancapkan empat anak panah. Tetapi tentu saja itu hanya satu kebetulan dan terjadi dalam seratus rambahan sekali. .

 SEMENTARA itu, Jati Wulung yang panas, benar-benar berniat menunjukkan bahwa ia pun mampu melakukan sebagaimana dilakukan oleh ketiga orang itu. Meskipun ketika anak panahnya yang pertama agak jauh dari sasaran, tetapi ia yakin akan dapat melakukan jauh lebih baik. Apalagi ketika ia mengetahui bahwa ketiga orang terbaik itu telah menertawakannya. 

 

 Sebenarnyalah bahwa Jati Wulung adalah seorang pemanah yang terlalu baik untuk sekadar bertaruh sebagaimana Sambi Wulung. Keduanya adalah orang-orang yang ditempa di perguruan yang bukan saja belajar membidik sasaran yang diam. Tetapi keduanya telah berlatih dengan tekun membidik sasaran yang bergerak. Dengan tempat keduanya dapat mengenai jantung seseorang yang berlari kencang. Latihan-latihan yang pernah dilakukan adalah membidik dan memanah kantung-kantung kecil berisi pasir yang dilemparkan. Bahkan kemudian sasaran-sasaran yang lebih kecil. Batang pisang yang dipotong hanya sebesar genggaman tangan dan dilemparkan ke udara, dapat dikenai sekaligus oleh tiga anak panah berurutan.

 

 Saat itu, Jati Wulung menghadapi sasaran yang diam tergantung dihadapannya meskipun agak jauh.

 

 Karena itu, maka ia pun yakin akan dapat mengenainya kapan saja ia menghendakinya.

 

 Ketika orang-orang lain di kelompok itu telah melepaskan anak panah mereka pula, namun belum satu pun di antara anak panah itu yang mengenai sasaran yang tatarannya paling rendah sekalipun, Jati Wulung benar-benar telah membidikkan anak panahnya. Ia ingin mengenai sasaran itu pada tataran terendah, namun yang masih menghasilkan nilai. Karena jika ia mengenai gundul dari sasaran itu, maka justru ia akan didenda.

 

 Beberapa saat Jati Wulung melihat beberapa anak panah yang meluncur ke arah sasaran. Namun anak panah itu ternyata masih belum ada yang menyentuhnya.

 

 Bahkan tiba-tiba saja orang-orang yang menyaksikan panahan di kelompok enam itu bersorak disertai ejekan-ejenkan yang menyakitkan, ketika satu di antara anak panah itu justru mengenai gundul.

 

 Pada saat yang demikian, Jati Wulung telah melepaskan anak panahnya. Anak panah itu meluncur cepat menuju sasaran sebagaimana dikehendaki. Ternyata bahwa anak panahnya benar-benar telah mengenai badan dari tubuh sasaran itu sebagaimana ia inginkan.

 

 Sorak itu telah terdengar lagi. Namun dalam nada yang berbeda. Orang-orang yang menonton dikelompok yang lain menjadi panas itu pun telah bertepuk pula bagi anak panah Jati Wulung. Apalagi kawan Kiai Windu.

 

 Tetapi sejenak kemudian sorak itu telah disusul oleh sorak berikutnya. Satu anak panah dari orang berkepala botak itu telah mengenai badan sasaran itu pula.

 

 Namun orang berkepala botak itu masih juga mengumpat, "Setan belang. Kau mendahului aku he?"

 

 Jati Wulung diam saja. Sementara itu kedua orang pemanah yang lain pun telah berusaha dengan segenap kemampuan mereka membidik dengan sebaik-baiknya.

 

 Sorak yang meledak telah mendengar pula. Ternyata pemanah terbaik yang pertama-tama ada di arena itu justru telah mengenai leher dari tubuh sasaran. Dengan demikian ia telah mendapat nilai lebih tinggi dari pemanah berkepala botak itu. Dan sorak itu pun disusul lagi ketika pemanah yang kemudian juga memasuki arena sebelum orang berkepala botak itu juga sempat menancapkan anak panahnya, meskipun tidak lebih pada badan sasaran.

 

 Namun arena keenam itu telah benar-benar bagaikan membara. Sorak dan teriakan-teriakan penonton pun membuat telinga menjadi semakin merah.

 KETIKA sorak yang gemuruh itu mereda, maka barulah orang-orang lain membidikkan anak panahnya. Mereka pun berusaha untuk mengenai sasaran. Karena nilai-nilai yang mereka dapat akan berarti mengurangi nilai kekalahan mereka. 

 

 Orang berkepala botak itu benar-benar telah kehilangan kemampuan bidiknya oleh kegelisahan dan ketidaksenangannya terhadap Jati Wulung. Setiap kali ia mengumpat kasar dan diperlakukannya busur dan anak panahnya yang baik dan mahal itu dengan kasar pula.

 

 Berbeda dengan orang itu, maka pemanah-pemanah yang lain, termasuk kedua orang pemanah terbaik sebelumnya, menerima kenyataan itu. Karena itu mereka justru menjadi tenang. Mereka mampu mempergunakan kesempatan mereka untuk mengurangi kekalahan mereka, sehingga mereka tidak harus membayar terlalu banyak. Apalagi dengan sengaja Wanengpati telah mengurangi kemenangannya dengan membiarkan anak panahnya mengenai sasaran yang justru dikenakan nilai denda.

 

 Pada kedua rambahan itu, Jati Wulung sudah mendapatkan kemenangan lebih besar dari Sambi Wulung. Namun dengan demikian lawan-lawannya yang lain pun menjadi ragu-ragu. Jika mereka meneruskan permainan maka mereka tidak akan mempunyai harapan sama sekali. Berbeda dengan ketiga orang pemanah sebelumnya, yang betapapun tinggi kemampuannya, namun mereka masih belum mampu menentukan sasaran sebagaimana dikehendakinya setiap saat.

 

 Agaknya Jati Wulung melihat hal itu. Ia pun memang sudah merasa puas setelah memaksa orang botak yang sombong itu mengakui kekalahannya dihadapan sedemikian banyak saksi. Karena itu, maka Jati Wulung pun kemudian berdiri sambil berkata, "Aku tidak melanjutkan permainan ini agar ada orang lain yang sempat mendapatkan kemenangan."

 

 "Persetan," geram orang yang botak itu.

 

 Jati Wulung berpaling kearahnya. Tetapi ia melihat bahwa kesombongan orang berkepala botak itu sudah runtuh. Apapun yang dilakukan, maka orang-orang yang ada di kelompok enam itu tahu, bahwa ia bukan orang yang tidak terkalahkan.

 

 Karena itu, maka Jati Wulungpun tidak menghiraukannya lagi. Ia pun kemudian telah mengembalikan busur dan anak panah kepada petugasnya. Memberikan sedikit uang kepadanya dan bagi anak yang telah memungut anak panahnya. Kemudian Jati Wulung pun melangkah meninggalkan arena keenam itu.

 

 Ketiga orang kawan Kiai Windu pun segera mendapatkannya. Dengan nada tinggi seorang di antara mereka berkata, "Kau memang luar biasa. Aku menjadi tidak merasa sakit hati pernah kau kalahkan, karena kau memang pantas melakukannya atas kami."

 

 "Jangan memuji seperti itu," berkata Jati Wulung. "Jika kau ingin makan, marilah. Aku akan membayarnya."

 

 "Ah kau," desis kawan Kiai Windu yang lain. "Hanya makan?"

 

 "Habis. Kau mau apa?" bertanya Jati Wulung.

 

 "Tidak apa-apa," jawab kawan Kiai Windu.

 NAMUN kedua kawannya yang lain tersenyum sambil memandanginya. Seorang di antaranya berkata, "Kenapa kau tidak berterus terang." "Terus terang tentang apa? Aku memang tidak menghendaki apa-apa," jawab orang itu. "Penari itu?" desis kawannya yang lain. "Ah kau. Omong kosong," geram orang itu sambil melangkah pergi. 

 

 Kedua kawannya tertawa. Sementara Jati Wulung pun tertawa pula.

 

 Ketika mereka meninggalkan arena keenam itu, maka beberapa orang masih saja memperhatikannya. Namun orang-orang itu tidak mengikutinya atau meninggalkan arena itu. Bahkan kemudian mereka pun mulai memperhatikan panahan yang berlangsung lebih mapan setelah diguncang oleh Jati Wulung dengan kemampuannya yang luar biasa. Bahkan kemudian orang-orang yang tidak ikut memegang busur dan anak panah pun dapat ikut bertaruh pula dengan cara mereka masing-masing.

 

 Ketika Jati Wulung kemudian sampai di arena pada kelompok yang diikuti oleh Sambi Wulung, maka ia pun telah melihat cara yang ditempuh oleh saudara seperguruannya itu. Tiba-tiba saja jantungnya merasa berdebar-debar mengingat apa yang telah dilakukannya. Karena dengan demikian, maka seolah-olah telah tertutup kemungkinan baginya untuk ikut serta dalam permainan panahan, karena setiap orang telah mengetahui kemampuannya yang tidak terkalahkan. Sementara itu Sambi Wulung yang mampu mengendalikan dirinya, telah mempergunakan cara yang lebih halus.

 

 Akhirnya Jati Wulung justru telah terduduk dibawah sebatang pohon di pinggir lapangan. Keringatnya yang membasahi keningnya sekali-kali disekanya dengan lengan bajunya.

 

 Kiai Windulah yang kemudian mendekatinya. Dengan nada rendah itu pun bertanya, "Kau letih?"

 

 "Ya," jawab Jati Wulung.

 

 "Kau terlalu tegang," berkata Kiai Windu yang kemudian duduk disebelahnya. Wanengbaya tidak melakukan cara seperti yang kau lakukan. Sampai sekarang ia masih bertahan ditempatnya."

 

 "Ya. Aku menjadi panas karena penonton yang seakan-akan menjadi gila, serta pemanah yang memang membuat jantungku seakan-akan semakin cepat bergetar," berkata Jati Wulung.

 

 "Karena itulah kau harus berhati-hati. Terutama terhadap orang yang dianggapnya sebagai pemanah-pemanah terbaik itu. Mungkin ada yang menerima kenyataan itu. Asal kau tidak turun ke arena maka tidak ada lagi masalah baginya. Tetapi dada yang mungkin berpendirian, bahwa kau tidak boleh untuk seterusnya turun ke arena panahan di tempat yang disebut Song Lawa ini," berkata Kiai Windu kemudian.

 

 Jati Wulung mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud Kiai Windu. Dengan nada berat ia berkata, "Aku akan berhati-hati Kiai. Terima kasih atas peringatan itu. Sebenarnya aku tidak berniat untuk berbuat demikian. Tetapi perasaan inilah yang rasa-rasanya telah membakar jantung."

 

 Kiai Windu tersenyum. Ia memang serba sedikit dalam pergaulannya yang singkat, dapat mengenali watak Jati Wulung yang agak lebih panas dari Sambi Wulung.

 

 "Beristirahatlah," berkata Kiai Windu. "Aku akan melihat panahan itu lagi."

 

 SepeninggalKiaiWindu,JatiWulungsemakinmerenungidirinyasendiri .Ia pun kemudian bersandar sebatang pohon sambil memandangi daunnya yang bergerak disentuh angin. Rasa-rasanya sejuknya bayangan dedaunan serta angin yang mengusap tubuh membuatnya mengantuk. Namun Jati Wulung tidak tertidur karena setiap kali terdengar sorak yang meledak dari para penonton yang telah ikut bertaruh di lapangan panahan.

 

 Bagi Jati Wulung, Kiai Windu memang merupakan orang yang agak lain dengan orang-orang yang dikenalinya di Song Lawa itu. Meskipun ilmu Kiai Windu tidak mampu menyamainya, tetapi sikapnya yang mengendap dan berpandangan luas itu, membuatnya menjadi hormat kepadanya.

 

 TERNYATA Jati Wulung harus menunggu sampai menjelang matahari turun. Sambi Wulung agaknya cukup telaten ikut dalam panahan itu. Namun ketika matahari bagaikan membakar tengkuknya, serta kemenangannya untuk hari ini sudah dianggap cukup, ia pun telah meninggalkan arena. 

 

 Ketika Sambi Wulung itu melihat Jati Wulung duduk bersandar sebatang pohon sambil merenung, maka ia pun telah mendekatinya.

 

 "Kenapa kau?" bertanya Sambi Wulung.

 

 Kawan Kiai Windu yang mendekati merekalah yang menjawab, "Ia telah mabuk karena kemenangan."

 

 Sambi Wulung mengerutkan keningnya. Sementara Jati Wulung sama sekali tidak beranjak dari tempatnya.

 

 "Tunggulah," berkata Sambi Wulung. "Aku akan mengembalikan busur dan anak panah ini."

 

 Jati Wulung masih belum menjawab. Sementara Sambi Wulung pun kemudian telah mengembalikan busur dan anak panah, memberi sedikit uang kepada petugasnya dan juga kepada anak-anak yang menjadi pemungut anak panahnya.

 

 "Kau menang hari ini," berkata petugas yang bertubuh raksasa itu sambil tersenyum.

 

 Sambi Wulung pun tersenyum juga. Baginya nampak agak aneh, seorang yang bertubuh raksasa, berwajah kasar dan berkumis tebal itu tersenyum. Namun kemudian Sambi Wulung telah memberikan uang lagi kepadanya sambil berkata, "Mungkin besok aku akan meminjamnya lagi."

 

 "Baiklah," jawab orang itu. Lalu katanya, "Terima kasih. Aku doakan kau besok menang lagi."

 

 "Sambi Wulung tertawa. Namun ia tidak menjawab lagi.

 

 Sejenak kemudian, maka Sambi Wulung, Jati Wulung, Kiai Windu dan ketiga orang kawannya telah berjalan menuju ke kedai disebelah lapangan itu. Ketika mereka melewati kelompok-kelompok yang lain, mereka tidak lagi melihat Wirakrama di arena. Tetapi mereka masih melihat Puguh berada ditempatnya.

 

 Ternyata mereka berhenti beberapa saat. Namun dalam waktu yang pendek itu mereka sudah dapat menduga, bahwa setidak-tidaknya Puguh tidak kalah dalam taruhan di tempat panahan itu.

 

 Dalam pada itu, karena panasnya matahari, ternyata beberapa orang pemanah memang sudah meninggalkan arena. Tetapi ada saja orang lain yang menggantikannya, sehingga seakan-akan jumlah pesertanya tidak terlalu banyak berkurang. Apalagi menurut Kiai Windu, jika panas matahari mulai susut. Orang-orang baru akan turun pula menggantikan mereka yang telah menjadi kelelahan. Namun dalam pada itu, ketika mereka melanjutkan langkah mereka menuju ke kedai, Kiai Windu telah menceritakan apa yang didengarnya dari kawan-kawannya tentang Jati Wulung yang ternyata telah mengguncang arena panahan di lapangan itu.

 

 "Benar kau berbuat begitu?" bertanya Sambi Wulung.

 

 Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti bahwa jika Kiai Windu menyampaikan hal itu kepada Sambi Wulung, ia sama sekali tidak berniat buruk. Bahkan sebaliknya, agar Sambi Wulung yang dikenalnya bernama Wanengbaya itu juga menjadi berhati-hati.

 

 Dengan nada rendah Jati Wulung menjawab, "Hatiku dibakar oleh suasana yang panas serta sikap salah seorang pemanah yang sombong atas kelebihannya."

 

 "Dan kau terpancing untuk menjadi sombong juga," bertanya Sambi Wulung.

 

 Jati Wulung tidak menjawab. Namun Kiai Windulah yang berkata, "Sebaiknya kau tidak memasuki arena panahan untuk satu dua hari, karena kehadiranmu akan sangat berpengaruh terhadap kelompok itu."

 

 Jati Wulung mengangguk kecil. Katanya, "Aku mengerti."

 

 Sambi Wulung hanya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia pun mengerti, bahwa ketelanjuran itu mungkin akan mempunyai akibat tersendiri. Meskipun demikian Sambi Wulung berkata, "Mudah-mudahan orang-orang itu segera melupakannya."

 

 BEBERAPA saat kemudian, mereka berenam telah berada di kedai bersama beberapa orang yang lain. Kedai yang luas itu memang cukup menampung orang yang cukup. Keenam orang itu ternyata telah memilih tempat yang justru berada agak di luar, agar tidak merasa terlalu panas dan terlalu sibuk. 

 

 Ternyata bahwa perut yang lapar, kelelahan dan haus membuat mereka mapan sekali duduk disebuah amben yang besar berenam sambil menghadapi mangkuk masing-masing.

 

 Untuk beberapa saat, mereka masih dapat menikmati makanan dan minuman yang mereka pesan. Namun beberapa saat kemudian, tiba-tiba saja sebuah batu yang cukup besar, tidak kurang dari satu genggam tangan telah jatuh di mangkuk Jati Wulung sehingga mangkuk itu menjadi pecah.

 

 Serentak ia berpaling. Sementara itu suara tertawa telah terdengar memenuhi kedai itu.

 

 Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam. Ia teringat kepada seseorang yang telah memasukkan sekeping uang di mangkuk salah seorang dari kawan Kiai Windu. Namun yang dimasukkan ke dalam mangkuknya bukan uang, tetapi justru batu sebesar segenggam tangan sehingga memecahkan mangkuknya dan isinya pun telah berhamburan.

 

 Orang yang melemparkan batu itu ternyata adalah orang berkepala botak yang telah dikalahkannya di arena panahan.

 

 "Kau memang benar Kiai Windu," berkata Jati Wulung. "Aku tidak perlu menunggu besok atau malam nanti. Sekarang orang itu sudah menuntut kekalahannya."

 

 "Berhati-hatilah," berkata Kiai Windu. "Nampaknya orang itu bukan orang kebanyakan. Aku belum pernah melihat sebelumnya ia berada disini."

 

 Namun dalam pada itu Jati Wulung masih belum berbuat sesuatu. Ia memang menunggu orang itu mendekatinya.

 

 Sambil tertawa berkepanjangan, orang itu memang melangkah mendekat. Ia sama sekali tidak menghiraukan orang-orang di kedai itu. Sedangkan orang-orang di kedai itu pun tidak banyak pula yang memperhatikannya. Sesaat mereka memang berpaling ke arahnya. Namun kemudian mereka lebih baik memperhatikan makan dan minuman mereka daripada memperhatikan orang lain.

 

 "Kau adalah pemanah terbaik yang pernah aku temui," berkata orang berkepala botak itu. "Aku mengakui, bahwa kau telah melampaui kemampuanku memanah. Sebelumnya, akulah yang terbaik. Namun kehadiranmu membuat wibawaku menurun di lapangan panahan."

 

 "Bukan maksudku," berkata Jati Wulung. "Aku hanya sekadar mengambil kemenangan untuk makan siang ini."

 

 "Kau semakin menghinaku," berkata orang berkepala botak itu. "Kau justru sengaja mengenai sasaran dengan nilai denda. He, apakah kau memang ingin menantang aku?"

 

 Wajah Jati Wulung menjadi merah. Tetapi ketika ia melihat orang-orang disekitarnya masih tenang-tenang saja, maka ia pun menjadi tenang pula.

 

 "Ki Sanak," berkata orang berkepala botak itu. "Karena kau merebut wibawaku di arena panahan, maka aku ingin mendapatkannya kembali disini. Jika kau mau berjongkok dan minta maaf kepadaku, maka aku tidak akan mengganggumu lagi meskipun kau akan turun pula ke arena panahan. Aku dapat menyingkir ke kelompok lain atau melakukan kegiatan yang lain."

 

 Jati Wulung hampir kehilangan kesabarannya. Namun ia masih berusaha menguasai diri.

 

 "He.Kenapakaudiamsaja?Jikakausesalikesombonganmudiarenapanahanitu ,berjongkoklahcepatsebelumakumengambilkeputusan lain,"berkataorangberkepalabotakitu .

 

 Jati Wulung memang sudah menjadi panas. Ia pun kemudian turun dari amben.

 

 "Nah, ternyata kau berani mengakui kesalahanmu. Marilah. Aku akan mengampunimu," desis orang itu.

 

 Tetapi yang terjadi adalah diluar dugaan. Jati Wulung telah menyambar mangkuk di hadapan Sambi Wulung yang masih berisi minuman hangat. Dengan serta merta minuman itu telah dilontarkan ke wajah orang yang berkepala botak itu..

 

 ORANG berkepala botak itu ternyata sama sekali tidak menduga, sehingga karena itu, maka wedang sere hangat itu benar-benar telah menyiram wajahnya. Orang itu bergeser selangkah surut. Wajahnya menjadi merah bagaikan membara. Bukan saja karena minuman yangmasih hangat itu, tetapi juga karena kemarahan yang semakin memuncak. 

 

 Orang-orang yang ada di dalam kedai itu memang tertarik melihat sikap Jati Wulung. Semula mereka menduga bahwa Jati Wulung yang menyebut dirinya bernama Wanengpati itu memang benar-benar akan berlutut. Tetapi ternyata yang dilakukan justru sebaliknya.

 

 Sementara di antara mereka yang melihat apa yang terjadi di arena panahan, segera mengetahui, bahwa orang berkepala botak itu telah mendendam Wanengpati karena kekalahannya yang mutlak di arena.

 

 "Kau benar-benar orang gila," geram orang berkepala botak itu. "Tadi aku masih berbaik hati dan bersedia memberi maaf jika kau minta. Sekarang kau mendapat kesempatan lagi."

 

 "Persetan," geram Jati Wulung.

 

 Sambi Wulung hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak akan mampu mencegah benturan kekerasan yang akan terjadi. Namun ia masih ingin memperingatkan kepada Jati Wulung, bahwa tujuan mereka ke Song Lawa adalah untuk mengenal dan mengetahui tempat tinggal Puguh. Bukan untuk hal-hal yang lain

 

 Karena itu, maka Sambi Wulung pun telah berdiri pula mendekati Jati Wulung. Diambilnya mangkuk yang masih berada di tangan Jati Wulung itu. Ia seolah-olah tidak peduli apa yang akan terjadi. Namun ia sempat berbisik, "Perkelahian ini tidak termasuk dalam tugas kita."

 

 "Kita sudah melakukannya beberapa kali," desis Jati Wulung.

 

 Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia pun kemudian berkata kepada seorang pelayan, "Tolong, ini mangkukku ini. Wadang sere panas."

 

 Kiai Windu dan kawan-kawannya hanya termangu-mangu saja. Meskipun mereka tahu, bahwa Sambi Wulung berkata sesuatu kepada Jati Wulung, tetapi mereka tidak mendengar apa yang dikatakannya.

 

 Dalam pada itu, ketika Jati Wulung dan orang berkepala botak itu sudah bersiap, maka dua orang yang bertubuh raksasa datang mendekat sambil berkata kepada dua orang yang akan berkelahi itu, "Minggir. Jangan berkelahi di kedai ini. Kalian dapat merusakkan barang-barang kami sehingga kalian harus mengganti dengan harga yang sangat tinggi. Apalagi jika salah seorang dari kalian mati. Maka yang hidup akan menanggung beban yang berat, atau ikut mati pula."

 

 Jati Wulung tidak menjawab. Tetapi ia telah bergeser menjauh dari kedai dan justru berada di tempat yang lapang. Sementara itu orang berkepala botak itu pun menyusulnya pula.

 

 Orang-orang yang makan di kedai itu masih juga makan. Sementara itu, Jati Wulung masih sempat melihat Puguh diikuti oleh beberapa orang pengawalnya menuju ke kedai itu. Mereka berpaling sejenak. Namun kemudian mereka tidak menghiraukannya lagi.

 

 Dalam pada itu, orang berkepala botak yang marah sekali itu agaknya tidak sabar lagi. Wajahnya dan pakaiannya memang sudah basah oleh wedang sere yang hangat.

 

 "Bersiaplah," ia menggeram.

 

 Jati Wulung tidak menjawab.Namuniapuntelahbersiap pula.

 

 Dalam pada itu, dua orang yang baru datang ke kedai itu masih berdiri di dekat tempat duduk Sambi Wulung. Seorang di antara mereka berkata, "Kedua-duanya belum pernah aku lihat sebelumnya."

 

 "Ya. Keduanya orang baru. Tetapi kasihan orang itu. Ia memiliki kemampuan memanah tiada taranya. Tetapi di tangan orang berkepala botak ia akan menjadi permainan yang mengasyikkan. Agaknya jika ia tahu siapa si botak itu, maka ia tidak akan berani menyombongkan dirinya di arena," desis yang lain.

 

 "Kau kenal si botak itu?" bertanya kawannya.

 

 "ORANG itulah yang dikenal dengan sebutan Orang Hutan Berkepala Besi," jawab yang lain. "O," kawannya mengangguk-angguk Katanya kemudian, "Sayang. Orang itu sudah terbentur pada Kepala Besi di hari kedua. Masih banyak waktu yang tersisa. Kenapa ia sudah mengorbankan dirinya sekarang." 

 

 "Ia terlalu sombong dengan kemampuan bidiknya," jawab yang lain. "Tetapi Kepala Besi itu namanya sudah terlalu banyak dikenal."

 

 "Di Pesisir Utara. Tetapi belum disini," jawab kawannya.

 

 Keduanya pun kemudian bergeser dan duduk di sebuah amben. Ketika keduanya mulai memesan makanan, maka orang yang disebut Orang Hutan Berkepala Besi itu sudah mulai bergerak.

 

 Sambi Wulung memang menjadi berdebar-debar mendengar pembicaraan itu. Apalagi ketika Kiai Windu berdesis, "Jadi orang itulah yang disebut Orang Hutan Berkepala Besi itu."

 

 "Kau pernah mendengar?" bertanya Sambi Wulung.

 

 "Ya. Namanya memang ditakuti di Pesisir Utara. Tetapi tiba-tiba sekarang ia berada disini?" jawab Kiai Windu. Namun di luar sadarnya Kiai Windu berkata, "Kemelut di daerah Alas Mentaok agaknya telah memanggilnya."

 

 Sambi Wulung terkejut mendengar kata-kata itu. Dengan serta merta ia bertanya, "Kemelut yang manakah yang kau maksud?"

 

 Kiai Windulah yang terkejut kemudian. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa ia pun berkata, "Tidak. Tidak ada apa-apa dengan Mentaok."

 

 Ketika agaknya Sambi Wulung masih akan bertanya lagi, Kiai Windu mendahuluinya, "Perkelahian itu sudah mulai."

 

 Sambi Wulung mengerutkan keningnya. Perkelahian antara orang berkepala botak yang disebut Orang Hutan Berkepala Besi itu dengan Jati Wulung yang dikenal bernama Wanengpati memang sudah mulai.

 

 Namun dalam pada itu orang berkepala botak itu masih sempat bertanya sambil meloncat menyerang, "Sebelum mati, sebut namamu."

 

 "Wanengpati," jawab Jati Wulung.

 

 "Nama orang gila itu pun gila pula," geram orang berkepala botak itu.

 

 "Sebelum kepalamu yang botak itu pecah, siapa namamu he?" bertanya Jati Wulung.

 

 "Birawa," jawab orang itu. Lalu, "Tetapi aku lebih dikenal dengan sebutan Orang Hutan Berkepala Besi. Aku tidak sakit hati disebut Orang Hutan, juga tidak marah dipanggil Kepala Besi. Nah, sekarang kau akan segera mati setelah mengetahui siapa aku. Seandainya kau menyesal, namun kau sudah tidak akan mendapat kesempatan pengampunan lagi."

 

 Jati Wulung masih akan berbicara lagi. Tetapi serangan lawannya tiba-tiba datang dengan derasnya, seperti tiupan angin prahara.

 

 Karena itu, maka Jati Wulung terpaksa memutuskan perhatiannya pada serangan lawannya. Dengan tangkasnya ia melenting menghindar sehingga serangan itu sama sekali tidak menyentuh sasaran.

 

 "Anak iblis," geram orang berkepala botak yang menyebut dirinya Birawa. "Bagaimana mungkin kau menghindari seranganku."  

 

 JATI WULUNG telah bersiap pula menghadapi segala kemungkinan. Namun ia masih juga berkata, "Namamu sama sekali tidak dikenal. Seperti nama kebanyakan petani yang tidak pernah aku dengar sebelumnya. Bahkan seorang juragan di daerah Pajang akan lebih banyak dikenal daripada namamu." 

 

 "Aku koyak mulutmu," geram orang itu.

 

 "Kenapa tidak kau lakukan saja daripada kau berteriak-teriak? Nah, ketahuilah, bahwa berteriak-teriak seperti itu adalah ciri orang yang kurang yakin akan dirinya sendiri," berkata Jati Wulung.

 

 Orang itu memang menjadi semakin marah. Dengan kecepatan yang sulit diikuti, maka ia pun telah menyambar Jati Wulung dengan telapak tangannya ke arah kening. Namun sekali lagi serangannya sia-sia karena Jati Wulung telah bergeser. Bahkan dengan tiba-tiba saja Jati Wulung telah berputar dan bertumpu pada satu tumitnya. Kakinya sebelah yang menyilang kakinya yang lain, telah terpancang dengan kuatnya ketika kakinya yang semula menjadi tumpuannya berputar telah bergerak menyamping.

 

 Gerak itu demikian cepatnya, sehingga orang berkepala botak itu menjadi sangat terkejut karenanya.

 

 Dengan demikian, maka dengan langkah yang panjang, orang berkepala botak itu telah meloncat beberapa langkah surut.

 

 "Bukan main," terdengar salah seorang dari orang yang semula membicarakan tentang orang berkepala botak itu.

 

 Sambi Wulung sempat berpaling ke arah mereka. Ternyata keduanya dengan sungguh-sungguh telah memperhatikan kedua orang yang berkelahi itu.

 

 "Jarang ada orang yang berhasil lolos dari serangan Kepala Besi itu," desis orang yang agaknya memang pernah mengenal orang berkepala botak itu.

 

 Sementara itu kedua orang yang bertempur itu semakin lama memang menjadi semakin cepat. Keduanya memiliki keterampilan yang tinggi dan tenaga yang besar. Bahkan beberapa saat kemudian mereka telah merambah ke tenaga cadangan mereka.

 

 Orang yang disebut Orang Hutan dan bernama Birawa itu memang merasa heran bahwa seseorang yang berada di Song Lawa itu mampu mengimbanginya beberapa lama. Bahkan orang yang bernama Wanengpati itu nampaknya sampai tataran tertentu akan dapat meningkatkan ilmunya lagi.

 

 Dengan demikian kemarahan Birawa itu pun menjadi semakin memuncak. Ia meningkatkan tenaga cadangannya tataran demi tataran. Namun lawannya pun telah meningkat pula. Seakan-akan Wanengpati itu pun menjadi semakin lama semakin kuat dan tangkas.

 

 Sambi Wulung memperhatikan perkelahian itu dengan jantung yang berdebar-debar. Ia tahu bahwa Jati Wulung memiliki ilmu yang tinggi meskipun belum setinggi Kiai Soka dan Kiai Badra. Tetapi tidak pada tataran jauh lebih rendah. Bahkan dalam beberapa hal, Jati Wulung masih mempunyai kemungkinan pula untuk berkembang.

 

 Kiai Windu pun menjadi tegang karenanya. Ia pernah mendengar serba sedikit tentang orang yang disebut Orang Hutan Berkepala Botak. Di pesisir Utara nama itu disebut-sebut sebagai nama yang menggetarkan jantung.

 

 Namun Kiai Windu pun tahu bahwa Wanengpati itu juga memiliki ilmu yang tinggi. Bahkan ia pernah menjajagi langsung kemampuan dua orang yang bernama Wanengbaya dan Wanengpati. Kiai Windu berempat tidak mampu mengimbangi kedua orang itu. Bukan sekadar berpura-pura. Tetapi benar-benar mereka berempat telah dikalahkan.

 

 Beberapa saat kemudian, maka sikap dan gerak Orang Hutan Berkepala Botak itu menjadi semakin keras dan bahkan kasar. Menurut pengalaman Kiai Windu, Wanengbaya dan Wanengpati semula juga dikiranya termasuk golongan orang-orang kasar. Tetapi ternyata kekasaran itu bukanlah sifat dan watak keduanya yang sebenarnya.

 

 RENCANA mereka memasuki Song Lawa telah membuat kedua orang itu dengan sengaja menjadi kasar. Jati Wulung memang tidak menunjukkan tata gerak yang kasar pada mulanya. Tetapi ketika orang berkepala botak itu menjadi keras dan kasar, maka Jati Wulung pun mulai teringat, bahwa ia berada di Song Lawa. 

 

 Karena itu, maka tiba-tiba saja tata geraknya telah berubah. Ia tidak lagi bergerak dengan hati-hati. Tidak lagi menjaga agar tidak menimbulkan kesan yang keras dan bahkan liar. Ketika orang berkepala botak itu mengumpat kotor sambil menyerang dengan kasar, ternyata Jati Wulung telah melakukannya pula.

 

 Namun karena Kiai Windu berada di luar arena, ia dapat melihat perubahan itu. Apalagi karena Kiai Windu sendiri mempunyai penilaian yang lain atas kekerasan Wanengpati itu. Tetapi bagi orang lain, maka perubahan itu sama sekali tidak mereka ketahui. Yang nampak kemudian oleh orang-orang yang sekali-kali berpaling ke arah perkelahian itu adalah bahwa keduanya berkelahi menurut kebiasaan yang terjadi di Song Lawa. Keras, kasar dan bahkan liar.

 

 Orang yang berada di dalam kedai, kebanyakan semula sama sekali tidak menghiraukan perkelahian itu kecuali beberapa orang tertentu. Namun ketika perkelahian itu menjadi semakin meningkat, maka mereka pun mulai tertarik. Ketika kedua orang yang bertempur itu bergerak semakin cepat, dengan benturan-benturan yang semakin keras dan serangan-serangan yang semakin kasar pula, maka satu demi satu mereka mulai memperhatikannya.

 

 Dua orang yang telah membicarakan sebelumnya tentang Orang Hutan Berkepala Besi itu menjadi heran, bahwa lawan Orang Hutan itu masih juga mampu bertahan.

 

 “Ternyata ada juga orang yang berilmu tinggi memasuki tempat perjudian ini,” desis orang yang pernah mengenali Kepala Besi itu.

 

 Ketegangan ternyata telah menjalar ke seluruh isi kedai itu. Mereka tidak lagi bersikap acuh saja. Yang mereka lihat kemudian adalah sesuatu yang luar biasa.

 

 Kiai Windu yang juga menjadi tegang berbisik ditelinga Sambi Wulung, “Bagaimana menurut pendapatmu. Aku ingin tahu agar jantungku tidak meledak.”

 

 “Ingin tahu tentang apa?” bertanya Sambi Wulung.

 

 “Kau adalah saudaranya. Kau tentu tahu, apakah Wanengpati telah sampai ke puncaknya atau belum. Jika orang berkepala botak itu meningkatkan lagi ilmunya, bahkan sampai kepada ilmu puncaknya apakah saudaramu itu masih mempunyai kemampuan yang dicadangkannya pula,” bertanya Kiai Windu.

 

 “Kau aneh,” desis Sambi Wulung. “Orang seperti kau seharusnya tidak menjadi gelisah melihat perkelahian seperti itu, meskipun kita belum tahu bagaimana akan akhirnya.”

 

 “Kau jangan menambah aku menjadi semakin berdebar-debar,” berkata Kiai Windu.

 

 Sambi Wulung mengerutkan keningnya. Namun dengan demikian ia sadar bahwa orang yang bernama Kiai Windu itu memang sangat memperhatikannya dan memperhatikan Jati Wulung. Kecemasan Kiai Windu terhadap Jati Wulung menunjukkan, bahwa pergaulan mereka yang belum lama itu telah menumbuhkan perasaan kesetiakawanan meskipun perkenalan mereka terjadi dengan cara yang aneh.

 

 “Kau belum menjawab,” desak Kiai Windu yang menyaksikan perkelahian itu menjadi semakin seru.

 

 Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak ingin berteka-teki. Tetapi sudah tentu bahwa kita tidak akan dapat meramalkan apa yang akan terjadi, karena aku belum tahu, sampai dimana tataran kemampuan orang berkepala botak itu.”

 

 Kiai Windu termangu-mangu sejenak. Ia pun tidak tahu pasti tataran kemampuan Kepala Besi itu. Apakah ia masih mampu meningkatkan ilmunya lebih jauh lagi, atau hanya beberapa lapis saja. Namun ia masih bertanya, “Kalian dapat mengalahkan aku berempat. Aku yakin bahwa saat itu kau berdua belum sampai pada puncak kemampuanmu. Nah, katakan, apakah yang dilakukan oleh Jati Wulung itu masih jauh dari batas kemampuannya atau sudah menjadi semakin dekat.”

 

  

 

  

 

  “Jangan seperti anak-anak,” berkata Sambi Wulung. “Kita sudah kenyang makan garamnya kehidupan yang keras seperti ini.” Kiai Windu tidak bertanya lagi. Namun ia menjadi semakin gelisah melihat perkelahian yang keras dan kasar itu. Bahkan apalagi ketika ia melihat, Kepala Besi itu beberapa kali dengan sengaja berusaha untuk membenturkan kepalanya pada kepala lawannya. 

 

 Sambi Wulung pun menjadi tegang. Satu pengalaman baru baginya dan juga bagi Jati Wulung, bahwa seseorang berusaha untuk membenturkan kepalanya ketika mereka sedang bertempur. Namun Jati Wulung cukup tangkas untuk selalu menghindarinya.

 

 Namun dalam pertempuran yang kasar, tiba-tiba saja keduanya sempat berdiri pada jarak yang dekat. Adalah di luar dugaan bahwa tiba-tiba saja Kepala Besi itu telah meraih telinga Jati Wulung. Jati Wulung sama sekali telah menduga, bahwa lawannya akan melakukan hal tersebut. Karena itu, maka ketika semuanya itu terhindar dengan cepat Jati Wulung tidak sempat menghindar.

 

 Ternyata sambil memegangi telinga Jati Wulung Orang Hutan Berkepala Besi itu telah membenturkan kepalanya ke kepala Jati Wulung.

 

 Benturan itu demikian kerasnya, sehingga terdengar Jati Wulung mengeluh tertahan.

 

 Tetapi Kepala Besi itu tidak melepaskan pegangannya. Belum lagi Jati Wulung sempat berbuat sesuatu, maka sekali lagi telah terjadi benturan kepala antara keduanya.

 

 Sekali lagi Jati Wulung mengaduh. Kepalanya rasa-rasanya menjadi retak oleh benturan itu. Kepala lawannya itu benar-benar terasa bagaikan terbuat dari besi. Dan itulah agaknya maka lawannya mendapat gelar berkepala besi.

 

 Sambi Wulung yang berada di luar arena menjadi tegang melihat cara orang berkepala botak itu berkelahi. Hampir saja ia meloncat berdiri. Namun ia masih sempat mencegah dirinya.

 

 Bukan hanya Sambi Wulung, tetapi Kiai Windu dan kawan-kawannya pun menjadi tegang pula. Bahkan terdengar Kiai Windu mengumpat, “Gila.”

 

 Sementara itu dua orang yang telah membicarakan Kepala Besi itu sebelumnya terdengar berdesah pula. Seorang di antara mereka berkata, “Nah, sampailah batas umur orang yang malang itu. Kemampuannya memanah yang luar biasa ternyata telah menjerumuskannya ke kematian.”

 

 Kawannya mengangguk-angguk. Katanya, “Ia sama sekali tidak menduga pada saat ia belajar memanah. Tetapi ia memang terlalu sombong. Seandainya ia dapat sedikit mengekang dirinya, ia tidak akan menjadi sasaran kemarahan yang meledak itu.”

 

 Yang lain tidak menjawab. Mereka melihat untuk ketiga kalinya orang yang disebut berkepala besi itu membenturkan kepalanya.

 

 Jati Wulung telah benar-benar menjadi pening. Ia tidak mau menunggu kepalanya benar-benar menjadi retak. Karena itu, maka ia harus berbuat sesuatu.

 

 Dengan kekuatan tenaga cadangannya, maka Jati Wulung mencoba untuk melepaskan diri. Tetapi cengkeraman itu memang begitu kuat, sehingga jika ia memaksa, maka telinganya mungkin akan terlepas dari kepalanya. Karena itu, maka ia harus mengambil jalan lain.

 

 Karena itu, maka Jati Wulung itu justru melekat semakin rapat. Tiba-tiba saja dengan sepenuh kekuatannya, ia telah mengangkat lututnya menghantam bagian bawah perut lawannya.

 

 Serangan itu demikian kerasnya karena didorong oleh segenap kekuatan tenaga cadangannya, sehingga orang berkepala besi itu terdengar mengaduh namun kemudian mengumpat kasar. Apalagi ketika sekali lagi Jati Wulung mengulangi serangannya.

 

 Pegangan tangan orang berkepala besi itu telah menjadi kendor. Dengan serta merta Jati Wulung telah mempergunakan kesempatan itu. Ia telah mengibaskan kedua tangan lawannya dengan menyusupkan kedua lengannya di antara kedua lengan lawan. Ketika Jati Wulung mengambangkan tangannya, maka pegangan lawannya atas telinganya pun telah terlepas.

 

 DALAM pada itu, selagi orang berkepala besi itu masih menyeringai manahan sakit, maka Jati Wulung telah mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. 

 

 Betapapun kepalanya terasa pening, namun ia masih sempat melihat ujud lawannya. Karena itu, maka dengan kekuatan yang ada padanya, sambil memiringkan tubuhnya, kakinya telah terjulur ke dada orang itu.

 

 Satu benturan yang keras telah terjadi. Kekuatan kaki Jati Wulung telah menghantam dada orang yang disebut Orang Hutan Berkepala Besi itu.

 

 Demikian besar kekuatan Jati Wulung, maka lawannya yang berkepala botak itu telah terlempar beberapa langkah surut. Bahkan ia pun telah kehilangan keseimbangannya dan kemudian jatuh di tanah.

 

 Jati Wulung pun ternyata telah menjadi sangat marah mendapat perlakuan lawannya seperti itu. Namun ketika ia siap meloncat menerkam lawannya, rasa-rasanya tanah di depan kakinya itu telah bergerak.

 

 Agaknya kepala Jati Wulung masih terasa pening. Karena itu, maka ia pun telah mengurungkan niatnya. Bahkan ia telah berdiri tegak untuk mempergunakan waktu yang ada, memusatkan nalar budinya untuk mengerahkan daya tahan tubuhnya.

 

 Untunglah bahwa lawannya pun tidak segera bangun. Dadanya rasa-rasanya telah tersumbat bukit padas, sementara itu isi perutnya terasa seakan-akan telah diremas.

 

 Untuk beberapa saat orang itu pun harus mengatasi perasaan sakit itu. Sambil mengumpat kasar, maka ia pun kemudian tertatih-tatih untuk bangkit berdiri.

 

 Orang yang disebut Orang Hutan Berkepala Besi itu terkejut ketika dilihatnya lawannya berdiri tegak dan siap untuk menerkamnya.

 

 Sebenarnya bahwa Jati Wulung telah berhasil mencapai daya tahan tertinggi di dalam dirinya, sehingga perasaan peningnya telah jauh berkurang. Bahkan perutnya yang juga menjadi mual oleh benturan di kepalanya itu telah dapat diatasinya. Dengan demikian maka Jati Wulung itu telah siap untuk mengulangi pertempuran itu seandainya dari permulaan sekalipun. Apalagi ia telah mendapatkan satu pengalaman baru, bahwa kepala yang botak itu merupakan salah satu senjata dari lawannya.

 

 Untuk beberapa saat keduanya berdiri berhadapan dan saling memandang dengan sorot mata kemarahan. Orang yang berkepala sekeras besi itu kemudian menggeram, "Anak setan kau. Kepalamu ternyata tidak pecah oleh benturan-benturan itu."

 

 "Cobalah sekali lagi," sahut Jati Wulung. "Kau akan menyesal, bahwa aku akan memecahkan kepalamu dengan sisi telapak tanganku."

 

 "Persetan," Kepala Besi itu hampir berteriak.

 

 Jati Wulung tidak menjawab. Tetapi ia sudah siap menghadapinya.

 

 Sambi Wulung yang melihat saudara seperguruannya berhasil melepaskan diri dari cengkeraman tangan lawannya itu menarik nafas dalam-dalam. Bahkan ia pun mulai mempunyai keyakinan, bahwa untuk seterusnya Jati Wulung tidak akan terjebak lagi oleh kekuatan Kepala Besi itu.

 

 Sementara itu Kiai Windu pun berdesis, "Bukan main."

 

 "Apa yang bukan main," bertanya Sambi Wulung.

 

 "Saudaramu itu," jawab Kiai Windu.

 

 Sebenarnyalah, bahwa Jati Wulung mampu melepaskan diri itu merupakan satu hal yang sangat menarik perhatian. Dua orang yang memperhatikan pertempuran itu pun telah menjadi sangat heran. Bahkan seorang yang telah mengenal Kepala Besi itu berkata, "Orang ini memang liat. Ternyata ia belum mati."

 

 "Luar biasa," berkata yang lain. "Sesuatu yang tidak dapat dijangkau dengan nalar."

 

 Sementara itu Jati Wulung melanjutkan pertempuran itu. Dengan segenap tenaga dan kemampuannya orang yang disebut Orang Hutan Berkepala Besi itu ingin segera menyelesaikan pertempuran itu.

 

 JIKA kebiasaan di Song Lawa itu seseorang tidak ingin mencampuri persoalan orang lain, maka yang terjadi saat itu memang agak berbeda. Biasanya orang-orang itu tidak mengacuhkannya jika dua orang, bahkan sekelompok orang berkelahi. Tetapi ternyata bahwa perkelahian antara Kepala Besi dan Jati Wulung itu benar-benar menarik perhatian. Orang-orang yang sedang makan di dalam kedai itu, seakan-akan perhatiannya telah terpusat kepada perkelahian yang sedang terjadi itu. Bahkan di luar sadarnya, beberapa orang telah bangkit dan melangkah ke luar kedai. Demikian pula Kiai Windu dan kawan-kawannya. Meskipun tempat duduk mereka telah berada di batas luar dari kedai itu, namun mereka telah bangkit dan melangkah mendekat. Sambi Wulung tidak mencegah mereka. Ia pun justru telah ikut pula mendekat. 

 

 Beberapa orang lain yang tidak dapat melihat karena tertutup oleh orang-orang yang telah berdiri itu, ikut berdiri pula. Sehingga akhirnya hampir semua orang yang berada di dalam kedai itu telah ke luar.

 

 Para petugas di kedai itu tidak sempat memberi peringatan kepada orang-orang itu untuk membayar lebih dahulu. Bahkan mereka sendiri telah dengan tergesa-gesa bergeser untuk menyaksikan perkelahian yang jarang terjadi sebagaimana yang mereka saksikan itu. Dua orang yang ternyata memiliki ilmu yang tinggi.

 

 Sebenarnyalah, kedua orang itu telah terlibat ke dalam pertempuran yang sengit pula. Keduanya bergerak dengan cepat sambil melontarkan kekuatan yang sangat besar. Dalam benturan-benturan yang terjadi, maka keduanya benar-benar telah menunjukkan betapa besar tenaga dan kemampuan mereka. Namun sedikit demi sedikit daya tahan mereka berdua pun talah terguncang pula.

 

 Dalam pada itu, maka orang berkepala botak itu agaknya sudah tidak telaten lagi. Menurut perhitungannya, seharusnya lawannya sudah tidak akan mampu bertahan lebih lama ketika ia telah membenturkan kepalanya. Namun ternyata orang itu masih tetap memberikan perlawanan yang justru kadang-kadang membingungkan.

 

 Karena itu, maka orang berkepala botak itu telah meningkatkan kemampuannya sampai ke puncak. Ia harus menghancurkan lawannya. Ia sudah dikalahkan di arena panahan, sehingga wibawanya telah turun. Karena itu, maka ia harus menebusnya di arena perkelahian itu.

 

 Tetapi ternyata memang tidak terlalu mudah.

 

 Demikianlah, dalam puncak kemarahannya, maka orang berkepala botak itu telah mengerahkan segenap kemampuannya. Ia memang lebih percaya kepada kepalanya, sehingga ia selalu mencari kesempatan untuk dapat membenturkan kepalanya itu.

 

 Namun lawannya yang telah mengetahui letak kekuatannya, selalu berusaha untuk menghindari sentuhan kepalanya yang botak itu. Bahkan serangan-serangan Jati Wulung pun sama sekali tidak mengarah ke kepala atau tubuh bagian-bagiannya. Jati Wulung yang telah mengenali kelemahannya, lebih mengarahkan serangan-serangannya ke leher, ulu hati dan lambung. Hanya dengan kekuatan sepenuhnya Jati Wulung menyerang ke arah dada orang itu.

 

 TETAPI orang berkepala botak itu telah mempergunakan kepala sebagai perisai. Ia selalu menunduk dan menangkis serangan-serangan itu dengan kepalanya. Bahkan setiap kali ia berusaha untuk menyerang lawannya dengan kepalanya pula. Dalam puncak ilmunya, maka Jati Wulung menjadi berdebar-debar. Dari botak kepalanya itu, ia melihat seakan-akan asap yang tipis mengepul. Kepala itu seakan-akan telah menjadi panas dan membara. 

 

 Sebenarnyalah, bahwa orang berkepala botak yang menyebut dirinya bernama Birawa itu memang telah memusatkan segenap ilmunya pada kemampuannya yang tertinggi. Betapa tangkasnyya orang itu kemudian. Tubuhnya seakan-akan menjadi ringan dan gerakannya pun semakin cepat. Namun kepalanya rasa-rasanya menjadi bertambah berbaya.

 

 Ketika Jati Wulung menyerangnya dengan kakinya mengarah ke ulu hati, maka orang itu dengan sengaja telah menunduk rendah demikian cepatnya sehingga kaki Jati Wulung itu telah membentur kepala lawannya.

 

 Benturan itu memang menggetarkan jantung. Jati Wulung memang terdorong beberapa langkah surut. Bahkan ia telah menjatuhkan dirinya untuk menguasai keseimbangannya kembali. Dengan cepat ia melenting berdiri dan siap menghadapi segala kemungkinan.

 

 Namun orang yang berkepala botak itu pun telah surut beberapa langkah. Betapapun keras kepalanya, tetapi dorongan kekuatan Jati Wulung benar-benar telah mendorongnya dengan kekuatan yang terasa betapa besarnya.

 

 Seperti Jati Wulung orang itu tidak dapat bertahan untuk tetap tegak. Ia pun terjatuh pula. Tetapi juga seperti Jati Wulung orang itu telah dengan tangkasnya meloncat berdiri.

 

 Untuk beberapa saat keduanya masih tetap berdiri ditempatnya. Ternyata keduanya telah mengalami hambatan pada gerak berikutnya. Keduanya tidak dapat dengan serta merta menyerang lawannya.

 

 Jati Wulung memang merasakan, bahwa Kepala Besi itu menjadi panas. Ketika kakinya mengenai kepala itu, rasa-rasanya seakan-akan memang telah menyentuh bara. Karena itu, maka ia pun harus berusaha mengatasi perasaan sakit itu.

 

 Demikian pula Kepala Besi itu. Kekuatan ilmu Jati Wulung ternyata memang luar biasa. Demikian kuatnya hentakan pada kepalanya itu, meskipun tidak menimbulkan luka pada kulitnya, namun kepala itu memang terasa pening. Meskipun seandainya kepala itu terbuat dari besi sekalipun, tetapi goncangan di bagian dalamnya, benar-benar mempunyai akibat yang gawat.

 

 Untuk beberapa saat keduanya menegakkan kembali kesiagaan mereka. Namun pertempuran itu pun sejenak kemudian telah dimulai lagi.

 

 Sambi Wulung yang masih juga memandangi perkelahian itu dengan tegang, telah melihat Puguh yang menyibak beberapa orang yang lain dan berdiri di paling depan. Beberapa orang pengawalnya pun kemudian ikut pula bersamanya. Agaknya remaja yang hampir menginjak dewasanya itu benar-benar tertarik melihat perkelahian yang keras dan sengit itu.

 

 Sementara itu Kiai Windu benar-benar dicengkam oleh ketegangan. Ketika pertempuran itu menjadi semakin cepat, maka nafasnya pun kadang-kadang telah terhenti oleh ketegangan yang terasa mencekiknya.

 

 Kepala besi yang telah sampai ke puncak ilmunya itu memang mulai merasa gelisah bahwa ia masih juga belum dapat mengalahkan apalagi membunuh lawannya. Orang yang menyebut dirinya bernama Wanengpati itu memang benar-benar liat. Ia mampu bergerak dengan kecepatan yang sulit diikuti, namun ia pun memiliki kekuatan yang jarang ada tandingnya.

 

 Ketika Kepala Besi itu merasa tenaganya mulai susut, justru karena ia telah mengerahkan tenaga, ilmu dan kemampuannya tanpa mengekang diri oleh kemarahan yang memuncak, maka kegelisahan pun mulai terasa menggelitiknya.

 

 Ternyata keduanya telah berkelahi cukup lama. Langit pun mulai menjadi suram karena matahari sudah hampir terbenam.

 

 NAMUN orang-orang yang mengelilingi arena itu belum beringsut. Mereka tidak lagi ingat arena sabung ayam dan permainan dadu. Bahkan beberapa orang yang semula berada di lapangan panahan, telah datang pula melihat perkelahian yang sengit itu. 

 

 Dalam pada itu, Jati Wulung yang menyadari kekuatan dan senjata lawannya yang aneh itu, telah membuat perhitungan-perhitungan yang lebih masak. Ia telah memusatkan kekuatan ilmunya pada kaki dan sisi telapak tangannya, sehingga ia memiliki ketangkasan yang penuh untuk mengarahkan serangan-serangannya.

 

 Dengan kecepatan gerak yang sangat tinggi, maka akhirnya Jati Wulung berhasil menembus pertahanan orang berkepala botak itu. Meskipun sekali-kali serangan tangan Jati Wulung masih juga mengenai kepala yang bagaikan telah menjadi bara itu, namun ia pun telah berhasil menyentuh bagian-bagian lain yang lemah pada tubuh lawannya.

 

 Beberapa kali Kepala Besi itu telah terdorong surut. Bahkan ketika dengan cepat Kepala Besi itu menyerang Jati Wulung dengan kepalanya, seperti seekor kerbau yang gila menanduk lawannya maka Jati Wulung telah menunggu sesaat. Tepat pada saatnya, ia telah meloncat menyamping selangkah. Demikian lawannya itu berada didepannya dan berusaha untuk menghentikan serangannya yang gagal, maka dengan penuh tenaganya, Jati Wulung telah menyerang orang itu dengan kakinya ke arah punggung di bagian bawah. Demikian kerasnya serangan itu, sehingga Kepala Besi tidak sempat berhenti. Ia justru terdorong dengan keras ke depan tanpa dapat mengekang diri.

 

 Ternyata bahwa Kepala Besi itu telah membentur sebatang pohon dengan kepalanya yang botak itu.

 

 Akibatnya memang luar biasa. Sebatang pohon yang memang tidak terlalu besar itu ternyata telah retak dan roboh. Sementara itu bekasnya bukan saja sekadar besar batang yang patah. Tetapi pada batas barang yang retak dan patah itu memang terdapat lingkaran luka bakar pada kulit batang pohon itu.

 

 Jantung orang-orang yang menyaksikannya seakan-akan telah berhenti berdetak. Namun ternyata bahwa peristiwa itu telah disusul oleh peristiwa yang mengemparkan pula. Ketika orang Berkepala Botak itu dengan tangkas memutar tubuhnya, maka yang dilihatnya adalah lawannya itu bagaikan terbang telah datang menyerangnya. Ketika Jati Wulung itu masih berada di udara, ia sempat mengeliat memiringkan tubuhnya dan kakinyalah yang kemudian terjulur lurus menghantam dadanya.

 

 Tidak ada kesempatan untuk mengelak atau menangkis serangan itu. Orang berkepala botak itu telah terlempar mundur. Justru punggungnyalah yang telah membentur batang pohon yang baru saja patah karena kepalanya.

 

 Ternyata Jati Wulung memang telah mengerahkan segenap kekuatan yang ada padanya. Karena itu, maka kekuatan yang sangat besar dan mendorong serangan itu, telah membuat dada orang berkepala botak itu bagaikan pecah. Seakan-akan sebongkah batu hitam telah dihentakkan menindih di dadanya itu.

 

 Apalagi kemudian oleh dorongan kekuatan itu, punggungnya menghantam sebatang pohon. Punggung orang itu memang tidak sekuat kepalanya yang terlatih dan yang mampu melepaskan ilmunya yang jarang dimiliki orang lain, sehingga kepala yang botak itu bagaikan telah menjadi bara. Namun punggungnyalah yang terasa bagaikan patah. Hentakan yang keras dan kuat pada batang kayu yang telah patah itu, membuatnya benar-benar kehilangan keseimbangan.

 

 Orang berkepala botak itu masih berusaha bangun. Namun ternyata ia sama sekali tidak mampu. Bahkan ia pun kemudian telah terjatuh dan terbaring di tanah. Pingsan.

 

 Jati Wulung masih berdiri tegak. Ia memang merasakan kakinya yang bagaikan menghantam segunduk batu padas. Namun dengan cepat Jati Wulung dapat mengatasi perasaan sakit pada pergelangan kakinya itu, sehingga dengan demikian maka ia pun telah mampu berdiri tegak dengan kesiagaan penuh. .

 

 KETIKA Jati Wulung bergerak selangkah maju, tiba-tiba saja beberapa orang telah bergeser. Menilik sikap dan pakaian mereka, agaknya mereka menjadi marah karena peristiwa yang terjadi atas orang berkepala botak itu. 

 

 Namun dalam pada itu ternyata Kiai Windu pun telah bergeser pula diikuti oleh ketiga orang kawannya. Hanya bergeser selangkah. Tetapi gerak itu telah menarik perhatian orang-orang yang agaknya kawan Kepala Besi yang pingsan itu.

 

 Sejenak suasana memang menjadi sangat tegang. Sambi Wulung sendiri justru masih berdiri diam ditempatnya.

 

 Namun orang-orang yang agaknya kawan Kepala Besi itu memang harus dikalahkan. Apalagi mereka.

 

 Karena itu, maka kawan orang berkepala botak itu kemudian telah memindahkan perhatian mereka kepada Kepala Besi yang pingsan itu. Empat orang telah bergeser mendekat dan berjongkok disebelahnya.

 

 Dalam ketegangan itu, tiba-tiba saja orang remaja telah menyusup dan menyibak di antara orang-orang yang berkerumun. Remaja itu adalah Puguh. Dengan serta merta ia pun telah menepuk bahu Jati Wulung sambil berkata, “Luar biasa. Kau ternyata seorang yang luar biasa.”

 

 Jati Wulung memandang anak muda itu sejenak. Namun kemudian ia pun tersenyum sambil berkata, “Aku merasa perlu untuk mengajarinya sedikit sopan santun kepada orang lain.”

 

 Puguh mengangguk-angguk. Dipandanginya beberapa orang kawan Kepala Besi itu sedang sibuk berusaha menyadarkannya. Seorang yang berjambang dan berkumis lebat, dengan bulu dada yang memenuhi sebidang dadanya, telah mengambil air di kedai. Kemudian perlahan-lahan dititikkannya air itu dibibir Kepala Besi yang pingsan.

 

 Jati Wulung tidak menunggu terlalu lama. Ia pun kemudian bergeser kembali ke kedai.

 

 “Marilah,” Jati Wulung mempersilakan Puguh. “Duduklah. Kita dapat beristirahat.”

 

 “Beristirahatlah,” jawab Puguh. “Bukankah aku tidak berbuat apa-apa sehingga tidak perlu beristirahat.”

 

 “Kita minum sejenak,” ajak Jati Wulung yang memang ingin mendapat kesempatan berbicara dengan Puguh.

 

 “Baiklah. Akulah yang membayar,” berkata Puguh kemudian.

 

 Jati Wulung mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak mau mengecewakan anak muda itu. Apalagi ketika ia kemudian berkata, “Aku belum pernah mengagumi seorang selain guruku. Sekarang aku mengagumimu.”

 

 Jati Wulung tertawa. Katanya, “Tentu jauh berbeda. Jika aku mendapat lawan yang berilmu selapis saja, maka aku tentu tidak akan dapat berbuat apa-apa. Untung bahwa orang yang mengaku berkepala besi itu tidak lebih dari sebongkah batu padas yang belum diasah sama sekali.”

 

 Perkelahian yang terjadi itu memang agak lain dari perkelahian-perkelahian sebelumnya. Biasanya tidak banyak orang yang menaruh perhatian. Bahkan mereka condong untuk tidak berpaling. Tetapi perkelahian itu ternyata telah menarik perhatian. Bahkan orang-orang masih juga membicarakan setelah Jati Wulung duduk kembali ke tempat duduknya di kedai itu. Seorang petugas yang juga bertubuh raksasa sempat mendekatinya sambil berdesis, “Kau telah melakukan sesuatu yang menggemparkan. Tetapi berhati-hatilah. Mungkin ini bukan yang terakhir. Aku hanya ingin berpesan, jika kelak kau harus berkelahi lagi, hati-hatilah. Jangan merusakkan kedaiku ini supaya kau tidak usah menggantinya.”

 

 “Bukankah aku sekarang juga tidak merusakkannya selain barangkali mangkuk yang kotor atau minumanmu yang tumpah?” sahut Jati Wulung.

 

 “Ya. Sekarang memang tidak,” jawab petugas itu.

 

 “Nah, aku sekarang haus,” berkata Jati Wulung.

 

 Sejenak kemudian, maka mereka pun telah minum lagi. Jati Wulung, Sambi Wulung, Kiai Windu dan kawan-kawannya bersama dengan Puguh dan beberapa orang pengawalnya.

 

 “Siapa namamu?” bertanya Puguh tiba-tiba.

 

 “Wanengpati,” jawab Jati Wulung.

 

 “Kau berasal dari mana?” bertanya Puguh pula.

 

 TERNYATA Jati Wulung dan kawan-kawannya pun tidak terlalu lama berada di kedai itu. Ketika mereka memandang keluar, maka yang disebut Orang Hutan Berkepala Besi itu sudah tidak ada lagi ditempatnya. Kawan-kawannya telah membawanya ke dalam biliknya untuk mendapat perawatan. Namun dalam pada itu, Puguh tidak lupa pada janjinya. Sambil tersenyum ia berkata, "Aku yang akan membayar semuanya." 

 

 "Terima kasih," berkata Jati Wulung. Tetapi ia masih juga berkata, "Tetapi bukankah aku yang telah menang di arena panahan."

 

 "Biar saja," jawab Puguh. "Aku ingin membayar kali ini, meskipun barangkali di kesempatan lain aku akan meminjam uangmu."

 

 Yang lain hanya tertawa. Semantara itu Puguh telah menghitung berapa harga makanan dan minuman yang telah dimakan dan diminum oleh sekelompok orang itu.

 

 "Ayah dan ibumu tentu seorang yang kaya raya," tiba-tiba saja Jati Wulung berdesis.

 

 Puguh menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Sebaiknya kita tidak usah membicarakan tentang ayah dan ibuku, sebagaimana kita tidak usah berbicara kenapa aku berada ditempat ini."

 

 "O," Jati Wulung mengangguk-angguk. Ia tidak boleh mendesak terus. Juga tentang tempat tinggalnya, atau padepokannya atau dalam hubungan yang lain. Ia harus dapat mengendalikan diri untuk mencapai sasaran sebagaimana diharapkan.

 

 Sejenak kemudian, mereka pun telah meninggalkan tempat itu. Namun agaknya Puguh masih akan memasuki tempat permainan dadu. Karena itu, maka Jati Wulung pun berkata kepadanya, "Kami akan beristirahat."

 

 "Kau tidak ikut bermain dadu?" bertanya Puguh.

 

 Jati Wulung tersenyum. Katanya, "Dalam keadaan seperti ini lebih baik aku tidur barang sebentar."

 

 Puguh pun tersenyum. Agaknya anak muda itu mengerti, bahwa setelah orang yang dikenalnya bernama Wanengpati itu berkelahi, maka agaknya ia memerlukan mengendapkan perasaannya yang bergejolak.

 

 Demikianlah, maka Jati Wulung dan Sambi Wulung pun telah melangkah menuju ke biliknya. Namun Kiai Windu kemudian berdesis, "Aku juga akan melihat permainan dadu sebentar. Nanti aku segera menyusul."

 

 "Silakan," sahut Sambi Wulung. "Bahkan mungkin kamilah yang akan menyusul kalian di tempat permainan itu."

 

 Namun Jati Wulung menyahut, "Aku benar-benar akan tidur."

 

 Sambi Wulung hanya tersenyum saja. Sementara itu Kiai Windu dan kawan-kawannya ternyata telah melangkah menuju ke barak permainan dadu. Namun agaknya ia tidak mengambil jalan yang sama dengan Puguh dan para pengawalnya.

 

 Dalam pada itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah berjalan menyusuri lorong setapak menuju ke biliknya. Sambil melangkah Sambi Wulung sempat bergumam, "Kau agak terdorong langkah."

 

 JATI WULUNG menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Aku tidak dapat berbuat lain." "Di arena panahan, kau telah dipanaskan oleh sikap Kepala Besi itu sehingga kau harus menunjukkan kemampuanmu. Aku juga ikut panahan dan memenangkannya meskipun tidak menyolok," berkata Sambi Wulung pula. 

 

 "Tetapi bukankah dengan demikian, kita menjadi lebih mengenal Puguh?" bertanya Jati Wulung.

 

 "Tetapi kita menjadi bahan pembicaraan dan setiap orang akan memperhatikan kita. Juga dendam Kepala Besi itu harus menjadi perhitungan kita," berkata Sambi Wulung.

 

 Bagi Jati Wulung, Sambi Wulung adalah saudara tuanya. Karena itu maka ia tidak menjawab lagi. Ia memang mengakui, bahwa ia telah agak terdorong dalam permainan panahan, sehingga akibatnya ia harus berkelahi dengan orang yang disebut Kepala Besi itu.

 

 Tetapi semuanya telah terjadi, Jati Wulung tidak akan dapat mengulangi lagi langkah-langkahnya. Yang dapat dimanfaatkan dari semua peristiwa itu adalah hubungan mereka yang lebih dekat dengan orang yang memang mereka cari di tempat perjudian itu. Puguh, anak Warsi.

 

 Demikianlah, maka akhirnya Jati Wulung itu pun berkata, "Aku akan tidur barang sejenak. Mudah-mudahan aku dapat menenangkan perasaanku yang masih saja terasa berdebaran."

 

 "Tidurlah," jawab Sambi Wulung. "Biarlah aku duduk disini."

 

 Jati Wulung tidak berkata sesuatu lagi. Ia pun merebahkan dirinya di pembaringannya. Ia benar-benar melepaskan segala macam beban di perasaannya, sehingga dengan demikian ia cepat dapat tidur dengan nyenyak. Apalagi ia memang benar-benar ingin beristirahat.

 

 Sambi Wulung yang tidak merasa mengantuk sama sekai duduk di sudut amben yang agak besar itu bersandar dinding. Ketika ia kemudian mengendarkan pandangan matanya keseluruh isi ruangan, maka dilihatnya beberapa ikat bekal yang dibawa oleh Kiai Windu dengan kawan-kawannya. Seperti dirinya sendiri, maka mereka pun hampir tidak membawa bekal apapun. Hanya beberapa lembar kain yang diikat dalam satu bungkusan kecil.

 

 Adalah di luar sadarnya, jika Sambi Wulung kemudian setelah menuntut dan menyelarak pintu bilik, melihat-lihat beberapa ikat bekal yang dibawa oleh Kiai Windu dan kawan-kawannya.

 

 Yang menarik perhatian Sambi Wulung adalah bahwa di dalam ikatan itu terdapat pakaian dari bahan yang sama. Sambi Wulung tidak dapat melihat dengan cermat. Ia tidak mau membuka ikatan bekal yang sedikit itu, karena agaknya Kiai Windu adalah orang yang sangat teliti, sehingga jika ia membukanya dan mengikatnya kembali, Kiai Windu akan mengetahuinya.

 

 "Nampaknya mereka membawa selembar baju yang seragam," berkata Sambi Wulung di dalam hatinya. Namun karena baju itu ada di dalam lipatan yang terikat, maka ia tidak dapat menduga , pakaian jenis apakah yang dibawa oleh Kiai Windu itu.

 

 Sambi Wulung tidak mau membuat jarak antara dirinya dengan Kiai Windu dan kawan-kawannya yang nampaknya dapat diajak berkawan di dalam lingkungan yang garang sebagaimana Song Lawa itu. Bagaimanapun juga, persoalan-persoalan yang tidak diperhitungkan akan dapat timbul di dalam lingkungan yang aneh dan penuh dengan berjenis-jenis watak dan sifat. Sedangkan untuk sementara, nampaknya Kiai Windu dan kawan-kawannya tidak akan menambah kesulitan jika kesulitan itu datang. Bahkan mereka agaknya akan dapat membantu mereka apabila diperlukan sekali.

 

 Karena itu maka Sambi Wulung akan tetap menjaga hubungan baik yang sudah terjalin antara dirinya dan Jati Wulung dengan Kiai Windu dan kawan-kawannya, meskipun cara mereka berkenalan melalui jalan yang agak aneh.

 

 Dalam pada itu, ternyata Kiai Windu dan kawan-kawannya sudah berada di barak permainan dadu. Mereka menelusuri permainan dari lingkaran yang satu ke lingkaran yang lain. Mereka mengamati betapa uang mengalir dari satu tangan ke tangan yang lain, berputar dan kembali lagi. Namun sebagian dari uang itu telah berhenti di tangan orang-orang yang saat itu sedang beruntung.

 

 ***   

 

 KIAI WINDU dan kawan-kawannya ternyata tidak hanya sekadar melihat-lihat saja. Mereka mulai menebar dan turun ke arena yang berbeda-beda. Tetapi agaknya mereka cukup berhati-hati. Mereka tidak hanyut dalam gejolak perasaan mereka di arena perjudian. Tetapi mereka sempat berpikir dan memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang harus mereka pilih di antara beberapa kemungkinan yang lain. 

 

 Karena itu, maka selama Kiai Windu beberapa kali mengunjungi Song Lawa, mereka tidak pernah mengalami kesulitan yang tidak teratasi. Mereka selalu memperhitungkan setiap uang yang mereka lepaskan dalam permainan itu. Satu kali mereka memang harus mengalami kekalahan. Tetapi dikesempatan lain mereka dapat memenangkan permainan itu.

 

 Ternyata Kiai Windu agak lama juga berada di barak permainan dadu bersama kawan-kawannya. Namun agaknya seorang di antara kawannya telah mengalami kekalahan. Beberapa kali uang yang dipasang telah mengalir lepas dari tangannya.

 

 Tetapi orang itu sempat mengendalikan diri. Ketika uang yang disediakan buat hari Itu sudah sampai pada hitungan terbanyak, maka ia pun telah berhenti.

 

 Ketika ia mendekati seorang kawannya yang bermain dilingkaran yang berbeda, ternyata kawannya itu telah memenangkan permainan. Karena itu, maka kawannya itu pun bertanya kepadanya, "Apakah kau akan mencoba lagi?"

 

 Tetapi orang yang telah kalah itu menggeleng. Katanya, "Tidak. Aku justru ingin menonton saja." Namun dalam kesempatan ia berbisik, "Aku sedang mengamati seseorang."

 

 Yang sedang memenangkan permainan dadu itu mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian mengangguk sambil berdesis, "Lakukanlah. Jika perlu panggil aku."

 

 Kawannya menepuk bahunya. Kemudian ia pun bergeser meninggalkan orang yang sedang memenangkan permainan itu.

 

 Sementara itu, ternyata Kiai Windu sendiri juga telah menang meskipun tidak terlalu banyak dan perlahan-lahan sekali. Tetapi orang itu memang memiliki kesabaran yang tinggi di dalam arena perjudian. Perhitungannya cukup cermat. Ia dengan sabar menunggu orang-orang lain memasang uangnya. Baru kemudian ia menjatuhkan pilihannya.

 

 Dalam pada itu, seorang di antara kawannya telah bergeser menjauh. Ia memang sedang memperhatikan seseorang yang agaknya sangat menarik perhatiannya.

 

 Ternyata orang yang diperhatikan, dan kemudian diikuti oleh kawan Kiai Windu itu adalah seorang laki-laki separo baya. Tubuhnya tidak terlalu besar, bahkan punggungnya sedikit bengkok. Wajahnya yang kasar membuatnya nampak garang.

 

 Orang bertubuh bongkok itu telah menemui beberapa orang petugas berturut-turut. Beberapa orang bertubuh raksasa yang ada di dalam barak permainan dadu itu. Setiap kali ia berbicara dengan sungguh-sungguh namun hanya beberapa kalimat saja. Jika ia kemudian meninggalkan petugas itu, maka nampaknya petugas itu menjadi lebih bersiaga.

 

 Ketika orang bertubuh bongkok itu sampai petugas yang terakhir di dalam barak itu, maka ia berbicara agak panjang. Nampaknya beberapa pesan telah diberikan secara khusus. Tetapi kawan Kiai Windu itu tidak dapat menangkap sedikit pun isi dari pembicaraan itu.

 

 Beberapa saat kemudian orang bertubuh bongkok itu pun telah meninggalkan barak itu. Namun hal yang sama dilakukan pula terhadap para petugas dimanapun ditemuinya. Para petugas yang baru saja berjalan dari satu tempat ke tempat lain pun telah dihentikannya dan diajaknya berbicara sebagaimana para petugas di dalam barak tempat bermain dadu.

 

 Kawan Kiai Windu itu tidak mengikutinya lebih jauh. Agaknya terlalu berbahaya baginya. Sementara itu, ia pun masih belum dapat menemukan pertanda yang dapat dikenalinya dari ujud maupun sikap orang itu. 

 

 SEJENAK kemudian, kawan Kiai Windu itu pun telah kembali ke barak permainan dadu. Seorang lagi di antara kawan-kawannya telah selesai pula bermain dan berdiri dibelakang Kiai Windu yang nampaknya tidak kalah itu. 

 

 Ketika ia sudah berdiri dibelakang kawannya yang menunggui Kiai Windu itu, ia pun telah menggamitnya sambil bertanya, "Bagaimana dengan kau?"

 

 Orang itu berpaling. Katanya sambil tersenyum, "Aku benar-benar menang kali ini. Kiai Windu pun menang pula. Hanya kau sajalah yang kalah, sementara kawan kita yang seorang lagi nampaknya juga tidak kalah."

 

 "Aku siap hari ini," berkata kawan Kiai Windu yang kalah itu. "Tetapi aku mempunyai cerita tersendiri."

 

 Kawannya yang menang itu mengangguk-angguk. Katanya, "Tentu cerita yang menarik."

 

 Beberapa saat mereka masih berada di barak itu. Namun akhirnya mereka berempat pun telah meninggalkan barak itu. Kiai Windu dan dua orang kawannya memang memenangkan permainan dadu itu meskipun tidak terlalu banyak, sedangkan seorang lagi telah kalah sampai batas terakhir keping uangnya yang disediakan untuk hari itu. Bahkan ketika kemudian mereka sempat menghitung-hitung secara kasar, ternyata kekalahan yang seorang itu lebih banyak dari kemenangan Kiai Windu dan kedua orang kawannya yang lain.

 

 Tetapi Kiai Windu masih juga tertawa. Katanya, "Biarlah hari ini kita mengalami kekalahan kecil. Besok kita tebus di lapangan panahan asal kita tidak berada dalam satu arena dengan Wanengpati dan Wanengbaya."

 

 "Tidak pula dengan Kepala Besi dan dua orang lain yang ada di arena bersama mereka," berkata kawan Kiai Windu yang kalah itu.

 

 Kiai Windu tersenyum. Katanya, "Ternyata banyak orang yang memiliki kemampuan membidik melampaui kita."

 

 Yang lain pun tertawa pula.

 

 Namun dalam pada itu, kawan Kiai Windu yang kalah itu telah menceritakanapa yang dilihatnya.Seorang yang agak bongkok yang telah menghubungi hampir semua petugas. Tidak hanya yang berada di dalam barak permainan dadu, tetapi juga di luarnya yang beberapa orang dapat dilihatnya.

 

 Kiai Windu termangu-mangu sejenak. Tiba-tiba saja ia berkata, "Apakah orang itu petugas Song Lawa yang dikirim ke luar tempat perjudian ini untuk mengamati suasana dan dapat melihat sesuatu yang menarik perhatiannya di luar?"

 

 "Aku tidak pasti," jawab kawannya itu. Namun kemudian katanya, "Tetapi nampaknya berita atau mungkin perintah yang disampaikan itu penting dan harus segera merata."

 

 Kiai Windu mengangguk-angguk. Katanya, "Tetapi bukankah hari-hari kita tidak mulai sekarang?"

 

 "Tidak," jawab seorang kawannya. "Setidak-tidaknya mulai dua hari lagi."

 

 Kiai Windu tiba-tiba berhenti sejenak. Katanya, "Ya hari ini memang mungkin sekali dijumpainya sesuatu yang menarik perhatian mereka, maksudku para petugas dari Song Lawa ini. Kita memang mulai dari sekarang. Maksudku hari ini."

 

 "Apa yang sudah kita mulai?" bertanya seorang kawannya.

 

 Kiai Windu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Satu susulan dari keseluruhan kewajiban yang dibebankan kepada kita. Mungkin orang bongkok itu melihat atau bertemu dengan mereka yang bertugas untuk mengenali jalan-jalan disekitar medan."

 

 Kawan-kawan Kiai Windu mengangguk-angguk. Seorang di antara mereka berkata, "Ya. Agaknya mereka. Atau apapun yang mereka curigai berhubungan dengan tempat ini."

 

 "Satu peringatan bagi kita," jawab Kiai Windu. Bahkan mereka berempat kemudian telah berdiri ditempat yang terbuka, justru tidak berada di dekat seorang pun yang lalu lalang beberapa dari mereka."

 

 "Bagaimana penilaian kita terhadap dua orang yang berada dibilik kita itu?" tiba-tiba Kiai Windu bertanya. .

 

 KETIGA orang kawannya termangu-mangu. Seorang di antara mereka sempat juga melihat orang yang lewat beberapa langkah dari mereka sehingga kepalanya berpaling. “He,” kawannya menggamit. “Kau lihat perempuan yang lewat dengan golok di lambung itu.” 

 

 “O, tidak,” orang itu tergagap.

 

 “Nah, bagaimana tanggapanmu terhadap dua orang yang menyebut dirinya Wanengpati dan Wanengbaya itu?” bertanya kawannya.

 

 Orang itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian jawabannya, “Mereka nampaknya baik-baik saja.”

 

 “Dimana perempuan dengan golok dilambung itu sekarang?” tiba-tiba Kiai Windu bertanya.

 

 “Nampaknya ia pergi ke barak permainan dadu,” jawab orang itu hampir di luar sadarnya.

 

 “Nah, jika pertanyaannya menyangkut perempuan, ia tanpa berpikir dapat menjawab dengan baik,” berkata seorang kawannya yang lain.

 

 “Ah,” orang itu baru sadar. Dan tiba-tiba saja ia berkata, “Maksudku, tidak ada kesulitan dengan keduanya.”

 

 “Jawabanmu semakin kabur,” desis Kiai Windu.“Coba, sekarang kita berbicara dengan sungguh-sungguh tentang kedua orang itu. Apakah mereka akan dapat menjadi hambatan bagi kita atau tidak. Atau bahkan sebaliknya.”

 

 Ketika orang kawannya pun menjadi bersungguh-sungguh pula. Seorang di antara mereka bertanya, “Mereka bagi kita adalah orang-orang aneh. Perhatiannya justru lebih banyak kepada anak-anak muda yang berada di Song Lawa ini. Nampaknya ia sangat menyesali kehadiran mereka disini.”

 

 “Menurut penglihatanku,” berkata yang lain. “Keduanya bukan orang kasar sebagaimana yang kita lihat. Mereka memang berusaha untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan di Song Lawa ini. Mereka lebih membuat diri mereka kasar dan kadang-kadang liar. Tetapi mereka agaknya mempunyai kepentingan lain.”

 

 “Baiklah,” berkata Kiai Windu. “Pada umumnya kita berpendapat bahwa keduanya bukan orang-orang yang perlu mendapat perhatian terlalu besar. Namun demikian banyak kemungkinan dapat terjadi. Keduanya memang orang-orang berilmu tinggi. Jika keduanya menjadi salah paham, maka sikap mereka tidak akan dapat kita perhitungkan.”

 

 “Kita memang harus menjaga hubungan baik itu,” berkata salah seorang di antara mereka. “Dalam satu dua hari ini kita akan melihat, apa saja yang mereka lakukan disini.”

 

 “Tetapi kita harus lebih berhati-hati terhadap Wanengpati. Agaknya ia mempunyai watak yang lebih keras dari Wanengbaya. Wanengpati kadang-kadang tidak terlalu banyak dapat membuat pertimbangan sebelum bertindak, sehingga kadang-kadang ia terjerumus kedalam gejolak perasaannya tanpa penalaran,” berkata Kiai Windu. “Ternyata ia telah mengguncangkan lapangan panahan dan ia pun telah menghancurkan kesombongan orang yang disebut Kepala Besi itu.”

 

 “Ya,” seorang kawannya mengangguk-angguk. “Nampaknya Wanengbaya tidak setuju dengan sikapnya itu.”

 

 Kiai Windu dan kawan-kawannya yang lain mengangguk-angguk. Namun kemudian Kiai Windu berkata, “Marilah. Kita kembali ke bilik kita.”

 

 Ketika keempat orang itu sampai di bilik mereka, ternyata mereka mendapatkan pintu bilik mereka diselarak dari dalam. Karena itu, maka mereka pun telah mengetuk perlahan-lahan.

 

 Sambi Wulunglah yang kemudian membuka pintu itu. Sambil tersenyum ia pun bertanya, “Apakah kalian sudah selesai?”

 

 Salah seorang kawan Kiai Windu menjawab, “Uangku yang aku sediakan untuk hari ini telah habis.”

 

 “Untuk hari ini?” bertanya Sambi Wulung.

 

 “Ya. Aku selalu menyediakan uang untuk setiap hari. Aku tidak mau berjudi berlarut-larut. Jika persediaanku utuk sehari telah habis, maka aku harus berhenti bermain, menunggu sampai hari berikutnya,” jawab kawan Kiai Windu itu.

 

  “LUAR biasa,” desis Sambi Wulung. “Jarang sekali orang dapat mengekang diri seperti itu. Apalagi di tempat perjudian seperti ini. Itulah agaknya para petugas mengatakan, bahwa di hari-hari pertama, kadang-kadang sudah ada orang yang membunuh diri. Orang itu tentu tidak mempunyai kendali atas dirinya sendiri sebagaimana kau.” Kawan Kiai Windu itu tersenyum. Namun ia pun berkata, “Aku tiba-tiba saja menjadi lapar.” 

 

 “Ah kau,” kawannya telah mendorongnya masuk. “Aku mengantuk. Aku ingin berbaring barang sejenak sebelum pergi ke warung itu.”

 

 Kiai Windu sendiri tidak mengatakan sesuatu. Tetapi sekilas diperhatikannya barang-barangnya serta milik kawan-kawannya. Nampaknya letaknya tidak berubah. Menurut dugaannya, kedua orang yang telah lebih dahulu berada di dalam bilik itu tidak menyentuh barang-barangnya yang hanya sedikit itu.

 

 Ketika kemudian Sambi Wulung duduk lagi di sudut amben, maka kawan-kawan Kiai Windu pun telah barbaring di amben itu. Namun Kiai Windu yang duduk disebelah Wanengpati itu pun berkata, “Aku justru menang hari ini.”

 

 “Kau?” bertanya Sambi Wulung.

 

 “Ya. Meskipun tidak terlalu banyak,” jawab Kiai Windu.

 

 “Kita akan menikmatinya di kedai nanti,” berkata Sambi Wulung.

 

 “Ya. Kita akan menikmatinya. Bukankah kau juga menang hari ini. Apalagi Wanengpati,” jawab Kiai Windu sambil tersenyum. “Jika kau mau, maka semua uang yang ada di lapangan panahan dapat kau ambilnya.”

 

 “Ah,” Wanengbaya tersenyum. “Ia memang orang bengal. Seharusnya ia tidak berbuat seperti itu, sehingga ia harus berkelahi dengan orang yang disebut Kepala Besi yang mempunyai pengaruh besar di pesisir Utara. Kepala Besi itu tentu tidak akan menerima perlakuan sebagaimana dialaminya. Jika ia tidak sempat membalas dendam disini, maka pada kesempatan lain, ia akan membawa orang-orang yang berada di bawah pengaruhnya di pesisir Utara.”

 

 “Untuk apa?” bertanya Kiai Windu.

 

 “Untuk membalas dendam,” jawab Wanengbaya.

 

 “Membalas dendam siapa?”Kiai Windu justru bertanya.Kemudian katanya, “Jika ia ingin membalas dendam terhadap Wanengpati kemana ia harus mencarinya?Karena kau dan Wanengpati nampaknya pengembara yang tidak mempunyai tempat tinggal.”

 

 Sambi Wulung mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum. Bahkan ia pun kemudian bertanya, “Apakah kau ingin tahu, dimana kami tinggal?”

 

 Kiai Windu pun tertawa. Jawabannya, “Tidak. Aku tidak akan memaksamu untuk mengatakan tempat tinggalmu karena aku sudah yakin bahwa kau dan Wanengpati memang tidak mempunyai tempat tinggal yang mapan.”

 

 Sambi Wulung justru tertawa pula. Katanya, “Jika yang kau katakan itu tidak benar, aku akan dengan serta merta menyebut tempat tinggalku. Tetapi karena yang kau katakan itu benar, maka aku tidak dapat mengatakan apa- apa.”  

 

 "JAHANAM kau," geram Kiai Windu sambil bangkit berdiri. Tetapi tertawanya masih juga terdengar. Katanya, "Siapapun kau dan Wanengpati, tetapi Wanengpati telah menang banyak sekali hari ini." 

 

 "Ia tidak melanjutkan permainan," berkata Sambi Wulung.

 

 Kiai Windu melangkah mondar-mandir disebelah pembaringan. Namun kemudian ia berkata, "Apa rencanamu malam nanti?"

 

 "Terserah kepada Wanengpati," jawab Sambi Wulung. "Namun di tempat lain kita tidak akan dapat mengatur berdasarkan kemampuan kita, apakah kita akan menang atau kalah. Semuanya tergantung pada dadu atau ayam yang kita sabung."

 

 "Agaknya kalian tidak banyak tertarik kepada permainan yang lain kecuali panahan," berkata Kiai Windu.

 

 "Aku belum tahu," jawab Sambi Wulung.

 

 Kiai Windu pun tidak bertanya lagi. Tetapi ia telah duduk pula di amben bambu yang cukup besar itu.

 

 Keduanya pun untuk sejenak saling berdiam diri. Yang terdengar kemudian adalah dengkur mereka yang sedang tertidur. Ternyata kawan Kiai Windu yang merasa lapar itu pun telah tertidur pula sebagaimana kawannya yang mengantuk.

 

 Demikianlah, ketika malam menjadi semakin gelap, keenam orang itu telah berada di kedai yang masih sibuk. Beberapa orang telah ke luar dan masuk berganti-ganti. Sambi Wulung dan Jati Wulung sempat memperhatikan orang-orang yang hilir mudik itu sempat menilai beberapa jenis sifat dan watak orang.

 

 Selagi mereka sibuk dengan pesanan mereka masing-masing, maka tiba-tiba saja Puguh dan beberapa orang pengawalnya telah memasuki kedai itu pula. Demikian ia melihat Jati Wulung, maka sambil tertawa ia telah mendekatinya.

 

 "Sudah lama kau disini?" bertanya Puguh.

 

 "Sudah anak muda," Jati Wulung pun tertawa pula.

 

 "Nah, marilah. Aku yang akan membayar makanan dan minumanmu," berkata Puguh.

 

 "Ah," Jati Wulung menggeleng. "Terima kasih. Bukannya aku menolak. Tetapi aku datang berenam."

 

 "Tidak apa-apa. Aku telah menang dalam permainan dadu," berkata Puguh.

 

 "Tiga kawannya juga telah menang. Sementara seorang yang lain telah menang pula di arena panahan," jawab Jati Wulung.

 

 "Dan sudah barang tentu kau sendiri," sahut Puguh pula.

 

 Tetapi sambil tersenyum Jati Wulung menggeleng. Katanya, "Aku kalah dimana-mana. Tetapi terima kasih atas kebaikan hatimu. Besok mungkin aku memerlukanmu. Apalagi jika semua uangku telah habis sehingga aku memerlukan pinjaman."

 

 Puguh tertawa berkepanjangan. Katanya, "Baiklah. Jika kau memerlukan, katakan saja kepadaku. Atau bahkan mungkin akulah yang datang kepadamu untuk meminjam lebih dahulu."

 

 Jati Wulung tertawa pula. Sambi Wulung dan Kiai Windu serta kawan-kawannya pun tertawa pula.

 

 "Ternyata anak ini sempat pula berkelakar," berkata Sambi Wulung di dalam hatinya. Menurut penglihatannya, wajah Puguh biasanya nampak murung dan bersungguh-sungguh. Senyumnya terlalu mahal dan sorot matanya kadang-kadang memancarkan kecurigaan. Tetapi dengan Jati Wulung ia dapat menjadi akrab.

 

 Puguh pun kemudian telah duduk pula di dalam kedai itu. Karena Jati Wulung tidak mau menerima tawarannya, maka Puguh telah mengambil tempat tersendiri bersama para pengawalnya.

 

 Namun dalam pada itu, Kiai Windulah yang nampak menjadi agak gelisah. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba saja ia berkata kepada kawan-kawannya, "Kita menengok kuda-kuda kita sejenak."

 

 Ketiga kawannya mengerutkan keningnya. Namun kemudian mereka pun mengangguk kecil. Seorang di antara berkata, "Marilah. Mudah-mudahan kuda-kuda itu tidak kekurangan makan." -

 

 TETAPI Kiai Windu tidak lupa membayar makanan dan minuman bukan saja bagi dirinya dan ketiga orang kawannya. Tetapi juga bagi Sambi Wulung dan Jati Wulung. "Tunggulah sebentar," berkata Kiai Windu. "Kami akan menengok kuda-kuda kami." 

 

 "Silakan," berkata Sambi Wulung. Lalu, "Jika tidak disini, kami dapat kalian jumpai di dalam bilik kami."

 

 "Kau tidak melihat permainan dadu?" bertanya Kiai Windu.

 

 Sambi Wulung tersenyum. Katanya, "Mungkin kami akan kesana. Tetapi mungkin aku akan menunggu sampai rambahan-rambahan panahan itu berlangsung lagi."

 

 Kiai Windu pun tersenyum pula.Sambil menepuk bahu Sambi Wulung ia berkata, "Jaga saudaramu itu baik-baik."

 

 Jati Wulung memandanginya dengan tajamnya. Namun ia pun kemudian tersenyum sambil berkata, "Kau takut bahwa aku akan menjadi liar disini?"

 

 "Bukankah kalian menjadi liar sejak belum memasuki tempat ini?" bertanya Kiai Windu.

 

 "He," Jati Wulung menjadi tegang. Namun ia pun kemudian tertawa. Katanya, "Kau benar. Bahkan aku menjadi liar sejak lahir."

 

 Kiai Windu dan kawan-kawannya pun tertawa. Sambil melangkah pergi Kiai Windu berkata, "Kau sempat merajuk, he?"

 

 Jati Wulung tidak menjawab. Tetapi ia menjadi tertarik kepada Puguh. Karena itu, maka ia memberi isyarat kepada Sambi Wulung untuk mendekati anak muda yang sedang makan itu.

 

 "He, marilah. Mungkin kalian ingin makan bersama aku? Dimana kawan-kawanmu itu?" bertanya Puguh.

 

 Sambi Wulung dan Jati Wulung pun kemudian duduk bersama Puguh dan para pengawalnya. Para pengawal Puguh itu tahu pasti, bahwa Jati Wulung yang dikenal bernama Wanengpati itu memiliki ilmu yang jauh lebih tinggi dari ilmu mereka. Apalagi jika kawannya yang bernama Wanengbaya itu juga. Maka berdua mereka merupakan kekuatan yang jauh lebih besar daripada pengawal itu.

 

 "Jika Puguh mampu mengikat keduanya, mungkin kami tidak diperlukan lagi," berkata para pengawal itu di dalam hatinya.

 

 "Kalian mau makan apa?" bertanya Puguh dengan ramah.

 

 Jati Wulung menggeleng. Katanya sambil tersenyum, "Aku sudah kenyang. Aku hanya ingin duduk disini. Kawan-kawanku itu sedang pergi menengok kuda mereka yang ditambatkan di luar."

 

 "Bukankah kuda-kuda itu sudah dititipkan? Biasanya orang-orang yang menjaga kuda itu mengurusnya dengan baik. Dari penyediaan makanan sampai kebersihannya."

 

 Jati Wulung memang tidak begitu mengetahui tentang penitipan kuda di Song Lawa. Namun ia menjawab, "Kawanku itu sangat sayang kepada kudanya. Seperti menyayangi anak-anaknya."

 

 Puguh tersenyum. Ia pun kemudian beringsut untuk memberi tempat yang lebih baik kepada Jati Wulung dan Sambi Wulung yang sudah duduk di antara mereka.

 

 Di luar dugaan Jati Wulung, Puguh masih saja memujinya. Dengan suara berat ia akhirnya berkata, "Sampai saat ini orang yang disebut Kepala Besi itu masih belum keluar dari biliknya. Ia telah mendapat perawatan dari tabib Song Lawa ini."

 

 "Disini ada tabib?" bertanya Jati Wulung.

 

 "Ada. Disini ada semuanya. Ada tabib tetapi juga ada bilik disudut halaman ini," jawab Puguh. "Mereka yang ingin sembuh dari penderitaannya apapun sebabnya dapat memanggil tabib dengan upah tersendiri. Tetapi siapa yang ingin mengakhiri penderitaan dengan cara lain, mungkin penderitaan batin karena kalah tanpa dapat dihitung lagi, dipersilakan untuk pergi ke bilik itu."

 

 Jati Wulung tersenyum. Katanya, "Memang menarik sekali."

 

 "Kau baru kali ini berkunjung ke Song Lawa?" desis Puguh itu lebih lanjut.

 

 "Ya," jawab Jati Wulung. "Meskipun aku telah mengunjungi tempat-tempat perjudian dimana-mana. Namun ternyata bahwa tempat ini sangat menarik."

 

  

 

 PUGUH tertawa. Ia pun kemudian masih banyak bercerita tentang lingkungan Song Lawa yang sebagian sudah dikenal oleh Jati Wulung dan Sambi Wulung. Namun ternyata Puguh tidak bercerita sama sekali tentang dirinya sendiri. Betapapun Jati Wulung dan Sambi Wulung selalu menghindar. 

 

 Jati Wulung dan Sambi Wulung tidak ingin dicurigai karena keinginannya untuk mengetahui keadaan Puguh secara pribadi. Karena itu, maka mereka tidak dapat memaksa agar Puguh mengatakan lebih banyak dari apa yang dilihatnya tentang anak muda di tempat perjudian yang disebut Song Lawa itu.

 

 Beberapa saat lamanya Jati Wulung dan Sambi Wulung sempat berbicara dengan Puguh di antara para pengawalnya. Namun kemudian keduanya telah minta diri untuk melihat-lihat permainan dadu. Mungkin mereka tertarik untuk ikut bermain.

 

 “Nanti aku menyusul,” berkata Puguh.

 

 Jati Wulung dan Sambi Wulung pun kemudian telah meninggalkan kedai itu. Demikian mereka memasuki kegelapan, maka Sambi Wulung pun berdesis, “Kepribadiannya sama sekali tidak sebagaimana kita duga sebelumnya. Keterangannya yang kita peroleh tentang anak itu sebelum kita menjumpainya, agaknya terlalu berlebihan.”

 

 Jati Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Kita hanya menduga sebelumnya. Menilik sifat ibunya dan laki-laki yang mungkin dianggap ayahnya, Ki Rangga Gupita. Kita juga membayangkan lingkungannya yang kasar dan cara hidupnya yang sedikit liar.”

 

 “Namun ternyata anak itu agak lain,” desis Sambi Wulung.

 

 Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba ia berkata, “Kita melihat permainan dadu sebentar.”

 

 Dalam pada itu, Kiai Windu dan ketiga orang kawannya telah berada di luar pintu gerbang. Kepada petugas di pintu mereka mengatakan bahwa mereka ingin melihat kuda-kuda mereka.

 

 “Malam-malam begini?” bertanya petugas yang bertubuh raksasa itu.

 

 Kiai Windu tersenyum. Katanya, “Aku tenggelam di permainan dadu sehingga aku lupa melihat kuda-kuda kami.”

 

 “Percayakan kepada kami. Kami sudah berpengalaman mengurusi kuda jenis apapun,” berkata penjaga pintu gerbang itu.

 

 Tetapi sambil tertawa Kiai Windu berkata, “Aku sudah rindu kepada kudaku. Demikian juga kawan-kawan ini. Kami hanya sebentar, asal saja sempat melihatnya. Kami masih akan kembali ke permainan dadu itu.”

 

 Penjaga itu tidak menghiraukan lagi. Dibiarkannya saja keempat orang itu melihat kudanya yang sudah ditempatkan di kandang khusus bagi kuda-kuda yang dititipkan, yang masih terletak di lingkungan dinding berlapis di Song Lawa itu.

 

 Namun ketika mereka berada di kandang kuda itu, mereka telah mendengar suara cengkerik di balik dinding. Perlahan-lahan Kiai Windu mendekatinya. Kemudian diucapkannya kata sandi perlahan-lahan. “He, kau itu Pager Bubrah. Lihat awan di depan deretan bintang.”

 

 “Bagus,” terdengar desis di balik dinding. “Tempatku cukup terlindung dibalik semak-semak.”

 

 “Kau tergesa-gesa?” bertanya Kiai Windu.

 

 “Tidak. Ada pesanmu?” bertanya yang di luar dinding.

 

 “Seorang yang agak bongkok telah memberikan laporan yang mencurigakan,” desis Kiai Windu.

 

 Sejenak tidak terdengar jawaban. Sementara seorang kawan Kiai Windu mendekatinya sambil bertanya, “Suara anjing menggonggong itu? Ternyata aku hampir tidak mendengarnya mula-mula.”

 

 “Ya. Telinganya harus lebih peka dalam tugas ini,” sahut Kiai Windu.

 

 “Ternyata kita memang sudah mulai,” berkata kawannya. “Apakah orang di luar itu pernah bertemu dan berhubungan dengan orang bongkok?” bertanya Kiai Windu hampir berbisik.

 

 “Aku agaknya memang pernah bertemu,” jawab orang di luar dinding.

 

 SEMENTARA itu, seorang di antara kawan Kiai Windu itu telah menarik kudanya ke luar dari kandang. Karena dengan sengaja ia membuat kudanya terkejut, maka kuda itu telah melonjak dan meringkik keras. Penjaga yang ada di pintu gerbang mendengar pula ringkik kuda itu. Tetapi ia tidak begitu menghiraukannya. Karena menurut perhitungannya, keempat orang itu tentu tidak akan mencuri kuda. Seandainya mereka ingin melakukannya, mereka tidak dapat melontarkan kuda-kuda yang dicurinya lewat di atas dinding yang agak tinggi itu. 

 

 Sementara itu Kiai Windu itu bertanya pula, "Dimana kau bertemu dengan orang itu?"

 

 "Agak jauh dari tempat ini. Namun agaknya orang itu memang memperhatikan kami. Apakah orang bongkok itu orang Song Lawa?" bertanya yang diluar.

 

 "Ya. Orang bongkok itu telah memberikan laporan yang tidak aku mengerti. Mungkin melaporkan kehadiranmu," desis Kiai Windu.

 

 "Orang bongkok atau dua orang tua atau salah seorang di antara mereka," bertanya yang di luar.

 

 "Orang bongkok," jawab Kiai Windu.

 

 Sejenak mereka terdiam. Seorang lagi kawan Kiai Windu telah mengeluarkan kudanya pula dari kandang. Beberapa saat kuda-kuda yang ada di dalam kandang itu memang agak ribut.

 

 Ternyata seorang telah mendekati mereka. Seorang petugas dari Song Lawa sehingga Kiai Windu harus memberi isyarat kepada orang di luar dinding untuk diam.

 

 "Kenapa dengan kuda-kuda itu?" bertanya petugas itu.

 

 "Siapa kau?" bertanya Kiai Windu.

 

 "Aku petugas yang mengurus kuda-kuda titipan. Kenapa kau malam-malam begini membuat ribut di kandang kuda?" bertanya petugas itu.

 

 "Aku ingin melihat kudaku. Siang tadi kami tidak sempat melakukannya. Kami sibuk bermain dadu," jawab kawan Kiai Windu itu.

 

 "Tetapi jangan menakut-nakuti kuda yang lain. Jika ada di antara kuda-kuda itu yang terlepas karena ketakutan, kalian harus menangkapnya," berkata petugas itu.

 

 "Bukankah kuda-kuda itu tidak akan dapat ke luar?" bertanya Kiai Windu.

 

 "Tetapi jika kuda itu berlari-lari di longkangan ini, akan cukup melelahkan untuk menangkapnya," berkata petugas itu.

 

 "Baiklah. Aku akan bertanggung jawab," sahut Kiai Windu.

 

 Sejenak kemudian, orang itu pun meninggalkan kandang kuda itu sementara Kiai Windu dan kawan-kawannya terpaksa menunggunya sehingga menjadi semakin jauh. Baru kemudian Kiai Windu melanjutkan membicarakannya dengan orang-orang di luar.

 

 "Bagaimana dengan orang tua itu?" bertanya Kiai Windu.

 

 "Kau mau mendengar?" bertanya orang di luar.

 

 "Katakan, aku tidak tergesa-gesa juga," berkata Kiai Windu.

 

 Suara di luar dinding itu terhenti sejenak. Namun kemudian katanya, "Aku menjumpai dua orang tua di lereng gunung yang agak tinggi. Tetapi mereka nampaknya dengan sengaja telah menyembunyikan dirinya."

 

 "Apakah mereka tahu siapa kau?" bertanya Kiai Windu.

 

 "Tidak. Agaknya mereka tidak tahu. Tetapi keduanya justru mencurigakan," jawab suara di luar dinding.

 

 "Kenapa keduanya tidak kau tangkap dan kau bawa ke landasan pertama dari tugas ini dan kau serahkan kepada mereka yang berada di landasan pertama itu?" bertanya Kiai Windu.

 

 "Niatku juga demikian," jawab orang di luar dinding. "Tetapi gagal."

 

 "Kenapa gagal?" bertanya Kiai Windu selanjutnya.

 

 Orang di luar dinding itu pun kemudian menceritakan usahanya untuk menangkap kedua orang tua itu. Mula-mula keduanya akan ditangkap, ternyata kelima orang di luar dinding itu tidak mampu melakukannya.

 

 "Kami bertempur," berkata orang itu. Sekilas teringat angan-angannya apa yang telah terjadi.

 

 BERLIMA itu telah menemukan dua orang tua yang duduk di batu-batu padas di atas sebuah tebing. Dari tempat itu, keduanya dapat jelas melihat lingkungan Song Lawa, meskipun tanpa dapat melihat bagian-bagian yang kecil. Tanpa dapat mengenali orang-orang yang nampak sekecil bilalang. 

 

 Kelima orang itu mencurigai dua orang tua yang nampaknya memang sedang mengamati Song Lawa dengan tujuan yang tidak jelas. Karena itu, maka kedua orang tua itu akan dibawa ke landasan tugas mereka berlima. Tetapi orang-orang tua itu menolak sehingga kelima orang itu mencoba untuk memaksa.

 

 Tetapi setelah bertempur beberapa saat, maka ternyata kedua orang itu memiliki ilmu yang tinggi. Tanpa kesulitan apapun mereka setiap kali mampu melepaskan diri dari kepungan. Bahkan sekali-kali menyentuh tubuh mereka berlima berganti-ganti. Sentuhan itu tidak terlalu keras, tetapi rasa sakitnya bagaikan menembus sampai ke sungsum.

 

 "Ternyata keduanya adalah orang yang berilmu sangat tinggi," berkata orang di luar dinding.

 

 "Dimana mereka berdua sekarang?" bertanya Kiai Windu.

 

 "Kami tidak tahu. Keduanya tiba-tiba saja terlepas dari tangan kami dan menghilang di antara semak-semak di lareng gunung itu," jawab orang di luar dinding.

 

 Kiai Windu menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian bertanya, "Apakah sudah kau laporkan?"

 

 "Sudah kami laporkan," jawab orang di balik dinding. "Kedua orang itu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh."

 

 "Baiklah," berkata Kiai Windu pula. Kemudian ia pun bertanya, "Bagaimana dengan orang bongkok itu?"

 

 "Agaknya kami pernah melihatnya. Kami berlima sedang mengadakan pengamatan lingkungan Song Lawa ini," jawab orang di luar dinding. "Tetapi orang itu pun tidak dapat kami tangkap. Ia pun tiba-tiba telah menghilang pula."

 

 "Apakah menurut dugaanku orang bongkok itu ada hubungannya dengan kedua orang tua itu?" bertanya Kiai Windu pula.

 

 "Agaknya tidak. Keduanya kami jumpai ditempat yang jauh berbeda. Tetapi kemungkinan itu memang ada juga," jawab suara itu.

 

 "Baik. Beri aku laporan berikutnya jika ada yang penting. Usahakan untuk menemukan dua orang tua itu. Orang bongkok itu telah berada disini. Di Song Lawa," berkata Kiai Windu.

 

 Pembicaraan itu terputus. Kiai Windu pun kemudian memerintahkan kawan-kawannya untuk mengembalikan kuda yang telah mereka ambil dari kadang sekadar untuk mengelabuhi para petugas jika mereka melihat apa yang mereka lakukan.

 

 Sejenak kemudian keempat orang itu pun telah siap untuk kembali ke lingkungan Song Lawa dengan memasuki pintu gerbang dilapis terakhir yang dijaga ketat itu.

 

 Sementara itu seorang kawannya berdesis, "Agaknya memang perlu perhatian khusus."

 

 "Ya," jawab Kiai Windu. .  

 

 SEDANGKAN kawannya yang lain berkata, “Bukankah tugas ini tidak termasuk dalam rencana induk dalam gerakan ini?” “Memang tidak,” jawab Kiai Windu. “Menurut rencana induk, baru dua hari lagi orang-orang kita bergerak. Tetapi seperti yang aku katakan, kita atau katakan para petugas itu harus dibekali degan pengenalan medan. Karena itu, maka ada beberapa orang yang ditugaskan khusus untuk mengenali medan ini.” Kawan-kawannya tidak bertanya lagi. Mereka sudah berada di dekat pintu gerbang. Tanpa kesulitan mereka pun kemudian masuk kembali ke dalam lingkungan Song Lawa melewati pintu gerbang di lapis terakhir dari dinding yang berlapis itu. 

 

 Namun mereka berempat masih mencari tempat yang tidak banyak diperhatikan orang di dalam lingkungan khusus itu. Sementara itu di barak permainan dadu masih terdengar betapa ramainya orang-orang yang ikut dalam permainan itu.

 

 “Kita harus bekerja lebih cepat,” berkata Kiai Windu. “Kita harus segera mengumpulkan laporan itu.”

 

 “Kita sudah mempunyai bahan yang lengkap tentang tempat ini setelah kita beberapa kali melibatkan diri dalam perjudian disini,” berkata seorang kawannya. “Namun demikian, mungkin masih ada juga yang terlampaui dari pengamatan kami.”

 

 “Ada dua hal yang perlu mendapat perhatian,” berkata Kiai Windu. “Hadirnya dua orang yang berilmu tinggi yang menyebut dirinya Wanengbaya dan Wanengpati serta kedatangan orang yang mempunyai nama terkenal di pesisir Utara, Orang Hutan Berkepala Besi itu.”

 

 Ketiga orang kawannya mengangguk-angguk. Seorang di antara mereka berkata, “Kita tidak tahu dengan pasti, untuk apa mereka berada disini. Tetapi Wanengbaya dan Wanengpati nampaknya bukan orang yang mempunyai niat buruk. Mungkin keduanya mempunyai kepentingan tertentu, justru terhadap anak-anak muda yang ada disini. Setiap kali yang mereka bicarakan adalah tentang anak-anak muda. Keduanya nampaknya sangat menyesal melihat bahwa di tempat ini ada juga anak-anak muda dan bahkan remaja.”

 

 Kiai Windu mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Marilah. Kita kembali ke barak permainan dadu. Usahakan untuk dapat melihat lagi orang bongkok itu. Tetapi kita harus berhati-hati. Ternyata disini hadir orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi.”

 

 Demikianlah keempat orang itu pun kemudian telah memasuki barak permainan dadu. Namun ternyata bahwa mereka melihat para petugas nampaknya menjadi semakin bersiaga menghadap segala kemungkinan. Orang-orang bertubuh raksasa itu berdiri disetiap sudut dan berjalan hilir mudik disapanjang barak.

 

 “Tentu akibat kedatangan orang bongkok itu,” berkata Kiai Windu di dalam hatinya.

 

 Sementara itu, ternyata Kiai Windu dan kawan-kawannya tidak menjumpai Wanengpati di dalam barak permainan dadu itu. Karena itu, maka keduanya pun tidak ikut bermain pula.

 

 “Kita kembali ke bilik,” berkata Kiai Windu.

 

 Mereka berempat pun kemudian meninggalkan tempat permainan dadu itu.

 

 Namun di pintu, seorang kawan Kiai Windu telah berhenti. Bahkan di luar sadarnya mulutnya telah bersiul lirih.

 

 Kawannya yang lain telah mendorongnya dengan sikunya sambil berdesis, “Apalagi yang kau lihat?”

 

 “O, tidak apa-apa,” jawab orang itu.

 

 Namun kawannya yang lain berdesis, “Kenapa tidak kau sapa saja perempuan itu dan kau ajak makan dan minum di kedai itu?”

 

 “Aku tidak melihatnya,” jawab kawannya yang bersiul kecil itu.

 

 Yanglain tertawa.Kiai Windu pun tertawa.Sementara perempuan yang lewat itu sama sekali tidak berpaling.

 

 Dalam pada itu, maka orang yang telah memberikan isyarat dengan gonggongan anjing sehingga Kiai Windu telah berada di kandang kuda itu pun telah meninggalkan langkah, ia telah bergabung dengan tiga orang kawannya yang lain. Dengan sangat berhati-hati mereka pun telah bergerak menjauhi dinding dari Song Lawa yang merupakan lingkungan yang gawat itu.

 

 ***   

 

 SEMAKIN jauh mereka dari Song Lawa, mereka merasa bahwa mereka menjadi semakin aman. Mereka agaknya memang sudah terlepas dari kemungkinan diketahui para petugas di tempat perjudian itu, meskipun mereka pun tetap menyadari, bahwa petugas dari Song Lawa itu tentu ada juga yang berkeliaran sampai jarak yang agak jauh dari tempat perjudian itu sendiri. Bahkan mungkin di padukuhan-padukuhan dikaki gunung itu. 

 

 Namun sebenarnyalah bahwa keempat orang itu tidak mengetahui, bahwa semua tingkah lakunya telah diikuti dua orang tua yang pernah berkelahi melawan mereka. Dua orang tua yang luput dari tangan mereka. Bahkan ternyata bahwa kedua orang tua itu memiliki ilmu yang sangat tinggi.

 

 Sementara itu, ketika keempat orang itu telah menjadi semakin jauh, kedua orang tua itu justru telah berhenti. Mereka duduk di atas batu-batu padas di lereng gunung itu dalam kegelapan malam.

 

 "Bagaimana menurut pendapatmu?" bertanya seorang di antara mereka.

 

 Yang lain, Kiai Soka menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Aku tidak mengerti. Untuk siapakah mereka bekerja. Jika mereka bekerja untuk sekelompok penjahat, maka keadaan akan menjadi gawat. Penjahat-penjahat itu tentu mengetahui bahwa disini terdapat banyak sekali uang dan tentu juga perhiasan. Banyak barang-barang berharga yang kadang-kadang menjadi taruhan.

 

 Tetapi Kiai Badra pun berkata,"Jika sekelompok penjahat akan memasuki lingkungan itu, tentu diperlukan kekuatan yang sangat banyak. Di Song Lawa itu kecuali para pengawalnya yang tentu sudah terlatih, juga terdapat orang-orang yang memiliki kemampuan bertempur. Jika para penjahat itu menyerang Song Lawa, maka mereka akan menghadapi para petugas dan orang-orang yang ada di Song Lawa itu. Para penjudi itu tentu tidak akan merelakan uang dan barang-barangnya yang berharga diambil oleh para penjahat."

 

 Kiai Soka mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, Apakah ada kemungkinan lain?"

 

 "Tentu ada. Tetapi aku tidak dapat menebaknya," berkata Kiai Badra.

 

 Keduanya mengangguk-angguk. Namun dalam pada itu Kiai Soka pun berdesis, "Ada landasan pertama bagi tugas mereka."

 

 Kiai Badra memandang kekejauhan, seakan-akan ingin menembus kekegelapan. Dengan nada rendah ia pun berkata, "Bagaimana caranya agar kita dapat memberitahukan kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung."

 

 "Memang satu masalah," sahut Kiai Soka. "Jika mereka tidak mengetahuinya, ada kemungkinan keduanya terjebak dalam persoalan yang dapat menyulitkan kedudukan mereka."

 

 Kiai Badra akan menjawab. Namun tiba-tiba saja ia menggamit Kiai Soka.

 

 Ternyata Kiai Soka pun tanggap. Karena itu, maka keduanya tidak lagi berbicara. Keduanya duduk saja sambil memandang ke depan. Namun telinga mereka telah mereka buka lebar-lebar. Ternyata mereka mendengar desis lembut mendekat.

 

 Keduanya adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Karena itu, maka keduanya pun mengetahui bahwa yang datang mendekati mereka bukannya hanya seorang.

 

 Kiai Badra dan Kiai Soka sama sekali tidak beranjak dari tempat duduk mereka. Tetapi mereka bersiaga menghadapi segala kemungkinan.

 

 Sebenarnyalah, sejenak kemudian beberapa orang telah muncul dari balik gerumbul. Mereka langsung mengepung mereka berdua. Seorang yang berdiri di depan mereka, memberi isyarat kepada seorang yang lain untuk mendekat.

 

 "Apakah benar mereka berdua?" bertanya orang itu, yang agaknya pemimpin dari kelompok orang yang mengepungnya.

 

 Orang yang datang mendekat itu pun mengamati Kiai Badra dan Kiai Soka sejenak. Kemudian ia pun mengangguk. Katanya, "Ya. Dua orang inilah yang telah lepas dari tangan kami." .  

 

 PEMIMPIN kelompok itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan nada tinggi ia berkata, "Nah, jika demikian maka kita akan menangkapnya dan membawa keduanya." Kiai Badra dan Kiai Soka masih berdiam diri. Dengan demikian mereka mengetahui bahwa di antara orang-orang yang mengepungnya itu adalah orang-orang yang pernah berusaha menangkapnya. 

 

 "Ki Sanak," berkata pemimpin kelompok itu. "Sekarang kalian tidak perlu melarikan diri. Tidak ada gunanya. Menyerah sajalah. Kau akan kami bawa ke tempat kami."

 

 Kiai Badra lah yang kemudian bertanya, "Tetapi apakah salah kami terhadap kalian. Kita baru saja bertemu. Dan tiba-tiba kalian ingin menangkap kami."

 

 "Jika kalian memang tidak bersalah, kami tentu akan segera melepas kalian," berkata pemimpin kelompok itu.

 

 "Tetapi apakah kalian berhak menangkap seseorang? Siapakah kalian?" bertanya Kiai Soka.

 

 Orang itu termangu-mangu sejenak. Lalu katanya, "Siapapun kami, itu tidak penting bagi kalian. Kamilah yang ingin tahu, siapakah kalian berdua."

 

 Tetapi jawab Kiai Badra, "Siapapun kami, juga tidak penting bagi kalian. Tetapi jika kalian merasa berhak menangkap kami tanpa landasan kekuasaan apapun, maka kami pun berhak menangkap kalian."

 

 "Persetan," geram pemimpin kelompok itu. "Kalian jangan membuat persoalan menjadi semakin rumit. Ikut kami. Kami hanya ingin tahu serba sedikit tentang kalian berdua. Kenapa kalian mengawasi tempat perjudian itu."

 

 "Kami tidak mengawasi tempat perjudian itu," jawab Kiai Soka. "Kami tidak peduli sama sekali"

 

 "Nanti hal itu kita bicarakan. Marilah, ikutlah kami," berkata pemimpin kelompok yang telah mengepung dua orang tua itu.

 

 Kiai Soka dan Kiai Badra sempat memperhatikan orang-orang yang berada disekitarnya. Namun sebelum mereka mengatakan sesuatu, pemimpin kelompok itu telah mendahuluinya, "Kami semua berjumlah tujuh orang. Dua orang lebih banyak dari saat kau sempat melarikan diri. Tetapi selain jumlah kami lebih banyak, di antara kami terhadap orang-orang yang berilmu, sehingga kalian tidak akan lagi dengan mudah dapat menghindari kami."

 

 "Ki Sanak," berkata Kiai Badra. "Sebenarnya tidak ada persoalan bagi kita. Seandainya kalian sedang mengamati Song Lawa untuk kepentingan kalian, dan kami juga melakukan untuk kepentingan kami, apakah salahnya? Kita tidak usah bertengkar. Kita dapat berbuat sesuai dengan kepentingan kita masing-masing tanpa saling mengganggu."

 

 "Sayang," berkata pemimpin kelompok itu. "Kami tidak dapat berbuat demikian. Kami ingin menangkap kalian berdua."

 

 "Baiklah jika demikian," berkata Kiai Badra. "Kami juga ingin menangkap kalian bertujuh."

 

 Pemimpin kelompok itu menjadi tegang. Namun ia pun kemudian berkata kepada kawan-kawannya. "Agaknya kita berhadapan dengan orang-orang tua yang kurang waras. Berhati-hatilah. Meskipun mereka agak kurang waras, tetapi mereka berilmu tinggi."

 

 Ketujuh orang itu pun segera mempersiapkan pula. Sambil tertawa Kiai Badra berkata, "Jadi kau menganggap bahwa kami kurang waras karena sikap kami? Jika demikian, maka kalian pun tidak waras pula karena kalian juga akan menangkap kami."

 

 Pemimpin kelompok itu tidak menyahut. Tetapi ia pun segera memberikan perintah, "Tangkap mereka. Jika mereka melawan, kalian mendapat wewenang untuk melakukan kekerasan. Tetapi usahakan agar kita dapat menangkap mereka hidup-hidup."

 

 Namun ketika orang-orang itu mulai bergerak, Kiai Badra pun berkata, "Kita akan menangkap mereka sebanyak-banyaknya. Terutama pemimpinnya. Jangan biarkan ia melarikan diri."

 

 "Persetan," geram pemimpin dari kelompok itu.

 

 KIAI BADRA dan Kiai Soka tidak sempat menjawab lagi. Orang-orang itu pun segera mulai bergerak. Namun mereka lebih berhati-hati daripada yang pernah mereka lakukan. Sementara itu menilik sikapnya, maka memang ada di antara mereka orang-orang yang memiliki ilmu tinggi dari yang lain. Kiai Badra dan Kiai Soka tidak segera dapat mengetahui tingkat ilmu orang-orang itu. Karena itu, maka mereka merasa wajib untuk tetap berhati-hati. 

 

 Ketika orang-orang itu mulai menyerang, maka Kiai Badra dan Kiai Soka justru telah berpencar.

 

 Ternyata orang-orang yang mengepung kedua orang tua itu sulit untuk tetap mengurung keduanya dalam kepungan. Ketika mereka sudah mulai bertempur, maka kedua orang itu benar-benar tidak dapat dibatasi geraknya. Keduanya berloncatan di atas batu-batu padas dalam gelapnya malam.

 

 Tetapi orang-orang yang berusaha menangkap kedua orang tua itu memang menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Dua orang di antara mereka adalah orang yang mempunyai ilmu melampaui kawan-kawan mereka yang lain. Semakin seru pertempuran itu, maka Kiai Badra dan Kiai Soka semakin dapat menilai kemampuan lawan-lawan mereka sehingga keduanya pun dapat mengetahui, siapakah di antara mereka yang memiliki ilmu tertinggi.

 

 Dengan demikian maka perhatian Kiai Badra dan Kiai Soka tertuju kepada kedua orang itu. Dua orang yang memiliki kelebihan.

 

 Ketika pertempuran itu meningkat semakin cepat, maka Kiai Badra dan Kiai Soka pun telah mengambil jarak semakin jauh. Dua lingkaran pertempuran terjadi di lereng gunung yang kadang-kadang miring berbatu-batu.

 

 Kiai Soka ternyata telah berhadapan dengan tiga orang di antara lawan-lawannya, sedangkan Kiai Badra harus berhadapan dengan empat orang lawan.

 

 Namun ternyata bahwa orang-orang yang ingin menangkap kedua orang tua itu telah mengalami kesulitan. Di atas tanah yang sulit, yang kadang-kadang terdapat bagian-bagian yang licin, namun kadang-kadang juga bagaikan bergerigi tajam, mereka tidak dapat bergerak sebagaimana mereka bertempur ditempat yang datar.

 

 Sementara itu, Kiai Badra dan Kiai Soka memang memiliki kemampuan yang sulit untuk diimbangi oleh lawan-lawannya. Kedua orang tua itu bukan saja berilmu tinggi, tetapi mereka seakan-akan telah begitu akrab dengan medan.

 

 Karena itu, semakin lama mereka bertempur, maka ketujuh orang yang ingin menangkapnya itu justru semakin mengalami kesulitan. Kedua orang tua itu bergerak semakin cepat, justru di atas tanah yang semakin sulit diinjak.

 

 Bahkan kemudian ternyata bahwa justru serangan-serangan orang tua itulah yang mulai mengenai lawan-lawannya. Semakin lama bahkan menjadi semakin sering.

 

 Orang yang memiliki ilmu yang lebih tinggi dari yang lain itu pun berusaha untuk memancing perhatian orang tua itu. Mereka berusaha mempercepat tata gerak mereka. Serangan-serangan mereka pun datang membadai. Namun kedua orang tua itu seakan-akan tidak terpengaruh karenanya. Mereka masih saja mampu bergerak melampaui kecepatan semua lawan-lawannya.

 

 Bahkan seorang di antara kedua orang tua itu berkata, "Kami memang ingin menangkap kalian. Jangan menyesal, jika kami membawa kalian ke tempat yang tidak kalian mengerti sama sekali."

 

 "Persetan," geram pemimpin kelompok itu. "Aku tidak akan dapat kau takut-takuti."

 

 Belum lagi mulutnya terkatup rapat, maka ujung tiga buah jari lawannya yang merapat telah mengenai dadanya.

 

 Orang itu telah terdorong surut. Keluhan yang pendek terdengar. Pemimpin kelompok itu hampir saja jatuh terjerembab. Apa lagi tidak jauh dari arena perkelahian itu terdapat lereng yang agak terjal. Meskipun tidak terlalu dalam, tetapi seseorang yang terjatuh ke dalamnya, akan sulit untuk dapat segera bangkit. Tubuhnya tentu akan dikoyak oleh batu-batu padas yang runcing tajam.

 

 DEMIKIANLAH semakin lama maka keseimbangan dari pertempuran itu pun menjadi semakin berat sebelah. Justru kedua orang tua itulah yang telah berhasil menguasai medan. Keduanya mampu bergerak kemana mereka kehendaki, meskipun lawan mereka berlipat banyaknya. 

 

 Namun akhirnya, Kiai Badra dan Kiai Soka memandang bahwa perkelahian itu sama sekali tidak ada gunanya. Keduanya juga tidak ingin benar-benar menangkap ketujuh orang itu, karena mereka tidak mempunyai kelengkapan untuk menahan mereka. Sedangkan untuk membunuh mereka, keduanya sama sekali tidak berniat. Keduanya belum tahu pasti siapakah mereka, sehingga kematian harus dinilai dengan cermat.

 

 Karena itu, maka akhirnya Kiai Badra telah memberikan isyarat kepada Kiai Soka untuk meninggalkan arena saja. Seperti yang telah terjadi, maka dengan diam-diam mereka telah hilang dari arena pertempuran.

 

 Demikianlah pula saat itu. Kedua orang itu telah mempercepat gerak mereka. Namun tiba-tiba saja keduanya dengan loncatan-loncatan panjang telah mengambil jarak.

 

 Pemimpin kelompok yang ingin menangkap kedua orang itu memang sudah dapat memperhitungkan bahwa kedua orang itu akan meninggalkan arena. Namun pemimpin kelompok itu sama sekali tidak berusaha mencegahnya, atau memberikan aba-aba untuk menahan agar keduanya tidak sempat menghindar. Pemimpin kelompok itu justru memberikan kesempatan kepada keduanya untuk menghindar bukan karena keduanya merasa kalah. Tetapi keduanya merasa tidak perlu lagi melanjutkan perkelahian.

 

 Menurut perhitungan pemimpin kelompok itu, kepergian kedua orang itu memberikan arti baik baginya. Ia tidak akan kehilangan kewibawaan dimata anak buahnya, karena lawan-lawanlah yang telah meninggalkan gelanggang. Bahkan seandainya kepergian lawannya itu sempat ditahan, maka pertempuran berikutnya pun akan mempunyai akibat yang pahit. Kekalahan.

 

 Ternyata kepergian kedua orang itu, membuat pemimpin kelompok itu sedikit menengadahkan wajahnya. Dengan geram ia berkata, "Mereka melarikan diri."

 

 "Apakah kita tidak mencarinya?" bertanya salah seorang kepercayaannya yang kurang puas menghadapi cara berkelahi kedua orang yang dianggapnya telah menghina mereka bertujuh.

 

 Pemimpin kelompok itu menggeleng. Dengan nada rendah ia berkata, "Kita tidak akan dapat mencarinya. Tidak ada gunanya, selain sekadar membuang waktu dan tenaga, juga kemungkinan yang lain akan dapat terjadi."

 

 Yang lain mengangguk-angguk. Sebenarnyalah mereka juga mengalami kelelahan yang sangat.

 

 "Marilah. Kita kembali ke landasan gerak kita," berkata pemimpin kelompok itu.

 

 Ternyata mereka pun telah bergerak. Ketujuh orang itu telah menuju kembali ke landasan gerak mereka.

 

 Dalam pada itu, Kiai Badra dan Kiai Soka, demikian melepaskan lawan-lawan mereka, telah bergeser ke tempat yang lebih tinggi. Mereka telah duduk pula di batu-batu padas membicarakan ketujuh orang yang ingin menangkap mereka.

 

 "KENAPA mereka menganggap mempunyai wewenang untuk menangkap seseorang?" bertanya Kiai Soka. Kiai Badra menggeleng sambil berkata, "Entahlah. Mungkin mereka memang merasa mempunyai kewenangan itu. Mungkin mereka merasa terlalu kuat untuk dapat melakukannya atas orang lain yang dianggapnya lemah. Atau katakanlah, mereka terbiasa berbuat apa saja tanpa ada yang sempat menghalangi." 

 

 "Bagaimana kalau kita mencari keterangan lebih jauh tentang mereka?" berkata Kiai Soka.

 

 "Apa yang akan Kiai lakukan?" bertanya Kiai Badra.

 

 Kiai Soka menarik nafas dalam-dalam, sementara Kiai Soka berkata, "Untuk sementara, biarlah kita tidak terlalu banyak memperhatikan mereka, selama kita masih dapat berlari menghindar jika kita bertemu seperti yang terjadi saat ini. Namun bahwa mereka tentu merupakan satu gerakan yang besar, yang berhubungan dengan Song Lawa itu agaknya hampir dapat dipastikan. Tetapi siapakah mereka, dan apa kepentingan mereka itulah yang tidak kita ketahui."

 

 "Tetapi menilik sikap dan cara mereka bertempur agaknya mereka bukan para penjahat yang keras dan kasar. Namun kemampuan mereka tidak berada di bawah kemampuan orang-orang kasar dan bahkan liar sekalipun," desis Kiai Badra.

 

 Kedua orang tua itu pun mengangguk-angguk. Namun untuk beberapa saat mereka saling berdiam diri merenungi peristiwa-peristiwa yang telah terjadi dan yang mereka alami.

 

 Dalam pada itu, di Song Lawa Kiai Windu dan kawan-kawannya telah berada di dalam bilik mereka pula. Beberapa orang di antara mereka telah terbaring di pembaringan. Yang kemudian duduk di sudut adalah Jati Wulung dan seorang kawan Kiai Windu. Untuk beberapa saat mereka pun saling berdiam diri. Namun tiba-tiba kawan Kiai Windu itu bertanya, "He, kau lihat seorang perempuan dengan pedang di lambung?"

 

 Jati Wulung berpaling. Namun sambil mengerutkan keningnya ia menyahut, "Tidak. Aku tidak melihatnya."

 

 "Bohong. Kau tentu melihatnya. Atau seorang perempuan yang berpakaian seperti laki-laki. Nampaknya ia tidak membawa senjata. Tetapi ia tentu mempunyai senjata rahasia, atau pengawalnya yang selalu menamatinya dari kejauhan sehingga seolah-olah perempuan itu hanya seorang diri," desis orang itu.

 

 Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia pun menjawab, "Aku tidak banyak memperhatikan perempuan itu."

 

 "Ah, jangan begitu," sahut kawan Kiai Windu. "Kau juga selalu memperhatikan perempuan-perempuan di tempat ini."

 

 Jati Wulung justru tertawa. Katanya, "Aku lebih senang memperhatikan ayam aduan daripada perempuan."

 

 "He, siang tadi aku melihat seorang perempuan berbaju kuning seperti kulitnya di tempat sabung ayam," berkata kawan Kiai Windu.

 

 "Sudahlah," desis Jati Wulung. "Kita berbicara yang lain. Mungkin tentang permainan dadu, adu ayam atau panahan?"

 Orang itu mengerutkan dahinya. Disandarkannya kepalanya pada dinding ruangan. Namun ia berdesah, "Paling menyenangkan adalah berbicara tentang diri sendiri. He, bagaimana mungkin kau dapat menang melawan orang yang ditakuti di pesisir Utara itu? Dengan demikian jika kau mau pergi ke pesisir Utara, maka kau akan menjadi hantu disana."

 

 Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam. Namun ia hanya tersenyum saja. Bahkan sambil menguap.

 

 Sejenak kemudian, maka bilik itupun menjadi hening. Orang-orang yang berbaring sudah tertidur nyenyak. Sementara Jati Wulung dan kawan Kiai Windu itu pun telah tenggelam dalam angan-angannya masing-masing.

 

 Sekali-kali masih terdengar suara tertawa di luar. Atau bahkan orang yang mengumpat-umpat karena kalah dibilik permainan dadu. Atau orang-orang yang bertengkar, bahkan ada juga terdengar orang-orang yang berkelakar. Tetapi suasana malam memang menjadi semakin sedikit.

 

 MESKIPUN demikian, di barak permainan dadu, orang-orang masih ramai mempertaruhkan uang mereka. Tetapi semakin lama memang menjadi semakin sedikit. 

 

 Jati Wulung dan kawan Kiai Windu yang berjaga-jaga itu masih mendengar suara perempuan di bilik sebelah. Bukan suara kasar dan mengumpat-umpat seperti biasanya. Tetapi tertawanya terdengar segar. Dengan gembira perempuan itu mengungkapkan perasaannya. Ternyata ia telah menang di barak permainan dadu meskipun tidak terlalu banyak.

 

 Tetapi suara itu tidak terlalu lama terdengar. Agaknya orang-orang di bilik sebelah itu pun telah mengantuk. Mereka dengan segera telah berbaring dan bahkan tertidur dengan mimpi segar karena kemenangannya di perjudian.

 

 Jati Wulung yang telah beberapa kali menguap masih mencoba bertahan. Ia sendiri heran, kenapa tiba-tiba saja ia di dera perasaan kantuk. Padahal biasanya ia mampu bertahan bukan saja untuk semalam suntuk, tetapi lebih lama dari itu. Pada saat-saat ia menjalani laku ketika sedang memperdalam ilmu kanuragan, ia harus melakukan pati geni selama tiga hari tiga malam dan tidak boleh tidur sama sekali. Semuanya itu pernah dilakukannya. Bahkan dalam perjalanan yang berat melintas dari pesisir Kidul ke pesisir Utara, ia pun sama sekali tidak berhenti apalagi tidur.

 

 Namun justru karena itu, maka ia justru menjadi curiga. Ia merasakan sesuatu yang tidak wajar telah terjadi.

 

 Hampir di luar sadarnya Jati Wulung beringsut mendekati Sambi Wulung yang tertidur nyenyak. Demikian juga Kiai Windu juga Kiai Windu dan apalagi kawan-kawannya. Sementara itu kawannya yang terjaga-jaga itu pun menjadi gelisah. Bahkan sekali-kali matanya telah terpejam.

 

 Jati Wulung memang sampai pada satu kesimpulan, bahwa ada yang tidak wajar. Sebagai seorang yang berilmu tinggi, maka Jati Wulung segera menyadari, bahwa tempat itu terkena sirep yang sangat tajam. Kekuatan sirep yang sangat besar pula, karena agaknya dapat menyelimuti seluruh lingkungan Song Lawa.

 

 Dalam pada itu, Sambi Wulung yang sedang tertidur nyenyak itu pun menjadi semakin nyenyak. Agaknya ia tidak bersiap sama sekali menghadapi pengaruh sirep itu. Karena itu, maka ia sama sekali tidak melakukan perlawanan untuk mengatasinya.

 

 Jati Wulung menyadari akan hal itu. Karena itu, maka ia pun kemudian telah membangunkan Sambi Wulung. Dengan kuat ia mengguncang tubuhnya sambil membisikkan namanya ditelinganya.

 

 "Bangunlah. Ada sesuatu yang tidak wajar terjadi," berkata Jati Wulung. Sementara itu kawan Kiai Windu yang duduk bersandar dinding itu justru telah tertidur pula.

 

 Sambi Wulung memang membuka matanya. Tetapi mata itu segera terkatub lagi.

 

 "Bangunlah. Cepat," desis Jati Wulung sambil mengguncang tubuh itu pula.

 

 Ketika sekali lagi Sambi Wulung membuka matanya, maka Jati Wulung pun berkata, "Kau telah terkena ilmu sirep."

 

 Suara itu terdengar oleh Sambi Wulung. Dengan demikian, maka ia pun telah berusaha untuk bangkit dan duduk meskipun mata masih separo terpejam.

 

 "Bangunlah. Atasi perasaan kantukmu. Kita terkena sirep yang sangat tajam," berkata Jati Wulung kemudian.

 

 Sambi Wulung mendengar kata-kata itu semakin jelas. Karena itu, maka ia pun mulai berusaha untuk benar-benar bangun.

 

 Ketika Jati Wulung mengulanginya, maka Sambi Wulung benar-benar telah menyadari apa yang terjadi. Ia pun kemudian mulai meningkatkan daya tahannya untuk mengatasi perasaan kantuknya. Baru kemudian ia menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, "Ya. Tentu ilmu sirep."

 

 "Apa yang akan kita lakukan?" bertanya Jati Wulung.

 

 "Luar biasa. Nampaknya kekuatan ini telah mencengkam seluruh lingkungan perjudian ini," desis Sambi Wulung. .

 

 "AGAKNYA memang demikian. Sementara itu kita tidak tahu, berapa orang yang dapat mengatasi kekuatan sirep ini," gumam Jati Wulung kemudian. "Kita bangunkan Kiai Windu," berkata Sambi Wulung. "Tidurnya terlalu nyenyak," sahut Jati Wulung. 

 

 Namun Sambi Wulung telah mencobanya. Diguncang-guncangkannya tubuh Kiai Windu. Namun ternyata bahwa orang tua itu sekali-kali bergumam. Namun ia pun telah tertidur lagi.

 

 "Jika ia terbangun, apakah ia akan mampu mengatasi kekuatan sirep ini?" bertanya Jati Wulung.

 

 Sambi Wulung menggelengkan kepalanya. Jawabannya, "Aku tidak tahu. Kita mencobanya."

 

 Namun ternyata terlalu sulit untuk membangunkannya. Karena itu maka Sambi Wulung pun berkata, "Aku akan membangunkan dengan cara lain."

 

 Jati Wulung mengerti maksudnya. Karena itu, maka ia pun telah bergeser surut.

 

 Sambi Wulung pun kemudian telah duduk disebelah Kiai Windu yang masih tertidur. Diletakkannya tangannya pada lengan Kiai Windu. Dipusatkannya nalar budinya. Dengan sangat berhati-hati, maka disalurkannya getaran yang dapat meningkatkan ketahanan Kiai Windu mengatasi kekuatan ilmu sirep yang tajam itu. Tetapi tanpa mengejutkan dan bahkan mungkin akan dapat merusakkan bagian dalam tubuhnya.

 

 Usaha Sambi Wulung itu hanya dilakukan untuk saat yang sangat pendek. Ketika kemudian Sambi Wulung membangunkannya, maka Kiai Windu itu pun telah terbangun pula.

 

 "Ada apa?" bertanya Kiai Windu.

 

 "Kawanmu telah tertidur," berkata Sambi Wulung.

 

 "O," Kiai Windu mengerutkan dahinya. Memang timbul prasangka yang kurang baik di dalam hatinya melihat sikap Sambi Wulung dan Jati Wulung. Namun tidak lama, karena Sambi Wulung pun berkata, "Bertahanlah. Aku sudah mencoba untuk menyalurkan getaran dalam dirimu sekadar untuk mengatasi kekuatan sirep sebelum kau dapat bangun dan membangunkan pertahananmu sendiri."

 

 "Sirep?" desis Kiai Windu.

 

 "Ya. Kau dapat menangkap suasananya sekarang setelah kau benar-benar bangun," berkata Sambi Wulung pula.

 

 Sebenarnyalah Kiai Windu pun merasakan kelainan suasana. Namun ternyata bahwa ia pun segera dapat mengenali apa yang telah terjadi di Song Lawa itu. Karena itu maka katanya, "Ya. Sirep yang sangat tajam."

 

 "Usahakanlah agar kau dapat bertahan," berkata Sambi Wulung.

 

 "Terima kasih atas usahamu," berkata Kiai Windu yang kemudian memandangi kawan-kawannya yang sudah tertidur nyenyak pula. Lalu katanya lebih lanjut, "Mereka tidak akan mampu menerobos batas untuk dapat bangun sepenuhnya. Jika mereka menyadari keadaan ini sebelum mereka tertidur, mungkin mereka akan dapat bertahan. Tetapi dalam keadaan tidur seperti itu, akan sangat sulitlah bagi kita untuk membangunkannya."

 

 "Jika demikian, biarkanlah mereka tidur," berkata Sambi Wulung. Lalu katanya pula, "Tetapi apa yang dapat kita lakukan kemudian?"

 

 Kiai Windu pun mengangguk-angguk. Lalu katanya, "Kita akan melihat suasana di luar."

 

 Kiai Windu bersama Sambi Wulung dan Jati Wulung pun kemudian dengan sangat berhati-hati telah membuka pintu bilik mereka. Dengan hati-hati mereka menyusuri lorong di dalam bilik. Baru kemudian mereka ke luar dari pintu barak.

 

 Suasana telah menjadi sangat sepi. Hampir tidak ada lagi orang yang terbangun.

 

 Namun dalam pada itu, seorang yang bertubuh raksasa lewat sambil mengumpat kasar. Tetapi ketika raksasa itu melihat ketiga orang yang berdiri di luar pintu barak itu pun telah mendekatinya. Dengan gelisah orang itu berkata, "Kau rasakan suasana ini he?"

 

 "Ya," berkata Kiai Windu.

 

 "Setan itu datang lagi," geram raksasa itu.

 

 "Siapa?" bertanya Sambi Wulung.

 

 "PARA perampok. Mereka menganggap bahwa tempat ini akan dapat dirampoknya. Beberapa tahun yang lalu, hal serupa pernah juga terjadi," berkata raksasa itu. "Apa yang terjadi beberapa tahun yang lalu?" bertanya Kiai Windu yang memang pernah beberapa kali datang ke tempat itu. "Selama ini aku sering berkunjung ke Song Lawa, belum pernah terjadi perampokan disini." 

 

 "Beberapa tahun yang lalu. Mungkin kau belum datang kemari atau kau memang sedang tidak datang," jawab orang bertubuh raksasa itu.

 

 "Lalu sekarang bagaimana?" bertanya Jati Wulung.

 

 "Kita akan menghimpun kekuatan di antara mereka yang masih terbangun. Yang mampu mengatasi kekuatan sirep itu tentu orang-orang berilmu. Kita harus bekerjasama untuk mencegah agar mereka tidak merampok seluruh isi lingkungan ini seperti beberapa tahun yang lalu itu," berkata orang bertubuh raksasa itu.

 

 "Sekarang dimana kawan-kawanmu?" bertanya Sambi Wulung.

 

 "Hanya beberapa orang yang lolos. Mereka juga sedang mengumpulkan orang-orang di barak lain yang luput dari kekuatan sirep ini."

 

 "Bagaimana di barak permainan dadu itu?" bertanya Sambi Wulung.

 

 "Hanya tiga orang yang dapat membebaskan diri dari pengaruh buruk ini," jawab orang bertubuh raksasa itu.

 

 "Lalu sekarang bagaimana?" bertanya Sambi Wulung.

 

 "Kita berkumpul di depan barak permainan dadu. Di tempat itu banyak sekali tersimpan uang dan barangkali juga perhiasan yang masih dikenakan oleh mereka yang tertidur," jawab orang bertubuh raksasa itu.

 

 Mereka pun kemudian tidak menyia-nyiakan waktu. Dengan tergesa-gesa mereka telah pergi ke barak permainan dadu. Tetapi mereka tidak masuk ke dalam barak itu.

 

 Di muka barak itu telah berkumpul pula beberapa orang. Mereka yang bertubuh raksasa dari para petugas ternyata hanya kurang dari separo yang tidak tertidur. Sementara itu, yang lain telah tertidur nyenyak. Sedangkan mereka yang memasuki Song Lawa itu sambil membawa uang dan mungkin perhiasan untuk berjudi, yang masih tetap sadar sepenuhnya untuk melawan para perampok, telah bersiaga pula sepenuhnya.

 

 Ternyata jumlah mereka terlalu kecil dibandingkan dengan jumlah orang yang ada di Song Lawa. Namun mereka benar-benar orang pilihan karena mampu mengatasi sirep yang tajam.

 

 Dalam pada itu, Kiai Windu memang menjadi sangat gelisah. Jika benar, beberapa orang perampok akan memasuki tempat perjudian itu, maka banyak kemungkinan yang terjadi.

 

 "Apakah jumlah ini memadai untuk melawan perampok yang dipersiapkan memasuki tempat perjudian ini?" tiba-tiba saja ia berdesis ditelinga Sambi Wulung.

 

 "Kita belum tahu berapa banyak dan seberapa tinggi ilmu mereka," jawab Sambi Wulung.

 

 "Sekelompok perampok yang berani memasuki lingkungan ini tentu sudah dipersiapkan benar-benar," berkata Kiai Windu pula.

 

 "Tetapi mungkin juga tidak begitu banyak. Jika mereka terlalu percaya kepada kekuatan ilmu sirep mereka, maka dengan jumlah yang kecil mereka akan berani melakukannya, karena menurut perhitungan mereka, orang-orang di Song Lawa itu telah tertidur seluruhnya," jawab Sambi Wulung.

 

 "Aku kira mereka sebelumnya telah memasukkan orang-orangnya ke dalam lingkungan ini. Mereka tentu petugas-petugas sandi yang akan menilai isi dari padepokan ini untuk memperhitungkan kekuatan yang diperlukan," berkata Kiai Windu.

 

 Sambi Wulung mengangguk-angguk. Katanya, "Agaknya memang demikian. Tetapi kita akan melihat, apa yang akan terjadi."

 

 Namun dalam pada itu, Sambi Wulung tiba-tiba menjadi berdebar-debar. Hampir di luar sadarnya ia telah menggamit Jati Wulung sambil memandang ke satu arah.

 

 JATI WULUNG pun menarik nafas dalam-dalam. Ternyata orang yang dipanggil Kepala Besi itu pun telah datang pula ke tempat mereka berkumpul bersama seorang kawannya. Demikian ia tiba di antara para pengawal yang bertubuh raksasa itu, maka ia pun berkata, “Setan manakah yang akan berani memasuki tempat ini? Mereka tentu orang-orang yang ingin membunuh diri. Atau mungkin mereka tidak mengetahui bahwa aku, Kepala Besi, berada disini hari ini.” 

 

 Namun kata-katanya bagaikan patah ketika ia melihat Jati Wulung berdiri tegak memandanginya.

 

 Kepala Besi itu telah memalingkan wajahnya. Tetapi ia tidak berkata apa-apa lagi.

 

 Jati Wulung pun sama sekali tidak berbuat apa-apa. Bahkan ia pun tidak lagi memandangi orang yang dikenal dengan sebutan Kepala Besi itu.

 

 Dalam pada itu, suasana memang dicengkam oleh ketegangan. Seorang petugas yang bertubuh raksasa telah datang dari pintu gerbang sambil berkata, “Dua orang kawan kita menunggui pintu gerbang yang ditutup rapat.”

 

 Parapetugas itu mengerutkan keningnya. Namun seorang di antara mereka menyahut, “Kita tidak tahu apa yang akan mereka lakukan. Tetapi beberapa tahun yang lalu, ketika mereka datang ke tempat ini, mereka masuk lewat pintu gerbang yang dirusaknya.”

 

 “Tetapi darimana kalian mengetahui, bahwa akan datang sejumlah perampok memasuki lingkungan ini?” tiba-tiba saja Kiai Windu bertanya.

 

 “Suasana ini,” jawab orang bertubuh raksasa itu. “Seperti beberapa tahun yang lalu, mereka juga menaburkan sirep yang tajam. Sementara itu, petugas kami yang mengamati keadaan di lingkungan padepokan ini kemarin telah melihat orang-orang yang mencurigakan berkeliaran.”

 

 Kiai Windu menjadi semakin berdebar-debar. Namun ia tidak bertanya lebih lanjut.

 

 Sebenarnyalah, sekelompok perampok yang garang telah bersiap di luar lingkungan perjudian itu. Seorang di antara mereka, yang agaknya pemimpinnya telah memberikan beberapa perintah kepada orang-orangnya.

 

 Sementara itu, tiga orang di antara mereka yang memiliki kemampuan ilmu sirep telah menebarkan ilmunya meliputi seluruh lingkungan Song Lawa.

 

 Tetapi agaknya mereka masih menunggu sesaat. Mereka menunggu agar sirep yang ditebarkan itu telah merata dan setiap orang telah terpengaruh karenanya.

 

 Ternyata bahwa para perampok itu telah memilih saat yang tepat. Mereka tidak melepaskan sirepnya pada ujung malam, tetapi pada saat orang-orang di dalam lingkungan Song Lawa itu telah menjadi letih. Dengan demikian maka pengaruh sirep yang kuat akan membuat mereka semakin lelap dalam tidur. Bahkan mereka yang belum berniat untuk tidur pun akan cepat tertidur pula.

 

 Sebenarnyalah di dalam barak permainan dadu itu, beberapa orang yang semula masih duduk bermain, telah terbaring dan tidur nyenyak. Mereka tidak sempat mengumpulkan uang yang masih tetap berserakan.

 

 Namun dua orang petugas di antara mereka yang masih mampu bertahan dari pengaruh sirep itu telah berjaga-jaga di dalam bilik itu, agar uang yang berserakan itu tetap berada ditempatnya tanpa diusik sama sekali.

  

 KARENA itu, maka mereka dengan tangkas mampu mengimbangi kekuatan orang bertubuh raksasa itu. Orang-orang yang memasuki lingkungan perjudian itu dengan cepat menghindari setiap serangan, namun kemudian dengan cepat pula telah membalas menyerang sehingga kadang-kadang orang-orang bertubuh raksasa itu menjadi kebingungan. 

 

 Sementara kedua orang kawannya bertempur, maka tiga orang yang lain telah membuka selarak.

 

 Kedua orang pengawal di Song Lawa itu memang menjadi agak kebingungan. Tetapi keduanya tidak dapat melepaskan diri dari lawan-lawan mereka.

 

 Karena itu, maka tiba-tiba saja salah seorang dari pengawal itu telah berteriak keras-keras. "Mereka telah datang. Aku bertempur disini."

 

 Tetapi pemimpin perampok itu tertawa. Katanya, "Jangan menyembunyikan kecemasanmu. Aku tahu bahwa kekuatan yang masih ada dan terlepas dari kekuatan sirep kami, tidak akan separo dari kekuatan yang ada di Song Lawa ini. Dan kami tahu seberapa besar kekuatan sebenarnya. Jika perhitungan kami benar, maka kalian akan hancur jika kalian mencoba melawan. Kami datang dengan orang-orang kami yang berilmu tinggi."

 

 "Orang-orang yang kebetulan sedang berada di Song Lawa dalam musim perjudian ini, akan ikut bertempur melindungi harta benda mereka," berkata pemimpin pengawal yang bertubuh raksasa itu.

 

 Tetapi orang itu, yang memimpin gerombolan perampok yang datang di Song Lawa menjawab dengan suara yang tinggi di sela-sela derai tertawanya. "Apakah artinya bagi kami.Ada beberapa orang di antara mereka yang masih tetap terbangun? Mereka adalah justru orang yang perlu dikasihani, karena mereka akan mati ditangan kami jika mereka benar-benar akan melawan."

 

 "Di antara mereka ada orang-orang berilmu," desis pemimpin pengawal.

 

 "Aku sudah tahu bahwa Kepala Besi ada disini. Tetapi ia tidak akan dapat mengalahkan aku. Atau katakan ia memiliki ilmu yang lebih tinggi dari aku, maka tiga orang akan bersamaku membunuhnya dengan memecahkan kepalanya yang sekeras besi itu," jawab pemimpin gerombolan perampok itu. Karena itu, maka katanya, "Nah. Sekarang menyerahlah. Kalian mempunyai pilihan lain."

 

 Pemimpin pengawal itu tidak menunggu lebih lama lagi. Ia sadar, bahwa jumlah perampok itu memang lebih banyak lagi dari orang-orang yang masih tetap berjaga di lingkungan perjudian Song Lawa itu. Namun para pengawal tidak begitu saja mengalah sebagaimana terjadi beberapa tahun yang lalu. Jika mereka tidak dapat melindungi harta benda melindungi harta benda orang-orang yang berjudi di Song Lawa, maka perjudian itu lambat laun tentu akan mereka tinggalkan sehingga akhirnya akan menjadi sepi.

 

 Karena itu, maka ia pun telah bersuit nyaring sebagai pertanda bahwa para pengawalnya harus menyerang dengan segera, termasuk yang masih berada di depan barak permainan dadu.

 

 Mendengar isyarat itu, maka para pengawal yang masih berada di depan barak itu pun dengan tergesa-gesa pergi ke arah suara isyarat itu. Namun empat orang telah ditinggalkan di depan barak itu. Kecuali jika ada perintah lain, di samping dua orang yang berada di dalam.

 

 Orang-orang lain yang masih dapat bertahan dari pengaruhi sirep itu pun menjadi ragu-ragu. Seorang di antara mereka bertanya kepada para pengawal, "Apakah harus kami lakukan."

 

 "Ikut kami. Kita akan bertempur," jawab pengawal itu.

 

 Mereka pun segera menghambur pula ke pintu gerbang dengan senjata yang telah telanjang di tangan.

 Jati Wulung, Sambi Wulung dan Kiai Windu ikut bersama orang-orang itu. Jati Wulung terkejut ketika seorang menggamitnya. Ketika ia berpaling, ia pun menjadi semakin terkejut. Ternyata yang menggamit itu adalah Kepala Besi.

 Dengan segera Jati Wulung telah mengambil jarak. Jika orang itu tiba-tiba saja menyerangnya, maka ia akan dapat melawannya dengan baik.

" Jangan salah paham " berkata Kepala Besi itu " kemarin kita memang berkelahi. Bahkan aku hampir mati karenanya. Tetapi aku harus jujur, bahwa aku memang kalah. Sekarang kita akan bertempur bersama-sama menyelamatkan harta benda yang ada di lingkungan perjudian ini. Termasuk harta benda kita sendiri. "

Dalam pada itu, pemimpin pengawal yang telah memberikan isyarat itupun berteriak " Kita sudah bertempur. Kita tidak mempunyai banyak waktu. " 

Pemimpin perampok itupun berteriak pula " Jika tidak ada orang yang disebut Kepala Besi itu, maka aku akan membunuh siapa saja yang ada dihadapanku. "

Namun ternyata yang ada dihadapannya kemudian adalah Jati Wulung, karena Sambi Wulung berdesis " Kau sama sekali yang sudah terlanjur dikenal kemampuanmu disini. Tetapi pemimpin perampok yang agaknya juga berilmu tinggi itu. Hati-hati. Jika terdesak, aku terpaksa ikut campur. Jangan tersinggung, sebab kita tidak sedang berperang tanding. Apalagi tugas kita yang sebenarnya masih belum selesai. "

Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun kemudian telah menyusup diantara pertempuran yang segera menyala semakin besar, mendekati pemimpin perampok itu.

" Kau suruh saudaramu mengemban tugas yang berat itu? " tiba-tiba Kiai Windu bertanya.

" Ya. Tidak ada orang lain karena agaknya Kepala Besi tidak bersedia memenuhi tantangannya " jawab Sambi Wulung.

" Sebenarnya kita tidak perlu bekerja terlalu berat. Bukankah kita sekedar mempertahankan uang yang kita bawa kemari? Seandainya uang itu harus jatuh ketangan mereka, tentu masih akan lebih baik daripada jiwa kita yang jatuh ketangan mereka. "

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab. Apalagi pertempuran segera telah membakar lingkungan Song Lawa itu.

Dalam pada itu, selagi di depan pintu gerbang terjadi pertempuran yang sangit, maka lima orang berdiri termangu-mangu tidak jauh dari lingkungan tempat perjudian Song Lawa itu. Orang yang agaknya pemimpin mereka itupun berguman " Setan-setan itu telah mendahului kita.

Kawannya mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka menjawab " Kita akan menunggu, apa yang akan terjadi. "

" Jika Song Lawa itu kemudian benar-benar hancur dan menjadi karang abang, maka kehadiran kita tidak mempunyai arti apa-apa. " berkata pemimpin itu.

" Kita akan melihat dan mengurai keadaan selanjutnya " desis yang lain.

" Sudah tentu " pemimpinnya membentak " aku sudah tahu itu. Tetapi bahwa mereka datang lebih dahulu, adalah sangat menyakitkan hati. Sementara kita sekarang belum siap untuk bertindak. Jika saja hal ini terjadi dua hari lagi, maka kita akan dapat mengambil langkah lebih baik. "

" Ya. guman seorang diantara mereka " ternyata dua orang tua itu tentu petugas yang mereka kirim untuk mengamati keadaan disekitar Song Lawa ini. Atau merekalah yang telah menebarkan sirep yang tajam itu. Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Agaknya mereka sependapat dengan pemimpinnya.

Namun dalam pada itu, ditempat lain, Kiai Badra dan Kiai Sokapun melihat kehadiran para perampok. Dengan nada rendah Kiai Badra berkata " Suatu langkah yang sangat berani. Namun mereka telah mendahului serangan mereka dengan sirep yang kuat. "

Kiai Soka mengangguk-angguk. Katanya " Memang ilmu sirep yang kuat. Pengaruhnya terasa sampai jauh diluar lingkungan tempat perjudian itu. "

" Agaknya beberapa orang yang kita lihat itu memang sebagian dari segerombolan perampok " desis Kiai Badra.

Kiai Soka menyahut " Mungkin. Tetapi apakah kita yakin? "

Kiai Badra memang ragu-ragu. Namun kemudian itu adalah kemungkinan yang terbesar.

Tetapi sementara itu Kiai Badra itupun berguman " Bagaimana dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung? " Apakah mereka juga terlibat langsung dalam benturan kekuatan antara para perampok dengan para pengawal dan orang-orang yang lolos dari ketajaman ilmu sirep ini.

—Agaknya memang demikian. Mereka, terutama Jati Wulung tentu tidak akan tinggal diam " berkata Kiai Soka.

" Orang itu memang jauh lebih keras dari kakak seperguruannya. " jawab Kiai Badra.

" Kita akan menunggu, apakah yang terjadi " desis Kiai Soka " tetapi mungkin kita akan dapat lebih dekat lagi dengan lingkungan itu. "

" Apakah kita akan terlibat? " bertanya Kiai Badra.

" Kita akan memperhatikan keadaan. Terutama Sambi Wulung Jati Wulung " jawab Kiai Soka.

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya " Kita akan lebih mendekat. "

Demikianlah kedua orang tua itupun telah bergeser lebih mendekati lingkungan yang sedang dilanda api pertempuran itu.

Sebenarnyalah pertempuran di Song Lawa itu telah berlangsung semakin sengit. Kedua belah pihak telah mengarahkan kemampuan mereka untuk dengan cepat mengakiri pertempuran. Apalagi malam tidak lagi tersisa terlalu panjang. Sedangkan para perampok itu sudah tentu tidak mau kesiangah.

Karena itu, maka merekapun segera mengerahkan segenap kemampuan mereka.

Namun orang-orang di Song Lawa itupun merupakan petugas-petugas yang tangguh. Mereka yang tersisa dari cengkaman sirep itu agaknya memang orang-orang yang memiliki lambaran ilmu yang mapan. Demikian pula orang-orang yang lain, yang melibatkan diri dalam pertempuran itu.

_ Sambi Wulung dan Jati Wulung masih juga sempat mengamati orang-orang yang ikut terlibat kedalam pertempuran itu. Agaknya tidak seorangpun diantara anak-anak muda yang mampu mengatasi kekuatan sirep yang tajam yang menyelubungi Song Lawa itu.

Dalam pada itu, Jati Wulung yang menghadapi pemimpin perampok itupun segera mengetahui pula, bahwa pemimpin perampok itu adalah orang yang berilmu tinggi.

Dengan demikian maka Jati Wulung harus menjadi sangat berhati-hati. la menyadari, bahwa pada saatnya pemimpin perampok itu tentu akan mempergunakan puncak dari kemampuannya.

Untuk beberapa saat Jati Wulung masih memerlukan waktu untuk lebih mengenal watak dari ilmu lawannya itu. Justru karena pemimpin perampok itu sama sekali tidak bersenjata, maka Jati Wulung memperhitungkan kemampuan yang lain yang melampaui tajamnya ujung senjata.

Para perampok yang lainpun telah bertempur pula dengan senjata masing-masing. Ternyata setelah bertempur beberapa saat, memang terdapat beberapa persamaan antara para perampok dan para pengawal lingkungan

Song Lawa yang bertubuh raksasa itu.

Merekapun segera terlibat dalam pertempuran yang kasar dan keras.

Melihat ragam senjata merekapun terdapat beberapa kesamaan pula. Para perampok telah membawa senjata yang tidak terlalu biasa dipergunakan, sehingga kesannya memang mengerikan. Ada diantara mereka yang membawa kapak, membawa bindi, tombak berkait dan jenis-jenis senjata yang lain. Demikian pula para pengawal yang bertubuh raksasa itu. Ragam senjata merekapun serupa, kapak, pedang yang bermata dua, tombak yang tajamnya memakai gerigi duri pandan, tongkat besi dan sejenisnya.

Tingkah laku merekapun hampir bersamaan pula. Bertempur sambil berteriak dan mengumpat-umpat. Namun orang-orang yang sedang berada di Song Lawa itupun ada pula yang menunjukkan sikap dan tata gerak yang sama. Seorang yang bertubuh tinggi, berkumis lebat, bahkan telah mengumpat-umpat dengan kasarnya. Senjatanya adalah sebilah golok yang besar sedikit melengkung. Ketika golok itu mulai terayun, maka anginpun rasa-rasanya telah menyambar-nyambar disekitarnya.

Tetapi beberapa orang lain bersikap lain pula. Mereka tidak menunjukkan sikap yang liar meskipun pada umumnya orang-orang yang ada ditempat seperti itu adalah memang orang-orang yang kasar. Sambi Wulung dan Jati Wulung telah berusaha untuk menyesuaikan sikapnya sebagaimana orang-orang lain yang ada di Song Lawa itu.

Sekilas Sambi Wulung sempat melihat bagaimana Kiai Windu bertempur. Ia memang tidak melihat unsur yang liar pada orang itu. Meskipun orang itu bersikap kasar dan kadang-kadang diluar dugaan, tetapi Sambi Wulungpun menduga, bahwa ada sesuatu dibalik sikapnya itu.

Sambi Wulung sendiri telah bertempur dengan pedangnya. Orang-orang yang bertempur disekitarnya memang tidak sempat melihat, apa yang dilakukannya. Yang kadang-kadang justru menjadi perhatian mereka adalah Jati Wulung yang bertempur melawan pemimpin perampok itu.

Namun agaknya Sambi Wulung telah berbuat diluar perhitungan mereka. Sambi Wulung yang tidak mendapat parhatian itu, ternyata memiliki ilmu yang sangat tinggi.

Karena itu, maka setiap kali ia telah mengejutkan lawan-lawannya. Namun untuk tidak menarik perhatian, Sambi Wulung jarang membuat penyelesaian. Ia tidak membunuh lawannya atau melukainya dengan tikaman pedangnya. Tetapi setiap kali ia hanya memperlemah kedudukan lawannya yang kemudian ditinggalkannya untuk mencari lawan yang lain. Jika lawannya telah diroges dengan ujung pedangnya, maka Sambi Wulung kemudian telah menghindarinya. Hanya dalam keadaan terpaksa dan diluar perhitungannya, maka pedangnya memang telah menikam sampai kejantung.

Meskipun demikian, ternyata Sambi Wulung telah menimbulkan banyak kesulitan pada lawan-lawannya.

Jika ia menggoreskan pedangnya pada tubuh lawannya, berarti bahwa ia telah memperlemah perlawanannya. Meskipun kamudian Sambi Wulung meninggalkannya, maka orang itu tidak lagi dapat bertempur dengan sepenuh kemampuannya siapapun lawan yang datang kemudian. Dan lawan yang datang kemudian itulah yang biasanya membuat penyelesaian.

Dibagian lain, orang yang disebut Kepala Besi itupun telah bertempur dengan garangnya. Agaknya ia masih berusaha untuk tidak dikenal sebagaimana sebutannya. Karena itu ia telah mempergunakan senjata pula. Sebuah pedang yang berat ditangannya berputar-putar mengerikan.

Sementara itu, Kiai Windupun mampu menggerakkan lawan-lawannya. Dengan kemampuan yang tinggi serta pengalaman yang luas manghadapi lawan-lawan yang keras dan kasar, Kiai Windu mampu mendesak setiap lawan yang dihadapinya.

Karena itulah, maka para perampok yang memasuki Song Lawa itupun menjadi semaki marah. Semakin keras perlawanan yang mereka hadapi, maka merekapun menjadi semakin buas dan liar.

Tetapi ternyata bahwa beberapa lama kemudian, beberapa orang perampok telah jatuh. Sebagian besar dari mereka, adalah orang-orang yang pernah berhadapan dengan Sambi Wulung. Yang lain adalah lawan-lawan Kepala Besi dan beberapa orang yang memang memiliki ilmu yang tinggi.

Namun dalam pada itu, orang-orang yang bertubuh raksasa itupun ada pula yang telah terlempar jatuh. Senjata para perampok yang garang itu sempat pula mengoyakan kulit daging diantara mereka.

Kemarahan para perampok dan orang-orang yang bertubuh tinggi itu mempunyai warna yang hampir sama pula. Mereka berteriak-teriak dan mengumpat-umpat sejadi-jadinya.

Jati Wulung ternyata telah mendapat lawan yang tangguh. Pemimpin perampok itu memiliki ilmu yang tinggi pula. Karena itu, maka Jati Wulung harus berhati-hati menghadapinya.

Namun pemimpin perampok itupun menjadi heran pula. Yang diperhitungkannya hanyalah Kepala Besi yang ditakuti di pesisir Utara. Namun ternyata ada juga orang lain yang mampu mengimbangi ilmunya.

Meskipun demikian, sekali-sekali masih terdengar pula orang itu berteriak " Dimana Kepala Besi itu? Ternyata ia seorang pengecut yang tidak berani menghadapi aku. "

Kepala Besi itu tidak menghiraukannya. Ia masih saja bertempur dengan sebuah pedang yang berat. Namun dengan ayunan pedangnya itu ia telah mendesak lawan-lawannya.

Pertempuran semakin lama menjadi semakin sengit.

Adalah diluar dugaan, bahwa para perampok telah susut dengan cepat.

Sebenarnya bagi Kiai Windu, bertempur pada saat itu bukannya keharusan yang mutlak. Tetapi iapun tidak ingin melihat Song Lawa benar-benar dihancurkan oleh para perampok itu yang kemudian membawa semua uang dan perhiasan yang ada didalamnya. Karena itu, maka meskipun Kiai Windu menghindari keadaan yang benar-benar berbahaya baginya, iapun telah bertempur pula menghadapi para perampok itu. Ternyata Kiai Windu mampu memilih lawan yang tidak membahayakan dirinya sendiri.

Tetapi beberapa orang yang lain telah bertempur dengan garangnya. Seorang yang bertubuh kekar telah bertempur dengan segenap kemampuannya. Kemarahannya telah ditumpuhkan lewat ujung senjatanya, karena baginya para perampok itu ternyata telah mengganggu kesenangannya selama ia berada di Song Lawa.

Dalam waktu yang pendek, pertempuran itu telah menjadi semakin menebar. Sebenarnyalah bahwa arah serangan para perampok mula-mula ditujukan kepada para petugas. Tetapi kerena orang-orang lain yang kebetulan berada di Song Lawa itu justru menjadi lebih berbahaya dari para petugas, maka merekapun kemudian berusaha untuk menghancurkan orang-orang lain yang kebetulan berada di Song Lawa itu justru menjadi lebih berbahaya dari para petugas, maka merekapun kemudian berusaha untuk menghancurkan orang-orang itu lebih dahulu.

Pada umumnya orang-orang yang berhasil mengatasi kekuatan sirep itu memang orang-orang berilmu. Itulah sebabnya, maka para perampok sulit untuk dapat menghancurkan mereka. Bahkan dalam setiap pertempuran seorang melawan seorang, maka para perampok itu tentu segera dapat dikalahkan.

Tetapi jumlah perampok itu memang lebih banyak dari mereka yang sempat terhindar dari kekuatan sirep itu. Karena itu, maka orang-orang itupun harus bertempur dengan segenap kemampuan dan ilmunya, karena kadang-kadang mereka harus menghadapi lawan yang tidak hanya seorang.

Para perampok yang kasar itu ternyata cerdik juga mengatasi kemampuan lawan-lawan mereka. Setiap kali seorang perampok terdesak, maka muncullah kawannya untuk membantunya. Sehingga dengan demikian, maka ada diantara para perampok itu yang bertempur sambil berloncatan dari satu lawan ke lawan yang lain.

Orang yang disebut Kepala Besi itu mengumpat-umpat ketika ia harus berhadapan dengan dua orang perampok yang termasuk tangguh. Ketika seorang yang termasuk tangguh. Ketika seorang yang termasuk tataran tertinggi dari para perampok itu terdesak, maka muncullah seorang yang lain dalam tataran yang sama. Karena itu, maka Kepala Besi itu harus berhadapan dengan orang-orang terbaik dilingkungan perampok itu.

Tetapi Kepala Besi itu memang benar-benar orang yang ditakuti di pesisir Utara. Karena itu, meskipun punggungnya masih agak sakit setelah ia dikalahkan oleh Jati Wulung, namun ia masih mampu bertempur dengan garangnya. Hanya sekali-sekali ia masih berdesis jika sakti di punggungnya itu terasa menggigit.

Karena ilu, maka Kepala Besi itu tidak segera dapat dikuasai oleh lawan-lawannya. Bahkan beberapa kali ia mampu mengejutkan lawan-lawannya dengan geraknya yang tiba-tiba.

" Setan. Sakit di punggungku " Kepala Besi itu mengumpat jika tidak, aku akan membunuh semua orang yang mengganggu kesenanganku ini. "

Ketika sekilas ia melihat Jati Wulung bertempur melawan pemimpin perampok itu, Kepala Besi merasa bersyukur bahwa bukan dirinyalah yang dihadapinya. Jika ia dalam keadaannya itu harus mengadapi pemimpin perampok itu, mungkin ia akan mengalami kesulitan. Perasaan sakit dipunggungnya itu akan benar-benar terasa mengganggu jika ia berhadapan dengan orang yang memang benar-benar berilmu tinggi. Semakin banyak ia bergerak, maka perasaan sakit itu akan semakin terasa.

Karena itu, maka ia lebih senang bertempur menghadapi lawan-lawan yang tidak terlalu kuat meskipun ia harus berhadapan dengan lebih dari satu orang.

Pemimpin perampok yang bertempur dengan Jati Wulung itupun menjadi semakin marah. Ternyata ia mendapatkan lawan yang sulit diatasinya. Lawan yang benar-benar berilmu tinggi.

Dengan kasar pemimpin perampok itu tiba-tiba saja bertanya " He, kaukah Kepala Besi itu. "

" Bukan " jawab Jati Wulung sambil bertempur.

" Jadi siapa kau? " bertanya lawannya pula.

" Wanengpati. Namaku Wanengpati " jawab Jati Wulung.

" Nama yang sering dipakai oleh para prajurit. Apakah kau seorang prajurit? " bertanya pemimpin perampok itu.

" Jika aku seorang prajurit, kau akan menjadi ketakutan? " Jati Wulung justru bertanya.

" Persetan " geram pemimpin perampok itu " didunia ini tidak ada orang yang aku takuti. Sultan Pajangpun tidak. "

Tetapi Jati Wulung sempat menjawab " Kau akan mengalaminya sekarang. Kau akan menjadi ketakutan setelah kita bertempur lebih lama lagi. "

_Iblis kau " geram pemimpin perampok itu.

Dengan serta merta maka pemimpin perampok itu telah meningkatkan serangannya. Ia berusaha mendesak lawannya dengan geraknya yang cepat dan keras.

Tetapi lawannya adalah benar-benar seorang yang tangguh. Karena itu, betapapun ia meningkatkan ilmunya, lawannya selalu dapat mengimbanginya. Bahkan ketika tUbuh Jati Wulung mulai dialiri keringat, maka geraknyapun seakan-akan menjadi semakin cepat dan ringan. Kakinya seakan-akan tidak lagi berjejak diatas tanah jika ia sedang berloncatan diseputar lawannya.

Tetapi lawannyapun mampu bergerak cepat pula. Tangannya yang mengembang bagaikan sayap-sayap burung yang buas di langit yang luas.

Dengan demikian maka pertempuran diantara kedua orang itu menjadi semakin garang. Mereka telah bergeser ke halaman Song Lawa yang luas, seakan-akan terpisah dari arena pertempuran itu. Dengan kemarahan yang mendesak didadanya. maka pemimpin perampok itu berusaha secepatnya untuk menyelesaikan pertempuran itu.

Para petugas di Song Lawa yang pada umumnya bertubuh raksasa itu telah mengerahkan segenap kemampuan mereka. Mereka merasa mempunyai kewajiban untuk melindungi orang-orang yang datang di Song Lawa itu. Namun ternyata bahwa mereka memerlukan orang-orang yang harus mereka lindungi itu untuk membantu mereka. Tanpa orang-orang itu, maka para petugas yang bertubuh raksasa itu tidak akan sempat bertahan cukup lama.

UNTUK beberapa saat, masih belum dapat diduga, siapakah yang akan memenangkan pertempuran itu. Namun beberapa orang yang memiliki ilmu yang tinggi melampaui kebanyakan orang yang terdapat diantara orang-orang yang sedang berada di tempat perjudian itu telah membuat para perampok menjadi cemas. Bahkan pemimpin perampok itupun telah menjadi cemas pula tentang dirinya sendiri, bahwa ia tidak akan segera dapat menyelesaikan pertempuran itu, sementara malampun telah hampir sampai kebatas.

Namun demikian, meskipun ia telah mengerahkan segenap kemampuannya, namun lawannya masih juga mampu mengimbanginya.

Yang mengalami kesulitan adalah justru orang-orang yang bertubuh raksasa yang bertugas di Song Lawa. Jika seorang diantara mereka harus menghadapi dua orang sekaligus, maka petugas itu akan segera mengalami kesulitan. Namun merekapun telah berusaha untuk bertempur dalam arena yang saling berbaur sehingga dengan demikian maka mereka akan dapat saling menolong dalam keadaan yang mendesak.

Namun dalam pada itu, justru karena didalam pertempuran itu orang-orang yang berilmu tinggi seperti Sambi Wulung, Kepala Besi itu kemampuan orang-orang lain yang pada umumnya melafripaui kemampuan para petugas yang bertubuh raksasa itu, maka jumlah para perampok itu agaknya telah menjadi susut. Meskipun orang-orang yang mempertahankan Song Lawa itu juga susut, namun agaknya penyusutan bagi para perampok itu berlangsung lebih cepat. Sehingga karena itu, maka pada saatnya, jumlah mereka akan menjadi seimbang.

Agaknya hal itu diketahui juga oleh pemimpin perampok yang sedang bertempur melawan Jati Wulung. Karena itu, maka kemarahannyapun menjadi semakin memuncak.

Tidak ada pilihan lain daripada berusaha dengan cepat menghancurkan lawannya untuk terjun kedalam pertempuran diantara orang-orangnya.

Yang menjadi berdebar-debar adalah orang-orang yang bertubuh raksasa itu. Mereka yang seharusnya melindungi orang-orang yang berada di tempat perjudian itu termasuk harta bendanya, namun ternyata mereka tidak cukup mampu untuk melakukannya. Apalagi sebagian dari mereka telah tertidur nyenyak oleh kekuatan sirep yang mencengkam.

Jika para perampok itu kemudian ternyata berhasil menghancurkan Song Lawa dan merampas segala harta benda yang ada didalamnya, maka untuk selanjutnya Song Lawa tidak akan pernah mendapat kepercayaan lagi. Bahkan mungkin orang-orang yang ada didalamnya telah menuntut kepada para petugas dan pemimpin Song Lawa itu agar mereka bertanggung jawab atas perampokan itu.

Beruntunglah para petugas di Song Lawa itu, bahwa orang-orang yang berilmu tinggi, yang terbebas dari pengaruh sirep, telah bersedia untuk turun ke medan, membantu mereka melawan para perampok itu.

" Bagi mereka, tentu akan ada penghargaan khusus " berkata pemimpin dari para petugas itu.

Demikianlah, pertempuran masih berlangsung dengan garangnya. Orang-orang yang bertubuh raksasa telah bertempur sejauh dapat mereka lakukan tanpa mengenal takut sama sekali. Mereka harus menunjukkan kepada orang-orang yang ikut membantu mereka bertempur, bahwa mereka telah berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya. Mereka harus benar-benar dianggap bertanggung jawab tanpa mengenal takut menghadapi maut sekalipun.

Namun para perampokpun telah menjadi semakin buas dan liar. Mereka menjadi sangat marah bahwa mereka tidak dapat melakukan perampokan itu dengan lancar. Bahkan orang-orang yang berada di Song Lawa dan sama sekali bukan petugas telah ikut melibatkan diri pula. Namun justru satu-satu para perampok itu terlempar dari arena. Luka-luka yang parah dan bahkan tusukan langsung ke jantung telah mengurangi jumlah mereka. Tanpa mereka sadari, Sambi Wulung benar-benar merupakan orang yang menentukan keseimbangan pertempuran itu disamping Jati Wulung yang telah berhasil mengikat pemimpin perampok dalam pertempuran yang sengit, serta Kepala Besi yang bertempur dengan garang.

Pemimpin perampok yang bertempur melawan Jati Wulung itupun telah berusaha mengerahkan kekuatan dan kemampuannya untuk segera mengalahkan lawannya. Beberapa jenis ilmu yang dimilikinya telah diungkapkannya dalam pertempuran itu. Dengan tangkas ia telah mampu berloncatan hampir tidak menyentuh tanah. Bahkan kemudian tangannyapun telah berputaran disekitar tubuhnya. Sekali-kali mengembang, kemudian terangkat tinggi, tetapi sesaat yang lain tangan itu telah mematuk dada dengan jari-jari yang merapat.

Tetapi Jati Wulung mampu mengimbangi kecepatan gerak pemimpin perampok yang tidak bersenjata itu. Iapun dengan cepat bergerak sebagaimana dilakukan oleh lawannya. Bahkan sekali-sekali Jati Wulung justru telah berusaha menembus pertahanan lawannya dengan serangan-serangan yang cepat dan tiba-tiba.

Dengan mengerahkan kemampuannya pemimpin perampok itu masih sempat mengelakkan serangan-serangan Jati Wulung. Bahkan membalas menyerang dengan kemampuan yang sangat tinggi.

Ketika orang itu meloncat dengan ayunan tangan mendatar setinggi dada, Jati Wulung sempat memiringkan tubuhnya sehingga tangan lawannya itu bergetar kurang dari setapak dari tubuhnya. Namun dengan cepat pula Jati Wulung telah memukul tangan itu dengan sisi telapak tangannya. Tetapi lawannya sempat dengan tergesa-gesa menarik tangannya sehingga pukulan sisi telapak tangan Jati Wulung tidak mengenainya. Bahkan orang itu sempat memiringkan tubuhnya dan mengayunkan kakinya kearah lambung. Jati Wulung yang melihat serangan itu meloncat surut. Sekali lagi serangan lawannya tidak mengenainya.

Bahkan Jati Wulung yang melihat keadaan lawannya, tiba-tiba telah berputar sambil menyapu kaki lawannya yang sebelah, yang dipergunakan untuk bertumpu sebelum kakinya yang lain sempat menyentuh tanah.

Namun Jati Wulung harus mengakui kemampuan tawannya yang tiba-tiba saja dengan satu kakinya telah melenting tinggi. Sambil menggeliat tangannya justru terayun. Hampir saja tangan itu mengenai tengkuk Jati Wulung. Namun Jati Wulung adalah seorang yang berilmu mapan. Karena itu, hampir diluar daya pengamatan lawannya Jati Wulung telah memiringkan tubuhnya, sehingga sambaran tangan lawannya tidak mengenainya. Betapa terkejut lawannya ketika tiba-tiba saja kaki Jati Wulung telah berputar satu lingkaran. Demikian cepatnya, sehingga lawannya tidak sempat menghindarinya.

Kerena itu dengan lengannya, pemimpin perampok itu berusaha menangkis serangan Jati Wulung.

Satu benturan yang keras sekali telah terjadi. Kekuatan pemimpin perampok itu memang luar biasa besarnya. Namun justru karena Jati Wulung menyadarinya, maka iapun telah mengerahkan kekuatannya pula. Karena itu, benturan yang terjadi adalah benturan ilmu yang mengalir dibagian tubuh masing-masing yang saling beradu.

Ternyata pemimpin perampok itu terkejut. Kekuatan Jati Wulung demikian besarnya, sehingga pemimpin perampok itu telah terdorong surut.

Kemarahan yang menggelegak telah menghentak-hentak didalam dada pemimpin perampok itu. Karena itu maka iapun telah berteriak nyaring sambil mengerahkan segenap kemampuan yang ada didalam dirinya. Keadaan benar-benar menjadi semakin gawat bagi para perampok itu. Kekuatan sireppun semakin lama akan menjadi semakin menipis. Jika kemudian kekuatan sirep itu hilang, maka orang-orang di Song Lawa itu akan terbangun dan keadaanpun akan menjadi semakin sulit bagi para perampok itu.

Tetapi betapapun ia mengerahkan kemampuan ilmunya, namun lawannya itu benar-benar tidak mampu didesaknya. Semakin besar ia mengerahkan kekuatannya, maka semakin besar pula kekuatan lawannya.

Ketika pemimpin perampok itu benar-benar sampai kepuncak ilmunya, maka Jati Wulung memang menjadi berdebar-debar. Dalam sentuhan-sentuhan yang kemudian terjadi, rasa-rasanya tubuh lawannya menjadi panas. Itulah sebabnya, maka lawannya berusaha untuk lebih sering membenturkan kekuatan mereka.

Jati Wulung menggeram ketika tangannya mengenai lambung lawannya. Lawannya memang menyeringai menahan sakit. Tetapi Jati Wulungpun menjadi kesakitan pula, karena tangannya bagaikan menyentuh bara.

" Setan alas " geram Jati Wulung.

—Kau akan mati terpanggang api ilmuku " desis lawannya.

Jati Wulung menggerakkan giginya. Namun ia adalah orang yang berilmu tinggi.

Dalam pertempuran berikutnya, Jati Wulung menyadari, bahwa lawannya berusaha menerkamnya dan memeluknya erat-erat. Dengan demikian maka ia akan benar-benar  dapat  mati  terpanggang  api  ilmunya sebagaimana dikatakan. Karena itu, maka iapun telah bertempur dengan sangat berhati-hati.

Dikerahkannya daya tahannya untuk mengatasi rasa sakit jika serangannya membentur lawannya. Namun Jati Wulungpun yakin, bahwa lawannya masih juga merasa sakit jika serangannya mampu mengenainya.

Karena itu, maka Jati Wulungpun benar-benar telah mengerahkan segenap tenaga cadangannya, sehingga serangan-serangannya menjadi semakin garang. Namun Jati Wulungpun harus bergerak cepat untuk selalu menghindari terkaman lawannya yang bagaikan menjadi bara itu.

Ternyata bahwa pemimpin perampok itupun menjadi semakin sibuk melayani Jati Wulung yang sudah sampai pula pada tingkat kemampuannya yang tertinggi. Ternyata ia mampu bergerak diluar penglihatan mata wadag, sementara itu kekuatannyapun bagaikan menjadi berlipat ganda. Setiap sentuhan, telah melemparkan lawannya beberapa langkah surut, meskipun Jati Wulung sendiri harus berusaha mengatasi rasa sakit, tetapi hentakkan serangannya yang semakin kuat telah melemparkan lawannya, dan bahkan membantingnya jatuh.

Sebenarnyalah kegelisahan benar-benar telah mencengkam pemimpin perampok yang berilmu tinggi itu. Apalagi ketika ia sempat melihat keadaan orang-orangnya. Meskipun semula jumlah mereka lebih banyak, namun semakin lama jumlah itu menjadi semakin berimbang.

" Kau mempunyai ilmu dari iblis mana he? " geram pemimpin perampok itu.

Jati Wulung menghindari serangan lawannya sambil menjawab " Ilmuku itulah ilmu iblis. "

Lawannya semakin mengerahkan kemampuannya. Namun serangan Jati Wulung rasa-rasanya menjadi semakin sering mengenainya dan setiap sentuhan rasa-rasanya telah mematahkan tulang-tulangnya. Bahkan telah timbul pertanyaan didalam hatinya " Apakah ia tidak merasakan panasnya ilmuku? "

Namun pemimpin perampok itu benar-benar tidak mendapat kesempatan. Serangan Jati Wulung justru menjadi semakin sering menembus pertahanannya. Jika semula pemimpin perampok itu berusaha sejauh mungkin terjadi benturan-benturan sehingga ia mendapat kesempatan membakar kulit lawannya, namun iapun kemudian terpaksa harus menghindarinya. Serangan Jati Wulung dilambari kekuatan yang luar biasa besarnya.

Sebenarnyalah Jati Wulung sendiri harus menahan pedih pada kulit-kulitnya yang bagaikan terkelupas oleh panasnya api pada tubuh lawannya yang dilambari dengan ilmunya. Tetapi Jati Wulung harus mengatasi perasaan sakit dan pedih itu. Jika ia tidak mampu mengatasinya, maka lambat laun ia akan ditelan oleh ilmu lawannya.

Namun ternyata lawannyapun sulit untuk mengatasi kekuatan ilmu Jati Wulung yang tinggi. Kekuatannya semakin lama bukannya semakin susut. Tetapi justru menjadi semakin besar.

Ketika lawannya berusaha untuk menangkap serangan Jati Wulung agar kekuatan panas apinya sempat menghanguskan kulitnya, namun ternyata bahwa pemimpin perampok itu sendirilah yang telah terlempar beberapa langkah mundur dan bahkan jatuh terbanting ditanah.

Dengan cepat pemimpin perampok itu melenting berdiri. Namun dengan kecepatan yang lebih tinggi, Jati Wulung telah meluncur dengan tubuh hampir mendatang.

Satu benturan yang keras sekali telah terjadi ketika telapak kaki Jati Wulung itu mengenai dada pemimpin perampok yang belum benar-benar berdiri tegak itu.

Benturan serangan Jati Wulung itu benar-benar merupakan benturan yang menentukan. Lambaran kekuatan ilmu yang ada didalam diri Jati Wulung benar-benar telah menghantam tulang-tulang iga pemimpin perampok itu.

Ternyata beberapa tulang iga telah benar-benar dipatahkannya. Isi dada pemimpin perampok itupun rasa-rasanya telah menjadi rontok karenanya.

Terdengar keluhan pendek. Pemimpin perampok itu ternyata telah terlempar beberapa langkah. Sekali lagi ia jatuh berguling. Lebih keras dari sebelumnya. Adalah diluar perhitungan pemimpin perampok itu, bahwa kepalanya telah membentur batu yang tergolek dibawah sebatang pohon waru.

Pemimpin perampok itu menggeliat. Tetapi ia tidak sempat berbuat banyak. Ia hanya dapat menatap Jati Wulung dengan-sorot mata penuh kebencian. Namun mata itupun sejenak kemudian telah tertutup.

Kematian pemimpin perampok itu mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi para pengikutnya. Mereka merasa bahwa mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi tanpa pemimpin mereka yang berilmu tinggi itu.

Karena itu, maka mereka memang tidak mempunyai pilihan lain. Beberapa orang diantara mereka sempat memperhitungkan kemungkinan susutnya pengaruh sirep sehingga akan semakin banyak orang-orang Song Lawa yang terbangun. Sementara itu rasa-rasanya cahaya merah telah mulai membayang dilangit.

Sejenak kemudian, para perampok itu telah mengambil satu keputusan tanpa sempat mereka bicarakan. Ketika seorang diantara mereka dengan licik meloncat melarikan diri, maka beberapa orangpun telah menyusulnya tanpa aba-aba. Mereka berlari-larian kepintu gerbang yang terbuka dan berusaha hilang digelapnya malam.

Orang-orang yang ikut bertempur bersama para pengawal tidak berusaha mengejar mereka. Tetapi para pengawal yang bertubuh raksasa itu ada yang sempat berlari keluar regol. Dua orang ternyata gagal melarikan diri dan tusukan di punggung mereka telah menghentikan mereka untuk selama-lamanya. Namun yang lain sempat menghilang didalam kelam.

Sejenak kemudian, maka para pengawal Song Lawa itupun telah berkumpul. Beberapa orang yang kebetulan sedang berada di Song Lawa dan ikut terlibat dalam pertempuran itu, berdiri termangu-mangu. Mereka memandangi beberapa tubuh yang terbujur lintang dengan darah yang mulai membeku.

Diantara mereka adalah para pengawal yang bertubuh raksasa serta orang-orang yang sedang berada di Song Lawa untuk berjudi. Namun untunglah bahwa orang-orang itu hanyalah terluka saja. Tidak seorangpun diantara para penjudi itu yang terbunuh.

Pemimpin Pengawal yang juga bertubuh raksasa itu memandangi orang-orang yang berdiri termangu-mangu. Namun kemudian iapun berkata dengan nada rendah " Terima kasih. Tanpa bantuan kalian, Song Lawa telah menjadi abu. Jika mereka telah merampas semua harta benda yang ada disini, maka mereka tentu akan membakar tempat ini dengan orang-orang yang tertidur lelap karena pengaruh sirep. Kita tentu tidak akan sempat mengeluarkan mereka seorang demi seorang. "

Orang-orang yang termenung diantara mereka yang terluka dan terbunuh itu termangu-mangu. Namun kemudian Jati Wulunglah yang berkata " Rawat yang terluka dan kumpulkan kawan-kawanmu yang terbunuh. Hari ini kita mulai dengan penguburan mayat para perampok serta merawat orang-orang yang terluka termasuk aku. Kau lihat, kulitku mengalami luka-luka bakar. Pedih sekali sekarang. Disaat-saat aku berkelahi, perasaan sakit itu dapat aku atasi karena aku lebih takut mati daripada sekedar kesaksian. Tetapi sekarang, perasaan sakit itu terasa semakin menggigit. "

Pemimpin pengawal itu mengangguk-angguk. Kemudian katanya " Kawanku menjadi semakin sedikit. Mereka yang telah bekerja bersamaku beberapa tahun disini, sebagian telah mati dan sebagian lagi terluka. Justru mereka adalah orang-orang yang terbaik. "

" Tentu orang-orang yang terbaik " sahut Kepala Besi " pengawal-pengawal Song Lawa yang lain tidak lebih dari kerbau-kerbau dungu yang hanya ujudnya saja yang menyeramkan. Tetapi ternyata mereka tidak mampu mengatasi kekuatan sirep. "

Pemimpin pengawal itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak dapat menyangkal kenyataan itu. Sementara itu Kiai Windupun berkata " Pengaruh itu sekarang sudah tidak lagi cukup kuat untuk memaksa orang-orang tidur nyenyak. Bangunkan mereka dengan isyarat. Itu lebih cepat daripada kau bangunkan mereka seorang demi seorang. "

Pemimpin pengawal itu mengangguk-angguk. Katanya " Baiklah. Aku akan membunyikan isyarat tanda bahanya. "

" Kami akan kembali kedalam bilik kami " berkata Kiai Windu.

" Uangku ada di barak permainan dadu " berkata seorang yang bertubuh tinggi.

Dengan demikian maka orang-orang itu telah berpencar kembali ketempat mereka disaat kerusuhan itu mulai terjadi. Sambi Wulung, Jati Wulung dan Kiai Windu telah kembali pula kedalam bilik mereka, sementara Jati Wulung berjalan dengan kaki timpang. Telapak kakinya dan lengannya memang terluka. Pakaiannyapun dibeberapa tempat bagaikan telah tersengat bara api.

Namun Kiai Windu sempat berkata " Ternyata kau memang luar biasa. "

" Apanya yang luar biasa? " bertanya Jati Wulung.

Kiai Windu tersenyum. Namun iapun telah mengurut lengannya sendiri yang tergores senjata sambil menjawab " Kau mampu mengalahkan pemimpin perampok yang mempunyai ilmu yang tinggi itu. "

" Satu kebetulan " jawab Jati Wulung " tetapi aku terluka di banyak tempat. "

" Lenganku juga terluka " berkata Kiai Windu " Wanengbayalah yang sama sekali tidak tersentuh senjata "

" Aku mencari lawan yang paling lemah diantara mereka " jawab Sambi Wulung.

" Bagaimana mungkin kau dapat memilih lawan dalam perkelahian seperti itu " desis Kiai Windu.

Sambi Wulung tidak menjawab. Namun Kiai Windu berkata selanjutnya " Jika tidak ada kalian berdua, maka Song Lawa tentu sudah dijarah rayah. Isinya tentu sudah dirampok oleh orang-orang liar itu dan bahkan banyak orang yang terbunuh. "

" Ah " sahut Sambi Wulung " kau jangan mengada-ada. Kaulah yang telah berhasil mengusir mereka. "

Kiai Windu berkata sambil tertawa " Kau katakan bukan yang sebenarnya kau maksudkan. Kau tahu tingkat kemampuanku. Dan akupun tahu tingkat kemampuan kalian. "

" Sudahlah " desis Jati Wulung " luka-lukaku terasa pedih. Aku harus segera mengobatinya agar tidak menjadi luka-luka yang semakin parah. "

Semuanyapun terdiam. Mereka menjadi semakin dekat dengan bilik mereka. Sementara itu, telah terdengar isyarat yang dibunyikan oleh pemimpin pengawal yang bertubuh raksasa itu. Beberapa orang kawannya yang hanya mengalami luka-luka ringanpun telah ikut pula membunyikannya sambil membawa kentongan-kentongan kecil berputar diantara barak-barak di Song Lawa.

Isyarat itu memang mengejutkan. Bukan saja para pengawal yang dengan serta merta meloncat keluar dari barak-barak tempat mereka tertidur nyenyak oleh pangaruh sirep, bahkan juga yang tertidur di kedai dan di gardu-gardu penjagaan, tetapi juga mereka yang berada di Song Lawa itu untuk berjudi. Mereka dengan senjata  ditangan telah menghambur keluar dari barak-barak. Sementara itu mereka yang tertidur di barak permainan dadupun telah bangkit pula. Dengan serta merta mereka telah menarik senjata-senjata mereka pula.

Namun dua orang petugas yang berada di barak permainan dadu itu segera menjelaskan apa yang telah terjadi. Dengan nada tinggi seorang diantara petugas itu berkata " Yang ada di tempat ini sama sekali tidak berubah sebagaimana saat sirep itu mulai menyentuh. "

" Gila. Siapa yang telah melakukannya? " bertanya seorang yang berpakaian rapi. Dengan keris ditangan ia berdiri tegak diantara orang-orang lain yang juga menjadi tegang.

Ketika seorang pengawal yang lain memasuki tempat itu, maka seorang yang menggenggam pedang ditangan bertanya " Apa yang terjadi? "

" Semuanya sudah lewat " berkata pengawal itu, yang ternyata telah terluka dipunggungnya. Lalu katanya pula " Perampok itu telah terusir selain yang terbunuh disini. Pemimpin perampok itu telah mati pula disini. "

" Kenapa kami baru diberitahukan sekarang? " bertanya seorang yang bertubuh besar " jika aku tahu, maka aku akan menghancurkan mereka. "

" Jangan membual disini. " bentak pengawal yang punggungnya terluka itu " kenapa kau justru tidur saja  disini, di tempat yang seharusnya tidak untuk tidur? Bukankah sudah disediakan bilik bagimu? "

Orang itu mengerutkan keningnya. Bukan hanya orang yang bertubuh tinggi besar itu saja yang merasa heran atas dirinya sendiri. Kenapa mereka telah tertidur di tempat permainan dadu itu.

" Sekarang kemasi uang kalian. Permainan dihentikan untuk siang ini. Baru malam nanti akan dimulai lagi. Siang ini kita mempunyai tugas lain. Mengubur orang-orang yang terbunuh dan merawat kawan-kawan kami yang terluka.. Untunglah bahwa aku hanya tergores kecil dipunggung. Tetapi ada kawanku yang benar-benar mati " geram pengawal itu.

Orang-orang yang ada di barak permainan dadu itupun segera mengemasi dan menyimpan uang mereka masing-masing atau barang-barang berharga yang sudah disiapkan untuk bertaruh. Kemudian merekapun telah meninggalkan tempat itu.

Namun, demikian mereka berada di halaman, maka merekapun segera mengetahui bahwa beberapa orang memang telah terbunuh.

Hari itu semua kegiatan judi di Song Lawa dihentikan. Tidak ada permainan dadu. Tidak ada sabung ayam  dan tidak ada panahan. Namun kedai di Song Lawa itu terpaksa dibuka agar orang-orang yang ada didalam lingkungan itu tidak menjadi kelaparan.

Sambi Wulungpun kemudian telah sibuk mengobati luka-luka Jati Wulung. Dengan obat-obatan yang mereka bawa, maka rasa sakit pada luka-luka Jati Wulung menjadi jauh berkurang.

Namun keduanya menjadi sangat kecewa ketika mereka kemudian mengetahui, bahwa para perampok yang terluka parah dan tidak dapat meninggalkan Song Lawa itu telah dibunuh pula oleh para pengawal.

" Ternyata mereka adalah orang-orang biadab " geram Jati Wulung.

" Satu kesalahan yang tidak dapat dimaafkan " desis Sambi Wulung " bukankah seharusnya mereka tahu, bahwa mereka tidak boleh membunuh orang-orang yang terluka? "

Tetapi Kiai Windu tiba-tiba saja bertanya " Siapa yang kau maksud? "

" Para pengawal Song Lawa. " jawab Sambi Wulung.

Tetapi Kiai Windu justru tersenyum. Katanya " Seharusnya kau tidak bertanya seperti itu. Seharusnya sejak semula kau sudah dapat menilai, bahwa mereka bukanlah orang baik-baik. Yang berada di tempat perjudian inipun bukan pula orang baik-baik sebagaimana para pengawal. Seandainya bukan para pengawal yang telah membunuh para perampok yang terluka, maka para pendatang di Song Lawa inilah yang akan melakukannya dan bahkan mungkin mereka telah melakukannya pula.

Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Jati Wulung berkata " Jadi, apakah sebaiknya kita biarkan saja seandainya sekelompok perampok datang lagi ke tempat ini? Atau bahkan kita sendiri sajalah yang merampoknya? "

" Jangan mengigau " berkata Kiai Windu " kita tidak dapat dengan serta merta merubah wajah hitam tempat perjudian ini. Tetapi sudah tentu kita tidak akan dapat membiarkan terjadi pembantaian disini oleh para perampok meskipun bagi orang lain, nilai ke j i wan para perampok dan para petugas dan juga para pengunjung Song Lawa ini tidak jauh berbeda. Salah satu perbedaan yang ada ialah bahwa orang-orang yang datang di Song Lawa ini membawa dan bahkan cukup banyak uang dan barang-barang berharga, sementara para perampok itu akan mengambil dengan kekerasan uang dan barang-barang Derharga yang ada disini» "

Sambi Wulung dan Jati Wulung hanya mengangguk-angguk saja.

Sementara itu para petugas dan beberapa orang yang ada di Song Lawa sedang sibuk, Sambi Wulung dan Jati Wulung justru berbaring di bilik mereka. Kiai Windupun tidak keluar dari dalam bilik itu, namun ketiga kawannyalah yang melihat-lihat kesibukan yang terjadi di lingkungan perjudian disebut Song Lawa itu atas perintah Kiai Windu.

Ternyata bahwa Jati Wulung benar-benar merasa letih sementara perasaan sakit yang menggigit kulitnya telah jauh berkurang. Namun hampir diluar sadarnya, bahwa Jati Wulungpun telah tertidur.

" Biarlah ia beristirahat " berkata Sambi Wulung yang masih juga berbaring. Bahkan Kiai Windupun telah berbaring juga meskipun keduanya tidak ingin tidur sementara matahari mulai memancarkan sinarnya ke lingkungan perjudian itu.

" la memang letih sekali " desis Kiai Windu.

" Ya. Tetapi letih atau tidak letih Wanengpati memang termasuk seorang yang suka tidur " sahut Sambi Wulung.

Kiai Windu tersenyum. Katanya " Tetapi kali ini ia benar-benar telah bertempur dengan mengerahkan segenap tenaganya. Pemimpin perampok itu tidak kurang tingkat ilmunya dari Kepala Besi yang masih merasa sakit di punggungnya itu.

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Jati Wulung memang benar-benar telah terluka. Namun pengobatan yang sudah diberikan, baik yang di taburkan langsung pada luka-lukanya atau reramuan yang diminumnya telah banyak menolongnya.

Dalam pada itu, kesibukan lain telah terjadi di Song Lawa. Para pengawal telah menguburkan kawan-kawan mereka di belakang lingkungan perjudian itu. Diluar dinding lapisan yang paling dalam, tetapi didalam dinding lapisan berikutnya. Namun mereka telah menguburkan para perampok di luar lingkungan perjudian itu sama sekali. Di padang perdu tanpa pertanda apapun.

Ketiga orang kawan Kiai Windu memperhatikan apa yang dilakukan oleh para petugas itu dengan hati yang berdebar-debar. Dengan nada rendah seorang diantara mereka berkata " Ternyata kami termasuk orang-orang yang tidak mampu melawan kekuatan sirep. Untunglah bahwa Kiai Windu masih mampu mengatasinya, sehingga ada diantara kita yang diperhitungkan diantara orang-orang yang berada di Song Lawa ini. "

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Sementara itu seorang dari mereka berkata " Bukan hanya kita yang tidak mampu mengatasi sirep yang tajam itu» Tetapi sebagian besar dari orang-orang yang berada di Song Lawa memang tidak dapat mengatasi sirep. Bahkan ada yang lebih buruk dari keadaan kita. Seandainya kita waktu itu belum tidur, mungkin kita mampu untuk bertahan. Namun agaknya dalam tidur kita tidak dapat berbuat apa-apa. Sedangkan orang lain yang sedang berjudi di permainan dadu, ada yang tiba-tiba saja telah tertidur di tempat itu sambil memeluk uangnya. "

" Belum tentu " jawab yang lain " sebaiknya kita tidak menyembunyikan kelemahan kita agar kita tidak salah menilai diri kita sendiri. "

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata " Sebaiknya memang demikian. Seperti yang selalu kita dengar petunjuk Kiai Windu. Kita harus merasa bahwa banyak orang lain yang lebih baik dari kita. Karena itu, maka kita harus berhati-hati dalam setiap langkah. "

" Tetapi bagaimana dengan saat-saat yang kita tunggu itu? " berkata seorang diantara mereka tiba-tiba saja.

" Tentu tidak akan ada perubahan. Tetapi jika tempat ini dihancurkan oleh para perampok, aku tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian, " sahut yang lain.

" Kita tunggu perintah Kiai Windu. " desis kawannya sambil bergeser dari tempatnya " kita kembali ke bilik. Semua pekerjaan sudah diselesaikan oleh para petugas. Tetapi hari ini kita hanya dapat tidur saja tanpa ada kegiatan apapun juga. "

Ketika ketiga orang itu kembali ke dalam bilik mereka, maka mereka telah berpapasan dengan orang-orang yang hilir mudik di halaman lingkungan perjudian itu. Mereka memang tidak dapat berbuat apa-apa selain berjalan kesana kemari melihat-lihat keadaan. Namun mereka tidak putus-putusnya membicarakan kehadiran para perampok semalam.

Orang-orang yang sempat ikut bertempur dengan bangga telah menceriterakan apa yang telah mereka lakukan. Bagaimana mereka menghancurkan para perampok. Namun yang lebih banyak mereka ceriterakan adalah kelebihan mereka masing-masing.

Tetapi diantara mereka terdapat juga orang yang harus berbaring dipembaringannya karena luka-lukanya. Namun diantara para petugas di Song Lawa itu terdapat juga orang-orang yang mengerti tentang pengobatan, sehingga mereka dapat membantu meringankan penderitaan mereka yang terluka.

Ketika ketiga orang kawan Kiai Windu itu kembali kedalam bilik mereka, maka Sambi Wulung telah duduk di bibir pembaringan. Kiai Windu masih berbaring meskipun matanya tetap terbuka, sementara Jati Wulungpun masih juga tidur dengan nyenyak.

" Duduklah " berkata Kiai Windu yang kemudian telah bangkit dan duduk pula " apa yang telah kalian lihat? "

Ketiga orang itupun kemudian telah duduk pula. Seorang diantara merekapun telah menceriterakan apa yang telah mereka lihat diluar bilik mereka. Kesibukan para petugas dan orang-orang yang hilir mudik di halaman.

Kiai Windu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun bertanya " Tetapi bukankan kedai itu tetap terbuka seperti biasanya? "

" Ya " jawab salah seorang diantara mereka bertiga.

" Jika kedai itu juga tutup, maka orang-orang di Song Lawa ini akan kelaparan. Jika demikian akibatnya akan sangat jauh, karena sebagian dari mereka akan keluar untuk mencari makan. " berkata Kiai Windu.

" Makan bagi para pengujung di Song Lawa ini, adalah satu-satunya kegiatan hari ini " berkata salah seorang kawan Kiai Windu.

Sambi Wulunglah yang tersenyum. Katanya " Kita tentu akan melakukannya juga. "

" Ya. Sebenarnyalah aku sudah lapar " berkata orang itu.

Sambi Wulung masih saja tersenyum. Tetapi ia menjawab " Aku terpaksa menunggu orang ini terbangun. Apakah kau akan mendahului? "

Yang menjawab adalah Kiai Windu " Tidak. Kita pergi bersama-sama. "

Tidak ada yang menyahut. Yang dikatakan oleh Kiai Windu itu seakan-akan merupakan keputusan yang tidak dapat mereka langgar.

Tetapi mereka tidak perlu menunggu terlalu lama. Ternyata sejenak kemudian Jati Wulung telah terbangun. Bahkan iapun dengan serta merta telah bangkit dan duduk sambil tersenyum. Katanya " He, kenapa aku telah dikerumuni orang? Bukankah aku tidak apa-apa? "

" Siapa yang mengerumunimu? " seorang kawan Kiai Windu ganti bertanya " kami tidak mengerumunimu. Tetapi kami hampir tidak sabar menunggu kau tidur terlalu nyenyak meskipun sirep itu telah lewat. Kami sudah terlalu lapar untuk menunda sesaat lagi untuk pergi ke kedai. "

Jati Wulung justru menguap. Katanya kemudian " Seharusnya kalian pergi lebih dahulu. Agaknya sisa-sisa pengaruh sirep membuatku tidur sangat nyenyak, Melampui nyenyak tidur kalian justru disaat sirep itu bekerja. "

" Kenapa kau tidak membangunkan aku? " bertanya kawan Kiai Windu yang lain " jika kau bangunkan aku, kau tentu tidak akan terluka seperti itu. "

Sambi Wulung tertawa. Jati Wulungpun kemudian tertawa pula, sementara Kiai Windu berkata " Tentu ia tidak akan terluka karena ia tidak akan sempat bertempur. Waktunya akan habis dipergunakannya untuk membangunkan saja. "

Yang lainpun kemudian tertawa pula. Namun seorang yang lain sempat berkata " Nah, Wanengpati. Apa yang akan kau lakukan sekarang? Mandi atau apa. Kita akan segera pergi ke kedai. "

Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam, Iapun kemudian bangkit berdiri, Luka-lukanya tidak lagi terasa sakit.

" Aku akan pergi ke pakiwan. Sebentar lagi kita akan bersama-sama pergi kekedai " desis Jati Wulung.

Namun ketika Jati Wulung sudah keluar dari bilik itu, Sambi Wulung bertanya " Siapakah yang telah mandi diantara kalian? "

Semuanya tertawa. Ternyata Kiai Windu berkata " Apa bedanya mandi dan tidak mandi. "

Sambi Wulung masih tertawa. Tetapi ia tidak menjawab.

Sementara itu, Jati Wulung yang pergi ke pakiwan  harus menunggu karena beberapa buah pakiwan yang disediakan sudah terisi. Dengan hampir tidak sabar ia berdiri didekat salah satu pintu dari pakiwan itu

Namun ketika pakiwan itu terbuka, Jati Wulung terkejut, Yang keluar dari dalam pakiwan itu adalah seorang perempuan itu menudingnya sambil berkata lantang " Kau mencoba mengintip aku lagi he? "

Jati Wulung menggeram. Katanya " Cepat, pergi perempuan gila "

" Sudah aku peringatkan. Jika sekali lagi kau lakukan, aku pilin lehermu sampai patah " geram perempuan itu sambil melangkah pergi.

Jati Wulung menggeretakkan giginya. Tetapi ia tidak berbuat apa-apa.

Namun ia masih melihat seorang laki-laki berlari-lari menyusul perempuan yang baru selesai mandi itu. Apa yang dikatakan oleh laki-laki itu, Jati Wulung tidak mengetahuinya. Tetapi tiba-tiba saja perempuan itu berbalik bersama laki-laki itu kembali ke tempat Jati Wulung termangu-mangu.

" Gila " geram Jati Wulung " apa lagi yang akan dilakukannya dengan laki-laki itu. Apakah aku terpaksa memukulnya sampai pingsan. "

Tetapi ternyata perempuan dan laki-laki itu tidak menyerangnya. Demikian mereka berhenti dihadapannya, perempuan itu berkata dengan nada merendah " Maafkan aku Ki Sanak, aku tidak tahu bahwa kaulah yang telah mengalahkan Kepala Besi dan kemudian membunuh pemimpin perampok semalam. "

Jati Wulung mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian masuk kedalam pakiwan itu sambil berkata " Kalau kau ingin mengintip aku mandi, lakukanlah. "

Perempuan itu menundukkan kepalanya. Namun laki-laki yang mengantarnya itupun menariknya pergi sambil berkata " Kau harus hati-hati menilai seseorang. Untung orang itu termasuk bukan seorang pemarah. Jika ia marah dan memukulmu, habislah sejarah hidupmu yang penuh kesombongan itu. "

" Aku sudah minta maaf " desis perempuan itu.

Namun dalam pada itu Jati Wulung yang berada didalam pakiwan telah mengguyur tubuhnya. Bahkan terdengar ia berkata " Kalian menunggu aku selesai mandi?

Kedua orang itupun segera meninggalkan tempat itu. Namun perempuan itu masih saja bergeremang " Ternyata orang itu yang dibicarakan orang selama ini. Kenapa aku tidak melihat saat ia mengalahkan Kepala Besi dan tidak pula sempat melihat ia bertempur dengan para perampok. "

" Kau tidur mendekur " jawab laki-laki itu.

" Coba, jika saat sirep itu menjamah tempat ini di-saat aku terbangun, maka aku tentu akan dapat mengatasinya " berkata perempuan itu.

" Apapun alasannya, tetapi kau tidak mempunyai kemampuan untuk hadir di pertempuran itu. Kau tentu akan mengatakan bahwa akupun tidak. Aku memang tidak. Itu aku akui. " berkata laki-laki itu.

Keduanyapun kemudian tidak berbicara lagi. Dengan tergesa-gesa keduanya pergi ke barak mereka, melintas halaman yang ditumbuhi rerumputan.

Sejenak kemudian, Jati Wulung telah berada didalam biliknya. Bersama dengan Sambi Wulung dan Kiai Windu serta kawan-kawannya mereka keluar dari barak mereka menuju ke kedai.

Adalah tidak diduga-duga sama sekali, bahwa ketika Jati Wulung mendekati kedai itu, maka hampir semua orang telah bangkit dan menyambutnya sebagai seorang pahlawan. Hampir setiap orang menyatakan penghargaan kepadanya, karena Jati Wulung telah mampu membunuh pemimpin perampok yang hampir saja menghancurkan padepokan itu.

Ketika Jati Wulung yang dikenal sebagai Wanengpati itu dengan kaki yang masih agak timpang berjalan semakin dekat, maka beberapa orang telah menyongsongnya. Jati Wulung justru telah merasa canggung akan sambutan itu. Kepala Besi yang sedang makanpun telah bangkit pula. Bahkan ia telah berteriak " Tanpa orang  itu, Song Lawa hari ini tinggal abu yang akan hanyut ditiup angin. Berterima kasihlah kalian kepadanya. Akupun kini merasa tidak lagi sakit hati karena aku telah dikalahkannya. Ia pantas mendapat julukan orang terbaik di lingkungan ini. Siapa yang tidak mau menganggapnya demikian, maka sebelum ia menilai langsung dalam benturan ilmu dengan Wanengpati, ia harus lebih dahulu dapat mengalahkan aku. "

Sambi Wulung menepuk pundak Jati Wulung sambil berdesis " Nah, kau harus menjadi jera karenanya. "

Jati Wulung berpaling. Namun iapun berguman " Aku menjadi tersiksa disini. "

Sambi Wulung tertawa. Kiai Windu pun berkata pula " Kau akan dinobatkan menjadi raja disini. "

" Persetan " geram Jati Wulung.

Namun suara tertawa Kiai Windu dan Sambi Wulung justru semakin keras. Tetapi suara itu terhenti, ketika dengan tergesa-gesa seorang anak muda menyongsongnya. Anak muda itu langsung membimbing Jati Wulung dan membawanya duduk disebuah amben yang besar, yang justru berada di serambi kedai itu.

" Marilah. Kita akan makan bersama-sama " berkata anak muda itu. Anak muda yang justru menjadi pusat perhatian Jati Wulung dan Sambi Wulung. Puguh.

Jati Wulung tidak menolak. Ia mengikut saja untuk duduk diamben itu, sementara orang-orang lain memandanginya saja termangu-mangu. Namun Kepala Besi itu masih saja berbicara " He, anak muda. Apakah kau sedang membujuknya agar orang itu mau bekerja bersamamu? "

Puguh memandang Kepala Besi itu dengan dahi yang berkerut. Namun ia tidak menjawab, sementara Kepala Besi itu masih berkata pula " Nah, marilah kita makan bersama untuk merayakan kemenangan kita atas para perampok itu. "

Tidak seorangpun yang menjawabnya. Sedangkan Kepala Besipun telah duduk kembali untuk meneruskan makannya. Seteguk ia minum. Namun kemudian iapun telah menyuapi mulutnya pula.

Dalam pada itu, maka Puguhpun telah memesan berbagai makanan dan minuman untuk mereka bersama-sama. Untuk Puguh sendiri, Jati Wulung, Sambi Wulung, Kiai Windu dan kawan-kawannya serta para pengawal Puguh.

Namun dalam pada itu, ternyata pemilik kedai itupun berkata " Khusus, bagi Wanengpati dan kelima orang kawannya, kami akan menyuguhkan apa saja yang dimintanya hari ini tanpa membayar "

Namun Puguh berkata " Terserah apa yang akan kalian suguhkan. Tetapi jangan kali ini. Aku sudah berniat untuk membayar semua hidangan buat kami semua. "

Pemilik kedai itu tersenyum. Katanya " Baiklah. Kali ini kaulah yang membayar baginya. Tetapi nanti atau kapan, saja mereka datang kembali, kamilah yang akan menyuguhkan hidangan yang diminta oleh mereka. "

Sambi Wulung menggamit Jati Wulung sambil berkata " Ada juga untungnya kau menjadi pahlawan di Song Lawa ini. Sekarang makan kita akan dibayar oleh Puguh. Nanti jika kita kembali, hidangan akan diberikan oleh pemilik kedai ini, kemudian siapa lagi dan siapa lagi? "

" Besok aku yang akan membayarnya " berkata Kiai Windu.

" Kau tidak dihitung, karena kau sudah terlalu sering melakukannya. Bukan saja setelah Wanengpati menjadi pahlawan, tetapi sejak sebelumnya. " jawab Sambi Wulung.

Kiai Windu tertawa. Kawan-kawannyapun tertawa Juga. Meskipun sebenarnya didalam kepala Kiai Windu telah timbul persoalan tersendiri. Persoalan yang menyangkut kepentingannya dan kelompoknya terhadap lingkungan perjudian Song Lawa itu.

Namun Kiai Windu sama sekali tidak menunjukkan persoalan didalam dirinya itu.

Demikiankah, maka sambil berbicara panjang lebar, berkelakar dan sekali-sekali mengumpat, beberapa orang duduk dalam satu lingkaran yang besar diatas amben yang berada di serambi kedai itu. Beberapa orang lain yang sedang makan pula sekali-sekali berpaling dan memperhatikan orang-orang yang dengari gembira berbincang tentang kekalahan para perampok semalam.

Namun selagi mereka berbincang panjang lebar, Sambi Wulung sempat memperhatikan wajah Kiai Windu yang tiba-tiba berkerut. Dengan tanpa menarik perhatian, Sambi Wulung telah memandang kearah pandangan mata Kiai Windu. Yang dilihatnya adalah seorang yang agak bongkok tengah berbincang dengan dua orang pengawal yang bertubuh raksasa.

Sambi Wulung tidak berbuat apa-apa. Kesan diwajah Kiai Windupun segera lenyap pula, karena ia telah menghanyutkan diri kedalam kelakar yang riuh. Namun yang sekilas itu telah memberikan kesan tersendiri kepada Sambi Wulung.

Namun dalam pada itu, di tempat lain didalam lingkungan Song Lawa itu, kelompok-kelompok yang lain telah mengisi waktu mereka dengan berbincang juga. Berbicara apa saja untuk mengusir kejemuan, karena itu tidak ada jenis perjudian apapun yang berlangsung.

Baru menjelang malam, para petugas telah membenahi tempat-tempat perjudian yang segera akan dibuka. Terutama tempat permainan dadu. Karena malam itu, hanya tempat permainan dadu sajalah yang akan dibuka.

Tetapi justru karena itu, maka tempat permainan dadu itulah yang telah menjadi penuh. Orang-orang yang datang di Song Lawa untuk berjudi merasakan bahwa hari itu sudah terlalu lama mereka berhenti. Rasa-rasanya telah berhari-hari mereka duduk tanpa berbuat sesuatu.

Ketika Kiai Windu dan kawan-kawannya mengajak Sambi Wulung dan Jati Wulung untuk pergi ke barak tempat permainan dadu, maka Jati Wulung dengan segan berkata " Malam ini aku belum berminat untuk turun ke arena. Aku masih ingin beristirahat. "

Kiai Windu berpaling kearah Sambi Wulung. Sambil tersenyum Sambi Wulung berkata " Aku akan mengawaninya. "

" Baiklah " berkata Kiai Windu " jika demikian, biarlah kami sajalah yang pergi ke barak. "

" Hati-hatilah " berkata Sambi Wulung " jika perampok itu kembali dengan membawa kawan yang lebih banyak dan kekuatan sirep yang lebih besar. "

Kiai Windu tertawa, Katanya " Tentu tidak sekarang. Jika mereka kembali, mereka akan menunggu sampai Jati Wulung telah benar-benar sembuh. "

Demikianlah maka Kiai Windu dan ketiga orang kawannya telah meninggalkan bilik mereka. Jati Wulung yang tinggal didalam bilik justru telah berbaring. Ia masih merasa letih, sementara luka-lukanya masih belum sembuh seluruhnya. Namun Sambi Wulunglah yang kemudian duduk bersandar dinding.

Di halaman, Kiai Windu dan ketiga orang kawannya melangkah menuju ke barak tempat permainan dadu. Namun ketika mereka mendekati barak itu, Kiai Windu berkata " Kita harus membuat hubungan keluar, "

" Mereka harus mengetahui apa yang telah terjadi. " sahut kawannya

" Masuklah kedalam " berkata Kiai Windu " aku akan berjalan-jalan di halaman. Mungkin kita mendapat isyarat dari luar atau kesempatan lain untuk berbicara dengan mereka "

" Masuklah berdua " berkata seorang diantara  kawan-kawan Kiai Windu " aku akan bersama dengan Kiai Windu. "

Sejenak mereka termangu-mangu. Namun kemudian mereka memang telah membagi diri. Kiai Windu dan seorang kawannya akan tetap berada di luar, sementara dua orang yang lain akan memasuki barak permainan dadu.

Beberapa saat lamanya, Kiai Windu dan seorang kawannya telah berjalan-jalan disekitar barak. Ternyata bukan hanya mereka sajalah yang masih belum mengambil keputusan untuk masuk kedalam arena permainan dadu. Dua tiga orang justru masih duduk-duduk ditempat yang agak terlindung dari jangkauan cahaya obor. Sekali-sekali terdengar kelakar yang kasar dan suara tertawa yang tidak terkendali. Bahkan kawan Kiai Windu itu berpaling ketika ia mendengar suara perempuan yang bagaikan meringkik di kegelapan itu.

" Sudahlah " desis Kiai Windu.

" Ah " desah orang itu " aku tidak sengaja. " Kiai Windu hanya tersenyum saja. Namun kemudian ia berkata " kita menunggu sampat malam semakin larut. Kau haus? "

Orang itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian " Maksud Kiai, kita pergi ke kedai itu? "

" Bukan ke kedai induk. Kita singgah di kedai kecil- nya saja disebelah barak. " jawab Kiai Windu.

Kawannya mengangguk-angguk. Agaknya memang lebih baik duduk di kedai sambil - meneguk minuman hangat dan mengunyah beberapa potong makanan daripada berkeliaran di tempat-tempat gelap.

Demikianlah keduanyapun kemudian telah duduk di amben bambu di kedai kecil yang tidak menyediakan makanan sebanyak ragam makanan di kedai induknya. Namun minuman hangat yang masih berasap telah membuat tubuh mereka menjadi segar di malam yang menjadi semakin dingin.

Ampat orang yang lain telah duduk pula di kedai itu. Bahkan kemudian dua orang laki-laki dan perempuan. Keduanya membawa golok yang tidak terlalu panjang terselip pada ikat pinggang mereka.

Kiai Windu memang tidak begitu menghiraukan mereka. Tetapi ia justru lebih banyak memperhatikan kawannya yang sekali-sekali memandangi wajah perempuan yang nampak cerah dibawah cahaya lampu minyak itu. Namun diantara kecerahan wajahnya, terselip bayangan kekerasan hati yang membaja. Bahkan cenderung untuk disebut kasar.

" Habiskan minumanmu " desis Kiai Windu. Kawannya terkejut. Katanya " Masih panas Kiai. "

" Atau biarlah aku yang meminumnya meskipun masih panas. " berkata Kiai Windu kemudian.

" Ah jangan " desis kawannya yang kemudian meraih mangkuknya dan meneguknya sampai habis.

" Masih panas? " bertanya Kiai Windu. Kawannya itu hanya terseyum saja. Demikianlah, mereka berduapun kemudian telah bangkit, sementara Kiai Windu membayar minuman dan makanan bagi mereka berdua. Namun kawannya itupun kemudian telah menggamitnya. Meskipun ia tidak memberikan isyarat apapun, namun Kiai Windu telah mengikuti arah pandangan matanya.

Ternyata kawannya itu telah melihat orang yang agak bongkok itu melintas dan berhenti agak jauh dari tempat mereka. Namun keduanya melihat orang bongkok itu berbicara dengan sungguh-sungguh dengan seorang pengawal.

Kiai Windu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak mengatakan sesuatu.

Namun Kiai Windu terkejut ketika tiba-tiba saja perempuan yang datang bersama seorang laki-laki serta membawa golok di pinggangnya itu membentak " Kenapa kalian tidak segera pergi? Apalagi yang kau tunggu, jika kalian sudah membayar makanan dan minuman yang telah kau minum dan kau makan? "

Kiai Windu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak ingin menjawab.

Tetapi pada saat ia melangkah pergi, justru kawannyalah yang menjawab " Jangan terlalu kasar Ki Sanak. Pergi atau tidak pergi itu adalah urusan kami. "

" Persetan " geram perempuan itu " kau tidak mengenal lingkungan Song Lawa ini dengan baik. "

" Ah. Kau keliru. Kami termasuk cikal bakal disini. Kami memang pernah melihat Ki Sanak berada disini sebelumnya. Tetapi biasanya Ki Sanak tidak segarang sekarang ini. Apakah sudah terjadi satu perubahan? " bertanya kawan Kiai Windu

" Cukup " bentak laki-laki yang mengawani perempuan itu " akupun sudah sering melihat kau disini. Aku-pun sudah sering melihat kau dipukuli orang karena tingkah lakumu. "

Kawan Kiai Windu itu tertawa. Tetapi Kiai Windulah yang kemudian berkata " Sudah cukup. Kita tidak mempunyai persoalan dengan mereka. "

" Kalianlah yang membuat persoalan " bentak perempuan itu.

" Kenapa kami? " kawan Kiai Windu masih bertanya. Namun Kiai Windu telah berkata " Aku berkata, sudah. Kita biarkan orang-orang yang tidak mengenal terima kasih. Jika kita biarkan semalam perampok itu membakar tempat ini, mereka akan ikut mati terbakar. He, kenapa semalam kau tidak hadir ketika para perampok datang. Dan sekarang kau berlagak garang seperti itu? " tiba-tiba Kiai Windu bertanya. Tetapi sebelum dijawab Kiai Windu telah berkata pula " Agaknya kalian termasuk orang-orang yang tidak mampu mengatasi sirep itu.

Karena itu jangan berlagak dihadapanku. "

Kedua orang itu termangu-mangu. Orang-orang lain yang berada di kedai itu hanya memutar tubuh mereka tanpa menghiraukan apa yang bakal terjadi. Namun justru seorang petugas yang bertubuh raksasa, yang biasanya hanya mengawasi saja, telah mendekati perempuan itu sambil berkata " Sudahlah "

Tetapi perempuan itu justru berdiri sambil bertolak pinggang. Dengan lantang ia berkata " Sejak kapan kau ikut campur dalam persoalan kami? Biarlah kami menyelesaikan urusan kami sendiri.—

" Satu perubahan sikap telah terjadi pada para petugas " berkata orang bertubuh raksasa itu " meskipun hanya untuk sementara. Setidak-tidaknya untuk musim perjudian kali ini. "

" Kenapa ? " bertanya perempuan itu " sebaiknya kalian tetap pada sikap kalian. "

" Tanpa orang itu, kau sudah menjadi debu " berkata penjaga yang bertubuh raksasa itu " beberapa orang kawanku terbunuh dan beberapa orang pengunjung yang memiliki kemampuan mengatasi ilmu sirep telah terluka. Diantara mereka yang berjuang untuk mengusir perampok itu adalah Kiai Windu. Coba katakan, apa kerjamu semalam? Nah, kau sekarang tahu kenapa aku dan para petugas yang lain mulai berpihak. Tetapi yang aku lakukan juga bagi kebaikanmu, karena jika Kiai Windu marah, kau akan menjadi sasaran yang lunak. Kau tidak melihat bagaimana ia menghancurkan lawan-lawannya semalam.—

Perempuan itu termangu-mangu. Wajah menjadi merah. Sementara itu beberapa orang penjaga yang lain, yang ada pada umumnya bertubuh raksasa telah mendekati mereka.

Namun kemudian tanpa mengucapkan sepatah kata pun, perempuan itu berlari meninggalkan kedai itu. Sementara kawannya laki-laki telah bergeser pula sambil berkata " Kau belum tahu siapakah perempuan itu sebenarnya. Ia adalah Rukmi yang disebut pula Burung Sikatan Putih. "

" Disini ada seonggok burung " kawan Kiai Windu yang menjawab " ada juga sebangsa Sikatan. Bahkan tidak putih. "

" Kau menghina kami " geram laki-laki itu.

" Tidak. Justru aku mendengar nama Sikatan Putih, maka aku tahu bahwa orang itu adalah sahabat dari orang-orang dalam gerombolan Macan Ireng. " jawab kawan Kiai Windu " nama-nama yang sama sekali tidak menggetarkan selembar bulu kulitku. "

Laki-laki itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun melangkah pergi sambil mengumpat. Ternyata nama Sikatan Putih tidak dapat menakut-nakuti kawan Kiai Windu itu. Bahkan kawan Kiai Windu itupun kemudian berkata " Jadi itulah orang yang disebut Sikatan Putih. Aku pernah melihat prempuan itu disini, dan akupun pernah mendengar nama Sikatan Putih. Tetapi baru sekarang aku tahu bahwa perempuan itulah yang disebut Sikatan Putih namun yang nampaknya hatinya tidak putih. Bahkan ia lebih baik dipanggil dengan namanya saja. Rukmi. "

" Jadi Sikatan Putih itu termasuk dalam golongan kelompok Macan Ireng? " bertanya seorang penjaga.

Kawan Kiai Windu itu tertawa sambil berkata " Entahlah. Aku tidak tahu "

" Tetapi tadi kau mengatakan, bahwa Sikatan Putih itu termasuk dalam gerombolan Macan Ireng " desak pengawal itu.

" Aku asal saja berkata. Disini ada gerombolan Macan Ireng. Karena itu, aku berkata apa saja untuk menyebut gerombolan itu. " jawab kawan Kiai Windu sambil tertawa.

" Kau memang menghinanya. Laki-laki itu tentu akan bertanya kepada Sikatan Putih, apakah benar ia termasuk dalam gerombolan Macan Ireng " desis petugas yang bertubuh raksasa itu.

Kawan Kiai Windu tertawa berkepanjangan. Katanya " Mereka akan bertengkar. Aku tidak peduli. "

" Gila " petugas bertubuh raksasa itupun kemudian sambil tersenyum meninggalkan kawan Kiai Windu yang masih tertawa. Sementara itu Kiai Windu berkata " Kau memang mencari perkara. "

Kawannya tidak menjawab. Namun orang-orang yang semula tidak menghiraukannya itupun tersenyum-senyum pula.

Demikianlah, maka Kiai Windu dan kawannya telah meninggalkan kedai kecil itu menuju ke kegelapan. Namun masih juga terdengar suara tertawa kawan Kiai Windu tertahan-tahan.

" Sudahlah " berkata Kiai Windu " sekarang kita pergi ke kandang kuda. Kita akan melihat kuda-kuda kita serta kemungkinan untuk biasa berhubungan dengan kawan-kawan kita diluar. "

" Apakah mereka ada disini? " bertanya kawan Kiai Windu.

" Aku tidak tahu. Tetapi jika mereka mengetahui bahwa semalam terjadi perampokan disini, mungkin mereka berusaha untuk berhubungan dengan kita " berkata Kiai Windu.

Kawannya mengangguk-angguk. Namun ia masih bertanya " Apa rencana kita kemudian? "

" Menurut pendapat ku, rencana kita tidak akan berubah " sahut Kiai Windu. Kawannya tidak bertanya lagi. Keduanyapun kemudian menuju kepintu gerbang. Dua orang penjaga yang bertubuh raksasa telah menghentikannya.

Namun dengan cara sebagaimana pernah mereka lakukan, apalagi pengaruh sikap Kiai Windu pada saat tempat itu diserang oleh para penjahat, maka Kiai Windu dan kawannya tidak mengalami kesulitan untuk keluar dari lapisan dinding terakhir, menuju ke kandang kuda.

Kiai Windu memang menarik kudanya keluar dari kandang. Terdengar suara meringkik. Namun kudanya segera menjadi tenang ketika Kiai Windu mengusap lehernya dengan lembut. Namun suara ringkik kuda itu telah memberikan keyakinan kepada para petugas bahwa Kiai Windu benar-benar telah melihat kudanya itu.

Namun dalam pada itu, telah terdengar isyarat dari mulut Kiai Windu. Ia berharap bahwa diluar, kawan-kawannya benar-benar menunggunya.

Ternyata bahwa perhitungan Kiai Windu memang tepat. Diluar, ampat orang memang sedang menunggu. Demikian mereka mendengar isyarat dari dalam, maka keempat orang itupun segera mendekati dinding pada lapisan luar.

Dengan mengucapkan beberapa kata sandi, maka kedua belah pihak yakin bahwa mereka telah berhubungan dengan orang yang benar.

Karena itu, maka Kiai Windupun kemudian telah melekat dinding sambil bertanya " Apakah kalian membawa berita buat kami? "

Yang terdengar .suara di luar " Kami justru ingin mendapat keterangan, apa yang terjadi didalam. Kami melihat sesuatu itu terjadi. Tetapi kami memerlukan penjelasan. "

Dengan singkat Kiai Windupun menjelaskan apa yang terjadi didalam. Namun ia tidak lupa mengatakan pula " Ada dua orang yang berilmu sangat tinggi di lingkungan ini yang menyebut dirinya bernama Wanengbaya dan Wanengpati. Tetapi keduanya mempunyai sifat dan watak yang khusus. Tidak sebagaimana umumnya orang-orang yang berada di lingkungan ini. Perhatiannya lebih banyak tertuju kepada anak-anak muda yang ada didalam lingkungan perjudian ini. "

" Bagaimana menurut pertimbanganmu atas rencana kita dalam keseluruhan? " bertanya orang yang diluar.

" Menurut pendapatku, rencana itu akan berjalan terus " jawab Kiai Windu. Lalu " waktunya dapat disegerakan tanpa menunggu lebih lama lagi. Orang bongkok itu telah memberikan beberapa keterangan lagi.

" Bagaimana pendapatmu tentang dua orang tua yang berada di luar tempat ini namun yang agaknya memang menaruh perhatian pula pada tempat ini. " bertanya yang diluar.

" Perhatikan mereka. Selama mereka tidak mengganggu gerakan kalian, maka kalian tidak perlu terlalu banyak menanggapi tingkah mereka. " jawab Kiai Windu.

" Merekapun berilmu tinggi " jawab orang yang diluar.

" Biarlah mereka yang diluar mengatur segala-galanya. Penglihatan kami sangat terbatas disini. " jawab Kiai Windu.

Sesaat keduanya terdiam. Namun kemudian terdengar jawaban dari luar. " Baiklah. Besok kami akan datang lagi. Kami akan memberikan keterangan terakhir sehingga kalian dapat mempersiapkan diri sebaik-baiknya. "

Kiai Windu termenung sejenak. Lalu katanya " Aku harus membuat pertimbangan. Jika aku terlalu sering datang ke kandang^uda ini, mungkin aku akan dicurigai. Tetapi besok datanglah. Aku berusaha untuk berada ditempat ini pada waktu seperti ini. " Kiai Windu berhenti sejenak, lalu " Tetapi ingat. Ada dua orang yang  berilmu sangat tinggi. Tidak ada seorangpun yang dapat mengatasinya. Selain orang itu, disini ada gerombolan Macan Ireng, Sikatan Putih, dan yang harus mendapat perhatian lebih adalah Orang Hutan berkepala Besi atau yang lebih banyak dikenal dengan sebutan Kepala Besi dari pesisir Utara. Kehadirannya agaknya ada hubungan dengan mendung yang sedang menyelimuti Pajang sekarang ini. "

" Baiklah. Semuanya akan kami laporkan. " berkata orang yang diluar " gambaran ini akan menentukan sikap kita selanjutnya. "

" Aku kira pembicaraan ini sudah sukup sekarang. " berkata Kiai Windu.

" Kami minta diri " desis yang diluar.

Sejenak kemudian keadaan menjadi sepi. Kiai Windu masih saja menepuk leher kudanya dengan lembut, sementara kawannya mengawasi keadaan.

" Ada orang datang kemari " desis kawannya.

" Biar sajalah. Untunglah pembicaraan sudah selesai. " sahut Kiai Windu.

Ternyata yang datang adalah dua orang petugas yang meronda berkeliling lingkungan perjudian itu diantara dua lapis dindingnya. Mereka mengitari lingkungan itu meskipun terasa juga jantungnya berdegup lebih keras jika mereka sampai ke tempat kawan-kawannya dikuburkan.

Kedua orang itu memang memperhatikan Kiai Windu dan kawannya yang sibuk dengan kuda mereka. Dengan nada rendah seorang diantaranya berkata " Kenapa dengan kuda itu? "

" Sudah sejak kemarin aku tidak melihatnya " berkata Kiai Windu " mudah-mudahan kuda ini tidak melupakan aku. "

" Kudamu dipelihara dengan baik " berkata petugas itu.

" Aku tahu, tetapi justru karena itu, maka kuda ini akan lebih dekat dengan orang yang memeliharanya daripada aku " sahut Kiai Windu.

Orang itu tertawa. Katanya " Seharusnya kau berterima kasih. "

Tetapi keduanya tidak menunggu jawaban Kiai Windu. Keduanyapun kemudian telah melanjutkan langkah mereka meronda diseputar lingkungan Song Lawa.

Demikianlah, maka Kiai Windupun telah mengembalikan kudanya kekandang. Beberapa ekor kuda telah meringkik. Namun kemudian mereka telah menjadi tenang kembali.

Sejenak kemudian, Kiai Windu dan kawannyapun telah kembali ke regol. Mereka dengan tanpa dicurigai telah memasuki kembali halaman dalam lingkungan Song Lawa itu dan langsung menuju ke barak permainan dadu.

Ternyata di barak itu permainan masih berlangsung dengan ramainya. Ketika Kiai Windu menemukan kedua orang kawannya, maka seorang diantaranya dengan gembira berdesis " Aku masih menang sampai saat ini meskipun tidak banyak. "

" Bagus " sahut Kiai Windu " sesuatu yang jarang terjadi. Bagaimana dengan kawan kita yang lain? "

Aku kurang tahu. Tetapi nampaknya wajahnya menjadi gelap " jawab kawan Kiai Windu itu.

Kiai Windu berpaling kepada kawannya yang seorang, yang berada tidak jauh dari kawannya yang sedang menang itu. Iapun kemudian bergeser mendekatinya sambil bertanya " Bagaimana dengan kau? "

" Kalah. Tetapi masih ada uangku untuk bermain terus. Jika sekali-sekali aku menang, maka aku akan dapat mencapai sedikit lewat tengah malam sebelum uangku untuk hari ini habis seluruhnya. " jawab kawannya itu.

Kiai Windu tertawa. Katanya " Bermainlah sampai kau habiskan uangmu yang kau sediakan untuk hari ini. Aku akan pergi ke bilik untuk melihat Wanengpati. "

" Silahkan " sahut kawannya tanpa berpaling.

Kiai Windupun segera meninggalkan tempat itu bersama seorang kawannya yang menyertainya pergi ke kandang kuda. Keduanya langsung pergi ke bilik mereka untuk melihat Wanengbaya dan Wanengpati yang ketika mereka tinggalkan masih berada di bilik itu.

Ternyata ketika Kiai Windu sampai ke biliknya, Wanengbaya dan Wanengpati masih tetap berada didalam bilik itu, Wanengbaya masih duduk bersandar dinding sementara Wanengpati telah duduk pula dibibir pembaringan.

Ketika keduanya melihat Kiai Windu dan seorang kawannya masuk, maka merekapun telah bergeser menepi.

" Marilah " Sambi Wulung mempersilahkan. Namun iapun kemudian bertanya -Dimana kawan-kawan yang lain? "

" Mereka masih bermain dadu " jawab Kiai Windu " sebelum uang yang mereka sediakan buat hari ini habis, agaknya mereka masih belum meninggalkan barak itu. "

Sambi Wulung tersenyum. Namun Jati Wulunglah yang bertanya " Kenapa Kiai sudah tidak lagi bermain dadu? "

" Uangku habis untuk hari ini. aku masih ingin tinggal disini besok dan lusa. Karena itu, aku tidak menghabiskan uangku. Bahkan besok aku ingin menang di arena panahan agar waktuku disini dapat diperpanjang. " berkata Kiai Windu. Namun kemudian " tetapi sudah barang tentu tidak dalam satu lingkaran arena dengan kalian berdua atau salah satu diantara kalian. "

" Ada-ada saja kau Kiai - berkata Sambi Wulung " tetapi besok kita akan bersama-sama mencoba mencari keberuntungan di lapangan panahan kecuali Wanengpati yang tentu tidak akan mendapat lawan lagi. "

" Besok aku akan melihat saja " berkata Jati Wulung " namaku sudah cacat di arena panahan. "

Kiai Windu tertawa. Katanya " Kau masih juga sempat merajuk. Tetapi sebenarnyalah jika kau turun juga karena, maka kau tentu tidak akan mendapat lawan. "

Jati Wulung tidak menjawab. Sambi Wulunglah yang kemudian tersenyum sambil berdesis " Sudahlah. Aku akan tidur. "

Jati Wulunglah yang kemudian turun dari pembaringan. Ia berjalan beberapa langkah hilir mudik untuk melemaskan kaki-kakinya. Sementara itu Kiai Windupun berkata " Aku juga akan tidur. "

Demikianlah, maka Sambi Wulung dan Kiai Windulah yang telah tertidur nyenyak, sementara Jati Wulung telah pula duduk di pinggir pembaringan bersandar dinding.

Namun dalam pada itu, kedua kawan Kiai Windu yang lainpun telah datang pula. Wajah mereka nampak gembira karena ternyata keduanya tidak menghabiskan uang yang mereka sediakan untuk sehari itu. Bahkan seorang diantara mereka berkata perlahan kepada kawannya yang masih terbangun " Aku menang malam ini. "

Kawannya mengerutkan keningnya. Kepada kawannya yang lain ia bertanya " Bagaimana dengan kau? "

" Aku belum menghitung dengan cermat. Tetapi nampaknya aku juga tidak kalah. Seandainya kalah, tidak terlalu banyak. " jawab kawannya itu.

Sementara itu, iapun telah membuka kampilnya dan mulai menghitung uangnya. Namun kawannya yang lain tanpa mencuci kaki langsung saja berbaring sambil berkata " Aku sudah mengantuk sekali. "

Namun Jati Wulunglah yang bertanya " Apakah di barak permainan judi itu masih banyak orang sekarang ini? "

" Pada saat aku meninggalkan tempat itu, suasananya masih ramai sekali " jawab kawan Kiai Windu. Lalu iapun bertanya " Apakah kau akan kesana? "

" Tidak. Baru besok aku akan turun " jawab Jati Wulung.

Kawan Kiai Windu itu tidak bertanya lagi. Ketika yang menghitung uangnya itu selesai, maka iapun telah berbaring pula sambil berkata " Aku kalah sedikit. Tetapi tidak seberapa " lalu katanya kepada kawannya yang menyertai Kiai Windu ke kandang kuda " Kau sajalah yang berjaga-jaga mengawani Wanengpati. Aku akan tidur. "

Kawannya tidak menyahut. Sementara itu, kedua orang yang baru datang dari permainan dadu itupun segera tertidur pula.

Yang masih berjaga-jaga adalah Jati Wulung dan seorang kawan Kiai Windu. Namun keduanyapun kemudian saling berdiam diri agar mereka tidak mengganggu orang-orang yang tertidur nyenyak.

Tetapi ternyata sejenak kemudian justru dibilik sebelahlah yang terdengar suara orang berbicara. Bahkan agak riuh sehingga dapat mengganggu orang-orang yang sedang tidur. Suara seorang perempuanpun telah melengking ditelinga, sehingga orang-orang yang tertidur itupun telah terbangun. Agaknya mereka baru saja datang dari barak permainan judi.

Kawan Kiai Windu yang merasa terganggu tiba-tiba saja mengetuk dinding sambil berkata " Jangan ribut. Kami sedanag tidur. Kami sudah mengantuk. "

" Apa peduliku " tiba-tiba terdengar suara perempuan menjawab " Jika kau merasa terganggu di Song Lawa, kenapa kalian tidak pergi. "

" Tutup mulutmu " bentak kawan Kiai Windu. Namun iapun telah berkata " Aku masih letih. Semalam aku telah membunuh pemimpin perampok itu sehingga tubuhku sendiri terluka. Jika kalian tidak mau diam, maka aku akan membuat perhitungan dengan caraku. Aku sudah terlanjur menjadi liar disini karena pembunuhan semalam. "

Tiba-tiba saja suara ribut di bilik sebelah berhenti. Mereka baru sadar, bahwa disebelah adalah bilik yang dipergunakan oleh Wanengpati. Tetapi mereka tidak sadar, bahwa yang berbicara itu justru bukan Wanengpati sendiri.

Wanengpati sendiri dengan isyarat telah mencoba menghentikan kawan Kiai Windu itu. Tetapi kawan Kiai Windu yang mengetahui akibat dari kata-katanya telah menahan tertawanya sambil menutup mulutnyadengan tangannya.

Malampun kemudian menjadi hening. Memang masih terdengar suara di bilik sebelah. Tetapi hanya sekedar berbisik perlahan-lahan.

Dengan demikian, maka malampun kemudian dilalui dengan tenang sedangkan mereka yang berjaga-jaga di bilik Kiai Windu itu telah bergilir menjelang pagi.

Di hari berikutnya, Kiai Windu telah mencari waktu khusus untuk berbicara diantara ketiga orang kawannya. Adalah kebetulan pada saat Sambi Wulung dan Jati Wulung pergi ke pakiwan.

" Waktu kita sudah terlalu sempit " berkata Kiai Windu " Kita harus membuat persiapan-persiapan sebaik-baiknya. Malam nanti aku akan berbicara sekali dengan mereka yang berada di luar lingkungan perjudian ini.

" Kedatangan para perampok kemarin malam justru dapat dijadikan ukuran, seberapa besar kekuatan yang ada di lingkungan ini " berkata seorang kawan Kiai Windu.

Tetapi Kiai Windu menggeleng. Katanya " Sebagian besar dari isi padepokan ini telah terkena sirep yang tajam. Karena itu, maka kita tidak dapat melihat kekuatan yang ada dilingkungan ini sepenuhnya. "

" Tetapi setidak-tidaknya kita tahu orang-orang terbaik yang ada disini " berkata kawan Kiai Windu yang lain " sedangkan orang yang dengan bangga menyebut dirinya Sikatan Putih itupun tidak dapat mengatasi tajamnya sirep. "

" Jika pada saat sirep itu datang, orang itu belum tidur, mungkin ia akan dapat melawannya. Tetapi dalam keadaan tidur, kita memang sulit untuk melawannya " desis Kiai Windu.

Tiba-tiba saja salah seorang dari kawan Kiai Windu itu berkata " Kenapa kita tidak mempergunakan cara seperti yang telah ditempuh oleh para perampok itu? Dengan sirep? "

Kiai Windu menggeleng. Katanya " Tidak perlu. Tetapi jika diperlukan, hal itu mungkin dapat dilakukan. Kawan-kawannya hanya mengangguk-angguk saja. Sementara Kiai Windupun berkata " Sampai sekarang kita belum tahu, apakah niat Wanengbaya dan Wanengpati yang sesungguhnya sehingga mereka berada ditempat ini. Kita sama sekali tidak dapat memperkirakan apa yang .mereka lakukan pada saat-saat yang menentukan itu. Lebih jelas bagi kita, apa yang akan diperbuat oleh Kepala Besi dan orang-orang yang lain. Tetapi perhatian Wanengbaya dan Wanengpati yang sangat besar terhadap anak-anak muda merupakan teka-teki bagi kita. "

Ketiga kawan-kawannya mengangguk-angguk. Namun kesempatan mereka berbicara menjadi semakin sempit. Karena itu, maka Kiai Windupun berkata " Untuk sementara, kita anggap keduanya tidak berdiri di pihak kita. "    

Ketiga kawannya mengangguk-angguk. Namun hal itu sudah diketahui oleh kawan-kawan mereka diluar lingkungan perjudian itu.  Tetapi Kiai Windupun berkata " Sebaliknya orang-orang diluar telah memberitahukan pula kehadiran dua orang tua yang berilmu tinggi. Kita sama sekali tidak tahu, bahkan kawan-kawan kita yang diluarpun tidak tahu, siapakah mereka dan untuk apa mereka berada disekitar tempat ini. "

Ketiga kawannya masih saja mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak sempat berbicara lebih panjang lagi, karena Wanengbaya dan Wanengpati telah masuk pula kedalam bilik mereka.

Yang dilakukan oleh Kiai Windu dan ketiga orang kawannya adalah mandi berganti-ganti. Kemudian bersiap-siap untuk turun ke halaman memilih salah satu arena yang paling baik untuk hari itu.

Namun sebelumnya mereka memasuki arena, maka mereka telah singgah lebih dahulu di kedai sebagaimana biasanya.

Hari itu Sambi Wulung telah turun ke arena panahan bersama Kiai Windu, meskipun mereka tidak berada pada satu lingkaran. Ketiga kawan Kiai Windu ternyata berada di arena sabung ayam, sementara Jati Wulung lebih senang duduk bersandar sebatang pohon di luar arena panahan.

Agaknya Jati Wulung tidak lagi tertarik untuk berada di arena, karena setiap orang tentu akan menyingkir. Ia menyesal, bahwa ia telah dengan berlebih-lebihan menunjukkan kemampuannya hanya karena perasaannya menjadi panas melihat sikap Kepala Besi yang sombong itu. Namun yang bahkan telah membuatnya lebih sombong daripadanya.

Suasana di lingkungan perjudian Song Lawa itu telah pulih kembali. Meskipun masih ada satu dua orang yang belum sembuh benar dari luka-lukanya, namun hampir semua orang telah melupakan bahwa pernah datang sekelompok perampok yang hampir saja memusnakan lingkungan perjudian itu, merampas semua harta benda dan barangkali juga membantai orang-orang yang ada di dalam lingkungan itu tanpa perikemanusiaan.

Jati Wulung yang duduk bersandar pohon itu akhirnya menjadi jemu juga. Sementara itu beberapa orang yang mengitari arena telah bersorak-sorak.

Karena itu, hampir diluar sadarnya Jati Wulung berdiri dan melangkah mendekati arena. Dalam pengamatan sekilas ia melihat, bahwa Sambi Wulung akan mendapat kemenangan dari panahan itu meskipun sebagaimana selalu dilakukannya, tidak menarik perhatian orang lain.

Kiai Windupun agaknya serba sedikit mendapat kemenangan juga sehingga ia akan dapat memperpanjang kehadirannya di Song Lawa itu.

Namun sebagaimana Kiai Windu bimbang menilai Sambi Wulung dan Jati Wulung, maka Jati Wulungpun bimbang pula menilai Kiai Windu. Meskipun kadanga-kadang sikap Kiai Windu kasar sebagaimana orang-orang lain yang berada di Song Lawa, namun agaknya itu bukannya sikapnya sehari-hari.

Ketika Jati Wulung bergeser, maka dilihatnya beberapa orang yang memang memiliki kemampuan memanah. Tetaapi ia tidak melihat Kepala Besi ada di arena panahan. Sebagaimana Jati Wulung, maka Kepala Besi tentu sulit juga untuk mendapat lawan karena kemampuan bidiknya yang tinggi meskipun tidak setinggi Jati Wulung.

Jati Wulung yang kemudian bergeser ke arena sabung ayam dan ke barak permainan dadu, ternyata belum tertarik untuk ikut serta, la hanya berjalan saja menyusuri lingkaran-lingkaran perjudian sambil melihat-lihat. Di arena sabung ayam ia melihat ketiga kawan Kiai Windu tenggelam dalam kericuhan mereka yang menaruh uangnya dalam pertaruhan yang sengit.

Hari itu berjalan sebagaimana hari-hari yang lain tanpa peristiwa yang menarik bagi Jati Wulung dan Sambi Wulung. Ketika Sambi Wulung meninggalkan arena panahan, Jati Wulung telah berada di pinggir lapangan. Berdua mereka sempat berbicara dengan Puguh tentang perkembangan permainan mereka. Agaknya Puguh telah kalah dibeberapa lingkaran permainan sehingga lebih dari separo uang yang dibawanya telah dihabiskannya.

" Hati-hatilah " pesan Sambi Wulung " jangan terlalu bernafsu. "

Tetapi Puguh tertawa. Katanya " Aku membawa pendok keris dari emas dan timang emas tretes berlian. Bukankah dengan barang-barang itu aku dapat memperpanjang kehadiranku disini?—

" Tetapi bagaimana sikap ayah dan ibumu jika kau pulang tanpa barang-barang berharga itu? " bertanya Jati Wulung.

" Persetan dengan ayah dan ibu " jawab Puguh " tetapi merekapun menyadari, bahwa barang-barang yang aku bawa itu agaknya tidak akan kembali lagi. "

" Jika kau lakukan setiap musim perjudian seperti itu, apakah harta benda orang tuamu tidak akan habis? " bertanya Sambi Wulung.

" Tidak. Barang-barang mereka tidak akan habis. " jawab Puguh hampir diluar sadarnya. Namun tiba-tiba saja wajahnya menjadi merah. Katanya dengan serta merta " Maksudku, ayah dan ibu adalah orang yang sangat kaya. Aku adalah anak satu-satunya. Buat apa mereka menyimpan harta benda itu jika tidak mereka berikan kepadaku untuk kesenanganku. "

" Tetapi bukankah ada kesenangan yang lain yang lebih berarti daripada lingkungan perjudian di Song Lawa ini? " bertanya Jati Wulung.

" Apa bedanya? Dan bukankah disini banyak juga terdapat anak-anak muda? Wikrama, anak yang gemuk dan tidak tahu diri itu. Kemudian anak-anak muda yang lain yang barangkali orang tuanya tidak sekaya ayah dan ibuku. " jawab Puguh.

Jati Wulung mengangguk-angguk. Sementara Sambi Wulungpun tidak bertanya lebih jauh. Agaknya Puguh memang tidak begitu senang jika pembicaraan mereka sampai kepada keluarganya.

Namun sejauh itu, dalam pembicaraan-pembicaraan yang kadang-kadang panjang diselingi kelakar yang mengundang senyum dan bahkan tertawa, Jati Wulung dan Sambi wulung belum berhasil mengetahui dimanakah tempat tinggal Puguh atau kedua orang yang dianggap orang tuanya, atau siapa saja yang dapat memberikan petunjuk lebih jauh tentang anak muda itu. Justru untuk itulah keduanya telah berada di lingkungan perjudian Song Lawa.

Tetapi menurut perhitungan Jati Wulung dan Sambi Wulung, mereka masih mempunyai waktu yang cukup untuk melakukannya. Agaknya Puguhpun masih akan berada di tempat itu untuk waktu yang agak lama. Apalagi nampaknya Puguh yang mengagumi Jati Wulung itu akan lebih mudah diajak memasuki pembicaraan. Asal saja mereka sempat memancing tanpa menimbulkan kecurigaan, akhirnya mereka akan dapat mengetahui serba sedikit tentang keadaan dan latar belakang kehidupan keluarganya. Yang terpenting bagi Jati Wulung dan Sambi Wulung adalah mengetahui tempat tinggal atau padepokan atau apapun juga bagi Puguh sehingga untuk waktu-waktu yang akan datang, mereka akan dapat selalu mengawasinya.

Bagaimanapun juga, Puguh masih mungkin digerakkan oleh ibunya untuk mencapai satu tujuan yang tidak wajar atas Tanah Perdikan Sembojan.

Namun ketika Jati W'ulung dan Sambi Wulung telah bergaul beberapa lama dengan anak itu, ternyata mereka harus mengakui bahwa anak muda yang bernama Puguh itu memang memiliki ilmu yang mulai mapan, sehingga perlu diperhitungkan tingkat kemampuan ilmu Risang yang pada suatu saat mungkin akan dapat bertemu sebagai lawan dalam perebutan Tanah Perdikan Sembojan.

Namun satu lagi yang menarik perhatian Sambi Wulung dan Jati Wulung adalah, bahwa Puguh ternyata bukan seorang anak muda yang biadab dan bahkan liar sebagaimana mereka bayangkan sebelumnya.

Ketika kemudian malam turun, maka yang menjadi sangat ramai adalah barak permainan dadu. Hampir semua orang berkumpul ditempat itu karena arena permainan yang lain terhenti di waktu malam. Tidak ada panahan dan tidak ada sabung ayam.

Jati Wulung dan Sambi Wulung bersama Kiai Windu dan ketika kawannya telah berada pula di barak itu. Karena Jati Wulung tidak dapat ikut dalam permainan panahan, maka malam itu ia telah turun dalam permainan dadu. Sambi Wulunglah yang kemudian menonton saja disebelahnya.

Dalam pada itu, sementara tempat permainan itu menjadi sangat ramai, Kiai Windu dan seorang kawannya telah keluar dari barak itu. Ia telah berjanji dengan sekelompok kawannya diluar lingkungan untuk menemuinya didekat kandang kuda.

Ketika mereka melintasi halaman, mereka sempat melihat dua orang yang agaknya telah berkelahi. Tetapi seperti kebiasaan di song Lawa, keduanya hanya berpaling saja, memperhatikan sejenak, namun kemudian merekapun telah melangkah terus.

Tetapi sekali lagi mereka tertegun ketika mereka melihat seorang perempuan dengan tergesa-gesa mendekati kedua orang yang bertempur itu. Dengan lantang perempuan itu menggeser salah seorang laki-laki yang bertempur sambil berkata " Soalnya adalah antara orang itu dan aku. bukan kau. "

" Tetapi aku tidak tahan mendengar orang itu menghina namamu jawab laki-laki itu " kau dikatakannya pernah menipunya setelah kau merayu laki-laki itu. "

" Karena itu, biarlah aku menghadapinya " jawab perempuan itu.

Ketika Kiai Windu melangkah meninggalkan tempat itu, kawannya menggamitnya sambil berdesis " Lihat, bukankah perempuan itu yang disebut Burung Sikatan Putih. "

Kiai Windu mengerutkan keningnya. Katanya " O, Ya. Sikatan Putih. "

" Kita melihat, apa yang dapat dilakukan. " berkata kawan Kiai Windu " agaknya perempuan itu terlalu garang. "  

Ternyata bahwa Kiai Windupun tidak melangkah terus Ia masih sempat memperhatikan Sikatan Putih itu dengan garang menyergap lawannya yang berkata " Kawanmu itu telah memfitnahku. Tetapi jika kau langsung  mempercayainya, maka apaboleh buat. "

" Jangan banyak bicara " bentak Sikatan Putih yang sebenarnya bernama Rukmi itu. Dengan tangkasnya ia menyerang semakin cepat. Kakinya yang terhitung kecil itu mampu bergerak cepat sekali. Meloncat, melenting dan kemudian menyambar lawannya dengan tangan yang mengembang.

Kawan Kiai Windu tiba-tiba saja tertawa. Katanya " Perempuan itu memang pantas disebut Sikatan Putih. "

" Mungkin ia pantas disebut Sikatan, tetapi tidak putih " sahut Kiai Windu.

Kawannya tidak menjawab, la melihat perkelahian itu menjadi semakin cepat. Sekali-sekali perempuan itu berloncatan mengitari lawannya. Namun tiba-tiba bagaikan menukik menyambar. Memang kadang-kadang sangat mengejutkan.

" Benar-benar seperti Sikatan menyambar bilalang " berkata Kawan Kiai Windu*

—Bilalang yang dungu " berkata Kiai Windu. Lalu " Marilah. Kita mempunyai tugas sendiri. "

" Sebentar. Aku ingin melihat apa yang akan dilakukannya atas laki-laki itu. " jawab kawannya yang masih belum mau beranjak dari tempatnya. Meskipun jarang sekali terjadi bahwa seseorang menaruh perhatian begitu besar terhadap perkelahian, namun karena yang berkelahi adalah Sikatan Putih, maka ternyata ada juga beberapa orang yang melihatnya meskipun dari jarak yang agak panjang.

Ternyata bahwa Sikatan Putih itu benar-benar seorang perempuan yang luar biasa. Ia memiliki beberapa kelebihan dari lawannya meskipun lawannya seorang laki-laki. Sikatan Putih mampu bergerak jauh lebih cepat dari lawannya. Agaknya ia memang mampu bergerak lebih cepat dari lawannya. Agaknya ia memang bertumpu pada kecepatan geraknya itulah, sehingga ia mampu memiliki nama yang besar sebagai Sikatan Putih.

" Marilah " ajak Kiai Windu.

" Sebentar Kiai. Aku ingin melihat Sikatan Putih itu mengakhiri pertempuran. Apa yang akan dilakukan atas lawannya jika ia sudah memenangkannya " berkata kawan Kiai Windu.

" Aku tidak tahu kenapa ia disebut Sikatan Putih . Coba apakah kau tahu, yang putih itu apanya? Sikapnya? Hatinya? Pakaiannya atau barangkali rambutnya yang mulai ubanan? " desis Kiai Windu.

Kawannya tidak menyahut. Namun ia melihat beberapa kali Sikatan Putih itu mampu mengenai tubuh lawannya dengan serangan-serangannya yang cepat dan keras, sehingga sekali-sekali lawannya itu terdorong surut. Namun Kiai Windupun kemudian menjadi berdebar-debar ketika tiba-tiba saja lawan Sikatan Putih itu telah mencabut senjatanya, sehelai pedang yang tidak terlalu panjang.

Kawan Kiai Windupun menjadi tegang. Bahkan hampir diluar sadarnya ia berkata " Pedang itu dapat membahayakan dirinya sendiri. Jika Sikatan Putih itu manarik goloknya, maka kemungkinan yang lebih buruk dapat terjadi atas dirinya. Tanpa senjata ia akan dapat dikalahkan, bahkan mungkin wajahnya akan menjadi merah biru. Tetapi dengan senjata, bahkan nyawanya akan dapat melayang jika golok perempuan itu menembus jantungnya. "

" Marilah " ajak Kiai Windu " kau tahu, aku berjanji untuk menemui mereka sekarang. "

" Waktunya belum sampai Kiai. Bukankah Kiai kemarin mengatakan, waktunya sama dengan kemarin? Dan sekarang bukankah masih terlalu sore? " jawab kawannya.

Kiai Windu hanya menarik nafas. Tetapi sebenarnyalah bahwa ia ingin juga melihat akhir dari perkelahian itu. Yang diduga oleh Kiai Windu dan kawannya memang terjadi. Ketika laki-laki itu mempergunakan pedangnya, maka Sikatan Putih itupun nampaknya menjadi semakin marah. Karena itu, maka iapun telah menarik goloknya pula.

Pertempuran itupun kemudian memang menjadi semakin seru. Dengan senjata di tangan, masih juga jelas bahwa Sikatan Putih memiliki kelebihan pula dari lawannya. Goloknya berputar semakin lama semakin cepat sehingga lawannya menjadi bingung karenanya Bahkan dalam pertempuran yang semakin cepat, ujung golok Sikatan Putih itu mulai menyentuh tubuh lawannya.

Terdengar laki-laki itu mengumpat. Namun ia memang tidak dapat berbuat terlalu banyak.

Jika kemudian banyak pula orang yang menyaksikan pertempuran itu, bukannya karena mereka ingin mencampuri persoalan yang terjadi antara mereka yang sedang berkelahi. Tetapi mereka mulai tertarik melihat kedua orang yang memiliki ilmu pedang yang cukup tinggi itu.

Bahkan beberapa orang petugas yang pada umumnya bertubuh raksasa itu telah ikut melihat pertempuran itu pula karena mereka tertarik pada permainan ilmu pedang mereka. Namun sebegitu jauh, masih belum ada seorangpun yang ikut campur. Bahkan laki-laki yang semula bertempur dan digantikan oleh Sikatan Putih itupun sama sakali tidak berbuat sesuatu.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, maka beberapa luka telah tergores di tubuh laki-laki itu. Bahkan ketika kekuatannya mulai melemah, ia menjadi semakin terdesak. Beberapa kali laki-laki itu bagaikan kehilangan keseimbangan. Yang dapat dilakukannya kemudian adalah meloncat untuk mendapatkan jarak dari lawannya. Dengan tergesa-gesa ia berusaha untuk memantapkan keseimbangannya kembali.

Namun Sikatan Putih ternyata mampu mengatasinya.

Disaat-saat yang gawat, Sikatan Putih telah memburunya. Dalam benturan senjata yang keras, laki-laki yang semakin lemah itu tidak mampu lagi mempertahankan senjatanya, sehingga senjatanya telah terlempar. Ada usaha untuk memungut senjata itu. Tetapi ketika tangannya hampir meraih tangkai pedangnya ditanah, tiba-tiba telapak tangannya telah terinjak oleh kaki yang berjari-jari kecil dan runcing. Kaki Burung Sikatan Putih.

Laki-laki yang malang itu terkejut. Ketika ia berpaling, maka ujung golok perempuan yang disebut Sikatan Putih itu telah melekat dipangkal lehernya. Ketika ujung golok itu menekan lehernya lebih keras, maka laki-laki itu telah menjatuhkan diri dan berbaring di tanah.

" Aku dapat membunuhmu sekarang " berkata Sikatan Putih " tidak ada seorangpun yang dapat mencegah. Di tempat ini tidak ada paugeran yang harus ditaati dalam hubungan antara manusia. "

" Bunuh aku " geram laki-laki itu.

" Kau telah menghina aku. Kau kira aku dapat kau perlakukan seperti itu? " geram Rukmi yang disebut Sikatan Putih.

" Aku tidak pernah menghinamu. Laki-laki itu telah mengfitnahku. Tetapi aku sekali-sekali tidak menginginkan belas kasihanmu. Aku siap untuk mati. Apalagi aku merasa tidak bersalah. Kematian bukan apa-apa bagiku.

Agaknya itu lebih baik daripada aku harus membunuh diri dibilik kecil itu, karena aku sudah kehabisan uang  di hari-hari permulaan seperti ini. " sahut laki-laki itu.

" Kau tinggal menekan golokmu " berkata laki-laki yang semula bertempur dengan orang yang telah dikalahkan oleh Sikatan Putih itu. Lalu " Ia akan mati. Lehernya tentu akan terputus oleh gerakan yang kecil saja. "

" Diam kau " perempuan itu membentak.

Suaranya menjadi tegang. Beberapa orang yang menyaksikan peristiwa itupun menjadi tegang pula. Orang-orang yang biasanya tidak menghiraukan orang lain, nampaknya semakin tertarik melihat sikap perempuan yang garang itu.

Kiai Windu ternyata juga menunggu. Apa yang akan dilakukan oleh perempuan itu. Beberapa orang petugas yang bertubuh raksasapun telah bergeser mendekat. Perempuan itu jika membunuh dan membiarkan korbannya terkapar, harus membayar ongkos penguburannya, yang kemudian akan dilakukan oleh para petugas.

Mereka yang membunuh harus membeayai penguburannya, kecuali mereka yang membunuh diri. Hal Itu sudah diketahui oleh orang-orang yang berada di Song Lawa itu.

Beberapa saat perempuan yang meletakkan ujung goloknya di leher laki-laki itu termangu-mangu. Namun, tiba-tiba ia mengangkat goloknya sambil berkata " Aku tidak sampai hati membunuhmu, betapapun aku marah kepadamu. Kita pernah berhubungan dengan akrab. Dan kita pernah saling jatuh cinta. Tetapi jika sekali lagi kau menghinaku, maka aku benar-benar akan membunuhmu.

" Bunuh aku sekarang " geram laki-laki itu " sudah aku katakan, bahwa aku tidak pernah menghinamu. Aku hanya mengatakan satu kebenaran, sama sekali tidak untuk dibelas kasihani. "

Sikatan itu merenung sejenak. lapun kemudian berpaling kepada laki-laki yang semula bertempur sebelumnya. Namun iapun telah berlari meninggalkan tempat itu sambil memasukkan goloknya kedalam sarungnya.

Laki-laki itu memburunya sambil memanggil namanya. Tetapi Rukmi itu tidak berhenti. Sedangkan laki-laki yang telah dilukainya itupun telah bangkit. Dipungutnya pedangnya dan disarungkannya.

Kiai Windu menarik nafas dalam-dalam. Kawannya tiba-tiba saja tertawa. Katanya " Sikatan itu mempunyai kegemaran berlari jika ia pergi. Kemarin ketika ia mengumpati aku, iapun pergi sambi berlari.

" Kau sudah melihat kemampuannya " berkata Kiai Windu.

" Ya. Tetapi agaknya ia termasuk seseorang perempuan yang mudah jatuh cinta " berkata kawan Kiai Windu itu,

" Mungkin    Tetapi   agaknya   laki-laki   yang mengikutinya itulah yang telah mengadu Sikatan Putih dengan laki-laki yang dikalahkannya itu karena cemburu. " berkata Kiai Windu.

" Lingkungan ini benar-benar merupakan sarang iblis. Laki-laki atau perempuan sama saja. " geram kawannya.

" Termasuk kita. " berkata Kiai Windu pula.

Kawannya tidak menjawab. Namun ketika Kiai Windu melangkah meninggalkan tempat itu, kawannya mengikutinya.

Dalam pada itu, Kiai Windu itu masih berkata pula " Dengan melihat perkelahian ini, maka kau harus memperhitungkan segala kemungkinan jika kau dekat dengannya. "

" Bagaimana menurut perhitungan Kiai? Kiai mengetahui dengan pasti kemampuanku. Kiaipun telah melihat kemampuan perempuan itu. " desis kawan Kiai Windu.

Kiai Windu tidak menjawab. Tetapi iapun tertawa. Bahkan kemudian katanya " Sudahlah. Sekarang, apa yang akan kita katakan kepada penjaga regol? Seperti kemarin? "

" Ya. Kita tidak mempunyai cara lain " jawab kawannya.

" Baiklah. Aku akan mencobanya. Mudah-mudahan mereka tidak mencurigai kami. " berkata Kiai Windu pula.

Ketika Kiai Windu mendekati penjaga yang berada di regol pada lapisan yang dalam itu, ternyata yang bertugas bukan orang yang kemarin. Karena itu, maka iapun telah menarik nafas dalam-dalam. Kepada kawannya ia berbisik " Sokurlah, bahwa petugasnya sudah berganti. Mereka tentu tidak akan mencurigai kami. "

Ternyata petugas itupun telah mengenal Kiat Windu pula. Karena itu, maka ia tidak mengalami kesulitan untuk pergi ke kandang kuda.

Seperti yang dijanjikan, maka kawan-kawan Kiai Windu telah menunggu diluar. Ketika Kiai Windu memberikan isyarat dan mengucapkan kata-kata sandi, kawannya yang berada diluar dinding dilapis yang luar itupun berkata " Aku sudah menunggu terlalu lama. "

" Maaf, ada peristiwa yang menarik untuk ditonton " desis Kiai Windu. Lalu " Nah, apa pesan terakhir? "

" Kami sudah siap. Kami tinggal menunggu perkiraan kekuatan yang ada didalam lingkungan ini. Para penjaga dan orang-orang yang menurut penilaian Kiai akan terlibat " berkata orang yang diluar.

Kiai Windupun kemudian telah memberikan keterangan terperinci menurut hasil pengamatannya selama ia berada di Song Lawa. Iapun telah memberikan gambaran orang-orang terkuat atas dasar pertimbangan, mereka yang mampu mengatasi sirep. Tetapi Kiai Windupun memberikan pertimbangan-pertimbangan lain, agar kawan-kawannya yang berada diluar tidak mempunyai penilaian yang salah yang akan dapat menjerumuskan mereka dalam kesulitan. "

Namun dalam pada itu, Kiai Windupun bertanya " Bagaimana dengan kedua orang tua itu? "

" Ada orang-orang khusus yang ditunjuk untuk menjinakkan mereka " jawab orang yang diluar.

" Cara apa yang dipergunakan? " bertanya Kiai Windu.

" Cara terakhir, kekerasan. Tetapi akan ditempuh kemungkinan cara yang lain " jawab orang yang diluar.

" Baiklah. Bukankah kami yang didalam masih mempunyai waktu dua malam dan sehari besok? " bertanya Kiai Windu.

" Ya. Kalian harus membuat persiapan-persiapan yang matang. Diluar, medan telah kami kuasai dengan baik. Tidak ada yang perlu dicemaskan. " jawab kawannya yang diluar.

" Baiklah. Kuasai dua orang tua itu. Aku akan membayangi dua orang yang berilmu sangat tinggi yang ada didalam dan Kepala Besi dari pesisir Utara, meskipun jelas kami tidak akan mampu menguasai mereka. "

" Mereka sudah termasuk perhitungan kami " Jawab yang diluar.

Demikianlah, maka Kiai Windupun telah meninggalkan kandang setelah pesan-pesan terakhir diberikan, haik dari dalam maupun dari luar. Mereka tidak akan berhubungan lagi, kecuali jika ada persoalan yang sangat gawat.

Sementara itu, untuk tidak memberikan kesan apapun yang akan terjadi kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung yang belum dikenal dengan pasti oleh Kiai Windu, maka iapun menepati janjinya. Sambi Wulung dan Jati Wulung yang dihormati di lingkungan perjudian Song Lawa itu telah mendapatkan pula pertanda sebagai anggota dari sekelompok orang yang memanfaatkan Song Lawa bagi kesenangan mereka yang kadang-kadang dapat merenggut nyawa itu.

Kepada para petugas Kiai Windu mengingatkan bahwa Wanengbaya dan Wanengpati telah menunjukkan sumbangannya yang besar bagi lingkungan Song Lawa. Sambi Wulung dan Jati Wulung ternyata kemudian merasa senang pula dengan pertanda itu. Keduanya yang sedang berada di barak permainan dadu telah dipanggil oleh seorang yang bertugas ke barak khusus bagi mereka yang mengatur segala sesuatu di Song Lawa.

Muia-mula Sambi Wulung dan Jati Wulung memang merasa heran. Tetapi merekapun telah pergi juga ke tempat itu. Ketika mereka melihat Kiai Windu telah berada ditempat itu, maka keduanya memang menjadi berdebar-debar. Namun ketika mereka mengetahui bahwa Kiai Windu berada ditempat itu untuk kepentingan  mereka, maka Sambi Wulung dan Jati Wulungpun telah mengucapkan terima kasih pula kepada mereka.

" Pada musim judi yang lain, kau berdua dapat datang tanpa tanggungan siapapun " berkata Kiai Windu " kini kalian masih menjadi tanggung jawabku. Namun seperti yang dijanjikan, apa lagi setelah kalian menunjukkan bukti kesetiakawanan disini, maka pertanda itu diberikan kepada kalian. "

" Terima kasih " berkata Sambi Wulung sambil menimang pertanda itu. Demikian pula Jati Wulung.

" Sekarang silahkan kembali ke barak permainan dadu itu " seorang petugas yang telah memberikan pertanda itu mempersilahkan. Bahkan katanya " Kami tidak melakukan upacara pada penyerahan pertanda seperti itu. Biasanya juga tidak. "

" Itu tidak perlu " berkata Jati Wulung " yang penting bagi kami adalah, bahwa kami akan menjadi keluarga dari lingkungan ini. Kami tidak lagi selalu diamat-amati dan setiap kami ingin masuk atau keluar dari tempat ini, kami dapat dengan bebas melakukannya. "

Demikianlah keduanyapun telah kembali ke barak permainan dadu. Dengan pertanda itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung merasa telah diyakinkan, bahwa akhirnya mereka akan dapat mengetahui lebih banyak tentang Puguh. Jika tidak di musim perjudian saat itu, maka dimusim yang akan datang. Dengan pertanda itu, maka tidak ada lagi kesulitan bagi keduanya untuk memasuki tempat itu.

Namun dalam pada itu, Kiai Windu telah berpikir lain. Bahkan kepada seorang fcawannya yang menyertainya ia berdesis " Sayang. Mereka tidak akan mempergunakannya. "

Kawan Kiai Windu hanya mengangguk-angguk saja.

Dalam pada itu, maka Kiai Windupun telah meninggalkan barak khusus itu pula. Namun mereka memang tertegun ketika mereka berpapasan dengari orang yang agak bongkok yang sudah dikenalinya sebagai seorang yang menyandang tugas sandi diluar Song Lawa, datang menghadap para pemimpin lingkungan Song Lawa itu  lustru dengan tergesa-gesa.

Kiai Windu yang menggamit kawannya berdesis " Apalagi yang dilakukan oleh si Bongkok itu? "

kawannya termangu-mangu. Namun kemudian Kiai Windu berkata " Kita kembali ke barak itu. "

" Apa yang dapat kita lakukan? " bertanya kawannya.

" Untung-untungan " jawab Kiai Windu.

" Semua rencana sudah tersusun. Kita tidak dapat bekerja untung-untungan " jawab kawannya.

" Hanya dalam masalah ini. Apakah kita akan dapat mendengar sesuatu atau tidak " jawab Kiai Windu.

Kawannya tidak membantah. Iapun kemudian mengikuti Kiai Windu kembali ke barak itu.

Tanpa merasa bersalah keduanya begitu saja memasuki ruangan para pemimpin lingkungan Song Lawa itu. Seakan-akan mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi didalamnya. Dengan sikap yang wajar mereka tiba-tiba saja telah berdiri di pintu ruangan itu.

Orang-orang yang agaknya memang sedang berbincang dengan sungguh-sungguh itu terkejut. Seorang diantara mereka dengan menahan diri melangkah mendekati kiai Windu yang nampak termangu-mangu.

" Maaf, apakah sedang ada pembicaraan penting disini? " bertanya Kiai Windu.

" Tidak Ki Sanak " jawab orang yang melangkah mendekat itu " tetapi kenapa Ki Sanak kembali? Bukankah yang kau inginkan sudah diberikan kepada kedua orang itu? "

" Benar " jawab Kiai Windu " aku hanya ingin bertanya, apakah pada kesempatan lain aku di ijinkan membawa beberapa orang kawanku lagi memasuki lingkungan ini? "

" O, kenapa tidak " jawab orang yang mendekatinya itu. la telah memaksa bibirnya untuk tersenyum

" Silahkan. Tetapi dengan tanggung jawab yang berat. Jika orang dibawah tanggungan itu melakukan kesalahan disini yang dapat merugikan seluruh lingkungan, maka Ki Sanaklah yang harus mempertanggung jawabkannya. "

Kiai Windu mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian berkata " Maaf jika kami mengganggu. Kami tidak tahu, bahwa agaknya ada persoalan yang penting. "

" Tidak apa-apa Ki Sanak. " jawab orang itu.

Kiai Windupun kemudian meninggalkan tempat itu. Namun iapun kemudian berkata " Aku sempat mendengar orang bongkok itu menyebut sekelompok orang. Tentu kawan-kawan kamilah yang dimaksud. "

" Mungkin " berkata kawan Kiai Windu " memang tidak mustahil bahwa satu dua orang petugas yang mengawasi bagian luar dari Song Lawa ini melihat sekelompok orang yang memang berada disekitar tempat ini. "

" Kau tahu, bahwa kita tidak menghendaki itu " desis Kiai Windu.

" Ya " jawab kawannya " tetapi sulit untuk menyembunyikan sekelompok orang disekitar lingkungan ini. Jika yang terjadi sebagaimana dilakukan para perampok itu, maka memang tidak akan banyak persoalan yang timbul. "

Kiai Windu mengangguk-angguk. Katanya " Rasa-rasanya waktu yang tersisa itu menjadi sangat panjang. Dalam waktu sehari semalam serta ujung malam ini ada seribu kemungkinan yang dapat terjadi. "

" Kemungkinan yang sangat gawat sekalipun " desis kawannya.

" Tetapi agaknya tugas kita untuk mengatasinya disini " berkata Kiai Windu kemudian.

Kawannya mengangguk-angguk. Katanya dengan nada rendah " Sulit untuk mengatasi dua orang yang berilmu tinggi itu. "

" Wanengbaya dan Wanengpati maksudmu? " berunya Kiai Windu.

" Ya " jawab kawannya.

Kiai Windu mengangguk-angguk. Katanya " Bahkan mungkin mereka masih menyimpan ilmu jauh lebih tinggi dari yang diperlihatkan. Apalagi Wanengbaya yang nampaknya lebih dapat mengendalikan diri. Aku tidak percaya bahwa kemampuan memanah Wanengbaya tidak setajam kemampuan Wanengpati. Demikian pula dalam perkelahian dengan para perampok. Nampaknya Wanengbaya sengaja menyembunyikan kemampuannya. Bahkan menurut perhitunganku, Wanengpatipun masih belum sampai kepuncak kemampuannya. Baik ketika ia berkelahi melawan Kepala Besi, maupun dengan pemimpin perampok itu. Bahkan ia membiarkan dirinya terluka, karena ia tahu luka itu tidak berbahaya sama sekali bagi dirinya. "

Kawannya mengangguk-angguk pula. Katanya " Satu kerja yang berat. "

" Itu kita sudah tahu sebelumnya " jawab Kiai Windu.

Keduanyapun kemudian terdiam ketika mereka mendekati barak permainan dadu. Ketika mereka masuk kedalamnya, dilihatnya kedua orang kawannya masih juga sibuk bermain. Demikian puia Jati Wulung yang sudah kembali ke permainan dadunya. Nampaknya mereka masih mempunyai persediaan uang cukup untuk hari itu. Ketika Kiai Windu mendekati seorang diantara kedua kawannya itu, maka kawannya itupun bertanya " Kemana Kiai selama ini? "

Kiai Windu berdesis ditelinganya " Pertanyaan yang bodoh "

" O, maaf " gumam kawannya.

Namun yang bertanya kemudian adalah Kiai Windu

" Bagaimana dengan kau? "

" Separo uangku aku sediakan untuk hari ini telah habis. Tetapi masih ada kemungkinan untuk menang. " jawabnya.

Kiai Windupun bergeser ke kawannya yang seorang lagi. Namun agaknya kawannya yang satu ini lebih beruntung. Katanya " Aku belum kalah malam ini meskipun agaknya juga tidak menang. "

Kiai Windu tertawa. Sambil menepuk bahu kawannya iapun kemudian bergeser pula mendekati Jati Wulung yang duduk hampir diujung. Sedangkan Sambi Wulung berdiri di belakangnya.

Ketika Kiai Windu mendekatinya Sambi Wulung telah bersungut sebelum mendapat pertanyaan " Semula Wanengpati menang. Tetapi setelah kami dipanggil ke barak khusus itu dan kemudian kembali lagi, ia justru menjadi kalah. "

Kiai Windu tertawa. Katanya " Bukan salahku. Bukankah disana kau mendapat sesuatu yang-berarti bagimu "

" Ya " jawab Sambi Wulung. Tetapi kemudian katanya " Wanengpati telah hampir kehabisan uang. "

" Apakah ia memerlukan bantuan? " bertanya Kiai Windu.

" Tidak. Siapa tahu disaat-saat terakhir ia menang. " jawab Sambi Wulung.

Kiai Windu masih saja tertawa. Katanya " Kalian dapat mencobanya. Tetapi W'anengpati sudah tidak lagi dapat memungut uang dari arena panahan. Meskipun demikian kau dapat melakukannya. Sedikit demi sedikit, ternyata kau menang cukup banyak di arena panahan. "

Sambi Wulung tidak menyahut. Tetapi ia mulai memperhatikan lagi permainan Jati Wulung. Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam ketika uang Jati Wulung yang dipasang telah di ambil pula oleh petugas karena ternyata Jati Wulung telah kalah lagi.

Kiai Windupun menjadi tegang pula menyaksikan permainan itu.

Namun di putaran berikutnya, ternyata Jati Wulung telah menang dan mendapat sebagian dari uangnya kembali. Kiai Windu sendiri malam itu tidak ikut bertaruh dalam permainan dadu itu. Tetapi ia menunggui sampai saatnya Jati Wulung bangkit sambil menekan lambungnya. Sambil menggeliat ia berdesis " Uangku habis. "

" Apakah kau masih berminat? " bertanya Kiai Windu. " Barangkali aku juga membawa uang meskipun tidak seberapa. "

" Tidak " Jati Wulung menggeleng " akupun telah menyediakan takaran untuk sehari seperti beberapa orang lain. Jika takaran itu habis, maka aku akan berhenti untuk hari ini. "

Dengan demikian, maka Sambi Wulung, Jati Wulung dan Kiai Windu serta kawan-kawannyapun telah mengakhiri permainan. Malam memang telah larut. Meskipun masih banyak orang yang tetap berada di permainan dadu yang akan berlangsung sampai menjelang pagi.

Seorang kawan Kiai Windu memang kalah. Tetapi seorang yang lain ternyata malam itu memenangkan permainan.

Namun ketika kemudian mereka sudah berada dibilik dan sebagian dari mereka telah tertidur, Kiai Windu yang duduk bersandar dinding merasa bahwa sisa malam itu agaknya masih terlalu panjang. Apalagi ia masih harus menunggu sehari dan semalam lagi. Sementara itu orang yang bongkok itu telah mondar-mandir menghubungi para pemimpin dari Song Lawa itu.

 Menjelang matahari terbit, Kiai Windu sempat pula tidur sejenak ketika kawan-kawannya justru telah bangun. Satu demi satu kawan-kawan Kiai Windu telah pergi ke pakiwan. Namun agaknya yang ingin mempergunakan pakiwan itu terlalu banyak, meskipun di beberapa tempat yang lain telah disediakan pula. Agaknya karena banyak orang yang berkeliaran disekitar pakiwan itu, maka perempuan-perempuan yang ada didalamnya cenderung menduga, bahwa ada laki-laki yang sedang mengintipnya.

Karena itu, maka ada diantara mereka yang tiba-tiba saja marah tanpa sebab.

Kawan Kiai Windu yang pernah mengalami sebagaimana pernah dialami oleh Jati Wulung berusaha untuk tidak mendekat jika yang ada didalamnya adalah seorang perempuan, agar mereka tidak diumpatinya lagi.

Ketika matahari mulai naik, maka Kiai Windu yang bangun terakhirpun telah siap pula. Demikian pula Sambi Wulung dan Jati Wulung. Seperti biasanya maka mereka telah pergi ke kedai lebih dahulu sebelum mereka turun  ke arena yang mereka pilih.

Ternyata hari itu Kiai Windu telah menyebar kawan-kawannya. Ketiga orang itu harus berada ditempat yang berada untuk membuat pengamatan terakhir. Bahkan seorang diantara mereka ditugaskan untuk mengamati tingkah laku Sambi Wulung dan Jati Wulung. Apakah ada perubahan atau mereka berbuat sebagaimana mereka lakukan sehari-hari.

" Keduanya banyak berhubungan dengan anak-anak muda " jawab salah seorang kawan Kiai Windu.

" Jika itu yang dilakukan, maka ia berbuat wajar sebagaimana dilakukan sejak ia memasuki lingkungan ini. " berkata Kiai Windu.

" Tetapi perhatian mereka yang terbesar setuju kepada anak muda yang bernama Puguh itu " berkata kawannya pula.

" Itupun wajar " desis Kiai Windu " Puguh juga menaruh perhatian sangat mengaguminya. Tetapi anak anak muda yang lain tidak berbuat sebagaimana dilakukan oleh Puguh. "

Kawan-kawan Kiai Windu mengangguk-angguk.

Demikianlah, ketika mereka meninggalkan kedai, maka merekapun mulai memilih sasarannya masing-masing.

" Kalian terpisah-pisah hari ini? " bertanya Jati Wulung.

" Kami mempunyai keinginan yang berbeda-beda. " jawab salah seorang kawan Kiai Windu.

Sementara itu Sambi Wulung bertanya kepada Kiai Windu " Kiai akan berada di mana? "

" Mencari tambahan uang untuk menyambung hari disini " jawab Kiai Windu.

" Panahan? " bertanya Sambi Wulung.

" Ya " jawab Kiai Windu.

Sambi Wulung tersenyum. Iapun telah berniat untuk turun kelapangan panahan. Sementara itu, Jati Wulung telah berniat untuk berada bersama Puguh pada hari itu.

Demikianlah, maka sejenak kemudian merekapun telah terpencar. Sambi Wulung seperti yang dikatakan telah berada di arena panahan sebagaimana Kiai Windu.

Dua orang kawan Kiai Windu berada di arena sabung ayam dan permainan dadu. Sedangkan yang seorang lagi, ternyata telah mengikuti Jati Wulung.

" Aku ikut " berkata kawan Kiai Windu.

" Aku tidak ikut diperjudian manapun " jawab Jati Wulung.

" Kemana saja " jawab kawan Kiai Windu itu.

" Kenapa? " bertanya Jati Wulung.

" Sedikit meningkatkan wibawa, bahwa aku adalah Kawanmu " jawab kawan Kiai Windu.

" Ah kau " geram Jati Wulung. Namun kemudian sambil tersenyum ia berkata " Kau tentu sedang mengamati aku. "

" Mengamati? " kawan Kiai Windu bertanya. Tetapi sebenarnya ia menjadi berdebar-debar.

" Kau selalu curiga bahwa aku pergi menemui Burung Sikatan Putih. He, aku sudah mendengar bahwa perhatianmu tertuju kepada Burung yang buas itu. " jawab Jati Wulung.

Kawan Kiai Windu menarik nafas dalam-dalam. Katanya didalam hati " Jika itu soalnya, aku tidak berkeberatan. "

Tetapi ia berkata " Jangan mendekati Sikatan Putih itu. Ia terlalu liar. "

" Aku belum pernah melihatnya. Mungkin sudah, tetapi aku tidak tahu bahwa orang itu yang dimaksud dengan Sikatan Putih. " jawab Jati Wulung.

" Tentu Kiai Windu yang berceritera tentang Burung liar itu " gumam kawan Kiai Windu.

Jati Wulung tidak menjawab. Namun ketika ia melihat Puguh di pinggir arena sabung ayam, ia mendekatinya.

" Kau " jawab Puguh menjadi gembira " kita disini saja. "

Jati Wulung memandang kawan Kiai Windu sambil bertanya " Bagaimana jika kita disini? Kau keberatan? "

" Tidak. Aku sama sekali tidak berkeberatan " jawab kawan Kiai Windu itu.

Karena itulah, maka keduanyapun telah berada di arena sabung ayam bersama Puguh dan beberapa orang pengawalnya yang mulai membuat penilaian terhadap Jati Wulung. Namun tidak seorangpun yang berani membandingkannya dengan diri mereka. Karena itu, maka tidak seorang yang menaruh keberatan atas kehadiran Jati Wulung sebagai kawan yang semakin dekat dengan Puguh.      

Demikianlah, maka haripun merambat terus. Namun bagi Kiai Windu, rasa-rasanya matahari menjadi semakin malas berkisar. Sudah terlalu lama ia duduk di arena panahan, seakan-akan punggungnya hampir patah. Namun matahari juga baru menggeliat melewati puncak langit.

Namun, betapapun lambatnya, maka haripun akhirnya menjadi semakin sore. Sementara itu, Kiai Windu dan Sambi Wulung telah meninggalkan arena setelah mendapat kemenangan meskipun tidak banyak. Beberapa saat kemudian, maka ketika kawan Kiai Windu dan Jati Wulung telah datang pula ke kedai bersama dengan Puguh.

Namun semua itu berlalu tanpa memberikan kesan apapun bagi Kiai Windu. Angan-angannya telah dipenuhi oleh berbagai macam peristiwa yang diperkirakannya hampir terjadi.

Bahkan diluar sadarnya ia telah mengamati wajah Sambi Wulung dan Jati Wulung berganti-ganti. Semakin tajam Kiai Windu mengamati keduanya, semakin yakinlah ia bahwa keduanya bukan orang-orang yang memang terbiasa berkeliaran di tempat-tempat perjudian sebagaimana mereka katakan sendiri.

Demikian mereka selesai, maka merekapun ternyata berniat untuk beristirahat di dalam bilik. Sementara itu Kiai Windupun berkata " Aku ingin tidur. Nanti malam mungkin aku akan berjudi semalam suntuk. "

Sambi Wulung dan Jati Wulungpun ternyata telah pergi ke bilik mereka pula. Namun ketika mereka berjalan agak terpisah dengan yang lain, Sambi Wulung sempat bertanya " Bagaimana dengan Puguh? "

" Ia tidak mau mengatakan tempat tinggalnya " jawab Jati Wulung " masih ada yang gelap bagi kita. "

" Kita masih mempunyai banyak waktu. Seandainya kali ini ia tetap tidak mau mengatakan dimana ia tinggal, atau dipadepokan mana ia berguru, maka pada musim judi yang akan datang, kita akan menemuinya disini.

Namun satu hal yang sudah kita ketahui, bahwa ternyata ilmunya tidak kalah dari Risang. Bahkan nampaknya Puguh yang sedikit lebih muda itu, mempunyai bekal pengalaman yang lebih banyak dari Risang. Nampaknya Puguh telah lebih dewasa dan sikapnya lebih masak. " berkata Sambi Wulung.

" Ya. Itu yang harus segera diketahui oleh ibunya, kakek dan neneknya serta para pengasuhnya. Mungkin Puguh tidak dikelilingi orang-orang berilmu sedemikian banyaknya. Namun ia benar-benar menghayati berbagai jenis pengalaman. Yang pahit dan tentu juga yang manis. " berkata Jati Wulung.

" Tetapi masih belum terlambat. Jika ada selisihnya, selisih itu hanya seujung rambut. Jika Risang kemudian ditempa semakin keras, maka ia tentu akan segera dapat menyusul. Pada dasarnya Risang tidak lebih buruk dari Puguh. " berkata Sambi Wulung.

Namun mereka tidak dapat membicarakannya lebih panjang lagi. Sejenak kemudian mereka telah masuk kedalam barak dan menuju ke dalam bilik masing-masing.

Seperti biasanya, maka tidak seisi bilik itu tertidur nyenyak. Tentu ada dua orang diantara mereka yang berjaga-jaga.

Demikianlah, maka ketika malam tiba, mereka seluruhnya telah berada di barak permainan dadu. Namun Kiai Windu terkejut ketika ia melihat dari kejauhan beberapa orang memasuki regol. Bahkan kemudian baru disadarinya, bahwa kesiagaan orang-orang Song Lawa itu menjadi semakin tinggi. Dibeberapa tempat dilihatnya para petugas dalam kesiagaan penuh. Mereka telah benar-benar siap menghadapi segala macam kemungkinan.

Kiai Windu menggamit kawan-kawannya. Dengan isyarat ia memberitahukan kepada mereka kesiagaan para petugas itu. Juga kehadiran orang-orang baru yang belum dikenalnya sebelumnya.

Tetapi Kiai Windu tidak menunjukkan kegelisahannya. Ia kemudian memasuki barak permainan dadu sebagaimana yang lain-lain.

Namun dalam pada itu, Kiai Windu terkejut ketika seorang petugas menggamitnya. Dengan isyarat ia mengajak Kiai Windu bergeser ketempat yang sedikit luang.

Ternyata bukan hanya Kiai Windu saja yang dipanggilnya. Tetapi juga Sambi Wulung, Jati Wulung, Kepala Besi dan dua orang yang lain.

" Ada apa? " bertanya Kiai Windu.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya. " Kami tidak ingin membuat orang-orang yang ada di Song Lawa ini menjadi gelisah. Karena itu, kami minta persoalan ini jangan sampai didengar oleh banyak orang. "

" Persoalan apa? " bertanya Kepala Besi.

" Kami mendapat petunjuk, bahwa para perampok itu masih berkeliaran disekitar tempat ini. Petugas kami tidak dapat mengatakan dengan pasti, apakah mereka sebagian dari antara para perampok yang telah kami hancurkan dengan membawa orang-orang baru, atas gerombolan apa lagi. Namun itu adalah satu isyarat bahwa bahaya telah mengancam tempat ini. Bahkan mungkin lebih berat daripada yang pernah terjadi. " berkata pemimpin dari para petugas itu " karena itu, maka kami ingin minta kepada kalian, bantuan sebagaimana telah kalian berikan kepada kami pada saat para gerombolan itu lalang. "

" Jadi hanya orang-orang yang terbebas dari pengaruh sirep itu? " bertanya Kapala Besi.

" Tidak. Kami memberi tahukan kepada kalangan yang jauh lebih luas. Tetapi kami mempergunakan cara ini Kami hubungi satu dua orang, sehingga merekapun tidak menjadi ribut. Tetapi kami telah minta kepada mereka yang kami hubungi untuk lebih berhati-hati menghadapi sirep. Jika mereka sudah terlanjur tidur, maka mereka tidak akan mungkin dapat mengatasi sirep itu. " berkata pemimpin petugas itu.

" Bagus " berkata Kepala Besi " siapapun yang datang, maka mereka pasti akan kami hancurkan. "

" Terima kasih " berkata pemimpin petugas itu. Namun dalam pada itu, Kiai Windupun bertanya " Siapakah orang-orang yang memasuki regol itu? "

" Mereka adalah sahabat-sahabat kami. Mereka juga termasuk pendiri tempat ini, sehingga mereka ikut bertanggung jawab atas kelangsungan hidup padepokan ini. " jawab pemimpin padepokan itu. Lalu " Kami telah mengirimkan penghubung untuk memberitahukan mereka sehingga tepat pada waktunya mereka telah datang. Justru ketika para petugas kami diluar tempat ini melihat gerak yang semakin mencurigakan dari sekelompok orang.

Jantung Kiai Windu memang berdebaran. Orang-orang itu tidak termasuk dalam perhitungan kekuatan yang dilaporkannya kepada penghubung dengan kawan-kawannya diluar. Namun Kiai Windu sudah tidak mendapat kesempatan lagi. Malam itu semuanya telah siap dan ledakanpun akan segera terjadi.

Ternyata pemimpin petugas itu telah memberikan beberapa pesan bagi mereka yang berada di Song Lawa, terutama mereka yang dianggap mempunyai kemampuan tinggi.

Demikian pesan itu dianggap selesai, maka Kiai Windupun segera kembali kepada kawan-kawannya. Dengan tanpa menarik perhatian, maka ia telah memberitahukan kepada kawan-kawannya, bahwa Song Lawa benar-benar sudah siap menghadapi segala kemungkinan.

Yang kemudian juga sibuk berbicara diantara mereka meskipun juga dengan hati-hati adalah Sambi Wulung dan Jati Wulung. Jika terjadi benturan kekuatan, apakah yang sebaiknya mereka lakukan.

" Kita akan melihat suasana " berkata Sambi Wulung " baru kita mengambil keputusan. "

Demikianlah, betapapun permainan di barak itu nampaknya berjalan wajar, namun agaknya orang-orang yang ada didalamnya mulai gelisah. Bahkan menjelang tengah malam, para petugaslah yang justru memperingatkan mereka agar kembali saja ke bilik masing-masing.

Permainan dadu itupun segera berakhir. Kiai Windu dan kawan-kawannya juga kembali ke bilik mereka, namun tidak bersama-sama dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung yang berjalan agak jauh di belakang mereka. Agaknya kedua belah pihak memang berusaha untuk memisahkan diri disaat mereka sedang berbicara tentang tanggapan mereka atas peristiwa yang bakal terjadi.

Sementara itu, sebuah kekuatan yang besar memang telah dipersiapkan diluar lingkungan perjudian. Kekuatan yang memang dipersiapkan untuk menghadapi kekuatan  yang berada di Song Lawa.

Karena itu, menjelang dini hari, maka sepasukan segelar-sepapan telah mulai bergerak mendekati Song Lawa.

Sebenarnyalah, bahwa orang-orang di Song Lawa justru telah menunggu. Mereka mengira bahkan akan ditebarkan lagi kekuatan sirep sebagaimana yang   telah terjadi. Orang-orang yang berada di Song Lawa telah berjaga-jaga untuk bertahan atas serangan sirep itu, sehingga sampai dini hari hampir tidak ada orang yang tidur, karena mereka tidak mau kehilangan kesempatan untuk tetap bangun apapun yang akan terjadi.

Namun pada umumnya orang-orang yang berada di dalam lingkungan Song Lawa itu telah bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.

Dalam pada itu, pasukan yang besar menjelang dini hari telah berada disekitar Song Lawa. Tidak ada usaha untuk menebarkan sirep. Namun pasukan itu tidak pula dengan tergesa-gesa berusaha membuka pintu dengan kasar.

Disaat dini hari itu pasukan yang besar itupun telah mengepung Song Lawa.Tidak akan ada yang lolos dari kepungan. Setiap jengkal tanah telah dijaga dengan ketat.

Sebagaimana direncanakan, maka menjelang matahari terbit, pasukan itu harus mulai bergerak. Terutama yang tepat berada didepan pintu gerbang. Namun agaknya para pengawas di Song Lawa telah melihat gerakan itu. Mereka melihat pasukan yang mengepung lingkungan perjudian itu, sehingga dengan tergesa-gesa para pengawas itu telah melaporkannya.

Song Lawapun segera mempersiapkan diri pula. Para petugas yang pada umumnya bertubuh raksasa. Kemudian orang-orang yang semalam datang di tempat itu yang belum diketahui kekuatannya oleh Kiai Windu dan orang-orang yang kebetulan berada di Song Lawa untuk berjudi.

" Jangan lepaskan harta benda kalian " berkata seorang yang sebelumnya belum. dikenal di Song Lawa.

Orang yang baru datang semalam bersama sekelompok orang lain " perampok-perampok menganggap bahwa mereka akan mendapat harta benda dengan mudah disini.

Song Lawa dianggapnya dapat mereka ambil kapan saja mereka kehendaki.  Tetapi kita harus mempertahankannya. Semua itu adalah milik kita sendiri. Yang ada di sini bukan semacam harta karun yang pantas diperebutkan. "

Orang-orang yang berada di Song Lawa yang kemudian telah berkumpul di lapangan yang biasa dipergunakan sebagai arena panahan mengangguk-angguk. Sementara itu, orang yang sebelumnya belum dikenal itu pun berkata " Untunglah bahwa disini sekarang hadir Wanengpati, Wanengbaya, Kepala Besi dari pesisir Utara yang ditakuti dan orang-orang yang berilmu tinggi lainnya. Yang sudah ternyata Kemampuannya disaat para perampok itu datang beberapa hari yang lalu. Kini bukan hanya mereka yang terlepas dari sirep sajalah yang mendapat kesempatan mempertahankan diri. Tetapi kita semuanya. "

Orang-orang di Song Lawa itupun kemudian telah membagi diri. Mereka tidak berkumpul di lapangan yang luas sambil menunggu lawan mereka datang. Tetapi mereka telah menebar diseluruh lingkungan.

Para petugas yang bertubuh raksasa itupun telah berada disegala tempat pula. Namun mereka harus memperhatikan isyarat. Jika kekuatan lawan dipusatkan untuk memecahkan regol, maka sebagian besar dari mereka akan ditarik pula keregol.

DEMIKIANLAH, semakin langit menjadi terang, maka keteganganpun menjadi semakin mencengkam, Dalam pada itu, maka pasukan yang berada di luarpun telah bersiap pula. Beberapa saat sebelum matahari terbit, tiba-tiba saja telah terdengar suara bende yang dipukul dengan irama datar. Tepat didepan regol lingkungan perjudian Song Lawa.

Regol itu memang tertutup rapat. Tetapi beberapa orang pemimpin Song Lawa dan orang-orang yang semalam datang ke tempat itu telah berkumpul pala didepan regol.

Ketika suara bende kemudian menurun dan hilang, maka terdengar suara seseorang yang berkata lantang " He, orang-orang yang berada di Song Lawa. Dengarkan apa yang ingin aku katakan. "

Orang-orang yang ada dibelakang regol itu pun menjadi berdebar-debar pula.

Sementara itu suara diluar itupun berkata pula " Bersiaplah untuk menyerah. Buka regol Song Lawa dan tidak seorangpun dibenarkan membawa senjata. Kami adalah prajurit yang mengemban perintah Kangjeng Sultan di Pajang. Pajang telah mengamati perkembangan tempat ini sejak beberapa musim. Pajang telah mendengarkan laporan orang-orang padukuhan di bawah lereng tentang kegelisahan mereka karena adanya tempat perjudian ini. Tempat yang seakan-akan tidak terjangkau oleh segala macam pangeran. Nah, sekali lagi, aku perintahkan kalian menyerah. Membuka regol dan berdiri berderet setelah kalian meletakkan senjata kalian di tanah, "

Para pemimpin Song Lawa itu saling berpandangan sejenak. Mereka baru menyadari bahwa yarg datang mengepung lingkungan perjudian itu adalah prajurit Pajang. Itulah agaknya maka cara mereka mendekati lingkungan judi itu berbeda dengan cara yang ditempuh oleh para perampok. Yang datang itu tidak pula menebarkan sirep dan berusaha membantai setiap orang yang ada didalam lingkungan itu. Tetapi kehadiran pasukan itu telah didahului dengan peringatan.

Namun para pemimpin dari Song Lawa itu ternyata berpendirian lain. Mereka tidak akan membiarkan tempat itu dimasuki oleh kekuatan dari manapun juga.

Karena itu, dengan mempergunakan beberapa buah tangga, maka para pemimpin lingkungan itu telah memanjat dinding disebelah regol dilapisan luar, sementara beberapa orang yang lain telah siap di regol dilapisan dalam. Jika orang-orang yang mengaku prajurit Pajang itu memaksa memecahkan regol pertama, maka mereka akan dengan segera menutup regol kedua dan bersiap bertempur didepan regol demikian para prajurit itu mendesak masuk. Sementara yang lain akan menunggu Jika para prajurit dari arah yang lain akan masuk meloncat dinding.

Namun para petugas yang berada di belakang dinding itu tidak akan menunggu para prajurit itu begitu saja berloncatan masuk. Beberapa orang diantara mereka telah bersiap diatas gigi tangga atau landasan dan alas apapun sambil membawa busur dan anak panah. Mereka akan menyambut para prajurit yang meloncati dinding pertama dengan anak panah dari dalam dinding lapisan dalam.

Karena beberapa lama tidak terjadi gerakan yang meyakinkan para prajurit, maka terdengar kembali suara diluar " Aku perintahkan untuk yang kedua kalinya. Menyerahkan dengan tertib agar tidak terjadi benturan kekerasan yang tidak akan berarti, karena benturan yang demikian banyak akan merugikan kedua belah pihak. Korbanpun akan berjatuhan. Padahal kita dapat menghin darinya jika kita sempat berpikir. "

Dalam pada itu, pemimpin di tempat perjudian itu telah berteriak puia " Kami tidak mengenal kalian, karena itu, kami tidak yakin bahwa kalian adalah prajurit Pajang.

Senapati prajurit Pajang yang memimpin pasukannya itupun termangu-mangu sejenak. Namun dalam keremangan pagi iapun telah melihat beberapa kepala yang tersembul disebelah regol lingkungan yang tertutup itu.

Sambil mengangkat sebuah tunggul dengan kalebet pertanda kuasa Pajang, maka Senapati itu berkata " Lihatlah. Aku membawa tunggul ini. Tunggul yang menjadi lambang kekuasaan Pajang. Karena itu, maka menyerahlah. "

" Setiap orang dapat membuat tunggul yang bagaimanapun ujud dan bentuknya " jawab pemimpin Song Lawa itu,Tetapi prajurit itupun berkata " Ada dua pertanda kebesaran Pajang yang kami bawa. Yang pertama adalah tunggul dan kelebet itu. Yang kedua, jika tunggul itu tidak diakui, maka pertanda kebesaran Pajang adalah kekuatan pasukan kami. Kami telah membawa pasukan segelar sepapan. Kami sudah siap menerima kalian yang menyerah dan membawa kalian dengan baik-baik ke Pajang untuk diadili, tetapi juga siap menghancurkan kalian jika kalian menolak uluran tangan kami. "

" Persetan " geram pemimpin Song Lawa itu " Kembalilah ke Pajang. Laporkan kepada Sultan Hadiwijaya, bahwa Pajang tidak berhak bertindak atas kami di lereng Gunung ini. "

" Kami memberikan perintah untuk ketiga kalinya. Kali ini terakhir. Menyerahlah. Kami akan memperlakukan kalian dengan baik. "

" Tidak " teriak pemimpin Song Lawa itu " kami cukup kuat untuk melawan kalian. "

Jawaban atas perintah terakhir dari Senapati pasukan Pajang itupun cukup jelas. Karena itu, maka Senapati itupun berkata " Baiklah. Kalian telah menolak niat baik kami untuk membawa kalian tanpa kekerasan. Kami tidak akan memberikan peringatan lagi. Tetapi sebentar lagi kami akan bertindak sesuai dengan tugas keprajuritan kami. Tempat perjudian dengan segala akibat buruknya ini memang sudah waktunya untuk dimusnakan. "

Pemimpin tempat perjudian Song Lawa itupun telah memberikan isyarat pula kepada orang-orangnya. Mereka harus bersiaga untuk bertempur. Bagaimanapun juga, tidak sepantasnya mereka menjadi tawanan dan digiring ke Pajang dan bahkan mungkin dengan tangan terikat.

Dalam pada itu,-maka orang-orang yang sedang berjudi di Song Lawa itupun telah bersiap pula. Kemenangan mereka atas segerombolan perampok membuat mereka yakin, bahwa mereka akan dapat mengatasi keadaan pula. Apalagi saat itu tidak seorangpun yang tidak ikut serta karena tidak ada ilmu sirep yang mempengaruhi mereka sehingga sebagian dari mereka tertidur nyenyak.

Sementara itu, orang-orang itupun merasa bahwa mereka tidak pantas untuk dihinakan oleh pasukan yang mengaku para prajurit Pajang itu. Jika mereka tertangkap, maka mereka tentu akan dibawa pula ke Pajang sebagai penjudi-penjudi yang telah merusak sendi-sendi kehidupan.

Dalam pada itu prajurit Pajangpun telah kehilangan kesabaran. Sementara kemelut yang terjadi di Pajang sendiri karena sikap Ki Gede Pemanahan, maka laporan-laporan mengenai tempat perjudian itu benar-benar membuat para pemimpin Pajang marah.

Karena itu, maka tidak ada pilihan lain dari para prajurit Pajang itu daripada menghancurkan tempat perjudian itu.

Demikianlah, maka sejenak kemudian telah terdengar lagi suara bende. Tetapi dengan irama yang lain. Irama yang lebih cepat dan masih tetap datar.

Didalam lingkungan tempat perjudian itu, orang-orangpun telah bersiaga pula. Sebagaimana para petugas yang bertubuh raksasa, maka orang-orang yang kebetulan berada di tempat perjudian itu, yang jumlahnya cukup banyak, telah bersiap pula. Mereka memang memilih bertempur daripada menyerah dan dibawa dalam iring-iringan disepanjang jalan menuju ke Pajang. Mereka tentu akan menjadi tontonan orang-orang padukuhan yang mereka lewati, sementara itu, mereka adalah orang-orang yang disegani. Bahkan sebagian dari mereka adalah orang-orang yang telah mendapat gelar yang cukup menggetarkan jantung, sebagaimana Orang Hutan berkepala Besi. Yang lain pernah disebut Sikatan Putih, Ular Bermata Berlian dan ada pula orang-orang yang datang dari gerombolan Macan Ireng.

Dalam pada itu, para prajurit Mataram benar-benar telah bertindak dengan sikap sepasukan prajurit yang mantap. Senapati yang memimpin pasukan itu tidak dengan tergesa-gesa memberikan aba-aba. Tetapi dengan penuh wibawa, Senapati itu telah memberikan isyarat kepada pasukannya.

Para pemimpin kelompok mengenal dengan pasti isyarat yang diberikan oleh Senapatinya. Sehingga karena itu, maka merekapun telah bergerak dengan rampak, namun cepat.

Prajurit Pajang itu telah menebar. Meskipun mereka tidak mengelilingi tempat perjudian itu dengan kekuatan yang merata, namun pasukan Pajang telah benar-benar mengepung tempat itu. Sesuai dengan perintah Senapatinya, maka semua orang harus tertangkap. Tidak seorangpun yang boleh lolos. Mereka akan dibawa dan dihadapkan kepada para petugas yang berwenang untuk mengadili mereka. Baik mereka yang datang untuk melakukan perjudian, maupun mereka yang telah menyelenggarakan tempat perjudian itu.

Didepan regol Senapati Pajang itupun kemudian berdiri tegak memandang pintu gerbang yang tertutup rapat itu. Pintu gerbang di lapis pertama. Beberapa orang terpilih berdiri disebelah-menyebelah. Agaknya Senapati Pajang yang telah mendapat beberapa keterangan tentang orang-orang berilmu tinggi yang ada di tempat  itu telah membawa pula beberapa orang perwira terpilih, sehingga mereka akan dapat mengatasinya jika mereka benar-benar harus berhadapan dengan orang-orang berilmu tinggi itu. Meskipun mereka tidak akan dapat menghadapi seorang dengan seorang, namun sekelompok orang terpilih itu, tentu akan dapat mengatasi orang-orang berilmu tinggi yang ada didalam lingkungan perjudian yang disebut Song Lawa itu.

Menurut pengamatan Senapati yang memimpin pasukan Pajang itu, serta laporan-laporan sebelumnya, maka pintu gerbang dilapis pertama itu, bukannya pintu gerbang yang cukup kuat sebagaimana pintu gerbang sebuah benteng pasukan yang memang dipersiapkan untuk kepentingan prajurit.

Karena itu, maka Senapati itupun telah memerintahkan beberapa orang prajurit untuk memecahkan pintu gerbang itu, sementara sekelompok prajurit yang lain siap melindunginya dengan busur dan anak panah yang siap pula diluncurkan.

Beberapa orang telah mendekati pintu itu dengan membawa kapak. Mereka tidak berusaha memecah pintu dengan sebuah balok yang besar yang diangkat oleh sekelompok orang dan dengan ancang-ancang yang panjang menerjang pintu gerbang itu sehingga pecah.

Tetapi menurut perhitungan Senapati itu serta para perwiranya, maka dengan kapak mereka akan dapat merusak pintu itu dan kemudian dalam kesatuan pasukan yang utuh memasuki lingkungan itu setelah dengan cara yang sama merusak pintu gerbang kedua.

Sebenarnyalah, pintu gerbang itu bukan pintu yang terlalu kuat. Dengan kapak maka para prajurit telah memotong tali-tali pengikat balok-balok kayu yang dipergunakan sebagai pintu itu. Dengan demikian maka ikatan balok-balok kayu itu menjadi longgar dan dengan ayunan-ayunan kapak yang kuat, maka satu-satu balok-balok kayu itu pecah sehingga akhirnya beberapa balokpun telah terserak.

Namun orang-orang yang berada didalam pintu gerbang itu tidak membiarkan semua itu terjadi tanpa hambatan. Ketika satu dua balok kayu telah terlepas, maka lewat lubang-lubang yang terjadi pada pintu itu, maka orang-orang yang berada didalampun telah meluncurkan anak-anak panah.

Mula-mula memang mengejutkan. Tetapi para prajurit itu dengan cepat dapat menempatkan dirinya sehingga anak-anak panah itu tidak mengenai mereka, sementara mereka masih saja terus merusak pintu gerbang.

Para petugas di Song Lawa itu memang tidak akan mempertahankan pintu gerbang dilapis pertama itu.

Namun merekapun segera bergerak meninggalkan pintu gerbang itu dan berlindung dibalik pintu gerbang di lapis kedua.

Sementara itu, disebelah-menyebelah pintu gerbang, beberapa orang yang memanjat tangga yang sudah dipersiapkan telah siap menyerang setiap prajurit yang memasuki pintu gerbang itu dengan anak panah dan lembing.

Tetapi prajurit Pajang cukup berpengalaman. Karena itu, maka ketika pintu gerbang pertama itu pecah, maka yang mula-mula berada di pintu itu adalah pasukan yang melindungi diri mereka dengan perisai.

Sambil mengangkat perisai maka pasukan itu berderap maju dalam kesatuan yang utuh. Namun yang kemudian telah menebar kesebelah menyebelah. Sementara itu, maka sekelompok prajurit yang lain justru telah menyerang orang-orang yang berada di tangga disebelah menyebelah regol itu dengan anak panah pula.

Akhirnya orang-orang di Song Lawa itu tidak berusaha mempertahankan pintu gerbang mereka, karena mereka menyadari, bahwa hal itu tidak mungkin dilakukannya. Namun mereka akan lebih yakin untuk bertempur dengan para prajurit itu langsung dengan senjata pendek. Para petugas itu sadar, bahwa selain mereka, orang-orang yang berada di Song Lawa yang jumlahnya cukup banyak itu tentu memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan para prajurit itu.

Karena itu, ketika para prajurit Pajang merusak regol di lapisan kedua, maka para petugas di Song Lawa serta sekelompok orang yang berada di Song Lawa itu telah bersiap untuk menyambut mereka. Ternyata jumlah merekapun cukup banyak, sementara sebagian diantara mereka yang tersebar telah ditarik pula kepintu gerbang, karena menurut perhitungan mereka, para prajurit yang mengepung lingkunan perjudian Song Lawa itu tidak akan masuk dengan memanjat dinding. Mereka hanya sekedar mengepung tempat itu, sementara pasukan induknya akan memasuki lingkungan itu lewat pintu gerbang.

Dengan cara yang sama, maka para prajurit Pajang itupun telah merusak pintu gerbang dilapis yang dalam. Memang pintu gerbang itu lebih kuat dari pintu gerbang yang pertama. Tetapi dengan memutuskan tali-tali pengikat yang kuat, serta memotong palang-palang penguatnya, maka pintu gerbang itupun telah dirusakkannya.

Sementara itu pasukan indukpun telah bersiap. Demikian pintu gerbang itu pecah, maka pasukan Pajang yang kuat itupun telah menghambur memasuki pintu gerbang. Yang dipaling depan adalah prajurit dari pasukan khusus yang terpilih. Mereka bersenjata pedang dan perisai. Dengan menyusun perisai mereka rapat dihadapkan pasukan terpilih itu, maka pasukan Pajang itupun telah menembus masuk kedalam lingkungan Song Lawa.

Ketika pasukan berperisai itu kemudian mekar, maka pasukan yang lain ternyata telah berada di dalam pintu gerbang pula. Dalam tatanan yang mapan, kelompok demi kelompok pasukan itu menebar.

Para petugas di Song Lawa memang terpesona sekilas melihat pasukan yang datang itu. Namun tiba-tiba pemimpin mereka berteriak " Hancurkan mereka. Yang datang adalah pasukan yang hanya pantas melakukan pameran ketangkasan berbaris di alun-alun Pajang. Tetapi mereka tidak akan memiliki kemampuan tempur secara pribadi sebagaimana kita. Uraikan barisan itu dan bunuh mereka seorang demi seorang. Lepas dari barisan, mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa. "

Para prajurit Pajang sama sekali tidak menyahut. Yang terdengar kemudian adalah sorak para petugas di Song Lawa itu disusul teriakan-teriakan yang menggetarkan jantung. Ternyata beberapa orang yang sedang ikut dalam perjudian di Song Lawa itupun telah menyerang dengan kasar sambil berteriak-teriak pula.

Demikianlah, sejenak kemudian, maka telah terjadi pertempuran yang seru antara para prajurit Pajang dengan orang-orang yang berada di Song Lawa. Orang-orang dengan kemampuan yang berbeda-beda atas alas ilmu yang berbeda-beda pula. Namun mereka bersama-sama berusaha mempertahankan diri agar mereka tidak dibawa sebagai tawanan yang terikat oleh pasukan itu. Yang akan dapat menjadi tontonan disepanjang jalan yang panjang.

Namun ternyata orang-orang yang ada di lingkungan perjudian Song Lawa itu terkejut ketika benturan benar-benar telah terjadi. Tidak yang seperti mereka duga, bahwa para prajurit Pajang itu tidak memiliki landasan ilmu yang kuat secara pribadi. Ternyata ketika para prajurit itu menebar, maka merekapun mampu bertempur dengan garangnya.

Namun sebagaimana perintah yang mereka terima sebelum mereka memasuki Song Lawa, maka setiap prajurit mendapat perintah untuk tetap berada dalam pasangan-pasangan yang terdiri dari dua atau tiga orang.

" Jumlah kita cukup banyak " berkata Senapati prajurit Pajang " harus diakui, bahwa dasar kemampuan kita berbeda dengan dasar kemampuan orang-orang yang berada di lingkungan Song Lawa. Namun kita. bukannya tidak terlatih untuk mengatasi orang-orang tersebut. Pengalaman di medan perang yang berat serta latihan-latihan yang lengkap telah membekali kita. Kita tidak akan menjadi bingung karenanya. "

Pesan itulah yang mendasari setiap gerak para prajurit Pajang. Sehingga dengan demikian, maka pasukan itu dalam keseluruhannya memang nampak besar dan sangat kuat.

Dalam pada itu, tiba-tiba saja diantara teriakan-teriakan orang-orang yang ada di Song Lawa terdengar seseorang berteriak " He, Wanengbaya dan Wanengpati. Satu kesempatan untuk bermain-main. Dimana orang-orang dari Macan Ireng itu atau perempuan-perempuan garang yang selama ini hilir mudik di arena perjudian ini? -

Beberapa orang berpaling ke arah suara itu. Ternyata yang berteriak itu adalah orang yang berkepala botak. Kepala Besi. Ternyata bahwa Kepala Besi memang seorang yang sangat garang. Bersama beberapa orang kawannya, iapun telah mengamuk di antara prajurit Pajang yang terkejut melihat kehadirannya.

Namun seorang perwira yang melihatnya, segera menyadari, bahwa itu adalah tugasnya. Tetapi seperti pesan yang diterimanya pula, bahwa ia tidak akan bertempur seorang diri.

Demikianlah maka sejenak kemudian, suara senjatapun telah berdentangan. Pedang, tombak, bindi dan segala macam jenis senjata yang dibawa oleh para penjudi di Song Lawa itu. Bahkan ada yang membawa segulung rantai dengan bandul besi yang besarnya lebih dari sekepal tangan.

Namun para prajurit Pajang adalah prajurit yang terlatih dan memiliki pengalaman yang luas. Karena itu, maka merekapun segera menyesuaikan diri dengan kekerasan dan kekasaran lawan-lawan mereka.

Perlahan-lahan prajurit Pajang itu bergerak menebar keseluruh lingkungan. Ternyata jumlah mereka memang cukup banyak, sehingga rasa-rasanya pasukan itu mengalir tidak habis-habisnya.

Dua orang perwira yang bertempur melawan Kepala Besi ternyata masih juga mengalami kesulitan. Kepala Besi itu agaknya memiliki kemampuan yang tidak terduga. Dengan tangkasnya Kepala Besi berloncatan. Tangannya yang kuat ternyata telah menggenggam senjata. Ia tidak dapat sekedar mempercayakan kekuatannya pada kepalanya, karena ia harus bertempur melawan sepasukan prajurit yang bersenjata, sementara itu, kulitnya bukannya kebal terhadap segala macam senjata.

Namun ayunan senjatanya benar-benar telah mendebarkan jantung lawan-lawan-nya. Meskipun para prajurit Pajang itu cukup berpengalaman, namun mereka telah membentur kekuatan yang benar-benar tinggi.

Disamping Kepala Besi itu, masih ada beberapa orang yang membuat para prajurit Pajang berdebar-debar. Bahkan seorang perempuan telah bertempur dengan tangkasnya. Dengan pedang ditangan, maka iapun telah berloncatan seperti seekor burung sikatan menyambar bilalang. Sementara seorang perempuan yang lain, yang bertubuh agak gemuk, justru membawa senjata yang aneh. Senjata yang tidak biasa dipergunakan oleh seorang perempuan. Justru dua potong besi yang dipegangnya di kedua belah tangannya.

Di bawah sebatang pohon di pinggir lapangan panahan, seorang anak muda bertempur dengan garangnya diantara orang-orang yang bertubuh raksasa. Sementara orang-orang lain yang sedang berjudi di lingkungan Song Lawapun bertempur pula dengan sengitnya.

Dengan demikian maka pertempuran yang terjadi di lingkungan perjudian Song Lawa itupun menjadi semakin sengit.

Ternyata bahwa kehadiran beberapa orang dimalam terakhir menjelang sergapan pasukan Pajang di Pagi hari itu, tidak diketahui lebih dahulu oleh para prajurit Pajang. Kedatangan mereka yang tiba-tiba justru disaat terakhir memang telah meningkatkan kemampuan kekuatan Song Lawa. Sementara hal itu tidak sempat disampaikan oleh para petugas sandi Pajang yang berada di lingkungan Song Lawa itu.

Senapati Pajang yang memimpin pasukan yang menyerbu Song Lawa itu sempat memperhatikan keadaan. Pasukannya memang lebih besar dari para penghuni yang berada di Song Lawa. Namun ketika ia sempat memperhatikan orang-orang yang sedang bertempur itu, maka iapun sempat menjadi berdebar-debar. Ternyata bahwa orang-orang yang sedang berada di Song Lawa beserta para petugasnya, telah bertempur dengan kekuatan yang cukup mendebarkan jantung.

Beberapa saat kemudian pertempuran itupun telah merata hampir diseluruh lingkungan Song Lawa. Bahkan beberapa orang prajurit telah menyusup memasuki barak permainan dadu. Sementara yang lain bertempur di arena sabung ayam. Sedangkan kedai yang ada di Song Lawa itupun telah berserakan. Lincak bambu dan amben-amben telah berpatahan. Paga dan gledegpun telah pecah berkeping-keping.

Beberapa orang penjudi yang berhati kecil menganggap bahwa di Song Lawa itu seolah-olah memang sudah terjadi kiamat. Namun sebagian terbesar diantara mereka yang telah dengan sengaja memasuki lingkungan perjudian itu, adalah memang orang-orang yang berhati baja.

Bahkan anak-anak muda yang ada didalam lingkungan Song Lawa itupun pada umumnya telah merasa memiliki bekal yang kuati sementara mereka masih juga membawa beberapa orang pengawal.

Karena itulah maka prajurit Pajang memang menghadapi tugas yang berat.

Dalam pertempuran yang riuh itu, Kiai Windu dan ketiga orang kawannya berdiri termangu-mangu. Mereka memang melihat Wanengbaya dan Wanengpati sekilas. Namun kemudian rasa-rasanya kedua orang itu telah menghilang.

" Dimana mereka? " bertanya Kiai Windu.

Kawan-kawannya menggelengkan kepalanya. Seorang diantara mereka menjawab " Mereka bergeser kearah lapangan panahan. "

" Keduanya adalah orang-orang berilmu tinggi. Melampaui Kepala Besi itu. Jika Kepala Besi dan beberapa orang yang lain telah merepotkan para prajurit Pajang, tentu keduanya merupakan lawan yang lebih berat lagi. " berkata Kiai Windu. Namun kemudian katanya " Aku harus menjumpai mereka. "

Kiai Windu dan kawan-kawannya kemudian menyusup diantara pertempuran yang semakin sengit. Namun ternyata mereka tidak mengalami gangguan sama sekali. Seakan-akan kedua belah pihak yang bertempur itu tidak menganggap mereka sebagai lawan dari pihak yang manapun juga.

Sebenarnyalah mereka sempat melihat Wanengbaya yang sedang bertempur. Kiai Windulah yang kemudian mendekatinya sambil berdesis " Wanengbaya, tinggalkan lawanmu. Aku ingin berbicara sebentar. "

Wanengbaya tidak meninggalkan lawannya. Ia masih saja bertempur melawan seorang prajurit.

Mula-mula Kiai Windu memang berusaha memanggilnya. Tetapi kemudian iapun melihat sesuatu yang menarik. Nampaknya Wanengbaya tidak bersungguh-sungguh. Ia bertempur dalam keseimbangan dengan seorang prajurit yang seharusnya dapat dihancurkannya sengan cepat.

" Orang ini memang membingungkan " berkata Kiai Windu kepada kawan-kawannya.

Namun dalam pada itu, Kiai Windu terkejut. Justru Wanengpatilah yang menggamitnya sambil berkata " Apakah tali berwarna putih dilehermu itu satu pertanda? Wajah Kiai Windu menjadi tegang. Sebenarnyalah ia mengenakan tali putih yang melingkari lehernya sebagaimana ketiga orang kawannya.

" Kau yang sudah lama menjadi penghuni di lingkungan ini serta tali putih dilehermu, membuat kau tidak harus membela diri terhadap siapapun sekarang ini. Kehadiran para perampok beberapa saat yang lalu telah meyakinkan orang-orang yang berada ditempai ini, bahwa kau adalah kawan yang baik bagi para penghuni Song Lawa. Sehingga dengan demikian, maka mereka tidak akan mencurigaimu sama sekali. Sementara itu, dengan kalung putihmu, maka kau telah mengenakan pertanda tentang kenyataan dirimu sebagai petugas sandi dari Pajang. "

Wajah Kiai Windu menjadi tegang. Wanengbaya dan Wanengpati bukan saja orang-orang berilmu tinggi, tetapi merekapun mempunyai ketajaman penglihatan tentang dirinya dan kawan-kawannya. Wanengpati ternyata dapat menduga, apakah yang telah dilakukan nya di Song Lawa sehingga karena itu, maka dengan pasti Wanengpati telah menyebut tentang tali putih dilehernya. Sedangkan Kiai Windu tahu pasti kelebihan Wanengbaya dan Wanengpati, sehingga jika keduanya tetap berpihak kepada orang-orang Song Lawa dan berniat untuk melawannya bersama kawan-kawannya, maka ia tidak akan mampu mengatasinya.

Tetapi dalam keragu-raguan itu Wanengpati tiba-tiba saja berkata " Kiai Windu, atau siapa saja sebenarnya namamu. Baiklah kita berjanji, bahwa kita tidak akan saling mengganggu, apapun yang kita lakukan masing-masing. Aku tidak akan mengganggumu dengan petugas sandi dan tugas-tugasmu yang lain, sementara aku minta kau tidak mengganggu apa yang akan kami lakukan berdua. Aku dan Wanengbaya. "

Kiai Windu masih termangu-mangu. Namun Wanengpati itu mendesak " Ambil keputusan, atau kita akan bertempur. "

Kiai Windu menarik nafas dalam-dalam. Katanya " Ki Sanak. Hubungan kita selama ini sangat baik. Karena itu, maka sebaiknya kita akan memakai alasan lain, kenapa kita tidak akan bertempur. Jangan mengancam seperti itu. Aku memang seorang prajurit. Jika ancamanmu itu kau anggap sebagai satu-satunya alasan kenapa aku setuju atau terpaksa setuju, aku tidak mau menerimanya. Seorang prajurit tidak akan surut karena bayangan kematian sekalipun. Tetapi jika kau mempergunakan alasan yang lain, agaknya aku tidak berkeberatan. "

Terasa sentuhan lembut dihati Jati Wulung. Kiai Windu memang seorang prajurit. Bagaimanapun juga ia tentu akan mempertahankan martabatnya sebagai seorang prajurit yang baik. Karena itu maka Wanengpati itupun berkata " Maaf Kiai. Dalam keadaan kalut ini pikirankupun ikut kalut .Baiklah. Keadaan ini jangan merusak hubungan baik kita selama ini. Aku mohon Kiai mengerti apa yang kami lakukan sebagaimana kamu juga mengerti apa yang Kiai lakukan sekarang ini. "

Kiai Windu mengangguk-angguk kecil. Lalu katanya " Aku mengerti. "

" Jika demikian, sebaiknya kita mengambil jalan kita masing-masing. " berkata Wanengpati kemudian. Kiai Windu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata " Kita akan berpisah. Aku tidak tahu, apakah kita masih akan bertemu lagi. Kita masing-masing sadar, bahwa perkenalan kita selama ini telah dibayangi oleh kecurigaan dan ragu, sehingga kita masing-masing tidak mempergunakan nama kita yang sebenarnya. Karena itu, maka setelah kita keluar dari tempat ini, maka kita tidak akan dengan mudah untuk berhubungan lagi, kecuali jika secara kebetulan kita bertemu. " Wanengpati mengangguk-angguk. Katanya " Mudah-mudahan kita dapat bertemu lagi. "

Kiai Windu tidak menjawab. Namun iapun kemudian telah meninggalkan Wanengpati yang termangu-mangu. Dengan sengaja Kiai Windu telah menyusup didekat Wanengbaya yang sedang bertempur. Katanya " Wanengpati telah mengatakan segala-segalanya. "

Wanengbaya yang bertempur dengan sebagian saja dari kemampuannya masih sempat mengangguk sambil menjawab " Kita akan mengambil sikap kita sendiri-sendiri. "

" Aku mengerti " berkata Kiai Windu.

Wanengbaya yang bertempur melawan seorang prajurit Pajang mengangguk. Namun Kiai Windupun kemudian telah meninggalkannya. Bahkan Kiai Windupun kemudian telah menyusup dan hilang diantara para prajurit Pajang. Tali putih dilehernyalah yang telah memberikan pertanda, bahwajia adalah petugas sandi prajurit Pajang yang memang bertugas di SongjLawa untukj beberapa musim perjudian, untuk mematangkan rencana Pajang, menghancurkan Song Lawa yang merupakan tempat yang untuk waktu qukup lama tidak terjangkau oleh pangeran.

Dalam pada itu, pertempuranpun telah menjadi semakin seru.J Bagaimanapun juga prajurit Pajang telah menunjukkan kebesarannya sebagai pasukan yang telah masak. Meskipun di Song Lawa itu terdapat beberapa orang berilmu tinggi, namun dengan kemampuan sepasukan prajurit yang mendapat kepercayaan untuk menghancurkan tempat yang penuh dengan kemaksiatan itu, maka perlahan-lahan merekapun mulai mendesak.

Dalam pertempuran itu, ternyata Wanengbaya dan Wanengpati tidak dapat berbuat sebagaimana diharapkan oleh orang-orang di Song Lawa. Namun keduanya agaknya telah bertempur di arena yang sangat luas. Keduanya bagaikan burung layang-layang yang terbang dari satu arena ke arena yang lain menyusuri medan yang panjang. Berbeda dengan Kepala Besi yang bertempur dengan mapan dan benar-benar membuat para perwira dari Pajang menjadi semakin berhati-hati menghadapinya.

Beberapa orang petugas di Song Lawa memang heran melihat cara yang dipergunakan oleh Wanengbaya dan Wanengpati. Meskipun sekali-sekali keduanya juga bertempur dengan mendesak lawan-lawan mereka. Namun keduanya nampaknya menjadi sangat gelisah menghadapi keadaan itu.

Namun akhirnya Wanengbaya dan Wanengpati itupun terhenti juga. Ketika keduanya melihat Puguh yang sedang bertempur melawan prajurit Pajang yang mendesaknya. Dua orang prajurit Pajang telah berusaha untuk melumpuhkannya, sementara para pengawalnya tidak mampu melindunginya karena merekapun harus bertempur pula melawan prajurit-prajurit Pajang itu.

" Apa yang akan kita lakukan? " bertanya Jati Wulung.

" Kita selamatkan anak itu " berkata Sambi Wulung.

" Bukankah kita tidak perlu mengambil langkah-langkah penyelamatan. Jika anak itu hancur di peperangan, itu berarti bahwa Risang telah menyelesaikan salah satu tugasnya tanpa harus berbuat sesuatu. " sahut Jati wulung.

" Jika kita tidak menyelamatkannya, kita tidak tahu apa yang terjadi atasnya. Jika ia tidak terbunuh, tetapi tertangkap oleh para prajurit Pajang, kemudian menjalani hukuman, maka pada suatu saat ia akan dibebaskan. sementara itu kita akan kehilangan   semua jejaknya.

Bahkan ketika ia menjalani hukumannya, dendam diliatinya juga dihati ibunya akan bertambah menyala, sehingga Risang akan dapat menjadi sasaran tumpahan dendamnya. " jawab Sambi Wulung " tetapi jika kita menyelamatkannya, mungkin kita dapat mengetahui dimanakah tempat tinggalnya atau barangkali padepokannya atau tempat macam apa saja karena Puguh akan dapat tinggal disembarang tempat. Bahkan di goa-goa sekalipun tempat orang tuanya menyembunyikan harta benda rampasan mereka. "

Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya " Baiklah. Kita akan berusaha untuk mengambil hatinya dan mendapat sedikit kepercayaan daripadanya. Sementara itu Wanengbaya dan Wanengpati tidak dapat berbincang lebih lama lagi. Ketika keduanya melihat Puguh menjadi semakin sulit melawan dua orang prajurit Pajang yang berpengalaman luas, maka keduanya segera mendekati remaja itu.

Mula-mula keduanya memasuki arena disebelah menyebelah Puguh yang terdesak. Namun dengan kemampuan yang ada pada keduanya, maka mereka berhasil mendesak dan menjadi semakin dekat dengan Puguh.

Akhirnya Puguh yang mengalami kesulitan itu melihat juga Wanengbaya dan Wanengpati. Bahkan keduanya tidak banyak mengalami kesulitan untuk mengusir lawan-lawan mereka.

" Bertahanlah " berkata Wanengbaya lantang " aku segera datang "

Puguh tidak menjawab. Tetapi ternyata Sambi Wulung datang tepat pada waktunya. Sambi Wulung sempat menangkis pedang yang terjulur kearah punggung anak muda itu selagi Puguh menangkis serangan lawannya yang seorang lagi.

Demikian kerasnya ayunan senjata Sambi Wulung, maka pedang prajurit Pajang yang hampir saja menyentuh punggung Puguh itupun terlempar jatuh.

" Terima kasih " desis Puguh.

Sambi Wulung tidak menjawab. Namun kemudian bersama Jati Wulung keduanya telah bertempur disebelah menyebelah anak muda itu.

Ketika kemudian pertempuran menjadi semakin sengit dan pasukan Pajang semakin mendesak disegala medan di lingkungan perjudian Song Lawa itu maka Sambi Wulungpun berdesis " Kita rrieninggalkan neraka ini. Bagaimanapun juga kita mempertahankannya, namun kita tidak akan mampu melakukannya. Prajurit Pajang terlampau kuat. Bukan secara pribadi, tetapi dalam keseluruhan. Mereka memiliki pengetahuan medan dan pengalaman yang sangat luas. "

Puguh tidak serapat berpikir. Katanya " Baik. Tetapi apakah itu mungkin dilakukannya? "

" Kenapa tidak? " justru Sambi Wulunglah yang bertanya.

" Lingkungan ini sudah dikepung "    desis Puguh.

" Kita akan mencoba. " jawab Sambi Wulung.

Demikianlah, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung yang melindungi Puguh itupun telah bergeser dari tempat mereka bertempur. Mereka telah mendekati dinding lingkungan itu untuk kemudian berusaha meloncatinya " Kita akan keluar. "

" Apakah kita akan mampu menembus kepungan prajurit Pajang diluar? " Puguh masih selalu ragu-ragu.

" Kita akan mencoba. Tanpa. berusaha kita tidak akan dapat berbuat apa-apa. " sahut Sambi Wulung. Lalu katanya " Jika dengan demikian kita akan mati, itu tentu satu akibat yang mungkin saja dapat terjadi. "

Puguh memang bukan seorang pengecut. Iapun kemudian telah bergeser semakin dekat dengan dinding lingkungan perjudian itu. Wanengpati " berkata Sambi Wulung " lindungi kami. Kami akan meloncat. Kemudian kau cepat menyusulnya. "

Jati Wulung tidak menyahut. Namun ia telah mengetrapkan segenap kemampuan ilmunya untuk mencegah para prajurit Pajang menyerang Puguh yang berusaha untuk meloncati dinding bersama dengan Sambi Wulung.

Dengan kemampuan seorang berilmu tinggi, yang tidak mendasarkan kekuatan dan kemampuannya sekedar pada ketrampilan wadagnya, Jati Wulung berhasil menahan para prajurit Pajang yang ingin menghalangi niat Puguh dan Jati Wulung. Bahkan demikian keduanya hilang dibalik dinding, Jati Wulungpun bagaikan terbang telah hinggap pula diatas dinding.

Sebuah tombak memang menyambarnya. Namun Jati Wulung masih sempat mengelak. Dan sekejap kemudian, maka iapun telah hilang dibalik dinding dilapis kedua. Ketiga orang itupun kemudian telah berlari menuju ke dinding di lapis pertama. Namun dari celah-celah dinding kayu mereka dapat mengintip, bahwa diluar dinding di lapis pertama, nampak beberapa orang prajurit yang berjaga-jaga. Prajurit yang mendapat tugas untuk mencegah siapapun yang akan melarikan diri dari lingkungan Song Lawa.

Sambi Wulung dan Jati Wulung termangu-mangu sejenak. Demikian pula Puguh. Bahkan Puguhpun berdesis " Jika saja aku sempat membawa kawan-kawanku. "

" Sulit untuk melepaskan mereka semuanya dari medan. Tetapi apakah kawan-kawanmu akan dapat mengungkapkan sesuatu yang bersifat rahasia dari padamu. Apakah mungkin para pengawalmu akan memberitahukan bahwa ka u melarikan diri dan menunjukkan tempat tinggalmu sehingga memungkinkan kau ditangkap oleh Prajurit Pajang yang dikirim khusus kepadamu? " bertanya Sambi Wulung.

" Aku tidak yakin " jawab Puguh " tetapi agaknya jika mereka tertangkap hidup, mereka tidak akan banyak dapat berceritera tentang aku. Mereka adalah orang-orang yang setia kepada lingkungan hidup mereka dibawah pimpinan orang tuaku. Tetapi aku tidak begitu sesuai dengan mereka. "

" Bagaimana jika mereka dipaksa untuk menunjukkan tempat tinggal orang tuamu dan dengan sendirinya kau akan tertangkap pula karenanya " berkata Jati Wulung.

" Mereka adalah lapisan terbawah dari lingkunganku. Mereka terpisah beberapa lapis, sehingga apa yang mereka ketahui tentang aku terlampau sedikit. Juga tentang orang tuaku betapapun mereka setia menjadi pengikutnya. " berkata Puguh.

" Baiklah " berkata Sambi Wulung " jika demikian, maka kita tidak akan cemas bahwa mereka akan dapat membuka rahasiamu dan orang tuamu. Terutama tempat tinggalmu yang sebenarnya. Karena itu maka marilah, kita akan melarikan diri. "

Puguh memang masih ragu-ragu. Bahkan ia ragu-ragu tentang para pengikutnya. Apakah mereka akan dapat membuka rahasianya jika mereka tertangkap.

Tetapi seperti yang sudah dikatakan, pengikut-pengikut orang tuanya telah disusun berlapis-lapis. Yang dibawanya ke Song Lawa justru bukan orang-orang terdekat meskipun mereka adalah orang-orang terpilih dari salah satu lingkungan kecil dibawah pimpinan seorang kepercayaan orang tuanya, yang menjadi penyekat antara lapisan-lapisan itu.

" Kita tidak sempat berpikir terlalu lama " berkata Sambi Wulung.

" Ya. Marilah " sahut Puguh kemudian.

Demikianlah, maka ketiga orang itupun telah mengambil ancang-ancang. Mereka harus meloncati dinding dan menembus penjagaan diluar dinding yang agaknya memang tidak terlalu kokoh, karena sebagian terbesar pasukan Pajang telah ditarik memasuki lingkungan Song Lawa yang ternyata cukup kuat untuk bertahan.

Tetapi tanpa Sambi Wulung dan Jati Wulung yang diperhitungkan akan mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi keseimbangan pertempuran, ternyata isi dari lingkungan Song Lawa telah benar-benar kehilangan kekuatan yang menentukan.

Sesaat kemudian, maka ketiga orang itu telah meloncat dan hinggap sejenak diatas dinding. Kemudian melayang turun dan dengan cepat menuju ke bagian dari lingkaran yang nampak terlalu tipis di luar dinding dilapis pertama itu.

Prajurit Pajang memang agak lengah. Mereka tidak menduga, bahwa tiga orang dengan demikian cepatnya telah berusaha menembus kepungan. Karena itu, memang ada beberapa langkah tempat yang terbuka.

Namun yang menganga itupun dengan cepat telah terkatub pula. Tiga orang prajurit dengan sangat tergesa-gesa telah siap mencegat ketiga orang yang berusaha melarikan diri itu, sementara beberapa orang kawannya yang lain berlari-lari menuju ke titik yang lemah itu.

Dengan tangkasnya Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguh telah berusaha menguak kembali lingkaran yang semula terbuka itu. Dengan segenap kemampuan ketiganya ternyata dengan cepat dapat mengatasi ketiga orang prajurit Pajang itu.

" Maaf Ki Sanak " desis Sambi Wulung " kami terpaksa melukaimu. "

Prajurit Pajang itu tidak mendengar. Tetapi ia memang terdorong surut. Terasa pundaknya telah disengat oleh ujung senjata.

Dua orang prajurit Pajang telah terluka. Seorang yang lain menjadi ragu-ragu untuk mengejar ketiganya. Namun beberapa prajurit yang lain telah bergabung dan bersama-sama mengejarnya.

Lima prajurit Pajang telah mengejar ketiga orang yang melarikan diri itu.

Tetapi lima orang itu memang tidak cukup. Pada jarak beberapa langkah lagi, dua orang memang telah menyusul. Baru dibelakang kedua orang itu, kelompok terakhir yang terdiri dari tiga orang telah berlari pula dengan cepat.

Menurut perhitungan mereka, sepuluh orang itu telah cukup. Sementara yang lain harus berjaga-jaga jika ada orang lain lagi yang berusaha untuk melarikan diri.

Sambi Wulung dan Jati Wulung sebenarnya akan dapat berlari lebih cepat dan meninggalkan pengejar-pengejarnya. Tetapi Puguh tidak dapat berbuat demikian.

Karena itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung harus menyesuaikan dirinya dan tidak akan mungkin dapat meninggalkan Puguh dalam terkaman prajurit-prajurit Pajang. Namun jumlah prajurit Pajang itu memang terlalu banyak.

Ternyata bahwa kelompok pertama dari prajurit Pajang yang mengejar mereka telah berhasil menyusul. Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguh harus bertempur melawan lima orang prajurit. Sambi Wulung dan Jati Wulung telah memancing masing-masing dua orang lawan, sementara PuguhAarus melawan seorang prajurit.

Namun jarak waktunya tidak terlalu lama bahwa telah datang pula dua orang lainnya, sementara tiga orang yang lain telah menjadi semakin dekat.

Sambi Wulung dan Jati Wulung benar-benar menjadi bimbang. Dengan ilmu mereka yang tinggi, mereka akan dapat membinasakan lawan-lawannya itu. Namun ada semacam kekangan didalam dirinya untuk membunuh sepuluh orang prajurit Pajang, atau setidak-tidaknya separo diantara mereka. Sementara itu sangat sulit bagi mereka  untuk melawan sepuluh orang tanpa membunuh dan melukai lawan-lawan mereka.

Untuk sementara yang dapat mereka lakukan adalah bertempur sambil bergeser mundur untuk mendapat kesempatan melarikan diri. Namun sepuluh orang itu telah mengepung mereka dengan ketat.

Sambi Wulung dan Jati Wulung benar-benar menjadi bingung. Sementara Puguh sendiri berusaha benar-benar untuk membunuh lawannya. Tetapi lawan-lawannya adalah prajurit yang memiliki kemampuan bertempur yang cukup masak sehingga Puguhpun tidak segera berhasil melakukannya.

Dalam kebimbangan itu, tiba-tiba saja mereka bertiga terkejut ketika mereka melihat kehadiran dua orang yang tidak dikenal, yang menyelubungi wajah-wajah mereka dengan kain. Dua orang yang tiba-tiba saja telah melibatkan diri melawan sepuluh orang prajurit Pajang yang mengejar Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguh.

Dengan demikian maka keseimbangan pertempuranpun segera berubah. Ternyata kedua orang itu benar-benar dua orang yang berilmu sangat tinggi. Dengan gerak yang cepat dan kekuatan yang sangat besar, maka keduanya bersama-sama dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung yang dikenal bernama Wanengbaya dan Wanengpati itu segera dapat mengatasi keadaan. Sepuluh orang prajurit Pajang itu menjadi seakan-akan tidak berdaya. Satu-satu mereka jatuh dan terlempar beberapa langkah. Tulang-tulang mereka serasa retak, sehingga mereka tidak segera dapat bangkit kembali.

Orang terakhir dari sepuluh orang itupun akhirnya tidak berdaya juga ketika ia kehilangan keseimbangan dan jatuh berguling. Meskipun ia masih mampu untuk bangkit, namun ia tidak lagi berniat untuk mengejar lima orang yang kemudian malarikan diri itu.

Sepuluh orang prajurit itu kemudian semuanya masih mampu bangkit dan berdiri betapapun tubuh mereka merasa sakit. Dengan sangat kecewa mereka terpaksa melepaskan buruan mereka yang ternyata memiliki ilmu yang tinggi itu.

Sementara itu, lima orang yang melarikan diri itu lelah berada jauh dari para prajurit Pajang yang mengejar mereka. Karena itu, maka merekapun telah berhenti untuk mengatur pernafasan mereka yang terengah-engah. terutama Puguh.

Sementara itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung dengan cepat mengenali kedua orang yang telah menolong mereka itu. Keduanya tentu Kiai Soka dan Kiai Badra.

Namun dengan cara keduanya hadir diantara mereka, maka keduanya tentu berusaha untuk tidak dikenali. Bukan saja namanya, tetapi juga wajah-wajah mereka. Karena itu, maka Sambi Wulungpun kemudian bertanya " Ki Sanak. Terima kasih atas pertolongan Ki Sanak. Tetapi siapakah sebenarnya Ki Sanak berdua? Kami adalah Wanengpati dan Wanengbaya, anak muda ini adalah Puguh. "

Kedua orang yang menyembunyikan wajahnya itu saling berpandangan sejenak. Namun kemudian keduanyapun mengangguk-angguk. Seorang diantaranya berkata dengan suara bergetar " Kami adalah musuh-musuh Pajang. Kami selalu diburu siang dan malam. Adalah satu kesempatan bagi kami untuk dapat melawan sekelompok kecil prajurit Pajang. Namun karena kami melihat keadaan kalian bertiga yang gawat, maka kami memutuskan untuk melarikan diri bersama kalian. Nah, kami telah mengenal nama-nama kalian. Tetapi siapakah kalian sebenarnya? "

" Tidak ada yang dapat menjelaskan. Kami adalah penjudi-penjudi yang hidup kami lebih panjang berada dilingkungan perjudian seperti Song Lawa daripada berada ditempat lain. " jawab Wanengbaya.

Kedua orang yang menyembunyikan wajahnya itu mengangguk-angguk. Tetapi keduanya tidak mendesaknya. Bahkan seorang diantara mereka berkata " Nah, pergilah. Kami akan kembali mendapatkan prajurit-prajurit Pajang itu untuk melepaskan dendam kami. "

Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak bertanya lagi. Tetapi merekapun kemudian telah mengajak Puguh untuk meninggalkan tempat itu.

" Jika para prajurit itu sempat mengejar kita lagi. maka kita akan mengalami kesulitan. " berkata Sambi Wulung.

Demikianlah, maka mereka bertigapim telah meninggalkan tempat itu. Namun agaknya mereka masih belum menentukan tujuan. Mereka masih saja berjalan asal saja menjauhi lingkungan perjudian Song Lawa yang agaknya telah direbut oleh pasukan Pajang yang kuat.

Sebenarnyalah bahwa para prajurit Pajang memang sudah berada disegala sudut dan bahkan memasuki barak-barak di Song Lawa. Orang-orang yang berilmu tinggi, tidak mampu melawan para perwira yang memang dipersiapkan untuk melawan mereka dalam kelompok-kelompok kecil. Betapa besar kemampuan Kepala Besi, namun ketika ia dihadapkan kepada empat orang perwira terpilih, ternyata lambat laun, ia menjadi kehabisan tenaga juga. Meskipun kepalanya sempat melukai beberapa orang, tetapi tubuhnya sendiri menjadi terluka parah.  

Akhirnya, Song Lawa yang telah bertahun-tahun bertahan sebagai tempat perjudian yang tidak terjangkau oleh pangeran, telah benar-benar dikuasai oleh para prajurit Pajang. Sudah terlalu lama orang.orang disekitar Song Lawa mengeluh karena tingkah laku orang-orang yang memasuki dan keluar dari lingkungan itu. Bahkan kadang-kadang di padukuhan-padukuhan disekitar Song Lawa itupun telah terjadi benturan kekerasan dan membunuh beberapa orang korban. Tindakan yang semena-mena dari orang-orang yang memiliki ilmu terhadap orang-orang padukuhan yang lemah. Bahkan mereka yang kalah tidak segan-segan untuk sekali-sekali merampas barang-barang yang bahkan tidak berharga sekalipun, namun yang penting sekali artinya bagi orang-orang miskin itu.

Para prajurit Pajang kemudian telah mengumpulkan orang-orang yang tersisa, termasuk mereka yang terluka. Mereka harus bertanggung jawab atas segala tingkah laku mereka. Terlebih-lebih lagi para pengawal dan petugas di Song Lawa itu sendiri yang pada umumnya terdiri dari orang-orang yang bertubuh raksasa.

Sementara itu Kiai Badra dan Kiai Soka, setelah membantu Sambi Wulung dan Jati Wulung membebaskan diri dari para prajurit Pajang yang telah mengejarnya, kemudian menyingkir ketempat yang tersembunyi. Keduanyapun segera mengerti maksud Sambi Wulung dan Jati Wulung. Mereka agaknya telah menyelamatkan Puguh dan selanjutnya membawanya kembali ke tempatnya. Mungkin disebuah padepokan, persembunyian atau tempat apapun juga.

" Agaknya keduanya telah berhasil " berkata Kiai Badra.

Kiai Soka mengangguk-angguk. Katanya " Mudah-mudahan keduanya benar-benar dapat melacak sampai ke tempat tinggal anak itu. Mungkin anak itu cerdik dan justru mencurigai keduanya sehingga anak itu akan dapat menjebak mereka. "

" Memang satu kemungkinan " sahut Kiai Badra. Tetapi katanya kemudian " Juga mudah-mudahan keduanya tidak tergoda untuk membinasakan anak muda itu. Meskipun mungkin orang tuanya atau kakeknya tidak tahu, apa yang terjadi dengan Puguh, namun dendam mereka akan dengan mudah tertuju kepada Risang. Sementara itu Risang belum siap untuk berbuat sesuatu bagi dirinya sendiri.

" Tetapi hancurnya Song Lawa tentu akan segera didengar oleh orang tua Puguh. Seandainya Sambi Wulung dan Jati Wulung terdorong mengambil langkah-langkah yang keras terhadap anak itu, maka orang tuanya tentu mengira bahwa anaknya telah binasa di Song Lawa. "

" Jika satu saja pengawalnya lolos atau masih hidup dan kelak dibebaskan, maka persoalannya akan lain apabila pengawalnya itu dapat mengatakan bahwa Puguh telah melarikan diri bersama dengan dua orang yang lain,serta anak muda itu tidak tertawan di Pajang. "

Kedua orang tua itu agaknya mendapat persesuaian pendapat, bahwa tidak kenguntungan bagi Risang, jika Puguh di selesaikan oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung untuk menghindari persaingan antara kedua orang anak Wiradana itu.

Namun ternyata bahwa Sambi Wulung dan Jati Wulungpun berpendapat sebagaimana kedua orang tua itu. Merekapun telah membicarakannya dengan hati-hati sesaat setelah mereka terlepas dari tangan para prajurit Pajang. Namun merekapun berkesimpulan untuk membawa Puguh kembali ke kediamannya.

Ketika kemudian mereka menjadi semakin jauh dengan lingkungan perjudian Song Lawa, maka Sambi Wulung mulai bertanya tentang arah perjalanan mereka kepada Puguh.

" Kita tidak akan dapat berjalan tanpa tujuan " berkata Sambi Wulung.

" Lebih baik aku pulang. Terima kasih atas pertolongan kalian sahut Puguh tiba-tiba.

" Marilah " berkata Jati Wulung " aku antar kau sampai kerumahmu. Kami sudah terlanjur berusaha melarikan diri bersama-sama. Aku tidak tahu, apakah ada orang lain yang juga berhasil melarikan diri atau tidak. Karena itu, apapun yang akan kita alami diperjalanan, akan kita alami bertiga, sampai saatnya kau benar-benar bebas dari segala kemungkinan buruk. Kau masih terlalu muda. Seandainya kita bersama-sama anak-anak muda yang lain. "

Puguh termangu-mangu. Namun katanya kemudian " Aku akan dapat menempuh perjalanan kembali seorang diri. Aku sudah dapat menjaga diriku sendiri. "

" Jangan mengira sedemikian mudah kita menempuh perjalanan saat ini " berkata Jati Wulung " aku tidak tahu kenapa di Song Lawa kali ini hadir orang-orang seperti Kepala Besi, Sikatan Putih. Kelompok Macan Ireng dan barangkali masih ada yang lain yang tidak kita ketahui. Agaknya tentu ada hubungannya dengan perkembangan keadaan diluar Song Lawa, terutama yang menyangkut kemelut di Pajang itu sendiri. "

" Mereka sudah terbiasa berada di Song Lawa. Malah justru kalian berdua merupakan orang baru di lingkungan itu " jawab Puguh.

" Kepala Besi dan Sikatan Putih? " bertanya Sambi Wulung.

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian mengangguk-angguk sambil berkata " Aku memang melihat beberapa orang baru termasuk kalian berdua. Tetapi kenapa kalian bersusah payah menyelamatkan aku? "

" Kau terlalu baik kepada kami " jawab Jati Wulung " tetapi sebenarnya memang ada dorongan lain yang telah memaksa kami berusaha menolong anak-anak muda. Karena bagi kami anak-anak muda akan sama artinya dengan masa depan. "

" Apa kepentingan kalian dengan masa depan, sementara kalian berdua juga berada di Song Lawa? " bertanya Puguh.

Sambi Wulung dan Jati Wulung saling berpandangan sejenak. Ternyata bahwa Puguhpun seorang anak muda yang mempergunakan nalarnya dengan baik. Ia tidak sekedar berbuat. Tetapi ternyata bahwa iapun berpikir.

Puguh " berkata Sambi Wulung kemudian " kami berdua adalah orang-orang tua. Kami memang sudah terlanjur rusak, bahkan seakan-akan lahir dan batin. Tetapi terhadap anak-anak kami, kemanakan kami dan orang-orang muda yang berhubungan dengan kami, kami tidak pernah mengatakan bahwa kami berada di tempat-tempat seperti Song Lawa. kami selalu mengatakan bahwa kami telah mengembara untuk menambah pengetahuan kami. Kami tidak ingin, anak-anak kami, kemanakan-kemanakan kami dan anak-anak muda yang lain terjerat dalam perjudian. Karena itu, ketika kami melihat beberapa orang anak muda termasuk kau di Song Lawa, kami memang agak menyesal. "

" Terima kasih atas perhatianmu " jawab Puguh " tetapi aku tidak usah membuat kalian terlalu sibuk mengurusi aku. "

" Tidak " jawab Sambi Wulung " tetapi kita belum terlepas dari bahaya yang mungkin menerkam kita setiap saat. "

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Katanya " Baiklah. Kita akan berjalan bersama-sama. "

Sambi Wulung dan Jati Wulung hanya mengangguk-angguk saja. Namun merekapun kemudian telah berjalan bersama-sama. Mereka tidak menempuh jalan yang biasa dipergunakan oleh mereka yang akan memasuki Song Lawa. Tetapi mereka menempuh jalan-jalan sempit diantara pedukuhan-pedukuhan kecil di lereng Gunung.

Namun sambil melingkar, maka merekapun mulai menuruni lereng.

Ternyata perjalanan mereka bukannya perjalanan yang mudah. Bahkan mereka merasa, tatapan mata kecurigaan dari orang-orang padukuhan. Betapapun rapinya pakaian Puguh sebelumnya, tetapi setelah menempuh perlalanan yang panjang, maka pakaian itupun telah menjadi kotor oleh keringat dan debu tanpa dapat berganti yang lain.

Tetapi ketiga orang itu sama sekali tidak menghiraukannya. Mereka sama sekali tidak memerlukan orang-orang padukuhan itu. Sementara Sambi Wulung dan Jati Wulung ternyata masih membawa uang cukup. Bukan saja uang yang mereka bahwa memasuki Song Lawa, tetapi mereka justru telah memenangkan beberapa permainan di tempat itu.

Dalam pada itu, Puguhpun sempat bertanya " Bagaimana kau sempat membawa semua uangmu? "

" Apakah kau tidak? " bertanya Sambi Wulung.

Puguh menggeleng. Katanya " Aku tidak sempat mengambilnya. Tetapi ada juga dugaanku, bahwa kita akan dapat mempertahankan lingkungan perjudian itu sebagaimana pernah kita lakukan beberapa malam sebelumnya. Namun agaknya pasukan Pajang jauh lebih kuat dari segerombolan perampok yang datang malam itu. "

" Sudahlah " berkata Sambi Wulung " uang kami berdua cukup untuk keperluan selama kita dalam perjalanan. -

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata " Terima kasih. Kalian terlalu baik kepadaku"   Dengan hati-hati Sambi Wulung berkata " Sebenarnya sejak aku memasuki lingkungan perjudian itu aku memang sangat menaruh perhatian kepada anak-anak muda. Aku mencoba menghubungi mereka seorang demi seorang. Namun nampaknya mereka telah terlalu dalam tenggelam dalam dunia perjudian sehingga sulit untuk dapat diangkat kembali. Bahkan mereka berusaha untuk menjauhi aku. Hanya kau sajalah yang tidak berbuat demikian, bahkan kau telah banyak memberi kepada kami berdua selama kami berada di Song Lawa. "

Puguh mengangguk-angguk. Suaranya menjadi dalam " Tetapi aku tidak ingin digiring oleh orang-orang Pajang seperti sekelompok itik di jalan-jalan menuju ke Pajang. "

" Namun sangat memalukan. " desis Jati Wulung

" itulah sebabnya kita melarikan diri. Meskipun sebenarnya lari bukanlah sifat laki-laki. Tetapi dalam  keadaan seperti ini, pilihan yang paling baik adalah memang lari. "

Puguh tidak segera menyahut. Namun ia memandang jalan di hadapannya dengan tatapan mata yang tajam. Jalan yang membujur sangat panjang tanpa ujung. Tetapi Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak tergesa-gesa bertanya, Puguh akan menuju ke mama? Menurut pengenalan mereka, setelah mereka menjauhi Song Lawa, maka mereka justru menuju ke arah Barat, menuruni kaki Pegunungan.

Namun demikian mereka bertiga harus tetap berhati-hati dalam perjalanan. Mereka akan dapat bertemu dengan bahaya yang mungkin tidak diperhitungkan lebih dahulu. Sementara itu Puguhpun tidak segera berusaha benar-benar memisahkan diri dari kedua orang yang bersamanya keluar dari Song Lawa, justru karena kebiasaannya berjalan bersama-sama dengan beberapa orang pengawal. Apalagi ketiga orang itu sama sekali tidak dibatasi oleh waktu, sehingga mereka berjalan menurut keinginan dimana saja mereka ingin beristirahat. Di pinggir-pinggir hutan, di pategalan, di tanggul sungai atau di bawah pepohonan.

Tetapi bagaimanapun juga mereka tidak ingin terlalu banyak bertemu dengan siapapun juga, karena mereka tidak dapat mengingkari pengenalan mereka atas diri sendiri, bahwa mereka adalah buronan prajurit Pajang. Setiap mereka bertemu dengan siapapun juga yang meskipun tidak mereka kenal sama sekali, terutama bagi Puguh yang muda itu, rasa-rasanya mata mereka selalu tertuju kepadanya. Mengawasinya dengan penuh curiga dan mengikutinya apa saja yang mereka lakukan.

Karena itulah, maka perjalanan mereka menjadi sangat lambat. Jati Wulung harus menahan diri untuk berjalan selamban itu. Namun Sambi Wulung nampaknya sama sekali tidak berkeberatan. Bahkan seakan-akan perjalanan yang dilakukan itu adalah perjalanan yang paling sesuai dengan kebiasaannya.

Jati Wulung yang mencoba menghilangkan kejemuannya, sempat tertidur dibawah sebatang pohon yang besar ketika mereka berhenti disudut sebuah hutan kecil. Namun ketika ia terbangun, maka yang pertama kali diucapkannya adalah " Aku lapar sekali. "

Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun bertanya kepada Puguh " Apakah kau lapar? "

Puguh mengangguk. Tetapi jawabnya " Tetapi tidak terlalu mendesak. "

Namun ternyata Jati Wulung tidak ingin ditunda lagi. Karena itu maka merekapun telah melanjutkan perjalanan. Mereka dengan hati-hati justru menuju ke sebuah padukuhan, karena Jati Wulung berharap bahwa di padukuhan itu akan didapatinya sebuah kedai makanan.

" Kita akan makan " berkata Jati Wulung " di Song Lawa aku beberapa kali telah membayar makanan dan minuman kami. Nah, sekarang sampailah pada giliran kami. Justru kami sempat membawa uang kami keluar dari Song Lawa. "

" Nampaknya perutmu sudah tidak dapat bertahan lebih lama lagi " desis Sambi Wulung.

" Tubuhkulah yang merasa gemetar " jawab Jati Wulung " jika di padukuhan itu tidak ada sebuah kedaipun, maka rasa-rasanya aku tidak akan dapat berjalan lagi. "

Sambi Wulung mengerutkan keningnya. Sementara itu Puguh tersenyum sambil berkata " Itulah agaknya kau terlalu sering aku jumpai sedang berada di kedai ketika kau berada di Song Lawa, "

Jati Wulung hanya mengangguk kecil. Tetapi wajahnya memang nampak menjadi pucat.

Untunglah bahwa mereka sempat menemukan sebuah kedai yang cukup besar di padukuhan itu. Meskipun matahari sudah menjadi semakin rendah, namun ternyata kedai itu masih juga terbuka dan nasi yang ada didalamnya masih berasap.

" Jalan ini tentu jalan yang ramai dari satu tempat ketempat lain yang cukup penting " berkata Sambi Wulung.

" Ya " jawab Puguh " didalam kedai itupun terdapat banyak orang. Apakah kita tidak dapat mencari kedai yang lebih kecil? "

" Kenapa harus menghiraukan orang lain " sahut Jati Wulung " aku sudah tidak dapat berjalan lagi. Jika kita tidak makan disini dan tidak menemukan kedai yang lain, maka aku akan pingsan. Nah, kepalaku mulai pening, pandanganku mulai berkunang-kunang. "

" peduliku " berkata Sambi Wulung " jika  kau pingsan, diparit itu mengalir air meskipun agak keruh.

Jati Wulung mengerutkan keningnya. Namun tanpa berbicara lagi, iapun telah melangkah mendekati kedai itu. Bahkan kemudian masuk kedalamnya. Sambi Wulung dan Puguh tidak mempunyai pilihan lain. Merekapun kemudian telah mengikuti Jati Wulung memasuki kedai itu.

Ternyata mereka benar-benar terkejut melihat orang-orang yang sudah berada di kedai itu. Beberapa orang dengan wajah dan sorot mata yang menggetarkan.

Tetapi Jati Wulung akhirnya tidak mempedulikan mereka. Perutnya memang sudah merasa sangat lapar. Bahkan ketika dilihatnya nasi yang berasap, rasa-rasanya ia sudah tidak sabar lagi.

Bersama Sambi Wulung dan Puguh iapun kemudian duduk disudut kedai itu. Merekapun telah memesan wedang jahe dan nasi hangat, sementara pelayan di kedai itu telah menghidangkan beberapa macam makanan, sementara mereka menunggu minuman dan nasi yang mereka pesan.

Jati Wulung memang tidak sabar lagi. Ia telah memungut beberapa potong makanan dan di suapinya mulutnya dengan lahapnya.

Namun, demikian ia memasukkan makanan itu dimulutnya, maka iapun telah sempat melihat beberapa wajah di kedai itu yang mengawasinya. Mata-mata yang tajam itu memandanginya dengan penuh perhatian. Namun Jati Wulung sempat menghibur dirinya sendiri untuk tidak menjadi gelisah " Agaknya mereka heran melihat caraku makan. "

Setelah menunggu beberapa saat, maka yang mereka pesanpun telah dihidangkan. Minuman dan nasi hangat.

Sementara itu Jati Wulung benar-benar tidak menghiraukan orang-orang lain yang ada di kedai itu. Ia makan saja sebagaimana diinginkannya karena perutnya memang lapar. Bahkan iapun kemudian telah minta tambah semangkuk lagi.

Ketika ketiganya kemudian sudah selesai, ternyata orang-orang yang ada di kedai itu, yang telah berada ditempat mereka lebih dahulu, masih juga belum beranjak dari tempat mereka. Tetapi ketiga orang itu tidak menghiraukannya lagi, lebih-lebih Jati Wulung.

Namun ternyata bahwa orang-orang yang ada di kedai itu menaruh perhatian terhadap ketiga orang itu. Mereka melihat pakaian yang baik tetapi kotor oleh keringat dan debu yang dikenakan oleh Puguh.

Sedangkan dua orang kawannya adalah orang-orang yang sudah jauh lebih tua dengan mengenakan pakaian yang lebih sederhana, namun juga sudah kotor dan lusuh.

Tetapi orang-orang yang ada di kedai itu terkejut ketika mereka melihat Sambi Wulung mengeluarkan kampil dari kantong bajunya. Membuka talinya dan mengeluarkan beberapa keping uang untuk membayar harga makanan dan minuman mereka bertiga.

Menurut pendapat orang-orang yang ada di kedai itu adalah bahwa uang yang dibawa oleh Sambi Wulung ternyata terlalu banyak. Sekampil uang itu tentu bernilai sangat besar. Bahkan orang-orang itu juga berpendapat, bahwa yang membawa uang dan mungkin juga barang-barang berharga tentu tidak hanya seorang saja diantara ketiga orang itu.

Karena itu, maka ketika Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguh keluar dari kedai itu, maka orang-orang itupun telah membayar pula harga makanan yang mereka makan dan minuman yang mereka minum. Tetapi karena ternyata orang-orang itu sudah terlalu biasa makan dan minum di kedai itu, maka ketika ada diantara mereka yang belum mempunyai uang cukup untuk membayar telah berkata sambil tersenyum " Sabarlah. Aku akan segera kembali dan membayar dengan uang yang berkelebihan. "

" Jangan bohong. Seberapapun kau mendapat uang, tetapi dihari itu juga uang itu habis, ---berkata pemilik kedai itu.

Orang itu tertawa. Katanya " Kali ini jangan cemas.  "

Orang-orang itupun kemudian telah meninggalkan kedai itu pula. Mereka masih melihat arah Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguh berjalan.

" Mereka memang menarik perhatian " berkata orang tertua dari beberapa orang yang keluar dari kedai itu " apalagi ketika mereka kemudian mengeluarkan uang sekampil hanya untuk membayar beberapa keping makanan dan minuman bagi mereka bertiga. "

" Apakah mereka sengaja memancing perhatian kami? " bertanya salah seorang diantara mereka.

" Entahlah. Tetapi ketika mereka masuk, mereka nampak terkejut melihat kami. " jawab yang tertua.

" Hati-hatilah terhadap mereka " berkata seorang yang bertubuh tinggi. Meskipun nampaknya masih muda, tetapi agaknya ia sudah cukup berpengalaman. Lalu katanya pula " Meskipun tidak menjadi jalan utama, tetapi ada juga orang-orang yang pergi dan kembali dari Song Lawa lewat jalan ini. "

" Agaknya pasukan yang lewat beberapa hari yang lalu benar-benar telah menghancurkan Song Lawa meskipun sebelumnya sekelompok perampok telah gagal merampas harta benda yang tidak terhitung jumlahnya di dalam lingkugan perjudian itu. " berkata orang yang tertua diantara mereka.

" Dan ketiga orang itu adalah mereka, yang sempat melarikan diri " sahut yang lain.

Orang yang tertua diantara mereka mengangguk-angguk. Katanya " Agaknya mereka tidak tahu sama sekali, bahwa jalan inilah yang telah dilalui oleh pasukan Pajang itu. Memang tidak terduga bahwa untuk mencapai Song Lawa dari Pajang telah dilalui jalan ini. Tetapi agaknya justru hal itulah yang dikehendaki oleh pasukan itu.

Sementara itu seorang yang lain dari antara mereka bertanya " Lalu apa yang akan kita lakukan terhadap mereka? Ternyata mereka membawa uang cukup banyak. Dari atau tidak dari Song Lawa uang itu tetap bernilai bagi kita. "

Orang tertua diantara mereka itupun berkata " Aku sependapat, bahwa kita harus berhati-hati terhadap mereka. "

" Kita semuanya tujuh orang " berkata seorang yang masih cukup muda, berbadan tegap tinggi dan tegar. Tetapi kawannya yang bertubuh tinggi, sekali lagi memperingatkan " Kita harus berhati-hati. Agaknya mereka bukan orang kebanyakan. Aku condong menduga mereka adalah pelarian dari Song Lawa jika pasukan yang kita lihat lewat jalan ini benar-benar telah menyerang. Atau bahkan mereka telah meninggalkan Song Lawa sebelum tempat itu disergap oleh para prajurit. "

" Menilik pakaian mereka serta keadaan mereka tanpa seikat bawaanpun ditangan mereka, maka agaknya pasukan Pajang memang telah menyergap dan mereka adalah pelarian dari Song Lawa yang sempat membawa uang mereka. " berkata orang yang tertua diantara mereka.

" Jadi, apakah yang akan kita lakukan? Jangan menunggu mereka semakin jauh dan hilang dari pengamatan kita " desak anak muda yang bertubuh tegap kekar.

Orang tertua diantara mereka itupun berkata " Kita akan mengikuti mereka dari jarak yang cukup. Jalan ini tidak banyak bercabang, sehingga kita tidak akan kehilangan mereka. Kitapun tidak akan berjalan dalam kelompok yang banyak ini. Dua orang akan berada di depan. "

" Baiklah " berkata orang yang bertubuh tegap kekar " aku akan berada dipaling depan.

" Pergilah " sahut orang yang tertua diantara mereka " bawa seorang kawan. Ingat, sebentar lagi senja akan turun. Kita harus mengambil keputusan, apakah kita akan bertindak setelah matahari tenggelam atau sebelumnya begitu kita keluar dari padukuhan ini. "

Orang yang bertubuh tegap kekar itu mengangguk. Iapun kemudian bersama seorang kawannya mendahului kawan-kawannya yang lain mengikuti perjalanan Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguh.

Namun ternyata bahwa orang yang bertubuh kekar itu agaknya tidak terlalu memperhatikan pesan kawan-kawannya, sehingga ia agak kurang berhati-hati. Sehingga karena itu, maka ketika mereka berjalan semakin jauh, Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguhpun mengetahui, bahwa mereka telah diikuti oleh dua orang yang belum mereka kenal.

" Agaknya mereka adalah orang-orang yang ada di kedai itu " berkata Jati Wulung.

" Mungkin. Tetapi jika demikian itu adalah urusanmu " sahut Sambi Wulung.

" Kenapa urusanku? " bertanya Jati Wulung.

" Kaulah yang berkeras untuk memasuki kedai itu " jawab Sambi Wulung.

" Ah kau " desis Jati Wulung. Namun kemudian katanya " Tetapi jika kedua orang itu diserahkan kepadaku, aku tidak berkeberatan. "

Puguhlah yang menyahut " Wanengpati akan dapat menyelesaikan mereka. "

" Tetapi aku kira mereka tidak hanya berdua " berkata Sambi Wulung " mungkin ada beberapa orang lainnya dibelakang. Agaknya mereka melihat kampilku yang berisi uang, sehingga mereka berniat untuk mengambil uang itu. "

Puguh mengangguk-angguk. Katanya " Kau memang terlalu ceroboh. Kenapa kau tidak menyediakan uang dikantongmu beberapa keping saja, sehingga kau tidak perlu mengeluarkan kampilmu itu dari kantong bajumu? "

" Aku mempunyai dua kampil. Wanengpati juga membawa dua kampil. " jawab Sambi Wulung.

" Maksudku, berapapun kalian membawa, tetapi kalian tidak perlu memamerkannya kepada orang lain, agar tidak timbul masalah seperti sekarang ini. " berkata Puguh.

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun pada satu kesempatan, selagi Putuh berjalan agak menepi sambil memperhatikan lereng yang agak curam Sambi Wulung berdesis " Mudah-mudahan mereka benar-benar menginginkan uang kita. "

" Kenapa? " bertanya Jati Wulung hampir berbisik.

" Sekedar membuktikan kepada Puguh, bahwa perjalanan ini masih berbahaya. Dengan demikian maka ia akan tetap memerlukan kita. " sahut Sambi Wulung perlahan-lahan sekali.

Namun Jati Wulungpun kemudian mendekati Puguh sambil berkata " Hati-hati. Jangan terjun kedalam jurang itu. Kau tahu, bahwa jurang itu dalam dan curam. "

Puguh mengangguk-angguk Namun tiba-tiba ia justru memungut sebuah batu yang cukup besar dan melontar kannya kedalam jurang itu.

Jati Wulung berdiri termangu-mangu. Namun ketika beberapa lama kemudian mereka mendengar suara batu itu terjatuh, maka iapun berdesis " Jurang itu cukup dalam. "

" Tempat yang baik untuk melemparkan orang-orang itu. Dengan demikian kita tidak perlu menguburkannya " berkata Puguh.

" Atau kitalah yang akan mereka lemparkan setelah kampil-kampil uang kita diambilnya. " sahut Jati Wulung.

Puguh tertawa. Katanya " Memang mungkin. Tetapi hanya mereka yang membawa uang saja yang akan dilemparkannya. Bukan aku. "

Jati Wulungpun tertawa juga. Justru sambil berpaling kearah kedua orang yang berjarak beberapa puluh langkah. Namun agaknya kedua orang itu telah menepi dan berlindung dibalik pohon perdu.

" Mereka adalah orang-orang dungu " berkata Jati Wulung " mereka mengikuti kita pada jarak yang terlalu dekat. Agaknya mereka takut kehilangan kita. Mungkin diantara mereka tidak terdapat yang ahli menelusuri jejak.

" Kau mampu melakukannya " bertanya Puguh.

" Tentu " jawab Jati Wulung.

Pembicaraan itupun kemudian terhenti ketika keduanya telah melangkah melanjutkan perjalanan. Satu sisi jalan adalah bulak yang luas, sedangkan disisi lain terdapat jurang yang dalam. Sementara itu padukuhan berikutnya terletak di tempat yang agak jauh.

Dalam pada itu, agaknya orang bertubuh kekar itu benar-benar tidak sabar lagi. Apalagi iapun menyadari, bahwa ketiga orang itu sudah melihatnya berdua. Karena itu, maka iapun telah menungguorang tertua diantara mereka.

" Kenapa kau berhenti? " bertanya orang tertua itu.

" Kita sudah keluar dari padukuhan. " jawab orang betubuh kekar " kita harus cepat mengambil keputusan. "

" Jalan ini jalan yang banyak dilalui orang yang bepergian dengan jarak panjang. Lewat jalan ini pula pasukan Pajang bergerak menuju ke Song Lawa meskipun agak melingkar. " berkata orang tertua itu.

" Mereka justru memilih jalan lain untuk menghindari pengamatan petugas sandi yang dipasang oleh para pemimpin Song Lawa itu. " jawab orang bertubuh kekar itu " namun agaknya kita tidak akan memerlukan waktu terlalu lama. Kita dengan cepat menyelesaikan mereka, sementara jurang disebelah itu akan tetap ternganga. "

Ketika orang tertua diantara mereka sedang berpikir. Maka seorang lain berkata " Jangan lepaskan mereka. Mungkin kita tidak akan dapat menemukan orang-orang yang membawa uang cukup banyak seperti mereka. "

" Kita memang tidak akan melepaskan mereka. " berkata kawannya " tetapi mungkin kita akan menjumpainya pula jika ada orang lain yang sempat lari dari Song Lawa dengan membawa sisa uang mereka. "

" Jangan bermimpi. Sekarang yang ada adalah mereka " berkata orang yang bertubuh kekar " apa yang harus kita lakukan segera. "

" Baiklah " berkata orang tertua diantara mereka " senja mulai turun. Hentikan mereka ditengah-tengah bulak. Kita harus bekerja cepat dan melemparkan tubuh mereka kedalam jurang. "

Kedua orang yang mengikuti Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguh itupun tidak menunggu lebih lama lagi. Merekapun segera melangkah menyusul ketiga orang yang sudah berada ditengah-tengah bulak panjang.

Dalam pada itu, ketiga orang itupun menjadi heran ketika mereka tidak melihat lagi kedua orang yang mengikuti mereka. Namun ketajaman penalaran merekapun segera dapat menduga apa yang akan terjadi.

" Agaknya keduanya telah menemukan tempat yang paling tepat " berkata Sambi Wulung.

" Ya. Mereka sedang mengambil ancang-ancang. Sebentar lagi mereka akan datang, mungkin tidak hanya berdua. Mereka menganggap bahwa tempat ini adalah tempat yang paling tepat. Apalagi disaat-saat matahari mulai bersembunyi di balik pabukitan. Orang-orang yang ada disawah telah pulang, sementara yang akan menunggui air dimalam hari masih belum, datang. " sahut Jati Wulung.

Puguhpun mengangguk-angguk. Katanya " Ya. Agaknya memang demikian. Jadi, apakah kita justru akan menunggu mereka? "

" Kita tidak usah menunggu. Dengan demikian akan dapat menimbulkan kecurigaan. Kita berjalan terus, tetapi tidak tergesa-gesa. " jawab Sambi Wulung. Ia memang mengharap orang-orang di kedai itu memburu mereka untuk merampas uangnya. Dengan demikian maka Puguh akan menganggap bahwa perjalanannya bersama dua orang yang dikenalnya sebagai Wanengbaya dan Wanengpati itu ada artinya. Jika demikian maka tidak mustahil bahwa Puguh tidak akan berkeberatan untuk menunjukkan tempat tinggalnya serta tempat tinggal orang tuanya

Demikianlah ketiga orang itu telah berjalan dalam keremangan senja. Sementara itu dua orang yang berjalan beberapa puluh langkah dibelakang mereka telah mempercepat langkah mereka.

Bahkan ketika keduanya menjadi semakin dekat, terdengar orang yang bertubuh kekar itu justru memanggil " Ki Sanak. Aku minta kau berhenti sejenak. "

Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Namun Jati Wulung berdesis  " Ternyata mereka adalah orang yang sangat kasar. Mereka tidak sekedar menyusul kita. Tetapi mereka menghentikan kita. "

Sambi Wulung mengangguk. Katanya " Kita akan menunggu. "

Ketiga orang itupun kemudian telah berhenti untuk menunggu kedua orang yang dengan tergesa-gesa menyusul mereka. Namun dalam pada itu ketiga orang itupun telah melihat pula lima orang lainnya yang berjalan menuju kearah mereka pula.

" Nah " berkata Sambi Wulung " itulah kawan-kawannya. "

" Ya " desis Puguh " ternyata bahwa setelah kita keluar dari Song Lawapun masih juga ada persoalan yang harus diatasi. "

" Bersiaplah " berkata Sambi Wulung pula " agaknya mereka tidak bermain-main. Menilik wajah dan tatapan mata mereka sebagimana kita lihat di kedai itu, maka mereka adalah orang-orang yang garang. "

" Ternyata Pajang harus lebih banyak membenahi diri " berkata Jati Wulung " namun agaknya perhatian Pajang mulai tertuju, kepada sikap orang-orang dalam yang kecewa. "

" Bagaimanapun juga, rakyat yang jauh dari Kotaraja memerlukan perlindungan. Bukan saja tempat-tempat seperti Song Lawa yang harus dihancurkan. Tetapi harus diusahakan untuk membatasi tingkah laku orang-orang yang lepas dari jangkuan paugeran seperti orang-orang ini. " guman Sambi Wulung seakan-akan ditujukan kepada diri sendiri.

Namun dalam pada itu diluar dugaan Sambi Wulung dan Jati Wulung, wajah Puguhpun telah berubah pula. Ada semacam persoalan yang tiba-tiba mencengkam jantungnya.

Tetapi agaknya anak muda itu berusaha menyembunyikannya meskipun ia tidak dapat melepaskan pengamatan Sambi Wulung dan Jati Wulung yang sekilas telah menangkap perasaannya yang nampak pada wajahnya itu.

Dalam pada itu, kedua orang yang dengan tergesa-gesa mendekatinya itu telah berhenti beberapa langkah dari ketiga orang yang menunggu mereka. Dengan nada berat Sambi Wulungpun kemudian bertanya " Ada apa Ki Sanak? Ki Sanak telah menghentikan perjalanan kami. "

" Siapakah kalian bertiga? " bertanya orang yang bertubuh tinggi kekar.

" Kami adalah pengembara yang berjalan tanpa tujuan " jawab Sambi Wulung.

Orang bertubuh kekar itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya " Pengembara sekalipun tentu mempunyai keterangan tentang dirinya. Namanya, asal usulnya dan barangkali tujuannya. "

" Siapakah kami dan asal usul kami tidak penting bagi Ki Sanak. Sementara tujuan kami adalah sekedar mengembara mengikuti gerak dan langkah kaki saja " jawab Sambi Wulung pula.

" Penting atau tidak penting, tetapi sebutkan " bentak orang bertubuh tinggi kekar itu.

Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Katanya

" Apakah akan ada artinya bagimu Ki Sanak? Bukankah aku akan dapat menyebut nama apapun juga dan asal-usul, asal saja berucap. Karena itu daripada aku harus berbohong, maka lebih baik aku tidak menyebut apapun juga. "

" Persetan " geram orang itu " kau akan menyesal dengan kesombonganmu. Kami adalah para pengawal padukuhan ini. Jika kalian tidak mau mengatakan nama dan asal usul kalian dengan sebenarnya, maka kalian harus kami tangkap dari kami hadapkan kepada para bebahu. "

Tetapi Sambi Wulung tertawa. Katanya dengan nada tinggi " Kau kira aku percaya bahwa kalian adalah pengawal padukuhan? Para pengawal padukuhan tentu terdiri dari anak-anak muda, berwajah keras tetapi bersih dan bersinar oleh ketegaran niatnya yang bersih. Tanpa pamrih bagi dirinya sendiri. Sudah ratusan pedukuhan kami jelajahi. Dan sudah ratusan kali pula kami temui kelompok-kelompok pengawal padukuhan, sehingga dengan demikian kami mempunyai gambaran yang terang atas para pengawal itu. Tidak ada sekelompokpun pengawal padukuhan yang ujudnya seperti kalian itu. "

Orang bertubuh tinggi kekar itu menggeram. Jika saja ia tidak mengingat orang tertua di kelompoknya yang selalu mengekangnya, maka ia tentu sudah meloncat menerkam dan mencekik leher Sambi Wulung.

Namun orang bertubuh tinggi kekar itupun kemudian berkata " Kau harus menebus kesombonganmu dengan harga yang sangat mahal. Tetapi biarlah pemimpin kami yang kemudian berbicara. "

" Siapakah pemimpinmu itu? Ki Bekel atau Ki Demang? " bertanya Jati Wulung tiba-tiba.

" Persetan " geram orang yang hampir kehabisan kesabaran itu.

Namun dalam pada itu, kelima orang yang lainpun telah mendekat pula. Orang tertua diantara merekapun melangkah maju. Dengan suara yang lebih lunak ia berkata " Selamat malam Ki Sanak. "

" Malam belum turun " sahut Jati Wulung seenaknya.

Tetapi adalah diluar dugaan, bahwa orang itu justru tertawa. Katanya " Tetapi sore sudah lewat. "

Jati Wulung mengerutkan keningnya. Tetapi tiba-tiba iapun tertawa juga. Katanya " Kita memang berada dibatas antara sore dan malam hari. "

" Kau benar " sahut orang tertua dari sekelompok orang yang menghentikan perjalanan Sambi Wulung bertiga itu. Lalu " kita berada dibatas. Tetapi baiklah, kita tidak usah mempersoalkannya. Yang penting Ki Sanak, kami mempunyai kepentingan dengan Ki Sanak. Jika tadi sambil berjalan mendekat, agaknya aku mendengar kalian mengelakkan menyebut keterangan tentang diri Ki Sanak bertiga, maka sebaiknya aku langsung saja pada kepentinganku. Serahkan uang kalian. Aku tidak peduli siapakah kalian yang barangkali termasuk pelarian dari Song Lawa. "

Sambi Wulung mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian bertanya " Kenapa kau menyangka bahwa kami adalah pelarian dari Song Lawa? "

" Kami melihat sepasukan prajurit Pajang melewati jalan ini yang agaknya menuju ke Song Lawa beberapa hari yang lalu. Nah, agaknya mereka telah memasuki tempat perjudian yang terkutuk itu. Dan kalian adalah diantara mereka yang melarikan diri. " berkata orang tertua diantara kelompok itu.

" Kenapa kau dapat menyebut, bahwa tempat itu adalah tempat yang terkutuk? " bertanya Sambi Wulung.

" Jangan berpura-pura. Bukan saja tempat itu, tetapi padukuhan-padukuhan disekitarnya dan yang terletak di jalan yang menuju ke Song Lawa telah mengalami pengaruh buruk. " jawab orang itu.

" Jika demikian, apa katamu tentang pekerjaan yang kau lakukan ini? Apakah itu lebih baik dari mereka yang berjudi di Song Lawa? Yang berjudi dengan uang mereka sendiri tanpa mengganggu orang lain? " bertanya Sambi Wulung.

Tetapi orang tertua itu tertawa. Katanya " Siapa bilang mereka berjudi dengan uang mereka sendiri? Dari mana mereka mendapatkan uang itu? Ada seorang Tumenggung yang mempunyai kesenangan berjudi.

Akhirnya ternyata bahwa perbendaharaan yang dipercayakan kepadanya telah dihabiskannya. Akibatnya ia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Tetapi ia sempat melarikan diri dan akhirnya, ia justru menjadi perampok yang paling ditakuti di lingkungannya. "

" Apakah kau berbicara tentang dirimu sendiri? " bertanya Sambi Wulung.

Orang tertua itu termenung sejenak. Namun kemudian katanya " Sekarang berikan uangmu. Semuanya, jangan ada yang kau sembuyikan sehingga aku harus mengambilnya sendiri. Jangan pula berusaha mempertahankannya, karena itu adalah sia-sia. Bukankah uangmu itu sebenarnya akan kau habiskan juga di barak-barak permainan judi? "

Jati Wulunglah yang kemudian tertawa. Katanya " Kau aneh. Kau tebak asal saja menebak. Sebagian dari tebakanmu memang benar. Kami adalah pelarian dari Song Lawa. Tetapi jika kami berada di Song Lawa, kami tidak akan menghabiskan uang kami, justru di Song Lawa kami mendapatkan uang banyak sekali. Kami menyesal bahwa Song Lawa telah dihancurkan. Padahal tempat itu merupakan sumber penghasilan kami. "

Orang tua itu mengerutkan keningnya. Katanya "

Mana mungkin seseorang dapat mencari penghasilan di Song Lawa. Bukankah di Song Lawa justru disediakan satu bilik khusus untuk membunuh, diri bagi mereka yang menjadi putus asa karena semua kekayaannya terkuras habis. "

" Justru ada diantara meraka yang membunuh diri, maka tentu ada pula yang menang. Dan kami adalah orang-orang yang selalu menang. " jawab Jati Wulung.

" Yang menang adalah orang-orang Song Lawa sendiri " geram orang tua itu.

" Jangan membantah " bentak Jati Wulung tiba-tiba " kamilah yang mengalami. Kamilah yang tahu pasti. Seperti sekarang ini. Kami sudah memenangkan perjudian itu, meskipun seharusnya kami masih akan dapat menang lebih banyak lagi seandainya prajurit-prajurit Pajang itu tidak datang. " m

" Persetan " geram orang tertua itu " berikan uang itu kepada kami. "

Adalah juga diluar dugaan jika Jati Wulung justru tertawa. Katanya " Kau nampaknya memang mempunyai kebiasaan menunggu orang-orang Song Lawa keluar dari lingkungan perjudian itu setiap habis musim judi. Kau cegat orang-orang yang kau anggap menang, dan kemudian kau ancam agar mereka memberikan uang kemenangannya itu kepadamu. Sayang, nampaknya kau belum pernah membentur orang-orang seperti Kepala Besi, Sikatan Putih atau gerombolan Macan Ireng. Atau, kami bertiga.

Wajah orang tua itu memang berubah. Dalam keremangan senja nampak orang itu merenungi kata-kata Jati Wulung. Bahkan diluar kehendaknya ia berdesis " Kepala Besi, siapakah yang kau maksud? "

" Orang Hutan berkepala Besi dari pesisir Utara. " jawab Jati Wulung.

" Apakah orang itu ada disini sekarang? " bertanya orang tua itu.

" Ia ada di Song Lawa. Aku tidak tahu, apa yang terjadi dengan orang itu dihadapan sepasukan Pajang yang kuat dan berjumlah besar " jawab Jati Wulung. Lalu katanya " Nah, sekarang pikirkan sekali lagi. Apakah kau akan merampok kami? "

Orang tua itu memang termangu-mangu. Tetapi kemudian ia menggeram " Berikan uang itu. Cepat. Atau kalian aku lemparkan kedalam jurang disebelah jalan ini? "

Sambi Wulunglah yang menjawab " Aku akan mempertahankan uang kami. Uang yang dengan susah payah kami dapatkan di Song Lawa, bahwa dengan susah payah pula kami bawa melarikan diri sekarang ini. "

" Kalian agaknya sudah jemu hidup " bentak orang tua itu.

" Orang yang sudah berani mengunjungi Song Lawa adalah orang-orang yang khusus. Nah kita bertemu sekarang. " geram Sambi Wulung.

Kata-kata itu memang merupakan satu tantangan bagi ketujuh orang itu.Ternyata ketiga orang yang mengaku pelarian dari Song Lawa itu sama sekali tidak menjadi gentar melihat mereka bertujuh.

Orang tertua diantara ketujuh orang itu memang tidak menunggu lebih lama lagi. Iapun segera memberikan isyarat kepada para pengikutnya untuk mengepung ketiga orang itu ditiga sisi. Sementara disisi yang lain terdapat jurang yang cukup dalam dan terjal.

" Kalian benar-benar tidak mau menyerahkan uang kalian? " bertanya orang tertua itu.

Tetapi Jati Wulunglah yang menyahut " Jadi kalian benar-benar akan merampok kami? "

Orang tertua diantara ketujuh orang itu menggeram. Katanya kepada para pengikutnya " Bunuh mereka. Kita memerlukan uangnya. Lalu lemparkan mereka ke dalam jurang. Kita tidak usah mendengar keributan esok jika orang-orang pergi ke pasar lewat jalan ini. Atau jika prajurit Pajang kembali dari Song Lawa lewat jalan ini pula. "

Ketujuh orang itu mulai bergerak. Sementara itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung berdiri disebelah menyebelah Puguh. Merekapun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Orang-orang yang akan "merampas uang yang dibawa oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung itu telah mulai bergerak. Nampaknya tiga orang yang akan mereka rampok itu akan bertempur berpasangan, sehingga mereka akan menyusun satu pertahanan bersama.

" Berhati-hatilah " desis Sambi Wulung " nampaknya orang tua itu cukup berbahaya.

Dengan pedang ditangan Puguh telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Sementara itu Sambi Wulung dan Jati Wulung memang memujinya didalam hati, bahwa menghadapi ketujuh orang itu, Puguh tetap tenang. Sama sekali tidak nampak kegelisahan, apalagi ketakutan di wajahnya. Bahkan ketika ia mulai menggerakkan pedangnya, maka ilmu pedangnyapun masih nampak utuh. Tidak gugup.

Dengan demikian maka Sambi Wulung dan Jati Wulung dapat menilai bahwa Puguh yang telah mengembangkan kemampuan ilmu pedang dan oleh kanuragan yang jlain itu, ternyata memiliki pula ketahanan jiwa yang tinggi.

Sejenak kemudian, maka ketujuh orang itupun mulai menyerang. Mereka ternyata mempergunakan berbagai jenis senjata yang menggetarkan. Orang yang bertubuh tinggi dan berdada bidang serta kekar itu ternyata membawa sepotong besi yang berujung runcing. Sedangkan seorang kawannya yang lain telah membawa bindi yang berat. Seorang lagi membawa golok yang besar dan panjang. Sementara itu, orang tertua diantara mereka itu memegang sebilah pedang yang tajam di kedua sisinya. Sambi Wulung sempat memperhatikan pedang itu. Pedang yang lurus dan bermata dua berujung runcing tajam. Dalam keremangan senja sekali-sekali nampak daun pedang itu berkilat lemah.,

" Pedang pilihan " desis Sambi Wulung.

Namun ia tidak sempat terlalu lama memperhatikan jenis-jenis senjata lawan-lawannya. Iapun segera terlibat dalam pertempuran yang cepat. Beberapa ujung senjata telah terjulur kearahnya.

Jati Wulungpun kemudian telah bertempur pula. Mereka masih juga membawa pedang yang mereka pergunakan di Song Lawa, sehingga dengan demikian, maka merekapun telah bertempur dengan senjata sewajarnya.

Di tengah-tengah Puguh telah bertempur dengan gigihnya. Pedangnya berputaran dengan cepat. Benturan-benturan tajam senjata yang kemudian terjadi, telah memercikkan bunga api.

Sekali lagi Sambi Wulung dan Jati Wulung memuji ketabahan hati Puguh menghadapi lawan-lawannya. Bahkan keduanya sempat berangan-angan sekilas, bahwa Puguh telah mendapat kesempatan mematangkan dirinya jauh lebih baik dari Risang. Risang selama ini hanya ditempa didalam sebuah lingkungan tertutup. Siang dan malam ia melatih diri untuk meningkatkan ilmunya. Namun ia tidak pernah mendapat kesempatan untuk mengalami benturan kekuatan yang sebenarnya melawan kekuatan yang besar sebagaimana terjadi pada Puguh. Risang hanya berkesempatan untuk berkelahi dengan anak-anak padukuhan yang nakal dan membuat mereka jera.

Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung sendiri tidak hanya harus menilai kemampuan Puguh. Tetapi merekapun harus bertempur melawan kekuatan yang cukup besar.

Tujuh, orang yang ingin merampas uang mereka itupun telah bertempur dengan sengitnya. Senjata mereka telah terayun susul menyusul menyambar tubuh ketiga orang yang bertahan di bibir jurang itu.

Ketika orang yang bertubuh agak pendek mendesak maju dan menusuk dengan goloknya kearah dada Puguh, maka Puguh sempat menangkisnya. Tetapi bersamaan waktunya, datang pula serangan dari arah lain menyambar lengah Puguh. Untunglah balpwa Jati Wulung yang memiliki ilmu yang tinggi itu sempat melihatnya. Dengan dorongan tenaga cadangannya, maka Jati Wulung telah bergerak cepat sekali memukul serangan itu.

Kedua serangan itu ternyata tidak menyentuh tubuh Puguh, sementara Jati Wulung dan Sambi Wulung telah meningkatkan kecepatan gerak mereka. Mereka mulai membangunkan tenaga cadangan mereka yang semakin lama menjadi semakin besar, sehingga merekapun mampu bergerak semakin cepat diantara ayunan dan putaran senjata lawan mereka yang menggetarkan.

Demikianlah, maka semakin lama pertempuran itu menjadi semakin sengit. Namun ternyata bahwa ketujuh orang itu mengalami kesulitan menembus kepekatan putaran senjata ketiga orang pelarian dari Song Lawa itu.

Tetapi ketujuh orang itupun ternyata adalah orang-orang yang memiliki pengalaman yang luas. Orang yang bertubuh tinggi tegap itupun telah memutar potongan besinya yang runcing sehingga menimbulkan desing angin yang menggetarkan. Bahkan dengan nada tinggi ia berkata " Ternyata kalian telah mempersulit jalan kematianmu sendiri. Ujung besiku, ini telah membunuh lebih dari lima orang. Sekarang, agaknya harus aku tambah lagi dengan setidak-tidaknya seorang diantara kalian, "

" Jadi kau pernah benar-benar membunuh orang? " bertanya Jati Wulung.

" Kau mulai ketakutan? " bertanya orang bertubuh tegap itu. Lalu katanya " semua orang diantara kami pernah membunuh mereka yang tidak mengikuti perintah kami. Paling sedikit diantara kami telah membunuh tiga orang korban. Sementara pemimpin kami telah membunuh lebih dari sepuluh orang. "

" Gila " geram Jati Wulung " jika demikian, maka tidak ada hukuman lain yang pantas dijatuhkan atas kalian kecuali hukuman mati. "

Pemimpin kelompok itu tertawa. Orang tua itupun berkata " Kalian tidak berhak menjatuhkan hukuman apapun atas kami. Apalagi sebentar lagi kalian sudah akan kami lemparkan ke dalam jurang. "

" Apakah benar kau pernah membunuh lebih dari sepuluh orang Ki Tumenggung? Bahkan mungkin diantara mereka terdapat perempuan dan anak-anak. " berkata Sambi Wulung.

" Kau boleh memanggil aku Ki Tumenggung. Memang menyenangkan sekali dipanggil dengan sebutan itu. Tetapi itu tidak akan menolongmu. Kau akan menjadi orang yang terbunuh berikutnya oleh senjataku ini, Aku memang sudah membunuh lebih dari sepuluh orang. Bahkan lebih dari limabelas orang. Jika diantara mereka terdapat perempuan dan anak-anak, itu adalah karena salah mereka sendiri. " jawab orang tertua diantara mereka.

" Apa boleh buat " berkata Sambi Wulung " sesuai dengan pengakuan kalian sendiri, maka kalian memang harus mati. Jika kalian masih juga diampuni dan mendapat kesempatan untuk hidup, maka kalian tentu akan membunuh lagi. "

Hampir berbareng beberapa orang diantara mereka tertawa. Tetapi mereka sama sekali tidak mengendorkan serangan-serangan mereka yang datang beruntun, susul menyusul semakin lama terasa menjadi semakin cepat. Bahkan orang tertua diantara mereka itupun telah bergeser pula setiap kali.

Sekali menghadapi Sambi Wulung, kemudian bergeser untuk menyerang Puguh dan kadang-kadang ia berhadapan dengan Jati Wulung. Ternyata orang tua itu terlalu yakin akan kemampuannya sendiri, sehingga dengan demikian ia menganggap bahwa lawan-lawannya itu akan menjadi kebingungan.

Tetapi dugaan itu ternyata salah. Ketiga orang itu sama sekali tidak menjadi bingung. Apalagi Sambi Wulung dan Jati Wulung. Bahkan Puguhpun tidak menjadi bingung meskipun ia memang mengalami kesulitan. Tetapi setiap  kali Sambi Wulung atau Jati Wulung telah menolongnya, menyelamatkannya dari ujung-ujung senjata lawan.

Ternyata ketika pertempuran itu menjadi semakin seru, Sambi Wulung dan Jati Wulung meyakini bahwa lawan-lawan mereka itu memang benar-benar berusaha untuk membunuh mereka. Yang mereka katakan bukan sekedar membual dan menakut-nakuti, tetapi benar-benar akan mereka lakukan.

Karena itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulungpun tidak lagi sekedar bermain-main. Cara mereka menghadapi orang-orang itu memang berbeda dengan cara yang mereka pergunakan untuk menghadapi prajurit-prajurit Pajang yang memburu mereka disaat mereka melarikan diri dari Song Lawa.

Ketika tangan mereka telah mulai berkeringat, maka gerak mereka berduapun menjadi semakin lama semakin cepat. Tenaga cadangan yang mereka pergunakan menjadi semakin mereka tingkatkan pula, sehingga ketujuh orang lawan mereka itupun merasa menjadi semakin sulit.

Tetapi orang tua diantara ketujuh orang itupun tiba tiba saja telah berteriak " Sudah waktunya kalian melakukannya. Jangan menunggu lagi. "

Keenam orang yang menerima perintah itupun telah dengan serentak mengerahkan kemampuan puncak mereka. Senjata mereka terayun-ayun semakin mengerikan. Sepotong besi yang runcing itupun berputar bagaikan baling-baling. Sementara golok yang besar dan berat terayun-ayun mendatar dan kadang-kadang menyilang, sementara sebuah bindi yang berat, bergerigi, menyambar-menyambar seperti cakar-cakar garuda yang besar, sedangkan ujung-ujung pedang mematuk seperti mulut ular bandotan.

Puguh memang terkejut melihat gerak senjata yang bergelora bagaikan angin prahara itu. Selangkah ia bergeser surut untuk melihat lebih jelas lagi dalam keremangan ujung malam yang mulai turun. Kilatan-kilatan pedang orang tertua dari gerombolan itu kadang-kadang memang membuat getar dihati anak yang masih sangat muda itu.

Betapapun tabah hatinya, namun gerak serentak yang bagaikan banjir bandang melandanya itu, adalah wajar jika telah membuatnya berdebar-debar. Tetapi Sambi Wulung dan Jati Wulung yang mengetahui bahwa hal serupa itu akan terjadi, justru tidak beranjak dari tempat mereka. Senjata merekapun telah mengimbangi kecepatan gerak senjata lawan mereka. Meskipun hanya dua buah pedang. Tetapi yang dua itu ternyata mampu bergerak diluar perhitungan lawan-lawannya. Pedang itu berputar, berayun mendatar, menyilang dan menyambar. Juga mematuk dengan cepatnya. Bahkan jika serangan lawannya bergerak bersamaan, pedang itu berputar melingkari lingkungan pertahanan mereka, seperti sebuah perisai kabut yang putih. Namun sulit untuk ditembus meskipun hanya seujung duri sekalipun. Dua buah pedang itu ternyata telah membingungkan

 

 

ketujuh lawan mereka. Seolah-olah mereka telah melihat sepuluh buah pedang yang berterbangan disekitar arena yang semakin gelap itu.

Orang tertua diantara mereka itupun mengumpat kasar. Namun ia masih berharap untuk dapat mengatasi lawannya. Mereka bertujuh berharap akan dapat bertahan lebih lama dari ketiga orang lawannya. Jika lawan mereka mengerahkan tenaga sepenuhnya, maka ketiga orang itu akan segera menjadi letih sehingga kemampuan mereka akan segera mengendor.

Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Sambi Wulung dan Jati Wulung ternyata semakin lama menjadi semakin cepat bergerak. Bahkan ketika orang yang bertubuh tegap kekar itu berusaha untuk menyambar tengkuk Jati Wulung dengan tongkat besinya, Jati Wulung sempat merendah. Demikian tongkat besi itu terayun diatas kepala, maka Jati Wulung telah menjulurkan pedangnya.

Orang itu berusaha untuk mengelak. Namun meskipun dengan cepat ia melenting mundur, ternyata bahwa ujung pedang Jati Wulung sempat menyentuh dadanya.

Luka itu tidak begitu dalam. Tetapi goresan itu telah mengoyak kulit orang yang bertubuh tegap itu, sehingga darahpun mulai mengalir.

Orang bertubuh tinggi tegap itu segera meloncat mundur dan berada dibelakang garis pertempuran. Dirabanya lukanya yang tidak begitu dalam itu. Namun oleh keringatnya yang mengalir, luka itu memang terasa terlalu pedih.

Dengan kemarahan yang bergelora sampai ke ubun-ubunnya ia menggeretakkan giginya. Dengan  langkah  yang dibebani dendam dan kebencian ia bergerak memasuki arena pertempuran itu kembali.

Namun, demikian ia mulai menggerakkan tongkat besinya, ternyata seorang kawannya yang bertubuh agak gemuk dan bersenjata kapak dengan kait dipunggung mata kapaknya, telah terdorong surut dan bahkan kemudian telah mendorong dua orang kawannya yang lain pula. Untunglah mereka dapat bertahan untuk tidak jatuh terlentang. Tetapi ternyata orang yang bersenjata kapak berkait itu, merintih kesakitan.

" Kenapa? " bertanya seorang kawannya yang bersenjata bindi.

Orang yang bersenjata kapak itu mengumpat. Katanya " Orang itu telah melukai aku. "

Orang bersenjata bindi itu termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian melihat, bahwa lengan kawannya itu telah menganga.

Dalam pada itu, orang tertua diantara mereka telah berteriak nyaring " Apa yang kalian lakukan he? Cepat, selesaikan ketiga tikus-tikus busuk itu. "

Orang bersenjata bindi itupun segera meninggalkan kawannya yang terluka dilengannya. Bindinyapun segera telah terayun kembali.

Sambi Wulung dan Jati Wulung benar-benar merupakan dua orang yang sulit diimbangi. Meskipun keduanya belum merambah ke ilmunya yang lebih tinggi, tetapi ketujuh orang itu sudah merasakan kesulitan untuk mengalahkan mereka.

Bahkan Puguhpun sempat menjadi heran. Bagaimana mungkin Sambi Wulung dan Jati Wulung dapat melawan ketujuh orang itu dengan tanpa mengalami kesulitan. Ia sendiri hampir tidak banyak berbuat. Puguh sendiri hanya harus bertahan jika ada satu dua orang sempat menyusup disela sela pedang Sambi Wulung dan Jati Wulung.

Selebihnya, Sambi Wulung dan Jati Wulung yang dikenalnya bernama Wanengbaya dan Wanengpati itulah yang mengatasi perlawanan ketujuh orang itu.

Ketika pengikutnya telah terluka, maka rasa-rasanya jantung orang tertua diantara mereka itupun akan meledak oleh kemarahan. Tetapi bagaimanapun juga ia berusaha bersama orang-orangnya, namun sulit baginya untuk dapat melumpuhkan perlawanan itu.

Akhirnya, orang tertua itu sampai pada keputusan terakhir untuk mempergunakan senjata andalannya. Senjata yang jarang sekali dipergunakan jika ia tidak tersudut kedalam kesulitan.

Apalagi ketika kemudian ternyata seorang lagi pengikutnya telah terluka. Seorang anak muda yang bertubuh tinggi yang dianggapnya seorang yang berpengetahuan luas.

Dalam gejolak kemarahannya, orang tertua itu sempat berteriak " He, orang-orang yang tidak tahu diri. Kalian sangka bahwa setelah kalian berhasil melukai orang-orangku kalian akan memenangkan pertempuran ini, he? Sudah saatnya aku tidak lagi menahan diri untuk bersabar. Kalian memang harus mati ditanganku. "

Dalam pada itu, orang tertua itu tiba-tiba saja telah memindahkan senjatanya ditangan kiri. Dengan tangkasnya tangan kanannya telah bergerak. Ternyata sebuah lingkaran kecil yang bergerigi tajam telah meluncur dari tangannya.

Sambi Wulung yang menjadi sasaran serangan itu sempat memangkisnya. Bahkan ia sempat berkata lantang. " Hati-hatilah. Lawan kita ternyata seorang yang licik. "

Puguh yang mendengar seruan Sambi Wulung itupun menjadi semakin berhati-hati. Baginya agaknya masih terlalu sulit untuk menangkis serangan lingkaran besi baja yang bergerigi tajam itu. Namun masih mungkin bagi Puguh untuk mencoba menghindari.

Tetapi disamping serangan lingkaran bergerigi itu, ia masih menghadapi serangan-serangan dari lawan-lawannya yang bersenjata bindi, kapak, pedang, golok dan yang lain, meskipun beberapa orang diantara! mereka sudah terluka.

Karena itu, maka Sambi Wulunglah yang berusaha menghadapi langsung orang tertua dari kelompok orang orang kasar itu. Sementara itu ia mengharap Jati Wulung akan tanggap pada keadaan.

Sebenarnyalah Jati Wulung memang menyadari apa yang terjadi. Karena itu, maka iapun telah meningkatkan ilmunya pula. Bahkan iapun telah bersiap-siap mempergunakan ilmu puncaknya apabila diperlukan.

Tetapi agaknya Jati Wulung telah mampu mengatasi keadaan dengan mengerahkan tenaga cadangannya. Dengan gerak yang semakin cepat, maka lawan-lawannya benar-benar telah menjadi kebingungan. Pedang Jati Wulung berputaran bagaikan segumpal awan putih yang bergerak di sepanjang medan.

Sambi Wulung lebih memusatkan perhatiannya kepada pemimpin dari sekelompok lawan-lawannya itu. Ia berusaha untuk menangkis setiap serangan lingkaran bergerigi yang terbang menyambarnya, bahkan menyambar kawan-kawannya. Dengan kemampuannya yang sangat tinggi, maka Sambi Wulung telah mendesak dan berusaha bertempur pada jarak yang dekat.

Dalam pada itu, Puguh memang terhindar dari serangan-serangan yang sangat berbahaya itu. Sambi Wulung yang telah berhasil mendekat, tidak memberi kesempatan kepada orang tertua itu untuk menyerang Puguh dan Jati Wulung. Serangan-serangannya hanya tertuju kepada Sambi Wulung yang menjadi sangat berbahaya baginya.

Sementara itu Jati Wulung seakan-akan telah mengambil alih semua orang yang tersisa. Puguh memang mampu berusaha untuk melindungi dirinya. Namun Jati Wulunglah yang harus berloncatan kian kemari.

Namun dengan demikian maka pertempuranpun menjadi semakin mendekati akhirnya. Jati Wulung benar-benar tidak mengekang diri lagi. Pedangnya terayun-ayun mengerikan. Bahkan sejenak kemudian, maka ujung pedangnya telah menjadi merah oleh darah lawannya ketika ia berhasil menusuk lambung orang yang berwajah kasar dan berkepala botak, yang mengenakan ikat kepala sekenanya saja.

Luka itu cukup dalam, sehingga lambungnya bagaikan telah menganga. Karena itu, maka orang itupun telah terjatuh tertelungkup. Darah yang mengalir dari lukanya itu bagaikan arus sebatang parit kecil yang menumpahkan airnya ke sawah.

Tetapi orang yang bertubuh tinggi ternyata memang cerdik.

Ia melihat bahwa kelemahan dari ketiga orang itu terletak pada anak muda yang agaknya selalu mendapat perlindungan dari kedua orang yang lain.

Karena itu, maka pada satu kesempatan ia berbisik kepada orang yang bertubuh tinggi tegap dan yang juga sudah terluka pula " Kita bantai anak itu. "

Orang yang bertubuh tinggi tegap itupun mengerti rencana itu. Dengan kemarahan yang memuncak, maka ia memang ingin membalas dendam karena luka-lukanya.

Ketika Jati Wulung sedang sibuk melayani lawan-lawannya yang lain, maka kedua orang yang sudah terluka itu dengan sisa tenaganya telah menyerang Puguh.

Puguh terkejut. Tetapi ia tidak dapat meloncat mundur, karena ia sudah terlanjur terlalu dekat dengan bibir jurang. Karena itu, maka ia harus berusaha untuk menangkis serangan-serangan itu.

Jati Wulung melihat bahaya yang mengancam anak muda itu. Adalah dorongan nalurinya untuk menolong seseorang yang menghadapi bahaya maut tanpa mengingat lagi siapakah orang itu. Karena itu, maka dengan sigapnya ia menguak kepungan lawan dan bahkan dengan satu ayunan yang kuat, Jati Wulung telah berhasil melemparkan kapak ditangan lawannya yang memang sudah terluka itu.

Dengan cepat ia meloncat justru menyerang orang yang bertubuh tinggi tegap dan bersenjata tongkat besi yang runcing itu.

Namun Jati Wulung terlambat selangkah. Meskipun ujung tongkat besi itu tidak mengenai lawannya, tetapi senjata orang yang bertubuh tinggi itulah yang telah menyambar pundak Puguh.

Terdengar Puguh berdesah tertahan. Namun pada saat yang bersamaan terdengar orang bertubuh tinggi itu berteriak nyaring. Ternyata pedang Jati Wulung telah menyambarnya. Demikian kerasnya sehingga orang itu seakan-akan telah terdorong tanpa dapat menahan diri lagi. Didalam gelapnya malam, maka orang itu justru telah terperosok masuk kedalam jurang.

Kawannya yang bertubuh tinggi tegap itu tidak mampu menolongnya. Bahkan Jati Wulung yang bagaikan mengamuk itu telah berdiri menghadap kearahnya.

Puguh berdiri termangu-mangu. Terasa darah yang hangat telah mengalir dari luka di pundaknya. Justru pundak kanannya. Dengan demikian maka terasa tangannya menjadi lemah.

Tetapi ketabahan anak muda itu memang terpuji. Ia tidak mau menyerah pada keadaannya. Meskipun pundaknya terluka, tetapi ia masih juga mengangkat ujung pedangnya teracu kearah lawannya.

Sementara itu, Sambi Wulung masih bertempur melawan pemimpin gerombolan perampok yang kasar itu. Bahkan ia harus bertempur melawan dua orang sekaligus, sementara orang tertua itu masih saja disetiap kesempatan mempergunakan senjatanya yang sangat berbahaya itu.

Meskipun ia masih sempat sekali-sekali menyerang dengan lingkaran baja yang bergerigi itu, namun ia masih juga mengumpat-umpat. Ternyata Sambi Wulung benar-benar seorang yang memiliki ilmu yang tinggi.

Dengan demikian, maka keadaan para perampok itu menjadi semakin sulit. Tetapi ternyata mereka justru menjadi semakin liar. Orang-orang yang sudah terluka tidak menyerah karena lukanya. Namun mereka telah bertempur dengan liarnya.

Disaat-saat terakhir, baik Sambi Wulung maupun Jati Wulung benar-benar tidak mau mengekang diri lagi. Menurut pendapat mereka orang-orang yang merampok itu, benar-benar pembunuh yang sangat berbahaya. Karena itu,maka tidak ada pilihan lain bagi mereka selain menyelesaikan mereka yang tersisa.

Tetapi sebelumnya Sambi Wulung masih juga berpikir untuk mengambil jalan lain. Katanya " Menyerahlah. Jika kalian menyerah, maka kalian tidak akan mati. Tetapi kalian akan kami serahkan Ki Bekel di padukuhan berikut itu. "

" Persetan " geram orang tertua diantara mereka " kami tidak mempunyai pilihan lain kecuali membunuh kalian bertiga. "

" Jadi bagi kita sudah tidak ada kesempatan mengambil jalan lain kecuali saling membunuh? " bertanya Sambi Wulung.

Ternyata orang tertua itu tidak menjawab. Tetapi dua lingkaran geriginya meluncur sekaligus. Demikian cepatnya terbang didalam kegelapan sementara Sambi Wulung yang tidak menyangka bahwa orang itu akan dengan tiba-tiba menyerang dengan dua buah lingkaran sekaligus, agak terlambat menghindar. Karena itulah, maka sebuah diantara kedua lingkaran baja itu telah menyentuh lengannya.

Sambi Wulung terkejut. Lengannya terasa bagaikan tersentuh bara api. Dan ternyata kemudian luka telah menganga dan darah mengalir dari lukanya itu. Sambi Wulung menjadi semakin marah. Hampir saja ia telah melepaskan ilmu puncaknya yang akan dapat membakar lawannya menjadi hangus. Namun ia masih harus menyembunyikannya dari penglihatan Puguh agar tidak menumbuhkan kecurigaan jika anak muda itu berceritera tentang dirinya kelak.

Karena itulah, maka Sambi Wulungpun telah mengerahkan tenaga cadangannya. Dengan demikian, maka iapun telah bergerak semakin cepat. Berloncatan menghindar dan menangkis serangan-serangan yang kemudian datang susul menyusul. Agaknya lawannyapun berusaha untuk mempergunakan kesempatan yang ada menghujani Sambi Wulung dengan senjatanya itu.

Tetapi usaha itu sia-sia. Sambi Wulung yang marah, ternyata tidak mengampuninya lagi. Sambil menangkis dan  menghindar, akhirnya Sambi Wulung dapat juga mencapai lawannya. Sebuah ayunan yang keras menebas kearah dada.

Orang tertua itu masih sempat menghindar. Ketika Sambi Wulung siap meloncat menerkam dengan ujung pedangnya, maka seorang yang lain telah menyerangnya.

Sambi Wulung menghindar dengan berjongkok rendah. Demikian senjata lawannya terayun diatas kepalanya, maka pedangnya telah terjulur, tepat menembus lambung mengoyak isi perutnya.

Orang itu tidak sempat mengeluh. Namun ketika Sambi Wulung menarik pedangnya, sebuah lingkaran bergerigi telah menyambarnya.

Dengan demikian maka Sambi Wulung harus dengan cepat menghindar. Tetapi akibatnya justru pedangnya bagaikan dihentakkannya, sehingga luka di lambung lawannya yang seorang itu menjadi semakin menganga, Maka pada saat-saat terakhir, Sambi Wulung telah bertempur melawan orang tertua diantara ketujuh orang itu. Memang tidak ada pilihan, apalagi Sambi Wulung telah dilukai oleh lawannya itu.

Sesaat kemudian, maka keadaanpun menjadi hening. Angin malam yang basah bertiup disela-sela pepohonan. Seakan-akan tiba-tiba saja langit menjadi gelap oleh mendung.

Puguh duduk diatas sebuah batu di bibir jurang. Ternyata lukanya telah terasa pedih dan nyeri.

" Kita akan mengobati luka kita " berkata Sambi Wulung kemudian.

Puguh tidak menjawab. Tetapi di pandanginya didalam gelapnya malam yang menjadi semakin pekat oleh mendung, lima sosok tubuh terbaring. Ternyata mereka telah terbunuh dalam pertempuran yang garang itu. Dua orang diantara mereka telah terlempar jatuh kedalam jurang.

Dalam pada itu, Sambi Wulung dan Puguh telah diobati luka-lukanya oleh Jati Wulung yang sempat berkata " Hanya aku yang tidak terluka. "

Sambi Wulung berdesis " Kau cari lawan yang paling lemah. "

Jati Wulung tertawa. Katanya " Kita bertempur bercampur baur. "

Sambi Wulung tidak menjawab lagi. Tetapi ketika serbuk obat yang dibawanya ditaburkan dilukanya, maka terasa luka itu sangat pedih. Demikian pula luka dipundak Puguh yang ternyata lebih parah dari luka Sambi Wulung. Apalagi daya tahan tubuh merekapun berbeda.

" Bagaimana dengan tubuh orang-orang yang terbunuh itu? " bertanya Jati Wulung kemudian.

" Apakah kita akan menguburkan mereka? " sahut Puguh dengan nada rendah.

Sambi Wulung termangu-mangu. Namun katanya " Terpaksa sekali kita tidak dapat melakukannya. Tetapi kita berharap bahwa besok ada orang yang bersedia menguburkan mayat-mayat itu. Kita tidak mempunyai alat untuk melakukannya, sementara jika hujan turun, maka obat di luka kita akan hanyut dan tidak berarti lagi. "

" Kita cari tempat untuk berteduh " berkata Jati Wulung.

Mereka bertigapun kemudian dengan berat hati terpaksa meninggalkan kelima sosok mayat yang sudah mereka angkat menepi. Mereka baringkan berjajar direrumputan dibibir jurang. Ternyata mereka tidak sampai hati untuk melemparkan mayat-mayat itu begitu saja kedalam jurang.

" Bukan pekerjaan kami membunuh " desis Sambi Wulung kepada Puguh " tetapi kita tidak mempunyai pilihan laih. Sementara itu, jika mereka lepas dari tangan kita, maka akan lebih banyak lagi korban yang akan jatuh. Mereka tentu akan membunuh dan membunuh.

Puguh hanya termenung saja. Ternyata perjalanannya ke Song Lawa yang terakhir itu telah mempertemukannya dengan pengalaman yang sangat berkesan dihatinya.

Namun ketika titik-titik air mulai jatuh, merekapun mulai bergerak meninggalkan tempat itu. Ternyata bahwa Puguh telah terpengaruh oleh luka-lukanya yang agaknya banyak mengeluarkan darah.

Karena itu, maka Jati Wulung telah membantunya, memapahnya berjalan menelusuri jalan yang terasa menjadi sangat gelap, sementara disebelah jalan itu terdapat jurang yang terjal.

Hanya karena ketajaman mata mereka yang melampaui kebanyakan orang sajalah, maka mereka tidak menjadi cemas akan terperosok kedalam jurang itu.

Ketika mereka melihat sebuah gubug ditengah-tengah sawah, tetapi tidak terlalu jauh dari jalan, maka mereka pun telah meniti pematang menuju ke gubug itu.

Tepat disaat orang terakhir memanjat naik ke gubug itu, maka hujanpun turun bagaikan dicurahkan dari langit. Sekali-sekali kilat menyambar, melontarkan cahaya yang seribu kali lebih terang dari cahaya lampu.

Dalam pada itu Puguh sempat berbaring di gubug yang meskipun tidak begitu besar, tetapi cukup longgar itu. Meskipun titik-titik air ada juga yang didorong angin menyusup kedalam gubug itu, tetapi mereka dapat menyembunyikan luka-luka mereka dengan baik sehingga obat yang ditaburkannya tidak dihanyutkan oleh air hujan itu.

" Nampaknya orang-orang yang terbunuh itu tidak terlalu asing disini " berkata Jati Wulung.

" Kenapa? " bertanya Sambi Wulung.

" Sikapnya di kedai itu, juga sikap pemilik kedai itu menunjukkan bahwa ketujuh orang itu sudah terbiasa berada di kedai itu " jawab Jati Wulung.

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Tetapi katanya kemudian dengan nada rendah " Apakah kita menganggap perlu untuk mengetahui siapakah mereka sebenarnya? "

Jati Wulung menggeleng. Jawabnya " Tidak. Siapa pun mereka, namun mereka telah barusaha untuk merampok kita. Hal yang sama tentu dilakukan pula terhadap orang lain yang dianggapnya membawa uang atau barang-barang berharga. "

Namun tiba-tiba saja Puguh bertanya " Apakah kalian memang memancing persoalan? Dengan menunjukkan bahwa kalian membawa banyak uang, maka kalian mendapat kesempatan untuk membunuh mereka. "

" Tentu tidak " jawab Sambi Wulung meskipun hatinya agak berdebar-debar juga " aku tidak sadar, ketika aku mengambil kampil uang itu dari kantong bajuku. "

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Tubuhnya masih saja terasa lemah. Sementara itu hujanpun masih saja turun dengan lebatnya. Bahkan terasa angin menjadi semakin kencang bertiup.

Ketika gubug kecil itu bagaikan terguncang oleh angin yang kencang, maka Puguhpun menjadi berdebar-debar

" Bagaimana jika gubug ini roboh? "

" Tidak " jawab Jati Wulung " karena gubug ini tidak berdinding agaknya angin tidak terlalu garang mendorongnya. Mungkin atapnya dapat diterbangkan. Tetapi rasa-rasanya angin tidak akan bertiup semakin keras. "

Puguh tidak menjawab. Sekali-sekali di langit masih memancar lidah api yang panjang. Guntur terdengar menggelegar.

" Tidak terlalu dekat " berkata Sambi Wulung. Ketiga orang itupun kemudian terdiam. Seakan-akan mereka tengah tenggelam memperhatikan air hujan yang tumpah dari langit tidak henti-hentinya. Berapa banyak air yang tersimpan didalam mendung yang kelabu itu.

Ternyata bahwa hujan itupun tidak segera teduh. Sementara itu ternyata Puguhpun tertidur diluar kehendaknya. Tubuhnya yang lemah serta perasaan letih telah membuatnya terlena. Tetapi dalam pada itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung tetap berhati-hati. Mereka tidak berbicara tentang sesuatu yang dapat membuka rahasia mereka, karena bagaimanapun juga mereka sadari, bahwa Puguh selain anak muda yang tabah, berani, juga seorang yang cerdik.

Karena itu, maka Jati Wulung justru ikut berbaring disisi Puguh yang tertidur. Sementara Sambi Wulung masih saja duduk sambil sekali-sekali meraba kulit disekitar lukanya yang meskipun tidak parah, tetapi cucuran darahnya jika tidak pampat, akan dapat mengganggunya pula.

Tetapi agaknya obat yang dibawanya adalah obat yang baik, sehingga baik luka-lukanya, maupun luka Puguh yang lebih parah, telah tidak berdarah lagi.

Ternyata bahwa mereka bertiga harus menunggu untuk beberapa saat lamanya. Baru menjelang tengah malam, maka hujanpun mulai reda. Tetapi suara guntur dan petir masih saja menggelegar meskipun ditempat yang jauh.

" Kita sudah cukup lama beristirahat " berkata Sambi Wulung.

JATI WULUNG yang berbaring disebelah Puguhpun telah bangkit pula. Ditengadahkannya tangannya yang terjulur keluar gubug terbuka itu. Katanya " Hujan memang sudah berhenti. Nah, apakah kita akan melanjutkan perjalanan? "

Kita jauhi tempat ini sebelum ada orang yang melihat sosok-sosok mayat itu. " jawab Sambi Wulung.

Jati Wulung mengangguk. Karena itu, maka disentuhnya Puguh yang masih tertidur nyenyak.

Puguhpun segera terbangun. Sambil mengusap matanya, iapun bangkit.

" Apakah hujan sudah berhenti? " bertanya anak muda itu.

" Ya. Hujan memang sudah berhenti " jawab Jati Wulung.

" Lalu, apakah kita akan melanjutkan perjalanan? " bertanya Puguh itu pula.

" Marilah " desis Sambi Wulung " kita jauhi tempat ini. "

Demikianlah, maka mereka bertigapun segera melanjutkan perjalanan. Kesempatan tidur yang tidak terlalu lama itu agaknya telah memberikan kekuatan pada tubuh Puguh yang lemah, sehingga rasa-rasanya ia akan sanggup berjalan lagi sampai pagi.

Ketika Puguh menengadahkan wajahnya kelangit, maka dilihatnya bintang bagaikan menguak awan yang kelabu gelap. Satu-satu muncul dan mulai bercahaya. Sementara itu di cakrawala mendung masih nampak bergantung rendah. Dan sekali-sekali kilat memancar dengan terangnya.

Ketiga orang itu berjalan sambil berdiam diri. Namun seperti sudah berjanji, mereka berusaha untuk menghindari jalan-jalan yang menembus padukuhan, Jika di mulut-mulut jalan yang memasuki padukuhan itu terdapat regol dan gardu, maka mereka tentu akan mendapat seribu macam pertanyaan oleh para peronda.

Karena itu, maka kadang-kadang merekapun telah menyusuri jalan-jalan sempit dan bahkan tanggul-tanggul parit, pematang dan sidatan-sidatan setapak.

Sedemikian jauh, Sambi Wulung dSm Jati Wulung masih juga belum bertanya, kemana mereka sebenarnya akan pergi. Tetapi mereka lebih banyak mengikuti saja langkah-langkah Puguh yang nampaknya dengan tidak sengaja telah memilih arah tertentu.

Apalagi ketika pundaknya terluka cukup dalam. Meskipun setelah tertidur nyenyak beberapa saat, tubuhnya terasa lebih segar, tetapi luka itu masih juga mempengaruhi keadaan tubuhnya. Bahkan rasa-rasanya darahnya menjadi panas dan urat-uratnya melemah.

Beberapa kali Sambi Wulung memang membubuhkan obat di luka Puguh yang memang cukup dalam. Darahnya memang sudah pampat, tetapi pengaruh pada tubuhnya masih terasa sekali. Tubuhnya dengan cepat merasa letih dalam perjalanan yang lambat. Bahkan rasa-rasanya perasaannya kadang-kadang seperti melayang tanpa dapat dikendalikan. Seperti mimpi meskipun disadarinya.

" Apa yang terjadi dengan diriku " berkata Puguh.

" Kau kenapa? " Sambi Wulung dan Jati Wulung menjadi cemas.

" Rasa-rasanya kesadaranku tidak utuh. Kadang-kadang aku merasa seperti mabuk tuak. Juga pening dan mual. Rasa-rasanya sulit untuk mengendalikan diri. " berkata Puguh.

" Tetapi kau masih sadar sepenuhnya " berkata Sambi Wulung " usahakan agar kau tetap sadar dan tidak kehilangan penalaran. Kita akan menempuh perjalanan panjang. "

Puguh mengangguk. Karena itu, dengan sisa kesadarannya ia telah berjuang untuk tetap dalam kesadaran. Ia tidak mau pingsan atau seperti seorang yang mabuk. Lupa diri dan tidak tahu apa yang telah dilakukannya sendiri. "

" Baiklah " berkata Sambi Wulung selanjutnya " jika demikian maka kau harus segera sampai ketujuanmu. Tetapi kau belum mengatakan, kita akan pergi ke mana. Bagi kami berdua, kemanapun kami pergi tidak akan ada permasalahan. Tetapi bagi kau tentu lain. "

Puguh benar-benar merasa dirinya sulit untuk dikuasainya. Namun ia masih tetap sadar untuk tidak mengatakan sesuatu tentang tempat tinggalnya. Namun ia mengerti, bahwa ia memang harus segera sampai ketujuan.

Karena itu, maka Puguh hanya sekedar memilih arah. Dengan nada rendah ia berkata " Kita menuju ke Gantar.

" Gantar " Sambi Wulung mengulang.

" Ya. Setelah sampai di Gantar, maka aku harap aku sudah dapat melanjutkan perjalananku sendiri. " berkata Puguh.

" Kenapa kau harus berjalan sendiri? " bertanya Jati Wulung.

" Kalian bukan keluarga kami. Karena itu, maka kalian tidak perlu mengetahui tempat tinggal kami, Para pengawalku itupun tidak tahu banyak tentang tempat tinggalku yang sebenarnya. " jawab Puguh.

" Aku tidak berkepentingan dengan tempat tinggalmu. Aku hanya akan mengantarkanmu sampai ke orang tuamu atau siapapun yang pantas menerimamu dalam keadaan seperti ini " berkata Jati Wulung.

Namun Puguh berkata " Bukankah kau ingin menemui orang tuaku dan membicarakan tentang aku? Tentang anak-anak muda yang berada ditempat maksiat seperti itu? "

Sambi Wulung dan Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam.

Dengan ragu-ragu Sambi Wulungpun berkata " Apakah kau berkeberatan jika aku berbicara dengan orang tuamu?  "

Dengan wajah yang tegang Puguh menjawab " Aku berkeberatan. "

" Apakah orang tuamu tidak mengetahui, bahwa kau sering berada di Song Lawa di musim-musim perjudian? " bertanya Jati Wulung.

Puguh tidak segera menjawab. Tetapi kepalanya terasa semakin pening. Sekali-sekali dipijitnya keningnya sambil berdesis.

Sambi Wulung dan Jati Wulung memandanginya dengan cemas. Bahkan Sambi Wulung kemudian berkata " Kita berhenti sejenak. Nampaknya langit menjadi terang. Agaknya hujan tidak akan turun lagi. "

Mereka bertigapun kemudian berhenti dan duduk diatas sebuah batu yang besar dipinggir sungai. Ternyata bahwa Puguh memang perlu beristirahat lagi.

" Aku haus sekali " berkata Puguh.

" Aku tidak tahu, apakah disini ada semacam belik yang dapat diambil airnya " jawab Jati Wulung.

" Aku akan minum disungai itu " berkata Puguh dengan suara bergetar.

" Tunggulah disini. Aku akan melihatnya. Jika ada belik disepanjang tepiannya, maka kau dapat minum. Jika tidak, agaknya kau perlu bertahan sejenak. Kita akan menelusuri sungai itu sampai menemukan sebuah belik kecil agar kau tidak minum air yang sudah menjadi kotor. " berkata Jati Wulung.

Puguh tidak menjawab. Tetapi Jati Wulunglah yang kemudian bangkit dan turun ke sungai. Beberapa langkah ia menelusuri tepian sungai itu untuk menemukan sebuah belik kecil yang airnya tentu lebih bersih dari air yang mengalir di batang sungai itu.

Ternyata Jati Wulung menemukannya. Karena itu, maka iapun dengan tergesa-gesa kembali ke tempat Puguh menunggu.

" Aku mendapatkan belik kecil itu diatas tebing berbatu padas " berkata Jati Wulung.

Maka Sambi Wulung dan Jati Wulungpun kemudian telah membimbing Puguh turun ketepian dan menelusuri sungai kecil tetapi berbatu-batu besar itu, sehingga akhirnya mereka sampai kesebuah belik jkecii.

" Jangan terlalu banyak minum " berkata Sambi Wulung memperingatkan.

Puguh memang tidak minum terlalu banyak. Tetapi lehernya yang serasa kering itu menjadi segar.

" Kita berjalan terus " berkata Puguh tiba-tiba.

Sambi Wulung dan Jati Wulung menangguk. Tetapi Sambi Wulung sempat bertanya " Apakah kau mengenal jalan ke Gantar? " Setidak-tidaknya arah perjalanan ke Gantar? "

Puguh termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menengadahkan wajahnya kelangit.

Beberapa kelompok bintang memang nampak. Tetapi Puguh tidak menemukan bintang Gubug Penceng yang ternyata masih tertutup mendung.

" Aku kehilangan arah " jawab Puguh.

" Tetapi kau lihat bayangan Gunung itu? " desis Jati Wulung.

" Ya. Tetapi kita berada disebelah mana dari Gunung itu. Apakah kita ada di sebelah Barat, Utara atau Selatan? " Kita memang bergerak ke Barat mula-mula. Tetapi aku tidak yakin bahwa arah kita tidak bergeser. " jawab Puguh.

" Kau cari bintang Gubug Penceng? " Sambi Wulung menebak.

" Ya " jawab Puguh. " Tetapi bintang itu agaknya masih tertutup mendung. Jika kita menemukan bintang itu, maka kita akan tahu arah selatan. Sedangkan bintang Wulukupun tidak nampak pula. "

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Iapun mengerti, bahwa bintang yang dapat menunjuk arah itu tidak kelihatan dilangit yang sebagian masih tertutup mendung.

Karena itu maka ketiga orang itu melangkah terus tanpa tahu kearah mana mereka berjalan. Tetapi mereka memang hanya melangkah perlahan-lahan. Selain karena tubuh Puguh yang lemah, juga karena mereka masih harus memperhitungkan, agar mereka tidak berjalan ke arah yang semakin jauh dari tujuan.

Beberapa saat kemudian, angin yang semilir seakan-akan telah mendorong mendung dari langit. Perlahan-lahan maka awan yang hitam kelabu itupun terhembus dan hanyut menjauh.

" He " tiba-tiba Puguh berseru " kau lihat bintang itu?

Sambi Wulung dan Jati Wulung menengadahkan kepalanya. Mereka memang mulai melihat bintang Gubug Penceng.

" Ternyata aku tidak bingung " berkata Puguh " aku mengenal arah dengan tepat. Jika aku menunggu bintang itu aku hanya sekedar ingin meyakinkan, bahwa arah yang aku ambil benar. "

Sambi Wulung berdesis " Kita berada disebelah Barat Gunung. "

" Benar. Kita memang akan menuju kesebelah Barat. Gantar berada di arah Barat " desis Puguh.

" Jika demikian kita akan melanjutkan perjalanan diarah ini " guman Jati Wulung.

" Ya. Tetapi kita sebaiknya tidak mengikuti arah sungai ini yang agar bergeser dari arah yang kita kehendaki " berkata Puguh.

Ketiga orang itupun kemudian telah mengambil arah yang tidak sejalan dengan arah sungai kecil itu meskipun tidak terlalu tajam. Namun mereka telah mengambil arah Barat sepenuhnya.

Perlahan-lahan ketiga orang itu berjalan terus. Berpegang  pada arah yang ditunjukkan oleh bintang Gubug Penceng.

Tetapi keadaan Puguh ternyata memaksa mereka untuk setiap kali beristirahat. Tubuhnya yang lemah membuatnya cepat merasa letih dan bahkan setiap kali terasa lehernya bagaikan kering. Sehingga dengan demikian Sambi Wulung dan Jati Wulung setiap kali bergantian harus mencari air untuk minum.

" Disiang hari keadaanku akan menjadi semakin buruk " berkata Puguh ketika ia menengadahkan wajahnya kelangit yang mulai kemerah-merahan.

" Tidak " berkata Sambi Wulung " semakin lama kau tentu akan menjadi semakin baik. "

Puguh mengangguk kecil. Tetapi ia tidak menjawab.

Dengan hati-hati Sambi Wulung dan Jati Wulung membawanya berjalan menuruni kaki Gunung. Tetapi jalanpun semakin lama menjadi semakin datar dan lebih baik.

Ketika satu-satu mereka mulai bertemu dengan orang-orang yang akan pergi ke sawah, maka Sambi Wulungpun mengisyaratkan agar mereka bertiga membenahi pakaian mereka. Bahkan ketika mereka melintasi parit yang berair bening, maka merekapun telah mencuci muka, tangan dan kaki mereka. Membenahi rambut dan ikat kepala.

Sebenarnyalah sebentar kemudian, mereka memang bertemu dengan iring-iringan orang yang pergi ke pasar membawa beberapa macam barang dagangan. Ada yang membawa hasil sawah, kebun dan ada pula yang akan menjual beberapa ekor ternak untuk dibelanjakan keperluan sehari-hari yang lain.

Tetapi tidak ada yang menaruh curiga kepada tiga orang yang berjalan dipagi-pagi buta itu.

" Mereka tentu akan ke pasar " bekata Sambi Wulung.

" Ya " jawab Jati Wulung " agaknya pasar tidak lagi terlalu jauh.

" Kita ikut mereka. " berkata Sambi Wulung kemudian.

" Untuk apa? " bertanya Puguh.

" Kita mencari makan. Mungkin makan dan minum akan dapat memberimu sedikit kesegaran sehingga kau tidak akan merasa terlalu letih berjalan. " sahut Sambi Wulung.

" Masih sepagi ini? " bertanya Puguh pula.

" Tetapi tentu sudah ada orang berjualan makan dan minum di pasar itu.

Puguh tidak menjawab. Ia sependapat dengan Jati Wulung. Mungkin dengan makan dan minuman hangat akan dapat memberinya sedikit kekuatan, sehingga mereka akan dapat berjalan lebih cepat.

Dengan demikian maka merekapun telah mengikuti orang-orang yang berjalan ke pasar. Mereka memang sedikit menyimpang dari arah yang mereka tuju. Tetapi mereka yakin bahwa mereka tidak akan menyimpang terlalu jauh.

Pasar itu memang tidak terlalu jauh. Setelah melewati sebuah padukuhan kecil, maka merekapun telah menuju ke sebuah padukuhan yang ramai. Sementara itu, gardu-gardu perondanpun telah menjadi kosong, karena anak-anak muda yang meronda telah pulang ke rumah masing-masing.

Meskipun matahari belum terbit, tetapi pasar itu telah menjadi ramai. Ternyata hari itu adalah justru hari pasaran sehingga pasar itu menjadi penuh dan bahkan beberapa orang terpaksa berjualan di pinggir-pinggir jalan disekitar pasar itu.

Tetapi seperti yang dikatakan oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung, bahwa ternyata di pasar itu sudah terdapat bukan hanya sebuah, tetapi beberapa orang berjualan makan dan minuman hangat.

" Kita memilih kedai yang paling baik. " berkata Jati Wulung.

" Kenapa? " bertanya Sambi Wulung.

" Bukankah kita mempunyai uang banyak " sahut Jati Wulung.

Sambi Wulung hanya tersenyum saja. Tetapi ia tidak menjawab.

Seperti dikatakan oleh Jati Wulung, maka mereka memang menuju kesebuah kedai .nasi yang cukup besar dan ramai, justru tidak berada didalam pasar. Tetapi kedai itu dibuka disebuah rumah di depan pasar.

" Beruntunglah orang-orang yang tinggal di dekat pasar  "  berkata  Jati  Wulung  "  mereka  dapat memanfaatkan halamannya untuk mendirikan sebuah kedai. Ternyata kedai itu cukup banyak dikunjungi orang.

Sambi Wulung mengangguk. Sambil melangkah kearah pintu kedai itu, ia berkata " Berhati-hatilah. Kita belum mengenal kebiasaan ditempat ini. "

" Aku kira kebiasaan disini tidak akan berpaut banyak dengan kebiasaan dimana-mana. Bagi seorang pengembara, hal itu tidak akan banyak berpengaruh " jawab Jati Wulung.

Tetapi sebenarnyalah bahwa ia telah menangkap isyarat Sambi Wulung. Karena itu, maka Jati Wulungpun harus bersiap-siap. Mereka berdua telah sepakat untuk menimbulkan kesan kepada Puguh, bahwa disepanjang jalan, mereka masih akan dapat selalu bertemu dengan hambatan-hambatan. Dengan demikian, maka Puguh merasa bahwa ia memang memerlukan kawan untuk pulang sampai kerumahnya atau mendekati rumahnya.

Di kedai yang paling ramai kemungkinan yang dikehendaki itu akan lebih besar daripada di kedai-kedai yang lebih kecil.

Demikianlah, maka merekapun telah memasuki kedai itu. Ruangannya memang cukup luas. Beberapa lincak bambu teratur rapi dihadapkan pada paga-paga bambu rendah untuk meletakkan beberapa jenis makanan.

Jati Wulung yang berada dipaling depan tertegun ketika dilihatnya sebuah ruangan yang khusus dibatasi oleh sebuah rana yang tidak terlalu tinggi.

Pengenalannya atas tempat-tempat seperti itu mengatakan kepadanya, bahwa tempat-tempat khusus itu hanya disediakan untuk tamu-tamu yang sangat khusus pula.

Namun justru karena itu, maka Jati Wulung telah melangkah langsung menuju ke tempat itu.

" Tunggu " salah seorang pelayan di kedai itu tiba-tiba telah menegurnya. Lalu katanya " Ki Sanak, silahkan duduk di ruang ini. "

" Kenapa? " bertanya Jati Wulung.

" Ruang ini hanya kami sediakan untuk tamu-tamu kami tertentu saja " jawab pelayan itu.

" Apakah aku harus membayar makanan dan minuman dengan harga yang lebih mahal? Jika demikian, aku akan membayarnya " jawab Jati Wulung.

" Bukan begitu. Tetapi tempat itu tidak kami sediakan untuk orang lain kecuali orang-orang yang memang pantas untuk berada dibilik itu. " jawab pelayan itu,

Tetapi Jati Wulung melangkah terus sambil berkata " Anakku sedang sakit. Aku memerlukan tempat yang tenang. "

" Tetapi jangan disitu " cegah pelayan itu.

Jati Wulung tidak menghiraukannya. Iapun langsung menuju ke tempat yang disekat itu diikuti oleh Puguh yang merasa tubuhnya masih lemah dan kemudian Sambi Wulung. Meskipun Sambi Wulung tahu akibat yang mungkin timbul, namun seperti Jati Wulung, hal itu memang dikehendakinya.

Pelayan yang mencoba mencegahnya itupun menjadi ragu-ragu ketika mereka melihat pedang yang tergantung dilambung orang-orang itu. Meskipun hampir setiap orang membawa parang atau golok di lambungnya, namun pedang itu mempunyai bentuk yang agak lain dari parang atau golok yang kebanyakan dibawa oleh hampir setiap laki-laki.

Ternyata bahwa selama pelayan itu ragu-ragu, Jati Wulung, Puguh dan Sambi Wulung telah berada di dalam ruangan yang disekat itu.

" Nah " berkata Jati Wulung kepada Puguh " jika kau merasa letih berbaringlah. Tempat ini tersekat, sehingga tidak akan mengganggu orang lain. "

Puguh yang duduk di sebuah amben panjang merasa ragu-ragu. Tubuhnya memang merasa lemah. Tetapi dengan duduk bersandar, maka rasa-rasanya ia sudah beristirahat dengan sebaik-baiknya.

" Makanlah " Sambi Wulunglah yang mempersilahkan. Dihadapan mereka terdapat sebuah paga yang rendah dengan perbagai makanan di atasnya.

Namun sebelum Puguh sempat mengambil sepotong makananpun, pemilik kedai itu sendiri telah datang kepada mereka.

" Ki Sanak " berkata pemilik kedai itu " bukankah pelayan kami telah memberitahukan bahwa tempat ini adalah hanya diperuntukkan bagi orang-orang tertentu? "

" Ya. Dan kamilah diantara orang-orang tertentu itu " sahut Jati Wulung.

" Maaf Ki Sanak. Bahwa orang-orang tertentu itu adalah orang-orang yang sangat disegani disini. Jika aku mohon Ki Sanak tidak mempergunakan tempat ini, semata-mata karena kami ingin berbuat sebaik-baiknya pada tamu-tamu kami. Daripada terjadi sesuatu yang tidak kalian inginkan, maka sebaiknya kalian berada di ruang yang luas itu bersama-sama dengan para pembeli yang lain. Kami akan tetap melayani kalian dengan sebaik-baiknya. " berkata pemilik kedai itu.

Jati Wulung mengerutkan keningnya. Dengan nada berat ia berkata " Anakku sakit. Biarlah aku disini. "

" Tetapi....." kata-kata pemilik kedai itu terputus ketika Sambi Wulung melemparkan beberapa keping uang ke paga yang rendah hampir penuh dengan makanan itu.

" Ambillah. " berkata Sambi Wulung " itu belum terhitung harga makanan dan minuman yang akan kami pesan. Kau dapat menaikkan harga makanan dan minumanmu sampai dua kali lipat bagi kami. Tetapi jangan ganggu kami. Kemanakanku itu memang sedang sakit. "

Pemilik kedai itu termangu-mangu sejenak. Tetapi keping-keping uang itu memang sangat menarik. Apalagi orang-orang itu akan bersedia membayar harga makanan dan minuman sampai dua kali lipat.

Akhirnya pemilik kedai itu berkata " Ki Sanak. Aku sudah memperingatkan kalian. Jika terjadi sesuatu, maka hal itu bukan tanggung jawab kami. Mudah-mudahan orang-orang yang khusus itu tidak datang pagi ini, sehingga kalian dapat mempergunakan tempat itu sebaik-baiknya. "

" Kami akan mempertanggung jawabkannya " berkata Sambi Wulung.

Pemilik kedai itupun kemudian telah memungut beberapa keping uang yang diletakkan diatas paga yang randah itu. Kemudian iapun telah kembali ke tempatnya. Kepada pelayan yang memberitahukan kepadanya, pemilik kedai itu berkata " Agaknya mereka telah memaksa. Biarlah mereka bertanggung jawab atas tingkah laku mereka sendiri jika orang-orang yang biasanya berada di tempat itu nanti datang. Ki Wirit sulit diajak berbicara. Juga Ki Demang yang sering datang bersama Ki Wirit. Mudah-mudahan mereka tidak datang pagi ini. Atau mungkin agak siang. "

" Tetapi anak muda itu sedang sakit " berkata pelayan itu. " agaknya mereka akan sedikit lama berada di kedai ini. "

" Sudahlah " berkata pemilik kedai itu " jangan hiraukan. Kita sudah berusaha sebaik-baiknya. Tetapi orang-orang itu tidak mau mendengar. Jika mereka harus menebus kesombongan mereka dengan mahal, itu bukan salah kita. "

Pelayannya mengangguk-angguk. Sementara itu pemilik kedai itu berkata " Bertanyalah kepada mereka. Apa saja yang mereka pesan, "

Pelayan itu mengangguk, namun ketika ia melangkah menuju ke tempat yang disekat itu, ia melihat seorang yang bertubuh kekar, berwajah keras berdiri di mulut penyekat itu.

Pelayan itu menarik nafas dalam-dalam. Ia kenal benar kepada orang itu.Ki Prajak. Seorang yang sangat ditakuti di tempat itu.

" Salah mereka sendiri " berkata pelayan itu kepada diri sendiri.

Sebenarnyalah orang yang bernama Ki Prajak itu merasa tersinggung melihat sikap Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguh. Karena itu, maka iapun kemudian menggeram " He, orang-orang sombong. Kenapa kalian tidak mau mendengarkan peringatan pemilik kedai itu. Ruang yang disekat dengan rana ini adalah ruang yang khusus. Aku, yang ditakuti oleh orang-orang sepasar, tidak berani duduk dan makan di ruang ini. Kenapa  kalian tidak mau mendengarkannya? "

" Sudah aku katakan alasannya " jawab Sambi Wulung.

" Sekarang aku yang memperingatkanmu. Keluarlah dari ruang ini dan duduklah di ruang yang luas itu. Jika kau mau duduk sambil menjulurkan kaki, tempatnya masih cukup. Ada banyak amben dan lincak yang kosong. Bahkan jika kalian ingin tidurpun dapat kalian lakukan. " berkata Ki Prajak.

" Kami ingin tenang disini. Anakku sakit " berkata Jati Wulung.

" Aku tidak peduli " berkata Ki Prajak " pergilah. Orang-orang yang pantas duduk disitu adalah orang-orang yang luar biasa. Akupun tidak berani melanggar ketentuan yang mereka buat. "

" Tetapi aku berani " jawab Jati Wulung.

" Persetan. Aku ingin merobek mulutmu. " geram Ki Prajak " sekarang pergilah. Atau aku memaksamu. "

Jati Wulunglah yang kemudian berdiri. Ia melangkah mendekati orang yang ditakuti oleh semua orang yang mengenalnya itu sambil berkata " Kau jangan ikut campur. "

" Setan. Kau belum mengenal aku. Aku Ki Prajak yang kata-katanya menjadi paugeran disini. Sekali lagi aku perintahkan kalian untuk pergi. " bentaknya.

Tetapi Jati Wulung menjawab " Aku tidak peduli, apakah kau ditakuti orang atau tidak. Aku tidak takut kepadamu. Jika kau ingin meyakinkan kata-kataku, turunlah ke jalan. Kita akan berkelahi. Jika kau menang, aku akan pindah dari ruang yang disekat ini. Tetapi jika kau kalah, maka kau tidak berhak mencampuri persoalanku. Jika orang-orang yang biasanya berada di bilik itu datang, biarlah aku yang berurusan dengan mereka. "

Wajah Ki Prajak menjadi merah. Sambil menggeram ia berdiri bertolak pinggang.

Tetapi tanpa menghiraukannya Jati Wulung melangkah maju. Justru mendorongnya kesamping sambil berkata " Jangan disini. Nanti kita merusakkan perabot-perabot yang ada di kedai ini. Kita berkelahi diluar. "

Kiai Prajak yang terdorong kesamping mengumpat. Tetapi ia melihat dengan tenang Jati Wulung melangkah keluar dari kedai itu. Sementara Jati Wulung itu sempat berpesan kepada Sambi Wulung " Mintalah minuman dan makan. Jika aku sudah menyelesaikan perkelahian ini, akupun ingin minum dan makan tanpa terganggu. "

Sambi Wulung tidak menjawab. Tetapi ketika ia memandang sekilas wajah Puguh, ternyata wajah itu nampak tegang. Agaknya sikap Jati Wulung itu membuatnya berdebar-debar juga.

Ki Prajak yang tersinggung itu segera mengikuti Jati Wulung yang turun ke jalan. Sementara itu, matahari pun sudah mulai memancarkan sinarnya ke langit, sehingga pagipun menjadi semakin terang.

Demikian Jati Wulung turun ke jalan yang cukup ramai, maka iapun segera bersiap sambil berkata " Mari. Jangan membuang waktu. Aku sudah ingin minum dan makan nasi hangat. "

Ki Prajak benar-benar tersinggung. Ia tidak pernah diperlakukan seperti itu. Sementara orang-orang sepasar memang takut kepadanya. Mereka menganggap Ki Prajak sebagai seorang yang tidak dapat dikalahkan oleh sepuluh orang sekalipun. Karena itu, apa yang dikatakannya, harus dilakukan oleh orang-orang di pasar itu. Bahkan para pedagang di pasar itu menganggapnya berhak memungut pajak.

Karena orang-orang dipasar itu tidak mau membuat keributan dengan Ki Prajak, maka tidak pernah ada orang yang berani membantahnya.

Apalagi orang-orang sepasar itu tahu, bahwa Ki Prajak adalah tangan kanan Ki Demang dan Ki Wirit yang lebih ditakuti lagi. Keduanya adalah orang yang bukan saja memiliki kemampuan yang tidak dapat diukur oleh orang-drang dipasar itu, namun Ki Demang adalah, orang yang paling berkuasa.

Karena itu, ketika orang-orang diluar kedai itu melihat sikap Jati Wulung menghadapi Ki Prajak, mereka menjadi heran. Bahwa ada juga orang yang berani menentangnya. Apalagi menilik ujudnya, Jati Wulung bukannya orang yang pantas untuk berkelahi melawan Ki Prajak itu.

Karena itu, maka peristiwa itu segera menarik perhatian. Beberapa orang segera berkerumun. Namun ada juga yang justru menjadi ketakutan dan merasa lebih aman untuk menyingkir. Bahkan orang-orang yang ada di kedaipun telah beringsut keluar. Mereka agaknya juga ingin menyaksikan apa yang terjadi. Bagi orang-orang yang ada di kedai itu, sikap ketiga orang yang berada di ruang yang tersekat itu memang merupakan kesombongan yang pantas dihukum.

Dalam pada itu, Jati Wulungpun telah benar-benar bersiap. Namun Ki Prajak masih juga sempat berbicara kepada orang-orang yang semakin banyak berkerumun " Perhatikan orang ini baik-baik. Orang ini adalah orang yang belum pernah pergi ke pasar ini. Ia tidak tahu siapa aku. Dan karena itu, maka ia berani menantangku. Apalagi ia sudah berani memaksa untuk duduk diruang yang disekat didalam kedai itu, ruang yang khusus dipergunakan oleh Ki Wirit, Ki Demang dan orang-orang yang dikehendakinya atau keluarga mereka. Karena itu, maka orang ini harus sedikit mendapat pelajaran. "

" Cukup " Jati Wulung membentak " buat apa kau sesorah? Sebentar lagi kau akan pingsan disini. "

" Anak iblis " orang itu mengumpat pula. Namun iapun mulai bersiap-siap. Selangkah demi selangkah ia mendekati Jati Wulung yang memang sudah bersiap lebih dahulu.

Dengan garangnya Ki Prajakpun kemudian telah menyerang. Tangannya terayun keras sekali kearah pelipis Jati Wulung.

Tetapi Jati Wulung benar-benar sudah bersiap. Dengan tangkas ia merendahkan diri, sehingga ayunan tangan Ki Prajak itu tidak mengenainya. Bahkan sambil merendahkan diri, Jati Wulung seakan-akan telah menyusup maju sambil memukul lambung Ki Prajak yang terbuka dengan tangan kirinya.

Jati Wulung tidak mengerahkan kekuatan dan kemampuannya. Namun demikian pukulan itu benar-benar telah menyakiti lawannya. Beberapa langkah Ki Prajak terdorong surut. Bahkan hampir saja ia kehilangan keseimbangan. Namun ia berhasil tetap tegak sambil memegangi lambungnya yang terasa menjadi sangat sakit.

Jati Wulung tidak memburunya. Dibiarkannya Ki Prajak memperbaiki keadaannya dan mempersiapkan dirinya kembali.

Kiai Prajak yang marah menjadi semakin marah. Tetapi iapun segera mempersiapkan dirinya pula. Ia menjadi lebih berhati-hati karena ternyata lawannya bukan orang kebanyakan sebagaimana diduganya.

Sejenak kemudian, Ki Prajakpun telah menyerang pula. Ia tidak membiarkan dirinya justru menjadi sasaran lawannya yang bergerak cepat. Karena itu, maka Ki Prajakpun telah mempersiapkan diri dan mengerahkan kemampuannya sebaik- baiknya.

Demikianlah, maka sejenak kemudian telah terjadi perkelahian yang sengit didepan kedai itu. Sambi Wulung dan Puguh ternyata ingin juga melihat apa yang akan dilakukan oleh Jati Wulung terhadap orang yang ditakuti oleh orang-orang sepasar itu. Karena itu setelah memesan makanan dan minuman, maka merekapun telah keluar pula.

Puguh yang letih itu seakan-akan telah melupakan keletihannya. Ia berdiri bersandar dinding kedai, menyaksikan perkelahian yang semakin lama menjadi semakin sengit itu.

Namun, hampir semua orang melihat, bahkan mereka yang tidak pernah melihat perkelahian sekalipun, bahwa ternyata Jati Wulung telah mempermainkan lawannya. Ia seakan-akan tidak dengan sungguh-sungguh berkelahi. Kadang-kadang ia hanya bergeser kesamping, sementara kedua tangannya tergantung saja disisi tubuhnya. Sekali-sekali meloncat-loncat menghindar. Namun tiba-tiba saja ia telah melenting sambil memutar kakinya. Jika putaran kakinya itu mengenai tubuh lawannya, maka lawannya itupun telah terdorong surut. Bahkan sekali-sekali Ki Prajak itu justru terbanting jatuh.

Ki Prajak itu mengumpat kasar. Dikerahkannya segenap kekuatan dan kemampuannya. Namun ia tidak mampu mengimbangi kemampuan Jati Wulung yang dengan sengaja ingin memperlihatkan kelebihannya dari lawannya.

Puguh yang berdiri bersandar dinding disebelah Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Ternyata bahwa dua orang yang mengawaninya itu benar-benar orang berilmu tinggi.

Tetapi bagaimanapun juga Puguh tetap merasa cemas, bahwa kedua orang itu akan membawanya kepada orang tuanya, dan berpendapat bahwa tidak sepantasnya anak-anak muda berada di tempat perjudian di Song Lawa.

" Orang tuaku tidak pedulikan aku " katanya didalam hati.

Namun Puguh terkejut ketika ia melihat Ki Prajak itu terlempar dengan kerasnya kearah beberapa orang yang mengerumuni perkelahian itu. Beberapa orang turut terjatuh pula bersamanya. Tetapi ketika beberapa orang yang lain berusaha menolongnya berdiri, ia menghentakkan tangannya sambil berkata kasar " Aku dapat bangkit berdiri sendiri. "

Ki Prajak itu berusaha untuk berdiri. Tetapi kepalanya rasa-rasanya memang menjadi pening. Tangan Jati Wulung yang mengenai pelipisnya benar-benar terasa sakit dan membuat matanya berkunang-kunang.

" Bersiaplah. Aku sudah sampai kebabak akhir " berkata Jati Wulung, Lalu katanya " Ingat, jika kau kalah, kau tidak boleh mengusik aku lagi. "

Ki Prajak itu mengumpat kasar. Tetapi ia masih harus berusaha untuk memperbaiki keseimbangannya lebih dahulu. Sambil menunggu kepalanya tidak lagi terasa berputar, ia melangkah perlahan lahan mendekati JatiWulung.

Untuk menutupi kesulitannya, maka iapun mengancam " Jika kau tetap tidak mau mendengarkan aku, maka lebih baik aku membunuhmu. "

Jati Wulung tertawa. Katanya " Itikpun tahu, bahwa kau tidak berdaya. Bagaimana mungkin kau akan membunuhku? "

" Setan " geram Ki Prajak  " aku belum bersungguh-sungguh. Sebenarnya aku masih memberimu kesempatan. Tetapi ternyata kau memang dungu. Kau telah memaksa aku untuk bersungguh-sungguh, Dan itu berarti kematianmu. "

Jati Wulung masih tertawa. Katanya " Kau masih saja membual. Cepat, lakukan apa yang dapat kau lakukan, atau aku memukulimu di hadapan banyak orang yang merasa takut kepadamu. "

Ki Prajak benar-benar merasa terhina. Karena itu, maka dikerahkannya sisa tenaga yang ada padanya. Dengan serta merta maka iapun telah meloncat menyerang dengan garangnya.

Tetapi Jati Wulung tidak menjadi terdesak karenanya. Dengan sikap yang masih saja seenaknya, ia telah mengelak, sehingga serangan Ki Prajak itu tidak mengenainya. Bahkan ketika Ki Prajak itu terdorong selangkah dihadapannya, Jati Wulung sempat mengayunkan tangan kirinya ketengkuk lawannya.

Ayunan tangan itu tidak terlalu keras. Tetapi karena searah dengan tarikan kekuatan Ki Prajak sendiri yang tidak mengenai sasaran, maka Ki Prajak itu telah terdorong beberapa langkah kedepan. Sekali lagi ia telah membentur lingkaran penonton yang mengelilingi arena. Beberapa orang telah roboh pula bersamanya.

Ki Prajak masih juga berusaha untuk bangkit. Mulutnya masih saja mengumpat-umpat. Namun ia mulai mencemaskan dirinya sendiri.

" Nah, apakah kau belum mengaku kalah? " bertanya Jati Wulung.

Ki Prajak benar-benar tidak dapat mengekang diri lagi. Tiba-tiba saja ia telah menarik goloknya.

" Pergunakan senjata dilambungmu " geram Ki Prajak " jika kau berani menarik pedangmu, maka kau tentu akan semakin cepat mati. Atau jika kau tidak mau mati, tinggalkan^tempat ini. "

" Kau akan mempergunakan senjatamu? " bertanya Jati Wulung dengan dahi yang berkerut.

" Kalau takut, pergilah " bentak Ki Prajak " sebelum aku kehilangan kesabaran. "

" Kau mempercepat penyelesaian. Bahkan ujung-ujung pedang akan dapat membunuh seseorang " berkata Jati Wulung.

Tetapi Ki Prajak yang merasa dirinya ditakuti oleh seisi pasar harus mempertahankan anggapan bahwa ia memang tidak terkalahkan, atau setidak-tidaknya anggapan orang bahwa ia akan dapat mengalahkan sepuluh orang sekaligus.

Karena itu, maka ia masih saja bersikap garang, meskipun ia menjadi berdebar-debar, ketika Jati Wulungpun benar-benar telah mencabut pedangnya.

Dalam pada itu, Jati Wulung berkata " Kau telah semakin menyiksa dirimu sendiri dengan golokmu. Jika kau tidak mau mendapat malu karena kau sudah terlanjur ditakuti, maka sebaiknya kau tidak mempergunakan senjata. "

" Persetan " geram Ki Prajak yang merasa dirinya memiliki ilmu pedang yang baik.

Sejenak kemudian, maka golok Ki Prajak yang besar telah terayun-ayun mengerikan. Sambaran anginnya berdering bagaikan siulan dari daerah maut.

Tetapi Jati Wulung masih saja nampak tenang. Bahkan sekali-sekali nampak senyumnya sekilas tersungging dibibirnya.

Ketika Ki Prajak kemudian menyerang, maka Jati Wulung benar-benar ingin menunjukkan kelebihannya. Ia tidak memerlukan waktu yang lama. Sekali golok itu terayun, maka Jati Wulung telah menangkisnya. Memutarnya, kemudian mengungkitnya dengan cepat.

Golok ditangan Ki Prajak itu bagaikan dilontarkan dengan kekuatan yang tidak terlawan. Jari-jari Ki Prajak terasa hampir berpatahan, sehingga dengan demikian maka ia sama sekali tidak dapat mempertahankan goloknya.

Ternyata bahwa Golk Ki Prajak itu melenting tinggi sekali. Ketika golok itu kemudian meluncur jatuh kearah orang-orang yang berkerumun disekitar arena, maka merekapun telah berlari-larian menjauh. Bahkan beberapa orang telah terdorong jatuh dan terinjak kaki kawan-kawannya.

Ki Prajak bagaikan orang kebingungan melihat goloknya itupun kemudian jatuh ditanah. Daun goloknya yang lebar dan panjang itu justru menancap di tanah. Ungunglah bahwa orang-orang yang berkerumun telah berlari berpencaran, sehingga golok itu tidak menimpa salah seorang diantara mereka.

Yang terjadi itu benar-benar telah menggetarkan jantung Ki Prajak. Ia menganggap bahwa lawannya memang orang yang luar biasa. Bukan saja kemampuannya dalam olah kanuragan, kecepatan geraknya dan unsur-unsur gerak yang sulit diketahuinya, namun ia adalah orang yang memiliki kekuatan yang sangat besar. Meskipun ujud Ki Prajak itu jauh lebih tegar dari lawannya, tetapi ternyata bahwa ia tidak berdaya apa-apa.

Orang-orang yang menyaksikan perkelahian itu menjadi berdebar-debar pula. Dengan demikian akan ada orang baru yang berkuasa melampaui Ki Prajak. Tetapi mereka tidak tahu apakah orang itu akan menjadi lebih baik atau justru lebih buruk dari Ki Prajak. yang menjadi alat Ki Wirit dan Ki Demang untuk memungut pajak.

Namun Ki Prajak itu terbukti tidak dapat melawan orang yang baru dikenal pagi itu oleh seisi pasar.

Tetapi dalam pada itu, orang-orang dipasar itu masih harus memperhitungkan Ki Wirit dan Ki Demang. Merekapun adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi pula.

Untuk beberapa saat Jati Wulung berdiri tegak memandang Ki Prajak yang kebingungan. Dengan senyum di bibir Jati Wulung kemudian berkata " Nah, apakah kau merasa menang atau kalah? "

Wajah Ki Prajak menjadi tegang. Sementara Jati Wulung berkata selanjutnya " Jika kau merasa belum kalah, ambil golokmu..Tetapi ingat, aku hanya memberimu kesempatan satu kali. Jika kau ambil golokmu, maka kita akan benar-benar bertempur. "

Ki Prajak sama sekali tidak menjawab. Ia menyadari, bahwa jika mereka benar-benar bertempur, maka ia tidak akan mampu melawannya. Bahkan mungkin orang yang tidak dikenal itu benar-benar akan membunuhnya.

Karena Ki Prajak tidak menjawab, maka Jati Wulungpun kemudian berkata " Jika kau tidak mengambil golokmu, maka berarti kau mengaku kalah. Kau tidak akan menggangguku lagi. "

Ki Prajak memang tidak beranjak dari tempatnya.

Sehingga dengan demikian maka Jati Wulungpun kemudian meninggalkannya kembali masuk kedalam kedai.

Sambi Wulung dan Puguhpun telah kembali duduk pula bertiga ditempat yang disekat dengan rana itu. Bahkan hampir berteriak Jati Wulung itupun berkata " He, mana pesanan kami? "

Pemilik kedai yang menyaksikan perkelahian itu pula memang menjadi ketakutan. Ketiga orang itu ternyata memiliki kemampuan yang sangat tinggi menurut penglihatan mereka. Namun demikian pemilik kedai itupun masih tetap merasa cemas, bahwa Ki Wirit atau Ki Demang atau bahkan kedua-duanya akan datang. Jika timbul perselisihan, maka pertempuran yang akan datang tentu pertempuran yang sangat seru.

Tetapi pemilik kedai itu tidak dapat berbuat apa-apa. Seorang pelayanpun kemudian menghidangkan minuman hangat. Kemudian nasi yang masih hangat pula beserta lauk pauknya.

Ternyata ketiga orang itu makan dan minum dengan tenangnya. Mereka sama sekali tidak merasa cemas akan apapun juga, meskipun mereka tahu bahwa kemungkinan yang lain dapat terjadi jika orang-orang yang merasa berhak atas tempat itu datang.

Seperti yang dikatakan oleh Jati Wulung dan Sambi Wulung, bahwa minuman dan makanan yang hangat telah membuat tubuh Puguh merasa lebih baik. Meskipun anak muda itu belum merasa sembuh benar, tetapi ia tidak lagi terlalu lemah.

Selain minum dan makan nasi hangat, maka merekapun masih minta dibungkuskan beberapa jenis makanan untuk bekal perjalanan mereka dijalan.

Agaknya sampai ketiga orang itu selesai makan dan minum, orang-orang yang merasa memiliki tempat khusus itu masih belum datang. Karena itu, maka pemilik kedai itu merasa lega ketika Sambi Wulung bertanya kepadanya, berapa ia harus membayar.

Seperti yang dijanjikan, maka Sambi Wulung telah membayar lebih banyak dari harga yang seharusnya sehingga pemilik kedai itu menjadi terheran-heran.

" Jadi Ki Sanak benar-benar membayar lebih? " bertanya pemilik kedai itu.

" Aku sudah menjanjikannya " jawab Sambi Wulung. Tetapi tiba-tiba ia bertanya " Atau kau menganggap justru kurang? "

" Tidak. Sama sekali tidak " jawab pemilik kedai itu " tetapi tadi Ki Sanak sudah memberikan uang kepadaku. "

Sambi Wulung menggeleng sambil berkata " Bukan apa-apa. Aku mempunyai uang banyak. Mungkin orang lain dapat memerasmu atau katakan dengan kedok pemungut pajak, tetapi bukan yang sebenarnya. "

Pemilik kedai itu mengangguk hormat. Katanya dengan nada rendah " Terima kasih Ki Sanak. "

Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguhpun kemudian telah melangkah keluar dari kedai itu sambil minta diri. Beberapa orang yang semula menyaksikan perkelahian di jalan yang terletak antara kedai itu dengan pasar, telah kembali duduk ditempat mereka semula untuk mengulangi makan dan minum mereka yang tersisa. Demikian pula orang-orang yang berjualan dipasar. Mereka telah kembali duduk dibelakang dagangan mereka.

Ketika ketiga orang itu turun ke jalan, maka mereka sudah tidak melihat lagi orang yang bertubuh kekar itu.

Agaknya orang itu telah pergi. Mungkin karena malu, tetapi ketiga orang itupun menyadari, bahwa mungkin Ki Prajak telah berusaha untuk menyusun rencana pembalasan.

Tetapi Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguh tidak peduli. Mereka kemudian berjalan kearah mereka datang, karena mereka menyimpang dari arah perjalanan mereka sekedar untuk mencari makan.

Beberapa pasang mata mengikuti langkah ketiga orang itu. Tetapi tidak seorangpun yang menyapanya. Kecuali orang itu adalah orang yang memang tidak mereka kenal, mereka merasa khawatir, bahwa orang-orang itu merupakan bayangan yang lebih buruk dari Ki Prajak yang telah dikalahkan itu. Dengan demikian, maka tegur sapa itu akan dapat mengundang kesulitan bagi mereka.

Ketiga orang itupun sama sekali tidak mempedulikan orang-orang yang memperhatikan mereka. Mereka berjalan saja seenaknya. Sementara Jati Wulung menjinjing sebuah kantong yang dibelinya juga dari pemilik warung itu untuk membawa makanan yang telah dibelinya untuk bekal diperjalanan.

Ketika ketiga orang itu telah meninggalkan kedai itu, maka pemilik kedai dan beberapa orang pelayannya bagaikan telah terlepas dari cengkaman ketegangan. Ternyata tidak terjadi pertengkaran didalam kedainya karena orang-orang yang menganggap dirinya berhak atas tempat yang tersekat itu tidak datang ke kedainya pada saat orang lain berada didalamnya.

Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguhpun kemudian telah meninggalkan padukuhan yang besar dan terdapat sebuah pasar yang ramai didalamnya. Dengan nada rendah Sambi Wulung berkata " Ternyata bahwa diperjalanan kita menemukan persoalan-persoalan yang kadang-kadang memaksa kita mempergunakan kekerasan.

Jati Wulung mengangguk-angguk. Katanya " Aku tidak akan merasa terlalu cemas, jika keadaan Puguh telah menjadi lebih baik. Tetapi dalam keadaan seperti ini, rasa-rasanya aku tidak sampai hati untuk melepaskannya. "

Puguh termangu-mangu sejenak. Tetapi iapun kemudian menyahut " Setelah sampai di Gantar keadaanku akan menjadi baik. Aku akan dapat menempuh perjalanan sendiri. "

" Kau terlalu lemah untuk berjalan sendiri meskipun kau sudah sampai di Gantar. " jawab Jati Wulung.

" Aku sudah mengenal lingkungan itu " jawab Puguh

" Apa salahnya jika kami antar kau sampai ketempat yang paling aman? Kami tidak mempunyai tugas apapun yang harus kami lakukan selain mengembara. Pergi ketempat-tempat judi, bukan saja di Song Lawa, tetapi juga di Bergota,, di Gresik jauh di sebelah Timur atau disebelah Barat Pajang. " berkata Jati Wulung.

" Apakah tempat-tempat perjudian itu masih ada? " bertanya Puguh. Lalu " Maksudku, tempat-tempat itu tidak mengalami nasib seperti Song Lawa? "

" Aku tidak tahu " jawab Jati Wulung " tetapi jika hal itu terjadi, tentu bersamaan dengan Song Lawa, karena sebelum aku berada di Song Lawa aku memasuki lingkungan perjudian di Bergota. Bahkan aku sempat singgah sebentar di sebelah Barat Pajang. Tetapi tempat perjudian di sebelah Pajang tidak sebesar Bergota. Tidak pula sebesar Gresik. Untuk menghapus tempat perjudian disebelah Barat Pajang tidak terlalu sulit, sebagaimana dilakukan oleh para prajurit Pajang atas Song Lawa, apalagi jaraknya dari Pajang memang tidak sejauh Gunung Kukusan. Tetapi untuk menghapus tempat perjudian di Bergota dan Gresik memerlukan perhitungan yang matang. Mungkin para Adipati d^pat diperintahkan untuk melakukannya tanpa penanganan langsung dari Pajang sebagaimana dilakukan atas Song Lawa. Atau para Adipati itu sendirilah yang memang berniat untuk melakukannya. "

Tetapi Sambi Wulung menyahut " Namun mungkin justru tempat itu mendapat perlindungan. Resmi atau tidak resmi, karena tempat-tempat seperti itu dapat memasukkan banyak uang. "

" Siapapun yang melindunginya, maka tempat-tempat itu pada saatnya tentu akan habis digulung oleh para prajurit yang setia akan tugas mereka " berkata Jati Wulung diluar sadarnya.

Puguh mengerutkan keningnya mendengar kata-kata Jati Wulung itu. Dengan nada rendah iapun bertanya " Jika tempat-tempat seperti itu sudah tidak ada lagi, dimana kalian akan berjudi? " "

Pertanyaan itu memang mengejutkan Jati Wulung.

Barulah ia sadar bahwa ia telah mengucapkan kata-kata yang salah. Namun dengan cepat Jati Wulung berkata " Sebenarnyalah sudah lama aku ingin membukanya. Tetapi dengan cara yang lain, yang tidak mudah untuk dihancurkan oleh para pejabat dan para prajurit. "

" Bagaimana caranya? " bertanya Puguh.

" Jika para prajurit dapat memasukkan petugas sandinya di tempat-tempat perjudian, maka sebaiknya kita berhubungan dengan para petugas sandi. Jika kita dapat berhubungan dengan seorang saja diantara mereka, maka kita akan tahu dengan pasti, kapan akan diadakan sergapan pada tempat perjudian itu. Dengan demikian kita akan sempat bersiap-siap. Tidak perlu melawan. Tetapi cukup memindahkan tempat itu. " jawab Jati Wulung.

Puguh mengangguk-angguk. Tetapi niat Jati Wulung itu nampaknya masih agak kabur bagi Puguh. Karena itu, maka Jati Wulung menjelaskan " Jika dengan cara demikian, maka prajurit tidak akan pernah dapat menghancurkan tempat perjudian itu. Tetapi kita harus mempunyai hubungan yang luas. Tempat-tempat yang dalam waktu singkat dapat dirubah menjadi tempat perjudian seperti Song Lawa. Yang paling tepat adalah padepokan-padepokan yang terpencil "

Puguh masih saja mengangguk-angguk. Katanya " Satu kerja yang sulit untuk dilakukan. Tetapi kau dapat mencobanya "

" Memerlukan waktu yang panjang untuk mempersiapkannya tempat seperti itu. " berkata Jati Wulung.

" Ya. Waktu yang panjang dan modal yang besar. " desis Sambi Wulung.

Pembicaraan merekapun tiba-tiba terputus, ketika mereka melihat beberapa orang muncul disimpang empat dihadapan mereka. Dari kejauhan mereka melihat orang-orang itu kemudian hilir mudik di simpang ampat itu sambil memperhatikan mereka.

Ketiga orang itu menjadi berdebar-debar ketika mereka menjadi semakin dekat. Selah seorang diantara mereka adalah Ki Prajak. Orang yang baru saja berkelahi dengan Jati Wulung didepan kedai makanan itu.

" Ternyata persoalanmu belum selesai Wanengpati " desis Sambi Wulung.

Jati Wulung menggeram. Katanya " Orang-orang yang tidak tahu diri. Ternyata persoalannya masih dianggap belum selesai. Mereka masih akan mengajak bermain-main. "

Sambi Wulung mengangguk kecil. Namun iapun bertanya kepada Puguh " Bagaimana keadaanmu? "

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Keadaannya memang bertambah baik. Tetapi ia merasa masih belum pulih kembali. Luka-lukanya masih terasa sakit. Tetapi untuk sekuat melindungi dfi^fiya, maka ia masih akan dapat berusaha.

Karena itu maka katanya " Aku akan berusaha sebaik-baiknya. Makan dan minum yang hangat itu memang memberikan sedikit kesegaran pada tubuhku yang lemah. Mudah-mudahan aku tidak justru menyulitkan kalian berdua. "

Bagus " sahut Sambi Wulung " kami akan berdiri sebelah menyebelah. Kau akan berada ditengah. Berusahalah melindungi dirimu sendiri.

Puguh mengangguk. Namun tubuhnya memang terasa menjadi lebih baik. Apalagi setelah kehangatan makan dan wedang jahe itu bagaikan merayap diseluruh urat darahnya.

Dengan demikian maka ketiga orang itu berjalan tenis. Mereka seakan-akan tidak menghiraukan orang-orang yang berada disimpang ampat. Atau seakan-akan mereka memang tidak bersalah sama sekali terhadap orang-orang yang berada di simpang ampat itu.

Namun keiika mereka menjadi semakin dekat, maka orang-orang disimpang ampat itu mulai berpencar memenuhi jalur jalan. Seorang diantara mereka adalah orang yang sudah lebih tua dari kawan-kawannya. Agaknya orang sebaya dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung.

" Lima orang " berkata Jati Wulung " nampaknya mereka adalah orang-orang yang berkedudukan. "

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab.

Ketika mereka tinggal beberapa langkah lagi dari simpang ampat itu, maka orang yang bernama Kiai Prajak itupun telah bergeser maju dihadapan keempat orang yang lain: Sambil bertolak pinggang ia berdiri  ditengah-tengah jalan.

" Kau Ki Sanak " desis Jati Wulung.

" Ya. Aku. Aku sengaja menghindari perkelahian yang akan dapat mengacaukan pasar itu. Karena itu, aku telah mengalah waktu itu. Tetapi disini keadaannya berbeda. Disini tidak banyak orang yang akan berkerumun menganggu perkelahian kita. "

" Kau masih ingin bertempur? " bertanya Jati Wulung.

" Aku akan membuat kalian menjadi jera. Kalian telah menghina kami. " geram orang itu. Lalu " Kau sudah melanggar paugeran yang dibut oleh Ki Demang dan Ki Wirit atas kedai itu. Pelayan dan pemilik kedai itu sudah memberimu peringatan. Tetapi kau tidak menghiraukannya, sehingga kau telah membuat orang-orang yang ada di kedai itu gelisah. Nah, sekarang kau berhadapan dengan Ki Demang dan Ki Wirit itu sendiri. "

" O " Jati Wulung mengangguk-angguk " jadi bukan karena kau mencari tempat lain untuk bertempur kan? "

" Persetan. Kau dapat berbicara dengan, Ki Demang dan Ki Wirit langsung. " bentak Ki Prajak.

Jati Wulung termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian bertanya " Yang manakah Ki Demang dan yang manakah Ki Wirit? "

Seorang diantara keempat orang itupun bergeser maju dan berdiri disamping Ki Prajak. Katanya dengan nada datar " Akulah Demang di Kademangan ini. "

" O " Jati Wulung mengangguk. Lalu katanya " Apakah   Ki   Demang   akan   mengadili   kami Kami akan berterima kasih jika Ki Demang menangkap orang ini yang mengganggu selaki aku makan di kedai yang ada di depan pasar itu. "

Ki Demang mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun tertawa " Kau memang pandai untuk memancing persoalan. Kau tahu bahwa hal itu pasti tidak akan aku lakukan. Tetapi kau telah menyebutnya juga. "

Jati  Wulung  termangu-mangu  sejenak.   Namun kemudian iapun tertawa. Katanya " Baiklah. Kita tidak usah berbelit-belit. Apa yang ingin kalian lakukan? Berkelahi? Marilah, kami sudah siap. "

" Tunggu " berkata Ki Demang " kami ingin tahu beberapa hal tentang kalian.  "

" Apa yang ingin kau ketahui Ki Sanak? " bertanya Jati Wulung.

Sebelum Ki Demang menyahut, maka seorang yang lain lagi telah melangkah maju pula. Orang yang umurnya sudah sebaya dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung.

" Kaukah yang disebut Ki Wirit " bertanya Jati Wulung dengan serta merta.

" Ya. Akulah Ki Wirit itu. " jawab orang itu.

" Ujud dan sikapmu berbeda dari gambaranku " berkata Jati Wulung.

" Kenapa? " bertanya Ki Wirit itu.

" Aku kira kau adalah seorang yang berpakaian germerlap, berkeris dengan pendok emas serta mengenakan timang emas pada kamusmu. Berjalan agak mengangkat wajahnya sedikit. Sambil meredupkan mata dan mencibirkan bibir kau sapa orang-orang yang tunduk hormat kepadamu sambil menepi dipinggir jalan. " berkata Jati Wulung " ternyata ujud dan sikapmu cukup sederhana dan tidak berlebih-lebihan. "

Orang yang disebut Ki Wirit itu tersenyum. Katanya " Aku bukan orang yang pantas dihormati secara berlebih-lebihan. Sebagaimana juga Ki Demang, maka kami semua, para bebahu dan pemimpin Kademangan adalah orang-orang yang sederhana. "

" Baiklah " berkata Jati Wulung " sekarang, apakah keperluan kaliaifl menghentikan perjalanan kami? "

" Sebenarnya kau tidak usah bertanya Ki Sanak " jawab Ki wirit " kau tentu sudah tahu, bahwa kau telah menyinggung perasaan kami. "

" O " Jati Wulung mengangguk-angguk. Lalu " Barangkali karena aku telah berkelahi dengan salah seorang diantara orang-orangmu itu? "

" Salah satu diantara kesalahanmu, bahwa kau telah berani melawan orang-orangku. " jawab Ki Wirit.

" Kenapa salah satu? Apakah ada kesalahanku yang lain? " bertanya Jati Wulung.

" Jangan berpura-pura dungu. Kau telah menghina hak serta kuasa Ki Demang dan aku. Kau telah memaksa untuk duduk ditempat yang khusus disediakan bagi kami di kedai itu " geram Ki Wirit kemudian.

" Jadi hanya karena kami duduk ditempat yang kosong? " Jati Wulung ganti bertanya " Ki Sanak. Ternyata sampai aku meninggalkan kedai itu, kalian tidak datang ke kedai itu. Karena itu apa salahnya jika aku berada ditempat yang sedang tidak dipergunakan. Kedai adalah satu tempat yang diperuntukkan bagi orang banyak. Termasuk aku dan saudara-saudaraku. Bahkan siapa saja.

" Tetapi itu adalah paugeran di Kademangan ini. Tidak seorangpun yang boleh mempergunakan tempat yang disediakan bagi Ki Demang. Dan ternyata kau telah melanggarnya. Hal itu tidak akan menjadi persoalan jika kalian memang tidak mengetahuinya. " berkata Ki Wirit.

" Kami memang tidak mengetahuinya " berkata Jati Wulung.

Tetapi Ki Wirit itu justru tertawa. Katanya " Kau memang aneh Ki Sanak. Bagaimana mungkin kau tidak mengetahuinya. Pelayan dan pemilik kedai itu sudah memberimu peringatan. Mereka berusaha untuk berbuat baik kepadamu, agar kau tidak melakukan kesalahan dengan melanggar paugeran Kademangan ini. Tetapi kau tidak pernah menghiraukannya. Kemudian Ki Prajakpun telah minta kepadamu untuk pergi. Bahkan ia telah berusaha memaksa kalian karena ia merasa bertanggung jawab atas pelaksanaan segala macam paugeran di Kademangan ini. Tetapi kau berhasil mengalahkannya. "

" Aku tidak kalah " geram Kiai Prajak " aku tidak mau orang-orang sepasar menjadi kebingungan dan kehilangan akal sehingga pasar itu menjadi kacau. Kekacauan itu tentu akan dimanfaatkan oleh para penjahat untuk merampas dan merampok barang-barang bukan saja yang ditinggalkan oleh pemiliknya. Tetapi juga mereka akan berani merampok para pedagang yang kebingungan itu. "

Ki Wirit tersenyum. Katanya " Baiklah. Apapun alasanmu, tetapi orang-orang ini tetap tidak mau tahu bahwa mereka harus menyingkir dari tempat yang khusus di kedai itu. "

Ki Prajak mengangguk-angguk. Katanya " Ya. Begitulah. Karena itu, maka segala sesuatunya terserah kepada Ki Demang dan Ki Wirit. "

Ki Wiritpun kemudian berpaling kepada Ki Demang.

Sementara Ki Demang berdesis. " Kita harus menghukum mereka. "

" Ya " jawab Ki Wirit " kita harus menghukum mereka. Jika kita membiarkan orang-orang itu pergi tanpa mendapat hukuman atas pelanggarannya terhadap paugeran yang berlaku disini, maka selanjutnya akan menjadi kebiasaan orang dari luar Kademangan ini berlaku sekehendak hatinya disini, tanpa menghiraukan paugeran yang berlaku, serta sama sekali tidak menghargai para bebahu di Kademangan ini. "

_ Nah " berkata Ki Demang " aku harap kalian tidak berbuat sesuatu yang akan dapat memperberat hukuman kalian. Kalian harus menjulurkan pergelangan tangan kalian untuk diikat. Kemudian menyeret kalian bertiga ke Kademangan. Hukuman berikutnya akan ditentukan dalam sidang yang akan dihadiri oleh para bebahu dan orang-orang tua pemangku adat disini. "

Sambi Wulung dan Jati Wulung saling berpandangan sejenak. Namun keduanya tiba-tiba saja tersenyum. Jati Wulunglah yang melangkah maju sambil berkata " Ki Demang. Menurut pengamatanku yang sekilas, kami menaruh kasihan kepada Ki Demang. "

Wajah Ki Demang menjadi merah. Dengan nada marah ia bertanya " Kenapa kau dapat berkata seperti itu? "

" Ternyata yang sebenarnya memerintah Kademangan ini bukannya Ki Demang. " berkata Jati Wulung.

" Bukan aku? Apakah kau gila? " geram Ki Demang.

" Ki Demang adalah orang yang berhak untuk menduduki jabatan itu karena hak yang turun temurun. Tetapi menurut pengamatanku yang sekilas, maka yang sebenarnya berkuasa disini adalah Ki Wirit. " berkata Jati Wulung.

" Tutup mulutmu " bentak Ki Demang " jangan mengigau. Kau harus menyadari, bahwa igauanmu itu akan dapat menjerat lehermu. "

Tetapi Jati Wulung menjawab dengan senyumnya yang masih nampak dibibirnya. Katanya " Jangan menjadi terlalu garang Ki Demang. Aku bukan sekedar mengigau. Meskipun aku bukan seorang yang pandai, tetapi aku mempunyai berpuluh ribu pengenalan atas tabiat dan tingkah laku manusia. Juga atas Ki Demang disini, yang tidak menunjukkan kewibawaan yang memadai dibanding dengan Ki Wirit. "

" Ki Wirit adalah salah seorang tua yang memang dihormati disini " berkata Ki Demang " bukankah itu berlaku dimana saja, jika seorang pemimpin pemerintahan menghormati orang-orang tua yang bijaksana di lingkungannya? "

" Kau benar Ki Demang. Nampaknya Ki Wirit adalah orang tua yang bijaksana di padukuhan dan bahkan Kademangan ini. " jawab Jati Wulung.

Ki Demang mengerutkan dahinya. Ia merasakan sindiran yang tajam dari kata-kata Jati Wulung, sehingga iapun berkata " Kata-katamu tajam melampaui ujung duri pandan. Apapun yang kau katakan, maka kau akan mendapat hukuman yang pantas. Kata-katamu dan sikapmu ternyata telah memperberat kesalahanmu. "

" Sudahlah " berkata Jati Wulung kemudian " sejak awal sudah aku katakan. Marilah kita berkelahi. Jangan banyak berbicara lagi. "

" Persetan " geram Ki Wirit " kata-katamu semakin lama semakin menyakitkan hati. Kau kira jika kita benar-benar berkelahi kau akan dapat luput dari tanganku? "

" Aku sudah bertekad untuk menantangmu. Jangan banyak bicara lagi. Kita berkelahi, atau biarkan kami pergi. " Jati Wulungpun membentak.

Ki Wirit benar-benar menjadi marah. Iapun segera memberikan isyarat kepada kedua orang kawannya yang lain, sehingga merekapun dengan serta merta telah bergeser dari tempatnya dan mengepung ketiga orang itu.

" Jangan berharap apa-apa lagi " berkata Ki Wirit

" sebenarnya aku tidak ingin berkelahi dengan cara yang licik, sebagaimana kalian tidak berkelahi bertiga ketika kalian melawan Ki Prajak. "

" Aku tidak perlu melawannya bertiga " berkata Jati Wulung.

" Nah, sekarang baiklah. Kami tidak akan bertempur berlima, sementara kalian hanya bertiga. Aku ingin tahu, apakah kalian benar-benar laki-laki pilihan, sehingga kalian berani melakukan tindakan yang deksura di kedai itu. " berkata Ki Wirit.

" Maksudmu? " bertanya Jati Wulung.

" Hanya seorang diantara kami yang akan bertempur. Sedangkan kalian dapat memilih salah seorang diantara kalian. Kita akan berperang tanding. " jawab Ki Wirit.

Jati Wulung termangu-mangu sejenak. Ki Wirit mengucapkan kata-kata itu dengan penuh keyakinan sehingga baik Jati Wulung maupun Sambi Wulung mempunyai penilaian tersendiri atas orang ini.

Namun sebelum Jati Wulung menjawab, maka Sambi Wulung telah mendahului " Menarik sekali. Agaknya sekarang giliranku untuk berkelahi. Adikku, Wanengpati telah mengalahkan Ki Prajak, diakui atau tidak diakui. Sekarang aku akan berperang tanding melawanmu, Ki Wirit. "

" Kenapa kau? " bertanya Jati Wulung.

" Bergantian. Sudah beberapa hari aku tidak berkelahi. Sekarang aku akan mendapat kesempatan itu " berkata Sambi Wulung.

" Tetapi akulah yang telah memulainya. Maka biarlah aku yang menyelesaikannya " berkata Jati Wulung.

" Itu namanya tidak bergantian. Kau akan mengambil semuanya dan tidak memberi aku kesempatan sama sekali. Itu tidak adil. "

" Setan " geram Ki Wirit " jadi kalian berebut untuk mati. "

" Siapa bilang berebut untuk mati? Kami berebut kesempatan untuk membunuh. Apa salahnya dalam keadaan seperti ini kami membunuh? Jika kau sudah menyebut-nyebut untuk membunuh kami, maka kamipun telah bertekad untuk membunuh kalian. "

Ki Wirit yang marah itu menjadi semakin marah. Dengan keras ia membentak " Cepat. Semakin lama akan menjadi semakin .banyak orang yang akan melihat perkelahian ini. Meskipun dengan demikian akan menjadi semakin banyak pula saksi kematianmu, tetapi aku tidak memerlukannya. "

Sambi Wulungpun kemudian bergeser maju sambil berkata kepada Jati Wulung " Jaga anakmu yang sakit itu. "

Jati Wulung tidak dapat memaksakan kehendaknya atas Sambi Wulung. Ia sadar, bahwa Sambi Wulung tentu menganggap bahwa Ki Wirit memang memiliki kelebihan. Karena itu, agar tidak terjadi sesuatu atas mereka bertiga, maka Sambi Wulung yang memiliki ilmu terbaik diantara mereka bertiga akan menghadapinya. Jika Ki Wirit mampu mengalahkan Sambi Wulung, maka nasib mereka bertiga memang akan menjadi terlalu buruk.

Dengan demikian, maka Sambi Wulunglah yang kemudian telah berdiri dipaling depan menghadapi Ki Wirit. Sementara itu Jati Wulung dan Puguhpun harus berhati-hati, karena masih ada ampat orang lainnya, termasuk Ki Demang yang akan dapat berbuat sesuatu atas mereka.

" Bagus" berkata Ki Wirit. " jJadi kaulah! yang akan menghadapi aku dalam perang tanding ini? "

" Ya " jawab Sambi Wulung mantap.

Ki Wirit mengangguk-angguk. Dengan nada datar iapun berkata " Baiklah. Marilah kita yang tua-tua ini sekali-sekali mencari kesempatan untuk bermain-main pula. " Lalu katanya kepada Ki Demang " Ki Demang, jangan ganggu kami. Suruh orang-orang itu berjaga-jaga agar tidak seorangpun diantara mereka akan sempat melarikan diri. "

Ki Demang mengangguk. Jawabnya " Percayakan mereka kepada kami. Siapa yang akan melarikan diri, akan mati lebih dahulu karenanya. "

Namun Ki Demang dan bahkan orang-orang yang mengepung itu terkejut ketika mereka mendengar Jati Wulung tertawa. Katanya " Suara kalian seperti guntur di mangsa ke sanga. Menggelegar memenuhi langit yang kelabu. Tetapi marilah kita buktikan, apakah benar-benar hujan akan dapat turun. "

" Persetan kau " bentak Ki Demang.

Namun dengan serta merta Jati Wulung menjawab " Apakah kita juga akan perang tanding? "

" Tidak " Ki Wiritlah yang menyahut " aku dan orang ini akan menentukan segala-galanya. "

Jati Wulung tertawa berkepanjangan. Suara tertawanya berhenti ketika Ki Demang membentak " He, kenapa kau tertawa? "

" Aku memang yakin bahwa Ki Demang tidak lebih dari sebuah wayang golek yang hanya bergerak jika digerakkan oleh Ki Wirit. Ki Wiritpun menjadi cemas akan nasib wayang goleknya jika pada suatu saat ia tidak sempat mengendalikannya dengan baik. "

" Setan " geram Ki Wirit " jika aku selesai dengan perang tanding ini, maka kaupun akan aku bunuh dengan caraku. "

" Jangan sesumbar. Lakukanlah jika kau mampu " jawab Jati Wulung.

Ki Wirit menggeram. Dadanya seakan-akan menjadi retak oleh kemarahan yang menyesak. Ia belum pernah menjumpai orang seperti ketiga orang itu. Ketika sekilas ia memandang wajah Puguh, maka iapun berkata didalam hati " Jika anak itu tidak sakit, maka ia tentu gila juga seperti ayahnya. "

Demikianlah, Ki Wirit telah berhadapan dengan Sambi Wulung. Keduanya telah bersiap untuk bertempur disimpang ampat. Seperti yang dikatakan olah Ki Wirit, maka sebenarnyalah, beberapa orang yang tertahan dan tidak dapat lewat dijalan itu, telah berkerumun meskipun pada jarak yang jauh. Mereka mengerti bahwa jika Ki Wirit telah ikut campur, biasanya keadaan orang-orang yang menjadi sasarannya tidak akan tertolong lagi. Karena itu, maka Ki Wirit memang lebih ditakuti daripada Ki Demang, yang sebagaimana diduga oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung, bahwa Ki Demang memang berada dibawah pengaruh Ki Wirit.

" Bersiaplah untuk mati dengan cara yang kurang baik. " berkata Ki Wirit dengan nada berat.

Tetapi Sambi Wulung menjawab " Ki Wirit. Apakah kau mempunyai anak isteri? Barangkali ada pesan yang ingin kau sampaikan kepada Ki Bekel sebelum kau mati disini? "

Kata-kata Sambi Wulung itu bagaikan api yang telah menyalakan minyak yang sudah tersiram dihatinya. Dengan serta merta maka apipun telah berkobar membakar seluruh isi dadanya.

Denganlloncatanlyangi cepat, maka Ki Wiritpun telah menyerang. Tangannya terayun mendatar kearah kening lawannya. Namun Sambi Wulungpun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Karena itu, maka serangan itu telah dielakkannya. Tangan Ki Wirit itu terayun beberapa jari dari kepalanya yang menunduk.

Tetapi dalam pada itu, Sambi Wulung tidak menyia-nyiakan kesempatan yang terbuka baginya. Sambil menghindari ia telah berputar dengan ayunan kaki mengarah lambung.

Ki Wirit memang terkejut melihat ketangkasan lawannya. Karena serangan itu, maka iapun harus meloncat selangkah surut. Tetapi ketika kakinya menjejak tanah, maka kaki itu telah melemparkannya kembali. Bahkan tubuhnya menjadi miring dan satu kakinya lurus menyamping.

Sambi Wulung mampu bergerak secepat serangan lawannya. Ia memiringkan tubuhnya sambil menarik dadanya. Kaki Ki Wirit itu memang hampir saja mengenai Wajahnya.

Dengan kedua tangannya Sambi Wulung memukul kaki Ki Wirit. Tetapi Ki Wirit telah menggeliat dan menjatuhkan dirinya. Justru kakinya yang lainlah yang kemudian mematuk lambung lawannya ketika Ki Wirit itu berguling ditanah sambil mengambil jarak.

Sambi Wulung bergeser surut selangkah. Tetapi demikian ia melihat Ki Wirit melenting berdiri, maka iapun telah meloncat menerkam dengan ayunan tangannya.

Ki Wiritlah yang kemudian terpaksa membungkukkan badannya. Untuk mengurangi kemungkinan buruk dari serangan lawannya, justru Ki Wiritlah yang telah menyerang dada lawannya dengan kedua tangannya.

Tetapi semangan itupun tidak menyentuh tubuh Sambi Wulung yang bergeser mundur.

Keduanyapun kemudian berdiri tegak. Mereka saling memandang dengan tajamnya. Namun dengan demikian untuk beberapa saat keduanya berdiri tegak ditempatnya.

Ki Wirit yang tidak menyangka bahwa lawannya mampu melawannya untuk beberapa lama, bahkan justru mampu mengimbangi kekuatannya serta kecepatan geraknya, memang membuatnya menjadi heran. Sambil mengangguk-angguk Ki Wirit itupun berkata " Ternyata kau bukan sekedar mampu membual. Kau dapat menghindari sentuhan tanganku untuk beberapa lama. Bahkan kau sempat membalas menyerang meskipun serangan-seranganpun itu tidak berarti. "

Sambi Wulung termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian menjawab " Ki Wirit. Akupun memang harus mengakui bahwa kau adalah seorang yang berilmu tinggi. Tetapi bukan berarti bahwa karena itu kau berhak untuk berbuat apa saja sesuka hatimu. Mungkin di Kademangan ini tidak ada orang yang mampu mencegah tingkah lakumu, sehingga semua keinginanmu akan dapat kau lakukan disini. Tetapi kau harus ingat, bahwa kau tidak berdiri sendiri di dunia oleh kanuragan. Meskipun Ki Demang di Kademangan ini tidak pernah berani menentang kehendakmu, sehingga justru terpaksa menjadi alatmu dengan kuasa yang dimilikinya dengan sah, namun diatas kuasa Ki Demang masih ada kekuasaan lain yang akan dapat mencegahmu. Ada tiga kuasa yang aku maksud. Pertama, kuasa Pajang dan kedua, jika kuaSa Pajang tidak melihat kecuranganmu dengan mempergunakan kuasa kekuatanmu dan kelebihanmu dalam olah kanuragan, maka tentu ada kekuatan lain yang pada satu saat akan menghancurkanmu. Dan sekarang aku telah membawa kuasa itu atasmu. "

" Setan kau " geram Ki Wirit " kau berani menghina aku. "

" Aku tidak menghinamu. Aku memang bertekad untuk menghancurkanmu. Bahkan jika aku gagal, masih ada kuasa yang jauh lebih tinggi dari kuasa ilmumu. Dengan alat apapun kuasa itu akan dapat menghancurkanmu. " berkata Sambi Wulung.

" Omong kosong " geram Ki Wirit.

" Kuasa dari segala sumber kuasa didunia ini " geram Sambi Wulung.

" Ucapan orang yang telah berputus-asa. Nah, jika kau memang sudah berputus asa, jangan mencoba menentang aku lagi. Menyerahlah. Kami akan mengikatmu dan membawamu ke Kademangan. " Ki Wirit hampir berteriak.

Tetapi Sambi Wulung menggeleng. Katanya " Jangan mimpi mengikat tanganku. "

Sambi Wulung tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Tiba-tiba saja Ki Wirit yang marah itu telah meloncat menyerangnya.     

Pertempuranpun telah terulang kembali. Keduanya telah menunjukkan kelebihannya. Mereka mampu bergerak dengan cepat dan ayunan-ayunan tangan dan kaki yang deras. Udarapun telah terayun pula bersama serangan-serangan mereka yang garang.

Orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu menjadi berdebar-debar. Ki Demang dan orang-orangnya  termangu-mangu melihat pertempuran yang nampaknya menjadi Semakin sengit. Menurut pengenalan Ki Demang atas Ki Wirit selama ini, tidak seorangpun yang akan mampu melawannya. Seisi Kademangan, termasuk Ki Demang sendiri, telah tunduk dibawah pengaruhnya. Meskipun di Kademangan itu, Ki Demang memiliki kuasa yang sah, tetapi ia memang tidak berdaya untuk memerintah sebagaimana diinginkan. Ia harus melakukan apa yang dikehendaki oleh Ki Wirit.

Namun saat itu, ternyata Ki Wirit telah membentur kekuatan yang ternyata seimbang menurut penilaian Ki Demang. Ternyata bahwa Ki Wirit tidak dapat segera mengalahkan lawannya. Bahkan pertempuran itu dinilainya menjadi semakin sengit sehingga bagi Ki Demang, apalagi orang-orangnya termasuk Ki Prajak, tidak dapat memperhitungkan siapakah yang akan menang. Biasanya jika seseorang berani melawan Ki Wirit dan sempat  bertempur beberapa lama, maka akhirnya orang itu akan mengalami nasib yang sangat buruk. Dengan kejam Ki Wirit yang nampaknya bersikap lunak itu akan mengakhiri hidup lawannya dengan caranya yang khusus. Dengan tangan sendiri yang tidak gemetar sama sekali, Ki Wirit membunuh korban-korbannya.

Tetapi ternyata menghadapi orang yang satu itu, Ki Wirit tidak dapat segera menyelesaikannya, betapapun kemarahan telah menghentak-hentak dadanya.

Bahkan pertempuran yang terjadi sama sekali tidak segera menunjukkan kelebihan Ki Wirit atas lawannya.

Untuk beberapa saat keduanya masih saja berputaran. Desak mendesak. Serang menyerang. Sekali-sekali Ki Wirit memang mampu mendesak Sambi Wulung. Tetapi beberapa saat kemudian, Ki Wiritlah yang harus berloncatan mengambil jarak.

Ternyata disekitar arena pertempuran itu, meskipun pada jarak yang agak, jauh, beberapa orang sedang menyaksikannya. Semakin lama memang menjadi semakin banyak betapapun dengan jantung yang berdebaran. Bukan saja orang-orang yang kembali dari pasar, tetapi orang-orang yang sedang berangkat ke sawahpun telah berhenti.

Debu yang kelabu telah mengepul diudara. Semakin lama semakin banyak. Menghambur dan membuat arena itu menjadi kabur.

Namun keduanya masih bertempur terus. Bahkan bukan saja debu yang berhamburan, tetapi kerikil-kerikil kecilpun bagaikan dihambur-hamburkan pula. Langkah-langkah kaki kedua orang yang bertempur itu telah menyentuh bebatuan dan kerikil-kerikil kecil sehingga terlontar berserakkan.

Ki Demang dan orang-orangnya menjadi semakin berdebar-debar. Mereka telah melihat pertempuran yang sangat cepat. Bahkan melampaui kemampuan pengamatan mereka.

Tetapi diantara mereka, Jati Wulung berdiri saja termangu-mangu. Ia mengenal dengan pasti tingkat kemampuan Sambi Wulung yang lebih tinggi dari kemampuannya sendiri. Sementara itu, betapapun serunya pertempuran, tetapi yang.nampak di mata Jati wulung tidak lebih dari sekedar mengungkapkan kekuatan kewadagan dan dorongan tenaga cadangan. Sambi Wulung belum menukik ke dalam ilmunya yang rumit, yang bersandar pada kemampuannya menyadap kekuatan alam yang ada disekitarnya.

Karena itu, maka Jati Wulung sama sekali tidak menjadi gelisah betapapun ia melihat debu, batu-batu kerikil dan batu-batu padas berhambur karena sentuhan dan hentakan kaki mereka yang menghentak-hentak dalam pertempuran itu. Bahkan Jati Wujung justru telah berdesis " Buat apa kakang Sambi Wulung mengungkit bebatuan dengan kakinya? Mataku jadi pedas karena debu yang dihambur-hamburkannya.

Namun dengan demikian, maka pertempuran itu nampaknya memang menjadi lebih seram. Seakan-akan kedua orang itu telah bertempur didalam kabut.

Puguh yang masih belum pulih kekuatannya itu termangu-mangu. Ia menjadi ragu-ragu melihat pertempuran itu, apakah Wanengbaya itu akan dapat mengatasi lawannya yang kelihatannya lebih garang, meskipun umurnya nampaknya tidak lebih muda.

" Apa kau melihat satu kemungkinan? " bertanya Puguh pada Jati Wulung.

Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak ingin memperlihatkan kemampuan Sambi Wulung dengan berlebih-lebihan  sebagaimana  dilakukan oleh  Sambi Wulung sendiri. Karena itu, maka katanya " Aku masih berpengharapan.

" Apakah kau lihat keseimbangan diantara keduanya? " bertanya Puguh pula.

" Ya. Keduanya memiliki kemungkinaniyang sama " jawab Jati Wulung.

Puguh mengangguk-angguk. Iapun mempunyai pendapat yang sama. Bahkan menurut pengamatan Puguh, Sambi Wulung justru memiliki kesempatan yang lebih baik. Namun jika Sambi Wulung itu sedikit saja melakukan kesalahan, maka ia akan dapat mengalami kesulitan karena Ki Wiritpun memiliki kecepatan gerak dan kekuatan yang besar. Tetapi sebaliknya, jika Ki Wirit yang melakukan kesalahan, maka ialah yang akan mendapat bencana.

Demikianlah pertempuran itu berlangsung untuk waktu yang lama. Mataharipun semakin lama menjadi semakin tinggi, sehingga panasnya mulai terasa menyengat kulit.

Jati Wulung yang mengikuti pertempuran itupun akhirnya mengetahui, apakah yang akan dilakukan oleh Sambi Wulung. Ia ingin menunjukkan kepada lawannya, bahwa betapapun tinggi ilmu seseorang, tetapi kekuatan wadagnya tetap terbatas.

Dalam pada itu, Ki Wiritpun semakin lama menjadi semakin marah. Ia berusaha untuk dengan segera menghancurkan lawannya tanpa mengekang diri. Tidak ada pikiran lain di kepalanya, kecuali benar-benar ingin membunuh lawannya. Semakin lama ia bertempur, maka keinginannya membunuh lawannya dengan cara yang paling mengerikannya semakin membakar jantungnya.

Tetapi ia telah membentur satu kenyataan, bahwa tidak mudah baginya untuk mengalahkan lawannya itu. Ternyata setelah mereka bertempur untuk waktu yang lama, kesempatannya mengalahkan lawannya sama sekali belum terbuka.

Sebenarnya Ki Wirit tidak ingin mempergunakan senjata. Ia tidak ingin membunuh lawannya dengan tusukan luwuknya langsung mengenai jantung. Bagi Ki Wirit, kematian yang demikian bagi orang yang telah berani melawannya adalah kematian yang terlalu baik. Ia ingin menangkap lawannya hidup-hidup dan membunuhnya dengan cara sendiri.

Tetapi menghadapi lawan yang seorang ini, agaknya sulit baginya untuk dapat menangkapnya sebagaimana yang diinginkannya. Bahkan ketika tenaganya sendiri mulai menjadi susut, maka iapun tidak lagi berpikir panjang. Dengan serta merta, maka ditariknya luwuk yang terselip dipinggangnya. Luwuk yang miripldengan sebilah keris yang besar tetapi berbentuk seperti pedang.

Sambi Wulung meloncat surut ketika ia melihat senjata lawannya yang berwarna kehitam-hitaman dengan pamor yang berkilat menelusuri daun senjata itu dari pangkal sampai ke ujung. Hulunya memang mirip dengan hulu pedang dihiasi dengan seikat rambut yang berjuntai meskipun tidak begitu panjang.

" Kau menjadi ketakutan melihat pusakaku " geram Ki Wirit " tidak ada orang yang mampu melepaskan diri dari maut jika luwuk ini menjadi haus. Karena itu relakan darahmu menjadi minuman pusakaku yang haus ini. "

Tetapi jawab Sambi Wulung " Aku masih belum ingin mati Ki Sanak. Tugasku masih banyak. Selama masih ada orang-orang seperti kau di muka bumi ini, maka tugasku masih belum selesai. Karena itu aku akan berjuang untuk mempertahankan hidupku. Jika dalam usaha mempertahankan hidupku ini aku terpaksa membunuh, itu bukan yang aku kehendaki. "

Ki Wirit menggeram. Ia mulai menggerakkan luwuknya sambil berkata " Setiap orang yang telah aku bunuh dengan luwukku ini, aku cabut beberapa lembar rambutnya dan aku letakkan pada tangkai luwukku ini. Nah, jika kau melihat rambut yang berjuntai ini, maka bayangkan, seratus orang telah aku penggal kepalanya. "

" Dan yang keseratus satu adalah kepalamu sendiri " geram Sambi Wulung yang mulai terungkit kemarahannya. Lalu katanya pula " Jika benar kau telah membunuh seratus orang, maka tidak akan ada jalan keselamatan lagi bagimu. Bukan saja dibatas hidup dan mati dari ujud kewadaganmu, tetapi kau benar-benar akan mati dan jiwamu akan terjun kedalam kegelapan untuk selama-lamanya. "

" Persetan kau " Ki Wirit hampir berteriak. Dengan tangkasnya ia meloncat sambil mengayunkan luwuknya. Sambi Wulung mengelak. Namuri sambil bergeser iapun telah menarik pedangnya. Pedang Sambi Wulung memang pedang kebanyakan. Tidak ada kelebihan apapun juga. Yang mempunyai kelebihan adalah tangan yang mengenggamnya.

Karena itu, maka pertempuranpun menjadi semakin menggetarkan jantung. Mereka tidak saja berloncatan dengan ayunan tangan dan kaki. Tetapi mereka telah bertempur dengan mempergunakan senjata di tangan masing-masing.

Ki Wirit yang tidak segera berhasil mengenai sasarannya itu menjadi semakin marah. Jantungnya bagaikan menggembung sebesar kepalanya sehingga hampir pecah karenanya. Sementara itu, setiap ayunan pedangnya tentu membentur senjata lawannya atau lewat saja membelah udara.

Dalam kemarahan yang membakar dadanya, Ki Wirit memang tidak dapat berbuat lebih banyak mengingat kemampuan lawannya. Karena itu, maka ia telah terlepas dari kedudukannya di hadapan Sambi Wulung dalam perang tanding. Ia ingin mempengaruhi pemusatan perhatian Sambi Wulung terhadap perkelahian itu.

Karena itulah, maka sejenak kemudian iapun telah berteriak " Ki Demang. Bawa orang-orangmu untuk menangkap atau membunuh kedua orang itu. "

Ki Demang termangu-mangu sejenak. Ia memang menjadi bingung, apa yang harus dilakukannya.

Namun Ki Wirit itu telah berteriak lagi " Cepat. Lakukan sebelum terlambat. Jika mereka melihat kawannya yang seorang ini aku bunuh, maka mereka tentu akan melarikan diri. "

" Baik Ki Wirit " jawab Ki Demang.

" Waktu kita tidak terlalu banyak " teriak Ki Wirit lagi. Namun ketika mulutnya hampir berteriak lagi, tiba-tiba saja terdengar ia berdesah tertahan.

Dengan serta merta, maka Ki Wirit itu telah meloncat mundur mengambil jarak beberapa langkah. Sambil mengumpat-umpat kasar ia meraba lengannya. Ternyata darah telah meleleh dari lukanya dilengan itu.

Sambi Wulung berdiri tegak. Pedangnya bersilang didadanya.

" Anak setan " geram Ki Wirit " ilmu iblis dari manakah yang telah kau sadap itu? "

Sambi Wulung memandang orang itu dengan tajamnya. Kemudian dengan suara yang tajam pula ia berkata " Ki Wirit. Kesabaran seseorang itu terbatas. Demikian pula kesabaranku bukannya tanpa takaran. Karena itu, maka aku minta kau menyerah sekarang. "

Ki Wirit menggeretakkan giginya. Ujung luwuknya menjadi bergetar oleh getar kemarahannya didalam dadanya. Sekilas ia berpaling kepada Ki Demang sambil sekali lagi berkata " Bunuh kedua orang itu. Aku akan membunuh yang seorang ini. "

" Tidak ada gunanya kau menyembunyikan kenyataan ini Ki Wirit " berkata Sambi Wulung " kau tidak akan dapat mempertahankan dirimu. Kau sudah nampak semakin letih. Gerakmu tidak setangkas disaat kita mulai dengan permainan ini. Sebentar lagi kau akan kehabisan tenaga dan jika kau menunggu aku benar-benar  kehilangan kesabaran, maka tubuhmu akan terkapar mati disini.

" Persetan " Ki Wiritpun telah mengumpat pula. Dengan serta merta ia telah meloncat menyerang Sambi Wulung. Luwuknya terjulur lurus mengarah ke dada lawannya.

Tetapi Sambi Wulung cukup tangkas. Ia memiringkan tubuhnya sambil menangkis serangan itu, sehingga senjata Ki Wirit itu tidak menyentuhnya. Tetapi Ki Wirit tidak membiarkan Sambi Wulung lolos dari serangannya. Luwuk Ki Wirit itu berputar sekali kemudian terayun deras menebas leher Sambi Wulung.

Dengan tangkas Sambi Wulung menangkis serangan itu. Demikian kerasnya benturan yang terjadi, sehingga bunga apipun telah meloncat diudara.

Kemarahan Ki Wirit benar-benar telah tidak tertahankan lagi sehingga dadanya merasa bagaikan sesak. Luka ditangannya adalah api yang menyalakan minyak yang telah meluap membasahi jantungnya.

Namun kemarahan Sambi Wulungpun menjadi semakin mencengkam pula. Sikap dan kekasaran Ki Wirit telah- menunjukkan ciri pribadinya yang sebenarnya, dalam keadaan terdesak, maka Ki Wirit diluar sadarnya telah mempergunakan ilmunya yang tertinggi. Ilmu yang ternyata mempunyai ciri-ciri yang kasar dan tercela.

Hanya Sambi Wulung dan Jati wulung sajalah yang mampu menilai langsung ilmu yang dipergunakan oleh Ki Wirit. Puguh yang muda itu ternyata masih memerlukan pengalaman lebih jauh untuk mengenali watak ilmu sebagaimana yang dipergunakan oleh Ki Wirit. Namun dengan demikian, maka Sambi Wulungpun benar-benar telah mengambil keputusan.

Tetapi dalam pada itu, Ki Demang yang telah mendapat perintah untuk bertindak atas kedua orang kawan Sambi Wulung itupun telah memberi isyarat kepada ketiga orang kawannya.

" Berusahalah melindungi dirimu jika diserang " berkata Jati Wulung kepada Puguh yang ilmunya masih belum pulih kembali karena dukungan tenaganya yang belum pulih pula. Tetapi sekedar untuk melindungi dirinya sendiri, maka Puguh sama sekali tidak menjadi cemas akan sisa kemampuan yang ada didalam dirinya.

Sesaat kemudian, empat orang telah mengepung Jati Wulung dan Puguh. Namun dengan lantang Jati Wulung berkata " Jika ilmu kalian tidak melampaui ilmu Ki Wirit, maka kalian tidak akan dapat mengurung kami dengan cara apapun juga. "

Ki Demang memang menjadi ragu-ragu. Tetapi sekali lagi tedengar Ki Wirit berteriak " Cepat. Lakukan. "

Kata-kata itu bagaikan telah mendorong Ki Demang untuk meloncat maju. Namun Ki Demang yang ragu-ragu itu harus menyakinkan dirinya untuk dapat melakukan perlawanan, sehingga karena itu, maka iapun telah menarik senjatanya. Sebilah pedang yang panjang. Demikian pula kawan-kawannya. Dengan senjata masing-masing mereka telah siap untuk menyerang Jati Wulung dan Puguh yang berasa di tengah-tengah lingkaran.

Ki Prajak yang telah pernah bertempur melawan Jati Wulung masih saja termangu-mangu. ia memang tidak yakin apakah mereka berempat akan dapat mengalahkan  kedua orang itu.

Sejenak kemudian, maka Ki Demangpun telah memberikan isyarat, agar kedua orang yang berada disisi yang lain mulai bergerak. Sementara itu, ia sendiripun telah menggerakkan senjatanya pula.

Keempat orang itupun bersama-sama telah mulai bergeser. Tetapi Ki Prajak masih dibayangi oleh kecemasan akan kecepatan gerak Jati Wulung. Dengan demikian maka iapun menjadi sangat berhati-hati.

Namun ia memang tidak yakin apa yang dapat dilakukan oleh kedua kawannya yang lain, yang tidak mempunyai kelebihan dari padanya. Ki Demang memang dianggap seorang yang berilmu tinggi, tetapi ilmunya masih berada beberapa lapis dibawah Ki Wirit. Sementara itu Ki Wirit ternyata tidak mampu segera mengalahkan lawannya.

Dalam pada itu, Puguhpun telah mengacukan pedangnya pula. Sementara Jati Wulung masih berbisik " Aku akan memasuki lingkaran perkelahian. Sementara itu, kau lindungi dirimu sendiri. "

Puguh tidak menjawab. Tetapi ia siap melakukan sebagaimana dikatakan oleh Jati Wulung yang dikenalnya sebagai Wanengpati.

Sebenarnyalah, sejenak kemudian maka Jati Wulung justru telah meloncat menyerang Ki Demang. Pedangnya terjulur lurus kearah dada lawannya. Ki Demang dengan tangkas menangkis serangan itu sambil bergeser kesamping. Namun i benturan senjata yang terjadi, telah menggetarkan bukan saja tangan Ki Demang, tetapi juga jantungnya. Meskipun Ki Demang memukul pedang Jati Wulung dengan segenap kekuatannya, tetapi arah pedang Jati Wulung itu sama sekali tidak bergeser. Jika Ki Demang tidak bergerak ke samping, maka ujung pedang itu akan tetap menusuk dadanya tembus ke jantung.

Benturan pertama itu membuat dada Ki Demang menjdi semakin berdebar-debar. Ia semakin menyadari bahwa orang-orang itu adalah orang-orang yang memang memiliki kemampuan jauh diatas jangkauan kemampuan mereka.

Tetapi Ki Demang tidak mempunyai keberanian untuk membantah perintah Ki Wirit. Karena itu, maka iapun telah berusaha untuk dapat bertempur sebaik-baiknya meskipun ia harus menjadi sangat berhati-hati.

Sikap itulah yang menguntungkan Jati Wulung dan Puguh. Keempat orang itu tidak berani dengan serta merta menyerang i Jati Wulung dani Puguh. Sementara itu Puguhpun berusaha untuk tidak menunjukkan kelemahannya.

Sebenarnyalah bahwa lawannya tidak akan sempat membuat perhitungan. Seandainya mereka mengerti akan kelemahan Puguh sekalipun, mereka tidak akan sempat membuat pilihan. Jati Wulunglah yang kemudian ternyata telah membentuk suasanaldalan pertempuran itu. Dengan tangkas ia berloncatan menyerang lawannya, sementara itu kaki Puguh bagaikan melekat pada bumi. Hanya sekali-sekali saja ia berputar menghadapi lawan yang akan menyerangnya.

Namun dalam pada itu, ketika Ki Demang mulai bergerak, Ki Wirit masih juga sempat berteriak " Anak iblis. Sebentar lagi kawan-kawanmu itu akan terbunuh dengan keadaan yang mengerikan. Ki Demang dan kawan-kawannya adalah orang yang berilmu tinggi. Bersama-sama mereka tidak akan terlawan oleh kekuatan yang manapun juga. Bahkan oleh pasukan prajurit segelar sepapan sekalipun. "

" Kenapa kau masih juga berkicau seperti itu Ki Wirit. Salah seorang diantar kami telah pernah bermain-main dengan orangmu yang bernama Ki Prajak itu. Ternyata kemampuannya tidak lebih dari hitamnya kuku dibanding dengan kemampuan kami. " sahut Sambi Wulung.

" Pembual yang sombong " geram Ki Wirit " sebentar lagi mulutmulah yang akan aku koyakkan sampai ketelinga. "

Sambi Wulung tertawa. Meskipun ia harus berloncatan menghindar dan menangkis serangan Ki Wirit. Tetapi suara tertawa Sambi Wulung ternyata adalah lontaran kejemuan, kemuakan dan kemarahan yang hampir meledakkan jantungnya. Diantara suara tertawanya terdengar ia berkata " Ki Wirit. Ternyata kau adalah orang yang paling bengis yang aku kenal. Kau berpura-pura menjadi seorang yang rendah hati, ramah tamah dan sederhana. Bahkan kau nampak lembut dan kebapaan. Tetapi ternyata disisa umurmu yang sudah tidak lebih banyak dari sisa umurku menurut ujud lahiriahnya itu masih kau pergunakan untuk  memanjakan nafsu ketamakan dan kedengkianmu terhadap sesama. Karena itu Ki Wirit, tidak ada yang lebih pantas kau pikul hukuman bagimu selain hukuman mati. "

" O " Ki Wirit menyahut " siapa yang berhak menjatuhkan hukuman bagi seseorang? "

" Aku tidak peduli siapakah yang berhak. Tetapi aku merasa berhak menghentikan segala tingkah polahmu. Kau tidak usah ingkar lagi. Aku mengenali watak ilmumu yang kasar dan licik itu. Ilmu dari aliran hitam yang memang tidak berhak untuk hidup diantara orang banyak. " jawab Sambi Wulung.

Namun sambil menyerang Ki Wirit berteriak " Lihat. Orang-orangmu sudah mati satu persatu. "

Sambi Wulung memang terkejut. Tetapi ia sadar, bahwa jika ia berpaling, maka serangan Ki Wirit itu akan menjadi sangat berbahaya baginya. Karena itu, maka iapun telah bergeser sambil menangkis ujung luwuk yang terjulur kedadanya.      

Baru kemudian ia sempat memandang kearah Jati Wulung dan Puguh. Namun ternyata bahwa mereka tidak mengalami kesulitan apapun juga.

Kelicikan itu telah mendorong Sambi Wulung untuk segera mengakhiri pertempuran. Jika Ki Wirit itu mendapat kesempatan lebih banyak, maka mungkin sekali ia akan dapat berbuat lebih licik lagi dan barangkali akan dapat membahayakannya.

Demikianlah maka Sambi Wulungpun kemudian berkata " Ki Wirit. Kau sudah kehilangan sebagian dari tenaga dan kemampuanmu. Kekuatanmu telah menurun pula. Sekarang aku ingin memperlihatkan kepadamu, apa yang sebenarnya dapat kau lakukan. Semula aku masih ingin berusaha membuatmu menyadari apa yang kau lakukan selama ini. Namun akhirnya aku mengambil keputusan bahwa ku memang harus dibunuh. Bukan sekedar luka-luka ditubuhmu atau barangkali kata-kata keras ditelingamu. "

" Persetan " geram Ki Wirit yang meloncat dan menyerangnya dengan kasar.

Tetapi Sambi Wulung telah benar-benar menjadi muak. Dengan demikian, maka iapun berniat untuk segera mengakhiri perlawanan Ki Wirit.

Sejenak kemudian, maka tata gerak Sambi Wulungpun mulai berubah. Ia tidak lagi sekedar bertempur dengan dorongan ilmu kewadagannya. Ia mulai membuat lawannya benar-benar tidak berdaya ketika ia mulai bergerak bagaikan angin pusaran.

Ki Wirit tidak dapat mengikuti tata gerak Sambi Wulung berikutnya. Iapun tidak tahu pasti, apa yang terjadi kemudian. Namun dalam satu benturan yang tidak diduganya, maka luwuk pusakanya itu bagaikan telah direnggut dari tangannya dan terlempar keudara.

Ki Wirit termangu-mangu sejenak setelah ia tidak bersenjata Namun ternyata bahwa kemudian lawannyapun telah menyarungkan pedangnya pula sambil berkata " Aku sudah muak melihat orang-orang seperti kau ini, justru pada saat-saat yang gawat seperti ini. Kaulah jenis orang-orang yang mempergunakan pengaruh kuasa dan kekuatanmu untuk menekan dan mempergunakan kekuasaan yang sah yang ada pada Ki Demang untuk kepentingan pribadimu. Kau dapat bergerak dibalik kedudukan Ki Demang namun sama sekali tidak untuk kebaikan Kademangan ini. "

Ki Wirit memandang Sambi Wulung dengan sorot mata yang bagaikan menyala. Namun ia menyadari, bahwa yang dihadapinya itu ternyata benar-benar orang yang berilmu sangat tinggi. Yang sebenarnya memang tidak memerlukan senjata apapun untuk melawannya selain ilmunya.

Ki Wirit memang menjadi agak menyesal karena ia tidak segera mengenali lawannya. Namun semuanya sudah terlambat.

Selangkah demi selangkah Sambi Wulung mendekati Ki Wirit yang termangu-mangu. Dengan nada berat, Sambi Wulung berkata " Saatmu telah tiba. "

Ki Wirit melangkah surut. Tiba-tiba saja ia telah meloncat berlari meninggalkan Sambi Wulung. Tetapi ia tidak mampu melepaskan dirinya. Tiba-tiba saja terasa sentuhan dipunggungnya, sehingga iapun justru terdorong dengan derasnya. Langkah kakinya tidak dapat mengimbangi dorongan dipunggungnya sehingga Ki Wirit itupun telah jatuh terjerembab.

Ketika ia berusaha untuk bangkit, maka dilihatnya Sambi Wulung telah berdiri tegak di sisinya dengan kaki renggang.

Ki Wirit termangu-mangu. Namun tubuhnya memang terasa sakit. Didahinya terdapat luka karena wajahnya yang terantuk tanah disaat ia jatuh terjerembab. Bahkan darah dari luka dilengannya seakan-akan menjadi semakin banyak mengalir.

" Bangkitlah " geram Sambi Wulung " jangan mati sambil menelungkup seperti seekor cacing yang tidak berdaya. Kau adalah Ki Wirit yang aku tidak tahu sejak kapan kau telah menguasai Kademangan ini. "       

Ki Wirit menjadi semakin berdebar-debar. Ketika ia merasakan kaki Sambi Wulung mengungkit tubuhnya, maka iapun mulai bergerak.

" Bangkit, atau aku injak punggungmu? " bentak Sambi Wulung.

Ki Wirit masih termangu-mangu. Namun ketika Sambi Wulung beringsut Ki Wiritpun telah bergeser pula.

" Cepat. Akan aku injak bukan saja punggungmu, tetapi tengkukmu. Kau memang tidak pantas lagi untuk dihormati. " bentak Sambi Wulung pula.

Ki Wirit tidak dapat berbuat lain kecuali berdiri tertatih-tatih. Tetapi jantungnya benar-benar menjadi berdebar-debar.

" Nah, kita akan menyaksikan pertempuran itu, yang kau katakan bahwa Ki Demang akan membunuh saudara dan kemanakanmu. " geram Sambi Wulung.

Ki Wirit memang tidak dapat membantah. Iapun kemudian melangkah mendekati arena pertempuran antara Ki Demang dan tiga orang kawannya, melawan Jati Wulung dan Puguh. Sekilas Ki Wirit yang memiliki ilmu yang tinggi itu melihat bahwa ternyata anak muda diantara ketiga orang yang tidak dikenalnya itu nampak paling lemah. Tetapi Ki Wirit menganggap bahwa anak muda itu sedang sakit sebagaimana dikatakan oleh Ki Prajak.

" Lihat " berkata Sambi Wulung " apakah kira-kira Demangmu itu benar-benar akan dapat membunuh?

Belum lagi mulut Sambi Wulung terkatub, ujung pedang Jati Wulung telah tergores pada salah seorang pengikut Ki Demang itu.

" Setan " geram Ki Wirit.

" Mengumpatlah sekali lagi jika kau ingin aku menyakitimu " desis Sambi Wulung.

Jantung Ki Wirit bagaikan bergejolak. Tetapi kemarahan Sambi Wulungpun telah sampai keubun-ubun. Karena itu, ketika diluar sadarnya Ki Wirit itu mengumpat sekali lagi, maka telapak tangan Sambi Wulung telah menggenggam lengan Ki Wirit.

Terdengar Ki Wirit mengaduh kesakitan. Ketika Sambi Wulung melepaskan tangannya, maka di lengan Ki Wirit itu membekas bagaikan luka bakar. Baju Ki Wiritpun seakan-akan telah terbakar pula di arah sentuhan telapak tangan Sambi Wulung.

Ki Wirit terkejut mengalamai keadaan itu. Namun dengan demikian sebenarnyalah lawannya itu adalah seorang yang berilmu sangat tinggi. Ia bukan saja akan mampu mengalahkannya. Tetapi jika dikehendaki, maka ia akan dapat menghancurkannya menjadi debu.

Ki Wirit benar-benar menyesali kebodohannya. Kenapa ia tidak melihat kemungkinan yang terjadi itu. Ia tidak segera mampu menilai tingkat ilmu lawannya yang sebenarnya.

Karena itu, maka iapun menjadi berdebar-debar melihat Ki Demang dan kawan-kawannya. Meskipun lawan Ki Demang itu masih belum menunjukkan kemampuan ilmunya, namun Ki Wiritpun meyakini bahwa orang yang bertempur melawan Ki Demang dan kawan-kawannya itupun akan mampu berbuat sebagaimana lawannya.

Tetapi Ki Wirit tidak sempat memperhatikan terlalu lama pertempuran itu. Ketika ia melihat, bahwa keadaan Ki Demang dan kawan-kawannya menjadi semakin sulit,maka Sambi Wulung telah menggamitnya.

" Kemarilah " berkata Sambi Wulung.

Ki Wirit tidak dapat membantah. Ia menyadari dengan siapa ia berhadapan.

" Ki Wirit " berkata Sambi Wulung ketika mereka sudah mengambil jarak dari arena pertempuran. Lalu katanya selanjutnya " Kau tahu, bahwa kawan-kawanmu itu sebentar lagi akan mati. Jadi yang akan mati bukan saudaraku dan kemanakanku. "

Ki Wirit termangu-mangu. Ia tidak dapat menjawab. Meskipun jantungnya bagaikan akan meledak oleh umpatan, tetapi ia harus menahan diri jika ia tidak ingin kulitnya terbakar lagi. Jika telapak tangan itu melekat diwajahnya, maka ia akan sangat mengalami kesakitan. Bahkan cacat.

Dalam pada itu, Sambi Wulungpun telah berkata pula " Ki Wirit, sebelum saudara dan kemanakanku selesai, maka aku harus sudah menjatuhkan hukumanmu. "

Wajah Ki Wirit tiba-tiba menjadi pucat.

" Jika aku menunggu mereka, maka kau akan dapat mengalami kesulitan yang tidak akan dapat kau derita menjelang matimu. Karena itu, aku ingin menolongmu " berkata Sambi Wulung.

" Kau akan membunuhku? " bertanya Ki Wirit. Seorang yang untuk beberapa lama mempunyai kekuasaan yang tidak terbatas di Kademangan itu.

" Sudah aku katakan, bahwa orang seperti kau ini tidak akan dapat sembuh lagi. Penyakitmu telah menjadi terlalu parah " jawab Sambi Wulung.

Adalah diluar dugaan, bahwa Ki Wirit, yang berilmu tinggi itu tiba-tiba berkata dengan suara memelas " Aku minta ampun Ki Sanak. Aku berjanji untuk tidak melakukannya lagi. "

" Sudah aku katakan, bahwa janjimu sama artinya dengan seekor serigala yang berselimut bulu domba. Jika ku melihat mangsa yang mampu menitikkan air liurmu, maka kau tentu akan menerkamnya sebagaimana laku seekor serigala. Dengan demikian maka kau akan menjadi lebih berbahaya lagi. "

" Tidak Ki Sanak. Aku bersumpah demi Yang Maha Agung " berkata Ki Wirit.

" Apakah kau masih percaya kepada Yang Maha Agung? " bertanya Sambi Wulung.

" Tentu. Aku adalah anak manusia yang dititahkan oleh Yang Maha Agung itu " jawab Ki Wirit.

" Ki Wirit. Kita sudah sama-sama tua. Karena itu, kau tidak dapat membohongi aku. Jika kau memang percaya kepada Yang Maha Agung, kau tidak akan berbuat sebagaimana kau lakukan. Kau telah mengatakan sendiri, bahwa hulu luwukmu itu telah kau lekati rambut orang-orang yang pernah kau bunuh. Bahkan seratus orang. Nah, apakah orang yang percaya kepada Yang Maha Agung itu ak&n dengan mudah membunuh orang? " bertanya Sambi Wulung.

" Dan bagaimana dengan kau? " Ki Wirit itu justru bertanya.

" Kedudukanku lain. Aku membunuh justru bagi ketenangan dan ketenteraman hidup manusia. Membebaskan sesama dari cengkraman ketakutan karena polah tingkahmu. Jika sampai hari ini kau telah membunuh seratus, maka jika kau masih tetap hidup, maka kematian itu akan bertambah seratus lagi. Nah, bukankah aku telah menyelamatkan sembilanpuluh sembilan nyawa dibanding dengan nyawamu yang hanya satu? " geram Sambi Wulung.

Wajah Ki Wirit memang menjadi semakin pucat. Ia sama sekali tidak mengira bahwa saat kematiannya akan datang begitu cepat. Ketika ia mendapat laporan dari Ki Prajak tentang tiga orang yang dengan sombongtelah berani mempergunakan tempat yang disediakan baginya dan yang memang sering dipergunakan untuk memancing pertentangan itu, ia mengira, bahwa ia akan dapat membunuh lagi. Dengan demikian ia akan dapat semakin meningkatkan wibawanya di Kademangan itu. Bahkan jika yang dibunuh termasuk orang yang mempunyai bekal yang cukup banyak, maka bekal itu akan berarti pula baginya. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya.

Sementara itu, Jati Wulung yang memang tidak ingin menunjukkan kemampuannya yang berlebihan dihadapan Puguh, tidak mempergunakan ilmunya yang lain kecuali ilmu kanuragan serta tenaga cadangannya.

Namun dengan demikian, Ki Demang dan ketiga orang kawannya sudah terlalu banyak mengalami kesulitan. Sementara itu, Puguh memang telah memaksa diri untuk menyembunyikan kelemahannya. Tetapi dalam banyak hal Jati Wulung telah banyak memberi kesempatan kepada Puguh untuk menghemat tenaganya.

Bahkan kemudian, satu demi satu lawan-lawan Jati Wulung itupun telah terluka. Bukan hanya segores kecil. Tetapi dua bahkan tiga atau ampat luka yang menganga. Dengan demikian maka Ki Demang dan tiga orang kawannya itu semakin lama menjadi semakin lemah. Puguh yang lemah itu ternyata masih memiliki kemampuan untuk sekedar melindungi dirinya sendiri. Tanpa banyak membuang tenaga, ia menghindari serangan-serangan yang datang dengan tergesa-gesa, karena Jati Wulung telah bergerak seperti seekor elang yang terbang menyambar-nyambar, sehingga lawan-lawannya tidak mempunyai banyak kesempatan.

Sementara itu Sambi Wulungpun berkata kepada Ki Wirit yang pucat " Saatnya telah tiba. Kau harus mati lebih dahulu dari Ki Demang dan kawan-kawannya. "

Ki Wirit menjadi semakin berdebar-debar. Namun ia masih juga memohon " Apakah kau tidak dapat mengampuni aku. Aku bersumpah bahwa aku tidak akan melakukannya lagi. "

Sambi Wulung termangu-mangu sejenak. Namun katanya " Kau memang harus mati. Kau tidak boleh melakukan pembunuhan-pembunuhan lagi. Jika aku mengampunimu, maka yang masih tetap hidup kemudian harus orang lain. Bukan Ki Wirit. "

" Aku tidak tahu maksudmu " desis Ki Wirit. Sambi Wulungpun kemudian mendekati Ki Wirit sambil berkata " Kau dalam keadaanmu yang lain masih akan tetap hidup. Tetapi Ki Wirit harus mati. "

Ki Wirit memang menjadi bingung. Namun Sambi Wulung tidak mempunyai banyak kesempatan. Selagi Puguh masih berusaha melindungi dirinya sendiri, maka ia harus melakukannya, agar Puguh tidak melihat kemampuannya. Jika Puguh sempat mengetahui ilmunya yang sangat tinggi, maka ia tentu akan menjadi semakin curiga kepadanya atau bahkan seandainya ia sempat mendapat kepercayaannya, maka orang-orang disekitar Puguhlah yang akan menaruh kecurigaan itu.

Karena itu, selagi Puguh masih bertempur, Sambi Wulung bertanya kepada Ki Wirit " Aku ingin keputusanmu. Apakah kau benar-benar ingin tetap hidup dalam keadaan yang baru atau kau ingin mati bersama sifat dan watak jahatmu. "

" Aku tidak mengerti " sahut Ki Wirit.

" Kau boleh tetap hidup, tetapi tanpa ilmu sebagaimana kau miliki sekarang. " berkata Sambi Wulung " tetapi jika kau menolak, maka kau benar-benar akan mati. "

Wajah pucat Ki Wirit menjadi semakin pucat. Dengan bibir yang bergetar ia berdesis " Jangan. "

" Aku tidak mempunyai pilihan lain. Hanya ada dua kemungkinan itu. Hidup tanpa ilmu yang selama ini kau salah gunakan, atau mati dalam arti sebenarnya " geram Sambi Wulung.

Ki Wirit benar-benar tidak berdaya. Kemungkinan yang dihadapkan kepadanya sama-sama pahit baginya. Namun ternyata nalurinya untuk bertahan hidup lebih kuat daripada harga dirinya. Karena itu, maka katanya " Jangan bunuh aku. "

" Baik " berkata Sambi Wulung " duduklah. "

" Apa maksudmu? " bertanya Ki Wirit.

" Duduklah. Jangan bertanya lagi. Waktuku sudah menjadi terlalu sempit. Sebentar lagi, pertempuran itu akan selesai " geram Sambi Wulung.

Ki Wirit tidak dapat berbuat lain. Iapun kemudian duduk diatas tanah. Namun sebagai seorang yang berilmu, maka dengan putus asa ia menunggu apa yang akan terjadi atasnya.

Sudah diduga oleh Ki Wirit, bahwa Sambi Wulungpun kemudian telah duduk dibelakangnya. Kedua tangannya telah melekat dipunggungnya.

Beberapa orang yang menyaksikan hal itu menjadi heran. Mereka tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh Sambi Wulung atas Ki Wirit yang selama ini ditakuti oleh orang-orang se Kademangan, bahkan orang-orang di Kademangan tetangga.

Jati Wulung sempat menyaksikan apa yang dilakukan oleh Sambi Wulung. Tetapi ia justru telah berusaha agar Puguh tidak memperhatikannya.  Ia telah melonggarkan tekanannya kepada lawan-lawannya, sehingga dengan demikian perhatian Puguh memang harus terpusat kepada lawannya yang terasa lebih berat menekannya. Dengan demikian maka Puguh memang tidak begitu sempat memperhatikan apa yang dilakukan oleh Sambi Wulung meskipun sekilas ia telah sempat melihat pula.

Sementara itu, Ki Wirit yang telah mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Sambi Wulung hanya sempat mengeluh didalam hati. Iapun sadar, bahwa petualangannya telah berakhir sampai saat itu, saat ia bertemu dengan orang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi.

Sejenak kemudian terasa getaran dari telapak tangan Sambi Wulung bagaikan merambat kedalam tubuhnya. Getaran yang semakin lama menjadi semakin kuat. Bahkan kemudian getaran itu seakan-akan telah mengaduk isi dadanya.

Ki Wirit merasakan, nafasnya menjadi sesak. Rasa-rasanya dadanya menjadi panas. Bahkan kemudian darah dijantungnya menjadi bagaikan mendidih. Perasaan sakit yang sangat telah mencengkam, sehingga pada satu saat, dadanya bagaikan telah meledak.

Ki Wiritpun kemudian menjadi sangat lemah. Kepalanya tertunduk dalam-dalam, sementara Sambi Wulung telah melepaskan tangannya yang melekat dipunggung lawannya itu.

Ki Wirit tidak mampu bertahan ketika darah meleleh dari sela-sela bibirnya. Namun yang kemudian telah diusapnya dengan kain panjangnya.

" Ki Wirit " desis Sambi Wulung " kau sadar apa yang terjadi atas dinimu. "

Ki Wirit yang masih duduk itu mengangguk.

" Hanya dengan demikian kau membuktikan kesungguhan sumpahmu, bahwa kau tidak akan membunuh lagi. " berkata Sambi Wulung. Sekali lagi Ki Wirit mengangguk.

" Sekarang berdirilah. Kau akan tetap hidup dalam keadaan yang lain dari hidupmu yang lewat. Kau harus menyesuaikan dirimu dan bertingkah laku sebagaimana keadaanmu sekarang. " berkata Sambi Wulung.

Betapa lemahnya tubuh Ki Wirit, namun iapun kemudian berusaha untuk bangkit berdiri. Tulang-tulangnya bagaikan menjadi lemah dan tidak berdaya.

" Aku telah kehilangan ilmuku " berkata Ki Wirit.

" Ya. Kau tidak akan mungkin membangunkannya kembali sebagaimana pernah kau miliki. Seandainya kau akan mencobanya lagi, maka dukungan kewadaganmu tidak akan memungkinkan lagi. " berkata Sambi Wulung.

Ki Wirit menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata " Aku harus meninggalkan tempat ini. Aku akan benar-benar menjadi pengembara dan peminta-minta. "

" Kau tidak mempunyai landasan hidup? Maksudku tempat inggal atau semacam itu? " bertanya Sambi Wulung.

" Aku akan kembali kepada keluargaku yang aku tinggalkan untuk menuruti kesenangan hatiku selama ini. Aku mempunyai seorang isteri dan beberapa orang anak yang aku lupakan untuk waktu yang lama. Mudah-mudahan mereka mau menerima aku kembali dalam keadaan seperti ini. " desis Ki Wirit.

Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Ada perasaan iba didalam hatinya. Tetapi jika orang itu masih memiliki kemampuan, ia tentu masih akan kambuh lagi dan membunuh orang-orang yang tidak bersalah.

Dalam pada itu, Jati Wulungpun telah memutuskan untuk menyelesaikan pertempuran itu. Ki Demang benar-benar sudah tidak berdaya, sementara ketiga orang kawannya telah terluka.

Dengan nada keras Jati Wulungpun kemudian berkata lantang " He, apakah kalian masih akan bertempur terus? Lihat, orang yang kau banggakan telah menyerah.

Ki Demang memang sempat menyaksikan Ki Wirit itu berdiri tegak dihadapan Sambi Wulung yang justru mendorong Ki Wirit mendekati arena pertempuran.

" Katakan kepada mereka, agar mereka menyerah saja " desis Sambi Wulung.

Ki Wirit bergerak beberapa langkah maju dengan lemah. Kemudian katanya dengan nada rendah " Ki Demang. Sudahlah. Aku memang sudah menyerah. "

Ki Demang pendengar suara Ki Wirit itu. Iapun tidak mempunyai pilihan lain. Iapun ternyata telah tergores pedang Jati Wujung pula sebagaimana kawan-kawannya yang lain, termasuk Ki Prajak.

Karena itu, maka Ki DemangpUn telah memberikan isyarat kepada kawan-kawannya untuk menghentikan pertempuran.

" Lepaskan senjata kalian " geram Jati Wulung.

Ki Demang dan ketiga orang kawannya itupun telah melepaskan senjata mereka.

Namun dalam pada itu, Puguh yang lemah itu nampaknya menjadi sangat letih. Karena itu, maka Jati Wulung yang telah menyarungkan pedangnya itupun telah mendekatinya, membantu Puguh menyarungkan pedangnya pula. Dengan nada tinggi Jati Wulung itupun kemudian berkata " Anakku sedang sakit. Kalian telah memaksanya untuk mengerahkan tenaga. Karena itu, maka jika terjadi sesuatu atas anakku, kalian semuanya harus mati. "

Wajah Ki Demang dan kawan-kawannya menjadi pucat. Sementara itu Sambi Wulung berkata " Nah, Ki Demang. Apakah permainan buruk seperti ini masih akan kalian lakukan untuk seterusnya? "

Ki Demang menundukkan kepalanya. Ketika sekilas ia memandang wajah Ki Wirit, maka Ki Wiritpun telah menunduk pula.

" Jawablah Ki Demang. Kaulah Demang disini. Bukan Ki Wirit. Sejak hari ini, Ki Wirit telah menyatakan untuk tidak akan mencampuri persoalan dan tugas-tugasmu lagi. Karena itu segala sesuatunya tergantung kepadamu. " berkata Sambi Wulung.

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata " Aku akan berbicara dengan Ki Wirit. "

" Lakukanlah " berkata Sambi Wulung " terserah apa yang akan kalian putuskan. Aku akan meninggalkan tempat ini, karena aku memang sedang dalam perjalanan jauh bersama adik dan kemanakanku yang sakit itu. Tetapi ingat, pada saat yang lain, jika kemanakanku itu sudah sembuh, maka aku akan kembali ke tempat ini. Aku akan berbicara dengan orang-orang Kademangan ini. Jika aku masih menjumpai pemerintahan yang timpang, maka aku tidak akan mengambil tindakan sendiri. Tetapi aku akan melaporkannya kepada para pemimpin di Pajang. Jika kalian tahu bahwa sepasukan prajurit telah menghancurkan Song Lawa, maka sepasukan prajurit akan dapat merombak cara pemerintahan disini. "

Ki Demang mengangguk-angguk. Sementara itu Sambi Wulung berkata selanjutnya " Bicarakan segera. Kami akan melanjutkan perjalanan kami yang terhenti. "

Ki Demang termangu-mangu. Apakah benar hanya begitu saja mereka akan meninggalkan Kademangan itu setelah terjadi pertempuran? Apakah mereka tidak akan memanfaatkan kemenangan mereka untuk kepentingan apapun?

Disaat Ki Demang termangu-mangu, maka Ki Wiritlah yang bertanya " Apakah kalian tidak akan singgah di Kademangan ini? "

Sambi Wulunglah yang menjawab " Tidak. Aku tidak akan singgah. Aku sudah kehilangan banyak waktu. "

" Tetapi kemanakanmu sakit " berkata Ki Wirit pula.

" Ia tidak apa-apa. Jika ia mengalami kesulitan, maka kalianlah yang harus bertanggung jawab " jawab Sambi Wulung.

Ki Wirit tidak mempersilahkannya lagi. Namun sebenarnyalah bahwa ia juga merasa heran, bahwa ketiga orang itu begitu saja meninggalkan mereka. Ki Demang yang semula mengira akan menerima pembalasan yang pahit, ternyata tidak sama sekali. Orang-orang itu pergi begitu saja setelah perkelahian itu selesai dan mereka menangkan.

" Mereka akan dapat berbuat apa saja yang mereka kehendaki atas kami. Bahkan membunuh sekalipun " desis Ki Demang didalam hatinya.

Tetapi sebenarnyalah ketiga orang itupun telah minta diri untuk meneruskan perjalanan.

Ki Demang dan kawan-kawannya termangu-mangu. Namun kemudian m|e!rekapun mulai memperhatikan luka-luka mereka yang pedih. Beberapa goresan luka telah mengoyak kulit mereka. Namun luka-luka itu nampaknya tidak berbahaya bagi keselamatan jiwa mereka.

Selagi mereka termangu-mangu, maka Ki Wiritpun telah melangkah untuk mengambil luwuknya yang tergolek di tanah. Kemudian dengan suara yang parau Ki Wirit itu berkata " Ki Demang. Akupun ingin minta diri. Tidak pantas aku tetap berada disini dan membayangi kuasa Ki Demang. Aku memang tidak berhak berbuat seperti itu. Karena itu, maka biarlah aku meninggalkan Kademangan ini. Kemudian aku mohon, Ki Demang dapat memerintah Kademangan ini dengan sebaik-baiknya sebagaimana saat-saat aku belum datang di Kademangan ini. Selama ini aku sudah mengacaukan pemerintahan Ki Demang. Karena itu aku minta maaf. Sebagai kenang-kenangan kehadiranku yang sangat merugikan di Kademangan ini, aku akan menyerahkan senjata pusakaku ini. Biarlah Ki Demang menyimpannya, agar setiap kali Ki Demang akan dapat mengingat bencana yang pernah menimpa Kademangan ini. "

Ki Demang memang menjadi bingung. Ia tidak mengerti kenapa hal itu dilakukan oleh Ki Wirit. Ki Demang tidak tahu, bahwa Ki Wirit bukan lagi Ki Wirit yang tadi datang bersamanya ke simpang ampat itu untuk mencegat orang-orang yang dianggapnya terlalu sombong.

" Apa yang sebenarnya telah terjadi? " bertanya Ki Demang.

" Tidak apa-apa " jawab Ki Wirit " sikap ketiga orang itu telah membuka hatiku. Aku tidak pantas untuk melakukan pemerasan untuk seterusnya. "

" Tetapi Ki Wirit masih mempunyai barang-barang berharga di Kademangan. "

Tetapi Ki Wirit menggeleng. Katanya " Aku sudah tidak memerlukannya lagi. Jika kau kenal pemiliknya, kembalikan kepadanya. "

Ki Demang menjadi semakin heran. Apalagi ketika pusaka Ki Wirit itupun telah diberikannya kepadanya pula.

Tetapi Ki Demang yang kebingungan itu tidak sempat mendapat banyak penjelasan. Ki Wiritpun kemudian melangkah pergi sambil berkata " Aku minta diri. -

" Sekarang? " bertanya Ki Demang keheranan.

" Ya. Sekarang " jawab Ki Wirit " semakin cepat semakin baik bagi Ki Demang dan bagi Kademangan ini.—

Ki Demang memang tidak mendapat kesempatan untuk mencegah ketika Ki Wirit kemudian berjalan dengan langkah yang berat. Tubuhnya nampak begitu letih dan bahkan keseimbangannya seakan-akan tidak utuh lagi. Namun Ki Wirit itu berjalan terus tanpa berpaling lagi.

" Aku tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi dengan Ki Wirit " desis Ki Demang " peristiwa ini benar benar membuat aku menjadi pening. Sulit untuk dipercaya bahwa apa yang kita alami ini memang sebenarnyalah seperti yang kita lihat sekarang ini. Bukan sekedar sebuah mimpi atau sebuah angan-angan yang hampa. -

" Mereka memang telah pergi Ki Demang " desis Ki Prajak sambil berdesis menahan pedih.

" Kenapa Ki Wiritpun ikut pula meninggalkan tempat ini. Apalagi ia telah meninggalkan barang-barangnya yang berharga, seakan-akan begitu saja dilupakan setelah ia bekerja keras untuk memilikinya dengan segala macam cara " berkata Ki Demang.

" Agaknya ia telah membawa bekal uang yang cukup " desis Ki Prajak.

" Ia memang membawa uang. " sahut Ki Demang

" tetapi seberapa uang yang dapat dibawa dikantongnya itu. "

Jilid 10

 

“JIKA ia kehabisan uang, aku kira ia akan kembali,“ berkata Ki Prajak.

 

“Tidak. Ia tidak akan kembali. Ia justru telah menyerahkan pusakanya kepadaku. Sikapnya terlalu aneh. Aku belum pernah melihat matanya nampak demikian cekung seperti saat ini. Seakan-akan dihatinya telah dibebani perasaan yang hampir tidak tertanggungkan. Ia pergi dengan penuh rahasia didalam dirinya.“ berkata Ki Demang.

 

“Keanehan yang beruntun,“ desis Ki Prajak, “sikap ketiga orang yang begitu saja pergi itupun aneh bagiku, meskipun ia telah mengancam untuk kembali menilai kebenaran yang terjadi disini sesuai dengan pesannya.”

 

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian, “Jika benar-benar yang kita alami ini bukan sekedar angan-angan, maka kita memang harus mulai lagi dari permulaan.”

 

“Apa maksud Ki Demang?“ bertanya Ki Prajak.

 

“Jika benar Ki Wirit meninggalkan Kademangan ini maka kita harus mulai lagi menyusun pemerintahan yang wajar sebagaimana kita lakukan sebelumnya. Apalagi jika ketiga orang itu pada satu saat benar-benar akan melihat Kademangan ini. Maka semuanya harus sudah tersusun baik,“ berkata Ki Demang yang kemudian telah mengajak Ki Prajak dan dua orang kawannya kembali ke Kademangan.

 

Dalam pada itu, Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguh telah melanjutkan perjalanan mereka. Puguh yang telah memaksa diri untuk mengerahkan tenaganya, memang nampak menjadi sangat letih. Bahkan rasa-rasanya untuk melangkahkan kakinya, tenaganya sudah tidak mampu lagi.

 

“Apakah kita harus beristirahat lagi,“ desis Sambi Wulung.

 

“Agaknya memang demikian,“ berkata Jati Wulung, “dibawah pohon yang rindang itu, kita akan dapat berteduh. Matahari memang menjadi semakin panas menyengat kulit.”

 

Mereka bertigapun kemudian telah berhenti dibawah sebatang pohon yang rindang. Mereka seakan-akan tidak menghiraukan apapun lagi disekitar mereka. Bahkan ada juga orang yang menjadi ragu-ragu untuk lewat. Apalagi mereka yang melihat perkelahian disimpang empat.

 

Namun karena ketiga orang itu agaknya tidak menghiraukan orang-orang yang lalu lalang, maka mereka yang akan lewatpun telah lewat pula, meskipun tanpa berani berpaling ke arah mereka.

 

“Gantar memang masih agak jauh,“ berkata Puguh.

 

“Bukankah kita tidak tergesa-gesa. Seandainya Song Lawa itu tidak dihancurkan oleh sepasukan prajurit, maka kita tentu masih berada di tempat itu,” sahut Jati Wulung.

 

Puguh mengangguk-angguk. Katanya, “Ya kita memang tidak tergesa-gesa.”

 

“Nah, jika demikian berbaringlah. Mungkin dengan demikian, kau akan mendapatkan tenaga baru,“ berkata Jati Wulung.

 

Puguh memang tidak berbaring sebagaimana dikatakan oleh Jati Wulung. Tetapi ia duduk sambil bersandar pokok kayu yang rindang itu. Sementara angin yang sejuk mengusap wajah mereka yang semula terasa panas oleh sengatan matahari, gejolak didalam hati serta kegelisahan yang menghentak-hentak di jantung.

 

Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak mengusiknya ketika Puguh kemudian tertidur oleh keletihan. Namun keduanya berharap bahwa dengan demikian keadaan anak muda itu akan berangsur baik, sehingga mereka akan dapat melanjutkan perjalanan menuju ke Gantar. Sebuah Kademangan yang agaknya sudah dekat dengan tempat tinggal Puguh atau tempat-tempat yang sering dikunjunginya. Sehingga dengan demikian maka perjalanan mereka selama itu tidak sia-sia.

 

Ternyata Puguh memang merasa tubuhnya lebih segar ketika ia kemudian terbangun. Kesempatan beristirahat yang tidak terlalu lama itu cukup berarti baginya.

 

Setelah mencuci muka di sebuah parit yang berair bening, maka merekapun telah membenahi pakaian mereka. Sejenak kemudian, maka merekapun telah melanjutkan perjalanan, menuju ke Gantar.

 

Namun di perjalanan itu, Puguh masih juga nampak ragu-ragu. Beberapa kali ia mengatakan, bahwa sebaiknya ia pulang sendiri.

 

“Kenapa?“ bertanya Jati Wulung ketika sekali lagi Puguh mengatakannya.

 

“Jika perjalanan kita sudah mendekati Gantar, maka aku akan dapat menempuh sisa perjalanan itu sendiri. Aku tidak ingin kalian mengikuti aku sampai kerumahku dan bertemu dengan orang tuaku,“ berkata Puguh.

 

“Apa salahnya jika aku mengantarmu pulang? Bukankah kau rasakan sendiri perjalanan ini? Banyak gangguan dapat terjadi. Sementara itu kau telah kehilangan para pengawalmu. Meskipun kau telah sampai diluar regol rumahmu sekalipun, dapat saja terjadi sesuatu yang tidak kau inginkan atasmu dalam keadaanmu seperti itu. Memang berbeda jika kau dalam keadaan sehat. Kau akan dapat mengatasi beberapa kesulitan ringan sendiri. Tetapi dalam keadaan seperti itu, maka kau menjadi terlalu lemah,“ berkata Sambi Wulung.

 

Wajah Puguh nampak berkerut. Tetapi tiba-tiba saja anak muda itu berdesis, “Kalian tentu akan berusaha bertemu dengan orang tuaku.”

 

Sambi Wulung dan Jati Wulung menjadi termangu-mangu. Apakah anak muda itu telah mendapat firasat bahwa keduanya mempunyai niat-niat tertentu atas dirinya?

 

Sementara itu Puguhpun berkata selanjutnya, “Kalian tentu akan mengatakan kepada mereka, bahwa aku berada di Song Lawa. Kalian tentu akan mengatakan bahwa aku masih terlalu muda untuk berada ditempat perjudian seperti itu. Dan kau tentu akan menggurui orang tuaku agar mereka melarang aku dan menuntun agar aku menempuh jalan kehidupan yang lebih baik dari kehidupanku sekarang ini.”

 

Sambi Wulung dan Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam. Ternyata keengganan Puguh atas kehadiran mereka diramahinya bukan karena anak itu mencurigai mereka dengan maksud-maksud mereka mengenali tempat tinggalnya. Tetapi justru karena alasan yang lain.

 

Karena itu, maka Sambi Wulungpun menyahut, “Puguh. Sebenarnyalah ada niatku untuk mengatakannya kepada orang tuamu. Sebenarnya aku merasa berkeberatan terhadap kehadiran beberapa orang anak muda di Song Lawa termasuk kau sendiri. Bahkan jika kau ternyata dapat menunjukkan rumah anak-anak muda yang lain betapapun jauhnya, aku akan mendatangi rumah mereka dan bertemu dengan orang tua mereka.”

 

“Aku berkeberatan sekali,“ jawab Puguh tegas, “karena itu maka aku ingin pulang sendiri meskipun aku telah kehilangan para pengawalku.”

 

“Kenapa kau berkeberatan? Apakah kau benar-benar tidak ingin merubah jalan hidupmu?“ bertanya Jati Wulung.

 

Puguh menundukkan kepalanya. Berbagai macam pikiran bergelut di kepalanya. Tetapi yang kemudian dikatakannya adalah, “Sebaiknya kalian tidak perlu mencampuri persoalan pribadiku. Aku berterima kasih atas pertolongan kalian terhadapku. Tetapi aku minta bahwa kalian tidak berniat untuk memasuki tata cara hidup keluargaku dan pribadiku lebih dalam lagi. Biarlah kami menempuh jalan kehidupan kami sesuai dengan keadaan dan keinginan kami.”

 

Sambi Wulung dan Jati Wulung termangu-mangu sejenak. Sementara itu bayangan senja mulai nampak di ujung-ujung pepohonan. Kemerah-merahan, sedangkan langit menjadi semakin buram.

 

Dalam pada itu Sambi Wulung dan Jati Wulung seakan-akan melihat, bahwa kehidupan Puguh memang bukan kehidupan yang wajar. Keluarganya bukannya keluarga sebagaimana kebanyakan keluarga yang hidup sesuai dengan batasannya.

 

Sebenarnyalah Sambi Wulung dan Jati Wulung telah mengetahuinya, bahwa orang tua Puguh adalah orang yang telah kehilangan jalur jalan kehidupan wajarnya

 

Baru beberapa saat kemudian Sambi Wulung berkata, “Puguh. Kami minta maaf, bahwa kami terlalu banyak mencampuri batas-batas kehidupan pribadimu. Tetapi semuanya itu terdorong oleh satu keinginan untuk menebus kesalahan-kesalahan yang pernah aku lakukan. Setelah aku menjadi tua, demikian pula adikku itu, barulah kami merasa bahwa hidup kami sama sekali tidak berarti. Kami terlempar dalam kehidupan yang sangat buruk sejak kami masih terlalu muda. Akhirnya kami kehilangan pegangan dan hidup di dunia yang kelam. Yang paling menyiksaku adalah, bahwa pada suatu saat aku telah menghukum anakku sendiri karena tingkah lakunya yang aku anggap salah, sehingga anakku itu mati. Ibunyapun kemudian membunuh diri karena ia tidak tahan lagi hidup bersamaku.“ Sambi Wulung berhenti sejenak, lalu, “Ternyata peristiwa itu telah membuka mata hatiku. Aku berusaha untuk menemukan keseimbangan dalam hidupku dengan sisa-sisa keadaanku yang buruk itu. Kini aku hidup dalam dua bayangan. Bayangan hidupku yang lama, dan keinginan untuk memberikan arti disisa hidupku ini. Karena itu, aku menaruh banyak sekali perhatian terhadap anak-anak muda di tempat-tempat perjudian seperti Song Lawa itu.”

 

Puguh termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Sambi Wulung dan Jati Wulung berganti-ganti. Dilihatnya betapa penyesalan yang sangat dalam pada mata Sambi Wulung.

 

Dengan nada rendah Puguh itupun berkata, “Kenapa perhatianmu tertuju kepada anak-anak muda?”

 

“Puguh,“ berkata Sambi Wulung, “jika anakku masih hidup, maka ia tentu sudah sebesar kau ini. Atau barangkali sedikit lebih tua. Aku memang merindukan seorang anak. Tetapi dengan satu sikap, bahwa seandainya anak itu ada padaku, maka ia tidak boleh menirukan tingkah laku orang tuanya. Ia harus menjadi seorang yang berarti didalam hidupnya,”

 

“Apakah yang kau maksudkan berarti didalam hidup seseorang itu?“ bertanya Puguh.

 

“Hidup seseorang baru berarti jika ia menjalani kehidupan ini dengan pegangan cinta kasih. Cinta kasih kepada Sumber Hidupnya, dan cinta kasih kepada sesama,“ jawab Sambi Wulung.

 

“Darimana aku tahu akan hai itu, jika hidupmu sebelumnya selalu berada didalam kekelaman yang sangat dalam?“ bertanya Puguh, “bahkan kau telah membunuh anakmu sendiri.”

 

“Justru setelah hal itu terjadi,“ berkata Sambi Wulung, “mungkin yang Maha Agung memang menghendakinya ketika aku tersesat kedalam rumah seorang tua yang bijaksana. Yang menurut penilaian lahiriah adalah orang yang sangat lemah, tetapi ternyata orang itu memiliki kemampuan jauh diatas kemampuanku.”

 

Puguh termangu-mangu. Tetapi ternyata kata-kata Sambi Wulung itu diperhatikannya dengan sungguh-sungguh. Pada langkah-langkahnya yang berikut, disaat-saat gelap malam mulai membayangi perjalanan mereka, Puguh berjalan sambil menundukkan kepalanya.

 

Bertiga mereka berhenti dipinggir sebuah sungai kecil. Puguh ternyata ingin turun sejenak untuk membersihkan dirinya. Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak berkeberatan meskipun keduanya tidak ingin menuruni tanggul.

 

Demikian Puguh melangkah, maka terdengar Sambi Wulung berpesan,“ berhati-hatilah. Mungkin tanggul licin.”

 

Tetapi tanggul itu adalah tanggul yang rendah, sehingga Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak perlu menolongnya.

 

Ketika Puguh berada di sebelah tanggul dan benar-benar sedang membersihkan diri, maka Jati Wulungpun berdesis, “He, darimana kau mendapat ceritera yang menarik itu.”

 

“Sst,“ Sambi Wulung berdesis, “mudah-mudahan ceritera itu tidak sekedar lewat dibenaknya. Jika ada sedikit saja yang tersangkut, maka mudah-mudahan mempunyai arti bagi anak itu.”

 

“Ya. Ia tidak sebagaimana kami bayangkan sebelumnya,“ berkata Jati Wulung, “anak itu tidak terlalu liar dan bahkan buas sebagaimana kita duga. Tetapi ada kemungkinan-kemungkinan lain didalam dirinya yang dapat dikembangkannya.”

 

“Itulah sebabnya, aku mengarang sebuah ceritera yang mudah-mudahan dapat menyentuh perasaannya,“ sahut Sambi Wulung.

 

Tetapi Jati Wulung kemudian menunduk sambil berdesis, “Tetapi bagaimana dengan Risang? Apakah ia dapat mengerti seandainya kita mengatakan kepadanya, bahwa saudaranya seayah itu bukan seorang yang sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk hidup dengan wajar?”

 

“Persoalannya tidak terletak pada Risang. Tetapi kepada orang-orang disekitarnya. Kepada Kiai Badra dan Kiai dan Nyai Soka kita dapat memberikan gambaran tentang anak yang bernama Puguh. Mungkin mereka dapat mengerti. Tetapi aku tidak tahu tanggapan ibunya. Nampaknya dua orang perempuan bekas isteri Ki Wiradana itu bagaikan minyak dengan air,“ sahut Jati Wulung.

 

“Itu dapat kita mengerti. Seorang dari mereka adalah perempuan yang rakus, sementara yang lain adalah seseorang yang merasa bertanggung jawab atas masa depan sebuah Tanah Perdikan dan yang pernah mengalami perlakuan bukan saja menyakitinya, tetapi hampir membunuhnya,“ jawab Sambi Wulung.

 

Namun mereka tidak dapat berbicara lebih panjang, karena Puguh telah melangkah mendekati tanggul. Ketika ia berusaha naik keatas tanggul yang rendah, maka Sambi Wulung telah mengulurkan tangannya dan menariknya.

 

“Bagaimana keadaanmu sekarang?“ bertanya Sambi Wulung.

 

“Aku merasa menjadi lebih baik,“ jawab Puguh, “air yang dingin itu membuat tubuhku menjadi semakin segar. Aku akan dapat berjalan lagi semalam suntuk. Bahkan untuk mencapai Gantar, meskipun perlahan-lahan.”

 

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Tetapi Sambi Wulungpun berkata, “jangan memaksa diri. Kita akan berjalan saja sejauh dapat kita capai. Jika kita merasa letih, maka kita akan beristirahat dimana-pun juga. Ternyata kita tidak banyak mengalami kesulitan antuk mencari tempat bermalam.”

 

Puguh mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita berjalan saja. Perlahan-lahan. Udarapun rasa-rasanya menjadi lebih segar setelah matahari terbenam.”

 

Demikianlah, merekapun kemudian telah melanjutkan perjalanan. Puguh memang bertanya kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung, apakah mereka tidak akan mencuci muka.

 

Tetapi sambil tertawa Jati Wulung menjawab, “Aku sudah terbiasa hidup tanpa air di tubuhku. Kecuali untuk minum.”

 

“Pantas kau,“ desis Sambi Wulung, “wajahmu menjadi nampak kering seperti orang sakit-sakitan.”

 

“Dan kau?“ bertanya Jati Wulung.

 

Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menyahut.

 

Demikianlah, maka ketiga orang itu telah melanjutkan perjalanan. Ternyata berjalan di malam hari bagi Puguh merasa lebih baik daripada berjalan disiang hari. Namun adalah wajar jika di malam hari mereka diganggu pula oleh perasaan bukan saja lelah, tetapi kantuk.

 

“Kita tidak perlu memaksa diri untuk berjalan semalam suntuk berkata Sambi Wulung.

 

Puguh mengangguk. Iapun menyadari bahwa di malam hari sulit pula baginya untuk menemukan jalan yang akan langsung sampai ke Gantar. Baru kemudian dari Gantar mereka akan menuju kesatu tempat yang sebenarnya memang dirahasiakan. Tetapi jalan yang paling aman menuju ke sebuah padepokan kecil yang terpisah dari lingkungan hidup orang kebanyakan adalah lewat Gantar. Meskipun jalan menuju ke Gantar itu juga mendapat pengawasan ketat, namun jalan itulah satu-satunya jalan menuju ke padepokan itu yang dapat dilalui oleh orang lain dari penghuni padepokan itu meskipun harus melalui pengawasan yang berlapis. Itu pulalah sebabnya maka diantara orang-orang yang menjadi pengikut para penghuni padepokan itu tidak banyak mengenal langsung para pemimpinnya yang tertinggi.

 

Susunan yang seperti itulah sebenarnya yang menyulitkan bagi Puguh untuk menerima kehadiran kedua orang yang telah banyak menolongnya. Meskipun ia akan dapat membawanya sampai ke padepokannya lewat Gantar, namun apa yang akan terjadi setelah kedua orang itu sampai di padepokannya. Mungkin orang tuanya tidak akan menemuinya atau kebetulan tidak ada ditempat. Sementara gurunya juga jarang sekali berada ditempat itu. Sedangkan Puguh tidak akan dapat membawa kedua orang itu langsung ke satu tempat terpencil yang lebih dirahasiakan lagi. Bahkan bagi orang-orangnya sendiri tidak ada yang mengetahui tempat itu, selain satu dua orang terpercaya. Tempat gurunya menghabiskan hari-hari tuanya ditempat yang sepi dan jauh dari kesibukan duniawi.

 

Seandainya kedua orang itu bertemu dengan orang tuanya atau gurunya dan mengutarakan tentang jalan yang mereka anggap sesat bagi Puguh itu sendiri, maka Puguh tidak dapat membayangkan apakah akibat yang dapat terjadi atas kedua orang itu meskipun keduanya telah banyak menolongnya, bahkan dapat dianggap telah menyelamatkan jiwanya.

 

Demikianlah, semakin panjang mereka berjalan, hati Puguh menjadi semakin bingung. Ia sendiri tidak mengerti, kenapa ia telah tertarik dan merasa sesuai berhubungan dengan kedua orang itu. Puguh menyadari, mungkin karena kedua orang itu telah menolongnya dan berbuat baik kepadanya. Namun justru karena itu, maka ia tidak ingin kedua orang itu mengalami kesulitan jika benar-benar ia dapat bertemu dengan orang tuanya dan memberikan pendapatnya yang tentu tidak akan sesuai dengan pendapat orang tuanya itu. Bahkan mungkin kedua orang itu akan mendapat kesulitan karenanya.

 

Dalam pada itu, maka Puguhpun kemudian telah mencoba untuk mengetahui jalan yang mereka lalui dengan saksama. Jika mereka mengambil jalan yang salah, maka akibatnya akan sangat parah bagi mereka. Mungkin akan terjadi salah paham dengan orang-orang yang mendapat tugas untuk menutup lingkungan dan arah menuju ke padepokan itu. Karena hanya jalan dari Gantar sajalah yang dapat dilalui oleh orang lain dengan hambatan yang paling kecil, karena orang-orang yang bertugas di jalan yang menuju kepadepokan itu lewat Gantar masih dibenarkan untuk berbicara dan bertanya kepada orang-orang yang lewat. Tetapi di jalan lain persoalannya akan lain.

 

Itulah sebabnya, ketika mereka menempuh perjalanan di jalan yang rasa-rasanya menjadi semakin sempit dan rumpil, maka Puguhpun berkata, “Kita berhenti sampai disini. Aku takut, bahwa jalan ini tidak akan sampai ke Gantar. Di siang hari, kita akan dapat melihat lebih baik, apakah kita tersesat atau tidak.”

 

Sambi Wulung dan Jati Wulung sama sekali tidak berkeberatan. Merekapun kemudian mencari tempat yang paling bailk untuk beristirahat. Sebagai pengembara yang berpengalaman, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung sama sekali tidak merasa canggung berada di manapun. Namun keduanya memang menjadi heran, bahwa Puguh pun ternyata tidak pula merasa canggung untuk berada ditempat yang bagaimanapun. Dengan demikian maka keduanya mengambil kesimpulan bahwa Puguh memang telah mempunyai pengalaman yang luas.

 

“Jauh lebih banyak dari pengalaman Risang yang hampir selalu berada di padepokan kecil itu saja,“ berkata Sambi Wulung didalam hatinya. Sementara itu Jati Wulungpun berkata kepada diri sendiri, “Meskipun Risang selalu menempa diri, tetapi ia masih belum terbiasa untuk mengambil sikap menghadapi kesulitan-kesulitan yang dapat dihadapinya dimanapun juga.”

 

Dalam pada itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung sempat mengamati keadaan disekitarnya. Mereka memang sudah berada diperbatasan antara tanah yang digarap dan padang perdu yang liar. Satu-satu telah mereka dapati pohon-pohon yang agak besar yang semakin jauh menjadi semakin banyak. Dalam keremangan malam, mereka melihat tidak terlalu jauh di hadapan mereka terdapat, sebuah hutan yang menebar.

 

Sambi Wulung dan Jati Wulungpun menyadari, bahwa mereka sebaiknya mengambil jalan lain untuk menuju ke Gantar. Meskipun langit bersih sehingga mereka sempat melihat bintang Gubug Penceng, sehingga mereka dapat mengerti arah, namun jalan yang mereka lalui itu bukan jalan yang baik untuk sampai ke Gantar.

 

Dengan demikian maka bagi mereka bertiga memang lebih baik berhenti dan beristirahat daripada menempuh perjalanan tetapi di keesokan harinya harus melangkah kembali karena jalan setapak yang mereka lalui ternyata tidak akan sampai ke tujuan.

 

Namun tiba-tiba saja Sambi Wulung dan Jati Wulung terkejut. Mereka tidak tahu ujung pangkalnya ketika Puguh tiba-tiba berkata, “Kita benar-benar salah jalan. Marilah, kita tinggalkan tempat ini.”

 

Dengan kerut dikening Jati Wulung bertanya, “Bukankah kita akan beristirahat sampai esok menjelang dini hari? Apa salahnya kita beristirahat disini?”

 

“Sebaiknya kita bergeser. Aku yakin bahwa jalan ke Gantar tidak terlalu jauh dari tempat ini. Beberapa ratus tonggak saja ke arah Selatan,“ sahut Puguh.

 

“Ya, berapapun jaraknya jalan ke Gantar itu dari tempat ini, namun bukankah kita dapat menunda perjalanan ini sampai esok?“ bertanya Sambi Wulung pula.

 

“Apakah kalian sudah terlalu letih sehingga tidak mungkin lagi bergerak?“ bertanya Puguh.

 

Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Namun ia berkata dengan nada rendah, “Apakah yang sebenarnya telah terjadi Puguh? Tentu bukan sekedar kita ingin berpindah tempat. Kau tentu melihat atau mengenali sesuatu yang memaksa kita berpindah dari tempat ini. Jika kau dapat meyakinkan kami, maka kami tidak akan berkeberatan untuk berpindah tempat sekarang.”

 

Puguh termangu-mangu sejenak, namun dengan punah kebimbangan ia berkata, “Tempat ini bukan tempat yang baik untuk beristirahat.”

 

“Kenapa?“ desak Jati Wulung.

 

Puguh tidak menjawab. Tetapi ia menunjuk ke sebuah pohon yang tidak terlalu besar di pinggir jalan kecil yang ditempuhnya itu. Pada batang pohon itu terdapat sebuah topeng kecil dari wajah yang menakutkan.

 

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengamati topeng itu dengan saksama. Dengan nada berat Sambi Wulung berkata, “Bagaimana kau sempat melihat topeng itu disini? Kami berdua sama sekali tidak melihatnya.”

 

“Kalian berada di seberang lorong. Karena itu maka kalian tidak melihatnya,“ jawab Puguh, “adalah kebetulan aku melihatnya karena aku disini.”

 

Tetapi Sambi Wulungpun kemudian bertanya meskipun di dalam hatinya telah tumbuh dugaan tentang topeng yang terdapat di pohon itu, “Tetapi kenapa kau begitu cemas melihat topeng kecil itu?”

 

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Ia memang agak kebingungan untuk menjawab. Baru setelah merenung sejenak ia menjawab, “Aku adalah seorang yang hidup di daerah ini. Meskipun jaraknya masih agak jauh, tetapi aku mengenali lingkungan ini dengan baik. Setiap orang Gantar dan sekitarnya tahu, bahwa topeng itu adalah pertanda bahwa lingkungan di sekitarnya adalah lingkungan yang tidak boleh diambah oleh pihak lain.”

 

“Jadi topeng kecil itu menunjukkan satu ciri kekuasaan di daerah ini? Maksudku kekuasaan yang berdasarkan pada kekuatan semata-mata? Bukan kekuasaan karena hak?“ bertanya Jati Wulung.

 

Puguh menjadi semakin bimbang untuk menjawab. Tetapi akhirnya iapun mengangguk. Katanya, “Ya. Begitulah menurut pengenalan orang-orang Gantar dan sekitarnya.”

 

Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun dalam pada itu, Sambi Wulungpun telah mempertajam pendengarannya. Tiba-tiba saja ia meloncat ke arah sebuah gerumbul tidak jauh di belakangnya sambil berkata, “Keluarlah Ki Sanak, Tidak pantas kita bermain sembunyi-sembunyian disaat tidak ada bulan. Barangkali kita juga sudah terlalu tua untuk bermain seperti itu.”

 

Puguh menjadi tegang. Sementara Jati Wulung mendekatinya sambil berbisik, “Tidak hanya di belakang gerumbul itu. Di tempat lain aku juga melihat orang yang berlari sambil membungkuk-bungkuk ke belakang gerumbul disebelah pohon yang agak besar itu itu.”

 

Puguh mengangguk. Katanya, “Kita sudah terlambat untuk menghindari perkelahian.”

 

“Kita tidak berbuat apa-apa,“ jawab Jati Wulung.

 

“Soalnya bukan berbuat atau tidak berbuat apa-apa. Lingkungan ini sama sekali tidak boleh dijamah oleh orang lain. Sadar atau tidak sadar,“ jawab Puguh.

 

“Kau tidak mengatakan sebelumnya, bahwa disekitar Gantar terdapat tempat seperti ini,“ desis Jati Wulung.

 

“Aku kira kita masih cukup jauh dari tempat-tempat seperti ini. Aku memang agak bingung memilih jalan. Tetapi tiba-tiba saja kita sudah terperosok ke dalam lingkungan seperti ini,“ jawab Puguh.

 

“Jika demikian, apaboleh buat,“ berkata Jati Wulung, “kita tidak mempunyai pilihan lain jika mereka memaksa kita untuk bertempur.”

 

Puguh tidak menjawab. Tetapi nampak kegelisahan yang sangat pada sikapnya, sehingga Jati Wulung dapat mengambil satu kesimpulan tersendiri tentang hubungan antara Puguh dan topeng kecil itu. Tetapi Jati Wulung tidak mengatakannya. Yang kemudian diucapkan adalah, “Hati-hatilah. Kita akan bertempur.”

 

Puguh masih tetap diam. Sementara itu Sambi Wulung yang menghadapi sebuah gerumbul berkata selanjutnya, “Keluarlah, atau aku akan membakar gerumbul ini bersamamu.”

 

Sejenak kemudian, maka seseorang telah meloncat dari balik gerumbul itu. Seorang yang bertubuh tinggi besar berjambang lebat. Dalam kegelapan wajahnya tidak terlalu jelas untuk dikenali. Apalagi ketika Sambi Wulung yang berpandangan tajam itu melihat garis-garis yang sengaja digoreskan pada wajah itu yang agaknya dengan sengaja untuk mempersulit pengenalan seseorang atas mereka.

 

Yang kemudian berloncatan dari balik gerumbul bukannya hanya seorang. Namun kemudian ternyata beberapa orang yang lain. Empat orang.

 

“Berjongkok dihadapanku,“ terdengar orang itu menggeram, “orang yang sudah memasuki lingkungan ini harus mati. Karena itu, relakan aku memenggal lehermu.”

 

“Tunggu Ki Sanak,“ berkata Sambi. Wulung, “kenapa daerah ini tidak boleh dijamah oleh orang lain kecuali kau dan gerombolanmu?”

 

“Yang berada disini harus mati,“ geram orang itu.

 

“Jika memang demikian, apaboleh buat. Kami tidak akan dapat merubah peraturan yang kalian buat. Tetapi kenapa? Tlatah ini tlatah dalam wewenang siapa?“ bertanya Sambi Wulung.

 

Tetapi orang itu seakan-akan tidak, mendengar. Bahkan ia telah bertanya, “Satu kebaikan hati jika aku bertanya, siapa namamu agar kau mati dengan tenang karena kau tidak mati tanpa nama.”

 

“Namaku Wanengbaya, dan itu adalah saudaraku Wanengpati. Anak muda itu adalah kemanakanku.” Jawab Sambi Wulung.

 

Orang itu menggeram. Namun kemudian katanya, “berjongkoklah. Tundukkan kepalamu agar kami mudah melakukan tugas kami. Jika kami tidak dapat memenggal lehermu sekali putus, mungkin kau akan menderita.”

 

“Ki Sanak,“ berkata Sambi Wulung, “barangkali kau bersedia menyebutkan serba sedikit sebelum kau berniat benar-benar memenggal leherku, kenapa kalian berani menganggap lingkungan ini lingkungan kalian dan menganggap orang lain yang memasuki daerah ini bersalah.”

 

“Kami berkuasa, disini,“ berkata orang itu, “kami dapat menentukan apa saja yang kami kehendaki.”

 

“Jadi menurut pendapat mu, kekuasaan sejalan dengan kekuatan?“ bertanya Sambi Wulung,

 

“Ya. Kekuatan akan menentukan kekuasaan? He jika tanpa kekuatan, siapa yang dapat berkuasa? Ternyata kau terlalu bodoh sehingga tidak dapat mengetrapkan penalaran tentang kekuatan dalam hubungannya dengan kekuasaan. Apakah kau kira seekor monyet dapat mengusir seekor harimau dari dalam hutan? Atau seekor ayam dapat mengatur kehidupan musang dalam kelompok disarangnya?“ jawab orang itu.

 

“Tetapi bukankah daerah ini adalah satu sudut saja dari wilayah Pajang?“ bertanya Sambi Wulung, “bagaimana mungkin kau merasa berkuasa disini tanpa limpahan kekuasaan itu dari Pajang.”

 

“Persetan dengan kuasa Pajang,“ jawab orang itu, “kuasa Pajang tidak menjangkau daerah ini sehingga kamilah yang berkuasa disini.”

 

Sambi Wulung mengangguk-angguk, Katanya, “Baiklah, Jika demikian akupun akan menunjukkan kekuatanku, agar aku dapat menjadi penguasa disini.”

 

“Persetan, Kau akan melawan?“ bertanya orang itu.

 

“Kau kira begitu mudah seseorang menyerahkan lehernya?“ bertanya Sambi Wulung.

 

“Setan,“ geram orang itu, “bunuh mereka.“

 

Kawan-kawannyapun mulai bergerak. Namun Sambi Wulung masih bertanya, “Sebelum mati, siapakah kalian dan untuk siapa kalian bekerja. Satu kebaikan hati kami karena dengan demikian kalian tidak akan mati tanpa nama.”

 

“Cukup. Cepat, jangan beri waktu lagi,” teriak orang yang berjambang itu.

 

Sejenak kemudian, maka orang itupun telah menyerang Sambi Wulung. Tidak hanya dengan tangannya. Tetapi iapun telah langsung mempergunakan senjatanya. Sebuah bindi yang bergerigi.

 

Sambi Wulung meloncat mundur. Iapun kemudian memberi isyarat kepada Jati Wulung untuk bersiap-siap.

 

Yang paling gelisah adalah Puguh. Memang mungkin orang-orang itu tidak mengenal wajahnya dengan baik, karena tataran-tataran yang memang dibuat dengan jarak-jarak tertentu. Orang-orang itu adalah orang-orang yang bertugas di barak-barak khusus untuk mengawasi lingkungan yang agak luas disekitar padepokannya yang terpisah. Untuk memantapkan kerahasiaan padepokannya maka tidak ada kesempatan bagi orang lain untuk mendekati padepokan itu dari arah lain kecuali dari arah Gantar. Sedangkan wajah padepokan itu dilihat dari arah Gantar adalah sebuah padepokan yang tidak banyak berbeda dari padepokan yang lain.

 

Dalam pada itu beberapa orang yang ada di arena itupun telah mulai bergerak. Puguhpun harus memilih satu langkah yang paling menguntungkan baginya. Ia mempunyai dan memahami bahasa sandi yang akan dapat membebaskannya, dari kemungkinan buruk. Tetapi dengan demikian, maka ia harus mempertanggung jawabkannya kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung.

 

Karena itu, maka Puguh yang tubuhnya menjadi semakin segar karena luka-lukanya yang tidak lagi terasa menggigit itu, merasa telah sanggup untuk bertempur melindungi dirinya sendiri.

 

Demikianlah akhirnya merekapun telah bertempur. Sambi Wulung bertempur melawan orang berjambang, yang agaknya memimpin sekelompok kawan-kawannya itu. Jati Wulunglah yang harus bertempur melawan dua orang diantara mereka.

 

Agaknya orang-orang itu memang tidak terbiasa menjajagi kemampuan seseorang yang akan dijadikan korban mereka. Karena itu, maka merekapun langsung mempergunakan senjatanya dan berusaha membunuh lawan lawannya.

 

Tetapi ternyata mereka telah membentur kekuatan yang sulit untuk diatasinya. Orang berjambang itulah yang justru mengalami kesulitan melawan pedang Sambi Wulung yang tidak saja kuat untuk mengimbangi ayunan bindi lawannya yang berat, tetapi juga mampu berputar cepat sekali seperti putaran baling-baling. Kemudian terayun menebas lambung dan mematuk ke arah dada.

 

Orang berjambang itu mengumpat. Tetapi iapun merasa memiliki bekal yang cukup untuk melakukan tugasnya. Itulah sebabnya, maka orang itu berusaha untuk mendesak Sambi Wulung yang bersenjata pedang.

 

Benturan-benturan yang terjadipun telah mengejut: kan lawannya pula. Pedang Sambi Wulung ternyata mampu membentur dan menahan bindi yang sedang terayun deras.

 

Sambi Wulunglah yang kemudian mendapat takaran kemampuan lawannya itu. Sehingga dengan demikian, maka iapun telah mampu menghadapinya dengan mapan.

 

Dengan loncatan-loncatan panjang Sambi Wulung kadang-kadang telah membuat lawannya menjadi bingung. Karena itu, maka iapun kemudian telah mengayun-ayunkan bindinya untuk melindungi dirinya dari serangan Sambi Wulung.

 

“He, kenapa tidak kau pergunakan golokmu itu?“ bertanya Sambi Wulung sambil meloncat kesamping sehingga bindi yang terayun itu tidak mengenai sasarannya.

 

Orang itu tidak menyahut, ia memang tidak terbiasa bersenjata golok. Golok yang tidak terlalu panjang, tetapi cukup besar itu hanya dipergunakan untuk memenggal leher orang-orang yang telah dikalahkannya jika orang itu melawan.

 

Sementara itu, Puguh telah bertempur dengan orang yang bertubuh agak tinggi kekurus-kurusan. Wajahnya membayangkan kekasaran sifat dan wataknya. Dengan golok yang besar ia berusaha untuk mendesak dan kemudian membunuh anak yang masih terlalu muda itu.

 

Namun ternyata Puguh cukup tangkas. Ia mampu melawan golok itu dengan pedangnya. Bahkan anak itu ternyata mampu bergerak lebih cepat dari lawannya. Tetapi bagaimanapun juga, keadaan tubuh Puguh yang belum pulih sepenuhnya itupun berpengaruh pula pada tata gerak dan ilmu pedangnya.

 

Yang harus mengerahkan kemampuannya adalah Jati Wulung. Ia bertempur melawan dua orang yang garang. Seorang bertubuh agak gemuk sedangkan yang lain, bertubuh sedang.

 

Namun Jati Wulung adalah seorang yang memiliki ilmu yang tinggi serta berpengalaman luas. Karena itu maka iapun segera dapat menyesuaikan dirinya menghadapi kedua lawannya itu. Jati Wulung justru berusaha untuk bertempur agak jauh dari Sambil Wulung dan Puguh, sehingga dengan demikian maka Jati Wulung akan dapat dengan leluasa bertempur dengan loncatan-loncatan panjang melawan kedua orang lawannya itu.

 

Tetapi kedua lawan Jati Wulung ternyata memang orang-orang yang garang. Keduanyapun berusaha untuk bergerak dengan cepat. Meskipun keduanya tidak memiliki jenis ilmu dari satu perguruan, tetapi karena keduanya telah lama saling bekerja bersama, maka keduanya lapat saling mengisi kekurangan masing-masing dengan baik. Keduanya dapat menyerang beruntun susul menyusul. Tetapi kadang-kadang keduanya telah menyerang bersama-sama dalam satu gelombang namun dari arah yang berbeda.

 

Dengan demikian maka Jati Wulung benar-benar harus mempergunakan tenaga cadangannya untuk meloncat-loncat menghindari serangan keduanya. Tetapi sekali-sekali Jati Wulungpun telah meloncat bukannya untuk menghindar, tetapi untuk menyerang.

 

Namun sedemikian jauh, Jati Wulung masih belum merasa perlu untuk melepaskan ilmu puncaknya yang menggetarkan jantung. Ia masih berusaha untuk menyembunyikannya dari penglihatan Puguh. Karena ilmu yang tinggi sebagaimana yang dimilikinya, tentu akan dapat membuat jarak antara dirinya dengan padepokan atau rumah atau apapun yang dihuni oleh Puguh menjadi semakin panjang.

 

Karena itu, maka Jati Wulung harus bekerja keras hanya dengan lambaran tenaga cadangannya. Namun tenaga cadangan yang ada didalam diri Jati Wulung itu seakan-akan telah tergali seluruhnya oleh kemampuan Jati Wulung. Sehingga tenaga cadangan itu terasa menjadi sangat besar.

 

Sementara itu Puguh telah berusaha sejauh dapat dilakukannya untuk melindungi dirinya sendiri. Dengan ilmu pedangnya ia melawan golok lawannya yang terayun-ayun dengan garangnya. Tetapi ilmu pedang yang memadai itu ternyata tidak dapat bertahan terlalu lama. Keadaan tubuhnya yang kurang menguntungkan telah membuat perlawanan Puguh tidak dapat bertahan terlalu lama. Perlahan-lahan perlawanan Puguhpun mulai menjadi surut, meskipun sebenarnya ilmu pedangnya mampu mengimbangi kemampuan lawannya bermain-main dengan goloknya.

 

Puguh memang menjadi cemas. Sekali-sekali memang terbersit niatnya untuk mengucapkan kata-kata sandi yang akan dapat melepaskannya dari ujung senjata lawannya. Tetapi ia masih saja ragu-ragu.

 

Dalam pada itu, Sambi Wulung sempat melihat keadaan Puguh yang kurang menguntungkan. Karena itu, maka Sambi Wulung telah berusaha untuk dapat bertempur tidak terlalu jauh daripadanya.

 

Perlahan-lahan Sambi Wulung bergeser mengitari beberapa buah gerumbul perdu, sehingga akhirnya, Sambi Wulung telah meloncat dengan loncatan panjang mendekati Puguh. Katanya, “bertahanlah. Kita akan bertempur berpasangan.”

 

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Ia memang memerlukan bantuan itu. Jika tidak maka keadaannya akan menjadi gawat sehingga dalam keadaan yang tidak teratasi, mungkin ia akan mengucapkan beberapa kata sandi.

 

Namun agaknya ia tidak perlu melakukannya karena kehadiran Sambi Wulung didekatnya.

 

Berdua, maka Puguh dan Sambi Wulung telah bertempur melawan dua orang pula. Sambi Wulung dan Puguh berdiri saling membelakangi. Namun Sambi Wulunglah yang telah bergerak jauh lebih banyak dari Puguh, sehingga Puguhlah yang lebih banyak harus menyesuaikan dirinya dengan keadaan Sambi Wulung.

 

Kemampuan dan kecepatan gerak Sambi Wulung sekali-sekali memang dapat mengusir lawannya beberapa langkah surut, sehingga dengan demikian maka Puguhlah yang mendapat kesempatan untuk beristirahat, karena lawannya beberapa langkah surut, sehingga dengan demikian maka Puguhlah yang mendapat kesempatan untuk beristirahat karena lawannyapun harus menghindari serangan-serangan Sambi Wulung yang datang beruntun.

 

Beberapa saat lamanya pertempuran itu berlangsung. Semakin lama menjadi semakin sengit. Jati Wulung yang bertempur melawan dua orang lawan itupun ternyata telah meningkatkan kecepatan geraknya. Jati Wulung sempat mempergunakan gerumbul-gerumbul perdu dan pepohonan yang jarang itu untuk membuat lawannya semakin bingung menghadapinya.

 

Dalam pertarungan yang cepat dan keras, tiba-tiba saja seorang diantara lawan Jati Wulung itu berteriak mengumpat dengan kasarnya. Beberapa langkah ia meloncat surut. Sementara itu, kawannyapun telah mengambil jarak pula dari Jati Wulung.

 

Jati Wulung ternyata memberikan kesempatan kepada lawan-lawannya. Ia melihat orang yang berteriak itu sedang meraba lukanya yang menganga di bahunya.

 

Dengan geram Jati Wulungpun kemudian berkata, “Nah, tinggalkan tempat ini. Jika kau tidak juga mau pergi, maka kalian akan terkapar mati disini.”

 

“Persetan,“ geram orang yang terluka, “kau sudah berani melukai aku. Maka tebusannya adalah nyawamu. Kau harus mati di tanganku.”

 

Jati Wulung tertawa. Katanya, “Kau tidak usah mengigau. Kau sudah terluka. Darahmu akan mengalir semakin banyak. Semakin kau paksakan tenagamu, maka semakin banyak pula darah akan mengalir. Akhirnya kau akan mati dengan sendirinya karena kau kehabisan darah.”

 

“Tidak,“ orang itu berteriak, “sebelum darah kering ditubuhku, kau sudah mati lebih dahulu.”

 

Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam. Namun sorot mata orang itu, meskipun dalam keremangan malam, tetapi terasa oleh Jati Wulung, bahwa ia benar-benar ingin membunuhnya.

 

Bahkan Jati Wulungpun kemudian menyadari, bahwa semua orang yang menyentuh tempat itu memang harus dibunuh.

 

Sebenarnyalah sesaat kemudian, kedua orang lawan Jati Wulungpun telah meloncat menyerangnya pula. Hampir berbareng dari arah yang berbeda.

 

Tetapi Jati Wulung telah menunggunya. Dengan cepat ia berhasil menghindar. Bahkan dengan tangkasnya pula Jati Wulung telah memutar pedangnya, terayun deras ke arah lambung orang yang sudah terluka itu. Namun orang itu sempat meloncat mundur. Meskipun dengan tergesa-gesa, tetapi ia berhasil lolos dari sentuhan ujung senjata Jati Wulung.

 

Jati Wulung tidak sempat memburu lawannya, karena serangan dari lawannya yang lain telah datang pula. Demikian, derasnya. Tetapi Jati Wulung mempunyai kekuatan yang sangat besar beralaskan tenaga cadangannya yang berhasil diungkapkannya lewat ilmu kanuragannya. Karena itulah, maka telah terjadi benturan yang menggetarkan jantung ketika Jati Wulung menangkis serangan itu.

 

Akibatnya memang mengejutkan. Tangan Jati Wulung seakan-akan memang tidak tergetar, meskipun telapak tangannya terasa seperti disengat api. Namun dengan cepat Jati Wulung berhasil mengatasi rasa sakitnya. Tetapi sementara itu, maka senjata lawannya ternyata telah terpental lepas dari tangannya.

 

Namun sekali lagi Jati Wulung tidak sempat mempergunakan keadaan yang gawat bagi lawannya itu. Lawannya yang lainlah yang kemudian meloncat sambil menjulurkan senjatanya lurus ke arah punggung Jati Wulung.

 

Karena itulah maka Jati Wulung harus bergeser kesamping. Memperhitungkan serangan itu dan kemudian meloncat menghindar. Dengan cepat Jati Wulung berusaha urrtuk memukul senjata lawannya. Tetapi ternyata lawahnya telah berhasil menggeliat sambil memutar senjatanya sehingga Jati Wulung tidak berhasil menjatuhkannya. Bahkan sementara itu, lawannya yang kehilangan senjatanya sempat meloncat menerkam senjatanya yang terjatuh ditanah, kemudian dengan sigapnya melenting berdiri.

 

Sejenak kemudian kedua lawan Jati Wulung itupun telah meloncat hampir bersamaan mengambil jarak. Sementara itu, yang terluka telah berdesis menahan pedih, karena keringatnya yang membasahi lukanya. Apalagi dari luka itu telah mengalir darah yang ternyata semakin banyak karena gerak yang semakin cepat pula.

 

“Kau jangan memaksa diri,“ berkata Jati Wulung kepada orang yang sudah terluka itu.

 

Nafas orang itu menjadi semakin terengah-engah. Darahnya memang menjadi semakin banyak mengalir. Tetapi dengan garang ia masih juga berkata dengan suara yang bergetar, “Sebentar lagi kau akan mati.”

 

Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam. Agaknya memang tidak ada pilihan lain dari orang-orang itu kecuali berkelahi sampai mati apabila mereka tidak mampu membunuh lawan-lawan mereka.

 

Karena itu, maka Jati Wulung ternyata masih harus mengerahkan tenaga cadangannya untuk melawan kedua orang yang garang itu.

 

Ketika Jati Wulung kemudian menjadi semakin jemu dengan pertempuran itu, maka iapun telah berniat untuk mengakhirinya saja. Apalagi orang yang terluka itu sudah menjadi semakin lemah.

 

Tetapi Jati Wulung tidak memanfaatkan keadaan orang yang terluka itu. Jika ia berniat, maka akan lebih mudah baginya untuk menghentikan perlawanannya. Tetapi agaknya Jati Wulung mempunyai pikiran yang lain. Ia justru telah mengarahkan sebagian besar dari serangan-serangannya kepada lawannya yang lain.

 

Namun ternyata bahwa serangan Jati Wulung yang datang beruntun itu tidak sempat seluruhnya dihindarinya. Ketika ia sedang menangkis uluran pedang Jati Wulung yang mengarah kedadanya, ternyata pedang Jati. Wulung itu mampu berputar cepat, dan sekali lagi terjulur lurus.

 

Orang itu memang sempat meloncat menghindar. Tetapi ia tidak seluruhnya terlepas dari garis serangan Jati Wulung. Ternyata bahwa ujung pedang Jati Wulung sempat menyentuh lengannya.

 

Orang itu memang mengaduh. Lengannya telah koyak oleh pedang Jati Wulung. Darahpun telah mengalir pula dari luka itu, sebagaimana darah yang mengalir dari luka di bahu kawannya.

 

Sementara itu, Jati Wulung telah memberikan kesempatan kedua lawannya mengambil jarak. Dengan nada rendah Jati Wulung masih juga menawarkan kesempatan.

 

Katanya, “Tinggalkan tempat ini. Jangan ganggu kami meskipun kami berada ditempat yang kalian sangka adalah tempat kalian ini. Siapapun berhak berada ditempat ini sepanjang ia tidak mengganggu orang lain dengan cara apapun juga. Lebih-lebih dengan cara sebagaimana kalian lakukan.”

 

Ternyata kedua lawan Jati Wulung itu tidak menunggu ia selesai berbicara. Dengan teriakan yang membelah langit, keduanya telah meloncat menyerang dengan senjata terjulur.

 

“Baiklah,“ berkata Jati Wulung sambil melenting dari tempatnya. Namun ujung senjata kedua lawannya itu bagaikan mengejarnya, sehingga sekali lagi Jati Wulung harus berloncatan, kemudian memutar senjata untuk menangkis serangan lawannya itu.

 

Tetapi kedua lawannya itu justru telah mengejarnya dengan senjata teracu.

 

Jati Wulung menjadi semakin marah. Namun ia masih juga berkata, “Aku masih memberi kalian kesempatan. Kesempatan terakhir. Tinggalkan tempat ini agar aku tidak membunuh kalian, meskipun kalian berniat membunuhku.”

 

Tidak ada jawaban. Tetapi kedua orang itu masih saja memburunya.

 

Ternyata Jati Wulung benar-benar telah kehilangan kesabarannya. Ia tidak lagi berusaha untuk menghindari kematian dari kedua lawannya. Jati Wulung merasa sudah cukup berusaha. Namun usahanya sia-sia.

 

Dengan demikian maka Jati Wulungpun telah mengerahkan kemampuannya bermain pedang. Dengan tangkasnya, Jati Wulungpun kemudian telah memutar pedangnya, mengayunkan mendatar, dan kemudian mematuk lurus ke arah dada lawan-lawannya.

 

Kedua lawannya memang terkejut melihat putaran pedang Jati Wulung yang menjadi semakin cepat. Mereka terdorong selangkah surut. Namun keduanya telah kembali menyerang dengan senjata yang terayun-ayun.

 

Tetapi Jati Wulung telah berubah pendirian. Ia tidak lagi berusaha mencegah kematian kedua orang yang tidak mau mempergunakan kesempatan untuk menghindar dari arena, sehingga mereka tidak harus mati karenanya. Namun keduanya masih tetap berniat untuk membunuhnya.

 

Karena itu, maka Jati Wulungpun tidak lagi sekedar berloncatan mundur. Namun sekali ia meloncat surut, kemudian dengan garangnya ia menyergap salah seorang dari lawannya. Pedangnya terayun deras mengarah ke kepala lawannya yang telah terluka di bahunya.

 

Tetapi orang itu tidak membiarkan kepalanya dibelah oleh pedang Jati Wulung. Karena itu, maka iapun telah berusaha menghindar. Dengan tangkasnya ia bergeser kesamping sambil memukul pedang Jati Wulung.

 

Pada saat yang bersamaan, maka. dari arah samping, lawannya yang telah terluka dibahunya telah mempergunakan kesempatan itu. Dengan serta merta ia meloncat sambil mengayunkan pedangnya menebas leher.

 

Namun Jati Wulung telah berjongkok dengan cepat. Demikian pedang itu menyambar diatas kepala Jati Wulung, maka ujung pedang Jati Wulunglah yang telah terjulur. Sambil berjongkok ternyata Jati Wulung telah menusuk lawannya yang menyerangnya tepat diarah jantung.

 

Orang itu mengerang kesakitan. Jati Wulung yang kemudian tegak berdiri telah menarik pedangnya. Sesaat orang yang dilukainya didada itu terhuyung-huyung. Namun orang itupun kemudian telah jatuh terjerembab.

 

Tetapi Jati Wulung tidak sempat mengamati orang itu terlalu lama, karena serangan yang datang bagaikan angin ribut telah melandanya. Seorang lawannya yang lain ternyata menjadi sangat marah dan bagaikan orang gila telah menerkamnya dengan ujung senjatanya.

 

Jati Wulung yang memang sudah menjadi marah itu menjadi muak melihat sikap lawannya. Demikian kasarnya ia menyerangnya. Karena itu, maka Jati Wulung telah bergeser menghindar. Ditangkisnya serangan itu kesamping. Demikian senjata lawannya itu tergeser, maka pedang Jati Wulungpun telah berputar pula. Satu tebasan mendatar telah menyerang lawannya dengan tiba-tiba.

 

Lawannya yang telah terluka itu berusaha untuk meloncat surut. Tetapi Jati Wulung tidak membiarkannya. Iapun meloncat maju sambil menjulurkan pedangnya. Demikian cepatnya, sehingga pedang itu telah mematuk dada lawannya itu pula.

 

Terdengar umpatan nyaring disela-sela keluhan kesakitan. Jati Wulung yang marah itupun kemudian telah menarik pedangnya yang terhunjam didada lawannya itu. Seperti lawannya yang lain, maka orang itupun terhuyung-huyung dan kemudian jatuh terguling di tanah.

 

Sejenak Jati Wulung berdiri termangu-mangu. Dipandanginya dengan kerut di dahinya, dalam keremangan malam, tubuh-tubuh yang terbaring diam.

 

“Aku terpaksa membunuh hari ini,“ desis Jati Wulung perlahan sekali sehingga hanya dapat didengar oleh dirinya sendiri.

 

Ketika Jati Wulung kemudian berpaling kepada Sambi Wulung, maka iapun melihat bagaimana Sambi Wulungpun terpaksa membunuh seorang lawannya.

 

Sementara itu, seorang diantara orang-orang yang mencegat perjalanan mereka dan siap untuk membunuh itu, berusaha untuk melepaskan diri. Tetapi Puguhlah yang telah melemparkan pedangnya dengan sekuat tenaganya yang tersisa, justru disaat orang itu sedang memutar tubuhnya, sehingga jaraknya dari Puguh masih terlalu dekat.

 

Orang itu menjerit keras-keras. Pedang Puguh telah menancap dipunggungnya. Namun sejenak kemudian suara itupun segera lenyap dan tenggelam dalam sepinya malam. Yang terdengar hanyalah desau angin pada dedaunan di gerumbul-gerumbul perdu.

 

Puguh berdiri termangu-mangu. Sambi Wulunglah yang kemudian mendekatinya sambil bertanya, “Kenapa kau bunuh orang itu? Bukankah orang itu sudah akan meninggalkan arena ini?”

 

Puguh termenung sejenak. Namun kemudian jawabnya, “Ia akan menjadi orang yang sangat berbahaya. Ia akan dapat menyebut ciri-ciri kita kepada kawan-kawannya. Maka merekapun akan mencari kita sampai keujung langit sekalipun.”

 

“Kau takut kepada mereka?“ bertanya Sambi Wulung.

 

Puguh memandang wajah Sambi Wulung sejenak.

 

Dengan nada ragu ia bertanya, “Apakah kau tidak akan merasa terganggu jika mereka selalu mengejarmu kemana kau pergi?”

 

Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak akan pernah merasa cemas apapun yang akan mereka lakukan. Tetapi aku juga tidak dapat menyalahkanmu. Keadaanmu lain dengan keadaan kami berdua.”

 

Puguh mengangguk lemah. Desisnya, “Seandainya aku memiliki kemampuan sebagaimana kau miliki, maka aku kira akupun tidak akan merasa terganggu sebagaimana kau.”

 

“Sudahlah,“ berkata Sambi Wulung, “sekarang bagaimana dengan tubuh-tubuh itu?”

 

“Kawan-kawan mereka akan mengurusnya,“ berkata Puguh.

 

“Kau yakin?“ bertanya Jati Wulung.

 

“Sebagaimana mereka berkeliaran disini,“ jawab Puguh.

 

Sambi Wulung dan Jati Wulungpun saling berpandangan sejenak. Merekapun kemudian memutuskan untuk meninggalkan saja mereka. Namun demikian Jati Wulung berkata, “Kita letakkan mereka ditempat yang mudah dapat dilihat.”

 

Sambi Wulungpun kemudian bersama Jati Wulung telah menempatkan tubuh-tubuh yang mulai membeku itu dibawah sebatang pohon yang pada batangnya terdapat sebuah topeng kecil sebagai ciri kuasa sebuah gerombolan ditempat itu.

 

“Marilah,“ berkata Sambi Wulung kemudian, “kita tinggalkan tempat ini.”

 

Jati Wulung dan Puguhpun menganguk kecil. Merekapun kemudian mulai bergerak meninggalkan tempat itu. Mereka menyusuri jalan sempit menjauhi tempat yang telah memaksa mereka untuk membunuh.

 

Dalam pada itu, bintang-bintang dilangitpun telah bergeser semakin jauh ke Barat. Terasa semilirnya angin pagi dari arah lautan mengusap tubuh mereka yang basah oleh keringat.

 

Puguh yang sebelumnya telah menjadi semakin segar, tubuhnya menjadi terasa letih kembali. Bagaimanapun juga ia telah mengerahkan tenaga yang tersisa didalam dirinya untuk bertempur melawan orang-orang yang benar-benar ingin membunuhnya. Untunglah bahwa orang yang dikenalnya bernama Wanengbaya itu sempat melindunginya.

 

Sambi Wulung dan Jati Wulung melihat keadaan Puguh itu. Karena itu, maka ketika mereka melintasi sebuah parit yang berair bening, Jati Wulung berkata, “Kita akan membersihkan diri. Mudah-mudahan air itu dapat menyegarkan tubuh kita.”

 

Puguh mengangguk. Namun ia adalah orang yang pertama-tama turun kedalam parit untuk mencuci wajahnya, tangan serta kakinya.

 

Ternyata bahwa air yang dingin itu memang membuat tubuh-tubuh yang lelah dan berkeringat itu menjadi segar kembali. Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguhpun merasa seakan-akan telah mendapat kekuatan baru untuk melanjutkan perjalanan.

 

Ketiga orang itupun kemudian bukan saja telah mencuci wajah mereka, tetapi merekapun telah membenahi pakaian pula. Cahaya fajar mulai nampak bercahaya dilangit. Sebentar lagi mereka akan mulai berpapasan dengan orang-orang yang melintasi jalan-jalan dari satu padukuhan ke padukuhan yang lain. Mungkin pergi ke pasar, tetapi mungkin pula mereka yang pergi ke sawah.

 

Sebenarnyalah ketika mereka memasuki jalan yang lebih besar, maka mereka telah berpapasan dengan beberapa orang yang membawa barang-barang dagangan. Mereka tentu akan pergi ke pasar. Sementara orang lain telah menuntun ternaknya untuk dijual pula.

 

“Kita pergi ke pasar,“ berkata Sambi Wulung.

 

“Untuk apa?“ bertanya Puguh.

 

“Apakah kau tidak merasa lapar dan haus?“ bertanya Sambi Wulung pula.

 

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Namun akhirnya iapun mengangguk sambil menjawab, “Baiklah. Kita singgah sebentar.”

 

Demikianlah mereka bertiga telah mengikuti arah orang-orang yang agaknya akan pergi ke pasar. Agaknya ada sebuah pasar yang cukup ramai dipadukuhan sebelah.

 

Sebenarnya sebagaimana mereka duga. Ketika mereka memasuki sebuah padukuhan yang agak besar, maka merekapun telah sampai kesebuah pasar yang cukup ramai. Bahkan dibagian belakang dari pasar itu terdapat pula pasar ternak. Meskipun tidak terlalu banyak, tetapi ada beberapa ekor lembu, kerbau dan kambing yang diperjual belikan. Sedangkan disudut pasar itu terdapat pande besi meskipun agaknya hanya seorang bersama beberapa orang pembantunya.

 

Ketika Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguh makan disebuah warung yang tidak begitu besar, merekapun sempat bertanya tanpa menarik perhatian, jalan yang menuju ke Gantar.

 

Dari pemilik warung itu mereka telah mendapat beberapa petunjuk, sehingga dengan petunjuk itu, maka Puguh akan dengan cepat menemukannya.

 

“Tidak terlalu jauh lagi,“ desis Puguh.

 

Ketika mereka selesai makan, maka merekapun telah melanjutkan perjalanan. Mereka menuju ke arah yang semakin dekat dengan jalan yang langsung menuju ke Gantar. Jalan yang lebih besar dari jalan yang sedang mereka lalui itu.

 

Demikian mereka sampai kesebuah simpang tiga, maka Puguhpun menarik nafas dalam-dalam. Ia mulai mengenali jalan yang mereka masuki. Dengan nada rendah ia berkata, “Kita telah sampai ke arah yang benar. Jalan ini akan langsung membawa kita ke Gantar. Jika kita meneruskan perjalanan kita semalam, maka kita memang akan memasuki lingkungan yang berbahaya dan tidak akan langsung menuju ke tujuan.”

 

“Kita sudah memasuki daerah berbahaya,“ berkata Sambi Wulung.

 

“Ya,“ sahut Jati Wulung, “semalam kita bukan sekedar akan memasuki daerah berbahaya, tetapi sudah.”

 

Puguhpun mengangguk pula. Katanya, “Tetapi sekarang, kita sudah meninggalkan tempat itu.”

 

Sambi Wulung dan Jati Wulung menangguk-angguk. Dengan nada berat Sambi Wulung berkata, “bersukurlah bahwa kita selamat.”

 

Puguh tidak menjawab lagi. Tetapi iapun kemudian menengadahkan wajahnya memandang lingkungan disekelilingnya. Kemudian dipandanginya jalan yang panjang yang terbentang didepan kakinya. Jalan yang menuju ke Gantar.

 

Namun demikian justru Puguh telah dibebani kegelisahan yang belum dapat dipecahkan. Apakah ia akan membawa kedua orang itu menuju ke padepokannya. Meskipun wajah padepokannya telah di selimuti dengan ujud yang tidak akan mencurigakan, namun apakah pertemuan antara kedua orang itu dengan orang tuanya akan memberikan keuntungan. Bahkan Puguhpun berharap bahwa seandainya kedua orang itu terpaksa di bawanya ke padepokannya disebelah Gantar, maka hendaknya orang tuanya kebetulan tidak berada di tempat. Sehingga dengan demikian mereka tidak akan berbicara tentang sikap masing-masing.

 

Tetapi Puguh tidak mengatakan kegelisahannya itu. Beberapa kali ia sudah mencoba untuk mencegah niat kedua orang itu berkunjung ke tempat tinggalnya. Tetapi agaknya kedua orang itu benar-benar ingin berbicara tentang dirinya dengan orag tuanya. Sementara itu Puguhpun tahu pasti bahwa hal seperti itu tidak akan menyenangkan hati orang tuanya itu.

 

Demikianlah, maka mereka bertiga berjalan menyusuri jalan yang sudah terpelihara lebih baik dari jalan-jalan yang pernah dilaluinya sebelumnya. Padukuhan-padukuhan disebelah menyebelah jalan itupun nampaknya lebih baik dan terpelihara pula. Meskipun padukuhan-padukuhan itu bukan padukuhan yang kaya, tetapi nampaknya ada usaha dari para penghuninya untuk berbuat sesuatu yang lebih baik bagi padukuhannya itu.

 

Dalam perjalanan itu Sambi Wulung sempat bertanya kepada Puguh, “Apakah padukuhan-padukuhan ini tidak pernah mendapat gangguan dari orang-orang yang merasa dirinya berkuasa di daerah tertentu yang semalam kita lalui?”

 

Puguh mengerutkan keningnya. Katanya, “Aku tidak tahu pasti. Tetapi biasanya orang-orang yang terjebak dalam kehidupan yang gelap seperti orang-orang yang semalam kita jumpai itu justru tidak akan banyak menimbulkan kesulitan disekitar lingkungannya. Mereka akan mencari korban ditempat yang agak jauh. Tetapi bahwa kehadiran mereka menimbulkan ketakutan pada orang-orang yang tinggal disekitarnya itu memang mungkin sekali.”

 

“Dan orang-orang disekitarnya tidak pernah mengambil tindakan apa-apa,“ sahut Jati Wulung.

 

Puguh mengerutkan keningnya. Katanya, “Apa yang dapat dilakukan oleh orang-orang yang ada disekitar tempat ini terhadap mereka? Sepedukuhanpun tidak dapat menangkap dua orang saja diantara orang-orang yang semalam kita jumpai.”

 

Jati Wulung mengangguk-angguk. Iapun sadar, bahwa Pajang tidak akan dapat setiap saat mengawasi tempat-tempat yang memang letaknya tidak terlalu dekat itu. Apalagi pada saat-saat Pajang menghadapi persoalan.

 

Demikianlah mereka bertiga berjalan terus. Matahari-pun semakin tinggi bertengger dilangit. Cahayanya mulai terasa mencubit-kulit.

 

Namun dalam pada itu, pagi terasa menjadi semakin segar. Embun yang bergantungan diujung dedaunan telah mulai menghindari panasnya matahari.

 

Perjalanan selanjutnya adalah perjalanan yang tidak menjumpai kesulitan apapun. Jalan yang mereka lalui ternyata cukup ramai. Mereka banyak berpapasan dengan orang-orang yang pulang dan pergi ke pasar. Juga orang-orang yang turun kesawah.

 

“Kita sudah mendekati daerah yang berada dalam wilayah Gantar,“ berkata Puguh, “satu lingkungan yang termasuk ramai ditempat ini. Dari Gantar terdapat beberapa simpangan menuju kebeberapa arah. Dengan demikian maka Gantar termasuk daerah persinggahan para pedagang. Karena itu, maka Gantar termasuk satu diantara Kademangan yang cukup besar.”

 

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun hampir diluar sadarnya Jati Wulung bertanya, “Apakah daerah ini bukan merupakan daerah rawan? Apakah orang-orang dari daerah yang ditandai dengan topeng kecil dengan ujud yang menakutkan itu tidak sering berkeliaran didaerah ini? Seandainya mereka sering mengganggu daerah ini, maka sudah barang tentu daerah Gantar tidak akan berkembang maju untuk selanjutnya, bahkan mungkin akan menjadi surut.”

 

Pertanyaan yang terlontar begitu saja itu ternyata merupakan pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab oleh Puguh. Untuk beberapa saat ia merenung. Namun akhirnya ia berkata, “Aku tidak tahu apakah gangguan itu ada atau tidak. Tetapi yang aku ketahui, Gantar merupakan daerah yang justru berkembang semakin maju.”

 

Jati Wulung mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lebih jauh. Agaknya Jati Wulung mengerti, bahwa pertanyaan-pertanyaan lebih banyak lagi, akan membuat Puguh semakin bingung.

 

Namun yang dikatakan oleh Jati Wulung adalah, “Kita dapat membeli makan dan minum lebih baik di Gantar daripada dipasar itu.”

 

“Apakah kau sudah menjadi lapar lagi?“ bertanya Sambi Wulung. Lalu katanya, “rasa-rasanya nasi itu belum turun sampai keperut.”

 

Jati Wulung tertawa. Katanya, “Kita akan melihat-lihat keadaan lebih dahulu.”

 

Sambi Wulung tersenyum pula sambil berkata, “Baiklah. Kita akan melihat suasana di Gantar nanti.”

 

Puguh tidak mengatakan sesuatu. Ia memang sedang sibuk merenungi apakah yang sebaiknya dilakukannya. Tetapi agaknya ia tidak akan dapat mengelak untuk membawa orang itu sampai ke tempat tinggalnya.

 

Untuk beberapa saat lamanya ketiganya berjalan sambil berdiam diri. Mereka memperhatikan keadaan sebelah-menyebelah jalan. Halaman dan rumah-rumah yang nampaknya memang dipelihara secukupnya.

 

Beberapa saat lagi mereka telah sampai kesebuah padukuhan kecil. Dimulut jalan terdapat sebuah gapura yang dibuat dengan baik. Gapura yang terlalu besar untuk sebuah padukuhan kecil.

 

“Gapura itu adalah gapura Kademangan Gantar,“ berkata Puguh.

 

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Ternyata mereka benar-benar sudah memasuki daerah Gantar. Dengan nada rendah Sambi Wulung berkata, “perjalananmu akhirnya akan berakhir juga. Agaknya kau akan selamat sampai kerumahmu meskipun bukan berarti pada jarak yang pendek ini tidak akan dapat terjadi sesuatu.”

 

Puguh mengangguk-angguk. Katanya, “Nampaknya sudah tidak akan terjadi sesuatu jika kita sudah berada di sini. Daerah ini bukan daerah yang ganas.”

 

“Meskipun tidak terlalu jauh dari tempat ini terdapat tempat yang mengerikan itu,“ sahut Jati Wulung.

 

“Ya,“ jawab Puguh, “seperti aku katakan, agaknya mereka tidak akan mengganggu tetangganya sendiri.”

 

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Agaknya apa yang dikatakan oleh Puguh itu benar. Ketika kemudian mereka memasuki Kademangan Gantar, maka rasa-rasanya lingkungan itu bukannya lingkungan yang gelisah sebagaimana juga beberapa padukuhan yang mereka lalui sebelumnya.

 

Ternyata ketiga orang itu tidak menarik perhatian orang-orang Gantar. Puguh sendiri nampaknya juga tidak dikenal oleh orang Gantar, karena tidak seorangpun yang berpapasan di jalan-jalan menegurnya. Kadang-kadang seseorang memang memperhatikan mereka. Tetapi hanya sekilas sebagaimana orang itu memperhatikan orang-orang lewat yang lain.

 

“Apakah kau tidak sering memasuki Kademangan ini? “ tiba-tiba saja Jati Wulung bertanya.

 

“Kenapa? “ Puguhlah yang ganti bertanya.

 

“Kau tidak mengenal orang-orang Gantar?“ bertanya Jati Wulung.

 

Puguh menggeleng. Katanya, “Aku jarang sekali berada di Gantar. Sekali-sekali aku pergi ke Gantar untuk membeli barang-barang yang kami perlukan. Kemudian kami segera kembali lagi.”

 

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Agaknya Puguh memang jarang-jarang meninggalkan tempat tinggalnya. Jika ia keluar dari lingkungannya adalah justru pergi ke Song Lawa untuk berjudi.

 

Untuk beberapa saat lamanya Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak bertanya sesuatu. Mereka berjalan menyusuri jalan-jalan padukuhan. Namun kemudian mereka sampai pula ketengah-tengah bulak panjang. Sawah dan ladang yang terbentang antara padukuhan yang satu dengan padukuhan yang lain, nampak hijau segar, sehingga memberikan kesan, betapa suburnya tanah di Gantar itu.

 

Beberapa padukuhan telah mereka lewati. Akhirnya mereka memasuki padukuhan yang lebih besar dari padukuhan-padukuhan yang lain. Dari seberang bulak nampak padukuhan itu memanjang di atas cakrawala. Sementara bulak dihadapan mereka yang luas bagaikan lautan yang kekuning-kuningan oleh padi yang hampir masak merunduk diujung tangkainya.

 

“Kita menuju ke padukuhan induk Kademangan Gantar,“ berkata Puguh.

 

“O,“ Sambi Wulung menyahut, “apakah kita masih harus berjalan jauh untuk sampai ketempat tinggal mu?”

 

Kita akan keluar dari Gantar diseberang padukuhan induk. Kita akan mengambil jalan ke Utara. Beberapa saat setelah kita keluar dari Kademangan ini, maka kita akan memasuki jalan yang lebih kecil yang menuju ke tempat tinggalku. Sebuah padepokan yang tidak berarti apa-apa bagi orang lain.”

 

“Tentu padepokan yang kaya,“ tiba-tiba saja Jati Wulung memotong.

 

“Kenapa kau dapat menebak bahwa padepokanku adalah padepokan yang kaya?“ bertanya Puguh.

 

“Jika tidak, maka kau tidak akan setiap kali berada di Song Lawa,“ jawab Jati Wulung.

 

Puguh memang menjadi semakin gelisah. Namun ia-pun kemudian menjawab, “tidak. Padepokanku bukan padepokan yang kaya.”

 

Jati Wulung mengerutkan keningnya. Tetapi ia telah menahan diri untuk tidak mendesak, agar Puguh tidak menjadi semakin bingung.

 

Namun Sambi Wulunglah yang kemudian berbicara seperti ditujukan kepada diri sendiri, “Gantar memang sebuah lingkungan yang sangat subur.”

 

“Ya,“ desis Puguh, “sementara itu orang-orangnya juga orang-orang yang rajin bekerja.”

 

Sambil melihat-lihat keadaan, maka mereka bertigapun kemudian telah melintasi bulak panjang yang kuning memasuki padukuhan induk Kademangan Ganjar. Seperti yang sudah mereka duga, bahwa di padukuhan itu suasananya cukup ramai. Ada beberapa warung yang terdapat dipusat padukuhan, berjajar di simpang empattNamun mereka bertiga masih belum menjumpai pasar.

 

Karena itu, maka Jati Wulungpun bertanya, “Apakah di padukuhan induk ini tidak ada pasar?”

 

“Ada,“ jawab Puguh, “Tetapi memang agak ke pinggir.”

 

“Apakah kita juga akan melewati pasar itu?“ bertanya Jati Wulung.

 

“Ya,“ suara Puguh merendah, “tetapi kita dapat mengambil jalan lain yang tidak melewati pasar itu.”

 

“Aku justru ingin melewati pasar itu,“ berkata Jati Wulung.

 

“Jika kau lapar, maka disini ada beberapa warung. Tidak hanya warung makan, tetapi juga warung yang menjual kebutuhan-kebutuhan lain,“ berkata Puguh.

 

Jati Wulung tertawa. Katanya, “Tidak. Aku tidak akan membeli makanan di sini. Aku akan pergi ke pasar. Mungkin ada yang menjual dawet legen.”

 

Sambi Wulung hanya tersenyum saja.

 

Namun keduanya melihat bahwa Puguh agaknya tidak tertarik dengan percakapan itu. Wajahnya masih saja diliputi oleh suasana yang muram. Agaknya ia masih agak ragu-ragu untuk mengambil keputusan, apakah ia akan membawa kedua orang yang pernah menolongnya itu ke tempat tinggalnya, yang sebenarnya sejauh mungkin dipisahkan dari pengenalan orang lain.

 

Tetapi agaknya Puguh tidak dapat berbuat demikian. Ia merasa sudah terlalu banyak berhutang budi kepada keduanya.

 

Tetapi sekali-sekali terbesit pula pertanyaan didalam hatinya, “Kenapa aku harus menghiraukan pertolongan yang telah diberikan oleh kedua orang itu? Aku tidak pernah memintanya, sehingga aku tidak perlu mempedulikannya.”

 

Namun ternyata ia tidak dapat mengelakkan diri dari tuntutan nuraninya untuk menyatakan terima kasih kepada kedua orang itu, meskipun itu merupakan satu sikap yang baru didalam hatinya, bahkan ia harus menyatakan terima kasih kepada orang lain.

 

Dalam pada itu, mereka bertiga telah berbelok untuk dapat lewat disebelah pasar sebagaimana dikehendaki oleh Jati Wulung.

 

Sebenarnyalah ketika mereka melewati jalan disebelah pasar yang cukup ramai, maka Jati Wulung telah tergoda untuk singgah kedalamnya. Apalagi ketika dilihatnya sebuah pikulan yang khusus dari seorang penjual dawet legen sebagaimana yang sangat digemarinya.

 

Namun yang tidak diketahui oleh Jati Wulung dan Sambi Wulung adalah dua pasang mata yang selalu mengawasinya.

 

Ketika kemudian Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguh duduk di sebuah lincak kecil didepan penjual dawet, maka dua orang telah mengamatinya dari kejauhan.

 

“Siapakah yang datang bersama Puguh itu?“ bertanya salah seorang diantara mereka.

 

Kawannya menggeleng. Tetapi ia berdesis, “Kemana para pengawalnya?”

 

“Tentu telah terjadi sesuatu,“ berkata orang yang pertama.

 

“Tetapi nampaknya mereka tenang-tenang saja minum dawet tanpa menunjukkan kegelisahan atau sesuatu yang pantas dicurigai,“ sahut kawannya.

 

Orang yang pertama mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu.

 

Untuk beberapa lama keduanya menunggui ketiga orang yang masih saja duduk dilincak kecil itu. Agaknya mereka memang sedang beristarahat. Ketiganya sempat memperhatikan kesibukan beberapa orang yang berjualan di pasar itu. Sementara Jati Wulung tiba-tiba saja berdesis, “Nasi megana.”

 

Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kemudian ia bertanya, “Apakah kau akan membelinya?”

 

Jati Wulung termangu-mangu. Namun kemudian iapun berpaling kepada Puguh sambil bertanya, “Kapan kita kira-kira akan sampai ke tempat tinggalmu?”

 

Puguh termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia menengadahkan wajahnya kelangit. Matahari sudah terlalu tinggi. Karena itu, maka katanya, “Jika kita berjalan selambat perjalanan kita sampai saat ini, maka sore hari kita baru akan sampai.”

 

“Sore hari? Bukankah kita sekarang sudah berada di Gantar?“ bertanya Sambi Wulung.

 

“Jalan yang kemudian akan kita lalui bukan jalan selebar dan serata jalan yang baru saja kita lalui. Tetapi jalan akan menjadi sempit dan rumpil. Naik dan turun, bahkan kita akan menyusuri jalan dipinggir hutan,“ jawab Puguh.

 

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Mereka memang sudah mengira bahwa tempat tinggal Puguh tidak akan dapat mereka capai dengan mudah sebagaimana mereka mencapai Kademangan Gantar itu sendiri. Bahkan jalan ke tempat tinggal Puguh tentu akan sesulit dan serumpil jalan menuju ke Song Lawa.

 

Dalam pada itus maka Jati Wulungpun kemudian berkata, “Aku akan membeli nasi megana. Jika kita baru sampai ke tempat tinggal Puguh menjelang sore hari, maka kita akan memerlukan makan siang di perjalanan.”

 

Sambi Wulung tertawa. Tetapi ia tidak menahan ketika Jati Wulung kemudian berdiri dan melangkah mendekati seorang perempuan yang menjual nasi megana.

 

Namun ketajaman matanya, tiba-tiba saja telah menangkap dua orang yang sedang mengawasinya. Keduanya justru bergeser ketika mereka melihat Jati Wulung bangkit dan melangkah mendekati penjual nasi megana, justru searah dengan arah kedua orang itu berdiri.

 

Tetapi Jati Wulung tidak dengan serta merta mengambil langkah. Ia bahkan berpura-pura tidak melihat sesuatu. Karena itu, maka iapun telah langsung menuju ketempat seorang perempuan penjual nasi megana. Tetapi karena sudah terlalu siang, maka nasi yang dijualnya itu telah hampir habis.

 

Meskipun demikian Jati Wulung masih dapat membeli tiga bungkus nasi megana yang akan dibawanya sebagai bekal di perjalanan.

 

“Apakah nasi megana ini dapat bertahan sampai sore?“ bertanya Jati Wulung.

 

Perempuan penjual nasi itu termangu-mangu. Namun kemudian ia menggeleng. Katanya, “Tidak. Sebaiknya jangan terlalu sore.”

 

Jati Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Terimakasih.”

 

Ketika Jati Wulung kemudian membayar harga nasi megana itu, ia masih sempat sekilas memandang ke arah kedua orang laki-laki yang dianggapnya mengamatinya itu. Ternyata ia masih melihat kedua laki-laki itu meskipun berusaha bergeser dua tiga langkah dari tempatnya. Bahkan Jati Wulungpun kemudian telah melangkah lebih dekat lagi ketika ia mendekati seorang penjual semangka.

 

Jati Wulung membeli semangka itu meskipun tidak direncanakannya. Justru satu kesempatan baginya untuk lebih memperhatikan orang itu yang ternyata tidak menaruh curiga kepadanya. Kedua orang itu masih saja menganggap Jati Wulung tidak mengetahuinya bahwa keduanya sedang memperhatikannya.

 

Ketika kemudian Jati Wulung kembali kepada Sambi Wulung dan Puguh, iapun tidak segera mengatakannya.

 

“Kau membeli apa saja?“ bertanya Sambi Wulung.

 

“Jika kita akan menempuh perjalanan panjang yang rumpil, maka kita akan memerlukan bekal,“ jawab Jati Wulung, “nah, aku telah membelinya. Kalianlah yang membawanya.”

 

“Aku tidak akan kelaparan,“ jawab Sambi Wulung.

 

Jati Wulung mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian tertawa.

 

Sejenak kemudian, maka merekapun telah meninggalkan lincak penjual dawet legen itu, setelah membayar harga dawet yang telah mereka minum. Perlahan-lahan mereka keluar dari pasar. Namun sebelum mereka melewati gerbang pasar itu, Jati Wulung sempat berbisik ditelinga Sambi Wulung tanpa didengar oleh Puguh, “Dua orang mengawasi kita.”

 

Sambi Wulung mengangguk kecil. Tetapi ia tidak menjawab.

 

Demikianlah merekapun kemudian menempuh perjalanan menuju ketempat tinggal Puguh yang memang disebutnya sebagai sebuah padepokan.

 

Dipaling depan Puguh berjalan sambil membawa semangka yang besar. Kemudian Sambi Wulung dan Jati Wulung yang membawa tiga bungkus nasi megana.

 

Mereka meninggalkan jalan induk di Kademangan setelah mereka keluar dari padukuhan induk Kademangan Gantar. Jalan yang mereka lalui bukan lagi jalan seluas jalan yang baru saja mereka lewati. Ditengah-tengah bulak yang panjang, mereka berbelok memasuki jalan yang lebih kecil.

 

Sebenarnyalah seperti yang dikatakan Puguh, maka jalan yang mereka lalui selanjutnya memangu menjadi semakin kecil dan bahkan licin.

 

“He,“ berkata Jati Wulung yang kemudian melihat agak jauh dibelakangnya dua orang yang berjalan mengikutinya. Dua orang yang agaknya telah dilihatnya di pasar. “Nasi itu sebaiknya kita makan lebih dahulu. Lihat, kita sudah berjalan sampai lewat tengah hari. Apalagi penjual nasi itu berpesan, agar kita tidak membiarkan sampai sore, karena nasi itu tidak akan dapat dimakan lagi.”

 

Sambi Wulung yang mendapat isyarat dari Jati Wulungpun melihat pula kedua orang yang berjalan agak jauh dibelakang mereka. Meskipun keduanya mungkin orang yang yang akan pergi kesawah, atau orang lain yang kebetulan juga lewat dijalan itu menuju ke padukuhan kecil diseberang bulak, tetapi karena Jati Wulung telah melihatnya di pasar, maka iapun menjadi semakin curiga.

 

Karena itulah maka Sambi Wulung tidak menolak ketika Jati Wulung mengajak mereka berhenti.

 

Puguh yang berada didepan beberapa langkah dari keduanya telah berbalik pula. Tiba-tiba iapun melihat kedua orang yang mengikutinya. Wajahnyapun menjadi tegang dan dahinya berkerut dalam-dalam. Tetapi iapun segera berusaha untuk menghilangkan kesan itu dari wajahnya.

 

“Marilah,“ ajak Jati Wulung, “kita berhenti sebentar. Apa salahnya kita makan dipinggir jalan kecil yang tidak banyak dilalui orang ini. Orang-orang yang ada disawahpun makan dialam terbuka. Jarang sekali mereka makan di gubug, karena tidak semua kotak-kotak sawah mempunyai gubug yang memadai.”

 

Puguh termangu-mangu sejenak. Namun ia memang tidak dapat menolak. Nampaknya Sambi Wulungpun ingin segera makan nasi megana yang dibelinya di pasar.

 

Akhirnya mereka bertigapun telah berhenti dibawah sebatang pohon yang tidak terlalu besar. Merekapun telah mengambil masing-masing satu bungkus nasi megana.

 

Sementara Sambi Wulung dan Jati Wulung menunggu kedua orang yang mengikutinya itu lewat.

 

Puguh memang ikut pula duduk diantara mereka betapapun jantungnya bergetar semakin cepat. Namun Puguh itupun kemudian menarik nafas panjang ketika kedua orang itu ternyata cepat pula mengatasi keadaan. Keduanya tidak berjalan terus sampai melewati ketiga orang yang berhenti itu, dan barangkali menemui kesulitan. Tetapi keduanya telah meloncati parit dan kemudian berjalan menelusuri pematang.

 

Jati Wulung dan Sambi Wulung menjadi kecewa bahwa kedua orang itu telah berbelok. Sebenarnya Jati Wulung ingin menangkap keduanya dan memaksa mereka berbicara, untuk apa mereka mengikuti Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguh.

 

Tetapi Jati Wulung tidak berkata apa-apa kecuali bergeramang didalam hati.

 

Namun sejenak kemudian, Jati Wulungpun telah dengan nikmatnya menyuapi mulutnya. Nasi megana adalah jenis nasi yang sangat di gemarinya sebagaimana dawet legen.

 

Sambi Wulung yang sebenarnya masih belum lapar itu, terpaksa makan juga meskipun nampaknya tidak senikmat Jati Wulung. Demikian pula Puguh. Sehingga karena itu, maka Puguh ternyata tidak dapat menghabiskan nasi sebungkus.

 

“He, kenapa tidak kau habiskan?“ bertanya Jati Wulung.

 

“Aku masih kenyang,“ jawab Puguh.

 

“Kita akan berjalan sampai sore. Jangan biarkan kita kelaparan diperjalanan. Makanlah sampai habis agar kita mempunyai tenaga cukup untuk berjalan sampai sore hari.“

 

“Seandainya kita tidak makan sekalipun aku akan dapat berjalan sampai sore,“ jawab Puguh.

 

Jati Wulung mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian tersenyum sambil berkata, “Agaknya hanya aku sajalah yang selalu kelaparan.”

 

Puguh tidak menyahut lagi. Tetapi ia benar-benar tidak dapat menghabiskan nasi megana itu.

 

Beberapa saat ketiga orang itupun beristirahat. Bahkan Sambi Wulung sempat mencuci kakinya diparit yang mengalirkan air yang jernih dipinggir jalan yang semakin sempit itu.

 

Setelah beristirahat beberapa saat, maka Jati Wulung-pun kemudian berdiri sambil menggeliat. Ternyata ia sudah tidak melihat seseorang lagi disekitar mereka. Bahkan orang-orang yang pergi kesawahpun tidak dilihatnya. Agaknya sawah yang tanamannya sudah tumbuh subur itu, tidak terlalu banyak memerlukan perawatan lagi. Hanya di saat-saat tertentu saja para petani turun untuk mengairi sawahnya itu.

 

“Apakah kita sudah cukup beristirahat?“ bertanya Jati Wulung kemudian.

 

“Kaulah yang ingin beristirahat,“ jawab Sambi Wulung.

 

Jati Wulung tertawa pendek. Tetapi ia masih juga bertanya kepada Puguh, “Bagaimana dengan kau?”

 

Puguh memandang Sambi Wulung sekilas. Jawabnya kemudian, “Marilah.”

 

“Kita akan membuka semangka itu nanti saja, jika kita sudah merasa sangat haus,“ berkata Jati Wulung.

 

Puguh mengangguk. Ia sependapat, bahwa dalam keadaan yang haus oleh terik panasnya matahari, maka semangka akan menjadi sangat segar bagi mereka.

 

Demikianlah, maka sejenak kemudian ketiga orang itupun telah meneruskan perjalanan. Mereka melewati jalan-jalan yang semakin sempit. Bahkan kemudian menjadi jalan setapak yang agaknya hanya dilalui oleh orang-orang yang akan pergi ke sawah dari padukuhan kecil yang nampak dihadapan mereka.

 

Beberapa saat kemudian, mereka memang memasuki padukuhan kecil itu. Padukuhan yang nampaknya memang agak miskin. Tetapi jalan dipadukuhan itu menjadi agak lebih lebar dari sebelumnya.

 

Ketika mereka kemudian berjalan di jalan padukuhan itu, ternyata beberapa orang penghuni padukuhan itu memandangi mereka dengan wajah-wajah yang berkerut. Tetapi tidak seorangpun yang menyapa dan bertanya kepada mereka bertiga.

 

“Orang-orang padukuhan ini agaknya memang pemalu,“ berkata Puguh, “mereka tidak banyak bergaul dengan orang-orang dari padukuhan lain. Mereka merasa terlalu miskin untuk berada didalam lingkungan yang lebih luas dari lingkungan mereka sendiri.”

 

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Tetapi padukuhan itu memang sepi. Bahkan tidak ada sebuah warungpun yang terdapat dipinggir jalan induk padukuhan itu.

 

Ketika kemudian mereka keluar dari padukuhan itu, Sambi Wulungpun bertanya, “Apa masih ada padukuhan yang terdapat di sebelah padukuhan ini?”

 

“Masih,“ jawab Puguh, “tetapi padukuhan-padukuhan kecil. Diujung jalan ini terdapat sebuah hutan yang lebat. Kita akan berjalan menyusuri tepi hutan itu, kemudian menerobos sebuah hutan perdu sebelum sampai ketempat tinggalku.”

 

“Sebuah padepokan yang terpisah dari pergaulan?“ bertanya Jati Wulung.

 

“Kami tidak berniat untuk memisahkan diri. Tetapi kami tidak ingin terganggu oleh kesibukan kehidupan wajar, karena kami mempunyai cara hidup tersendiri,“ jawab Puguh. Agaknya anak itu merasa tidak akan dapat menyembunyikan diri lagi, bahkan juga tentang kehidupannya dan lingkungannya.

 

Sambi WuJung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun apa yang dikatakan oleh Puguh itu merupakan isyarat baginya untuk lebih berhati-hati.

 

Demikianlah, setelah melalui padukuhan-padukuhan kecil yang hampir tidak ada perbedaannya yang satu dengan yang lain, maka merekapun memasuki daerah yang nampaknya menjadi semakin gersang. Mereka tidak lagi menjumpai parit-parit yang mengalir serta kotak-kotak sawah. Yang ada kemudian adalah padang perdu yang ditumbuhi ilalang dan pohon-pohon perdu disana-sini. Sementara itu, matahari yang telah turun ke Barat menyengat kulit panas sekali.

 

“Agaknya tanah ini tidak begitu subur,“ desis Jati Wulung.

 

“Aku kira tidak,“ sahut Sambi Wulung, “bukan tanahnya yang tidak subur. Tetapi karena daerah ini tidak digarap dan tidak dijangkau oleh parit-parit, maka daerah ini nampaknya menjadi gersang. Tetapi sebagaimana kau lihat, dihadapan kita adalah hutan yang lebat.”

 

Jati Wulung mengangguk-angguk. Sementara itu Puguh berkata, “Ya. Tanah ini bukannya tanah yang gersang. Disebelah adalah tanah yang digarap oleh orang-orang dari padepokanku. Setelah kita menyusuri jalan di pinggir hutan itu, maka kita akan menjauhi hutan lagi, memasuki tanah garapan setelah melintasi padang perdu pula seperti ini.”

 

“Kenapa kalian tidak membuat jalan yang langsung menuju kepadepokan kalian?“ bertanya Jati Wulung.

 

“Jalan yang sulit akan menjadi saringan. Semakin sulit semakin sedikit orang yang akan mencapai padepokan kami,“ jawab Puguh,

 

“Sebaiknya kalian tidak memisahkan diri dari kehidupan,“ berkata Sambi Wulung, “bagaimanapun juga, manusia adalah mahluk yang saling berhubungan, Saling memerlukan dan saling mengisi dalam kehidupannya.”

 

“Kami tidak memisahkan diri,“ berkata Puguh, “kami hanya ingin tidak terganggu oleh cara hidup yang lain daripada cara yang telah kami pilih. Didalam padepokan kamipun terdapat sekelompok orang yang hidup saling berhubungan, saling memerlukan dan saling mengisi didalam kehidupan kami, sesuai dengan cara yang telah kami pilih.”

 

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Puguh yang sangat muda itu agaknya memang telah mendapat bekal yang cukup dari lingkungannya sehingga ia telah dapat meyakini bahwa lingkungannya memiliki satu cara hidup tersendiri.”

 

Dalam pada itu, maka merekapun telah berjalan semakin dekat dengan hutan yang nampaknya masih sangat garang dihadapan mereka. Pepohonan raksasa sudah nampak menyembul diantara pohon-pohon tumbuh pepat seakan-akan tanpa jarak.

 

“He, apakah kita akan membawa semangka itu sampai ke padepokanmu?“ bertanya Jati Wulung kepada Puguh.

 

Puguh tersenyum. Katanya, “Kita dapat berhenti sebentar dibawah pohon perdu ini. Kita pecahkan semangka ini. Agaknya memang akan terasa segar sekali.”

 

Ketiga orang itupun kemudian telah duduk dibawah pohon perdu. Tanpa pisau, maka semangka itupun dipecah. Mereka tidak dapat mempergunakan pedang mereka yang sudah pernah dibasahi oleh darah.

 

Sebenarnyalah perasaan haus dileher mereka, telah hilang oleh segarnya semangka yang besar dan manis itu.

 

Namun dalam pada itu, selagi mereka duduk dibawah pohon perdu itu, maka empat orang yang tiba-tiba saja muncul dari arah hutan telah mendekati mereka. Empat orang yang nampak keras dan garang.

 

“Siapakah kalian he? “ terdengar seorang diantara mereka menyapa dengan suara serak.

 

Namun tiba-tiba keempat orang itupun bergeser surut ketika mereka melihat seorang anak muda ada diantara mereka.

 

“Kau anak muda,“ desis salah seorang diantara keempat orang itu.

 

Puguhlah yang kemudian berdiri. Dihampirinya empat orang itu. Kemudian katanya, “Mereka adalah tamu-tamuku.”

 

“Kami baru tahu sekarang anak muda,“ jawab salah seorang diantara mereka.

 

“Tinggalkan kami. Kami akan menyelesaikan kerja kami,“ berkata Puguh kemudian.

 

Keempat orang itu termangu-mangu. Namun kemudian salah seoarang diantara mereka bertanya, “Kenapa kau sendiri. Dimana para pengawalmu itu anak muda?”

 

“Biarlah aku sendiri yang mengatakan kepada paman,“ sahut Puguh.

 

Keempat orang itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi mereka memang tidak berani mendesaknya. Namun ketika terlihat luka ditubuh Puguh, maka seorang diantara mereka bertanya, “Kau teriuka lagi?”

 

“Tidak apa-apa,“ jawab Puguh. Lalu katanya, “pergilah. Siapkan padepokan itu. Aku akan menerima kedua orang tamuku.”

 

Keempat orang itu tidak berkata lebih lanjut. Merekapun kemudian telah meninggalkan Puguh yang kembali mendapatkan Sambi Wulung dan Jati Wulung yang masih sibuk makan semangka tanpa menghiraukan pembicaraan antara keempat orang itu dengan Puguh. Bahkan Puguh-pun kemudian telah ikut menghabiskan sisa semangka yang besar itu.

 

Baru beberapa saat kemudian, maka ketiga orang itu sudah merasa cukup beristirahat dan menghilangkan haus. Merekapun kemudian telah bangkit dan melanjutkan perjalanan.

 

Namun, demikian mereka mulai bergerak, maka Sambi Wulungpun kemudian bertanya, “Siapakah keempat orang yang datang itu?”

 

“Orang-orang padepokan,“ jawab Puguh.

 

Sambi Wulung mengangguk-angguk, sementara Jati Wulungpun bertanya, “Nampaknya mereka begitu garangnya. Apakah mereka selalu meronda disekitar padepokan?”

 

“Ya,“ jawab Puguh, “terutama sepanjang garis perjalanan dari Gantar. Hanya orang-orang yang tidak dicurigai yang diijinkan memasuki padepokan Gantar.”

 

Namun tiba-tiba telah timbul pertanyaan yang membuat jantung Puguh berdebaran. Hampir diluar sadarnya Jati Wulung bertanya, “Apakah yang terjadi jika orang-orang padepokanmu itu bertemu dengan orang-orang yang merasa dirinya berkuasa dan meletakkan tanda-tanda di daerah kuasanya itu? Sebagaimana kita lihat, sebuah topeng yang ujudnya menakutkan itu?”

 

Wajah Puguh nampak menjadi tegang sesaat. Namun kemudian katanya,“ jarak dari padepokanku ketempat yang diberi tanda-tanda itu cukup jauh, sehingga orang-orangku tidak akan bertemu dengan mereka.”

 

“Tetapi siapa tahu, bahwa orang-orang itu akhirnya akan memperluas kuasanya,“ desis Jati Wulung.

 

Ternyata bahwa Puguh menjawab dengan cerdik, “Jika memang terjadi demikian, maka biarlah kita tanggapi kemudian.”

 

Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak bertanya lagi.

 

Sementara itu, mereka bertiga telah berjalan semakin dekat dengan hutan yang masih nampak sangat lebat itu. Dipinggir hutan itu memang terdapat jalan setapak yang lembab. Yang agaknya merupakan satu-satunya jalan menuju ke padepokan yang terpencil itu.

 

“Dimana orang-orangmu tadi?“ bertanya Jati Wulung kemudian.

 

Puguh mengerutkan keningnya. Iapun kemudian menjawab, “pergi. Agaknya mereka akan mendahului kembali ke padepokan untuk menyiapkan tempat bagi kalian.”

 

“Kami bukan tamu-tamu yang sangat terhormat. Kami hanya sekedar ingin singgah,“ berkata Jati Wulung kemudian.

 

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Namun ia berharap bahwa dengan demikian, maka orang-orang yang merasa tidak perlu bertemu dengan tamu-tamunya akan menyingkir.

 

Sejenak kemudian, maka merekapun telah berjalan menyusuri jalan setapak dipinggir hutan. Daun-daun yang rapat telah menaungi mereka dari terik matahari sehingga rasa-rasanya mereka tengah berjalan di tempat yang sejuk. Apalagi jika mereka memandangi cahaya matahari yang bagaikan bergetar diatas batang-batang ilalang.

 

Dalam pada itu, Puguhpun berkata, “Hutan ini masih terlalu liar. Masih banyak sekali binatang-binatang buas berkeliaran.”

 

“Apakah hutan ini tidak berbahaya bagi orang-orang dipadepokanmu yang keluar masuk lingkunganmu. Mungkin kalian memerlukan sesuatu yang harus kalian beli dari orang-orang padukuhan atau kalian harus keluar dari padepokan untuk pergi ke pasar,“ bertanya Sambi Wulung.

 

“Binatang buas bukan hantu bagi kami. Kami kadang-kadang justru masuk kedalam hutan itu untuk mencari binatang buas. Kulitnya akan dapat ditukarkan dengan barang-barang keperluan kami sehari-hari. Beberapa orang pedagang yang hilir mudik didaerah Gantar dan sekitarnya akan bersedia membelinya,“ jawab Puguh.

 

“Kulit harimau misalnya?“ desis Jati Wulung,

 

“Segala jenis harimau,“ jawab Puguh, “harimau loreng, harimau tutul, harimau kumbang yang berkulit hitam lekam dan jenis-jenis yang lebih kecil sekalipun.”

 

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Mereka dapat membayangkan bahwa isi padepokan itu tentu orang-orang yang perkasa. Mereka adalah juga pemburu-pemburu yang berani dan tangguh.”

 

Karena itu maka Sambi Wulung dan Jati Wulung menganggap bahwa dunia Puguh lebih menguntungkan dari dunia Risang dibidang penempaan diri. Namun di segi lain dari kehidupan, beruntunglah Risang bahwa ia tidak terperosok dalam pergaulan sebagaimana Puguh.

 

Beberapa saat mereka menelusuri hutan itu, maka merekapun segera melihat betapa seramnya isi hutan itu. Langkah nerekapun kemudian tertegun ketika Puguh yang berjalan dipaling depan memberikan isyarat agar mereka berhenti.

 

“Apa?“ bertanya Sambi Wulung dengan serta merta, Puguh tidak menjawab. Namun mereka bertigapun segera melihat seekor ular yang besar dan panjang yang menyusuri ilalang memasuki hutan yang lembab.

 

“Ular itu kepanasan,“ berkata Puguh, “agaknya ia mencari tempat yang lebih sejuk.”

 

“Ular raksasa,“ desis Jati Wulung.

 

“Bukan satu-satunya jenis yang terdapat di hutan dan sekitarnya. Banyak ular yang lebih besar dari ular itu. Ular yang termasuk tidak berbisa. Atau katakanlah bisanya tidak terlalu tajam. Tetapi ular sebesar itu dapat menelan seseorang dalam keadaan utuh,“ berkata Puguh pula.

 

“Mengerikan,“ desis Jati Wulung.

 

“Kami juga sering berburu ular,“ berkata Puguh kemudian, “kulitnya juga dapat kami jual dengan harga yang mahal.“ Puguh berhenti sejenak, lalu, “tetapi kita harus berhati-hati terhadap ular, karena ular adalah sejenis binatang pendendam.”

 

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Merekapun sudah mengetahui, betapa ular dapat mengingat ujud musuhnya sampai mati. Matanya seakan-akan mempunyai daya serap akan penglihatannya dan kemudian dipahatkannya pada ingatannya.

 

Ketiga orang itupun kemudian melangkah lagi ketika ekor ular yang besar itu telah hilang dibalik gerumbul-gerambul di dalam hutan. Puguh sudah dapat mengenali kapan ular menjadi berbahaya dan kapan tidak. Ular yang tidak sedang lapar, jarang sekali menyerang jika ia tidak merasa diganggu.

 

Namun beberapa saat kemudian, di tengah hutan itupun telah terdengar pula aum harimau yang agaknya merasa lapar atau haus. Atau saling berebut mangsa.

 

“Mereka mencium bau kita,“ desis Puguh.

 

“Ya,“ berkata Sambi Wulung, “agaknya angin bertiup ke arah hutan itu.”

 

Puguh mengerutkan keningnya. Ternyata kedua orang yang mengaku sebagai pengembara itu mengenali juga serba sedikit watak binatang hutan.

 

Namun mereka bertiga sama sekali tidak menunjukkan kecemasan mereka sama sekali. Seolah-olah jalan dipinggir hutan itu adalah jalan yang tidak sering disentuh oleh binatang-binatang buas.

 

Tetapi bagi Sambi Wulung dan Jati Wulung, jalan sempit dipinggir hutan itu sama saja berbahayanya dengan jalan yang jauh lebih lebar di Gantar atau bahkan di Pajang sekalipun. Bahkan binatang-binatang buas itu tidak akan pernah berbuat dengan perhitungan yang licik. Mereka menyerang sebagaimana mereka biasa menyerang. Mungkin merunduk diam-diam. Mungkin menunggu. Tetapi mereka tidak pernah membuat perhitungan-perhitungan yang rumit untuk menjebak lawannya sebagaimana dilakukan oleh manusia. Di dalam kota yang ramai sekalipun, kadang-kadang bahayanya justru lebih besar daripada di pinggir hutan yang lebat dan liar itu.

 

Beberapa saat lamanya mereka bertiga berjalan menyusuri jalan dipinggir hutan. Tetapi seekor binatang-pun yang menyerang mereka. Ketika Sambi Wulung dan Jati Wulung melihat sekelompok kera bermain-main di dahan dan ranting pepohonan, mereka menjadi semakin tenang. Karena menurut pengertian mereka, selama kera-kera itu masih tenang, berarti bahwa tidak ada bahaya yang mengancam disekitarnya. Jika muncul seekor harimau atau jenis binatang buas yang lain, maka kera-kera itu tentu akan lari bercerai berai.

 

Namun mereka tidak terlalu jauh menyusuri jalan dipinggir hutan itu. Ketika matahari kemudian menjadi senakin rendah, maka merekapun telah memisahkan diri dari hutan itu menuju ketempat yang suasananya lain sama sekali.

 

Setelah menyeberangi padang perdu yang tidak terlalu luas, maka merekapun mulai merambah lagi daerah persawahan.

 

Tetapi sawah yang terbentang luas itu tidak digarap oleh para petani dari padukuhan manapun. Sawah itu adalah tanah garapan orang-orang padepokan.

 

Sambi Wulung dan Jati Wulung termangu-mangu sejenak. Dengan demikian mereka dapat membayangkan, bahwa penghuni padepokan yang didiami oleh Puguh tentu padepokan yang besar. Tentu dihuni oleh banyak orang. Jika tidak demikian, maka mereka tidak akan mampu mengerjakan sawah yang demikian luasnya. Bahkan sawah-sawah itu telah dialiri air lewat parit-parit yang merambat sampai keujung-ujung.

 

“Satu tatanan kehidupan yang kelihatannya mulai mapan dari satu masyarakat yang terpisah,“ berkata Sambi Wulung dan Jati Wulung didalam hatinya.

 

Demikianlah, maka mereka bertigapun telah memasuki satu daerah yang seakan-akan terpisah dari dunia kehidupan yang lain. Ternyata bahwa jauh diseberang nampak hutan yang lebat itu bagaikan melingkari lingkungan itu.

 

“Darimana kalian mendapat air?“ bertanya Sambi Wulung kemudian.

 

“Kami mengangkat air dari sebuah sungai yang tidak terlalu besar. Tetapi airnya ternyata cukup untuk membasahi tanah pertanian kami,“ jawab Puguh.

 

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Namun yang kemudian menjadi pertanyaan didadanya dan juga didada Jati Wulung adalah, bahwa tidak mungkin padepokan itu menjadi kaya dan dapat membiarkan Puguh memasuki Song Lawa dengan bekal yang tidak terbatas. Penjualan kulit dan hasil perburuan lainnyapun tidak akan memberikan harta yang melimpah kepada Puguh, karena keluarga besar merekapun tentu memerlukan bahan-bahan untuk hidup mereka. Bahan makanan dan bahan pakaian serta kebutuhan-kebutuhan yang lain.

 

Tetapi Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak mempertanyakannya. Mereka masih banyak menahan diri untuk tidak berbicara tentang Puguh, tempat tinggalnya dan terutama sumber pendapatan mereka.

 

Ketika mereka bertiga berjalan melewati bulak yang luas, maka mereka memang bertemu dengan beberapa orang yang bekerja disawah. Namun yang mereka bawa bukan sekedar cangkul dan alat-alat pertanian yang lain. Tetapi dilambung mereka tergantung pedang atau jenis senjata yang lain. Bahkan ada diantara mereka yang membawa busur menyilang dipunggung serta bumbung anak panah yang tergantung dilambung.

 

“Inilah warna kehidupan disini,“ desis Jati Wulung.

 

“Ya,“ jawab Puguh, “kami sudah menentukan cara hidup kami sendiri. Tidak ada orang lain yang dapat merubahnya.”

 

“Tentu tidak akan ada orang lain yang berusaha untuk merubah tata kehidupan disini,“ desis Sambi Wulung.

 

“Selama kalian tidak mengganggu tatanan kehidupan yang lain, maka tentu tidak akan ada orang lain yang mengganggu tatanan kehidupan disini,“ sahut Jati Wulung.

 

Tiba-tiba saja kening Puguh berkerut. Namun dengan cepat ia dapat menguasai perasaannya. Sambil mengangguk-angguk ia kemudian berkata, “Kamipun berharap demikian. Selama kami tidak mengganggu orang lain, maka biarlah kami tidak diganggu karenanya.”

 

Merekapun kemudian terdiam. Mereka berjalan semakin dekat dengan sebuah padepokan yang berada di tengah-tengah bulak. Seperti sebuah pulau yang terapung dilautan yang hijau.

 

Ketika mereka kemudian mendekati padepokan itu, maka yang mereka lihat adalah sebuah padepokan yang tidak banyak berbeda dengan padepokan-padepokan yang lain. Didepan sekali nampak sebuah pintu gerbang. Kemudian disekeliling padepokan yang ditumbuhi dengan berjenis-jenis pohon buah-buahan itu dipagari dengan balok-balok kayu yang utuh. Terikat dengan rapi, bukan saja dengan tali ijuk, tetapi diikat dengan penjalin. Dengan demikian maka dinding itu merupakan dinding yang sangat kuat.

 

Ternyata kedatangan Puguh telah diketahui oleh orang-orang padepokan itu. Empat orang yang terdahulu telah memberikan laporan bahwa Puguh akan kembali bersama dengan dua orang tamunya.

 

Dua orang ternyata telah menunggunya dipintu gerbang yang dijaga pula oleh dua orang pengawal.

 

Ketika ketiga orang itu memasuki gerbang padepokan, maka kedua orang itu telah menyambutnya dengan hormat. Sementara itu dengan serta merta Puguhpun bertanya, “Apakah ayah dan ibu ada disini?”

 

Salah seorang dari kedua orang itu menggeleng. Jawabnya, “Tidak anak muda. Ayah dan ibumu beberapa hari yang lalu telah pergi mengujungi keluarga di Jipang.”

 

Puguh mengerutkan keningnya. Namun iapun mengangguk-angguk. Dengan nada ragu iapun bertanya, “Guru?”

 

“Juga sedang pergi. Mereka mengira bahwa anak muda masih akan berada di pengembaraan barang dua tiga pekan lagi. Tetapi agaknya anak muda telah mempercepat perjalanan,“ jawab orang itu.

 

“Ya. Aku datang bersama dua orang sahabatku,“ berkata Puguh kemudian.

 

“Marilah, silahkan,“ orang itu mempersilahkan ketiganya masuk.

 

Demikianlah mereka bertigapun telah berada di bangunan induk padepokan yang cukup luas itu. Mereka bertiga duduk diatas sebuah tikar pandan yang putih, dengan garis-garis silang berwarna hijau dan merah.

 

“Anak-anak membuat tikar ini sendiri,“ berkata Puguh.

 

“Satu lingkungan kehidupan yang baik,“ gumam Sambi Wulung sambil memperhatikan keadaan disekitarnya. Namun yang dilihatnya adalah berbeda dari dugaannya. Ia mengira bahwa di padepokan itu hilir mudik beberapa kelompok orang yang jadi penghuni padepokan itu. Untuk mengerjakan sawah yang luas serta pategalannya, maka tentu diperlukan tenaga yang cukup banyak. Namun nampaknya padepokan itu lengang sekali. Hanya satu dua orang yang menyandang senjata sajalah yang dilihatnya lewat dihalaman.

 

Tetapi Sambi Wulung itu mencoba untuk menenangkan hatinya, “Mungkin orang-orang itu sedang berada di sawah atau sedang mengerjakan keperluan-keperluan lain.

 

Sambi Wulung itu terkejut ketika ia mendengar Puguh berkata, “Sayang, ayah dan ibu tidak ada di padepokan. Sementara gurupun sedang pergi karena menurut rencana aku baru akan kembali dalam dua atau tiga pekan lagi. Seandainya tidak terjadi sesuatu dengan Song Lawa, maka aku kira akupun baru-akan kembali tiga pekan lagi.

 

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Tetapi sebenarnyalah mereka tidak memerlukan orang tua Puguh itu. Apalagi keduanya tahu, bajiwa Puguh tidak lagi berbapa, tetapi ibunyalah yang masih ada. Jika kemudian ia hidup bersama seorang laki-laki bekas Senapati Jipang itu, maka agaknya laki-laki itulah yang telah disebut ayahnya. Bahkan mereka merasa kebetulan sekali bahwa kedua orang tua dan guru Puguh tidak ada dipadepokan. Dengan demikian, tidak akan mudah untuk timbul kecurigaan karena wawasan yang tajam dari mereka, termasuk gurunya. Yang penting bagi keduanya adalah, bahwa mereka telah melihat lingkungan tempat tinggal Puguh. Satu kesempatan yang telah mereka dapatkan dengan susah payah. Meskipun keduanyapun yakin, bahwa tempat itu bukan satu-satunya tempat tinggal Puguh. Namun agaknya ia lebih sering beradaditempat ini.

 

Sementara itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulungpun telah mendapat hidangan minuman hangat dan beberapa macam makanan yang dibuat sendiri oleh para penghuni padepokan itu. Puguh yang menemui mereka mempersilahkan untuk meneguknya dan barangkali Jati Wulung telah menjadi lapar lagi.

 

Jati Wulung tersenyum. Katanya, “Kaulah yang tidak menghabiskan bekal nasi megana itu. Barangkali kaulah yang telah menjadi lapar.”

 

Puguh tersenyum. Katanya, “Aku justru tidak lapar setelah aku sampai di padepokanku.”

 

Sambil meneguk minuman hangat dengan gula kelapa, maka Sambi Wulung dan Jati Wulungpun telah memperhatikan langit yang mulai menjadi buram. Bayangan senja yang merah hinggap diujung pepohonan. Sementara itu beberapa orang penghuni padepokan itu telah mulai menyalakan lampu minyak. Juga di pendapa itu.

 

Puguhpun kemudian telah mempersilahkan Sambi Wulung dan Jati Wulung untuk pergi ke pakiwan, Namun sebelumnya, Puguh telah memerintahkan seorang penghuni padepokan itu untuk mengantarkan kedua orang tamu itu kedalam bilik yang telah disediakan.

 

“Setelah kalian mandi, kita akan makan malam,“ berkata Puguh. Lalu, “Seseorang telah memotong ayam. Selama perjalanan kita makan tidak teratur dan kadang-kadang kurang mantap. Sekarang kita akan mencoba makan lebih baik dari makanan yang kita makan selama diperjalanan.”

 

Jati Wulung tertawa. Katanya, “Di warung-warung yang kita singgahi kita dapat memilih makanan apa saja, termasuk daging ayam. Tetapi tentu berbeda dengan jika kita makan dirumah sendiri.”

 

Sejenak kemudian, maka Sambi Wulung dan Jati Wulungpun telah dibawa ke sebuah bilik yang telah dibersihkan. Sebuah lampu minyak telah menyala diatas ajug-ajug disudut bilik itu.

 

“Silahkan,“ berkata orang yang mengantarkan mereka berdua. Namun Sambi Wulungpun kemudian bertanya, “Dimanakah letak pakiwannya?”

 

“Marilah. Aku antarkan kalian ke pakiwan,“ berkata orang itu.

 

Tetapi ternyata Sambi Wulung dahululah yang pergi ke pakiwan sementara Jati Wulung menunggu didalam biliknya. Baru kemudian Jati Wulung telah diantar oleh Sambi Wulung ke pakiwan.

 

Namun mereka tidak hanya sekedar pergi ke pakiwan. Mereka sempat memperhatikan beberapa bagian dari padepokan itu. Bahkan mereka sempat memperhatikan bilik mereka dari luar meskipun hanya dari satu sisi.

 

Setelah keduanya membenahi diri, maka merekapun telah diundang oleh Puguh untuk makan malam. Ternyata bukan hanya mereka bertiga sajalah yang makan bersama, tetapi seorang lagi yang dipanggil Puguh dengan Paman.

 

Sambil makan maka orang yang dipanggil paman itu-pun telah memperkenalkan dirinya. Dengan ramah orang itu berkata, “Namaku Gagaklahan. Nama yang tidak pantas untuk disebut-sebut.”

 

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Mereka memperkenalkan diri dengan nama Wanengbaya dan Wanengpati.

 

“Aku sudah mendengar semuanya tentang kalian dari Puguh,“ berkata orang itu, “aku atas nama orang tuanya dan gurunya mengucapkan terima kasih atas kebaikan kalian berdua.”

 

“Ah,“ desah Sambi Wulung, “bukan apa-apa. Hanya secara kebetulan kami melakukannya.”

 

“Bukan kebetulan. Tetapi kalian benar-benar telah menolong Puguh. Obat yang kalian berikan, ternyata sangat berarti bagi luka-luka pada tubuh Puguh. Tanpa obat-obat itu, maka lukanya akan dapat menjadi sangat berbahaya baginya,“ berkata Gagaklahan.

 

Sambi Wulung dan Jati Wulung hanya mengangguk-angguk saja sambil tersenyum.

 

Demikianlah, maka pembicaraan merekapun kemudian telah berkisar tentang berbagai macam persoalan. Sambi Wulung dan Jati Wulung telah bertanya tentang padepokan itu. Sawah yang luas dan tatanan kehidupan yang berlaku di padepokan itu.

 

Gagaklahan tersenyum sambil menjawab beberapa hal yang tidak terlalu langsung berhubungan dengan dasar-dasar kepentingan padepokan itu. Namun terasa oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung bahwa banyak hal yang telah disembunyikannya.

 

Ketika mereka kemudian telah selesai makan malam dengan lauk yang disediakan khusus untuk menghormati tamu-tamunya, maka Puguhpun kemudian telah memper-silahkan Sambi Wulung dan Jati Wulung beristirahat.

 

“Masih terlalu sore,“ berkata Jati Wulung.

 

“Maaf, aku terlalu letih,“ berkata Puguh, “aku ingin beristirahat.”

 

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Mereka mengerti bahwa keadaan Puguh masih belum pulih seluruhnya. Karena itu, maka katanya, “Silahkan Puguh. Kau memang harus lebih banyak beristirahat. Kau akan merasa tenang tidur didalam bilikmu daripada tidur di gubug dalam hujan angin atau tidur sambil bersandar sebatang johon dipinggir jalan.”

 

Puguh tersenyum Namun katanya kemudian, “Aku minta maaf.”

 

Sepeninggal Puguh, maka orang yang dipanggilnya paman itupun minta diri pula. Katanya, “Ada tugas yang harus aku lakukan.”

 

“O, silahkan,“ sahut Sambi Wulung dan Jati Wulung hampir bersamaan.

 

Tetapi dengan demikian maka mereka berduapun sadar, bahwa mereka berdua harus masuk kedalam bilik mereka meskipun mereka belum merasa mengantuk. Adalah kurang pada tempatnya jika mereka berdua duduk di ruang dalam itu tanpa ada orang yang menemuinya.

 

Karena itulah, maka keduanyapun telah bangkit pula bersamaan dengan Gagaklahan. Sambi Wulungpun kemudian berkata, “Kamipun agaknya lebih baik untuk beristirahat barang sejenak.”

 

“Kalian dapat beristirahat semalam suntuk,“ jawab Gagaklahan sambil tertawa.

 

Sambi Wulung dan Jati Wulungpun tertawa pula. Mereka terbiasa beristirahat hanya untuk sejenak, karena mereka harus selalu siap menghadapi segala kemungkinan.

 

Demikianlah, maka Sambi Wulung dan Jati Wulungpun telah pergi pula kedalam biliknya. Sementara itu, malam memang sudah turun, sehingga langitpun menjadi kelam. Tetapi dalam kegelapan itu, ketajaman penglihatan Sambi Wulung dan Jati Wulung masih melihat dua orang yang berdiri dalam kelam sambil mengamati mereka berdua. Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung itu justru berpura-pura tidak menghiraukannya, sehingga akhirnya keduanyapun telah masuk kedalam bilik yang disediakan bagi mereka.

 

Tetapi kedua orang itu menjadi lebih berhati-hati. Keduanya telah mengamati dinding dari'bilik yang disediakan untuk mereka itu, sehingga akhirnya merekapun menda patkan satu lubang kecil yang nampaknya memang sengaja dibuat untuk dapat mengawasi orang yang ada didaiam bilik itu. Lubang yang langsung dapat mengintip ke pembaringan.

 

Karena itulah, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung yang menyadari bahwa mereka selalu diawasi itu, menjaga tingkah laku dan kata-kata mereka agar mereka tidak terjebak dalam kesulitan.

 

Dalam pada itu, Puguh yang berada didaiam biliknya, menunggu dengan gelisah kedatangan pamannya yang menyebut dirinya bernama Gagaklahan itu. Satu hal yang harus mereka bicarakan tentang kedua orang tamu Puguh itu, adalah apakah mereka percaya atau tidak terhadap keduanya.

 

Ketika pintu bilik Puguh diketuk, maka Puguhpun segera membukanya. Gagaklahan agaknya memang telah berada didepan pintu biliknya itu.

 

“Marilah paman,“ berkata Puguh mempersilahkan.

 

“Puguh,“ berkata Gagaklahan, “sebaiknya kita berusaha untuk mengurangi tanggung jawab. Biarlah kita menghadap gurumu. Apa kata gurumu tentang kedua orang itu. Bagiku, keduanya adalah orang orang yang sama sekali tidak dapat dipercaya. Mereka mempunyai kemampuan yang tinggi dan sengaja menolongmu agar mereka dapat ikut masuk kedalam padepokan ini.”

 

“Untuk apa mereka mengikutiku masuk ke padepokan ini? Mereka tidak mempunyai kepentingan apa-apa dengan aku dan dengan kita seluruhnya,“ berkata Puguh.

 

“Mungkin kita tidak tahu apakah pamrihnya. Tetapi menilik sikap, kata-katanya dan apa yang telah mereka lakukan sesuai dengan ceriteramu, maka keduanya justru harus dibinasakan. Mereka hanya berpura-pura baik terhadapmu. Mereka akan menjadi lebih berbahaya jika mereka benar-benar ingin merubah tatanan kehidupanmu. Karena apa yang kau lakukan sekarang ini benar-benar sudah sesuai dengan keinginan ayah dan ibumu,“ berkata Gagaklahan.

 

“Tetapi guru kadang-kadang bersikap agak berbeda,“ sahut Puguh.

 

“Yang berbeda adalah kulitnya. Tetapi isinya tetap sama,“ berkata Gagaklahan.

 

“Tetapi guru pernah berkata, bahwa aku wajib menilai tingkah lakuku menjelang usia dewasaku,“ berkata Puguh.

 

“Itu benar,“ berkata Gagaklahan, “jadi kau artikan apa pesan gurumu itu? Kau kira gurumu memberimu peringatan bahwa ada tingkah lakumu sekarang ada yang salah? Jika gurumu berpesan begitu, maka sebaiknya kau mengartikan, bahwa kau harus memiliki bekal yang cukup menjelang saat-saat dewasamu itu. Kau memang harus menilai apakah kemampuan yang ada sudah cukup bagimu.”

 

Puguh termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Kita menghadap guru.”

 

Demikianlah, maka diam-diam keduanya telah meninggalkan bangunan induk padepokan itu. Bahkan mereka telah keluar dari padepokan yang sebenarnya tidak lebih dari tempat persinggahan dari para pemimpinnya. Karena di tempat lain yang tidak begitu jauh terdapat padepokan lain yang lebih dirahasiakan lagi. Padepokan yang mempunyai wewenang lebih besar daripada padepokan yang mereka tinggalkan itu.

 

Dalam gelapnya malam, mereka berjalan dengan tergesa-gesa. Mereka menyusuri jalan setapak, yang sempit dan rumpil. Padepokan yang satu lagi memang terletak di balik padang perdu yang agak banyak ditumbuhi pepohonan, meskipun tidak selebat hutan.

 

Keduanya sama sekali tidak merasa cemas bahwa mereka akan bertemu dengan binatang buas. Keduanya merasa yakin bahwa mereka akan dapat membunuh jika mereka bertemu dengari seekor harimau. Apalagi orang yang menyebut dirinya Gagaklahan itu membawa busur dan anak panah sebagai senjata yang biasa dibawa untuk melintasi padang padang perdu dan bahkan untuk memasuki hutan. Karena dengan busur dan anak panah itulah Gagaklahan sering pergi berburu ketengah-tengah hutan yang lebat, keras dan liar itu.

 

Beberapa saat kemudian, maka mereka memang menembus hutan yang menjorok. Gelapnya malam bagaikan selimut hutan yang menutup pandangan. Namun mereka berdua telah sangat terbiasa menempuh jalan itu.

 

Ketika mereka muncul dibalik bagian dari hutan yang menjorok itu, maka tiba-tiba saja terdengar bunyi yang menghentak-hentak. Bukan bunyi binatang hutan meskipun agak mirip dengan suara seekor kera yang berongga dilehernya.

 

Gagaklahan telah menyahut dengan bunyi yang lain, tetapi yang ternyata adalah isyarat sandi. Tanpa dapat mengucapkan isyarat sandi, maka mereka tidak akan dapat meneruskan perjalanan karena mereka tentu akan dibantai sebagaimana hampir saja terjadi atas Puguh dan kedua orang yang bersamanya itu. Namun hal itu tidak pernah diceriterakannya kepada Gagaklahan.

 

Akhirnya kedua orang itupun telah mendekati sebuah padepokan yang lain sekali dari padepokan yang baru saja mereka tinggalkan. Padepokan yang berada direlung sebuah hutan yang lebat, dikaki sebuah bukit kecil yang terdiri dari batu-batu padas itu, nampaknya terlalu gelap dibandingkan dengan padepokan yang sebuah lagi.

 

Ketika Gagaklahan dan Puguh mendekati pintu gerbang, maka tiba-tiba saja dari arah yang tidak diketahui, beberapa orang bagaikan terbang ke arah mereka. Namun merekapun segera mengenali kedua orang itu, sehingga ke duanyapun telah diberi jalan untuk masuk kedalamnya.

 

Malam itu juga Puguh minta kepada pemimpin pengawal yang bertugas untuk bertemu dengan gurunya.

 

“Kenapa tidak besok saja?“ bertanya pemimpin pengawal itu.

 

“Aku memerlukan sekarang,“ jawab Puguh.

 

“Tetapi sudah terlalu malam,“ berkata pemimpin pengawal itu.

 

Wajah Puguh menjadi tegang. Katanya dengan nada keras, “jadi kau ingin persoalanku terlambat diselesaikan?”

 

Pemimpin pengawal itu termangu-mangu. Wajahnya yang keras menunjukkan sikap ragu-ragu menghadapi persoalan yang diminta Puguh itu. Namun Puguhpun akhirnya membentak, “Biar aku sendiri yang membangunkan guru.”

 

“Jangan,“ cegah pemimpin pengawal itu, “biarlah aku yang menyampaikannya.”

 

“Tidak,“ geram Puguh.

 

Ketika orang itu mencoba menghalangi Puguh, maka orang itupun telah didorongnya kesamping sambil berkata dengan nada keras, “Kau terlalu lamban. Di medan perang, lehermu telah putus ketika datang kesadaranmu untuk melawan.”

 

Orang itu tidak dapat mencegahnya lagi. Puguhlah yang kemudian memasuki ruang dalam.

 

Dua orang lagi berada di ruang dalam itu. Tetapi Puguh tidak menghiraukannya. Ketika keduanya berdiri mendekatinya, justru keduanya telah didorongnya menyibak.

 

Tetapi tidak seorangpun yang berani mengganggu Puguh, sehingga kedua orang pengawal itupun tidak berkata sesuatu. Mereka hanya menonton saja ketika Puguh mendekati pintu bilik gurunya.

 

Dalam pada itu Gagaklahan dan pemimpin pengawal yang bertugas telah masuk pula keruang dalam. Tetapi keduanya juga membiarkan Puguh kemudian mengetuk pintu bilik gurunya itu.

 

“Siapa? “ terdengar pertanyaan dari dalam bilik itu.

 

“Aku guru. Puguh,“ jawab Puguh.

 

Pintupun kemudian terbuka perlahan-lahan. Seorang yang rambutnya telah memutih berdiri sambil menyilangkan tangannya didada.

 

Puguh bergeser surut. Dipandanginya wajah orang tua itu. Wajah yang tenang berwibawa.

 

Orang tua itupun kemudian melangkah keluar. Seorang yang bertubuh kekar. Bajunya di jinjingnya, sementara ikat kepalanya disangkutkannya dibahunya.

 

Namun orang tua itu tersenyum. Katanya, “Aku sudah memperhitungkan kehadiranmu sekarang ini Puguh.

 

Puguh menundukkan kepalanya. Sementara itu gurunya berkata, “Duduklah.”

 

Puguhpun kemudian duduk disebuah amben panjang. Sementara itu gurunyapun berkata kepada para pengawal, “Tinggalkan Puguh dan Gagaklahan disini.”

 

Para pengawalpun kemudian meninggalkan ruang tengah itu dan berjaga-jaga diluar, dipendapa.

 

“Aku sudah mendapat laporan tentang semuanya yang terjadi,“ berkata gurunya.

 

“Ya guru,“ jawab Puguh.

 

“Kau membawa dua orang tamu yang sebelumnya kau jumpai mereka di Song Lawa,“ berkata gurunya.

 

“Ya guru,“ jawab Puguh.

 

“Pamanmu Gagaklahan telah mengirimkan seseorang untuk memberikan laporan tentang hal itu. Pamanmu tidak membenarkan sikapmu itu, karena kedua orang itu akan dapat membawa malapetaka bagi padepokan kita,“ berkata gurunya.

 

Jilid 11

 

PUGUH berpaling kepada Gagaklahan. Sambil menganggukkan kepalanya Gagaklahan berkata, “Sikapku memang demikian Puguh.”

 

“Tetapi bukankah kita memang tidak merahasiakan padepokan pertama kita itu? Karena itu aku tidak membawanya ke padepokan kedua ini. Bukankah kita sudah mengatakan kepada mereka, bahwa ayah dan ibu juga guru tidak ada di padepokan?“ berkata Puguh.

 

“Ayah dan ibumu memang pergi,“ berkata gurunya, “tetapi aku ada disini.”

 

“Apakah guru ingin menemuinya?“ bertanya Puguh.

 

Yang dengan serta merta menyahut adalah Gagaklahan, “Tentu tidak. Aku kira tidak ada gunanya sama sekali.”

 

Gurunya tersenyum. Katanya, “Biarlah aku menjawab sendiri, Gagaklahan.”

 

Gagaklahan menarik nafas dalam-dalam, sementara guru Puguh itu berkata, “Mungkin sikap kita dapat berbeda. Untunglah kali ini sikapku sama seperti sikapmu.”

 

“Jadi guru merasa tidak perlu untuk, menemuinya?“ bertanya Puguh.

 

Gurunya menggelengkan kepalanya. Katanya, “Biarlah ia mempunyai anggapan yang terbatas tentang padepokan pertama kita itu.”

 

“Aku merasa curiga dengan keduanya,“ berkata Gagaklahan, “apalagi ketika Puguh memberitahukan, bahwa seorang diantara mereka dapat mengalahkan Kepala Besi dari pesisir Utara.”

 

“Apa artinya Kepala Besi dari Pesisir Utara? “ gurunya tertawa pula. Lalu katanya, “Biarlah keduanya besok pergi. Perhatian kita justru lebih tertuju kepada peristiwa yang lain.”

 

“Peristiwa apa?“ bertanya Gagaklahan.

 

“Kau juga wajib mendengar Puguh, empat orang kita terbunuh semalam. Tidak ada petunjuk tentang para pembunuhnya. Tetapi menilik jejaknya, tidak lebih dari jumlah keempat orang yang terbunuh itu.”

 

Gagaklahan mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba saja ia bertanya kepada Puguh, “Kau tidak mengatakan hal itu kepadaku.”

 

“Apa yang dapat aku katakan,“ sahut Puguh, “aku tidak tahu apa-apa tentang hal itu. Jadi apa yang harus aku beritahukan?”

 

Gagaklahan menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu guru Puguh itupun tersenyum pula sambil berkata, “Kau kira Puguh terlibat didalamnya?”

 

Gagaklahan termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba saja ia berkata, “Aku dengan serta merta saja telah menduga, bahwa Puguh dan kedua orang itulah yang telah membunuh keempat orang itu.”

 

“Paman,“ wajah Puguh menjadi merah, “apakah paman berhak berkata seperti itu?”

 

“Aku ikut bertanggung jawab,“ berkata Gagaklahan, “ayah dan ibumu percaya kepadaku.”

 

“Dan karena itu maka paman tidak lagi percaya kepadaku?“ bertanya Puguh.

 

Gagak lahan tidak segera menjawab. Tetapi dari sorot matanya terpancar gejolak didadanya.

 

“Puguh,“ berkata gurunya, “sebaiknya kau memang berhati-hati terhadap kedua orang itu. Aku tidak bertemu langsung dengan mereka, sehingga aku tidak mendapatkan kesan yang bulat tentang mereka. Tetapi kau memang harus berhati-hati menghadapi orang yang baru saja kau kenal. Termasuk kedua orang yang bara kau kenal di Song Lawa itu. Sementara itu para pengawalmu tidak sempat menyelamatkan diri dari tangan para prajurit Pajang. Mungkin para prajurit Pajang tidak mempunyai kepentingan apapun dengan kau dan padepokan ini. Apalagi para pengawalmu itu tidak mempunyai pengenalan yang mendalam tentang padepokan ini selain padepokan pertama. Atau bahkan mungkin Pajang sama sekali tidak mempersoalkanmu. Tetapi ada kemungkinan lain, bahwa kedua orang itu juga mempunyai tugas sandi.”

 

“Tetapi bukankah padepokan pertama dikenal oleh orang-orang padukuhan dan bahkan sampai ke Gantar sebagai padepokan yang wajar saja dan tidak berbuat sesuatu yang merugikan orang lain? Meskipun letaknya yang terpisah, tetapi padepokan pertama mempunyai hubungan dengan orang-orang padukuhan. Orang-orang padukuhanpun tahu bahwa disekitar padepokan itu terbentang sawah dan petegalan,“ berkata Puguh.

 

“Bagi orang-orang padukuhan memang tidak ada persoalan apa-apa. Tetapi agaknya lain bagi orang-orang berilmu tinggi,“ jawab Gagaklahan.

 

“Tetapi keduanya bersikap baik, dan bahkan telah menolongku. Mereka dapat dikatakan telah menyelamatkan jiwaku,“ berkata Puguh kemudian.

 

Gurunya mengangguk-angguk. Meskipun nampak kerut dikening namun gurunya itu mencoba untuk tersenyum. Katanya dengan nada datar, “Sudahlah. Jangan dirisaukan lagi. Biarlah keduanya besok pergi. Apapun yang kita lakukan, mereka sudah ada dipadepokan kita. Jika kita berbuat kasar, maka kesan yang buruk itu akan dapat membuat mereka justru menjadi curiga. Tetapi jika mereka kita biarkan pergi, maka kesan mereka terhadap padepokan kita akan wajar saja. Bukan apa-apa.”

 

“Tetapi ada cara lain agar mereka tidak mendapat kesan apapun tentang padepokan kita,“ berkata Gagaklahan.

 

“Cara yang bagaimana?“ bertanya Puguh.

 

“Kita hapuskan mereka,“ jawab Gagaklahan.

 

“Itu tidak pantas,“ Puguh hampir berteriak, “mereka telah menolong aku. Kenapa mereka harus dibunuh?”

 

“Satu pertanda buruk pada sikapmu,“ berkata Gagaklahan, “kau tidak pernah mempedulikan kematian siapapun. Sekarang kau merasa berkeberatan jika kita membunuh kedua orang itu. Padahal kau tidak pernah mengenal sebelumnya.”

 

“Aku tidak pernah mempedulikan kematian orang yang tidak bersangkut paut dengan aku. Tetapi kedua orang ini pernah menolong aku, kau dengar paman.“ Puguh berteriak lebih keras.

 

“Sudahlah,“ berkata gurunya, “kau tidak pernah berteriak begitu. Katakan saja bahwa kau tidak setuju.”

 

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya gurunya dengan sorot mata yang aneh. Justru terpancar kecurigaan bahwa gurunya tidak akan melarang pembunuhan itu. Namun Puguh tidak dapat mengatakannya kepada gurunya itu.

 

“ Sudahlah,“ berkata gurunya, “kembalilah. Jika tamu-tamumu mencarimu, maka mereka akan menjadi curiga jika kau tidak ada.”

 

Puguh mengangguk-angguk. Sebenarnya masih ada yang ingin dikatakannya. Namun pandangan mata gurunya yang bagaikan menusuk langsung kejantungnya telah membuatnya menundukkan kepala.

 

Demikianlah maka Puguh bersama Gagaklahanpun telah menempuh jalan kembali ke padepokan pertama. Sementara malampun diliputi oleh kegelapan yang sepi. Yang terdengar hanyalah suara-suara cengkerik dan bilalang di rerumputan.

 

Bagaimanapun juga Puguh merasa cemas akan nasib kedua orang tamunya. Meskipun jantungnya sudah dilatih untuk menjadi beku menghadapi kematian, namun ternyata dari endapan yang paling dalam, masih juga terangkat ucapan terima kasih kepada dua orang yang dianggapnya telah menolongnya tanpa mengetahui maksud mereka yang sesungguhnya.

 

Karena itu, maka dijalan kembali ke padepokan semula, Puguh hampir tidak mengatakan apa-apa. Ia masih saja merenungi sikap dan kata-kata gurunya dan mencoba mencari artinya. Bahkan iapun menjadi ragu-ragu, apakah yang dimaksud oleh Gagaklahan sama dengan maksud gurunya.

 

Ketika keduanya kemudian memasuki padepokannya, maka Puguhpun langsung menuju kebiliknya. Tetapi ia masih menyempatkan diri untuk berjalan melewati bilik yang dipergunakan untuk kedua orang tamunya, Sambi Wulung dan Jati Wulung.

 

Namun agaknya kedua orang tamunya itu masih tertidur nyenyak.

 

Ketika kemudian Puguh berada di biliknya iapun tidak segera dapat tidur. Berbagai macam persoalan telah bergejolak didalam hatinya.

 

Memang kadang-kadang iapun menelungkup sambil menyembunyikan wajahnya dan berkata kepada diri sendiri, “Aku tidak peduli. Terserah kepada kedua orang itu, apakah mereka dapat melindungi diri mereka sendiri jika Gagaklahan benar-benar akan membunuh mereka. Itu bukan salahku. Aku bukannya seorang yang perasaannya lelah mati sebagaimana dikehendaki oleh Gagaklahan. Jika kematian itu harus menjemput keduanya, maka itu adalah salah Gagaklahan.”

 

Tetapi sesaat kemudian, kegelisahan, itu telah menghentak-hentak pula, sehingga ia harus berputar dan tidur menelentang sambil memandang atap.

 

Puguh hanya sempat tertidur beberapa saat saja menjelang dini hari. Ketika kemudian terdengar ayam jantan berkokok, maka iapun telah terbangun dan keluar dari biliknya.

 

Puguh sendiri tidak tahu, kenapa ketika ia melihat Sambi Wulung dan Jati Wulung yang dikenalnya bernama Wanengbaya dan Wanengpati itu, ia telah menarik nafas dalam-dalam. Seakan-akan sebuah beban yang berat telah diletakannya.

 

Ketika Puguh kemudian mendekatinya, ternyata bahwa keduanya justru telah mandi dan membenahi diri.

 

“Kau bangun pagi-pagi benar,“ desis Puguh.

 

“Ya. Kami masih harus menunaikan kewajiban kami,“ sahut Sambi Wulung.

 

“Kewajiban apa?“ bertanya Puguh.

 

Sambi Wulung tersenyum.

 

Ketika Sambi Wulung dan Jati Wulung kemudian masuk kembali kedalam bilik mereka, maka iapun telah duduk di serambi. Beberapa orang pengawal yang mengawasi kedua orang tamu Puguh itu dari kejauhan telah berkisar agak menjauh, karena kehadiran Puguh itu telah memberi kesempatan kepada mereka untuk beristirahat.

 

Sejenak kemudian, maka Sambi Wulung dan Jati Wulungpun telah keluar pula dari dalam bilik mereka. Untuk beberapa saat ketiganya sempat berbincang tentang keadaan padepokan itu. Dengan nada rendah Jati Wulung berkata, “Padepokan ini ternyata memiliki sejumlah cantrik yang telah ditempa sebagaimana para prajurit di Pajang. Mereka memiliki kesetiaan kepada tugas mereka dan melakukannya dengan sungguh-sungguh.”

 

“Ya,“ jawab Puguh, “kami menghendaki para cantrik yang taat kepada segala paugeran yang ada disini. Kamipun ingin bahwa para cantrik kelak akan menjadi orang yang benar-benar memiliki keteguhan kepada sikap dan keyakinannya.”

 

“Bagus,“ berkata Jati Wulung, “jika ketaatan yang hidup itu ditanamkan sejak dini, maka mereka akan mempunyai keteguhan sikap itu.”

 

“Apalagi lingkungan kami sebenarnya memang tidak menguntungkan,“ berkata Puguh.

 

“Maksudmu?“ bertanya Jati Wulung.

 

“Seperti yang telah kita alami. Tidak terlalu jauh dari padepokan kami terdapat tempat-tempat yang keras dan kasar. Dikehendaki atau tidak dikehendaki, maka harus berusaha untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Seperti sebuah kolam yang pada suatu saat akan penuh, maka airnya tentu akan melimpah. Karena itu, maka kita harus bersiap-siap jika mereka ternyata pada suatu saat akan memaksakan kehendak mereka kepada kami,“ berkata Puguh.

 

“Kenapa kalian mendirikan padepokan disini? Apakah tidak ada tempat lain yang lebih jauh dari tempat-tempat yang garang itu?“ bertanya Sambi Wulung.

 

“Kami berada disini lebih dahulu dari mereka,“ jawab Puguh, “kami sudah berada disini untuk waktu yang lama. Sementara mereka datang disaat aku sudah mengenal olah kanuragan. Namun kekasaran dan ketamakan mereka telah membuat mereka melakukan perluasan dari apa yang mereka sebut lingkungan mereka dengan memberikan pertanda-pertanda yang memang dapat menggetarkan jantung.”

 

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk, sementara Puguh berkata selanjutnya, “Tetapi kami tidak akan dapat mereka takut-takuti. Kami akan berada disini untuk seterusnya. Jika mereka berusaha mengusir kami, maka kamilah yang akan memaksa mereka pergi.”

 

“Mudah-mudahan tidak ada persoalan,“ desis Sambi Wulung.

 

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian dengan nada berat ia berkata, “Karena itu, aku justru ingin berpesan kepada kalian. Berhati-hatilah jika kalian nanti meninggalkan padepokan ini. Perjalanan kalian akan dapat terantuk pada ketamakan mereka, karena dibeberapa tempat memang telah diletakkan tanda-tanda seperti itu.”

 

“Aku akan meninggalkan padepokan ini disiang hari,“ berkata Sambi Wulung.

 

“Siang atau malam tidak ada bedanya,“ jawab Puguh.

 

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Sementara itu Jati Wulung pun berkata, “Apakah tidak ada jalan yang aman keluar dari padukuhan ini? Bagaimana jika kami kembali ke Gantar sebagaimana kami datang?”

 

“Tentu. Kalian memang harus melalui Gantar. Namun yang aku cemaskan adalah, jika kalian tiba-tiba saja bertemu dengan orang-orang yang telah memasang tanda-tanda itu. Meskipun jalan dari padepokan ini ke Gantar tidak ada tanda-tanda itu, tetapi bahaya akan dapat kalian temui setiap saat,“ berkata Puguh.

 

“Apakah hal itu juga berlaku bagi penghuni padepokan ini?“ bertanya Jati Wulung.

 

“Jika mereka mengenali orang dari padepokan ini, mereka memang tidak akan mengganggu karena mereka juga harus memperhitungkan kemungkinan akan datangnya pembalasan. Tetapi bukankah kalian bukan orang padepokan ini?“ bertanya Puguh.

 

“Tetapi kami adalah tamumu,“ berkata Jati Wulung, “bukankah akan dapat terjadi kemungkinan yang sama karena kau tentu akan merasa tersinggung.”

 

“Soalnya adalah bahwa mereka tidak mengenal kalian sebagai tamuku. Apa pun yang akan aku lakukan kemudian, jika kau sudah ditelan oleh bencana, maka kalian tidak akan dapat dipulihkan kembali,“ berkata Puguh.

 

“Jika demikian, apakah sebaiknya kami tetap di sini?“ bertanya Jati Wulung.

 

“Tidak,“ jawab Puguh, “sebaiknya kalian meninggalkan padepokan ini segera. Ada diantara orang-orang padepokan ini yang mencurigai kalian.”

 

“Kenapa kami dicurigai?“ bertanya Sambi Wulung.

 

“Kalian memang pantas dicurigai. Akupun kadang-kadang masih bertanya-tanya, kenapa kalian begitu memaksa untuk mengikuti aku datang ke padepokan ini. Akupun menjadi heran begitu mudahnya kau membunuh orang-orang yang menyerang kita di dekat tanda yang menakutkan itu,“ jawab Puguh.

 

“Jadi ada diantara kalian, dan bahkan kau, yang mencurigai kami, bahwa justru kami adalah orang-orang yang dikirim oleh kelompok yang membayangi padepokanmu ini? Mungkin kami dengan sengaja berusaha memasuki padepokan ini untuk melihat-lihat keadaan di dalamnya, bahkan kekuatan yang tersimpan disini?“ bertanya Jati Wulung.

 

“Orang yang menaruh kecurigaan kepada orang lain kadang-kadang tidak memikirkan alasan yang tepat. Atau bahkan telah membuat alasan-alasan yang tidak perlu masuk akal,“ jawab Puguh.

 

Jati Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “baiklah. Kami akan meninggalkan padepokan itu siang ini.”

 

Wajah Puguh tiba-tiba menjadi suram. Dengan nada rendah ia berkata, “Aku minta maaf, bahwa aku tidak dapat memberikan kesempatan kepada kalian untuk beristirahat disini. Tetapi aku tetap merasa berterima kasih kepada kalian atas segala pertolongan kalian. Tanpa kalian, mungkin aku tidak akan dapat pulang ke padepokan ini.”

 

Sambi Wulung dan Jati Wulung tersenyum. Yang menjawab adalah Sambi Wulung, “Aku dapat mengerti. Orang-orang padepokan ini tidak melihat dan tidak mengalami apa yang terjadi sebagaimana kau alami sepanjang perjalanan kembali dari Song Lama. Karena itu maka mereka tidak dapat membayangkannya dengan baik dan bahkan yang timbul adalah kecurigaan. Apalagi jika kau sendiri juga menjadi curiga.”

 

Puguh menundukkan kepalanya. Dengan nada berat ia berkata, “Aku minta maaf. Aku benar-benar tidak dapat berbuat lebih baik meskipun kalian telah menyelamatkan aku. Sekali lagi aku berpesan berhati-hatilah kalian diperjalanan. Bukan saja di jarak antara padepokan ini sampai ke Gantar. Tetapi juga setelah kalian meninggalkan Gantar menuju ke manapun.”

 

“Terima kasih atas peringatan itu,“ jawab Sambi Wulung.

 

Namun ketika keduanya akan meninggalkan padepokan itu segera, Puguh masih minta agar mereka makan lebih dahulu.

 

“Aku tahu kalian mempunyai bekal uang cukup banyak. Kalian dapat singgah di kedai dan makan apapun yang kalian inginkan. Tetapi aku minta kalian makan disini sekali lagi sebelum kalian pergi,“ berkata Puguh.

 

Keduanya tidak menolak. Merekapun kemudian makan bersama-sama dengan Puguh dan Gagaklahan.

 

Baru setelah makan, keduanya telah minta diri.

 

Ternyata Gagaklahan cukup ramah menghadapi keduanya. Sambil tersenyum ia berkata, “Kapan saja jika kalian ingin singgah di padepokan ini akan kami terima dengan senang hati. Sebenarnya kehadiran orang-orang yang memiliki nama seperti kalian sangat menyenangkan. Sayang, bahwa kalian hanya bersedia bermalam satu malam saja.”

 

Sambi Wulunglah yang menjawab, “Terima kasih Ki Sanak. Pada kesempatan lain, kami akan singgah.”

 

Demikianlah, maka sejenak kemudian kedua orang itupun telah meninggalkan padepokan itu. Mereka tidak perlu mencari-cari jalan keluar menuju Gantar. Pengenalan mereka sebagai pengembara sangat tajam, sehingga sekali mereka lewat, mereka akan dapat mengingatnya dengan baik.

 

Dalam pada itu, sepeninggal Sambi Wulung dan Jati Wulung, Gagaklahanpun berkata, “benar-benar mencurigakan. Kau tidak usah menghiraukan apa yang akan terjadi atas mereka.”

 

Puguh tidak menjawab. Tetapi iapun segera pergi meninggalkan orang yang dianggapnya pamannya itu.

 

Sementara itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah berada diperjalanan menuju ke Gantar. Dengan nada rendah Jati Wulung bergumam seakan-akan ditujukan kepada dirinya sendiri, “Puguh tentu menjadi bingung. Kecurigaan orang-orang padepokan itu membuatnya kehilangan sikap terhadap kami. Sekali-sekali ia memperingatkan agar kami berhati-hati menghadapi gerombolan yang memasang tanda-tanda topeng kecil itu. Tetapi pada saat yang lain, ia justru mencurigai bahwa kami adalah bagian dari orang-orang yang membayangi padepokannya dengan pertanda-pertanda itu dan bahkan sikap yang keras dan kasar.”

 

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Kecurigaan itu tentu tidak bersumber pada Puguh. Tentu saja orang-orang padepokan itu tidak akan menuduh kita berasal dari gerombolan yang membayangi padepokan itu, karena aku justru menganggap bahwa disamping padepokan yang kita lihat itu, tentu ada padepokan bayangan. Nah, padepokan bayangan itulah yang telah membentuk diri menjadi padepokan yang keras, kasar dan mencerminkan watak yang sebenarnya dari orang tua Puguh. Jadi gerombolan yang lain bukannya membayangi padepokan yang baru saja kita kunjungi, tetapi justru bayangannya yang jauh lebih gelap dan kelam.”

 

“Memang masuk akal,“ jawab Jati Wulung, “dua padepokan dengan dua wajah yang berbeda, tetapi dibawah satu perintah. Tetapi mengenai Puguh sendiri, agaknya ia mulai berpikir tentang dirinya sendiri.”

 

“Ya,“ sahut Sambi Wulung, “jika kita sempat berhubungan dengan anak muda itu lebih lama, maka kita akan dapat membuka pikirannya. Aku masih mempunyai kepercayaan kepadanya.”

 

“Kita tidak tahu, siapakah gurunya dan bagaimana sikapnya,“ berkata Jati Wulung kemudian, “sikap dan pandangan seorang guru akan lebih berpengaruh terhadap seorang murid daripada sikap ayah dan ibunya sendiri jika anak itu bulat-bulat diserahkan kepada seorang guru di sebuah padepokan.”

 

“Tetapi pertanda topeng kecil itu adalah satu gambaran sikap padepokan bayangan dari padepokan Puguh itu,“ berkata Sambi Wulung kemudian.

 

Jati Wulung mengangguk-angguk. Tetapi sebenarnyalah merekapun belum dapat menemukan satu keyakinan yang bulat. Semuanya masih merupakan dugaan-dugaan meskipun mereka mempunyai alasan-alasan yang kuat.

 

Namun dalam pada itu, Sambi Wulungpun berkata, “Bagaimanapun juga peringatan Puguh agar kami berhati-hati itu merupakan peringatan yang benar-benar harus kita perhatikan. Tentu ia telah mendengar satu rencana yang akan ditrapkan terhadap kita berdua.”

 

Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam. Memang banyak hal yang dapat terjadi. Namun sambil melangkah terus ia berkata, “Apa salahnya untuk selalu berhati-hati.”

 

Sebagaimana saat mereka datang, maka merekapun telah menempuh jalan kembali melalui Gantar. Jalan yang melewati tepi hutan yang lebat. Hutan yang masih dihuni segala macam binatang buas dan ular-ular raksasa yang berkeliaran.

 

Tetapi kedua orang yang mempunyai pengalaman yang luas itu sama sekali tidak gentar, sebagaimana orang-orang padepokan Puguh yang justru sering berburu binatang di hutan itu.

 

Tetapi keduanyapun sama sekali tidak mendapat gangguan dari binatang-binatang buas di hutan itu, sehingga akhirnya merekapun telah menempuh jalan yang menjauhi hutan itu, memasuki padang perdu yang gersang.

 

Panas matahari yang mulai mencubit kulit mereka telah memanasi pula rerumputan dipadang perdu itu. Daun-daun yang menua telah menjadi kuning dan kemudian berguguran ditanah.

 

Namun kedua orang itu berjalan terus. Meskipun keringat mulai membasahi tubuh mereka, tetapi mereka tidak merasa segan untuk melangkah terus.

 

Akhirnya, merekapun mulai memasuki tanah persawahan yang digarap oleh orang-orang padukuhan kecil yang tersebar. Dari padukuhan yang satu sampai kepa-dukuhan berikutnya, mereka tidak lagi merasa terpanggang oleh panasnya matahari yang meskipun menjadi semakin tinggi. Beberapa batang pohon turi tumbuh berjajar di pinggir jalan. Meskipun daunnya tidak terlalu lebat, tetapi cukup rimbun untuk melindungi para pejalan kaki ditengah-tengah bulak itu.

 

Ketika mereka mendekati padukuhan induk Kademangan Gantar, Jati Wulungpun berkata, “Sampai disini kita tidak menemukan hambatan apapun juga.”

 

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Kita baru sampai ke Gantar. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi setelah kita melewati Gantar ini.”

 

“Apakah mereka tahu, dari Gantar kita akan pergi kemana?“ bertanya Jati Wulung.

 

“Mereka mempunyai seribu mata yang tersebar disekitar padepokan mereka dan mempunyai seribu telinga yang dipasang dipepohonan dipinggir-pinggir jalan,“ jawab Sambi Wulung.

 

Jati Wulungpun mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Apapun yang akan mereka lakukan, asal saja kita berhati-hati. Bahkan mungkin mereka akan dapat berbuat sesuatu atas kita dengan cara yang sangat licik dan tidak kita duga sebelumnya.”

 

“Ya. Memang mungkin saja terjadi. Sedangkan kita tidak akan membiarkan diri kita diterkam oleh bencana apapun juga,“ sahut Sambi Wulung.

 

Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun ia tidak menjawab lagi. Perhatiannya mulai tertuju kepada Kademangan induk dihadapan mereka.

 

Demikian mereka memasuki padukuhan induk Kademangan Gantar, maka mereka bersepakat untuk singgah disebuah kedai. Bukan sekedar untuk melepas haus dan lapar. Tetapi mereka ingin mendengar pembicaraan orang dikedai itu tentang keadaan Kademangan mereka.

 

Namun ternyata bahwa orang-orang yang berada di kedai itu tidak seorangpun yang mengeluh tentang peristiwa-peristiwa buruk yang pernah terjadi karena kelakuan orang-orang jahat. Bahkan rasa-rasanya padukuhan induk itu memang tenang dan tenteram.

 

Tetapi keduanya memang tidak dapat menganggap bahwa diri mereka telah terlepas dari kemungkinan buruk sebagaimana diperingatkan oleh Puguh.

 

“Seperti yang pernah kita bicarakan,“ berkata Jati Wulung, “biasanya sekelompok penjahat tidak melakukan kejahatan atas tetangga sendiri.”

 

Di kedai itu mereka tidak mendapatkan keterangan apa-apa tentang hubungan antara Gantar dengan orang-orang di padukuhan yang dihuni oleh Puguh, maupun padepokan atau gerombolan lain yang telah memasang pertanda tertentu di tempat-tempat yang dianggap lingkungan mereka agar tidak disentuh oleh orang lain.

 

Karena itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung itu-pun telah melanjutkan perjalanan mereka meninggalkan padukuhan induk Gantar. Bahkan kemudian merekapun telah melintasi beberapa padukuhan lain di Kademangan Gantar.

 

Sambi Wulung dan Jati Wulung justru mulai membuat perhitungan tersendiri ketika mereka telah keluar dari Kademangan Gantar. Mereka mula memasuki bulak-bulak panjang diantara padukuhan-padukuhan yang tersebar. Sawah yang terbentang seakan-akan sampai ke cakrawala, menggapai kaki pegunungan.

 

“Rasa-rasanya tenaga para penghuni padukuhan itu tidak akan mampu mengerjakan sawah seluas ini,“ berkata Jati Wulung.

 

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Kerja keras dari para petani. Tetapi lihat, dibagian itu agaknya sawah dikerjakan tidak sebagaimana disisi yang lain.”

 

Jati Wulung menangguk-angguk. Ketika mereka melintasi daerah itu, maka mereka memang melihat, bahwa agaknya di kotak-kotak sawah itu, air agak lebih sulit didapat dari bagian yang lain, sehingga yang ditanam di bagian itu adalah padi dari jenis yang tidak terlalu banyak memerlukan air. Padi gaga.

 

“Sebentar lagi, daerah ini akan menjadi daerah pategalan. Lihat, beberapa macam pohon telah ditanam di pematang,“ berkata Sambi Wulung.

 

Jati Wulung mengangguk-angguk. Diluar sadarnya iapun berhenti dan mengamati beberapa jenis pohon buah-buahan yang mulai tumbuh dengan subur.

 

Namun tiba-tiba saja kening Jati Wulung berkerut. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Karena itu, maka dengan nada rendah ia berdesis perlahan-lahan, “Apakah kau melihat sesuatu?”

 

“Ya. Bukankah benar seperti yang aku katakan. Mereka tahu ke arah mana kita akan pergi? “ justru Sambi Wulunglah yang kemudian bertanya, “berapa orang yang telah kau lihat?”

 

“Aku baru melihat seorang,“ desis Jati Wulung.

 

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Marilah. Kita berjalan terus. Mudah-mudahan sekedar prasangka kita saja. Jika orang itu adalah seorang petani yang sedang bekerja di sawah, maka kita telah bersalah. Agaknya jantung kitalah yang dipenuhi dengan kecurigaan.”

 

Jati Wulungpun mengangguk-angguk pula. Tetapi iapun kemudian berkata, “Mudah-mudahan. Tetapi seorang petani tidak akan langsung berusaha menghilang di balik tanaman disawah melihat kehadiran kita.”

 

“Agaknya kita memang harus berhati-hati,“ berkata Sambi Wulung.

 

Demikianlah maka kedua orang itu telah melanjutkan perjalanan mereka, melintasi bulak panjang yang sepi. Rasa-rasanya orang-orang yang mengerjakan sawahpun tidak kelihatan pula. Sementara itu tanaman padi yang tumbuh semakin besar agaknya sudah perlu disiangi.

 

Namun kedua orang itu terkejut ketika tiba-tiba saja mereka melihat sebatang anak panah yang meluncur ke udara dari balik sebongkah batu padas.

 

Sambi Wulung dan Jati Wulung berpandangan sejenak. Sementara itu matahari telah mulai turun dibelahan langit sebelah Barat. Dengan dahi yang berkerut Sambi Wulung berkata, “Nah, kita sudah harus melakukannya. Apaboleh buat. Kita tidak dapat sekedar bermain-main. Mungkin kita benar-benar harus membunuh dalam keadaan seperti ini.”

 

“Mereka tentu sudah memperhitungkan kemampuan kita,“ berkata Jati Wulung.

 

Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Marilah, Kita berjalan terus.”

 

Keduanyapun berjalan terus. Seakan-akan mereka tidak menghiraukan anak panah yang terbang melintasi jalan yang mereka lalui.

 

Namun sejenak kemudian, maka beberapa orangpun telah berloncatan dari balik batang-batang padi pada jarak yang agak jauh dari jalan yang melintasi bulak panjang itu.

 

“Merekapun sangat berhati-hati,“ berkata Sambi Wulung, “mereka mengikuti kita dari jarak yang sangat jauh.”

 

“Satu pertanda bahwa mereka memperhitungkan banyak kemungkinan. Agaknya Puguh telah menceriterakan apa yang terjadi di Song Lawa,“ desis Jati Wulung.

 

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Justru karena mereka mengetahui tataran kemampuan mereka berdua, maka mereka agaknya telah bertindak sangat berhati-hati.

 

Tetapi Sambi Wulung dan Jati Wulung berjalan terus tanpa menghadapi segala kemungkinan.

 

Namun dalam pada itu, Sambi Wulung sempat berbisik, “Tentu bukan rencana Puguh. Justru anak muda itu telah memberikan isyarat kepada kita untuk berhati-hati.”

 

Jati Wulung mengangguk sambil menjawab, “Ya. Bukan salah anak muda itu.”

 

Dalam pada itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung menyadari, bahwa beberapa orang telah meniti pematang, mendahului perjalanan mereka. Beberapa orang diantara mereka telah meloncati parit dan kemudian berada di jalan yang dilalui oleh kedua orang itu.

 

“Nampaknya mereka tidak begitu cerdas berpikir,“ berkata Jati Wulung.

 

Sambi Wulung tersenyum. Katanya, “Nampaknya orang itu berilmu tinggi. Tetapi otaknya memang agak tumpul. Yang lain tentu lebih dungu lagi meskipun mereka sudah terbiasa melakukan tindak kekerasan.”

 

Keduanya tidak berbicara lagi. Tetapi perhatian mereka tertuju kepada seorang diantara mereka yang mempergunakan topeng. Kedua orang itu langsung dapat mengenalinya meskipun wajahnya tidak kelihatan. Selain bentuk tubuhnya, juga karena orang itu justru memakai topeng, sementara yang lain tidak. Dengan demikian orang itu tentu berusaha menyembunyikan wajahnya yang sudah dikenal oleh kedua orang yang dicegatnya.

 

Karena itu, demikian orang itu berdiri ditengah jalan dengan tangan bertolak pinggang, maka Sambi Wulung dan Jati Wulungpun berdesis hampir bersamaan, “Gagaklahan.”

 

Sementara itu Sambi Wulung dan Jati Wulungpun sempat menghitung orang-orang yang kemudian telah berloncatan pula dan berdiri disebelah menyebelah orang bertopeng itu.

 

“Enam orang,“ berkata Jati Wulung.

 

“Jumlah yang berat,“ berkata Sambi Wulung.

 

“Apaboleh buat,“ jawab Jati Wulung.

 

Namun dalam pada itu, keduanya masih saja berjalan terus.

 

Keduanya baru berhenti ketika orang-orang itu mengangkat tangannya dan memberikan isyarat kepada keduanya untuk berhenti.

 

“Kenapa kau menghentikan perjalanan kami Ki Sanak?“ bertanya Sambi Wulung.

 

“Kau telah berada didalam daerah kekuasaanku tanpa ijinku,“ jawab orang bertopeng itu. Suaranya serak dan bergetar dibalik topengnya. Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung mengerti, bahwa orang itu berusaha untuk tidak dikenali.

 

Orang itu menjadi heran, bahwa kedua orang yang dihentikan itu perhatiannya justru pada topengnya. Jati Wulung sambil tersenyum bertanya, “Kenapa kau memakai topeng, sementara kawan-kawanmu tidak?”

 

Orang itu memang agak menjadi bingung untuk menjawab. Namun kemudian katanya, “Tidak semua orang boleh mengenal wajahku yang sebenarnya. Hanya orang-orang penting sajalah yang pantas untuk melihat wajahku.”

 

“Apakah wajahmu cacat?“ bertanya Jati Wulung pula, “bibirmu sumbing misalnya. Atau matamu buta sebelah atau hidungmu gerumpung.”

 

“Cukup,“ orang itu berteriak, “kami datang untuk membunuhmu.”

 

Sambi Wulung justru tertawa. Katanya, “Jika kau marah, maka kau telah lupa merubah suaramu. Apalagi saat suaramu melengking, meskipun dibalik topengmu.”

 

Telinga orang itu bagaikan disentuh api. Sementara Jati Wulung justru bertanya, “Siapakah kau sebenarnya Ki Sanak? Apakah kau yang bernama Gagaklahan?”

 

“Anak iblis,“ orang itu mengumpat, “tidak ada hubungannya dengan Gagaklahan.”

 

“Bukalah topengmu. Tidak ada gunanya dihadapan kami,“ berkata Sambi Wulung, “pengenalan kami atas seseorang cukup tajam, sehingga tidak sekedar terbatas pada wajah seseorang. Kami mengenali bentuk tubuhmu. Caramu melangkah, suaramu yang meskipun kau samarkan dan banyak hal lagi yang dapat kami kenali. Karena itu topeng itu tidak ada artinya sama sekali. Barangkali hanya akan mengganggu pandanganmu saja, karena dengan topeng itu, kau tidak dapat melihat bebas sebagaimana jika kau tidak memakainya.”

 

Terdengar orang itu mengumpat. Namun ia benar-benar telah membuka topengnya. Sebenarnyalah bahwa orang itu adalah Gagaklahan.

 

“Ki Sanak,“ berkata Sambi Wulung kemudian, “kau membuat kami menjadi heran. Apa pula salah kami, sehingga kau membawa beberapa orang kawanmu menghentikan perjalanan kami? Jika kau menganggap kami mengganggumu di padepokanmu, maka kami sudah dengan tergesa-gesa pergi.”

 

“Ki Sanak,“ berkata Gagaklahan, “sayang skali bahwa kami harus mengambil langkah pengandabgan. Kehadiran kalian berdua di padepokan kami sangat mencurigakan. Kalian bukan orang-orang kebanyakan yang tidak mempunyai penilaian tertentu terhadap padepokan kami. Tetapi justru karena kalian memiliki ketajaman pengamatan, maka kau bukan orang yang pantas untuk mengunjungi padepokan kami.”

 

“Bukankah kami datang ke padepokanmu untuk mengantarkan Puguh yang mengalami kesulitan di Song Lawa dan juga diperjalanan kembali?“ jawab Sambi Wulung. Lalu, “Bukankah sepantasnya kalian justru berterima kasih kepada kami?”

 

“Kau sangka kami tidak tahu, bahwa yang kalian lakukan tidak lebih dari sikap pura-pura? Kau antar Puguh sampai ke padepokannya. Tetapi yang penting bagi kalian bukan keselamatan Puguh, tetapi dengan demikian kalian akan dapat melihat-lihat isi padepokanku,“ berkata Gagaklahan.

 

“Buat apa aku mengintai isi padepokanmu? Aku tidak mempunyai kepentingan sama sekali. Kau kira kami ini siapa? Kami adalah dua orang pengembara yang menjelajahi tempat-tempat di atas tanah ini. Kami memasuki lingkungan perjudian yang satu dan lingkungan perjudian yang lain. Gersik, Bergota, Pajang, Song Lawa dan tempat-tempat lain. Bahkan kami telah sampai ke tempat perjudian yang tersembunyi di sebelah Selatan Ceribon dan Kedung Pring di Wanasaba,“ berkata Sambi Wulung pula.

 

“Apapun yang kau katakan tidak akan dapat menyelamatkan umurmu. Marilah, ikuti kami. Kita akan memilih tempat yang baik bagi saat-saat terakhir kalian,“ berkata Gagaklahan.

 

“Maksudmu?“ bertanya Sambi Wulung.

 

“Kami dapat membunuh kalian dengan seribu macam cara,“ berkata Gagaklahan, “jika kau menurut cara yang kami tawarkan, maka kematian kalian akan berjalan rancak dan baik. Tetapi jika kalian menolak, kami akan memilih cara yang jauh lebih buruk. Mungkin kalian akan bertahan sampai empat lima hari sebelum kalian benar-benar mati.”

 

“Itu mengerikan sekali,“ sahut Jati Wulung, “ternyata bahwa kau adalah iblis yang paling garang. Kami menyangka bahwa kau benar-benar seorang yang ramah sebagaimana kau menerima kedatangan kami di padepokanmu.”

 

“Sudahlah,“ berkata Gagaklahan, “nasib seseorang kadang-kadang memang tidak dapat dilihat sebelumnya. Sekarang bersiaplah untuk mati.”

 

“Kau akan menusuk jantung kami?“ bertanya Jati Wulung.

 

“Tetapi tidak disini. Marilah, lebih baik kita pergi ke kuburan. Kau akan memperingan pekerjaan kami. Tetapi kaupun akan mengurangi kengerian disaat-saat matimu,“ berkata Gagaklahan.

 

Sambi Wulung dan Jati Wulung saling berpandangan sejenak. Yang menjawab kemudian adalah Sambi Wulung. “Baiklah. Barangkali kami harus bijaksana disaat terakhir ini. Jumlah kalian terlalu banyak bagi kami.”

 

“Bagus,“ berkata Gagaklahan,“ berjalanlah.”

 

“Kemana?“ bertanya Sambi Wulung.

 

“Ikuti jalan ini. Kami akan memberikan aba-aba.” jawab Gagaklahan.

 

Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak membantah. Mereka berjalan sambil menundukkan kepala. Sementara beberapa orang mengikutinya dibelakang.

 

Ketika mereka sampai disimpang empat, maka Gagaklahan telah memberikan aba-aba untuk berbelok kekiri. Kemudian beberapa ratus patok mereka berbelok lagi ke kanan dan masih sekali lagi ke kiri.

 

Ketika Sambi Wulung dan Jati Wulung memandang lurus kedepan, maka mereka menyadari, bahwa jalan itu adalah jalan yang menuju kesebuah bukit kecil di tengah-tengah bulak yang luas. Diatas bukit kecil itu terdapat sebuah kuburan tua yang sudah tidak dipergunakan lagi kecuali membiarkan kuburan itu sebagaimana adanya.

 

Sambi Wulung dan Jati Wulung sempat berpandangan sejenak. Namun kemudian mereka telah memperhatikan beberapa pohon semboja yang sudah menjadi tua pula dan berdaun rimbun dengan cabang-cabangnya yang besar-besar serta bunganya yang semerbak dengan baunya yang khusus. Sementara ditengah-tengah kuburan lebih besar lagi adalah sebatang pohon cangkring yang beberapa dahan dan rantingnya telah menjadi lapuk.

 

“Pandanglah kedepan,“ berkata Gagaklahan, “kalian akan mendapat tempat beristirahat yang tenang dan tidak akan terganggu lagi.”

 

Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak menjawab. Namun ketika mereka sampai di regol kuburan yang telah rusak itu, maka langkah merekapun terhenti.

 

“Kita akan masuk kedalam,“ berkata Gagaklahan, “didalam kuburan itu sudah terdapat beberapa macam alat untuk menggali kubur. Nah, tugas kalian adalah menggali kubur kalian masing-masing. Kemudian berbaring didalamnya. Kami akan menusuk kalian tepat di jantung.”

 

“Apakah kalian mempunyai cara yang lain?” bertanya Sambi Wulung.

 

“Sudah aku katakan, bahwa kami mempunyai seribu cara. Kami dapat mengikat kalian pada batang pohon cangkring raksasa itu. Kalian harus tahu, bahwa pada batangnya yang besar itu terdapat sarang semut merah. Semut itu adalah semut yang sangat rakus. Namun semut-semut itu tentu akan dapat membunuh kalian sekaligus. Semut itu akan makan bagian-bagian tubuh kalian yang lunak,“ berkata Gagaklahan.

 

“Mengerikan sekali,“ desis Jati Wulung, “cara itu hanya dilakukan oleh iblis-iblis yang bengis.”

 

“Kami memang termasuk iblis yang kau maksud,“ berkata Gagaklahan sambil tertawa.

 

Jati Wulung menggeretakkan giginya, sementara Gagaklahanpun berkata, “Karena itu, maka aku telah menyediakan cara yang paling baik buat kalian karena kalian tidak melawan. Berbaring di lubang kubur dan satu tusukan yang akan menembus jantung. Kalian akan mati sambil tersenyum disaat terakhir serta mengucapkan terima kasih untuk yang penghabisan.”

 

Sambi Wulung dan Jati Wulung kemudian memandangi keadaan disekitarnya. Memang menyeramkan. Meskipun disiang hari, namun tempat itu telah dilindungi oleh bayangan dedaunan yang pepat oleh pohon-pohon yang besar serta pohon-pohon semboja yang tua, sehingga rasa-rasanya sinar matahari tidak dapat menggapai tanah pekuburan yang lembab berlumut.

 

“Nah, kalian sempat memilih tempat,“ berkata Gagaklahan, “sebaiknya kalian menggali lubang kubur sebelah menyebelah. Mungkin didalam kubur kalian sempat berbincang.”

 

Sambi Wulung dan Jati Wulung masih memandang berkeliling. Namun kemudian Sambi Wulungpun berkata, “Maaf Ki Sanak. Tidak ada tempat yang menarik bagiku disini. Apakah tidak ada tempat lain yang lebih baik? Yang tidak terlindung bayangan rimbunnya dedaunan sehingga nampak gelap dan menyeramkan.”

 

“Tidak ada tempat lain,“ jawab Gagaklahan. Lalu, “Cepatlah. Jangan menunggu kami berubah pikiran. Jika kami merubah keputusan kami dan menentukan cara kematian kalian yang lain, maka kalian akan menyesal.”

 

“Tetapi dengan apa kami harus menggali kubur kami?“ bertanya Jati Wulung.

 

Gagaklahan termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya kepada salah seorang pengikutnya, “Ambil cangkul itu.”

 

Dua orang diantara keenam orang yang menyertainya itu telah menyusup kebawah pohon benda yang berdaun lebat. Mereka telah mengambil dua buah cangkul dari dalam semak-semak dan membawanya kepada Gagaklahan.

 

“Berikan kepada mereka,“ berkata Gagaklahan.

 

Kedua orang itupun telah menyerahkan cangkulnya kepada Sambi Wulung dan kepada Jati Wulung.

 

“Nah, sekarang lakukan. Jangan berbuat yang aneh-aneh, sehingga dapat merubah keputusanku yang terlalu baik bagi kalian,“ geram Gagaklahan.

 

Sambi Wulung dan Jati Wulungpun berpandangan sejenak. Namun kemudian Sambi Wulungpun berkata, “Bagaimana jika kalian saja yang menggali kubur ini? Mungkin lebih baik kalian sajalah yang mati lebih dahulu daripada aku.”

 

Enam orang pengikut Gagaklahan itu terkejut. Namun Gagaklahan hanya mengerutkan keningnya. Kemudian katanya kepada orang-orangnya, “Kepung mereka. Jangan beri kesempatan lolos. Agaknya mereka memang lebih suka menjadi makanan semut merah. Pada batang pohon cangkring itu terdapat semut merah yang tidak terhitung jumlahnya, yang akan dapat menghabiskan kedua orang itu meskipun sedikit demi sedikit.”

 

Keenam orang itupun segera berloncatan diantara gundukan-gundukan tanah kuburan dan batu-batu nisan tua yang sudah tidak terawat.

 

Mereka menjadi semakin heran melihat Jati Wulung itu tertawa. Katanya, “Kau telah berbaik hati Ki Sanak. Jika kami berdua membunuh kalian di tengah-tengah bulak, maka kami akan mengalami kesulitan untuk menguburmu. Tetapi disini kami tidak usah menggotong tujuh sosok mayat dari tengah bulak itu.”

 

“Persetan,“ geram Gagak lahan,“ jadi kalian akan melawan?”

 

“Kau kira aku akan menyerahkan leherku atau barangkali jantungku?“ bertanya Jati Wulung.

 

Gagaklahan memang nampak menegang. Tetapi ia-pun berkata, “Aku memang sudah mengira, bahwa kalian tidak akan begitu mudah menyerah. Karena itu, kamipun tidak dengan serta merta merasa diri kami menang. Menang dengan cara seperti ini sama sekali tidak memberikan kepuasan kepadaku. Kami lebih senang membunuh kalian dengan mengerahkan kemampuan. Hasil yang dapat kami capai akan terasa lebih nikmat. Sebagaimana kami membunuh kalian dengan semut merah akan memberikan kepuasan lebih besar daripada membunuh kalian dengan menusuk dijantung.”

 

“Nah,“ berkata Sambi Wulung, “aku kira, kita sudah terlalu lama bermain-main. Sekarang, marilah. Siapa yang akan mati.“ Sambi Wulung berhenti sejenak, lalu, “Sebenarnya kami tidak ingin membunuh siapapun. kami telah menolong Puguh. Sekarang, kau yang disebut pamannya, justru ingin membunuh kami. Dengan demikian, maka kami akan dengan sangat terpaksa membela diri. Salah satu cara untuk menyelamatkan diri sendiri adalah dengan membunuh lawan, meskipun tidak dengan cara memberikan kepada semut merah.”

 

“Cukup,“ bentak Gagaklahan yang kemudian memberikan isyarat kepada kawan-kawannya, “tangkap keduanya. Jika mungkin hidup-hidup. Kita akan menyaksikan, bagaimana mereka akan mati dikoyak-koyak oleh semut-semut merah yang gigitannya sepanas api.”

 

Keenam orang itupun mulai bergerak. Sambi Wulung ternyata sempat berdesis, “Kita harus benar-benar berhati-hati. Mereka tidak dengan serta merta mempergunakan senjata-senjata mereka. Agaknya mereka memang orang-orang berilmu.”

 

“Baiklah. Agaknya kita memang tidak mempunyai pilihan lain,“ sahut Jati Wulung.

 

Demikianlah maka kedua belah pihakpun telah bersiap. Menurut perhitungan jumlah orang, maka Sambi Wulung atau Jati Wulung harus melawan empat orang, sedangkan lainnya melawan tiga orang.

 

Tetapi agaknya Gagaklahan tidak segera turun ke arena. Ia masih saja berdiri ditempatnya ketika keenam orang pengikutnya mulai bergerak. Agaknya ia terlalu yakin bahwa para pengikutnya akan dapat menyelesaikan tugasnya.

 

“Kalian tidak perlu berbelas kasihan,“ berkata Gagaklahan keduanya harus mati, agar kesan yang didapat atas padepokan kami terhapus bersama kematian mereka. Karena mereka telah melawan, maka kalian berhak menentukan cara yang kalian anggap baik untuk membunuhnya. Karena itu, usahakan untuk menangkap mereka hidup-hidup. Kita akan kecewa jika mereka cepat mati.”

 

“Kau benar-benar iblis,“ geram Jati Wulung,“ jangan kau kira dengan demikian kau dapat menakut-nakuti kami. Tetapi justru telah membakar kegarangan hati kami. Jangan kau sangka bahwa kami berdua adalah orang baik-baik yang tidak dapat berbuat kasar. Jika plataran permainan kami adalah tempat-tempat perjudian, maka kalian dapat membayangkan cara hidup kami serta sumber bekal kami.”

 

Gagaklahan mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba saja ia telah berteriak keras-keras, “Bunuh mereka. Cepat.”

 

Keenam orang itupun mulai berloncatan. Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung yang menyebut dirinya bernama Wanengbaya dan Wanengpati itu telah-bersiap sepenuhnya. Karena itu, maka merekapun dengan cepat bergeser pula menghindarinya.

 

Dengan demikian, maka sejenak kemudian telah terjadi pertempuran yang sengit antara Sambi Wulung dan Jati Wulung, masing-masing melawan tiga orang. Sementara Gagaklahan sendiri menyaksikan pertempuran itu dengan tegang.

 

Seperti dugaan Sambi Wulung dan Jati Wulung, bahwa keenam orang itu bukannya orang yang tidak berilmu. Apalagi mereka agaknya mempunyai pengalaman yang luas dalam dunia olah kanuragan, sehingga dengan demikian, maka baik Sambi Wulung maupun Jati Wulung benar-benar harus berhati-hati melawan mereka.

 

Seperti badai mereka menyerang Sambi Wulung dan Jati Wulung. Berurutan, susul menyusul tidak henti-hentinya. Bahkan kadang-kadang dua tiga orang itu telah bersama-sama datang menyerang.

 

Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung memiliki kecepatan gerak yang tinggi. Dengan tangkasnya mereka menghindari setiap serangan. Berloncatan diantara gundukan tanah dan batu-batu nisan. Bahkan menyusup dibawah dahan dan ranting-ranting pohon semboja yang menjadi besar dan nampak tua. Kayunya berwarna keputih-putihan dengan noda-noda yang berwarna coklat tua.

 

Benturan-benturan kekuatan mulai terjadi. Namun dengan demikian maka keenam orang pengikut Gagaklahan itupun mengetahui, betapa besarnya kekuatan kedua orang yang menamakan diri Wanengbaya dan Wanengpati itu.

 

Beberapa saat kemudian, ternyata Sambi Wulung dan Jati Wulung justru telah mengambil jarak. Sambi Wulung telah bergeser kebawah pohon benda yang berdaun rimbun. Sedangkan Jati Wulung telah bertempur dekat dengan pokok batang cangkring raksasa. Duri-duri pada batang dan dahan-dahannya yang besarpun nampak garang meskipun menjadi tidak terlalu runcing.

 

Gagaklahanpun telah bergeser pula. Ia tidak mau berdiri terlalu jauh dari arena pertempuran yang menjadi semakin sengit itu.

 

Ternyata bahwa pekerjaan Sambi Wulung dan Jati Wulung menjadi semakin berat. Ketiga orang yang harus mereka hadapi masing-masing itu semakin meningkatkan kemampuan mereka. Mereka berloncatan dengan tangkasnya, sementara tangan dan kaki mereka menyambar-nyambar.

 

Tetapi Sambi Wulung dan Jati Wulung telah memanfaatkan tempat yang ada. Ternyata bahwa ketiga orang yang harus mereka lawan masing-masing itu tata geraknya memang terhambat oleh batu-batu nisan tua yang sudah tidak terawat. Bahkan sekali-sekali dalam keadaan yang tergesa-gesa, kaki mereka justru telah terantuk batu-batu nisan itu.

 

Gagaklahan memperhatikan pertempuran itu dengan sungguh-sungguh. Namun sekali-sekali iapun telah mengumpat. Ternyata bahwa tiga orangnya tidak segera dapat mengatasi hanya seorang saja diantara lawan-lawan mereka.

 

Tetapi Gagaklahan cukup yakin akan kemampuan keenam orang itu. Orang yang telah dipercaya untuk melakukan tugas-tugas yang berat dan berbahaya.

 

Tetapi berhadapan dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung keenam orang itu memang mengalami kesulitan. Kedua orang itu seakan-akan mampu, bergerak mengatasi penglihatan matanya, sehingga keduanya kadang-kadang merasa seakan-akan telah kehilangan lawannya itu. Namun yang tiba-tiba saja telah muncul dibelakang mereka.

 

Keenam orang itu memang harus mengakui betapa tinggi ilmu lawan mereka. Tetapi seperti Gagaklahan, mereka yakin bahwa bertiga, mereka tentu akan dapat membunuh lawannya. Bahkan menangkap mereka hidup-hidup dan menghukumnya seperti yang dikehendaki Gagaklahan.

 

Namun benturan-benturan yang kemudian terjadi, ternyata memberikan isyarat lain kepada keenam orang itu. Ketika salah seorang lawan Sambi Wulung sempat meloncat dan menjulurkan kakinya dengan sepenuh tenaga, maka Sambi Wulung yang tidak sempat mengelak telah menangkis serangan itu. Sambil memiringkan tubuhnya dan sedikit merendah, ia melindungi tubuhnya dengan sikunya.

 

Dalam benturan itu, ternyata lawan Sambi Wulung telah menyeringai menahan sakit. "Bukan saja kakinya yang membentur siku Sambi Wulung, tetapi juga karena iapun kemudian telah terdorong surut. Namun malang baginya, karena kakinya terantuk batu nisan, sehingga iapun telah terjatuh menimpa batu nisan itu.

 

Batu nisan itu memang sudah tua. Karena itu, maka batu nisan itupun telah terguling pula.

 

Orang itupun kemudian telah mengumpat-umpat disela-sela desah kesakitan. Kakinya yang kesakitan karena membentur siku Sambi Wulung justru telah terluka pula karena terantuk batu nisan yang kemudian terguling itu. Bahkan darah mulai mengembun dari luka yang dangkal tetapi terasa pedih itu. Apalagi ketika luka itu menjadi basah karena keringatnya sendiri.

 

Namun sambil menggeram orang itupun segera bangkit. Dengan menggeretakkan giginya ia dapat mengatasi perasaan sakit itu. Sehingga sejenak kemudian, maka iapun telah meloncat memasuki arena pertempuran kembali.

 

Tetapi demikian ia mulai menyerang, maka seorang kawannya justru telah terbungkuk-bungkuk sambil memegangi perutnya. Sambi Wulung yang berputar satu lingkaran dan bertumpu dengan sebelah kakinya, telah menyambar perut orang itu dengan tumit kakinya yang lain.

 

Orang itupun telah bergeser surut. Perutnya menjadi mual. Rasa-rasanya isinya akan tumpah keluar.

 

Tetapi Sambi Wulung tidak dapat memburunya, karena orang yang terjatuh menimpa batu nisan itu telah memasuki arena pula dengan garangnya. Bahkan teriakannya bagaikan meruntuhkan dahan-dahan pohon benda yang rimbun itu.

 

Sementara itu dibawah pohon cangkring, Jati Wulungpun bertempur dengan sengitnya. Tidak banyak batu nisan yang bertebaran dibawah batang cangkring itu. Karena itu, maka baik Jati Wulung, tetapi juga lawan-lawannya menjadi lebih leluasa bergerak. Mereka berloncatan untuk saling menyerang dan menghindar.

 

Namun ternyata Jati Wulung nampak lebih keras daripada Sambi Wulung menghadapi orang-orang yang kasar itu. Semakin kasar ketiga orang yang bertempur melawannya, maka Jati Wulungpun menjadi semakin keras pula.

 

Dengan garangnya Jati Wulung berloncatan menyerang ketiga orang lawannya berganti-ganti. Semakin lama menjadi semakin cepat. Ketika dua orang lawannya menyerangnya bersama-sama dari dua arah yang berbeda, maka Jati Wulung sempat meloncat menghindar namun justru telah menyerang orang yang ketiga. Demikian tiba-tiba sehingga orang itu justru terkejut karenanya.

 

Namun orang ketiga itu masih juga berusaha menangkis serangan Jati Wulung. Tetapi sambil menggeliat, Jati Wulung telah mengurungkan serangan kakinya. Tetapi tangannyalah yang kemudian terayun mendatar. Sehingga dengan punggung tangannya yang mengepal, maka ia telah menghantam tengkuk orang itu.

 

Orang itu terdorong beberapa langkah. Betapapun ia berusaha tetapi ia telah kehilangan keseimbangannya, sehingga iapun kemudian telah jatuh terjerembab. Untunglah bahwa dahinya tidak membentur batu nisan yang sejengkal terbujur dihadapannya. Namun demikian, wajahnya bagaikan dilumuri dengan debu tanah pekuburan tua.

 

Orang itupun kemudian bangkit sambil membersihkan wajahnya dengan lengan bajunya. Dengan kasar iapun telah mengumpat-umpat.

 

“Aku bunuh kau orang gila,“ teriaknya.

 

Dengan garang orang itupun kemudian telah meloncat memasuki arena kembali. Namun bagaimanapun juga, orang-orang yang melawan Sambi Wulung dan Jati Wulung itu semakin lama harus mengakui bahwa lawannya memang seorang yang berilmu tinggi. Bahkan semakin lama tangan Sambi Wulung dan Jati Wulung itu rasa-rasanya menjadi semakin bergerak, berputaran dan terayun kesegala arah.

 

Satu-satu Sambi Wulung dan Jati Wulung menyentuh tubuh lawannya semakin sering. Setiap serangan yang mengenai tubuh lawannya terasa bagaikan meremukkan tulang. Karena itu, semakin sering serangan kedua orang itu mengenai lawannya, maka tubuh lawan-lawan mereka-pun serasa menjadi semakin sakit.

 

Bahkan seorang diantara lawan Sambi Wulung rasa-rasanya tidak lagi dapat mendekati lawannya karena lambungnya yang sakit. Bahkan sebelah matanya bagaikan tertutup oleh noda yang kebiruan karena pukulan Sambi Wulung di wajahnya. Sehingga orang itu merasa tidak lagi dapat bergerak dengan cepat mengimbangi pertempuran yang semakin seru itu.

 

Dalam pada itu Gagaklahan menjadi cemas. Semula ia memang yakin bahwa dalam waktu singkat, keenam orangnya itu akan dapat menyelesaikan dua orang betapapun orang itu berilmu tinggi. Tetapi semakin lama pertempuran itu berlangsung, maka iapun menjadi semakin ragu.

 

Orang yang matanya mulai membengkak itu, tidak mau membiarkan keadaan menjadi semakin parah. Karena itu, betapapun ia harus mempertimbangkan harga diri, namun akhirnya iapun telah menarik senjatanya. Sebilah pedang yang tajam berkilat-kilat.

 

Sambi Wulung meloncat dua langkah surut, sehingga iapuh berdiri hampir bersandar pada batang pohon benda yang besar itu.

 

Orang yang matanya membengkak dan lambungnya terasa sakit sekali itu maju perlahan-lahan. Sambil mengacukan pedangnya ia berkata, “Sebenarnya aku ingin menangkap kau hidup-hidup. Tetapi kami tidak dapat menolak kenyataan, bahwa kau mampu bergerak demikian cepatnya. Namun itu bukan pertanda bahwa kau akan dapat keluar dari kuburan ini.”

 

Sambi Wulung tidak segera menjawab. Ia memalingkan wajahnya memandang kepada kedua orang lawannya yang lain. Namun karena salah seorang diantara mereka telah menarik senjatanya, maka yang dua orang itupun telah menggenggam senjatanya pula di tangan.

 

Ketiga orang lawan Sambi Wulung masing-masing telah memegang pedang. Meskipun bentuknya berbeda, namun agaknya ketiganya memiliki ilmu pedang yang baik. Bahkan seorang diantara mereka telah memegang pedang di tangan kanannya, sedang di tangan kirinya tergenggam sebuah pisau belati yang agak panjang.

 

Ketika ketiga orang itu mulai menggerakkan senjata mereka, maka nampaknya ilmu pedang mereka memang meyakinkan.

 

Karena itu, maka Sambi Wulung tidak mau membiarkan dirinya dikoyak-koyak oleh ujung-ujung pedang yang runcing tajam itu.

 

Demikian lawan-lawannya menjadi semakin dekat, maka Sambi Wulungpun telah menarik pedangnya pula.

 

Pedangnya memang bukan pedang pilihan dan mempunyai kekuatan khusus. Tetapi ilmu pedang Sambi Wulunglah yang memiliki kelebihan dari orang lain.

 

Sejenak kemudian, maka ketiga orang lawan Sambi Wulung itu telah menjulurkan pedang mereka masing-masing. Namun dalam pada itu Gagaklahan masih berteriak,“ jangan biarkan orang itu cepat mati. Kau ingin tahu, seberapa tinggi daya tahannya menghadapi tekanan pada tubuhnya. Biarlah ia mati perlahan-lahan, sehingga untuk beberapa hari kita akan mempunyai tugas menengoknya kemari.”

 

“Kalian benar-benar iblis yang tidak pantas diberi kesempatan untuk tetap hidup,“ geram Sambi Wulung yang benar-benar merasa muak dengan sikap orang-orang itu.

 

Sejenak kemudian, maka seorang diantara lawan-lawannya telah mulai menjulurkan pedangnya untuk menyerang. Sambi Wulung tidak kenangkis serangan itu. Tetapi ia bergeser melangkah surut.

 

Namun kemudian serangan yang himpun telah menyusul. Semakin lama semakin deras mengalir tanpa henti-hentinya.

 

Sambi Wulungpun mulai memperlihatkan pula ilmu pedangnya. Dengan cepat pedangnya berputar, terayun mendatar, menyambar dengan derasnya untuk kemudian mematuk ke arah jantung.

 

Gagaklahan yang menyaksikan pertempuran itu memang agak terkejut. Ternyata Sambi Wulung adalah seorang yang memiliki ilmu pedang yang sangat tinggi.

 

Sementara itu, orang-orang yang bertempur melawan Jati Wulungpun telah melakukan hal yang sama. Merekapun telah bersenjata pula. Seperti kawan-kawannya yang bertempur melawan Sambi Wulung, maka merekapun bersenjata pedang meskipun bentuknya juga berbeda-beda. Bahkan seorang diantaranya mempergunakan pedang yang pendek, tetapi tangkainyalah yang agak lebih panjang dengan tangkai pedang kebanyakan.

 

Dengan demikian maka pertempuranpun menjadi semakin berbahaya, karena mereka telah bersenjata di tangan. Bahkan Jati Wulung sempat memperingatkan, “Dengan senjata di tangan, maka nyawa kalian akan semakin cepat terpisah dari tubuh kalian.”

 

“Omong kosong,“ geram salah seorang lawannya, “apakah kau sudah mulai ketakutan melihat gemerlapnya daun pedang?”

 

“Aku juga mempunyai pedang,“ sahut Jati Wulung.

 

Lawannya tidak sempat menyahut. Jati Wulung telah meloncat menyerang. Pedangnya berputaran dengan cepatnya. Kemudian menyambar-nyambar seperti burung sikatan. Ujungnya seakan-akan mengiang diujung telinga. Seperti seekor lalat yang berterbangan untuk hinggap.

 

Dengan demikian maka pertempuran menjadi semakin lama semakin sengit. Dentang senjata menjadi semakin sering terdengar disertai kilatan bunga api yang meloncat dari benturan.

 

Gagaklahanpun menjadi semakin tegang pula melihat pertempuran yang nampaknya tidak berkesudahan itu. Bahkan dengan pedang di tangan Sambi Wulung dan Jati Wulung menjadi semakin garang.

 

Jantung Gagaklahan bagaikan disengat api ketika ia melihat salah seorang diantara para pengikutnya yang terlempar beberapa langkah surut. Ternyata bahwa Sambi Wulung telah berhasil melukai orang itu. Segores luka telah mengoyak dadanya memanjang dari bahu sampai ke bahu meskipun tidak begitu dalam. Namun dari luka itu ternyata telah mengalir darah.

 

Untuk beberapa saat lamanya Gagaklahan masih berdiri bagaikan membeku betapapun jantungnya gelisah. Ia masih memaksa diri untuk mempercayai bahwa orang-orangnya akan dapat menyelesaikan kedua orang itu.

 

Tetapi ternyata bahwa yang terjadi bukannya seperti yang diharapkan. Ternyata bahwa orang-orangnya justru semakin terdesak. Ujung pedang Sambi Wulung dan Jati Wulung telah berhasil menyentuh kulit lawan-lawannya. Segores demi segores, keduanya telah melukai lawannya sehingga darah telah mengalir dibeberapa tempat yang menganga.

 

Karena itu, maka pertempuranpun menjadi semakin longgar bagi Sambi Wulung dan Jati Wulung. Karena kemampuan ilmu pedangnya maka lawan-lawannya tidak berani menjadi terlalu dekat tanpa perhitungan yang meyakinkan.

 

Karena itulah, maka akhirnya Gagaklahan tidak dapat mempercayakan kedua orang itu hanya kepada para pengikutnya. Ketika ia melihat seorang lagi diantara mereka terluka dilengannya, meskipun hanya segores kecil tetapi cukup dalam, maka iapun menggeram sambil berkata, “Akhirnya aku sendiri yang terpaksa membunuh mereka.”

 

Ketika Gagaklahan mulai bergerak, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung menyadari, bahwa orang itu tentu akan ikut pula dalam pertempuran dengan membenturkan ilmu pedangnya. Sementara itu keduanyapun menyadari, bahwa Gagaklahan tentu memiliki kelebihan dari keenam orang pengikutnya.

 

Karena itu, ketika Gagaklahan kemudian bergerak mendekati Sambi Wulung, maka Sambi Wulungpun telah bertindak cepat. Ia harus mengurangi lawannya yang lain untuk dapat memusatkan perhatiannya kepada Gagaklahan. Ia masih berniat untuk bertempur tanpa puncak-puncak kemampuannya jika ia tidak dipaksa oleh keadaan yang memang sangat gawat.

 

Dalam waktu yang sempit itu, Sambi Wulung harus bergerak cepat, sementara itu, ketiga lawannya yang melihat Gagaklahan akan hadir, justru menjadi semakin garang.

 

Pada hentakkan-hentakkan terakhir, justru senjata salah seorang lawannya telah menyentuh bahu Sambi Wulung. Selangkah Sambi Wulung meloncat surut ketika perasaan sakit itu menyengatnya. Namun dengan demikian, maka Sambi Wulungpun menjadi sangat marah karenanya.

 

Karena itu, maka iapun telah menghentakkan kemampuan ilmu pedangnya. Satu kekuatan yang sangat besar seakan-akan telah mengalir ke tangannya yang menggenggam pedang, sehingga karena itu, maka pedangnya tidak saja menjadi semakin cepat bergerak, tetapi dengan dorongan kekuatan yang berlipat.

 

Dengan loncatan dan hentakkan yang mengejut, maka pedangnya telah menyambar-nyambar dengan dahsyatnya.

 

Gagaklahan dapat membaca perhitungan Sambi Wulung yang akan mengurangi jumlah lawannya sebelum Gagaklahan turun ke arena. Karena itu, maka Gagaklahan pun telah meloncat dengan langkah-langkah panjang, diantara batu-batu nisan tua.

 

Tetapi justru karena itu, maka Sambi Wulungpun telah menghentak pula pada saat-saat terakhir. Demikian Gagaklahan mencapai arena pertempuran dibawah pohon benda itu, maka dua orang pengikutnya telah terlempar dengan derasnya. Seorang diantaranya terbanting jatuh. Kepalanya membentur sebuah batu nisan, sehingga untuk seterusnya tidak bangkit lagi. Sedangkan seorang lagi terdorong beberapa langkah. Ia tidak dengan serta merta terbanting jatuh. Beberapa saat ia berusaha untuk tetap bertahan. Tetapi iapun kemudian terhuyung-huyung dan kehilangan keseimbangannya. Luka diperutnya telah menganga. Darah mengalir seperti diperas dari tubuhnya. Sehingga akhirnya, maka iapun telah jatuh diatas lututnya dan kemudian terbaring ditanah. Nafasnya satu-satu masih sempat mengalir ketika Gagaklahan berteriak, “bertalianlah. Aku akan membalas kematianmu. Jangan mati sebelum kau sempat melihat mayatnya terbujur disisimu.”

 

Tetapi ternyata itu merupakan satu kesalahan lagi bagi Gagaklahan. Justru pada saat ia berteriak kepada orangnya yang sudah hampir kehilangan nyawanya itu, ia mendengar seorang lagi diantara pengikutnya itu mengaduh tertahan. Seorang yang tersisa dari lawan Sambi Wulung itu telah meloncat menjauh. Luka yang dalam telah menganga di pundaknya.

 

“Setan kau,“ geram Gagaklahan. “Kau bunuh orang-orangku seperti membunuh itik.”

 

“Orang-orangmu memang tidak lebih dari itik-itik rawa yang tidak berarti. Kau sendiri barangkali tidak lebih dari induk itik itu pula,“ jawab Sambi Wulung.

 

Gagaklahan mengumpat kasar. Iapun kemudian maju selangkah sambil mengacukan pedangnya yang panjang dan ramping. Namun agaknya terbuat dari besi baja pilihan.

 

Ternyata bahwa kawannya yang seorang, yang ter luka dipundaknya masih berusaha untuk ikut pula dalam pertempuran itu. Dilepaskannya ikat kepalanya untuk menahan arus darah yang keluar dari lukanya.

 

“Marilah,“ berkata Sambi Wulung kemudian, “luka di tubuhku memang harus kalian bayar dengan sangat mahal. Selebihnya, menurut pendapatku, orang-orang seperti kalian ini tidak sepantasnya tinggal hidup diantara orang lain. Kalian ternyata dapat berbuat jauh lebih kejam dari orang-orang yang disebut orang jahat yang pernah kau kenal. Bahkan orang jahat seperti aku dan saudaraku itu.”

 

Gagaklahan tidak segera menjawab. Ia bergeser selangkah kesamping, sementara kawannya yang sudah terluka itu mengambil arah yang berbeda.

 

“Kaulah yang akan mati disini,“ berkata Sambi Wulung pula, “untuk selanjutnya kau telah memaksa aku untuk kembali ke padepokanmu. Aku harus membunuh orang-orang yang tersisa, termasuk keuntungan aku dapatkan, bahwa aku ternyata menjumpai sebuah padepokan yang isinya harus ditumpas habis.”

 

“Kau boleh mengigau apa saja,“ berkata Gagaklahan, “karena kau belum mengenal Gagaklahan. Jika kau mulai menyentuh pedangku dengan ujung senjatamu, maka kau akan berkata lain.”

 

“Kau kira aku akan berkata apa lagi? Dua orangmu telah mati. Yang seorang itu sebentar lagi juga akan mati,“ jawab Sambi Wulung.

 

“Pedangmu adalah pedang yang dibuat oleh pande besi di pinggir pasar. Sedangkan senjataku adalah hasil buatan seorang Empu yang namanya telah kawentar. Selain jenis senjata yang ada pada kami masing-masing, maka kemampuanmu bermain pedangpun belum memadai menandingi aku,“ geram Gagaklahan.

 

“Satu cara yang sudah tidak pantas lagi dipergunakan sekarang ini. Menakut-nakuti dengan kata-kata yang mengerikan serta melemahkan lawan secara jiwani. Mungkin pencuri-pencuri ayam akan ketakutan mendengar ancaman seperti itu. Tetapi aku adalah perampok dan pembunuh ditempat-tempat perjudian yang besar di seluruh tanah ini. Karena itu, kami berdua akan sanggup menumpas seisi padepokan itu termasuk Puguh dan kedua orang tuanya. Bahkan orang yang disebut gurunya itu.”

 

Wajah Gagaklahan menjadi merah. Memang ada sepercik penyesalan didalam dirinya, bahwa ia telah mengusik kedua orang yang belum tentu akan berbuat buruk terhadap padepokannya. Jika kemudian ternyata ia tidak berhasil membunuh keduanya, maka keduanya benar-benar akan menjadi bahaya bagi padepokannya.

 

Tetapi justru karena hal itu sudah terlanjur dilakukan, maka bagi Gagaklahan memang tidak ada pilihan lain, kecuali benar-benar membunuh kedua orang itu.

 

Karena itu, Gagaklahan tidak berbicara lagi. Iapun kemudian melangkah semakin dekat. Pedangnya mulai terjulur dan bergetar, kemudian berputar cepat mengitari pedang lawannya. Namun kemudian menusuk deras kearah jantung.

 

Sambi Wulung bergeser mundur. Pedangnyapun bergerak cepat pula. Demikian tusukan lawan tidak menyentuh tubuhnya, maka Sambi Wulung telah menepis ujung pedang Gagaklahan kesamping, berputar dan pedangnya terayun deras mengarah leher.

 

Gagaklahan menggeliat. Kepalanya menunduk rendah, sehingga pedang Sambi Wulung terbang diatas ubun-ubunnya. Namun dalam pada itu sambil merendah, ujung pedangnya dengan cepat menusuk lambung.

 

Tetapi Gagaklahan belum berhasil. Sambi Wulung sempat bergeser selangkah sambil memiringkan tubuhnya. Namun iapun harus cepat meloncat, karena lawannya yang seorang lagi telah menyambarnya dengan sisa kekuatan yang ada padanya.

 

“Jika kau paksakan dirimu untuk bertempur terus, maka kau akan mati karena kehabisan darah,“ geram Sambi Wulung. Lalu katanya pula, “Setiap hentakan gerak tubuhmu, sama dengan memeras darah dari nadimu yang terputus oleh ujung pedangku.”

 

Orang itu tidak menjawab. Tetapi tubuhnya memang merasa menjadi semakin lemah. Tetapi ia masih saja memaksa dirinya untuk ikut bertempur bersama Gagaklahan.

 

Namun ketika Gagaklahan semakin meningkatkan ilmunya menghadapi Sambi Wulung yang garang, maka ia telah dikejutkan oleh umpatan yang kasar, namun diselingi oleh desah kesakitan. Gagaklahan itu sempat melihat seorang pengikutnya yang bertempur melawan Jati Wulung telah terdorong surut beberapa langkah. Namun sebelum ia sempat memperbaiki keadaannya, tiba-tiba saja Jati Wulung telah melenting, lepas dari perlawanan dua orang lawannya yang lain, sambil menjulurkan pedangnya langsung menusuk dada tembus kejantung.

 

Ketika kedua lawannya menyusulnya, maka Jati Wulung telah menarik pedangnya itu dan berdiri tegak menghadap ke arah kedua lawannya yang lain. Satu kakinya ditariknya setengah langkah kebelakang, sementara lututnya agak ditekuknya. Pedangnya berdiri tegak didepan tubuhnya, sementara telapak tangan kirinya terbuka melekat pada punggung pedangnya itu.

 

Kedua orang lawannya yang tersisa termangu-mangu sejenak. Merekapun telah terluka oleh goresan-goresan ujung pedang Jati Wulung. Namun luka-luka itu tidak banyak berpengaruh atas kemampuan perlawanan mereka, meskipun darah mengalir pula dari luka itu.

 

Tetapi ketika seorang kawannya telah terbunuh dengan tusukan tepat dijantung, maka mereka menjadi semakin tegang menghadapi lawannya yang garang itu. Sementara itu, merekapun tahu, bahwa dua orang kawan mereka yang bertempur melawan Wanengbayapun telah terbunuh pula. Bahkan Gagaklahan tidak lagi dapat mereka harapkan untuk membantu, karena Gagaklahan telah bertempur melawan Wanengbaya itu.

 

Namun kedua orang lawan Jati Wulung itu tidak dapat merenungi keadaannya terlalu lama. Sejenal kemudian, maka terdengar Jati Wulung itu berteriak nyaring. Pedangnya terangkat tinggi-tinggi. Kemudian dengari garangnya ia telah meloncat dengan ayunan pedang yang menggetarkan jantung.

 

Pertempuranpun telah berlangsung pula dengan kerasnya. Kedua orang yang tersisa itupun justru menjadi putus asa menghadapi kegarangan Jati Wulung. Pedangnya yang terayun-ayun itu menjadi semakin mengerikan. Bahkan putaran yang cepat serta berbagai unsur gerak yang lain, membuat pedang Jati Wulung itu seakan-akan menjadi puluhan pedang yang menari-nari disekitar tubuh kedua orang lawannya.

 

Dalam keadaan yang gawat, maka kedua orang itu ternyata telah mengambil sikap yang menentukan. Sebagai pasangan yang telah bekerja sama dalam waktu yang lama, maka tanpa isyaratpun keduanya dapat saling membaca maksud masing-masing.

 

Karena itulah, maka dengan ancang-ancang yang cukup, keduanya telah menyerang bersamaan dengan mengerahkan segenap kemampuan mereka. Keduanya telah menyerang dengan senjata masing-masing yang terayun deras dari dua arah.

 

Jati Wulung yang telah dibasahi oleh keringatnya itupun merasa bahwa tenaganya akan segera mulai susut. Karena itu, maka iapun telah memutuskan untuk berusaha mengakhiri pertempuran itu.

 

Karena itu, ketika serangan kedua orang itu datang bersama-sama, maka Jati Wulungpun telah meloncat selangkah kesamping. Kemudian menggeliat untuk menghindari tusukan pedang lawannya yang lain. Namun sementara itu, iapun telah merendah sedikit sambil menjulurkan pedangnya langsung mengoyak lambung. Sementara itu, iapun telah meloncat dan menghantam lawannya yang lain dengan kakinya tepat mengenai dadanya justru disaat terbuka, sehingga lawannya itu terlempar beberapa langkah surut. Adalah nasibnya yang buruk, jika tubuhnya itu telah menghantam pohon cangkring raksasa yang berduri.

 

Ternyata keduanya tidak tertolong lagi. Keduanya-pun kemudian telah terkapar ditanah pekuburan tua itu.

 

Bersamaan dengan itu, maka Sambi Wulungpun telah sempat menyelesaikan lawannya yang seorang. Betapa lemahya orang itu sehingga ia tidak sempat menghindar ketika Sambi Wulung mengayunkan dengan deras sekali pedangnya mendatar.

 

Yang kemudian berhadapan adalah Sambi Wulung dengan Gagaklahan. Bagaimanapun juga Gagaklahan harus berpikir tentang kemampuan lawannya itu. Meskipun lawannya sudah mengerahkan tenaganya, sehingga mulai menjadi letih, namun kemampuan ilmu pedangnya benar-benar mendebarkan jantung Gagaklahan.

 

Tetapi Gagaklahan adalah orang yang sangat berpengalaman. Ia adalah seorang yang seakan-akan tidak berperasaan. Kematian sama sekali tidak dapat menggetarkan lagi jantungnya. Karena itu kadang-kadang ia mencari kepuasan dengan membunuh lawan-lawannya dengan cara yang khusus.

 

Agaknya hal itulah yang membuat Sambi Wulung tidak lagi dapat mengampuninya. Bagi Sambi Wulung, orang-orang seperti Gagaklahan itu tidak berhak untuk hidup lebih lama lagi. Tidak akan ada cara untuk membuatnya menyesali kebengisannya. Apalagi membuatnya jera untuk tidak melakukan lagi. Hukuman apapun yang ditimpakan kepadanya, jika masalah sudah dilaluinya, maka ia tentu akan kembali hidup dalam dunia yang kelam itu.

 

Karena itu, maka Sambi Wulungpun telah memutuskan, bahwa orang yang bernama Gagaklahan itu harus dimusnahkan.

 

Demikianlah, maka pertempuran berikutnya adalah pertempuran diantara orang-orang yang berilmu tinggi. Keduanya memiliki ilmu pedang yang mumpuni, sehingga karena itu, maka pertempuranpun telah berlangsung dengan sengitnya. Kedua senjata di tangan dua orang yang bertempur itu telah berbenturan berkali-kali dengan melontarkan percikan api di udara. Namun Sambi Wulung memang harus mengakui, bahwa pedang lawannya adalah pedang yang jauh lebih baik dari pedangnya.

 

Dalam benturan-benturan yang keras, maka tajam pedang Sambi Wulung justru telah terluka, sehingga timbul lekuk-lekuk yang semakin banyak dan semakin dalam.

 

Ketika Gagaklahan sempat melihat pedang Sambi Wulung, maka iapun telah melompat mengambil jarak. Sambil tertawa ia berkata, “Lihat pedangmu.”

 

Sambi Wulung termangu-mangu. Sementara itu Jati Wulung yang telah kehilangan ketiga lawannya, telah berdiri pula beberapa langkah di dekat pohon benda, melihat betapa Sambi Wulung bertempur melawan Gagaklahan.

 

Tetapi Jati Wulung yang tahu pasti tataran kemampuan Sambi Wulung sama sekali tidak berniat untuk melibatkan diri dalam perkelahian itu.

 

Namun dalam pada itu, Gagaklahan masih saja tertawa. Katanya kemudian, “Nah, marilah. Agaknya kalian akan bertempur berpasangan. Jika demikian, maka pekerjaanku akan menjadi semakin cepat selesai.”

 

Jati Wulung bergeser selangkah maju. Dengan nada rendah ia menjawab, “Enam orangmu telah mati. Sebaiknya kau menyerah saja, agar kau tidak perlu kami ikat pada batang cangkring yang penuh dengan semut merah itu. Karena semut merah itu akan makan bagian-bagian yang lunak dari tubuhmu. Kau akan mati dengan perlahan-lahan.”

 

“Persetan,“ geram Gagaklahan, “marilah. Agaknya kau yang ingin mati lebih dahulu.”

 

Tetapi Sambi Wulunglah yang kemudian berkata, “Aku belum kau kalahkan Gagaklahan.”

 

Gagaklahan berpaling ke arah Sambi Wulung. Pedangnyapun telah bergetar pula. Tiba-tiba saja ia meloncat sambil mengayunkan pedangnya dengan garangnya.

 

Sekali lagi telah terjadi benturan senjata. Pedang Sambi Wulung yang tidak sebaik pedang Gagaklahan ternyata telah gempil lagi pada tajamnya, sehingga menambah lekuk-lekuk yang memang sudah banyak terdapat.

 

Sambil menyerang terus Gagaklahan berkata, “Sebentar lagi, maka tajam pedangmu akan habis. Pedangmu sama sekali tidak akan berguna lagi.”

 

Sambi Wulung tidak menjawab. Namun ia telah mempercepat geraknya dan meningkatkan kekuatannya, sehingga pertempuran itu menjadi semakin cepat.

 

Namun setiap kali Gagaklahan masih saja menyebut-nyebut tentang pedang Sambi Wulung yang memang menjadi cacat. Tajamnya telah menjadi semakin habis. Yang ada kemudian adalah lekuk-lekuk seperti gerigi keping besi yang sudah menjadi aus.

 

Tetapi Sambi Wulung sama sekali tidak menjadi cemas. Bagaimanapun juga, ternyata bahwa pedangnya masih belum patah. Menyadari akan mutu senjatanya, maka Sambi Wulungpun harus memperhitungkan setiap benturan, meskipun ia tidak dapat menghindari luka-luka pada tajam pedangnya itu, namun ia berhasil mempertahankan pedangnya sehingga tidak patah.

 

Gagaklahan yang merasa mempunyai kelebihan dari Sambi Wulung menjadi semakin banyak menyerang. Ia berusaha untuk selalu membenturkan senjata. Bahkan Gagaklahan berusaha agar terjadi benturan yang cukup keras untuk mematahkan pedang Sambi Wulung. Tetapi usahanya itu tidak mudah untuk dilakukannya.

 

Dengan demikian, maka Gagaklahanlah yang kemudian berusaha untuk selalu menyerang dengan ayunan-ayunan pedang yang deras dan kuat. Setiap kesempatan Gagaklahan telah mempergunakan segenap tenaganya. Ia berharap akan dapat membentur dan sekaligus mematahkan pedang lawannya, sehingga dengan demikian, maka ketahanan jiwaninyapun tentu akan patah sebagaimana pedangnya. Dalam keadaan yang demikian, maka tidak sulit bagi Gagaklahan untuk dengan cepat mengakhiri pertempuran.

 

Tetapi ternyata Sambi Wulung memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Dengan tangkasnya Sambi Wulung mampu menempatkan dirinya, sehingga serangan-serangan Gagaklahan sama sekali tidak menyudutkannya.

 

Namun Gagaklahan tidak henti-hentinya menyerangnya seperti banjir bandang. Beruntun dengan kekuatan yang sangat besar membentur pertahanan Sambi Wulung.

 

Akhirnya Sambi Wulung menjadi jemu juga untuk melayani serangan-serangan Gagaklahan. Karena itu, maka iapun kemudian telah mengambil keputusan justru untuk memanfaatkan keadaan pedangnya.

 

Dengan mengerahkan kemampuannya, maka Sambi Wulung berhasil mengatasi kecepatan gerak Gagaklahan yang menyerang dengan menjulurkan pedangnya. Dengan tangkasnya Sambi Wulung bergeser kesamping sambil menggeliat, sehingga pedang Gagaklahan tidak menyentuhnya. Namun pedang itupun segera berputar. Disusul dengan ayunan mendatar yang cepat.

 

Tetapi dengan cepat pula Sambi Wulung bergeser surut. Namun Gagaklahan tidak mau melepaskannya. Iapun segera memburu sambil menebas ke arah dada.

 

Dengan serta merta Sambi Wulung telah menjatuhkan dirinya. Demikian pedang Gagaklahan terayun diatasnya, maka iapun telah melenting berdiri. Sambi Wulung tidak menebaskan pedangnya, tidak pula mengayunkannya atau mematuk seperti burung menancapkan paruhnya. Tetapi Sambi Wulung justru berusaha menyentuh kulit lambung lawannya dengan tajam pedangnya yang sudah berubah bagaikan gerigi itu, kemudian menariknya sendal pancing.

 

Akibatnya memang menggetarkan jantung. Pedang Sambi Wulung tepat menyentuh tubuh Gagaklahan dibawah ikat pinggang kulitnya. Ternyata bahwa tajam pedang Sambi Wulung yang dilukai oleh kerasnya baja pilihan pedang Gagaklahan, sehingga menyerupai gerigi itu, tidak saja mengoyak pakaian Gagaklahan, tetapi kulit dan daging dilambungnyapun telah terkoyak pula. Bukan koyak oleh tajamnya pedang yang dapat memotong benang yang diayunkan angin. Tetapi dikoyak oleh pedang yang bagaikan bergerigi justru tumpul.

 

Terdengar Gagaklahan itu berteriak nyaring. Kemudian mengumpat keras-keras dengan kata-kata kasar dari kotor.

 

Beberapa langkah ia meloncat surut. Tangannya yang sebelah kiri berusaha memegangi lukanya itu. Sementara tangan kanannya masih menggenggam pedangnya.

 

Darah mengalir dengan derasnya dari lukanya.

 

“Kau memang iblis, Wanengbaya,“ geram Gagaklahan.

 

“Sejak semula aku sudah memperingatkanmu, bahwa sebaiknya kau tidak mengganggu kami,“ berkata Sambi Wulung.

 

“Kau belum menang,“ berkata Gagaklahan pula, “aku akan membunuhmu.”

 

Sambi Wulung tidak menjawab. Tetapi Gagaklahan memang masih meloncat menyerangnya. Pedangnya masih berputar mengerikan, sementara kakinya masih tangkas membawa tubuhnya berloncat-loncatan disela-sela bahkan diatas nisan-nisan tua.

 

Namun Sambi Wulung yang melihat keadaan Gagaklahan itu benar-benar berniat mengakhirinya. Karena itu, maka iapun telah mengerahkan segenap kemampuannya. Bergerak dengan kecepatan yang sulit diimbangi dan dengan kekuatan yang luar biasa besarnya.

 

Ketika Gagaklahan yang terluka itu mengayunkan pedangnya, Sambi Wulung sempat mengelak. Namun sambil bergeser kesamping sekali lagi ia menggoreskan pedangnya di dada Gagaklahan.

 

Gagaklahan memang terdorong beberapa langkah surut. Namun seperti orang yang bernyawa rangkap ia sama sekali tidak menghiraukan keadaannya. Ia telah meloncat lagi menyerang dengan dahsyatnya, seperti angin prahara yang mengguncang popohonan.

 

Namun Sambi Wulungpun telah bersiaga pula, Sebuah tusukan lurus mengarah kejantung Sambi Wulung dapat dielakkannya. Bahkan ketika pedang Gagaklahan itu menyambar kesamping Sambi Wulung sempat meloncat mundur. Namun demikian ujung pedang itu lewat, maka Sambi Wulungpun telah meloncat maju. Pedangnyalah yang terjulur lurus kedepan. Dengan hentakan kekuatan yang sangat besar, maka pedang itu telah terhunjam didada Gagaklahan.

 

Terdengar Gagaklahan menjerit. Sementara Sambi Wulung terpaksa melepaskan pedangnya. Ia tidak sampai hati menarik pedangnya itu, karena ia menyadari akibatnya. Pedangnya yang seolah-olah bergerigi tumpul itu akan dapat mencabik-cabik daging dan kulit di dada Gagaklahan.

 

Untuk beberapa lama Gagaklahan masih berdiri. Namun kemudian tubuh itupun terhuyung-huyung dan kemudian jatuh terjerembab.

 

Sambi Wulung dan Jati Wulung berdiri termangu-mangu. Di kuburan tua itu terdapat tujuh sosok mayat dari orang-oang yang tinggal bersama-sama Puguh dalam satu padepokan. Satu perstiwa yang tidak diduganya sama sekali bahwa hal seperti itu akan terjadi.

 

“Apaboleh buat,“ berkata Sambi Wulung sambil menundukkan kepalanya.

 

“Kami dipaksa melakukannya,“ sahut Jati Wulung.

 

“Ya. Kami memang tidak mempunyai pilihan lain. Jika seorang saja diantara mereka hidup, maka orang itu bersama-sama dengan yang lain tentu akan menelusuri keadaan kita berdua,“ berkata Sambi Wulung. Lalu, “Sementara itu, orang-orang seperti mereka memang tidak lagi pantas untuk tetap hidup.”

 

“Tetapi di padepokan itu bukan hanya mereka saja yang tinggal,“ sahut Jati Wulung.

 

“Puguh merupakan satu pertanyaan yang besar. Ia hidup dalam lingkungan seperti itu, namun agaknya sifatnya agak berbeda dengan orang yang disebutnya paman, yang agaknya menjadi orang yang terdekat dengan dirinya itu,“ berkata Sambi Wulung.

 

“Dengan demikian, jelas bagi kita, bahwa yang memasang topeng itu tentu orang-orang padepokan itu pula,“ sahut Jati Wulung.

 

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Ia masih ingat bagaimana Puguh membunuh seorang diantara mereka yang masih mempunyai kemungkinan untuk hidup.

 

“Ada rahasia yang tidak kita ketahui menyelimuti padepokan itu,“ berkata Sambi Wulung. Lalu, “Meskipun kita berhasil mengetahui dimana Puguh tinggal, tetapi mungkin sekali kita masih akan dapat kehilangan jejak.”

 

“Memang banyak kemungkinan terjadi,“ desis Jati Wulung, “mungkin dengan hilangnya paman Gagaklahan, Puguh untuk seterusnya telah dipindahkan ke padepokan yang lain atau kemungkinan-kemungkinan yang tidak kita pikirkan sebelumnya. Namun kali ini kita telah berhasil dengan tugas kita.”

 

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Kita akan melaporkan kepada Nyi Wiradana di Tanah Perdikan Sembojan.”

 

Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun keduanya kemudian sepakat untuk mengubur lebih dahulu tujuh sosok mayat yang terbujur lintang di kuburan tua itu.

 

***

 

Sementara itu di padepokannya, Puguh merasa sangat gelisah. Ketika kemudian malam datang, bahkan malam itu telah lewat diganti dengan hari baru berikutnya, pamannya tidak juga kelihatan. Dari beberapa orang penghuni padepokan itu Puguh mendapat keterangan bahwa pamannya, Gagaklahan telah meninggalkan padepokan itu.

 

“Kemana?“ bertanya Puguh.

 

Orang-orang itu hanya menggelengkan kepalanya saja. Bahkan ketika Puguh bertanya kepada seorang yang dianggapnya pembantu terdekat Gagaklahan, orang itu juga menggelengkan kepalanya.

 

Puguh akhirnya menjadi marah. Orang yang dianggapnya pembantu terdekat Gagaklahan itu tiba-tiba ditariknya masuk kedalam sanggar di padepokannya. Pintupun kemudian diselarak dari dalam.

 

“Apa yang akan kau lakukan?“ bertanya orang itu dengan cemas.

 

“Dimana paman Gagaklahan?“ bertanya Puguh.

 

“Aku tidak tahu. Kakang Gagaklahan pergi tanpa memberitahukan tujuannya,“ jawab orang itu.

 

“Baik,“ geram Puguh, “nampaknya aku harus memaksamu berbicara tentang paman Gagaklahan. Aku tidak peduli, apakah aku dapat melakukannya atau tidak. Aku juga tidak peduli apakah kau akan melawan atau tidak. Tetapi jika kau tidak mau mengatakan kemana paman Gagaklahan pergi, maka kau akan aku pukuli. Mungkin kau dapat menang atasku jika kau melawan. Tetapi aku akan mengatakannya kepada guru.”

 

“Tunggu,“ wajah orang itu menjadi tegang, “kenapa kau sebenarnya. Tiba-tiba saja kau menjadi sangat garang seperti itu.”

 

“Kau belum menjawab pertanyaanku. Karena itu, kau tidak berhak sama sekali untuk bertanya tentang apapun juga,“ jawab Puguh.

 

Keringat dingin telah mengalir ditubuh orang itu. Namun ia masih juga berkata, “Tunggu.“ orang itu menjadi terengah-engah, “aku memang melihat kakang Gagaklahan pergi. Tetapi ia tidak mengatakan pergi kemana dan untuk apa. Ia memang nampak bersungguh-sungguh pada waktu ia pergi.”

 

“Berapa orang yang dibawanya?“ bertanya Puguh.

 

Orang itu ragu-ragu. Namun tiba-tiba saja Puguh telah meremas bajunya sambil membentak, “Katakan.”

 

“Aku tidak tahu pasti,“ jawab orang itu agak gagap, “aku kira sekitar lima atau enam orang.”

 

“Bohong jika kau tidak tahu pasti,“ geram Puguh, “kau dapat menghitung orang-orangmu yang tidak ada di padepokan.”

 

“Memang mungkin,“ jawab orang itu, “tetapi apakah mereka semua pergi bersama kakang Gagaklahan itulah yang kurang aku ketahui.”

 

Puguh mendorong orang itu sehingga hampir saja ia jatuh terlentang. Tetapi Puguh tidak bertanya lagi. Iapun dengan tanpa mengatakan sesuatu telah melangkah keluar dari sanggar.

 

Orang itupun dengan tergesa-gesa telah keluar pula menyusul Puguh. Namun Puguh sama sekali tidak menghiraukannya.

 

Seorang diri Puguh meninggalkan padepokan itu menuju kepadepokannya yang lain, tempat tinggal gurunya. Padepokan yang lebih dirahasiakan dari padepokan yang dihuninya.

 

Diperjalanan ia memang bertemu dengan dua orang yang mengawal dan menjaga kerahasiaan padepokan kedua itu. Namun mereka sama sekali tidak mengusik Puguh. Apalagi nampaknya Puguh agak tergesa-gesa.

 

Gurunya memandang Puguh dengan kerut di dahinya. Dengan sareh ia berkata, “Duduklah. Kita akan berbicara tanpa kegelisahan seperti itu.”

 

Puguhpun kemudian duduk dihadapan gurunya, namun nafasnya masih saja terengah-engah.

 

“Paman Gagaklahan tidak ada di padepokan, Guru,“ berkata Puguh.

 

Gurunya tersenyum. Katanya, “Bukankah ia memang sering meninggalkan padepokan untuk tugas-tugas yang penting? Pamanmu Gagaklahan adalah orang yang dipercaya oleh orang tuamu. Karena itu, maka banyak tugas yang dikerjakannya serta besar pula tanggung jawabnya.”

 

“Agaknya paman Gagaklahan pergi, demikian kedua orang yang mengantarku, kembali itu meninggalkan padepokan,“ berkata Puguh.

 

“Kenapa kau menjadi gelisah?“ bertanya gurunya.

 

“Apakah Guru tidak memerintahkan agar paman Gagaklahan melakukan sesuatu? Agaknya paman Gagaklahan terlalu curiga kepada kedua orang itu. Bagiku Wanengbaya dan Wanengpati adalah orang-orang yang telah memberikan pertolongan kepadaku,“ berkata Puguh.

 

Gurunya menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak bertemu dengan Gagaklahan lagi setelah ia datang bersamamu kemarin malam. Juga tidak ada seorangpun yang memberikan laporan kepadaku apa yang akan dilakukannya.”

 

“Tetapi Guru tidak memerintahkan kepadanya untuk menyusul kedua orang itu?“ desak Puguh.

 

Gurunya tertawa. Katanya, “Sudah aku katakan. Sejak kemarin malam aku tidak bertemu orang itu lagi. Bukankah ketika itu, kau juga mendengar apa yang kami bicarakan? Pamanmu Gagaklahan memang sangat mencurigai kedua orang itu. Pamanmu menganggap bahwa kau telah terjebak kedalam sikap manisnya. Tetapi aku tidak sependapat jika pamanmu Gagaklahan mengambil langkah-langkah tertentu atas kedua orang itu.”

 

Puguh mengangguk-angguk. Katanya, “Sampai saat ini, sebelum aku pergi menghadap Guru, paman Gagaklahan belum juga kembali.”

 

“Itu justru menggelisahkan,“ berkata gurunya, “ada beberapa kemungkinan telah terjadi atasnya. Apakah ada orang yang dapat melaporkan, dengan berapa orang pamanmu itu pergi?”

 

“Lima atau enam orang,“ jawab Puguh.

 

“Perintahkan untuk menghitung orang-orangmu di sana,“ berkata gurunya, “cari siapa saja yang tidak ada dipadepokan.”

 

“Aku sudah memerintahkan Guru. Tetapi menurut seseorang, belum tentu semuanya pergi bersama paman Gagaklahan,“ jawab Puguh.

 

“Lihat lagi,“ berkata gurunya, “kau akan jelas. Yang belum kembali adalah mereka yang pergi bersama Gagaklahan. Hubungi aku untuk mengambil kesimpulan.”

 

Tetapi ketika Puguh akan kembali ke padepokan pertamanya, gurunya berkata, “jangan pergi sendiri.”

 

“Kenapa? Bukankah jalan yang menghubungkan kedua padepokan ini merupakan jalan khusus yang tidak pernah dilalui orang lain kecuali kita?“ bertanya Puguh.

 

“Kau harus lebih berhati-hati. Kedua orang itu mempunyai kemungkinan untuk berbuat lebih banyak dari yang kau pikirkan,“ jawab gurunya.

 

“Jadi Guru juga mencurigainya?“ bertanya Puguh.

 

“Jika Gagaklahan mengambil langkah yang tidak menguntungkan, justru timbul kemungkinan-kemungkinan yang lebih buruk karena sikap kedua orang itu. Jika aku memperingatkanmu, sekedar sikap hati-hati saja,“ jawab gurunya.

 

Puguh tidak menjawab. Tetapi ketika ia kembali ke padepokan pertama, ia memang dikawani oleh kedua orang dari padepokan keduanya.

 

Ternyata bahwa Puguh berusaha untuk mendapatkan keterangan lebih banyak tentang kepergian Gagaklahan yang ternyata masih belum juga kembali.

 

“Apakah paman Gagaklahan mengikuti kedua orang itu sampai ketempat yang jauh? Atau paman Gagaklahan ganti ingin melihat kediaman kedua orang itu?“ pertanyaan itu timbul didalam hatinya.

 

Namun akhirnya semua keterangan itu telah diberitahukan kepada gurunya.

 

Memang ada beberapa kesimpulan yang dapat diambil oleh gurunya. Seperti yang diduganya, mungkin Gagaklahan ingin melihat dimana kedua orang itu tinggal. Tetapi kemungkinan lain, Gagaklahan menunggu kesempatan untuk tindakan khusus terhadap kedua orang itu.

 

“Apakah ada kemungkinan lain lagi guru?“ bertanya Puguh.

 

Gurunya menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya dengan nada rendah, “Kemungkinan itu sangat mendebarkan. Mungkin karena kedua orang itu merasa terganggu oleh sikap Gagaklahan, maka mereka telah mengambil sikap yang paling keras.”

 

“Maksud Guru, membunuh paman Gagaklahan?“ bertanya Puguh.

 

Gurunya mengangguk lemah. Katanya, “Bukankah kemungkinan itu ada?”

 

“Tetapi bukankah kemungkinan yang lebih besar adalah paman Gagaklahan membunuh kedua orang itu?“ desak Puguh.

 

“Itu kalau pamanmu mampu. Jika tidak, bukankah dapat terjadi sebaliknya?“ desis gurunya.

 

Puguh tidak segera menjawab. Memang terbayang berbagai kemungkinan dapat terjadi atas pamannya Gagaklahan. Namun agaknya pamannya itu tidak akan pergi terlalu lama jika ia sempat untuk pulang kembali ke padepokan, karena pamannya itu harus menunggui padepokan itu sebagai pengganti orang tuanya.

 

Karena Puguh tidak segera menjawab, maka guru-nyapun berkata, “Sudahlah. Tetapi kau untuk selanjutnya memang harus berhati-hati. Kau tunggu saja hari ini dan besok. Jika pamanmu Gagaklahan tidak juga kembali, maka kita dapat menyesali kepergiannya. Karena ternyata ia dan beberapa orangnya tidak akan pernah kembali lagi.”

 

“Bagaimana jika paman Gagaklahan mengikuti kedua orang itu, Guru?“ bertanya Puguh.

 

“Memang mungkin. Tetapi dengan demikian ia telah meninggalkan tanggung jawabnya atas padepokan ini. Barangkali ia berpikir justru karena kau sudah ada di padepokan sehingga Gagaklahan mempunyai kesempatan untuk pergi beberapa lama. Tetapi seharusnya ia tidak berbuat demikian. Kita harus tahu kemana orang-orang kita pergi. Bahkan keperluan mereka. Dengan demikian kita akan dapat memperkirakan berapa lama mereka meninggalkan padepokan,“ berkata gurunya.

 

Puguh mengangguk-angguk. Tetapi ia justru telah terdiam.

 

Gurunyalah yang kemudian berkata, “Sudahlah. Bukan berarti kita tidak menghiraukan mereka yang pergi itu. Tetapi sambil menunggu kita dapat berbuat yang lain.”

 

“Ya Guru,“ jawab Puguh.

 

“Kau sudah cukup lama pergi untuk memperluas penglihatanmu. Bahkan kau telah diijinkan oleh orang tuamu untuk pergi ketempat yang termasuk keras seperti Song Lawa. Karena menurut orang tuamu ditempat-tempat seperti itu, kau akan ditempa oleh keadaan, sehingga kaupun akan dapat menjadi seorang yang keras,“ berkata gurunya.

 

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tetapi ternyata Song Lawa telah dihancurkan oleh para prajurit Pajang.”

 

“Pajang memang merasa bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyatnya. Sementara tempat-tempat seperti Song Lawa itu merupakan tempat yang akan dapat menghancurkan kesejahteraan itu. Lahir dan Batin. Karena itu, maka tempat-tempat seperti Song Lawa itu bertentangan sekali dengan kebijaksanaan Pajang,“ berkata gurunya.

 

“Tetapi bagaimana dengan tempat-tempat lain?“ bertanya Puguh.

 

“Dalam kesempatan yang lain, Pajang tentu juga akan bertindak. Disebelah Barat Pajang juga ada tempat seperti itu. Namun, demikian Pajang mengetahui, tempat itu langsung dihancurkannya. Apalagi tempat itu terlalu dekat dengan pusat pemerintahan,“ berkata gurunya.

 

Puguh hanya mengangguk-angguk saja. Dua orang yang telah menolongnya itupun pernah menyebut-nyebut tempat perjudian didekat pusat pemerintahan. Penyelenggaraannya tentu orang-orang yang lebih berani lagi daripada orang-orang yang menyelenggarakan perjudian di Song Lawa.

 

Namun dalam pada itu gurunyapun berkata, “Puguh. Yang penting bagimu, bahwa kau telah mendapat pengalaman. Pengalaman yang akan sangat berarti bagi masa depanmu.”

 

“Masa depanku yang mana, Guru? “ tiba-tiba saja Puguh bertanya.

 

Gurunya mengerutkan keningnya. Tetapi iapun kemudian tersenyum. Katanya pula, “Satu pertanda yang baik, Puguh. Kau sudah bertanya tentang masa depanmu yang mana. Dengan demikian maka hatimu telah terbuka. Justru karena pengalamanmu. Mungkin pengalamanmu bergaul dengan orang-orang yang kau temui di Song Lawa, atau dengan orang-orang lain sepanjang perjalananmu. Atau apapun yang telah terjadi didalam dirimu.”

 

Puguh mengangguk-angguk. Tetapi ia masih juga bertanya, “Guru. Kenapa aku telah dibenamkan kedalam tempat-tempat seperti Song Lawa itu? Kenapa aku harus menimba pengalaman dari tempat yang suram itu? Tempat yang penuh dengan peristiwa-peristiwa yang tidak wajar sebagaimana kita jumpai dalam kehidupan.”

 

Gurunya mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia bertanya, “Apa saja yang pernah diceriterakan oleh kedua orang itu kepadamu?”

 

Puguh termangu-mangu sejenak. Namun iapun menundukkan kepalanya.

 

Gurunyalah yang kemudian berkatai “ Pengawal-pengawalmu yang kau bawa dari padepokan agaknya telah berada di Pajang sekarang, atau terbunuh. Tetapi kita tidak mencemaskan mereka, karena Pajang tidak akan menaruh perhatian secara khusus terhadap padepokan kita.”

 

Puguh masih tetap menundukkan kepalanya.

 

Sementara itu gurunya berkata pula, “Lupakan persoalan-persoalan yang bergejolak didalam hatimu. Siapkan dirimu untuk memasuki latihan-latihan kembali. Kita akan mengadakan penilaian atas pengalamanmu selama perjalananmu terakhir. Tetapi terbatas pada pengalaman olah kanuragan. Sedangkan pengalaman jiwani yang menumbuhkan permasalahan didalam dirimu sebaiknya kau simpan untuk sementara.”

 

“Aku akan mempersoalkannya dengan ayah dan ibu,“ berkata Puguh.

 

Gurunya memandang Puguh dengan tatapan mata yang redup. Namun gurunyapun kemudian menggelengkan kepalanya sambil berkata, “belum waktunya, Puguh. Orang tuamu telah menetapkan garis hidup yang harus kau tempuh. Dalam waktu dekat, keduanya tidak akan mau mendengar persoalan-persoalan yang timbul diluar garis yang telah ditentukannya.”

 

“Termasuk dengan sengaja memasukkan aku ke dalam tempat-tempat yang keras seperti Song Lawa?“ bertanya Puguh.

 

Gurunya mengerutkan dahinya. Dipandanginya Puguh dengan tajamnya, sehingga Puguhpun kemudian telah menunduk pula. Semakin dalam.

 

“Beristirahatlah,“ berkata gurunya kemudian, ”mulai besok, kita sudah akan memasuki sanggar kembali.”

 

Puguh tidak menjawab. Tetapi iapun kemudian mohon diri meninggalkan gurunya duduk seorang diri untuk merenungi keadaan muridnya itu.

 

“Sebagian adalah salahku,“ berkata orang itu kepada diri sendiri, “aku tidak dapat memenuhi keinginan orang tua Puguh untuk membuat anak itu menjadi orang yang tidak berperasaan sama sekali. Sementara itu Ki Randukeling sendiri tidak pernah menegur aku meskipun ia tahu, bahwa Puguh tumbuh menjadi seorang anak muda dengan pola yang agak berbeda dengan ketentuan kedua orang tuanya. Agaknya aku masih memberinya peluang untuk memikirkan dirinya sendiri, memikirkan orang lain, serta hubungan antara dirinya dengan orang lain. Nampaknya peluang-peluang itu telah ditusuk pula dengan pengertian-pengertian yang berhasil menyentuhnya dari kedua orang yang mengantarkannya kembali ke padepokan. Sehingga dengan demikian maka terjadi pergolakan didalam diri anak muda itu.”

 

Tetapi sebenarnyalah orang yang diserahi membentuk Puguh itu tidak sampai hati untuk membunuh mati perasaan anak itu. Meskipun hal itu setiap kali telah diutarakannya kepada Ki Randukeling, tetapi Ki Randukeling tidak pernah menaruh keberatan. Bahkan kadang-kadang Ki Randukeling telah dengan langsung berhubungan dengan Puguh dan bahkan pernah juga ia menyebut tentang pola watak anak itu. Tetapi Ki Randukeling tidak pernah menegurnya.

 

Namun ia tidak tahu, apa yang akan dikatakan oleh kedua orang tua Puguh jika mereka sempat melihat Puguh sampai kekedalaman hatinya. Karena kesempatan yang nampaknya tidak pernah tersedia, maka kedua orang tua Puguh hanya melihat Puguh pada kulitnya saja. Memberikan petunjuk-petunjuk sambil membentak-bentaknya.

 

Mengancamnya dan jika mereka ingin tahu tingkat kemampuan Puguh dalam olah kanuragan, maka mereka membawa Puguh latihan dalam sanggar. Namun jika demikian, maka tiga hari Puguh harus beristirahat, karena tulang-tulangnya bagaikan berpatahan.

 

“Anak cengeng,“ setiap kali ibunya menudingnya, “kau adalah seorang laki-laki. Kau harus menjadi orang yang lebih garang dari aku, ibumu, yang tidak lebih dari seorang perempuan.”

 

Guru Puguh itu menarik nafas dalam-dalam. Namun mau tidak mau iapun harus memikirkan Gagaklahan yang pergi tanpa diketahui tujuannya. Namun guru Puguh itu sudah memastikan bahwa Gagaklahan telah menyusul kedua orang yang telah membawa Puguh kembali ke padepokan.

 

“Sikap Gagaklahan yang bodoh itu akan dapat berakibat buruk bagi padukuhan ini,“ berkata guru Puguh itu didalam hatinya. Namun kemudian iapun berdesis kepada diri sendiri, “Mudah-mudahan dugaanku salah.”

 

Namun dalam pada itu, guru Puguh itu telah memanggil seorang yang bertubuh kurus dan sedikit bongkok. Seorang yang sehari-hari mendapat tugas untuk membersihkan halaman bangunan induk padepokan itu.

 

“Wida,“ desis guru Puguh itu.

 

Orang itu mengangguk hormat. Ketika ia kemudian duduk didepan orang yang memanggilnya itu, maka iapun bertanya, “Ki Ajar telah memanggil aku?”

 

Guru Puguh itu mengangguk. Katanya, “Ada beberapa soal yang tumbuh di padepokan ini. Ketika aku diminta tinggal disini oleh Ki Randukeling untuk mengasuh Puguh, aku sudah berpikir tujuh kali. Namun akhirnya, karena Ki Randukeling adalah sahabatku, maka permintaan itu telah aku terima. Aku masuk kedalam satu lingkungan yang asing dan mencoba hidup dengan cara yang ditentukan oleh Ki Rangga Gupita dan Warsi. Terutama untuk membentuk anaknya itu.”

 

Orang yang dipanggil Wida itu mengangguk kecil.

 

“Tetapi bagaimanapun juga, aku memang merasa perlu untuk membawamu dengan anakmu. Tidak ada orang tahu, siapakah kau sebenarnya didalam dunia kanuragan selain aku,“ berkata Ki Ajar, “sehingga dalam keadaan tertentu, aku tidak sendiri.”

 

“Apakah ada sesuatu yang terasa mengganggu Ki Ajar Paguhan sekarang ini?“ bertanya Wida.

 

“Sejak kemarin Gagaklahan telah hilang,“ berkata guru Puguh yang disebut Ki Ajar Paguhan itu, “carilah beberapa keterangan tentang orang itu.”

 

Wida mengerutkan keningnya. Tetapi iapun bertanya, “Bagaimana jika Gagaklahan tahu aku membayanginya?”

 

“Kau dapat menempatkan dirimu. Bukankah kau pernah mendapat sebutan Hantu Bayangan?“ bertanya Ki Ajar Paguhan.

 

“Tetapi itu dahulu, Ki Ajar,“ jawab Wida, “sekarang sebenarnya aku sudah menemukan ketenangan bekerja sebagai juru taman di padepokan ini, meskipun setelah bertahun-tahun disini, aku tetap tidak dapat mengenali bentuk dari padepokan ini selain mengabdi kepada Ki Ajar Paguhan.”

 

“Kita memang mendapatkan ketenangan disini Wida. Didalam padepokan. Tetapi disekitar padukuhan ini, maut telah berkeliaran. Bahkan orang-orang yang sedang mencari kayu bakar dan tersesat kedalamnyapun akan menjadi mangsa dari maut tanpa mengerti persoalannya,“ berkata Ki Ajar Paguhan.

 

Wida mengangguk. Iapun sebenarnya tahu pasti apa yang telah terjadi dan bagaimana bentuk dari padukuhan itu. Tetapi ia adalah rahasia yang tersimpan didalam tempat yang rahasia. Ia datang bersama Ki Ajar Paguhan dan anaknya laki-laki yang dinamainya Sukra, yang juga seorang yang cacat seperti dirinya. Tetapi bukan pada punggungnya. Sukra sejak lahir sebelah tangannya terlalu pendek dibanding dengan tangannya yang lain. Tetapi tangannya yang pendek itu, yang kebetulan adalah tangan kirinya , mampu bergerak setrampil tangan kanannya. Sementara itu, diwajahnya terdapat noda hitam yang sedikit lebih besar dari matanya, tepat dibawah mata kirinya.

 

Agaknya karena cacatnya yang dibawa sejak lahirnya itulah, maka Sukra menjadi seorang pendiam, perenung dan sampai ia meningkat dewasa, ia sama sekali tidak mau berdekatan dengan seorang perempuan. Namun sebagai isi dari kesepiannya itu, ia adalah seorang yang bergulat dengan ilmu disetiap hari.

 

Tetapi seperti ayahnya, maka iapun merupakan rahasia ditempat yang diliputi rahasia itu.

 

“Nah,“ berkata Ki Ajar Paguhan, “pergilah. Bawalah pertanda bahwa kau adalah penghuni padepokan ini, sehingga kau tidak akan menemui kesulitan disaat kau keluar dan masuk kembali.”

 

Orang itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah Ki Ajar. Tetapi untuk seterusnya aku akan tetap menjadi juru taman. Aku tidak akan melibatkan lagi hidupku dengan kekerasan yang kotor itu.”

 

Ki Ajar Paguhan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku justru sedang menyempurnakan warna yang kau anggap kotor itu disini. Di padepokan ini.”

 

Wida menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Memang satu perjalanan hidup yang aneh, bahwa Ki Ajar telah terdampar disini. Apakah Ki Ajar tidak dapat membicarakannya lagi dengan Ki Randukeling bahwa sebaiknya Ki Randukeling mencari orang lain untuk membentuk Puguh menjadi orang berhati batu?”

 

“Justru aku tidak sampai hati melihat anak muda itu berhati batu. Kau lihat, bahwa Puguh adalah seorang anak muda yang terhitung tampan, bermata bersih dan pikiran terang. Jika hatinya menjadi batu, maka ia adalah orang yang sangat berbahaya. Dan itu akan terjadi jika aku pergi dari padepokan ini,“ berkata Ki Ajar Paguhan.

 

Wida mengangguk-angguk. Sementara itu, Ki Ajar berkata, “Nah, selagi belum jauh terlambat. Pergilah dan usahakan untuk mendapat keterangan tentang Gagaklahan.”

 

“Apakah kawan-kawan Gagaklahan dipadepokan pertama tidak berusaha mencarinya?“ bertanya Wida.

 

“Wida. Kau dengar. Aku minta kau mencari keterangan tentang Gagaklahan,“ desis Ki Ajar Paguhan.

 

Wida mengangguk kecil. Jawabnya, “Baik Ki Ajar. Aku akan berusaha. Tetapi sebagaimana setiap usaha, maka akan dapat terjadi beberapa kemungkinan.”

 

“Aku sudah tahu Wida,“ sahut Ki Ajar.

 

Wida mengerutkan keningnya, sementara Ki Ajar Paguhan berkata selanjutnya, “Satu usaha akan dapat berhasil, tetapi juga dapat tidak berhasil. Bukankah kau akan berkata begitu?”

 

Wida menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “benar Ki Ajar. Dan aku sekarang sudah bukan aku yang dahulu. Bukan lagi dapat disebut Hantu Bayangan atau sebutan-sebutan lain yang dapat menakuti anak-anak. Tetapi aku adalah seorang yang kurus dan bongkok. Lemah dan setiap hari bersenjatakan sapu lidi dihalaman bangunan induk padepokan yang terasing ini.”

 

Ki Ajar Paguhan tersenyum. Katanya, “jangan merajuk begitu. Bukankah menurut katamu, kau temukan ketenangan disini?”

 

Widapun kemudian meninggalkan Ki Ajar Paguhan seorang diri. Beberapa saat ia masih sempat merenungi muridnya yang tersentuh oleh wajah kehidupan yang lain dari pola kehidupannya yang dingin oleh orang tuanya.

 

Sementara itu, Widapun telah menemui anaknya. Juga seorang yang tugasnya membersihkan halaman seperti ayahnya. Kepada Sukra ayahnya mengatakan apa yang harus dilakukan diluar padepokan yang dirahasiakan itu.

 

“Aku akan minta pertanda agar aku tidak mengalami kesulitan di jalan keluar dan masuk nanti,“ berkata Wida.

 

“Kepada siapa?“ bertanya Sukra.

 

“Landep,“ jawab Wida, “Landep adalah salah seorang yang dipercaya oleh Ki Lurah Lembu Ireng.”

 

“Orang itu tentu akan bertanya macam-macam. Kemana ayah akan pergi. Untuk apa, sampai kapan dan segala macam pertanyaan yang bahkan kadang-kadang tidak masuk akal,“ berkata Sukra.

 

“Jadi bagaimana menurut pendapatmu?“ bertanya Wida.

 

“Pergi sajalah. Ayah tentu akan dapat masuk dan keluar tempat yang sudah kita kenal dengan baik ini,“ berkata anaknya.

 

“Tetapi justru lingkungan diluar padepokan ini,“ berkata Wida sambil melangkah terbongkok-bongkok.

 

“Bukankah ayah pernah keluar masuk padepokan mengantar Ki Ajar jika ia bepergian?“ desak anaknya.

 

“Tetapi Ki Ajar berpesan, agar aku membawa pertanda itu,“ jawab Wida. Namun kemudian katanya, “Nah, sampaikan kepada Ki Ajar, bahwa aku akan keluar atas perintah Ki Ajar untuk mencari daun, batang dan akar wregu putih. Ki Ajar sedang membuat reramuan obat-obatan. Jika Landep meyakinkan kebenaran kata-kataku dan bertanya kepada Ki Ajar, jawabnya akan serupa.”

 

Sukra mengangguk-angguk. Jawabnya, “Baiklah ayah. Aku akan menyampaikan kepada Ki Ajar.”

 

“Sekarang, sebelum Landep mendahuluimu,“ desak ayahnya.

 

Sukra mengangguk-angguk sambil menjawab, “Tentu ayah. Aku tahu akibatnya jika kau terlambat. Mudah-mudahan Ki Ajar masih ada ditempatnya.“ namun kemudian pesannya, “tetapi hendaknya ayah berhati-hati.”

 

Wida tersenyum pula. Iapun kemudian menyahut, “Kenapa tidak kau lanjutkan kata-katamu? Ayah sekarang sudah tua, sudah semakin lemah dan tidak lagi bergairah untuk hidup.”

 

Tetapi Sukra menggeleng. Katanya, “Bukan maksudku ayah.”

 

“Nah, sudahlah. Pergilah,“ potong ayahnya.

 

Sukrapun kemudian pergi menghadap Ki Ajar yang masih saja duduk merenung ditempatnya, memberi tahukan tentang kepergian ayahnya serta alasan yang di kemukakannya untuk mendapati pertanda.

 

Landep memang tidak mempersulit permintaan Wida. Ia tahu benar bahwa Wida adalah seorang juru taman pelayan dekat Ki Ajar Paguhan. Karena itu, ketika ia mengatakan bahwa ia mendapat perintah dari Ki Ajar, maka Landep memang tidak bertanya lebih banyak lagi.

 

Hari itu juga Wida meninggalkan padepokan yang penuh dengan rahasia itu. Beberapa kali ia memang bertemu dengan beberapa orang yang meronda dan mengawasi serta menjaga keterasingan dan kerahasiaan padepokan itu. Tetapi kebanyakan dari mereka telah mengenal Wida. Apalagi ia memang membawa pertanda umtuk keluar dan pada saatnya memasuki padepokan itu lagi.

 

Demikian Wida berada di luar padepokan, meskipun ia masih berada di padang yang sempit. Dipandanginya langit yang cerah, matahari yang menyala serta pepohonan yagn hijau. Apalagi ketika kemudian ia sampai ke tanah persawahan. Ketika dilihatnya dua orang petani bekerja disawah, maka rindunya pada kehidupan wajar semakin menyala dihatinya.

 

“Seandainya aku mempunyai sebidang tanah, meskipun hanya beberapa kotak kecil,“ katanya kepada diri sendiri, “aku akan menggarapnya dengan kesungguhan hati, mencintai tanah itu seperti mencintai anakku Sukra.”

 

Tetapi Wida sudah terlanjur terbenam dalam kehidupan yang tidak sewajarnya, sehingga sulit baginya untuk dapat keluar dari keadaannya.

 

Dengan bahan-bahan yang sedikit tentang kedua orang yang mengantar Puguh kembali ke padepokannya, maka Wida mulai menelusuri jalan untuk mencarinya.

 

Yang mula-mula dituju adalah Gantar, karena ia tahu, untuk mencapai padepokan pertama, maka mereka tentu melalui Gantar. Dengan demikian pada saat mereka meninggalkan padepokan itu, maka merekapun tentu akan melalui Gantar pula.

 

Ternyata bahwa Wida masih mempunyai ketelitiannya yang pernah dimiliki. Dengan tanpa menimbulkan kecurigaan, ia bertanya tentang dua orang yang pernah melewati Gantar itu.

 

“Dua orang adikku yang baru berkunjung kerumahku. Ada barangnya yang ketinggalan,“ berkata Wida.

 

“Jika keduanya adikmu, kenapa kau tidak tahu kemana mereka pergi?“ bertanya seorang penjual dawet yang ditanya oleh Wida.

 

“Adikku adalah orang-orang aneh. Mereka mengembara dari satu tempat ketempat lain. Atau katakan saja, mereka adalah pemalas yang tidak mau bekerja dengan wajar,“ jawab Wida.

 

Penjual dawet itu memang tidak dapat menunjukkan. Tetapi berkat ketelitiannya, maka akhirnya Widapun tahu kemana arahnya kedua orang itu pergi.

 

Menjelang matahari turun ke punggung pebukitan, maka Wida telah berada di bulak panjang yang pernah dilalui pula oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung. Justru di bulak itu pula keduanya telah dicegat oleh Gagaklahan bersama kawan-kawannya.

 

Namun tiba-tiba saja Wida merasakan sesuatu yang tidak sewajarnya. Karena itu, maka dengan tiba-tiba saja Wida itu bagaikan lenyap dari jalan yang dilewatinya. Tidak seorangpun yang sempat melihat, bagaimana ia terguling dan hilang menyusup diantara pohon perdu di pinggir jalan itu.

 

Seorang yang berjalan beberapa puluh langkah dibelakangnya justru tidak terkejut. Tidak pula merasa kehilangan, karena orang itu memang tidak sedang mengikuti Wida. Ia berjalan saja menurut arah yang dikehendakinya. Ada atau tidak ada seorang Wida berjalan di jalan itu.

 

Ia memang melihat seseorang berjalan agak jauh didepannya. Tetapi ketika ia sempat mengingatnya, orang itu sudah tidak kelihatan lagi. Tetapi ia sama sekali tidak menghiraukannya.

 

Namun orang yang berjalan itu terkejut bukan buatan, justru ketika seseorang muncul dari balik gerumbul berjalan terbongkok-bongkok mendekatinya.

 

“Kau?” bertanya orang itu.

 

“Kau akan pergi kemana Puguh?“ bertanya Wida, “kau meninggalkan padepokan seorang diri dalam keadaan yang agak kalut seperti ini.”

 

“Kau akan pergi ke mana?“ bertanya Puguh sebelum menjawab pertanyaan Wida.

 

“Aku mendapat perintah Ki Ajar Paguhan untuk mencari daun, batang dan akar wregu putih untuk reramuan obat-obatan,“ jawab Wida.

 

“Obat apa?“ bertanya Puguh pula.

 

“Aku tidak tahu,“ jawab Wida.

 

“Dan kau juga tidak tahu ujud daun, batang dan akar wregu putih itu?“ bertanya Puguh pula.

 

“Tentu aku tahu,“ jawab Wida, “aku sudah terbiasa mencarinya. Tetapi wregu putih memang sulit didapatkan. Yang pernah aku ketemukan itu sudah tidak ada lagi sekarang di tempatnya. Padahal waktu itu, aku hanya mengambil akarnya sedikit untuk menjaga agar pohon wregu putih itu tidak mati.”

 

“Dan kau sekarang akan mencari kemana?“ bertanya Puguh.

 

Wida menggeleng. Jawabnya, “Aku belum tahu. Aku berjalan saja menyusuri jalan ini. Mudah-mudahan aku akan memasuki sebuah padukuhan yang memiliki sebatang pohon wregu putih.“ Wida berhenti sejenak, lalu, “Kau akan pergi kemana? Kau belum menjawab pertanyaanku.”

 

Puguh termangu-mangu. Namun Widalah yang menebaknya, “Kau akan mencari Gagaklahan yang belum kembali? Bagimu, siapakah yang lebih penting? Gagaklahan atau orang-orang yang telah mengantarmu itu?”

 

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba iapun bertanya, “Kau tentu juga mencari Gagaklahan.”

 

Tetapi Wida tersenyum sambil menggeleng, “Memang mungkin ada orang lain yang mencarinya. Tetapi tentu bukan aku. Aku adalah pelayan yang tentu tidak akan menerima tugas-tugas seperti itu. Namun tentang jenis-jenis dedaunan, karena aku sudah melayani Ki Ajar bertahun-tahun, maka aku memang agak dapat mengenalinya.“ Wida berhenti sejenak, lalu, “Apakah dari padepokan pertama tidak ada orang yang berusaha menemukan Gagaklahan?”

 

“Orang-orang malas itu hanya bergairah jika mendapat perintah untuk membunuh. Tetapi mencari pembunuh-pembunuh seperti Gagaklahan agaknya mereka tidak berminat sama sekali,“ jawab Puguh.

 

“He, bagaimana mungkin terjadi seperti itu. Kau dapat memerintahkan kepada mereka. Siapa yang malas, segan atau tidak berminat dapat kau penggal kepalanya dihadapan kawan-kawannya, agar tidak seorangpun yang berlaku demikian,“ berkata Wida.

 

Puguh tidak menjawab. Tetapi kepalanya justru tertunduk lesu.

 

“Kau tidak sependapat?“ bertanya Wida.

 

“Cukup,“ tiba-tiba saja Puguh membentak.

 

Wida menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Baiklah. Aku tidak akan menyebutnya lagi.“ Namun iapun kemudian bertanya, “Dan sekarang kau akan pergi ke mana?”

 

Puguh termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berkata, “Aku memang ingin mencari berita tentang Gagaklahan.”

 

“Darimana kau berangkat?“ bertanya Wida.

 

“Aku mendapat keterangan dari beberapa orang Gantar dan menurut perhitunganku berdasarkan darimana kami datang ke Gantar, maka kedua orang itu agaknya telah menempuh jalan ini. Tetapi lalu kemana?“ desis Puguh.

 

Wida mengerutkan keningnya. Tetapi ia bertanya, “Siapakah sebenarnya yang kau cari? Gagaklahan atau kedua orang yang mengantarkanmu pulang ke padepokan?

 

“Kau tahu yang aku maksud,“ jawab Puguh, “tanpa penegasan, kau sudah cukup mengerti. Karena itu, tidak ada perlunya hal itu kau tanyakan. Apalagi berkali-kali.”

 

Wida menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kemudian ia berkata, “Baiklah. Katakan, bahwa aku sudah menduganya. Agaknya kaupun berpendapat bahwa Gagaklahan telah memburu kedua orang yang mengantarkanmu untuk membunuhnya.”

 

“Atau untuk mengantarkan nyawanya,“ sahut Puguh.

 

Wida mengangguk-angguk. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah kedua orang itu berilmu sangat tinggi, sehingga Gagaklahan dan kawan-kawannya mungkin terbunuh oleh mereka? Padahal yang mengikuti Gagaklahan tentu tidak hanya seorang.”

 

Puguh mengangguk. Katanya, “Yang pergi dan belum kembali bersama Gagaklahan ternyata adalah enam orang.”

 

“Nah. Jika demikian maka Gagaklahan tentu akan membunuh mereka. Mungkin Gagaklahan sekarang sedang mencari mereka atau mengikuti mereka sampa ketempat tertentu,“ desis Wida.

 

Puguh tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba saja ia berkata, “Marilah. Kita mencari mereka.”

 

“Kemana,“ bertanya Wida, “sementara langii menjadi semakin buram.”

PUGUH termangu-mangu sejenak. Namun akhirnya ia menggeleng dan berkata " Aku akan mencarinya, "

" Marilah. Aku temani kau pulang. Baru kemudian aku akan mencari pohon wregu putih. " ajak Wida.

" Aku akan berjalan terus " berkata Puguh.

Wida hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Meskipun Puguh itu murid Ki Ajar Paguhan, tetapi serba sedikit ia dapat mengenali wataknya. Karena itu, maka agaknya sulit baginya untuk dapat membawa Puguh kembali.

Namun dalam pada itu, mereka melihat seorang yang berjalan sambil menjinjing cangkulnya, sementara beberapa puluh langkah kemudian seorang yang lain memanggul cangkulnya dipundaknya. Mereka adalah orang-orang yang pulang dari sawah setelah sehari-harian bekerja.

Ternyata sebelum Wida berbuat sesuatu, Puguh telah mendekati orang itu dan bertanya " Apakah Ki Sanak melihat dua orang asing yang berjalan lewat bulak ini sekitar dua hari yang lalu? "

Petani itu mencoba mengingat. Namun kemudian katanya " Aku memang bertemu dengan beberapa orang asing dua hari yang lalu. Tetapi tidak hanya dua orang. "

" Berapa orang? " bertanya Puguh.

" Tujuh atau delapan orang. " jawab orang itu.

Petani itu mengangguk. Katanya pula " Adalah satu kebetulan, bahwa aku dan seorang kawanku berada di sebuah gubug. Aku singgah di gubugnya itu untuk sekedar minum. Dari gubug itu kami melihat beberapa orang lewat. " orang itu berhenti sejenak, lalu " kenapa dengan orang-orang itu ? "

" Mereka menuju ke mana? " bertanya Puguh.

" Aku tidak tahu mereka pergi kemana. Tetapi mereka menempuh jalan ini. Aku melihat mereka justru telah berada di jalan menuju ke kuburan tua. " jawab orang itu.

" Jadi kita harus berbelok ke kanan? " bertanya Puguh.

" Tidak. Kau tempuh jalan ke kiri ini. " jawab orang itu,

" Tetapi Ki Sanak tadi datang dari arah kanan. " sahut Puguh.

" Ya. Aku memang datang dari sawah sebagaimana tetanggaku itu. " berkata orang itu ketika seorang yang memanggul cangkul itu lewat dan bahkan berhenti pula. Lalu katanya pula " saat aku singgah di gubug itu aku baru pulang dari bepergian, bukan dari sawah. "

" Ada apa? " bertanya orang yang memanggul cangkul.

" Tentang orang asing yang lewat beberapa hari yang lalu " jawab petani yang terdahulu.

" O, memang menjadi pembicaraan. Ada beberapa orang yang sempat melihat mereka selagi orang bekerja di sawah. Mereka pergi ke kuburan tua, " jawab laki-laki yang seorang lagi " tetapi aku tidak melihat sendiri Aku hanya mendengar beberapa orang membicarakan. "

" Lalu, dari kuburan tua mereka pergi kemana? " bertanya Puguh ingin tahu.

" Tidak ada yang pernah melihat, kemana mereka pergi. " jawab petani yang kedua itu.

" Terima kasih Ki Sanak " tiba-tiba saja Wida menyahut " keterangan Ki Sanak sangat berharga bagi kami. "

Puguh berpaling kearah Wida. Sebenarnya ia masih ingin bertanya lagi. Tetapi dengan demikian maka kedua orang petani itu telah minta diri.

" Ki Sanak berdua nampaknya terlalu keras bekerja " berkata Wida kemudian " pada saat begini Ki Sanak berdua baru pulang dari sawah. "

" Kerja yang tanggung " jawab salah seorang diantara mereka " tinggal satu sudut kecil yang harus kami siangi. Daripada besok, maka aku selesaikan saja sama sekali. "

Yang lain hanya tersenyum saja. Namun demikian keduanya bersama-sama meninggalkan Puguh dan Wida. Namun Puguh masih juga bertanya " Apakah kuburan tua itu masih jauh. "

Wida menggamitnya. Tetapi nampaknya kedua petani itu memang tertarik kepada pertanyaan Puguh, sehingga seorang diantaranya bertanya " Kalian akan pergi ke kuburan tua disaat seperti ini?

Tetapi Widalah yang menjawab sambil tertawa " Tentu tidak Ki Sanak. "

Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Tetapi seorang diantara mereka bertanya " Lalu kalian akan pergi kemana sekarang? Dan dimana kalian akan bermalam? "

Yang menjawab adalah Puguh " Jangan hiraukan kami. "

Kedua petani itu memang tidak bertanya lagi. Keduanya justru dengan cepat meninggalkan tempat itu dan dengan tergesa-gesa menuju ke padukuhan mereka. Tetapi disepanjang jalan mereka justru berbincang tentang kedua orang dibulak itu.

" Keduanya cukup mencurigakan " berkata seorang diantara mereka.

" Ya. Sebagaimana beberapa orang beberapa hari yang lalu. Secara kebetulan aku melihat mereka " jawab  kawannya.

Ketika kedua orang itu sampai di padukuhan, hari memang sudah menjadi gelap. Namun mereka sempat singgah dirumah tetangga mereka diujung jalan dan menceriterakan kedua orang yang bertanya-tanya tentang beberapa orang yang asing bagi padukuhan itu yang  lewat beberapa hari yang lalu.

Dari mulut ke mulut, berita itu tersebar, sehingga anak-anak mudanyapun mendengar pula. Karena itulah, maka malam itu di gardu parondan terdapat banyak anak-anak muda dan bahkan bebahu padukuhanpun ada yang berada di gardu didepan banjar,

" Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa " desis seorang bebahu kepada seorang anak muda yang duduk disebelahnya.

" Jika terjadi sesuatu, kami sudah siap " jawab anak muda itu.

Bebahu itu mengangguk-angguk. Tetapi bebahu itu tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa meskipun agak jauh dari padukuhan mereka, terdapat lingkungan yang sangat gawat. Lingkungan yang tidak dapat dijamah oleh siapapun. Orang-orang padukuhan itu memang tidak banyak yang mengetahuinya, namun sebagai bebahu padukuhan ia sering bertemu dengan bebahu padukuhan lain, sehingga iapun pernah mendengar tentang pertanda topeng kecil yang seram itu.

" jalma mara jalma mati, sato mara sato mati " desis seorang bebahu dari padukuhan lain yang pernah ditemuinya, ketika ia menceriterakan tempat yang gawat itu. Setiap orang yang menjamah tempat itu akan mati.

Sementara padukuhan itu menjadi bersiaga, maka Puguh dan Wida telah berada di kuburan tua itu. Tetapi didalam gelapnya malam mereka tidak dapat berbuat apa-apa, sehingga mereka harus bermalam dikuburan itu sampai esok pagi.

Puguh memang sedikit meremang jika ia melihat keadaan disekelilingnya. Tetapi ia tidak mengeluh. Iapun berusaha untuk tidak terpengaruh oleh keadaan di kuburan tua itu, Namun nyamuk memang terlalu banyak.

Namun yang tidak diketahui oleh Puguh dan Wida adalah, bahwa beberapa orang di padukuhan terdekat dari kuburan itu telah membicarakan mereka. Bahkan Ki Bekel telah memanggil beberapa bebahu dan orang yang langsung telah bertemu dengan Puguh dan Wida.

Ternyata bahwa kehadiran kedua orang itu dianggap menggelisahkan seisi padukuhan. Apalagi keduanya telah bertanya tentang kuburan tua yang dianggap wingit dan keramat itu.

—- Kita harus mengawasi mereka " berkata Ki Jagabaya.

" Tetapi mereka berada dimana sekarang? " bertanya seorang bebahu vane lain.

" Aku kira mereka memang berada dikuburan. Karena itu, kita harus mengawasi jalan yang menuju ke kuburan itu serta pematang-pematang yang mungkin mereka lalui. Sementara itu, kita melaporkannya kepada Ki Demang, " jawab Ki Jagabaya.

Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Katanya " Apakah kita perlu bersusah payah mengamati kedua orang itu? Apakah tidak cukup bagi kita untuk bersiaga di padukuhan kita? "

Ki Jagabaya memang masih muda, sementara Ki Bekel menjadi semakin tua, sehingga karena itu, beberapa orang menilai bahwa Ki Bekel nampaknya sudah tidak terlalu bergairah untuk berbuat banyak. Namun harapan penghuni padukuhan itu ada pada anak Ki Bekel. Seorang anak muda yang memiliki tubuh yang tinggi kekar.

Karena itu, beberapa orang bebahu, termasuk Ki Jagabaya telah berpaling kearahnya. Anak Ki Bekel itu mengerti, bahwa para bebahu berharap agar ia membantu mereka, mendesak kepada Ki Bekel untuk mendapat ijin bertindak. Karena itu, maka anak Ki Bekel itupun berkata " Ayah. Agaknya memang cukup bagi kita untuk sekedar berjaga-jaga di padukuhan. Tetapi dengan demikian, kita tidak dapat melihat apa yang terjadi disekitar kita, yang mungkin akan dapat membahayakan kita. Dan apakah menurut ayah, berjaga-jaga bagi padukuhan kita itu terbatas pada dinding-dinding padukuhan? Bukankah sawah dan ladang serta lingkungannya juga termasuk padukuhan kita? Ayah, kuburan tua itu ada ditengah-tengah bulak kita. Bukit kecil itu adalah bukit kita. Karena itu ada baiknya bagi kita untuk mengawasinya. "

Ki Bekel mengangguk-angguk. Ia tahu, bahwa Ki Jagabaya dan bebahu yang lain memang lebih senang bekerja dengan anaknya daripada dengan dirinya yang semakin tua.

Tetapi Ki Bekel tidak berkeberatan bahwa para bebahu lebih banyak bekerja bersama dengan anaknya daripada dengan dirinya, karena bagi Ki Bekel anaknya itulah masa depannya dan masa depan padukuhan itu. Ia berharap bahwa anaknya akan dapat menggantikan kedudukannya dan melakukan tugasnya dengan lebih baik dari pada dirinya sendiri.

Karena itu, maka Ki Bekel itupun kemudian menjawab " Baiklah. Terserah kepadamu, apa yang baik menurut pikiranmu. Tetapi aku berpendapat, bahwa kita sebaiknya mengatasi persoalan kita sendiri. Baru setelah kita mengalami kesulitan dan yakin tidak akan dapat memecahkannya, maka kita baru akan melaporkan kepada Ki Demang. "

Anaknya mengangguk-angguk. Katanya _" Ayah benar. Kita akan melakukannya lebih dahulu. Kita memang bukan anak-anak yang cengeng. "

Demikianlah, maka anak Ki Bekel itu telah mendapat kepercayaan dari ayahnya untuk bekerja bersama Ki Jagabaya mengamati kedua orang yang mereka duga telah berada di kuburan tua.

" Jika mereka belum memasuki kuburan itu malam ini, maka besok mereka tentu akan datang. Nampaknya perhatian mereka begitu besar kepada kuburan tua itu setelah mereka mendengar bahwa beberapa orang asing beberapa saat lalu juga telah pergi ke kuburan itu. " berkata Ki Jagabaya.

" Nah, agaknya kita sudah mengambil langkah yang benar. Jika beberapa orang yang asing bagi kita itu beberapa hari yang lalu juga masuk ke kuburan itu, maka kita memang perlu memperhatikannya. " berkata anak Ki Demang.

Dengan demikian, maka para bebahu serta anak Ki Demang itupun telah mempersiapkan orang-orang mereka. Anak-anak muda yang memang sudah siap, telah dibagi dan mendapat tugasnya masing-masing disekitar kuburan tua di bukit kecil itu. Mereka mendapat tugas mengawasi saja dari sekitar bukit. Dimalam hari, mereka tidak diperintahkan untuk memasuki kuburan itu.

Karena itulah maka semalam suntuk mereka tidak menemukan apapun juga, karena ketika mereka mulai memancar disekitar kuburan tua itu, Puguh dan Wida sudah ada didalamnya.

Anak-anak muda di padukuhan yang bertugas disekitar kuburan itu memang merasa agak segan. Mereka sebenarnya lebih baik bertugas menangkap satu dua orang penjahat dimanapun asal tidak dikuburan tua itu. Tetapi mereka tidak dapat memilih tempat.

Namun yang bertugas bukannya hanya satu dua orang. Tetapi sekelompok anak-anak muda dan bahkan beberapa orang laki-laki yang sudah lebih tuapun ikut pula bersama mereka, sehingga dengan banyak kawan beban mereka terasa menjadi lebih ringan.

Di atas bukit kecil, dikuburan tua itu, Puguh hampir tidak dapat tidur sekejappun. Bukan saja karena nyamuk yang banyak sekali. Tetapi iapun merasa sangat gelisah.

Kepergian Gagaklahan menimbulkan dugaan yang buruk baginya atas kedua orang yang pernah menolongnya dan yang tiba-tiba terasa sangat akrab dengannya. Puguh tidak ingin kedua orang itu dibunuh oleh Gagaklahan dan orang-orangnya.

Ketika bayangan fajar mulai nampak dilangit, maka Puguhpun telah membenahi pakaiannya. Iapun mulai melangkahi nisan-nisan tua yang melihat-lihat apakah ada tanda-tanda yang dapat menunjukkan sesuatu tentang beberapa orang yang pernah memasuki kuburan itu sebelumnya.

Wida yang juga hampir tidak dapat tidur itu memperhatikannya dengan saksama. Sambil terbatuk-batuk iapun kemudian bertanya " Apa yang kau cari Puguh? "

Puguh tidak menjawab. Sementara langitpun menjadi semakin terang, sehingga Puguh melihat semakin jelas apa yang ada ditanah pekuburan tua yang lembab itu.

Tiba-tiba saja jantung Puguh bagaikan berdegup semakin cepat. Dengan serta merta iapun telah memanggil " Kemarilah. "

Widapun dengan tergesa-gesa telah mendekat. Ia tidak dapat bergerak secepat Puguh. Dengan hati-hati Wida melangkah diantara batu-batu nisan. Sekali-sekali ia harus bergeser dengan hati-hati.

Namun demikian Wida mendekati Puguh, maka jantungnya juga menjadi berdebar-debar. Meskipun demikian ia masih juga bertanya kepada Puguh " Ada apa? "

" Kau lihat ini ? " bertanya Puguh.

Wida menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk kecil ia berkata " Beberapa jenis senjata. -

" Ya " Puguh mengangguk-angguk. Namun ia menjadi semakin berdebar-debar ketika ia melihat ditempat lain terdapat pula cangkul.

" Kau tahu artinya ini Wida? " bertanya Puguh.

" Aku memang tidak begitu cerdik. Yang aku ketahui hanyalah beberapa jenis tanaman di kebun. Namun melihat senjata-senjata ini, aku mengira bahwa memang pernah datang beberapa orang kemari. Tetapi mereka tidak sempat membawa senjata mereka pergi, Agaknya bukannya dengan sengaja mereka meninggalkan senjatanya, karena senjata itu sangat penting bagi mereka. Namun demikian kita masih dapat berharap bahwa senjata-senjata itu bukan milik Gagaklahan dan kawan-kawannya. " desis Wida.

" Jadi kau lebih senang bahwa senjata-senjata itu milik Wanengbaya dan Wanengpati? " bertanya Puguh.

" Jika mereka hanya berdua, senjatanya tentu tidak akan sekian banyak " jawab Wida.

Puguh tidak menjawab. Iapun kemudian telah melangkah lagi diantara batu-batu nisan, sehingga akhirnya iapun telah sampai ke pinggir kuburan itu. Sejenak ia berdiri termangu-mangu. Ia melihat seonggok tanah yang basah. Menurut pendapatnya tentu sebuah kuburan baru. Tetapi terlalu besar menurut ukuran kuburan sewajarnya. Tiba-tiba saja Puguh menggeram " Aku menjadi penasaran. Aku ingin meyakini apa yang telah terjadi disini. "

Wida tidak mencegahnya. Iapun sebenarnya juga ingin mendapatkan satu kepastian, apakah yang terjadi.

Karena itu, ketika Puguh kemudian mengambil cangkul dan menggali tanah yang basah yang dianggapnya sebagai satu kuburan baru itu, Widapun membantunya meskipun ia berkata " Kau hanya membuang-buang waktu saja Puguh. Sementara itu, Ki Ajar menunggu aku pulang membawa wregu putih. "

" Pergilah jika kau mau pergi. Aku tidak memaksamu untuk membantuku " bentak Puguh.

Wida tidak menjawab. Tetapi ia tidak meninggalkan Puguh.

Beberapa saat kemudian, terasa cangkul puguh menyentuh sesuatu. Karena itu, maka iapun menjadi berhati-hati. Apalagi ketika kemudian ia yakin, bahwa ia telah menemukan bukan saja seorang didalam kubur itu, tetapi beberapa orang.

Namun Puguh tidak perlu melihat semua orang. Darahnya yang mengalir semakin cepat, rasa-rasanya menjadi dingin kembali ketika ia yakin, seorang diantara mereka yang terbunuh itu adalah Gagaklahan. Sementara yang lain tidak perlu mereka kenali satu-satu. Tetapi Puguh tidak melihat pakaian sebagaimana dipakai oleh Wanengbaya dan Wanengpati.

" Jadi menurut dugaanmu Gagaklahanlah yang telah terbunuh? " bertanya Wida.

" Bukan dugaanku. Tetapi kita melihat dengan mata kita masing-masing. " jawab Puguh.

" Mungkin mereka mati bersama-sama " desis Wida.

" Tidak. Didalam kuburan ini tidak terdapat kedua orang itu. Aku mengenali pakaian mereka yang hampir tidak pernah berganti, karena mereka tidak membawa bekal pakaian yang cukup saat mereka lari dari Song Lawa. " desis Puguh.

" Jadi kedua setan itu telah membunuh Gagaklahan? " geram Wida,

" Salahnya sendiri " Puguh membentak " tidak seorangpun memerintahkan mereka untuk mengejar dan apalagi membunuh kedua orang itu. Kedua orang itu adalah orang yang berilmu sangat tinggi. Bahkan akupun curiga, bahwa yang pernah aku lihat baru sebagian kecil dari ilmu mereka. "

Wida mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu iapun bertanya " Jadi kita tidak menyesal, bahwa bagian dari tubuh kita telah dibunuh oleh kedua orang itu? "

Pertanyaan itu memang membingungkan Puguh. Namun tiba-tiba saja ia berkata " Kuburan ini harus kita timbun kembali. "

Keduanyapun segera telah menimbun kuburan itu. Bahkan Puguhpun telah mengambil beberapa senjata yang berserakan dan dimasukkan pula kedalam kubur yag besar itu.

" Sekarang, apa yang akan kita lakukan? " bertanya Wida setelah mereka selesai menimbun kembali kuburan itu.

Puguh termangu-mangu sejenak, Ketika ia menengadahkan wajahnya, matahari sudah memancar di-langit meskipun masih belum tinggi.

" Bukankah kau akan mencari akar wregu putih? " Puguhlah yang kemudian bertanya.

Wida menarik nafas dalam-dalam. Katanya dengan ragu-ragu " Apakah sebaiknya aku mengantar kau pulang? "

" Kenapa aku harus diantar pulang? Kau kira kau berarti bagi perjalananku kembali ke padepokan? " bentak Puguh.

Wida termangu-mangu. Tetapi ia menyadari akan keadaannya. Ia memang tidak lebih dari seorang juru tanaman serta melayani Ki Ajar Paguhan. Karena itu, maka katanya kemudian " Terserah kepadamu Puguh. Jika kau memang tidak memerlukan aku, maka aku memang akan mencari akar wregu putih. "

" Pergilah " geram Puguh.

" Tetapi apakah kau tidak akan membersihkan dirimu. Tanganmu, kakimu bahkan pakaianmu " berkata Wida.

" Di sawah itu tentu ada parit. Bukan persoalan yang perlu dibicarakan " berkata Puguh kemudian.

Wida tidak dapat berbuat lain. Iapun kemudian berkata " Baiklah. Berhati-hatilah. Kita tidak tahu apakah kedua orang yang sangat baik kepadamu itu akan tetap bersikap baik setelah mereka mengalami perlakuan Gagaklahan, yang diketahuinya berasal dari padepokanmu. Orang yang dianggap akrab denganmu. Mungkin kedua orang itu menganggap bahwa justru kaulah yang telah memerintahkan membunuh mereka dengan alasan yang dapat saja mereka buat-buat sendiri. "

Puguh mengerutkan keningnya. Pikiran Wida itu memang masuk akal. Tetapi Puguhpun menjawab " Aku mengenal keduanya dengan baik. Mereka tidak akan berbuat seperti itu. "

Wida tidak menjawab lagi. Iapun kemudian bergeser diantara batu-batu nisan menuju ke pintu gerbang yang juga sudah mulai rusak.

" Sudahlah Puguh " berkata Wida " aku akan mencari akar wregu putih, agar Ki Ajar tidak memarahiku. "

Puguh tidak menjawab. Tetapi iapun mulai bergerak meninggalkan seonggok tanah yang baru saja ditimbunkannya pada kuburan terbaru di kuburan tua itu. Tetapi Puguh telah membiarkan Wida keluar lebih dahulu dari kuburan itu.

Ketika Puguh kemudian juga akan meninggalkan kuburan tua itu, iapun telah dikejutkan oleh kedatangan Wida kembali. Bahkan dengan tergesa-gesa dan nafas yang terengah-engah.

" Puguh " katanya dengan gagap " kuburan ini telah dikepung orang. "

Wajah Puguhpun menjadi tegang. Dengan pendek ia bertanya " Siapa? "

Wida menggelengkan kepalanya. Jawabnya dengan suara bergetar " Aku tidak tahu, Puguh. Ketika aku akan turun ke parit, maka aku lihat beberapa orang berada diujung jalan. Kemudian aku bergeser ke balik gerumbul. Ternyata ketika aku lihat kearah lain, akupun melihat beberapa orang yang berkerumun. Dari sisi gerbang kita akan dapat melihat mereka, karena kita berada diatas bukit betapapun kecilnya. Tetapi kita harus berhati-hati agar mereka tidak melihat kita. "

" Setan " geram Puguh " apakah mereka orang-orang dari padepokan kita? "

" Tentu bukan. Aku tentu dapat mengenali mereka " berkata Wida " aku mengenal orang-orang di padepokan pertama dan apalagi orang-orang di padepokan kedua. "

Puguh termangu-mangu sejenak. Namun hampir diluar sadarnya ia bertanya kepada Wida " Apa yang sebaiknya aku lakukan? "

" Kita menunggu disini Puguh " jawab Wida " mudah-mudahan mereka tidak naik. Agaknya mereka menjadi curiga, karena dalam beberapa hari berturut-turut beberapa orang telah naik ke bukit kecil ini, sehingga mereka menganggap perlu untuk mengetahui, apa yang terjadi disini. "

Bagaimana jika mereka naik? " bertanya Puguh.

Wida menarik nafas dalam-dalam. Katanya " Mudah-mudahan mereka tidak mempunyai cukup keberanian untuk naik. Mereka mungkin menganggap ada sekelompok orang disini. Yang datang beberapa hari yang lalu, mereka anggap masih belum meninggalkan tempat ini, sementara kami telah naik pula. "

Puguh mengangguk-angguk. Katanya " Kita akan menunggu. Tetapi jika mereka naik, kita akan menerobos keluar. "

Wida termangu-mangu. Sementara itu Puguh berkata " Tentu orang orang yang kemarin memberikan petunjuk kepada kita. "

" Tetapi mereka tidak sengaja menjebak kita " berkata Wida " mungkin mereka melaporkan kehadiran kita karena mereka ketakutan. Atau bahkan sama sekali tidak sengaja, karena mereka hanya menceriterakan saja bahwa mereka telah bertemu dengan kita. Tetapi ceritera itu telah berkembang dan sampai ketelinga para bebahu.

" Jika mereka melakukan kekerasan dan apalagi sampai menyentuh kulitku, mereka akan menyesal. Padukuhan itu akan dapat aku hancurkan meskipun tanpa paman Gagaklahan. " berkata Puguh dengan geram.

" Jangan tergesa-gesa menyalahkan mereka " berkata Wida " merekapun mempunyai hak untuk melindungi diri mereka. Jika saat ini mereka mengepung bukit ini adalah karena naluri mereka untuk mempertahankan diri. Kita harus menyadari, bahwa ada perbedaan dasar pemikiran antara mereka dengan kita. "

Puguh termangu-magu sejenak. Tetapi iapun kemudian berkata " Sampai kapan kita akan berada disini? "

Wida mengerutkan keningnya. Tetapi iapun kemudian menjawab " Aku tidak tahu sampai kapan kita harus berada disini. Tetapi aku kira itu adalah jalan yang paling baik yang dapat kita tempuh sekarang. "

Puguh menggeretakkan giginya. Tetapi ia telah melangkah kembali ke tengah-tengah kuburan tua itu.

Untuk beberapa lama Wida dan Puguh menunggu. Sementara itu matahari dilangit menjadi semakin tinggi. Sekali-sekali Wida dengan hati-hati mengintip dari balik gerumbul-gerumbul liar disekitar kuburan itu. Namun ternyata orang-orang yang mengepung kuburan itu masih belum pergi.

" Aku tidak telaten " geram Puguh " aku akan menerobos kepungan itu. Mereka tidak akan dapat menahanku. "

" Kita tidak perlu membuka persoalan baru dengan orang-orang padukuhan itu " berkata Wida " meskipun barangkali mereka tidak akan mampu menahanmu, tetapi dalam pertempuran yang kisruh itu kemungkinan-kemungkinan buruk dapat saja terjadi. Mungkin senjatamu telah menggores satu dua orang padukuhan, sehingga mereka mendendammu. "

" Mereka tidak mengenal aku " berkata Puguh " dan seandainya mereka dapat mengenali aku, apa yang dapat mereka lakukan atas padepokan kami? "

" Mereka memang tidak akan dapat berbuat apa-apa. Tetapi mereka tentu merasa mempunyai pelindung. Mereka akan dapat melaporkan persoalan-persoalan yang menyangkut pengamanan lingkungan mereka kepada Pajang. Dan apa yang terjadi di Song Lawa itu dapat terjadi pula disini. " jawab Wida.

Mereka tidak mengetahui letak padepokan kita " berkata Puguh.

" Kau kira Pajang tidak mempunyai petugas-petugas sandi yang cakap? Aku sudah memperingatkan orang padukuhan kedua, bahwa topeng-topeng yang mereka pasang itu justru merupakan tuntunan terbaik dari para petugas sandi Pajang untuk menemukan padepokan kita. Tetapi tidak seorangpun yang mau mendengarkan aku, karena aku adalah seorang juru tanaman. Mereka lebih senang menakut-nakuti orang untuk menjaga kerahasiaan padepokan kita itu. " berkata Wida pula.

" Cukup " bentak Puguh " kau tidak akan dapat menentang kebijaksanaan orang tuaku. Mereka bukan orang dungu yang tidak mempertimbangkan seribu kemungkinan yang dapat terjadi. "

Wida mengangguk-angguk. Katanya " Mungkin kau benar. Aku memang tidak banyak mengetahui tentang hal-hal seperti itu. Tetapi aku tahu benar jenis-jenis pohon pisang yang paling baik. "

" Apakah kau pernah mendengar hal seperti itu dari Guru? " bertanya Puguh.

" Tentang pohon pisang? " bertanya Wida.

" Jangan bodoh. Tentang cara yang tidak tepat untuk melindungi padepokan itu " geram Puguh.

Wida menggeleng. Katanya " Tidak. Ki Ajar tidak pernah mengatakan apa-apa tentang hal itu. Yang dilakukan oleh Ki Ajar adalah tidak lebih dan tidak kurang memenuhi permintaan Ki Randukeling, menuntunmu dalam oleh kanuragan. "

" Jadi, Guru itu sekedar melakukan permintaan kakek? " bertanya Puguh.

" Bukan. Maksudku bukan begitu. Ki Ajar sendiri memang berniat mengangkat seorang murid. Dan muridnya itu adalah kau " berkata Wida.

Puguh memandang Wida dengan tatapan mata yang tajam. Ia seakan-akan melihat dibalik ujudnya yang sederhana, bodoh dan cacat itu sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih berharga dari ujud lahiriahnya itu.

Tetapi Puguh tidak mengatakan sesuatu. Bahkan tatapan matanya seakan-akan telah menusuk kedalam jantung Wida serta mengumpatinya.

Wida menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia tidak mau memandang wajah Puguh yang tegang itu.

Untuk beberapa saat keduanya justru saling berdiam diri. Tiba-tiba saja Wida bangkit dan melangkah ke pintu gerbang yang rusak. Dengan hati-hati menyelinap di balik gerumbul ia memperhatikan orang-orang yang berada dibawah bukit itu.

Ternyata orang-orang itu tidak hanya sekedar menunggu.

Karena itu, maka dengan tergesa-gesa Wida menyuruk masuk kembali kedalam kuburan itu. Dengan wajah yang gelisah ia berkata " Puguh. Mereka agaknya sudah jemu menunggu, Beberapa orang diantara mereka mulai bergerak naik. Mereka akan memasuki kuburan tua ini. "

Puguh menggeram. Dengan nada berat ia berkata " Untuk apa sebenarnya mereka mencampuri urusanku. "

Wida menarik nafas dalam-dalam. Katanya " Mereka tentu tidak sengaja mencampuri urusanmu. Tetapi mereka dituntun oleh kegelisahan mereka tentang orang-orang yang memasuki kuburan tua ini, justru kuburan diatas bukit kecil ini terletak di lingkungan mereka. "

" Apapun alasannya, apa yang sebaiknya kita lakukan sekarang, Wida? " bertanya Puguh yang menjadi gelisah.

Wida termangu-mangu. Jika ia sendiri, maka kehadiran orang-orang itu tidak menjadi soal baginya. Ia akan dapat membuat alasan mencari dedaunan yang dapat dijadikan obat-obatan. Atau jika orang-orang itu memaksa tidak mempercayainya, maka ia akan dengan mudah dapat menghindarkan diri. Tetapi ia tidak akan dapat melakukannya dihadapan Puguh yang menganggapnya tidak lebih dari seorang juru tanaman.

Namun Wida itu menjadi berdebar-debar ketika Puguh itupun kemudian tegak berdiri sambil menggenggam hulu pedangnya "

Aku akan menyingkirkan mereka yang menghalangi jalanku. "

" Jangan " minta Wida " kau tidak boleh berselisih dengan mereka. "

" Jadi kau ingin aku menyerah kepada mereka dan menurut apapun yang mereka perintahkan kepadaku? " bertanya Puguh.

" Bukan begitu " jawab Wida " kita mencari jalan lain. Jika terjadi perselisihan, apalagi jatuh korban, maka orang-orang dipadukuhan itu tentu akan memperhatikan padepokan yang ada di sekitar tempat ini, atau katakan, padepokan yang paling dekat dengan tempat ini. Padepokan itu adalah padepokan disebelah Gantar itu. "

" Kenapa mereka langsung memandang ke padepokan kita? Apakah mereka tidak mempunyai dugaan lain? " bertanya Puguh.

—Mungkin mereka memang menduga-duga. Tetapi salah satu diantara perhitungan mereka adalah padepokan kita. Karena itu, lebih baik kita tidak menyakiti hati mereka. " berkata Wida.

" Jika demikian, apakah yang sebaiknya kita lakukan? " bertanya Puguh pula.

" Sebaiknya kau menghindar saja. Meloncatlah lewat dinding dibalik rimbunnya pohon-pohon liar itu. Aku akan memancing perhatian mereka dari regol. " berkata Wida " carilah kesempatan untuk melarikan diri. Ingat, lebih baik kita melarikan diri daripada kita membentur kekuatan mereka. Seperti yang sudah aku katakan, meskipun kita akan dapat  menyingkirkan dan menyibakkan jalan bagi kita, tetapi setitik darah dari mereka akan dapat membawa persoalan ini sampai ke Pajang. "

Tetapi Puguhpun kemudian bertanya " Bagaimana jika kau ditangkap? "

" Aku akan mengatakan kepada mereka, bahwa aku memang mencari akar wregu putih atau jenis dedaunan yang lain untuk obat-obatan. " jawab Wida.

" Bagaimana jika mereka bertanya tentang orang-orang lain yang pernah naik ke bukit ini? " desis Puguh " bukankah kau kemarin datang bersamaku dan bertanya tentang orang-orang yang asing itu? "

" Jika kau berhasil menyingkir, maka aku akan mengatakan bahwa kaulah yang mencari mereka. Bukan aku. " jawab Wida.

Puguh masih akan bertanya lagi, tetapi Wida memotongnya " Sudahlah. Jangan terlambat. "

Namun Puguh masih saja nampak ragu-ragu. Bagaimanapun juga, ia merasa-berat hati untuk meninggalkan Wida sendiri. Mungkin ia akan ditangkap dan dibawa ke padukuhan. Bahkan mungkin ia akan dapat justru dibawa ke Pajang.

Tetapi Wida mendesaknya " Cepat. Tinggalkan kuburan ini. Cari kesempatan untuk lolos. Berhati-hatilah. Aku akan pergi ke regol dan memancing perhatian mereka. Jangan bertanya lagi. "

Puguh memang tidak sempat bertanya lagi. Wida telah pergi keregol kuburan tua itu. Tetapi ia tidak lagi menyuruk dibawah gerumbul-gerumbul. Dengan sengaja ia berjalan terbongkok-bongkok keluar dari gerbang yang sudah rusak itu.

Namun sejenak kemudian ia tertegun. Ia melihat beberapa orang yang memanjat naik. Tidak hanya lewat jalan setapak yang menuju kepintu gerbang itu, tetapi dari arah lain beberapa orangpun telah naik pula meskipun mereka harus merangkak-rangkak diantara batang ilalang, pohon-pohon perdu dan batu-batu padas.

Sementara itu, Puguh telah menyelinap pula dibalik gerumbul-gerumbul perdu yang nampak liar. Dengan hati-hati ia telah meloncati dinding didalam rimbunnya pepohonan. Dinding kuburan tua yang untung saja tidak roboh karenanya.

Ketika ia berada diluar dinding kuburan, maka dari balik dedaunan ia memang melihat beberapa orang yang berada dibawah bukit. Nampaknya hanya beberapa orang sajalah yang naik dari arah depan dan samping. Sementara yang lain tetap menunggu dibawah bukit kecil itu.

Puguh memang harus menunggu sejenak. Jika Wida berhasil memancing perhatian orang-orang itu, maka ia akan mendapat kesempatan untuk melarikan diri.

Dilereng bukit itu terdapat banyak gerumbul-gerumbul perdu yang liar dan rimbun.

Sebenarnyalah, sejenak kemudian, Puguh telah mendengar suara ribut didepan kuburan. Agaknya Wida telah menarik perhatian orang-orang itu. Ternyata beberapa orang justru telah berlari-lari ke arah depan kuburan tua itu.

Puguh menjadi berdebar-debar. Rasa-rasanya ia tidak dapat membiarkan Wida mengorbankan dirinya. Tetapi iapun tidak ingin ditangkap oleh orang-orang padukuhan itu.

Untuk beberapa saat Puguh masih saja bersembunyi di balik gerumbul liar yang rimbun. Ia tidak menghiraukan betapa kulitnya menjadi gatal oleh ulat berbulu dan semut-semut yang mengerumuni dan menggigit kakinya.

Ternyata Wida kemudian berhasil . Dari tempatnya bersembunyi Puguh melihat beberapa orang saling berkejaran. Bahkan orang-orang yang mengepung bukit itupun telah ikut pula bergeser ke arah depan bukit itu.

Kesempatan mulai terbuka bagi Puguh. Dengan sangat berhati-hati ia menyelinap dari gerumbul yang satu kegerumbul yang lain. Sehingga akhirnya ia sampai pada satu lapisan gerumbul yang menghadap ke lereng bukit yang agak terbuka.

Dengan perhitungan yang cermat, maka Puguh telah menentukan arah, kemana ia harus berlari. Menurut perhitungannya, bagaimanapun juga, tentu akan ada orang yang melihatnya. Tetapi jika ia dapat mencapai ujung pematang diantara tanaman padi yang tumbuh dengan suburnya, maka ia tentu akan dapat meloloskan diri. Ia masih yakin akan kemampuan tenaga cadangannya yang dapat mendorongnya berlari lebih cepat. Dengan demikian ia berharap bahwa orang-orang yang mengepung bukit itu tidak akan dapat mengejarnya.

Untuk beberapa saat Puguh menunggu. Pada saat yang dianggapnya tepat, maka Puguh itupun segera berlari sekencang-kencangnya diatas batang ilalang yang terbuka. Jarak antara gerumbul yang satu dengan gerumbul yang lain menjadi agak jauh.

Sebagaimana diperhitungkan, beberapa orang memang telah melihatnya. Karena itu, seorang diantara merekapun telah berteriak " Itu, seorang lagi. "

" Ya. Seorang lagi " sahut yang lain.

Beberapa orang segera berlari-lari kearah Puguh melarikan diri. Tetapi seperti yang diperhitungkan oleh Puguh, bahwa ia memang memiliki kemampuan berlari lebih cepat dari orang-orang yang mengepung bukit itu.

Karena itu, ketika perhatian mereka tertuju ke bagian depan kuburan tua itu, maka mereka benar-benar telah kehilangan Puguh. Dengan cepat Puguh seperti menggelinding di lereng bukit itu, menerobos batang-batang ilalang dan dengan cepat mencapai salah satu ujung pematang.

Sebelum orang-orang padukuhan yang mengepung bukit itu menyadari keadaan sepenuhnya, maka Puguh telah berlari menyusur sebuah pematang, memasuki bulak yang luas.

Beberapa orang memang mencoba mengejarnya.

Tetapi anak muda itu seakan-akan telah menghambur keluasnya medan yang tidak terjangkau lagi oleh orang-orang yang berlari-lari menyusulnya. Jaraknya justru semakin lama menjadi semakin panjang, sehingga akhirnya Puguh itu menjadi nampak semakin kecil.

Orang-orang yang mengejarnya akhirnya merasa bahwa mereka tidak akan berhasil. Puguh itu bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya menyusup dihijaunya bulak yang luas.

Ketika daun padi yang basah oleh embun mulai berkilat-kilat oleh cahaya matahari, maka Puguh itu telah hilang dari penglihatan orang-orang yang mengejarnya.

Puguh yang merasa bahwa tidak seorangpun yang mengejarnya lagi, telah memperlambat langkahnya. Bahkan iapun kemudian berjalan saja dengan langkah wajar menjauhi bukit kecil itu.

Namun Puguh tidak mau mengambil jalan yang biasanya dilalui menuju ke Gantar. Mungkin ada diantara orang-orang yang mengejarnya menyusuri jalan itu. Namun demikian Puguh pada dasarnya akan kembali kepadepokannya lewat Gantar juga, meskipun ia harus mengambil jalan-jalan yang lebih sempit dan lebih kecil.

Diperjalanan menuju ke Gantar, Puguh sempat memikirkan kemungkinan yang terjadi pada Wida. Orang yang tubuhnya cacat itu akan mengalami kesulitan untuk menghindarkan diri dari; sekian banyak orang yang mengepung bukit kpcil itu.

Bahkan j Puguh mulai membayangkan, jika Wida kemudian tertangkap, lalu apakah yang akan terjadi atas dirinya? Apakah pada suatu saat, Wida akan berterus terang tentang padepokannya. Meskipun Wida akan dapat menyebut padepokannya yang pertama. Namun dengan demikian padepokannya itu akan mulai menjadi sorotan banyak orang. Apalagi jika benar seperti yang dikatakan Wida, bahwa persoalannya akan dibawa sampai ke Pajang.

Bagaimanapun juga Puguh merasa iba memikirkan orang tua yang cacat itu. Jika orang-orang padukuhan itu memaksanya berbicara karena mereka tidak percaya kepada keterangan Wida, bahwa ia mencari dedaunan untuk obat-obatan, maka ia akan mengalami kesulitan lahir dan batin.

" Sulit untuk mempercayainya, bahwa ia sedang sekedar mencari obat-obatan, justru karena ada orang yang melihat aku melarikan diri. Bahkan orang yang mengetahui kedatangan kami mencari orang-orang yang tidak dikenal di lingkungan ini " berkata Puguh kepada diri sendiri.

Namun Puguh itu berjanji pula kepada diri sendiri, jika Wida tertangkap dan ditahan di padukuhan itu, maka ia akan berusaha untuk melepaskannya. Bahkan jika perlu dengan kekerasan.

Tetapi bagaimanapun juga Puguh memang harus melaporkannya kepada gurunya.

Dalam pada itu, semakin lama langkah Widapun menjadi semakin dekat dengan Gantar. Tetapi tidak melalui jalan yang dilaluinya disaat ia berangkat. Ditempuhnya jalan yang lebih kecil. Namun mendekati Gantar, jalan kecil itupun nampaknya telah menjadi ramai juga. Banyak orang yang berangkat dan pulang dari pasar untuk menjual dan membeli kebutuhan mereka sehari-hari.

Demikian Puguh masuk ke Gantar, maka iapun menjadi semakin berhati-hati. Mungkin beberapa orang yang mengepung kuburan tua itu mendapat tugas untuk mengamati daerah Gantar dan sekaligus menangkapnya, apabila orang-orang itu mampu mengenalinya, karena mereka hanya melihatnya melompat dari balik gerumbul dan berlari turun diantara batang ilalang. Kemudian memasuki bulak yang luas. Tetapi tidak mustahil bahwa orang akan dapat mengenali pakaiannya, sikap dan gerakan-gerakannya.

Namun ternyata bahwa tidak seorangpun yang patut dicurigainya. Orang-orang Gantar dan orang-orang lain yang ada di Gantar sama sekali tidak menghiraukannya. Demikian pula ketika ia memasuki jalan keluar dari Gantar menuju ke padepokannya. Sehingga dengan demikian maka Puguh merasa dirinya benar-benar telah lolos dari tangan orang-orang yang mengepung kuburan tua itu.

Tetapi yang kemudian dipikirkannya adalah Wida. Ia telah mengorbankan dirinya untuk membebaskannya.

Puguh memang tidak mengira sebelumnya, bahwa pada suatu saat ia harus berhutang budi kepada orang cacat, yang menjadi juru tanaman di padepokan gurunya itu. Meskipun orang itu cacat , tetapi Wida termasuk orang penting bagi gurunya, karena selain keduanya mempunyai perhatian yang sama-sama bersungguh-sungguh terhadap berjenis-jenis tanaman, Wida juga sering mendapat tugas dari gurunya untuk mencari jenis dedaunan, akar-akaran atau tanaman yang dapat dibuat beberapa jenis obat-obatan.

" Apa yang akan terjadi dengan orang tua yang cacat itu? " bertanya Puguh kepada diri sendiri. Namun Puguh memang sudah bertekad bahwa orang tua itu harus dibebaskannya.

Dalam pada itu, Puguh yang telah berada diluar  padukuhan induk Gantar, telah berjalan lebih cepat lagi. Ia ingin segera sampai ke padepokannya dan melaporkan peristiwa yang telah terjadi kepada gurunya. Tentang hilangnya Gagaklahan yang ternyata telah berada didalam kubur bersama beberapa orang pengikutnya. Sementara itu, Wida agaknya telah ditangkap oleh orang-orang padukuhan karena ia berusaha untuk memancing perhatian orang-orang itu bagi keselamatan Puguh

Ketika Puguh berjalan dengan kepala tunduk melintasi sebuah tikungan, maka tiba-tiba saja ia terkejut. Seorang tua yang agak bongkok duduk dipinggir jalan dengan tenangnya.

" Wida " justru Puguhlah yang menjadi gagap.

Wida itupun kemudian bangkit berdiri. Sambil melangkah menyongsong Puguh ia tersenyum. Katanya " Kau berhasil lolos Puguh. Aku memang sudah yakin bahwa kau akan dapat lolos dari tangan mereka. "

" Tetapi bagaimana kau sendiri lolos? " bertanya Puguh.

" Aku memang lebih dahulu lari dari kau. Jika kau yang kemudian berhasil lolos, maka kemungkinanku tentu lebih besar " jawab Wida.

" Tetapi orang-orang itu mengejarmu " berkata Puguh.

Wida tertawa. Katanya " Ketika kau lari menuruni bukit kecil itu, maka orang-orang padukuhan itu telah berramai-ramai mengejarmu sehingga aku telah mereka lupakan. "

Puguh mengerutkan keningnya. Memang mungkin hal itu terjadi, tetapi agaknya ada sesuatu yang agak berlebihan. Seandainya orang-orang itu mengejarnya tentu ada satu dua orang yang tidak melupakan sama sekali orang tua yang terbongkok-bongkok itu.

Tetapi Puguh tidak menanyakannya lagi. Katanya kemudian " Marilah. Kita menghadap guru untuk memberikan laporan apa yang telah terjadi. "

" Kita harus bertemu dengan Ki Ajar sebelum kedua orang tuamu datang. " desis Wida.

Puguh mengerutkan dahinya. Iapun sadar apa yang terjadi jika kedua orang tuanya mengetahui peristiwa yang terjadi di padepokan. Bahwa Gagaklahan terbunuh meskipun salahnya sendiri. Karena itu, ia memang sependapat, bahwa mereka harus membicarakan dengan gurunya lebih dahulu sebelum orang tuanya mengetahuinya.

Karena sebenarnyalah bahwa Puguh merasa lebih dekat dengan gurunya daripada kedua orang tuanya yang jarang berada di padepokan yang pertama maupun yang kedua. Apalagi sejak adiknya kemudian lahir. Perhatian kedua orang tuanya lebih banyak tertuju kepada adiknya. Sehingga karena itu, maka kedua orang tuanya serta sekelompok pengikutnya yang lain, yang agaknya memang sengaja diberi batas dengan para pengikutnya yang ada di padepokan pertama dan kedua.

Dengan demikian, maka Puguh dan Wida itupun telah mempercepat langkah mereka. Orang yang dianggap ayah dan ibu Puguh telah beberapa lama meninggalkan padepokan itu. Jika tiba-tiba saja mereka kembali, maka Puguh akan mengalami kesulitan untuk menjelaskan apa yang telah terjadi itu.

Dalam pada itu, yang telah jauh meninggalkan kuburan tua itu adalah Sambi Wulung dan Jati Wulung. Mereka telah menempuh perjalanan kembali. Mereka tidak menuju ke tempat Risang tinggal untuk menempa diri. Tetapi mereka langsung menuju ke Tanah Perdikan Sembojan.

Kedatangan mereka di Tanah Perdikan Sembojan disambut oleh Nyai Wiradana, Kiai Soka dan Nyai Soka. Sambil tersenyum-senyum Kiai Soka bertanya " Bagaimana kabar perjalanan kalian berdua? "

Sambi Wulung dan Jati Wulungpun tersenyum. Ia yakin bahwa sebagian dari perjalanan mereka telah diketahui oleh Kiai Soka dan sudah barang tentu Nyai Soka dan bahkan tentu Nyi Wiradana.

" Atas perlindungan Yang Maha Agung, perjalanan kami selalu dalam keadaan baik Kiai " jawab Sambi Wulung.

Nyai Soka dan Nyi Wiradanapun telah bertanya tentang keselamatan Sambi Wulung dan Jati Wulung diperjalanan. Perjalanan yang panjang dan cukup lama.

" Kiai Soka tentu sudah berceritera " berkata Jati Wulung setelah mengabarkan keselamatannya dalam perjalanan bersama Sambi Wulung.

Kiai Soka tertawa. Katanya " Aku hanya melihat sebagian saja dari ceritera yang tentu panjang dan menarik, "

Jati Wulung tertawa, sementara Sambi Wulung bertanya " Apakah Kiai Badra juga ada disini? "

Kiai Soka menggeleng. Katanya " Kiai Badra telah berada bersama Risang. "

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Sambil memandang Nyi Wiradana ia bertanya " Apa saja yang pernah diceriterakan oleh Kiai Badra dan Kiai Soka? "

" Tentang apa? " Nyi Wiradana justru bertanya

" tentang isi tempat perjudian yang disebut Song Lawa atau tentang prajurit Pajang yang sempat mengganggu kesenangan kalian? "

Sambi Wulung berdesah. Sementara Nyi Wiradana berkata selanjutnya " Bukankah kalian kerasan berada ditempat seperti Song Lawa itu? "

Yang menjawab adalah Jati Wulung " Sekali-sekali Nyi. "

Nyi Wiradana tertawa. Kiai dan Nyai Sokapun tertawa pula. Dengan nada rendah Nyai Soka bertanya " Ada apa saja didalam lingkungan yang disebut Song Lawa itu. "

Sambi Wulung yang juga tertawa itu menjawab " Sayang, kami terlambat mencoba memasuki tempat itu. Isinya benar-benar mendebarkan. Judi, kekerasan, kecurigaan dan raksasa-raksasa yang bertugas. "

" Tidak ada yang lain? " desak Nyi Wiradana.

" Ah, itu urusan anak-anak muda " jawab Jati Wulung sambil mengangkat mangkuk minuman yang telah dihidangkan. +

Nyi Wiradana tertawa semakin panjang.

Namun akhirnya pembicaraan merekapun sampai juga kepada anak muda yang bernama Puguh. Anak muda yang memang harus menjadi pusat perhatian Sambi Wulung dan Jati Wulung.

Nada Sambi Wulungpun menjadi lebih bersungguh-sungguh. Katanya " Akhirnya kami temukan juga anak muda yang bernama Puguh itu. "

" Kau kenali beberapa hal tentang pribadinya? " bertanya Kiai Soka. " Juga tataran kemampuannya serta kemungkinan di waktu mendatang baginya? "

" Ya " jawab Sambi Wulung.

" Katakan " desis Nyi Wiradana.

" Aku akan mengatakan apa yang aku ketahui sesuai dengan pengenalanku dan barangkali Jati Wulung akan dapat melengkapinya. Aku tidak ingin nenambah atau mengurangi agar penilaian kita atas anak itu lebih mendekati kebenaran sehingga kita akan dapat menentukan sikap lebih jauh. "

Nyi Wiradana, Kiai Soka dan Nyai Sokapun menjadi bersungguh-sungguh pula. Dengan nada dalam Kiai Sokapun berkata " Justru kau harus mengatakan yang sesungguhnya. Lalu katanya " Baiklah. Aku akan mencobanya. "

Dengan singkat Sambi Wulungpun kemudian menceriterakan pengenalannya atas Puguh. Iapun menyatakan bahwa gambarannya tentang Puguh ternyata salah setelah ia bertemu, berbicara dan bahkan untuk beberapa saat bersama-sama menempuh perjalanan menuju ke padepokannya.

Nyi Wiradana mengerutkan keningnya. Yang dikatakan oleh Sambi Wulung bukannya yang diharapkannya. Sebagai seorang ibu dari seorang anak laki-laki yang terancam jiwanya hampir disetiap saat, maka naluri keibuannya menganggapnya bahwa anak laki-lakinya itulah anak yang terbaik. Puguh yang dianggapnya sebagai saingan anaknya itu, terutama kedudukan yang bakal di warisinya, dibayangkannya sebagai seorang anak laki-laki yang keras, kasar dan jahat. Meskipun dalam beberapa hal sifat Puguh memang tidak terpuji, namun menurut Sambi Wulung Puguh pada dasarnya bukan seorang anak muda yang jahat.

Tetapi Nyi Wiradana yang telah beberapa lamanya memerintah Tanah Perdikan Sembojan atas nama anaknya yang bakal mewarisi kedudukan ayahnya, ia terbiasa untuk mempergunakan nalarnya, bukan saja perasaannya. Karena itu, maka iapun mencoba memahami ceritera Sambi Wulung. Karena sebagaimana dirinya, Sambi Wulung semula juga membayangkan bahwa Puguh bukannya anak yang baik.

Dari Jati Wulung, Nyi Wiradana itu mendengar bahwa agaknya gurunyalah yang telah mengendapkan sifat-sifat ibu dan orang yang dianggapnya ayahnya.

" Kedua orang yang dianggap orang tuanya itu telah mendorongnya untuk mendapatkan pengalaman yang dapat memacunya untuk menjadi orang yang dikehendaki oleh mereka. Tetapi ternyata hasilnya justru berbeda. " Jati Wulung berhenti sejenak, lalu " bukan saja pengalaman diluar lingkungan mereka, padepokan merekapun dibayangi oleh pertanda-pertanda yang dapat mendirikan bulu tengkuk. Bahkan bukan sekedar pertanda, tetapi benar-benar batas neraka yang mengerikan bagi mereka yang terperangkap ditempat itu. Sengaja atau tidak sengaja.—

Nyi Wiradana mengangguk-angguk, la harus menerima kenyataan itu jika ia akan dapat menyusun satu sikap yang paling baik bagi Risang.

" Jadi menurut pendapat mu, Puguh belum memenuhi keinginan kedua orang tuanya? " bertanya Kiai Soka.

" Ya Kiai " jawab Sambi Wulung " menurut tanggapan kami berdua, kedua orang tua Puguh menghendaki agar Puguh menjadi orang sebagaimana suasana yang diciptakan disekitarnya. Bahkan agaknya Puguh harus menjadi garang melampaui kegarangan ibunya. "

" Tetapi menurut pendapatmu, gurunya tidak bersikap sebagaimana kedua orang tuanya? " bertanya Kiai Soka pula.

Sambi Wulung, maka Jati Wulung itupun berkata " Kami tidak tahu pasti Kiai. Tetapi setidak-tidaknya ada sesuatu yang agak menghambatnya. Ilmu yang diungkapkan dalam setiap benturan, kurang meyakinkan kami, bahwa kedua orang tuanya telah berhasil membentuk Puguh menjadi iblis kecil yang berbahaya. "

Kiai Soka mengangguk-angguk. Namun dalam pada itu Sambil Wulungpun telah memberikan gambaran tentang kemampuan dan pengalaman Puguh, sehingga menurut pendapat Sambi Wulung maupun Jati Wulung, Puguh nampak lebih dewasa dari Risang. Baik dalam tingkah laku maupun cara mereka berpikir.

Nyi Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berkata " Kita memang harus menerima kenyataan ini. Namun sesudah itu, apakah yang sebaiknya kita lakukan. Aku tidak sekedar dibakar oleh dendam didalam hati. Aku sama sekali tidak ingin berbuat sesuatu untuk mencelakakan orang lain. Jika aku gelisah tentang Risang itu semata-mata karena aku menginginkannya dapat duduk tenang dalam warisan jabatan kakeknya. Aku tidak akan mengajari Risang untuk memburu seseorang berdasarkan dendam. Tetapi akupun tidak mau Risanglah yang diburu tanpa dapat melindungi dirinya sendiri. "

Nyai Soka yang mengangguk-anggukpun berkata " Pertentangan didalam lingkungan hidup Puguh agaknya memang telah memacunya untuk menjadi cepat dewasa. Agaknya kedua orang tuanya bersikap keras terhadapnya, sementara anak itu telah didera untuk tenggelam dalam jenis-jenis kehidupan yang buram. Aku sependapat, tentu ada imbangan pandangan hidup yang membuatnya tidak menjadi iblis kecil sebagaimana diharapkan oleh kedua orang tuanya menilik cara hidup dan lingkungan yang telah diciptakannya. Mungkin gurunya, mungkin orang lain yang dekat dengannya. "

" Orang yang terdekat dengan Puguh dan dipanggilnya Paman adalah justru iblis yang sebenarnya " berkata Jati Wulung. Iapun kemudian berceritera tentang orang yang bernama Gagaklahan yang menyusul mereka.

" Kami terpaksa membunuh mereka " berkata Sambi Wulung pula.

Kiai Soka mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia bertanya " Berapa orang sudah kau bunuh dalam perjalanan itu? "

" Kami tidak dapat berbuat lain " sahut Sambi Wulung " sejak kami mendekati Song Lawa, maka kami sudah terpaksa mulai membunuh. Kami tahu bahwa bukan tujuan kami untuk berbangga diri karena kami memiliki ilmu untuk membunuh. Tetapi jika dengan membunuh kami tejah menyelamatkan diri kami serta mengurangi kemungkinan orang-orang itu membunuh orang lain yang lebih lemah dari kami, maka terpaksa hal itu kami lakukan. "

Kiai Soka menarik nafas dalam-dalam. Sambi Wulungpun telah menceriterakan pula bagaimana mereka terpaksa membunuh orang-orang yang akan membunuhnya dilingkungan yang diberi tanda dengan sebuah topeng kecil yang menakutkan.

Nyi Wiradanapun mengangguk-angguk pula. Dengan ceritera yang panjang itu, ia dapat mengetahui, betapa sulitnya perjalanan kedua orang itu. Perjalanan yang dilakukan untuk kepentingan anaknya, Risang. Langsung atau tidak langsung.

Karena itu, maka Nyi Wiradana itupun kemudian berkata " Aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kalian berdua. Sokurlah bahwa kalian telah mampu mengatasi kesulitan-kesulitan yang terjadi disepanjang perjalanan. Jika karena sesuatu hal kalian tidak dapat mengatasi kesulitan di perjalanan, betapa besar hutang yang harus aku tanggungkan. "

" Jangan berpikir begitu Nyi Wiradana " sahut Sambi Wulung " bagi kami, kesediaan untuk melakukan sesuatu tentu disertai tanggung jawab. Dalam satu kesulitan atau bahkan kemungkinan yang paling buruk sekalipun, maka itu sudah termasuk dalam kesediaan kami. "

" Terima kasih " desis Nyi Wiradana. Lalu " Berapa kalipun aku ucapkan, rasa-rasanya masih belum memadai. "

" Sudahlah " berkata Sambi Wulung kemudian " sekarang bagaimana harus kita lakukan terhadap Risang. -

Nyi Wiradana mengangguk-angguk. Kemudian kepada Kiai Soka dan Nyai Soka iapun bertanya " Apakah Kiai dan Nyai mempunyai petunjuk bagi perkembangan Risang? Bagaimanapun juga, kelebihan Puguh atas Risang akan dapat membahayakan. Mungkin ia bukan seorang yang jahat. Tetapi jika pada suatu saat, ibunya serta orang yang dianggap ayahnya itu memerintahkan, maka ia tentu akan bertindak atas Risang. Jika saatnya datang, akan  dapat terjadi sebagaimana terjadi atas ayah Ki Wiradana, mertuaku laki-laki, yang harus bertempur dalam perang tanding melawan Kalamerta apapun alasannya. Sebagai seorang laki-laki, maka Ki Gede Sembojan tidak menolak. Selebihnya, karena dengan demikian, maka persoalan akan dibatasi antara kedua orang yang bertanggung jawab. Jika pada saat itu Ki Gede tidak membekali dirinya dengan ilmu yang cukup, maka Ki Gede tentu akan gugur. Agaknya bekal ilmu itulah yang kurang mendapat perhatian kakang Wiradana. Ia agaknya terlalu manja sementara ayahnya tidak bertindak lebih keras kepadanya, sehingga apa yang terjadi sekarang ini telah terjadi. "

Kiai Soka dan Nyai Soka mengangguk-angguk. Mereka mengerti apa yang dipikirkan oleh Nyi Wiradana. Kemungkinan itu memang dapat saja terjadi, sebagaimana Nyi Wiradana yang muda telah menantang Nyi Wiradana untuk berperang tanding. Tantangan itu memang dapat dielakkan. Apalagi oleh seorang Kepala Tanah Perdikan yang akan dapat mengerahkan para pengawalnya. Tetapi dengan demikian namanya akan dapat menjadi suram.

Orang-orang yang mendambakan kejantanan tentu akan menjadi kecewa.

Karena itu, maka Kiai Sokapun berkata " Baiklah. Kita harus segera pergi menemui Kiai Badra. Kita akan membuat penilaian sekali lagi atas kemampuan Risang. Selanjutnya perbandingan yang ada antara Risang dan Puguh. Terutama dilakukan oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung yang dapat langsung mengetahui tingkat kemampuan Puguh. Tetapi selain itu, maka aku ingin menganjurkan kepada Nyi Wiradana untuk tidak lupa menyempurnakan ilmu yang pernah kita berikan. Janget Kinatelon. Satu jenis ilmu yang kami susun bertiga, sehingga merupakan ilmu yang berada diatas tingkat ilmu kami masing-masing. Jika Nyi Wiradana mampu mengembangkannya, maka ilmu itu aku kira cukup memadai. Kita tidak dapat lengah menghadapi orang yang memiliki sifat dan watak seperti Warsi dan Ki Rangga Gupita. Kita sebenarnya tidak terlalu mencemaskan Ki Randu Keling yang memiliki pengamatan lebih luas tentang kehidupan daripada Warsi dan Ki Rangga. Dengan demikian, tidak mustahil jika pada suatu saat ibu dan anak laki-laki itu akan datang bersama-sama untuk menantang perang tanding. "

Nyi Wiradana mengangguk-angguk. Katanya " Aku sangat berterima kasih atas kesempatan \ memiliki ilmu yang disebut Janget Kinatelon itu. Karena itulah maka menjadi kewajibanku untuk memelihara dengan baik. Bahkan mengembangkannya. Meskipun karena kemampuanku yang terbatas, maka perkembangan ilmu itu agaknya memang terlalu lambat. "

" Anggaplah bahwa kau sedang berpacu " berkata Nyai Soka " kemenangannya tidak semata-mata tergantung kepada kudanya. Tetapi juga pada ketrampilan penunggangnya. "

" Aku mengerti Nyai " jawab Nyi Wiradana.

Demikian maka diputuskan, bahwa Sambi Wulung dan Jati Wulung akan segera pergi ke tempat tinggal Risang, yang ingin dijadikannya sebuah padepokan, sementara itu Kiai Soka dan Nyai Soka akan tetap berada di dekat Nyi Wiradana. Jika perlu keduanya akan selalu mengikuti dan menuntun perkembangan ilmu Nyi Wiradana sendiri.

Tetapi Nyi Wiradana tidak dengan serta merta melepaskan Sambi Wulung dan Jati Wulung meninggalkan Tanah Perdikan. Keduanya diminta untuk beristirahat barang satu dua hari. Baru kemudian mereka akan pergi kepada Risang untuk selanjutnya bersama-sama dengan Kiai Badra dan Gantar meningkatkan kemampuan Risang dengan cara tertentu yang akan mereka tentukan kemudian. Disamping latihan-latihan yang keras, maka Risang juga memerlukan sejumlah pengalaman yang akan dapat mematangkan kedewasaannya kelak, meskipun tidak harus memasuki lingkungan seperti Song Lawa itu.

" Agaknya memang demikian Nyi " sahut Sambi Wulung " kita untuk sementara dapat melupakan Puguh dengan persoalannya sendiri. "

Sebenarnyalah pada saat-saat yang demikian Puguh tengah menghadap gurunya di padepokannya yang kedua.  Wida, juru tanaman yang telah menyelamatkan Puguh dari tangan orang-orang padukuhan itu ikut pula menghadap Ki Ajar Paguhan.

" Jadi kalian ketemukan kuburan Gagaklahan dan orang-orangnya? " bertanya Ki Ajar Paguhan.

" Ya guru " jawab Puguh.

Ki Ajar Paguhan menarik nafas dalam-dalam. Katanya dengan nada rendah " Gagaklahan telah mendorong dirinya sendiri masuk kedalam kubur itu. Agaknya ia terlalu curiga kepada kedua orang yang telah datang bersamamu itu. Bahkan Gagaklahan juga menuduh bahwa yang telah membunuh ampat orang pengawal padepokan ini dibatas lingkungan yang tidak boleh ditambah orang lain itu juga kedua orang kawanmu, bahkan bersamamu.  "

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Semuanya telah diatur oleh kedua orang tuanya, bagaimana orang-orang padepokan itu harus membunuh setiap orang yang berada di dekat tempat-tempat yang diberi pertanda sebuah topeng yang buruk. Bahkan Puguh itu tidak mengerti, pengikut-pengikut yang manakah yang mendapat tugas untuk melakukannya. Puguh memang tidak berminat untuk mengenal setiap orang di padepokan, terutama padepokan kedua. Pada dasarnya Puguh adalah penghuni padepokan pertama. Gurunya memang berada di padepokan kedua. Tetapi jika ia memberikan latihan-latihan kepada Puguh ia lebih banyak berada di padepokan pertama. Karena itu, maka tidak mustahil bahwa ada pengikut kedua orang tua Puguh yang tidak mengenal Puguh. Apalagi orang-orang yang khusus atau orang-orang yang belum lama dibawa oleh kedua orang tua Puguh ke tempat itu dari padepokan yang lain yang tidak diketahuinya.

Namun sebelum berangkat, Sambi Wulung dan Jati Wulung juga memerlukan bekal dari Kiai Soka dan Nyai Soka yang kelak akan disampaikannya kepada Kiai Badra.

" Kami akan memikirkannya dalam satu dua hari ini, sementara kalian berdua dapat beristirahat disini. Menurut ceriteramu, Puguh tentu tidak akan datang dalam waktu satu dua hari itu. " berkata Kiai Soka.

Sambi Wulung dan Jati Wulung tertawa. Dengan nada rendah Sambi Wulung berkata " Puguh tentu baru sibuk mencari pamannya yang hilang. "

" Pamannya? " bertanya Nyi Wiradana.

" Orang yang dipanggilnya paman. Namanya Gagaklahan. Orang itulah yang berusaha membunuh kami berdua ketika kami berdua meninggalkan padepokan Puguh. Agaknya orang  itu mencium sesuatu yang kurang wajar pada kami, sehingga bersama dengan beberapa orang kawannya telah menyusul kami dan memaksa kami memasuki sebuah kuburan tua. " jawab Sambi Wulung.

" Kami terpaksa membunuh mereka " desis Jati Wulung pula.

Nyi Wiradana mengangguk-angguk. Tetapi ia berkata " Kematian itu akan dapat mengungkit persoalan yang untuk sementara dibekukan itu. "

Tetapi Jati Wulung menggeleng. Katanya " Tidak seorangpun yang akan mengarahkan pandangan matanya kepada kita di Sembojan ini. Puguh sendiri tentu tidak akan sampai kepada satu dugaan, apalagi kesimpulan, bahwa kami datang atas nama Tanah Perdikan Sembojan.

Nyi Wiradana mengangguk-angguk. Katanya " Sokurlah. Kita tidak usah disibukkan lagi dengan persoalan-persoalan yang untuk sementara kita sisihkan. Dengan demikian kita telah mendapat kesempatan untuk membangun Tanah Perdikan Sembojan ini. "

Kepada gurunya Puguh tidak dapat mengelak. Iapun akhirnya berkata terus terang, bahwa ia bersama dengan kedua orang yang mengantarkannya itu tiba-tiba telah diserang oleh orang-orang yang tidak dikenal dan bagi Puguh memang tidak banyak kesempatan untuk berpikir. Ketika beberapa orang diantara mereka terbunuh, maka Puguh mengambil keputusan untuk membunuh orang terakhir agar persoalannya tidak menjadi panjang lebar. Apalagi sampai ketelinga kedua orang tuanya.

Gurunya mengangguk-angguk. Namun iapun bergumam " Agaknya demikian pula persoalan yang menyangkut Gagaklahan. Kita lebih baik mengatakan, bahwa kita tidak tahu kemana perginya. "

Puguh mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Ajar Paguhanpun berkata kepada Wida " Kaupun harus dapat merahasiakan hal ini Wida. "

" Ya Ki Ajar. Aku tidak akan mengatakan kepada siapapun juga " jawab Wida.

" Jika seorang saja di padepokan ini mendengar, tentu akan sampai ketelinga kedua orang tua Puguh. Aku tidak dapat membayangkan keputusan apakah yang akan diambil atas Puguh jika kedua orang tuanya mendengar kematian beberapa pengikutnya yang mengawasi padepokan ini lebih-lebih kematian Gagaklahan, karena Gagaklahan adalah orang yang sangat dipercayanya. " berkata Ki Ajar Paguhan. Lalu " Sementara itu kedua orang tua Puguh bersikap sangat keras kepada Puguh. Aku tahu bahwa maksudnya tentu baik. Namun kadang-kadang Puguh terlalu lamban menanggapi keinginan orang tuanya. "

Puguh hanya menundukkan kepalanya saja. Ia seakan-akan melihat kembali, betapa kerasnya sikap kedua orang tuanya sejak ia masih kanak-kanak. Sejak ia dapat mengingat kembali tentang dirinya sendiri. Ia sudah dapat mengingatnya saat-saat ia harus mulai dengan latihan-latihan olah kanuragan meskipun masih pada tataran permulaan. Bagaimana ia harus ikut berlari-lari bersama kedua orang tuanya. Bagaimana ibunya menyeretnya jika ia sudah merasa sangat letih.

Puguhpun ingat, bahwa ia seakan-akan tidak berhak sama sekali untuk menangis. Jika ia menangis karena apa saja, maka ia justru akan menjadi semakin kesakitan.

Puguh merasa dirinya menjadi seorang yang lebih baik, justru ketika gurunya itu datang beberapa tahun yang lalu. Meskipun ia tetap berlatih keras, namun gurunya bukan seorang yang tidak mau mempergunakan telinganya untuk mendengar pernyataannya dalam hal apapun juga sebagaimana kedua orang tuanya.

Atas persetujuan kedua orang tuanya, maka gurunya telah melepaskan Puguh untuk melihat-lihat keluar dari padepokannya. Namun tempat yang di tuju atas petunjuk ayahnya adalah justru Song Lawa.

" Kau akan dapat melihat kerasnya kehidupan disana " berkata ayahnya " kau dapat membentuk dirimu menjadi seorang laki-laki yang berpribadi. Bukan laki-laki cengeng. Disana segala macam kesenangan dapat kau beli dengan uang kita yang berlimpah. "

Puguh setiap kali hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu gurunya tidak dapat menolak pendapat orang yang dianggap ayah dari Puguh itu. Namun demikian dalam kesempatan tertentu, Ki Ajar Paguhan, sahabat Ki Randu Keling itu telah memberikan keseimbangan didalam jiwa Puguh. Karena itulah maka Puguh mempunyai kepribadian yang tidak utuh sebagaimana yang dikehendaki oleh kedua orang tuanya, meskipun dihadapan kedua orang tuanya Puguh sengaja berbuat lebih kasar dan keras, sebagaimana dinasehatkan oleh gurunya.

Bagi Puguh, maka pandangan dan sikap hidup gurunyalah yang lebih banyak mempengaruhinya. Kedua orang tua Puguh sama sekali tidak diharapkannya. Bahkan jika kedua orang tuanya datang kepadepokan kedua dan sekali-sekali menengok kepadepokan pertama, dimana Puguh lebih banyak tinggal, Puguh merasa dirinya bagaikan terpanggang didalam api. Sehingga dengan demikian agak berbeda dengan kebanyakan anak muda yang merindukan kedua orang tuanya.

Dalam pada itu, gurunya telah berkata pula kepada wida " Sudahlah. Kau dapat meninggalkan kami. "

Wida mengangguk hormat. Katanya " Baiklah Ki Ajar. Aku mohon diri. Aku bernjaji untuk tidak mengatakan persoalan yang telah terjadi atas Gagaklahan sebagaimana Ki Ajar menghendaki. "

" Kepada anakmupun jangan kau katakan. Karena persoalan ini akan dapat menyangkut persoalan-persoalan lain yang panjang. Bahkan akan dapat menyangkut masa depan Puguh.

Wida mengangguk-angguk. Katanya " Aku akan melakukannya dengan sebaik-baiknya Ki Ajar. "

Sejenak kemudian maka Widapun telah meninggalkan Ki Ajar dan muridnya. Dengan nada rendah Ki Ajar berkata " Ia orang baik. Ia memiliki banyak pengenalan tentang jenis tumbuh-tumbuhan. Bahkan yang memiliki nilai pengobatan. Karena itu, rasa-rasanya aku sangat memerlukannya. "

" Ia dapat banyak memberikan bantuan kepada guru " desis Puguh.

" Ya. Khususnya dibidang pengobatan " jawab Ki Ajar.

Namun Puguhpun telah mengatakan tentang kemampuan yang lain yang nampaknya tersembunyi dibalik tubuh yang agak terbongkok-bongkok itu.

" Ia mampu meloloskan diri dari sekian banyak orang yang mengepung bukit kuburan tua itu " berkata Puguh.

Tetapi Ki Ajar hanya tersenyum saja. Katanya " Ia memang mampu berlari cepat. Atau barangkali orang-orang padukuhan itu terlalu menganggapnya lamban karena ujudnya. Tetapi mereka tentu terkejut ketika tiba-tiba saja Wida itu berlari kencang, sehingga dengan demikian mereka telah kehilangan kesempatan untuk menangkapnya. "

Puguh mengangguk-angguk. Tetapi ia merasa ada sesuatu didalam diri Wida. Orang yang sudah lama dikenalnya, tetapi belum pernah berhubungan dalam pekerjaan apapun juga. Ia hanya melihat orang bongkok itu bekerja memelihara tanaman dan membersihkan ruangan. Terutama ruang-ruangan khusus Ki Ajar Paguan.

Dalam pada itu, Ki Ajar itupun kemudian telah memberikan beberapa petunjuk kepada Puguh, apakah yang sebaiknya dilakukan. Ia lebih baik merasa dirinya tidak tahu apa-apa.

" Bagaimana dengan kedua orang yang mengantar aku pulang? " bertanya Puguh.

" Kau tidak dapat ingkar. Semua orang dipadepokanmu melihat mereka. Karena itu, kau dapat berterus-terang dengan kedua orang tuamu tentang mereka. Itu saja. Tanpa menyebut sikap Gagaklahan. " jawab gurunya.

Puguh mengangguk-angguk. Jika ia mendapat kesulitan dari kedua orang tuanya maka ia akan memohon gurunya untuk membantunya.

" Aku akan selalu membantumu. Meskipun aku tahu bahwa kedua orang tuamu itu lebih berhak menentukan garis hidupmu, tetapi karena kau telah dipercayakan kepadaku sebagai gurumu, maka aku memang mempunyai hak untuk ikut menentukan " berkata Ki Ajar Paguhan.

" Terima kasih guru " berkata Puguh kemudian.

" Baiklah. Kembalilah ke padepokan pertama. Setelah kau cukup beristirahat, maka kita akan memasuki sanggar kembali. " berkata Ki Ajar Paguhan.

" Mudah-mudahan ayah dan ibu tidak segera datang " desis Puguh hampir diluar sadarnya.

Ki Ajar Paguhan mengerutkan keningnya. Dengan nada rendah ia bertanya " Kenapa? "

Puguh menunduk. Tetapi iapun kemudian menjawab " Aku ingin persoalan Gagaklahan mulai dilupakan. "

" Mungkin bagi orang-orang padepokan ini. Tetapi bagi ayah dan ibumu, kapanpun mereka datang, maka persoalan Gagaklahan akan tetap merupakan persoalan yang hangat bagi mereka. " berkata Ki Ajar Paguhan.

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti keterangan gurunya itu. Apalagi Gagaklahan memang orang kepercayaan kedua orang tuanya.

" Sudahlah " berkata Ki Ajar " pergilah ke padepokan pertama. Hari ini aku belum akan datang. Mungkin besok aku akan datang dan mulai dengan latihan-latihan meskipun ringan. Kau harus kembali menyesuaikan diri dengan suasana latihan. "

Puguh itupun kemudian telah minta diri untuk kembali ke padepokan pertama. Ia memang harus menyiapkan diri untuk memasuki suasana latihan, setelah beberapa lama ia berada dalam suasana yang berbeda sejak ia memasuki lingkungan Song Lawa yang terakhir kalinya.

Dalam pada itu, Di Tanah Perdikan Sembojan, Kiai Soka dan Nyai Soka telah mengadakan pembicaraan-pembicaraan khusus dengan Nyi Wiradana, Sambi Wulung dan Jati Wulung tentang kemungkinan-kemungkinan bagi masa depan Risang. Peringatan Sambi Wulung dan Jati Wulung harus mereka tanggapi dengan sungguh-sungguh.

Nyai Soka dan Kiai Soka telah berusaha untuk menilai kembali cara yang ditempuh untuk membentuk Risang di tempat yang terpisah yang telah dipersiapkan untuk menjadi sebuah tempat yang mandiri. Justru Risang yang terlalu banyak mendapat perlindungan itu agaknya kurang memberikan kesempatan baginya untuk berkembang. Risang jarang sekali menemui kesulitan, apalagi yang besar. Sedangkan kesulitan-kesulitan kecilpun ia selalu mendapat bantuan. Risangpun kurang mengenal dunia diluar dinding lingkungannya, sehingga tidak cukup banyak persoalan-persoalan yang pernah ditemuinya.

" Harus dicari satu cara, bagaimana melepaskan Risang keluar lingkungannya namun dibawah pengawasan yang baik sehingga tidak berbahaya baginya " berkata Nyi Wiradana.

Kiai Soka dan Nyai Soka memang tidak dapat menyalahkan perasaan seorang ibu yang mencemaskan keadaan anak satu-satunya. Apalagi anak yang memang selalu dibawah ancaman karena kedudukannya.

" Yang sulit adalah menemukan keseimbangan antara kesempatan dan keselamatannya. " berkata Kiai Soka. Lalu " jika kita biarkan anak itu mencari kesempatan untuk mengembangkan diri, maka mungkin ia akan benar-benar bertemu dengan ancaman atas keselamatannya. Tetapi jika anak itu terlalu dilindungi, maka sulit baginya untuk mendapatkan kesempatan. "

Yang lain mengangguk-angguk. Sementara itu Kiai Sokapun berkata " Baiklah. Pada saatnya kita akan datang ketempat itu. Namun satu hal, bekal Risang harus cukup. Karena itu, maka jika kalian berdua menemui Kiai Badra untuk melaporkan semuanya yang kalian lihat dan yang kita bicarakan disini, maka sampaikan pula kepadanya, bahwa latihan-latihan yang diberikan kepada Risang harus lebih keras dan mengarah kepada alas untuk menerima dasar-dasar ilmu Janget Kinatelon. Sementara itu, pada saatnya, kami bertiga, maksudku Aku, Nyai Soka dan Kiai Badra harus menekuni kembali ilmu Janget Kinatelon sehingga tubuh dari ilmu itu menjadi semakin mapan. "

" Itu memang salah satu pemecahan dengan mempercepat kemungkinan Risang memasuki pintu gerbang ilmu Janget Kinatelon. Tetapi ia harus mempunyai pengalaman baik kewadagan maupun kejiwaan, sehingga ia akan tumbuh menjadi dewasa. Pengenalannya atas kehidupan dan dalam disekitarnya harus menjadi semakin luas. " berkata Nyai Soka. Lalu " Dengan demikian maka anak itu mempunyai wawasan yang luas dan ilmunyapun akan berkembang berdasarkan pengenalan anak itu atas kehidupan itu sendiri. "

Kiai Soka mengangguk-angguk. Lalu katanya kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung " Baiklah. Jika kalian sudah cukup beristirahat, maka kalian akan menemui Kiai Badra. Tetapi bukan berarti bahwa demikian kalian datang, maka demikian pula kami mengusir. Seperti dikatakan oleh Nyi Wiradana, kalian dapat beristirahat disini barang satu dua hari sebelum kalian akan pergi kepada Risang. "

" Baiklah " berkata Sambi Wulung " kita akan beristirahat disini. Namun sudah barang tentu dengan harapan bahwa Kiai dan Nyai Soka akan mendapatkan sesuatu dalam waktu satu dua hari ini yang akan dapat kami bawa kepada Kiai Badra. "

" Kalian berdua memang perlu beristirahat " berkata Nyi Wiradana. " Mungkin dalam waktu satu dua hari Kiai dan Nyai Soka menemukan pesan-pesan yang penting bagi Risang. Tetapi agaknya kalian berdua tentu merasa sangat letih dalam perjalanan yang panjang dan menegangkan itu. "

Demikianlah, maka Sambi Wulung dan Jati Wulungpun telah mendapat kesempatan untuk berada di Tanah Perdikan Sembojan. Dihari berikutnya yang senggang, keduanya sempat untuk melihat-lihat Tanah Perdikan yang berkembang semakin baik itu. Meskipun sudah cukup lama mereka pergi, namun mereka masih juga mengenali Tanah Perdikan sebagaimana saat mereka tinggalkan.

Namun dalam sehari keduanya berada di Tanah Perdikan, maka rasa-rasanya keduanya telah dikejutkan oleh satu benda yang pernah mereka lihat sebelumnya. Sebuah topeng kecil dengan ujud yang seram dan menakutkan.

Jati Wulung menggamit Sambi Wulung ketika mereka melihat anak kecil yang bermain-main dengan topeng itu. Beberapa orang anak yang sambil bergurau dan berlari-lari mempermainkan sebuah topeng kecil. Yang seorang menakut-nakuti yang lain, sedangkan yang lain berlari-larian menghambur dijalan sambil berteriak-teriak. Tetapi mereka tidak sedang ketakutan, karena mereka memang sedang bermain-main.

Sambi Wulungpun kemudian telah melangkah mendekati anak yang sedang bermain-main itu. Untuk menarik perhatian anak-anak itu, maka Sambi Wulungpun tiba-tiba berkata lantang " He, ini uang siapa? "

Beberapa orang anak memang berhenti berlari-lari. Dengan ragu-ragu mereka melangkah mendekati. Tetapi Sambi Wulung memang memegang sekeping uang.

" Ini, uang siapa he? " bertanya Sambi Wulung sekali lagi.

Anak yang membawa topeng itupun mendekat. Sementara Jati Wulung berdesis " Kita beli saja topeng itu. "

" Jangan " sahut Sambi Wulung.

Jati Wulung termangu-mangu. Namun Sambi Wulung sudah berbicara dengan anak-anak itu lagi " Nah, siapa yang telah kehilangan ini? Tidak ada? "

Anak-anak itu termangu-mangu. Memang tidak ada diantara mereka yang merasa kehilangan.

" Jika tidak ada, maka sebaiknya uang ini dibelikan kacang rebus saja. Kalian akan dapat makan bersama-sama. Setuju? " bertanya Sambi Wulung.

Hampir berbareng anak-anak itu berkata " Setuju "

" Baik. Aku akan memberikan uang ini kepada kalian. Nah, siapa yang paling tua diantara kalian? " bertanya Sambi Wulung.

" Aku " tiga orang menjawab berbareng sambil mengacukan tangan mereka. Seorang diantara mereka justru mengacukan topeng yang sedang dipegangnya. Topeng kecil itu.

" Perhatikan topeng itu " desis Sambi Wulung kepada Jati Wulung.

Jati Wulung mengangguk. Karena itu, maka perhatiannya kemudian tertuju kepada topeng kecil itu.

Sementara Sambi Wulung berkata " Jangan turunkan tangan kalian. Aku akan menilai, siapakah yang benar-benar tertua diantara kalian. "

Ketika Sambi Wulung berpura-pura mengamati anak-anak itu, Jati Wulung sempat memperhatikan topeng ditangan anak itu.

Topeng itu memang seperti yang pernah dilihatnya disebelah Kademangan Gantar. Didaerah yang dianggap daerah yang tidak boleh diambah kaki orang lain selain orang-orang padepokan yang tidak diketahui itu.

Ketika Jati Wulung mengangguk kecil, maka Sambi Wulungpun telah mengambil kesimpulan dari pengamatannya. Katanya " Nah, aku yakin bahwa yang tertua diantara kalian adalah anak yang membawa topeng itu. "

" Tidak. Umurnya sama dengan umur adikku " berkata yang seorang.

Tetapi anak yang membawa topeng itu berteriak " Aku memang yang paling tua. "

" Baiklah " berkata Sambi Wulung " sebenarnya soalnya tidak begitu penting. Aku hanya akan menyerahkan sekeping uang ini kepada yang tertua untuk dibelikan kacang rebus. Tetapi kacang itu akan menjadi milik kalian bersama-sama. Kalian akan dapat duduk sebentar dipinggir jalan itu untuk makan kacang. Bukankah kalian telah lama berlari-larian? Keringat kalian telah membasahi seluruh tubuh kalian. Karena itu, maka kalian harus beristirahat. "

Anak-anak itu tidak menentang lagi ketika kemudian anak yang membawa topeng itu mendekati Sambi Wulung untuk menerima sekeping uang. Jika uang itu dibelikan kacang rebus, mereka memang akan mendapat cukup banyak.

Namun dalam pada itu Jati Wulungpun telah memperhatikan keadaan disekililing mereka. Mungkin ada satu dua orang yang dengan sengaja telah mengawasi topeng itu. Tetapi ternyata bahwa ia tidak melihat orang yang mencurigakan itu.

Ketika anak itu menerima sekeping uang, Sambi Wulung sempat bertanya " He, kau mempunyai topeng yang bagus? "

" Terlalu kecil untuk dipakai " jawab anak itu.

" Darimana kau dapatkan topeng itu? " bertanya Sambi Wulung pula.

" Kami menemukan topeng ini dipintu gerbang " jawab anak itu.

" Kami siapa? " bertanya Sambi Wulung.

" Kami. Aku dan kawan-kawan ini " jawab anak itu.

" Kapan kalian menemukan topeng itu? " bertanya Sambi Wulung pula.

" Sudah lama. Kira-kira sepekan yang lalu " jawab anak itu.

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Katanya kemudian " Simpan mainan itu baik-baik. Jika hilang, kalian tidak akan mendapatkannya lagi. "

Anak itu mengangguk. Sementara Sambi Wulung masih bertanya " Kau anak siapa? "

" Ayah " jawab anak itu " dan ibu. "

" Nama ayahmu? " bertanya Sambi Wulung pula.

Justru anak yang lain yang menjawab " Kriya. Aku memanggilnya paman Kriya. "

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Kepada anak yang membawa topeng itu ia bertanya " Benar, nama ayahmu Kriya? "

Anak itu mengangguk.

" Rumahmu? " bertanya Sambi Wulung pula.

" Disitu " jawab anak itu " disebelah simpang tiga itu. "

Sambi Wulung mengangguk-angguk pula. Tetapi ia masih bertanya " Dihalaman rumahmu ada pohon apa? "

Anak itu mengingat-ingat. Namun justru anak yang lain yang menjawab " Pohon duwet. Dimusim duwet kami beramai-ramai memanjat. "

" Terima kasih " Sambi Wulung tersenyum. Lalu katanya " Nah, sekarang kalian dapat membeli kacang rebus di sudut jalan itu. Diwarung kecil itu dijual kacang rebus. Tetapi kalian tidak perlu beramai-ramai pergi kesana. Hanya satu orang saja yang pergi. Setuju? "

Anak-anak itu termangu-mangu. Nampaknya semua ingin ikut pergi ke kedai. Tetapi Sambi Wulung berkata " Jika semua pergi kekedai itu, maka penjual dikedai itu akan menjadi bingung. "

Akhirnya anak-anak itu setuju. Anak yang membawa topeng itulah yang kemudian pergi sendiri membeli kacang rebus, sementara ia menitipkan topengnya kepada seorang kawannya.

Ketika kemudian anak-anak itu duduk dipinggir jalan menikmati kacang rebus, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah meninggalkan mereka.

" Kenapa topeng itu tidak kita beli saja? " bertanya Jati Wulung.

" Jangan. Jika kita lakukan hal itu, tentu akan dapat menjadi perhatian orang yang meletakkannya. Meskipun topeng itu sama dengan topeng yang kita lihat ditempat yang menyeramkan itu, agaknya kegunaannya berbeda. Tentu mereka tidak akan membunuh orang-orang yang berada didekat pintu gerbang itu. " berkata Sambi Wulung. Lalu " Kita tidak tahu, apakah memang ada kesengajaan agar topeng itu jatuh ketangan seseorang atau anak-anak itulah yang nakal sehingga pertanda itu mereka hapuskan tanpa sengaja. Tetapi jika hal itu disengaja agar topeng itu jatuh ke tangan seseorang dan kita membelinya, maka tentu akan ada akibat lain, karena topeng itu tentu akan selalu diamati. "

Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun katanya " Apakah topeng itu ada hubungannya dengan kita. Maksudku, kehadiran kita disekitar padepokan rahasia mereka sudah diketahui? "

" Aku kira tidak, karena anak-anak itu menemukan sepekan yang lalu. " sahut Sambi Wulung.

" Aku tetap menganggap bahwa padepokan yang rahasia itu merupakan bayangan dari padepokan yang dihuni oleh Puguh. " berkata Jati Wulung.

" Agaknya memang demikian " jawab Sambi Wulung.

" Jadi apa artinya topeng itu? Jika mereka tahu bahwa kita telah membunuh orang-orang mereka berasal dari Tanah Perdikan ini, maka persoalannya akan menjadi lebih rumit. " gumam Jati Wulung.

" Memang demikian " sahut Sambi Wulung " tetapi ada kemungkinan lain yang tidak kalah mendebarkan jantung. "

" Apa? " bertanya Jati Wulung.

" Rangga Gupita dan Warsi merasa bahwa mereka sudah cukup lama menunggu untuk membalas dendam.  Mungkin Warsi telah mencapai satu tataran ilmu yang meyakinkan sehingga saatnya untuk membalas dendam telah tiba. Mungkin dengan kekuatan yang besar untuk mengacaukan Tanah Perdikan ini. Tetapi mungkin Warsi akan datang lagi untuk menantang Iswari berperang tanding. " berkata Sambi Wulung.

Jati Wulung mengangguk-angguk. Katanya " Kemungkinan yang kedua ini cukup mencemaskan. Kita tidak tahu, apakah selama ini Iswari yang sibuk dengan pemerintahan Tanah Perdikan ini sempat menekuni dan mengembangkan ilmunya. "

" Sebaiknya hal ini segera diketahui " desis Sambi Wulung.

" Marilah. Kita temui Nyi Wiradana " ajak Jati Wulung.

" Jangan langsung. Lebih baik kita berbicara dengan Kiai dan Nyai Soka. " sahut Sambi Wulung.

Jati Wulung mengangguk-angguk. Katanya " Marilah. Kita tidak boleh membuang waktu barang sekejap.  " Topeng itu sudah terpasang sejak sepekan yang lalu. Bahkan mungkin lebih lama karena sepekan yang lalu anak-anak itu telah menemukannya. "

Keduanya kemudian telah berusaha untuk dapat bertemu Kiai Soka dan Nyai Soka. Adalah kebetulan bahwa Nyi Wiradana sedang sibuk dengan para bebahu Tanah Perdikan Sembojan.

Kepada Kiai Soka dan Nyai Soka keduanya telah menceriterakan apa yang mereka lihat dan segala kemungkinan yang dapat terjadi di Tanah Perdikan Sembojan justru setelah diketemukan topeng kecil yang dipasang dipintu gerbang itu.

" Apakah kalian akan menemui anak itu lagi dirumahnya? " bertanya Kiai Soka.

" Untuk sementara tidak " jawab Sambi Wulung " jika kita ingin menemuinya, tentu tidak datang kerumahnya, karena mungkin sekali rumah itu diamati oleh orang-orang yang tidak kita ketahui. "

" Baiklah. Kita akan menugaskan seorang petugas sandi untuk mencari keterangan selengkapnya tentang Kriya tanpa menarik perhatian. Tentu tidak sulit, karena Kriya adalah orang Tanah Perdikan ini sementara petugas sandi itu tentu akan kita pilih seorang yang rumahnya disekitar rumah Kriya itu pula. " berkata Kiai Soka. Lalu " Sementara ini kita akan berbicara dengan Iswari. Semoga ia mengerti. "

Sebenarnyalah ketika senja turun, maka Nyai Soka telah menemui Iswari yang duduk diserambi rumahnya sebagaimana kebiasaannya. Dengan hati-hati Nyai Soka telah mulai dengan maksudnya menemui Iswari secara khusus itu.

Iswari mendengarkan setiap keterangan Nyai Soka dengan penuh perhatian. Karena itu, maka iapun segera memahami apa yang sedang membayangi di Tanah Perdikan itu.

" Jika demikian, maka kita harus bersiap-siap, nek " desis Iswari.

" Maksudmu Tanah Perdikan ini? " bertanya Nyai Soka.

" Tentu. Pasukan yang selama ini memang nampak dikurangi kegiatannya harus ditingkatkan lagi. " berkata Iswari.

" Tetapi sementara itu, kau sendiri harus meningkatkan ilmumu pula. " berkata Nyai Soka.

Iswari menundukkan wajahnya. Dengan nada rendah ia bergumam " Aku sudah terlalu tua untuk bekerja keras didalam sanggar. Agaknya waktuku lebih penting aku peruntukkan bagi Tanah Perdikan ini daripada bagiku sendiri " berkata Iswari hampir kepada dirinya sendiri.

" Jangan berkata begitu IsWari. Lihat padaku, pada nenekmu ini. Kau dan aku. Siapa yang lebih tua? Kau tahu, bahwa waktuku untuk dapat tinggal bersamamu, bersama Tanah Perdikan ini dan bersama cicitku tentu tinggal sedikit. Tetapi aku tidak pernah merasa sudah waktunya untuk berhenti. " desis Nyai Soka.

" Aku memang tidak merasa bahwa aku harus berhenti, nek. Tetapi waktuku lebih berharga bagi Tanah Perdikan ini. Aku akan berjalan terus. Tetapi tidak untuk kepentinganku sendiri " jawab Iswari.

" Iswari " berkata Nyai Soka " jika kau berbuat sesuatu untuk melindungi dirimu sendiri, bukankah itu juga berarti bahwa kau sudah berbuat bagi Tanah Perdikan ini? Betapapun tinggi dan besarnya keinginanmu untuk membina Tanah Perdikah ini, tetapi jika usaha itu harus berhenti ditengah jalan, Apakah itu lebih berarti? "

Iswari tidak segera menjawab. Namun pandangannya telah menembus keremangan senja hinggap dikejauhan. Sementara lampu diregol sudah mulai dipasang.

" Iswari " berkata Nyai Soka " jika kita berbicara tentang dirimu, sudah tentu dengan segala macam tugas yang kau sandang. Justru karena kau masih harus bekerja keras bagi Tanah Perdikan ini, tetapi juga bagi anakmu Risang. "

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Sementara Nyai Soka seakan-akan berbisik ditelinganya " Apakah kau sampai hati untuk membiarkan Tanah Perdikan ini menjadi bagaikan sapu lidi kehilangan pengikatnya? Dan apakah kau sampai hati membiarkan Risang menjadi anak yang bukan saja tidak berbapa, tetapi juga tidak beribu? "

Iswari menundukkan kepalanya. Sebagai seorang perempuan maka terasa matanya menjadi panas. Tetapi ia bukan saja seorang perempuan tetapi ia juga seorang pemimpin. Karena itu, maka Iswaripun bertahan untuk tidak menitikkan air mata.

" Pikirkan Iswari. Tetapi waktumu tidak terlalu banyak. Ingat, jika benar Warsi itu datang menantangmu berperang tanding dalam waktu dekat, maka kau harus sudah bersiap sepenuhnya. Jika tidak, maka akibatnya akan dapat menjadi gawat.

" Baiklah nenek. Aku akan memikirkannya " jawab Iswari.

" Sebaiknya berbicaralah dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung yang tahu lebih banyak tentang persoalan topeng itu. " berkata Nyai Soka kemudian.

" Aku akan memanggilnya. " sahut Iswari.

Nyai Sokapun kemudian meninggalkan Iswari yang masih berada di serambi, sementara malampun mulai turun perlahan-lahan. Diserambi. Di sudut-sudut rumah yang besar dari Kepala Tanah Perdikan Sembojan serta di beberapa tempat yang terlindung telah dinyalakan lampu minyak. Demikian pula di pendapa dan disetiap ruang.

Namun dalam pada itu, Iswari telah memerintahkan pula untuk memanggil Sambi Wulung dan Jati Wulung. Ia ingin mendengar lebih jelas tentang topeng yang nampaknya mempunyai arti tersendiri itu.

Ketika Sambi Wulung Jati Wulung kemudian datang menemuinya, maka Iswaripun telah langsung bertanya tentang topeng kecil itu.

" Apakah Nyai Soka belum menjelaskan? " bertanya Sambi Wulung.

" Baru saja aku berbicara tentang topeng itu dengan guru. Tetapi, guru justru menganjurkan agar aku berbicara dengan kalian berdua. " jawab Iswari.

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Iapun kemudian menceriterakan tentang topeng kecil itu serta hubungannya dengan kemungkinan yang dapat terjadi di Tanah Perdikan. Yang dikatakan oleh Sambi Wulung tidak ada yang berselisih dengan apa yang dikatakan oleh Nyai Soka, karena yang dikatakan oleh Nyai Soka itu bahannya juga dari Sambi Wulung dan bahkan kemudian juga Jati Wulung lebih meyakinkan Iswari, bahwa sebaiknya Iswari harus mempersiapkan diri. Bukan saja para pengawal di Tanah Perdikan, tetapi secara pribadi Iswaripun harus siap menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang paling gawat sekalipun.

Namun Sambi Wulungpun kemudian berpesan " Tetapi Nyi Wiradana. Aku minta agar segala persiapan dan kesiagaan, jangan sampai menarik perhatian. Aku yakin, tentu ada orang-orang yang berhubungan dengan topeng itu berkeliaran disini. Jika mereka melihat kesiagaan, maka mungkin mereka akan lebih berhati-hati lagi. Karena itu, semuanya harus dilakukan tanpa gejolak. "

" Baiklah. Aku akan berbicara lebih khusus lagi dengan Nyai dan Kiai Soka. " berkata Iswari kemudian.

Sambi Wulung dan Jati Wulungpun kemudian telah meninggalkan serambi itu. Sementara Iswaripun telah masuk pula keruang dalam.

Namun malampun terasa menjadi sepi. Nyai Soka tidak lagi datang menemaninya. Tetapi Iswari tidak minta neneknya yang juga gurunya itu datang.

Dalam sepinya Nyi Wiradana sempat merenungi Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan angan-angannya telah menelusuri masa-masa lampau. Namun kemudian meloncat kemasa-masa mendatang, melihat kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.

Sementara itu, ternyata Nyai Soka telah berbicara dengan Kiai Soka menanggapi perkembangan terakhir di Tanah Perdikan itu.

Ternyata mereka berdua sepakat, tidak ada jalan yang lebih baik daripada memanggil Kiai Badra. Mereka bertiga merasa perlu untuk menyempurnakan ilmu Janget Kinatelon untuk membantu Iswari meningkatkan ilmunya, karena mereka yakin bahwa ilmu Warsipun tentu sudah meningkat semakin tinggi.

" Besok pagi-pagi aku akan berbicara dengan Iswari  " berkata Kiai Soka. Lalu " Sementara itu, aku akan minta Sambi Wulung dan Jati Wulung untuk pergi ke padepokan Risang dan minta Kiai Badra untuk datang. "

Nyai Soka sependapat. Segalanya harus berlangsung dengan cepat. Jika tantangan kepada Iswari itu benar-benar datang dalam waktu dekat, maka ia harus sudah bersiap menghadapi peningkatan ilmu Warsi.

Namun Kiai Soka itupun berkata " Seandainya hal itu memang akan dilakukan, aku kira Warsi akan menunggu sampai bulan purnama bulan mendatang. Agaknya Warsi percaya bahwa bulan purnama itu mampu memberikan kekuatan pada ilmunya. "

" Tetapi waktu yang kurang dari sebulan itu tentu pendek sekali. Seandainya kita berhasil menyempurnakan dan menutup kekurangan-kekurangan pada ilmu Janget Kinatelon itu dalam waktu sepekan, maka waktu bagi Iswari hanya ada sekitar setengah bulan lagi. Waktu yang sebenarnya terlalu sempit. " sahut Nyai Soka.

" Tetapi bukankah belum pasti, bahwa Warsi akan datang dan menantang Iswari? "  bertanya Kiai Soka. " Seandainya demikian, apakah harus begitu tiba-tiba. Biasanya sebelum hujan, akan datang mendung lebih dahulu. "

Tetapi Nyai Soka menjawab " Tetapi kita harus memperhitungkan kemungkinan yang paling pahit. "

" Kau benar Nyai. " berkata Kiai Soka kemudian. Lalu katanya pula " Besok pagi-pagi kita akan membicarakannya lagi, langsung dengan Iswari. "

Demikianlah kedua orang tua itupun segera kepembaringan mereka. Namun keduanya tidak segera dapat tidur nyenyak. Rasa-rasanya kesulitan memang sudah berada diambang pintu. Terutama bagi Iswari. Tetapi akhirnya merekapun tertidur pula menjelang dini hari.

Seperti yang mereka rencanakan, maka pagi-pagi mereka sudah menemui Iswari. Mereka telah memanggil pula Sambi Wulung dan Jati Wulung untuk berbicara tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.

" Kiai Badra harus segera diundang " berkata Kiai Soka " bukan untuk memperkuat kedudukan kita disini, tetapi untuk menyempurnakan ilmu Janget Kinatelon. Waktunya memang tinggal sedikit. "

Iswari tidak menolak. Ia memang harus meningkatkan ilmunya.

Setelah merenungi pendapat-pendapat kakek dan neneknya, serta pendapat-pendapat Sambi Wulung dan Jati Wulung, Iswari akhirnya memang mengerti betapa pentingnya ia meningkatkan ilmunya. Meskipun dalam waktu-waktu khusus Iswari juga selalu berada di Sanggar, tetapi usahanya meningkatkan ilmunya tidak sekeras yang diharapkan oleh Kiai dan Nyai Soka.

Dengan demikian maka Iswari sependapat pula, bahwa Sambi Wulung dan Jati Wulunglah yang diminta untuk menghubungi Kiai Badra di padepokannya yang terletak di Kademangan Bibis. Dalam waktu dekat Kiai Badra diminta sudah berada di Tanah Perdikan Sembojan.

" Baiklah " berkata Sambi Wulung " jika demikian, kami akan segera berangkat. "

" Tetapi apakah kalian berdua sudah tidak terlalu letih? " bertanya Nyi Wiradana.

" Kami sudah cukup lama beristirahat " jawab Sambi Wulung.

" Baiklah. Aku sependapat mana yang kalian anggap baik " berkata Iswari kemudian.

Sebenarnyalah setelah makan dan minum, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah menempuh perjalanan baru. Mereka harus menempuh jarak yang cukup panjang, menuju ke tempat Risang dipisahkan disebuah padepokan kecil di Kademangan Bibis.

Dalam pada itu, petugas sandi yang diperintahkan untuk mencari keterangan tentang Kriya sudah melaporkan diri pula kepada Kiai Soka. Orang yang bernama Kriya adalah orang yang sangat lugu. Kesimpulan petugas itu, Kriya tidak akan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan paugeran di Tanah Perdikan.

Berdasarkan laporan-laporan lain, maka Kiai Soka dapat mengambil kesimpulan bahwa anak Kriya itu benar-benar telah menemukan topeng itu di pintu gerbang Tanah Perdikan Sembojan.

Dalam pada itu, Kiai Soka sama sekali tidak merasa perlu untuk menggerakkan pengawal. Ketika hal itu dinyatakan kepada Nyi Wiradana, ternyata Nyi Wiradanapun sependapat.

" Kita akan meningkatkan pengamatan lingkungan Tanah Perdikan dengan para petugas sandi saja " berkata Iswari " sehingga dengan demikian kesiagaan kita tidak nampak oleh orang-orang yang tidak berkepentingan. Sementara itu para pengawal hanya diperintahkan untuk bersiaga di padukuhannya masing-masing, tanpa menyebut bayangan kemungkinan yang gawat dapat terjadi. Tetapi para pengawal dari pasukan khusus yang ada dibarak-barak, telah disiagakan untuk mengambil langkah-langkah darurat jika diperlukan. Namun kesiagaan merekapun hanya nampak oleh para penghuni barak itu sendiri. "

" Rencanamu sudah bagus Iswari. Mudah-mudahan pelaksanaannyapun tidak akan mengalami persoalan. " berkata Kiai Soka kemudian.

Pada hari itu juga Iswari telah memanggil pemimpin dari para petugas* sandi di Tanah Perdikan. Kepada orang itu, Nyi Wiradana telah memberikan perintah-perintah tertentu untuk mengamati seluruh daerah Tanah Perdikan Sembojan. Disalah satu pintu gerbang ternyata telah diketemukan topeng yang mempunyai ciri yang khusus yang ternyata dapat dikenali oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung.

" Setiap keadaan baru yang menimbulkan persoalan harus diselidiki " perintah Iswari " juga orang-orang yang sebelumnya tidak berada di Tanah Perdikan. Tetapi gerakan kalian jangan menimbulkan perhatian khusus dari rakyat Tanah Perdikan ini. Mereka yang mulai mendapatkan ketenangan jangan diguncang lagi. Kerja keras yang dilakukan oleh orang-orang Tanah Perdikan ini tidak boleh terganggu. "

Pemimpin petugas sandi itupun mengerti sepenuhnya apa yang harus dilakukan. Karena itu, ketika ia meninggalkan rumah Kepala Tanah Perdikannya, maka berturut-turut ia telah memanggil beberapa orang petugas sandi. Sekelompok demi sekelompok.

Dengan demikian, maka sejak hari itu, diseluruh Tanah Perdikan Sembojan pengawasan telah diperketat. Sementara itu, Nyi Wiradana juga telah memanggil pemimpin pengawal dari pasukan khusus untuk meningkatkan kesiagaan sehingga jika digerakkan setiap saat tidak akan mengecewakan.

Dalam waktu yang singkat, dengan diam-diam Tanah Perdikan Sembojan telah meningkatkan kesiagaannya.

Dihari pertama memang tidak terjadi sesuatu. Para petugas sandi yang kemudian banyak bergerak di padukuhan induk dan bahkan dihampir setiap padukuhan, tidak menemukan sesuatu yang pantas untuk mendapat perhatian khusus.

Tetapi dua hari kemudian, seorang petugas sandi telah melihat sebuah topeng kecil dengan ujud yang menyeramkan tergantung di pintu gerbang padukuhan induk sebelah Utara. Tidak ditempat anak-anak menemukan sebelumnya.

Namun petugas sandi yang melihat topeng itu tidak segera mengambilnya. Dibiarkannya topeng itu ditempatnya sehingga mungkin akan diketemukan oleh seseorang atau kanak-kanak yang bermain-main dipintu gerbang padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan itu.

Ketika hal itu dilaporkan kepada pemimpin petugas sandi, maka diperintahkan pula agar topeng itu dibiarkan saja ditempatnya.

" Langkahmu sudah benar " berkata pemimpin petugas sandi itu. " Awasi sejauh mungkin dengan hati-hati. Apakah ada orang-orang yang memperhatikan topeng itu. "

Tiga orang telah mendapat tugas khusus dipintu gerbang itu. Seorang diantara petugas sandi itu adalah seorang anak muda yang tempat tinggalnya justru berdekatan dengan pintu gerbang itu. Dengan demikian, maka anak muda itu telah mendapat tugas untuk mengawasinya dari rumahnya dan sekitarnya.

Orang tuanya memang merasa heran, bahwa anaknya sehari penuh tidak meninggalkan rumahnya. Hanya sekali-sekali keluar regol halaman dan justru bermain-main dengan remaja yang pergi mencari rumput di luar regol padukuhan induk itu.

" Apakah kau tidak pergi ke barak? " bertanya ayahnya.

" Hari ini aku mendapat istirahat " jawab anak muda itu.

" Kenapa? Bukankah kau setiap hari harus pergi ke barak dan belum pernah mendapat istirahat seperti ini? " bertanya ayahnya pula.

" Justru itu aku sekarang mendapatkan istirahat itu tiga hari " jawab anaknya.

Ayahnya hanya mengangguk-angguk saja.

Dalam pada itu, laporan tentang topeng itu telah sampai pula kepada Nyi Wiradana, Kiai Soka dan Nyai Soka. Karena itu, maka mereka telah menganggap bahwa hal itu harus mendapat perhatian yang sungguh-sungguh. Ternyata bahwa langkah-langkah yang diambil oleh Warsi dan Ki Rangga Gupita masih berlanjut.

" Untuk sementara, kita tidak akan melepaskan Iswari untuk berperang tanding seandainya ia mendapatkan tantangan untuk itu " berkata Kiai Soka kepada isterinya.

" Ya " jawab Nyai Soka " tetapi apakah Iswari akan bersedia melakukannya. Harga dirinya terlalu tinggi untuk menolak berperang tanding. "

Kiai Soka menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, rasa-rasanya yang pergi menjemput Kiai Badra telah berangkat setahun yang lalu.

Tetapi ternyata bahwa hari itu pula Kiai Badra telah datang. Ia telah mendapat beberapa keterangan dari Sambi Wulung dan Jati Wulung tentang kemungkinan yang dapat terjadi di Tanah Perdikan itu dengan diketemukannya sebuah topeng yang mempunyai arti yang khusus. Jika ditempat lain topeng itu pertanda kematian, maka di Tanah Perdikan itu tentu dimaksudkan akan mempunyai arti yang sama meskipun pelaksanaannya agak berbeda.

Kiai Badra menganggap bahwa persoalannya menjadi semakin gawat ketika ia diberi tahu, satu lagi topeng telah diketemukan di pintu gerbang Utara.

" Karena itu, kita harus bekerja keras " berkata Kiai Soka.

" Aku sudah siap " sahut Kiai Badra.

" Baiklah " berkata Nyai Soka kemudian " malam nanti kita akan mulai memasuki sanggar meskipun baru mengadakan persiapan-persiapan khusus. "

" Baiklah" sahut Kiai Badra " kita memang sudah tidak mempunyai banyak waktu lagi. "

Sementara itu kepada Iswari orang-orang tua itupun berpesan agar iapun menyiapkan diri untuk menyempurnakan ilmu Janget Kinatelon yang telah dimilikinya. "

" Kaupun harus mulai berada di dalam sanggar " berkata Kiai Badra " kau harus mulai dengan persiapan-persiapan baik kewadagan maupun kejiwaan. "

" Ya guru " jawab Iswari dengan nada rendah.

" Waktu kita sangat singkat " berkata Kiai Badra pula.

Demikianlah, maka seakan-akan semuanya harus dilakukan dengan tergesa-gesa. Sementara ketiga orang tua itu telah berada di sebuah bilik khusus yang tertutup rapat diawasi langsung oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung, maka Iswari telah berada didalam sanggarnya pula.

Semula Iswari memang lebih banyak merenungi peristiwa-peristiwa yang pernah dialaminya. Rasa-rasanya memang sudah jemu untuk mengadakan permusuhan terus-menerus tanpa berhenti. Bahkan rasa-rasanya dendam telah membakar seluruh Tanah Perdikan Sembojan tanpa ujung pangkal.

Namun akhirnya Iswari menyadari, apa yang dapat terjadi atas dirinya jika ia tidak meningkatkan ilmunya.

Karena itu, maka iapun telah mempersiapkan dirinya sebaik-baiknya.

Namun sebenarnyalah bahwa selama bertahun-tahun itu, bukan berarti bahwa Iswari tidak meningkatkan ilmunya. Iswari masih selalu berada di dalam sanggar dalam waktu-waktu tertentu. Dibawah tuntunan Kiai dan Nyai Soka ilmunya memang telah jauh meningkat dibandingkan dengan sepuluh tahun sebelumnya. Tetapi rasa-rasanya Iswari belum memasuki satu masa penempaan diri yang bersungguh-sungguh. Meskipun ilmu Janget Kinatelon yang dimilikinya juga sudah meningkat dan berkembang, tetapi karena sumbernya memang masih belum sempurna, maka ilmu itu masih mungkin di tingkatkan lagi.

Tetapi Iswaripun menyadari, bahwa Kiai Soka, Nyai Soka dan Kiai Badra telah menjadi semakin tua. Mereka tentu tidak akan mampu lagi memberikan latihan-latihan sebagaimana mereka lakukan beberapa tahun yang lalu. Bagaimanapun juga pengaruh kewadagan orang-orang tua itu tidak akan dapat diabaikan. Sebagaimana disaat-saat terakhir, Kiai Soka dan Nyai Soka lebih banyak memberikan beberapa petunjuk untuk gerakan-gerakan yang keras daripada memberikan contoh dan apalagi bersama-sama melakukan latihan. Tetapi petunjuk-petunjuk itu sudah cukup berarti bagi Iswari dalam usahanya meningkatkan dan mengembangkan ilmunya.

Pada masa-masa mempersiapkan diri, Iswari telah melakukan latihan-latihan seorang diri. Ia telah mengentalkan kembali pokok-pokok ilmu Janget Kinatelon, sehingga nampak tubuh dari ilmu itu seutuhnya. Kemudian iapun mulai meneliti kembali  perkembangan-perkembangan yang telah dilakukannya dalam perjalanan waktu dan berdasarkan temuan-temuan sepanjang pengalamannya. Dengan demikian, maka mulai nampak jelas didalam pengamatan batinnya, batang dari ilmunya dan kemudian dahan-dahan serta ranting-rantingnya yang tumbuh kemudian dari sebatang pohon ilmu yang utuh.

" Jika kakek dan nenek didalam pemusatan nalar dan budi serta samadinya menemukan penyempurnaan dari ilmu itu, maka akar dari batang ilmu itu akan menjadi semakin kokok sehingga tidak akan mudah dapat ditumbangkan oleh siapapun juga " berkata Iswari kepada dirinya sendiri.

Pada hari ketiga, maka Iswari tidak lagi dapat mempergunakan sanggarnya, karena ketiga orang gurunya telah memasuki sanggar itu. Dengan demikian, maka Iswari justru telah mempergunakan sebuah bilik yang khusus dan cukup luas untuk mengadakan persiapan-persiapan yang lebih mantap.

Di hari yang ketiga, ketiga orang gurunya telah memasuki tahap berikutnya dari usaha mereka menyempurnakan ilmu Janget Kinatelon. Setelah di hari pertama dan kedua mereka mengamati ilmu itu dengan penglihatan batinnya bersama-sama, maka pada hari ketiga mereka mulai menilai bentuk kewadagan dari ilmunya itu.

Sebagaimana dilakukan oleh Iswari, maka mereka telah melihat batang dari ilmunya. Mereka kemudian menukik mengamati akarnya untuk mencapai keseimbangan yang mendekati sempurna dengan perkembangan dan pertumbuhan batang serta dahan dan ranting-rantingnya.

Dalam pada itu, pengawasan atas daerah Tanah Perdikan itupun masih berlangsung terus. Para petugas sandi dengan cermat selalu mengamati keadaan. Bahkan seorang petugas sandi sempat melihat dua orang yang pantas dicurigai.

" Apa yang kau lakukan atas kedua orang itu? " bertanya pemimpin petugas sandi kepada petugasnya yang memberikan laporan kepadanya.

" Kami belum mengambil langkah-langkah apapun Ki Lurah " jawab petugas sandi itu.

" Baiklah. Kalian harus berhati-hati untuk mengambil langkah-langkah. Jika mereka tidak melakukan sesuatu yang dapat dianggap kejahatan, untuk sementara jangan diambil tindakan. Kalian hanya mengawasinya saja. Kecuali jika mereka memang melanggar peugeran yang berlaku. Siapapun harus diambil tindakan sebagaimana seharusnya. "  berkata pemimpin petugas sandi itu.

Dengan demikian, maka pengawasanpun menjadi semakin bersungguh-sungguh. Seakan-akan setiap sudut Tanah Perdikan itu tidak lepas dari pengamatan para petugas sandi.

Sambi Wulung dan Jati Wulung sendiri justru tidak berusaha untuk ikut serta melakukan pengawasan. Jika orang-orang yang datang di Tanah Perdfkan itu orang yang pernah melihatnya, maka persoalannya akan menjadi berkembang. Apalagi jika kemudian sampai ketelinga Puguh.

DIhari berikutnya, justru telah terjadi sedikit keributan di pintu gerbang dimana anak-anak telah menemukan sebuah topeng kecil.

Seperti biasanya, maka pada hari itu, sekelompok anak-anak sedang bermain kejar-kejaran. Seorang diantara anak-anak itu memang membawa topeng kecil. Tetapi anak-anak itu sama sekali tidak menyadari, bahwa sepasang mata sedang memperhatikan mereka dengan saksama.

Beberapa saat kemudian, ketika anak-anak itu berhenti diluar pintu gerbang, orang yang memperhatikan mereka itupun telah mendekat.

" He, darimana kau dapat topeng itu? " bertanya orang itu. "

Anak yang memegang topeng itu termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian menjawab " Dipintu gerbang itu. Kami mendapatkan topeng itu tergantung di pintu gerbang. "

" Kenapa topeng itu kau ambil he? " bertanya orang itu.

" Aku senang memilikinya. Topeng ini nampak lucu. Seperti topeng raksasa meskipun kecil. " jawab anak itu.

" Berikan topeng itu kepadaku " minta orang itu.

" Jangan. Aku senang pada topeng ini " jawab anak yang memegang topeng.

" Berikan cepat. Biarlah aku pasang topeng itu kembali " orang yang mengawasi anak-anak itu bermain nampaknya ingin memaksa.

Tetapi anak yang memegang topeng itu tidak mau menyerahkannya.

Ketika orang itu mendekatinya, maka anak itupun telah bergeser surut.

Beberapa orang kawannya ikut menjadi ketakutan. Bahkan ketika orang itu melangkah semakin dekat, anak-anak itu telah menghambur berlari memasuki regol padukuhan induk.

Orang itu semula telah berlari pula mengejarnya. Tetapi ketika anak-anak itu berteriak-teriak minta tolong, maka orang itupun telah mengurungkan niatnya. Bahkan orang itu telah dengan tergesa-gesa pergi meninggalkan regol padukuhan induk itu.

Demikian orang itu menjauh, maka seorang anak muda yang semula menyabit rumput telah bangkit berdiri. Sejenak ia mengawasi orang yang menjadi semakin jauh itu. Namun kemudian anak muda itupun berjongkok kembali memenuhi keranjangnya dengan rumput segar.

Tiga orang laki-laki kemudian telah melangkah keluar regol diikuti oleh anak-anak yang ketakutan. Seorang diantara laki-laki itu bertanya " Dimana orang itu? "

" Mungkin sudah lari " jawab salah seorang diantara anak-anak yang ketakutan itu.

Ketiga orang laki-laki itu masih melihat dikejauhan seseorang yang berjalan semakin lama semakin jauh.

Ketika mereka bertiga akan berbalik memasuki gerbang, anak muda yang sedang memotong rumput itu telah bangkit pula dan melangkah menemui mereka.

" He, kau " sapa salah seorang diantara ketiga laki-laki itu.

" Ya paman. " jawab anak muda itu.

" Apa kerjamu disini? " bertanya laki-laki itu pula.

" Menyabit rumput " jawab anak muda itu.

" Kau lihat seorang laki-laki yang mengganggu anak-anak ini? " bertanya laki-laki yang lain.

" Ya. Aku melihat. Tetapi ketika laki-laki itu melangkah pergi aku tidak mencampurinya. Sebenarnya aku memang ingin mencegahnya mengganggu anak-anak. " jawab anak muda itu.

" Baiklah " berkata laki-laki itu " tolong awasi anak-anak yang sedang bermain. Mungkin memang ada orang yang senang mengganggu anak-anak. Laki-laki itu ingin merampas topeng mainan anak kakang Kriya itu, yang katanya ditemukannya dipintu gerbang ini. "

" Baik paman " jawab anak muda itu " jika kira-kira aku tidak dapat mengatasinya, biarlah aku memanggil paman. "

" Ya. Panggil aku. Aku ingin tahu, apakah laki-laki itu berilmu kanuragan. " jawab laki-laki yang marah itu.

Demikianlah, sejenak kemudian ketiga laki-laki itupun telah masuk kembali kedalam regol sambil mengajak anak-anak itu. Bahkan kemudian salah seorang diantara mereka berpesan " Jangan bermain diluar. Untung kalian tidak mengalami sesuatu karena kami segera datang. "

Dalam pada itu, maka anak muda yang menyabit rumput itupun nampaknya telah merasa cukup. Karena itu, maka iapun telah mengangkat keranjangnya yang berisi rumput diatas kepala. Kemudian ketika ia memasuki regol padukuhan induk dan bertemu dengan anak-anak yang bermain-main itu, iapun telah berpesan pula " Bermain-mainlah dihalaman rumah salah seorang diantara kalian. Jangan berada diregol. He, kau tahu apa yang disebut culik? Agaknya orang itu culik yang mencari anak-anak. Kau pernah mendengar ceritera tentang dawet yang terbuat dari mata kanak-kanak? Sejenis minuman yang dipakai untuk tumbal. "

" Ah, apakah benar-benar ada kakang? " bertanya salah seorang diantara kanak-kanak itu.

" Entahlah. Tetapi jangan bermain diluar regol untuk sementara. Apalagi membawa topeng kecil itu. " jawab anak muda yang membawa keranjang itu.

Anak-anak itu mengangguk-angguk. Ternyata mereka memang menjadi agak ketakutan dengan ceritera tentang culik.

Anak muda itu kemudian berjalan menyusuri jalan induk. Rumahnya berada tidak jauh dari rumah Kriya. Ketika ia memasuki jalan simpang yang lebih kecil, maka ia memang lewat dimuka rumah Kriya yang dihalamannya terdapat sebatang pohon duwet.

Setelah meletakkan rumputnya di kandangs maka anak muda itupun segera membenahi pakaiannya.

" Kau masih menyabit rumput? " bertanya ayahnya.

" Rumput dikandang tinggal sedikit ayah " jawab anak muda itu.

" Bukankah adikmu biasanya yang menyabit rumput? Ia sekarang juga sedang menyabit rumput sambil menggembala kambing. Apa kau tidak pergi ke barak? " bertanya ayahnya pula.

" Sekarang aku akan pergi " jawab anak itu.

" Tidak kesiangan? " desak ayahnya pula.

Anak muda itu tersenyum. Katanya " Tidak. Dalam tiga hari ini aku sedang istirahat. Aku dapat datang kapan saja di barak "

Ayahnya tidak bertanya lagi. Sementara anak muda itupun kemudian minta diri setelah selesai berbenah diri.

Ternyata anak muda itu adalah salah seorang petugas sandi di Tanah Perdikan itu. Iapun langsung menemui pemimpinnya untuk melaporkan hasil pengamatannya di salah satu pintu gerbang padukuhan.

" Aku berhasil mengenali wajahnya Ki Lurah " berkata anak muda itu " jika bertemu dengan orang itu sekali lagi, aku agaknya akan dapat mengenalnya. "

" Bagus " berkata pemimpinnya " orang itu tentu masih akan memasuki padukuhan induk ini lagi. Karena itu, kau harus rajin berjalan-jalan. Sekali-sekali pergilah ke pasar. Mungkin laki-laki itu ada disana. Ia tentu ingin berada lebih dalam lagi di padukuhan induk ini. "

" Jika aku melihatnya lagi, apa yang harus aku lakukan? " bertanya anak muda itu.

" Jangan bertindak lebih dahulu. Awasi saja apa yang dilakukan. Tetapi ada baiknya ia melihat topeng itu ditangan anak-anak. Kita harus memberikan kesan bahwa kita tidak mengetahui gerakan mereka di Tanah Perdikan Sembojan ini. " pesan pemimpinnya sebagaimana dipesankan kepada para petugas sandi yang lain.

Sementara itu, di sanggar Kepala Tanah Perdikan, tiga orang tua sedang bekerja keras untuk memecahkan hambatan-hambatan terakhir dari usaha mereka menyempurnakan ilmu Janget Kinatelon. Dengan tanpa mengenal waktu mereka bertiga mengerahkan segenap kemampuan dan ilmu mereka yang pada dasarnya berbeda-beda namun dengan ketekunan dan kerja keras, mereka berhasil mengangkat kesamaannya dan meluluhkan unsur-unsur yang berbeda-beda justru menjadi saling mengisi, sehingga mereka telah menemukan satu kekuatan ilmu yang luar biasa dahsyatnya.

Ternyata yang dilakukan oleh ketiga orang itu bukannya hanya sehari. Tetapi ketiga orang itu telah berada didalam sanggar selama tiga hari. Para pelayanlah yang memberikan makan dan minum mereka kedalam sanggar disaat-saat yang sudah ditentukan sehingga mereka tidak mengganggu pemusatan nalar budi. Meskipun disaat yang sudah ditentukan, tetapi pintu sanggarnya masih diselarak dari dalam, maka tidak seorangpun yang boleh masuk. Sementara Sambi Wulung dan Jati Wulung telah mengawasi langsung sanggar itu.

Ternyata ketiga orang itu tidak dapat menyelesaikan tugas besar mereka dalam waktu sepekan. Mereka baru dapat menyelesaikan tugas mereka itu dalam waktu tujuh hari tujuh malam.

Baru ketika mereka merasa bahwa ilmu Janget Kinatelon telah berada pada kemungkinan tertinggi, mereka menghentikan pekerjaan mereka. Namun mereka sadar, bahwa tidak seorangpun yang dapat menyelesaikan pekerjaan mereka dengan sempurna. Karena yang sempurna itu bukanlah milik seseorang.

Dihari yang ketujuh, maka sanggar itu ternyata telah diselarak sehari-semalam penuh. Tidak seorangpun yang diperbolehkan memasuki sanggar itu. Ketiga orang tua-tua didalam sanggar itu nampaknya sedang berada dalam puncak samadi mereka.

Pada hari yang kedelapan, di dini hari, pintu sanggar itu terbuka. Ketiga orang tua itu telah keluar dari sanggar dengan tubuh yang sangat letih.

Sambi Wulung, Jati Wulung dan Nyi Wiradana sendiri telah membantu ketiganya meninggalkan sanggar menuju keruang dalam rumah Kepala Tanah Perdikan itu.

Ketiga orang yang kemudian duduk diruang dalam itu selain nampak sangat letih, wajah merekapun nampak pucat. Namun dibibir mereka nampak senyum yang cerah.

Berganti-ganti ketiga orang itu pergi ke pakiwan untuk membersihkan diri. Baru kemudian, mereka duduk bersama Iswari, Sambi Wulung dan Jati Wulung sambil minum minuman panas dan makan beberapa potong makanan.

" Kau memerlukan waktu lebih lama untuk dapat menyadap ilmu yang telah kami sempurnakan itu Iswari " berkata Kiai Badra kepada gurunya.

" Aku akan melakukan apa saja yang guru perintahkan " jawab Iswari.

" Bagus. Kau telah menemukan kembali gelora didalam jantungmu. Kau harus memiliki kemampuan tertinggi dari ilmu Janget Kinatelon. Bukan saja untuk kepentinganmu sendiri, tetapi juga untuk kepentingan Tanah Perdikan ini. " berkata Kiai Badra pula.

" Apakah kau sudah mempersiapkan diri? " bertanya Nyai Soka.

" Sejauh kemampuanku guru " jawab Iswari.

" Baik " jawab Nyai Soka " kami akan melihat ujud terakhir dari ilmumu itu. "

" Aku sudah siap kapan guru menghendaki " jawab Iswari. Namun kemudian katanya pula " Tetapi bukankah guru masih letih. "

" Kami akan beristirahat hari ini " sahut Kiai Soka " tetapi malam nanti, kami ingin berada didalam sanggar bersamamu. "

" Baik guru " jawab Iswari.

Namun dalam pada itu, ketiga orang tua itu juga sempat mempertanyakan perkembangan yang terjadi diluar sanggar. Bagaimana dengan topeng-topeng kecil itu dan apakah ada langkah-langkah tertentu yang perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh.

Iswaripun telah melaporkan kejadian-kejadian terakhir yang sempat diamati oleh para petugas sandi. Telah dilaporkan pula hadirnya orang-orang yang berkepentingan dengan topeng-topeng kecil itu.

" Ternyata mendung itu sudah datang " berkata Kiai Soka " jika benar-benar hari akan hujan, maka kita sudah bersedia payung sebelumnya. "

Demikianlah hari itu, ketiga orang tua itu benar-benar telah beristirahat. Mereka telah berada didalam bilik masing-masing. Meskipun bukan kebiasaan mereka berbaring dipagi hari, namun ketiganya telah melakukannya karena mereka memang benar-Benar letih. Namun mereka tidak tertidur.

Hari itu tidak ada sesuatu yang penting yang terjadi di Tanah Perdikan. Namun Iswari benar-benar telah mempersiapkan diri. Ia sudah memasuki sanggar sejak pagi hari setelah berbincang dengan ketiga orang gurunya. Namun menjelang tengah hari, Iswari telah berada di ruang dalam kembali bersama-sama dengan ketiga gurunya, yang nampaknya sudah jemu untuk berbaring terus.

" Nampaknya kau sudah mulai menyesuaikan dirimu " berkata Nyai Soka.

" Ya guru. Agar pada saatnya semuanya dapat berjalan lancar " jawab Iswari,

" Baiklah. Namun sebaiknya kau persiapkan tugas-tugas di Tanah Perdikan ini agar selama kau berada didalam sanggar, semuanya dapat berjalan dengan baik sebagaimana biasa. " pesan Kiai Badra.

" PAMAN SAMBI WULUNG dan paman Jati Wulung akan menangani segala sesuatunya. Mudah-mudahan tidak ada persoalan-persoalan yang gawat. " sahut Iswari. Namun demikian nampak keragu-raguan diwajahnya

Sementara itu Kiai Sokapun berkata " Iswari. Sebaiknya dalam waktu-waktu penyempurnaan ilmu Janget Kinatelon, kau tidak terganggu oleh persoalan-persoalan lain, sehingga pemusataft nalar budimu tidak terganggu. "

Iswari mengangguk-angguk, Namun sebagai seorang Kepala Tanah Perdikan, maka nampak keragu-raguan di wajahnya. Bahkan Iswari itu seakan-akan bertanya kepada diri sendiri " Apakah aku akan dapat melakukannya? Apakah aku benar-benar dapat memisahkan diri dari kewajibanku di Tanah Perdikan ini meskipun hanya sepuluh hari? "

Tetapi Iswari membiarkan pertanyaan itu melingkar-lingkar didalam dirinya. Namun kemudian ia menyadari, bahwa pertanyaan itu harus disingkirkannya jika ia memasuki pemusatan nalar budi untuk menerima tuntunan menyempurnakan ilmunya Janget Kinatelon.

Karena itu maka Nyi Wiradana memang sudah memanggil beberapa orang pemimpin Tanah Perdikan. Hanya beberapa orang yang benar-benar dipercaya termasuk pemimpin petugas sandi dan pemimpin pasukan pengawal Tanah Perdikan. Kepada i mereka Iswari memberi tahukan, bahwa sebelum menghubungi dirinya, dalam waktu yang terbatas, sebaiknya mereka berhubungan lebih dahulu dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung.

" Kenapa? " bertanya pemimpin pengawal.

" Aku akan menjalani pengobatan yang berat " berkata Iswari " aku mempunyai penyakit dalam yang berbahaya. Tetapi aku tidak menutup kemungkinan untuk menerima persoalan yang benar-benar gawat. "

" Meskipun hal itu akan berakibat buruk bagi penyakitmu sebelum sembuh benar " berkata Kiai Badra.

Iswari hanya menarik nafas dalam-dalam, sementara pemimpin pengawal itu berkata " Baiklah. Kami akan berusaha bersama-sama Ki Sambi Wulung dan Ki Jati Wulung untuk mengatasi persoalan-persoalan yang mungkin timbul. Terutama dengan adanya topeng-topeng kecil itu. Sementara ini pemimpin petugas sandi akan bekerja keras untuk mengamati keadaan. Kami sudah sewajarnya membantu agar pengobatan Nyi Wiradana cepat selesai. "

Iswari menarik nal as dalam-dalam. Katanya kemudian dengan nada rendah " Terima kasih. Kami mengharap semua pihak akan membantu. Mudah-mudahan pengobatan itu akan segera selesai. Dengan demikian maka aku akan segera dapat menunaikan tugasku kembali. " Iswari berhenti sejenak, lalu " Tetapi aku ulangi pesanku. Hal ini merupakan rahasia yang harus sama-sama kita pegang. Akhir-akhir ini kita melihat suasana yang kurang cerah di Tanah Perdikan ini, sehingga keadaanku itu tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu yang memang ingin mengacaukan ketenangan Tanah Perdikan ini. "

" Baik Nyi. Kami akan melakukannya " jawab pemimpin pengawal itu.

" Bahkan merupakan rahasia bagi para pengawal itu  sendiri " Iswari melanjutkan.

" Kami mengerti " pemimpin pengawal itu mengangguk-angguk.

Demikianlah, maka Nyi Wiradana itupun telah membagi tugasnya. Namun semuanya akan bertumpu pada Sambi Wulung dan Jati Wulung. Meskipun demikian untuk sementara Sambi Wulung dan Jati Wulung diminta agar tidak terlalu sering keluar dari rumah.

Sambi Wulung jdan Jati Wulung menyadari, bahwa jika orang-orang yang sedang mengamati Tanah Perdikan itu mengenalnya, maka persoalannya akan berkembang semakin luas.

Sejak hari iti}, maka Iswari telah berusaha untuk memisahkan diri dari tugas-tugasnya sebagai Pemangku Kepala Tanah Perdikan Menoreh. Malam nanti ia sudah harus memasuki barak untuk memperdalam dan meningkatkan ilmunya Janget Kinatelon.

Ketika matahari mulai bergeser kesebelah titik puncaknya, maka Iswaripun telah membersihkan diri. Mandi keramas dengan air abu merang. Kemudian untuk beberapa saat ia berada di biliknya. Sambil mengeringkan rambutnya yang panjang, Iswari telah mempersiapkan diri sepenuhnya.

Ketika kemudian senja turun, maka bersama-sama dengan ketiga orang gurunya, Iswari telah memasuki sanggarnya.

Iswari bukan lagi seorang perempuan muda. Umurnya sudah bertambah-tambah. Namun, demikian ia memasuki sanggar, maka darahnya mulai bergetar sebagai mana sepuluh tahun yang lalu.

Beberapa saat lamanya, mereka berempat itu duduk ditengah-tengah sanggar. Mereka mulai menyesuaikan diri dengan lingkungan didalam sanggar itu.

Sesaat kemudian, dengan isyarat Kiai Badra minta kepada mereka semua untuk memusatkan nalar budi, memanjatkan permohonan kepada Sumber Hidup mereka, agar usaha mereka dapat berhasil dengan baik serta mohon tuntunan agar ilmu yang akan mereka dalami itu akan memberikan arti yang baik bagi sesama dalam pengabdian.

Dalam keheningan sejenak, maka semua hati seakan-akan telah larut dalam pendekatan tertinggi.

Untuk beberapa saat lamanya mereka terbenam dalam suasana hening, sehingga seakan-akan sanggar itu menjadi lebih sepi dari saat-saat kosong sama sekali. Bahkan tarikan nafas dari mereka yang sedang menundukkan kepala itu tidak terdengar sama sekali.

Demikianlah, telah terjadi sentuhan-sentuhan dihati mereka betapa lembutnya, sehingga merekapun menjadi semakin menyadari, betapa mereka tidak lebih dari debu yang dihamburkan diluasnya padang ilalang di rawa-rawa.

Namun betapapun tidak berartinya mereka, tetapi mereka bermohon agar mereka dapat berbuat sesuatu bagi kebaikan sesama dengan cara yang ingin mereka lakukan. Justru karena cara yang mereka tempuh adalah cara yang dalam pengertian dasarnya bertentangan dengan kasih kepada sesama itu sendiri, maka mereka telah memohon agar hati mereka dibimbing untuk dapat mengetrapkan dalam pengertian yang baik.

Demikianlah maka setelah beberapa saat mereka berada dalam keadaan yang hening, maka merekapun telah mengangkat kembali wajah mereka yang tunduk. Tarikan nafas panjang telah menandai berakhirnya satu saat yang betapapun pendeknyar namun merupakan usaha pemusatan nalar budi dalam pendekatan tertinggi.

Untuk beberapa saat mereka masih tetap duduk sambil berdiam diri. Namun kemudian Kiai Badralah yang mulai membuka pembicaraan " Nah, setelah kita benar-benar berada dalam kesiagaan sepenuhnya, maka marilah, kita akan mulai dengan tugas kita yang berat. "

" Kau sudah benar-benar siap Iswari? " bertanya Nyai Soka.

Ya guru. " jawab Iswari singkat.

" Jika demikian, maka mulailah dengan mengungkapkan kembali tingkat kemampuanmu agar kami dapat mengerti dengan pasti, dari maha kita akan berangkat. " berkata Kiai Badra.

Iswaripun kemudian berdiri tegak. Mengangguk dalam-dalam sebagaimana sikap seorang murid kepada gurunya. Bukan lagi sikap seorang cucu kepada kakeknya. Beberapa langkah ia surut, sementara ketiga orang kakek dan neneknya itupun telah bergeser pula menepi.

Sejenak kemudian, maka Iswaripun telah mempersiapkan dirinya, mengatupkan kedua telapak tangan didadanya. Memusatkan segenap tanggapan indriyanya dalam ungkapan ilmu yang tersimpan didalam dirinya.

Perlahan-lahan Iswari mulai menggerakkan tangannya. Telapak tangannya yang mengatup mulai terurai. Perlahan-lahan jari-jari tangannya mulai bergerak membentuk lambang-lambang tertentu pada permulaan ungkapan ilmunya sebagaimana diajarkan oleh gurunya. Kemudian jari-jari kedua tangannya mengembang dalam jajaran yang rapat, sementara tangannya terjulur kedepan dengan telapak tangan tengadah. Satu gerakan berputar disusul dengan pengendapan yang berat. Kedua tangannya telah terangkat keatas. Kemudian kedua telapak tangannya telah mengatup kembali dan turun perlahan-lahan sehingga akhirnya berhenti didadanya.

Sejenak Iswari berdiri dalam sikap seperti itu. Namun kemudian iapun mulai bergerak dengan unsur-unsur gerak yang telah dipelajarinya dari ketiga gurunya itu. Geraknya mula-mula perlahan-lahan. Namun semakin lama menjadi semakin cepat, sehingga akhirnya Iswari mulai memasuki unsur-unsur gerak yang paling sulit dari ilmu yang pernah diterimanya.

Untuk beberapa saat lamanya ketiga gurunya mengamati dengan saksama tata gerak yang dilakukan oleh Iswari dalam pengungkapan ilmunya itu. Semakin lama terasa betapa gerak Iswari menjadi semakin mantap.

Pada saat-saat unsur-unsur geraknya telah tertuang, maka mulailah IswaH mengetrapkan ilmu yang memiliki kekuatan dan kemampuan yang jarang ada bandingnya. Dengan kemampuan ilmunya Iswari mampu menyerap kekuatan yang ada dilingkungannya, kemudian bergejolak didalam dirinya dan memadu dengan kekuatan yang ada didalam dirinya pula.

Dengan demikian maka perlahan-lahan mulai nampak oleh mata orang-orang berilmu semacam kabut tipis dari tubuh Iswari itu. Kabut yang sangat tipis dan bagaikan menggelombang diudara.

Ketika kakek dan neneknya memperhatikan kabut tipis itu dengan saksama. Mereka menyadari bahwa ilmu Iswari memang sudah meningkat. Kabut itu tidak lagi berujud, tetapi nampak oleh ketiga orang tua itu, sebagaimana mereka melihat deg amun-amun di padang rumput dalam panas yang sangat terik, sehingga udara bagaikan bergetar karenanya tanpa menghalangi pandangan mereka.

Ketiga orang tua itu mengerti, bahwa Iswari mampu membangunkan kekuatan panas semakin tinggi sejalan dengan tingkat perkembangan ilmunya. Dengan demikian maka kekuatan ilmunya itupun telah bertambah berbahaya pula bagi lawan-lawannya.

Namun Iswari tidak mendorong kekuatan ilmunya itu bergerak karena ia tidak mempunyai sasaran yang memadai didalam sanggarnya itu, sehingga dengan demikian maka kekuatan ilmunya bagaikan hanya menyelubungi dirinya. Meskipun demikian, dalam benturan kekuatan, dengan pengetrapan ilmunya seperti yang dilakukannya itu, Iswari sudah akan dapat melindungi dirinya dari serangan lawan-lawannya dalam sentuhan wadag, karena seseorang yang mendekatinya akan merasakan kekuatan ilmu itu.

Beberapa saat lamanya Iswari telah menunjukkan kekuatan ilmunya yang telah berkembang kepada kakek dan neneknya yang kebetulan adalah guru-gurunya, diwarnai oleh unsur-unsur gerak yang mendukung kekuatan dan kemampuan ilmunya yang telah berkembang pula.

Sehingga akhirnya, Iswari telah sampai kepada puncaknya. Demikian dahsyatnya ilmu didalam dirinya, sehingga seluruh ruang di sanggar itu bagaikan menjadi sepanas uap yang keluar dari tabung air yang mendidih.

Tetapi yang ada didalam sanggar itu selain Iswari adalah tiga orang berilmu tinggi, sehingga karena itu, maka merekapun mampu melindungi kulit mereka sehingga tidak mengalami luka-luka karena panasnya uap air yang mendidih. Apalagi ilmu itu bersumber dari mereka bertiga pula.

Demikianlah, maka setelah Iswari benar-benar tuntas dipuncak kemampuannya, meskipun ada bagian-bagian yang, tidak dilakukannya karena kemungkinan keadaan disekelilingnya dan ruang, maka iapun mulai menyusut ungkapan ilmunya itu perlahan-lahan. Semakin lama semakin ditekannya dan diendapkannya, sehingga akhirnya kabut tipis yang hanya dapat dilihat oleh mata orang-orang berilmu itupun telah lenyap pula. Ungkapan-ungkapan gerak kewadagannyapun telah menurun pula perlahan-lahan, sehingga akhirnya, perlahan-lahan tangannyapun telah terangkat dengan jari-jari terbuka. Kemudian perlahan-lahan pula megatup dan turun kedadanya. Masih ada beberapa gerakan kecil. Tetapi terakhir telapak tangan Iswari itu telah merapat dan mengatup kembali didadanya.

Sesaat mata Iswari terpejam. Namun kemudian ketika mata itu terbuka Iswari telah membungkuk hormat kepada ketiga orang gurunya.

Ketiga orang kakek dan neneknya yang juga guru-gurunya itu mengangguk-angguk. Mereka telah menyaksikan kemampuan Iswari dalam ungkapan ilmu Janget Kinatelon. Yang mula-mula adalah tiga sumber ilmu yang karena kemampuan yang tinggi, telah dijalin menjadi satu sehingga menjadi sejenis ilmu yang dapat disebut diperbaharui dalam tataran yang lebih tinggi dari sumber dasarnya masing-masing.

Dalam pada itu maka terdengar Kiai Badra berkata kepada Iswari " Cukup Iswari. Beristirahatlah sebentar. Kami akan menentukan langkah-langkah kami untuk membimbingmu dalam waktu yang pendek ini. " Iswari sekali lagi mengangguk dalam-dalam. Kemudian katanya " Terima kasih guru. "

Ketika Iswari kemudian menepi dengan kedua belah tangannya yang tergantung lemah disisi tubuhnya untuk duduk dan beristilahat, maka ketiga orang gurunya telah melakukan penilaian atas peragaan yang dilakukan oleh Iswari itu.

Beberapa saat mereka melihat kekuatan yang nampak pada perkembangan ilmunya yang bahkan diluar dugaan, namun mereka juga melihat beberapa kekurangan dan kelemahan yang ada pada ilmunya itu, sehingga beberapa diantara unsur geraknya masih nampak rapuh. Bahkan pancaran kekuatan ilmunyapun masih juga belum padat, sehingga masih ada lubang-lubang udara yang kosong.

" Jika terjadi benturan ilmu yang sama kuatnya, maka ilmu lawan akan mampu menyusup diantara kekosongan itu dan sangat membahayakannya. " berkata Nyai Soka.

—.Ya " desis Kiai Soka " segi itulah yang akan kita urai terlebih dahulu, sebelum kita meningkat pada pengembangannya. "

Kiai Badrapun mengangguk-angguk. Katanya " Aku sependapat. Kita akan mengisi kekosongan-kekosongan yang masih terdapat pada ungkapan ilmu anak itu, meskipun ilmunya sudah meningkat. Kemudian mempertebal lapisan-lapisan ilmu itu dan terakhir kita harus melihat bagaimana Iswari mendorong kekuatan ilmunya memancar dari dirinya kearah sasaran, dengan kekuatan ilmu yang telah menjadi semakin padat dan berat. "

Demikianlah, maka ketiga orang itu telah membicarakan langkah-langkah yang akan mereka ambil untuk melaksanakannya.

Dalam pada itu, Iswari yang sempat beristirahat di pinggir sanggar, duduk pada sebuah amben kecil. Dengan sungguh-sungguh ia memperhatikan pembicaraan guru-gurunya meskipun ia tidak mendengar dengan jelas apa yang mereka katakan. Namun Iswari merasa bahwa ia masih harus bekerja keras untuk mencapai satu tataran baru pada ilmunya itu.

Demikianlah, maka sejak saat itu, Iswari memang lebih banyak berada didalam sanggar. Ia benar-benar telah memisahkan diri dari tugasnya sehari-hari. Bahkan tidak seorangpun yang dibenarkan menghubunginya selain ketiga orang gurunya.

Siang dan malam hampir tidak ada putusnya, Iswari berada didalam sanggar bersama ketiga orang gurunya. Sehari semalam, Iswari hanya mendapat kesempatan yang tidak terlalu panjang untuk berada diluar sanggar dan berada dipambaringannya. Selebihnya, ia harus bekerja keras menjelang saatnya bulan purnama.

Bagi Iswari sendiri, bulan purnama tidak memberikan pengaruh apapun pada ilmunya. Dan bahkan Iswari menganggap bahwa cahaya bulan tidak lebih dari salah satu ujud kecantikan alam, diantara kecantikan alam yang lain.

Namun ketiga gurunya mempunyai pertimbangan yang lain. Mereka masih memperhitungkan seseorang yang menganggap dirinya dipengaruhi oleh kekuatan cahaya bulan.

Dalam pada itu, selagi Iswari berada didalam sanggarnya dan tenggelam pada peningkatan kemampuan ilmunya, Sambi Wulung dan Jati Wulung berusaha untuk dapat melakukan tugas-tugasnya meskipun tidak sepenuhnya. Namun Sambi Wulung dan Jati Wulungpun masih selalu membatasi dirinya karena keduanya masih juga memperhitungkan satu kemungkinan, bahwa orang-orang dari padepokan yang dihuni oleh Puguh akan berkeliaran sampai ke Tanah Perdikan itu. Atau orang-orang dari satu lingkungan yang tersembunyi, yang daerahnya dipagari oleh topeng-topeng kecil yang mempunyai pengertian maut itu.

Sambi Wulung dan Jati Wulung masih berusaha untuk menyembunyikan wajah mereka terhadap orang-orang yang mungkin menyusup ke Tanah Perdikan Sembojan itu, agar tidak memberikan kemungkinan bagi Puguh untuk mengambil langkah-langkah pengamanan sehingga mereka akan kehilangan jejaknya lagi.

Karena itulah, maka keduanya lebih banyak mengatur Tanah Perdikan itu dari rumah Kepak Tanah Perdikannya. Tetapi sebaliknya justru di malam hari Sambi Wulung dan Jati Wulung banyak mengunjungi padukuhan-padukuhan di seluruh Tanah Perdikan, sehingga karena itu, maka setiap padukuhan tidak pernah merasa terpisah dari induknya meskipun beberapa hari mereka tidak berhubungan dengan Iswari.

Untuk beberapa hari tidak terjadi sesuatu di Tanah Perdikan itu. Tetapi tiba-tiba saja seorang petugas sandi yang mengawasi keadaan di dalam lingkungan Tanah Perdikan telah melihat orang yang pernah mengganggu anak-anak karena topeng kecil itu berada dipasar.

Petugas itu sempat menghubungi kawannya dan menyuruhnya untuk mengawasinya.

" Yang seorang dari kedua orang itu pernah aku kenali memburu dan menakut-nakuti anak-anak karena anak-anak itu telah melepas topeng yang dipasangnya diregol. Yang seorang lagi aku belum pernah melihatnya. .Tolong awasi mereka selama mereka berada di pasar. Jika mereka pergi, tolong, ketahui kearah mana mereka meninggalkan Tanah Perdikan ini. Aku akan melaporkannya kepada pimpinan kita. "

Kawannya mengangguk. Tetapi ia masih bertanya " Jadi aku tidak mengambil langkah apa-apa selain mengawasi mereka? "

" Ya. Aku selalu mendapat pesan untuk sangat berhati-hati dengan mereka. " sahut petugas yang pertama.

Demikianlah maka dengan tergesa-gesa petugas itu telah menemui pemimpinnya. ftamun agaknya pemimpinnya masih harus berbicara lebih dahulu dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung

" Jangan tergesa-gesa mengambil langkah apapun - berkata pemimpinnya " awasi saja mereka. Mungkin tidak hanya dua orang saja. Aku akan bertemu dengan Ki Sambi Wulung atau Ki Jati Wulung. Berikan laporan kepadaku setiap ada perkembangan baru. Aku berada dirumah Kepala Tanah Perdikan. "

Petugas sandi itupun kemudian telah kembali ke pasar. Ketika ditemuinya kawannya membeli semangkuk dawet, maka kawannya itu telah memberikan isyarat, bahwa orang yang sedang di awasinya ada ditempat pande besi.

Petugas itupun telah ikut pula duduk dimuka penjual dawet dan memesan sekaligus dua mangkuk.

" Perutmu melembung nanti " berkata petugas yang menunggunya " mungkin kau ganti harus masih minum lagi. Semelak, atau wedang sere atau apalagi. "

" Aku senang sekali minum dawet cendol dengan  pemanis badhek aren seperti ini. " jawab petugas itu.

" Terserah saja kau " desis kawannya.

Tetapi petugas sandi itu tidak menghabiskan dua mangkuk dawetnya sekaligus» Ia minum seteguk demi seteguk sambil duduk bukan lagi dimuka penjual dawet itu, tetapi disebelahnya. Dari tempatnya duduk, ia melihat dua orang yang harus mereka awasi berada dipande besi yang sedang sibuk menempa kejen bajak.

Ternyata pande besi yang tidak tahu dengan siapa ia berhadapan itu, telah mendapat beberapa pertanyaan dari kedua orang itu dan menjawabnya sebagaimana diketahuinya. Kedua orang itu telah bertanya tentang pembuatan senjata di Tanah Perdikan itu.

" Ada beberapa orang pande besi yang secara khusus telah membuat senjata " berkata pande besi itu " meskipun dalam keadaan darurat semua pande besi yang ada diperintahkan membuat senjata. Tentu saja dengan mutu yang berbeda. Aku tidak terbiasa membuat senjata. Tetapi jika terpaksa, aku dapat juga membuat pedang. Tetapi pedang buatan ku tidak akan lebih baik dari sebuah parang para petani. "

Kedua orang itu mengangguk-angguk. Seorang diantaranya berkata " Betapa buruknya sebuah pedang, tetapi jika mematuk perut yang terdiri dari kulit dan daging ini, tentu akan koyak juga. "

Pande besi itu tertawa. Katanya " Jangankan pedang. Parang pembelah kayu itupun akan dapat mengoyakkan kulit perut. "

Kedua orang itupun tertawa pula. Beberapa saat keduanya masih berada di bengkel pande besi itu. Namun kemudian keduanyapun telah minta diri dan meninggalkan tempat itu. Keduanya memang berhenti di depan pande besi yang lain disebelahnya. Tetapi hanya sebentar.

Demikian kedua orang itu pergi, maka kedua orang petugas sandi itupun telah bersiap-siap. Petugas sandi yang telah menemui pemimpinnya itu berkata " Nanti saja kita bertanya kepada pande besi itu. Kita awasi dahulu, kemana mereka pergi. "

Kedua orang itupun telah mengikuti dengan hati-hati dua orang yang dikenal sebagai orang-orang yang mempunyai hubungan dengan topeng-topeng kecil itu.

Ternyata kedua orang itu telah keluar dari pasar dan berjalan menuju ke pintu gerbang.

Kedua orang petugas sandi itupun telah memisahkan diri. Seorang akan langsung menuju ke pintu gerbang, seorang yang lain masih saja mengawasi keduanya dari kejauhan.

Seperti yang mereka perhitungkan, keduanya memang keluar lewat pintu gerbang padukuhan induk. Ternyata di luar gerbang induk itu telah terdapat bukan hanya sebuah topeng kecil. Tetapi sepasang topeng yang letaknya agak tinggi diluar pada sebatang pohon, sehingga anak-anak tidak akan dapat menggapainya.

Kedua orang itu berhenti sejenak ketika mereka melewati gerbang dan memandangi sepasang topeng yang menempel diluar batas pedukuhan induk itu.

Tetapi keduanya tidak mengatakan sesuatu. Seorang petugas sandi yang justru telah berada diluar pinti gerbang itu, sempat bersembunyi dibalik sebuah gerumbul. Namun ia tidak melihat sesuatu yang mencurigakan dilakukan oleh keduanya kecuali bahwa keduanya memperhatikan sepasang topeng itu, lalu pergi.

" Marilah, kita melihat di gerbang yang lain. " berkata petugas yang pertama.

" Melihat apa? Bukankah kita sudah tahu, disana ada juga topeng kecil seperti ini. " sahut kawannya.

" Apakah sekarang juga menjadi sepasang " berkata petugas itu.

" Kita biarkan saja keduanya pergi? " bertanya kawannya.

" Sulit mengikuti mereka tanpa mereka ketahui ditengah-tengah bulak " berkata petugas itu " nanti kita akan menghubungi kawan-kawan kita dipadukuhan sebelah. Namun agaknya yang menjadi sasaran perhatian mereka adalah padukuhan induk ini. " sahut yang pertama.

Kawannya tidak menjawab. Namun keduanya telah pergi ke pintu gerbang yang lain dari padukuhan induk itu.

Ternyata diluar pintu gerbng itu, juga pada sebatang pohon telah terdapat pula sepasang topeng kecil. Sebuah topeng yang terdahulu justru telah tidak ada ditempatnya.

" Apakah para peronda tidak mengetahui apa yang terjadi semalam? " desis petugas sandi itu.

" Belum tentu hal itu terjadi semalam " jawab kawannya " mungkin baru hari ini atau dua hari yang lalu, tetapi para peronda tidak begitu memperhatikannya.

Petugas sandi itu mengangguk-angguk. Katanya hampir kepada diri sendiri " Tentu satu pertanda bahwa keadaan menjadi semakin mendesak. Hanya saja kita tidak tahu apa yang akan mereka lakukan. "

Nampaknya kawannya itupun sependapat. Bahkan iapun berkata " Apakah harus dimulai lagi pengawasan di pintu gerbang ini siang dan malam? "

" Ki Sambi Wulung dan Ki Jati Wulung tentu tidak setuju. " sahut petugas sandi itu " sementara ini orang-orang itu masih belum merasa bahwa mereka telah kita awasi. "

" Lalu, apa yang kita lakukan sekarang? " bertanya kawannya.

" Kita menghadap pemimpin kita. Kita perlu membicarakan beberapa hal. "

Demikianlah maka kedua orang itu telah menemui pimpinan petugas sandi yang sudah berpesan berada dirumah Kepala Tanah Perdikan. Bersama Sambi Wulung dan Jati Wulung mereka membicarakan kemungkinan-kemungkinan tentang dua topeng kecil disetiap pintu gerbang.

" Kita harus memberikan tugas dengan diam-diam kepada para petugas sandi untuk memperhatikan padukuhan-padukuhan lain atau tempat-tempat yang perlu mendapat perhatian, apakah di tempat-tempat itu juga terdapat topeng-topeng kecil seperti itu. " berkata pemimpin dari para petugas sandi itu.

Namun perintah yang kemudian keluar bukan hanya itu. Tetapi juga meningkatkan kesiagaan dan pengawasan yang lebih bersungguh-sungguh terhadap orang-orang dari luar Tanah Perdikan, meskipun hal yang demikian sulit dilakukan di pasar-pasar.

Ketika ada satu kesempatan kecil, Sambi Wulung dan Jati Wulung berbicara dengan Kiai Badra yang kebetulan keluar dari sanggar disaat Iswari beristirahat, maka Kiai Badra itupun berpesan " Perhatikan bulan nanti malam. Jangan dari padukuhan induk ini. Tetapi dari padukuhan yang berada diujung Tanah Perdikan ini. "

" Untuk apa? " bertanya Jati Wulung.

" Bukankah cahaya bulan itu berarti sekali bagi Warsi? Ilmunya selain Gelap Ngampar agaknya dipercaya akan dapat terpengaruh oleh cahaya bulan. " berkata Kiai Badra. Lalu " Karena itu lihatlah. Mungkin kalian melihat sesuatu yang menarik perhatian kalian. Mungkin ada hubungannya dengan topeng yang berpasangan itu. Tetapi mungkin pula tidak. "

" Baiklah " jawab Jati Wulung " kami akan melakukannya malam ini. "

Ketika kemudian Kiai Badra kembali ke sanggar, maka Sambi Wulung dan jati Wulungpun telah bersiap-siap untuk pergi"ke padukuhan yang paling ujung dari Tanah Perdikan itu. Justru diujung sebelah Timur.

Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak membawa orang lain bersama mereka agar tidak menarik perhatian. Tetapi keduanya minta agar pimpinan petugas sandi dan pimpinan pengawal Tanah Perdikan berada di rumah Kepala Tanah Perdikan.

" Sementara pengobatan bagi Nyi Wiradana masih berlangsung, maka kita memang harus menjaga rumah ini baik-baik " berkata Sambi Wulung kepada pemimpin pengawal dan para petugas yang ada di rumah itu.

Meskipun tanpa perintah, tetapi rasa-rasanya para pengawal itu masing-masing menyadari, bahwa mereka harus meningkatkan kesiagaan tertinggi. Karena itu, maka mereka tidak membagi tugas menjadi dua kelompok seperti biasanya yang bergantian tidur dan berjaga-jaga. Tetapi mereka yang tidur hanya seperempat dari jumlah para petugas bergantian. Para petugas itu telah dibagi menjadi ampat kelompok. Hanya satu kelompok sajalah yang beristirahat dengan waktu yang lebih pendek dari biasanya.

Sambi Wulung dan Jati Wulung memang terbiasa untuk datang ke padukuhan-padukuhan dimalam hari. Karena itu, keduanya memang tidak banyak menarik perhatian ketika mereka melewati gardu-gardu di padukuhan-padukuhan. Bahkan keduanya masih juga sempat berbicara beberapa lama digardu-gardu sekedar untuk memelihara jarak yang sudah menjadi semakin dekat dengan anak-apak muda Tanah Perdikan itu.

Tetapi mereka tidak mengabaikan tugas mereka. Ketika bulan yang masih belum bulat semakin tinggi memanjat langit, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung memang telah berada diujung Tanah Perdikan itu. Tetapi keduanya sengaja tidak berada di gardu di mulut pintu gerbang dipating ujung itu. Tetapi seperti orang-orang yang pergi kesawah, maka keduanya menyusuri pematang memasuki daerah persawahan yang masih menjadi lingkungan Tanah Perdikan.

Adalah kebetulan, bahwa mereka telah bertemu dengan dua orang yang berada didalam gubugnya menunggui air yang gemericik mengalir dibawah gardu itu.

Sambi Wulung dan Jati Wulung telah ikut pula duduk digardu itu yang ternyata terletak tidak begitu jauh dari lereng pebukitan.

" Sepi sekali malam ini " berkata salah seorang dari kedua orang petani itu.

" Apakah dimalam-malam lain tidak sesepi ini? " bertanya Sambi Wulung.

Orang itu tertawa. Katanya " Malam-malam lain juga sepi. Tetapi rasa-rasanya malam ini terlalu sepi. Suara angin terdengar lebih ngelangut. "

Jati Wulung tertawa. Katanya " Yang sepi adalah hatimu sendiri. E, apakah sudah agak lama kau tidak mendapat kesempatan untuk bermain dadu? "

" Ah " jawab petani itu " bukankah sekarang di Tanah Perdikan ini sudah tidak ada lagi permainan dadu? Aku tahu sekarang. Kau sedang menyelidiki aku. "

Jati Wulung tertawa semakin keras. Katanya " Sama sekali tidak. Aku memang sudah yakin, tidak ada lagi permainan apapun disini. "

Namun dalam pada itu, petani yang lainpun berkata " Suasananya memang lain. Dua atau tiga malam ini rasa-rasanya memang lebih sepi. Malam kemarin kami tidak keluar dimalam hari, karena kami mendapat giliran air disiang hari. Malam ini sebenarnya kami mendapat giliran dipagi hari. Tetapi rasa-rasanya dipadukuhanpun terlalu sepi. Anak-anak yang meronda bagaikan terkantuk-kantuk saja di gardu, Karena itu, kamipun telah keluar pula jauh sebelum saat giliran kami sampai. Rasa-rasanya ada yang menarik untuk diketahui ditengah-tengah bulak ini.

Sambi Wulung dan Jati Wulungpun mengangguk-angguk. Namun Jati Wulungpun berkata " Yang membuat kita merasa lebih sepi adalah udara yang semakin dingin dalam * dua tiga malam ini. Langit yang bersih memang membuat udara sangat dingin. Angin yang bertiup ini rasa-rasanya semakin membuat tubuh gemetar. "

Kedua orang petani itu mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata " Kau benar. Dua tiga malam ini udara terasa bagaikan menggigit tulang. "

Untuk sesaat merekapun telah terdiam. Malam dinginnya bukan kepalang. Namun seorang diantara petani itu berkata " Aku membawa wedang jahe. Meskipun sudah dingin tetapi hangatnya jahe akan membuat kita menjadi hangat pula. "

" Terima kasih " Jati Wulung menyahut " aku memang haus. "

Jati Wulung memang meneguk wedang jahe dari gendi tembaga yang dibawa oleh petani itu. Namun belum lagi tiga teguk Jati Wulung telah menurunkan gendi itu dari mulutnya,

" Kalian dengar suara itu? " Jati Wulung berdesis.

" Ya. Memang agak tidak biasa " berkata petani itu " suara itulah yang memang mendorong kami untuk memperhatikan sawah kami. Apalagi pategalan sebelah.

" Bukanlah suara itu suara anjing hutan? " bertanya Jati Wulung.

—Ya. jawab petani itu.

" Bukankah anjing hutan tidak merusakkan sawah dan pategalan? " bertanya Jati Wulung.

" Pada dasarnya memang tidak. Tetapi jika jumlah terlalu banyak, maka jalan yang mereka lewati akan menguak tanaman di sawah dan petegalan. Dalam keadaan lapar maka anjing-anjing hutan akan memasuki padukuhan-padukuhan untuk mencuri ternak. "

" Apakah kalian tidak takut? " bertanya Jati Wulung.

" Anjing hutan tidak dapat memanjat. Mereka tidak akan dapat memanjat tiang-tiang gubug kami. Sedangkan gubug kami cukup kuat sehingga tidak akan dapat dirobohkannya. " jawab petani itu.

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Tetapi Sambi Wulung masih bertanya " Apakah anjing-anjing hutan itu tidak dapat memanjat tangga? "

Petani itu tertawa. Katanya " Tangga itu dapat kami tarik keatas. Sementara itu, kami dapat memukuli kepala anjing hutan yang mencoba melonjak naik dengan tongkat-tongkat besi ini atau menusuknya dengan parang. "

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata " Darimana kira-kira anjing-anjing itu datang? Bukankah biasanya tidak ada seekorpun anjing hutan yang mendekati Tanah Perdikan ini? "

" Memang pernah " jawab petani yang seorang " tetapi tidak pasti sepuluh tahun sekali. Menurut pendengaran kami, dibalik bukit itu ada sebuah goa yang angker. Yang disebut jalma mara jalma mati, sato mara sato mati. Setiap kehidupan yang datang ke goa itu tentu akan mati. "

" Goa itu sarang anjing hutan? " bertanya Sambi Wulung.

Orang itu menggeleng. Katanya " Bukan sarang anjing hutan. Tetapi terdapat seorang pertapa yang dengan ilmunya dapat diciptakannya sejumlah anjing hutan. Anjing hutan itu dapat diperintah sesuai dengan kehendaknya dan memiliki penalaran sebagaimana orang yang memilikinya itu. "

" Ya. Sahut petani yang lain " ilmu itu memang ilmu siluman. Tetapi jarang sekali ilmu itu dipergunakannya jika tidak ada persoalan yang sangat gawat. "

" Apakah kau pernah menyaksikan atau mendengar salah satu peristiwa yang berhubungan dengan anjing hutan itu? " bertanya Sambi Wulung.

" Seharusnya kau tidak boleh lupa. Kau ingat, saat Nyi Wiradana bertempur dan menjadi luka parah? Saat bulan purnama penuh itu ditandai dengan gonggongan anjing-anjing liar. Nah, kurang lebih sepuluh tahun yang lalu. "

Tiba-tiba saja kulit Sambi Wulung dan Jati Wulung meremang. Hampir diluar sadar mereka memandang kebulan yang belum bulat. Tetapi beberapa hari lagi bulan itu akan purnama. Anjing-anjing hutan itu akan menjadi semakin liar dan apakah mungkin akan terulang lagi peristiwa hampir sepuluh tahun yang lalu, disaat Iswari dan Warsi masih cukup muda.

Tetapi suara anjing liar itu rasa-rasanya semakin lama semakin keras. Dan bahkan semakin banyak. Seolah-olah anjing-anjing liar itu bergerak dalam kelompok yang besar semakin lama semakin dekat. Tetapi setiap kali sumber suara itu rasa-rasanya memang kembali lagi ke balik bukit.

Namun dalam pada itu, Sambi Wulungpun bertanya " Menurut ceritera-ceritera orang-orang tua, apakah ada orang yang pernah sampai ke goa itu? "

Kedua orang petani itu mengangkat bahunya. Katanya " Aku tidak tahu. Tetapi menurut kata orang jalma mara jalma mati, sato mara sato mati. Jika ada orang yang mencoba melihat kedalam goa itu, maka ia tidak akan pernah kembali lagi. "

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak melihat hubungan antar ilmu yang dimiliki oleh Warsi dan tempat dibalik bukit itu, karena ia tahu, bahwa Warsi memiliki padepokan jauh dari Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan Warsi sendiri mungkin telah mempergunakan bekas padepokan atau sarang gerombolan Kalamerta atau tempat lain, tetapi tidak dibalik bukit itu.

Beberapa saat lamanya Sambi Wulung dan Jati Wulung masih tetap berada di gubug itu. Mereka masih juga mendengar anjing hutan yang menggonggong. Kadang-kadang memang diam untuk beberapa lama. Kemudian terdengar seekor diantaranya mengaum seakan-akan meneriakkan isyarat kepada kawan-kawannya. Kemudian terdengar sekelompok anjing menggongong bersama-sama.

Namun bagaimanapun juga suara anjing itu dan bulan yang terang dilangit, merupakan pertanda yang buruk bagi Tanah Perdikan dalam hubungannya dengan topeng kecil yang menjadi rangkap. Seakan-akan satu peringatan bahwa segala sesuatunya telah menjadi semakin dekat.

" Sejak kapan kalian mendengar suara anjing itu? " bertanya Jati Wulung.

" Aku tidak ingat lagi. Tetapi sejak bulan mulai nampak cerah dilangit " jawab petani itu.

Jati Wulung mengangguk-angguk. Tiba-tiba saja timbul keinginannya untuk mendekat. Tetapi tentu hanya sampai batas Tanah Perdikan Sembojan di kaki bukit itu. Diseberang jalan sempit di tengah-tengah bulak itu, maka tanah persawahan itu. Tetapi milik sebuah Kademangan tetangga.

" Marilah " ajak Jati Wulung " kita berjalan-jalan lagi. "

Sambi Wulung setuju. Katanya " Marilah. Kita habiskan malam ini dengan berkeliling Tanah Perdikan.Besok sejak dini hari kita akan tidur dengan nyenyak. " Kedua orang itupun kemudian telah turun dari gardu dan minta diri untuk melanjutkan perjalanan.

Salah seorang dari kedua petani itupun kemudian berpesan " Jangan mencoba-coba memasukkan tanganmu kedalam api. " .

Sambi Wulung dan Jati Wulung termangu-mangu sejenak. Namun keduanyapun tertawa. Sambi Wulungpun menjawab " Kami tidak akan pergi ke bukit itu. Terima kasih atas peringatan kalian. "

Demikianlah Sambi Wulung dan Jati Wulung telah menelusuri pematang, mengikuti aliran air parit yang tidak begitu besar, tetapi bening. Ketika Jati Wulung menyentuh air itu dengan ujung jari kakinya, maka terasa air itu sangat dingin.

Tetapi para petani yang mendapat giliran mengairi sawahnya di malam hari, tidak akan mengeluh meskipun seandainya air itu bagaikan membeku.

Ketika mereka sampai kebatas Tanah Perdikan Sembojan, maka merekapun terhenti. Dihadapan mereka masih terbentang beberapa kotak sawah sampai kekaki bukit. Tetapi sawah itu bukan milik Tanah Perdikan itu. Meskipun Tanah Perdikan selalu berhubungan dengan para tetangga, tetapi adalah kurang bijaksana untuk memasuki lingkungan mereka dimalam hari. Para petani dari Kademangan tetangga akan dapat menuduhnya mencuri air yang seharusnya mengalir di tanah persawahan mereka atau bahkan berbuat sesuatu yang kurang wajar.

Karena itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung hanya berdiri saja disebuah jalan yang tidak cukup luas itu, yang disebelah-menyebelahnya terdapat parit.

Suara gonggong anjing - itu memang terdengar semak- dekat. Tetapi rasa-rasanya memang dari balik bukit kecil itu. Namun demikian Sambi Wulung dan Jati Wulung masih belum yakin, bahwa dibalik bukit itu ada sebuah goa yang dihuni oleh seseorang yang memiliki atau memelihara anjing-anjing hutan itu. Apalagi seseorang yang dengan ilmunya dapat menciptakan anjing-anjing hutan yang garang.

" Tetapi suara itu memang suara anjing hutan " berkata Sambi Wulung.

" Siapa tahu apa semacam ilmu yang dipengaruhi oleh sinar bulan, namun dibarengi oleh suara-suara seperti gonggong anjing hutan. Sinar bulan dan suara seperti gonggong anjing hutan itu merupakan dukungan atas kekuatan ilmu yang dimiliki itu. Misalnya, kenapa Warsi beberapa tahun yang lalu menantang Iswari justru disaat bulan purnama. Juga disaat itu terdengar gonggong anjing hutan. " desis Jati Wulung.

" Kita memang dapat menghubungkannya dengan topeng yang tiba-tiba telah menjadi rangkap " berkata Sambi Wulung pula. Lalu katanya " Kesimpulan daripada itu, maka kita memang harus semakin berhati-hati. "

Keduanya ternyata sependapat, bahwa dalam waktu dekat memang akan dapat terjadi sesuatu.

Sambi Wulung dan Jati Wulung tekejut ketika keduanya melihat sesuatu meloncat dari balik gerumbul dipematang sawah diseberang jalan. Semula mereka mengira seekor serigala. Namun ternyata bukan. Yang meloncat itupun kemudian berdiri tegak sebagaimana seseorang. Bahkan bukan hanya seorang, tetapi tiga orang.

" Hati-hatilah " desis Sambi Wulung " tetapi ingat, kita belum siap. Iswari belum selesai dengan peningkatan diri. Karena itu seandainya mereka bukan petani dari Kademangan sebelah, dan mereka menyerang kita, kita tidak boleh melawan. Apalagi mengalahkan mereka.

" Lalu? " bertanya Jati Wulung.

" Kita akan lari. Bukankah kita yakin, bahwa kita masih memiliki kemampuan untuk mendorong agar kita dapat berlari lebih cepat. " berkata Sambi Wulung.

Kedua orang itu justru telah duduk di tanggul parit dipinggir jalan seperti laku dua orang petani yang menunggui air diparit itu.

Ketiga orang itu memang telah mendekatinya. Seorang yang berjalan dipaling depan telah berhenti beberapa langkah dari Sambi Wulung dan Jati Wulung. Dengan nada kasar ia bertanya " He, apa kerja kalian disini? "

" Menelusuri air Ki Sanak " jawab Sambi Wulung.

" Tetapi kalian nampaknya tidak membawa cangkul atau alat-alat yang lain. " berkata orang itu.

" Cangkul kami berada dimulut kotak sawah kami. Kami hanya menunggui air yang kadang-kadang telah dicuri orang tetangga-tetangga yang tidak mau menuruti perjanjian tentang pembagian air. " sahut Sambi Wulung. Namun Sambi Wulungpun sempat juga bertanya " Kalian siapa? "

" Aku petani dari Kademangan sebelah " jawab salah seorang diantara mereka.

Tetapi Sambi Wulung masih menjawab " Aku terbiasa bertemu dengan mereka disini. Tetapi rasa-rasanya aku belum pernah melihat kalian. "

Orang yang berdiri dipaling depan menggeram. Katanya " Apa boleh buat. Waktunya memang sudah tiba untuk mulai dengan permainan kami yang mengasikkan. Kami akan mulai dengan rencana kami atas orang-orang Tanah Perdikan. "

" Rencana apa? " bertanya Jati Wulung.

" Nasib kalian ternyata sangat buruk. Kalian berdua adalah orang yang pertama-tama kami temui pada saat rencana kami mulai kami laksanakan. " geram orang itu. Lalu katanya " Berlututlah. "

Sambi Wulung dan Jati Wulung nampak termangu- mangu. Sementara orang itu telah membentak pula " Cepat, berlututlah. Jika kau mempersulit pekerjaan kami, maka kau akan mengalami nasib yang jauh lebih buruk dari mati. "

" Untuk apa kami harus berlutut? " bertanya Sambi Wulung.

" Kami akan memenggal kepala kalian. " jawab orang itu.

" Jangan " jawab Sambi Wulung " aku tidak mau. "

Orang itu memandang Sambi Wulung dan Jati Wulung dengan sorot mata yang membara. Katanya " Tidak ada orang yang pernah lepas dari tanganku. Kalianpun tidak. "

Sambi Wulung dan Jati Wulung bergeser beberapa langkah surut. Mereka mencoba menyembunyikan wajah mereka dari cahaya bulan.

" Jangan berusaha untuk lari. Tidak ada gunanya " geram orang itu. Lalu " Aku akan menghitung sampai tiga. Jika kalian tidak mau berlutut maka kami akan mengikat kalian dan menyeret kalian disepanjang jalan ini sampai kalian mati. Mungkin besok pagi. Mungkin kami masih harus menjemur kalian diteriknya matahari sehari lagi sambil menyeret kalian naik keatas bukit. Jika sampai diatas bukit kalian belum mati, maka kalian akan menjadi makanan semut merah. Nah, karena itu, pikirkan. Cara mati yang mana yang kau kehendaki. "

Sambi Wulung dan Jati Wulung masih bergeser surut. Sementara orang itu mulai menghitung " Satu, dua, tiga. "

Karena Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak berlutut maka orang yang agaknya memimpin kawan-kawannya itu berteriak " Tangkap mereka dan ikat mereka. "

Namun Sambi Wulung telah memberikan isyarat kepada Jati Wulung. Karena itu, maka mereka berduapun telah berlari meninggalkan orang-orang itu.

" Tangkap mereka. Jangan sampai lepas " teriak pemimpin mereka.

Kedua orang diantara mereka telah berusaha mengejar Sambi Wulung dan Jati Wulung, namun ternyata kedua buruan itu berlari lebih kencang dari mereka. Sambi Wulung dan Jati Wulung berlari menyusuri jalan panjang itu menuju ke padukuhan.

Orang-orang yang mengejarnya telah mengerahkan tenaga mereka pula. Namun ternyata bahwa jarak diantara mereka semakin lama justru menjadi semakin panjang, sehingga akhirnya kedua orang yang mengejarnya itu melepaskan harapannya untuk dapat menangkap mereka.

Karena itu, maka kedua orang yang mengejarnya itu akhirnya telah berhenti. Sambil mengumpat-umpat mereka akhirnya kembali kepada pemimpin mereka.

Ternyata pemimpin mereka telah marah bukan buatan. Hampir saja ia telah memukul orang-orangnya. Untunglah ia masih dapat menahan diri.

" Kedua orang itu akan menyebarkan berita ini " geram pemimpinnya " seharusnya orang-orang Tanah Perdikan itu menemukan orang-orangnya mati tanpa diketahui siapakah yang membunuh mereka. Kita telah belajar bagaimana membunuh seseorang dengan meninggalkan kesan bahwa orang itu telah dikoyak-koyak serigala. "

" Jika keduanya mau berlutut, maka kita akan dapat dengan mudah mengoyak lehernya dan menghunjamkan kuku-kuku besi kita sebagaimana gigi serigala. Tetapi orang itu tidak mau melakukannya, sehingga kita harus membunuhnya dengan cara apapun juga. " jawab salah seorang diantara keduanya.

" Kau bodoh. " geram pemimpinnya " kita akan dapat memberikan kesan kematian dengan cara yang kita kehendaki itu. Seandainya tidak, dengan cara apapun orang itu ternyata tidak dapat kahan tangkap. Apalagi kalian bunuh. "

Kedua orang pengikutnya itu hanya dapat menundukkan kepalanya. Namun pemimpinnya akan berkata " Sudahlah. Kita akan berusaha disisi lain dari Tanah Perdikan ini. Mungkin kita memang tidak perlu meninggalkan kesan serigala itu. Dengan cara apapun kita harus mulai menakut-nakuti orang-orang Tanah Perdikan yang sombong ini. Tetapi harus kita sadari, apa yang terjadi ini besok tentu sudah tersebar diseluruh Tanah Perdikan, karena Tanah Perdikan Sembojan mempunyai jaring-jaring hubungan yang tertib antara padukuhan-padukuhan. Akupun berani bertaruh, besok semua pengawal Tanah Perdikan itu tentu sudah dikerahkan. Dengan demikian tugas kita akan bertambah berat dan kita harus lebih bersabar. "

Kedua orang pengikutnya masih tetap berdiam diri.

Sementara itu pemimpinnya berkata " Pada suatu saat, kita harus merayap memasuki padukuhan. "

Akhirnya ketiga orang itupun telah meninggalkan tempatnya berjalan kembali kearah bukit. Mereka tidak mengharapkan lagi akan bertemu dengan seseorang atau lebih yang akan dapat dijadikan korban. Merekapun pada kesempatan pertama telah gagal untuk memberikan kesan sekelompok serigala yang telah menyerang para petani Tanah Perdikan Sembojan, karena kedua orang yang disangkanya petani itu sempat melarikan diri.

Dalam pada itu, Sambi Wulung dan Jati Wulungpun ternyata tidak segera memasuki padukuhan. Demikian kedua orang yang mengejar mereka itu berhenti, maka merekapun telah berusaha untuk menyelinap dan menyusuri pematang kembali menemui kedua orang petani yang ada didalam gubugnya.

" Kami persilahkan kalian pulang " minta Sambi Wulung.

" Kami belum sempat mengairi sawah kami. Sebentar lagi kami akan mendapat giliran itu " jawab salah seorang dari mereka.

Tetapi Sambi Wulung berkata " Aku minta dengan sangat kalian pulang bersama kami. Biarlah kita agak mendahului saat kau membuka pematang. Bukankah waktunya hanya kurang sedikit? "

" Tetapi kami belum mendengar ayam berkokok untuk yang kedua kalinya " jawab salah seorang diantara para petani itu.

" Sebentar lagi " jawab Sambi Wulung " mari,buka pematangmu dan kita tinggalkan kembali ke padukuhan. Sesuatu telah terjadi. Kau pada saatnya akan mengetahuinya. "

Kedua orang itu tidak membantah. Merekapun menjadi berdebar-debar. Karena itu, maka keduanyapun telah turun dari gubug mereka dan mulai membuka pematang untuk mengalirkan air kedalam sawah. Karena kedua orang itu memiliki sawah yang terletak bersebelahan dari parit itu, maka mereka dapat bersama-sama menghentikan air parit yang mengalir kesawah dibagian bawah dan mengambilnya dengan mengalirkannya kedalam sawah mereka sebelah menyebelah. Tetapi karena waktunya masih kurang sedikit, maka keduanya tidak menghentikan sepenuhnya aliran air diparit itu. Sebagian kecil dari air parit itu masih mengalir terus, sehingga seandainya kotak sawah yang terdahulu masih belum penuh, air itu akan dapat menambahnya serba sedikit.

Demikianlah, maka kedua orang petani itupun telah bersama-sama dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung kembali ke padukuhan.

Malam itu juga Sambi Wulung dan Jati Wulung telah berbicara dengan para pemimpin Tanah Perdikan, terutama yang bersangkutan. Ia telah berbicara dengan pemimpin pengawal dan pemimpin petugas sandi.

Dengan singkat Sambi Wulung dan Jati Wulung telah menceriterakan apa yang telah dialaminya.

" Kami telah lari dari mereka " berkata Sambi Wulung.

" Apakah mereka berilmu sangat tinggi? " bertanya pemimpin pengawal Tanah Perdikan itu.

" Tidak. Tetapi bukankah kita belum siap untuk berhadapan langsung dengan mereka? " sahut Sambi Wulung.

" Kita sudah siap. Kapan saja kita harus bergerak, maka kita tidak akan mengecewakan. " jawab pemimpin pasukan pengawal itu.

" Tetapi Nyi Wiradana masih mengalami pengobatan. " jawab Sambi Wulung.

" Kita akan bergerak bersama Ki Sambi Wulung dan Ki Jati Wulung. Aku kira kekuatan kita cukup besar menghadapi gerombolan yang betapapun besarnya. " jawab pemimpin pengawal itu.

" Tetapi dapat terjadi kemungkinan lain. Jika gerombolan itu gerombolan Warsi, ia akan dapat menantang lagi perang tanding. Itulah yang harus kita tunggu sampai Nyi Wiradana siap melayaninya "

" Jadi apa yang sebaiknya kita lakukan? " bertanya pemimpin pasukan pengawal itu.

" Hubungi setiap pemimpin pengawal disetiap padukuhan. Sebarkan perintah, untuk sementara tidak seorangpun dibenarkan keluar dari padukuhan dimalam hari. Bahkan disiang haripun jangan hanya dua atau tiga orang. Letakkan kentongan-kentongan kecil digubug-gubug. Perondaan harus lebih sering dilakukan. Sementara dimalam hari, setiap padukuhan menjadi padukuhan tertutup. " berkata Sambi Wulung.

" Apakah kita hanya akan bertahan seperti itu didalam padukuhan tanpa bergerak keluar dimalam hari? " bertanya pemimpin pasukan pengawal itu.

" Hanya untuk dua tiga hari ini. Mudah-mudahan pengobatan itu selesai dan kita dapat bergerak dengan sepenuh kekuatan. Bahkan seandainya ada tantangan perang tandingpun tidak akan mengorbankan harga diri bukan saja pemimpin Tanah Perdikan ini, tetapi seluruh rakyat Sembojan. " jawab Sambi Wulung.

" Tetapi bukankah tantangan perang tanding itu dapat diminta untuk ditunda untuk beberapa waktu? " bertanya pemimpin pasukan khusus.

" Penundaan itu sudah mempengaruhi harga diri seseorang " jawab Sambi Wulung.

Pemimpin pengawal itu mengangguk-angguk. Agaknya Sambi Wulung dan Jati Wulung masih belum ingin melakukan benturan terbuka dengan orang-orang yang nampaknya memang mulai menyentuh ketenangan Tanah Perdikan Sembojan.

Namun dengan demikian, maka pemimpin pengawal itu telah mendapat perintah untuk meningkatkan kekuatan para pengawal meskipun terbatas didalam lingkungan padukuhan masing-masing.

" Kita akan melindungi setiap orang di Tanah Perdikan ini " berkata Sambi Wulung " meskipun kita masih bersiap-siap didalam lingkungan sendiri, tetapi jika mereka memasuki padukuhan, apaboleh buat. "

Pemimpin pengawal itu mengerti maksud Sambi Wulung. Langkah-langkah yang diambilnya adalah bertahan tanpa memancing gerakan yang lebih besar dari orang-orang yang memang berniat untuk mengacaukan Tanah Perdikan itu. Bukan saja topeng-topeng kecil yang menja di rangkap, tetapi juga mereka telah mulai menyerang. Untunglah bahwa yang diserang pertama kali adalah Sambi Wulung dan Jati Wulung, sehingga korban tidak jatuh karenanya.

Demikianlah, maka malam itu juga segala persiapan telah dilakukan oleh pemimpin pengawal itu. Karena itu, menjelang fajar, disaat langit mulai terang, maka para pengawal telah tersebar keseluruh padukuhan di Tanah Perdikan Sembojan yang besar itu. Semua pemimpin pengawal di padukuhan-padukuhan telah dipanggil.

Demikian pula setiap petugas sandi yang tersebar di padukuhan-padukuhan harus datang pula ke rumah Ki Gede. Tetapi kedua pemimpin itu telah membagi waktu sehingga tidak bersamaan.

Pemimpin pengawal itupun telah memerintahkan untuk menyebarkan perintah sebagaimana dimaksudkan oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung.

" Bagaimanapun juga hubungannya dengan mengairi sawah, maka perinah itu harus diikuti " perintah pemimpin pengawal itu " karena hubungannya dengan keselamatan jiwa seseorang. "

Selanjutnya pemimpin pengawal itupun memerintahkan agar para pengawal berada dalam kesiagaan tertinggi, tetapi tertutup. Untuk sementara mereka hanya bergerak didalam dinding padukuhan masing-masing. Meskipun demikian jika perlu, maka sebuah padukuhan dibenarkan untuk membunyikan isyarat, memanggil bantuan jika keadaan memaksa.

Seperti yang dikatakan Sambi Wulung pemimpin pengawal itu berkata " Kita harus melindungi setiap jiwa Demikianlah, maka perintah itupun dalam waktu yang cepat telah tersebar ke setiap padukuhan. Para pemimpin pengawal telah mendatangi setiap rumah, memasuki setiap halaman dan menemui setiap keluarga untuk menyampaikan perintah itu.

Beberapa orang memang merasa berkeberatan mula-mula. Jika mereka tidak keluar malam, maka mereka tidak akan dapat mengairi sawah mereka. Namun pemimpin pengawal di padukuhan itu berkata " Kita harus menata kembali pembagian air untuk waktu pendek ini, sehingga disetiap saat memasuki senja, kita tidak lagi berada disawah. Bagi mereka yang belum mengairi sawahnya, maka menjelang senja dapat membuka pintu air dipematang tanpa menutup air itu sehingga yang lain yang seharusnya membuka air ditengah malam atau sesudahnya akan dapat membasahi sawahnya pula. "

" Tetapi tanaman kami tidak akan dapat menjadi subur " jawab seorang petani yang keras kepala.

" Soalnya adalah keselamatan jiwa " jawab pemimpin pengawal di padukuhan itu " sementara itu, keadaan ini hanya berlaku untuk waktu yang sangat pendek. "

Petani yang keras kepala itu tidak menjawab lagi.

Dalam pada itu, menjelang siang hari, yang berkumpul di rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan adalah para petugas sandi. Mereka membicarakan pengawasan yang lebih bersungguh-sungguh lagi terhadap orang-orang yang tidak dikenal. Jika kita melindungi setiap orang Tanah Perdikan ini dimalam hari, maka jangan terjadi sesuatu disiang hari atas orang-orang kita. Apalagi justru ditempat-tempat yang ramai seperti di pasar dan lain-lain.

Bukan hanya pasar di padukuhan indtik, tetapi juga dipasar-pasar sepekan di padukuhan-padukuhan. Juga ditempat-tempat lain yang banyak dikunjungi orang. Seperti yang diduga oleh orang-orang yang gagal membunuh Sambi Wulung dan Jati Wulung, maka Tanah Perdikan Sembojan memang sudah siap. Tetapi yang tidak mereka duga adalah bahwa kesiagaan itu adalah kesiagaan tertutup, sehingga tidak dengan mudah dapat dilihat oleh orang luar.

Pada hari itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah mendapat kesempatan yang pendek untuk berbicara dengan Kiai Badra. Dengan singkat, ia telah melaporkan apa yang dialaminya dan langkah-langkah yang telah diambilnya.

" Kau sudah mengambil langkah-langkah yang benar " berkata Kiai Badra " sementara itu, Iswaripun telah sampai kepuncak. Hari ini ia menyerap ilmu tertinggi yang mampu kami susun, sementara besok ia akan mengalami pati-geni. Besok malam baginya adalah puncak dari segala-galanya dalam penyadapan ilmu sejauh dapat kami siapkan baginya. Menurut perhitungan kami, besok kita masih belum memasuki bulan purnama. Masih ada waktu ampat hari lagi. "

" Ya Kiai " jawab Sambi Wulung " orang-orang itu agaknya telah mengambil ancang-ancang sekitar sepuluh hari menjelang purnama. "

" Tetapi bukankah sampai hari ini masih tidak ada tantangan perang tanding itu? " bertanya Kiai Badra.

" Sampai hari ini belum, Kiai " jawab Sambi Wulung.

Kiai Badra mengangguk-angguk. Iapun kemudian berpesan kepada Sambi Wulung " Berhati-hatilah. Kau harus dapat mencari jalan terbaik sampai saatnya Iswari menyelesaikan ilmunya besok malam. "

Dengan pesan itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung memang harus semakin berhati-hati. Ia harus mempertahankan suasana dalam waktu dua hari menjelang Iswari keluar dari sanggar. Namun setelah itu, Iswari tentu masih memerlukan waktu untuk memulihkan kekuatan wadagnya barang satu dua hari.

Ketika kemudian malam tiba, maka rasa-rasanya seisi Tanah Perdikan menjadi gelisah. Namun para pengawal yang bersiap sepenuhnya telah berada didalam gardu-gardu sebagaimana anak-anak muda yang meronda. Memang tidak kelihatan kesiagaan pasukan, tetapi dalam keadaan tertentu, semuanya dapat bergerak dengan cepat.

Apalagi padukuhan-padukuhan yang terletak dibagian Timur Tanah Perdikan. Mereka memang merasa terganggu oleh suara anjing hutan yang menggonggong sepanjang malam tanpa henti-hentinya.

Dalam pada itu, ketika dua orang pengawal yang berjalan dijalan padukuhan melihat petani yang keras kepala itu berdiri diregol halaman rumahnya menjelang saat sepi uwong, seorang diantara mereka memperingatkan " Jangan kau langgar perintah itu demi keselamatan sendiri. "

" Tetapi apakah air yang mengalir untuk beberapa kotak sawah sekaligus itu akan dapat memenuhi kebutuhan tanaman di sawahku. " bertanya petani itu.

" Bukankah tidak jauh berbeda. Memang air yang mengalir masuk ke kotak sawahmu hanya sedikit. Tetapi semalam suntuk. Sedangkan biasanya air yang mengalir kesawahmu deras, tetapi hanya sebentar karena harus bergantian. " jawab pengawal itu.

" Memang tidak banyak bedanya. Tetapi rasa-rasanya tidak puas dengan aliran air yang sedikit itu. Sebagaimana kita minum, setitik-setitik itu tidak akan dapat menghilangkan perasaan haus kita. " berkata petani itu.

" Sudahlah. Bukankah hal ini hanya berlaku untuk waktu yang pendek. Mungkin dua tiga hari, mungkin sepekan dan agaknya tidak akan lebih dari itu. " berkata pengawal itu.

" Omong kosong " jawab petani itu " jika bahaya yang mengancam Tanah Perdikan ini masih saja ada, maka bukankah peraturan untuk tidak keluar malam dari padukuhan itu masih berlaku? "

Kedua pengawal itu saling berpandangan. Seorang yang lain tiba-tiba saja membentak " Kau jangan keras kepala seperti itu. Kami bermaksud baik. Jika kau melanggarnya, maka akibatnya akan tertimpa kepada dirimu.  Bukan kepada aku, atau orang lain. "

Kedua orang pengawal itupun kemudian telah meninggalkannya. Petani yang keras kepala itu termangu-mangu sejenak. Namun rasa-rasanya ia tidak puas dengan keadaan sawahnya. Ia memang telah membuka pematang. Tetapi karena beberapa kotak sawah akan diairi bersama-sama, maka tentu air yang mengalir ke kotak sawahnya hanya kecil saja.

Meskipun demikian, betapapun ada dorongan didalam dirinya untuk melihat sawahnya, ia masih juga ragu-ragu.

" Tetapi mereka hanya menakut-nakuti saja " gumamnya.

Untuk beberapa lama ia masih saja berada di regol halamannya. Diluar sadarnya, ia telah berpaling memandangi pintu rumahnya yang tertutup. Tidak ada orang lain dirumah itu. Isterinya telah pulang kerumah orang tuanya sejak dipukulinya beberapa pekan yang lalu. Ayahnya yang tua sama sekali tidak betah tinggal dirumah itu, sehingga ia lebih senang tinggal bersama anak perempuannya. Sementara itu dalam perkawinannya yang telah berlangsung tujuh tahun, petani itu belum dikurniai seorang anakpun. Bahkan disaat-saat terakhir, telah timbul niatnya untuk kawin lagi. Bukan hanya karena ia tidak mempunyai anak dengan isterinya yang pertama, tetapi perempuan yang diinginkannya itu adalah seorang janda yang kaya.

Seorang janda kaya akan dapat memberinya uang cukup untuk berada di kalangan adu jago. Atau bermain dadu atau bentuk-bentuk judi yang lain.

Namun akhirnya sejenak kemudian orang itu memutuskan " Aku akan pergi ke sawah. Tidak akan ada apa-apa. Mereka hanya omong kosong saja. Mereka menganggap bahwa orang-orang Tanah Perdikan yang bukan pengawal adalah penakut. "

Ternyata orang itupun kemudian telah menutup pintu regol halaman rumahnya. Diam-diam iapun telah meninggalkan halaman itu dan berniat pergi ke sawah.

Tetapi petani yang keras kepala itu tidak mau melewati jalan induk. Ia telah melalui jalan butulan yang tidak diawasi langsung.

Petani itu memang harus menunggu beberapa saat ketika ia melihat tiga orang pengawal yang meronda lewat. Namun demikian pengawal itu lewat, maka dengan serta mereka iapun telah lari ke pintu butulan. Dibukanya selarak pintu itu. Kemudian meloncat keluar. Meskipun kemudian daun pintu regol butulan itu telah didorong dan ditutup lagi, tetapi pintu kayu lereg itu tidak diselarak dari dalam.

" Nanti, aku akan kembali melalui pintu ini pula. Aku akan menyelaraknya kembali. Aku hanya ingin mengalirkan air seluruhnya kesawahku " berkata orang itu kepada diri sendiri.

Demikian, maka diam-diam orang itu telah menyusuri pematang menuju ke sawahnya di bulak yang menuju ke bukit. Sawah orang itu terletak tidak terlalu jauh dengan sawah kedua orang yang dijumpai Sambi Wulung dan Jati Wulung digubugnya dimalam sebelumnya. Namun kedua orang itu tidak ada digubugnya. Bukan hanya karena keduanya tidak mendapat giliran air malam itu. Tetapi keduanya memang mematuhi perintah untuk tidak keluar dari padukuhan di malam hari.

Petani yang keras kepala itu berjalan dengan tergesa-gesa di pematang. Ketika ia menengadahkan wajahnya, dilihatnya cahaya bulan yang kuning cerah meskipun bulan masih belum bulat.

" Semua omong kosong " geram petani itu " tidak ada apa-apa disini. "

Namun tengkuknya memang meremang ketika ia mendengar suara anjing hutan dikejauhan.

" Anjing hutan itu ada dibalik bukit " gumamnya. Namun hatinya menjadi tenang ketika ia melihat gubug ditengah sawah. Katanya kepada diri sendiri " Jika aku meloncat naik ke gubug itu, betapapun banyaknya anjing hutan tidak akan dapat menyerang aku. "

Petani itupun kemudian telah sampai ke parit yang mengalir tidak begitu deras. Beberapa pematang yang seharusnya bergilir telah dibuka semuanya. Sehinga airpun telah terbagi menjadi beberapa bagian.

Meskipun menurut perhitungan, jika air yang terbagi itu mengalir semalam suntuk, kotak sawahnya akan cukup basah pula, namun ia lebih senang air itu mengalir dengan deras ke kotak sawahnya. Baru ke kotak sawah orang lain.

Karena itu, maka ia telah menutup beberapa pematang yang terbuka, sehingga air sepenuhnya telah mengalir ke kotak sawahnya. Ia telah menutup pula parit itu sehingga tidak mengalir terus kebawah. Dengan demikian maka air di parit itu seluruhnya mengalir ke kotak sawahnya.

" Tidak lama kotak sawah itu tentu akan segera penuh " berkata petani itu didalam hatinya.

Ketika ia melihat gubug di sebelah itu kosong, maka petani itupun telah naik kegubug itu sambil bergumam " Pemiliknya tidak berani turun kesawah malam ini akibat perintah itu. Tetapi pemilik gubug ini juga tidak mendapat giliran malam ini mengairi sawahnya. "

Beberapa saat ia berada di gubug itu. Gonggong anjing hutanpun rasa-rasanya menjadi semakin dekat. Tetapi petani yang justru berbaring digubug itu merasa dirinya cukup aman, karena anjing hutan tidak akan dapat mencapainya.

Malam itu di padukuhan-padukuhan di Tanah Perdikan memang terasa sepi. Kegelisahan ternyata sudah mulai menyelimuti Tanah Perdikan itu. Perintah untuk tidak keluar dari padukuhan memang membuat setiap orang bertanya-tanya, apa yang dapat terjadi atas mereka, jika mereka melanggar perintah itu.

Jika ayam jantan berkokok dipagi hari menjelang fajar, maka rasa-rasanya setiap orang dapat mulai menarik nafas lega. Sebentar lagi mereka tidak terkungkung lagi oleh ketentuan untuk tidak keluar dari padukuhan. Mereka, terutama yang dimalam hari mengairi sawahnya ingin segera pergi ke sawah untuk melihat, apakah cara yang mereka tempuh cukup membasahi kotak-kotak sawah mereka.

Karena itulah maka pagi-pagi mereka sudah bersiap- siap. Demikian regol padukuhan dibuka disaat langit mulai terang, maka beberapa orang telah keluar dari padukuhan mereka sambil membawa cangkul dan parang menuju ke sawah mereka masing-masing.

Mereka adalah orang-orang yang kebetulan mempunyai kotak-kotak sawah yang berdekatan.

Namun beberapa saat kemudian bukan saja padukuhan itu, tetapi seluruh Tanah Perdikan menjadi gempar. Para penghubung berkuda dengan cepat telah membawa berita. Seorang petani telah terbunuh dipematang, dikoyak-koyak oleh anjing liar.

Berita itu cepat pula sampai ketelinga Sambi Wulung dan Jati Wulung. Keduanya tidak menunggu lagi. Bersama pemimpin pengawal dan pemimpin pasukan sandi keduanya telah berpacu diatas punggung kuda menuju ketempat peristiwa yang mengerikan itu terjadi.

Orang-orang yang berkerumun dibawah perlindungan pasukan pengawal yang dengan cepat sampai ketempat itu, telah mengambil kesimpulan bahwa orang itu telah dibunuh oleh sekelompok anjing hutan yang lapar.

Tetapi ketika Sambi Wulung dan Jati Wulung sampai ketempat itu, ia tidak langsung percaya. Pemimpin pengawal dan pemimpin pasukan sandi itupun dengan cepat mengambil kesimpulan serupa. Apalagi menilik kerusakan tanaman disekitar tempat kejadian.

Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung yang telah mempunyai pengalaman tersendiri itupun berusaha untuk menemukan sesuatu yang lain daripada pendapat kebanyakan orang.

Karena itu, maka keduanya tidak sekedar mengamati lingkungan dekat dengan letak tubuh yang terbunuh itu. Tetapi keduanya telah melihat-lihat keadaan agak jauh pula dari tempat itu.

" Bukan anjing hutan " desis Sambi Wulung.

Jati Wulung mengangguk. Tetapi keduanya sependapat, bahwa untuk sementara keduanya masih harus berdiam diri.

Demikianlah, maka tubuh yang terkoyak itupun telah dibawa kembali ke padukuhan. Betapapun jauhnya jarak antara orang itu dengan isteri dan ayahnya, namun keduanya telah menangisinya pula.

Dua orang pengawal yang menemuinya semalam diregol rumahnya telah melaporkan pula kepada pemimpin pengawal yang sehari itu berada dipadukuhan itu bahwa keduanya sudah berusaha mencegahnya.

" Ternyata regol butulan terbuka. Meskipun daun pintunya tertutup, tetapi tidak diselarak lagi. Agaknya orang itu telah keluar dari padukuhan lewat regol butulan itu. " lapor pengawal itu.

" Memang mengerikan sekali " geram Sambi Wulung. Lalu katanya " Perintah harus diperketat. Mudah-mudahan peristiwa ini dapat menjadi peringatan kepada orang-orang Tanah Perdikan Sembojan, bahwa bahaya anjing hutan itu juga tidak dapat dianggap isapan jempol semata-mata. Bahkan para pengawal harus tahu benar. Jika anjing liar itu kelaparan, maka mereka tentu akan berani memasuki padukuhan untuk mencuri ternak atau bahkan membunuh orang. "

Pemimpin pengawal itupun dengan cepat telah memanggil semua pemimpin pengawal padukuhan di Tanah Perdikan. Mereka telah mendapat penjelasan dan bahkan contoh apa yang dapat terjadi jika perintah itu diabaikan.

" Kita semuanya harus menyadari, bahwa ada beberapa jenis bahaya yang mengancam kita. Mungkin sekelompok penjahat, tetapi ternyata juga sekelompok anjing hutan. " berkata pemimpin pengawal itu. Lalu katanya " Tetapi untuk sementara kita akan bertahan didalam padukuhan kita masing-masing. "

" Korban telah jatuh " berkata seorang pemimpin pengawal padukuhan " apakah kita masih harus berdiam diri? "

" Apa yang dapat kita lakukan selain bertahan? " bertanya pemimpin pengawal itu " apakah kita akan menyerang keseberang bukit, tempat anjing liar itu bersarang? Atau kita akan memasuki setiap Kademangan disekitar Tanah Perdikan ini untuk mencari orang-orang jahat yang mulai membayangi Tanah Perdikan kita? "

Para pemimpin pengawal di padukuhan-padukuhan itu mengangguk-angguk. Mereka memang belum mempunyai bahan, yang cukup untuk mengambil langkah-langkah. Karena itu, maka yang dapat mereka lakukan dalam waktu dekat itu memang hanya bertahan di padukuhan masing-masing.

" Tetapi pasukan di padukuhan induk telah menyiapkan kelompok pengawal berkuda yang akan dapat memberikan bantuan dengan segera ke padukuhan-padukuhan yang memerlukan. Meskipun kita tidak memiliki kuda yang baik, namun dengan kuda-kuda kita, agaknya akan dapat dilakukan gerakan yang lebih cepat dari sekedar berjalan kaki. " berkata pemimpin pengawal itu.

Dengan demikian maka Tanah Perdikan memang tidak dapat menghadapi persoalan yang timbul itu dengan tenang-tenang saja. Namun orang-orang Tanah Perdikan itu memang percaya, bahwa salah seorang diantara mereka telah terbunuh oleh sekelompok anjing liar, sehingga jika mereka tidak keluar dari padukuhan, maka mereka tentu tidak akan mengalaminya.

Hari itu juga telah diselenggarakan penguburan orang yang telah menjadi korban. Sementara Sambi Wulung dan Jati Wulung meninggalkan padukuhan itu setelah memberikan beberapa pesan setelah penguburan selesai bersama dengan pemimpin pasukan pengawal dan pemimpin petugas sandi di Tanah Perdikan itu.

Di padukuhan induk,pengawalan memang diperkuat. Terutama dirumah Kepala Tanah Perdikan. Hari itu Iswari akan melakukan pati geni, sehari penuh. Dan dimalam harinya dalam keadaan pati geni ia akan melakukan pemusatan nalar budi. Dalam samadi itulah segala sesuatu yang telah diserapnya akan menyatu dengan dirinya.

Dengan demikian, Iswari akan mengakhiri penempaan dirinya besok saat fajar menyingsing. Tetapi ia masih harus memulihkan keadaan wadagnya barang satu dua hari. Pada saat yang demikian ketiga gurunyapun tentu dalam keadaan yang sangat letih pula.

Orang-orang yang tidak mengikuti perkembangan peningkatan ilmu Nyi Wiradana memang tidak merasa terlalu tegang. Mereka merasa cukup aman jika mereka tidak keluar dari padukuhan. Anjing-anjing liar itu tentu tidak akan memasuki padukuhan. Seandainya demikian, maka semua orang di padukuhan itu tentu akan menghalau mereka dan membunuh anjing-anjing liar itu sebanyak-banyaknya.

Tetapi dalam pada itu, terdengar pula bisik-bisik beberapa orang, bahwa anjing-anjing liar itu bukan anjing sewajarnya.

" Anjing jadi-jadian " berkata seseorang. Tetapi yang diajak berbicara itu menjawab " Jangan mengigau seperti itu. Tidak ada anjing jadi-jadian. "

" Terserah jika kau tidak percaya " berkata orang yang pertama " seorang tua mengatakan bahwa dibalik bukit itu terdapat sebuah goa tempat tinggal seorang pertapa. Nah, pertapa itulah yang dapat menciptakan anjing hutan jadi-jadian itu. "

Kawannya termangu-mangu. Tetapi ia tidak menjawab.

Namun dalam pada itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung benar-benar merasa tegang. Ia merasa mempunyai tanggung jawab yang sangat berat. Jika pada malam terakhir, disaat Iswari bersamadi itu, padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan diserang oleh sekelompok pengikut Warsi, maka keadaan akan menjadi sulit. Apalagi jika diantara mereka terdapat Warsi sendiri, Ki Rangga Gupita dan Ki Randukeling. Apalagi jika orang yang disebut guru Puguh itu ikut pula. Maka agaknya para pengawal termasuk Sambi Wulung dan Jati Wulung akan mengalami kesulitan. Sementara mereka yang berada didalam sanggar keadaan wadagnya masih terlalu lemah oleh keletihan karena kerja keras mereka.

Karena itulah, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung telah memerintahkan para pemimpin terpilih di Tanah Perdikan berada di rumah Kepala Tanah Perdikan. Sedangkan Bibi yang menyatakan keinginannya untuk mengunjungi Risangpun telah ditahan pula oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung.

" Kau boleh pergi setelah semuanya selesai " berkata Sambi Wulung.

" Aku sudah rindu kepada anak itu. Ia tentu kesepian sendiri " berkata Bibi.

" Gandar ada disana. Ia akan dapat membuat kesibukan-kesibukan yang berarti bagi Risang. " jawab Sambi Wulung. *

Bibi tidak memaksa. Ia tahu keadaan Tanah Perdikan yang gawat, sehingga karena itu, maka iapun merasa wajib untuk tinggal.

Sehari-semalam Sambi Wulung, Jati Wulung berada dalam ketegangan. Setiap saat ia berusaha untuk mendapat laporan dari para petugas sandi.

Namun tidak ada sesuatu yang perlu mendapat perhatian secara khusus. Kehidupan sehari-hari berjalan seperti biasa. Namun ditempat-tempat tertentu para pengawal bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan, meskipun sebagian besar dari pengawal tidak berkeliaran, di jalan-jalan. Anak-anak mudapun telah mendapat pesan untuk bersiaga. Dalam keadaan yang memaksa, mereka akan dipanggil dan akan melibatkan diri dalam kekerasan yang dapat terjadi setiap saat.

Ketika malam turun, maka semua orang Tanah Perdikan benar-benar tidak ada yang berani keluar dari gerbang padukuhan. Tetapi mereka agaknya tidak ingin segera tidur. Karena itu, kecuali anak-anak muda yang berada di gardu-gardu, maka hampir semua orang laki-laki berada diluar rumah. Mereka duduk-duduk dimuka regol tetangga, atau disimpang-simpang ampat didalam padukuhan. Namun mereka berpesan kepada isteri dan anak-anak yang ada dirumah untuk menyelarak pintu.

" Aku takut kakang " seorang perempuan mencoba mencegah suaminya yang keluar.

" Jangan takut. Di jalan-jalan, digardu-gardu, disimpang-simpang jalan dan dimana-mana berkeliaran orang-orang padukuhan ini. Semuanya bersenjata, sehingga tidak seekor serigalapun akan akan dapat lolos dari maut jika sekelompok diantara mereka memasuki padukuhan ini. " berkata suaminya. Namun katanya pula " Meskipun demikian, tutup pintu rapat-rapat. Jika terjadi sesuatu, pukul kentongan kecil itu. Aku ada diregol bersama beberapa tetangga yang nampaknya juga tidak dapat segera tidur.—

Isterinya mengangguk. Demikian suaminya keluar, maka pintupun segera ditutup rapat-rapat dan diselarak dari dalam. Bahkan perempuan itu sempat melihat semua pintu rumahnya, apakah semuanya sudah di selarak kuat-kuat.

Di padukuhan induk, Sambi Wulung dan Jati Wulung sama sekali tidak beranjak dari tugas mereka mengikuti perkembangan keadaan. Di halaman rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan terdapat beberapa ekor kuda yang siap dipergunakan. Demikian pula para pengawal berkuda selalu berada dalam kesiagaan tertinggi. Senjata mereka tidak terpisah dari tubuh mereka. Setiap saat jika terdengar isyarat, maka merekapun siap meloncat kepunggung kuda masing-masing.

Didalam sanggar suasananya justru sangat hening. Iswari duduk bersila. Kedua telapak tangannya mengatup dadanya. Di belakangnya, ketiga orang gurunya duduk pula bersamadi dengan sikap yang sama.

Iswari malam itu telah berada didalam puncak laku dalam usahanya mematangkan ilmu yang diterimanya dari ketiga gurunya, Janget Kinatelon.

Justru karena itulah maka Sambi Wulung dan Jati Wulung benar-benar merasa bertanggung jawab. Bukan saja atas Tanah Perdikan Sembojan yang diserahkan pengamatannya kepadanya, tetapi juga bertanggung jawab atas keselamatan Iswari dan ketiga orang gurunya yang berada didalam sanggar.

Bukan saja Sambi Wulung dan Jati Wulung, ternyata Bibipun tidak beranjak dari dapur. Dua orang pembantu perempuan telah tertidur nyenyak di amben yang cukup besar didapur itu. Namun Bibi masih saja duduk bersandar dinding. Sekali-sekali matanya memang terpejam dan rasa-rasanya kesadarannya hilang untuk sesaat. Tetapi setiap kali iapun telah tergagap dan mencoba untuk mengusir kantuknya.

Ia memang sudah agak lama tidak mengunjungi Risang. Tetapi ia sadar, bahwa ia harus berada di Tanah Perdikan pada saat seperti itu.

 

 

Yang memberi sedikit ketenangan kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung adalah bahwa bulan masih belum bulat dilangit. Tetapi meskipun demikian segala kemungkinan dapat terjadi.

" Mudah-mudahan apa yang dilakukan oleh Iswari tidak tercium oleh mereka " berkata Sambi Wulung didalam hatinya.

Lewat tengah malam, orang-orang Tanah Perdikan berharap bahwa disisa malam itu tidak akan terjadi sesuatu. Orang-orang yang semula berada disimpang-simpang ampat, di regol-regol halaman rumah, telah pulang kerumah masing-masing. Namun merekapun telah menutup setiap pintu rapat-rapat.

Tetapi mereka percaya bahwa anak-anak muda di gardu-gardu tidak akan lengah. Bahkan mereka bergantian akan meronda mengelilingi padukuhan meskipun semua pintu di regol padukuhan telah ditutup rapat-rapat. Regol-regol butulanpun telah diselarak, sehingga padukuhan mereka benar-benar telah menjadi padukuhan tertutup.

Dalam keheningan sisa malam lewat tengah malam, suara gonggong anjing hutan yang terdengar dari beberapa padukuhan di ujung Timur Tanah Perdikan itupun rasa-rasanya terdengar semakin dekat. Anjing-anjing hutan itu seolah-olah telah berada diluar dinding padukuhan. Bahkan beberapa kali rasa-rasanya anjing-anjing hutan itu telah berusaha untuk menerobos masuk lewat regol butulan. Ketika dua orang peronda lewat sebuah pintu butulan, maka terdengar pintu itu bagaikan diguncang dari luar. Ketika keduanya mendekat maka gonggong anjingpun telah terdengar dengan garangnya.

Kedua orang peronda itu termangu-mangu. Namun mereka tidak mau terpancing untuk membuka pintu butulan itu dan mencoba menghalu anjing-anjing liar itu. Namun keduanya justru bertindak dengan sangat berhati- hati. Keduanya menunggu beberapa saat dengar sabar.

Namun pedang mereka telah terhunus ditangan.

Ternyata beberapa saat kemudian telah lewat pula dua orang peronda yang lain. Ketika keduanya melihat dua orang kawannya melangkah mendekati mereka, maka merekapun segera memberi isyarat.

Kedua orang yang meronda kemudian itupun mendekat. Merekapun segera mendengar gonggong anjing hutan yang garang.

" Tentu tidak terlalu banyak " berkata peronda yang datang kemudian.

" Nampaknya memang demikian, tetapi kita harus berhati-hati. Anjing hutan mempunyai naluri yang sangat tajam. Jika mereka menemukan mangsanya, maka seolah-olah mereka dapat memanggil kawan-kawannya dengan gonggongannya yang khusus. " jawab kawannya yang datang lebih dahulu.

" Aku akan melihatnya " berkata salah seorang dari yang datang kemudian.

" Tidak perlu. Berbahaya. " jawab yang dahulu.

" Kita tidak akan membuka pintu regol butulan ini. Aku akan memanjat dan melihat dari atas. Anjing hutan itu tidak akan dapat memanjat. Sehingga sama sekali tidak akan berbahaya bagiku. " berkata pengawal yang datang kemudian.

" Jangan " yang terdahulu masih mencoba, mencegah.

Tetapi kawannya itu tidak menghiraukannya. lapun kemudian telah bersiap-siap untuk meloncat keatas dinding padukuhan itu, sementara kawannya masih juga memperingatkan " Lebih baik tidak kau lakukan. Anjing hutan itu mempunyai beberapa macam tabiat yang tidak mudah dipahami. "

Sambil tersenyum kawannya berkata " Aku ingin melihat ujud anjing-anjing hutan itu. "

Kawan-kawannya hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu pengawal itupun telah meloncat keatas dinding.

Namun demikian ia berada diatas dinding, maka tiba-tiba menurut penglihatannya, seekor anjing hutan yang sangat besar telah meloncat pula, Giginya yang kuat telah menggigit satu kakinya yang telah berada diluar dinding, dan menariknya dengan sangat kuat.

Untunglah bahwa ia masih sempat berpegangan dengan tangannya kuat-kuat sambil meletakkan tubuhnya pada dinding. Semenara itu ia sempat pula berteriak minta tolong.

Ketiga orang kawannya terkejut. Merekapun dengan serta merta pula telah melompat keatas dinding dengan pedang terhunus. Demikian mereka berada diatas dinding, maka mereka sempat melihat dua ekor serigala yang berlari menghilang dibalik gerumbul, sementara yang lain menggonggong agak jauh dari dinding padukuhan itu.

" Hanya tiga ekor " desis yang seorang.

Tetapi kawannya tidak sempat memperhatikannya, karena mereka sibuk menolong pengawal yang kakinya telah terkoyak oleh gigi-gigi anjing hutan liar yang garang itu.

" Untung kau belum terseret turun. Jika kau terjatuh, maka tubuhmu akan hancur dikoyak-koyak oleh anjing-anjing liar itu seperti yang telah terjadi pada petani yang telah melanggar perintah itu. " berkata seorang kawannya.

Dengan susah payah, maka tubuh yang menjadi lemah karena darah yang mengalir itu telah diturunkan. Dengan cepat pula, pengawal yang kakinya koyak itu telah dibawa ke banjar.

" Apa yang terjadi? " beberapa orang kemudian telah mengerumuninya.

Tiga orang pengawal yang lainlah yang kemudian berceritera, sementara orang yang terluka itu dengan cepat telah mendapat pengobatan. Namun ternyata bahwa lukanya cukup parah. Gigi harimau yang tajam itu benar-benar telah mengoyakkan betisnya sehingga hampir sampai ketulang.

Peristiwa itupun dengan cepat telah sampai ke pada Sambi Wulung dan Jati Wulung. Disaat fajar menyingsing, maka empat orang pengawal dan dua orang petugas sandi telah menuju ke padukuhan induk berkuda. Dua orang diantara mereka telah membawa panah sendaren. Jika terjadi sesuatu di perjalanan, maka mereka akan segera melepaskan panah sendaren itu, sehingga bantuan akan segera berdatangan. Terutama dari padukuhan terdekat.

Demikian Sambi Wulung dan Jati Wulung mendengar berita itu, maka mereka memang menjadi agak kebingungan. Mereka sebenarnya ingin menyaksikan pengawal yang hampir saja menjadi korban kedua itu. Tetapi jika mereka meninggalkan padukuhan induk maka kemungkinan yang lebih parah akan dapat terjadi. Karena itu, maka yang kemudian pergi ke padukuhan itu hanyalah pemimpin pengawal disertai oleh pemimpin petugas sandi Tanah Perdikan Sembojan. Sementara itu, kesiagaan di padukuhan induk sama sekali tidak berkurang.

Pemimpin pasukan pengawal dan pemimpin petugas sandi itu memang sependapat, bahwa kaki pengawal itu memang dikoyak oleh gigi anjing hutan. Namun di padukuhan induk, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah meragukannya. Bahkan mereka berpendapat, bahwa tiga ekor anjing hutan raksasa itu tentu ada hubungannya dengan tiga orang yang telah dijumpainya di bulak di dekat kaki bukit itu.

Dalam pada itu, dibalik bukit, diantara lereng yang curam memang terdapat sebuah goa yang hampir tidak diketahui orang. Namun sekelompok orang ternyata justru telah mempergunakan goa itu untuk sarang mereka.

Dari goa itu, para penghuninya memang mendengar bahwa Iswari, yang disebut Nyi Wiradana, isteri anak Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang kemudian justru memangku jabatan itu, sedang sakit.

" Perhatian mereka tentu tercurah kepada yang sakit itu " berkata seorang diantara mereka " karena itu, apakah saat ini bukan kesempatan untuk menyerang? "

Namun yang lain menjawab " Nyi Warsi masih ingin menunggu sampai purnama penuh.

" Apakah ia akan menantang perang tanding lagi? " bertanya orang pertama.

" Nyi Warsi ingin menjajagi keadaan. Kita tidak tahu keputusan terakhirnya. Namun kita semuanya diperintahkan untuk melakukan sebagaimana direncanakan " jawab kawannya.

Yang lain mengangguk-angguk. Mereka memang tidak akan dapat mendahului perintah Warsi.

Tetapi tiba-tiba saja seseorang berkata " Mungkin karena Nyi Warsi tidak tahu bahwa Iiwari sedang sakit sekarang. Jika ia datang dan mengetahuinya mungkin ia akan menyesal "

Kawannya mengangguk-angguk. Katanya " Apakah sebaiknya kita memberikan laporan kepadanya? "

" Agaknya itu lebih baik. Besok salah seorang dari kita akan menemui Nyi Warsi. " desis yang lain " agaknya ia sudah siap. Namun puncak kemampuannya memang terjadi pada saat bulan purnama. "

" Terserah kepadanya, apa yang akan dilakukan. Namun mungkin Iswari justru dapat mempergunakan alasan untuk menunda perang tanding jika tantangan benar diberikan, dengan alasan bahwa ia sedang sakit. " berkata yang lain pula.

" Memang mungkin. Alasan itu harus diterima. " berkata orang yang pertama " karena itu, mungkin Nyi Warsi akan memilih cara lain. Bukan dengan perang tanding. "

Yang lain-lain mengangguk-angguk. Tetapi mereka sepakat untuk menyampaikan laporan bahwa Iswari sedang sakit. Ketiga orang tua-tua telah menungguinya untuk memberikan pengobatan.

Dalam pada itu, tiba-tiba saja mereka telah berloncatan dan bersiaga menghadapi segala kemungkinan ketika seorang pengawas telah memberikan isyarat dari depan goa. Namun ternyata yang masuk adalah tiga orang kawannya.

" Kau tidak berhasil? " bertanya orang yang nampaknya pemimpin disarang sekelompok orang yang ternyata pengikut Warsi itu.

Hampir berbareng ketiga orang itu menggeleng. Seorang diantara mereka berkata " Tetapi hampir saja kami menyeret seorang anak muda yang berusaha menjenguk keluar dari atas dinding. Demikian kakinya yang sebelah keluar, maka dengan serta merta kaki itu telah kami koyakkan. Tetapi kami gagal menyeretnya keluar karena ketiga orang kawannya telah datang membantunya sehingga kamipun telah berloncatan memasuki gerumbul-gerumbul liar.

Orang yang bertugas memimpin kawan-kawannya ditempat itupun kemudian berkata " Baiklah. Tetapi luka-luka itu sudah cukup memberikan kesan kegarangan sekelompok anjing hutan. "

Ketiga orang yang gagal menyeret pengawal dari atas dinding itu mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata " Besok kami akan memasuki padukuhan itu. "

" Tetapi kalian harus sangat berhati-hati. Kalian harus mengoyak korban-korban kalian. Bukan sebaliknya. Menurut pendapatku dibelakang dinding setiap padukuhan itu, para pengawal tentu berkeliaran. "

Ketiga orang itu masih juga mengangguk-angguk. Seorang yang lain berkata " Kami sudah mendapatkan beberapa pengalaman. "

Sementara itu pemimpin dari sekelompok orang itupun berkata " Tiga atau ampat hari lagi purnama akan penuh. Saat-saat Nyi Warsi sampai kepuncak kemampuannya yang sudah semakin meningkat. Aku kira ia tidak akan menantang perang tanding, karena Iswari yang sakit itu akan mempunyai kesempatan untuk mengelak. Tetapi Tanah Perdikan Sembojan harus dikacaukan dan Iswari  akan terpaksa berhadapan dengan Nyi Warsi. "

Namun orang-orang itu menyadari, bahwa untuk menyerang Tanah Perdikan Sembojan, terutama Padukuhan induknya, maka diperlukan kekuatan yang sangat besar. Tetapi orang-orang itu yakin bahwa mereka akan dapat melakukannya. Memancing para pengawal sehingga mereka seakan-akan menyibak, sementara Warsi dan Ki Rangga akan berhadapan Iswari dan orang-orang yang ada disekitarnya.

Orang-orang itupun telah mengetahui bahwa Warsi dan Ki Rangga yang menyadari akan adanya beberapa orang berilmu di Tanah Sembojan tidak akan datang berdua saja bersama orang-orangnya. Tetapi mereka sempat menghimpun beberapa orang yang kecewa, yang sakit hatinya tidak akan pernah sembuh. Meskipun orang-orang itu pada mulanya juga menentang sikap Arya penangsang dari Jipang, namun karena kemudian yang memegang pemerintahan ternyata adalah Adiwijaya di Pajang, maka orang-orang itu menjadi sangat kecewa, sehingga dalam perjalanan hidup mereka yang buram, akhirnya mereka justru bergabung dengan Ki Rangga Gupita.

Tetapi ternyata Warsi datang lebih cepat dari yang mereka duga. Sebelum matahari terbit telah datang dua orang utusan, yang memberitahukan, bahwa Warsi akan datang hari itu juga bersama orang-orang terpenting yang akan membantunya. Pasukannya akan datang berangsur-angsur agar tidak menarik perhatian orang disepanjang perjalanan mereka.

" Bagus " berkata pemimpin dari orang-orang yang tinggal di goa itu " semakin cepat semakin baik. "

Sementara itu, di Tanah Perdikan Sembojan, disaat matahari terbit, Iswari yang pucat telah keluar dari dalam sanggar diikuti oleh ketiga orang gurunya yang juga nampak sangat letih. Dengan wajah yang pucat, Iswaripun kemudian telah mempersiapkan dirinya untuk mandi keramas dengan landha merang.

Seorang pembantu dirumahnya telah mempersiapkan abu merang yang direndam didalam air. Kemudian demikian Iswari keluar dari sanggar, maka air abu merang itupun disaringnya dan diletakkannya di pakiwan.

Iswari memang tidak langsung masuk kedalam rumahnya. Tetapi ia langsung menuju ke pakiwan untuk mandi dan keramas.

Semalam suntuk Iswari telah mengendapkan semua kegiatan yang telah dilakukan didalam sanggarnya dalam samadi Sehingga dengan demikian maka seakan-akan ilmu yang diserapnya dari ketiga orang gurunya, peningkatan ilmu Janget Kinatelon itu menjadi semakin merasuk, menyatu dan luluh didalam dirinya.

Menjelang fajar menyingsing, maka ketiga gurunya menganggap bahwa semua kegiatan Iswari telah selesai, ketika ketiga orang gurunya yang menunggui Iswari bersamadi seakan-akan melihat tubuh Iswari yang duduk itu terangkat dan tidak lagi menyentuh lantai sanggar. Perlahan-lahan tubuh itu terangkat semakin tinggi, sehingga akhirnya tubuh itu bagaikan melayang sejengkal diatas lantai sanggar.

Iswari ternyata bertahan untuk beberapa saat dalam keadaannya. Namun kemudian perlahan-lahan pula tubuh itu turun dan kembali berjejak pada lantai sanggar itu. Masih dalam keadaan duduk bersilang kaki. Tetapi ternyata bahwa tubuh Iswari menjadi sangat letih dan lemah. Seakan-akan tenaganya telah terhisap habis dalam pemusatan nalar budinya.

Beberapa saat Iswari berada di pakiwan untuk mandi keramas. Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka mengawasinya dari kejauhan. Merekapun harus membersihkan diri pula sebagaimana dilakukan oleh Iswari.

Namun sementara itu, Nyi Soka telah memerintahkan seorang perempuan pembantu dirumah itu untuk berada didekat pakiwan. Mungkin Iswari yang letih dan lemah itu memerlukan bantuan.

Tetapi Iswari tidak memerlukannya. Ia dapat menyelesaikannya sendiri. Tetapi ketika ia keluar dari pakiwan, maka ia telah dibimbing oleh perempuan itu.

Ketika Iswari masuk kedalam biliknya, ternyata Bibi masih sibuk mempersiapkan dan membersihkan bilik itu. Demikian ia melihat Iswari maka katanya " Sehari nanti kau harus tidur nyenyak ditambah semalam suntuk agar tenagamu segera pulih kembali. "

Iswari yang lemah itu tersenyum. Katanya " Bibi, aku minta air hangat. "

" Maksudmu minuman hangat? " bertanya Bibi.

" Ya. Tetapi air putih saja. Jangan terlalu dingin tetapi jangan terlalu panas. " berkata Iswari.

Bibi mengangguk. Ia mengerti, Iswari baru saja melakukan pati geni. Karena itu, maka air hangat itu tidak boleh mengganggu perutnya yang kosong.

Sambil mengambil air yang sedikit hangat, maka Bibi telah minta seorang pembantunya membuat bubur cair. Iswari harus makan makanan yang lunak lebih dahulu. Baru siang nanti ia dapat makan nasi seperti biasanya.

Sambi Wulung dan Jati Wulungpun telah mengetahui bahwa mereka yang berada didalam sanggar telah selesai. Namun mereka tidak tergesa-gesa memberikan laporan tentang keadaan Tanah Perdikan Sembojan, agar Iswari sempat mengatur diri setelah bekerja keras beberapa hari lamanya.

Ketika matahari sepenggalah, maka ketiga orang guru Iswari itupun telah selesai berbenah diri dan duduk diruang dalam. Mereka menyempatkan diri bersama Sambi wulung dan Jati Wulung untuk minum dan makan bersama. Namun Iswari tidak duduk bersama mereka. Ia benar-benar beristirahat didalam biliknya dilayani oleh Bibi. Iswari telah meneguk beberapa teguk minuman hangat dan makan bubur cair untuk mengisi perutnya yang kosong sama sekali setelah sehari-semalam melakukan pati geni.

Berbeda dengan keletihan yang dialami oleh Iswari, maka ketiga orang gurunya akan dapat dengan cepat mengatasinya. Mereka memang bekerja keras menuntun Iswari meningkatkan ilmunya dalam pencapaian tataran tertinggi sesuai dengan hasil yang telah dicapai oleh ketiga gurunya dalam peningkatan ilmu Janget Kinatelon. Namun dihari terakhir mereka tidak melakukan pati geni dan tidak pula melakukan samadi penuh sebagaimana dilakukan Iswari untuk mengendapkan, menyatu dan meluluhkan ilmunya didalam dirinya.

Karena itu, maka ketiga orang gurunya memang sependapat untuk membiarkan Iswari berada didalam biliknya, la benar-benar harus beristirahat penuh.

" Menjelang malam, kami masih akan kembali ke sanggar " berkata Kiai Badra.

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengerutkan keningnya. Dengan ragu Jati Wulung bertanya " Apakah masih belum selesai? "

" Sudah " jawab Kiai Badra " tetapi setelah membersihkan diri, kami akan menyempatkan diri mengucap sukur kepada Yang Maha Agung.

" O " Jati Wulung mengangguk-angguk. Katanya " Tetapi sudah tidak memerlukan lagi mengerahkan tenaga untuk melakukannya.

" Memang bukan pengerahan tenaga. Tetapi seluruh hati kita " berkata Kiai Badra.

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Mereka menghargai sikap Iswari beserta ketiga orang gurunya yang tidak pernah melupakan dan mensukuri segala kurnia yang diberikan kepada mereka. Dan sudah barang tentu dengan permohonan agar hati mereka selalu diberi terang, sehingga apa yang pernah di terimanya sebagai kurnia itu memberikan arti bagi hidupnya.

Dalam kesempatan itu pula Sambi Wulung dan Jati Wulung telah melaporkan apa yang telah terjadi di Tanah Perdikan Sembojan. Telah dilaporkan pula sekelompok orang yang dengan sengaja memberikan kesan sebagai sekelompok serigala.

Kiai Badra yang mengangguk-angguk itupun berkata " Kita tidak akan salah menilai mereka. Tentu Warsi dengan kelompoknya. Jika setelah sekian tahun tiba-tiba saja ia datang lagi, tentu bukannya tidak dengan perhitungan yang mapan. Anaknya tentu menjadikan tumpuan harapannya. Apalagi menurut keterangan kalian berdua Puguh memiliki kelebihan dari anak-anak muda sebayanya. Pengalamannya luas dan ia cepat menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapinya, "

" Kita tinggal mempunyai waktu sedikit. Tiga hari lagi bulan akan menjadi purnama penuh. Memang ada dua kemungkinan. Warsi mengajukan tantangan perang tanding, atau mereka menyerang padukuhan induk ini dengan mengerahkan kekuatan yang barangkali telah berhasil mereka kumpulkan selama ini. Bukankah menurut laporanmu disamping padukuhan yang kau lihat, tentu ada padukuhan lain yang tersembunyi dan dilingkari oleh lingkungan yang tidak boleh diambah kaki manusia dengan pertanda topeng-topeng kecil itu? " sambung Kiai Soka.

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Tetapi merekapun menyadari, semakin dekat dengan saat purnama naik, maka Tanah Perdikan Sembojan itupun tentu akan menjadi semakin tegang.

Namun disiang hari, seakan-akan kehidupan di Tanah Perdikan tidak terpengaruh sama sekali. Pasar di padukuhan induk tetap ramai dikunjungi orang. Pasar-pasar sepekan di padukuhanpun pada saat hari pasaran, juga nampak ramai dan hidup. Rasa-rasanya tidak ada bahaya apapun yang telah mengancam Tanah Perdikan mereka.

Dalam pada itu, Kiai Badrapun berpesan " Lihatlah setiap ada kesempatan. Atau tugaskan para petugas sandi untuk melihat topeng kecil itu setiap saat. Pada saatnya tiba, maka topeng itu agaknya bukan saja rangkap, tetapi akan menjadi tiga, sebagaimana kebiasaan kita memberikan aba-aba dengan menghitung sampai tiga. "

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Ia sependapat dengan Kiai Badra. Nampaknya topeng itu memang akan menjadi tiga. Ketika topeng itu baru satu, maka masih belum nampak kegiatan apapun dari orang-orang yang dengan sengaja memang ingin mengganggu Tanah Perdikan Sembojan. Ketika topeng itu menjadi dua, maka kegiatan-kegiatan itu memang mulai nampak. Sehingga agaknya topeng itu akan segera menjadi tiga menjelang purnama naik. Induk kekuatan lawan mulai akan menjamah Tanah Perdikan itu.

Dalam pada itu, Sembojan masih belum menunjukkan sikap terbuka bagi lawan. Sembojan sendiri masih membiarkan kesan anjing hutan .itu. Dengan demikian, maka jika seseorang tidak keluar dari padukuhan, maka mereka tidak akan merasa gelisah.

Karena itu, demikian senjata turun, lampu-lampu mulai terpasang, maka semua regolpun telah ditutup. Regol-regol jalan induk maupun regol-regol butulan. Diselarak dengan kuat dan setiap saat akan diamati oleh para peronda.

Sementara itu, Iswari bersama ketiga gurunya telah berada kembali didalam sanggar untuk satu keperluan khusus. Namun mereka tidak terlalu lama. Mereka telah menyatakan dengan tulus pernyataan sukur atas segala kurnia yang telah mereka terima, sementara itu merekapun selalu mohon petunjuk apa yang sebaiknya mereka lakukan justru sebagai pertanggungan jawab atas kurnia yang telah mereka terima itu.

Sebelum wayah sepi hwong, ternyata mereka telah keluar dari sanggar. Mereka kemudian berkumpul dengan beberapa orang pemimpin yang berada di rumah Kepala Tanah Perdikan itu. Mereka telah menyempatkan diri untuk makan bersama-sama termasuk Iswari dan Bibi.

Namun malam itu Iswari masih harus beristirahat. Ia masih harus memulihkan segenap kekuatannya. Karena itu, maka Iswari tidak ikut berbincang-bincang diruang dalam. Setelah makan bersama-sama selesai dan berbicara serba sedikit tentang kesiagaan Tanah Perdikan, maka Iswari telah kembali kedalam biliknya bersama Bibi.

Malam itu seperti malam-malam sebelumnya, setiap padukuhan menjadi sepi dan lengang dilihat dari luar. Tetapi didalamnya justru menjadi hidup dan tegang. Digardu-gardu, disimpang-simpang ampat, diregol-regol dan dibanjar, penuh dengan kelompok-kelompok kecil yang berbincang-bincang dengan jantung yang tegang. Tiga atau ampat orang berkelompok sambil menimang senjata ditangan.

Seperti malam-malam berikutnya pula, yang terdengar adalah gonggong anjing hutan yang seakan-akan menjadi semakin banyak. Anjing-anjing hutan itu seolah-olah berkeliaran di luar dinding padukuhan sambil menyalak keras-keras dan menggeram mendebarkan.

Tetapi sampai menjelang pagi, tidak terdengar peristiwa apapun yang menggelisahkan. Tidak seorangpun yang telah diserang oleh kelompok-kelompok anjing hutan karena tidak seorangpun yang keluar dari padukuhan, meskipun hanya seujung jari. Orang-orang Tanah Perdikan Sembojan telah menjadi jera setelah seorang pengawal yang berada diatas dindingpun dapat digapai oleh anjing-anjing hutan yang sangat besar yang tidak begitu jelas kelihatan di gelapnya malam.

Ketika para pengawal sudah siap membuka regol padukuhan, ternyata telah terjadi kegemparan yang lain. Bukan seseorang yang telah mati dibunuh oleh anjing hutan diluar dinding padukuhan, tetapi ternyata anjing-anjing hutan itu telah memasuki padukuhan yang paling ujung di Tanah Perdikan Sembojan. Bukan yang paling ujung yang menghadap ke bukit, tetapi justru yang paling ujung disebelah lain yang menghadap ke Barat.

Ternyata seekor lembu telah mati dikandang dengan tubuh yang terkoyak-koyak. Semua orang yang kemudian mengerumuninya menyatakan, bahwa lembu itu telah dibunuh oleh sekawanan anjing hutan.

Berita itupun segera sampai ke padukuhan induk. Sambi Wulung dan Jati Wulung serta para pemimpin yang lain dengan tergesa-gesa telah pergi ke padukuhan itu.

Para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan memang sependapat, bahwa lembu itu memang telah dibunuh oleh sekelompok serigala yang buas.

Hanya Sambi Wulung dan Jati Wulung sajalah yang mempunyai kesimpulan lain.

Namun justru karena ketiga orang guru Iswari telah lepas dari tugas berat mereka, serta mereka telah sempat beristirahat secukupnya, maka Sambi Wulungpun mulai menyatakan pendapatnya " Menurut pendapatku yang membunuh lembu ini bukan sekelompok anjing hutan. "

" Lalu siapa menurut pendapatmu? " bertanya Ki Bekel di padukuhan itu.

" Beberapa orang. Aku tidak yakin bahwa sekelompok anjing hutan dapat masuk kedalam padukuhan yang tertutup ini. Akupun tidak yakin bahwa sekelompok anjing hutan tidak menimbulkan suara yang gaduh disaat mereka membunuh korbannya. " berkata Sambi Wulung.

" Jika yang membunuh itu beberapa orang, kenapa mereka meninggalkan bekas seperti itu? " bertanya Ki Bekel.

" Mereka memang ingin memberikan kesan, bahwa yang telah mengganggu ketenangan Tanah Perdikan ini adalaih sekelompok anjing hutan, tetapi bukan kebanyakan anjing hutan. Mereka dengan sengaja telah menimbulkan ketakutan dan kegelisahan pada rakyat Tanah Perdikan Sembojan. Perlahan-lahan, tetapi akhirnya tentu akan merata, pendapat bahwa dibelakang bukit itu terdapat seorang pertapa yang dapat menciptakan sekelompok anjing hutan yang dapat melakukan perintahnya dengan baik termasuk menakut-nakuti rakyat Tanah Perdikan ini. "

Orang-orang itu mulai merenungi kata-kata Sambi Wulung. Sementara itu pemimpin pasukan pengawal itupun berdesis perlahan-lahan ditelinga Sambi Wulung " Kenapa kau tidak mengatakannya sejak semula? "

" Aku sedang meyakinkan diriku sendiri. Pengalamanku sendiri tentang ketiga orang yang mengejarku itu memberikan perbandingan dengan apa yang terjadi. " berkata Sambi Wulung.

" Tetapi pengawal itu melihat sendiri anjing-anjing liar yang menyerangnya " berkata pemimpin pengawal itu.

" Apakah ia yakin bahwa yang dilihatnya adalah serigala? Menurut ceriteranya yang dilihatnya adalah anjing hutan raksasa yang meloncat kedalam gerumbul-gerumbul liar dipinggir bulak. Menurut penglihatan kami kemarin, tidak ada tanaman yang rusak disawah itu. Sebab menurut naluri, seseorang tidak akan menginjak-injak tanaman padi jika tidak terpaksa sekali. " jawab Sambi Wulung.

Pemimpin pengawal itu mengangguk-angguk. Katanya " Nampaknya memang demikian. Tetapi kita masih meyakinkannya. "

Sambi Wulung mengangguk-angguk, sementara itu Jati Wulung berkata " Nampaknya pengobatan atas Nyi Wiradana telah selesai. Kita akan dapat mengatur pertahanan jauh lebih baik dari sebelumnya. Kita tidak akan merasa cemas lagi, bahwa padukuhan induk akan disergap oleh sekelompok orang yang memang ingin mengacaukan Tanah Perdikan Sembojan. Kita semua sudah siap. Hanya Nyi Wiradana barangkali masih memerlukan sehari semalam untuk memulihkan kesehatan dan kekuatannya sebagaimana sebelumnya. Bahkan seandainya datang tantangan perang tandingpun ia tidak akan mengelak lagi. "

Pemimpin pengawal itu mengangguk-angguk. Katanya " Baiklah. Kita akan mempersiapkan semuanya. "

Dengan demikian, maka sejak saat itu, Sambi Wulung, Jati Wulung dan para pemimpin Tanah Perdikan itu memperingatkan rakyat Tanah Perdikan, bahwa mereka tidak sekedar menghadapi sekelompok serigala. Tetapi sekelompok orang yang dengan sengaja ingin mengacaukan Tanah Perdikan itu.

Pernyataan itu justru telah menimbulkan kesan yang lain. Jika semua rakyat Tanah Perdikan merasa ngeri karena mereka harus berhadapan dengan kelompok anjing hutan yang buas yang dapat menyergap mereka dengan tiba-tiba dalam jumlah yang sangat besar, sedangkan jika mereka melawan dan menang, mereka tidak akan mempunyai kebanggaan apapun juga, maka perlawanan terhadap kelompok orang-orang yang akan menghancurkan Tanah Perdikan Sembojan akan mempunyai nilai yang berbeda. Jika terpaksa mereka menjadi korban, maka mati diujung tombak lawan nilainya berbeda dengan jika mereka mati karena taring anjing-anjing hutan.

Karena itu, maka rakyat Tanah Perdikan Sembojan itu justru menjadi semakin geram menghadapi suasana. Mereka semakin merasa berkewajiban untuk ikut melibatkan diri dalam pertahanan Tanah Perdikan mereka.

Dihari itu, maka mulai tersiar kabar bahwa sebenarnya mereka tidak berhadapan dengan serigala. Mereka berhadapan dengan sekelompok orang yang pura-pura menjadi anjing hutan. Juga bukan anjing hutan jadi-jadian sebagaimana dikabarkan oleh beberapa orang.

Di pasar-pasar, di kedai-kedai dan ditempat orang banyak berkumpul, berita itu semakin tersebar luas. Setiap telinga yang mendengar telah meneruskannya ketelinga orang lain, sambung bersambung.

Namun dalam pada itu, pemimpin pengawal Tanah Perdikanpun telah mulai pula dengan penggunaan pasukan secara terbuka. Para prajurit tidak lagi sekedar bersiap-siap didalam barak dan hanya akan bertindak jika terdapat isyarat. Sementara inti kekuatannya diletakkan di padukuhan induk, terlebih-lebih lagi disekitar rumah Kepala Tanah Perdikan.

Sejak hari itu, maka pasukan pengawal Tanah Perdikan dalam kelompok-kelompok telah berada tersebar di padukuhan induk, sementara para pengawal di padukuhan-padukuhanpun telah bersiaga dalam kelompok-kelompok mereka masing-masing dan telah mempersiapkan diri di banjar. Hanya kelompok-kelompok cadangan sajalah yang masih tetap tinggal di barak-barak mereka. Sementara itu anak-anak mudapun telah bersiap-siap pula menghadapi segala kemungkinan. Bahkan bukan saja anak-anak muda. Tetapi setiap laki-laki yang masih mampu menggenggam senjata telah bersiap-siap. Bukan sekedar menghadapi kelompok-kelompok anjing hutan, tetapi sekelompok orang-orang yang akan berbuat jahat terhadap kampung halaman mereka.

Perubahan sikap para pengawal itu memang sudah diperhitungkan oleh orang-orang diseberang bukit. Apa lagi ketika kemudian Warsi, Ki Rangga dan beberapa orang baru bersama pengikut mereka telah datang ke balik bukit.

Ternyata bahwa mereka sama sekali tidak mengeluh meskipun tempat yang disediakan bagi mereka bukan tempat yang pantas dan memadai. Namun tempat itu telah mencukupi kebutuhan disaat-saat mereka menunggu. Tempat itu sudah cukup dapat melindungi mereka dari hujan dan panas.

Namun satu hal yang sulit untuk mereka atasi adalah menyembunyikan asap yang mengepul disaat-saat mereka menyiapkan makan bagi orang-orang yang semakin banyak. Sebelumnya mereka dapat memanasi makanan dan minuman di malam hari, sehingga tidak banyak orang yang memperhatikan asap yang memang hanya sedikit dan pada waktu yang tidak ajeg. Tetapi karena orang yang ada dibalik bukit itu semakin banyak, maka mereka memerlukan makan dan minum semakin banyak pula. Meskipun mereka dapat juga membuat perapian di malam hari, tetapi asap yang mengepul diterangnya cahaya bulan untuk waktu yang cukup lama, memang akan dapat menarik perhatian

Namun ketika mereka yang ada dibalik bukit itu mendapat laporran bahwa orang-orang Tanah Perdikan sudah mulai curiga terhadap anjing-anjing hutan itu, maka Ki Rangga Gupitapun berkata " Biar saja menarik perhatian. Kita kudah siap menyerang kapanpun juga. "

dengan deihikian, maka orang-orang dibalik bukit itu tidak-lagi merasa bersembunyi. Mereka merasa memiliki kekuatan yang cukup besar menghadapi Tanah Perdikan.

Untuk waktu yang bertahun-tahun mereka menghimpun kekuatan. Mereka tidak akan pernah melupakan, bagaimana pasukan mereka telah dihancurkan oleh prajurit Pajang dan orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Sehingga dengan demikian maka dendampun tetap menyala dihati mereka. Dendam terhadap Tanah Perdikan Sembojan karena berbagai macam alasan.

Disaat-saat terakhir, Warsi masih mempertimbangkan langkah yang terbaik yang akan diambilnya. Apakah ia akan menantang perang tanding  atau mereka dengan kekuatan penuh menyerang Tanah Perdikan, khususnya padukuhan induk.

Warsi dan Ki Rangga yakin, bahwa menghadapi keadaan sebagaimana pernah ditimbulkan oleh kehadiran gerombolan Kalamerta di Tanah Perdikan itu, maka Tanah Perdikan itu tidak akan dapat menepuk dada. Jika pada saat pasukan Kalamerta datang Ki Gede Sembojan kemudian berusaha mencegah kematian yang dapat mencengkam sejumlah rakyatnya dan justru menantang perang tanding, maka apakah Iswari yang kini memangku jabatan Kepala Tanah Perdikan itu akan berani berbuat demikian.

Beberapa orang yang pernah mengalami kekecewaan sejak masa akhir pemerintahan di Demak dan kemudian disaat Adiwijaya memerintah di Pajang yang kemudian bergabung dengan Ki Rangga, telah mendapat penjelasan persoalan Tanah Perdikan itu, meskipun agak berbeda dengan kenyataannya. Mereka menganggap bahwa permusuhan itu memang sudah ada sejak masa Kalamerta masih muda. Persoalan pribadi antara Kalamerta dengan Ki Gede Sembojan telah menyeret keduanya kedalam perang tanding. Namun Warsi telah berhasil membalas dendam kematian Kalamerta itu. Ia telah membunuh Ki Gede Sembojan. Namun yang timbul kemudian adalah persoalan antara dirinya dan Iswari, meskipun agak berbeda sebabnya, namun mirip pula sebagaimana persoalan antara Kalamerta dan Ki Gede Sembojan. Persoalan pribadi. Kalau permusuhan antara Kalamerta dan Ki Gede Sembojan itu disebabkan dan dimulai karena persoalan seorang perempuan, maka dalam kehidupan Warsi dan Iswaripun pernah tersangkut pula persoalan seorang laki-laki yang pernah menjadi suami mereka. Bahkan kedua-duanya mempunyai anak laki-laki yang merasa berhak menggantikan kedudukannya sebagai Kepala Tanah Perdikan di Sembojan.

Warsi memang sudah mendapat laporan, bahwa untuk beberapa saat lamanya Iswari sedang sakit. Jika ia menantang perang tanding, maka keadaan itu akan dapat menjadi alasan yang sah untuk menundanya. Sementara itu, Warsi memang memerlukan satu keadaan yang khusus. Disaat purnama penuh, ia merasa berada di puncak kemampuannya.

Ketika ia berbicara dengan beberapa orang yang memiliki ilmu yang tinggi maka merekapun sependapat, bahwa Warsi tidak perlu menantang perang tanding. Jika Iswari memanfaatkan keadaannya maka ia dapat minta perang tanding itu ditunda beberapa hari setelah ia sembuh. Saat itu tentu bukan saat yang terbaik. Meskipun barangkali bulan masih ada dilangit, tetapi tentu bukan bulan yang bulat sepenuhnya.

" Kita akan mengadakan pemanasan " berkata salah seorang yang telah bergabung dengan Warsi " kita akan menyerang salah satu dari padukuhan itu sekedar untuk menjajagi kekuatan para pengawalnya.

" Malam nanti kita akan dapat melakukannya " berkata Warsi " kita sudah tidak lagi bermain serigala. Kita akan datang kesebuah padukuhan yang agak besar sehingga kekuatan pengawalnya agak besar pula. Dengan demikian kita akan mempunyai gambaran yang pantas untuk membuat perbandingan. Besok malam kita beristirahat dan malam berikutnya adalah malam purnama penuh. "

Orang-orang yang bergabung bersamanya mengangguk-angguk. Seorang yang berwajah pucat berkata " Jika demikian kita jangan terpancing untuk bertempur habis-habisan malam nanti. "

" Kita harus dapat mengekang diri " berkata Ki Rangga " kita hanya sekedar menjajagi. Jika orang-orang berilmu tinggi yang ada di Tanah Perdikan itu berdatangan, maka-kita akan menghindar. "

Semuanya sependapat, sehingga karena itu, maka tidak ada persoalan yang timbul diantara mereka. Bahkan merekapun sependapat untuk membawa sebagian saja dari kekuatan yang ada dibalik bukit itu.

Hari itu orang-orang yang berada dibalik bukit telah mempersiapkan diri mereka untuk mengadakan penjajagan ke salah satu padukuhan di Tanah Perdikan Sembojan. Sebagai orang yang -nah tinggal di Tanah Perdikan, maka Ki Rangga dan Warsi telah dapat membuat rencana yang paling baik yang akan mereka lakukan.

Namun dalam pada itu, setelah para petugas sandi yakin bahwa yang telah mengganggu Tanah Perdikan itu ternyata bukan anjing hutan, maka mereka memang merasa malu.

Namun sejalan dengan itu* maka para petugas sandi telah bertekad untuk mengamati keadaan sebaik-baiknya. Mereka mengerti bahwa sekelompok orang telah berada dibalik bukit kecil itu. Dari sana mereka mengatur permainan mereka untuk membuat orang-orang Tanah Perdikan gelisah. Apalagi ketika para petugas sandi itu melihat, bahwa dari balik bukit itu telah mengepul asap.

" Apakah kau pernah melihat serigala menyalakan perapian? " bertanya seorang petugas sandi kepada kawannya.

" Bukan serigalanya. Tetapi seorang pertapa yang dapat membuat anjing hutan jadi-jadian. " jawab kawannya sambil tersenyum.

Petugas sandi itu tertawa. Katanya " Anjing hutan jadi-jadian yang telah berhasil mengurung orang-orang Tanah Perdikan beberapa malam didalam padukuhannya. "

Kawannya mengangguk-angguk. Namun kemudian petugas sandi itupun bertanya " Apakah kita akan mencari keterangan tentang keadaan dibalik bukit? "

" Sangat berbahaya " desis kawannya " tetapi hutan rindang dan bebatuan itu memberi kemungkinan kepada kita. Tetapi jangan disiang hari. "

" Aku dimasa kecil pernah bermain keatas bukit itu. " berkata petugas sandi itu.

" Aku pernah masuk kedalam goa dan lengkeh-lengkeh bukit dibalik bukit itu. Aku tahu beberapa tempat yang memang memungkinkan untuk menjadi tempat persembunyian,  " sahut kawannya.

" Baiklah. Malam nanti kita akan melihat keadaan dibalik bukit itu. Tetapi kita harus memberikan laporan lebih dahulu serta membawa alat-alat yang cukup. " berkata petugas sandi itu.

Demikianlah, maka kedua orang petugas sandi itu telah memberikan laporan kepada pemimpinnya, bahwa keduanya berniat untuk melihat-lihat kebali k bukit.

" Kalian sadari, bahwa tugas itu sangat berbahaya? " bertanya pemimpinya.

Keduanya mengangguk. Seorang diantara mereka berkata " Kami telah pernah melihat medannya sampai ke goa-goa dibalik bukit. Hutan yang meskipun tidak lebat, gerumbul-gerumbul perdu dan batu-batu karang akan dapat menjadi pelindung yang baik. "

" Baiklah. Lakukanlah dengan hati-hati " berkata pemimpinnya.

Namun dalam pada itu, ketika keduanya akan beranjak dari tempatnya, seorang kawannya telah datang untuk memberikan laporan.

" Orang itu kami lihat lagi berada dipasar. Apakah dalam keadaan sekarang, kami diperkenankan menangkapnya? " bertanya seorang petugas sandi yang lain.

Tetapi dengan serta merta petugas sandi yang ingin pergi ke balik bukit itu berkata " Jangan. Biarlah mereka tidak merasa dirinya diketahui. Bahkan ada usaha untuk melihat sampai kesarang mereka. Bukankah mereka hari ini tidak akan mendapatkan keterangan apa-apa selain keterangan tentang para pengawal yang telah bersiap-siap disegala tempat? Tanpa datang dan melihatpun mereka sudah dapat memperhitungkan. Apalagi diantara mereka terdapat orang-orang yang memang pernah tinggal di Tanah Perdikan ini. "

Pemimpin pengawal itu sependapat. Karena itu, maka katanya " Baiklah. Kita akan membiarkannya. Tetapi awasi, apa yang dilakukannya di pasar atau pada saatnya pergi, ikutilah sejauh dapat kau lakukan tanpa diketahuinya. "

Petugas sandi yang datang dari pasar itupun kemudian telah minta diri untuk kembali ke pasar, sementara dua orang yang lain telah pergi pula untuk mempersiapkan diri.

Dalam pada itu, ketika seorang petugas melihat topeng yang terpasang diluar regol padukuhan induk itu agaknya masih tetap sepasang. Karena itu, maka para pemimpin Tanah Perdikan itu menduga bahwa masih belum akan terjadi gerakan yang menentukan dari orang-orang yang berada dibalik bukit.

Namun para pemimpin Tanah Perdikan itu tidak menjadi lengah. Topeng itu bukan pegangan yang dapat dianggap menentukan, karena para pemimpin Tanah Perdikan itu masih belum tahu arti yang sebenarnya dari topeng itu.

Dalam ketegangan itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung ternyata telah membuat rencana sebagaimana dilakukan oleh para petugas sandi. Merekapun merasa perlu untuk melihat kebalik bukit. Yang penting bagi Sambi Wulung dan Jati Wulung adalah perkiraan kekuatan orang-orang yang telah bersiap-siap untuk mengacaukan Tanah Perdikan itu.

Apalagi ketika laporan tentang asap yang mengepul dari balik bukit dan beberapa macam uraian tentang keadaan terakhir yang dialami oleh Tanah Perdikan Sembojan.

Para pemimpin Tanah Perdikanpun tidak berkeberatan. Namun sementara itu, pemimpin petugas sandipun telah memberitahukan rencana kedua petugasnya.

" Mereka sudah mengenal medannya " berkata pemimpin petugas sandi itu. \

" Jika demikian, biarlah mereka pergi bersama kami " berkata Sambi Wulung.

Sebenarnyalah ampat orang dari Tanah Perdikan itupun telah mempersiapkan diri untuk mendekati goa-goa dibalik bukit.

Sambi Wulung dan Jati Wulung adalah pemanah-pemanah yang baik. Di Song Lawa mereka mampu mengejutkan semua orang dengan kemampuan mereka memanah. Karena itu, untuk menjaga segala kemungkinan, maka keempat orang itupun telah membawa busur dan anak panah yang cukup selain senjata yang biasa mereka pergunakan. Pedang.

Demikian ketika senja turun, maka Sambi Wulung, Jati Wulung dan kedua petugas sandi telah siap untuk pergi ke bukit. Merekapun kemudian telah minta diri kepada para pemimpin termasuk Iswari dan ketiga^rang gurunya.

Demikian langit kembali gelap, maka merekapun telah berangkat. Mereka sengaja menghindari orang-orang di sepanjang jalan. Bahkan para pengawal diregolpun ketika bertanya Sambi Wulung hanya menjawab " Kami ingin mengamati suasana. "

Tetapi tidak seorangpun yang mempertanyakan busur dan anak panah yang mereka bawa. Setiap pengawal menyadari, bahwa keadaan lagi gawat. Dengan anak panah, maka keempat orang itu akan dapat menyerang lawannya pada jarak yang masih jauh. Jika mereka bertemu dengan lawan yang terlalu banyak bagi mereka, maka jauh sebelum benturan terjadi, mereka akan dapat mengurangi jumlah lawan mereka.

Demikian keempat orang itu keluar dari padukuhan, maka merekapun telah melangkah dengan cepat menuju ke bukit. Mereka menghindari jalan padukuhan agar mereka tidak perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan para pengawal dan anak-anak muda yang ada dimulut-mulut lorong dan di gardu-gardu.

Pada saat yang hampir bersamaan, maka orang-orang di balik bukitpun telah mengatur persiapan untuk pergi kesebuah padukuhan yang telah mereka pilih untuk menjadi sasaran. Tetapi mereka tidak perlu tergesa-gesa. Menurut rencana mereka akan datang kepadukuhan yang telah mereka tentukan pada tengah malam.

Beberapa saat kemudian Sambi Wulung dan ketiga orang lainnya telah mendekati bukit. Mereka menjadi semakin berhati-hati. Merekapun menyadari, bahwa orang-orang yang berada di balik bukit itupun tentu telah menyebarkan beberapa orang untuk mengamati keadaan.

Tetapi kedua orang petugas sandi itu, telah mengenal tempat itu dengan baik, karena dimasa remajanya, mereka sering bermain-main ketempat itu. Bahkan yang seorang diantara mereka telah sampai kebalik bukit itu pula.

Pada saat-saat Iswari menegakkan pemerintahan diTanah Perdikan itu, rasa-rasanya keadaan Tanah Perdikan itu cukup tenang. Namun tiba-tiba saja Tanah Perdikan itu kini telah diguncang oleh kegelisahan.

Dengan demikian, maka, mereka tidak terlalu banyak mengalami kesulitan. Mereka tplah melintasi hutan rindang, kemudian padang perdu yang terasa liar dan gersang. Bebatuan dan lekuk-lekuk bukit yang dibuat oleh arus air yang tidak terkendali.

Keempat orang itu merayap dengan haji-hati. Bukan saja karena mereka menghindari penglihatan para pengamat yang mungkin dipasang, merekapun harus menghindari lereng-lereng terjal berbatu padas. Untunglah bahwa cahaya bulan dilangit cukup cerah.

Jilid 14

 

BEBERAPA saat kemudian, maka merekapun telah melintasi puncak bukit. Seorang diantara keempat orang itu membawa mereka menuju ke tempat yang paling mungkin dipergunakan untuk berteduh sekelompok orang dari hujan dan panas.

 

Sambi Wulung mengisyaratkan kepada mereka agar sangat berhati-hati. Ternyata dari balik segerumbul perdu mereka memang melihat dua orang yang berjalan melintas. Tidak tergesa-gesa, sehingga mereka yakin bahwa dua orang itu adalah dua orang pengawas yang mendapat tugas untuk berjaga-jaga.

 

“Kita sudah sangat dekat,“ desis Jati Wulung.

 

Sambi Wulung mengangguk. Namun dengan demikian mereka menjadi sangat berhati-hati.

 

Ketika mereka berempat menjadi semakin dekat, maka mereka terkejut. Dalam cahaya bulan yang terang, mereka melihat di hadapan mereka, diatas tanah yang gundul berbatu padas, sepasukan pengikut Warsi yang riah bersiap. Jantung Sambi Wulung dan Jati Wulungpun berdebaran. Menurut perhitungan orang-orang Tanah Perdikan, Warsi akan memanfaatkan bulan yang purnama penuh, yang barangkali ada hubungannya dengan kepercayaannya.

 

Untuk beberapa saat mereka berempat mengamati dari jarak yang jauh. Namun mampu melihat dengan jelas susunan pasukan yang bergerak.

 

“Mereka belum bersungguh-sungguh,“ berkata Sambi Wulung.

 

Jati Wulung mengangguk-angguk. Mereka melihat sebagian dari para pengikut itu masih tetap berdiri diluar pasukan, sementara Ki Rangga Gupita memberikan beberapa pesan kepada mereka.

 

Sebenarnyalah, sejenak kemudian pasukan yang telah dipersiapkan itupun telah berangkat, dipimpin oleh Ki Rangga Gupita sendiri.

 

Keempat orang itu harus menahan nafas ketika pasukan itu lewat beberapa langkah saja dari tempat mereka bersembunyi dibalik gerumbul.

 

Untunglah bahwa tidak seorangpun diantara orang-orang yang berada dibalik bukit itu, termasuk mereka yang berangkat menuju ke Tanah Perdikan menduga, bahwa akan ada orang-orang dari Tanah Perdikan yang berani datang mengintai mereka dari jarak yang cukup dekat.

 

Demikian pasukan itu lewat, maka Sambi Wulungpun berdesis, “Ki Rangga Gupita dan Warsi ada didalam pasukan itu.”

 

Jati Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi mereka belum mengerahkan seluruh kekuatan mereka.”

 

“Nampaknya mereka memang belum bersungguh-sungguh,“ berkata Sambi Wulung pula.

 

“Apakah tidak sebaiknya kita memberitahukan hal ini kepada Nyi Wiradana?“ bertanya salah seorang dari petugas sandi itu.

 

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kalian berdua harus segera turun. Hati-hati, jangan sampai kalian berpapasan dengan pasukan itu, agar kalian tidak menjadi lumat dicincang oleh Ki Rangga.”

 

Kedua orang petugas sandi itu mengangguk-angguk. Tetapi mereka yang karena mengenali lingkungan itu dengan baik, maka mereka yakin akan dapat mendahului pasukan yang tentu akan melintasi bukit dan turun melalui jalan setapak yang ada..

 

“Laporan apa yang kau lihat. Besarnya pasukan dan kedua orang yang berilmu tinggi itu,“ berkata Sambi Wulung.

 

Para petugas sandi itu mengangguk. Merekapun kemudian bergeser dari tempatnya, melintasi puncak bukit dan turun menuju ke Tanah Perdikan Sembojan. Mereka ternyata mampu menemukan jalan pintas yang jauh lebih pendek dari jalan setapak yang berkelok-kelok yang dilalui oleh sepasukan pengikut Warsi yang dipimpin oleh Ki Rangga dan Warsi sendiri. Bahkan ketika mereka sudah berada di ngarai, maka merekapun telah berlari-lari menuju ke Tanah Perdikan.

 

Namun ternyata keduanyapun sempat membagi tugas. Seorang diantara mereka berkata, “Kau langsung ke padukuhan induk untuk memberikan laporan. Aku akan berusaha untuk mengetahui, kemana mereka akan pergi. Apakah mereka akan menuju ke padukuhan induk atau tidak. Mungkin mereka akan menyerang sasaran yang mereka anggap tidak terlalu berat, sehingga mereka tidak membawa seluruh pasukan. Atau mungkin mereka ingin melakukan sesuatu untuk tujuan yang belum kita ketahui.”

 

Demikianlah, seorang diantara mereka langsung menuju ke padukuhan induk. Menyusuri pematang dan jalan-jalan sempit, petugas sandi itu menjadi terasa lebih cepat mencapai padukuhan induk. Sementara kawannya masih menunggu untuk mengamati pasukan yang akan memasuki Tanah Perdikan.

 

Ketika petugas sandi yang berlari-lari itu memasuki Tanah Perdikan, maka rasa-rasanya nafasnya telah hampir terputus di kerongkongan. Ketika ia sampai di gardu, maka kakinya seakan-akan tidak mau bergerak lagi.

 

Kawan-kawannya yang berada di gardu dengan serta merta telah menolongnya. Membawanya ke gardu dan membantunya naik. Tetapi anak muda yang bertugas sebagai petugas sandi itu menggeleng sambil berkata terputus-putus, “Aku harus menghadap Nyi Wiradana.”

 

“Beristirahatlah,“ desis seorang kawannya.

 

“Aku harus cepat sampai kepada Nyi Wiradana,“ kata itu sajalah yang diulang-ulang.

 

“Tetapi kau tidak dapat berjalan lagi. Nafasmu hampir putus dikerongkongan,“ berkata seorang kawannya.

 

“Bawa aku menghadap,“ desisnya.

 

Kawan-kawannya yang bertugas di gardu termangu-mangu. Namun seperti orang mengigau petugas itu terus saja berkata, “Cepat. Bawa aku menghadap Nyi Wiradana.”

 

“Katakan, apa yang harus kau sampaikan. Biarlah kami meneruskannya,“ jawab seorang kawannya.

 

“Tidak. Aku sendiri harus menghadap. Bantu aku berjalan,“ berkata petugas sandi itu.

 

Anak-anak muda itu tidak mempunyai pilihan lain. Dua orang diantara mereka telah membantu petugas sandi yang kelelahan itu menuju ke rumah Nyi Wiradana. Namun setiap saat petugas itu telah membentak kawan-kawannya yang memapahnya, agar mereka dapat berjalan lebih cepat.

 

Ketika petugas sandi itu sampai kerumah Nyi Wiradana, maka Nyi Wiradana sendiri masih duduk diruang tengah bersama Bibi. Karena itu, ketika seorang petugas yang berjaga-jaga dirumah itu mengetuk pintu, Nyi Wiradanapun segera membukanya.

 

Nyi Wiradana terkejut melihat petugas yang nafasnya terengah-engah itu. Dengan cemas Nyi Wiradana bertanya, “Kenapa orang ini?”

 

Tetapi petugas sandi itu sendirilah yang menjawab, “Aku tidak apa-apa Nyi.“

 

Nyi Wiradapun segera tanggap. Karena itu, maka dimintanya orang-orang yang mengantar petugas sandi itu untuk menunggu diluar.

 

Betapapun keadaannya, namun petugas sandi itu masih juga dapat memberikan laporan. Suaranya terputus-putus dan bahkan kadang-kadang terbatuk-batuk. Namun akhirnya jelas bagi Nyi Wiradana apakah yang akan terjadi.

 

“Panggil guru,“ berkata Nyi Wiradana kepada Bibi.

 

Bibipun segera bangkit untuk menyampaikan permohonan Nyi Wiradana agar guru-gurunya hadir diruang tengah.

 

Dengan singkat Nyi Wiradana telah menyampaikan laporan petugas sandi itu. Dengan mantap pula Nyi Wiradana berkata, “Aku sendiri akan berangkat guru. Satu kesempatan untuk bertemu dengan perempuan itu. Adalah kebetulan bahwa saat ini purnama belum penuh.”

“Kau percaya pengaruh bulan penuh itu pada kekuatan ilmu Warsi?“ bertanya Kiai Badra.

 

“Bukan aku yang percaya. Tetapi perempuan itu. Ia akan merasa bahwa kekuatannya belum sepenuhnya dapat ditrapkan disaat bulan belum bulat. Perasaan itu tentu akan sangat berpengaruh pada saat-saat yang gawat,“ berkata Iswari.

 

“Tetapi kaupun masih memerlukan waktu untuk dapat memulihkan kekuatanmu sepenuhnya,“ berkata Kiai Badra.

 

“Aku sudah merasa utuh kembali,“ jawab Iswari.

 

Kiai Badra berpikir sejenak. Namun kemudian katanya, “Tetapi kami, orang-orang tua masih berharap kau sempat menunggu satu dua hari lagi. Kau tidak usah memperhatikan purnama itu. Namun dalam dua hari ini, kau tentu sudah berada pada puncak kekuatan dan kemampuanmu. Keadaan wadagmu tentu akan berpengaruh betapapun kesiagaan ilmu didalam dirimu. Jika kau menunggu dua hari atau setidak-tidaknya sehari lagi itu sama sekali tidak ada pengaruh dari bulan itu.”

 

“Aku mengerti guru,“ jawab Iswari, “tetapi orang itu datang sekarang. Aku tidak dapat membiarkannya sementara aku menunggu sampai besok malam.”

 

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, Nyai Soka telah bangkit sambil berkata, “berdirilah.”

 

Iswaripun segera bangkit pula berdiri.

 

Dengan kerut di dahinya yang memang sudah dilukisi dengan garis-garis umurnya Nyai Soka berkata, “Lihat telapak tanganmu.”

 

Iswaripun kemudian telah mengangkat kedua tangannya untuk menunjukkan telapak tangannya sebagaimana diminta oleh Nyai Soka.

 

Dengan ujung ibu jarinya, Nyai Soka telah memijit beberapa jalur urat nadi pada telapak tangannya. Kemudian tangan itupun telah ditelungkupkannya pula. Seperti yang dilakukan pada telapak tangannya, maka Nyai Sokapun telah memijit-mijit pula punggung tangan Iswari. Bahkan kemudian pergelangannya dan yang terakhir pada punggung perempuan itu.

 

Sambil menarik nafas dalam-dalam Nyai Soka berkata, “Baiklah. Kau boleh pergi. Tetapi kau harus sangat berhati-hati. Kami akan pergi bersamamu.”

 

Demikianlah, maka Iswaripun dengan cepat telah menjatuhkan perintah lewat para petugas dihalaman. Dalam waktu singkat, para pemimpin pengawal telah berada dirumah itu, sementara beberapa orang telah menyiapkan pula pasukan.

 

Dalam pada itu, petugas sandi yang mengintai perjalanan pasukan yang dipimpin Ki Rangga Gupita dan Warsi telah mendapat petunjuk arah. Karena itu, maka ia-pun telah mendahului pasukan itu melalui jalan pintas pula ke padukuhan yang menurut perhitungannya akan menjadi sasaran. Petugas sandi itu memang sudah memperhitungkan bahwa pasukan yang tidak lengkap itu tidak akan menuju ke padukuhan induk.

 

Dengan demikian maka para pengawal di padukuhan itupun sempat mempersiapkan diri. Sementara dua orang penghubung berkuda telah menuju ke padukuhan induk untuk memberikan laporan.

 

“Jika perlu, kita akan mempergunakan isyarat kenthongan,“ berkata Ki Bekel.

 

Pemimpin pengawal di padukuhan itupun mengangguk. Katanya, “Kita akan melihat suasana.”

 

Demikianlah, maka para pengawalpun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Bukan hanya pengawal di padukuhan itu. Tetapi padukuhan terdekatpun telah diberi tahu, bahwa para pengawal harus bersiap. Sebagian dari para pengawal di padukuhan itu telah dipersiapkan untuk bergerak dengan cepat. Mereka telah dipersiapkan pula untuk membantu padukuhan yang akan menjadi sasaran serangan orang-orang dari balik bukit itu.

 

Sekelompok pengawal telah bersiap dibalik dinding padukuhan yang lebih besar dari padukuhan-padukuhan yang lain, yang menurut perhitungan petugas sandi itu akan menjadi sasaran serangan orang-orang yang dipimpin oleh Warsi dan Ki Rangga Gupita.

 

Sebenarnyalah perhitungan petugas sandi itu ternyata tepat. Warsi yang pernah tinggal di Tanah Perdikan itu tahu benar, padukuhan yang manakah yang dapat dipergunakannya untuk menjajagi kesiagaan para pengawal serta dipergunakan sebagai pemanasan orang-orangnya yang besok lusa akan menyerang padukuhan induk Tanah Perdikan

 

Ketika pasukannya mendekati padukuhan yang menjadi sasaran itu, Ki Rangga Gupita dan Warsi tidak melihat kesiagaan yang khusus. Mereka dari kejauhan memang melihat obor diregol padukuhan. Tetapi itu adalah kebiasaan setiap padukuhan yang memasang obor di regolnya.

 

Namun demikian, ternyata bahwa pasukan yang datang itupun cukup berhati-hati. Mereka tidak dengan serta merta mendekati dan memasuki regol. Tetapi para pengikut Ki Rangga dan Warsi itupun telah memencar diluar dinding padukuhan.

 

Para pengawal yang melihat pasukan yang datang itu dalam siraman cahaya bulan menjadi berdebar-debar. Mereka mengerti bahwa pasukan itu tidak akan memasuki padukuhan dengan memecah regol. Tetapi mereka akan berloncatan memasuki padukuhan lewat diatas dinding.

 

Dengan demikian maka para pengawalpun telah menyesuaikan diri pula. Mereka harus menahan para pengikut Ki Rangga dan Warsi itu selagi mereka berusaha meloncat.

 

Ki Bekel dan pemimpin pengawal yang berdiri diatas mata tangga disebelah regol padukuhanpun melihat pasukan yang menyebar itu. Nampaknya bagi mereka, lebih mudah meloncat dinding dari pada mematahkan selarak pintu gerbang padukuhan.

 

Dalam pada itu, petugas sandi yang telah berada di padukuhan itupun memperingatkan bahwa pasukan itu dipimpin langsung oleh Warsi dan Ki Rangga Gupita.

 

“Apakah kau dapat mengenalinya?“ bertanya Ki Bekel.

 

“Sambi Wulung dan Jati Wulung ada di balik bukit itu pula sekarang,“ jawab petugas sandi itu.

 

Ki Bekel mengangguk-angguk. Tentu Sambi Wulung dan Jati wulung dapat mengenali Warsi dan Ki Rangga, pernah atau tidak pernah berhubungan sebelumnya.

 

Untuk beberapa saat, para pengikut Ki Rangga dan Warsi dalam jumlah yang besar itu menunggu. Ternyata Warsi dan Ki Rangga bersama beberapa orang pengawal terpilihnya telah melangkah mendekati pintu gerbang yang tertutup, tetapi tidak menunjukkan persiapan yang memang menunggu kedatangan mereka dalam kesiagaan tertinggi.

 

“Agaknya mereka tidak tahu bahwa kita akan datang,“ desis Warsi.

 

Ki Rangga mengangguk. Katanya, “Kita akan mellioncati dinding. Dengan demikian kita akan dengan cepat bersama-sama berada di dalam. Mungkin ada beberapa orang peronda di gardu dibelakang pintu gerbang.”

 

Warsi mengerutkan keningnya. Diamatinya dinding padukuhan yang berada dibawah lindungan dedaunan yang rimbun, sehingga cahaya bulan tidak dapat mencapai wajah-wajah yang dengan sangat berhati-hati mengintip dibelakang dinding.

 

Namun ternyata Warsi memang memiliki kelebihan dari orang kebanyakan. Tiba-tiba saja ia telah memberikan isyarat kepada Ki Rangga.

 

Ki Rangga termangu-mangu. Dikerahkannya kemampuannya untuk memperhatikan keadaan. Sementara itu Warsi berbisik, “Ternyata dibelakang dinding itu terdapat barisan pengawal.”

 

“Kau yakin?“ bertanya Ki Rangga.

 

“Aku yakin,“ jawab Warsi.

 

“Lalu, apa yang harus kita lakukan?“ bertanya Ki Rangga.

 

“Kita akan masuk dengan cepat. Tetapi kita harus sangat berhati-hati,“ jawab Warsi. Namun tiba-tiba saja Warsi itu berkata, “Kita ambil dua buah obor diregol itu.”

 

“Untuk apa?“ bertanya Ki Rangga.

 

Warsi tidak menjawab. Ia sendirilah yang kemudian meloncat mengambil obor minyak diregol. Dengan suara lantang ia berkata kepada orang-orangnya, “Cari ranting-ranting dan rumput kering. Cepat, jangan bertanya untuk apa.”

 

Beberapa orang memang termangu-mangu. Namun Ki Rangga cepat tanggap, sehingga iapun kemudian telah memerintahkan beberapa orang mencari ranting-ranting kering dari gerumbul-gerumbul perdu diluar pintu gerbang.

 

Orang-orang yang ada dibalik pintu gerbang itupun menjadi heran. Apa pula yang akan dilakukan oleh Warsi itu.

 

Namun ternyata bahwa Warsi telah menimbuni pintu gerbang dari regol padukuhan itu dengan ranting dan daun-daun kering. Kemudian membakarnya dan bahkan satu diantara kedua obornya telah dilemparkan pula sehingga minyaknya telah membasahi ranting-ranting kering itu.

 

Dengan demikian maka ranting-ranting serta rerumputan dan daun-daun kering itu menjadi cepat terbakar. Bahkan kemudian beberapa orang telah melemparkan lagi ranting-ranting semakin banyak.

 

Pintu gerbang yang terbuat dari kayu itupun akan mudah terbakar. Sehingga karena itu, orang-orang yang berada dibelakang regolpun dengan cepat menyadari keadaan.

 

Beberapa orang telah berlari-lari mencari air di sumur-sumur terdekat dengan alat apa saja yang mereka dapatkan. Dengan upih, dengan kelenting, bahkan jambangan di pakiwan untuk menyiram pintu gerbang agar api yang mulai menyala tidak membakar gerbang itu seluruhnya yang tentu akan merambat ke bagian atap regol dan bangunan yang lain yang berhubungan dengan regol padukuhan.

 

Ki Bekel dan pemimpin pasukan pengawal itupun telah mengumpat-umpat. Dengan berteriak pemimpin pengawal itu berkata, “Licik. Kau bakar regol padukuhan kami.”

 

Tetapi tidak terdengar jawaban. Yang nampak adalah api menjadi semakin besar dan pintu regolpun mulai terbakar.

 

Ternyata Warsi tidak ingin memasuki padukuhan itu lewat pintu gerbang yang akan hancur menjadi abu. Usaha untuk memancing perhatian para pengawal ternyata telah berhasil. Ketika Ki Bekel dan para pemimpin pengawal sibuk memperhatikan api yang semakin besar itu, maka lewat beberapa orang pengikutnya yang ikut sibuk di luar regol itu, ia memerintahkan agar pasukannya mulai bergerak.

 

Hampir bersamaan, maka Ki Bekel dan pemimpin pengawal telah memerintahkan untuk bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan apabila pintu gerbang itu tidak dapat diselamatkan.

 

Namun dalam pada itu, terdengar isyarat dari beberapa orang pemimpin kelompok dari antara para pengikut Ki Rangga Gupita dan Warsi. Dengan serta merta pula, maka para pengikut mereka itupun telah bergerak. Bukan sekedar merangkak mendekati dinding padukuhan. Tetapi merekapun telah berlari-larian untuk mengambil ancang-ancang.

 

Selagi perhatian para pengawal sebagian tertuju kepada api yang telah membakar regol padukuhan mereka, maka para pengikut Warsi dan Ki Rangga itupun telah berloncatan memanjat dinding padukuhan dan berloncatan masuk.

 

Sejenak kemudian, maka pertempuranpun segera telah berkobar Para pengawal segera menyadari, bahwa mereka telah terpancing oleh api di regoi itu, sehingga mereka sedikit terlambat menerima kehadiran para pengikut Warsi dan Ki Rangga itu. Namun ternyata keterlambatan yang sedikit itu mempunyai akibat yang cukup berat.

 

Demikian ujung dari pasukan para pengikut Warsi dan Ki Rangga berhasil masuk, maka mereka telah membuka jalan bagi kawan-kawan mereka, sehingga sejenak kemudian, seluruh kekuatan orang-orang dari balik bukit itu sudah berada didalam padukuhan.

 

Tetapi para pengawal padukuhan itu bersama seluruh anak-anak mudanya telah bersiap. Bahkan hampir setiap laki-laki di padukuhan itu sudah mempersiapkan diri untuk bertempur dimanapun juga.

 

Karena itu, ketika mereka mendengar bahwa orang-orang yang menyerang padukuhan mereka telah memasuki padukuhan, maka merekapun telah menyongsong dengan jumlah yang cukup banyak. Mereka berdatangan dari segala penjuru padukuhan dengan senjata telanjang ditangan.

 

Ternyata bahwa bukan anak-anak muda sajalah yang mampu mempergunakan senjata. Orang-orang yang telah merambat keusia yang lebih tua, ternyata memiliki kemampuan pula. Mereka adalah justru bekas-bekas pengawal disaat Tanah Perdikan itu bergolak. Bahkan ada diantara mereka, yang setelah sekitar sepuluh tahun kemudian masih juga menjadi pengawal. Namun mereka dalam tugas mereka sehari-hari, tidak mendapat tugas yang berat seperti anak-anak mudanya. Bahkan sebagian dari mereka justru telah mendapat kepercayaan untuk membantu memberikan latihan-latihan kepada para pengawal yang masih muda.

 

Dengan demikian, maka orang-orang dari balik bukit itu telah membentur kekuatan yang cukup besar di padukuhan itu. Mereka berhadapan dengan anak-anak muda yang tenaganya seakan-akan justru sedang mekar. Namun diantara mereka terdapat orang-orang yang lebih tua, yang pengalamannya justru telah mengendap. Sehingga dengan demikian, maka pertahanan para pengawal padukuhan itupun menjadi cukup kuat.

 

Tetapi jumlah orang-orang yang menyerang padukuhan itu memang cukup banyak. Mereka masih saja berloncatan memasuki dinding. Seakan-akan tidak ada habis-habisnya.

 

Ki Bekel dan pemimpin pengawal Tanah Perdikan di padukuhan itu melihat kesulitan yang bakal timbul. Apalagi jika Ki Rangga dan Warsi memasuki padukuhan itu. Maka keadaan mereka akan menjadi semakin sulit.

 

Karena itu, maka Ki Bekel dan pemimpin pengawal itu sepakat untuk membunyikan isyarat dengan kentongan.

 

Namun sebelum isyarat itu dibunyikan, maka dua orang penghubung telah berlari-lari menemui Ki Bekel dan pemimpin pengawal padukuhan itu.

 

“Ada apa?“ bertanya Ki Bekel.

 

“Pintu gerbang diujung yang lain dari lorong ini telah dibuka. Pasukan Pengawal berkuda dari padukuhan induk telah masuk,“ jawab penghubung itu.

 

“Siapa yang memimpin pasukan?“ bertanya Ki Bekel.

 

Penghubung itu menggeleng. Jawabnya, “Aku belum tahu. Aku tergesa-gesa menyampaikan berita ini kemari. Para pengawal yang bertugas di regol sebelah akan membawa mereka lebih dahulu ke banjar untuk menempatkan kuda-kuda mereka. Baru pasukan pengawal berkuda dari induk padukuhan itu akan kemari.”

 

“Apakah pasukan itu cukup besar?“ bertanya Ki Bekel.

 

“Tidak terlalu besar. Tetapi cukup meyakinkan,“ jawab penghubung itu.

 

Ki Bekel tidak bertanya lebih lanjut. Sementara itu pertempuran menjadi semakin sengit. Orang-orang dari balik bukit telah berhasil mendesak orang-orang padukuhan semakin dalam memasuki padukuhan mereka. Sementara regol padukuhan itu telah terbakar semakin besar. Cahaya api yang kemerah-merahan telah menambah cerahnya cahaya bulan yang belum bulat benar itu.

 

Ki Bekel dan pemimpin pengawal itu tidak beranjak dari tempat mereka. Mereka tidak dapat menyongsong kedatangan pasukan dari padukuhan induk, karena setiap saat pemimpin pasukan yang datang dari balik bukit akan memasuki piijtu gerbang yang sebentar lagi akan roboh.

 

Namun dalam pada itu, pasukan yang datang dari padukuhan induk dengan cepat menyiapkan diri. Beberapa orang diantara mereka dengan tangkas telah mengatur kuda-kuda mereka di banjar padukuhan sementara yang lain langsung menuju ke medan pertempuran. Pasukan berkuda itu dipimpin sendiri oleh pemimpin pasukan disertai pemimpin pengawal Tanah Perdikan Sembojan bersama Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan itu sendiri. Bahkan diikuti oleh beberapa orang tua yang disebut guru oleh Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan itu.

 

Sebenarnyalah Kiai Badra dan Kiai Sokalah yang ternyata telah mengikuti Iswari ke padukuhan itu, sementara Nyai Soka dan Bibi tinggal di rumah. Mungkin sesuatu dapat terjadi di padukuhan induk yang ditinggalkan. Namun sekelompok pasukan yang kuat masih tetap berada di padukuhan induk.

 

Demikianlah, maka Iswari disertai Kiai Badra dan Kiai Soka telah sampai ke pintu gerbang yang telah terbakar itu. Mereka telah menerima laporan singkat dari Ki Bekel tentang apa yang terjadi. Bahkan Ki Bekel itupun kemudian bertanya, “Kenapa Nyi Wiradana tidak langsung menyergap mereka dari luar, tetapi justru masuk ke padukuhan lewat pintu gerbang yang lain?”

 

“Kami melihat api,“ jawab Iswari, “karena itu kami menuju pintu gerbang yang lain. Ternyata kami dapat masuk kedalam padukuhan ini. Karena itu, kami akan bertempur bersama para pengawal di dalam padukuhan.”

 

Ki Bekel mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “Kami mengucapkan terima kasih atas kesediaan Nyi Wiradana untuk hadir sendiri di padukuhan ini. Dengan demikian, maka padukuhan ini akan merasa dirinya benar-benar mendapat perlindungan dari pimpinan tertinggi Tanah Perdikan ini.”

 

“Bukankah itu sudah kewajibanku?“ sahut Nyi Wiradana.

 

Demikianlah maka pertempuran di padukuhan itu menjadi semakin sengit. Pasukan pengawal berkuda yang telah menebar, ternyata memberikan pengaruh yang sangat besar pada pertempuran itu. Meskipun jumlah mereka tidak terlalu banyak, namun mereka adalah pengawal-pengawal pilihan, sehingga bersama-sama dengan hampir semua laki-laki di padukuhan itu, mereka telah bertempur dengan gigihnya.

 

Dalam pada itu, ternyata bukan hanya pasukan berkuda sajalah yang kemudian telah datang ke padukuhan itu. Ternyata bahwa kelompok-kelompok kecil dari padukuhan-padukuhan terdekat juga telah datang membantu. Mereka tidak dapat mengirimkan seluruh kekuatan di padukuhan mereka, karena mereka harus memperhitungkan kemungkinan yang buruk, jika para penyerang itu justru datang ke padukuhan mereka pula.

 

Api yang menyala di pintu gerbang merupakan isyarat yang telah memanggil mereka untuk membantu. Sehingga beberapa saat kemudian jumlah para pengawal yang bertempur disamping laki-laki di padukuhan itupun menjadi semakin banyak.

 

Iswari, Ki Bekel dan beberapa orang pemimpinlainnya masih menunggu di belakang api yang semakin mengecil. Bahkan sejenak kemudian maka pintu gerbang yang terbakar itupun telah runtuh menjadi abu.

 

Demikian gerbang itu runtuh, maka para pemimpin dari kedua belah pihak segera melihat, dengan siapa mereka berhadapan.

 

Warsi menggeram. Ia tidak mengira, bahwa demikian cepatnya Iswari ada di padukuhan itu. Namun ia merasa juga beruntung, bahwa dengan demikian ia akan sempat menjajagi ilmunya.

 

Ki Rangga Gupita yang melihat kehadiran Iswari segera memperingatkan Warsi, “Kau jangan tenggelam dalam gejolak perasaanmu. Ingat, kita baru akan menjajagi kemampuan para pengawal Tanah Perdikan ini.”

 

Warsi mengerutkan keningnya. Sebelum ia menjawab Ki Rangga berkata pula, “Bulan belum bulat malam ini.”

 

Warsi memang menengadahkan wajahnya kelangit. Bulan memang belum bulat.

 

Untuk beberapa saat para pemimpin itu menunggu. Mereka tengah mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan yang bakal terjadi.

 

Sementara itu di balik bukit Sambi Wulung dan Jati Wulung masih mengintai orang-orang yang tidak ikut dalam kelompok-kelompok yang menyerang Tanah Perdikan Sembojan. Mereka agaknya tidak mempunyai tugas tertentu selain mempersiapkan diri untuk tugas besar yang akan dilakukan oleh semua kekuatan yang ada di balik bukit itu. Dua hari lagi, saat bulan penuh, mereka akan menyerang Tanah Perdikan Sembojan dengan seluruh kekuatan ke padukuhan induk dan menghancurkan semua isinya.

 

Sambi Wulung dan Jati Wulung yang masih bersembunyi di belakang gerumbul-gerumbul perdu itu tidak segera meninggalkan tempat itu. Mereka yakin, bahwa Tanah Perdikan akan dapat mengatasi kehadiran beberapa kelompok orang dari balik bukit itu meskipun dipimpin langsung oleh Ki Rangga Gupita dan Warsi sendiri. Tetapi di Tanah Perdikanpun terdapat orang-orang yang akan dapat mengimbangi kemampuan mereka.

 

Karena itu, maka kedua orang itu ternyata telah mempunyai rencana mereka sendiri.

 

Beberapa saat kemudian, keduanya sama sekali tidak menjauhi tempat itu, tetapi justru semakin mendekat. Dalam cahaya bulan, mereka melihat dua orang yang bertugas mengamati keadaan. Keduanya berjalan saja sambil berbicara perlahan-lahan. Nampaknya keduanya terlalu yakin bahwa tidak akan terjadi sesuatu di balik bukit itu.

 

Dengan sikap yang kurang berhati-hati kedua berdiri diatas tebing sambil memandang ke dalam bayangan bulan. Sementara itu agak kebawah terdapat beberapa buah goa yang dihuni oleh kelompok-kelompok pengikut Ki Rangga dan Warsi serta beberapa kelompok lain yang telah bergabung dengan mereka, sementara mereka membelakangi punggung pebukitan yang memang tidak terlalu tinggi. Panggung bukit yang dijalari jalan setapak yang telah dilewati kawan-kawannya yang pergi ke Tanah Perdikan Sembojan.

 

Nampaknya bayangan bulan yang gelap di lembah sempit dihadapan mereka telah menarik perhatian mereka. Puncak-puncak pepohonan liar nampak kehitam-hitaman. Namun yang tidak mereka perhitungkan sama sekali adalah dua orang dibalik gerumbul yang telah menarik tali busur mereka.

 

Sejenak kemudian, kedua orang itu bagaikan terlempar kedalam jurang yang tidak begitu dalam dan tanpa sempat mengeluh karena anak-panah telah menembus dari punggung mereka langsung mengenai jantung.

 

Tetapi Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak segera meninggalkan tempat. Mereka itu masih merayap mendekat. Ketika mereka melihat dua orang yang berjaga-jaga sambil duduk diatas sebuah batu raksasa dipinggir jalan sempit yang menuruni tebing menuju ke goa mereka, maka sekali lagi tali busur mereka bergetar. Kedua orang itupun sama sekali tidak sempat mengaduh. Mereka terdorong dan jatuh kebalik batu raksasa itu.

 

Demikianlah dengan diam-diam, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah mengurangi jumlah lawan yang mungkin akan datang ke padukuhan induk Tanah Perdikan. Orang-orang yang bertugas disekitar sarang dari orang-orang yang berada di balik bukit itupun telah hilang tanpa sempat memberikan isyarat.

 

Bahkan Sambi Wulung dan Jati Wulung telah bergerak lebih dekat lagi dengan goa-goa yang ada beberapa buah di lereng bukit yang berseberangan dengan arah Tanah Perdikan itu.

 

Ternyata bahwa orang-orang yang tinggal di goa itu memang belum tidur. Beberapa orang diantara mereka masih berkeliaran didepan goa. Namun agaknya yang lain memang telah beristirahat didalam.

 

Sambi Wulung dan Jati Wulung memang orang-orang yang berani. Selain kemampuan membidik yang tinggi, keduanya memiliki ilmu yang tinggi pula. Meskipun keduanya masih belum ingin terlibat kedalam pertempuran langsung, namun keduanya memiliki keyakinan, bahwa orang-orang didalam goa itu tidak akan mampu mengejarnya jika keduanya mengelakkan diri.

 

Karena itu, untuk beberapa saat keduanya masih menunggu kesempatan. Orang-orang yang bernasib buruk ternyata masih saja terdapat di tempat itu. Seorang yang termangu-mangu disisi mulut goa telah jatuh pula terkulai.

 

Sambi Wulung dan Jati Wulung menjadi ragu-ragu ketika mereka melihat lima orang sedang memanaskan diri diseputar api yang tidak terlalu besar. Agaknya kelima orang itu tidak akan dapat dikenainya bersama-sama sehingga jika dua diantara mereka terbunuh, maka yang lain tentu mempunyai kesempatan untuk memberikan isyarat.

 

Karena itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulungpun telah menunggu.

 

Namun agaknya seseorang telah menemukan tubuh kawannya yang terbaring jatuh. Dari kejauhan terdengar seseorang berteriak nyaring, “Kawan kita terbunuh.”

 

Beberapa orang didalam goa telah dengan sigapnya meloncat keluar dan berlari-lari ke arah suara itu. Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung ternyata masih mempergunakan kesempatan terakhirnya. Apapun yang dilakukan, maka sebentar lagi, semua orang ditempat itu tentu akan mengetahui bahwa kawan-kawannya telah terbunuh.

 

Karena itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung telah bertekad untuk membunuh kelima orang itu sebelum mereka sempat pergi.

 

Ternyata ketangkasan kedua orang itu sangat mengagumkan. Dalam sekejap, dua orang telah tertusuk ujung panah didada mereka. Sementara itu, ketiga orang lainnya memang sempat menarik pedang mereka sambil berteriak. Tetapi dua diantara mereka tidak mampu menangkis anak panah yang meluncur seperti tatit diudara. Sementara orang kelima memang sempat meloncat dan menjatuhkan diri berguling ditanah. Kemudian melenting berdiri dan meloncat kebelakang gerumbul. Namun akhirnya ia juga terkapar jatuh. Bahkan dua anak panah telah menembus tubuhnya.

 

Sarang para pengikut Warsi dan Ki Rangga Gupita itu memang menjadi gempar. Beberapa orang segera berlarian. Sebagian ke arah orang pertama yang berteriak karena melihat kawannya terbunuh oleh anak panah, sementara yang lain berlari ke arah teriakan dari orang terakhir yang terkena anak panah itu.

 

Ketika beberapa orang kemudian berlari-lari, ternyata bukan hanya satu dua orang saja yang terkena panah, tetapi jauh lebih banyak.

 

Sementara keributan itu terjadi, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah pergi menjauh. Keduanya menyusuri jalan setapak naik kepunggung bukit. Namun kemudian mereka berdua telah keluar dari jalan setapak itu dan berada didalam gerumbul-gerumbul yang cukup lebat.

 

Tetapi dari tempatnya Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak sempat melihat keributan dilembah, didepan beberapa buah goa yang dihuni oleh para pengikut Ki Rangga Gupita dan Warsi.

 

Namun setelah beberapa saat mereka menunggu, maka yang mereka tunggu itu benar-benar telah datang. Beberapa orang nampaknya berusaha mengejar mereka mengikuti jalan setapak.

 

Sambi Wulung dan Jati Wulung membiarkan mereka lewat. Tetapi ketika yang nampak dari tempat keduanya bersembunyi adalah punggung orang-orang itu, maka keduanya mulai membidik.

 

Dalam sekejap dua orang mengaduh dan jatuh terkapar. Demikian iring-iringan itu berhenti dan berpaling melihat kedua kawannya jatuh, dua orang lagi telah terbanting ditanah. Sementara orang ke lima dan keenampun tidak sempat menyelamatkan dirinya.

 

Namun orang ketujuh dan berikutnya telah menghambur kebalik gerumbul-gerumbul liar disekitarnya.

 

Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak menghiraukan mereka lagi. Keduanya segera mengendap-endap meninggalkan tempat itu. Mereka sadar bahwa masih ada beberapa orang yang hidup. Tetapi agaknya Sambi Wulung dan Jati Wulungpun akan mengalami kesulitan untuk dapat membunuh mereka semuanya.

 

Dengan demikian maka sisa orang-orang itupun telah ditinggalkannya justru menuruni bukit diseberang. Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak mengalami kesulitan, karena petugas sandi dari Tanah Perdikan Sembojan telah menunjukkan jalan kepada mereka. Bukan jalan yang mengikuti jalan setapak. Tetapi jalan diantara gerumbul-gerumbul perdu dan batu-batu padas.

 

Karena itulah, maka para pengikut Warsi dan Ki Rangga serta orang-orang yang bergabung dengan mereka tidak dapat menemukan orang-orang yang telah menyerang kawan-kawan mereka dengan panah.

 

Seorang pemimpin kelompok yang menjadi sangat marah telah bersepakat dengan beberapa orang yang lain untuk mengerahkan orang-orang mereka mencari keseluruh punggung bukit. Di lembah dan relung-relung, sementara yang lain mengikuti jalan setapak sampai menuruni bukit yang menghadap ke Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi mereka tidak menemukan seseorang. Yang mereka temukan adalah tubuh-tubuh yang terbujur membeku dengan anak panah yang menembus tubuhnya menusuk jantung.

 

“Gila,“ geram para pemimpin kelompok, “sangat memalukan. Serangan iblis seperti ini dapat terjadi tanpa perlawanan sama sekali.”

 

Namun hal itu nyatanya memang sudah terjadi.

 

Sementara itu agak jauh dibawah bukit, disebuah padukuhan yang cukup besar dari lingkungan Tanah Perdikan Sembojan, pertempuran telah terjadi dengan sengitnya. Para pengawal padukuhan itu dibantu oleh para pengawal berkuda serta beberapa pengawal dari padukuhan sekitarnya, yang meskipun jumlahnya kecil namun bersama-sama dari beberapa padukuhan, jumlahnya menjadi cukup pula.

 

Para pengikut Ki Rangga dan Warsipun mengetahui, bahwa mereka tidak bertempur sesungguhnya untuk merebut padukuhan itu. Tetapi tugas mereka adalah untuk menjajagi kemampuan para pengawal Tanah Perdikan. Namun ketika mereka benar-benar telah terlibat dalam pertempuran, maka tidak ada lagi bedanya, apakah mereka sedang menjajagi kemampuan para pengawal atau mereka memang ingin menghancurkan padukuhan itu. Karena para pengawal itupun dengan senjatanya tidak lagi sekedar menunjukkan kemampuan mereka, tetapi mereka benar-benar ingin membunuh para pengikut Ki Rangga dan Warsi itu sebanyak-banyaknya.

 

Demikianlah maka pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin sengit. Kedua belah pihak telah meningkatkan kemampuan mereka masing-masing.

 

Ternyata bahwa para pengikut Ki Rangga, Warsi dan orang-orang yang bergabung dengan mereka, yang sebagian adalah bekas prajurit yang kehilangan pegangan sebagaimana Ki Rangga Gupita, harus mengakui, bahwa para pengawal Tanah Perdikan adalah anak-anak muda yang telah terlatih baik. Bahkan laki-laki yang sudah lebih tuapun mampu mempergunakan senjatanya, apalagi mereka yang pernah menjadi pengawal Tanah Perdikan justru pada saat Tanah Perdikan itu bergejolak.

 

Dalam pada itu, Ki Rangga, Warsi, beberapa orang pemimpin dari kelompok-kelompok yang bergabung bersamanya serta beberapa pengawal masih berada di depan regol yang telah menjadi abu. Namun sejenak kemudian, tangannya yang gemetar telah bergerak menyentuh senjatanya.

 

“Ingat,“ sekali lagi Ki Rangga mengingatkan, “kau masih menunggu dua hari lagi.”

 

Warsi berdesah. Tetapi iapun kemudian memberi isyarat kepada para pemimpin dari pengikutnya serta orang-orang yang bergabung bersamanya untuk memasuki padukuhan.

 

Mereka telah berloncatan diatas reruntuhan yang dibeberapa bagian masih menyala. Namun, tenaga mereka mampu melontarkan mereka melampaui reruntuhan yang panas itu.

 

Didalam, Iswari memang telah menunggu. Dua orang kakeknya yang juga gurunya berdiri disebelah menyebelahnya. Sementara pemimpin pengawal dan pemimpin pengawal berkuda telah siap pula bersama beberapa orang pengawal terpilihnya.

 

Warsi nampaknya hampir tidak dapat mengendalikan diri lagi. Setelah kekalahannya sekitar sepuluh tahun yang lalu, maka dendamnya bagaikan membakar kepalanya. Meskipun Ki Randu Keling berusaha untuk membujuknya agar ia menganggap bahwa persoalannya dengan Iswari telah selesai, namun dendam Warsi yang membara rasa-rasanya tidak akan dapat terhapus tanpa lepasnya nyawanya atau membunuh Iswari.

 

Karena itu, maka tanpa menghiraukan apapun juga, maka Warsipun dengan serta merta telah menyerang Iswari yang sudah siap menunggunya.

 

Kiai Badra dan Kiai Soka yang ada disebelah menyebelahnya mengamatinya dengan tegang. Namun mereka-pun kemudian harus bertempur pula melawan para pemimpin yang ikut bersama Warsi, termasuk Ki Rangga Gupita.

 

Ki Bekel dan pemimpin pengawal dari padukuhan itu, menyadari, bahwa mereka memang harus menepi. Jika tidak, maka ilmu yang tinggi diantara para pemimpin dari kedua belah pihak itu akan dapat melumatkannya.

 

Beberapa saat kemudian, Warsi dan Iswari memang sudah bertempur. Dendam Warsi yang menyala telah mendorongnya untuk sampai pada tataran yang tinggi dari ilmunya, meskipun Warsi berusaha sekuat tenaganya untuk tidak sampai kepuncak, dan tidak melibatkan diri dari pertempuran hidup dan mati melawan Iswari.

 

Sejenak kedua perempuan itu bertempur. Setelan sekitar sepuluh tahun yang lalu, maka ternyata kedua orang itu telah meningkatkan ilmunya. Warsi merasa dininya telah menjadi semakin mapan dengan ilmunya, sehingga karena itu, maka ia telah berusaha menjajaginya dengan membenturkan ilmunya itu langsung kepada Iswari, orang yang paling didendamnya.

 

Iswari memang terkejut melihat kekayaan unsur gerak yang kemudian dimiliki oleh Warsi. Kecepatannyapun telah meningkat serta rasa-rasanya ilmu perempuan itu memang benar-benar telah menjadi matang.

 

Namun Iswaripun mempergunakan perhitungan pula. Sebagai Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan ia sadar, bahwa yang dilakukan oleh Warsi itu tentu belum seluruhnya. Warsi masih belum menyerang padukuhan induk serta belum mempergunakan seluruh kekuatannya.

 

Karena itu, maka Iswaripun sekedar melayani Warsi pada tataran ilmu yang seimbang. Iswari masih belum menunjukkan tingkat terakhir dari ilmu Janget Kinatelon yang telah disempurnakan oleh ketiga orang gurunya.

 

Meskipun demikian, meskipun kedua orang perempuan itu masih belum sampai kepuncak, namun pertempuran diantara merekapun menjadi semakin sengit. Keduanya berloncatan dengan cepat sekali dan dengan langkah-langkah panjang. Tangan Warsi bergerak-gerak kesegala arah, seakan-akan kedua tangannya itu telah menjadi beberapa pasang tangan yang bergerak bersama-sama.

 

Tetapi Iswaripun bagaikan tidak berjejak diatas tanah. Kakinya telah melontarkan tubuhnya yang seakan-akan menjadi tanpa bobot. Sehingga dengan demikian, maka tubuh Iswari bagaikan bayangan yang berputaran membingungkan.

 

Demikianlah kedua orang perempuan itu telah bertempur diantara hiruk pikuk pertempuran. Sementara itu Ki Rangga Gupitapun telah bertemu dengan Kiai Badra yang tua. Namun orang yang nampaknya sudah terlalu tua itu masih saja mampu mengimbangi ketangkasan gerak Ki Rangga Gupita.

 

“Iblis manakah yang merasuk didalam tubuhmu yang telah menjadi rapuh itu he?“ bertanya Ki Rangga Gupita.

 

“Aku memang sudah tua,“ jawab Kiai Badra, “aku sudah punya cicit. Bahkan cicitku sudah hampir dewasa. Beberapa tahun lagi aku harapkan bahwa aku akan mempunyai udeg-udeg. He, bukankah anak dari cicit itu disebut udeg-udeg.?”

 

“Persetan,“ geram Ki Rangga sambil menyerang Kiai Badra yang tua itu.

 

Kiai Badra masih saja dapat bergerak dengan tangkas. Meskipun dukungan kewadagannya tidak lagi seperti beberapa tahun yang lalu, tetapi karena dorongan kekuatan cadangan didalam dirinya, maka ia tetap seorang yang sangat berbahaya.

 

Dalam pada itu, pertempuran di bagian lain dari padukuhan itupun berlangsung dengan sengitnya. Para pengikut Warsi dan Ki Rangga, yang sebagian terdiri dari bekas prajurit di masa pergolakan antara Jipang dan Pajang, harus mengakui, bahwa pengawal di Tanah Perdikan itu terdiri dari anak-anak muda yang terlatih baik, didampingi oleh orang-orang tua yang berpengalaman, sehingga dengan demikian maka mereka harus berhati-hati menghadapi Tanah Perdikan Sembojan. Pemimpin-pemimpin kelompoknyapun terpilih diantara orang-orang terbaik dari antara para pengawal. Merekapun ternyata memiliki pengetahuan perang gelar yang cukup luas serta memiliki kemampuan pribadi yang memadai.

 

Karena itulah, maka para pengikut Warsi dan Ki Rangga itu harus benar-benar berhati-hati menghadapi lawan mereka.

 

Dalam pada itu, Ki Ranggapun sempat memperhatikan beberapa orang yang bertempur disekitarnya. Iapun melihat betapa pertahanan Tanah Perdikan cukup kuat.

 

Sambil bertempur melawan Kiai Badra, maka Ki Rangga berusaha menilai keadaan, sementara Kiai Badra sendiri sama sekali tidak berusaha untuk menekan lawannya. Kiai Badra seakan-akan dengan sengaja memberi kesempatan kepada Ki Rangga untuk melihat keseimbangan pertempuran itu. Karena itu, setiap kali Ki Rangga berusaha menjauhinya, maka Kiai Badra sama sekali tidak memburunya.

 

Dengan demikian maka Ki Rangga itu berhasil mengamati pertempuran itu dengan saksama. Iapun sempat menyaksikan pertempuran antara Warsi dan Iswari yang meningkat memasuki tataran ilmu yang semakin tinggi.

 

Sebenarnyalah bahwa bagi Warsi dan Iswari, kesempatan itu tidak akan ada bedanya dengan kesempatan kapanpun juga yang akan mereka peroleh. Karena itu, selagi mereka bertemu di arena maka memang sulit bagi keduanya untuk mengekang diri.

 

Meskipun belum sampai pada puncak ilmu mereka masing-masing, maka pada setiap kesempatan, serangan mereka benar-benar merupakan serangan-serangan yang berbahaya. Bahkan serangan-serangan yang benar-benar mengarah ke tempat-tempat yang paling berbahaya pada tubuh seseorang.

 

Tetapi keduanyapun memiliki ketangkasan untuk menghindari. Namun sekali-sekali mereka menangkis serangan itu. Dengan demikian terjadi benturan-benturan kecil yang dapat dipergunakan untuk menjajagi kemampuan lawan.

 

Dalam pada itu, Ki Rangga yang memang rasa-rasanya lebih bebas untuk mengamati keadaan melihat Warsi dan Iswari justru semakin meningkatkan ilmu mereka.

 

Beberapa saat kemudian, Ki Rangga menganggap bahwa yang harus mereka lakukan memang sudah selesai. Sementara itu Raden Rangga tahu, bahwa bantuan dari padukuhan-padukuhan kecil disekitar padukuhan yang agak besar itu menjadi semakin banyak sehingga Ki Rangga tidak mau menanggung akibat yang lebih buruk lagi bagi orang-orangnya yang pada saatnya akan benar-benar dipergunakan.

 

Karena itu, maka Raden Rangga memang menganggap bahwa penjajagan yang mereka lakukan saat itu telah cukup.

 

Dengan demikian, maka Ki Rangga Gupitapun telah membunyikan aba-aba untuk meninggalkan padukuhan itu. Tanda-tanda sandi yang hanya diketahui oleh orang-orangnya.

 

Sejenak kemudian isyarat itupun telah tersebar diseluruh medan. Dengan demikian, meskipun para pengawal padukuhan semula tidak tahu maksudnya, namun akhirnya mereka dapat menduga, apakah yang dimaksud dengan isyarat itu.

 

Sebenarnyalah, maka sejenak kemudian para pengikut Ki Rangga Gupita dan Warsi itu telah melakukan gerakan yang mengejutkan para pengawal. Namun sejenak kemudian, mereka memanfaatkan kesempatan yang timbul untuk menarik mundur pasukan mereka. Tidak dengan perlahan-lahan. Tetapi dalam keremangan bayangan pepohonan di padukuhan, mereka telah menghambur berlari ke dinding padukuhan.

 

Sejenak kemudian, maka orang-orang dari balik bukit itu telah berloncatan keluar dari dinding padukuhan.

 

Di bagian dalam regol padukuhan itu, Warsipun telah bersiap-siap untuk meninggalkan padukuhan itu. Ki Rangga telah mengatur beberapa orang pengikutnya untuk menimbulkan suasana yang memungkinkan mereka keluar dari padukuhan itu. Mereka tidak perlu lagi meloncati abu yang panas dari pintu gerbang yang telah terbakar, karena api memang telah padam.

 

Demikianlah, maka sejenak kemudian, orang-orang dari balik bukit itupun telah berloncatan meninggalkan arena. Ketika para pengawal akan mengejar mereka, maka Iswari telah memberikan isyarat, agar mereka tidak melakukannya.

 

“Mungkin kalian akan memasuki satu jebakan di luar padukuhan,“ pesan Iswari kepada para pemimpin pengawal.

 

Para pengawal memang menjadi kecewa. Tetapi mereka mengerti sikap hati-hati Iswari, karena lawan mereka adalah orang-orang yang sangat licik. Sehingga dengan demikian maka para pengawal memang tidak berusaha untuk mengejar lawan-lawan mereka yang melarikan diri.

 

Pertempuran yang terjadi memang bukan pertempuran antara hidup dan mati dari kedua belah pihak. Meskipun demikian ada juga korban yang jatuh. Baik dari antara para pengawal, maupun dari orang-orang di balik bukit. Bahkan diantara para penyerang terdapat pula beberapa orang yang tertangkap karena mereka tidak berhasil melarikan diri oleh luka-lukanya.

 

Tetapi para pemimpin di Tanah Perdikan itu memang tidak terlalu banyak mengharap keterangan dari mereka. Mereka tentu sudah mendapat petunjuk-petunjuk, bahkan perintah yang disertai dengan ancaman, agar mereka tidak memberikan penjelasan tentang kedudukan mereka.

 

Namun Iswari masih berpengharapan untuk mendapatkan keterangan itu. Mungkin keterangan yang didengar dari orang-orang yang tertawan itu akan dapat digabungkan dengan keterangan dari Sambi Wulung dan Jati Wulung.

 

Dalam pada itu, untuk beberapa saat Iswari dan Ki Bekel telah membenahi padukuhan itu. Mereka berusaha untuk menemukan semua orang yang terluka. Setiap orang harus melaporkan jika mereka tidak melihat seseorang yang dikenalnya. Apakah tetangganya, apakah justru keluarganya atau siapa saja, sehingga dengan segera dapat diketahui para korban yang jatuh malam itu.

 

Karena itulah, maka pencaharian telah dilakukan dengan mengerahkan semua orang, terutama di bekas arena pertempuran. Sedangkan orang-orang yang tertawan telah dibawa ke banjar. Adapun orang-orang padukuhan itu yang terluka dan yang menjadi korban telah dibawa kerumah Ki Bekel.

 

Meskipun pertempuran itu terhitung tidak terlalu lama, namun memang ada korban yang jatuh diantara orang-orang padukuhan itu. Seorang pengawal dan dua orang yang lain telah gugur. Sedangkan lima orang terluka cukup parah dan lebih dari sepuluh orang telah tergores senjata.

 

Beberapa orang telah sibuk membantu seorang tabib yang disegani di padukuhan itu. Dengan kepandaiannya meramu berbagai macam dedaunan dan beberapa jenis akar-akaran, maka ia telah membuat obat yang dapat dipergunakan untuk mengobati luka-luka baru sehingga dalam wiaktu singkat darahpun telah menjadi pempat.

 

Sementara di padukuhan itu terjadi kesibukan untuk merawat orang-orang yang gugur dan terluka, bahkan juga merawat orang-orang dari balik bukit yang tertawan, Warsi dan Ki Rangga telah membawa orang-orangnya kembali. Merekapun dengan cepat mengetahui bahwa tujuh orang tidak ada lagi diantara mereka. Mungkin terbunuh, tetapi mungkin juga tertawan.

 

Sebenarnyalah diantara tujuh orang itu, dua orang memang terbunuh. Empat orang terluka parah, sedangkan yang seorang benar-benar tertawan tanpa segores lukapun ditubuhnya. Sedang juga lebih dari sepuluh orang yang terluka ringan sempat ikut serta melarikan diri dari padukuhan itu.

 

Diperjalanan beberapa orang pemimpin kelompok terpaksa mengobati luka orang-orangnya yang mengalirkan darah, agar mereka tidak mengalami nasib buruk, justru karena kehabisan darah, sementara luka-lukanya tidak termasuk luka yang parah.

 

Iring-iringan pasukan dari balik bukit itu memang menghindari padukuhan-padukuhan yang tentu sudah bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Meskipun padukuhan-padukuhan itu kecil dan kekuatan para pengawal dan anak-anak mudanya tidak seberapa, tetapi mereka akan dapat membunyikan syarat, sehingga pengawal berkuda akan dapat dengan cepat datang ke padukuhan itu, sementara mereka memang tidak berniat untuk merebut kedudukan yang manapun juga.

 

Ketika iring-iringan itu mencapai kaki bukit, maka dua pasang mata mengikutinya dari kejauhan. Ternyata Sambi Wulung dan Jati Wulung belum kembali ke padukuhan induk. Meskipun keduanya telah menjauhi sarang para pengikut Ki Rangga dan Warsi sehingga keduanya telah melintasi bukit sehingga mereka sudah berada dilereng yang menghadap ke Tanah Perdikan Sembojan, namun keduanya masih bersembunyi dibalik gerumbul sambil menunggu iring-iringan yang tentu akan melintasi jalan setapak, mendaki bukit dan turun keseberang.

 

Beberapa saat Sambi Wulung dan Jati Wulung mengamati iring-iringan itu. Ternyata pasukan itu masih cukup segar. Tidak terlalu banyak orang yang harus dirawat.

 

“Pertempuran tidak berlangsung lama,“ desis Jati Wulung.

 

“Tentu belum pertempuran yng sesungguhnya,“ berkata Sambi Wulung, “tetapi mereka tentu akan memaki-maki setelah mereka mendapat laporan tentang orang-orang mereka yang terbunuh.”

 

Jati Wulung mengangguk-angguk. Tetapi iapun kemudian berdesis, “Apakah kira-kira Puguh ada diantara mereka?”

 

Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Dari tempatnya, mereka tentu tidak akan dapat melihat seandainya Puguh ada pula didalam iring-iringan itu. Meskipun masih remaja, tetapi ujudnya sudah tidak dapat dibedakan dengan orang-orang dewasa. Jika Puguh ada diantara orang-orang itu, maka bentuk tubuhnya tentu tidak akan dapat menunjukkan bahwa seorang anak muda remaja ada diantara mereka.

 

“Kemungkinan kehadirannya harus kita perhitungkan,“ berkata Sambi Wulung kemudian.

 

“Maksudmu?“ bertanya Jati Wulung.

 

“Mungkin Puguh tidak sendiri. Mungkin ia membawa pengawal yang pernah melihat kita di padepokannya. Karena itu, jika kita akan turun kedalam pertempuran yang sebenarnya jika mereka menyerang padukuhan induk, maka kita harus dapat menyamarkan diri,“ berkata Sambi Wulung.

 

Jati Wulung mengangguk-angguk. Topeng-topeng kecil yang ujudnya menakutkan itu terdapat didekat pintu-pintu gerbang padukuhan induk. Agaknya mereka memang akan menyerang padukuhan induk itu. Sejalan dengan kepercayaan Warsi tentang bulatnya bulan, maka memang dapat diperhitungkan, kapan Warsi akan menyerang.

 

Namun dalam pada itu, Jati Wulung itupun bertanya, “Masih ada beberapa anak panah. Apakah kita akan mempergunakannya?”

 

Tetapi Sambi Wulung menggeleng. Katanya, “jangan. Biarlah mereka berjalan dengan tenang sampai ke sarang mereka. Baru mereka akan mengumpat-umpat.”

 

Jati Wulung tidah menyahut. Diamatinya iring-iringan yang menjadi semakin jauh dibawah siraman cahaya bulan yang cerah meskipun belum bulat.

 

Beberapa saat kemudian, maka ujung dari iring-iringan itu mulai merambat naik, mengikuti jalan setapak seperti seekor ular raksasa yang merambat.

 

Sambi Wulung dan Jati Wulung hanya dapat memandanginya dari kejauhan. Bahkan kemudian setelah iring-iringan itu memanjat semakin tinggi, maka Sambi Wulungpun berkata, “Marilah. Kita lihat, apa yang telah terjadi.”

 

“Kita akan kemana? Kembali ke padukuhan induk?“ bertanya Jati Wulung.

 

“Iring-iringan itu tentu tidak pergi ke padukuhan induk. Kita akan bertanya kepada para peronda di padukuhan, kemana orang-orang itu pergi,“ desis Sambi Wulung.

 

Demikianlah, maka Sambi Wulung dan Jati Wulungpun telah meninggalkan lereng bukit itu menuju ke padukuhan. Dari orang-orang padukuhanlah maka Sambi Wulung dan Jati Wulung menduga dari mana iring-iringan itu pergi. Apalagi ketika keduanya mendapat keterangan tentang api yang menyala dipintu gerbang sebuah padukuhan.

 

“Mereka tentu dari sana,“ berkata Sambi Wulung.

 

Dengan tergesa-gesa dan hati yang berdebar-debar keduanya telah pergi menuju ke padukuhan yang pintu gerbangnya telah terbakar.

 

Sebenarnyalah, bahwa orang-orang dari balik bukit itu telah membakar regol padukuhan yang lebih besar dari padukuhan-padukuhan yang lain disekitarnya, sehinga sejenak kemudian maka Sambi Wulung dan Jati Wulung sempat melihat akibat dari pertempuran yang terjadi di padukuhan itu, sementara Iswari, Kiai Badra dan Kiai Soka masih berada di padukuhan itu pula.

 

Sementara itu, maka para pengikut Ki Rangga Gupita dan Warsi telah melintasi puncak bukit dan kemudian menuruni tebing diseberang. Namun mereka terkejut ketika mereka melihat beberapa buah obor yang dipasang didepan sarang mereka. Apalagi ketika mereka menjadi semakin dekat. Mereka melihat beberapa sosok tubuh yang terbaring diam di plataran goa yang terbesar yang terdapat di lekuk pebukitan itu.

 

“Apa yang telah terjadi disini?“ Warsi hampir berteriak.

 

Orang yang diserahi tanggung jawab selama Ki Rangga dan Warsi meninggalkan sarangnya itu melangkah mendekat dengan jantung yang terasa berdegup semakin keras. Katanya dengan suara bergetar, “Sarang kita sudah kemasukan iblis.”

 

“Apa maksudmu?“ bertanya Warsi dengan mata terbelalak.

 

“Seseorang telah memasuki lingkungan ini dan membunuh kawan-kawan kita dengan licik,“ jawab orang itu.

 

Wajah Warsi menjadi merah membara, sementara Ki Rangga bertanya dengan suara gagap, “Apa yang telah dilakukannya?”

 

“Mereka membunuh kawan-kawan kita dengan panah,“ jawab orang yang bertanggung jawab disaat Warsi dan Ki Rangga pergi itu.

 

Ki Rangga mengumpat dengan kasar. Dengan garangnya ia meloncat mendekati tubuh-tubuh yang terbaring itu. Disebelah setiap orang memang terdapat sebuah anak panah.

 

Dengan sorot mata yang penuh kemarahan dan dendam Ki Rangga melihat setiap anak panah yang telah membunuh orang-orangnya.

 

Sementara ia mengumpat-umpat kasar, maka seorang yang sudah berambut putih mendekatinya sambil berkata, “Kau tidak dapat mengumpat-umpat saja. Kau harus berbicara dengan para pemimpin dari kelompok ini. Kematian orang-orang kita disarang sendiri adalah pertanda, betapa beratnya lawan yang akan kita hadapi. Tentu ada satu atau dua orang yang dengan sangat berani telah datang ke tempat ini.”

 

“Sedikitnya dua orang,“ berkata salah seorang diantara mereka yang pada saat-saat terakhir hampir saja ikut menjadi sasaran anak panah Sambi Wulung dan Jati Wulung.

 

“Kita harus membalas kematian itu dengan kematian,“ geram Warsi.

 

“Apa yang akan kita lakukan?“ bertanya orang yang sudah berambut putih.

 

“Kita membunuh orang-orang Tanah Perdikan Sembojan sebanyak-banyaknya,“ berkata Warsi.

 

“Apakah pantas jika kita membunuh orang-orang yang tidak terlibat langsung dalam pertentangan ini?“ bertanya orang berambut putih itu.

 

“Aku tidak peduli. Bahkan perempuan dan anak-anak. Mereka harus menebus kelicikan mereka dengan harga yang mahal,“ geram Warsi.

 

“Mereka sama sekali tidak licik. Mereka justru menunjukkan keberanian yang luar biasa. Jika kita kemudian membunuh siapa saja, termasuk perempuan dan anak-anak itulah yang disebut licik dan bahkan buas. Aku tidak sependapat. Kecuali jika kita dapat membedakan diantara orang-orang Sembojan, yang manakah pengawal dan yang manakah bukan,“ berkata orang berambut putih itu.

 

“Tetapi ketika kita memasuki padukuhan itu, kita harus melawan semua orang laki-laki. Bahkan yang tua-tua sekalipun. Sama sekali bukan hanya pengawal,“ geram Warsi.

 

Orang berambut putih itu mengangguk-angguk. Ia-pun ikut serta memasuki padukuhan itu untuk menjajagi kemampuan dan perlawanan orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Menurut pengamatannya memang semua laki-laki telah melibatkan diri kecuali mereka yang telah menjadi pikun.

 

Dan seperti yang diduga, Warsipun berteriak, “Kita akan membunuh semua orang laki-laki di Tanah Perdikan Sembojan dimanapun kita bertemu untuk membalas kematian kawan-kawan kita karena kelicikan orang-orang Tanah Perdikan Sembojan.”

 

Dalam pada itu, Kiai Badra dan Kiai Soka memang tengah berbincang dengan Iswari, Sambi Wulung dan Jati Wulung. Kedua orang tua itu memang menjadi sangat cemas karena langkah-langkah yang diambil oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung.

 

“Bagaimana jika orang-orang diseberang bukit itu mendendam kepada setiap orang Tanah Perdikan ini?“ bertanya Kiai Badra.

 

“Aku tidak sempat memikirkannya,“ berkata Sambi Wulung, “karena aku melihat sasaran yang menarik, maka aku telah melepaskan anak panahku.”

 

“Baiklah,“ berkata Kiai Badra, “kita harus cepat mengatasi kemungkinan yang paling buruk yang dapat terjadi. Kita harus menyebar penghubung keseluruh padukuhan di Tanah Perdikan ini. Tidak seorangpun dibenarkan keluar dari padukuhan, siang dan malam. Hanya untuk dua hari saja. Setelah bulan purnama, mungkin akan terjadi perubahan.”

 

“Jika pada saat purnama naik mereka tidak mengambil langkah-langkah penting, maka kita akan menyergap goa diseberang bukit itu guru,“ desis Iswari.

 

Kiai Badra mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti jalan pikiran Iswari, sementara Iswari itupun berkata, “Kita tidak mau selalu dibayangi oleh ketakutan hanya karena sekelompok orang berada di balik bukit. Dimalam purnama naik, kita akan menentukan sikap. Mereka atau kita yang akan menyerang. Jika malam itu mereka tidak menyerang, maka menjelang fajar, kitalah yang akan menyerang sehingga ketika matahari terbit, maka kita sudah memasuki lingkungan mereka.”

 

Kiai Sokapun kemudian menyahut, “Iswari, kita masih mempunyai kesempatan untuk memikirkannya. Besok siang kita akan berunding. Mungkin rencanamu itu baik untuk ditrapkan. Namun kita tidak boleh tergesa-gesa, karena banyak segi yang harus kita perhitungkan.”

 

“Tetapi kita tidak mau membiarkan Tanah Perdikan ini seakan-akan berada dibawah pengaruh orang-orang dibalik bukit itu. Seakan-akan kita hanya dapat melayani kemauan mereka tanpa dapat mengambil sikap sesuai dengan keinginan kita sendiri,“ berkata Iswari dengan wajah yang bersungguh-sungguh.

 

Kiai Badra dan Kiai Soka mengangguk-angguk. Mereka tidak membantah lagi. Mereka menyadari, bahwa jiwa Iswari memang sedang terbakar, sehingga mereka membiarkannya menjadi lebih tenang untuk sempat diajak berbicara.

 

Dalam pada itu, yang dapat dilakukan adalah perintah lewat para penghubung berkuda, bahwa tidak seorang-pun dibenarkan keluar dari padukuhan masing-masing untuk keperluan apapun. Nyawa mereka dapat terancam sehingga karena itu, maka setiap orang harus berjaga-jaga.

 

Hanya para pengawal saja yang dibenarkan untuk meronda dibulak-bulak panjang. Sementara itu di perbatasan, di gerbang-gerbang, para pengawal harus mengembalikan orang-orang dari luar Tanah Perdikan yang akan memasuki Tanah Perdikan itu untuk keperluan apapun. Mereka harus diyakinkan bahwa memasuki Tanah Perdikan Sembojan dalam suasana seperti saat itu adalah sangat berbahaya.

 

Dengan demikian maka kehidupan di Tanah Perdikan Sembojan memang menjadi bagaikan terhenti. Kesibukan hanya terjadi di dalam padukuhan-padukuhan. Orang-orang yang tidak sempat pergi ke pasar harus mencukupi kebutuhannya dengan meminjam tetangga-tetangganya atau mencarinya dikebun belakang.

 

Namun dengan kesadaran yang tinggi, rakyat Tanah Perdikan Sembojan telah mematuhinya sebagaimana mereka patuh untuk tidak keluar malam dari padukuhan, karena saat itu mereka ditakut-takuti oleh gerombolan-gerombolan serigala.

 

Karena itulah, maka yang kemudian lewat menyusuri bulak-bulak panjang hanyalah para pengawal yang cukup kuat. Diantara mereka tentu ada yang menyandang busur dan membawa anak panah endong dipunggung. Jika orang-orang dari balik bukit akan membalas menyerang mereka dengan anak panah, maka para pengawalpun telah bersiap melawan mereka.

 

Ketika kemudian langit menjadi merah, maka jalan-jalanpun tetap sepi. Tidak ada suara pedati yang memuat barang-barang dagangan yang akan dibawa kepasar. Tidak ada perempuan yang mendukung hasil bumi di sawahnya sambil berdendang disepanjang jalan. Dilereng-lereng gelap tidak nampak obor-obor yang menyala, yang biasanya beruntun berurutan menerangi kegelapan dibawah pohon-pohon besar di pinggir jalan.

 

Bahkan sampai saatnya matahari terbit, jalan-jalan di Tanah Perdikan Sembojan tetap sepi. Orang-orang dari luar Tanah Perdikan itu terpaksa kembali ke padukuhan masing-masing. Namun pada umumnya mereka merasa berterima kasih atas keterangan yang mereka dapatkan dari para pengawal di regol-regol jalan yang memasuki Tanah Perdikan itu.

 

“Keamanan jiwa kalian terancam,“ berkata para pengawal.

 

“Terima kasih. Mudah-mudahan keadaan seperti ini cepat dapat diatasi oleh para pemimpin dan rakyat Tanah Perdikan Sembojan,“ berkata orang yang terpaksa kembali itu.

 

Sebenarnyalah maka di balik bukit Warsi telah mengatur orang-orangnya. Beberapa orang harus turun ke Tanah Perdikan Sembojan. Mereka mendapat perintah untuk membunuh siapa saja yang mereka jumpai. Dengan senjata apapun yang dapat mereka pergunakan.

 

Justru karena Warsi yang hatinya bagaikan terbakar oleh peristiwa yang sama sekali tidak diduganya itu telah lupa berpesan bahwa hanya laki-laki sajalah yang boleh dibunuh.

 

Beberapa orang pilihan telah melintasi bukit dan turun ke lingkungan Tanah Perdikan Sembojan. Mereka nampaknya memang seperti orang-orang kebanyakan yang akan pergi kesawah atau ke pasar. Tidak nampak senjata di lambung mereka. Tetapi mereka membawa senjata-senjata pendek dibawah baju mereka. Sementara beberapa orang yang lain telah turun ke Tanah Perdikan dengan cara yang lain. Mereka berusaha untuk dilihat oleh siapapun. Mereka berusaha untuk menemukan orang-orang yang sedang pergi ke sawah dan membunuh mereka.

 

Tetapi ternyata mereka tidak menemukan seseorang. Disawah tidak ada petani yang mengairi sawah mereka. Dijalan-jalan tidak ada orang yang lewat. Bahkan jalan yang biasanya ramai dilalui orang yang pergi ke pasar, nampaknya terlalu sepi dan lengang.

 

Beberapa orang yang berpura-pura pergi ke pasar, telah mengikuti jalan yang biasanya ramai itu. Namun ketika ia sampai kesebuah padukuhan, maka para pengawal di pintu gerbang telah memberitahukan, sebaiknya mereka kembali saja.

 

“Kenapa?“ bertanya orang itu.

 

“Tanah Perdikan ini sedang dibayangi oleh kegelisahan. Bahkan keadaan menjadi sangat gawat sekarang ini,“ berkata pengawal itu.

 

“Tetapi jika demikian pasar akan menjadi kosong. Sedangkan kebutuhanku sangat mendesak,“ jawab orang itu.

 

“Kami hanya menginginkan kebaikanmu saja,“ jawab pengawal itu.

 

Terima kasih Ki Sanak. Tetapi beri kesempatan kami melihat pasar di padukuhan induk. Mungkin ada beberapa orang yang berjualan meskipun tidak sepenuh biasanya,“ berkata orang itu, “mungkin ada yang kami butuhkan itu.”

 

“Apakah Ki Sanak tidak yakin, bahwa pasar-pasar di Tanah Perdikan ini kosong? Ki Sanak, sebenarnya Ki Sanak ini dari mana? Apakah Ki Sanak tidak memasuki Tanah Perdikan ini lewat jalan induk atau beberapa jalan yang biasanya dilalui oleh sanak kadang dari luar Tanah Perdikan? Dan apakah Ki Sanak tidak mendapat pemberitahuan di pintu gerbang disaat Ki Sanak memasuki Tanah Perdikan ini?“ bertanya pengawal itu.

 

Orang-orang itu termangu-mangu. Sementara itu, pemimpin pengawal padukuhan itu justru merasa heran melihat sikap mereka meskipun ia masih berdiam diri.

 

“Ki Sanak,“ berkata seorang diantara mereka,“ jangan hiraukan keselamatan kami. Kami yakin bahwa kami akan dapat menjaga diri kami.”

 

“Kami tidak menyangkal Ki Sanak,“ jawab seorang pengawal, “nampaknya kalian memang memiliki kemampuan untuk melindungi diri sendiri. Tetapi kami memang tidak ingin terjadi sesuatu di Tanah Perdikan kami. Jika disatu tempat kalian benar-benar diserang oleh orang-orang yang tidak dikenal disini, maka tentu akan terjadi pertempuran. Siapapun yang akan mati, maka kami, orang-orang Tanah Perdikan Sembojan tidak akan dapat begitu saja mencuci tangan. Kami harus menjawab pertanyaan-pertanyaan dari keluarga kalian atau siapapun yang berhubungan dengan kalian jika kalian gagal mempertahankan diri.”

 

Orang-orang itu termangu-mangu. Namun seorang diantara mereka berkata, “Terima kasih atas peringatan kalian. Kami akan meneruskan perjalanan. Kami akan menempuh jalan padukuhan ini dan menghindari jalan-jalan bulak sejauh mungkin.”

 

Para pengawal itu nampaknya masih saja berkeberatan. Namun tiba-tiba saja pemimpin pengawal padukuhan itu berkata, “Baiklah Ki Sanak. Jika kalian memang akan meneruskan perjalanan. Asal segala tanggung jawab ada pada Ki Sanak sendiri. Mumpung masih pagi. Ki Sanak akan melihat bahwa pasar-pasar di Tanah Perdikan ini benar-benar kosong.”

 

Beberapa orang itu saling berpandangan. Kemudian seorang diantara mereka berkata, “Terima kasih atas kesempatan ini. Kami mohon diri.”

 

Beberapa orang itupun kemudian melangkah meninggalkan regol padukuhan. Seorang diantara mereka sempat berbisik, “Kita tidak akan dapat membunuh seorangpun jika kita tidak memasuki padukuhan seperti ini. Ternyata semua orang telah di perintahkan untuk tinggal di padukuhan.”

 

“Nampaknya langkah kami benar. Kita harus membunuh siapa saja yang berpapasan dengan kita. Sokur dapat kita lakukan dengan diam-diam, jika tidak, kita harus mengambil sikap.”

 

“Kita mencari kesempatan. Kita membunuh dengan perhitungan,“ berkata yang lain.

 

Yang lain mengangguk-angguk. Merekapun kemudian berjalan tanpa melakukan sesuatu yang mencurigakan. Merekapun tidak menghiraukan meskipun mereka tahu, beberapa orang padukuhan itu memperhatikan mereka dari dalam regol-regol halaman mereka.

 

Seorang diantara mereka telah menggamit kawannya, ketika mereka melihat seorang laki-laki yang sedang menyapu jalan didepan regol halaman rumahnya. Dengan nada rendah ia berkata, “Mungkin orang itu akan menjadi korban pertama. Kita bunuh dan kita lemparkan kebelakang dinding halaman sebelahnya yang masih banyak ditunbuhi rumpun-rumpun bambu itu.”

 

“Dua orang diantara kita akan berjalan didepan. Semua harus berlangsung cepat tanpa menimbulkan kesan apapun. Orang itu tidak boleh mendapat kesempatan untuk berteriak.

 

Yang lain mengangguk-angguk. Setidak-tidaknya mereka telah membunuh seseorang. Senjata mereka telah basah oleh darah yang akan dapat mereka tunjukkan kepada para pemimpinnya.

 

Dua orang diantara mereka telah mendahului kawan-kawannya. Mereka siap menyergap orang yang sedang menyapu jalan yang penuh dengan daun bambu itu, tanpa menghiraukan bahwa orang itu sudah melampaui separo baya. Rambutnya sudah mulai memutih dan menilik badannya yang kurus, orang itu sama sekali tidak termasuk seorang yang pernah terlibat dalam pertempuran yang manapun.

 

Tetapi orang-orang itu tidak peduli. Mereka harus membunuh orang-orang Tanah Perdikan sebanyak-banyaknya.

 

Ketika dua orang yang mendahului kawan-kawannya itu menjadi semakin dekat, tiba-tiba saja mereka terkejut. Mereka mendengar suara orang berlari-lari dibelakang mereka.

 

Ketika mereka berpaling, mereka melihat tiga orang anak muda saling berkejaran. Bahkan seorang diantara mereka yang mengejar dua orang yang lain telah memungut batu sambil berkata, “berhenti, kalau tidak aku lempar kepalamu dengan batu.”

 

Tetapi kedua orang anak muda yang dikejarnya hanya tertawa saja berkepanjangan sambil berlari. Namun kemudian mereka telah mendahului orang-orang yang melewati padukuhan itu dan justru keduanya berhenti dan bersembunyi dibelakang orang yang sedang menyapu itu.

 

“Paman, itu anakmu nakal,“ berkata salah seorang dari kedua orang anak muda yang ternyata sedang bergurau itu.

 

Pemimpin dari beberapa orang dari balik bukit itu menggeram. Anak-anak muda itu telah mengacaukan rencana mereka. Namun tiba-tiba ia berkata, “Kita bunuh ketiga anak muda itu pula. Jika mereka sempat melawan dan memanggil kawan-kawannya, kita melarikan diri mengikuti jalan ini dan kemudian berpencar keluar dari padukuhan ini. Kita harus menyelamatkan nyawa kita masing-masing. Mudah-mudahan kawan-kawan kita yang berada di bulak-bulak dengan senjata jarak jauh akan dapat membantu kita.”

 

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka membiarkan saja anak muda yang mengejar kawan-kawannya itu mendahului mereka. Sementara orang yang sedang menyapu jalan itupun harus berhenti pula karena anak-anak muda yang berdesakan itu.

 

Tetapi orang-orang itu sudah bertekad untuk membunuh. Angan-angan mereka yang buram diliputi oleh ke mauan membunuh itu saja sehingga mereka tidak sempat membuat perhitungan yang lebih cermat lagi.

 

Namun sekali lagi mereka terkejut. Mereka mendengar lagi suara tertawa dibelakang. Ternyata bukan saja anak-anak muda yang sedang bergurau, tetapi beberapa orang pengawal yang berjalan menyusuri jalan padukuhan itu sambil berkelakar.

 

“Setan,“ geram pemimpin dari beberapa orang itu. Bagaimanapun juga mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Para pengawal itu berjalan searah dengan mereka.

 

Karena itu, maka mereka harus membiarkan saja orang yang menyapu jalan itu menepi bersama anak-anak muda yang sedang bergurau itu. Mereka tidak dapat membunuhnya apalagi anak-anak muda itu karena dibelakang mereka beberapa orang pengawal yang agaknya dari bertugas kembali ke rumah masing-masing.

 

“Para pengawal itu akan segera memasuki halaman rumah masing-masing,“ berkata pemimpin pengawal itu.

 

Kawan-kawannya mengangguk. Sebelum mereka keluar dari padukuhan itu, maka para pengawal itu tentu sudah keluar dari jalan induk menuju kerumah masing-masing.

 

Tetapi ternyata dugaan itu keliru. Para pengawal itu berjalan terus menyusuri jalan induk itu, seakan-akan telah mengikuti mereka kemana mereka pergi.

 

“Setan,“ geram pemimpin dari orang-orang dari balik bukit itu, “kenapa mereka berjalan dibelakang kita terus?”

 

“Apakah mereka mengetahui siapa kita?“ desis yang lain.

 

“Tentu tidak. Justru mereka berusaha minta agar kita tidak berada di Tanah Perdikan ini untuk keselamatan kita,“ berkata yang lain.

 

“Tetapi kenapa mereka mengikuti kita?“ bertanya yang lain.

 

“Agaknya mereka sudah menjadi gila,“ geram pemimpin dari sekelompok orang-orang dari balik bukit itu.

 

Beberapa saat lamanya orang-orang itu mencoba untuk menahan diri. Namun ternyata mereka tidak mampu lagi mengendapkan perasaan mereka yang bergejolak. Sehingga karena itu, maka merekapun justru telah berhenti ketika pemimpin mereka memberikan isyarat.

 

Para pengawal yang berjalan dibelakang merekapun tertegun. Namun mereka berjalan terus. Semakin lama semakin dekat dengan orang-orang yang datang dari balik bukit.

 

“Kenapa kalian mengikuti kami? “ tiba-tiba saja pemimpin dari orang-orang dari balik bukit itu bertanya.

 

Para pengawal itu terkejut mendengar pertanyaan itu. Namun yang tertua diantara mereka berkata, “Kami sama sekali tidak mengikuti kalian. Tetapi kami akan pergi ke mulut lorong disebelah lain karena kami harus menyampaikan beberapa pesan dari pemimpin kami kepada mereka.”

 

“Tentu kalian telah mencurigai kami,“ desis pemimpin dari beberapa orang pendatang itu.

 

Para pengawal itu saling berpandangan. Yang tertua diantara merekapun kemudian justru bertanya, “jadi kalian merasa kami curigai dan kemudian kami awasi?”

 

Pemimpin dari para pendatang itu ragu-ragu sejenak. Tetapi katanya kemudian, “Baiklah. Lebih baik kami meninggalkan padukuhan ini.”

 

“Itu lebih baik Ki Sanak,“ berkata orang tertua diantara para pengawal itu, “sikap kalian telah menyinggung perasaan kami, para pengawal padukuhan ini.”

 

Orang-orang dari balik bukit itupun kemudian memang memutuskan untuk keluar dari padukuhan itu. Pemimpinnyapun berkata, “Kami akan keluar dari padukuhan ini lewat gerbang yang tadi kami masuki.”

 

“Sikap kalian memaksa kami untuk mengantarkan kalian sampai keluar regol padukuhan,“ berkata orang tertua diantara para pengawal itu.

 

Orang-orang dari balik bukit itu memang tertegun. Mereka sebenarnya ingin memanfaatkan keadaan, justru pengawal yang ada di regol telah berkurang. Mungkin mereka akan dapat membunuh mereka sebelum melarikan diri.

 

Tetapi beberapa orang pengawal itu justru telah mengikuti mereka. Para pengawal itu telah mempersilahkan orang-orang dari balik bukit itu untuk berjalan dihadapan mereka.

 

“Kami terpaksa mencurigai kalian,“ berkata pengawal itu.

 

Orang-orang dari balik bukit itu hanya dapat mengumpat. Tetapi mereka tidak dapat menolak. Bahkan rasa-rasanya mereka memang telah digiring keluar dari padukuhan itu.

 

Beberapa saat kemudian mereka sudah berada di pintu gerbang. Ternyata dipintu gerbang itu hanya tinggal empat orang saja yang bertugasSeandainya sekelompok pengawal itu tidak kembali menggiring mereka, maka orang-orang dari balik bukit itu akan dapat membunuh keempat orang pengawal itu dengan tiba-tiba tanpa menarik perhatian mereka sebelumnya.

 

“Setan,“ geram pemimpin dari orang-orang dari balik bukit itu didalam hatinya. Tetapi ia tidak dapat mengatakan sesuatu.

 

Sebagaimana sekelompok orang-orang yang tidak disukai lagi disatu tempat, maka orang-orang dari balik bukit itupun telah diusir pula dari padukuhan itu. Beberapa orang pengawal berdiri di pintu gerbang sambil memandangi orang-orang yang melangkah menjauh itu. Sekali-sekali beberapa orang diantara mereka masih berpaling. Namun mereka tidak mempunyai kesempatan untuk berbuat sesuatu.

 

Bahkan sejenak kemudian, maka seakan-akan dire-gol padukuhan itu menjadi semakin banyak orang yang menyaksikan kepergian mereka dengan jantung yang berdegup semakin keras dan wajah yang menjadi panas oleh kemarahan yang menghentak-hentak dada mereka.

 

Bahkan seorang diantara mereka bertanya, “Kenapa mereka tidak kalian tangkap saja?”

 

Para pengawalpun termangu-mangu. Namun peminpin sekelompok pengawal yang bertanggung jawab saat itu berkata, “Kami memang mencurigainya. Tetapi kami masih menghindari benturan kekerasan. Mungkin mereka sengaja memancing persoalan sementara mereka telah mempersiapkan jebakan yang tidak kami ketahui. Karena itu, kami masih berusaha menghindari benturan kekerasan itu.”

 

Yang lain mengangguk-angguk. Tetapi pada umumnya mereka mengerti alasan pemimpin kelompok pengawal yang bertugas itu.

 

“Mudah-mudahan padukuhan-padukuhan lain tidak dapat dikelabuinya pula,“ berkata pemimpin sekelompok pengawal itu. Lalu katanya pula, “sejak kehadirannya kami sudah mencurigainya. Jika mereka orang-orang dari daerah tetangga, maka mereka tentu masuk Tanah Perdikan melalui jalan-jalan utama atau jalan-jalan simpang yang ramai, sehingga disaat mereka melintasi batas Tanah Perdikan, tentu sudah ada sekelompok pengawal yang memberitahukan agar mereka kembali. Tetapi orang-orang itu tiba-tiba saja sudah sampai di padukuhan ini.”

 

Para pengawalpun mengangguk-angguk. Bahkan ternyata hal itu telah didengar oleh Ki Bekel pula, sehingga Ki Bekelpun telah datang ke regol padukuhannya untuk minta keterangan tentang beberapa orang yang memasuki padukuhannya.

 

Dengan singkat pemimpin kelompok pengawal yang bertugas itupun memberikan laporan tentang orang-orang yang tidak dikenal yang memasuki padukuhan itu, justru pada saat keadaan sedang gawat.

 

“Kita memang harus mencurigai orang-orang yang tidak kita kenal,“ berkata Ki Bekel, “kalian sudah melangkah ke arah yang benar. Sikap kalian dapat aku mengerti. Namun kemudian, kita harus bersiap semakin kuat. Mungkin ada langkah-langkah lain yang akan diambil oleh orang-orang itu. Jika perlu, kita membunyikan isyarat kentongan atau panah sendaren.”

 

Sebenarnyalah, bahwa para pengawal telah dipanggil. Mereka yang sedang beristirahatpun harus datang ke banjar. Mereka dipersilahkan untuk tidur dibanjar, terutama bagi mereka yang bertugas di malam hari. Sementara itu, yang bertugas menggantikan mereka telah bersiap pula dengan berbagai macam pesan.

 

Dalam pada itu, orang-orang yang datang dari balik bukit itu ternyata bahwa mereka telah gagal menjalankan tugas, di Tanah Perdikan yang luas itu. Tidak seorang-pun yang dapat mereka bunuh untuk melepaskan dendam dan kemarahan pemimpin mereka, serta membalaskan kematian kawan-kawan mereka.

 

Demikian pula orang-orang yang bertugas dengan diam-diam berkeliaran di Tanah Perdikan untuk menyergap orang-orang yang pergi ke sawah. Ternyata mereka tidak menemukan seorangpun yang dapat menjadi sasaran pembunuhan.

 

Karena itu, maka ketika mereka telah hampir setengah hari menunggu dan tidak mendapat kesempatan sama sekali, merekapun menjadi kehilangan harapan untuk dapat berhasil dengan tugas mereka, sehingga meskipun dengan jantung yang berdebaran, mereka telah memanjat tebing dan pergi keseberang bukit.

 

“Bagaimana mungkin hal itu terjadi,“ Warsi berteriak-teriak seperti orang gila, “kalian ternyata sama sekali tidak berarti bagi kita semuanya disini. Tentu tidak masuk akal, bahwa diseluruh Tanah Perdikan, tidak seorangpun yang dapat kalian bunuh. Aku berharap kalian dapat membunuh tiga puluh atau bahkan seratus orang, siapapun di Tanah Perdikan. Di pasar, di sawah, di padukuhan-padukuhan atau dimana saja.”

 

“Agaknya orang-orang Tanah Perdikan Sembojan sudah bersiap-siap menghadapi kemungkinan seperti itu. Tidak seorangpun yang keluar dari padukuhan, sementara setiap padukuhan berada dibawah pengawasan yang ketat oleh para pengawal dan anak-anak mudanya. Bahkan setiap jengkal tanah seakan-akan tidak luput dari pengawasan mereka.”

 

“Omong kosong,“ teriak Warsi, “aku sendiri akan membuktikan.”

 

Tetapi Ki Rangga Gupita berkata, “Tidak ada gunanya. Kau masih mempunyai tugas yang lebih berarti daripada membunuh tikus-tikus kecil. Bukankah kau pada saatnya harus membunuh seekor harimau?”

 

Warsi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kemudian katanya dengan suara bergetar dan dengan mata yang merah, “Kita sudah dihinakan oleh orang-orang Tanah Perdikan itu. Bukan kita yang berhasil menakuti-nakuti mereka dengan gaya segerombolan serigala atau dengan cara-cara lain menjelang bulan purnama, tetapi justru mereka yang datang memasuki sarang kita dan dengan begitu mudahnya membunuh orang-orang kita.”

 

“Bukankah akan datang saatnya kita membalas dendam?“ bertanya Ki Rangga, “tetapi tidak perlu sekarang. Besok malam bulan bulat dilangit.“

 

Warsi menggeretakkan giginya. Hampir saja ia terlempar kedalam sifat seorang perempuan, betapa keras dan kasarnya perempuan itu. Hampir saja ia memekik dan menjerit menangis sejadi-jadinya untuk melepaskan kejengkelannya. Namun untunglah bahwa ia segera sadar, bahwa ia bukan seorang perempuan cengeng yang hanya pandai menangis dan merengek.

 

Namun Warsi memang dapat menahan dirinya. Ia tidak lagi berniat untuk turun keseberang bukit karena kemarahan yang membakar jantungnya.

 

Dengan upacara sederhana, para pengikut Ki Rangga Gupita dan Warsi yang telah terbunuh oleh panah Sambi Wulung dan Jati Wulung itu dikuburkan. Namun diha-dapan para pengikutnya Warsi telah membakar jantung mereka. Warsi telah berhasil mengorek rasa dendam dihati para pengikutnya, sehingga merekapun telah berjanji kepada diri sendiri, bahwa jika saatnya datang, mereka harus membunuh orang-orang Tanah Perdikan sebanyak-banyaknya.

 

Dalam pada itu, Tanah Perdikan Sembojan memang masih dibayangi oleh perasaan cemas dan bahkan bagi perempuan dan kanak-kanak, rasa-rasanya mereka memang dicengkam oleh ketakutan. Apalagi mereka yang tinggal dipadukuhan yang menghadap ke bukit. Mereka tahu bahwa di seberang bukit itu terdapat kekuatan yang besar yang setiap saat dapat menerkam mereka.

 

Dengan demikian maka para pengawal di setiap padukuhan itu telah bersiap-siap sepenuhnya. Para pengawas tidak pernah menjadi lengah. Mereka mengawasi sekeliling padukuhan mereka masing-masing dengan saksama. Kentongan telah dipersiapkan hampir segala tempat, yang dapat dibunyikannya setiap saat. Suaranya akan dapat menjangkau padukuhan-padukuhan bukan saja yang terdekat, tetapi dua tiga padukuhan yang lain yang akan dapat menyambung suara isyarat itu ke padukuhan-padukuhan yang lain dengan pertanda sandi atas padukuhan sumber isyarat itu.

 

Disisa hari itu tidak terjadi sesuatu di Tanah Perdikan. Namun masih berlaku larangan untuk keluar dari padukuhan karena keadaan yang semakin gawat, justru disaat bulan purnama tinggal kurang satu malam lagi.

 

Ketika malam turun, maka bulan memang nampaknya sudah bulat. Tetapi menurut perhitungan waktu, bulan baru akan bulat penuh besok malam.

 

Malam itu, Warsi berniat untuk beristirahat sepenuhnya. Namun ternyata masih ada satu hal yang perlu dipertimbangkan. Apakah ia besok akan turun ke arena dan menantang Iswari untuk berperang tanding sebagaimana pernah dilakukan, atau begitu saja menyerang Tanah Perdikan, membunuh, membakar dan mengacaukan segala-galanya tanpa menghiraukan apakah ia akan bertempur. Bagi Warsi, tidak ada lagi orang yang ditakutinya, bahkan seandainya Ki Randu Keling berpihak kepada Tanah Perdikan Sembojan sekalipun.

 

Tetapi tiba-tiba Warsi berkata, “Aku akan tidur. Aku tidak mau memikirkannya sekarang. Aku akan tidur dibawah cahaya bulan, agar tenaga yang memancar daripadanya membuat tenaga didalam diriku semakin penuh. Dengan demikian besok aku akan turun ke arena dengan kekuatan yang tidak akan dapat diatasi oleh siapa-pun juga.”

 

Tidak ada yang mencegahnya. Ki Ranggapun tidak. Iapun justru percaya bahwa ilmu Warsi dipengaruhi oleh cahaya bulan. Jika semalaman ia tidur dibawah cahaya bulan, seakan-akan kekuatan cahaya bulan itu menyusup dan memenuhi wadah yang sudah tersedia didalam diri Warsi.

 

Bahkan Ki Ranggapun berkata, “Aku temani kau tidur dibawah cahaya bulan.”

 

Warsi tidak menjawab lagi. Seorang pengikutnya telah memberikan sehelai tikar kepadanya dan sehelai kepada Rangga Gupita. Keduanya kemudian telah membentangkan diatas rerumputan dibawah cahaya bulan jauh dari pepohonan, sehingga sampai saatnya bulan turun ke Barat, cahayanya masih akan menyentuh tubuh Warsi.

 

Namun dalam pada itu, setelah kedua orang itu berbaring, Warsi masih sempat berdesis, “Dalam keadaan seperti ini ada baiknya Puguh kita bawa.”

 

“Bukankah aku sudah mengatakannya,“ desis Rangga Gupita. “Kau wajib memberikan benih didalam hatinya kebanggaan atas Tanah Perdikan ini. Ia adalah anak Kepala Tanah Perdikan ini. Jika kita semuanya berhasil, maka ia masih akan tetap memiliki hak itu. Apalagi jika Iswari dan Risang telah mati. Karena tidak ada orang lain yang akan tumbuh. Iswari yang tidak bersuami lagi itu tidak akan beranak. Tetapi kau, setelah Puguh masih mempunyai anak lagi.”

 

“Persetan,“ geram Warsi, “sayang, Puguh tidak kita bawa.”

 

Ki Rangga Gupita tidak menjawab lagi. Tetapi iapuh mulai memejamkan matanya. Nampaknya Ki Rangga justru telah tertidur lebih dahulu dari Warsi yang gelisah. Bahkan sambil berbaring Warsi masih sempat memandang bulan bulat sambil memohon, agar bulan itu memberikan kekuatan jauh lebih besar dari yang pernah diberikannya.

 

Ternyata langit memang bersih. Tidak selembar awanpun yang hanyut dipermukaan wajah bulan, sehingga cahayanya yang penuh telah menyiram tubuh Warsi yang terbaring diatas sehelai tikar rasa-rasanya seluruh tubuh Warsi memang bergetar. Cahaya itu bagaikan mengusap dan kemudian menyusup diantara lubang-lubang kulitnya. Namun Warsi tidak sempat melihat, bahwa dedaunanpun telah bergerak oleh angin malam yang lembut. Tetapi keyakinannya sendiri itu ternyata memang dapat memberikan dorongan kekuatan yang besar baginya dalam keadaan yang paling gawat dan disaat-saat yang paling diperlukan.

 

Seperti sebuah jambangan, maka Warsi berharap dirinya akan dituangi kekuatan semalam suntuk, hingga jambangan itu benar-benar penuh dan bahkan meluap. Sehingga saat dipergunakan, maka ia akan menjadi semakin perkasa dan tidak dapat di imbangi oleh siapapun juga.

 

Di Tanah Perdikan Sembojan, kesiagaanpun benar-benar telah berada pada tataran tertinggi. Namun menurut perhitungan para pemimpinnya, serangan orang-orang dari balik bukit baru akan terjadi malam berikutnya. Tetapi mungkin sekali terjadi sebagaimana malam sebelumnya. Nampaknya orang-orang dibalik bukit itu sedang mengadakan pemanasan.

 

Dari orang yang tertangkap para pemimpin Tanah Perdikan menjadi semakin yakin, bahwa serangan yang sebenarnya akan datang disaat bulan bulat sepenuhnya.

 

Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung malam itu tidak merasa perlu untuk mendekati lagi sarang orang-orang yang berada diseberang bukit. Menurut perhitungannya, penjagaanpun tentu akan menjadi lebih rapat, sehingga jika ia memaksa juga untuk mendekat, maka ia akan mengalami kesulitan.

 

Meskipun tidak ada hubungannya dengan bulan, namun malam itu Iswari telah berada didalam sanggarnya. Sekali lagi ia menilai ilmu puncaknya yang telah disempurnakan oleh ketiga gurunya. Dalam pemusatan nalar budinya, Iswari sempat mengingat apa yang pernah terjadi hampir sepuluh tahun yang lalu, ketika ia berperang tanding melawan Warsi. Iswari mencoba mengingat tata gerak, unsur-unsur gerak, senjata yang dipergunakan dan ilmu-ilmu puncak yang ada pada lawannya. Dalam waktu yang panjang Iswari memang yakin, bahwa ilmu itu tentu sudah meningkat. Namun Iswaripun meyakini dirinya sendiri, bahwa dalam sepuluh tahun ia bukannya berdiam diri. Bahkan disaat terakhir, ilmunya telah melonjak dengan loncatan panjang, karena guru-gurunya berhasil menyempurnakan Ilmu Janget Kinatelon.

 

Namun kemudian dengan kepala tunduk dan telapak kedua tangannya menelakup didepan dadanya, maka Iswari telah berdoa kepada Sumber Hidupnya. Yang Maha Agung.

 

“Semoga apa yang hamba lakukan, berkenan dihati Yang Maha Agung, karena hamba berniat untuk melindungi sesama dan menyingkirkan keangkara murkaan. Betapa hamba mendambakan kedamaian di atas Tanah ini, namun ternyata bahwa terpaksa sekali harus terjadi kekerasan. Tetapi apa yang hamba lakukan bersama-sama dengan seisi Tanah pemberian Yang Maha Agung ini, semata-mata didorong oleh tanggung jawab hamba atas kewajiban hamba.”

 

Ternyata Iswari berada beberapa lama didalam sanggarnya. Baru menjelang tengah malam Iswari keluar dari sanggar dengan kepala tunduk. Memang kadang-kadang masih juga terngiang pertanyaan di telinga hatinya, kenapa harus terjadi kekerasan di atas Tanah yang diasuhnya itu. Kenapa darah masih harus tertumpah diatas Tanah yang hijau segar oleh pepohonan dan rerumputan. Kenapa kehidupan masih harus diwarnai dengan permusuhan dan bahkan pembunuhan.

 

Kadang-kadang Iswari memang merasa bimbang, apakah yang dilakukannya itu sudah sesuai dengan kewajiban dan tanggung jawabnya. Bukan saja sebagai Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan, tetapi juga sebagai titah Yang Maha Agung.

 

Iswari menarik nafas dalam-dalam ketika kemudian ia berada di halaman. Dilihatnya para pengawal benar-benar berada dalam kesiagaan tertinggi. Dua orang pengawal agaknya bertugas khusus untuk mengawasi sanggar selama ia berada didalamnya tanpa mendapat perintahnya.

 

“Mereka terlalu baik,“ berkata Iswari didalam hatinya. “mereka telah menyerahkan apa saja yang dimilikinya bagi Tanah kelahirannya.”

 

Diruang dalam Iswari masih bertemu dengan ketiga orang gurunya yang duduk bersama Sambi Wulung dan Jati Wulung. Ketika mereka melihat Iswari yang sudah keluar dari sanggarnya, maka merekapun kemudian beringsut untuk memberikan tempat kepadanya.

 

Beberapa saat mereka masih berbincang. Namun tidak seorangpun diantara mereka yang mengetahui, apa yang akan terjadi besok. Namun Iswari memang sudah siap, seandainya Warsi menantangnya sekali lagi berperang tanding.

 

Nampn hampir diluar sadarnya, Iswari berkata, “Mudah-mudahan Risang dimasa pemerintahannya kelak tidak mengalami pergolakan seperti ini.”

 

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Bagaimanapun juga Risang harus dipersiapkan untuk menghadapi segala kemungkinan.”

 

“Tetapi ia harus berpegang pada alas kewajibannya,“ berkata Iswari, “sementara ini aku merasa, seakan-akan pertentangan yang ada sekarang adalah persoalan pribadi. Kadang-kadang aku merasa malu, bahwa darah anak-anak muda terbaik dari Tanah Perdikan ini harus tertumpah karena persoalan pribadi yang timbul antara aku dan perempuan itu. Justru karena seorang laki-laki.”

 

“Tidak. Bukan itu, “sahut Nyai Soka,“ persoalan itu sudah lama selesai. Apalagi Wiradana sudah tidak ada lagi sekarang. Yang terjadi sekarang adalah persoalan hak dan kewajiban atas Tanah Perdikan ini.”

 

Iswari tidak menjawab. Tetapi kepalanyapun kemudian telah menunduk.

 

“Sudahlah,“ berkata Kiai Soka,“ beristirahatlah. Kau perlu beristirahat lahir dan batin. Lupakan segala persoalan. Malam ini tidak akan terjadi sesuatu. Kau harus meyakini itu, sehingga kau benar-benar akan dapat beristirahat.”

 

Iswari mengangguk. Iapun kemudian minta diri untuk pergi ke biliknya.

 

Iswari tertegun ketika ia melihat Bibi masih duduk di bibir pembaringannya.

 

“Bibi,“ desis Iswari yang terkejut melihat di mata Bibi tergenang air yang kemudian menitik dipipinya yang mulai menjadi berkeriput oleh umurnya.

 

“Kenapa kau menangis?“ bertanya Iswari.

 

Tanpa menjawab pertanyaan itu, Bibi telah memeluk Iswari. Tangisnya tidak dapat ditahannya lagi. Meskipun ia pernah disebut Serigala Betina, tetapi ia adalah seorang perempuan.

 

“Bibi, kenapa?“ bertanya Iswari kemudian setelah Bibi menjadi agak tenang.

 

“Tidak apa-apa Nyi,“ jawab Bibi, “tiba-tiba saja aku telah dicengkam oleh kenangan buruk dari tingkah lakuku sendiri. Sementara itu, sebuah pertanyaan telah timbul didalam hatiku, kenapa kau tidak boleh hidup tenang. Sejak kau kawin dengan Wiradana, kau sudah mengalami cobaan yang berat. Sekarang, ketika umurmu merambat semakin tua, kau masih juga harus mengalaminya. Alangkah mengerikan saat-saat aku berusaha membunuhmu justru ketika kau sedang hamil. Kemudian kau tersingkir untuk beberapa saat. Kaupun pernah mengalami perang tanding sehingga kau menjadi terluka didalam. Ternyata sekarang kau masih harus mengalaminya lagi.“ Bibi itu berhenti sejenak, lalu, “Kapan kau dapat hidup tenang seperti kebanyakan orang. Agaknya Ki Wiradana adalah seorang yang menyebabkan hidupmu mengalami goncangan terus-menerus.”

 

“Sudahlah Bibi,“ berkata Iswari, “yakinlah akan kekuasaan Yang Maha Agung. Kita sandarkan hidup kita kepada-Nya.”

 

Bibi itu mengangguk-angguk. Dengan suara bergetar ia berkata, “Tidurlah Nyi. Kau perlu beristirahat.”

 

Iswaripun berdesis, “Aku akan beristirahat lahir dan batin. Mudah-mudahan besok aku mendapatkan tenagaku yang utuh.“ Lalu katanya kepada Bibi, “Silahkan Bibi juga beristirahat.”

 

“Aku tidak akan berbuat apa-apa Nyi. Biarlah aku menunggui Nyi Wiradana disini,“ jawab Bibi.

 

Nyi Wiradana tersenyum. Pada wajah Bibi masih nampak sikapnya yang keras dan bahkan garang. Dimasa umurnya masih lebih muda, maka ia adalah seorang perempuan yang ditakuti. Namun ternyata Bibi itu dapat menemukan jalan yang baik pada sisa hidupnya.

 

Ketika Iswari kemudian berbaring, maka Bibipun tanpa diminta telah memijit kaki Iswari. Sebagai seorang yang bertualang didunia yang keras, Bibi mempunyai pengetahuan tentang urat dan syaraf serba sedikit yang diwarisinya dari orang tuanya. Karena itu, maka dengan memijit kaki Iswari, ia berharap dapat membantu memperlancar jalan darah serta membenahi urat syarafnya, sehingga penguasaan Iswari atas tubuhnya menjadi semakin mapan.

 

Adalah diluar dugaan Iswari, maka tangan Bibi yang besar dan berat itu terasa lunak di kakinya. Rasa-rasanya darahnyapun telah mengalir semakin lancar dan urutan urat syarafnyapun seolah-olah menjadi semakin peka.

 

Tanpa terasa, maka Iswari itupun kemudian benar-benar telah tertidur nyenyak. Sementara Bibi dengan penuh kesungguhan hati masih saja memijit kaki Iswari. Rasa-rasanya hatinya menjadi berat untuk melepaskannya.

 

“Sebaiknya kau tidak melakukan perang tanding lagi,“ bisik Bibi sambil mengelus kaki Iswari, “sepantasnya kau adalah seorang ibu yang mengasuh anakmu dirumah. Menyediakan makan dan minumnya, mendidiknya dengan lembut, mengajarinya mengenal sastra dan berceritera tentang baik dan buruk serta keluhuran budi. Lebih dari itu, kau ajari anakmu mengenal Yang Maha Pencipta dan kau ajari anakmu itu berbakti kepadanya. Aku tidak pernah mendapat kesempatan untuk melakukannya karena sejak remaja aku sudah tersesat sehingga aku memang tidak pantas mempunyai anak. Tetapi anak itu kau punyai, Iswari. Namun kenapa kau tidak sempat melakukannya, dan bahkan anakmu satu-satunya itu harus disisihkan oleh pertentangan yang tidak berkeputusan.”

 

Tanpa disadarinya, dari mata Serigala Betina itu telah menitik lagi air matanya yang hangat. Namun dengan cepat iapun telah mengusapnya.

 

Ketika Iswari kemudian telah benarbenar tertidur nyenyak, maka Bibi itupun telah melepaskannya. Ia tidak mau justru akan dapat membangunkannya. Ia ingin Iswari benar-benar beristirahat.

 

“Tidurlah anak manis,“ desisnya.

 

Setiap kali Bibi masih saja bersukur bahwa ia tidak membunuhnya disaat Iswari mengandung Risang atas perintah Ki Wiradana. Bahkan saat-saat itu adalah garis batas ia melangkah kembali ke jalan lurus setelah untuk waktu yang lama ia menjelajahi jalan-jalan gelap.

 

Tetapi Bibi tidak keluar dari bilik itu. Iapun kemudian begitu saja berbaring dilantai disebelah pembaringan Iswari.

 

Namun Iswari tidak mengetahuinya, karena Bibi itu bangun lebih dahulu dari Iswari. Menjelang dini hari Bibi keluar dari bilik itu dan pergi ke pakiwan.

 

Iswari terbangun disaat fajar mulai menyingsing. Perlahan-lahan Iswari bangkit dari pembaringannya. Ternyata sesuatu telah terjadi pada wadagnya. Ia tidak mengira, bahwa akibat pijitan Bibi pada anggauta badannya, maka rasa-rasanya tubuhnya menjadi semakin mapan. Sementara arus darahnya terasa lebih lancar diseluruh tubuhnya.

 

“Apakah gejala yang terasa ini menguntungkan atau sebaliknya,“ bertanya Iswari kepada diri sendiri.

 

Ketika ia kemudian keluar, maka langit pun nampak kemerah-merahan. Ayam mulai bekejaran di halaman.

 

Tanpa memberitahukan kepada siapapun Iswari telah pergi ke Sanggar untuk mengamati gejala yang terasa pada tubuhnya.

 

Sejenak Iswari memanaskan tubuhnya dengan meloncat-loncat kecil. Kemudian menggerakkan tangannya dalam putaran yang ajeg. Baru ia mulai mengamati tubuhnya sendiri. Mengamati gejala yang baru dikenalnya sejak ia bangun dari tidurnya.

 

Ternyata bahwa pengaruhnya memang menguntungkan bagi gerak dan penguasaan tubuhnya. Badannya menjadi terasa semakin ringan sehingga ia mampu bergerak lebih cepat. Bahkan ketika ia mulai merambah pada ilmu andalannya Janget Kinatelon, maka rasa-rasanya keadaan tubuhnya menjadi semakin membantu pancaran ilmunya itu.

 

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ternyata Bibi mempunyai keahlian yang khusus. Ia mengenal dengan cermat tata hubungan urat darah dan susunan syaraf sehingga ia mampu membantu membuka kemungkinan-kemungkinan baru dalam pengerahan tenaga cadangan didalam diri lebih baik dari sebelumnya.”

 

Meskipun Iswari hanya sampai pada ujung ilmunya, tetapi ia sudah merasakan kelebihan dukungan wadagnya.

 

Beberapa saat kemudian, Iswari telah keluar dari sanggarnya. Namun demikian untuk meyakinkan dirinya, maka iapun telah menemui Nyai Soka. Dengan singkat Nyai Soka mendengarkan laporan Iswari tentang pijitan jari-jari Bibi.

 

Dengan pengetahuan yang ada padanya, maka Nyai Soka telah melihat gejala yang ada didalam diri Iswari. Namun kemudian sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Ternyata Serigala Betina itu memiliki kemampuan yang khusus. Berterima kasihlah kepadanya. Aku sudah berusaha untuk melakukannya, tetapi hasilnya tidak sejauh yang dilakukan oleh Bibi ini.”

 

“Jadi menurut guru, Bibi telah membantu meningkatkan-kemampuanku?“ bertanya Iswari.

 

“Berterima kasihlah kepada Bibi. Penguasaanmu atas ilmu yang ada didalam dirimu menjadi semakin mapan. Demikian pula ilmu Janget Kinatelon. Kau memang harus mengucapkan terima kasih kepadanya,“ berkata Nyai Soka.

 

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk ia berkata, “Aku akan menemuinya.”

 

Iswaripun kemudian telah mencari Bibi ke dapur. Ditemuinya orang itu duduk didepan perapian sambil merenungi api yang menyala memanasi periuk berisi beras yang sedang ditanak.

 

“Bibi,“ desis Iswari ketika ia memasuki pintu dapur.

 

Bibipun berpaling. Sambil bangkit berdiri ia bertanya “Kau sudah bangun?”

 

“Aku sudah berada di sanggar untuk beberapa lama,“ jawab Iswari.

 

“Sepagi ini?“ bertanya Bibi pula.

 

Iswari tersenyum. Kemudian dibimbingnya Bibi duduk di amben yang cukup besar di dapur.

 

Bibi terheran-heran melihat sikap Iswari. Bahkan kemudian iapun bertanya, “Ada apa?”

 

“Kau memijit aku semalam Bibi?“ bertanya Iswari.

 

Wajah Bibi menjadi tegang. Katanya dengan gagap, “Ya, kenapa? Apa aku telah melakukan kesalahan sehingga mempengaruhi ilmumu?”

 

Iswari termangu-mangu sejenak. Kemudian katanya, “Bibi memang sudah memperngaruhi kemungkinan ungkapan ilmu yang ada didalam diriku. Beberapa titik simpul syarat yang masih tertutup telah terbuka sehingga jalur penguasaan seluruh tubuhku menjadi semakin mapan.”

 

“Nyi,“ wajah Bibi masih tegang, “apakah dengan demikian akibatnya menjadi lebih buruk?”

 

“Tentu tidak. Bukankah kau mengetahui bahwa karena itu, maka segalanya menjadi lebih baik? Bibi, aku ingin mengucapkan terima kasih. Kau telah memberikan kemungkinan baru padaku untuk lebih memantapkan perlawananku terhadap ketamakan dan kerakusan itu,“ jawab Iswari.

 

Bibi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sokurlah jika hal itu mempunyai arti yang baik bagimu. Mudah-mudahan justru tidak sebaliknya. Tetapi yakinlah, bahwa aku memang bermaksud baik.”

 

“Semuanya berakibat baik Bibi,“ jawab Iswari.

 

“Apakah kau yakin hanya karena kau berada di dalam sanggar beberapa saat saja?“ bertanya Bibi.

 

“Aku sudah menghadap guru. Nenek sudah mengamatinya. Ternyata yang Bibi lakukan memberikan kemungkinan yang jauh lebih baik bagiku. Bahkan guru mengatakan, ia sendiri tidak akan mampu melakukannya. Karena itu, maka guru menganjurkan, agar aku segera menemuimu dan mengucapkan terima kasih kepadamu,“ jawab Iswari.

 

Bibi mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Aku bersukur jika dengan demikian aku dapat memberikan sedikit bantuan kepadamu.”

 

“Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih Bibi,“ berkata Iswari pula.

 

Bibi masih mengangguk-angguk. Katanya, “Malam nanti bulan penuh. Mungkin sesuatu akan terjadi.”

 

“Aku sudah siap Bibi,“ jawab Iswari, “apalagi setelah kau membuka simpul-simpul sarafku yang masih tertutup. Yang belum dapat dimanfaatkan akan dapat bekerja dalam tata hubungan jaringan didalam tubuhku.”

 

“Bagaimanapun juga kau harus hati-hati, Nyi,“ desis Bibi.

 

“Ya Bibi. Aku harus berhati-hati sebagaimana seluruh rakyat Tanah Perdikan harus berhati-hati menghadapi lawan yang satu ini,“ jawab Iswari.

 

Bibi mengangguk-angguk kecil. Matanya kembali menatap api yang menyala diperapian. Semakin lama nampak menjadi semakin besar. Namun Bibi itupun yakin, bahwa api yang lebih besar telah menyala dihati Iswari, Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

 

Dalam pada itu, tiba-tiba saja keduanya terkejut. Seorang pengawal telah langsung mencari Iswari didapur. Katanya sedikit gagap, “Ada. laporan Nyi.”

 

“Tentang apa?“ bertanya Nyi Wiradana.

 

“Petugas sandi itu berada diluar pintu dapur ini,“ jawab pengawal itu.

 

“Suruh ia masuk,“ berkata Nyi Wiradana.

 

Pengawal itupun kemudian telah memanggil petugas sandi itu dan mempersilahkan duduk pula di amben dapur itu.

 

“Ada apa?“ bertanya Iswari.

 

Ternyata petugas sandi itu lebih tenang dari pengawal yang gagap itu. Katanya, “Yang akan aku laporkan agaknya memang sudah kita duga sebelumnya Nyi.”

 

“Tentang apa?“ bertanya Nyi Wiradana.

 

“Topeng kecil di regol itu bertambah satu lagi,“ jawab petugas sandi itu.

 

Nyi Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Kemudian iapun bertanya, “Apakah kau sudah melaporkan kepada pimpinanmu?”

 

“Sudah Nyi. Sekarang pemimpin petugas sandi itu sedang berada diregol untuk menyaksikan sendiri topeng-topeng itu. Menurut pendapatnya, maka saatnya sudah tiba untuk menentukan siapakah yang akan hancur malam nanti. Tanah Perdikan ini atau orang-orang yang kini berada di balik bukit,“ jawab petugas sandi itu.

 

Nyi Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Segalanya kita serahkan kepada Yang Maha Agung. Namun menurut perhitungan maka jumlah kita jauh lebih banyak dari mereka. Jika setiap laki-laki menggenggam senjata di tangan, maka pasukan Tanah Perdikan ini jumlahnya akan tidak terhitung.”

 

“Benar Nyi,“ jawab petugas sandi itu. Namun kemudian katanya, “Tetapi menurut keterangan yang kami peroleh, sebagian dari orang-orang yang berada di balik bukit itu adalah bekas prajurit serta anak-anak mereka yang kecewa setelah kekalahan Jipang.”

 

“Perang itu sudah terjadi sekitar sepuluh tahun yang lalu,“ desis Nyi Wiradana, “tetapi dendam masih tetap menyala di hati sebagaimana Ki Rangga Gupita itu sendiri.”

 

“Segala sesuatunya kami serahkan kepada Nyi Wiradana,“ berkata petugas sandi itu.

 

Nyi Wiradana mengangguk-angguk. Ia seakan-akan sudah mendapat kepastian, bahwa malam nanti adalah malam penentuan. Bahkan Nyi Wiradana sudah bertekad, jika malam nanti, orang-orang Tanah Perdikanlah yang akan menyerang mereka. Menurut perhitungan Nyi Wiradana, Sambi Wulung dan Jati Wulung yang pernah mendekati sarang itu akan dapat menjadi penuntun jika merekalah yang harus datang ke balik bukit. Bagi Iswari, maka ia sama sekali tidak terikat pada sinar rembulan. Justru menurut rencananya jika orang-orang dari balik bukit tidak menyerang, Iswari akan mendatangi sarang mereka menjelang fajar. Demikian matahari terbit, maka pasukannya akan menyerang sehingga akan terjadi pertempuran disiang hari.

 

Dalam pada itu, maka Iswaripun kemudian berkata kepada petugas sandi itu, “Baiklah. Aku terima laporanmu. Terima kasih. Aku akan membicarakannya dengan para pemimpin Tanah Perdikan ini. Setelah pimpinanmu nanti datang, mungkin ia membawa keterangan lebih banyak sementara pemimpin pengawal Tanah Perdikan ini sudah sudah datang pula.”

 

Petugas sandi itupun kemudian mohon diri. Ia akan menemui pemimpinnya untuk menyampaikan dari Nyi Wiradana.

 

Sesaat kemudian, maka Nyi Wiradanapun telah membenahi dirinya. Demikian pula ketiga orang gurunyapun telah berada diruang dalam. Sambi Wulung dan Jati Wulung masih berada diserambi gandok bersama beberapa orang pemimpin pengawal yang telah berada dirumah itu.

 

Hampir semua orang sependapat, bahwa orang-orang di balik bukit akan mengadakan gerakan dimalam hari. Para pengawas yang bertugas menjelang dini untuk menjaga kemungkinan orang-orang dibalik bukit datang dan menyerang disaat matahari terbit, telah memberikan laporan, bahwa mereka tidak melihat gerakan pasukan sama sekali.

 

“Warsi memang mempunyai kepercayaan yang berhubungan dengan cahaya bulan,“ berkata Sambi Wulung.

 

“Ya,“ jawab seorang yang umurnya sudah setua Sambi Wulung yang masih juga dianggap salah seorang pengawal karena orang itu memiliki kemampuan pengobatan, “tetapi ternyata bahwa ia tidak memperhitungkan kekuatan dan kemampuan bertempur di malam hari meskipun dibawah terangnya cahaya bulan? Sementara itu, para pengikutnya masih harus benar-benar mengenali medan jika pertempuran terjadi di malam liari. Betapapun terangnya bulan, namun didalam padukuhan, keadaannya tentu cukup gelap bagi mereka yang belum mengenal medan dengan baik.”

 

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Ternyata orang itu juga memiliki ketajaman perhitungan tentang medan. Bahkan orang itupun kemudian berkata, “Warsi terlalu mementingkan dirinya sendiri. Yang memerlukan cahaya bulan itu hanya satu orang, Warsi sendiri. Tetapi ia sudah menentukan sikap seakan-akan dirinya sendirilah yang dapat menentukan kemenangan pertempuran itu. Kecuali jika ia menantang perang tanding seperti yang pernah terjadi.”

 

Tetapi Jati Wulung menyahut, “Jika yang dimaksud adalah perang tanding, tentu sudah ada tantangan sampai kepada Nyi Wiradana. Ternyata sampai saat ini tantangan itu belum ada. Entahlah jika Nyi Wiradana masih merahasiakannya karena menganggap belum waktunya di beritahukan kepada kita. Tetapi bagaimanapun juga tentu ada orang yang telah mendengarnya.”

 

Yang lain mengangguk-angguk. Sebenarnya orang-orang Tanah Perdikan sendiri menganggap lebih baik bertempur disiang hari. Mereka akan dapat melihat kawan dan lawan lebih jelas daripada dimalam hari meskipun diterangi oleh cahaya bulan yang paling bulat sekalipun.

 

Sementara itu di balik bukit, Warsipun telah berbenah diri. Wajahnya nampak segar dan sekali-sekali ia tersenyum sambil berkata, “Aku benar-benar sudah siap.”

 

Semalam suntuk Warsi telah bermandikan cahaya bulan. Ia tidur di tempat terbuka, sehingga seakan-akan jambangan kemampuan didalam dirinya sudah diisi dengan tenaga sepenuhnya.

 

“Sehari ini kita mempunyai kesempatan menyusun pasukan,“ berkata Warsi kepada Ki Rangga.

 

“Kita akan bertempur malam hari sehingga di siang hari ini orang-orang kita harus banyak beristirahat,“ berkata Ki Rangga.

 

“Kita mempunyai banyak waktu,“ berkata Warsi, “anak manis itu tidak akan berani menyergap kita. Mereka hanya dapat menunggu. Kitalah yang menentukan kapan pertempuran akan terjadi.”

 

“Mungkin mereka hari ini bersikap lain, sehingga kita harus lebih berhati-hati,“ berkata Ki Rangga Gupita.

 

“Tidak. Mereka tidak akan bersikap lain. Sudah menjadi kebiasaan perempuan-perempuan cantik itu hanya dapat menunggu. Kitalah yang akan bergerak dengan perhitungan dan kepentingan kita.”

 

Rangga Gupita mengangguk-angguk. Nampaknya orang-orang Tanah Perdikan Sembojan memang hanya dapat menunggu dengan gelisah. Bahkan dengan ketakutan. Tetapi pemanasan yang pernah dilakukan menunjukkan kesiagaan para pengawal Tanah Perdikan di setiap padukuhan, sementara merekapun dapat bergerak dengan cepat dari satu padukuhan ke padukuhan yang lain.

 

Namun Warsi merasa terlalu yakin akan dirinya. Ia nampak gembira semental gerakanyapun seakan-akan menjadi lebih cekatan.

 

Ketika matahari naik kekaki langit, maka Warsi telah membawa beberapa orang pengawalnya untuk naik ke atas bukit. Sekelompok pengawal telah mendahului mereka untuk meyakinkan bahwa tidak ada bahaya diatas bukit itu.

 

Dengan sikap dan keyakinan seorang panglima perang Warsi kemudian berdiri tegak diatas punggung bukit diikuti oleh Ki Rangga Gupita.

 

Dari tempatnya berdiri Warsi melihat lembah yang hijau terbentang luas dibawah bukit itu. Beberapa gumuk dan bukit-bukit kecil nampak diantara hijaunya tanaman disawah dan ladang. Jalur-jalur air yang mengalir berliku-liku di antara kotak-kotak sawah membuat lukisan alam Tanah Perdikan Sembojan menjadi semakin indah dimata Warsi.

 

“Betapa suburnya Tanah Perdikan itu,“ berkata Warsi.

 

“Ya,“ sahut Ki Rangga. “Hijaunya sawah dan hutan di lereng pegunungan itu. Hutan yang merambat semakin meluas di lereng-lereng bukit. Pada suatu saat lereng bukit inipun tentu akan menjadi hutan yang lebat pula seperti lereng-lereng pegunungan yang lain. Hutan perdu ini akan segera berubah menjadi hutan pohon-pohon raksasa pada saatnya nanti.”

 

“Tidak,“ jawab Warsi, “bukit ini memang tandus. Kau lihat batu-batu padas itu? Satu dua batang pohon dapat hidup dicelah-celahnya disamping gerumbul-gerumbul perdu. Berbeda dengan bukit-bukit hijau yang lain yang tanahnya memang memungkinkan untuk ditumbuhi pepohonan hutan.”

 

Warsi mengangguk-angguk. Namun wajahnya masih tetap cerah. Dengan nada ringan ia berkata, “Puguh mempunyai hak atas Tanah ini. Tetapi anak itu sulit untuk diharapkan.”

 

“Kitalah yang mengemudikannya,“ berkata Ki Rangga, “tetapi bagaimanapun juga, kita memerlukannya. Jika pergolakan di Pajang dapat menyala menjadi pertentangan, maka Pajang tidak akan sempat lagi mengurusi Tanah Perdikan ini. Tidak akan ada orang di Pajang yang sempat mengingat pertanda kedudukan Kepala Tanah Perdikan ini, dan bahkan tidak ada lagi pejabat yang menghiraukan apa yang terjadi. Nah, pada saat yang demikian Puguh kita perlukan. Ia harus tampil meyakinkan. Jika malam ini kita dapat membunuh Iswari, serta menghancurkan kemampuan perlawanan Tanah Perdikan ini, maka jalan kita menjadi semakin rata.”

 

“Bagaimana dengan Pajang itu?“ bertanya Warsi.

 

“Nampaknya Pajang mulai di sibukkan oleh dirinya sendiri. Seperti yang aku katakan, kita berharap api akan membakar Kerajaan kerdil yang diperintah oleh Jaka Tingkir itu,“ geram Ki Rangga Gupita.

 

Warsi mengangguk-angguk. Bagaimanapun juga, keinginannya untuk menguasai Tanah Perdikan itu masih menyala dihatinya. Sedangkan alat yang mungkin dapat dipergunakan, satu-satunya adalah Puguh. Anak yang dilahirkannya dari suaminya Ki Wiradana. Meskipun bagi Warsi Puguh adalah anak yang seolah-olah sama sekali tidak akan dapat diharapkannya, tetapi sebagai alat ia akan dapat dipergunakannya.

 

Ketika cahaya matahari yang semakin tinggi memantul dari hijaunya dedaunan, maka rasa-rasanya Tanah Perdikan Sembojan memang merupakan tanah harapan. Bukan saja hasil yang dapat dipetik dari Tanah Perdikan itu, tetapi di Tanah Perdikan itu ia juga akan menyandang kekuasaan.

 

Untuk beberapa saat Warsi masih berdiri di punggung bukit. Ia melihat beberapa orang pengawalnya berada agak jauh di lereng yang menghadap ke Tanah Perdikan. Mereka tidak mau diperbodoh lagi dengan orang-orang yang bersenjata panah dan membunuh beberapa orang diantara mereka.

 

Ketika Warsi sudah puas memandang Tanah Perdikan yang terhampar dilembah yang berbukit-bukit itu, maka iapun kemudian telah mengajak Ki Rangga kembali ke sarang mereka. Namun beberapa orang pengawas telah ditugaskan untuk tetap berjaga-jaga.

 

“Mungkin perempuan cantik itu menjadi gila karena ketakutan sehingga ia memerintahkan orang-orangnya untuk menyerbu kita disiang hari,“ berkata Warsi.

 

“Tidak seorangpun akan sempat mencapai punggung bukit ini,“ berkata Ki Rangga Gupita, “pasukan panah yang sudah kita siapkan akan menyapu mereka selagi mereka memanjat tebing. Sementara itu bebatuan dan batang-batang kayu yang ada di atas akan dapat menjadi senjata yang baik. Batu-batu padas itu akan dapat menggelinding turun menimpa dan menghanyutkan bebatuan dibawahnya, sehingga akan terjadi banjir batu padas.”

 

Warsi tertawa. Katanya, “Kita tidak perlu mencemaskannya. Sudah aku katakan, biasanya perempuan cantik seperti Iswari itu hanya dapat menunggu tanpa berani mengambil sikap lebih dahulu.”

 

Demikianlah, maka Warsi dan Ki Rangga Gupita itu-pun kemudian telah turun kembali ke sarang mereka. Mereka sama sekali tidak menghiraukan kemungkinan orang-orang Tanah Perdikan Sembojan akan menyerang mereka.

 

Meskipun demikian orang-orang diseberang bukit itu masih juga menempatkan beberapa orang pengawas. Memang mungkin yang dianggap tidak akan terjadi itu dapat juga terjadi.

 

Sambil menuruni lereng bukit, Warsi masih juga sempat berkata sambil tertawa, “Aku membayangkan, betapa orang-orang Tanah Perdikan menjadi ketakutan melihat topeng-topeng kecil yang kita pasang. Bukankah kita bukan manusia-manusia licik yang menyerang dengan diam-diam? Kita sudah memberikan peringatan dan sekaligus tantangan kepada mereka.”

 

Ki Rangga mengangguk. Katanya, “Mudah-mudahan mereka mengetahui makna dari topeng-topeng itu.”

 

“Jika mereka tidak mengetahuinya, bukan salah kita. Tetapi kita sudah memberikan pertanda dan kita akan melakukan sebagaimana yang biasa kita lakukan. Topeng-topeng itu adalah pertanda maut.“ Suara tertawa Warsi telah mengumandang memantul tebing pegunungan.

 

Ki Rangga Gupita mengangguk-angguk. Namun sebagai seorang prajurit yang berpengalaman, Ki Rangga mempunyai perhitungan yang lebih luas dari Warsi yang terlalu yakin akan dirinya sendiri. Karena itu, maka Ki Rang-gapun berkata, “Tetapi kita harus berhati-hati. Di Tanah Perdikan Sembojan terdapat orang-orang yang mempunyai pengalaman yang luas. Orang-orang tua yang meskipun sudah mulai pikun, namun pereka tentu masih sempat memberikan banyak petunjuk kepada Iswari.”

 

“Ya,“ Warsi mengangguk-angguk, “tugasmulah untuk mengatasi Tanah Perdikan itu dengan kemampuan keprajuritanmu. Aku memang kurang mengetahuinya. Aku hanya tahu, bahwa jika aku sempat berhadapan dengan perempuan cantik itu, aku akan membunuhnya.”

 

“Kau tidak akan dapat melakukannya tanpa dukungan suasana disekitarmu. Kecuali jika kau menantangnya berperang tanding,“ jawab Ki Rangga.

 

“Aku tidak yakin ia mau menerima tantanganku. Mungkin ia akan mengelak dengan alasan bahwa ia baru saja sembuh dari sakit. Alasan yang paling pantas dikemu-kakan untuk mengelakkan perang tanding tanpa menghancurkan harga dirinya. Tetapi sudah tentu ia akan mengajukan syarat waktu yang lain. Orang-orang Tanah Perdikan Sembojan nampaknya mengetahui bahwa ada hubungan antara ilmuku dengan bulan yang bercahaya di langit. Karena itu, maka mungkin sekali Iswari akan mengajukan waktu justru disaat langit gelap sama sekali,“ berkata Warsi. Namun katanya kemudian, “kita akan mengaturnya bersama para bekas perwira Jipang. Segalanya harus tuntas sehingga kita dapat menganggap bahwa yang kita lakukan sekarang ini selesai pada satu tahap sebelum kita akan memasuki tahap berikutnya, bersamaan dengan saatnya Pajang dibakar oleh api pertentangan. Sementara itu Puguh sudah menjadi semakin dewasa, meskipun ia seorang yang dungu dan tidak berarti apa-apa selain sebagai alat yang akan dapat menempatkan kita disini.”

 

“Anak itu tidak boleh terlalu pandai memang,“ berkata Ki Rangga.

 

“Ia akan tetap dungu seperti ayahnya,“ sahut Warsi.

 

“Itu bukan soal,“ berkata Ki Rangga Gupita, “semakin dungu anak itu, bagi kita akan menjadi semakin baik.”

 

Warsi termangu-mangu. Namun Ki Ranggapun kemudian tertawa. Katanya, “Untunglah bahwa anak itu dungu seperti ayahnya. Jika ia cerdik seperti ibunya, maka kitalah yang akan diperalatnya kelak.”

 

Warsi tidak ikut tertawa. Wajahnya justru menjadi tegang. Memang terkilas di angan-angannya satu kehidupan yang saat itu dianggapnya paling manis, ketika ia berhasil menjadi isteri bakal Kepala Tanah Perdikan Sembojan dan apalagi ketika ia berhasil membalaskan dendamnya, membunuh ayah Wiradana.

 

Namun yang kemudian tinggal didalam kepalanya kini adalah kebencian. Bahkan kebenciannya telah melimpah pula kepada anak Wiradana meskipun anak itu dilahirkannya sendiri. Anak kandungnya. Betapa segannya ia mengasuh anak itu, sehingga anak itu begitu saja diserahkan kepada seorang yang dianggapnya akan dapat mengajari anak itu serba sedikit tentang olah kanuragan. Bahkan didorongnya anak itu untuk melakukan hal-hal yang dapat membentuk sifatnya menjadi kasar dan garang. Tetapi otaknya harus tetap tumpul sebagaimana ayahnya yang memang kurang cepat menanggapi keadaan. Dengan sengaja di biarkannya anaknya itu berada di tempat-tempat yang kusam sebagaimana Puguh sering berada di Song Lawa.

Jilid 15

 

KARENA Warsi tidak menyahut, maka Ki Ranggapun kemudian berkata, “Sudahlah. Kita memerlukan waktu untuk berbicara dengan para pemimpin kelompok dan para perwira yang menyatukan diri dengan kita.”

 

“Berbicaralah dengan mereka,“ berkata Warsi, “beritahukan hasilnya kepadaku. Aku kira aku tidak perlu ikut didalam pembicaraan itu, karena bagiku, yang penting aku dapat berhadapan dan membunuh perempuan itu. Sedang dukungan suasana sebagaimana yang kau maksudkan kau sajalah yang menyusun bersama para pemimpin kelompok-kelompok yang bergabung bersama kita itu.“

 

“Tetapi sebaiknya kau harus hadir, meskipun hanya mendengarkannya. Meskipun kau segan mempercayakan setiap keadaan medan kepada orang-orang kita untuk mengambil sikap sendiri, namun ada baiknya kau memberikan pendapatmu,“ berkata Ki Rangga.

 

“Begitukah kau menilai aku?“ bertanya Warsi, “apakah aku tidak pernah memberikan petunjuk-petunjuk kepada orang-orangku disetiap keadaan yang apalagi gawat.?”

 

“Bukan maksudku. Tetapi kau lebih senang berbicara tentang pokok-pokok persoalan,“ berkata Ki Rangga.

 

“Orang-orang kita adalah orang-orang dewasa yang sudah matang. Apalagi orang-orang yang berhasil aku himpun dari gerombolan Kalamerta. Memang agak berbeda dengan bekas para prajurit. Mereka terlalu terikat kepada satu paugeran yang kaku. Bahkan dimedan perang sekalipun. Mereka memerlukan petunjuk-petunjuk terperinci untuk melakukan tugas mereka,“ berkata Warsi.

 

“Tidak seluruhnya benar,“ berkata Ki Rangga, “jika para prajurit itu terikat pada satu ketentuan, itu adalah karena mereka bertempur dalam satu gelar tertentu yang satu dengan lainnya saling berkait. Tetapi dalam keadaan yang memaksa, maka setiap orang harus mampu juga mengambil sikap masing-masing tanpa mengesampingkan kepentingan bersama.”

 

“Kau kira orang-orangku yang aku kumpulkan dari gerombolan Kalamerta tidak berbuat begitu? “ nada suara Warsi meninggi.

 

“Sudahlah, “potong Ki Rangga, “tetapi aku minta kau hadir Warsi termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Aku akan hadir.”

 

Demikianlah, maka sejenak kemudian, maka Ki Ranggapun telah memanggil para pemimpin dari kelompok-kelompok yang bergabung dengan gerombolannya. Juga para pemimpin kelompok dari beberapa padepokan yang berhasil dipengaruhinya disamping padepokan Ki Rangga sendiri.

 

Ki Rangga yang memberikan pengantar pada pertemuan itu telah mengarahkan sikap mereka pada satu pengharapan yang besar dihubungkan dengan kemelut yang terjadi di Pajang,

 

“Kita jadikan Tanah Perdikan ini landasan utama dari perjuangan yang lebih besar. Menuntut kembali kekuasaan Jipang. Meskipun kita tidak lagi mempunyai seseorang yang berada pada jalur garis keturunan Demak, tetapi jika kita dapat menunjukkan kekuatan kita, maka kita tentu akan berhasil. Setidak-tidaknya kita akan menguasai satu lingkungan yang lebih luas dari Tanah Perdikan Sembojan dengan kekuasaan yang jauh lebih besar. Jika kita mempunyai tempat berpijak, maka kesempatan untuk mengumpulkan kekuatan menjadi semakin besar.

 

Ternyata ada beberapa golongan dengan sikapnya masing-masing. Para pengikut Kalamerta yang berhasil dihimpun adalah orang-orang yang setia kepada pemimpinnya apapun yang harus mereka lakukan. Sekelompok yang lain sama sekali tidak memikirkan hari-hari yang akan datang. Namun mereka memerlukan saluran untuk meluapkan dendam mereka. Sedangkan yang lain memang berpengharapan untuk mendapatkan satu alas berpijak sehingga dari alas itu akan dapat dicapai kesempatan yang lebih besar bagi mereka dalam percaturan pemerintahan di Tanah ini. Sementara itu sekelompok yang lain menganggap bahwa yang mereka lakukan itu bukan apa-apa sebagaimana mereka terbiasa merampok dan menyamun. Bahkan sekali-sekali membunuh. Tanpa pertimbangan-pertimbangan yang rumit asal saja mendapatkan harta benda sebanyak-banyaknya.

 

Kelompok yang terakhir itu tidak terlalu banyak mendengarkan penjelasan Ki Rangga Gupita. Tetapi merekapun tidak mempersoalkannya apapun yang dikatakan oleh Ki Rangga itu.

 

Namun beberapa orang telah menyatakan pendapatnya. Mereka yang merasa mempunyai pengalaman yang luas, telah memberikan beberapa saran kepada Ki Rangga Gupita.

 

Sebenarnya Warsi menjadi jemu mendengar orang-orang itu berbicara. Menurut Warsi, jika mereka telah berada di pertempuran, maka mereka akan melupakan semua pembicaraan itu dan bertempur untuk membunuh atau dibunuh.

 

Tetapi yang paling menarik adalah pendapat beberapa orang tentang pertempuran yang akan datang. Tentang serangan yang sebaiknya mereka lakukan.

 

“Kita akan langsung menuju ke padukuhan induk,“ berkata salah seorang dari mereka. Lalu katanya, “Tanah Perdikan Sembojan tidak akan dapat mempergunakan seluruh kekuatan yang ada. Mereka tidak akan dapat mengumpulkan semua pengawal di padukuhan induk, karena setiap padukuhan tentu memerlukan pengawalan. Mungkin sebagian besar para pengawal memang ditempatkan di padukuhan induk. Namun bukan kekuatan seti tuhnya dari Tanah Perdikan Sembojan yang tentu terbagi itu.”

 

Ki Rangga mengangguk-angguk. Pendapat itu sesuai dengan perhitungannya dan bahkan kemudian sebagian besar dari orang-orang yang telah dikumpulkan, meskipun ada diantara mereka yang tidak mempedulikannya.

 

Bahkan ada orang yang berpendapat, “Apakah kita harus memberikan kesan bahwa kita akan menyerang salah satu padukuhan yang besar sebagaimana kita lakukan kemarin? Dengan demikian maka sebagian pengawal akan ditarik ke padukuhan itu.”

 

“Tidak akan banyak gunanya. Kecuali kekuatan kita juga terbagi, merekapun akan menggerakkan pengawal-pengawal mereka dari satu padukuhan ke padukuhan lain, kecuali pengawal-pengawal yang memang direncanakan untuk tetap berada di padukuhan mereka masing-masing,“ berkata Ki Rangga.

 

Orang itu mengangguk-angguk. Namun ia tidak memaksakan pendapatnya.

 

Demikianlah, pertemuan itu setelah berbicara banyak, telah menentukan langkah yang paling baik menurut pendapat mereka. Mereka akan langsung menyergap padukuhan induk dari dua arah. Satu kelompok kecil akan memancing perhatian para pengawal dari arah pintu gerbang induk. Sedangkan kekuatan yang terbesar akan datang dari arah lain.

 

Dalam keremangan malam, meskipun cahaya bulan terang, tetapi mereka tidak akan mampu membuat perhitungan yang baik tentang jumlah kekuatan yang sebenarnya dari orang-orang yang menyerang padukuhan induk itu. Orang-orang padukuhan induk tidak akan sempat mencurigai jumlah yang mereka hadapi di gerbang utama, sehingga sempat memikirkan datangnya serangan dari arah yang lain.

 

“Karena itu, kita harus berusaha untuk mengaburkan jumlah kita. Terutama pasukan yang memancing perhatian para pengawal di padukuhan induk itu. Dengan gerakan-gerakan yang bersimpang siur, maka jumlah itu akan nampak lebih besar,“ berkata Ki Rangga. Lalu, “Dengan demikian maka para pemimpin Tanah Perdikan itu akan terpancing untuk bertahan di pintu gerbang utama itu. Sementara pasukan kita yang lain akan merayap dengan hati-hati mendekati dinding diarah lain.”

 

“Sebenarnya kita salah memilih waktu,“ tiba-tiba saja seseorang berkata, “sebaiknya kita memilih disaat malam paling gelap.”

 

“Bodoh kau,“ Warsi yang lebih banyak diam itu telah membentak, “kau kira aku tidak mempunyai perhitungan dengan bulan bulat itu?”

 

Orang itu mengerutkan keningnya. Namun kawannya yang ada disampingnya berdesis, “Sinar bulan itu sangat penting baginya.”

 

Orang itu tidak menyahut, meskipun ia merasa agak tersinggung. Namun orang itupun menyadari, bahwa Warsi adalah seorang perempuan yang garang dan memiliki ilmu yang sangat tinggi.

 

Akhirnya pertemuan itupun berakhir. Semua orang memahami apa yang harus mereka lakukan. Sebagai pemimpin dari kelompok mereka masing-masing, maka mereka telah menyampaikan keputusan dari pertemuan itu kepada kelompok mereka. Terperinci dan jelas bagi setiap orang.

 

Namun orang-orang yang tidak begitu mempedulikan tata cara dalam setiap pertempuran memang tidak mau berpikir terlalu banyak. Mereka hanya memberikan sekedar petunjuk kepada orang-orangnya dan memberitahukan di pasukan yang mana mereka ditempatkan.

 

“Kita akan menyerang padukuhan induk itu,“ berkata pemimpin mereka yang tidak mau terlalu banyak berpikir, “kita berada di pasukan kedua yang akan menyerang padukuhan induk itu dari arah lain. Bukan dari arah pintu gerbang utama. Hal-hal lain, tirukan saja orang-orang yang berpikiran rumit. Pokoknya kita menyerang, memasuki padukuhan induk dan mendapatkan harta rampasan. Jika harta rampasan itu harus dikumpulkan, maka kalian harus pandai menyembunyikan sebagian terbesar daripadanya untuk kepentingan kelompok kita, sehingga kita tidak sekedar menjadi alat mereka.”

 

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Merekapun orang-orang yang segan berpikir terlalu banyak.

 

Di kelompok lain, seorang pemimpin kelompok tengah memberikan penjelasan kepada orang-orangnya. Dengan hati-hati, jelas dan terperinci pemimpin kelompok itu menunjukkan kepada orang-orangnya apa yang harus mereka lakukan.

 

“Kita termasuk kelompok yang pertama. Kelompok yang tidak sebesar kelompok yang kedua. Tetapi kita harus memberikan kesan bahwa jumlah kita banyak. Tugas kita sangat sulit dan berat. Tetapi kita sudah berjanji kepada diri kita sendiri, bahwa kita harus dapat merebut Tanah Perdikan ini untuk menjadi tempat berpijak bagi perjuangan kita selanjutnya. Justru pada saat Pajang mulai surut,“ berkata pemimpin kelompok itu, yang kemudian disambungnya dengan kata-kata yang penuh dengan hentakan-hentakan kemarahan dan cita-cita.

 

Jantung orang-orang yang mendengarnya memang berkobar pula menyalakan tekad didalam dada mereka.

 

Setiap pemimpin kelompok, dengan cara dan keinginan masing-masing telah berbicara dengan orang-orangnya. Apapun yang mereka katakan, namun semuanya telah mempersiapkan serangan yang bakal mereka lakukan malam nanti.

 

Ketika matahari mulai turun, Warsi telah mulai bersiap-siap. Demikian pula setiap orang dalam kelompok mereka masing-masing. Mereka sudah cukup beristirahat di hari itu. Sebagian dari mereka telah sempat tidur lelap untuk waktu yang cukup lama.

 

Ketika matahari menjadi semakin rendah, Ki Rangga mulai mengatur pasukannya. Ki Rangga sudah membagi seluruh kekuatannya menjadi dua bagian. Sebagian yang lebih kecil akan menyerang pintu gerbang utama, sedangkan yang lain akan meyerang dari samping. Mereka tidak perlu memecah pintu-pintu gerbang, baik pintu gerbang induk maupun pintu gerbang samping. Tetapi mereka merasa mampu untuk meloncati dinding.

 

Demikianlah, ketika matahari menjadi telah semakin dekat dengan cakrawala, pasukan itu benar-benar telah bersiap.

 

Ki Rangga Gupita, Warsi dan tiga orang kepercayaannya yang terdiri dari seorang bekas perwira tinggi Jipang, seorang Ajar yang memiliki ilmu yang tinggi yang biasa di panggil Ki Ajar Teluh, dan seorang pemimpin gerombolan Kalamerta yang meskipun sudah tua, tetapi memiliki kemampuan yang dapat diandalkan, yang menyebut dirinya Kala Sembung, telah memeriksa seluruh kekuatan yang telah dihimpunnya. Mereka berdiri berjajar bersusun dilembah diantara bukit-bukit yang banyak memiliki goa-goa yang meskipun tidak terlalu dalam, tetapi dapat mereka pergunakan sebagai tempat berlindung dari teriknya panas dan dinginnya embun malam.

 

Dengan bangga Warsi dan Ki Rangga melihat wajah-wajah yang garang. Sementara itu, pada mereka masing-masing nampaknya telah tersedia bekal sehingga dalam pertempuran mereka tidak akan kelaparan meskipun mereka akan bertempur semalam suntuk, bahkan sampai besok sehari penuh. Bahkan pasukan itu akan didukung oleh sekelompok kecil orang-orang yang khusus membawa bekal bagi mereka yang akan bertempur. Orang-orang itu jika didesak oleh keadaan, akan mampu pula bergabung dengan kawan-kawan mereka di peperangan. Bukan saja sekedar menyiapkan makan dan keperluan-keperluan lain jika terjadi bencana pada pasukannya.

 

Orang-orang yang ada dibalik bukit itu sama sekali tidak mempergunakan pertanda-pertanda apapun juga. Mereka tidak membawa panji-panji, umbul-umbul atau apapun yang sejenis yang memberikan ciri kepada pasukan itu. Mereka sama sekali tidak memerlukannya. Namun mereka telah memberikan pertanda itu justru sebelumnya.

 

Warsi dan Ki Rangga telah memasang topeng-topeng kecil dipintu gerbang utama padukuhan induk. Ciri-ciri yang bagi Warsi mempunyai arti yang lebih besar daripada rontek, panji-panji dan umbul-umbul.

 

Sejenak kemudian, maka langitpun menjadi kemerah-merahan. Cahaya matahari yang mulai redup justru bagaikan membakar langit. Cakrawala telah membara dan ujung-ujung megapun menjadi merah.

 

“Kita siap untuk berangkat,“ berkata Warsi kepada Ki Rangga.

 

“Apakah kau sudah merasa saat itu datang?“ bertanya Ki Rangga.

 

Warsi berdiri tegak sambil menengadahkan kepalanya menghadap ke Timur. Namun tiba-tiba saja ia tersenyum. Katanya, “Disaat kita mencapai punggung pebukitan ini, bulan tentu sudah terbit. Aku akan mencapai puncak kemampuanku untuk kepentingan apapun juga. Sesaat kemudian kita akan turun di lereng bukit sebelah dan dengan tekad yang menyala didalam dada kita masing-masing, kita akan menghancurkan padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan.”

 

Ki Rangga mengangguk-angguk. Ia sependapat dengan Warsi. Jika matahari sepenuhnya tenggelam, maka bulan tentu akan terbit.

 

Demikianlah maka Ki Rangga telah memberikan apa-apa bagi pasukannya. Tidak ada sangkakala. Tidak ada genderang dan tidak ada isyarat perang. Yang terdengar adalah suitan nyaring yang bergema dilembah pebukitan itu.

 

Suitan itu telah disahut dan sambung bersambung, sehingga suara yang terpantul oleh dinding-dinding padaspun terdengar saling menyusul seperti sebuah lagu yang bernada datar.

 

Sejenak kemudian, maka sebuah iring-iringan yang cukup panjang itu mulai bergerak. Setiap orang didalam pasukan itu telah mendapat penjelasan tentang padukuhan induk yang akan menjadi sasaran serangan mereka. Terutama para pemimpin kelompok. Mereka yang sama sekali belum pernah melihat padukuhan induk telah mendapat beberapa petunjuk sehingga rasa-rasanya mereka telah menjadi seorang yang telah memahami segala jalan dan lorong-lorong yang ada di padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan itu.

 

Sementara itu langitpun menjadi semakin merah. Namun cahaya yang kekuning-kuningan memang mulai memancar di Timur. Demikian matahari tenggelam, maka merekapun mulai melihat bulan memanjat langit,

 

Warsi tertawa pendek disebelah Ki Rangga yang berjalan diujung pasukannya. Katanya, “Kau lihat? Lambang kemenangan itu telah mulai hadir diatas Tanah Perdikan Sembojan yang sebentar lagi akan jatuh ketanganku.”

 

Ki Rangga mengangguk-angguk. Tetapi sebenarnyalah Ki Rangga lebih percaya kepada pasukannya yang nampak begitu perkasa. Di lorong-lorong sempit, dilereng bukit, iring-iringan itu bagaikan seekor ular raksasa yang menjalar merambat naik ke punggung bukit itu.

 

Tetapi Ki Rangga tidak mau mengecewakan Warsi. Ki Rangga pun tahu, bahwa kepercayaan yang tebal didalam dada Warsi atas pengaruh cahaya bulan itu, memang akan dapat benar-benar mempengaruhinya. Terutama pada segi kejiwaan perempuan yang garang itu. Sedangkan sebagai seorang perwira yang juga pernah bertugas dalam pasukan sandi, Ki Rangga tahu benar arti pengaruh kejiwaan bagi seorang prajurit. Karena pengaruh kejiwaan pula maka seorang prajurit akan kalah sebelum bertempur. Namun seorang prajurit akan dapat menjadi seekor harimau lapar di medan perang yang ganas.

 

Sebenarnyalah seperti yang diperhitungkan oleh Warsi. Bahkan sebelum ia sampai ke puncak pebukitan itu, bulan telah menerangi lereng-lerengnya dengan cahayanya yang telah menghangatkan darah Warsi.

 

Beberapa saat kemudian, ujung pasukan itu telah sampai ke atas bukit kecil itu. Warsi dan Ki Rangga memberi isyarat kepada pasukannya untuk berhenti. Dari punggung bukit itu, Warsi telah memandang ngarai yang terbentang. Dibawah terang sinar bulan, padukuhan-padukuhan yang kehitam-hitaman nampak seperti pulau-pulau kecil yang terapung dilautan yang hijau.

 

Sekali lagi Warsi tertawa melihat Tanah Perdikan Sembojan yang terbentang dihadapannya. “Marilah,“ berkata Warsi kemudian.

 

Ki Rangga berpaling kepada tiga orang kepercayaannya sambil berkata, “Demikian kita menuruni bukit, maka kita sudah memasuki lingkungan medan. Kita harus mulai berhati-hati. Kedua bagian pasukan kita tidak boleh salah memilih jalan ke padukuhan induk sebagaimana sudah kita tentukan.”

 

Ketiga orang kepercayaan Ki Rangga itu mengangguk-angguk. Merekalah yang harus memimpin langsung semua gerakan dari pasukan itu. Ki Ajar Tulaklah yang mendapat tugas untuk memimpin pasukan yang harus memancing perhatian lawan dan menyerang pintu gerbang utama. Sementara itu, bekas perwira tinggi Jipang yang sehari-hari disebut Ki Sumbaga dan Ki Kala Sembung akan memimpin pasukan yang benar-benar dipersiapkan untuk memasuki padukuhan induk Tanah Perdikan. Baru kemudian setelah keadaan memungkinkan, Ki Sumbagapun harus membawa pasukannya masuk ke padukuhan dan membantu pasukan yang telah berada di dalam.

 

“Nah,“ berkata Ki Rangga, “pergilah ke pasukan kalian masing-masing. Di bulak itu kita akan membagi pasukan. Kalian akan menempuh jalan kalian masing-masing. Jangan salah memilih jalan. Beri isyarat jika rencana tidak berjalan sebagaimana seharusnya. Kami berdua akan berada di pasukan kedua. Kami harus dengan cepat memasuki padukuhan induk, agar kami dapat segera menemui para pemimpin mereka.”

 

Ketiga orang itu mengangguk hormat. Sementara itu Ki Rangga berkata pula, “Siapkan dengan baik kelompok-kelompok yang akan berhadapan dengan orang-orang tua di Tanah Perdikan Sembojan, namun yang berilmu cukup tinggi. Lima kelompok harus mampu mengikat lima orang lawan yang berilmu tinggi itu. Mungkin kelima orang itu tidak berada ditempat yang sama, sehingga dengan demikian maka setiap orang wajib memberikan laporan, dimana mereka berada sehingga kelompok-kelompok yang dipersiapkan itu akan segera dapat menghadapi mereka. Sementara itu, Warsi akan langsung berusaha bertemu dengan Iswari.”

 

Demikianlah, maka ketiga orang itupun telah bergeser surut. Mereka telah menuju ke pasukan masing-masing. Satu kelompok dari pasukan itu dipimpin oleh Ki Ajar Tulak akan berusaha memancing perhatian padukuhan induk di pintu gerbang utama, sementara Ki Kala Sembung dan Ki Sumbaga akan memasuki padukuhan induk dari arah lain bersama dengan Warsi dan Ki Rangga. Jika padukuhan induk itu telah menjadi kacau dan kehilangan ketahanannya maka pasukan yang dipimpin Ki Ajar harus dengan cepat berusaha memasuki padukuhan induk pula. Mereka harus menuju ke banjar, sementara pasukan yang lain akan menguasai rumah Kepala Tanah Perdikan.

 

Perintah yang diberikan oleh Warsi dan Ki Rangga kepada setiap orang adalah bahwa mereka harus segera membunuh jika mereka bertemu dengan seorang remaja yang bernama Risang, anak Iswari. Siapapun juga.

 

Ketika semuanya sudah berada ditempat masing-masing, maka Ki Ranggapun telah memberikan isyarat agar pasukan itu segera berangkat.

 

Dilereng bukit disaat pasukan itu bergerak menurun, maka beberapa orang masih nampak berjaga-jaga untuk mengawasi keadaan. Bagaimanapun juga mereka masih juga memperhitungkan kemungkinan orang-orang Tanah Perdikan berusaha mendaki bukit itu dan menyerang mereka disarangnya. Kehadiran orang-orang Tanah Perdikan yang kemudian membunuh beberapa orang diantara mereka dengan anak panah, telah membuat mereka semakin berhati-hati.

 

Namun ketika iring-iringan yang memanjang itu lewat, maka orang-orang itu telah mendapat perintah untuk masuk kedalam pasukan dan berada didalam kelompok mereka masing-masing.

 

Karena itu, maka orang-orang itupun segera mencari hubungan dengan para pemimpin kelompok mereka, untuk ikut bergerak turun menuju ke lembah. Selanjutnya mereka dengan cepat akan bergerak ke padukuhan induk.

 

Namun ketika ujung pasukan itu telah melewati lambung pebukitan, Warsi dan Ki Rangga yang berjalan dipaling depan terkejut. Mereka melihat sebuah patok bambu yang berdiri di tengah-tengah jalan sempit yang dilewati oleh iring-iringan pasukannya itu.

 

“Gila,“ Warsi mengumpat. Pada patok bambu itu terdapat topeng kecil menghadap ke punggung bukit sebagaimana yang sering dipergunakannya untuk memberikan pertanda atau peringatan bagi pihak lain. Pertanda yang biasanya dihubungkan dengan kematian dan kekerasan.

 

“Siapa yang memasang patok dan meletakkan topeng kecil ini?“ bertanya Warsi.

 

Ki Ranggapun menggeram. Sambil menggeleng ia menjawab, “Aku tidak tahu. Tentu tidak seorangpun yang tahu. Para pengawaspun tentu tidak tahu. Jika mereka tahu, topeng ini tentu sudah disingkirkannya.”

 

“Anak iblis,“ Warsi hampir berteriak, “tantangan yang sangat menyakitkan hati dari orang-orang Tanah Perdikan. Tetapi sebentar lagi Tanah Perdikan itu akan kami hancurkan.”

 

Warsipun dengan marah telah mencabut patok bambu itu dan melemparkannya kedalam semak-semak.

 

Sambil menggeretakkan giginya Warsipun melangkah dengan dada tengadah. Terdengar ia berkata dengan geram, “Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri.”

 

Ki Rangga tidak menyahut. Tetapi ia lebih banyak memperhatikan lingkungan yang mereka lewati. Mungkin masih akan terdapat hal-hal yang dapat mempengaruhi perasaan mereka. Bahkan mungkin jebakan-jebakan yang akan menghambat gerak pasukan itu.

 

Ketika pasukan itu mulai bergerak lagi, maka sekali lagi Warsi mengumpat marah sekali. Tiba-tiba saja mereka telah mendengar gonggong anjing hutan sahut-menyahut.

 

“Setan,“ geram Warsi, “kita harus menangkap anjing liar itu. Mereka tentu orang-orang Tanah Perdikan.”

 

“Ya,“ jawab Ki Rangga, “tetapi jangan hiraukan mereka. Jika kita berusaha menangkap mereka, maka kita tentu memerlukan waktu. Mereka mungkin berada dipuncak bukit sebelah. Gaung suaranya memang menunjukkan bahwa mereka berada ditempat yang jauh.”

 

“Aku tidak mau dipermainkan seperti ini,“ geram Warsi.

 

“Tetapi jika kita mengejar mereka, tertangkap atau tidak tertangkap, maka rencana orang-orang Tanah Perdikan itu berjalan sebagaimana mereka harapkan. Mereka tentu berharap kita menjadi marah atas sindiran itu dan berusaha menangkap mereka. Tetapi dengan demikian maka pasukan kita telah terhambat,“ berkata Ki Rangga.

 

Warsi mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita harus cepat-cepat memasuki padukuhan induk. Lihat, bulan yang bulat sudah naik. Aku berada dalam kemampuan puncakku.”

 

Karena itulah, maka Warsi sama sekali tidak berhenti untuk menangkap orang-orang Tanah Perdikan yang ditempat yang agak jauh telah menggonggong sebagaimana seekor anjing hutan. Bahkan bersahut-sahutan.

 

Demikianlah maka iring-iringan itu telah turun dengan cepat. Beberapa saat kemudian, mereka telah berada di ngarai dibawah bukit.

 

Ketika pasukan itu seluruhnya telah turun, maka Warsi dan Ki Rangga telah memberikan isyarat, agar semua orang didalam pasukan itu bersiap-siap. Mereka akan segera memasuki jalan-jalan Tanah Perdikan Sembojan. Di tengah-tengah bulak itu, pasukan akan berpisah. Yang sebagian akan berbelok ke kiri, sedangkan yang lain akan berjalan lurus. Yang berbelok itulah yang justru akan menuju ke pintu gerbang utama. Sedangkan yang berjalan lurus itu akan melingkar dan menuju ke padukuhan induk dari sisi yang lain.

 

Sejenak kemudian, maka iring-iringan itu benar-benar telah memasuki jalan-jalan Tanah Perdikan Sembojan. Padukuhan induk memang bukan padukuhan yang ada dihadapan mereka. Tetapi letak padukuhan induk tidak terlalu jauh.

 

Dengan dada tengadah maka setiap orang dalam pasukan itu melangkah menyusuri jalan Tanah Perdikan Sembojan yang menjadi tanah harapan bagi para pemimpin mereka. Dengan jantung yang berdebar-debar mereka bertekad untuk malam itu juga menguasai padukuhan induk dan kemudian dihari berikutnya seluruh Tanah Perdikan. Padukuhan-padukuhan yang tidak tunduk akan dihancurkan, karena jika kekuatan para pengawal di padukuhan induk sudah dipatahkan, maka kekuatan di padukuhan-padukuhan tidak akan berarti lagi.

 

Ketika kemudian terdengar lagi suara anjing hutan menggonggong dari lereng bukit, yang suaranya bergema oleh pantulan batu-batu padas, maka Warsi dan Ki Rangga Gupita sudah tidak menghiraukannya lagi. Mereka mengira bahwa orang-orang Tanah Perdikan bukan saja sedang mempengaruhi perasaan para pengikutnya, tetapi dengan cara itu mereka telah memberikan isyarat sambung bersambung, bahwa pasukan dari balik bukit telah menyerang.

 

Tetapi Warsi dan Ki Rangga Gupita sama sekali tidak berkeberatan. Mereka memang telah memberi pertanda bahwa hari itu, disaat purnama penuh, padukuhan induk akan diserang dan dihancurkan. Bagaimanapun juga, orang-orang Tanah Perdikan tidak akan dapat mengumpulkan dan memusatkan semua kekuatan Tanah Perdikannya di padukuhan induknya, karena sebagian dari mereka masih harus tetap berada di padukuhan masing-masing.

 

Demikianlah maka pasukan dari balik bukit itupun kemudian menjalar di bulak-bulak persawahan. Mereka menyusuri jalan-jalan yang membujur diantara tanaman padi di sawah.

 

Namun Warsi dan Ki Ranggapun terkejut ketika mereka melihat lagi patok bambu ditengah jalan digantungi oleh topeng kecil pertanda kematian. Topeng yang mereka pasang di depan pintu gerbang padukuhan induk Tanah Perdikan.

 

“Gila,“ geram Warsi. Dengan sangat marah ia mencabut patok bambu itu dan melemparkannya ketepi sekaligus dengan topengnya. Tetapi ternyata bahwa iring-iringan pasukannya sama sekali tidak berhenti.

 

Tetapi kemarahan Warsi bagaikan membakar ubun-ubunnya ketika mereka sampai disebuah simpang empat kecil di tengah bulak itu, sekali lagi mereka menjumpai patok bambu dengan topeng kecil itu pula.

 

Namun ketika Warsi menghentakkan patok kecil itu sambil mengumpat-umpat. Maka Ki Ranggapun mendekatinya sambil berkata, “Kita berhenti disini.”

 

“Kenapa?“ bertanya Waisi.

 

Ki Rangga tidak menjawab ketika ia memberikan isyarat kepada pasukannya untuk berhenti,

 

“Ada apa?“ bertanya Warsi pula. “Kita sudah hampir sampai ditempat pasukan kita akan berpencar.”

 

“Orang-orang Tanah Perdikan memang iblis. Pertanda topeng kecil itu sudah genap tiga kali. Kita harus berhati-hati,“ desis Ki Rangga.

 

“Tetapi bukankah kita yang menentukan isyarat itu. Bukan mereka?“ bertanya Warsi.

 

“Itulah gilanya orang-orang Tanah Perdikan,“ jawab Ki Rangga Gupita.

 

Warsi mengerutkan keningnya. Ia masih belum begitu jelas apakah yang dimaksud oleh Ki Rangga Gupita itu, sehingga iapun kemudian bertanya, “Apakah sebenarnya yang terjadi?”

 

Ki Rangga memandang bulak yang luas itu. Dengan nada rendah ia berkata, “Kita harus berhati-hati.”

 

Warsi masih saja termangu-mangu. Sementara itu Ki Rangga telah memanggil seorang yang berada diantara dirinya dan pasukannya. Seorang yang memang bertugas sebagai penghubung.

 

“Panggil Ki Sumbaga,“ berkata Ki Rangga.

 

“Untuk apa?“ bertanya Warsi.

 

“Ia mempunyai naluri keprajuritan yang sangat tajam,“ jawab Ki Rangga Gupita.

 

“Bulan sudah semakin tinggi,“ berkata Warsi, “aku ingin mempergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya.”

 

“Jangan tergesa-gesa. Yang kita hadapi adalah iblis yang sangat licik,“ jawab Ki Rangga.

 

Sejenak kemudian Ki Sumbagapun telah mendekat. Dengan sungguh-sungguh Ki Rangga Gupita bertanya, “Bagaimana pendapatmu?”

 

“Kita harus berhati-hati. Kita tidak akan bertempur di padukuhan induk,“ berkata Ki Sumbaga.

 

“Apa katamu?“ bertanya Warsi.

 

“Bersiaplah. Perhitungan mereka ternyata lebih rumit dari perhitungan yang kita buat,“ jawab Ki Sumbaga, “selama ini kita menganggap bahwa mereka adalah orang-orang yang hanya mempercayakan diri kepada kemampuan olah kanuragan. Namun ternyata mereka mempunyai pemikir-pemikir yang sangat baik,“ jawab Ki Sumbaga.

 

“Persetan,“ geram Warsi, “kita hancurkan padukuhan induk itu.”

 

“Kita tidak akan sampai kesana dengan cepat,“ berkata Ki Sumbaga.

 

“Kenapa? Jangan berteka-teki,“ Warsi menjadi tidak sabar lagi. “katakan apa yang kalian ketahui.”

 

Ki Sumbaga memandang Ki Rangga Gupita dengan wajah yang tegang, sementara Ki Ajar Tulak dan Kala Sembungpun telah mendekat pula sambil bertanya, “Kenapa kita berhenti disini?”

 

“Lihat,“ berkata Ki Rangga Gupita, “setelah orang-orang Tanah Perdikan memberikan peringatan kepada kita dengan pertanda milik kita sendiri sampai tiga kali. Atur pasukan kalian dan menebarlah sebelum terlambat.”

 

“Apa yang terjadi?,“ Warsi hampir berteriak.

 

“Mereka telah menunggu kita di bulak ini,“ geram Ki Rangga Gupita.

 

“Siapa?“ teriak Warsi.

 

“Orang-orang Tanah Perdikan Sembojan,“ jawab Ki Rangga sambil memberikan isyarat kepada ketiga orang kepercayaannya. “Kita bertempur disini.”

 

Warsipun akhirnya mengetahui maksud Ki Rangga dan Ki Sumbaga. Karena itu, maka justru ialah yang mengumpat paling kasar. Sementara Ki Rangga berkata, “Kita tidak akan memecah pasukan kita. Ki Sumbaga akan berada ditengah. Ki Ajar akan berada di sayap kiri dan Ki Kala Sembung akan berada di sayap kanan. Usahakan menilai gelar lawan agar kita mendapatkan cara yang sebaik-baiknya untuk melawan.”

 

Ketiga orang itu mengangguk-angguk. Tetapi hanya Ki Sumbaga sajalah yang memahami dengan baik arti sebuah gelar. Ki Ajar Tulak terlalu yakin akan kemampuannya, sementara Kala Sembung tidak merasa perlu untuk memikirkan sebuah gelar.

 

Tetapi ketiga orang itupun dengan cepat telah kembali ke pasukan masing-masing. Seperti yang diperintahkan oleh Ki Rangga Gupita, maka pasukan yang semula berjalan beriringan itu telah menebar. Ki Ajar Tulak berada disisi sebelah kiri, sementara Kala Sembung membawa pasukannya kesebelah kanan. Sedangkan Ki Sumbaga dan orang-orangnya berada di tengah.

 

Dalam keadaan yang gelisah itu, Ki Sumbaga masih sempat memberi peringatan kepada orang-orangnya, agar kelompok-kelompok yang dipersiapkan untuk melawan orang-orang yang disegani di Tanah Perdikan tetap utuh.

 

Disisi kiri, Ki Ajar memang mencoba untuk mengatur orang-orangnya. Mereka menebar tanpa menghiraukan tanaman padi disawah yang hijau subur. Tanaman itu telah terinjak-injak oleh kaki orang-orang yang bersiap dengan senjata.

 

Tetapi Ki Ajar memang tidak pernah mempelajari dengan sungguh-sungguh arti sebuah gelar meskipun secara sepintas diketahuinya pula.

 

“Kita berada disayap sebelah kiri,“ berkata Ki Ajar kepada para pemimpin kelompoknya, “kita harus menyesuaikan diri dengan lawan. Mungkin mereka bertempur dalam gelar yang mapan. Tetapi kita tidak perlu gentar. Meskipun demikian kita harus membagi kekuatan dengan merata. Dari ujung sayap, sampai ke pangkal sayap. Namun setiap saat, kelompok-kelompok dapat bergeser menutup kelemahan-kelemahan yang terjadi pada sayap kita dari ujung sampai ke pangkal. Yang penting, setiap kelompok tidak boleh terpecah.”

 

Berbeda dengan Ki Ajar yang berusaha, Kala Sembung telah berpesan kepada para pengikutnya, “Hancurkan dan bunuh setiap orang. Apakah ia sayap atau paruh atau cakar sebuah gelar. Jangan pedulikan. Tetapi ingat, kalian harus saling membantu. Jangan biarkan kawan-kawan kalian terbunuh seorang demi seorang, karena jika demikian akan datang giliran kalian akan terbunuh juga. Karena itu, tidak ada pilihan lain. Bunuh semua orang siapapun yang kalian hadapi dan dalam kedudukan yang manapun.”

 

Orang-orangnya mengangguk-angguk. Orang-orang yang garang itu memang tidak menghiraukan apakah lawannya ada dalam gelar atau tidak. Yang penting bagi mereka adalah membunuh sebanyak-banyaknya.

 

Tetapi ada diantara mereka yang merasa kecewa, bahwa mereka harus bertempur di bulak yang luas itu. Mereka ingin bertempur di padukuhan. Menghancurkan padukuhan induk dan kesempatan memasuki rumah-rumah orang kaya untuk merampas harta benda yang ada didalamnya. Jika mereka menghancurkan lawan di bulak itu, maka mereka akan memasuki padukuhan induk dengan tertib dan terkendali oleh Ki Rangga dan Warsi.

 

Sejenak kemudian, maka pasukan Ki Rangga Gupita itu telah menebar. Mereka telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

 

Dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa pasukan Tanah Perdikan telah menunggu. Betapapun beratnya hati mereka, namun mereka memang harus mengorbankan tanaman di sawah. Pasukan Tanah Perdikan Sembojan ternyata tidak menunggu di padukuhan induk. Para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan telah memperhitungkan bahwa mereka lebih baik menghadapi lawan di bawah bukit daripada harus menunggu di padukuhan induk. Di bawah bukit mereka memang harus mengorbankan tanaman mereka. Tetapi di padukuhan, korban akan semakin besar. Bukan saja rumah-rumah yang rusak, harta benda yang pasti akan dirampok, tetapi juga perempuan dan anak-anak ikut terancam jiwanya.

 

Lebih daripada itu, maka menurut perhitungan para pemimpin Tanah Perdikan, jika mereka menunggu lawan dibawah bukit, mereka akan dapat mengerahkan pasukan lebih besar. Para pengawal hampir seluruhnya dapat digerakkan. Mereka memperhitungkan bahwa para pengikut Warsi tidak akan sempat memasuki padukuhan-padukuhan yang manapun juga.

 

Karena itu, maka Iswari telah membawa kekuatan yang ada di Tanah Perdikan hampir sepenuhnya kebawah bukit. Dengan sangat hati-hati orang-orang Tanah Perdikan itu bergerak. Menjelang senja semua kekuatan sedikit demi sedikit telah mengalir ke padukuhan terdekat. Kemudian disaat matahari terbenam dan bulan mulai naik, pasukan itu bagaikan merangkak memasuki bulak-bulak yang luas. Dengan perhitungan yang cermat, maka para pengawas di lereng bukit memang tidak dapat melihat apa yang terjadi di balik batang padi yang mulai meninggi. Sehingga pada saatnya, pasukan Tanah Perdikan telah menunggu menebar dalam gelar yang mapan. Gelar Wulan Tumanggal. Karena menurut perhitungan para pemimpin dari Tanah Perdikan Sembojan, kekuatan lawan akan berada di induk pasukan, sehingga sayap-sayap pasukannya tentu tidak akan terlalu kuat. Karena itu, maka gelar yang dipergunakanpun adalah gelar yang meletakkan kekuatan terbesar di induk pasukan.

 

Sambi Wulung dan Jati Wulung memang merasa ragu-ragu untuk ikut langsung memasuki arena. Mereka masih selalu memikirkan kemungkinan bahwa Puguh atau orang-orang yang pernah melihatnya di padepokan itu, ikut pula dalam pasukan yang siap menyerang Tanah Perdikan itu.

 

Namun akhirnya keduanya mempunyai cara untuk berada diantara para pengawal. Mereka telah membagi diri. Seorang berada di sayap kiri dan seorang yang lain di sayap kanan. Mereka telah memberikan kelainan di wajah mereka masing-masing, sehingga mereka tidak akan mudah dikenal. Sementara itu merekapun telah mengenakan pakaian yang tidak terbiasa mereka pakai.

 

“Jika ada seorang saja yang mengenaliku, maka usahaku untuk menemukan tempat tinggal Puguh itu akan kehilangan artinya,“ berkata Sambi Wulung.

 

Tetapi dengan caranya mereka berharap bahwa mereka tidak akan dapat dikenali lagi.

 

Di induk pasukan, Iswari duduk dipematang bersama Kiai Badra, Kiai dan Nyai Soka. Beberapa langkah daripadanya adalah pemimpin pengawal Tanah Perdikan yang duduk bersama dua orang pembantunya.

 

Ketika terdengar pertanda terakhir sebagaimana mereka sepakati dengan suara gonggong anjing hutan, maka Iswaripun menarik nafas dalam-dalam. Desisnya, “Mereka telah datang.”

 

“Ya,“ berkata Kiai Badra, “mereka telah datang. Siapkan pasukanmu. Kita harus menghentikan mereka di sini. Jika mereka berhasil mencapai padukuhan induk, maka keadaan kita akan sulit. Bahkan seandainya kita berhasil mengusir mereka, namun mereka tentu akan merusak dan barangkali membakar rumah-rumah penduduk yang tidak bersalah serta mengganggu perempuan dan anak-anak. Bahkan mungkin membunuh.”

 

“Marilah. Kita bersiap-siap,“ desis Iswari. Iswari tidak menunggu lagi. Iapun kemudian telah bangkit berdiri bersamaan dengan isyarat yang berbunyi. Tidak lagi gonggong anjing hutan, tetapi suara kentongan dengan nada titir yang dipukul di pasukan induk.

 

Isyarat itupun segera disahut oleh para penghubung di sayap-sayap pasukan, sehingga dengan demikian, maka terdengar suara titir yang sangat riuh.

 

Dalam waktu singkat, maka sebuah gelar telah muncul dari balik batang-batang padi dan dari belakang tanggul-tanggul parit. Rasa-rasanya orang-orang Tanah Perdikan itu telah terlalu lama menunggu dengan pakaian yang basah oleh embun di daun padi yang mulai menitik serta basahnya air yang mengalir di parit-parit.

 

Tetapi orang-orang dari balik bukit tidak terkejut. Bahkan Kiai Soka sempat memuji, “mereka tanggap akan isyarat yang kita berikan dengan topeng-topeng mereka. Ternyata merekapun telah menebar.”

 

“Kita tidak lagi mempunyai hutang kepada mereka. Sebagaimana mereka memberikan isyarat kepada kita saat-saat mereka akan menyerang, maka kitapun telah memberikan isyarat pula. Kita bukan orang-orang yang justru lebih licik dari mereka,“ desis Nyai Soka.

 

Kiai Soka mengangguk-angguk. Dalam cahaya bulan mereka melihat orang-orang dari balik bukit itu bergerak maju. Kemarahan benar-benar telah membakar jantung Warsi dan Ki Rangga Gupita. Ternyata orang-orang Tanah Perdikan itu mengenal perhitungan yang tajam untuk menghadapinya. Mereka tidak sekedar menggantungkan kepada kemampuan dan jumlah, tetapi mereka juga berpikir.

 

Tanpa menghiraukan tanaman padi yang tumbuh dengan suburnya, maka pasukan Ki Rangga yang menebar itu bergerak maju. Mereka tidak memperhatikan lagi apakah mereka akan berjalan diatas pematang. Tetapi batang-batang padi yang subur itu telah terinjak-injak kaki orang-orang yang akan bertempur untuk mengungkapkan permusuhan yang sudah mencengkam seluruh isi dada. Bahkan bukan saja dendam yang menyala, tetapi juga ketamakan dan nafsu untuk menguasai Tanah Perdikan itu.

 

Sementara itu, orang-orang Tanah Perdikanpun sudah siap pula. Agak berbeda dengan orang-orang dari balik bukit. Orang-orang Tanah Perdikan memang merasa agak ragu-ragu untuk menginjak batang-batang padi yang sudah menjadi semakin besar dan hampir menjadi bunting itu. Tetapi merekapun tidak mempunyai pilihan lain. Mereka memang harus dan terpaksa menginjak-injak tanaman itu justru untuk mempertahankan tanah mereka, agar mereka di hari kemudian dapat menanam padi lagi tanpa mengalami pemerasan atas hasil panenannya.

 

Demikianlah kedua pasukan itu semakin lama menjadi semakin dekat. Pasukan Tanah Perdikan Sembojan tidak saja terdiri dari para pengawal yang dikumpulkan dari semua padukuhan, tetapi juga bekas para pengawal dan bahkan semua laki-laki yang meskipun usianya sudah menjadi semakin tua, namun mereka masih mampu bermain dengan senjata. Hanya sebagian kecil saja diantara mereka yang ditinggalkan di setiap padukuhan sekedar untuk mengamati keadaan dan membunyikan isyarat jika keadaan memaksa, sehingga bantuan dari padukuhan-padukuhan terdekat akan berdatangan.

 

Bagi Tanah Perdikan Sembojan, menunggu lawan di bawah bukit itu adalah cara yang terbaik dapat mereka lakukan. Selain mampu mengerahkan tenaga lebih banyak, maka kerusakan di padukuhan induk akan dapat dihindari. Namun demikian, para pemimpin Tanah Perdikan sudah mempersiapkan perempuan dan anak-anak untuk mengungsi apabila perlu.

 

Ketika kedua pasukan itu semakin dekat, maka ternyata bahwa orang-orang didalam pasukan Tanah Perdikan Sembojan lebih banyak jumlahnya dari pasukan orang-orang dibalik bukit. Namun merekapun menyadari bahwa orang-orang dari balik bukit itu adalah gabungan dari orang-orang yang kecewa, penuh kebencian dan dendam serta dibekali dengan pengalaman yang sangat luas tanpa merasa bertanggung jawab atas segala tingkah lakunya dihari-hari yang abadi.

 

Tangan dan senjata mereka dihari-hari yang lewat memang telah menjadi merah oleh darah. Dan hati merekapun telah dibasahi oleh air mata dari keluarga mere ka yang terbunuh. Namun mereka tidak pernah merasa kulitnya meremang.

 

Namun dalam pada itu, para pengawal, anak-anak muda dan semua laki-laki yang berada didalam pasukan Tanah Perdikan telah meyakini apa yang mereka lakukan. Mereka memang tidak mempunyai pilihan lain, sehingga dengan demikian, maka mereka sama sekali tidak merasa gentar atas apa yang mereka hadapi. Namun mereka tidak ingin menyerahkan kampung halaman mereka ketangan-tangan orang yang tidak berhak.

 

Ketika kedua pasukan itu menjadi semakin dekat, maka terdengar suitan nyaring. Ki Rangga telah memberikan isyarat kepada orang-orangnya untuk bersiaga sepenuhnya. Kedua pasukan itu akan segera bertemu dan bertempur.

 

Beberapa orang didalam pasukan Ki Rangga itu justru tertawa. Mereka melihat orang-orang Tanah Perdikan itu bagaikan melihat batang ilalang. Senjata yang mencuat diatas kepala mereka, dalam cahaya bulan nampak bagaikan gelagah ilalang yang mekar keputih-putihan.

 

“Kita akan segera menebas ilalang,“ berkata salah seorang pengikut Kala Sembung.

 

“Senjataku akan puas minum darah orang-orang dungu itu. Mereka mengira bahwa mereka akan dapat mengimbangi kemampuan kita. Meskipun jumlah mereka lebih banyak, tetapi sama sekali tidak berarti bagi kita. Semakin banyak mereka turun ke arena, maka semakin menarik bagi kita,“ sahut yang lain.

 

Tetapi pemimpin kelompoknya yang mendengar menyahut, “jangan lengah. Mereka adalah pengawal-pengawal yang terlatih.”

 

Namun yang terdengar adalah suara tertawa berkepanjangan.

 

Sementara itu, para pemimpin dari kedua pasukan memang berada diinduk pasukan. Kecuali dipasukanTanah Perdikan, Sambi Wulung dan Jati Wulung berada diujung sayap kiri dan kanan. Mereka bukan saja memimpin kedua sayap itu, tetapi mereka harus merintis keduanya juga mendapat tugas untuk mengawasi sayap-sayap lawan, agar tidak dengan licik meninggalkan arena dan menyerang padukuhan-padukuhan terdekat untuk sekedar menumpahkan kemarahan dan dendam. Meskipun padukuhan-padukuhan terdekat sudah dikosongkan karena perempuan dan anak-anak sudah disingkirkan ke padukuhan-padukuhan lain.

 

Warsi rasa-rasanya sudah tidak sabar lagi. Ia yakin bahwa Iswari berada di antara para pemimpin Tanah Perdikan itu. Sehingga rasa-rasanya ia ingin segera meloncat menerkamnya.

 

Namun dalam kegelisahan itu ia menggeram, “Apakah iblis betina itu berani keluar dan turun di arena ini?”

 

“Ia tentu akan datang,“ sahut Ki Rangga.

 

“Aku kira perempuan cantik itu hanya dapat menunggu. Tetapi ternyata ia mempunyai keberanian juga untuk keluar dari sarangnya,“ berkata Warsi sambil menengadahkan kepalanya. Seakan-akan ia sedang mencari perempuan yang disebut-sebutnya itu diantara seleret pasukan yang bergerak maju itu.

 

Di pihak lain, Iswaripun telah bersiap sepenuhnya untuk menghadapi segala kemungkinan. Ia telah berada pada tataran tertinggi dari ilmu yang dikuasainya. Sementara itu, ternyata Bibi telah berhasil membantunya, membuka simpul-simpul syarafnya yang masih tertutup sehingga dengan demikian, maka tingkat ilmunya seakan-akan menjadi semakin tinggi. Tubuhnya menjadi semakin mudah dikuasainya dan kehendaknyapun telah menyatu dengan setiap unsur pada tubuhnya itu.

 

Disebelah menyebelah gurunya selalu mendampinginya. Apalagi dalam keadaan yang keras dan gawat. Untuk menghadapi Warsi, maka ketiga gurunya tidak begitu mencemaskannya lagi, meskipun segala kemungkinan dapat terjadi. Warsipun tentu sudah berusaha meningkatkan ilmunya pula untuk menghadapi Iswari pada hari yang telah ditunggunya itu. Namun Iswaripun telah bersiap. Tetapi jika di samping Warsi ada Ki Randu Keling dan barangkali satu dua orang kawannya, maka orang-orang tua itu memang diperlukan.

 

Ketika kedua pasukan itu menjadi semakin dekat, maka para pemimpin dari kedua belah pihakpun telah memberikan pertanda. Sambi Wulung dan Jati Wulung yang berada diujung sayap, sekaligus memimpin sayap-sayap itu telah memberikan isyarat pula kepada para pengawal. Sementara itu, pemimpin pasukan pengawal yang memimpin induk pasukan telah memberikan pertanda pula, bukan saja kepada para pengawal di induk pasukan, tetapi juga yang berada di sayap dengan bunyi kentongan.

 

Demikianlah, maka senjatapun telah mulai merunduk. Orang-orang Tanah Perdikan yang pernah mendapat tuntunan perang dalam gelar telah menyesuaikan dirinya dengan gelar yang mapan. Namun jika keadaan memaksa, maka merekapun telah berlatih untuk bertempur secara pribadi.

 

Seperti yang diperintahkan, maka orang-orang Tanah Perdikan itu tidak menunggu. Tetapi sebelum lawannya mendahului, maka dengan irama tertentu, pemimpin pengawal itu telah memerintahkan pasukannya menyerang.

 

Dengan cepat pasukan Tanah Perdikan itu telah bergerak maju. Ujung sayap pasukan Tanah Perdikan yang mempergunakan gelar Wulan Tumanggal itu terdiri dari para pengawal terpilih meskipun jumlah mereka tidak terlalu banyak. Dibawah pimpinan Sarribi Wulung dan Jati Wulung disebelah-menyebelah maka ujung sayap pasukan itu harus berusaha secepat-cepatnya menusuk ke sayap lawan. Sementara itu, di induk pasukan, orang-orang terpilih memang berada di paling depan. Sedangkan bekas penwal yang telah menjadi semakin tua, namun masih memiliki kekuatan dan kemampuan yang memadai akan berada dilapisan berikutnya. Mereka adalah orang-orang yang berpengalaman meskipun kekuatannya tidak lagi sedahsyat diusia mudanya. Sedangkan dilapisan berikutnya adalah anak-anak muda Tanah Perdikan yang meskipun bukan pengawal yang terpilih, tetapi merekapun telah mendapat tuntunan olah kanuragan cukup memadai. Namun diantara mereka terdapat juga justru orang-orang terpilih, karena hanya orang-orang berilmu sajalah yang akan dapat menyusup lapisan-lapisan sebelumnya hingga sampai lapisan anak-anak muda itu.

 

Dengan susunan yang telah diperhitungkan dengan masak oleh para pemimpin Tanah Perdikan itu, maka pasukannya dalam gelar Wulan Tumanggal telah bergerak dengan cepat menyerang pasukan lawan yang menebar meskipun tidak berujud gelar.

 

Namun dalam pada itu, para pemimpin dari pasukan yang datang dari balik bukit itupun telah pula maju dengan cepat. Mereka justru telah berlari-lari dan berteriak-teriak dengan kasarnya. Bahkan ada yang mengumpat-umpat dengan kata-kata kotor dan tidak pantas diucapkan oleh mulut seseorang yang mengenal sedikit unggah-ungguh.

 

Iswari memang terkejut mendengarnya. Ia tidak menduga, bahwa ia akan mendengar kata-kata kotor dan sangat kasar itu. Namun ia segera mampu menguasai perasaannya. Apalagi ketika ia melihat ujung senjata di kilatan cahaya bulan.

 

Sejenak kemudian kedua pasukan itu telah berbenturan. Senjatapun mulai beradu. Hentakan pada benturan pertama telah menguji kemampuan pasukan dari kedua belah pihak.

 

Pada pasukan Tanah Perdikan, maka orang-orang yang berada di lapisan pertama tidak sekedar mempergunakan keberanian dan kemampuan mereka. Tetapi mereka juga mempergunakan penalaran mereka. Sekali-sekali lapisan pertama itu memang menguak sehingga beberapa orang lawan menyusup masuk. Namun pada lapisan kedua orang-orang itu terkejut. Di lapisan kedua ujung ujung senjata dari orang-orang yang berpengalaman telah menunggu mereka.

 

Orang-orang dilapisan kedualah yang harus bertahan. Mereka berusaha agar tidak ada orang yang menyusup kebelakang mereka. Setidak-tidaknya mereka berusaha untuk membatasi orang-orang yang menyusup ke lapisan ketiga sekecil mungkin, meskipun dilapisan ketiga itu terdapat juga orang-orang pilihan. Namun sebagian besar mereka adalah anak-anak muda Tanah Perdikan yang dengan suka rela ikut mempertahankan kampung halaman mereka dari orang-orang yang bukan seharusnya menguasainya.

 

Sejenak kemudian, maka disepanjang tebaran pasukan kedua belah pihak itu, telah terjadi pertempuran yang sengit.

 

Namun dalam pada itu, pemimpin dari kedua belah pihak justru tidak segera dapat bertemu. Ketika kedua pasukan itu maju dengan cepat menjelang benturan terjadi, maka pasukan itu justru telah mendahului para pemimpin dari kedua belah pihak.

 

Orang-orang Tanah Perdikan Sembojan memang merasa terganggu oleh teriakan-teriakan dan umpatan-umpatan kasar dari orang-orang yang terutama dipimpin oleh Kala Sembung. Karena itu, maka seorang diantara para pengawal Tanah Perdikan itu justru berteriak nyaring, “Hentikan teriakan-teriakan kasar dan kotor itu.”

 

Ternyata untuk mengimbangi teriakan-teriakan yang menyakiti telinga itu, orang-orang Tanah Perdikanpun telah berteriak pula, “Hentikan mereka. Hentikan mereka.”

 

Jati Wulunglah yang berada disayap yang kebetulan berhadapan dengan sayap yang dipimpin oleh Kala Sembung itu. Karena itu, maka kemarahannyapun segera telah membakar jantungnya.

 

Namun sebagai seorang yang telah berpengalaman, maka Jati Wulung tidak segera kehilangan penalaran. Betapapun marahnya, namun ia masih mampu membuat perhitungan-perhitungan yang mapan, sehingga Jati Wulung masih dapat melakukan langkah yang terbaik bagi pasukan diujung sayap itu.

 

Namun ternyata bahwa Jati Wulungpun tidak segera bertemu dengan Ki Kala Sembung. Karena itu, untuk beberapa saat lamanya, Jati Wulung harus bertempur dengan orang-orang yang kasar dan kadang-kadang justru menjadi liar.

 

Tetapi sesuai dengan tugasnya, bersama beberapa orang terpilih di sayap itu, Jati Wulung harus menusuk masuk kedalam pasukan lawan. Ujung-ujung gelar Wulan Tumanggal itu akan menghunjam dalam-dalam, dan menghancurkan kekuatan lawan didalam pasukan lawan itu sendiri. Jika tugas itu dikedua sayap berhasil, maka pada saatnya gelar Wulan Tumanggal itu akan berkerut dan bidang gerak lawanpun akan menjadi semakin sempit sejalan dengan susutnya kekuatan mereka.

 

Tetapi menghadapi lawan yang tidak mengenal gelar dan bertempur dan kasar dan liar, maka Jati Wulung memang agak menemui kesulitan. Namun demikian, hal yang terjadi itu sebelumnya memang sudah diduganya sehingga serba sedikit sudah diberitahukan kepada pasukannya.

 

Namun, bagaimanapun juga lawan yang dihadapi, Jati Wulung tidak berkisar dari rencana yang telah disepakati. Karena itu maka Jati Wulung dan beberapa orang terpilih benar-benar telah merintis jalan memasuki jantung sayap pasukan lawan.

 

Namun Jati Wulung memang terhambat ketika ia mendapat laporan bahwa pimpinan sayap lawan itu ada di tengah-tengah benturan kedua sayap itu.

 

Karena itu maka Jati Wulungpun telah mengatur orang-orangnya. Orang-orang terpilih itu harus meneruskan usahanya untuk menusuk pasukan lawan yang kasar dan liar itu. Sementara Jati Wulung akan menemui pemimpin sayap lawan itu.

 

“Jangan terpengaruh oleh sikap mereka yang kasar itu. Kalian sedang bertempur. Karena itu, maka yang penting, perhatikan kemampuan tempur mereka. Mereka tidak akan dapat membunuh kalian dengan mulut mereka. Dengan umpatan-umpatan kasar atau dengan sikap yang menakutnya. Mereka akan membunuh kalian dengan senjata mereka. Karena itu perhatikan saja senjata mereka.“ pesan Jati Wulung kepada para pengawal.

 

Para pengawal itupun kemudian telah berusaha dengan kemampuan mereka tanpa Jati Wulung yang harus bertempur melawan pimpinan sayap lawan. Namun pesan Jati Wulung itu ternyata sangat berarti bagi mereka. Dengan hanya memperhatikan senjata lawan, maka para pengawal itu tidak terlalu terpengaruh oleh kekasaran dan keliaran mereka. Serta tiak terlalu terganggu oleh ucapan-ucapan dan umpatan-umpatan kotor yang tidak pantas.

 

Para pengawal terpilih itu ternyata memang mempunyai kemampuan yang cukup untuk melakukan tugasnya. Diiikuti oleh para pengawal yang lain, orang-orang yang lebih tua, bekas pengawal yang masih memiliki kekuatan cukup untuk bertempur, baru kemudian anak-anak muda, yang berbekal tekad dan, sedikit tuntunan olah kanuragan.

 

Perlahan-lahan, tetapi pasti, maka ujung sayap itu memang berhasil menusuk masuk kedalam sayap pasukan lawan. Tetapi para pengawal terpilih itupun mengerti, bahwa mereka tidak boleh tergesa-gesa. Mereka harus selalu memperhatikan pasukan yang menyangga kekuatan mereka. Jika jalur itu terputus, maka sekelompok pengawal diujung pasukan itu justru akan terkurung didalam pasukan lawan.

 

Namun para pengawal Tanah Perdikan itu mampu melakukan tugas mereka dengan baik. Setapak demi setapak mereka maju. Bahkan kadang-kadang mereka harus berhenti untuk memberikan kesempatan pasukan penyangganya maju.

 

Sementara itu, pangkal sayap itupun telah bertempur dengan garang pula. Mereka berbenturan pada satu garis pertempuran yang sengit, sehingga ternyata bahwa pertempuran di pangkal sayap itu cukup banyak menghisap tenaga. Dengan demikian maka hambatan pada ujung sayap pasukan Tanah Perdikan Sembojan itu rasa-rasanya telah terpengaruh juga oleh pertempuran di pangkal sayap itu. Karena kekuatannya memang terhisap untuk bertahan dari tekanan pasukan Tanah Perdikan yang kuat. Sehingga dengan demikian maka para pengawal terpilih diujung sayap itu tidak menjadi terlalu berat mengatasi hambatan itu.

 

Dalam pada itu, Kala Sembung memang menjadi marah melihat orang-orang Tanah Perdikan yang membentur kekuatannya. Kebiasaan Kala Sembung dan orang-orangnya adalah menakut-nakuti orang-orang padukuhan. Dengan sekelompok kecil saja dari kekuatan yang ada, Kala Sembung telah dapat menguasai seluruh padukuhan dan merampas harta benda yang ada didalamnya. Dengan tujuh atau delapan orang, seluruh padukuhan telah menjadi ketakutan. Namun saat itu Kala Sembung telah mengerahkan segenap kekuatan yang ada padanya, kemudian sekelompok bekas prajurit Jipang, yang merupakan bagian dari kekuatan Ki Sumbaga. Beberapa kelompok kecil para penghuni sarang-sarang yang kelam dari orang-orang berilmu hitam yang dapat dipengaruhinya. Baik dengan kata-kata maupun dengan ancaman kekuatan, serta beberapa kelompok yang lain yang memiliki sifat yang bersamaan dengan sifat orang-orangnya. Tetapi orang-orang padukuhan yang termasuk lingkungan Tanah Perdikan Sembojan itu sama sekali tidak gentar. Mereka justru telah membentur kekuatannya pada satu perang gelar yang mapan, sebagaimana dilakukan oleh para prajurit.

 

Kemarahan itu ternyata telah membuat Kala Sembung menjadi semakin garang. Dengan sebuah bindi yang berduri runcing dari pangkal sampai ke ujungnya, maka Kala Sembung bagaikan telah kehilangan akalnya. Mengamuk tanpa menahan diri sama sekali.

 

Para pengawal Tanah Perdikan memang menjadi berdebar-debar melihat Kala Sembung yang mengayunkan bindi berputaran seperti angin pusaran. Tidak seorangpun yang berani langsung membentur senjata yang mengerikan itu.

 

Karena itu, maka para pengawal telah menyusun kekuatan khusus untuk menghadapinya sebelum seorang penghubung berhasil menemukan Jati Wulung untuk memberikan laporan tentang Kala Sembung itu. Jika mungkin Jati Wulung dapat menghadapinya, sedangkan jika ia tidak dapat meninggalkan tempatnya, maka perintahnyalah yang ditunggu sebagai petunjuk untuk mengatasi amuk pemimpin sayap pasukan lawan itu.

 

Lima orang pengawal telah mengkhususkan diri untuk menghadapi putaran bindi yang dahsyat itu. Namun sekali-sekali orang-orang Kala Sembung itu juga mengganggunya.

 

Berbeda dengan Jati Wulung yang memperhatikan keadaan seluruh sayap pasukan itu, Kala Sembung yang terbiasa bertempur tanpa menghiraukan gelar itu, menyerahkan segala sesuatunya kepada orang-orangnya. Dengan demikian maka Kala Sembung itu dapat berbuat sesuai dengan keinginannya tanpa memperhatikan orang lain yang berbuat sendiri-sendiri.

 

Ternyata bahwa para pengawal yang menghadapi Kala Sembung itu mendapat kesulitan. Pedang-pedang mereka tidak akan mampu membentur bindi bergerigi tajam itu, jika mereka tidak ingin pedang mereka terlepas. Ternyata kekuatan Kala Sembung itu sedemikian besarnya sehingga tidak akan mungkin ditahan.

 

Karena itulah, meskipun para pengawal telah menyiapkan satu kelompok khusus, namun kelompok yang khusus itu setiap kali telah terdesak, sehingga mempengaruhi garis pertahanan seluruh sayap pasukan.

 

Pada saat yang gawat itu, Jati Wulung yang menyusup diantara pertempuran telah mencapai pangkal sayap. Dari jarak beberapa langkah ia sudah melihat, betapa Kala Sembung mampu menciptakan satu putaran pertempuran yang mengerikan, yang perlahan-lahan mendesak pangkal sayap pasukan Tanah Perdikan Sembojan.

 

Karena itu, maka Jati Wulungpun telah mempercepat langkahnya mendekati arena yang mendebarkan itu.

 

Ketika ia muncul diantara kelima pengawal yang khusus menghadapi Kala Sembung itu, maka ia tidak segera memberi isyarat agar para pengawal itu menyingkir. Tetapi Jati Wulung justru telah bertempur diantara mereka.

 

Tetapi sudah barang tentu, bahwa Jati Wulung tidak sekedar memiliki kemampuan sebagaimana para pengawal itu.

 

Sambil mengayunkan pedangnya Jati Wulung berbisik, “Untuk sementara biarlah kalian tetap disini.”

 

Para pengawal itu memang tidak meninggalkannya. Mereka masih saja bertempur melawan Kala Sembung itu.

 

Tetapi Kala Sembung terkejut ketika sekali-sekali bindinya membentur kekuatan yang terasa lebih besar dari kekuatan para pengawal yang lain. Bahkan ketika satu kali Jati Wulung dengan sengaja menangkis serangan bindi Kala Sembung, maka orang itu telah terkejut bukan kepalang. Terasa bindinya telah membentur kekuatan yang sangat besar.

 

“Setan alas,“ Kala Sembung mengumpat, “ada juga diantara kalian yang memiliki kekuatan yang pantas.”

 

Jati Wulunglah yang menjawab, “Ki Sanak. Apakah kau pemimpin dari sayap pasukanmu ini?”

 

“Ya,“ jawab Kala Sembung bangga, “aku akan menggilas orang-orang Tanah Perdikan Sembojan, menghancurkan mereka dan kemudian menguasai Tanah Perdikan dengan segala isinya.”

 

“Bagaimana dengan Warsi?” bertanya Jati Wulung.

 

“Ia adalah pemimpin kami. Ialah yang kelak akan memimpin Tanah Perdikan ini,“ jawab Kala Sembung.

 

“Dan anak laki-lakinya?“ bertanya Jati Wulung pula.

 

“Anak itu sudah dipersiapkan untuk berkuasa. Nah, menyerahlah. Kalian akan diampuni. Kalian akan dibunuh dengan cara yang terbaik. Tetapi jika kalian melawan, maka kalian akan mati dengan cara yang paling pahit.”

 

Jati Wulung tertawa. Sementara itu serangan-serangan Kala Sembungpun menjadi semakin lamban, sehingga seakan-akan telah berhenti sama sekali, meskipun ia sama sekali tidak mengurangi kewaspadaan, bahkan senjatanya masih saja bergerak-gerak dan siap terayun menghantam tubuh lawan.

 

Disela-sela tertawanya, Jati Wulung bertanya, “jadi itukah ukuran diampuni menurut pengertianmu? Siapa yang dibunuh dengan cara yang baik itulah yang diampuni. Sedangkan yang tidak diampuni akan mengalami siksaan menjelang kematiannya?”

 

“Ya. Itulah akibat yang harus kalian perhitungkan bahwa kalian telah berani melawan kehendak kami.“ Kala Sembung itu menggeram.

 

Tetapi Jati Wulung masih saja tertawa, sehingga Kala Sembung itu membentak, “He, kenapa kau tertawa? Apakah kau menjadi gila karena ketakutan?”

 

“Kau memang pandai bergurau,“ jawab Jati Wulung, “Kau selalu mengatakan bahwa kau akan membunuh kami dengan cara apapun. Tetapi kau tidak pernah menyebut cara kematian yang kau ingini.”

 

“Tutup mulutmu,“ Kala Sembung berteriak. Tetapi iapun kemudian bertanya, “Siapa kau? Apakah kau pemimpin dari sayap pasukan Tanah Perdikan Sembojan ini?”

 

Jati Wulung masih tertawa. Iapun kemudian mengangguk sambil menjawab, “Ya. Aku pemimpin sayap dari pasukan Tanah Perdikan Sembojan. Sudah beberapa lama aku mencarimu. Sekarang kita bertemu. Karena itu, maka kita akan dapat berhadapan sebagai lawan yang tanggon.”

 

“Bagus,“ geram Kala Sembung, “majulah kalian berenam. Aku akan melakukan tugasku dengan baik. Membunuh kalian dengan cara yang paling pahit karena kalian melawan.”

 

Jati Wulung telah bergeser. Nampaknya ia memang harus segera mulai. Tetapi tiba-tiba ia justru memberi isyarat kepada kelima orang yang semula bertempur bersamanya agar mereka meninggalkannya.

 

“Aku akan bertempur seorang melawan seorang,“ berkata Jati Wulung.

 

Kala Sembunglah yang kemudian tertawa. Katanya, “Kau terlalu sombong.”

 

“Kita akan melihat, siapakah yang terlalu sombong,“ jawab Jati Wulung.

 

Demikianlah maka kedua orang itupun segera mempersiapkan diri. Sementara itu, kelima orang pengawal Tanah Perdikan telah bergeser menjauh. Mereka telah bersiap memasuki perang yang semakin sengit.

 

Ketika kedua pemimpin sayap pasukan itu telah mulai bertempur, maka orang-orang yang berada disekitarnya dari kedua belah pihak mulai menjauh. Mereka tidak lagi merasa perlu melindungi kedua pemimpin mereka yang sedang berbicara, karena mereka justru merasa perlu untuk menghindar. Kedua pemimpin yang berilmu tinggi itu akan menjadi sangat berbahaya bagi mereka, apalagi jika keduanya mengungkapkan ilmu puncak mereka. Jika mereka tidak menguak, maka justru merekalah yang akan mengalami akibat buruk dari serangan-serangan kedua orang pemimpin itu jika keduanya saling mengelakkan diri.

 

Sebenarnyalah, maka sejenak kemudian, Kala Sembung dan Jati Wulung telah terlibat kedalam pertempuran yang sengit. Bindi yang bergerigi tajam diseluruh batangnya itu terayun-ayun mengerikan. Sementara itu pedang Jati Wulungpun berputaran dengan cepatnya. Namun Jati Wulung menyadari bahwa ayunan bindi yang berat itu tentu didorong oleh kekuatan yang besar serta dorongan kekuatan ayunan itu sendiri, sehingga Jati Wulung tidak berusaha langsung membentur bindi itu jika tidak terpaksa sekali. Tetapi bahwa pedangnya lebih ringan dari bindi itu, memberinya kemungkinan untuk dapat bergerak lebih cepat.

 

Demikianlah, maka keduanyapun segera terlibat kedalam pertempuran yang semakin meningkat. Apalagi ketika tangan-tangan mereka telah menjadi basah oleh keringat.

 

Di sayap yang lain, Sambi Wulung harus berhadapan dengan seorang pemimpin padepokan yang nampak lebih bersungguh-sungguh. Ki Ajar Tulak yang menurut rencananya harus memancing kekuatan para pengawal di padukuhan induk untuk berkumpul di pintu gerbang utama, sementara yang lain akan memasuki padukuhan induk itu dari samping.

 

Namun ternyata bahwa orang-orang Tanah Perdikan telah memaksa pasukan Ki Rangga itu merubah rencana mereka dengan tiba-tiba, karena pasukan Tanah Perdikan telah bergerak maju dan menunggu dibawah bukit.

 

Dengan wajah yang buram Ki Ajar Tulak yang langsung dapat bertemu dengan Sambi Wulung itu telah berkata, “Ki Sanak. Jangan terlalu bodoh untuk menemuiku di pertempuran seperti ini hanya seorang diri.”

 

Sambi Wulung mengerutkan keningnya. Ia bergeser setapak surut. Sementara itu pertempuran telah terjadi disekitarnya. Kedua belah pihak telah mengerahkan kekuatan yang ada untuk melumpuhkan lawan.

 

“Kau harus mempersiapkan sebuah kelompok untuk melawanku. Sedikitnya terdiri dari sepuluh orang. Jika seorang diantara mereka terbunuh, orang lain harus cepat menggantikannya. Kalau tidak, maka sepuluh orang itu akan segera habis dalam waktu sekejap,“ berkata Ki Ajar Tulak.

 

Sambi Wulung termangu-mangu sejenak. Menurut penglihatannya, orang itu memang seorang yang terlalu yakin akan dirinya sendiri. Namun Sambi Wulung sempat bertanya, “Siapa namamu Ki Sanak?”

 

Ternyata orang itu tidak ingin bersembunyi. Dengan tegas ia menjawab, “Namaku Ajar Tulak. Orang-orang memanggilku Ki Ajar Tulak.”

 

“Kau seorang Ajar. Tentu kau memiliki kebijaksanaan yang lebih dari orang-orang kebanyakan,“ berkata Sambi Wulung.

 

“Apapun yang dikatakan orang tentang seorang Ajar, aku tidak pernah menghiraukannya. Siapa kau?,“ Ki Ajar itu bertanya.

 

“Namaku Sambi Wulung,“ jawab Sambi Wulung yang hampir salah menyebut namanya dengan Wanengbaya.

 

“Apakah kau seorang pemimpin yang terbaik di Tanah Perdikan ini sehingga kau berani menyongsongku?“ bertanya Ki Ajar.

 

“Tetapi menurut perhitunganku, kau bukan yang terbaik dipasukanmu. He, apakah kau memiliki ilmu lebih baik dari Ki Rangga Gupita? Dari Warsi atau orang-orang lain di pasukan induk?“ bertanya Sambi Wulung.

 

“Apakah kau tahu tingkat kemampuan Ki Rangga dan isterinya itu?“ bertanya Ki Ajar.

 

Sambi Wulung tertawa. Katanya, “Tetapi kami dapat memperhitungkan. He, apakah Warsi itu isteri Ki Rangga.”

 

“Persetan. Apa urusanmu? Sekarang kau sajalah yang harus memanfaatkan saat-saat terakhirmu dengan sebaik-baiknya. Sebelum mati adakah kau ingin berbuat sesuatu?“ bertanya Ki Ajar.

 

“Ya,“ jawab Sambi Wulung.

 

“Apa?“ bertanya Ki Ajar pula.

 

“Membunuhmu,“ jawab Sambi Wulung, “agaknya kau memang seorang Ajar yang justru dungu. Kau tidak dapat menilai baik dan buruk. Kesalahan dan kebenaran. Ketamakan dan berbudi. Agaknya pada suatu saat kau juga tidak akan dapat membedakan lagi, terang dan gelap. He, lihat. Yang dilangit itu matahari atau bulan?”

 

Wajah Ki Ajar menjadi merah. Ia adalah seorang yang sangat disegani oleh orang-orangnya dan bahkan ia merasa bahwa orang-orang lainpun sangat menghormatinya. Tetapi orang Tanah Perdikan ini telah menghinanya dan memperlakukannya seperti seorang anak kecil.

 

Karena itu, maka iapun menggeram, “Kau harus dibunuh dengan cara yang khusus karena kau telah menghinaku.”

 

Sambi Wulung justru tertawa. Katanya, “jangan marah Ki Ajar. Seorang Ajar harus bijaksana, sabar dan berbudi luhur.”

 

Ki Ajar Tulak itu tidak lagi dapat menahan kemarahannya. Karena itu, maka iapun segera bergeser sambil berdesis, “bersiaplah untuk mati. Kau sudah terlalu banyak berbicara.”

 

Sambi Wulung masih juga menjawab, “He, apakah kau juga dapat menghisap kekuatan dari cahaya bulan?”

 

Ki Ajar sudah tidak mau mendengarkan lagi. Ia mulai menyerang dengan garangnya. Tetapi Sambi Wulungpun telah bersiap. Ki Ajar Tulak yang sudah berada di medan itu segera memutar senjatanya. Senjata seorang Ajar yang memiliki ilmu yang tinggi. Sebilah keris yang besar melampui keris kebanyakan. Batangnya yang berkelok dan berwarna kehitam-hitaman memang nampak mendebarkan.

 

Sementara itu Sambi Wulung telah menggenggam senjatanya pula. Sebilah pedang.

 

Sejenak kemudian, maka keduanya telah bertempur. Nampaknya Ki Ajar yang marah itu berusaha untuk dengan cepat mengalahkan bahkan membunuh lawannya. Kerisnya yang mendebarkan itu dengan cepat berputaran. Sekali-sekali terayun mendatar menebas ke arah dada, namun kemudian menyambar leher dan dengan cepat pula mematuk ke arah jantung.

 

Tetapi Sambi Wulungpun cukup tangkas. Meskipun pedangnya tidak sebaik senjata lawannya, tetapi di tangan Sambi Wulung, maka pedang itupun menjadi sangat berbahaya. Pedang itu berputar bagaikan segulung asap putih yang menyelubungi tubuhnya. Namun kadang-kadang gulungan asap itu berkisar kesebelah kanan dan kiri tubuh Sambi Wulung. Sekali-sekali gulungan asap itu bahkan bagaikan terhembus ke arah tubuh Ki Ajar Tulak.

 

“Setan alas,“ Ki Ajar itu mengumpat, “ilmu pedangnya luar biasa.”

 

Sambi Wulung tertawa. Namun gulungan putaran pedangnya itu sama sekali tidak mengendor. Bahkan gulungan putaran pedang itu telah menyambarnya sehingga Ki Ajar terpaksa berloncatan menjauh. Namun dengan tangkas pula Ki Ajar itu telah meloncat dengan kerisnya terjulur lurus mengarah ke lambung, menyusup diantara putaran pedang lawannya.

 

Sambi Wulung ternyata terus bergeser surut. Ki Ajar-pun memiliki ilmu pedang yang cepat pula, sehingga senjatanya itu mampu menyerang langsung ke arah lambungnya tanpa tersentuh putaran pedangnya.

 

Dengan demikian maka pertempuran antara kedua pemimpin sayap itu menjadi semakin sengit. Keduanya mampu menguasai senjata masing-masing dengan baik. Ilmu pedang mereka adalah ilmu pedang pada tataran tertinggi, sehingga untuk kebanyakan orang, pertempuran itu sulit dipahami.

 

Sementara itu, orang-orang yang berada disayap itu-pun telah mengerahkah segenap kemampuan mereka pula. Baik para pengawal dari Tanah Perdikan, maupun orang-orang dari balik bukit. Namun ternyata orang-orang dari balik bukit itu telah salah menilai. Ternyata para pengawal Tanah Perdikan yang masih muda itupun memiliki kemampuan seorang prajurit yang tangguh. Sementara itu, yang lebih tua, telah memiliki pengalaman yang panjang. Termasuk perang yang serupa disekitar sepuluh tahun yang lalu ketika Ki Rangga dan Warsi mencoba menguasai Tanah Perdikan itu sebagaimana mereka lakukan sekarang.

 

Dengan demikian maka para pengawal Tanah Perdikan itupun tidak terlalu mudah untuk didesak. Meskipun diantara mereka ada pula anak-anak muda yang baru mengenal olah kanuragan pada tataran yang permulaan, namun disebelah menyebelah adalah kawan-kawan mereka yang lebih banyak menarik perhatian lawan. Apalagi anak-anak muda itu telah mendapat beberapa pesan, agar mereka bergerak berpasangan.

 

Dengan demikian maka pertempuran disayap kanan itu memang menjadi semakin sengit. Orang-orang dari balik bukit semakin lama menjadi semakin keras dan kasar.

 

Tetapi para pengawal Tanah Perdikan sama sekali tidak menjadi gentar. Apalagi para pengawal yang telah berpengalaman. Mereka sudah sering mengalami pertempuran dengan cara yang demikian. Namun justru karena itu, maka mereka harus tetap menyadari kedudukan mereka di medan. Mereka tidak boleh kehilangan akal, sehingga tidak mampu lagi mempergunakan penalaran mereka.

 

Sementara itu, Ki Ajar Tulak mulai menyadari, bahwa lawannya yang bernama Sambi Wulung itu bukan hanya seorang yang pandai membual. Ternyata dalam benturan-benturan senjata selanjutnya. Sambi Wulung benar-benar menunjukkan kemampuannya bermain pedang. Bahkan iapun ternyata memiliki kekuatan yang cukup besar.

 

Namun dengan demikian, Ki Ajar menjadi semakin berhati-hati. Ia tidak lagi dengan tergesa-gesa ingin mengakhiri pertempuran itu. Karena ia sadar, jika demikian maka mungkin ia sendiri yang akan terjerat kedalam kesulitan.

 

Sementara itu Sambi Wulung masih berusaha untuk menilai bukan saja lawannya. Tetapi seluruh medan di sayap itu. Sekali-sekali ia memang mencari kesempatan untuk memperhatikan pertempuran disebelah-menyebelah. Namun menurut penilaiannya, para pengawal Tanah Perdikan tidak terlalu banyak mengalami kesulitan meskipun lawannya bertempur dengan garangnya. Bahkan kasar dan liar.

 

Ki Ajar sendiri memang bertempur dengan keras. Tetapi ia masih menunjukkan sikap seorang yang memiliki harga diri yang tinggi. Ki Ajar tidak mau merendahkan dirinya dengan keliaran sebagaimana dilakukan oleh orang-orangnya.

 

Dalam pada itu, pertempuran di induk pasukanpun terjadi dengan sengitnya pula, Ki Sumbaga memiliki kemampuan untuk bertempur dalam gelar. Meskipun ia tidak mempersiapkan gelar untuk menghadapi orang-orang Tanah Perdikan, tetapi ternyata bahwa ia mampu dengan aba-aba mengatur orang-orangnya.

 

Yang menjadi sangat garang justru Warsi yang merasa bahwa dirinya telah dipenuhi oleh kekuatan cahaya bulan. Karena itu, maka Warsi itu telah bergerak dengan garangnya. Ia tidak terikat menghadapi seorang lawan. Tetapi ia meloncat-loncat dari satu tempat ke tempat lain.

 

Orang-orang Tanah Perdikan memang tergetar melihat sikapnya. Setiap tempat yang disinggahinya, maka korban akan jatuh.

 

Demikian Ki Rangga Gupitapun telah mengamuk bagaikan harimau yang terluka. Sebagai seorang yang berilmu tinggi, maka orang-orang Tanah Perdikan Sembojan mengalami kesulitan untuk menghadapinya. Karena itu, dengan naluri seorang prajurit, orang-orang Tanah Perdikan itu menghadapinya berpasangan. Bahkan tidak hanya berdua, tetapi bertiga atau bahkan berempat.

 

Sementara itu, kelompok-kelompok yang memang sudah dipersiapkan oleh orang-orang dari balik bukit itupun mulai bergerak. Oleh beberapa orang penghubung mereka telah dibawa menghadapi orang-orang tua dari Tanah Perdikan Sembojan.

 

Oleh kemampuan Ki Sumbaga mengatur orang-orangnya, maka tiba-tiba saja Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka telah dikurung oleh sekelompok orang yang telah dipersiapkan. Demikian pula Iswari.

 

Demikianlah maka pertempuran di pasukan induk itupun menjadi semakin sengit. Warsi dengan sengaja memang tidak segera berusaha menemui Iswari. Ketika ia berada di medan, maka tiba-tiba saja ingin memanaskan darahnya lebih dahulu dengan membunuh lawan sebanyak-banyaknya.

 

Ternyata yang dilakukan oleh Warsi itu tidak dilakukan oleh para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan.

 

Mereka sama sekali tidak mempunyai niat sebagaimana dilakukan oleh Warsi. Karena itu, maka para pemimpin Tanah Perdikan itupun bertempur dengan sikap seorang Senapati.

 

Meskipun didalam peperangan mereka tidak mempunyai pilihan lain daripada menyingkirkan lawan-lawannya, tetapi dada mereka tidak dibakar oleh nafsu yang tidak terkendali. Orang-orang Tanah Perdikan masih mengendalikan diri menghindari kematian sejauh dapat dilakukan, meskipun merekapun berusaha untuk menghentikan perlawanan lawan-lawannya.

 

Namun akhirnya laporan tentang tingkah laku Warsi dan Ki Rangga itu sampai juga ketelinga Iswari. Ketika seorang penghubung dengan susah payah menerobos kepungan dan bertempur disisi Iswari sambil berkata, “Setan betina itu ada disisi kanan induk pasukan ini. Sementara itu, Ki Rangga bertempur tidak jauh daripadanya.”

 

“Apakah mereka memimpin induk pasukan ini?“ bertanya Iswari. Sambil bertempur.

 

“Tidak. Orang lain memimpin pasukan induk ini,“ jawab penghubung itu.

 

Iswari terdiam sejenak. Sementara penghubung itupun melaporkan bahaya yang gawat, yang ditimbulkan oleh Warsi dan Ki Rangga yang sama sekali tidak mengekang diri.

 

Iswari mengangguk kecil. Sambil bertempur ia berkata, “Bawa aku menemui mereka.”

 

“Bagaimana dengan orang-orang ini?“ bertanya penghubung itu.

 

Iswari tidak menjawab. Namun dengan kemampuannya yang sangat tinggi, maka sepasang pedangnya tiba-tiba saja berputar semakin cepat, Beberapa orang yang mengepungnya tiba-tiba terdorong surut. Dua orang kehilangan pedangnya, sementara seorang yang lain mengaduh kesakitan karena dadanya tergores tajamnya senjata. Ketika dua orang lagi menyerang bersama-sama, maka keduanyapun harus berloncatan mundur. Seorang diantaranya pundaknya telah tertusuk ujung senjata Iswari. Sedang yang lain senjatanya telah terlempar. Namun hampir tidak dengan sengaja, bahwa penghubung yang bertempur disebelah Iswari itu telah mengacukan pedangnya lurus kedada orang itu.

 

“Kenapa kau bunuh orang itu?“ bertanya Iswari.

 

“Aku tidak sengaja membunuhnya,“ jawab penghubung itu.

 

Iswari tidak menjawab lagi. Iapun kemudian dengan sepasang pedangnya menyibak pertempuran itu. Namun ia sempat memberikan isyarat kepada orang-orang tua yang juga bertempur dalam kepungan, bahwa ia akan menemui Warsi disisi kanan induk pasukan.

 

Kiai Badra yang mengetahui bahwa Warsi datang bersama Ki Rangga tidak ingin membiarkan Iswari pergi sendiri. Sementara Kiai Soka dan Nyai Sokapun ingin melihat, apa yang akan terjadi dengan murid mereka itu.

 

Karena itu, maka sambil bertempur merekapun telah bergeser pula. Orang-orang yang telah disusun dalam kelompok-kelompok tertentu berusaha untuk menahan mereka. Tetapi meskipun kelompok-kelompok itu terdiri dari orang-orang pilihan, namun Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka tidak mengalami kesulitan sama sekali untuk bergeser mengikuti Iswari.

 

Kelompok-kelompok yang sudah dipersiapkan itu, memang berusaha untuk mencegah orang-orang terpenting dari Tanah Perdikan itu. Namun mereka tidak berdaya untuk melakukannya. Bahkan ketika orang-orang itu menjadi semakin keras bertempur, maka satu persatu mereka terpelanting dari medan, sehingga orang-orang baru telah tampil untuk menggantikannya. Bahkan kelompok-kelompok itu menjadi semakin besar. Tetapi bagi orang-orang tua itu, semakin banyak jumlah orang yang mengepung mereka, bukan berarti semakin sulit bagi mereka. Kecuali mereka memang berilmu tinggi, tetapi para pengawal Tanah Perdikanpun tidak membiarkan hal itu terjadi. Karena orang-orang dari balik bukit itu semakin banyak yang mengerumuni orang-orang tua dari Tanah Perdikan, maka para pengawalpun semakin banyak mendapat kesempatan untuk memecah kepungan itu, karena mereka telah kehilangan lawan.

 

Sementara itu, di medan perang yang semakin sengit itu, para pengawal Tanah Perdikan Sembojan telah mempergunakan akal mereka pula. Dalam gelar Wulan Punanggal itu, para pengawal yang berada di pasukan induk itu telah mempergunakan anak gelar pula. Gelar Jurang Grawah.

 

Ketika orang-orang dari balik bulkit dengan marah dan mengerahkan segenap kemampuan nereka, maka para pengawal dilapisan pertama telah menyibak, sehingga orang-orang itu menganggap mereka telah berhasil menguakkan pasukan induk dari Tanah Perdikan itu.

 

Tetapi demikian mereka memasuki lapisan berikutnya, maka para pengawal di lapisan pertama itu telah mengatup kembali, sementara para pengawal yang telah berpengalaman di lapisan kedua dengan cepat mengambil alih orang-orang yang terjerumus masuk itu.

 

Dengan demikian maka beberapa kali orang-orang dari balik bukit itu terjebak juga. Jika mereka dengan garangnya berhasil menembus pertahanan di lapisan kedua, maka mereka masih harus berhadapan dengan anak-anak muda dari Tanah Perdikan dilapisan ketiga yang bertempur berpasangan. Bahkan ada diantara mereka orang-orang yang justru terpilih, sehingga orang-orang dari balik bukit itu akan kehabisan kesempatan untuk mempertahankan dirinya.

 

Ketika satu dua orang diantara mereka dilepaskan oleh lapisan terakhir, maka mereka justru merasa terkurung dibelakang gelar dari Tanah Perdikan itu. Sehingga ketika beberapa orang pengawal mendekatinya, maka dengan gemetar mereka telah melemparkan senjatanya dan menyerah.

 

Untuk menjaga segala kemungkinan, maka para pengawal Tanah Perdikan itu telah mengikat tangan dan kaki orang-orang yang menyerah dan meletakkan mereka dipematang. Beberapa orang duduk berjajar tanpa dapat menyingkir dari basahnya lumpur. Bahkan beberapa orang menjadi kebingungan karena semut-semut merah telah menggigit kulit mereka. Tetapi ikatan pada tangan dan kaki mereka sama sekali tidak akan dilepas.

 

Beberapa orang pengawal dan anak-anak muda telah mendapat tugas untuk menjaga para tawanan itu, sementara perang masih berlangsung dengan garangnya.

 

Untuk beberapa saat lamanya, garis perang itu masih belum bergeser dari tempatnya. Ujung-ujung gelar Wulan Punanggal itu masih belum pula berhasil meremas pasukan lawan dengan kemampuan pasukan di sayap-sayapnya. Ternyata bahwa orang-orang dari balik bukit yang memiliki pengalaman yang keras dan kasar serta tangan yang memang sudah direndam didalam darah itu, tidak mudah ditundukkan.

 

Sementara itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung yang memimpin pasukan pada sayap gelar, telah berusaha untuk dengan cepat menyelasaikan lawan-lawan mereka. Keduanya masih terbatas pada kemampuan ilmu pedang mereka yang didukung oleh tenaga cadangan yang semakin besar.

 

Namun ternyata bahwa lawan-lawan merekapun memiliki kemampuan yang tinggi dan kekuatan yang sangat besar. Merekapun ternyata begitu akrab dengan senjata mereka, sehingga seakan-akan anggauta badan mereka sendiri.

 

Pertempuran di kedua sayap itupun menjadi semakin sengit. Karena orang-orang dari balik bukit itu tidak mempergunakan gelar yang mapan, maka mereka seakan-akan justru mempergunakan gelar Emprit Neba. Namun di induk pasukan gelar itu ternyata telah merugikan mereka sendiri, karena para pengawal dari Tanah Perdikan Sembojan di induk pasukan justru mempergunakan anak gelar Jurang Grawah.

 

Orang-orang dari balik bukit, terutama yang berada disayap yang dipimpin oleh Ki Kala Sembung, ternyata telah membentur kekuatan yang tidak diduganya. Orang-orang kasar yang memiliki pengalaman yang sangat luas, serta dapat membunuh lawannya dengan jantung yang sama sekali tidak berdebar itu, menjadi semakin marah karena orang-orang Tanah Perdikan tidak dapat diper-lakukan seperti orang-orang padukuhan yang pernah mereka rampok sebelumnya. Orang-orang Tanah Perdikan Sembojan tidak menjadi ketakutan dan gemetar. Bahkan mereka sempat mengangkat wajah mereka sambil menepuk dada dan berkata lantang, “Inilah para pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Sedumuk bathuk, senyari bumi, taruhannya mati.”

 

Orang-orang dari balik bukit itu menggeram. Mereka mengumpat dan memaki dengan kata-kata kotor. Namun orang-orang Tanah Perdikan itupun telah berteriak pula untuk mengatasi kegelisahan mereka mendengar kata-kata kotor, “Memakilah. Makianmu tidak akan dapat membunuhku. Jika kau merasa puas memaki-maki sebelum mati, lakukanlah.”

 

Orang-orang kasar itu menjadi semakin marah. Namun semakin mereka menjadi marah, maka merekapun menjadi semakin liar dan buas. Tetapi juga mereka menjadi semakin bermata gelap sehingga mereka tidak sempat mempergunakan otak mereka lagi. Sehingga dengan demikian maka mereka tidak lagi membuat perhitungan-perhitungan yang mapan. Mereka bertempur asal saja mempergunakan kekuatan dan kemampuan mereka tanpa akal dan penalaran.

 

Para pengawal Tanah Perdikan memang sudah mendapat pesan sebelumnya, bahwa mungkin sekali mereka akan berhadapan dengan orang sebagaimana dihadapinya itu. Karena itu, mereka sudah mempersiapkan diri mereka baik-baik. Bahkan mereka sudah mempersiapkan perlawanan yang paling baik menghadapi orang-orang yang bagaikan menjadi mabuk itu.

 

Dalam pada itu, Iswari yang bergeser perlahan-lahan sambil menyibak pertempuran yang sengit diinduk pasukan, memang menjadi semakin dekat dengan lingkaran pertempuran antara Warsi dengan sekelompok pengawal. Karena itu, maka ia mulai melihat kegelisahan pada pasukannya. Nampaknya Warsi masih saja berbuat kasar dan keras.

 

Ketika orang-orang Tanah Perdikan ini melihat kehadiran Iswari, maka tiba-tiba saja dengan serta merta orang-orang Tanah Perdikan itu telah bersorak. Mereka yang mengalami tekanan oleh kekasaran dan kekerasan sikap Warsi, merasa bahwa seorang pelindung telah datang,

 

Orang-orang dari balik bukit itu terkejut. Sorak yang bagaikan hendak meruntuhkan langit itu telah menggetarkan jantung mereka. Karena sesuatu tentu telah terjadi.

 

Baru kemudian mereka menyadari, bahwa Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan telah hadir di arena pertempuran itu.

 

Iswari bergeser terus. Yang mula-mula ditemuinya adalah justru putaran pertempuran melawan Ki Rangga Gupita. Menurut perhitungan Iswari, agaknya Warsi tentu lebih berbahaya dari Ki Rangga. Karena itu, maka Iswari itupun telah meninggalkan Ki Rangga untuk mencari Warsi.

 

Ternyata jarak mereka memang tidak terlalu jauh. Sebentar kemudian, maka orang-orang diseputar Warsilah yang bersorak kegirangan. Rasa-rasanya, nyawa mereka yang sudah berada diujung ubun-ubun itu telah mantap kembali didalam tubuh mereka.

 

Iswari dengan jantung yang berdebaran mendapat laporan dari seorang penghubung yang lain yang mengikuti terus tingkah laku Warsi. Beberapa orang memang sudah terbunuh dan terluka, sehingga mereka telah diangkat dan disingkirkan keluar arena.

 

“Jika Nyi Wiradana tidak segera datang, maka di putaran pertempuran ini, orang-orang kita akan dilumatkan. Pasukan kita tentu akan koyak dan gelar Wulan Punanggal ini akan kehilangan arti,“ berkata penghubung itu.

 

Iswari mengangguk-angguk. Hampir diluar sadarnya ia telah mengangkat wajahnya. Dilihatnya bulan yang bulat memancar dilangit yang bersih.

 

Tetapi Iswari itupun telah mengatupkan giginya rapat-rapat. Ia tidak percaya bahwa cahaya bulan itu akan dapat membuat seseorang semakin tinggi tingkat ilmunya selain sebagaimana pernah dikatakan oleh gurunya, bahwa pengaruhnya justru ada dalam sikap kajiwan. Kepercayaan dan keyakinan yang mendalam akan membuat seseorang berjiwa teguh dan penuh harapan.

 

Agaknya Warsipun akan bersikap demikian. Justru dibawah siraman cahaya bulan yang penuh.

 

Beberapa saat kemudian, maka Iswari telah melihat, bagaimana kekasaran Warsi di medan itu. Ia mulai melihat orang-orang Tanah Perdikan harus memeras kemampuannya dalam kelompok yang cukup besar untuk menahan agar Warsi tidak berloncatan di medan pertempuran itu sambil menyebarkan maut. Untuk menahan kebebasan geraknya, maka beberapa orang pengawal telah berusaha untuk menahannya dengan senjata bertangkai panjang dari beberapa arah. Namun tidak seorangpun diantara mereka yang mampu menyentuh tubuhnya.

 

Apalagi ketika Warsi kemudian telah mempergunakan senjatanya yang mendebarkan. Seutas rantai yang kadang-kadang terjulur panjang, namun kadang-kadang rantai itu digulungnya, sehingga juntainya hanya pendek saja. Namun juntai yang pendek itu di tangan Warsi justru menjadi sangat berbahaya, karena rantai itu seakan-akan dapat berubah menjadi tongkat baja yang kuat yang bukan saja dapat dipergunakan untuk menebas, tetapi juga untuk menusuk.

 

Ketika Iswari mendekati lingkaran pertempuran itu, tiba-tiba saja debar jantungnya serasa semakin cepat. Ia mulai dibayangi oleh perasaannya sendiri. Seolah-olah beberapa orang di medan itu telah memandanginya dengan bibir yang mencibir. Seolah-olah beberapa orang tidak yakin, bahwa ia telah menempatkan dirinya untuk melawan Warsi itu karena tanggung jawabnya atas Tanah Perdikan Sembojan. Namun menurut perasaan Iswari, ada saja orang yang menganggapnya Iswari bertempur menghadapi Warsi karena sakit hati, bahwa suaminya telah diambil oleh perempuan itu. Seolah-olah yang dilakukan Iswari itu adalah persoalan antara dua orang perempuan yang pernah dimadu oleh Ki Wiradana, sehingga kesempatan itu tidak lebih dari kesempatan melepaskan dendam seorang yang kehilangan suaminya.

 

Iswari terkejut ketika ia mendengar teriak kesakitan. Seorang pengawal telah terlempar dari arena sehingga terguling beberapa kali, justru jatuh dikaki pengikut Warsi.

 

Iswari terkejut melihat pengikut Warsi itu masih juga mengangkat senjata untuk membunuh orang yang sudah tidak berdaya itu.

 

Adalah diluar sadarnya, bahwa dengan kecepatan seekor burung sikatan, Iswari meloncat dan ujung pedangnya tiba-tiba telah mengoyak pundak orang yang akan membunuh lawan yang sudah tidak berdaya itu.

 

Baru kemudian, dua orang Tanah Perdikan sempat berlari mendekat menolong orang yang terluka oleh ujung rantai Warsi itu. Namun seorang dari orang-orang yang menyerang Tanah Perdikan itupun jatuh berguling-guling sambil menahan sakit, karena pundaknya yang koyak.

 

Dengan demikian maka Iswaripun semakin menyadari, apa yang telah terjadi disekitar Warsi. Karena itu, maka iapun telah bertekad untuk segera memasuki arena pertempuran melawan perempuan iblis itu.

 

Orang-orang Tanah Perdikan yang melihatnya telah bersorak lagi, sementara mereka menyibak memberikan jalan kepada Iswari untuk memasuki arena, sementara yang lain berusaha menahan orang-orang dari balik bukit yang ingin menyerang Iswari itu.

 

“Kau anak manis “ tiba-tiba saja Warsi menggeram.

 

“Kita bertemu lagi dimalam terang bulan seperti ini. Aku sengaja menunggumu sampai kau menemukan satu waktu yang dapat memberimu sedikit dukungan jiwani karena sinar bulan itu kau sangka akan dapat membantumu,“ berkata Iswari.

 

Warsi mengerutkan keningnya. Namun kemudian terdengar ia tertawa berkepanjangan. Namun yang sama sekali tidak diduga oleh Iswari, perempuan itu telah bertanya, “jadi kau masih sakit hati karena suamimu kemudian meninggalkanmu dan mengawini aku, sehingga kau perlukan malam ini mencariku?”

 

Telinga Iswari menjadi merah. Namun ia berusaha agar jiwanya tidak menjadi lemah dan terpengaruh oleh kata-kata perempuan itu. Karena itu Iswari justru menjawab, “Agaknya pertanyaan itu sudah lama kau persiapkan. Kau ingin mempengaruhi perasaanku dengan pertanyaan-pertanyaan cengeng seperti itu.”

 

“Kau memang selalu berprasangka buruk. Memang agak bertentangan dengan wajahmu yang cantik itu. Setelah umurmu bertambah dengan kurang lebih sepuluh tahun, kau justru nampak lebih cantik dan muda. He, apakah kau tidak ingin kawin lagi? Tentu ada segerobag laki-laki yang akan bersedia menjadi suamimu. Kau cantik, berilmu dan seorang yang kini mendapat kesempatan untuk menguasai Tanah Perdikan ini,“ berkata Warsi.

 

Tetapi Warsipun terkejut ketika Iswari bertanya, “Apakah kau juga kawin lagi? Atau sekedar mencari kepuasan dari segerobag laki-laki yang kau kuasai lahir dan batinnya?”

 

Warsi memang tidak mengira bahwa ia akan mendapat pertanyaan seperti itu dari mulut Iswari. Seorang perempuan yang dianggapnya lebih banyak diam dan menunggu itu. Seorang perempuan yang meskipun berilmu tinggi tetapi tetap cengeng dan menutup diri.

 

Namun justru karena itu, maka kemarahan Warsi menjadi semakin terungkat. Dengan garang ia menjawab, “Mulutmu ternyata tajamnya melampui ujung tombak. Aku tidak mengira. Tetapi baiklah. Mulutmu itu akan segera tertutup rapat untuk selamanya. Mulutmu yang mungil, Serasi dengan bentuk hidung dan matamu, sehingga membuat kau menjadi seorang perempuan yang cantik itu, tidak akan dapat mengucapkan kata-kata lagi, karena kau akan mati.”

 

Iswari tersenyum. Katanya, “Kenapa tiba-tiba saja kau menjadi sangat marah? Apakah aku telah menyinggung perasaanmu? Tetapi kau memang menjadi semakin cantik jika kau marah. Apalagi dibawah sinar bulan purnama.”

 

“Cukup,“ bentak Warsi, “bukankah kita datang ketempat ini tidak untuk berbicara tentang diri kita masing-masing, tentang suami kita yang sudah mati dan tentang kecantikan kita?”

 

“Bukan aku yang mendahuluinya,“ jawab Iswari, “kaulah yang pertama-tama menyinggung hal itu. Aku kira aku memang masih berminat untuk sedikit mengenang masa lalu. Sebagai perempuan maka kita tidak dapat ingkar. Yang cengeng itu kadang-kadang memang muncul di hati kita.”

 

“Baiklah,“ berkata Warsi, “sekarang kita akan bertempur. Apapun alasannya. Apakah itu karena kita pernah menjadi madu, atau karena kita menjadi kehilangan akal setelah suami kita mati, atau karena Tanah Perdikan Sembojan yang seharusnya jatuh ke tangan anakku. Terbuka atau tidak, kau tentu mengakui, bahwa sebenarnya kau sudah tidak lagi berarti bagi Ki Wiradana, orang yang paling berhak atas Tanah Perdikan ini. Anakmu lahir sesudah kau disingkirkan, bahkan sudah dicoba untuk membunuhmu. Jika kau mempunyai sedikit harga diri, maka kau tentu tidak akan mau menyentuh lagi semua warisan orang yang telah berusaha membunuhmu itu. Karena anakmu lahir setelah kau disingkirkan, maka anakmu sudah tidak mempunyai hak apapun atas Tanah Perdikan ini. Anakkulah yang berhak memimpin Tanah Perdikan ini.”

 

“Sesudah kau membunuh Ki Wiradana?“ bertanya Iswari.

 

“Omong kosong itu tidak akan dipercaya oleh siapa-pun,“ jawab Warsi, “kami adalah pasangan yang serasi. Dalam pertempuran, kakang Wiradana menjadi lengah.”

 

Sebenarnyalah bahwa kata-kata Warsi bagaikan bara yang menyentuh telinganya. Hampir saja Iswari kehilangan pengendalian diri. Namun latihan yang mantap serta penderitaan lahir batin yang lama, telah menempanya, sehingga ia memiliki kemampuan yang tinggi untuk mengendalikan perasaannya dan mempergunakan penalaranannya. Tetapi katanya kemudian, “Ingat, kau pernah mengakui membunuhnya.”

 

Namun Warsilah yang membentak, “Cukup. Apapun yang terjadi, kau akan mati sekarang ini. Lihat, cahaya bulan yang bulat, sedangkan langit bersih tanpa selembar awanpun. Pertanda bahwa aku mendapat perlindungan sepenuhnya dari Dewi Penguasa Langit yang cantik itu. Ilmuku ada dipuncak malam ini dan selanjutnya cahaya bulan yang cantik ini akan membuat aku tetap muda dan segera serta menambah kecantikanku sehingga aku akan dapat menguasai semua laki-laki di muka bumi ini. Tanah Perdikan Sembojan akan aku kuasai dan akan menjadi landasan perjuangan selanjutnya untuk memecah Pajang yang kini sedang disaput awan karena Alas Mantaok itu. Tetapi Alas Mentaok itu sendiri tidak akan pernah dapat bangkit menjadi satu pusat pemerintahan sesudah Pajang, karena pimpinan Tanah ini akan dikendalikan dari Tanah Perdikan Sembojan.”

 

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “jangkauanmu memang cukup jauh. Sayang, kau telah menempuh jalan yang sesat.”

 

“Kau tahu apa yang dilakukan oleh Sultan Hadiwijaya, ketika ia berusaha mendapatkan kekuasaan di Pajang?“ bertanya Warsi.

 

“Apa hubungannya dengan jalan yang kau tempuh?“ bertanya Iswari.

 

“Sultan Hadiwijaya adalah seorang gembala dimasa kecilnya. Namun akhirnya ia berhasil menguasai tahta Pajang. Nah, setiap orang ternyata akan dapat melakukan hal sama? Kau pernah mendengar dongeng tentang seorang penyamun, perampok dan pembunuh yang dapat menjadi Raja di Singasari?“ bertanya Warsi.

 

“Alangkah nyamannya, dongeng menjelang tidur di bulan terang,“ desis Iswari.

 

Warsi menggeram. Katanya kasar, “Kau memang harus dibunuh dengan cara yang paling buruk.”

 

“Kita sudah siap untuk saling membunuh. Marilah selagi bulanmu masih ada dilangit. Jika kau terlambat sehingga saatnya bulan tenggelam besok pagi, maka kau menjadi lampu yang kehabisan minyak. Semakin surut dan akhirnya padam sama sekali,“ jawab Iswari.

 

“Tutup mulutmu. Bersiaplah untuk mati. Tetapi kau tidak perlu menangisi nasibmu yang buruk sekarang ini. Berikan pesan terakhir kepada pengawalmu untuk disampaikan kepada anakmu yang akan menjadi yatim piatu,“ geram Warsi.

 

Tetapi Iswari tidak menjawab lagi. Ia sudah bersiap dengan sepasang pedangnya menghadapi Warsi yang mulai mengayun-ayunkan rantainya.

 

Demikianlah, maka sejenak kemudian keduanya mulai bergesek Dendam memang membayang di wajah kedua orang perempuan itu. Tetapi mereka memang mempunyai ungkapan yang berbeda. Warsi adalah orang yang tidak lagi terikat dengan paugeran dan unggah-ungguh apapun, sementara Iswari masih tetap seorang perempuan yang utuh. Perasaannya maupun penalarannya.

 

Warsi yang telah menahan kemarahan beberapa saat lamanya itupun tiba-tiba telah mengayunkan rantainya menyambar ke arah kening lawannya. Namun Iswari dengan tangkasnya mengelak. Bahkan ia masih sempat berkata, “Rasa-rasanya gerak tanganmu seperti gerak tangan seorang penari yang seblak sonder. Jari-jarimu yang lentik mampu mengibas rantai seperti mengibaskan sonder disaat kau menari dipinggir-pinggir jalan diwaktu gadismu.”

 

“Tutup mulutmu,“ Warsi berteriak, “kita bertempur. Bukan berbicara berkepanjangan.”

 

Iswari justru tersenyum. Namun serangan Warsi kemudian telah datang membadai. Rantainya terayun-ayun dan berputaran dengan cepatnya.

 

Iswari memang sudah bersiap sepenuhnya. Kedua pedang di kedua tangannyapun telah bergetar pula. Kakinya dengan cepat bergerak melontarkan tubuhnya yang berloncatan menghindari serangan lawannya.

 

Meskipun keduanya pernah bertempur bahkan justru berperang tanding, namun itu sudah terjadi di waktu yang telah lama berlalu. Keduanya tentu sudah meningkatkan ilmu mereka masing-masing, sehingga keduanya merasa perlu untuk kembali saling menjajagi.

 

Sementara itu, pertempuran diseluruh medan itu menjadi semakin sengit. Bulan yang menjadi semakin tinggi memancarkan cahayanya yang kekuning-kuningan. Seakan-akan bulan itu tengah mengerahkan segala kemampuan cahayanya untuk menerangi bumi yang mulai basah bukan saja oleh embun, tetapi oleh darah.

 

Pertempuran yang liar telah terjadi di sayap-sayap gelar yang tidak merata itu. Meskipun gelar pasukan pengawal Tanah Perdikan mapan, tetapi lawannya tidak mempergunakan gelar yang baik. Mereka asal saja menebar dan bertempur dengan garang dan kasar. Lebih-lebih lagi para pengikut Ki Kala Sembung. Sedangkan pasukan yang ada disayap yang dipimpin oleh Ki Ajar Tulakpun rasa-rasanya tidak, mungkin lagi dikuasai oleh pangeran atau tanggung jawab terhadap perbuatan yang dilakukan baik oleh seluruh kekuatan disayap itu, oleh kelompok-kelompok yang berada di sayap itu, ataupun secara pribadi. Sehingga dengan demikian, maka orang-orang dari balik bukit itu, dikedua sayapnya, telah bertempur dengan liar dan tidak terkekang.

 

Namun orang-orang Tanah Perdikan ternyata mampu mempertahankan gelar mereka. Apalagi diinduk pasukan yang berhasil memanfaatkan anak gelar Jurang Grawah.

 

Ki Ajar Tulak yang tidak mampu menguasai seluruh gerak orang-orangnya itupun telah membiarkan mereka. Bahkan tiba-tiba saja ia berteriak, “Kita mempergunakan gelar Samodra Rob. Pasukan kita akan menghantam tebing beruntun terus-menerus. Tidak ada jemu-jemunya sampai tebing itu runtuh dan pasukan kita akan naik melanda gelar lawan dan menggulungnya, seperti ombak lautan yang sedang naik didorong oleh prahara yang tidak terkekang oleh kekuatan apapun.”

 

Teriakan Ki Ajar Tulak itu justru semakin membakar jantung para pengikutnya serta orang-orang yang ada di dalam kelompoknya. Yang kasar menjadi semakin kasar. Yang buas menjadi semakin buas. Bagi mereka sama sekali tidak ada lagi yang mengekang tingkah laku mereka.

 

Tetapi aba-aba Ki Ajar Tulak itu juga merupakan aba-aba bagi para pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Mereka yang mendengarnya segera mempersiapkan diri menghadapi apa yang disebut gelar Samodra Rob itu. Bahkan di pangkal sayap yang bertempur pada garis pertempuran, para pengawal Tanah Perdikan Sembojan mempergunakan anak gelar seperti yang dilakukan di induk pasukan. Menghadapi Gelar Samodra Rob, maka para pengawal itu telah mempergunakan anak gelar Jurang Grawah. Gelombang yang datang menghantam tebing itu tidak dilawan dengan kerasnya batu padas yang semakin lama akan dapat menjadi semakin aus. Tetapi gelombang yang beruntun datang membadai itu telah menimpa tebing yang terbuka dan meluncur masuk kedalam jurang yang dalam. Jurang yang tidak akan penuh betapapun juga gelombang yang ganas meluap kedalamnya, karena air yang masuk kedalam jurang itu langsung dihisap kedalam bumi.

 

Namun diujung-ujung sayap gelar, para pengawal tidak mempergunakan anak gelar seperti itu. Ujung-ujung sayap gelar itu justru menusuk semakin lama semakin dalam. Meskipun kemudian para pemimpin dari sayap-sayap itu bertempur seorang melawan seorang, namun rencana yang sudah masak yang oleh orang-orang Tanah Perdikan. Beberapa pengawal terpilih, diikuti oleh para pengawal yang tidak terputus, telah berusaha untuk bertempur didalam lingkungan lawan, dibelakang garis pertahan mereka.

 

Bahwa para pengawal terpilih itu berhasil menusuk masuk, maka pengaruh yang terbesar sebenarnya tidak pada imbangan kekuatan pasukan, tetapi condong pada pengaruh kejiwaan. Para pengawal yang sudah ada didalam pasukan lawan dan bertempur didalamnya serta hubungan yang tidak terputus dengan induk pasukan sayap itu, membuat lawan mereka menjadi sangat gelisah. Sementara itu, pasukan sayap lawan itu tidak dapat memusatkan perhatian mereka untuk menghancurkan para pengawal yang menyusup masuk itu, karena dibagian lain kekuatan sayap itu seakan-akan juga tidak terbendung. Bahkan dengan gelar Samodra Rob yang diterima oleh pasukan disayap lawan dengan anak gelar Jurang Grawah itu, maka rasa-rasanya orang-orang dari balik bukit itu menjadi cepat susut.

 

Namun akhirnya para pemimpin kelompok orang-orang dari balik bukit itu menyadari, bahwa lawan mereka terlalu cerdik sehingga merekapun telah mengekang diri. Mereka tidak lagi membentur kekuatan lawan seperti gelombang samodra yang didorong oleh angin prahara, namun yang kemudian. meluap masuk kedalam jurang yang tidak akan dapat menjadi penuh itu. Tetapi mereka telah bertempur dengan orang-orang yang langsung ada di hadapannya dan berusaha membunuhnya.

 

Sementara itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung masih saja bertempur dengan Ki Ajar Tulak dan Ki Kala Sembung. Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak merasa perlu untuk merambah sampai ke ilmu pamungkas mereka, karena dengan kemampuan ilmu pedang mereka dengan landasan tenaga cadangan yang mampu dibangkitkannya, mereka telah dapat mengatasi kemampuan lawan-lawan mereka.

 

Bahkan Sambi Wulung yang bertempur melawan Ki Ajar Tulak itu telah mendesaknya sehingga Ki Ajar Tulak itu telah mengumpat-umpat. Ternyata bahwa sikap Ki Ajar itu semakin lama menjadi semakin berubah. Jika mula-mula ia masih bertahan pada sikap seorang yang berpegang pada harga dirinya, namun kemudian sikap itu menjadi semakin kabur. Ternyata Ki Ajar itupun menjadi semakin kasar pula.

 

“Ki Ajar,“ berkata Sambi Wulung kemudian sambil mendesaknya, “aku mohon Ki Ajar mampu membuat penilaian pada saat-saat yang gawat ini. Sebagai seorang Ajar, maka Ki Ajar tentu mempunyai wawasan dan pertimbangan yang sangat luas. Bukan saja berdasarkan unsur-unsur yang lebih tinggi nilainya, yaitu hubungan antara kita dengan Yang Maha Tinggi.”

 

Tetapi Ki Ajar itu justru berteriak, “Tutup mulutmu. Aku tidak ingin mendengar sesorahmu.”

 

Sambi Wulung tertawa. Katanya, “Jika kau sudah menobatkan dirimu menjadi seorang Ajar, maka tentu kau harus memikul tanggung jawab yang besar karenanya.”

 

Tetapi Ki Ajar sama sekali tidak menjawab. Dengan garangnya ia menyerang Sambi Wulung. Namun Sambi Wulung benar-benar memiliki kemampuan ilmu pedang yang sangat tinggi.

 

Di sayap yang lain, Jati Wulung telah menekan Ki Kala Sembung dengan kerasnya. Karena Kala Sembung juga hanya berlandaskan pada kemampuan kewadagan serta pengalamannya yang keras, maka Jati Wulungpun telah melayaninya pula dengan landasan ilmu pedangnya pula pada alas kekuatan cadangan didalam dirinya.

 

Kala Sembung yang keras dan kasar itu ternyata mendapat banyak kesulitan melawan ilmu pedang Jati Wulung. Beberapa kali ia telah terdesak. Namun setiap kali orang-orangnya telah membantunya, sehingga dua tiga orang bersama-sama memancing perhatian Jati Wulung. Tetapi sejenak kemudian, maka para pengawalpun telah hadir pula untuk mengikat orang-orang itu dalam pertempuran tersendiri, sehingga Kala Sembung harus kembali bertempur seorang melawan seorang.

 

Dipasukan induk, pertempuranpun menjadi semakin sengit. Bulan dilangit merayap semakin tinggi, sehingga akhirnya telah mencapai puncaknya. Cahayanya yang cerah kekuningan telah menerangi bukan saja seluruh medan dan seluas Tanah Perdikan Sembojan, tetapi hampir seluruh belahan bumi.

 

Sementara itu, Warsi yang disiram cahaya bulan penuh itu memang merasa bahwa dirinya berada dipuncak kemampuannya. Rasa-rasanya cahaya bulan itu telah menusuk masuk kedalam simpul-simpul syarafnya sehingga keseluruhannya telah terbuka. Tubuhnya serasa seringan kapas dan sampai keujung-ujung rambutnya mampu dikuasainya dengan mudah lewat kehendaknya.

 

Ketika bulan itu sampai kepuncak, maka Warsi itu-pun telah meningkatkan ilmunya pula. Dengan wajah tengadah ia berkata, “Lihat Iswari. Dewi langit itu telah tersenyum kepadaku. Itu pertanda yang sangat buruk bagimu.”

 

Tetapi Iswari tertawa sambil menghindari serangan Warsi. Katanya, “Di bulan itu hanya terdapat seorang bidadari yang sedang menjalani hukuman karena kesalahannya yang sangat besar. Ia dikawani oleh seekor kucing candramawa yang setia. Kerjanya tidak lebih daripada menenun kain. He, apakah kau mengharapkan bantuan bidadari yang tidak dapat menolong dirinya sendiri itu?”

 

Warsi mengerutkan keningnya. Katanya, “Kau telah menghinanya. Kau memang harus mati.”

 

Putaran rantai Warsi menjadi semakin cepat. Desing yang timbul karena putaran rantai itu terdengar menyentuh telinga dengan tajamnya. Bahkan rasa-rasanya telah menusuk sampai ke pusat dada.

 

Tetapi Iswari tidak membiarkannya saja. Iapun telah memutar sepasang pedangnya pula. Pedang itu memang tidak berdesing terlalu keras, tetapi udara yang dihembus-kannya terasa menerpa kulit Warsi.

 

Demikianlah kedua orang perempuan yang berilmu sangat tinggi itu bertempur dengan sengitnya. Keduanya telah meningkatkan ilmunya dengan cepat. Rasa-rasanya keduanya tidak memerlukan lagi penjajagan yang lebih dalam, karena pada dasarnya keduanya sudah mengenali ilmu mereka masing-masing.

 

Karena itulah, maka pertempuran diantara keduanya-pun telah meningkat dengan cepat. Namun rasa-rasanya keduanya akan mendapat kepuasan yang lebih besar jika salah seorang diantara mereka dapat mengalahkan lawannya dengan ilmu dan ketrampilan tangan mereka meskipun harus dilandasi dengan tenaga cadangan yang sangat tinggi didalam diri mereka masing-masing.

 

Namun nampaknya mereka masing-masing menyadari, bahwa tidak mungkin lagi mereka untuk mengalahkan mereka itu dengan ilmu kewadagan semata-mata betapapun mereka mempunyai kemampuan yang sulit diukur.

 

Dengan demikian maka keduanya agaknya telah mengambil kesimpulan bahwa mereka memang harus beranjak dari landasan kemampuan mereka memasuki tingkatan ilmu yang lebih tinggi. Ilmu yang mampu menyerap kekuatan dari dalam dan dari luar diri mereka masing-masing.

 

Beberapa langkah dari mereka, Ki Rangga bertempur dengan garangnya pula. Beberapa orang telah dilukainya. Bahkan ada diantaranya yang terbunuh.

 

Tetapi Ki Rangga tidak dapat berbuat sekehendaknya untuk seterusnya, karena tiba-tiba saja muncul Kiai Badra di hadapannya.

 

“Sudahlah ngger,“ berkata Kiai Badra, “kau sudah cukup banyak menyakiti orang. Dan bahkan mungkin satu dua orang tidak tertolong lagi. Aku mohon berhentilah. Aku kira gurumu disaat mengajarimu ilmu sama sekali tidak terbayangkan, bahwa akan terjadi pembunuhan yang tidak terkendali seperti ini.”

 

“Persetan,“ geram Ki Rangga,“ jangan kau kira bahwa ilmuku tidak meningkat, sehingga aku tidak mampu menghadapimu. Bagiku kau tidak lagi seorang yang menakutkan.”

 

Kiai Badra tertawa. Katanya, “Aku percaya ngger. Tetapi akupun mengemban tugas kemanusiaan sehingga aku wajib mencegahmu.”

 

Ki Rangga tidak menjawab lagi. Iapun kemudian telah bersiap untuk menyerang orang tua itu.

 

Sementara itu, Kiai Badra memang masih harus mengimbangi beberapa orang yang selalu memburunya. Beberapa orang yang bertugas didalam kelompok sengaja untuk mengurungnya, sebagaimana dilakukan atas Kiai Soka dan Nyai Soka.

 

Tetapi Kiai Badra tidak berbuat seperti yang dilakukan oleh Ki Rangga. Ia memang berusaha untuk mengurangi tekanan orang-orang yang mengepungnya. Mungkin Kiai Badra yang bersenjatakan pedang kebanyakan itu telah menggores tubuh lawannya. Namun yang dilakukan sekedar mengurangi tekanan lawan dalam keseluruhan menguiangi jumlah orang-orang dari balik bukit itu. Jika orang-orang yang terluka itu dibawa menepi, maka mereka tidak lagi berusaha untuk memasuki arena kembali. Mereka lebih senang berbaring sambil mengerang. Bahkan ada yang dengan sengaja menggoreskan darah dari lukanya kebagian tubuhnya yang lain, sehingga nampaknya lukanya menjadi sangat parah. Dengan demikian maka ia tidak akan terpaksa memasuki arena itu kembali.

 

Berbeda dengan orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Para pengawal yang terlukapun kadang-kadang tidak mau berhenti bertempur. Bahkan pemimpin-pemimpin kelompoknya kadang-kadang terpaksa memaksa satu dua orang pengawal yang terluka untuk berhenti bertempur.

 

“Beristirahatlah. Nanti jika lukamu telah pempat, kau dapat bertempur kembali,“ bentak pimpinan kelompok itu.

 

Dorongan untuk bertempur didalam hati anak-anak muda Tanah Perdikan memang berbeda dengan dorongan dihati orang-orang dari balik bukit. Ada diantara mereka yang dengan setia bertempur sampai lepas nyawanya. Tetapi ada yang lebih senang berpura-pura tidak mampu bangkit lagi karena lukanya yang parah daripada harus memasuki medan yang garang itu. Sementara itu mereka tidak meyakini apa yang sedang mereka perjuangkan.

 

Nampaknya gairah perjuangan dalam kadar yang berbeda itu mempunyai pengaruh pula pada pertempuran itu dalam keseluruhan. Hanya para pengikut Kala Sembung sajalah yang ternyata tidak mampu berpikir lain kecuali membunuh atau dibunuh.

 

Dengan demikian maka mereka benar-benar bertempur seperti seekor kerbau yang terlepas dari tali pembantaian. Mengamuk dan tidak mengenal perhitungan apapun juga.

 

Jati Wulung yang menghadapi Kala Sembung dan orang-orangnya yang bagaikan gila itu memang agak mengalami kesulitan. Ia terdesak oleh keadaan untuk tidak berpikir terlalu panjang. Jati Wulung tidak sempat menghitung langkah para pengawal agar mereka tidak asal saja membunuh. Namun ternyata bahwa para pengawal memang tidak dapat berbuat lain jika ia sendiri tidak ingin terbunuh dalam pertempuran itu.

 

Di induk pasukan Ki Sumbaga dengan sengaja tidak berada di garis pertempuran. Dengan cerdik ia telah membetengi dirinya. Namun dengan demikian ia mampu mengamati medan itu hampir secara keseluruhan. Ia masih sempat mengatur perubahan-perubahan langkah yang harus dilakukan oleh orang-orangnya. Bahkan kadang-kadang mengambil langkah yang sempat mengejutkan lawannya.

 

Ternyata seorang penghubung diantara para pengawal Tanah Perdikan sempat mengenalinya. Menilik dari hubungan yang dilakukan oleh beberapa orang antara seseorang yang berada dibelakang garis pertempuran dengan para pemimpin kelompok. Juga sumber dari segala macam aba-aba yang dilontarkan.

 

Karena itu, maka penghubung itupun telah melaporkannya kepada pemimpin pengawal Tanah Perdikan Sembojan.

 

“Jadi pasukan induk ini dikendalikan oleh seseorang yang bersembunyi dibalik tirai orang-orangnya?“ bertanya pemimpin pengawal itu.

 

“Ya, Ki Lurah,“ jawab penghubung itu.

 

“Baiklah. Tunjukkan kepadaku, dimana orang itu bersembunyi,“ berkata pemimpin pengawal itu.

 

“Sangat sulit untuk mencapainya. Orang itu seakan-akan telah dibentengi oleh kekuatan yang sulit tertembus. Kecuali jika Nyi Wiradana sendiri atau salah seorang dari orang tua-tua itu,“ jawab penghubung itu.

 

“Sudahlah. Bawa aku mendekati orang itu, “perintah pemimpin pengawal itu.

 

Demikianlah, maka pemimpin pengawal itu telah bergeser dari tempatnya. Ia menuju ke arah pemimpin pasukan induk dari balik bukit itu bersembunyi dibelakang para pengawal terpilihnya.

 

Namun sebenarnyalah, bahwa didepan pemimpin pasukan induk itu terdapat selapis orang terpilih yang melindungi pemimpinnya itu. Mereka adalah bekas-bekas prajurit pilihan dari Jipang. Meskipun pada umumnya mereka sudah tidak muda lagi, namun ketangguhan mereka benar-benar sulit untuk dipecahkan.

 

“Bagaimana kau mengetahui tentang pemimpin pasukan itu?“ bertanya pemimpin pengawal itu.

 

“Hanya satu kebetulan. Kami berusaha mengawasi pasukan lawan secermat-cermatnya. Ketika Warsi dan Ki Rangga sudah bertempur melawan lawan yang mengikat mereka, bahkan seakan-akan tidak mampu lagi mengendalikan keadaan sekelilingnya, maka aku berpikir, tentu ada orang lain yang mengendalikan pasukan induk ini. Terbukti dengan beberapa perubahan sikap yang terjadi selagi pertempuran serasa bagaikan membakar. Dengan demikian maka aku telah bertekad untuk mencari. Akhirnya aku ketemukan orang itu. Namun aku hanya dapat memandanginya dari kejauhan. Ketika setiap kali orang itu dihubungi oleh orang-orangnya, maka aku mengambil kesimpulan bahwa orang inilah pemimpin dadi pasukan induk yang datang dari balik bukit. Dengan demikian maka aku mengambil kesimpulan, bahwa hal ini perlu aku sampaikan kepada Ki Lurah.”

 

Pemimpin pengawal itu termangu-mangu sejenak. Dari tempat yang agak jauh ia sempat melihat orang-orangnya bertempur. Sejenak ia tertegun. Pertempuran itu ternyata pertempuran yang sangat keras.

 

“Bagaimana caraku untuk dapat mencapainya,“ desis pemimpin pasukan pengawal itu.

 

“Aku mohon Ki Lurah jangan kesana. Ki Lurah dapat bertempur disini. Mungkin orang itu akan terpancing keluar dari bingkai prajurit yang mengelilinginya. Baru kemudian Ki Lurah menghadapinya,“ berkata penghubung itu. Namun tiba-tiba penghubung itu berdesis, “Tetapi hati-hatilah Ki Lurah. Orang itu sangat berbahaya.”

 

“Aku akan berhati-hati,“ berkata pemimpin pengawal itu.

 

Demikianlah, maka pemimpin pengawal itu telah memasuki pertempuran ditengah-tengah garis lengkung dari pasukan induk. Dengan tangkasnya ia menebaskan pedangnya mendatar. Namun kemudian pedangnya berputar mengarah leher. Tetapi sejenak ujung pedang itu mematuk dengan garangnya.

 

Pemimpin pengawal itu telah bertempur dengan garang. Ia memang berusaha untuk memancing Ki Sumbaga keluar dari bingkai pasukannya.

 

Tetapi Ki Sumbaga menganggap dirinya lebih berarti jika ia berada dibelakang garis benturan. Meskipun ia kemudian mendapat laporan tentang orang yang berilmu cukup tinggi telah bertempur dengan garang di garis benturan kedua pasukan itu.

 

“Aku perintahkan dua atau tiga orang prajurit untuk menghadapinya. Jika aku terpancing untuk bertempur melawannya, maka pasukan ini akan kehilangan kemudi. Semua akan terserah kepada para prajurit yang akan bertindak menurut kemauan mereka sendiri-sendiri.”

 

“Tetapi bukankah pasukan lawan juga tidak lagi perlu seorang pemimpin yang setiap kali mengatur pasukannya?“ bertanya penghubung itu.

 

“Kau memang bodoh. Aku adalah bekas seorang perwira dari pasukan Jipang. Kaupun bekas seorang prajurit. Seharusnya kau tahu bahwa pasukan Tanah Perdikan sudah dipersiapkan sejak semula. Pasukan itu sudah berada dalam satu gelar yang mapan. Para pemimpin kelompok sudah tahu dengan pasti, apa yang harus mereka lakukan. Hanya dalam keadaan yang khusus saja maka diperlukan sekali sikap pemimpin pasukan itu. Berbeda dengan pasukan kita. Kita tidak siap dalam gelar yang mapan.”

 

Penghubung itu mengangguk.

 

Sementara Ki Sumbaga itu berkata, “Ternyata bahwa orang-orang Tanah Perdikan itu cukup cerdik. Mereka tidak menunggu di padukuhan induk. Tetapi mereka telah menyongsong kita disini, sehingga mereka dapat mempergunakan kekuatan yang lebih besar dari yang dapat mereka pergunakan di padukuhan induk. Disini mereka tidak mencemaskan padukuhan lain yang mungkin akan kita jamah, sehingga para pengawal padukuhan itu sebagian besar akan dapat ditarik disini.”

 

Penghubung itu mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Sumbaga tengah memperhatikan pertempuran yang terjadi di induk pasukan itu. Meskipun ia tidak dapat melihat dengan jelas dari ujung sampai keujung, namun naluri keprajuritannya mampu menangkap peristiwa yang sedang terjadi itu dengan melihat pertanda-pertanda yang terdapat dalam pertempuran itu.

 

Namun kening Ki Sumbaga itu berkerut ketika ia melihat pertahanan pasukan di induk pasukan itu goyah. Menurut pengamatan Ki Sumbaga maka pasukan yang paling mapan adalah pasukan yang dipimpinnya, karena pasukannya sebagian besar terdiri dari bekas para prajurit Jipang. Beberapa orang keluarga para bekas prajurit yang sempat dikumpulkan telah mendapat latihan keprajuritan pula secara khusus.

 

Tiba-tiba saja Ki Sumbaga itu berkata, “jalankan perintahku. Dua atau tiga orang terpilih agar menghadapi pemimpin pasukan induk Tanah Perdikan itu. Kemudian lihat, apa yang terjadi atas Ki Rangga dan Nyi Wiradana. Kemudian apakah kelompok-kelompok yang dipersiapkan itu dapat melakukan tugasnya dengan baik. Aku tunggu laporannya atau kawanmu yang lain.”

 

“Baik,“ jawab penghubung itu.

 

Demikianlah maka penghubung itu telah meninggalkan Ki Sumbaga untuk menyaksikan keadaan seluruh pasukan induk itu lebih cermat lagi.

 

Namun dalam pada itu, Ki Sumbaga memang menjadi cemas bahwa garis benturan kedua pasukan itu telah menjadi goyah. Perlahan-lahan pasukan Tanah Perdikan mulai mendesak pasukannya. Meskipun banyak kemungkinan masih dapat terjadi, tetapi satu pertanda telah dilihatnya, bahwa keseimbangan pasukan itu memang mulai goncang.

 

Beberapa saat kemudian, maka seorang penghubung yang lain telah datang mendekatinya. Dengan nafas terengah-engah ia berkata, “Ki Sumbaga, kita agaknya mengalami kesulitan.”

 

“Apakah Nyi Wiradana tidak segera dapat mengalahkan lawannya? Bagaimana dengan Ki Rangga?”

 

“Segera Ki Sumbaga akan mendapat laporan. Seorang kawan sedang pergi untuk melihat mereka. Aku bertemu di tengah-tengah medan,“ jawab penghubung.

 

“Kau sendiri dari mana?“ bertanya Ki Sumbaga.

 

“Aku sempat menyaksikan orang-orang tua Tanah Perdikan. Ternyata kelompok-kelompok yang disusun itu mengalami kesulitan. Orang-orang tua itu seakan-akan tidak terbatas oleh mereka, sehingga orang-orang tua itu dapat berbuat apa saja sesuai dengan kehendak mereka. Meskipun nampaknya orang-orang tua itu tidak terlalu bernafsu untuk membunuh, namun nampaknya merekapun tidak ingin dibatasi geraknya oleh siapapun,“ berkata penghubung itu.

 

“Bukankah mereka tentu tidak jauh dari arena pertempuran antara Nyi Wiradana melawan Iswari serta Ki Rangga Gupita,“ bertanya pemimpin itu.

 

“Agaknya aku terlalu tergesa-gesa sehingga aku tidak melihat pertempuran itu. Tetapi kawanku yang tadi menghadap Ki Sumbaga sekarang sedang menuju ke arena itu,“ jawab penghubung itu.

 

Ki Sumbaga termangu-mangu. Sebagai seorang bekas Senapati, maka ia telah dapat membayangkan kesulitan yang lebih besar yang dapat terjadi, jika Ki Rangga dan Warsi tidak segera dapat mengalahkan lawan-lawan mereka dan membantu para pengikutnya untuk menghancurkan para pengawal Tanah Perdikan.

 

Namun Ki Sumbaga itu tiba-tiba telah memberikan perintah, “Lihat pasukan kita pada sayap-sayapnya.”

 

“Sayap yang mana? Kiri, atau kanan?“ bertanya penghubung itu.

 

“Sayap yang dipimpin oleh Kala Sembung,“ jawab Ki Sumbaga.

 

Penghubung itu tidak bertanya lagi. Iapun segera meninggalkan Ki Sumbaga untuk melihat keadaan sayap pasukan itu.

 

Dalam pada itu penghubung yang lain tengah menyaksikan apa yang terjadi dengan Ki Rangga. Ternyata Ki Rangga tidak mampu beranjak dari tempatnya karena ia harus menghadapi Kiai Badra. Orang yang nampaknya sudah terlalu tua untuk berada di medan. Tetapi ternyata bahwa Ki Rangga tidak terlalu banyak mendapat kesempatan melawannya. Apalagi ketika sekelompok orang yang dipersiapkan untuk melawan orang tua itu sudah pecah disergap oleh para pengawal Tanah Perdikan.

Jilid 16

 

“ANGGER,“ berkata Kiai Badra, “sebaiknya kau berhenti berperang. Perintahkan orang-orangmu untuk ditarik dari medan sebelum kematian menjadi semakin banyak. Sekali-sekali sempatkan menyaksikan apa yang telah terjadi. Kematian dan kematian. Sementara itu, kau dan orang-orangmu tidak akan mampu memenangkan perang ini.”

 

“Kau memang sudah pikun,“ teriak Ki Rangga, “kaulah yang harus melihat kenyataan. Orang-orang sudah banyak yang terbunuh. Jika kau tidak mau menganjurkan agar Iswari menyerah, maka orang-orang Tanah Perdikan akan tumpas. Jika pasukanmu disini hancur, maka semua padukuhan akan tunduk kepadaku. Yang menentang pasti akan aku hancurkan sampai lumat.”

 

“Angan-anganmu telah dibayangi oleh mimpi yang buruk itu,“ berkata Kiai Badra, “kau harus bangun dan mulai melihat kenyataan.”

 

“Persetan,“ geram Ki Rangga yang mengerahkan kemampuannya. Tetapi Kiai Badra sama sekali tidak terguncang kedudukannya.

 

Dibagian lain dan medan itu, Iswari tengah bertempur dengan dahsyatnya melawan Warsi. Ilmu mereka yang dahsyat telah mulai merambah dalam pertempuran itu. Meskipun mereka masih menggenggam senjata masing-masing, namun senjata mereka bukan lagi senjata sewajarnya. Rantai di tangan Warsi telah menjadi jenis senjata yang lain. Rantai itu memang masih dapat diputar dan melentur dengan cepat. Namun rantai itu kadang-kadang justru telah menjadi tongkat baja yang menggetarkan. Ayunannya yang deras menimbulkan arus angin yang deras pula.

 

Namun Iswaripun menguasai senjatanya dengan baik. Kedua pedangnya telah berputaran bagaikan gumpalan-gumpalan asap disebelah menyebelah tubuhnya.

 

Ketika pertempuran itu menjadi semakin meningkat, maka orang-orang dari kedua belah pihak telah menyibak. Ayunan ujung rantai Warsi benar-benar menggetarkan. Seseorang yang tersentuh ujung rantai itu, tanpa merang-kapi kulitnya dengan ilmu kebal, akan segera koyak sampai ketulang. Sedangkan ujung pedang Jswari merupakan bahaya yang sangat gawat. Jika seseorang digulung oleh gumpalan putih yang terjadi karena putaran pedang Iswari, maka tubuh orang itu tentu akan menjadi arang kranjang.

 

Dengan demikian, maka arena pertempuran antara Iswari dan Warsi itupun menjadi semakin lama semakin luas, Keduanya seakan-akan tidak lagi bertempur dimedan perang. Tetapi mereka seakan-akan telah terlibat kedalam perang tanding.

 

Tetapi sementara itu, keseimbangan pertempuran dalam keseluruhannya menjadi semakin jelas. Meskipun bulan bulat memancar terang dilangit, namun sinarnya tidak mampu mempengaruhi kekuatan kedua belah pihak yang sedang bertempur itu.

 

Bahkan beberapa orang pengikut Warsi yang mengetahui bahwa Warsi yakin akan kekuatan cahaya bulan itu akan memberikan arti bagi ilmunya, masih harus berharap-harap cemas, karena sedemikian jauh, Warsi masih belum berhasil mendesak lawannya yang bertempur dengan pedang rangkap itu.

 

Tetapi Warsi sendiri sama sekali tidak merasakan kecemasan itu. Ia memang masih belum sampai pada tingkat ilmunya yang tertinggi, sehingga pengaruh cahaya bulan itu akan terasa dan bahkan ikut menentukan. Warsi masih bertempur dengan mengandalkan tenaga cadangannya dan kemampuannya bermain senjata serta ketrampilan tangan dan kakinya, ia sudah melatihnya bertahun-tahun sehingga ia ingin tahu, apakah Iswari mampu mengimbanginya pula.

 

Namun ternyata Iswaripun telah menempa diri pula. Itulah sebabnya, bahwa sekedar kecepatan gerak, kemampuan bermain senjata dan kekuatan yang didorong oleh tenaga cadangannya, belum cukup bagi Warsi untuk mendesak Iswari.

 

Meskipun demikian, Warsi masih belum tergesa-gesa. Ia masih berusaha menghisap kekuatan cahaya bulan sebanyak-banyaknya malam itu, setelah malam sebelumnya ia tidur di alam terbuka, dibawah cahaya bulan pula.

 

Agak berbeda dengan Warsi yang lebih asyik dengan dirinya sendiri, serta warna dendam yang mencengkam jantungnya, maka Ki Rangga harus memperhatikan keadaan seluruh medan, Sekali-sekali ia telah mengambil jarak dari lawannya untuk sekedar melihat suasana dalam keseluruhan. Namun agaknya sulit baginya untuk dapat menjangkau gambaran yang luas tentang pertempuran itu.

 

Tetapi dalam pada itu, lawannya agaknya dengan sengaja telah memberikan waktu kepadanya. Lawannya yang telah tua itu. “Usiamu yang memiliki ilmu yang sangat tinggi, meskipun keadaan wadagnya tidak lagi mampu mendukung ilmunya sebagaimana beberapa tahun sebelumnya.”

 

Bahkan Kiai Badra itupun kemudian berkata, “Sulit ngger untuk dapat melihat keseluruhan medan meskipun cahaya bulan sangat terang, hampir seperti siang hari. Sebaiknya angger mempergunakan penghubung untuk mendapatkan laporan yang lebih jelas.

 

“Persetan,“ geram Ki Rangga yang kemudian menyerang Kiai Badra seperti badai. Namun Kiai Badra memang sulit untuk dikuasainya. Bahkan setiap kali Ki Rangga merasa betapa orang tua itu mampu menekannya dengan kekuatan yang sangat besar, apalagi dibanding dengan umurnya yang tua itu.

 

Namun akhirnya, Ki Rangga langsung atau tidak langsung telah menyetujui pendapat Kiai Badra. Dalam satu kesempatan yang terbuka, yang seolah-olah dengan sengaja memang diberikan oleh lawannya, Ki Rangga telah memerintahkan kepada seorang prajuritnya untuk mencari hubungan dengan Ki Sumbaga.

 

Sebenarnyalah bahwa Kiai Badra memang membiarkan Ki Rangga itu melakukannya. Dengan demikian Kiai Badra berharap bahwa Ki Rangga akan mengetahui keadaan medan yang sebenarnya. Kiai Badra berharap bahwa Ki Rangga akan dapat menerima laporan, bahwa pasukannya perlahan-lahan mulai terdesak.

 

Sebenarnyalah, setelah menerima laporan yang mendekati lengkap dari para penghubung, maka para pemimpin dari Tanah Perdikan Sembojan telah menentukan langkah terakhir. Iswari sendiri tidak dapat berhubungan dengan Pemimpin Pasukan Pengawal Tanah Perdikan Sembojan, karena semakin lama pertempuran antara Iswari dan Warsi itu menjadi semakin sengit, sehingga Iswari itu tidak mendapat kesempatan sama sekali berhubungan dengan seorang penghubung.

 

Namun karena pasukan itu telah dipersiapkan dengan masak, maka gerak pasukan itu memang tidak tergantung kepada Iswari atau guru-gurunya.

 

Karena itulah, maka pemimpin pasukan pengawal itliputi pada saatnya telah memberikan isyarat. Seorang penghubung telah melepaskan anak panah sendaren ke udara. Panah sendaren itu telah diarahkan ke kedua sayap pasukan Tanah Perdikan itu.

 

Ki Sumbaga, Ki Ajar Tulak dan Ki Kala Sembung yang juga mendengar suara panah sendaren itupun menjadi berdebar-debar. Sambil bertempur mereka mencoba untuk mengerti, apakah yang akan terjadi. Satu langkah yang bagaimana yang akan diambil oleh para pengawal Tanah Perdikan Sembojan.

 

Dalam pada itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung yang memimpin pasukan Tanah Perdikan pada sayap-sayapnya telah menangkap isyarat itu. Karena itu, maka sebagaimana telah disepakati, ujung-ujung sayap dari gelar Wulan Tumanggal itu harus berkerut. Pada saat kekuatan pasukan lawan menjadi susut adalah kesempatan untuk mempersempit medan. Perlahan-lahan sejalan dengan tingkat turunnya kemampuan lawan, sehingga di kedua belah pihak, terutama pada pasukan Tanah Perdikan Sembojan sendiri, tidak terlalu banyak jatuh korban.

 

Karena itulah, maka perlahan-lahan rasa-rasanya medan itu memang telah berkerut. Pasukan Tanah Perdikan mulai mendesak dari kedua ujung gelarnya. Kedua orang yang memimpin kedua sayap gelar pasukan Tanah Perdikan Sembojan itupun segera mengerahkan kemampuan mereka untuk mengatasi lawan-lawan mereka.

 

Namun Ki Kala Sembung dan Ki Ajar Tulak memang orang berilmu tinggi. Merekapun telah mengerahkan kemampuan mereka untuk menahan gerak pasukan Tanah Perdikan. Jika gelar itu berhasil berkerut, maka gelar itu seakan-akan meramas pasukan dari balik bukit itu.

Dengan demikian maka pertempuranpun menjadi semakin keras, Orang-orang Tanah Perdikan telah mengerahkan segenap kekuatan untuk memenuhi isyarat yang telah diberikan oleh para pemimpinnya sesuai dengan ketentuan.

 

Justru pada saat-saat daya tahan orang-orang dari balik bukit itu mulai susut, maka orang-orang Tanah Perdikan telah mengerahkan kekuatan mereka yang tersisa.

 

Tetapi tanpa dukungan para pemimpin disayap, maka orang-orang dari balik bukit yang menjadi bagaikan putus asa itu justru membuat orang-orang Tanah Perdikan menjadi ngeri. Tingkah laku mereka bahkan tidk terkendali lagi. Mereka tidak saja bertempur dengan keras dan kasar, tetapi mereka benar-benar telah menjadi seperti orang gila.

 

Untuk meyakinkan bahwa sayap-sayap itu akan dapat menjalankan tugasnya dengan baik, maka Jati Wulung dan Sambi Wulunglah yang akan dapat ikut menentukan.

 

Karena itu, maka Sambi Wulungpun telah berusaha untuk mendesak Ki Ajar. Namun ia masih berusaha memperingatkan, “Saatnya hampir tiba Ki Ajar, Sadarilah akan keadaan. Kau tidak akan dapat lari dari kenyataan.”

 

“Persetan kau,“ geram Ki Ajar.

 

Sambi Wulung masih akan menjawab. Tetapi keris Ki Ajar yang besar itu hampir saja menyambar wajahnya.

 

Namun dalam pada itu, Sambi Wulungpun menyadari, bahwa Ki Ajar itu tidak lagi sekedar mempergunakan ilmu pedangnya yang nampak mengerikan dalam ungkapan sebilah keris yang besar. Tetapi Ki Ajar itu telah merambah pada ilmunya yang sangat tinggi. Dengan demikian, maka dibawah cahaya bulan, Sambi Wulung kadang-kadang melihat keris itu tidak hanya sebuah. Pada gerakannya yang cepat, kadang-kadang nampak bayangan keris itu menjadi beberapa buah.

 

Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Ilmu lawannya memang dapat membingungkannya. Kadang-kadang ia salah memperhitungkan gerak senjata lawannya.

 

Sementara itu, orang-orang dari balik bukit itu masih berpengharapan, Apalagi ketika mereka melihat di cahaya bulan, keris Ki Ajar itu bagaikan berubah menjadi semakin banyak. Jika lawan Ki Ajar itu sudah dibinasakan, maka sayap pasukan Tanah Perdikan Sembojan itu akan segera dapat dihancurkan. Ki Ajar itu akan dapat membunuh lawan-lawannya seperti menebas batang ilalang.

 

Namun pemimpin sayap pasukan Tanah Perdikan itu ternyata tidak mudah untuk dihancurkan.

 

Apalagi ketika Sambi Wulung menyadari, bahwa lawannya telah merambah pada ilmunya yang tinggi, maka Sambi Wulungpun tidak dapat berbuat lain. Iapun telah bersiap-siap untuk menghadapi segala kemungkinan dengan ilmu yang hampir tidak pernah dipergunakannya jika keadaan tidak sangat memaksa.

 

Namun untuk melawan permainan keris lawannya yang besar yang dilandasi dengan ilmu yang tinggi, sehingga kadang-kadang Sambi Wulung menjadi bingung itu, maka Sambi Wulungpun telah mulai melepaskan ilmunya pula. Tetapi Sambi Wulung tidak ingin membunuh membabi buta. Jika ia melontarkan ilmunya dalam pertempuran yang hampir berdesakan itu, maka korbannya tentu bukan saja lawan-lawannya. Tetapi tentu akan dapat menyentuh orang-orang Tanah Perdikan Sembojan sendiri.

 

Karena itu, maka Sambi Wulung telah melawan ilmu lawannya dengan ilmu yang khusus pula, namun masih berkisar pada kekuatan panasnya api.

 

Pedang Sambi Wulung bukannya pedang yang terpilih. Pedangnya adalah pedang seorang prajurit atau pengawal. Namun ditangannya pedang itu memang memiliki kekuatan yang khusus.

 

Jika keris lawannya yang besar itu dibawah cahaya bulan dapat berubah seolah-olah menjadi lebih banyak sehingga dapat membingungkannya, seakan-akan Ki Ajar itu memanfaatkan cahaya bulan yang kekuning-kuningan itu, maka Sambi Wulung justru mengatasi cahaya bulan itu. Daun pedangnya yang terbuat dari baja yang biasa saja itu, tiba-tiba telah berubah warnanya. Daun pedang itu menjadi kemerah-merahan seperti membara. Namun ketika pedang itu berputar semakin keras, maka warna yang kemerah-merahan mengatasi cahaya bulan itupun telah berubah lagi menjadi kebiru-biruan.

 

Ki Ajar terkejut melihat perubahan ujud senjata lawannya. Apalagi ketika senjata itu kemudian berputar dengan cepat. Yang nampak tidak lebih dari segulung kabut yang berwarna kebiru-biruan.

 

Ki Ajar memang tidak mengira, bahwa ia akan bertemu dengan kekuatan yang ternyata bukan saja mampu mengimbanginya. Bahkan kemudian terasa oleh Ki Ajar, bahwa ia benar-benar harus berjuang mati-matian untuk melawan pemimpin sayap pasukan Tanah Perdikan itu.

 

Pertempuran antara kedua orang pemimpin di sayap itupun menjadi semakin sengit. Sementara itu, para pengawal Tanah Perdikan yang telah mendapat latihan dengan saksama dalam perang gelarpun telah mengetahui tugas-tugas mereka.

 

Tanpa perintah dari pemimpin sayapnya, yang diketahui sedang bertempur dengan sengitnya, bahkan antara hidup dan mati, maka mereka telah mengambil sikap sebagaimana harus mereka lakukan.

 

Dengan kekuatan yang ada pada mereka, maka para pengawal dan anak-anak muda yang berada pada sayap itu telah berusaha untuk menekan lawannya sehingga arena pertempuran itu berkerut.

 

Sejenak kemudian, maka keadaanpun menjadi semakin jelas. Meskipun Sambi Wulung tidak mempergunakan ilmunya yang tertinggi, untuk menjaga agar ilmunya itu tidak justru menyentuh para pengawal Tanah Perdikan sendiri, namun ilmu yang dipergunakannya ternyata telah mampu mengatasi ilmu puncak lawannya.

 

Jika semula Sambi Wulung kadang-kadang dibingungkan oleh ujud senjata lawannya yang seakan-akan menjadi lebih dari satu, maka kemudian lawannyalah yang dibingungkan oleh gulungan kabut yang berwarna kebiru-biruan. Meskipun Ki Ajar tahu, bahwa yang seakan-akan gulungan kabut itu adalah bayangan putaran pedang lawannya, tetapi setiap kali ia mencoba untuk menyerang, maka senjatanya telah membentur pedang lawannya. Sehingga karena itu, maka sulit bagi Ki Ajar untuk dapat menyusupkan senjatanya apalagi mengenai tubuh lawannya itu.

 

Bahkan dalam serangan-serangan yang cepat silih berganti, ternyata bahwa ujung pedang Sambi Wulung telah menyentuh lengan Ki Ajar sehingga segores luka telah menganga.

 

Ki Ajar mengumpat kasar. Terasa betapa lukanya bukan saja menjadi pedih. Tetapi luka itu menjadi panas seperti dikoyak api.

 

Ki Ajar yang terluka itu harus segera mengambil jarak. Sementara itu Sambi Wulung ternyata juga dengan sengaja memberinya kesempatan. Karena dengan demikian Ki Ajar itu dapat merasa betapa pasukannya telah mendapat tekanan yang berat sekali yang memaksa seluruh gelar itu berkerut.

 

Sementara itu, di sayap yang lain Kala Sembung bertempur seperti orang kehilangan akal. Seperti sayap yang dipimpin oleh Sambi Wulung, maka sayap yang dipimpin oleh Jati Wulung itupun telah memaksa orang orang dari balik bukit untuk mempersempit arena pertempuran

 

Pada saat yang demikian, maka keseimbangan kekuatan antara kedua kekuatan itu menjadi semakin jelas. Apalagi ketika orang-orang dan balik bukit itu tidak lagi dapat mengharapkan pemimpin-pemimpin mereka untuk mengatasi kesulitan. Ternyata mereka tidak mampu melawan para pemimpin dari Tanah Perdikan dan kemudian bertempur seperti menebas ilalang. Bahkan para pemimpin dari para pengikut Ki Rangga itu telah terluka. Kala Sembungpun ternyata tidak lagi mampu menghindari semua serangan Jati Wulung yang semakin lama semakin garang, apalagi ketika Jati Wulung mulai merambah kemampuan ilmunya yang tinggi.

 

Ternyata Kala Sembung tidak mampu mengimbangi kegarangan Jati Wulung, meskipun Kala Sembung jauh lebih kasar dari lawannya. Betapapun ia mengumpat-umpat dan berteriak-teriak dengan liarnya, namun justru senjata Jati Wulunglah yang telah mengenai tubuhnya. Bukan sebaliknya.

 

Dengan demikian maka perlahan-lahan medan itu memang berkerut. Sayap-sayap gelar Wulan Tumanggal yang berkerut itu telah memaksakan arena pertempuran menjadi semakin sempit. Sementara itu kekuatan dan kemampuan orang-orang dari balik bukit itupun menyusut.

 

Ki Sumbaga, bekas seorang perwira pasukan Jipang, mengetahui dengan pasti apa yang terjadi. Selain naluri keprajuritannya maka laporan-laporan yang sampai kepadanyapun telah mengatakan apa yang telah terjadi di arena pertempuran itu.

 

Tetapi Ki Sumbaga tidak mempunyai cara yang dapat dipergunakan untuk merubah keadaan. Dalam gelar yang utuh, maka pasukan tentu menyediakan kelompok cadangan yang akan dapat dipergunakan untuk berbagai macam keperluan. Tetapi pasukannya sama sekali tidak mempunyai kekuatan cadangan yang dapat dipanggilnya untuk mengatasi kesulitan.

 

Karena itu, maka jalan satu-satunya yang dapat dilihat oleh Ki Sumbaga untuk menyelamatkan pasukannya adalah menarik diri sebelum kedua ujung sayap lawan terkatup dibelakang garis pertempuran. Jika demikian, maka berarti pasukan dari balik bukit itu telah terkepung rapat.

 

Namun tidak mudah untuk melakukannya. Ada banyak perimbangan yang harus dilakukan. Terutama bahwa Ki Sumbaga harus berhubungan lebih dahulu dengan Ki Rangga dan Warsi.

 

Ketika seorang penghubung dikirim oleh Ki Rangga, Ki Sumbaga sama sekali belum sampai pada satu kesimpulan untuk menarik pasukannya. Bahkan terlintaspun sama sekali belum.

 

Namun setelah laporan-laporan terakhir sampai kepadanya, juga tentang kesulitan kedua pemimpin diujurig sayap, maka Ki Sumbaga tidak melihat kemungkinan lain sebelum pasukannya benar-benar hancur. Selagi mereka masih mempunyai kekuatan, maka sambil bergeser ke kaki bukit untuk seterusnya menghindar, mereka dapat mengurangi korban sebanyak-banyaknya.

 

Karena itu, maka beberapa saat kemudian justru Ki Sumbagalah yang telah mengirimkan pesan kepada Ki Rangga, apa yang paling baik dilakukan.

 

Namun ternyata Ki Rangga berpendirian lain. Ia berharap bahwa Warsi dapat menyelesaikan lawannya lebih dahulu, baru mereka akan mengambil sikap bagi seluruh pasukan. Mungkin mereka memang harus menarik diri. Namun mungkin mereka justru akan dapat menghancur-lumatkan para pengawal Tanah Perdikan sepeninggal Iswari.

 

Ketika sikap itu kemudian diberitahukan kepada Ki Sumbaga, maka agaknya telah terjadi perbedaan sikap diantara kedua pemimpin itu.

 

Untuk beberapa saat Ki Sumbaga masih berusaha bertahan. Namun akhirnya ia tidak melihat keuntungan apapun lagi untuk tetap bertahan. Apalagi ketika ia mendapat laporan bahwa pertempuran antara Warsi dan Iswari ternyata tidak segera dapat diketahui siapakah yang akan menang.

 

Karena itu, maka menurut perhitungan Ki Sumbaga sebagai seorang yang memahami tentang keseimbangan pertempuran serta perhitungan kekuatan, pasukannya tidak akan mungkin dapat bertahan lagi. Sehingga karena itu, maka ia telah mengirimkan lagi seorang penghubung untuk memberitahukan kepada Ki Rangga, bahwa seharusnya pasukannya menarik diri.

 

“Katakan kepada Ki Rangga. Kita tidak boleh menjadi gila dan kehilangan pertimbangan. Perjuangan kita dipersiapkan untuk waktu yang panjang. Bukan hanya sekedar hari ini. “ pesan Ki Sumbaga. Lalu, “Karena itu maka kita harus menarik diri dan menyelamatkan yang masih mungkin kita selamatkan. Warsipun harus menyadari keadaan ini. Ia tidak boleh tenggelam pada dendam pribadinya sehingga mengorbankan seluruh pasukan ini. Katakan kepada Ki Rangga, jika Ki Rangga berkeberatan, maka kita akan menarik diri tanpa menghiraukan ia lagi. Mungkin orang-orang sisa gerombolan Kalamerta akan tinggal. Tetapi orang-orangku akan aku selamatkan.”

 

Demikianlah ketika pesan itu sampai kepada Ki Rangga, ia benar-benar menjadi bingung. Sementara itu, lawannya nampaknya dengan sengaja membiarkannya mendengar pesan-pesan itu tanpa diganggunya meskipun Kiai Badra sendiri tidak dapat ikut mendengarkannya. Namun ketajaman penggraita Kiai Badra dapat menduga, apakah yang disampaikan oleh penghubung itu kepadanya.

 

Tetapi Ki Rangga tidak akan dapat menyampaikannya kepada Warsi. Ia sadar, dalam keadaan demikian, maka sulit bagi Warsi untuk mendengarkan pendapat orang lain. Ia telah tenggelam kedalam arus perasaannya yang sulit untuk dikekang lagi.

 

Untuk mengatasi kesulitannya, maka Ki Rangga telah berkata kepada penghubung itu, “beri tanda yang pertama. Tunggu sampai aku sependapat untuk memberikan isyarat berikutnya.”

 

Penghubung itu agaknya tanggap akan kesulitan Ki Rangga. Demikian pula Ki Sumbaga, Karena itu, untuk mengatasinya maka Ki Sumbaga yang ada di induk pasukannya itu telah memberikan isyarat pertama kepada seluruh pasukannya.

 

Tiga buah anak panah berapi telah naik keudara.

 

Demikianlah anak panah itu memancar dilangit, maka terdengar aba-aba sandi yang memang sudah dipersiapkan oleh para pemimpin pasukan dari balik bukit itu.

 

Ternyata semua orang didalam pasukan dari balik bukit itu telah mendengar aba-aba itu. Mereka menyadari bahwa mereka harus bersiap-siap untuk menarik diri dari medan.

 

Warsipun telah mendengar pula aba-aba itu. Tetapi tanggapannya sebagai diduga oleh Ki Rangga Gupita. Yang terdengar adalah suitan nyaring dari mulut Warsi yang sedang bertempur mati-matian itu. Satu isyarat, bahwa pasukannya harus tetap bertahan.

 

Ki Sumbaga yang telah bergeser semakin dekat dengan Ki Rangga akhirnya tidak dapat menerima kebijaksanaan itu. Ia tidak mau mengorbankan orang-orangnya, bekas para prajurit Jipang, hanya karena dendam pribadi Warsi yang bergejolak.

 

Karena itu, maka ia sama sekali tidak menghiraukan isyarat yang diberikan oleh Warsi.

 

Dengan demikian maka sesaat kemudian, Ki Sumbaga telah melepaskan isyarat kedua. Sehingga seluruh pasukannya, terutama bekas para prajurit Jipang serta sanak keluarga mereka yang telah dibina dan dipersiapkan untuk pertempuran itu, menjadi semakin bersiaga untuk mengundurkan diri sebaik-baiknya tanpa meninggalkan korban terlalu banyak disaat penarikan itu terjadi. Ki Sumbaga tidak mau tetap berada di medan dalam keadaan seperti itu, sehingga mereka seakan-akan telah dengan sengaja membunuh diri bersama-sama.

 

Tetapi Warsi yang mendengar isyarat itu menjadi sangat marah. Ia merasa dikhianati oleh orang-orang yang telah sepakat berjuang bersamanya. Karena itu, maka iapun telah bersuit pula dengan nyaringnya untuk mencoba mencegah agar pasukannya itu tidak menarik diri.

 

Namun Ki Sumbaga sama sekali tidak menghiraukannya lagi. Keadaan menjadi semakin mendesak. Sehingga dengan demikian, maka sekali lagi anak panah berapi telah melambung keudara disusul oleh teriakan-teriakan para pemimpin kelompok yang memberikan isyarat kepada pasukannya untuk menarik diri.

 

Isyarat itu memang dapat ditangkap sampai keujung sayap. Karena itu, maka Ki Ajarpun telah berusaha menyesuaikan dirinya. Tetapi agaknya Sambi Wulung sama sekali tidak memberinya kesempatan. Sehingga dengan demikian, maka Sambi Wulung itu sama sekali tidak membiarkan lawannya itu mengambil jarak sejengkalpun. Orang yang berilmu tinggi seperti Ki Ajar itupun ternyata mengalami juga kesulitan. Tetapi ia telah memerintahkan orang-orangnya untuk menarik diri sebagaimana isyarat yang diterimanya.

 

Namun bahwa para pengikut Ki Ajar ternyata adalah orang-orang yang setia. Beberapa orang yang melihat kesulitan Ki Ajar melepaskan diri dari lawannya, maka mereka telah menyergap Sambi Wulung tanpa menghiraukan keselamatannya mereka sendiri meskipun mereka melihat seakan-akan gumpalan asap yang berwarna kebiru-biruan disekitar tubuh Sambi Wulung.

 

Sambi Wulung terkejut. Namun ia justru bergeser surut. Ia tidak bersiap menghadapi keadaan seperti itu.

 

Memang terbersit niat didalam dirinya untuk dengan serta merta menyergap mereka dan membantainya tanpa ampun. Namun ada sesuatu yang menahan didalam dadanya. Orang-orang itu memang bukan lawannya. Jika ia berniat, maka lima bahkan sepuluh orang sekalipun akan dapat ditembusnya dengan menghunjamkan pedangnya ketubuh mereka. Atau bahwa jika ia berniat melepaskan ilmu pamungkasnya, maka orang-orang itu akan dengan segera dapat dibinasakannya.

 

Tetapi justru melihat kesetiaan mereka, Sambi Wulung menjadi terpesona sesaat.

 

Kesempatan itu agaknya telah dipergunakan oleh Ki Ajar yang telah tergores ujung senjata Sambi Wulung. Dengan cepat ia menyelinap diantara para pengikutnya dan hilang diantara mereka.

 

Sambi Wulung memang menjadi marah. Pedangnya tiba-tiba berputar semakin cepat. Tetapi ketika dua sosok terlempar dan jatuh diantara kaki-kaki kawan-kawan mereka sendiri, sekali lagi terasa sesuatu telah menghambatnya. Pedangnya tidak lagi berputar sehingga seakan-akan telah menimbulkan kabut disekitar tubuhnya. Bahkan kebiru-biruan pada daun pedangnya itupun seakan-akan telah memudar, sehingga Sambi Wulung harus mengkaji kenyataan, bahwa ia telah kehilangan lawannya.

 

Sementara itu, pasukan dari balik bukit itu telah mulai bergerak surut. Perlahan-lahan. Beberapa orang bekas prajurit telah memberikan tuntunan bagaimana sebaiknya mereka menarik diri.

 

Tetapi agak berbeda dengan Ki Ajar, maka disayap lain telah terjadi sikap yang berbeda dari Ki Kala Sembung.

 

Semula ia memang melihat isyarat panah api yang melambung diudara. Tetapi disaat-saat ia mempersiapkan diri, maka Ki Kala Sembungpun telah mendengar isyarat yang diberikan oleh Warsi. Isyarat yang dikenalnya sebaik-baiknya, sehingga karena itu, maka sayap yang dipimpinnya ternyata telah mengambil sikap sendiri.

 

Dengan garang Ki Kala Sembung memerintahkan kepada orang-orangnya untuk tidak menarik diri.

 

“Pemimpin kita sedang menyabung nyawa. Isyarat itu adalah perintah. Kita tidak akan menarik diri sebagaimana dilakukan oleh para pengecut yang justru berada di induk pasukan.“ teriak Ki Kala Sembung sambil mengayun-ayunkan senjatanya yang berat.

 

Para pengikutnya, yang sebagian besar adalah bekas para pengikut Kalamerta ternyata sependapat dengan Kala Sembung. Mereka telah ditempa oleh keadaan, bahwa mereka adalah landasan tempat para pemimpin mereka berdiri. Karena itu, ketika mereka mendengar isyarat dari Warsi, mereka telah bertekad untuk tetap berada di medan.

 

Dengan demikian, maka para pengikut Kalamerta yang keras dan kasar itu, justru menjadi semakin buas. Mereka bertempur dengan cara apapun juga untuk membinasakan lawan-lawan mereka.

 

Namun dalam pada itu, sebagian dari pasukan dari balik bukit itu telah mulai bergerak menarik diri dari medan. Sebelum ujung sayap gelar Wulan Tumanggal yang berkerut itu sempat mengurung pasukan lawan, maka pasukan lawan itu sudah bergeser.

 

Namun tidak keseimbangan pada gerak lawan, memang telah menimbulkan persoalan bagi gelar Wulan Tumanggal yang utuh itu. Sehingga dengan demikian, maka para pemimpin dalam gelar itu harus mengambil kebijaksanaan dengan segera.

 

Di sayap yang dipimpin Sambi Wulung, maka telah diperintahkan usaha untuk bergerak melingkar. Tetapi gerak itu ternyata terlalu lamban karena para pengikut Ki Ajarpun telah bergeser surut.

 

Sementara diinduk pasukan, sebagian besar pasukan dari balik bukit itu telah bergerak mundur.

 

Tetapi ternyata bahwa Warsi sama sekali tidak menghiraukan keadaan medan. Ia merasa bahwa kesempatan itu adalah kesempatan yang paling baik baginya. Meskipun ia masih belum dapat menentukan siapakah yang akan menang, namun pertempuran antara dirinya dan Iswari saat itu akan dapat menjadi arena takaran, siapakah diantara mereka yang terbaik.

 

Dengan demikian, maka pertempuran antara Warsi dan Iswari itu sama sekali tidak terpengaruh oleh arus pasukan yang mengalir. Bahkan Ki Ranggapun telah terjebak pula didalamnya sehingga ia tidak akam mendapat kesempatan untuk melarikan diri, karena ia telah berada diantara para pengawal Tanah Perdikan bersama Warsi yang sedang bertempur itu.

 

Namun justru karena itu, Kiai Badra tidak lagi mengikat Ki Rangga itu dalam pertempuran. Dibiarkannya saja Ki Rangga itu berdiri termangu-mangu mengamati pertempuran antara Warsi dan Iswari.

 

Untuk beberapa saat lamanya memang terjadi gejolak di medan pertempuran itu. Pasukan pengawal Tanah Perdikan memang berusaha untuk memburu lawan mereka yang menarik diri. Namun pasukan lawan yang sebagian terdiri dari bekas para prajurit serta keluarga mereka yang telah mendapat latihan-latihan dan petunjuk-petunjuk khusus itu tidak mudah untuk melakukannya.

 

Untuk beberapa saat memang terjadi kekisruhan. Apalagi karena orang-orang yang dipimpin oleh Kala Sembung mengamuk dengan garangnya. Bahkan dalam kekisruhan itu, mereka telah berhasil menyusup mendekati arena pertempuran antara Warsi dan Iswari.

 

Hampir saja terjadi kelengahan di dalam induk pasukan Tanah Perdikan ketika sebagian besar dari mereka sibuk mengejar lawan yang menarik diri. Untunglah diantara sejumlah kecil pengawal terdapat orang-orang tua dari Tanah Perdikan, sehingga mereka dapat ikut membantu menahan arus orang-orang yang sedang mengamuk itu.

 

Namun ketika seorang diantara mereka sempat mendekati Warsi dan berusaha untuk membantunya, maka Warsi itu berteriak nyaring, “Pergi. Jangan ganggu kami. Kami sedang berperang tanding.”

 

Pernyataan itu begitu saja terlontar dari mulut Warsi. Namun Iswaripun mempunyai harga diri. Karena itu, maka iapun telah menyahut, ”Bagus. Kita memang sedang berperang tanding.”

 

Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Ki Ranggapun merasa beruntung, bahwa keduanya telah bersepakat untuk memasuki perang tanding, sehingga tidak ada orang lain yang akan dapat membantunya.

 

Medan pertempuran itu untuk sementara memang menjadi tidak menentu. Sebagian dari para pengawal Tanah Perdikan memang berusaha memburu lawan-lawan mereka yang melarikan diri. Tetapi ternyata hal itu tidak mudah mereka lakukan. Dengan pengalaman yang luas bekas prajurit-prajurit Jipang itu ternyata mampu menarik pasukannya menuju ketebing, sehingga akhirnya mereka berpencar sambil memanjat naik. Mereka menyelinap diantara gerumbul-gerumbul perdu yang tumbuh liar di lereng diantara batu-batu padas dan lekuk-lekuk tanah berkapur.

 

Ternyata bahwa tidak terlalu mudah untuk mengejar mereka. Meskipun satu dua orang memang dapat ditangkap, namun sebagian besar dari mereka berhasil lolos dan hilang ditebing yang liar itu.

 

Berbeda dengan mereka, maka orang-orang yang dipimpin oleh Kala Sembung telah bertempur tanpa perhitungan. Mereka menyerang membabi buta, sementara sebagian besar para pengawal meninggalkan gelar.

 

Sementara itu Ki Ranggalah yang masih sempat mem-buat perhitungan tersendiri. Ketika Warsi dan Iswari sudah jelas memasuki perang tanding, maka Ki Rangga itu pun telah memberi isyarat kepada para pengikut Kala Sembung itu. Selagi orang-orang yang mengejar pasukan yang mundur itu belum kembali, maka Ki Rangga ingin juga menyelamatkan sisa-sisa orang yang masih ada.

 

Karena itu, maka terdengar isyarat yang diberikan oleh Ki Rangga. Suitan nyaring telah menggetarkan udara.

 

Warsi sendiri, yang memang sudah menyatakan dirinya berperang tanding, tidak menghiraukan lagi apa yang terjadi di medan pertempuran itu. Ia hanya berniat untuk membunuh Iswari. Semua yang pernah diangan-angankan telah dilupakannya. Tentang Tanah Perdikan Sembojan, tentang anak-anaknya yang harus merebut kekuatan di Tanah Perdikan itu, landasan bagi langkah berikutnya untuk mencapai Pajang dan angan-angan yang lain telah tenggelam dalam arus dendamnya yang membara.

 

Kala Sembung memang menjadi ragu-ragu. Tetapi ketika isyarat itu diulangi lagi, maka Kala Sembung tidak dapat berbuat lain. Iapun telah mengulangi isyarat itu pula sehingga para pengikutnya menjadi yakin, bahwa para pemimpin mereka menghendaki mereka meninggalkan medan.

 

Kala Sembung tidak sempat berusaha mengetahui apa yang terjadi dengan Warsi dan Ki Rangga. Tetapi ia yakin bahwa isyarat itu telah diberikan oleh Ki Rangga Gupita sendiri.

 

Karena itu, maka sebelum orang-orang yang mengejar pasukan yang menarik diri terdahulu kembali, maka Kala Sembung berusaha membawa orang-orangnya untuk menyelamatkan diri.

 

Namun ternyata nasibnyalah yang malang. Jati Wulung benar-benar tidak mau melepaskannya. Ternyata Jati Wulung yang menjadi sangat marah karena sikap Kala Sembung dan orang-orangnya yang menjadi gila dan hampir saja sempat menerobos arena pertempuran antara Warsi dan Iswari justru diinduk pasukan disaat para pengawal mengejar lawan-lawannya, benar-benar tidak mau membiarkannya lari.

 

Kala Sembung sendiri memang berusaha untuk membawa orang-orangnya meninggalkan medan. Tetapi karena Jati Wulung sama sekali tidak memberinya kesempatan lagi, maka sambil menarik diri Kala Sembung harus bertempur terus. Sekali-sekali ia sempat melepaskan pertempuran itu dan berloncatan menjauh dengan loncatan-loncatan panjang didorong oleh kemampuan ilmunya. Namun Jati Wulungpun mampu pula menyusulnya dan langsung melibatnya kembali dalam pertempuran yang sengit.

 

Beberapa orang pengikut Kala Sembung memang berusaha untuk membantunya. Tetapi para pengawal yang semula berada disayap yang dipimpin oleh Jati Wulung itupun telah menyusul mereka pula, sehingga mereka sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk membantu pemimpinnya.

 

Bagaimanapun juga liarnya, ternyata Kala Sembung termasuk orang yang bertanggung jawab. Meskipun ia sendiri berada dalam kesulitan, namun ia masih juga sempat memberikan isyarat agar orang-orangnya berusaha menyelamatkan diri dari medan yang garang itu.

 

Tetapi Kala Sembung sendiri harus bertempur menghadapi Jati Wulung yang marah itu.

 

Dengan mengerahkan segenap kemampuannya, Kala Sembung memutar bindinya. Bindi bergerigi yang mendebarkan. Meskipun bindi itu cukup berat, tetapi ditangan Kala Sembung nampaknya tidak lebih berat dari sebatang lidi.

 

Tetapi Jati Wulung memiliki banyak kelebihan dari Kala Sembung. Karena itu ketika kemarahannya tidak terbendung lagi, maka Jati Wulungpun tidak lagi mempunyai pertimbangan lain. Dengan mengerahkan kecepatan Meraknya didasari dengan kemampuan ilmu dan tenaga cadangannya, maka ujung pedang Jati Wulungpun telah mampu menyusup diantara bindi Kala Sembung.

 

Kala Sembung terkejut, ia merasa kulitnya tergores oleh ujung pedang Jati Wulung. Karena itu, maka iapun memutar bindinya yang bergerigi itu lebih cepat. Diayunkannya bindi itu mengarah langsung ke kepala lawannya, ketika sekali lagi Jati Wulung berusaha menembus pertahanannya.

 

Namun Jati Wulung cukup tangkas. Dengan bergeser kesamping ia berhasil membebaskan kepalanya dari ayunan bindi itu, meskipun terasa angin ayunannya menampar wajahnya.

 

Namun tepat pada saat itu, Jati Wulung telah berputar bertumpu pada satu kakinya, sementara tangannya terjulur lurus sambil menggenggam pedangnya.

 

Terdengar Kala Sembung mengumpat kasar. Ujung pedang Jati Wulung sekali lagi tergores di dadanya, sehingga Kala Sembung itu terdorong beberapa langkah surut.

 

Ternyata Jati Wulung tidak membiarkan lawannya itu memperbaiki keadaannya. Dengan loncatan yang cepat serta pedang terjulur lurus kedepan, Jati Wulung telah memburunya.

 

Tidak ada kesempatan sama sekali bagi Kala Sembung untuk berbuat sesuatu. Ia memang mencoba untuk menangkis dengan bindinya yang berat. Tetapi ternyata Kala Sembung itu terlambat, sehingga pedang Jati Wulung telah menghunjam jantungnya.

 

Kala Sembung mengerang kesakitan. Dengan penuh kebencian itu memandang Jati Wulung yang marah itu.

 

Namun Kala Sembung tidak sempat berbuat apapun juga. Ketika Jati Wulung kemudian menarik pedangnya, maka Kala Sembung itupun kemudian telah jatuh terjerembab di tanah.

 

Jati Wulung berdiri termangu-mangu sejenak. Ketika ia memandang disekelilingnya, maka dilihatnya para pengawal masih berusaha mengejar orang-orang yang melarikan diri. Namun agaknya orang-orang yang melarikan diri itu telah memanfaatkan setiap pepohonan, batang-batang perdu dan tanaman disawah untuk menyelamatkan diri.

 

Sejenak Jati Wulung bagaikan membeku. Namun kemudian iapun telah berpaling kearena pertempuran antara Warsi dan Iswari yang dikelilingi oleh beberapa orang pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Sementara para pengikut Kala Sembung yang berhasil menyusup ke induk gelar telah dilumpuhkan.

 

Selangkah demi selangkah Jati Wulung mendekati arena itu. Dibawah cahaya bulan ia melihat orang-orang tua Tanah Perdikan berada di dalam arena. Demikian pula Ki Rangga. Menilik sikap kedua orang yang bertempur itu, maka Jati Wulung mengambil kesimpulan, bahwa mereka agaknya telah bersepakat untuk berperang tanding.

 

Sejenak Jati Wulung mengamati orang-orang lain di keliling arena itu. Beberapa kali ia harus bergeser untuk dapat melihat dengan jelas siapa saja yang berada diantara mereka. Namun Jati Wulung tidak menemukan Sambi Wulung.

 

Jati Wulung menjadi berdebar-debar. Menurut pendapatnya, Sambi Wulung tentu sedang ikut bersama para pengawal mengejar orang-orang dari balik bukit yang melarikan diri. Namun bagaimanapun juga ia merasa cemas, bahwa lawan Sambi Wulung adalah seorang yang berilmu sangat tinggi.

 

Untuk beberapa saat lamanya, Jati Wulung tidak menghiraukan pertempuran di arena itu. Menurut pendapatnya di tempat itu sudah terdapat orang-orang tua yang berilmu sangat tinggi, sehingga segala sesuatunya akan dapat mereka selesaikan. Tetapi yang kemudian menjadi perhatiannya adalah Sambi Wulung.

 

Karena itu, maka Jati Wulungpun telah melangkah justru menjauhi arena itu menuju ke bukit. Ia bergeser melintasi arah pasukan induk ke arah sayap yang lain. Kemudian mengikuti jejak dari pasukan lawan yang menarik diri disusul oleh pasukan Tanah Perdikan Sembojan.

 

Sambil melangkah, Jati Wulung mengamati tubuh-tubuh yang terkapar. Meskipun ia yakin akan kemampuan saudara seperguruannya, namun dalam pertempuran segala sesuatu dapat saja terjadi.

 

Dalam siraman cahaya bulan Jati Wulung melangkah selangkah demi selangkah dengan pedang masih tetap di tangannya.

 

Jati Wulung terkejut ketika ia melihat dua sosok tubuh yang bergerak diantara batang padi. Nampaknya kedua sosok tubuh itu berusaha untuk bangkit. Kebencian dan dendam masih menyala didalam hati keduanya. Meskipun keduanya sudah terluka parah, namun keduanya masih berusaha menyerang Jati Wulung.

 

Betapapun kemarahan masih saja terasa panas di dadanya, tetapi menghadapi kedua orang yang sudah tidak berdaya itu Jati Wulung memang tidak melawan. Ia hanya bergeser saja selangkah-selangkah menghindari serangan keduanya yang sudah hampir tidak bertenaga sama sekali itu.

 

Namun dari mereka Jati Wulung dapat menangkap betapa dendam itu mempunyai kekuatan yang luar biasa, sehingga mampu menunjukkan kelebihan dari kewajaran.

 

Tetapi itupun tidak lama. Kedua orang itupun kemudian telah terjatuh lagi disawah berlumpur.

 

Dengan demikian, maka tiba-tiba saja Jati Wulung teringat akan pertempuran antara dua orang yang saling mendendam diarena. Antara Warsi dan Iswari. Apapun alasan mereka bertempur, namun keduanya benar-benar telah dicengkam oleh dendam yang tiada taranya.

 

Karena itu, maka Jati Wulungpun menjadi ragu-ragu sesaat. Namun akhirnya ia memutuskan untuk kembali kelingkaran pertempuran yang nampaknya masih berlangsung dengan dahsyatnya.

 

Jati Wulung tidak menyibak dan berdiri dipaling depan. Ia masih memperhitungkan kemungkinan, bahwa ada diantara orang-orang yang dibawa oleh Warsi atau Ki Rangga Gupita dari padepokan yang dihuni oleh Puguh, sehingga orang itu dapat mengenalinya. Karena itu, maka ia justru telah berusaha untuk bersembunyi dibayangan orang-orang yang berkerumun disekililing arena itu.

 

Namun dalam pada itu, ternyata orang-orang yang mengelilingi arena pertempuran itu menjadi bingung melihat apa yang telah terjadi. Ternyata Warsi dan Iswari masih ingin memperlihatkan kemampuan mereka mempergunakan senjata. Warsi masih bertempur dengan rantainya, sementara Iswari menggenggam sepasang pedang di sepasang tangannya.

 

Ternyata keduanya memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Dilandasi dengan kemampuan mereka bermain senjata yang didukung oleh tingkat tenaga cadangan mereka yang tinggi pula, maka pertempuran itu benar-benar merupakan pertempuran yang sulit untuk dimengerti oleh kebanyakan para pengawal Tanah Perdikan.

 

Mereka menganggap rantai di tangan Warsi sebagai senjata yang ajaib. Bahkan mereka yang telah pernah mendengar bahwa Warsi telah menghubungkan kemampuannya dengan cahaya bulan, sekali-sekali telah menengadahkan wajahnya kelangit, menatap bulan yang bulat kekuning-kuningan dengan cahayanya yang cantik. Beberapa orang justru menjadi cemas. Mereka menganggap bahwa pengaruh cahaya bulanlah yang telah membuat senjata Warsi menjadi aneh. Rantai yapg lentur itu kadang-kadang justru menjadi tongkat yang panjang dan kuat yang terayun-ayun mengerikan. Namun tiba-tiba saja rantai itu telah menjadi lentur kembali dan bahkan bergerak melingkar-lingkar seperti juntai sebuah cambuk.

 

Tetapi Iswari sendiri sama sekali tidak menjadi bingung menghadapinya. Ia mengenali watak senjata sebagaimana dipergunakan oleh Warsi. Senjata itu sendiri bukannya benda yang aneh. Namun kemampuan ilmu Warsi yang dapat disalurkan pada senjatanya itulah yang mempunyai kekuatan dan sifat yang tidak sewajarnya.

 

Namun Iswari yang juga berilmu tinggi itu memiliki kemampuan ilmu pedang yang sulit dicari bandingnya.

 

Sementara itu, orang-orang yang mengejar lawan sampai kebukit merasa bahwa mereka tidak akan banyak berhasil jika mereka naik ke lereng. Banyak tempat yang dapat dipergunakan untuk menyelinap dan menghilang. Sehingga karena itu, maka mengejar lawan diantara gerumbul-gerumbul perdu, pepohonan dan batu-batu padas serta lekuk-lekuk batu berkapur adalah berbahaya sekali.

 

Sambi Wulung serta pemimpin pasukan pengawal Tanah Perdikanpun kemudian memberikan isyarat agar pengejaran dihentikan. Kemudian diperintahkannya para pengawal dan anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan untuk kembali ke medan.

 

Sedangkan para pengawal yang mengejar sisa-sisa pengikut Kala Sembungpun memutuskan untuk tidak melanjutkan pengejaran. Para pemimpin kelompok telah memerintahkan mereka kembali ketika mereka kemudian menyadari bahwa induk pasukan merekapun telah turun pula dari lereng. Sementara sisa-sisa pengikut Kala Sembung itu telah berlari cerai berai.

 

Ketika mereka kembali ke bekas medan, maka mereka masih melihat sebuah arena pertempuran. Baru kemudian mereka mendengar, bahwa Warsi memang telah menempatkan diri dalam perang tanding dengan Iswari, sementara Iswari juga tidak menolak.

 

Sambi Wulung yang ternyata kemudian bergeser mendekati Jati Wulung sempat bertanya, “Bagaimana dengan lawan-lawanmu?”

 

Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku sempat membunuh pemimpin sayap yang bagaikan orang kehilangan akal. Bersenjata bindi yang besar dan bergerigi. Namun ternyata ia bertanggung jawab atas orang-orangnya.”

 

“Aku kehilangan orang yang menyebut dirinya Ki Ajar. Seorang Ajar yang agak lain. Ia berhasil menyelinap diantara orang-orangnya yang bergeser dalam kekisruhan. Ia mampu memanfaatkan gerak mundur untuk bersembunyi. Dengan demikian, orang itu termasuk orang yang harus diperhatikan bagi masa yang akan datang, karena ia juga berilmu tinggi.“ berkata Sambi Wulung.

 

Jati Wulung mengangguk-angguk. Satu hal yang dikatakannya begitu tiba-tiba, “Orang itu tentu juga berbahaya bagi Risang.”

 

“Ya.” jawab Sambi Wulung. “Mudah-mudahan aku dapat mengingat wajahnya.”

 

“Tetapi ia juga dapat mengingat wajahmu,“ berkata Jati Wulung.

 

“Mudah-mudahan tidak dengan sedikit goresan-goresan seperti wajah kita sekarang ini,“ jawab Sambi Wulung.

 

Jati Wulung mengangguk-angguk. Mereka memang telah membuat sedikit penyamaran di wajah mereka. Apalagi dalam pertempuran yang sibuk dan cahaya bulan yang tidak selalu sempat menerangi wajah-wajah itu. Mereka berharap bahwa tidak seorangpun diantara para pengikut Ki Rangga dan Warsi itu akan dapat mengenali mereka pada kesempatan lain. Apalagi jika ada diantara lawan-lawan mereka itu orang-orang padepokan tempat Puguh tinggal. Dengan demikian maka hubungan hjereka dengan Puguh tidak akan terputus. Karena menurut pendapat mereka, Puguh disamping Warsi adalah ancaman yang paling gawat bagi Tanah Perdikan Sembojan. Apalagi ternyata bahwa Puguh memiliki kelebihan dari Risang. Meskipun umur Risang beberapa saat lebih tua dari Puguh, namun pengalaman Puguh ternyata lebih luas dari Risang. Sehingga pengalamannya itu juga mempengaruhi kemantapan berpikip dan menanggapi sesuatu.

 

Demikianlah keduanyapun kemudian telah menyaksikan perang tanding yang seru itu. Perang tanding antara kedua orang perempuan yang memiliki ilmu yang tinggi.

 

Namun beberapa orang yang menyaksikan pertempuran itu ternyata dipengaruhi juga oleh tanggapan mereka atas kepercayaan Warsi, bahwa cahaya bulan itu akan dapat mempengaruhi ilmunya. Cahaya bulan itu bagaikan tenaga baru yang akan selalu mengisi tubuh Warsi sehingga meskipun ia bertempur dengan mengerahkan tenaga namun tenaganya itu tidak akan pernah susut selama ia masih berada dibawah cahaya bulan.

 

Bahkan ada diantara orang-orang Tanah Perdikan Sembojan yang percaya bahwa hal itu memang dapat terjadi. Ada diantara mereka yang mengaku pernah bertemu dengan orang yang ilmunya dipengaruhi oleh cahaya bulan.

 

“Meskipun tidak setinggi ilmu perempuan itu, tetapi bahwa pengaruh cahaya bulan itu benar-benar berarti telah pernah dibuktikan oleh seseorang yang pernah aku kenal,“ berkata orang itu.

 

Tetapi kawannya bertanya, “Apakah kau tidak sekedar bermimpi?”

 

“Jangan begitu,“ jawab orang yang pertama, “kau boleh tidak percaya.”

 

“Aku berdoa agar Nyi Wiradana dapat mengalahkan penari jalanan itu,“ berkata kawannya. Bahkan kemudian dengan nada berat ia berkata, “Mudah-mudahan tidak ada pengaruh sinar bulan itu.”

 

Orang yang pertama itupun mengerutkan keningnya. Namun ia tidak menjawab lagi.

 

Sementara itu pertempuran di arena itupun menjadi semakin sengit. Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka berdiri termangu-mangu ditempatnya. Sementa Ki Rangga Gupita menjadi sangat tegang. Perang tanding itu merupakan perang tanding ulangan, sebagaimana pernah mereka lakukan hampir sepuluh tahun yang lalu. Selama hampir sepuluh tahun kedua perempuan itu telah menempa diri dalam jalur ilmu mereka masing-masing. Sehingga dengan demikian, maka ilmu merekapun telah meningkat semakin jauh. Tetapi tidak seorangpun yang akan mampu menahan perubahan-perubahan jasmaniah yang terjadi dalam sepuluh tahun kemudian. Bahkan keadaan kewadagan mereka tentu sudah pula mengalami perubahan.

 

Meskipun demikian didukung oleh tingkat perkembangan ilmu yang tinggi, maka kedua orang perempuan itu merupakan dua raksasa ilmu yang menggetarkan jantung.

 

***

 

Dalam pada itu, jauh dari arena pertempuran, Puguh merenung di padepokannya. Ia tidak tahu, kenapa tiba-tiba saja gurunya pergi tanpa memberi tahu tujuannya. Puguhpun sama sekali tidak diperkenankan ikut. Bahkan Puguhpun tidak tahu kapan gurunya itu berangkat.

 

Yang diketahuinya adalah, bahwa gurunya itu berpesan dengan sungguh-sungguh agar ia tidak meninggalkan padepokan sebelum gurunya itu kembali.

 

“Jika kau melanggar perintahku kali ini Puguh, maka aku tidak akan memaafkanmu,“ pesan gurunya.

 

Puguh tidak tahu apa yang dilakukan gurunya itu. Dan kenapa gurunya berkeras agar ia tidak meninggalkan padepokan sebelum gurunya datang.

 

Meskipun malam menjadi semakin dalam, namun rasa-rasanya Puguh sama sekali tidak mengantuk. Bahkan udara yang terasa panas didalam biliknya telah mendorongnya untuk berjalan-jalan di halaman padepokan.

 

“Kau belum tidur?“ bertanya salah seorang dari dua orang cantrik yang berjaga-jaga.

 

“Udara terasa panas didalam,“ jawab Puguh.

 

Kedua orang cantrik itu saling berpandangan sejenak. Seorang diantara mereka justru berdesis, “Udara terasa dingin sekali. Bulan bulat dilangit. Udara bersih dan angin malam terasa basah.”

 

Puguh mengangguk-angguk. Diluar sadarnya iapun telah menengadahkan wajahnya. Dilihatnya langit memang bersih. Selembar awan nampak dilangit. Tetapi awan itu tidak melintas didepan wajah bulan yang bulat.

 

“Diluar memang terasa dingin,“ desis Puguh, “tetapi rasa-rasanya menjadi lebih nyaman untuk tinggal diluar.”

 

Kedua cantrik itu tidak menyahut lagi. Tetapi keduanyapun kemudian mengangguk dan melangkah memutari halaman depan padepokan itu.

 

Puguhlah yang kemudian duduk sendiri di sudut pendapa padepokan. Rasa-rasanya ia ingin pergi ke padepokan kedua. Tetapi niat itu diurungkannya. Disana tentu akan terasa semakin sepi karena gurunya tidak ada. Puguh tidak pernah merasa kesepian meskipun ayah dan ibunya jarang sekali menengoknya Tetapi ia merasa sepi jika gurunya pergi untuk waktu yang agak lama.

 

Namun tiba-tiba saja terasa jantung Puguh berdesir. Ia tidak tahu kenapa. Bahkan tanpa disadarinya tiba-tiba saja Puguh itupun bangkit dan berdiri dihalaman.

 

Puguhpun tidak tahu kenapa ia menjadi berdebar-debar ketika ia melihat segumpal awan lewat dilangit. Bahkan kemudian awan yang agak tebal itu telah menutup bulan sehingga sinarnya menjadi suram. Namun hanya beberapa saat, karena awan itupun kemudian telah hanyut dalam arus angin.

 

Namun Puguh mulai melihat gumpalan-gumpalan awan yang lain meskipun tidak terlalu banyak. Gumpalan-gumpalan awan yang mengalir perlahan-lahan. Tetapi tidak semua gumpalan awan itu akan melintasi dan memotong cahaya bulan.

 

Puguh tidak tahu, kenapa tiba-tiba saja ia tertarik oleh bulatnya bulan yang kekuning-kuningan.

 

Namun Puguh itu rasa-rasanya tidak ingin masuk ke dalam biliknya lagi. Bahkan iapun telah berbaring di amben panjang diserambi. Rasa-rasanya ia ingin tetap mengamati cahaya bulan itu semalam suntuk.

 

Ditempat yang lain, Risang yang telah berbaring dipembaringanya merasa sangat gelisah. Bahkan demikian ia tertidur, maka Gandarpun telah membangunkannya.

 

“Risang, apakah kau bermimpi buruk?“ bertanya Gandar.

 

Risang terkejut. Iapun segera bangkit. Namun kemudian ia mencoba mengingat apakah ia bermimpi.

 

Dengan ragu-ragu iapun kemudian berkata, “Tetapi rasa-rasanya aku tidak bermimpi.”

 

“Kau seperti orang terkejut dan bahkan mendesah agak keras. Aku kira kau bermimpi,“ berkata Gandar.

 

Risang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku merasa bahwa aku belum tidur ketika aku melihat seakan-akan banjir mengalir dari daerah perbukitan disebelah Tanah Perdikan Sembojan.”

 

Gandarlah yang kemudian menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tentu kau telah bermimpi.”

 

Risang mengangguk. Katanya, “Ya, menurut penalaranku, aku memang telah bermimpi, karena aku tidak akan dapat melihat hal itu selain didalam mimpi. Tetapi rasa-rasanya aku melihat dengan jelas, bahwa dari punggung bukit itu mengalir banjir yang besar. Orang-orang Tanah Perdikan Sembojan, termasuk ibu, tengah sibuk membendung banjir itu agar tidak merusakkan seluruh Tanah Perdikan.”

 

“Tidurlah,“ berkata Gandar, “jangan kau pikirkan mimpimu itu. Hari sudah terlalu malam untuk merenung.”

 

Tetapi Risang justru bangkit dan berkata, “Aku akan keluar.”

 

“Untuk apa?“ bertanya Gandar.

 

“Supaya nanti aku dapat tidur nyenyak.” jawab Risang asal saja.

 

Gandar tidak mencegahnya. Tetapi diikutinya saja Risang yang melangkah keluar. Dihalaman iapun telah menggeliat dengan mengangkat kedua tangannya. Namun terpandang olehnya bulan yang bulat dilangit.

 

“Sinar bulan itu begitu silau dimataku,“ desis Risang.

 

“Kau baru saja bangun dari tidurmu,“ sahut Gandar.

 

Risang mengangguk-angguk. Katanya sambil menggosok matanya, “Ya. Mungkin karena itu.“ Namun kemudian iapun melangkah kepakiwan sambil berkata, “Aku akan mencuci muka.”

 

Risang memang mencuci mukanya. Tetapi kegelisahan hatinya ternyata tidak dapat hanyut bersama kantuk di matanya. Meskipun wajahnya yang basah terasa segar, namun jantungnya terasa berdebar semakin keras.

 

Ternyata ditempat yang jauh terpisah, kedua orang anak laki-laki dari dua orang ibu yang sedang bertempur itu seakan-akan tergelitik perasaannya. Keduanya tidak, melihat apa yang terjadi, tetapi keduanya tergetar oleh hentakan-hentakan kemarahan ibu mereka. Sedangkan keduanya adalah anak-anak muda yang lahir dari satu bapa.

 

***

 

Sebenarnyalah bahwa pertempuran di depan lereng pebukitan di Tanah Perdikan Sembojan itu masih berlangsung terus. Warsi yang disiram oleh cahaya bulan penuh itu merasa, bahwa ia akan berhasil mengalahkan lawannya.

 

Karena itu, ia sama sekali tidak merasa perlu untuk menghemat tenaganya. Ia bertempur dengan mengerahkan kekuatan dan kemampuannya. Ia memang masih belum mengetrapkan ilmunya karena ia ingin mendapat kepuasan yang terbesar dengan membunuh Iswari tanpa ilmu pamungkasannya apabila ia dapat melakukannya. Hanya dalam keadaan terdesak sajalah maka Warsi akan mempergunakan ilmunya yang mampu menggetarkan pebukitan itu.

 

Sementara itu pasukan Tanah Perdikan Sembojan memang sudah berkumpul kembali. Pemimpin pengawal Tanah Perdikan itupun segera mengumpulkan mereka dalam kelompok-kelompok mereka.

 

“Biarlah orang-orang tua Tanah Perdikan ini menjadi saksi. Kita harus segera mengetahui kawan-kawan kita yang menjadi korban pertempuran ini. Dengan demikian, kita akan segera dapat mencari mereka dan berusaha menolong mereka yang masih memungkinkan,“ berkata pemimpin pasukan pengawal itu kepada para pemimpin kelompok.

 

Para pemimpin kelompok memang bergerak cepat. Setiap pemimpin kelompok segera mengetahui jumlah kawan-kawan mereka yang tidak ada lagi didalam kelompoknya.

 

Dengan demikian maka pemimpin pasukan pengawal itu segera memerintahkan setiap kelompok untuk mencari kawan-kawan mereka masing-masing yang ternyata tidak kembali lagi kedalam kelompok mereka.

 

“Kalian tahu pasti, dimana kalian bertempur,“ berkata pemimpin pasukan itu.

 

Sejenak kemudian, maka para pengawal itupun telah membawa kelompoknya memasuki bekas medan yang garang itu.

 

Beberapa orang memang ingin menyaksikan pertempuran antara kedua orang perempuan itu. Namun para pemimpin kelompok telah memerintahkan mereka untuk bekerja terus.

 

Hanya sekelompok pengawal khusus yang biasanya mengawal rumah pemimpin Tanah Perdikan itu sajalah yang kemudian mengelilingi arena. Para penghubung d