SAYAP-SAYAP YANG TERKEMBANG
SH MINTARJA
SEORANG laki-laki remaja berwajah secerah
pagi yang mulai dibayangi oleh cahaya matahari duduk di atas punggung kuda yang
berderap disebuahpadang rumput yang tidak terlalu luas.Di tangannya, anak muda
remaja itu menggenggam sebatang tombak yang sudah terayun siap
dilontarkan.Ketika kudanya berlari mendekati sebuah tiang bambu maka dengan
sepenuh renaga remaja itu melemparkan tombaknya.Tombak itu meluncur dengan
deras.Dengan tepat tombak itu menyambar sepotong batang pisang yang tertancap di
ujung tiang bambu setinggi tubuhnya dibalut dengan sabut kelapa dan melekat erat
pada tiang bambu itu.
Ketika kemudian kuda itu berlari menjauh,
terdengar tepuk tangan seseorang sambil berseru, "Bagus Risang.Kau benar-benar
telah berhasil.Kau memiliki kemampuan bidik yang sangat tinggi.Sambil
mengendalikan kuda, kau berhasil mengenai sasaranmu dengan tombakmu."
Kuda itu berlari melingkar
sekali.Kemudian berhenti di hadapan seorang yang kelihatan sudah tua meskipun
tubuhnya masih tetap tegap dan kuat.
Laki-laki remaja itu meloncat turun
sambil tersenyum.Katanya, "Aku mengenainya lagi kakek."
"Ya," jawab orang tua itu "kau sudah
mengenainya beberapa kali.Bukan sekadar kebetulan.Aku yakin sekarang, bahwa kau
memang dibekali dengan kelebihan itu.Kau mempunyai kemampuan bidik yang sangat
tajam.Bukan saja dengan tombak, tetapi dengan senjata yang lain.Kau sudah
menunjukkan kemampuan bidikmu dengan mempergunakan anak panah, bahkan bandil dan
melempar dengan batu sekalipun."
"Kakek yang mengajari aku," jawab remaja
itu.
Orang tua itu menggeleng.Katanya,
"Kemampuan ini kau dapatkan bukan sekadar karena latihan-latihan.Tetapi kau
sudah membawa bekal kemampuan itu sejak kau dilahirkan.Karena itu bersukurlah
atas kurnia itu.Latihan-latihan yang keras yang kau lakukan sekadar
meningkatkannya.Seorang yanglain , yang berlatih sebagaimana kau lakukan, belum
tentu memiliki ketajaman bidikan seperti kau."
"Kakek selalu memuji," berkata remaja
itu.
"Kakek memang memuji.Tetapi bukannya
tidak ada dasarnya," berkata orang tua itu sambil menepuk bahunya.
Remaja itu tertawa.Namun kemudian iapun
berkata "Aku akan mengulanginya lagi."
"Sudah waktunya kau beristirahat.Marilah,
kita kembali ke pondok," berkata orang tua itu.
Laki-laki remaja itu menengadahkan
wajahnya ke langit.Dilihatnya matahari sudah mulai memanjat naik. Sinarnya
terasa hangat di tubuhnya yang berkeringat.
"Marilah," berkata orang tua itu."Setelah
beristirahat kau dapat melakukan tugasmu yang lain."
Remaja itu mengangguk.Ketika kemudiania
berpaling, maka dilihatnya tombaknya masih menancap pada sasarannya.Karena itu
katanya, "Aku akan mengambil tombakku."
"Marilah, kita langsung kembali," berkata
orang tua yang melangkah ke arah kudanya yang terikat pada sebatang pohon perdu.
Keduanyapun kemudian berkuda meninggalkan
tempat itu.Remaja itu sempat menyambar tombaknya dan kemudian membawanya
meninggalkan sasaran yang sudah beberapa kali dikenainya.
Ketika keduanya sudah ke luar daripadang
rumput, maka kuda merekapun mulai berlari.Tetapi tidak begitu cepat.Kaki-kaki
kuda itu berderap di atas tanah berbatu padas.Namun yang agaknya tidak terlalu
sering dilalui orang.Tetapi dengan demikian justru kebetulan bagi Risang dan
Kiai Badra yang menemukan tempat itu untuk berlatih.
Sambil membenahi pakaian mereka, maka
kedua ekor kuda itu telah memasuki jalan yang lebih besar.
Di jalur jalan itu mereka mulai bertemu
dengan beberapa orang yang berjalan sambil membawa beberapa macam barang.Agaknya
merekaakan pergi ke pasar untuk menjualnya.Seorang perempuan membawa
barang-barang anyaman dari bambu.Sementara itu, seorang ibu dan gadis remajanya
membawa hasil sawahnya.
Di hadapan kedua orang penunggang kuda
itu memang terdapat sebuah padukuhan yang agak besar.Di padukuhan itu terdapat
sebuah pasar yang cukup ramai, karena pasar itu bukan saja menampung penjual dan
pembeli dari padukuhan itu.Tetapi dari seluruh Kademangan menganggap pasar itu
sebagai pusat hubungan jual beli, karena di padukuhan-padukuhan lain tidak
terdapat pasar seramai itu.Yang ada tidak lebih dari warung-warung kecil yang
hanya dipergunakan sepekan sekali bergantian.Pada hari pertama di padukuhan yang
ujung, kemudian dihari kedua di padukuhan sebelah dalam.Di hari berikutnya di
padukuhanlain dan juga dihari keempat dan kelima.
KETIKA kedua penunggang kuda itu
mendekati padukuhan yang agak besar itu, perhatian Risang banyak tertuju pada
bulak yang sedang dilewatinya.
Sebelum mereka meninggalkan bulak yang
agak panjang itu, Risang sempat berkata, "Sebetulnya penggunaan tanah ini dapat
ditingkatkan kakek."
"Ya," jawab Kiai Badra."Orang-orang
Kademangan ini masih belum menyadari, betapa pentingnya untuk bekerja lebih
keras.Sebenarnya kemungkinan yang jauh lebih baik dapat dilakukan disini.Tetapi
diperlukan orang yang dapat membuka hati orang-orang di Kademangan ini."
Risang mengangguk-angguk.Namunia pun
kemudian menarik kendali kudanya.Ia tidak akan memasuki padukuhan di depan
dengan membawa tombak di tangan, karena akan menarik perhatian orang
banyak.Apalagi jika mereka masuk ke dalam pasar.Agak berbeda dengan senjata yang
lebih pendek. Tidak seorang punakan menyapa mereka yang membawa parang atau
pedang pendek yang diselipkan di ikat pinggang, karena hal itu telah menjadi
kebiasaan.
Kiai Badra pun telah ikut berbelok
pula.Jalan itulah memang yang sering mereka lalui.
Kuda-kuda itu pun kemudian berlari
semakin cepat ketika sinar matahari menjadi semakin gatal.Mereka melalui
beberapa bulak lagi dan akhirnya menuju kesebuah padepokan kecil.
Sebenarnyalah bahwa Risang oleh Kiai
Badra telah dibawa kesebuah padepokan yang sepi dan agak terpencil.Padepokan itu
bukan padepokan Kiai Badra sebelumnya dan bukan pula padepokan Kiai Soka.Namun
ternyata bahwa Risang sudah ditempatkan disebuah padepokan baru yang belum
dikenal.
Hal itu dilakukan bukan sekadar karena
kecurigaan orang-orang Sembojan terhadap Nyai Wiradana yang muda, yang ternyata
tidak terbunuh dalam perang tanding, serta Ki Rangga Gupita, bahwa mereka akan
berusaha untuk melenyapkan Risang.Tetapi juga terdorong oleh keinginan
orang-orang tua, termasuk ibunya sendiri untuk memberikan bekal yang cukup bagi
anak itu.Karena itu, maka setelah Risang menjelang remaja, maka Risang telah
dibawa oleh Kiai Badra untuk menyepi.Justru pada saat-saat Tanah Perdikan
Sembojan berkembang terus menuju ke tingkat yang lebih tinggi dan mapan.Terutama
mengenai kesejahteraan rakyatnya.
Kiai Badra dan Kiai Soka ternyata
sependapat bahwa Risang perlu ditempa untuk menjadi seorang anak muda yang baik
lahir dan batinnya.Yang kuat dan teguh wadagnya namun juga hatinya.Iaharus
mencerminkan seorang anak muda yang sadar akan dirinya dan semua
kewajibannya.Terutama kewajibannya terhadap Penciptanya. Dengan landasan
kesadarannyaakan kewajibannya terhadap Yang Maha Agung, maka segala tingkah
lakunya akan terkendali.
Karena itulah, maka harus diciptakan satu
suasana yang sungguh-sungguh bagi Risang, agaria dapat sepenuhnya memusatkan
nalar budinya untuk menerima tuntunan yang akan sangat berarti bagi bekal
hidupnya kelak.
Untuk memberikan ketenangan kepadanya
agaria dapat bekerja keras namun dengan tenang, maka Risang telah dibawa oleh
Kiai Badra ke tempat yang terpencil dan tidak banyak dikenal oleh orang
lain.Semula Risang memang keberatan untuk berada di tempat yang sepi itu.Namun
kakeknya berkata bahwa hal itu diperlukan baginya.
"Kau harus membentuk dirimu," berkata
Kiai Badra.
"Bukankah hal itu dapat dilakukan
dimana-mana?" bertanya Risang.
Kiai Badra tersenyum.Katanya, "Benar
anakmanis .Tetapi bukankah tempat yang kita pergunakan itu juga mempengaruhi
keadaan kita? Jika kita berada di tempat yang ramai, maka kitaakan mudah
terganggu.Mungkin kesibukan dan keramaian di sekitar kita akan merampas sebagian
waktu yang sebenarnya dapat kita pergunakan untuk mendalami sesuatu yang jauh
lebih berarti."
Risang memang merasa enggan meninggalkan
ibunya di Tanah Perdikan.Risang sadar bahwa ayahnya sudah tidak ada.Iaadalah
satu-satunya anak. Jikaia pergi, maka hati ibunya akan menjadi sangat sepi.
NAMUN ibunya sendiri berkata kepadanya,
"Pergilah anakku.Ibu memangakan kesepian.Tetapi ibu mempunyai kesibukan
tersendiri disini. Akuakan bekerja keras untuk menjadikan Tanah Perdikan ini
tanah yang pantas buat kau kelak. Bukan berarti bahwa ibuakan menutup segala
kemungkinan bagimu untuk berbuat lebih baik atas tanah ini.Apa yang dapat ibu
lakukan hanyalah sekadar permulaan.Tetapi kelak dengan modal yang ada, kau harus
membuat tanah ini jauh lebih baik.Tanah ini harus memiliki kembali kebesaran
kakekmu, Ki Gede Sembojan. Karena kebesaran tanah ini harus surut pada saat
ayahmu memerintah atasnama kakekmu yang terbunuh.
Setiap orang memang mempunyai
kekurangan.Ayahmu kurang tekun mempelajari ilmu, baik kanuragan maupun
pengetahuan tentang pemerintahan.Jadikan itu perbandingan dengan masa-masa
yangakan kau jalani.Sembojan harus menjadi semakin besar.Bukan semakin surut."
Risang yang remaja itu mengertiapa yang
dikatakan oleh ibunya. Karena itu, makaia pun kemudian tidak menolak mengikut
cicitnya ke tempat yang dianggapnya terpencil dan sepi.
Namun di tempat itu Risang telah menempa
diri untuk menjadi seorang yang siap mengarungi gejolak kehidupan.Apalagi jikaia
harus menerima kedudukan kakeknya, Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang masih
dipangku oleh ibunya itu.
Dalam pada itu, Risang dan Kiai Badra
telah memasuki jalan sempit melintasipadang perdu. Namun kemudian memasuki
daerah subur yang seakan-akan terpisah dari lingkungan yang lain.
Ditengah-tengah bulak di balikpadang
perdu itu terdapat sebuah padepokan kecil yang dihuni oleh hanya beberapa
orang.Termasuk Kiai Badra dan Risang.Namun di tempat itu tinggal pula Gandar
serta dua orang saudara seperguruan yang ternyata tidak lagi ingin meninggalkan
Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung.Keduanya telah sepakat untuk tetap berada
bersama anak Sembojan itu, dan tidak kembali ke lingkungan sebelumnya.
Meskipun letak lingkungan itu terpisah
olehpadang perdu dari Kademangan terdekat, namun isi dari lingkungan itu
mempunyai hubungan yang sangat baik dengan orang-orang Kademangan itu.Bahkan isi
dari lingkungan kecil itu telah dianggap sebagai keluarga dari Kademangan
terdekat.
Namun bagi orang luar, mereka memiliki
pengenalan yang berbeda dari yang sebenarnya.Tidak seorang pun dari isi
Kademangan itu yang tahu bahwa penghuni lingkungan kecil yang terpencil itu
adalah orang-orang Sembojan.
Orang-orang Kademangan Bibis yang
bersebelahan dengan Kademangan Ngadiraja ditepi sungai Lorog itu, mengenal para
penghuni lingkungan yang agak terpisah itu sebagai orang-orang dari sebuah
perguruan yang memisahkan diri dari induknya, untuk kemudian membangun sebuah
padepokan sendiri.
Sebenarnyalah bahwa isi dari lingkungan
kecil itu memang memberikan kesan yang demikian kepada orang-orang bahkan juga
kepada Ki Demang Bibis.Kepada para penguhuni Kademangan yang masih belum
berkembang itu, Kiai Badra menyebut dirinya dan para penghuni dari lingkungan
kecil yang terpisah itu sebagai orang-orang yang tidak puas dengan arahan yang
diberikan oleh pimpinan padepokannya.
Ketika untuk pertama kalinya Ki Demang
datang mengunjungi lingkungan kecilnya itu Kiai Badra berkata, "Sebenarnyalah
bahwa kami yang harus datang menghadap Ki Demang untuk mohon ijin membuka sebuah
padepokan kecil di tepi Kali Lorog ini."
"Ki Sanak," berkata Ki Demang Bibis."Kami
tidak berkeberatan Ki Sanak membuka hutan kecil ini dan membuat sebuah
padepokan. Tetapi Ki Sanak tidak dapatsama sekali melepaskan diri dari kehidupan
Kademangan Bibis, karena hutan ini terletak dekat sekali dengan kehidupan yang
sudah lebih tua.Yaitu Kademangan Bibis itu.Bahkan sebagian orang-orang Bibis
menganggap bahwa hutan ini termasuk daerah wewengkon Bibis."
"Kami mohon maaf Ki Demang," berkata Kiai
Badra yang menyebut dirinya dengannama lain."Kami tidak mengetahuinya, sehingga
kami telah membuka hutan ini dan membuat satu lingkungan kehidupan yang baru."
.SEBENARNYA yang Ki Sanak lakukan itu
menguntungkan bagi Kademangan Bibis.Kami memang sudah merencanakan untuk
memperluas Kademangan ini.Sementara itu, hutan kecil ini memang merupakan tanah
cadangan yang sangat baik dan subur," berkata Ki Demang.
"Ki Demang," berkata Kiai Badra."Kami
akan melakukan semua pesan Ki Demang.Kami akan senang sekali jika kami kemudian
dapat menjadi keluarga Kademangan Bibis."
"Tetapi Ki Sanak ini berasal darimana?"
bertanya Ki Demang.
Kiai Badra pun mulai membuat sebuah
cerita tentang asal usul dari isi padepokan itu.Dikatakannya bahwa mereka telah
memisahkan diri dari perguruan induknya, ketika mereka menyadari bahwa perguruan
induknya mulai bergeser dari kemurniannya.
"Aku sudah tua Ki Demang," berkata Kiai
Badra."Jika aku berbuat tidak baik menurut penilaian sesama, apalagi menurut
penilaian Yang Maha Agung, maka aku tidak akan mempunyai kesempatan untuk
memperbaikinya.Seharusnya orang-orang tua seumurku merasa semakin dekat dengan
sumber hidupnya itu.Bukan malahan menjauhi jalan yang digariskannya.Karena itu
Ki Demang, aku telah memisahkan diri, membuat sebuah lingkungan kehidupan kecil
ini untuk mendapatkan ketentraman.Di samping itu aku masih tetap mengembangkan
ilmu yang aku dapat dari perguruanku yang lama, meskipun dengan tujuan yang
kemudian agak berbeda."
Ki Demang mengangguk-angguk.Sementara itu
Kiai Badra memang merasa bahwaia telah berbohong kepada Ki Demang yang baik
itu.Tetapi Kiai Badra berkata di dalam hatinya, "Maksudku baik. Aku dan
orang-orang di lingkungan ini tidakakan berbuat buruk, apalagi berbuat
jahat.Jika kelak kami dapat membuktikannya, maka Ki Demang akan berterima kasih
kepada kami."
Sebenarnyalah bahwa hubungan antara Ki
Demang Bibis dan kehidupan di lingkungan kecil itu berlangsung baik.Bahkan Ki
Demang merasa heran melihat orang-orang yang bekerja keras untuk membangun
lingkungannya yang baru.Mereka membuka hutan kecil namun lebat itu dengan tanpa
mengenal lelah.Sementara itu, mereka telah mengusahakan pula ujung daripadang
perdu itu untuk dijadikan tanah garapan.Tetapi agaknya tanah dibekas hutan kecil
itu lebih subur dari tanah bekas hutan perdu disebelahnya.
Meskipun tidak terlalu luas, tetapi
akhirnya Kiai Badra dan beberapa orang yang bersamanya berhasil mendapatkan
tanah garapan yang untuk sementara dapat dipergunakannya, namun yang masih
selalu dikembangkannya.Bahkan kemudian atas ijin Ki Demang, beberapa anak-anak
muda melibatkan diri pula.Mereka yang semula terdesak oleh kehidupan karena
tanah garapannya kurang baik dan tidak mendapat air, telah menyatakan diri,
untuk ikut serta membuka hutan itu.
"Tetapi kita tidak menentukan satu
lingkungan keluarga yang khusus," berkata Kiai Badra kepada anak-anak muda
itu."Kami akan merupakan satu keluarga dengangaya hidup sebuah padepokan."
"Kami akan ikut di dalamnya," jawab
seorang anak muda."Aku sendiri tidak akan mempunyai harapan lagi di masa depan,
karena tanah ayahku tidak terlalu luas, sementara itu saudaraku semua berjumlah
sepuluh orang."
Kiai Badra memang tidak menolak.Anak-anak
muda itu diterimanya ke dalam keluarga padepokan yang dibangunnya.Sehingga
dengan demikian, maka Kiai Badra telah mendapat kawan yang kemudian telah
menyatakan diri menjadi cantrik pada padepokan kecil itu.
Sejak semula Kiai Badra telah mengajar
para cantrik itu untuk bekerja keras.Anak-anak muda itu tidak lagi sempat
malas-malasan sebagaimana sering mereka lakukan di rumah mereka.Bukan karena
mereka memang pada dasarnya malas, tetapi karena tidak ada yang dapat mereka
kerjakan, sementara pikiran mereka kurang hidup untuk menciptakan kerja yang
berarti.
Tetapi di padepokan itu, kerja bagaikan
tidak ada habisnya.Sejak mereka bangun pagi-pagi benar, sampai saatnya
matahariakan terbenam. Namun karena mereka mengerjakan dengan kesadaranakan arti
kerja mereka itu sendiri, maka mereka melakukannya dengan senang hati.
AKHIRNYA anak-anak muda itu melihat juga
hasil kerja mereka.Sawah yang subur, air yang mengalir dengan teratur dan
padepokan yang hijau dan sejuk.Sebuah kolam yang menyimpan ikan-ikan besar dari
berbagai jenis.Ternak yang berkeliaran dan beberapa ekor lembu dan kuda di
kandang.
Dengan bangga anak-anak muda itu
bercerita kepada keluarga mereka di Kademangan Bibis pada saat-saat mereka
berkunjung.Anak muda yang mempunyai sepuluh orang saudara berkata kepada ayah
dan ibunya, "Agar warisan ayah dan ibu tidak terbagi menjadi bagian-bagian yang
sempit dan tidak berarti, maka siapakah di antara saudara-saudaraku yang ingin
bersamaku hidup di padepokan itu?
Di padepokan itu kita dapat bekerja dan
menuntut ilmu.Pada saatnya kelak kitaakan mendapat bekal yang pantas untuk
menempuh satu kehidupan yang lebih baik dari berjejal-jejal di lingkungan yang
sempit ini.Pemimpin padepkokan kami mempunyai rencana yang sangat baik, yang
telah disetujui oleh Ki Demang Bibis. Kamiakan memperluas tanah persawahan
dengan mengurangi luas hutan. Kelak, jika kami berkeluarga, maka kamiakan
mendapat bagian kami.Tanah garapan bagi keluarga kami."
Hal itu memang sangat menarik.Adiknya
dengan serta merta menyatakan diri untuk ikut bersama kakaknya itu.Mereka
mempunai harapan yang lebih baik bagi masa depan mereka. Karena tanah garapan
ayah mereka tidakakan banyak memberikan bekal hidup bagi mereka.
Tetapi hanya mereka yang mau bekerja
keras sajalah yang kerasan tinggal di padepokan itu.Mereka yang memang pada
dasarnya malas bekerja,akan merasa tersiksa dan tidak akan tahan tinggal di
padepokan kecil itu.
Demikianlah, beberapa saat kemudian,
Risang dan Kiai Badra telah sampai ke pintu gerbang padepokannya.Sementara itu
para cantrik telah bekerja dengan penuh kesungguhan di padepokan.Sedangkan
yanglain telah pergi ke sawah dan pategalan.
Risang dan Kiai Badra itu pun langsung
pergi ke kandang.Setelah memasukkan kuda mereka, maka keduanya pun bergantian
pergi ke pekiwan dan berbenah diri.
"Apa yang telah kau capai dengan
latihan-latihanmu?" bertanya Gandar kepada Risang.
Risang tersenyum.Katanya, "Bertanyalah
kepada kakek."
Gandar pun tersenyum.Sambil berpaling
kepada Kiai Badraia bertanya, "Apakah sudah ada kemajuan?"
"Sudah Sindura," jawab Kiai Badra.
Gandar tersenyum.Setiap kaliia mendengar
nama barunya tersebut, ia masih merasa asing. Tetapi seperti yang lain, makaia
telah mengenakan nama itu untuk tidak segera dikenali bahwa ia adalah Gandar
orang dari Sembojan.
Kiai Badra dan Risang pun merasa asing
juga seperti Gandar jika mereka disebutnama baru mereka.Demikian pula Sambi
Wulung dan Jati Wulung.Dengan nama-nama baru mereka, maka mereka merasa lebih
tenang bekerja di padepokan itu.
Nama itu terlalu baik," desis
Gandar."Apakah ada nama yang lebih sederhana?" "Kenapa baru sekarang?" sahut
Kiai Badra."Orang-orang Bibis sudah telanjur menyebutmu sebagai Sindura.
Menurut pendapatku nama itu sesuai dengan
ukuran tubuhmu yang besar, karena menurut gambaranku, nama Sindura adalah nama
seorang yang bertubuh kekar seperti kau."
"Mungkin tubuhku yang seperti kerbau ini
pantas dinamakan Sindura, tetapi bagaimana dengan wajahku yang jelek ini?"
bertanya Gandar.
"Kau selalu merasa jelek.Siapa bilang kau
jelek?" bertanya Risang."Jangan berkata begitu," desis Gandar.
"Sudahlah," berkata Kiai Badra."Sesuai
atau tidak sesuai, pergunakan nama itu.Yang penting karenanama itu sudah
telanjur kau pergunakan. Itu saja, sebagaimana orang-orang Bibis memanggil
Risang dengannama Barata.Bukankah nama-nama itu hanya kalian pergunakan untuk
sementara?"
"Dan sebagaimana kakek dipanggil Kiai
Tapis?" sahut Risang.Namun tiba-tibaia bertanya kepada Gandar."He, kau tahu
artinya tapis?Tapis itu berarti habis sama sekali."
Gandar mengerutkan keningnya.Namunia pun
kemudian tersenyum sambil memandang Kiai Badra yang juga tersenyum.
"Kek," tiba-tiba Risang bertanya."Apa
sebenarnya yang habis itu?""Tapis dapat berarti habis, tetapi dapat juga berarti
seluruhnya.Tidak ada yang tersisa.Nah, yang seluruhnya dan tidak ada yang
tersisa adalah ilmuku.Ilmuku akan kuberikan kepadamu sampai tapis," jawab Kiai
Badra.
Tetapi Risang tertawa.Katanya, "Tentu
baru sekarang kakek memikirkannya.Ketika kakek memilih nama itu, tentu tidak
terpikir akan artinya."
Kiai Badra yang disebut Kiai Tapis itu
tertawa.Gandar pun tertawa juga.Demikian juga Risang.
"Sudahlah," berkata Kiai Badra
kemudian."Sekarang beristirahatlah.Kemudian kauakan melakukan tugasmu yang
lain."
"Baik kek," jawab Risang.
Sejenak kemudian Risang pun pergi ke
dapur.Seorang yang bertugas di dapur ternyata sedang menyenduk nasi hangat ke
dalam ceting bambu.
"Ha, nasih hangat," berkata Risang yang
disebut Barata oleh para cantrik dan orang-orang Bibis.
"Apakah kau sudah lapar Barata?" bertanya
cantrik yang sedang menyenduk nasi itu.
"Sudah.Aku baru pulang daripadang
rumput," jawab Barata.
"Kau berlatih naik kuda?" bertanya
cantrik itu.
"Bukan hanya naik kuda, tetapi naik kuda
sambil melontarkan tombak," jawab Barata."Memang menyenangkan sekail.Tetapi juga
melelahkan."
"Dan membuatmu cepat lapar," sahut
cantrik itu.
Barata tertawa, katanya, "Ya.Agaknya kau
tanggap sekali.dantepat pada waktunya nasi pun masak."
Cantrik itu tertawa.Lalu katanya, "Nah,
jika demikian makanlah.Di dalam kuali itu terdapar sayur dan lembayung.Tidak
terlalu pedas sebagaimaka kau sukai."
"Terima kasih," jawab Barata."Tentu enak
sekali, justru perutku sedang lapar sekali."
Barata pun kemudian telah mengambil nasi
dan sayur lembayung.Di dalam tenong yang terletak di paga terdapat telur
kamal.Barata pun telah mengambil sebuah dan mengupasinya.
"Apakah yanglain belum makan?" bertanya
Barata.
"Belum.Hari ini kau adalah orang yang
pertama," jawab cantrik itu.
"O, tetapi bukankah tidak setiap hari,"
bertanya Barata.
Cantrik itu tersenyum.Kemudiania pun
telah meletakkan nasi di paga itu pula.
Barata tidak terlalu lama berada di
dapur.Iapun kemudian melangkah ke pintu sambil berkata kepada cantrik yang
bertugas di dapur itu, "Terima kasih.Aku akan pergi ke sawah."
"Kau makan terlalu sedikit," berkata
cantrik itu.
"Ah, jangan begitu.Itu pun sebenarnya aku
belum cukup kenyang.Bukankah biasanya aku makan tiga mangkuk penuh?" jawab
Barata.
Cantri itu tertawa
berkepanjangan.Sementara Barata telah ke luar dari dapur
ADALAH menjadi kebiasaan Risang yang
disebut Barata itu untuk pergi ke sawah bersama Gandar.Bersama beberapa orang
cantrik yang terdiri dari anak-anak muda Bibis yang bergabung dengan padepokan
itu, Barata mengerjakan sawahnya dengan tekun.Barata dan Gandar yang kemudian
bernama Sindura itu tidak sekadar mengerjakan sawah sebagaimana harus
dikerjakan.Tetapi mereka berpikir bagaimana mereka mengembangkan
sawahnya.Peningkatan hasil sawah tidak semata-mata karena usaha untuk
memperbaiki mutu tanamannya.Dengan mengairi air secukupnya maka tanaman pun
menjadi subur.Rabuk merupakancara yang baik untuk meningkatkan hasil panen.
Karena itu, maka atas izin Ki Demang
Bibis dan Ki Demang dari Ngadiraja, maka Barata telah membuat bendungan di Kali
Lorog.Dengan bendungan itu, air dapat naik dan mengalir ke parit-parit yang
menusuk tanah persawahan sampai ke ujung-ujungnya.Dengan demikian maka hampir
seluruh tanah persawahan yang digarap oleh penghuni padepokan kecil di
Kademangan Bibis itu telah dapat dicapai oleh air Kali Lorog.
Dengan demikian, maka padepokan kecil itu
benar-benar telah dikelilingi sawah yang hijau subur disepanjang tahun.Sedangkan
di bagian lain terdapat pategalan yang memberikan berbagai jenis buah-buahan.
Orang-orang Bibis yang menyaksikan
tanaman orang-orang padepokan di sawah garapan mereka rasa-rasanya menjadi ingin
juga memiliki.Karena itu, beberapa orang tua yang anak-anaknya telah berada di
padepokan itu selalu bertanya kepada anak-anaknya itu jika mereka menengok
keluarganya di rumah.Bagaimanakah caranya membuat sawah menjadi demikian
suburnya.Padahal tanah yang digarap adalah sama-sama tanah di Kademangan Bibis.
Bahkan Ki Demang Bibis pun setiap kali
melihat-lihat padepokan itu selalu disentuh oleh satu keinginan, bahwa sawah di
Kademangan Bibis yanglain pun sebaiknya dapat digarap seperti sawah orang-orang
padepokan itu.
"Kami akan membantu Ki Demang," berkata
Sindura kepada Ki Demang."Anak-anak Bibis sendiri yang ada disini sudah memiliki
pengetahuan yang cukup untuk dapat dikembangkan di luar lingkungan padepokan."
"Baiklah," berkata Ki Demang."Jika pada
suatu saat kalian sudah merasa cukup dan tidak lagi terlalu banyak pekerjaan
yang harus kalian lakukan, kami orang-orang Kademangan Bibis akan minta tolong
kepada kalian, untuk membantu mengembangkan tanah persawahan dan pategalan di
Bibis."
"Tentu Ki Demang," jawab Sindura."Jika Ki
Demang memerlukan, sejak hari ini pun kami dapat membantu Ki Demang, meskipun
sangat terbatas.Tetapi kita dapat memulainya."
"Kami tentu akan sangat bersenang hati,"
jawab Ki Demang.
Sindura telah melaporkan hal itu kepada
Kiai Tapis.Ternyata Kiai Tapis pun sependapat. Agar hubungan padepokan itu
dengan Kademangan Bibis semakin erat, serta untuk melatih Barata berbuat sesuatu
bagi satu lingkungan, makaia pun memanggilnya dan berkata, "Barata.Ki Demang
Bibis memerlukan bantuan kita.Bukankah kita melihat, bahwa daerah persawahan
orang-orang Bibis sebenarnya masih mampu ditingkatkan?Nah, usahakan untuk
meningkatkan tanah persawahan dan pategalan mereka."
Barata yang remaja itu
termangu-mangu.Namun Kiai Tapis berkata selanjutnya."Tentu bukan kau
sendiri.Tetapi Sinduraakan menemaninya. Pamanmu Sambi Wulung dan Jati Wulung pun
sekali-kaliakan dapat membantumu.Tetapi keduanya aku perlukan untuk mengawasi
kerja para cantrik yang masih belum siap benar untuk dilepaskan."
"Dan aku akan terpisah dari kerja di
padepokan ini?' bertanya Barata.
"Tentu tidak," jawab Kiai Tapis."Kau
tidak memerlukan banyak waktu bagi Bibis.Ki Demang tidak terlalu
tergesa-gesa.Setapak demi setapak sudah memadai asal perubahan-perubahan itu
dapat kau mulai di Kademangan Bibis.Ki Demang tidak menuntut perubahan dengan
serta merta.Karena itu, kau dan Sindura tidak perlu mempergunakan waktumu
seluruhnya bagi Bibis."
BARATA mengangguk-angguk.Sementara itu
Kiai tapis berkata selanjutnya."yangpenting Barata, kau harus banyak bergaul.Kau
tidak boleh terpisah dan pergaulan bebas. Jika kau hanya berada di padepokan
terpencil ini saja, maka kauakan mempunyai sikap dan pandangan hidup yang
sempit.Namun ingat, sebagaimana aku harus berpesan kepada Gandar, jangan
memberikan kesan sesuatu tentang Sembojan.Untuk sementara kau harus tetap
terpisah dari Tanah Perdikan itu.Kita berada di tempat yang tidak terlalu jauh
dari Tanah Perdikan Sembojan meskipun rasa-rasanya kita memang sudah terpisah
dari Tanah Perdikan itu."
"Baik kek," jawab Barata."Aku akan
melakukannya.Mudah-mudahan aku berhasil dan memberikan kesan yang baik kepada Ki
Demang."
"Sindura akan selalu memberimu
petunjuk-petunjuk yang kau perlukan," berkata Kiai Tapis.
Demikianlah, maka hubungan antara Bibis
dan padepokan itu pun menjadi semakin dekat.Barata dan Sindura menjadi sering
datang ke Bibis untuk memberi beberapa petunjuk untuk meningkatkan kesejahteraan
orang-orang Bibis.
Beberapa orang bebahu di Kademangan Bibis
dengan sungguh-sungguh berusaha untuk melakukan petunjuk-petunjuk Sindura dan
Barata, yang mereka nilai telah berhasil.Mereka pun menggerakkan orang-orang
Bibis untuk lebih banyak memperhatikan saluran-saluran air.Parit-parit yang
kering harus dibersihkan, sehingga air yang naik dari Kali Lorogakan dapat
mencapai lingkungan yang semakin luas.
"Jangan malas mempergunakan rabuk,"
berkata seorang bebahu."Kita mempunyai ternak di kandang.Jangan disia-siakan
kotorannya."
Ternyata bahwa atas kerja keras Ki Demang
dan para bebahu, maka orang-orang Bibis pun seakan-akan mulai bangun.Mereka
mulai melakukan kerja yang sebelumnya tidak pernah mereka lakukan.Meskipun kerja
itu terasa berat, tetapi mereka telah melihat keberhasilan orang-orang padepokan
yang jumlahnya tidak terlalu banyak.
Anak-anak muda yang berasal dari Bibis
pun mendapat kesempatan pula untuk membantu melakukan kerja yang kadang-kadang
harus ditangani oleh orang banyak.Semula tidak terpikir oleh orang-orang Bibis
untuk memperbaiki bendungan yang sudah banyak yang rusak, sehingga tidak cukup
banyak air yang dapat naik.Baru ketika mereka melihat bendungan yang dibuat oleh
orang-orang padepokan kecil itu, maka mereka menyadari betapa pentingnya
air.Tetapi mereka pun tidak segera melakukan sesuatu.Sehingga akhirnya Sindura
berhasil menggelitik Ki Demang untuk mengerahkan orang-orang Bibis memperbaiki
bendungan.
"Jika dilakukan oleh orang banyak, maka
kerja itu tidak akan terasa berat, berkata Sindura. "Ketika kami membuat
bendungan, maka kami memang merasa betapa kerja itu merupakan kerja yang
berat.Untuk waktu yang cukup lama sebelumnya, kami menyiapkan brunjung-brunjung
bambu.Kemudian kami isi dengan batu dan kami letakkan menyilang aliran Kali
Lorog.Di antara batu-batu itu harus kami isi dengan bebatuan yang lebih kecil,
sangkrah dan tanah."
"Kami juga melakukannya seperti itu,"
jawab salah seorang bebahu.
"Dahulu," desis Sindura, "Tetapi berapa
tahun berselang. Kini bendungan itu sudah tidak banyak dapat menahan air danapa
lagi menaikkannya ke parit-parit.Karena itu, bendungan itu harus segera
diperbaiki."
Namun ternyata bahwa usaha memperbaiki
bendungan itu mendapat tanggapan yang baik sekali dari orang-orang Bibis,
sehingga dengan demikian maka kerja itu benar-benar menjadi terasa
ringan.Beberapa orang dengan suka rela telah membuat brunjung-brunjung di rumah
masing-masing, yang kemudian telah mereka bawa ke tepian.Beramai-ramai
orang-orang Bibis mengisi brunjung itu dengan batu.
Bersamaan dengan kerja memperbaiki
bendungan, maka orang-orang Bibis yanglain telah memperbaiki parit-parit yang
sudah banyak yang rusak pula.Parit-parit yang sudah lama tidak dialiri air dan
seakan-akan tidak berguna lagi. Jika kelak bendungan itu selesai, maka
parit-parit itu tentuakan mengalir lagi
DENGAN demikian maka orang-orang Bibis
pun telah bekerja keras sebagaimana diharapkan oleh Barata dan Sindura.Meskipun
kerja mereka tidak seberat kerja orang-orang padepokan, namun rasa-rasanya
Kademangan Bibis itu menjadi hidup.
Ketika bendungan kemudian telah selesai
diperbaiki dan air pun sudah naik, serta parit-parit pun telah bersih dan siap
untuk mengalirkan air dari bendungan, maka Bibis telah mengadakan upacara kecil
di bendungan.Parit yang sudah baik itu telah ditutup untuk sementara.Pada
upacara yang diadakan itu, maka tunggul yang menyambung parit yang menampung air
yang naik ke Kali Lorog ituakan dibuka, sehingga air seakan-akan mulai masuk
mengalir ke dalam parit itu.
Demikian gembiranya orang-orang Bibis,
maka pada upacara kecil itu telah dipasang janur kuning dibendungan dan terutama
di atas parit.Ki Demangakan mengayunkan cangkul pertama kali untuk membuka
tanggul yang menyumbat parit itu.
Yang hadir dari padepokan bukan saja
beberapa anak muda Bibis sendiri.Tetapi juga Barata dan Sindura.Bahkan Kiai
Tapis pun telah diminta untuk menyaksikan kegembiraan orang-orang Bibis.
"Jika upacara nanti selesai, kami akan
makan bersama," berkata Ki Demang kepada tamu-tamunya.Ki Demang telah
menyediakan tiga jodang makanan serta nasi wadug dan ingkung ayam.Sementara itu
beberapa orang yanglain , ternyata telah membawa ancak berisi nasi dan
lauk-pauknya pula untuk dimakan bersama-sama di bendungan yang baru itu.
Namun persoalan yang pertama mulai timbul
bagi orang-orang padepokan.Justru pada saat mereka berusaha untuk membantu
meningkatkan kesejahteraan hidup orang-orang Bibis.
Ternyata bahwa tidak semua orang Bibis
merasa senang dengan hadirnya bendungan baru itu.Yang penting sebenarnya bagi
mereka bukan bendungan itu sendiri.Tetapi bahwa orang-orang Bibis seakan-akan
telah memalingkan wajah mereka kepada orang-orang yang berada di padepokan kecil
itu.
Ketika beberapa orang anak muda memasuki
padepokan itu, sebenarnya beberapa orang sudah merasa tidak senang.Apalagi
ketika orang-orang padepokan itu mulai menanamkan pengaruhnya di Kademangan
Bibis.
Lowar seorang anak muda yang termasuk di
antara mereka yang tidak senang dengan hadirnya pengaruh baru itu telah menemui
seorang laki-laki yang dianggap gegedug disebuah padukuhan di lingkungan
Kademangan Bibis.Laki-laki yang bertubuh tinggi besar berjambang dan berkumis
lebat itu pun termasuk orang yang menentang kehadiran orang-orang padepokan di
Kademangan itu.
"Ki Demang telah memanggil penyakit di
Kademangan ini," berkata Lowar.Lalu, "Paman, sebaiknya kita berbuat sesuatu agar
orang-orang padepokan itu tidak merasa diri mereka orang-orang yang dapat
berbuat apa saja di Kademangan orang."
Laki-laki yang garang itu
mengangguk-angguk.Namun kemudian katanya, "Kita akan membuat bukan saja mereka
menjadi jera.Tetapi juga Ki Demang.Kita harus menunjukkan satu sikap yang
meyakinkan, bahwa orang-orang itu tidak kita perlukan disini."
"Apa yang akan paman lakukan?" bertanya
Lowar.
"Kita pergi ke bendungan.Kita tunjukkan
bahwa kita tidak senang atas kehadirannya orang-orang padepokan itu," jawab
laki-laki berjambang itu.
"Apa yang akan kita lakukan?Berdua saja?"
bertanya Lowar.
"Jangan bodoh.Panggil pamanmu Gina dan
Sableng.Katakan kepada mereka, bahwa mereka dipanggil paman Truna.Ajak anak
laki-laki mereka masing-masing," berkata laki-laki yang bernama Truna itu.
Lowar mengangguk-angguk.Dengan
tergesa-gesaia pun kemudian menghubungi Gina dan Sableng.Dua laki-laki yang
dianggap gegedug pula seperti Truna.
Ternyata niat Truna itu sejalan dengan
pikiran Gina dan Sableng.Dengan serta merta mereka menerima tawaran itu.Mereka
kemudian telah pergi ke rumah Truna membawa anak laki-laki masing-masing
MEREKA ternyata tidak mempunyai banyak
waktu.Ketika mereka berkumpul di rumah Truna, maka Truna pun telah memberikan
beberapa pesan kepada mereka.
"Kita akan menunjukkan sikap bahwa kita
tidak senang terhadap orang-orang padepokan itu.Apakah mereka mengira, tanpa
mereka kita tidak dapat membuat bendungan seperti itu?" geram Truna.
"Aku sependapat," jawab Gina.Tetapiia pun
bertanya, "Tetapi kakang Truna, bukankah nyatanya selama ini kita tidak
memperbaiki bendungan itu?"
"Dia anak setan," bentak Truna."Jadi kau
sudah bersikap lain?"
"Tidak.Aku tidakakan berubah sikap.Tetapi
sekadar pertanyaan untuk menguji diri," jawab Gina.
"Persetan dengan pertanyaan-pertanyaan
seperti itu," geram Sableng pula."Marilah kita pergi.Aku ingin melihat wajah
orang-orang padepokan.Aku memang sudah pernah bertemu dengan mereka di
jalan-jalan.Tetapi aku masih belum mengenal mereka dengan baik, karena aku tidak
pernah memperhatikan mereka."
Gina tertawa.Katanya, "Kita selalu
ketakutan untuk melihat hal yang sebenarnya.Tetapi aku tidak.Aku sudah dengan
sengaja menentang kebenaran sekalipun jika itu aku kehendaki.Aku tidak peduli,
apakah yang kita lakukan itu salah atau tidak.Karena itu meskipun aku melihat
kebenaran, akusama sekali tidak goyah.Tekad yang ada di dalam dadaku adalah
menentang sesuatu, meskipun itu kebenaran."
"Kau memang anak demit.Kau kira aku
takut," geram Truna, "Tetapi kau tidak usah banyak mulut.Kita pergi ke
sungai.Kita ikut makan.Tetapi kesan kita jelas.Jika orang-orang mencegah kita,
maka kita akan mempergunakan kekerasan."
"Nah, begitu," berkata Gina."Bendungan
itu memang satu kenyataan.Orang-orang padepokan telah dibantu orang-orang Bibis
untuk memperbaiki bendungan yang selama ini telantar.Kerja itu memang
berguna.Tetapi kitaakan merusakkan suasana itu.Karena kita tidak senang melihat
pengaruh orang-orang padepokan itu mulai mencengkam Kademangan Bibis.Nah,
marilah hal itu kita lakukan dengan sadar, karena kita tidak mau disebut
orang-orang yang tidak dapat melihat sesuatu yang berarti.Tetapi yang berarti
itu tidak kita kehendaki."
"Cukup," bentak Sableng."Kau ikut atau
tidak."Gina tertawa, katanya, "Marilah.Kita pergi ke bendungan."
Ketiga orang gegedug itu pun kemudian
telah pergi ke bendungan diikuti oleh Lowar dan dua orang anak muda, anak Gina
dan anak Sableng.Anak-anak gegedug itu pun telah nampak bersikap sebagaimana
ayah mereka.Di antara anak-anak muda, maka anak Gina dan Sableng itu pun
ditakuti oleh kawan-kawan mereka, karena keduanya memiliki kelebihan dari
anak-anak muda yang lain.
Sementara itu, di bendungan Ki Demang
sedang memberikan sesorah kepada orang-orang Bibis yang memerlukan pergi untuk
menyaksikan kegembiraan mereka yang telah berhasil memperbaiki bendungan
itu.Meskipun air yang naik belum dapat mencapai tanah persawahan di seluruh
Kademangan, tetapi beberapa padukuhan telah dapat memanfaatkan air.
BEBERAPA orang yang berdiri di bagian
belakang kerumunan orang-orang Bibis di bendungan itu mulai menjadi
berdebar-debar ketika mereka melihat tiga orang gegedug dari Kademangan Bibis
itu datang ke bendungan.Mereka mulai mencemaskan keramaian itu.Karena
orang-orang Bibis sudah mengenal dengan baik, siapakah mereka
bertiga.Orang-orang yang berbuat sesuka hati mereka sendiri. Namun karena mereka
adalah orang-orang yang memiliki kelebihan, maka seakan-akanapa saja yang mereka
lakukan tidak terhalangi.
Ki Demang yang sedang sesorah itu pun
melihat kehadiran mereka pula.Karena itu, maka hatinya pun menjadi
berdebar-debar pula. Jika orang-orang itu membuat keributan, maka keramaian
ituakan bubar dengan kesan yang buruk.
Karena itu, demikian Ki Demang selesai
dengan sesorahnya, yang mengharap rakyat Bibis dapat memanfaatkan bendungan itu
sebaik-baiknya dan memelihara sebagaimana milik mereka sendiri, makaia pun telah
menggamit Ki Jagabaya.
"Orang-orang itu ada pula disini," desis
Ki Demang.
"Siapa?" bertanya Ki Jagabaya.
"Gegedug itu," sahut Ki Demang.
Ki Jagabaya menarik nafas
dalam-dalam.Tetapi kehadiran orang-orang itu memang memberikan pertanda kurang
baik.Karena itu, maka Ki Jagabaya pun telah memanggil dua orang anak muda
pembantunya.Katanya kepada anak-anak muda itu, "Awasi mereka."
"Tetapi kami tidak berani berbuat apa-apa
atas mereka," jawab anak-anak muda itu.
"Awasi saja," berkata Ki Jagabaya."Jika
mereka berbuat sesuatu, laporkan kepada kami."
"Lalu kitaakan berbuat apa?" bertanya
salah seorang dari anak-anak muda itu.
Ki Jagabaya menarik nafas
dalam-dalam.Namun kemudian katanya, "Sudahlah.Awasi saja mereka.Mudah-mudahan
mereka hanya ingin menonton."
Kedua anak muda itu tidak
menjawab.Keduanya pun kemudian bergeser meninggalkan Ki Jagabaya yang duduk di
atas tanggul disebelah bendungan bersama beberapa orang bebahu dan orang-orang
dari padepokan.Sebentar lagi mereka yang berada di bendungan ituakan
menyaksikan, bagiamana tanggul penyumbat parit induk akan dibuka. Ki Demangakan
mengayunkan cangkul untuk pertama kalinya.
Kedua orang anak muda itusama sekali
tidak berani mendekati ketiga orang gegedug itu.Namun agaknya ketiga gegedug itu
tidak berbuat apa-apa. Mereka hanya berdiri saja di antara orang-orang Bibis
yang lain.
Namun orang-orang yang menyadari, bahwa
mereka berdiri di dekat ketiga gegedug itu pun berusaha untuk bergeser sedikit
demi sedikit menjauhinya.
Agaknya Truna memang masih belum ingin
berbuat sesuatu.Mereka memang menunggu untuk dapat ikut makan bersama, karena
agaknya Ki Demang telah membawa jodang.Pada saat itulah merekaakan berbuat
sesuatu untuk menunjukkan rasa tidak senang mereka atas pengaruh orang-orang
padepokan yang semakin dalam di Kademangan Bibis.
Karena itu, maka acara-acara berlangsung
tanpa terganggu.Juga ketika Ki Demang mengayunkan cangkul pertama untuk membuka
tanggul yang menyumbat parit induk.
Tepuk tangan yang gemuruh menyambut
ayunan cangkul Ki Demang itu.Kemudian disusul oleh beberapa orang anak muda yang
membuka tanggul, sehingga akhirnya air telah mengalir dan memasuki parit induk
itu.
Bukan saja sorak sorai yang gemuruh
tetapi hati rakyat Bibis itu benar-benar tersentuh oleh peristiwa itu.Bendungan
itu memang telah dibuat pula oleh orang-orang Bibis.Tetapi sudah lama sekali
bendungan itu tidak mendapat perhatian mereka.Bertahun-tahun, sehingga air yang
mengalir ke parit induk itu pun menjadi semakin lama semakin sedikit.
Jika kemudian mereka melihat air yang
mengalir di parit induk itu kembali sebagaimana saat bendungan itu dibuat,
rasa-rasanya jantung orang-orang Bibis itu pun telah terkembang
DALAM pada itu, setelah air mengalir ke
parit induk, maka yangakan mereka lakukan kemudian adalah tinggal makan minum
bersama-sama untuk menyatakan kegembiraan hati.Ki Demang telah membuka tiga buah
jodang yang dibawanya. Sementara itu, orang-orang yang lain telah membawa ancak
pula yang isinya untuk dimakan bersama-sama dengan tetangga-tetangganya.
Ketiga orang gegedug yang berada di
bendungan itu pun segera menyusup di antara orang-orang yang duduk sambil
menghadapi ancak berisi makanan, nasi dan lauk-pauknya itu.Ketiganya telah
melangkah mendekati Ki Demang yang duduk bersama para bebahu dan para tamu dari
padepokan.
"Kami ingin mengucapkan selamat Ki
Demang," berkata Truna.
Jantung Ki Demang memang berdesir.Namunia
pun berkata, "Terima kasih Truna.Marilah.Kita syukuri keberhasilan kita dengan
makan bersama."
Truna itu pun kemudian duduk pula bersama
Ki Demang dan para bebahu.Demikian pula Gina dan Sableng.Dengan lahapnya mereka
ikut makan bersama Ki Demang, para bebahu dan para tamu.Ketiganya hampir tidak
berkata sepatah kata pun kecuali menyuapi mulut mereka dengan suapan-suapan yang
besar.
Barata memperhatikan ketiga orang itu
dengan dada yang berdebaran.Mereka kelihatannya tidak memperhatikan
unggah-ungguh yang dianut oleh orang-orang Bibis yang lain.Apalagi dihadapan
pemimpinnya dan beberapa orang tamu.
Tetapi karena Ki Demang sendiri dan para
bebahu Bibis agaknya tidak berkeberatan atas sikap mereka, maka Barata pun
mencoba untuk tidak menghiraukan mereka pula, betapapun hatinya terasa
tergelitik karenanya.
Ketikaia sekilas memandang Kiai Tapis,
agaknya orang tua itu pun tidak menghiraukan apa yang terjadi.Demikian pula
Sindura.
Namun sikap orang-orang itu semakin lama
memang semakin menjengkelkan.Ketika mereka sudah kenyang, maka mereka pun mulai
menunjukkan sikap yang menantang.
Truna yang memandang Ki Demang yang sudah
mencuci tangannya dengan tajamnya, kemudian berdesis, "Ki Demang, apa untungnya
Ki Demang membuat keramaian seperti ini?"
Ki Demang mengerutkan keningnya.Ternyata
orang-orang itu sudah mulai membuat persoalan.Seperti beberapa kali sudah mereka
lakukan jika mereka mempunyai pendapat yang berbeda dengan Ki Demang, maka
mereka langsung menyampaikannya dan menuntut perubahan.
Dalam beberapa hal, Ki Demang memang
tidak dapat berbuat banyak.Ketiga orang itu, apalagi dengan anak-anak mereka,
yang juga nampak berkeliaran di bendungan itu, memang sulit untuk diatasi.Ki
Jagabaya yang duduk pula bersama Ki Demang menjadi sangat tegang.
"Apa maksudmu Truna?" bertanya Ki Demang.
"Ki Demang.Bukankah bendungan ini sudah
ada sejak lama.Dahulu kitalah yang membuat bendungan ini.Waktu itu aku masih
muda.Aku ikut kerja keras membuat brunjung, mengisi batu dan menyilangkannya di
Kali Lorog. Kenapa tiba-tiba sekarang Ki Demang menghormati oranglain yang
seakan-akan begitu saja mengambil alih kepemimpinan Kademangan Bibis?" geram
Truna.
"Benar Ki Demang," berkata
Sableng."Seharusnya kita menghormati diri kita sendiri.Kita berbangga bahwa kita
mempunyai sebuah bendungan yang kuat dan mampu menaikkan air dan mengalir ke
sawah-sawah. Bukan orang lain."
"Ya, memang bukan orang lain," sahut Ki
Demang."Kita merayakan kemenangan kita sendiri, bahwa kita telah melakukan kerja
yang besar.Kita telah dapat memperbaiki dan memulihkan bendungan itu.Kita yang
terbangun dari tidur bertahun-tahun."
"Jangan berpura-pura Ki Demang," berkata
Truna."Kita sekarang ini seakan-akan sedang menghormati orang-orang yang bukan
keluarga kita sendiri.Orang-orang Bibis sendiri tiba-tiba saja menjadi kagum
kepada orang lain yang dianggap berjasa dalam kerja ini.Kenapa orang-orang Bibis
tidak menjadi kagum kepada diri sendiri."
YA.Kita mengagumi diri kita
sendiri.Karena itu, kita sekarang bersenang-senang untuk itu.Seperti sudah aku
katakan, bahwa kita telah memenangkan perjuangan ini.Kita, bukan orang lain,"
jawab Ki Demang.
Tiba-tiba saja Gina pun tertawa.Katanya,
"Marilah kita tidak berpura-pura.Kita tahu,apa yang sebenarnya terjadi.Selama
ini kita memang tidur lelap.Bendungan itu sudah berpuluh tahun kita buat.Ketika
bendungan itu semakin lama menjadi semakin rusak, kita tidak berbuat
apa-apa.Baru kemudian ketika kita melihat daerah subur disekitar padepokan itu,
serta kehadiran orang-orang padepokan di Kademangan kita, maka kita seakan-akan
telah terbangun.Atas petunjuk orang-orang padepokan itu, kita melakukan kerja
besar dan berhasil.Hal itulah yang agaknya dimaksud oleh Ki Demang sebagai satu
kemenangan. Tetapi kita tidak dapat mengingkari bahwa kemenangan ini disebabkan
karena oranglain telah turut campur dalam persoalan kita, sehingga kita
kehilangan kesempatan untuk bangun sendiri dan atas kehendak sendiri berbuat
bagi Kademangan kita.Itulah yang aku tidak senang."
"Gina, apa yang kau katakan itu?" berkata
Truna.
"Ya.Aku memang ingin berkata jujur,"
jawab Gina."Tetapi aku tidak senang terhadap keadaan ini.Begitu saja."
"Tetapi apa salahnya kita menerima uluran
tangan orang-orang padepokan yang telah bersedia mengaku menjadi anggota
keluarga besar Kademangan Bibis," jawab Ki Jagabaya.
"Itu hanya satucara untuk merampas milik
kita.Lihat, mereka telah membuka hutan kita.Berapa luas tanah yang sudah mereka
ambil begitu saja," berkata Gina.
"Aku telah memberikan izin itu," sahut Ki
Demang."Apalagi yang mereka lakukan itu untuk kepentingan kita juga.Anak-anak
kita yang tidak lagi memiliki masa depan dengan berpijak pada tanah yang sudah
ada. Sementara itu, orang-orang lain itu sendiri hanya adalima atau enam
orang.Selebihnya adalah kita sendiri.Orang-orang Bibis."
"Nah, yang beberapa orang itulah yang
menentukan segala-galanya.Agaknya mereka pun akan menentukan pula keadaan di
seluruh Kademangan Bibis," berkata Truna kemudian.
Barata mendengarkan pembicaraan itu
dengan jantung yang berdegup semakin keras.Bahkan rasa-rasanyaia ingin meloncat
menerkam ketiga orang itu untuk membuat mereka diam. Namun karena Kiai Tapis
sendiri hanya tersenyum-senyum saja, maka rasa-rasanya justru dadanya akan
meledak.
Sindura pun menjadi berdebar-debar pula.
Tetapiia masih berusaha untuk mendengarkan perkembangan pembicaraan itu.Namun
menilik sikap ketiga orang itu, maka agaknya sulit untuk ditemukan satu
pengertian yang utuh.Bahkan agaknya kebijaksanaan Ki Demang dan memaksanya untuk
membuat perubahan-perubahan.
Dalam pada itu, Ki Jagabaya pun berkata,
"Sudahlah.Kita sedang merayakan keberhasilan kita.Jangan merusak suasana itu."
Tetapi Truna tersenyum sambil berkata,
"Ki Jagabaya.Sebaiknya biarlah aku berbicara dengan Ki Demang."
"Tetapi aku adalah Jagabaya disini,"
bentak Ki Jagabaya.
Tetapi jawab Truna sangat menyakitkan
hati, "Kau ingin menunjukkan kepada tamu-tamu kita yang terhormat, bahwa kau
mampu melakukan tugasmu dengan baik?Bahwa kau adalah seorang Jagabaya yang
disegani."
Wajah Ki Jagabaya menjadi merah.Tetapi
sebenarnyalah bahwaia memang tidak ingin menunjukkan kelemahannya. Namunia
benar-benar berada dalam kesulitan karena sikap ketiga gegedug itu.
"Nah Ki Jagabaya," berkata
Sableng."Bersikap wajar sajalah kepada kami. Kami tidakakan berbuat apa-apa
terhadapmu.Kami hanya ingin memperingatkan Ki Demang, bahwa orang-orang
padepokan itu tidak kita perlukan. Kita harus mengambil kembali anak-anak muda
kita yang ada di padepokan itu, dan memaksa orang-orang padepokan itu
mengembalikan tanah kita yang telah mereka rampas
MULUT Ki Demang dan Ki Jagabaya memang
bagaikan tersumbat.Mereka tidak segera dapat menjawab.Ketiga orang itu bagi
Bibis adalah orang-orang yang paling ditakuti.Namun mereka jugalah orang yang
paling banyak membuat persoalan.Bahkan kadang-kadang kekisruhan. Karena itu Ki
Demang dan Ki Jagabaya tidak segera menyahut, sementara itu dada Barata sudah
menjadi penuh sesak, dan bahkan rasa-rasanya dadanya itu akan meledak, maka
Barata yang remaja itu pun menyahut, "Ki Sanak.Kenapa kalian bersikap memusuhi
kami?"
Truna berpaling ke arah Barata.Dengan
senyum yang asamia menjawab, "Seharusnya kau tahu sendiri, kenapa kami bersikap
tidak baik terhadap kalian.Karena itu, selagi kami belum melangkah dengan sikap
yang lebih keras, pergi sajalah dari Bibis ini.Cari hutan liar yang tidak
menjadi hak dan cadangan garapan sebuah Kademangan atau Tanah Perdikan.Kalian
dapat membuka hutan itu seluas kalian sukai."
"Jika kami membuka hutan itu Ki Sanak,
kami sudah mendapat izin dari Ki Demang.Kami tidak begitu saja menebangi hutan
yang nampaknya memang merupakan tanah cadangan bagi Kademangan Bibis.Dan bahkan
kami sudah menyatakan diri bersedia menjadi warga dari keluarga Bibis yang besar
itu.Jika kami berbuat sesuatu di Bibis, karena kami mendasari langkah-langkah
kami itu dengan landasan pikiran bahwa kami telah berbuat di kampung halaman
sendiri," jawab Barata.
Sindura yang memang sudah menjadi marah
pula,sama sekali tidak mencegahnya. Bahkan Kiai Tapis pun tidak mencegah pula.
"Itulah salah kalian yang terbesar,"
berkata Truna."Bahwa kau mengaku menjadi keluarga Bibis.Tetapi jangan kau kira
bahwa kami tidak tahu rencana kalian yang jahat itu."
"Aku tidak mempunyai rencana apa-apa,"
suara Barata pun mulai menjadi keras."Kau jangan mengada-ada.Seluruh rakyat
Bibis mensyukuri peristiwa itu.Tetapi kenapa kau justru sebaliknya?Apakah kau
ingin rakyat Bibis tetap dalam kemiskinan karena sawahnya yang kering, sehingga
kau akan dapat leluasa berbuat sekehendak hatimu di antara orang-orang yang
merasa rendah diri dan tertekan ini?"
"Persetan," bentak Gina."Meskipun kau
benar, tetapi bahwa kau telah mengucapkan kata-kata itu maka kau telah menyakiti
hati kami."
"Katamu berbelit-belit Gina," potong
Sableng."Anak yang demikian itu sudah sepantasnya diberi sedikit pelajaran atas
kesombongannya."
Barata tidak menjawab.Tetapiia tidak
merasa keberatan bahwa ia harus melayani orang-orang yang keras kepala itu.
Dengan demikian,ia dapat menunjukkan bahwa isi padepokan itu tidak akan menyerah
karena gertakan-gertakan yang tidak berujung pangkal seperti yang dilakukan oleh
ketiga orang gegedug itu.Meskipun nampaknya Ki Demang dan Ki Jagabaya serta para
bebahu Kademangan itu tidak dapat bertindak atas mereka.
Namun Gina seakan-akan tidak menghiraukan
kata-kata Sableng.Katanya, "Nah anak muda.Berjongkoklah dihadapanku, membungkuk
dan menyembah kepada kami bertiga.Kau akan diampuni."
"Gila," geram Truna."Kau selalu
menganggap semua persoalan sebagai permainan saja."
"Aku tidak main-main," jawab Gina.
"Tidak.Bukan sekadar minta maaf.Tetapi
kalian harus pergi dari Bibis," bentak Truna.
Tetapi Barata menggeleng.Katanya, "Yang
berhak membuat keputusan adalah Ki Demang.Tetapi sekarang, keputusan Ki Demang
pun tidakakan mengikat kami lagi, karena kami tahu, jika Ki Demang mengambil
sikap yang lain dari sikapnya semula, itu adalah karena pengaruh kalian
bertiga.Bukan kehendak Ki Demang secara murni."
"Bagaimana kau berani berkata seperti
itu," Truna benar-benar menjadi marah.Sementara Ki Demang dan Ki Jagabaya justru
menjadi bingung.Mereka tidak tahu apakah yang sebaiknya mereka lakukan.Karena
ketiga orang gegedug itu jika sudah berkumpul memang merupakan persoalan yang
sulit untuk dipecahkan.Apalagi jika terjadi kekerasan.Bagi Bibis, ketiga orang
itu tidakakan dapat dicegah oleh seisi Kademangan sekalipun, apalagi jika mereka
melibatkan anak-anak mereka.
SEBELUM Ki Demang dapat berbuat sesuatu,
maka Truna itu pun tiba-tiba berteriak, "He anak-anak, seret anak ini dan
lemparkan ke luar keramaian ini. Ia tidak pantas di antara kita, orang-orang
Bibis yang bergembira karena kerja kita ini."
Orang-orang yang hadir di bendungan itu
pun menjadi bingung menghadapi keadaan itu, sementara itu Lowar serta anak-anak
kedua gegedug itu pun telah mulai bergerak mendekati Barata.
Barata menarik nafas dalam-dalam. Sekilas
dipandanginya Kiai Tapis. Ketika ia melihat Kiai Tapis mengangguk, maka Barata
pun telah tersenyum pula.
Sindura pun ternyata tidak mencegah
peristiwa yang akan terjadi itu. Ia justru mengharap hal itu terjadi untuk
menunjukkan bahwa mereka tidak akan berbuat banyak terhadap orang-orang
padepokan, sebagaimana memang dikehendaki pula oleh Barata.
Dalam pada itu, Lowar dan kedua anak muda
yang kasar itu pun telah mendekati Barata yang masih tetap duduk, sementara
orang-orang Bibis menjadi semakin
berdebar-debar.
Lowar ternyata benar-benar seorang yang
kasar. Ia tidak mengatakan sepatah kata pun ketika tiba-tiba saja ia telah
menangkap dan menarik tangan Barata.
Ki Demang, Ki Jagabaya dan para bebahu
pun serentak telah berdiri. Tetapi Truna berkata, "Ki Demang sebaiknya tidak
usah ikut campur. Demikian pula para bebahu yang lain."
"Tetapi anak itu adalah tamuku," sahut Ki
Demang.
"Mereka tidak mempunyai kedudukan yang
lebih baik dari kami disini," jawab Truna.
Ki Demang memang tidak dapat berbuat
apa-apa. Apalagi para bebahu yang lain. Sementara itu Kiai Tapis dan Sindura pun
telah berdiri pula. Tetapi mereka sama sekali tidak menunjukkan kegelisahan di
wajah mereka. Namun orang-orang disekitarnya sama sekali tidak menghiraukan
keduanya, karena perhatian mereka tertuju kepada ketiga orang anak muda yang
menyeret Barata yang remaja itu ke bendungan.
"Bagus," seru Truna. "Lemparkan ke
bendungan. Jika anak itu tidak dapat berenang, adalah nasibnya yang sangat
buruk. Mungkin saudara-saudaranya itu sempat menolongnya. Sesudah itu usir
mereka dari Bibis. Padepokan itu harus dibakar menjadi abu. Tanah garapan mereka
harus dikembalikan kepada Kademangan Bibis."
Ketiga anak muda yang menyeret Barata itu
memang akan melemparkannya ke bendungan. Air yang tergenang cukup dalam dan
berwarna keruh itu, akan dapat menenggelamkan jika Barata tidak dapat berenang.
Sejenak kemudian, maka ketiga orang yang
telah menyeret Barata itu pun telah berada di atas bendungan. Dengan geramnya
mereka bertiga itu berusaha untuk mengayun Barata dan melemparkannya ke dalam
air.
Tetapi yang terjadi telah membuat
orang-orang Bibis menjadi semakin tegang. Ternyata telah terjadi keributan
kecil. Barata yang akan dilemparkan itu meronta. Namun kemudian terjadi
benar-benar di luar dugaan. Yang terlempar ke dalam air justru bukannya Barata,
tetapi justru Lowar dan kedua anak muda yang lain.
BAHKAN anak Sableng pun telah
berteriak-teriak sebelum ia tercebur ke dalam air. Ternyata bahwa anak Sableng
itu tidak pandai berenang. Sejenak kemudian terjadi tontonan yang sangat
menggelikan. Meskipun demikian tidak seorang pun yang berani bergerak dari
tempatnya. Apalagi menertawakan ketiga orang yang tercebur ke dalam air.
Hanya Barata sajalah yang tertawa sambil
bertolak pinggang. Dengan lantang ia berkata, "Marilah minggirlah. Siapa yang
paling cepat naik ke bendungan, maka ia adalah orang yang paling cepat terlempar
kembali ke dalam air."
Lowar mengumpat dengan kata-kata kotor.
Tetapi bersama anak Gina ia berusaha untuk menolong anak Sableng yang tidak
dapat berenang.
Melihat ketiga orang itu, Barata
seakan-akan telah mendapat kegembiraan tersendiri. Namun ternyata ia membiarkan
Lowar mendorong anak Sableng ke tepi.
Justru Barata lah yang telah menerima
tangan anak yang hampir tenggelam itu dan menariknya ke atas bendungan. Kemudian
membiarkan anak itu duduk dengan nafas terengah-engah.
Sementara itu Lowar dan anak Gina pun
telah naik ke bendungan pula. Wajah mereka menjadi merah oleh kemarahan yang
menghentak-hentak dada.
"Anak iblis. Aku bunuh kau," geram Lowar.
Tetapi Barata tetap tertawa. Katanya,
"Kita mempunyai banyak kesempatan untuk bergurau sekarang. Biarlah orang-orang
Bibis yang ada di sekitar bendungan itu mendapat hiburan yang agak lain dari
yang selalu dilihatnya sehari-hari.
"Persetan," anak Gina itu pun berteriak.
Sementara itu Sableng pun telah melangkah
mendekati anaknya. Truna dan Gina pun mengikutinya pula mendekati anak-anak muda
yang berada di atas bendungan itu. Namun demikian, di belakang mereka Gandar
yang dipanggil Sindura itu pun melangkah menyusuri bendungan pula.
Truna yang marah itu pun kemudian
berteriak, "Kalian tidak berhati-hati. Nah, kalian telah melihat, betapa
liciknya anak padepokan itu. Sekarang jangan beri kesempatan lagi kepadanya.
Bersungguh-sungguhlah. Lemparkan anak itu ke dalam air dan jangan beri
kesempatan lagi untuk menepi."
Lowar dan anak Gina itu pun telah
bersiap-siap. Mereka pun marah pula seperti Truna dan orang-orang tua mereka.
Namun sementara itu anak Sableng masih belum dapat ikut serta. Perutnya terasa
mual karena banyak air yang masuk ke dalam mulutnya. Air yang keruh dan kotor.
Barata memang sudah siap menghadapi kedua
anak muda itu. Ketika ia melihat ketiga orang gegedug itu meniti bendungan,
hatinya memang menjadi berdebar-debar. Tetapi karena Sindura pun mengikuti
mereka, maka Barata menjadi tenang karenanya.
Lowar dan anak Gina yang marah telah
bersiap menyerang Barata dan melemparkannya ke dalam air. Mereka menjadi lebih
berhati-hati, agar bukan mereka lagi yang terjerumus ke dalam bendungan.
Tetapi Barata pun telah bersiap pula.
Sehingga karena itu, ketika kedua orang anak muda yang ingin mendorongnya itu
melangkah mendekat, maka ia telah benar-benar siap.
Yang mula-mula menyerang adalah Lowar. Ia
telah menyerang Barata dengan kakinya. Jika ia berhasil mengenai dada Barata,
maka anak itu akan terdorong dan jatuh menelentang ke dalam air.
Namun serangan itu tidak berarti apa-apa.
Barata berhasil bergeser selangkah ke samping, sehingga kaki itu sama sekali
tidak menyentuhnya. Namun Barata justru telah memukul kaki itu dengan sisi
telapak tangannya.
"Setan," geram Lowar yang melihat ayunan
tangan itu. Dengan serta merta ia telah menarik kakinya kembali. Tetapi ketika
kakinya itu menyentuh tanah, maka kakinya yang lainlah yang siap terayun. Tetapi
ternyata bahwa anak Gina telah mendahului. Kakinya meloncat dengan loncatan
panjang, sementara tangannya menjulur lurus mengarah kening.
Sekali lagi Barata harus mengelakkan
serangan itu. Ia bergerak mundur setapak sambil memiringkan kepalanya. Ternyata
bahwa tangan anak Gina itu tidak menggapainya.
NAMUN kaki Barata agaknya lebih panjang
dari tangan anak muda itu. Sebelum lawannya menarik kakinya, Barata telah
memiringkan tubuhnya. Kakinya bergerak cepat langsung mengenai ketiak anak Gina
yang terbuka.
Anak muda itu terdorong selangkah surut.
Namun hampir saja ia kehilangan keseimbangannya dan terjerumus sekali lagi ke
dalam air.
Lowar yang sudah siap untuk menyerang,
terpaksa mengurungkan serangannya, karena garis serangannya tiba-tiba saja telah
terhalang oleh anak Gina yang terdorong surut itu.
Lowar memang tertahan. Ia menjadi kecewa
dan mengumpat kasar. Karena itu, maka ia pun kemudian berkata kepada Barata, "He
anak padepokan yang sombong. Jika kau benar-benar berani, marilah kita berkelahi
di tempat yang luas, yang akan dapat menunjukkan kemampuan kita yang
sebenarnya."
"Agar kalian dapat leluasa berkelahi
berpasangan," sahut Barata.
"Tutup mulutmu," bentak Lowar. "Jangan
menyesal jika aku akan meremukkan bibirmu dan merontokkan gigimu."
"Aku sudah siap," jawab Barata.
Lowar tidak menunggu jawaban lagi. Tetapi
ia berkata kepada anak Gina, "Kita meloncat turun."
Ia pun segera meloncat turun ke bawah
bendungan. Dengan sikap yang garang ia berdiri di tepian yang berpasir basah.
Disana sini terdapat bebatuan yang kecil sampai dengan batu sebesar kerbau.
Anak Gina pun termangu-mangu sejenak.
Namun ia pun kemudian menyusul Lowar pula, meloncat turun sambil berteriak,
"Jika kau bukan pengecut, turunlah."
Barata termangu-mangu sejenak. Namun
ketika ia berpaling ke arah Sindura, maka Sindura pun mengangguk pula.
Karena itu, maka Barata pun telah
meloncat turun pula. Demikian ia berada di atas pasir tepian, maka ia pun telah
bersiap menghadapi kedua lawannya.
Lowar ingin bertindak cepat. Dengan serta
merta ia pun telah menyerang Barata. Bertumpu pada tumitnya, ia memutar
tubuhnya. Kakinya terentang dan terayun mengarah lambung lawannya.
Tetapi Barata tidak terkejut mendapat
serangan itu. Dengan langkah kecil ia bergeser dan mengelakkan serangan itu.
Namun pada saat yang sama anak Gina telah menyerang pula. Anak Gina itu meloncat
mendekat dan mengayunkan tangannya. Anak Gina memang ingin menghantam mulut
Barata sebagaimana dikatakan oleh Lowar.
Tetapi Barata telah menangkis serangan
itu. Ia berhasil memukul tangan anak Gina itu ke samping. Ketika anak Gina itu
berputar sedikit, maka Barata mempergunakan saat itu sebaik-baiknya. Sekali lagi
ia menyerang anak muda itu. Dengan melangkah selangkah maju maka Barata
mengayunkan tangannya. Yang kemudian dikenainya adalah lambung anak Gina itu.
Terdengar anak itu terpekik perlahan.
Dengan serta merta ia meloncat menjauh sambil menyeringai menahan sakit. Barata
ingin mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya, selagi anak Gina itu masih
belum siap menghadapi serangan berikutnya.
Tetapi Lowarlah yang kemudian telah
meloncat menyerang. Kakinya sekali lagi terjulur panjang mengarah ke perutnya.
Kaki Lowar yang kuat mengenai siku
Barata. Demikian kerasnya sehingga Barata itu tergetar dan bergeser setapak
surut. Namun Lowar pun seakan-akan telah terpental pula selangkah. Hampir saja
ia jatuh telentang. Namun ia masih berhasil menguasai keseimbangannya.
Yang berada di atas tanggul, Sableng
telah mengguncang-guncang anaknya. Dengan kasar ia berkata, "Anak tidak tahu
malu. Cepat bangkit dan turun ke dalam arena itu."
Anaknya sebenarnya masih mual dan pening.
Namun ia memang takut kepada ayahnya dan malu kepada kedua orang kawannya itu.
Maka dipaksanya dirinya untuk bangkit. Dengan sisa tenaganya, maka ia
menghentakkan kedua tangannya sebelah menyebelah, seakan-akan ingin menunjukkan
bahwa tenaganya telah pulih kembali.
"Cepat," teriak Sableng. "Ingat, kau
adalah anak muda terbaik di Kademangan ini."
***
Tetapi tiba-tiba saja Gina menyahut,
"Anakkulah yang terbaik." "Kita akan melihatnya nanti," geram Sableng. Anak
Sableng itu pun dengan tergesa-gesa telah meloncat turun. Tetapi agaknya karena
itu justru kakinya menjadi kurang mapan. Ketika kaki anak muda itu menyentuh
pasir, maka tiba-tiba saja tubuhnya menjadi goyah, karena telapak kakinya
miring, sehingga ia pun terjatuh meskipun tidak terlalu keras.
Anak Sableng itu memang tidak paduli
menjadi kesakitan. Tetapi ia benar-benar malu ketika ayahnya berteriak pula,
"Anak dungu. Hati-hatilah. Jangan biarkan anak padepokan yang sombong itu
menertawakanmu."
Anak Sableng itu menggeram. Lalu katanya
dengan suara lantang, "Aku akan memutar lehermu sampai patah."
Yang tertawa adalah Gandar yang berdiri
di atas tanggul. Dengan lantang pula ia berkata, "Mana kau dapat mematahkan
lehernya. Baru meloncat turun dari bendungan saja kau sudah terjatuh. Sementara
itu di dalam perutmu tersimpan beberapa mangkuk air yang keruh itu. Jika kau
minum dua tiga hari mendatang, mungkin airnya sudah menjadi agak jernih."
"Tutup mulutmu," teriak Sableng. "Apakah
kau mau ikut campur?"
"Tidak," jawab Gandar yang dikenal
bernama Sindura itu. "Biarlah anak-anak bermain dengan sesamanya yang sebaya.
Atau barangkali agak lebih tua sedikit, karena kemenakanku itu memang masih
remaja."
"Persetan," teriak Truna. "Jika kau tidak
mau diam, aku yang akan menyumbat mulutmu dengan brunjung."
Sindura memang diam. Tetapi perhatiannya
kemudian tertuju kepada Barata yang harus berkelahi melawan tiga orang.
Ternyata Sindura memang harus
memperhatikan dengan seksama. Barata memang sudah berlatih dengan keras. Ia
telah mengikuti segala petunjuk Kiai Badra untuk menempa dirinya. Sehingga
dengan demikian maka Barata telah menjadi seorang remaja yang kuat dan tangkas.
Ia sudah mendasari dirinya dengan ilmu kanuragan, sehingga Sindura yakin, bahwa
bekal Barata akan jauh lebih banyak dari ketiga orang lawannya.
Tetapi ketiga orang lawannya itu tentu
telah mendapat tempaan pula. Selain dari orang tua mereka, hidup mereka penuh
dengan tempaan pengalaman. Mereka tentu sudah terlalu sering berkelahi melawan
siapapun juga. Bahkan mungkin melawan dua atau tiga orang sekaligus, sementara
hal itu tidak terjadi atas Barata. Remaja itu belum pernah bersungguh-sungguh
berkelahi melawan kekerasan yang apalagi kasar seperti ketiga orang lawannya
itu. Namun tiba-tiba Barata itu langsung dihadapkan kepada tiga orang sekaligus.
Meskipun ia mempunyai bekal yang cukup, namun mungkin sekali anak itu akan
menjadi bingung.
Namun ternyata bahwa Barata mampu
menempatkan dirinya. Meskipun ketiga lawannya menjadi semakin keras dan kasar,
tetapi tidak sebagaimana diduga oleh Sindura bahwa ia menjadi bingung.
Dengan tangkasnya Barata meloncat,
melenting dan menghindar. Namun tiba-tiba saja ia meluncur dengan cepatnya,
menyerang lawannya. Tangannya yang kadang-kadang bersilang di dada, kuncup
melekat tubuhnya, namun kadang-kadang mengembang seperti sayap elang yang
menukik menyambar mangsanya.
Ternyata bahwa Barata sama sekali tidak
mengecewakan. Dalam usianya yang masih remaja itu, ia sudah menunjukkan
kemantapan gerak dan kecepatan mengambil sikap. Ia tidak menjadi bingung karena
serangan yang datang bersamaan. Namun ia mampu memilih gerak yang paling
menguntungkan menghadapi keadaan yang gawat.
Sindura mengangguk-angguk. Ketika ia
berpaling ke arah Truna, maka dilihatnya laki-laki bertubuh kekar, berjambang
dan berkumis lebat itu menjadi tegang. Bahkan kemudian terdengar ia mengumpat,
"He anak-anak tikus. Kenapa kalian tidak mampu segera memilin leher anak
padepokan yang sombong itu?"
"Jangan membuat persoalan," geram Gina.
"Itu anakku. Dan aku bukan tikus. Kau kira jambangmu itu membuat aku takut?"
"Persetan," geram Truna. "Kita harus
berbuat sesuatu."
***
KETIKA Gina kembali memperhatikan
perkelahian itu, maka ia melihat Lowarlah yang terlempar jauh. Untunglah ia
jatuh di atas pasir dan tidak membentur batu.
Namun ketika Lowar sempat bangkit, maka
anak Gina dan Sableng itu pun yang terbanting di atas pasir. Demikian kerasnya,
sehingga anak Sableng yang di dalam perutnya itu tersimpan air keruh
rasa-rasanya tidak sanggup lagi untuk bangkit.
Sejenak suasana menjadi tegang. Barata
berdiri di atas pasir yang basah dengan kaki renggang. Ketiga orang lawannya
berdiri mengelilinginya. Anak Sableng yang betapapun sakit tubuhnya, namun ia
pun telah memaksa diri untuk berdiri pula sebagaimana kedua orang kawannya.
Namun demikian, anak-anak muda itu sudah
merasa bahwa mereka tidak akan mampu melawan Barata yang masih remaja itu.
Semakin lama rasa-rasanya Barata itu menjadi semakin cepat bergerak dan semakin
kuat pula.
"Apakah anak ini mempunyai ilmu iblis?"
bertanya anak-anak muda itu di dalam hatinya.
Namun apapun yang mereka hadapi, adalah
satu kenyataan bahwa mereka mengalami kesulitan untuk mengatasinya.
Untuk beberapa saat anak-anak muda itu
masih berdiri tegak di atas pasir. Mereka nampaknya memang saling menunggu.
Namun dalam keadaan yang jauh berbeda.
Barata masih nampak segar dan cerah,
sedangkan ketiga orang lawannya sudah mulai menjadi kepayahan dan dibeberapa
bagian tubuhnya terasa sangat sakit. Lowar merasa punggungnya bagaikan retak,
sedangkan anak Gina yang beberapa kali terbanting, tulang-tulangnya bagaikan
saling terlepas dari sendinya. Yang lebih parah lagi adalah anak Sableng.
Agaknya baginya sudah tidak ada kesempatan lagi. Hanya karena perasaan malu
kepada kedua kawannya sajalah maka ia masih sanggup berdiri di atas pasir
tepian.
"Marilah," berkata Barata. "Permainan
kita belum selesai. Jika kalian masih ingin melanjutkan permainangaya Kademangan
Bibis ini, aku masih bersedia, meskipun permainan seperti ini bukan ciri
permainan padepokanku."
"Persetan," teriak Truna. "Hancurkan anak
sombong itu. Kenapa kalian hanya berdiri bingung seperti kerbau dungu ?"
Tetapi mereka tidak menghiraukannya.
Katanya, "Meloncatlah. Menerkamlah seperti seekor harimau, atau kalau tidak
seperti seekor serigala atau kucing hutan. Atau barangkali seperti kadal
buntung."
Ketiga anak muda itu masih tetap
termangu-mangu. Tetapi mereka tidak segera menyerang. Mereka masih berusaha
untuk mengatur pernafasan dan berusaha mengurangi rasa sakit.
Truna nampaknya tidak sabar lagi. Sekali
lagi ia berteriak, "Apakah kalian memang membiarkan anak padepokan itu menjadi
semakin sombong dan besar kepala?"
Ginalah yang tiba-tiba saja tertawa
sambil berkata, "Kalian menjadi ketakutan he? Baiklah. Kita akan jujur
menghadapi kenyataan ini. Kalian bertiga sudah kalah. Tetapi anakku masih lebih
baik keadaannya daripada anak Sableng yang katanya anak muda terbaik di
Kademangan ini."
"Tutup mulutmu Gina," teriak Truna.
Tetapi Gina berkata terus, "Kenapa kita
harus menyembunyikan kenyataan? Anak-anak kita sudah kalah, aku akan memukuli
anak yang sombong itu. Aku tidak peduli, apakah pantas atau tidak pantas.
Pokoknya aku ingin memukulinya sekarang."
Gina sudah bersiap-siap untuk meloncat
turun.Tetapi tiba-tiba langkahnya tertahan ketika ia mendengar Sindura bertanya,
"Ki Sanak, apakah kau mau ikut campur?"
"Apa yang kau tanyakan? Ikut campur?
Terserah apa namanya. Seperti sudah aku katakan, pokoknya aku tidak senang
dengan kekalahan yang dialami oleh anak-anak kita. Karena itu aku akan memukuli
kemenakanmu itu," jawab Gina.
"Baiklah," berkata Sindura. "Aku pakai
caramu. Aku juga akan memukulimu. Aku tidak senang kau mencampuri persoalan
anak-anak. Karena itu maka aku akan memukulimu. Menceburkan kau ke bendungan dan
apa saja sesuka hatiku."
***
"PERSETAN," geram Gina. "Kau tahu siapa
aku he?" "Tidak. Aku baru melihatmu sekarang ini. Meskipun aku telah menyatakan
diri menjadi keluarga Bibis, tetapi memang masih banyak yang belum sempat aku
lihat," jawab Sindura.
"Pantas," berkata Gina selanjutnya. "Jika
kau sudah mengenal aku maka kau tentu tidak akan berkata begitu."
"Kenapa?" bertanya Sindura.
"Kau tentu mengenal, bahwa aku adalah
seorang gegedug di Kademangan ini," jawab Gina. "Siapa yang berani menghina aku,
maka tebusannya mahal sekali.Ada dua macam tebusan yang dapat aku tuntut
daripadanya. Membayar uang yang besar jumlahnya, atau aku pukuli setengah mati."
"Apakah kau berhak berbuat demikian?"
bertanya Sindura.
"Kenapa tidak," justru Gina berganti
bertanya.
"Menuntut uang tebusan itu?" Sindura
masih bertanya lagi.
"Aku tidak peduli, berhak atau tidak
berhak. Tidak seorang pun dapat menentang kehendakku," geramnya.
"Jika demikian aku pun akan menirukanmu.
Aku tuntut kau memberi ganti rugi kepadaku karena kau akan memukuli anakku.
Seratus keping atau aku pukuli kau seratus kali," berkata Sindura.
"O, orang ini agaknya memang orang gila,"
berkata Gina sambil melangkah mendekati Sindura.
Namun Sindura itupun berkata lebih
lanjut, "Lihat, bahwa ketiga anak muda yang paling diandalkan disini sudah
dikalahkan oleh kemenakanku. Apa katamu? Ketiganya sudah tidak berani menyerang
lagi."
Namun tiba-tiba Sindura berkata, "Barata.
Yakinkan kepada dirimu sendiri, bahwa lawan-lawanmu telah kau kalahkan."
"Baiklah paman," jawab Barata.
Ia pun kemudian mempersiapkan dirinya
kembali. Sementara itu ketiga lawannya pun terkejut pula mendengar teriakan
Sindura. Apalagi ketika mereka melihat Barata telah siap untuk menyerang.
Langkah Gina memang terhenti.
Perhatiannya kemudian tertuju kepada ketiga orang anak muda dibawah bendungan.
Seorang di antara anak-anak muda itu adalah anaknya.
"Bersiaplah," berkata Barata kemudian.
"Kita akan sampai pada puncak permainan kita. Kita akan menentukan siapakah yang
unggul dalam permainan ini, aku atau kalian bertiga. Siapa yang menang berhak
untuk melemparkan lawannya ke bendungan.
Jika ada di antara kalian yang tidak
mampu berenang, itu adalah salah kalian sendiri."
Ketiga anak muda yang sudah dalam keadaan
yang payah itu terpaksa mempersiapkan diri mereka. Bagaimana pun juga, selama
mereka masih dapat melawan, maka mereka tidak akan membiarkan diri mereka
menjadi sasaran dan tidak berusaha untuk melindungi dirinya sama sekali.
Sejenak kemudian ternyata bahwa Barata
memang sudah bersiap untuk menyerang. Dengan demikian maka ketiga lawannya pun
telah bersiap pula untuk melindungi diri.
Barata memang benar-benar telah
menyerang. Yang mula-mula diserangnya adalah Lowar. Dengan susah payah Lowar
berusaha untuk menghindari serangan itu. Sementara itu anak Gina dan anak
Sableng telah bergerak serentak untuk menarik perhatian Barata, agar ia tidak
memburu Lowar dan menyerangnya sampai mati.
TETAPI gerak mereka terasa terlalu
lamban. Ketika keduanya menyerang, maka Barata dengan mudah mengelakkan dirinya.
Namun kemudian ia pun meloncat sambil mengayunkan kakinya. Dua kali kakinya
terayun. Anak Gina dan anak Sableng itu telah terlempar jatuh. Anak Gina masih
mencoba untuk bangkit. Tetapi anak Sableng masih saja terbaring di atas pasir.
Anak yang kesakitan itu mengeluh sambil menggeliat. Ia memang berusaha untuk
bangkit. Tetapi sisa-sisa tenaganya tidak lagi mampu mengangkatnya.
Adalah di luar dugaan bahwa Gina
tiba-tiba saja berteriak, "Nah, bukankah anakku lebih baik dari anakmu,
Sableng?"
"Persetan," geram Sableng. "Tetapi jika
kau ingin merombak wajahmu, mari kita mencoba disini."
"Aku tidak berkeberatan. Tetapi aku ingin
menyelesaikan orang yang sangat sombong ini lebih dahulu," berkata Gina sambil
memandang kearah Sindura, "Jadi benar kita akan berkelahi?"
"Aku tidak akan berkelahi. Aku hanya
mempunyai sebuah keinginan, yaitu memukulimu. Kau tidak usah bertanya sebabnya
apa. Aku hanya ingin, karena kau tidak membayar uang yang aku minta karena kau
telah menghina aku."
Gina memang tidak sabar lagi. Namun ia
masih juga berpaling. Ia melihat anaknya berdiri gemetar. Namun perlahan-lahan
tetapi pasti, lawan Barata satu demi satu telah jatuh terbaring di tepian
berpasir Kali Lorog.
"Baik," berkata Gina. "Anakku memang
kalah. Aku akan memukuli kemenakanmu itu. Tetapi karena kau mencoba menghalangi,
maka kau akan aku selesaikan lebih dahulu. Mungkin kau akan mengalami goncangan
jiwa yang jauh lebih parah dari kemenakanmu itu."
Sindura tidak menjawab. Tetapi ia pun
telah mempersiapkan dirinya menghadapi gegedug itu. Sebagaimana kebiasaannya,
Sindura tidak pernah merendahkan orang lain. Apalagi terhadap orang yang sudah
disebut gegedug.
Truna yang marah melihat kekalahan
anak-anak muda itu, ternyata sempat memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh
Gina. Sementara Sableng telah meloncat turun dan melangkah mendekati anaknya
yang hampir pingsan.
"Anak setan," geram Sabeng. "Kau sakiti
anakku he?"
Barata memandang Sableng itu dengan
tajamnya. Agaknya para gegedug itu memang terbiasa berbuat sekehendak hati
mereka tanpa dihalangi.
Sekilas ia melihat Sindura yang harus
menghadapi Gina. Karena itu, Barata merasa bahwa ia harus menghadapi Sableng
jika orang itu menuntut kekalahan anaknya.
Sementara itu Truna masih berdiri
ditempatnya. Sekali-kali ia memperhatikan Gina, namun kadang-kadang ia
memperhatikan Sableng yang berjongkok didekat tubuh anaknya yang terbaring.
"Ki Sanak," berkata Barata. "Aku sama
sekali tidak sengaja menyakiti anakmu. Bukankah aku hanya membela diri?
Anakmulah yang telah mendahului menyerang aku, justru bertiga. Apakah dalam
keadaan yang demikian aku harus berdiam diri? Apakah aku akan membiarkan
kepalaku dipukuli tanpa membela?"
"Persetan," geram Sableng. "Aku wajib
menuntut balas. Aku adalah seorang ayah. Salah atau benar, anak muda itu adalah
anakku."
Tetapi yang kemudian terdengar adalah
teriakan Gina, "Sableng. Sudah aku katakan, aku akan memukuli anak itu, karena
ia telah mengalahkan anakku. Jangan kau ganggu. Biarlah ia menyaksikan lebih
dahulu pamannya yang sombong ini aku lemparkan ke dalam air. Baru aku akan
memukulinya sampai pingsan."
Sableng memang berpaling. Tetapi ia sama
sekali tidak menghiraukan kata-kata Gina.
Yang kemudian bergerak adalah Truna.
Katanya, "Biarlah Sableng mengurusi anak itu. Marilah pamannya ini kita beri
sedikit pelajaran."
"Tetapi anak itu," desis Gina.
"Biarlah," jawab Truna.
Gina termangu-mangu. Namun Truna justru
telah berdiri disebelahnya sambil berkata, "Jadi kau mencampuri persoalan ini Ki
Sanak."
"Pertanyaan yang aneh. Bukankah kau yang
membuat persoalan yang kau tujukan kepada orang-orang padepokan, Nah,
orang-orang padepokan itu termasuk aku."
"BAIKLAH," berkata Gina. "Aku akan
berterus terang. Pokoknya semua orang padepokan harus dipukuli dan diusir dari
padepokan itu dengan kekerasan."
Sindura pun menjawab, "Sekarang
kesempatan bagi kita untuk menentukan. Kau berdua memukuli aku atau aku akan
memukul kau berdua. Sementara itu, kemenakanku yang remaja itu akan memukuli
Sableng sampai pingsan pula."
Sindura yang sempat menengok kepada
Barata, melihat bahwa anak itu siap melawan Sableng. Karena itu, maka Sindura
itu pun justru berkata, "Barata, cobalah melayaninya. Aku akan meyakinkan dua
orang gegedug ini, bahwa mereka tidak akan dapat memaksakan kehendaknya kepada
orang-orang padepokan.
Barata mengangguk kecil. Katanya, "Aku
akan mencobanya paman."
"Bagus," sahut Sindura. "Jika kau
mengalami kesulitan, maka aku akan melibatkan diri pula."
"Kau ternyata lebih sombong dari anak
itu," geram Truna. "Kau kira kau tidak akan terlempar ke dalam bendungan itu?"
Sindura tidak menjawab. Agaknya ia
benar-benar harus menunjukkan kepada orang-orang yang disebut gegedug itu, bahwa
mereka bukannya orang-orang yang dapat berbuat apa saja yang mereka inginkan.
Sejenak kemudian Gina yang mendendam
Sindura karena kekalahan anaknya itu pun telah bergerak. Ia bergeser justru
mendekat. Hampir tergapai oleh jari-jari tangan yang terjulur.
Sindura melihat sikap Gina itu dengan
hati-hati. Orang itu terlampau yakin akan kemampuannya. Agaknya ia belum pernah
membentur kekuatan yang seimbang. Meskipun demikian, Sindura itu benar-benar
telah mempersiapkan diri. Ia belum dapat menduga, seberapa jauh tingkat
kemampuan lawan-lawannya itu.
Memang Ginalah yang pertama-tama
menyerang Sindura. Ia melangkah maju sambil mengayunkan tangannya tidak terlalu
keras untuk memancing gerak Sindura. Namun ketika Sindura bergeser menghindar,
tiba-tiba dengan kecepatan yang tidak terduga, Gina telah menyerang dengan
kakinya. Demikian kerasnya sehingga sambaran anginnya terasa ditubuh Sindura
yang dengan terkejut meloncat surut.
"Hampir saja dadanya pecah," geram Gina.
"Luar biasa," desis Sindura. "Kecepatan
gerak yang dipadu dengan kekuatan yang sangat besar."
Gina tidak menjawab. Ia melangkah lagi
mendekat seperti sikapnya semula. Namun ia mulai menyerang dengan kakinya.
Perlahan dan tidak berbahaya sama sekali.
Sindura memperhitungkan gerak lawannya.
Ia menduga bahwa lawannya tidak akan mempergunakan cara yang sama untuk mencuri
kesempatan. Meskipun demikian Sindura tetap waspada menghadapi kecepatan gerak
lawannya itu.
Namun ternyata perhitungan Sindura
keliru. Ketika Sindura menghindari serangan kaki yang lemah itu, tiba-tiba saja
Gina meloncat mendekat. Tangannya yang mengepal terjulur lurus ke arah dada.
"Mati kau," teriak Gina.
Sindura sekali lagi terkejut. Bukan
karena pukulan lawan, tetapi justru karena Gina mengulangi caranya yang
mengejutkan lawan.
Tetapi ketika Gina mengulanginya sekali
lagi, maka Sindura berkata di dalam hatinya, "Orang ini memiliki kekuatan yang
besar, tetapi agaknya orang ini memang dungu. Jika cara itu diulang-ulanginya,
maka lawannya akan dapat membaca apa yang akan dilakukannya. Tetapi dapat
terjadi, bahwa ia sengaja melakukannya, agar jika ia mengubah cara itu, lawannya
akan benar-benar terkejut."
Karena itu, maka Sindura tetap selalu
berhati-hati. Ia tidak mau terkecoh oleh cara-cara yang kurang sesuai dengan
pengenalannya dan perhitungannya.
Namun ternyata bahwa Gina tidak sekadar
memancingnya. Ia memang terlalu dungu bagi Sindura yang memiliki ilmu yang
tinggi. Karena itu, maka bagi Sindura, Gina akan dengan mudah dapat
diselesaikan.
Tetapi Sindura tidak melakukannya. Ia
memang mengulur waktu. Apalagi ketika kemudian Truna juga melibatkan dirinya.
Dengan sengaja Sindura memberikan kesempatan kepada kedua lawannya untuk
menyerangnya, bahkan menyentuh tubuhnya.
***
Ki Demang, Ki Jagabaya dan para bebahu
menjadi tegang menyaksikan peristiwa yang terjadi itu. Ki Demang yang kemudian
justru berkeringat sebagaimana mereka yang bertempur, memang berharap-harap
cemas. Ia tahu bahwa orang-orang yang berada di padepokan itu adalah orang-orang
dari sebuah perguruan yang memisahkan diri. Karena itu, ia berharap bahwa
orang-orang padepokan itu akan dapat sedikit memberi peringatan kewadagan kepada
ketiga orang gegedug itu.
Meskipun demikian Ki Demang pun menjadi
cemas, bahwa justru yang terjadi adalah sebaliknya. Jika orang-orang padepokan
itu tidak dapat mengatasi kemampuan ketiga gegedug itu, maka nasib orang-orang
padepokan itu akan menjadi sangat buruk. Mereka akan diusir dari padepokan.
Hasil jerih payah mereka yang sudah berujud tanah garapan akan dirampas oleh
ketiga orang gegedug itu meskipun mereka mempergunakan istilah dikembalikan
kepada Kademangan Bibis.
Kegelisahan itu menjadi semakin tajam
ketika ia melihat beberapa kali Sindura dapat disentuh oleh kedua orang
lawannya. Sementara itu Sindura sama sekali tidak berhasil membalasnya.
Sebenarnyalah Sindura memang memberikan
kesempatan kepada kedua orang itu untuk berkelahi melawannya. Ia memang ingin
melihat Barata bertempur melawan Sableng. Dengan demikian, maka ia dapat
mengamati tingkat kemampuan Barata yang sebenarnya. Bukan sekadar dalam
latihan-latihan. Dengan bertempur melawan lawan yang sebenarnya maka Barata
harus benar-benar mempergunakan ilmunya.
Dalam pada itu, di bawah bendungan, di
tepian berpasir Barata memang berhadapan dengan Sableng yang marah karena
anaknya mengalami cidera. Bukan saja diperutnya tersimpan air keruh dari
bandungan, tetapi tulang punggungnya bagaikan patah dan sendi-sendinya terlepas.
Barata yang remaja itu harus berusaha
untuk mampu mengimbangi kemarahan Sableng yang memiliki pengalaman yang luas di
dunia kekerasan. Namun Barata telah dibekali dengan ilmu yang dipelajarinya
dengan tekun. Latihan-latihan yang berat serta kemauan yang keras.
Karena itu, meskipun Sableng telah
dianggap sebagai gegedug di Kademangan Bibis, namun menghadapi seorang anak
laki-laki remaja, ia mengalami kesulitan.
Ternyata bahwa Barata mampu bergerak
dengan cepat. Justru karena ia harus berhadapan dengan seorang yang dianggapnya
gegedug, maka ia harus berhati-hati. Sejak semula Barata telah melengkapi tata
geraknya dengan segenap ilmu yang telah dimilikinya.
Sableng yang merasa dirinya tidak
terkalahkan di Bibis merasa terkejut menghadapi anak laki-laki remaja itu.
Ternyata anak itu sulit sekali untuk disentuh. Anak itu mampu meloncat-loncat
secepat kijang bermain di rerumputan. Bahkan justru anak itulah yang telah lebih
dahulu mengenai tubuh Sableng.
Sableng mengumpat kasar ketika lambungnya
merasa sakit. Meskipun kaki yang mengenainya adalah kaki anak laki-laki yang
masih remaja, namun dilambari dengan ilmu yang mulai mapan, maka sentuhan kaki
itu benar-benar terasa sakit.
Karena itu kemarahan Sableng pun semakin
lama menjadi semakin meningkat. Rasa-rasanya ia ingin segera menerkam anak itu
dan meremasnya menjadi debu.
Tetapi ternyata segala usahanya sia-sia.
Jika ia meloncat dengan tangan terkembang, maka Barata melenting lebih cepat
kesamping. Bahkan tiba-tiba kakinya telah terjulur menghantam tangan Sableng.
Sableng hanya dapat mengumpat, karena
Barata pun segera meloncat menjauh.
Demikianlah terjadi beberapa kali.
Sableng ternyata tidak mampu mengatasi kecepatan gerak anak laki-laki remaja
itu. Bahkan semakin lama anak itulah yang semakin sering menyakitinya. Sekali
lagi anak itu mengenai lengannya. Namun kemudian lambungnya dan dadanya.
Sedangkan Sableng sendiri sama sekali tidak mampu menyentuh Barata, bahkan
bajunya sekalipun.
Sementara itu, Sindura masih juga
bertempur melawan kedua lawannya. Jika mereka itu dengan cepat dikalahkan, maka
tentu akan mempengaruhi perlawanan Sableng, sehingga ia tidak akan dapat melihat
lebih jelas lagi ujud dari kemampuan Barata. Karena itu maka ia dengan segaja
membiarkan kedua lawannya masih tetap bertempur melawannya.
SEPENINGGAL ketiga orang itu, maka
rasa-rasanya di bendungan itu menjadi tenang. Orang-orang Bibis tidak lagi
merasa ketakutan bahwa ketiga orang itu akan berbuat aneh-aneh lagi. Bahkan
sebagian dari mereka beranggapan bahwa bukan saja saat itu. Tetapi dihari-hari
mendatang, para gegedug masih harus menghitung-hitung jika mereka ingin berbuat
sesuatu. Apalagi orang-orang padepokan itu telah menyatakan diri menjadi bagian
dari keluarga Kademangan Bibis.
Dalam pada itu, upacara yang pokok dari
pernyataan syukur dan kegembiraan orang-orang Bibis itu memang telah selesai.
Karena itu, maka Ki Demang pun berniat untuk segera menutup pertemuan itu.
Berulang kali Ki Demang menyatakan terima
kasihnya kepada para penghuni padepokan yang dipimpin oleh Kiai Tapis itu.
Bahkan juga kepada penghuni padepokan yang berasal dari Bibis sendiri, karena
anak-anak muda itu pun masih tetap ikut bekerja keras bagi Kademangannya.
Sejenak kemudian, maka pertemuan itu pun
telah selesai. Kiai Tapis, Sindura dan Barata pun kembali ke padepokannya.
Anak-anak muda Bibis yang menjadi penghuni padepokan itu masih tinggal, karena
mereka masih ingin bermain-main dengan kawan-kawannya.
Ketika Kiai Tapis, Sindura dan Barata
sampai ke padepokan, maka mereka masih sempat membicarakan apa yang telah
terjadi. Bahkan Sambi Wulung dan Jati Wulung pun telah ikut pula mendengarnya.
Namun yang kemudian menjadi pokok
pembicaraan adalah ilmu yang telah dipergunakan oleh Barata untuk melawan
Sableng.
Baik Kiai Tapis maupun Sindura telah
memberikan banyak bahan-bahan pertimbangan kepada Barata. Tetapi mereka pun
dapat menunjukkan kekuatan-kekuatan Barata.
"Marilah, kita ke sanggar," berkata
Sindura.
"Paman sempat memperhatikan perkelahian
itu?" bertanya Barata. "Bukankah paman sendiri sedang berkelahi melawan kedua
orang gegedug itu?"
"Keduanya tidak memerlukan pemusatan
nalar budi. Aku sempat memperhatikan unsur-unsur gerak yang kau pergunakan,"
jawab Sindura.
Demikianlah maka Sindura, Barata dan
bahkan Kiai Tapis, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah ikut pula masuk ke dalam
sanggar. Dengan jelas Gandar menunjukkan beberapa kesalahan yang telah dilakukan
Barata.
"Untunglah bahwa lawanmu bukan orang yang
mampu melihat keseluruhan suasana dalam perkelahian itu, sehingga ia tidak
melihat kesempatan-kesempatan yang sebenarnya kau berikan kepadanya karena
kesalahanmu," berkata Gandar.
Risang mengangguk-angguk. Ia mengerti
maksud Gandar itu. Karena itu, maka bersama Gandar keduanya mulai mencoba
kemungkinan-kemungkinan lain yang sebaiknya dipergunakan oleh Risang dalam
kesempatan seperti yang baru saja terjadi itu.
Risang memperhatikan semua petunjuk itu
dengan tekun. Ia pun kemudian dengan bersungguh-sungguh telah melatih diri
melakukan sebagaimana diberitahukan oleh Gandar dan bahkan juga oleh Kiai Tapis
yang sempat menyaksikan perkelahiannya itu lebih banyak dari Gandar.
Ternyata bahwa keringat yang mengalir
dari tubuh Risang di sanggar itu jauh lebih banyak dari pada saat-saat ia
berkelahi di bendungan. Namun dengan demikian Gandar ingin menunjukkan
kesalahan-kesalahan Risang itu segera sebelum anak itu melupakannya.
Dalam pada itu, ternyata telah terjadi
satu perkembangan tata kehidupan yang baru di Kademangan Bibis. Beberapa
padukuhan yang mendapar air lagi dari Kali Lorog itu merasa dibebani oleh
kewajiban untuk mempergunakan air itu sebaik-baiknya. Mereka merasa tidak
seharusnya menyia-nyiakan kerja yang telah mereka lakukan di bendungan.
Namun disisi lain telah terjadi pula
perubahan. Tiga orang gegedug yang selalu berbuat menurut kepentingan mereka
sendiri dan mengagungkan kelebihan mereka, harus mengubah cara hidup mereka.
Dengan kekalahan mereka, terutama Sableng yang dikalahkan oleh seorang anak
laki-laki remaja, membuatnya sangat berprihatin, bahkan mendendam. Namun Sableng
pun sadar, bahwa ia tidak dapat berbuat apa-apa terhadap orang-orang padepokan
itu.
TRUNA pun merasa dihinakan pula oleh
Sindura. Tetapi seperti Sableng, maka ia tidak dapat berbuat apa-apa. Baginya
orang-orang padepokan itu ternyata terlalu kuat. Yang agak berbeda sikapnya dari
keduanya adalah Gina. Ia mengakui kekalahannya sepenuhnya. Bahkan kepada anak
laki-lakinya ia berkata, "Kau tidak boleh menjadi sakit hati. Kau harus mengakui
dengan jujur bahwa kau kalah. Aku pun kalah."
Anak laki-lakinya mengangguk-angguk.
Sementara itu Gina justru berkata, "Aku akan pergi ke padepokan."
"Untuk apa?" bertanya anaknya.
"Aku ingin bersahabat dengan orang-orang
padepokan itu. Kita harus minta maaf," berkata Gina. "Bahkan aku berpendapat,
sebaiknya kau ikut bersama beberapa orang anak muda tinggal di padepokan itu.
Tetapi kau harus jujur. Kau tidak boleh mempunyai niat buruk."
Anak laki-lakinya mengangguk-angguk.
Katanya, "Terserah kepada ayah sajalah."
"Kau mau atau tidak?" bertanya ayahnya.
Anak laki-lakinya mengangguk-angguk.
Demikianlah, maka Gina dan anaknya telah
pergi ke padepokan. Dengan sepenuh hati Gina menyatakan keinginannya untuk
menyerahkan anaknya kepada Kiai Tapis agar diperkenankan tinggal di padepokan
itu.
"Aku sudah berpesan kepadanya, agar ia
bertindak jujur. Anak itu tidak boleh mempunyai niat buruk," berkata Gina.
Kiai Tapis yang menerima kehadiran Gina
itu mengangguk-angguk. Katanya, "Ki Sanak, aku percaya kepadamu dan kepada
anakmu. Tinggalkan anakmu disini."
"Aku akan membawanya pulang. Ia perlu
mempersiapkan diri. Tetapi biarlah pekan mendatang ia datang lagi," berkata
Gina.
"Baiklah Ki Sanak, eh, barangkali aku
dapat menyebut namamu?" desis Kiai Tapis.
"Namaku sudah Kiai ketahui. Gina.
Lengkapnya Ginapada," jawab Gina. "Dan anakku ini namanya Supada. Mirip dengan
namaku."
Kiai Tapis mengangguk-angguk. Katanya,
"Terserah kepada Ki Sanak. Mana yang baik bagi Supada. Aku akan menerimanya
dengan senang hati."
"Tetapi aku mohon Kiai dapat memberikan
penjelasan kepada anak-anak muda yang telah lebih dahulu berada di padepokan
ini, agar tidak terjadi salah paham," berkata Ginapada.
"Serahkan hal itu kepada kami," berkata
Kiai Tapis sambil tersenyum.
Ginapada itu pun mengangguk-angguk.
Tetapi rasa-rasanya hatinya menjadi terbuka. Ia melihat jalan yang lebih baik
yang dapat dilalui oleh anaknya daripada sekadar membanggakan kelebihannya di
antara anak-anak muda Bibis. Dengan demikian maka anaknya itu pun menjadi jauh
dengan anak-anak muda sebayanya sebagaimana Lowar dan anak Sableng.
Ketika Ginapada kemudian pulang ke
padukuhan, maka disepanjang jalan ia telah memberikan banyak petunjuk kepada
anaknya, bahwa sebaiknya ia menilai kembali apa yang pernah dilakukannya dan
melihat masa depan yang lebih baik.
Anaknya mengangguk-angguk. Meskipun
sebagian dari pesan ayahnya itu masih belum sesuai hatinya, tetapi anak itu
memang mencoba untuk mengerti.
Sementara itu, peristiwa yang terjadi di
bendungan memberikan peringatan kepada Kiai Tapis dan seisi padepokan kecil itu,
bahwa persoalan-persoalan memang dapat saja timbul di kemudian hari. Truna dan
Sableng yang sakit hati akan dapat saja mengembangkan persoalan kecil itu.
Mereka mempunyai kawan-kawan yang tinggal di Kademangan lain. Bahkan juga di
Kademangan Ngadiraja. Juga diseberang Kali Lorog dan di tempat-tempat yang jauh.
"Kenapa persoalan-persoalan seperti itu
datang juga mengganggu ketenangan kami," berkata Kiai Tapis. "Kami mencari
tempat yang sepi dan terpencil ini dengan niat untuk dapat dengan tenang menempa
diri dan mempelajari berbagai macam ilmu. Namun datang juga persoalan yang tidak
terduga. Jika persoalan ini berkembang dan merambat sampai ke telinga
orang-orang yang kita singkiri, akibatnya akan menjadi gawat." .
***
"MUDAH-MUDAHAN tidak sejauh itu Kiai,"
jawab Sindura. "Meskipun demikian kita memang harus berhati-hati." "Kita harus
menyiapkan Risang sebaik-baiknya sebelum ia kembali ke Tanah Perdikan Sembojan,"
berkata Kiai Tapis. "Agar ia tidak menjadi seorang pemimpin yang kosong seperti
Ki Wiradana. Keberhasilan Ki Gede Sembojan membangun Tanah Perdikannya tidak
dibarengi keberhasilannya membina anaknya. Baik di bidang kewadagan maupun
dibidang kejiwaan."
"Ya. Ki Gede sudah gagal membina
anaknya," desis Gandar.
Tetapi dengan nada rendah Kiai Tapis
berkata, "Nampaknya Ki Gede pernah juga mempunyai bayangan hitam di dalam
liku-liku hidupnya. Namun semuanya itu sudah terhapus oleh keberhasilan membina
Tanah Perdikan Sembojan. Ternyata bahwa ia mempunyai persoalan yang khusus
dengan Kalamerta."
Gandar mengangguk-angguk kecil. Namun
katanya, "Mudah-mudahan Risang berhasil mengatasi saingannya."
Kiai Tapis pun mengangguk-angguk kecil.
Namun beban yang berat terasa selalu menekan pundaknya.
Namun dalam pada itu, padepokan kecil itu
masih saja selalu berkembang, sejalan dengan perkembangan Kademangan Bibis.
Supada yang berada di padepokan itu ternyata memenuhi harapan ayahnya. Ia tidak
lagi menjadi anak yang bengal. Ia justru menjadi sahabat yang baik bagi
anak-anak muda Bibis yang berada di padepokan.
Untuk memenuhi harapan anak-anak muda
Bibis, maka Sindura pun telah memberikan beberapa latihan olah kanuragan. Hal
itu bukan saja untuk kepentingan anak-anak muda itu sendiri, tetapi jika pada
satu saat bahaya yang sebenarnya mengancam padepokan itu, maka padepokan kecil
itu sudah bersiap.
Bagaimana pun juga Gandar masih
mencemaskan kemungkinan buruk yang dapat ditimbulkan oleh dendam yang membakar
hati Warsi dan Ki Rangga Gupita. Meskipun waktu yang sepuluh tahun telah
mengantari peristiwa-peristiwa yang mendebarkan itu, namun dendam yang sudah
berakar di hati tidak akan dapat terhapus. Demikian pula agaknya dengan Ki
Rangga dan Warsi.
Bahkan kemudian Ki Randukeling telah ikut
campur merupakan persoalan yang lebih tajam. Apalagi dengan kehadiran Ajar
Paguhan. Meskipun belum ada kepastian tentang keterlibatan mereka langsung pada
jalan hidup Warsi dan Ki Rangga Gupita, namun dalam dunia olah kanuragan, hal
itu akan dapat terjadi.
Namun Gandar tidak mencemaskan Iswari.
Dalam waktu sepuluh tahun ia justru telah ditempa oleh Kiai dan Nyai Soka untuk
memperdalam ilmu Janget Kinatelon. Jika Warsi memang menghendaki perang tanding,
maka Iswari tidak akan mengecewakan. Meskipun Nyai Soka menjadi semakin tua
serta garis-garis umur didahinya nampak semakin dalam, tetapi ia masih mempunyai
kemampuan yang jarang ada duanya.
Yang harus diperhatikan pula adalah
Risang itu sendiri. Anak Wiradana yang lain, yang lahir dari istri keduanya
adalah juga seorang laki-laki. Tidak seorang pun di antara para pemimpin Tanah
Perdikan Sembojan yang mengetahui dimana Puguh itu berada. Tetapi jika ia juga
berada di tangan Ki Randuleing dan Ajar Paguhan, maka masa datang bagi Puguh
tentu akan berkiblat juga pada Tanah Perdikan Sembojan. Seandainya Puguh tidak
lagi merasa mungkin untuk mengambil kedudukan ayahnya, karena mungkin juga
pengaruh Pajang, dan sikap orang-orang Sembojan sendiri, namun Puguh akan dapat
selalu mengganggu ketenangan hidup Risang dan bahkan mungkin ia akan menuntut
bagian warisan dari Risang, karena Puguh adalah anak Ki Wiradana yang sah
seperti juga Risang. Bahkan mungkin pula terjadi, seperti sikap ibunya, Puguh
akan menantang Risang untuk berperang tanding.
Karena itu, maka kesimpulan yang diambil
oleh Gandar adalah, "Risang harus menjadi seorang anak muda yang memiliki ilmu
yang tinggi."
PIKIRAN itu sejalan dengan pikiran Kiai
Badra. Namun ternyata bahwa Kiai Badra tidak semata-mata berkisar pada diri
Risang sendiri. Jika Risang memiliki kemampuan yang tinggi, maka ia akan dapat
menjadi pelindung yang baik. Dengan kemampuannya ia akan dapat menjadi sehabat
yang siap untuk menolong sesama. Sehingga dengan demikian maka Risang
benar-benar akan dapat mengabdikan hidupnya kepada Sumber hidupnya dan kepada
sesamanya.
Dengan landasan pikiran itulah maka Kiai
Badra benar-benar berusaha untuk menempa Risang agar ia menjadi seorang yang
benar-benar berilmu tinggi sebagaimana kakek dan ibunya. Sementara itu Risang
sendiri dengan sepenuh minat telah bekerja keras untuk memenuhi keinginan Kiai
Badra itu, dilambari dengan kesadaran akan tanggung jawabnya sebagai cucu Kepala
Tanah Perdikan yang kelak akan menggantikan kedudukan itu.
Karena itulah, maka Risang tidak pernah
mengeluh jika ia harus melakukan latihan-latihan yang berat. Tidak hanya
disanggar, tetapi kadang-kadang Kiai Badra dan Gandar membawanya di alam
terbuka. Di sungai, dipadang perdu, dipadang rumput dan kadang-kadang di dalam
hutan. Atas bimbingan Kiai Badra, Gandar dan kadang-kadang juga Sambi Wulung dan
Jati Wulung, maka Risang mengalami penempaan diri yang berat.
Namun dalam usia remaja itu, Risang telah
menunjukkan kelebihannya. Kecerdasan nalar budinya dan ketajaman panggraitanya.
Sehingga dengan demikian maka orang-orang yang membimbingnya memang mempunyai
harapan yang besar, bahwa Risang akan dapat menjadi anak muda yang jarang ada
duanya.
Di samping latihan-latihan yang berat,
Risang mempunyai kebiasaan yang menarik. Dalam saat-saat senggang maka ia
mempunyai kesenangan memperhatikan cara hidup berbagai jenis binatang. Dari
binatang yang kecil sampai binatang yang besar.
Beberapa kali Risang bersama Gandar
berada di hutan untuk melihat-lihat berbagai jenis binatang yang hidup dalam
satu susunan kehidupan yang keras seakan-akan tanpa perlindungan bagi yang
lemah. Pernah Risang duduk di atas dahan pohon untuk waktu yang lama sambil
memperhatikan keadaan disekitarnya. Risang sempat menyaksikan seekor harimau
yang menerkam seekor kijang yang terlambat melarikan diri. Namun hatinya
tergetar juga pada suatu saat Risang melihat seekor ular yang besar tergantung
pada cabang sebatang pohon raksasa. Ular itu membelit dengan ekornya, sementara
kepalanya yang tergantung itu pun bagaikan terayun-ayun dekat di atas tanah.
Untuk beberapa lama Risang menunggu ular
itu dari kejauhan di atas dahan sebatang pohon yang besar pula. Dari celah-celah
pepohonan hutan ia dapat melihat, apa yang dilakukan oleh ular itu. Namun
ternyata bahwa hampir semua binatang hutan telah menyingkir. Sehingga untuk
waktu yang lama, ular itu tidak dapat menangkap seekor binatang pun.
Risang tidak dapat menunggui binatang itu
terlalu lama. Ia pun kemudian turun dan beranjak pergi. Namun langkahnya
terhenti ketika ia melihat seekor ular sebesar pergelangan tangannya yang sedang
mengintai seekor tikus yang lengah. Tikus tanah yang besarnya hampir sama dengan
seekor kelinci, sedang bersiap-siap untuk menggali lubang. Ketika tikus tanah
itu mulai bergerak menggali maka tiba-tiba kepala ular itu terjulur. Begitu
cepatnya menyambar tikus tanah itu.
Tetapi ternyata bahwa tikus tanah itu
bergerak lebih cepat. Demikian nalurinya menyentuhnya, maka tiba-tiba kaki
belakangnya telah melemparkan seonggok tanah tepat mengenai mata ular itu,
sehingga ular itu mengurungkan patukannya dan justru bergeser mundur.
Kesempatan itu dipergunakan
sebaik-baiknya oleh tikus tanah itu untuk melarikan diri. Namun ular yang marah
itu pun masih berusaha untuk mengejarnya meskipun agaknya ia akan ketinggalan.
Tetapi Risang tidak tahu apa yang terjadi kemudian atas tikus itu.
***
TERNYATA bahwa pengamatannya atas
berbagai macam binatang itu memberikan manfaat juga kepadanya. Dalam
pengembangan ilmunya, maka gerak burung-burung yang cepat dan lincah sangat
mempengaruhinya. Burung sikatan yang menyambar bilalang. Burung air yang
menyambar ikan yang sedang berenang dibawah permukaan air. Alap-alap yang kecil
namun yang mampu mengejar dan menaklukkan burung merpati yang lebih besar.
"Paman," berkata Risang pada suatu saat
kepada Gandar, "Aku dengar bahwa ada perguruan-perguruan yang memberikan
pertanda dari perguruannya sebagai lambang yang tentu saja mempunyai arti yang
baik menurut para pengikutnya itu?"
"Ya," jawab Gandar. "Memang ada perguruan
yang memberikan pertanda bagi perguruan itu. Bertanyalah kepada Sambi Wulung dan
Jati Wulung. Mereka pun mempunyai pertanda tersendiri. Namun mereka memang
berniat untuk meninggalkan perguruannya itu."
"Jika demikian kenapa kita tidak
memberikan pertanda bagi perguruan kita?" bertanya Risang.
"Biasanya perguruan itu menentukan nama
lebih dahulu, barulah lambangnya. Kita memang tidak menentukan nama dan
perlambang itu."
Risang mengangguk-angguk. Namun kemudian
ia berkata, "Kita akan menentukan nama untuk perguruan ini."
Tetapi Gandar termangu-mangu. Bahkan ia
pun bertanya, "Bukan maksud kita mendirikan satu perguruan disini."
"Apa salahnya?" berkata Risang. "Kita
sudah berada disini. Kita sudah bekerja keras untuk membangunkan padepokan ini.
Maka wajarlah jika kita akan membangunkan sebuah perguruan. Kiai Badra akan
menjadi cikal bakal dari sebuah perguruan yang akan kita dirikan."
"Tetapi kita disini bersumber dari
beberapa perguruan. Sambi Wulung dan Jati Wulung mempunyai ciri perguruannya,
yang berbeda dari perguruanku sendiri," berkata Gandar.
"Bukankah ciri itu dapat diganti dengan
ciri yang akan kita buat?" bertanya Risang.
"Maksudku bukan sekadar ciri sebuah
lingkaran yang terbelah sama. Itu adalah lambang. Tetapi ciri dari unsur-unsur
ilmu perguruan itu sendiri. Bukankah kau mulai mengenali ciri-ciri? Kau pun
mempelajari ilmu dengan ciri-ciri yang khusus yang kau warisi dari kakekmu itu,"
jawab Gandar.
Risang mengangguk-angguk. Ia mengerti
keterangan yang diberikan oleh Gandar. Namun kemudian ia berkata, "Aku akan
mengusulkan kepada kakek untuk membuat satu perguruan di padepokan ini. Aku akan
mengumpulkan orang-orang yang memiliki bekal ilmu dengan ciri yang berbeda-beda
itu untuk menentukan ciri khusus dari perguruan kita kelak. Bukan satu hal yang
mustahil. Tentu ada persamaan di antara kita yang ada disini. Kita kembangkan
persamaan itu dan kemudian akan menjadi ciri dari perguruan kita. Kemudian kita
akan membuat nama dan lambang dari perguruan ini."
***
RISANG tersenyum sambil mengangguk.
Tetapi katanya, "Sudahlah kakek. Sudah saatnya aku memasuki sanggar bersama
paman Gandar." Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, "Baiklah. Tetapi
hati-hatilah."
Sejenak kemudian maka Risang pun telah
berada di sanggar. Ia memang mendapat kesempatan dari kakeknya yang juga gurunya
untuk berlatih bersama Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung. Kiai Badra percaya
kepada orang-orang itu, bahwa mereka tidak akan mengacaukan landasan ilmu Risang
yang diterimanya dari Kiai Badra. Bahkan mereka termasuk orang-orang yang cukup
berpengalaman.
Sebenarnyalah bahwa dalam latihan-latihan
yang dilakukan oleh Risang bersama dengan ketiga orang itu sama sekali tidak
mengganggu landasan ilmunya. Justru Risang yang remaja itu telah mampu menilai
tata gerak dan unsur-unsur yang dilakukan berhadapan dengan unsur-unsur gerak
yang lain. Bahkan dengan tidak menyatakan lebih dahulu, Risang telah melihat
ciri-ciri sebagaimana pernah disebut oleh Gandar dari perguruan-perguruan yang
berbeda. Ia melihat ciri-ciri perguruan Sambi Wulung dan Jati Wulung memang
berbeda dengan ciri-ciri yang terdapat pada unsur-unsur gerak yang dikuasai oleh
Gandar.
Ketika ia kemudian beristirahat di
sanggar itu, maka Risang pun berkata kepada Gandar, "Bagaimana pendapat paman
sendiri?"
"Tentang apa?" bertanya Gandar.
"Tentang perguruan itu? Aku memang
melihat ciri-ciri yang berbeda pada unsur-unsur gerak dari perguruan-perguruan
yang berbeda. Tetapi apakah kita tidak dapat menyusun kembali ilmu yang sudah
kita miliki masing-masing untuk menemukan beberapa persamaan yang kemudian dapat
kita sebut sebagai ciri perguruan ini? Kakek dan nenek telah berhasil menemukan
satu kekuatan yang mereka sebut Janget Kinatelon. Padahal Kiai Badra tidak
memiliki ciri-ciri yang sama dengan Kiai Soka dan Nyai Soka di dalam
pengungkapan ilmunya. Namun mereka dapat mewariskan kepada ibu satu jenis ilmu,"
berkata Risang.
Gandar tersenyum.Anak itu memang seorang
anak yang cerdas. Dalam usia remajanya ia telah memikirkan kemungkinan yang
rumit itu, namun memang tidak mustahil.
Bahkan Gandar pun kemudian bertanya
kepada Risang, "Bagaimana pendapat Kiai Badra sendiri?"
"Aku belum pernah menanyakannya kepada
kakek. Tetapi aku sudah memberikan isyarat, bahwa aku memang akan bertanya
pendapat kakek sendiri."
Gandar tersenyum. Katanya, "Memang
mungkin dapat dicoba. Jika Kiai Badra tidak berkeberatan, maka ilmu yang disebut
Janget Kinatelon itu akan dapat menjadi puncak dari ilmu dari perguruan itu."
"Nah," tiba-tiba wajah Risang menjadi
sangat cerah, "Aku akan mohon pendapat kakek."
Ternyata bahwa Risang benar-benar pada
satu malam berbicara dengan kakeknya tentang kemungkinan seperti yang pernah
dibicarakannya dalam sanggar dengan Gandar.
Kiai Badra mengerutkan keningnya. Namun
ia pun kemudian berkata sambil tersenyum, "Kita sedang menjajagi satu
kemungkinan, Risang. Kita belum menentukan satu kepastian tentang rencana ini."
"Ya kakek," jawab Risang. "Mudah-mudahan
kita mengarah pada satu kepastian."
Kiai Badra mengangguk-angguk. Namun
kemudian katanya, "Janget Kinatelon telah kami susun bertiga. Karena itu, maka
untuk melakukan sesuatu atas ilmu itu, maka aku harus mendapat persetujuan dari
Kiai dan Nyai Soka. Apalagi ilmu yang aku miliki hanya merupakan satu sisi dari
keseluruhan wajah Janget Kinatelon itu."
"Satu sisi yang telah menyatu sebagai
ujud yang bulat," berkata Risang. "Kakek. Meskipun sumber mengalir pada kakek
tidak sama dengan Kiai Soka dan Nyai Soka, tetapi apa yang sudah menjadi
kebulatan itu sudah kakek kuasai pula?"
Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya,
"Baiklah. Aku akan membicarakannya. Ibumu adalah orang yang pertama-tama
memiliki ilmu itu dengan bulat dan utuh. Namun untuk sementara belum saatnya
kita berhubungan dengan Tanah Perdikan Sembojan dengan terbuka.
Kemungkinan-kemungkinan yang tidak kita harapkan masih dapat terjadi."
***
RISANG mengangguk-angguk. Agaknya memang
tidak terlalu sederhana untuk mendirikan satu perguruan tersendiri. Meskipun
demikian, rasa-rasanya ia lebih tertarik kepada satu perguruan daripada Tanah
Perdikan Sembojan.
Tetapi ia tentu tidak akan dapat ingkar,
jika saatnya ia harus kembali ke Sembojan setelah ia memiliki perisai yang kokoh
bagi dirinya sendiri.
Sambil menunggu perkembangan tentang
keinginannya itu, Risang tetap melakukan kegiatannya sehari-hari. Kerja di
padepokan, di sawah, membantu orang-orang Kademangan dan menempa diri untuk
mendapat landasan ilmu yang akan sangat berarti bagi dirinya.
Namun dalam pada itu, Kiai Badra bukannya
tidak memikirkan keinginan cicitnya itu. Dalam waktu-waktu luang ia pun selalu
memikirkannya. Ketika ia tinggal disebuah padepokan kecil bersama Gandar dan
cucunya sebelum menjadi istriKi Wiradana,ia tidak memikirkan untuk mendirikan
satu perguruan tersendiri. Namun kini tiba-tiba cicitnyalah yang ingin
melakukannya.
Dalam umurnya yang semakin tua, maka Kiai
Badra memang merasa bahwa sebaiknya ia memang meninggalkan sesuatu setelah masa
hidupnya lewat. Bukan sekadar meninggalkan cucu dan cicitnya itu saja.
Karena itu, maka pada satu hari tiba-tiba
saja Kiai Badra memanggil Risang dan berkata kepadanya, "Baik-baiklah kau berada
di padepokan. Kakek akan pergi barang dua tiga hari."
"Kakek akan kemana? Jika kakek pergi ke
Tanah Perdikan, apakah aku diperkenankan ikut? Aku sudah rindu kepada ibu,"
berkata Risang.
"Lain kali kau boleh ikut," berkata Kiai
Badra. "Tetapi kali ini jangan. Kau berada di padepokan bersama Gandar, Sambi
Wulung dan Jati Wulung."
"Kakek akan pergi seorang diri?" bertanya
Risang.
"Agaknya lebih baik begitu," jawab Kiai
Badra. "Jika aku sendiri, maka agaknya tidak banyak persoalan yang timbul di
perjalanan."
Risang memandang kakeknya dengan tatapan
mata yang redup. Kiai Badra yang dapat menangkap perasaan cicitnya itu berkata,
"Jangan cemas Risang. Meskipun kakek sudah semakin tua, tetapi kakek masih dapat
mengenal dengan baik jalan menuju ke Tanah Perdikan Sembojan. Kakek akan
berjalan di malam hari untuk menghindarkan diri dari pengenalan orang yang tidak
kita inginkan."
Risang menarik nafas dalam-dalam. Tetapi
ia pun bertanya, "Apakah di malam hari justru kakek tidak dicurigai?"
"Memang mungkin. Tetapi sebaiknya aku
menempuh perjalanan lewat jalan-jalan bulak yang sepi dan kemungkinan untuk
bertemu dengan seseorang akan sangat kecil sekali. Aku harus menghindari
padukuhan-padukuhan, apalagi yang dimulut-mulut lorongnya terdapat gardu yang
berisi anak-anak muda yang meronda," berkata Kiai Badra.
Risang mengangguk-angguk. Katanya,
"Perjalanan yang cukup panjang."
"Ya. Tetapi aku sudah terbiasa menempuh
perjalanan sepanjang itu. Bahkan jauh lebih panjang," berkata Kiai Badra.
Risang mengangguk-angguk. Namun anak yang
cerdas itu mengetahui, bahwa kakeknya tentu akan berbicara dengan Kiai Soka dan
Nyai Soka tentang rencana untuk mendirikan satu perguruan. Bahkan mungkin juga
ibunya, orang yang pertama-tama secara lengkap menerima ilmu Janget Kinatelon.
"Kapan kakek akan berangkat?" bertanya
Risang.
"Aku akan berbicara dengan paman-pamanmu
Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung," berkata Kiai Badra.
Risang pun kemudian telah meninggalkan
ketiganya, Kiai Badra dengan singkat telah menyatakan keinginannya untuk pergi
ke Tanah Perdikan dalam waktu dua atau tiga hari.
"Aku serahkan padepokan ini kepada kalian
berempat," berkata Kiai Badra. "Berhati-hatilah terhadap orang-orang yang kurang
senang atas kehadiran padepokan kecil ini di Kademangan Bibis. Orang-orang yang
pernah dengan terus-menerus menyatakan penolakannya itu masih harus selalu
mendapat perhatian. Mungkin mereka benar-benar sudah menganggap tidak ada
persoalan lagi sebagaimana salah seorang di antara mereka yang justru telah
menitipkan anaknya di padepokan ini. Tetapi apakah yang lain juga mempunyai
sikap yang sama."
. ayap-Sayap Yang Terkembang 035
NAMUN meskipun Kiai Badra telah menjadi
semakin tua, bahkan menurut ujud lahiriahnya orang tua itu hampir memasuki
saat-saat pikun dan menjadi lemah, tetapi ternyata bahwa Kiai Badra masih tetap
seorang yang tangkas dan cekatan.
Ilmu yang melambari dirinya memang sempat
mempengaruhi sikap dan tingkah lakunya. Meskipun demikian dengan penuh kesadaran
Kiai Badra merasa, bahwa akhirnya ia akan memasuki masa keterbatasannya. Tidak
seorang pun akan mampu menghindarinya. Meskipun Kiai Badra pernah mengenal ilmu
yang mampu mempertahankan ujud kewadagan untuk tetap nampak tidak menjadi tua,
namun bagaimanapun juga akhirnya saat itu akan datang jika sudah saatnya datang.
Karena itu memang tidak ada niatnya untuk melawan arus kekuasaan Sumber
Hidupnya, karena justru ia harus pasrah seutuhnya.
Dengan langkah-langkah yang cepat, Kiai
Badra menyusuri kegelapan. Jarak yang ditempuh memang panjang. Untuk kebanyakan
orang mungkin akan memerlukan waktu jauh lebih lama dari Kiai Badra yang tua
itu.
Seperti yang direncanakan, maka Kiai
Badra telah memilih jalan yang menghindari padukuhan-padukuhan. Ia tidak mau
setiap kali dihentikan dan harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang
kadang-kadang memang sulit untuk dijawab. Apalagi jika Kiai Badra memang ingin
menyembunyikan kenyataan tentang dirinya sendiri.
Namun ketika Kiai Badra berada
ditengah-tengah bulak yang tidak terlalu panjang, yang disebelah menyebelah
ditanami batang-batang jagung, maka ketajaman telinganya telah menangkap
keributan meskipun agak jauh, justru di jalan yang akan dilaluinya. Semakin lama
suara itu menjadi semakin dekat, sehingga Kiai Badra yakin, bahwa sekelompok
orang sedang berlari-lari menuju ke arahnya.
Dengan cepat, Kiai Badra telah meloncat
dan menghilang di dalam rimbunnya batang-batang jagung yang subur.
Sambil menahan nafasnya Kiai Badra
kemudian melihat sekelompok orang yang berjalan dengan cepat melintas. Tetapi
ada di antara mereka yang berusaha memperhatikan sebelah menyebelah bulak itu.
"Kita kehilangan mereka," desis salah
seorang di antara orang-orang yang melintas itu.
Kata-kata itu agaknya telah menghambat
langkah-langkah sekelompok orang itu. Bahkan beberapa puluh langkah dari tempat
Kiai Badra bersembunyi, orang-orang berhenti. Mereka nampaknya ragu-ragu
sejenak. Beberapa orang justru telah melangkah kembali beberapa langkah sambil
berkata, "Mereka tentu masuk ke dalam lebatnya batang-batang jagung."
"Ya," berkata yang lain. "Memang sulit
untuk menemukan mereka."
"Bagaimana dengan kawan-kawan kita yang
melintas pematang?" bertanya yang lain lagi.
Tiba-tiba seorang di antara mereka
berteriak memecahkan heningnya malam, "He, yang disana. Apakah kalian
menemukan?"
Dari kejauhan terdengar jawab lamat-lamat
tetapi cukup terang, "Tidak. Kami kehilangan jejak. Mereka menghilang."
"Setan," geram seseorang."Mereka telah
melukai dua orang di antara kita."
***
"MEREKA berilmu tinggi. Kita harus
berhati-hati," terdengar seorang yang lain berkata. Menilik suaranya orang itu
sudah lebih tua dari yang lain. "Meskipun berilmu tinggi, tetapi jumlah kita
berlipat ganda. Mereka hanya bertiga atau paling banyak berempat menurut
penglihatan kita. Sedangkan kita sekian banyak orang," sahut seorang yang
agaknya masih muda.
Sejenak orang-orang itu termangu-mangu.
Namun tiba-tiba saja terdengar teriakan dari arah lain memecah ketegangan, "He,
kita temukan mereka disini. Cepat."
Sekelompok orang itu tiba-tiba menjadi
ribut. Seorang bertanya, "Mereka tertangkap."
"Belum tentu. Tetapi mereka dapat
diketahui berada disana," sahut yang lain.
"Dimana?" tiba-tiba seseorang bertanya.
"Kau dengar suara itu," bentak yang lain
lagi. "Mari kita kesana. Mereka tentu ada dibawah bendungan."
Sekelompok orang itu pun segera
berlari-lari. Namun mereka sempat berteriak kepada orang-orang yang berada
disisi yang lain. "Mereka berada disungai, dibawah bendungan. Cepat. Kita harus
menangkap mereka."
Kiai Badra yang bersembunyi di antara
batang-batang jagung menjadi termangu-mangu. Ketika orang-orang yang berkelompok
itu telah menjauh, maka ia pun dengan hati-hati ke luar dari persembunyiannya.
Sejenak Kiai Badra menjadi ragu-ragu.
Tetapi ia didesak oleh satu keinginan untuk mengetahui, apa yang telah terjadi
di bawah bendungan.
Kiai Badra belum pernah melihat bendungan
itu. Tetapi ia tidak akan mengalami kesulitan untuk mencari sungai yang membujur
ditengah-tengah sawah itu. Apalagi Kiai Badra dapat menduga dari mana arah suara
orang yang berteriak itu.
Untuk beberapa saat Kiai Badra masih
termangu-mangu ditempatnya. Ia benar-benar bimbang. Apakah ia akan melihat yang
dapat memungkinkannya terlibat, atau tidak sama sekali. Tetapi menilik
keterangan orang-orang yang sedang mencarinya, orang-orang itu adalah
orang-orang berilmu tinggi. Jika terjadi bencana atas orang-orang padukuhan itu,
dan ia pada suatu saat mendengarnya tentang peristiwa itu, maka ia tentu akan
sangat menyesal.
Namun akhirnya Kiai Badra itu memutuskan
untuk melihat apa yang terjadi meskipun ia merasa wajib untuk sangat membatasi
diri.
"Jika tidak perlu sekali, aku tidak boleh
terlibat," berkata Kiai Badra itu kepada diri sendiri.
Namun ia pun mulai memikirkan, seandainya
orang-orang yang diburu itu benar-benar penjahat yang berbahaya, maka apa yang
sepantasnya dilakukan terhadap mereka. Seandainya ia melibatkan diri dan
berhasil mengalahkan para penjahat itu, apakah para penjahat itu akan diserahkan
kepada orang-orang padukuhan?"
Jika demikian, maka para penjahat itu
tentu akan dibunuh oleh orang-orang padukuhan yang marah itu.
"Tetapi apakah aku akan membiarkan justru
orang-orang padukuhan itu yang akan dibunuh? Tentu tidak hanya seorang.
Sebagaimana dikatakan tadi, dua orang telah terluka. Apalagi jika mereka
benar-benar telah terlibat ke dalam pertempuran yang sebenarnya. Mungkin tiga,
mungkin empat. Bukan hanya terluka, tetapi dapat terjadi, mereka benar-benar
terbunuh dalam benturan kekerasan itu. Jika mereka berempat dan setiap orang
membunuh seorang yang berniat menangkapnya, maka akan terbunuh empat orang. Jika
seorang membunuh dua orang?" Kiai Badra tiba-tiba menjadi sangat gelisah.
Karena itu, maka ia pun telah bergerak
untuk pergi ke bendungan.
Tetapi Kiai Badra tertegun dalam
kegelapan ia melihat batang jagung disebelah jalan bergerak-gerak. Semakin lama
semakin mendekat. Sehingga akhirnya Kiai Badra mengetahui bahwa beberapa orang
sedang berlari menyusup di sela-sela batang jagung.
Dengan demikian maka Kiai Badra justru
tidak beranjak dari tempatnya. Ia bahkan menunggu, siapa yang akan meloncat
keluar dari rimbunnya batang-batang jagung itu. Kiai Badra memperhitungkan,
bahwa mereka tentu bukan orang-orang padukuhan yang berlari-lari ke bendungan.
Tidak melalui sawah. Bahkan tidak melalui pematang, apalagi merusak
batang-batang jagung seperti itu.
***
SEBENARNYALAH sejenak kemudian telah
berloncatan empat orang melangkahi parit yang tidak terlalu luas. Sejenak
kemudian mereka pun telah berlari di jalan itu pula. Ternyata keempat orang
itupun terkejut melihat seseorang berdiri dihadapan mereka.
Tetapi justru Kiai Badra tidak terkejut
sama sekali, karena ia memang sudah melihat sebelumnya.
"Siapa kau?" tiba-tiba seorang di antara
mereka menggeram.
"Akulah yang harus bertanya kepada kalian
Ki Sanak," sahut Kiai Badra. "Siapakah kalian sebenarnya. Dua orang tetangga
kami telah kalian lukai. Nah, kalian harus membayar kesalahan itu dengan harga
yang wajar."
"Apa maksudmu? Kau seorang diri akan
menangkap kami?" bertanya seorang yang lain.
"Kalian memang harus ditangkap," jawab
Kiai Badra.
"Sebaiknya kau tidak ikut campur," bentak
orang yang lain. "Persoalannya adalah sangat pribadi."
"Kalian menganggap bahwa perampokan itu
soal pribadi," bertanya Kiai Badra.
"Siapa yang merampok?" orang yang paling
tua di antara mereka justru bertanya, "Jika yang kau maksud kami, kami sama
sekali tidak merampok. Kami datang untuk mengambil hak kami. Kamilah yang
mempunyai piutang. Kedua orang itu segan untuk membayar utang mereka, sehingga
terjadi selisih paham. Kami terpaksa bertindak tegas. Tetapi kami masih sadar,
sehingga kami belum membunuhnya."
Kiai Badra termangu-mangu. Agaknya
persoalannya tidak sebagaimana di duga. Namun demikian Kiai Badra itu pun
berkata, "Tetapi orang-orang padukuhan kami menganggap bahwa kalian telah
merampok."
"Omong kosong," geram yang tertua di
antara mereka. "Kami menuntut hak kami yang telah digelapkan oleh kedua orang
yang terluka itu. Itu pun karena keduanya telah berusaha melawan dengan
kekerasan senjata."
"Baiklah," berkata Kiai Badra. "Jika
demikian, marilah. Kita pergi ke rumah Ki Bekel. Kita akan membicarakan masalah
ini dengan wajar."
"Tidak ada campur tangan orang lain,"
sahut orang tertua itu. "Persoalannya sangat pribadi. Tetapi persoalannya memang
bukan rahasia. Kedua orang itu telah membawa uang dari rumah perjudian. Nah,
kami harus mengambil kembali uang itu, karena sebagian besar dari uang yang
dibawa itu adalah uang kami."
"Bagaimana mungkin," desis Kiai Badra.
"Keduanya adalah juga penjudi seperti
kami. Tetapi keduanya sangat licik. Untuk menghindari kemungkinan buruk, maka
orang itu telah menyediakan semacam kartu yang bernilai uang. Kartu itulah yang
dipergunakan sebagai pembayaran curang, karena mereka terikat untuk menukarkan
kartu-kartu itu kembali. Kami mengetahui dengan pasti, siapakah yang menang dan
siapakah yang kalah. Seorang akan berjudi selama saat yang ditentukan. Tidak ada
seorang yang belum waktunya meninggalkan arena setelah menang banyak sekali.
Kami baru selesai jika kami telah sampai pada jangka waktu yang telah kami
setujui menang atau kalah. Selanjutnya kami dapat membuat perjanjian baru.Yang
tidak ingin meneruskan, dapat menukarkan uangnya kembali dan mengembalikan
kartu-kartu yang bernilai uang itu."
Kiai Badra mengangguk-angguk. Ia sudah
mengerti kelanjutan cerita itu, sehingga ia pun berkata, "Kedua orang itu telah
melarikan uang yang disimpannya dan ditukar untuk sementara dengan kartu-kartu
itu?"
"Ya. Bukankah itu satu pengkhianatan atau
bahkan satu perampokan yang licik," sahut orang tertua di antara mereka. "Karena
itu aku datang kepada mereka."
"Ki Sanak," berkata Kiai Badra. "Aku
ulangi. Biarlah persoalan ini kita bicarakan dengan Ki Bekel dan para bebahu
agar dapat selesai dengan tuntas."
"Aku tidak mau berurusan dengan orang
lain meskipun Ki Bekel atau para babahu atau Ki Demang atau Sultan Pajang
sekalipun," sahut orang tertua. Lalu, "Karena itu jangan mencampuri persoalan
kami."
"CARAMU menyakiti hati orang-orang
padukuhan," berkata Kiai Badra. "Seharusnya kalian tidak berbuat seperti
itu." "Apa yang harus kami lakukan?" bertanya orang itu. "Kau bicarakan
masalahnya dengan pemimpin padukuhan itu. Ki Bekel tentu akan mengerti dan
justru akan membantumu," berkata Kiai Badra. "Sudahlah Ki Sanak," berkata orang
itu. "Jangan ganggu kami. Kami akan membuat perhitungan dengan kedua orang
itu."
"Tetapi kau sudah melukai mereka,"
berkata Kiai Badra.
"Tetapi persoalannya belum selesai,"
jawab orang itu. "Uang itu belum dikembalikan."
"Jika tidak dikembalikan?" bertanya Kiai
Badra.
"Tidak ada jalan lain. Kami terpaksa
menyelesaikan menurut paugeran yang ada pada kami," jawab orang itu.
"Membunuh?" bertanya Kiai Badra.
"Ya. Sekarang kami akan memasuki lagi
padukuhan selagi orang-orang padukuhan berada di bendungan. Jika kami kehilangan
waktu dan bertemu dengan orang-orang padukuhan, maka persoalannya akan jadi
lain. Kami tentu akan mempertahankan diri dan mungkin ujung-ujungnya senjata
kami akan menumpahkan darah lagi. Sampai sekarang kami masih mencoba menghindar
dengan memancing orang-orang padukuhan itu ke bendungan."
Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam.
Namun demikian ia pun berkata, "Ki Sanak. Aku tetap menganjurkan agar kalian
bertemu dengan Ki Bekel. Dengan demikian maka kalian akan berhasil mendapatkan
uang kalian atau cara pengembalian yang dapat dibicarakan tanpa kekerasan.
Tetapi jika kalian akan melakukan kekerasan atas kedua orang yang telah terluka
itu, maka aku kira kalian akan gagal sehingga kalian terpaksa harus membunuh
mereka."
"Sudahlah," geram orang itu. "Pergilah.
Jangan ganggu aku."
"Aku tidak akan pergi. Jika kau tidak mau
bertemu dengan Ki Bekel. Mungkin sebagian dari ceritamu benar. Tetapi tentu ada
persoalan lain yang tidak benar."
Wajah orang tertua di antara keempat
orang itu menjadi tegang. Dengan keras orang itu berkata, "Jika demikian kau
adalah orang yang pertama harus aku singkirkan. Bahkan jika perlu aku akan
membunuhmu."
"Jangan berkata begitu Ki Sanak. Aku
hanya sekadar memperingatkan bahwa ada cara yang lebih baik," berkata Kiai
Badra.
"Kalau begitu, terima kasih," berkata
orang itu. "Tetapi peringatanmu tidak mengikat," Lalu katanya kepada
kawan-kawannya, "Marilah, kita tinggalkan orang ini."
Namun ketika mereka mulai bergerak, Kiai
Badra berkata, "Jangan tinggalkan aku sendiri dalam keadaan seperti ini."
Orang tertua di antara keempat orang itu
mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, "Kau akan mempermainkan kami Ki
Sanak."
Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam.
Agaknya ia memang tidak akan dapat ingkar lagi, bahwa ia akan terlibat. Karena
itu, maka ia pun berkata, "Sudahlah Ki Sanak. Jika kau memang tidak ingin
terjadi sesuatu di padukuhan itu, pergilah. Jangan kembali ke padukuhan. Kau
tidak akan terlibat dalam benturan dengan siapapun juga."
Tetapi keempat orang yang menyadari,
bahwa mereka berhadapan dengan seseorang yang setidak-tidaknya mempunyai
keyakinan kepada diri sendiri untuk berani menghadapi keempat orang itu
sekaligus, segera bersiap. Orang yang tertua di antara mereka berkata, "Ki
Sanak. Kau sudah nampak tua. Tetapi agaknya kau mempunyai kepercayaan yang
sangat tinggi terhadap dirimu sendiri. Kau dengan tenang telah berani mencegah
kami berempat untuk datang kembali ke padukuhan itu. Tanpa kemampuan yang dapat
kau banggakan, maka kau tidak akan berani berbuat demikian."
"Aku hanya ingin mencegah benturan
kekerasan, apalagi kematian yang mungkin terjadi dalam benturan itu," berkata
Kiai Badra.
***
TETAPI kau belum mengenal kami. Itu
kesalahanmu kali ini. Mungkin kau menganggap bahwa kami lebih dari orang-orang
padukuhan itu. Karena itu, jangan menyesal jika ternyata kau akan mengalami
nasib buruk disini," berkata orang itu.
Kiai Badra mengangguk-angguk sambil
menjawab, "Kau benar Ki Sanak. Aku telah bersikap terlalu berani mencegah
tingkah laku kalian. Empat orang yang tentu juga mempunyai kepercayaan kepada
diri sendiri untuk dapat mengalahkan orang sepadukuhan. Tetapi sekali lagi aku
beritahukan, bahwa sebenarnyalah aku terdorong oleh satu keinginan untuk
mencegah benturan dengan orang-orang padukuhan yang tentu tidak akan dapat
mengelakkan diri dari korban-korban yang bakal kau ambil dari mereka."
"Marilah," berkata orang itu kepada
kawan-kawannya. "Kita tidak mempunyai banyak kesempatan. Jika orang ini berani
mencegah kita berempat, maka kita pun akan melayaninya berempat. Kita akan
dengan cepat menyelesaikan pekerjaan kita di padukuhan ini. Berhati-hatilah.
Orang ini tentu orang yang merasa dirinya berilmu tinggi."
Keempat orang itu pun segera bergerak.
Mereka telah mengepung Kiai Badra dari empat arah. Agaknya keempat orang itu
memang ingin segera menyelesaikannya.
Kiai Badra termangu-mangu sejenak.
Menilik sikapnya, orang-orang itu memang orang-orang yang berilmu tinggi. Namun
Kiai Badra memang belum mengetahui tingkat ilmu mereka berempat. Mungkin ilmu
mereka sejajar, tetapi mungkin pula tidak.
Karena itu, maka Kiai Badra harus
berhati-hati menghadapi mereka yang ingin segera menghentikan perlawanannya.
Sejenak kemudian, orang-orang itu pun
mulai bergerak. Seorang di antara mereka telah mengayunkan tangannya. Namun
tidak terlalu keras sehingga Kiai Badra tidak perlu meloncat menghindar. Ia
bergeser mundur selangkah. Tetapi tiba-tiba justru orang yang berada di arah
lainnya yang meloncat menyambarnya. Tangannya terayun deras sekali mengarah ke
tengkuknya.
Namun Kiai Badra masih sempat mengelak.
Sambil merendahkan lututnya ia membungkukan kepalanya.
Gerak itu ternyata sudah diperhitungkan
oleh lawannya-lawannya. Tiba-tiba kaki seorang di antara mereka telah bergerak
pula dengan cepat menyambar kening Kiai Badra yang sedang dirundukkan itu.
Kiai Badra menggeliat. Ia sadar, bahwa
orang-orang itu benar-benar ingin dengan cepat menyelesaikannya.
Dengan demikian maka Kiai Badra pun telah
mengimbanginya pula. Ia pun segera bergeser sambil menggeliat. Namun telah
diperhitungkan pula serangan-serangan lain yang datang beruntun.
"Liat juga orang tua ini," berkata orang
tertua di antara keempat orang itu, "He, siapa namamu?"
Kiai Badra meloncat ke samping namun ia
segera harus berputar menghindari serangan beruntun. Ketika dua orang yang lain
menyerangnya pula, maka orang tua itu terpaksa meloncat panjang.
"Bertanyalah kepada Ki Bekel," jawab Kiai
Badra.
"Kau kira aku percaya bahwa kau orang
padukuhan ini?" berkata orang tertua di antara mereka.
"Terserah kepada kalian. Percaya atau
tidak percaya. Itu hak kalian. Tetapi jika kalian dapat aku tangkap, kalian akan
aku hadapkan kepada Ki Bekel. Orang-orang padukuhan inilah yang akan mengadili
kalian," sahut Kiai Badra.
Kiai Badra tidak sempat berbicara lebih
panjang lagi. Serangan keempat orang itu datang semakin lama semakin cepat,
susul menyusul. Namun kadang-kadang beruntun dan bersamaan pula serta datang
dari arah yang berlawanan.
Kiai Badra benar-benar harus meningkatkan
kemampuannya. Keempat orang itu memang orang-orang berilmu. Namun Kiai Badra
telah berhasil menjajagi kemampuan mereka, sehingga agaknya ia masih akan
sanggup menundukkan mereka. .
***
"TETAPI jika sedikit saja aku membuat
kesalahan, maka rasa-rasanya akulah yang akan terkapar di bulak ini," berkata
Kiai Badra kepada diri sendiri, karena sebenarnyalah ada di antara keempat orang
itu yang berilmu lebih tinggi dari yang lain. Orang yang tertua di antara mereka
adalah orang yang berbekal cukup untuk bertualang di dunia olah kanuragan yang
keras dan kasar. Karena itu, bagaimana pun juga Kiai Badra tidak boleh
meremehkan lawan-lawannya. Sesuatunya masih mungkin terjadi. Justru mungkin
masih di luar dugaannya.
Sementara itu keempat lawan Kiai Badra
itu berusaha untuk dapat dengan cepat melumpuhkan orang tua yang dianggapnya
telah mengganggunya. Mereka pun telah meningkatkan tekanan mereka, sehingga
keempat orang itu telah bergerak berputaran. Mereka menyerang susul menyusul
dengan cepat dari arah yang berbeda-beda.
Dengan nada tinggi orang tertua di antara
mereka itu pun berkata, "Kita percepat gerak ini. Orang itu sudah tua. Betapapun
tinggi ilmunya, ia akan segera diburu oleh nafasnya yang terengah-engah."
Ternyata bahwa ketiga orang
kawan-kawannya pun segera tanggap. Mereka segera meningkatkan ilmu mereka
sehingga pertempuran itu pun menjadi semakin cepat.
Tetapi dugaan mereka atas Kiai Badra itu
ternyata keliru. Kiai Badra yang sudah berpuluh tahun melatih jalur
pernafasannya memungkinnya untuk mengatasi desah yang diperhitungkan akan segera
memburu dilubang hidungnya karena ketuaannya.
Meskipun Kiai Badra tidak dapat mengelak
atas pengaruh umurnya yang semakin tua, tetapi ternyata bahwa berbekal ilmu,
pengalaman dan latihan-latihan ia masih tetap seorang tua yang berbahaya bagi
keempat lawannya itu.
Ketika keempat orang itu menjadi semakin
garang dan keras, maka Kiai Badra pun menjadi semakin meningkatkan kemampuannya
pula. Bahkan Kiai Badra yang merasa bahwa perjalanannya masih cukup jauh tidak
mau berlama-lama bermain-main dengan mereka.
Sejenak kemudian, ketika keempat orang
itu mulai bertempur dengan menghentak-hentak untuk memancing agar orang tua itu
mengerahkan tenaganya, ternyata Kiai Badra telah berbuat lain. Tiba-tiba saja
melenting dengan cepatnya, menyerang dua orang lawan yang berada disisi yang
berdekatan. Demikian cepatnya, sehingga sulit bagi keempat orang itu untuk
mengetahui apa yang telah terjadi atas diri mereka.
Ternyata dua orang di antara mereka telah
mengalami kesulitan. Serangan orang tua itu datang menyambar seperti burung
sikatan. Cepat dan sulit untuk dihindari. Ketika tangan Kiai Badra terayun,
lawannya memang berusaha untuk bergeser. Tetapi tiba-tiba saja kakinyalah yang
berputar. Demikian cepatnya, sehingga lawannya tidak mampu berbuat sesuatu
ketika tumit Kiai Badra itu mengenai lambungnya. Demikian kerasnya, sehingga
rasa-rasanya perutnya menjadi sangat mual sementara lambungnya menjadi sangat
nyeri.
Lawannya yang lain yang berusaha
menolongnya dengan menyerang orang tua itu, sama sekali tidak dapat mengenai
sasarannya. Bahkan demikian kakinya terayun, maka dengan tangkas Kiai Badra
menggeliat justru sambil meloncat maju. Sikunyalah yang mengenai dada sebelah
kiri dari lawannya yang menyerang itu.
***
"TETAPI jika sedikit saja aku membuat
kesalahan, maka rasa-rasanya akulah yang akan terkapar di bulak ini," berkata
Kiai Badra kepada diri sendiri, karena sebenarnyalah ada di antara keempat orang
itu yang berilmu lebih tinggi dari yang lain. Orang yang tertua di antara mereka
adalah orang yang berbekal cukup untuk bertualang di dunia olah kanuragan yang
keras dan kasar. Karena itu, bagaimana pun juga Kiai Badra tidak boleh
meremehkan lawan-lawannya. Sesuatunya masih mungkin terjadi. Justru mungkin
masih di luar dugaannya.
Sementara itu keempat lawan Kiai Badra
itu berusaha untuk dapat dengan cepat melumpuhkan orang tua yang dianggapnya
telah mengganggunya. Mereka pun telah meningkatkan tekanan mereka, sehingga
keempat orang itu telah bergerak berputaran. Mereka menyerang susul menyusul
dengan cepat dari arah yang berbeda-beda.
Dengan nada tinggi orang tertua di antara
mereka itu pun berkata, "Kita percepat gerak ini. Orang itu sudah tua. Betapapun
tinggi ilmunya, ia akan segera diburu oleh nafasnya yang terengah-engah."
Ternyata bahwa ketiga orang
kawan-kawannya pun segera tanggap. Mereka segera meningkatkan ilmu mereka
sehingga pertempuran itu pun menjadi semakin cepat.
Tetapi dugaan mereka atas Kiai Badra itu
ternyata keliru. Kiai Badra yang sudah berpuluh tahun melatih jalur
pernafasannya memungkinnya untuk mengatasi desah yang diperhitungkan akan segera
memburu dilubang hidungnya karena ketuaannya.
Meskipun Kiai Badra tidak dapat mengelak
atas pengaruh umurnya yang semakin tua, tetapi ternyata bahwa berbekal ilmu,
pengalaman dan latihan-latihan ia masih tetap seorang tua yang berbahaya bagi
keempat lawannya itu.
Ketika keempat orang itu menjadi semakin
garang dan keras, maka Kiai Badra pun menjadi semakin meningkatkan kemampuannya
pula. Bahkan Kiai Badra yang merasa bahwa perjalanannya masih cukup jauh tidak
mau berlama-lama bermain-main dengan mereka.
Sejenak kemudian, ketika keempat orang
itu mulai bertempur dengan menghentak-hentak untuk memancing agar orang tua itu
mengerahkan tenaganya, ternyata Kiai Badra telah berbuat lain. Tiba-tiba saja
melenting dengan cepatnya, menyerang dua orang lawan yang berada disisi yang
berdekatan. Demikian cepatnya, sehingga sulit bagi keempat orang itu untuk
mengetahui apa yang telah terjadi atas diri mereka.
Ternyata dua orang di antara mereka telah
mengalami kesulitan. Serangan orang tua itu datang menyambar seperti burung
sikatan. Cepat dan sulit untuk dihindari. Ketika tangan Kiai Badra terayun,
lawannya memang berusaha untuk bergeser. Tetapi tiba-tiba saja kakinyalah yang
berputar. Demikian cepatnya, sehingga lawannya tidak mampu berbuat sesuatu
ketika tumit Kiai Badra itu mengenai lambungnya. Demikian kerasnya, sehingga
rasa-rasanya perutnya menjadi sangat mual sementara lambungnya menjadi sangat
nyeri.
Lawannya yang lain yang berusaha
menolongnya dengan menyerang orang tua itu, sama sekali tidak dapat mengenai
sasarannya. Bahkan demikian kakinya terayun, maka dengan tangkas Kiai Badra
menggeliat justru sambil meloncat maju. Sikunyalah yang mengenai dada sebelah
kiri dari lawannya yang menyerang itu.
***
DUA orang bersama-sama telah disakitinya.
Demikian nyerinya sehingga keduanya untuk sesaat seolah-olah tidak mampu lagi
berbuat sesuatu. Bahkan orang yang telah dikenai lambungnya itu pun telah
berjongkok sambil memijit lambungnya yang kesakitan. Sementara orang lain
dadanya bagaikan menjadi sesak. Karena itu, maka orang itu pun telah bergeser
menjauh untuk mengatur pernafasannya.
Dua orang yang lain terkejut melihat
peristiwa beruntun dan begitu cepat terjadi itu. Namun mereka tidak dapat
tinggal diam. Dengan serta merta keduanya telah berusaha menyerang bersama-sama.
Kiai Badralah yang kemudian meloncat
beberapa langkah ke luar dari kepungan keempat orang itu, yang dua di antaranya
tidak mampu lagi menahannya untuk tetap berada dalam lingkaran. Ketika dua orang
lainnya memburunya, Kiai Badra pun telah siap menghadapi mereka.
Tetapi kedua orang itu pun kemudian
menjadi ragu-ragu. Berempat mereka tidak dapat dengan segera mengalahkan orang
tua itu. Apalagi ketika dua orang kawannya telah mengalami kesulitan di dalam
dirinya.
Namun karena itu, maka tiba-tiba saja
seorang di antara kedua orang itu menarik pedangnya sambil berkata lantang,
"Orang tua tidak tahu diri. Apakah kau memang benar-benar ingin mati?"
Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam.
Dengan nada rendah ia berkata, "Apakah kau bersungguh-sungguh?"
"Ya," geram orang itu.
"Apakah aku juga harus
bersungguh-sungguh?" bertanya Kiai Badra pula.
Pertanyaan Kiai Badra itu memang
mengejutkan. Namun pada nada suaranya terasa getaran yang menekan jantung
orang-orang itu. Keyakinan yang sangat besar akan kemampuan diri sendiri serta
kenyataan yang telah mereka alami, membuat orang tertua di antara keempat orang
itu berpikir ulang.
Melihat sikap orang tua itu, maka orang
tertua di antara mereka pun menjadi ragu-ragu. Bahkan kemudian katanya kepada
kawannya, "Dua orang kawan kita sudah disakitinya. Karena itu, maka sebaiknya
kita menilai orang ini dengan wajar. Orang tua ini tentu seorang yang berilmu
tinggi."
"Kau tidak usah memuji seperti itu,"
berkata kawannya. "Kita akan menyelesaikan persoalan kita."
"Dengan pedang ini aku akan mengakhiri
kesombongannya," berkata kawannya lagi.
Tetapi orang tertua itu menggeleng.
Katanya, "Kita tidak mempunyai waktu. Orang-orang yang dibendungan itu akan
segera menyebar lagi untuk mencari kita. Sebagian dari mereka tentu akan kemari
lagi."
Kiai Badra termangu-mangu melihat sikap
orang itu. Namun kemudian katanya, "Ki Sanak. Aku tidak akan melepaskan kalian.
Sebaiknya kalian bertemu dengan Ki Bekel. Persoalan kalian akan dapat
diselesaikan dengan tuntas."
"Tetapi bukankah kau minta agar kami
meninggalkan tempat ini?" bertanya orang tertua itu.
"Dan bukankah kau menolaknya dan bahkan
telah terjadi perkelahian?" Kiai Badra ganti bertanya.
Orang tertua di antara orang itu pun
menarik nafas dalam-dalam. Tetapi penglihatannya yang lebih tajam dari ketiga
orang kawannya meyakinkannya, bahwa ia tidak akan dapat memenangkan perkelahian
itu meskipun mereka berempat bersenjata. Orang tertua di antara keempat orang
itu yakin, bahwa orang tua itu tentu memiliki ilmu yang tidak dapat mereka
atasi.
Karena itu, maka orang tertua itupun
kemudian bertanya, "Apakah maksud Ki Sanak sebenarnya?"
"Kita bertemu Ki Bekel. Kita bicarakan
semuanya dengan baik sehingga kalian tidak perlu melakukan kekerasan seperti
itu. Sebab betapapun tinggi kemampuan kalian, tentu satu ketika kalian akan
dapat dikalahkan oleh orang lain dan seterusnya. Tidak ada yang dapat dengan
mutlak menang atas siapapun juga," berkata Kiai Badra.
***
Orang tertua itu termangu-mangu. Namun
kemudian katanya kepada kawan-kawannya, "Kita tidak mempunyai pilihan lain. Kita
memang lebih baik berbicara terus terang." "Aku tidak akan menyerah," berkata
orang yang telah menggenggam pedang, "Sejak kapan kakang tiba-tiba menjadi orang
yang begitu lemah?"
"Aku melihat kesempatan untuk berbicara,"
berkata orang tertua itu. "Aku tidak mau mati ditangan orang-orang padukuhan
dengan cara yang paling menyakitkan hati."
"Kita hanya berhadapan dengan orang tua
itu," jawab orang yang berpedang.
"Sekarang. Tetapi sebentar lagi,
orang-orang itu akan berdatangan. Apalagi jika orang tua itu memberikan isyarat.
Kau kira orang-orang di bendungan yang kehilangan kita itu akan tetap berada
dibendungan dan mencari kita di antara batu-batu kerikil di tepian?" sahut orang
yang tertua.
Orang berpedang itu mula-mula tidak dapat
mengerti sikapnya. Tetapi akhirnya ia pun harus mengakui. Orang tua itu memang
memiliki ilmu yang tinggi, yang akan dapat melumpuhkan mereka berempat. Jika
orang tua itu marah, maka mereka berempat akan diserahkan kepada orang-orang
padukuhan dalam keadaan yang berbeda, sehingga keadaan mereka pun sangat
mencemaskan.
Namun dalam pada itu, tiba-tiba seorang
di antara mereka berdesis, "Bagaimana dengan anak itu?"
Kawan-kawannya tertegun sejenak. Namun
seorang di antara mereka berkata pula, "Apakah anak itu sudah disingkirkan?"
"Tentu sudah," jawab orang tertua di
antara mereka. "Kita tidak usah memikirkannya."
"Anak siapa?" bertanya Kiai Badra.
"Apakah kalian telah menculik seorang anak?"
"Bukan kanak-kanak," jawab orang tertua.
"Ia telah meningkat remaja. Remaja dari lingkungan kami sendiri."
"Siapa?" bertanya Kiai Badra.
"Seandainya aku sebut sebuah nama, kau
pun tidak akan mengetahuinya," jawab orang tertua di antara mereka. "Ia adalah
anak seorang Kepala Tanah Perdikan. Ia harus mulai diperkenalkan dengan
kehidupan yang keras untuk menempa dirinya."
Dada Kiai Badra menjadi berdebar-debar.
Di luar sadarnya ia masih juga berkata, "Sebut namanya."
"Tidak ada gunanya," jawab orang tertua
itu
Kiai Badra mengangguk-angguk. Namun
kemudian katanya, "Baiklah. Jadi anak Kepala Tanah Perdikan itu kau ajari
merampok."
"Kami tidak merampok," jawab orang tertua
itu tegas. "Persoalannya adalah persoalan yang terjadi dalam perjudian."
"Jadi kau ajari anak itu berjudi?"
berkata Kiai Badra.
"Tidak.Kami tidak mengajarinya berjudi.
Tetapi ia harus melihat dunia yang keras bagi bekal hidupnya," berkata orang
tertua itu.
Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam.
Tetapi ia berusaha untuk mengerti lebih banyak lagi. Katanya, "Apakah ayah anak
itu tidak menjadi marah karenanya?"
"Kepala Tanah Perdikan itu sudah tidak
ada lagi. Ibunya tidak mempunyai keberatan dan pengalaman itu memang akan
membuatnya masak pada usia dewasanya," berkata orang tertua itu. "Anak itu akan
mempunyai pengalaman yang lengkap. Yang baik dan yang buruk. Kini ia sedang
berhadapan dengan orang-orang yang licik. Tetapi anak itu tidak perlu terlibat
langsung."
Kiai Badra termangu-mangu sejenak.
Tiba-tiba saja ia ingat kepada Risang. Anak seorang pemangku jabatan Kepala
Tanah Perdikan yang terbunuh sebelum sempat diwisuda. Namun tiba-tiba pula Kiai
Badra juga teringat kepada Puguh. Hampir saja ia menyebut nama itu. Tetapi niat
itu pun diurungkannya. Jika ia sempat menyebut nama itu, orang-orang itu pun
akan menjadi curiga pula kepadanya. Bahkan mungkin orang-orang itu akan sempat
menghubungkannya dengan kedudukan yang sebenarnya di Tanah Perdikan Sembojan.
Dalam pada itu, tiba-tiba saja ada
keseganan padanya untuk terkait dengan persoalan keempat orang itu. Jika keempat
orang itu sempat memperhatikannya, maka mungkin sekali ceriteranya kepada
kawan-kawannya akan didengar oleh orang yang pernah mengenalinya, apabila yang
dimaksud dengan anak Kepala Tanah Perdikan itu benar Puguh.
***
KARENA itu, maka Kiai Badra menganggap
bahwa lebih baik baginya untuk menghindarkan diri dari pengenalan yang lebih
teliti dari keempat orang itu.Ada semacam kecemasannya, bahwa pertemuan itu
merupakan pangkal tolak penelusuran yang dilakukan oleh Ki Randukeling karena
Kiai Badra pun mengetahui bahwa Ki Randukeling adalah orang yang juga berilmu
tinggi.
Dengan demikian maka Kiai Badra pun
bertanya, "Nah Ki Sanak. Apakah yang akan Ki Sanak lakukan sekarang?"
"Bukankah kami harus bertemu dengan Ki
Bekel seperti yang Ki Sanak katakan?" jawab orang tertua di antara mereka.
"Nah itu lebih baik," berkata Kiai Badra.
"Segala sesuatunya dapat dibicarakan dengan baik. Kau tidak usah mempergunakan
kekerasan. Jika ternyata kedua orang itu memang bersalah, maka biarlah Ki Bekel
mengadili orang-orangnya sendiri. Tetapi hutang piutang dalam persoalan yang
menyangkut perjudian memang tidak akan dapat dipecahkan. Hutang piutang dalam
arena perjudian atau bahkan penggelapan sekalipun sebagaimana kau katakan telah
dilakukan oleh kedua orang itu, akan sulit untuk diusut dan bahkan cenderung
untuk dianggap tidak pernah terjadi."
"Itulah sebabnya kami mengambil jalan
pintas," berkata salah seorang di antara keempat orang itu.
"Tetapi bukankah persoalannya kemudian
menyangkut seluruh kehidupan di padukuhan itu?" bertanya Kiai Badra.
"Baiklah Ki Sanak," berkata orang tertua
di antara mereka. "Kami akan berbicara dengan Ki Bekel."
Kiai Badra masih akan berbicara lagi.
Namun tiba-tiba dikejauhan terdengar seorang berteriak, "Kami kehilangan jejak
mereka, kami tidak dapat menemukannya."
"Mereka tentu belum terlalu jauh," teriak
yang lain dari arah yang berbeda. "Kita menyebar lagi."
Suara itu pun kemudian lenyap disepinya
malam. Tetapi Kiai Badra dan keempat orang itu tahu, bahwa orang-orang padukuhan
itu telah menyebar.
"Marilah," berkata Kiai Badra. "Kita
pergi ke padukuhan."
Namun orang tertua di antara mereka itu
pun berkata, "Ki Sanak. Aku tahu kau bukan orang padukuhan ini."
Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, "Siapapun aku, aku ingin melihat kalian bertemu dengan Ki Bekel."
"Jika saja kau mau menyebut nama dan
kedudukanmu," desis orang tertua di antara mereka.
Kiai Badra tertawa. Katanya, "Sedangkan
anak-anak saja kau sembunyikan pertanda dirinya."
Orang itu mengerutkan keningnya. Namun
Kiai Badra kemudian berkata, "Baiklah. Aku memang bukan orang yang merasa perlu
merahasiakan diriku. Aku memang seorang pengembara yang hanya sekadar singgah di
tempat ini karena peristiwa yang baru saja terjadi. Jika Ki Sanak sudi
memanggil, aku bernama Santawiguna. Aku berasal dari Demak."
Orang tertua di antara keempat orang itu
mengangguk-angguk. Katanya, "Tidak seorang pun akan dapat membantah nama apapun
yang kau sebut. Tetapi tidak sepantasnya pula kami mencurigai nama dan asal usul
Ki Sanak."
"Itulah sebabnya maka aku pun agak segan
menyebut nama dan asal usulku. Kau yang sudah merahasiakan sesuatu, tentu
menganggap bahwa orang lain pun telah melakukan hal yang sama. Karena itu,
terserah kepadamu, kau percaya atau tidak," berkata Kiai Badra.
Namun dalam pada itu, Kiai Badra berkata
pula, "Kita pergi ke padukuhan. Kita akan berbicara dengan Ki Bekel."
Keempat orang itu menarik nafas
dalam-dalam. Namun akhirnya mereka berlima pun telah melangkah menuju ke
padukuhan, setelah orang yang menarik pedang itu menyarungkan kembali
senjatanya.
Dalam pada itu, ketika mereka mendekati
padukuhan, tiba-tiba saja mereka melihat beberapa orang berlari-lari. Namun
tiba-tiba mereka tertegun dan salah seorang di antara mereka berkata, "Itulah
mereka."
"Tunggu," berkata Kiai Badra.
***
"HE," orang itu berteriak. "Mereka berada
disini." "Ya. Kami memang menunggu kedatangan kalian," berkata Kiai Badra. Namun
beberapa orang telah berteriak lagi memanggil kawan-kawannya.
Beberapa orang memang berlari-lari
datang. Bahkan sekelompok yang lain berlarian lewat pematang, sehingga mereka
justru berada di belakang Kiai Badra dan keempat orang yang akan dibawanya
menemui Ki Bekel.
"Kepung mereka," berteriak seseorang.
"Jangan sampai lolos."
Kiai Badra memang menunggu hiruk pikuk
itu mereda. Kemudian baru ia mencoba berteriak mengatasi suara orang-orang yang
marah itu. "Nah, Ki Sanak. Dengarlah. Aku akan memberikan penjelasan."
"Penjelasan apa?" teriak seorang di
antara mereka yang marah itu. "Menyerah sajalah. Kita akan membawa kalian ke
padukuhan. Kalian telah melukai dua orang tetangga kami."
"Kami memang ingin berbicara dengan Ki
Bekel," berkata Kiai Badra.
"Ki Bekel memerintahkan kepada kami untuk
menangkap dan mengikat kalian. Bahkan perintah Ki Bekel, jika kalian melawan
maka kami diberi wewenang untuk menangkap kalian hidup atau mati."
"Apapun yang kalian sebutkan, tetapi beri
kesempatan kami berbicara dengan Ki Bekel. Persoalannya akan segera selesai
tanpa pertumpahan darah," berkata Kiai Badra. "Sebenarnya akulah yang telah
membujuk mereka berempat untuk dengan secara baik berhubungan dengan kalian.
Tidak dengan kekerasan."
"Jangan mengigau. Kami akan menangkap
kalian. Bukan untuk berbicara dengan Ki Bekel, tetapi untuk diadili," berkata
seorang yang agaknya mempunyai pengaruh di antara orang-orang padukuhan itu.
"Ki Sanak," berkata Kiai Badra. "Kita
belum tahu dengan jelas, persoalan apa yang terjadi. Aku bukan di antara mereka.
Tetapi aku serba sedikit tahu, apa yang telah terjadi sebenarnya. Jika
orang-orang ini sudah bertemu dengan Ki Bekel, maka aku segera meninggalkan
tempat ini, karena sebenarnya aku tidak mempunyai sangkut paut langsung dengan
mereka maupun dengan kalian."
"Cukup," bentak orang yang memimpin
sekelompok orang padukuhan itu, "Menyerahlah kalian berlima."
Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam.
Namun sementara itu seorang berkata, "Ternyata mereka berlima. Bukan hanya
berempat."
"Lebih dari lima. He, dimana anak-anak
yang ada di antara mereka?" bertanya seorang tiba-tiba.
"Ya. Tentu sudah disembunyikannya. Jika
demikian, maka mereka terdiri dari banyak orang," berkata yang lain.
Kiai Badra termangu-mangu. Namun kemudian
katanya, "Aku ingin memperingatkan untuk yang terakhir kalinya Ki Sanak. Berilah
kesempatan orang-orang ini bertemu dengan Ki Bekel. Biarlah orang-orang ini
mengatakan yang sebenarnya. Bawa dua orang yang terluka itu menghadap. Biarlah
keduanya ikut menentukan, apa yang akan kalian lakukan kemudian," Kiai Badra
berhenti sejenak, lalu katanya kepada keempat orang itu. "Tetapi bukankah kalian
tidak berbohong?"
"Tidak Aku berkata sebenarnya. Sebagian
besar dari kata-kataku benar," jawab orang tertua di antara keempat orang itu.
"Sebagian besar," ulang Kiai Badra sambil
mengangguk-angguk. "Tetapi yang sebagian besar itu pun sudah memadai."
Dalam pada itu orang yang memimpin
orang-orang padukuhan itu pun berkata lantang, "Aku tidak tahu apa yang kalian
bicarakan. Berikan tangan kalian. Kami akan mengikatnya."
"Jangan memaksa begitu," jawab Kiai
Badra. "Dengar kata-kataku, atau aku justru tidak ikut campur lagi tentang
persoalan ini."
Orang padukuhan itu menjadi tegang.
Dengan nada marah ia berkata, "Jangan permainkan kami."
Orang tertua di antara keempat orang itu
pun kemudian berkata kepada Kiai Badra, "Nah, apakah dengan cara ini kita akan
dapat bertemu dengan Ki Bekel sebagaimana kau katakan?"
***
KIAI BADRA menarik nafas dalam-dalam.
Namun kemudian katanya kepada orang-orang padukuhan, "Baiklah. Jika kalian tidak
mau memberi kesempatan kepada orang-orang ini bertemu dengan Ki Bekel, maka
biarlah mereka mempergunakan cara sebagaimana ingin mereka tempuh. Nah, kalian
harus mempergunakan senjata. Mungkin kalian memang akan dapat menangkap mereka
berempat, tetapi lebih dari separo di antara kalian akan mati. Nah, bersiaplah,
siapa yang akan mati lebih dahulu. Sebaiknya kalian saling memberikan pesan,
mungkin kepada istri kalian atau kepada anak-anak kalian. Besok padukuhan ini
akan berkabung karena sebuah iring-iringan mayat akan dibawa ke kuburan."
Kiai Badra berhenti sejenak. Ia ingin
melihat sentuhan dari kata-katanya.
Ternyata orang-orang padukuhan itupun
menjadi ragu-ragu. Beberapa orang saling berpandangan sejenak. Namun orang yang
paling berpengaruh di antara mereka itu pun berkata, "Omong kosong. Kau kira
kami tidak dapat mempergunakan senjata? Kami membawa senjata yang akan dapat
membunuh kalian."
"Semakin tajam kalian membawa senjata,
akan semakin berbahaya bagi kalian sendiri," jawab Kiai Badra. Lalu katanya,
"Nah, jika demikian silakan. Aku akan menonton satu pembantaian yang akan sangat
mengerikan. Panggil kawan-kawanmu lebih dahulu, agar pekerjaan keempat orang ini
cepat sekali. Mungkin mereka pun akan mati, tetapi kematiannya akan diikuti oleh
lebih dari separo di antara kalian seperti sudah aku katakan tadi."
Sekali lagi kata-kata Kiai Badra
menyentuh jantung orang-orang padukuhan itu.
Tetapi agaknya pemimpin dari orang-orang
padukuhan yang berjumlah terlalu banyak hanya bagi lima orang itu merasa
memiliki kemampuan yang cukup untuk mengatasi betapapun tinggi ilmu mereka.
Karena itu, maka katanya, "Jangan banyak bicara. Bersiaplah untuk mati."
"Baik," orang tertua di antara keempat
orang itu berkata lantang, "Aku sudah kehilangan kesabaranku. Sejak semula
memang aku ingin membunuh sebanyak-banyaknya. Tetapi orang tua itu
menghalangiku. Jika sekarang kalian sendiri justru menghendaki demikian, mari,
siapa yang akan mati lebih dahulu dari lebih separo di antara isi padukuhan.
Bahkan aku sudah siap membakar semua rumah dan banjar padukuhan."
Orang tertua di antara keempat orang itu
tiba-tiba saja telah menarik pedang sambil berkata, "Sekali lagi aku katakan,
jika aku hendak berbicara dengan Ki Bekel itu adalah karena orang tua itu
memaksaku."
Orang-orang padukuhan itu memang menjadi
gentar. Karena itu mereka menjadi ragu-ragu. Namun pemimpin di antara orang
padukuhan itu agaknya memang keras kepala. Ia pun telah mengacu-acukan parangnya
yang besar sambil berkata, "Cepat, kita tangkap mereka hidup atau mati."
Namun tiba-tiba saja di luar
perhitungannya, orang tertua di antara keempat orang itu telah meloncat.
Demikian cepatnya, sehingga pemimpin dari orang-orang padukuhan itu tidak tahu
bagaimana terjadinya, sehingga parangnya itu telah terloncat dari tangannya.
***
"AKU sudah mendapat jalan yang barangkali
dapat ditempuh untuk menelusurinya," berkata Kiai Badra kepada diri sendiri.
Lalu, "Dua orang yang terluka di padukuhan itu tentu mempunyai hubungan dengan
anak itu. Atau setidak-tidaknya ia tahu bahwa di antara mereka yang berada di
lingkungan perjudiannya, ada seorang remaja. Mudah-mudahan hal itu dapat aku
pergunakan kelak untuk menemukan jalur pengamatan atas Puguh."
Penemuan yang tidak diduganya itu telah
memberikan sedikit harapan bagi Kiai Badra, bahwa bukan Risang saja yang akan
mungkin diamati oleh Ki Randukeling atau orang-orang yang ada di sekitarnya.
Tetapi mereka pun harus mendapat kesempatan pula untuk mengamati perkembangan
Puguh, sehingga bagi keduanya akan didapatkan keseimbangan seandainya terjadi
sesuatu.
"Bagaimanapun juga, persoalan di antara
kedua orang anak itu akan tetap berkembang," berkata Kiai Badra di dalam
hatinya, "Jika tidak saat mereka menjadi anak-anak muda, maka dihari tua pun
ledakan itu akan dapat terjadi."
Namun dalam pada itu, Kiai Badra memang
merasa sedikit terlambat. Baik atau buruk, Puguh sudah mendapatkan pengalaman
yang lebih luas dalam hubungannya dengan dunia kanuragan. Dalam usianya Puguh
sudah terlibat dalam persoalan-persoalan yang dapat menempa ilmunya bukan saja
dalam latihan-latihan. Tetapi agaknya dikesempatan-kesempatan lain, anak itu
telah banyak melihat dan mengalami benturan ilmu. Sementara itu Risang masih
dalam tataran latihan-latihan betapapun kerasnya.
"Masih ada waktu," berkata Kiai Badra di
dalam hatinya sambil mempercepat langkahnya. Ia tidak banyak memikirkan lagi
keempat orang yang ditinggalkannya. Agaknya dengan berbicara baik-baik dengan Ki
Bekel, persoalan mereka akan dapat dipecahkan. Sementara itu keempat orang itu
belum sempat mengamati wajahnya dengan seksama.
"Pada kesempatan lain, aku harus bertemu
dengan dua orang yang telah dilukai oleh orang-orang itu," berkata Kiai Badra di
dalam hatinya. "Tidak sulit untuk mencari keduanya. Kepada semua orang dapat
ditanyakan, dua orang yang pernah dilukai oleh sekelompok pejudi yang pernah
merasa dirugikan."
Demikianlah Kiai Badra mempercepat
langkahnya. Ia sudah kehilangan waktu untuk melayani keempat orang di padukuhan
itu. Namun kesan yang didapat Kiai Badra, orang-orang padukuhan itu pun bukan
orang-orang yang ramah."
Dengan mempercepat perjalanannya serta
menempuh jalan-jalan pintas, maka Kiai Badra menjadi semakin dekat dengan Tanah
Perdikan Sembojan. Tetapi karena persoalan yang dihadapinya di tengah jalan maka
Kiai Badra tidak dapat memasuki Tanah Perdikan sebelum fajar. Bahkan ketika
matahari mulai menyingsing, Kiai Badra baru memasuki batas Tanah Perdikan
Sembojan.
Tetapi di Tanah Perdikan Sembojan sendiri
Kiai Badra tidak akan banyak mendapat perhatian. Meskipun ia lama tidak berada
di Tanah Perdikan, tetapi setiap pertanyaan selalu dijawabnya, bahwa ia berada
di padukuhannya sendiri. Sedangkan setiap orang Tanah Perdikan memang mengetahui
bahwa Kiai Badra memang bukan berasal dari Tanah Perdikan itu sendiri.
Namun demikian Kiai Badra pun masih tetap
berusaha untuk memasuki padukuhan induk dengan melalui jalan yang dianggapnya
tidak akan terlalu banyak orang yang menyapanya.
Ketika ia memasuki regol rumah Kepala
Tanah Perdikan Sembojan maka beberapa orang memang terkejut. Dengan tergesa-gesa
mereka memberitahukan kepada Iswari, bahwa Kiai Badra telah datang
mengunjunginya.
Iswari pun bergegas menyongsongnya dan
mempersilakan kakeknya naik. Tetapi Iswari tidak menerima kakeknya di pendapa.
Dipersilakannya Kiai Badra langsung ke ruang dalam.
Iswari memang sudah sangat rindu kepada
kakeknya yang sudah agak lama tidak mengunjunginya. Selebihnya, ia pun ingin
segera mendengar segala sesuatunya tentang anak laki-lakinya yang hanya
satu-satunya itu.
***
Setelah mempertanyakan keselamatan Kiai
Badra sendiri, maka Iswari pun segera mempertanyakan anak laki-lakinya dan
seluruh keluarga di tempat yang terasing dan yang belum pernah dikunjunginya
itu.
"Semuanya baik saja Iswari," berkata
kakeknya. "Tidak ada persoalan yang perlu dicemaskan. Semuanya berjalan menurut
rencana. Sementara itu tempat itu pun masih tetap terpencil dan tidak banyak
diketahui orang."
Iswari mengangguk-angguk. Katanya,
"Syukurlah. Mudah-mudahan sampai saatnya sesuai dengan keinginan kita, tidak
terjadi sesuatu."
Kiai Badra pun mengangguk-angguk. Namun
kemudian ia berkata, "Nanti sajalah aku bercerita tentang padepokan terpencil
itu. Dimana Kiai dan Nyai Soka?"
"Keduanya sedang berjalan-jalan," jawab
Iswari. "Sejak menjelang fajar keduanya sudah ke luar dan berjalan-jalan
mengelilingi Tanah Perdikan ini. Selain untuk tetap mempertahankan atau
setidak-tidaknya menghambat kemunduran wadag kakek dan nenek yang menjadi
semakin tua, mereka pun berusaha untuk setiap hari melihat perkembangan Tanah
Perdikan itu, sekaligus meronda jika Tanah Perdikan itu disentuh oleh niat
buruk."
"Tentu Tanah Perdikan ini begitu
luasnya," berkata Kiai Badra. "Mereka tidak melihat aku memasuki Tanah Perdikan.
Seandainya aku berniat jahat?"
Iswari hanya tersenyum saja. Namun
kemudian ketika dihidangkan minuman panas, Iswari pun segera mempersilakan.
"Aku memang haus," berkata Kiai Badra.
Sejenak kemudian maka Kiai Badra pun
telah meneguk minuman hangat dan beberapa potong makanan. Sementara itu, sejenak
kemudian maka Kiai dan Nyai Soka pun telah datang pula.
Orang-orang tua itu pun nampak gembira
sekali dapat bertemu setelah untuk waktu yang agak lama terpisah. Menjelang
hari-hari senja di umur mereka, maka rasa-rasanya pertemuan seperti itu
memberikan kegembiraan tersendiri.
Tetapi Kiai Badra memang belum
menceritakan niat kedatangannya. Ia masih mempergunakan waktunya untuk
menceritakan padepokan kecilnya. Hubungan yang sangat baik dengan padukuhan dan
bahkan Kademangan terdekat. Padepokannya telah dianggap sebagai keluarga dari
Kademangan itu. Apalagi setelah banyak anak-anak Kademangan yang memang berniat
tinggal di padepokan.
"Meskipun ada juga keberatannya," berkata
Kiai Badra. "Semakin banyak orang yang mengenali padepokan itu, semakin terbuka
pula keadaannya. Untunglah bahwa sebagian besar adalah anak-anak Kademangan itu
sendiri, sehingga hubungannya akan tetap terbatas."
Kiai dan Nyai Soka mengangguk-angguk.
Cerita Kiai Badra tentang padepokannya sangat menarik bagi keduanya, sehingga
sebagaimana sifat orang-orang tua, termasuk orang-orang yang berilmu tinggi
sekalipun, selalu banyak yang ingin diketahui dan dilihatnya.
Bahkan Nyai Soka pun telah berkata,
"Sebenarnya aku ingin menengoknya."
"Aku juga," berkata Kiai Soka. "Tetapi
apakah hal itu tidak merugikan kedudukan padepokan itu sementara ini?"
Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, "Pada saatnya aku akan mengundang kalian untuk mengunjungi kami."
"Mudah-mudahan tidak terlalu lama,"
berkata Nyai Soka. "He, bukankah umur kita menjadi semakin mendekati batas?"
"Aku lebih tua dari kau," berkata Kiai
Badra. "Bagaimana pun juga kau memperdalam ilmu, tetapi umurmu tidak akan dapat
melampaui umurku, karena kau adikku."
Nyai Soka tertawa. Demikian pula Kiai
Soka dan Iswari.
Demikianlah pembicaraan itu pun menjadi
semakin menebar kesana kemari. Namun akhirnya Iswari telah mempersilakan Kiai
Badra untuk beristirahat.
"Aku akan mandi dahulu," berkata Kiai
Badra. "Nanti aku akan berbicara banyak lagi tentang padepokanku."
***
DEMIKIANLAH maka Kiai Badra telah pergi
ke pakiwan. Kemudian setelah membenahi diri, Iswari mempersilakannya untuk makan
bersamanya dan bersama Kiai dan Nyai Soka. Pada saat-saat yang demikian,
biasanya mereka membicarakan masalah-masalah yang cukup penting.
Sebenarnyalah, ketika mereka sudah
selesai makan, Kiai Badra tidak menunda lagi persoalan yang dibawanya dari
padepokannya. Meskipun ia semalam suntuk berjalan dan tidak tidur sekejap pun,
namun ia masih belum ingin beristihat, karena rasa-rasanya ia masih belum
meletakkan beban yang dibawanya.
Kiai Badra pun kemudian telah
menyampaikan keinginan Risang untuk membuat satu perguruan tersendiri. Ia tidak
tahu, dorongan apakah yang telah membuatnya begitu ingin menyebut dirinya salah
seorang murid dari sebuah padepokan. Agaknya semula Risang hanya ingin mempunyai
satu ciri atau lambang yang dapat ditunjukkan kepada orang lain tentang dirinya
atau padepokannya. Namun akhirnya perkembangan menjadi satu keinginan untuk
menyusun satu perguruan tersendiri dengan nama dan lambangnya sekaligus.
Iswari mengerutkan keningnya. Namun Nyai
Soka telah memberikan tanggapan yang serta merta, "Menarik sekali."
"Kau setuju Nyai?" bertanya Kiai Badra.
"Kenapa tidak?" sahut Nyai Soka. "Namun
segala sesuatunya terserah kepada Iswari."
Kiai Badra mengangguk-angguk. Sementara
itu Kiai Soka pun berkata, "Memang ada baik dan buruknya yang harus
diperhitungkan, manakah yang lebih besar antara baik dan buruknya itu. Jika di
padepokan itu akan didirikan satu perguruan, maka sikap itu harus dipertanggung
jawabkan. Baik terhadap mereka yang ada di padepokan itu, maupun kepada dunia
olah kanuragan. Mungkin akan timbul geseran-geseran baru, karena jika kehadiran
itu didengar oleh perguruan-perguruan lain, tentu ada yang menerima baik dan ada
yang menolaknya."
"Aku sudah mengatakannya kepada Risang,"
sahut Kiai Badra. "Mungkin kehadiran satu perguruan akan dapat menimbulkan
benturan-benturan yang tidak kita inginkan."
"Kakek," berkata Iswari kemudian.
"Bukankah kakek tidak tergesa-gesa meninggalkan Tanah Perdikan? Maksudku,
bukankah kakek akan bermalan disini barang satu dua malam?"
"Ya. Aku akan bermalam disini," berkata
Kiai Badra.
"Jika demikian, maka kami akan dapat
membicarakannya dengan tidak tergesa-gesa. Mungkin nanti malam atau bahkan
mungkin besok," berkata Iswari.
Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya,
"Aku sependapat. Kita mempunyai kesempatan berpikir."
"Baiklah," desis Nyai Soka. "Biarlah
nanti malam aku merenungkannya semalam suntuk."
Kiai Badra tersenyum. Tetapi ia pun
kemudian berkata, "Jika demikian maka biarlah aku bercerita tentang
perjalananku."
"Ceritera tentang apa?" bertanya Nyai
Soka.
"Tentu ceritera yang menarik," jawab Kiai
Badra. "Aku telah menemukan sesuatu di perjalanan."
Orang-orang yang mendengarkan kata-kata
Kiai Badra itu memang menjadi tertarik. Apalagi ketika Kiai Badra berkata, "Satu
penemuan yang sangat berarti."
"Apakah kau menemukan tambang emas?"
bertanya Nyai Soka.
Kiai Badra mengerutkan keningnya. Namun
ia pun kemudian berkata, "Lebih dari sekadar tambang emas."
Dengan singkat Kiai Badra pun telah
bercerita tentang seorang anak Kepala Tanah Perdikan yang sudah kehilangan
ayahnya.
"Menilik cara petualangan yang
ditempuhnya, aku menduga bahwa yang dimaksud adalah Puguh," berkata Kiai Badra
kemudian.
Iswari menarik nafas dalam-dalam. Katanya
dengan nada berat, "Anak penari jalanan itu!"
"Ya," jawab Kiai Badra. "Tetapi hal itu
masih harus diyakinkan."
Orang-orang yang mendengarkan ceritera
Kiai Badra itu mengangguk-angguk. Mereka harus menanggapinya dengan
sungguh-sungguh. Apalagi jika benar bahwa anak itu adalah Puguh, anak Warsi yang
kemudian hidup bersama Ki Rangga.
***
MESKIPUN mereka sudah cukup lama tidak
mendengar beritanya, tetapi mereka masih tetap menganggap, dendam Warsi yang
sampai ke ubun-ubun itu tidak dapat begitu saja dilupakan.
Setiap kali Iswari selalu memperingatkan
diri sendiri, bahwa ia tidak boleh lengah. Bahkan setiap kali Iswari berada di
sanggar, maka ia masih berusaha untuk selalu mematangkan dan meningkatkan
ilmunya yang berpuncak pada ilmu Janget Kinatelon, yang berlandaskan kepada tiga
sumber kekuatan ilmu yang sangat tinggi.
Namun Iswari pun sadar, bahwa Ki
Randukeling pun ternyata tidak bekerja sendiri. Dengan demikian maka
perkembangan Warsi pun akan dapat menjadi semakin pesat.
"Apakah dalam waktu yang sekian tahun
itu, ia berhasil melampaui kemampuanku?" pertanyaan itu tidak dapat disingkirkan
dari lubuk hati Iswari. Namun justru pertanyaan itu telah mendorong Iswari untuk
bekerja lebih keras lagi disetiap saat dibawah bimbingan Kiai Soka dan Nyai
Soka, dua orang di antara tiga orang yang telah menyusun ilmu Janget Kinatelon.
Dalam keadaan yang demikian, maka Kiai
Badra telah menemukan satu kemungkinan untuk dapat melacak anak Warsi itu, yang
diperhitungkan pada satu saat akan bertemu dan berbenturan ilmu dengan Risang.
Sementara itu Kiai Badra pun kemudian
berkata, "Aku sudah mempunyai satu cara untuk menelusuri, apakah anak itu benar
Puguh atau bukan."
Yang mendengar keterangan Kiai Badra itu
pun mengangguk-angguk. Mereka memang sependapat dengan rencana Kiai Badra untuk
menghubungi kedua orang yang pernah terluka itu. Bagaimana pun juga keduanya
tentu pernah berhubungan dengan Puguh sendiri atau setidak-tidaknya orang-orang
yang mengawalnya.
"Ternyata pengawalnya terdiri dari empat
ataulima orang. Bahkan mungkin lebih," berkata Kiai Badra.
"Memang perlu," sahut Kiai Soka. "Dunia
yang dimasukinya adalah dunia yang sangat garang. Keras, kasar dan berbahaya.
Karena itu, ia memang memerlukan banyak kawan."
Kiai Badra mengangguk-angguk. Sementara
itu Iswari berkata, "Apakah kakek benar-benar akan menelusurinya?"
"Tentu. Dengan demikian, kita akan dapat
membayangi, paling tidak mengamati perkembangan anak itu. Apalagi jika kita
berhasil menemukan padepokannya."
Iswari mengangguk-angguk. Meskipun
demikian ia pun bertanya, "Kakek, mengamati padepokan Ki Randukeling adalah
tugas yang sangat berat. Sementara itu tugas kakek sendiri di padepokan itu pun
memerlukan perhatian sepenuhnya, apalagi jika Risang memang benar-benar
menginginkan sebuah padepokan yang khusus bagi sebuah perguruan dengan nama dan
ciri tersendiri."
Kiai Badra mengangguk-angguk. Namun
katanya, "Mungkin aku dapat minta tolong kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung,
yang agaknya telah memutuskan tidak akan kembali lagi ke perguruannya. Keduanya
telah lekat dengan Risang, sebagaimana Risang sangat akrab dengan kedua pamannya
yang mempunyai kegemaran bercerita, meskipun dari sumber yang berbeda."
ayap-Sayap Yang Terkembang 051
ISWARI mengangguk-angguk pula. Katanya,
"Jika kakek menganggap hal itu baik, maka aku pun tidak berkeberatan untuk
membantu jika diperlukan."
"Baiklah," berkata Kiai Badra. "Aku akan
membicarakan dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung. Mudah-mudahan mereka
menganggap dan dapat melaksanakan rencana ini dengan baik. Tetapi kemungkinan
lain, merekalah yang akan selalu tetap berada di padepokan bersama Gandar, jika
akulah yang harus berbuat sesuatu untuk menemukan sebuah padepokan yang dipimpin
Ki Randukeling dengan penghuni-penghuninya Ki Rangga Gupita, Warsi dan Puguh."
"Mungkin kita akan menemukan jalan yang
lebih baik kelak," berkata Kiai dan Nyai Soka.
Untuk beberapa lamanya mereka masih
berbicara tentang beberapa hal. Baik yang menyangkut padepokan terpencil itu,
maupun tentang Risang sendiri.
Sebenarnyalah Iswari telah merenungkan
keinginan anaknya. Ia sadar, jika perguruan itu benar-benar disusun, maka Risang
akan dihadapkan pada dua pilihan. Tetap berada di padepokannya atau kembali ke
Sembojan untuk menjabat sebagai Kepala Tanah Perdikan Sembojan.
Ternyata bagi Iswari hal itu cukup pelik.
Kiai Badra pun telah memikirkannya pula. Sementara itu agaknya Nyai Soka belum
berpikir sampai sejauh itu. Ia melihat satu kemungkinan yang akan dapat
mengangkat derajat Risang.
Hari itu Iswari memang sering merenung.
Baginya tidak ada orang lain yang paling pantas untuk memegang jabatan Kepala
Tanah Perdikan selain Risang. Untuk bertahun-tahun jabatan itu kosong atas
persetujuan Pajang, karena Iswari telah melaporkan segala sesuatunya mengenai
Tanah Perdikan Sembojan.
Parapemimpin Pajang memberi kesempatan
untuk membiarkan Iswari memegang jabatan itu untuk sementara, sehingga kelak
saatnya akan menyerahkannya kepada anak Ki Wiradana.
Nyai Soka melihat kesibukan perasaan
Iswari. Karena itu, maka ketika Iswari sedang merenung justru di dapur, Nyai
Soka mendekatinya. Katanya, "Kau memikirkan anakmu?"
"Ya nek," jawab Iswari.
Nyai Soka menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, "Aku menanggapi cerita Kiai Badra dengan serta merta, sebelum aku
berpikir. Baru kemudian aku sadari, bahwa Risang adalah calon Kepala Tanah
Perdikan di Sembojan. Karena itu, aku setuju dengan kau, bahwa sebaiknya
dipikirkan masak-masak, apa yang sebaiknya dilakukan oleh anak itu. Sementara
itu Kiai Badra yang sudah memiliki padepokan tersendiri, sejak semula memang
tidak ingin menyusun perguruan sebagaimana Kiai Soka. Sampai saat ini padepokan
kami, maksudku aku dan Kiai Soka, masih ada. Masih juga dipelihara dengan baik.
Tetapi Kiai Soka juga tidak bersedia untuk mendirikan satu perguruan yang secara
khusus diberi nama dan ciri-cri. Selain nama dari padepokan itu saja sebagai
nama sebuah padukuhan. Justru Sambi Wulung dan Jati Wulung adalah orang-orang
yang datang dari sebuah perguruan dengan cirinya yang khusus. Namun ciri itu
lebih banyak menunjukkan ikatan antara keduanya daripada sebuah perguruan yang
mapan."
Iswari mengangguk-angguk. Katanya, "Jika
perguruan itu berdiri, apakah Tanah Perdikan ini akan ditangani hanya dengan
sebagian waktu, sementara sebagian waktunya akan diserahkan kepada padepokan dan
perguruannya? Selama ini kita sudah berbuat apa saja bagi kepentingan Tanah
Perdikan ini."
"Iswari," berkata Nyai Soka, lalu,
"Perguruan itu dapat saja berdiri. Tetapi dengan janji, bahwa keterlibatan
Risang sangat dibatasi."
"Risanglah yang menginginkan perguruan
itu berdiri," berkata Iswari.
"Ia memerlukan penjelasan," sahut Nyai
Soka.
"Nek," berkata Iswari. "Aku merasa sangat
rindu kepada anak itu. Sebenarnya jika semua pihak menyetujui aku akan ikut
dengan kakek ke padepokan kecil itu untuk bertemu dengan Risang. Kecuali
kerinduan seorang ibu kepada anaknya, tetapi rasa-rasanya aku juga ingin
berbicara langsung dengan Risang tentang rencananya itu."
***
SEBENARNYA Bibi ingin sekali untuk
mendapat kesempatan ikut dan bertemu dengan Risang. Bibi pun telah menjadi
sangat rindu. Tetapi Iswari berkata, "Lain kali kau akan mendapat
kesempatan." Bibi mengangguk. Tetapi di matanya membayang air mata yang kemudian
mengalir dipipinya.
Iswari tersenyum. Katanya, "Bertanyalah
kepada para bebahu. Orang yang seperti kau ini tidak pantas untuk menitikkan air
mata. Seperti anak kecil yang ingin ikut ibunya pergi ke pasar."
Bibi pun berusaha untuk tersenyum pula.
Sambil mengusap matanya ia berkata, "Aku tidak merasa memperanakkannya."
Iswari menepuk bahu Bibi yang kekar
menurut ukuran seorang perempuan. Katanya, "Kau juga ibunya."
Bibi mengangguk. Tetapi air di matanya
itu belum juga mau kering.
"Sudahlah," berkata Iswari. "Kau masih
akan mendapat kesempatan. Kali ini aku sedang merintis jalan."
Demikianlah keduanya berangkat menjelang
senja, dengan perhitungan bahwa mereka akan ke luar dari Tanah Perdikan Sembojan
disaat hari sudah menjadi gelap.
Sebenarnyalah ketika matahari tenggelam,
keduanya sudah berada di ambang perbatasan. Iswari telah membenahi pakaiannya,
sehingga dimalam hari ia nampak benar-benar seperti seorang laki-laki. Dalam
ujud lahiriah, tidak akan ada seorang pun yang menduganya, bahwa ia adalah
seorang perempuan. Ia juga mengenakan ikat kepala sebagaimana laki-laki
mengenakannya.
Demikianlah, maka mereka pun telah
menyusuri gelapnya malam menempuh jalan yang sebaliknya dari yang pernah
ditempuh oleh Kiai Badra.
Namun ketika perjalanan mereka menjadi
semakin jauh, Kiai Badra berkata, "Kami akan singgah sejenak di padukuhan yang
pernah aku ceritakan."
"Apakah tidak akan mengganggu perjalanan
ini, kek?" bertanya Iswari.
"Mudah-mudahan tidak. Tetapi jika terjadi
sesuatu, maka modal kita adalah, bahwa kita tentu akan dapat melarikan diri dari
tangan orang-orang padukuhan itu," berkata Kiai Badra.
Iswari mengangguk-angguk. Katanya,
"Terserah saja kepada kakek. Tetapi kepada siapa kita akan bertanya tentang
orang-orang yang menurut kakek sudah terluka itu?"
"Kita akan langsung menemui Ki Bekel,"
berkata Kiai Badra. "Tetapi ingat, aku mempunyai nama lain."
"Siapa nama kakek?" bertanya Iswari.
Kiai Badra mengingat-ingat sejenak. Saat
itu ia asal saja mengucapkan sebuah nama. Namun akhirnya ia menjawab, "Namaku
Santawiguna."
Iswari tersenyum. Tetapi sebelum ia
bertanya sesuatu, Kiai Badra pun telah mendahuluinya, "Lebih baik kau tidak usah
berbicara. Meskipun ujudmu seperti laki-laki, tetapi kau tidak akan dapat
mengubah suaramu menjadi suara seorang laki-laki."
"Baik kek," jawab Iswari. "Aku akan
menjadi pendengar yang baik. Atau barangkali aku adalah cucu kakek yang bisu?"
Kiai Badra tertawa. Namun ia masih
membantah, "Orang bisu pun dapat dibedakan suaranya antara seorang laki-laki dan
seorang perempuan. Karena itu yang baik, kau diam saja."
"Baik kek," jawab Iswari sambil tertawa.
Seperti yang mereka rencanakan, maka
kedua orang itu telah menuju ke padukuhan yang pernah dilalui oleh Kiai Badra.
Padukuhan yang pernah menghentikan langkahnya beberapa saat.
Ketika mereka mendekati padukuhan itu,
maka padukuhan itu benar-benar telah tertidur nyenyak. Bahkan orang-orang yang
berada di gardu pun telah banyak yang tidur pula. Seorang di antara mereka yang
duduk bersandar dinding pun agaknya telah tertidur pula.
"Nampaknya orang-orang padukuhan ini
telah berjaga-jaga setelah terjadi peristiwa yang menggemparkan itu," berkata
Kiai Badra hampir berbisik. .
KARENA itu, maka Kiai Badra pun berkata,
"Baiklah. Aku akan menunggu sampai besok. Tetapi jika malam nanti terjadi
sesuatu yang menelan korban jiwa di padukuhan ini, kalian berdualah yang
bertanggung jawab."
Wajah kedua orang itu menjadi tegang.
Dengan gagap seorang di antara mereka bertanya, "Apa yang akan terjadi?"
"Karena itu beri kesempatan kami bertemu
dengan Ki Bekel," desis Kiai Badra.
Kedua orang itu menjadi kebingungan.
Sementara itu Kiai Badra berkata, "Sudahlah. Sampaikan salamku kepada Ki Bekel.
Mudah-mudahan kalian berdua besok masih sempat bertemu dengan Ki Bekel. Karena
mungkin kalian berdualah yang akan menjadi korban. Tetapi mungkin juga orang
lain. Bahkan mungkin Ki Bekel sendiri."
Kedua orang itu menjadi semakin bingung.
Namun ketika Kiai Badra akan beranjak pergi, kedua orang itu hampir berbareng
memanggil, "Ki Sanak."
"Bagaimana?" bertanya Kiai Badra.
"Apakah Ki Sanak sajalah yang
membangunkan sendiri Ki Bekel?" desis seorang di antara keduanya.
"Bagaimana mungkin aku membangunkannya?"
bertanya Kiai Badra.
Sejenak kedua orang itu menjadi tegang.
Mereka tidak segera dapat mengambil keputusan. Namun akhirnya seorang di antara
mereka berkata, "Aku yang akan membangunkannya. Tetapi Ki Sanak yang harus
bertanggung jawab."
"Baiklah," jawab Kiai Badra. "Aku yang
bertanggung jawab."
Kedua orang peronda itu masih juga
ragu-ragu sejenak. Namun kemudian seorang di antara mereka berkata, "Marilah.
Ikut aku."
Kiai Badra dan Iswari pun kemudian telah
mengikuti peronda itu, sementara yang seorang lagi tetap berada di gardu. Bahkan
orang itu telah membangunkan kedua orang kawannya yang memang tertidur nyenyak.
Orang yang membawa Kiai Badra dan Iswari
kependapa memang ragu-ragu untuk membangunkan Ki Bekel. Tetapi mengingat
kata-kata orang tua itu, bahwa sesuatu akan terjadi malam nanti, ia pun
memberanikan diri mengetuk dinding rumah Ki Bekel.
Beberapa kali terdengar suara ketukan
yang semakin lama semakin keras, sementara Kiai Badra dan Iswari menunggu dengan
berdebar-debar pula.
Namun sejenak kemudian terdengar suara
batuk-batuk di dalam. Orang yang mengetuk pintu itu bergeser selangkah sambil
berdesis, "Jika Ki Bekel marah, kaulah yang bertanggung jawab."
"Ya. Aku yang bertanggung jawab," sahut
Kiai Badra.
Dalam pada itu, terdengar orang yang ada
di dalam itu menyapa, "Siapa di luar?"
Kiai Badra memberikan isyarat agar
peronda itu menjawab.
"Aku Ki Bekel. Peronda di gardu," jawab
orang itu.
"Kenapa malam-malam?" bertanya Ki Bekel.
"Ada tamu Ki Bekel," jawab orang itu.
"Tamu? Malam begini ada tamu?" bertanya
Ki Bekel dengan suara parau.
"YA. Ada sesuatu yang penting yang ingin
disampaikan kepada Ki Bekel," berkata peronda itu pula. Agaknya Ki Bekel menaruh
perhatian pula. Jika tidak ada sesuatu yang penting maka tidak akan ada orang
yang malam-malam berani membangunkannya.
Karena itu, betapapun beratnya mata Ki
Bekel yang mengantuk itu, namun ia pun telah melangkah ke pintu pringgitan.
Perlahan-lahan ia mengangkat selarak.
Pada saat yang demikian, ketika Kiai
Badra dan Iswari bergeser mendekat pintu, peronda itu telah menundukkan
tombaknya sambil berdesis, "Kau disitu saja."
Kiai Badra mengerutkan keningnya. Tetapi
ia tidak mau melibatkan diri dalam persoalan. Karena itu, maka ia pun
mengurungkan langkahnya.
Sejenak kemudian maka pintu pringgitan
itu pun terbuka. Ki Bekel dengan segan melangkah ke luar pintu sambil bertanya
kepada peronda itu, "Ada apa?"
Peronda itu menunjuk kepada Kiai Badra
dan Iswari sambil berkata, "Kedua orang itulah yang berkepentingan dengan Ki
Bekel malam ini. Menurut keduanya, keadaan menjadi gawat."
"Gawat? Apa yang terjadi?" bertanya Ki
Bekel sambil mengerutkan keningnya.
"Silakan Ki Bekel berbicara dengan kedua
orang itu," berkata peronda itu.
Ketika Ki Bekel berpaling ke arah Kiai
Badra, maka ia pun termangu-mangu sejenak untuk mengingat, siapakah orang tua
itu.
Namun Kiai Badralah yang lebih dahulu
menyebut tentang dirinya, "Ki Bekel. Aku adalah Santawiguna, yang malam itu
bersama-sama dengan empat orang yang sebelumnya telah dikejar-kejar oleh
orang-orang padukuhan ini."
Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, "Aku
ingat sekarang, meskipun saat itu aku tidak jelas menatap wajah Ki Sanak. Tetapi
malam itu kita memang kehilangan seorang tua yang mula-mula bersama-sama dengan
empat orang yang dikejar-kejar itu," Ki Bekel mengangguk-angguk. Namun kemudian
ia pun bertanya, "Tetapi kenapa malam itu Ki Sanak telah menghilang?"
"Aku mempunyai keperluan yang sangat
penting yang tidak dapat aku tunda-tunda lagi. Karena itu, maka aku telah
meninggalkan keempat orang itu."
"Marilah," berkata Ki Bekel
mempersilakan.
Ki Bekel telah mempersilakan kedua
tamunya untuk duduk di pringgitan. Selembar tikar pandan kemudian telah
dibentangkan oleh peronda yang membangunkannya.
Sejenak kemudian ketiga orang itu pun
telah duduk. Sejenak mereka sempat mengingat apa yang pernah terjadi di
padukuhan itu, kecuali Iswari yang hanya mendengar cerita Kiai Badra.
"Apa yang ingin Ki Sanak beritahukan
dengan keadaan yang disebut gawat itu?" bertanya Ki Bekel.
"Ki Bekel," desis Kiai Badra. "Yang
pertama, sebelum aku berbicara tentang langkah-langkah berikutnya, aku ingin
bertanya tentang peristiwa malam itu. Apakah malam itu dapat diselenggarakan
satu pembicaraan sehingga menemukan satu penyelesaian yang baik?"
Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam.
Kemudian katanya, "Tidak terlalu baik. Tetapi tidak terjadi kekerasan. Keempat
orang itu memaksa untuk mengambil kembali uangnya yang telah digelapkan oleh
kedua orang yang telah dilukainya itu."
Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya,
"Sayangnya penggelapan itu terjadi ditempat perjudian, sehingga kedua orang itu
memang dapat ingkar."
"Keduanya memang tidak dapat dituntut.
Tetapi yang pahit bagi keduanya adalah, bahwa orang-orang yang marah itu telah
mengancam akan membunuhnya. Mereka akan bertindak sendiri jika tidak ada saluran
yang dapat membantu mereka mengambil kembali uangnya. Padahal menurut
pengamatanku, keempat orang itu memang akan dapat benar-benar bertindak kasar
jika kedua orangku itu tidak memenuhinya.
***
KIAI BADRA mengangguk-angguk. Katanya,
"Apakah Ki Bekel tidak tahu menahu sebelumnya tentang kedua orang itu?" Ki Bekel
menggeleng. Katanya, "Aku tidak tahu sebelumnya, bahwa kedua orang-orangku itu
adalah penjudi-penjudi yang besar. Dan bahkan telah mau menggelapkan uang dalam
lingkungan perjudian. Karena itu, maka tidak terlalu banyak yang dapat kami
lakukan untuk melindungi mereka. Kami, orang-orang padukuhan ini hanya
menganjurkan kepada keduanya yang malam itu sudah dilukai, untuk menyediakan
uang sebagaimana yang digelapkannya dan mengembalikannya."
"Bagaimana sikap orang-orang padukuhan
ini?" bertanya Kiai Badra.
"Setelah mereka mengetahui keadaan yang
sebenarnya, maka mereka tidak lagi menjadi garang terhadap keempat orang itu.
Bahkan orang-orang padukuhan ini menjadi kecewa, bahwa dua orang di antara kami
telah berada di lingkungan yang hitam itu," jawab Ki Bekel. Lalu, "Ketika malam
itu kami mendengar kedua orang itu berteriak-teriak minta tolong sambil berlari
ke gardu, maka orang-orang padukuhan ini dengan serta merta telah berusaha
menolong mereka. Mereka menganggap bahwa keduanya, tetangga kami, telah dirampok
orang."
Kiai Badra mengangguk-angguk. Lalu
katanya, "Ki Bekel. Kami minta maaf, bahwa malam-malam begini kami berusaha
untuk bertemu dengan Ki Bekel. Sebenarnyalah kami berdua ingin berbicara dengan
kedua orang yang terluka itu. Mungkin kami dapat memberikan jalan kepada
mereka."
"Jadi Ki Sanak akan berusaha untuk
memberikan kesempatan keduanya tetap menggelapkan uang itu? Atau barangkali Ki
Sanak ingin menolong agar kedua orang itu tetap berada di dalam lingkungan para
pejudi itu?"
"Bukan Ki Bekel," jawab Kiai Badra. "Yang
penting bagiku bukan lingkungan perjudiannya, tetapi keselamatannya."
"Bukankah dengan demikian kau tetap
memberinya jalan untuk tidak berusaha mengembalikan uang yang digelapkannya? Aku
tidak mau kedua orang itu menjadi noda-noda yang hitam bagi padukuhan ini.
Sebagaimana Ki Sanak tahu, orang-orang padukuhan ini memang bukan orang-orang
yang ramah, baik hati dan mampu dengan cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan
di luar padukuhan ini. Tetapi kami tahu bahwa di dalam lingkungan kami terdapat
pejudi besar seperti kedua orang itu."
Kiai Badra mengangguk-angguk. Tetapi
katanya, "Ki Bekel, aku minta ijin untuk menemui mereka."
Ki Bekel mengangguk-angguk. Sejenak ia
merenung. Namun kemudian katanya, "Baiklah. Jika kau dapat mengusahakan jalan ke
luar, bagaimana pun juga, kami akan berterima kasih. Batas waktu yang diberikan
oleh keempat orang itu adalah sampai saat hari pertama bulan mendatang."
"Terima kasih Ki Bekel," desis Kiai
Badra. "Jika demikian kami mohon diri. Kami mohon maaf, bahwa kami telah
mengganggu Ki Bekel. Mungkin Ki Bekel memerlukan waktu untuk beristirahat."
"Apakah Ki Sanak sudah pernah melihat
rumah mereka?" bertanya Ki Bekel.
"Belum Ki Bekel," jawab Kiai Badra.
"Agaknya kami memang memerlukan ancar-ancar."
"Biarlah peronda itu mengantarkan Ki
Sanak sampai ke rumah mereka. Keduanya adalah kakak beradik yang tinggal di satu
rumah, meskipun keduanya sudah mempunyai keluarga sendiri-sendiri," berkata Ki
Bekel.
Sekali lagi Kiai Badra mengucapkan terima
kasih, sementara Ki Bekel memerintahkan dua orang di antara peronda-peronda itu
untuk mengantar kedua tamunya.
Ketika mereka kemudian minta diri, maka
seperti pesan Kiai Badra, Iswari sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Bahkan ketika mereka minta diri, Iswari hanya mengangguk-angguk saja dalam-dalam
sambil tersenyum tanpa mengucapkan kata-kata.
***
KI BEKEL memang merasa heran atas sikap
itu. Tetapi ia pun kemudian menduga, bahwa orang itu tentu mempunyai
cacat. "Sayang. Orang yang tanpan itu ternyata bisu," berkata Ki Bekel kepada
diri sendiri. Demikianlah maka Kiai Badra dan Iswari telah di antar ke rumah
kedua orang yang pernah dilukai oleh empat orang kasar yang menggemparkan
padukuhan itu.
Ketika peronda itu mengetuk pintu, maka
seisi rumah itu memang menjadi ketakutan. Namun peronda itu pun telah menyebut
namanya dan berkata dengan nada rendah. "Aku mengantarkan dua orang tamu yang
telah menemui Ki Bekel."
Kedua orang yang dicari oleh Kiai Badra
itu masih saja ragu-ragu untuk membuka pintu rumahnya. Namun peronda itu
meyakinkan mereka, katanya, "KI Bekellah yang memerintahkan aku mengantarkan
kemari."
Akhirnya keduanya pun telah membuka pintu
betapapun mereka ragu-ragu.
Namun ketika mereka melihat dua orang
yang ujudnya tidak sekasar keempat orang yang pernah melukainya, maka keduanya
pun mempersilakan kedua orang tamunya itu masuk ke ruang dalam.
"Kita akan berbicara di dalam," berkata
salah seorang dari keduanya.
Peronda yang mengantar Kiai Badra dan
Iswari pun kemudian telah minta diri untuk kembali ke rumah Ki Bekel.
Setelah duduk sejenak, maka yang
nampaknya lebih tua di antara kedua orang itu pun mulai bertanya, "Siapakah Ki
Sanak berdua?"
"Aku adalah Santawiguna," jawab Kiai
Badra yang dengan singkat menceritakan apa yang telah dilakukannya beberapa hari
yang lalu.
Kedua orang itu mengangguk-angguk. Yang
tertua itu pun kemudian berkata, "Jadi Ki Sanak yang disebut dengan Santa itu?"
"Ya. Santawiguna," jawab Kiai Badra. Lalu
katanya, "Ki Sanak, sebenarnyalah aku mempunyai kepentingan dengan Ki Sanak."
Kedua orang itu termangu-mangu. Dengan
curiga yang muda di antara mereka berkata, "Tetapi apakah kalian bukan orang
yang sengaja di kirim oleh Puguh?"
"Puguh?" ulang Kiai Badra dengan jantung
yang berdebar-debar. Juga Iswari tiba-tiba saja darahnya bagaikan mengalir lebih
cepat.
Keduanya tidak menduga, bahwa demikian
cepat mereka mendengar nama itu disebut.
Tetapi Kiai Badra berusaha untuk
menguasai perasaannya. Bahkan kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia
bertanya, "Siapakah Puguh itu? Apakah salah seorang dari keempat orang itu
bernama Puguh?"
"Tidak," jawab yang muda. "Tidak seorang
pun di antara mereka bernama Puguh. Tetapi seorang laki-laki remaja yang
menjelang usia dewasalah yang bernama Puguh. Orang-orang itu adalah pengawal
remaja yang bernama Puguh itu."
"Jadi uang yang kau gelapkan itu uang
Puguh itu?" bertanya Kiai Badra.
Kedua orang itu menundukkan kepalanya.
Namun tanpa menjawab Kiai Badra sudah dapat menangkap kenyataan tentang keduanya
dalam hubungannya dengan Puguh.
"Ki Sanak," berkata Kiai Badra.
"Sebenarnyalah aku juga mempunyai minat seperti kalian. Tetapi bukan untuk
menggelapkan uang. Aku telah membawa kemanakanku untuk dapat ikut memasuki dunia
perjudian itu."
Kedua orang itu terkejut. Mereka tidak
mengira bahwa orang itu menaruh minat juga untuk ikut berjudi.
"Ki Sanak," berkata Kiai Badra. "Aku
sudah berpengalaman. Tetapi pengalamanku lain dengan pengalaman Ki Sanak.
Menurut yang pernah terjadi atas diriku, jika aku berjudi dengan jujur, maka
ternyata aku akan menang."
"Ah," sahut yang muda dengan serta merta,
"Aku kurang yakin Ki Sanak. Setiap penjudi tentu berbuat curang. Jika Ki Santa
mencoba berjudi dengan jujur, maka Ki Santa akan menjadi santapan lawan-lawan
berjudi."
"Ki Sanak," berkata Kiai Badra. "Umurku
sudah hampir mendekati ujung abad. Aku sudah berjudi lebih dari limapuluh tahun.
Nah, umur kalian berapa? Pengalaman kalian tentang judi tidak akan dapat
menyamai aku," Kiai Badra berhenti sejenak, lalu, "Marilah, bawa aku ke tempat
itu."
***
KEDUA orang itu saling berpandangan.
Namun yang tertua di antara mereka berkata, "Kami belum gila Ki Santa."
"Kenapa?" bertanya Kiai Badra.
"Dalam keadaan seperti ini, apakah aku
harus masuk ke dalam wuwu. Kau tahu bahwa aku sedang terlibat persoalan dengan
Puguh yang mempunyai sejumlah pengawal sebagaimana kau lihat. Jika mereka
melihat aku memasuki tempat itu, maka aku akan mengalami kesulitan. Meskipun aku
tidak berbuat apa-apa lagi, tetapi sebelum aku mengembalikan apa yang mereka
minta, maka aku dapat dibantainya."
"Tetapi apakah kau tidak mempunyai
sandiwara saat-saat kau melakukan penukaran uang dengan kartu-kartu yang
bernilai uang itu, sehingga akan dapat melindungimu dari tangan Puguh dan
orang-orangnya?"
"Tidak ada yang dapat mencegah tingkah
laku para pengikut Puguh itu," jawab yang muda.
"Bukankah itu sebagian besar karena salah
kalian sendiri?" bertanya Kiai Badra. "Jika kalian tahu bahwa sekelompok orang
memiliki kekuatan yang tidak terlawan, kenapa kalian berani mempermainkan uang
mereka?"
"Ki Sanak," berkata yang tua. "Kita
sama-sama mengetahui pengaruh uang terhadap diri kita. Kadang-kadang kita
menjadi lupa segala-galanya sehingga saat itu aku tidak ingat lagi, apa yang
mungkin terjadi. Uang yang ada ditangan kami membuat kami buta."
Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam.
Namun ia pun kemudian berkata, "Baiklah. Dalam keadaan seperti kami memang tidak
akan dapat memaksa. Tetapi apakah kalian dapat memberikan ancar-ancar, dimana
letak tempat perjudian itu?"
"Ki Sanak. Aku tidak tahu apakah kau
orang yang cukup kaya untuk memasuki tempat perjudian itu. Tetapi perjudian itu
adalah hanya dikunjungi oleh orang-orang yang kaya," berkata yang muda.
"Tetapi bagaimana mungkin kalian mendapat
kepercayaan ditempat itu?" bertanya Kiai Badra.
"Kami sudah lama berjudi ditempat itu.
Semakin lama semakin akrab dengan setiap orang. Akhirnya kami telah berusaha
membuat satu permainan tersendiri di antara perjudian itu," jawab yang muda
pula.
"Apa keuntunganmu dengan usahamu itu?"
bertanya Kiai Badra pula.
"Yang menang akan memberikan bagian
kepada kami," jawab yang muda itu pula.
Kiai Badra mengangguk-angguk. Namun
sekali lagi ia mendesak, "Beritahukan kepadaku. Dimana tempatnya. Aku mempunyai
barang-barang berharga yang dapat aku jual. Aku pun tahu bagaimana mendapatkan
uang untuk berjudi sebagaimana sudah aku lakukan selama limapuluh tahun."
Kedua orang bersaudara itu mengerutkan
keningnya. Namun kemudian seorang di antara mereka bertanya, "Apa yang kalian
katakan kepada Ki Bekel? Ki Bekel membenci kami berdua karena kami berdua
berjudi. Jika kau berterus terang, tentu Ki Bekel tidak akan terlalu baik hati
memerintahkan peronda itu mengantarmu kemari."
Kiai Badra tersenyum. Katanya, "Cerdas
juga kau Ki Sanak. Aku memang tidak mengatakan hal seperti itu. Tetapi aku
mengatakan bahwa kalian terancam malam ini, sehingga aku perlu menghubungi
kalian."
Keduanya menarik nafas dalam-dalam,
sementara Kiai Badra berkata, "Tetapi rahasiaku adalah rahasiamu. Ingat, bahwa
akulah sebenarnya yang telah menyelamatkan nyawamu. Jika tidak, maka empat orang
itu telah siap untuk membunuh kalian, justru saat orang-orang padukuhan sibuk
mencari mereka di bendungan."
Kedua orang itu memang menjadi tegang.
Sementara itu Kiai Badra berkata, "Sudahlah. Aku memang tidak mau melibatkan
kalian dalam persoalan kalian dengan remaja yang kalian sebut bernama Puguh itu.
Beri aku ancar-ancar. Aku akan datang sendiri tanpa kalian."
***
KEDUA orang itu memang masih ragu-ragu.
Sehingga Kiai Badra perlu meyakinkan, "Apakah kerugian kalian jika kalian
memberitahukan tempat itu kepadaku. Segala sesuatunya akan kami lakukan diluar
hubungan kami dengan kalian. Di sebelah Barat Pajang, kami merasa jemu. Lawan
kami tidak berubah hampir setiap hari. Mereka pun semakin lama menjadi semakin
melarat karena mereka tidak tahu, bagaimana mendapatkan uang untuk berjudi.
Mereka sama sekali tidak tahu, bahwa dengan memeras darah seseorang, kita akan
dapat mengumpulkan modal untuk berjudi.
"Kalian perampok?" bertanya kedua orang
itu.
Kiai Badra tertawa. Katanya, "Jika kau
benar-benar pejudi yang baik, kau tidak akan bertanya. Kau pun tidak akan
membawa lari uang siapapun dalam rumah perjudian itu. Tanpa berbuat curang. Nah,
itulah ramuan kami, sehingga kami dapat memenangkan perjudian itu."
Kedua orang itu termangu-mangu. Tetapi
mereka tidak dapat mengambil kesimpulan lain daripada menganggap bahwa orang
yang menyebut dirinya Santawiguna itu adalah seorang perampok. Mungkin dengan
cara yang khusus, atau cara yang justru paling biadab yang pernah dilakukan oleh
para pejudi.
Dalam pada itu, yang tua pun kemudian
berkata, "Baiklah. Aku akan memberikan ancar-ancar kepada kalian. Tetapi
selanjutnya adalah tanggung jawab kalian sendiri."
Kiai Badra tersenyum. Katanya, "Semuanya
akan menjadi tanggung jawab kami."
"Tetapi aku minta, Ki Sanak juga berusaha
meringankan bebanku. Jika Ki Sanak menang di dalam perjudian, maka sebaiknya Ki
Sanak membantuku serba sedikit, aku harus mengumpulkan uang cukup banyak untuk
menggantikan uang yang sudah telanjur kami pakai," berkata yang tua di antara
mereka.
"Apakah uang itu sudah habis sama
sekali," bertanya Kiai Badra.
"Memang masih ada sebagian. Tetapi untuk
mengganti yang sudah telanjur kami pakai itu pun ternyata cukup berat bagi
kami," jawabnya.
Kiai Badra mengangguk-angguk. Dengan nada
datar ia berkata, "Lain kali berhati-hatilah. Jangan mudah terbakar oleh
keinginan yang ternyata dapat menjeratmu sendiri. Jika malam itu, aku tidak
secara kebetulan bertemu dengan orang-orang yang akan membunuhmu, mungkin kau
sudah mati," Kiai Badra berhenti sejenak, lalu. "Nah, dimana letaknya tempat
perjudian itu?"
"Agak jauh dari tempat ini," berkata
orang itu. "Memang agak sulit untuk memberikan ancar-ancar jika Ki Sanak memang
belum pernah melihat tempat itu. Selain jauh, tempat itu memang tersembunyi,"
wajah orang itu tiba-tiba menjadi tegang. "He, apakah kau akan merampok tempat
itu? Jangan bermimpi untuk melakukannya. Tempat itu dijaga oleh orang-orang yang
berilmu tinggi. Jika kau mencoba melakukannya, maka kau akan menjadi bahan
pertunjukan yang menarik disana.Para penjaganya akan memperlakukan kau sebagai
seekor harimau dungu di arena rampokan. Ujung-ujung tombak akan membuat tubuhmu
arang keranjang. Atau barangkali parang, golok dan jenis-jenis senjata yang lain
sebelum kau disiram dengan air garam." .
***
KIAI BADRA tersenyum. Katanya, "Memang
mengerikan. Tetapi sekali lagi aku merasa heran, bahwa kau telah berani
melakukan penggelapan seperti itu?" "Aku tidak merampok tempat itu. Tetapi aku
melarikan uang titipan yang aku tukar dengan kartu-kartu bernilai uang." "Tetapi
kau belum mengatakan kepadaku, dimana letak tempat itu," desis Kiai Badra.
Orang itu menarik nafas dalam-dalam.
Memang mash tampak keragu-raguan di sorot matanya. Bahkan kadang-kadang keduanya
saling berpandangan sesaat. Kemudian keduanya telah menundukkan kepalanya pula.
"Kalian masih tetap ragu-ragu? Atau
barangkali aku harus berbuat sesuatu?" bertanya Kiai Badra.
"Apa yang akan kalian lakukan?" bertanya
salah seorang dari kedua kakak beradik itu.
"Aku dapat berbuat macam-macam. Bahkan
jika kalian kehendaki, aku dapat mencekik kalian," jawab Kiai Badra. "Atau
menyerahkan kalian kepada orang-orang padukuhan ini. Bukankah mereka membenci
kalian berdua? Aku dapat bercerita apa saja kepada Ki Bekel tentang kalian
berdua sehingga kalian benar-benar akan dipencilkan oleh tetangga-tetangga
kalian di padukuhan ini. Saatnya pembalasan pun akan segera datang dari
orang-orang yang kehilangan uang yang kau gelapkan itu."
"Cukup," kedua orang itu hampir
berteriak. Yang tua pun kemudian berkata, "Baiklah. Aku akan memberikan
ancar-ancar dari tempat perjudian itu. Tetapi kau tanggung sendiri segala akibat
yang terjadi jika kau ingin merampok tempat itu."
"Gila. Aku tidak ingin merampok," bentak
Kiai Badra. "Aku ingin ikut berjudi ditempat itu."
Kedua bersaudara itu saling berpandangan
sejenak. Yang tertua di antara mereka pun kemudian berkata,"Ki Sanak. Tempat
perjudian itu menjadi satu dengan arena sabung ayam yang dibuka sepekan dua
kali."
"Tempatnya," potong Kiai Badra. "Aku
ingin mendengar nama tempat itu. Mungkin padukuhan, mungkin Kademangan atau
mungkin tempat-tempat lain yang akan dapat kami kenali. Tetapi ingat. Jika
kalian berbohong, maka kalian akan menyesali akibat yang dapat terjadi atas
kalian."
Yang tertua itupun berkata lebih lanjut,
"Baiklah Ki Sanak. Aku tidak akan berbohong. Tetapi apakah Ki Sanak akan
menemukan tempat itu atau tidak, aku pun tidak bertanggung jawab."
"Kami akan mencari sampai ketemu sesuai
dengan petunjuk yang akan kau berikan," sahut Kiai Badra.
"Arena sabung ayam itu berada di
lingkungan yang terasing di kaki Gunung Kukusan," berkata yang tertua.
"Sebut satu tempat yang terdekat dengan
tempat itu," desis Kiai Badra.
"Maksudmu?" bertanya orang itu.
"Aku harus mempunyai landasan sebagai
tempat bertolak untuk menemukannya," jawab Kiai Badra. Orang itu menarik
nafas.Tetapi ia pun mengerti, bahwa harus ada petunjuk yang lebih jelas daripada
mengitari Gunung Kukusan.
Karena itu, maka orang itu pun berkata,
"Kau dapat mulai dari Kademangan Nggebayan. Kau akan mulai memanjat lambung
Gunung Kukusan ke arah sumber air Kali Kedawung.Ada beberapa padukuhan kecil
yang akan kau lalui. Salah satu di antaranya adalah padukuhan Muncar. Di dekat
padukuhan itu terdapat sebuah belumbang yang berair jernih sekali, dikelilingi
oleh beberapa pohon preh yang besar-besar."
"Jadi tempat perjudian itu berada ditepi
belumbang?" bertanya Kiai Badra.
"Sebuah sendang alam. Beberapa puluh
patok dari tempat itu terdapat sebuah gerojogan di lereng tebing yang tidak
terlalu tinggi. Meskipun gerojogan itu tidak terlalu besar, tetapi gerojogan itu
adalah sumber air bagi sendang yang dikelilingi batang preh yang besar. Memang
ada beberapa mata air kecil di antara pohon-pohon raksasa itu. Tetapi air yang
paling banyak datang dari gerojogan itu," berkata yang tertua.
"TEMPAT perjudian itu ada dimana?" desak
Kiai Badra. "Memang dibangun rumah secara khusus. Dari sendang itu terdapat
jalan kecil menuju ke tempat perjudian yang terletak di tengah-tengah hutan di
lereng Gunung Kukusan itu," jawab orang itu.
Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya,
"Aku akan pergi ke tempat itu. Aku akan menjadi anggota baru. Tetapi dalam waktu
dekat aku akan menguras semua uang yang ada di tempat perjudian itu dengan sah.
Seperti yang aku katakan, aku selalu berjudi dengan jujur, karena itu adalah
landasan kemenanganku."
Nampaknya ada sesuatu yang ingin
dikatakan oleh yang muda di antara kedua bersaudara itu. Tetapi setiap kali
niatnya itu diurungkan. Bahkan kakaknya seakan-akan memberikan isyarat
kepadanya, agar ia tidak mengatakan sesuatu.
Kiai Badra yang sudah mendapat keterangan
tentang lingkungan perjudian itu pun segera minta diri. Ia akan melanjutkan
perjalanannya membawa Iswari ke sebuah padepokan kecil untuk bertemu dengan anak
laki-lakinya yang sedang menempa diri.
"Silakan Kiai," berkata kedua orang itu
hampir berbareng.
Namun sepeninggal Kiai Badra, yang muda
dari kedua bersaudara itu berkata, "Apakah orang itu mungkin dapat mencapai
lingkungan yang dimaksud kakang?"
"Maksudmu?" bertanya kakaknya.
"Bukankah tidak seorang pun yang
diperkenankan memasuki lingkungan itu tanpa ditanggung oleh salah seorang yang
sudah dipercaya oleh para anggota yang lain? Jika orang tua itu pergi sendiri
kesana tanpa orang lain yang dapat menanggungnya, maka ia agaknya akan mati
terbunuh," berkata yang muda.
Tetapi kakaknya justru tertawa
berkepanjangan. Katanya, "Apa salahnya jika orang tua yang sombong itu mati
dibantai oleh para penjaga rumah perjudian itu? Orang itu tidak akan mengganggu
kita lagi."
Yang muda mengerutkan keningnya. Namun
kemudian katanya sambil mengangguk-angguk, "Kau benar. Biar saja orang itu mati
dirampok oleh para petugas yang kasar dan tamak itu. Mereka mendapat wewenang
untuk membunuh. Dan mereka tentu dengan senang hati melakukannya karena dengan
demikian mereka akan dapat mengambil uang yang dibawa oleh orang tua itu.
Sebagai seorang yang akan memasuki daerah perjudian, maka orang tua itu tentu
membawa uang cukup banyak."
"Nah, sudahlah. Kita tidak perlu
memikirkannya," berkata yang tua. "Orang itu tentu akan dihancurkan. Kita tidak
akan diganggu lagi dengan bermacam-macam pertanyaan dan bahkan barangkali pada
suatu saat ia merencanakan untuk memeras kita. Mereka dapat menakut-nakuti
dengan berbagai macam kelemahan kita disini, sebagaimana dilakukan baru-baru
saja untuk memaksa kita menyebut tempat perjudian itu."
Keduanya pun kemudian tertawa pendek
sambil mengangguk-angguk. Yang mudalah yang berdesis, "Nasibnya agaknya memang
buruk."
Sementara itu Kiai Badra dan Iswari telah
melanjutkan perjalanan. Mereka menembus gelapnya malam menuju ke sebuah
padepokan yang terpencil letaknya, tetapi tidak terpencil dalam pergaulan di
Kademangan yang berada disebelah padepokan itu.
Namun perjalanan keduanya masih
membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan untuk memasuki tempat
perjudian yang memang dibuat ditempat yang tersembunyi itu.
"Apakah kakek yakin akan dapat
berhubungan dengan anak laki-laki yang bernama Puguh itu?" bertanya Iswari.
"Mudah-mudahan kita dapat berhubungan
dengan anak itu," jawab Kiai Badra. "Bahkan kita berniat untuk dapat mengetahui,
dimana ia tinggal. Mudah-mudahan dengan demikian kita akan dapat menemukan
persembunyian orang tuanya."
Iswari mengangguk-angguk. Katanya,
"Apakah kakek akan memasuki daerah perjudian itu sendiri? Dan apakah menurut
kakek, tidak ada kesulitan apapun jika kakek akan menjadi anggota baru dari
tempat perjudian itu?"
***
"TEMPAT perjudian itu ada dimana?" desak
Kiai Badra. "Memang dibangun rumah secara khusus. Dari sendang itu terdapat
jalan kecil menuju ke tempat perjudian yang terletak di tengah-tengah hutan di
lereng Gunung Kukusan itu," jawab orang itu.
Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya,
"Aku akan pergi ke tempat itu. Aku akan menjadi anggota baru. Tetapi dalam waktu
dekat aku akan menguras semua uang yang ada di tempat perjudian itu dengan sah.
Seperti yang aku katakan, aku selalu berjudi dengan jujur, karena itu adalah
landasan kemenanganku."
Nampaknya ada sesuatu yang ingin
dikatakan oleh yang muda di antara kedua bersaudara itu. Tetapi setiap kali
niatnya itu diurungkan. Bahkan kakaknya seakan-akan memberikan isyarat
kepadanya, agar ia tidak mengatakan sesuatu.
Kiai Badra yang sudah mendapat keterangan
tentang lingkungan perjudian itu pun segera minta diri. Ia akan melanjutkan
perjalanannya membawa Iswari ke sebuah padepokan kecil untuk bertemu dengan anak
laki-lakinya yang sedang menempa diri.
"Silakan Kiai," berkata kedua orang itu
hampir berbareng.
Namun sepeninggal Kiai Badra, yang muda
dari kedua bersaudara itu berkata, "Apakah orang itu mungkin dapat mencapai
lingkungan yang dimaksud kakang?"
"Maksudmu?" bertanya kakaknya.
"Bukankah tidak seorang pun yang
diperkenankan memasuki lingkungan itu tanpa ditanggung oleh salah seorang yang
sudah dipercaya oleh para anggota yang lain? Jika orang tua itu pergi sendiri
kesana tanpa orang lain yang dapat menanggungnya, maka ia agaknya akan mati
terbunuh," berkata yang muda.
Tetapi kakaknya justru tertawa
berkepanjangan. Katanya, "Apa salahnya jika orang tua yang sombong itu mati
dibantai oleh para penjaga rumah perjudian itu? Orang itu tidak akan mengganggu
kita lagi."
Yang muda mengerutkan keningnya. Namun
kemudian katanya sambil mengangguk-angguk, "Kau benar. Biar saja orang itu mati
dirampok oleh para petugas yang kasar dan tamak itu. Mereka mendapat wewenang
untuk membunuh. Dan mereka tentu dengan senang hati melakukannya karena dengan
demikian mereka akan dapat mengambil uang yang dibawa oleh orang tua itu.
Sebagai seorang yang akan memasuki daerah perjudian, maka orang tua itu tentu
membawa uang cukup banyak."
"Nah, sudahlah. Kita tidak perlu
memikirkannya," berkata yang tua. "Orang itu tentu akan dihancurkan. Kita tidak
akan diganggu lagi dengan bermacam-macam pertanyaan dan bahkan barangkali pada
suatu saat ia merencanakan untuk memeras kita. Mereka dapat menakut-nakuti
dengan berbagai macam kelemahan kita disini, sebagaimana dilakukan baru-baru
saja untuk memaksa kita menyebut tempat perjudian itu."
Keduanya pun kemudian tertawa pendek
sambil mengangguk-angguk. Yang mudalah yang berdesis, "Nasibnya agaknya memang
buruk."
Sementara itu Kiai Badra dan Iswari telah
melanjutkan perjalanan. Mereka menembus gelapnya malam menuju ke sebuah
padepokan yang terpencil letaknya, tetapi tidak terpencil dalam pergaulan di
Kademangan yang berada disebelah padepokan itu.
Namun perjalanan keduanya masih
membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan untuk memasuki tempat
perjudian yang memang dibuat ditempat yang tersembunyi itu.
"Apakah kakek yakin akan dapat
berhubungan dengan anak laki-laki yang bernama Puguh itu?" bertanya Iswari.
"Mudah-mudahan kita dapat berhubungan
dengan anak itu," jawab Kiai Badra. "Bahkan kita berniat untuk dapat mengetahui,
dimana ia tinggal. Mudah-mudahan dengan demikian kita akan dapat menemukan
persembunyian orang tuanya."
Iswari mengangguk-angguk. Katanya,
"Apakah kakek akan memasuki daerah perjudian itu sendiri? Dan apakah menurut
kakek, tidak ada kesulitan apapun jika kakek akan menjadi anggota baru dari
temapt perjudian itu?"
"TENTU ada kesulitannya," berkata Kiai
Badra. "Tetapi kita dapat mencoba. Mungkin bukan aku sendiri untuk menghindarkan
pengenalan Puguh atau keluarganya yang akan dapat membaca wajahku dari
keterangan mereka yang melihatku. Meskipun aku sudah menjadi semakin tua, tetapi
jika mereka cukup cermat menceritakan bagian-bagian dari keadaanku, Ki
Randukeling tentu akan dapat mengenalnya."
Iswari mengangguk-angguk. Tetapi ia pun
masih bertanya, "Siapa yang akan datang ke tempat perjudian itu?"
"Mungkin Sambi Wulung dan Jati Wulung.
Tetapi juga bukan Gandar," berkata Kiai Badra.
Iswari masih mengangguk-angguk. Katanya,
"Mungkin tempat itu akan sangat berbahaya bagi orang baru."
"Aku sudah menduganya. Tempat yang
demikian merupakan tempat yang tidak terjangkau oleh paugeran dari manapun juga.
Tidak dari paugeran Pajang dan tidak pula terjangkau oleh kekuasaan Madiun,"
berkata Kiai Badra.
Iswari mengangguk-angguk. Dengan nada
rendah ia berkata, "Tempat itu mempunyai paugeran sendiri yang harus ditaati
oleh semua orang yang berada di dalam lingkungannya."
"Ya. Tetapi orang yang memiliki kekuatan
yang melampaui kekuatan orang lain akan dapat menentukan paugeran sekehendak
hatinya sendiri. Siapa yang kuat, ialah yang berkuasa," sahut Kiai Badra.
"Seperti paugeran di dalam rimba atas
binatang-binatang liar," desis Iswari. "Bahwa binatang yang kuat akan
mengorbankan binatang-binatang yang kecil bagi kepentingan dirinya.
Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya,
"Itulah gambaran kehidupan di tempat perjudian itu. Sama sekali tidak ada
perlindungan terhadap yang lemah. Siapa yang memasuki tempat itu harus merasa
dirinya kuat dan berani menghadapi kekuatan lain yang ada pula di dalamnya.
Dalam keadaan terbatas mereka memang menaati paugeran yang mereka buat bersama.
Tetapi pada keadaan yang khusus, maka terjadilah kekuasaan sebagaimana terjadi
menurut paugeran rimba belantara."
Iswari adalah seorang yang memiliki ilmu
yang sangat tinggi. Tetapi mendengar keterangan kakeknya itu merasa juga
kulitnya meremang. Justru karena ia seorang perempuan.
"Sayang," berkata Iswari. "Aku tentu
tidak mungkin berada di tempat itu."
"Ya," berkata Kiai Badra. "Bukan karena
ditempat itu tidak ada seorang perempuan yang menjadi gila karena perjudian,
tetapi ciri-cirimu akan cepat dikenali oleh keluarga Puguh jika ia bercerita
tentang seorang perempuan ditempat perjudian."
"Apakah ada juga perempuan ditempat itu?"
bertanya Iswari.
"Mungkin ada juga satu dua orang.
Perempuan yang memiliki ilmu dan keberanian. Tetapi juga memiliki sifat-sifat
yang kasar dan keras," jawab Kiai Badra.
Iswari mengangguk-angguk. Namun ia
sependapat dengan kakeknya.Para pengawal remaja yang bernama Puguh itu akan
dapat menyebut ciri-cirinya sehingga ia akan dapat dikenali oleh Ki Randukeling
atau Warsi.
Sambil membicarakan beberapa kemungkinan,
maka akhirnya mereka pun mendekati padepokannya yang terpencil di dalam
lingkungan Kademangan Bibis. Namun yang semakin lama rasa-rasanya menjadi
semakin dekat dan semakin akrab dengan seluruh isi Kademangan itu.
Namun ternyata bahwa mereka tidak dapat
mencapai padepokan itu dihari yang masih gelap. Ketika matahari terbit, mereka
masih berada di perjalanan. Namun Kiai Badra tidak begitu cemas lagi, bahwa
kehadirannya akan menarik perhatian orang lain. Orang-orang Bibis yang berada di
sawah tidak akan heran melihat ia lewat pada saat yang bagaimana pun juga. Jika
orang-orang Bibis perhatiannya tertarik, tentu karena ia berjalan dengan seorang
laki-laki yang agak aneh menurut pandangan mereka dan belum pernah mereka kenal
sebelumnya.
TETAPI untunglah bahwa Iswari mampu
menempatkan dirinya. Jika mereka berpapasan orang yang berada di sawah di
lingkungan Kademangan Bibis dan bertanya kepada mereka, maka Iswari tidak pernah
mengucapkan jawaban. Kiai Badralah yang selalu menjawab semua pertanyaan,
sementara Iswari hanya mengangguk hormat sambil tersenyum.
"Cucuku memang seorang pemalu," desis
Kiai Badra yang dikenal dengan nama Kiai Tapis oleh orang-orang Bibis.
Seseorang yang tidak mengetahui bahwa
Kiai Badra sedang melakukan perjalanan bertanya dengan heran, "Jadi Kiai untuk
beberapa hari tidak ada di padepokan?"
"Ya," jawab Kiai Tapis. "Tetapi masih ada
yang lain. Aku hanya pergi sendiri."
"Tetapi ketika Kiai kembali, tidak
sendiri," berkata orang itu.
Kiai Tapis tertawa. Katanya, "Sudahlah.
Ternyata aku merasa kantuk sekali."
"Salah Kiai sendiri," berkata orang itu.
"Kenapa berjalan di malam hari? Bukankah lebih enak berjalan disiang hari."
"Di malam hari udara terasa sejuk
sekali," berkata Kiai Tapis.
"Tetapi akibatnya Kiai akan selalu
terkantuk-kantuk untuk tiga hari tiga malam," sahut orang itu.
Kiai Tapis tidak menjawab. Tetapi ia
hanya tersenyum saja. Keduanya pun kemudian melanjutkan, perjalanan. Semakin
tinggi matahari, maka mereka pun menjadi semakin dekat dengan padepokan kecil
yang dibuat oleh Kiai Tapis dilingkungan kademangan Bibis.
Ketika mereka memasuki padepokan itu,
maka isi padepokan itupun terkejut. Mereka tidak mengira bahwa Kiai Badra akan
datang bersama Iswari.
Risang sendiri terkejut bukan buatan. Ia
memang sudah sangat rindu kepada ibunya. Karena itu, ketika ia melihat ibunya
datang bersama kakeknya, maka ia pun telah berlari menyongsongnya dan memeluknya
erat-erat, seakan-akan tidak akan dilepaskannya lagi.
Iswari pun sangat rindu pula kepada
anaknya. Karena itu, maka ia pun telah memeluk anaknya pula. Sambil mencium
keningnya ia bertanya, "Bagaimana dengan kau Risang?"
Risang menarik nafas dalam-dalam. Ketika
ia melepaskan pelukannya, maka ia pun menjawab, "Baik ibu."
"Kau senang tinggal disini?" bertanya
ibunya.
"Senang sekali ibu. Apalagi jika ibu juga
tinggal disini," jawab Risang.
Ibunya tersenyum. Diusapnya kepala
anaknya sambil berkata, "Sebenarnya ibu senang pula tinggal di padepokan seperti
ini."
Risang memandang wajah ibunya sejenak.
Dilihatnya mata ibunya menjadi basah. Namun bibirnya yang tersenyum kemudian
berkata, "Kau tampak segar Risang."
"Lingkungan ini memang memberikan
kesegaran ibu," jawab Risang.
Kiai Badra mengangguk-angguk melihat
keduanya. Katanya kemudian, "Marilah. Masuklah ke rumah anakmu."
Iswari pun kemudian bersama Risang,
Gandar dan Kiai Badra sendiri segera naik ke pendapa. Sementara itu Sambi Wulung
dan Jati Wulung pun telah menyusul pula.
Untuk beberapa saat mereka saling
mengucapkan selamat. Baru kemudian Kiai Badra berkata, "Aku minta kalian
memberikan perhatian khusus bagi Iswari. Ia bukan seorang perempuan
disini.Tetapi seorang laki-laki. Para cantrik tidak boleh mengetahui bahwa ia
adalah ibu Risang. Jika didengar oleh orang-orang Kademangan dan
membicarakannya, mungkin pada satu saat akan sampai juga ke telinga Warsi dan Ki
Randukeling."
"Tetapi bukankah Risang memang mempunyai
seorang ibu?" bertanya Gandar.
"Iswari telanjur datang dalam ujud yang
demikian," berkata Kiai Badra. "Dan bukankah dalam waktu beberapa hari, selama
ia berada disini, ia dapat selalu mengenakan pakaian seorang laki-laki?"
***
Jika terpaksa berbicara, maka suaranya
tentu suara seorang perempuan," desis Sambi Wulung. "Ia adalah seorang laki-laki
pemalu yang jarang sekali berbicara," jawab Kiai Badra.
"Agaknya aku akan mengalami kesulitan
dengan ujudku," berkata Iswari sambil tersenyum.
"Tidak," jawab Kiai Badra. "Tetapi jika
kau berada di halaman atau di kebun, kau harus membawa seorang atau lebih kawan
yang akan menjawab semua pertanyaan orang-orang yang menemuimu."
"Baiklah," berkata Iswari. "Aku akan
berusaha untuk tidak sangat menarik perhatian. Namun kemudian ia pun bertanya,
"Lalu siapa aku disini?"
"Kau adalah paman Risang yang disini
dikenal bernama Barata. Kau datang dari Pajang untuk menengoknya," jawab Kiai
Badra.
Iswari mengangguk-angguk. Namun katanya,
"Tetapi bukankah orang lain yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang
aku?"
"Ya," Kiai Badra pun tertawa.
Demikianlah, maka Iswari untuk beberapa
hari berada di padepokan itu. Meskipun ia tidak bebas untuk melihat-lihat isi
padepokan itu seorang diri, namun untuk beberapa lama ia masih tetap dapat
bertahan untuk tidak berbicara sepatah kata pun dengan para penghuni padepokan
itu. Sikapnya memang memberikan kesan bahwa ia adalah seorang yang sangat
pemalu.
Namun dalam pada itu, ternyata ada
beberapa hal yang sempat mereka bicarakan. Agaknya Kiai Badra lebih tertarik
untuk berbicara tentang tempat perjudian itu daripada keinginan Risang untuk
mendirikan satu perguruan tersendiri di padepokan itu.
Karena itu, maka Kiai Badra justru telah
membicarakannya lebih dahulu dengan orang-orang terdekat di padepokan itu
bersama dengan Iswari.
"Kita berkepentingan untuk melihat tempat
itu," berkata Kiai Badra.
"Aku setuju kek," sahut Risang. "Aku akan
ikut pergi ke tempat itu."
"Ah, kau," desis Kiai Badra. "Kau masih
terlalu kanak-kanak untuk melihat tempat perjudian yang agaknya dibayangi oleh
sikap-sikap keras dan kasar itu."
Risang mengerutkan keningnya. Tetapi ia
tidak menjawab.
Sementara itu Kiai Badra dan Iswari
agaknya terlalu berhati-hati untuk berbicara secara terbuka sepenuhnya dengan
kehadiran Risang. Bahkan keduanya sama sekali belum menyebut nama Puguh yang
menjadi sasaran utama pengamatan mereka. Meskipun Risang tahu serba sedikit,
bahwa ada orang yang tidak menyenanginya serta tidak menghendaki kehadirannya di
Sembojan, tetapi bagi remaja itu, semuanya masih belum diungkapkan sepenuhnya
untuk menjaga perasaan dan sikapnya.
Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung
agaknya tanggap juga akan hal itu, sehingga pembicaraan mereka terbatas pada
tempat perjudian itu sendiri sebagai sasaran. Meskipun secara terpisah mereka
telah mendengar apa yang sebenarnya mereka kehendaki ditempat itu.
Namun ada juga cara untuk menyisihkan
Risang dari pembicaraan itu. Ketika Iswari minta agar Risang memetik jambu air
untuknya, maka Risang itu pun telah meninggalkan pertemuan itu..
***
"INGAT, tidak untuk ibumu. Tetapi untuk
pamanmu," berkata Iswari sambil menepuk bahu anaknya. Risang tertawa. Ia sama
sekali tidak menduga, bahwa itu hanyalah satu cara untuk menyingkirkannya dari
pembicaraan itu.
Tanpa Risang maka pembicaraan itu dapat
lebih terbuka. Agaknya Kiai Badra telah langsung mengarah kepada penugasan untuk
melihat-lihat lingkungan yang sangat berbahaya itu.
"Kami akan dengan senang hati
melakukannya," berkata Sambi Wulung.
"Kita akan menilai, manakah yang lebih
menguntungkan jika kalian atau aku sendiri yang pergi," berkata Kiai Badra.
"Bukankah kakek tidak ingin dikenali oleh
para pengikut Ki Randukeling?" bertanya Iswari.
"Jika aku yang pergi, tentu tidak
memasuki tempat perjudian itu sendiri. Tetapi aku harus melihatnya dari luar
lingkungan," jawab Kiai Badra.
Iswari mengangguk-angguk. Namun kemudian
katanya, "Bagaimana jika kita pergi bersama-sama? Maksudku aku dan kakek berada
di luar dan mengamati tempat itu dari jarak tertentu, sedangkan Sambi Wulung dan
Jati Wulung akan masuk ke dalamnya"
Kiai Badra merenung sejenak. Ketika
memandang wajah Gandar maka kelihatannya Gandar mengerutkan dahinya. Bahkan ia
pun kemudian bertanya, "Lalu, aku bagaimana?"
Kiai Badra tersenyum. Katanya, "Risang
memerlukan kawan disini. Ia masih belum dapat dilepaskan sendiri. Bersamamu maka
ia akan dapat berbuat sesuatu. Bukan saja bagi padepokan ini, tetapi juga untuk
meningkatkan ilmunya."
Gandar menarik nafas dalam-dalam. Ia
memang tidak dapat berlaku seperti anak-anak yang merajuk karena ditinggal pergi
ke pasar oleh ibunya.
Ternyata bahwa Kiai Badra pun cenderung
melakukannya seperti yang dikatakan oleh Iswari. Tetapi menurut Kiai Badra tidak
sebaiknya bersama Iswari. Karena itu katanya, "Iswari. Bukan maksudku untuk
mengecilkan kemampuanmu. Tetapi kau adalah Pemangku Jabatan Kepala Tanah
Perdikan Sembojan. Sementara itu kita masih belum tahu, apa yang ada di sekitar
tempat perjudian yang kasar itu. Jika kita terjebak dalam persoalan yang
berkepanjangan, maka kau akan meninggalkan Sembojan terlalu lama."
"Bukankah aku sudah menyerahkan
kepemimpinan kepada orang-orang yang aku tinggalkan?" bertanya Iswari.
"Tetapi Pemangku yang sah adalah kau,"
jawab Kiai Badra.
Iswari menarik nafas dalam-dalam.
Sementara itu Kiai Badra pun berkata, "Karena itu, sebaiknya kau kembali ke
Tanah Perdikan. Tentu saja setelah kau berada di padepokan ini untuk beberapa
hari. Aku akan pergi bersama Sambi Wulung dan Jati Wulung. Namun dengan acara
yang berbeda."
Iswari mengangguk-angguk kecil.
Sebenarnya ia ingin pergi bersama kakeknya untuk melihat tempat perjudian
sebagaimana disebut oleh dua orang kakak beradik yang menjadi sasaran kemarahan
para pengikut seorang laki-laki remaja yang bernama Puguh. Seorang remaja yang
mungkin merupakan orang yang penting dalam garis kehidupan Risang. Namun memang
mungkin juga terjadi kekeliruan, karena remaja yang bernama Puguh itu sekedar
persamaan nama.
Tetapi agaknya kakeknya tidak sependapat,
sehingga pada saatnya ia harus kembali dan berada di antara orang-orang Tanah
Perdikan Sembojan.
Ketika kemudian Risang kembali dengan
membawa sebakul kecil jambu air yang masak dan berwarna merah, maka agaknya
sudah ditemukan satu keputusan, bahwa Kiai Badra akan pergi juga ke tempat yang
pernah disebut sebagai tempat perjudian itu bersama Sambi Wulung dan Jati
Wulung. Namun Kiai Badra akan merupakan seorang pengunjung gelap bagi tempat
itu, sementara Sambi Wulung dan Jati Wulung akan dengan terbuka berusaha
memasukinya.
Dalam pada itu, ketika Risang telah duduk
di antara mereka, pembicaraan mereka pun telah bergeser. Mereka mulai
membicarakan keinginan Risang untuk mendirikan satu perguruan tersendiri di
padepokan itu.
***
BANYAK pertimbangan yang telah diberikan.
Namun akhirnya Iswari berkata, "Apakah perguruan itu kelak akan kau tinggalkan
begitu saja jika saatnya datang kau harus berada di Sembojan?" "Jika aku harus
kembali ke Sembojan, lalu bagaimana dengan padepokan ini?" bertanya Risang
pula.
Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam.
Namun kemudian katanya, "Risang. Sejak semula, kita tidak ingin mendirikan satu
padepokan yang akan kita huni untuk seterusnya. Jika padepokan ini kelak kita
tinggalkan, maka padepokan ini akan menjadi hadiah yang sangat menyenangkan bagi
orang-orang Bibis. Ki Demang Bibis akan dapat menjadikan padepokan ini sebagai
tempat untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan anak-anak mudanya. Tetapi
jika kita sudah menyatakan untuk mendirikan satu perguruan, maka perguruan itu
harus diusahakan agar langgeng dan bukan sekadar permainan untuk sesaat."
"Apakah sebuah perguruan tidak boleh
berpindah tempat?" bertanya Risang. "Seandainya padepokan ini menjadi perguruan,
lalu pada kesempatan lain perguruan itu berpindah ke Sembojan, apakah tidak
mungkin."
Kiai Badra mengangguk-angguk. Sambil
memandang Iswari ia menjawab, "Memang mungkin. Pusat sebuah perguruan memang
mungkin berpindah tempat."
"Nah, jika demikian, apakah
keberatannya?" bertanya Risang.
Kiai Badra masih mengangguk-angguk. Namun
kemudian katanya, "Risang. Kemungkinan itu dapat saja dijajagi. Tetapi kita
memerlukan waktu untuk memikirkannya masak-masak. Sebuah perguruan akan
menyangkut hari depan sekelompok orang. Bukan sekadar desakan keinginan."
"Sudah tentu, kek," jawab Risang. "Kita
akan memikirkannya. Mungkin berlama-lama sampai kita menemukan sesuatu yang akan
dapat menentukan ujud dari perguruan itu."
"Jika demikian, baiklah," berkata Iswari.
"Tetapi dengan satu pengertian, bahwa padepokan ini bukan satu-satunya tempat
bagi perguruan itu."
"Jadi ibu sependapat," bertanya Risang.
"Sebut dengan paman," desis Kiai Badra.
"Disini tidak ada orang lain," sahut
Risang.
Iswari tersenyum. Katanya, "Aku
sependapat Risang. Mungkin perguruan itu akan memberikan arti bagi perkembangan
dan pelestarian ilmu Janget Kinatelon."
Kiai Badralah yang kemudian mengerutkan
keningnya sambil menyahut, "Kaulah orang yang memiliki ilmu itu."
Iswari menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, "Jika Risang telah sampai waktunya untuk berada di kedudukannya, maka
aku kira padepokan dan sebuah perguruan akan memberikan arti bagi sisa hidupku."
"Ibu," desis Risang, "Itukah yang ibu
kehendaki?"
"Memang sebuah perguruan bukan tempat
sekadar wadah untuk mengumpulkan beberapa orang. Tetapi harus dengan penglihatan
panjang ke depan," berkata Iswari. "Dan itu sangat menarik."
Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya,
"Jika demikian baiklah. Kita akan memikirkannya dengan sungguh-sungguh. Menyusun
tataran-tataran pengetahuan bagi para cantrik, serta kedudukan mereka di dalam
lingkungan perguruan."
"Aku adalah cantrik yang tertua," berkata
Sambi Wulung.
Namun Jati Wulung menyahut, "Apakah kami
belum ketinggalan seandainya kami akan menyatakan diri sebagai cantrik yang
pertama?"
Iswari tertawa. Katanya, "Paman memang
aneh. Paman adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Jika
cantrik-cantrik dari perguruan itu setingkat dengan paman berdua, maka perguruan
kami akan menjadi perguruan yang luar biasa kuatnya."
"Akulah yang paling tua," sahut Gandar.
"Tentu saja bukan umurnya, tetapi aku berada di lingkungan ini lebih dahulu dari
Ki Sambi Wulung dan Ki Jati Wulung, meskipun agaknya umurku lebih muda." .
***
Kiai Badra dan Risang pun akhirnya
tertawa juga, sementara Gandar berkata pula. "Kita kelak akan menentukan,
siapakah yang tertua di antara kita. Kita akan berlomba lari mengelilingi
bukit." Tetapi Sambi Wulung menjawab, "Tidak. Bukan berlomba lari. Tetapi kita
akan berjudi saja. Mungkin setelah aku keluar dari rumah perjudian itu aku akan
menjadi semakin terampil."
Risang pun kemudian tertawa
berkepanjangan. Dengan nada tinggi ia berkata, "Nah, jika demikian kita akan
dapat membayangkan, perguruan apakah yang kira-kira akan berdiri."
Namun dalam pembicaraan yang singkat itu
dapat diambil satu kesimpulan bahwa orang-orang yang ikut dalam pembicaraan
telah berniat untuk membicarakan lagi dengan lebh terperinci kemungkinan untuk
mendirikan sebuah perguruan. Satu langkah yang besar tidak dapat dilakukan
dengan serta merta dan tanpa persiapan dan perhitungan yang matang.
Tetapi yang dalam waktu dekat harus
segera dilakukan adalah usaha untuk memasuki tempat perjudian sebagaimana
dikatakan oleh dua orang kakak beradik yang mempunyai persoalan dengan para
pengawal Puguh.
Demikianlah maka selama Iswari berada di
padepokan itu, selain melepaskan kerinduan kepada anaknya, ia pun telah
mengikuti beberapa pembicaran serta mengambil beberapa kesimpulan. Tentang
perguruan yang akan direncanakan pelaksanaannya, tidak terlalu mengikat
waktunya. Namun mereka tidak dapat berlama-lama dengan rencana mereka untuk
melihat dan mengamati tempat perjudian yang akan dapat menjadi jembatan untuk
melacak jejak Puguh. Jika mereka berhasil, maka hal itu akan merupakan sebagian
dari langkah-langkah pengamanan bagi Risang dan juga bagi Tanah Perdikan
Sembojan.
Setelah beberapa lama Iswari berada di
padepokan, serta rasa-rasanya kerinduannya kepada anaknya telah terlepas dari
perasaannya, maka ia pun telah memutuskan untuk kembali ke Tanah Perdikan.
Sementara itu Kiai Badra pun telah menentukan pula rencana untuk pergi ke tempat
perjudian di kaki Gunung Kukusan itu.
"Kita berangkat bersama-sama," berkata
Kiai Badra kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung. Lalu, "Kita singgah di Sembojan
untuk berbicara dengan Kiai Soka dan Nyai Soka. Kemudian kita akan melanjutkan
perjalanan ke kaki Gunung Kukusan itu."
Namun sebelum mereka berangkat, ternyata
mereka telah mendengar satu berita yang mendebarkan dari Ki Demang di Bibis.
Ternyata telah tersebar berita, bahwa terjadi sedikit persoalan di Pajang.
Langit yang cerah seakan-akan telah menjadi mendung.
"Ki Pemanahan telah meninggalkan istana
Pajang," berkata Ki Demang.
"Kenapa?" bertanya Kiai Badra.
"Agaknya sesuatu telah terjadi. Mungkin
kesalahpahaman. Tetapi mungkin pula orang tua itu telah tersinggung
perasaannya," berkata Ki Demang.
Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam.
Bukan saja berita itu membuatnya berdebar-debar. Tetapi ternyata bahwa hubungan
antara Tanah Perdikan Sembojan dan Pajang telah menjadi semakin jauh pula.
Mungkin justru karena keadaan menjadi bertambah baik, sehingga rasa-rasanya
tidak ada persoalan lagi yang harus dibicarakan. Bantuan Pajang yang lambat laun
tidak diperlukan secara mutlak, membuat jarak antara Tanah Perdikan dengan
Pajang. Dengan demikian maka perkembangan yang terjadi di Pajang, tidak segera
diketahui oleh Tanah Perdikan Sembojan.
"Ki Lurah Reksabaya tidak pernah
mengatakannya," desis Iswari pada kesempatan lain. "Sejak ia berada di Tanah
Perdikan Sembojan menggantikan petugas dari Pajang yang terdahulu, ia banyak
memberikan penjelasan tentang perkembangan yang terjadi di Pajang. Tetapi Ki
Lurah tidak pernah menyebut peristiwa yang mendebarkan itu, meskipun hampir
setiap pekan, Ki Lurah kembali ke Pajang."
"Kau dapat bertanya kepadanya," berkata
Kiai Badra. "Mungkin dengan sengaja Ki Lurah menyembunyikan peristiwa itu."
ISWARI mengangguk-angguk. Katanya,
"Baiklah aku sampai ke Tanah Perdikan Sembojan, maka aku akan segera
menemuinya." Kiai Badra mengangguk-angguk pula. Katanya, "Jika terjadi lagi
pergolakan, maka persoalannya akan dapat menyangkut Tanah Perdikan Sembojan.
Sementara ini kita masih menunggu Risang cukup dewasa untuk ditetapkan memegang
pimpinan di Tanah Perdikan Sembojan sebagai Kepala Tanah Perdikan. Tetapi jika
terjadi sesuatu atas pemegang pimpinan di Pajang, maka akan dapat memancing niat
Warsi untuk kembali ke Tanah Perdikan sambil membawa Puguh."
"Mungkin," berkata Iswari.
"Setidak-tidaknya kedudukan Tanah Perdikan Sembojan akan dapat terguncang."
"Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu di
Pajang. Jika yang terjadi sekadar salah paham, mudah-mudahan akan segera dapat
diselesaikan," berkata Kiai Badra. "Kita tahu, bahwa Sultan Hadiwijaya maupun Ki
Gede Pemanahan adalah orang-orang yang cukup matang jiwanya. Langkah-langkahnya
tidak akan sekadar dilandasi oleh perasaan. Tetapi tentu sudah dengan
perhitungan yang mapan."
"Justru itu," desis Iswari. "Jika Ki Gede
Pemahanan meninggalkan Pajang, tentu telah diperhitungkannya masak-masak sebab
dan akibatnya.
Kiai Badra mengangguk-angguk. Namun
mereka tidak membiarkannya lebih mendalam ketika Risang kemudian datang dan
berada di antara mereka.
Yang kemudian mereka bicarakan adalah
rencana mereka untuk berangkat meninggalkan padepokannya.
Sampai saatnya Iswari meninggalkan
padepokan, tidak seorang pun yang mengetahui, bahwa Iswari adalah seorang
perempuan. Bukan saja orang-orang Kademangan Bibis yang memang melihat kehadiran
seseorang di padepokan termasuk Ki Demang. Tetapi orang-orang padepokan sendiri
menganggap bahwa paman Barata itu adalah seorang yang pemalu, bahkan sebagian
dari mereka menganggapnya sebagai orang yang sangat sombong.
Sebenarnya Risang menginginkan bahwa
ibunya berada di padepokan itu lebih lama lagi. Tetapi ia pun mengerti, bahwa
ibunya mengemban tugas yang lebih berat di Tanah Perdikan Sembojan, tidak dapat
terlalu lama meninggalkan tugasnya itu.
Padepokan itu pun kemudian terasa sepi
ketika Kiai Badra, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah berangkat bersama Iswari
yang akan kembali ke Sembojan. Yang tinggal di padepokan itu tinggal Gandar
menemaninya.
Namun ternyata bahwa Risang mampu mengisi
waktu-waktunya yang terasa sepi itu dengan memasuki sanggarnya bersama Gandar.
Kesendiriannya justru telah membuatnya semakin tekun tanpa mengenal waktu,
sehingga kadang-kadang justru Gandar telah memperingatkannya, bahwa ia
memerlukan istirahat.
"Kita memang harus bekerja keras Risang.
Tetapi kau tidak dapat melampaui batas kekuatan wadagmu. Memang kemampuan wadag
itu pun dapat ditingkatkan. Tetapi pada batas tertentu, maka kita tidak akan
dapat memaksanya lebih jauh lagi. Karena sebenarnyalah kita, manusia adalah
dalam serba keterbatasan," berkata Gandar.
Risang mengangguk-angguk. Sementara
Gandar berkata pula, "Jika kita melupakan hal itu Risang, maka justru wadag kita
tidak akan dapat mendukung keinginan kita. Itulah sebabnya, maka Kiai Badra
menentukan cara-cara dan waktu yang tertentu dan terbatas. Namun keterikatan
pada rencana yang mapan, akan banyak membantu peningkatan kemampuan."
Risang mengangguk-angguk pula. Katanya,
"Jika kemampuan sedang melonjak, rasa-rasanya tubuh ini tidak mau dikekang
lagi."
"Namun kita tidak boleh lepas dari
penalaran," berkata Gandar kemudian.
"Aku mengerti," berkata Risang.
"Aku tidak berkeberatan kau meningkatkan
usaha untuk mempercepat penguasaan dasar ilmu yang ditentukan bagimu. Namun
tidak dengan memaksakan wadagmu," berkata Gandar pula.
"Baiklah," sahut Risang. "Namun aku
memerlukan waktu-waktu khususku untuk menambah latihan-latihan dari sekadar
kebiasaan seperti sebelumnya. Rasa-rasanya padepokan ini menjadi semakin sepi
jika aku terlalu banyak beristirahat."
***
"AKU akan membantumu," berkata Gandar
kemudian. Lalu katanya, "Memperdalam ilmu bukannya harus dilakukan dengan
mempergunakan wadag kita. Kita dapat duduk merenungi langkah-langkah yang dapat
kita lakukan. Kau dapat membuat perhitungan nalar dengan ilmu yang sudah kau
miliki. Mungkin kau dapat membuat lukisan-lukisan sederhana tentang gerak dan
sikap. Bahkan kau dapat mempergunakan kesempatan seperti itu untuk mengenali
tubuhmu lebih banyak. Kau akan dapat mencari kesadaran kekuatan dan menemukan
titik-titik yang paling lemah sebagaimana pernah diberitahukan oleh Kiai Badra
kepadamu."
Risang mengerutkan keningnya. Namun
kemudian wajahnya menjadi berseri. Katanya, "Aku mengerti. Aku akan dapat
mengisi seluruh waktuku."
Tetapi Gandar menggeleng. Katanya,
"Bagaimana pun juga, kau memerlukan waktu yang cukup untuk beristirahat, agar
wadagmu tidak menjadi korban kemauanmu yang tidak terkendali. Jika wadagmu
mengalami kesulitan, maka apa yang dapat kau lakukan dengan ilmumu? Memang
mungkin ada satu dua orang yang kehilangan kemampuan wadag, namun masih dapat
mempergunakan ilmunya dengan tajam. Tetapi salah satu sarana penting bagi
hidupnya telah tidak mampu dipergunakannya sebagaimana sewajarnya. Tentu akan
lebih memiliki wadag yang baik daripada wadag yang cacat atau tidak dapat
dipergunakan sepenuhnya dalam tataran ilmu yang sama.
Risang mengangguk-angguk. Namun ia sudah
menemukan satu cara yang baik untuk berlatih agar wadagnya tidak mengalami
keletihan yang berlebihan.
Dalam kesempatan tertentu Risang memang
telah membuat gambar sederhana langkah dan sikap. Ia tidak saja membentuk
dirinya dengan latihan-latihan. Tetapi ia berusaha untuk dapat mengembangkan
kemampuan dasarnya dengan goresan-goresan. Dengan penalaran dan pengamatan yang
cermat.
Pada kesempatan lain, dicobanya
gambar-gambar yang dibuatnya itu dengan gerak-gerak wadagnya di dalam sanggar
dibawah pengamatan Gandar.
Dengan demikian maka Risang tidak saja
mengembangkan ilmunya atas dasar penemuannya di saat-saat latihan, tetapi juga
berdasarkan atas penalarannya.
Gandar yang mengamati cara Risang
berlatih itu ternyata menganggap bahwa Risang akan dapat maju dengan cepat.
Sementara itu ilmu yang dikembangkannya pun cukup berbobot, karena dilakukan
lewat dua jalur. Perhitungan nalarnya dan latihan-latihan kewadagan. Bagi Risang
dan Gandar latihan memang bukan sekadar mengulang-ulang gerak yang sudah
dipahami. Tetapi di saat-saat latihan, ilmu itu sendiri memang harus berkembang.
Apalagi telah dialasi dengan perhitungan sebelumnya, sesuai dengan pengenalan
Risang atas keadaan tubuh yang diamati pada tubuhnya sendiri disamping
pengenalannya sebagaimana diberitahukan oleh Kiai Badra, Gandar, Sambi Wulung
dan Jati Wulung. .
***
DENGAN cermat Risang berusaha mengenali
bagian-bagian tubuhnya yang paling lemah. Sasaran-sasaran utama yang mematikan
serta sasaran-sasaran lain yang dapat menghambat gerak lawan. Dari Kiai Badra,
Risang sudah mengenal beberapa simpul syaraf yang dapat membuat lawannya tidak
lagi mampu meneruskan perlawanannya. Risang memang belum dapat dengan tepat
menekan titik-titik kelemahan seperti yang pernah diberitahukan kepadanya. Ia
memang masih harus berlatih jauh lebih banyak untuk dapat dengan sentuhan ujung
jarinya membuat lawannya seakan-akan tertidur atau mengalami kelumpuhan
sementara pada seluruh tubuhnya atau sebagian saja.
Namun di samping latihan-latihan
kewadagan, Kiai Badra pun telah menuntun Risang untuk melakukan semedi.
Pemusatan nalar budi untuk memandang hakekat dari persoalan yang dihadapinya
sehingga mengental di dalam dirinya.
Tetapi lebih daripada itu semua, maka
Risang tidak pernah melupakan bahwa ia harus menyembah kepada sumber hidupnya.
Saat-saat ia harus hadir dihadapan-Nya dan menghubungkan diri dengan-Nya. Bahkan
bukan hanya sesaat-sesaat, namun sebagaimana diajarkan oleh Kiai Badra, bahwa
semuanya itu harus tercermin di dalam sikap hidupnya sehari-hari.
Dengan demikian maka Risang pun telah
tumbuh dalam keseimbangan antara perkembangan wadagnya, ilmunya dan nilai-nilai
jiwaninya.
Dalam pada itu, Iswari yang telah
menempuh perjalanan dengan selamat, telah berada di Tanah Perdikan Sembojan.
Kiai Badra memang sempat berbicara dengan Kiai Soka dan Nyai Soka atas rencana
untuk mengamati tempat perjudian itu. Bahkan ternyata bahwa Kiai Soka telah
tertarik pula untuk ikut pergi bersamanya.
"Remaja-remaja yang rindu bertamasya,"
desis Nyai Soka.
Kiai Soka tersenyum, katanya, "Jika
saatnya nanti dewasa, maka aku akan bertamasya dengan kau, dara yang menginjak
usia mekarnya."
Kiai Soka dan Iswari tertawa
berkepanjangan. Namun Nyai Soka masih sempat juga berkelakar, "Tetapi jangan
terlalu lama. Kau harus ingat, bahwa aku menunggumu."
Kiai Soka dan Kiai Badra pun tertawa
pula.
Demikianlah, maka empat orang telah
meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan menuju ke kaki Gunung Kukusan. Mereka harus
menemukan Kademangan Nggebayan. Kemudian mereka akan naik ke lambung Gunung
melewati padukuhan-padukuhan kecil, sehingga akhirnya mereka akan sampai ke
padukuhan kecil yang bernama Muncar.
Sementara itu, maka Iswari telah
menghubungi seorang perwira prajurit Pajang yang berada di Tanah Perdikan
Sembojan untuk meyakinkan, apakah berita yang didengarnya dari Ki Demang Bibis
itu benar.
Ketika hal itu ditanyakan kepada Ki Lurah
Reksabaya, maka Ki Lurah itu pun termangu-mangu. Dengan nada ragu ia justru
bertanya, "Apa hal itu penting bagi Nyai?"
"Ki Lurah," berkata Iswari. "Bukankah
bagiku lebih baik mendengarnya langsung dari para pejabat di Pajang daripada
sekadar desas-desus?"
Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, "Baiklah Nyai. Aku kira memang demikian. Sebaiknya Nyai mendengarnya
langsung daripada cerita-cerita yang mungkin telah berkembang atau susut."
"Karena itulah maka aku menemui Ki Lurah.
Selama ini Ki Lurah tidak pernah mengatakan sesuatu," berkata Nyai Wiradana.
"Aku selama ini menganggap bahwa hal itu
tidak begitu penting bagi Tanah Perdikan ini. Namun setelah Nyai mendengar
sebagian dari orang lain, maka sebaiknya aku memang memberitahukannya," berkata
Ki Lurah.
"Jadi, bagaimana yang terjadi
sebenarnya?" bertanya Iswari.
"Memang Ki Gede Pemanahan telah
meninggalkan Pajang. Tidak ada pesan yang ditinggalkan. Tetapi menurut dugaan
kami, Ki Gede merasa kecewa, bahwa setelah berjuang untuk menegakkan Pajang
bahkan sejak gugurnya Arya Penangsang dari Jipang yang sudah sekian tahun, tanah
Mentaok masih belum diberikan."
"Mentaok?" bertanya Iswari.
***
"TENTU Nyai sudah mendengar, bahwa
sebagian pertanda terima kasih Sultan Pajang atas perjuangan yang tidak mengenal
lelah itu Ki Gede Pemanahan dan Ki Penjawi maka Sultan telah menjanjikan
memberikan penghargaan Tanah Pati memang telah diberikan oleh Sultan Hadiwijaya
kepada Ki Penjawi dan bahkan telah menjadi semakin besar. Tetapi Mentaok sampai
sekarang masih belum diterima oleh Ki Gede Pemanahan," berkata Ki Lurah
Reksabaya.
"Itukah tujuan pengabdian Ki Gede
Pemanahan?" bertanya Iswari.
"Tidak. Tentu bukan," jawab Ki Lurah. "Ki
Pemanahan telah mengabdi dengan tulus. Tidak ada pamrihnya sama sekali di
saat-saat perjuangan yang berat itu berlangsung. Namun kemudian terjadilah
perkembangan yang tidak dikehendaki oleh semua pihak. Justru karena Pati telah
diserahkan. Seakan-akan Sultan Hadiwijaya, sebagai seorang Raja, telah ingkar
janji. Padahal menurut keyakinan kita, sabda pendita ratu. Ki Gede Pemanahan
mulai merasa dikesampingkan dari janji yang semula tidak diharapkannya, sehingga
akhirnya puncak kekecewaannya justru mencengkamnya setelah beberapa orang
membicarakannya."
Iswari mengangguk-angguk. Katanya,
"Menurut tangkapanku, Ki Lurah agaknya menganggap bahwa Ki Gede Pemanahan berada
di pihak yang benar sementara Sultan Pajanglah yang telah mengingkarinya."
"Nyai. Yang aku katakan ini adalah justru
keterangan yang diberikan oleh Sultan sendiri," berkata Ki Lurah. "Tentu saja
dengan penjelasan, bahwa Sultan sama sekali tidak berniat untuk mengingkari
janjinya. Mentaok masih berujud hutan belantara. Penduduknya baru sedikit dan
perkembangan daerah itu memang lamban. Sultan Hadiwijaya ingin menunggu sampai
Tanah Mentaok itu menjadi lebih ramai dan terasa hidup."
Iswari mengangguk-angguk. Katanya, "Jadi
seorang Ki Gede Pemanahan masih juga kehilangan kesabarannya?"
"Banyak persoalan yang mempengaruhinya,"
berkata Ki Lurah. "Sehingga akhirnya terjadilah seperti yang terjadi itu. Ki
Gede meninggalkan Pajang tanpa dapat dicegah lagi."
Iswari menarik nafas dalam-dalam. Dengan
nada rendah ia berkata, "Apakah akan timbul persoalan baru lagi? Pajang
rasa-rasanya masih baru mulai berkembang. Waktu yang ada rasa-rasanya menjadi
terlalu pendek meskipun terasa juga aku semakin tua. Risang tumbuh semakin
besar."
"Kadang-kadang kita memang berpacu dengan
waktu. Kadang-kadang kita terasa waktu itu berjalan lama sekali, terutama disaat
kita menunggu. Namun waktu itu berjalan cepat seperti bayangan jika kita
mengenang masa lalu," desis Ki Lurah.
"Ya Ki Lurah," sahut Iswari. Lalu,
"Tetapi langkah-langkah apakah yang akan diambil oleh Pajang?"
"Agaknya Sultan Hadiwijaya tidak pernah
berniat untuk ingkar janji. Kanjeng Sultan telah memutuskan untuk memberikan
Tanah Mentaok itu secepatnya kepada Ki Gede, kapan saja dikehendaki," jawab Ki
Lurah.
"Agaknya Ki Gede Pemanahan memang tidak
ingin menunggu tanah itu menjadi ramai. Menurut pendengaranku, Ki Gede Pemanahan
dengan para pengikutnya sudah siap untuk menebang hutan dan menjadikan sebuah
negeri. Bahkan Sultan Hadiwijaya pernah mengatakan, jika Ki Gede Pemanahan
berniat demikian, akan ada baiknya bagi Pajang. Orang yang sudah mulai memadat,
akan dapat bergeser membuka tanah baru di Mentaok. Tanah pertanian yang menjadi
semakin sempit, akan menjadi luas dan mereka yang tidak akan lagi mempunyai
tanah garapan yang cukup, akan dapat menentukan masa depannya di Tanah Mentaok
itu."
Iswari mengangguk-angguk. Dengan demikian
ia sudah mendapat gambaran yang lebih jelas tentang sikap Ki Gede Pemanahan.
Agaknya Sultan di Pajang tidak berniat untuk mempersulit dan mempertajam
persoalan.
"Mudah-mudahan persoalan itu cepat
selesai," berkata Iswari. .
***
"MUDAH-MUDAHAN. Menurut dugaan kami, Ki
Gede pun akan segera memahami keadaan dan tidak akan melakukan langkah-langkah
yang dapat menimbulkan kesulitan," berkata Ki Lurah selanjutnya. "Tetapi
entahlah putera Ki Gede Pemanahan yang selama ini telah dianggap putera Sultan
Hadiwijaya itu sendiri."
"Siapa?" bertanya Iswari.
"Reden Sutawijaya yang bergelar Mas
Ngabehi Loring Pasar," jawab Ki Lurah.
"Bagaimana dengan sikap Raden
Sutawijaya?" bertanya Iswari.
"Mungkin karena kemudaannya," jawab Ki
Lurah. "Sikapnya agaknya lebih keras dari sikap ayahnya."
Iswari mengangguk-angguk kecil. Tetapi ia
pun kemudian berdesis, "Tetapi bagaimana keadaan Pajang sekarang? Maksudku
apakah hal itu mempengaruhi kehidupan sehari-hari?"
"Tidak," jawab Ki Lurah. "Kehidupan
sehari-hari berjalan seperti biasanya. Tidak ada pengaruh yang langsung atas
kehidupan itu."
"Syukurlah," Iswari mengangguk-angguk.
"Jika terjadi goncangan-goncangan di ujung kepala, maka ekornya pun akan ikut
terguncang pula sebagaimana saat terjadi pertentangan antara Pajang dan Jipang."
"Aku mengerti kecemasan Nyai," sahut Ki
Lurah. "Tetapi agaknya tidak akan terjadi kegoncangan yang lebih besar."
Iswari berdesis perlahan, "Mudah-mudahan.
Tanah Perdikan ini baru mulai mapan. Anak-anak yang hilang dan kembali ke ayah
bundanya, baru menyesuaikan dirinya. Demikian pula anak-anak muda Tanah Perdikan
baru berusaha untuk melupakan pertentangan yang pernah terjadi."
"Sebagaimana Nyai ketahui, Ki Gede
Pemanahan dan Kanjeng Sultan di Pajang adalah saudara seperguruan. Mereka tidak
akan pernah melupakannya. Karena itu, maka keduanya tentu tidak akan berpegang
pada sikap masing-masing yang mutlak," berkata Ki Lurah.
"Sekali lagi, mudah-mudahan putera Ki
Gede Pemanahan itu pun tidak bersikap terlalu keras," desis Iswari.
Ki Lurah hanya mengangguk-angguk saja.
Namun memang terbayang diwajahnya kecemasannya tentang Raden Sutawijaya yang
bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar itu. Meskipun belum dikatakan kepada Iswari,
namun Ki Lurah itu mengerti kekerasan sikap anak muda itu. Pada satu saat,
ketika beberapa orang perwira muda berada di paseban, menjelang hadirnya Kanjeng
Sultan, bergurau dan mengatakan bahwa Alas Mentaok hanya berisi harimau dan
anjing hutan, mungkin beruk atau rusa dan bahwa Mentaok tidak akan pernah
menjadi ramai, apalagi menjadi sebuah negeri, maka Raden Sutawijaya dengan marah
meninggalkan paseban sambil bersumpah, bahwa Raden Sutawijaya tidak akan
menginjak paseban itu lagi sebelum Alas Mentaok menjadi negeri yang ramai. Sikap
itu dilakukan justru sebelum ayahandanya, Ki Gede Pemanahan meninggalkan Pajang.
Namun Ki Lurah tidak mengatakannya.
Iswari yang melihat sesuatu terkilas di wajah Ki Lurah, bertanya, "Apakah ada
sesuatu yang ingin Ki Lurah katakan?"
"Tidak. Tidak ada apa-apa lagi. Itulah
keadaan yang sebenarnya terjadi di Pajang. Sekali lagi, jangan mencemaskannya,"
sahut Ki Lurah.
Iswari mengangguk-angguk. Namun ia memang
menjadi sedikit tenang setelah mendengar langsung keterangan dari Ki Lurah
Reksabaya yang bertugas di Tanah Perdikan Sembojan.
Sementara itu, yang berada di perjalanan
menuju ke Kademangan Nggebayan telah membagi diri. Sambi Wulung dan Jati Wulung
menempuh jalan yang berbeda dengan Kiai Badra dan Kiai Soka. Sambi Wulung dan
Jati Wulung berusaha untuk dapat memasuki tempat perjudian yang juga merupakan
tempat sabung ayam itu melalui pintu. Sementara Kiai Badra dan Kiai Soka akan
mengamatinya dari jarak tertentu.
Namun Kiai Badra telah berpesan kepada
Sambi Wulung dan Jati Wulung, agar mereka berhati-hati. Tentu tidak mudah untuk
dapat memasuki tempat itu tanpa ada seorang pun yang pernah dikenalnya atau
bahkan dapat menanggungnya.
MEREKA ternyata tidak terlampau sulit
untuk menemukan Kademangan Nggebayan. Baik Sambi Wulung dan Jati Wulung, maupun
Kiai Badra dan Kiai Soka. Ternyata mereka tidak datang bersamaan di Kademangan
itu. Kiai Badra dan Kiai Soka memasuki Kademangan itu sehari kemudian setelah
Sambi Wulung dan Jati Wulung.
Namun Kiai Badra dan Kiai Soka masih
melihat bekas-bekas kehadiran Sambi Wulung dan Jati Wulung. "Gaya Sambi Wulung
dan Jati Wulung memang ngedab-edabi," desis Kiai Soka. Kiai Badra hanya
tersenyum saja. Sementara itu kedua orang tua itu telah berada di banjar
Kademangan Nggebayan. Dengan senang hati, penunggu banjar itu memberi tempat
kepada kedua orang tua itu untuk menginap. Dari penunggu banjar itu Kiai Badra
dan Kiai Soka mendengar cerita, apa yang terjadi di banjar itu sehari sebelum
mereka datang. "Dua orang gila kemarin mengamuk disini," berkata penunggu banjar
itu. "Kenapa?" bertanya Kiai Badra. "Kami tidak tahu sebab-sebabnya," jawab
penunggu banjar itu. "Namun tiba-tiba saja terjadi perselisihan antara dua orang
yang menginap disini dengan beberapa orang lainnya." "Bukan dengan orang-orang
Kademangan ini?" bertanya Kiai Badra. "Tidak. Bukan dengan orang-orang
Kademangan ini," jawab penunggu banjar itu. "Oh, bukankah dengan demikian mereka
telah mengganggu ketenangan Kademangan ini?" bertanya Kiai Soka. Penunggu banjar
itu menarik nafas dalam-dalam. Namun sambil mengeluh ia berkata, "Hal seperti
itu sudah sering terjadi di Kademangan ini." "O," Kiai Soka menjadi heran.
"Kenapa sering terjadi?" Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian
diamatinya kedua orang itu dengan wajah tegang. Lalu katanya dengan nada
bimbang. "Jangan-jangan aku juga berhadapan dengan orang-orang serupa dengan
orang-orang gila itu?" "Ah, kami adalah orang-orang tua," desis Kiai Badra.
"Yang mengamuk juga orang-orang tua, meskipun belum setua Ki Sanak berdua,"
jawab penunggu banjar itu. Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Kami
datang dalam keadaan kami seperti ini. Apakah yang dapat kami lakukan? Bukan
maksud kami ingin tahu segala-galanya. Tetapi justru karena kami berada ditempat
ini." Penjaga itu masih nampak ragu-ragu. Namun dimatanya, kedua orang itu
orang-orang yang sudah terlalu tua. Karena itu, maka penjaga itu tidak menaruh
curiga kepada keduanya, bahwa keduanya akan membuat persoalan di Kademangan itu.
Apalagi sekadar mendengarkan cerita tentang peristiwa-peristiwa yang pernah
terjadi di Kademangan itu. Sejenak penunggu banjar itu masih ragu-ragu. Namun
kemudian katanya, "Ki Sanak. Kademangan ini merupakan pintu gerbang yang menuju
ke lingkungan yang mengerikan di lambung Gunung Kukusan itu." "O, tentang apa?"
bertanya Kiai Soka. "Ki Sanak," berkata orang itu. "Di daerah Song Lawa ada
sebuah tempat yang merupakan sumber dari segala keributan itu." "Song Lawa?"
bertanya keduanya hampir berbareng. "Ya. Jika mendaki kaki Gunung Kukusan ini
melalui padukuhan-padukuhan Muncar, maka kalian akan sampai ke satu tempat yang
bernama Song Lawa. Tempat untuk menyabung ayam dan tempat perjudian yang
tersembunyi," berkata penunggu banjar itu. "O, tempat menyabung ayam," sahut
Kiai Badra. "Menyenangkan sekali. Aku di waktu muda juga sering melihat sabung
ayam. "Apakah kami boleh melihat sabung ayam itu?" "Jangan mimpi orang-orang
tua," berkata penunggu banjar itu. .
SELAIN tempat sabung ayam dan tempat
berjudi, maka tempat itu juga merupakan tempat pembantaian yang semena-mena.
Tidak ada paugeran yang berlaku ditempat itu. Semuanya dapat berbuat apa saja
menurut keinginan sendiri. Yang kuat akan dapat menentukan kemauannya apa saja.
yang lemah harus licik agar tetap dapat hidup ditempat itu. Mereka harus mampu
mengambil hati agar mendapat perlindungan, atau mengupah orang-orang untuk
menjaga keselamatannya."
"O, sangat mengerikan," desis Kiai Soka.
"Apakah tempat seperti itu dibiarkan saja oleh Ki Demang di Nggabayan ini?"
"Apa yang dapat kami lakukan?" desis
penunggu banjar itu. "Di Kademangan ini tidak ada orang yang cukup kuat untuk
mengatasinya. Apalagi daerah Song Lawa itu tidak berada di kukuban Kademangan
Nggabayan. Namun akibat dari tempat sabung ayam dan perjudian itu sangat tidak
menyenangkan bagi kami disini."
"Apa yang ki Sanak katakan sering terjadi
itu?" bertanya Kiai Badra.
"Orang-orang yang akan pergi ke Song Lawa
biasanya melalui Kademangan ini. Jika beberapa kelompok di antara mereka bertemu
disini dan mereka berniat bermalam di banjar ini, maka kadang-kadang mereka
sudah berselisih sebelum mereka sampai ditempat perjudian itu. Mereka sudah
berkelahi disini dan kadang-kadang benar-benar membuat orang-orang ngGebayan ini
menjadi gila."
"Orang-orang yang memuakkan," desis Kiai
Soka.
"Jangan berkata begitu dihadapan orang
lain yang belum kau kenal. Jika kebetulan kau bertemu dengan orang seperti yang
kemarin datang kemari, maka kau akan mengalami nasib yang buruk."
"Siapa?" bertanya Kiai Badra.
"Tidak ada orang yang tahu. Tetapi
perselisihan itu tiba-tiba terjadi di banjar ini," berkata penunggu banjar itu.
Lalu, "Tetapi sungguh luar biasa. Dua orang yang nampaknya kakak beradik. Apakah
saudara kandung atau sekadar saudara seperguruan. Mereka bertempur melawan lebih
dari lima orang. Tetapi keduanya itu mengamuk seperti orang gila. Bukan hanya
kelima orang itu saja. Tetapi sekelompok lain yang juga tidak tahu sebabnya
telah terlibat pula."
"Bukan main," desis Kiai Soka.
"Ternyata dua orang itu mampu mengalahkan
lawan-lawannya. Mereka melukai lebih dari tiga orang. Seorang terbunuh dan yang
lain melarikan diri," berkata penunggu banjar itu. Lalu ia pun bercerita lebih
lanjut, "Ki Sanak. Disini mereka mulai bertempur. Memang tidak tahu sebabnya.
Tetapi dua orang itu telah menebar. Yang seorang berada di sudut halaman yang
sebelah sana, yang lain disebelah ini."
Kiai Badra dan Kiai Soka pun kemudian
mengangguk-angguk dengan penuh perhatian.
Sementara itu, penunggu banjar itu pun
telah bercerita dengan penuh minat pula. Katanya, "Aku belum pernah melihat
orang segarang mereka berdua."
"Apa yang dilakukan?" bertanya Kiai Soka.
(Bersambung
PENUNGGU banjar itu pun menceritakan apa
yang telah dilihatnya di banjar itu. Dua orang yang disebut kakak beradik itu
tiba-tiba saja telah memencar. Beberapa orang lain telah membagi diri. Sehingga
setiap orang dari kedua kakak beradik itu harus melawan masing-masing tiga
orang. Tetapi yang tiga orang itu tidak mampu menundukkan kedua orang yang
disebut kakak beradik itu.
Meskipun orang-orang yang mengeroyoknya
itu juga bukan orang kebanyakan, namun agaknya mereka tidak memiliki ilmu yang
setingkat dengan kedua orang kakak beradik itu.
"Dengan pedang di tangan keduanya
benar-benar mengerikan," berkata penunggu banjar itu lebih lanjut. Lalu katanya
pula, "Ketika seorang terbunuh dan yang lain luka-luka, maka orang-orang itu
mulai bergeser menjauh. Mereka berusaha untuk berlindung di banjar, sementara
ada sekelompok orang lain di banjar ini. Kedua orang itu tiba-tiba telah
mengamuk. Semua orang mereka lawan dengan garangnya. Orang-orang yang semula
tidak terlibat itu pun terpaksa melibatkan dirinya pula. Sehingga dengan
demikian hiruk pikuk telah terjadi."
"Memang mengerikan," desis Kiai Soka.
"Tetapi apakah yang terbunuh itu orang yang akan pergi ke Song Lawa?"
"Ya. Mereka adalah pejudi-pejudi yang
memang sudah kami kenal. Hanya dua orang itu sajalah yang agaknya belum pernah
melalui jalur ini," berkata penunggu banjar itu.
Namun menurut ciri-ciri yang
diceritakannya, Kiai Badra dan Kiai Soka yakin bahwa keduanya adalah Sambi
Wulung dan Jati Wulung yang agaknya dengan cepat mendahului kedua orang tua itu
mencapai Kademangan Nggebayan sehari sebelum keduanya sampai.
Tetapi penunggu banjar itu tidak
bercerita lebih panjang. Ia hanya mengatakan bahwa orang-orang disekitar banjar
itu terpaksa mengubur orang yang terbunuh kemarin.
Namun penunggu banjar itu memang orang
yang baik. Kiai Badra dan Kiai Soka telah diajaknya untuk pergi ke belakang
banjar. Di dapur mereka diberi makan dan minum secukupnya.
"Tidak semua orang yang menginap aku
suguhi makan dan minum," berkata penunggu banjar itu. "Apalagi jika mereka
datang berkelompok. Aku dapat menjadi miskin jika aku harus menyediakan makan
bagi setiap orang. Kecuali mereka yang memang memesan kepadaku untuk menyediakan
makan dan minum dengan memberikan imbalan secukupnya."
"Ada juga yang berbuat demikian?"
bertanya Kiai Badra.
"Ya," jawab penunggu banjar itu.
"Biasanya mereka tidak terlalu hemat dengan uang. Apalagi jika mereka yang turun
dari Song Lawa dan membawa kemenangan. Biasanya mereka memberikan uang tanpa
menghitung dan memesan jenis makanan yang mahal-mahal."
"Apa itu merupakan satu keuntungan atau
hanya menambah beban kerja saja bagi Ki Sanak?" bertanya Kiai Soka sambil
tersenyum.
"Ah kau," desis penunggu banjar itu.
"Agaknya karena itu aku tetap disini. Jika tidak ada penghasilan khusus seperti
itu, aku tidak akan berada disini. Hampir setiap pekan sekali tentu terjadi
perselisihan disini. Aku dapat membayangkan, apa yang terjadi di Muncar bahkan
di Song Lawa sendiri."
"Tetapi apakah Kademangan ini
satu-satunya jalan menuju ke Song Lawa?" bertanya Kiai Badra.
"Tidak," jawab orang itu. "Sebagian lagi
tidak melewati Kademangan ini. Ada yang mengambil jalan pintas meskipun agak
sulit. Tetapi sebagian dari mereka lebih senang berjalan lewat Kademangan ini.
Mereka yang ingin beristirahat disini, dapat mempergunakan banjar ini. Meskipun
sebenarnya banjar ini tidak disediakan bagi mereka. Mula-mula kami memang
berkeberatan. Tetapi beberapa orang telah memaksa, sementara kami tidak dapat
berbuat apa-apa. Ki Jagabaya pernah dipukuli oleh sekelompok penjudi karena Ki
Jagabaya berusaha mengusir mereka dari banjar ini. Sejak itu, maka banjar ini
terbuka bagi mereka. Meskipun agak terpaksa."
KIAI BADRA dan Kiai Soka
mengangguk-angguk. Namun mereka telah mendapat sedikit gambaran tentang tempat
sabung ayam dan tempat perjudian yang ternyata mempunyai nama tersendiri, Song
Lawa. Namun yang agaknya memberikan kesan tentang kehidupan di tempat terpencil
itu.
Ketika Kiai Badra dan Kiai Soka telah
selesai makan, maka mereka dipersilakan untuk pergi ke serambi samping banjar
Kademangan itu.
Namun ketika keduanya ke luar dari dapur,
maka mereka terkejut karena hadirnya beberapa orang berkuda di halaman.
"Empat orang," berkata Kiai Badra.
Sebelum Kiai Badra sempat menjawab, maka
tiba-tiba seorang di antara para penunggang kuda itu meloncat turun sambil
memanggil, "He, kau kemarilah."
Kiai Badra dan Kiai Soka saling
berpandangan sejenak. Namun justru karena keduanya tidak segera mendekat, orang
itu berteriak lebih keras, "he, kemarilah kau."
Namun untunglah bahwa suara itu didengar
oleh penunggu banjar itu. Karena itu, maka ia pun telah ke luar dari dapur.
"Biarlah aku yang mendekat," berkata
penunggu banjar itu.
Ternyata bahwa orang itu tidak berteriak
lagi setelah seseorang mendekatinya.
Penunggu banjar yang sudah terlalu sering
berhubungan dengan bermacam-macam watak orang, sama sekali tidak merasa canggung
berhadapan dengan orang-orang berkuda itu. Bahkan ketika ia melihat salah
seorang yang masih duduk di punggung kuda, ia pun menyapanya dengan akrab," Kau
Kiai."
Orang itu pun tertawa. Katanya, "Aku
datang lagi untuk menebus kekalahanku."
"Maksud kedatangan Ki Sanak semuanya?"
bertanya penunggu banjar itu.
"Kami ingin beristirahat disini sebelum
besok kami akan naik. Kami akan meninggalkan kuda-kuda kami disini. Kuda sebaik
kudaku akan dapat menimbulkan persoalan di Song Lawa," berkata orang yang sudah
meloncat turun dari kudanya itu.
Penunggu banjar itu mengerutkan
keningnya. Katanya, "Tetapi tidak ada orang yang dapat mengamati kuda-kuda itu
disini. Apalagi jika ada orang yang nampak tertarik kepada kuda-kuda itu. Mereka
akan dengan serta merta mengambilnya tanpa dapat aku cegah."
"Kau takut," bertanya orang itu.
Penunggu banjar itu termangu-mangu
sejenak. Namun itu pun kemudian tertawa sambil menjawab, "Tentu. Aku tidak
mempunyai bekal apapun untuk melakukannya."
Orang yang disebutnya Kiai itu pun
tertawa. Katanya, "Ia berkata jujur. Memang tidak akan dapat mencegah seandainya
seseorang akan mengambilnya."
"Lalu?" bertanya kawannya.
"Ada dua pilihan. Kita tinggalkan dengan
kemungkinan diambil orang lain, atau kita akan membawanya dan mempertahankannya
jika ada orang yang menginginkannya," sahut yang disebut Kiai itu.
Namun sebelumnya orang yang sudah turun
dari kudanya itu menjawab, maka yang lain telah meloncat turun pula sambil
berkata, "Kita pikirkan besok. Sekarang kita beristirahat disini. Makan dan
tidur."
"Baiklah," berkata orang yang dipanggil
Kiai itu. "Kita akan beristirahat sampai besok."
Demikianlah, maka mereka pun kemudian
mengikat kuda-kuda mereka pada patok-patok yang sudah disediakan. Seorang di
antara mereka kemudian telah memberikan beberapa keping uang sambil berkata,
"Sediakan makan buat kami. Jika makan yang kau masak itu tidak enak, awas."
Penunggu banjar itu tertawa. Katanya,
"Jangan cemas. Aku adalah juru masak terbaik di Kademangan ini."
"Aku percaya," berkata orang yang
dipanggil Kiai itu. "Tetapi jangan terlalu lama. Kau dapat segera menangkap
paling sedikit dua ekor ayam."
***
"Tentu. Aku sudah menyisihkan ayam yang
paling baik buat kalian sekarang ini. Aku sudah mengira bahwa musim sabung ayam
kali ini, kalian juga akan datang. Terutama Kiai Windu." Orang yang dipanggil
Kiai Windu itu tertawa. Katanya, "Sudah aku katakan. Aku ingin menebus
kekalahanku."
"Atau memperdalam jurang yang sudah
digalinya," sahut seorang kawannya.
Yang lain pun tertawa pula.
Sejenak kemudian maka orang-orang itu
telah masuk ke ruang dalam banjar Kademangan itu. Mereka mendapat sebuah bilik
yang cukup besar untuk mereka berempat.
Sementara itu, penunggu banjar itu telah
meninggalkan keempat tamunya. Ia singgah sejenak di serambi sambil berdesis,
"Aku telah mendapatkan uang itu tanpa berjudi di Song Lawa. Meskipun tidak
banyak, tetapi jika sering terjadi maka aku akan dapat menabung serba sedikit."
Kiai Badra tersenyum sambil berkata,
"Ternyata ada juga imbalannya. Jika hal itu terjadi setiap hari, maka kau memang
akan dapat menjadi kaya.
"Tetapi setiap kali ada juga orang-orang
gila seperti yang kemarin singgah. Jangankan memberi uang. Tamu-tamuku yang lain
menjadi bercerai-berai. Bahkan ditinggalkannya sesosok mayat di banjar ini."
"Semacam neraca. Kau memang tidak boleh
menjadi terlalu kaya," berkata Kiai Soka.
"Ya. Sekali-kali aku memang harus
mengumpati orang-orang seperti itu," geram penunggu banjar itu.
"Seperti yang mengamuk itu?" bertanya
Kiai Soka pula.
"Ya. Bahkan telah merusak pula,"
keluhnya.
Kiai Badra dan Kiai Soka hanya
mengangguk-angguk saja. Sementara itu penunggu banjar itu berkata, "Sudahlah.
Aku akan menangkap dua ekor ayam."
"Apakah kami dapat membantu?" bertanya
Kiai Badra dan Kiai Soka hampir berbareng.
"Kalian mau membantu apa?" bertanya
penunggu banjar itu.
"Menangkap ayam atau barangkali menanak
nasi atau apa?" jawab Kiai Badra.
"Semua harus aku kerjakan sendiri untuk
menjaga agar masakan yang akan aku suguhkan kepada orang-orang itu masakan yang
paling enak yang pernah mereka jumpai," jawab penunggu banjar itu.
"Yang harus memasak suguhan itu kau atau
istrimu?" bertanya Kiai Badra.
"Aku sendiri. Isteriku tidak dapat masak.
Bahkan menanak nasi pun tidak dapat," jawab penunggu banjar itu. Namun katanya
kemudian, "Beristirahatlah. Uang yang diberikan cukup untuk menyediakan makan
dan minum termasuk kalian berdua."
Orang itu tidak menunggu Kiai Badra dan
Kiai Soka menjawab. Ia pun segera melangkah pergi untuk menangkap dua ekor ayam.
Kiai Badra dan Kiai Soka yang berada di
serambi sebentar kemudian telah mendengar orang-orang yang berada di dalam
banjar itu berkelakar menurut cara mereka. Suara mereka bagaikan memenuhi banjar
itu, bahkan mengumandang keras sekali.
Kata-kata yang kasar terlontar dari mulut
mereka diselingi suara tertawa dan umpatan-umpatan yang menggetarkan telinga.
"Satu gambaran kecil dari tempat yang
disebut Song Lawa itu," berkata Kiai Badra.
"Ya. Kekerasan, kekerasan dan kata-kata
yang kotor," desis Kiai Soka.
Malam itu, Kiai Badra dan Kiai Soka ikut
mendapat suguhan sebagaimana empat orang yang bermalam di banjar itu. Ternyata
penunggu banjar itu tidak hanya menyembelih dua ekor ayam. Tetapi tiga ekor
ayam. Dengan demikian maka Kiai Badra dan Kiai Soka ikut pula bujana bersama
keempat orang itu meskipun ditempat yang berbeda.
Namun pagi-pagi benar Kiai Badra dan Kiai
Soka telah mohon diri kepada penunggu banjar itu. Dengan berulang kali
mengucapkan terima kasih akhirnya Kiai Badra berkata, "Kami mohon diri untuk
meneruskan pengembaraan kami.
"KI SANAK," berkata penunggu banjar itu.
"Sebenarnya Ki Sanak berdua ini akan pergi kemana. Kalian sudah terlalu tua
untuk mengembara. Apakah kalian tidak mempunyai sanak kadang yang dapat menjadi
tumpuan di akhir hayat kalian?"
"Kami memang pengembara Ki Sanak," jawab
Kiai Badra. "Tetapi pada saatnya kami memang harus menentukan sikap untuk
mengakhiri pengembaraan kami."
"Tetapi sampai kapan? Kalian berdua sudah
terlalu tua. Keriput wajah kalian serta rambut kalian yang sudah menjadi seperti
kapas itu membuat hati ini menjadi iba melihat kalian berjalan menyusuri
jalan-jalan padukuhan. He, apakah yang kalian makan disepanjang perjalanan?"
Kedua orang tua itu tersenyum. Sekali
lagi Kiai Soka mengucapkan terima kasih dengan tulus. Katanya, "Ki Sanak. Ki
Sanak terlalu baik kepada kami. Jika ada kesempatan, kami ingin singgah lagi di
padukuhan ini. Sekarang kami mohon diri. Sebenarnya terbesit keinginan kami
untuk melihat sabung ayam di Song Lawa. Tetapi cerita Ki Sanak tentang Song Lawa
membuat kami takut mendekat."
"Jangan pergi kesana," berkata penunggu
banjar itu. "Keempat orang itu adalah contoh dari orang-orang yang berada di
tempat sabung ayam dan perjudian itu. Kasar dan keras. Lebih dari itu, tempat
itu dikawal oleh orang-orang yang bersenjata dan tidak kenal belas kasihan.
Mereka adalah pembunuh-pembunuh yang tidak tahu akan arti tindakannya."
"Tentu tidak Ki Sanak. Tidak ada
keberanian kami untuk pergi kesana. Atau mungkin kami sudah tidak mampu untuk
mendaki jalan yang menanjak menuju ke padukuhan Muncar untuk kemudian mencapai
tempat yang mengerikan itu," berkata Kiai Soka.
Ketika Kiai Badra dan Kiai Soka melangkah
turun ke halaman, maka penunggu banjar itu berkata, "Selamat jalan kakek-kakek
tua. Semoga kalian selamat sampai ke rumah kalian."
Kiai Badra dan Kiai Soka termangu-mangu
ketika penunggu banjar itu memberikan beberapa keping uang kepada mereka sambil
berkata, "Mungkin kalian haus di perjalanan. Jika sekali-kali kalian ingin
membeli minuman panas, uang ini mungkin akan berarti bagi kalian."
Keduanya tidak dapat menolak. Justru
untuk tidak menarik perhatian. Namun penunggu banjar itu memberikan uangnya
dengan ikhlas pula, sehingga memang tidak sepantasnya untuk tidak diterima.
Demikianlah, sambil sekali lagi mengucap
terima kasih maka Kiai Badra dan Kiai Soka itu telah meninggalkan banjar
menyusuri jalan padukuhan, sementara hari masih gelap.
Ketika kedua orang itu ke luar dari
padukuhan induk Kademangan Nggebayan, maka Kiai Soka itu pun berdesis, "Orang
itu sangat baik."
"Ya. Agaknya ia memang orang yang baik
hati," jawab Kiai Badra. "Namun yang aku ingin tahu, kenapa Sambi Wulung dan
Jati Wulung menjadi demikian keras sikapnya."
"Penunggu banjar tidak tahu sebabnya.
Namun agaknya keduanya terdorong oleh keadaan," desis Kiai Soka.
Kiai Badra mengangguk-angguk. Namun
kemudian katanya, "Lebih baik kita mencari jalan lain. Jika keempat orang itu
nanti meninggalkan banjar, mungkin mereka akan melampaui kita dan bahkan menjadi
curiga terhadap kita."
Kiai Soka menarik nafas dalam-dalam.
Dengan demikian ia mengerti bahwa mereka harus menempuh jalan lain. Mereka harus
mulai menyusup gerumbul-gerumbul perdu atau melintasi padang ilalang. Dengan
demikian maka mulailah pengembaraan mereka yang sebenarnya mendekati tempat
sabung ayam dan sering disebut Song Lawa.
"Sambi Wulung dan Jati Wulung tentu
melewati jalan ini," berkata Kiai Badra.
Kiai Soka mengangguk-angguk. Namun
kemudian katanya, "Kita melintasi pematang ini. Kita akan memasuki pategalan
itu."
"Jika ada pemiliknya?" bertanya Kiai
Badra.
"Kita menyusuri pinggirnya saja," jawab
Kiai Soka. (Bersambung
MEREKA pun kemudian meloncati tanggul
parit dan menyusuri pematang menuju ke pategalan yang tidak terlalu jauh dari
jalan yang mendekati lambung Gunung Kukusan. Karena itu, maka perjalanan mereka
berikutnya merupakan perjalanan yang akan menjadi semakin berat.
Namun, meskipun keduanya memang sudah tua
sebagaimana ujud mereka, tetapi ternyata bahwa mereka masih cukup terampil.
Mereka meloncati parit dan pematang tanpa kecanggungan. Bahkan kedua orang yang
rambutnya sudah memutih itu sama sekali tidak menjadi terengah-engah.
Ketika matahari terbit, mereka telah
berada di antara pepohonan pategalan. Mereka kemudian melintas dan turun ke
padang perdu. Keuntungan keduanya adalah justru karena jalan yang naik ke
padukuhan-padukuhan di lambung gunung itu adalah berkelok-kelok dan ditumbuhi
beberapa jenis pepohonan di pinggirnya, sehingga dari padang perdu, keduanya
dapat melihat arah jalan yang semakin lama nampaknya menjadi semakin sempit dan
rumpil.
"Kita harus menemukan padukuhan Muncar.
Menurut kedua orang yang sedang diburu itu, jalan menuju ketempat sabung ayam
itu melewati sebuah belumbang alam yang berair sangat bening.
"Kita harus menemukan padukuhan Muncar
itu lebih dahulu," berkata Kiai Badra.
Pengalaman pengembaraan mereka, telah
menuntun mereka menuju ke padukuhan Muncar. Penunggu banjar itu mengatakan,
bahwa Muncar berada di pinggir jalan yang menuju ke Song Lawa. Meskipun ia tidak
menyebut belumbang yang berair bening itu, namun kedua keterangan itu dapat
dipergunakannya sebagai ancar-ancar.
Ternyata mereka harus berjalan jauh.
Muncar memang tidak terlalu dekat dengan padukuhan Kademangan Nggebayan.
Sehingga karena itu, mereka harus mengamati ciri-ciri yang dikatakan oleh
penunggu banjar itu dengan seksama.
"Itulah batu karang yang dimaksudkan,"
berkata Kiai Badra.
"Kita baru mendapat separo jalan," desis
Kiai Soka.
Kiai Badra tersenyum. Namun mereka sudah
terlalu biasa menempuh perjalanan yang sangat jauh sekalipun. Karena itu, maka
jarak antara padukuhan Muncar dan Kademangan Nggebayan tidak menjadi persoalan
bagi mereka.
Setelah beberapa saat mereka berjalan,
maka mereka sempat melihat debu yang mengepul di jalan yang menuju ke padukuhan
Muncar. Beberapa ekor kuda nampaknya berderap dengan cepat melintasi jalan yang
berkelok-kelok memanjat lambung Gunung Kukusan.
Kiai Badra dan Kiai Soka yang sudah
menjadi agak jauh dari jalan yang semula mereka lalui, sempat berlindung di
balik pohon-pohon perdu.
"Nah, itulah mereka," berkata Kiai Badra.
"Memang empat orang," desis Kiai Soka.
"Mungkin masih ada orang lain yang akan
memanjat lambung Gunung itu. Mungkin berjalan kaki atau dengan cara lain,"
berkata Kiai Badra pula.
"TERNYATA kita datang tepat pada
waktunya. Musim sabung ayam. Dalam musim yang begini, tempat itu tentu lebih
ramai daripada jika bukan musimnya," sahut Kiai Soka.
Kiai Badra mengangguk-angguk.
Dipandanginya debu yang mengepul semakin lama semakin jauh mendahului perjalanan
mereka. Namun dengan demikian kedua orang tua itu yakin, bahwa mereka telah
menempuh jalan yang benar.
Semakin lama perjalanan mereka pun
menjadi semakin tinggi. Mereka segera mengenali padukuhan Muncar ketika mereka
melihat sepasang pohon randu alas yang besar. Kemudian mereka pun dapat
menemukan jalan yang menuju ke belumbang sebagaimana dikatakan oleh dua orang
kakak beradik yang pernah dikunjungi oleh Kiai Badra.
Dan akhirnya, mereka pun sempat menemukan
jalur jalan menuju ke Song Lawa, tempat sabung ayam dan perjudian yang
terpencil.
Kedua orang itu pun menjadi semakin
berhati-hati. Mereka merayap semakin jauh dari jalan yang menghubungkan tempat
itu dengan tempat yang disebut Song Lawa. Mereka tidak ingin mengikuti jalan itu
terlalu dekat. Bagi mereka jalan itu cukup menjadi ancar-ancar arah perjalanan
mereka.
Dengan demikian maka keduanya pun telah
memasuki hutan di lereng bukit. Agaknya padukuhan sudah menjadi sangat jarang.
Sehingga kedua orang tua itu merasa agak lebih aman.
Beberapa pertanda telah menunjukkan,
bahwa mereka memang akan segera sampai ke daerah yang disebut Song Lawa itu,
daerah yang tentu bukan pesanggrahan yang nyaman dan tenang. Tetapi tempat itu
tentu merupakan tempat yang hiruk pikuk dan penuh dengan kekerasan dan
kekasaran.
Namun Kiai Badra dan Kiai Soka itu
kemudian tertegun ketika mereka melihat beberapa puluh langkah disamping,
keempat penunggang kuda itu berhenti. Agaknya mereka memang telah dihentikan
oleh seseorang atau lebih.
"Apa yang terjadi?" bertanya Kiai Badra.
"Kita akan melihatnya," sahut Kiai Soka.
Kedua orang tua itu pun dengan sangat
berhati-hati telah mendekati jalan yang mereka anggap sebagai ancar-ancar itu.
Mereka kemudian berhenti beberapa belas langkah dari jalan itu. Namun dari
tempat mereka kemudian berlindung, mereka telah dapat melihat jelas apa yang
telah terjadi.
"Sambi Wulung dan Jati Wulung," desis
Kiai Badra.
Kiai Soka mengangguk-angguk. Ia pun
melihat Sambi Wulung dan Jati Wulung telah menghentikan keempat orang berkuda
itu.
"Orang-orang berkuda itu baru sampai
disini?" bertanya Kiai Soka.
"Mungkin mereka berhenti di belumbang itu
atau dimana saja," jawab Kiai Badra.
Mereka pun kemudian saling berdiam diri
sambil mengamati apa yang telah terjadi.
"Untuk apa kalian menghentikan kami?"
bertanya salah seorang penunggang kuda itu.
"Ki Sanak," Sambi Wulung justru bertanya,
"Bukankah kalian akan pergi ke Song Lawa?"
"Kebetulan sekali. Kami juga akan pergi
ke Song Lawa. Kami memerlukan seseorang yang mau menanggung kami berdua agar
kami berdua dapat masuk ke lingkungan daerah Sabung Ayam itu," bertanya Sambi
Wulung.
"Aku tidak mengenal kalian berdua. Dan
aku pun tidak melihat kepentingan apapun untuk menanggung kalian berdua," jawab
penunggang kuda itu.
"Kita sekarang memperkenalkan diri,"
jawab Sambi Wulung. "Kemudian bawa kami masuk. Kami akan memberikan sebagian
dari kemenangan kami kepada kalian jika kalian bersedia."
"Jangan mengigau. Kau tidak akan menang
seandainya kalian dapat memasuki lingkungan sabung ayam itu," jawab orang
berkuda itu. "Minggirlah. Kami akan lewat."
"Katakan bahwa kalian akan menanggung
kami berdua, atau kalian tidak akan pergi ke tempat itu," geram Jati Wulung. .
***
"IBLIS," orang berkuda itu mengumpat,
"Kau mengancam kami." "Bukan hanya mengancam. Tetapi kami akan menghancurkan
kalian disini. Mengambil bekal kalian karena aku yakin kalian tentu membawa
bekal banyak untuk memasuki Song Lawa," berkata Sambi Wulung dengan garang.
Tetapi keempat orang itu tertawa hampir
bersamaan. Seorang di antara mereka memegang perutnya sambil berkata di antara
derai tertawanya itu, "Apakah kau sudah gila he? Mungkin kau orang yang sama
sekali tidak mengenal dunia ini, terutama dunia kanuragan dan dunia perjudian."
"Aku memang belum mengenal dunia
perjudian dan sabung ayam di Song Lawa. Tetapi aku sudah mengelilingi tanah ini
dari ujung sampai ke ujung. Aku sudah memasuki tempat perjudian di tujuhpuluh
delapan tempat. Dari tempat perjudian di serambi yang tiris sampai ke istana
yang megah," jawab Jati Wulung.
Keempat orang itu tertawa semakin keras.
Seorang di antara mereka kemudian berkata, "Minggir. Atau aku tenteng kepalamu
memasuki Song Lawa. Tidak ada orang yang akan mempersoalkan dimana aku
mendapatkan kepalamu itu. Tubuhmu yang tertinggal disini akan menjadi makanan
anjing-anjing liar dari hutan-hutan di lereng Gunung Kukusan ini."
Sambi Wulung tiba-tiba membentak dengan
kasar, "Cepat. Katakan bahwa kalian akan menanggung aku memasuki tempat
perjudian itu. Aku tidak mau menunggu terlalu lama. Aku tidak mempunyai waktu
untuk bergurau disini. Mungkin ditempat perjudian aku akan dapat bergurau lebih
baik."
"Jadi kalian berdua benar-benar sudah
gila? Baiklah. Kami benar-benar akan memenggal leher kalian dan membawa kepala
kalian memasuki Song Lawa," jawab seorang di antara orang-orang berkuda itu.
Dalam pada itu, seorang di antara mereka
pun telah meloncat turun dari kudanya dan mengikat kudanya itu pada sebatang
pohon di pinggir jalan. Dengan nada berat ia pun berkata, "Bersiaplah untuk
mati."
Ketiga orang kawannya pun telah
berloncatan turun pula. Termasuk orang yang disebut Kiai Windu.
Sambi Wulung dan Jati Wulung tiba-tiba
sudah memencar. Mereka telah bersiap untuk menyerang.
"Cepat ikat kudamu dan bersiap, agar
kalian tidak menyebut kami curang," geram Jati Wulung.
Orang-orang berkuda itu pun segera
mengikat kuda mereka. Dalam pada itu Kiai Windu pun berkata, "Agaknya mereka
benar-benar ingin terbunuh disini, menjelang pintu gerbang yang menuju ke satu
tempat yang diimpikannya. Mereka lebih baik mati daripada tidak dapat masuk Song
Lawa."
"Jangan banyak bicara," bentak Jati
Wulung. "Aku tidak mempunyai banyak waktu."
Keempat orang berkuda itu pun segera
mempersiapkan diri, sementara Sambi Wulung dan Jati Wulung telah mulai bergerak
untuk menyerang.
Keempat orang itu memang terkejut melihat
sikap Sambi Wulung dan Jati Wulung yang garang itu. Sebelum mereka berbuat
sesuatu mereka sudah harus berloncatan menghindari serangan kedua orang yang
garang itu.
Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak
berhenti pada serangan yang pertama. Mereka pun segera memburu lawan-lawan
mereka yang berloncatan menghindar itu. Justru semakin cepat dan semakin kuat.
"Orang ini memang gila," geram Kiai
Windu.
Tiba-tiba saja Kiai Windu yang marah itu
pun telah mempercepat tata geraknya. Ia tidak lagi sekadar menghindari serangan
Sambi Wulung, tetapi pada satu kesempatan, maka Kiai Windu itulah yang
menyerang.
Dengan demikian maka pertempuran di
antara mereka pun menjadi semakin keras dan kasar. Mereka saling menyerang,
memburu dan bahkan berteriak dengan umpatan-umpatan yang kotor.
Kiai Soka menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, "Kenapa Sambi Wulung dan Jati Wulung dapat berbuat seperti itu?"
***
"MEREKA ingin menyesuaikan diri dengan
nafas kehidupan di Song Lawa," sahut Kiai Badra. Kiai Soka mengangguk-angguk.
Nampaknya Sambi Wulung dan Jati Wulung memang telah memaksa diri untuk berbuat
kasar dan keras, agar mereka pantas memasuki tempat yang disebut Song Lawa itu.
Keduanya tidak akan dapat bersikap lembut dan dilandasi dengan unggah-ungguh
yang mapan. Agaknya keduanya ingin memasuki tempat itu dengan cara yang sesuai
dengan kehidupan ditempat sabung ayam dan perjudian itu.
Untuk beberapa saat lamanya, Kiai Badra
dan Kiai Soka melihat mereka bertempur. Ternyata keempat orang berkuda itu juga
bukan orang-orang yang tidak berilmu. Mereka pun mampu bergerak cepat dan pada
benturan-benturan yang terjadi, mereka pun menunjukkan kekuatan mereka yang
dilandasi dengan tenaga cadangan di dalam diri mereka.
Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung memang
memiliki kelebihan. Mereka mampu mendesak keempat orang lawannya, sehingga
mereka terpaksa berloncatan surut.
Dalam keadaan yang gawat, maka orang yang
disebut Kiai Windu telah menarik senjatanya. Sebilah keris yang besar yang
semula terselip di punggungnya. Sementara dua orang yang lain pun segera menarik
pedang mereka pula. Yang seorang lagi memiliki senjata yang khusus. Dua potong
besi yang dua jengkal panjangnya dihubungkan rantai yang tidak terlalu panjang.
Sambi Wulung dan Jati Wulung yang melihat
lawan-lawannya bersenjata telah menarik senjatanya pula. Senjata yang terbiasa
dipakai oleh kebanyakan orang. Pedang.
Sejenak kemudian maka pertempuran pun
menjadi semakin seru. Kedua belah pihak telah berusaha untuk menekan lawannya.
Namun seperti yang sudah terjadi, keempat orang itu pun telah terdesak. Sambi
Wulung dan Jati Wulung mampu bergerak dengan kecepatan yang luar biasa. Pedang
mereka pun berputaran mengerikan. Bahkan berputaran pula dengan melontarkan
desing yang tajam.
Ketika Sambi Wulung dan Jati Wulung
bergerak semakin cepat, maka tiba-tiba saja seorang di antara mereka telah
tergores pedang di lengannya.
Dengan serta merta orang itu berloncatan
surut. Orang itu adalah orang yang bersenjatakan dua batang tongkat besi yang
dihubungkan dengan rantai.
Kawannya pun telah meloncat surut pula.
Bahkan kedua orang yang lain pun telah berloncatan pula meninggalkan lawan
mereka.
Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak
mengejar mereka. Namun keduanya justru berdiri tegak sambil mengacungkan pedang
mereka.
"Jangan lari," geram Sambi Wulung. "Jika
kalian lari, aku akan mendapatkan empat ekor kuda yang tegar. Tentu kuda mahal
harganya.
"Setan. Jangan rampok kuda-kuda kami,"
geram Kiai Windu.
"Pertahankan kudamu jika kalian mampu,"
Sambi Wulung hampir berteriak.
Keempat orang itu mengumpat. Namun mereka
merasa bahwa sulit bagi mereka untuk mengalahkan kedua orang itu. Sementara
mereka berempat merasa bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki kemampuan
yang tinggi.
"Ilmu iblis manakah yang dimiliki oleh
kedua orang itu?" desis Kiai Windu yang ternyata memiliki ilmu yang paling
tinggi dari keempat orang itu.
"Cepat," Jati Wulunglah yang kemudian
membentak, "Ambil kuda-kuda kalian atau aku bawa ke Song Lawa untuk aku jual
disana. Mungkin ada orang yang memerlukan kuda dan bersedia menanggung kami
berdua memasuki Song Lawa itu."
"Setan," geram orang yang bersenjata
tongkat berantai itu.
"Nah, kalian dapat memilih. Kami ambil
kuda-kuda kalian atau tidak," bertanya Jati Wulung.
"Tentu tidak," jawab Kiai Windu.
"Baik. Kami akan menyerahkan kembali
kuda-kuda kalian. Tetapi dengan syarat, bawa kami masuk ke Song Lawa," geram
Jati Wulung.
Kiai Windu tidak segera menjawab. Sekilas
dipandanginya kawan-kawannya. Sementara itu salah seorang di antara mereka yang
membawa pedang berkata, "Kau kira jika kau sudah masuk ke Song Lawa tidak akan
menemui kesulitan?"
"Kami akan mengatasi kesulitan itu,"
berkata Sambi Wulung.
Keempat orang itu termangu-mangu. Tetapi
mereka memang tidak mempunyai pilihan lain. Mereka tidak akan dapat mengalahkan
kedua orang itu. Bukan saja mereka tidak ingin kehilangan kudanya, tetapi mereka
juga tidak mau kehilangan nyawanya.
Beberapa saat keempat orang itu masih
ragu-ragu. Sementara Jati Wulung membentak semakin keras, "Jawab, atau aku harus
mengambil langkah sendiri, membawa kuda-kuda kalian ke Song Lawa."
Kiai Windulah yang kemudian menjawab.
Katanya, "Baiklah. Kami akan menanggung kalian memasuki Song Lawa itu. Tetapi
apa yang terjadi kemudian bukan tanggung jawab kami."
"Jika kami dapat memasuki Song Lawa, maka
kami akan bertanggung jawab atas diri kami sendiri," berkata Sambi Wulung. Lalu,
"Bahkan jika kami menang seperti yang biasa kami alami, maka kami akan
memberikan bagian kepada kalian berempat, sepadan dengan jumlah kemenangan
kami."
Kiai Windu itu mengangguk-angguk.
Katanya, "Baiklah. Marilah. Ikut kami."
"Kita akan berjalan kaki," berkata Sambi
Wulung. "Tidak seorang pun di antara kita yang akan naik kuda. Kalian harus
menuntun kuda-kuda kalian."
Keempat orang itu tidak dapat menolak.
Karena itu Kiai Windu itu pun berkata, "Kau akan menyesal setelah kau berada di
dalam lingkungan sabung ayam itu."
"Kalian tidak perlu berkhianat," berkata
Sambi Wulung. "Jika hal itu terjadi dengan sendirinya, kami akan mengatasinya.
Tetapi jika hal itu terjadi karena pengkhianatan kalian, maka kalian berempat
akan mati."
"Setidak-tidaknya kalian berempat tidak
dapat mengalahkan kami," jawab Jati Wulung.
Orang itu pun tidak menjawab lagi.
Sementara itu, keempat orang itu pun telah melangkah mendekati kudanya.
"Marilah," berkata Kiai Windu.
Sesaat kemudian mereka berenam pun telah
melanjutkan perjalanan.
Ternyata jarak ke Song Lawa sudah tidak
terlalu jauh lagi. Beberapa saat kemudian, Kiai Badra dan Kiai Soka yang
meneruskan perjalanan mereka, segera melihat ciri-ciri dari satu lingkungan
terpisah dari dunia lain dengan kebiasaan tersendiri. Song Lawa.
Sambi Wulung dan Jati Wulung telah
mempergunakan cara yang sesuai dengan lingkungan yang akan didatanginya,"
berkata Kiai Badra.
"Ya. Sampai disini agaknya ia berhasil,"
sahut Kiai Soka. "Mudah-mudahan ia tidak mengalami kesulitan."
"Tidak mengalami kesulitan dan tidak
dikenali oleh orang-orang yang mengawal laki-laki remaja yang bernama Puguh
itu," sahut Kiai Badra.
Kiai Soka mengangguk-angguk. Namun ia pun
kemudian berdesis, "Kita harus sangat berhati-hati. Mungkin pengawalan tempat
itu menyebar sampai jarak yang cukup jauh."
"Ya. Agaknya memang demikian," sahut Kiai
Badra sambil menunjuk dua orang bersenjata yang berjalan beberapa puluh langkah
dihadapan mereka.
Keduanya pun bersembunyi di balik
batang-batang perdu. Namun mereka berusaha untuk dapat melihat lingkungan yang
terasing itu.
Agaknya keduanya beruntung berada di
tempat yang agak lebih tinggi dari jalur jalan yang menuju dan kemudian memasuki
lingkungan yang disebut Song Lawa itu. Ternyata di jalur jalan itu mereka
melihat pintu-pintu gerbang yang berlapis. Kemudian pagar yang bersap pula.
Pagar yang terbuat dari kayu yang dijajar rapat lebih tinggi dari tubuh
seseorang. Pada lapis ketiga pagar itu menjadi lebih tinggi. .
***
Dari tempat yang agak lebih tinggi, Kiai
Badra dan Kiai Soka sempat melihat keadaan di dalam lapis-lapis pagar itu. Di
lapis kedua Sambi Wulung dan Jati Wulung masih tertahan bersama keempat orang
yang berkuda itu. Agaknya para penjaga pintu gerbang itu tidak memberikan ijin
kepada Kiai Windu dan kawan-kawannya untuk membawa kuda mereka masuk.
Ternyata bahwa mereka telah mengikat
kuda-kuda mereka di patok-patok yang sudah tersedia. Disebelahnya sudah terdapat
beberapa ekor kuda yang lain, yang telah datang lebih dahulu.
Kiai Badra dan Kiai Soka ikut menjadi
tegang ketika melihat mereka berenam berdiri dimuka pintu gerbang. Beberapa
orang penjaga yang garang nampaknya dengan teliti mengamati mereka seorang demi
seorang.
Dari jarak yang cukup jauh, Kiai Badra
dan Kiai Soka tidak dapat melihat terlalu jelas apa yang terjadi. Meskipun
mereka adalah orang-orang yang memiliki ketajaman penglihatan melampaui
orang-orang kebanyakan.
Dalam pada itu, di depan pintu gerbang
pada lapis yang ketiga, Kiai Windu dan kawan-kawannya telah menunjukkan pertanda
bahwa mereka adalah orang-orang yang sudah dianggap keluarga di lingkungan
sabung ayam itu. Mereka dapat menunjukkan sebuah tanda yang terbuat dari
perunggu berbentuk bulat. Ditengah-tengahnya dipahatkan gambar seekor ayam
jantan dengan kepala tegak. Kemudian beberapa ciri yang khusus terpahat dibawah
gambar ayam itu.
"Bagaimana dengan kedua orang ini?"
bertanya penjaga pintu gerbang.
Kiai Windu termangu-mangu sejenak.
Sementara itu Sambi Wulung dan Jati Wulung menjadi tegang. Mereka berdiri dekat
dibelakang keempat orang berkuda yang akan menanggung mereka memasuki tempat
yang mendebarkan itu.
Namun Kiai Windu pun kemudian berkata,
"Mereka adalah orang-orang baru. Kami berempat menanggung mereka selama mereka
berada di tempat itu."
"Apa jaminannya?" bertanya penjaga yang
garang itu.
"Kami berempat," jawab Kiai Windu.
Penjaga itu mengangguk-angguk. Sementara
itu para penjaga yang lain nampaknya menaruh perhatian pula kepada mereka.
Sambi Wulung dan Jati Wulung sendiri
hanya menunggu keputusan mereka. Apakah mereka diperkenankan memasuki daerah itu
atau tidak.
Namun agaknya pemimpin dari para petugas
dipintu itu tidak mau bertanggung jawab sendiri. Karena itu, maka pemimpin
penjaga pintu gerbang itu berkata, "Tunggulah disini. Aku akan melaporkannya."
Keenam orang itu harus menunggu. Sambi
Wulung dan Jati Wulung tidak dapat memaksa untuk memasuki gerbang itu. Mereka
tidak dapat memancing persoalan justru sebelum mereka berada di dalam.
Sementara pemimpin penjaga itu melaporkan
kehadiran mereka, keenam orang itu telah bergeser menepi. Kiai Windu sempat
berdesis kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung. "Kau dengar. Kami berempatlah yang
menjadi tanggungan kami. Jika kalian berbuat sesuatu yang kurang baik disini,
kami berempat akan ikut diperlakukan buruk. Kita di tempat ini tidak dapat
memamerkan kemampuan dan ilmu kita. Disini terlalu banyak orang berilmu tinggi.
Meskipun aku akui, ilmu kalian berdua ternyata lebih tinggi dari yang aku duga,
tetapi setiap pelanggaran ketentuan yang berlaku disini, akan menimbulkan
melapetaka."
KIAI WINDU tertawa. Katanya, "Mereka
orang-orang baik." Kedua orang berjambang itu kemudian telah mempersilakan Kiai
Windu berenam untuk memasuki pintu gerbang. Sementara itu orang berjambang itu
pun berkata, "Hanya bila kami sudah yakin bahwa mereka tidak akan merugikan Song
Lawa, maka kami akan memberikan pertanda keluarga. Aku belum tahu berapa pekan
ia kerasan tinggal disini untuk seterusnya, maka ia akan dapat menjadi kawan
yang sangat baik bagi kami. Tetapi atas tanggungan Kiai."
Kiai Windu tersenyum. Betapa kecutnya.
Namun ia memang berharap bahwa kedua orang itu tidak akan berbuat sesuatu yang
dapat menyeret namanya ke dalam kesulitan.
Dari kejauhan Kiai Badra dan Kiai Soka
melihat bahwa keenam orang itu telah memasuki pintu gerbang utama. Sambil
menarik nafas dalam-dalam Kiai Badra berdesis, "Pintu kesulitan pertama telah
dilewati."
"Masih banyak masalah yang akan mereka
hadapi," sahut Kiai Soka.
"Ya. Dan kita tidak akan dapat mengikuti
dari jarak yang jauh ini. Apalagi jika malam gelap," berkata Kiai Badra.
"Di malam hari kita akan mendekat," gumam
Kiai Soka. "Tetapi di siang hari kita dapat berada disini. Jaraknya tidak
terlalu dekat, tetapi juga tidak terlalu jauh. Dari tempat yang tinggi ini kita
dapat melihat keseluruhan lingkungan Song Lawa."
"Tetapi kita tidak dapat melihat apa yang
terjadi dibawah atap barak-barak yang berserakan di dalam lingkungan dinding
kayu itu," jawab Kiai Badra.
Kiai Soka pun segera tanggap. Karena itu
katanya, "Kau bermaksud memasuki tempat itu di malam hari?"
Kiai Badra tertawa. Tetapi ia tidak
menjawab. Bahkan katanya, "Mereka telah hilang. Mereka memasuki salah satu barak
yang ada di dalam lingkungan Song Lawa."
Kiai Soka mengangguk-angguk. Katanya,
"Barak-barak itu tentu mempunyai beban tugas yang berbeda-beda."
"Agaknya memang demikian," jawab Kiai
Badra. "Yang satu untuk bermalam orang-orang yang memasuki tempat itu. Dan itu
agaknya yang paling panjang itu. Satu lagi untuk berjudi. Satu lagi menyediakan
makan dan minum. Tidak bedanya dengan sebuah kedai. Dan entah untuk apa lagi.
Yang berasap itu tentu dapur."
Kiai Soka tersenyum. Katanya, "Agaknya
dapur itulah yang paling kau kenal."
"Bukankah itu lebih baik daripada
mengenali tanah kosong di bagian belakang barak-barak itu," sahut Kiai Badra
sambil tertawa.
"Itulah yang mengerikan," berkata Kiai
Soka. Orang tua itu tidak tersenyum lagi. Bahkan wajahnya menjadi
bersungguh-sungguh. Katanya, "Berapa orang yang sudah dikubur ditempat itu?"
"Itu adalah gambaran kehidupan di
lingkungan ini," berkata Kiai Badra. "Mudah-mudahan Sambi Wulung dan Jati Wulung
dapat mengatasinya."
"Seharusnya jika mereka sudah berhasil
memasuki lingkungan itu, mereka tidak usah berbuat aneh-aneh agar mereka
mendapat kesempatan untuk tetap berada di dalamnya," desis Kiai Soka. "Jika
mereka berdua masih memaksa diri untuk bertingkah-laku kasar, maka mereka akan
dapat dilemparkan ke lubang kubur di tanah kosong itu."
Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya,
"Mudah-mudahan keduanya cukup bijaksana."
Kiai Soka tidak menjawab.
Untuk beberapa saat mereka masih
mengawasi tempat sabung ayam itu. Tetapi mereka tidak melihat sesuatu. Mereka
melihat arena sabung ayam di halaman tengah yang kosong. Agaknya sabung ayam itu
masih belum dimulai dalam satu dua hari lagi."
Satu dua orang memang nampak melintas di
halaman, sementara ada lagi dua orang peronda yang mengelilingi tempat itu.
Namun belum ada kesan kesibukan yang berarti.
KIAI BADRA dan Kiai Soka pun kemudian
bergeser menjauh. Mereka memasuki hutan kecil di lereng gunung. Nampaknya tempat
yang jarang sekali didatangi oleh seseorang. Bahkan oleh pencari kayu bakar
sekalipun. Mereka melihat dahan-dahan kering berserakan tanpa ada yang
memungutnya.
Namun agaknya hutan yang masih belum
disentuh itu merupakan simpanan yang sangat berarti bagi lembah dan dataran
dibawahnya. Di tebing-tebing terjal nampak air mengalir perlahan-lahan. Namun
kemudian berkumpul menjadi air terjun yang cukup deras.
Kedua orang itu pun kemudian telah
mencari tempat untuk beristirahat. Mereka kemudian menemukan batu padas yang
agak datar di pinggir hutan itu.
Sementara itu Sambi Wulung dan Jati
Wulung telah berada di dalam lingkungan Song Lawa. Satu tempat sabung ayam dan
perjudian yang tidak terjangkau oleh paugeran Pajang. Lingkungan yang telah
membuat tata kehidupan menurut irama mereka sendiri.
"Kalian akan bertempat tinggal selama
disini ditempat yang biasa kalian pergunakan," berkata seorang yang mendapat
tugas menerima tamu yang mendapat penyerahan dari para pengawal, kepada Kiai
Windu. Lalu, "Tempat itu dapat kami siapkan untuk enam orang. Tidak empat
orang."
"Terima kasih," sahut Kiai Windu. "Kami
akan langsung yang disediakan itu."
Mereka pun kemudian memasuki sebuah barak
yang panjang, yang disekat-sekat oleh dinding bambu yang rangkap.
Kiai Windu berenam telah ditempatkan
disebuah bilik yang agak besar yang diisi dengan sebuah amben yang panjang yang
akan dapat dipergunakan oleh enam orang yang meskipun tidak terlalu longgar.
"Memang agak berdesakan," berkata Kiai
Windu.
"Apakah kita dapat memilih ruangan?"
bertanya Sambi Wulung.
"Tidak," jawab Kiai Windu. "Kita harus
menerima apa yang sudah disediakan. Jika kita memaksa, akan segera timbul
keributan."
Sambi Wulung mengangguk-angguk. Ternyata
apa yang diharapkannya dari Sambi Wulung dan Jati Wulung terpenuhi. Keduanya
dengan bijaksana mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Mereka tidak lagi
berniat membuat persoalan. Kecuali jika persoalan itu datang pada mereka.
Barulah di dalam bilik itu Kiai Windu dan
kawan-kawannya mendengar pengakuan Sambi Wulung dan Jati Wulung tentang namanya,
Sambi Wulung menyebut dirinya bernama Wanengbaya dan Jati Wulung mengaku bernama
Wanengpati.
"Tentu bukan nama-nama asli kalian,"
tebak Kiai Windu. "Kalian mengganti nama kalian dengan nama yang garang, agar
kalian pun kelihatan garang pula."
"Nama itu diberikan oleh ayahku sejak aku
lahir," jawab Sambi Wulung.
Kiai Windu tertawa. Katanya, "Jangan
mengigau seperti itu. Apakah kau belum mempunyai anak meskipun kalian sudah
hampir pikun? Kalian tentu tidak akan memberi nama anak yang baru lahir dengan
sebutan seperti itu."
Sambi Wulung tiba-tiba menundukkan
kepalanya. Tanpa disengaja ia telah menggali kepahitan hidup dimasa mudanya. Ia
dan Jati Wulung memang tidak lagi mempersoalkan anak. Namun pada saat-saat
tertentu, hatinya tergelitik pula karenanya.
"Jangan bicara tentang anak," desisnya.
"Maaf. Aku tidak sengaja menyinggung
perasaanmu," berkata Kiai Windu. Lalu katanya, "Nah, sebaiknya kita
beristirahat. Tempat ini tempat kita."
Sambi Wulung mengangguk-angguk. Tetapi ia
tidak segera merebahkan dirinya seperti ketiga orang kawan Kiai Windu. Bersama
Jati Wulung dan Kiai Windu sendiri, ia masih duduk dan berbicara tentang
beberapa hal.
Namun tiba-tiba mereka terkejut karena
mereka mendengar pertengkaran di ruang sebelah.
KETIKA Sambi Wulung dan Jati Wulung
bangkit dari tempat duduknya, Kiai Windu berdesis, "Jangan campuri persoalan
orang lain disini. Jika kita mencampuri persoalan orang lain, itu berarti kita
sudah membuat persoalan."
Sambi Wulung dan Jati Wulung
mengangguk-angguk. Namun Jati Wulung yang mengaku bernama Wanengpati itu
bertanya, "Bagaimana jika terjadi sesuatu yang gawat?"
"Setiap orang harus dapat mengatasi
persoalan mereka sendiri. Bahkan harus mati sekalipun tidak akan ada orang yang
akan melibatkan dirinya."
"Kalau hanya melihat? Maksudku seperti
menonton sabung ayam itu sendiri?" bertanya Wanengbaya.
Kiai Windu menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, "Kalau hanya melihat saja, aku kira tidak akan timbul persoalan. Tetapi
jangan terlalu dekat."
Wanengbaya dan Wanengpati
mengangguk-angguk pula. Keduanya pun segera mengemasi diri. Mereka memang ingin
melihat siapakah perempuan yang telah berani memasuki tempat seperti ini. Bahkan
sepercik pertanyaan ada di dalam hati mereka, "Apakah perempuan itu Warsi?"
Wanengbaya dan Wanengpati memang belum
terlalu mengenal dan dikenal oleh Warsi. Namun demikian ada kemungkinan bahwa
perempuan itu akan dapat mengenalinya. Karena itu, maka keduanya memang harus
berhati-hati.
Bahkan Wanengbaya berdesis perlahan di
telinga Wanengpati, "Jika benar Warsi, maka kita harus berhati-hati. Apalagi
jika ia datang bersama Ki Randukeling."
"Apakah kita harus berbuat sesuatu?"
bertanya Wanengpati.
"Justru kita harus pandai menghindar,"
jawab Wanengbaya.
Wanengpati mengangguk-angguk. Namun
mereka pun kemudian melangkah mendekati pintu. Sementara itu Kiai Windu yang
sudah duduk kembali berkata sekali lagi, "Jangan campuri persoalan siapapun dan
dalam keadaan yang bagaimanapun jika kau tidak mau mendapat kesulitan."
Wanengbaya dan Wanengpati mengangguk.
Dalam pada itu, keduanya telah berdiri di
pintu. Perlahan-lahan keduanya melangkah keluar. Mereka sudah diberi tahu oleh
Kiai Windu, dimana letak pakiwan. Karena itu, maka mereka mempunyai alasan untuk
ke luar dari barak itu.
Perlahan-lahan keduanya menyusuri lorong
sempit di dalam barak itu. Ketika mereka berada di pintu bilik sebelah, maka
keduanya sempat melihat seorang perempuan dengan pakaian laki-laki sedang
bertengkar dengan seorang laki-laki. Dua orang lainnya berdiri termangu-mangu
memperhatikan keduanya yang sedang marah itu.
Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak
memperhatikan keduanya lebih lama karena mereka tidak dapat berhenti di depan
pintu bilik itu, agar mereka tidak dituduh ingin mencampuri persoalan orang
lain.
"Bukan Warsi," desis Sambi Wulung.
"Ya. Memang bukan Warsi," jawab Jati
Wulung.
Dengan demikian maka keduanya memang
tidak mempunyai kepentingan apapun juga. Meskipun hati mereka sebenarnya memang
tergelitik untuk mengetahui persoalan di antara kedua orang yang bertengkar itu,
namun mereka harus menahan diri.
Sebenarnyalah keduanya memang pergi ke
pakiwan. Di longkangan yang terdapat di antara barak yang dipergunakan dan barak
yang lain, yang juga dipergunakan untuk bermalam para tamu dari Song Lawa itu,
keduanya bertemu dengan seorang yang benar-benar bertubuh raksasa. Bukan saja
tubuhnya yang tinggi besar melampaui ukuran kebanyakan itu yang menarik
perhatian, tetapi ia juga mengenakan ikat pinggang kulit dengan timang emas.
Beberapa butir berlian nampak berkilat-kilat pada timang emasnya itu. Tanpa
mengenakan baju, orang itu seakan-akan sengaja memamerkan kekayaannya. Di
punggungnya terselip keris dengan pendok emas pula. Seperti pada timangnya, maka
pada kerisnya nampak juga beberapa butir berlian yang berkilau. Sedangkan pada
jari-jarinya beberapa bentuk cincin dengan mata batu-batu yang sangat mahal di
samping bermata berlian.
***
NAMUN Sambi Wulung dan Jati Wulung
memaksa diri tidak menghiraukan orang itu sebagaimana orang itu tidak
menghiraukan mereka. Tetapi ketika mereka menjadi semakin jauh, Sambi Wulung
berkata, "Orang itu tentu orang yang sangat kaya."
"Aku menyangsikan, apakah kekayaan itu
didapatnya dengan cara yang wajar," sahut Jati Wulung.
Sambi Wulung mengangguk-angguk. Dari
pakiwan keduanya memang langsung kembali ke dalam bilik mereka. Tetapi mereka
tertahan di lorong sempit dalam barak itu, karena agaknya pertengkaran di antara
perempuan dan laki-laki itu menjadi semakin seru, sehingga keduanya telah
menarik pedang masing-masing.
Beberapa orang yang agaknya sekelompok
dengan keduanya berusaha untuk melerai mereka meskipun agak mengalami kesulitan.
"Jangan campuri urusanku," teriak
perempuan itu.
"Aku tidak mencampuri persoalan orang
lain. Tetapi persoalanmu adalah persoalanku. Kita, kau dan iparmu itu berangkat
bersama-sama dengan kami. Apalagi kami berada di Song Lawa yang dua tiga hari
lagi akan menjadi semakin garang."
Orang yang sudah agak tua di antara
mereka pun berkata, "Persoalan di antara kita di Song Lawa ini akan menimbulkan
pertanyaan banyak orang. Kenapa justru persoalan di antara kita sendiri."
Kedua orang yang bertengkar itu agaknya
sempat berpikir. Namun perempuan yang sangat marah itu pun kemudian berkata,
"Jika kita tidak menyelesaikannya di tempat ini, maka pada suatu saat tidak akan
mendapatkan kesempatan."
"Jika kau tetap menghendaki cara ini,
maka aku tidak akan berkeberatan," jawab orang lain.
"Kita lupakan saja," berkata orang
tertua. "Setidak-tidaknya untuk waktu yang kita perlukan berada ditempat ini."
Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak
mengetahui dengan pasti persoalan apakah yang terjadi di antara mereka. Namun
yang bertengkar itu agaknya adalah saudara ipar.
"Perempuan itu garang juga," berkata
Sambi Wulung.
Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun ia
berdesis, "Ternyata memang tidak ada orang yang tertarik pada pertengkaran ini
selain orang-orang dari kelompok mereka sendiri. Orang-orang yang berada dibilik
sebelahnya itupun sama sekali tidak menjengukkan kepalanya.
Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung
terkejut ketika perempuan itu tiba-tiba memandangi mereka. Bahkan menyibak
orang-orang sekelompoknya melangkah mendekati Sambi Wulung dan Jati Wulung.
"Kenapa kau disini? Kau mau mencampuri
persoalan kami," bertanya perempuan itu dengan nada yang garang.
Sambi Wulunglah yang menjawab dengan
tanpa perubahan kesan di wajahnya, "Aku akan lewat. Aku berada dibilik seberang.
Tetapi aku tertahan disini. Aku tidak dapat menerobos kalian di saat kalian
bertengkar. Karena itu aku menunggu."
"Persetan," geram perempuan itu.
"Lewatlah. Cepat."
***
NAMUN Sambi Wulung dan Jati Wulung
memaksa diri tidak menghiraukan orang itu sebagaimana orang itu tidak
menghiraukan mereka. Tetapi ketika mereka menjadi semakin jauh, Sambi Wulung
berkata, "Orang itu tentu orang yang sangat kaya." "Aku menyangsikan, apakah
kekayaan itu didapatnya dengan cara yang wajar," sahut Jati Wulung.
Sambi Wulung mengangguk-angguk. Dari
pakiwan keduanya memang langsung kembali ke dalam bilik mereka. Tetapi mereka
tertahan di lorong sempit dalam barak itu, karena agaknya pertengkaran di antara
perempuan dan laki-laki itu menjadi semakin seru, sehingga keduanya telah
menarik pedang masing-masing.
Beberapa orang yang agaknya sekelompok
dengan keduanya berusaha untuk melerai mereka meskipun agak mengalami kesulitan.
"Jangan campuri urusanku," teriak
perempuan itu.
"Aku tidak mencampuri persoalan orang
lain. Tetapi persoalanmu adalah persoalanku. Kita, kau dan iparmu itu berangkat
bersama-sama dengan kami. Apalagi kami berada di Song Lawa yang dua tiga hari
lagi akan menjadi semakin garang."
Orang yang sudah agak tua di antara
mereka pun berkata, "Persoalan di antara kita di Song Lawa ini akan menimbulkan
pertanyaan banyak orang. Kenapa justru persoalan di antara kita sendiri."
Kedua orang yang bertengkar itu agaknya
sempat berpikir. Namun perempuan yang sangat marah itu pun kemudian berkata,
"Jika kita tidak menyelesaikannya di tempat ini, maka pada suatu saat tidak akan
mendapatkan kesempatan."
"Jika kau tetap menghendaki cara ini,
maka aku tidak akan berkeberatan," jawab orang lain.
"Kita lupakan saja," berkata orang
tertua. "Setidak-tidaknya untuk waktu yang kita perlukan berada ditempat ini."
Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak
mengetahui dengan pasti persoalan apakah yang terjadi di antara mereka. Namun
yang bertengkar itu agaknya adalah saudara ipar.
"Perempuan itu garang juga," berkata
Sambi Wulung.
Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun ia
berdesis, "Ternyata memang tidak ada orang yang tertarik pada pertengkaran ini
selain orang-orang dari kelompok mereka sendiri. Orang-orang yang berada dibilik
sebelahnya itupun sama sekali tidak menjengukkan kepalanya.
Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung
terkejut ketika perempuan itu tiba-tiba memandangi mereka. Bahkan menyibak
orang-orang sekelompoknya melangkah mendekati Sambi Wulung dan Jati Wulung.
"Kenapa kau disini? Kau mau mencampuri
persoalan kami," bertanya perempuan itu dengan nada yang garang.
Sambi Wulunglah yang menjawab dengan
tanpa perubahan kesan di wajahnya, "Aku akan lewat. Aku berada dibilik seberang.
Tetapi aku tertahan disini. Aku tidak dapat menerobos kalian di saat kalian
bertengkar. Karena itu aku menunggu."
"Persetan," geram perempuan itu.
"Lewatlah. Cepat."
***
NAMUN Sambi Wulung dan Jati Wulung
memaksa diri tidak menghiraukan orang itu sebagaimana orang itu tidak
menghiraukan mereka. Tetapi ketika mereka menjadi semakin jauh, Sambi Wulung
berkata, "Orang itu tentu orang yang sangat kaya." "Aku menyangsikan, apakah
kekayaan itu didapatnya dengan cara yang wajar," sahut Jati Wulung.
Sambi Wulung mengangguk-angguk. Dari
pakiwan keduanya memang langsung kembali ke dalam bilik mereka. Tetapi mereka
tertahan di lorong sempit dalam barak itu, karena agaknya pertengkaran di antara
perempuan dan laki-laki itu menjadi semakin seru, sehingga keduanya telah
menarik pedang masing-masing.
Beberapa orang yang agaknya sekelompok
dengan keduanya berusaha untuk melerai mereka meskipun agak mengalami kesulitan.
"Jangan campuri urusanku," teriak
perempuan itu.
"Aku tidak mencampuri persoalan orang
lain. Tetapi persoalanmu adalah persoalanku. Kita, kau dan iparmu itu berangkat
bersama-sama dengan kami. Apalagi kami berada di Song Lawa yang dua tiga hari
lagi akan menjadi semakin garang."
Orang yang sudah agak tua di antara
mereka pun berkata, "Persoalan di antara kita di Song Lawa ini akan menimbulkan
pertanyaan banyak orang. Kenapa justru persoalan di antara kita sendiri."
Kedua orang yang bertengkar itu agaknya
sempat berpikir. Namun perempuan yang sangat marah itu pun kemudian berkata,
"Jika kita tidak menyelesaikannya di tempat ini, maka pada suatu saat tidak akan
mendapatkan kesempatan."
"Jika kau tetap menghendaki cara ini,
maka aku tidak akan berkeberatan," jawab orang lain.
"Kita lupakan saja," berkata orang
tertua. "Setidak-tidaknya untuk waktu yang kita perlukan berada ditempat ini."
Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak
mengetahui dengan pasti persoalan apakah yang terjadi di antara mereka. Namun
yang bertengkar itu agaknya adalah saudara ipar.
"Perempuan itu garang juga," berkata
Sambi Wulung.
Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun ia
berdesis, "Ternyata memang tidak ada orang yang tertarik pada pertengkaran ini
selain orang-orang dari kelompok mereka sendiri. Orang-orang yang berada dibilik
sebelahnya itupun sama sekali tidak menjengukkan kepalanya.
Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung
terkejut ketika perempuan itu tiba-tiba memandangi mereka. Bahkan menyibak
orang-orang sekelompoknya melangkah mendekati Sambi Wulung dan Jati Wulung.
"Kenapa kau disini? Kau mau mencampuri
persoalan kami," bertanya perempuan itu dengan nada yang garang.
Sambi Wulunglah yang menjawab dengan
tanpa perubahan kesan di wajahnya, "Aku akan lewat. Aku berada dibilik seberang.
Tetapi aku tertahan disini. Aku tidak dapat menerobos kalian di saat kalian
bertengkar. Karena itu aku menunggu."
"Persetan," geram perempuan itu.
"Lewatlah. Cepat."
***
Sambi Wulung dan Jati Wulung pun kemudian
melangkah di lorong sempit di antara bilik-bilik di barak yang panjang itu.
Beberapa orang memang harus menepi.
Perempuan itu ternyata memperhatikan
Sambi Wulung dan Jati Wulung sehingga mereka hilang memasuki pintu biliknya.
Agaknya perempuan itu ingin tahu, apakah keduanya benar-benar berada di bilik
itu atau sekadar ingin melihat pertengkaran yang terjadi itu.
Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung
benar-benar telah memasuki bilik itu.
Kiai Windu ternyata masih duduk
ditempatnya bersandar dinding. Ketika keduanya masuk, maka Kiai Windu itu pun
berkata, "Aku merasa agak cemas."
"Tentang kami?" bertanya Sambi Wulung.
"Ya. Kalian orang baru disini," desis
Kiai Windu.
"Kami berusaha untuk menyesuaikan diri,"
berkata Jati Wulung. Lalu, "Aku pernah berada ditempat perjudian Gresik. Tetapi
suasananya jauh lebih tertib. Prahu-prahu yang lewat bengawan menurunkan
orang-orang dari jauh memasuki tempat perjudian yang lebih besar dari tempat
ini."
Kiai Windu mengerutkan keningnya.
Katanya, "Aku belum pernah berada di Gresik. Tetapi apakah tempat itu juga
tempat untuk menyabung ayam?"
"Ada lebih dari tujuh kalangan sabung
ayam," jawab Sambi Wulung. "Sepuluh tempat bermain dadu. Tempat panahan yang
luas dan apakah disini juga ada binten?"
Kiai Windu menggeleng. Katanya, "Disini
tidak ada binten. Panahan disini kurang menarik meskipun ada. Yang terbanyak
adalah permainan dadu."
Sambi Wulung dan Jati Wulung
mengangguk-angguk. Dengan nada berat Sambi Wulung berkata, "Aku juga ingin
tidur."
"Silakan," berkata Kiai Windu. "Aku tidak
mengantuk."
Sambi Wulung pun kemudian merebahkan
dirinya di antara amben yang besar berjajar dengan ketiga kawan Kiai Windu.
Sedangkan Jati Wulung masih juga belum merasa mengantuk.
Tiga orang kawan Kiai Windu itupun sudah
tertidur nyenyak. Sementara Sambi Wulung pun segera tertidur pula. Yang kemudian
masih duduk dan berbincang adalah Kiai Windu dan Jati Wulung.
Dalam pada itu Jati Wulung pun telah
bertanya kepada Kiai Windu, "Bagaimana kita makan disini?"
"Disini ada semacam kedai. Kita dapat
memesan makanan sesuai dengan selera kita. Namun tentu saja hanya yang mungkin
disediakan," jawab Kiai Windu.
"Jadi disediakan beberapa jenis lauk pauk
disini?" bertanya Jati Wulung.
"Ya," jawab Kiai Windu. "Nanti kita akan
melihatnya."
Jati Wulung mengangguk-angguk. Sementara
itu Kiai Windu bertanya, "Apakah kau tidak ingin tidur lebih dahulu?"
"Tidak. Aku tidak terbiasa tidur di siang
hari," jawab Jati Wulung. "Betapapun letihnya. Apalagi menjelang senja seperti
ini."
Tetapi Kiai Windu itu tersenyum. Katanya,
"Ternyata kalian adalah orang-orang yang sangat berpengalaman."
"Kenapa?" bertanya Jati Wulung.
"Kau bukan saja terbiasa tidur di siang
hari. Tetapi kau dan saudaramu itu terbiasa tidur bergantian. Apalagi kalian
berdua belum mengenal aku dengan baik," desis Kiai Windu.
"Kau pun memiliki pengalaman yang luas.
Kau kira aku tidak tahu bahwa kau mendapat giliran berjaga-jaga yang pertama.
Justru saat yang paling gawat ketika kita memasuki tempat seperti ini?" desis
Jati Wulung.
Kiai Windu itu pun tertawa pendek.
Diperhatikannya ketiga kawannya yang tertidur lelap. Namun seorang di antara
mereka nampak gelisah. Meskipun lukanya yang tidak terlalu dalam itu sudah
diobati, namun agaknya masih juga terasa pedih.
**
KETIKA malam menjadi semakin malam, maka
yang tertidur itu pun justru telah terbangun. Setelah membenahi diri, maka
mereka bersama-sama meninggalkan bilik mereka untuk pergi ke kedai di bagian
belakang dari tempat perjudian yang disebut Song Lawa itu.
Karena Sambi Wulung dan Jati Wulung
nampak ragu-ragu untuk meninggalkan bilik mereka maka Kiai Windu pun berkata,
"Kita tidak usah mencemaskan barang-barang kita. Tidak ada seorang pencuri pun
yang berani masuk ke tempat ini."
Keduanya mengangguk-angguk. Namun Jati
Wulung menyahut, "Di tempat lain, keadaannya berbeda. Justru perampok-perampok
besar telah berusaha untuk ikut memasuki tempat seperti ini. Mereka bukan saja
mencuri, tetapi mereka akan merampok dengan kekerasan."
"Disini penjagaannya cukup kuat untuk
melawan perampok-perampok seperti itu," desis Kiai Windu.
Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun ia
tidak berbicara lagi.
Mereka berenam pun kemudian telah berada
di bagian belakang dari tempat perjudian dan sabung ayam itu. Sebenarnyalah
tempat itu memang cukup luas. Di halaman samping memang terdapat tempat untuk
beradu keterampilan memanah. Tetapi bukan sekadar keterampilan. Mereka
mempergunakan nilai-nilai panahan itu untuk perjudian dengan taruhan yang
tinggi.
Di belakang ternyata terdapat sebuah
kedai yang besar. Beberapa buah amben dan lincak bambu terdapat di kedai itu.
Ketika mereka berenam memasuki kedai itu, ternyata di dalam kedai itu sudah
terdapat beberapa orang yang sedang makan dan minum. Dengan tingkah laku yang
kasar mereka betebaran di beberapa amben dan lincak bambu. Dari jarak yang
panjang mereka berbicara sambil berteriak-teriak.
Sambi Wulung dan Jati Wulung
termangu-mangu ketika mereka melihat perempuan yang ribut di dalam biliknya itu
ada pula di antara mereka yang sudah lebih dahulu duduk di kedai itu. Bahkan
seorang perempuan yang lain pun ada di kedai itu pula. Seorang perempuan yang
nampak tegar dan agak gemuk. Hampir mirip dengan Bibi, duduk di sudut kedai itu
menghadapi nasi dan lauk pauknya.
Keenam orang itu pun kemudian mengambil
tempat yang agak terpisah. Betapa kasarnya Kiai Windu dan kawan-kawannya,
ternyata mereka masih juga mempergunakan pikiran dan kadang-kadang bersikap
tenang dan mapan pula.
Seorang di antara merekalah yang kemudian
pergi memesan makan dan minum bagi keenam orang itu.
Beberapa saat kemudian, nasi hangat
sebakul kecil telah dihidangkan. Beberapa macam lauk pauk dan sayur yang masih
berasap. Sambal terasi yang baunya membuat mereka bertambah lapar.
Meskipun malam sudah mendekati
pertengahannya, tetapi ternyata di kedai itu masih banyak orang yang makan minum
atau sekadar berbicara dan berkelakar.
Namun ketika keenam orang itu sedang
sibuk menyuapi mulut mereka, maka beberapa orang telah memasuki kedai itu pula.
Suara mereka telah lebih dahulu bagaikan mengguncang seisi kedai itu. Tertawa
yang keras diselingi dengan umpatan kasar.
Ruangan yang luas itu bagaikan bergetar
ketika perempuan yang agak gemuk, yang duduk di sudut itu kemudian berteriak,
"He, jangan berbicara terlalu keras dan kasar. Bukankah ini sudah hampir tengah
malam?"
Orang itu memang terdiam sejenak. Namun
suara tertawa mereka pun meledak lagi. Seorang di antara mereka menjawab,
"Jangan marah Nyai. Kau sendiri berteriak-teriak dengan suaramu yang melengking
meniti rusuk-rusuk atap kedai itu. Sudahlah, biarlah kita berlaku seperti
biasanya. Bukankah tempat ini merupakan tempat segala orang dengan segala
tingkah lakunya?"
Perempuan yang agak gemuk itu
termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian bergumam, "Persetan kalian."
***
Tanpa menghiraukan mereka yang baru
datang itu lagi, maka perempuan gemuk itu telah melanjutkan makannya. Sesuap
demi sesuap. Namun ternyata perempuan itu makan banyak sekali. Sambi Wulung dan
Jati Wulunglah yang agaknya juga tertarik sekali oleh kehadiran orang-orang itu.
Ketika Jati Wulung bergeser, maka Sambi Wulung pun menahannya sambil berdesis,
"Sudahlah."
Kiai Windu mengerutkan keningnya. Dengan
nada rendah ia bertanya, "Kenapa?"
Sambi Wulung menggeleng. Katanya, "Tidak
apa-apa."
Kiai Windu termangu-mangu. Meskipun kedua
orang itu belum lama dikenalnya, tetapi rasa-rasanya Kiai Windu telah menangkap
watak keduanya yang keras dan garang. Kedua orang yang mengaku bernama
Wanengbaya dan Wanengpati itu.
Sambi Wulung dan Jati Wulung memang tidak
memperhatikan mereka lagi. Namun justru orang-orang itulah yang telah melihat
Sambi Wulung dan Jati Wulung, duduk di antara enam orang sambil makan dan minum.
Tiba-tiba saja kelakar mereka pun
terhenti. Mereka saling menggamit dan berbisik.
"Dua orang gila di Nggebayan itu," desis
seorang di antara mereka.
"Aku sudah mengira bahwa kita akan
bertemu lagi disini," sahut yang lain.
"Mereka justru berenam sekarang," berkata
yang lain lagi.
Tidak ada yang menyahut. Tetapi mereka
pun merasa, bahwa mereka mempunyai lebih banyak kawan di tempat itu.
Namun mereka tidak lagi berkelakar,
berteriak dan mengumpat kasar meskipun Sambi Wulung dan Jati Wulung nampaknya
tidak menghiraukan mereka.
Untuk beberapa saat, ruangan itu telah
menjadi hening. Namun kehehingan itu segera dipecahkan lagi ketika seorang yang
berwajah keras, bermata setajam mata burung hantu, bertubuh tinggi agak
kekurus-kurusan, memasuki kedai itu. Dengan nada tinggi tiba-tiba saja ia
berkata lantang, "he, Nyai. Kau ada disini."
"Kau," perempuan yang agak gemuk itu pun
berteriak.
Laki-laki yang bertubuh tinggi agak
kekurus-kurusan itu pun kemudian mendekatinya. Tetapi langkahnya terhenti,
ketika tiba-tiba seorang perempuan yang lain, yang di siang harinya hampir saja
bertempur dengan kawannya sendiri tiba-tiba saja telah berdiri dan berjalan
mendekati laki-laki itu. Dengan nada rendah ia berkata, "kau datang juga?"
Laki-laki itu terkejut. Agaknya ia tidak
mengira bahwa ia akan bertemu dengan perempuan itu ditempat perjudian dan sabung
ayam itu.
"Kenapa kau disini?" bertanya laki-laki
itu.
"Seperti kau juga berada disini," jawab
perempuan itu.
Laki-laki yang bertubuh tinggi itu
tergagap sejenak. Namun kemudian katanya, "Aku sudah terbiasa berada ditempat
ini."
"Jangan pura-pura tidak tahu," desis
perempuan itu. "Aku juga sudah sering berada disini. Meskipun barangkali tidak
sesering kau."
Laki-laki itu mengangguk-angguk. Katanya,
"Baiklah. Silakan. Kita akan bertemu di permainan dadu lusa. Atau barangkali kau
juga ingin bertaruh di tempat sabung ayam?"
"Kau memang berpura-pura bodoh atau
memang sudah pikun," berkata perempuan itu. "Setiap aku disini, aku selalu
berada di lapangan panahan."
"O, ya," laki-laki itu mengangguk-angguk.
"Kau masih berhutang kepadaku," berkata
perempuan itu.
Laki-laki itu tertawa. Katanya, "Akan aku
bayar dengan cara yang kau kehendaki."
Tetapi laki-laki itu tidak sempat
berbicara lebih panjang. Tiba-tiba saja perempuan yang agak gemuk itu telah
mendekatinya. Sambil memegangi lengannya dengan kedua tangannya itu bertanya,
"Kau akan makan?"
Laki-laki itu tergagap. Tetapi ia pun
menjawab, "Ya. Aku akan makan."
DIGANDENGNYA laki-laki itu dan
disorongnya duduk disebelah tempat duduknya disebuah amben kecil. Katanya,
"Disini sudah disediakan makan yang cukup. Bukankah kau senang makan pete rebus
dengan sambal terasi yang sangat pedas?"
Laki-laki itu masih berpaling ke arah
perempuan yang seorang lagi. Tetapi perempuan itu sudah melangkah kembali
ketempat kawan-kawannya duduk.
"Perempuan yang cantik," desis perempuan
yang agak gemuk itu.
Laki-laki yang bertubuh tinggi itu tidak
menjawab. Namun ia pun kemudian memperhatikan makan yang tersedia dihadapan
perempuan yang agak gemuk itu.
"Tinggal ini?" bertanya laki-laki.
"Bukankah ini pesanku?" bertanya
perempuan itu, lalu, "Aku akan memesan buatmu."
"Terima kasih," jawab laki-laki itu.
Perempuan itu pun kemudian bangkit. Ia
menuju kepada penjual di kedai ittu untuk memesan beberapa macam makanan.
Sambi Wulung dan Jati Wulung yang baru
pertama kali memasuki daerah Song Lawa itu pun semakin mengenal, apa yang ada di
dalam lingkungan yang terasing itu. Namun keduanya berpaling ke arah Kiai Windu
ketika orang itu bertanya, "Kau heran melihat kehidupan disini? Bagaimana dengan
Gresik?"
"Di Gresik semuanya lebih teratur. Tidak
ada orang yang bertindak menurut keinginan sendiri," jawab Sambi Wulung.
Kiai Windu mengangguk-angguk. Tetapi
mereka segera tertarik pada pertengkaran yang terjadi di sudut lain. Dua orang
laki-laki yang terhitung masih muda nampaknya telah berselisih. Semakin lama
pertengkaran itu menjadi semakin kasar dan keras.
Orang-orang yang ada di kedai itu hanya
berpaling saja memandangi mereka. Namun orang-orang itu sama sekali tidak
berbuat sesuatu. Mereka sibuk dengan kepentingan mereka masing-masing. Laki-laki
yang bertubuh tinggi dan perempuan yang agak gemuk itu pun hanya berpaling saja.
Keduanya segera tenggelam dalam kesibukan mereka sendiri. Keduanya pun
melanjutkan makan dan bergurau sejadi-jadinya.
Sambi Wulung dan Jati Wulung menarik
nafas dalam-dalam. Tetapi Kiai Windu pun berkata, "Tidak ada orang yang
membuat-buang waktu untuk mengurusi orang lain."
Sambi Wulung dan Jati Wulung hanya
mengangguk-angguk saja.
Sementara itu, kedua orang yang
bertengkar itu agaknya sudah tidak dapat menahan diri lagi. Karena itu, maka
yang seorang di antara mereka mulai memukul lawannya bertengkar.
Perkelahian pun segera terjadi. Semakin
lama menjadi semakin seru. Keduanya ternyata memiliki keterampilan yang tinggi,
sehingga dengan demikian, maka perkelahian pun menjadi seimbang.
Untunglah bahwa keduanya bergeser keluar
kedai, sehingga tidak merusakkan suasana dan peralatan di dalam kedai itu,
sementara pemiliki kedai itu sudah melangkah mendekati keduanya seandainya
keduanya merusakkan kedainya.
Ternyata pemilik kedai atau orang yang
dikuasakan, yang baru ke luar dari belakang dinding, adalah orang yang bertubuh
raksasa, yang pantas membuka kedai di tempat yang garang seperti itu. Wajahnya
menunjukkan kekerasan sikap dan hatinya.
"Itukah pemiliknya?" tiba-tiba Sambi
Wulung berdesis.
"Ya," jawab Kiai Windu. "Yang lain itu
adalah orang-orang yang diupahnya. Tetapi jangan mengira bahwa mereka bukan
orang-orang yang tidak mampu berkelahi."
Sambi Wulung terdiam. Namun ketika kedua
kaki laki-laki muda itu berkelahi di luar kedai, maka raksasa pemilik kedai itu
sama sekali tidak mengganggu mereka.
Perkelahian itu berlangsung semakin
sengit. Namun ternyata bahwa keduanya sama sekali tidak bersenjata. Meskipun
demikian ketika serangan-serangan dari kedua belah pihak mulai mengenai tubuh
mereka, maka mereka pun mulai menyeringai menahan sakit. .
DI bawah lampu minyak yang menggapai
halaman kedai itu, keduanya nampak semakin garang dan keras. Namun beberapa saat
kemudian seorang yang lain telah datang. Dengan serta merta orang itu telah
memasuki arena perkelahian. Namun ternyata bukan membantu salah seorang di
antara mereka yang berkelahi. Tetapi ia justru menyerang kedua-duanya.
Kedua laki-laki muda itu ternyata dibawah
pengaruh laki-laki yang datang kemudian. Ternyata mereka pun telah berhenti
berkelahi, ketika mereka menyadari kehadirannya.
"Setan," geram laki-laki yang baru datang
itu. "Kalian telah berkelahi lagi."
"Ia telah mulai lagi," sahut yang
seorang. Tetapi yang lain segera memotong, "Bukan aku. Ia telah menggangguku."
"Aku rontokkan gigi kalian. Pergi," geram
laki-laki yang datang kemudian.
Keduanya tidak membantah. Namun ketika
keduanya mulai beranjak, terdengar suara raksasa pemilik kedai itu, "Bayar
dahulu."
"O," kedua laki-laki yang berkelahi itu
termangu-mangu. Namun seorang di antara mereka menjawab, "Aku belum sempat
makan."
"Tetapi kau sudah memesan, dan pesanan
itu sudah dihidangkan. Jika kau tidak sempat makan itu salahmu sendiri," geram
raksasa itu.
Laki-laki yang datang kemudian itu pun
berkata pula. "Bayar."
Kedua laki-laki muda itu pun kemudian
terpaksa mengeluarkan beberapa keping uang untuk membayar makanan yang belum
sempat mereka makan.
Ketika ketiga laki-laki di halaman itu
pergi, maka raksasa itu pun tidak segera masuk kembali. Ia telah duduk pula
disebuah amben bambu di sudut kedai itu mengamati orang-orang yang ditengah
malam masih juga berada di dalam kedainya.
Ki Windu dan kawan-kawannya sama sekali
tidak memperhatikannya lagi. Hanya Sambi Wulung dan Jati Wulung sajalah yang
sekali-kali masih memandang raksasa itu. Bahkan kemudian Jati Wulung berkata,
"Sehari orang itu tentu makan seekor kambing."
Tetapi tiba-tiba Kiai Windu berdesis,
"Sst. Jangan memperolok-olok begitu. Ia bukan jenis orang yang suka bergurau.
Jika ia marah, maka kita akan mendapatkan kesulitan."
"Kenapa?" bertanya Sambi Wulung.
"Kekuatannya melampaui kekuatan seekor
kerbau," jawab Kiai Windu. "Tidak ada seorang pun yang berani menantangnya. Jika
ada, maka orang itu tentu akan menjadi bahan olok-olok, karena ia akan menjadi
cacat atau bahkan mati."
"Mati?" Sambi Wulung menjadi heran,
"Apakah ia berhak membunuh tanpa batasan?"
"Jangan lupa. Kita berada di Song Lawa,"
jawab Kiai Windu.
Sambi Wulung mengangguk-angguk. Bahkan
sambil menunjuk sebuah bangunan yang agak terpisah ia berkata, "Kau lihat rumah
kecil itu?"
"Ya," jawab Sambi Wulung.
"Rumah itu khusus dibuat bagi mereka yang
menjadi putus asa setelah mengalami kekalahan yang tidak terhitung lagi disini.
Atau mungkin karena hal-hal lain. Mereka dapat membunuh diri di sana dengan cara
yang mereka sukai. Di dalam rumah kecil itu terdapat bermacam-macam senjata dan
tali gantungan yang dapat dipergunakan setiap saat. Setiap pagi dan sore, dua
orang petugas akan membersihkan tempat itu dan menguburkan mayat-mayat," berkata
Kiai Windu.
***
Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam.
Dengan nada rendah ia berkata, "Memang luar biasa. Di tempat-tempat lain aku
tidak pernah menjumpai hal seperti itu. Di sebelah Barat Pajang, di Gresik, di
Bergota dan ditempat-tempat lain yang pernah aku datangi."
"Mungkin. Tetapi tempat-tempat itu tidak
terletak di lereng Gunung Kukusan," sahut Kiai Windu.
Sambi Wulung mengangguk-angguk. Katanya,
"Ya. Agaknya tempat ini merupakan tempat yang paling wingit dari tempat-tempat
yang pernah aku datangi."
"Kau pernah ke tempat judi di Bergota?"
bertanya Kiai Windu.
"Ya. Kenapa?" bertanya Sambi Wulung.
"Aku juga pernah datang ketempat itu,"
jawab Kiai Windu.
"Tetapi kita belum pernah bertemu,"
berkata Sambi Wulung kemudian.
"Aku baru dua kali. Sudah lama aku tidak
pernah datang lagi ke Bergota," berkata Kiai Windu pula.
Sambi Wulung tidak menyahut. Ia tertarik
kepada orang baru yang memasuki warung itu. Namun ternyata orang itu tidak
berbuat apa-apa selain duduk dan memesan makanan.
Beberapa saat Sambi Wulung, Jati Wulung
serta Kiai Windu dengan kawan-kawannya masih duduk di kedai itu. Ketika malam
menjadi semakin malam, maka mereka berenam pun meninggalkan kedai itu dan
kembali ke dalam bilik mereka.
Namun ternyata bahwa keadaan telah
berubah. Beberapa orang lagi telah memasuki tempat itu, justru ditengah malam.
Dengan demikian maka keadaan pun menjadi semakin riuh. Meskipun tengah malam
telah lewat.
"Kita mendapat semakin banyak kawan
disini," berkata Kiai Windu.
"Ya. Semakin dekat dengan hari-hari yang
ditentukan, maka penghuni tempat ini akan menjadi semakin banyak," berkata Jati
Wulung. Lalu, "Tetapi apakah barak-barak ini akan dapat menjadi penuh?"
"Lebih dari lima musim aku datang
ketempat ini," jawab Kiai Windu. "Barak-barak ini biasanya terisi hampir penuh."
"Keributan-keributan terjadi setiap
hari?" bertanya Sambi Wulung.
"Ya. Setiap hari. Di kalangan sabung
ayamlah yang paling banyak terjadi. Kemudian di tempat bermain dadu. Yang paling
sedikit terjadi keributan adalah di lapangan panahan di belakang. Meskipun
demikian pernah terjadi beberapa kali perang tanding dengan panah karena mereka
berselisih pendapat tentang taruhan mereka."
"Perang tanding sampai mati?" bertanya
Jati Wulung.
"Ada yang mati dan ada yang tidak," jawab
Kiai Windu.
Jati Wulung pun kemudian
mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut.
Beberapa saat kemudian mereka pun telah
berbaring di pembaringan. Tetapi Sambi Wulung tidak segera memejamkan matanya.
Bahkan kemudian, ia telah bangkit dan duduk di sudut pembaringan dihadapan pintu
yang tertutup rapat, bahkan diselarak.
Kiai Windu tidak menegurnya. Ia tahu,
bahwa orang itu mendapat giliran untuk berjaga-jaga. Sambi Wulung tidak mau
berjaga-jaga sambil berbaring, karena ia akan dapat terseret ke dalam mimpi
tanpa disadarinya.
Namun seorang kawan Kiai Windu telah
bangkit pula dan duduk di sebelah Sambi Wulung.
"Kau tidak mengantuk?" bertanya orang
itu.
Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam.
Namun kemudian ia pun duduk bersandar dinding sambil berdesis, "Kenapa kau tidak
tidur seperti kawan-kawanmu?"
"Sebagaimana kau, yang juga tidak mau
tidur?" jawab orang itu.
Sambi Wulung tersenyum. Katanya, "Di
tempat seperti ini kita memang perlu berhati-hati."
Orang itu hanya mengangguk saja. Namun ia
pun kemudian juga beringsut mencari sandaran pada dinding.
Ternyata barak itu tidak pernah sepi tiap
malamnya. Masih saja terdengar orang-orang berbicara. Kadang-kadang terdengar
pula suara tertawa.
Menjelang pagi, Jati Wulung pun telah
terbangun. Demikian pula seorang kawan Kiai Windu yang lain, sehingga yang
berjaga-jaga pun kemudian telah berganti.
***
KETIKA Kiai Windu memberitahukan hal itu
kepada Sambi Wulung, maka Sambi Wulung pun berkata, "Satu kesalahan yang besar
telah dilakukan oleh mereka yang berkuasa di Song Lawa."
"Kenapa?" bertanya Kiai Windu.
"Seharusnya mereka mempunyai kekuatan
cukup untuk menertibkan tempat ini. Melerai setiap perselisihan dan mengatur
setiap permainan," berkata Sambi Wulung.
"Itu hanya memperbanyak pekerjaan saja,"
jawab Kiai Windu.
"Tetapi orang-orang yang gila pada
perjudian tetap lemah, tidak akan takut datang kemari untuk ikut bermain dadu
atau bertaruh pada sabung ayam," berkata Sambi Wulung. "Dengan demikian maka
pengunjung di tempat ini akan menjadi semakin ramai, sehingga pemasukan pun akan
bertambah lagi.
Kiai Windu mengangguk-angguk. Dengan nada
rendah ia berkata, "Benar juga. Tetapi segala sesuatu akan dapat terjadi di luar
tempat ini. Misalnya, orang-orang yang dendam terhadap mereka yang menang tetapi
lemah, akan dapat membalas dendam di perjalanan kembali ke tempat tinggal
masing-masing."
"Tempat ini harus menyediakan pengantar
sampai ke padukuhan-padukuhan yang melindunginya dengan paugeran," jawab Sambi
Wulung.
Kiai Windu mengerutkan keningnya. Tetapi
ia berdesis, "Mungkin hal seperti itu dapat dilakukan. Tetapi agaknya mempunyai
banyak kesulitan. Meskipun demikian jika ada kesempatan dapat juga disampaikan
kepada mereka yang bertugas disini."
Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam.
Namun ia pun menyadari bahwa cara itu akan sangat sulit diterapkan di daerah
lereng Gunung Kukusan yang sudah terbiasa dengan caranya yang lama. Yang
sebenarnya di rasa mengganggu bagi para penghuni lereng Gunung Kukusan yang
lain, sebagaimana orang-orang padukuhan Nggebayan yang selalu dibayangi oleh
kecemasan.
Dalam pada itu, Kiai Windu pun kemudian
berkata kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung. "Kau tunggu kami di dalam. Kami
akan ke luar sebentar menengok kuda-kuda kami. Meskipun kuda-kuda itu sudah
dirawat oleh orang-orang yang khusus ditugaskan, tanpa ditilik langsung, mungkin
akan mengalami perlakuan yang kurang baik karena mereka merawat bukan milik
mereka sendiri."
Sambi Wulung mengerutkan keningnya.
Tetapi ia pun kemudian bertanya, "Bagaimana jika kami ikut keluar sebentar?
Rasa-rasanya ingin juga melihat suasana di luar dinding yang membuat lingkungan
ini bagaikan menjadi pengab."
"Jangan keluar," cegah Kiai Windu. "Kau
belum mempunyai tanda yang dapat kau pergunakan untuk masuk dan keluar. Jika
yang bertugas di pintu gerbang itu orang lain yang lebih bebal dari yang
terdahulu tanpa mau mendengarkan penjelasan, maka persoalannya akan sulit.
Karena itu, lebih baik kalian berdua berada di dalam. Ingat, kalian akan diberi
tanda itu jika kalian dianggap baik dan tidak berbahaya."
"Bukankah disini dapat berbuat apa saja?"
bertanya Jati Wulung.
"Maksudnya tentu saja berbahaya bagi
tempat ini. Bukan bagi para pengunjung yang lain," jawab Kiai Windu.
Sambi Wulung dan Jati Wulung
mengangguk-angguk.
"Berhati-hatilah. Kami tidak akan lama.
Jika kalian merasa sulit untuk mengekang diri melihat segala macam tingkah laku
orang disini, masuk saja ke dalam bilik dan berbaring untuk menghilangkan
kesal," berkata Kiai Windu kemudian.
"Baiklah. Kami akan menunggu," sahut
Sambi Wulung.
Demikianlah, maka Kiai Windu dan ketiga
orang kawannya pun telah menuju ke pintu gerbang untuk menengok kuda-kuda yang
mereka tinggalkan. Agaknya kuda-kuda itu memang kuda-kuda yang mahal dan sudah
barang tentu kuda yang baik.
Sepeninggal Kiai Windu, maka Sambi Wulung
dan Jati Wulung masih melihat-lihat keadaan. Mereka pun kemudian berjalan menuju
ke arena panahan yang luas. Ketika dilihatnya beberapa orang yang nampaknya
sedang memperhatikan jarak dari tempat memanah dan sasaran, maka Sambi Wulung
dan Jati Wulung pun telah melangkah menuju ke sudut lapangan yang luas itu.
Keduanya pun kemudian duduk dibawah sebatang pohon rambutan yang kebetulan tidak
sedang berbuah. .
SAMBIL bersandar batang pohon rambutan
itu Sambi Wulung sempat memperhatikan kesibukan yang semakin meningkat.
Sedangkan Jati Wulung kemudian telah berbaring di atas rerumputan. Sejuk juga
rasanya udara di lereng Gunung Kukusan itu. Apalagi angin yang lemah bertiup
dari arah ngarai.
Jati Wulung yang berbaring itu, tanpa
disadarinya telah dirayapi oleh perasaan kantuk. Matanya perlahan-lahan telah
terpejam.
Tetapi ia terkejut ketika Sambi Wulung
telah menggamitnya sambil berdesis, "Lihat."
Jati Wulung pun tergagap. Dengan serta
merta ia telah bangkit dan memandang ke arah pandangan Sambi Wulung.
"Kau melihat apa?" bertanya Jati Wulung.
"Anak muda itu!" desis Sambi Wulung.
Keduanya pun kemudian memperhatikan
seorang anak muda yang berpakaian rapi dan baik dengan bahan yang cukup mahal.
Dua orang yang agaknya pengawalnya berjalan disampingnya sebelah menyebelah.
Menilik sikap dan bentuk tubuhnya, maka kedua pengawal itu tentu bukan orang
kebanyakan. Mereka tentu orang-orang yang berilmu tinggi.
"Apakah anak itu yang kita cari disini?"
desis Sambi Wulung.
Jati Wulung tidak menjawab, tetapi ia
terangguk-angguk kecil.
Namun Sambi Wulung pun kemudian berdesis,
"Tetapi agaknya anak itu lebih tua dari Risang."
"Ujudnya memang demikian," sahut Jati
Wulung. "Jika anak itu lebih tua dari Risang, tentu bukan anak itu yang kita
cari."
Sambi Wulung mengangguk-angguk pula
sambil berkata, "Wajahnya pun sama sekali tidak mirip dengan Risang.
Bagaimanapun keduanya seayah, sehingga tentu ada kesamaan betapapun kecilnya."
"Ya," sahut Jati Wulung. "Tetapi kita
belum memperhatikan dengan baik. Kita baru melihatnya dari jarak yang agak jauh.
Mungkin kita akan mendapat kesempatan untuk mendekati anak muda itu."
Sambi Wulung tidak berkata. Namun anak
muda itu telah melintas.
Namun yang beberapa saat kemudian Sambi
Wulung dan Jati Wulung masih berada di tempatnya. Tetapi mereka pun tidak lagi
memperhatikan orang yang mondar-mandir di lapangan yang akan dipergunakan untuk
arena panahan itu. Bahkan Jati Wulung telah berbaring lagi sambil berkata, "Aku
tiba-tiba menjadi malas disini. Aku mengantuk."
"Kau semalaman kurang tidur," berkata
Sambi Wulung. "Lewat tengah malam kita masih berada di kedai. Kemudian kau tidur
sebentar. Namun menjelang pagi, akulah yang tidur."
"Tidak. Sebenarnya jauh dari cukup.
Tetapi rasa-rasanya udara memang segar disini. Agak dingin, namun tidak terlalu
menggigit. Di hari yang cerah begini aku justru menjadi sangat mengantuk," sahut
Jati Wulung.
"Tidurlah," berkata Sambi Wulung. "Aku
akan duduk sambil menunggu Kiai Windu datang."
"Mereka agaknya akan langsung ke dalam
bilik," berkata Jati Wulung.
Sambi Wulung tidak menyahut. Tetapi ia
kembali duduk bersandar pada batang pohon rambutan yang cukup besar itu,
sementara Jati Wulung berbaring sambil berbantal kedua telapak tangannya.
Menurut penglihatan Sambi Wulung memang
semakin banyak orang yang berada di tempat yang disebut Song Lawa itu. Perempuan
pun menjadi semakin banyak pula. Bahkan di antaranya perempuan-perempuan muda
yang agaknya tidak untuk berjudi. Tetapi mereka adalah perempuan-perempuan yang
lebih banyak bersolek untuk menggoncang hati-hati yang lemah dari laki-laki yang
pada umumnya secara wadag terlalu kuat. Meskipun agaknya perempuan-perempuan
muda seperti itu tidak memiliki kemampuan ilmu kanuragan, tetapi mereka berada
di bawah perlindungan para petugas di Song Lawa, sehingga siapa yang berani
mempermainkannya, maka mereka akan berhadapan dengan raksasa-raksasa yang banyak
berkeliaran.
TIBA-TIBA saja di luar sadarnya Sambi
Wulung berkata, "Jauhi mereka agar kita tidak kehilangan jalur tugas kita." Jati
Wulung yang sudah terpejam matanya itu perlahan-lahan beringsut. Tanpa membuka
matanya ia bertanya, "Apa yang harus dijauhi?" "Perempuan-perempuan muda yang
sengaja didatangkan kemari," jawab Sambi Wulung.
Namun justru tiba-tiba saja Jati Wulung
bangkit. Dengan nada tinggi ia bertanya, "Yang mana?"
"Awas," desis Sambi Wulung. "Jika kau
mempunyai persoalan dengan salah seorang dari mereka, maka kau akan dapat
kehilangan semua kesempatan yang sudah kita peroleh selama ini."
"Bukankah aku tidak apa-apa?" bertanya
Jati Wulung.
"Tetapi begitu kau mendengar tentang
perempuan-perempuan muda, maka kau sudah kehilangan kantukmu," berkata Sambi
Wulung.
Jati Wulung tertawa. Katanya, "Kau selalu
curiga. Aku hanya ingin tahu saja."
Sambi Wulung tidak menjawab. Tetapi ia
pun telah mengangkat wajahnya ke satu arah.
Sebenarnyalah bahwa Jati Wulung pun
melihat tiga orang perempuan muda yang lewat diiringi oleh dua orang raksasa
petugas dari Song Lawa tersebut.
"Sama sekali tidak menarik," berkata Jati
Wulung.
Sambi Wulung berpaling ke arah Jati
Wulung yang kemudian duduk disisinya. Sambil tersenyum ia berkata, "Tidur
sajalah."
"Nanti dulu. Aku memang tiba-tiba menjadi
tidak mengantuk lagi," jawab Jati Wulung.
Sambi Wulung tertawa pula. Katanya, "Kau
memang harus berhati-hati."
Jati Wulung pun tersenyum. Tetapi ia
tidak menjawab.
Tetapi yang kemudian lewat bukan lagi
perempuan-perempuan muda yang rias berlebihan. Yang kemudian melintas di
lapangan itu adalah Kiai Windu dan tiga orang kawan-kawannya.
Ternyata bahwa Kiai Windu telah melihat
Sambi Wulung dan Jati Wulung yang duduk di bawah pohon rambutan itu. Karena itu,
maka mereka pun telah mendekatinya pula.
Sambil tersenyum Sambi Wulung berkata,
"Kalian agaknya telah mengikuti perempuan-perempuan itu."
"Ah," sahut Kiai Windu. "Akukan sudah
tua. Aku lebih senang bertaruh di arena sabung ayam daripada mempertaruhkan
uangku untuk hal-hal seperti itu. Bahkan mungkin sebelum aku sempat bertaruh
dadu, uangku sudah habis tuntas. Bahkan mungkin aku akan dapat menjual kudaku."
Sambi Wulung berpaling ke arah Jati
Wulung sambil berkata, "Nah, kau dengar?"
"Bukankah aku tidak berbuat apa-apa?"
jawab Jati Wulung.
Sambi Wulung, Kiai Windu dan
kawan-kawannya tertawa. Dengan nada rendah Kiai Windu berkata, "Mereka adalah
pemeras-pemeras yang kasar disini. Namun ada juga orang yang merasa senang
dengan pemerasan-pemerasan itu. Dengan bekerja sama dengan para petugas Song
Lawa, maka mereka dapat menguras seseorang sampai kering. Tetapi ada juga orang
yang merasa dirinya tidak diperas."
DEMIKIANLAH, maka mereka pun kemudian
telah selesai. Setelah membayar makanan yang mereka makan, mereka pun telah
meninggalkan kedai itu. "Kau lagi yang membayar?" bertanya Sambi Wulung. "Nanti
akulah yang membayar." "Kau hanya berdua. Kami berempat," berkata Kiai
Windu. "Tetapi adalah kewajiban kami untuk membayarnya," sahut Jati Wulung.
"Baiklah," jawab Kiai Windu. "Tetapi jika
kami yang membayar itu pun bukan aku. Tetapi kami bergantian empat orang."
Sambi Wulung dan Jati Wulung tertawa.
Tetapi mereka tidak berbicara lagi.
Namun dalam pada itu Sambi Wulung dan
Jati Wulung memang harus berhati-hati. Di Nggebayan mereka telah membunuh
seorang yang menurut pendapat Sambi Wulung dan Jati Wulung sangat deksura.
Bagaimana pun juga keduanya tidak mau dihina. Sementara kawan-kawan dari orang
yang terbunuh itu sudah ada di Song Lawa itu pula. Meskipun nampaknya mereka
tidak secara serta merta mendendamnya, tetapi kemungkinan buruk memang dapat
terjadi."
Ternyata bahwa kawan Kiai Windu itu tidak
melupakan janjinya. Karena itu, maka katanya, "Aku akan menemui orang-orang
Macan Ireng itu. Bukankah kami berjanji untuk bertemu di lapangan."
"Satu tontonan yang tentu akan menarik.
Tempat ini sudah terlalu ramai untuk berkelahi sekarang," berkata Kiai Windu.
"Tetapi aku tidak ingkar janji," jawab
kawannya.
Kiai Windu menarik nafas dalam-dalam.
Lalu katanya, "Baiklah. Tetapi sebaiknya kalian berkelahi tanpa senjata."
"Aku tidak dapat memilih. Terserah orang
Macan Ireng itu," jawab kawan Kiai Windu.
Kiai Windu mengangguk-angguk. Ia memang
tidak dapat memaksa kehendaknya kepada orang-orang Macan Ireng.
Sejenak kemudian maka mereka pun telah
berada di lapangan. Mereka berdiri agak menepi, karena ternyata beberapa orang
masih sibuk mempersiapkan lapangan itu untuk dipergunakan pertandingan memanah
yang diperjudikan.
Beberapa saat mereka menunggu. Namun
ternyata sejenak kemudian mereka melihat sekelompok berjalan menuju ke arah
mereka.
Kiai Windu terkejut. Katanya, "Apakah
mereka semua orang-orang Macan Ireng?"
"Entah," jawab kawannya. "Beberapa orang
di antara mereka adalah orang-orang yang sudah terbiasa berada di Song Lawa."
Kiai Windu menggeram. Katanya, "Persetan.
Aku memang mengenal mereka yang sudah sering datang ketempat ini. Mereka tidak
pernah menyebut dirinya orang-orang Macan Ireng. Tetapi dua di antara mereka
adalah orang-orang Kalamerta."
"Kalamerta," hampir di luar sadarnya
Sambi Wulung berdesis.
"Ya. Bekas gerombolan Kalamerta yang
semula sudah bercerai berai, namun berhasil dihimpun pula oleh pewarisnya,"
jawab Kiai Windu.
"Aku sudah mendengar tentang hancurnya
gerombolan Kalamerta sepeninggal pemimpinnya," desis Jati Wulung.
"Pemimpinnya telah dibunuh oleh pemimpin
Tanah Perdikan Sembojan. Orang yang memiliki ilmu yang luar biasa, yang pernah
mempunyai persoalan dengan Kalamerta jauh sebelumnya. Bukan dengan
gerombolannya. Tetapi persoalan pribadi yang diselesaikan dengan perang tanding.
Tetapi Kalamerta terbunuh dan Ki Gede Sembojan yang juga hampir mati sampyuh itu
dapat disembuhkan oleh seorang ahli pengobatan yang berilmu tinggi. Namun ia
tetap cacat," berkata Kiai Windu.
"Apakah pemimpin Tanah Perdikan itu juga
sering datang kemari untuk berjudi?" bertanya Sambi Wulung.
"Tidak. Pemimpin Tanah Perdikan itu sudah
mati," jawab Kiai Windu.
"Lalu, apa hubungannya dengan orang-orang
itu?" bertanya Sambi Wulung pula
***
DEMIKIANLAH, maka mereka pun kemudian
telah selesai. Setelah membayar makanan yang mereka makan, mereka pun telah
meninggalkan kedai itu. "Kau lagi yang membayar?" bertanya Sambi Wulung. "Nanti
akulah yang membayar." "Kau hanya berdua. Kami berempat," berkata Kiai
Windu. "Tetapi adalah kewajiban kami untuk membayarnya," sahut Jati Wulung.
"Baiklah," jawab Kiai Windu. "Tetapi jika
kami yang membayar itu pun bukan aku. Tetapi kami bergantian empat orang."
Sambi Wulung dan Jati Wulung tertawa.
Tetapi mereka tidak berbicara lagi.
Namun dalam pada itu Sambi Wulung dan
Jati Wulung memang harus berhati-hati. Di Nggebayan mereka telah membunuh
seorang yang menurut pendapat Sambi Wulung dan Jati Wulung sangat deksura.
Bagaimana pun juga keduanya tidak mau dihina. Sementara kawan-kawan dari orang
yang terbunuh itu sudah ada di Song Lawa itu pula. Meskipun nampaknya mereka
tidak secara serta merta mendendamnya, tetapi kemungkinan buruk memang dapat
terjadi."
Ternyata bahwa kawan Kiai Windu itu tidak
melupakan janjinya. Karena itu, maka katanya, "Aku akan menemui orang-orang
Macan Ireng itu. Bukankah kami berjanji untuk bertemu di lapangan."
"Satu tontonan yang tentu akan menarik.
Tempat ini sudah terlalu ramai untuk berkelahi sekarang," berkata Kiai Windu.
"Tetapi aku tidak ingkar janji," jawab
kawannya.
Kiai Windu menarik nafas dalam-dalam.
Lalu katanya, "Baiklah. Tetapi sebaiknya kalian berkelahi tanpa senjata."
"Aku tidak dapat memilih. Terserah orang
Macan Ireng itu," jawab kawan Kiai Windu.
Kiai Windu mengangguk-angguk. Ia memang
tidak dapat memaksa kehendaknya kepada orang-orang Macan Ireng.
Sejenak kemudian maka mereka pun telah
berada di lapangan. Mereka berdiri agak menepi, karena ternyata beberapa orang
masih sibuk mempersiapkan lapangan itu untuk dipergunakan pertandingan memanah
yang diperjudikan.
Beberapa saat mereka menunggu. Namun
ternyata sejenak kemudian mereka melihat sekelompok berjalan menuju ke arah
mereka.
Kiai Windu terkejut. Katanya, "Apakah
mereka semua orang-orang Macan Ireng?"
"Entah," jawab kawannya. "Beberapa orang
di antara mereka adalah orang-orang yang sudah terbiasa berada di Song Lawa."
Kiai Windu menggeram. Katanya, "Persetan.
Aku memang mengenal mereka yang sudah sering datang ketempat ini. Mereka tidak
pernah menyebut dirinya orang-orang Macan Ireng. Tetapi dua di antara mereka
adalah orang-orang Kalamerta."
"Kalamerta," hampir di luar sadarnya
Sambi Wulung berdesis.
"Ya. Bekas gerombolan Kalamerta yang
semula sudah bercerai berai, namun berhasil dihimpun pula oleh pewarisnya,"
jawab Kiai Windu.
"Aku sudah mendengar tentang hancurnya
gerombolan Kalamerta sepeninggal pemimpinnya," desis Jati Wulung.
"Pemimpinnya telah dibunuh oleh pemimpin
Tanah Perdikan Sembojan. Orang yang memiliki ilmu yang luar biasa, yang pernah
mempunyai persoalan dengan Kalamerta jauh sebelumnya. Bukan dengan
gerombolannya. Tetapi persoalan pribadi yang diselesaikan dengan perang tanding.
Tetapi Kalamerta terbunuh dan Ki Gede Sembojan yang juga hampir mati sampyuh itu
dapat disembuhkan oleh seorang ahli pengobatan yang berilmu tinggi. Namun ia
tetap cacat," berkata Kiai Windu.
"Apakah pemimpin Tanah Perdikan itu juga
sering datang kemari untuk berjudi?" bertanya Sambi Wulung.
"Tidak. Pemimpin Tanah Perdikan itu sudah
mati," jawab Kiai Windu.
"Lalu, apa hubungannya dengan orang-orang
itu?" bertanya Sambi Wulung pula.
***
"TIDAK ada," jawab Kiai Windu. "Tetapi
dua orang Kalamerta itu merupakan dua orang di antara mereka yang sering
mengawal anak muda yang aku katakan. Masih terlalu muda." "Remaja?" desak Jati
Wulung. "Begitulah. Remaja yang bernama Puguh itu. Menilik kedua orang itu serta
kawan-kawannya yang lain, maka agaknya Puguh itu pun telah berada disini pula,"
berkata Kiai Windu kemudian.
Sambi Wulung dan Jati Wulung
mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak boleh terlalu menunjukkan perhatian
mereka terhadap laki-laki remaja yang bernama Puguh itu.
Beberapa saat kemudian, maka orang-orang
yang datang bersama dengan orang dari gerombolan Macan Ireng itu sudah menjadi
semakin dekat. Orang yang telah memasukkan ciri gerombolannya ke dalam mangkuk
kawan Kiai Windu itu berjalan paling depan. Sambil tersenyum ia pun kemudian
berhenti beberapa langkah dihadapan kawan Kiai Windu yang memang menyongsongnya.
"Ternyata kau jantan," berkata orang dari
gerombolan Macan Ireng itu.
"Aku tidak pernah ingkar janji," jawab
kawan Kiai Windu. "Apalagi dalam persoalan seperti ini."
"Bagus," jawab gerombolan Macan Ireng
itu. "Tetapi sayang. Keadaan di dalam lingkungan ini tidak terlalu baik untuk
melakukan perang tanding. Aku ingin melakukannya di luar."
Kawan Kiai Windu termangu-mangu. Ia
merasa bahwa ia tidak memiliki keterangan yang dapat dianggap lengkap untuk
memasuki arena, sehingga ia meragukan kejujuran orang Macan Ireng itu. Jika ia
memenuhi permintaannya dan ternyata ia terjun ke dalam satu jebakan, maka ia
akan mengalami kesulitan, sementara itu ia memang menduga bahwa orang-orang
Macan Ireng adalah orang-orang yang licik. Langkah-langkah yang dilakukan oleh
gerombolan itu atas pamannya memang menimbulkan kesan bahwa gerombolan itu
bukanlah terdiri dari orang-orang yang jujur.
Karena itu kawan Kiai Windu itu tidak
segera menjawab, maka orang dari gerombolan Macan Ireng itu mendesak, "He, apa
katamu?"
Tetapi kawan Kiai Windu itu menggeleng.
Katanya, "Kenapa kita harus ke luar dari Song Lawa? Disini kita mempunyai
kesempatan yang luas. Jika kau ingin kita lakukan ditempat yang tersembunyi,
kita dapat mencarinya di dalam lingkungan Song Lawa. Tidak diluarnya."
"Kau takut?" bertanya orang Macan Ireng
itu.
"Ya," jawab kawan Kiai Windu. "Aku takut
kau menjadi licik dan berusaha menjebakku. Menurut penglihatanku, kau memang
sangat licik. Bukankah yang pernah kau lakukan, atau katakanlah orang-orang dari
gerombolanmu mencerminkan kelicikanmu itu?"
Orang Macan Ireng itu menjadi tegang.
Dengan geram ia berkata, "Kau menghina kami. Dendamku menjadi semakin dalam.
Sementara itu kau bersikap seperti seorang pengecut."
"Aku memang pengecut di hadapan orang
yang licik. Nah, aku tantang kau berkelahi di dalam lingkungan Song Lawa. Tidak
akan ada orang yang mengganggu. Jika ada orang yang menonton biarlah mereka
menjadi saksi," berkata kawan Kiai Windu. "Justru dihadapan saksi-saksi itu kita
dapat menilai, siapakah yang menang dengan sikap jujur."
Suasana memang menjadi tegang. Ketika
beberapa orang bergeser, maka Kiai Windu dan kawan-kawannya yang lain pun
bergeser pula. Nampaknya Kiai Windu dan kawan-kawannya itu telah menganggap diri
mereka satu.
Sambi Wulung dan Jati Wulung
termangu-mangu. Apakah mereka juga akan melibatkan diri?
Dalam ketegangan itu tiba-tiba terdengar
suara seorang remaja melengking, memanggil nama seseorang.
Beberapa orang telah berpaling. Tetapi
seorang di antara mereka yang mengikuti dari gerombolan Macan Ireng ittu
bergegas mendekatinya.
"Kau memanggil aku?" bertanya orang itu.
"Apakah yang kau lakukan disini,"
bertanya remaja itu.
“AKU melihat kawanku yang terlibat dalam
perselisihan dengan orang-orang itu,” jawab orang yang dipanggilnya. “Kau atau
kawanmu?” bertanya remaja itu. “Kawanku,” jawab yang dipanggil. “Dan kau
melibatkan diri? Disini urusan seseorang adalah urusannya sendiri. Bukan urusan
orang lain,” berkata remaja itu. “Tetapi ia kawanku,” orang yang dipanggil itu
berusaha menjelaskannya.
“Persetan,” remaja itu membentak. “Kau
datang ke tempat ini bersamaku. Kau hanya berurusan dengan aku. Tidak dengan
orang lain meskipun itu kawanmu. Ikut aku bersama semua orang-orangku.”
Orang yang dipanggil itu tidak membantah.
Ketika remaja itu kemudian pergi, maka orang itu pun telah memberikan isyarat,
agar beberapa kawannya pun pergi juga mengikuti remaja itu.
Yang dipanggil hanya empat orang. Sejenak
orang Macan Ireng itu termangu-mangu. Namun ia pun mengumpat, “Anak bengal itu
telah mengganggu rencanaku menyelesaikan persoalan ini dengan tikus gila itu.”
“Bukankah kau merencanakan satu
kecurangan?” bertanya kawan Kiai Windu.
“Baiklah,” berkata orang Macan Ireng itu.
“Pada satu hari, akan datang kesempatanku untuk membalas dendam.”
Kawan Kiai Windu tidak menjawab.
Sementara itu, maka orang Macan Ireng itupun telah beranjak.
Tetapi langkahnya terhenti ketika kawan
Kiai Windu berkata, “Kau lihat, bahwa orang-orang yang bekerja di lapangan itu
sama sekali tidak menghiraukan kita, meskipun seandainya kita saling membunuh
disini? Mereka hanya akan menguburkan mayat, siapakah di antara kita yang mati.
Tetapi mereka akan minta upah kepada yang menang, karena mereka harus
menguburkan mayat itu.”
“Persetan dengan mereka,” geram orang
Macan Ireng itu sambil melangkah pergi.
Beberapa langkah sepeninggal orang-orang
Macan Ireng, maka Kiai Windu berdesis, “Mereka memang akan berbuat licik. Untung
kau sempat berpikir.”
“Mereka memang akan menjebakmu tanpa
malu-malu,” sahut Jati Wulung.
Namun tiba-tiba saja Kiai Windu berdesis,
“Anak itulah yang bernama Puguh.”
“He?” Sambi Wulung dan Jati Wulung agak
terkejut.
“Kenapa?” bertanya Kiai Windu. “Apakah
kau menaruh perhatian khusus terhadap Puguh?”
“Sama sekali tidak. Tetapi aku memang
menaruh perhatian terhadap semua remaja yang ada ditempat ini. Bahkan mereka
yang baru saja memasuki usia dewasanya. Kita yang tua-tua ini sebentar lagi
sudah akan memasuki lubang kubur. Kematian kita tidak akan ada yang
menangisinya. Apalagi jika kita mati dibilik yang memang disediakan untuk
membunuh diri itu. Tetapi anak-anak muda apalagi yang sedang menginjak usia
dewasa dan mereka yang masih remaja, maka hari depan mereka masih panjang.
Sementara itu disini mereka mendapat kesempatan untuk berjudi, berkelahi,
membunuh dan tidak kalah berbahayanya adalah perempuan-perempuan kedai itu,”
sahut Sambi Wulung.
“Kau memang aneh,” berkata Kiai Windu.
“Aku kira tidak ada tiga atau empat orang di lingkungan ini yang mempunyai sikap
seperti sikapmu itu. Bahkan orang tua anak-anak muda dan remaja itu pun aku kira
tidak mempunyai pikiran sejauh itu.”
“Tentu banyak yang lain,” berkata Sambi
Wulung. “Terucapkan atau tidak.”
“Aku semula juga tidak berpikir seperti
itu. Tetapi kini aku mulai memikirkannya,” berkata Kiai Windu.
“Bagaimana jika kita usulkan, bahwa batas
umur perlu ditentukan di Song Lawa yang gila ini,” berkata Jati Wulung.
“Mereka tidak akan sependapat,” jawab
Kiai Windu.
“Mereka siapa?” bertanya Jati Wulung.
"MUNGKIN karena mereka sudah terbiasa
berada disini," berkata Sambi Wulung di dalam hatinya. Ketika mereka makan
siang, maka rasa-rasanya kedai itu pun menjadi semakin sesak. Mereka duduk
berhimpitan. Mereka tidak dapat duduk mengelilingi makanan dan minuman mereka,
karena mereka harus memberikan tempat kepada orang-orang lain. Bahkan ada di
antara orang-orang yang makan itu justru duduk-duduk di luar kedai, di bawah
rindangnya dedaunan.
Dalam pada itu, Sambi Wulung dan Jati
Wulung telah melihat beberapa kelompok orang yang mempersiapkan beberapa
perangkat gamelan di sudut-sudut lingkungan perjudian Song Lawa itu.
"Untuk apa?" bertanya Sambi Wulung.
"Disetiap sudut akan ada janggrung malam
nanti," jawab Kiai Windu.
"Lengkaplah kemaksiatan di tempat ini,"
desis Jati Wulung.
"Apakah hal seperti ini tidak kau
bayangkan sebelumnya?" bertanya Kiai Windu.
Sambi Wulung dan Jati Wulung
termangu-mangu. Namun kemudian Sambi Wulung berkata, "Di tempat-tempat lain
tidak diperlengkapi dengan kemaksiatan yang begini kasar. He, jika kau memang
pernah pergi ke tempat perjudian di Gresik, kau tentu dapat mengatakan bahwa
tempat itu terlalu kasar dan kotor."
"Kau sudah memasuki tempat yang bukan
sewajarnya," berkata Kiai Windu. "Jangan menyesal jika kau melihat sesuatu yang
kasar, kotor, jorok dan tidak sewajarnya pula.
"Aku mengerti," berkata Sambi Wulung.
Namun tiba-tiba Kiai Windu berkata, "Kau
menjadi orang aneh disini."
"Justru baru pertama kali aku datang ke
tempat ini," jawab Sambi Wulung.
Sebenarnyalah, ketika malam turun, maka
di sudut-sudut lingkungan perjudian itu telah siap beberapa lingkaran janggrung.
Ketika oncor telah terpasang, maka suara gamelan pun mulai terdengar. Agak riuh,
dengan irama yang panas.
Hampir semua orang yang ada di tempat itu
telah ke luar dari barak-barak mereka. Melihat lingkungan yang menjadi lebih
terang dari biasanya. Apalagi disudut-sudut lingkungan itu.
Sambi Wulung dan Jati Wulung masih berada
di biliknya bersama Kiai Windu dan ketiga orang kawan-kawannya ketika gamelan
sudah terdengar. Seorang kawan Kiai Windu berkata, "He, apakah kita tidak akan
melihat janggrung?"
Kiai Windu memandang Sambi Wulung dan
Jati Wulung yang malas. Namun ia pun bertanya, "Bagaimana dengan kalian?"
"Aku malah, Kiai," jawab Sambi Wulung.
"Seharusnya kau tidak boleh malas,"
berkata Kiai Windu. "Bukankah kau berniat mengenal anak-anak muda dan yang
remaja itu?"
"Ya," jawab Sambi Wulung.
"Nah, marilah kita pergi," ajak Kiai
Windu.
Sambi Wulung memandang Jati Wulung yang
duduk bersandar dinding justru sambil memejamkan matanya. Namun ketika Sambi
Wulung bertanya kepadanya, maka ia pun telah membuka matanya, "Apakah kita akan
pergi?"
Sejenak ia berpikir. Sementara seorang
kawan Kiai Windu berkata, "Tledeknya masih baru."
"Darimana kau tahu?" bertanya Kiai Windu.
"Hanya kira-kira," jawab kawannya.
"Bukankah Wanengpati lebih senang tledek yang baru sebagaimana yang berada di
kedai siang dan sore ini?"
Jati Wulung mengerutkan keningnya. Namun
ia pun kemudian bergumam, "Baiklah. Kita melihat janggrung."
Demikianlah mereka berenam telah ke luar
pula dari bilik mereka. Sementara itu bilik-bilik yang lain pun agaknya telah
kosong pula. Ternyata bahwa janggrung itu memang sangat menarik. Bukan saja bagi
pengunjung laki-laki yang datang di Song Lawa, tetapi juga perempuan-perempuan
yang telah ada di dalam lingkungan tempat perjudian itu pula.
Ketika Sambi Wulung dan Jati Wulung
bersama Kiai Windu dan kawan-kawannya datang ke salah satu lingkungan janggrung
itu, agaknya pertunjukan memang baru di mulai. Para penari masih menari tanpa
pasangan. Mereka menarikan tarian yang panas dan melagukan tembang yang
menggelitik.
BEBERAPA orang melingkari arena
pertunjukan itu. Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung melihat bahwa kemaksiatan di
tempat itu benar-benar lengkap ketika beberapa orang laki-laki yang duduk-duduk
di tempat gelap telah mulai meneguk tuak.
"Kiai," berkata Sambi Wulung. "Sudah
berapa kali kau kunjungi tempat ini?"
"Tiga kali," jawab Kiai Windu. "Kenapa?"
"Aku sudah empat kali," sahut seorang
kawan Kiai Windu.
"Selalu ada kegiatan seperti ini?"
bertanya Sambi Wulung.
"Ya," jawab Kiai Windu.
"Dalam keadaan seperti apakah tidak mudah
terjadi singgungan-singgungan? Apalagi mereka yang sudah mulai mabuk?" desis
Sambi Wulung.
"Keadaan seperti ini memang rawan sekali.
Tetapi lihatlah di sekitar tempat ini," berkata Kiai Windu.
"Apa?" bertanya Sambi Wulung.
"Orang-orang yang akan mengusung
mayat-mayat yang mungkin akan jatuh di malam ini telah siap," berkata Kiai
Windu. "Namun pada umumnya mereka masih juga menahan diri agar besok mereka
dapat ikut bertaruh disabung ayam atau di tempat bermain dadu dan panahan."
Sambi Wulung mengangguk-angguk. Katanya,
"Mudah-mudahan kali ini pun demikian."
Kiai Windu tidak menjawab. Tetapi ia
mengajak mereka untuk pergi ke arena pertunjukan yang lain.
Seperti di arena yang baru saja mereka
tinggalkan, maka yang nampak adalah beberapa orang tledek muda yang menari
dengan irama yang panas. Mereka tersenyum-senyum kepada orang yang
mengerumuninya. Seolah-olah dengan sengaja mengundang mereka untuk memasuki
arena.
Tetapi suasananya masih belum terlalu
panas. Orang-orang yang berkerumun masih lebih senang melihat tledek-tledek itu
menari. Sementara orang-orang yang berkerumun itu hanya sekadar menonton,
meneriaki penari-penari yang terlalu banyak solah dan sekali-kali bertepuk
seiring dengan irama gamelan yang hangat.
Ketika keenam orang itu bergeser ke sudut
yang lain, ternyata ditempat itu, pertunjukan baru akan dimulai. Beberapa orang
penari memasuki arena. Sejenak mereka memandang berkeliling sambil tersenyum,
disambut dengan tepuk tangan orang-orang yang berada disekelilingnya.
"Agak terlambat di banding dengan
ditempat-tempat lain," desis Jati Wulung.
Yang lain tidak menjawab. Tetapi mereka
telah mengambil tempat yang cukup mapan di bawah sebatang pohon gayam.
Namun perhatian mereka tertarik ketika
tiba-tiba saja seorang perempuan yang diiringi oleh seorang laki-laki yang
bertubuh raksasa sebagaimana para petugas di tempat itu menyelinap di antara
mereka yang menonton pertunjukan itu.
Dengan kerut kening, Sambi Wulung, Jati
Wulung dan Kiai Windu dengan kawan-kawannya melihat perempuan itu menghentakkan
tangannya.
"Benar, orang itu yang kau cari?"
bertanya laki-laki raksasa itu.
"Perempuan itu memang cantik," desis
perempuan yang mendesak maju itu dan berdiri di depan Kiai Windu dan
kawan-kawannya.
"Tetapi kau tidak salah lihat?" bertanya
kawannya sekali lagi.
"Tidak. Perempuan itulah yang telah
mengambil suamiku, namun yang kemudian menyurungnya kedalam perselisihan dengan
para petugas disini. Sehingga akhirnya suamiku itu terbunuh disini," berkata
perempuan itu.
"Kau tahu petugas yang manakah yang telah
membunuh suamimu?" bertanya laki-laki raksasa itu.
"Aku tidak tahu yang mana," jawab
perempuan itu. "Tetapi itu tidak penting. Aku ingin perempuan itu hidup-hidup."
"Aku akan mengambilnya," geram laki-laki
raksasa itu.
"Jangan sekarang," cegah perempuan
itu."Akumasihinginbermaindadu.Jika kita sudah selesai, maka kita cari
keterangan, dimana tempat tinggalnya. Aku lebih senang berurusan dengan
perempuan itu di luar lingkungan Song Lawa."
“BAIKLAH. Tetapi kita harus menyadari,
bahwa dimana pun juga perempuan itu tentu mempunyai pelindung. Karena itu, maka
untuk mengambilnya, kita harus benar-benar siap melakukannya,” berkata laki-laki
bertubuh raksasa itu.
“Bukankah kita juga tidak hanya berdua?”
desis perempuan itu.
Laki-laki itu tidak menjawab. Namun
mereka telah tenggelam dalam tarian yang telah dimulainya. Bahkan laki-laki
raksasa itu sempat juga berkata, “Perempuan itu memang cantik.”
“Kau juga akan terseret ke dalam
pelukannya?” bertanya perempuan itu.
Laki-laki itu tertawa. Katanya, “Nilaimu
lain dengan nilai tledek itu meskipun seandainya kecantikanmu sama dengan
kecantikannya.”
“Persetan,” geram perempuan itu.
Namun laki-laki itu masih saja tertawa.
Demikianlah maka sejenak kemudian
lingkungan perjudian yang disebut Song Lawa itu menjadi ramai. Semakin malam
maka irama gamelan pun menjadi semakin hangat. Empat lingkaran keramaian yang
dipanaskan oleh tari janggrung yang semakin kasar membuat orang-orang yang
mengerumuninya menjadi semakin gembira. Beberapa orang yang mulai menjadi mabuk
telah ikut menari-nari. Mereka pun telah memasuki kebiasaan para penari
janggrung yang kasar. Mereka memberikan keping-keping uang kepada para tledek
yang menari berputar-putar untuk dapat ikut menari sebagai pasangannya.
Dalam pada itu, Sambi Wulung, Jati Wulung
dan Kiai Windu dengan ketiga orang kawannya ternyata hanya melihat-lihat saja.
Tidak seorang pun di antara mereka yang ikut meneguk tuak yang dapat memabukkan.
Tidak pula ikut menari bersama-sama dengan penari janggrung.
Ketika keadaan menjadi semakin panas,
maka tidak dapat dielakkan lagi telah terjadi benturan-benturan kekerasan. Namun
seperti yang dikatakan oleh Kiai Windu, pada umumnya mereka masih berusaha untuk
menahan diri, karena besok mereka ingin ikut serta dalam sabung ayam, atau
permainan dadu serta panahan yang diperjudikan.
Namun ketika Sambi Wulung dan Jati Wulung
melihat remaja yang disebut bernama Puguh itu berada dibawah sebatang pohon preh
tidak terlalu jauh dari salah satu arena tari janggrung itu, maka keduanya telah
saling menggamit.
Kiai Windu segera mengerti maksud
keduanya ketika keduanya dengan hati-hati agar tidak menarik perhatian telah
mendekati anak muda itu.
Ternyata Sambi Wulung telah berpura-pura
memapah Jati Wulung seakan-akan sedang mabuk. Kemudian melemparkannya sehingga
Jati Wulung itu terjatuh tidak terlalu jauh dari remaja bernama Puguh yang duduk
dikelilingi oleh empat orang pengawalnya.
Ketika debu terhambur, maka salah seorang
pengawal Puguh itu pun mengumpat, “Orang gila. Kau kotori pakaian kami he?”
Sambi Wulunglah yang menyahut, “Maaf Ki
Sanak. Adikku memang orang yang tidak tahu diri. Sudah tua masih juga ribut
dengan tari janggrung dan bahkan telah mabuk pula.”
Seperti yang lain, pengawal Puguh itu pun
tidak lagi mempersoalkannya. Agaknya mereka pun lebih senang bermain besok
daripada malam ini harus terjadi keributan, karena mereka memang datang untuk
berjudi.
Sambi Wulung dan Jati Wulung telah duduk
tidak terlalu jauh dari Puguh dan para pengawalnya. Jati Wulung masih saja
bersikap seperti orang mabuk, sehingga Kiai Windu yang juga mendekatinya
meskipun masih tetap memelihara jarak, tertawa sambil berbisik kepada
kawan-kawannya, “Mereka adalah orang-orang aneh.”
“Mungkin mereka mempunyai persoalan
dengan anak muda itu,” desis seorang kawannya.
“Tidak,” jawab Kiai Windu. “Ia menaruh
perhatian terlalu besar terhadap anak-anak muda dan remaja yang berada ditempat
maksiat seperti ini.”
“Menarik sekali untuk diperhatikan,”
berkata kawan Kiai Windu yang lain.
“Tetapi mereka benar-benar orang yang
berilmu sangat tinggi. Namun ternyata mereka tidak sekasar yang kita duga
sebelumnya, sebagaimana mereka menghentikan kita dan melukai salah seorang di
antara kita,” berkata Kiai Windu.
"NAMA yang bagus," jawab Sambi
Wulung. "Mungkin. Nama itu mungkin dapat dianggap nama yang baik. Tetapi nama
itu tidak berarti apa-apa bagiku," jawab Puguh.
Sambi Wulung mulai heran menghadapi sikap
anak yang bernama Puguh itu. Bahkan tiba-tiba saja anak itu bertanya, "Ki Sanak.
Kau memikirkan keadaanku? Mungkin kau bertanya di dalam hatimu, jika kanak-kanak
ingusan seperti aku berada ditempat ini, apakah jadinya aku di kemudian hari."
Sambi Wulung justru berdesah. Namun anak
itu berkata selanjutnya, "Tidak seorang pun yang memikirkan hari kemudianku.
Apakah aku akan menjadi seorang Tumenggung atau menjadi brandal yang paling
buruk atau apapun yang ingin aku lakukan. Hidupku memang ditempa oleh kekerasan
dan dendam. Apalagi?"
Sambi Wulung termangu-mangu. Namun
pengawalnyalah yang berkata, "Puguh memang seorang yang bekerja keras menempa
ilmunya. Mungkin terlalu keras sehingga sebagian dari masa kanak-kanaknya
hilang."
Hampir diluar sadarnya Sambi Wulung
berkata, "Sebenarnya masa remajamu dapat kau nikmati. Tetapi justru tidak
disini."
"Aku tidak mempunyai tempat yang lain
yang dapat memberikan kegembiraan kepadaku selain disini," jawab Puguh. "Agaknya
disini aku dapat berbuat apa saja dengan tanggung jawabku sendiri bersama
orang-orang yang memang diserahkan kepadaku untuk mengawani aku disini."
"Tetapi biaya kesenanganmu ditempat ini
terlalu mahal," berkata Sambi Wulung.
"Jika aku kalah. Tetapi jika aku menang,
maka aku akan mendapatkan berlipat ganda," jawab Puguh.
"Kau pernah memenangkan permainan
disini?" bertanya Sambi Wulung.
Puguh menarik nafas dalam-dalam. Katanya,
"Tidak. Aku belum pernah menang. Tetapi kalau tidak kalah aku memang pernah.
Maksudku tidak kalah dan tidak menang. Aku keluar dari tempat ini membawa uang
sebagaimana aku memasukinya. Tetapi aku pun pernah ditipu orang disini. Memang
mengherankan, bahwa ditempat seperti ini ada juga orang yang berani menipuku."
"Ditipu orang?" Sambi Wulung mengulang.
Tetapi Puguh tidak mau menjawab. Bahkan
ia pun berkata, "Panggil perempuan yang sedang menari itu. Beberapa saja ia
minta uang."
"Untuk apa kau panggil penari itu?"
hampir di luar sadarnya Sambi Wulung bertanya.
Puguh tertawa. Katanya, "Kau tahu, bahwa
aku sudah memasuki lingkungan ini sejak beberapa tahun sebelumnya. Sekarang
umurku telah mendekati lima belas tahun. Aku sudah dewasa sekarang."
"Belum. Kau belum dewasa," desis Sambi
Wulung.
Puguh tertawa. Namun katanya kemudian,
"Bawa kawanmu yang mabuk itu pergi. Aku tahu, kau tidak senang akan sikapku.
Tetapi kau harus ingat, bahwa kita berada di Song Lawa. Disini tidak ada
kewajiban untuk menyenangkan orang lain." .
SAMBI WULUNG menarik nafas dalam-dalam.
Namun sekali lagi Puguh berkata, "Bawa kawanmu yang mabuk itu pergi." Sambi
Wulung pun kemudian telah mengguncang Jati Wulung yang masih terbaring. Tetapi
Jati Wulung sama sekali tidak menjawabnya. Karena itu, maka Sambi Wulung pun
telah mengangkat dan memapah Jati Wulung untuk membawanya pergi.
Keduanya menyusuri dinding Song Lawa yang
remang-remang oleh cahaya obor. Namun kemudian keduanya telah turun ke lorong
yang langsung menuju ke dalam barak mereka.
"Bawa aku ke dalam bilik," berkata Jati
Wulung.
"Kaulah yang ganti harus menggendongku
semalam suntuk," geram Sambi Wulung. "Kau kira kau tidak cukup berat."
"Pergunakan tenaga cadangan dan ilmumu
untuk memapah aku," desis Jati Wulung.
"Gila kau," jawab Sambi Wulung.
Mereka tertegun ketika mereka bertemu
dengan Kiai Windu dan kawan-kawannya sebelum mereka memasuki pintu barak. Kiai
Windu pun telah tertawa sambil berkata, "Besok, biarlah aku yang berpura-pura
mabuk."
"Sst," desis Jati Wulung.
"Tidak ada orang," jawab Kiai Windu.
"Semua orang sudah keluar dari biliknya.
Jati Wulung tidak menyahut. Tetapi
demikian mereka memasuki barak itu, maka Sambi Wulung telah mendorong Jati
Wulung sambil berkata, "Berjalan sendiri."
Jati Wulung hampir saja menimpa dinding.
Namun ia tertawa sambil berkata, "Besok harus dilakukan lagi jika kau ingin
berbicara dengan anak muda yang lain."
Sambi Wulung menjawab, "Tidak perlu.
Tanpa mabuk-mabukan dapat dicari cara lain. Aku sudah cemas bahwa orang-orang
itu akan dapat mengetahui bahwa kau hanya berpura-pura."
"Aku sudah melakukan peranku dengan baik
sekali," jawab Jati Wulung.
"Tetapi mulutmu sama sekali tidak berbau
tuak," jawab Sambi Wulung.
Jati Wulung tiba-tiba saja tertawa. Namun
ia pun kemudian telah berjalan ke bilik mereka.
Dalam pada itu, bilik-bilik yang lain
memang masih kosong. Para penghuninya masih saja melihat keramaian di
sudut-sudut lingkungan Song Lawa yang merupakan dunia tersendiri.
Ketika mereka memasuki barak mereka, Jati
Wulung berdesis, "Apa saja yang kemudian dilakukan oleh Puguh?"
"Jangan sebut itu. Aku tidak berani
membayangkannya," jawab Sambi Wulung.
Jati Wulung memang tidak mengatakannya
lebih lanjut, sehingga karena itu, maka ia pun telah terdiam.
Tetapi dalam kediamannya Jati Wulung itu
pun telah berbaring dipembaringannya.
"Apakah kita tidak akan keluar lagi?"
bertanya Kiai Windu.
"Aku ingin merenungi malam ini di dalam
bilik ini," jawab Sambi Wulung.
Kiai Windu tersenyum. Katanya, "Kau
dengar suara gamelan itu? Semakin malam menjadi semakin panas. Penarinya
berganti-ganti tanpa habis-habisnya."
"Besok kita dapat menemui mereka di
Kedai," berkata Jati Wulung sambil memejamkan matanya.
"Tetapi dalam keadaan yang berbeda,"
jawab Kiai Windu.
"Aku sedang mabuk sekarang," jawab Jati
Wulung.
Mereka pun kemudian tertawa. Namun suara
tertawa mereka pun terputus ketika mereka mendengar suara perempuan melengking.
Agaknya perempuan yang berada di bilik sebelah itu pun telah kembali ke dalam
biliknya.
"Perempuan-perempuan yang tidak tahu akan
harga dirinya," geram perempuan itu yang terdengar dari bilik Sambi Wulung.
"Itu sudah pekerjaannya," terdengar
seorang laki-laki menyahut.
"Jika kau memerlukannya, kenapa kau ikuti
aku kembali ke bilik ini?" perempuan itu membentak.
.
“AKU sudah mengantuk. Besok aku akan
ikut bertaruh pada sabung ayam,” jawab laki-laki itu. Sementara itu terdengar
suara laki-laki yang lain. “Uangku lebih baik aku pergunakan untuk bertaruh
besok daripada harus diberikan kepada tledek-tledek itu.”
“Kalian berpikir tentang uang?” berkata
perempuan itu. “Tetapi sama sekali tidak tentang kesetiaan.”
“Kesetiaan? Apa maksudmu?” bertanya
laki-laki itu.
“Jika kau tidak mau bersinggungan dengan
perempuan itu bukannya karena kau tidak mempunyai uang, mengantuk atau
alasan-alasan lain. Tetapi semata-mata karena kalian tidak mau mengkhianati
istri kalian. Mengantuk atau tidak mengantuk, tidak mempunyai uang atau
menyimpan uang sepedati, kalian sama sekali tidak akan berbicara tentang
tledek-tledek seperti itu,” geram perempuan itu.
Tetapi yang terdengar adalah suara
tertawa beberapa orang laki-laki. Lebih dari dua orang. Seorang di antaranya
berkata, “Apa artinya kesetiaan itu bagiku? He, jawab. Berapa kali kau sudah
kawin? Bercerai, kawin lagi? Bahkan sekali waktu kau mempunyai dua orang suami.”
“Tutup mulutmu,” tiba-tiba saja terdengar
suara pedang yang ditarik dari sarungnya.
“Sudahlah,” terdengar suara berat. “Sejak
kemarin kau selalu menarik pedangmu. Apakah kau tidak dapat berbuat lain
daripada marah-marah di antara sesama kita?”
Pertengkaran itu memang mereda. Bahkan
kemudian tidak lagi terdengar suara seseorang. Tetapi yang terdengar adalah
hentakan-hentakan pada barang-barang dan alat-alat yang ada di dalam bilik
sebelah.
“Tledek itu memang dapat menimbulkan
persoalan antara seorang perempuan dan laki-laki yang mungkin suaminya, bahkan
orang lain sekali pun,” desis Jati Wulung sambil memejamkan matanya.
“Tidur sajalah,” berkata Sambi Wulung.
Kiai Windu yang kemudian juga berbaring
tersenyum. Katanya, “Sebaiknya kita memang beristirahat. Besok kita akan melihat
sesuatu yang kita tunggu. Bukankah kalian berdua belum pernah menyaksikannya?”
“Ya,” sahut Sambi Wulung. “Besok kita
akan menyaksikannya.”
Namun ternyata Jati Wulung dan Sambi
Wulung tetap tidak mau tidur bersama-sama. Bagaimana pun juga mereka tetap tidak
mengetahui kemungkinan yang dapat terjadi di tempat yang belum mereka ketahui
dengan jelas itu. Karena itu, maka mereka masih juga tidur bergantian.
Kiai Windu yang mengetahui kesiagaan
keduanya itu hanya tersenyum saja. Meskipun dalam tingkat ilmu Kiai Windu masih
dibawah kemampuan Sambi Wulung dan Jati Wulung, tetapi ia pun memiliki
pengalaman yang luas pula.
Sampai lewat tengah malam suara gamelan
masih terdengar riuh dan panas. Penari janggrung yang turun ke arena telah
berganti-ganti. Beberapa orang kepalanya telah menjadi pengab karena berkelahi.
Bahkan beberapa orang telah pingsan. Satu lagi jiwa telah melayang sebelum
perjudian benar-benar dimulai.
Dalam pada itu, Kiai Badra dan Kiai Soka
yang mengamati keadaan di tempat perjudian itu dari luar mencoba untuk mendekati
di malam hari. Meskipun mereka tidak melihat apa yang ada di dalam dinding yang
mengelilingi tempat yang disebut Song Lawa itu, namun mereka tahu, apa yang
sedang berlangsung.
“Gending-gending yang menggelitik,” desis
Kiai Soka.
Kiai Badra tertawa. Katanya, “Kau masih
juga ingat gending-gending untuk tayub?”
“Lebih panas dari tayub yang tertib,”
jawab Kiai Soka. “Tentu sedang berlangsung tari janggrung.”
Kiai Badra masih tertawa tertahan.
Katanya, “Mudah-mudahan Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak tenggelam dalam dunia
yang menghanyutkan itu.”
Kiai Soka mengangguk-angguk. Katanya,
“Jika aku masih tiga puluh tahun lebih muda, maka aku akan berusaha untuk
memasuki tempat itu tanpa mengingat bahayanya.”
.
"BARANGKALI Kiai ingin mencobanya
sekarang?" bertanya Kiai Badra. Kiai Soka juga menahan tertawanya. Namun
keduanya tidak bergeser terlalu dekat dengan dinding Song Lawa. Keduanya
terpaksa bersembunyi dibalik gerumbul ketika dua orang petugas dari Song Lawa
itu nganglang disekitar dinding lingkungan perjudian itu. Demikian petugas itu
menjadi semakin jauh, maka Kiai Badra dan Kiai Soka keluar dari
persembunyiannya.
Nampaknya belum ada persoalan yang
penting yang harus mereka tangani. Menurut perhitungan kedua orang tua itu,
keramian yang diselenggarakan malam itu tentu ada maksudnya.
"Mungkin besok perjudian yang ada di
dalam lingkungan Song Lawa itu akan dimulai," berkata Kiai Badra.
"Mungkin," sahut Kiai Soka. "Keramaian
malam ini merupakan pertanda dari permulaan itu."
"Beberapa hari persiapan-persiapan telah
dilakukan dengan baik. Sehingga nampaknya segala sesuatunya memang sudah siap,"
berkata Kiai Badra.
"Mudah-mudahan Sambi Wulung dan Jati
Wulung berhasil berhubungan dengan anak muda yang bernama Puguh itu," desis Kiai
Soka.
Dengan demikian maka kedua orang tua itu
pun berusaha untuk dapat mengelilingi lingkungan Song Lawa, untuk melihat segala
sesuatunya. Mereka tidak tahu, apakah pada suatu hari keduanya terpaksa
memasukinya.
Menjelang dini hari, maka kedua orang itu
pun mulai bergeser menjauh. Suara gamelanpun sudah menjadi semakin letih. Satu
dari empat arena janggrung telah menyelesaikan kegiatannya. Tledek yang menari
di arena sudah tidak kelihatan sorang pun, sementara para pemukul gamelan sudah
menjadi letih pula.
Beberapa saat kemudian satu lagi telah
menyelesaikan permainannya pula. Dan menjelang fajar, maka suara gamelan pun
telah berhenti. Para pemukul gamelan tidak beranjak dari tempatnya. Mereka
langsung saja membaringkan diri dan tidur di antara gamelan mereka.
Ketika fajar mulai memerah di langit,
maka para petugas di Song Lawa telah siap. Mereka telah membangunkan para
penabuh gamelan yang belum sempat tidur puas.
"Sebentar lagi segalanya akan dimulai.
Kalian harus meramaikannya dengan suara gamelan. Sabung ayam akan menjadi ramai.
Demikian pula permainan dadu. Di lapangan akan dilangsungkan panahan," berkata
para petugas itu.
Meskipun masih mengantuk, namun para
penabuh itu telah pergi ke pakiwan, mencuci muka dan membenahi diri bersiap di
belakang gamelan. Namun mereka tidak lagi akan mengiringi tari janggrung. Mereka
akan sekadar membunyikan gamelan untuk meramaikan saat dimulainya musim
perjudian.
Demikianlah ketika kemudian matahari
mulai naik, maka segala persiapan telah selesai. Arena sabung ayam pun telah
dipersiapkan sebagaimana tempat bermain dadu. Di lapangan, beberapa sasaran
panahan pun telah tergantung. Bahkan disisi lapangan terdapat sasaran yang lebih
kecil yang dipergunakan untuk paseran. Untuk jenis ini dipergunakan lapangan
yang tidak terlalu luas. Sasarannya memang mirip dengan sasaran untuk panahan
yang terdiri dari tiga bagian, yaitu kepala, leher, dada dan biasanya
dipergunakan jeruk bali untuk digantungkan dibawah sasaran pokok. Mereka yang
mengenai jeruk itu, justru akan mendapat denda.
Demikianlah, tanpa sesorah dan penjelasan
apapun, maka seorang yang bertubuh tinggi tegap sebagaimana kebanyakan raksasa
yang bertugas di tempat itu telah memukul kentongan dengan nada dara muluk.
Suara kentongan itu telah disambut oleh
suara gamelan yang berada di sudut-sudut lingkungan Song Lawa itu, sehingga
dengan demikian maka diseluruh lingkungan Song Lawa itu, telah diriuhkan oleh
suara-suara gamelan dan beberapa kentongan yang saling bersahutan.
SUARA kentongan dan gamelan itu ternyata
telah bergetar dan membentur lereng Gunung Kukusan, berkumandang menelusuri
lembah dan tebing-tebing curam.
Kiai Badra dan Kiai Soka yang berada di
gerumbul perdu di lereng Gunung Kukusan itu pun mendengar pula suara yang riuh
itu. Mereka yang tidak mengetahui berbagai pertanda yang ada di Song Lawa itu
hanya dapat menduga, bahwa musim perjudian saat ini telah dimulai.
Sebenarnyalah, maka arena sabung ayam pun
telah penuh dengan orang-orang yang akan bertaruh. Mereka harus membayar untuk
memasuki arena itu. Demikian pula mereka yang memasuki barak permainan dadu dan
lapangan untuk panahan dan paseran yang dianggap sebagai permainan sejenis.
Bedanya, bahwa pada paseran seseorang melemparkan paser dengan tangannya ke
sasaran, sementara pada panahan dipergunakan busur untuk melontarkan anak panah
pada sasaran yang lebih jauh dari paseran.
Demikian matahari semakin tinggi, maka
Song Lawa semakin hangat dan jumlahnya pun menjadi semakin besar.
Dalam pada itu, maka Kiai Windu telah
bertanya kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung, "Kalian akan memasuki yang mana?
Taruhan sabung ayam, permainan dadu atau ikut panahan atau paseran atau hanya
sekadar ikut taruhan pada panahan dan paseran?"
Sambi Wulung dan Jati Wulung
termangu-mangu. Sebenarnyalah mereka tidak memikirkan sebelumnya, kemana mereka
akan pergi. Namun ketika mereka teringat bahwa anak-anak muda lebih senang
berada di tempat panahan, maka Sambi Wulung pun berkata, "Aku akan melihat
panahan lebih dahulu. Aku harus mengerti cara bertaruh. Baru kemudian ikut
bertaruh."
"Kalian akan ikut panahan atau sekadar
bertaruh?" bertanya Kiai Windu.
"Kami akan melihat suasananya lebih
dahulu," jawab Sambi Wulung.
Kiai Windu pun mengangguk-angguk. Namun
kemudian ia pun berkata, "Aku pergi bersama kalian."
"Kenapa kalian akan pergi bersama kami?
Apakah kalian tidak mempunyai rencana tersendiri? Atau kalian memang ingin
mengawasi kami?" bertanya Sambi Wulung.
"Jangan salah mengerti Ki Sanak," jawab
Kiai Windu. "Aku sudah sering datang ke tempat ini. Karena itu, aku tidak merasa
perlu tergesa-gesa. Aku akan melihat-lihat dan baru kemudian menentukan apa yang
akan kami lakukan. Musim perjudian ini akan dilakukan untuk waktu yang cukup
lama. Jika masih banyak orang yang berminat dalam waktu sepuluh hari masih belum
akan ditutup. Nah, bukankah banyak tersedia waktu untuk menghabiskan uang disini
dan kemudian pergi ke bilik kecil itu untuk membunuh diri."
"Baiklah," sahut Sambi Wulung. "Tetapi
sebenarnya kami ingin membuat kalian terikat kepada kami."
"Sudah kami katakan," Jati Wulung
menyambung. "Setelah berada di dalam lingkungan Song Lawa, kami akan bertanggung
jawab atas diri kami sendiri."
Kiai Windu tersenyum. Katanya, "Apa
salahnya jika kita pergi bersama-sama. Setelah dua atau tiga hari, kalian akan
menghubungi petugas disini bersama kami untuk mendapat pertanda bahwa kalian
adalah keluarga yang sah dari tempat perjudian ini."
Sambi Wulung dan Jati Wulung
mengangguk-angguk. Namun mereka tidak menjawab lagi.
Mereka berenam pun kemudian telah pergi
ke lapangan panahan yang agak luas. Tempat itu memang tidak terlalu berdesakan
sebagaimana tempat-tempat yang lain. Juga tidak terlalu gemuruh
teriakan-teriakan orang bertaruh sebagaimana di tempat sabung ayam.
Namun keenam orang itu pun tidak segera
berbuat sesuatu. Mereka masih berdiri saja menyaksikan beberapa orang yang sudah
duduk di atas tikar dengan busur dan anak panah.
"Setiap orang yang ikut serta dalam
panahan dan paseran harus membayar. Baru mereka mendapat tempat untuk duduk
menghadap sasaran," berkata Kiai Windu.
SAMBI WULUNG dan Jati Wulung
mengangguk-angguk. Namun agaknya mereka baru dalam tingkat melihat-lihat. Ketika
panas menjadi semakin terik, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung telah duduk di
bawah sebatang pohon di pinggir lapangan. Namun dari tempatnya mereka dapat
menyaksikan panahan yang semakin lama memang menjadi semakin menarik.
Tetapi ternyata tidak demikian bagi Sambi
Wulung dan Jati Wulung, karena ternyata anak muda yang mereka cari tidak berada
ditempat itu.
"Mungkin besok atau besok lusa," berkata
Sambi Wulung kepada Jati Wulung hampir berbisik.
Jati Wulung mengangguk-angguk. Katanya,
"Kita masih mempunyai waktu. Tetapi mudah-mudahan kita tidak akan mengatakan
demikian jika semuanya sudah lewat."
Sambi Wulung tersenyum meskipun hambar.
Katanya, "Apakah sebaiknya kita mencarinya ditempat lain?"
"Agaknya mereka pun baru melihat-lihat.
Pada saat kita keluar justru mereka memasuki lapangan ini," sahut Jati Wulung.
Sambi Wulung mengangguk-angguk. Katanya,
"Baiklah. Kita menunggu disini."
Dalam pada itu, Kiai Windu dan ketiga
orang kawan-kawannya ternyata masih juga belum melibatkan dirinya dalam taruhan.
Agaknya ia masih ingin melihat siapakah di antara para pemanah yang paling baik
yang akan dapat dijadikan landasan bagi taruhannya.
Tetapi menurut penglihatan Sambi Wulung
dan Jati Wulung beberapa orang berada dalam tataran yang sama, sehingga yang
menang dan yang kalah terjadi silih berganti. Satu rambahan menang, namun dalam
rambahan berikutnya mengalami kekalahan. Namun bagi mereka yang termasuk
pemanah-pemanah terbaik, nilai mereka hanya terpaut sedikit saja.
Namun dalam pada itu, ketika Kiai Windu
duduk pula di dekat Sambi Wulung, maka Sambi Wulung itu pun bertanya, "Anak-anak
dari manakah yang menjadi cucuk dari panahan itu? Apakah orang tua mereka tidak
merasa cemas, bahwa kehidupan disini akan mempengaruhi cara hidup mereka kelak."
Kiai Windu melihat anak-anak berumur
sekitar sepuluh tahun berlari-lari mengambil anak panah dari mereka yang
bertaruh dengan panahan itu. Anak-anak panah yang meluncur ke sasaran, yang
mengenai atau tidak, setelah setiap rambahan selesai, maka anak-anak ittu
berlari-larian mengambil dan menyerahkan kepada para pemanah. Untuk itu
anak-anak itu mendapat upah yang cukup mereka pergunakan untuk membeli makanan
dan beberapa macam kesenangan mereka.
Dengan nada rendah Kiai Windu menjawab,
"Mereka adalah anak-anak dari orang-orang yang bekerja disini. Mungkin pelayan
di kedai, mungkin para petugas di gedogan kuda atau para penabuh gamelan.
Mungkin juga anak raksasa-raksasa yang mengawasi tempat ini."
Sambi Wulung mengangguk-angguk. Namun ia
pun berdesis, "Anak-anak tanpa hari depan. Mereka hanya akan menjadi orang
seperti kita yang berkeliaran di tempat-tempat perjudian seperti ini."
KIAI WINDU menarik nafas dalam-dalam.
Namun ia tidak menjawab lagi. Beberapa saat kemudian masih duduk di bawah
rimbunnya pepohonan di pinggir jalan. Sementara itu, maka mereka yang bertaruh
di lapangan menjadi semakin kepanasan. Bukan saja oleh matahari di langit yang
bagaikan membakar, tetapi juga oleh hati yang panas di dalam dada masing-masing.
Yang menang ingin menang lebih banyak lagi, sementara yang kalah ingin
mendapatkan kekalahan mereka kembali. Sedangkan yang pasti mendapat uang tanpa
menanggung kemungkinan kalah adalah anak-anak yang diupah untuk mengambil anak
panah yang dilepaskan untuk setiap rambahan.
Untuk mendorong gairah para pemanah maka
anak-anak pemungut anak panah itu telah berteriak-teriak menyebut anak panah
yang mereka layani masing-masing. Bahkan di antara mereka yang memberikan
isyarat untuk mengarahkan anak panah agar tepat mengenai sasaran.
Dengan nada melengking seorang anak itu
berteriak, "Sikatan, langkung."
Pemanah yang memiliki anak panah yang
dinamai Sikatan mengetahui ia memanah terlalu tinggi melampaui kepala sasaran.
Namun terdengar anak yang lain berteriak, "Jalak Sumurup," Pemanah yang memiliki
anak panah bernama Jalak itu pun mengetahui bahwa anak panahnya terlalu rendah
sehingga menyusup di bawah sasaran.
Suara anak-anak itu bersahutan
berganti-ganti memberikan isyarat kepada pemanahnya masing-masing. Sementara
rambahan demi rambahan pun telah berlangsung. Keping-keping uang berpindah dari
seorang ke yang lain, namun kemudian berputar kembali kepada orang yang pertama.
"Anak itu tidak akan kemari hari ini,"
terdengar Jati Wulung berdesis.
"Jadi, apakah sebaiknya kita berpindah
tempat?" bertanya Sambi Wulung.
Jati Wulung termangu-mangu. Namun sebelum
mereka beranjak dari tempatnya, ternyata beberapa orang telah memasuki lapangan.
Seorang di antaranya adalah seorang anak muda. Namun anak muda itu bukan Puguh.
"Nah,anakitudatang ,"desisKiaiWindu .
Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak dapat
mengatakan bahwa yang mereka tunggu sebenarnya adalah Puguh. Namun mereka justru
tidak dapat dengan serta merta meninggalkan tempat itu.
Karena itu maka Sambi Wulung pun
berdesis, "Kita tidak dapat pergi sekarang."
Jati Wulung mengerti. Karena itu, maka ia
pun mengangguk-angguk kecil.
Untuk beberapa saat anak muda itu berdiri
sambil bertolak pinggang menyaksikan panahan yang sedang berlangsung itu.
Kiai Windu yang kemudian bangkit dan
bergeser berkata kepada Sambi Wulung, "Wirakrama adalah seorang pemanah yang
sangat baik. Ia sering menang dalam panahan. Tetapi ia selalu kalah di tempat
lain.
"Apakah ia akan turun hari ini?" bertanya
seorang kawan Kiai Windu.
"Aku tidak tahu. Marilah kita mendekat,"
berkata Kiai Windu.
"Apakah kau masih memikirkan timang emas
yang dipalsukan itu?" bertanya Sambi Wulung.
Kiai Windu justru tersenyum. Katanya,
"Tidak. Aku tidak akan mempersoalkannnya.
Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak
beranjak dari tempatnya ketika Kiai Windu dan ketiga kawannya bergeser lebih
dekat ke belakang orang-orang yang duduk berderet mengarah ke sasaran. Ternyata
bahwa setiap sasaran telah diperuntukkan bagi beberapa orang dalam kelompok
mereka masing-masing, sehingga beberapa sasaran yang berjajar itu pun telah
dipergunakan untuk beberapa kelompok pemanah.
Untuk beberapa saat Wirakrama masih belum
turun. Ketika seorang yang bertubuh raksasa mendekatinya dan agaknya menawarkan
kesempatan untuk ikut, anak muda itu menggeleng sambil berkata, "Nanti saja."
Orang yang menawarkan kesempatan itu
tidak memaksanya. Ia pun kemudian meninggalkan anak muda itu yang masih saja
berdiri bertolak pinggang.
NAMPAKNYA ia berusaha untuk menilai
kemampuan para peserta panahan itu, agar ia tidak meyakinkan dirinya bahwa ia
akan menang. Kiai Windu yang beringsut mendekat, sengaja menampakkan dirinya
pada anak muda itu. Sebagaimana diharapkan maka anak muda itu memang terkejut.
Namun Kiai Windu masih saja berpura-pura tidak menghiraukannya.
Anak muda itu memberi isyarat kepada tiga
orang pengawalnya untuk mendekatinya. Mereka pun kemudian saling berbisik. Namun
tidak jelas apa yang mereka katakan.
Tetapi anak muda itu tidak segera
beranjak. Ia nampaknya masih menunggu karena beberapa kali ia berpaling.
Demikian pula ketiga orang pengawalnya.
Ternyata beberapa saat kemudian, seorang
yang bertubuh tinggi agak kurus telah memasuki lapangan itu pula. Orang itu
langsung mendekati Wirakrama sambil menunjuk beberapa kelompok orang yang sedang
mengikuti panahan.
Tetapi Wirakrama menggeleng. Agaknya
orang itu juga menganjurkan agar Wirakrama ke lapangan panahan.
Namun dalam pada itu, ternyata Wirakrama
telah memberitahukan kepada orang itu, bahwa di tempat itu ada seseorang yang
pernah berhubungan dengan mereka sebelumnya. Tanpa berpaling Wirakrama
memberitahukan arah Ki Windu berdiri.
Orang yang bertubuh tinggi itulah yang
kemudian memandang ke arah Kiai Windu berdiri seakan-akan belum melihat
Wirakrama dan kawan-kawannya.
Orang yang bertubuh tinggi itu
mengerutkan keningnya. Namun ketika kemudian Wirakrama mengangguk, orang
bertubuh tinggi itu telah melangkah mendekati Kiai Windu.
"Kiai," orang itu kemudian telah
menggamit Kiai Windu.
Kiai Windu pura-pura terkejut melihat
kedatangannya. Sambil tertawa ia bertanya, "He, Ki Sanak. Kau datang juga
sekarang?"
"Ya Kiai. Mengantar angger Wirakrama,"
jawab orang itu.
"O, angger Wirakrama ada disini pula?"
bertanya Kiai Windu kemudian.
Orang yang bertubuh tinggi itu menunjuk
ke arah Wirakrama berdiri bersama beberapa orang pengawalnya.
Kiai Windu mengangguk-angguk. Sambil
tersenyum ia berkata kepada orang bertubuh tinggi itu, "Aku akan menunggu angger
Wirakrama turun ke lapangan."
"Kiai akan turun pula?" bertanya orang
bertubuh tinggi itu.
Kiai Windu menggeleng. Katanya, "Tidak
hari ini."
Orang bertubuh tinggi itu termangu-mangu
sejenak. Namun tiba-tiba ia pun bertanya, "Apakah Kiai masih merasa mempunyai
persoalan dengan angger Wirakrama?"
"O, tidak," jawab Kiai Windu. "Bukankah
pinjamannya telah dibayar?"
"Timang emas itu?" bertanya yang bertubuh
tinggi.
"Ya. Timang emas itu," jawab Kiai Windu.
Orang bertubuh tinggi itu
mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun bertanya, "Apakah timang itu Kiai jual
atau masih Kiai simpan untuk dipergunakan sendiri?"
"Aku masih menyimpannya. Aku senang
dengan timang itu, sehingga setiap kali aku memakainya. Terutama dalam
pertemuan-pertemuan dengan orang-orang besar. Besar menurut ukuranku," Kiai
Windu itu tertawa.
Orang bertubuh tinggi itu mengerutkan
keningnya. Tetapi ia pun kemudian mengangguk-angguk sambil berdesis, "Syukurlah
jika Kiai menyukainya. Timang itu memang timang yang baik dan mahal. Memang
pantas jika Kiai memakainya dalam pertemuan-pertemuan dengan orang-orang yang
Kiai sebut orang-orang besar itu."
"Apakah angger Wirakrama juga
menyukainya?" bertanya Kiai Windu.
"Ya," jawab orang itu. "Angger Wirakrama
menyukainya. Barang itu merupakan barang yang sangat berharga baginya.
Seandainya persoalan itu tidak timbul dengan Kiai, maka ia tidak akan
menyerahkan timangnya. Seandainya ia terlibat persoalan utang dengan orang lain,
ia tentu berusaha untuk membayarnya dengan barang-barang lain." (Bersambung
KIAI WINDU mengangguk-angguk. Namun
tiba-tiba saja ia berkata, "Ki Sanak. Jika demikian, apakah angger Wirakrama
berhasrat untuk menebusnya kembali? Bukankah ia datang kali ini dengan uang yang
banyak? Bahkan belum dipergunakannya sama sekali. Jika angger Wirakrama ingin
menebusnya seharga utangnya pada waktu itu, aku akan menyerahkannya. Sayang,
jika barang itu merupakan barang kesayangannya." "O," orang itu menjadi gagap.
Namun ia menjawab juga, "Tentu tidak Kiai. Sebagai seorang yang berpegang pada
harga diri, maka apa yang telah dilakukannya tidak akan dicabut kembali atau
disesali."
"Bukandicabutkembali,"jawabKiaiWindu
."Justru akulah yang menawarkannya. Biarlah angger sempat memakainya lagi."
"Tidak Kiai," jawab orang bertubuh tinggi
itu. "Biarlah benda itu ada pada Kiai. Satu kenangan yang barangkali akan
berarti bagi Kiai."
Tetapi Kiai Windu tertawa. Katanya, "Ki
Sanak. Ketahuilah. Bekalku kali ini tidak terlalu banyak. Jika pada satu saat
aku kehabisan uang disini, maka mungkin aku akan minta tolong kepada angger
Wirakrama. Kita akan sama-sama mendapat keuntungan. Aku mendapat uang, dan
angger Wirakrama mendapat benda yang disenanginya kembali."
Orang bertubuh tinggi itu mengerutkan
keningnya. Namun kemudian katanya, "Angger juga tidak membawa bekal lebih banyak
dari musim judi yang lalu. Tetapi jika masih ada uang tersisa, maka aku kira hal
itu dapat dibicarakan kemudian."
Kiai Windu tertawa. Katanya, "Baiklah.
Nah, silakan. Bukankah angger Wirakrama merupakan orang terbaik di lapangan
panahan ini, terutama pada batas umurnya?"
Orang bertubuh tinggi itu tertawa.
Katanya, "Ya. Tetapi agaknya ia masih belum ingin turun sekarang."
"Memang seumurnya masih saja dipengaruhi
oleh keinginan anak-anak muda. Ia masih ingin melihat kesana-kemari, sebagaimana
kebiasaannya. Baru kemudian ia akan memasuki arena pilihannya," berkata Kiai
Windu.
Orang bertubuh tinggi itu
mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, "Silakan Kiai. Aku akan kembali
kepada anak muda itu."
Kiai Windu mengangguk sambil tersenyum,
"Silakan. Tetapi jangan lupa. Katakan kepadanya, bahwa jika aku memerlukan uang,
maka aku akan menyerahkan kembali timang itu."
Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun
kemudian katanya, "Baiklah. Aku akan mengatakannya."
Kiai Windu kemudian melihat orang
bertubuh tinggi itu kembali kepada Wirakrama. Sementara Wirakrama yang berdiri
ditempat yang agak jauh mengangguk kepada Kiai Windu yang membalasnya sambil
tersenyum.
Dari kejauhan Kiai Windu melihat, orang
bertubuh tinggi itu agaknya telah memberitahukan pesannya, sehingga anak muda
itu nampak mengerutkan dahinya. Tetapi agaknya ia berusaha untuk menahan diri,
agar tidak menimbulkan kesan apapun tentang pesan Kiai Windu itu.
Untuk beberapa lama Kiai Windu masih
berdiri ditempatnya. Namun kemudian ia pun telah bergeser dan berlindung dibawah
bayang-bayang dedaunan karena matahari menjadi semakin tinggi.
Ketiga orang kawannya memandanginya
sambil tersenyum pula, sementara itu Sambi Wulung dan Jati Wulung yang sudah
lebih dahulu berteduh bergeser pula mendekatinya. Dengan nada berat Sambi Wulung
bertanya, "Apakah kau benar-benar akan mengembalikan timang itu?"
"Akubelumtahu,"jawabKiaiWindu ."Kita
melihat keadaan. Sebenarnya aku merasa jengkel atas kecurangan itu. Tetapi aku
belum mengambil keputusan untuk membuat persoalan dengan anak muda itu."
Sambi Wulung tertawa. Katanya, "Sudahlah.
Bukankah kau akan menang lagi kali ini?"
"Namanya berjudi," jawab Kiai Windu.
"Tidak seorang pun tahu apakah kita akan menang atau kalah. Kecuali jika kita
melakukannya dengan tidak jujur."
"SULIT untuk bermain panahan dengan tidak
jujur, atau bahkan bermain dadu pun tidak dapat dilakukan dengan tidak jujur,
karena saat melontarkan dadu itu disaksikan banyak orang. Sedangkan dalam
kalangan sabung ayam sebagian besar ditentukan oleh ayam yang sedang bersabung.
Jika orang-orang yang bertaruh cukup berpengalaman, maka pada sabung ayam pun
sulit dilakukan kecurangan dengan cara apapun juga, karena orang-orang yang
berpengalaman itu akan segera dapat melihatnya," berkata Jati Wulung sambil
berbaring diatas rerumputan.
"He, ternyata kau benar-benar seorang
pemalas," desis Kiai Windu. "Dimana pun kau selalu berbaring."
Jati Wulung tersenyum. Katanya, "Bukankah
disini kita mendapat kesempatan untuk bermalas-malasan."
Kiai Windu masih akan menjawab. Namun
tiba-tiba terdengar beberapa orang bersorak di arena panahan. Ternyata seseorang
telah berhasil mengenai kepala sasaran. Satu hasil yang gemilang, karena dengan
demikian ia mendapat penilaian tertinggi untuk satu rambahan itu.
Ketika orang-orang yang berteduh itu
berdiri untuk melihat siapakah yang mendapat nilai tertinggi itu, Jati Wulung
masih saja tetap berbaring ditempatnya sambil berkata, "Siapapun yang
mengenainya, kita tetap tidak mengenalnya."
Tetapi Sambi Wulung tiba-tiba berkata,
"Bukan main. Seorang perempuan."
"He, seorang perempuan," bertanya Jati
Wulung sambil bangkit dengan tergesa-gesa, "Yang mana?"
Kiai Windu tertawa. Katanya, "Bukankah
kau tahu bahwa tidak seorang perempuan pun yang telah turun ke arena hari ini?"
"Anak setan," Jati Wulung mengumpat
sambil menguak maju. Ia kemudian justru berdiri paling depan sambil mengawasi
seluruh arena.
Beberapa orang masih saja
tertawa.Kawan-kawanKiaiWindupuntertawa pula.
Beberapa saat mereka masih berdiri
ditempatnya. Namun Sambi Wulung pun kemudian berkata kepada Jati Wulung,
"Marilah. Kita akan melihat-lihat ke tempat yang lain."
Jati Wulung mengangguk sambil bergeser.
Katanya, "Marilah. Disini rasa-rasanya mataku menjadi silau melihat panahan
ditempat yang panasnya semakin menyengat. Mungkin sore nanti kita akan dapat
melihat panahan dengan mapan. Kita dapat memilih tempat disini sebelah Barat
yang agak tinggi itu."
Tetapi ketika keduanya mulai bergerak,
Kiai Windu pun berkata, "Marilah. Kami pun akan ikut kalian. Kita lihat arena
sabung ayam yang ramai itu."
Sambi Wulung dan Jati Wulung saling
berpandangan sejenak. Tetapi mereka tidak menolak untuk pergi bersama-sama Kiai
Windu. Apalagi Kiai Windu adalah orang yang lebih banyak mengenal lingkungan itu
dari mereka berdua.
Ternyata bahwa di hari pertama itu,
perjudian masih belum terlalu ramai. Seperti juga ditempat panahan. Yang
bertaruh masih dapat membuat perhitungan-perhitungan dengan nalar yang jernih.
Karena itu, maka suasana ditempat
perjudian itu masih nampak tertib dan tidak terlalu kasar. Jika terjadi
perselisihan-perselisihan, masih mungkin mereka selesaikan dengan cara yang
lebih lunak daripada menghunus pedang.
Di tempat sabung ayam pun nampaknya masih
belum terlalu sesak. Tetapi teriakan-teriakan di antara mereka yang bertaruh
untuk ayam aduan yang dipilihnya, terdengar bagaikan menggetarkan
dinding-dinding disekitarnya.
Ketika keenam orang itu memasuki arena
yang terdiri dari beberapa kalangan sabung ayam, mereka memang tidak segera
tertarik untuk menyaksikan, apalagi bertaruh. Yang dicari Sambi Wulung dan Jati
Wulung adalah kesempatan untuk berkenalan dengan Puguh. Namun agaknya Puguh
masih juga belum tampak di arena sabung ayam itu.
"Dimana anak itu," desis Jati Wulung di
telinga Sambi Wulung.
"Apakah anak itu sudah berada di
permainan dadu?" sahut Sambi Wulung. (Bersambung
Tetapi keduanya tidak dengan serta merta
meninggalkan tempat itu. Apalagi ketika ternyata kemudian dua orang kawan Kiai
Windu telah mendekati salah satu kalangan untuk melihat ayam yang sedang
bertempur dengan serunya.
Tiba-tiba saja Jati Wulung berdesis, "Aku
haus sekali."
"Aku juga," ternyata Kiai Windu pun
menyahut.
"Apakah kita harus ke kedai itu?"
bertanya Sambi Wulung.
"Tidak," jawab Kiai Windu. "Jika sabung
ayam sudah mulai, disebelah ini ada kedai minuman meskipun hanya sekadarnya.
Tidak sebesar dari penjual di kedai induk itu."
"Kita minum," berkata Sambi Wulung.
Mereka pun kemudian pergi ke kedai kecil
disebelah tempat sabung ayam itu. Seorang kawan Kiai Windu tidak segera ikut
mereka, tetapi ia justru menyusul kawannya dilingkaran sabung ayam.
"Nanti, kami akan menyusul," berkata
orang itu.
"Kau akan mulai bertaruh?" bertanya Sambi
Wulung.
"Tidak," jawab kawan Kiai Windu itu. "Aku
hanya ingin melihat-lihat lebih dahulu."
Demikianlah, Kiai Windu, Sambi Wulung dan
Jati Wulung telah pergi ke kedai disebelah tanpa ketiga orang yang lain. Namun
mereka tertegun bahwa ternyata di kedai itu sudah duduk lebih dahulu seorang
anak muda pula. Hanya satu dua tahun lebih tua dari Puguh. Namun nampak sikapnya
jauh lebih kasar dari Puguh sendiri.
Ketika Kiai Windu sedang sibuk menikmati
wedang sere panas dan mengunyah sepotong makanan, maka Jati Wulung sempat
berkata, "Aku merasa agak heran. Ternyata Puguh tidak sekasar yang aku duga.
Bahkan nampaknya anak-anak muda sebayanya bersikap jauh lebih buruk dari sikap
Puguh itu sendiri. Wirakrama yang sombong, dan anak ini yang sikapnya seperti
serigala kelaparan."
"Jangan mencari perkara," berkata Sambi
Wulung.
Jati Wulung terdiam. Tetapi ia tidak
senang sama sekali melihat sikap anak muda itu. Anak muda yang agak gemuk yang
nampaknya dikawani oleh orang-orang yang berilmu pula.
Namun terjadilah peristiwa yang
menggemparkan. Sejenak kemudian, tanpa disangka-sangka, Puguh telah datang pula
ke kedai itu. Tetapi belum lagi ia duduk, anak muda yang agak gemuk itu telah
berkata kasar, "Nah, monyet itu datang pula kemari."
Puguh juga terkejut. Ia surut selangkah
ketika anak muda yang agak gemuk itu meloncat dari tempat duduknya.
"Kenapa?" bertanya Puguh agak
kebingungan.
"Jangan berpura-pura tidak tahu he?"
geram orang itu. Lalu katanya, "Kau larikan perempuan itu."
"Siapa?" nampaknya Puguh benar-benar
tidak mengerti.
"Kau bawa perempuan itu tanpa kau
lepaskan semalam suntuk," geram anak muda yang agak gemuk.
"Aku tidak tahu maksudmu," berkata Puguh
pula. (Bersambung
"Jangan pura-pura. Kau panggil penari itu
dan kemudian ia hilang dari arena sampai pagi," anak muda yang kasar itu hampir
berteriak. Puguh menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Aku memang memanggilnya.
Tetapi tidak lebih dari sekadar berbicara sambil makan makanan yang dibeli
kawanku dari kedai itu. Aku memang memberi uang cukup kepadanya."
"Untuk apa uang itu?" bertanya anak muda
itu dengan kasar.
"Aku senang kepada perempuan itu," jawab
Puguh. "Karena itu aku minta ia tidak perlu menari lagi. Aku suruh ia pergi dari
arena. Karena aku tidak ingin merugikannya, maka aku beri ia uang."
"Kau beri uang untuk sekadar pergi dari
arena?" bertanya anak muda yang kasar itu.
"Ya, kenapa?" bertanya Puguh.
Anak muda yang kasar itu tertawa
berkepanjangan. Katanya, "Apakah kau sudah gila. Kau sudah sering berada
ditempat ini membayar seorang tledek hanya untuk pergi dari bawah oncor dan dari
sisi gamelan?"
Puguh menjadi tidak senang melihat
sikapnya. Katanya, "Cari perempuan itu, dan bertanyalah kepadanya apa yang aku
lakukan. Aku baginya masih terlalu kanak-kanak."
Anak muda yang kasar itu tertawa semakin
keras. Namun tiba-tiba saja ia berkata, "Aku akan membalas sakit hatiku. Aku
harus memukulimu sepuluh kali sekarang."
"Gila. Kau kira kau ini siapa he?" wajah
Puguh menjadi merah. "Sejak musim judi yang lalu, kau memang mencari persoalan
saja untuk satu perkelahian. Jika kau memaksa terus seperti itu, aku terpaksa
melayanimu."
"Nah, kita akan berkelahi jika kau
berani," berkata anak muda itu. "Tanpa orang lain, pengawal-pengawalku tidak
akan ikut campur. Tetapi jika kau takut berkelahi sendiri, biarlah pengawalmu
membantumu."
"Jangan menghina aku seperti itu,"
berkata Puguh. "Jika kau memang menantangku, aku terima tantanganmu itu."
Anak muda yang agak gemuk dan kasar itu
tertawa. Kemudian dengan nada datar ia berkata, "Kita akan berkelahi sekarang.
Kita tidak usah mencari tempat. Disini kita berkelahi. Tentu akan lebih menarik
dari sabung ayam itu. Tetapi jika tanganku telanjur mematahkan tangan atau
kakimu, itu bukan salahku."
Puguh tidak menjawab. Tetapi ia pun
kemudian memberi isyarat kepada beberapa orang pengawalnya untuk mundur. Dengan
nada rendah ia berkata, "Jangan ganggu aku."
Para pengawalnya memang melangkah surut.
Sementara itu, anak muda yang agak gemuk dan kasar itu melangkah satu-satu
mendekati Puguh.
Ternyata seperti kebiasaan orang-orang
yang sudah berada di Song Lawa, orang-orang disekitarnya sama sekali tidak
menghiraukan apa yang terjadi sepanjang tidak menyangkut diri mereka sendiri.
Beberapa orang yang ada di sekitar tempat
itu, bahkan dua orang yang ada di dalam kedai kecil itu seakan-akan tidak
berpaling sama sekali. Hanya Sambi Wulung, Jati Wulung sajalah yang
memperhatikannya benar-benar tertuju kepada mereka. Sementara Kiai Windu justru
memperhatikan keduanya sambil tersenyum. Katanya, "Nampaknya kau berdua yang
menjadi lebih tegang daripada mereka yang akan berkelahi."
Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, "Persoalan anak-anak muda memang menarik. Apapun yang terjadi atas
mereka."
Kiai Windu mengangguk-angguk. Tetapi ia
tidak berbicara lagi. Dihadapannya minuman hangatnya, sementara matahari menjadi
semakin tinggi. Ketika ia meneguk mangkuk minumannya, maka keringatnya menjadi
semakin banyak mengalir.
Sambi Wulung dan Jati Wulung pun tetap
duduk ditempatnya. Sementara itu kedua anak muda itu pun telah mulai bergerak
sambil mempersiapkan diri.
Sejenak kemudian, maka anak muda yang
bertubuh agak gemuk itu dengan kasar telah menyerang. Tangannya yang terkembang
telah terayun deras mengarah kedada Puguh. Namun Puguh memang sudah siap
menghadapinya. Dengan sigapnya ia mengelak. Tetapi ia bukan saja merendah sambil
bergeser mundur, tetapi tiba-tiba saja ia telah melenting sambil memutar
tubuhnya. Kakinyalah yang terayun mendatar mengarah ke lambung..
ANAK muda yang gemuk itu terkejut.
Ternyata Puguh mampu bergerak sangat cepat, sehingga karena itu, maka anak muda
yang gemuk itu terpaksa melontar mundur. Puguhlah yang kemudian tidak mau
membiarkan lawannya. Dengan cepat pula ia memburunya. Tubuhnya yang bagaikan
tidak berbobot itu seakan-akan terbang lurus mendatar.
Anak muda yang agak gemuk itu melihat
serangan yang datang demikian cepatnya. Tidak ada kesempatan untuk melenting
menghindar. Karena itu, maka ketika tumit Puguh menyambarnya, ia pun dengan
serta merta telah menjatuhkan dirinya sehingga serangan itu tidak menyentuhnya.
Demikian tubuh Puguh terbang melintas di
atasnya, ia pun segera meloncat bangkit. Dengan cepat anak yang agak gemuk
itulah yang kemudian memburunya. Dengan keras pula ia telah menyerang, demikian
kaki Puguh menjejak tanah.
Tetapi Puguh masih sempat melihat sasaran
yang datang itu. Namun waktunya tidak memungkinkannya untuk menghindar. Karena
itu, maka ia pun telah menyilangkan tangannya didadanya.
Yang terjadi adalah satu benturan
kekuatan yang keras. Tangan anak muda yang gemuk yang terjulur lurus ke arah
dada itu telah membentur pertahanan Puguh. Ternyata benturan itu terjadi
demikian kerasnya, sehingga kedua kaki Puguh yang baru saja sempat tegak itu
berguncang. Selangkah ia terdorong surut. Namun ia berhasil memperbaiki
keadaannya sehingga ia tetap berdiri tegak dengan tangan bersilang di dada.
Sementara itu lawannya yang agak gemuk
dan kasar itu telah terdorong jauh lebih panjang surut. Bahkan hampir saja ia
tidak mampu mempertahankan keseimbangannya. Dengan susah payah ia berhasil
berdiri tegak sambil mengumpat kotor.
Puguh tidak menjawab sama sekali. Tetapi
ia sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Kedua kelompok pengawal berdiri ditempat
masing-masing. Orang-orang yang mengawal anak muda yang gemuk itu nampaknya juga
lebih kasar dari para pengawal Puguh, meskipun dilihat pada sorot matanya,
pengawal Puguh itupun merupakan orang-orang yang keras dan kasar. Namun dari
ujud lahiriahnya, mereka masih lebih baik dari pengawal-pengawal anak muda yang
agak gemuk itu.
Ternyata kedua anak muda itu masih juga
berkelahi dengan sengitnya. Keduanya memiliki dasar-dasar kemampuan olah
kanuragan yang baik dan lengkap. Namun agaknya kekuatan dasar kewadagan Puguh
yang tubuhnya lebih kecil dari lawannya itu justru lebih besar. Itulah sebabnya,
maka kadang-kadang anak muda yang agak gemuk itu tergetar dalam
benturan-benturan yang terjadi.
Sambi Wulung dan Jati Wulung
memperhatikan perkelahian itu dengan seksama. Keduanya sempat menilai kemampuan
Puguh yang cukup mendebarkan itu. Bahkan keduanya sempat bertanya kepada diri
mereka sendiri, “Bagaimanakah imbangan kekuatan dan kemampuan anak itu dibanding
dengan Risang?”
Baik Sambi Wulung maupun Jati Wulung
menjadi ragu-ragu. Apakah ilmu Risang lebih baik dari Puguh.”
Ketika keduanya mengerutkan keningnya
dengan sedikit tegang, Kiai Windu menggamitnya, Katanya, “Minummu menjadi
dingin.”
“O,” Sambi Wulung dan Jati Wulung menarik
nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah Sambi Wulung menjawab, “Aku memang
menunggu sampai agak dingin. Udara sudah terlalu panas.”
Kiai Windu tersenyum. Sementara itu Sambi
Wuung dan Jati Wulung telah meneguk minumannya yang tidak lagi terlalu panas.
Namun mereka tidak memalingkan perhatian mereka dari kedua orang anak muda yang
berkelahi itu. Bahkan seorang yang sedang minum di tempat itu pun telah
memperhatikan pula meskipun yang lain lebih senang menikmati minuman dan
makanan.
“Memang menarik,” desis Kiai Windu.
“Mereka masih kanak-kanak. Tetapi mereka sudah mampu menunjukkan tata
perkelahian yang mapan. Bukan asal saja berkelahi. Wirakrama tidak dapat
melakukan seperti itu. Anak muda yang berbaju hitam di sabung ayam itu pun
tidak.”
“Siapakah anak muda yang agak gemuk itu
sebenarnya?” bertanya Sambi Wulung.
"Sebenarnya?" bertanya Kiai Windu. "Aku
tidak tahu. Aku hanya melihat anak itu disini. Kenapa kau nampaknya menaruh
perhatian lebih besar pada anak-anak itu? Atau barangkali kau menduganya sesuatu
atas anak itu?"
Sambi Wulung menggeleng. Namun yang
menjawab adalah Jati Wulung. "Anak itu menjengkelkan sekali. Aku tiba-tiba saja
jadi benci kepadanya tanpa sebab."
Kiai Windu tertawa. Katanya, "Karena itu
disini jangan memperhatikan orang lain."
Jati Wulung tidak menjawab. Namun
tiba-tiba katanya, "Kita salah duga terhadap anak yang bernama Puguh itu. Ia
memang memanggil penari itu. Ia mengakui menyenangi penari itu. Tetapi ia hanya
menyuruhnya pergi dari arena."
"Kau percaya kepada kata-katanya?"
bertanya Kiai Windu.
Jati Wulung ragu-ragu. Namun Kiai
Windulah yang berkata lebih lanjut, "Aku percaya."
Jati Wulung mengangguk-angguk. Demikian
pula Sambi Wulung.
Dalam pada itu, perkelahian pun menjadi
semakin keras. Anak muda yang agak gemuk itu memang menjadi kasar. Bahkan
tiba-tiba saja tangannya menggenggam debu dan dilontarkan ke wajah Puguh.
Untunglah bahwa Puguh melihatnya sehingga ia sempat meloncat mundur beberapa
langkah sambil memalingkan wajahnya. Namun ketika anak muda yang kasar itu
memburunya, Puguh telah siap untuk melawannya.
Semakin lama maka menjadi semakin jelas,
bahwa Puguh akan dapat memenangkan perkelahian itu. Setiap kali serangannya
berhasil mengenai tubuh lawannya, sehingga setiap kali anak muda yang kasar itu
berdesis menahan sakit. Bahkan ketika Puguh dengan keras menyerangnya dengan
kaki terjulur dan mengenai dada anak yang gemuk itu, maka anak muda itu pun
telah terpelanting jatuh.
Namun anak itu sempat bangkit sambil
mengumpat dengan kasar.
"Gila. Anak setan. Aku bunuh kau,"
geramnya.
Puguh tidak menjawab. Tetapi ia pun sudah
siap menghadapi segala kemungkinan.
Sejenak kemudian, maka perkelahian itu
pun telah berlangsung lagi. Kiai Windu yang memungut sepotong makanan berkata
kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung. "He, kalian mau makan apa?"
Sambi Wulung sempat tersenyum. Tetapi
Jati Wulung sama sekali tidak berpaling. Ia benar-benar memperhatikan bagaimana
Puguh kemudian benar-benar menguasai lawannya.
"Risang harus tahu, bahwa Puguh pun
memiliki kemampuan yang sangat besar," berkata Jati Wulung maupun Sambi Wulung
dalam hatinya.
Sebenarnyalah hati Jati Wulung maupun
Sambi Wulung sebenarnya merasa cemas melihat kemampuan Puguh yang sangat besar.
Kekuatannya dan agaknya juga kekerasan hatinya. Meskipun Puguh tidak nampak
sekasar lawannya, tetapi ternyata bahwa ia juga mampu berkelahi dengan keras.
Dalam pada itu, anak yang kasar itu
kemudian ternyata semakin tidak mampu mengimbangi kekuatan Puguh yang besar
serta keterampilannya olah kanuragan. Karena itu, beberapa kali anak muda itu
telah dikenai serangan Puguh. Bahkan beberapa kali anak muda itu
terhuyung-huyung jatuh. Meskipun ia mampu bangkit lagi, namun beberapa saat
kemudian serangan Puguh telah menjatuhkannya lagi.
Ketika beberapa orang pengawalnya
bergeser, maka para pengawal Puguh pun telah bergerak pula.
Tetapi Puguh telah berkata lantang, "Kita
sepakat untuk berkelahi tanpa orang lain."
Anak muda yang agak gemuk itu nafasnya
menjadi terengah-engah. Ketika ia jatuh lagi, maka ia pun telah bangkit dengan
susah payah. Namun ternyata ia pun masih menyadari keadaannya. Anak muda itu
merasa bahwa Puguh memang memiliki kemampuan yang lebih tinggi. Karena itu, ia
justru tidak menarik senjatanya. Jika Puguh kemudian juga bersenjata, maka
kemungkinan yang lebih buruk akan dapat terjadi atas dirinya.
KARENA itu, maka ketika Puguh melangkah
maju, anak muda itu justru melangkah surut. Dengan nada terputus-putus karena
menahan sakit di tubuhnya anak muda itu berkata, "Aku akui kelebihanmu kali ini
Puguh. Tetapi di musim perjudian yang akan datang, aku akan membunuhmu." "Besok
atau lusa, sebelum musim perjudian ini selesai aku sudah membunuhmu lebih
dahulu," geram Puguh.
"Persetan," wajah anak muda itu menjadi
tegang.
Namun Puguh tidak menjawab lagi.
Dipandanginya saja anak muda yang kasar itu pergi. Beberapa orang pengawalnya
menggeretakkan giginya. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa.
"Kau biarkan anak gila itu pergi," desis
seorang pengawal Puguh.
"Lalu, apa yang baik aku lakukan? Memilin
lehernya dan membunuhnya?" bertanya Puguh.
Pengawalnya tidak menjawab. Tetapi mereka
masih saja memandang anak muda yang agak gemuk serta beberapa orang pengawalnya
pergi.
Sejenak kemudian barulah Puguh
mengibaskan debu pada pakaiannya. Ketika lawannya menaburkan debu, maka
pakaiannya memang menjadi kotor. Untunglah bahwa debu itu tidak mengenai
matanya.
Sambi Wulung dan Jati Wulung yang semula
memperhatikan perkelahian itu pun segera telah berkisar. Mereka menghadapi
minuman mereka dan mengambil sepotong makanan pula. Namun mereka berharap bahwa
Puguh akan duduk pula di kedai itu. Meskipun mereka tidak akan sempat bertanya
apapun, karena anak muda itu tentu masih terpengaruh oleh keadaan yang baru saja
terjadi, namun jika anak muda itu berbicara bersama dengan para pengawalnya,
mungkin dari pembicaraan itu, mereka akan dapat menangkap sesuatu.
Sebenarnyalah Puguh yang baru saja
berkelahi itu agaknya memang menjadi haus. Bersama para pengawalnya, ia pun
kemudian telah duduk pula di sebuah amben panjang di kedai kecil itu. Sedangkan
dua orang lainnya yang sudah lebih lama berada di kedai itu telah bangkit dan
meninggalkan tempatnya.
Setelah Puguh memesan minuman, maka
sebenarnyalah ia masih dipengaruhi oleh gejolak perasaannya. Dengan nada geram
ia berkata, "Anak itu masih saja selalu mengganggu. Apakah sebenarnya yang
dimaui?"
Seorang pengawal menyahut, "Aku sudah
berusaha untuk mendapat keterangan tentang anak muda itu. Tetapi tidak seorang
pun yang dapat mengatakan selain apa yang dapat pula kita lihat disini."
"Pengawalnya cukup kuat," sahut Puguh.
"Tetapi jika ia masih saja membuat persoalan akulah yang mungkin akan
membunuhnya. Mudah-mudah ia menjadi jera."
Para pengawal Puguh itu
mengangguk-angguk. Ketika mereka memandang ke arah orang-orang yang baru saja
meninggalkan mereka, ternyata orang-orang itu berhenti dan berbicara dengan
sungguh-sungguh. Tetapi jarak mereka sudah terlalu jauh untuk mendengar
pembicaraan mereka.
Baru sejenak kemudian anak muda yang agak
gemuk itu hilang dibalik dinding disudut tikungan disebelah dinding arena sabung
ayam.
Puguh kemudian mulai memperhatikan
minumannya. Namun ia masih juga bergemang, "Pakaianku menjadi kotor. Ia
berkelahi dengan licik."
Namun dalam pada itu pengawalnya berkata,
"Tetapi kau telah menunjukkan kemampuan yang tinggi. Latihan-latihan yang kau
lakukan ternyata tidak sia-sia Dalam keadaan yang gawat, kau sendiri sudah dapat
mengatasi persoalan."
"Bukan hanya aku yang mampu berkelahi.
Anak yang gemuk itu juga mampu berkelahi," jawab Puguh.
"Tetapi sebagaimana kau lihat. Ia telah
kau kalahkan. Sementara itu beberapa anak muda yang lain selalu tergantung
kepada pengawalnya. Kau tidak. Kau sendiri mampu menjaga dirimu tanpa seorang
pengawal pun. Namun karena nampaknya kau memang masih terlalu muda, maka
sebaiknya kami menyertaimu."
PUGUH termangu-mangu sejenak. Namun
kemudian ia pun mulai meneguk minumannya. "Jika kita kembali ke padepokan, kau
harus berlatih lebih baik lagi. Siapa tahu, anak yang gemuk itu benar-benar
mendendammu. Pada satu hari yang mungkin memang akan terjadi di musim perjudian
yang akan datang, orang itu benar-benar berusaha membunuhmu," berkata salah
seorang pengawal. "Apakah di musim perjudian yang akan datang, kita akan berada
di sini pula?" bertanya Puguh.
"Itu terserah kepadamu," jawab salah
seorang pengawalnya. "Tetapi sekadar untuk mendapatkan pengalaman, maka disini
kita dapat melihat seribu wajah dengan seribu watak serta tingkah laku."
"Memang menarik," berkata Puguh. "Tetapi
rasa-rasanya menjadi jemu juga akhirnya."
Parapengawalnya termangu-mangu. Namun
kemudian Puguh pun kemudian berkata, "Baru besok aku akan memasuki tempat
permainan dadu.
"Apakah kita tidak melihat panahan
sekarang?" bertanya seorang pengawalnya.
"Apakah Wirakrama yang sombong itu akan
turun?" bertanya Puguh.
Tetapi pengawalnya menggeleng. Katanya,
"Aku belum tahu."
"Ia seorang pemanah yang baik,"berkata
pengawalnya yang lain. "Tetapi ia tidak mampu menjaga dirinya sendiri. Segalanya
tergantung kepada para pengawalnya."
Setelah meneguk beberapa teguk, Puguh pun
berkata, "Baiklah. Kita melihat panahan."
"Kau akan turun?" bertanya seorang
pengawalnya.
Puguh mengerutkan keningnya. Kemudian
jawabnya, "Aku belum tahu. Tetapi hari ini aku belum berminat untuk ikut dalam
permainan yang manapun."
Parapengawalnya tidak menjawab lagi.
Sementara Puguh kemudian membayar minuman dan makanan yang telah mereka minum
dan mereka makan.
Sejenak kemudian, maka Puguh dan para
pengawalnya itu pun segera meninggalkan kedai kecil itu. Namun mereka melangkah
dengan malas, karena hari itu mereka memang masih belum berminat untuk ikut
perjudian jenis yang manapun.
Sambi Wulung dan Jati Wulung tiba-tiba
saja menarik nafas dalam-dalam, sehingga Kiai Windu mengerutkan keningnya sambil
bertanya, "Kenapa kalian seakan-akan merasa terlepas dari ketegangan?"
Keduanya memang terkejut mendengar
pertanyaan itu. Namun kemudian Sambi Wulung menjawab, "Aku memang terpengaruh
oleh perkelahian yang baru saja terjadi antara anak-anak muda di tempat seperti
ini."
Kiai Windu tertawa. Katanya, "Minumlah
minuman kalian."
Keduanya mengangguk-angguk. Sejenak
kemudian maka mereka pun telah menghabiskan minuman mereka dan beberapa potong
makanan.
Sambi Wulunglah yang kemudian membayarnya
sambil berdesis, "Akulah sekarang yang membayar."
KIAI WINDU tersenyum. Namun ia tidak
menjawab. Demikianlah mereka pun kemudian meninggalkan kedai itu. Sebelum mereka
melihat ditempat yang lain, maka mereka telah singgah di tempat sabung ayam.
Ternyata tempat itu sudah menjadi semakin ramai. Mereka yang bertaruh pun sudah
menjadi semakin banyak. Bahkan taruhannya pun sudah meningkat semakin tinggi.
Sambi Wulung dan Jati Wulung memang
menjadi berdebar-debar melihat uang dalam jumlah yang besar telah berpindah dari
satu tangan ke tangan yang lain. Meskipun untuk memasuki tempat itu mereka juga
sudah dibekali dengan uang cukup, namun mereka merasa terlalu kecil sebagai
penjudi dibanding dengan orang-orang yang telah lebih dahulu pernah datang
ditempat itu di musim-musim perjudian sebelumnya.
Kiai Windu pun kemudian memanggil ketiga
orang kawannya yang telah menjadi sangat asyik melihat sabung ayam itu. Bahkan
di luar sadar, mereka pun kadang-kadang telah ikut berteriak-teriak.
"He," desis Kiai Windu. "Apakah kau masih
akan berada disini?"
Ketiganya termangu-mangu. Namun kemudian,
"Kita akan kemana?"
Kiai Windu memandang Sambi Wulung dan
Jati Wulung bergantian. Lalu ia pun bertanya, "Kau belum akan mulai?"
Keduanya menggeleng. Namun tiba-tiba saja
Jati Wulung berkata, "Aku sudah letih berkeliling."
"Lalukaumauapa?"bertanyaKiaiWindu .
"Aku akan beristirahat saja sambil
melihat panahan," jawab Jati Wulung.
Kiai Windu mengangguk-angguk. Katanya,
"Baiklah. Kita pergi ke tempat panahan."
Tetapi salah seorang dari kawannya
berkata, "Aku disini saja."
"Kau sudah akan mulai?" bertanya Kiai
Windu.
"Belum. Tapi aku ingin melihat suasananya
sampai nanti sore," jawab orang itu.
Ternyata kedua orang kawannya yang lain
juga lebih senang berada ditempat sabung ayam itu. Sehingga karena itu mereka
tidak ikut dengan Kiai Windu.
Dalam pada itu Jati Wulung pun sempat
berbisik ditelinga Sambi Wulung, "Kita harus mengumpulkan modal lebih besar lagi
menilik taruhan orang-orang yang ikut dalam taruhan sabung ayam itu.
Sambi Wulung mengangguk-angguk. Tetapi ia
tidak menjawab.
Waktu mereka kemudian telah mereka
habiskan sebagian besar untuk melihat panahan dan paseran. Namun kedua orang itu
sudah mengambil keputusan, bahwa mereka akan menambah modal mereka dalam panahan
itu.
"Aku kira kita akan dapat mengimbangi
kemampuan mereka," berkata Sambi Wulung.
"Tetapi anak-anak muda yang dianggap
sebagai pemanah-pemanah yang baik itu belum turun hari ini," berkata Jati
Wulung.
Demikianlah, hari itu keduanya baru
sekadar melihat-lihat arena perjudian itu bersama Kiai Windu. Mereka juga
singgah sejenak di barak tempat orang-orang bermain dadu. Sebuah perselisihan
kecil telah terjadi antara dua orang yang ikut bertaruh dengan para petugas,
sehingga hampir saja kedua orang itu dilemparkan keluar Namun persoalan mereka
ternyata dapat diatasi, sehingga kedua orang itu masih tetap diperkenankan untuk
ikut dalam permainan dadu itu.
Di hari berikutnya Sambi Wulung dan Jati
Wulung memang sudah berniat untuk turun ke lapangan panahan. Tetapi mereka tidak
akan melakukannya dengan serta merta. Mereka akan melihat-lihat dahulu. Baru
kemudian mereka akan turun sebagaimana dikatakan oleh Jati Wulung, bahwa mereka
berniat untuk menambah modal mereka, meskipun kemungkinan yang sebaliknya memang
dapat terjadi.
Ketika malam turun, maka arena sabung
ayam dan tempat panahan pun menjadi sepi. Tetapi tempat permainan dadu justru
menjadi semakin ramai.
TETAPI Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak
begitu berminat untuk mulai dengan permainan itu. Karena itu, maka mereka hanya
menengok saja. Kemudian mereka habiskan waktu mereka untuk berada di bilik.
Berganti-ganti mereka menyempatkan diri untuk tidur dalam waktu yang agak
panjang.
Berbeda dengan Sambi Wulung dan Jati
Wulung, Kiai Windu dan ketiga orang kawannya berada cukup lama di arena
permainan dadu. Tetapi ternyata mereka berempat pun masih belum mulai bertaruh.
Ketika lewat tengah malam mereka kembali
ke dalam bilik, mereka melihat Jati Wulung yang sedang tidur dengan nyenyaknya
sementara Sambi Wulung duduk bersila sambil menyilangkan tangannya di dada.
Ketika Kiai Windu tersenyum, Sambi Wulung
berkata, "Apa kau masih akan bertanya, kenapa kau belum tidur?"
"Tidak," berkata Kiai Windu sambil
tertawa.
Sambi Wulung pun tersenyum pula. Tetapi
ialah yang justru bertanya, "Nampaknya kau menang di permainan dadu itu?"
"Sekeping pun aku belum ikut bertaruh,"
jawab Kiai Windu.
"Apakah kebiasaanmu memang begitu?"
bertanya Sambi Wulung.
"Ya. Aku baru mulai pada hari ketiga atau
justru keempat, ketika orang-orang lain mulai kehilangan akal. Tetapi untuk
tidak menarik perhatian, di hari kedua kadang-kadang aku juga ikut meskipun
hanya sekadarnya," jawab Kiai Windu.
"Dalam tempat seperti ini, ternyata kau
masih mampu juga mengendalikan diri," berkata Sambi Wulung.
"Kalian pun harus dapat berbuat seperti
itu," desis Kiai Windu. "Jika kita dicengkam oleh perasaan saja, maka akhirnya
kita akan menjadi orang yang pertama sekali mempergunakan bilik disudut itu."
Sambi Wulung mengangguk-angguk. Sementara
itu ternyata Jati Wulung telah terbangun pula. Masih sambil memejamkan matanya
ia berkata, "Tidur. Ayo tidur sajalah."
Sambi Wulung tersenyum. Katanya,
"Tidurlah. Bukankah giliranmu sekarang tidur?"
Jati Wulung tidak menjawab lagi.
Sejenak kemudian, maka orang-orang yang
lain pun telah berbaring pula. Ternyata seorang di antara mereka duduk disebelah
Sambi Wulung sambil berdesis, "Kita memang harus berhati-hati ditempat seperti
ini. Apalagi di hari-hari ketiga, keempat dan seterusnya. Beberapa orang telah
mulai kehilangan akal. Namun banyak juga yang sempat mengendalikan dirinya.
"Bagaimana dengan anak-anak muda itu?"
bertanya Sambi Wulung.
"Mereka hampir selalu kalah. Tetapi
nampaknya kekalahan itu bukan soal bagi mereka, sehingga mereka seakan-akan
tidak pernah nampak gelisah. Ketika datang membawa uang cukup banyak pula,"
jawab kawan Kiai Windu itu.
Sambi Wulung mengangguk-angguk. Ketika
seorang kawan Kiai Windu yang lain, yang telah berbaring mendekam, maka Sambi
Wulung pun tahu, bahwa orang itu agaknya ingin dapat tidur nyenyak tanpa
terganggu oleh pembicaraannya.
Karena itu, maka sejenak kemudian kamar
itu pun menjelang hening.
Ketika matahari terbit, maka segala
sesuatunya mulai sibuk lagi di Song Lawa itu. Memang masih ada beberapa orang
yang karena mereka bermain dadu hampir semalam suntuk masih tidur pulas.
Tetapi persaingan-persaingan di lapangan
panahan telah dilakukan. Sasaran untuk kelompok-kelompok pemanah telah dipasang
paseran. Sementara di arena sabung ayam pun semua persiapan telah dilakukan.
Dalam pada itu, Sambi Wulung dan Jati
Wulung pun sudah bersiap. Kiai Windu yang ingin menyaksikan keduanya turun di
arena berkata sambil tersenyum, "Aku ingin melihat, apakah kalian akan dapat
menambah modal kalian untuk turun ke permainan dadu atau justru malah
sebaliknya. Jika kalian kalah dalam panahan, aku minta kalian tidak dengan cepat
berputus asa."
SAMBI WULUNG dan Jati Wulung tertawa.
Dengan nada tinggi Jati Wulung berkata, "Kiai, bukan baru kali ini aku turun ke
arena perjudian. Sudah aku katakan, bahwa aku telah mendatangi beberapa tempat
perjudian yang lebih besar dari tempat ini. Tetapi tidak segila Song Lawa ini."
Kiai Windu mengangguk-angguk. Sementara
itu seorang kawannya berkata, "Marilah. Kita makan dahulu."
Setelah mereka makan di kedai, maka
mereka pun telah pergi ke lapangan panahan. Ternyata bahwa panahan telah mulai
beberapa rambahan. Beberapa orang telah berkeringat, sementara pertarungan
disetiap kalangan nampaknya ramai dan seimbang. Sebenarnyalah mereka yang turun
ke lapangan panahan tentu orang-orang yang merasa dirinya memiliki kemampuan
yang tinggi.
Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak segera
turun ke arena. Untuk beberapa saat mereka masih melihat-lihat arena yang
manakah yang paling baik untuk dimasuki.
Sambi Wulung dan Jati Wulung
termangu-mangu sejenak, ketika mereka melihat beberapa anak muda ada di lapangan
panahan. Tetapi ternyata mereka tidak berada pada kelompok yang sama. Wirakrama
berada di kelompok dua sementara Puguh berada di kelompok lima. Sedangkan anak
muda yang agak gemuk dan kasar itu agaknya masih melihat-lihat seperti beberapa
orang lain disekitar lapangan panahan itu.
"Nah, kapan kau akan mulai?" bertanya
Kiai Windu.
Sambi Wulung dan Jati Wulung berpaling.
Tetapi mereka tidak menjawab. Keduanya hanya tersenyum saja, sementara Kiai
Windu menjadi termangu-mangu.
Beberapa saat Sambi Wuung sempat menilai
sekelompok pamanah pada kelompok tiga. Agaknya Sambi Wulung yakin, jika ia
memasuki kelompok itu, maka ia tidak akan kalah.
Karena itu, maka Sambi Wulung pun telah
mendekati kelompok ketiga sementara Jati Wulung berdiri termangu-mangu sambil
menilai orang-orang di kelompok keenam.
Kepada seorang petugas Sambi Wulung
menyatakan diri untuk memasuki kelompok ketiga.
"Kau tidak membawa busur dan anak panah
sendiri?" bertanya petugas itu.
"Tidak. Bukankah disini ada persediaan?"
bertanya Sambi Wulung.
"Memang ada. Tetapi jangan bagi para
pemanah yang baik memakai busur dan anak panah dari persediaan disini. Mereka
biasanya memakai busur dan anak panah mereka masing-masing, karena mereka telah
mengenal benar sifat dan watak busur dan anak panah mereka," berkata petugas
itu.
Sambi Wulung tersenyum. Katanya, "Aku
tidak mempunyai busur dan anak panah."
"He," petugas yang juga bertubuh raksasa
itu heran, "Jika kau tidak mempunyai busur dan anak panah, bagaimana kau dapat
berlatih memanah?"
Sambi Wulung mengerutkan keningnya. Namun
kemudian ia pun menjawab, "Maksudku, busur dan anak panah yang pantas untuk
dibawa keluar dan turun di arena seperti ini."
Petugas itu menganggu-angguk. Namun ia
pun kemudian mempersilakan Sambi Wulung yang menyebut dirinya Wanengbaya itu
untuk memilih beberapa busur yang memang disediakan.
Beberapa saat Sambi Wulung itu memilih.
Ketika ia kemudian mendapat busur dan anak panah yang dianggapnya sesuai berat
dan panjangnya, maka ia pun telah mempergunakannya.
Ketika ia sudah duduk di deretan para
pemanah di kelompok ketiga, maka ternyata Jati Wulung masih berdiri tegak.
Ternyata di kelompok keenam itu terdapat seorang yang memiliki kemampuan yang
sangat tinggi. Seorang yang berkumis lebat, bertubuh tinggi tegap. Hampir
disetiap rambahan anak panahnya ada yang hinggap disasaran.
Ketika rambahan-rambahan berikutnya
berlangsung, orang itu menjadi semakin menarik perhatian. Ketika tiba-tiba saja
anak panahnya hinggap di kepala sasaran, maka beberapa orang penontonpun telah
bertepuk tangan sambil bersorak. Bahkan beberapa orang pengikut dikelompok itu
ikut bertepuk tangan pula. .
JATI WULUNG mengangguk-angguk. Dengan
kenyataan itu maka ia pun berkata kepada diri sendiri, “Agaknya orang inilah
yang membuat kelompok ini tidak diikuti oleh terlalu banyak orang. Sementara
itu, hampir tanpa sadar, orang yang berdiri disebelahnya berkata, “Orang itu
memang gila. Hampir disetiap musim ia berada di Song Lawa. Disini ia biasanya
menang, meskipun dipermainan dadu ia selalu kalah.”
Jati Wulung mengangguk-angguk. Ia pun
kemudian bertanya, “Apakah tidak ada orang lain yang pernah mengimbangi
kemampuannya?”
“Jangan sekali. Setinggi-tingginya
seseorang akan dapat mengimbanginya. Tetapi tidak melampauinya,” berkata orang
itu.
Jati Wulung tidak menyahut. Tetapi ia
memperhatikan beberapa orang pemanah yang lain yang memang nampaknya menjadi
gelisah, meskipun sekali-kali mereka ikut bertepuk pula.
Namun dalam pada itu, sebelum Jati Wulung
memasuki arena, seorang yang masih terhitung muda, berwajah tampan dan
berpakaian rapi telah memasuki arena. Seorang pengawalnya membawa busur dan anak
panah yang bagus sekali. Agak lebih bagus dengan busur dan anak panah para
peserta lain.
Dengan demikian maka Jati Wulung telah
manahan diri barang sejenak. Ia ingin melihat orang baru itu. Apakah ia akan
dapat mengimbangi atau bahkan melampaui pemanah yang berkumis tebal itu.
Pemanah yang berpakaian rapi itu pun
kemudian telah mulai pula melontarkan anak panahnya. Pada rambahan-rambahan
pertama ia masih belum menunjukkan kelebihannya. Tetapi pada rambahan-rambahan
berikutnya, ternyata orang berpakaian rapi itu mampu menyaingi orang yang
berkumis lebat itu.
Dengan demikian maka di kelompok enam
itu, panahan menjadi sangat menarik. Beberapa kali terdengar sorak dan tepuk
tangan di antara para penonton bagi kedua orang itu.
“Mereka memang memiliki kemampuan iblis,”
desis orang disebelah Jati Wulung itu.
“Memang luar biasa,” sahut Jati Wulung.
Namun Jati Wulung pun berpaling ketika
seorang menggamitnya. Ternyata seorang di antara kawan-kawan Kiai Windu.
“Wanengbaya sudah mulai. Apakah kau jadi
akan turun atau tidak?” bertanya orang itu.
“Kenapa tergesa-gesa?” bertanya Jati
Wulung yang dikenal dengan nama Wanengpati itu.
Kawan Kiai Windu itu pun ikut pula
melihat arena. Ternyata ia pun berdesis, “Jangan turun di kelompok ini. Kedua
orang itu telah menaruh mata di ujung anak panah mereka masing-masing.”
Jati Wulung mengangguk-angguk. Dengan
nada datar ia bertanya, “Apakah keduanya belum pernah dikalahkan?”
“Hanya orang yang coba-coba saja yang
berani memasuki arena ini atau orang baru seperti kau,” jawab kawan Kiai Windu
itu.
Jati Wulung mengangguk-angguk. Dengan
seksama ia memperhatikan kedua orang itu. Ternyata sambutan atas keduanya dari
para penonton menjadi demikian meriah. Bahkan beberapa orang telah
berteriak-teriak sambil bertepuk tangan.
Namun tiba-tiba suasana menjadi hening.
Seorang yang berkepala botak telah memasuki arena sambil tertawa. Suaranya
meninggi disela-sela kata-katanya. “Luar biasa. Kalian memang pembidik-pembidik
yang pantas disegani. Kalian akan dapat menghisap semua uang yang dipertaruhkan
di kelompok ini,” orang itu berhenti sejenak, lalu. “Tetapi itu tidak pantas.
Harus ada orang lain yang dapat mengimbangi kemampuan kalian. Mungkin kalian
belum mengenal aku. Aku memang orang baru di Song Lawa ini.”
Semua orang memandanginya. Orang
berkepala botak itu telah duduk di antara para pemanah. Sesaat ditelitinya busur
dan anak panahnya yang memang sangat baik dan tentu harganya pun sangat mahal.
"SILAKAN mulai," berkata orang itu.
"Kenapa kalian menjadi seperti orang bingung." "Tidak Ki Sanak," sahut pemanah
yang pertama. "Kami tidak menjadi bingung. Kami hanya ingin mengenal kau sebagai
orang baru disini. Sudah sepantasnya kami menghormati tamu kami yang datang
kemudian." "Terima kasih atas perhatian Ki Sanak," jawab orang berkepala botak
itu. Sementara pemanah yang berpakaian rapi itu pun berkata, "Silakan mulai Ki
Sanak."
Orang-orang di dalam kelompok itu pun
segera mempersiapkan diri. Anak-anak yang menjadi pemungut anak panah pun telah
bersiap pula. Orang berkepala botak itu tidak membiarkan anak Song Lawa itu
memungut anak panahnya. Ternyata ia telah membawa sendiri.
"Anak panahku memerlukan perawatan
khusus," katanya.
Demikianlah sejenak kemudian orang-orang
yang ada di dalam kelompok itu mulai meluncurkan anak panah masing-masing.
Susul-menyusul. Masing-masing dengangaya dan cara mereka sendiri-sendiri.
Ternyata bahwa para penonton pun telah
bersorak-sorak kembali. Orang berkepala botak itu memang mampu menempatkan
dirinya sejajar dengan kedua orang pemanah terbaik sebelumnya.
Parapemanah di kelompok-kelompok yang
lain pun nampaknya tertarik pada sorak-sorai itu. Tetapi mereka berusaha untuk
memusatkan perhatian mereka pada sasaran dihadapan setiap kelompok
masing-masing.
Wirakrama yang merasa dirinya juga
memiliki kemampuan yang tinggi berkata kepada diri sendiri, "Besok aku akan
berada di kelompok yang gila itu."
Sementara itu, orang yang berkepala botak
dan merupakan orang baru itu semakin lama menjadi semakin menarik perhatian. Ia
mulai menunjukkan, bahwa ia memiliki kemampuan lebih baik dari setiap orang.
Bahkan sekali-kali ia berkata dengan nada sombong, "Ternyata di Song Lawa aku
tidak mendapat lawan yang memadai."
Kedua orang pemanah terbaik di kelompok
itu sebelumnya memang menjadi panas. Tetapi mereka memang tidak dapat
mengingkari kenyataan. Setiap rambahan berlangsung, maka hampir selalu uang
taruhan mengalir ke orang yang berkepala botak dan tidak memakai ikat kepalanya
itu.
Orang-orang yang mula-mula bertepuk
tangan untuk menyambutnya, tiba-tiba menjadi kurang senang karena sikapnya yang
sombong. Setiap kali ia selalu berteriak dengan nada tinggi, memuji kemampuannya
sendiri.
Namun ia dapat membuktikan bahwa ia mulai
menang dalam taruhan itu. Bahkan bukan sedikit.
Ternyata Jati Wulung yang masih berdiri
di pinggir arena, tidak dapat menahan diri lagi melihat sikap orang itu. Tanpa
Sambi Wulung, maka tidak ada orang yang mengekangnya. Karena itu, maka tiba-tiba
saja ia telah mendatangi petugas dan menyatakan diri untuk masuk ke arena.
"Kau tidak membawa busur dan anak panah?"
bertanya petugas itu.
"Pinjami aku," jawab Jati Wulung.
PETUGAS itu menjadi heran. Dengan nada
rendah ia bertanya, "Kau sudah melihat, siapa bakal lawan-lawanmu?" "Sudah,"
jawab Jati Wulung.
Petugas itu hanya menarik nafas
dalam-dalam. Tetapi ia memberikan busur dan anak panah dari persediaan yang ada.
Sudah tentu bukan busur dan anak panah yang baik.
Ketika Jati Wulung memasuki arena,
ternyata tidak kalah menariknya dari saat orang berkepala botak itu turun. Bukan
karena sikapnya, kesombongannya atau kata-katanya yang gemuruh disela-sela derai
tertawanya. Tetapi justru karena kesederhanaannya. Apalagi busur dan anak
panahnya, yang mereka ketahui, dipinjami dari persediaan yang ada di tempat itu.
Demikian Jati Wulung duduk, seorang anak
telah siap untuk menjadi pemungut anak panahnya.
Namun ternyata orang berkepala botak itu
telah menyapanya, "He Ki Sanak. Apakah kau memang agak kurang waras?"
Jati Wulung termangu-mangu. Sementara itu
orang-orang yang telah beberapa kali berada di Song Lawa, melihat orang itu juga
orang baru sebagaimana orang berkepala botak itu.
"He, apakah kau selain gila juga tuli?"
orang berkepala botak itu hampir berteriak.
Jati Wulung berpaling kepada orang yang
botak itu. Namun kemudian ia menunjuk ke arah sasaran sambil berkata, "Sasaran
itu ada disana. Marilah, siapakah di antara kita yang dapat mengenai di bagian
kepalanya."
Orang berkepala botak itu menggeram
sambil berkata, "Kau benar-benar telah menjadi gila. Kau ikut dalam panahan di
kelompok ini dengan busur dan anak panah buangan seperti itu."
Jati Wulung tidak menjawab. Tetapi
dipandanginya sasaran itu dengan seksama.
Di saat Jati Wulung memasuki arena dengan
busur dan anak panah pinjaman, tidak terlalu banyak orang yang memperhatikan,
karena kelompok yang dimasukinya tidak menjadi panas seperti kelompok enam yang
kemudian diikuti oleh Jati Wulung.
Kawan Kiai Windu yang berada di dekat
arena keenam itu menjadi tegang. Ia tahu pasti bahwa Jati Wulung adalah seorang
yang memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi ia belum yakin bahwa ia adalah seorang
pembidik yang akan mampu melampaui ketiga orang yang telah memanaskan arena
keenam itu.
Sejanak kemudian pada rambahan
berikutnya, Jati Wulung telah ikut pula melepaskan anak panahnya. Ketika ia
melepaskan anak panahnya yang pertama, maka ia masih menjajagi sifat dan watak
busur yang dipergunakannya. Sementara itu, menurut penilikannya, anak panah yang
akan dipergunakan meskipun ujudnya kurang baik, tetapi adalah anak panah bisa
dan baik lari serta arahanya tidak terlalu buruk.
Ketika anak panahnya yang pertama tidak
mengenai sasaran, maka orang berkepala botak itu berteriak, "He, orang yang
kurang waras. Berikan saja taruhanmu itu kepadaku tanpa bersusah payah
melepaskan anak panah. Kau tidak dapat menyentuh sasaran yang paling buruk
sekalipun. Bahkan anak panahmu akan dapat mengenai gundul yang justru kau akan
didenda separo dari uang taruhanmu di samping uang taruhanmu itu seluruhnya."
Jati Wulung tidak menjawab. Ia sudah
mulai memasang anak panah yang kedua.
Sementara itu, ketiga orang yang terbaik
di kelompok itu ternyata telah mulai melepaskan anak panah mereka. Ternyata
mereka pun tidak dengan serta merta mengenainya. Bahkan dari enam anak panah,
tidak lebih dari dua di antaranya yang akan dapat mengenai sasaran, seperti di
rambahan-rambahan sebelumnya. Itu pun sudah merupakan hasil terbaik dari pemanah
terbaik saat itu. Bahkan sekali-kali di antara ketiga pemanah itu, dalam satu
rambahan tidak lebih dari satu panah yang mengenainya. Sedangkan orang lain,
pada beberapa rambahan, barulah anak panah mereka dapat hinggap di sasaran.
Tetapi pernah juga terjadi seseorang yang dapat menancapkan empat anak panah.
Tetapi tentu saja itu hanya satu kebetulan dan terjadi dalam seratus rambahan
sekali. .
SEMENTARA itu, Jati Wulung yang panas,
benar-benar berniat menunjukkan bahwa ia pun mampu melakukan sebagaimana
dilakukan oleh ketiga orang itu. Meskipun ketika anak panahnya yang pertama agak
jauh dari sasaran, tetapi ia yakin akan dapat melakukan jauh lebih baik. Apalagi
ketika ia mengetahui bahwa ketiga orang terbaik itu telah menertawakannya.
Sebenarnyalah bahwa Jati Wulung adalah
seorang pemanah yang terlalu baik untuk sekadar bertaruh sebagaimana Sambi
Wulung. Keduanya adalah orang-orang yang ditempa di perguruan yang bukan saja
belajar membidik sasaran yang diam. Tetapi keduanya telah berlatih dengan tekun
membidik sasaran yang bergerak. Dengan tempat keduanya dapat mengenai jantung
seseorang yang berlari kencang. Latihan-latihan yang pernah dilakukan adalah
membidik dan memanah kantung-kantung kecil berisi pasir yang dilemparkan. Bahkan
kemudian sasaran-sasaran yang lebih kecil. Batang pisang yang dipotong hanya
sebesar genggaman tangan dan dilemparkan ke udara, dapat dikenai sekaligus oleh
tiga anak panah berurutan.
Saat itu, Jati Wulung menghadapi sasaran
yang diam tergantung dihadapannya meskipun agak jauh.
Karena itu, maka ia pun yakin akan dapat
mengenainya kapan saja ia menghendakinya.
Ketika orang-orang lain di kelompok itu
telah melepaskan anak panah mereka pula, namun belum satu pun di antara anak
panah itu yang mengenai sasaran yang tatarannya paling rendah sekalipun, Jati
Wulung benar-benar telah membidikkan anak panahnya. Ia ingin mengenai sasaran
itu pada tataran terendah, namun yang masih menghasilkan nilai. Karena jika ia
mengenai gundul dari sasaran itu, maka justru ia akan didenda.
Beberapa saat Jati Wulung melihat
beberapa anak panah yang meluncur ke arah sasaran. Namun anak panah itu ternyata
masih belum ada yang menyentuhnya.
Bahkan tiba-tiba saja orang-orang yang
menyaksikan panahan di kelompok enam itu bersorak disertai ejekan-ejenkan yang
menyakitkan, ketika satu di antara anak panah itu justru mengenai gundul.
Pada saat yang demikian, Jati Wulung
telah melepaskan anak panahnya. Anak panah itu meluncur cepat menuju sasaran
sebagaimana dikehendaki. Ternyata bahwa anak panahnya benar-benar telah mengenai
badan dari tubuh sasaran itu sebagaimana ia inginkan.
Sorak itu telah terdengar lagi. Namun
dalam nada yang berbeda. Orang-orang yang menonton dikelompok yang lain menjadi
panas itu pun telah bertepuk pula bagi anak panah Jati Wulung. Apalagi kawan
Kiai Windu.
Tetapi sejenak kemudian sorak itu telah
disusul oleh sorak berikutnya. Satu anak panah dari orang berkepala botak itu
telah mengenai badan sasaran itu pula.
Namun orang berkepala botak itu masih
juga mengumpat, "Setan belang. Kau mendahului aku he?"
Jati Wulung diam saja. Sementara itu
kedua orang pemanah yang lain pun telah berusaha dengan segenap kemampuan mereka
membidik dengan sebaik-baiknya.
Sorak yang meledak telah mendengar pula.
Ternyata pemanah terbaik yang pertama-tama ada di arena itu justru telah
mengenai leher dari tubuh sasaran. Dengan demikian ia telah mendapat nilai lebih
tinggi dari pemanah berkepala botak itu. Dan sorak itu pun disusul lagi ketika
pemanah yang kemudian juga memasuki arena sebelum orang berkepala botak itu juga
sempat menancapkan anak panahnya, meskipun tidak lebih pada badan sasaran.
Namun arena keenam itu telah benar-benar
bagaikan membara. Sorak dan teriakan-teriakan penonton pun membuat telinga
menjadi semakin merah.
KETIKA sorak yang gemuruh itu mereda,
maka barulah orang-orang lain membidikkan anak panahnya. Mereka pun berusaha
untuk mengenai sasaran. Karena nilai-nilai yang mereka dapat akan berarti
mengurangi nilai kekalahan mereka.
Orang berkepala botak itu benar-benar
telah kehilangan kemampuan bidiknya oleh kegelisahan dan ketidaksenangannya
terhadap Jati Wulung. Setiap kali ia mengumpat kasar dan diperlakukannya busur
dan anak panahnya yang baik dan mahal itu dengan kasar pula.
Berbeda dengan orang itu, maka
pemanah-pemanah yang lain, termasuk kedua orang pemanah terbaik sebelumnya,
menerima kenyataan itu. Karena itu mereka justru menjadi tenang. Mereka mampu
mempergunakan kesempatan mereka untuk mengurangi kekalahan mereka, sehingga
mereka tidak harus membayar terlalu banyak. Apalagi dengan sengaja Wanengpati
telah mengurangi kemenangannya dengan membiarkan anak panahnya mengenai sasaran
yang justru dikenakan nilai denda.
Pada kedua rambahan itu, Jati Wulung
sudah mendapatkan kemenangan lebih besar dari Sambi Wulung. Namun dengan
demikian lawan-lawannya yang lain pun menjadi ragu-ragu. Jika mereka meneruskan
permainan maka mereka tidak akan mempunyai harapan sama sekali. Berbeda dengan
ketiga orang pemanah sebelumnya, yang betapapun tinggi kemampuannya, namun
mereka masih belum mampu menentukan sasaran sebagaimana dikehendakinya setiap
saat.
Agaknya Jati Wulung melihat hal itu. Ia
pun memang sudah merasa puas setelah memaksa orang botak yang sombong itu
mengakui kekalahannya dihadapan sedemikian banyak saksi. Karena itu, maka Jati
Wulung pun kemudian berdiri sambil berkata, "Aku tidak melanjutkan permainan ini
agar ada orang lain yang sempat mendapatkan kemenangan."
"Persetan," geram orang yang botak itu.
Jati Wulung berpaling kearahnya. Tetapi
ia melihat bahwa kesombongan orang berkepala botak itu sudah runtuh. Apapun yang
dilakukan, maka orang-orang yang ada di kelompok enam itu tahu, bahwa ia bukan
orang yang tidak terkalahkan.
Karena itu, maka Jati Wulungpun tidak
menghiraukannya lagi. Ia pun kemudian telah mengembalikan busur dan anak panah
kepada petugasnya. Memberikan sedikit uang kepadanya dan bagi anak yang telah
memungut anak panahnya. Kemudian Jati Wulung pun melangkah meninggalkan arena
keenam itu.
Ketiga orang kawan Kiai Windu pun segera
mendapatkannya. Dengan nada tinggi seorang di antara mereka berkata, "Kau memang
luar biasa. Aku menjadi tidak merasa sakit hati pernah kau kalahkan, karena kau
memang pantas melakukannya atas kami."
"Jangan memuji seperti itu," berkata Jati
Wulung. "Jika kau ingin makan, marilah. Aku akan membayarnya."
"Ah kau," desis kawan Kiai Windu yang
lain. "Hanya makan?"
"Habis. Kau mau apa?" bertanya Jati
Wulung.
"Tidak apa-apa," jawab kawan Kiai Windu.
NAMUN kedua kawannya yang lain tersenyum
sambil memandanginya. Seorang di antaranya berkata, "Kenapa kau tidak berterus
terang." "Terus terang tentang apa? Aku memang tidak menghendaki apa-apa," jawab
orang itu. "Penari itu?" desis kawannya yang lain. "Ah kau. Omong kosong," geram
orang itu sambil melangkah pergi.
Kedua kawannya tertawa. Sementara Jati
Wulung pun tertawa pula.
Ketika mereka meninggalkan arena keenam
itu, maka beberapa orang masih saja memperhatikannya. Namun orang-orang itu
tidak mengikutinya atau meninggalkan arena itu. Bahkan kemudian mereka pun mulai
memperhatikan panahan yang berlangsung lebih mapan setelah diguncang oleh Jati
Wulung dengan kemampuannya yang luar biasa. Bahkan kemudian orang-orang yang
tidak ikut memegang busur dan anak panah pun dapat ikut bertaruh pula dengan
cara mereka masing-masing.
Ketika Jati Wulung kemudian sampai di
arena pada kelompok yang diikuti oleh Sambi Wulung, maka ia pun telah melihat
cara yang ditempuh oleh saudara seperguruannya itu. Tiba-tiba saja jantungnya
merasa berdebar-debar mengingat apa yang telah dilakukannya. Karena dengan
demikian, maka seolah-olah telah tertutup kemungkinan baginya untuk ikut serta
dalam permainan panahan, karena setiap orang telah mengetahui kemampuannya yang
tidak terkalahkan. Sementara itu Sambi Wulung yang mampu mengendalikan dirinya,
telah mempergunakan cara yang lebih halus.
Akhirnya Jati Wulung justru telah
terduduk dibawah sebatang pohon di pinggir lapangan. Keringatnya yang membasahi
keningnya sekali-kali disekanya dengan lengan bajunya.
Kiai Windulah yang kemudian mendekatinya.
Dengan nada rendah itu pun bertanya, "Kau letih?"
"Ya," jawab Jati Wulung.
"Kau terlalu tegang," berkata Kiai Windu
yang kemudian duduk disebelahnya. Wanengbaya tidak melakukan cara seperti yang
kau lakukan. Sampai sekarang ia masih bertahan ditempatnya."
"Ya. Aku menjadi panas karena penonton
yang seakan-akan menjadi gila, serta pemanah yang memang membuat jantungku
seakan-akan semakin cepat bergetar," berkata Jati Wulung.
"Karena itulah kau harus berhati-hati.
Terutama terhadap orang yang dianggapnya sebagai pemanah-pemanah terbaik itu.
Mungkin ada yang menerima kenyataan itu. Asal kau tidak turun ke arena maka
tidak ada lagi masalah baginya. Tetapi dada yang mungkin berpendirian, bahwa kau
tidak boleh untuk seterusnya turun ke arena panahan di tempat yang disebut Song
Lawa ini," berkata Kiai Windu kemudian.
Jati Wulung mengangguk-angguk. Ia
mengerti maksud Kiai Windu. Dengan nada berat ia berkata, "Aku akan berhati-hati
Kiai. Terima kasih atas peringatan itu. Sebenarnya aku tidak berniat untuk
berbuat demikian. Tetapi perasaan inilah yang rasa-rasanya telah membakar
jantung."
Kiai Windu tersenyum. Ia memang serba
sedikit dalam pergaulannya yang singkat, dapat mengenali watak Jati Wulung yang
agak lebih panas dari Sambi Wulung.
"Beristirahatlah," berkata Kiai Windu.
"Aku akan melihat panahan itu lagi."
SepeninggalKiaiWindu,JatiWulungsemakinmerenungidirinyasendiri
.Ia pun kemudian bersandar sebatang pohon sambil memandangi daunnya yang
bergerak disentuh angin. Rasa-rasanya sejuknya bayangan dedaunan serta angin
yang mengusap tubuh membuatnya mengantuk. Namun Jati Wulung tidak tertidur
karena setiap kali terdengar sorak yang meledak dari para penonton yang telah
ikut bertaruh di lapangan panahan.
Bagi Jati Wulung, Kiai Windu memang
merupakan orang yang agak lain dengan orang-orang yang dikenalinya di Song Lawa
itu. Meskipun ilmu Kiai Windu tidak mampu menyamainya, tetapi sikapnya yang
mengendap dan berpandangan luas itu, membuatnya menjadi hormat kepadanya.
TERNYATA Jati Wulung harus menunggu
sampai menjelang matahari turun. Sambi Wulung agaknya cukup telaten ikut dalam
panahan itu. Namun ketika matahari bagaikan membakar tengkuknya, serta
kemenangannya untuk hari ini sudah dianggap cukup, ia pun telah meninggalkan
arena.
Ketika Sambi Wulung itu melihat Jati
Wulung duduk bersandar sebatang pohon sambil merenung, maka ia pun telah
mendekatinya.
"Kenapa kau?" bertanya Sambi Wulung.
Kawan Kiai Windu yang mendekati merekalah
yang menjawab, "Ia telah mabuk karena kemenangan."
Sambi Wulung mengerutkan keningnya.
Sementara Jati Wulung sama sekali tidak beranjak dari tempatnya.
"Tunggulah," berkata Sambi Wulung. "Aku
akan mengembalikan busur dan anak panah ini."
Jati Wulung masih belum menjawab.
Sementara Sambi Wulung pun kemudian telah mengembalikan busur dan anak panah,
memberi sedikit uang kepada petugasnya dan juga kepada anak-anak yang menjadi
pemungut anak panahnya.
"Kau menang hari ini," berkata petugas
yang bertubuh raksasa itu sambil tersenyum.
Sambi Wulung pun tersenyum juga. Baginya
nampak agak aneh, seorang yang bertubuh raksasa, berwajah kasar dan berkumis
tebal itu tersenyum. Namun kemudian Sambi Wulung telah memberikan uang lagi
kepadanya sambil berkata, "Mungkin besok aku akan meminjamnya lagi."
"Baiklah," jawab orang itu. Lalu katanya,
"Terima kasih. Aku doakan kau besok menang lagi."
"Sambi Wulung tertawa. Namun ia tidak
menjawab lagi.
Sejenak kemudian, maka Sambi Wulung, Jati
Wulung, Kiai Windu dan ketiga orang kawannya telah berjalan menuju ke kedai
disebelah lapangan itu. Ketika mereka melewati kelompok-kelompok yang lain,
mereka tidak lagi melihat Wirakrama di arena. Tetapi mereka masih melihat Puguh
berada ditempatnya.
Ternyata mereka berhenti beberapa saat.
Namun dalam waktu yang pendek itu mereka sudah dapat menduga, bahwa
setidak-tidaknya Puguh tidak kalah dalam taruhan di tempat panahan itu.
Dalam pada itu, karena panasnya matahari,
ternyata beberapa orang pemanah memang sudah meninggalkan arena. Tetapi ada saja
orang lain yang menggantikannya, sehingga seakan-akan jumlah pesertanya tidak
terlalu banyak berkurang. Apalagi menurut Kiai Windu, jika panas matahari mulai
susut. Orang-orang baru akan turun pula menggantikan mereka yang telah menjadi
kelelahan. Namun dalam pada itu, ketika mereka melanjutkan langkah mereka menuju
ke kedai, Kiai Windu telah menceritakan apa yang didengarnya dari kawan-kawannya
tentang Jati Wulung yang ternyata telah mengguncang arena panahan di lapangan
itu.
"Benar kau berbuat begitu?" bertanya
Sambi Wulung.
Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam. Ia
mengerti bahwa jika Kiai Windu menyampaikan hal itu kepada Sambi Wulung, ia sama
sekali tidak berniat buruk. Bahkan sebaliknya, agar Sambi Wulung yang dikenalnya
bernama Wanengbaya itu juga menjadi berhati-hati.
Dengan nada rendah Jati Wulung menjawab,
"Hatiku dibakar oleh suasana yang panas serta sikap salah seorang pemanah yang
sombong atas kelebihannya."
"Dan kau terpancing untuk menjadi sombong
juga," bertanya Sambi Wulung.
Jati Wulung tidak menjawab. Namun Kiai
Windulah yang berkata, "Sebaiknya kau tidak memasuki arena panahan untuk satu
dua hari, karena kehadiranmu akan sangat berpengaruh terhadap kelompok itu."
Jati Wulung mengangguk kecil. Katanya,
"Aku mengerti."
Sambi Wulung hanya menarik nafas
dalam-dalam. Tetapi ia pun mengerti, bahwa ketelanjuran itu mungkin akan
mempunyai akibat tersendiri. Meskipun demikian Sambi Wulung berkata,
"Mudah-mudahan orang-orang itu segera melupakannya."
BEBERAPA saat kemudian, mereka berenam
telah berada di kedai bersama beberapa orang yang lain. Kedai yang luas itu
memang cukup menampung orang yang cukup. Keenam orang itu ternyata telah memilih
tempat yang justru berada agak di luar, agar tidak merasa terlalu panas dan
terlalu sibuk.
Ternyata bahwa perut yang lapar,
kelelahan dan haus membuat mereka mapan sekali duduk disebuah amben yang besar
berenam sambil menghadapi mangkuk masing-masing.
Untuk beberapa saat, mereka masih dapat
menikmati makanan dan minuman yang mereka pesan. Namun beberapa saat kemudian,
tiba-tiba saja sebuah batu yang cukup besar, tidak kurang dari satu genggam
tangan telah jatuh di mangkuk Jati Wulung sehingga mangkuk itu menjadi pecah.
Serentak ia berpaling. Sementara itu
suara tertawa telah terdengar memenuhi kedai itu.
Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam. Ia
teringat kepada seseorang yang telah memasukkan sekeping uang di mangkuk salah
seorang dari kawan Kiai Windu. Namun yang dimasukkan ke dalam mangkuknya bukan
uang, tetapi justru batu sebesar segenggam tangan sehingga memecahkan mangkuknya
dan isinya pun telah berhamburan.
Orang yang melemparkan batu itu ternyata
adalah orang berkepala botak yang telah dikalahkannya di arena panahan.
"Kau memang benar Kiai Windu," berkata
Jati Wulung. "Aku tidak perlu menunggu besok atau malam nanti. Sekarang orang
itu sudah menuntut kekalahannya."
"Berhati-hatilah," berkata Kiai Windu.
"Nampaknya orang itu bukan orang kebanyakan. Aku belum pernah melihat sebelumnya
ia berada disini."
Namun dalam pada itu Jati Wulung masih
belum berbuat sesuatu. Ia memang menunggu orang itu mendekatinya.
Sambil tertawa berkepanjangan, orang itu
memang melangkah mendekat. Ia sama sekali tidak menghiraukan orang-orang di
kedai itu. Sedangkan orang-orang di kedai itu pun tidak banyak pula yang
memperhatikannya. Sesaat mereka memang berpaling ke arahnya. Namun kemudian
mereka lebih baik memperhatikan makan dan minuman mereka daripada memperhatikan
orang lain.
"Kau adalah pemanah terbaik yang pernah
aku temui," berkata orang berkepala botak itu. "Aku mengakui, bahwa kau telah
melampaui kemampuanku memanah. Sebelumnya, akulah yang terbaik. Namun
kehadiranmu membuat wibawaku menurun di lapangan panahan."
"Bukan maksudku," berkata Jati Wulung.
"Aku hanya sekadar mengambil kemenangan untuk makan siang ini."
"Kau semakin menghinaku," berkata orang
berkepala botak itu. "Kau justru sengaja mengenai sasaran dengan nilai denda.
He, apakah kau memang ingin menantang aku?"
Wajah Jati Wulung menjadi merah. Tetapi
ketika ia melihat orang-orang disekitarnya masih tenang-tenang saja, maka ia pun
menjadi tenang pula.
"Ki Sanak," berkata orang berkepala botak
itu. "Karena kau merebut wibawaku di arena panahan, maka aku ingin
mendapatkannya kembali disini. Jika kau mau berjongkok dan minta maaf kepadaku,
maka aku tidak akan mengganggumu lagi meskipun kau akan turun pula ke arena
panahan. Aku dapat menyingkir ke kelompok lain atau melakukan kegiatan yang
lain."
Jati Wulung hampir kehilangan
kesabarannya. Namun ia masih berusaha menguasai diri.
"He.Kenapakaudiamsaja?Jikakausesalikesombonganmudiarenapanahanitu
,berjongkoklahcepatsebelumakumengambilkeputusan
lain,"berkataorangberkepalabotakitu .
Jati Wulung memang sudah menjadi panas.
Ia pun kemudian turun dari amben.
"Nah, ternyata kau berani mengakui
kesalahanmu. Marilah. Aku akan mengampunimu," desis orang itu.
Tetapi yang terjadi adalah diluar dugaan.
Jati Wulung telah menyambar mangkuk di hadapan Sambi Wulung yang masih berisi
minuman hangat. Dengan serta merta minuman itu telah dilontarkan ke wajah orang
yang berkepala botak itu..
ORANG berkepala botak itu ternyata sama
sekali tidak menduga, sehingga karena itu, maka wedang sere hangat itu
benar-benar telah menyiram wajahnya. Orang itu bergeser selangkah surut.
Wajahnya menjadi merah bagaikan membara. Bukan saja karena minuman yangmasih
hangat itu, tetapi juga karena kemarahan yang semakin memuncak.
Orang-orang yang ada di dalam kedai itu
memang tertarik melihat sikap Jati Wulung. Semula mereka menduga bahwa Jati
Wulung yang menyebut dirinya bernama Wanengpati itu memang benar-benar akan
berlutut. Tetapi ternyata yang dilakukan justru sebaliknya.
Sementara di antara mereka yang melihat
apa yang terjadi di arena panahan, segera mengetahui, bahwa orang berkepala
botak itu telah mendendam Wanengpati karena kekalahannya yang mutlak di arena.
"Kau benar-benar orang gila," geram orang
berkepala botak itu. "Tadi aku masih berbaik hati dan bersedia memberi maaf jika
kau minta. Sekarang kau mendapat kesempatan lagi."
"Persetan," geram Jati Wulung.
Sambi Wulung hanya dapat menarik nafas
dalam-dalam. Ia tidak akan mampu mencegah benturan kekerasan yang akan terjadi.
Namun ia masih ingin memperingatkan kepada Jati Wulung, bahwa tujuan mereka ke
Song Lawa adalah untuk mengenal dan mengetahui tempat tinggal Puguh. Bukan untuk
hal-hal yang lain
Karena itu, maka Sambi Wulung pun telah
berdiri pula mendekati Jati Wulung. Diambilnya mangkuk yang masih berada di
tangan Jati Wulung itu. Ia seolah-olah tidak peduli apa yang akan terjadi. Namun
ia sempat berbisik, "Perkelahian ini tidak termasuk dalam tugas kita."
"Kita sudah melakukannya beberapa kali,"
desis Jati Wulung.
Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam.
Tetapi ia pun kemudian berkata kepada seorang pelayan, "Tolong, ini mangkukku
ini. Wadang sere panas."
Kiai Windu dan kawan-kawannya hanya
termangu-mangu saja. Meskipun mereka tahu, bahwa Sambi Wulung berkata sesuatu
kepada Jati Wulung, tetapi mereka tidak mendengar apa yang dikatakannya.
Dalam pada itu, ketika Jati Wulung dan
orang berkepala botak itu sudah bersiap, maka dua orang yang bertubuh raksasa
datang mendekat sambil berkata kepada dua orang yang akan berkelahi itu,
"Minggir. Jangan berkelahi di kedai ini. Kalian dapat merusakkan barang-barang
kami sehingga kalian harus mengganti dengan harga yang sangat tinggi. Apalagi
jika salah seorang dari kalian mati. Maka yang hidup akan menanggung beban yang
berat, atau ikut mati pula."
Jati Wulung tidak menjawab. Tetapi ia
telah bergeser menjauh dari kedai dan justru berada di tempat yang lapang.
Sementara itu orang berkepala botak itu pun menyusulnya pula.
Orang-orang yang makan di kedai itu masih
juga makan. Sementara itu, Jati Wulung masih sempat melihat Puguh diikuti oleh
beberapa orang pengawalnya menuju ke kedai itu. Mereka berpaling sejenak. Namun
kemudian mereka tidak menghiraukannya lagi.
Dalam pada itu, orang berkepala botak
yang marah sekali itu agaknya tidak sabar lagi. Wajahnya dan pakaiannya memang
sudah basah oleh wedang sere yang hangat.
"Bersiaplah," ia menggeram.
Jati Wulung tidak
menjawab.Namuniapuntelahbersiap pula.
Dalam pada itu, dua orang yang baru
datang ke kedai itu masih berdiri di dekat tempat duduk Sambi Wulung. Seorang di
antara mereka berkata, "Kedua-duanya belum pernah aku lihat sebelumnya."
"Ya. Keduanya orang baru. Tetapi kasihan
orang itu. Ia memiliki kemampuan memanah tiada taranya. Tetapi di tangan orang
berkepala botak ia akan menjadi permainan yang mengasyikkan. Agaknya jika ia
tahu siapa si botak itu, maka ia tidak akan berani menyombongkan dirinya di
arena," desis yang lain.
"Kau kenal si botak itu?" bertanya
kawannya.
"ORANG itulah yang dikenal dengan sebutan
Orang Hutan Berkepala Besi," jawab yang lain. "O," kawannya mengangguk-angguk
Katanya kemudian, "Sayang. Orang itu sudah terbentur pada Kepala Besi di hari
kedua. Masih banyak waktu yang tersisa. Kenapa ia sudah mengorbankan dirinya
sekarang."
"Ia terlalu sombong dengan kemampuan
bidiknya," jawab yang lain. "Tetapi Kepala Besi itu namanya sudah terlalu banyak
dikenal."
"Di Pesisir Utara. Tetapi belum disini,"
jawab kawannya.
Keduanya pun kemudian bergeser dan duduk
di sebuah amben. Ketika keduanya mulai memesan makanan, maka orang yang disebut
Orang Hutan Berkepala Besi itu sudah mulai bergerak.
Sambi Wulung memang menjadi
berdebar-debar mendengar pembicaraan itu. Apalagi ketika Kiai Windu berdesis,
"Jadi orang itulah yang disebut Orang Hutan Berkepala Besi itu."
"Kau pernah mendengar?" bertanya Sambi
Wulung.
"Ya. Namanya memang ditakuti di Pesisir
Utara. Tetapi tiba-tiba sekarang ia berada disini?" jawab Kiai Windu. Namun di
luar sadarnya Kiai Windu berkata, "Kemelut di daerah Alas Mentaok agaknya telah
memanggilnya."
Sambi Wulung terkejut mendengar kata-kata
itu. Dengan serta merta ia bertanya, "Kemelut yang manakah yang kau maksud?"
Kiai Windulah yang terkejut kemudian.
Karena itu, maka dengan tergesa-gesa ia pun berkata, "Tidak. Tidak ada apa-apa
dengan Mentaok."
Ketika agaknya Sambi Wulung masih akan
bertanya lagi, Kiai Windu mendahuluinya, "Perkelahian itu sudah mulai."
Sambi Wulung mengerutkan keningnya.
Perkelahian antara orang berkepala botak yang disebut Orang Hutan Berkepala Besi
itu dengan Jati Wulung yang dikenal bernama Wanengpati memang sudah mulai.
Namun dalam pada itu orang berkepala
botak itu masih sempat bertanya sambil meloncat menyerang, "Sebelum mati, sebut
namamu."
"Wanengpati," jawab Jati Wulung.
"Nama orang gila itu pun gila pula,"
geram orang berkepala botak itu.
"Sebelum kepalamu yang botak itu pecah,
siapa namamu he?" bertanya Jati Wulung.
"Birawa," jawab orang itu. Lalu, "Tetapi
aku lebih dikenal dengan sebutan Orang Hutan Berkepala Besi. Aku tidak sakit
hati disebut Orang Hutan, juga tidak marah dipanggil Kepala Besi. Nah, sekarang
kau akan segera mati setelah mengetahui siapa aku. Seandainya kau menyesal,
namun kau sudah tidak akan mendapat kesempatan pengampunan lagi."
Jati Wulung masih akan berbicara lagi.
Tetapi serangan lawannya tiba-tiba datang dengan derasnya, seperti tiupan angin
prahara.
Karena itu, maka Jati Wulung terpaksa
memutuskan perhatiannya pada serangan lawannya. Dengan tangkasnya ia melenting
menghindar sehingga serangan itu sama sekali tidak menyentuh sasaran.
"Anak iblis," geram orang berkepala botak
yang menyebut dirinya Birawa. "Bagaimana mungkin kau menghindari seranganku."
JATI WULUNG telah bersiap pula menghadapi
segala kemungkinan. Namun ia masih juga berkata, "Namamu sama sekali tidak
dikenal. Seperti nama kebanyakan petani yang tidak pernah aku dengar sebelumnya.
Bahkan seorang juragan di daerah Pajang akan lebih banyak dikenal daripada
namamu."
"Aku koyak mulutmu," geram orang itu.
"Kenapa tidak kau lakukan saja daripada
kau berteriak-teriak? Nah, ketahuilah, bahwa berteriak-teriak seperti itu adalah
ciri orang yang kurang yakin akan dirinya sendiri," berkata Jati Wulung.
Orang itu memang menjadi semakin marah.
Dengan kecepatan yang sulit diikuti, maka ia pun telah menyambar Jati Wulung
dengan telapak tangannya ke arah kening. Namun sekali lagi serangannya sia-sia
karena Jati Wulung telah bergeser. Bahkan dengan tiba-tiba saja Jati Wulung
telah berputar dan bertumpu pada satu tumitnya. Kakinya sebelah yang menyilang
kakinya yang lain, telah terpancang dengan kuatnya ketika kakinya yang semula
menjadi tumpuannya berputar telah bergerak menyamping.
Gerak itu demikian cepatnya, sehingga
orang berkepala botak itu menjadi sangat terkejut karenanya.
Dengan demikian, maka dengan langkah yang
panjang, orang berkepala botak itu telah meloncat beberapa langkah surut.
"Bukan main," terdengar salah seorang
dari orang yang semula membicarakan tentang orang berkepala botak itu.
Sambi Wulung sempat berpaling ke arah
mereka. Ternyata keduanya dengan sungguh-sungguh telah memperhatikan kedua orang
yang berkelahi itu.
"Jarang ada orang yang berhasil lolos
dari serangan Kepala Besi itu," desis orang yang agaknya memang pernah mengenal
orang berkepala botak itu.
Sementara itu kedua orang yang bertempur
itu semakin lama memang menjadi semakin cepat. Keduanya memiliki keterampilan
yang tinggi dan tenaga yang besar. Bahkan beberapa saat kemudian mereka telah
merambah ke tenaga cadangan mereka.
Orang yang disebut Orang Hutan dan
bernama Birawa itu memang merasa heran bahwa seseorang yang berada di Song Lawa
itu mampu mengimbanginya beberapa lama. Bahkan orang yang bernama Wanengpati itu
nampaknya sampai tataran tertentu akan dapat meningkatkan ilmunya lagi.
Dengan demikian kemarahan Birawa itu pun
menjadi semakin memuncak. Ia meningkatkan tenaga cadangannya tataran demi
tataran. Namun lawannya pun telah meningkat pula. Seakan-akan Wanengpati itu pun
menjadi semakin lama semakin kuat dan tangkas.
Sambi Wulung memperhatikan perkelahian
itu dengan jantung yang berdebar-debar. Ia tahu bahwa Jati Wulung memiliki ilmu
yang tinggi meskipun belum setinggi Kiai Soka dan Kiai Badra. Tetapi tidak pada
tataran jauh lebih rendah. Bahkan dalam beberapa hal, Jati Wulung masih
mempunyai kemungkinan pula untuk berkembang.
Kiai Windu pun menjadi tegang karenanya.
Ia pernah mendengar serba sedikit tentang orang yang disebut Orang Hutan
Berkepala Botak. Di pesisir Utara nama itu disebut-sebut sebagai nama yang
menggetarkan jantung.
Namun Kiai Windu pun tahu bahwa
Wanengpati itu juga memiliki ilmu yang tinggi. Bahkan ia pernah menjajagi
langsung kemampuan dua orang yang bernama Wanengbaya dan Wanengpati. Kiai Windu
berempat tidak mampu mengimbangi kedua orang itu. Bukan sekadar berpura-pura.
Tetapi benar-benar mereka berempat telah dikalahkan.
Beberapa saat kemudian, maka sikap dan
gerak Orang Hutan Berkepala Botak itu menjadi semakin keras dan bahkan kasar.
Menurut pengalaman Kiai Windu, Wanengbaya dan Wanengpati semula juga dikiranya
termasuk golongan orang-orang kasar. Tetapi ternyata kekasaran itu bukanlah
sifat dan watak keduanya yang sebenarnya.
RENCANA mereka memasuki Song Lawa telah
membuat kedua orang itu dengan sengaja menjadi kasar. Jati Wulung memang tidak
menunjukkan tata gerak yang kasar pada mulanya. Tetapi ketika orang berkepala
botak itu menjadi keras dan kasar, maka Jati Wulung pun mulai teringat, bahwa ia
berada di Song Lawa.
Karena itu, maka tiba-tiba saja tata
geraknya telah berubah. Ia tidak lagi bergerak dengan hati-hati. Tidak lagi
menjaga agar tidak menimbulkan kesan yang keras dan bahkan liar. Ketika orang
berkepala botak itu mengumpat kotor sambil menyerang dengan kasar, ternyata Jati
Wulung telah melakukannya pula.
Namun karena Kiai Windu berada di luar
arena, ia dapat melihat perubahan itu. Apalagi karena Kiai Windu sendiri
mempunyai penilaian yang lain atas kekerasan Wanengpati itu. Tetapi bagi orang
lain, maka perubahan itu sama sekali tidak mereka ketahui. Yang nampak kemudian
oleh orang-orang yang sekali-kali berpaling ke arah perkelahian itu adalah bahwa
keduanya berkelahi menurut kebiasaan yang terjadi di Song Lawa. Keras, kasar dan
bahkan liar.
Orang yang berada di dalam kedai,
kebanyakan semula sama sekali tidak menghiraukan perkelahian itu kecuali
beberapa orang tertentu. Namun ketika perkelahian itu menjadi semakin meningkat,
maka mereka pun mulai tertarik. Ketika kedua orang yang bertempur itu bergerak
semakin cepat, dengan benturan-benturan yang semakin keras dan serangan-serangan
yang semakin kasar pula, maka satu demi satu mereka mulai memperhatikannya.
Dua orang yang telah membicarakan
sebelumnya tentang Orang Hutan Berkepala Besi itu menjadi heran, bahwa lawan
Orang Hutan itu masih juga mampu bertahan.
“Ternyata ada juga orang yang berilmu
tinggi memasuki tempat perjudian ini,” desis orang yang pernah mengenali Kepala
Besi itu.
Ketegangan ternyata telah menjalar ke
seluruh isi kedai itu. Mereka tidak lagi bersikap acuh saja. Yang mereka lihat
kemudian adalah sesuatu yang luar biasa.
Kiai Windu yang juga menjadi tegang
berbisik ditelinga Sambi Wulung, “Bagaimana menurut pendapatmu. Aku ingin tahu
agar jantungku tidak meledak.”
“Ingin tahu tentang apa?” bertanya Sambi
Wulung.
“Kau adalah saudaranya. Kau tentu tahu,
apakah Wanengpati telah sampai ke puncaknya atau belum. Jika orang berkepala
botak itu meningkatkan lagi ilmunya, bahkan sampai kepada ilmu puncaknya apakah
saudaramu itu masih mempunyai kemampuan yang dicadangkannya pula,” bertanya Kiai
Windu.
“Kau aneh,” desis Sambi Wulung. “Orang
seperti kau seharusnya tidak menjadi gelisah melihat perkelahian seperti itu,
meskipun kita belum tahu bagaimana akan akhirnya.”
“Kau jangan menambah aku menjadi semakin
berdebar-debar,” berkata Kiai Windu.
Sambi Wulung mengerutkan keningnya. Namun
dengan demikian ia sadar bahwa orang yang bernama Kiai Windu itu memang sangat
memperhatikannya dan memperhatikan Jati Wulung. Kecemasan Kiai Windu terhadap
Jati Wulung menunjukkan, bahwa pergaulan mereka yang belum lama itu telah
menumbuhkan perasaan kesetiakawanan meskipun perkenalan mereka terjadi dengan
cara yang aneh.
“Kau belum menjawab,” desak Kiai Windu
yang menyaksikan perkelahian itu menjadi semakin seru.
Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, “Aku tidak ingin berteka-teki. Tetapi sudah tentu bahwa kita tidak akan
dapat meramalkan apa yang akan terjadi, karena aku belum tahu, sampai dimana
tataran kemampuan orang berkepala botak itu.”
Kiai Windu termangu-mangu sejenak. Ia pun
tidak tahu pasti tataran kemampuan Kepala Besi itu. Apakah ia masih mampu
meningkatkan ilmunya lebih jauh lagi, atau hanya beberapa lapis saja. Namun ia
masih bertanya, “Kalian dapat mengalahkan aku berempat. Aku yakin bahwa saat itu
kau berdua belum sampai pada puncak kemampuanmu. Nah, katakan, apakah yang
dilakukan oleh Jati Wulung itu masih jauh dari batas kemampuannya atau sudah
menjadi semakin dekat.”
“Jangan seperti anak-anak,” berkata
Sambi Wulung. “Kita sudah kenyang makan garamnya kehidupan yang keras seperti
ini.” Kiai Windu tidak bertanya lagi. Namun ia menjadi semakin gelisah melihat
perkelahian yang keras dan kasar itu. Bahkan apalagi ketika ia melihat, Kepala
Besi itu beberapa kali dengan sengaja berusaha untuk membenturkan kepalanya pada
kepala lawannya.
Sambi Wulung pun menjadi tegang. Satu
pengalaman baru baginya dan juga bagi Jati Wulung, bahwa seseorang berusaha
untuk membenturkan kepalanya ketika mereka sedang bertempur. Namun Jati Wulung
cukup tangkas untuk selalu menghindarinya.
Namun dalam pertempuran yang kasar,
tiba-tiba saja keduanya sempat berdiri pada jarak yang dekat. Adalah di luar
dugaan bahwa tiba-tiba saja Kepala Besi itu telah meraih telinga Jati Wulung.
Jati Wulung sama sekali telah menduga, bahwa lawannya akan melakukan hal
tersebut. Karena itu, maka ketika semuanya itu terhindar dengan cepat Jati
Wulung tidak sempat menghindar.
Ternyata sambil memegangi telinga Jati
Wulung Orang Hutan Berkepala Besi itu telah membenturkan kepalanya ke kepala
Jati Wulung.
Benturan itu demikian kerasnya, sehingga
terdengar Jati Wulung mengeluh tertahan.
Tetapi Kepala Besi itu tidak melepaskan
pegangannya. Belum lagi Jati Wulung sempat berbuat sesuatu, maka sekali lagi
telah terjadi benturan kepala antara keduanya.
Sekali lagi Jati Wulung mengaduh.
Kepalanya rasa-rasanya menjadi retak oleh benturan itu. Kepala lawannya itu
benar-benar terasa bagaikan terbuat dari besi. Dan itulah agaknya maka lawannya
mendapat gelar berkepala besi.
Sambi Wulung yang berada di luar arena
menjadi tegang melihat cara orang berkepala botak itu berkelahi. Hampir saja ia
meloncat berdiri. Namun ia masih sempat mencegah dirinya.
Bukan hanya Sambi Wulung, tetapi Kiai
Windu dan kawan-kawannya pun menjadi tegang pula. Bahkan terdengar Kiai Windu
mengumpat, “Gila.”
Sementara itu dua orang yang telah
membicarakan Kepala Besi itu sebelumnya terdengar berdesah pula. Seorang di
antara mereka berkata, “Nah, sampailah batas umur orang yang malang itu.
Kemampuannya memanah yang luar biasa ternyata telah menjerumuskannya ke
kematian.”
Kawannya mengangguk-angguk. Katanya, “Ia
sama sekali tidak menduga pada saat ia belajar memanah. Tetapi ia memang terlalu
sombong. Seandainya ia dapat sedikit mengekang dirinya, ia tidak akan menjadi
sasaran kemarahan yang meledak itu.”
Yang lain tidak menjawab. Mereka melihat
untuk ketiga kalinya orang yang disebut berkepala besi itu membenturkan
kepalanya.
Jati Wulung telah benar-benar menjadi
pening. Ia tidak mau menunggu kepalanya benar-benar menjadi retak. Karena itu,
maka ia harus berbuat sesuatu.
Dengan kekuatan tenaga cadangannya, maka
Jati Wulung mencoba untuk melepaskan diri. Tetapi cengkeraman itu memang begitu
kuat, sehingga jika ia memaksa, maka telinganya mungkin akan terlepas dari
kepalanya. Karena itu, maka ia harus mengambil jalan lain.
Karena itu, maka Jati Wulung itu justru
melekat semakin rapat. Tiba-tiba saja dengan sepenuh kekuatannya, ia telah
mengangkat lututnya menghantam bagian bawah perut lawannya.
Serangan itu demikian kerasnya karena
didorong oleh segenap kekuatan tenaga cadangannya, sehingga orang berkepala besi
itu terdengar mengaduh namun kemudian mengumpat kasar. Apalagi ketika sekali
lagi Jati Wulung mengulangi serangannya.
Pegangan tangan orang berkepala besi itu
telah menjadi kendor. Dengan serta merta Jati Wulung telah mempergunakan
kesempatan itu. Ia telah mengibaskan kedua tangan lawannya dengan menyusupkan
kedua lengannya di antara kedua lengan lawan. Ketika Jati Wulung mengambangkan
tangannya, maka pegangan lawannya atas telinganya pun telah terlepas.
DALAM pada itu, selagi orang berkepala
besi itu masih menyeringai manahan sakit, maka Jati Wulung telah mempergunakan
kesempatan itu sebaik-baiknya.
Betapapun kepalanya terasa pening, namun
ia masih sempat melihat ujud lawannya. Karena itu, maka dengan kekuatan yang ada
padanya, sambil memiringkan tubuhnya, kakinya telah terjulur ke dada orang itu.
Satu benturan yang keras telah terjadi.
Kekuatan kaki Jati Wulung telah menghantam dada orang yang disebut Orang Hutan
Berkepala Besi itu.
Demikian besar kekuatan Jati Wulung, maka
lawannya yang berkepala botak itu telah terlempar beberapa langkah surut. Bahkan
ia pun telah kehilangan keseimbangannya dan kemudian jatuh di tanah.
Jati Wulung pun ternyata telah menjadi
sangat marah mendapat perlakuan lawannya seperti itu. Namun ketika ia siap
meloncat menerkam lawannya, rasa-rasanya tanah di depan kakinya itu telah
bergerak.
Agaknya kepala Jati Wulung masih terasa
pening. Karena itu, maka ia pun telah mengurungkan niatnya. Bahkan ia telah
berdiri tegak untuk mempergunakan waktu yang ada, memusatkan nalar budinya untuk
mengerahkan daya tahan tubuhnya.
Untunglah bahwa lawannya pun tidak segera
bangun. Dadanya rasa-rasanya telah tersumbat bukit padas, sementara itu isi
perutnya terasa seakan-akan telah diremas.
Untuk beberapa saat orang itu pun harus
mengatasi perasaan sakit itu. Sambil mengumpat kasar, maka ia pun kemudian
tertatih-tatih untuk bangkit berdiri.
Orang yang disebut Orang Hutan Berkepala
Besi itu terkejut ketika dilihatnya lawannya berdiri tegak dan siap untuk
menerkamnya.
Sebenarnya bahwa Jati Wulung telah
berhasil mencapai daya tahan tertinggi di dalam dirinya, sehingga perasaan
peningnya telah jauh berkurang. Bahkan perutnya yang juga menjadi mual oleh
benturan di kepalanya itu telah dapat diatasinya. Dengan demikian maka Jati
Wulung itu telah siap untuk mengulangi pertempuran itu seandainya dari permulaan
sekalipun. Apalagi ia telah mendapatkan satu pengalaman baru, bahwa kepala yang
botak itu merupakan salah satu senjata dari lawannya.
Untuk beberapa saat keduanya berdiri
berhadapan dan saling memandang dengan sorot mata kemarahan. Orang yang
berkepala sekeras besi itu kemudian menggeram, "Anak setan kau. Kepalamu
ternyata tidak pecah oleh benturan-benturan itu."
"Cobalah sekali lagi," sahut Jati Wulung.
"Kau akan menyesal, bahwa aku akan memecahkan kepalamu dengan sisi telapak
tanganku."
"Persetan," Kepala Besi itu hampir
berteriak.
Jati Wulung tidak menjawab. Tetapi ia
sudah siap menghadapinya.
Sambi Wulung yang melihat saudara
seperguruannya berhasil melepaskan diri dari cengkeraman tangan lawannya itu
menarik nafas dalam-dalam. Bahkan ia pun mulai mempunyai keyakinan, bahwa untuk
seterusnya Jati Wulung tidak akan terjebak lagi oleh kekuatan Kepala Besi itu.
Sementara itu Kiai Windu pun berdesis,
"Bukan main."
"Apa yang bukan main," bertanya Sambi
Wulung.
"Saudaramu itu," jawab Kiai Windu.
Sebenarnyalah, bahwa Jati Wulung mampu
melepaskan diri itu merupakan satu hal yang sangat menarik perhatian. Dua orang
yang memperhatikan pertempuran itu pun telah menjadi sangat heran. Bahkan
seorang yang telah mengenal Kepala Besi itu berkata, "Orang ini memang liat.
Ternyata ia belum mati."
"Luar biasa," berkata yang lain. "Sesuatu
yang tidak dapat dijangkau dengan nalar."
Sementara itu Jati Wulung melanjutkan
pertempuran itu. Dengan segenap tenaga dan kemampuannya orang yang disebut Orang
Hutan Berkepala Besi itu ingin segera menyelesaikan pertempuran itu.
JIKA kebiasaan di Song Lawa itu seseorang
tidak ingin mencampuri persoalan orang lain, maka yang terjadi saat itu memang
agak berbeda. Biasanya orang-orang itu tidak mengacuhkannya jika dua orang,
bahkan sekelompok orang berkelahi. Tetapi ternyata bahwa perkelahian antara
Kepala Besi dan Jati Wulung itu benar-benar menarik perhatian. Orang-orang yang
sedang makan di dalam kedai itu, seakan-akan perhatiannya telah terpusat kepada
perkelahian yang sedang terjadi itu. Bahkan di luar sadarnya, beberapa orang
telah bangkit dan melangkah ke luar kedai. Demikian pula Kiai Windu dan
kawan-kawannya. Meskipun tempat duduk mereka telah berada di batas luar dari
kedai itu, namun mereka telah bangkit dan melangkah mendekat. Sambi Wulung tidak
mencegah mereka. Ia pun justru telah ikut pula mendekat.
Beberapa orang lain yang tidak dapat
melihat karena tertutup oleh orang-orang yang telah berdiri itu, ikut berdiri
pula. Sehingga akhirnya hampir semua orang yang berada di dalam kedai itu telah
ke luar.
Para petugas di kedai itu tidak sempat
memberi peringatan kepada orang-orang itu untuk membayar lebih dahulu. Bahkan
mereka sendiri telah dengan tergesa-gesa bergeser untuk menyaksikan perkelahian
yang jarang terjadi sebagaimana yang mereka saksikan itu. Dua orang yang
ternyata memiliki ilmu yang tinggi.
Sebenarnyalah, kedua orang itu telah
terlibat ke dalam pertempuran yang sengit pula. Keduanya bergerak dengan cepat
sambil melontarkan kekuatan yang sangat besar. Dalam benturan-benturan yang
terjadi, maka keduanya benar-benar telah menunjukkan betapa besar tenaga dan
kemampuan mereka. Namun sedikit demi sedikit daya tahan mereka berdua pun talah
terguncang pula.
Dalam pada itu, maka orang berkepala
botak itu agaknya sudah tidak telaten lagi. Menurut perhitungannya, seharusnya
lawannya sudah tidak akan mampu bertahan lebih lama ketika ia telah membenturkan
kepalanya. Namun ternyata orang itu masih tetap memberikan perlawanan yang
justru kadang-kadang membingungkan.
Karena itu, maka orang berkepala botak
itu telah meningkatkan kemampuannya sampai ke puncak. Ia harus menghancurkan
lawannya. Ia sudah dikalahkan di arena panahan, sehingga wibawanya telah turun.
Karena itu, maka ia harus menebusnya di arena perkelahian itu.
Tetapi ternyata memang tidak terlalu
mudah.
Demikianlah, dalam puncak kemarahannya,
maka orang berkepala botak itu telah mengerahkan segenap kemampuannya. Ia memang
lebih percaya kepada kepalanya, sehingga ia selalu mencari kesempatan untuk
dapat membenturkan kepalanya itu.
Namun lawannya yang telah mengetahui
letak kekuatannya, selalu berusaha untuk menghindari sentuhan kepalanya yang
botak itu. Bahkan serangan-serangan Jati Wulung pun sama sekali tidak mengarah
ke kepala atau tubuh bagian-bagiannya. Jati Wulung yang telah mengenali
kelemahannya, lebih mengarahkan serangan-serangannya ke leher, ulu hati dan
lambung. Hanya dengan kekuatan sepenuhnya Jati Wulung menyerang ke arah dada
orang itu.
TETAPI orang berkepala botak itu telah
mempergunakan kepala sebagai perisai. Ia selalu menunduk dan menangkis
serangan-serangan itu dengan kepalanya. Bahkan setiap kali ia berusaha untuk
menyerang lawannya dengan kepalanya pula. Dalam puncak ilmunya, maka Jati Wulung
menjadi berdebar-debar. Dari botak kepalanya itu, ia melihat seakan-akan asap
yang tipis mengepul. Kepala itu seakan-akan telah menjadi panas dan membara.
Sebenarnyalah, bahwa orang berkepala
botak yang menyebut dirinya bernama Birawa itu memang telah memusatkan segenap
ilmunya pada kemampuannya yang tertinggi. Betapa tangkasnyya orang itu kemudian.
Tubuhnya seakan-akan menjadi ringan dan gerakannya pun semakin cepat. Namun
kepalanya rasa-rasanya menjadi bertambah berbaya.
Ketika Jati Wulung menyerangnya dengan
kakinya mengarah ke ulu hati, maka orang itu dengan sengaja telah menunduk
rendah demikian cepatnya sehingga kaki Jati Wulung itu telah membentur kepala
lawannya.
Benturan itu memang menggetarkan jantung.
Jati Wulung memang terdorong beberapa langkah surut. Bahkan ia telah menjatuhkan
dirinya untuk menguasai keseimbangannya kembali. Dengan cepat ia melenting
berdiri dan siap menghadapi segala kemungkinan.
Namun orang yang berkepala botak itu pun
telah surut beberapa langkah. Betapapun keras kepalanya, tetapi dorongan
kekuatan Jati Wulung benar-benar telah mendorongnya dengan kekuatan yang terasa
betapa besarnya.
Seperti Jati Wulung orang itu tidak dapat
bertahan untuk tetap tegak. Ia pun terjatuh pula. Tetapi juga seperti Jati
Wulung orang itu telah dengan tangkasnya meloncat berdiri.
Untuk beberapa saat keduanya masih tetap
berdiri ditempatnya. Ternyata keduanya telah mengalami hambatan pada gerak
berikutnya. Keduanya tidak dapat dengan serta merta menyerang lawannya.
Jati Wulung memang merasakan, bahwa
Kepala Besi itu menjadi panas. Ketika kakinya mengenai kepala itu, rasa-rasanya
seakan-akan memang telah menyentuh bara. Karena itu, maka ia pun harus berusaha
mengatasi perasaan sakit itu.
Demikian pula Kepala Besi itu. Kekuatan
ilmu Jati Wulung ternyata memang luar biasa. Demikian kuatnya hentakan pada
kepalanya itu, meskipun tidak menimbulkan luka pada kulitnya, namun kepala itu
memang terasa pening. Meskipun seandainya kepala itu terbuat dari besi
sekalipun, tetapi goncangan di bagian dalamnya, benar-benar mempunyai akibat
yang gawat.
Untuk beberapa saat keduanya menegakkan
kembali kesiagaan mereka. Namun pertempuran itu pun sejenak kemudian telah
dimulai lagi.
Sambi Wulung yang masih juga memandangi
perkelahian itu dengan tegang, telah melihat Puguh yang menyibak beberapa orang
yang lain dan berdiri di paling depan. Beberapa orang pengawalnya pun kemudian
ikut pula bersamanya. Agaknya remaja yang hampir menginjak dewasanya itu
benar-benar tertarik melihat perkelahian yang keras dan sengit itu.
Sementara itu Kiai Windu benar-benar
dicengkam oleh ketegangan. Ketika pertempuran itu menjadi semakin cepat, maka
nafasnya pun kadang-kadang telah terhenti oleh ketegangan yang terasa
mencekiknya.
Kepala besi yang telah sampai ke puncak
ilmunya itu memang mulai merasa gelisah bahwa ia masih juga belum dapat
mengalahkan apalagi membunuh lawannya. Orang yang menyebut dirinya bernama
Wanengpati itu memang benar-benar liat. Ia mampu bergerak dengan kecepatan yang
sulit diikuti, namun ia pun memiliki kekuatan yang jarang ada tandingnya.
Ketika Kepala Besi itu merasa tenaganya
mulai susut, justru karena ia telah mengerahkan tenaga, ilmu dan kemampuannya
tanpa mengekang diri oleh kemarahan yang memuncak, maka kegelisahan pun mulai
terasa menggelitiknya.
Ternyata keduanya telah berkelahi cukup
lama. Langit pun mulai menjadi suram karena matahari sudah hampir terbenam.
NAMUN orang-orang yang mengelilingi arena
itu belum beringsut. Mereka tidak lagi ingat arena sabung ayam dan permainan
dadu. Bahkan beberapa orang yang semula berada di lapangan panahan, telah datang
pula melihat perkelahian yang sengit itu.
Dalam pada itu, Jati Wulung yang
menyadari kekuatan dan senjata lawannya yang aneh itu, telah membuat
perhitungan-perhitungan yang lebih masak. Ia telah memusatkan kekuatan ilmunya
pada kaki dan sisi telapak tangannya, sehingga ia memiliki ketangkasan yang
penuh untuk mengarahkan serangan-serangannya.
Dengan kecepatan gerak yang sangat
tinggi, maka akhirnya Jati Wulung berhasil menembus pertahanan orang berkepala
botak itu. Meskipun sekali-kali serangan tangan Jati Wulung masih juga mengenai
kepala yang bagaikan telah menjadi bara itu, namun ia pun telah berhasil
menyentuh bagian-bagian lain yang lemah pada tubuh lawannya.
Beberapa kali Kepala Besi itu telah
terdorong surut. Bahkan ketika dengan cepat Kepala Besi itu menyerang Jati
Wulung dengan kepalanya, seperti seekor kerbau yang gila menanduk lawannya maka
Jati Wulung telah menunggu sesaat. Tepat pada saatnya, ia telah meloncat
menyamping selangkah. Demikian lawannya itu berada didepannya dan berusaha untuk
menghentikan serangannya yang gagal, maka dengan penuh tenaganya, Jati Wulung
telah menyerang orang itu dengan kakinya ke arah punggung di bagian bawah.
Demikian kerasnya serangan itu, sehingga Kepala Besi tidak sempat berhenti. Ia
justru terdorong dengan keras ke depan tanpa dapat mengekang diri.
Ternyata bahwa Kepala Besi itu telah
membentur sebatang pohon dengan kepalanya yang botak itu.
Akibatnya memang luar biasa. Sebatang
pohon yang memang tidak terlalu besar itu ternyata telah retak dan roboh.
Sementara itu bekasnya bukan saja sekadar besar batang yang patah. Tetapi pada
batas barang yang retak dan patah itu memang terdapat lingkaran luka bakar pada
kulit batang pohon itu.
Jantung orang-orang yang menyaksikannya
seakan-akan telah berhenti berdetak. Namun ternyata bahwa peristiwa itu telah
disusul oleh peristiwa yang mengemparkan pula. Ketika orang Berkepala Botak itu
dengan tangkas memutar tubuhnya, maka yang dilihatnya adalah lawannya itu
bagaikan terbang telah datang menyerangnya. Ketika Jati Wulung itu masih berada
di udara, ia sempat mengeliat memiringkan tubuhnya dan kakinyalah yang kemudian
terjulur lurus menghantam dadanya.
Tidak ada kesempatan untuk mengelak atau
menangkis serangan itu. Orang berkepala botak itu telah terlempar mundur. Justru
punggungnyalah yang telah membentur batang pohon yang baru saja patah karena
kepalanya.
Ternyata Jati Wulung memang telah
mengerahkan segenap kekuatan yang ada padanya. Karena itu, maka kekuatan yang
sangat besar dan mendorong serangan itu, telah membuat dada orang berkepala
botak itu bagaikan pecah. Seakan-akan sebongkah batu hitam telah dihentakkan
menindih di dadanya itu.
Apalagi kemudian oleh dorongan kekuatan
itu, punggungnya menghantam sebatang pohon. Punggung orang itu memang tidak
sekuat kepalanya yang terlatih dan yang mampu melepaskan ilmunya yang jarang
dimiliki orang lain, sehingga kepala yang botak itu bagaikan telah menjadi bara.
Namun punggungnyalah yang terasa bagaikan patah. Hentakan yang keras dan kuat
pada batang kayu yang telah patah itu, membuatnya benar-benar kehilangan
keseimbangan.
Orang berkepala botak itu masih berusaha
bangun. Namun ternyata ia sama sekali tidak mampu. Bahkan ia pun kemudian telah
terjatuh dan terbaring di tanah. Pingsan.
Jati Wulung masih berdiri tegak. Ia
memang merasakan kakinya yang bagaikan menghantam segunduk batu padas. Namun
dengan cepat Jati Wulung dapat mengatasi perasaan sakit pada pergelangan kakinya
itu, sehingga dengan demikian maka ia pun telah mampu berdiri tegak dengan
kesiagaan penuh. .
KETIKA Jati Wulung bergerak selangkah
maju, tiba-tiba saja beberapa orang telah bergeser. Menilik sikap dan pakaian
mereka, agaknya mereka menjadi marah karena peristiwa yang terjadi atas orang
berkepala botak itu.
Namun dalam pada itu ternyata Kiai Windu
pun telah bergeser pula diikuti oleh ketiga orang kawannya. Hanya bergeser
selangkah. Tetapi gerak itu telah menarik perhatian orang-orang yang agaknya
kawan Kepala Besi yang pingsan itu.
Sejenak suasana memang menjadi sangat
tegang. Sambi Wulung sendiri justru masih berdiri diam ditempatnya.
Namun orang-orang yang agaknya kawan
Kepala Besi itu memang harus dikalahkan. Apalagi mereka.
Karena itu, maka kawan orang berkepala
botak itu kemudian telah memindahkan perhatian mereka kepada Kepala Besi yang
pingsan itu. Empat orang telah bergeser mendekat dan berjongkok disebelahnya.
Dalam ketegangan itu, tiba-tiba saja
orang remaja telah menyusup dan menyibak di antara orang-orang yang berkerumun.
Remaja itu adalah Puguh. Dengan serta merta ia pun telah menepuk bahu Jati
Wulung sambil berkata, “Luar biasa. Kau ternyata seorang yang luar biasa.”
Jati Wulung memandang anak muda itu
sejenak. Namun kemudian ia pun tersenyum sambil berkata, “Aku merasa perlu untuk
mengajarinya sedikit sopan santun kepada orang lain.”
Puguh mengangguk-angguk. Dipandanginya
beberapa orang kawan Kepala Besi itu sedang sibuk berusaha menyadarkannya.
Seorang yang berjambang dan berkumis lebat, dengan bulu dada yang memenuhi
sebidang dadanya, telah mengambil air di kedai. Kemudian perlahan-lahan
dititikkannya air itu dibibir Kepala Besi yang pingsan.
Jati Wulung tidak menunggu terlalu lama.
Ia pun kemudian bergeser kembali ke kedai.
“Marilah,” Jati Wulung mempersilakan
Puguh. “Duduklah. Kita dapat beristirahat.”
“Beristirahatlah,” jawab Puguh. “Bukankah
aku tidak berbuat apa-apa sehingga tidak perlu beristirahat.”
“Kita minum sejenak,” ajak Jati Wulung
yang memang ingin mendapat kesempatan berbicara dengan Puguh.
“Baiklah. Akulah yang membayar,” berkata
Puguh kemudian.
Jati Wulung mengerutkan keningnya. Tetapi
ia tidak mau mengecewakan anak muda itu. Apalagi ketika ia kemudian berkata,
“Aku belum pernah mengagumi seorang selain guruku. Sekarang aku mengagumimu.”
Jati Wulung tertawa. Katanya, “Tentu jauh
berbeda. Jika aku mendapat lawan yang berilmu selapis saja, maka aku tentu tidak
akan dapat berbuat apa-apa. Untung bahwa orang yang mengaku berkepala besi itu
tidak lebih dari sebongkah batu padas yang belum diasah sama sekali.”
Perkelahian yang terjadi itu memang agak
lain dari perkelahian-perkelahian sebelumnya. Biasanya tidak banyak orang yang
menaruh perhatian. Bahkan mereka condong untuk tidak berpaling. Tetapi
perkelahian itu ternyata telah menarik perhatian. Bahkan orang-orang masih juga
membicarakan setelah Jati Wulung duduk kembali ke tempat duduknya di kedai itu.
Seorang petugas yang juga bertubuh raksasa sempat mendekatinya sambil berdesis,
“Kau telah melakukan sesuatu yang menggemparkan. Tetapi berhati-hatilah. Mungkin
ini bukan yang terakhir. Aku hanya ingin berpesan, jika kelak kau harus
berkelahi lagi, hati-hatilah. Jangan merusakkan kedaiku ini supaya kau tidak
usah menggantinya.”
“Bukankah aku sekarang juga tidak
merusakkannya selain barangkali mangkuk yang kotor atau minumanmu yang tumpah?”
sahut Jati Wulung.
“Ya. Sekarang memang tidak,” jawab
petugas itu.
“Nah, aku sekarang haus,” berkata Jati
Wulung.
Sejenak kemudian, maka mereka pun telah
minum lagi. Jati Wulung, Sambi Wulung, Kiai Windu dan kawan-kawannya bersama
dengan Puguh dan beberapa orang pengawalnya.
“Siapa namamu?” bertanya Puguh tiba-tiba.
“Wanengpati,” jawab Jati Wulung.
“Kau berasal dari mana?” bertanya Puguh
pula.
TERNYATA Jati Wulung dan kawan-kawannya
pun tidak terlalu lama berada di kedai itu. Ketika mereka memandang keluar, maka
yang disebut Orang Hutan Berkepala Besi itu sudah tidak ada lagi ditempatnya.
Kawan-kawannya telah membawanya ke dalam biliknya untuk mendapat
perawatan. Namun dalam pada itu, Puguh tidak lupa pada janjinya. Sambil
tersenyum ia berkata, "Aku yang akan membayar semuanya."
"Terima kasih," berkata Jati Wulung.
Tetapi ia masih juga berkata, "Tetapi bukankah aku yang telah menang di arena
panahan."
"Biar saja," jawab Puguh. "Aku ingin
membayar kali ini, meskipun barangkali di kesempatan lain aku akan meminjam
uangmu."
Yang lain hanya tertawa. Semantara itu
Puguh telah menghitung berapa harga makanan dan minuman yang telah dimakan dan
diminum oleh sekelompok orang itu.
"Ayah dan ibumu tentu seorang yang kaya
raya," tiba-tiba saja Jati Wulung berdesis.
Puguh menarik nafas dalam-dalam. Katanya,
"Sebaiknya kita tidak usah membicarakan tentang ayah dan ibuku, sebagaimana kita
tidak usah berbicara kenapa aku berada ditempat ini."
"O," Jati Wulung mengangguk-angguk. Ia
tidak boleh mendesak terus. Juga tentang tempat tinggalnya, atau padepokannya
atau dalam hubungan yang lain. Ia harus dapat mengendalikan diri untuk mencapai
sasaran sebagaimana diharapkan.
Sejenak kemudian, mereka pun telah
meninggalkan tempat itu. Namun agaknya Puguh masih akan memasuki tempat
permainan dadu. Karena itu, maka Jati Wulung pun berkata kepadanya, "Kami akan
beristirahat."
"Kau tidak ikut bermain dadu?" bertanya
Puguh.
Jati Wulung tersenyum. Katanya, "Dalam
keadaan seperti ini lebih baik aku tidur barang sebentar."
Puguh pun tersenyum. Agaknya anak muda
itu mengerti, bahwa setelah orang yang dikenalnya bernama Wanengpati itu
berkelahi, maka agaknya ia memerlukan mengendapkan perasaannya yang bergejolak.
Demikianlah, maka Jati Wulung dan Sambi
Wulung pun telah melangkah menuju ke biliknya. Namun Kiai Windu kemudian
berdesis, "Aku juga akan melihat permainan dadu sebentar. Nanti aku segera
menyusul."
"Silakan," sahut Sambi Wulung. "Bahkan
mungkin kamilah yang akan menyusul kalian di tempat permainan itu."
Namun Jati Wulung menyahut, "Aku
benar-benar akan tidur."
Sambi Wulung hanya tersenyum saja.
Sementara itu Kiai Windu dan kawan-kawannya ternyata telah melangkah menuju ke
barak permainan dadu. Namun agaknya ia tidak mengambil jalan yang sama dengan
Puguh dan para pengawalnya.
Dalam pada itu, Sambi Wulung dan Jati
Wulung telah berjalan menyusuri lorong setapak menuju ke biliknya. Sambil
melangkah Sambi Wulung sempat bergumam, "Kau agak terdorong langkah."
JATI WULUNG menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, "Aku tidak dapat berbuat lain." "Di arena panahan, kau telah dipanaskan
oleh sikap Kepala Besi itu sehingga kau harus menunjukkan kemampuanmu. Aku juga
ikut panahan dan memenangkannya meskipun tidak menyolok," berkata Sambi Wulung
pula.
"Tetapi bukankah dengan demikian, kita
menjadi lebih mengenal Puguh?" bertanya Jati Wulung.
"Tetapi kita menjadi bahan pembicaraan
dan setiap orang akan memperhatikan kita. Juga dendam Kepala Besi itu harus
menjadi perhitungan kita," berkata Sambi Wulung.
Bagi Jati Wulung, Sambi Wulung adalah
saudara tuanya. Karena itu maka ia tidak menjawab lagi. Ia memang mengakui,
bahwa ia telah agak terdorong dalam permainan panahan, sehingga akibatnya ia
harus berkelahi dengan orang yang disebut Kepala Besi itu.
Tetapi semuanya telah terjadi, Jati
Wulung tidak akan dapat mengulangi lagi langkah-langkahnya. Yang dapat
dimanfaatkan dari semua peristiwa itu adalah hubungan mereka yang lebih dekat
dengan orang yang memang mereka cari di tempat perjudian itu. Puguh, anak Warsi.
Demikianlah, maka akhirnya Jati Wulung
itu pun berkata, "Aku akan tidur barang sejenak. Mudah-mudahan aku dapat
menenangkan perasaanku yang masih saja terasa berdebaran."
"Tidurlah," jawab Sambi Wulung. "Biarlah
aku duduk disini."
Jati Wulung tidak berkata sesuatu lagi.
Ia pun merebahkan dirinya di pembaringannya. Ia benar-benar melepaskan segala
macam beban di perasaannya, sehingga dengan demikian ia cepat dapat tidur dengan
nyenyak. Apalagi ia memang benar-benar ingin beristirahat.
Sambi Wulung yang tidak merasa mengantuk
sama sekai duduk di sudut amben yang agak besar itu bersandar dinding. Ketika ia
kemudian mengendarkan pandangan matanya keseluruh isi ruangan, maka dilihatnya
beberapa ikat bekal yang dibawa oleh Kiai Windu dengan kawan-kawannya. Seperti
dirinya sendiri, maka mereka pun hampir tidak membawa bekal apapun. Hanya
beberapa lembar kain yang diikat dalam satu bungkusan kecil.
Adalah di luar sadarnya, jika Sambi
Wulung kemudian setelah menuntut dan menyelarak pintu bilik, melihat-lihat
beberapa ikat bekal yang dibawa oleh Kiai Windu dan kawan-kawannya.
Yang menarik perhatian Sambi Wulung
adalah bahwa di dalam ikatan itu terdapat pakaian dari bahan yang sama. Sambi
Wulung tidak dapat melihat dengan cermat. Ia tidak mau membuka ikatan bekal yang
sedikit itu, karena agaknya Kiai Windu adalah orang yang sangat teliti, sehingga
jika ia membukanya dan mengikatnya kembali, Kiai Windu akan mengetahuinya.
"Nampaknya mereka membawa selembar baju
yang seragam," berkata Sambi Wulung di dalam hatinya. Namun karena baju itu ada
di dalam lipatan yang terikat, maka ia tidak dapat menduga , pakaian jenis
apakah yang dibawa oleh Kiai Windu itu.
Sambi Wulung tidak mau membuat jarak
antara dirinya dengan Kiai Windu dan kawan-kawannya yang nampaknya dapat diajak
berkawan di dalam lingkungan yang garang sebagaimana Song Lawa itu. Bagaimanapun
juga, persoalan-persoalan yang tidak diperhitungkan akan dapat timbul di dalam
lingkungan yang aneh dan penuh dengan berjenis-jenis watak dan sifat. Sedangkan
untuk sementara, nampaknya Kiai Windu dan kawan-kawannya tidak akan menambah
kesulitan jika kesulitan itu datang. Bahkan mereka agaknya akan dapat membantu
mereka apabila diperlukan sekali.
Karena itu maka Sambi Wulung akan tetap
menjaga hubungan baik yang sudah terjalin antara dirinya dan Jati Wulung dengan
Kiai Windu dan kawan-kawannya, meskipun cara mereka berkenalan melalui jalan
yang agak aneh.
Dalam pada itu, ternyata Kiai Windu dan
kawan-kawannya sudah berada di barak permainan dadu. Mereka menelusuri permainan
dari lingkaran yang satu ke lingkaran yang lain. Mereka mengamati betapa uang
mengalir dari satu tangan ke tangan yang lain, berputar dan kembali lagi. Namun
sebagian dari uang itu telah berhenti di tangan orang-orang yang saat itu sedang
beruntung.
***
KIAI WINDU dan kawan-kawannya ternyata
tidak hanya sekadar melihat-lihat saja. Mereka mulai menebar dan turun ke arena
yang berbeda-beda. Tetapi agaknya mereka cukup berhati-hati. Mereka tidak hanyut
dalam gejolak perasaan mereka di arena perjudian. Tetapi mereka sempat berpikir
dan memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang harus mereka pilih di antara
beberapa kemungkinan yang lain.
Karena itu, maka selama Kiai Windu
beberapa kali mengunjungi Song Lawa, mereka tidak pernah mengalami kesulitan
yang tidak teratasi. Mereka selalu memperhitungkan setiap uang yang mereka
lepaskan dalam permainan itu. Satu kali mereka memang harus mengalami kekalahan.
Tetapi dikesempatan lain mereka dapat memenangkan permainan itu.
Ternyata Kiai Windu agak lama juga berada
di barak permainan dadu bersama kawan-kawannya. Namun agaknya seorang di antara
kawannya telah mengalami kekalahan. Beberapa kali uang yang dipasang telah
mengalir lepas dari tangannya.
Tetapi orang itu sempat mengendalikan
diri. Ketika uang yang disediakan buat hari Itu sudah sampai pada hitungan
terbanyak, maka ia pun telah berhenti.
Ketika ia mendekati seorang kawannya yang
bermain dilingkaran yang berbeda, ternyata kawannya itu telah memenangkan
permainan. Karena itu, maka kawannya itu pun bertanya kepadanya, "Apakah kau
akan mencoba lagi?"
Tetapi orang yang telah kalah itu
menggeleng. Katanya, "Tidak. Aku justru ingin menonton saja." Namun dalam
kesempatan ia berbisik, "Aku sedang mengamati seseorang."
Yang sedang memenangkan permainan dadu
itu mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian mengangguk sambil berdesis,
"Lakukanlah. Jika perlu panggil aku."
Kawannya menepuk bahunya. Kemudian ia pun
bergeser meninggalkan orang yang sedang memenangkan permainan itu.
Sementara itu, ternyata Kiai Windu
sendiri juga telah menang meskipun tidak terlalu banyak dan perlahan-lahan
sekali. Tetapi orang itu memang memiliki kesabaran yang tinggi di dalam arena
perjudian. Perhitungannya cukup cermat. Ia dengan sabar menunggu orang-orang
lain memasang uangnya. Baru kemudian ia menjatuhkan pilihannya.
Dalam pada itu, seorang di antara
kawannya telah bergeser menjauh. Ia memang sedang memperhatikan seseorang yang
agaknya sangat menarik perhatiannya.
Ternyata orang yang diperhatikan, dan
kemudian diikuti oleh kawan Kiai Windu itu adalah seorang laki-laki separo baya.
Tubuhnya tidak terlalu besar, bahkan punggungnya sedikit bengkok. Wajahnya yang
kasar membuatnya nampak garang.
Orang bertubuh bongkok itu telah menemui
beberapa orang petugas berturut-turut. Beberapa orang bertubuh raksasa yang ada
di dalam barak permainan dadu itu. Setiap kali ia berbicara dengan
sungguh-sungguh namun hanya beberapa kalimat saja. Jika ia kemudian meninggalkan
petugas itu, maka nampaknya petugas itu menjadi lebih bersiaga.
Ketika orang bertubuh bongkok itu sampai
petugas yang terakhir di dalam barak itu, maka ia berbicara agak panjang.
Nampaknya beberapa pesan telah diberikan secara khusus. Tetapi kawan Kiai Windu
itu tidak dapat menangkap sedikit pun isi dari pembicaraan itu.
Beberapa saat kemudian orang bertubuh
bongkok itu pun telah meninggalkan barak itu. Namun hal yang sama dilakukan pula
terhadap para petugas dimanapun ditemuinya. Para petugas yang baru saja berjalan
dari satu tempat ke tempat lain pun telah dihentikannya dan diajaknya berbicara
sebagaimana para petugas di dalam barak tempat bermain dadu.
Kawan Kiai Windu itu tidak mengikutinya
lebih jauh. Agaknya terlalu berbahaya baginya. Sementara itu, ia pun masih belum
dapat menemukan pertanda yang dapat dikenalinya dari ujud maupun sikap orang
itu.
SEJENAK kemudian, kawan Kiai Windu itu
pun telah kembali ke barak permainan dadu. Seorang lagi di antara kawan-kawannya
telah selesai pula bermain dan berdiri dibelakang Kiai Windu yang nampaknya
tidak kalah itu.
Ketika ia sudah berdiri dibelakang
kawannya yang menunggui Kiai Windu itu, ia pun telah menggamitnya sambil
bertanya, "Bagaimana dengan kau?"
Orang itu berpaling. Katanya sambil
tersenyum, "Aku benar-benar menang kali ini. Kiai Windu pun menang pula. Hanya
kau sajalah yang kalah, sementara kawan kita yang seorang lagi nampaknya juga
tidak kalah."
"Aku siap hari ini," berkata kawan Kiai
Windu yang kalah itu. "Tetapi aku mempunyai cerita tersendiri."
Kawannya yang menang itu
mengangguk-angguk. Katanya, "Tentu cerita yang menarik."
Beberapa saat mereka masih berada di
barak itu. Namun akhirnya mereka berempat pun telah meninggalkan barak itu. Kiai
Windu dan dua orang kawannya memang memenangkan permainan dadu itu meskipun
tidak terlalu banyak, sedangkan seorang lagi telah kalah sampai batas terakhir
keping uangnya yang disediakan untuk hari itu. Bahkan ketika kemudian mereka
sempat menghitung-hitung secara kasar, ternyata kekalahan yang seorang itu lebih
banyak dari kemenangan Kiai Windu dan kedua orang kawannya yang lain.
Tetapi Kiai Windu masih juga tertawa.
Katanya, "Biarlah hari ini kita mengalami kekalahan kecil. Besok kita tebus di
lapangan panahan asal kita tidak berada dalam satu arena dengan Wanengpati dan
Wanengbaya."
"Tidak pula dengan Kepala Besi dan dua
orang lain yang ada di arena bersama mereka," berkata kawan Kiai Windu yang
kalah itu.
Kiai Windu tersenyum. Katanya, "Ternyata
banyak orang yang memiliki kemampuan membidik melampaui kita."
Yang lain pun tertawa pula.
Namun dalam pada itu, kawan Kiai Windu
yang kalah itu telah menceritakanapa yang dilihatnya.Seorang yang agak bongkok
yang telah menghubungi hampir semua petugas. Tidak hanya yang berada di dalam
barak permainan dadu, tetapi juga di luarnya yang beberapa orang dapat
dilihatnya.
Kiai Windu termangu-mangu sejenak.
Tiba-tiba saja ia berkata, "Apakah orang itu petugas Song Lawa yang dikirim ke
luar tempat perjudian ini untuk mengamati suasana dan dapat melihat sesuatu yang
menarik perhatiannya di luar?"
"Aku tidak pasti," jawab kawannya itu.
Namun kemudian katanya, "Tetapi nampaknya berita atau mungkin perintah yang
disampaikan itu penting dan harus segera merata."
Kiai Windu mengangguk-angguk. Katanya,
"Tetapi bukankah hari-hari kita tidak mulai sekarang?"
"Tidak," jawab seorang kawannya.
"Setidak-tidaknya mulai dua hari lagi."
Kiai Windu tiba-tiba berhenti sejenak.
Katanya, "Ya hari ini memang mungkin sekali dijumpainya sesuatu yang menarik
perhatian mereka, maksudku para petugas dari Song Lawa ini. Kita memang mulai
dari sekarang. Maksudku hari ini."
"Apa yang sudah kita mulai?" bertanya
seorang kawannya.
Kiai Windu menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, "Satu susulan dari keseluruhan kewajiban yang dibebankan kepada kita.
Mungkin orang bongkok itu melihat atau bertemu dengan mereka yang bertugas untuk
mengenali jalan-jalan disekitar medan."
Kawan-kawan Kiai Windu mengangguk-angguk.
Seorang di antara mereka berkata, "Ya. Agaknya mereka. Atau apapun yang mereka
curigai berhubungan dengan tempat ini."
"Satu peringatan bagi kita," jawab Kiai
Windu. Bahkan mereka berempat kemudian telah berdiri ditempat yang terbuka,
justru tidak berada di dekat seorang pun yang lalu lalang beberapa dari mereka."
"Bagaimana penilaian kita terhadap dua
orang yang berada dibilik kita itu?" tiba-tiba Kiai Windu bertanya. .
KETIGA orang kawannya termangu-mangu.
Seorang di antara mereka sempat juga melihat orang yang lewat beberapa langkah
dari mereka sehingga kepalanya berpaling. “He,” kawannya menggamit. “Kau lihat
perempuan yang lewat dengan golok di lambung itu.”
“O, tidak,” orang itu tergagap.
“Nah, bagaimana tanggapanmu terhadap dua
orang yang menyebut dirinya Wanengpati dan Wanengbaya itu?” bertanya kawannya.
Orang itu mengerutkan keningnya. Namun
kemudian jawabannya, “Mereka nampaknya baik-baik saja.”
“Dimana perempuan dengan golok dilambung
itu sekarang?” tiba-tiba Kiai Windu bertanya.
“Nampaknya ia pergi ke barak permainan
dadu,” jawab orang itu hampir di luar sadarnya.
“Nah, jika pertanyaannya menyangkut
perempuan, ia tanpa berpikir dapat menjawab dengan baik,” berkata seorang
kawannya yang lain.
“Ah,” orang itu baru sadar. Dan tiba-tiba
saja ia berkata, “Maksudku, tidak ada kesulitan dengan keduanya.”
“Jawabanmu semakin kabur,” desis Kiai
Windu.“Coba, sekarang kita berbicara dengan sungguh-sungguh tentang kedua orang
itu. Apakah mereka akan dapat menjadi hambatan bagi kita atau tidak. Atau bahkan
sebaliknya.”
Ketika orang kawannya pun menjadi
bersungguh-sungguh pula. Seorang di antara mereka bertanya, “Mereka bagi kita
adalah orang-orang aneh. Perhatiannya justru lebih banyak kepada anak-anak muda
yang berada di Song Lawa ini. Nampaknya ia sangat menyesali kehadiran mereka
disini.”
“Menurut penglihatanku,” berkata yang
lain. “Keduanya bukan orang kasar sebagaimana yang kita lihat. Mereka memang
berusaha untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan di Song Lawa ini. Mereka lebih
membuat diri mereka kasar dan kadang-kadang liar. Tetapi mereka agaknya
mempunyai kepentingan lain.”
“Baiklah,” berkata Kiai Windu. “Pada
umumnya kita berpendapat bahwa keduanya bukan orang-orang yang perlu mendapat
perhatian terlalu besar. Namun demikian banyak kemungkinan dapat terjadi.
Keduanya memang orang-orang berilmu tinggi. Jika keduanya menjadi salah paham,
maka sikap mereka tidak akan dapat kita perhitungkan.”
“Kita memang harus menjaga hubungan baik
itu,” berkata salah seorang di antara mereka. “Dalam satu dua hari ini kita akan
melihat, apa saja yang mereka lakukan disini.”
“Tetapi kita harus lebih berhati-hati
terhadap Wanengpati. Agaknya ia mempunyai watak yang lebih keras dari
Wanengbaya. Wanengpati kadang-kadang tidak terlalu banyak dapat membuat
pertimbangan sebelum bertindak, sehingga kadang-kadang ia terjerumus kedalam
gejolak perasaannya tanpa penalaran,” berkata Kiai Windu. “Ternyata ia telah
mengguncangkan lapangan panahan dan ia pun telah menghancurkan kesombongan orang
yang disebut Kepala Besi itu.”
“Ya,” seorang kawannya mengangguk-angguk.
“Nampaknya Wanengbaya tidak setuju dengan sikapnya itu.”
Kiai Windu dan kawan-kawannya yang lain
mengangguk-angguk. Namun kemudian Kiai Windu berkata, “Marilah. Kita kembali ke
bilik kita.”
Ketika keempat orang itu sampai di bilik
mereka, ternyata mereka mendapatkan pintu bilik mereka diselarak dari dalam.
Karena itu, maka mereka pun telah mengetuk perlahan-lahan.
Sambi Wulunglah yang kemudian membuka
pintu itu. Sambil tersenyum ia pun bertanya, “Apakah kalian sudah selesai?”
Salah seorang kawan Kiai Windu menjawab,
“Uangku yang aku sediakan untuk hari ini telah habis.”
“Untuk hari ini?” bertanya Sambi Wulung.
“Ya. Aku selalu menyediakan uang untuk
setiap hari. Aku tidak mau berjudi berlarut-larut. Jika persediaanku utuk sehari
telah habis, maka aku harus berhenti bermain, menunggu sampai hari berikutnya,”
jawab kawan Kiai Windu itu.
“LUAR biasa,” desis Sambi Wulung.
“Jarang sekali orang dapat mengekang diri seperti itu. Apalagi di tempat
perjudian seperti ini. Itulah agaknya para petugas mengatakan, bahwa di
hari-hari pertama, kadang-kadang sudah ada orang yang membunuh diri. Orang itu
tentu tidak mempunyai kendali atas dirinya sendiri sebagaimana kau.” Kawan Kiai
Windu itu tersenyum. Namun ia pun berkata, “Aku tiba-tiba saja menjadi lapar.”
“Ah kau,” kawannya telah mendorongnya
masuk. “Aku mengantuk. Aku ingin berbaring barang sejenak sebelum pergi ke
warung itu.”
Kiai Windu sendiri tidak mengatakan
sesuatu. Tetapi sekilas diperhatikannya barang-barangnya serta milik
kawan-kawannya. Nampaknya letaknya tidak berubah. Menurut dugaannya, kedua orang
yang telah lebih dahulu berada di dalam bilik itu tidak menyentuh
barang-barangnya yang hanya sedikit itu.
Ketika kemudian Sambi Wulung duduk lagi
di sudut amben, maka kawan-kawan Kiai Windu pun telah barbaring di amben itu.
Namun Kiai Windu yang duduk disebelah Wanengpati itu pun berkata, “Aku justru
menang hari ini.”
“Kau?” bertanya Sambi Wulung.
“Ya. Meskipun tidak terlalu banyak,”
jawab Kiai Windu.
“Kita akan menikmatinya di kedai nanti,”
berkata Sambi Wulung.
“Ya. Kita akan menikmatinya. Bukankah kau
juga menang hari ini. Apalagi Wanengpati,” jawab Kiai Windu sambil tersenyum.
“Jika kau mau, maka semua uang yang ada di lapangan panahan dapat kau ambilnya.”
“Ah,” Wanengbaya tersenyum. “Ia memang
orang bengal. Seharusnya ia tidak berbuat seperti itu, sehingga ia harus
berkelahi dengan orang yang disebut Kepala Besi yang mempunyai pengaruh besar di
pesisir Utara. Kepala Besi itu tentu tidak akan menerima perlakuan sebagaimana
dialaminya. Jika ia tidak sempat membalas dendam disini, maka pada kesempatan
lain, ia akan membawa orang-orang yang berada di bawah pengaruhnya di pesisir
Utara.”
“Untuk apa?” bertanya Kiai Windu.
“Untuk membalas dendam,” jawab
Wanengbaya.
“Membalas dendam siapa?”Kiai Windu justru
bertanya.Kemudian katanya, “Jika ia ingin membalas dendam terhadap Wanengpati
kemana ia harus mencarinya?Karena kau dan Wanengpati nampaknya pengembara yang
tidak mempunyai tempat tinggal.”
Sambi Wulung mengerutkan keningnya. Namun
kemudian ia tersenyum. Bahkan ia pun kemudian bertanya, “Apakah kau ingin tahu,
dimana kami tinggal?”
Kiai Windu pun tertawa. Jawabannya,
“Tidak. Aku tidak akan memaksamu untuk mengatakan tempat tinggalmu karena aku
sudah yakin bahwa kau dan Wanengpati memang tidak mempunyai tempat tinggal yang
mapan.”
Sambi Wulung justru tertawa pula.
Katanya, “Jika yang kau katakan itu tidak benar, aku akan dengan serta merta
menyebut tempat tinggalku. Tetapi karena yang kau katakan itu benar, maka aku
tidak dapat mengatakan apa- apa.”
"JAHANAM kau," geram Kiai Windu sambil
bangkit berdiri. Tetapi tertawanya masih juga terdengar. Katanya, "Siapapun kau
dan Wanengpati, tetapi Wanengpati telah menang banyak sekali hari ini."
"Ia tidak melanjutkan permainan," berkata
Sambi Wulung.
Kiai Windu melangkah mondar-mandir
disebelah pembaringan. Namun kemudian ia berkata, "Apa rencanamu malam nanti?"
"Terserah kepada Wanengpati," jawab Sambi
Wulung. "Namun di tempat lain kita tidak akan dapat mengatur berdasarkan
kemampuan kita, apakah kita akan menang atau kalah. Semuanya tergantung pada
dadu atau ayam yang kita sabung."
"Agaknya kalian tidak banyak tertarik
kepada permainan yang lain kecuali panahan," berkata Kiai Windu.
"Aku belum tahu," jawab Sambi Wulung.
Kiai Windu pun tidak bertanya lagi.
Tetapi ia telah duduk pula di amben bambu yang cukup besar itu.
Keduanya pun untuk sejenak saling berdiam
diri. Yang terdengar kemudian adalah dengkur mereka yang sedang tertidur.
Ternyata kawan Kiai Windu yang merasa lapar itu pun telah tertidur pula
sebagaimana kawannya yang mengantuk.
Demikianlah, ketika malam menjadi semakin
gelap, keenam orang itu telah berada di kedai yang masih sibuk. Beberapa orang
telah ke luar dan masuk berganti-ganti. Sambi Wulung dan Jati Wulung sempat
memperhatikan orang-orang yang hilir mudik itu sempat menilai beberapa jenis
sifat dan watak orang.
Selagi mereka sibuk dengan pesanan mereka
masing-masing, maka tiba-tiba saja Puguh dan beberapa orang pengawalnya telah
memasuki kedai itu pula. Demikian ia melihat Jati Wulung, maka sambil tertawa ia
telah mendekatinya.
"Sudah lama kau disini?" bertanya Puguh.
"Sudah anak muda," Jati Wulung pun
tertawa pula.
"Nah, marilah. Aku yang akan membayar
makanan dan minumanmu," berkata Puguh.
"Ah," Jati Wulung menggeleng. "Terima
kasih. Bukannya aku menolak. Tetapi aku datang berenam."
"Tidak apa-apa. Aku telah menang dalam
permainan dadu," berkata Puguh.
"Tiga kawannya juga telah menang.
Sementara seorang yang lain telah menang pula di arena panahan," jawab Jati
Wulung.
"Dan sudah barang tentu kau sendiri,"
sahut Puguh pula.
Tetapi sambil tersenyum Jati Wulung
menggeleng. Katanya, "Aku kalah dimana-mana. Tetapi terima kasih atas kebaikan
hatimu. Besok mungkin aku memerlukanmu. Apalagi jika semua uangku telah habis
sehingga aku memerlukan pinjaman."
Puguh tertawa berkepanjangan. Katanya,
"Baiklah. Jika kau memerlukan, katakan saja kepadaku. Atau bahkan mungkin akulah
yang datang kepadamu untuk meminjam lebih dahulu."
Jati Wulung tertawa pula. Sambi Wulung
dan Kiai Windu serta kawan-kawannya pun tertawa pula.
"Ternyata anak ini sempat pula
berkelakar," berkata Sambi Wulung di dalam hatinya. Menurut penglihatannya,
wajah Puguh biasanya nampak murung dan bersungguh-sungguh. Senyumnya terlalu
mahal dan sorot matanya kadang-kadang memancarkan kecurigaan. Tetapi dengan Jati
Wulung ia dapat menjadi akrab.
Puguh pun kemudian telah duduk pula di
dalam kedai itu. Karena Jati Wulung tidak mau menerima tawarannya, maka Puguh
telah mengambil tempat tersendiri bersama para pengawalnya.
Namun dalam pada itu, Kiai Windulah yang
nampak menjadi agak gelisah. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba saja ia berkata
kepada kawan-kawannya, "Kita menengok kuda-kuda kita sejenak."
Ketiga kawannya mengerutkan keningnya.
Namun kemudian mereka pun mengangguk kecil. Seorang di antara berkata, "Marilah.
Mudah-mudahan kuda-kuda itu tidak kekurangan makan." -
TETAPI Kiai Windu tidak lupa membayar
makanan dan minuman bukan saja bagi dirinya dan ketiga orang kawannya. Tetapi
juga bagi Sambi Wulung dan Jati Wulung. "Tunggulah sebentar," berkata Kiai
Windu. "Kami akan menengok kuda-kuda kami."
"Silakan," berkata Sambi Wulung. Lalu,
"Jika tidak disini, kami dapat kalian jumpai di dalam bilik kami."
"Kau tidak melihat permainan dadu?"
bertanya Kiai Windu.
Sambi Wulung tersenyum. Katanya, "Mungkin
kami akan kesana. Tetapi mungkin aku akan menunggu sampai rambahan-rambahan
panahan itu berlangsung lagi."
Kiai Windu pun tersenyum pula.Sambil
menepuk bahu Sambi Wulung ia berkata, "Jaga saudaramu itu baik-baik."
Jati Wulung memandanginya dengan
tajamnya. Namun ia pun kemudian tersenyum sambil berkata, "Kau takut bahwa aku
akan menjadi liar disini?"
"Bukankah kalian menjadi liar sejak belum
memasuki tempat ini?" bertanya Kiai Windu.
"He," Jati Wulung menjadi tegang. Namun
ia pun kemudian tertawa. Katanya, "Kau benar. Bahkan aku menjadi liar sejak
lahir."
Kiai Windu dan kawan-kawannya pun
tertawa. Sambil melangkah pergi Kiai Windu berkata, "Kau sempat merajuk, he?"
Jati Wulung tidak menjawab. Tetapi ia
menjadi tertarik kepada Puguh. Karena itu, maka ia memberi isyarat kepada Sambi
Wulung untuk mendekati anak muda yang sedang makan itu.
"He, marilah. Mungkin kalian ingin makan
bersama aku? Dimana kawan-kawanmu itu?" bertanya Puguh.
Sambi Wulung dan Jati Wulung pun kemudian
duduk bersama Puguh dan para pengawalnya. Para pengawal Puguh itu tahu pasti,
bahwa Jati Wulung yang dikenal bernama Wanengpati itu memiliki ilmu yang jauh
lebih tinggi dari ilmu mereka. Apalagi jika kawannya yang bernama Wanengbaya itu
juga. Maka berdua mereka merupakan kekuatan yang jauh lebih besar daripada
pengawal itu.
"Jika Puguh mampu mengikat keduanya,
mungkin kami tidak diperlukan lagi," berkata para pengawal itu di dalam hatinya.
"Kalian mau makan apa?" bertanya Puguh
dengan ramah.
Jati Wulung menggeleng. Katanya sambil
tersenyum, "Aku sudah kenyang. Aku hanya ingin duduk disini. Kawan-kawanku itu
sedang pergi menengok kuda mereka yang ditambatkan di luar."
"Bukankah kuda-kuda itu sudah dititipkan?
Biasanya orang-orang yang menjaga kuda itu mengurusnya dengan baik. Dari
penyediaan makanan sampai kebersihannya."
Jati Wulung memang tidak begitu
mengetahui tentang penitipan kuda di Song Lawa. Namun ia menjawab, "Kawanku itu
sangat sayang kepada kudanya. Seperti menyayangi anak-anaknya."
Puguh tersenyum. Ia pun kemudian
beringsut untuk memberi tempat yang lebih baik kepada Jati Wulung dan Sambi
Wulung yang sudah duduk di antara mereka.
Di luar dugaan Jati Wulung, Puguh masih
saja memujinya. Dengan suara berat ia akhirnya berkata, "Sampai saat ini orang
yang disebut Kepala Besi itu masih belum keluar dari biliknya. Ia telah mendapat
perawatan dari tabib Song Lawa ini."
"Disini ada tabib?" bertanya Jati Wulung.
"Ada. Disini ada semuanya. Ada tabib
tetapi juga ada bilik disudut halaman ini," jawab Puguh. "Mereka yang ingin
sembuh dari penderitaannya apapun sebabnya dapat memanggil tabib dengan upah
tersendiri. Tetapi siapa yang ingin mengakhiri penderitaan dengan cara lain,
mungkin penderitaan batin karena kalah tanpa dapat dihitung lagi, dipersilakan
untuk pergi ke bilik itu."
Jati Wulung tersenyum. Katanya, "Memang
menarik sekali."
"Kau baru kali ini berkunjung ke Song
Lawa?" desis Puguh itu lebih lanjut.
"Ya," jawab Jati Wulung. "Meskipun aku
telah mengunjungi tempat-tempat perjudian dimana-mana. Namun ternyata bahwa
tempat ini sangat menarik."
PUGUH tertawa. Ia pun kemudian masih
banyak bercerita tentang lingkungan Song Lawa yang sebagian sudah dikenal oleh
Jati Wulung dan Sambi Wulung. Namun ternyata Puguh tidak bercerita sama sekali
tentang dirinya sendiri. Betapapun Jati Wulung dan Sambi Wulung selalu
menghindar.
Jati Wulung dan Sambi Wulung tidak ingin
dicurigai karena keinginannya untuk mengetahui keadaan Puguh secara pribadi.
Karena itu, maka mereka tidak dapat memaksa agar Puguh mengatakan lebih banyak
dari apa yang dilihatnya tentang anak muda di tempat perjudian yang disebut Song
Lawa itu.
Beberapa saat lamanya Jati Wulung dan
Sambi Wulung sempat berbicara dengan Puguh di antara para pengawalnya. Namun
kemudian keduanya telah minta diri untuk melihat-lihat permainan dadu. Mungkin
mereka tertarik untuk ikut bermain.
“Nanti aku menyusul,” berkata Puguh.
Jati Wulung dan Sambi Wulung pun kemudian
telah meninggalkan kedai itu. Demikian mereka memasuki kegelapan, maka Sambi
Wulung pun berdesis, “Kepribadiannya sama sekali tidak sebagaimana kita duga
sebelumnya. Keterangannya yang kita peroleh tentang anak itu sebelum kita
menjumpainya, agaknya terlalu berlebihan.”
Jati Wulung mengangguk-angguk. Katanya,
“Kita hanya menduga sebelumnya. Menilik sifat ibunya dan laki-laki yang mungkin
dianggap ayahnya, Ki Rangga Gupita. Kita juga membayangkan lingkungannya yang
kasar dan cara hidupnya yang sedikit liar.”
“Namun ternyata anak itu agak lain,”
desis Sambi Wulung.
Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun
tiba-tiba ia berkata, “Kita melihat permainan dadu sebentar.”
Dalam pada itu, Kiai Windu dan ketiga
orang kawannya telah berada di luar pintu gerbang. Kepada petugas di pintu
mereka mengatakan bahwa mereka ingin melihat kuda-kuda mereka.
“Malam-malam begini?” bertanya petugas
yang bertubuh raksasa itu.
Kiai Windu tersenyum. Katanya, “Aku
tenggelam di permainan dadu sehingga aku lupa melihat kuda-kuda kami.”
“Percayakan kepada kami. Kami sudah
berpengalaman mengurusi kuda jenis apapun,” berkata penjaga pintu gerbang itu.
Tetapi sambil tertawa Kiai Windu berkata,
“Aku sudah rindu kepada kudaku. Demikian juga kawan-kawan ini. Kami hanya
sebentar, asal saja sempat melihatnya. Kami masih akan kembali ke permainan dadu
itu.”
Penjaga itu tidak menghiraukan lagi.
Dibiarkannya saja keempat orang itu melihat kudanya yang sudah ditempatkan di
kandang khusus bagi kuda-kuda yang dititipkan, yang masih terletak di lingkungan
dinding berlapis di Song Lawa itu.
Namun ketika mereka berada di kandang
kuda itu, mereka telah mendengar suara cengkerik di balik dinding.
Perlahan-lahan Kiai Windu mendekatinya. Kemudian diucapkannya kata sandi
perlahan-lahan. “He, kau itu Pager Bubrah. Lihat awan di depan deretan bintang.”
“Bagus,” terdengar desis di balik
dinding. “Tempatku cukup terlindung dibalik semak-semak.”
“Kau tergesa-gesa?” bertanya Kiai Windu.
“Tidak. Ada pesanmu?” bertanya yang di
luar dinding.
“Seorang yang agak bongkok telah
memberikan laporan yang mencurigakan,” desis Kiai Windu.
Sejenak tidak terdengar jawaban.
Sementara seorang kawan Kiai Windu mendekatinya sambil bertanya, “Suara anjing
menggonggong itu? Ternyata aku hampir tidak mendengarnya mula-mula.”
“Ya. Telinganya harus lebih peka dalam
tugas ini,” sahut Kiai Windu.
“Ternyata kita memang sudah mulai,”
berkata kawannya. “Apakah orang di luar itu pernah bertemu dan berhubungan
dengan orang bongkok?” bertanya Kiai Windu hampir berbisik.
“Aku agaknya memang pernah bertemu,”
jawab orang di luar dinding.
SEMENTARA itu, seorang di antara kawan
Kiai Windu itu telah menarik kudanya ke luar dari kandang. Karena dengan sengaja
ia membuat kudanya terkejut, maka kuda itu telah melonjak dan meringkik
keras. Penjaga yang ada di pintu gerbang mendengar pula ringkik kuda itu. Tetapi
ia tidak begitu menghiraukannya. Karena menurut perhitungannya, keempat orang
itu tentu tidak akan mencuri kuda. Seandainya mereka ingin melakukannya, mereka
tidak dapat melontarkan kuda-kuda yang dicurinya lewat di atas dinding yang agak
tinggi itu.
Sementara itu Kiai Windu itu bertanya
pula, "Dimana kau bertemu dengan orang itu?"
"Agak jauh dari tempat ini. Namun agaknya
orang itu memang memperhatikan kami. Apakah orang bongkok itu orang Song Lawa?"
bertanya yang diluar.
"Ya. Orang bongkok itu telah memberikan
laporan yang tidak aku mengerti. Mungkin melaporkan kehadiranmu," desis Kiai
Windu.
"Orang bongkok atau dua orang tua atau
salah seorang di antara mereka," bertanya yang di luar.
"Orang bongkok," jawab Kiai Windu.
Sejenak mereka terdiam. Seorang lagi
kawan Kiai Windu telah mengeluarkan kudanya pula dari kandang. Beberapa saat
kuda-kuda yang ada di dalam kandang itu memang agak ribut.
Ternyata seorang telah mendekati mereka.
Seorang petugas dari Song Lawa sehingga Kiai Windu harus memberi isyarat kepada
orang di luar dinding untuk diam.
"Kenapa dengan kuda-kuda itu?" bertanya
petugas itu.
"Siapa kau?" bertanya Kiai Windu.
"Aku petugas yang mengurus kuda-kuda
titipan. Kenapa kau malam-malam begini membuat ribut di kandang kuda?" bertanya
petugas itu.
"Aku ingin melihat kudaku. Siang tadi
kami tidak sempat melakukannya. Kami sibuk bermain dadu," jawab kawan Kiai Windu
itu.
"Tetapi jangan menakut-nakuti kuda yang
lain. Jika ada di antara kuda-kuda itu yang terlepas karena ketakutan, kalian
harus menangkapnya," berkata petugas itu.
"Bukankah kuda-kuda itu tidak akan dapat
ke luar?" bertanya Kiai Windu.
"Tetapi jika kuda itu berlari-lari di
longkangan ini, akan cukup melelahkan untuk menangkapnya," berkata petugas itu.
"Baiklah. Aku akan bertanggung jawab,"
sahut Kiai Windu.
Sejenak kemudian, orang itu pun
meninggalkan kandang kuda itu sementara Kiai Windu dan kawan-kawannya terpaksa
menunggunya sehingga menjadi semakin jauh. Baru kemudian Kiai Windu melanjutkan
membicarakannya dengan orang-orang di luar.
"Bagaimana dengan orang tua itu?"
bertanya Kiai Windu.
"Kau mau mendengar?" bertanya orang di
luar.
"Katakan, aku tidak tergesa-gesa juga,"
berkata Kiai Windu.
Suara di luar dinding itu terhenti
sejenak. Namun kemudian katanya, "Aku menjumpai dua orang tua di lereng gunung
yang agak tinggi. Tetapi mereka nampaknya dengan sengaja telah menyembunyikan
dirinya."
"Apakah mereka tahu siapa kau?" bertanya
Kiai Windu.
"Tidak. Agaknya mereka tidak tahu. Tetapi
keduanya justru mencurigakan," jawab suara di luar dinding.
"Kenapa keduanya tidak kau tangkap dan
kau bawa ke landasan pertama dari tugas ini dan kau serahkan kepada mereka yang
berada di landasan pertama itu?" bertanya Kiai Windu.
"Niatku juga demikian," jawab orang di
luar dinding. "Tetapi gagal."
"Kenapa gagal?" bertanya Kiai Windu
selanjutnya.
Orang di luar dinding itu pun kemudian
menceritakan usahanya untuk menangkap kedua orang tua itu. Mula-mula keduanya
akan ditangkap, ternyata kelima orang di luar dinding itu tidak mampu
melakukannya.
"Kami bertempur," berkata orang itu.
Sekilas teringat angan-angannya apa yang telah terjadi.
BERLIMA itu telah menemukan dua orang tua
yang duduk di batu-batu padas di atas sebuah tebing. Dari tempat itu, keduanya
dapat jelas melihat lingkungan Song Lawa, meskipun tanpa dapat melihat
bagian-bagian yang kecil. Tanpa dapat mengenali orang-orang yang nampak sekecil
bilalang.
Kelima orang itu mencurigai dua orang tua
yang nampaknya memang sedang mengamati Song Lawa dengan tujuan yang tidak jelas.
Karena itu, maka kedua orang tua itu akan dibawa ke landasan tugas mereka
berlima. Tetapi orang-orang tua itu menolak sehingga kelima orang itu mencoba
untuk memaksa.
Tetapi setelah bertempur beberapa saat,
maka ternyata kedua orang itu memiliki ilmu yang tinggi. Tanpa kesulitan apapun
mereka setiap kali mampu melepaskan diri dari kepungan. Bahkan sekali-kali
menyentuh tubuh mereka berlima berganti-ganti. Sentuhan itu tidak terlalu keras,
tetapi rasa sakitnya bagaikan menembus sampai ke sungsum.
"Ternyata keduanya adalah orang yang
berilmu sangat tinggi," berkata orang di luar dinding.
"Dimana mereka berdua sekarang?" bertanya
Kiai Windu.
"Kami tidak tahu. Keduanya tiba-tiba saja
terlepas dari tangan kami dan menghilang di antara semak-semak di lareng gunung
itu," jawab orang di luar dinding.
Kiai Windu menarik nafas dalam-dalam. Ia
pun kemudian bertanya, "Apakah sudah kau laporkan?"
"Sudah kami laporkan," jawab orang di
balik dinding. "Kedua orang itu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh."
"Baiklah," berkata Kiai Windu pula.
Kemudian ia pun bertanya, "Bagaimana dengan orang bongkok itu?"
"Agaknya kami pernah melihatnya. Kami
berlima sedang mengadakan pengamatan lingkungan Song Lawa ini," jawab orang di
luar dinding. "Tetapi orang itu pun tidak dapat kami tangkap. Ia pun tiba-tiba
telah menghilang pula."
"Apakah menurut dugaanku orang bongkok
itu ada hubungannya dengan kedua orang tua itu?" bertanya Kiai Windu pula.
"Agaknya tidak. Keduanya kami jumpai
ditempat yang jauh berbeda. Tetapi kemungkinan itu memang ada juga," jawab suara
itu.
"Baik. Beri aku laporan berikutnya jika
ada yang penting. Usahakan untuk menemukan dua orang tua itu. Orang bongkok itu
telah berada disini. Di Song Lawa," berkata Kiai Windu.
Pembicaraan itu terputus. Kiai Windu pun
kemudian memerintahkan kawan-kawannya untuk mengembalikan kuda yang telah mereka
ambil dari kadang sekadar untuk mengelabuhi para petugas jika mereka melihat apa
yang mereka lakukan.
Sejenak kemudian keempat orang itu pun
telah siap untuk kembali ke lingkungan Song Lawa dengan memasuki pintu gerbang
dilapis terakhir yang dijaga ketat itu.
Sementara itu seorang kawannya berdesis,
"Agaknya memang perlu perhatian khusus."
"Ya," jawab Kiai Windu. .
SEDANGKAN kawannya yang lain berkata,
“Bukankah tugas ini tidak termasuk dalam rencana induk dalam gerakan
ini?” “Memang tidak,” jawab Kiai Windu. “Menurut rencana induk, baru dua hari
lagi orang-orang kita bergerak. Tetapi seperti yang aku katakan, kita atau
katakan para petugas itu harus dibekali degan pengenalan medan. Karena itu, maka
ada beberapa orang yang ditugaskan khusus untuk mengenali medan
ini.” Kawan-kawannya tidak bertanya lagi. Mereka sudah berada di dekat pintu
gerbang. Tanpa kesulitan mereka pun kemudian masuk kembali ke dalam lingkungan
Song Lawa melewati pintu gerbang di lapis terakhir dari dinding yang berlapis
itu.
Namun mereka berempat masih mencari
tempat yang tidak banyak diperhatikan orang di dalam lingkungan khusus itu.
Sementara itu di barak permainan dadu masih terdengar betapa ramainya
orang-orang yang ikut dalam permainan itu.
“Kita harus bekerja lebih cepat,” berkata
Kiai Windu. “Kita harus segera mengumpulkan laporan itu.”
“Kita sudah mempunyai bahan yang lengkap
tentang tempat ini setelah kita beberapa kali melibatkan diri dalam perjudian
disini,” berkata seorang kawannya. “Namun demikian, mungkin masih ada juga yang
terlampaui dari pengamatan kami.”
“Ada dua hal yang perlu mendapat
perhatian,” berkata Kiai Windu. “Hadirnya dua orang yang berilmu tinggi yang
menyebut dirinya Wanengbaya dan Wanengpati serta kedatangan orang yang mempunyai
nama terkenal di pesisir Utara, Orang Hutan Berkepala Besi itu.”
Ketiga orang kawannya mengangguk-angguk.
Seorang di antara mereka berkata, “Kita tidak tahu dengan pasti, untuk apa
mereka berada disini. Tetapi Wanengbaya dan Wanengpati nampaknya bukan orang
yang mempunyai niat buruk. Mungkin keduanya mempunyai kepentingan tertentu,
justru terhadap anak-anak muda yang ada disini. Setiap kali yang mereka
bicarakan adalah tentang anak-anak muda. Keduanya nampaknya sangat menyesal
melihat bahwa di tempat ini ada juga anak-anak muda dan bahkan remaja.”
Kiai Windu mengangguk-angguk. Lalu
katanya, “Marilah. Kita kembali ke barak permainan dadu. Usahakan untuk dapat
melihat lagi orang bongkok itu. Tetapi kita harus berhati-hati. Ternyata disini
hadir orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi.”
Demikianlah keempat orang itu pun
kemudian telah memasuki barak permainan dadu. Namun ternyata bahwa mereka
melihat para petugas nampaknya menjadi semakin bersiaga menghadap segala
kemungkinan. Orang-orang bertubuh raksasa itu berdiri disetiap sudut dan
berjalan hilir mudik disapanjang barak.
“Tentu akibat kedatangan orang bongkok
itu,” berkata Kiai Windu di dalam hatinya.
Sementara itu, ternyata Kiai Windu dan
kawan-kawannya tidak menjumpai Wanengpati di dalam barak permainan dadu itu.
Karena itu, maka keduanya pun tidak ikut bermain pula.
“Kita kembali ke bilik,” berkata Kiai
Windu.
Mereka berempat pun kemudian meninggalkan
tempat permainan dadu itu.
Namun di pintu, seorang kawan Kiai Windu
telah berhenti. Bahkan di luar sadarnya mulutnya telah bersiul lirih.
Kawannya yang lain telah mendorongnya
dengan sikunya sambil berdesis, “Apalagi yang kau lihat?”
“O, tidak apa-apa,” jawab orang itu.
Namun kawannya yang lain berdesis,
“Kenapa tidak kau sapa saja perempuan itu dan kau ajak makan dan minum di kedai
itu?”
“Aku tidak melihatnya,” jawab kawannya
yang bersiul kecil itu.
Yanglain tertawa.Kiai Windu pun
tertawa.Sementara perempuan yang lewat itu sama sekali tidak berpaling.
Dalam pada itu, maka orang yang telah
memberikan isyarat dengan gonggongan anjing sehingga Kiai Windu telah berada di
kandang kuda itu pun telah meninggalkan langkah, ia telah bergabung dengan tiga
orang kawannya yang lain. Dengan sangat berhati-hati mereka pun telah bergerak
menjauhi dinding dari Song Lawa yang merupakan lingkungan yang gawat itu.
***
SEMAKIN jauh mereka dari Song Lawa,
mereka merasa bahwa mereka menjadi semakin aman. Mereka agaknya memang sudah
terlepas dari kemungkinan diketahui para petugas di tempat perjudian itu,
meskipun mereka pun tetap menyadari, bahwa petugas dari Song Lawa itu tentu ada
juga yang berkeliaran sampai jarak yang agak jauh dari tempat perjudian itu
sendiri. Bahkan mungkin di padukuhan-padukuhan dikaki gunung itu.
Namun sebenarnyalah bahwa keempat orang
itu tidak mengetahui, bahwa semua tingkah lakunya telah diikuti dua orang tua
yang pernah berkelahi melawan mereka. Dua orang tua yang luput dari tangan
mereka. Bahkan ternyata bahwa kedua orang tua itu memiliki ilmu yang sangat
tinggi.
Sementara itu, ketika keempat orang itu
telah menjadi semakin jauh, kedua orang tua itu justru telah berhenti. Mereka
duduk di atas batu-batu padas di lereng gunung itu dalam kegelapan malam.
"Bagaimana menurut pendapatmu?" bertanya
seorang di antara mereka.
Yang lain, Kiai Soka menarik nafas
dalam-dalam. Katanya, "Aku tidak mengerti. Untuk siapakah mereka bekerja. Jika
mereka bekerja untuk sekelompok penjahat, maka keadaan akan menjadi gawat.
Penjahat-penjahat itu tentu mengetahui bahwa disini terdapat banyak sekali uang
dan tentu juga perhiasan. Banyak barang-barang berharga yang kadang-kadang
menjadi taruhan.
Tetapi Kiai Badra pun berkata,"Jika
sekelompok penjahat akan memasuki lingkungan itu, tentu diperlukan kekuatan yang
sangat banyak. Di Song Lawa itu kecuali para pengawalnya yang tentu sudah
terlatih, juga terdapat orang-orang yang memiliki kemampuan bertempur. Jika para
penjahat itu menyerang Song Lawa, maka mereka akan menghadapi para petugas dan
orang-orang yang ada di Song Lawa itu. Para penjudi itu tentu tidak akan
merelakan uang dan barang-barangnya yang berharga diambil oleh para penjahat."
Kiai Soka mengangguk-angguk. Dengan nada
rendah ia berkata, Apakah ada kemungkinan lain?"
"Tentu ada. Tetapi aku tidak dapat
menebaknya," berkata Kiai Badra.
Keduanya mengangguk-angguk. Namun dalam
pada itu Kiai Soka pun berdesis, "Ada landasan pertama bagi tugas mereka."
Kiai Badra memandang kekejauhan,
seakan-akan ingin menembus kekegelapan. Dengan nada rendah ia pun berkata,
"Bagaimana caranya agar kita dapat memberitahukan kepada Sambi Wulung dan Jati
Wulung."
"Memang satu masalah," sahut Kiai Soka.
"Jika mereka tidak mengetahuinya, ada kemungkinan keduanya terjebak dalam
persoalan yang dapat menyulitkan kedudukan mereka."
Kiai Badra akan menjawab. Namun tiba-tiba
saja ia menggamit Kiai Soka.
Ternyata Kiai Soka pun tanggap. Karena
itu, maka keduanya tidak lagi berbicara. Keduanya duduk saja sambil memandang ke
depan. Namun telinga mereka telah mereka buka lebar-lebar. Ternyata mereka
mendengar desis lembut mendekat.
Keduanya adalah orang-orang yang memiliki
ilmu yang tinggi. Karena itu, maka keduanya pun mengetahui bahwa yang datang
mendekati mereka bukannya hanya seorang.
Kiai Badra dan Kiai Soka sama sekali
tidak beranjak dari tempat duduk mereka. Tetapi mereka bersiaga menghadapi
segala kemungkinan.
Sebenarnyalah, sejenak kemudian beberapa
orang telah muncul dari balik gerumbul. Mereka langsung mengepung mereka berdua.
Seorang yang berdiri di depan mereka, memberi isyarat kepada seorang yang lain
untuk mendekat.
"Apakah benar mereka berdua?" bertanya
orang itu, yang agaknya pemimpin dari kelompok orang yang mengepungnya.
Orang yang datang mendekat itu pun
mengamati Kiai Badra dan Kiai Soka sejenak. Kemudian ia pun mengangguk. Katanya,
"Ya. Dua orang inilah yang telah lepas dari tangan kami." .
PEMIMPIN kelompok itu menarik nafas
dalam-dalam. Kemudian dengan nada tinggi ia berkata, "Nah, jika demikian maka
kita akan menangkapnya dan membawa keduanya." Kiai Badra dan Kiai Soka masih
berdiam diri. Dengan demikian mereka mengetahui bahwa di antara orang-orang yang
mengepungnya itu adalah orang-orang yang pernah berusaha menangkapnya.
"Ki Sanak," berkata pemimpin kelompok
itu. "Sekarang kalian tidak perlu melarikan diri. Tidak ada gunanya. Menyerah
sajalah. Kau akan kami bawa ke tempat kami."
Kiai Badra lah yang kemudian bertanya,
"Tetapi apakah salah kami terhadap kalian. Kita baru saja bertemu. Dan tiba-tiba
kalian ingin menangkap kami."
"Jika kalian memang tidak bersalah, kami
tentu akan segera melepas kalian," berkata pemimpin kelompok itu.
"Tetapi apakah kalian berhak menangkap
seseorang? Siapakah kalian?" bertanya Kiai Soka.
Orang itu termangu-mangu sejenak. Lalu
katanya, "Siapapun kami, itu tidak penting bagi kalian. Kamilah yang ingin tahu,
siapakah kalian berdua."
Tetapi jawab Kiai Badra, "Siapapun kami,
juga tidak penting bagi kalian. Tetapi jika kalian merasa berhak menangkap kami
tanpa landasan kekuasaan apapun, maka kami pun berhak menangkap kalian."
"Persetan," geram pemimpin kelompok itu.
"Kalian jangan membuat persoalan menjadi semakin rumit. Ikut kami. Kami hanya
ingin tahu serba sedikit tentang kalian berdua. Kenapa kalian mengawasi tempat
perjudian itu."
"Kami tidak mengawasi tempat perjudian
itu," jawab Kiai Soka. "Kami tidak peduli sama sekali"
"Nanti hal itu kita bicarakan. Marilah,
ikutlah kami," berkata pemimpin kelompok yang telah mengepung dua orang tua itu.
Kiai Soka dan Kiai Badra sempat
memperhatikan orang-orang yang berada disekitarnya. Namun sebelum mereka
mengatakan sesuatu, pemimpin kelompok itu telah mendahuluinya, "Kami semua
berjumlah tujuh orang. Dua orang lebih banyak dari saat kau sempat melarikan
diri. Tetapi selain jumlah kami lebih banyak, di antara kami terhadap
orang-orang yang berilmu, sehingga kalian tidak akan lagi dengan mudah dapat
menghindari kami."
"Ki Sanak," berkata Kiai Badra.
"Sebenarnya tidak ada persoalan bagi kita. Seandainya kalian sedang mengamati
Song Lawa untuk kepentingan kalian, dan kami juga melakukan untuk kepentingan
kami, apakah salahnya? Kita tidak usah bertengkar. Kita dapat berbuat sesuai
dengan kepentingan kita masing-masing tanpa saling mengganggu."
"Sayang," berkata pemimpin kelompok itu.
"Kami tidak dapat berbuat demikian. Kami ingin menangkap kalian berdua."
"Baiklah jika demikian," berkata Kiai
Badra. "Kami juga ingin menangkap kalian bertujuh."
Pemimpin kelompok itu menjadi tegang.
Namun ia pun kemudian berkata kepada kawan-kawannya. "Agaknya kita berhadapan
dengan orang-orang tua yang kurang waras. Berhati-hatilah. Meskipun mereka agak
kurang waras, tetapi mereka berilmu tinggi."
Ketujuh orang itu pun segera
mempersiapkan pula. Sambil tertawa Kiai Badra berkata, "Jadi kau menganggap
bahwa kami kurang waras karena sikap kami? Jika demikian, maka kalian pun tidak
waras pula karena kalian juga akan menangkap kami."
Pemimpin kelompok itu tidak menyahut.
Tetapi ia pun segera memberikan perintah, "Tangkap mereka. Jika mereka melawan,
kalian mendapat wewenang untuk melakukan kekerasan. Tetapi usahakan agar kita
dapat menangkap mereka hidup-hidup."
Namun ketika orang-orang itu mulai
bergerak, Kiai Badra pun berkata, "Kita akan menangkap mereka
sebanyak-banyaknya. Terutama pemimpinnya. Jangan biarkan ia melarikan diri."
"Persetan," geram pemimpin dari kelompok
itu.
KIAI BADRA dan Kiai Soka tidak sempat
menjawab lagi. Orang-orang itu pun segera mulai bergerak. Namun mereka lebih
berhati-hati daripada yang pernah mereka lakukan. Sementara itu menilik
sikapnya, maka memang ada di antara mereka orang-orang yang memiliki ilmu tinggi
dari yang lain. Kiai Badra dan Kiai Soka tidak segera dapat mengetahui tingkat
ilmu orang-orang itu. Karena itu, maka mereka merasa wajib untuk tetap
berhati-hati.
Ketika orang-orang itu mulai menyerang,
maka Kiai Badra dan Kiai Soka justru telah berpencar.
Ternyata orang-orang yang mengepung kedua
orang tua itu sulit untuk tetap mengurung keduanya dalam kepungan. Ketika mereka
sudah mulai bertempur, maka kedua orang itu benar-benar tidak dapat dibatasi
geraknya. Keduanya berloncatan di atas batu-batu padas dalam gelapnya malam.
Tetapi orang-orang yang berusaha
menangkap kedua orang tua itu memang menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Dua
orang di antara mereka adalah orang yang mempunyai ilmu melampaui kawan-kawan
mereka yang lain. Semakin seru pertempuran itu, maka Kiai Badra dan Kiai Soka
semakin dapat menilai kemampuan lawan-lawan mereka sehingga keduanya pun dapat
mengetahui, siapakah di antara mereka yang memiliki ilmu tertinggi.
Dengan demikian maka perhatian Kiai Badra
dan Kiai Soka tertuju kepada kedua orang itu. Dua orang yang memiliki kelebihan.
Ketika pertempuran itu meningkat semakin
cepat, maka Kiai Badra dan Kiai Soka pun telah mengambil jarak semakin jauh. Dua
lingkaran pertempuran terjadi di lereng gunung yang kadang-kadang miring
berbatu-batu.
Kiai Soka ternyata telah berhadapan
dengan tiga orang di antara lawan-lawannya, sedangkan Kiai Badra harus
berhadapan dengan empat orang lawan.
Namun ternyata bahwa orang-orang yang
ingin menangkap kedua orang tua itu telah mengalami kesulitan. Di atas tanah
yang sulit, yang kadang-kadang terdapat bagian-bagian yang licin, namun
kadang-kadang juga bagaikan bergerigi tajam, mereka tidak dapat bergerak
sebagaimana mereka bertempur ditempat yang datar.
Sementara itu, Kiai Badra dan Kiai Soka
memang memiliki kemampuan yang sulit untuk diimbangi oleh lawan-lawannya. Kedua
orang tua itu bukan saja berilmu tinggi, tetapi mereka seakan-akan telah begitu
akrab dengan medan.
Karena itu, semakin lama mereka
bertempur, maka ketujuh orang yang ingin menangkapnya itu justru semakin
mengalami kesulitan. Kedua orang tua itu bergerak semakin cepat, justru di atas
tanah yang semakin sulit diinjak.
Bahkan kemudian ternyata bahwa justru
serangan-serangan orang tua itulah yang mulai mengenai lawan-lawannya. Semakin
lama bahkan menjadi semakin sering.
Orang yang memiliki ilmu yang lebih
tinggi dari yang lain itu pun berusaha untuk memancing perhatian orang tua itu.
Mereka berusaha mempercepat tata gerak mereka. Serangan-serangan mereka pun
datang membadai. Namun kedua orang tua itu seakan-akan tidak terpengaruh
karenanya. Mereka masih saja mampu bergerak melampaui kecepatan semua
lawan-lawannya.
Bahkan seorang di antara kedua orang tua
itu berkata, "Kami memang ingin menangkap kalian. Jangan menyesal, jika kami
membawa kalian ke tempat yang tidak kalian mengerti sama sekali."
"Persetan," geram pemimpin kelompok itu.
"Aku tidak akan dapat kau takut-takuti."
Belum lagi mulutnya terkatup rapat, maka
ujung tiga buah jari lawannya yang merapat telah mengenai dadanya.
Orang itu telah terdorong surut. Keluhan
yang pendek terdengar. Pemimpin kelompok itu hampir saja jatuh terjerembab. Apa
lagi tidak jauh dari arena perkelahian itu terdapat lereng yang agak terjal.
Meskipun tidak terlalu dalam, tetapi seseorang yang terjatuh ke dalamnya, akan
sulit untuk dapat segera bangkit. Tubuhnya tentu akan dikoyak oleh batu-batu
padas yang runcing tajam.
DEMIKIANLAH semakin lama maka
keseimbangan dari pertempuran itu pun menjadi semakin berat sebelah. Justru
kedua orang tua itulah yang telah berhasil menguasai medan. Keduanya mampu
bergerak kemana mereka kehendaki, meskipun lawan mereka berlipat banyaknya.
Namun akhirnya, Kiai Badra dan Kiai Soka
memandang bahwa perkelahian itu sama sekali tidak ada gunanya. Keduanya juga
tidak ingin benar-benar menangkap ketujuh orang itu, karena mereka tidak
mempunyai kelengkapan untuk menahan mereka. Sedangkan untuk membunuh mereka,
keduanya sama sekali tidak berniat. Keduanya belum tahu pasti siapakah mereka,
sehingga kematian harus dinilai dengan cermat.
Karena itu, maka akhirnya Kiai Badra
telah memberikan isyarat kepada Kiai Soka untuk meninggalkan arena saja. Seperti
yang telah terjadi, maka dengan diam-diam mereka telah hilang dari arena
pertempuran.
Demikianlah pula saat itu. Kedua orang
itu telah mempercepat gerak mereka. Namun tiba-tiba saja keduanya dengan
loncatan-loncatan panjang telah mengambil jarak.
Pemimpin kelompok yang ingin menangkap
kedua orang itu memang sudah dapat memperhitungkan bahwa kedua orang itu akan
meninggalkan arena. Namun pemimpin kelompok itu sama sekali tidak berusaha
mencegahnya, atau memberikan aba-aba untuk menahan agar keduanya tidak sempat
menghindar. Pemimpin kelompok itu justru memberikan kesempatan kepada keduanya
untuk menghindar bukan karena keduanya merasa kalah. Tetapi keduanya merasa
tidak perlu lagi melanjutkan perkelahian.
Menurut perhitungan pemimpin kelompok
itu, kepergian kedua orang itu memberikan arti baik baginya. Ia tidak akan
kehilangan kewibawaan dimata anak buahnya, karena lawan-lawanlah yang telah
meninggalkan gelanggang. Bahkan seandainya kepergian lawannya itu sempat
ditahan, maka pertempuran berikutnya pun akan mempunyai akibat yang pahit.
Kekalahan.
Ternyata kepergian kedua orang itu,
membuat pemimpin kelompok itu sedikit menengadahkan wajahnya. Dengan geram ia
berkata, "Mereka melarikan diri."
"Apakah kita tidak mencarinya?" bertanya
salah seorang kepercayaannya yang kurang puas menghadapi cara berkelahi kedua
orang yang dianggapnya telah menghina mereka bertujuh.
Pemimpin kelompok itu menggeleng. Dengan
nada rendah ia berkata, "Kita tidak akan dapat mencarinya. Tidak ada gunanya,
selain sekadar membuang waktu dan tenaga, juga kemungkinan yang lain akan dapat
terjadi."
Yang lain mengangguk-angguk.
Sebenarnyalah mereka juga mengalami kelelahan yang sangat.
"Marilah. Kita kembali ke landasan gerak
kita," berkata pemimpin kelompok itu.
Ternyata mereka pun telah bergerak.
Ketujuh orang itu telah menuju kembali ke landasan gerak mereka.
Dalam pada itu, Kiai Badra dan Kiai Soka,
demikian melepaskan lawan-lawan mereka, telah bergeser ke tempat yang lebih
tinggi. Mereka telah duduk pula di batu-batu padas membicarakan ketujuh orang
yang ingin menangkap mereka.
"KENAPA mereka menganggap mempunyai
wewenang untuk menangkap seseorang?" bertanya Kiai Soka. Kiai Badra menggeleng
sambil berkata, "Entahlah. Mungkin mereka memang merasa mempunyai kewenangan
itu. Mungkin mereka merasa terlalu kuat untuk dapat melakukannya atas orang lain
yang dianggapnya lemah. Atau katakanlah, mereka terbiasa berbuat apa saja tanpa
ada yang sempat menghalangi."
"Bagaimana kalau kita mencari keterangan
lebih jauh tentang mereka?" berkata Kiai Soka.
"Apa yang akan Kiai lakukan?" bertanya
Kiai Badra.
Kiai Soka menarik nafas dalam-dalam,
sementara Kiai Soka berkata, "Untuk sementara, biarlah kita tidak terlalu banyak
memperhatikan mereka, selama kita masih dapat berlari menghindar jika kita
bertemu seperti yang terjadi saat ini. Namun bahwa mereka tentu merupakan satu
gerakan yang besar, yang berhubungan dengan Song Lawa itu agaknya hampir dapat
dipastikan. Tetapi siapakah mereka, dan apa kepentingan mereka itulah yang tidak
kita ketahui."
"Tetapi menilik sikap dan cara mereka
bertempur agaknya mereka bukan para penjahat yang keras dan kasar. Namun
kemampuan mereka tidak berada di bawah kemampuan orang-orang kasar dan bahkan
liar sekalipun," desis Kiai Badra.
Kedua orang tua itu pun
mengangguk-angguk. Namun untuk beberapa saat mereka saling berdiam diri
merenungi peristiwa-peristiwa yang telah terjadi dan yang mereka alami.
Dalam pada itu, di Song Lawa Kiai Windu
dan kawan-kawannya telah berada di dalam bilik mereka pula. Beberapa orang di
antara mereka telah terbaring di pembaringan. Yang kemudian duduk di sudut
adalah Jati Wulung dan seorang kawan Kiai Windu. Untuk beberapa saat mereka pun
saling berdiam diri. Namun tiba-tiba kawan Kiai Windu itu bertanya, "He, kau
lihat seorang perempuan dengan pedang di lambung?"
Jati Wulung berpaling. Namun sambil
mengerutkan keningnya ia menyahut, "Tidak. Aku tidak melihatnya."
"Bohong. Kau tentu melihatnya. Atau
seorang perempuan yang berpakaian seperti laki-laki. Nampaknya ia tidak membawa
senjata. Tetapi ia tentu mempunyai senjata rahasia, atau pengawalnya yang selalu
menamatinya dari kejauhan sehingga seolah-olah perempuan itu hanya seorang
diri," desis orang itu.
Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam.
Tetapi ia pun menjawab, "Aku tidak banyak memperhatikan perempuan itu."
"Ah, jangan begitu," sahut kawan Kiai
Windu. "Kau juga selalu memperhatikan perempuan-perempuan di tempat ini."
Jati Wulung justru tertawa. Katanya, "Aku
lebih senang memperhatikan ayam aduan daripada perempuan."
"He, siang tadi aku melihat seorang
perempuan berbaju kuning seperti kulitnya di tempat sabung ayam," berkata kawan
Kiai Windu.
"Sudahlah," desis Jati Wulung. "Kita
berbicara yang lain. Mungkin tentang permainan dadu, adu ayam atau panahan?"
Orang itu mengerutkan dahinya.
Disandarkannya kepalanya pada dinding ruangan. Namun ia berdesah, "Paling
menyenangkan adalah berbicara tentang diri sendiri. He, bagaimana mungkin kau
dapat menang melawan orang yang ditakuti di pesisir Utara itu? Dengan demikian
jika kau mau pergi ke pesisir Utara, maka kau akan menjadi hantu disana."
Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam.
Namun ia hanya tersenyum saja. Bahkan sambil menguap.
Sejenak kemudian, maka bilik itupun
menjadi hening. Orang-orang yang berbaring sudah tertidur nyenyak. Sementara
Jati Wulung dan kawan Kiai Windu itu pun telah tenggelam dalam angan-angannya
masing-masing.
Sekali-kali masih terdengar suara tertawa
di luar. Atau bahkan orang yang mengumpat-umpat karena kalah dibilik permainan
dadu. Atau orang-orang yang bertengkar, bahkan ada juga terdengar orang-orang
yang berkelakar. Tetapi suasana malam memang menjadi semakin sedikit.
MESKIPUN demikian, di barak permainan
dadu, orang-orang masih ramai mempertaruhkan uang mereka. Tetapi semakin lama
memang menjadi semakin sedikit.
Jati Wulung dan kawan Kiai Windu yang
berjaga-jaga itu masih mendengar suara perempuan di bilik sebelah. Bukan suara
kasar dan mengumpat-umpat seperti biasanya. Tetapi tertawanya terdengar segar.
Dengan gembira perempuan itu mengungkapkan perasaannya. Ternyata ia telah menang
di barak permainan dadu meskipun tidak terlalu banyak.
Tetapi suara itu tidak terlalu lama
terdengar. Agaknya orang-orang di bilik sebelah itu pun telah mengantuk. Mereka
dengan segera telah berbaring dan bahkan tertidur dengan mimpi segar karena
kemenangannya di perjudian.
Jati Wulung yang telah beberapa kali
menguap masih mencoba bertahan. Ia sendiri heran, kenapa tiba-tiba saja ia di
dera perasaan kantuk. Padahal biasanya ia mampu bertahan bukan saja untuk
semalam suntuk, tetapi lebih lama dari itu. Pada saat-saat ia menjalani laku
ketika sedang memperdalam ilmu kanuragan, ia harus melakukan pati geni selama
tiga hari tiga malam dan tidak boleh tidur sama sekali. Semuanya itu pernah
dilakukannya. Bahkan dalam perjalanan yang berat melintas dari pesisir Kidul ke
pesisir Utara, ia pun sama sekali tidak berhenti apalagi tidur.
Namun justru karena itu, maka ia justru
menjadi curiga. Ia merasakan sesuatu yang tidak wajar telah terjadi.
Hampir di luar sadarnya Jati Wulung
beringsut mendekati Sambi Wulung yang tertidur nyenyak. Demikian juga Kiai Windu
juga Kiai Windu dan apalagi kawan-kawannya. Sementara itu kawannya yang
terjaga-jaga itu pun menjadi gelisah. Bahkan sekali-kali matanya telah terpejam.
Jati Wulung memang sampai pada satu
kesimpulan, bahwa ada yang tidak wajar. Sebagai seorang yang berilmu tinggi,
maka Jati Wulung segera menyadari, bahwa tempat itu terkena sirep yang sangat
tajam. Kekuatan sirep yang sangat besar pula, karena agaknya dapat menyelimuti
seluruh lingkungan Song Lawa.
Dalam pada itu, Sambi Wulung yang sedang
tertidur nyenyak itu pun menjadi semakin nyenyak. Agaknya ia tidak bersiap sama
sekali menghadapi pengaruh sirep itu. Karena itu, maka ia sama sekali tidak
melakukan perlawanan untuk mengatasinya.
Jati Wulung menyadari akan hal itu.
Karena itu, maka ia pun kemudian telah membangunkan Sambi Wulung. Dengan kuat ia
mengguncang tubuhnya sambil membisikkan namanya ditelinganya.
"Bangunlah. Ada sesuatu yang tidak wajar
terjadi," berkata Jati Wulung. Sementara itu kawan Kiai Windu yang duduk
bersandar dinding itu justru telah tertidur pula.
Sambi Wulung memang membuka matanya.
Tetapi mata itu segera terkatub lagi.
"Bangunlah. Cepat," desis Jati Wulung
sambil mengguncang tubuh itu pula.
Ketika sekali lagi Sambi Wulung membuka
matanya, maka Jati Wulung pun berkata, "Kau telah terkena ilmu sirep."
Suara itu terdengar oleh Sambi Wulung.
Dengan demikian, maka ia pun telah berusaha untuk bangkit dan duduk meskipun
mata masih separo terpejam.
"Bangunlah. Atasi perasaan kantukmu. Kita
terkena sirep yang sangat tajam," berkata Jati Wulung kemudian.
Sambi Wulung mendengar kata-kata itu
semakin jelas. Karena itu, maka ia pun mulai berusaha untuk benar-benar bangun.
Ketika Jati Wulung mengulanginya, maka
Sambi Wulung benar-benar telah menyadari apa yang terjadi. Ia pun kemudian mulai
meningkatkan daya tahannya untuk mengatasi perasaan kantuknya. Baru kemudian ia
menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, "Ya. Tentu ilmu sirep."
"Apa yang akan kita lakukan?" bertanya
Jati Wulung.
"Luar biasa. Nampaknya kekuatan ini telah
mencengkam seluruh lingkungan perjudian ini," desis Sambi Wulung. .
"AGAKNYA memang demikian. Sementara itu
kita tidak tahu, berapa orang yang dapat mengatasi kekuatan sirep ini," gumam
Jati Wulung kemudian. "Kita bangunkan Kiai Windu," berkata Sambi
Wulung. "Tidurnya terlalu nyenyak," sahut Jati Wulung.
Namun Sambi Wulung telah mencobanya.
Diguncang-guncangkannya tubuh Kiai Windu. Namun ternyata bahwa orang tua itu
sekali-kali bergumam. Namun ia pun telah tertidur lagi.
"Jika ia terbangun, apakah ia akan mampu
mengatasi kekuatan sirep ini?" bertanya Jati Wulung.
Sambi Wulung menggelengkan kepalanya.
Jawabannya, "Aku tidak tahu. Kita mencobanya."
Namun ternyata terlalu sulit untuk
membangunkannya. Karena itu maka Sambi Wulung pun berkata, "Aku akan
membangunkan dengan cara lain."
Jati Wulung mengerti maksudnya. Karena
itu, maka ia pun telah bergeser surut.
Sambi Wulung pun kemudian telah duduk
disebelah Kiai Windu yang masih tertidur. Diletakkannya tangannya pada lengan
Kiai Windu. Dipusatkannya nalar budinya. Dengan sangat berhati-hati, maka
disalurkannya getaran yang dapat meningkatkan ketahanan Kiai Windu mengatasi
kekuatan ilmu sirep yang tajam itu. Tetapi tanpa mengejutkan dan bahkan mungkin
akan dapat merusakkan bagian dalam tubuhnya.
Usaha Sambi Wulung itu hanya dilakukan
untuk saat yang sangat pendek. Ketika kemudian Sambi Wulung membangunkannya,
maka Kiai Windu itu pun telah terbangun pula.
"Ada apa?" bertanya Kiai Windu.
"Kawanmu telah tertidur," berkata Sambi
Wulung.
"O," Kiai Windu mengerutkan dahinya.
Memang timbul prasangka yang kurang baik di dalam hatinya melihat sikap Sambi
Wulung dan Jati Wulung. Namun tidak lama, karena Sambi Wulung pun berkata,
"Bertahanlah. Aku sudah mencoba untuk menyalurkan getaran dalam dirimu sekadar
untuk mengatasi kekuatan sirep sebelum kau dapat bangun dan membangunkan
pertahananmu sendiri."
"Sirep?" desis Kiai Windu.
"Ya. Kau dapat menangkap suasananya
sekarang setelah kau benar-benar bangun," berkata Sambi Wulung pula.
Sebenarnyalah Kiai Windu pun merasakan
kelainan suasana. Namun ternyata bahwa ia pun segera dapat mengenali apa yang
telah terjadi di Song Lawa itu. Karena itu maka katanya, "Ya. Sirep yang sangat
tajam."
"Usahakanlah agar kau dapat bertahan,"
berkata Sambi Wulung.
"Terima kasih atas usahamu," berkata Kiai
Windu yang kemudian memandangi kawan-kawannya yang sudah tertidur nyenyak pula.
Lalu katanya lebih lanjut, "Mereka tidak akan mampu menerobos batas untuk dapat
bangun sepenuhnya. Jika mereka menyadari keadaan ini sebelum mereka tertidur,
mungkin mereka akan dapat bertahan. Tetapi dalam keadaan tidur seperti itu, akan
sangat sulitlah bagi kita untuk membangunkannya."
"Jika demikian, biarkanlah mereka tidur,"
berkata Sambi Wulung. Lalu katanya pula, "Tetapi apa yang dapat kita lakukan
kemudian?"
Kiai Windu pun mengangguk-angguk. Lalu
katanya, "Kita akan melihat suasana di luar."
Kiai Windu bersama Sambi Wulung dan Jati
Wulung pun kemudian dengan sangat berhati-hati telah membuka pintu bilik mereka.
Dengan hati-hati mereka menyusuri lorong di dalam bilik. Baru kemudian mereka ke
luar dari pintu barak.
Suasana telah menjadi sangat sepi. Hampir
tidak ada lagi orang yang terbangun.
Namun dalam pada itu, seorang yang
bertubuh raksasa lewat sambil mengumpat kasar. Tetapi ketika raksasa itu melihat
ketiga orang yang berdiri di luar pintu barak itu pun telah mendekatinya. Dengan
gelisah orang itu berkata, "Kau rasakan suasana ini he?"
"Ya," berkata Kiai Windu.
"Setan itu datang lagi," geram raksasa
itu.
"Siapa?" bertanya Sambi Wulung.
"PARA perampok. Mereka menganggap bahwa
tempat ini akan dapat dirampoknya. Beberapa tahun yang lalu, hal serupa pernah
juga terjadi," berkata raksasa itu. "Apa yang terjadi beberapa tahun yang lalu?"
bertanya Kiai Windu yang memang pernah beberapa kali datang ke tempat itu.
"Selama ini aku sering berkunjung ke Song Lawa, belum pernah terjadi perampokan
disini."
"Beberapa tahun yang lalu. Mungkin kau
belum datang kemari atau kau memang sedang tidak datang," jawab orang bertubuh
raksasa itu.
"Lalu sekarang bagaimana?" bertanya Jati
Wulung.
"Kita akan menghimpun kekuatan di antara
mereka yang masih terbangun. Yang mampu mengatasi kekuatan sirep itu tentu
orang-orang berilmu. Kita harus bekerjasama untuk mencegah agar mereka tidak
merampok seluruh isi lingkungan ini seperti beberapa tahun yang lalu itu,"
berkata orang bertubuh raksasa itu.
"Sekarang dimana kawan-kawanmu?" bertanya
Sambi Wulung.
"Hanya beberapa orang yang lolos. Mereka
juga sedang mengumpulkan orang-orang di barak lain yang luput dari kekuatan
sirep ini."
"Bagaimana di barak permainan dadu itu?"
bertanya Sambi Wulung.
"Hanya tiga orang yang dapat membebaskan
diri dari pengaruh buruk ini," jawab orang bertubuh raksasa itu.
"Lalu sekarang bagaimana?" bertanya Sambi
Wulung.
"Kita berkumpul di depan barak permainan
dadu. Di tempat itu banyak sekali tersimpan uang dan barangkali juga perhiasan
yang masih dikenakan oleh mereka yang tertidur," jawab orang bertubuh raksasa
itu.
Mereka pun kemudian tidak menyia-nyiakan
waktu. Dengan tergesa-gesa mereka telah pergi ke barak permainan dadu. Tetapi
mereka tidak masuk ke dalam barak itu.
Di muka barak itu telah berkumpul pula
beberapa orang. Mereka yang bertubuh raksasa dari para petugas ternyata hanya
kurang dari separo yang tidak tertidur. Sementara itu, yang lain telah tertidur
nyenyak. Sedangkan mereka yang memasuki Song Lawa itu sambil membawa uang dan
mungkin perhiasan untuk berjudi, yang masih tetap sadar sepenuhnya untuk melawan
para perampok, telah bersiaga pula sepenuhnya.
Ternyata jumlah mereka terlalu kecil
dibandingkan dengan jumlah orang yang ada di Song Lawa. Namun mereka benar-benar
orang pilihan karena mampu mengatasi sirep yang tajam.
Dalam pada itu, Kiai Windu memang menjadi
sangat gelisah. Jika benar, beberapa orang perampok akan memasuki tempat
perjudian itu, maka banyak kemungkinan yang terjadi.
"Apakah jumlah ini memadai untuk melawan
perampok yang dipersiapkan memasuki tempat perjudian ini?" tiba-tiba saja ia
berdesis ditelinga Sambi Wulung.
"Kita belum tahu berapa banyak dan
seberapa tinggi ilmu mereka," jawab Sambi Wulung.
"Sekelompok perampok yang berani memasuki
lingkungan ini tentu sudah dipersiapkan benar-benar," berkata Kiai Windu pula.
"Tetapi mungkin juga tidak begitu banyak.
Jika mereka terlalu percaya kepada kekuatan ilmu sirep mereka, maka dengan
jumlah yang kecil mereka akan berani melakukannya, karena menurut perhitungan
mereka, orang-orang di Song Lawa itu telah tertidur seluruhnya," jawab Sambi
Wulung.
"Aku kira mereka sebelumnya telah
memasukkan orang-orangnya ke dalam lingkungan ini. Mereka tentu petugas-petugas
sandi yang akan menilai isi dari padepokan ini untuk memperhitungkan kekuatan
yang diperlukan," berkata Kiai Windu.
Sambi Wulung mengangguk-angguk. Katanya,
"Agaknya memang demikian. Tetapi kita akan melihat, apa yang akan terjadi."
Namun dalam pada itu, Sambi Wulung
tiba-tiba menjadi berdebar-debar. Hampir di luar sadarnya ia telah menggamit
Jati Wulung sambil memandang ke satu arah.
JATI WULUNG pun menarik nafas
dalam-dalam. Ternyata orang yang dipanggil Kepala Besi itu pun telah datang pula
ke tempat mereka berkumpul bersama seorang kawannya. Demikian ia tiba di antara
para pengawal yang bertubuh raksasa itu, maka ia pun berkata, “Setan manakah
yang akan berani memasuki tempat ini? Mereka tentu orang-orang yang ingin
membunuh diri. Atau mungkin mereka tidak mengetahui bahwa aku, Kepala Besi,
berada disini hari ini.”
Namun kata-katanya bagaikan patah ketika
ia melihat Jati Wulung berdiri tegak memandanginya.
Kepala Besi itu telah memalingkan
wajahnya. Tetapi ia tidak berkata apa-apa lagi.
Jati Wulung pun sama sekali tidak berbuat
apa-apa. Bahkan ia pun tidak lagi memandangi orang yang dikenal dengan sebutan
Kepala Besi itu.
Dalam pada itu, suasana memang dicengkam
oleh ketegangan. Seorang petugas yang bertubuh raksasa telah datang dari pintu
gerbang sambil berkata, “Dua orang kawan kita menunggui pintu gerbang yang
ditutup rapat.”
Parapetugas itu mengerutkan keningnya.
Namun seorang di antara mereka menyahut, “Kita tidak tahu apa yang akan mereka
lakukan. Tetapi beberapa tahun yang lalu, ketika mereka datang ke tempat ini,
mereka masuk lewat pintu gerbang yang dirusaknya.”
“Tetapi darimana kalian mengetahui, bahwa
akan datang sejumlah perampok memasuki lingkungan ini?” tiba-tiba saja Kiai
Windu bertanya.
“Suasana ini,” jawab orang bertubuh
raksasa itu. “Seperti beberapa tahun yang lalu, mereka juga menaburkan sirep
yang tajam. Sementara itu, petugas kami yang mengamati keadaan di lingkungan
padepokan ini kemarin telah melihat orang-orang yang mencurigakan berkeliaran.”
Kiai Windu menjadi semakin
berdebar-debar. Namun ia tidak bertanya lebih lanjut.
Sebenarnyalah, sekelompok perampok yang
garang telah bersiap di luar lingkungan perjudian itu. Seorang di antara mereka,
yang agaknya pemimpinnya telah memberikan beberapa perintah kepada
orang-orangnya.
Sementara itu, tiga orang di antara
mereka yang memiliki kemampuan ilmu sirep telah menebarkan ilmunya meliputi
seluruh lingkungan Song Lawa.
Tetapi agaknya mereka masih menunggu
sesaat. Mereka menunggu agar sirep yang ditebarkan itu telah merata dan setiap
orang telah terpengaruh karenanya.
Ternyata bahwa para perampok itu telah
memilih saat yang tepat. Mereka tidak melepaskan sirepnya pada ujung malam,
tetapi pada saat orang-orang di dalam lingkungan Song Lawa itu telah menjadi
letih. Dengan demikian maka pengaruh sirep yang kuat akan membuat mereka semakin
lelap dalam tidur. Bahkan mereka yang belum berniat untuk tidur pun akan cepat
tertidur pula.
Sebenarnyalah di dalam barak permainan
dadu itu, beberapa orang yang semula masih duduk bermain, telah terbaring dan
tidur nyenyak. Mereka tidak sempat mengumpulkan uang yang masih tetap
berserakan.
Namun dua orang petugas di antara mereka
yang masih mampu bertahan dari pengaruh sirep itu telah berjaga-jaga di dalam
bilik itu, agar uang yang berserakan itu tetap berada ditempatnya tanpa diusik
sama sekali.
KARENA itu, maka mereka dengan tangkas
mampu mengimbangi kekuatan orang bertubuh raksasa itu. Orang-orang yang memasuki
lingkungan perjudian itu dengan cepat menghindari setiap serangan, namun
kemudian dengan cepat pula telah membalas menyerang sehingga kadang-kadang
orang-orang bertubuh raksasa itu menjadi kebingungan.
Sementara kedua orang kawannya bertempur,
maka tiga orang yang lain telah membuka selarak.
Kedua orang pengawal di Song Lawa itu
memang menjadi agak kebingungan. Tetapi keduanya tidak dapat melepaskan diri
dari lawan-lawan mereka.
Karena itu, maka tiba-tiba saja salah
seorang dari pengawal itu telah berteriak keras-keras. "Mereka telah datang. Aku
bertempur disini."
Tetapi pemimpin perampok itu tertawa.
Katanya, "Jangan menyembunyikan kecemasanmu. Aku tahu bahwa kekuatan yang masih
ada dan terlepas dari kekuatan sirep kami, tidak akan separo dari kekuatan yang
ada di Song Lawa ini. Dan kami tahu seberapa besar kekuatan sebenarnya. Jika
perhitungan kami benar, maka kalian akan hancur jika kalian mencoba melawan.
Kami datang dengan orang-orang kami yang berilmu tinggi."
"Orang-orang yang kebetulan sedang berada
di Song Lawa dalam musim perjudian ini, akan ikut bertempur melindungi harta
benda mereka," berkata pemimpin pengawal yang bertubuh raksasa itu.
Tetapi orang itu, yang memimpin
gerombolan perampok yang datang di Song Lawa menjawab dengan suara yang tinggi
di sela-sela derai tertawanya. "Apakah artinya bagi kami.Ada beberapa orang di
antara mereka yang masih tetap terbangun? Mereka adalah justru orang yang perlu
dikasihani, karena mereka akan mati ditangan kami jika mereka benar-benar akan
melawan."
"Di antara mereka ada orang-orang
berilmu," desis pemimpin pengawal.
"Aku sudah tahu bahwa Kepala Besi ada
disini. Tetapi ia tidak akan dapat mengalahkan aku. Atau katakan ia memiliki
ilmu yang lebih tinggi dari aku, maka tiga orang akan bersamaku membunuhnya
dengan memecahkan kepalanya yang sekeras besi itu," jawab pemimpin gerombolan
perampok itu. Karena itu, maka katanya, "Nah. Sekarang menyerahlah. Kalian
mempunyai pilihan lain."
Pemimpin pengawal itu tidak menunggu
lebih lama lagi. Ia sadar, bahwa jumlah perampok itu memang lebih banyak lagi
dari orang-orang yang masih tetap berjaga di lingkungan perjudian Song Lawa itu.
Namun para pengawal tidak begitu saja mengalah sebagaimana terjadi beberapa
tahun yang lalu. Jika mereka tidak dapat melindungi harta benda melindungi harta
benda orang-orang yang berjudi di Song Lawa, maka perjudian itu lambat laun
tentu akan mereka tinggalkan sehingga akhirnya akan menjadi sepi.
Karena itu, maka ia pun telah bersuit
nyaring sebagai pertanda bahwa para pengawalnya harus menyerang dengan segera,
termasuk yang masih berada di depan barak permainan dadu.
Mendengar isyarat itu, maka para pengawal
yang masih berada di depan barak itu pun dengan tergesa-gesa pergi ke arah suara
isyarat itu. Namun empat orang telah ditinggalkan di depan barak itu. Kecuali
jika ada perintah lain, di samping dua orang yang berada di dalam.
Orang-orang lain yang masih dapat
bertahan dari pengaruhi sirep itu pun menjadi ragu-ragu. Seorang di antara
mereka bertanya kepada para pengawal, "Apakah harus kami lakukan."
"Ikut kami. Kita akan bertempur," jawab
pengawal itu.
Mereka pun segera menghambur pula ke
pintu gerbang dengan senjata yang telah telanjang di tangan.
Jati Wulung, Sambi Wulung dan Kiai Windu
ikut bersama orang-orang itu. Jati Wulung terkejut ketika seorang menggamitnya.
Ketika ia berpaling, ia pun menjadi semakin terkejut. Ternyata yang menggamit
itu adalah Kepala Besi.
Dengan segera Jati Wulung telah mengambil
jarak. Jika orang itu tiba-tiba saja menyerangnya, maka ia akan dapat melawannya
dengan baik.
" Jangan salah paham " berkata Kepala Besi itu " kemarin kita memang berkelahi.
Bahkan aku hampir mati karenanya. Tetapi aku harus jujur, bahwa aku memang
kalah. Sekarang kita akan bertempur bersama-sama menyelamatkan harta benda yang
ada di lingkungan perjudian ini. Termasuk harta benda kita sendiri. "
Dalam pada itu, pemimpin pengawal yang telah memberikan isyarat itupun berteriak
" Kita sudah bertempur. Kita tidak mempunyai banyak waktu. "
Pemimpin perampok itupun berteriak pula " Jika tidak ada orang yang disebut
Kepala Besi itu, maka aku akan membunuh siapa saja yang ada dihadapanku. "
Namun ternyata yang ada dihadapannya kemudian adalah Jati Wulung, karena Sambi
Wulung berdesis " Kau sama sekali yang sudah terlanjur dikenal kemampuanmu
disini. Tetapi pemimpin perampok yang agaknya juga berilmu tinggi itu.
Hati-hati. Jika terdesak, aku terpaksa ikut campur. Jangan tersinggung, sebab
kita tidak sedang berperang tanding. Apalagi tugas kita yang sebenarnya masih
belum selesai. "
Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun kemudian telah menyusup diantara
pertempuran yang segera menyala semakin besar, mendekati pemimpin perampok itu.
" Kau suruh saudaramu mengemban tugas yang berat itu? " tiba-tiba Kiai Windu
bertanya.
" Ya. Tidak ada orang lain karena agaknya Kepala Besi tidak bersedia memenuhi
tantangannya " jawab Sambi Wulung.
" Sebenarnya kita tidak perlu bekerja terlalu berat. Bukankah kita sekedar
mempertahankan uang yang kita bawa kemari? Seandainya uang itu harus jatuh
ketangan mereka, tentu masih akan lebih baik daripada jiwa kita yang jatuh
ketangan mereka. "
Sambi Wulung mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab. Apalagi pertempuran
segera telah membakar lingkungan Song Lawa itu.
Dalam pada itu, selagi di depan pintu gerbang terjadi pertempuran yang sangit,
maka lima orang berdiri termangu-mangu tidak jauh dari lingkungan tempat
perjudian Song Lawa itu. Orang yang agaknya pemimpin mereka itupun berguman "
Setan-setan itu telah mendahului kita.
Kawannya mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka menjawab " Kita akan
menunggu, apa yang akan terjadi. "
" Jika Song Lawa itu kemudian benar-benar hancur dan menjadi karang abang, maka
kehadiran kita tidak mempunyai arti apa-apa. " berkata pemimpin itu.
" Kita akan melihat dan mengurai keadaan selanjutnya " desis yang lain.
" Sudah tentu " pemimpinnya membentak " aku sudah tahu itu. Tetapi bahwa mereka
datang lebih dahulu, adalah sangat menyakitkan hati. Sementara kita sekarang
belum siap untuk bertindak. Jika saja hal ini terjadi dua hari lagi, maka kita
akan dapat mengambil langkah lebih baik. "
" Ya. guman seorang diantara mereka " ternyata dua orang tua itu tentu petugas
yang mereka kirim untuk mengamati keadaan disekitar Song Lawa ini. Atau
merekalah yang telah menebarkan sirep yang tajam itu. Kawan-kawannya
mengangguk-angguk. Agaknya mereka sependapat dengan pemimpinnya.
Namun dalam pada itu, ditempat lain, Kiai Badra dan Kiai Sokapun melihat
kehadiran para perampok. Dengan nada rendah Kiai Badra berkata " Suatu langkah
yang sangat berani. Namun mereka telah mendahului serangan mereka dengan sirep
yang kuat. "
Kiai Soka mengangguk-angguk. Katanya " Memang ilmu sirep yang kuat. Pengaruhnya
terasa sampai jauh diluar lingkungan tempat perjudian itu. "
" Agaknya beberapa orang yang kita lihat itu memang sebagian dari segerombolan
perampok " desis Kiai Badra.
Kiai Soka menyahut " Mungkin. Tetapi apakah kita yakin? "
Kiai Badra memang ragu-ragu. Namun kemudian itu adalah kemungkinan yang
terbesar.
Tetapi sementara itu Kiai Badra itupun berguman " Bagaimana dengan Sambi Wulung
dan Jati Wulung? " Apakah mereka juga terlibat langsung dalam benturan kekuatan
antara para perampok dengan para pengawal dan orang-orang yang lolos dari
ketajaman ilmu sirep ini.
—Agaknya memang demikian. Mereka, terutama Jati Wulung tentu tidak akan tinggal
diam " berkata Kiai Soka.
" Orang itu memang jauh lebih keras dari kakak seperguruannya. " jawab Kiai
Badra.
" Kita akan menunggu, apakah yang terjadi " desis Kiai Soka " tetapi mungkin
kita akan dapat lebih dekat lagi dengan lingkungan itu. "
" Apakah kita akan terlibat? " bertanya Kiai Badra.
" Kita akan memperhatikan keadaan. Terutama Sambi Wulung Jati Wulung " jawab
Kiai Soka.
Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya " Kita akan lebih mendekat. "
Demikianlah kedua orang tua itupun telah bergeser lebih mendekati lingkungan
yang sedang dilanda api pertempuran itu.
Sebenarnyalah pertempuran di Song Lawa itu telah berlangsung semakin sengit.
Kedua belah pihak telah mengarahkan kemampuan mereka untuk dengan cepat
mengakiri pertempuran. Apalagi malam tidak lagi tersisa terlalu panjang.
Sedangkan para perampok itu sudah tentu tidak mau kesiangah.
Karena itu, maka merekapun segera mengerahkan segenap kemampuan mereka.
Namun orang-orang di Song Lawa itupun merupakan petugas-petugas yang tangguh.
Mereka yang tersisa dari cengkaman sirep itu agaknya memang orang-orang yang
memiliki lambaran ilmu yang mapan. Demikian pula orang-orang yang lain, yang
melibatkan diri dalam pertempuran itu.
_ Sambi Wulung dan Jati Wulung masih juga sempat mengamati orang-orang yang ikut
terlibat kedalam pertempuran itu. Agaknya tidak seorangpun diantara anak-anak
muda yang mampu mengatasi kekuatan sirep yang tajam yang menyelubungi Song Lawa
itu.
Dalam pada itu, Jati Wulung yang menghadapi pemimpin perampok itupun segera
mengetahui pula, bahwa pemimpin perampok itu adalah orang yang berilmu tinggi.
Dengan demikian maka Jati Wulung harus menjadi sangat berhati-hati. la
menyadari, bahwa pada saatnya pemimpin perampok itu tentu akan mempergunakan
puncak dari kemampuannya.
Untuk beberapa saat Jati Wulung masih memerlukan waktu untuk lebih mengenal
watak dari ilmu lawannya itu. Justru karena pemimpin perampok itu sama sekali
tidak bersenjata, maka Jati Wulung memperhitungkan kemampuan yang lain yang
melampaui tajamnya ujung senjata.
Para perampok yang lainpun telah bertempur pula dengan senjata masing-masing.
Ternyata setelah bertempur beberapa saat, memang terdapat beberapa persamaan
antara para perampok dan para pengawal lingkungan
Song Lawa yang bertubuh raksasa itu.
Merekapun segera terlibat dalam pertempuran yang kasar dan keras.
Melihat ragam senjata merekapun terdapat beberapa kesamaan pula. Para perampok
telah membawa senjata yang tidak terlalu biasa dipergunakan, sehingga kesannya
memang mengerikan. Ada diantara mereka yang membawa kapak, membawa bindi, tombak
berkait dan jenis-jenis senjata yang lain. Demikian pula para pengawal yang
bertubuh raksasa itu. Ragam senjata merekapun serupa, kapak, pedang yang bermata
dua, tombak yang tajamnya memakai gerigi duri pandan, tongkat besi dan
sejenisnya.
Tingkah laku merekapun hampir bersamaan pula. Bertempur sambil berteriak dan
mengumpat-umpat. Namun orang-orang yang sedang berada di Song Lawa itupun ada
pula yang menunjukkan sikap dan tata gerak yang sama. Seorang yang bertubuh
tinggi, berkumis lebat, bahkan telah mengumpat-umpat dengan kasarnya. Senjatanya
adalah sebilah golok yang besar sedikit melengkung. Ketika golok itu mulai
terayun, maka anginpun rasa-rasanya telah menyambar-nyambar disekitarnya.
Tetapi beberapa orang lain bersikap lain pula. Mereka tidak menunjukkan sikap
yang liar meskipun pada umumnya orang-orang yang ada ditempat seperti itu adalah
memang orang-orang yang kasar. Sambi Wulung dan Jati Wulung telah berusaha untuk
menyesuaikan sikapnya sebagaimana orang-orang lain yang ada di Song Lawa itu.
Sekilas Sambi Wulung sempat melihat bagaimana Kiai Windu bertempur. Ia memang
tidak melihat unsur yang liar pada orang itu. Meskipun orang itu bersikap kasar
dan kadang-kadang diluar dugaan, tetapi Sambi Wulungpun menduga, bahwa ada
sesuatu dibalik sikapnya itu.
Sambi Wulung sendiri telah bertempur dengan pedangnya. Orang-orang yang
bertempur disekitarnya memang tidak sempat melihat, apa yang dilakukannya. Yang
kadang-kadang justru menjadi perhatian mereka adalah Jati Wulung yang bertempur
melawan pemimpin perampok itu.
Namun agaknya Sambi Wulung telah berbuat diluar perhitungan mereka. Sambi Wulung
yang tidak mendapat parhatian itu, ternyata memiliki ilmu yang sangat tinggi.
Karena itu, maka setiap kali ia telah mengejutkan lawan-lawannya. Namun untuk
tidak menarik perhatian, Sambi Wulung jarang membuat penyelesaian. Ia tidak
membunuh lawannya atau melukainya dengan tikaman pedangnya. Tetapi setiap kali
ia hanya memperlemah kedudukan lawannya yang kemudian ditinggalkannya untuk
mencari lawan yang lain. Jika lawannya telah diroges dengan ujung pedangnya,
maka Sambi Wulung kemudian telah menghindarinya. Hanya dalam keadaan terpaksa
dan diluar perhitungannya, maka pedangnya memang telah menikam sampai kejantung.
Meskipun demikian, ternyata Sambi Wulung telah menimbulkan banyak kesulitan pada
lawan-lawannya.
Jika ia menggoreskan pedangnya pada tubuh lawannya, berarti bahwa ia telah
memperlemah perlawanannya. Meskipun kamudian Sambi Wulung meninggalkannya, maka
orang itu tidak lagi dapat bertempur dengan sepenuh kemampuannya siapapun lawan
yang datang kemudian. Dan lawan yang datang kemudian itulah yang biasanya
membuat penyelesaian.
Dibagian lain, orang yang disebut Kepala Besi itupun telah bertempur dengan
garangnya. Agaknya ia masih berusaha untuk tidak dikenal sebagaimana sebutannya.
Karena itu ia telah mempergunakan senjata pula. Sebuah pedang yang berat
ditangannya berputar-putar mengerikan.
Sementara itu, Kiai Windupun mampu menggerakkan lawan-lawannya. Dengan kemampuan
yang tinggi serta pengalaman yang luas manghadapi lawan-lawan yang keras dan
kasar, Kiai Windu mampu mendesak setiap lawan yang dihadapinya.
Karena itulah, maka para perampok yang memasuki Song Lawa itupun menjadi semaki
marah. Semakin keras perlawanan yang mereka hadapi, maka merekapun menjadi
semakin buas dan liar.
Tetapi ternyata bahwa beberapa lama kemudian, beberapa orang perampok telah
jatuh. Sebagian besar dari mereka, adalah orang-orang yang pernah berhadapan
dengan Sambi Wulung. Yang lain adalah lawan-lawan Kepala Besi dan beberapa orang
yang memang memiliki ilmu yang tinggi.
Namun dalam pada itu, orang-orang yang bertubuh raksasa itupun ada pula yang
telah terlempar jatuh. Senjata para perampok yang garang itu sempat pula
mengoyakan kulit daging diantara mereka.
Kemarahan para perampok dan orang-orang yang bertubuh tinggi itu mempunyai warna
yang hampir sama pula. Mereka berteriak-teriak dan mengumpat-umpat
sejadi-jadinya.
Jati Wulung ternyata telah mendapat lawan yang tangguh. Pemimpin perampok itu
memiliki ilmu yang tinggi pula. Karena itu, maka Jati Wulung harus berhati-hati
menghadapinya.
Namun pemimpin perampok itupun menjadi heran pula. Yang diperhitungkannya
hanyalah Kepala Besi yang ditakuti di pesisir Utara. Namun ternyata ada juga
orang lain yang mampu mengimbangi ilmunya.
Meskipun demikian, sekali-sekali masih terdengar pula orang itu berteriak "
Dimana Kepala Besi itu? Ternyata ia seorang pengecut yang tidak berani
menghadapi aku. "
Kepala Besi itu tidak menghiraukannya. Ia masih saja bertempur dengan sebuah
pedang yang berat. Namun dengan ayunan pedangnya itu ia telah mendesak
lawan-lawannya.
Pertempuran semakin lama menjadi semakin sengit.
Adalah diluar dugaan, bahwa para perampok telah susut dengan cepat.
Sebenarnya bagi Kiai Windu, bertempur pada saat itu bukannya keharusan yang
mutlak. Tetapi iapun tidak ingin melihat Song Lawa benar-benar dihancurkan oleh
para perampok itu yang kemudian membawa semua uang dan perhiasan yang ada
didalamnya. Karena itu, maka meskipun Kiai Windu menghindari keadaan yang
benar-benar berbahaya baginya, iapun telah bertempur pula menghadapi para
perampok itu. Ternyata Kiai Windu mampu memilih lawan yang tidak membahayakan
dirinya sendiri.
Tetapi beberapa orang yang lain telah bertempur dengan garangnya. Seorang yang
bertubuh kekar telah bertempur dengan segenap kemampuannya. Kemarahannya telah
ditumpuhkan lewat ujung senjatanya, karena baginya para perampok itu ternyata
telah mengganggu kesenangannya selama ia berada di Song Lawa.
Dalam waktu yang pendek, pertempuran itu telah menjadi semakin menebar.
Sebenarnyalah bahwa arah serangan para perampok mula-mula ditujukan kepada para
petugas. Tetapi kerena orang-orang lain yang kebetulan berada di Song Lawa itu
justru menjadi lebih berbahaya dari para petugas, maka merekapun kemudian
berusaha untuk menghancurkan orang-orang lain yang kebetulan berada di Song Lawa
itu justru menjadi lebih berbahaya dari para petugas, maka merekapun kemudian
berusaha untuk menghancurkan orang-orang itu lebih dahulu.
Pada umumnya orang-orang yang berhasil mengatasi kekuatan sirep itu memang
orang-orang berilmu. Itulah sebabnya, maka para perampok sulit untuk dapat
menghancurkan mereka. Bahkan dalam setiap pertempuran seorang melawan seorang,
maka para perampok itu tentu segera dapat dikalahkan.
Tetapi jumlah perampok itu memang lebih banyak dari mereka yang sempat terhindar
dari kekuatan sirep itu. Karena itu, maka orang-orang itupun harus bertempur
dengan segenap kemampuan dan ilmunya, karena kadang-kadang mereka harus
menghadapi lawan yang tidak hanya seorang.
Para perampok yang kasar itu ternyata cerdik juga mengatasi kemampuan
lawan-lawan mereka. Setiap kali seorang perampok terdesak, maka muncullah
kawannya untuk membantunya. Sehingga dengan demikian, maka ada diantara para
perampok itu yang bertempur sambil berloncatan dari satu lawan ke lawan yang
lain.
Orang yang disebut Kepala Besi itu mengumpat-umpat ketika ia harus berhadapan
dengan dua orang perampok yang termasuk tangguh. Ketika seorang yang termasuk
tangguh. Ketika seorang yang termasuk tataran tertinggi dari para perampok itu
terdesak, maka muncullah seorang yang lain dalam tataran yang sama. Karena itu,
maka Kepala Besi itu harus berhadapan dengan orang-orang terbaik dilingkungan
perampok itu.
Tetapi Kepala Besi itu memang benar-benar orang yang ditakuti di pesisir Utara.
Karena itu, meskipun punggungnya masih agak sakit setelah ia dikalahkan oleh
Jati Wulung, namun ia masih mampu bertempur dengan garangnya. Hanya
sekali-sekali ia masih berdesis jika sakti di punggungnya itu terasa menggigit.
Karena ilu, maka Kepala Besi itu tidak segera dapat dikuasai oleh
lawan-lawannya. Bahkan beberapa kali ia mampu mengejutkan lawan-lawannya dengan
geraknya yang tiba-tiba.
" Setan. Sakit di punggungku " Kepala Besi itu mengumpat jika tidak, aku akan
membunuh semua orang yang mengganggu kesenanganku ini. "
Ketika sekilas ia melihat Jati Wulung bertempur melawan pemimpin perampok itu,
Kepala Besi merasa bersyukur bahwa bukan dirinyalah yang dihadapinya. Jika ia
dalam keadaannya itu harus mengadapi pemimpin perampok itu, mungkin ia akan
mengalami kesulitan. Perasaan sakit dipunggungnya itu akan benar-benar terasa
mengganggu jika ia berhadapan dengan orang yang memang benar-benar berilmu
tinggi. Semakin banyak ia bergerak, maka perasaan sakit itu akan semakin terasa.
Karena itu, maka ia lebih senang bertempur menghadapi lawan-lawan yang tidak
terlalu kuat meskipun ia harus berhadapan dengan lebih dari satu orang.
Pemimpin perampok yang bertempur dengan Jati Wulung itupun menjadi semakin
marah. Ternyata ia mendapatkan lawan yang sulit diatasinya. Lawan yang
benar-benar berilmu tinggi.
Dengan kasar pemimpin perampok itu tiba-tiba saja bertanya " He, kaukah Kepala
Besi itu. "
" Bukan " jawab Jati Wulung sambil bertempur.
" Jadi siapa kau? " bertanya lawannya pula.
" Wanengpati. Namaku Wanengpati " jawab Jati Wulung.
" Nama yang sering dipakai oleh para prajurit. Apakah kau seorang prajurit? "
bertanya pemimpin perampok itu.
" Jika aku seorang prajurit, kau akan menjadi ketakutan? " Jati Wulung justru
bertanya.
" Persetan " geram pemimpin perampok itu " didunia ini tidak ada orang yang aku
takuti. Sultan Pajangpun tidak. "
Tetapi Jati Wulung sempat menjawab " Kau akan mengalaminya sekarang. Kau akan
menjadi ketakutan setelah kita bertempur lebih lama lagi. "
_Iblis kau " geram pemimpin perampok itu.
Dengan serta merta maka pemimpin perampok itu telah meningkatkan serangannya. Ia
berusaha mendesak lawannya dengan geraknya yang cepat dan keras.
Tetapi lawannya adalah benar-benar seorang yang tangguh. Karena itu, betapapun
ia meningkatkan ilmunya, lawannya selalu dapat mengimbanginya. Bahkan ketika
tUbuh Jati Wulung mulai dialiri keringat, maka geraknyapun seakan-akan menjadi
semakin cepat dan ringan. Kakinya seakan-akan tidak lagi berjejak diatas tanah
jika ia sedang berloncatan diseputar lawannya.
Tetapi lawannyapun mampu bergerak cepat pula. Tangannya yang mengembang bagaikan
sayap-sayap burung yang buas di langit yang luas.
Dengan demikian maka pertempuran diantara kedua orang itu menjadi semakin
garang. Mereka telah bergeser ke halaman Song Lawa yang luas, seakan-akan
terpisah dari arena pertempuran itu. Dengan kemarahan yang mendesak didadanya.
maka pemimpin perampok itu berusaha secepatnya untuk menyelesaikan pertempuran
itu.
Para petugas di Song Lawa yang pada umumnya bertubuh raksasa itu telah
mengerahkan segenap kemampuan mereka. Mereka merasa mempunyai kewajiban untuk
melindungi orang-orang yang datang di Song Lawa itu. Namun ternyata bahwa mereka
memerlukan orang-orang yang harus mereka lindungi itu untuk membantu mereka.
Tanpa orang-orang itu, maka para petugas yang bertubuh raksasa itu tidak akan
sempat bertahan cukup lama.
UNTUK beberapa saat, masih belum dapat diduga, siapakah yang akan memenangkan
pertempuran itu. Namun beberapa orang yang memiliki ilmu yang tinggi melampaui
kebanyakan orang yang terdapat diantara orang-orang yang sedang berada di tempat
perjudian itu telah membuat para perampok menjadi cemas. Bahkan pemimpin
perampok itupun telah menjadi cemas pula tentang dirinya sendiri, bahwa ia tidak
akan segera dapat menyelesaikan pertempuran itu, sementara malampun telah hampir
sampai kebatas.
Namun demikian, meskipun ia telah mengerahkan segenap kemampuannya, namun
lawannya masih juga mampu mengimbanginya.
Yang mengalami kesulitan adalah justru orang-orang yang bertubuh raksasa yang
bertugas di Song Lawa. Jika seorang diantara mereka harus menghadapi dua orang
sekaligus, maka petugas itu akan segera mengalami kesulitan. Namun merekapun
telah berusaha untuk bertempur dalam arena yang saling berbaur sehingga dengan
demikian maka mereka akan dapat saling menolong dalam keadaan yang mendesak.
Namun dalam pada itu, justru karena didalam pertempuran itu orang-orang yang
berilmu tinggi seperti Sambi Wulung, Kepala Besi itu kemampuan orang-orang lain
yang pada umumnya melafripaui kemampuan para petugas yang bertubuh raksasa itu,
maka jumlah para perampok itu agaknya telah menjadi susut. Meskipun orang-orang
yang mempertahankan Song Lawa itu juga susut, namun agaknya penyusutan bagi para
perampok itu berlangsung lebih cepat. Sehingga karena itu, maka pada saatnya,
jumlah mereka akan menjadi seimbang.
Agaknya hal itu diketahui juga oleh pemimpin perampok yang sedang bertempur
melawan Jati Wulung. Karena itu, maka kemarahannyapun menjadi semakin memuncak.
Tidak ada pilihan lain daripada berusaha dengan cepat menghancurkan lawannya
untuk terjun kedalam pertempuran diantara orang-orangnya.
Yang menjadi berdebar-debar adalah orang-orang yang bertubuh raksasa itu. Mereka
yang seharusnya melindungi orang-orang yang berada di tempat perjudian itu
termasuk harta bendanya, namun ternyata mereka tidak cukup mampu untuk
melakukannya. Apalagi sebagian dari mereka telah tertidur nyenyak oleh kekuatan
sirep yang mencengkam.
Jika para perampok itu kemudian ternyata berhasil menghancurkan Song Lawa dan
merampas segala harta benda yang ada didalamnya, maka untuk selanjutnya Song
Lawa tidak akan pernah mendapat kepercayaan lagi. Bahkan mungkin orang-orang
yang ada didalamnya telah menuntut kepada para petugas dan pemimpin Song Lawa
itu agar mereka bertanggung jawab atas perampokan itu.
Beruntunglah para petugas di Song Lawa itu, bahwa orang-orang yang berilmu
tinggi, yang terbebas dari pengaruh sirep, telah bersedia untuk turun ke medan,
membantu mereka melawan para perampok itu.
" Bagi mereka, tentu akan ada penghargaan khusus " berkata pemimpin dari para
petugas itu.
Demikianlah, pertempuran masih berlangsung dengan garangnya. Orang-orang yang
bertubuh raksasa telah bertempur sejauh dapat mereka lakukan tanpa mengenal
takut sama sekali. Mereka harus menunjukkan kepada orang-orang yang ikut
membantu mereka bertempur, bahwa mereka telah berusaha untuk berbuat
sebaik-baiknya. Mereka harus benar-benar dianggap bertanggung jawab tanpa
mengenal takut menghadapi maut sekalipun.
Namun para perampokpun telah menjadi semakin buas dan liar. Mereka menjadi
sangat marah bahwa mereka tidak dapat melakukan perampokan itu dengan lancar.
Bahkan orang-orang yang berada di Song Lawa dan sama sekali bukan petugas telah
ikut melibatkan diri pula. Namun justru satu-satu para perampok itu terlempar
dari arena. Luka-luka yang parah dan bahkan tusukan langsung ke jantung telah
mengurangi jumlah mereka. Tanpa mereka sadari, Sambi Wulung benar-benar
merupakan orang yang menentukan keseimbangan pertempuran itu disamping Jati
Wulung yang telah berhasil mengikat pemimpin perampok dalam pertempuran yang
sengit, serta Kepala Besi yang bertempur dengan garang.
Pemimpin perampok yang bertempur melawan Jati Wulung itupun telah berusaha
mengerahkan kekuatan dan kemampuannya untuk segera mengalahkan lawannya.
Beberapa jenis ilmu yang dimilikinya telah diungkapkannya dalam pertempuran itu.
Dengan tangkas ia telah mampu berloncatan hampir tidak menyentuh tanah. Bahkan
kemudian tangannyapun telah berputaran disekitar tubuhnya. Sekali-kali
mengembang, kemudian terangkat tinggi, tetapi sesaat yang lain tangan itu telah
mematuk dada dengan jari-jari yang merapat.
Tetapi Jati Wulung mampu mengimbangi kecepatan gerak pemimpin perampok yang
tidak bersenjata itu. Iapun dengan cepat bergerak sebagaimana dilakukan oleh
lawannya. Bahkan sekali-sekali Jati Wulung justru telah berusaha menembus
pertahanan lawannya dengan serangan-serangan yang cepat dan tiba-tiba.
Dengan mengerahkan kemampuannya pemimpin perampok itu masih sempat mengelakkan
serangan-serangan Jati Wulung. Bahkan membalas menyerang dengan kemampuan yang
sangat tinggi.
Ketika orang itu meloncat dengan ayunan tangan mendatar setinggi dada, Jati
Wulung sempat memiringkan tubuhnya sehingga tangan lawannya itu bergetar kurang
dari setapak dari tubuhnya. Namun dengan cepat pula Jati Wulung telah memukul
tangan itu dengan sisi telapak tangannya. Tetapi lawannya sempat dengan
tergesa-gesa menarik tangannya sehingga pukulan sisi telapak tangan Jati Wulung
tidak mengenainya. Bahkan orang itu sempat memiringkan tubuhnya dan mengayunkan
kakinya kearah lambung. Jati Wulung yang melihat serangan itu meloncat surut.
Sekali lagi serangan lawannya tidak mengenainya.
Bahkan Jati Wulung yang melihat keadaan lawannya, tiba-tiba telah berputar
sambil menyapu kaki lawannya yang sebelah, yang dipergunakan untuk bertumpu
sebelum kakinya yang lain sempat menyentuh tanah.
Namun Jati Wulung harus mengakui kemampuan tawannya yang tiba-tiba saja dengan
satu kakinya telah melenting tinggi. Sambil menggeliat tangannya justru terayun.
Hampir saja tangan itu mengenai tengkuk Jati Wulung. Namun Jati Wulung adalah
seorang yang berilmu mapan. Karena itu, hampir diluar daya pengamatan lawannya
Jati Wulung telah memiringkan tubuhnya, sehingga sambaran tangan lawannya tidak
mengenainya. Betapa terkejut lawannya ketika tiba-tiba saja kaki Jati Wulung
telah berputar satu lingkaran. Demikian cepatnya, sehingga lawannya tidak sempat
menghindarinya.
Kerena itu dengan lengannya, pemimpin perampok itu berusaha menangkis serangan
Jati Wulung.
Satu benturan yang keras sekali telah terjadi. Kekuatan pemimpin perampok itu
memang luar biasa besarnya. Namun justru karena Jati Wulung menyadarinya, maka
iapun telah mengerahkan kekuatannya pula. Karena itu, benturan yang terjadi
adalah benturan ilmu yang mengalir dibagian tubuh masing-masing yang saling
beradu.
Ternyata pemimpin perampok itu terkejut. Kekuatan Jati Wulung demikian besarnya,
sehingga pemimpin perampok itu telah terdorong surut.
Kemarahan yang menggelegak telah menghentak-hentak didalam dada pemimpin
perampok itu. Karena itu maka iapun telah berteriak nyaring sambil mengerahkan
segenap kemampuan yang ada didalam dirinya. Keadaan benar-benar menjadi semakin
gawat bagi para perampok itu. Kekuatan sireppun semakin lama akan menjadi
semakin menipis. Jika kemudian kekuatan sirep itu hilang, maka orang-orang di
Song Lawa itu akan terbangun dan keadaanpun akan menjadi semakin sulit bagi para
perampok itu.
Tetapi betapapun ia mengerahkan kemampuan ilmunya, namun lawannya itu
benar-benar tidak mampu didesaknya. Semakin besar ia mengerahkan kekuatannya,
maka semakin besar pula kekuatan lawannya.
Ketika pemimpin perampok itu benar-benar sampai kepuncak ilmunya, maka Jati
Wulung memang menjadi berdebar-debar. Dalam sentuhan-sentuhan yang kemudian
terjadi, rasa-rasanya tubuh lawannya menjadi panas. Itulah sebabnya, maka
lawannya berusaha untuk lebih sering membenturkan kekuatan mereka.
Jati Wulung menggeram ketika tangannya mengenai lambung lawannya. Lawannya
memang menyeringai menahan sakit. Tetapi Jati Wulungpun menjadi kesakitan pula,
karena tangannya bagaikan menyentuh bara.
" Setan alas " geram Jati Wulung.
—Kau akan mati terpanggang api ilmuku " desis lawannya.
Jati Wulung menggerakkan giginya. Namun ia adalah orang yang berilmu tinggi.
Dalam pertempuran berikutnya, Jati Wulung menyadari, bahwa lawannya berusaha
menerkamnya dan memeluknya erat-erat. Dengan demikian maka ia akan benar-benar
dapat mati
terpanggang api
ilmunya sebagaimana dikatakan. Karena itu, maka iapun telah bertempur
dengan sangat berhati-hati.
Dikerahkannya daya tahannya untuk mengatasi rasa sakit jika serangannya
membentur lawannya. Namun Jati Wulungpun yakin, bahwa lawannya masih juga merasa
sakit jika serangannya mampu mengenainya.
Karena itu, maka Jati Wulungpun benar-benar telah mengerahkan segenap tenaga
cadangannya, sehingga serangan-serangannya menjadi semakin garang. Namun Jati
Wulungpun harus bergerak cepat untuk selalu menghindari terkaman lawannya yang
bagaikan menjadi bara itu.
Ternyata bahwa pemimpin perampok itupun menjadi semakin sibuk melayani Jati
Wulung yang sudah sampai pula pada tingkat kemampuannya yang tertinggi. Ternyata
ia mampu bergerak diluar penglihatan mata wadag, sementara itu kekuatannyapun
bagaikan menjadi berlipat ganda. Setiap sentuhan, telah melemparkan lawannya
beberapa langkah surut, meskipun Jati Wulung sendiri harus berusaha mengatasi
rasa sakit, tetapi hentakkan serangannya yang semakin kuat telah melemparkan
lawannya, dan bahkan membantingnya jatuh.
Sebenarnyalah kegelisahan benar-benar telah mencengkam pemimpin perampok yang
berilmu tinggi itu. Apalagi ketika ia sempat melihat keadaan orang-orangnya.
Meskipun semula jumlah mereka lebih banyak, namun semakin lama jumlah itu
menjadi semakin berimbang.
" Kau mempunyai ilmu dari iblis mana he? " geram pemimpin perampok itu.
Jati Wulung menghindari serangan lawannya sambil menjawab " Ilmuku itulah ilmu
iblis. "
Lawannya semakin mengerahkan kemampuannya. Namun serangan Jati Wulung
rasa-rasanya menjadi semakin sering mengenainya dan setiap sentuhan rasa-rasanya
telah mematahkan tulang-tulangnya. Bahkan telah timbul pertanyaan didalam
hatinya " Apakah ia tidak merasakan panasnya ilmuku? "
Namun pemimpin perampok itu benar-benar tidak mendapat kesempatan. Serangan Jati
Wulung justru menjadi semakin sering menembus pertahanannya. Jika semula
pemimpin perampok itu berusaha sejauh mungkin terjadi benturan-benturan sehingga
ia mendapat kesempatan membakar kulit lawannya, namun iapun kemudian terpaksa
harus menghindarinya. Serangan Jati Wulung dilambari kekuatan yang luar biasa
besarnya.
Sebenarnyalah Jati Wulung sendiri harus menahan pedih pada kulit-kulitnya yang
bagaikan terkelupas oleh panasnya api pada tubuh lawannya yang dilambari dengan
ilmunya. Tetapi Jati Wulung harus mengatasi perasaan sakit dan pedih itu. Jika
ia tidak mampu mengatasinya, maka lambat laun ia akan ditelan oleh ilmu
lawannya.
Namun ternyata lawannyapun sulit untuk mengatasi kekuatan ilmu Jati Wulung yang
tinggi. Kekuatannya semakin lama bukannya semakin susut. Tetapi justru menjadi
semakin besar.
Ketika lawannya berusaha untuk menangkap serangan Jati Wulung agar kekuatan
panas apinya sempat menghanguskan kulitnya, namun ternyata bahwa pemimpin
perampok itu sendirilah yang telah terlempar beberapa langkah mundur dan bahkan
jatuh terbanting ditanah.
Dengan cepat pemimpin perampok itu melenting berdiri. Namun dengan kecepatan
yang lebih tinggi, Jati Wulung telah meluncur dengan tubuh hampir mendatang.
Satu benturan yang keras sekali telah terjadi ketika telapak kaki Jati Wulung
itu mengenai dada pemimpin perampok yang belum benar-benar berdiri tegak itu.
Benturan serangan Jati Wulung itu benar-benar merupakan benturan yang
menentukan. Lambaran kekuatan ilmu yang ada didalam diri Jati Wulung benar-benar
telah menghantam tulang-tulang iga pemimpin perampok itu.
Ternyata beberapa tulang iga telah benar-benar dipatahkannya. Isi dada pemimpin
perampok itupun rasa-rasanya telah menjadi rontok karenanya.
Terdengar keluhan pendek. Pemimpin perampok itu ternyata telah terlempar
beberapa langkah. Sekali lagi ia jatuh berguling. Lebih keras dari sebelumnya.
Adalah diluar perhitungan pemimpin perampok itu, bahwa kepalanya telah membentur
batu yang tergolek dibawah sebatang pohon waru.
Pemimpin perampok itu menggeliat. Tetapi ia tidak sempat berbuat banyak. Ia
hanya dapat menatap Jati Wulung dengan-sorot mata penuh kebencian. Namun mata
itupun sejenak kemudian telah tertutup.
Kematian pemimpin perampok itu mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi para
pengikutnya. Mereka merasa bahwa mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi
tanpa pemimpin mereka yang berilmu tinggi itu.
Karena itu, maka mereka memang tidak mempunyai pilihan lain. Beberapa orang
diantara mereka sempat memperhitungkan kemungkinan susutnya pengaruh sirep
sehingga akan semakin banyak orang-orang Song Lawa yang terbangun. Sementara itu
rasa-rasanya cahaya merah telah mulai membayang dilangit.
Sejenak kemudian, para perampok itu telah mengambil satu keputusan tanpa sempat
mereka bicarakan. Ketika seorang diantara mereka dengan licik meloncat melarikan
diri, maka beberapa orangpun telah menyusulnya tanpa aba-aba. Mereka
berlari-larian kepintu gerbang yang terbuka dan berusaha hilang digelapnya
malam.
Orang-orang yang ikut bertempur bersama para pengawal tidak berusaha mengejar
mereka. Tetapi para pengawal yang bertubuh raksasa itu ada yang sempat berlari
keluar regol. Dua orang ternyata gagal melarikan diri dan tusukan di punggung
mereka telah menghentikan mereka untuk selama-lamanya. Namun yang lain sempat
menghilang didalam kelam.
Sejenak kemudian, maka para pengawal Song Lawa itupun telah berkumpul. Beberapa
orang yang kebetulan sedang berada di Song Lawa dan ikut terlibat dalam
pertempuran itu, berdiri termangu-mangu. Mereka memandangi beberapa tubuh yang
terbujur lintang dengan darah yang mulai membeku.
Diantara mereka adalah para pengawal yang bertubuh raksasa serta orang-orang
yang sedang berada di Song Lawa untuk berjudi. Namun untunglah bahwa orang-orang
itu hanyalah terluka saja. Tidak seorangpun diantara para penjudi itu yang
terbunuh.
Pemimpin Pengawal yang juga bertubuh raksasa itu memandangi orang-orang yang
berdiri termangu-mangu. Namun kemudian iapun berkata dengan nada rendah " Terima
kasih. Tanpa bantuan kalian, Song Lawa telah menjadi abu. Jika mereka telah
merampas semua harta benda yang ada disini, maka mereka tentu akan membakar
tempat ini dengan orang-orang yang tertidur lelap karena pengaruh sirep. Kita
tentu tidak akan sempat mengeluarkan mereka seorang demi seorang. "
Orang-orang yang termenung diantara mereka yang terluka dan terbunuh itu
termangu-mangu. Namun kemudian Jati Wulunglah yang berkata " Rawat yang terluka
dan kumpulkan kawan-kawanmu yang terbunuh. Hari ini kita mulai dengan penguburan
mayat para perampok serta merawat orang-orang yang terluka termasuk aku. Kau
lihat, kulitku mengalami luka-luka bakar. Pedih sekali sekarang. Disaat-saat aku
berkelahi, perasaan sakit itu dapat aku atasi karena aku lebih takut mati
daripada sekedar kesaksian. Tetapi sekarang, perasaan sakit itu terasa semakin
menggigit. "
Pemimpin pengawal itu mengangguk-angguk. Kemudian katanya " Kawanku menjadi
semakin sedikit. Mereka yang telah bekerja bersamaku beberapa tahun disini,
sebagian telah mati dan sebagian lagi terluka. Justru mereka adalah orang-orang
yang terbaik. "
" Tentu orang-orang yang terbaik " sahut Kepala Besi " pengawal-pengawal Song
Lawa yang lain tidak lebih dari kerbau-kerbau dungu yang hanya ujudnya saja yang
menyeramkan. Tetapi ternyata mereka tidak mampu mengatasi kekuatan sirep. "
Pemimpin pengawal itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak dapat menyangkal
kenyataan itu. Sementara itu Kiai Windupun berkata " Pengaruh itu sekarang sudah
tidak lagi cukup kuat untuk memaksa orang-orang tidur nyenyak. Bangunkan mereka
dengan isyarat. Itu lebih cepat daripada kau bangunkan mereka seorang demi
seorang. "
Pemimpin pengawal itu mengangguk-angguk. Katanya " Baiklah. Aku akan membunyikan
isyarat tanda bahanya. "
" Kami akan kembali kedalam bilik kami " berkata Kiai Windu.
" Uangku ada di barak permainan dadu " berkata seorang yang bertubuh tinggi.
Dengan demikian maka orang-orang itu telah berpencar kembali ketempat mereka
disaat kerusuhan itu mulai terjadi. Sambi Wulung, Jati Wulung dan Kiai Windu
telah kembali pula kedalam bilik mereka, sementara Jati Wulung berjalan dengan
kaki timpang. Telapak kakinya dan lengannya memang terluka. Pakaiannyapun
dibeberapa tempat bagaikan telah tersengat bara api.
Namun Kiai Windu sempat berkata " Ternyata kau memang luar biasa. "
" Apanya yang luar biasa? " bertanya Jati Wulung.
Kiai Windu tersenyum. Namun iapun telah mengurut lengannya sendiri yang tergores
senjata sambil menjawab " Kau mampu mengalahkan pemimpin perampok yang mempunyai
ilmu yang tinggi itu. "
" Satu kebetulan " jawab Jati Wulung " tetapi aku terluka di banyak tempat. "
" Lenganku juga terluka " berkata Kiai Windu " Wanengbayalah yang sama sekali
tidak tersentuh senjata "
" Aku mencari lawan yang paling lemah diantara mereka " jawab Sambi Wulung.
" Bagaimana mungkin kau dapat memilih lawan dalam perkelahian seperti itu "
desis Kiai Windu.
Sambi Wulung tidak menjawab. Namun Kiai Windu berkata selanjutnya " Jika tidak
ada kalian berdua, maka Song Lawa tentu sudah dijarah rayah. Isinya tentu sudah
dirampok oleh orang-orang liar itu dan bahkan banyak orang yang terbunuh. "
" Ah " sahut Sambi Wulung " kau jangan mengada-ada. Kaulah yang telah berhasil
mengusir mereka. "
Kiai Windu berkata sambil tertawa " Kau katakan bukan yang sebenarnya kau
maksudkan. Kau tahu tingkat kemampuanku. Dan akupun tahu tingkat kemampuan
kalian. "
" Sudahlah " desis Jati Wulung " luka-lukaku terasa pedih. Aku harus segera
mengobatinya agar tidak menjadi luka-luka yang semakin parah. "
Semuanyapun terdiam. Mereka menjadi semakin dekat dengan bilik mereka. Sementara
itu, telah terdengar isyarat yang dibunyikan oleh pemimpin pengawal yang
bertubuh raksasa itu. Beberapa orang kawannya yang hanya mengalami luka-luka
ringanpun telah ikut pula membunyikannya sambil membawa kentongan-kentongan
kecil berputar diantara barak-barak di Song Lawa.
Isyarat itu memang mengejutkan. Bukan saja para pengawal yang dengan serta merta
meloncat keluar dari barak-barak tempat mereka tertidur nyenyak oleh pangaruh
sirep, bahkan juga yang tertidur di kedai dan di gardu-gardu penjagaan, tetapi
juga mereka yang berada di Song Lawa itu untuk berjudi. Mereka dengan senjata
ditangan telah menghambur keluar dari barak-barak. Sementara itu mereka
yang tertidur di barak permainan dadupun telah bangkit pula. Dengan serta merta
mereka telah menarik senjata-senjata mereka pula.
Namun dua orang petugas yang berada di barak permainan dadu itu segera
menjelaskan apa yang telah terjadi. Dengan nada tinggi seorang diantara petugas
itu berkata " Yang ada di tempat ini sama sekali tidak berubah sebagaimana saat
sirep itu mulai menyentuh. "
" Gila. Siapa yang telah melakukannya? " bertanya seorang yang berpakaian rapi.
Dengan keris ditangan ia berdiri tegak diantara orang-orang lain yang juga
menjadi tegang.
Ketika seorang pengawal yang lain memasuki tempat itu, maka seorang yang
menggenggam pedang ditangan bertanya " Apa yang terjadi? "
" Semuanya sudah lewat " berkata pengawal itu, yang ternyata telah terluka
dipunggungnya. Lalu katanya pula " Perampok itu telah terusir selain yang
terbunuh disini. Pemimpin perampok itu telah mati pula disini. "
" Kenapa kami baru diberitahukan sekarang? " bertanya seorang yang bertubuh
besar " jika aku tahu, maka aku akan menghancurkan mereka. "
" Jangan membual disini. " bentak pengawal yang punggungnya terluka itu " kenapa
kau justru tidur saja disini, di
tempat yang seharusnya tidak untuk tidur? Bukankah sudah disediakan bilik
bagimu? "
Orang itu mengerutkan keningnya. Bukan hanya orang yang bertubuh tinggi besar
itu saja yang merasa heran atas dirinya sendiri. Kenapa mereka telah tertidur di
tempat permainan dadu itu.
" Sekarang kemasi uang kalian. Permainan dihentikan untuk siang ini. Baru malam
nanti akan dimulai lagi. Siang ini kita mempunyai tugas lain. Mengubur
orang-orang yang terbunuh dan merawat kawan-kawan kami yang terluka.. Untunglah
bahwa aku hanya tergores kecil dipunggung. Tetapi ada kawanku yang benar-benar
mati " geram pengawal itu.
Orang-orang yang ada di barak permainan dadu itupun segera mengemasi dan
menyimpan uang mereka masing-masing atau barang-barang berharga yang sudah
disiapkan untuk bertaruh. Kemudian merekapun telah meninggalkan tempat itu.
Namun, demikian mereka berada di halaman, maka merekapun segera mengetahui bahwa
beberapa orang memang telah terbunuh.
Hari itu semua kegiatan judi di Song Lawa dihentikan. Tidak ada permainan dadu.
Tidak ada sabung ayam dan tidak ada
panahan. Namun kedai di Song Lawa itu terpaksa dibuka agar orang-orang yang ada
didalam lingkungan itu tidak menjadi kelaparan.
Sambi Wulungpun kemudian telah sibuk mengobati luka-luka Jati Wulung. Dengan
obat-obatan yang mereka bawa, maka rasa sakit pada luka-luka Jati Wulung menjadi
jauh berkurang.
Namun keduanya menjadi sangat kecewa ketika mereka kemudian mengetahui, bahwa
para perampok yang terluka parah dan tidak dapat meninggalkan Song Lawa itu
telah dibunuh pula oleh para pengawal.
" Ternyata mereka adalah orang-orang biadab " geram Jati Wulung.
" Satu kesalahan yang tidak dapat dimaafkan " desis Sambi Wulung " bukankah
seharusnya mereka tahu, bahwa mereka tidak boleh membunuh orang-orang yang
terluka? "
Tetapi Kiai Windu tiba-tiba saja bertanya " Siapa yang kau maksud? "
" Para pengawal Song Lawa. " jawab Sambi Wulung.
Tetapi Kiai Windu justru tersenyum. Katanya " Seharusnya kau tidak bertanya
seperti itu. Seharusnya sejak semula kau sudah dapat menilai, bahwa mereka
bukanlah orang baik-baik. Yang berada di tempat perjudian inipun bukan pula
orang baik-baik sebagaimana para pengawal. Seandainya bukan para pengawal yang
telah membunuh para perampok yang terluka, maka para pendatang di Song Lawa
inilah yang akan melakukannya dan bahkan mungkin mereka telah melakukannya pula.
Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Jati Wulung berkata "
Jadi, apakah sebaiknya kita biarkan saja seandainya sekelompok perampok datang
lagi ke tempat ini? Atau bahkan kita sendiri sajalah yang merampoknya? "
" Jangan mengigau " berkata Kiai Windu " kita tidak dapat dengan serta merta
merubah wajah hitam tempat perjudian ini. Tetapi sudah tentu kita tidak akan
dapat membiarkan terjadi pembantaian disini oleh para perampok meskipun bagi
orang lain, nilai ke j i wan para perampok dan para petugas dan juga para
pengunjung Song Lawa ini tidak jauh berbeda. Salah satu perbedaan yang ada ialah
bahwa orang-orang yang datang di Song Lawa ini membawa dan bahkan cukup banyak
uang dan barang-barang berharga, sementara para perampok itu akan mengambil
dengan kekerasan uang dan barang-barang Derharga yang ada disini» "
Sambi Wulung dan Jati Wulung hanya mengangguk-angguk saja.
Sementara itu para petugas dan beberapa orang yang ada di Song Lawa sedang
sibuk, Sambi Wulung dan Jati Wulung justru berbaring di bilik mereka. Kiai
Windupun tidak keluar dari dalam bilik itu, namun ketiga kawannyalah yang
melihat-lihat kesibukan yang terjadi di lingkungan perjudian disebut Song Lawa
itu atas perintah Kiai Windu.
Ternyata bahwa Jati Wulung benar-benar merasa letih sementara perasaan sakit
yang menggigit kulitnya telah jauh berkurang. Namun hampir diluar sadarnya,
bahwa Jati Wulungpun telah tertidur.
" Biarlah ia beristirahat " berkata Sambi Wulung yang masih juga berbaring.
Bahkan Kiai Windupun telah berbaring juga meskipun keduanya tidak ingin tidur
sementara matahari mulai memancarkan sinarnya ke lingkungan perjudian itu.
" la memang letih sekali " desis Kiai Windu.
" Ya. Tetapi letih atau tidak letih Wanengpati memang termasuk seorang yang suka
tidur " sahut Sambi Wulung.
Kiai Windu tersenyum. Katanya " Tetapi kali ini ia benar-benar telah bertempur
dengan mengerahkan segenap tenaganya. Pemimpin perampok itu tidak kurang tingkat
ilmunya dari Kepala Besi yang masih merasa sakit di punggungnya itu.
Sambi Wulung mengangguk-angguk. Jati Wulung memang benar-benar telah terluka.
Namun pengobatan yang sudah diberikan, baik yang di taburkan langsung pada
luka-lukanya atau reramuan yang diminumnya telah banyak menolongnya.
Dalam pada itu, kesibukan lain telah terjadi di Song Lawa. Para pengawal telah
menguburkan kawan-kawan mereka di belakang lingkungan perjudian itu. Diluar
dinding lapisan yang paling dalam, tetapi didalam dinding lapisan berikutnya.
Namun mereka telah menguburkan para perampok di luar lingkungan perjudian itu
sama sekali. Di padang perdu tanpa pertanda apapun.
Ketiga orang kawan Kiai Windu memperhatikan apa yang dilakukan oleh para petugas
itu dengan hati yang berdebar-debar. Dengan nada rendah seorang diantara mereka
berkata " Ternyata kami termasuk orang-orang yang tidak mampu melawan kekuatan
sirep. Untunglah bahwa Kiai Windu masih mampu mengatasinya, sehingga ada
diantara kita yang diperhitungkan diantara orang-orang yang berada di Song Lawa
ini. "
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Sementara itu seorang dari mereka berkata "
Bukan hanya kita yang tidak mampu mengatasi sirep yang tajam itu» Tetapi
sebagian besar dari orang-orang yang berada di Song Lawa memang tidak dapat
mengatasi sirep. Bahkan ada yang lebih buruk dari keadaan kita. Seandainya kita
waktu itu belum tidur, mungkin kita mampu untuk bertahan. Namun agaknya dalam
tidur kita tidak dapat berbuat apa-apa. Sedangkan orang lain yang sedang berjudi
di permainan dadu, ada yang tiba-tiba saja telah tertidur di tempat itu sambil
memeluk uangnya. "
" Belum tentu " jawab yang lain " sebaiknya kita tidak menyembunyikan kelemahan
kita agar kita tidak salah menilai diri kita sendiri. "
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata " Sebaiknya
memang demikian. Seperti yang selalu kita dengar petunjuk Kiai Windu. Kita harus
merasa bahwa banyak orang lain yang lebih baik dari kita. Karena itu, maka kita
harus berhati-hati dalam setiap langkah. "
" Tetapi bagaimana dengan saat-saat yang kita tunggu itu? " berkata seorang
diantara mereka tiba-tiba saja.
" Tentu tidak akan ada perubahan. Tetapi jika tempat ini dihancurkan oleh para
perampok, aku tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian, " sahut yang lain.
" Kita tunggu perintah Kiai Windu. " desis kawannya sambil bergeser dari
tempatnya " kita kembali ke bilik. Semua pekerjaan sudah diselesaikan oleh para
petugas. Tetapi hari ini kita hanya dapat tidur saja tanpa ada kegiatan apapun
juga. "
Ketika ketiga orang itu kembali ke dalam bilik mereka, maka mereka telah
berpapasan dengan orang-orang yang hilir mudik di halaman lingkungan perjudian
itu. Mereka memang tidak dapat berbuat apa-apa selain berjalan kesana kemari
melihat-lihat keadaan. Namun mereka tidak putus-putusnya membicarakan kehadiran
para perampok semalam.
Orang-orang yang sempat ikut bertempur dengan bangga telah menceriterakan apa
yang telah mereka lakukan. Bagaimana mereka menghancurkan para perampok. Namun
yang lebih banyak mereka ceriterakan adalah kelebihan mereka masing-masing.
Tetapi diantara mereka terdapat juga orang yang harus berbaring dipembaringannya
karena luka-lukanya. Namun diantara para petugas di Song Lawa itu terdapat juga
orang-orang yang mengerti tentang pengobatan, sehingga mereka dapat membantu
meringankan penderitaan mereka yang terluka.
Ketika ketiga orang kawan Kiai Windu itu kembali kedalam bilik mereka, maka
Sambi Wulung telah duduk di bibir pembaringan. Kiai Windu masih berbaring
meskipun matanya tetap terbuka, sementara Jati Wulungpun masih juga tidur dengan
nyenyak.
" Duduklah " berkata Kiai Windu yang kemudian telah bangkit dan duduk pula " apa
yang telah kalian lihat? "
Ketiga orang itupun kemudian telah duduk pula. Seorang diantara merekapun telah
menceriterakan apa yang telah mereka lihat diluar bilik mereka. Kesibukan para
petugas dan orang-orang yang hilir mudik di halaman.
Kiai Windu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun bertanya " Tetapi
bukankan kedai itu tetap terbuka seperti biasanya? "
" Ya " jawab salah seorang diantara mereka bertiga.
" Jika kedai itu juga tutup, maka orang-orang di Song Lawa ini akan kelaparan.
Jika demikian akibatnya akan sangat jauh, karena sebagian dari mereka akan
keluar untuk mencari makan. " berkata Kiai Windu.
" Makan bagi para pengujung di Song Lawa ini, adalah satu-satunya kegiatan hari
ini " berkata salah seorang kawan Kiai Windu.
Sambi Wulunglah yang tersenyum. Katanya " Kita tentu akan melakukannya juga. "
" Ya. Sebenarnyalah aku sudah lapar " berkata orang itu.
Sambi Wulung masih saja tersenyum. Tetapi ia menjawab " Aku terpaksa menunggu
orang ini terbangun. Apakah kau akan mendahului? "
Yang menjawab adalah Kiai Windu " Tidak. Kita pergi bersama-sama. "
Tidak ada yang menyahut. Yang dikatakan oleh Kiai Windu itu seakan-akan
merupakan keputusan yang tidak dapat mereka langgar.
Tetapi mereka tidak perlu menunggu terlalu lama. Ternyata sejenak kemudian Jati
Wulung telah terbangun. Bahkan iapun dengan serta merta telah bangkit dan duduk
sambil tersenyum. Katanya " He, kenapa aku telah dikerumuni orang? Bukankah aku
tidak apa-apa? "
" Siapa yang mengerumunimu? " seorang kawan Kiai Windu ganti bertanya " kami
tidak mengerumunimu. Tetapi kami hampir tidak sabar menunggu kau tidur terlalu
nyenyak meskipun sirep itu telah lewat. Kami sudah terlalu lapar untuk menunda
sesaat lagi untuk pergi ke kedai. "
Jati Wulung justru menguap. Katanya kemudian " Seharusnya kalian pergi lebih
dahulu. Agaknya sisa-sisa pengaruh sirep membuatku tidur sangat nyenyak,
Melampui nyenyak tidur kalian justru disaat sirep itu bekerja. "
" Kenapa kau tidak membangunkan aku? " bertanya kawan Kiai Windu yang lain "
jika kau bangunkan aku, kau tentu tidak akan terluka seperti itu. "
Sambi Wulung tertawa. Jati Wulungpun kemudian tertawa pula, sementara Kiai Windu
berkata " Tentu ia tidak akan terluka karena ia tidak akan sempat bertempur.
Waktunya akan habis dipergunakannya untuk membangunkan saja. "
Yang lainpun kemudian tertawa pula. Namun seorang yang lain sempat berkata "
Nah, Wanengpati. Apa yang akan kau lakukan sekarang? Mandi atau apa. Kita akan
segera pergi ke kedai. "
Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam, Iapun kemudian bangkit berdiri,
Luka-lukanya tidak lagi terasa sakit.
" Aku akan pergi ke pakiwan. Sebentar lagi kita akan bersama-sama pergi kekedai
" desis Jati Wulung.
Namun ketika Jati Wulung sudah keluar dari bilik itu, Sambi Wulung bertanya "
Siapakah yang telah mandi diantara kalian? "
Semuanya tertawa. Ternyata Kiai Windu berkata " Apa bedanya mandi dan tidak
mandi. "
Sambi Wulung masih tertawa. Tetapi ia tidak menjawab.
Sementara itu, Jati Wulung yang pergi ke pakiwan
harus menunggu karena beberapa buah pakiwan yang disediakan sudah terisi.
Dengan hampir tidak sabar ia berdiri didekat salah satu pintu dari pakiwan itu
Namun ketika pakiwan itu terbuka, Jati Wulung terkejut, Yang keluar dari dalam
pakiwan itu adalah seorang perempuan itu menudingnya sambil berkata lantang "
Kau mencoba mengintip aku lagi he? "
Jati Wulung menggeram. Katanya " Cepat, pergi perempuan gila "
" Sudah aku peringatkan. Jika sekali lagi kau lakukan, aku pilin lehermu sampai
patah " geram perempuan itu sambil melangkah pergi.
Jati Wulung menggeretakkan giginya. Tetapi ia tidak berbuat apa-apa.
Namun ia masih melihat seorang laki-laki berlari-lari menyusul perempuan yang
baru selesai mandi itu. Apa yang dikatakan oleh laki-laki itu, Jati Wulung tidak
mengetahuinya. Tetapi tiba-tiba saja perempuan itu berbalik bersama laki-laki
itu kembali ke tempat Jati Wulung termangu-mangu.
" Gila " geram Jati Wulung " apa lagi yang akan dilakukannya dengan laki-laki
itu. Apakah aku terpaksa memukulnya sampai pingsan. "
Tetapi ternyata perempuan dan laki-laki itu tidak menyerangnya. Demikian mereka
berhenti dihadapannya, perempuan itu berkata dengan nada merendah " Maafkan aku
Ki Sanak, aku tidak tahu bahwa kaulah yang telah mengalahkan Kepala Besi dan
kemudian membunuh pemimpin perampok semalam. "
Jati Wulung mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian masuk kedalam pakiwan
itu sambil berkata " Kalau kau ingin mengintip aku mandi, lakukanlah. "
Perempuan itu menundukkan kepalanya. Namun laki-laki yang mengantarnya itupun
menariknya pergi sambil berkata " Kau harus hati-hati menilai seseorang. Untung
orang itu termasuk bukan seorang pemarah. Jika ia marah dan memukulmu, habislah
sejarah hidupmu yang penuh kesombongan itu. "
" Aku sudah minta maaf " desis perempuan itu.
Namun dalam pada itu Jati Wulung yang berada didalam pakiwan telah mengguyur
tubuhnya. Bahkan terdengar ia berkata " Kalian menunggu aku selesai mandi?
Kedua orang itupun segera meninggalkan tempat itu. Namun perempuan itu masih
saja bergeremang " Ternyata orang itu yang dibicarakan orang selama ini. Kenapa
aku tidak melihat saat ia mengalahkan Kepala Besi dan tidak pula sempat melihat
ia bertempur dengan para perampok. "
" Kau tidur mendekur " jawab laki-laki itu.
" Coba, jika saat sirep itu menjamah tempat ini di-saat aku terbangun, maka aku
tentu akan dapat mengatasinya " berkata perempuan itu.
" Apapun alasannya, tetapi kau tidak mempunyai kemampuan untuk hadir di
pertempuran itu. Kau tentu akan mengatakan bahwa akupun tidak. Aku memang tidak.
Itu aku akui. " berkata laki-laki itu.
Keduanyapun kemudian tidak berbicara lagi. Dengan tergesa-gesa keduanya pergi ke
barak mereka, melintas halaman yang ditumbuhi rerumputan.
Sejenak kemudian, Jati Wulung telah berada didalam biliknya. Bersama dengan
Sambi Wulung dan Kiai Windu serta kawan-kawannya mereka keluar dari barak mereka
menuju ke kedai.
Adalah tidak diduga-duga sama sekali, bahwa ketika Jati Wulung mendekati kedai
itu, maka hampir semua orang telah bangkit dan menyambutnya sebagai seorang
pahlawan. Hampir setiap orang menyatakan penghargaan kepadanya, karena Jati
Wulung telah mampu membunuh pemimpin perampok yang hampir saja menghancurkan
padepokan itu.
Ketika Jati Wulung yang dikenal sebagai Wanengpati itu dengan kaki yang masih
agak timpang berjalan semakin dekat, maka beberapa orang telah menyongsongnya.
Jati Wulung justru telah merasa canggung akan sambutan itu. Kepala Besi yang
sedang makanpun telah bangkit pula. Bahkan ia telah berteriak " Tanpa orang
itu, Song Lawa hari ini tinggal abu yang akan hanyut ditiup angin.
Berterima kasihlah kalian kepadanya. Akupun kini merasa tidak lagi sakit hati
karena aku telah dikalahkannya. Ia pantas mendapat julukan orang terbaik di
lingkungan ini. Siapa yang tidak mau menganggapnya demikian, maka sebelum ia
menilai langsung dalam benturan ilmu dengan Wanengpati, ia harus lebih dahulu
dapat mengalahkan aku. "
Sambi Wulung menepuk pundak Jati Wulung sambil berdesis " Nah, kau harus menjadi
jera karenanya. "
Jati Wulung berpaling. Namun iapun berguman " Aku menjadi tersiksa disini. "
Sambi Wulung tertawa. Kiai Windu pun berkata pula " Kau akan dinobatkan menjadi
raja disini. "
" Persetan " geram Jati Wulung.
Namun suara tertawa Kiai Windu dan Sambi Wulung justru semakin keras. Tetapi
suara itu terhenti, ketika dengan tergesa-gesa seorang anak muda menyongsongnya.
Anak muda itu langsung membimbing Jati Wulung dan membawanya duduk disebuah
amben yang besar, yang justru berada di serambi kedai itu.
" Marilah. Kita akan makan bersama-sama " berkata anak muda itu. Anak muda yang
justru menjadi pusat perhatian Jati Wulung dan Sambi Wulung. Puguh.
Jati Wulung tidak menolak. Ia mengikut saja untuk duduk diamben itu, sementara
orang-orang lain memandanginya saja termangu-mangu. Namun Kepala Besi itu masih
saja berbicara " He, anak muda. Apakah kau sedang membujuknya agar orang itu mau
bekerja bersamamu? "
Puguh memandang Kepala Besi itu dengan dahi yang berkerut. Namun ia tidak
menjawab, sementara Kepala Besi itu masih berkata pula " Nah, marilah kita makan
bersama untuk merayakan kemenangan kita atas para perampok itu. "
Tidak seorangpun yang menjawabnya. Sedangkan Kepala Besipun telah duduk kembali
untuk meneruskan makannya. Seteguk ia minum. Namun kemudian iapun telah menyuapi
mulutnya pula.
Dalam pada itu, maka Puguhpun telah memesan berbagai makanan dan minuman untuk
mereka bersama-sama. Untuk Puguh sendiri, Jati Wulung, Sambi Wulung, Kiai Windu
dan kawan-kawannya serta para pengawal Puguh.
Namun dalam pada itu, ternyata pemilik kedai itupun berkata " Khusus, bagi
Wanengpati dan kelima orang kawannya, kami akan menyuguhkan apa saja yang
dimintanya hari ini tanpa membayar "
Namun Puguh berkata " Terserah apa yang akan kalian suguhkan. Tetapi jangan kali
ini. Aku sudah berniat untuk membayar semua hidangan buat kami semua. "
Pemilik kedai itu tersenyum. Katanya " Baiklah. Kali ini kaulah yang membayar
baginya. Tetapi nanti atau kapan, saja mereka datang kembali, kamilah yang akan
menyuguhkan hidangan yang diminta oleh mereka. "
Sambi Wulung menggamit Jati Wulung sambil berkata " Ada juga untungnya kau
menjadi pahlawan di Song Lawa ini. Sekarang makan kita akan dibayar oleh Puguh.
Nanti jika kita kembali, hidangan akan diberikan oleh pemilik kedai ini,
kemudian siapa lagi dan siapa lagi? "
" Besok aku yang akan membayarnya " berkata Kiai Windu.
" Kau tidak dihitung, karena kau sudah terlalu sering melakukannya. Bukan saja
setelah Wanengpati menjadi pahlawan, tetapi sejak sebelumnya. " jawab Sambi
Wulung.
Kiai Windu tertawa. Kawan-kawannyapun tertawa Juga. Meskipun sebenarnya didalam
kepala Kiai Windu telah timbul persoalan tersendiri. Persoalan yang menyangkut
kepentingannya dan kelompoknya terhadap lingkungan perjudian Song Lawa itu.
Namun Kiai Windu sama sekali tidak menunjukkan persoalan didalam dirinya itu.
Demikiankah, maka sambil berbicara panjang lebar, berkelakar dan sekali-sekali
mengumpat, beberapa orang duduk dalam satu lingkaran yang besar diatas amben
yang berada di serambi kedai itu. Beberapa orang lain yang sedang makan pula
sekali-sekali berpaling dan memperhatikan orang-orang yang dengari gembira
berbincang tentang kekalahan para perampok semalam.
Namun selagi mereka berbincang panjang lebar, Sambi Wulung sempat memperhatikan
wajah Kiai Windu yang tiba-tiba berkerut. Dengan tanpa menarik perhatian, Sambi
Wulung telah memandang kearah pandangan mata Kiai Windu. Yang dilihatnya adalah
seorang yang agak bongkok tengah berbincang dengan dua orang pengawal yang
bertubuh raksasa.
Sambi Wulung tidak berbuat apa-apa. Kesan diwajah Kiai Windupun segera lenyap
pula, karena ia telah menghanyutkan diri kedalam kelakar yang riuh. Namun yang
sekilas itu telah memberikan kesan tersendiri kepada Sambi Wulung.
Namun dalam pada itu, di tempat lain didalam lingkungan Song Lawa itu,
kelompok-kelompok yang lain telah mengisi waktu mereka dengan berbincang juga.
Berbicara apa saja untuk mengusir kejemuan, karena itu tidak ada jenis perjudian
apapun yang berlangsung.
Baru menjelang malam, para petugas telah membenahi tempat-tempat perjudian yang
segera akan dibuka. Terutama tempat permainan dadu. Karena malam itu, hanya
tempat permainan dadu sajalah yang akan dibuka.
Tetapi justru karena itu, maka tempat permainan dadu itulah yang telah menjadi
penuh. Orang-orang yang datang di Song Lawa untuk berjudi merasakan bahwa hari
itu sudah terlalu lama mereka berhenti. Rasa-rasanya telah berhari-hari mereka
duduk tanpa berbuat sesuatu.
Ketika Kiai Windu dan kawan-kawannya mengajak Sambi Wulung dan Jati Wulung untuk
pergi ke barak tempat permainan dadu, maka Jati Wulung dengan segan berkata "
Malam ini aku belum berminat untuk turun ke arena. Aku masih ingin beristirahat.
"
Kiai Windu berpaling kearah Sambi Wulung. Sambil tersenyum Sambi Wulung berkata
" Aku akan mengawaninya. "
" Baiklah " berkata Kiai Windu " jika demikian, biarlah kami sajalah yang pergi
ke barak. "
" Hati-hatilah " berkata Sambi Wulung " jika perampok itu kembali dengan membawa
kawan yang lebih banyak dan kekuatan sirep yang lebih besar. "
Kiai Windu tertawa, Katanya " Tentu tidak sekarang. Jika mereka kembali, mereka
akan menunggu sampai Jati Wulung telah benar-benar sembuh. "
Demikianlah maka Kiai Windu dan ketiga orang kawannya telah meninggalkan bilik
mereka. Jati Wulung yang tinggal didalam bilik justru telah berbaring. Ia masih
merasa letih, sementara luka-lukanya masih belum sembuh seluruhnya. Namun Sambi
Wulunglah yang kemudian duduk bersandar dinding.
Di halaman, Kiai Windu dan ketiga orang kawannya melangkah menuju ke barak
tempat permainan dadu. Namun ketika mereka mendekati barak itu, Kiai Windu
berkata " Kita harus membuat hubungan keluar, "
" Mereka harus mengetahui apa yang telah terjadi. " sahut kawannya
" Masuklah kedalam " berkata Kiai Windu " aku akan berjalan-jalan di halaman.
Mungkin kita mendapat isyarat dari luar atau kesempatan lain untuk berbicara
dengan mereka "
" Masuklah berdua " berkata seorang diantara
kawan-kawan Kiai Windu " aku akan bersama dengan Kiai Windu. "
Sejenak mereka termangu-mangu. Namun kemudian mereka memang telah membagi diri.
Kiai Windu dan seorang kawannya akan tetap berada di luar, sementara dua orang
yang lain akan memasuki barak permainan dadu.
Beberapa saat lamanya, Kiai Windu dan seorang kawannya telah berjalan-jalan
disekitar barak. Ternyata bukan hanya mereka sajalah yang masih belum mengambil
keputusan untuk masuk kedalam arena permainan dadu. Dua tiga orang justru masih
duduk-duduk ditempat yang agak terlindung dari jangkauan cahaya obor.
Sekali-sekali terdengar kelakar yang kasar dan suara tertawa yang tidak
terkendali. Bahkan kawan Kiai Windu itu berpaling ketika ia mendengar suara
perempuan yang bagaikan meringkik di kegelapan itu.
" Sudahlah " desis Kiai Windu.
" Ah " desah orang itu " aku tidak sengaja. " Kiai Windu hanya tersenyum saja.
Namun kemudian ia berkata " kita menunggu sampat malam semakin larut. Kau haus?
"
Orang itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian " Maksud Kiai, kita pergi ke
kedai itu? "
" Bukan ke kedai induk. Kita singgah di kedai kecil- nya saja disebelah barak. "
jawab Kiai Windu.
Kawannya mengangguk-angguk. Agaknya memang lebih baik duduk di kedai sambil -
meneguk minuman hangat dan mengunyah beberapa potong makanan daripada
berkeliaran di tempat-tempat gelap.
Demikianlah keduanyapun kemudian telah duduk di amben bambu di kedai kecil yang
tidak menyediakan makanan sebanyak ragam makanan di kedai induknya. Namun
minuman hangat yang masih berasap telah membuat tubuh mereka menjadi segar di
malam yang menjadi semakin dingin.
Ampat orang yang lain telah duduk pula di kedai itu. Bahkan kemudian dua orang
laki-laki dan perempuan. Keduanya membawa golok yang tidak terlalu panjang
terselip pada ikat pinggang mereka.
Kiai Windu memang tidak begitu menghiraukan mereka. Tetapi ia justru lebih
banyak memperhatikan kawannya yang sekali-sekali memandangi wajah perempuan yang
nampak cerah dibawah cahaya lampu minyak itu. Namun diantara kecerahan wajahnya,
terselip bayangan kekerasan hati yang membaja. Bahkan cenderung untuk disebut
kasar.
" Habiskan minumanmu " desis Kiai Windu. Kawannya terkejut. Katanya " Masih
panas Kiai. "
" Atau biarlah aku yang meminumnya meskipun masih panas. " berkata Kiai Windu
kemudian.
" Ah jangan " desis kawannya yang kemudian meraih mangkuknya dan meneguknya
sampai habis.
" Masih panas? " bertanya Kiai Windu. Kawannya itu hanya terseyum saja.
Demikianlah, mereka berduapun kemudian telah bangkit, sementara Kiai Windu
membayar minuman dan makanan bagi mereka berdua. Namun kawannya itupun kemudian
telah menggamitnya. Meskipun ia tidak memberikan isyarat apapun, namun Kiai
Windu telah mengikuti arah pandangan matanya.
Ternyata kawannya itu telah melihat orang yang agak bongkok itu melintas dan
berhenti agak jauh dari tempat mereka. Namun keduanya melihat orang bongkok itu
berbicara dengan sungguh-sungguh dengan seorang pengawal.
Kiai Windu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak mengatakan sesuatu.
Namun Kiai Windu terkejut ketika tiba-tiba saja perempuan yang datang bersama
seorang laki-laki serta membawa golok di pinggangnya itu membentak " Kenapa
kalian tidak segera pergi? Apalagi yang kau tunggu, jika kalian sudah membayar
makanan dan minuman yang telah kau minum dan kau makan? "
Kiai Windu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak ingin menjawab.
Tetapi pada saat ia melangkah pergi, justru kawannyalah yang menjawab " Jangan
terlalu kasar Ki Sanak. Pergi atau tidak pergi itu adalah urusan kami. "
" Persetan " geram perempuan itu " kau tidak mengenal lingkungan Song Lawa ini
dengan baik. "
" Ah. Kau keliru. Kami termasuk cikal bakal disini. Kami memang pernah melihat
Ki Sanak berada disini sebelumnya. Tetapi biasanya Ki Sanak tidak segarang
sekarang ini. Apakah sudah terjadi satu perubahan? " bertanya kawan Kiai Windu
" Cukup " bentak laki-laki yang mengawani perempuan itu " akupun sudah sering
melihat kau disini. Aku-pun sudah sering melihat kau dipukuli orang karena
tingkah lakumu. "
Kawan Kiai Windu itu tertawa. Tetapi Kiai Windulah yang kemudian berkata " Sudah
cukup. Kita tidak mempunyai persoalan dengan mereka. "
" Kalianlah yang membuat persoalan " bentak perempuan itu.
" Kenapa kami? " kawan Kiai Windu masih bertanya. Namun Kiai Windu telah berkata
" Aku berkata, sudah. Kita biarkan orang-orang yang tidak mengenal terima kasih.
Jika kita biarkan semalam perampok itu membakar tempat ini, mereka akan ikut
mati terbakar. He, kenapa semalam kau tidak hadir ketika para perampok datang.
Dan sekarang kau berlagak garang seperti itu? " tiba-tiba Kiai Windu bertanya.
Tetapi sebelum dijawab Kiai Windu telah berkata pula " Agaknya kalian termasuk
orang-orang yang tidak mampu mengatasi sirep itu.
Karena itu jangan berlagak dihadapanku. "
Kedua orang itu termangu-mangu. Orang-orang lain yang berada di kedai itu hanya
memutar tubuh mereka tanpa menghiraukan apa yang bakal terjadi. Namun justru
seorang petugas yang bertubuh raksasa, yang biasanya hanya mengawasi saja, telah
mendekati perempuan itu sambil berkata " Sudahlah "
Tetapi perempuan itu justru berdiri sambil bertolak pinggang. Dengan lantang ia
berkata " Sejak kapan kau ikut campur dalam persoalan kami? Biarlah kami
menyelesaikan urusan kami sendiri.—
" Satu perubahan sikap telah terjadi pada para petugas " berkata orang bertubuh
raksasa itu " meskipun hanya untuk sementara. Setidak-tidaknya untuk musim
perjudian kali ini. "
" Kenapa ? " bertanya perempuan itu " sebaiknya kalian tetap pada sikap kalian.
"
" Tanpa orang itu, kau sudah menjadi debu " berkata penjaga yang bertubuh
raksasa itu " beberapa orang kawanku terbunuh dan beberapa orang pengunjung yang
memiliki kemampuan mengatasi ilmu sirep telah terluka. Diantara mereka yang
berjuang untuk mengusir perampok itu adalah Kiai Windu. Coba katakan, apa
kerjamu semalam? Nah, kau sekarang tahu kenapa aku dan para petugas yang lain
mulai berpihak. Tetapi yang aku lakukan juga bagi kebaikanmu, karena jika Kiai
Windu marah, kau akan menjadi sasaran yang lunak. Kau tidak melihat bagaimana ia
menghancurkan lawan-lawannya semalam.—
Perempuan itu termangu-mangu. Wajah menjadi merah. Sementara itu beberapa orang
penjaga yang lain, yang ada pada umumnya bertubuh raksasa telah mendekati
mereka.
Namun kemudian tanpa mengucapkan sepatah kata pun, perempuan itu berlari
meninggalkan kedai itu. Sementara kawannya laki-laki telah bergeser pula sambil
berkata " Kau belum tahu siapakah perempuan itu sebenarnya. Ia adalah Rukmi yang
disebut pula Burung Sikatan Putih. "
" Disini ada seonggok burung " kawan Kiai Windu yang menjawab " ada juga
sebangsa Sikatan. Bahkan tidak putih. "
" Kau menghina kami " geram laki-laki itu.
" Tidak. Justru aku mendengar nama Sikatan Putih, maka aku tahu bahwa orang itu
adalah sahabat dari orang-orang dalam gerombolan Macan Ireng. " jawab kawan Kiai
Windu " nama-nama yang sama sekali tidak menggetarkan selembar bulu kulitku. "
Laki-laki itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun melangkah pergi
sambil mengumpat. Ternyata nama Sikatan Putih tidak dapat menakut-nakuti kawan
Kiai Windu itu. Bahkan kawan Kiai Windu itupun kemudian berkata " Jadi itulah
orang yang disebut Sikatan Putih. Aku pernah melihat prempuan itu disini, dan
akupun pernah mendengar nama Sikatan Putih. Tetapi baru sekarang aku tahu bahwa
perempuan itulah yang disebut Sikatan Putih namun yang nampaknya hatinya tidak
putih. Bahkan ia lebih baik dipanggil dengan namanya saja. Rukmi. "
" Jadi Sikatan Putih itu termasuk dalam golongan kelompok Macan Ireng? "
bertanya seorang penjaga.
Kawan Kiai Windu itu tertawa sambil berkata " Entahlah. Aku tidak tahu "
" Tetapi tadi kau mengatakan, bahwa Sikatan Putih itu termasuk dalam gerombolan
Macan Ireng " desak pengawal itu.
" Aku asal saja berkata. Disini ada gerombolan Macan Ireng. Karena itu, aku
berkata apa saja untuk menyebut gerombolan itu. " jawab kawan Kiai Windu sambil
tertawa.
" Kau memang menghinanya. Laki-laki itu tentu akan bertanya kepada Sikatan
Putih, apakah benar ia termasuk dalam gerombolan Macan Ireng " desis petugas
yang bertubuh raksasa itu.
Kawan Kiai Windu tertawa berkepanjangan. Katanya " Mereka akan bertengkar. Aku
tidak peduli. "
" Gila " petugas bertubuh raksasa itupun kemudian sambil tersenyum meninggalkan
kawan Kiai Windu yang masih tertawa. Sementara itu Kiai Windu berkata " Kau
memang mencari perkara. "
Kawannya tidak menjawab. Namun orang-orang yang semula tidak menghiraukannya
itupun tersenyum-senyum pula.
Demikianlah, maka Kiai Windu dan kawannya telah meninggalkan kedai kecil itu
menuju ke kegelapan. Namun masih juga terdengar suara tertawa kawan Kiai Windu
tertahan-tahan.
" Sudahlah " berkata Kiai Windu " sekarang kita pergi ke kandang kuda. Kita akan
melihat kuda-kuda kita serta kemungkinan untuk biasa berhubungan dengan
kawan-kawan kita diluar. "
" Apakah mereka ada disini? " bertanya kawan Kiai Windu.
" Aku tidak tahu. Tetapi jika mereka mengetahui bahwa semalam terjadi perampokan
disini, mungkin mereka berusaha untuk berhubungan dengan kita " berkata Kiai
Windu.
Kawannya mengangguk-angguk. Namun ia masih bertanya " Apa rencana kita kemudian?
"
" Menurut pendapat ku, rencana kita tidak akan berubah " sahut Kiai Windu.
Kawannya tidak bertanya lagi. Keduanyapun kemudian menuju kepintu gerbang. Dua
orang penjaga yang bertubuh raksasa telah menghentikannya.
Namun dengan cara sebagaimana pernah mereka lakukan, apalagi pengaruh sikap Kiai
Windu pada saat tempat itu diserang oleh para penjahat, maka Kiai Windu dan
kawannya tidak mengalami kesulitan untuk keluar dari lapisan dinding terakhir,
menuju ke kandang kuda.
Kiai Windu memang menarik kudanya keluar dari kandang. Terdengar suara
meringkik. Namun kudanya segera menjadi tenang ketika Kiai Windu mengusap
lehernya dengan lembut. Namun suara ringkik kuda itu telah memberikan keyakinan
kepada para petugas bahwa Kiai Windu benar-benar telah melihat kudanya itu.
Namun dalam pada itu, telah terdengar isyarat dari mulut Kiai Windu. Ia berharap
bahwa diluar, kawan-kawannya benar-benar menunggunya.
Ternyata bahwa perhitungan Kiai Windu memang tepat. Diluar, ampat orang memang
sedang menunggu. Demikian mereka mendengar isyarat dari dalam, maka keempat
orang itupun segera mendekati dinding pada lapisan luar.
Dengan mengucapkan beberapa kata sandi, maka kedua belah pihak yakin bahwa
mereka telah berhubungan dengan orang yang benar.
Karena itu, maka Kiai Windupun kemudian telah melekat dinding sambil bertanya "
Apakah kalian membawa berita buat kami? "
Yang terdengar .suara di luar " Kami justru ingin mendapat keterangan, apa yang
terjadi didalam. Kami melihat sesuatu itu terjadi. Tetapi kami memerlukan
penjelasan. "
Dengan singkat Kiai Windupun menjelaskan apa yang terjadi didalam. Namun ia
tidak lupa mengatakan pula " Ada dua orang yang berilmu sangat tinggi di
lingkungan ini yang menyebut dirinya bernama Wanengbaya dan Wanengpati. Tetapi
keduanya mempunyai sifat dan watak yang khusus. Tidak sebagaimana umumnya
orang-orang yang berada di lingkungan ini. Perhatiannya lebih banyak tertuju
kepada anak-anak muda yang ada didalam lingkungan perjudian ini. "
" Bagaimana menurut pertimbanganmu atas rencana kita dalam keseluruhan? "
bertanya orang yang diluar.
" Menurut pendapatku, rencana itu akan berjalan terus " jawab Kiai Windu. Lalu "
waktunya dapat disegerakan tanpa menunggu lebih lama lagi. Orang bongkok itu
telah memberikan beberapa keterangan lagi.
" Bagaimana pendapatmu tentang dua orang tua yang berada di luar tempat ini
namun yang agaknya memang menaruh perhatian pula pada tempat ini. " bertanya
yang diluar.
" Perhatikan mereka. Selama mereka tidak mengganggu gerakan kalian, maka kalian
tidak perlu terlalu banyak menanggapi tingkah mereka. " jawab Kiai Windu.
" Merekapun berilmu tinggi " jawab orang yang diluar.
" Biarlah mereka yang diluar mengatur segala-galanya. Penglihatan kami sangat
terbatas disini. " jawab Kiai Windu.
Sesaat keduanya terdiam. Namun kemudian terdengar jawaban dari luar. " Baiklah.
Besok kami akan datang lagi. Kami akan memberikan keterangan terakhir sehingga
kalian dapat mempersiapkan diri sebaik-baiknya. "
Kiai Windu termenung sejenak. Lalu katanya " Aku harus membuat pertimbangan.
Jika aku terlalu sering datang ke kandang^uda ini, mungkin aku akan dicurigai.
Tetapi besok datanglah. Aku berusaha untuk berada ditempat ini pada waktu
seperti ini. " Kiai Windu berhenti sejenak, lalu " Tetapi ingat. Ada dua orang
yang berilmu sangat tinggi. Tidak
ada seorangpun yang dapat mengatasinya. Selain orang itu, disini ada gerombolan
Macan Ireng, Sikatan Putih, dan yang harus mendapat perhatian lebih adalah Orang
Hutan berkepala Besi atau yang lebih banyak dikenal dengan sebutan Kepala Besi
dari pesisir Utara. Kehadirannya agaknya ada hubungan dengan mendung yang sedang
menyelimuti Pajang sekarang ini. "
" Baiklah. Semuanya akan kami laporkan. " berkata orang yang diluar " gambaran
ini akan menentukan sikap kita selanjutnya. "
" Aku kira pembicaraan ini sudah sukup sekarang. " berkata Kiai Windu.
" Kami minta diri " desis yang diluar.
Sejenak kemudian keadaan menjadi sepi. Kiai Windu masih saja menepuk leher
kudanya dengan lembut, sementara kawannya mengawasi keadaan.
" Ada orang datang kemari " desis kawannya.
" Biar sajalah. Untunglah pembicaraan sudah selesai. " sahut Kiai Windu.
Ternyata yang datang adalah dua orang petugas yang meronda berkeliling
lingkungan perjudian itu diantara dua lapis dindingnya. Mereka mengitari
lingkungan itu meskipun terasa juga jantungnya berdegup lebih keras jika mereka
sampai ke tempat kawan-kawannya dikuburkan.
Kedua orang itu memang memperhatikan Kiai Windu dan kawannya yang sibuk dengan
kuda mereka. Dengan nada rendah seorang diantaranya berkata " Kenapa dengan kuda
itu? "
" Sudah sejak kemarin aku tidak melihatnya " berkata Kiai Windu " mudah-mudahan
kuda ini tidak melupakan aku. "
" Kudamu dipelihara dengan baik " berkata petugas itu.
" Aku tahu, tetapi justru karena itu, maka kuda ini akan lebih dekat dengan
orang yang memeliharanya daripada aku " sahut Kiai Windu.
Orang itu tertawa. Katanya " Seharusnya kau berterima kasih. "
Tetapi keduanya tidak menunggu jawaban Kiai Windu. Keduanyapun kemudian telah
melanjutkan langkah mereka meronda diseputar lingkungan Song Lawa.
Demikianlah, maka Kiai Windupun telah mengembalikan kudanya kekandang. Beberapa
ekor kuda telah meringkik. Namun kemudian mereka telah menjadi tenang kembali.
Sejenak kemudian, Kiai Windu dan kawannyapun telah kembali ke regol. Mereka
dengan tanpa dicurigai telah memasuki kembali halaman dalam lingkungan Song Lawa
itu dan langsung menuju ke barak permainan dadu.
Ternyata di barak itu permainan masih berlangsung dengan ramainya. Ketika Kiai
Windu menemukan kedua orang kawannya, maka seorang diantaranya dengan gembira
berdesis " Aku masih menang sampai saat ini meskipun tidak banyak. "
" Bagus " sahut Kiai Windu " sesuatu yang jarang terjadi. Bagaimana dengan kawan
kita yang lain? "
Aku kurang tahu. Tetapi nampaknya wajahnya menjadi gelap " jawab kawan Kiai
Windu itu.
Kiai Windu berpaling kepada kawannya yang seorang, yang berada tidak jauh dari
kawannya yang sedang menang itu. Iapun kemudian bergeser mendekatinya sambil
bertanya " Bagaimana dengan kau? "
" Kalah. Tetapi masih ada uangku untuk bermain terus. Jika sekali-sekali aku
menang, maka aku akan dapat mencapai sedikit lewat tengah malam sebelum uangku
untuk hari ini habis seluruhnya. " jawab kawannya itu.
Kiai Windu tertawa. Katanya " Bermainlah sampai kau habiskan uangmu yang kau
sediakan untuk hari ini. Aku akan pergi ke bilik untuk melihat Wanengpati. "
" Silahkan " sahut kawannya tanpa berpaling.
Kiai Windupun segera meninggalkan tempat itu bersama seorang kawannya yang
menyertainya pergi ke kandang kuda. Keduanya langsung pergi ke bilik mereka
untuk melihat Wanengbaya dan Wanengpati yang ketika mereka tinggalkan masih
berada di bilik itu.
Ternyata ketika Kiai Windu sampai ke biliknya, Wanengbaya dan Wanengpati masih
tetap berada didalam bilik itu, Wanengbaya masih duduk bersandar dinding
sementara Wanengpati telah duduk pula dibibir pembaringan.
Ketika keduanya melihat Kiai Windu dan seorang kawannya masuk, maka merekapun
telah bergeser menepi.
" Marilah " Sambi Wulung mempersilahkan. Namun iapun kemudian bertanya -Dimana
kawan-kawan yang lain? "
" Mereka masih bermain dadu " jawab Kiai Windu " sebelum uang yang mereka
sediakan buat hari ini habis, agaknya mereka masih belum meninggalkan barak itu.
"
Sambi Wulung tersenyum. Namun Jati Wulunglah yang bertanya " Kenapa Kiai sudah
tidak lagi bermain dadu? "
" Uangku habis untuk hari ini. aku masih ingin tinggal disini besok dan lusa.
Karena itu, aku tidak menghabiskan uangku. Bahkan besok aku ingin menang di
arena panahan agar waktuku disini dapat diperpanjang. " berkata Kiai Windu.
Namun kemudian " tetapi sudah barang tentu tidak dalam satu lingkaran arena
dengan kalian berdua atau salah satu diantara kalian. "
" Ada-ada saja kau Kiai - berkata Sambi Wulung " tetapi besok kita akan
bersama-sama mencoba mencari keberuntungan di lapangan panahan kecuali
Wanengpati yang tentu tidak akan mendapat lawan lagi. "
" Besok aku akan melihat saja " berkata Jati Wulung " namaku sudah cacat di
arena panahan. "
Kiai Windu tertawa. Katanya " Kau masih juga sempat merajuk. Tetapi
sebenarnyalah jika kau turun juga karena, maka kau tentu tidak akan mendapat
lawan. "
Jati Wulung tidak menjawab. Sambi Wulunglah yang kemudian tersenyum sambil
berdesis " Sudahlah. Aku akan tidur. "
Jati Wulunglah yang kemudian turun dari pembaringan. Ia berjalan beberapa
langkah hilir mudik untuk melemaskan kaki-kakinya. Sementara itu Kiai Windupun
berkata " Aku juga akan tidur. "
Demikianlah, maka Sambi Wulung dan Kiai Windulah yang telah tertidur nyenyak,
sementara Jati Wulung telah pula duduk di pinggir pembaringan bersandar dinding.
Namun dalam pada itu, kedua kawan Kiai Windu yang lainpun telah datang pula.
Wajah mereka nampak gembira karena ternyata keduanya tidak menghabiskan uang
yang mereka sediakan untuk sehari itu. Bahkan seorang diantara mereka berkata
perlahan kepada kawannya yang masih terbangun " Aku menang malam ini. "
Kawannya mengerutkan keningnya. Kepada kawannya yang lain ia bertanya "
Bagaimana dengan kau? "
" Aku belum menghitung dengan cermat. Tetapi nampaknya aku juga tidak kalah.
Seandainya kalah, tidak terlalu banyak. " jawab kawannya itu.
Sementara itu, iapun telah membuka kampilnya dan mulai menghitung uangnya. Namun
kawannya yang lain tanpa mencuci kaki langsung saja berbaring sambil berkata "
Aku sudah mengantuk sekali. "
Namun Jati Wulunglah yang bertanya " Apakah di barak permainan judi itu masih
banyak orang sekarang ini? "
" Pada saat aku meninggalkan tempat itu, suasananya masih ramai sekali " jawab
kawan Kiai Windu. Lalu iapun bertanya " Apakah kau akan kesana? "
" Tidak. Baru besok aku akan turun " jawab Jati Wulung.
Kawan Kiai Windu itu tidak bertanya lagi. Ketika yang menghitung uangnya itu
selesai, maka iapun telah berbaring pula sambil berkata " Aku kalah sedikit.
Tetapi tidak seberapa " lalu katanya kepada kawannya yang menyertai Kiai Windu
ke kandang kuda " Kau sajalah yang berjaga-jaga mengawani Wanengpati. Aku akan
tidur. "
Kawannya tidak menyahut. Sementara itu, kedua orang yang baru datang dari
permainan dadu itupun segera tertidur pula.
Yang masih berjaga-jaga adalah Jati Wulung dan seorang kawan Kiai Windu. Namun
keduanyapun kemudian saling berdiam diri agar mereka tidak mengganggu
orang-orang yang tertidur nyenyak.
Tetapi ternyata sejenak kemudian justru dibilik sebelahlah yang terdengar suara
orang berbicara. Bahkan agak riuh sehingga dapat mengganggu orang-orang yang
sedang tidur. Suara seorang perempuanpun telah melengking ditelinga, sehingga
orang-orang yang tertidur itupun telah terbangun. Agaknya mereka baru saja
datang dari barak permainan judi.
Kawan Kiai Windu yang merasa terganggu tiba-tiba saja mengetuk dinding sambil
berkata " Jangan ribut. Kami sedanag tidur. Kami sudah mengantuk. "
" Apa peduliku " tiba-tiba terdengar suara perempuan menjawab " Jika kau merasa
terganggu di Song Lawa, kenapa kalian tidak pergi. "
" Tutup mulutmu " bentak kawan Kiai Windu. Namun iapun telah berkata " Aku masih
letih. Semalam aku telah membunuh pemimpin perampok itu sehingga tubuhku sendiri
terluka. Jika kalian tidak mau diam, maka aku akan membuat perhitungan dengan
caraku. Aku sudah terlanjur menjadi liar disini karena pembunuhan semalam. "
Tiba-tiba saja suara ribut di bilik sebelah berhenti. Mereka baru sadar, bahwa
disebelah adalah bilik yang dipergunakan oleh Wanengpati. Tetapi mereka tidak
sadar, bahwa yang berbicara itu justru bukan Wanengpati sendiri.
Wanengpati sendiri dengan isyarat telah mencoba menghentikan kawan Kiai Windu
itu. Tetapi kawan Kiai Windu yang mengetahui akibat dari kata-katanya telah
menahan tertawanya sambil menutup mulutnyadengan tangannya.
Malampun kemudian menjadi hening. Memang masih terdengar suara di bilik sebelah.
Tetapi hanya sekedar berbisik perlahan-lahan.
Dengan demikian, maka malampun kemudian dilalui dengan tenang sedangkan mereka
yang berjaga-jaga di bilik Kiai Windu itu telah bergilir menjelang pagi.
Di hari berikutnya, Kiai Windu telah mencari waktu khusus untuk berbicara
diantara ketiga orang kawannya. Adalah kebetulan pada saat Sambi Wulung dan Jati
Wulung pergi ke pakiwan.
" Waktu kita sudah terlalu sempit " berkata Kiai Windu " Kita harus membuat
persiapan-persiapan sebaik-baiknya. Malam nanti aku akan berbicara sekali dengan
mereka yang berada di luar lingkungan perjudian ini.
" Kedatangan para perampok kemarin malam justru dapat dijadikan ukuran, seberapa
besar kekuatan yang ada di lingkungan ini " berkata seorang kawan Kiai Windu.
Tetapi Kiai Windu menggeleng. Katanya " Sebagian besar dari isi padepokan ini
telah terkena sirep yang tajam. Karena itu, maka kita tidak dapat melihat
kekuatan yang ada dilingkungan ini sepenuhnya. "
" Tetapi setidak-tidaknya kita tahu orang-orang terbaik yang ada disini "
berkata kawan Kiai Windu yang lain " sedangkan orang yang dengan bangga menyebut
dirinya Sikatan Putih itupun tidak dapat mengatasi tajamnya sirep. "
" Jika pada saat sirep itu datang, orang itu belum tidur, mungkin ia akan dapat
melawannya. Tetapi dalam keadaan tidur, kita memang sulit untuk melawannya "
desis Kiai Windu.
Tiba-tiba saja salah seorang dari kawan Kiai Windu itu berkata " Kenapa kita
tidak mempergunakan cara seperti yang telah ditempuh oleh para perampok itu?
Dengan sirep? "
Kiai Windu menggeleng. Katanya " Tidak perlu. Tetapi jika diperlukan, hal itu
mungkin dapat dilakukan. Kawan-kawannya hanya mengangguk-angguk saja. Sementara
Kiai Windupun berkata " Sampai sekarang kita belum tahu, apakah niat Wanengbaya
dan Wanengpati yang sesungguhnya sehingga mereka berada ditempat ini. Kita sama
sekali tidak dapat memperkirakan apa yang .mereka lakukan pada saat-saat yang
menentukan itu. Lebih jelas bagi kita, apa yang akan diperbuat oleh Kepala Besi
dan orang-orang yang lain. Tetapi perhatian Wanengbaya dan Wanengpati yang
sangat besar terhadap anak-anak muda merupakan teka-teki bagi kita. "
Ketiga kawan-kawannya mengangguk-angguk. Namun kesempatan mereka berbicara
menjadi semakin sempit. Karena itu, maka Kiai Windupun berkata " Untuk
sementara, kita anggap keduanya tidak berdiri di pihak kita. "
Ketiga kawannya mengangguk-angguk. Namun hal itu sudah diketahui oleh
kawan-kawan mereka diluar lingkungan perjudian itu.
Tetapi Kiai Windupun berkata " Sebaliknya orang-orang diluar telah
memberitahukan pula kehadiran dua orang tua yang berilmu tinggi. Kita sama
sekali tidak tahu, bahkan kawan-kawan kita yang diluarpun tidak tahu, siapakah
mereka dan untuk apa mereka berada disekitar tempat ini. "
Ketiga kawannya masih saja mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak sempat
berbicara lebih panjang lagi, karena Wanengbaya dan Wanengpati telah masuk pula
kedalam bilik mereka.
Yang dilakukan oleh Kiai Windu dan ketiga orang kawannya adalah mandi
berganti-ganti. Kemudian bersiap-siap untuk turun ke halaman memilih salah satu
arena yang paling baik untuk hari itu.
Namun sebelumnya mereka memasuki arena, maka mereka telah singgah lebih dahulu
di kedai sebagaimana biasanya.
Hari itu Sambi Wulung telah turun ke arena panahan bersama Kiai Windu, meskipun
mereka tidak berada pada satu lingkaran. Ketiga kawan Kiai Windu ternyata berada
di arena sabung ayam, sementara Jati Wulung lebih senang duduk bersandar
sebatang pohon di luar arena panahan.
Agaknya Jati Wulung tidak lagi tertarik untuk berada di arena, karena setiap
orang tentu akan menyingkir. Ia menyesal, bahwa ia telah dengan berlebih-lebihan
menunjukkan kemampuannya hanya karena perasaannya menjadi panas melihat sikap
Kepala Besi yang sombong itu. Namun yang bahkan telah membuatnya lebih sombong
daripadanya.
Suasana di lingkungan perjudian Song Lawa itu telah pulih kembali. Meskipun
masih ada satu dua orang yang belum sembuh benar dari luka-lukanya, namun hampir
semua orang telah melupakan bahwa pernah datang sekelompok perampok yang hampir
saja memusnakan lingkungan perjudian itu, merampas semua harta benda dan
barangkali juga membantai orang-orang yang ada di dalam lingkungan itu tanpa
perikemanusiaan.
Jati Wulung yang duduk bersandar pohon itu akhirnya menjadi jemu juga. Sementara
itu beberapa orang yang mengitari arena telah bersorak-sorak.
Karena itu, hampir diluar sadarnya Jati Wulung berdiri dan melangkah mendekati
arena. Dalam pengamatan sekilas ia melihat, bahwa Sambi Wulung akan mendapat
kemenangan dari panahan itu meskipun sebagaimana selalu dilakukannya, tidak
menarik perhatian orang lain.
Kiai Windupun agaknya serba sedikit mendapat kemenangan juga sehingga ia akan
dapat memperpanjang kehadirannya di Song Lawa itu.
Namun sebagaimana Kiai Windu bimbang menilai Sambi Wulung dan Jati Wulung, maka
Jati Wulungpun bimbang pula menilai Kiai Windu. Meskipun kadanga-kadang sikap
Kiai Windu kasar sebagaimana orang-orang lain yang berada di Song Lawa, namun
agaknya itu bukannya sikapnya sehari-hari.
Ketika Jati Wulung bergeser, maka dilihatnya beberapa orang yang memang memiliki
kemampuan memanah. Tetaapi ia tidak melihat Kepala Besi ada di arena panahan.
Sebagaimana Jati Wulung, maka Kepala Besi tentu sulit juga untuk mendapat lawan
karena kemampuan bidiknya yang tinggi meskipun tidak setinggi Jati Wulung.
Jati Wulung yang kemudian bergeser ke arena sabung ayam dan ke barak permainan
dadu, ternyata belum tertarik untuk ikut serta, la hanya berjalan saja menyusuri
lingkaran-lingkaran perjudian sambil melihat-lihat. Di arena sabung ayam ia
melihat ketiga kawan Kiai Windu tenggelam dalam kericuhan mereka yang menaruh
uangnya dalam pertaruhan yang sengit.
Hari itu berjalan sebagaimana hari-hari yang lain tanpa peristiwa yang menarik
bagi Jati Wulung dan Sambi Wulung. Ketika Sambi Wulung meninggalkan arena
panahan, Jati Wulung telah berada di pinggir lapangan. Berdua mereka sempat
berbicara dengan Puguh tentang perkembangan permainan mereka. Agaknya Puguh
telah kalah dibeberapa lingkaran permainan sehingga lebih dari separo uang yang
dibawanya telah dihabiskannya.
" Hati-hatilah " pesan Sambi Wulung " jangan terlalu bernafsu. "
Tetapi Puguh tertawa. Katanya " Aku membawa pendok keris dari emas dan timang
emas tretes berlian. Bukankah dengan barang-barang itu aku dapat memperpanjang
kehadiranku disini?—
" Tetapi bagaimana sikap ayah dan ibumu jika kau pulang tanpa barang-barang
berharga itu? " bertanya Jati Wulung.
" Persetan dengan ayah dan ibu " jawab Puguh " tetapi merekapun menyadari, bahwa
barang-barang yang aku bawa itu agaknya tidak akan kembali lagi. "
" Jika kau lakukan setiap musim perjudian seperti itu, apakah harta benda orang
tuamu tidak akan habis? " bertanya Sambi Wulung.
" Tidak. Barang-barang mereka tidak akan habis. " jawab Puguh hampir diluar
sadarnya. Namun tiba-tiba saja wajahnya menjadi merah. Katanya dengan serta
merta " Maksudku, ayah dan ibu adalah orang yang sangat kaya. Aku adalah anak
satu-satunya. Buat apa mereka menyimpan harta benda itu jika tidak mereka
berikan kepadaku untuk kesenanganku. "
" Tetapi bukankah ada kesenangan yang lain yang lebih berarti daripada
lingkungan perjudian di Song Lawa ini? " bertanya Jati Wulung.
" Apa bedanya? Dan bukankah disini banyak juga terdapat anak-anak muda? Wikrama,
anak yang gemuk dan tidak tahu diri itu. Kemudian anak-anak muda yang lain yang
barangkali orang tuanya tidak sekaya ayah dan ibuku. " jawab Puguh.
Jati Wulung mengangguk-angguk. Sementara Sambi Wulungpun tidak bertanya lebih
jauh. Agaknya Puguh memang tidak begitu senang jika pembicaraan mereka sampai
kepada keluarganya.
Namun sejauh itu, dalam pembicaraan-pembicaraan yang kadang-kadang panjang
diselingi kelakar yang mengundang senyum dan bahkan tertawa, Jati Wulung dan
Sambi wulung belum berhasil mengetahui dimanakah tempat tinggal Puguh atau kedua
orang yang dianggap orang tuanya, atau siapa saja yang dapat memberikan petunjuk
lebih jauh tentang anak muda itu. Justru untuk itulah keduanya telah berada di
lingkungan perjudian Song Lawa.
Tetapi menurut perhitungan Jati Wulung dan Sambi Wulung, mereka masih mempunyai
waktu yang cukup untuk melakukannya. Agaknya Puguhpun masih akan berada di
tempat itu untuk waktu yang agak lama. Apalagi nampaknya Puguh yang mengagumi
Jati Wulung itu akan lebih mudah diajak memasuki pembicaraan. Asal saja mereka
sempat memancing tanpa menimbulkan kecurigaan, akhirnya mereka akan dapat
mengetahui serba sedikit tentang keadaan dan latar belakang kehidupan
keluarganya. Yang terpenting bagi Jati Wulung dan Sambi Wulung adalah mengetahui
tempat tinggal atau padepokan atau apapun juga bagi Puguh sehingga untuk
waktu-waktu yang akan datang, mereka akan dapat selalu mengawasinya.
Bagaimanapun juga, Puguh masih mungkin digerakkan oleh ibunya untuk mencapai
satu tujuan yang tidak wajar atas Tanah Perdikan Sembojan.
Namun ketika Jati W'ulung dan Sambi Wulung telah bergaul beberapa lama dengan
anak itu, ternyata mereka harus mengakui bahwa anak muda yang bernama Puguh itu
memang memiliki ilmu yang mulai mapan, sehingga perlu diperhitungkan tingkat
kemampuan ilmu Risang yang pada suatu saat mungkin akan dapat bertemu sebagai
lawan dalam perebutan Tanah Perdikan Sembojan.
Namun satu lagi yang menarik perhatian Sambi Wulung dan Jati Wulung adalah,
bahwa Puguh ternyata bukan seorang anak muda yang biadab dan bahkan liar
sebagaimana mereka bayangkan sebelumnya.
Ketika kemudian malam turun, maka yang menjadi sangat ramai adalah barak
permainan dadu. Hampir semua orang berkumpul ditempat itu karena arena permainan
yang lain terhenti di waktu malam. Tidak ada panahan dan tidak ada sabung ayam.
Jati Wulung dan Sambi Wulung bersama Kiai Windu dan ketika kawannya telah berada
pula di barak itu. Karena Jati Wulung tidak dapat ikut dalam permainan panahan,
maka malam itu ia telah turun dalam permainan dadu. Sambi Wulunglah yang
kemudian menonton saja disebelahnya.
Dalam pada itu, sementara tempat permainan itu menjadi sangat ramai, Kiai Windu
dan seorang kawannya telah keluar dari barak itu. Ia telah berjanji dengan
sekelompok kawannya diluar lingkungan untuk menemuinya didekat kandang kuda.
Ketika mereka melintasi halaman, mereka sempat melihat dua orang yang agaknya
telah berkelahi. Tetapi seperti kebiasaan di song Lawa, keduanya hanya berpaling
saja, memperhatikan sejenak, namun kemudian merekapun telah melangkah terus.
Tetapi sekali lagi mereka tertegun ketika mereka melihat seorang perempuan
dengan tergesa-gesa mendekati kedua orang yang bertempur itu. Dengan lantang
perempuan itu menggeser salah seorang laki-laki yang bertempur sambil berkata "
Soalnya adalah antara orang itu dan aku. bukan kau. "
" Tetapi aku tidak tahan mendengar orang itu menghina namamu jawab laki-laki itu
" kau dikatakannya pernah menipunya setelah kau merayu laki-laki itu. "
" Karena itu, biarlah aku menghadapinya " jawab perempuan itu.
Ketika Kiai Windu melangkah meninggalkan tempat itu, kawannya menggamitnya
sambil berdesis " Lihat, bukankah perempuan itu yang disebut Burung Sikatan
Putih. "
Kiai Windu mengerutkan keningnya. Katanya " O, Ya. Sikatan Putih. "
" Kita melihat, apa yang dapat dilakukan. " berkata kawan Kiai Windu " agaknya
perempuan itu terlalu garang. "
Ternyata bahwa Kiai Windupun tidak melangkah terus Ia masih sempat memperhatikan
Sikatan Putih itu dengan garang menyergap lawannya yang berkata " Kawanmu itu
telah memfitnahku. Tetapi jika kau langsung
mempercayainya, maka apaboleh buat. "
" Jangan banyak bicara " bentak Sikatan Putih yang sebenarnya bernama Rukmi itu.
Dengan tangkasnya ia menyerang semakin cepat. Kakinya yang terhitung kecil itu
mampu bergerak cepat sekali. Meloncat, melenting dan kemudian menyambar lawannya
dengan tangan yang mengembang.
Kawan Kiai Windu tiba-tiba saja tertawa. Katanya " Perempuan itu memang pantas
disebut Sikatan Putih. "
" Mungkin ia pantas disebut Sikatan, tetapi tidak putih " sahut Kiai Windu.
Kawannya tidak menjawab, la melihat perkelahian itu menjadi semakin cepat.
Sekali-sekali perempuan itu berloncatan mengitari lawannya. Namun tiba-tiba
bagaikan menukik menyambar. Memang kadang-kadang sangat mengejutkan.
" Benar-benar seperti Sikatan menyambar bilalang " berkata Kawan Kiai Windu*
—Bilalang yang dungu " berkata Kiai Windu. Lalu " Marilah. Kita mempunyai tugas
sendiri. "
" Sebentar. Aku ingin melihat apa yang akan dilakukannya atas laki-laki itu. "
jawab kawannya yang masih belum mau beranjak dari tempatnya. Meskipun jarang
sekali terjadi bahwa seseorang menaruh perhatian begitu besar terhadap
perkelahian, namun karena yang berkelahi adalah Sikatan Putih, maka ternyata ada
juga beberapa orang yang melihatnya meskipun dari jarak yang agak panjang.
Ternyata bahwa Sikatan Putih itu benar-benar seorang perempuan yang luar biasa.
Ia memiliki beberapa kelebihan dari lawannya meskipun lawannya seorang
laki-laki. Sikatan Putih mampu bergerak jauh lebih cepat dari lawannya. Agaknya
ia memang mampu bergerak lebih cepat dari lawannya. Agaknya ia memang bertumpu
pada kecepatan geraknya itulah, sehingga ia mampu memiliki nama yang besar
sebagai Sikatan Putih.
" Marilah " ajak Kiai Windu.
" Sebentar Kiai. Aku ingin melihat Sikatan Putih itu mengakhiri pertempuran. Apa
yang akan dilakukan atas lawannya jika ia sudah memenangkannya " berkata kawan
Kiai Windu.
" Aku tidak tahu kenapa ia disebut Sikatan Putih . Coba apakah kau tahu, yang
putih itu apanya? Sikapnya? Hatinya? Pakaiannya atau barangkali rambutnya yang
mulai ubanan? " desis Kiai Windu.
Kawannya tidak menyahut. Namun ia melihat beberapa kali Sikatan Putih itu mampu
mengenai tubuh lawannya dengan serangan-serangannya yang cepat dan keras,
sehingga sekali-sekali lawannya itu terdorong surut. Namun Kiai Windupun
kemudian menjadi berdebar-debar ketika tiba-tiba saja lawan Sikatan Putih itu
telah mencabut senjatanya, sehelai pedang yang tidak terlalu panjang.
Kawan Kiai Windupun menjadi tegang. Bahkan hampir diluar sadarnya ia berkata "
Pedang itu dapat membahayakan dirinya sendiri. Jika Sikatan Putih itu manarik
goloknya, maka kemungkinan yang lebih buruk dapat terjadi atas dirinya. Tanpa
senjata ia akan dapat dikalahkan, bahkan mungkin wajahnya akan menjadi merah
biru. Tetapi dengan senjata, bahkan nyawanya akan dapat melayang jika golok
perempuan itu menembus jantungnya. "
" Marilah " ajak Kiai Windu " kau tahu, aku berjanji untuk menemui mereka
sekarang. "
" Waktunya belum sampai Kiai. Bukankah Kiai kemarin mengatakan, waktunya sama
dengan kemarin? Dan sekarang bukankah masih terlalu sore? " jawab kawannya.
Kiai Windu hanya menarik nafas. Tetapi sebenarnyalah bahwa ia ingin juga melihat
akhir dari perkelahian itu. Yang diduga oleh Kiai Windu dan kawannya memang
terjadi. Ketika laki-laki itu mempergunakan pedangnya, maka Sikatan Putih itupun
nampaknya menjadi semakin marah. Karena itu, maka iapun telah menarik goloknya
pula.
Pertempuran itupun kemudian memang menjadi semakin seru. Dengan senjata di
tangan, masih juga jelas bahwa Sikatan Putih memiliki kelebihan pula dari
lawannya. Goloknya berputar semakin lama semakin cepat sehingga lawannya menjadi
bingung karenanya Bahkan dalam pertempuran yang semakin cepat, ujung golok
Sikatan Putih itu mulai menyentuh tubuh lawannya.
Terdengar laki-laki itu mengumpat. Namun ia memang tidak dapat berbuat terlalu
banyak.
Jika kemudian banyak pula orang yang menyaksikan pertempuran itu, bukannya
karena mereka ingin mencampuri persoalan yang terjadi antara mereka yang sedang
berkelahi. Tetapi mereka mulai tertarik melihat kedua orang yang memiliki ilmu
pedang yang cukup tinggi itu.
Bahkan beberapa orang petugas yang pada umumnya bertubuh raksasa itu telah ikut
melihat pertempuran itu pula karena mereka tertarik pada permainan ilmu pedang
mereka. Namun sebegitu jauh, masih belum ada seorangpun yang ikut campur. Bahkan
laki-laki yang semula bertempur dan digantikan oleh Sikatan Putih itupun sama
sakali tidak berbuat sesuatu.
Dalam waktu yang tidak terlalu lama, maka beberapa luka telah tergores di tubuh
laki-laki itu. Bahkan ketika kekuatannya mulai melemah, ia menjadi semakin
terdesak. Beberapa kali laki-laki itu bagaikan kehilangan keseimbangan. Yang
dapat dilakukannya kemudian adalah meloncat untuk mendapatkan jarak dari
lawannya. Dengan tergesa-gesa ia berusaha untuk memantapkan keseimbangannya
kembali.
Namun Sikatan Putih ternyata mampu mengatasinya.
Disaat-saat yang gawat, Sikatan Putih telah memburunya. Dalam benturan senjata
yang keras, laki-laki yang semakin lemah itu tidak mampu lagi mempertahankan
senjatanya, sehingga senjatanya telah terlempar. Ada usaha untuk memungut
senjata itu. Tetapi ketika tangannya hampir meraih tangkai pedangnya ditanah,
tiba-tiba telapak tangannya telah terinjak oleh kaki yang berjari-jari kecil dan
runcing. Kaki Burung Sikatan Putih.
Laki-laki yang malang itu terkejut. Ketika ia berpaling, maka ujung golok
perempuan yang disebut Sikatan Putih itu telah melekat dipangkal lehernya.
Ketika ujung golok itu menekan lehernya lebih keras, maka laki-laki itu telah
menjatuhkan diri dan berbaring di tanah.
" Aku dapat membunuhmu sekarang " berkata Sikatan Putih " tidak ada seorangpun
yang dapat mencegah. Di tempat ini tidak ada paugeran yang harus ditaati dalam
hubungan antara manusia. "
" Bunuh aku " geram laki-laki itu.
" Kau telah menghina aku. Kau kira aku dapat kau perlakukan seperti itu? " geram
Rukmi yang disebut Sikatan Putih.
" Aku tidak pernah menghinamu. Laki-laki itu telah mengfitnahku. Tetapi aku
sekali-sekali tidak menginginkan belas kasihanmu. Aku siap untuk mati. Apalagi
aku merasa tidak bersalah. Kematian bukan apa-apa bagiku.
Agaknya itu lebih baik daripada aku harus membunuh diri dibilik kecil itu,
karena aku sudah kehabisan uang di
hari-hari permulaan seperti ini. " sahut laki-laki itu.
" Kau tinggal menekan golokmu " berkata laki-laki yang semula bertempur dengan
orang yang telah dikalahkan oleh Sikatan Putih itu. Lalu " Ia akan mati.
Lehernya tentu akan terputus oleh gerakan yang kecil saja. "
" Diam kau " perempuan itu membentak.
Suaranya menjadi tegang. Beberapa orang yang menyaksikan peristiwa itupun
menjadi tegang pula. Orang-orang yang biasanya tidak menghiraukan orang lain,
nampaknya semakin tertarik melihat sikap perempuan yang garang itu.
Kiai Windu ternyata juga menunggu. Apa yang akan dilakukan oleh perempuan itu.
Beberapa orang petugas yang bertubuh raksasapun telah bergeser mendekat.
Perempuan itu jika membunuh dan membiarkan korbannya terkapar, harus membayar
ongkos penguburannya, yang kemudian akan dilakukan oleh para petugas.
Mereka yang membunuh harus membeayai penguburannya, kecuali mereka yang membunuh
diri. Hal Itu sudah diketahui oleh orang-orang yang berada di Song Lawa itu.
Beberapa saat perempuan yang meletakkan ujung goloknya di leher laki-laki itu
termangu-mangu. Namun, tiba-tiba ia mengangkat goloknya sambil berkata " Aku
tidak sampai hati membunuhmu, betapapun aku marah kepadamu. Kita pernah
berhubungan dengan akrab. Dan kita pernah saling jatuh cinta. Tetapi jika sekali
lagi kau menghinaku, maka aku benar-benar akan membunuhmu.
" Bunuh aku sekarang " geram laki-laki itu " sudah aku katakan, bahwa aku tidak
pernah menghinamu. Aku hanya mengatakan satu kebenaran, sama sekali tidak untuk
dibelas kasihani. "
Sikatan itu merenung sejenak. lapun kemudian berpaling kepada laki-laki yang
semula bertempur sebelumnya. Namun iapun telah berlari meninggalkan tempat itu
sambil memasukkan goloknya kedalam sarungnya.
Laki-laki itu memburunya sambil memanggil namanya. Tetapi Rukmi itu tidak
berhenti. Sedangkan laki-laki yang telah dilukainya itupun telah bangkit.
Dipungutnya pedangnya dan disarungkannya.
Kiai Windu menarik nafas dalam-dalam. Kawannya tiba-tiba saja tertawa. Katanya "
Sikatan itu mempunyai kegemaran berlari jika ia pergi. Kemarin ketika ia
mengumpati aku, iapun pergi sambi berlari.
" Kau sudah melihat kemampuannya " berkata Kiai Windu.
" Ya. Tetapi agaknya ia termasuk seseorang perempuan yang mudah jatuh cinta "
berkata kawan Kiai Windu itu,
" Mungkin Tetapi
agaknya laki-laki
yang mengikutinya itulah yang telah mengadu Sikatan Putih dengan
laki-laki yang dikalahkannya itu karena cemburu. " berkata Kiai Windu.
" Lingkungan ini benar-benar merupakan sarang iblis. Laki-laki atau perempuan
sama saja. " geram kawannya.
" Termasuk kita. " berkata Kiai Windu pula.
Kawannya tidak menjawab. Namun ketika Kiai Windu melangkah meninggalkan tempat
itu, kawannya mengikutinya.
Dalam pada itu, Kiai Windu itu masih berkata pula " Dengan melihat perkelahian
ini, maka kau harus memperhitungkan segala kemungkinan jika kau dekat dengannya.
"
" Bagaimana menurut perhitungan Kiai? Kiai mengetahui dengan pasti kemampuanku.
Kiaipun telah melihat kemampuan perempuan itu. " desis kawan Kiai Windu.
Kiai Windu tidak menjawab. Tetapi iapun tertawa. Bahkan kemudian katanya "
Sudahlah. Sekarang, apa yang akan kita katakan kepada penjaga regol? Seperti
kemarin? "
" Ya. Kita tidak mempunyai cara lain " jawab kawannya.
" Baiklah. Aku akan mencobanya. Mudah-mudahan mereka tidak mencurigai kami. "
berkata Kiai Windu pula.
Ketika Kiai Windu mendekati penjaga yang berada di regol pada lapisan yang dalam
itu, ternyata yang bertugas bukan orang yang kemarin. Karena itu, maka iapun
telah menarik nafas dalam-dalam. Kepada kawannya ia berbisik " Sokurlah, bahwa
petugasnya sudah berganti. Mereka tentu tidak akan mencurigai kami. "
Ternyata petugas itupun telah mengenal Kiat Windu pula. Karena itu, maka ia
tidak mengalami kesulitan untuk pergi ke kandang kuda.
Seperti yang dijanjikan, maka kawan-kawan Kiai Windu telah menunggu diluar.
Ketika Kiai Windu memberikan isyarat dan mengucapkan kata-kata sandi, kawannya
yang berada diluar dinding dilapis yang luar itupun berkata " Aku sudah menunggu
terlalu lama. "
" Maaf, ada peristiwa yang menarik untuk ditonton " desis Kiai Windu. Lalu "
Nah, apa pesan terakhir? "
" Kami sudah siap. Kami tinggal menunggu perkiraan kekuatan yang ada didalam
lingkungan ini. Para penjaga dan orang-orang yang menurut penilaian Kiai akan
terlibat " berkata orang yang diluar.
Kiai Windupun kemudian telah memberikan keterangan terperinci menurut hasil
pengamatannya selama ia berada di Song Lawa. Iapun telah memberikan gambaran
orang-orang terkuat atas dasar pertimbangan, mereka yang mampu mengatasi sirep.
Tetapi Kiai Windupun memberikan pertimbangan-pertimbangan lain, agar
kawan-kawannya yang berada diluar tidak mempunyai penilaian yang salah yang akan
dapat menjerumuskan mereka dalam kesulitan. "
Namun dalam pada itu, Kiai Windupun bertanya " Bagaimana dengan kedua orang tua
itu? "
" Ada orang-orang khusus yang ditunjuk untuk menjinakkan mereka " jawab orang
yang diluar.
" Cara apa yang dipergunakan? " bertanya Kiai Windu.
" Cara terakhir, kekerasan. Tetapi akan ditempuh kemungkinan cara yang lain "
jawab orang yang diluar.
" Baiklah. Bukankah kami yang didalam masih mempunyai waktu dua malam dan sehari
besok? " bertanya Kiai Windu.
" Ya. Kalian harus membuat persiapan-persiapan yang matang. Diluar, medan telah
kami kuasai dengan baik. Tidak ada yang perlu dicemaskan. " jawab kawannya yang
diluar.
" Baiklah. Kuasai dua orang tua itu. Aku akan membayangi dua orang yang berilmu
sangat tinggi yang ada didalam dan Kepala Besi dari pesisir Utara, meskipun
jelas kami tidak akan mampu menguasai mereka. "
" Mereka sudah termasuk perhitungan kami " Jawab yang diluar.
Demikianlah, maka Kiai Windupun telah meninggalkan kandang setelah pesan-pesan
terakhir diberikan, haik dari dalam maupun dari luar. Mereka tidak akan
berhubungan lagi, kecuali jika ada persoalan yang sangat gawat.
Sementara itu, untuk tidak memberikan kesan apapun yang akan terjadi kepada
Sambi Wulung dan Jati Wulung yang belum dikenal dengan pasti oleh Kiai Windu,
maka iapun menepati janjinya. Sambi Wulung dan Jati Wulung yang dihormati di
lingkungan perjudian Song Lawa itu telah mendapatkan pula pertanda sebagai
anggota dari sekelompok orang yang memanfaatkan Song Lawa bagi kesenangan mereka
yang kadang-kadang dapat merenggut nyawa itu.
Kepada para petugas Kiai Windu mengingatkan bahwa Wanengbaya dan Wanengpati
telah menunjukkan sumbangannya yang besar bagi lingkungan Song Lawa. Sambi
Wulung dan Jati Wulung ternyata kemudian merasa senang pula dengan pertanda itu.
Keduanya yang sedang berada di barak permainan dadu telah dipanggil oleh seorang
yang bertugas ke barak khusus bagi mereka yang mengatur segala sesuatu di Song
Lawa.
Muia-mula Sambi Wulung dan Jati Wulung memang merasa heran. Tetapi merekapun
telah pergi juga ke tempat itu. Ketika mereka melihat Kiai Windu telah berada
ditempat itu, maka keduanya memang menjadi berdebar-debar. Namun ketika mereka
mengetahui bahwa Kiai Windu berada ditempat itu untuk kepentingan
mereka, maka Sambi Wulung dan Jati Wulungpun telah mengucapkan terima
kasih pula kepada mereka.
" Pada musim judi yang lain, kau berdua dapat datang tanpa tanggungan siapapun "
berkata Kiai Windu " kini kalian masih menjadi tanggung jawabku. Namun seperti
yang dijanjikan, apa lagi setelah kalian menunjukkan bukti kesetiakawanan
disini, maka pertanda itu diberikan kepada kalian. "
" Terima kasih " berkata Sambi Wulung sambil menimang pertanda itu. Demikian
pula Jati Wulung.
" Sekarang silahkan kembali ke barak permainan dadu itu " seorang petugas yang
telah memberikan pertanda itu mempersilahkan. Bahkan katanya " Kami tidak
melakukan upacara pada penyerahan pertanda seperti itu. Biasanya juga tidak. "
" Itu tidak perlu " berkata Jati Wulung " yang penting bagi kami adalah, bahwa
kami akan menjadi keluarga dari lingkungan ini. Kami tidak lagi selalu
diamat-amati dan setiap kami ingin masuk atau keluar dari tempat ini, kami dapat
dengan bebas melakukannya. "
Demikianlah keduanyapun telah kembali ke barak permainan dadu. Dengan pertanda
itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung merasa telah diyakinkan, bahwa akhirnya
mereka akan dapat mengetahui lebih banyak tentang Puguh. Jika tidak di musim
perjudian saat itu, maka dimusim yang akan datang. Dengan pertanda itu, maka
tidak ada lagi kesulitan bagi keduanya untuk memasuki tempat itu.
Namun dalam pada itu, Kiai Windu telah berpikir lain. Bahkan kepada seorang
fcawannya yang menyertainya ia berdesis " Sayang. Mereka tidak akan
mempergunakannya. "
Kawan Kiai Windu hanya mengangguk-angguk saja.
Dalam pada itu, maka Kiai Windupun telah meninggalkan barak khusus itu pula.
Namun mereka memang tertegun ketika mereka berpapasan dengari orang yang agak
bongkok yang sudah dikenalinya sebagai seorang yang menyandang tugas sandi
diluar Song Lawa, datang menghadap para pemimpin lingkungan Song Lawa itu
lustru dengan tergesa-gesa.
Kiai Windu yang menggamit kawannya berdesis " Apalagi yang dilakukan oleh si
Bongkok itu? "
kawannya termangu-mangu. Namun kemudian Kiai Windu berkata " Kita kembali ke
barak itu. "
" Apa yang dapat kita lakukan? " bertanya kawannya.
" Untung-untungan " jawab Kiai Windu.
" Semua rencana sudah tersusun. Kita tidak dapat bekerja untung-untungan " jawab
kawannya.
" Hanya dalam masalah ini. Apakah kita akan dapat mendengar sesuatu atau tidak "
jawab Kiai Windu.
Kawannya tidak membantah. Iapun kemudian mengikuti Kiai Windu kembali ke barak
itu.
Tanpa merasa bersalah keduanya begitu saja memasuki ruangan para pemimpin
lingkungan Song Lawa itu. Seakan-akan mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi
didalamnya. Dengan sikap yang wajar mereka tiba-tiba saja telah berdiri di pintu
ruangan itu.
Orang-orang yang agaknya memang sedang berbincang dengan sungguh-sungguh itu
terkejut. Seorang diantara mereka dengan menahan diri melangkah mendekati kiai
Windu yang nampak termangu-mangu.
" Maaf, apakah sedang ada pembicaraan penting disini? " bertanya Kiai Windu.
" Tidak Ki Sanak " jawab orang yang melangkah mendekat itu " tetapi kenapa Ki
Sanak kembali? Bukankah yang kau inginkan sudah diberikan kepada kedua orang
itu? "
" Benar " jawab Kiai Windu " aku hanya ingin bertanya, apakah pada kesempatan
lain aku di ijinkan membawa beberapa orang kawanku lagi memasuki lingkungan ini?
"
" O, kenapa tidak " jawab orang yang mendekatinya itu. la telah memaksa bibirnya
untuk tersenyum
" Silahkan. Tetapi dengan tanggung jawab yang berat. Jika orang dibawah
tanggungan itu melakukan kesalahan disini yang dapat merugikan seluruh
lingkungan, maka Ki Sanaklah yang harus mempertanggung jawabkannya. "
Kiai Windu mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian berkata " Maaf jika kami
mengganggu. Kami tidak tahu, bahwa agaknya ada persoalan yang penting. "
" Tidak apa-apa Ki Sanak. " jawab orang itu.
Kiai Windupun kemudian meninggalkan tempat itu. Namun iapun kemudian berkata "
Aku sempat mendengar orang bongkok itu menyebut sekelompok orang. Tentu
kawan-kawan kamilah yang dimaksud. "
" Mungkin " berkata kawan Kiai Windu " memang tidak mustahil bahwa satu dua
orang petugas yang mengawasi bagian luar dari Song Lawa ini melihat sekelompok
orang yang memang berada disekitar tempat ini. "
" Kau tahu, bahwa kita tidak menghendaki itu " desis Kiai Windu.
" Ya " jawab kawannya " tetapi sulit untuk menyembunyikan sekelompok orang
disekitar lingkungan ini. Jika yang terjadi sebagaimana dilakukan para perampok
itu, maka memang tidak akan banyak persoalan yang timbul. "
Kiai Windu mengangguk-angguk. Katanya " Rasa-rasanya waktu yang tersisa itu
menjadi sangat panjang. Dalam waktu sehari semalam serta ujung malam ini ada
seribu kemungkinan yang dapat terjadi. "
" Kemungkinan yang sangat gawat sekalipun " desis kawannya.
" Tetapi agaknya tugas kita untuk mengatasinya disini " berkata Kiai Windu
kemudian.
Kawannya mengangguk-angguk. Katanya dengan nada rendah " Sulit untuk mengatasi
dua orang yang berilmu tinggi itu. "
" Wanengbaya dan Wanengpati maksudmu? " berunya Kiai Windu.
" Ya " jawab kawannya.
Kiai Windu mengangguk-angguk. Katanya " Bahkan mungkin mereka masih menyimpan
ilmu jauh lebih tinggi dari yang diperlihatkan. Apalagi Wanengbaya yang
nampaknya lebih dapat mengendalikan diri. Aku tidak percaya bahwa kemampuan
memanah Wanengbaya tidak setajam kemampuan Wanengpati. Demikian pula dalam
perkelahian dengan para perampok. Nampaknya Wanengbaya sengaja menyembunyikan
kemampuannya. Bahkan menurut perhitunganku, Wanengpatipun masih belum sampai
kepuncak kemampuannya. Baik ketika ia berkelahi melawan Kepala Besi, maupun
dengan pemimpin perampok itu. Bahkan ia membiarkan dirinya terluka, karena ia
tahu luka itu tidak berbahaya sama sekali bagi dirinya. "
Kawannya mengangguk-angguk pula. Katanya " Satu kerja yang berat. "
" Itu kita sudah tahu sebelumnya " jawab Kiai Windu.
Keduanyapun kemudian terdiam ketika mereka mendekati barak permainan dadu.
Ketika mereka masuk kedalamnya, dilihatnya kedua orang kawannya masih juga sibuk
bermain. Demikian puia Jati Wulung yang sudah kembali ke permainan dadunya.
Nampaknya mereka masih mempunyai persediaan uang cukup untuk hari itu. Ketika
Kiai Windu mendekati seorang diantara kedua kawannya itu, maka kawannya itupun
bertanya " Kemana Kiai selama ini? "
Kiai Windu berdesis ditelinganya " Pertanyaan yang bodoh "
" O, maaf " gumam kawannya.
Namun yang bertanya kemudian adalah Kiai Windu
" Bagaimana dengan kau? "
" Separo uangku aku sediakan untuk hari ini telah habis. Tetapi masih ada
kemungkinan untuk menang. " jawabnya.
Kiai Windupun bergeser ke kawannya yang seorang lagi. Namun agaknya kawannya
yang satu ini lebih beruntung. Katanya " Aku belum kalah malam ini meskipun
agaknya juga tidak menang. "
Kiai Windu tertawa. Sambil menepuk bahu kawannya iapun kemudian bergeser pula
mendekati Jati Wulung yang duduk hampir diujung. Sedangkan Sambi Wulung berdiri
di belakangnya.
Ketika Kiai Windu mendekatinya Sambi Wulung telah bersungut sebelum mendapat
pertanyaan " Semula Wanengpati menang. Tetapi setelah kami dipanggil ke barak
khusus itu dan kemudian kembali lagi, ia justru menjadi kalah. "
Kiai Windu tertawa. Katanya " Bukan salahku. Bukankah disana kau mendapat
sesuatu yang-berarti bagimu "
" Ya " jawab Sambi Wulung. Tetapi kemudian katanya " Wanengpati telah hampir
kehabisan uang. "
" Apakah ia memerlukan bantuan? " bertanya Kiai Windu.
" Tidak. Siapa tahu disaat-saat terakhir ia menang. " jawab Sambi Wulung.
Kiai Windu masih saja tertawa. Katanya " Kalian dapat mencobanya. Tetapi
W'anengpati sudah tidak lagi dapat memungut uang dari arena panahan. Meskipun
demikian kau dapat melakukannya. Sedikit demi sedikit, ternyata kau menang cukup
banyak di arena panahan. "
Sambi Wulung tidak menyahut. Tetapi ia mulai memperhatikan lagi permainan Jati
Wulung. Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam ketika uang Jati Wulung yang
dipasang telah di ambil pula oleh petugas karena ternyata Jati Wulung telah
kalah lagi.
Kiai Windupun menjadi tegang pula menyaksikan permainan itu.
Namun di putaran berikutnya, ternyata Jati Wulung telah menang dan mendapat
sebagian dari uangnya kembali. Kiai Windu sendiri malam itu tidak ikut bertaruh
dalam permainan dadu itu. Tetapi ia menunggui sampai saatnya Jati Wulung bangkit
sambil menekan lambungnya. Sambil menggeliat ia berdesis " Uangku habis. "
" Apakah kau masih berminat? " bertanya Kiai Windu. " Barangkali aku juga
membawa uang meskipun tidak seberapa. "
" Tidak " Jati Wulung menggeleng " akupun telah menyediakan takaran untuk sehari
seperti beberapa orang lain. Jika takaran itu habis, maka aku akan berhenti
untuk hari ini. "
Dengan demikian, maka Sambi Wulung, Jati Wulung dan Kiai Windu serta
kawan-kawannyapun telah mengakhiri permainan. Malam memang telah larut. Meskipun
masih banyak orang yang tetap berada di permainan dadu yang akan berlangsung
sampai menjelang pagi.
Seorang kawan Kiai Windu memang kalah. Tetapi seorang yang lain ternyata malam
itu memenangkan permainan.
Namun ketika kemudian mereka sudah berada dibilik dan sebagian dari mereka telah
tertidur, Kiai Windu yang duduk bersandar dinding merasa bahwa sisa malam itu
agaknya masih terlalu panjang. Apalagi ia masih harus menunggu sehari dan
semalam lagi. Sementara itu orang yang bongkok itu telah mondar-mandir
menghubungi para pemimpin dari Song Lawa itu.
Menjelang matahari terbit, Kiai Windu
sempat pula tidur sejenak ketika kawan-kawannya justru telah bangun. Satu demi
satu kawan-kawan Kiai Windu telah pergi ke pakiwan. Namun agaknya yang ingin
mempergunakan pakiwan itu terlalu banyak, meskipun di beberapa tempat yang lain
telah disediakan pula. Agaknya karena banyak orang yang berkeliaran disekitar
pakiwan itu, maka perempuan-perempuan yang ada didalamnya cenderung menduga,
bahwa ada laki-laki yang sedang mengintipnya.
Karena itu, maka ada diantara mereka yang tiba-tiba saja marah tanpa sebab.
Kawan Kiai Windu yang pernah mengalami sebagaimana pernah dialami oleh Jati
Wulung berusaha untuk tidak mendekat jika yang ada didalamnya adalah seorang
perempuan, agar mereka tidak diumpatinya lagi.
Ketika matahari mulai naik, maka Kiai Windu yang bangun terakhirpun telah siap
pula. Demikian pula Sambi Wulung dan Jati Wulung. Seperti biasanya maka mereka
telah pergi ke kedai lebih dahulu sebelum mereka turun
ke arena yang mereka pilih.
Ternyata hari itu Kiai Windu telah menyebar kawan-kawannya. Ketiga orang itu
harus berada ditempat yang berada untuk membuat pengamatan terakhir. Bahkan
seorang diantara mereka ditugaskan untuk mengamati tingkah laku Sambi Wulung dan
Jati Wulung. Apakah ada perubahan atau mereka berbuat sebagaimana mereka lakukan
sehari-hari.
" Keduanya banyak berhubungan dengan anak-anak muda " jawab salah seorang kawan
Kiai Windu.
" Jika itu yang dilakukan, maka ia berbuat wajar sebagaimana dilakukan sejak ia
memasuki lingkungan ini. " berkata Kiai Windu.
" Tetapi perhatian mereka yang terbesar setuju kepada anak muda yang bernama
Puguh itu " berkata kawannya pula.
" Itupun wajar " desis Kiai Windu " Puguh juga menaruh perhatian sangat
mengaguminya. Tetapi anak anak muda yang lain tidak berbuat sebagaimana
dilakukan oleh Puguh. "
Kawan-kawan Kiai Windu mengangguk-angguk.
Demikianlah, ketika mereka meninggalkan kedai, maka merekapun mulai memilih
sasarannya masing-masing.
" Kalian terpisah-pisah hari ini? " bertanya Jati Wulung.
" Kami mempunyai keinginan yang berbeda-beda. " jawab salah seorang kawan Kiai
Windu.
Sementara itu Sambi Wulung bertanya kepada Kiai Windu " Kiai akan berada di
mana? "
" Mencari tambahan uang untuk menyambung hari disini " jawab Kiai Windu.
" Panahan? " bertanya Sambi Wulung.
" Ya " jawab Kiai Windu.
Sambi Wulung tersenyum. Iapun telah berniat untuk turun kelapangan panahan.
Sementara itu, Jati Wulung telah berniat untuk berada bersama Puguh pada hari
itu.
Demikianlah, maka sejenak kemudian merekapun telah terpencar. Sambi Wulung
seperti yang dikatakan telah berada di arena panahan sebagaimana Kiai Windu.
Dua orang kawan Kiai Windu berada di arena sabung ayam dan permainan dadu.
Sedangkan yang seorang lagi, ternyata telah mengikuti Jati Wulung.
" Aku ikut " berkata kawan Kiai Windu.
" Aku tidak ikut diperjudian manapun " jawab Jati Wulung.
" Kemana saja " jawab kawan Kiai Windu itu.
" Kenapa? " bertanya Jati Wulung.
" Sedikit meningkatkan wibawa, bahwa aku adalah Kawanmu " jawab kawan Kiai
Windu.
" Ah kau " geram Jati Wulung. Namun kemudian sambil tersenyum ia berkata " Kau
tentu sedang mengamati aku. "
" Mengamati? " kawan Kiai Windu bertanya. Tetapi sebenarnya ia menjadi
berdebar-debar.
" Kau selalu curiga bahwa aku pergi menemui Burung Sikatan Putih. He, aku sudah
mendengar bahwa perhatianmu tertuju kepada Burung yang buas itu. " jawab Jati
Wulung.
Kawan Kiai Windu menarik nafas dalam-dalam. Katanya didalam hati " Jika itu
soalnya, aku tidak berkeberatan. "
Tetapi ia berkata " Jangan mendekati Sikatan Putih itu. Ia terlalu liar. "
" Aku belum pernah melihatnya. Mungkin sudah, tetapi aku tidak tahu bahwa orang
itu yang dimaksud dengan Sikatan Putih. " jawab Jati Wulung.
" Tentu Kiai Windu yang berceritera tentang Burung liar itu " gumam kawan Kiai
Windu.
Jati Wulung tidak menjawab. Namun ketika ia melihat Puguh di pinggir arena
sabung ayam, ia mendekatinya.
" Kau " jawab Puguh menjadi gembira " kita disini saja. "
Jati Wulung memandang kawan Kiai Windu sambil bertanya " Bagaimana jika kita
disini? Kau keberatan? "
" Tidak. Aku sama sekali tidak berkeberatan " jawab kawan Kiai Windu itu.
Karena itulah, maka keduanyapun telah berada di arena sabung ayam bersama Puguh
dan beberapa orang pengawalnya yang mulai membuat penilaian terhadap Jati
Wulung. Namun tidak seorangpun yang berani membandingkannya dengan diri mereka.
Karena itu, maka tidak seorang yang menaruh keberatan atas kehadiran Jati Wulung
sebagai kawan yang semakin dekat dengan Puguh.
Demikianlah, maka haripun merambat terus. Namun bagi Kiai Windu, rasa-rasanya
matahari menjadi semakin malas berkisar. Sudah terlalu lama ia duduk di arena
panahan, seakan-akan punggungnya hampir patah. Namun matahari juga baru
menggeliat melewati puncak langit.
Namun, betapapun lambatnya, maka haripun akhirnya menjadi semakin sore.
Sementara itu, Kiai Windu dan Sambi Wulung telah meninggalkan arena setelah
mendapat kemenangan meskipun tidak banyak. Beberapa saat kemudian, maka ketika
kawan Kiai Windu dan Jati Wulung telah datang pula ke kedai bersama dengan
Puguh.
Namun semua itu berlalu tanpa memberikan kesan apapun bagi Kiai Windu.
Angan-angannya telah dipenuhi oleh berbagai macam peristiwa yang diperkirakannya
hampir terjadi.
Bahkan diluar sadarnya ia telah mengamati wajah Sambi Wulung dan Jati Wulung
berganti-ganti. Semakin tajam Kiai Windu mengamati keduanya, semakin yakinlah ia
bahwa keduanya bukan orang-orang yang memang terbiasa berkeliaran di
tempat-tempat perjudian sebagaimana mereka katakan sendiri.
Demikian mereka selesai, maka merekapun ternyata berniat untuk beristirahat di
dalam bilik. Sementara itu Kiai Windupun berkata " Aku ingin tidur. Nanti malam
mungkin aku akan berjudi semalam suntuk. "
Sambi Wulung dan Jati Wulungpun ternyata telah pergi ke bilik mereka pula. Namun
ketika mereka berjalan agak terpisah dengan yang lain, Sambi Wulung sempat
bertanya " Bagaimana dengan Puguh? "
" Ia tidak mau mengatakan tempat tinggalnya " jawab Jati Wulung " masih ada yang
gelap bagi kita. "
" Kita masih mempunyai banyak waktu. Seandainya kali ini ia tetap tidak mau
mengatakan dimana ia tinggal, atau dipadepokan mana ia berguru, maka pada musim
judi yang akan datang, kita akan menemuinya disini.
Namun satu hal yang sudah kita ketahui, bahwa ternyata ilmunya tidak kalah dari
Risang. Bahkan nampaknya Puguh yang sedikit lebih muda itu, mempunyai bekal
pengalaman yang lebih banyak dari Risang. Nampaknya Puguh telah lebih dewasa dan
sikapnya lebih masak. " berkata Sambi Wulung.
" Ya. Itu yang harus segera diketahui oleh ibunya, kakek dan neneknya serta para
pengasuhnya. Mungkin Puguh tidak dikelilingi orang-orang berilmu sedemikian
banyaknya. Namun ia benar-benar menghayati berbagai jenis pengalaman. Yang pahit
dan tentu juga yang manis. " berkata Jati Wulung.
" Tetapi masih belum terlambat. Jika ada selisihnya, selisih itu hanya seujung
rambut. Jika Risang kemudian ditempa semakin keras, maka ia tentu akan segera
dapat menyusul. Pada dasarnya Risang tidak lebih buruk dari Puguh. " berkata
Sambi Wulung.
Namun mereka tidak dapat membicarakannya lebih panjang lagi. Sejenak kemudian
mereka telah masuk kedalam barak dan menuju ke dalam bilik masing-masing.
Seperti biasanya, maka tidak seisi bilik itu tertidur nyenyak. Tentu ada dua
orang diantara mereka yang berjaga-jaga.
Demikianlah, maka ketika malam tiba, mereka seluruhnya telah berada di barak
permainan dadu. Namun Kiai Windu terkejut ketika ia melihat dari kejauhan
beberapa orang memasuki regol. Bahkan kemudian baru disadarinya, bahwa kesiagaan
orang-orang Song Lawa itu menjadi semakin tinggi. Dibeberapa tempat dilihatnya
para petugas dalam kesiagaan penuh. Mereka telah benar-benar siap menghadapi
segala macam kemungkinan.
Kiai Windu menggamit kawan-kawannya. Dengan isyarat ia memberitahukan kepada
mereka kesiagaan para petugas itu. Juga kehadiran orang-orang baru yang belum
dikenalnya sebelumnya.
Tetapi Kiai Windu tidak menunjukkan kegelisahannya. Ia kemudian memasuki barak
permainan dadu sebagaimana yang lain-lain.
Namun dalam pada itu, Kiai Windu terkejut ketika seorang petugas menggamitnya.
Dengan isyarat ia mengajak Kiai Windu bergeser ketempat yang sedikit luang.
Ternyata bukan hanya Kiai Windu saja yang dipanggilnya. Tetapi juga Sambi
Wulung, Jati Wulung, Kepala Besi dan dua orang yang lain.
" Ada apa? " bertanya Kiai Windu.
Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya. " Kami tidak ingin
membuat orang-orang yang ada di Song Lawa ini menjadi gelisah. Karena itu, kami
minta persoalan ini jangan sampai didengar oleh banyak orang. "
" Persoalan apa? " bertanya Kepala Besi.
" Kami mendapat petunjuk, bahwa para perampok itu masih berkeliaran disekitar
tempat ini. Petugas kami tidak dapat mengatakan dengan pasti, apakah mereka
sebagian dari antara para perampok yang telah kami hancurkan dengan membawa
orang-orang baru, atas gerombolan apa lagi. Namun itu adalah satu isyarat bahwa
bahaya telah mengancam tempat ini. Bahkan mungkin lebih berat daripada yang
pernah terjadi. " berkata pemimpin dari para petugas itu " karena itu, maka kami
ingin minta kepada kalian, bantuan sebagaimana telah kalian berikan kepada kami
pada saat para gerombolan itu lalang. "
" Jadi hanya orang-orang yang terbebas dari pengaruh sirep itu? " bertanya
Kapala Besi.
" Tidak. Kami memberi tahukan kepada kalangan yang jauh lebih luas. Tetapi kami
mempergunakan cara ini Kami hubungi satu dua orang, sehingga merekapun tidak
menjadi ribut. Tetapi kami telah minta kepada mereka yang kami hubungi untuk
lebih berhati-hati menghadapi sirep. Jika mereka sudah terlanjur tidur, maka
mereka tidak akan mungkin dapat mengatasi sirep itu. " berkata pemimpin petugas
itu.
" Bagus " berkata Kepala Besi " siapapun yang datang, maka mereka pasti akan
kami hancurkan. "
" Terima kasih " berkata pemimpin petugas itu. Namun dalam pada itu, Kiai
Windupun bertanya " Siapakah orang-orang yang memasuki regol itu? "
" Mereka adalah sahabat-sahabat kami. Mereka juga termasuk pendiri tempat ini,
sehingga mereka ikut bertanggung jawab atas kelangsungan hidup padepokan ini. "
jawab pemimpin padepokan itu. Lalu " Kami telah mengirimkan penghubung untuk
memberitahukan mereka sehingga tepat pada waktunya mereka telah datang. Justru
ketika para petugas kami diluar tempat ini melihat gerak yang semakin
mencurigakan dari sekelompok orang.
Jantung Kiai Windu memang berdebaran. Orang-orang itu tidak termasuk dalam
perhitungan kekuatan yang dilaporkannya kepada penghubung dengan kawan-kawannya
diluar. Namun Kiai Windu sudah tidak mendapat kesempatan lagi. Malam itu
semuanya telah siap dan ledakanpun akan segera terjadi.
Ternyata pemimpin petugas itu telah memberikan beberapa pesan bagi mereka yang
berada di Song Lawa, terutama mereka yang dianggap mempunyai kemampuan tinggi.
Demikian pesan itu dianggap selesai, maka Kiai Windupun segera kembali kepada
kawan-kawannya. Dengan tanpa menarik perhatian, maka ia telah memberitahukan
kepada kawan-kawannya, bahwa Song Lawa benar-benar sudah siap menghadapi segala
kemungkinan.
Yang kemudian juga sibuk berbicara diantara mereka meskipun juga dengan
hati-hati adalah Sambi Wulung dan Jati Wulung. Jika terjadi benturan kekuatan,
apakah yang sebaiknya mereka lakukan.
" Kita akan melihat suasana " berkata Sambi Wulung " baru kita mengambil
keputusan. "
Demikianlah, betapapun permainan di barak itu nampaknya berjalan wajar, namun
agaknya orang-orang yang ada didalamnya mulai gelisah. Bahkan menjelang tengah
malam, para petugaslah yang justru memperingatkan mereka agar kembali saja ke
bilik masing-masing.
Permainan dadu itupun segera berakhir. Kiai Windu dan kawan-kawannya juga
kembali ke bilik mereka, namun tidak bersama-sama dengan Sambi Wulung dan Jati
Wulung yang berjalan agak jauh di belakang mereka. Agaknya kedua belah pihak
memang berusaha untuk memisahkan diri disaat mereka sedang berbicara tentang
tanggapan mereka atas peristiwa yang bakal terjadi.
Sementara itu, sebuah kekuatan yang besar memang telah dipersiapkan diluar
lingkungan perjudian. Kekuatan yang memang dipersiapkan untuk menghadapi
kekuatan yang berada di Song Lawa.
Karena itu, menjelang dini hari, maka sepasukan segelar-sepapan telah mulai
bergerak mendekati Song Lawa.
Sebenarnyalah, bahwa orang-orang di Song Lawa justru telah menunggu. Mereka
mengira bahkan akan ditebarkan lagi kekuatan sirep sebagaimana yang
telah terjadi. Orang-orang yang berada di Song Lawa telah berjaga-jaga
untuk bertahan atas serangan sirep itu, sehingga sampai dini hari hampir tidak
ada orang yang tidur, karena mereka tidak mau kehilangan kesempatan untuk tetap
bangun apapun yang akan terjadi.
Namun pada umumnya orang-orang yang berada di dalam lingkungan Song Lawa itu
telah bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.
Dalam pada itu, pasukan yang besar menjelang dini hari telah berada disekitar
Song Lawa. Tidak ada usaha untuk menebarkan sirep. Namun pasukan itu tidak pula
dengan tergesa-gesa berusaha membuka pintu dengan kasar.
Disaat dini hari itu pasukan yang besar itupun telah mengepung Song Lawa.Tidak
akan ada yang lolos dari kepungan. Setiap jengkal tanah telah dijaga dengan
ketat.
Sebagaimana direncanakan, maka menjelang matahari terbit, pasukan itu harus
mulai bergerak. Terutama yang tepat berada didepan pintu gerbang. Namun agaknya
para pengawas di Song Lawa telah melihat gerakan itu. Mereka melihat pasukan
yang mengepung lingkungan perjudian itu, sehingga dengan tergesa-gesa para
pengawas itu telah melaporkannya.
Song Lawapun segera mempersiapkan diri pula. Para petugas yang pada umumnya
bertubuh raksasa. Kemudian orang-orang yang semalam datang di tempat itu yang
belum diketahui kekuatannya oleh Kiai Windu dan orang-orang yang kebetulan
berada di Song Lawa untuk berjudi.
" Jangan lepaskan harta benda kalian " berkata seorang yang sebelumnya belum.
dikenal di Song Lawa.
Orang yang baru datang semalam bersama sekelompok orang lain " perampok-perampok
menganggap bahwa mereka akan mendapat harta benda dengan mudah disini.
Song Lawa dianggapnya dapat mereka ambil kapan saja mereka kehendaki.
Tetapi kita harus mempertahankannya. Semua itu adalah milik kita sendiri.
Yang ada di sini bukan semacam harta karun yang pantas diperebutkan. "
Orang-orang yang berada di Song Lawa yang kemudian telah berkumpul di lapangan
yang biasa dipergunakan sebagai arena panahan mengangguk-angguk. Sementara itu,
orang yang sebelumnya belum dikenal itu pun berkata " Untunglah bahwa disini
sekarang hadir Wanengpati, Wanengbaya, Kepala Besi dari pesisir Utara yang
ditakuti dan orang-orang yang berilmu tinggi lainnya. Yang sudah ternyata
Kemampuannya disaat para perampok itu datang beberapa hari yang lalu. Kini bukan
hanya mereka yang terlepas dari sirep sajalah yang mendapat kesempatan
mempertahankan diri. Tetapi kita semuanya. "
Orang-orang di Song Lawa itupun kemudian telah membagi diri. Mereka tidak
berkumpul di lapangan yang luas sambil menunggu lawan mereka datang. Tetapi
mereka telah menebar diseluruh lingkungan.
Para petugas yang bertubuh raksasa itupun telah berada disegala tempat pula.
Namun mereka harus memperhatikan isyarat. Jika kekuatan lawan dipusatkan untuk
memecahkan regol, maka sebagian besar dari mereka akan ditarik pula keregol.
DEMIKIANLAH, semakin langit menjadi terang, maka keteganganpun menjadi semakin
mencengkam, Dalam pada itu, maka pasukan yang berada di luarpun telah bersiap
pula. Beberapa saat sebelum matahari terbit, tiba-tiba saja telah terdengar
suara bende yang dipukul dengan irama datar. Tepat didepan regol lingkungan
perjudian Song Lawa.
Regol itu memang tertutup rapat. Tetapi beberapa orang pemimpin Song Lawa dan
orang-orang yang semalam datang ke tempat itu telah berkumpul pala didepan
regol.
Ketika suara bende kemudian menurun dan hilang, maka terdengar suara seseorang
yang berkata lantang " He, orang-orang yang berada di Song Lawa. Dengarkan apa
yang ingin aku katakan. "
Orang-orang yang ada dibelakang regol itu pun menjadi berdebar-debar pula.
Sementara itu suara diluar itupun berkata pula " Bersiaplah untuk menyerah. Buka
regol Song Lawa dan tidak seorangpun dibenarkan membawa senjata. Kami adalah
prajurit yang mengemban perintah Kangjeng Sultan di Pajang. Pajang telah
mengamati perkembangan tempat ini sejak beberapa musim. Pajang telah
mendengarkan laporan orang-orang padukuhan di bawah lereng tentang kegelisahan
mereka karena adanya tempat perjudian ini. Tempat yang seakan-akan tidak
terjangkau oleh segala macam pangeran. Nah, sekali lagi, aku perintahkan kalian
menyerah. Membuka regol dan berdiri berderet setelah kalian meletakkan senjata
kalian di tanah, "
Para pemimpin Song Lawa itu saling berpandangan sejenak. Mereka baru menyadari
bahwa yarg datang mengepung lingkungan perjudian itu adalah prajurit Pajang.
Itulah agaknya maka cara mereka mendekati lingkungan judi itu berbeda dengan
cara yang ditempuh oleh para perampok. Yang datang itu tidak pula menebarkan
sirep dan berusaha membantai setiap orang yang ada didalam lingkungan itu.
Tetapi kehadiran pasukan itu telah didahului dengan peringatan.
Namun para pemimpin dari Song Lawa itu ternyata berpendirian lain. Mereka tidak
akan membiarkan tempat itu dimasuki oleh kekuatan dari manapun juga.
Karena itu, dengan mempergunakan beberapa buah tangga, maka para pemimpin
lingkungan itu telah memanjat dinding disebelah regol dilapisan luar, sementara
beberapa orang yang lain telah siap di regol dilapisan dalam. Jika orang-orang
yang mengaku prajurit Pajang itu memaksa memecahkan regol pertama, maka mereka
akan dengan segera menutup regol kedua dan bersiap bertempur didepan regol
demikian para prajurit itu mendesak masuk. Sementara yang lain akan menunggu
Jika para prajurit dari arah yang lain akan masuk meloncat dinding.
Namun para petugas yang berada di belakang dinding itu tidak akan menunggu para
prajurit itu begitu saja berloncatan masuk. Beberapa orang diantara mereka telah
bersiap diatas gigi tangga atau landasan dan alas apapun sambil membawa busur
dan anak panah. Mereka akan menyambut para prajurit yang meloncati dinding
pertama dengan anak panah dari dalam dinding lapisan dalam.
Karena beberapa lama tidak terjadi gerakan yang meyakinkan para prajurit, maka
terdengar kembali suara diluar " Aku perintahkan untuk yang kedua kalinya.
Menyerahkan dengan tertib agar tidak terjadi benturan kekerasan yang tidak akan
berarti, karena benturan yang demikian banyak akan merugikan kedua belah pihak.
Korbanpun akan berjatuhan. Padahal kita dapat menghin darinya jika kita sempat
berpikir. "
Dalam pada itu, pemimpin di tempat perjudian itu telah berteriak puia " Kami
tidak mengenal kalian, karena itu, kami tidak yakin bahwa kalian adalah prajurit
Pajang.
Senapati prajurit Pajang yang memimpin pasukannya itupun termangu-mangu sejenak.
Namun dalam keremangan pagi iapun telah melihat beberapa kepala yang tersembul
disebelah regol lingkungan yang tertutup itu.
Sambil mengangkat sebuah tunggul dengan kalebet pertanda kuasa Pajang, maka
Senapati itu berkata " Lihatlah. Aku membawa tunggul ini. Tunggul yang menjadi
lambang kekuasaan Pajang. Karena itu, maka menyerahlah. "
" Setiap orang dapat membuat tunggul yang bagaimanapun ujud dan bentuknya "
jawab pemimpin Song Lawa itu,Tetapi prajurit itupun berkata " Ada dua pertanda
kebesaran Pajang yang kami bawa. Yang pertama adalah tunggul dan kelebet itu.
Yang kedua, jika tunggul itu tidak diakui, maka pertanda kebesaran Pajang adalah
kekuatan pasukan kami. Kami telah membawa pasukan segelar sepapan. Kami sudah
siap menerima kalian yang menyerah dan membawa kalian dengan baik-baik ke Pajang
untuk diadili, tetapi juga siap menghancurkan kalian jika kalian menolak uluran
tangan kami. "
" Persetan " geram pemimpin Song Lawa itu " Kembalilah ke Pajang. Laporkan
kepada Sultan Hadiwijaya, bahwa Pajang tidak berhak bertindak atas kami di
lereng Gunung ini. "
" Kami memberikan perintah untuk ketiga kalinya. Kali ini terakhir. Menyerahlah.
Kami akan memperlakukan kalian dengan baik. "
" Tidak " teriak pemimpin Song Lawa itu " kami cukup kuat untuk melawan kalian.
"
Jawaban atas perintah terakhir dari Senapati pasukan Pajang itupun cukup jelas.
Karena itu, maka Senapati itupun berkata " Baiklah. Kalian telah menolak niat
baik kami untuk membawa kalian tanpa kekerasan. Kami tidak akan memberikan
peringatan lagi. Tetapi sebentar lagi kami akan bertindak sesuai dengan tugas
keprajuritan kami. Tempat perjudian dengan segala akibat buruknya ini memang
sudah waktunya untuk dimusnakan. "
Pemimpin tempat perjudian Song Lawa itupun telah memberikan isyarat pula kepada
orang-orangnya. Mereka harus bersiaga untuk bertempur. Bagaimanapun juga, tidak
sepantasnya mereka menjadi tawanan dan digiring ke Pajang dan bahkan mungkin
dengan tangan terikat.
Dalam pada itu,-maka orang-orang yang sedang berjudi di Song Lawa itupun telah
bersiap pula. Kemenangan mereka atas segerombolan perampok membuat mereka yakin,
bahwa mereka akan dapat mengatasi keadaan pula. Apalagi saat itu tidak
seorangpun yang tidak ikut serta karena tidak ada ilmu sirep yang mempengaruhi
mereka sehingga sebagian dari mereka tertidur nyenyak.
Sementara itu, orang-orang itupun merasa bahwa mereka tidak pantas untuk
dihinakan oleh pasukan yang mengaku para prajurit Pajang itu. Jika mereka
tertangkap, maka mereka tentu akan dibawa pula ke Pajang sebagai penjudi-penjudi
yang telah merusak sendi-sendi kehidupan.
Dalam pada itu prajurit Pajangpun telah kehilangan kesabaran. Sementara kemelut
yang terjadi di Pajang sendiri karena sikap Ki Gede Pemanahan, maka
laporan-laporan mengenai tempat perjudian itu benar-benar membuat para pemimpin
Pajang marah.
Karena itu, maka tidak ada pilihan lain dari para prajurit Pajang itu daripada
menghancurkan tempat perjudian itu.
Demikianlah, maka sejenak kemudian telah terdengar lagi suara bende. Tetapi
dengan irama yang lain. Irama yang lebih cepat dan masih tetap datar.
Didalam lingkungan tempat perjudian itu, orang-orangpun telah bersiaga pula.
Sebagaimana para petugas yang bertubuh raksasa, maka orang-orang yang kebetulan
berada di tempat perjudian itu, yang jumlahnya cukup banyak, telah bersiap pula.
Mereka memang memilih bertempur daripada menyerah dan dibawa dalam iring-iringan
disepanjang jalan menuju ke Pajang. Mereka tentu akan menjadi tontonan
orang-orang padukuhan yang mereka lewati, sementara itu, mereka adalah
orang-orang yang disegani. Bahkan sebagian dari mereka adalah orang-orang yang
telah mendapat gelar yang cukup menggetarkan jantung, sebagaimana Orang Hutan
berkepala Besi. Yang lain pernah disebut Sikatan Putih, Ular Bermata Berlian dan
ada pula orang-orang yang datang dari gerombolan Macan Ireng.
Dalam pada itu, para prajurit Mataram benar-benar telah bertindak dengan sikap
sepasukan prajurit yang mantap. Senapati yang memimpin pasukan itu tidak dengan
tergesa-gesa memberikan aba-aba. Tetapi dengan penuh wibawa, Senapati itu telah
memberikan isyarat kepada pasukannya.
Para pemimpin kelompok mengenal dengan pasti isyarat yang diberikan oleh
Senapatinya. Sehingga karena itu, maka merekapun telah bergerak dengan rampak,
namun cepat.
Prajurit Pajang itu telah menebar. Meskipun mereka tidak mengelilingi tempat
perjudian itu dengan kekuatan yang merata, namun pasukan Pajang telah
benar-benar mengepung tempat itu. Sesuai dengan perintah Senapatinya, maka semua
orang harus tertangkap. Tidak seorangpun yang boleh lolos. Mereka akan dibawa
dan dihadapkan kepada para petugas yang berwenang untuk mengadili mereka. Baik
mereka yang datang untuk melakukan perjudian, maupun mereka yang telah
menyelenggarakan tempat perjudian itu.
Didepan regol Senapati Pajang itupun kemudian berdiri tegak memandang pintu
gerbang yang tertutup rapat itu. Pintu gerbang di lapis pertama. Beberapa orang
terpilih berdiri disebelah-menyebelah. Agaknya Senapati Pajang yang telah
mendapat beberapa keterangan tentang orang-orang berilmu tinggi yang ada di
tempat itu telah membawa pula
beberapa orang perwira terpilih, sehingga mereka akan dapat mengatasinya jika
mereka benar-benar harus berhadapan dengan orang-orang berilmu tinggi itu.
Meskipun mereka tidak akan dapat menghadapi seorang dengan seorang, namun
sekelompok orang terpilih itu, tentu akan dapat mengatasi orang-orang berilmu
tinggi yang ada didalam lingkungan perjudian yang disebut Song Lawa itu.
Menurut pengamatan Senapati yang memimpin pasukan Pajang itu, serta
laporan-laporan sebelumnya, maka pintu gerbang dilapis pertama itu, bukannya
pintu gerbang yang cukup kuat sebagaimana pintu gerbang sebuah benteng pasukan
yang memang dipersiapkan untuk kepentingan prajurit.
Karena itu, maka Senapati itupun telah memerintahkan beberapa orang prajurit
untuk memecahkan pintu gerbang itu, sementara sekelompok prajurit yang lain siap
melindunginya dengan busur dan anak panah yang siap pula diluncurkan.
Beberapa orang telah mendekati pintu itu dengan membawa kapak. Mereka tidak
berusaha memecah pintu dengan sebuah balok yang besar yang diangkat oleh
sekelompok orang dan dengan ancang-ancang yang panjang menerjang pintu gerbang
itu sehingga pecah.
Tetapi menurut perhitungan Senapati itu serta para perwiranya, maka dengan kapak
mereka akan dapat merusak pintu itu dan kemudian dalam kesatuan pasukan yang
utuh memasuki lingkungan itu setelah dengan cara yang sama merusak pintu gerbang
kedua.
Sebenarnyalah, pintu gerbang itu bukan pintu yang terlalu kuat. Dengan kapak
maka para prajurit telah memotong tali-tali pengikat balok-balok kayu yang
dipergunakan sebagai pintu itu. Dengan demikian maka ikatan balok-balok kayu itu
menjadi longgar dan dengan ayunan-ayunan kapak yang kuat, maka satu-satu
balok-balok kayu itu pecah sehingga akhirnya beberapa balokpun telah terserak.
Namun orang-orang yang berada didalam pintu gerbang itu tidak membiarkan semua
itu terjadi tanpa hambatan. Ketika satu dua balok kayu telah terlepas, maka
lewat lubang-lubang yang terjadi pada pintu itu, maka orang-orang yang berada
didalampun telah meluncurkan anak-anak panah.
Mula-mula memang mengejutkan. Tetapi para prajurit itu dengan cepat dapat
menempatkan dirinya sehingga anak-anak panah itu tidak mengenai mereka,
sementara mereka masih saja terus merusak pintu gerbang.
Para petugas di Song Lawa itu memang tidak akan mempertahankan pintu gerbang
dilapis pertama itu.
Namun merekapun segera bergerak meninggalkan pintu gerbang itu dan berlindung
dibalik pintu gerbang di lapis kedua.
Sementara itu, disebelah-menyebelah pintu gerbang, beberapa orang yang memanjat
tangga yang sudah dipersiapkan telah siap menyerang setiap prajurit yang
memasuki pintu gerbang itu dengan anak panah dan lembing.
Tetapi prajurit Pajang cukup berpengalaman. Karena itu, maka ketika pintu
gerbang pertama itu pecah, maka yang mula-mula berada di pintu itu adalah
pasukan yang melindungi diri mereka dengan perisai.
Sambil mengangkat perisai maka pasukan itu berderap maju dalam kesatuan yang
utuh. Namun yang kemudian telah menebar kesebelah menyebelah. Sementara itu,
maka sekelompok prajurit yang lain justru telah menyerang orang-orang yang
berada di tangga disebelah menyebelah regol itu dengan anak panah pula.
Akhirnya orang-orang di Song Lawa itu tidak berusaha mempertahankan pintu
gerbang mereka, karena mereka menyadari, bahwa hal itu tidak mungkin
dilakukannya. Namun mereka akan lebih yakin untuk bertempur dengan para prajurit
itu langsung dengan senjata pendek. Para petugas itu sadar, bahwa selain mereka,
orang-orang yang berada di Song Lawa yang jumlahnya cukup banyak itu tentu
memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan para prajurit itu.
Karena itu, ketika para prajurit Pajang merusak regol di lapisan kedua, maka
para petugas di Song Lawa serta sekelompok orang yang berada di Song Lawa itu
telah bersiap untuk menyambut mereka. Ternyata jumlah merekapun cukup banyak,
sementara sebagian diantara mereka yang tersebar telah ditarik pula kepintu
gerbang, karena menurut perhitungan mereka, para prajurit yang mengepung
lingkunan perjudian Song Lawa itu tidak akan masuk dengan memanjat dinding.
Mereka hanya sekedar mengepung tempat itu, sementara pasukan induknya akan
memasuki lingkungan itu lewat pintu gerbang.
Dengan cara yang sama, maka para prajurit Pajang itupun telah merusak pintu
gerbang dilapis yang dalam. Memang pintu gerbang itu lebih kuat dari pintu
gerbang yang pertama. Tetapi dengan memutuskan tali-tali pengikat yang kuat,
serta memotong palang-palang penguatnya, maka pintu gerbang itupun telah
dirusakkannya.
Sementara itu pasukan indukpun telah bersiap. Demikian pintu gerbang itu pecah,
maka pasukan Pajang yang kuat itupun telah menghambur memasuki pintu gerbang.
Yang dipaling depan adalah prajurit dari pasukan khusus yang terpilih. Mereka
bersenjata pedang dan perisai. Dengan menyusun perisai mereka rapat dihadapkan
pasukan terpilih itu, maka pasukan Pajang itupun telah menembus masuk kedalam
lingkungan Song Lawa.
Ketika pasukan berperisai itu kemudian mekar, maka pasukan yang lain ternyata
telah berada di dalam pintu gerbang pula. Dalam tatanan yang mapan, kelompok
demi kelompok pasukan itu menebar.
Para petugas di Song Lawa memang terpesona sekilas melihat pasukan yang datang
itu. Namun tiba-tiba pemimpin mereka berteriak " Hancurkan mereka. Yang datang
adalah pasukan yang hanya pantas melakukan pameran ketangkasan berbaris di
alun-alun Pajang. Tetapi mereka tidak akan memiliki kemampuan tempur secara
pribadi sebagaimana kita. Uraikan barisan itu dan bunuh mereka seorang demi
seorang. Lepas dari barisan, mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa. "
Para prajurit Pajang sama sekali tidak menyahut. Yang terdengar kemudian adalah
sorak para petugas di Song Lawa itu disusul teriakan-teriakan yang menggetarkan
jantung. Ternyata beberapa orang yang sedang ikut dalam perjudian di Song Lawa
itupun telah menyerang dengan kasar sambil berteriak-teriak pula.
Demikianlah, sejenak kemudian, maka telah terjadi pertempuran yang seru antara
para prajurit Pajang dengan orang-orang yang berada di Song Lawa. Orang-orang
dengan kemampuan yang berbeda-beda atas alas ilmu yang berbeda-beda pula. Namun
mereka bersama-sama berusaha mempertahankan diri agar mereka tidak dibawa
sebagai tawanan yang terikat oleh pasukan itu. Yang akan dapat menjadi tontonan
disepanjang jalan yang panjang.
Namun ternyata orang-orang yang ada di lingkungan perjudian Song Lawa itu
terkejut ketika benturan benar-benar telah terjadi. Tidak yang seperti mereka
duga, bahwa para prajurit Pajang itu tidak memiliki landasan ilmu yang kuat
secara pribadi. Ternyata ketika para prajurit itu menebar, maka merekapun mampu
bertempur dengan garangnya.
Namun sebagaimana perintah yang mereka terima sebelum mereka memasuki Song Lawa,
maka setiap prajurit mendapat perintah untuk tetap berada dalam
pasangan-pasangan yang terdiri dari dua atau tiga orang.
" Jumlah kita cukup banyak " berkata Senapati prajurit Pajang " harus diakui,
bahwa dasar kemampuan kita berbeda dengan dasar kemampuan orang-orang yang
berada di lingkungan Song Lawa. Namun kita. bukannya tidak terlatih untuk
mengatasi orang-orang tersebut. Pengalaman di medan perang yang berat serta
latihan-latihan yang lengkap telah membekali kita. Kita tidak akan menjadi
bingung karenanya. "
Pesan itulah yang mendasari setiap gerak para prajurit Pajang. Sehingga dengan
demikian, maka pasukan itu dalam keseluruhannya memang nampak besar dan sangat
kuat.
Dalam pada itu, tiba-tiba saja diantara teriakan-teriakan orang-orang yang ada
di Song Lawa terdengar seseorang berteriak " He, Wanengbaya dan Wanengpati. Satu
kesempatan untuk bermain-main. Dimana orang-orang dari Macan Ireng itu atau
perempuan-perempuan garang yang selama ini hilir mudik di arena perjudian ini? -
Beberapa orang berpaling ke arah suara itu. Ternyata yang berteriak itu adalah
orang yang berkepala botak. Kepala Besi. Ternyata bahwa Kepala Besi memang
seorang yang sangat garang. Bersama beberapa orang kawannya, iapun telah
mengamuk di antara prajurit Pajang yang terkejut melihat kehadirannya.
Namun seorang perwira yang melihatnya, segera menyadari, bahwa itu adalah
tugasnya. Tetapi seperti pesan yang diterimanya pula, bahwa ia tidak akan
bertempur seorang diri.
Demikianlah maka sejenak kemudian, suara senjatapun telah berdentangan. Pedang,
tombak, bindi dan segala macam jenis senjata yang dibawa oleh para penjudi di
Song Lawa itu. Bahkan ada yang membawa segulung rantai dengan bandul besi yang
besarnya lebih dari sekepal tangan.
Namun para prajurit Pajang adalah prajurit yang terlatih dan memiliki pengalaman
yang luas. Karena itu, maka merekapun segera menyesuaikan diri dengan kekerasan
dan kekasaran lawan-lawan mereka.
Perlahan-lahan prajurit Pajang itu bergerak menebar keseluruh lingkungan.
Ternyata jumlah mereka memang cukup banyak, sehingga rasa-rasanya pasukan itu
mengalir tidak habis-habisnya.
Dua orang perwira yang bertempur melawan Kepala Besi ternyata masih juga
mengalami kesulitan. Kepala Besi itu agaknya memiliki kemampuan yang tidak
terduga. Dengan tangkasnya Kepala Besi berloncatan. Tangannya yang kuat ternyata
telah menggenggam senjata. Ia tidak dapat sekedar mempercayakan kekuatannya pada
kepalanya, karena ia harus bertempur melawan sepasukan prajurit yang bersenjata,
sementara itu, kulitnya bukannya kebal terhadap segala macam senjata.
Namun ayunan senjatanya benar-benar telah mendebarkan jantung lawan-lawan-nya.
Meskipun para prajurit Pajang itu cukup berpengalaman, namun mereka telah
membentur kekuatan yang benar-benar tinggi.
Disamping Kepala Besi itu, masih ada beberapa orang yang membuat para prajurit
Pajang berdebar-debar. Bahkan seorang perempuan telah bertempur dengan
tangkasnya. Dengan pedang ditangan, maka iapun telah berloncatan seperti seekor
burung sikatan menyambar bilalang. Sementara seorang perempuan yang lain, yang
bertubuh agak gemuk, justru membawa senjata yang aneh. Senjata yang tidak biasa
dipergunakan oleh seorang perempuan. Justru dua potong besi yang dipegangnya di
kedua belah tangannya.
Di bawah sebatang pohon di pinggir lapangan panahan, seorang anak muda bertempur
dengan garangnya diantara orang-orang yang bertubuh raksasa. Sementara
orang-orang lain yang sedang berjudi di lingkungan Song Lawapun bertempur pula
dengan sengitnya.
Dengan demikian maka pertempuran yang terjadi di lingkungan perjudian Song Lawa
itupun menjadi semakin sengit.
Ternyata bahwa kehadiran beberapa orang dimalam terakhir menjelang sergapan
pasukan Pajang di Pagi hari itu, tidak diketahui lebih dahulu oleh para prajurit
Pajang. Kedatangan mereka yang tiba-tiba justru disaat terakhir memang telah
meningkatkan kemampuan kekuatan Song Lawa. Sementara hal itu tidak sempat
disampaikan oleh para petugas sandi Pajang yang berada di lingkungan Song Lawa
itu.
Senapati Pajang yang memimpin pasukan yang menyerbu Song Lawa itu sempat
memperhatikan keadaan. Pasukannya memang lebih besar dari para penghuni yang
berada di Song Lawa. Namun ketika ia sempat memperhatikan orang-orang yang
sedang bertempur itu, maka iapun sempat menjadi berdebar-debar. Ternyata bahwa
orang-orang yang sedang berada di Song Lawa beserta para petugasnya, telah
bertempur dengan kekuatan yang cukup mendebarkan jantung.
Beberapa saat kemudian pertempuran itupun telah merata hampir diseluruh
lingkungan Song Lawa. Bahkan beberapa orang prajurit telah menyusup memasuki
barak permainan dadu. Sementara yang lain bertempur di arena sabung ayam.
Sedangkan kedai yang ada di Song Lawa itupun telah berserakan. Lincak bambu dan
amben-amben telah berpatahan. Paga dan gledegpun telah pecah berkeping-keping.
Beberapa orang penjudi yang berhati kecil menganggap bahwa di Song Lawa itu
seolah-olah memang sudah terjadi kiamat. Namun sebagian terbesar diantara mereka
yang telah dengan sengaja memasuki lingkungan perjudian itu, adalah memang
orang-orang yang berhati baja.
Bahkan anak-anak muda yang ada didalam lingkungan Song Lawa itupun pada umumnya
telah merasa memiliki bekal yang kuati sementara mereka masih juga membawa
beberapa orang pengawal.
Karena itulah maka prajurit Pajang memang menghadapi tugas yang berat.
Dalam pertempuran yang riuh itu, Kiai Windu dan ketiga orang kawannya berdiri
termangu-mangu. Mereka memang melihat Wanengbaya dan Wanengpati sekilas. Namun
kemudian rasa-rasanya kedua orang itu telah menghilang.
" Dimana mereka? " bertanya Kiai Windu.
Kawan-kawannya menggelengkan kepalanya. Seorang diantara mereka menjawab "
Mereka bergeser kearah lapangan panahan. "
" Keduanya adalah orang-orang berilmu tinggi. Melampaui Kepala Besi itu. Jika
Kepala Besi dan beberapa orang yang lain telah merepotkan para prajurit Pajang,
tentu keduanya merupakan lawan yang lebih berat lagi. " berkata Kiai Windu.
Namun kemudian katanya " Aku harus menjumpai mereka. "
Kiai Windu dan kawan-kawannya kemudian menyusup diantara pertempuran yang
semakin sengit. Namun ternyata mereka tidak mengalami gangguan sama sekali.
Seakan-akan kedua belah pihak yang bertempur itu tidak menganggap mereka sebagai
lawan dari pihak yang manapun juga.
Sebenarnyalah mereka sempat melihat Wanengbaya yang sedang bertempur. Kiai
Windulah yang kemudian mendekatinya sambil berdesis " Wanengbaya, tinggalkan
lawanmu. Aku ingin berbicara sebentar. "
Wanengbaya tidak meninggalkan lawannya. Ia masih saja bertempur melawan seorang
prajurit.
Mula-mula Kiai Windu memang berusaha memanggilnya. Tetapi kemudian iapun melihat
sesuatu yang menarik. Nampaknya Wanengbaya tidak bersungguh-sungguh. Ia
bertempur dalam keseimbangan dengan seorang prajurit yang seharusnya dapat
dihancurkannya sengan cepat.
" Orang ini memang membingungkan " berkata Kiai Windu kepada kawan-kawannya.
Namun dalam pada itu, Kiai Windu terkejut. Justru Wanengpatilah yang
menggamitnya sambil berkata " Apakah tali berwarna putih dilehermu itu satu
pertanda? Wajah Kiai Windu menjadi tegang. Sebenarnyalah ia mengenakan tali
putih yang melingkari lehernya sebagaimana ketiga orang kawannya.
" Kau yang sudah lama menjadi penghuni di lingkungan ini serta tali putih
dilehermu, membuat kau tidak harus membela diri terhadap siapapun sekarang ini.
Kehadiran para perampok beberapa saat yang lalu telah meyakinkan orang-orang
yang berada ditempai ini, bahwa kau adalah kawan yang baik bagi para penghuni
Song Lawa. Sehingga dengan demikian, maka mereka tidak akan mencurigaimu sama
sekali. Sementara itu, dengan kalung putihmu, maka kau telah mengenakan pertanda
tentang kenyataan dirimu sebagai petugas sandi dari Pajang. "
Wajah Kiai Windu menjadi tegang. Wanengbaya dan Wanengpati bukan saja
orang-orang berilmu tinggi, tetapi merekapun mempunyai ketajaman penglihatan
tentang dirinya dan kawan-kawannya. Wanengpati ternyata dapat menduga, apakah
yang telah dilakukan nya di Song Lawa sehingga karena itu, maka dengan pasti
Wanengpati telah menyebut tentang tali putih dilehernya. Sedangkan Kiai Windu
tahu pasti kelebihan Wanengbaya dan Wanengpati, sehingga jika keduanya tetap
berpihak kepada orang-orang Song Lawa dan berniat untuk melawannya bersama
kawan-kawannya, maka ia tidak akan mampu mengatasinya.
Tetapi dalam keragu-raguan itu Wanengpati tiba-tiba saja berkata " Kiai Windu,
atau siapa saja sebenarnya namamu. Baiklah kita berjanji, bahwa kita tidak akan
saling mengganggu, apapun yang kita lakukan masing-masing. Aku tidak akan
mengganggumu dengan petugas sandi dan tugas-tugasmu yang lain, sementara aku
minta kau tidak mengganggu apa yang akan kami lakukan berdua. Aku dan
Wanengbaya. "
Kiai Windu masih termangu-mangu. Namun Wanengpati itu mendesak " Ambil
keputusan, atau kita akan bertempur. "
Kiai Windu menarik nafas dalam-dalam. Katanya " Ki Sanak. Hubungan kita selama
ini sangat baik. Karena itu, maka sebaiknya kita akan memakai alasan lain,
kenapa kita tidak akan bertempur. Jangan mengancam seperti itu. Aku memang
seorang prajurit. Jika ancamanmu itu kau anggap sebagai satu-satunya alasan
kenapa aku setuju atau terpaksa setuju, aku tidak mau menerimanya. Seorang
prajurit tidak akan surut karena bayangan kematian sekalipun. Tetapi jika kau
mempergunakan alasan yang lain, agaknya aku tidak berkeberatan. "
Terasa sentuhan lembut dihati Jati Wulung. Kiai Windu memang seorang prajurit.
Bagaimanapun juga ia tentu akan mempertahankan martabatnya sebagai seorang
prajurit yang baik. Karena itu maka Wanengpati itupun berkata " Maaf Kiai. Dalam
keadaan kalut ini pikirankupun ikut kalut .Baiklah. Keadaan ini jangan merusak
hubungan baik kita selama ini. Aku mohon Kiai mengerti apa yang kami lakukan
sebagaimana kamu juga mengerti apa yang Kiai lakukan sekarang ini. "
Kiai Windu mengangguk-angguk kecil. Lalu katanya " Aku mengerti. "
" Jika demikian, sebaiknya kita mengambil jalan kita masing-masing. " berkata
Wanengpati kemudian. Kiai Windu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata
" Kita akan berpisah. Aku tidak tahu, apakah kita masih akan bertemu lagi. Kita
masing-masing sadar, bahwa perkenalan kita selama ini telah dibayangi oleh
kecurigaan dan ragu, sehingga kita masing-masing tidak mempergunakan nama kita
yang sebenarnya. Karena itu, maka setelah kita keluar dari tempat ini, maka kita
tidak akan dengan mudah untuk berhubungan lagi, kecuali jika secara kebetulan
kita bertemu. " Wanengpati mengangguk-angguk. Katanya " Mudah-mudahan kita dapat
bertemu lagi. "
Kiai Windu tidak menjawab. Namun iapun kemudian telah meninggalkan Wanengpati
yang termangu-mangu. Dengan sengaja Kiai Windu telah menyusup didekat Wanengbaya
yang sedang bertempur. Katanya " Wanengpati telah mengatakan segala-segalanya. "
Wanengbaya yang bertempur dengan sebagian saja dari kemampuannya masih sempat
mengangguk sambil menjawab " Kita akan mengambil sikap kita sendiri-sendiri. "
" Aku mengerti " berkata Kiai Windu.
Wanengbaya yang bertempur melawan seorang prajurit Pajang mengangguk. Namun Kiai
Windupun kemudian telah meninggalkannya. Bahkan Kiai Windupun kemudian telah
menyusup dan hilang diantara para prajurit Pajang. Tali putih dilehernyalah yang
telah memberikan pertanda, bahwajia adalah petugas sandi prajurit Pajang yang
memang bertugas di SongjLawa untukj beberapa musim perjudian, untuk mematangkan
rencana Pajang, menghancurkan Song Lawa yang merupakan tempat yang untuk waktu
qukup lama tidak terjangkau oleh pangeran.
Dalam pada itu, pertempuranpun telah menjadi semakin seru.J Bagaimanapun juga
prajurit Pajang telah menunjukkan kebesarannya sebagai pasukan yang telah masak.
Meskipun di Song Lawa itu terdapat beberapa orang berilmu tinggi, namun dengan
kemampuan sepasukan prajurit yang mendapat kepercayaan untuk menghancurkan
tempat yang penuh dengan kemaksiatan itu, maka perlahan-lahan merekapun mulai
mendesak.
Dalam pertempuran itu, ternyata Wanengbaya dan Wanengpati tidak dapat berbuat
sebagaimana diharapkan oleh orang-orang di Song Lawa. Namun keduanya agaknya
telah bertempur di arena yang sangat luas. Keduanya bagaikan burung
layang-layang yang terbang dari satu arena ke arena yang lain menyusuri medan
yang panjang. Berbeda dengan Kepala Besi yang bertempur dengan mapan dan
benar-benar membuat para perwira dari Pajang menjadi semakin berhati-hati
menghadapinya.
Beberapa orang petugas di Song Lawa memang heran melihat cara yang dipergunakan
oleh Wanengbaya dan Wanengpati. Meskipun sekali-sekali keduanya juga bertempur
dengan mendesak lawan-lawan mereka. Namun keduanya nampaknya menjadi sangat
gelisah menghadapi keadaan itu.
Namun akhirnya Wanengbaya dan Wanengpati itupun terhenti juga. Ketika keduanya
melihat Puguh yang sedang bertempur melawan prajurit Pajang yang mendesaknya.
Dua orang prajurit Pajang telah berusaha untuk melumpuhkannya, sementara para
pengawalnya tidak mampu melindunginya karena merekapun harus bertempur pula
melawan prajurit-prajurit Pajang itu.
" Apa yang akan kita lakukan? " bertanya Jati Wulung.
" Kita selamatkan anak itu " berkata Sambi Wulung.
" Bukankah kita tidak perlu mengambil langkah-langkah penyelamatan. Jika anak
itu hancur di peperangan, itu berarti bahwa Risang telah menyelesaikan salah
satu tugasnya tanpa harus berbuat sesuatu. " sahut Jati wulung.
" Jika kita tidak menyelamatkannya, kita tidak tahu apa yang terjadi atasnya.
Jika ia tidak terbunuh, tetapi tertangkap oleh para prajurit Pajang, kemudian
menjalani hukuman, maka pada suatu saat ia akan dibebaskan. sementara itu kita
akan kehilangan semua
jejaknya.
Bahkan ketika ia menjalani hukumannya, dendam diliatinya juga dihati ibunya akan
bertambah menyala, sehingga Risang akan dapat menjadi sasaran tumpahan
dendamnya. " jawab Sambi Wulung " tetapi jika kita menyelamatkannya, mungkin
kita dapat mengetahui dimanakah tempat tinggalnya atau barangkali padepokannya
atau tempat macam apa saja karena Puguh akan dapat tinggal disembarang tempat.
Bahkan di goa-goa sekalipun tempat orang tuanya menyembunyikan harta benda
rampasan mereka. "
Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya " Baiklah. Kita akan
berusaha untuk mengambil hatinya dan mendapat sedikit kepercayaan daripadanya.
Sementara itu Wanengbaya dan Wanengpati tidak dapat berbincang lebih lama lagi.
Ketika keduanya melihat Puguh menjadi semakin sulit melawan dua orang prajurit
Pajang yang berpengalaman luas, maka keduanya segera mendekati remaja itu.
Mula-mula keduanya memasuki arena disebelah menyebelah Puguh yang terdesak.
Namun dengan kemampuan yang ada pada keduanya, maka mereka berhasil mendesak dan
menjadi semakin dekat dengan Puguh.
Akhirnya Puguh yang mengalami kesulitan itu melihat juga Wanengbaya dan
Wanengpati. Bahkan keduanya tidak banyak mengalami kesulitan untuk mengusir
lawan-lawan mereka.
" Bertahanlah " berkata Wanengbaya lantang " aku segera datang "
Puguh tidak menjawab. Tetapi ternyata Sambi Wulung datang tepat pada waktunya.
Sambi Wulung sempat menangkis pedang yang terjulur kearah punggung anak muda itu
selagi Puguh menangkis serangan lawannya yang seorang lagi.
Demikian kerasnya ayunan senjata Sambi Wulung, maka pedang prajurit Pajang yang
hampir saja menyentuh punggung Puguh itupun terlempar jatuh.
" Terima kasih " desis Puguh.
Sambi Wulung tidak menjawab. Namun kemudian bersama Jati Wulung keduanya telah
bertempur disebelah menyebelah anak muda itu.
Ketika kemudian pertempuran menjadi semakin sengit dan pasukan Pajang semakin
mendesak disegala medan di lingkungan perjudian Song Lawa itu maka Sambi
Wulungpun berdesis " Kita rrieninggalkan neraka ini. Bagaimanapun juga kita
mempertahankannya, namun kita tidak akan mampu melakukannya. Prajurit Pajang
terlampau kuat. Bukan secara pribadi, tetapi dalam keseluruhan. Mereka memiliki
pengetahuan medan dan pengalaman yang sangat luas. "
Puguh tidak serapat berpikir. Katanya " Baik. Tetapi apakah itu mungkin
dilakukannya? "
" Kenapa tidak? " justru Sambi Wulunglah yang bertanya.
" Lingkungan ini sudah dikepung "
desis Puguh.
" Kita akan mencoba. " jawab Sambi Wulung.
Demikianlah, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung yang melindungi Puguh itupun
telah bergeser dari tempat mereka bertempur. Mereka telah mendekati dinding
lingkungan itu untuk kemudian berusaha meloncatinya " Kita akan keluar. "
" Apakah kita akan mampu menembus kepungan prajurit Pajang diluar? " Puguh masih
selalu ragu-ragu.
" Kita akan mencoba. Tanpa. berusaha kita tidak akan dapat berbuat apa-apa. "
sahut Sambi Wulung. Lalu katanya " Jika dengan demikian kita akan mati, itu
tentu satu akibat yang mungkin saja dapat terjadi. "
Puguh memang bukan seorang pengecut. Iapun kemudian telah bergeser semakin dekat
dengan dinding lingkungan perjudian itu. Wanengpati " berkata Sambi Wulung "
lindungi kami. Kami akan meloncat. Kemudian kau cepat menyusulnya. "
Jati Wulung tidak menyahut. Namun ia telah mengetrapkan segenap kemampuan
ilmunya untuk mencegah para prajurit Pajang menyerang Puguh yang berusaha untuk
meloncati dinding bersama dengan Sambi Wulung.
Dengan kemampuan seorang berilmu tinggi, yang tidak mendasarkan kekuatan dan
kemampuannya sekedar pada ketrampilan wadagnya, Jati Wulung berhasil menahan
para prajurit Pajang yang ingin menghalangi niat Puguh dan Jati Wulung. Bahkan
demikian keduanya hilang dibalik dinding, Jati Wulungpun bagaikan terbang telah
hinggap pula diatas dinding.
Sebuah tombak memang menyambarnya. Namun Jati Wulung masih sempat mengelak. Dan
sekejap kemudian, maka iapun telah hilang dibalik dinding dilapis kedua. Ketiga
orang itupun kemudian telah berlari menuju ke dinding di lapis pertama. Namun
dari celah-celah dinding kayu mereka dapat mengintip, bahwa diluar dinding di
lapis pertama, nampak beberapa orang prajurit yang berjaga-jaga. Prajurit yang
mendapat tugas untuk mencegah siapapun yang akan melarikan diri dari lingkungan
Song Lawa.
Sambi Wulung dan Jati Wulung termangu-mangu sejenak. Demikian pula Puguh. Bahkan
Puguhpun berdesis " Jika saja aku sempat membawa kawan-kawanku. "
" Sulit untuk melepaskan mereka semuanya dari medan. Tetapi apakah kawan-kawanmu
akan dapat mengungkapkan sesuatu yang bersifat rahasia dari padamu. Apakah
mungkin para pengawalmu akan memberitahukan bahwa ka u melarikan diri dan
menunjukkan tempat tinggalmu sehingga memungkinkan kau ditangkap oleh Prajurit
Pajang yang dikirim khusus kepadamu? " bertanya Sambi Wulung.
" Aku tidak yakin " jawab Puguh " tetapi agaknya jika mereka tertangkap hidup,
mereka tidak akan banyak dapat berceritera tentang aku. Mereka adalah
orang-orang yang setia kepada lingkungan hidup mereka dibawah pimpinan orang
tuaku. Tetapi aku tidak begitu sesuai dengan mereka. "
" Bagaimana jika mereka dipaksa untuk menunjukkan tempat tinggal orang tuamu dan
dengan sendirinya kau akan tertangkap pula karenanya " berkata Jati Wulung.
" Mereka adalah lapisan terbawah dari lingkunganku. Mereka terpisah beberapa
lapis, sehingga apa yang mereka ketahui tentang aku terlampau sedikit. Juga
tentang orang tuaku betapapun mereka setia menjadi pengikutnya. " berkata Puguh.
" Baiklah " berkata Sambi Wulung " jika demikian, maka kita tidak akan cemas
bahwa mereka akan dapat membuka rahasiamu dan orang tuamu. Terutama tempat
tinggalmu yang sebenarnya. Karena itu maka marilah, kita akan melarikan diri. "
Puguh memang masih ragu-ragu. Bahkan ia ragu-ragu tentang para pengikutnya.
Apakah mereka akan dapat membuka rahasianya jika mereka tertangkap.
Tetapi seperti yang sudah dikatakan, pengikut-pengikut orang tuanya telah
disusun berlapis-lapis. Yang dibawanya ke Song Lawa justru bukan orang-orang
terdekat meskipun mereka adalah orang-orang terpilih dari salah satu lingkungan
kecil dibawah pimpinan seorang kepercayaan orang tuanya, yang menjadi penyekat
antara lapisan-lapisan itu.
" Kita tidak sempat berpikir terlalu lama " berkata Sambi Wulung.
" Ya. Marilah " sahut Puguh kemudian.
Demikianlah, maka ketiga orang itupun telah mengambil ancang-ancang. Mereka
harus meloncati dinding dan menembus penjagaan diluar dinding yang agaknya
memang tidak terlalu kokoh, karena sebagian terbesar pasukan Pajang telah
ditarik memasuki lingkungan Song Lawa yang ternyata cukup kuat untuk bertahan.
Tetapi tanpa Sambi Wulung dan Jati Wulung yang diperhitungkan akan mempunyai
pengaruh yang sangat besar bagi keseimbangan pertempuran, ternyata isi dari
lingkungan Song Lawa telah benar-benar kehilangan kekuatan yang menentukan.
Sesaat kemudian, maka ketiga orang itu telah meloncat dan hinggap sejenak diatas
dinding. Kemudian melayang turun dan dengan cepat menuju ke bagian dari
lingkaran yang nampak terlalu tipis di luar dinding dilapis pertama itu.
Prajurit Pajang memang agak lengah. Mereka tidak menduga, bahwa tiga orang
dengan demikian cepatnya telah berusaha menembus kepungan. Karena itu, memang
ada beberapa langkah tempat yang terbuka.
Namun yang menganga itupun dengan cepat telah terkatub pula. Tiga orang prajurit
dengan sangat tergesa-gesa telah siap mencegat ketiga orang yang berusaha
melarikan diri itu, sementara beberapa orang kawannya yang lain berlari-lari
menuju ke titik yang lemah itu.
Dengan tangkasnya Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguh telah berusaha menguak
kembali lingkaran yang semula terbuka itu. Dengan segenap kemampuan ketiganya
ternyata dengan cepat dapat mengatasi ketiga orang prajurit Pajang itu.
" Maaf Ki Sanak " desis Sambi Wulung " kami terpaksa melukaimu. "
Prajurit Pajang itu tidak mendengar. Tetapi ia memang terdorong surut. Terasa
pundaknya telah disengat oleh ujung senjata.
Dua orang prajurit Pajang telah terluka. Seorang yang lain menjadi ragu-ragu
untuk mengejar ketiganya. Namun beberapa prajurit yang lain telah bergabung dan
bersama-sama mengejarnya.
Lima prajurit Pajang telah mengejar ketiga orang yang melarikan diri itu.
Tetapi lima orang itu memang tidak cukup. Pada jarak beberapa langkah lagi, dua
orang memang telah menyusul. Baru dibelakang kedua orang itu, kelompok terakhir
yang terdiri dari tiga orang telah berlari pula dengan cepat.
Menurut perhitungan mereka, sepuluh orang itu telah cukup. Sementara yang lain
harus berjaga-jaga jika ada orang lain lagi yang berusaha untuk melarikan diri.
Sambi Wulung dan Jati Wulung sebenarnya akan dapat berlari lebih cepat dan
meninggalkan pengejar-pengejarnya. Tetapi Puguh tidak dapat berbuat demikian.
Karena itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung harus menyesuaikan dirinya dan
tidak akan mungkin dapat meninggalkan Puguh dalam terkaman prajurit-prajurit
Pajang. Namun jumlah prajurit Pajang itu memang terlalu banyak.
Ternyata bahwa kelompok pertama dari prajurit Pajang yang mengejar mereka telah
berhasil menyusul. Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguh harus bertempur melawan
lima orang prajurit. Sambi Wulung dan Jati Wulung telah memancing masing-masing
dua orang lawan, sementara PuguhAarus melawan seorang prajurit.
Namun jarak waktunya tidak terlalu lama bahwa telah datang pula dua orang
lainnya, sementara tiga orang yang lain telah menjadi semakin dekat.
Sambi Wulung dan Jati Wulung benar-benar menjadi bimbang. Dengan ilmu mereka
yang tinggi, mereka akan dapat membinasakan lawan-lawannya itu. Namun ada
semacam kekangan didalam dirinya untuk membunuh sepuluh orang prajurit Pajang,
atau setidak-tidaknya separo diantara mereka. Sementara itu sangat sulit bagi
mereka untuk melawan sepuluh orang
tanpa membunuh dan melukai lawan-lawan mereka.
Untuk sementara yang dapat mereka lakukan adalah bertempur sambil bergeser
mundur untuk mendapat kesempatan melarikan diri. Namun sepuluh orang itu telah
mengepung mereka dengan ketat.
Sambi Wulung dan Jati Wulung benar-benar menjadi bingung. Sementara Puguh
sendiri berusaha benar-benar untuk membunuh lawannya. Tetapi lawan-lawannya
adalah prajurit yang memiliki kemampuan bertempur yang cukup masak sehingga
Puguhpun tidak segera berhasil melakukannya.
Dalam kebimbangan itu, tiba-tiba saja mereka bertiga terkejut ketika mereka
melihat kehadiran dua orang yang tidak dikenal, yang menyelubungi wajah-wajah
mereka dengan kain. Dua orang yang tiba-tiba saja telah melibatkan diri melawan
sepuluh orang prajurit Pajang yang mengejar Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguh.
Dengan demikian maka keseimbangan pertempuranpun segera berubah. Ternyata kedua
orang itu benar-benar dua orang yang berilmu sangat tinggi. Dengan gerak yang
cepat dan kekuatan yang sangat besar, maka keduanya bersama-sama dengan Sambi
Wulung dan Jati Wulung yang dikenal bernama Wanengbaya dan Wanengpati itu segera
dapat mengatasi keadaan. Sepuluh orang prajurit Pajang itu menjadi seakan-akan
tidak berdaya. Satu-satu mereka jatuh dan terlempar beberapa langkah.
Tulang-tulang mereka serasa retak, sehingga mereka tidak segera dapat bangkit
kembali.
Orang terakhir dari sepuluh orang itupun akhirnya tidak berdaya juga ketika ia
kehilangan keseimbangan dan jatuh berguling. Meskipun ia masih mampu untuk
bangkit, namun ia tidak lagi berniat untuk mengejar lima orang yang kemudian
malarikan diri itu.
Sepuluh orang prajurit itu kemudian semuanya masih mampu bangkit dan berdiri
betapapun tubuh mereka merasa sakit. Dengan sangat kecewa mereka terpaksa
melepaskan buruan mereka yang ternyata memiliki ilmu yang tinggi itu.
Sementara itu, lima orang yang melarikan diri itu lelah berada jauh dari para
prajurit Pajang yang mengejar mereka. Karena itu, maka merekapun telah berhenti
untuk mengatur pernafasan mereka yang terengah-engah. terutama Puguh.
Sementara itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung dengan cepat mengenali kedua orang
yang telah menolong mereka itu. Keduanya tentu Kiai Soka dan Kiai Badra.
Namun dengan cara keduanya hadir diantara mereka, maka keduanya tentu berusaha
untuk tidak dikenali. Bukan saja namanya, tetapi juga wajah-wajah mereka. Karena
itu, maka Sambi Wulungpun kemudian bertanya " Ki Sanak. Terima kasih atas
pertolongan Ki Sanak. Tetapi siapakah sebenarnya Ki Sanak berdua? Kami adalah
Wanengpati dan Wanengbaya, anak muda ini adalah Puguh. "
Kedua orang yang menyembunyikan wajahnya itu saling berpandangan sejenak. Namun
kemudian keduanyapun mengangguk-angguk. Seorang diantaranya berkata dengan suara
bergetar " Kami adalah musuh-musuh Pajang. Kami selalu diburu siang dan malam.
Adalah satu kesempatan bagi kami untuk dapat melawan sekelompok kecil prajurit
Pajang. Namun karena kami melihat keadaan kalian bertiga yang gawat, maka kami
memutuskan untuk melarikan diri bersama kalian. Nah, kami telah mengenal
nama-nama kalian. Tetapi siapakah kalian sebenarnya? "
" Tidak ada yang dapat menjelaskan. Kami adalah penjudi-penjudi yang hidup kami
lebih panjang berada dilingkungan perjudian seperti Song Lawa daripada berada
ditempat lain. " jawab Wanengbaya.
Kedua orang yang menyembunyikan wajahnya itu mengangguk-angguk. Tetapi keduanya
tidak mendesaknya. Bahkan seorang diantara mereka berkata " Nah, pergilah. Kami
akan kembali mendapatkan prajurit-prajurit Pajang itu untuk melepaskan dendam
kami. "
Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak bertanya lagi. Tetapi merekapun kemudian
telah mengajak Puguh untuk meninggalkan tempat itu.
" Jika para prajurit itu sempat mengejar kita lagi. maka kita akan mengalami
kesulitan. " berkata Sambi Wulung.
Demikianlah, maka mereka bertigapim telah meninggalkan tempat itu. Namun agaknya
mereka masih belum menentukan tujuan. Mereka masih saja berjalan asal saja
menjauhi lingkungan perjudian Song Lawa yang agaknya telah direbut oleh pasukan
Pajang yang kuat.
Sebenarnyalah bahwa para prajurit Pajang memang sudah berada disegala sudut dan
bahkan memasuki barak-barak di Song Lawa. Orang-orang yang berilmu tinggi, tidak
mampu melawan para perwira yang memang dipersiapkan untuk melawan mereka dalam
kelompok-kelompok kecil. Betapa besar kemampuan Kepala Besi, namun ketika ia
dihadapkan kepada empat orang perwira terpilih, ternyata lambat laun, ia menjadi
kehabisan tenaga juga. Meskipun kepalanya sempat melukai beberapa orang, tetapi
tubuhnya sendiri menjadi terluka parah.
Akhirnya, Song Lawa yang telah bertahun-tahun bertahan sebagai tempat perjudian
yang tidak terjangkau oleh pangeran, telah benar-benar dikuasai oleh para
prajurit Pajang. Sudah terlalu lama orang.orang disekitar Song Lawa mengeluh
karena tingkah laku orang-orang yang memasuki dan keluar dari lingkungan itu.
Bahkan kadang-kadang di padukuhan-padukuhan disekitar Song Lawa itupun telah
terjadi benturan kekerasan dan membunuh beberapa orang korban. Tindakan yang
semena-mena dari orang-orang yang memiliki ilmu terhadap orang-orang padukuhan
yang lemah. Bahkan mereka yang kalah tidak segan-segan untuk sekali-sekali
merampas barang-barang yang bahkan tidak berharga sekalipun, namun yang penting
sekali artinya bagi orang-orang miskin itu.
Para prajurit Pajang kemudian telah mengumpulkan orang-orang yang tersisa,
termasuk mereka yang terluka. Mereka harus bertanggung jawab atas segala tingkah
laku mereka. Terlebih-lebih lagi para pengawal dan petugas di Song Lawa itu
sendiri yang pada umumnya terdiri dari orang-orang yang bertubuh raksasa.
Sementara itu Kiai Badra dan Kiai Soka, setelah membantu Sambi Wulung dan Jati
Wulung membebaskan diri dari para prajurit Pajang yang telah mengejarnya,
kemudian menyingkir ketempat yang tersembunyi. Keduanyapun segera mengerti
maksud Sambi Wulung dan Jati Wulung. Mereka agaknya telah menyelamatkan Puguh
dan selanjutnya membawanya kembali ke tempatnya. Mungkin disebuah padepokan,
persembunyian atau tempat apapun juga.
" Agaknya keduanya telah berhasil " berkata Kiai Badra.
Kiai Soka mengangguk-angguk. Katanya " Mudah-mudahan keduanya benar-benar dapat
melacak sampai ke tempat tinggal anak itu. Mungkin anak itu cerdik dan justru
mencurigai keduanya sehingga anak itu akan dapat menjebak mereka. "
" Memang satu kemungkinan " sahut Kiai Badra. Tetapi katanya kemudian " Juga
mudah-mudahan keduanya tidak tergoda untuk membinasakan anak muda itu. Meskipun
mungkin orang tuanya atau kakeknya tidak tahu, apa yang terjadi dengan Puguh,
namun dendam mereka akan dengan mudah tertuju kepada Risang. Sementara itu
Risang belum siap untuk berbuat sesuatu bagi dirinya sendiri.
" Tetapi hancurnya Song Lawa tentu akan segera didengar oleh orang tua Puguh.
Seandainya Sambi Wulung dan Jati Wulung terdorong mengambil langkah-langkah yang
keras terhadap anak itu, maka orang tuanya tentu mengira bahwa anaknya telah
binasa di Song Lawa. "
" Jika satu saja pengawalnya lolos atau masih hidup dan kelak dibebaskan, maka
persoalannya akan lain apabila pengawalnya itu dapat mengatakan bahwa Puguh
telah melarikan diri bersama dengan dua orang yang lain,serta anak muda itu
tidak tertawan di Pajang. "
Kedua orang tua itu agaknya mendapat persesuaian pendapat, bahwa tidak
kenguntungan bagi Risang, jika Puguh di selesaikan oleh Sambi Wulung dan Jati
Wulung untuk menghindari persaingan antara kedua orang anak Wiradana itu.
Namun ternyata bahwa Sambi Wulung dan Jati Wulungpun berpendapat sebagaimana
kedua orang tua itu. Merekapun telah membicarakannya dengan hati-hati sesaat
setelah mereka terlepas dari tangan para prajurit Pajang. Namun merekapun
berkesimpulan untuk membawa Puguh kembali ke kediamannya.
Ketika kemudian mereka menjadi semakin jauh dengan lingkungan perjudian Song
Lawa, maka Sambi Wulung mulai bertanya tentang arah perjalanan mereka kepada
Puguh.
" Kita tidak akan dapat berjalan tanpa tujuan " berkata Sambi Wulung.
" Lebih baik aku pulang. Terima kasih atas pertolongan kalian sahut Puguh
tiba-tiba.
" Marilah " berkata Jati Wulung " aku antar kau sampai kerumahmu. Kami sudah
terlanjur berusaha melarikan diri bersama-sama. Aku tidak tahu, apakah ada orang
lain yang juga berhasil melarikan diri atau tidak. Karena itu, apapun yang akan
kita alami diperjalanan, akan kita alami bertiga, sampai saatnya kau benar-benar
bebas dari segala kemungkinan buruk. Kau masih terlalu muda. Seandainya kita
bersama-sama anak-anak muda yang lain. "
Puguh termangu-mangu. Namun katanya kemudian " Aku akan dapat menempuh
perjalanan kembali seorang diri. Aku sudah dapat menjaga diriku sendiri. "
" Jangan mengira sedemikian mudah kita menempuh perjalanan saat ini " berkata
Jati Wulung " aku tidak tahu kenapa di Song Lawa kali ini hadir orang-orang
seperti Kepala Besi, Sikatan Putih. Kelompok Macan Ireng dan barangkali masih
ada yang lain yang tidak kita ketahui. Agaknya tentu ada hubungannya dengan
perkembangan keadaan diluar Song Lawa, terutama yang menyangkut kemelut di
Pajang itu sendiri. "
" Mereka sudah terbiasa berada di Song Lawa. Malah justru kalian berdua
merupakan orang baru di lingkungan itu " jawab Puguh.
" Kepala Besi dan Sikatan Putih? " bertanya Sambi Wulung.
Puguh menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian mengangguk-angguk sambil
berkata " Aku memang melihat beberapa orang baru termasuk kalian berdua. Tetapi
kenapa kalian bersusah payah menyelamatkan aku? "
" Kau terlalu baik kepada kami " jawab Jati Wulung " tetapi sebenarnya memang
ada dorongan lain yang telah memaksa kami berusaha menolong anak-anak muda.
Karena bagi kami anak-anak muda akan sama artinya dengan masa depan. "
" Apa kepentingan kalian dengan masa depan, sementara kalian berdua juga berada
di Song Lawa? " bertanya Puguh.
Sambi Wulung dan Jati Wulung saling berpandangan sejenak. Ternyata bahwa
Puguhpun seorang anak muda yang mempergunakan nalarnya dengan baik. Ia tidak
sekedar berbuat. Tetapi ternyata bahwa iapun berpikir.
Puguh " berkata Sambi Wulung kemudian " kami berdua adalah orang-orang tua. Kami
memang sudah terlanjur rusak, bahkan seakan-akan lahir dan batin. Tetapi
terhadap anak-anak kami, kemanakan kami dan orang-orang muda yang berhubungan
dengan kami, kami tidak pernah mengatakan bahwa kami berada di tempat-tempat
seperti Song Lawa. kami selalu mengatakan bahwa kami telah mengembara untuk
menambah pengetahuan kami. Kami tidak ingin, anak-anak kami, kemanakan-kemanakan
kami dan anak-anak muda yang lain terjerat dalam perjudian. Karena itu, ketika
kami melihat beberapa orang anak muda termasuk kau di Song Lawa, kami memang
agak menyesal. "
" Terima kasih atas perhatianmu " jawab Puguh " tetapi aku tidak usah membuat
kalian terlalu sibuk mengurusi aku. "
" Tidak " jawab Sambi Wulung " tetapi kita belum terlepas dari bahaya yang
mungkin menerkam kita setiap saat. "
Puguh menarik nafas dalam-dalam. Katanya " Baiklah. Kita akan berjalan
bersama-sama. "
Sambi Wulung dan Jati Wulung hanya mengangguk-angguk saja. Namun merekapun
kemudian telah berjalan bersama-sama. Mereka tidak menempuh jalan yang biasa
dipergunakan oleh mereka yang akan memasuki Song Lawa. Tetapi mereka menempuh
jalan-jalan sempit diantara pedukuhan-pedukuhan kecil di lereng Gunung.
Namun sambil melingkar, maka merekapun mulai menuruni lereng.
Ternyata perjalanan mereka bukannya perjalanan yang mudah. Bahkan mereka merasa,
tatapan mata kecurigaan dari orang-orang padukuhan. Betapapun rapinya pakaian
Puguh sebelumnya, tetapi setelah menempuh perlalanan yang panjang, maka pakaian
itupun telah menjadi kotor oleh keringat dan debu tanpa dapat berganti yang
lain.
Tetapi ketiga orang itu sama sekali tidak menghiraukannya. Mereka sama sekali
tidak memerlukan orang-orang padukuhan itu. Sementara Sambi Wulung dan Jati
Wulung ternyata masih membawa uang cukup. Bukan saja uang yang mereka bahwa
memasuki Song Lawa, tetapi mereka justru telah memenangkan beberapa permainan di
tempat itu.
Dalam pada itu, Puguhpun sempat bertanya " Bagaimana kau sempat membawa semua
uangmu? "
" Apakah kau tidak? " bertanya Sambi Wulung.
Puguh menggeleng. Katanya " Aku tidak sempat mengambilnya. Tetapi ada juga
dugaanku, bahwa kita akan dapat mempertahankan lingkungan perjudian itu
sebagaimana pernah kita lakukan beberapa malam sebelumnya. Namun agaknya pasukan
Pajang jauh lebih kuat dari segerombolan perampok yang datang malam itu. "
" Sudahlah " berkata Sambi Wulung " uang kami berdua cukup untuk keperluan
selama kita dalam perjalanan. -
Puguh menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata " Terima kasih.
Kalian terlalu baik kepadaku"
Dengan hati-hati Sambi Wulung berkata " Sebenarnya sejak aku memasuki lingkungan
perjudian itu aku memang sangat menaruh perhatian kepada anak-anak muda. Aku
mencoba menghubungi mereka seorang demi seorang. Namun nampaknya mereka telah
terlalu dalam tenggelam dalam dunia perjudian sehingga sulit untuk dapat
diangkat kembali. Bahkan mereka berusaha untuk menjauhi aku. Hanya kau sajalah
yang tidak berbuat demikian, bahkan kau telah banyak memberi kepada kami berdua
selama kami berada di Song Lawa. "
Puguh mengangguk-angguk. Suaranya menjadi dalam " Tetapi aku tidak ingin
digiring oleh orang-orang Pajang seperti sekelompok itik di jalan-jalan menuju
ke Pajang. "
" Namun sangat memalukan. " desis Jati Wulung
" itulah sebabnya kita melarikan diri. Meskipun sebenarnya lari bukanlah sifat
laki-laki. Tetapi dalam keadaan
seperti ini, pilihan yang paling baik adalah memang lari. "
Puguh tidak segera menyahut. Namun ia memandang jalan di hadapannya dengan
tatapan mata yang tajam. Jalan yang membujur sangat panjang tanpa ujung. Tetapi
Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak tergesa-gesa bertanya, Puguh akan menuju ke
mama? Menurut pengenalan mereka, setelah mereka menjauhi Song Lawa, maka mereka
justru menuju ke arah Barat, menuruni kaki Pegunungan.
Namun demikian mereka bertiga harus tetap berhati-hati dalam perjalanan. Mereka
akan dapat bertemu dengan bahaya yang mungkin tidak diperhitungkan lebih dahulu.
Sementara itu Puguhpun tidak segera berusaha benar-benar memisahkan diri dari
kedua orang yang bersamanya keluar dari Song Lawa, justru karena kebiasaannya
berjalan bersama-sama dengan beberapa orang pengawal. Apalagi ketiga orang itu
sama sekali tidak dibatasi oleh waktu, sehingga mereka berjalan menurut
keinginan dimana saja mereka ingin beristirahat. Di pinggir-pinggir hutan, di
pategalan, di tanggul sungai atau di bawah pepohonan.
Tetapi bagaimanapun juga mereka tidak ingin terlalu banyak bertemu dengan
siapapun juga, karena mereka tidak dapat mengingkari pengenalan mereka atas diri
sendiri, bahwa mereka adalah buronan prajurit Pajang. Setiap mereka bertemu
dengan siapapun juga yang meskipun tidak mereka kenal sama sekali, terutama bagi
Puguh yang muda itu, rasa-rasanya mata mereka selalu tertuju kepadanya.
Mengawasinya dengan penuh curiga dan mengikutinya apa saja yang mereka lakukan.
Karena itulah, maka perjalanan mereka menjadi sangat lambat. Jati Wulung harus
menahan diri untuk berjalan selamban itu. Namun Sambi Wulung nampaknya sama
sekali tidak berkeberatan. Bahkan seakan-akan perjalanan yang dilakukan itu
adalah perjalanan yang paling sesuai dengan kebiasaannya.
Jati Wulung yang mencoba menghilangkan kejemuannya, sempat tertidur dibawah
sebatang pohon yang besar ketika mereka berhenti disudut sebuah hutan kecil.
Namun ketika ia terbangun, maka yang pertama kali diucapkannya adalah " Aku
lapar sekali. "
Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun bertanya kepada Puguh "
Apakah kau lapar? "
Puguh mengangguk. Tetapi jawabnya " Tetapi tidak terlalu mendesak. "
Namun ternyata Jati Wulung tidak ingin ditunda lagi. Karena itu maka merekapun
telah melanjutkan perjalanan. Mereka dengan hati-hati justru menuju ke sebuah
padukuhan, karena Jati Wulung berharap bahwa di padukuhan itu akan didapatinya
sebuah kedai makanan.
" Kita akan makan " berkata Jati Wulung " di Song Lawa aku beberapa kali telah
membayar makanan dan minuman kami. Nah, sekarang sampailah pada giliran kami.
Justru kami sempat membawa uang kami keluar dari Song Lawa. "
" Nampaknya perutmu sudah tidak dapat bertahan lebih lama lagi " desis Sambi
Wulung.
" Tubuhkulah yang merasa gemetar " jawab Jati Wulung " jika di padukuhan itu
tidak ada sebuah kedaipun, maka rasa-rasanya aku tidak akan dapat berjalan lagi.
"
Sambi Wulung mengerutkan keningnya. Sementara itu Puguh tersenyum sambil berkata
" Itulah agaknya kau terlalu sering aku jumpai sedang berada di kedai ketika kau
berada di Song Lawa, "
Jati Wulung hanya mengangguk kecil. Tetapi wajahnya memang nampak menjadi pucat.
Untunglah bahwa mereka sempat menemukan sebuah kedai yang cukup besar di
padukuhan itu. Meskipun matahari sudah menjadi semakin rendah, namun ternyata
kedai itu masih juga terbuka dan nasi yang ada didalamnya masih berasap.
" Jalan ini tentu jalan yang ramai dari satu tempat ketempat lain yang cukup
penting " berkata Sambi Wulung.
" Ya " jawab Puguh " didalam kedai itupun terdapat banyak orang. Apakah kita
tidak dapat mencari kedai yang lebih kecil? "
" Kenapa harus menghiraukan orang lain " sahut Jati Wulung " aku sudah tidak
dapat berjalan lagi. Jika kita tidak makan disini dan tidak menemukan kedai yang
lain, maka aku akan pingsan. Nah, kepalaku mulai pening, pandanganku mulai
berkunang-kunang. "
" peduliku " berkata Sambi Wulung " jika
kau pingsan, diparit itu mengalir air meskipun agak keruh.
Jati Wulung mengerutkan keningnya. Namun tanpa berbicara lagi, iapun telah
melangkah mendekati kedai itu. Bahkan kemudian masuk kedalamnya. Sambi Wulung
dan Puguh tidak mempunyai pilihan lain. Merekapun kemudian telah mengikuti Jati
Wulung memasuki kedai itu.
Ternyata mereka benar-benar terkejut melihat orang-orang yang sudah berada di
kedai itu. Beberapa orang dengan wajah dan sorot mata yang menggetarkan.
Tetapi Jati Wulung akhirnya tidak mempedulikan mereka. Perutnya memang sudah
merasa sangat lapar. Bahkan ketika dilihatnya nasi yang berasap, rasa-rasanya ia
sudah tidak sabar lagi.
Bersama Sambi Wulung dan Puguh iapun kemudian duduk disudut kedai itu. Merekapun
telah memesan wedang jahe dan nasi hangat, sementara pelayan di kedai itu telah
menghidangkan beberapa macam makanan, sementara mereka menunggu minuman dan nasi
yang mereka pesan.
Jati Wulung memang tidak sabar lagi. Ia telah memungut beberapa potong makanan
dan di suapinya mulutnya dengan lahapnya.
Namun, demikian ia memasukkan makanan itu dimulutnya, maka iapun telah sempat
melihat beberapa wajah di kedai itu yang mengawasinya. Mata-mata yang tajam itu
memandanginya dengan penuh perhatian. Namun Jati Wulung sempat menghibur dirinya
sendiri untuk tidak menjadi gelisah " Agaknya mereka heran melihat caraku makan.
"
Setelah menunggu beberapa saat, maka yang mereka pesanpun telah dihidangkan.
Minuman dan nasi hangat.
Sementara itu Jati Wulung benar-benar tidak menghiraukan orang-orang lain yang
ada di kedai itu. Ia makan saja sebagaimana diinginkannya karena perutnya memang
lapar. Bahkan iapun kemudian telah minta tambah semangkuk lagi.
Ketika ketiganya kemudian sudah selesai, ternyata orang-orang yang ada di kedai
itu, yang telah berada ditempat mereka lebih dahulu, masih juga belum beranjak
dari tempat mereka. Tetapi ketiga orang itu tidak menghiraukannya lagi,
lebih-lebih Jati Wulung.
Namun ternyata bahwa orang-orang yang ada di kedai itu menaruh perhatian
terhadap ketiga orang itu. Mereka melihat pakaian yang baik tetapi kotor oleh
keringat dan debu yang dikenakan oleh Puguh.
Sedangkan dua orang kawannya adalah orang-orang yang sudah jauh lebih tua dengan
mengenakan pakaian yang lebih sederhana, namun juga sudah kotor dan lusuh.
Tetapi orang-orang yang ada di kedai itu terkejut ketika mereka melihat Sambi
Wulung mengeluarkan kampil dari kantong bajunya. Membuka talinya dan
mengeluarkan beberapa keping uang untuk membayar harga makanan dan minuman
mereka bertiga.
Menurut pendapat orang-orang yang ada di kedai itu adalah bahwa uang yang dibawa
oleh Sambi Wulung ternyata terlalu banyak. Sekampil uang itu tentu bernilai
sangat besar. Bahkan orang-orang itu juga berpendapat, bahwa yang membawa uang
dan mungkin juga barang-barang berharga tentu tidak hanya seorang saja diantara
ketiga orang itu.
Karena itu, maka ketika Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguh keluar dari kedai
itu, maka orang-orang itupun telah membayar pula harga makanan yang mereka makan
dan minuman yang mereka minum. Tetapi karena ternyata orang-orang itu sudah
terlalu biasa makan dan minum di kedai itu, maka ketika ada diantara mereka yang
belum mempunyai uang cukup untuk membayar telah berkata sambil tersenyum "
Sabarlah. Aku akan segera kembali dan membayar dengan uang yang berkelebihan. "
" Jangan bohong. Seberapapun kau mendapat uang, tetapi dihari itu juga uang itu
habis, ---berkata pemilik kedai itu.
Orang itu tertawa. Katanya " Kali ini jangan cemas.
"
Orang-orang itupun kemudian telah meninggalkan kedai itu pula. Mereka masih
melihat arah Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguh berjalan.
" Mereka memang menarik perhatian " berkata orang tertua dari beberapa orang
yang keluar dari kedai itu " apalagi ketika mereka kemudian mengeluarkan uang
sekampil hanya untuk membayar beberapa keping makanan dan minuman bagi mereka
bertiga. "
" Apakah mereka sengaja memancing perhatian kami? " bertanya salah seorang
diantara mereka.
" Entahlah. Tetapi ketika mereka masuk, mereka nampak terkejut melihat kami. "
jawab yang tertua.
" Hati-hatilah terhadap mereka " berkata seorang yang bertubuh tinggi. Meskipun
nampaknya masih muda, tetapi agaknya ia sudah cukup berpengalaman. Lalu katanya
pula " Meskipun tidak menjadi jalan utama, tetapi ada juga orang-orang yang
pergi dan kembali dari Song Lawa lewat jalan ini. "
" Agaknya pasukan yang lewat beberapa hari yang lalu benar-benar telah
menghancurkan Song Lawa meskipun sebelumnya sekelompok perampok telah gagal
merampas harta benda yang tidak terhitung jumlahnya di dalam lingkugan perjudian
itu. " berkata orang yang tertua diantara mereka.
" Dan ketiga orang itu adalah mereka, yang sempat melarikan diri " sahut yang
lain.
Orang yang tertua diantara mereka mengangguk-angguk. Katanya " Agaknya mereka
tidak tahu sama sekali, bahwa jalan inilah yang telah dilalui oleh pasukan
Pajang itu. Memang tidak terduga bahwa untuk mencapai Song Lawa dari Pajang
telah dilalui jalan ini. Tetapi agaknya justru hal itulah yang dikehendaki oleh
pasukan itu.
Sementara itu seorang yang lain dari antara mereka bertanya " Lalu apa yang akan
kita lakukan terhadap mereka? Ternyata mereka membawa uang cukup banyak. Dari
atau tidak dari Song Lawa uang itu tetap bernilai bagi kita. "
Orang tertua diantara mereka itupun berkata " Aku sependapat, bahwa kita harus
berhati-hati terhadap mereka. "
" Kita semuanya tujuh orang " berkata seorang yang masih cukup muda, berbadan
tegap tinggi dan tegar. Tetapi kawannya yang bertubuh tinggi, sekali lagi
memperingatkan " Kita harus berhati-hati. Agaknya mereka bukan orang kebanyakan.
Aku condong menduga mereka adalah pelarian dari Song Lawa jika pasukan yang kita
lihat lewat jalan ini benar-benar telah menyerang. Atau bahkan mereka telah
meninggalkan Song Lawa sebelum tempat itu disergap oleh para prajurit. "
" Menilik pakaian mereka serta keadaan mereka tanpa seikat bawaanpun ditangan
mereka, maka agaknya pasukan Pajang memang telah menyergap dan mereka adalah
pelarian dari Song Lawa yang sempat membawa uang mereka. " berkata orang yang
tertua diantara mereka.
" Jadi, apakah yang akan kita lakukan? Jangan menunggu mereka semakin jauh dan
hilang dari pengamatan kita " desak anak muda yang bertubuh tegap kekar.
Orang tertua diantara mereka itupun berkata " Kita akan mengikuti mereka dari
jarak yang cukup. Jalan ini tidak banyak bercabang, sehingga kita tidak akan
kehilangan mereka. Kitapun tidak akan berjalan dalam kelompok yang banyak ini.
Dua orang akan berada di depan. "
" Baiklah " berkata orang yang bertubuh tegap kekar " aku akan berada dipaling
depan.
" Pergilah " sahut orang yang tertua diantara mereka " bawa seorang kawan.
Ingat, sebentar lagi senja akan turun. Kita harus mengambil keputusan, apakah
kita akan bertindak setelah matahari tenggelam atau sebelumnya begitu kita
keluar dari padukuhan ini. "
Orang yang bertubuh tegap kekar itu mengangguk. Iapun kemudian bersama seorang
kawannya mendahului kawan-kawannya yang lain mengikuti perjalanan Sambi Wulung,
Jati Wulung dan Puguh.
Namun ternyata bahwa orang yang bertubuh kekar itu agaknya tidak terlalu
memperhatikan pesan kawan-kawannya, sehingga ia agak kurang berhati-hati.
Sehingga karena itu, maka ketika mereka berjalan semakin jauh, Sambi Wulung,
Jati Wulung dan Puguhpun mengetahui, bahwa mereka telah diikuti oleh dua orang
yang belum mereka kenal.
" Agaknya mereka adalah orang-orang yang ada di kedai itu " berkata Jati Wulung.
" Mungkin. Tetapi jika demikian itu adalah urusanmu " sahut Sambi Wulung.
" Kenapa urusanku? " bertanya Jati Wulung.
" Kaulah yang berkeras untuk memasuki kedai itu " jawab Sambi Wulung.
" Ah kau " desis Jati Wulung. Namun kemudian katanya " Tetapi jika kedua orang
itu diserahkan kepadaku, aku tidak berkeberatan. "
Puguhlah yang menyahut " Wanengpati akan dapat menyelesaikan mereka. "
" Tetapi aku kira mereka tidak hanya berdua " berkata Sambi Wulung " mungkin ada
beberapa orang lainnya dibelakang. Agaknya mereka melihat kampilku yang berisi
uang, sehingga mereka berniat untuk mengambil uang itu. "
Puguh mengangguk-angguk. Katanya " Kau memang terlalu ceroboh. Kenapa kau tidak
menyediakan uang dikantongmu beberapa keping saja, sehingga kau tidak perlu
mengeluarkan kampilmu itu dari kantong bajumu? "
" Aku mempunyai dua kampil. Wanengpati juga membawa dua kampil. " jawab Sambi
Wulung.
" Maksudku, berapapun kalian membawa, tetapi kalian tidak perlu memamerkannya
kepada orang lain, agar tidak timbul masalah seperti sekarang ini. " berkata
Puguh.
Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun pada satu kesempatan,
selagi Putuh berjalan agak menepi sambil memperhatikan lereng yang agak curam
Sambi Wulung berdesis " Mudah-mudahan mereka benar-benar menginginkan uang kita.
"
" Kenapa? " bertanya Jati Wulung hampir berbisik.
" Sekedar membuktikan kepada Puguh, bahwa perjalanan ini masih berbahaya. Dengan
demikian maka ia akan tetap memerlukan kita. " sahut Sambi Wulung perlahan-lahan
sekali.
Namun Jati Wulungpun kemudian mendekati Puguh sambil berkata " Hati-hati. Jangan
terjun kedalam jurang itu. Kau tahu, bahwa jurang itu dalam dan curam. "
Puguh mengangguk-angguk Namun tiba-tiba ia justru memungut sebuah batu yang
cukup besar dan melontar kannya kedalam jurang itu.
Jati Wulung berdiri termangu-mangu. Namun ketika beberapa lama kemudian mereka
mendengar suara batu itu terjatuh, maka iapun berdesis " Jurang itu cukup dalam.
"
" Tempat yang baik untuk melemparkan orang-orang itu. Dengan demikian kita tidak
perlu menguburkannya " berkata Puguh.
" Atau kitalah yang akan mereka lemparkan setelah kampil-kampil uang kita
diambilnya. " sahut Jati Wulung.
Puguh tertawa. Katanya " Memang mungkin. Tetapi hanya mereka yang membawa uang
saja yang akan dilemparkannya. Bukan aku. "
Jati Wulungpun tertawa juga. Justru sambil berpaling kearah kedua orang yang
berjarak beberapa puluh langkah. Namun agaknya kedua orang itu telah menepi dan
berlindung dibalik pohon perdu.
" Mereka adalah orang-orang dungu " berkata Jati Wulung " mereka mengikuti kita
pada jarak yang terlalu dekat. Agaknya mereka takut kehilangan kita. Mungkin
diantara mereka tidak terdapat yang ahli menelusuri jejak.
" Kau mampu melakukannya " bertanya Puguh.
" Tentu " jawab Jati Wulung.
Pembicaraan itupun kemudian terhenti ketika keduanya telah melangkah melanjutkan
perjalanan. Satu sisi jalan adalah bulak yang luas, sedangkan disisi lain
terdapat jurang yang dalam. Sementara itu padukuhan berikutnya terletak di
tempat yang agak jauh.
Dalam pada itu, agaknya orang bertubuh kekar itu benar-benar tidak sabar lagi.
Apalagi iapun menyadari, bahwa ketiga orang itu sudah melihatnya berdua. Karena
itu, maka iapun telah menungguorang tertua diantara mereka.
" Kenapa kau berhenti? " bertanya orang tertua itu.
" Kita sudah keluar dari padukuhan. " jawab orang betubuh kekar " kita harus
cepat mengambil keputusan. "
" Jalan ini jalan yang banyak dilalui orang yang bepergian dengan jarak panjang.
Lewat jalan ini pula pasukan Pajang bergerak menuju ke Song Lawa meskipun agak
melingkar. " berkata orang tertua itu.
" Mereka justru memilih jalan lain untuk menghindari pengamatan petugas sandi
yang dipasang oleh para pemimpin Song Lawa itu. " jawab orang bertubuh kekar itu
" namun agaknya kita tidak akan memerlukan waktu terlalu lama. Kita dengan cepat
menyelesaikan mereka, sementara jurang disebelah itu akan tetap ternganga. "
Ketika orang tertua diantara mereka sedang berpikir. Maka seorang lain berkata "
Jangan lepaskan mereka. Mungkin kita tidak akan dapat menemukan orang-orang yang
membawa uang cukup banyak seperti mereka. "
" Kita memang tidak akan melepaskan mereka. " berkata kawannya " tetapi mungkin
kita akan menjumpainya pula jika ada orang lain yang sempat lari dari Song Lawa
dengan membawa sisa uang mereka. "
" Jangan bermimpi. Sekarang yang ada adalah mereka " berkata orang yang bertubuh
kekar " apa yang harus kita lakukan segera. "
" Baiklah " berkata orang tertua diantara mereka " senja mulai turun. Hentikan
mereka ditengah-tengah bulak. Kita harus bekerja cepat dan melemparkan tubuh
mereka kedalam jurang. "
Kedua orang yang mengikuti Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguh itupun tidak
menunggu lebih lama lagi. Merekapun segera melangkah menyusul ketiga orang yang
sudah berada ditengah-tengah bulak panjang.
Dalam pada itu, ketiga orang itupun menjadi heran ketika mereka tidak melihat
lagi kedua orang yang mengikuti mereka. Namun ketajaman penalaran merekapun
segera dapat menduga apa yang akan terjadi.
" Agaknya keduanya telah menemukan tempat yang paling tepat " berkata Sambi
Wulung.
" Ya. Mereka sedang mengambil ancang-ancang. Sebentar lagi mereka akan datang,
mungkin tidak hanya berdua. Mereka menganggap bahwa tempat ini adalah tempat
yang paling tepat. Apalagi disaat-saat matahari mulai bersembunyi di balik
pabukitan. Orang-orang yang ada disawah telah pulang, sementara yang akan
menunggui air dimalam hari masih belum, datang. " sahut Jati Wulung.
Puguhpun mengangguk-angguk. Katanya " Ya. Agaknya memang demikian. Jadi, apakah
kita justru akan menunggu mereka? "
" Kita tidak usah menunggu. Dengan demikian akan dapat menimbulkan kecurigaan.
Kita berjalan terus, tetapi tidak tergesa-gesa. " jawab Sambi Wulung. Ia memang
mengharap orang-orang di kedai itu memburu mereka untuk merampas uangnya. Dengan
demikian maka Puguh akan menganggap bahwa perjalanannya bersama dua orang yang
dikenalnya sebagai Wanengbaya dan Wanengpati itu ada artinya. Jika demikian maka
tidak mustahil bahwa Puguh tidak akan berkeberatan untuk menunjukkan tempat
tinggalnya serta tempat tinggal orang tuanya
Demikianlah ketiga orang itu telah berjalan dalam keremangan senja. Sementara
itu dua orang yang berjalan beberapa puluh langkah dibelakang mereka telah
mempercepat langkah mereka.
Bahkan ketika keduanya menjadi semakin dekat, terdengar orang yang bertubuh
kekar itu justru memanggil " Ki Sanak. Aku minta kau berhenti sejenak. "
Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Namun Jati Wulung berdesis
" Ternyata mereka adalah orang yang sangat kasar. Mereka tidak sekedar
menyusul kita. Tetapi mereka menghentikan kita. "
Sambi Wulung mengangguk. Katanya " Kita akan menunggu. "
Ketiga orang itupun kemudian telah berhenti untuk menunggu kedua orang yang
dengan tergesa-gesa menyusul mereka. Namun dalam pada itu ketiga orang itupun
telah melihat pula lima orang lainnya yang berjalan menuju kearah mereka pula.
" Nah " berkata Sambi Wulung " itulah kawan-kawannya. "
" Ya " desis Puguh " ternyata bahwa setelah kita keluar dari Song Lawapun masih
juga ada persoalan yang harus diatasi. "
" Bersiaplah " berkata Sambi Wulung pula " agaknya mereka tidak bermain-main.
Menilik wajah dan tatapan mata mereka sebagimana kita lihat di kedai itu, maka
mereka adalah orang-orang yang garang. "
" Ternyata Pajang harus lebih banyak membenahi diri " berkata Jati Wulung "
namun agaknya perhatian Pajang mulai tertuju, kepada sikap orang-orang dalam
yang kecewa. "
" Bagaimanapun juga, rakyat yang jauh dari Kotaraja memerlukan perlindungan.
Bukan saja tempat-tempat seperti Song Lawa yang harus dihancurkan. Tetapi harus
diusahakan untuk membatasi tingkah laku orang-orang yang lepas dari jangkuan
paugeran seperti orang-orang ini. " guman Sambi Wulung seakan-akan ditujukan
kepada diri sendiri.
Namun dalam pada itu diluar dugaan Sambi Wulung dan Jati Wulung, wajah Puguhpun
telah berubah pula. Ada semacam persoalan yang tiba-tiba mencengkam jantungnya.
Tetapi agaknya anak muda itu berusaha menyembunyikannya meskipun ia tidak dapat
melepaskan pengamatan Sambi Wulung dan Jati Wulung yang sekilas telah menangkap
perasaannya yang nampak pada wajahnya itu.
Dalam pada itu, kedua orang yang dengan tergesa-gesa mendekatinya itu telah
berhenti beberapa langkah dari ketiga orang yang menunggu mereka. Dengan nada
berat Sambi Wulungpun kemudian bertanya " Ada apa Ki Sanak? Ki Sanak telah
menghentikan perjalanan kami. "
" Siapakah kalian bertiga? " bertanya orang yang bertubuh tinggi kekar.
" Kami adalah pengembara yang berjalan tanpa tujuan " jawab Sambi Wulung.
Orang bertubuh kekar itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya " Pengembara
sekalipun tentu mempunyai keterangan tentang dirinya. Namanya, asal usulnya dan
barangkali tujuannya. "
" Siapakah kami dan asal usul kami tidak penting bagi Ki Sanak. Sementara tujuan
kami adalah sekedar mengembara mengikuti gerak dan langkah kaki saja " jawab
Sambi Wulung pula.
" Penting atau tidak penting, tetapi sebutkan " bentak orang bertubuh tinggi
kekar itu.
Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Katanya
" Apakah akan ada artinya bagimu Ki Sanak? Bukankah aku akan dapat menyebut nama
apapun juga dan asal-usul, asal saja berucap. Karena itu daripada aku harus
berbohong, maka lebih baik aku tidak menyebut apapun juga. "
" Persetan " geram orang itu " kau akan menyesal dengan kesombonganmu. Kami
adalah para pengawal padukuhan ini. Jika kalian tidak mau mengatakan nama dan
asal usul kalian dengan sebenarnya, maka kalian harus kami tangkap dari kami
hadapkan kepada para bebahu. "
Tetapi Sambi Wulung tertawa. Katanya dengan nada tinggi " Kau kira aku percaya
bahwa kalian adalah pengawal padukuhan? Para pengawal padukuhan tentu terdiri
dari anak-anak muda, berwajah keras tetapi bersih dan bersinar oleh ketegaran
niatnya yang bersih. Tanpa pamrih bagi dirinya sendiri. Sudah ratusan pedukuhan
kami jelajahi. Dan sudah ratusan kali pula kami temui kelompok-kelompok pengawal
padukuhan, sehingga dengan demikian kami mempunyai gambaran yang terang atas
para pengawal itu. Tidak ada sekelompokpun pengawal padukuhan yang ujudnya
seperti kalian itu. "
Orang bertubuh tinggi kekar itu menggeram. Jika saja ia tidak mengingat orang
tertua di kelompoknya yang selalu mengekangnya, maka ia tentu sudah meloncat
menerkam dan mencekik leher Sambi Wulung.
Namun orang bertubuh tinggi kekar itupun kemudian berkata " Kau harus menebus
kesombonganmu dengan harga yang sangat mahal. Tetapi biarlah pemimpin kami yang
kemudian berbicara. "
" Siapakah pemimpinmu itu? Ki Bekel atau Ki Demang? " bertanya Jati Wulung
tiba-tiba.
" Persetan " geram orang yang hampir kehabisan kesabaran itu.
Namun dalam pada itu, kelima orang yang lainpun telah mendekat pula. Orang
tertua diantara merekapun melangkah maju. Dengan suara yang lebih lunak ia
berkata " Selamat malam Ki Sanak. "
" Malam belum turun " sahut Jati Wulung seenaknya.
Tetapi adalah diluar dugaan, bahwa orang itu justru tertawa. Katanya " Tetapi
sore sudah lewat. "
Jati Wulung mengerutkan keningnya. Tetapi tiba-tiba iapun tertawa juga. Katanya
" Kita memang berada dibatas antara sore dan malam hari. "
" Kau benar " sahut orang tertua dari sekelompok orang yang menghentikan
perjalanan Sambi Wulung bertiga itu. Lalu " kita berada dibatas. Tetapi baiklah,
kita tidak usah mempersoalkannya. Yang penting Ki Sanak, kami mempunyai
kepentingan dengan Ki Sanak. Jika tadi sambil berjalan mendekat, agaknya aku
mendengar kalian mengelakkan menyebut keterangan tentang diri Ki Sanak bertiga,
maka sebaiknya aku langsung saja pada kepentinganku. Serahkan uang kalian. Aku
tidak peduli siapakah kalian yang barangkali termasuk pelarian dari Song Lawa. "
Sambi Wulung mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian bertanya " Kenapa kau
menyangka bahwa kami adalah pelarian dari Song Lawa? "
" Kami melihat sepasukan prajurit Pajang melewati jalan ini yang agaknya menuju
ke Song Lawa beberapa hari yang lalu. Nah, agaknya mereka telah memasuki tempat
perjudian yang terkutuk itu. Dan kalian adalah diantara mereka yang melarikan
diri. " berkata orang tertua diantara kelompok itu.
" Kenapa kau dapat menyebut, bahwa tempat itu adalah tempat yang terkutuk? "
bertanya Sambi Wulung.
" Jangan berpura-pura. Bukan saja tempat itu, tetapi padukuhan-padukuhan
disekitarnya dan yang terletak di jalan yang menuju ke Song Lawa telah mengalami
pengaruh buruk. " jawab orang itu.
" Jika demikian, apa katamu tentang pekerjaan yang kau lakukan ini? Apakah itu
lebih baik dari mereka yang berjudi di Song Lawa? Yang berjudi dengan uang
mereka sendiri tanpa mengganggu orang lain? " bertanya Sambi Wulung.
Tetapi orang tertua itu tertawa. Katanya " Siapa bilang mereka berjudi dengan
uang mereka sendiri? Dari mana mereka mendapatkan uang itu? Ada seorang
Tumenggung yang mempunyai kesenangan berjudi.
Akhirnya ternyata bahwa perbendaharaan yang dipercayakan kepadanya telah
dihabiskannya. Akibatnya ia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Tetapi
ia sempat melarikan diri dan akhirnya, ia justru menjadi perampok yang paling
ditakuti di lingkungannya. "
" Apakah kau berbicara tentang dirimu sendiri? " bertanya Sambi Wulung.
Orang tertua itu termenung sejenak. Namun kemudian katanya " Sekarang berikan
uangmu. Semuanya, jangan ada yang kau sembuyikan sehingga aku harus mengambilnya
sendiri. Jangan pula berusaha mempertahankannya, karena itu adalah sia-sia.
Bukankah uangmu itu sebenarnya akan kau habiskan juga di barak-barak permainan
judi? "
Jati Wulunglah yang kemudian tertawa. Katanya " Kau aneh. Kau tebak asal saja
menebak. Sebagian dari tebakanmu memang benar. Kami adalah pelarian dari Song
Lawa. Tetapi jika kami berada di Song Lawa, kami tidak akan menghabiskan uang
kami, justru di Song Lawa kami mendapatkan uang banyak sekali. Kami menyesal
bahwa Song Lawa telah dihancurkan. Padahal tempat itu merupakan sumber
penghasilan kami. "
Orang tua itu mengerutkan keningnya. Katanya "
Mana mungkin seseorang dapat mencari penghasilan di Song Lawa. Bukankah di Song
Lawa justru disediakan satu bilik khusus untuk membunuh, diri bagi mereka yang
menjadi putus asa karena semua kekayaannya terkuras habis. "
" Justru ada diantara meraka yang membunuh diri, maka tentu ada pula yang
menang. Dan kami adalah orang-orang yang selalu menang. " jawab Jati Wulung.
" Yang menang adalah orang-orang Song Lawa sendiri " geram orang tua itu.
" Jangan membantah " bentak Jati Wulung tiba-tiba " kamilah yang mengalami.
Kamilah yang tahu pasti. Seperti sekarang ini. Kami sudah memenangkan perjudian
itu, meskipun seharusnya kami masih akan dapat menang lebih banyak lagi
seandainya prajurit-prajurit Pajang itu tidak datang. " m
" Persetan " geram orang tertua itu " berikan uang itu kepada kami. "
Adalah juga diluar dugaan jika Jati Wulung justru tertawa. Katanya " Kau
nampaknya memang mempunyai kebiasaan menunggu orang-orang Song Lawa keluar dari
lingkungan perjudian itu setiap habis musim judi. Kau cegat orang-orang yang kau
anggap menang, dan kemudian kau ancam agar mereka memberikan uang kemenangannya
itu kepadamu. Sayang, nampaknya kau belum pernah membentur orang-orang seperti
Kepala Besi, Sikatan Putih atau gerombolan Macan Ireng. Atau, kami bertiga.
Wajah orang tua itu memang berubah. Dalam keremangan senja nampak orang itu
merenungi kata-kata Jati Wulung. Bahkan diluar kehendaknya ia berdesis " Kepala
Besi, siapakah yang kau maksud? "
" Orang Hutan berkepala Besi dari pesisir Utara. " jawab Jati Wulung.
" Apakah orang itu ada disini sekarang? " bertanya orang tua itu.
" Ia ada di Song Lawa. Aku tidak tahu, apa yang terjadi dengan orang itu
dihadapan sepasukan Pajang yang kuat dan berjumlah besar " jawab Jati Wulung.
Lalu katanya " Nah, sekarang pikirkan sekali lagi. Apakah kau akan merampok
kami? "
Orang tua itu memang termangu-mangu. Tetapi kemudian ia menggeram " Berikan uang
itu. Cepat. Atau kalian aku lemparkan kedalam jurang disebelah jalan ini? "
Sambi Wulunglah yang menjawab " Aku akan mempertahankan uang kami. Uang yang
dengan susah payah kami dapatkan di Song Lawa, bahwa dengan susah payah pula
kami bawa melarikan diri sekarang ini. "
" Kalian agaknya sudah jemu hidup " bentak orang tua itu.
" Orang yang sudah berani mengunjungi Song Lawa adalah orang-orang yang khusus.
Nah kita bertemu sekarang. " geram Sambi Wulung.
Kata-kata itu memang merupakan satu tantangan bagi ketujuh orang itu.Ternyata
ketiga orang yang mengaku pelarian dari Song Lawa itu sama sekali tidak menjadi
gentar melihat mereka bertujuh.
Orang tertua diantara ketujuh orang itu memang tidak menunggu lebih lama lagi.
Iapun segera memberikan isyarat kepada para pengikutnya untuk mengepung ketiga
orang itu ditiga sisi. Sementara disisi yang lain terdapat jurang yang cukup
dalam dan terjal.
" Kalian benar-benar tidak mau menyerahkan uang kalian? " bertanya orang tertua
itu.
Tetapi Jati Wulunglah yang menyahut " Jadi kalian benar-benar akan merampok
kami? "
Orang tertua diantara ketujuh orang itu menggeram. Katanya kepada para
pengikutnya " Bunuh mereka. Kita memerlukan uangnya. Lalu lemparkan mereka ke
dalam jurang. Kita tidak usah mendengar keributan esok jika orang-orang pergi ke
pasar lewat jalan ini. Atau jika prajurit Pajang kembali dari Song Lawa lewat
jalan ini pula. "
Ketujuh orang itu mulai bergerak. Sementara itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung
berdiri disebelah menyebelah Puguh. Merekapun telah bersiap menghadapi segala
kemungkinan.
Orang-orang yang akan "merampas uang yang dibawa oleh Sambi Wulung dan Jati
Wulung itu telah mulai bergerak. Nampaknya tiga orang yang akan mereka rampok
itu akan bertempur berpasangan, sehingga mereka akan menyusun satu pertahanan
bersama.
" Berhati-hatilah " desis Sambi Wulung " nampaknya orang tua itu cukup
berbahaya.
Dengan pedang ditangan Puguh telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Sementara itu Sambi Wulung dan Jati Wulung memang memujinya didalam hati, bahwa
menghadapi ketujuh orang itu, Puguh tetap tenang. Sama sekali tidak nampak
kegelisahan, apalagi ketakutan di wajahnya. Bahkan ketika ia mulai menggerakkan
pedangnya, maka ilmu pedangnyapun masih nampak utuh. Tidak gugup.
Dengan demikian maka Sambi Wulung dan Jati Wulung dapat menilai bahwa Puguh yang
telah mengembangkan kemampuan ilmu pedang dan oleh kanuragan yang jlain itu,
ternyata memiliki pula ketahanan jiwa yang tinggi.
Sejenak kemudian, maka ketujuh orang itupun mulai menyerang. Mereka ternyata
mempergunakan berbagai jenis senjata yang menggetarkan. Orang yang bertubuh
tinggi dan berdada bidang serta kekar itu ternyata membawa sepotong besi yang
berujung runcing. Sedangkan seorang kawannya yang lain telah membawa bindi yang
berat. Seorang lagi membawa golok yang besar dan panjang. Sementara itu, orang
tertua diantara mereka itu memegang sebilah pedang yang tajam di kedua sisinya.
Sambi Wulung sempat memperhatikan pedang itu. Pedang yang lurus dan bermata dua
berujung runcing tajam. Dalam keremangan senja sekali-sekali nampak daun pedang
itu berkilat lemah.,
" Pedang pilihan " desis Sambi Wulung.
Namun ia tidak sempat terlalu lama memperhatikan jenis-jenis senjata
lawan-lawannya. Iapun segera terlibat dalam pertempuran yang cepat. Beberapa
ujung senjata telah terjulur kearahnya.
Jati Wulungpun kemudian telah bertempur pula. Mereka masih juga membawa pedang
yang mereka pergunakan di Song Lawa, sehingga dengan demikian, maka merekapun
telah bertempur dengan senjata sewajarnya.
Di tengah-tengah Puguh telah bertempur dengan gigihnya. Pedangnya berputaran
dengan cepat. Benturan-benturan tajam senjata yang kemudian terjadi, telah
memercikkan bunga api.
Sekali lagi Sambi Wulung dan Jati Wulung memuji ketabahan hati Puguh menghadapi
lawan-lawannya. Bahkan keduanya sempat berangan-angan sekilas, bahwa Puguh telah
mendapat kesempatan mematangkan dirinya jauh lebih baik dari Risang. Risang
selama ini hanya ditempa didalam sebuah lingkungan tertutup. Siang dan malam ia
melatih diri untuk meningkatkan ilmunya. Namun ia tidak pernah mendapat
kesempatan untuk mengalami benturan kekuatan yang sebenarnya melawan kekuatan
yang besar sebagaimana terjadi pada Puguh. Risang hanya berkesempatan untuk
berkelahi dengan anak-anak padukuhan yang nakal dan membuat mereka jera.
Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung sendiri tidak hanya harus menilai kemampuan
Puguh. Tetapi merekapun harus bertempur melawan kekuatan yang cukup besar.
Tujuh, orang yang ingin merampas uang mereka itupun telah bertempur dengan
sengitnya. Senjata mereka telah terayun susul menyusul menyambar tubuh ketiga
orang yang bertahan di bibir jurang itu.
Ketika orang yang bertubuh agak pendek mendesak maju dan menusuk dengan goloknya
kearah dada Puguh, maka Puguh sempat menangkisnya. Tetapi bersamaan waktunya,
datang pula serangan dari arah lain menyambar lengah Puguh. Untunglah balpwa
Jati Wulung yang memiliki ilmu yang tinggi itu sempat melihatnya. Dengan
dorongan tenaga cadangannya, maka Jati Wulung telah bergerak cepat sekali
memukul serangan itu.
Kedua serangan itu ternyata tidak menyentuh tubuh Puguh, sementara Jati Wulung
dan Sambi Wulung telah meningkatkan kecepatan gerak mereka. Mereka mulai
membangunkan tenaga cadangan mereka yang semakin lama menjadi semakin besar,
sehingga merekapun mampu bergerak semakin cepat diantara ayunan dan putaran
senjata lawan mereka yang menggetarkan.
Demikianlah, maka semakin lama pertempuran itu menjadi semakin sengit. Namun
ternyata bahwa ketujuh orang itu mengalami kesulitan menembus kepekatan putaran
senjata ketiga orang pelarian dari Song Lawa itu.
Tetapi ketujuh orang itupun ternyata adalah orang-orang yang memiliki pengalaman
yang luas. Orang yang bertubuh tinggi tegap itupun telah memutar potongan
besinya yang runcing sehingga menimbulkan desing angin yang menggetarkan. Bahkan
dengan nada tinggi ia berkata " Ternyata kalian telah mempersulit jalan
kematianmu sendiri. Ujung besiku, ini telah membunuh lebih dari lima orang.
Sekarang, agaknya harus aku tambah lagi dengan setidak-tidaknya seorang diantara
kalian, "
" Jadi kau pernah benar-benar membunuh orang? " bertanya Jati Wulung.
" Kau mulai ketakutan? " bertanya orang bertubuh tegap itu. Lalu katanya " semua
orang diantara kami pernah membunuh mereka yang tidak mengikuti perintah kami.
Paling sedikit diantara kami telah membunuh tiga orang korban. Sementara
pemimpin kami telah membunuh lebih dari sepuluh orang. "
" Gila " geram Jati Wulung " jika demikian, maka tidak ada hukuman lain yang
pantas dijatuhkan atas kalian kecuali hukuman mati. "
Pemimpin kelompok itu tertawa. Orang tua itupun berkata " Kalian tidak berhak
menjatuhkan hukuman apapun atas kami. Apalagi sebentar lagi kalian sudah akan
kami lemparkan ke dalam jurang. "
" Apakah benar kau pernah membunuh lebih dari sepuluh orang Ki Tumenggung?
Bahkan mungkin diantara mereka terdapat perempuan dan anak-anak. " berkata Sambi
Wulung.
" Kau boleh memanggil aku Ki Tumenggung. Memang menyenangkan sekali dipanggil
dengan sebutan itu. Tetapi itu tidak akan menolongmu. Kau akan menjadi orang
yang terbunuh berikutnya oleh senjataku ini, Aku memang sudah membunuh lebih
dari sepuluh orang. Bahkan lebih dari limabelas orang. Jika diantara mereka
terdapat perempuan dan anak-anak, itu adalah karena salah mereka sendiri. "
jawab orang tertua diantara mereka.
" Apa boleh buat " berkata Sambi Wulung " sesuai dengan pengakuan kalian
sendiri, maka kalian memang harus mati. Jika kalian masih juga diampuni dan
mendapat kesempatan untuk hidup, maka kalian tentu akan membunuh lagi. "
Hampir berbareng beberapa orang diantara mereka tertawa. Tetapi mereka sama
sekali tidak mengendorkan serangan-serangan mereka yang datang beruntun, susul
menyusul semakin lama terasa menjadi semakin cepat. Bahkan orang tertua diantara
mereka itupun telah bergeser pula setiap kali.
Sekali menghadapi Sambi Wulung, kemudian bergeser untuk menyerang Puguh dan
kadang-kadang ia berhadapan dengan Jati Wulung. Ternyata orang tua itu terlalu
yakin akan kemampuannya sendiri, sehingga dengan demikian ia menganggap bahwa
lawan-lawannya itu akan menjadi kebingungan.
Tetapi dugaan itu ternyata salah. Ketiga orang itu sama sekali tidak menjadi
bingung. Apalagi Sambi Wulung dan Jati Wulung. Bahkan Puguhpun tidak menjadi
bingung meskipun ia memang mengalami kesulitan. Tetapi setiap
kali Sambi Wulung atau Jati Wulung telah menolongnya, menyelamatkannya
dari ujung-ujung senjata lawan.
Ternyata ketika pertempuran itu menjadi semakin seru, Sambi Wulung dan Jati
Wulung meyakini bahwa lawan-lawan mereka itu memang benar-benar berusaha untuk
membunuh mereka. Yang mereka katakan bukan sekedar membual dan menakut-nakuti,
tetapi benar-benar akan mereka lakukan.
Karena itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulungpun tidak lagi sekedar
bermain-main. Cara mereka menghadapi orang-orang itu memang berbeda dengan cara
yang mereka pergunakan untuk menghadapi prajurit-prajurit Pajang yang memburu
mereka disaat mereka melarikan diri dari Song Lawa.
Ketika tangan mereka telah mulai berkeringat, maka gerak mereka berduapun
menjadi semakin lama semakin cepat. Tenaga cadangan yang mereka pergunakan
menjadi semakin mereka tingkatkan pula, sehingga ketujuh orang lawan mereka
itupun merasa menjadi semakin sulit.
Tetapi orang tua diantara ketujuh orang itupun tiba tiba saja telah berteriak "
Sudah waktunya kalian melakukannya. Jangan menunggu lagi. "
Keenam orang yang menerima perintah itupun telah dengan serentak mengerahkan
kemampuan puncak mereka. Senjata mereka terayun-ayun semakin mengerikan.
Sepotong besi yang runcing itupun berputar bagaikan baling-baling. Sementara
golok yang besar dan berat terayun-ayun mendatar dan kadang-kadang menyilang,
sementara sebuah bindi yang berat, bergerigi, menyambar-menyambar seperti
cakar-cakar garuda yang besar, sedangkan ujung-ujung pedang mematuk seperti
mulut ular bandotan.
Puguh memang terkejut melihat gerak senjata yang bergelora bagaikan angin
prahara itu. Selangkah ia bergeser surut untuk melihat lebih jelas lagi dalam
keremangan ujung malam yang mulai turun. Kilatan-kilatan pedang orang tertua
dari gerombolan itu kadang-kadang memang membuat getar dihati anak yang masih
sangat muda itu.
Betapapun tabah hatinya, namun gerak serentak yang bagaikan banjir bandang
melandanya itu, adalah wajar jika telah membuatnya berdebar-debar. Tetapi Sambi
Wulung dan Jati Wulung yang mengetahui bahwa hal serupa itu akan terjadi, justru
tidak beranjak dari tempat mereka. Senjata merekapun telah mengimbangi kecepatan
gerak senjata lawan mereka. Meskipun hanya dua buah pedang. Tetapi yang dua itu
ternyata mampu bergerak diluar perhitungan lawan-lawannya. Pedang itu berputar,
berayun mendatar, menyilang dan menyambar. Juga mematuk dengan cepatnya. Bahkan
jika serangan lawannya bergerak bersamaan, pedang itu berputar melingkari
lingkungan pertahanan mereka, seperti sebuah perisai kabut yang putih. Namun
sulit untuk ditembus meskipun hanya seujung duri sekalipun. Dua buah pedang itu
ternyata telah membingungkan
ketujuh lawan mereka. Seolah-olah mereka telah melihat sepuluh buah pedang yang
berterbangan disekitar arena yang semakin gelap itu.
Orang tertua diantara mereka itupun mengumpat kasar. Namun ia masih berharap
untuk dapat mengatasi lawannya. Mereka bertujuh berharap akan dapat bertahan
lebih lama dari ketiga orang lawannya. Jika lawan mereka mengerahkan tenaga
sepenuhnya, maka ketiga orang itu akan segera menjadi letih sehingga kemampuan
mereka akan segera mengendor.
Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Sambi Wulung dan Jati Wulung ternyata
semakin lama menjadi semakin cepat bergerak. Bahkan ketika orang yang bertubuh
tegap kekar itu berusaha untuk menyambar tengkuk Jati Wulung dengan tongkat
besinya, Jati Wulung sempat merendah. Demikian tongkat besi itu terayun diatas
kepala, maka Jati Wulung telah menjulurkan pedangnya.
Orang itu berusaha untuk mengelak. Namun meskipun dengan cepat ia melenting
mundur, ternyata bahwa ujung pedang Jati Wulung sempat menyentuh dadanya.
Luka itu tidak begitu dalam. Tetapi goresan itu telah mengoyak kulit orang yang
bertubuh tegap itu, sehingga darahpun mulai mengalir.
Orang bertubuh tinggi tegap itu segera meloncat mundur dan berada dibelakang
garis pertempuran. Dirabanya lukanya yang tidak begitu dalam itu. Namun oleh
keringatnya yang mengalir, luka itu memang terasa terlalu pedih.
Dengan kemarahan yang bergelora sampai ke ubun-ubunnya ia menggeretakkan
giginya. Dengan langkah
yang dibebani dendam dan kebencian ia bergerak memasuki arena pertempuran
itu kembali.
Namun, demikian ia mulai menggerakkan tongkat besinya, ternyata seorang kawannya
yang bertubuh agak gemuk dan bersenjata kapak dengan kait dipunggung mata
kapaknya, telah terdorong surut dan bahkan kemudian telah mendorong dua orang
kawannya yang lain pula. Untunglah mereka dapat bertahan untuk tidak jatuh
terlentang. Tetapi ternyata orang yang bersenjata kapak berkait itu, merintih
kesakitan.
" Kenapa? " bertanya seorang kawannya yang bersenjata bindi.
Orang yang bersenjata kapak itu mengumpat. Katanya " Orang itu telah melukai
aku. "
Orang bersenjata bindi itu termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian melihat,
bahwa lengan kawannya itu telah menganga.
Dalam pada itu, orang tertua diantara mereka telah berteriak nyaring " Apa yang
kalian lakukan he? Cepat, selesaikan ketiga tikus-tikus busuk itu. "
Orang bersenjata bindi itupun segera meninggalkan kawannya yang terluka
dilengannya. Bindinyapun segera telah terayun kembali.
Sambi Wulung dan Jati Wulung benar-benar merupakan dua orang yang sulit
diimbangi. Meskipun keduanya belum merambah ke ilmunya yang lebih tinggi, tetapi
ketujuh orang itu sudah merasakan kesulitan untuk mengalahkan mereka.
Bahkan Puguhpun sempat menjadi heran. Bagaimana mungkin Sambi Wulung dan Jati
Wulung dapat melawan ketujuh orang itu dengan tanpa mengalami kesulitan. Ia
sendiri hampir tidak banyak berbuat. Puguh sendiri hanya harus bertahan jika ada
satu dua orang sempat menyusup disela sela pedang Sambi Wulung dan Jati Wulung.
Selebihnya, Sambi Wulung dan Jati Wulung yang dikenalnya bernama Wanengbaya dan
Wanengpati itulah yang mengatasi perlawanan ketujuh orang itu.
Ketika pengikutnya telah terluka, maka rasa-rasanya jantung orang tertua
diantara mereka itupun akan meledak oleh kemarahan. Tetapi bagaimanapun juga ia
berusaha bersama orang-orangnya, namun sulit baginya untuk dapat melumpuhkan
perlawanan itu.
Akhirnya, orang tertua itu sampai pada keputusan terakhir untuk mempergunakan
senjata andalannya. Senjata yang jarang sekali dipergunakan jika ia tidak
tersudut kedalam kesulitan.
Apalagi ketika kemudian ternyata seorang lagi pengikutnya telah terluka. Seorang
anak muda yang bertubuh tinggi yang dianggapnya seorang yang berpengetahuan
luas.
Dalam gejolak kemarahannya, orang tertua itu sempat berteriak " He, orang-orang
yang tidak tahu diri. Kalian sangka bahwa setelah kalian berhasil melukai
orang-orangku kalian akan memenangkan pertempuran ini, he? Sudah saatnya aku
tidak lagi menahan diri untuk bersabar. Kalian memang harus mati ditanganku. "
Dalam pada itu, orang tertua itu tiba-tiba saja telah memindahkan senjatanya
ditangan kiri. Dengan tangkasnya tangan kanannya telah bergerak. Ternyata sebuah
lingkaran kecil yang bergerigi tajam telah meluncur dari tangannya.
Sambi Wulung yang menjadi sasaran serangan itu sempat memangkisnya. Bahkan ia
sempat berkata lantang. " Hati-hatilah. Lawan kita ternyata seorang yang licik.
"
Puguh yang mendengar seruan Sambi Wulung itupun menjadi semakin berhati-hati.
Baginya agaknya masih terlalu sulit untuk menangkis serangan lingkaran besi baja
yang bergerigi tajam itu. Namun masih mungkin bagi Puguh untuk mencoba
menghindari.
Tetapi disamping serangan lingkaran bergerigi itu, ia masih menghadapi
serangan-serangan dari lawan-lawannya yang bersenjata bindi, kapak, pedang,
golok dan yang lain, meskipun beberapa orang diantara! mereka sudah terluka.
Karena itu, maka Sambi Wulunglah yang berusaha menghadapi langsung orang tertua
dari kelompok orang orang kasar itu. Sementara itu ia mengharap Jati Wulung akan
tanggap pada keadaan.
Sebenarnyalah Jati Wulung memang menyadari apa yang terjadi. Karena itu, maka
iapun telah meningkatkan ilmunya pula. Bahkan iapun telah bersiap-siap
mempergunakan ilmu puncaknya apabila diperlukan.
Tetapi agaknya Jati Wulung telah mampu mengatasi keadaan dengan mengerahkan
tenaga cadangannya. Dengan gerak yang semakin cepat, maka lawan-lawannya
benar-benar telah menjadi kebingungan. Pedang Jati Wulung berputaran bagaikan
segumpal awan putih yang bergerak di sepanjang medan.
Sambi Wulung lebih memusatkan perhatiannya kepada pemimpin dari sekelompok
lawan-lawannya itu. Ia berusaha untuk menangkis setiap serangan lingkaran
bergerigi yang terbang menyambarnya, bahkan menyambar kawan-kawannya. Dengan
kemampuannya yang sangat tinggi, maka Sambi Wulung telah mendesak dan berusaha
bertempur pada jarak yang dekat.
Dalam pada itu, Puguh memang terhindar dari serangan-serangan yang sangat
berbahaya itu. Sambi Wulung yang telah berhasil mendekat, tidak memberi
kesempatan kepada orang tertua itu untuk menyerang Puguh dan Jati Wulung.
Serangan-serangannya hanya tertuju kepada Sambi Wulung yang menjadi sangat
berbahaya baginya.
Sementara itu Jati Wulung seakan-akan telah mengambil alih semua orang yang
tersisa. Puguh memang mampu berusaha untuk melindungi dirinya. Namun Jati
Wulunglah yang harus berloncatan kian kemari.
Namun dengan demikian maka pertempuranpun menjadi semakin mendekati akhirnya.
Jati Wulung benar-benar tidak mengekang diri lagi. Pedangnya terayun-ayun
mengerikan. Bahkan sejenak kemudian, maka ujung pedangnya telah menjadi merah
oleh darah lawannya ketika ia berhasil menusuk lambung orang yang berwajah kasar
dan berkepala botak, yang mengenakan ikat kepala sekenanya saja.
Luka itu cukup dalam, sehingga lambungnya bagaikan telah menganga. Karena itu,
maka orang itupun telah terjatuh tertelungkup. Darah yang mengalir dari lukanya
itu bagaikan arus sebatang parit kecil yang menumpahkan airnya ke sawah.
Tetapi orang yang bertubuh tinggi ternyata memang cerdik.
Ia melihat bahwa kelemahan dari ketiga orang itu terletak pada anak muda yang
agaknya selalu mendapat perlindungan dari kedua orang yang lain.
Karena itu, maka pada satu kesempatan ia berbisik kepada orang yang bertubuh
tinggi tegap dan yang juga sudah terluka pula " Kita bantai anak itu. "
Orang yang bertubuh tinggi tegap itupun mengerti rencana itu. Dengan kemarahan
yang memuncak, maka ia memang ingin membalas dendam karena luka-lukanya.
Ketika Jati Wulung sedang sibuk melayani lawan-lawannya yang lain, maka kedua
orang yang sudah terluka itu dengan sisa tenaganya telah menyerang Puguh.
Puguh terkejut. Tetapi ia tidak dapat meloncat mundur, karena ia sudah terlanjur
terlalu dekat dengan bibir jurang. Karena itu, maka ia harus berusaha untuk
menangkis serangan-serangan itu.
Jati Wulung melihat bahaya yang mengancam anak muda itu. Adalah dorongan
nalurinya untuk menolong seseorang yang menghadapi bahaya maut tanpa mengingat
lagi siapakah orang itu. Karena itu, maka dengan sigapnya ia menguak kepungan
lawan dan bahkan dengan satu ayunan yang kuat, Jati Wulung telah berhasil
melemparkan kapak ditangan lawannya yang memang sudah terluka itu.
Dengan cepat ia meloncat justru menyerang orang yang bertubuh tinggi tegap dan
bersenjata tongkat besi yang runcing itu.
Namun Jati Wulung terlambat selangkah. Meskipun ujung tongkat besi itu tidak
mengenai lawannya, tetapi senjata orang yang bertubuh tinggi itulah yang telah
menyambar pundak Puguh.
Terdengar Puguh berdesah tertahan. Namun pada saat yang bersamaan terdengar
orang bertubuh tinggi itu berteriak nyaring. Ternyata pedang Jati Wulung telah
menyambarnya. Demikian kerasnya sehingga orang itu seakan-akan telah terdorong
tanpa dapat menahan diri lagi. Didalam gelapnya malam, maka orang itu justru
telah terperosok masuk kedalam jurang.
Kawannya yang bertubuh tinggi tegap itu tidak mampu menolongnya. Bahkan Jati
Wulung yang bagaikan mengamuk itu telah berdiri menghadap kearahnya.
Puguh berdiri termangu-mangu. Terasa darah yang hangat telah mengalir dari luka
di pundaknya. Justru pundak kanannya. Dengan demikian maka terasa tangannya
menjadi lemah.
Tetapi ketabahan anak muda itu memang terpuji. Ia tidak mau menyerah pada
keadaannya. Meskipun pundaknya terluka, tetapi ia masih juga mengangkat ujung
pedangnya teracu kearah lawannya.
Sementara itu, Sambi Wulung masih bertempur melawan pemimpin gerombolan perampok
yang kasar itu. Bahkan ia harus bertempur melawan dua orang sekaligus, sementara
orang tertua itu masih saja disetiap kesempatan mempergunakan senjatanya yang
sangat berbahaya itu.
Meskipun ia masih sempat sekali-sekali menyerang dengan lingkaran baja yang
bergerigi itu, namun ia masih juga mengumpat-umpat. Ternyata Sambi Wulung
benar-benar seorang yang memiliki ilmu yang tinggi.
Dengan demikian, maka keadaan para perampok itu menjadi semakin sulit. Tetapi
ternyata mereka justru menjadi semakin liar. Orang-orang yang sudah terluka
tidak menyerah karena lukanya. Namun mereka telah bertempur dengan liarnya.
Disaat-saat terakhir, baik Sambi Wulung maupun Jati Wulung benar-benar tidak mau
mengekang diri lagi. Menurut pendapat mereka orang-orang yang merampok itu,
benar-benar pembunuh yang sangat berbahaya. Karena itu,maka tidak ada pilihan
lain bagi mereka selain menyelesaikan mereka yang tersisa.
Tetapi sebelumnya Sambi Wulung masih juga berpikir untuk mengambil jalan lain.
Katanya " Menyerahlah. Jika kalian menyerah, maka kalian tidak akan mati. Tetapi
kalian akan kami serahkan Ki Bekel di padukuhan berikut itu. "
" Persetan " geram orang tertua diantara mereka " kami tidak mempunyai pilihan
lain kecuali membunuh kalian bertiga. "
" Jadi bagi kita sudah tidak ada kesempatan mengambil jalan lain kecuali saling
membunuh? " bertanya Sambi Wulung.
Ternyata orang tertua itu tidak menjawab. Tetapi dua lingkaran geriginya
meluncur sekaligus. Demikian cepatnya terbang didalam kegelapan sementara Sambi
Wulung yang tidak menyangka bahwa orang itu akan dengan tiba-tiba menyerang
dengan dua buah lingkaran sekaligus, agak terlambat menghindar. Karena itulah,
maka sebuah diantara kedua lingkaran baja itu telah menyentuh lengannya.
Sambi Wulung terkejut. Lengannya terasa bagaikan tersentuh bara api. Dan
ternyata kemudian luka telah menganga dan darah mengalir dari lukanya itu. Sambi
Wulung menjadi semakin marah. Hampir saja ia telah melepaskan ilmu puncaknya
yang akan dapat membakar lawannya menjadi hangus. Namun ia masih harus
menyembunyikannya dari penglihatan Puguh agar tidak menumbuhkan kecurigaan jika
anak muda itu berceritera tentang dirinya kelak.
Karena itulah, maka Sambi Wulungpun telah mengerahkan tenaga cadangannya. Dengan
demikian, maka iapun telah bergerak semakin cepat. Berloncatan menghindar dan
menangkis serangan-serangan yang kemudian datang susul menyusul. Agaknya
lawannyapun berusaha untuk mempergunakan kesempatan yang ada menghujani Sambi
Wulung dengan senjatanya itu.
Tetapi usaha itu sia-sia. Sambi Wulung yang marah, ternyata tidak mengampuninya
lagi. Sambil menangkis dan
menghindar, akhirnya Sambi Wulung dapat juga mencapai lawannya. Sebuah ayunan
yang keras menebas kearah dada.
Orang tertua itu masih sempat menghindar. Ketika Sambi Wulung siap meloncat
menerkam dengan ujung pedangnya, maka seorang yang lain telah menyerangnya.
Sambi Wulung menghindar dengan berjongkok rendah. Demikian senjata lawannya
terayun diatas kepalanya, maka pedangnya telah terjulur, tepat menembus lambung
mengoyak isi perutnya.
Orang itu tidak sempat mengeluh. Namun ketika Sambi Wulung menarik pedangnya,
sebuah lingkaran bergerigi telah menyambarnya.
Dengan demikian maka Sambi Wulung harus dengan cepat menghindar. Tetapi
akibatnya justru pedangnya bagaikan dihentakkannya, sehingga luka di lambung
lawannya yang seorang itu menjadi semakin menganga, Maka pada saat-saat
terakhir, Sambi Wulung telah bertempur melawan orang tertua diantara ketujuh
orang itu. Memang tidak ada pilihan, apalagi Sambi Wulung telah dilukai oleh
lawannya itu.
Sesaat kemudian, maka keadaanpun menjadi hening. Angin malam yang basah bertiup
disela-sela pepohonan. Seakan-akan tiba-tiba saja langit menjadi gelap oleh
mendung.
Puguh duduk diatas sebuah batu di bibir jurang. Ternyata lukanya telah terasa
pedih dan nyeri.
" Kita akan mengobati luka kita " berkata Sambi Wulung kemudian.
Puguh tidak menjawab. Tetapi di pandanginya didalam gelapnya malam yang menjadi
semakin pekat oleh mendung, lima sosok tubuh terbaring. Ternyata mereka telah
terbunuh dalam pertempuran yang garang itu. Dua orang diantara mereka telah
terlempar jatuh kedalam jurang.
Dalam pada itu, Sambi Wulung dan Puguh telah diobati luka-lukanya oleh Jati
Wulung yang sempat berkata " Hanya aku yang tidak terluka. "
Sambi Wulung berdesis " Kau cari lawan yang paling lemah. "
Jati Wulung tertawa. Katanya " Kita bertempur bercampur baur. "
Sambi Wulung tidak menjawab lagi. Tetapi ketika serbuk obat yang dibawanya
ditaburkan dilukanya, maka terasa luka itu sangat pedih. Demikian pula luka
dipundak Puguh yang ternyata lebih parah dari luka Sambi Wulung. Apalagi daya
tahan tubuh merekapun berbeda.
" Bagaimana dengan tubuh orang-orang yang terbunuh itu? " bertanya Jati Wulung
kemudian.
" Apakah kita akan menguburkan mereka? " sahut Puguh dengan nada rendah.
Sambi Wulung termangu-mangu. Namun katanya " Terpaksa sekali kita tidak dapat
melakukannya. Tetapi kita berharap bahwa besok ada orang yang bersedia
menguburkan mayat-mayat itu. Kita tidak mempunyai alat untuk melakukannya,
sementara jika hujan turun, maka obat di luka kita akan hanyut dan tidak berarti
lagi. "
" Kita cari tempat untuk berteduh " berkata Jati Wulung.
Mereka bertigapun kemudian dengan berat hati terpaksa meninggalkan kelima sosok
mayat yang sudah mereka angkat menepi. Mereka baringkan berjajar direrumputan
dibibir jurang. Ternyata mereka tidak sampai hati untuk melemparkan mayat-mayat
itu begitu saja kedalam jurang.
" Bukan pekerjaan kami membunuh " desis Sambi Wulung kepada Puguh " tetapi kita
tidak mempunyai pilihan laih. Sementara itu, jika mereka lepas dari tangan kita,
maka akan lebih banyak lagi korban yang akan jatuh. Mereka tentu akan membunuh
dan membunuh.
Puguh hanya termenung saja. Ternyata perjalanannya ke Song Lawa yang terakhir
itu telah mempertemukannya dengan pengalaman yang sangat berkesan dihatinya.
Namun ketika titik-titik air mulai jatuh, merekapun mulai bergerak meninggalkan
tempat itu. Ternyata bahwa Puguh telah terpengaruh oleh luka-lukanya yang
agaknya banyak mengeluarkan darah.
Karena itu, maka Jati Wulung telah membantunya, memapahnya berjalan menelusuri
jalan yang terasa menjadi sangat gelap, sementara disebelah jalan itu terdapat
jurang yang terjal.
Hanya karena ketajaman mata mereka yang melampaui kebanyakan orang sajalah, maka
mereka tidak menjadi cemas akan terperosok kedalam jurang itu.
Ketika mereka melihat sebuah gubug ditengah-tengah sawah, tetapi tidak terlalu
jauh dari jalan, maka mereka pun telah meniti pematang menuju ke gubug itu.
Tepat disaat orang terakhir memanjat naik ke gubug itu, maka hujanpun turun
bagaikan dicurahkan dari langit. Sekali-sekali kilat menyambar, melontarkan
cahaya yang seribu kali lebih terang dari cahaya lampu.
Dalam pada itu Puguh sempat berbaring di gubug yang meskipun tidak begitu besar,
tetapi cukup longgar itu. Meskipun titik-titik air ada juga yang didorong angin
menyusup kedalam gubug itu, tetapi mereka dapat menyembunyikan luka-luka mereka
dengan baik sehingga obat yang ditaburkannya tidak dihanyutkan oleh air hujan
itu.
" Nampaknya orang-orang yang terbunuh itu tidak terlalu asing disini " berkata
Jati Wulung.
" Kenapa? " bertanya Sambi Wulung.
" Sikapnya di kedai itu, juga sikap pemilik kedai itu menunjukkan bahwa ketujuh
orang itu sudah terbiasa berada di kedai itu " jawab Jati Wulung.
Sambi Wulung mengangguk-angguk. Tetapi katanya kemudian dengan nada rendah "
Apakah kita menganggap perlu untuk mengetahui siapakah mereka sebenarnya? "
Jati Wulung menggeleng. Jawabnya " Tidak. Siapa pun mereka, namun mereka telah
barusaha untuk merampok kita. Hal yang sama tentu dilakukan pula terhadap orang
lain yang dianggapnya membawa uang atau barang-barang berharga. "
Namun tiba-tiba saja Puguh bertanya " Apakah kalian memang memancing persoalan?
Dengan menunjukkan bahwa kalian membawa banyak uang, maka kalian mendapat
kesempatan untuk membunuh mereka. "
" Tentu tidak " jawab Sambi Wulung meskipun hatinya agak berdebar-debar juga "
aku tidak sadar, ketika aku mengambil kampil uang itu dari kantong bajuku. "
Puguh menarik nafas dalam-dalam. Tubuhnya masih saja terasa lemah. Sementara itu
hujanpun masih saja turun dengan lebatnya. Bahkan terasa angin menjadi semakin
kencang bertiup.
Ketika gubug kecil itu bagaikan terguncang oleh angin yang kencang, maka
Puguhpun menjadi berdebar-debar
" Bagaimana jika gubug ini roboh? "
" Tidak " jawab Jati Wulung " karena gubug ini tidak berdinding agaknya angin
tidak terlalu garang mendorongnya. Mungkin atapnya dapat diterbangkan. Tetapi
rasa-rasanya angin tidak akan bertiup semakin keras. "
Puguh tidak menjawab. Sekali-sekali di langit masih memancar lidah api yang
panjang. Guntur terdengar menggelegar.
" Tidak terlalu dekat " berkata Sambi Wulung. Ketiga orang itupun kemudian
terdiam. Seakan-akan mereka tengah tenggelam memperhatikan air hujan yang tumpah
dari langit tidak henti-hentinya. Berapa banyak air yang tersimpan didalam
mendung yang kelabu itu.
Ternyata bahwa hujan itupun tidak segera teduh. Sementara itu ternyata Puguhpun
tertidur diluar kehendaknya. Tubuhnya yang lemah serta perasaan letih telah
membuatnya terlena. Tetapi dalam pada itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung tetap
berhati-hati. Mereka tidak berbicara tentang sesuatu yang dapat membuka rahasia
mereka, karena bagaimanapun juga mereka sadari, bahwa Puguh selain anak muda
yang tabah, berani, juga seorang yang cerdik.
Karena itu, maka Jati Wulung justru ikut berbaring disisi Puguh yang tertidur.
Sementara Sambi Wulung masih saja duduk sambil sekali-sekali meraba kulit
disekitar lukanya yang meskipun tidak parah, tetapi cucuran darahnya jika tidak
pampat, akan dapat mengganggunya pula.
Tetapi agaknya obat yang dibawanya adalah obat yang baik, sehingga baik
luka-lukanya, maupun luka Puguh yang lebih parah, telah tidak berdarah lagi.
Ternyata bahwa mereka bertiga harus menunggu untuk beberapa saat lamanya. Baru
menjelang tengah malam, maka hujanpun mulai reda. Tetapi suara guntur dan petir
masih saja menggelegar meskipun ditempat yang jauh.
" Kita sudah cukup lama beristirahat " berkata Sambi Wulung.
JATI WULUNG yang berbaring disebelah Puguhpun telah bangkit pula.
Ditengadahkannya tangannya yang terjulur keluar gubug terbuka itu. Katanya "
Hujan memang sudah berhenti. Nah, apakah kita akan melanjutkan perjalanan? "
Kita jauhi tempat ini sebelum ada orang yang melihat sosok-sosok mayat itu. "
jawab Sambi Wulung.
Jati Wulung mengangguk. Karena itu, maka disentuhnya Puguh yang masih tertidur
nyenyak.
Puguhpun segera terbangun. Sambil mengusap matanya, iapun bangkit.
" Apakah hujan sudah berhenti? " bertanya anak muda itu.
" Ya. Hujan memang sudah berhenti " jawab Jati Wulung.
" Lalu, apakah kita akan melanjutkan perjalanan? " bertanya Puguh itu pula.
" Marilah " desis Sambi Wulung " kita jauhi tempat ini. "
Demikianlah, maka mereka bertigapun segera melanjutkan perjalanan. Kesempatan
tidur yang tidak terlalu lama itu agaknya telah memberikan kekuatan pada tubuh
Puguh yang lemah, sehingga rasa-rasanya ia akan sanggup berjalan lagi sampai
pagi.
Ketika Puguh menengadahkan wajahnya kelangit, maka dilihatnya bintang bagaikan
menguak awan yang kelabu gelap. Satu-satu muncul dan mulai bercahaya. Sementara
itu di cakrawala mendung masih nampak bergantung rendah. Dan sekali-sekali kilat
memancar dengan terangnya.
Ketiga orang itu berjalan sambil berdiam diri. Namun seperti sudah berjanji,
mereka berusaha untuk menghindari jalan-jalan yang menembus padukuhan, Jika di
mulut-mulut jalan yang memasuki padukuhan itu terdapat regol dan gardu, maka
mereka tentu akan mendapat seribu macam pertanyaan oleh para peronda.
Karena itu, maka kadang-kadang merekapun telah menyusuri jalan-jalan sempit dan
bahkan tanggul-tanggul parit, pematang dan sidatan-sidatan setapak.
Sedemikian jauh, Sambi Wulung dSm Jati Wulung masih juga belum bertanya, kemana
mereka sebenarnya akan pergi. Tetapi mereka lebih banyak mengikuti saja
langkah-langkah Puguh yang nampaknya dengan tidak sengaja telah memilih arah
tertentu.
Apalagi ketika pundaknya terluka cukup dalam. Meskipun setelah tertidur nyenyak
beberapa saat, tubuhnya terasa lebih segar, tetapi luka itu masih juga
mempengaruhi keadaan tubuhnya. Bahkan rasa-rasanya darahnya menjadi panas dan
urat-uratnya melemah.
Beberapa kali Sambi Wulung memang membubuhkan obat di luka Puguh yang memang
cukup dalam. Darahnya memang sudah pampat, tetapi pengaruh pada tubuhnya masih
terasa sekali. Tubuhnya dengan cepat merasa letih dalam perjalanan yang lambat.
Bahkan rasa-rasanya perasaannya kadang-kadang seperti melayang tanpa dapat
dikendalikan. Seperti mimpi meskipun disadarinya.
" Apa yang terjadi dengan diriku " berkata Puguh.
" Kau kenapa? " Sambi Wulung dan Jati Wulung menjadi cemas.
" Rasa-rasanya kesadaranku tidak utuh. Kadang-kadang aku merasa seperti mabuk
tuak. Juga pening dan mual. Rasa-rasanya sulit untuk mengendalikan diri. "
berkata Puguh.
" Tetapi kau masih sadar sepenuhnya " berkata Sambi Wulung " usahakan agar kau
tetap sadar dan tidak kehilangan penalaran. Kita akan menempuh perjalanan
panjang. "
Puguh mengangguk. Karena itu, dengan sisa kesadarannya ia telah berjuang untuk
tetap dalam kesadaran. Ia tidak mau pingsan atau seperti seorang yang mabuk.
Lupa diri dan tidak tahu apa yang telah dilakukannya sendiri. "
" Baiklah " berkata Sambi Wulung selanjutnya " jika demikian maka kau harus
segera sampai ketujuanmu. Tetapi kau belum mengatakan, kita akan pergi ke mana.
Bagi kami berdua, kemanapun kami pergi tidak akan ada permasalahan. Tetapi bagi
kau tentu lain. "
Puguh benar-benar merasa dirinya sulit untuk dikuasainya. Namun ia masih tetap
sadar untuk tidak mengatakan sesuatu tentang tempat tinggalnya. Namun ia
mengerti, bahwa ia memang harus segera sampai ketujuan.
Karena itu, maka Puguh hanya sekedar memilih arah. Dengan nada rendah ia berkata
" Kita menuju ke Gantar.
" Gantar " Sambi Wulung mengulang.
" Ya. Setelah sampai di Gantar, maka aku harap aku sudah dapat melanjutkan
perjalananku sendiri. " berkata Puguh.
" Kenapa kau harus berjalan sendiri? " bertanya Jati Wulung.
" Kalian bukan keluarga kami. Karena itu, maka kalian tidak perlu mengetahui
tempat tinggal kami, Para pengawalku itupun tidak tahu banyak tentang tempat
tinggalku yang sebenarnya. " jawab Puguh.
" Aku tidak berkepentingan dengan tempat tinggalmu. Aku hanya akan
mengantarkanmu sampai ke orang tuamu atau siapapun yang pantas menerimamu dalam
keadaan seperti ini " berkata Jati Wulung.
Namun Puguh berkata " Bukankah kau ingin menemui orang tuaku dan membicarakan
tentang aku? Tentang anak-anak muda yang berada ditempat maksiat seperti itu? "
Sambi Wulung dan Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam.
Dengan ragu-ragu Sambi Wulungpun berkata " Apakah kau berkeberatan jika aku
berbicara dengan orang tuamu? "
Dengan wajah yang tegang Puguh menjawab " Aku berkeberatan. "
" Apakah orang tuamu tidak mengetahui, bahwa kau sering berada di Song Lawa di
musim-musim perjudian? " bertanya Jati Wulung.
Puguh tidak segera menjawab. Tetapi kepalanya terasa semakin pening.
Sekali-sekali dipijitnya keningnya sambil berdesis.
Sambi Wulung dan Jati Wulung memandanginya dengan cemas. Bahkan Sambi Wulung
kemudian berkata " Kita berhenti sejenak. Nampaknya langit menjadi terang.
Agaknya hujan tidak akan turun lagi. "
Mereka bertigapun kemudian berhenti dan duduk diatas sebuah batu yang besar
dipinggir sungai. Ternyata bahwa Puguh memang perlu beristirahat lagi.
" Aku haus sekali " berkata Puguh.
" Aku tidak tahu, apakah disini ada semacam belik yang dapat diambil airnya "
jawab Jati Wulung.
" Aku akan minum disungai itu " berkata Puguh dengan suara bergetar.
" Tunggulah disini. Aku akan melihatnya. Jika ada belik disepanjang tepiannya,
maka kau dapat minum. Jika tidak, agaknya kau perlu bertahan sejenak. Kita akan
menelusuri sungai itu sampai menemukan sebuah belik kecil agar kau tidak minum
air yang sudah menjadi kotor. " berkata Jati Wulung.
Puguh tidak menjawab. Tetapi Jati Wulunglah yang kemudian bangkit dan turun ke
sungai. Beberapa langkah ia menelusuri tepian sungai itu untuk menemukan sebuah
belik kecil yang airnya tentu lebih bersih dari air yang mengalir di batang
sungai itu.
Ternyata Jati Wulung menemukannya. Karena itu, maka iapun dengan tergesa-gesa
kembali ke tempat Puguh menunggu.
" Aku mendapatkan belik kecil itu diatas tebing berbatu padas " berkata Jati
Wulung.
Maka Sambi Wulung dan Jati Wulungpun kemudian telah membimbing Puguh turun
ketepian dan menelusuri sungai kecil tetapi berbatu-batu besar itu, sehingga
akhirnya mereka sampai kesebuah belik jkecii.
" Jangan terlalu banyak minum " berkata Sambi Wulung memperingatkan.
Puguh memang tidak minum terlalu banyak. Tetapi lehernya yang serasa kering itu
menjadi segar.
" Kita berjalan terus " berkata Puguh tiba-tiba.
Sambi Wulung dan Jati Wulung menangguk. Tetapi Sambi Wulung sempat bertanya "
Apakah kau mengenal jalan ke Gantar? " Setidak-tidaknya arah perjalanan ke
Gantar? "
Puguh termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menengadahkan wajahnya
kelangit.
Beberapa kelompok bintang memang nampak. Tetapi Puguh tidak menemukan bintang
Gubug Penceng yang ternyata masih tertutup mendung.
" Aku kehilangan arah " jawab Puguh.
" Tetapi kau lihat bayangan Gunung itu? " desis Jati Wulung.
" Ya. Tetapi kita berada disebelah mana dari Gunung itu. Apakah kita ada di
sebelah Barat, Utara atau Selatan? " Kita memang bergerak ke Barat mula-mula.
Tetapi aku tidak yakin bahwa arah kita tidak bergeser. " jawab Puguh.
" Kau cari bintang Gubug Penceng? " Sambi Wulung menebak.
" Ya " jawab Puguh. " Tetapi bintang itu agaknya masih tertutup mendung. Jika
kita menemukan bintang itu, maka kita akan tahu arah selatan. Sedangkan bintang
Wulukupun tidak nampak pula. "
Sambi Wulung mengangguk-angguk. Iapun mengerti, bahwa bintang yang dapat
menunjuk arah itu tidak kelihatan dilangit yang sebagian masih tertutup mendung.
Karena itu maka ketiga orang itu melangkah terus tanpa tahu kearah mana mereka
berjalan. Tetapi mereka memang hanya melangkah perlahan-lahan. Selain karena
tubuh Puguh yang lemah, juga karena mereka masih harus memperhitungkan, agar
mereka tidak berjalan ke arah yang semakin jauh dari tujuan.
Beberapa saat kemudian, angin yang semilir seakan-akan telah mendorong mendung
dari langit. Perlahan-lahan maka awan yang hitam kelabu itupun terhembus dan
hanyut menjauh.
" He " tiba-tiba Puguh berseru " kau lihat bintang itu?
Sambi Wulung dan Jati Wulung menengadahkan kepalanya. Mereka memang mulai
melihat bintang Gubug Penceng.
" Ternyata aku tidak bingung " berkata Puguh " aku mengenal arah dengan tepat.
Jika aku menunggu bintang itu aku hanya sekedar ingin meyakinkan, bahwa arah
yang aku ambil benar. "
Sambi Wulung berdesis " Kita berada disebelah Barat Gunung. "
" Benar. Kita memang akan menuju kesebelah Barat. Gantar berada di arah Barat "
desis Puguh.
" Jika demikian kita akan melanjutkan perjalanan diarah ini " guman Jati Wulung.
" Ya. Tetapi kita sebaiknya tidak mengikuti arah sungai ini yang agar bergeser
dari arah yang kita kehendaki " berkata Puguh.
Ketiga orang itupun kemudian telah mengambil arah yang tidak sejalan dengan arah
sungai kecil itu meskipun tidak terlalu tajam. Namun mereka telah mengambil arah
Barat sepenuhnya.
Perlahan-lahan ketiga orang itu berjalan terus. Berpegang
pada arah yang ditunjukkan oleh bintang Gubug Penceng.
Tetapi keadaan Puguh ternyata memaksa mereka untuk setiap kali beristirahat.
Tubuhnya yang lemah membuatnya cepat merasa letih dan bahkan setiap kali terasa
lehernya bagaikan kering. Sehingga dengan demikian Sambi Wulung dan Jati Wulung
setiap kali bergantian harus mencari air untuk minum.
" Disiang hari keadaanku akan menjadi semakin buruk " berkata Puguh ketika ia
menengadahkan wajahnya kelangit yang mulai kemerah-merahan.
" Tidak " berkata Sambi Wulung " semakin lama kau tentu akan menjadi semakin
baik. "
Puguh mengangguk kecil. Tetapi ia tidak menjawab.
Dengan hati-hati Sambi Wulung dan Jati Wulung membawanya berjalan menuruni kaki
Gunung. Tetapi jalanpun semakin lama menjadi semakin datar dan lebih baik.
Ketika satu-satu mereka mulai bertemu dengan orang-orang yang akan pergi ke
sawah, maka Sambi Wulungpun mengisyaratkan agar mereka bertiga membenahi pakaian
mereka. Bahkan ketika mereka melintasi parit yang berair bening, maka merekapun
telah mencuci muka, tangan dan kaki mereka. Membenahi rambut dan ikat kepala.
Sebenarnyalah sebentar kemudian, mereka memang bertemu dengan iring-iringan
orang yang pergi ke pasar membawa beberapa macam barang dagangan. Ada yang
membawa hasil sawah, kebun dan ada pula yang akan menjual beberapa ekor ternak
untuk dibelanjakan keperluan sehari-hari yang lain.
Tetapi tidak ada yang menaruh curiga kepada tiga orang yang berjalan dipagi-pagi
buta itu.
" Mereka tentu akan ke pasar " bekata Sambi Wulung.
" Ya " jawab Jati Wulung " agaknya pasar tidak lagi terlalu jauh.
" Kita ikut mereka. " berkata Sambi Wulung kemudian.
" Untuk apa? " bertanya Puguh.
" Kita mencari makan. Mungkin makan dan minum akan dapat memberimu sedikit
kesegaran sehingga kau tidak akan merasa terlalu letih berjalan. " sahut Sambi
Wulung.
" Masih sepagi ini? " bertanya Puguh pula.
" Tetapi tentu sudah ada orang berjualan makan dan minum di pasar itu.
Puguh tidak menjawab. Ia sependapat dengan Jati Wulung. Mungkin dengan makan dan
minuman hangat akan dapat memberinya sedikit kekuatan, sehingga mereka akan
dapat berjalan lebih cepat.
Dengan demikian maka merekapun telah mengikuti orang-orang yang berjalan ke
pasar. Mereka memang sedikit menyimpang dari arah yang mereka tuju. Tetapi
mereka yakin bahwa mereka tidak akan menyimpang terlalu jauh.
Pasar itu memang tidak terlalu jauh. Setelah melewati sebuah padukuhan kecil,
maka merekapun telah menuju ke sebuah padukuhan yang ramai. Sementara itu,
gardu-gardu perondanpun telah menjadi kosong, karena anak-anak muda yang meronda
telah pulang ke rumah masing-masing.
Meskipun matahari belum terbit, tetapi pasar itu telah menjadi ramai. Ternyata
hari itu adalah justru hari pasaran sehingga pasar itu menjadi penuh dan bahkan
beberapa orang terpaksa berjualan di pinggir-pinggir jalan disekitar pasar itu.
Tetapi seperti yang dikatakan oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung, bahwa ternyata
di pasar itu sudah terdapat bukan hanya sebuah, tetapi beberapa orang berjualan
makan dan minuman hangat.
" Kita memilih kedai yang paling baik. " berkata Jati Wulung.
" Kenapa? " bertanya Sambi Wulung.
" Bukankah kita mempunyai uang banyak " sahut Jati Wulung.
Sambi Wulung hanya tersenyum saja. Tetapi ia tidak menjawab.
Seperti dikatakan oleh Jati Wulung, maka mereka memang menuju kesebuah kedai
.nasi yang cukup besar dan ramai, justru tidak berada didalam pasar. Tetapi
kedai itu dibuka disebuah rumah di depan pasar.
" Beruntunglah orang-orang yang tinggal di dekat pasar
" berkata
Jati Wulung
" mereka
dapat memanfaatkan halamannya untuk mendirikan sebuah kedai. Ternyata
kedai itu cukup banyak dikunjungi orang.
Sambi Wulung mengangguk. Sambil melangkah kearah pintu kedai itu, ia berkata "
Berhati-hatilah. Kita belum mengenal kebiasaan ditempat ini. "
" Aku kira kebiasaan disini tidak akan berpaut banyak dengan kebiasaan
dimana-mana. Bagi seorang pengembara, hal itu tidak akan banyak berpengaruh "
jawab Jati Wulung.
Tetapi sebenarnyalah bahwa ia telah menangkap isyarat Sambi Wulung. Karena itu,
maka Jati Wulungpun harus bersiap-siap. Mereka berdua telah sepakat untuk
menimbulkan kesan kepada Puguh, bahwa disepanjang jalan, mereka masih akan dapat
selalu bertemu dengan hambatan-hambatan. Dengan demikian, maka Puguh merasa
bahwa ia memang memerlukan kawan untuk pulang sampai kerumahnya atau mendekati
rumahnya.
Di kedai yang paling ramai kemungkinan yang dikehendaki itu akan lebih besar
daripada di kedai-kedai yang lebih kecil.
Demikianlah, maka merekapun telah memasuki kedai itu. Ruangannya memang cukup
luas. Beberapa lincak bambu teratur rapi dihadapkan pada paga-paga bambu rendah
untuk meletakkan beberapa jenis makanan.
Jati Wulung yang berada dipaling depan tertegun ketika dilihatnya sebuah ruangan
yang khusus dibatasi oleh sebuah rana yang tidak terlalu tinggi.
Pengenalannya atas tempat-tempat seperti itu mengatakan kepadanya, bahwa
tempat-tempat khusus itu hanya disediakan untuk tamu-tamu yang sangat khusus
pula.
Namun justru karena itu, maka Jati Wulung telah melangkah langsung menuju ke
tempat itu.
" Tunggu " salah seorang pelayan di kedai itu tiba-tiba telah menegurnya. Lalu
katanya " Ki Sanak, silahkan duduk di ruang ini. "
" Kenapa? " bertanya Jati Wulung.
" Ruang ini hanya kami sediakan untuk tamu-tamu kami tertentu saja " jawab
pelayan itu.
" Apakah aku harus membayar makanan dan minuman dengan harga yang lebih mahal?
Jika demikian, aku akan membayarnya " jawab Jati Wulung.
" Bukan begitu. Tetapi tempat itu tidak kami sediakan untuk orang lain kecuali
orang-orang yang memang pantas untuk berada dibilik itu. " jawab pelayan itu,
Tetapi Jati Wulung melangkah terus sambil berkata " Anakku sedang sakit. Aku
memerlukan tempat yang tenang. "
" Tetapi jangan disitu " cegah pelayan itu.
Jati Wulung tidak menghiraukannya. Iapun langsung menuju ke tempat yang disekat
itu diikuti oleh Puguh yang merasa tubuhnya masih lemah dan kemudian Sambi
Wulung. Meskipun Sambi Wulung tahu akibat yang mungkin timbul, namun seperti
Jati Wulung, hal itu memang dikehendakinya.
Pelayan yang mencoba mencegahnya itupun menjadi ragu-ragu ketika mereka melihat
pedang yang tergantung dilambung orang-orang itu. Meskipun hampir setiap orang
membawa parang atau golok di lambungnya, namun pedang itu mempunyai bentuk yang
agak lain dari parang atau golok yang kebanyakan dibawa oleh hampir setiap
laki-laki.
Ternyata bahwa selama pelayan itu ragu-ragu, Jati Wulung, Puguh dan Sambi Wulung
telah berada di dalam ruangan yang disekat itu.
" Nah " berkata Jati Wulung kepada Puguh " jika kau merasa letih berbaringlah.
Tempat ini tersekat, sehingga tidak akan mengganggu orang lain. "
Puguh yang duduk di sebuah amben panjang merasa ragu-ragu. Tubuhnya memang
merasa lemah. Tetapi dengan duduk bersandar, maka rasa-rasanya ia sudah
beristirahat dengan sebaik-baiknya.
" Makanlah " Sambi Wulunglah yang mempersilahkan. Dihadapan mereka terdapat
sebuah paga yang rendah dengan perbagai makanan di atasnya.
Namun sebelum Puguh sempat mengambil sepotong makananpun, pemilik kedai itu
sendiri telah datang kepada mereka.
" Ki Sanak " berkata pemilik kedai itu " bukankah pelayan kami telah
memberitahukan bahwa tempat ini adalah hanya diperuntukkan bagi orang-orang
tertentu? "
" Ya. Dan kamilah diantara orang-orang tertentu itu " sahut Jati Wulung.
" Maaf Ki Sanak. Bahwa orang-orang tertentu itu adalah orang-orang yang sangat
disegani disini. Jika aku mohon Ki Sanak tidak mempergunakan tempat ini,
semata-mata karena kami ingin berbuat sebaik-baiknya pada tamu-tamu kami.
Daripada terjadi sesuatu yang tidak kalian inginkan, maka sebaiknya kalian
berada di ruang yang luas itu bersama-sama dengan para pembeli yang lain. Kami
akan tetap melayani kalian dengan sebaik-baiknya. " berkata pemilik kedai itu.
Jati Wulung mengerutkan keningnya. Dengan nada berat ia berkata " Anakku sakit.
Biarlah aku disini. "
" Tetapi....." kata-kata pemilik kedai itu terputus ketika Sambi Wulung
melemparkan beberapa keping uang ke paga yang rendah hampir penuh dengan makanan
itu.
" Ambillah. " berkata Sambi Wulung " itu belum terhitung harga makanan dan
minuman yang akan kami pesan. Kau dapat menaikkan harga makanan dan minumanmu
sampai dua kali lipat bagi kami. Tetapi jangan ganggu kami. Kemanakanku itu
memang sedang sakit. "
Pemilik kedai itu termangu-mangu sejenak. Tetapi keping-keping uang itu memang
sangat menarik. Apalagi orang-orang itu akan bersedia membayar harga makanan dan
minuman sampai dua kali lipat.
Akhirnya pemilik kedai itu berkata " Ki Sanak. Aku sudah memperingatkan kalian.
Jika terjadi sesuatu, maka hal itu bukan tanggung jawab kami. Mudah-mudahan
orang-orang yang khusus itu tidak datang pagi ini, sehingga kalian dapat
mempergunakan tempat itu sebaik-baiknya. "
" Kami akan mempertanggung jawabkannya " berkata Sambi Wulung.
Pemilik kedai itupun kemudian telah memungut beberapa keping uang yang
diletakkan diatas paga yang randah itu. Kemudian iapun telah kembali ke
tempatnya. Kepada pelayan yang memberitahukan kepadanya, pemilik kedai itu
berkata " Agaknya mereka telah memaksa. Biarlah mereka bertanggung jawab atas
tingkah laku mereka sendiri jika orang-orang yang biasanya berada di tempat itu
nanti datang. Ki Wirit sulit diajak berbicara. Juga Ki Demang yang sering datang
bersama Ki Wirit. Mudah-mudahan mereka tidak datang pagi ini. Atau mungkin agak
siang. "
" Tetapi anak muda itu sedang sakit " berkata pelayan itu. " agaknya mereka akan
sedikit lama berada di kedai ini. "
" Sudahlah " berkata pemilik kedai itu " jangan hiraukan. Kita sudah berusaha
sebaik-baiknya. Tetapi orang-orang itu tidak mau mendengar. Jika mereka harus
menebus kesombongan mereka dengan mahal, itu bukan salah kita. "
Pelayannya mengangguk-angguk. Sementara itu pemilik kedai itu berkata "
Bertanyalah kepada mereka. Apa saja yang mereka pesan, "
Pelayan itu mengangguk, namun ketika ia melangkah menuju ke tempat yang disekat
itu, ia melihat seorang yang bertubuh kekar, berwajah keras berdiri di mulut
penyekat itu.
Pelayan itu menarik nafas dalam-dalam. Ia kenal benar kepada orang itu.Ki
Prajak. Seorang yang sangat ditakuti di tempat itu.
" Salah mereka sendiri " berkata pelayan itu kepada diri sendiri.
Sebenarnyalah orang yang bernama Ki Prajak itu merasa tersinggung melihat sikap
Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguh. Karena itu, maka iapun kemudian menggeram "
He, orang-orang sombong. Kenapa kalian tidak mau mendengarkan peringatan pemilik
kedai itu. Ruang yang disekat dengan rana ini adalah ruang yang khusus. Aku,
yang ditakuti oleh orang-orang sepasar, tidak berani duduk dan makan di ruang
ini. Kenapa kalian tidak mau
mendengarkannya? "
" Sudah aku katakan alasannya " jawab Sambi Wulung.
" Sekarang aku yang memperingatkanmu. Keluarlah dari ruang ini dan duduklah di
ruang yang luas itu. Jika kau mau duduk sambil menjulurkan kaki, tempatnya masih
cukup. Ada banyak amben dan lincak yang kosong. Bahkan jika kalian ingin
tidurpun dapat kalian lakukan. " berkata Ki Prajak.
" Kami ingin tenang disini. Anakku sakit " berkata Jati Wulung.
" Aku tidak peduli " berkata Ki Prajak " pergilah. Orang-orang yang pantas duduk
disitu adalah orang-orang yang luar biasa. Akupun tidak berani melanggar
ketentuan yang mereka buat. "
" Tetapi aku berani " jawab Jati Wulung.
" Persetan. Aku ingin merobek mulutmu. " geram Ki Prajak " sekarang pergilah.
Atau aku memaksamu. "
Jati Wulunglah yang kemudian berdiri. Ia melangkah mendekati orang yang ditakuti
oleh semua orang yang mengenalnya itu sambil berkata " Kau jangan ikut campur. "
" Setan. Kau belum mengenal aku. Aku Ki Prajak yang kata-katanya menjadi
paugeran disini. Sekali lagi aku perintahkan kalian untuk pergi. " bentaknya.
Tetapi Jati Wulung menjawab " Aku tidak peduli, apakah kau ditakuti orang atau
tidak. Aku tidak takut kepadamu. Jika kau ingin meyakinkan kata-kataku, turunlah
ke jalan. Kita akan berkelahi. Jika kau menang, aku akan pindah dari ruang yang
disekat ini. Tetapi jika kau kalah, maka kau tidak berhak mencampuri
persoalanku. Jika orang-orang yang biasanya berada di bilik itu datang, biarlah
aku yang berurusan dengan mereka. "
Wajah Ki Prajak menjadi merah. Sambil menggeram ia berdiri bertolak pinggang.
Tetapi tanpa menghiraukannya Jati Wulung melangkah maju. Justru mendorongnya
kesamping sambil berkata " Jangan disini. Nanti kita merusakkan perabot-perabot
yang ada di kedai ini. Kita berkelahi diluar. "
Kiai Prajak yang terdorong kesamping mengumpat. Tetapi ia melihat dengan tenang
Jati Wulung melangkah keluar dari kedai itu. Sementara Jati Wulung itu sempat
berpesan kepada Sambi Wulung " Mintalah minuman dan makan. Jika aku sudah
menyelesaikan perkelahian ini, akupun ingin minum dan makan tanpa terganggu. "
Sambi Wulung tidak menjawab. Tetapi ketika ia memandang sekilas wajah Puguh,
ternyata wajah itu nampak tegang. Agaknya sikap Jati Wulung itu membuatnya
berdebar-debar juga.
Ki Prajak yang tersinggung itu segera mengikuti Jati Wulung yang turun ke jalan.
Sementara itu, matahari pun sudah mulai memancarkan sinarnya ke langit, sehingga
pagipun menjadi semakin terang.
Demikian Jati Wulung turun ke jalan yang cukup ramai, maka iapun segera bersiap
sambil berkata " Mari. Jangan membuang waktu. Aku sudah ingin minum dan makan
nasi hangat. "
Ki Prajak benar-benar tersinggung. Ia tidak pernah diperlakukan seperti itu.
Sementara orang-orang sepasar memang takut kepadanya. Mereka menganggap Ki
Prajak sebagai seorang yang tidak dapat dikalahkan oleh sepuluh orang sekalipun.
Karena itu, apa yang dikatakannya, harus dilakukan oleh orang-orang di pasar
itu. Bahkan para pedagang di pasar itu menganggapnya berhak memungut pajak.
Karena orang-orang dipasar itu tidak mau membuat keributan dengan Ki Prajak,
maka tidak pernah ada orang yang berani membantahnya.
Apalagi orang-orang sepasar itu tahu, bahwa Ki Prajak adalah tangan kanan Ki
Demang dan Ki Wirit yang lebih ditakuti lagi. Keduanya adalah orang yang bukan
saja memiliki kemampuan yang tidak dapat diukur oleh orang-drang dipasar itu,
namun Ki Demang adalah, orang yang paling berkuasa.
Karena itu, ketika orang-orang diluar kedai itu melihat sikap Jati Wulung
menghadapi Ki Prajak, mereka menjadi heran. Bahwa ada juga orang yang berani
menentangnya. Apalagi menilik ujudnya, Jati Wulung bukannya orang yang pantas
untuk berkelahi melawan Ki Prajak itu.
Karena itu, maka peristiwa itu segera menarik perhatian. Beberapa orang segera
berkerumun. Namun ada juga yang justru menjadi ketakutan dan merasa lebih aman
untuk menyingkir. Bahkan orang-orang yang ada di kedaipun telah beringsut
keluar. Mereka agaknya juga ingin menyaksikan apa yang terjadi. Bagi orang-orang
yang ada di kedai itu, sikap ketiga orang yang berada di ruang yang tersekat itu
memang merupakan kesombongan yang pantas dihukum.
Dalam pada itu, Jati Wulungpun telah benar-benar bersiap. Namun Ki Prajak masih
juga sempat berbicara kepada orang-orang yang semakin banyak berkerumun "
Perhatikan orang ini baik-baik. Orang ini adalah orang yang belum pernah pergi
ke pasar ini. Ia tidak tahu siapa aku. Dan karena itu, maka ia berani
menantangku. Apalagi ia sudah berani memaksa untuk duduk diruang yang disekat
didalam kedai itu, ruang yang khusus dipergunakan oleh Ki Wirit, Ki Demang dan
orang-orang yang dikehendakinya atau keluarga mereka. Karena itu, maka orang ini
harus sedikit mendapat pelajaran. "
" Cukup " Jati Wulung membentak " buat apa kau sesorah? Sebentar lagi kau akan
pingsan disini. "
" Anak iblis " orang itu mengumpat pula. Namun iapun mulai bersiap-siap.
Selangkah demi selangkah ia mendekati Jati Wulung yang memang sudah bersiap
lebih dahulu.
Dengan garangnya Ki Prajakpun kemudian telah menyerang. Tangannya terayun keras
sekali kearah pelipis Jati Wulung.
Tetapi Jati Wulung benar-benar sudah bersiap. Dengan tangkas ia merendahkan
diri, sehingga ayunan tangan Ki Prajak itu tidak mengenainya. Bahkan sambil
merendahkan diri, Jati Wulung seakan-akan telah menyusup maju sambil memukul
lambung Ki Prajak yang terbuka dengan tangan kirinya.
Jati Wulung tidak mengerahkan kekuatan dan kemampuannya. Namun demikian pukulan
itu benar-benar telah menyakiti lawannya. Beberapa langkah Ki Prajak terdorong
surut. Bahkan hampir saja ia kehilangan keseimbangan. Namun ia berhasil tetap
tegak sambil memegangi lambungnya yang terasa menjadi sangat sakit.
Jati Wulung tidak memburunya. Dibiarkannya Ki Prajak memperbaiki keadaannya dan
mempersiapkan dirinya kembali.
Kiai Prajak yang marah menjadi semakin marah. Tetapi iapun segera mempersiapkan
dirinya pula. Ia menjadi lebih berhati-hati karena ternyata lawannya bukan orang
kebanyakan sebagaimana diduganya.
Sejenak kemudian, Ki Prajakpun telah menyerang pula. Ia tidak membiarkan dirinya
justru menjadi sasaran lawannya yang bergerak cepat. Karena itu, maka Ki
Prajakpun telah mempersiapkan diri dan mengerahkan kemampuannya sebaik- baiknya.
Demikianlah, maka sejenak kemudian telah terjadi perkelahian yang sengit didepan
kedai itu. Sambi Wulung dan Puguh ternyata ingin juga melihat apa yang akan
dilakukan oleh Jati Wulung terhadap orang yang ditakuti oleh orang-orang sepasar
itu. Karena itu setelah memesan makanan dan minuman, maka merekapun telah keluar
pula.
Puguh yang letih itu seakan-akan telah melupakan keletihannya. Ia berdiri
bersandar dinding kedai, menyaksikan perkelahian yang semakin lama menjadi
semakin sengit itu.
Namun, hampir semua orang melihat, bahkan mereka yang tidak pernah melihat
perkelahian sekalipun, bahwa ternyata Jati Wulung telah mempermainkan lawannya.
Ia seakan-akan tidak dengan sungguh-sungguh berkelahi. Kadang-kadang ia hanya
bergeser kesamping, sementara kedua tangannya tergantung saja disisi tubuhnya.
Sekali-sekali meloncat-loncat menghindar. Namun tiba-tiba saja ia telah
melenting sambil memutar kakinya. Jika putaran kakinya itu mengenai tubuh
lawannya, maka lawannya itupun telah terdorong surut. Bahkan sekali-sekali Ki
Prajak itu justru terbanting jatuh.
Ki Prajak itu mengumpat kasar. Dikerahkannya segenap kekuatan dan kemampuannya.
Namun ia tidak mampu mengimbangi kemampuan Jati Wulung yang dengan sengaja ingin
memperlihatkan kelebihannya dari lawannya.
Puguh yang berdiri bersandar dinding disebelah Sambi Wulung menarik nafas
dalam-dalam. Ternyata bahwa dua orang yang mengawaninya itu benar-benar orang
berilmu tinggi.
Tetapi bagaimanapun juga Puguh tetap merasa cemas, bahwa kedua orang itu akan
membawanya kepada orang tuanya, dan berpendapat bahwa tidak sepantasnya
anak-anak muda berada di tempat perjudian di Song Lawa.
" Orang tuaku tidak pedulikan aku " katanya didalam hati.
Namun Puguh terkejut ketika ia melihat Ki Prajak itu terlempar dengan kerasnya
kearah beberapa orang yang mengerumuni perkelahian itu. Beberapa orang turut
terjatuh pula bersamanya. Tetapi ketika beberapa orang yang lain berusaha
menolongnya berdiri, ia menghentakkan tangannya sambil berkata kasar " Aku dapat
bangkit berdiri sendiri. "
Ki Prajak itu berusaha untuk berdiri. Tetapi kepalanya rasa-rasanya memang
menjadi pening. Tangan Jati Wulung yang mengenai pelipisnya benar-benar terasa
sakit dan membuat matanya berkunang-kunang.
" Bersiaplah. Aku sudah sampai kebabak akhir " berkata Jati Wulung, Lalu katanya
" Ingat, jika kau kalah, kau tidak boleh mengusik aku lagi. "
Ki Prajak itu mengumpat kasar. Tetapi ia masih harus berusaha untuk memperbaiki
keseimbangannya lebih dahulu. Sambil menunggu kepalanya tidak lagi terasa
berputar, ia melangkah perlahan lahan mendekati JatiWulung.
Untuk menutupi kesulitannya, maka iapun mengancam " Jika kau tetap tidak mau
mendengarkan aku, maka lebih baik aku membunuhmu. "
Jati Wulung tertawa. Katanya " Itikpun tahu, bahwa kau tidak berdaya. Bagaimana
mungkin kau akan membunuhku? "
" Setan " geram Ki Prajak " aku
belum bersungguh-sungguh. Sebenarnya aku masih memberimu kesempatan. Tetapi
ternyata kau memang dungu. Kau telah memaksa aku untuk bersungguh-sungguh, Dan
itu berarti kematianmu. "
Jati Wulung masih tertawa. Katanya " Kau masih saja membual. Cepat, lakukan apa
yang dapat kau lakukan, atau aku memukulimu di hadapan banyak orang yang merasa
takut kepadamu. "
Ki Prajak benar-benar merasa terhina. Karena itu, maka dikerahkannya sisa tenaga
yang ada padanya. Dengan serta merta maka iapun telah meloncat menyerang dengan
garangnya.
Tetapi Jati Wulung tidak menjadi terdesak karenanya. Dengan sikap yang masih
saja seenaknya, ia telah mengelak, sehingga serangan Ki Prajak itu tidak
mengenainya. Bahkan ketika Ki Prajak itu terdorong selangkah dihadapannya, Jati
Wulung sempat mengayunkan tangan kirinya ketengkuk lawannya.
Ayunan tangan itu tidak terlalu keras. Tetapi karena searah dengan tarikan
kekuatan Ki Prajak sendiri yang tidak mengenai sasaran, maka Ki Prajak itu telah
terdorong beberapa langkah kedepan. Sekali lagi ia telah membentur lingkaran
penonton yang mengelilingi arena. Beberapa orang telah roboh pula bersamanya.
Ki Prajak masih juga berusaha untuk bangkit. Mulutnya masih saja
mengumpat-umpat. Namun ia mulai mencemaskan dirinya sendiri.
" Nah, apakah kau belum mengaku kalah? " bertanya Jati Wulung.
Ki Prajak benar-benar tidak dapat mengekang diri lagi. Tiba-tiba saja ia telah
menarik goloknya.
" Pergunakan senjata dilambungmu " geram Ki Prajak " jika kau berani menarik
pedangmu, maka kau tentu akan semakin cepat mati. Atau jika kau tidak mau mati,
tinggalkan^tempat ini. "
" Kau akan mempergunakan senjatamu? " bertanya Jati Wulung dengan dahi yang
berkerut.
" Kalau takut, pergilah " bentak Ki Prajak " sebelum aku kehilangan kesabaran. "
" Kau mempercepat penyelesaian. Bahkan ujung-ujung pedang akan dapat membunuh
seseorang " berkata Jati Wulung.
Tetapi Ki Prajak yang merasa dirinya ditakuti oleh seisi pasar harus
mempertahankan anggapan bahwa ia memang tidak terkalahkan, atau setidak-tidaknya
anggapan orang bahwa ia akan dapat mengalahkan sepuluh orang sekaligus.
Karena itu, maka ia masih saja bersikap garang, meskipun ia menjadi
berdebar-debar, ketika Jati Wulungpun benar-benar telah mencabut pedangnya.
Dalam pada itu, Jati Wulung berkata " Kau telah semakin menyiksa dirimu sendiri
dengan golokmu. Jika kau tidak mau mendapat malu karena kau sudah terlanjur
ditakuti, maka sebaiknya kau tidak mempergunakan senjata. "
" Persetan " geram Ki Prajak yang merasa dirinya memiliki ilmu pedang yang baik.
Sejenak kemudian, maka golok Ki Prajak yang besar telah terayun-ayun mengerikan.
Sambaran anginnya berdering bagaikan siulan dari daerah maut.
Tetapi Jati Wulung masih saja nampak tenang. Bahkan sekali-sekali nampak
senyumnya sekilas tersungging dibibirnya.
Ketika Ki Prajak kemudian menyerang, maka Jati Wulung benar-benar ingin
menunjukkan kelebihannya. Ia tidak memerlukan waktu yang lama. Sekali golok itu
terayun, maka Jati Wulung telah menangkisnya. Memutarnya, kemudian mengungkitnya
dengan cepat.
Golok ditangan Ki Prajak itu bagaikan dilontarkan dengan kekuatan yang tidak
terlawan. Jari-jari Ki Prajak terasa hampir berpatahan, sehingga dengan demikian
maka ia sama sekali tidak dapat mempertahankan goloknya.
Ternyata bahwa Golk Ki Prajak itu melenting tinggi sekali. Ketika golok itu
kemudian meluncur jatuh kearah orang-orang yang berkerumun disekitar arena, maka
merekapun telah berlari-larian menjauh. Bahkan beberapa orang telah terdorong
jatuh dan terinjak kaki kawan-kawannya.
Ki Prajak bagaikan orang kebingungan melihat goloknya itupun kemudian jatuh
ditanah. Daun goloknya yang lebar dan panjang itu justru menancap di tanah.
Ungunglah bahwa orang-orang yang berkerumun telah berlari berpencaran, sehingga
golok itu tidak menimpa salah seorang diantara mereka.
Yang terjadi itu benar-benar telah menggetarkan jantung Ki Prajak. Ia menganggap
bahwa lawannya memang orang yang luar biasa. Bukan saja kemampuannya dalam olah
kanuragan, kecepatan geraknya dan unsur-unsur gerak yang sulit diketahuinya,
namun ia adalah orang yang memiliki kekuatan yang sangat besar. Meskipun ujud Ki
Prajak itu jauh lebih tegar dari lawannya, tetapi ternyata bahwa ia tidak
berdaya apa-apa.
Orang-orang yang menyaksikan perkelahian itu menjadi berdebar-debar pula. Dengan
demikian akan ada orang baru yang berkuasa melampaui Ki Prajak. Tetapi mereka
tidak tahu apakah orang itu akan menjadi lebih baik atau justru lebih buruk dari
Ki Prajak. yang menjadi alat Ki Wirit dan Ki Demang untuk memungut pajak.
Namun Ki Prajak itu terbukti tidak dapat melawan orang yang baru dikenal pagi
itu oleh seisi pasar.
Tetapi dalam pada itu, orang-orang dipasar itu masih harus memperhitungkan Ki
Wirit dan Ki Demang. Merekapun adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi
pula.
Untuk beberapa saat Jati Wulung berdiri tegak memandang Ki Prajak yang
kebingungan. Dengan senyum di bibir Jati Wulung kemudian berkata " Nah, apakah
kau merasa menang atau kalah? "
Wajah Ki Prajak menjadi tegang. Sementara Jati Wulung berkata selanjutnya " Jika
kau merasa belum kalah, ambil golokmu..Tetapi ingat, aku hanya memberimu
kesempatan satu kali. Jika kau ambil golokmu, maka kita akan benar-benar
bertempur. "
Ki Prajak sama sekali tidak menjawab. Ia menyadari, bahwa jika mereka
benar-benar bertempur, maka ia tidak akan mampu melawannya. Bahkan mungkin orang
yang tidak dikenal itu benar-benar akan membunuhnya.
Karena Ki Prajak tidak menjawab, maka Jati Wulungpun kemudian berkata " Jika kau
tidak mengambil golokmu, maka berarti kau mengaku kalah. Kau tidak akan
menggangguku lagi. "
Ki Prajak memang tidak beranjak dari tempatnya.
Sehingga dengan demikian maka Jati Wulungpun kemudian meninggalkannya kembali
masuk kedalam kedai.
Sambi Wulung dan Puguhpun telah kembali duduk pula bertiga ditempat yang disekat
dengan rana itu. Bahkan hampir berteriak Jati Wulung itupun berkata " He, mana
pesanan kami? "
Pemilik kedai yang menyaksikan perkelahian itu pula memang menjadi ketakutan.
Ketiga orang itu ternyata memiliki kemampuan yang sangat tinggi menurut
penglihatan mereka. Namun demikian pemilik kedai itupun masih tetap merasa
cemas, bahwa Ki Wirit atau Ki Demang atau bahkan kedua-duanya akan datang. Jika
timbul perselisihan, maka pertempuran yang akan datang tentu pertempuran yang
sangat seru.
Tetapi pemilik kedai itu tidak dapat berbuat apa-apa. Seorang pelayanpun
kemudian menghidangkan minuman hangat. Kemudian nasi yang masih hangat pula
beserta lauk pauknya.
Ternyata ketiga orang itu makan dan minum dengan tenangnya. Mereka sama sekali
tidak merasa cemas akan apapun juga, meskipun mereka tahu bahwa kemungkinan yang
lain dapat terjadi jika orang-orang yang merasa berhak atas tempat itu datang.
Seperti yang dikatakan oleh Jati Wulung dan Sambi Wulung, bahwa minuman dan
makanan yang hangat telah membuat tubuh Puguh merasa lebih baik. Meskipun anak
muda itu belum merasa sembuh benar, tetapi ia tidak lagi terlalu lemah.
Selain minum dan makan nasi hangat, maka merekapun masih minta dibungkuskan
beberapa jenis makanan untuk bekal perjalanan mereka dijalan.
Agaknya sampai ketiga orang itu selesai makan dan minum, orang-orang yang merasa
memiliki tempat khusus itu masih belum datang. Karena itu, maka pemilik kedai
itu merasa lega ketika Sambi Wulung bertanya kepadanya, berapa ia harus
membayar.
Seperti yang dijanjikan, maka Sambi Wulung telah membayar lebih banyak dari
harga yang seharusnya sehingga pemilik kedai itu menjadi terheran-heran.
" Jadi Ki Sanak benar-benar membayar lebih? " bertanya pemilik kedai itu.
" Aku sudah menjanjikannya " jawab Sambi Wulung. Tetapi tiba-tiba ia bertanya "
Atau kau menganggap justru kurang? "
" Tidak. Sama sekali tidak " jawab pemilik kedai itu " tetapi tadi Ki Sanak
sudah memberikan uang kepadaku. "
Sambi Wulung menggeleng sambil berkata " Bukan apa-apa. Aku mempunyai uang
banyak. Mungkin orang lain dapat memerasmu atau katakan dengan kedok pemungut
pajak, tetapi bukan yang sebenarnya. "
Pemilik kedai itu mengangguk hormat. Katanya dengan nada rendah " Terima kasih
Ki Sanak. "
Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguhpun kemudian telah melangkah keluar dari
kedai itu sambil minta diri. Beberapa orang yang semula menyaksikan perkelahian
di jalan yang terletak antara kedai itu dengan pasar, telah kembali duduk
ditempat mereka semula untuk mengulangi makan dan minum mereka yang tersisa.
Demikian pula orang-orang yang berjualan dipasar. Mereka telah kembali duduk
dibelakang dagangan mereka.
Ketika ketiga orang itu turun ke jalan, maka mereka sudah tidak melihat lagi
orang yang bertubuh kekar itu.
Agaknya orang itu telah pergi. Mungkin karena malu, tetapi ketiga orang itupun
menyadari, bahwa mungkin Ki Prajak telah berusaha untuk menyusun rencana
pembalasan.
Tetapi Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguh tidak peduli. Mereka kemudian
berjalan kearah mereka datang, karena mereka menyimpang dari arah perjalanan
mereka sekedar untuk mencari makan.
Beberapa pasang mata mengikuti langkah ketiga orang itu. Tetapi tidak seorangpun
yang menyapanya. Kecuali orang itu adalah orang yang memang tidak mereka kenal,
mereka merasa khawatir, bahwa orang-orang itu merupakan bayangan yang lebih
buruk dari Ki Prajak yang telah dikalahkan itu. Dengan demikian, maka tegur sapa
itu akan dapat mengundang kesulitan bagi mereka.
Ketiga orang itupun sama sekali tidak mempedulikan orang-orang yang
memperhatikan mereka. Mereka berjalan saja seenaknya. Sementara Jati Wulung
menjinjing sebuah kantong yang dibelinya juga dari pemilik warung itu untuk
membawa makanan yang telah dibelinya untuk bekal diperjalanan.
Ketika ketiga orang itu telah meninggalkan kedai itu, maka pemilik kedai dan
beberapa orang pelayannya bagaikan telah terlepas dari cengkaman ketegangan.
Ternyata tidak terjadi pertengkaran didalam kedainya karena orang-orang yang
menganggap dirinya berhak atas tempat yang tersekat itu tidak datang ke kedainya
pada saat orang lain berada didalamnya.
Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguhpun kemudian telah meninggalkan padukuhan
yang besar dan terdapat sebuah pasar yang ramai didalamnya. Dengan nada rendah
Sambi Wulung berkata " Ternyata bahwa diperjalanan kita menemukan
persoalan-persoalan yang kadang-kadang memaksa kita mempergunakan kekerasan.
Jati Wulung mengangguk-angguk. Katanya " Aku tidak akan merasa terlalu cemas,
jika keadaan Puguh telah menjadi lebih baik. Tetapi dalam keadaan seperti ini,
rasa-rasanya aku tidak sampai hati untuk melepaskannya. "
Puguh termangu-mangu sejenak. Tetapi iapun kemudian menyahut " Setelah sampai di
Gantar keadaanku akan menjadi baik. Aku akan dapat menempuh perjalanan sendiri.
"
" Kau terlalu lemah untuk berjalan sendiri meskipun kau sudah sampai di Gantar.
" jawab Jati Wulung.
" Aku sudah mengenal lingkungan itu " jawab Puguh
" Apa salahnya jika kami antar kau sampai ketempat yang paling aman? Kami tidak
mempunyai tugas apapun yang harus kami lakukan selain mengembara. Pergi
ketempat-tempat judi, bukan saja di Song Lawa, tetapi juga di Bergota,, di
Gresik jauh di sebelah Timur atau disebelah Barat Pajang. " berkata Jati Wulung.
" Apakah tempat-tempat perjudian itu masih ada? " bertanya Puguh. Lalu "
Maksudku, tempat-tempat itu tidak mengalami nasib seperti Song Lawa? "
" Aku tidak tahu " jawab Jati Wulung " tetapi jika hal itu terjadi, tentu
bersamaan dengan Song Lawa, karena sebelum aku berada di Song Lawa aku memasuki
lingkungan perjudian di Bergota. Bahkan aku sempat singgah sebentar di sebelah
Barat Pajang. Tetapi tempat perjudian di sebelah Pajang tidak sebesar Bergota.
Tidak pula sebesar Gresik. Untuk menghapus tempat perjudian disebelah Barat
Pajang tidak terlalu sulit, sebagaimana dilakukan oleh para prajurit Pajang atas
Song Lawa, apalagi jaraknya dari Pajang memang tidak sejauh Gunung Kukusan.
Tetapi untuk menghapus tempat perjudian di Bergota dan Gresik memerlukan
perhitungan yang matang. Mungkin para Adipati d^pat diperintahkan untuk
melakukannya tanpa penanganan langsung dari Pajang sebagaimana dilakukan atas
Song Lawa. Atau para Adipati itu sendirilah yang memang berniat untuk
melakukannya. "
Tetapi Sambi Wulung menyahut " Namun mungkin justru tempat itu mendapat
perlindungan. Resmi atau tidak resmi, karena tempat-tempat seperti itu dapat
memasukkan banyak uang. "
" Siapapun yang melindunginya, maka tempat-tempat itu pada saatnya tentu akan
habis digulung oleh para prajurit yang setia akan tugas mereka " berkata Jati
Wulung diluar sadarnya.
Puguh mengerutkan keningnya mendengar kata-kata Jati Wulung itu. Dengan nada
rendah iapun bertanya " Jika tempat-tempat seperti itu sudah tidak ada lagi,
dimana kalian akan berjudi? " "
Pertanyaan itu memang mengejutkan Jati Wulung.
Barulah ia sadar bahwa ia telah mengucapkan kata-kata yang salah. Namun dengan
cepat Jati Wulung berkata " Sebenarnyalah sudah lama aku ingin membukanya.
Tetapi dengan cara yang lain, yang tidak mudah untuk dihancurkan oleh para
pejabat dan para prajurit. "
" Bagaimana caranya? " bertanya Puguh.
" Jika para prajurit dapat memasukkan petugas sandinya di tempat-tempat
perjudian, maka sebaiknya kita berhubungan dengan para petugas sandi. Jika kita
dapat berhubungan dengan seorang saja diantara mereka, maka kita akan tahu
dengan pasti, kapan akan diadakan sergapan pada tempat perjudian itu. Dengan
demikian kita akan sempat bersiap-siap. Tidak perlu melawan. Tetapi cukup
memindahkan tempat itu. " jawab Jati Wulung.
Puguh mengangguk-angguk. Tetapi niat Jati Wulung itu nampaknya masih agak kabur
bagi Puguh. Karena itu, maka Jati Wulung menjelaskan " Jika dengan cara
demikian, maka prajurit tidak akan pernah dapat menghancurkan tempat perjudian
itu. Tetapi kita harus mempunyai hubungan yang luas. Tempat-tempat yang dalam
waktu singkat dapat dirubah menjadi tempat perjudian seperti Song Lawa. Yang
paling tepat adalah padepokan-padepokan yang terpencil "
Puguh masih saja mengangguk-angguk. Katanya " Satu kerja yang sulit untuk
dilakukan. Tetapi kau dapat mencobanya "
" Memerlukan waktu yang panjang untuk mempersiapkannya tempat seperti itu. "
berkata Jati Wulung.
" Ya. Waktu yang panjang dan modal yang besar. " desis Sambi Wulung.
Pembicaraan merekapun tiba-tiba terputus, ketika mereka melihat beberapa orang
muncul disimpang empat dihadapan mereka. Dari kejauhan mereka melihat
orang-orang itu kemudian hilir mudik di simpang ampat itu sambil memperhatikan
mereka.
Ketiga orang itu menjadi berdebar-debar ketika mereka menjadi semakin dekat.
Selah seorang diantara mereka adalah Ki Prajak. Orang yang baru saja berkelahi
dengan Jati Wulung didepan kedai makanan itu.
" Ternyata persoalanmu belum selesai Wanengpati " desis Sambi Wulung.
Jati Wulung menggeram. Katanya " Orang-orang yang tidak tahu diri. Ternyata
persoalannya masih dianggap belum selesai. Mereka masih akan mengajak
bermain-main. "
Sambi Wulung mengangguk kecil. Namun iapun bertanya kepada Puguh " Bagaimana
keadaanmu? "
Puguh menarik nafas dalam-dalam. Keadaannya memang bertambah baik. Tetapi ia
merasa masih belum pulih kembali. Luka-lukanya masih terasa sakit. Tetapi untuk
sekuat melindungi dfi^fiya, maka ia masih akan dapat berusaha.
Karena itu maka katanya " Aku akan berusaha sebaik-baiknya. Makan dan minum yang
hangat itu memang memberikan sedikit kesegaran pada tubuhku yang lemah.
Mudah-mudahan aku tidak justru menyulitkan kalian berdua. "
Bagus " sahut Sambi Wulung " kami akan berdiri sebelah menyebelah. Kau akan
berada ditengah. Berusahalah melindungi dirimu sendiri.
Puguh mengangguk. Namun tubuhnya memang terasa menjadi lebih baik. Apalagi
setelah kehangatan makan dan wedang jahe itu bagaikan merayap diseluruh urat
darahnya.
Dengan demikian maka ketiga orang itu berjalan tenis. Mereka seakan-akan tidak
menghiraukan orang-orang yang berada disimpang ampat. Atau seakan-akan mereka
memang tidak bersalah sama sekali terhadap orang-orang yang berada di simpang
ampat itu.
Namun keiika mereka menjadi semakin dekat, maka orang-orang disimpang ampat itu
mulai berpencar memenuhi jalur jalan. Seorang diantara mereka adalah orang yang
sudah lebih tua dari kawan-kawannya. Agaknya orang sebaya dengan Sambi Wulung
dan Jati Wulung.
" Lima orang " berkata Jati Wulung " nampaknya mereka adalah orang-orang yang
berkedudukan. "
Sambi Wulung mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab.
Ketika mereka tinggal beberapa langkah lagi dari simpang ampat itu, maka orang
yang bernama Kiai Prajak itupun telah bergeser maju dihadapan keempat orang yang
lain: Sambil bertolak pinggang ia berdiri
ditengah-tengah jalan.
" Kau Ki Sanak " desis Jati Wulung.
" Ya. Aku. Aku sengaja menghindari perkelahian yang akan dapat mengacaukan pasar
itu. Karena itu, aku telah mengalah waktu itu. Tetapi disini keadaannya berbeda.
Disini tidak banyak orang yang akan berkerumun menganggu perkelahian kita. "
" Kau masih ingin bertempur? " bertanya Jati Wulung.
" Aku akan membuat kalian menjadi jera. Kalian telah menghina kami. " geram
orang itu. Lalu " Kau sudah melanggar paugeran yang dibut oleh Ki Demang dan Ki
Wirit atas kedai itu. Pelayan dan pemilik kedai itu sudah memberimu peringatan.
Tetapi kau tidak menghiraukannya, sehingga kau telah membuat orang-orang yang
ada di kedai itu gelisah. Nah, sekarang kau berhadapan dengan Ki Demang dan Ki
Wirit itu sendiri. "
" O " Jati Wulung mengangguk-angguk " jadi bukan karena kau mencari tempat lain
untuk bertempur kan? "
" Persetan. Kau dapat berbicara dengan, Ki Demang dan Ki Wirit langsung. "
bentak Ki Prajak.
Jati Wulung termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian bertanya " Yang manakah
Ki Demang dan yang manakah Ki Wirit? "
Seorang diantara keempat orang itupun bergeser maju dan berdiri disamping Ki
Prajak. Katanya dengan nada datar " Akulah Demang di Kademangan ini. "
" O " Jati Wulung mengangguk. Lalu katanya " Apakah
Ki Demang
akan mengadili
kami Kami akan berterima kasih jika Ki Demang menangkap orang ini yang
mengganggu selaki aku makan di kedai yang ada di depan pasar itu. "
Ki Demang mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun tertawa " Kau memang
pandai untuk memancing persoalan. Kau tahu bahwa hal itu pasti tidak akan aku
lakukan. Tetapi kau telah menyebutnya juga. "
Jati Wulung
termangu-mangu sejenak.
Namun kemudian iapun tertawa. Katanya " Baiklah. Kita tidak usah
berbelit-belit. Apa yang ingin kalian lakukan? Berkelahi? Marilah, kami sudah
siap. "
" Tunggu " berkata Ki Demang " kami ingin tahu beberapa hal tentang kalian.
"
" Apa yang ingin kau ketahui Ki Sanak? " bertanya Jati Wulung.
Sebelum Ki Demang menyahut, maka seorang yang lain lagi telah melangkah maju
pula. Orang yang umurnya sudah sebaya dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung.
" Kaukah yang disebut Ki Wirit " bertanya Jati Wulung dengan serta merta.
" Ya. Akulah Ki Wirit itu. " jawab orang itu.
" Ujud dan sikapmu berbeda dari gambaranku " berkata Jati Wulung.
" Kenapa? " bertanya Ki Wirit itu.
" Aku kira kau adalah seorang yang berpakaian germerlap, berkeris dengan pendok
emas serta mengenakan timang emas pada kamusmu. Berjalan agak mengangkat
wajahnya sedikit. Sambil meredupkan mata dan mencibirkan bibir kau sapa
orang-orang yang tunduk hormat kepadamu sambil menepi dipinggir jalan. " berkata
Jati Wulung " ternyata ujud dan sikapmu cukup sederhana dan tidak
berlebih-lebihan. "
Orang yang disebut Ki Wirit itu tersenyum. Katanya " Aku bukan orang yang pantas
dihormati secara berlebih-lebihan. Sebagaimana juga Ki Demang, maka kami semua,
para bebahu dan pemimpin Kademangan adalah orang-orang yang sederhana. "
" Baiklah " berkata Jati Wulung " sekarang, apakah keperluan kaliaifl
menghentikan perjalanan kami? "
" Sebenarnya kau tidak usah bertanya Ki Sanak " jawab Ki wirit " kau tentu sudah
tahu, bahwa kau telah menyinggung perasaan kami. "
" O " Jati Wulung mengangguk-angguk. Lalu " Barangkali karena aku telah
berkelahi dengan salah seorang diantara orang-orangmu itu? "
" Salah satu diantara kesalahanmu, bahwa kau telah berani melawan orang-orangku.
" jawab Ki Wirit.
" Kenapa salah satu? Apakah ada kesalahanku yang lain? " bertanya Jati Wulung.
" Jangan berpura-pura dungu. Kau telah menghina hak serta kuasa Ki Demang dan
aku. Kau telah memaksa untuk duduk ditempat yang khusus disediakan bagi kami di
kedai itu " geram Ki Wirit kemudian.
" Jadi hanya karena kami duduk ditempat yang kosong? " Jati Wulung ganti
bertanya " Ki Sanak. Ternyata sampai aku meninggalkan kedai itu, kalian tidak
datang ke kedai itu. Karena itu apa salahnya jika aku berada ditempat yang
sedang tidak dipergunakan. Kedai adalah satu tempat yang diperuntukkan bagi
orang banyak. Termasuk aku dan saudara-saudaraku. Bahkan siapa saja.
" Tetapi itu adalah paugeran di Kademangan ini. Tidak seorangpun yang boleh
mempergunakan tempat yang disediakan bagi Ki Demang. Dan ternyata kau telah
melanggarnya. Hal itu tidak akan menjadi persoalan jika kalian memang tidak
mengetahuinya. " berkata Ki Wirit.
" Kami memang tidak mengetahuinya " berkata Jati Wulung.
Tetapi Ki Wirit itu justru tertawa. Katanya " Kau memang aneh Ki Sanak.
Bagaimana mungkin kau tidak mengetahuinya. Pelayan dan pemilik kedai itu sudah
memberimu peringatan. Mereka berusaha untuk berbuat baik kepadamu, agar kau
tidak melakukan kesalahan dengan melanggar paugeran Kademangan ini. Tetapi kau
tidak pernah menghiraukannya. Kemudian Ki Prajakpun telah minta kepadamu untuk
pergi. Bahkan ia telah berusaha memaksa kalian karena ia merasa bertanggung
jawab atas pelaksanaan segala macam paugeran di Kademangan ini. Tetapi kau
berhasil mengalahkannya. "
" Aku tidak kalah " geram Kiai Prajak " aku tidak mau orang-orang sepasar
menjadi kebingungan dan kehilangan akal sehingga pasar itu menjadi kacau.
Kekacauan itu tentu akan dimanfaatkan oleh para penjahat untuk merampas dan
merampok barang-barang bukan saja yang ditinggalkan oleh pemiliknya. Tetapi juga
mereka akan berani merampok para pedagang yang kebingungan itu. "
Ki Wirit tersenyum. Katanya " Baiklah. Apapun alasanmu, tetapi orang-orang ini
tetap tidak mau tahu bahwa mereka harus menyingkir dari tempat yang khusus di
kedai itu. "
Ki Prajak mengangguk-angguk. Katanya " Ya. Begitulah. Karena itu, maka segala
sesuatunya terserah kepada Ki Demang dan Ki Wirit. "
Ki Wiritpun kemudian berpaling kepada Ki Demang.
Sementara Ki Demang berdesis. " Kita harus menghukum mereka. "
" Ya " jawab Ki Wirit " kita harus menghukum mereka. Jika kita membiarkan
orang-orang itu pergi tanpa mendapat hukuman atas pelanggarannya terhadap
paugeran yang berlaku disini, maka selanjutnya akan menjadi kebiasaan orang dari
luar Kademangan ini berlaku sekehendak hatinya disini, tanpa menghiraukan
paugeran yang berlaku, serta sama sekali tidak menghargai para bebahu di
Kademangan ini. "
_ Nah " berkata Ki Demang " aku harap kalian tidak berbuat sesuatu yang akan
dapat memperberat hukuman kalian. Kalian harus menjulurkan pergelangan tangan
kalian untuk diikat. Kemudian menyeret kalian bertiga ke Kademangan. Hukuman
berikutnya akan ditentukan dalam sidang yang akan dihadiri oleh para bebahu dan
orang-orang tua pemangku adat disini. "
Sambi Wulung dan Jati Wulung saling berpandangan sejenak. Namun keduanya
tiba-tiba saja tersenyum. Jati Wulunglah yang melangkah maju sambil berkata " Ki
Demang. Menurut pengamatanku yang sekilas, kami menaruh kasihan kepada Ki
Demang. "
Wajah Ki Demang menjadi merah. Dengan nada marah ia bertanya " Kenapa kau dapat
berkata seperti itu? "
" Ternyata yang sebenarnya memerintah Kademangan ini bukannya Ki Demang. "
berkata Jati Wulung.
" Bukan aku? Apakah kau gila? " geram Ki Demang.
" Ki Demang adalah orang yang berhak untuk menduduki jabatan itu karena hak yang
turun temurun. Tetapi menurut pengamatanku yang sekilas, maka yang sebenarnya
berkuasa disini adalah Ki Wirit. " berkata Jati Wulung.
" Tutup mulutmu " bentak Ki Demang " jangan mengigau. Kau harus menyadari, bahwa
igauanmu itu akan dapat menjerat lehermu. "
Tetapi Jati Wulung menjawab dengan senyumnya yang masih nampak dibibirnya.
Katanya " Jangan menjadi terlalu garang Ki Demang. Aku bukan sekedar mengigau.
Meskipun aku bukan seorang yang pandai, tetapi aku mempunyai berpuluh ribu
pengenalan atas tabiat dan tingkah laku manusia. Juga atas Ki Demang disini,
yang tidak menunjukkan kewibawaan yang memadai dibanding dengan Ki Wirit. "
" Ki Wirit adalah salah seorang tua yang memang dihormati disini " berkata Ki
Demang " bukankah itu berlaku dimana saja, jika seorang pemimpin pemerintahan
menghormati orang-orang tua yang bijaksana di lingkungannya? "
" Kau benar Ki Demang. Nampaknya Ki Wirit adalah orang tua yang bijaksana di
padukuhan dan bahkan Kademangan ini. " jawab Jati Wulung.
Ki Demang mengerutkan dahinya. Ia merasakan sindiran yang tajam dari kata-kata
Jati Wulung, sehingga iapun berkata " Kata-katamu tajam melampaui ujung duri
pandan. Apapun yang kau katakan, maka kau akan mendapat hukuman yang pantas.
Kata-katamu dan sikapmu ternyata telah memperberat kesalahanmu. "
" Sudahlah " berkata Jati Wulung kemudian " sejak awal sudah aku katakan.
Marilah kita berkelahi. Jangan banyak berbicara lagi. "
" Persetan " geram Ki Wirit " kata-katamu semakin lama semakin menyakitkan hati.
Kau kira jika kita benar-benar berkelahi kau akan dapat luput dari tanganku? "
" Aku sudah bertekad untuk menantangmu. Jangan banyak bicara lagi. Kita
berkelahi, atau biarkan kami pergi. " Jati Wulungpun membentak.
Ki Wirit benar-benar menjadi marah. Iapun segera memberikan isyarat kepada kedua
orang kawannya yang lain, sehingga merekapun dengan serta merta telah bergeser
dari tempatnya dan mengepung ketiga orang itu.
" Jangan berharap apa-apa lagi " berkata Ki Wirit
" sebenarnya aku tidak ingin berkelahi dengan cara yang licik, sebagaimana
kalian tidak berkelahi bertiga ketika kalian melawan Ki Prajak. "
" Aku tidak perlu melawannya bertiga " berkata Jati Wulung.
" Nah, sekarang baiklah. Kami tidak akan bertempur berlima, sementara kalian
hanya bertiga. Aku ingin tahu, apakah kalian benar-benar laki-laki pilihan,
sehingga kalian berani melakukan tindakan yang deksura di kedai itu. " berkata
Ki Wirit.
" Maksudmu? " bertanya Jati Wulung.
" Hanya seorang diantara kami yang akan bertempur. Sedangkan kalian dapat
memilih salah seorang diantara kalian. Kita akan berperang tanding. " jawab Ki
Wirit.
Jati Wulung termangu-mangu sejenak. Ki Wirit mengucapkan kata-kata itu dengan
penuh keyakinan sehingga baik Jati Wulung maupun Sambi Wulung mempunyai
penilaian tersendiri atas orang ini.
Namun sebelum Jati Wulung menjawab, maka Sambi Wulung telah mendahului " Menarik
sekali. Agaknya sekarang giliranku untuk berkelahi. Adikku, Wanengpati telah
mengalahkan Ki Prajak, diakui atau tidak diakui. Sekarang aku akan berperang
tanding melawanmu, Ki Wirit. "
" Kenapa kau? " bertanya Jati Wulung.
" Bergantian. Sudah beberapa hari aku tidak berkelahi. Sekarang aku akan
mendapat kesempatan itu " berkata Sambi Wulung.
" Tetapi akulah yang telah memulainya. Maka biarlah aku yang menyelesaikannya "
berkata Jati Wulung.
" Itu namanya tidak bergantian. Kau akan mengambil semuanya dan tidak memberi
aku kesempatan sama sekali. Itu tidak adil. "
" Setan " geram Ki Wirit " jadi kalian berebut untuk mati. "
" Siapa bilang berebut untuk mati? Kami berebut kesempatan untuk membunuh. Apa
salahnya dalam keadaan seperti ini kami membunuh? Jika kau sudah menyebut-nyebut
untuk membunuh kami, maka kamipun telah bertekad untuk membunuh kalian. "
Ki Wirit yang marah itu menjadi semakin marah. Dengan keras ia membentak "
Cepat. Semakin lama akan menjadi semakin .banyak orang yang akan melihat
perkelahian ini. Meskipun dengan demikian akan menjadi semakin banyak pula saksi
kematianmu, tetapi aku tidak memerlukannya. "
Sambi Wulungpun kemudian bergeser maju sambil berkata kepada Jati Wulung " Jaga
anakmu yang sakit itu. "
Jati Wulung tidak dapat memaksakan kehendaknya atas Sambi Wulung. Ia sadar,
bahwa Sambi Wulung tentu menganggap bahwa Ki Wirit memang memiliki kelebihan.
Karena itu, agar tidak terjadi sesuatu atas mereka bertiga, maka Sambi Wulung
yang memiliki ilmu terbaik diantara mereka bertiga akan menghadapinya. Jika Ki
Wirit mampu mengalahkan Sambi Wulung, maka nasib mereka bertiga memang akan
menjadi terlalu buruk.
Dengan demikian, maka Sambi Wulunglah yang kemudian telah berdiri dipaling depan
menghadapi Ki Wirit. Sementara itu Jati Wulung dan Puguhpun harus berhati-hati,
karena masih ada ampat orang lainnya, termasuk Ki Demang yang akan dapat berbuat
sesuatu atas mereka.
" Bagus" berkata Ki Wirit. " jJadi kaulah! yang akan menghadapi aku dalam perang
tanding ini? "
" Ya " jawab Sambi Wulung mantap.
Ki Wirit mengangguk-angguk. Dengan nada datar iapun berkata " Baiklah. Marilah
kita yang tua-tua ini sekali-sekali mencari kesempatan untuk bermain-main pula.
" Lalu katanya kepada Ki Demang " Ki Demang, jangan ganggu kami. Suruh
orang-orang itu berjaga-jaga agar tidak seorangpun diantara mereka akan sempat
melarikan diri. "
Ki Demang mengangguk. Jawabnya " Percayakan mereka kepada kami. Siapa yang akan
melarikan diri, akan mati lebih dahulu karenanya. "
Namun Ki Demang dan bahkan orang-orang yang mengepung itu terkejut ketika mereka
mendengar Jati Wulung tertawa. Katanya " Suara kalian seperti guntur di mangsa
ke sanga. Menggelegar memenuhi langit yang kelabu. Tetapi marilah kita buktikan,
apakah benar-benar hujan akan dapat turun. "
" Persetan kau " bentak Ki Demang.
Namun dengan serta merta Jati Wulung menjawab " Apakah kita juga akan perang
tanding? "
" Tidak " Ki Wiritlah yang menyahut " aku dan orang ini akan menentukan
segala-galanya. "
Jati Wulung tertawa berkepanjangan. Suara tertawanya berhenti ketika Ki Demang
membentak " He, kenapa kau tertawa? "
" Aku memang yakin bahwa Ki Demang tidak lebih dari sebuah wayang golek yang
hanya bergerak jika digerakkan oleh Ki Wirit. Ki Wiritpun menjadi cemas akan
nasib wayang goleknya jika pada suatu saat ia tidak sempat mengendalikannya
dengan baik. "
" Setan " geram Ki Wirit " jika aku selesai dengan perang tanding ini, maka
kaupun akan aku bunuh dengan caraku. "
" Jangan sesumbar. Lakukanlah jika kau mampu " jawab Jati Wulung.
Ki Wirit menggeram. Dadanya seakan-akan menjadi retak oleh kemarahan yang
menyesak. Ia belum pernah menjumpai orang seperti ketiga orang itu. Ketika
sekilas ia memandang wajah Puguh, maka iapun berkata didalam hati " Jika anak
itu tidak sakit, maka ia tentu gila juga seperti ayahnya. "
Demikianlah, Ki Wirit telah berhadapan dengan Sambi Wulung. Keduanya telah
bersiap untuk bertempur disimpang ampat. Seperti yang dikatakan olah Ki Wirit,
maka sebenarnyalah, beberapa orang yang tertahan dan tidak dapat lewat dijalan
itu, telah berkerumun meskipun pada jarak yang jauh. Mereka mengerti bahwa jika
Ki Wirit telah ikut campur, biasanya keadaan orang-orang yang menjadi sasarannya
tidak akan tertolong lagi. Karena itu, maka Ki Wirit memang lebih ditakuti
daripada Ki Demang, yang sebagaimana diduga oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung,
bahwa Ki Demang memang berada dibawah pengaruh Ki Wirit.
" Bersiaplah untuk mati dengan cara yang kurang baik. " berkata Ki Wirit dengan
nada berat.
Tetapi Sambi Wulung menjawab " Ki Wirit. Apakah kau mempunyai anak isteri?
Barangkali ada pesan yang ingin kau sampaikan kepada Ki Bekel sebelum kau mati
disini? "
Kata-kata Sambi Wulung itu bagaikan api yang telah menyalakan minyak yang sudah
tersiram dihatinya. Dengan serta merta maka apipun telah berkobar membakar
seluruh isi dadanya.
Denganlloncatanlyangi cepat, maka Ki Wiritpun telah menyerang. Tangannya terayun
mendatar kearah kening lawannya. Namun Sambi Wulungpun telah bersiap menghadapi
segala kemungkinan. Karena itu, maka serangan itu telah dielakkannya. Tangan Ki
Wirit itu terayun beberapa jari dari kepalanya yang menunduk.
Tetapi dalam pada itu, Sambi Wulung tidak menyia-nyiakan kesempatan yang terbuka
baginya. Sambil menghindari ia telah berputar dengan ayunan kaki mengarah
lambung.
Ki Wirit memang terkejut melihat ketangkasan lawannya. Karena serangan itu, maka
iapun harus meloncat selangkah surut. Tetapi ketika kakinya menjejak tanah, maka
kaki itu telah melemparkannya kembali. Bahkan tubuhnya menjadi miring dan satu
kakinya lurus menyamping.
Sambi Wulung mampu bergerak secepat serangan lawannya. Ia memiringkan tubuhnya
sambil menarik dadanya. Kaki Ki Wirit itu memang hampir saja mengenai Wajahnya.
Dengan kedua tangannya Sambi Wulung memukul kaki Ki Wirit. Tetapi Ki Wirit telah
menggeliat dan menjatuhkan dirinya. Justru kakinya yang lainlah yang kemudian
mematuk lambung lawannya ketika Ki Wirit itu berguling ditanah sambil mengambil
jarak.
Sambi Wulung bergeser surut selangkah. Tetapi demikian ia melihat Ki Wirit
melenting berdiri, maka iapun telah meloncat menerkam dengan ayunan tangannya.
Ki Wiritlah yang kemudian terpaksa membungkukkan badannya. Untuk mengurangi
kemungkinan buruk dari serangan lawannya, justru Ki Wiritlah yang telah
menyerang dada lawannya dengan kedua tangannya.
Tetapi semangan itupun tidak menyentuh tubuh Sambi Wulung yang bergeser mundur.
Keduanyapun kemudian berdiri tegak. Mereka saling memandang dengan tajamnya.
Namun dengan demikian untuk beberapa saat keduanya berdiri tegak ditempatnya.
Ki Wirit yang tidak menyangka bahwa lawannya mampu melawannya untuk beberapa
lama, bahkan justru mampu mengimbangi kekuatannya serta kecepatan geraknya,
memang membuatnya menjadi heran. Sambil mengangguk-angguk Ki Wirit itupun
berkata " Ternyata kau bukan sekedar mampu membual. Kau dapat menghindari
sentuhan tanganku untuk beberapa lama. Bahkan kau sempat membalas menyerang
meskipun serangan-seranganpun itu tidak berarti. "
Sambi Wulung termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian menjawab " Ki Wirit.
Akupun memang harus mengakui bahwa kau adalah seorang yang berilmu tinggi.
Tetapi bukan berarti bahwa karena itu kau berhak untuk berbuat apa saja sesuka
hatimu. Mungkin di Kademangan ini tidak ada orang yang mampu mencegah tingkah
lakumu, sehingga semua keinginanmu akan dapat kau lakukan disini. Tetapi kau
harus ingat, bahwa kau tidak berdiri sendiri di dunia oleh kanuragan. Meskipun
Ki Demang di Kademangan ini tidak pernah berani menentang kehendakmu, sehingga
justru terpaksa menjadi alatmu dengan kuasa yang dimilikinya dengan sah, namun
diatas kuasa Ki Demang masih ada kekuasaan lain yang akan dapat mencegahmu. Ada
tiga kuasa yang aku maksud. Pertama, kuasa Pajang dan kedua, jika kuaSa Pajang
tidak melihat kecuranganmu dengan mempergunakan kuasa kekuatanmu dan kelebihanmu
dalam olah kanuragan, maka tentu ada kekuatan lain yang pada satu saat akan
menghancurkanmu. Dan sekarang aku telah membawa kuasa itu atasmu. "
" Setan kau " geram Ki Wirit " kau berani menghina aku. "
" Aku tidak menghinamu. Aku memang bertekad untuk menghancurkanmu. Bahkan jika
aku gagal, masih ada kuasa yang jauh lebih tinggi dari kuasa ilmumu. Dengan alat
apapun kuasa itu akan dapat menghancurkanmu. " berkata Sambi Wulung.
" Omong kosong " geram Ki Wirit.
" Kuasa dari segala sumber kuasa didunia ini " geram Sambi Wulung.
" Ucapan orang yang telah berputus-asa. Nah, jika kau memang sudah berputus asa,
jangan mencoba menentang aku lagi. Menyerahlah. Kami akan mengikatmu dan
membawamu ke Kademangan. " Ki Wirit hampir berteriak.
Tetapi Sambi Wulung menggeleng. Katanya " Jangan mimpi mengikat tanganku. "
Sambi Wulung tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Tiba-tiba saja Ki Wirit yang
marah itu telah meloncat menyerangnya.
Pertempuranpun telah terulang kembali. Keduanya telah menunjukkan kelebihannya.
Mereka mampu bergerak dengan cepat dan ayunan-ayunan tangan dan kaki yang deras.
Udarapun telah terayun pula bersama serangan-serangan mereka yang garang.
Orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu menjadi berdebar-debar. Ki Demang
dan orang-orangnya termangu-mangu
melihat pertempuran yang nampaknya menjadi Semakin sengit. Menurut pengenalan Ki
Demang atas Ki Wirit selama ini, tidak seorangpun yang akan mampu melawannya.
Seisi Kademangan, termasuk Ki Demang sendiri, telah tunduk dibawah pengaruhnya.
Meskipun di Kademangan itu, Ki Demang memiliki kuasa yang sah, tetapi ia memang
tidak berdaya untuk memerintah sebagaimana diinginkan. Ia harus melakukan apa
yang dikehendaki oleh Ki Wirit.
Namun saat itu, ternyata Ki Wirit telah membentur kekuatan yang ternyata
seimbang menurut penilaian Ki Demang. Ternyata bahwa Ki Wirit tidak dapat segera
mengalahkan lawannya. Bahkan pertempuran itu dinilainya menjadi semakin sengit
sehingga bagi Ki Demang, apalagi orang-orangnya termasuk Ki Prajak, tidak dapat
memperhitungkan siapakah yang akan menang. Biasanya jika seseorang berani
melawan Ki Wirit dan sempat
bertempur beberapa lama, maka akhirnya orang itu akan mengalami nasib yang
sangat buruk. Dengan kejam Ki Wirit yang nampaknya bersikap lunak itu akan
mengakhiri hidup lawannya dengan caranya yang khusus. Dengan tangan sendiri yang
tidak gemetar sama sekali, Ki Wirit membunuh korban-korbannya.
Tetapi ternyata menghadapi orang yang satu itu, Ki Wirit tidak dapat segera
menyelesaikannya, betapapun kemarahan telah menghentak-hentak dadanya.
Bahkan pertempuran yang terjadi sama sekali tidak segera menunjukkan kelebihan
Ki Wirit atas lawannya.
Untuk beberapa saat keduanya masih saja berputaran. Desak mendesak. Serang
menyerang. Sekali-sekali Ki Wirit memang mampu mendesak Sambi Wulung. Tetapi
beberapa saat kemudian, Ki Wiritlah yang harus berloncatan mengambil jarak.
Ternyata disekitar arena pertempuran itu, meskipun pada jarak yang agak, jauh,
beberapa orang sedang menyaksikannya. Semakin lama memang menjadi semakin banyak
betapapun dengan jantung yang berdebaran. Bukan saja orang-orang yang kembali
dari pasar, tetapi orang-orang yang sedang berangkat ke sawahpun telah berhenti.
Debu yang kelabu telah mengepul diudara. Semakin lama semakin banyak. Menghambur
dan membuat arena itu menjadi kabur.
Namun keduanya masih bertempur terus. Bahkan bukan saja debu yang berhamburan,
tetapi kerikil-kerikil kecilpun bagaikan dihambur-hamburkan pula.
Langkah-langkah kaki kedua orang yang bertempur itu telah menyentuh bebatuan dan
kerikil-kerikil kecil sehingga terlontar berserakkan.
Ki Demang dan orang-orangnya menjadi semakin berdebar-debar. Mereka telah
melihat pertempuran yang sangat cepat. Bahkan melampaui kemampuan pengamatan
mereka.
Tetapi diantara mereka, Jati Wulung berdiri saja termangu-mangu. Ia mengenal
dengan pasti tingkat kemampuan Sambi Wulung yang lebih tinggi dari kemampuannya
sendiri. Sementara itu, betapapun serunya pertempuran, tetapi yang.nampak di
mata Jati wulung tidak lebih dari sekedar mengungkapkan kekuatan kewadagan dan
dorongan tenaga cadangan. Sambi Wulung belum menukik ke dalam ilmunya yang
rumit, yang bersandar pada kemampuannya menyadap kekuatan alam yang ada
disekitarnya.
Karena itu, maka Jati Wulung sama sekali tidak menjadi gelisah betapapun ia
melihat debu, batu-batu kerikil dan batu-batu padas berhambur karena sentuhan
dan hentakan kaki mereka yang menghentak-hentak dalam pertempuran itu. Bahkan
Jati Wujung justru telah berdesis " Buat apa kakang Sambi Wulung mengungkit
bebatuan dengan kakinya? Mataku jadi pedas karena debu yang
dihambur-hamburkannya.
Namun dengan demikian, maka pertempuran itu nampaknya memang menjadi lebih
seram. Seakan-akan kedua orang itu telah bertempur didalam kabut.
Puguh yang masih belum pulih kekuatannya itu termangu-mangu. Ia menjadi
ragu-ragu melihat pertempuran itu, apakah Wanengbaya itu akan dapat mengatasi
lawannya yang kelihatannya lebih garang, meskipun umurnya nampaknya tidak lebih
muda.
" Apa kau melihat satu kemungkinan? " bertanya Puguh pada Jati Wulung.
Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak ingin memperlihatkan kemampuan
Sambi Wulung dengan berlebih-lebihan
sebagaimana dilakukan oleh
Sambi Wulung sendiri. Karena itu, maka katanya " Aku masih
berpengharapan.
" Apakah kau lihat keseimbangan diantara keduanya? " bertanya Puguh pula.
" Ya. Keduanya memiliki kemungkinaniyang sama " jawab Jati Wulung.
Puguh mengangguk-angguk. Iapun mempunyai pendapat yang sama. Bahkan menurut
pengamatan Puguh, Sambi Wulung justru memiliki kesempatan yang lebih baik. Namun
jika Sambi Wulung itu sedikit saja melakukan kesalahan, maka ia akan dapat
mengalami kesulitan karena Ki Wiritpun memiliki kecepatan gerak dan kekuatan
yang besar. Tetapi sebaliknya, jika Ki Wirit yang melakukan kesalahan, maka
ialah yang akan mendapat bencana.
Demikianlah pertempuran itu berlangsung untuk waktu yang lama. Mataharipun
semakin lama menjadi semakin tinggi, sehingga panasnya mulai terasa menyengat
kulit.
Jati Wulung yang mengikuti pertempuran itupun akhirnya mengetahui, apakah yang
akan dilakukan oleh Sambi Wulung. Ia ingin menunjukkan kepada lawannya, bahwa
betapapun tinggi ilmu seseorang, tetapi kekuatan wadagnya tetap terbatas.
Dalam pada itu, Ki Wiritpun semakin lama menjadi semakin marah. Ia berusaha
untuk dengan segera menghancurkan lawannya tanpa mengekang diri. Tidak ada
pikiran lain di kepalanya, kecuali benar-benar ingin membunuh lawannya. Semakin
lama ia bertempur, maka keinginannya membunuh lawannya dengan cara yang paling
mengerikannya semakin membakar jantungnya.
Tetapi ia telah membentur satu kenyataan, bahwa tidak mudah baginya untuk
mengalahkan lawannya itu. Ternyata setelah mereka bertempur untuk waktu yang
lama, kesempatannya mengalahkan lawannya sama sekali belum terbuka.
Sebenarnya Ki Wirit tidak ingin mempergunakan senjata. Ia tidak ingin membunuh
lawannya dengan tusukan luwuknya langsung mengenai jantung. Bagi Ki Wirit,
kematian yang demikian bagi orang yang telah berani melawannya adalah kematian
yang terlalu baik. Ia ingin menangkap lawannya hidup-hidup dan membunuhnya
dengan cara sendiri.
Tetapi menghadapi lawan yang seorang ini, agaknya sulit baginya untuk dapat
menangkapnya sebagaimana yang diinginkannya. Bahkan ketika tenaganya sendiri
mulai menjadi susut, maka iapun tidak lagi berpikir panjang. Dengan serta merta,
maka ditariknya luwuk yang terselip dipinggangnya. Luwuk yang miripldengan
sebilah keris yang besar tetapi berbentuk seperti pedang.
Sambi Wulung meloncat surut ketika ia melihat senjata lawannya yang berwarna
kehitam-hitaman dengan pamor yang berkilat menelusuri daun senjata itu dari
pangkal sampai ke ujung. Hulunya memang mirip dengan hulu pedang dihiasi dengan
seikat rambut yang berjuntai meskipun tidak begitu panjang.
" Kau menjadi ketakutan melihat pusakaku " geram Ki Wirit " tidak ada orang yang
mampu melepaskan diri dari maut jika luwuk ini menjadi haus. Karena itu relakan
darahmu menjadi minuman pusakaku yang haus ini. "
Tetapi jawab Sambi Wulung " Aku masih belum ingin mati Ki Sanak. Tugasku masih
banyak. Selama masih ada orang-orang seperti kau di muka bumi ini, maka tugasku
masih belum selesai. Karena itu aku akan berjuang untuk mempertahankan hidupku.
Jika dalam usaha mempertahankan hidupku ini aku terpaksa membunuh, itu bukan
yang aku kehendaki. "
Ki Wirit menggeram. Ia mulai menggerakkan luwuknya sambil berkata " Setiap orang
yang telah aku bunuh dengan luwukku ini, aku cabut beberapa lembar rambutnya dan
aku letakkan pada tangkai luwukku ini. Nah, jika kau melihat rambut yang
berjuntai ini, maka bayangkan, seratus orang telah aku penggal kepalanya. "
" Dan yang keseratus satu adalah kepalamu sendiri " geram Sambi Wulung yang
mulai terungkit kemarahannya. Lalu katanya pula " Jika benar kau telah membunuh
seratus orang, maka tidak akan ada jalan keselamatan lagi bagimu. Bukan saja
dibatas hidup dan mati dari ujud kewadaganmu, tetapi kau benar-benar akan mati
dan jiwamu akan terjun kedalam kegelapan untuk selama-lamanya. "
" Persetan kau " Ki Wirit hampir berteriak. Dengan tangkasnya ia meloncat sambil
mengayunkan luwuknya. Sambi Wulung mengelak. Namuri sambil bergeser iapun telah
menarik pedangnya. Pedang Sambi Wulung memang pedang kebanyakan. Tidak ada
kelebihan apapun juga. Yang mempunyai kelebihan adalah tangan yang
mengenggamnya.
Karena itu, maka pertempuranpun menjadi semakin menggetarkan jantung. Mereka
tidak saja berloncatan dengan ayunan tangan dan kaki. Tetapi mereka telah
bertempur dengan mempergunakan senjata di tangan masing-masing.
Ki Wirit yang tidak segera berhasil mengenai sasarannya itu menjadi semakin
marah. Jantungnya bagaikan menggembung sebesar kepalanya sehingga hampir pecah
karenanya. Sementara itu, setiap ayunan pedangnya tentu membentur senjata
lawannya atau lewat saja membelah udara.
Dalam kemarahan yang membakar dadanya, Ki Wirit memang tidak dapat berbuat lebih
banyak mengingat kemampuan lawannya. Karena itu, maka ia telah terlepas dari
kedudukannya di hadapan Sambi Wulung dalam perang tanding. Ia ingin mempengaruhi
pemusatan perhatian Sambi Wulung terhadap perkelahian itu.
Karena itulah, maka sejenak kemudian iapun telah berteriak " Ki Demang. Bawa
orang-orangmu untuk menangkap atau membunuh kedua orang itu. "
Ki Demang termangu-mangu sejenak. Ia memang menjadi bingung, apa yang harus
dilakukannya.
Namun Ki Wirit itu telah berteriak lagi " Cepat. Lakukan sebelum terlambat. Jika
mereka melihat kawannya yang seorang ini aku bunuh, maka mereka tentu akan
melarikan diri. "
" Baik Ki Wirit " jawab Ki Demang.
" Waktu kita tidak terlalu banyak " teriak Ki Wirit lagi. Namun ketika mulutnya
hampir berteriak lagi, tiba-tiba saja terdengar ia berdesah tertahan.
Dengan serta merta, maka Ki Wirit itu telah meloncat mundur mengambil jarak
beberapa langkah. Sambil mengumpat-umpat kasar ia meraba lengannya. Ternyata
darah telah meleleh dari lukanya dilengan itu.
Sambi Wulung berdiri tegak. Pedangnya bersilang didadanya.
" Anak setan " geram Ki Wirit " ilmu iblis dari manakah yang telah kau sadap
itu? "
Sambi Wulung memandang orang itu dengan tajamnya. Kemudian dengan suara yang
tajam pula ia berkata " Ki Wirit. Kesabaran seseorang itu terbatas. Demikian
pula kesabaranku bukannya tanpa takaran. Karena itu, maka aku minta kau menyerah
sekarang. "
Ki Wirit menggeretakkan giginya. Ujung luwuknya menjadi bergetar oleh getar
kemarahannya didalam dadanya. Sekilas ia berpaling kepada Ki Demang sambil
sekali lagi berkata " Bunuh kedua orang itu. Aku akan membunuh yang seorang ini.
"
" Tidak ada gunanya kau menyembunyikan kenyataan ini Ki Wirit " berkata Sambi
Wulung " kau tidak akan dapat mempertahankan dirimu. Kau sudah nampak semakin
letih. Gerakmu tidak setangkas disaat kita mulai dengan permainan ini. Sebentar
lagi kau akan kehabisan tenaga dan jika kau menunggu aku benar-benar
kehilangan kesabaran, maka tubuhmu akan terkapar mati disini.
" Persetan " Ki Wiritpun telah mengumpat pula. Dengan serta merta ia telah
meloncat menyerang Sambi Wulung. Luwuknya terjulur lurus mengarah ke dada
lawannya.
Tetapi Sambi Wulung cukup tangkas. Ia memiringkan tubuhnya sambil menangkis
serangan itu, sehingga senjata Ki Wirit itu tidak menyentuhnya. Tetapi Ki Wirit
tidak membiarkan Sambi Wulung lolos dari serangannya. Luwuk Ki Wirit itu
berputar sekali kemudian terayun deras menebas leher Sambi Wulung.
Dengan tangkas Sambi Wulung menangkis serangan itu. Demikian kerasnya benturan
yang terjadi, sehingga bunga apipun telah meloncat diudara.
Kemarahan Ki Wirit benar-benar telah tidak tertahankan lagi sehingga dadanya
merasa bagaikan sesak. Luka ditangannya adalah api yang menyalakan minyak yang
telah meluap membasahi jantungnya.
Namun kemarahan Sambi Wulungpun menjadi semakin mencengkam pula. Sikap dan
kekasaran Ki Wirit telah- menunjukkan ciri pribadinya yang sebenarnya, dalam
keadaan terdesak, maka Ki Wirit diluar sadarnya telah mempergunakan ilmunya yang
tertinggi. Ilmu yang ternyata mempunyai ciri-ciri yang kasar dan tercela.
Hanya Sambi Wulung dan Jati wulung sajalah yang mampu menilai langsung ilmu yang
dipergunakan oleh Ki Wirit. Puguh yang muda itu ternyata masih memerlukan
pengalaman lebih jauh untuk mengenali watak ilmu sebagaimana yang dipergunakan
oleh Ki Wirit. Namun dengan demikian, maka Sambi Wulungpun benar-benar telah
mengambil keputusan.
Tetapi dalam pada itu, Ki Demang yang telah mendapat perintah untuk bertindak
atas kedua orang kawan Sambi Wulung itupun telah memberi isyarat kepada ketiga
orang kawannya.
" Berusahalah melindungi dirimu jika diserang " berkata Jati Wulung kepada Puguh
yang ilmunya masih belum pulih kembali karena dukungan tenaganya yang belum
pulih pula. Tetapi sekedar untuk melindungi dirinya sendiri, maka Puguh sama
sekali tidak menjadi cemas akan sisa kemampuan yang ada didalam dirinya.
Sesaat kemudian, empat orang telah mengepung Jati Wulung dan Puguh. Namun dengan
lantang Jati Wulung berkata " Jika ilmu kalian tidak melampaui ilmu Ki Wirit,
maka kalian tidak akan dapat mengurung kami dengan cara apapun juga. "
Ki Demang memang menjadi ragu-ragu. Tetapi sekali lagi tedengar Ki Wirit
berteriak " Cepat. Lakukan. "
Kata-kata itu bagaikan telah mendorong Ki Demang untuk meloncat maju. Namun Ki
Demang yang ragu-ragu itu harus menyakinkan dirinya untuk dapat melakukan
perlawanan, sehingga karena itu, maka iapun telah menarik senjatanya. Sebilah
pedang yang panjang. Demikian pula kawan-kawannya. Dengan senjata masing-masing
mereka telah siap untuk menyerang Jati Wulung dan Puguh yang berasa di
tengah-tengah lingkaran.
Ki Prajak yang telah pernah bertempur melawan Jati Wulung masih saja
termangu-mangu. ia memang tidak yakin apakah mereka berempat akan dapat
mengalahkan kedua orang itu.
Sejenak kemudian, maka Ki Demangpun telah memberikan isyarat, agar kedua orang
yang berada disisi yang lain mulai bergerak. Sementara itu, ia sendiripun telah
menggerakkan senjatanya pula.
Keempat orang itupun bersama-sama telah mulai bergeser. Tetapi Ki Prajak masih
dibayangi oleh kecemasan akan kecepatan gerak Jati Wulung. Dengan demikian maka
iapun menjadi sangat berhati-hati.
Namun ia memang tidak yakin apa yang dapat dilakukan oleh kedua kawannya yang
lain, yang tidak mempunyai kelebihan dari padanya. Ki Demang memang dianggap
seorang yang berilmu tinggi, tetapi ilmunya masih berada beberapa lapis dibawah
Ki Wirit. Sementara itu Ki Wirit ternyata tidak mampu segera mengalahkan
lawannya.
Dalam pada itu, Puguhpun telah mengacukan pedangnya pula. Sementara Jati Wulung
masih berbisik " Aku akan memasuki lingkaran perkelahian. Sementara itu, kau
lindungi dirimu sendiri. "
Puguh tidak menjawab. Tetapi ia siap melakukan sebagaimana dikatakan oleh Jati
Wulung yang dikenalnya sebagai Wanengpati.
Sebenarnyalah, sejenak kemudian maka Jati Wulung justru telah meloncat menyerang
Ki Demang. Pedangnya terjulur lurus kearah dada lawannya. Ki Demang dengan
tangkas menangkis serangan itu sambil bergeser kesamping. Namun i benturan
senjata yang terjadi, telah menggetarkan bukan saja tangan Ki Demang, tetapi
juga jantungnya. Meskipun Ki Demang memukul pedang Jati Wulung dengan segenap
kekuatannya, tetapi arah pedang Jati Wulung itu sama sekali tidak bergeser. Jika
Ki Demang tidak bergerak ke samping, maka ujung pedang itu akan tetap menusuk
dadanya tembus ke jantung.
Benturan pertama itu membuat dada Ki Demang menjdi semakin berdebar-debar. Ia
semakin menyadari bahwa orang-orang itu adalah orang-orang yang memang memiliki
kemampuan jauh diatas jangkauan kemampuan mereka.
Tetapi Ki Demang tidak mempunyai keberanian untuk membantah perintah Ki Wirit.
Karena itu, maka iapun telah berusaha untuk dapat bertempur sebaik-baiknya
meskipun ia harus menjadi sangat berhati-hati.
Sikap itulah yang menguntungkan Jati Wulung dan Puguh. Keempat orang itu tidak
berani dengan serta merta menyerang i Jati Wulung dani Puguh. Sementara itu
Puguhpun berusaha untuk tidak menunjukkan kelemahannya.
Sebenarnyalah bahwa lawannya tidak akan sempat membuat perhitungan. Seandainya
mereka mengerti akan kelemahan Puguh sekalipun, mereka tidak akan sempat membuat
pilihan. Jati Wulunglah yang kemudian ternyata telah membentuk suasanaldalan
pertempuran itu. Dengan tangkas ia berloncatan menyerang lawannya, sementara itu
kaki Puguh bagaikan melekat pada bumi. Hanya sekali-sekali saja ia berputar
menghadapi lawan yang akan menyerangnya.
Namun dalam pada itu, ketika Ki Demang mulai bergerak, Ki Wirit masih juga
sempat berteriak " Anak iblis. Sebentar lagi kawan-kawanmu itu akan terbunuh
dengan keadaan yang mengerikan. Ki Demang dan kawan-kawannya adalah orang yang
berilmu tinggi. Bersama-sama mereka tidak akan terlawan oleh kekuatan yang
manapun juga. Bahkan oleh pasukan prajurit segelar sepapan sekalipun. "
" Kenapa kau masih juga berkicau seperti itu Ki Wirit. Salah seorang diantar
kami telah pernah bermain-main dengan orangmu yang bernama Ki Prajak itu.
Ternyata kemampuannya tidak lebih dari hitamnya kuku dibanding dengan kemampuan
kami. " sahut Sambi Wulung.
" Pembual yang sombong " geram Ki Wirit " sebentar lagi mulutmulah yang akan aku
koyakkan sampai ketelinga. "
Sambi Wulung tertawa. Meskipun ia harus berloncatan menghindar dan menangkis
serangan Ki Wirit. Tetapi suara tertawa Sambi Wulung ternyata adalah lontaran
kejemuan, kemuakan dan kemarahan yang hampir meledakkan jantungnya. Diantara
suara tertawanya terdengar ia berkata " Ki Wirit. Ternyata kau adalah orang yang
paling bengis yang aku kenal. Kau berpura-pura menjadi seorang yang rendah hati,
ramah tamah dan sederhana. Bahkan kau nampak lembut dan kebapaan. Tetapi
ternyata disisa umurmu yang sudah tidak lebih banyak dari sisa umurku menurut
ujud lahiriahnya itu masih kau pergunakan untuk
memanjakan nafsu ketamakan dan kedengkianmu terhadap sesama. Karena itu
Ki Wirit, tidak ada yang lebih pantas kau pikul hukuman bagimu selain hukuman
mati. "
" O " Ki Wirit menyahut " siapa yang berhak menjatuhkan hukuman bagi seseorang?
"
" Aku tidak peduli siapakah yang berhak. Tetapi aku merasa berhak menghentikan
segala tingkah polahmu. Kau tidak usah ingkar lagi. Aku mengenali watak ilmumu
yang kasar dan licik itu. Ilmu dari aliran hitam yang memang tidak berhak untuk
hidup diantara orang banyak. " jawab Sambi Wulung.
Namun sambil menyerang Ki Wirit berteriak " Lihat. Orang-orangmu sudah mati satu
persatu. "
Sambi Wulung memang terkejut. Tetapi ia sadar, bahwa jika ia berpaling, maka
serangan Ki Wirit itu akan menjadi sangat berbahaya baginya. Karena itu, maka
iapun telah bergeser sambil menangkis ujung luwuk yang terjulur kedadanya.
Baru kemudian ia sempat memandang kearah Jati Wulung dan Puguh. Namun ternyata
bahwa mereka tidak mengalami kesulitan apapun juga.
Kelicikan itu telah mendorong Sambi Wulung untuk segera mengakhiri pertempuran.
Jika Ki Wirit itu mendapat kesempatan lebih banyak, maka mungkin sekali ia akan
dapat berbuat lebih licik lagi dan barangkali akan dapat membahayakannya.
Demikianlah maka Sambi Wulungpun kemudian berkata " Ki Wirit. Kau sudah
kehilangan sebagian dari tenaga dan kemampuanmu. Kekuatanmu telah menurun pula.
Sekarang aku ingin memperlihatkan kepadamu, apa yang sebenarnya dapat kau
lakukan. Semula aku masih ingin berusaha membuatmu menyadari apa yang kau
lakukan selama ini. Namun akhirnya aku mengambil keputusan bahwa ku memang harus
dibunuh. Bukan sekedar luka-luka ditubuhmu atau barangkali kata-kata keras
ditelingamu. "
" Persetan " geram Ki Wirit yang meloncat dan menyerangnya dengan kasar.
Tetapi Sambi Wulung telah benar-benar menjadi muak. Dengan demikian, maka iapun
berniat untuk segera mengakhiri perlawanan Ki Wirit.
Sejenak kemudian, maka tata gerak Sambi Wulungpun mulai berubah. Ia tidak lagi
sekedar bertempur dengan dorongan ilmu kewadagannya. Ia mulai membuat lawannya
benar-benar tidak berdaya ketika ia mulai bergerak bagaikan angin pusaran.
Ki Wirit tidak dapat mengikuti tata gerak Sambi Wulung berikutnya. Iapun tidak
tahu pasti, apa yang terjadi kemudian. Namun dalam satu benturan yang tidak
diduganya, maka luwuk pusakanya itu bagaikan telah direnggut dari tangannya dan
terlempar keudara.
Ki Wirit termangu-mangu sejenak setelah ia tidak bersenjata Namun ternyata bahwa
kemudian lawannyapun telah menyarungkan pedangnya pula sambil berkata " Aku
sudah muak melihat orang-orang seperti kau ini, justru pada saat-saat yang gawat
seperti ini. Kaulah jenis orang-orang yang mempergunakan pengaruh kuasa dan
kekuatanmu untuk menekan dan mempergunakan kekuasaan yang sah yang ada pada Ki
Demang untuk kepentingan pribadimu. Kau dapat bergerak dibalik kedudukan Ki
Demang namun sama sekali tidak untuk kebaikan Kademangan ini. "
Ki Wirit memandang Sambi Wulung dengan sorot mata yang bagaikan menyala. Namun
ia menyadari, bahwa yang dihadapinya itu ternyata benar-benar orang yang berilmu
sangat tinggi. Yang sebenarnya memang tidak memerlukan senjata apapun untuk
melawannya selain ilmunya.
Ki Wirit memang menjadi agak menyesal karena ia tidak segera mengenali lawannya.
Namun semuanya sudah terlambat.
Selangkah demi selangkah Sambi Wulung mendekati Ki Wirit yang termangu-mangu.
Dengan nada berat, Sambi Wulung berkata " Saatmu telah tiba. "
Ki Wirit melangkah surut. Tiba-tiba saja ia telah meloncat berlari meninggalkan
Sambi Wulung. Tetapi ia tidak mampu melepaskan dirinya. Tiba-tiba saja terasa
sentuhan dipunggungnya, sehingga iapun justru terdorong dengan derasnya. Langkah
kakinya tidak dapat mengimbangi dorongan dipunggungnya sehingga Ki Wirit itupun
telah jatuh terjerembab.
Ketika ia berusaha untuk bangkit, maka dilihatnya Sambi Wulung telah berdiri
tegak di sisinya dengan kaki renggang.
Ki Wirit termangu-mangu. Namun tubuhnya memang terasa sakit. Didahinya terdapat
luka karena wajahnya yang terantuk tanah disaat ia jatuh terjerembab. Bahkan
darah dari luka dilengannya seakan-akan menjadi semakin banyak mengalir.
" Bangkitlah " geram Sambi Wulung " jangan mati sambil menelungkup seperti
seekor cacing yang tidak berdaya. Kau adalah Ki Wirit yang aku tidak tahu sejak
kapan kau telah menguasai Kademangan ini. "
Ki Wirit menjadi semakin berdebar-debar. Ketika ia merasakan kaki Sambi Wulung
mengungkit tubuhnya, maka iapun mulai bergerak.
" Bangkit, atau aku injak punggungmu? " bentak Sambi Wulung.
Ki Wirit masih termangu-mangu. Namun ketika Sambi Wulung beringsut Ki Wiritpun
telah bergeser pula.
" Cepat. Akan aku injak bukan saja punggungmu, tetapi tengkukmu. Kau memang
tidak pantas lagi untuk dihormati. " bentak Sambi Wulung pula.
Ki Wirit tidak dapat berbuat lain kecuali berdiri tertatih-tatih. Tetapi
jantungnya benar-benar menjadi berdebar-debar.
" Nah, kita akan menyaksikan pertempuran itu, yang kau katakan bahwa Ki Demang
akan membunuh saudara dan kemanakanmu. " geram Sambi Wulung.
Ki Wirit memang tidak dapat membantah. Iapun kemudian melangkah mendekati arena
pertempuran antara Ki Demang dan tiga orang kawannya, melawan Jati Wulung dan
Puguh. Sekilas Ki Wirit yang memiliki ilmu yang tinggi itu melihat bahwa
ternyata anak muda diantara ketiga orang yang tidak dikenalnya itu nampak paling
lemah. Tetapi Ki Wirit menganggap bahwa anak muda itu sedang sakit sebagaimana
dikatakan oleh Ki Prajak.
" Lihat " berkata Sambi Wulung " apakah kira-kira Demangmu itu benar-benar akan
dapat membunuh?
Belum lagi mulut Sambi Wulung terkatub, ujung pedang Jati Wulung telah tergores
pada salah seorang pengikut Ki Demang itu.
" Setan " geram Ki Wirit.
" Mengumpatlah sekali lagi jika kau ingin aku menyakitimu " desis Sambi Wulung.
Jantung Ki Wirit bagaikan bergejolak. Tetapi kemarahan Sambi Wulungpun telah
sampai keubun-ubun. Karena itu, ketika diluar sadarnya Ki Wirit itu mengumpat
sekali lagi, maka telapak tangan Sambi Wulung telah menggenggam lengan Ki Wirit.
Terdengar Ki Wirit mengaduh kesakitan. Ketika Sambi Wulung melepaskan tangannya,
maka di lengan Ki Wirit itu membekas bagaikan luka bakar. Baju Ki Wiritpun
seakan-akan telah terbakar pula di arah sentuhan telapak tangan Sambi Wulung.
Ki Wirit terkejut mengalamai keadaan itu. Namun dengan demikian sebenarnyalah
lawannya itu adalah seorang yang berilmu sangat tinggi. Ia bukan saja akan mampu
mengalahkannya. Tetapi jika dikehendaki, maka ia akan dapat menghancurkannya
menjadi debu.
Ki Wirit benar-benar menyesali kebodohannya. Kenapa ia tidak melihat kemungkinan
yang terjadi itu. Ia tidak segera mampu menilai tingkat ilmu lawannya yang
sebenarnya.
Karena itu, maka iapun menjadi berdebar-debar melihat Ki Demang dan
kawan-kawannya. Meskipun lawan Ki Demang itu masih belum menunjukkan kemampuan
ilmunya, namun Ki Wiritpun meyakini bahwa orang yang bertempur melawan Ki Demang
dan kawan-kawannya itupun akan mampu berbuat sebagaimana lawannya.
Tetapi Ki Wirit tidak sempat memperhatikan terlalu lama pertempuran itu. Ketika
ia melihat, bahwa keadaan Ki Demang dan kawan-kawannya menjadi semakin
sulit,maka Sambi Wulung telah menggamitnya.
" Kemarilah " berkata Sambi Wulung.
Ki Wirit tidak dapat membantah. Ia menyadari dengan siapa ia berhadapan.
" Ki Wirit " berkata Sambi Wulung ketika mereka sudah mengambil jarak dari arena
pertempuran. Lalu katanya selanjutnya " Kau tahu, bahwa kawan-kawanmu itu
sebentar lagi akan mati. Jadi yang akan mati bukan saudaraku dan kemanakanku. "
Ki Wirit termangu-mangu. Ia tidak dapat menjawab. Meskipun jantungnya bagaikan
akan meledak oleh umpatan, tetapi ia harus menahan diri jika ia tidak ingin
kulitnya terbakar lagi. Jika telapak tangan itu melekat diwajahnya, maka ia akan
sangat mengalami kesakitan. Bahkan cacat.
Dalam pada itu, Sambi Wulungpun telah berkata pula " Ki Wirit, sebelum saudara
dan kemanakanku selesai, maka aku harus sudah menjatuhkan hukumanmu. "
Wajah Ki Wirit tiba-tiba menjadi pucat.
" Jika aku menunggu mereka, maka kau akan dapat mengalami kesulitan yang tidak
akan dapat kau derita menjelang matimu. Karena itu, aku ingin menolongmu "
berkata Sambi Wulung.
" Kau akan membunuhku? " bertanya Ki Wirit. Seorang yang untuk beberapa lama
mempunyai kekuasaan yang tidak terbatas di Kademangan itu.
" Sudah aku katakan, bahwa orang seperti kau ini tidak akan dapat sembuh lagi.
Penyakitmu telah menjadi terlalu parah " jawab Sambi Wulung.
Adalah diluar dugaan, bahwa Ki Wirit, yang berilmu tinggi itu tiba-tiba berkata
dengan suara memelas " Aku minta ampun Ki Sanak. Aku berjanji untuk tidak
melakukannya lagi. "
" Sudah aku katakan, bahwa janjimu sama artinya dengan seekor serigala yang
berselimut bulu domba. Jika ku melihat mangsa yang mampu menitikkan air liurmu,
maka kau tentu akan menerkamnya sebagaimana laku seekor serigala. Dengan
demikian maka kau akan menjadi lebih berbahaya lagi. "
" Tidak Ki Sanak. Aku bersumpah demi Yang Maha Agung " berkata Ki Wirit.
" Apakah kau masih percaya kepada Yang Maha Agung? " bertanya Sambi Wulung.
" Tentu. Aku adalah anak manusia yang dititahkan oleh Yang Maha Agung itu "
jawab Ki Wirit.
" Ki Wirit. Kita sudah sama-sama tua. Karena itu, kau tidak dapat membohongi
aku. Jika kau memang percaya kepada Yang Maha Agung, kau tidak akan berbuat
sebagaimana kau lakukan. Kau telah mengatakan sendiri, bahwa hulu luwukmu itu
telah kau lekati rambut orang-orang yang pernah kau bunuh. Bahkan seratus orang.
Nah, apakah orang yang percaya kepada Yang Maha Agung itu ak&n dengan mudah
membunuh orang? " bertanya Sambi Wulung.
" Dan bagaimana dengan kau? " Ki Wirit itu justru bertanya.
" Kedudukanku lain. Aku membunuh justru bagi ketenangan dan ketenteraman hidup
manusia. Membebaskan sesama dari cengkraman ketakutan karena polah tingkahmu.
Jika sampai hari ini kau telah membunuh seratus, maka jika kau masih tetap
hidup, maka kematian itu akan bertambah seratus lagi. Nah, bukankah aku telah
menyelamatkan sembilanpuluh sembilan nyawa dibanding dengan nyawamu yang hanya
satu? " geram Sambi Wulung.
Wajah Ki Wirit memang menjadi semakin pucat. Ia sama sekali tidak mengira bahwa
saat kematiannya akan datang begitu cepat. Ketika ia mendapat laporan dari Ki
Prajak tentang tiga orang yang dengan sombongtelah berani mempergunakan tempat
yang disediakan baginya dan yang memang sering dipergunakan untuk memancing
pertentangan itu, ia mengira, bahwa ia akan dapat membunuh lagi. Dengan demikian
ia akan dapat semakin meningkatkan wibawanya di Kademangan itu. Bahkan jika yang
dibunuh termasuk orang yang mempunyai bekal yang cukup banyak, maka bekal itu
akan berarti pula baginya. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya.
Sementara itu, Jati Wulung yang memang tidak ingin menunjukkan kemampuannya yang
berlebihan dihadapan Puguh, tidak mempergunakan ilmunya yang lain kecuali ilmu
kanuragan serta tenaga cadangannya.
Namun dengan demikian, Ki Demang dan ketiga orang kawannya sudah terlalu banyak
mengalami kesulitan. Sementara itu, Puguh memang telah memaksa diri untuk
menyembunyikan kelemahannya. Tetapi dalam banyak hal Jati Wulung telah banyak
memberi kesempatan kepada Puguh untuk menghemat tenaganya.
Bahkan kemudian, satu demi satu lawan-lawan Jati Wulung itupun telah terluka.
Bukan hanya segores kecil. Tetapi dua bahkan tiga atau ampat luka yang menganga.
Dengan demikian maka Ki Demang dan tiga orang kawannya itu semakin lama menjadi
semakin lemah. Puguh yang lemah itu ternyata masih memiliki kemampuan untuk
sekedar melindungi dirinya sendiri. Tanpa banyak membuang tenaga, ia menghindari
serangan-serangan yang datang dengan tergesa-gesa, karena Jati Wulung telah
bergerak seperti seekor elang yang terbang menyambar-nyambar, sehingga
lawan-lawannya tidak mempunyai banyak kesempatan.
Sementara itu Sambi Wulungpun berkata kepada Ki Wirit yang pucat " Saatnya telah
tiba. Kau harus mati lebih dahulu dari Ki Demang dan kawan-kawannya. "
Ki Wirit menjadi semakin berdebar-debar. Namun ia masih juga memohon " Apakah
kau tidak dapat mengampuni aku. Aku bersumpah bahwa aku tidak akan melakukannya
lagi. "
Sambi Wulung termangu-mangu sejenak. Namun katanya " Kau memang harus mati. Kau
tidak boleh melakukan pembunuhan-pembunuhan lagi. Jika aku mengampunimu, maka
yang masih tetap hidup kemudian harus orang lain. Bukan Ki Wirit. "
" Aku tidak tahu maksudmu " desis Ki Wirit. Sambi Wulungpun kemudian mendekati
Ki Wirit sambil berkata " Kau dalam keadaanmu yang lain masih akan tetap hidup.
Tetapi Ki Wirit harus mati. "
Ki Wirit memang menjadi bingung. Namun Sambi Wulung tidak mempunyai banyak
kesempatan. Selagi Puguh masih berusaha melindungi dirinya sendiri, maka ia
harus melakukannya, agar Puguh tidak melihat kemampuannya. Jika Puguh sempat
mengetahui ilmunya yang sangat tinggi, maka ia tentu akan menjadi semakin curiga
kepadanya atau bahkan seandainya ia sempat mendapat kepercayaannya, maka
orang-orang disekitar Puguhlah yang akan menaruh kecurigaan itu.
Karena itu, selagi Puguh masih bertempur, Sambi Wulung bertanya kepada Ki Wirit
" Aku ingin keputusanmu. Apakah kau benar-benar ingin tetap hidup dalam keadaan
yang baru atau kau ingin mati bersama sifat dan watak jahatmu. "
" Aku tidak mengerti " sahut Ki Wirit.
" Kau boleh tetap hidup, tetapi tanpa ilmu sebagaimana kau miliki sekarang. "
berkata Sambi Wulung " tetapi jika kau menolak, maka kau benar-benar akan mati.
"
Wajah pucat Ki Wirit menjadi semakin pucat. Dengan bibir yang bergetar ia
berdesis " Jangan. "
" Aku tidak mempunyai pilihan lain. Hanya ada dua kemungkinan itu. Hidup tanpa
ilmu yang selama ini kau salah gunakan, atau mati dalam arti sebenarnya " geram
Sambi Wulung.
Ki Wirit benar-benar tidak berdaya. Kemungkinan yang dihadapkan kepadanya
sama-sama pahit baginya. Namun ternyata nalurinya untuk bertahan hidup lebih
kuat daripada harga dirinya. Karena itu, maka katanya " Jangan bunuh aku. "
" Baik " berkata Sambi Wulung " duduklah. "
" Apa maksudmu? " bertanya Ki Wirit.
" Duduklah. Jangan bertanya lagi. Waktuku sudah menjadi terlalu sempit. Sebentar
lagi, pertempuran itu akan selesai " geram Sambi Wulung.
Ki Wirit tidak dapat berbuat lain. Iapun kemudian duduk diatas tanah. Namun
sebagai seorang yang berilmu, maka dengan putus asa ia menunggu apa yang akan
terjadi atasnya.
Sudah diduga oleh Ki Wirit, bahwa Sambi Wulungpun kemudian telah duduk
dibelakangnya. Kedua tangannya telah melekat dipunggungnya.
Beberapa orang yang menyaksikan hal itu menjadi heran. Mereka tidak tahu apa
yang sedang dilakukan oleh Sambi Wulung atas Ki Wirit yang selama ini ditakuti
oleh orang-orang se Kademangan, bahkan orang-orang di Kademangan tetangga.
Jati Wulung sempat menyaksikan apa yang dilakukan oleh Sambi Wulung. Tetapi ia
justru telah berusaha agar Puguh tidak memperhatikannya.
Ia telah melonggarkan tekanannya kepada lawan-lawannya, sehingga dengan
demikian perhatian Puguh memang harus terpusat kepada lawannya yang terasa lebih
berat menekannya. Dengan demikian maka Puguh memang tidak begitu sempat
memperhatikan apa yang dilakukan oleh Sambi Wulung meskipun sekilas ia telah
sempat melihat pula.
Sementara itu, Ki Wirit yang telah mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Sambi
Wulung hanya sempat mengeluh didalam hati. Iapun sadar, bahwa petualangannya
telah berakhir sampai saat itu, saat ia bertemu dengan orang yang memiliki ilmu
yang sangat tinggi.
Sejenak kemudian terasa getaran dari telapak tangan Sambi Wulung bagaikan
merambat kedalam tubuhnya. Getaran yang semakin lama menjadi semakin kuat.
Bahkan kemudian getaran itu seakan-akan telah mengaduk isi dadanya.
Ki Wirit merasakan, nafasnya menjadi sesak. Rasa-rasanya dadanya menjadi panas.
Bahkan kemudian darah dijantungnya menjadi bagaikan mendidih. Perasaan sakit
yang sangat telah mencengkam, sehingga pada satu saat, dadanya bagaikan telah
meledak.
Ki Wiritpun kemudian menjadi sangat lemah. Kepalanya tertunduk dalam-dalam,
sementara Sambi Wulung telah melepaskan tangannya yang melekat dipunggung
lawannya itu.
Ki Wirit tidak mampu bertahan ketika darah meleleh dari sela-sela bibirnya.
Namun yang kemudian telah diusapnya dengan kain panjangnya.
" Ki Wirit " desis Sambi Wulung " kau sadar apa yang terjadi atas dinimu. "
Ki Wirit yang masih duduk itu mengangguk.
" Hanya dengan demikian kau membuktikan kesungguhan sumpahmu, bahwa kau tidak
akan membunuh lagi. " berkata Sambi Wulung. Sekali lagi Ki Wirit mengangguk.
" Sekarang berdirilah. Kau akan tetap hidup dalam keadaan yang lain dari hidupmu
yang lewat. Kau harus menyesuaikan dirimu dan bertingkah laku sebagaimana
keadaanmu sekarang. " berkata Sambi Wulung.
Betapa lemahnya tubuh Ki Wirit, namun iapun kemudian berusaha untuk bangkit
berdiri. Tulang-tulangnya bagaikan menjadi lemah dan tidak berdaya.
" Aku telah kehilangan ilmuku " berkata Ki Wirit.
" Ya. Kau tidak akan mungkin membangunkannya kembali sebagaimana pernah kau
miliki. Seandainya kau akan mencobanya lagi, maka dukungan kewadaganmu tidak
akan memungkinkan lagi. " berkata Sambi Wulung.
Ki Wirit menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata " Aku harus
meninggalkan tempat ini. Aku akan benar-benar menjadi pengembara dan
peminta-minta. "
" Kau tidak mempunyai landasan hidup? Maksudku tempat inggal atau semacam itu? "
bertanya Sambi Wulung.
" Aku akan kembali kepada keluargaku yang aku tinggalkan untuk menuruti
kesenangan hatiku selama ini. Aku mempunyai seorang isteri dan beberapa orang
anak yang aku lupakan untuk waktu yang lama. Mudah-mudahan mereka mau menerima
aku kembali dalam keadaan seperti ini. " desis Ki Wirit.
Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Ada perasaan iba didalam hatinya. Tetapi
jika orang itu masih memiliki kemampuan, ia tentu masih akan kambuh lagi dan
membunuh orang-orang yang tidak bersalah.
Dalam pada itu, Jati Wulungpun telah memutuskan untuk menyelesaikan pertempuran
itu. Ki Demang benar-benar sudah tidak berdaya, sementara ketiga orang kawannya
telah terluka.
Dengan nada keras Jati Wulungpun kemudian berkata lantang " He, apakah kalian
masih akan bertempur terus? Lihat, orang yang kau banggakan telah menyerah.
Ki Demang memang sempat menyaksikan Ki Wirit itu berdiri tegak dihadapan Sambi
Wulung yang justru mendorong Ki Wirit mendekati arena pertempuran.
" Katakan kepada mereka, agar mereka menyerah saja " desis Sambi Wulung.
Ki Wirit bergerak beberapa langkah maju dengan lemah. Kemudian katanya dengan
nada rendah " Ki Demang. Sudahlah. Aku memang sudah menyerah. "
Ki Demang pendengar suara Ki Wirit itu. Iapun tidak mempunyai pilihan lain.
Iapun ternyata telah tergores pedang Jati Wujung pula sebagaimana kawan-kawannya
yang lain, termasuk Ki Prajak.
Karena itu, maka Ki DemangpUn telah memberikan isyarat kepada kawan-kawannya
untuk menghentikan pertempuran.
" Lepaskan senjata kalian " geram Jati Wulung.
Ki Demang dan ketiga orang kawannya itupun telah melepaskan senjata mereka.
Namun dalam pada itu, Puguh yang lemah itu nampaknya menjadi sangat letih.
Karena itu, maka Jati Wulung yang telah menyarungkan pedangnya itupun telah
mendekatinya, membantu Puguh menyarungkan pedangnya pula. Dengan nada tinggi
Jati Wulung itupun kemudian berkata " Anakku sedang sakit. Kalian telah
memaksanya untuk mengerahkan tenaga. Karena itu, maka jika terjadi sesuatu atas
anakku, kalian semuanya harus mati. "
Wajah Ki Demang dan kawan-kawannya menjadi pucat. Sementara itu Sambi Wulung
berkata " Nah, Ki Demang. Apakah permainan buruk seperti ini masih akan kalian
lakukan untuk seterusnya? "
Ki Demang menundukkan kepalanya. Ketika sekilas ia memandang wajah Ki Wirit,
maka Ki Wiritpun telah menunduk pula.
" Jawablah Ki Demang. Kaulah Demang disini. Bukan Ki Wirit. Sejak hari ini, Ki
Wirit telah menyatakan untuk tidak akan mencampuri persoalan dan tugas-tugasmu
lagi. Karena itu segala sesuatunya tergantung kepadamu. " berkata Sambi Wulung.
Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata " Aku akan
berbicara dengan Ki Wirit. "
" Lakukanlah " berkata Sambi Wulung " terserah apa yang akan kalian putuskan.
Aku akan meninggalkan tempat ini, karena aku memang sedang dalam perjalanan jauh
bersama adik dan kemanakanku yang sakit itu. Tetapi ingat, pada saat yang lain,
jika kemanakanku itu sudah sembuh, maka aku akan kembali ke tempat ini. Aku akan
berbicara dengan orang-orang Kademangan ini. Jika aku masih menjumpai
pemerintahan yang timpang, maka aku tidak akan mengambil tindakan sendiri.
Tetapi aku akan melaporkannya kepada para pemimpin di Pajang. Jika kalian tahu
bahwa sepasukan prajurit telah menghancurkan Song Lawa, maka sepasukan prajurit
akan dapat merombak cara pemerintahan disini. "
Ki Demang mengangguk-angguk. Sementara itu Sambi Wulung berkata selanjutnya "
Bicarakan segera. Kami akan melanjutkan perjalanan kami yang terhenti. "
Ki Demang termangu-mangu. Apakah benar hanya begitu saja mereka akan
meninggalkan Kademangan itu setelah terjadi pertempuran? Apakah mereka tidak
akan memanfaatkan kemenangan mereka untuk kepentingan apapun?
Disaat Ki Demang termangu-mangu, maka Ki Wiritlah yang bertanya " Apakah kalian
tidak akan singgah di Kademangan ini? "
Sambi Wulunglah yang menjawab " Tidak. Aku tidak akan singgah. Aku sudah
kehilangan banyak waktu. "
" Tetapi kemanakanmu sakit " berkata Ki Wirit pula.
" Ia tidak apa-apa. Jika ia mengalami kesulitan, maka kalianlah yang harus
bertanggung jawab " jawab Sambi Wulung.
Ki Wirit tidak mempersilahkannya lagi. Namun sebenarnyalah bahwa ia juga merasa
heran, bahwa ketiga orang itu begitu saja meninggalkan mereka. Ki Demang yang
semula mengira akan menerima pembalasan yang pahit, ternyata tidak sama sekali.
Orang-orang itu pergi begitu saja setelah perkelahian itu selesai dan mereka
menangkan.
" Mereka akan dapat berbuat apa saja yang mereka kehendaki atas kami. Bahkan
membunuh sekalipun " desis Ki Demang didalam hatinya.
Tetapi sebenarnyalah ketiga orang itupun telah minta diri untuk meneruskan
perjalanan.
Ki Demang dan kawan-kawannya termangu-mangu. Namun kemudian m|e!rekapun mulai
memperhatikan luka-luka mereka yang pedih. Beberapa goresan luka telah mengoyak
kulit mereka. Namun luka-luka itu nampaknya tidak berbahaya bagi keselamatan
jiwa mereka.
Selagi mereka termangu-mangu, maka Ki Wiritpun telah melangkah untuk mengambil
luwuknya yang tergolek di tanah. Kemudian dengan suara yang parau Ki Wirit itu
berkata " Ki Demang. Akupun ingin minta diri. Tidak pantas aku tetap berada
disini dan membayangi kuasa Ki Demang. Aku memang tidak berhak berbuat seperti
itu. Karena itu, maka biarlah aku meninggalkan Kademangan ini. Kemudian aku
mohon, Ki Demang dapat memerintah Kademangan ini dengan sebaik-baiknya
sebagaimana saat-saat aku belum datang di Kademangan ini. Selama ini aku sudah
mengacaukan pemerintahan Ki Demang. Karena itu aku minta maaf. Sebagai
kenang-kenangan kehadiranku yang sangat merugikan di Kademangan ini, aku akan
menyerahkan senjata pusakaku ini. Biarlah Ki Demang menyimpannya, agar setiap
kali Ki Demang akan dapat mengingat bencana yang pernah menimpa Kademangan ini.
"
Ki Demang memang menjadi bingung. Ia tidak mengerti kenapa hal itu dilakukan
oleh Ki Wirit. Ki Demang tidak tahu, bahwa Ki Wirit bukan lagi Ki Wirit yang
tadi datang bersamanya ke simpang ampat itu untuk mencegat orang-orang yang
dianggapnya terlalu sombong.
" Apa yang sebenarnya telah terjadi? " bertanya Ki Demang.
" Tidak apa-apa " jawab Ki Wirit " sikap ketiga orang itu telah membuka hatiku.
Aku tidak pantas untuk melakukan pemerasan untuk seterusnya. "
" Tetapi Ki Wirit masih mempunyai barang-barang berharga di Kademangan. "
Tetapi Ki Wirit menggeleng. Katanya " Aku sudah tidak memerlukannya lagi. Jika
kau kenal pemiliknya, kembalikan kepadanya. "
Ki Demang menjadi semakin heran. Apalagi ketika pusaka Ki Wirit itupun telah
diberikannya kepadanya pula.
Tetapi Ki Demang yang kebingungan itu tidak sempat mendapat banyak penjelasan.
Ki Wiritpun kemudian melangkah pergi sambil berkata " Aku minta diri. -
" Sekarang? " bertanya Ki Demang keheranan.
" Ya. Sekarang " jawab Ki Wirit " semakin cepat semakin baik bagi Ki Demang dan
bagi Kademangan ini.—
Ki Demang memang tidak mendapat kesempatan untuk mencegah ketika Ki Wirit
kemudian berjalan dengan langkah yang berat. Tubuhnya nampak begitu letih dan
bahkan keseimbangannya seakan-akan tidak utuh lagi. Namun Ki Wirit itu berjalan
terus tanpa berpaling lagi.
" Aku tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi dengan Ki Wirit " desis Ki
Demang " peristiwa ini benar benar membuat aku menjadi pening. Sulit untuk
dipercaya bahwa apa yang kita alami ini memang sebenarnyalah seperti yang kita
lihat sekarang ini. Bukan sekedar sebuah mimpi atau sebuah angan-angan yang
hampa. -
" Mereka memang telah pergi Ki Demang " desis Ki Prajak sambil berdesis menahan
pedih.
" Kenapa Ki Wiritpun ikut pula meninggalkan tempat ini. Apalagi ia telah
meninggalkan barang-barangnya yang berharga, seakan-akan begitu saja dilupakan
setelah ia bekerja keras untuk memilikinya dengan segala macam cara " berkata Ki
Demang.
" Agaknya ia telah membawa bekal uang yang cukup " desis Ki Prajak.
" Ia memang membawa uang. " sahut Ki Demang
" tetapi seberapa uang yang dapat dibawa dikantongnya itu. "
Jilid 10
“JIKA ia kehabisan uang, aku kira ia akan kembali,“ berkata Ki Prajak.
“Tidak. Ia tidak akan kembali. Ia justru telah menyerahkan pusakanya kepadaku.
Sikapnya terlalu aneh. Aku belum pernah melihat matanya nampak demikian cekung
seperti saat ini. Seakan-akan dihatinya telah dibebani perasaan yang hampir
tidak tertanggungkan. Ia pergi dengan penuh rahasia didalam dirinya.“ berkata Ki
Demang.
“Keanehan yang beruntun,“ desis Ki Prajak, “sikap ketiga orang yang begitu saja
pergi itupun aneh bagiku, meskipun ia telah mengancam untuk kembali menilai
kebenaran yang terjadi disini sesuai dengan pesannya.”
Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian, “Jika benar-benar
yang kita alami ini bukan sekedar angan-angan, maka kita memang harus mulai lagi
dari permulaan.”
“Apa maksud Ki Demang?“ bertanya Ki Prajak.
“Jika benar Ki Wirit meninggalkan Kademangan ini maka kita harus mulai lagi
menyusun pemerintahan yang wajar sebagaimana kita lakukan sebelumnya. Apalagi
jika ketiga orang itu pada satu saat benar-benar akan melihat Kademangan ini.
Maka semuanya harus sudah tersusun baik,“ berkata Ki Demang yang kemudian telah
mengajak Ki Prajak dan dua orang kawannya kembali ke Kademangan.
Dalam pada itu, Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguh telah melanjutkan perjalanan
mereka. Puguh yang telah memaksa diri untuk mengerahkan tenaganya, memang nampak
menjadi sangat letih. Bahkan rasa-rasanya untuk melangkahkan kakinya, tenaganya
sudah tidak mampu lagi.
“Apakah kita harus beristirahat lagi,“ desis Sambi Wulung.
“Agaknya memang demikian,“ berkata Jati Wulung, “dibawah pohon yang rindang itu,
kita akan dapat berteduh. Matahari memang menjadi semakin panas menyengat
kulit.”
Mereka bertigapun kemudian telah berhenti dibawah sebatang pohon yang rindang.
Mereka seakan-akan tidak menghiraukan apapun lagi disekitar mereka. Bahkan ada
juga orang yang menjadi ragu-ragu untuk lewat. Apalagi mereka yang melihat
perkelahian disimpang empat.
Namun karena ketiga orang itu agaknya tidak menghiraukan orang-orang yang lalu
lalang, maka mereka yang akan lewatpun telah lewat pula, meskipun tanpa berani
berpaling ke arah mereka.
“Gantar memang masih agak jauh,“ berkata Puguh.
“Bukankah kita tidak tergesa-gesa. Seandainya Song Lawa itu tidak dihancurkan
oleh sepasukan prajurit, maka kita tentu masih berada di tempat itu,” sahut Jati
Wulung.
Puguh mengangguk-angguk. Katanya, “Ya kita memang tidak tergesa-gesa.”
“Nah, jika demikian berbaringlah. Mungkin dengan demikian, kau akan mendapatkan
tenaga baru,“ berkata Jati Wulung.
Puguh memang tidak berbaring sebagaimana dikatakan oleh Jati Wulung. Tetapi ia
duduk sambil bersandar pokok kayu yang rindang itu. Sementara angin yang sejuk
mengusap wajah mereka yang semula terasa panas oleh sengatan matahari, gejolak
didalam hati serta kegelisahan yang menghentak-hentak di jantung.
Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak mengusiknya ketika Puguh kemudian tertidur
oleh keletihan. Namun keduanya berharap bahwa dengan demikian keadaan anak muda
itu akan berangsur baik, sehingga mereka akan dapat melanjutkan perjalanan
menuju ke Gantar. Sebuah Kademangan yang agaknya sudah dekat dengan tempat
tinggal Puguh atau tempat-tempat yang sering dikunjunginya. Sehingga dengan
demikian maka perjalanan mereka selama itu tidak sia-sia.
Ternyata Puguh memang merasa tubuhnya lebih segar ketika ia kemudian terbangun.
Kesempatan beristirahat yang tidak terlalu lama itu cukup berarti baginya.
Setelah mencuci muka di sebuah parit yang berair bening, maka merekapun telah
membenahi pakaian mereka. Sejenak kemudian, maka merekapun telah melanjutkan
perjalanan, menuju ke Gantar.
Namun di perjalanan itu, Puguh masih juga nampak ragu-ragu. Beberapa kali ia
mengatakan, bahwa sebaiknya ia pulang sendiri.
“Kenapa?“ bertanya Jati Wulung ketika sekali lagi Puguh mengatakannya.
“Jika perjalanan kita sudah mendekati Gantar, maka aku akan dapat menempuh sisa
perjalanan itu sendiri. Aku tidak ingin kalian mengikuti aku sampai kerumahku
dan bertemu dengan orang tuaku,“ berkata Puguh.
“Apa salahnya jika aku mengantarmu pulang? Bukankah kau rasakan sendiri
perjalanan ini? Banyak gangguan dapat terjadi. Sementara itu kau telah
kehilangan para pengawalmu. Meskipun kau telah sampai diluar regol rumahmu
sekalipun, dapat saja terjadi sesuatu yang tidak kau inginkan atasmu dalam
keadaanmu seperti itu. Memang berbeda jika kau dalam keadaan sehat. Kau akan
dapat mengatasi beberapa kesulitan ringan sendiri. Tetapi dalam keadaan seperti
itu, maka kau menjadi terlalu lemah,“ berkata Sambi Wulung.
Wajah Puguh nampak berkerut. Tetapi tiba-tiba saja anak muda itu berdesis,
“Kalian tentu akan berusaha bertemu dengan orang tuaku.”
Sambi Wulung dan Jati Wulung menjadi termangu-mangu. Apakah anak muda itu telah
mendapat firasat bahwa keduanya mempunyai niat-niat tertentu atas dirinya?
Sementara itu Puguhpun berkata selanjutnya, “Kalian tentu akan mengatakan kepada
mereka, bahwa aku berada di Song Lawa. Kalian tentu akan mengatakan bahwa aku
masih terlalu muda untuk berada ditempat perjudian seperti itu. Dan kau tentu
akan menggurui orang tuaku agar mereka melarang aku dan menuntun agar aku
menempuh jalan kehidupan yang lebih baik dari kehidupanku sekarang ini.”
Sambi Wulung dan Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam. Ternyata keengganan
Puguh atas kehadiran mereka diramahinya bukan karena anak itu mencurigai mereka
dengan maksud-maksud mereka mengenali tempat tinggalnya. Tetapi justru karena
alasan yang lain.
Karena itu, maka Sambi Wulungpun menyahut, “Puguh. Sebenarnyalah ada niatku
untuk mengatakannya kepada orang tuamu. Sebenarnya aku merasa berkeberatan
terhadap kehadiran beberapa orang anak muda di Song Lawa termasuk kau sendiri.
Bahkan jika kau ternyata dapat menunjukkan rumah anak-anak muda yang lain
betapapun jauhnya, aku akan mendatangi rumah mereka dan bertemu dengan orang tua
mereka.”
“Aku berkeberatan sekali,“ jawab Puguh tegas, “karena itu maka aku ingin pulang
sendiri meskipun aku telah kehilangan para pengawalku.”
“Kenapa kau berkeberatan? Apakah kau benar-benar tidak ingin merubah jalan
hidupmu?“ bertanya Jati Wulung.
Puguh menundukkan kepalanya. Berbagai macam pikiran bergelut di kepalanya.
Tetapi yang kemudian dikatakannya adalah, “Sebaiknya kalian tidak perlu
mencampuri persoalan pribadiku. Aku berterima kasih atas pertolongan kalian
terhadapku. Tetapi aku minta bahwa kalian tidak berniat untuk memasuki tata cara
hidup keluargaku dan pribadiku lebih dalam lagi. Biarlah kami menempuh jalan
kehidupan kami sesuai dengan keadaan dan keinginan kami.”
Sambi Wulung dan Jati Wulung termangu-mangu sejenak. Sementara itu bayangan
senja mulai nampak di ujung-ujung pepohonan. Kemerah-merahan, sedangkan langit
menjadi semakin buram.
Dalam pada itu Sambi Wulung dan Jati Wulung seakan-akan melihat, bahwa kehidupan
Puguh memang bukan kehidupan yang wajar. Keluarganya bukannya keluarga
sebagaimana kebanyakan keluarga yang hidup sesuai dengan batasannya.
Sebenarnyalah Sambi Wulung dan Jati Wulung telah mengetahuinya, bahwa orang tua
Puguh adalah orang yang telah kehilangan jalur jalan kehidupan wajarnya
Baru beberapa saat kemudian Sambi Wulung berkata, “Puguh. Kami minta maaf, bahwa
kami terlalu banyak mencampuri batas-batas kehidupan pribadimu. Tetapi semuanya
itu terdorong oleh satu keinginan untuk menebus kesalahan-kesalahan yang pernah
aku lakukan. Setelah aku menjadi tua, demikian pula adikku itu, barulah kami
merasa bahwa hidup kami sama sekali tidak berarti. Kami terlempar dalam
kehidupan yang sangat buruk sejak kami masih terlalu muda. Akhirnya kami
kehilangan pegangan dan hidup di dunia yang kelam. Yang paling menyiksaku
adalah, bahwa pada suatu saat aku telah menghukum anakku sendiri karena tingkah
lakunya yang aku anggap salah, sehingga anakku itu mati. Ibunyapun kemudian
membunuh diri karena ia tidak tahan lagi hidup bersamaku.“ Sambi Wulung berhenti
sejenak, lalu, “Ternyata peristiwa itu telah membuka mata hatiku. Aku berusaha
untuk menemukan keseimbangan dalam hidupku dengan sisa-sisa keadaanku yang buruk
itu. Kini aku hidup dalam dua bayangan. Bayangan hidupku yang lama, dan
keinginan untuk memberikan arti disisa hidupku ini. Karena itu, aku menaruh
banyak sekali perhatian terhadap anak-anak muda di tempat-tempat perjudian
seperti Song Lawa itu.”
Puguh termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Sambi Wulung dan Jati Wulung
berganti-ganti. Dilihatnya betapa penyesalan yang sangat dalam pada mata Sambi
Wulung.
Dengan nada rendah Puguh itupun berkata, “Kenapa perhatianmu tertuju kepada
anak-anak muda?”
“Puguh,“ berkata Sambi Wulung, “jika anakku masih hidup, maka ia tentu sudah
sebesar kau ini. Atau barangkali sedikit lebih tua. Aku memang merindukan
seorang anak. Tetapi dengan satu sikap, bahwa seandainya anak itu ada padaku,
maka ia tidak boleh menirukan tingkah laku orang tuanya. Ia harus menjadi
seorang yang berarti didalam hidupnya,”
“Apakah yang kau maksudkan berarti didalam hidup seseorang itu?“ bertanya Puguh.
“Hidup seseorang baru berarti jika ia menjalani kehidupan ini dengan pegangan
cinta kasih. Cinta kasih kepada Sumber Hidupnya, dan cinta kasih kepada sesama,“
jawab Sambi Wulung.
“Darimana aku tahu akan hai itu, jika hidupmu sebelumnya selalu berada didalam
kekelaman yang sangat dalam?“ bertanya Puguh, “bahkan kau telah membunuh anakmu
sendiri.”
“Justru setelah hal itu terjadi,“ berkata Sambi Wulung, “mungkin yang Maha Agung
memang menghendakinya ketika aku tersesat kedalam rumah seorang tua yang
bijaksana. Yang menurut penilaian lahiriah adalah orang yang sangat lemah,
tetapi ternyata orang itu memiliki kemampuan jauh diatas kemampuanku.”
Puguh termangu-mangu. Tetapi ternyata kata-kata Sambi Wulung itu diperhatikannya
dengan sungguh-sungguh. Pada langkah-langkahnya yang berikut, disaat-saat gelap
malam mulai membayangi perjalanan mereka, Puguh berjalan sambil menundukkan
kepalanya.
Bertiga mereka berhenti dipinggir sebuah sungai kecil. Puguh ternyata ingin
turun sejenak untuk membersihkan dirinya. Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak
berkeberatan meskipun keduanya tidak ingin menuruni tanggul.
Demikian Puguh melangkah, maka terdengar Sambi Wulung berpesan,“
berhati-hatilah. Mungkin tanggul licin.”
Tetapi tanggul itu adalah tanggul yang rendah, sehingga Sambi Wulung dan Jati
Wulung tidak perlu menolongnya.
Ketika Puguh berada di sebelah tanggul dan benar-benar sedang membersihkan diri,
maka Jati Wulungpun berdesis, “He, darimana kau mendapat ceritera yang menarik
itu.”
“Sst,“ Sambi Wulung berdesis, “mudah-mudahan ceritera itu tidak sekedar lewat
dibenaknya. Jika ada sedikit saja yang tersangkut, maka mudah-mudahan mempunyai
arti bagi anak itu.”
“Ya. Ia tidak sebagaimana kami bayangkan sebelumnya,“ berkata Jati Wulung, “anak
itu tidak terlalu liar dan bahkan buas sebagaimana kita duga. Tetapi ada
kemungkinan-kemungkinan lain didalam dirinya yang dapat dikembangkannya.”
“Itulah sebabnya, aku mengarang sebuah ceritera yang mudah-mudahan dapat
menyentuh perasaannya,“ sahut Sambi Wulung.
Tetapi Jati Wulung kemudian menunduk sambil berdesis, “Tetapi bagaimana dengan
Risang? Apakah ia dapat mengerti seandainya kita mengatakan kepadanya, bahwa
saudaranya seayah itu bukan seorang yang sama sekali tidak mempunyai kesempatan
untuk hidup dengan wajar?”
“Persoalannya tidak terletak pada Risang. Tetapi kepada orang-orang
disekitarnya. Kepada Kiai Badra dan Kiai dan Nyai Soka kita dapat memberikan
gambaran tentang anak yang bernama Puguh. Mungkin mereka dapat mengerti. Tetapi
aku tidak tahu tanggapan ibunya. Nampaknya dua orang perempuan bekas isteri Ki
Wiradana itu bagaikan minyak dengan air,“ sahut Jati Wulung.
“Itu dapat kita mengerti. Seorang dari mereka adalah perempuan yang rakus,
sementara yang lain adalah seseorang yang merasa bertanggung jawab atas masa
depan sebuah Tanah Perdikan dan yang pernah mengalami perlakuan bukan saja
menyakitinya, tetapi hampir membunuhnya,“ jawab Sambi Wulung.
Namun mereka tidak dapat berbicara lebih panjang, karena Puguh telah melangkah
mendekati tanggul. Ketika ia berusaha naik keatas tanggul yang rendah, maka
Sambi Wulung telah mengulurkan tangannya dan menariknya.
“Bagaimana keadaanmu sekarang?“ bertanya Sambi Wulung.
“Aku merasa menjadi lebih baik,“ jawab Puguh, “air yang dingin itu membuat
tubuhku menjadi semakin segar. Aku akan dapat berjalan lagi semalam suntuk.
Bahkan untuk mencapai Gantar, meskipun perlahan-lahan.”
Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Tetapi Sambi Wulungpun berkata,
“jangan memaksa diri. Kita akan berjalan saja sejauh dapat kita capai. Jika kita
merasa letih, maka kita akan beristirahat dimana-pun juga. Ternyata kita tidak
banyak mengalami kesulitan antuk mencari tempat bermalam.”
Puguh mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita berjalan saja. Perlahan-lahan.
Udarapun rasa-rasanya menjadi lebih segar setelah matahari terbenam.”
Demikianlah, merekapun kemudian telah melanjutkan perjalanan. Puguh memang
bertanya kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung, apakah mereka tidak akan mencuci
muka.
Tetapi sambil tertawa Jati Wulung menjawab, “Aku sudah terbiasa hidup tanpa air
di tubuhku. Kecuali untuk minum.”
“Pantas kau,“ desis Sambi Wulung, “wajahmu menjadi nampak kering seperti orang
sakit-sakitan.”
“Dan kau?“ bertanya Jati Wulung.
Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menyahut.
Demikianlah, maka ketiga orang itu telah melanjutkan perjalanan. Ternyata
berjalan di malam hari bagi Puguh merasa lebih baik daripada berjalan disiang
hari. Namun adalah wajar jika di malam hari mereka diganggu pula oleh perasaan
bukan saja lelah, tetapi kantuk.
“Kita tidak perlu memaksa diri untuk berjalan semalam suntuk berkata Sambi
Wulung.
Puguh mengangguk. Iapun menyadari bahwa di malam hari sulit pula baginya untuk
menemukan jalan yang akan langsung sampai ke Gantar. Baru kemudian dari Gantar
mereka akan menuju kesatu tempat yang sebenarnya memang dirahasiakan. Tetapi
jalan yang paling aman menuju ke sebuah padepokan kecil yang terpisah dari
lingkungan hidup orang kebanyakan adalah lewat Gantar. Meskipun jalan menuju ke
Gantar itu juga mendapat pengawasan ketat, namun jalan itulah satu-satunya jalan
menuju ke padepokan itu yang dapat dilalui oleh orang lain dari penghuni
padepokan itu meskipun harus melalui pengawasan yang berlapis. Itu pulalah
sebabnya maka diantara orang-orang yang menjadi pengikut para penghuni padepokan
itu tidak banyak mengenal langsung para pemimpinnya yang tertinggi.
Susunan yang seperti itulah sebenarnya yang menyulitkan bagi Puguh untuk
menerima kehadiran kedua orang yang telah banyak menolongnya. Meskipun ia akan
dapat membawanya sampai ke padepokannya lewat Gantar, namun apa yang akan
terjadi setelah kedua orang itu sampai di padepokannya. Mungkin orang tuanya
tidak akan menemuinya atau kebetulan tidak ada ditempat. Sementara gurunya juga
jarang sekali berada ditempat itu. Sedangkan Puguh tidak akan dapat membawa
kedua orang itu langsung ke satu tempat terpencil yang lebih dirahasiakan lagi.
Bahkan bagi orang-orangnya sendiri tidak ada yang mengetahui tempat itu, selain
satu dua orang terpercaya. Tempat gurunya menghabiskan hari-hari tuanya ditempat
yang sepi dan jauh dari kesibukan duniawi.
Seandainya kedua orang itu bertemu dengan orang tuanya atau gurunya dan
mengutarakan tentang jalan yang mereka anggap sesat bagi Puguh itu sendiri, maka
Puguh tidak dapat membayangkan apakah akibat yang dapat terjadi atas kedua orang
itu meskipun keduanya telah banyak menolongnya, bahkan dapat dianggap telah
menyelamatkan jiwanya.
Demikianlah, semakin panjang mereka berjalan, hati Puguh menjadi semakin
bingung. Ia sendiri tidak mengerti, kenapa ia telah tertarik dan merasa sesuai
berhubungan dengan kedua orang itu. Puguh menyadari, mungkin karena kedua orang
itu telah menolongnya dan berbuat baik kepadanya. Namun justru karena itu, maka
ia tidak ingin kedua orang itu mengalami kesulitan jika benar-benar ia dapat
bertemu dengan orang tuanya dan memberikan pendapatnya yang tentu tidak akan
sesuai dengan pendapat orang tuanya itu. Bahkan mungkin kedua orang itu akan
mendapat kesulitan karenanya.
Dalam pada itu, maka Puguhpun kemudian telah mencoba untuk mengetahui jalan yang
mereka lalui dengan saksama. Jika mereka mengambil jalan yang salah, maka
akibatnya akan sangat parah bagi mereka. Mungkin akan terjadi salah paham dengan
orang-orang yang mendapat tugas untuk menutup lingkungan dan arah menuju ke
padepokan itu. Karena hanya jalan dari Gantar sajalah yang dapat dilalui oleh
orang lain dengan hambatan yang paling kecil, karena orang-orang yang bertugas
di jalan yang menuju kepadepokan itu lewat Gantar masih dibenarkan untuk
berbicara dan bertanya kepada orang-orang yang lewat. Tetapi di jalan lain
persoalannya akan lain.
Itulah sebabnya, ketika mereka menempuh perjalanan di jalan yang rasa-rasanya
menjadi semakin sempit dan rumpil, maka Puguhpun berkata, “Kita berhenti sampai
disini. Aku takut, bahwa jalan ini tidak akan sampai ke Gantar. Di siang hari,
kita akan dapat melihat lebih baik, apakah kita tersesat atau tidak.”
Sambi Wulung dan Jati Wulung sama sekali tidak berkeberatan. Merekapun kemudian
mencari tempat yang paling bailk untuk beristirahat. Sebagai pengembara yang
berpengalaman, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung sama sekali tidak merasa
canggung berada di manapun. Namun keduanya memang menjadi heran, bahwa Puguh pun
ternyata tidak pula merasa canggung untuk berada ditempat yang bagaimanapun.
Dengan demikian maka keduanya mengambil kesimpulan bahwa Puguh memang telah
mempunyai pengalaman yang luas.
“Jauh lebih banyak dari pengalaman Risang yang hampir selalu berada di padepokan
kecil itu saja,“ berkata Sambi Wulung didalam hatinya. Sementara itu Jati
Wulungpun berkata kepada diri sendiri, “Meskipun Risang selalu menempa diri,
tetapi ia masih belum terbiasa untuk mengambil sikap menghadapi
kesulitan-kesulitan yang dapat dihadapinya dimanapun juga.”
Dalam pada itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung sempat mengamati keadaan
disekitarnya. Mereka memang sudah berada diperbatasan antara tanah yang digarap
dan padang perdu yang liar. Satu-satu telah mereka dapati pohon-pohon yang agak
besar yang semakin jauh menjadi semakin banyak. Dalam keremangan malam, mereka
melihat tidak terlalu jauh di hadapan mereka terdapat, sebuah hutan yang
menebar.
Sambi Wulung dan Jati Wulungpun menyadari, bahwa mereka sebaiknya mengambil
jalan lain untuk menuju ke Gantar. Meskipun langit bersih sehingga mereka sempat
melihat bintang Gubug Penceng, sehingga mereka dapat mengerti arah, namun jalan
yang mereka lalui itu bukan jalan yang baik untuk sampai ke Gantar.
Dengan demikian maka bagi mereka bertiga memang lebih baik berhenti dan
beristirahat daripada menempuh perjalanan tetapi di keesokan harinya harus
melangkah kembali karena jalan setapak yang mereka lalui ternyata tidak akan
sampai ke tujuan.
Namun tiba-tiba saja Sambi Wulung dan Jati Wulung terkejut. Mereka tidak tahu
ujung pangkalnya ketika Puguh tiba-tiba berkata, “Kita benar-benar salah jalan.
Marilah, kita tinggalkan tempat ini.”
Dengan kerut dikening Jati Wulung bertanya, “Bukankah kita akan beristirahat
sampai esok menjelang dini hari? Apa salahnya kita beristirahat disini?”
“Sebaiknya kita bergeser. Aku yakin bahwa jalan ke Gantar tidak terlalu jauh
dari tempat ini. Beberapa ratus tonggak saja ke arah Selatan,“ sahut Puguh.
“Ya, berapapun jaraknya jalan ke Gantar itu dari tempat ini, namun bukankah kita
dapat menunda perjalanan ini sampai esok?“ bertanya Sambi Wulung pula.
“Apakah kalian sudah terlalu letih sehingga tidak mungkin lagi bergerak?“
bertanya Puguh.
Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Namun ia berkata dengan nada rendah,
“Apakah yang sebenarnya telah terjadi Puguh? Tentu bukan sekedar kita ingin
berpindah tempat. Kau tentu melihat atau mengenali sesuatu yang memaksa kita
berpindah dari tempat ini. Jika kau dapat meyakinkan kami, maka kami tidak akan
berkeberatan untuk berpindah tempat sekarang.”
Puguh termangu-mangu sejenak, namun dengan punah kebimbangan ia berkata, “Tempat
ini bukan tempat yang baik untuk beristirahat.”
“Kenapa?“ desak Jati Wulung.
Puguh tidak menjawab. Tetapi ia menunjuk ke sebuah pohon yang tidak terlalu
besar di pinggir jalan kecil yang ditempuhnya itu. Pada batang pohon itu
terdapat sebuah topeng kecil dari wajah yang menakutkan.
Sambi Wulung dan Jati Wulung mengamati topeng itu dengan saksama. Dengan nada
berat Sambi Wulung berkata, “Bagaimana kau sempat melihat topeng itu disini?
Kami berdua sama sekali tidak melihatnya.”
“Kalian berada di seberang lorong. Karena itu maka kalian tidak melihatnya,“
jawab Puguh, “adalah kebetulan aku melihatnya karena aku disini.”
Tetapi Sambi Wulungpun kemudian bertanya meskipun di dalam hatinya telah tumbuh
dugaan tentang topeng yang terdapat di pohon itu, “Tetapi kenapa kau begitu
cemas melihat topeng kecil itu?”
Puguh menarik nafas dalam-dalam. Ia memang agak kebingungan untuk menjawab. Baru
setelah merenung sejenak ia menjawab, “Aku adalah seorang yang hidup di daerah
ini. Meskipun jaraknya masih agak jauh, tetapi aku mengenali lingkungan ini
dengan baik. Setiap orang Gantar dan sekitarnya tahu, bahwa topeng itu adalah
pertanda bahwa lingkungan di sekitarnya adalah lingkungan yang tidak boleh
diambah oleh pihak lain.”
“Jadi topeng kecil itu menunjukkan satu ciri kekuasaan di daerah ini? Maksudku
kekuasaan yang berdasarkan pada kekuatan semata-mata? Bukan kekuasaan karena
hak?“ bertanya Jati Wulung.
Puguh menjadi semakin bimbang untuk menjawab. Tetapi akhirnya iapun mengangguk.
Katanya, “Ya. Begitulah menurut pengenalan orang-orang Gantar dan sekitarnya.”
Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun dalam pada itu, Sambi Wulungpun telah
mempertajam pendengarannya. Tiba-tiba saja ia meloncat ke arah sebuah gerumbul
tidak jauh di belakangnya sambil berkata, “Keluarlah Ki Sanak, Tidak pantas kita
bermain sembunyi-sembunyian disaat tidak ada bulan. Barangkali kita juga sudah
terlalu tua untuk bermain seperti itu.”
Puguh menjadi tegang. Sementara Jati Wulung mendekatinya sambil berbisik, “Tidak
hanya di belakang gerumbul itu. Di tempat lain aku juga melihat orang yang
berlari sambil membungkuk-bungkuk ke belakang gerumbul disebelah pohon yang agak
besar itu itu.”
Puguh mengangguk. Katanya, “Kita sudah terlambat untuk menghindari perkelahian.”
“Kita tidak berbuat apa-apa,“ jawab Jati Wulung.
“Soalnya bukan berbuat atau tidak berbuat apa-apa. Lingkungan ini sama sekali
tidak boleh dijamah oleh orang lain. Sadar atau tidak sadar,“ jawab Puguh.
“Kau tidak mengatakan sebelumnya, bahwa disekitar Gantar terdapat tempat seperti
ini,“ desis Jati Wulung.
“Aku kira kita masih cukup jauh dari tempat-tempat seperti ini. Aku memang agak
bingung memilih jalan. Tetapi tiba-tiba saja kita sudah terperosok ke dalam
lingkungan seperti ini,“ jawab Puguh.
“Jika demikian, apaboleh buat,“ berkata Jati Wulung, “kita tidak mempunyai
pilihan lain jika mereka memaksa kita untuk bertempur.”
Puguh tidak menjawab. Tetapi nampak kegelisahan yang sangat pada sikapnya,
sehingga Jati Wulung dapat mengambil satu kesimpulan tersendiri tentang hubungan
antara Puguh dan topeng kecil itu. Tetapi Jati Wulung tidak mengatakannya. Yang
kemudian diucapkan adalah, “Hati-hatilah. Kita akan bertempur.”
Puguh masih tetap diam. Sementara itu Sambi Wulung yang menghadapi sebuah
gerumbul berkata selanjutnya, “Keluarlah, atau aku akan membakar gerumbul ini
bersamamu.”
Sejenak kemudian, maka seseorang telah meloncat dari balik gerumbul itu. Seorang
yang bertubuh tinggi besar berjambang lebat. Dalam kegelapan wajahnya tidak
terlalu jelas untuk dikenali. Apalagi ketika Sambi Wulung yang berpandangan
tajam itu melihat garis-garis yang sengaja digoreskan pada wajah itu yang
agaknya dengan sengaja untuk mempersulit pengenalan seseorang atas mereka.
Yang kemudian berloncatan dari balik gerumbul bukannya hanya seorang. Namun
kemudian ternyata beberapa orang yang lain. Empat orang.
“Berjongkok dihadapanku,“ terdengar orang itu menggeram, “orang yang sudah
memasuki lingkungan ini harus mati. Karena itu, relakan aku memenggal lehermu.”
“Tunggu Ki Sanak,“ berkata Sambi. Wulung, “kenapa daerah ini tidak boleh dijamah
oleh orang lain kecuali kau dan gerombolanmu?”
“Yang berada disini harus mati,“ geram orang itu.
“Jika memang demikian, apaboleh buat. Kami tidak akan dapat merubah peraturan
yang kalian buat. Tetapi kenapa? Tlatah ini tlatah dalam wewenang siapa?“
bertanya Sambi Wulung.
Tetapi orang itu seakan-akan tidak, mendengar. Bahkan ia telah bertanya, “Satu
kebaikan hati jika aku bertanya, siapa namamu agar kau mati dengan tenang karena
kau tidak mati tanpa nama.”
“Namaku Wanengbaya, dan itu adalah saudaraku Wanengpati. Anak muda itu adalah
kemanakanku.” Jawab Sambi Wulung.
Orang itu menggeram. Namun kemudian katanya, “berjongkoklah. Tundukkan kepalamu
agar kami mudah melakukan tugas kami. Jika kami tidak dapat memenggal lehermu
sekali putus, mungkin kau akan menderita.”
“Ki Sanak,“ berkata Sambi Wulung, “barangkali kau bersedia menyebutkan serba
sedikit sebelum kau berniat benar-benar memenggal leherku, kenapa kalian berani
menganggap lingkungan ini lingkungan kalian dan menganggap orang lain yang
memasuki daerah ini bersalah.”
“Kami berkuasa, disini,“ berkata orang itu, “kami dapat menentukan apa saja yang
kami kehendaki.”
“Jadi menurut pendapat mu, kekuasaan sejalan dengan kekuatan?“ bertanya Sambi
Wulung,
“Ya. Kekuatan akan menentukan kekuasaan? He jika tanpa kekuatan, siapa yang
dapat berkuasa? Ternyata kau terlalu bodoh sehingga tidak dapat mengetrapkan
penalaran tentang kekuatan dalam hubungannya dengan kekuasaan. Apakah kau kira
seekor monyet dapat mengusir seekor harimau dari dalam hutan? Atau seekor ayam
dapat mengatur kehidupan musang dalam kelompok disarangnya?“ jawab orang itu.
“Tetapi bukankah daerah ini adalah satu sudut saja dari wilayah Pajang?“
bertanya Sambi Wulung, “bagaimana mungkin kau merasa berkuasa disini tanpa
limpahan kekuasaan itu dari Pajang.”
“Persetan dengan kuasa Pajang,“ jawab orang itu, “kuasa Pajang tidak menjangkau
daerah ini sehingga kamilah yang berkuasa disini.”
Sambi Wulung mengangguk-angguk, Katanya, “Baiklah, Jika demikian akupun akan
menunjukkan kekuatanku, agar aku dapat menjadi penguasa disini.”
“Persetan, Kau akan melawan?“ bertanya orang itu.
“Kau kira begitu mudah seseorang menyerahkan lehernya?“ bertanya Sambi Wulung.
“Setan,“ geram orang itu, “bunuh mereka.“
Kawan-kawannyapun mulai bergerak. Namun Sambi Wulung masih bertanya, “Sebelum
mati, siapakah kalian dan untuk siapa kalian bekerja. Satu kebaikan hati kami
karena dengan demikian kalian tidak akan mati tanpa nama.”
“Cukup. Cepat, jangan beri waktu lagi,” teriak orang yang berjambang itu.
Sejenak kemudian, maka orang itupun telah menyerang Sambi Wulung. Tidak hanya
dengan tangannya. Tetapi iapun telah langsung mempergunakan senjatanya. Sebuah
bindi yang bergerigi.
Sambi Wulung meloncat mundur. Iapun kemudian memberi isyarat kepada Jati Wulung
untuk bersiap-siap.
Yang paling gelisah adalah Puguh. Memang mungkin orang-orang itu tidak mengenal
wajahnya dengan baik, karena tataran-tataran yang memang dibuat dengan
jarak-jarak tertentu. Orang-orang itu adalah orang-orang yang bertugas di
barak-barak khusus untuk mengawasi lingkungan yang agak luas disekitar
padepokannya yang terpisah. Untuk memantapkan kerahasiaan padepokannya maka
tidak ada kesempatan bagi orang lain untuk mendekati padepokan itu dari arah
lain kecuali dari arah Gantar. Sedangkan wajah padepokan itu dilihat dari arah
Gantar adalah sebuah padepokan yang tidak banyak berbeda dari padepokan yang
lain.
Dalam pada itu beberapa orang yang ada di arena itupun telah mulai bergerak.
Puguhpun harus memilih satu langkah yang paling menguntungkan baginya. Ia
mempunyai dan memahami bahasa sandi yang akan dapat membebaskannya, dari
kemungkinan buruk. Tetapi dengan demikian, maka ia harus mempertanggung
jawabkannya kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung.
Karena itu, maka Puguh yang tubuhnya menjadi semakin segar karena luka-lukanya
yang tidak lagi terasa menggigit itu, merasa telah sanggup untuk bertempur
melindungi dirinya sendiri.
Demikianlah akhirnya merekapun telah bertempur. Sambi Wulung bertempur melawan
orang berjambang, yang agaknya memimpin sekelompok kawan-kawannya itu. Jati
Wulunglah yang harus bertempur melawan dua orang diantara mereka.
Agaknya orang-orang itu memang tidak terbiasa menjajagi kemampuan seseorang yang
akan dijadikan korban mereka. Karena itu, maka merekapun langsung mempergunakan
senjatanya dan berusaha membunuh lawan lawannya.
Tetapi ternyata mereka telah membentur kekuatan yang sulit untuk diatasinya.
Orang berjambang itulah yang justru mengalami kesulitan melawan pedang Sambi
Wulung yang tidak saja kuat untuk mengimbangi ayunan bindi lawannya yang berat,
tetapi juga mampu berputar cepat sekali seperti putaran baling-baling. Kemudian
terayun menebas lambung dan mematuk ke arah dada.
Orang berjambang itu mengumpat. Tetapi iapun merasa memiliki bekal yang cukup
untuk melakukan tugasnya. Itulah sebabnya, maka orang itu berusaha untuk
mendesak Sambi Wulung yang bersenjata pedang.
Benturan-benturan yang terjadipun telah mengejut: kan lawannya pula. Pedang
Sambi Wulung ternyata mampu membentur dan menahan bindi yang sedang terayun
deras.
Sambi Wulunglah yang kemudian mendapat takaran kemampuan lawannya itu. Sehingga
dengan demikian, maka iapun telah mampu menghadapinya dengan mapan.
Dengan loncatan-loncatan panjang Sambi Wulung kadang-kadang telah membuat
lawannya menjadi bingung. Karena itu, maka iapun kemudian telah mengayun-ayunkan
bindinya untuk melindungi dirinya dari serangan Sambi Wulung.
“He, kenapa tidak kau pergunakan golokmu itu?“ bertanya Sambi Wulung sambil
meloncat kesamping sehingga bindi yang terayun itu tidak mengenai sasarannya.
Orang itu tidak menyahut, ia memang tidak terbiasa bersenjata golok. Golok yang
tidak terlalu panjang, tetapi cukup besar itu hanya dipergunakan untuk memenggal
leher orang-orang yang telah dikalahkannya jika orang itu melawan.
Sementara itu, Puguh telah bertempur dengan orang yang bertubuh agak tinggi
kekurus-kurusan. Wajahnya membayangkan kekasaran sifat dan wataknya. Dengan
golok yang besar ia berusaha untuk mendesak dan kemudian membunuh anak yang
masih terlalu muda itu.
Namun ternyata Puguh cukup tangkas. Ia mampu melawan golok itu dengan pedangnya.
Bahkan anak itu ternyata mampu bergerak lebih cepat dari lawannya. Tetapi
bagaimanapun juga, keadaan tubuh Puguh yang belum pulih sepenuhnya itupun
berpengaruh pula pada tata gerak dan ilmu pedangnya.
Yang harus mengerahkan kemampuannya adalah Jati Wulung. Ia bertempur melawan dua
orang yang garang. Seorang bertubuh agak gemuk sedangkan yang lain, bertubuh
sedang.
Namun Jati Wulung adalah seorang yang memiliki ilmu yang tinggi serta
berpengalaman luas. Karena itu maka iapun segera dapat menyesuaikan dirinya
menghadapi kedua lawannya itu. Jati Wulung justru berusaha untuk bertempur agak
jauh dari Sambil Wulung dan Puguh, sehingga dengan demikian maka Jati Wulung
akan dapat dengan leluasa bertempur dengan loncatan-loncatan panjang melawan
kedua orang lawannya itu.
Tetapi kedua lawan Jati Wulung ternyata memang orang-orang yang garang.
Keduanyapun berusaha untuk bergerak dengan cepat. Meskipun keduanya tidak
memiliki jenis ilmu dari satu perguruan, tetapi karena keduanya telah lama
saling bekerja bersama, maka keduanya lapat saling mengisi kekurangan
masing-masing dengan baik. Keduanya dapat menyerang beruntun susul menyusul.
Tetapi kadang-kadang keduanya telah menyerang bersama-sama dalam satu gelombang
namun dari arah yang berbeda.
Dengan demikian maka Jati Wulung benar-benar harus mempergunakan tenaga
cadangannya untuk meloncat-loncat menghindari serangan keduanya. Tetapi
sekali-sekali Jati Wulungpun telah meloncat bukannya untuk menghindar, tetapi
untuk menyerang.
Namun sedemikian jauh, Jati Wulung masih belum merasa perlu untuk melepaskan
ilmu puncaknya yang menggetarkan jantung. Ia masih berusaha untuk
menyembunyikannya dari penglihatan Puguh. Karena ilmu yang tinggi sebagaimana
yang dimilikinya, tentu akan dapat membuat jarak antara dirinya dengan padepokan
atau rumah atau apapun yang dihuni oleh Puguh menjadi semakin panjang.
Karena itu, maka Jati Wulung harus bekerja keras hanya dengan lambaran tenaga
cadangannya. Namun tenaga cadangan yang ada didalam diri Jati Wulung itu
seakan-akan telah tergali seluruhnya oleh kemampuan Jati Wulung. Sehingga tenaga
cadangan itu terasa menjadi sangat besar.
Sementara itu Puguh telah berusaha sejauh dapat dilakukannya untuk melindungi
dirinya sendiri. Dengan ilmu pedangnya ia melawan golok lawannya yang
terayun-ayun dengan garangnya. Tetapi ilmu pedang yang memadai itu ternyata
tidak dapat bertahan terlalu lama. Keadaan tubuhnya yang kurang menguntungkan
telah membuat perlawanan Puguh tidak dapat bertahan terlalu lama. Perlahan-lahan
perlawanan Puguhpun mulai menjadi surut, meskipun sebenarnya ilmu pedangnya
mampu mengimbangi kemampuan lawannya bermain-main dengan goloknya.
Puguh memang menjadi cemas. Sekali-sekali memang terbersit niatnya untuk
mengucapkan kata-kata sandi yang akan dapat melepaskannya dari ujung senjata
lawannya. Tetapi ia masih saja ragu-ragu.
Dalam pada itu, Sambi Wulung sempat melihat keadaan Puguh yang kurang
menguntungkan. Karena itu, maka Sambi Wulung telah berusaha untuk dapat
bertempur tidak terlalu jauh daripadanya.
Perlahan-lahan Sambi Wulung bergeser mengitari beberapa buah gerumbul perdu,
sehingga akhirnya, Sambi Wulung telah meloncat dengan loncatan panjang mendekati
Puguh. Katanya, “bertahanlah. Kita akan bertempur berpasangan.”
Puguh menarik nafas dalam-dalam. Ia memang memerlukan bantuan itu. Jika tidak
maka keadaannya akan menjadi gawat sehingga dalam keadaan yang tidak teratasi,
mungkin ia akan mengucapkan beberapa kata sandi.
Namun agaknya ia tidak perlu melakukannya karena kehadiran Sambi Wulung
didekatnya.
Berdua, maka Puguh dan Sambi Wulung telah bertempur melawan dua orang pula.
Sambi Wulung dan Puguh berdiri saling membelakangi. Namun Sambi Wulunglah yang
telah bergerak jauh lebih banyak dari Puguh, sehingga Puguhlah yang lebih banyak
harus menyesuaikan dirinya dengan keadaan Sambi Wulung.
Kemampuan dan kecepatan gerak Sambi Wulung sekali-sekali memang dapat mengusir
lawannya beberapa langkah surut, sehingga dengan demikian maka Puguhlah yang
mendapat kesempatan untuk beristirahat, karena lawannya beberapa langkah surut,
sehingga dengan demikian maka Puguhlah yang mendapat kesempatan untuk
beristirahat karena lawannyapun harus menghindari serangan-serangan Sambi Wulung
yang datang beruntun.
Beberapa saat lamanya pertempuran itu berlangsung. Semakin lama menjadi semakin
sengit. Jati Wulung yang bertempur melawan dua orang lawan itupun ternyata telah
meningkatkan kecepatan geraknya. Jati Wulung sempat mempergunakan
gerumbul-gerumbul perdu dan pepohonan yang jarang itu untuk membuat lawannya
semakin bingung menghadapinya.
Dalam pertarungan yang cepat dan keras, tiba-tiba saja seorang diantara lawan
Jati Wulung itu berteriak mengumpat dengan kasarnya. Beberapa langkah ia
meloncat surut. Sementara itu, kawannyapun telah mengambil jarak pula dari Jati
Wulung.
Jati Wulung ternyata memberikan kesempatan kepada lawan-lawannya. Ia melihat
orang yang berteriak itu sedang meraba lukanya yang menganga di bahunya.
Dengan geram Jati Wulungpun kemudian berkata, “Nah, tinggalkan tempat ini. Jika
kau tidak juga mau pergi, maka kalian akan terkapar mati disini.”
“Persetan,“ geram orang yang terluka, “kau sudah berani melukai aku. Maka
tebusannya adalah nyawamu. Kau harus mati di tanganku.”
Jati Wulung tertawa. Katanya, “Kau tidak usah mengigau. Kau sudah terluka.
Darahmu akan mengalir semakin banyak. Semakin kau paksakan tenagamu, maka
semakin banyak pula darah akan mengalir. Akhirnya kau akan mati dengan
sendirinya karena kau kehabisan darah.”
“Tidak,“ orang itu berteriak, “sebelum darah kering ditubuhku, kau sudah mati
lebih dahulu.”
Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam. Namun sorot mata orang itu, meskipun
dalam keremangan malam, tetapi terasa oleh Jati Wulung, bahwa ia benar-benar
ingin membunuhnya.
Bahkan Jati Wulungpun kemudian menyadari, bahwa semua orang yang menyentuh
tempat itu memang harus dibunuh.
Sebenarnyalah sesaat kemudian, kedua orang lawan Jati Wulungpun telah meloncat
menyerangnya pula. Hampir berbareng dari arah yang berbeda.
Tetapi Jati Wulung telah menunggunya. Dengan cepat ia berhasil menghindar.
Bahkan dengan tangkasnya pula Jati Wulung telah memutar pedangnya, terayun deras
ke arah lambung orang yang sudah terluka itu. Namun orang itu sempat meloncat
mundur. Meskipun dengan tergesa-gesa, tetapi ia berhasil lolos dari sentuhan
ujung senjata Jati Wulung.
Jati Wulung tidak sempat memburu lawannya, karena serangan dari lawannya yang
lain telah datang pula. Demikian, derasnya. Tetapi Jati Wulung mempunyai
kekuatan yang sangat besar beralaskan tenaga cadangannya yang berhasil
diungkapkannya lewat ilmu kanuragannya. Karena itulah, maka telah terjadi
benturan yang menggetarkan jantung ketika Jati Wulung menangkis serangan itu.
Akibatnya memang mengejutkan. Tangan Jati Wulung seakan-akan memang tidak
tergetar, meskipun telapak tangannya terasa seperti disengat api. Namun dengan
cepat Jati Wulung berhasil mengatasi rasa sakitnya. Tetapi sementara itu, maka
senjata lawannya ternyata telah terpental lepas dari tangannya.
Namun sekali lagi Jati Wulung tidak sempat mempergunakan keadaan yang gawat bagi
lawannya itu. Lawannya yang lainlah yang kemudian meloncat sambil menjulurkan
senjatanya lurus ke arah punggung Jati Wulung.
Karena itulah maka Jati Wulung harus bergeser kesamping. Memperhitungkan
serangan itu dan kemudian meloncat menghindar. Dengan cepat Jati Wulung berusaha
urrtuk memukul senjata lawannya. Tetapi ternyata lawahnya telah berhasil
menggeliat sambil memutar senjatanya sehingga Jati Wulung tidak berhasil
menjatuhkannya. Bahkan sementara itu, lawannya yang kehilangan senjatanya sempat
meloncat menerkam senjatanya yang terjatuh ditanah, kemudian dengan sigapnya
melenting berdiri.
Sejenak kemudian kedua lawan Jati Wulung itupun telah meloncat hampir bersamaan
mengambil jarak. Sementara itu, yang terluka telah berdesis menahan pedih,
karena keringatnya yang membasahi lukanya. Apalagi dari luka itu telah mengalir
darah yang ternyata semakin banyak karena gerak yang semakin cepat pula.
“Kau jangan memaksa diri,“ berkata Jati Wulung kepada orang yang sudah terluka
itu.
Nafas orang itu menjadi semakin terengah-engah. Darahnya memang menjadi semakin
banyak mengalir. Tetapi dengan garang ia masih juga berkata dengan suara yang
bergetar, “Sebentar lagi kau akan mati.”
Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam. Agaknya memang tidak ada pilihan lain
dari orang-orang itu kecuali berkelahi sampai mati apabila mereka tidak mampu
membunuh lawan-lawan mereka.
Karena itu, maka Jati Wulung ternyata masih harus mengerahkan tenaga cadangannya
untuk melawan kedua orang yang garang itu.
Ketika Jati Wulung kemudian menjadi semakin jemu dengan pertempuran itu, maka
iapun telah berniat untuk mengakhirinya saja. Apalagi orang yang terluka itu
sudah menjadi semakin lemah.
Tetapi Jati Wulung tidak memanfaatkan keadaan orang yang terluka itu. Jika ia
berniat, maka akan lebih mudah baginya untuk menghentikan perlawanannya. Tetapi
agaknya Jati Wulung mempunyai pikiran yang lain. Ia justru telah mengarahkan
sebagian besar dari serangan-serangannya kepada lawannya yang lain.
Namun ternyata bahwa serangan Jati Wulung yang datang beruntun itu tidak sempat
seluruhnya dihindarinya. Ketika ia sedang menangkis uluran pedang Jati Wulung
yang mengarah kedadanya, ternyata pedang Jati. Wulung itu mampu berputar cepat,
dan sekali lagi terjulur lurus.
Orang itu memang sempat meloncat menghindar. Tetapi ia tidak seluruhnya terlepas
dari garis serangan Jati Wulung. Ternyata bahwa ujung pedang Jati Wulung sempat
menyentuh lengannya.
Orang itu memang mengaduh. Lengannya telah koyak oleh pedang Jati Wulung.
Darahpun telah mengalir pula dari luka itu, sebagaimana darah yang mengalir dari
luka di bahu kawannya.
Sementara itu, Jati Wulung telah memberikan kesempatan kedua lawannya mengambil
jarak. Dengan nada rendah Jati Wulung masih juga menawarkan kesempatan.
Katanya, “Tinggalkan tempat ini. Jangan ganggu kami meskipun kami berada
ditempat yang kalian sangka adalah tempat kalian ini. Siapapun berhak berada
ditempat ini sepanjang ia tidak mengganggu orang lain dengan cara apapun juga.
Lebih-lebih dengan cara sebagaimana kalian lakukan.”
Ternyata kedua lawan Jati Wulung itu tidak menunggu ia selesai berbicara. Dengan
teriakan yang membelah langit, keduanya telah meloncat menyerang dengan senjata
terjulur.
“Baiklah,“ berkata Jati Wulung sambil melenting dari tempatnya. Namun ujung
senjata kedua lawannya itu bagaikan mengejarnya, sehingga sekali lagi Jati
Wulung harus berloncatan, kemudian memutar senjata untuk menangkis serangan
lawannya itu.
Tetapi kedua lawannya itu justru telah mengejarnya dengan senjata teracu.
Jati Wulung menjadi semakin marah. Namun ia masih juga berkata, “Aku masih
memberi kalian kesempatan. Kesempatan terakhir. Tinggalkan tempat ini agar aku
tidak membunuh kalian, meskipun kalian berniat membunuhku.”
Tidak ada jawaban. Tetapi kedua orang itu masih saja memburunya.
Ternyata Jati Wulung benar-benar telah kehilangan kesabarannya. Ia tidak lagi
berusaha untuk menghindari kematian dari kedua lawannya. Jati Wulung merasa
sudah cukup berusaha. Namun usahanya sia-sia.
Dengan demikian maka Jati Wulungpun telah mengerahkan kemampuannya bermain
pedang. Dengan tangkasnya, Jati Wulungpun kemudian telah memutar pedangnya,
mengayunkan mendatar, dan kemudian mematuk lurus ke arah dada lawan-lawannya.
Kedua lawannya memang terkejut melihat putaran pedang Jati Wulung yang menjadi
semakin cepat. Mereka terdorong selangkah surut. Namun keduanya telah kembali
menyerang dengan senjata yang terayun-ayun.
Tetapi Jati Wulung telah berubah pendirian. Ia tidak lagi berusaha mencegah
kematian kedua orang yang tidak mau mempergunakan kesempatan untuk menghindar
dari arena, sehingga mereka tidak harus mati karenanya. Namun keduanya masih
tetap berniat untuk membunuhnya.
Karena itu, maka Jati Wulungpun tidak lagi sekedar berloncatan mundur. Namun
sekali ia meloncat surut, kemudian dengan garangnya ia menyergap salah seorang
dari lawannya. Pedangnya terayun deras mengarah ke kepala lawannya yang telah
terluka di bahunya.
Tetapi orang itu tidak membiarkan kepalanya dibelah oleh pedang Jati Wulung.
Karena itu, maka iapun telah berusaha menghindar. Dengan tangkasnya ia bergeser
kesamping sambil memukul pedang Jati Wulung.
Pada saat yang bersamaan, maka. dari arah samping, lawannya yang telah terluka
dibahunya telah mempergunakan kesempatan itu. Dengan serta merta ia meloncat
sambil mengayunkan pedangnya menebas leher.
Namun Jati Wulung telah berjongkok dengan cepat. Demikian pedang itu menyambar
diatas kepala Jati Wulung, maka ujung pedang Jati Wulunglah yang telah terjulur.
Sambil berjongkok ternyata Jati Wulung telah menusuk lawannya yang menyerangnya
tepat diarah jantung.
Orang itu mengerang kesakitan. Jati Wulung yang kemudian tegak berdiri telah
menarik pedangnya. Sesaat orang yang dilukainya didada itu terhuyung-huyung.
Namun orang itupun kemudian telah jatuh terjerembab.
Tetapi Jati Wulung tidak sempat mengamati orang itu terlalu lama, karena
serangan yang datang bagaikan angin ribut telah melandanya. Seorang lawannya
yang lain ternyata menjadi sangat marah dan bagaikan orang gila telah
menerkamnya dengan ujung senjatanya.
Jati Wulung yang memang sudah menjadi marah itu menjadi muak melihat sikap
lawannya. Demikian kasarnya ia menyerangnya. Karena itu, maka Jati Wulung telah
bergeser menghindar. Ditangkisnya serangan itu kesamping. Demikian senjata
lawannya itu tergeser, maka pedang Jati Wulungpun telah berputar pula. Satu
tebasan mendatar telah menyerang lawannya dengan tiba-tiba.
Lawannya yang telah terluka itu berusaha untuk meloncat surut. Tetapi Jati
Wulung tidak membiarkannya. Iapun meloncat maju sambil menjulurkan pedangnya.
Demikian cepatnya, sehingga pedang itu telah mematuk dada lawannya itu pula.
Terdengar umpatan nyaring disela-sela keluhan kesakitan. Jati Wulung yang marah
itupun kemudian telah menarik pedangnya yang terhunjam didada lawannya itu.
Seperti lawannya yang lain, maka orang itupun terhuyung-huyung dan kemudian
jatuh terguling di tanah.
Sejenak Jati Wulung berdiri termangu-mangu. Dipandanginya dengan kerut di
dahinya, dalam keremangan malam, tubuh-tubuh yang terbaring diam.
“Aku terpaksa membunuh hari ini,“ desis Jati Wulung perlahan sekali sehingga
hanya dapat didengar oleh dirinya sendiri.
Ketika Jati Wulung kemudian berpaling kepada Sambi Wulung, maka iapun melihat
bagaimana Sambi Wulungpun terpaksa membunuh seorang lawannya.
Sementara itu, seorang diantara orang-orang yang mencegat perjalanan mereka dan
siap untuk membunuh itu, berusaha untuk melepaskan diri. Tetapi Puguhlah yang
telah melemparkan pedangnya dengan sekuat tenaganya yang tersisa, justru disaat
orang itu sedang memutar tubuhnya, sehingga jaraknya dari Puguh masih terlalu
dekat.
Orang itu menjerit keras-keras. Pedang Puguh telah menancap dipunggungnya. Namun
sejenak kemudian suara itupun segera lenyap dan tenggelam dalam sepinya malam.
Yang terdengar hanyalah desau angin pada dedaunan di gerumbul-gerumbul perdu.
Puguh berdiri termangu-mangu. Sambi Wulunglah yang kemudian mendekatinya sambil
bertanya, “Kenapa kau bunuh orang itu? Bukankah orang itu sudah akan
meninggalkan arena ini?”
Puguh termenung sejenak. Namun kemudian jawabnya, “Ia akan menjadi orang yang
sangat berbahaya. Ia akan dapat menyebut ciri-ciri kita kepada kawan-kawannya.
Maka merekapun akan mencari kita sampai keujung langit sekalipun.”
“Kau takut kepada mereka?“ bertanya Sambi Wulung.
Puguh memandang wajah Sambi Wulung sejenak.
Dengan nada ragu ia bertanya, “Apakah kau tidak akan merasa terganggu jika
mereka selalu mengejarmu kemana kau pergi?”
Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak akan pernah merasa
cemas apapun yang akan mereka lakukan. Tetapi aku juga tidak dapat
menyalahkanmu. Keadaanmu lain dengan keadaan kami berdua.”
Puguh mengangguk lemah. Desisnya, “Seandainya aku memiliki kemampuan sebagaimana
kau miliki, maka aku kira akupun tidak akan merasa terganggu sebagaimana kau.”
“Sudahlah,“ berkata Sambi Wulung, “sekarang bagaimana dengan tubuh-tubuh itu?”
“Kawan-kawan mereka akan mengurusnya,“ berkata Puguh.
“Kau yakin?“ bertanya Jati Wulung.
“Sebagaimana mereka berkeliaran disini,“ jawab Puguh.
Sambi Wulung dan Jati Wulungpun saling berpandangan sejenak. Merekapun kemudian
memutuskan untuk meninggalkan saja mereka. Namun demikian Jati Wulung berkata,
“Kita letakkan mereka ditempat yang mudah dapat dilihat.”
Sambi Wulungpun kemudian bersama Jati Wulung telah menempatkan tubuh-tubuh yang
mulai membeku itu dibawah sebatang pohon yang pada batangnya terdapat sebuah
topeng kecil sebagai ciri kuasa sebuah gerombolan ditempat itu.
“Marilah,“ berkata Sambi Wulung kemudian, “kita tinggalkan tempat ini.”
Jati Wulung dan Puguhpun menganguk kecil. Merekapun kemudian mulai bergerak
meninggalkan tempat itu. Mereka menyusuri jalan sempit menjauhi tempat yang
telah memaksa mereka untuk membunuh.
Dalam pada itu, bintang-bintang dilangitpun telah bergeser semakin jauh ke
Barat. Terasa semilirnya angin pagi dari arah lautan mengusap tubuh mereka yang
basah oleh keringat.
Puguh yang sebelumnya telah menjadi semakin segar, tubuhnya menjadi terasa letih
kembali. Bagaimanapun juga ia telah mengerahkan tenaga yang tersisa didalam
dirinya untuk bertempur melawan orang-orang yang benar-benar ingin membunuhnya.
Untunglah bahwa orang yang dikenalnya bernama Wanengbaya itu sempat
melindunginya.
Sambi Wulung dan Jati Wulung melihat keadaan Puguh itu. Karena itu, maka ketika
mereka melintasi sebuah parit yang berair bening, Jati Wulung berkata, “Kita
akan membersihkan diri. Mudah-mudahan air itu dapat menyegarkan tubuh kita.”
Puguh mengangguk. Namun ia adalah orang yang pertama-tama turun kedalam parit
untuk mencuci wajahnya, tangan serta kakinya.
Ternyata bahwa air yang dingin itu memang membuat tubuh-tubuh yang lelah dan
berkeringat itu menjadi segar kembali. Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguhpun
merasa seakan-akan telah mendapat kekuatan baru untuk melanjutkan perjalanan.
Ketiga orang itupun kemudian bukan saja telah mencuci wajah mereka, tetapi
merekapun telah membenahi pakaian pula. Cahaya fajar mulai nampak bercahaya
dilangit. Sebentar lagi mereka akan mulai berpapasan dengan orang-orang yang
melintasi jalan-jalan dari satu padukuhan ke padukuhan yang lain. Mungkin pergi
ke pasar, tetapi mungkin pula mereka yang pergi ke sawah.
Sebenarnyalah ketika mereka memasuki jalan yang lebih besar, maka mereka telah
berpapasan dengan beberapa orang yang membawa barang-barang dagangan. Mereka
tentu akan pergi ke pasar. Sementara orang lain telah menuntun ternaknya untuk
dijual pula.
“Kita pergi ke pasar,“ berkata Sambi Wulung.
“Untuk apa?“ bertanya Puguh.
“Apakah kau tidak merasa lapar dan haus?“ bertanya Sambi Wulung pula.
Puguh menarik nafas dalam-dalam. Namun akhirnya iapun mengangguk sambil
menjawab, “Baiklah. Kita singgah sebentar.”
Demikianlah mereka bertiga telah mengikuti arah orang-orang yang agaknya akan
pergi ke pasar. Agaknya ada sebuah pasar yang cukup ramai dipadukuhan sebelah.
Sebenarnya sebagaimana mereka duga. Ketika mereka memasuki sebuah padukuhan yang
agak besar, maka merekapun telah sampai kesebuah pasar yang cukup ramai. Bahkan
dibagian belakang dari pasar itu terdapat pula pasar ternak. Meskipun tidak
terlalu banyak, tetapi ada beberapa ekor lembu, kerbau dan kambing yang
diperjual belikan. Sedangkan disudut pasar itu terdapat pande besi meskipun
agaknya hanya seorang bersama beberapa orang pembantunya.
Ketika Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguh makan disebuah warung yang tidak
begitu besar, merekapun sempat bertanya tanpa menarik perhatian, jalan yang
menuju ke Gantar.
Dari pemilik warung itu mereka telah mendapat beberapa petunjuk, sehingga dengan
petunjuk itu, maka Puguh akan dengan cepat menemukannya.
“Tidak terlalu jauh lagi,“ desis Puguh.
Ketika mereka selesai makan, maka merekapun telah melanjutkan perjalanan. Mereka
menuju ke arah yang semakin dekat dengan jalan yang langsung menuju ke Gantar.
Jalan yang lebih besar dari jalan yang sedang mereka lalui itu.
Demikian mereka sampai kesebuah simpang tiga, maka Puguhpun menarik nafas
dalam-dalam. Ia mulai mengenali jalan yang mereka masuki. Dengan nada rendah ia
berkata, “Kita telah sampai ke arah yang benar. Jalan ini akan langsung membawa
kita ke Gantar. Jika kita meneruskan perjalanan kita semalam, maka kita memang
akan memasuki lingkungan yang berbahaya dan tidak akan langsung menuju ke
tujuan.”
“Kita sudah memasuki daerah berbahaya,“ berkata Sambi Wulung.
“Ya,“ sahut Jati Wulung, “semalam kita bukan sekedar akan memasuki daerah
berbahaya, tetapi sudah.”
Puguhpun mengangguk pula. Katanya, “Tetapi sekarang, kita sudah meninggalkan
tempat itu.”
Sambi Wulung dan Jati Wulung menangguk-angguk. Dengan nada berat Sambi Wulung
berkata, “bersukurlah bahwa kita selamat.”
Puguh tidak menjawab lagi. Tetapi iapun kemudian menengadahkan wajahnya
memandang lingkungan disekelilingnya. Kemudian dipandanginya jalan yang panjang
yang terbentang didepan kakinya. Jalan yang menuju ke Gantar.
Namun demikian justru Puguh telah dibebani kegelisahan yang belum dapat
dipecahkan. Apakah ia akan membawa kedua orang itu menuju ke padepokannya.
Meskipun wajah padepokannya telah di selimuti dengan ujud yang tidak akan
mencurigakan, namun apakah pertemuan antara kedua orang itu dengan orang tuanya
akan memberikan keuntungan. Bahkan Puguhpun berharap bahwa seandainya kedua
orang itu terpaksa di bawanya ke padepokannya disebelah Gantar, maka hendaknya
orang tuanya kebetulan tidak berada di tempat. Sehingga dengan demikian mereka
tidak akan berbicara tentang sikap masing-masing.
Tetapi Puguh tidak mengatakan kegelisahannya itu. Beberapa kali ia sudah mencoba
untuk mencegah niat kedua orang itu berkunjung ke tempat tinggalnya. Tetapi
agaknya kedua orang itu benar-benar ingin berbicara tentang dirinya dengan orag
tuanya. Sementara itu Puguhpun tahu pasti bahwa hal seperti itu tidak akan
menyenangkan hati orang tuanya itu.
Demikianlah, maka mereka bertiga berjalan menyusuri jalan yang sudah terpelihara
lebih baik dari jalan-jalan yang pernah dilaluinya sebelumnya.
Padukuhan-padukuhan disebelah menyebelah jalan itupun nampaknya lebih baik dan
terpelihara pula. Meskipun padukuhan-padukuhan itu bukan padukuhan yang kaya,
tetapi nampaknya ada usaha dari para penghuninya untuk berbuat sesuatu yang
lebih baik bagi padukuhannya itu.
Dalam perjalanan itu Sambi Wulung sempat bertanya kepada Puguh, “Apakah
padukuhan-padukuhan ini tidak pernah mendapat gangguan dari orang-orang yang
merasa dirinya berkuasa di daerah tertentu yang semalam kita lalui?”
Puguh mengerutkan keningnya. Katanya, “Aku tidak tahu pasti. Tetapi biasanya
orang-orang yang terjebak dalam kehidupan yang gelap seperti orang-orang yang
semalam kita jumpai itu justru tidak akan banyak menimbulkan kesulitan disekitar
lingkungannya. Mereka akan mencari korban ditempat yang agak jauh. Tetapi bahwa
kehadiran mereka menimbulkan ketakutan pada orang-orang yang tinggal
disekitarnya itu memang mungkin sekali.”
“Dan orang-orang disekitarnya tidak pernah mengambil tindakan apa-apa,“ sahut
Jati Wulung.
Puguh mengerutkan keningnya. Katanya, “Apa yang dapat dilakukan oleh orang-orang
yang ada disekitar tempat ini terhadap mereka? Sepedukuhanpun tidak dapat
menangkap dua orang saja diantara orang-orang yang semalam kita jumpai.”
Jati Wulung mengangguk-angguk. Iapun sadar, bahwa Pajang tidak akan dapat setiap
saat mengawasi tempat-tempat yang memang letaknya tidak terlalu dekat itu.
Apalagi pada saat-saat Pajang menghadapi persoalan.
Demikianlah mereka bertiga berjalan terus. Matahari-pun semakin tinggi
bertengger dilangit. Cahayanya mulai terasa mencubit-kulit.
Namun dalam pada itu, pagi terasa menjadi semakin segar. Embun yang bergantungan
diujung dedaunan telah mulai menghindari panasnya matahari.
Perjalanan selanjutnya adalah perjalanan yang tidak menjumpai kesulitan apapun.
Jalan yang mereka lalui ternyata cukup ramai. Mereka banyak berpapasan dengan
orang-orang yang pulang dan pergi ke pasar. Juga orang-orang yang turun kesawah.
“Kita sudah mendekati daerah yang berada dalam wilayah Gantar,“ berkata Puguh,
“satu lingkungan yang termasuk ramai ditempat ini. Dari Gantar terdapat beberapa
simpangan menuju kebeberapa arah. Dengan demikian maka Gantar termasuk daerah
persinggahan para pedagang. Karena itu, maka Gantar termasuk satu diantara
Kademangan yang cukup besar.”
Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun hampir diluar sadarnya
Jati Wulung bertanya, “Apakah daerah ini bukan merupakan daerah rawan? Apakah
orang-orang dari daerah yang ditandai dengan topeng kecil dengan ujud yang
menakutkan itu tidak sering berkeliaran didaerah ini? Seandainya mereka sering
mengganggu daerah ini, maka sudah barang tentu daerah Gantar tidak akan
berkembang maju untuk selanjutnya, bahkan mungkin akan menjadi surut.”
Pertanyaan yang terlontar begitu saja itu ternyata merupakan pertanyaan yang
sangat sulit untuk dijawab oleh Puguh. Untuk beberapa saat ia merenung. Namun
akhirnya ia berkata, “Aku tidak tahu apakah gangguan itu ada atau tidak. Tetapi
yang aku ketahui, Gantar merupakan daerah yang justru berkembang semakin maju.”
Jati Wulung mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lebih jauh. Agaknya Jati
Wulung mengerti, bahwa pertanyaan-pertanyaan lebih banyak lagi, akan membuat
Puguh semakin bingung.
Namun yang dikatakan oleh Jati Wulung adalah, “Kita dapat membeli makan dan
minum lebih baik di Gantar daripada dipasar itu.”
“Apakah kau sudah menjadi lapar lagi?“ bertanya Sambi Wulung. Lalu katanya,
“rasa-rasanya nasi itu belum turun sampai keperut.”
Jati Wulung tertawa. Katanya, “Kita akan melihat-lihat keadaan lebih dahulu.”
Sambi Wulung tersenyum pula sambil berkata, “Baiklah. Kita akan melihat suasana
di Gantar nanti.”
Puguh tidak mengatakan sesuatu. Ia memang sedang sibuk merenungi apakah yang
sebaiknya dilakukannya. Tetapi agaknya ia tidak akan dapat mengelak untuk
membawa orang itu sampai ke tempat tinggalnya.
Untuk beberapa saat lamanya ketiganya berjalan sambil berdiam diri. Mereka
memperhatikan keadaan sebelah-menyebelah jalan. Halaman dan rumah-rumah yang
nampaknya memang dipelihara secukupnya.
Beberapa saat lagi mereka telah sampai kesebuah padukuhan kecil. Dimulut jalan
terdapat sebuah gapura yang dibuat dengan baik. Gapura yang terlalu besar untuk
sebuah padukuhan kecil.
“Gapura itu adalah gapura Kademangan Gantar,“ berkata Puguh.
Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Ternyata mereka benar-benar
sudah memasuki daerah Gantar. Dengan nada rendah Sambi Wulung berkata,
“perjalananmu akhirnya akan berakhir juga. Agaknya kau akan selamat sampai
kerumahmu meskipun bukan berarti pada jarak yang pendek ini tidak akan dapat
terjadi sesuatu.”
Puguh mengangguk-angguk. Katanya, “Nampaknya sudah tidak akan terjadi sesuatu
jika kita sudah berada di sini. Daerah ini bukan daerah yang ganas.”
“Meskipun tidak terlalu jauh dari tempat ini terdapat tempat yang mengerikan
itu,“ sahut Jati Wulung.
“Ya,“ jawab Puguh, “seperti aku katakan, agaknya mereka tidak akan mengganggu
tetangganya sendiri.”
Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Agaknya apa yang dikatakan oleh
Puguh itu benar. Ketika kemudian mereka memasuki Kademangan Gantar, maka
rasa-rasanya lingkungan itu bukannya lingkungan yang gelisah sebagaimana juga
beberapa padukuhan yang mereka lalui sebelumnya.
Ternyata ketiga orang itu tidak menarik perhatian orang-orang Gantar. Puguh
sendiri nampaknya juga tidak dikenal oleh orang Gantar, karena tidak seorangpun
yang berpapasan di jalan-jalan menegurnya. Kadang-kadang seseorang memang
memperhatikan mereka. Tetapi hanya sekilas sebagaimana orang itu memperhatikan
orang-orang lewat yang lain.
“Apakah kau tidak sering memasuki Kademangan ini? “ tiba-tiba saja Jati Wulung
bertanya.
“Kenapa? “ Puguhlah yang ganti bertanya.
“Kau tidak mengenal orang-orang Gantar?“ bertanya Jati Wulung.
Puguh menggeleng. Katanya, “Aku jarang sekali berada di Gantar. Sekali-sekali
aku pergi ke Gantar untuk membeli barang-barang yang kami perlukan. Kemudian
kami segera kembali lagi.”
Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Agaknya Puguh memang
jarang-jarang meninggalkan tempat tinggalnya. Jika ia keluar dari lingkungannya
adalah justru pergi ke Song Lawa untuk berjudi.
Untuk beberapa saat lamanya Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak bertanya sesuatu.
Mereka berjalan menyusuri jalan-jalan padukuhan. Namun kemudian mereka sampai
pula ketengah-tengah bulak panjang. Sawah dan ladang yang terbentang antara
padukuhan yang satu dengan padukuhan yang lain, nampak hijau segar, sehingga
memberikan kesan, betapa suburnya tanah di Gantar itu.
Beberapa padukuhan telah mereka lewati. Akhirnya mereka memasuki padukuhan yang
lebih besar dari padukuhan-padukuhan yang lain. Dari seberang bulak nampak
padukuhan itu memanjang di atas cakrawala. Sementara bulak dihadapan mereka yang
luas bagaikan lautan yang kekuning-kuningan oleh padi yang hampir masak merunduk
diujung tangkainya.
“Kita menuju ke padukuhan induk Kademangan Gantar,“ berkata Puguh.
“O,“ Sambi Wulung menyahut, “apakah kita masih harus berjalan jauh untuk sampai
ketempat tinggal mu?”
Kita akan keluar dari Gantar diseberang padukuhan induk. Kita akan mengambil
jalan ke Utara. Beberapa saat setelah kita keluar dari Kademangan ini, maka kita
akan memasuki jalan yang lebih kecil yang menuju ke tempat tinggalku. Sebuah
padepokan yang tidak berarti apa-apa bagi orang lain.”
“Tentu padepokan yang kaya,“ tiba-tiba saja Jati Wulung memotong.
“Kenapa kau dapat menebak bahwa padepokanku adalah padepokan yang kaya?“
bertanya Puguh.
“Jika tidak, maka kau tidak akan setiap kali berada di Song Lawa,“ jawab Jati
Wulung.
Puguh memang menjadi semakin gelisah. Namun ia-pun kemudian menjawab, “tidak.
Padepokanku bukan padepokan yang kaya.”
Jati Wulung mengerutkan keningnya. Tetapi ia telah menahan diri untuk tidak
mendesak, agar Puguh tidak menjadi semakin bingung.
Namun Sambi Wulunglah yang kemudian berbicara seperti ditujukan kepada diri
sendiri, “Gantar memang sebuah lingkungan yang sangat subur.”
“Ya,“ desis Puguh, “sementara itu orang-orangnya juga orang-orang yang rajin
bekerja.”
Sambil melihat-lihat keadaan, maka mereka bertigapun kemudian telah melintasi
bulak panjang yang kuning memasuki padukuhan induk Kademangan Ganjar. Seperti
yang sudah mereka duga, bahwa di padukuhan itu suasananya cukup ramai. Ada
beberapa warung yang terdapat dipusat padukuhan, berjajar di simpang empattNamun
mereka bertiga masih belum menjumpai pasar.
Karena itu, maka Jati Wulungpun bertanya, “Apakah di padukuhan induk ini tidak
ada pasar?”
“Ada,“ jawab Puguh, “Tetapi memang agak ke pinggir.”
“Apakah kita juga akan melewati pasar itu?“ bertanya Jati Wulung.
“Ya,“ suara Puguh merendah, “tetapi kita dapat mengambil jalan lain yang tidak
melewati pasar itu.”
“Aku justru ingin melewati pasar itu,“ berkata Jati Wulung.
“Jika kau lapar, maka disini ada beberapa warung. Tidak hanya warung makan,
tetapi juga warung yang menjual kebutuhan-kebutuhan lain,“ berkata Puguh.
Jati Wulung tertawa. Katanya, “Tidak. Aku tidak akan membeli makanan di sini.
Aku akan pergi ke pasar. Mungkin ada yang menjual dawet legen.”
Sambi Wulung hanya tersenyum saja.
Namun keduanya melihat bahwa Puguh agaknya tidak tertarik dengan percakapan itu.
Wajahnya masih saja diliputi oleh suasana yang muram. Agaknya ia masih agak
ragu-ragu untuk mengambil keputusan, apakah ia akan membawa kedua orang yang
pernah menolongnya itu ke tempat tinggalnya, yang sebenarnya sejauh mungkin
dipisahkan dari pengenalan orang lain.
Tetapi agaknya Puguh tidak dapat berbuat demikian. Ia merasa sudah terlalu
banyak berhutang budi kepada keduanya.
Tetapi sekali-sekali terbesit pula pertanyaan didalam hatinya, “Kenapa aku harus
menghiraukan pertolongan yang telah diberikan oleh kedua orang itu? Aku tidak
pernah memintanya, sehingga aku tidak perlu mempedulikannya.”
Namun ternyata ia tidak dapat mengelakkan diri dari tuntutan nuraninya untuk
menyatakan terima kasih kepada kedua orang itu, meskipun itu merupakan satu
sikap yang baru didalam hatinya, bahkan ia harus menyatakan terima kasih kepada
orang lain.
Dalam pada itu, mereka bertiga telah berbelok untuk dapat lewat disebelah pasar
sebagaimana dikehendaki oleh Jati Wulung.
Sebenarnyalah ketika mereka melewati jalan disebelah pasar yang cukup ramai,
maka Jati Wulung telah tergoda untuk singgah kedalamnya. Apalagi ketika
dilihatnya sebuah pikulan yang khusus dari seorang penjual dawet legen
sebagaimana yang sangat digemarinya.
Namun yang tidak diketahui oleh Jati Wulung dan Sambi Wulung adalah dua pasang
mata yang selalu mengawasinya.
Ketika kemudian Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguh duduk di sebuah lincak kecil
didepan penjual dawet, maka dua orang telah mengamatinya dari kejauhan.
“Siapakah yang datang bersama Puguh itu?“ bertanya salah seorang diantara
mereka.
Kawannya menggeleng. Tetapi ia berdesis, “Kemana para pengawalnya?”
“Tentu telah terjadi sesuatu,“ berkata orang yang pertama.
“Tetapi nampaknya mereka tenang-tenang saja minum dawet tanpa menunjukkan
kegelisahan atau sesuatu yang pantas dicurigai,“ sahut kawannya.
Orang yang pertama mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu.
Untuk beberapa lama keduanya menunggui ketiga orang yang masih saja duduk
dilincak kecil itu. Agaknya mereka memang sedang beristarahat. Ketiganya sempat
memperhatikan kesibukan beberapa orang yang berjualan di pasar itu. Sementara
Jati Wulung tiba-tiba saja berdesis, “Nasi megana.”
Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kemudian ia bertanya, “Apakah kau
akan membelinya?”
Jati Wulung termangu-mangu. Namun kemudian iapun berpaling kepada Puguh sambil
bertanya, “Kapan kita kira-kira akan sampai ke tempat tinggalmu?”
Puguh termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia menengadahkan wajahnya kelangit.
Matahari sudah terlalu tinggi. Karena itu, maka katanya, “Jika kita berjalan
selambat perjalanan kita sampai saat ini, maka sore hari kita baru akan sampai.”
“Sore hari? Bukankah kita sekarang sudah berada di Gantar?“ bertanya Sambi
Wulung.
“Jalan yang kemudian akan kita lalui bukan jalan selebar dan serata jalan yang
baru saja kita lalui. Tetapi jalan akan menjadi sempit dan rumpil. Naik dan
turun, bahkan kita akan menyusuri jalan dipinggir hutan,“ jawab Puguh.
Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Mereka memang sudah mengira
bahwa tempat tinggal Puguh tidak akan dapat mereka capai dengan mudah
sebagaimana mereka mencapai Kademangan Gantar itu sendiri. Bahkan jalan ke
tempat tinggal Puguh tentu akan sesulit dan serumpil jalan menuju ke Song Lawa.
Dalam pada itus maka Jati Wulungpun kemudian berkata, “Aku akan membeli nasi
megana. Jika kita baru sampai ke tempat tinggal Puguh menjelang sore hari, maka
kita akan memerlukan makan siang di perjalanan.”
Sambi Wulung tertawa. Tetapi ia tidak menahan ketika Jati Wulung kemudian
berdiri dan melangkah mendekati seorang perempuan yang menjual nasi megana.
Namun ketajaman matanya, tiba-tiba saja telah menangkap dua orang yang sedang
mengawasinya. Keduanya justru bergeser ketika mereka melihat Jati Wulung bangkit
dan melangkah mendekati penjual nasi megana, justru searah dengan arah kedua
orang itu berdiri.
Tetapi Jati Wulung tidak dengan serta merta mengambil langkah. Ia bahkan
berpura-pura tidak melihat sesuatu. Karena itu, maka iapun telah langsung menuju
ketempat seorang perempuan penjual nasi megana. Tetapi karena sudah terlalu
siang, maka nasi yang dijualnya itu telah hampir habis.
Meskipun demikian Jati Wulung masih dapat membeli tiga bungkus nasi megana yang
akan dibawanya sebagai bekal di perjalanan.
“Apakah nasi megana ini dapat bertahan sampai sore?“ bertanya Jati Wulung.
Perempuan penjual nasi itu termangu-mangu. Namun kemudian ia menggeleng.
Katanya, “Tidak. Sebaiknya jangan terlalu sore.”
Jati Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Terimakasih.”
Ketika Jati Wulung kemudian membayar harga nasi megana itu, ia masih sempat
sekilas memandang ke arah kedua orang laki-laki yang dianggapnya mengamatinya
itu. Ternyata ia masih melihat kedua laki-laki itu meskipun berusaha bergeser
dua tiga langkah dari tempatnya. Bahkan Jati Wulungpun kemudian telah melangkah
lebih dekat lagi ketika ia mendekati seorang penjual semangka.
Jati Wulung membeli semangka itu meskipun tidak direncanakannya. Justru satu
kesempatan baginya untuk lebih memperhatikan orang itu yang ternyata tidak
menaruh curiga kepadanya. Kedua orang itu masih saja menganggap Jati Wulung
tidak mengetahuinya bahwa keduanya sedang memperhatikannya.
Ketika kemudian Jati Wulung kembali kepada Sambi Wulung dan Puguh, iapun tidak
segera mengatakannya.
“Kau membeli apa saja?“ bertanya Sambi Wulung.
“Jika kita akan menempuh perjalanan panjang yang rumpil, maka kita akan
memerlukan bekal,“ jawab Jati Wulung, “nah, aku telah membelinya. Kalianlah yang
membawanya.”
“Aku tidak akan kelaparan,“ jawab Sambi Wulung.
Jati Wulung mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian tertawa.
Sejenak kemudian, maka merekapun telah meninggalkan lincak penjual dawet legen
itu, setelah membayar harga dawet yang telah mereka minum. Perlahan-lahan mereka
keluar dari pasar. Namun sebelum mereka melewati gerbang pasar itu, Jati Wulung
sempat berbisik ditelinga Sambi Wulung tanpa didengar oleh Puguh, “Dua orang
mengawasi kita.”
Sambi Wulung mengangguk kecil. Tetapi ia tidak menjawab.
Demikianlah merekapun kemudian menempuh perjalanan menuju ketempat tinggal Puguh
yang memang disebutnya sebagai sebuah padepokan.
Dipaling depan Puguh berjalan sambil membawa semangka yang besar. Kemudian Sambi
Wulung dan Jati Wulung yang membawa tiga bungkus nasi megana.
Mereka meninggalkan jalan induk di Kademangan setelah mereka keluar dari
padukuhan induk Kademangan Gantar. Jalan yang mereka lalui bukan lagi jalan
seluas jalan yang baru saja mereka lewati. Ditengah-tengah bulak yang panjang,
mereka berbelok memasuki jalan yang lebih kecil.
Sebenarnyalah seperti yang dikatakan Puguh, maka jalan yang mereka lalui
selanjutnya memangu menjadi semakin kecil dan bahkan licin.
“He,“ berkata Jati Wulung yang kemudian melihat agak jauh dibelakangnya dua
orang yang berjalan mengikutinya. Dua orang yang agaknya telah dilihatnya di
pasar. “Nasi itu sebaiknya kita makan lebih dahulu. Lihat, kita sudah berjalan
sampai lewat tengah hari. Apalagi penjual nasi itu berpesan, agar kita tidak
membiarkan sampai sore, karena nasi itu tidak akan dapat dimakan lagi.”
Sambi Wulung yang mendapat isyarat dari Jati Wulungpun melihat pula kedua orang
yang berjalan agak jauh dibelakang mereka. Meskipun keduanya mungkin orang yang
yang akan pergi kesawah, atau orang lain yang kebetulan juga lewat dijalan itu
menuju ke padukuhan kecil diseberang bulak, tetapi karena Jati Wulung telah
melihatnya di pasar, maka iapun menjadi semakin curiga.
Karena itulah maka Sambi Wulung tidak menolak ketika Jati Wulung mengajak mereka
berhenti.
Puguh yang berada didepan beberapa langkah dari keduanya telah berbalik pula.
Tiba-tiba iapun melihat kedua orang yang mengikutinya. Wajahnyapun menjadi
tegang dan dahinya berkerut dalam-dalam. Tetapi iapun segera berusaha untuk
menghilangkan kesan itu dari wajahnya.
“Marilah,“ ajak Jati Wulung, “kita berhenti sebentar. Apa salahnya kita makan
dipinggir jalan kecil yang tidak banyak dilalui orang ini. Orang-orang yang ada
disawahpun makan dialam terbuka. Jarang sekali mereka makan di gubug, karena
tidak semua kotak-kotak sawah mempunyai gubug yang memadai.”
Puguh termangu-mangu sejenak. Namun ia memang tidak dapat menolak. Nampaknya
Sambi Wulungpun ingin segera makan nasi megana yang dibelinya di pasar.
Akhirnya mereka bertigapun telah berhenti dibawah sebatang pohon yang tidak
terlalu besar. Merekapun telah mengambil masing-masing satu bungkus nasi megana.
Sementara Sambi Wulung dan Jati Wulung menunggu kedua orang yang mengikutinya
itu lewat.
Puguh memang ikut pula duduk diantara mereka betapapun jantungnya bergetar
semakin cepat. Namun Puguh itupun kemudian menarik nafas panjang ketika kedua
orang itu ternyata cepat pula mengatasi keadaan. Keduanya tidak berjalan terus
sampai melewati ketiga orang yang berhenti itu, dan barangkali menemui
kesulitan. Tetapi keduanya telah meloncati parit dan kemudian berjalan
menelusuri pematang.
Jati Wulung dan Sambi Wulung menjadi kecewa bahwa kedua orang itu telah
berbelok. Sebenarnya Jati Wulung ingin menangkap keduanya dan memaksa mereka
berbicara, untuk apa mereka mengikuti Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguh.
Tetapi Jati Wulung tidak berkata apa-apa kecuali bergeramang didalam hati.
Namun sejenak kemudian, Jati Wulungpun telah dengan nikmatnya menyuapi mulutnya.
Nasi megana adalah jenis nasi yang sangat di gemarinya sebagaimana dawet legen.
Sambi Wulung yang sebenarnya masih belum lapar itu, terpaksa makan juga meskipun
nampaknya tidak senikmat Jati Wulung. Demikian pula Puguh. Sehingga karena itu,
maka Puguh ternyata tidak dapat menghabiskan nasi sebungkus.
“He, kenapa tidak kau habiskan?“ bertanya Jati Wulung.
“Aku masih kenyang,“ jawab Puguh.
“Kita akan berjalan sampai sore. Jangan biarkan kita kelaparan diperjalanan.
Makanlah sampai habis agar kita mempunyai tenaga cukup untuk berjalan sampai
sore hari.“
“Seandainya kita tidak makan sekalipun aku akan dapat berjalan sampai sore,“
jawab Puguh.
Jati Wulung mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian tersenyum sambil
berkata, “Agaknya hanya aku sajalah yang selalu kelaparan.”
Puguh tidak menyahut lagi. Tetapi ia benar-benar tidak dapat menghabiskan nasi
megana itu.
Beberapa saat ketiga orang itupun beristirahat. Bahkan Sambi Wulung sempat
mencuci kakinya diparit yang mengalirkan air yang jernih dipinggir jalan yang
semakin sempit itu.
Setelah beristirahat beberapa saat, maka Jati Wulung-pun kemudian berdiri sambil
menggeliat. Ternyata ia sudah tidak melihat seseorang lagi disekitar mereka.
Bahkan orang-orang yang pergi kesawahpun tidak dilihatnya. Agaknya sawah yang
tanamannya sudah tumbuh subur itu, tidak terlalu banyak memerlukan perawatan
lagi. Hanya di saat-saat tertentu saja para petani turun untuk mengairi sawahnya
itu.
“Apakah kita sudah cukup beristirahat?“ bertanya Jati Wulung kemudian.
“Kaulah yang ingin beristirahat,“ jawab Sambi Wulung.
Jati Wulung tertawa pendek. Tetapi ia masih juga bertanya kepada Puguh,
“Bagaimana dengan kau?”
Puguh memandang Sambi Wulung sekilas. Jawabnya kemudian, “Marilah.”
“Kita akan membuka semangka itu nanti saja, jika kita sudah merasa sangat haus,“
berkata Jati Wulung.
Puguh mengangguk. Ia sependapat, bahwa dalam keadaan yang haus oleh terik
panasnya matahari, maka semangka akan menjadi sangat segar bagi mereka.
Demikianlah, maka sejenak kemudian ketiga orang itupun telah meneruskan
perjalanan. Mereka melewati jalan-jalan yang semakin sempit. Bahkan kemudian
menjadi jalan setapak yang agaknya hanya dilalui oleh orang-orang yang akan
pergi ke sawah dari padukuhan kecil yang nampak dihadapan mereka.
Beberapa saat kemudian, mereka memang memasuki padukuhan kecil itu. Padukuhan
yang nampaknya memang agak miskin. Tetapi jalan dipadukuhan itu menjadi agak
lebih lebar dari sebelumnya.
Ketika mereka kemudian berjalan di jalan padukuhan itu, ternyata beberapa orang
penghuni padukuhan itu memandangi mereka dengan wajah-wajah yang berkerut.
Tetapi tidak seorangpun yang menyapa dan bertanya kepada mereka bertiga.
“Orang-orang padukuhan ini agaknya memang pemalu,“ berkata Puguh, “mereka tidak
banyak bergaul dengan orang-orang dari padukuhan lain. Mereka merasa terlalu
miskin untuk berada didalam lingkungan yang lebih luas dari lingkungan mereka
sendiri.”
Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Tetapi padukuhan itu memang
sepi. Bahkan tidak ada sebuah warungpun yang terdapat dipinggir jalan induk
padukuhan itu.
Ketika kemudian mereka keluar dari padukuhan itu, Sambi Wulungpun bertanya, “Apa
masih ada padukuhan yang terdapat di sebelah padukuhan ini?”
“Masih,“ jawab Puguh, “tetapi padukuhan-padukuhan kecil. Diujung jalan ini
terdapat sebuah hutan yang lebat. Kita akan berjalan menyusuri tepi hutan itu,
kemudian menerobos sebuah hutan perdu sebelum sampai ketempat tinggalku.”
“Sebuah padepokan yang terpisah dari pergaulan?“ bertanya Jati Wulung.
“Kami tidak berniat untuk memisahkan diri. Tetapi kami tidak ingin terganggu
oleh kesibukan kehidupan wajar, karena kami mempunyai cara hidup tersendiri,“
jawab Puguh. Agaknya anak itu merasa tidak akan dapat menyembunyikan diri lagi,
bahkan juga tentang kehidupannya dan lingkungannya.
Sambi WuJung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun apa yang dikatakan oleh
Puguh itu merupakan isyarat baginya untuk lebih berhati-hati.
Demikianlah, setelah melalui padukuhan-padukuhan kecil yang hampir tidak ada
perbedaannya yang satu dengan yang lain, maka merekapun memasuki daerah yang
nampaknya menjadi semakin gersang. Mereka tidak lagi menjumpai parit-parit yang
mengalir serta kotak-kotak sawah. Yang ada kemudian adalah padang perdu yang
ditumbuhi ilalang dan pohon-pohon perdu disana-sini. Sementara itu, matahari
yang telah turun ke Barat menyengat kulit panas sekali.
“Agaknya tanah ini tidak begitu subur,“ desis Jati Wulung.
“Aku kira tidak,“ sahut Sambi Wulung, “bukan tanahnya yang tidak subur. Tetapi
karena daerah ini tidak digarap dan tidak dijangkau oleh parit-parit, maka
daerah ini nampaknya menjadi gersang. Tetapi sebagaimana kau lihat, dihadapan
kita adalah hutan yang lebat.”
Jati Wulung mengangguk-angguk. Sementara itu Puguh berkata, “Ya. Tanah ini
bukannya tanah yang gersang. Disebelah adalah tanah yang digarap oleh
orang-orang dari padepokanku. Setelah kita menyusuri jalan di pinggir hutan itu,
maka kita akan menjauhi hutan lagi, memasuki tanah garapan setelah melintasi
padang perdu pula seperti ini.”
“Kenapa kalian tidak membuat jalan yang langsung menuju kepadepokan kalian?“
bertanya Jati Wulung.
“Jalan yang sulit akan menjadi saringan. Semakin sulit semakin sedikit orang
yang akan mencapai padepokan kami,“ jawab Puguh,
“Sebaiknya kalian tidak memisahkan diri dari kehidupan,“ berkata Sambi Wulung,
“bagaimanapun juga, manusia adalah mahluk yang saling berhubungan, Saling
memerlukan dan saling mengisi dalam kehidupannya.”
“Kami tidak memisahkan diri,“ berkata Puguh, “kami hanya ingin tidak terganggu
oleh cara hidup yang lain daripada cara yang telah kami pilih. Didalam padepokan
kamipun terdapat sekelompok orang yang hidup saling berhubungan, saling
memerlukan dan saling mengisi didalam kehidupan kami, sesuai dengan cara yang
telah kami pilih.”
Sambi Wulung mengangguk-angguk. Puguh yang sangat muda itu agaknya memang telah
mendapat bekal yang cukup dari lingkungannya sehingga ia telah dapat meyakini
bahwa lingkungannya memiliki satu cara hidup tersendiri.”
Dalam pada itu, maka merekapun telah berjalan semakin dekat dengan hutan yang
nampaknya masih sangat garang dihadapan mereka. Pepohonan raksasa sudah nampak
menyembul diantara pohon-pohon tumbuh pepat seakan-akan tanpa jarak.
“He, apakah kita akan membawa semangka itu sampai ke padepokanmu?“ bertanya Jati
Wulung kepada Puguh.
Puguh tersenyum. Katanya, “Kita dapat berhenti sebentar dibawah pohon perdu ini.
Kita pecahkan semangka ini. Agaknya memang akan terasa segar sekali.”
Ketiga orang itupun kemudian telah duduk dibawah pohon perdu. Tanpa pisau, maka
semangka itupun dipecah. Mereka tidak dapat mempergunakan pedang mereka yang
sudah pernah dibasahi oleh darah.
Sebenarnyalah perasaan haus dileher mereka, telah hilang oleh segarnya semangka
yang besar dan manis itu.
Namun dalam pada itu, selagi mereka duduk dibawah pohon perdu itu, maka empat
orang yang tiba-tiba saja muncul dari arah hutan telah mendekati mereka. Empat
orang yang nampak keras dan garang.
“Siapakah kalian he? “ terdengar seorang diantara mereka menyapa dengan suara
serak.
Namun tiba-tiba keempat orang itupun bergeser surut ketika mereka melihat
seorang anak muda ada diantara mereka.
“Kau anak muda,“ desis salah seorang diantara keempat orang itu.
Puguhlah yang kemudian berdiri. Dihampirinya empat orang itu. Kemudian katanya,
“Mereka adalah tamu-tamuku.”
“Kami baru tahu sekarang anak muda,“ jawab salah seorang diantara mereka.
“Tinggalkan kami. Kami akan menyelesaikan kerja kami,“ berkata Puguh kemudian.
Keempat orang itu termangu-mangu. Namun kemudian salah seoarang diantara mereka
bertanya, “Kenapa kau sendiri. Dimana para pengawalmu itu anak muda?”
“Biarlah aku sendiri yang mengatakan kepada paman,“ sahut Puguh.
Keempat orang itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi mereka memang tidak berani
mendesaknya. Namun ketika terlihat luka ditubuh Puguh, maka seorang diantara
mereka bertanya, “Kau teriuka lagi?”
“Tidak apa-apa,“ jawab Puguh. Lalu katanya, “pergilah. Siapkan padepokan itu.
Aku akan menerima kedua orang tamuku.”
Keempat orang itu tidak berkata lebih lanjut. Merekapun kemudian telah
meninggalkan Puguh yang kembali mendapatkan Sambi Wulung dan Jati Wulung yang
masih sibuk makan semangka tanpa menghiraukan pembicaraan antara keempat orang
itu dengan Puguh. Bahkan Puguh-pun kemudian telah ikut menghabiskan sisa
semangka yang besar itu.
Baru beberapa saat kemudian, maka ketiga orang itu sudah merasa cukup
beristirahat dan menghilangkan haus. Merekapun kemudian telah bangkit dan
melanjutkan perjalanan.
Namun, demikian mereka mulai bergerak, maka Sambi Wulungpun kemudian bertanya,
“Siapakah keempat orang yang datang itu?”
“Orang-orang padepokan,“ jawab Puguh.
Sambi Wulung mengangguk-angguk, sementara Jati Wulungpun bertanya, “Nampaknya
mereka begitu garangnya. Apakah mereka selalu meronda disekitar padepokan?”
“Ya,“ jawab Puguh, “terutama sepanjang garis perjalanan dari Gantar. Hanya
orang-orang yang tidak dicurigai yang diijinkan memasuki padepokan Gantar.”
Namun tiba-tiba telah timbul pertanyaan yang membuat jantung Puguh berdebaran.
Hampir diluar sadarnya Jati Wulung bertanya, “Apakah yang terjadi jika
orang-orang padepokanmu itu bertemu dengan orang-orang yang merasa dirinya
berkuasa dan meletakkan tanda-tanda di daerah kuasanya itu? Sebagaimana kita
lihat, sebuah topeng yang ujudnya menakutkan itu?”
Wajah Puguh nampak menjadi tegang sesaat. Namun kemudian katanya,“ jarak dari
padepokanku ketempat yang diberi tanda-tanda itu cukup jauh, sehingga
orang-orangku tidak akan bertemu dengan mereka.”
“Tetapi siapa tahu, bahwa orang-orang itu akhirnya akan memperluas kuasanya,“
desis Jati Wulung.
Ternyata bahwa Puguh menjawab dengan cerdik, “Jika memang terjadi demikian, maka
biarlah kita tanggapi kemudian.”
Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak bertanya lagi.
Sementara itu, mereka bertiga telah berjalan semakin dekat dengan hutan yang
masih nampak sangat lebat itu. Dipinggir hutan itu memang terdapat jalan setapak
yang lembab. Yang agaknya merupakan satu-satunya jalan menuju ke padepokan yang
terpencil itu.
“Dimana orang-orangmu tadi?“ bertanya Jati Wulung kemudian.
Puguh mengerutkan keningnya. Iapun kemudian menjawab, “pergi. Agaknya mereka
akan mendahului kembali ke padepokan untuk menyiapkan tempat bagi kalian.”
“Kami bukan tamu-tamu yang sangat terhormat. Kami hanya sekedar ingin singgah,“
berkata Jati Wulung kemudian.
Puguh menarik nafas dalam-dalam. Namun ia berharap bahwa dengan demikian, maka
orang-orang yang merasa tidak perlu bertemu dengan tamu-tamunya akan menyingkir.
Sejenak kemudian, maka merekapun telah berjalan menyusuri jalan setapak
dipinggir hutan. Daun-daun yang rapat telah menaungi mereka dari terik matahari
sehingga rasa-rasanya mereka tengah berjalan di tempat yang sejuk. Apalagi jika
mereka memandangi cahaya matahari yang bagaikan bergetar diatas batang-batang
ilalang.
Dalam pada itu, Puguhpun berkata, “Hutan ini masih terlalu liar. Masih banyak
sekali binatang-binatang buas berkeliaran.”
“Apakah hutan ini tidak berbahaya bagi orang-orang dipadepokanmu yang keluar
masuk lingkunganmu. Mungkin kalian memerlukan sesuatu yang harus kalian beli
dari orang-orang padukuhan atau kalian harus keluar dari padepokan untuk pergi
ke pasar,“ bertanya Sambi Wulung.
“Binatang buas bukan hantu bagi kami. Kami kadang-kadang justru masuk kedalam
hutan itu untuk mencari binatang buas. Kulitnya akan dapat ditukarkan dengan
barang-barang keperluan kami sehari-hari. Beberapa orang pedagang yang hilir
mudik didaerah Gantar dan sekitarnya akan bersedia membelinya,“ jawab Puguh.
“Kulit harimau misalnya?“ desis Jati Wulung,
“Segala jenis harimau,“ jawab Puguh, “harimau loreng, harimau tutul, harimau
kumbang yang berkulit hitam lekam dan jenis-jenis yang lebih kecil sekalipun.”
Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Mereka dapat membayangkan bahwa
isi padepokan itu tentu orang-orang yang perkasa. Mereka adalah juga
pemburu-pemburu yang berani dan tangguh.”
Karena itu maka Sambi Wulung dan Jati Wulung menganggap bahwa dunia Puguh lebih
menguntungkan dari dunia Risang dibidang penempaan diri. Namun di segi lain dari
kehidupan, beruntunglah Risang bahwa ia tidak terperosok dalam pergaulan
sebagaimana Puguh.
Beberapa saat mereka menelusuri hutan itu, maka merekapun segera melihat betapa
seramnya isi hutan itu. Langkah nerekapun kemudian tertegun ketika Puguh yang
berjalan dipaling depan memberikan isyarat agar mereka berhenti.
“Apa?“ bertanya Sambi Wulung dengan serta merta, Puguh tidak menjawab. Namun
mereka bertigapun segera melihat seekor ular yang besar dan panjang yang
menyusuri ilalang memasuki hutan yang lembab.
“Ular itu kepanasan,“ berkata Puguh, “agaknya ia mencari tempat yang lebih
sejuk.”
“Ular raksasa,“ desis Jati Wulung.
“Bukan satu-satunya jenis yang terdapat di hutan dan sekitarnya. Banyak ular
yang lebih besar dari ular itu. Ular yang termasuk tidak berbisa. Atau
katakanlah bisanya tidak terlalu tajam. Tetapi ular sebesar itu dapat menelan
seseorang dalam keadaan utuh,“ berkata Puguh pula.
“Mengerikan,“ desis Jati Wulung.
“Kami juga sering berburu ular,“ berkata Puguh kemudian, “kulitnya juga dapat
kami jual dengan harga yang mahal.“ Puguh berhenti sejenak, lalu, “tetapi kita
harus berhati-hati terhadap ular, karena ular adalah sejenis binatang
pendendam.”
Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Merekapun sudah mengetahui,
betapa ular dapat mengingat ujud musuhnya sampai mati. Matanya seakan-akan
mempunyai daya serap akan penglihatannya dan kemudian dipahatkannya pada
ingatannya.
Ketiga orang itupun kemudian melangkah lagi ketika ekor ular yang besar itu
telah hilang dibalik gerumbul-gerambul di dalam hutan. Puguh sudah dapat
mengenali kapan ular menjadi berbahaya dan kapan tidak. Ular yang tidak sedang
lapar, jarang sekali menyerang jika ia tidak merasa diganggu.
Namun beberapa saat kemudian, di tengah hutan itupun telah terdengar pula aum
harimau yang agaknya merasa lapar atau haus. Atau saling berebut mangsa.
“Mereka mencium bau kita,“ desis Puguh.
“Ya,“ berkata Sambi Wulung, “agaknya angin bertiup ke arah hutan itu.”
Puguh mengerutkan keningnya. Ternyata kedua orang yang mengaku sebagai
pengembara itu mengenali juga serba sedikit watak binatang hutan.
Namun mereka bertiga sama sekali tidak menunjukkan kecemasan mereka sama sekali.
Seolah-olah jalan dipinggir hutan itu adalah jalan yang tidak sering disentuh
oleh binatang-binatang buas.
Tetapi bagi Sambi Wulung dan Jati Wulung, jalan sempit dipinggir hutan itu sama
saja berbahayanya dengan jalan yang jauh lebih lebar di Gantar atau bahkan di
Pajang sekalipun. Bahkan binatang-binatang buas itu tidak akan pernah berbuat
dengan perhitungan yang licik. Mereka menyerang sebagaimana mereka biasa
menyerang. Mungkin merunduk diam-diam. Mungkin menunggu. Tetapi mereka tidak
pernah membuat perhitungan-perhitungan yang rumit untuk menjebak lawannya
sebagaimana dilakukan oleh manusia. Di dalam kota yang ramai sekalipun,
kadang-kadang bahayanya justru lebih besar daripada di pinggir hutan yang lebat
dan liar itu.
Beberapa saat lamanya mereka bertiga berjalan menyusuri jalan dipinggir hutan.
Tetapi seekor binatang-pun yang menyerang mereka. Ketika Sambi Wulung dan Jati
Wulung melihat sekelompok kera bermain-main di dahan dan ranting pepohonan,
mereka menjadi semakin tenang. Karena menurut pengertian mereka, selama
kera-kera itu masih tenang, berarti bahwa tidak ada bahaya yang mengancam
disekitarnya. Jika muncul seekor harimau atau jenis binatang buas yang lain,
maka kera-kera itu tentu akan lari bercerai berai.
Namun mereka tidak terlalu jauh menyusuri jalan dipinggir hutan itu. Ketika
matahari kemudian menjadi senakin rendah, maka merekapun telah memisahkan diri
dari hutan itu menuju ketempat yang suasananya lain sama sekali.
Setelah menyeberangi padang perdu yang tidak terlalu luas, maka merekapun mulai
merambah lagi daerah persawahan.
Tetapi sawah yang terbentang luas itu tidak digarap oleh para petani dari
padukuhan manapun. Sawah itu adalah tanah garapan orang-orang padepokan.
Sambi Wulung dan Jati Wulung termangu-mangu sejenak. Dengan demikian mereka
dapat membayangkan, bahwa penghuni padepokan yang didiami oleh Puguh tentu
padepokan yang besar. Tentu dihuni oleh banyak orang. Jika tidak demikian, maka
mereka tidak akan mampu mengerjakan sawah yang demikian luasnya. Bahkan
sawah-sawah itu telah dialiri air lewat parit-parit yang merambat sampai
keujung-ujung.
“Satu tatanan kehidupan yang kelihatannya mulai mapan dari satu masyarakat yang
terpisah,“ berkata Sambi Wulung dan Jati Wulung didalam hatinya.
Demikianlah, maka mereka bertigapun telah memasuki satu daerah yang seakan-akan
terpisah dari dunia kehidupan yang lain. Ternyata bahwa jauh diseberang nampak
hutan yang lebat itu bagaikan melingkari lingkungan itu.
“Darimana kalian mendapat air?“ bertanya Sambi Wulung kemudian.
“Kami mengangkat air dari sebuah sungai yang tidak terlalu besar. Tetapi airnya
ternyata cukup untuk membasahi tanah pertanian kami,“ jawab Puguh.
Sambi Wulung mengangguk-angguk. Namun yang kemudian menjadi pertanyaan didadanya
dan juga didada Jati Wulung adalah, bahwa tidak mungkin padepokan itu menjadi
kaya dan dapat membiarkan Puguh memasuki Song Lawa dengan bekal yang tidak
terbatas. Penjualan kulit dan hasil perburuan lainnyapun tidak akan memberikan
harta yang melimpah kepada Puguh, karena keluarga besar merekapun tentu
memerlukan bahan-bahan untuk hidup mereka. Bahan makanan dan bahan pakaian serta
kebutuhan-kebutuhan yang lain.
Tetapi Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak mempertanyakannya. Mereka masih banyak
menahan diri untuk tidak berbicara tentang Puguh, tempat tinggalnya dan terutama
sumber pendapatan mereka.
Ketika mereka bertiga berjalan melewati bulak yang luas, maka mereka memang
bertemu dengan beberapa orang yang bekerja disawah. Namun yang mereka bawa bukan
sekedar cangkul dan alat-alat pertanian yang lain. Tetapi dilambung mereka
tergantung pedang atau jenis senjata yang lain. Bahkan ada diantara mereka yang
membawa busur menyilang dipunggung serta bumbung anak panah yang tergantung
dilambung.
“Inilah warna kehidupan disini,“ desis Jati Wulung.
“Ya,“ jawab Puguh, “kami sudah menentukan cara hidup kami sendiri. Tidak ada
orang lain yang dapat merubahnya.”
“Tentu tidak akan ada orang lain yang berusaha untuk merubah tata kehidupan
disini,“ desis Sambi Wulung.
“Selama kalian tidak mengganggu tatanan kehidupan yang lain, maka tentu tidak
akan ada orang lain yang mengganggu tatanan kehidupan disini,“ sahut Jati
Wulung.
Tiba-tiba saja kening Puguh berkerut. Namun dengan cepat ia dapat menguasai
perasaannya. Sambil mengangguk-angguk ia kemudian berkata, “Kamipun berharap
demikian. Selama kami tidak mengganggu orang lain, maka biarlah kami tidak
diganggu karenanya.”
Merekapun kemudian terdiam. Mereka berjalan semakin dekat dengan sebuah
padepokan yang berada di tengah-tengah bulak. Seperti sebuah pulau yang terapung
dilautan yang hijau.
Ketika mereka kemudian mendekati padepokan itu, maka yang mereka lihat adalah
sebuah padepokan yang tidak banyak berbeda dengan padepokan-padepokan yang lain.
Didepan sekali nampak sebuah pintu gerbang. Kemudian disekeliling padepokan yang
ditumbuhi dengan berjenis-jenis pohon buah-buahan itu dipagari dengan
balok-balok kayu yang utuh. Terikat dengan rapi, bukan saja dengan tali ijuk,
tetapi diikat dengan penjalin. Dengan demikian maka dinding itu merupakan
dinding yang sangat kuat.
Ternyata kedatangan Puguh telah diketahui oleh orang-orang padepokan itu. Empat
orang yang terdahulu telah memberikan laporan bahwa Puguh akan kembali bersama
dengan dua orang tamunya.
Dua orang ternyata telah menunggunya dipintu gerbang yang dijaga pula oleh dua
orang pengawal.
Ketika ketiga orang itu memasuki gerbang padepokan, maka kedua orang itu telah
menyambutnya dengan hormat. Sementara itu dengan serta merta Puguhpun bertanya,
“Apakah ayah dan ibu ada disini?”
Salah seorang dari kedua orang itu menggeleng. Jawabnya, “Tidak anak muda. Ayah
dan ibumu beberapa hari yang lalu telah pergi mengujungi keluarga di Jipang.”
Puguh mengerutkan keningnya. Namun iapun mengangguk-angguk. Dengan nada ragu
iapun bertanya, “Guru?”
“Juga sedang pergi. Mereka mengira bahwa anak muda masih akan berada di
pengembaraan barang dua tiga pekan lagi. Tetapi agaknya anak muda telah
mempercepat perjalanan,“ jawab orang itu.
“Ya. Aku datang bersama dua orang sahabatku,“ berkata Puguh kemudian.
“Marilah, silahkan,“ orang itu mempersilahkan ketiganya masuk.
Demikianlah mereka bertigapun telah berada di bangunan induk padepokan yang
cukup luas itu. Mereka bertiga duduk diatas sebuah tikar pandan yang putih,
dengan garis-garis silang berwarna hijau dan merah.
“Anak-anak membuat tikar ini sendiri,“ berkata Puguh.
“Satu lingkungan kehidupan yang baik,“ gumam Sambi Wulung sambil memperhatikan
keadaan disekitarnya. Namun yang dilihatnya adalah berbeda dari dugaannya. Ia
mengira bahwa di padepokan itu hilir mudik beberapa kelompok orang yang jadi
penghuni padepokan itu. Untuk mengerjakan sawah yang luas serta pategalannya,
maka tentu diperlukan tenaga yang cukup banyak. Namun nampaknya padepokan itu
lengang sekali. Hanya satu dua orang yang menyandang senjata sajalah yang
dilihatnya lewat dihalaman.
Tetapi Sambi Wulung itu mencoba untuk menenangkan hatinya, “Mungkin orang-orang
itu sedang berada di sawah atau sedang mengerjakan keperluan-keperluan lain.
Sambi Wulung itu terkejut ketika ia mendengar Puguh berkata, “Sayang, ayah dan
ibu tidak ada di padepokan. Sementara gurupun sedang pergi karena menurut
rencana aku baru akan kembali dalam dua atau tiga pekan lagi. Seandainya tidak
terjadi sesuatu dengan Song Lawa, maka aku kira akupun baru-akan kembali tiga
pekan lagi.
Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Tetapi sebenarnyalah mereka
tidak memerlukan orang tua Puguh itu. Apalagi keduanya tahu, bajiwa Puguh tidak
lagi berbapa, tetapi ibunyalah yang masih ada. Jika kemudian ia hidup bersama
seorang laki-laki bekas Senapati Jipang itu, maka agaknya laki-laki itulah yang
telah disebut ayahnya. Bahkan mereka merasa kebetulan sekali bahwa kedua orang
tua dan guru Puguh tidak ada dipadepokan. Dengan demikian, tidak akan mudah
untuk timbul kecurigaan karena wawasan yang tajam dari mereka, termasuk gurunya.
Yang penting bagi keduanya adalah, bahwa mereka telah melihat lingkungan tempat
tinggal Puguh. Satu kesempatan yang telah mereka dapatkan dengan susah payah.
Meskipun keduanyapun yakin, bahwa tempat itu bukan satu-satunya tempat tinggal
Puguh. Namun agaknya ia lebih sering beradaditempat ini.
Sementara itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulungpun telah mendapat hidangan
minuman hangat dan beberapa macam makanan yang dibuat sendiri oleh para penghuni
padepokan itu. Puguh yang menemui mereka mempersilahkan untuk meneguknya dan
barangkali Jati Wulung telah menjadi lapar lagi.
Jati Wulung tersenyum. Katanya, “Kaulah yang tidak menghabiskan bekal nasi
megana itu. Barangkali kaulah yang telah menjadi lapar.”
Puguh tersenyum. Katanya, “Aku justru tidak lapar setelah aku sampai di
padepokanku.”
Sambil meneguk minuman hangat dengan gula kelapa, maka Sambi Wulung dan Jati
Wulungpun telah memperhatikan langit yang mulai menjadi buram. Bayangan senja
yang merah hinggap diujung pepohonan. Sementara itu beberapa orang penghuni
padepokan itu telah mulai menyalakan lampu minyak. Juga di pendapa itu.
Puguhpun kemudian telah mempersilahkan Sambi Wulung dan Jati Wulung untuk pergi
ke pakiwan, Namun sebelumnya, Puguh telah memerintahkan seorang penghuni
padepokan itu untuk mengantarkan kedua orang tamu itu kedalam bilik yang telah
disediakan.
“Setelah kalian mandi, kita akan makan malam,“ berkata Puguh. Lalu, “Seseorang
telah memotong ayam. Selama perjalanan kita makan tidak teratur dan
kadang-kadang kurang mantap. Sekarang kita akan mencoba makan lebih baik dari
makanan yang kita makan selama diperjalanan.”
Jati Wulung tertawa. Katanya, “Di warung-warung yang kita singgahi kita dapat
memilih makanan apa saja, termasuk daging ayam. Tetapi tentu berbeda dengan jika
kita makan dirumah sendiri.”
Sejenak kemudian, maka Sambi Wulung dan Jati Wulungpun telah dibawa ke sebuah
bilik yang telah dibersihkan. Sebuah lampu minyak telah menyala diatas ajug-ajug
disudut bilik itu.
“Silahkan,“ berkata orang yang mengantarkan mereka berdua. Namun Sambi Wulungpun
kemudian bertanya, “Dimanakah letak pakiwannya?”
“Marilah. Aku antarkan kalian ke pakiwan,“ berkata orang itu.
Tetapi ternyata Sambi Wulung dahululah yang pergi ke pakiwan sementara Jati
Wulung menunggu didalam biliknya. Baru kemudian Jati Wulung telah diantar oleh
Sambi Wulung ke pakiwan.
Namun mereka tidak hanya sekedar pergi ke pakiwan. Mereka sempat memperhatikan
beberapa bagian dari padepokan itu. Bahkan mereka sempat memperhatikan bilik
mereka dari luar meskipun hanya dari satu sisi.
Setelah keduanya membenahi diri, maka merekapun telah diundang oleh Puguh untuk
makan malam. Ternyata bukan hanya mereka bertiga sajalah yang makan bersama,
tetapi seorang lagi yang dipanggil Puguh dengan Paman.
Sambil makan maka orang yang dipanggil paman itu-pun telah memperkenalkan
dirinya. Dengan ramah orang itu berkata, “Namaku Gagaklahan. Nama yang tidak
pantas untuk disebut-sebut.”
Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Mereka memperkenalkan diri
dengan nama Wanengbaya dan Wanengpati.
“Aku sudah mendengar semuanya tentang kalian dari Puguh,“ berkata orang itu,
“aku atas nama orang tuanya dan gurunya mengucapkan terima kasih atas kebaikan
kalian berdua.”
“Ah,“ desah Sambi Wulung, “bukan apa-apa. Hanya secara kebetulan kami
melakukannya.”
“Bukan kebetulan. Tetapi kalian benar-benar telah menolong Puguh. Obat yang
kalian berikan, ternyata sangat berarti bagi luka-luka pada tubuh Puguh. Tanpa
obat-obat itu, maka lukanya akan dapat menjadi sangat berbahaya baginya,“
berkata Gagaklahan.
Sambi Wulung dan Jati Wulung hanya mengangguk-angguk saja sambil tersenyum.
Demikianlah, maka pembicaraan merekapun kemudian telah berkisar tentang berbagai
macam persoalan. Sambi Wulung dan Jati Wulung telah bertanya tentang padepokan
itu. Sawah yang luas dan tatanan kehidupan yang berlaku di padepokan itu.
Gagaklahan tersenyum sambil menjawab beberapa hal yang tidak terlalu langsung
berhubungan dengan dasar-dasar kepentingan padepokan itu. Namun terasa oleh
Sambi Wulung dan Jati Wulung bahwa banyak hal yang telah disembunyikannya.
Ketika mereka kemudian telah selesai makan malam dengan lauk yang disediakan
khusus untuk menghormati tamu-tamunya, maka Puguhpun kemudian telah
memper-silahkan Sambi Wulung dan Jati Wulung beristirahat.
“Masih terlalu sore,“ berkata Jati Wulung.
“Maaf, aku terlalu letih,“ berkata Puguh, “aku ingin beristirahat.”
Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Mereka mengerti bahwa keadaan
Puguh masih belum pulih seluruhnya. Karena itu, maka katanya, “Silahkan Puguh.
Kau memang harus lebih banyak beristirahat. Kau akan merasa tenang tidur didalam
bilikmu daripada tidur di gubug dalam hujan angin atau tidur sambil bersandar
sebatang johon dipinggir jalan.”
Puguh tersenyum Namun katanya kemudian, “Aku minta maaf.”
Sepeninggal Puguh, maka orang yang dipanggilnya paman itupun minta diri pula.
Katanya, “Ada tugas yang harus aku lakukan.”
“O, silahkan,“ sahut Sambi Wulung dan Jati Wulung hampir bersamaan.
Tetapi dengan demikian maka mereka berduapun sadar, bahwa mereka berdua harus
masuk kedalam bilik mereka meskipun mereka belum merasa mengantuk. Adalah kurang
pada tempatnya jika mereka berdua duduk di ruang dalam itu tanpa ada orang yang
menemuinya.
Karena itulah, maka keduanyapun telah bangkit pula bersamaan dengan Gagaklahan.
Sambi Wulungpun kemudian berkata, “Kamipun agaknya lebih baik untuk beristirahat
barang sejenak.”
“Kalian dapat beristirahat semalam suntuk,“ jawab Gagaklahan sambil tertawa.
Sambi Wulung dan Jati Wulungpun tertawa pula. Mereka terbiasa beristirahat hanya
untuk sejenak, karena mereka harus selalu siap menghadapi segala kemungkinan.
Demikianlah, maka Sambi Wulung dan Jati Wulungpun telah pergi pula kedalam
biliknya. Sementara itu, malam memang sudah turun, sehingga langitpun menjadi
kelam. Tetapi dalam kegelapan itu, ketajaman penglihatan Sambi Wulung dan Jati
Wulung masih melihat dua orang yang berdiri dalam kelam sambil mengamati mereka
berdua. Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung itu justru berpura-pura tidak
menghiraukannya, sehingga akhirnya keduanyapun telah masuk kedalam bilik yang
disediakan bagi mereka.
Tetapi kedua orang itu menjadi lebih berhati-hati. Keduanya telah mengamati
dinding dari'bilik yang disediakan untuk mereka itu, sehingga akhirnya merekapun
menda patkan satu lubang kecil yang nampaknya memang sengaja dibuat untuk dapat
mengawasi orang yang ada didaiam bilik itu. Lubang yang langsung dapat mengintip
ke pembaringan.
Karena itulah, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung yang menyadari bahwa mereka
selalu diawasi itu, menjaga tingkah laku dan kata-kata mereka agar mereka tidak
terjebak dalam kesulitan.
Dalam pada itu, Puguh yang berada didaiam biliknya, menunggu dengan gelisah
kedatangan pamannya yang menyebut dirinya bernama Gagaklahan itu. Satu hal yang
harus mereka bicarakan tentang kedua orang tamu Puguh itu, adalah apakah mereka
percaya atau tidak terhadap keduanya.
Ketika pintu bilik Puguh diketuk, maka Puguhpun segera membukanya. Gagaklahan
agaknya memang telah berada didepan pintu biliknya itu.
“Marilah paman,“ berkata Puguh mempersilahkan.
“Puguh,“ berkata Gagaklahan, “sebaiknya kita berusaha untuk mengurangi tanggung
jawab. Biarlah kita menghadap gurumu. Apa kata gurumu tentang kedua orang itu.
Bagiku, keduanya adalah orang orang yang sama sekali tidak dapat dipercaya.
Mereka mempunyai kemampuan yang tinggi dan sengaja menolongmu agar mereka dapat
ikut masuk kedalam padepokan ini.”
“Untuk apa mereka mengikutiku masuk ke padepokan ini? Mereka tidak mempunyai
kepentingan apa-apa dengan aku dan dengan kita seluruhnya,“ berkata Puguh.
“Mungkin kita tidak tahu apakah pamrihnya. Tetapi menilik sikap, kata-katanya
dan apa yang telah mereka lakukan sesuai dengan ceriteramu, maka keduanya justru
harus dibinasakan. Mereka hanya berpura-pura baik terhadapmu. Mereka akan
menjadi lebih berbahaya jika mereka benar-benar ingin merubah tatanan
kehidupanmu. Karena apa yang kau lakukan sekarang ini benar-benar sudah sesuai
dengan keinginan ayah dan ibumu,“ berkata Gagaklahan.
“Tetapi guru kadang-kadang bersikap agak berbeda,“ sahut Puguh.
“Yang berbeda adalah kulitnya. Tetapi isinya tetap sama,“ berkata Gagaklahan.
“Tetapi guru pernah berkata, bahwa aku wajib menilai tingkah lakuku menjelang
usia dewasaku,“ berkata Puguh.
“Itu benar,“ berkata Gagaklahan, “jadi kau artikan apa pesan gurumu itu? Kau
kira gurumu memberimu peringatan bahwa ada tingkah lakumu sekarang ada yang
salah? Jika gurumu berpesan begitu, maka sebaiknya kau mengartikan, bahwa kau
harus memiliki bekal yang cukup menjelang saat-saat dewasamu itu. Kau memang
harus menilai apakah kemampuan yang ada sudah cukup bagimu.”
Puguh termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Kita menghadap
guru.”
Demikianlah, maka diam-diam keduanya telah meninggalkan bangunan induk padepokan
itu. Bahkan mereka telah keluar dari padepokan yang sebenarnya tidak lebih dari
tempat persinggahan dari para pemimpinnya. Karena di tempat lain yang tidak
begitu jauh terdapat padepokan lain yang lebih dirahasiakan lagi. Padepokan yang
mempunyai wewenang lebih besar daripada padepokan yang mereka tinggalkan itu.
Dalam gelapnya malam, mereka berjalan dengan tergesa-gesa. Mereka menyusuri
jalan setapak, yang sempit dan rumpil. Padepokan yang satu lagi memang terletak
di balik padang perdu yang agak banyak ditumbuhi pepohonan, meskipun tidak
selebat hutan.
Keduanya sama sekali tidak merasa cemas bahwa mereka akan bertemu dengan
binatang buas. Keduanya merasa yakin bahwa mereka akan dapat membunuh jika
mereka bertemu dengari seekor harimau. Apalagi orang yang menyebut dirinya
Gagaklahan itu membawa busur dan anak panah sebagai senjata yang biasa dibawa
untuk melintasi padang padang perdu dan bahkan untuk memasuki hutan. Karena
dengan busur dan anak panah itulah Gagaklahan sering pergi berburu
ketengah-tengah hutan yang lebat, keras dan liar itu.
Beberapa saat kemudian, maka mereka memang menembus hutan yang menjorok.
Gelapnya malam bagaikan selimut hutan yang menutup pandangan. Namun mereka
berdua telah sangat terbiasa menempuh jalan itu.
Ketika mereka muncul dibalik bagian dari hutan yang menjorok itu, maka tiba-tiba
saja terdengar bunyi yang menghentak-hentak. Bukan bunyi binatang hutan meskipun
agak mirip dengan suara seekor kera yang berongga dilehernya.
Gagaklahan telah menyahut dengan bunyi yang lain, tetapi yang ternyata adalah
isyarat sandi. Tanpa dapat mengucapkan isyarat sandi, maka mereka tidak akan
dapat meneruskan perjalanan karena mereka tentu akan dibantai sebagaimana hampir
saja terjadi atas Puguh dan kedua orang yang bersamanya itu. Namun hal itu tidak
pernah diceriterakannya kepada Gagaklahan.
Akhirnya kedua orang itupun telah mendekati sebuah padepokan yang lain sekali
dari padepokan yang baru saja mereka tinggalkan. Padepokan yang berada direlung
sebuah hutan yang lebat, dikaki sebuah bukit kecil yang terdiri dari batu-batu
padas itu, nampaknya terlalu gelap dibandingkan dengan padepokan yang sebuah
lagi.
Ketika Gagaklahan dan Puguh mendekati pintu gerbang, maka tiba-tiba saja dari
arah yang tidak diketahui, beberapa orang bagaikan terbang ke arah mereka. Namun
merekapun segera mengenali kedua orang itu, sehingga ke duanyapun telah diberi
jalan untuk masuk kedalamnya.
Malam itu juga Puguh minta kepada pemimpin pengawal yang bertugas untuk bertemu
dengan gurunya.
“Kenapa tidak besok saja?“ bertanya pemimpin pengawal itu.
“Aku memerlukan sekarang,“ jawab Puguh.
“Tetapi sudah terlalu malam,“ berkata pemimpin pengawal itu.
Wajah Puguh menjadi tegang. Katanya dengan nada keras, “jadi kau ingin
persoalanku terlambat diselesaikan?”
Pemimpin pengawal itu termangu-mangu. Wajahnya yang keras menunjukkan sikap
ragu-ragu menghadapi persoalan yang diminta Puguh itu. Namun Puguhpun akhirnya
membentak, “Biar aku sendiri yang membangunkan guru.”
“Jangan,“ cegah pemimpin pengawal itu, “biarlah aku yang menyampaikannya.”
“Tidak,“ geram Puguh.
Ketika orang itu mencoba menghalangi Puguh, maka orang itupun telah didorongnya
kesamping sambil berkata dengan nada keras, “Kau terlalu lamban. Di medan
perang, lehermu telah putus ketika datang kesadaranmu untuk melawan.”
Orang itu tidak dapat mencegahnya lagi. Puguhlah yang kemudian memasuki ruang
dalam.
Dua orang lagi berada di ruang dalam itu. Tetapi Puguh tidak menghiraukannya.
Ketika keduanya berdiri mendekatinya, justru keduanya telah didorongnya
menyibak.
Tetapi tidak seorangpun yang berani mengganggu Puguh, sehingga kedua orang
pengawal itupun tidak berkata sesuatu. Mereka hanya menonton saja ketika Puguh
mendekati pintu bilik gurunya.
Dalam pada itu Gagaklahan dan pemimpin pengawal yang bertugas telah masuk pula
keruang dalam. Tetapi keduanya juga membiarkan Puguh kemudian mengetuk pintu
bilik gurunya itu.
“Siapa? “ terdengar pertanyaan dari dalam bilik itu.
“Aku guru. Puguh,“ jawab Puguh.
Pintupun kemudian terbuka perlahan-lahan. Seorang yang rambutnya telah memutih
berdiri sambil menyilangkan tangannya didada.
Puguh bergeser surut. Dipandanginya wajah orang tua itu. Wajah yang tenang
berwibawa.
Orang tua itupun kemudian melangkah keluar. Seorang yang bertubuh kekar. Bajunya
di jinjingnya, sementara ikat kepalanya disangkutkannya dibahunya.
Namun orang tua itu tersenyum. Katanya, “Aku sudah memperhitungkan kehadiranmu
sekarang ini Puguh.
Puguh menundukkan kepalanya. Sementara itu gurunya berkata, “Duduklah.”
Puguhpun kemudian duduk disebuah amben panjang. Sementara itu gurunyapun berkata
kepada para pengawal, “Tinggalkan Puguh dan Gagaklahan disini.”
Para pengawalpun kemudian meninggalkan ruang tengah itu dan berjaga-jaga diluar,
dipendapa.
“Aku sudah mendapat laporan tentang semuanya yang terjadi,“ berkata gurunya.
“Ya guru,“ jawab Puguh.
“Kau membawa dua orang tamu yang sebelumnya kau jumpai mereka di Song Lawa,“
berkata gurunya.
“Ya guru,“ jawab Puguh.
“Pamanmu Gagaklahan telah mengirimkan seseorang untuk memberikan laporan tentang
hal itu. Pamanmu tidak membenarkan sikapmu itu, karena kedua orang itu akan
dapat membawa malapetaka bagi padepokan kita,“ berkata gurunya.
Jilid 11
PUGUH berpaling kepada Gagaklahan. Sambil menganggukkan kepalanya Gagaklahan
berkata, “Sikapku memang demikian Puguh.”
“Tetapi bukankah kita memang tidak merahasiakan padepokan pertama kita itu?
Karena itu aku tidak membawanya ke padepokan kedua ini. Bukankah kita sudah
mengatakan kepada mereka, bahwa ayah dan ibu juga guru tidak ada di padepokan?“
berkata Puguh.
“Ayah dan ibumu memang pergi,“ berkata gurunya, “tetapi aku ada disini.”
“Apakah guru ingin menemuinya?“ bertanya Puguh.
Yang dengan serta merta menyahut adalah Gagaklahan, “Tentu tidak. Aku kira tidak
ada gunanya sama sekali.”
Gurunya tersenyum. Katanya, “Biarlah aku menjawab sendiri, Gagaklahan.”
Gagaklahan menarik nafas dalam-dalam, sementara guru Puguh itu berkata, “Mungkin
sikap kita dapat berbeda. Untunglah kali ini sikapku sama seperti sikapmu.”
“Jadi guru merasa tidak perlu untuk, menemuinya?“ bertanya Puguh.
Gurunya menggelengkan kepalanya. Katanya, “Biarlah ia mempunyai anggapan yang
terbatas tentang padepokan pertama kita itu.”
“Aku merasa curiga dengan keduanya,“ berkata Gagaklahan, “apalagi ketika Puguh
memberitahukan, bahwa seorang diantara mereka dapat mengalahkan Kepala Besi dari
pesisir Utara.”
“Apa artinya Kepala Besi dari Pesisir Utara? “ gurunya tertawa pula. Lalu
katanya, “Biarlah keduanya besok pergi. Perhatian kita justru lebih tertuju
kepada peristiwa yang lain.”
“Peristiwa apa?“ bertanya Gagaklahan.
“Kau juga wajib mendengar Puguh, empat orang kita terbunuh semalam. Tidak ada
petunjuk tentang para pembunuhnya. Tetapi menilik jejaknya, tidak lebih dari
jumlah keempat orang yang terbunuh itu.”
Gagaklahan mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba saja ia bertanya kepada Puguh,
“Kau tidak mengatakan hal itu kepadaku.”
“Apa yang dapat aku katakan,“ sahut Puguh, “aku tidak tahu apa-apa tentang hal
itu. Jadi apa yang harus aku beritahukan?”
Gagaklahan menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu guru Puguh itupun tersenyum
pula sambil berkata, “Kau kira Puguh terlibat didalamnya?”
Gagaklahan termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba saja ia berkata, “Aku dengan
serta merta saja telah menduga, bahwa Puguh dan kedua orang itulah yang telah
membunuh keempat orang itu.”
“Paman,“ wajah Puguh menjadi merah, “apakah paman berhak berkata seperti itu?”
“Aku ikut bertanggung jawab,“ berkata Gagaklahan, “ayah dan ibumu percaya
kepadaku.”
“Dan karena itu maka paman tidak lagi percaya kepadaku?“ bertanya Puguh.
Gagak lahan tidak segera menjawab. Tetapi dari sorot matanya terpancar gejolak
didadanya.
“Puguh,“ berkata gurunya, “sebaiknya kau memang berhati-hati terhadap kedua
orang itu. Aku tidak bertemu langsung dengan mereka, sehingga aku tidak
mendapatkan kesan yang bulat tentang mereka. Tetapi kau memang harus
berhati-hati menghadapi orang yang baru saja kau kenal. Termasuk kedua orang
yang bara kau kenal di Song Lawa itu. Sementara itu para pengawalmu tidak sempat
menyelamatkan diri dari tangan para prajurit Pajang. Mungkin para prajurit
Pajang tidak mempunyai kepentingan apapun dengan kau dan padepokan ini. Apalagi
para pengawalmu itu tidak mempunyai pengenalan yang mendalam tentang padepokan
ini selain padepokan pertama. Atau bahkan mungkin Pajang sama sekali tidak
mempersoalkanmu. Tetapi ada kemungkinan lain, bahwa kedua orang itu juga
mempunyai tugas sandi.”
“Tetapi bukankah padepokan pertama dikenal oleh orang-orang padukuhan dan bahkan
sampai ke Gantar sebagai padepokan yang wajar saja dan tidak berbuat sesuatu
yang merugikan orang lain? Meskipun letaknya yang terpisah, tetapi padepokan
pertama mempunyai hubungan dengan orang-orang padukuhan. Orang-orang
padukuhanpun tahu bahwa disekitar padepokan itu terbentang sawah dan petegalan,“
berkata Puguh.
“Bagi orang-orang padukuhan memang tidak ada persoalan apa-apa. Tetapi agaknya
lain bagi orang-orang berilmu tinggi,“ jawab Gagaklahan.
“Tetapi keduanya bersikap baik, dan bahkan telah menolongku. Mereka dapat
dikatakan telah menyelamatkan jiwaku,“ berkata Puguh kemudian.
Gurunya mengangguk-angguk. Meskipun nampak kerut dikening namun gurunya itu
mencoba untuk tersenyum. Katanya dengan nada datar, “Sudahlah. Jangan dirisaukan
lagi. Biarlah keduanya besok pergi. Apapun yang kita lakukan, mereka sudah ada
dipadepokan kita. Jika kita berbuat kasar, maka kesan yang buruk itu akan dapat
membuat mereka justru menjadi curiga. Tetapi jika mereka kita biarkan pergi,
maka kesan mereka terhadap padepokan kita akan wajar saja. Bukan apa-apa.”
“Tetapi ada cara lain agar mereka tidak mendapat kesan apapun tentang padepokan
kita,“ berkata Gagaklahan.
“Cara yang bagaimana?“ bertanya Puguh.
“Kita hapuskan mereka,“ jawab Gagaklahan.
“Itu tidak pantas,“ Puguh hampir berteriak, “mereka telah menolong aku. Kenapa
mereka harus dibunuh?”
“Satu pertanda buruk pada sikapmu,“ berkata Gagaklahan, “kau tidak pernah
mempedulikan kematian siapapun. Sekarang kau merasa berkeberatan jika kita
membunuh kedua orang itu. Padahal kau tidak pernah mengenal sebelumnya.”
“Aku tidak pernah mempedulikan kematian orang yang tidak bersangkut paut dengan
aku. Tetapi kedua orang ini pernah menolong aku, kau dengar paman.“ Puguh
berteriak lebih keras.
“Sudahlah,“ berkata gurunya, “kau tidak pernah berteriak begitu. Katakan saja
bahwa kau tidak setuju.”
Puguh menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya gurunya dengan sorot mata yang
aneh. Justru terpancar kecurigaan bahwa gurunya tidak akan melarang pembunuhan
itu. Namun Puguh tidak dapat mengatakannya kepada gurunya itu.
“ Sudahlah,“ berkata gurunya, “kembalilah. Jika tamu-tamumu mencarimu, maka
mereka akan menjadi curiga jika kau tidak ada.”
Puguh mengangguk-angguk. Sebenarnya masih ada yang ingin dikatakannya. Namun
pandangan mata gurunya yang bagaikan menusuk langsung kejantungnya telah
membuatnya menundukkan kepala.
Demikianlah maka Puguh bersama Gagaklahanpun telah menempuh jalan kembali ke
padepokan pertama. Sementara malampun diliputi oleh kegelapan yang sepi. Yang
terdengar hanyalah suara-suara cengkerik dan bilalang di rerumputan.
Bagaimanapun juga Puguh merasa cemas akan nasib kedua orang tamunya. Meskipun
jantungnya sudah dilatih untuk menjadi beku menghadapi kematian, namun ternyata
dari endapan yang paling dalam, masih juga terangkat ucapan terima kasih kepada
dua orang yang dianggapnya telah menolongnya tanpa mengetahui maksud mereka yang
sesungguhnya.
Karena itu, maka dijalan kembali ke padepokan semula, Puguh hampir tidak
mengatakan apa-apa. Ia masih saja merenungi sikap dan kata-kata gurunya dan
mencoba mencari artinya. Bahkan iapun menjadi ragu-ragu, apakah yang dimaksud
oleh Gagaklahan sama dengan maksud gurunya.
Ketika keduanya kemudian memasuki padepokannya, maka Puguhpun langsung menuju
kebiliknya. Tetapi ia masih menyempatkan diri untuk berjalan melewati bilik yang
dipergunakan untuk kedua orang tamunya, Sambi Wulung dan Jati Wulung.
Namun agaknya kedua orang tamunya itu masih tertidur nyenyak.
Ketika kemudian Puguh berada di biliknya iapun tidak segera dapat tidur.
Berbagai macam persoalan telah bergejolak didalam hatinya.
Memang kadang-kadang iapun menelungkup sambil menyembunyikan wajahnya dan
berkata kepada diri sendiri, “Aku tidak peduli. Terserah kepada kedua orang itu,
apakah mereka dapat melindungi diri mereka sendiri jika Gagaklahan benar-benar
akan membunuh mereka. Itu bukan salahku. Aku bukannya seorang yang perasaannya
lelah mati sebagaimana dikehendaki oleh Gagaklahan. Jika kematian itu harus
menjemput keduanya, maka itu adalah salah Gagaklahan.”
Tetapi sesaat kemudian, kegelisahan, itu telah menghentak-hentak pula, sehingga
ia harus berputar dan tidur menelentang sambil memandang atap.
Puguh hanya sempat tertidur beberapa saat saja menjelang dini hari. Ketika
kemudian terdengar ayam jantan berkokok, maka iapun telah terbangun dan keluar
dari biliknya.
Puguh sendiri tidak tahu, kenapa ketika ia melihat Sambi Wulung dan Jati Wulung
yang dikenalnya bernama Wanengbaya dan Wanengpati itu, ia telah menarik nafas
dalam-dalam. Seakan-akan sebuah beban yang berat telah diletakannya.
Ketika Puguh kemudian mendekatinya, ternyata bahwa keduanya justru telah mandi
dan membenahi diri.
“Kau bangun pagi-pagi benar,“ desis Puguh.
“Ya. Kami masih harus menunaikan kewajiban kami,“ sahut Sambi Wulung.
“Kewajiban apa?“ bertanya Puguh.
Sambi Wulung tersenyum.
Ketika Sambi Wulung dan Jati Wulung kemudian masuk kembali kedalam bilik mereka,
maka iapun telah duduk di serambi. Beberapa orang pengawal yang mengawasi kedua
orang tamu Puguh itu dari kejauhan telah berkisar agak menjauh, karena kehadiran
Puguh itu telah memberi kesempatan kepada mereka untuk beristirahat.
Sejenak kemudian, maka Sambi Wulung dan Jati Wulungpun telah keluar pula dari
dalam bilik mereka. Untuk beberapa saat ketiganya sempat berbincang tentang
keadaan padepokan itu. Dengan nada rendah Jati Wulung berkata, “Padepokan ini
ternyata memiliki sejumlah cantrik yang telah ditempa sebagaimana para prajurit
di Pajang. Mereka memiliki kesetiaan kepada tugas mereka dan melakukannya dengan
sungguh-sungguh.”
“Ya,“ jawab Puguh, “kami menghendaki para cantrik yang taat kepada segala
paugeran yang ada disini. Kamipun ingin bahwa para cantrik kelak akan menjadi
orang yang benar-benar memiliki keteguhan kepada sikap dan keyakinannya.”
“Bagus,“ berkata Jati Wulung, “jika ketaatan yang hidup itu ditanamkan sejak
dini, maka mereka akan mempunyai keteguhan sikap itu.”
“Apalagi lingkungan kami sebenarnya memang tidak menguntungkan,“ berkata Puguh.
“Maksudmu?“ bertanya Jati Wulung.
“Seperti yang telah kita alami. Tidak terlalu jauh dari padepokan kami terdapat
tempat-tempat yang keras dan kasar. Dikehendaki atau tidak dikehendaki, maka
harus berusaha untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Seperti sebuah kolam
yang pada suatu saat akan penuh, maka airnya tentu akan melimpah. Karena itu,
maka kita harus bersiap-siap jika mereka ternyata pada suatu saat akan
memaksakan kehendak mereka kepada kami,“ berkata Puguh.
“Kenapa kalian mendirikan padepokan disini? Apakah tidak ada tempat lain yang
lebih jauh dari tempat-tempat yang garang itu?“ bertanya Sambi Wulung.
“Kami berada disini lebih dahulu dari mereka,“ jawab Puguh, “kami sudah berada
disini untuk waktu yang lama. Sementara mereka datang disaat aku sudah mengenal
olah kanuragan. Namun kekasaran dan ketamakan mereka telah membuat mereka
melakukan perluasan dari apa yang mereka sebut lingkungan mereka dengan
memberikan pertanda-pertanda yang memang dapat menggetarkan jantung.”
Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk, sementara Puguh berkata
selanjutnya, “Tetapi kami tidak akan dapat mereka takut-takuti. Kami akan berada
disini untuk seterusnya. Jika mereka berusaha mengusir kami, maka kamilah yang
akan memaksa mereka pergi.”
“Mudah-mudahan tidak ada persoalan,“ desis Sambi Wulung.
Puguh menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian dengan nada berat ia berkata,
“Karena itu, aku justru ingin berpesan kepada kalian. Berhati-hatilah jika
kalian nanti meninggalkan padepokan ini. Perjalanan kalian akan dapat terantuk
pada ketamakan mereka, karena dibeberapa tempat memang telah diletakkan
tanda-tanda seperti itu.”
“Aku akan meninggalkan padepokan ini disiang hari,“ berkata Sambi Wulung.
“Siang atau malam tidak ada bedanya,“ jawab Puguh.
Sambi Wulung mengangguk-angguk. Sementara itu Jati Wulung pun berkata, “Apakah
tidak ada jalan yang aman keluar dari padukuhan ini? Bagaimana jika kami kembali
ke Gantar sebagaimana kami datang?”
“Tentu. Kalian memang harus melalui Gantar. Namun yang aku cemaskan adalah, jika
kalian tiba-tiba saja bertemu dengan orang-orang yang telah memasang tanda-tanda
itu. Meskipun jalan dari padepokan ini ke Gantar tidak ada tanda-tanda itu,
tetapi bahaya akan dapat kalian temui setiap saat,“ berkata Puguh.
“Apakah hal itu juga berlaku bagi penghuni padepokan ini?“ bertanya Jati Wulung.
“Jika mereka mengenali orang dari padepokan ini, mereka memang tidak akan
mengganggu karena mereka juga harus memperhitungkan kemungkinan akan datangnya
pembalasan. Tetapi bukankah kalian bukan orang padepokan ini?“ bertanya Puguh.
“Tetapi kami adalah tamumu,“ berkata Jati Wulung, “bukankah akan dapat terjadi
kemungkinan yang sama karena kau tentu akan merasa tersinggung.”
“Soalnya adalah bahwa mereka tidak mengenal kalian sebagai tamuku. Apa pun yang
akan aku lakukan kemudian, jika kau sudah ditelan oleh bencana, maka kalian
tidak akan dapat dipulihkan kembali,“ berkata Puguh.
“Jika demikian, apakah sebaiknya kami tetap di sini?“ bertanya Jati Wulung.
“Tidak,“ jawab Puguh, “sebaiknya kalian meninggalkan padepokan ini segera. Ada
diantara orang-orang padepokan ini yang mencurigai kalian.”
“Kenapa kami dicurigai?“ bertanya Sambi Wulung.
“Kalian memang pantas dicurigai. Akupun kadang-kadang masih bertanya-tanya,
kenapa kalian begitu memaksa untuk mengikuti aku datang ke padepokan ini. Akupun
menjadi heran begitu mudahnya kau membunuh orang-orang yang menyerang kita di
dekat tanda yang menakutkan itu,“ jawab Puguh.
“Jadi ada diantara kalian, dan bahkan kau, yang mencurigai kami, bahwa justru
kami adalah orang-orang yang dikirim oleh kelompok yang membayangi padepokanmu
ini? Mungkin kami dengan sengaja berusaha memasuki padepokan ini untuk
melihat-lihat keadaan di dalamnya, bahkan kekuatan yang tersimpan disini?“
bertanya Jati Wulung.
“Orang yang menaruh kecurigaan kepada orang lain kadang-kadang tidak memikirkan
alasan yang tepat. Atau bahkan telah membuat alasan-alasan yang tidak perlu
masuk akal,“ jawab Puguh.
Jati Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “baiklah. Kami akan meninggalkan
padepokan itu siang ini.”
Wajah Puguh tiba-tiba menjadi suram. Dengan nada rendah ia berkata, “Aku minta
maaf, bahwa aku tidak dapat memberikan kesempatan kepada kalian untuk
beristirahat disini. Tetapi aku tetap merasa berterima kasih kepada kalian atas
segala pertolongan kalian. Tanpa kalian, mungkin aku tidak akan dapat pulang ke
padepokan ini.”
Sambi Wulung dan Jati Wulung tersenyum. Yang menjawab adalah Sambi Wulung, “Aku
dapat mengerti. Orang-orang padepokan ini tidak melihat dan tidak mengalami apa
yang terjadi sebagaimana kau alami sepanjang perjalanan kembali dari Song Lama.
Karena itu maka mereka tidak dapat membayangkannya dengan baik dan bahkan yang
timbul adalah kecurigaan. Apalagi jika kau sendiri juga menjadi curiga.”
Puguh menundukkan kepalanya. Dengan nada berat ia berkata, “Aku minta maaf. Aku
benar-benar tidak dapat berbuat lebih baik meskipun kalian telah menyelamatkan
aku. Sekali lagi aku berpesan berhati-hatilah kalian diperjalanan. Bukan saja di
jarak antara padepokan ini sampai ke Gantar. Tetapi juga setelah kalian
meninggalkan Gantar menuju ke manapun.”
“Terima kasih atas peringatan itu,“ jawab Sambi Wulung.
Namun ketika keduanya akan meninggalkan padepokan itu segera, Puguh masih minta
agar mereka makan lebih dahulu.
“Aku tahu kalian mempunyai bekal uang cukup banyak. Kalian dapat singgah di
kedai dan makan apapun yang kalian inginkan. Tetapi aku minta kalian makan
disini sekali lagi sebelum kalian pergi,“ berkata Puguh.
Keduanya tidak menolak. Merekapun kemudian makan bersama-sama dengan Puguh dan
Gagaklahan.
Baru setelah makan, keduanya telah minta diri.
Ternyata Gagaklahan cukup ramah menghadapi keduanya. Sambil tersenyum ia
berkata, “Kapan saja jika kalian ingin singgah di padepokan ini akan kami terima
dengan senang hati. Sebenarnya kehadiran orang-orang yang memiliki nama seperti
kalian sangat menyenangkan. Sayang, bahwa kalian hanya bersedia bermalam satu
malam saja.”
Sambi Wulunglah yang menjawab, “Terima kasih Ki Sanak. Pada kesempatan lain,
kami akan singgah.”
Demikianlah, maka sejenak kemudian kedua orang itupun telah meninggalkan
padepokan itu. Mereka tidak perlu mencari-cari jalan keluar menuju Gantar.
Pengenalan mereka sebagai pengembara sangat tajam, sehingga sekali mereka lewat,
mereka akan dapat mengingatnya dengan baik.
Dalam pada itu, sepeninggal Sambi Wulung dan Jati Wulung, Gagaklahanpun berkata,
“benar-benar mencurigakan. Kau tidak usah menghiraukan apa yang akan terjadi
atas mereka.”
Puguh tidak menjawab. Tetapi iapun segera pergi meninggalkan orang yang
dianggapnya pamannya itu.
Sementara itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah berada diperjalanan menuju ke
Gantar. Dengan nada rendah Jati Wulung bergumam seakan-akan ditujukan kepada
dirinya sendiri, “Puguh tentu menjadi bingung. Kecurigaan orang-orang padepokan
itu membuatnya kehilangan sikap terhadap kami. Sekali-sekali ia memperingatkan
agar kami berhati-hati menghadapi gerombolan yang memasang tanda-tanda topeng
kecil itu. Tetapi pada saat yang lain, ia justru mencurigai bahwa kami adalah
bagian dari orang-orang yang membayangi padepokannya dengan pertanda-pertanda
itu dan bahkan sikap yang keras dan kasar.”
Sambi Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Kecurigaan itu tentu tidak bersumber
pada Puguh. Tentu saja orang-orang padepokan itu tidak akan menuduh kita berasal
dari gerombolan yang membayangi padepokan itu, karena aku justru menganggap
bahwa disamping padepokan yang kita lihat itu, tentu ada padepokan bayangan.
Nah, padepokan bayangan itulah yang telah membentuk diri menjadi padepokan yang
keras, kasar dan mencerminkan watak yang sebenarnya dari orang tua Puguh. Jadi
gerombolan yang lain bukannya membayangi padepokan yang baru saja kita kunjungi,
tetapi justru bayangannya yang jauh lebih gelap dan kelam.”
“Memang masuk akal,“ jawab Jati Wulung, “dua padepokan dengan dua wajah yang
berbeda, tetapi dibawah satu perintah. Tetapi mengenai Puguh sendiri, agaknya ia
mulai berpikir tentang dirinya sendiri.”
“Ya,“ sahut Sambi Wulung, “jika kita sempat berhubungan dengan anak muda itu
lebih lama, maka kita akan dapat membuka pikirannya. Aku masih mempunyai
kepercayaan kepadanya.”
“Kita tidak tahu, siapakah gurunya dan bagaimana sikapnya,“ berkata Jati Wulung
kemudian, “sikap dan pandangan seorang guru akan lebih berpengaruh terhadap
seorang murid daripada sikap ayah dan ibunya sendiri jika anak itu bulat-bulat
diserahkan kepada seorang guru di sebuah padepokan.”
“Tetapi pertanda topeng kecil itu adalah satu gambaran sikap padepokan bayangan
dari padepokan Puguh itu,“ berkata Sambi Wulung kemudian.
Jati Wulung mengangguk-angguk. Tetapi sebenarnyalah merekapun belum dapat
menemukan satu keyakinan yang bulat. Semuanya masih merupakan dugaan-dugaan
meskipun mereka mempunyai alasan-alasan yang kuat.
Namun dalam pada itu, Sambi Wulungpun berkata, “Bagaimanapun juga peringatan
Puguh agar kami berhati-hati itu merupakan peringatan yang benar-benar harus
kita perhatikan. Tentu ia telah mendengar satu rencana yang akan ditrapkan
terhadap kita berdua.”
Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam. Memang banyak hal yang dapat terjadi.
Namun sambil melangkah terus ia berkata, “Apa salahnya untuk selalu
berhati-hati.”
Sebagaimana saat mereka datang, maka merekapun telah menempuh jalan kembali
melalui Gantar. Jalan yang melewati tepi hutan yang lebat. Hutan yang masih
dihuni segala macam binatang buas dan ular-ular raksasa yang berkeliaran.
Tetapi kedua orang yang mempunyai pengalaman yang luas itu sama sekali tidak
gentar, sebagaimana orang-orang padepokan Puguh yang justru sering berburu
binatang di hutan itu.
Tetapi keduanyapun sama sekali tidak mendapat gangguan dari binatang-binatang
buas di hutan itu, sehingga akhirnya merekapun telah menempuh jalan yang
menjauhi hutan itu, memasuki padang perdu yang gersang.
Panas matahari yang mulai mencubit kulit mereka telah memanasi pula rerumputan
dipadang perdu itu. Daun-daun yang menua telah menjadi kuning dan kemudian
berguguran ditanah.
Namun kedua orang itu berjalan terus. Meskipun keringat mulai membasahi tubuh
mereka, tetapi mereka tidak merasa segan untuk melangkah terus.
Akhirnya, merekapun mulai memasuki tanah persawahan yang digarap oleh
orang-orang padukuhan kecil yang tersebar. Dari padukuhan yang satu sampai
kepa-dukuhan berikutnya, mereka tidak lagi merasa terpanggang oleh panasnya
matahari yang meskipun menjadi semakin tinggi. Beberapa batang pohon turi tumbuh
berjajar di pinggir jalan. Meskipun daunnya tidak terlalu lebat, tetapi cukup
rimbun untuk melindungi para pejalan kaki ditengah-tengah bulak itu.
Ketika mereka mendekati padukuhan induk Kademangan Gantar, Jati Wulungpun
berkata, “Sampai disini kita tidak menemukan hambatan apapun juga.”
Sambi Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Kita baru sampai ke Gantar. Kita tidak
tahu apa yang akan terjadi setelah kita melewati Gantar ini.”
“Apakah mereka tahu, dari Gantar kita akan pergi kemana?“ bertanya Jati Wulung.
“Mereka mempunyai seribu mata yang tersebar disekitar padepokan mereka dan
mempunyai seribu telinga yang dipasang dipepohonan dipinggir-pinggir jalan,“
jawab Sambi Wulung.
Jati Wulungpun mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Apapun yang akan mereka
lakukan, asal saja kita berhati-hati. Bahkan mungkin mereka akan dapat berbuat
sesuatu atas kita dengan cara yang sangat licik dan tidak kita duga sebelumnya.”
“Ya. Memang mungkin saja terjadi. Sedangkan kita tidak akan membiarkan diri kita
diterkam oleh bencana apapun juga,“ sahut Sambi Wulung.
Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun ia tidak menjawab lagi. Perhatiannya mulai
tertuju kepada Kademangan induk dihadapan mereka.
Demikian mereka memasuki padukuhan induk Kademangan Gantar, maka mereka
bersepakat untuk singgah disebuah kedai. Bukan sekedar untuk melepas haus dan
lapar. Tetapi mereka ingin mendengar pembicaraan orang dikedai itu tentang
keadaan Kademangan mereka.
Namun ternyata bahwa orang-orang yang berada di kedai itu tidak seorangpun yang
mengeluh tentang peristiwa-peristiwa buruk yang pernah terjadi karena kelakuan
orang-orang jahat. Bahkan rasa-rasanya padukuhan induk itu memang tenang dan
tenteram.
Tetapi keduanya memang tidak dapat menganggap bahwa diri mereka telah terlepas
dari kemungkinan buruk sebagaimana diperingatkan oleh Puguh.
“Seperti yang pernah kita bicarakan,“ berkata Jati Wulung, “biasanya sekelompok
penjahat tidak melakukan kejahatan atas tetangga sendiri.”
Di kedai itu mereka tidak mendapatkan keterangan apa-apa tentang hubungan antara
Gantar dengan orang-orang di padukuhan yang dihuni oleh Puguh, maupun padepokan
atau gerombolan lain yang telah memasang pertanda tertentu di tempat-tempat yang
dianggap lingkungan mereka agar tidak disentuh oleh orang lain.
Karena itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung itu-pun telah melanjutkan
perjalanan mereka meninggalkan padukuhan induk Gantar. Bahkan kemudian merekapun
telah melintasi beberapa padukuhan lain di Kademangan Gantar.
Sambi Wulung dan Jati Wulung justru mulai membuat perhitungan tersendiri ketika
mereka telah keluar dari Kademangan Gantar. Mereka mula memasuki bulak-bulak
panjang diantara padukuhan-padukuhan yang tersebar. Sawah yang terbentang
seakan-akan sampai ke cakrawala, menggapai kaki pegunungan.
“Rasa-rasanya tenaga para penghuni padukuhan itu tidak akan mampu mengerjakan
sawah seluas ini,“ berkata Jati Wulung.
Sambi Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Kerja keras dari para petani. Tetapi
lihat, dibagian itu agaknya sawah dikerjakan tidak sebagaimana disisi yang
lain.”
Jati Wulung menangguk-angguk. Ketika mereka melintasi daerah itu, maka mereka
memang melihat, bahwa agaknya di kotak-kotak sawah itu, air agak lebih sulit
didapat dari bagian yang lain, sehingga yang ditanam di bagian itu adalah padi
dari jenis yang tidak terlalu banyak memerlukan air. Padi gaga.
“Sebentar lagi, daerah ini akan menjadi daerah pategalan. Lihat, beberapa macam
pohon telah ditanam di pematang,“ berkata Sambi Wulung.
Jati Wulung mengangguk-angguk. Diluar sadarnya iapun berhenti dan mengamati
beberapa jenis pohon buah-buahan yang mulai tumbuh dengan subur.
Namun tiba-tiba saja kening Jati Wulung berkerut. Ada sesuatu yang menarik
perhatiannya. Karena itu, maka dengan nada rendah ia berdesis perlahan-lahan,
“Apakah kau melihat sesuatu?”
“Ya. Bukankah benar seperti yang aku katakan. Mereka tahu ke arah mana kita akan
pergi? “ justru Sambi Wulunglah yang kemudian bertanya, “berapa orang yang telah
kau lihat?”
“Aku baru melihat seorang,“ desis Jati Wulung.
Sambi Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Marilah. Kita berjalan terus.
Mudah-mudahan sekedar prasangka kita saja. Jika orang itu adalah seorang petani
yang sedang bekerja di sawah, maka kita telah bersalah. Agaknya jantung kitalah
yang dipenuhi dengan kecurigaan.”
Jati Wulungpun mengangguk-angguk pula. Tetapi iapun kemudian berkata,
“Mudah-mudahan. Tetapi seorang petani tidak akan langsung berusaha menghilang di
balik tanaman disawah melihat kehadiran kita.”
“Agaknya kita memang harus berhati-hati,“ berkata Sambi Wulung.
Demikianlah maka kedua orang itu telah melanjutkan perjalanan mereka, melintasi
bulak panjang yang sepi. Rasa-rasanya orang-orang yang mengerjakan sawahpun
tidak kelihatan pula. Sementara itu tanaman padi yang tumbuh semakin besar
agaknya sudah perlu disiangi.
Namun kedua orang itu terkejut ketika tiba-tiba saja mereka melihat sebatang
anak panah yang meluncur ke udara dari balik sebongkah batu padas.
Sambi Wulung dan Jati Wulung berpandangan sejenak. Sementara itu matahari telah
mulai turun dibelahan langit sebelah Barat. Dengan dahi yang berkerut Sambi
Wulung berkata, “Nah, kita sudah harus melakukannya. Apaboleh buat. Kita tidak
dapat sekedar bermain-main. Mungkin kita benar-benar harus membunuh dalam
keadaan seperti ini.”
“Mereka tentu sudah memperhitungkan kemampuan kita,“ berkata Jati Wulung.
Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Marilah, Kita berjalan terus.”
Keduanyapun berjalan terus. Seakan-akan mereka tidak menghiraukan anak panah
yang terbang melintasi jalan yang mereka lalui.
Namun sejenak kemudian, maka beberapa orangpun telah berloncatan dari balik
batang-batang padi pada jarak yang agak jauh dari jalan yang melintasi bulak
panjang itu.
“Merekapun sangat berhati-hati,“ berkata Sambi Wulung, “mereka mengikuti kita
dari jarak yang sangat jauh.”
“Satu pertanda bahwa mereka memperhitungkan banyak kemungkinan. Agaknya Puguh
telah menceriterakan apa yang terjadi di Song Lawa,“ desis Jati Wulung.
Sambi Wulung mengangguk-angguk. Justru karena mereka mengetahui tataran
kemampuan mereka berdua, maka mereka agaknya telah bertindak sangat
berhati-hati.
Tetapi Sambi Wulung dan Jati Wulung berjalan terus tanpa menghadapi segala
kemungkinan.
Namun dalam pada itu, Sambi Wulung sempat berbisik, “Tentu bukan rencana Puguh.
Justru anak muda itu telah memberikan isyarat kepada kita untuk berhati-hati.”
Jati Wulung mengangguk sambil menjawab, “Ya. Bukan salah anak muda itu.”
Dalam pada itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung menyadari, bahwa beberapa orang
telah meniti pematang, mendahului perjalanan mereka. Beberapa orang diantara
mereka telah meloncati parit dan kemudian berada di jalan yang dilalui oleh
kedua orang itu.
“Nampaknya mereka tidak begitu cerdas berpikir,“ berkata Jati Wulung.
Sambi Wulung tersenyum. Katanya, “Nampaknya orang itu berilmu tinggi. Tetapi
otaknya memang agak tumpul. Yang lain tentu lebih dungu lagi meskipun mereka
sudah terbiasa melakukan tindak kekerasan.”
Keduanya tidak berbicara lagi. Tetapi perhatian mereka tertuju kepada seorang
diantara mereka yang mempergunakan topeng. Kedua orang itu langsung dapat
mengenalinya meskipun wajahnya tidak kelihatan. Selain bentuk tubuhnya, juga
karena orang itu justru memakai topeng, sementara yang lain tidak. Dengan
demikian orang itu tentu berusaha menyembunyikan wajahnya yang sudah dikenal
oleh kedua orang yang dicegatnya.
Karena itu, demikian orang itu berdiri ditengah jalan dengan tangan bertolak
pinggang, maka Sambi Wulung dan Jati Wulungpun berdesis hampir bersamaan,
“Gagaklahan.”
Sementara itu Sambi Wulung dan Jati Wulungpun sempat menghitung orang-orang yang
kemudian telah berloncatan pula dan berdiri disebelah menyebelah orang bertopeng
itu.
“Enam orang,“ berkata Jati Wulung.
“Jumlah yang berat,“ berkata Sambi Wulung.
“Apaboleh buat,“ jawab Jati Wulung.
Namun dalam pada itu, keduanya masih saja berjalan terus.
Keduanya baru berhenti ketika orang-orang itu mengangkat tangannya dan
memberikan isyarat kepada keduanya untuk berhenti.
“Kenapa kau menghentikan perjalanan kami Ki Sanak?“ bertanya Sambi Wulung.
“Kau telah berada didalam daerah kekuasaanku tanpa ijinku,“ jawab orang
bertopeng itu. Suaranya serak dan bergetar dibalik topengnya. Namun Sambi Wulung
dan Jati Wulung mengerti, bahwa orang itu berusaha untuk tidak dikenali.
Orang itu menjadi heran, bahwa kedua orang yang dihentikan itu perhatiannya
justru pada topengnya. Jati Wulung sambil tersenyum bertanya, “Kenapa kau
memakai topeng, sementara kawan-kawanmu tidak?”
Orang itu memang agak menjadi bingung untuk menjawab. Namun kemudian katanya,
“Tidak semua orang boleh mengenal wajahku yang sebenarnya. Hanya orang-orang
penting sajalah yang pantas untuk melihat wajahku.”
“Apakah wajahmu cacat?“ bertanya Jati Wulung pula, “bibirmu sumbing misalnya.
Atau matamu buta sebelah atau hidungmu gerumpung.”
“Cukup,“ orang itu berteriak, “kami datang untuk membunuhmu.”
Sambi Wulung justru tertawa. Katanya, “Jika kau marah, maka kau telah lupa
merubah suaramu. Apalagi saat suaramu melengking, meskipun dibalik topengmu.”
Telinga orang itu bagaikan disentuh api. Sementara Jati Wulung justru bertanya,
“Siapakah kau sebenarnya Ki Sanak? Apakah kau yang bernama Gagaklahan?”
“Anak iblis,“ orang itu mengumpat, “tidak ada hubungannya dengan Gagaklahan.”
“Bukalah topengmu. Tidak ada gunanya dihadapan kami,“ berkata Sambi Wulung,
“pengenalan kami atas seseorang cukup tajam, sehingga tidak sekedar terbatas
pada wajah seseorang. Kami mengenali bentuk tubuhmu. Caramu melangkah, suaramu
yang meskipun kau samarkan dan banyak hal lagi yang dapat kami kenali. Karena
itu topeng itu tidak ada artinya sama sekali. Barangkali hanya akan mengganggu
pandanganmu saja, karena dengan topeng itu, kau tidak dapat melihat bebas
sebagaimana jika kau tidak memakainya.”
Terdengar orang itu mengumpat. Namun ia benar-benar telah membuka topengnya.
Sebenarnyalah bahwa orang itu adalah Gagaklahan.
“Ki Sanak,“ berkata Sambi Wulung kemudian, “kau membuat kami menjadi heran. Apa
pula salah kami, sehingga kau membawa beberapa orang kawanmu menghentikan
perjalanan kami? Jika kau menganggap kami mengganggumu di padepokanmu, maka kami
sudah dengan tergesa-gesa pergi.”
“Ki Sanak,“ berkata Gagaklahan, “sayang skali bahwa kami harus mengambil langkah
pengandabgan. Kehadiran kalian berdua di padepokan kami sangat mencurigakan.
Kalian bukan orang-orang kebanyakan yang tidak mempunyai penilaian tertentu
terhadap padepokan kami. Tetapi justru karena kalian memiliki ketajaman
pengamatan, maka kau bukan orang yang pantas untuk mengunjungi padepokan kami.”
“Bukankah kami datang ke padepokanmu untuk mengantarkan Puguh yang mengalami
kesulitan di Song Lawa dan juga diperjalanan kembali?“ jawab Sambi Wulung. Lalu,
“Bukankah sepantasnya kalian justru berterima kasih kepada kami?”
“Kau sangka kami tidak tahu, bahwa yang kalian lakukan tidak lebih dari sikap
pura-pura? Kau antar Puguh sampai ke padepokannya. Tetapi yang penting bagi
kalian bukan keselamatan Puguh, tetapi dengan demikian kalian akan dapat
melihat-lihat isi padepokanku,“ berkata Gagaklahan.
“Buat apa aku mengintai isi padepokanmu? Aku tidak mempunyai kepentingan sama
sekali. Kau kira kami ini siapa? Kami adalah dua orang pengembara yang
menjelajahi tempat-tempat di atas tanah ini. Kami memasuki lingkungan perjudian
yang satu dan lingkungan perjudian yang lain. Gersik, Bergota, Pajang, Song Lawa
dan tempat-tempat lain. Bahkan kami telah sampai ke tempat perjudian yang
tersembunyi di sebelah Selatan Ceribon dan Kedung Pring di Wanasaba,“ berkata
Sambi Wulung pula.
“Apapun yang kau katakan tidak akan dapat menyelamatkan umurmu. Marilah, ikuti
kami. Kita akan memilih tempat yang baik bagi saat-saat terakhir kalian,“
berkata Gagaklahan.
“Maksudmu?“ bertanya Sambi Wulung.
“Kami dapat membunuh kalian dengan seribu macam cara,“ berkata Gagaklahan, “jika
kau menurut cara yang kami tawarkan, maka kematian kalian akan berjalan rancak
dan baik. Tetapi jika kalian menolak, kami akan memilih cara yang jauh lebih
buruk. Mungkin kalian akan bertahan sampai empat lima hari sebelum kalian
benar-benar mati.”
“Itu mengerikan sekali,“ sahut Jati Wulung, “ternyata bahwa kau adalah iblis
yang paling garang. Kami menyangka bahwa kau benar-benar seorang yang ramah
sebagaimana kau menerima kedatangan kami di padepokanmu.”
“Sudahlah,“ berkata Gagaklahan, “nasib seseorang kadang-kadang memang tidak
dapat dilihat sebelumnya. Sekarang bersiaplah untuk mati.”
“Kau akan menusuk jantung kami?“ bertanya Jati Wulung.
“Tetapi tidak disini. Marilah, lebih baik kita pergi ke kuburan. Kau akan
memperingan pekerjaan kami. Tetapi kaupun akan mengurangi kengerian disaat-saat
matimu,“ berkata Gagaklahan.
Sambi Wulung dan Jati Wulung saling berpandangan sejenak. Yang menjawab kemudian
adalah Sambi Wulung. “Baiklah. Barangkali kami harus bijaksana disaat terakhir
ini. Jumlah kalian terlalu banyak bagi kami.”
“Bagus,“ berkata Gagaklahan,“ berjalanlah.”
“Kemana?“ bertanya Sambi Wulung.
“Ikuti jalan ini. Kami akan memberikan aba-aba.” jawab Gagaklahan.
Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak membantah. Mereka berjalan sambil menundukkan
kepala. Sementara beberapa orang mengikutinya dibelakang.
Ketika mereka sampai disimpang empat, maka Gagaklahan telah memberikan aba-aba
untuk berbelok kekiri. Kemudian beberapa ratus patok mereka berbelok lagi ke
kanan dan masih sekali lagi ke kiri.
Ketika Sambi Wulung dan Jati Wulung memandang lurus kedepan, maka mereka
menyadari, bahwa jalan itu adalah jalan yang menuju kesebuah bukit kecil di
tengah-tengah bulak yang luas. Diatas bukit kecil itu terdapat sebuah kuburan
tua yang sudah tidak dipergunakan lagi kecuali membiarkan kuburan itu
sebagaimana adanya.
Sambi Wulung dan Jati Wulung sempat berpandangan sejenak. Namun kemudian mereka
telah memperhatikan beberapa pohon semboja yang sudah menjadi tua pula dan
berdaun rimbun dengan cabang-cabangnya yang besar-besar serta bunganya yang
semerbak dengan baunya yang khusus. Sementara ditengah-tengah kuburan lebih
besar lagi adalah sebatang pohon cangkring yang beberapa dahan dan rantingnya
telah menjadi lapuk.
“Pandanglah kedepan,“ berkata Gagaklahan, “kalian akan mendapat tempat
beristirahat yang tenang dan tidak akan terganggu lagi.”
Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak menjawab. Namun ketika mereka sampai di regol
kuburan yang telah rusak itu, maka langkah merekapun terhenti.
“Kita akan masuk kedalam,“ berkata Gagaklahan, “didalam kuburan itu sudah
terdapat beberapa macam alat untuk menggali kubur. Nah, tugas kalian adalah
menggali kubur kalian masing-masing. Kemudian berbaring didalamnya. Kami akan
menusuk kalian tepat di jantung.”
“Apakah kalian mempunyai cara yang lain?” bertanya Sambi Wulung.
“Sudah aku katakan, bahwa kami mempunyai seribu cara. Kami dapat mengikat kalian
pada batang pohon cangkring raksasa itu. Kalian harus tahu, bahwa pada batangnya
yang besar itu terdapat sarang semut merah. Semut itu adalah semut yang sangat
rakus. Namun semut-semut itu tentu akan dapat membunuh kalian sekaligus. Semut
itu akan makan bagian-bagian tubuh kalian yang lunak,“ berkata Gagaklahan.
“Mengerikan sekali,“ desis Jati Wulung, “cara itu hanya dilakukan oleh
iblis-iblis yang bengis.”
“Kami memang termasuk iblis yang kau maksud,“ berkata Gagaklahan sambil tertawa.
Jati Wulung menggeretakkan giginya, sementara Gagaklahanpun berkata, “Karena
itu, maka aku telah menyediakan cara yang paling baik buat kalian karena kalian
tidak melawan. Berbaring di lubang kubur dan satu tusukan yang akan menembus
jantung. Kalian akan mati sambil tersenyum disaat terakhir serta mengucapkan
terima kasih untuk yang penghabisan.”
Sambi Wulung dan Jati Wulung kemudian memandangi keadaan disekitarnya. Memang
menyeramkan. Meskipun disiang hari, namun tempat itu telah dilindungi oleh
bayangan dedaunan yang pepat oleh pohon-pohon yang besar serta pohon-pohon
semboja yang tua, sehingga rasa-rasanya sinar matahari tidak dapat menggapai
tanah pekuburan yang lembab berlumut.
“Nah, kalian sempat memilih tempat,“ berkata Gagaklahan, “sebaiknya kalian
menggali lubang kubur sebelah menyebelah. Mungkin didalam kubur kalian sempat
berbincang.”
Sambi Wulung dan Jati Wulung masih memandang berkeliling. Namun kemudian Sambi
Wulungpun berkata, “Maaf Ki Sanak. Tidak ada tempat yang menarik bagiku disini.
Apakah tidak ada tempat lain yang lebih baik? Yang tidak terlindung bayangan
rimbunnya dedaunan sehingga nampak gelap dan menyeramkan.”
“Tidak ada tempat lain,“ jawab Gagaklahan. Lalu, “Cepatlah. Jangan menunggu kami
berubah pikiran. Jika kami merubah keputusan kami dan menentukan cara kematian
kalian yang lain, maka kalian akan menyesal.”
“Tetapi dengan apa kami harus menggali kubur kami?“ bertanya Jati Wulung.
Gagaklahan termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya kepada salah seorang
pengikutnya, “Ambil cangkul itu.”
Dua orang diantara keenam orang yang menyertainya itu telah menyusup kebawah
pohon benda yang berdaun lebat. Mereka telah mengambil dua buah cangkul dari
dalam semak-semak dan membawanya kepada Gagaklahan.
“Berikan kepada mereka,“ berkata Gagaklahan.
Kedua orang itupun telah menyerahkan cangkulnya kepada Sambi Wulung dan kepada
Jati Wulung.
“Nah, sekarang lakukan. Jangan berbuat yang aneh-aneh, sehingga dapat merubah
keputusanku yang terlalu baik bagi kalian,“ geram Gagaklahan.
Sambi Wulung dan Jati Wulungpun berpandangan sejenak. Namun kemudian Sambi
Wulungpun berkata, “Bagaimana jika kalian saja yang menggali kubur ini? Mungkin
lebih baik kalian sajalah yang mati lebih dahulu daripada aku.”
Enam orang pengikut Gagaklahan itu terkejut. Namun Gagaklahan hanya mengerutkan
keningnya. Kemudian katanya kepada orang-orangnya, “Kepung mereka. Jangan beri
kesempatan lolos. Agaknya mereka memang lebih suka menjadi makanan semut merah.
Pada batang pohon cangkring itu terdapat semut merah yang tidak terhitung
jumlahnya, yang akan dapat menghabiskan kedua orang itu meskipun sedikit demi
sedikit.”
Keenam orang itupun segera berloncatan diantara gundukan-gundukan tanah kuburan
dan batu-batu nisan tua yang sudah tidak terawat.
Mereka menjadi semakin heran melihat Jati Wulung itu tertawa. Katanya, “Kau
telah berbaik hati Ki Sanak. Jika kami berdua membunuh kalian di tengah-tengah
bulak, maka kami akan mengalami kesulitan untuk menguburmu. Tetapi disini kami
tidak usah menggotong tujuh sosok mayat dari tengah bulak itu.”
“Persetan,“ geram Gagak lahan,“ jadi kalian akan melawan?”
“Kau kira aku akan menyerahkan leherku atau barangkali jantungku?“ bertanya Jati
Wulung.
Gagaklahan memang nampak menegang. Tetapi ia-pun berkata, “Aku memang sudah
mengira, bahwa kalian tidak akan begitu mudah menyerah. Karena itu, kamipun
tidak dengan serta merta merasa diri kami menang. Menang dengan cara seperti ini
sama sekali tidak memberikan kepuasan kepadaku. Kami lebih senang membunuh
kalian dengan mengerahkan kemampuan. Hasil yang dapat kami capai akan terasa
lebih nikmat. Sebagaimana kami membunuh kalian dengan semut merah akan
memberikan kepuasan lebih besar daripada membunuh kalian dengan menusuk
dijantung.”
“Nah,“ berkata Sambi Wulung, “aku kira, kita sudah terlalu lama bermain-main.
Sekarang, marilah. Siapa yang akan mati.“ Sambi Wulung berhenti sejenak, lalu,
“Sebenarnya kami tidak ingin membunuh siapapun. kami telah menolong Puguh.
Sekarang, kau yang disebut pamannya, justru ingin membunuh kami. Dengan
demikian, maka kami akan dengan sangat terpaksa membela diri. Salah satu cara
untuk menyelamatkan diri sendiri adalah dengan membunuh lawan, meskipun tidak
dengan cara memberikan kepada semut merah.”
“Cukup,“ bentak Gagaklahan yang kemudian memberikan isyarat kepada
kawan-kawannya, “tangkap keduanya. Jika mungkin hidup-hidup. Kita akan
menyaksikan, bagaimana mereka akan mati dikoyak-koyak oleh semut-semut merah
yang gigitannya sepanas api.”
Keenam orang itupun mulai bergerak. Sambi Wulung ternyata sempat berdesis, “Kita
harus benar-benar berhati-hati. Mereka tidak dengan serta merta mempergunakan
senjata-senjata mereka. Agaknya mereka memang orang-orang berilmu.”
“Baiklah. Agaknya kita memang tidak mempunyai pilihan lain,“ sahut Jati Wulung.
Demikianlah maka kedua belah pihakpun telah bersiap. Menurut perhitungan jumlah
orang, maka Sambi Wulung atau Jati Wulung harus melawan empat orang, sedangkan
lainnya melawan tiga orang.
Tetapi agaknya Gagaklahan tidak segera turun ke arena. Ia masih saja berdiri
ditempatnya ketika keenam orang pengikutnya mulai bergerak. Agaknya ia terlalu
yakin bahwa para pengikutnya akan dapat menyelesaikan tugasnya.
“Kalian tidak perlu berbelas kasihan,“ berkata Gagaklahan keduanya harus mati,
agar kesan yang didapat atas padepokan kami terhapus bersama kematian mereka.
Karena mereka telah melawan, maka kalian berhak menentukan cara yang kalian
anggap baik untuk membunuhnya. Karena itu, usahakan untuk menangkap mereka
hidup-hidup. Kita akan kecewa jika mereka cepat mati.”
“Kau benar-benar iblis,“ geram Jati Wulung,“ jangan kau kira dengan demikian kau
dapat menakut-nakuti kami. Tetapi justru telah membakar kegarangan hati kami.
Jangan kau sangka bahwa kami berdua adalah orang baik-baik yang tidak dapat
berbuat kasar. Jika plataran permainan kami adalah tempat-tempat perjudian, maka
kalian dapat membayangkan cara hidup kami serta sumber bekal kami.”
Gagaklahan mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba saja ia telah berteriak
keras-keras, “Bunuh mereka. Cepat.”
Keenam orang itupun mulai berloncatan. Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung yang
menyebut dirinya bernama Wanengbaya dan Wanengpati itu telah-bersiap sepenuhnya.
Karena itu, maka merekapun dengan cepat bergeser pula menghindarinya.
Dengan demikian, maka sejenak kemudian telah terjadi pertempuran yang sengit
antara Sambi Wulung dan Jati Wulung, masing-masing melawan tiga orang. Sementara
Gagaklahan sendiri menyaksikan pertempuran itu dengan tegang.
Seperti dugaan Sambi Wulung dan Jati Wulung, bahwa keenam orang itu bukannya
orang yang tidak berilmu. Apalagi mereka agaknya mempunyai pengalaman yang luas
dalam dunia olah kanuragan, sehingga dengan demikian, maka baik Sambi Wulung
maupun Jati Wulung benar-benar harus berhati-hati melawan mereka.
Seperti badai mereka menyerang Sambi Wulung dan Jati Wulung. Berurutan, susul
menyusul tidak henti-hentinya. Bahkan kadang-kadang dua tiga orang itu telah
bersama-sama datang menyerang.
Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung memiliki kecepatan gerak yang tinggi. Dengan
tangkasnya mereka menghindari setiap serangan. Berloncatan diantara gundukan
tanah dan batu-batu nisan. Bahkan menyusup dibawah dahan dan ranting-ranting
pohon semboja yang menjadi besar dan nampak tua. Kayunya berwarna
keputih-putihan dengan noda-noda yang berwarna coklat tua.
Benturan-benturan kekuatan mulai terjadi. Namun dengan demikian maka keenam
orang pengikut Gagaklahan itupun mengetahui, betapa besarnya kekuatan kedua
orang yang menamakan diri Wanengbaya dan Wanengpati itu.
Beberapa saat kemudian, ternyata Sambi Wulung dan Jati Wulung justru telah
mengambil jarak. Sambi Wulung telah bergeser kebawah pohon benda yang berdaun
rimbun. Sedangkan Jati Wulung telah bertempur dekat dengan pokok batang
cangkring raksasa. Duri-duri pada batang dan dahan-dahannya yang besarpun nampak
garang meskipun menjadi tidak terlalu runcing.
Gagaklahanpun telah bergeser pula. Ia tidak mau berdiri terlalu jauh dari arena
pertempuran yang menjadi semakin sengit itu.
Ternyata bahwa pekerjaan Sambi Wulung dan Jati Wulung menjadi semakin berat.
Ketiga orang yang harus mereka hadapi masing-masing itu semakin meningkatkan
kemampuan mereka. Mereka berloncatan dengan tangkasnya, sementara tangan dan
kaki mereka menyambar-nyambar.
Tetapi Sambi Wulung dan Jati Wulung telah memanfaatkan tempat yang ada. Ternyata
bahwa ketiga orang yang harus mereka lawan masing-masing itu tata geraknya
memang terhambat oleh batu-batu nisan tua yang sudah tidak terawat. Bahkan
sekali-sekali dalam keadaan yang tergesa-gesa, kaki mereka justru telah terantuk
batu-batu nisan itu.
Gagaklahan memperhatikan pertempuran itu dengan sungguh-sungguh. Namun
sekali-sekali iapun telah mengumpat. Ternyata bahwa tiga orangnya tidak segera
dapat mengatasi hanya seorang saja diantara lawan-lawan mereka.
Tetapi Gagaklahan cukup yakin akan kemampuan keenam orang itu. Orang yang telah
dipercaya untuk melakukan tugas-tugas yang berat dan berbahaya.
Tetapi berhadapan dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung keenam orang itu memang
mengalami kesulitan. Kedua orang itu seakan-akan mampu, bergerak mengatasi
penglihatan matanya, sehingga keduanya kadang-kadang merasa seakan-akan telah
kehilangan lawannya itu. Namun yang tiba-tiba saja telah muncul dibelakang
mereka.
Keenam orang itu memang harus mengakui betapa tinggi ilmu lawan mereka. Tetapi
seperti Gagaklahan, mereka yakin bahwa bertiga, mereka tentu akan dapat membunuh
lawannya. Bahkan menangkap mereka hidup-hidup dan menghukumnya seperti yang
dikehendaki Gagaklahan.
Namun benturan-benturan yang kemudian terjadi, ternyata memberikan isyarat lain
kepada keenam orang itu. Ketika salah seorang lawan Sambi Wulung sempat meloncat
dan menjulurkan kakinya dengan sepenuh tenaga, maka Sambi Wulung yang tidak
sempat mengelak telah menangkis serangan itu. Sambil memiringkan tubuhnya dan
sedikit merendah, ia melindungi tubuhnya dengan sikunya.
Dalam benturan itu, ternyata lawan Sambi Wulung telah menyeringai menahan sakit.
"Bukan saja kakinya yang membentur siku Sambi Wulung, tetapi juga karena iapun
kemudian telah terdorong surut. Namun malang baginya, karena kakinya terantuk
batu nisan, sehingga iapun telah terjatuh menimpa batu nisan itu.
Batu nisan itu memang sudah tua. Karena itu, maka batu nisan itupun telah
terguling pula.
Orang itupun kemudian telah mengumpat-umpat disela-sela desah kesakitan. Kakinya
yang kesakitan karena membentur siku Sambi Wulung justru telah terluka pula
karena terantuk batu nisan yang kemudian terguling itu. Bahkan darah mulai
mengembun dari luka yang dangkal tetapi terasa pedih itu. Apalagi ketika luka
itu menjadi basah karena keringatnya sendiri.
Namun sambil menggeram orang itupun segera bangkit. Dengan menggeretakkan
giginya ia dapat mengatasi perasaan sakit itu. Sehingga sejenak kemudian, maka
iapun telah meloncat memasuki arena pertempuran kembali.
Tetapi demikian ia mulai menyerang, maka seorang kawannya justru telah
terbungkuk-bungkuk sambil memegangi perutnya. Sambi Wulung yang berputar satu
lingkaran dan bertumpu dengan sebelah kakinya, telah menyambar perut orang itu
dengan tumit kakinya yang lain.
Orang itupun telah bergeser surut. Perutnya menjadi mual. Rasa-rasanya isinya
akan tumpah keluar.
Tetapi Sambi Wulung tidak dapat memburunya, karena orang yang terjatuh menimpa
batu nisan itu telah memasuki arena pula dengan garangnya. Bahkan teriakannya
bagaikan meruntuhkan dahan-dahan pohon benda yang rimbun itu.
Sementara itu dibawah pohon cangkring, Jati Wulungpun bertempur dengan
sengitnya. Tidak banyak batu nisan yang bertebaran dibawah batang cangkring itu.
Karena itu, maka baik Jati Wulung, tetapi juga lawan-lawannya menjadi lebih
leluasa bergerak. Mereka berloncatan untuk saling menyerang dan menghindar.
Namun ternyata Jati Wulung nampak lebih keras daripada Sambi Wulung menghadapi
orang-orang yang kasar itu. Semakin kasar ketiga orang yang bertempur
melawannya, maka Jati Wulungpun menjadi semakin keras pula.
Dengan garangnya Jati Wulung berloncatan menyerang ketiga orang lawannya
berganti-ganti. Semakin lama menjadi semakin cepat. Ketika dua orang lawannya
menyerangnya bersama-sama dari dua arah yang berbeda, maka Jati Wulung sempat
meloncat menghindar namun justru telah menyerang orang yang ketiga. Demikian
tiba-tiba sehingga orang itu justru terkejut karenanya.
Namun orang ketiga itu masih juga berusaha menangkis serangan Jati Wulung.
Tetapi sambil menggeliat, Jati Wulung telah mengurungkan serangan kakinya.
Tetapi tangannyalah yang kemudian terayun mendatar. Sehingga dengan punggung
tangannya yang mengepal, maka ia telah menghantam tengkuk orang itu.
Orang itu terdorong beberapa langkah. Betapapun ia berusaha tetapi ia telah
kehilangan keseimbangannya, sehingga iapun kemudian telah jatuh terjerembab.
Untunglah bahwa dahinya tidak membentur batu nisan yang sejengkal terbujur
dihadapannya. Namun demikian, wajahnya bagaikan dilumuri dengan debu tanah
pekuburan tua.
Orang itupun kemudian bangkit sambil membersihkan wajahnya dengan lengan
bajunya. Dengan kasar iapun telah mengumpat-umpat.
“Aku bunuh kau orang gila,“ teriaknya.
Dengan garang orang itupun kemudian telah meloncat memasuki arena kembali. Namun
bagaimanapun juga, orang-orang yang melawan Sambi Wulung dan Jati Wulung itu
semakin lama harus mengakui bahwa lawannya memang seorang yang berilmu tinggi.
Bahkan semakin lama tangan Sambi Wulung dan Jati Wulung itu rasa-rasanya menjadi
semakin bergerak, berputaran dan terayun kesegala arah.
Satu-satu Sambi Wulung dan Jati Wulung menyentuh tubuh lawannya semakin sering.
Setiap serangan yang mengenai tubuh lawannya terasa bagaikan meremukkan tulang.
Karena itu, semakin sering serangan kedua orang itu mengenai lawannya, maka
tubuh lawan-lawan mereka-pun serasa menjadi semakin sakit.
Bahkan seorang diantara lawan Sambi Wulung rasa-rasanya tidak lagi dapat
mendekati lawannya karena lambungnya yang sakit. Bahkan sebelah matanya bagaikan
tertutup oleh noda yang kebiruan karena pukulan Sambi Wulung di wajahnya.
Sehingga orang itu merasa tidak lagi dapat bergerak dengan cepat mengimbangi
pertempuran yang semakin seru itu.
Dalam pada itu Gagaklahan menjadi cemas. Semula ia memang yakin bahwa dalam
waktu singkat, keenam orangnya itu akan dapat menyelesaikan dua orang betapapun
orang itu berilmu tinggi. Tetapi semakin lama pertempuran itu berlangsung, maka
iapun menjadi semakin ragu.
Orang yang matanya mulai membengkak itu, tidak mau membiarkan keadaan menjadi
semakin parah. Karena itu, betapapun ia harus mempertimbangkan harga diri, namun
akhirnya iapun telah menarik senjatanya. Sebilah pedang yang tajam
berkilat-kilat.
Sambi Wulung meloncat dua langkah surut, sehingga iapuh berdiri hampir bersandar
pada batang pohon benda yang besar itu.
Orang yang matanya membengkak dan lambungnya terasa sakit sekali itu maju
perlahan-lahan. Sambil mengacukan pedangnya ia berkata, “Sebenarnya aku ingin
menangkap kau hidup-hidup. Tetapi kami tidak dapat menolak kenyataan, bahwa kau
mampu bergerak demikian cepatnya. Namun itu bukan pertanda bahwa kau akan dapat
keluar dari kuburan ini.”
Sambi Wulung tidak segera menjawab. Ia memalingkan wajahnya memandang kepada
kedua orang lawannya yang lain. Namun karena salah seorang diantara mereka telah
menarik senjatanya, maka yang dua orang itupun telah menggenggam senjatanya pula
di tangan.
Ketiga orang lawan Sambi Wulung masing-masing telah memegang pedang. Meskipun
bentuknya berbeda, namun agaknya ketiganya memiliki ilmu pedang yang baik.
Bahkan seorang diantara mereka telah memegang pedang di tangan kanannya, sedang
di tangan kirinya tergenggam sebuah pisau belati yang agak panjang.
Ketika ketiga orang itu mulai menggerakkan senjata mereka, maka nampaknya ilmu
pedang mereka memang meyakinkan.
Karena itu, maka Sambi Wulung tidak mau membiarkan dirinya dikoyak-koyak oleh
ujung-ujung pedang yang runcing tajam itu.
Demikian lawan-lawannya menjadi semakin dekat, maka Sambi Wulungpun telah
menarik pedangnya pula.
Pedangnya memang bukan pedang pilihan dan mempunyai kekuatan khusus. Tetapi ilmu
pedang Sambi Wulunglah yang memiliki kelebihan dari orang lain.
Sejenak kemudian, maka ketiga orang lawan Sambi Wulung itu telah menjulurkan
pedang mereka masing-masing. Namun dalam pada itu Gagaklahan masih berteriak,“
jangan biarkan orang itu cepat mati. Kau ingin tahu, seberapa tinggi daya
tahannya menghadapi tekanan pada tubuhnya. Biarlah ia mati perlahan-lahan,
sehingga untuk beberapa hari kita akan mempunyai tugas menengoknya kemari.”
“Kalian benar-benar iblis yang tidak pantas diberi kesempatan untuk tetap
hidup,“ geram Sambi Wulung yang benar-benar merasa muak dengan sikap orang-orang
itu.
Sejenak kemudian, maka seorang diantara lawan-lawannya telah mulai menjulurkan
pedangnya untuk menyerang. Sambi Wulung tidak kenangkis serangan itu. Tetapi ia
bergeser melangkah surut.
Namun kemudian serangan yang himpun telah menyusul. Semakin lama semakin deras
mengalir tanpa henti-hentinya.
Sambi Wulungpun mulai memperlihatkan pula ilmu pedangnya. Dengan cepat pedangnya
berputar, terayun mendatar, menyambar dengan derasnya untuk kemudian mematuk ke
arah jantung.
Gagaklahan yang menyaksikan pertempuran itu memang agak terkejut. Ternyata Sambi
Wulung adalah seorang yang memiliki ilmu pedang yang sangat tinggi.
Sementara itu, orang-orang yang bertempur melawan Jati Wulungpun telah melakukan
hal yang sama. Merekapun telah bersenjata pula. Seperti kawan-kawannya yang
bertempur melawan Sambi Wulung, maka merekapun bersenjata pedang meskipun
bentuknya juga berbeda-beda. Bahkan seorang diantaranya mempergunakan pedang
yang pendek, tetapi tangkainyalah yang agak lebih panjang dengan tangkai pedang
kebanyakan.
Dengan demikian maka pertempuranpun menjadi semakin berbahaya, karena mereka
telah bersenjata di tangan. Bahkan Jati Wulung sempat memperingatkan, “Dengan
senjata di tangan, maka nyawa kalian akan semakin cepat terpisah dari tubuh
kalian.”
“Omong kosong,“ geram salah seorang lawannya, “apakah kau sudah mulai ketakutan
melihat gemerlapnya daun pedang?”
“Aku juga mempunyai pedang,“ sahut Jati Wulung.
Lawannya tidak sempat menyahut. Jati Wulung telah meloncat menyerang. Pedangnya
berputaran dengan cepatnya. Kemudian menyambar-nyambar seperti burung sikatan.
Ujungnya seakan-akan mengiang diujung telinga. Seperti seekor lalat yang
berterbangan untuk hinggap.
Dengan demikian maka pertempuran menjadi semakin lama semakin sengit. Dentang
senjata menjadi semakin sering terdengar disertai kilatan bunga api yang
meloncat dari benturan.
Gagaklahanpun menjadi semakin tegang pula melihat pertempuran yang nampaknya
tidak berkesudahan itu. Bahkan dengan pedang di tangan Sambi Wulung dan Jati
Wulung menjadi semakin garang.
Jantung Gagaklahan bagaikan disengat api ketika ia melihat salah seorang
diantara para pengikutnya yang terlempar beberapa langkah surut. Ternyata bahwa
Sambi Wulung telah berhasil melukai orang itu. Segores luka telah mengoyak
dadanya memanjang dari bahu sampai ke bahu meskipun tidak begitu dalam. Namun
dari luka itu ternyata telah mengalir darah.
Untuk beberapa saat lamanya Gagaklahan masih berdiri bagaikan membeku betapapun
jantungnya gelisah. Ia masih memaksa diri untuk mempercayai bahwa orang-orangnya
akan dapat menyelesaikan kedua orang itu.
Tetapi ternyata bahwa yang terjadi bukannya seperti yang diharapkan. Ternyata
bahwa orang-orangnya justru semakin terdesak. Ujung pedang Sambi Wulung dan Jati
Wulung telah berhasil menyentuh kulit lawan-lawannya. Segores demi segores,
keduanya telah melukai lawannya sehingga darah telah mengalir dibeberapa tempat
yang menganga.
Karena itu, maka pertempuranpun menjadi semakin longgar bagi Sambi Wulung dan
Jati Wulung. Karena kemampuan ilmu pedangnya maka lawan-lawannya tidak berani
menjadi terlalu dekat tanpa perhitungan yang meyakinkan.
Karena itulah, maka akhirnya Gagaklahan tidak dapat mempercayakan kedua orang
itu hanya kepada para pengikutnya. Ketika ia melihat seorang lagi diantara
mereka terluka dilengannya, meskipun hanya segores kecil tetapi cukup dalam,
maka iapun menggeram sambil berkata, “Akhirnya aku sendiri yang terpaksa
membunuh mereka.”
Ketika Gagaklahan mulai bergerak, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung menyadari,
bahwa orang itu tentu akan ikut pula dalam pertempuran dengan membenturkan ilmu
pedangnya. Sementara itu keduanyapun menyadari, bahwa Gagaklahan tentu memiliki
kelebihan dari keenam orang pengikutnya.
Karena itu, ketika Gagaklahan kemudian bergerak mendekati Sambi Wulung, maka
Sambi Wulungpun telah bertindak cepat. Ia harus mengurangi lawannya yang lain
untuk dapat memusatkan perhatiannya kepada Gagaklahan. Ia masih berniat untuk
bertempur tanpa puncak-puncak kemampuannya jika ia tidak dipaksa oleh keadaan
yang memang sangat gawat.
Dalam waktu yang sempit itu, Sambi Wulung harus bergerak cepat, sementara itu,
ketiga lawannya yang melihat Gagaklahan akan hadir, justru menjadi semakin
garang.
Pada hentakkan-hentakkan terakhir, justru senjata salah seorang lawannya telah
menyentuh bahu Sambi Wulung. Selangkah Sambi Wulung meloncat surut ketika
perasaan sakit itu menyengatnya. Namun dengan demikian, maka Sambi Wulungpun
menjadi sangat marah karenanya.
Karena itu, maka iapun telah menghentakkan kemampuan ilmu pedangnya. Satu
kekuatan yang sangat besar seakan-akan telah mengalir ke tangannya yang
menggenggam pedang, sehingga karena itu, maka pedangnya tidak saja menjadi
semakin cepat bergerak, tetapi dengan dorongan kekuatan yang berlipat.
Dengan loncatan dan hentakkan yang mengejut, maka pedangnya telah
menyambar-nyambar dengan dahsyatnya.
Gagaklahan dapat membaca perhitungan Sambi Wulung yang akan mengurangi jumlah
lawannya sebelum Gagaklahan turun ke arena. Karena itu, maka Gagaklahan pun
telah meloncat dengan langkah-langkah panjang, diantara batu-batu nisan tua.
Tetapi justru karena itu, maka Sambi Wulungpun telah menghentak pula pada
saat-saat terakhir. Demikian Gagaklahan mencapai arena pertempuran dibawah pohon
benda itu, maka dua orang pengikutnya telah terlempar dengan derasnya. Seorang
diantaranya terbanting jatuh. Kepalanya membentur sebuah batu nisan, sehingga
untuk seterusnya tidak bangkit lagi. Sedangkan seorang lagi terdorong beberapa
langkah. Ia tidak dengan serta merta terbanting jatuh. Beberapa saat ia berusaha
untuk tetap bertahan. Tetapi iapun kemudian terhuyung-huyung dan kehilangan
keseimbangannya. Luka diperutnya telah menganga. Darah mengalir seperti diperas
dari tubuhnya. Sehingga akhirnya, maka iapun telah jatuh diatas lututnya dan
kemudian terbaring ditanah. Nafasnya satu-satu masih sempat mengalir ketika
Gagaklahan berteriak, “bertalianlah. Aku akan membalas kematianmu. Jangan mati
sebelum kau sempat melihat mayatnya terbujur disisimu.”
Tetapi ternyata itu merupakan satu kesalahan lagi bagi Gagaklahan. Justru pada
saat ia berteriak kepada orangnya yang sudah hampir kehilangan nyawanya itu, ia
mendengar seorang lagi diantara pengikutnya itu mengaduh tertahan. Seorang yang
tersisa dari lawan Sambi Wulung itu telah meloncat menjauh. Luka yang dalam
telah menganga di pundaknya.
“Setan kau,“ geram Gagaklahan. “Kau bunuh orang-orangku seperti membunuh itik.”
“Orang-orangmu memang tidak lebih dari itik-itik rawa yang tidak berarti. Kau
sendiri barangkali tidak lebih dari induk itik itu pula,“ jawab Sambi Wulung.
Gagaklahan mengumpat kasar. Iapun kemudian maju selangkah sambil mengacukan
pedangnya yang panjang dan ramping. Namun agaknya terbuat dari besi baja
pilihan.
Ternyata bahwa kawannya yang seorang, yang ter luka dipundaknya masih berusaha
untuk ikut pula dalam pertempuran itu. Dilepaskannya ikat kepalanya untuk
menahan arus darah yang keluar dari lukanya.
“Marilah,“ berkata Sambi Wulung kemudian, “luka di tubuhku memang harus kalian
bayar dengan sangat mahal. Selebihnya, menurut pendapatku, orang-orang seperti
kalian ini tidak sepantasnya tinggal hidup diantara orang lain. Kalian ternyata
dapat berbuat jauh lebih kejam dari orang-orang yang disebut orang jahat yang
pernah kau kenal. Bahkan orang jahat seperti aku dan saudaraku itu.”
Gagaklahan tidak segera menjawab. Ia bergeser selangkah kesamping, sementara
kawannya yang sudah terluka itu mengambil arah yang berbeda.
“Kaulah yang akan mati disini,“ berkata Sambi Wulung pula, “untuk selanjutnya
kau telah memaksa aku untuk kembali ke padepokanmu. Aku harus membunuh
orang-orang yang tersisa, termasuk keuntungan aku dapatkan, bahwa aku ternyata
menjumpai sebuah padepokan yang isinya harus ditumpas habis.”
“Kau boleh mengigau apa saja,“ berkata Gagaklahan, “karena kau belum mengenal
Gagaklahan. Jika kau mulai menyentuh pedangku dengan ujung senjatamu, maka kau
akan berkata lain.”
“Kau kira aku akan berkata apa lagi? Dua orangmu telah mati. Yang seorang itu
sebentar lagi juga akan mati,“ jawab Sambi Wulung.
“Pedangmu adalah pedang yang dibuat oleh pande besi di pinggir pasar. Sedangkan
senjataku adalah hasil buatan seorang Empu yang namanya telah kawentar. Selain
jenis senjata yang ada pada kami masing-masing, maka kemampuanmu bermain
pedangpun belum memadai menandingi aku,“ geram Gagaklahan.
“Satu cara yang sudah tidak pantas lagi dipergunakan sekarang ini.
Menakut-nakuti dengan kata-kata yang mengerikan serta melemahkan lawan secara
jiwani. Mungkin pencuri-pencuri ayam akan ketakutan mendengar ancaman seperti
itu. Tetapi aku adalah perampok dan pembunuh ditempat-tempat perjudian yang
besar di seluruh tanah ini. Karena itu, kami berdua akan sanggup menumpas seisi
padepokan itu termasuk Puguh dan kedua orang tuanya. Bahkan orang yang disebut
gurunya itu.”
Wajah Gagaklahan menjadi merah. Memang ada sepercik penyesalan didalam dirinya,
bahwa ia telah mengusik kedua orang yang belum tentu akan berbuat buruk terhadap
padepokannya. Jika kemudian ternyata ia tidak berhasil membunuh keduanya, maka
keduanya benar-benar akan menjadi bahaya bagi padepokannya.
Tetapi justru karena hal itu sudah terlanjur dilakukan, maka bagi Gagaklahan
memang tidak ada pilihan lain, kecuali benar-benar membunuh kedua orang itu.
Karena itu, Gagaklahan tidak berbicara lagi. Iapun kemudian melangkah semakin
dekat. Pedangnya mulai terjulur dan bergetar, kemudian berputar cepat mengitari
pedang lawannya. Namun kemudian menusuk deras kearah jantung.
Sambi Wulung bergeser mundur. Pedangnyapun bergerak cepat pula. Demikian tusukan
lawan tidak menyentuh tubuhnya, maka Sambi Wulung telah menepis ujung pedang
Gagaklahan kesamping, berputar dan pedangnya terayun deras mengarah leher.
Gagaklahan menggeliat. Kepalanya menunduk rendah, sehingga pedang Sambi Wulung
terbang diatas ubun-ubunnya. Namun dalam pada itu sambil merendah, ujung
pedangnya dengan cepat menusuk lambung.
Tetapi Gagaklahan belum berhasil. Sambi Wulung sempat bergeser selangkah sambil
memiringkan tubuhnya. Namun iapun harus cepat meloncat, karena lawannya yang
seorang lagi telah menyambarnya dengan sisa kekuatan yang ada padanya.
“Jika kau paksakan dirimu untuk bertempur terus, maka kau akan mati karena
kehabisan darah,“ geram Sambi Wulung. Lalu katanya pula, “Setiap hentakan gerak
tubuhmu, sama dengan memeras darah dari nadimu yang terputus oleh ujung
pedangku.”
Orang itu tidak menjawab. Tetapi tubuhnya memang merasa menjadi semakin lemah.
Tetapi ia masih saja memaksa dirinya untuk ikut bertempur bersama Gagaklahan.
Namun ketika Gagaklahan semakin meningkatkan ilmunya menghadapi Sambi Wulung
yang garang, maka ia telah dikejutkan oleh umpatan yang kasar, namun diselingi
oleh desah kesakitan. Gagaklahan itu sempat melihat seorang pengikutnya yang
bertempur melawan Jati Wulung telah terdorong surut beberapa langkah. Namun
sebelum ia sempat memperbaiki keadaannya, tiba-tiba saja Jati Wulung telah
melenting, lepas dari perlawanan dua orang lawannya yang lain, sambil
menjulurkan pedangnya langsung menusuk dada tembus kejantung.
Ketika kedua lawannya menyusulnya, maka Jati Wulung telah menarik pedangnya itu
dan berdiri tegak menghadap ke arah kedua lawannya yang lain. Satu kakinya
ditariknya setengah langkah kebelakang, sementara lututnya agak ditekuknya.
Pedangnya berdiri tegak didepan tubuhnya, sementara telapak tangan kirinya
terbuka melekat pada punggung pedangnya itu.
Kedua orang lawannya yang tersisa termangu-mangu sejenak. Merekapun telah
terluka oleh goresan-goresan ujung pedang Jati Wulung. Namun luka-luka itu tidak
banyak berpengaruh atas kemampuan perlawanan mereka, meskipun darah mengalir
pula dari luka itu.
Tetapi ketika seorang kawannya telah terbunuh dengan tusukan tepat dijantung,
maka mereka menjadi semakin tegang menghadapi lawannya yang garang itu.
Sementara itu, merekapun tahu, bahwa dua orang kawan mereka yang bertempur
melawan Wanengbayapun telah terbunuh pula. Bahkan Gagaklahan tidak lagi dapat
mereka harapkan untuk membantu, karena Gagaklahan telah bertempur melawan
Wanengbaya itu.
Namun kedua orang lawan Jati Wulung itu tidak dapat merenungi keadaannya terlalu
lama. Sejenal kemudian, maka terdengar Jati Wulung itu berteriak nyaring.
Pedangnya terangkat tinggi-tinggi. Kemudian dengari garangnya ia telah meloncat
dengan ayunan pedang yang menggetarkan jantung.
Pertempuranpun telah berlangsung pula dengan kerasnya. Kedua orang yang tersisa
itupun justru menjadi putus asa menghadapi kegarangan Jati Wulung. Pedangnya
yang terayun-ayun itu menjadi semakin mengerikan. Bahkan putaran yang cepat
serta berbagai unsur gerak yang lain, membuat pedang Jati Wulung itu seakan-akan
menjadi puluhan pedang yang menari-nari disekitar tubuh kedua orang lawannya.
Dalam keadaan yang gawat, maka kedua orang itu ternyata telah mengambil sikap
yang menentukan. Sebagai pasangan yang telah bekerja sama dalam waktu yang lama,
maka tanpa isyaratpun keduanya dapat saling membaca maksud masing-masing.
Karena itulah, maka dengan ancang-ancang yang cukup, keduanya telah menyerang
bersamaan dengan mengerahkan segenap kemampuan mereka. Keduanya telah menyerang
dengan senjata masing-masing yang terayun deras dari dua arah.
Jati Wulung yang telah dibasahi oleh keringatnya itupun merasa bahwa tenaganya
akan segera mulai susut. Karena itu, maka iapun telah memutuskan untuk berusaha
mengakhiri pertempuran itu.
Karena itu, ketika serangan kedua orang itu datang bersama-sama, maka Jati
Wulungpun telah meloncat selangkah kesamping. Kemudian menggeliat untuk
menghindari tusukan pedang lawannya yang lain. Namun sementara itu, iapun telah
merendah sedikit sambil menjulurkan pedangnya langsung mengoyak lambung.
Sementara itu, iapun telah meloncat dan menghantam lawannya yang lain dengan
kakinya tepat mengenai dadanya justru disaat terbuka, sehingga lawannya itu
terlempar beberapa langkah surut. Adalah nasibnya yang buruk, jika tubuhnya itu
telah menghantam pohon cangkring raksasa yang berduri.
Ternyata keduanya tidak tertolong lagi. Keduanya-pun kemudian telah terkapar
ditanah pekuburan tua itu.
Bersamaan dengan itu, maka Sambi Wulungpun telah sempat menyelesaikan lawannya
yang seorang. Betapa lemahya orang itu sehingga ia tidak sempat menghindar
ketika Sambi Wulung mengayunkan dengan deras sekali pedangnya mendatar.
Yang kemudian berhadapan adalah Sambi Wulung dengan Gagaklahan. Bagaimanapun
juga Gagaklahan harus berpikir tentang kemampuan lawannya itu. Meskipun lawannya
sudah mengerahkan tenaganya, sehingga mulai menjadi letih, namun kemampuan ilmu
pedangnya benar-benar mendebarkan jantung Gagaklahan.
Tetapi Gagaklahan adalah orang yang sangat berpengalaman. Ia adalah seorang yang
seakan-akan tidak berperasaan. Kematian sama sekali tidak dapat menggetarkan
lagi jantungnya. Karena itu kadang-kadang ia mencari kepuasan dengan membunuh
lawan-lawannya dengan cara yang khusus.
Agaknya hal itulah yang membuat Sambi Wulung tidak lagi dapat mengampuninya.
Bagi Sambi Wulung, orang-orang seperti Gagaklahan itu tidak berhak untuk hidup
lebih lama lagi. Tidak akan ada cara untuk membuatnya menyesali kebengisannya.
Apalagi membuatnya jera untuk tidak melakukan lagi. Hukuman apapun yang
ditimpakan kepadanya, jika masalah sudah dilaluinya, maka ia tentu akan kembali
hidup dalam dunia yang kelam itu.
Karena itu, maka Sambi Wulungpun telah memutuskan, bahwa orang yang bernama
Gagaklahan itu harus dimusnahkan.
Demikianlah, maka pertempuran berikutnya adalah pertempuran diantara orang-orang
yang berilmu tinggi. Keduanya memiliki ilmu pedang yang mumpuni, sehingga karena
itu, maka pertempuranpun telah berlangsung dengan sengitnya. Kedua senjata di
tangan dua orang yang bertempur itu telah berbenturan berkali-kali dengan
melontarkan percikan api di udara. Namun Sambi Wulung memang harus mengakui,
bahwa pedang lawannya adalah pedang yang jauh lebih baik dari pedangnya.
Dalam benturan-benturan yang keras, maka tajam pedang Sambi Wulung justru telah
terluka, sehingga timbul lekuk-lekuk yang semakin banyak dan semakin dalam.
Ketika Gagaklahan sempat melihat pedang Sambi Wulung, maka iapun telah melompat
mengambil jarak. Sambil tertawa ia berkata, “Lihat pedangmu.”
Sambi Wulung termangu-mangu. Sementara itu Jati Wulung yang telah kehilangan
ketiga lawannya, telah berdiri pula beberapa langkah di dekat pohon benda,
melihat betapa Sambi Wulung bertempur melawan Gagaklahan.
Tetapi Jati Wulung yang tahu pasti tataran kemampuan Sambi Wulung sama sekali
tidak berniat untuk melibatkan diri dalam perkelahian itu.
Namun dalam pada itu, Gagaklahan masih saja tertawa. Katanya kemudian, “Nah,
marilah. Agaknya kalian akan bertempur berpasangan. Jika demikian, maka
pekerjaanku akan menjadi semakin cepat selesai.”
Jati Wulung bergeser selangkah maju. Dengan nada rendah ia menjawab, “Enam
orangmu telah mati. Sebaiknya kau menyerah saja, agar kau tidak perlu kami ikat
pada batang cangkring yang penuh dengan semut merah itu. Karena semut merah itu
akan makan bagian-bagian yang lunak dari tubuhmu. Kau akan mati dengan
perlahan-lahan.”
“Persetan,“ geram Gagaklahan, “marilah. Agaknya kau yang ingin mati lebih
dahulu.”
Tetapi Sambi Wulunglah yang kemudian berkata, “Aku belum kau kalahkan
Gagaklahan.”
Gagaklahan berpaling ke arah Sambi Wulung. Pedangnyapun telah bergetar pula.
Tiba-tiba saja ia meloncat sambil mengayunkan pedangnya dengan garangnya.
Sekali lagi telah terjadi benturan senjata. Pedang Sambi Wulung yang tidak
sebaik pedang Gagaklahan ternyata telah gempil lagi pada tajamnya, sehingga
menambah lekuk-lekuk yang memang sudah banyak terdapat.
Sambil menyerang terus Gagaklahan berkata, “Sebentar lagi, maka tajam pedangmu
akan habis. Pedangmu sama sekali tidak akan berguna lagi.”
Sambi Wulung tidak menjawab. Namun ia telah mempercepat geraknya dan
meningkatkan kekuatannya, sehingga pertempuran itu menjadi semakin cepat.
Namun setiap kali Gagaklahan masih saja menyebut-nyebut tentang pedang Sambi
Wulung yang memang menjadi cacat. Tajamnya telah menjadi semakin habis. Yang ada
kemudian adalah lekuk-lekuk seperti gerigi keping besi yang sudah menjadi aus.
Tetapi Sambi Wulung sama sekali tidak menjadi cemas. Bagaimanapun juga, ternyata
bahwa pedangnya masih belum patah. Menyadari akan mutu senjatanya, maka Sambi
Wulungpun harus memperhitungkan setiap benturan, meskipun ia tidak dapat
menghindari luka-luka pada tajam pedangnya itu, namun ia berhasil mempertahankan
pedangnya sehingga tidak patah.
Gagaklahan yang merasa mempunyai kelebihan dari Sambi Wulung menjadi semakin
banyak menyerang. Ia berusaha untuk selalu membenturkan senjata. Bahkan
Gagaklahan berusaha agar terjadi benturan yang cukup keras untuk mematahkan
pedang Sambi Wulung. Tetapi usahanya itu tidak mudah untuk dilakukannya.
Dengan demikian, maka Gagaklahanlah yang kemudian berusaha untuk selalu
menyerang dengan ayunan-ayunan pedang yang deras dan kuat. Setiap kesempatan
Gagaklahan telah mempergunakan segenap tenaganya. Ia berharap akan dapat
membentur dan sekaligus mematahkan pedang lawannya, sehingga dengan demikian,
maka ketahanan jiwaninyapun tentu akan patah sebagaimana pedangnya. Dalam
keadaan yang demikian, maka tidak sulit bagi Gagaklahan untuk dengan cepat
mengakhiri pertempuran.
Tetapi ternyata Sambi Wulung memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Dengan
tangkasnya Sambi Wulung mampu menempatkan dirinya, sehingga serangan-serangan
Gagaklahan sama sekali tidak menyudutkannya.
Namun Gagaklahan tidak henti-hentinya menyerangnya seperti banjir bandang.
Beruntun dengan kekuatan yang sangat besar membentur pertahanan Sambi Wulung.
Akhirnya Sambi Wulung menjadi jemu juga untuk melayani serangan-serangan
Gagaklahan. Karena itu, maka iapun kemudian telah mengambil keputusan justru
untuk memanfaatkan keadaan pedangnya.
Dengan mengerahkan kemampuannya, maka Sambi Wulung berhasil mengatasi kecepatan
gerak Gagaklahan yang menyerang dengan menjulurkan pedangnya. Dengan tangkasnya
Sambi Wulung bergeser kesamping sambil menggeliat, sehingga pedang Gagaklahan
tidak menyentuhnya. Namun pedang itupun segera berputar. Disusul dengan ayunan
mendatar yang cepat.
Tetapi dengan cepat pula Sambi Wulung bergeser surut. Namun Gagaklahan tidak mau
melepaskannya. Iapun segera memburu sambil menebas ke arah dada.
Dengan serta merta Sambi Wulung telah menjatuhkan dirinya. Demikian pedang
Gagaklahan terayun diatasnya, maka iapun telah melenting berdiri. Sambi Wulung
tidak menebaskan pedangnya, tidak pula mengayunkannya atau mematuk seperti
burung menancapkan paruhnya. Tetapi Sambi Wulung justru berusaha menyentuh kulit
lambung lawannya dengan tajam pedangnya yang sudah berubah bagaikan gerigi itu,
kemudian menariknya sendal pancing.
Akibatnya memang menggetarkan jantung. Pedang Sambi Wulung tepat menyentuh tubuh
Gagaklahan dibawah ikat pinggang kulitnya. Ternyata bahwa tajam pedang Sambi
Wulung yang dilukai oleh kerasnya baja pilihan pedang Gagaklahan, sehingga
menyerupai gerigi itu, tidak saja mengoyak pakaian Gagaklahan, tetapi kulit dan
daging dilambungnyapun telah terkoyak pula. Bukan koyak oleh tajamnya pedang
yang dapat memotong benang yang diayunkan angin. Tetapi dikoyak oleh pedang yang
bagaikan bergerigi justru tumpul.
Terdengar Gagaklahan itu berteriak nyaring. Kemudian mengumpat keras-keras
dengan kata-kata kasar dari kotor.
Beberapa langkah ia meloncat surut. Tangannya yang sebelah kiri berusaha
memegangi lukanya itu. Sementara tangan kanannya masih menggenggam pedangnya.
Darah mengalir dengan derasnya dari lukanya.
“Kau memang iblis, Wanengbaya,“ geram Gagaklahan.
“Sejak semula aku sudah memperingatkanmu, bahwa sebaiknya kau tidak mengganggu
kami,“ berkata Sambi Wulung.
“Kau belum menang,“ berkata Gagaklahan pula, “aku akan membunuhmu.”
Sambi Wulung tidak menjawab. Tetapi Gagaklahan memang masih meloncat
menyerangnya. Pedangnya masih berputar mengerikan, sementara kakinya masih
tangkas membawa tubuhnya berloncat-loncatan disela-sela bahkan diatas
nisan-nisan tua.
Namun Sambi Wulung yang melihat keadaan Gagaklahan itu benar-benar berniat
mengakhirinya. Karena itu, maka iapun telah mengerahkan segenap kemampuannya.
Bergerak dengan kecepatan yang sulit diimbangi dan dengan kekuatan yang luar
biasa besarnya.
Ketika Gagaklahan yang terluka itu mengayunkan pedangnya, Sambi Wulung sempat
mengelak. Namun sambil bergeser kesamping sekali lagi ia menggoreskan pedangnya
di dada Gagaklahan.
Gagaklahan memang terdorong beberapa langkah surut. Namun seperti orang yang
bernyawa rangkap ia sama sekali tidak menghiraukan keadaannya. Ia telah meloncat
lagi menyerang dengan dahsyatnya, seperti angin prahara yang mengguncang
popohonan.
Namun Sambi Wulungpun telah bersiaga pula, Sebuah tusukan lurus mengarah
kejantung Sambi Wulung dapat dielakkannya. Bahkan ketika pedang Gagaklahan itu
menyambar kesamping Sambi Wulung sempat meloncat mundur. Namun demikian ujung
pedang itu lewat, maka Sambi Wulungpun telah meloncat maju. Pedangnyalah yang
terjulur lurus kedepan. Dengan hentakan kekuatan yang sangat besar, maka pedang
itu telah terhunjam didada Gagaklahan.
Terdengar Gagaklahan menjerit. Sementara Sambi Wulung terpaksa melepaskan
pedangnya. Ia tidak sampai hati menarik pedangnya itu, karena ia menyadari
akibatnya. Pedangnya yang seolah-olah bergerigi tumpul itu akan dapat
mencabik-cabik daging dan kulit di dada Gagaklahan.
Untuk beberapa lama Gagaklahan masih berdiri. Namun kemudian tubuh itupun
terhuyung-huyung dan kemudian jatuh terjerembab.
Sambi Wulung dan Jati Wulung berdiri termangu-mangu. Di kuburan tua itu terdapat
tujuh sosok mayat dari orang-oang yang tinggal bersama-sama Puguh dalam satu
padepokan. Satu perstiwa yang tidak diduganya sama sekali bahwa hal seperti itu
akan terjadi.
“Apaboleh buat,“ berkata Sambi Wulung sambil menundukkan kepalanya.
“Kami dipaksa melakukannya,“ sahut Jati Wulung.
“Ya. Kami memang tidak mempunyai pilihan lain. Jika seorang saja diantara mereka
hidup, maka orang itu bersama-sama dengan yang lain tentu akan menelusuri
keadaan kita berdua,“ berkata Sambi Wulung. Lalu, “Sementara itu, orang-orang
seperti mereka memang tidak lagi pantas untuk tetap hidup.”
“Tetapi di padepokan itu bukan hanya mereka saja yang tinggal,“ sahut Jati
Wulung.
“Puguh merupakan satu pertanyaan yang besar. Ia hidup dalam lingkungan seperti
itu, namun agaknya sifatnya agak berbeda dengan orang yang disebutnya paman,
yang agaknya menjadi orang yang terdekat dengan dirinya itu,“ berkata Sambi
Wulung.
“Dengan demikian, jelas bagi kita, bahwa yang memasang topeng itu tentu
orang-orang padepokan itu pula,“ sahut Jati Wulung.
Sambi Wulung mengangguk-angguk. Ia masih ingat bagaimana Puguh membunuh seorang
diantara mereka yang masih mempunyai kemungkinan untuk hidup.
“Ada rahasia yang tidak kita ketahui menyelimuti padepokan itu,“ berkata Sambi
Wulung. Lalu, “Meskipun kita berhasil mengetahui dimana Puguh tinggal, tetapi
mungkin sekali kita masih akan dapat kehilangan jejak.”
“Memang banyak kemungkinan terjadi,“ desis Jati Wulung, “mungkin dengan
hilangnya paman Gagaklahan, Puguh untuk seterusnya telah dipindahkan ke
padepokan yang lain atau kemungkinan-kemungkinan yang tidak kita pikirkan
sebelumnya. Namun kali ini kita telah berhasil dengan tugas kita.”
Sambi Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Kita akan melaporkan kepada Nyi
Wiradana di Tanah Perdikan Sembojan.”
Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun keduanya kemudian sepakat untuk mengubur
lebih dahulu tujuh sosok mayat yang terbujur lintang di kuburan tua itu.
***
Sementara itu di padepokannya, Puguh merasa sangat gelisah. Ketika kemudian
malam datang, bahkan malam itu telah lewat diganti dengan hari baru berikutnya,
pamannya tidak juga kelihatan. Dari beberapa orang penghuni padepokan itu Puguh
mendapat keterangan bahwa pamannya, Gagaklahan telah meninggalkan padepokan itu.
“Kemana?“ bertanya Puguh.
Orang-orang itu hanya menggelengkan kepalanya saja. Bahkan ketika Puguh bertanya
kepada seorang yang dianggapnya pembantu terdekat Gagaklahan, orang itu juga
menggelengkan kepalanya.
Puguh akhirnya menjadi marah. Orang yang dianggapnya pembantu terdekat
Gagaklahan itu tiba-tiba ditariknya masuk kedalam sanggar di padepokannya.
Pintupun kemudian diselarak dari dalam.
“Apa yang akan kau lakukan?“ bertanya orang itu dengan cemas.
“Dimana paman Gagaklahan?“ bertanya Puguh.
“Aku tidak tahu. Kakang Gagaklahan pergi tanpa memberitahukan tujuannya,“ jawab
orang itu.
“Baik,“ geram Puguh, “nampaknya aku harus memaksamu berbicara tentang paman
Gagaklahan. Aku tidak peduli, apakah aku dapat melakukannya atau tidak. Aku juga
tidak peduli apakah kau akan melawan atau tidak. Tetapi jika kau tidak mau
mengatakan kemana paman Gagaklahan pergi, maka kau akan aku pukuli. Mungkin kau
dapat menang atasku jika kau melawan. Tetapi aku akan mengatakannya kepada
guru.”
“Tunggu,“ wajah orang itu menjadi tegang, “kenapa kau sebenarnya. Tiba-tiba saja
kau menjadi sangat garang seperti itu.”
“Kau belum menjawab pertanyaanku. Karena itu, kau tidak berhak sama sekali untuk
bertanya tentang apapun juga,“ jawab Puguh.
Keringat dingin telah mengalir ditubuh orang itu. Namun ia masih juga berkata,
“Tunggu.“ orang itu menjadi terengah-engah, “aku memang melihat kakang
Gagaklahan pergi. Tetapi ia tidak mengatakan pergi kemana dan untuk apa. Ia
memang nampak bersungguh-sungguh pada waktu ia pergi.”
“Berapa orang yang dibawanya?“ bertanya Puguh.
Orang itu ragu-ragu. Namun tiba-tiba saja Puguh telah meremas bajunya sambil
membentak, “Katakan.”
“Aku tidak tahu pasti,“ jawab orang itu agak gagap, “aku kira sekitar lima atau
enam orang.”
“Bohong jika kau tidak tahu pasti,“ geram Puguh, “kau dapat menghitung
orang-orangmu yang tidak ada di padepokan.”
“Memang mungkin,“ jawab orang itu, “tetapi apakah mereka semua pergi bersama
kakang Gagaklahan itulah yang kurang aku ketahui.”
Puguh mendorong orang itu sehingga hampir saja ia jatuh terlentang. Tetapi Puguh
tidak bertanya lagi. Iapun dengan tanpa mengatakan sesuatu telah melangkah
keluar dari sanggar.
Orang itupun dengan tergesa-gesa telah keluar pula menyusul Puguh. Namun Puguh
sama sekali tidak menghiraukannya.
Seorang diri Puguh meninggalkan padepokan itu menuju kepadepokannya yang lain,
tempat tinggal gurunya. Padepokan yang lebih dirahasiakan dari padepokan yang
dihuninya.
Diperjalanan ia memang bertemu dengan dua orang yang mengawal dan menjaga
kerahasiaan padepokan kedua itu. Namun mereka sama sekali tidak mengusik Puguh.
Apalagi nampaknya Puguh agak tergesa-gesa.
Gurunya memandang Puguh dengan kerut di dahinya. Dengan sareh ia berkata,
“Duduklah. Kita akan berbicara tanpa kegelisahan seperti itu.”
Puguhpun kemudian duduk dihadapan gurunya, namun nafasnya masih saja
terengah-engah.
“Paman Gagaklahan tidak ada di padepokan, Guru,“ berkata Puguh.
Gurunya tersenyum. Katanya, “Bukankah ia memang sering meninggalkan padepokan
untuk tugas-tugas yang penting? Pamanmu Gagaklahan adalah orang yang dipercaya
oleh orang tuamu. Karena itu, maka banyak tugas yang dikerjakannya serta besar
pula tanggung jawabnya.”
“Agaknya paman Gagaklahan pergi, demikian kedua orang yang mengantarku, kembali
itu meninggalkan padepokan,“ berkata Puguh.
“Kenapa kau menjadi gelisah?“ bertanya gurunya.
“Apakah Guru tidak memerintahkan agar paman Gagaklahan melakukan sesuatu?
Agaknya paman Gagaklahan terlalu curiga kepada kedua orang itu. Bagiku
Wanengbaya dan Wanengpati adalah orang-orang yang telah memberikan pertolongan
kepadaku,“ berkata Puguh.
Gurunya menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak bertemu dengan Gagaklahan
lagi setelah ia datang bersamamu kemarin malam. Juga tidak ada seorangpun yang
memberikan laporan kepadaku apa yang akan dilakukannya.”
“Tetapi Guru tidak memerintahkan kepadanya untuk menyusul kedua orang itu?“
desak Puguh.
Gurunya tertawa. Katanya, “Sudah aku katakan. Sejak kemarin malam aku tidak
bertemu orang itu lagi. Bukankah ketika itu, kau juga mendengar apa yang kami
bicarakan? Pamanmu Gagaklahan memang sangat mencurigai kedua orang itu. Pamanmu
menganggap bahwa kau telah terjebak kedalam sikap manisnya. Tetapi aku tidak
sependapat jika pamanmu Gagaklahan mengambil langkah-langkah tertentu atas kedua
orang itu.”
Puguh mengangguk-angguk. Katanya, “Sampai saat ini, sebelum aku pergi menghadap
Guru, paman Gagaklahan belum juga kembali.”
“Itu justru menggelisahkan,“ berkata gurunya, “ada beberapa kemungkinan telah
terjadi atasnya. Apakah ada orang yang dapat melaporkan, dengan berapa orang
pamanmu itu pergi?”
“Lima atau enam orang,“ jawab Puguh.
“Perintahkan untuk menghitung orang-orangmu di sana,“ berkata gurunya, “cari
siapa saja yang tidak ada dipadepokan.”
“Aku sudah memerintahkan Guru. Tetapi menurut seseorang, belum tentu semuanya
pergi bersama paman Gagaklahan,“ jawab Puguh.
“Lihat lagi,“ berkata gurunya, “kau akan jelas. Yang belum kembali adalah mereka
yang pergi bersama Gagaklahan. Hubungi aku untuk mengambil kesimpulan.”
Tetapi ketika Puguh akan kembali ke padepokan pertamanya, gurunya berkata,
“jangan pergi sendiri.”
“Kenapa? Bukankah jalan yang menghubungkan kedua padepokan ini merupakan jalan
khusus yang tidak pernah dilalui orang lain kecuali kita?“ bertanya Puguh.
“Kau harus lebih berhati-hati. Kedua orang itu mempunyai kemungkinan untuk
berbuat lebih banyak dari yang kau pikirkan,“ jawab gurunya.
“Jadi Guru juga mencurigainya?“ bertanya Puguh.
“Jika Gagaklahan mengambil langkah yang tidak menguntungkan, justru timbul
kemungkinan-kemungkinan yang lebih buruk karena sikap kedua orang itu. Jika aku
memperingatkanmu, sekedar sikap hati-hati saja,“ jawab gurunya.
Puguh tidak menjawab. Tetapi ketika ia kembali ke padepokan pertama, ia memang
dikawani oleh kedua orang dari padepokan keduanya.
Ternyata bahwa Puguh berusaha untuk mendapatkan keterangan lebih banyak tentang
kepergian Gagaklahan yang ternyata masih belum juga kembali.
“Apakah paman Gagaklahan mengikuti kedua orang itu sampai ketempat yang jauh?
Atau paman Gagaklahan ganti ingin melihat kediaman kedua orang itu?“ pertanyaan
itu timbul didalam hatinya.
Namun akhirnya semua keterangan itu telah diberitahukan kepada gurunya.
Memang ada beberapa kesimpulan yang dapat diambil oleh gurunya. Seperti yang
diduganya, mungkin Gagaklahan ingin melihat dimana kedua orang itu tinggal.
Tetapi kemungkinan lain, Gagaklahan menunggu kesempatan untuk tindakan khusus
terhadap kedua orang itu.
“Apakah ada kemungkinan lain lagi guru?“ bertanya Puguh.
Gurunya menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya dengan nada rendah,
“Kemungkinan itu sangat mendebarkan. Mungkin karena kedua orang itu merasa
terganggu oleh sikap Gagaklahan, maka mereka telah mengambil sikap yang paling
keras.”
“Maksud Guru, membunuh paman Gagaklahan?“ bertanya Puguh.
Gurunya mengangguk lemah. Katanya, “Bukankah kemungkinan itu ada?”
“Tetapi bukankah kemungkinan yang lebih besar adalah paman Gagaklahan membunuh
kedua orang itu?“ desak Puguh.
“Itu kalau pamanmu mampu. Jika tidak, bukankah dapat terjadi sebaliknya?“ desis
gurunya.
Puguh tidak segera menjawab. Memang terbayang berbagai kemungkinan dapat terjadi
atas pamannya Gagaklahan. Namun agaknya pamannya itu tidak akan pergi terlalu
lama jika ia sempat untuk pulang kembali ke padepokan, karena pamannya itu harus
menunggui padepokan itu sebagai pengganti orang tuanya.
Karena Puguh tidak segera menjawab, maka guru-nyapun berkata, “Sudahlah. Tetapi
kau untuk selanjutnya memang harus berhati-hati. Kau tunggu saja hari ini dan
besok. Jika pamanmu Gagaklahan tidak juga kembali, maka kita dapat menyesali
kepergiannya. Karena ternyata ia dan beberapa orangnya tidak akan pernah kembali
lagi.”
“Bagaimana jika paman Gagaklahan mengikuti kedua orang itu, Guru?“ bertanya
Puguh.
“Memang mungkin. Tetapi dengan demikian ia telah meninggalkan tanggung jawabnya
atas padepokan ini. Barangkali ia berpikir justru karena kau sudah ada di
padepokan sehingga Gagaklahan mempunyai kesempatan untuk pergi beberapa lama.
Tetapi seharusnya ia tidak berbuat demikian. Kita harus tahu kemana orang-orang
kita pergi. Bahkan keperluan mereka. Dengan demikian kita akan dapat
memperkirakan berapa lama mereka meninggalkan padepokan,“ berkata gurunya.
Puguh mengangguk-angguk. Tetapi ia justru telah terdiam.
Gurunyalah yang kemudian berkata, “Sudahlah. Bukan berarti kita tidak
menghiraukan mereka yang pergi itu. Tetapi sambil menunggu kita dapat berbuat
yang lain.”
“Ya Guru,“ jawab Puguh.
“Kau sudah cukup lama pergi untuk memperluas penglihatanmu. Bahkan kau telah
diijinkan oleh orang tuamu untuk pergi ketempat yang termasuk keras seperti Song
Lawa. Karena menurut orang tuamu ditempat-tempat seperti itu, kau akan ditempa
oleh keadaan, sehingga kaupun akan dapat menjadi seorang yang keras,“ berkata
gurunya.
Puguh menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tetapi ternyata Song Lawa telah
dihancurkan oleh para prajurit Pajang.”
“Pajang memang merasa bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyatnya. Sementara
tempat-tempat seperti Song Lawa itu merupakan tempat yang akan dapat
menghancurkan kesejahteraan itu. Lahir dan Batin. Karena itu, maka tempat-tempat
seperti Song Lawa itu bertentangan sekali dengan kebijaksanaan Pajang,“ berkata
gurunya.
“Tetapi bagaimana dengan tempat-tempat lain?“ bertanya Puguh.
“Dalam kesempatan yang lain, Pajang tentu juga akan bertindak. Disebelah Barat
Pajang juga ada tempat seperti itu. Namun, demikian Pajang mengetahui, tempat
itu langsung dihancurkannya. Apalagi tempat itu terlalu dekat dengan pusat
pemerintahan,“ berkata gurunya.
Puguh hanya mengangguk-angguk saja. Dua orang yang telah menolongnya itupun
pernah menyebut-nyebut tempat perjudian didekat pusat pemerintahan.
Penyelenggaraannya tentu orang-orang yang lebih berani lagi daripada orang-orang
yang menyelenggarakan perjudian di Song Lawa.
Namun dalam pada itu gurunyapun berkata, “Puguh. Yang penting bagimu, bahwa kau
telah mendapat pengalaman. Pengalaman yang akan sangat berarti bagi masa
depanmu.”
“Masa depanku yang mana, Guru? “ tiba-tiba saja Puguh bertanya.
Gurunya mengerutkan keningnya. Tetapi iapun kemudian tersenyum. Katanya pula,
“Satu pertanda yang baik, Puguh. Kau sudah bertanya tentang masa depanmu yang
mana. Dengan demikian maka hatimu telah terbuka. Justru karena pengalamanmu.
Mungkin pengalamanmu bergaul dengan orang-orang yang kau temui di Song Lawa,
atau dengan orang-orang lain sepanjang perjalananmu. Atau apapun yang telah
terjadi didalam dirimu.”
Puguh mengangguk-angguk. Tetapi ia masih juga bertanya, “Guru. Kenapa aku telah
dibenamkan kedalam tempat-tempat seperti Song Lawa itu? Kenapa aku harus menimba
pengalaman dari tempat yang suram itu? Tempat yang penuh dengan
peristiwa-peristiwa yang tidak wajar sebagaimana kita jumpai dalam kehidupan.”
Gurunya mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia bertanya, “Apa saja yang pernah
diceriterakan oleh kedua orang itu kepadamu?”
Puguh termangu-mangu sejenak. Namun iapun menundukkan kepalanya.
Gurunyalah yang kemudian berkatai “ Pengawal-pengawalmu yang kau bawa dari
padepokan agaknya telah berada di Pajang sekarang, atau terbunuh. Tetapi kita
tidak mencemaskan mereka, karena Pajang tidak akan menaruh perhatian secara
khusus terhadap padepokan kita.”
Puguh masih tetap menundukkan kepalanya.
Sementara itu gurunya berkata pula, “Lupakan persoalan-persoalan yang bergejolak
didalam hatimu. Siapkan dirimu untuk memasuki latihan-latihan kembali. Kita akan
mengadakan penilaian atas pengalamanmu selama perjalananmu terakhir. Tetapi
terbatas pada pengalaman olah kanuragan. Sedangkan pengalaman jiwani yang
menumbuhkan permasalahan didalam dirimu sebaiknya kau simpan untuk sementara.”
“Aku akan mempersoalkannya dengan ayah dan ibu,“ berkata Puguh.
Gurunya memandang Puguh dengan tatapan mata yang redup. Namun gurunyapun
kemudian menggelengkan kepalanya sambil berkata, “belum waktunya, Puguh. Orang
tuamu telah menetapkan garis hidup yang harus kau tempuh. Dalam waktu dekat,
keduanya tidak akan mau mendengar persoalan-persoalan yang timbul diluar garis
yang telah ditentukannya.”
“Termasuk dengan sengaja memasukkan aku ke dalam tempat-tempat yang keras
seperti Song Lawa?“ bertanya Puguh.
Gurunya mengerutkan dahinya. Dipandanginya Puguh dengan tajamnya, sehingga
Puguhpun kemudian telah menunduk pula. Semakin dalam.
“Beristirahatlah,“ berkata gurunya kemudian, ”mulai besok, kita sudah akan
memasuki sanggar kembali.”
Puguh tidak menjawab. Tetapi iapun kemudian mohon diri meninggalkan gurunya
duduk seorang diri untuk merenungi keadaan muridnya itu.
“Sebagian adalah salahku,“ berkata orang itu kepada diri sendiri, “aku tidak
dapat memenuhi keinginan orang tua Puguh untuk membuat anak itu menjadi orang
yang tidak berperasaan sama sekali. Sementara itu Ki Randukeling sendiri tidak
pernah menegur aku meskipun ia tahu, bahwa Puguh tumbuh menjadi seorang anak
muda dengan pola yang agak berbeda dengan ketentuan kedua orang tuanya. Agaknya
aku masih memberinya peluang untuk memikirkan dirinya sendiri, memikirkan orang
lain, serta hubungan antara dirinya dengan orang lain. Nampaknya peluang-peluang
itu telah ditusuk pula dengan pengertian-pengertian yang berhasil menyentuhnya
dari kedua orang yang mengantarkannya kembali ke padepokan. Sehingga dengan
demikian maka terjadi pergolakan didalam diri anak muda itu.”
Tetapi sebenarnyalah orang yang diserahi membentuk Puguh itu tidak sampai hati
untuk membunuh mati perasaan anak itu. Meskipun hal itu setiap kali telah
diutarakannya kepada Ki Randukeling, tetapi Ki Randukeling tidak pernah menaruh
keberatan. Bahkan kadang-kadang Ki Randukeling telah dengan langsung berhubungan
dengan Puguh dan bahkan pernah juga ia menyebut tentang pola watak anak itu.
Tetapi Ki Randukeling tidak pernah menegurnya.
Namun ia tidak tahu, apa yang akan dikatakan oleh kedua orang tua Puguh jika
mereka sempat melihat Puguh sampai kekedalaman hatinya. Karena kesempatan yang
nampaknya tidak pernah tersedia, maka kedua orang tua Puguh hanya melihat Puguh
pada kulitnya saja. Memberikan petunjuk-petunjuk sambil membentak-bentaknya.
Mengancamnya dan jika mereka ingin tahu tingkat kemampuan Puguh dalam olah
kanuragan, maka mereka membawa Puguh latihan dalam sanggar. Namun jika demikian,
maka tiga hari Puguh harus beristirahat, karena tulang-tulangnya bagaikan
berpatahan.
“Anak cengeng,“ setiap kali ibunya menudingnya, “kau adalah seorang laki-laki.
Kau harus menjadi orang yang lebih garang dari aku, ibumu, yang tidak lebih dari
seorang perempuan.”
Guru Puguh itu menarik nafas dalam-dalam. Namun mau tidak mau iapun harus
memikirkan Gagaklahan yang pergi tanpa diketahui tujuannya. Namun guru Puguh itu
sudah memastikan bahwa Gagaklahan telah menyusul kedua orang yang telah membawa
Puguh kembali ke padepokan.
“Sikap Gagaklahan yang bodoh itu akan dapat berakibat buruk bagi padukuhan ini,“
berkata guru Puguh itu didalam hatinya. Namun kemudian iapun berdesis kepada
diri sendiri, “Mudah-mudahan dugaanku salah.”
Namun dalam pada itu, guru Puguh itu telah memanggil seorang yang bertubuh kurus
dan sedikit bongkok. Seorang yang sehari-hari mendapat tugas untuk membersihkan
halaman bangunan induk padepokan itu.
“Wida,“ desis guru Puguh itu.
Orang itu mengangguk hormat. Ketika ia kemudian duduk didepan orang yang
memanggilnya itu, maka iapun bertanya, “Ki Ajar telah memanggil aku?”
Guru Puguh itu mengangguk. Katanya, “Ada beberapa soal yang tumbuh di padepokan
ini. Ketika aku diminta tinggal disini oleh Ki Randukeling untuk mengasuh Puguh,
aku sudah berpikir tujuh kali. Namun akhirnya, karena Ki Randukeling adalah
sahabatku, maka permintaan itu telah aku terima. Aku masuk kedalam satu
lingkungan yang asing dan mencoba hidup dengan cara yang ditentukan oleh Ki
Rangga Gupita dan Warsi. Terutama untuk membentuk anaknya itu.”
Orang yang dipanggil Wida itu mengangguk kecil.
“Tetapi bagaimanapun juga, aku memang merasa perlu untuk membawamu dengan
anakmu. Tidak ada orang tahu, siapakah kau sebenarnya didalam dunia kanuragan
selain aku,“ berkata Ki Ajar, “sehingga dalam keadaan tertentu, aku tidak
sendiri.”
“Apakah ada sesuatu yang terasa mengganggu Ki Ajar Paguhan sekarang ini?“
bertanya Wida.
“Sejak kemarin Gagaklahan telah hilang,“ berkata guru Puguh yang disebut Ki Ajar
Paguhan itu, “carilah beberapa keterangan tentang orang itu.”
Wida mengerutkan keningnya. Tetapi iapun bertanya, “Bagaimana jika Gagaklahan
tahu aku membayanginya?”
“Kau dapat menempatkan dirimu. Bukankah kau pernah mendapat sebutan Hantu
Bayangan?“ bertanya Ki Ajar Paguhan.
“Tetapi itu dahulu, Ki Ajar,“ jawab Wida, “sekarang sebenarnya aku sudah
menemukan ketenangan bekerja sebagai juru taman di padepokan ini, meskipun
setelah bertahun-tahun disini, aku tetap tidak dapat mengenali bentuk dari
padepokan ini selain mengabdi kepada Ki Ajar Paguhan.”
“Kita memang mendapatkan ketenangan disini Wida. Didalam padepokan. Tetapi
disekitar padukuhan ini, maut telah berkeliaran. Bahkan orang-orang yang sedang
mencari kayu bakar dan tersesat kedalamnyapun akan menjadi mangsa dari maut
tanpa mengerti persoalannya,“ berkata Ki Ajar Paguhan.
Wida mengangguk. Iapun sebenarnya tahu pasti apa yang telah terjadi dan
bagaimana bentuk dari padukuhan itu. Tetapi ia adalah rahasia yang tersimpan
didalam tempat yang rahasia. Ia datang bersama Ki Ajar Paguhan dan anaknya
laki-laki yang dinamainya Sukra, yang juga seorang yang cacat seperti dirinya.
Tetapi bukan pada punggungnya. Sukra sejak lahir sebelah tangannya terlalu
pendek dibanding dengan tangannya yang lain. Tetapi tangannya yang pendek itu,
yang kebetulan adalah tangan kirinya , mampu bergerak setrampil tangan kanannya.
Sementara itu, diwajahnya terdapat noda hitam yang sedikit lebih besar dari
matanya, tepat dibawah mata kirinya.
Agaknya karena cacatnya yang dibawa sejak lahirnya itulah, maka Sukra menjadi
seorang pendiam, perenung dan sampai ia meningkat dewasa, ia sama sekali tidak
mau berdekatan dengan seorang perempuan. Namun sebagai isi dari kesepiannya itu,
ia adalah seorang yang bergulat dengan ilmu disetiap hari.
Tetapi seperti ayahnya, maka iapun merupakan rahasia ditempat yang diliputi
rahasia itu.
“Nah,“ berkata Ki Ajar Paguhan, “pergilah. Bawalah pertanda bahwa kau adalah
penghuni padepokan ini, sehingga kau tidak akan menemui kesulitan disaat kau
keluar dan masuk kembali.”
Orang itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah Ki Ajar. Tetapi untuk seterusnya
aku akan tetap menjadi juru taman. Aku tidak akan melibatkan lagi hidupku dengan
kekerasan yang kotor itu.”
Ki Ajar Paguhan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku justru sedang
menyempurnakan warna yang kau anggap kotor itu disini. Di padepokan ini.”
Wida menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Memang satu perjalanan hidup yang
aneh, bahwa Ki Ajar telah terdampar disini. Apakah Ki Ajar tidak dapat
membicarakannya lagi dengan Ki Randukeling bahwa sebaiknya Ki Randukeling
mencari orang lain untuk membentuk Puguh menjadi orang berhati batu?”
“Justru aku tidak sampai hati melihat anak muda itu berhati batu. Kau lihat,
bahwa Puguh adalah seorang anak muda yang terhitung tampan, bermata bersih dan
pikiran terang. Jika hatinya menjadi batu, maka ia adalah orang yang sangat
berbahaya. Dan itu akan terjadi jika aku pergi dari padepokan ini,“ berkata Ki
Ajar Paguhan.
Wida mengangguk-angguk. Sementara itu, Ki Ajar berkata, “Nah, selagi belum jauh
terlambat. Pergilah dan usahakan untuk mendapat keterangan tentang Gagaklahan.”
“Apakah kawan-kawan Gagaklahan dipadepokan pertama tidak berusaha mencarinya?“
bertanya Wida.
“Wida. Kau dengar. Aku minta kau mencari keterangan tentang Gagaklahan,“ desis
Ki Ajar Paguhan.
Wida mengangguk kecil. Jawabnya, “Baik Ki Ajar. Aku akan berusaha. Tetapi
sebagaimana setiap usaha, maka akan dapat terjadi beberapa kemungkinan.”
“Aku sudah tahu Wida,“ sahut Ki Ajar.
Wida mengerutkan keningnya, sementara Ki Ajar Paguhan berkata selanjutnya, “Satu
usaha akan dapat berhasil, tetapi juga dapat tidak berhasil. Bukankah kau akan
berkata begitu?”
Wida menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “benar Ki Ajar. Dan aku
sekarang sudah bukan aku yang dahulu. Bukan lagi dapat disebut Hantu Bayangan
atau sebutan-sebutan lain yang dapat menakuti anak-anak. Tetapi aku adalah
seorang yang kurus dan bongkok. Lemah dan setiap hari bersenjatakan sapu lidi
dihalaman bangunan induk padepokan yang terasing ini.”
Ki Ajar Paguhan tersenyum. Katanya, “jangan merajuk begitu. Bukankah menurut
katamu, kau temukan ketenangan disini?”
Widapun kemudian meninggalkan Ki Ajar Paguhan seorang diri. Beberapa saat ia
masih sempat merenungi muridnya yang tersentuh oleh wajah kehidupan yang lain
dari pola kehidupannya yang dingin oleh orang tuanya.
Sementara itu, Widapun telah menemui anaknya. Juga seorang yang tugasnya
membersihkan halaman seperti ayahnya. Kepada Sukra ayahnya mengatakan apa yang
harus dilakukan diluar padepokan yang dirahasiakan itu.
“Aku akan minta pertanda agar aku tidak mengalami kesulitan di jalan keluar dan
masuk nanti,“ berkata Wida.
“Kepada siapa?“ bertanya Sukra.
“Landep,“ jawab Wida, “Landep adalah salah seorang yang dipercaya oleh Ki Lurah
Lembu Ireng.”
“Orang itu tentu akan bertanya macam-macam. Kemana ayah akan pergi. Untuk apa,
sampai kapan dan segala macam pertanyaan yang bahkan kadang-kadang tidak masuk
akal,“ berkata Sukra.
“Jadi bagaimana menurut pendapatmu?“ bertanya Wida.
“Pergi sajalah. Ayah tentu akan dapat masuk dan keluar tempat yang sudah kita
kenal dengan baik ini,“ berkata anaknya.
“Tetapi justru lingkungan diluar padepokan ini,“ berkata Wida sambil melangkah
terbongkok-bongkok.
“Bukankah ayah pernah keluar masuk padepokan mengantar Ki Ajar jika ia
bepergian?“ desak anaknya.
“Tetapi Ki Ajar berpesan, agar aku membawa pertanda itu,“ jawab Wida. Namun
kemudian katanya, “Nah, sampaikan kepada Ki Ajar, bahwa aku akan keluar atas
perintah Ki Ajar untuk mencari daun, batang dan akar wregu putih. Ki Ajar sedang
membuat reramuan obat-obatan. Jika Landep meyakinkan kebenaran kata-kataku dan
bertanya kepada Ki Ajar, jawabnya akan serupa.”
Sukra mengangguk-angguk. Jawabnya, “Baiklah ayah. Aku akan menyampaikan kepada
Ki Ajar.”
“Sekarang, sebelum Landep mendahuluimu,“ desak ayahnya.
Sukra mengangguk-angguk sambil menjawab, “Tentu ayah. Aku tahu akibatnya jika
kau terlambat. Mudah-mudahan Ki Ajar masih ada ditempatnya.“ namun kemudian
pesannya, “tetapi hendaknya ayah berhati-hati.”
Wida tersenyum pula. Iapun kemudian menyahut, “Kenapa tidak kau lanjutkan
kata-katamu? Ayah sekarang sudah tua, sudah semakin lemah dan tidak lagi
bergairah untuk hidup.”
Tetapi Sukra menggeleng. Katanya, “Bukan maksudku ayah.”
“Nah, sudahlah. Pergilah,“ potong ayahnya.
Sukrapun kemudian pergi menghadap Ki Ajar yang masih saja duduk merenung
ditempatnya, memberi tahukan tentang kepergian ayahnya serta alasan yang di
kemukakannya untuk mendapati pertanda.
Landep memang tidak mempersulit permintaan Wida. Ia tahu benar bahwa Wida adalah
seorang juru taman pelayan dekat Ki Ajar Paguhan. Karena itu, ketika ia
mengatakan bahwa ia mendapat perintah dari Ki Ajar, maka Landep memang tidak
bertanya lebih banyak lagi.
Hari itu juga Wida meninggalkan padepokan yang penuh dengan rahasia itu.
Beberapa kali ia memang bertemu dengan beberapa orang yang meronda dan mengawasi
serta menjaga keterasingan dan kerahasiaan padepokan itu. Tetapi kebanyakan dari
mereka telah mengenal Wida. Apalagi ia memang membawa pertanda umtuk keluar dan
pada saatnya memasuki padepokan itu lagi.
Demikian Wida berada di luar padepokan, meskipun ia masih berada di padang yang
sempit. Dipandanginya langit yang cerah, matahari yang menyala serta pepohonan
yagn hijau. Apalagi ketika kemudian ia sampai ke tanah persawahan. Ketika
dilihatnya dua orang petani bekerja disawah, maka rindunya pada kehidupan wajar
semakin menyala dihatinya.
“Seandainya aku mempunyai sebidang tanah, meskipun hanya beberapa kotak kecil,“
katanya kepada diri sendiri, “aku akan menggarapnya dengan kesungguhan hati,
mencintai tanah itu seperti mencintai anakku Sukra.”
Tetapi Wida sudah terlanjur terbenam dalam kehidupan yang tidak sewajarnya,
sehingga sulit baginya untuk dapat keluar dari keadaannya.
Dengan bahan-bahan yang sedikit tentang kedua orang yang mengantar Puguh kembali
ke padepokannya, maka Wida mulai menelusuri jalan untuk mencarinya.
Yang mula-mula dituju adalah Gantar, karena ia tahu, untuk mencapai padepokan
pertama, maka mereka tentu melalui Gantar. Dengan demikian pada saat mereka
meninggalkan padepokan itu, maka merekapun tentu akan melalui Gantar pula.
Ternyata bahwa Wida masih mempunyai ketelitiannya yang pernah dimiliki. Dengan
tanpa menimbulkan kecurigaan, ia bertanya tentang dua orang yang pernah melewati
Gantar itu.
“Dua orang adikku yang baru berkunjung kerumahku. Ada barangnya yang
ketinggalan,“ berkata Wida.
“Jika keduanya adikmu, kenapa kau tidak tahu kemana mereka pergi?“ bertanya
seorang penjual dawet yang ditanya oleh Wida.
“Adikku adalah orang-orang aneh. Mereka mengembara dari satu tempat ketempat
lain. Atau katakan saja, mereka adalah pemalas yang tidak mau bekerja dengan
wajar,“ jawab Wida.
Penjual dawet itu memang tidak dapat menunjukkan. Tetapi berkat ketelitiannya,
maka akhirnya Widapun tahu kemana arahnya kedua orang itu pergi.
Menjelang matahari turun ke punggung pebukitan, maka Wida telah berada di bulak
panjang yang pernah dilalui pula oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung. Justru di
bulak itu pula keduanya telah dicegat oleh Gagaklahan bersama kawan-kawannya.
Namun tiba-tiba saja Wida merasakan sesuatu yang tidak sewajarnya. Karena itu,
maka dengan tiba-tiba saja Wida itu bagaikan lenyap dari jalan yang dilewatinya.
Tidak seorangpun yang sempat melihat, bagaimana ia terguling dan hilang menyusup
diantara pohon perdu di pinggir jalan itu.
Seorang yang berjalan beberapa puluh langkah dibelakangnya justru tidak
terkejut. Tidak pula merasa kehilangan, karena orang itu memang tidak sedang
mengikuti Wida. Ia berjalan saja menurut arah yang dikehendakinya. Ada atau
tidak ada seorang Wida berjalan di jalan itu.
Ia memang melihat seseorang berjalan agak jauh didepannya. Tetapi ketika ia
sempat mengingatnya, orang itu sudah tidak kelihatan lagi. Tetapi ia sama sekali
tidak menghiraukannya.
Namun orang yang berjalan itu terkejut bukan buatan, justru ketika seseorang
muncul dari balik gerumbul berjalan terbongkok-bongkok mendekatinya.
“Kau?” bertanya orang itu.
“Kau akan pergi kemana Puguh?“ bertanya Wida, “kau meninggalkan padepokan
seorang diri dalam keadaan yang agak kalut seperti ini.”
“Kau akan pergi ke mana?“ bertanya Puguh sebelum menjawab pertanyaan Wida.
“Aku mendapat perintah Ki Ajar Paguhan untuk mencari daun, batang dan akar wregu
putih untuk reramuan obat-obatan,“ jawab Wida.
“Obat apa?“ bertanya Puguh pula.
“Aku tidak tahu,“ jawab Wida.
“Dan kau juga tidak tahu ujud daun, batang dan akar wregu putih itu?“ bertanya
Puguh pula.
“Tentu aku tahu,“ jawab Wida, “aku sudah terbiasa mencarinya. Tetapi wregu putih
memang sulit didapatkan. Yang pernah aku ketemukan itu sudah tidak ada lagi
sekarang di tempatnya. Padahal waktu itu, aku hanya mengambil akarnya sedikit
untuk menjaga agar pohon wregu putih itu tidak mati.”
“Dan kau sekarang akan mencari kemana?“ bertanya Puguh.
Wida menggeleng. Jawabnya, “Aku belum tahu. Aku berjalan saja menyusuri jalan
ini. Mudah-mudahan aku akan memasuki sebuah padukuhan yang memiliki sebatang
pohon wregu putih.“ Wida berhenti sejenak, lalu, “Kau akan pergi kemana? Kau
belum menjawab pertanyaanku.”
Puguh termangu-mangu. Namun Widalah yang menebaknya, “Kau akan mencari
Gagaklahan yang belum kembali? Bagimu, siapakah yang lebih penting? Gagaklahan
atau orang-orang yang telah mengantarmu itu?”
Puguh menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba iapun bertanya, “Kau tentu juga
mencari Gagaklahan.”
Tetapi Wida tersenyum sambil menggeleng, “Memang mungkin ada orang lain yang
mencarinya. Tetapi tentu bukan aku. Aku adalah pelayan yang tentu tidak akan
menerima tugas-tugas seperti itu. Namun tentang jenis-jenis dedaunan, karena aku
sudah melayani Ki Ajar bertahun-tahun, maka aku memang agak dapat mengenalinya.“
Wida berhenti sejenak, lalu, “Apakah dari padepokan pertama tidak ada orang yang
berusaha menemukan Gagaklahan?”
“Orang-orang malas itu hanya bergairah jika mendapat perintah untuk membunuh.
Tetapi mencari pembunuh-pembunuh seperti Gagaklahan agaknya mereka tidak
berminat sama sekali,“ jawab Puguh.
“He, bagaimana mungkin terjadi seperti itu. Kau dapat memerintahkan kepada
mereka. Siapa yang malas, segan atau tidak berminat dapat kau penggal kepalanya
dihadapan kawan-kawannya, agar tidak seorangpun yang berlaku demikian,“ berkata
Wida.
Puguh tidak menjawab. Tetapi kepalanya justru tertunduk lesu.
“Kau tidak sependapat?“ bertanya Wida.
“Cukup,“ tiba-tiba saja Puguh membentak.
Wida menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Baiklah. Aku
tidak akan menyebutnya lagi.“ Namun iapun kemudian bertanya, “Dan sekarang kau
akan pergi ke mana?”
Puguh termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berkata, “Aku memang ingin
mencari berita tentang Gagaklahan.”
“Darimana kau berangkat?“ bertanya Wida.
“Aku mendapat keterangan dari beberapa orang Gantar dan menurut perhitunganku
berdasarkan darimana kami datang ke Gantar, maka kedua orang itu agaknya telah
menempuh jalan ini. Tetapi lalu kemana?“ desis Puguh.
Wida mengerutkan keningnya. Tetapi ia bertanya, “Siapakah sebenarnya yang kau
cari? Gagaklahan atau kedua orang yang mengantarkanmu pulang ke padepokan?
“Kau tahu yang aku maksud,“ jawab Puguh, “tanpa penegasan, kau sudah cukup
mengerti. Karena itu, tidak ada perlunya hal itu kau tanyakan. Apalagi
berkali-kali.”
Wida menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kemudian ia berkata, “Baiklah. Katakan,
bahwa aku sudah menduganya. Agaknya kaupun berpendapat bahwa Gagaklahan telah
memburu kedua orang yang mengantarkanmu untuk membunuhnya.”
“Atau untuk mengantarkan nyawanya,“ sahut Puguh.
Wida mengangguk-angguk. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah kedua orang itu
berilmu sangat tinggi, sehingga Gagaklahan dan kawan-kawannya mungkin terbunuh
oleh mereka? Padahal yang mengikuti Gagaklahan tentu tidak hanya seorang.”
Puguh mengangguk. Katanya, “Yang pergi dan belum kembali bersama Gagaklahan
ternyata adalah enam orang.”
“Nah. Jika demikian maka Gagaklahan tentu akan membunuh mereka. Mungkin
Gagaklahan sekarang sedang mencari mereka atau mengikuti mereka sampa ketempat
tertentu,“ desis Wida.
Puguh tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba saja ia berkata, “Marilah. Kita mencari
mereka.”
“Kemana,“ bertanya Wida, “sementara langii menjadi semakin buram.”
PUGUH termangu-mangu sejenak. Namun akhirnya ia menggeleng dan berkata " Aku
akan mencarinya, "
" Marilah. Aku temani kau pulang. Baru kemudian aku akan mencari pohon wregu
putih. " ajak Wida.
" Aku akan berjalan terus " berkata Puguh.
Wida hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Meskipun Puguh itu murid Ki Ajar
Paguhan, tetapi serba sedikit ia dapat mengenali wataknya. Karena itu, maka
agaknya sulit baginya untuk dapat membawa Puguh kembali.
Namun dalam pada itu, mereka melihat seorang yang berjalan sambil menjinjing
cangkulnya, sementara beberapa puluh langkah kemudian seorang yang lain
memanggul cangkulnya dipundaknya. Mereka adalah orang-orang yang pulang dari
sawah setelah sehari-harian bekerja.
Ternyata sebelum Wida berbuat sesuatu, Puguh telah mendekati orang itu dan
bertanya " Apakah Ki Sanak melihat dua orang asing yang berjalan lewat bulak ini
sekitar dua hari yang lalu? "
Petani itu mencoba mengingat. Namun kemudian katanya " Aku memang bertemu dengan
beberapa orang asing dua hari yang lalu. Tetapi tidak hanya dua orang. "
" Berapa orang? " bertanya Puguh.
" Tujuh atau delapan orang. " jawab orang itu.
Petani itu mengangguk. Katanya pula " Adalah satu kebetulan, bahwa aku dan
seorang kawanku berada di sebuah gubug. Aku singgah di gubugnya itu untuk
sekedar minum. Dari gubug itu kami melihat beberapa orang lewat. " orang itu
berhenti sejenak, lalu " kenapa dengan orang-orang itu ? "
" Mereka menuju ke mana? " bertanya Puguh.
" Aku tidak tahu mereka pergi kemana. Tetapi mereka menempuh jalan ini. Aku
melihat mereka justru telah berada di jalan menuju ke kuburan tua. " jawab orang
itu.
" Jadi kita harus berbelok ke kanan? " bertanya Puguh.
" Tidak. Kau tempuh jalan ke kiri ini. " jawab orang itu,
" Tetapi Ki Sanak tadi datang dari arah kanan. " sahut Puguh.
" Ya. Aku memang datang dari sawah sebagaimana tetanggaku itu. " berkata orang
itu ketika seorang yang memanggul cangkul itu lewat dan bahkan berhenti pula.
Lalu katanya pula " saat aku singgah di gubug itu aku baru pulang dari
bepergian, bukan dari sawah. "
" Ada apa? " bertanya orang yang memanggul cangkul.
" Tentang orang asing yang lewat beberapa hari yang lalu " jawab petani yang
terdahulu.
" O, memang menjadi pembicaraan. Ada beberapa orang yang sempat melihat mereka
selagi orang bekerja di sawah. Mereka pergi ke kuburan tua, " jawab laki-laki
yang seorang lagi " tetapi aku tidak melihat sendiri Aku hanya mendengar
beberapa orang membicarakan. "
" Lalu, dari kuburan tua mereka pergi kemana? " bertanya Puguh ingin tahu.
" Tidak ada yang pernah melihat, kemana mereka pergi. " jawab petani yang kedua
itu.
" Terima kasih Ki Sanak " tiba-tiba saja Wida menyahut " keterangan Ki Sanak
sangat berharga bagi kami. "
Puguh berpaling kearah Wida. Sebenarnya ia masih ingin bertanya lagi. Tetapi
dengan demikian maka kedua orang petani itu telah minta diri.
" Ki Sanak berdua nampaknya terlalu keras bekerja " berkata Wida kemudian " pada
saat begini Ki Sanak berdua baru pulang dari sawah. "
" Kerja yang tanggung " jawab salah seorang diantara mereka " tinggal satu sudut
kecil yang harus kami siangi. Daripada besok, maka aku selesaikan saja sama
sekali. "
Yang lain hanya tersenyum saja. Namun demikian keduanya bersama-sama
meninggalkan Puguh dan Wida. Namun Puguh masih juga bertanya " Apakah kuburan
tua itu masih jauh. "
Wida menggamitnya. Tetapi nampaknya kedua petani itu memang tertarik kepada
pertanyaan Puguh, sehingga seorang diantaranya bertanya " Kalian akan pergi ke
kuburan tua disaat seperti ini?
Tetapi Widalah yang menjawab sambil tertawa " Tentu tidak Ki Sanak. "
Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Tetapi seorang diantara mereka bertanya
" Lalu kalian akan pergi kemana sekarang? Dan dimana kalian akan bermalam? "
Yang menjawab adalah Puguh " Jangan hiraukan kami. "
Kedua petani itu memang tidak bertanya lagi. Keduanya justru dengan cepat
meninggalkan tempat itu dan dengan tergesa-gesa menuju ke padukuhan mereka.
Tetapi disepanjang jalan mereka justru berbincang tentang kedua orang dibulak
itu.
" Keduanya cukup mencurigakan " berkata seorang diantara mereka.
" Ya. Sebagaimana beberapa orang beberapa hari yang lalu. Secara kebetulan aku
melihat mereka " jawab kawannya.
Ketika kedua orang itu sampai di padukuhan, hari memang sudah menjadi gelap.
Namun mereka sempat singgah dirumah tetangga mereka diujung jalan dan
menceriterakan kedua orang yang bertanya-tanya tentang beberapa orang yang asing
bagi padukuhan itu yang lewat
beberapa hari yang lalu.
Dari mulut ke mulut, berita itu tersebar, sehingga anak-anak mudanyapun
mendengar pula. Karena itulah, maka malam itu di gardu parondan terdapat banyak
anak-anak muda dan bahkan bebahu padukuhanpun ada yang berada di gardu didepan
banjar,
" Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa " desis seorang bebahu kepada seorang anak
muda yang duduk disebelahnya.
" Jika terjadi sesuatu, kami sudah siap " jawab anak muda itu.
Bebahu itu mengangguk-angguk. Tetapi bebahu itu tidak dapat mengingkari
kenyataan, bahwa meskipun agak jauh dari padukuhan mereka, terdapat lingkungan
yang sangat gawat. Lingkungan yang tidak dapat dijamah oleh siapapun.
Orang-orang padukuhan itu memang tidak banyak yang mengetahuinya, namun sebagai
bebahu padukuhan ia sering bertemu dengan bebahu padukuhan lain, sehingga iapun
pernah mendengar tentang pertanda topeng kecil yang seram itu.
" jalma mara jalma mati, sato mara sato mati " desis seorang bebahu dari
padukuhan lain yang pernah ditemuinya, ketika ia menceriterakan tempat yang
gawat itu. Setiap orang yang menjamah tempat itu akan mati.
Sementara padukuhan itu menjadi bersiaga, maka Puguh dan Wida telah berada di
kuburan tua itu. Tetapi didalam gelapnya malam mereka tidak dapat berbuat
apa-apa, sehingga mereka harus bermalam dikuburan itu sampai esok pagi.
Puguh memang sedikit meremang jika ia melihat keadaan disekelilingnya. Tetapi ia
tidak mengeluh. Iapun berusaha untuk tidak terpengaruh oleh keadaan di kuburan
tua itu, Namun nyamuk memang terlalu banyak.
Namun yang tidak diketahui oleh Puguh dan Wida adalah, bahwa beberapa orang di
padukuhan terdekat dari kuburan itu telah membicarakan mereka. Bahkan Ki Bekel
telah memanggil beberapa bebahu dan orang yang langsung telah bertemu dengan
Puguh dan Wida.
Ternyata bahwa kehadiran kedua orang itu dianggap menggelisahkan seisi
padukuhan. Apalagi keduanya telah bertanya tentang kuburan tua yang dianggap
wingit dan keramat itu.
—- Kita harus mengawasi mereka " berkata Ki Jagabaya.
" Tetapi mereka berada dimana sekarang? " bertanya seorang bebahu vane lain.
" Aku kira mereka memang berada dikuburan. Karena itu, kita harus mengawasi
jalan yang menuju ke kuburan itu serta pematang-pematang yang mungkin mereka
lalui. Sementara itu, kita melaporkannya kepada Ki Demang, " jawab Ki Jagabaya.
Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Katanya " Apakah kita perlu bersusah payah
mengamati kedua orang itu? Apakah tidak cukup bagi kita untuk bersiaga di
padukuhan kita? "
Ki Jagabaya memang masih muda, sementara Ki Bekel menjadi semakin tua, sehingga
karena itu, beberapa orang menilai bahwa Ki Bekel nampaknya sudah tidak terlalu
bergairah untuk berbuat banyak. Namun harapan penghuni padukuhan itu ada pada
anak Ki Bekel. Seorang anak muda yang memiliki tubuh yang tinggi kekar.
Karena itu, beberapa orang bebahu, termasuk Ki Jagabaya telah berpaling
kearahnya. Anak Ki Bekel itu mengerti, bahwa para bebahu berharap agar ia
membantu mereka, mendesak kepada Ki Bekel untuk mendapat ijin bertindak. Karena
itu, maka anak Ki Bekel itupun berkata " Ayah. Agaknya memang cukup bagi kita
untuk sekedar berjaga-jaga di padukuhan. Tetapi dengan demikian, kita tidak
dapat melihat apa yang terjadi disekitar kita, yang mungkin akan dapat
membahayakan kita. Dan apakah menurut ayah, berjaga-jaga bagi padukuhan kita itu
terbatas pada dinding-dinding padukuhan? Bukankah sawah dan ladang serta
lingkungannya juga termasuk padukuhan kita? Ayah, kuburan tua itu ada
ditengah-tengah bulak kita. Bukit kecil itu adalah bukit kita. Karena itu ada
baiknya bagi kita untuk mengawasinya. "
Ki Bekel mengangguk-angguk. Ia tahu, bahwa Ki Jagabaya dan bebahu yang lain
memang lebih senang bekerja dengan anaknya daripada dengan dirinya yang semakin
tua.
Tetapi Ki Bekel tidak berkeberatan bahwa para bebahu lebih banyak bekerja
bersama dengan anaknya daripada dengan dirinya, karena bagi Ki Bekel anaknya
itulah masa depannya dan masa depan padukuhan itu. Ia berharap bahwa anaknya
akan dapat menggantikan kedudukannya dan melakukan tugasnya dengan lebih baik
dari pada dirinya sendiri.
Karena itu, maka Ki Bekel itupun kemudian menjawab " Baiklah. Terserah kepadamu,
apa yang baik menurut pikiranmu. Tetapi aku berpendapat, bahwa kita sebaiknya
mengatasi persoalan kita sendiri. Baru setelah kita mengalami kesulitan dan
yakin tidak akan dapat memecahkannya, maka kita baru akan melaporkan kepada Ki
Demang. "
Anaknya mengangguk-angguk. Katanya _" Ayah benar. Kita akan melakukannya lebih
dahulu. Kita memang bukan anak-anak yang cengeng. "
Demikianlah, maka anak Ki Bekel itu telah mendapat kepercayaan dari ayahnya
untuk bekerja bersama Ki Jagabaya mengamati kedua orang yang mereka duga telah
berada di kuburan tua.
" Jika mereka belum memasuki kuburan itu malam ini, maka besok mereka tentu akan
datang. Nampaknya perhatian mereka begitu besar kepada kuburan tua itu setelah
mereka mendengar bahwa beberapa orang asing beberapa saat lalu juga telah pergi
ke kuburan itu. " berkata Ki Jagabaya.
" Nah, agaknya kita sudah mengambil langkah yang benar. Jika beberapa orang yang
asing bagi kita itu beberapa hari yang lalu juga masuk ke kuburan itu, maka kita
memang perlu memperhatikannya. " berkata anak Ki Demang.
Dengan demikian, maka para bebahu serta anak Ki Demang itupun telah
mempersiapkan orang-orang mereka. Anak-anak muda yang memang sudah siap, telah
dibagi dan mendapat tugasnya masing-masing disekitar kuburan tua di bukit kecil
itu. Mereka mendapat tugas mengawasi saja dari sekitar bukit. Dimalam hari,
mereka tidak diperintahkan untuk memasuki kuburan itu.
Karena itulah maka semalam suntuk mereka tidak menemukan apapun juga, karena
ketika mereka mulai memancar disekitar kuburan tua itu, Puguh dan Wida sudah ada
didalamnya.
Anak-anak muda di padukuhan yang bertugas disekitar kuburan itu memang merasa
agak segan. Mereka sebenarnya lebih baik bertugas menangkap satu dua orang
penjahat dimanapun asal tidak dikuburan tua itu. Tetapi mereka tidak dapat
memilih tempat.
Namun yang bertugas bukannya hanya satu dua orang. Tetapi sekelompok anak-anak
muda dan bahkan beberapa orang laki-laki yang sudah lebih tuapun ikut pula
bersama mereka, sehingga dengan banyak kawan beban mereka terasa menjadi lebih
ringan.
Di atas bukit kecil, dikuburan tua itu, Puguh hampir tidak dapat tidur
sekejappun. Bukan saja karena nyamuk yang banyak sekali. Tetapi iapun merasa
sangat gelisah.
Kepergian Gagaklahan menimbulkan dugaan yang buruk baginya atas kedua orang yang
pernah menolongnya dan yang tiba-tiba terasa sangat akrab dengannya. Puguh tidak
ingin kedua orang itu dibunuh oleh Gagaklahan dan orang-orangnya.
Ketika bayangan fajar mulai nampak dilangit, maka Puguhpun telah membenahi
pakaiannya. Iapun mulai melangkahi nisan-nisan tua yang melihat-lihat apakah ada
tanda-tanda yang dapat menunjukkan sesuatu tentang beberapa orang yang pernah
memasuki kuburan itu sebelumnya.
Wida yang juga hampir tidak dapat tidur itu memperhatikannya dengan saksama.
Sambil terbatuk-batuk iapun kemudian bertanya " Apa yang kau cari Puguh? "
Puguh tidak menjawab. Sementara langitpun menjadi semakin terang, sehingga Puguh
melihat semakin jelas apa yang ada ditanah pekuburan tua yang lembab itu.
Tiba-tiba saja jantung Puguh bagaikan berdegup semakin cepat. Dengan serta merta
iapun telah memanggil " Kemarilah. "
Widapun dengan tergesa-gesa telah mendekat. Ia tidak dapat bergerak secepat
Puguh. Dengan hati-hati Wida melangkah diantara batu-batu nisan. Sekali-sekali
ia harus bergeser dengan hati-hati.
Namun demikian Wida mendekati Puguh, maka jantungnya juga menjadi
berdebar-debar. Meskipun demikian ia masih juga bertanya kepada Puguh " Ada apa?
"
" Kau lihat ini ? " bertanya Puguh.
Wida menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk kecil ia berkata "
Beberapa jenis senjata. -
" Ya " Puguh mengangguk-angguk. Namun ia menjadi semakin berdebar-debar ketika
ia melihat ditempat lain terdapat pula cangkul.
" Kau tahu artinya ini Wida? " bertanya Puguh.
" Aku memang tidak begitu cerdik. Yang aku ketahui hanyalah beberapa jenis
tanaman di kebun. Namun melihat senjata-senjata ini, aku mengira bahwa memang
pernah datang beberapa orang kemari. Tetapi mereka tidak sempat membawa senjata
mereka pergi, Agaknya bukannya dengan sengaja mereka meninggalkan senjatanya,
karena senjata itu sangat penting bagi mereka. Namun demikian kita masih dapat
berharap bahwa senjata-senjata itu bukan milik Gagaklahan dan kawan-kawannya. "
desis Wida.
" Jadi kau lebih senang bahwa senjata-senjata itu milik Wanengbaya dan
Wanengpati? " bertanya Puguh.
" Jika mereka hanya berdua, senjatanya tentu tidak akan sekian banyak " jawab
Wida.
Puguh tidak menjawab. Iapun kemudian telah melangkah lagi diantara batu-batu
nisan, sehingga akhirnya iapun telah sampai ke pinggir kuburan itu. Sejenak ia
berdiri termangu-mangu. Ia melihat seonggok tanah yang basah. Menurut
pendapatnya tentu sebuah kuburan baru. Tetapi terlalu besar menurut ukuran
kuburan sewajarnya. Tiba-tiba saja Puguh menggeram " Aku menjadi penasaran. Aku
ingin meyakini apa yang telah terjadi disini. "
Wida tidak mencegahnya. Iapun sebenarnya juga ingin mendapatkan satu kepastian,
apakah yang terjadi.
Karena itu, ketika Puguh kemudian mengambil cangkul dan menggali tanah yang
basah yang dianggapnya sebagai satu kuburan baru itu, Widapun membantunya
meskipun ia berkata " Kau hanya membuang-buang waktu saja Puguh. Sementara itu,
Ki Ajar menunggu aku pulang membawa wregu putih. "
" Pergilah jika kau mau pergi. Aku tidak memaksamu untuk membantuku " bentak
Puguh.
Wida tidak menjawab. Tetapi ia tidak meninggalkan Puguh.
Beberapa saat kemudian, terasa cangkul puguh menyentuh sesuatu. Karena itu, maka
iapun menjadi berhati-hati. Apalagi ketika kemudian ia yakin, bahwa ia telah
menemukan bukan saja seorang didalam kubur itu, tetapi beberapa orang.
Namun Puguh tidak perlu melihat semua orang. Darahnya yang mengalir semakin
cepat, rasa-rasanya menjadi dingin kembali ketika ia yakin, seorang diantara
mereka yang terbunuh itu adalah Gagaklahan. Sementara yang lain tidak perlu
mereka kenali satu-satu. Tetapi Puguh tidak melihat pakaian sebagaimana dipakai
oleh Wanengbaya dan Wanengpati.
" Jadi menurut dugaanmu Gagaklahanlah yang telah terbunuh? " bertanya Wida.
" Bukan dugaanku. Tetapi kita melihat dengan mata kita masing-masing. " jawab
Puguh.
" Mungkin mereka mati bersama-sama " desis Wida.
" Tidak. Didalam kuburan ini tidak terdapat kedua orang itu. Aku mengenali
pakaian mereka yang hampir tidak pernah berganti, karena mereka tidak membawa
bekal pakaian yang cukup saat mereka lari dari Song Lawa. " desis Puguh.
" Jadi kedua setan itu telah membunuh Gagaklahan? " geram Wida,
" Salahnya sendiri " Puguh membentak " tidak seorangpun memerintahkan mereka
untuk mengejar dan apalagi membunuh kedua orang itu. Kedua orang itu adalah
orang yang berilmu sangat tinggi. Bahkan akupun curiga, bahwa yang pernah aku
lihat baru sebagian kecil dari ilmu mereka. "
Wida mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu iapun bertanya " Jadi kita tidak
menyesal, bahwa bagian dari tubuh kita telah dibunuh oleh kedua orang itu? "
Pertanyaan itu memang membingungkan Puguh. Namun tiba-tiba saja ia berkata "
Kuburan ini harus kita timbun kembali. "
Keduanyapun segera telah menimbun kuburan itu. Bahkan Puguhpun telah mengambil
beberapa senjata yang berserakan dan dimasukkan pula kedalam kubur yag besar
itu.
" Sekarang, apa yang akan kita lakukan? " bertanya Wida setelah mereka selesai
menimbun kembali kuburan itu.
Puguh termangu-mangu sejenak, Ketika ia menengadahkan wajahnya, matahari sudah
memancar di-langit meskipun masih belum tinggi.
" Bukankah kau akan mencari akar wregu putih? " Puguhlah yang kemudian bertanya.
Wida menarik nafas dalam-dalam. Katanya dengan ragu-ragu " Apakah sebaiknya aku
mengantar kau pulang? "
" Kenapa aku harus diantar pulang? Kau kira kau berarti bagi perjalananku
kembali ke padepokan? " bentak Puguh.
Wida termangu-mangu. Tetapi ia menyadari akan keadaannya. Ia memang tidak lebih
dari seorang juru tanaman serta melayani Ki Ajar Paguhan. Karena itu, maka
katanya kemudian " Terserah kepadamu Puguh. Jika kau memang tidak memerlukan
aku, maka aku memang akan mencari akar wregu putih. "
" Pergilah " geram Puguh.
" Tetapi apakah kau tidak akan membersihkan dirimu. Tanganmu, kakimu bahkan
pakaianmu " berkata Wida.
" Di sawah itu tentu ada parit. Bukan persoalan yang perlu dibicarakan " berkata
Puguh kemudian.
Wida tidak dapat berbuat lain. Iapun kemudian berkata " Baiklah.
Berhati-hatilah. Kita tidak tahu apakah kedua orang yang sangat baik kepadamu
itu akan tetap bersikap baik setelah mereka mengalami perlakuan Gagaklahan, yang
diketahuinya berasal dari padepokanmu. Orang yang dianggap akrab denganmu.
Mungkin kedua orang itu menganggap bahwa justru kaulah yang telah memerintahkan
membunuh mereka dengan alasan yang dapat saja mereka buat-buat sendiri. "
Puguh mengerutkan keningnya. Pikiran Wida itu memang masuk akal. Tetapi Puguhpun
menjawab " Aku mengenal keduanya dengan baik. Mereka tidak akan berbuat seperti
itu. "
Wida tidak menjawab lagi. Iapun kemudian bergeser diantara batu-batu nisan
menuju ke pintu gerbang yang juga sudah mulai rusak.
" Sudahlah Puguh " berkata Wida " aku akan mencari akar wregu putih, agar Ki
Ajar tidak memarahiku. "
Puguh tidak menjawab. Tetapi iapun mulai bergerak meninggalkan seonggok tanah
yang baru saja ditimbunkannya pada kuburan terbaru di kuburan tua itu. Tetapi
Puguh telah membiarkan Wida keluar lebih dahulu dari kuburan itu.
Ketika Puguh kemudian juga akan meninggalkan kuburan tua itu, iapun telah
dikejutkan oleh kedatangan Wida kembali. Bahkan dengan tergesa-gesa dan nafas
yang terengah-engah.
" Puguh " katanya dengan gagap " kuburan ini telah dikepung orang. "
Wajah Puguhpun menjadi tegang. Dengan pendek ia bertanya " Siapa? "
Wida menggelengkan kepalanya. Jawabnya dengan suara bergetar " Aku tidak tahu,
Puguh. Ketika aku akan turun ke parit, maka aku lihat beberapa orang berada
diujung jalan. Kemudian aku bergeser ke balik gerumbul. Ternyata ketika aku
lihat kearah lain, akupun melihat beberapa orang yang berkerumun. Dari sisi
gerbang kita akan dapat melihat mereka, karena kita berada diatas bukit
betapapun kecilnya. Tetapi kita harus berhati-hati agar mereka tidak melihat
kita. "
" Setan " geram Puguh " apakah mereka orang-orang dari padepokan kita? "
" Tentu bukan. Aku tentu dapat mengenali mereka " berkata Wida " aku mengenal
orang-orang di padepokan pertama dan apalagi orang-orang di padepokan kedua. "
Puguh termangu-mangu sejenak. Namun hampir diluar sadarnya ia bertanya kepada
Wida " Apa yang sebaiknya aku lakukan? "
" Kita menunggu disini Puguh " jawab Wida " mudah-mudahan mereka tidak naik.
Agaknya mereka menjadi curiga, karena dalam beberapa hari berturut-turut
beberapa orang telah naik ke bukit kecil ini, sehingga mereka menganggap perlu
untuk mengetahui, apa yang terjadi disini. "
Bagaimana jika mereka naik? " bertanya Puguh.
Wida menarik nafas dalam-dalam. Katanya " Mudah-mudahan mereka tidak mempunyai
cukup keberanian untuk naik. Mereka mungkin menganggap ada sekelompok orang
disini. Yang datang beberapa hari yang lalu, mereka anggap masih belum
meninggalkan tempat ini, sementara kami telah naik pula. "
Puguh mengangguk-angguk. Katanya " Kita akan menunggu. Tetapi jika mereka naik,
kita akan menerobos keluar. "
Wida termangu-mangu. Sementara itu Puguh berkata " Tentu orang orang yang
kemarin memberikan petunjuk kepada kita. "
" Tetapi mereka tidak sengaja menjebak kita " berkata Wida " mungkin mereka
melaporkan kehadiran kita karena mereka ketakutan. Atau bahkan sama sekali tidak
sengaja, karena mereka hanya menceriterakan saja bahwa mereka telah bertemu
dengan kita. Tetapi ceritera itu telah berkembang dan sampai ketelinga para
bebahu.
" Jika mereka melakukan kekerasan dan apalagi sampai menyentuh kulitku, mereka
akan menyesal. Padukuhan itu akan dapat aku hancurkan meskipun tanpa paman
Gagaklahan. " berkata Puguh dengan geram.
" Jangan tergesa-gesa menyalahkan mereka " berkata Wida " merekapun mempunyai
hak untuk melindungi diri mereka. Jika saat ini mereka mengepung bukit ini
adalah karena naluri mereka untuk mempertahankan diri. Kita harus menyadari,
bahwa ada perbedaan dasar pemikiran antara mereka dengan kita. "
Puguh termangu-magu sejenak. Tetapi iapun kemudian berkata " Sampai kapan kita
akan berada disini? "
Wida mengerutkan keningnya. Tetapi iapun kemudian menjawab " Aku tidak tahu
sampai kapan kita harus berada disini. Tetapi aku kira itu adalah jalan yang
paling baik yang dapat kita tempuh sekarang. "
Puguh menggeretakkan giginya. Tetapi ia telah melangkah kembali ke tengah-tengah
kuburan tua itu.
Untuk beberapa lama Wida dan Puguh menunggu. Sementara itu matahari dilangit
menjadi semakin tinggi. Sekali-sekali Wida dengan hati-hati mengintip dari balik
gerumbul-gerumbul liar disekitar kuburan itu. Namun ternyata orang-orang yang
mengepung kuburan itu masih belum pergi.
" Aku tidak telaten " geram Puguh " aku akan menerobos kepungan itu. Mereka
tidak akan dapat menahanku. "
" Kita tidak perlu membuka persoalan baru dengan orang-orang padukuhan itu "
berkata Wida " meskipun barangkali mereka tidak akan mampu menahanmu, tetapi
dalam pertempuran yang kisruh itu kemungkinan-kemungkinan buruk dapat saja
terjadi. Mungkin senjatamu telah menggores satu dua orang padukuhan, sehingga
mereka mendendammu. "
" Mereka tidak mengenal aku " berkata Puguh " dan seandainya mereka dapat
mengenali aku, apa yang dapat mereka lakukan atas padepokan kami? "
" Mereka memang tidak akan dapat berbuat apa-apa. Tetapi mereka tentu merasa
mempunyai pelindung. Mereka akan dapat melaporkan persoalan-persoalan yang
menyangkut pengamanan lingkungan mereka kepada Pajang. Dan apa yang terjadi di
Song Lawa itu dapat terjadi pula disini. " jawab Wida.
Mereka tidak mengetahui letak padepokan kita " berkata Puguh.
" Kau kira Pajang tidak mempunyai petugas-petugas sandi yang cakap? Aku sudah
memperingatkan orang padukuhan kedua, bahwa topeng-topeng yang mereka pasang itu
justru merupakan tuntunan terbaik dari para petugas sandi Pajang untuk menemukan
padepokan kita. Tetapi tidak seorangpun yang mau mendengarkan aku, karena aku
adalah seorang juru tanaman. Mereka lebih senang menakut-nakuti orang untuk
menjaga kerahasiaan padepokan kita itu. " berkata Wida pula.
" Cukup " bentak Puguh " kau tidak akan dapat menentang kebijaksanaan orang
tuaku. Mereka bukan orang dungu yang tidak mempertimbangkan seribu kemungkinan
yang dapat terjadi. "
Wida mengangguk-angguk. Katanya " Mungkin kau benar. Aku memang tidak banyak
mengetahui tentang hal-hal seperti itu. Tetapi aku tahu benar jenis-jenis pohon
pisang yang paling baik. "
" Apakah kau pernah mendengar hal seperti itu dari Guru? " bertanya Puguh.
" Tentang pohon pisang? " bertanya Wida.
" Jangan bodoh. Tentang cara yang tidak tepat untuk melindungi padepokan itu "
geram Puguh.
Wida menggeleng. Katanya " Tidak. Ki Ajar tidak pernah mengatakan apa-apa
tentang hal itu. Yang dilakukan oleh Ki Ajar adalah tidak lebih dan tidak kurang
memenuhi permintaan Ki Randukeling, menuntunmu dalam oleh kanuragan. "
" Jadi, Guru itu sekedar melakukan permintaan kakek? " bertanya Puguh.
" Bukan. Maksudku bukan begitu. Ki Ajar sendiri memang berniat mengangkat
seorang murid. Dan muridnya itu adalah kau " berkata Wida.
Puguh memandang Wida dengan tatapan mata yang tajam. Ia seakan-akan melihat
dibalik ujudnya yang sederhana, bodoh dan cacat itu sesuatu yang lain. Sesuatu
yang lebih berharga dari ujud lahiriahnya itu.
Tetapi Puguh tidak mengatakan sesuatu. Bahkan tatapan matanya seakan-akan telah
menusuk kedalam jantung Wida serta mengumpatinya.
Wida menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia tidak mau memandang wajah Puguh yang
tegang itu.
Untuk beberapa saat keduanya justru saling berdiam diri. Tiba-tiba saja Wida
bangkit dan melangkah ke pintu gerbang yang rusak. Dengan hati-hati menyelinap
di balik gerumbul ia memperhatikan orang-orang yang berada dibawah bukit itu.
Ternyata orang-orang itu tidak hanya sekedar menunggu.
Karena itu, maka dengan tergesa-gesa Wida menyuruk masuk kembali kedalam kuburan
itu. Dengan wajah yang gelisah ia berkata " Puguh. Mereka agaknya sudah jemu
menunggu, Beberapa orang diantara mereka mulai bergerak naik. Mereka akan
memasuki kuburan tua ini. "
Puguh menggeram. Dengan nada berat ia berkata " Untuk apa sebenarnya mereka
mencampuri urusanku. "
Wida menarik nafas dalam-dalam. Katanya " Mereka tentu tidak sengaja mencampuri
urusanmu. Tetapi mereka dituntun oleh kegelisahan mereka tentang orang-orang
yang memasuki kuburan tua ini, justru kuburan diatas bukit kecil ini terletak di
lingkungan mereka. "
" Apapun alasannya, apa yang sebaiknya kita lakukan sekarang, Wida? " bertanya
Puguh yang menjadi gelisah.
Wida termangu-mangu. Jika ia sendiri, maka kehadiran orang-orang itu tidak
menjadi soal baginya. Ia akan dapat membuat alasan mencari dedaunan yang dapat
dijadikan obat-obatan. Atau jika orang-orang itu memaksa tidak mempercayainya,
maka ia akan dengan mudah dapat menghindarkan diri. Tetapi ia tidak akan dapat
melakukannya dihadapan Puguh yang menganggapnya tidak lebih dari seorang juru
tanaman.
Namun Wida itu menjadi berdebar-debar ketika Puguh itupun kemudian tegak berdiri
sambil menggenggam hulu pedangnya "
Aku akan menyingkirkan mereka yang menghalangi jalanku. "
" Jangan " minta Wida " kau tidak boleh berselisih dengan mereka. "
" Jadi kau ingin aku menyerah kepada mereka dan menurut apapun yang mereka
perintahkan kepadaku? " bertanya Puguh.
" Bukan begitu " jawab Wida " kita mencari jalan lain. Jika terjadi
perselisihan, apalagi jatuh korban, maka orang-orang dipadukuhan itu tentu akan
memperhatikan padepokan yang ada di sekitar tempat ini, atau katakan, padepokan
yang paling dekat dengan tempat ini. Padepokan itu adalah padepokan disebelah
Gantar itu. "
" Kenapa mereka langsung memandang ke padepokan kita? Apakah mereka tidak
mempunyai dugaan lain? " bertanya Puguh.
—Mungkin mereka memang menduga-duga. Tetapi salah satu diantara perhitungan
mereka adalah padepokan kita. Karena itu, lebih baik kita tidak menyakiti hati
mereka. " berkata Wida.
" Jika demikian, apakah yang sebaiknya kita lakukan? " bertanya Puguh pula.
" Sebaiknya kau menghindar saja. Meloncatlah lewat dinding dibalik rimbunnya
pohon-pohon liar itu. Aku akan memancing perhatian mereka dari regol. " berkata
Wida " carilah kesempatan untuk melarikan diri. Ingat, lebih baik kita melarikan
diri daripada kita membentur kekuatan mereka. Seperti yang sudah aku katakan,
meskipun kita akan dapat
menyingkirkan dan menyibakkan jalan bagi kita, tetapi setitik darah dari mereka
akan dapat membawa persoalan ini sampai ke Pajang. "
Tetapi Puguhpun kemudian bertanya " Bagaimana jika kau ditangkap? "
" Aku akan mengatakan kepada mereka, bahwa aku memang mencari akar wregu putih
atau jenis dedaunan yang lain untuk obat-obatan. " jawab Wida.
" Bagaimana jika mereka bertanya tentang orang-orang lain yang pernah naik ke
bukit ini? " desis Puguh " bukankah kau kemarin datang bersamaku dan bertanya
tentang orang-orang yang asing itu? "
" Jika kau berhasil menyingkir, maka aku akan mengatakan bahwa kaulah yang
mencari mereka. Bukan aku. " jawab Wida.
Puguh masih akan bertanya lagi, tetapi Wida memotongnya " Sudahlah. Jangan
terlambat. "
Namun Puguh masih saja nampak ragu-ragu. Bagaimanapun juga, ia merasa-berat hati
untuk meninggalkan Wida sendiri. Mungkin ia akan ditangkap dan dibawa ke
padukuhan. Bahkan mungkin ia akan dapat justru dibawa ke Pajang.
Tetapi Wida mendesaknya " Cepat. Tinggalkan kuburan ini. Cari kesempatan untuk
lolos. Berhati-hatilah. Aku akan pergi ke regol dan memancing perhatian mereka.
Jangan bertanya lagi. "
Puguh memang tidak sempat bertanya lagi. Wida telah pergi keregol kuburan tua
itu. Tetapi ia tidak lagi menyuruk dibawah gerumbul-gerumbul. Dengan sengaja ia
berjalan terbongkok-bongkok keluar dari gerbang yang sudah rusak itu.
Namun sejenak kemudian ia tertegun. Ia melihat beberapa orang yang memanjat
naik. Tidak hanya lewat jalan setapak yang menuju kepintu gerbang itu, tetapi
dari arah lain beberapa orangpun telah naik pula meskipun mereka harus
merangkak-rangkak diantara batang ilalang, pohon-pohon perdu dan batu-batu
padas.
Sementara itu, Puguh telah menyelinap pula dibalik gerumbul-gerumbul perdu yang
nampak liar. Dengan hati-hati ia telah meloncati dinding didalam rimbunnya
pepohonan. Dinding kuburan tua yang untung saja tidak roboh karenanya.
Ketika ia berada diluar dinding kuburan, maka dari balik dedaunan ia memang
melihat beberapa orang yang berada dibawah bukit. Nampaknya hanya beberapa orang
sajalah yang naik dari arah depan dan samping. Sementara yang lain tetap
menunggu dibawah bukit kecil itu.
Puguh memang harus menunggu sejenak. Jika Wida berhasil memancing perhatian
orang-orang itu, maka ia akan mendapat kesempatan untuk melarikan diri.
Dilereng bukit itu terdapat banyak gerumbul-gerumbul perdu yang liar dan rimbun.
Sebenarnyalah, sejenak kemudian, Puguh telah mendengar suara ribut didepan
kuburan. Agaknya Wida telah menarik perhatian orang-orang itu. Ternyata beberapa
orang justru telah berlari-lari ke arah depan kuburan tua itu.
Puguh menjadi berdebar-debar. Rasa-rasanya ia tidak dapat membiarkan Wida
mengorbankan dirinya. Tetapi iapun tidak ingin ditangkap oleh orang-orang
padukuhan itu.
Untuk beberapa saat Puguh masih saja bersembunyi di balik gerumbul liar yang
rimbun. Ia tidak menghiraukan betapa kulitnya menjadi gatal oleh ulat berbulu
dan semut-semut yang mengerumuni dan menggigit kakinya.
Ternyata Wida kemudian berhasil . Dari tempatnya bersembunyi Puguh melihat
beberapa orang saling berkejaran. Bahkan orang-orang yang mengepung bukit itupun
telah ikut pula bergeser ke arah depan bukit itu.
Kesempatan mulai terbuka bagi Puguh. Dengan sangat berhati-hati ia menyelinap
dari gerumbul yang satu kegerumbul yang lain. Sehingga akhirnya ia sampai pada
satu lapisan gerumbul yang menghadap ke lereng bukit yang agak terbuka.
Dengan perhitungan yang cermat, maka Puguh telah menentukan arah, kemana ia
harus berlari. Menurut perhitungannya, bagaimanapun juga, tentu akan ada orang
yang melihatnya. Tetapi jika ia dapat mencapai ujung pematang diantara tanaman
padi yang tumbuh dengan suburnya, maka ia tentu akan dapat meloloskan diri. Ia
masih yakin akan kemampuan tenaga cadangannya yang dapat mendorongnya berlari
lebih cepat. Dengan demikian ia berharap bahwa orang-orang yang mengepung bukit
itu tidak akan dapat mengejarnya.
Untuk beberapa saat Puguh menunggu. Pada saat yang dianggapnya tepat, maka Puguh
itupun segera berlari sekencang-kencangnya diatas batang ilalang yang terbuka.
Jarak antara gerumbul yang satu dengan gerumbul yang lain menjadi agak jauh.
Sebagaimana diperhitungkan, beberapa orang memang telah melihatnya. Karena itu,
seorang diantara merekapun telah berteriak " Itu, seorang lagi. "
" Ya. Seorang lagi " sahut yang lain.
Beberapa orang segera berlari-lari kearah Puguh melarikan diri. Tetapi seperti
yang diperhitungkan oleh Puguh, bahwa ia memang memiliki kemampuan berlari lebih
cepat dari orang-orang yang mengepung bukit itu.
Karena itu, ketika perhatian mereka tertuju ke bagian depan kuburan tua itu,
maka mereka benar-benar telah kehilangan Puguh. Dengan cepat Puguh seperti
menggelinding di lereng bukit itu, menerobos batang-batang ilalang dan dengan
cepat mencapai salah satu ujung pematang.
Sebelum orang-orang padukuhan yang mengepung bukit itu menyadari keadaan
sepenuhnya, maka Puguh telah berlari menyusur sebuah pematang, memasuki bulak
yang luas.
Beberapa orang memang mencoba mengejarnya.
Tetapi anak muda itu seakan-akan telah menghambur keluasnya medan yang tidak
terjangkau lagi oleh orang-orang yang berlari-lari menyusulnya. Jaraknya justru
semakin lama menjadi semakin panjang, sehingga akhirnya Puguh itu menjadi nampak
semakin kecil.
Orang-orang yang mengejarnya akhirnya merasa bahwa mereka tidak akan berhasil.
Puguh itu bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya menyusup dihijaunya bulak
yang luas.
Ketika daun padi yang basah oleh embun mulai berkilat-kilat oleh cahaya
matahari, maka Puguh itu telah hilang dari penglihatan orang-orang yang
mengejarnya.
Puguh yang merasa bahwa tidak seorangpun yang mengejarnya lagi, telah
memperlambat langkahnya. Bahkan iapun kemudian berjalan saja dengan langkah
wajar menjauhi bukit kecil itu.
Namun Puguh tidak mau mengambil jalan yang biasanya dilalui menuju ke Gantar.
Mungkin ada diantara orang-orang yang mengejarnya menyusuri jalan itu. Namun
demikian Puguh pada dasarnya akan kembali kepadepokannya lewat Gantar juga,
meskipun ia harus mengambil jalan-jalan yang lebih sempit dan lebih kecil.
Diperjalanan menuju ke Gantar, Puguh sempat memikirkan kemungkinan yang terjadi
pada Wida. Orang yang tubuhnya cacat itu akan mengalami kesulitan untuk
menghindarkan diri dari; sekian banyak orang yang mengepung bukit kpcil itu.
Bahkan j Puguh mulai membayangkan, jika Wida kemudian tertangkap, lalu apakah
yang akan terjadi atas dirinya? Apakah pada suatu saat, Wida akan berterus
terang tentang padepokannya. Meskipun Wida akan dapat menyebut padepokannya yang
pertama. Namun dengan demikian padepokannya itu akan mulai menjadi sorotan
banyak orang. Apalagi jika benar seperti yang dikatakan Wida, bahwa persoalannya
akan dibawa sampai ke Pajang.
Bagaimanapun juga Puguh merasa iba memikirkan orang tua yang cacat itu. Jika
orang-orang padukuhan itu memaksanya berbicara karena mereka tidak percaya
kepada keterangan Wida, bahwa ia mencari dedaunan untuk obat-obatan, maka ia
akan mengalami kesulitan lahir dan batin.
" Sulit untuk mempercayainya, bahwa ia sedang sekedar mencari obat-obatan,
justru karena ada orang yang melihat aku melarikan diri. Bahkan orang yang
mengetahui kedatangan kami mencari orang-orang yang tidak dikenal di lingkungan
ini " berkata Puguh kepada diri sendiri.
Namun Puguh itu berjanji pula kepada diri sendiri, jika Wida tertangkap dan
ditahan di padukuhan itu, maka ia akan berusaha untuk melepaskannya. Bahkan jika
perlu dengan kekerasan.
Tetapi bagaimanapun juga Puguh memang harus melaporkannya kepada gurunya.
Dalam pada itu, semakin lama langkah Widapun menjadi semakin dekat dengan
Gantar. Tetapi tidak melalui jalan yang dilaluinya disaat ia berangkat.
Ditempuhnya jalan yang lebih kecil. Namun mendekati Gantar, jalan kecil itupun
nampaknya telah menjadi ramai juga. Banyak orang yang berangkat dan pulang dari
pasar untuk menjual dan membeli kebutuhan mereka sehari-hari.
Demikian Puguh masuk ke Gantar, maka iapun menjadi semakin berhati-hati. Mungkin
beberapa orang yang mengepung kuburan tua itu mendapat tugas untuk mengamati
daerah Gantar dan sekaligus menangkapnya, apabila orang-orang itu mampu
mengenalinya, karena mereka hanya melihatnya melompat dari balik gerumbul dan
berlari turun diantara batang ilalang. Kemudian memasuki bulak yang luas. Tetapi
tidak mustahil bahwa orang akan dapat mengenali pakaiannya, sikap dan
gerakan-gerakannya.
Namun ternyata bahwa tidak seorangpun yang patut dicurigainya. Orang-orang
Gantar dan orang-orang lain yang ada di Gantar sama sekali tidak
menghiraukannya. Demikian pula ketika ia memasuki jalan keluar dari Gantar
menuju ke padepokannya. Sehingga dengan demikian maka Puguh merasa dirinya
benar-benar telah lolos dari tangan orang-orang yang mengepung kuburan tua itu.
Tetapi yang kemudian dipikirkannya adalah Wida. Ia telah mengorbankan dirinya
untuk membebaskannya.
Puguh memang tidak mengira sebelumnya, bahwa pada suatu saat ia harus berhutang
budi kepada orang cacat, yang menjadi juru tanaman di padepokan gurunya itu.
Meskipun orang itu cacat , tetapi Wida termasuk orang penting bagi gurunya,
karena selain keduanya mempunyai perhatian yang sama-sama bersungguh-sungguh
terhadap berjenis-jenis tanaman, Wida juga sering mendapat tugas dari gurunya
untuk mencari jenis dedaunan, akar-akaran atau tanaman yang dapat dibuat
beberapa jenis obat-obatan.
" Apa yang akan terjadi dengan orang tua yang cacat itu? " bertanya Puguh kepada
diri sendiri. Namun Puguh memang sudah bertekad bahwa orang tua itu harus
dibebaskannya.
Dalam pada itu, Puguh yang telah berada diluar
padukuhan induk Gantar, telah berjalan lebih cepat lagi. Ia ingin segera
sampai ke padepokannya dan melaporkan peristiwa yang telah terjadi kepada
gurunya. Tentang hilangnya Gagaklahan yang ternyata telah berada didalam kubur
bersama beberapa orang pengikutnya. Sementara itu, Wida agaknya telah ditangkap
oleh orang-orang padukuhan karena ia berusaha untuk memancing perhatian
orang-orang itu bagi keselamatan Puguh
Ketika Puguh berjalan dengan kepala tunduk melintasi sebuah tikungan, maka
tiba-tiba saja ia terkejut. Seorang tua yang agak bongkok duduk dipinggir jalan
dengan tenangnya.
" Wida " justru Puguhlah yang menjadi gagap.
Wida itupun kemudian bangkit berdiri. Sambil melangkah menyongsong Puguh ia
tersenyum. Katanya " Kau berhasil lolos Puguh. Aku memang sudah yakin bahwa kau
akan dapat lolos dari tangan mereka. "
" Tetapi bagaimana kau sendiri lolos? " bertanya Puguh.
" Aku memang lebih dahulu lari dari kau. Jika kau yang kemudian berhasil lolos,
maka kemungkinanku tentu lebih besar " jawab Wida.
" Tetapi orang-orang itu mengejarmu " berkata Puguh.
Wida tertawa. Katanya " Ketika kau lari menuruni bukit kecil itu, maka
orang-orang padukuhan itu telah berramai-ramai mengejarmu sehingga aku telah
mereka lupakan. "
Puguh mengerutkan keningnya. Memang mungkin hal itu terjadi, tetapi agaknya ada
sesuatu yang agak berlebihan. Seandainya orang-orang itu mengejarnya tentu ada
satu dua orang yang tidak melupakan sama sekali orang tua yang
terbongkok-bongkok itu.
Tetapi Puguh tidak menanyakannya lagi. Katanya kemudian " Marilah. Kita
menghadap guru untuk memberikan laporan apa yang telah terjadi. "
" Kita harus bertemu dengan Ki Ajar sebelum kedua orang tuamu datang. " desis
Wida.
Puguh mengerutkan dahinya. Iapun sadar apa yang terjadi jika kedua orang tuanya
mengetahui peristiwa yang terjadi di padepokan. Bahwa Gagaklahan terbunuh
meskipun salahnya sendiri. Karena itu, ia memang sependapat, bahwa mereka harus
membicarakan dengan gurunya lebih dahulu sebelum orang tuanya mengetahuinya.
Karena sebenarnyalah bahwa Puguh merasa lebih dekat dengan gurunya daripada
kedua orang tuanya yang jarang berada di padepokan yang pertama maupun yang
kedua. Apalagi sejak adiknya kemudian lahir. Perhatian kedua orang tuanya lebih
banyak tertuju kepada adiknya. Sehingga karena itu, maka kedua orang tuanya
serta sekelompok pengikutnya yang lain, yang agaknya memang sengaja diberi batas
dengan para pengikutnya yang ada di padepokan pertama dan kedua.
Dengan demikian, maka Puguh dan Wida itupun telah mempercepat langkah mereka.
Orang yang dianggap ayah dan ibu Puguh telah beberapa lama meninggalkan
padepokan itu. Jika tiba-tiba saja mereka kembali, maka Puguh akan mengalami
kesulitan untuk menjelaskan apa yang telah terjadi itu.
Dalam pada itu, yang telah jauh meninggalkan kuburan tua itu adalah Sambi Wulung
dan Jati Wulung. Mereka telah menempuh perjalanan kembali. Mereka tidak menuju
ke tempat Risang tinggal untuk menempa diri. Tetapi mereka langsung menuju ke
Tanah Perdikan Sembojan.
Kedatangan mereka di Tanah Perdikan Sembojan disambut oleh Nyai Wiradana, Kiai
Soka dan Nyai Soka. Sambil tersenyum-senyum Kiai Soka bertanya " Bagaimana kabar
perjalanan kalian berdua? "
Sambi Wulung dan Jati Wulungpun tersenyum. Ia yakin bahwa sebagian dari
perjalanan mereka telah diketahui oleh Kiai Soka dan sudah barang tentu Nyai
Soka dan bahkan tentu Nyi Wiradana.
" Atas perlindungan Yang Maha Agung, perjalanan kami selalu dalam keadaan baik
Kiai " jawab Sambi Wulung.
Nyai Soka dan Nyi Wiradanapun telah bertanya tentang keselamatan Sambi Wulung
dan Jati Wulung diperjalanan. Perjalanan yang panjang dan cukup lama.
" Kiai Soka tentu sudah berceritera " berkata Jati Wulung setelah mengabarkan
keselamatannya dalam perjalanan bersama Sambi Wulung.
Kiai Soka tertawa. Katanya " Aku hanya melihat sebagian saja dari ceritera yang
tentu panjang dan menarik, "
Jati Wulung tertawa, sementara Sambi Wulung bertanya " Apakah Kiai Badra juga
ada disini? "
Kiai Soka menggeleng. Katanya " Kiai Badra telah berada bersama Risang. "
Sambi Wulung mengangguk-angguk. Sambil memandang Nyi Wiradana ia bertanya " Apa
saja yang pernah diceriterakan oleh Kiai Badra dan Kiai Soka? "
" Tentang apa? " Nyi Wiradana justru bertanya
" tentang isi tempat perjudian yang disebut Song Lawa atau tentang prajurit
Pajang yang sempat mengganggu kesenangan kalian? "
Sambi Wulung berdesah. Sementara Nyi Wiradana berkata selanjutnya " Bukankah
kalian kerasan berada ditempat seperti Song Lawa itu? "
Yang menjawab adalah Jati Wulung " Sekali-sekali Nyi. "
Nyi Wiradana tertawa. Kiai dan Nyai Sokapun tertawa pula. Dengan nada rendah
Nyai Soka bertanya " Ada apa saja didalam lingkungan yang disebut Song Lawa itu.
"
Sambi Wulung yang juga tertawa itu menjawab " Sayang, kami terlambat mencoba
memasuki tempat itu. Isinya benar-benar mendebarkan. Judi, kekerasan, kecurigaan
dan raksasa-raksasa yang bertugas. "
" Tidak ada yang lain? " desak Nyi Wiradana.
" Ah, itu urusan anak-anak muda " jawab Jati Wulung sambil mengangkat mangkuk
minuman yang telah dihidangkan. +
Nyi Wiradana tertawa semakin panjang.
Namun akhirnya pembicaraan merekapun sampai juga kepada anak muda yang bernama
Puguh. Anak muda yang memang harus menjadi pusat perhatian Sambi Wulung dan Jati
Wulung.
Nada Sambi Wulungpun menjadi lebih bersungguh-sungguh. Katanya " Akhirnya kami
temukan juga anak muda yang bernama Puguh itu. "
" Kau kenali beberapa hal tentang pribadinya? " bertanya Kiai Soka. " Juga
tataran kemampuannya serta kemungkinan di waktu mendatang baginya? "
" Ya " jawab Sambi Wulung.
" Katakan " desis Nyi Wiradana.
" Aku akan mengatakan apa yang aku ketahui sesuai dengan pengenalanku dan
barangkali Jati Wulung akan dapat melengkapinya. Aku tidak ingin nenambah atau
mengurangi agar penilaian kita atas anak itu lebih mendekati kebenaran sehingga
kita akan dapat menentukan sikap lebih jauh. "
Nyi Wiradana, Kiai Soka dan Nyai Sokapun menjadi bersungguh-sungguh pula. Dengan
nada dalam Kiai Sokapun berkata " Justru kau harus mengatakan yang sesungguhnya.
Lalu katanya " Baiklah. Aku akan mencobanya. "
Dengan singkat Sambi Wulungpun kemudian menceriterakan pengenalannya atas Puguh.
Iapun menyatakan bahwa gambarannya tentang Puguh ternyata salah setelah ia
bertemu, berbicara dan bahkan untuk beberapa saat bersama-sama menempuh
perjalanan menuju ke padepokannya.
Nyi Wiradana mengerutkan keningnya. Yang dikatakan oleh Sambi Wulung bukannya
yang diharapkannya. Sebagai seorang ibu dari seorang anak laki-laki yang
terancam jiwanya hampir disetiap saat, maka naluri keibuannya menganggapnya
bahwa anak laki-lakinya itulah anak yang terbaik. Puguh yang dianggapnya sebagai
saingan anaknya itu, terutama kedudukan yang bakal di warisinya, dibayangkannya
sebagai seorang anak laki-laki yang keras, kasar dan jahat. Meskipun dalam
beberapa hal sifat Puguh memang tidak terpuji, namun menurut Sambi Wulung Puguh
pada dasarnya bukan seorang anak muda yang jahat.
Tetapi Nyi Wiradana yang telah beberapa lamanya memerintah Tanah Perdikan
Sembojan atas nama anaknya yang bakal mewarisi kedudukan ayahnya, ia terbiasa
untuk mempergunakan nalarnya, bukan saja perasaannya. Karena itu, maka iapun
mencoba memahami ceritera Sambi Wulung. Karena sebagaimana dirinya, Sambi Wulung
semula juga membayangkan bahwa Puguh bukannya anak yang baik.
Dari Jati Wulung, Nyi Wiradana itu mendengar bahwa agaknya gurunyalah yang telah
mengendapkan sifat-sifat ibu dan orang yang dianggapnya ayahnya.
" Kedua orang yang dianggap orang tuanya itu telah mendorongnya untuk
mendapatkan pengalaman yang dapat memacunya untuk menjadi orang yang dikehendaki
oleh mereka. Tetapi ternyata hasilnya justru berbeda. " Jati Wulung berhenti
sejenak, lalu " bukan saja pengalaman diluar lingkungan mereka, padepokan
merekapun dibayangi oleh pertanda-pertanda yang dapat mendirikan bulu tengkuk.
Bahkan bukan sekedar pertanda, tetapi benar-benar batas neraka yang mengerikan
bagi mereka yang terperangkap ditempat itu. Sengaja atau tidak sengaja.—
Nyi Wiradana mengangguk-angguk, la harus menerima kenyataan itu jika ia akan
dapat menyusun satu sikap yang paling baik bagi Risang.
" Jadi menurut pendapat mu, Puguh belum memenuhi keinginan kedua orang tuanya? "
bertanya Kiai Soka.
" Ya Kiai " jawab Sambi Wulung " menurut tanggapan kami berdua, kedua orang tua
Puguh menghendaki agar Puguh menjadi orang sebagaimana suasana yang diciptakan
disekitarnya. Bahkan agaknya Puguh harus menjadi garang melampaui kegarangan
ibunya. "
" Tetapi menurut pendapatmu, gurunya tidak bersikap sebagaimana kedua orang
tuanya? " bertanya Kiai Soka pula.
Sambi Wulung, maka Jati Wulung itupun berkata " Kami tidak tahu pasti Kiai.
Tetapi setidak-tidaknya ada sesuatu yang agak menghambatnya. Ilmu yang
diungkapkan dalam setiap benturan, kurang meyakinkan kami, bahwa kedua orang
tuanya telah berhasil membentuk Puguh menjadi iblis kecil yang berbahaya. "
Kiai Soka mengangguk-angguk. Namun dalam pada itu Sambil Wulungpun telah
memberikan gambaran tentang kemampuan dan pengalaman Puguh, sehingga menurut
pendapat Sambi Wulung maupun Jati Wulung, Puguh nampak lebih dewasa dari Risang.
Baik dalam tingkah laku maupun cara mereka berpikir.
Nyi Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berkata "
Kita memang harus menerima kenyataan ini. Namun sesudah itu, apakah yang
sebaiknya kita lakukan. Aku tidak sekedar dibakar oleh dendam didalam hati. Aku
sama sekali tidak ingin berbuat sesuatu untuk mencelakakan orang lain. Jika aku
gelisah tentang Risang itu semata-mata karena aku menginginkannya dapat duduk
tenang dalam warisan jabatan kakeknya. Aku tidak akan mengajari Risang untuk
memburu seseorang berdasarkan dendam. Tetapi akupun tidak mau Risanglah yang
diburu tanpa dapat melindungi dirinya sendiri. "
Nyai Soka yang mengangguk-anggukpun berkata " Pertentangan didalam lingkungan
hidup Puguh agaknya memang telah memacunya untuk menjadi cepat dewasa. Agaknya
kedua orang tuanya bersikap keras terhadapnya, sementara anak itu telah didera
untuk tenggelam dalam jenis-jenis kehidupan yang buram. Aku sependapat, tentu
ada imbangan pandangan hidup yang membuatnya tidak menjadi iblis kecil
sebagaimana diharapkan oleh kedua orang tuanya menilik cara hidup dan lingkungan
yang telah diciptakannya. Mungkin gurunya, mungkin orang lain yang dekat
dengannya. "
" Orang yang terdekat dengan Puguh dan dipanggilnya Paman adalah justru iblis
yang sebenarnya " berkata Jati Wulung. Iapun kemudian berceritera tentang orang
yang bernama Gagaklahan yang menyusul mereka.
" Kami terpaksa membunuh mereka " berkata Sambi Wulung pula.
Kiai Soka mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia bertanya " Berapa orang sudah
kau bunuh dalam perjalanan itu? "
" Kami tidak dapat berbuat lain " sahut Sambi Wulung " sejak kami mendekati Song
Lawa, maka kami sudah terpaksa mulai membunuh. Kami tahu bahwa bukan tujuan kami
untuk berbangga diri karena kami memiliki ilmu untuk membunuh. Tetapi jika
dengan membunuh kami tejah menyelamatkan diri kami serta mengurangi kemungkinan
orang-orang itu membunuh orang lain yang lebih lemah dari kami, maka terpaksa
hal itu kami lakukan. "
Kiai Soka menarik nafas dalam-dalam. Sambi Wulungpun telah menceriterakan pula
bagaimana mereka terpaksa membunuh orang-orang yang akan membunuhnya
dilingkungan yang diberi tanda dengan sebuah topeng kecil yang menakutkan.
Nyi Wiradanapun mengangguk-angguk pula. Dengan ceritera yang panjang itu, ia
dapat mengetahui, betapa sulitnya perjalanan kedua orang itu. Perjalanan yang
dilakukan untuk kepentingan anaknya, Risang. Langsung atau tidak langsung.
Karena itu, maka Nyi Wiradana itupun kemudian berkata " Aku mengucapkan terima
kasih yang sebesar-besarnya kepada kalian berdua. Sokurlah bahwa kalian telah
mampu mengatasi kesulitan-kesulitan yang terjadi disepanjang perjalanan. Jika
karena sesuatu hal kalian tidak dapat mengatasi kesulitan di perjalanan, betapa
besar hutang yang harus aku tanggungkan. "
" Jangan berpikir begitu Nyi Wiradana " sahut Sambi Wulung " bagi kami,
kesediaan untuk melakukan sesuatu tentu disertai tanggung jawab. Dalam satu
kesulitan atau bahkan kemungkinan yang paling buruk sekalipun, maka itu sudah
termasuk dalam kesediaan kami. "
" Terima kasih " desis Nyi Wiradana. Lalu " Berapa kalipun aku ucapkan,
rasa-rasanya masih belum memadai. "
" Sudahlah " berkata Sambi Wulung kemudian " sekarang bagaimana harus kita
lakukan terhadap Risang. -
Nyi Wiradana mengangguk-angguk. Kemudian kepada Kiai Soka dan Nyai Soka iapun
bertanya " Apakah Kiai dan Nyai mempunyai petunjuk bagi perkembangan Risang?
Bagaimanapun juga, kelebihan Puguh atas Risang akan dapat membahayakan. Mungkin
ia bukan seorang yang jahat. Tetapi jika pada suatu saat, ibunya serta orang
yang dianggap ayahnya itu memerintahkan, maka ia tentu akan bertindak atas
Risang. Jika saatnya datang, akan
dapat terjadi sebagaimana terjadi atas ayah Ki Wiradana, mertuaku laki-laki,
yang harus bertempur dalam perang tanding melawan Kalamerta apapun alasannya.
Sebagai seorang laki-laki, maka Ki Gede Sembojan tidak menolak. Selebihnya,
karena dengan demikian, maka persoalan akan dibatasi antara kedua orang yang
bertanggung jawab. Jika pada saat itu Ki Gede tidak membekali dirinya dengan
ilmu yang cukup, maka Ki Gede tentu akan gugur. Agaknya bekal ilmu itulah yang
kurang mendapat perhatian kakang Wiradana. Ia agaknya terlalu manja sementara
ayahnya tidak bertindak lebih keras kepadanya, sehingga apa yang terjadi
sekarang ini telah terjadi. "
Kiai Soka dan Nyai Soka mengangguk-angguk. Mereka mengerti apa yang dipikirkan
oleh Nyi Wiradana. Kemungkinan itu memang dapat saja terjadi, sebagaimana Nyi
Wiradana yang muda telah menantang Nyi Wiradana untuk berperang tanding.
Tantangan itu memang dapat dielakkan. Apalagi oleh seorang Kepala Tanah Perdikan
yang akan dapat mengerahkan para pengawalnya. Tetapi dengan demikian namanya
akan dapat menjadi suram.
Orang-orang yang mendambakan kejantanan tentu akan menjadi kecewa.
Karena itu, maka Kiai Sokapun berkata " Baiklah. Kita harus segera pergi menemui
Kiai Badra. Kita akan membuat penilaian sekali lagi atas kemampuan Risang.
Selanjutnya perbandingan yang ada antara Risang dan Puguh. Terutama dilakukan
oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung yang dapat langsung mengetahui tingkat
kemampuan Puguh. Tetapi selain itu, maka aku ingin menganjurkan kepada Nyi
Wiradana untuk tidak lupa menyempurnakan ilmu yang pernah kita berikan. Janget
Kinatelon. Satu jenis ilmu yang kami susun bertiga, sehingga merupakan ilmu yang
berada diatas tingkat ilmu kami masing-masing. Jika Nyi Wiradana mampu
mengembangkannya, maka ilmu itu aku kira cukup memadai. Kita tidak dapat lengah
menghadapi orang yang memiliki sifat dan watak seperti Warsi dan Ki Rangga
Gupita. Kita sebenarnya tidak terlalu mencemaskan Ki Randu Keling yang memiliki
pengamatan lebih luas tentang kehidupan daripada Warsi dan Ki Rangga. Dengan
demikian, tidak mustahil jika pada suatu saat ibu dan anak laki-laki itu akan
datang bersama-sama untuk menantang perang tanding. "
Nyi Wiradana mengangguk-angguk. Katanya " Aku sangat berterima kasih atas
kesempatan \ memiliki ilmu yang disebut Janget Kinatelon itu. Karena itulah maka
menjadi kewajibanku untuk memelihara dengan baik. Bahkan mengembangkannya.
Meskipun karena kemampuanku yang terbatas, maka perkembangan ilmu itu agaknya
memang terlalu lambat. "
" Anggaplah bahwa kau sedang berpacu " berkata Nyai Soka " kemenangannya tidak
semata-mata tergantung kepada kudanya. Tetapi juga pada ketrampilan
penunggangnya. "
" Aku mengerti Nyai " jawab Nyi Wiradana.
Demikian maka diputuskan, bahwa Sambi Wulung dan Jati Wulung akan segera pergi
ke tempat tinggal Risang, yang ingin dijadikannya sebuah padepokan, sementara
itu Kiai Soka dan Nyai Soka akan tetap berada di dekat Nyi Wiradana. Jika perlu
keduanya akan selalu mengikuti dan menuntun perkembangan ilmu Nyi Wiradana
sendiri.
Tetapi Nyi Wiradana tidak dengan serta merta melepaskan Sambi Wulung dan Jati
Wulung meninggalkan Tanah Perdikan. Keduanya diminta untuk beristirahat barang
satu dua hari. Baru kemudian mereka akan pergi kepada Risang untuk selanjutnya
bersama-sama dengan Kiai Badra dan Gantar meningkatkan kemampuan Risang dengan
cara tertentu yang akan mereka tentukan kemudian. Disamping latihan-latihan yang
keras, maka Risang juga memerlukan sejumlah pengalaman yang akan dapat
mematangkan kedewasaannya kelak, meskipun tidak harus memasuki lingkungan
seperti Song Lawa itu.
" Agaknya memang demikian Nyi " sahut Sambi Wulung " kita untuk sementara dapat
melupakan Puguh dengan persoalannya sendiri. "
Sebenarnyalah pada saat-saat yang demikian Puguh tengah menghadap gurunya di
padepokannya yang kedua. Wida, juru
tanaman yang telah menyelamatkan Puguh dari tangan orang-orang padukuhan itu
ikut pula menghadap Ki Ajar Paguhan.
" Jadi kalian ketemukan kuburan Gagaklahan dan orang-orangnya? " bertanya Ki
Ajar Paguhan.
" Ya guru " jawab Puguh.
Ki Ajar Paguhan menarik nafas dalam-dalam. Katanya dengan nada rendah "
Gagaklahan telah mendorong dirinya sendiri masuk kedalam kubur itu. Agaknya ia
terlalu curiga kepada kedua orang yang telah datang bersamamu itu. Bahkan
Gagaklahan juga menuduh bahwa yang telah membunuh ampat orang pengawal padepokan
ini dibatas lingkungan yang tidak boleh ditambah orang lain itu juga kedua orang
kawanmu, bahkan bersamamu. "
Puguh menarik nafas dalam-dalam. Semuanya telah diatur oleh kedua orang tuanya,
bagaimana orang-orang padepokan itu harus membunuh setiap orang yang berada di
dekat tempat-tempat yang diberi pertanda sebuah topeng yang buruk. Bahkan Puguh
itu tidak mengerti, pengikut-pengikut yang manakah yang mendapat tugas untuk
melakukannya. Puguh memang tidak berminat untuk mengenal setiap orang di
padepokan, terutama padepokan kedua. Pada dasarnya Puguh adalah penghuni
padepokan pertama. Gurunya memang berada di padepokan kedua. Tetapi jika ia
memberikan latihan-latihan kepada Puguh ia lebih banyak berada di padepokan
pertama. Karena itu, maka tidak mustahil bahwa ada pengikut kedua orang tua
Puguh yang tidak mengenal Puguh. Apalagi orang-orang yang khusus atau
orang-orang yang belum lama dibawa oleh kedua orang tua Puguh ke tempat itu dari
padepokan yang lain yang tidak diketahuinya.
Namun sebelum berangkat, Sambi Wulung dan Jati Wulung juga memerlukan bekal dari
Kiai Soka dan Nyai Soka yang kelak akan disampaikannya kepada Kiai Badra.
" Kami akan memikirkannya dalam satu dua hari ini, sementara kalian berdua dapat
beristirahat disini. Menurut ceriteramu, Puguh tentu tidak akan datang dalam
waktu satu dua hari itu. " berkata Kiai Soka.
Sambi Wulung dan Jati Wulung tertawa. Dengan nada rendah Sambi Wulung berkata "
Puguh tentu baru sibuk mencari pamannya yang hilang. "
" Pamannya? " bertanya Nyi Wiradana.
" Orang yang dipanggilnya paman. Namanya Gagaklahan. Orang itulah yang berusaha
membunuh kami berdua ketika kami berdua meninggalkan padepokan Puguh. Agaknya
orang itu mencium sesuatu yang
kurang wajar pada kami, sehingga bersama dengan beberapa orang kawannya telah
menyusul kami dan memaksa kami memasuki sebuah kuburan tua. " jawab Sambi
Wulung.
" Kami terpaksa membunuh mereka " desis Jati Wulung pula.
Nyi Wiradana mengangguk-angguk. Tetapi ia berkata " Kematian itu akan dapat
mengungkit persoalan yang untuk sementara dibekukan itu. "
Tetapi Jati Wulung menggeleng. Katanya " Tidak seorangpun yang akan mengarahkan
pandangan matanya kepada kita di Sembojan ini. Puguh sendiri tentu tidak akan
sampai kepada satu dugaan, apalagi kesimpulan, bahwa kami datang atas nama Tanah
Perdikan Sembojan.
Nyi Wiradana mengangguk-angguk. Katanya " Sokurlah. Kita tidak usah disibukkan
lagi dengan persoalan-persoalan yang untuk sementara kita sisihkan. Dengan
demikian kita telah mendapat kesempatan untuk membangun Tanah Perdikan Sembojan
ini. "
Kepada gurunya Puguh tidak dapat mengelak. Iapun akhirnya berkata terus terang,
bahwa ia bersama dengan kedua orang yang mengantarkannya itu tiba-tiba telah
diserang oleh orang-orang yang tidak dikenal dan bagi Puguh memang tidak banyak
kesempatan untuk berpikir. Ketika beberapa orang diantara mereka terbunuh, maka
Puguh mengambil keputusan untuk membunuh orang terakhir agar persoalannya tidak
menjadi panjang lebar. Apalagi sampai ketelinga kedua orang tuanya.
Gurunya mengangguk-angguk. Namun iapun bergumam " Agaknya demikian pula
persoalan yang menyangkut Gagaklahan. Kita lebih baik mengatakan, bahwa kita
tidak tahu kemana perginya. "
Puguh mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Ajar Paguhanpun berkata kepada Wida "
Kaupun harus dapat merahasiakan hal ini Wida. "
" Ya Ki Ajar. Aku tidak akan mengatakan kepada siapapun juga " jawab Wida.
" Jika seorang saja di padepokan ini mendengar, tentu akan sampai ketelinga
kedua orang tua Puguh. Aku tidak dapat membayangkan keputusan apakah yang akan
diambil atas Puguh jika kedua orang tuanya mendengar kematian beberapa
pengikutnya yang mengawasi padepokan ini lebih-lebih kematian Gagaklahan, karena
Gagaklahan adalah orang yang sangat dipercayanya. " berkata Ki Ajar Paguhan.
Lalu " Sementara itu kedua orang tua Puguh bersikap sangat keras kepada Puguh.
Aku tahu bahwa maksudnya tentu baik. Namun kadang-kadang Puguh terlalu lamban
menanggapi keinginan orang tuanya. "
Puguh hanya menundukkan kepalanya saja. Ia seakan-akan melihat kembali, betapa
kerasnya sikap kedua orang tuanya sejak ia masih kanak-kanak. Sejak ia dapat
mengingat kembali tentang dirinya sendiri. Ia sudah dapat mengingatnya saat-saat
ia harus mulai dengan latihan-latihan olah kanuragan meskipun masih pada tataran
permulaan. Bagaimana ia harus ikut berlari-lari bersama kedua orang tuanya.
Bagaimana ibunya menyeretnya jika ia sudah merasa sangat letih.
Puguhpun ingat, bahwa ia seakan-akan tidak berhak sama sekali untuk menangis.
Jika ia menangis karena apa saja, maka ia justru akan menjadi semakin kesakitan.
Puguh merasa dirinya menjadi seorang yang lebih baik, justru ketika gurunya itu
datang beberapa tahun yang lalu. Meskipun ia tetap berlatih keras, namun gurunya
bukan seorang yang tidak mau mempergunakan telinganya untuk mendengar
pernyataannya dalam hal apapun juga sebagaimana kedua orang tuanya.
Atas persetujuan kedua orang tuanya, maka gurunya telah melepaskan Puguh untuk
melihat-lihat keluar dari padepokannya. Namun tempat yang di tuju atas petunjuk
ayahnya adalah justru Song Lawa.
" Kau akan dapat melihat kerasnya kehidupan disana " berkata ayahnya " kau dapat
membentuk dirimu menjadi seorang laki-laki yang berpribadi. Bukan laki-laki
cengeng. Disana segala macam kesenangan dapat kau beli dengan uang kita yang
berlimpah. "
Puguh setiap kali hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu gurunya
tidak dapat menolak pendapat orang yang dianggap ayah dari Puguh itu. Namun
demikian dalam kesempatan tertentu, Ki Ajar Paguhan, sahabat Ki Randu Keling itu
telah memberikan keseimbangan didalam jiwa Puguh. Karena itulah maka Puguh
mempunyai kepribadian yang tidak utuh sebagaimana yang dikehendaki oleh kedua
orang tuanya, meskipun dihadapan kedua orang tuanya Puguh sengaja berbuat lebih
kasar dan keras, sebagaimana dinasehatkan oleh gurunya.
Bagi Puguh, maka pandangan dan sikap hidup gurunyalah yang lebih banyak
mempengaruhinya. Kedua orang tua Puguh sama sekali tidak diharapkannya. Bahkan
jika kedua orang tuanya datang kepadepokan kedua dan sekali-sekali menengok
kepadepokan pertama, dimana Puguh lebih banyak tinggal, Puguh merasa dirinya
bagaikan terpanggang didalam api. Sehingga dengan demikian agak berbeda dengan
kebanyakan anak muda yang merindukan kedua orang tuanya.
Dalam pada itu, gurunya telah berkata pula kepada wida " Sudahlah. Kau dapat
meninggalkan kami. "
Wida mengangguk hormat. Katanya " Baiklah Ki Ajar. Aku mohon diri. Aku bernjaji
untuk tidak mengatakan persoalan yang telah terjadi atas Gagaklahan sebagaimana
Ki Ajar menghendaki. "
" Kepada anakmupun jangan kau katakan. Karena persoalan ini akan dapat
menyangkut persoalan-persoalan lain yang panjang. Bahkan akan dapat menyangkut
masa depan Puguh.
Wida mengangguk-angguk. Katanya " Aku akan melakukannya dengan sebaik-baiknya Ki
Ajar. "
Sejenak kemudian maka Widapun telah meninggalkan Ki Ajar dan muridnya. Dengan
nada rendah Ki Ajar berkata " Ia orang baik. Ia memiliki banyak pengenalan
tentang jenis tumbuh-tumbuhan. Bahkan yang memiliki nilai pengobatan. Karena
itu, rasa-rasanya aku sangat memerlukannya. "
" Ia dapat banyak memberikan bantuan kepada guru " desis Puguh.
" Ya. Khususnya dibidang pengobatan " jawab Ki Ajar.
Namun Puguhpun telah mengatakan tentang kemampuan yang lain yang nampaknya
tersembunyi dibalik tubuh yang agak terbongkok-bongkok itu.
" Ia mampu meloloskan diri dari sekian banyak orang yang mengepung bukit kuburan
tua itu " berkata Puguh.
Tetapi Ki Ajar hanya tersenyum saja. Katanya " Ia memang mampu berlari cepat.
Atau barangkali orang-orang padukuhan itu terlalu menganggapnya lamban karena
ujudnya. Tetapi mereka tentu terkejut ketika tiba-tiba saja Wida itu berlari
kencang, sehingga dengan demikian mereka telah kehilangan kesempatan untuk
menangkapnya. "
Puguh mengangguk-angguk. Tetapi ia merasa ada sesuatu didalam diri Wida. Orang
yang sudah lama dikenalnya, tetapi belum pernah berhubungan dalam pekerjaan
apapun juga. Ia hanya melihat orang bongkok itu bekerja memelihara tanaman dan
membersihkan ruangan. Terutama ruang-ruangan khusus Ki Ajar Paguan.
Dalam pada itu, Ki Ajar itupun kemudian telah memberikan beberapa petunjuk
kepada Puguh, apakah yang sebaiknya dilakukan. Ia lebih baik merasa dirinya
tidak tahu apa-apa.
" Bagaimana dengan kedua orang yang mengantar aku pulang? " bertanya Puguh.
" Kau tidak dapat ingkar. Semua orang dipadepokanmu melihat mereka. Karena itu,
kau dapat berterus-terang dengan kedua orang tuamu tentang mereka. Itu saja.
Tanpa menyebut sikap Gagaklahan. " jawab gurunya.
Puguh mengangguk-angguk. Jika ia mendapat kesulitan dari kedua orang tuanya maka
ia akan memohon gurunya untuk membantunya.
" Aku akan selalu membantumu. Meskipun aku tahu bahwa kedua orang tuamu itu
lebih berhak menentukan garis hidupmu, tetapi karena kau telah dipercayakan
kepadaku sebagai gurumu, maka aku memang mempunyai hak untuk ikut menentukan "
berkata Ki Ajar Paguhan.
" Terima kasih guru " berkata Puguh kemudian.
" Baiklah. Kembalilah ke padepokan pertama. Setelah kau cukup beristirahat, maka
kita akan memasuki sanggar kembali. " berkata Ki Ajar Paguhan.
" Mudah-mudahan ayah dan ibu tidak segera datang " desis Puguh hampir diluar
sadarnya.
Ki Ajar Paguhan mengerutkan keningnya. Dengan nada rendah ia bertanya " Kenapa?
"
Puguh menunduk. Tetapi iapun kemudian menjawab " Aku ingin persoalan Gagaklahan
mulai dilupakan. "
" Mungkin bagi orang-orang padepokan ini. Tetapi bagi ayah dan ibumu, kapanpun
mereka datang, maka persoalan Gagaklahan akan tetap merupakan persoalan yang
hangat bagi mereka. " berkata Ki Ajar Paguhan.
Puguh menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti keterangan gurunya itu. Apalagi
Gagaklahan memang orang kepercayaan kedua orang tuanya.
" Sudahlah " berkata Ki Ajar " pergilah ke padepokan pertama. Hari ini aku belum
akan datang. Mungkin besok aku akan datang dan mulai dengan latihan-latihan
meskipun ringan. Kau harus kembali menyesuaikan diri dengan suasana latihan. "
Puguh itupun kemudian telah minta diri untuk kembali ke padepokan pertama. Ia
memang harus menyiapkan diri untuk memasuki suasana latihan, setelah beberapa
lama ia berada dalam suasana yang berbeda sejak ia memasuki lingkungan Song Lawa
yang terakhir kalinya.
Dalam pada itu, Di Tanah Perdikan Sembojan, Kiai Soka dan Nyai Soka telah
mengadakan pembicaraan-pembicaraan khusus dengan Nyi Wiradana, Sambi Wulung dan
Jati Wulung tentang kemungkinan-kemungkinan bagi masa depan Risang. Peringatan
Sambi Wulung dan Jati Wulung harus mereka tanggapi dengan sungguh-sungguh.
Nyai Soka dan Kiai Soka telah berusaha untuk menilai kembali cara yang ditempuh
untuk membentuk Risang di tempat yang terpisah yang telah dipersiapkan untuk
menjadi sebuah tempat yang mandiri. Justru Risang yang terlalu banyak mendapat
perlindungan itu agaknya kurang memberikan kesempatan baginya untuk berkembang.
Risang jarang sekali menemui kesulitan, apalagi yang besar. Sedangkan
kesulitan-kesulitan kecilpun ia selalu mendapat bantuan. Risangpun kurang
mengenal dunia diluar dinding lingkungannya, sehingga tidak cukup banyak
persoalan-persoalan yang pernah ditemuinya.
" Harus dicari satu cara, bagaimana melepaskan Risang keluar lingkungannya namun
dibawah pengawasan yang baik sehingga tidak berbahaya baginya " berkata Nyi
Wiradana.
Kiai Soka dan Nyai Soka memang tidak dapat menyalahkan perasaan seorang ibu yang
mencemaskan keadaan anak satu-satunya. Apalagi anak yang memang selalu dibawah
ancaman karena kedudukannya.
" Yang sulit adalah menemukan keseimbangan antara kesempatan dan keselamatannya.
" berkata Kiai Soka. Lalu " jika kita biarkan anak itu mencari kesempatan untuk
mengembangkan diri, maka mungkin ia akan benar-benar bertemu dengan ancaman atas
keselamatannya. Tetapi jika anak itu terlalu dilindungi, maka sulit baginya
untuk mendapatkan kesempatan. "
Yang lain mengangguk-angguk. Sementara itu Kiai Sokapun berkata " Baiklah. Pada
saatnya kita akan datang ketempat itu. Namun satu hal, bekal Risang harus cukup.
Karena itu, maka jika kalian berdua menemui Kiai Badra untuk melaporkan semuanya
yang kalian lihat dan yang kita bicarakan disini, maka sampaikan pula kepadanya,
bahwa latihan-latihan yang diberikan kepada Risang harus lebih keras dan
mengarah kepada alas untuk menerima dasar-dasar ilmu Janget Kinatelon. Sementara
itu, pada saatnya, kami bertiga, maksudku Aku, Nyai Soka dan Kiai Badra harus
menekuni kembali ilmu Janget Kinatelon sehingga tubuh dari ilmu itu menjadi
semakin mapan. "
" Itu memang salah satu pemecahan dengan mempercepat kemungkinan Risang memasuki
pintu gerbang ilmu Janget Kinatelon. Tetapi ia harus mempunyai pengalaman baik
kewadagan maupun kejiwaan, sehingga ia akan tumbuh menjadi dewasa. Pengenalannya
atas kehidupan dan dalam disekitarnya harus menjadi semakin luas. " berkata Nyai
Soka. Lalu " Dengan demikian maka anak itu mempunyai wawasan yang luas dan
ilmunyapun akan berkembang berdasarkan pengenalan anak itu atas kehidupan itu
sendiri. "
Kiai Soka mengangguk-angguk. Lalu katanya kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung "
Baiklah. Jika kalian sudah cukup beristirahat, maka kalian akan menemui Kiai
Badra. Tetapi bukan berarti bahwa demikian kalian datang, maka demikian pula
kami mengusir. Seperti dikatakan oleh Nyi Wiradana, kalian dapat beristirahat
disini barang satu dua hari sebelum kalian akan pergi kepada Risang. "
" Baiklah " berkata Sambi Wulung " kita akan beristirahat disini. Namun sudah
barang tentu dengan harapan bahwa Kiai dan Nyai Soka akan mendapatkan sesuatu
dalam waktu satu dua hari ini yang akan dapat kami bawa kepada Kiai Badra. "
" Kalian berdua memang perlu beristirahat " berkata Nyi Wiradana. " Mungkin
dalam waktu satu dua hari Kiai dan Nyai Soka menemukan pesan-pesan yang penting
bagi Risang. Tetapi agaknya kalian berdua tentu merasa sangat letih dalam
perjalanan yang panjang dan menegangkan itu. "
Demikianlah, maka Sambi Wulung dan Jati Wulungpun telah mendapat kesempatan
untuk berada di Tanah Perdikan Sembojan. Dihari berikutnya yang senggang,
keduanya sempat untuk melihat-lihat Tanah Perdikan yang berkembang semakin baik
itu. Meskipun sudah cukup lama mereka pergi, namun mereka masih juga mengenali
Tanah Perdikan sebagaimana saat mereka tinggalkan.
Namun dalam sehari keduanya berada di Tanah Perdikan, maka rasa-rasanya keduanya
telah dikejutkan oleh satu benda yang pernah mereka lihat sebelumnya. Sebuah
topeng kecil dengan ujud yang seram dan menakutkan.
Jati Wulung menggamit Sambi Wulung ketika mereka melihat anak kecil yang
bermain-main dengan topeng itu. Beberapa orang anak yang sambil bergurau dan
berlari-lari mempermainkan sebuah topeng kecil. Yang seorang menakut-nakuti yang
lain, sedangkan yang lain berlari-larian menghambur dijalan sambil
berteriak-teriak. Tetapi mereka tidak sedang ketakutan, karena mereka memang
sedang bermain-main.
Sambi Wulungpun kemudian telah melangkah mendekati anak yang sedang bermain-main
itu. Untuk menarik perhatian anak-anak itu, maka Sambi Wulungpun tiba-tiba
berkata lantang " He, ini uang siapa? "
Beberapa orang anak memang berhenti berlari-lari. Dengan ragu-ragu mereka
melangkah mendekati. Tetapi Sambi Wulung memang memegang sekeping uang.
" Ini, uang siapa he? " bertanya Sambi Wulung sekali lagi.
Anak yang membawa topeng itupun mendekat. Sementara Jati Wulung berdesis " Kita
beli saja topeng itu. "
" Jangan " sahut Sambi Wulung.
Jati Wulung termangu-mangu. Namun Sambi Wulung sudah berbicara dengan anak-anak
itu lagi " Nah, siapa yang telah kehilangan ini? Tidak ada? "
Anak-anak itu termangu-mangu. Memang tidak ada diantara mereka yang merasa
kehilangan.
" Jika tidak ada, maka sebaiknya uang ini dibelikan kacang rebus saja. Kalian
akan dapat makan bersama-sama. Setuju? " bertanya Sambi Wulung.
Hampir berbareng anak-anak itu berkata " Setuju "
" Baik. Aku akan memberikan uang ini kepada kalian. Nah, siapa yang paling tua
diantara kalian? " bertanya Sambi Wulung.
" Aku " tiga orang menjawab berbareng sambil mengacukan tangan mereka. Seorang
diantara mereka justru mengacukan topeng yang sedang dipegangnya. Topeng kecil
itu.
" Perhatikan topeng itu " desis Sambi Wulung kepada Jati Wulung.
Jati Wulung mengangguk. Karena itu, maka perhatiannya kemudian tertuju kepada
topeng kecil itu.
Sementara Sambi Wulung berkata " Jangan turunkan tangan kalian. Aku akan
menilai, siapakah yang benar-benar tertua diantara kalian. "
Ketika Sambi Wulung berpura-pura mengamati anak-anak itu, Jati Wulung sempat
memperhatikan topeng ditangan anak itu.
Topeng itu memang seperti yang pernah dilihatnya disebelah Kademangan Gantar.
Didaerah yang dianggap daerah yang tidak boleh diambah kaki orang lain selain
orang-orang padepokan yang tidak diketahui itu.
Ketika Jati Wulung mengangguk kecil, maka Sambi Wulungpun telah mengambil
kesimpulan dari pengamatannya. Katanya " Nah, aku yakin bahwa yang tertua
diantara kalian adalah anak yang membawa topeng itu. "
" Tidak. Umurnya sama dengan umur adikku " berkata yang seorang.
Tetapi anak yang membawa topeng itu berteriak " Aku memang yang paling tua. "
" Baiklah " berkata Sambi Wulung " sebenarnya soalnya tidak begitu penting. Aku
hanya akan menyerahkan sekeping uang ini kepada yang tertua untuk dibelikan
kacang rebus. Tetapi kacang itu akan menjadi milik kalian bersama-sama. Kalian
akan dapat duduk sebentar dipinggir jalan itu untuk makan kacang. Bukankah
kalian telah lama berlari-larian? Keringat kalian telah membasahi seluruh tubuh
kalian. Karena itu, maka kalian harus beristirahat. "
Anak-anak itu tidak menentang lagi ketika kemudian anak yang membawa topeng itu
mendekati Sambi Wulung untuk menerima sekeping uang. Jika uang itu dibelikan
kacang rebus, mereka memang akan mendapat cukup banyak.
Namun dalam pada itu Jati Wulungpun telah memperhatikan keadaan disekililing
mereka. Mungkin ada satu dua orang yang dengan sengaja telah mengawasi topeng
itu. Tetapi ternyata bahwa ia tidak melihat orang yang mencurigakan itu.
Ketika anak itu menerima sekeping uang, Sambi Wulung sempat bertanya " He, kau
mempunyai topeng yang bagus? "
" Terlalu kecil untuk dipakai " jawab anak itu.
" Darimana kau dapatkan topeng itu? " bertanya Sambi Wulung pula.
" Kami menemukan topeng ini dipintu gerbang " jawab anak itu.
" Kami siapa? " bertanya Sambi Wulung.
" Kami. Aku dan kawan-kawan ini " jawab anak itu.
" Kapan kalian menemukan topeng itu? " bertanya Sambi Wulung pula.
" Sudah lama. Kira-kira sepekan yang lalu " jawab anak itu.
Sambi Wulung mengangguk-angguk. Katanya kemudian " Simpan mainan itu baik-baik.
Jika hilang, kalian tidak akan mendapatkannya lagi. "
Anak itu mengangguk. Sementara Sambi Wulung masih bertanya " Kau anak siapa? "
" Ayah " jawab anak itu " dan ibu. "
" Nama ayahmu? " bertanya Sambi Wulung pula.
Justru anak yang lain yang menjawab " Kriya. Aku memanggilnya paman Kriya. "
Sambi Wulung mengangguk-angguk. Kepada anak yang membawa topeng itu ia bertanya
" Benar, nama ayahmu Kriya? "
Anak itu mengangguk.
" Rumahmu? " bertanya Sambi Wulung pula.
" Disitu " jawab anak itu " disebelah simpang tiga itu. "
Sambi Wulung mengangguk-angguk pula. Tetapi ia masih bertanya " Dihalaman
rumahmu ada pohon apa? "
Anak itu mengingat-ingat. Namun justru anak yang lain yang menjawab " Pohon
duwet. Dimusim duwet kami beramai-ramai memanjat. "
" Terima kasih " Sambi Wulung tersenyum. Lalu katanya " Nah, sekarang kalian
dapat membeli kacang rebus di sudut jalan itu. Diwarung kecil itu dijual kacang
rebus. Tetapi kalian tidak perlu beramai-ramai pergi kesana. Hanya satu orang
saja yang pergi. Setuju? "
Anak-anak itu termangu-mangu. Nampaknya semua ingin ikut pergi ke kedai. Tetapi
Sambi Wulung berkata " Jika semua pergi kekedai itu, maka penjual dikedai itu
akan menjadi bingung. "
Akhirnya anak-anak itu setuju. Anak yang membawa topeng itulah yang kemudian
pergi sendiri membeli kacang rebus, sementara ia menitipkan topengnya kepada
seorang kawannya.
Ketika kemudian anak-anak itu duduk dipinggir jalan menikmati kacang rebus,
Sambi Wulung dan Jati Wulung telah meninggalkan mereka.
" Kenapa topeng itu tidak kita beli saja? " bertanya Jati Wulung.
" Jangan. Jika kita lakukan hal itu, tentu akan dapat menjadi perhatian orang
yang meletakkannya. Meskipun topeng itu sama dengan topeng yang kita lihat
ditempat yang menyeramkan itu, agaknya kegunaannya berbeda. Tentu mereka tidak
akan membunuh orang-orang yang berada didekat pintu gerbang itu. " berkata Sambi
Wulung. Lalu " Kita tidak tahu, apakah memang ada kesengajaan agar topeng itu
jatuh ketangan seseorang atau anak-anak itulah yang nakal sehingga pertanda itu
mereka hapuskan tanpa sengaja. Tetapi jika hal itu disengaja agar topeng itu
jatuh ke tangan seseorang dan kita membelinya, maka tentu akan ada akibat lain,
karena topeng itu tentu akan selalu diamati. "
Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun katanya " Apakah topeng itu ada hubungannya
dengan kita. Maksudku, kehadiran kita disekitar padepokan rahasia mereka sudah
diketahui? "
" Aku kira tidak, karena anak-anak itu menemukan sepekan yang lalu. " sahut
Sambi Wulung.
" Aku tetap menganggap bahwa padepokan yang rahasia itu merupakan bayangan dari
padepokan yang dihuni oleh Puguh. " berkata Jati Wulung.
" Agaknya memang demikian " jawab Sambi Wulung.
" Jadi apa artinya topeng itu? Jika mereka tahu bahwa kita telah membunuh
orang-orang mereka berasal dari Tanah Perdikan ini, maka persoalannya akan
menjadi lebih rumit. " gumam Jati Wulung.
" Memang demikian " sahut Sambi Wulung " tetapi ada kemungkinan lain yang tidak
kalah mendebarkan jantung. "
" Apa? " bertanya Jati Wulung.
" Rangga Gupita dan Warsi merasa bahwa mereka sudah cukup lama menunggu untuk
membalas dendam. Mungkin Warsi telah
mencapai satu tataran ilmu yang meyakinkan sehingga saatnya untuk membalas
dendam telah tiba. Mungkin dengan kekuatan yang besar untuk mengacaukan Tanah
Perdikan ini. Tetapi mungkin Warsi akan datang lagi untuk menantang Iswari
berperang tanding. " berkata Sambi Wulung.
Jati Wulung mengangguk-angguk. Katanya " Kemungkinan yang kedua ini cukup
mencemaskan. Kita tidak tahu, apakah selama ini Iswari yang sibuk dengan
pemerintahan Tanah Perdikan ini sempat menekuni dan mengembangkan ilmunya. "
" Sebaiknya hal ini segera diketahui " desis Sambi Wulung.
" Marilah. Kita temui Nyi Wiradana " ajak Jati Wulung.
" Jangan langsung. Lebih baik kita berbicara dengan Kiai dan Nyai Soka. " sahut
Sambi Wulung.
Jati Wulung mengangguk-angguk. Katanya " Marilah. Kita tidak boleh membuang
waktu barang sekejap. " Topeng itu
sudah terpasang sejak sepekan yang lalu. Bahkan mungkin lebih lama karena
sepekan yang lalu anak-anak itu telah menemukannya. "
Keduanya kemudian telah berusaha untuk dapat bertemu Kiai Soka dan Nyai Soka.
Adalah kebetulan bahwa Nyi Wiradana sedang sibuk dengan para bebahu Tanah
Perdikan Sembojan.
Kepada Kiai Soka dan Nyai Soka keduanya telah menceriterakan apa yang mereka
lihat dan segala kemungkinan yang dapat terjadi di Tanah Perdikan Sembojan
justru setelah diketemukan topeng kecil yang dipasang dipintu gerbang itu.
" Apakah kalian akan menemui anak itu lagi dirumahnya? " bertanya Kiai Soka.
" Untuk sementara tidak " jawab Sambi Wulung " jika kita ingin menemuinya, tentu
tidak datang kerumahnya, karena mungkin sekali rumah itu diamati oleh
orang-orang yang tidak kita ketahui. "
" Baiklah. Kita akan menugaskan seorang petugas sandi untuk mencari keterangan
selengkapnya tentang Kriya tanpa menarik perhatian. Tentu tidak sulit, karena
Kriya adalah orang Tanah Perdikan ini sementara petugas sandi itu tentu akan
kita pilih seorang yang rumahnya disekitar rumah Kriya itu pula. " berkata Kiai
Soka. Lalu " Sementara ini kita akan berbicara dengan Iswari. Semoga ia
mengerti. "
Sebenarnyalah ketika senja turun, maka Nyai Soka telah menemui Iswari yang duduk
diserambi rumahnya sebagaimana kebiasaannya. Dengan hati-hati Nyai Soka telah
mulai dengan maksudnya menemui Iswari secara khusus itu.
Iswari mendengarkan setiap keterangan Nyai Soka dengan penuh perhatian. Karena
itu, maka iapun segera memahami apa yang sedang membayangi di Tanah Perdikan
itu.
" Jika demikian, maka kita harus bersiap-siap, nek " desis Iswari.
" Maksudmu Tanah Perdikan ini? " bertanya Nyai Soka.
" Tentu. Pasukan yang selama ini memang nampak dikurangi kegiatannya harus
ditingkatkan lagi. " berkata Iswari.
" Tetapi sementara itu, kau sendiri harus meningkatkan ilmumu pula. " berkata
Nyai Soka.
Iswari menundukkan wajahnya. Dengan nada rendah ia bergumam " Aku sudah terlalu
tua untuk bekerja keras didalam sanggar. Agaknya waktuku lebih penting aku
peruntukkan bagi Tanah Perdikan ini daripada bagiku sendiri " berkata Iswari
hampir kepada dirinya sendiri.
" Jangan berkata begitu IsWari. Lihat padaku, pada nenekmu ini. Kau dan aku.
Siapa yang lebih tua? Kau tahu, bahwa waktuku untuk dapat tinggal bersamamu,
bersama Tanah Perdikan ini dan bersama cicitku tentu tinggal sedikit. Tetapi aku
tidak pernah merasa sudah waktunya untuk berhenti. " desis Nyai Soka.
" Aku memang tidak merasa bahwa aku harus berhenti, nek. Tetapi waktuku lebih
berharga bagi Tanah Perdikan ini. Aku akan berjalan terus. Tetapi tidak untuk
kepentinganku sendiri " jawab Iswari.
" Iswari " berkata Nyai Soka " jika kau berbuat sesuatu untuk melindungi dirimu
sendiri, bukankah itu juga berarti bahwa kau sudah berbuat bagi Tanah Perdikan
ini? Betapapun tinggi dan besarnya keinginanmu untuk membina Tanah Perdikah ini,
tetapi jika usaha itu harus berhenti ditengah jalan, Apakah itu lebih berarti? "
Iswari tidak segera menjawab. Namun pandangannya telah menembus keremangan senja
hinggap dikejauhan. Sementara lampu diregol sudah mulai dipasang.
" Iswari " berkata Nyai Soka " jika kita berbicara tentang dirimu, sudah tentu
dengan segala macam tugas yang kau sandang. Justru karena kau masih harus
bekerja keras bagi Tanah Perdikan ini, tetapi juga bagi anakmu Risang. "
Iswari menarik nafas dalam-dalam. Sementara Nyai Soka seakan-akan berbisik
ditelinganya " Apakah kau sampai hati untuk membiarkan Tanah Perdikan ini
menjadi bagaikan sapu lidi kehilangan pengikatnya? Dan apakah kau sampai hati
membiarkan Risang menjadi anak yang bukan saja tidak berbapa, tetapi juga tidak
beribu? "
Iswari menundukkan kepalanya. Sebagai seorang perempuan maka terasa matanya
menjadi panas. Tetapi ia bukan saja seorang perempuan tetapi ia juga seorang
pemimpin. Karena itu, maka Iswaripun bertahan untuk tidak menitikkan air mata.
" Pikirkan Iswari. Tetapi waktumu tidak terlalu banyak. Ingat, jika benar Warsi
itu datang menantangmu berperang tanding dalam waktu dekat, maka kau harus sudah
bersiap sepenuhnya. Jika tidak, maka akibatnya akan dapat menjadi gawat.
" Baiklah nenek. Aku akan memikirkannya " jawab Iswari.
" Sebaiknya berbicaralah dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung yang tahu lebih
banyak tentang persoalan topeng itu. " berkata Nyai Soka kemudian.
" Aku akan memanggilnya. " sahut Iswari.
Nyai Sokapun kemudian meninggalkan Iswari yang masih berada di serambi,
sementara malampun mulai turun perlahan-lahan. Diserambi. Di sudut-sudut rumah
yang besar dari Kepala Tanah Perdikan Sembojan serta di beberapa tempat yang
terlindung telah dinyalakan lampu minyak. Demikian pula di pendapa dan disetiap
ruang.
Namun dalam pada itu, Iswari telah memerintahkan pula untuk memanggil Sambi
Wulung dan Jati Wulung. Ia ingin mendengar lebih jelas tentang topeng yang
nampaknya mempunyai arti tersendiri itu.
Ketika Sambi Wulung Jati Wulung kemudian datang menemuinya, maka Iswaripun telah
langsung bertanya tentang topeng kecil itu.
" Apakah Nyai Soka belum menjelaskan? " bertanya Sambi Wulung.
" Baru saja aku berbicara tentang topeng itu dengan guru. Tetapi, guru justru
menganjurkan agar aku berbicara dengan kalian berdua. " jawab Iswari.
Sambi Wulung mengangguk-angguk. Iapun kemudian menceriterakan tentang topeng
kecil itu serta hubungannya dengan kemungkinan yang dapat terjadi di Tanah
Perdikan. Yang dikatakan oleh Sambi Wulung tidak ada yang berselisih dengan apa
yang dikatakan oleh Nyai Soka, karena yang dikatakan oleh Nyai Soka itu bahannya
juga dari Sambi Wulung dan bahkan kemudian juga Jati Wulung lebih meyakinkan
Iswari, bahwa sebaiknya Iswari harus mempersiapkan diri. Bukan saja para
pengawal di Tanah Perdikan, tetapi secara pribadi Iswaripun harus siap
menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang paling gawat sekalipun.
Namun Sambi Wulungpun kemudian berpesan " Tetapi Nyi Wiradana. Aku minta agar
segala persiapan dan kesiagaan, jangan sampai menarik perhatian. Aku yakin,
tentu ada orang-orang yang berhubungan dengan topeng itu berkeliaran disini.
Jika mereka melihat kesiagaan, maka mungkin mereka akan lebih berhati-hati lagi.
Karena itu, semuanya harus dilakukan tanpa gejolak. "
" Baiklah. Aku akan berbicara lebih khusus lagi dengan Nyai dan Kiai Soka. "
berkata Iswari kemudian.
Sambi Wulung dan Jati Wulungpun kemudian telah meninggalkan serambi itu.
Sementara Iswaripun telah masuk pula keruang dalam.
Namun malampun terasa menjadi sepi. Nyai Soka tidak lagi datang menemaninya.
Tetapi Iswari tidak minta neneknya yang juga gurunya itu datang.
Dalam sepinya Nyi Wiradana sempat merenungi Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan
angan-angannya telah menelusuri masa-masa lampau. Namun kemudian meloncat
kemasa-masa mendatang, melihat kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.
Sementara itu, ternyata Nyai Soka telah berbicara dengan Kiai Soka menanggapi
perkembangan terakhir di Tanah Perdikan itu.
Ternyata mereka berdua sepakat, tidak ada jalan yang lebih baik daripada
memanggil Kiai Badra. Mereka bertiga merasa perlu untuk menyempurnakan ilmu
Janget Kinatelon untuk membantu Iswari meningkatkan ilmunya, karena mereka yakin
bahwa ilmu Warsipun tentu sudah meningkat semakin tinggi.
" Besok pagi-pagi aku akan berbicara dengan Iswari
" berkata Kiai Soka. Lalu " Sementara itu, aku akan minta Sambi Wulung
dan Jati Wulung untuk pergi ke padepokan Risang dan minta Kiai Badra untuk
datang. "
Nyai Soka sependapat. Segalanya harus berlangsung dengan cepat. Jika tantangan
kepada Iswari itu benar-benar datang dalam waktu dekat, maka ia harus sudah
bersiap menghadapi peningkatan ilmu Warsi.
Namun Kiai Soka itupun berkata " Seandainya hal itu memang akan dilakukan, aku
kira Warsi akan menunggu sampai bulan purnama bulan mendatang. Agaknya Warsi
percaya bahwa bulan purnama itu mampu memberikan kekuatan pada ilmunya. "
" Tetapi waktu yang kurang dari sebulan itu tentu pendek sekali. Seandainya kita
berhasil menyempurnakan dan menutup kekurangan-kekurangan pada ilmu Janget
Kinatelon itu dalam waktu sepekan, maka waktu bagi Iswari hanya ada sekitar
setengah bulan lagi. Waktu yang sebenarnya terlalu sempit. " sahut Nyai Soka.
" Tetapi bukankah belum pasti, bahwa Warsi akan datang dan menantang Iswari? "
bertanya Kiai Soka. " Seandainya demikian, apakah harus begitu tiba-tiba.
Biasanya sebelum hujan, akan datang mendung lebih dahulu. "
Tetapi Nyai Soka menjawab " Tetapi kita harus memperhitungkan kemungkinan yang
paling pahit. "
" Kau benar Nyai. " berkata Kiai Soka kemudian. Lalu katanya pula " Besok
pagi-pagi kita akan membicarakannya lagi, langsung dengan Iswari. "
Demikianlah kedua orang tua itupun segera kepembaringan mereka. Namun keduanya
tidak segera dapat tidur nyenyak. Rasa-rasanya kesulitan memang sudah berada
diambang pintu. Terutama bagi Iswari. Tetapi akhirnya merekapun tertidur pula
menjelang dini hari.
Seperti yang mereka rencanakan, maka pagi-pagi mereka sudah menemui Iswari.
Mereka telah memanggil pula Sambi Wulung dan Jati Wulung untuk berbicara tentang
kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.
" Kiai Badra harus segera diundang " berkata Kiai Soka " bukan untuk memperkuat
kedudukan kita disini, tetapi untuk menyempurnakan ilmu Janget Kinatelon.
Waktunya memang tinggal sedikit. "
Iswari tidak menolak. Ia memang harus meningkatkan ilmunya.
Setelah merenungi pendapat-pendapat kakek dan neneknya, serta pendapat-pendapat
Sambi Wulung dan Jati Wulung, Iswari akhirnya memang mengerti betapa pentingnya
ia meningkatkan ilmunya. Meskipun dalam waktu-waktu khusus Iswari juga selalu
berada di Sanggar, tetapi usahanya meningkatkan ilmunya tidak sekeras yang
diharapkan oleh Kiai dan Nyai Soka.
Dengan demikian maka Iswari sependapat pula, bahwa Sambi Wulung dan Jati
Wulunglah yang diminta untuk menghubungi Kiai Badra di padepokannya yang
terletak di Kademangan Bibis. Dalam waktu dekat Kiai Badra diminta sudah berada
di Tanah Perdikan Sembojan.
" Baiklah " berkata Sambi Wulung " jika demikian, kami akan segera berangkat. "
" Tetapi apakah kalian berdua sudah tidak terlalu letih? " bertanya Nyi
Wiradana.
" Kami sudah cukup lama beristirahat " jawab Sambi Wulung.
" Baiklah. Aku sependapat mana yang kalian anggap baik " berkata Iswari
kemudian.
Sebenarnyalah setelah makan dan minum, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah
menempuh perjalanan baru. Mereka harus menempuh jarak yang cukup panjang, menuju
ke tempat Risang dipisahkan disebuah padepokan kecil di Kademangan Bibis.
Dalam pada itu, petugas sandi yang diperintahkan untuk mencari keterangan
tentang Kriya sudah melaporkan diri pula kepada Kiai Soka. Orang yang bernama
Kriya adalah orang yang sangat lugu. Kesimpulan petugas itu, Kriya tidak akan
melakukan sesuatu yang bertentangan dengan paugeran di Tanah Perdikan.
Berdasarkan laporan-laporan lain, maka Kiai Soka dapat mengambil kesimpulan
bahwa anak Kriya itu benar-benar telah menemukan topeng itu di pintu gerbang
Tanah Perdikan Sembojan.
Dalam pada itu, Kiai Soka sama sekali tidak merasa perlu untuk menggerakkan
pengawal. Ketika hal itu dinyatakan kepada Nyi Wiradana, ternyata Nyi
Wiradanapun sependapat.
" Kita akan meningkatkan pengamatan lingkungan Tanah Perdikan dengan para
petugas sandi saja " berkata Iswari " sehingga dengan demikian kesiagaan kita
tidak nampak oleh orang-orang yang tidak berkepentingan. Sementara itu para
pengawal hanya diperintahkan untuk bersiaga di padukuhannya masing-masing, tanpa
menyebut bayangan kemungkinan yang gawat dapat terjadi. Tetapi para pengawal
dari pasukan khusus yang ada dibarak-barak, telah disiagakan untuk mengambil
langkah-langkah darurat jika diperlukan. Namun kesiagaan merekapun hanya nampak
oleh para penghuni barak itu sendiri. "
" Rencanamu sudah bagus Iswari. Mudah-mudahan pelaksanaannyapun tidak akan
mengalami persoalan. " berkata Kiai Soka kemudian.
Pada hari itu juga Iswari telah memanggil pemimpin dari para petugas* sandi di
Tanah Perdikan. Kepada orang itu, Nyi Wiradana telah memberikan
perintah-perintah tertentu untuk mengamati seluruh daerah Tanah Perdikan
Sembojan. Disalah satu pintu gerbang ternyata telah diketemukan topeng yang
mempunyai ciri yang khusus yang ternyata dapat dikenali oleh Sambi Wulung dan
Jati Wulung.
" Setiap keadaan baru yang menimbulkan persoalan harus diselidiki " perintah
Iswari " juga orang-orang yang sebelumnya tidak berada di Tanah Perdikan. Tetapi
gerakan kalian jangan menimbulkan perhatian khusus dari rakyat Tanah Perdikan
ini. Mereka yang mulai mendapatkan ketenangan jangan diguncang lagi. Kerja keras
yang dilakukan oleh orang-orang Tanah Perdikan ini tidak boleh terganggu. "
Pemimpin petugas sandi itupun mengerti sepenuhnya apa yang harus dilakukan.
Karena itu, ketika ia meninggalkan rumah Kepala Tanah Perdikannya, maka
berturut-turut ia telah memanggil beberapa orang petugas sandi. Sekelompok demi
sekelompok.
Dengan demikian, maka sejak hari itu, diseluruh Tanah Perdikan Sembojan
pengawasan telah diperketat. Sementara itu, Nyi Wiradana juga telah memanggil
pemimpin pengawal dari pasukan khusus untuk meningkatkan kesiagaan sehingga jika
digerakkan setiap saat tidak akan mengecewakan.
Dalam waktu yang singkat, dengan diam-diam Tanah Perdikan Sembojan telah
meningkatkan kesiagaannya.
Dihari pertama memang tidak terjadi sesuatu. Para petugas sandi yang kemudian
banyak bergerak di padukuhan induk dan bahkan dihampir setiap padukuhan, tidak
menemukan sesuatu yang pantas untuk mendapat perhatian khusus.
Tetapi dua hari kemudian, seorang petugas sandi telah melihat sebuah topeng
kecil dengan ujud yang menyeramkan tergantung di pintu gerbang padukuhan induk
sebelah Utara. Tidak ditempat anak-anak menemukan sebelumnya.
Namun petugas sandi yang melihat topeng itu tidak segera mengambilnya.
Dibiarkannya topeng itu ditempatnya sehingga mungkin akan diketemukan oleh
seseorang atau kanak-kanak yang bermain-main dipintu gerbang padukuhan induk
Tanah Perdikan Sembojan itu.
Ketika hal itu dilaporkan kepada pemimpin petugas sandi, maka diperintahkan pula
agar topeng itu dibiarkan saja ditempatnya.
" Langkahmu sudah benar " berkata pemimpin petugas sandi itu. " Awasi sejauh
mungkin dengan hati-hati. Apakah ada orang-orang yang memperhatikan topeng itu.
"
Tiga orang telah mendapat tugas khusus dipintu gerbang itu. Seorang diantara
petugas sandi itu adalah seorang anak muda yang tempat tinggalnya justru
berdekatan dengan pintu gerbang itu. Dengan demikian, maka anak muda itu telah
mendapat tugas untuk mengawasinya dari rumahnya dan sekitarnya.
Orang tuanya memang merasa heran, bahwa anaknya sehari penuh tidak meninggalkan
rumahnya. Hanya sekali-sekali keluar regol halaman dan justru bermain-main
dengan remaja yang pergi mencari rumput di luar regol padukuhan induk itu.
" Apakah kau tidak pergi ke barak? " bertanya ayahnya.
" Hari ini aku mendapat istirahat " jawab anak muda itu.
" Kenapa? Bukankah kau setiap hari harus pergi ke barak dan belum pernah
mendapat istirahat seperti ini? " bertanya ayahnya pula.
" Justru itu aku sekarang mendapatkan istirahat itu tiga hari " jawab anaknya.
Ayahnya hanya mengangguk-angguk saja.
Dalam pada itu, laporan tentang topeng itu telah sampai pula kepada Nyi
Wiradana, Kiai Soka dan Nyai Soka. Karena itu, maka mereka telah menganggap
bahwa hal itu harus mendapat perhatian yang sungguh-sungguh. Ternyata bahwa
langkah-langkah yang diambil oleh Warsi dan Ki Rangga Gupita masih berlanjut.
" Untuk sementara, kita tidak akan melepaskan Iswari untuk berperang tanding
seandainya ia mendapatkan tantangan untuk itu " berkata Kiai Soka kepada
isterinya.
" Ya " jawab Nyai Soka " tetapi apakah Iswari akan bersedia melakukannya. Harga
dirinya terlalu tinggi untuk menolak berperang tanding. "
Kiai Soka menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, rasa-rasanya yang pergi
menjemput Kiai Badra telah berangkat setahun yang lalu.
Tetapi ternyata bahwa hari itu pula Kiai Badra telah datang. Ia telah mendapat
beberapa keterangan dari Sambi Wulung dan Jati Wulung tentang kemungkinan yang
dapat terjadi di Tanah Perdikan itu dengan diketemukannya sebuah topeng yang
mempunyai arti yang khusus. Jika ditempat lain topeng itu pertanda kematian,
maka di Tanah Perdikan itu tentu dimaksudkan akan mempunyai arti yang sama
meskipun pelaksanaannya agak berbeda.
Kiai Badra menganggap bahwa persoalannya menjadi semakin gawat ketika ia diberi
tahu, satu lagi topeng telah diketemukan di pintu gerbang Utara.
" Karena itu, kita harus bekerja keras " berkata Kiai Soka.
" Aku sudah siap " sahut Kiai Badra.
" Baiklah " berkata Nyai Soka kemudian " malam nanti kita akan mulai memasuki
sanggar meskipun baru mengadakan persiapan-persiapan khusus. "
" Baiklah" sahut Kiai Badra " kita memang sudah tidak mempunyai banyak waktu
lagi. "
Sementara itu kepada Iswari orang-orang tua itupun berpesan agar iapun
menyiapkan diri untuk menyempurnakan ilmu Janget Kinatelon yang telah
dimilikinya. "
" Kaupun harus mulai berada di dalam sanggar " berkata Kiai Badra " kau harus
mulai dengan persiapan-persiapan baik kewadagan maupun kejiwaan. "
" Ya guru " jawab Iswari dengan nada rendah.
" Waktu kita sangat singkat " berkata Kiai Badra pula.
Demikianlah, maka seakan-akan semuanya harus dilakukan dengan tergesa-gesa.
Sementara ketiga orang tua itu telah berada di sebuah bilik khusus yang tertutup
rapat diawasi langsung oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung, maka Iswari telah
berada didalam sanggarnya pula.
Semula Iswari memang lebih banyak merenungi peristiwa-peristiwa yang pernah
dialaminya. Rasa-rasanya memang sudah jemu untuk mengadakan permusuhan
terus-menerus tanpa berhenti. Bahkan rasa-rasanya dendam telah membakar seluruh
Tanah Perdikan Sembojan tanpa ujung pangkal.
Namun akhirnya Iswari menyadari, apa yang dapat terjadi atas dirinya jika ia
tidak meningkatkan ilmunya.
Karena itu, maka iapun telah mempersiapkan dirinya sebaik-baiknya.
Namun sebenarnyalah bahwa selama bertahun-tahun itu, bukan berarti bahwa Iswari
tidak meningkatkan ilmunya. Iswari masih selalu berada di dalam sanggar dalam
waktu-waktu tertentu. Dibawah tuntunan Kiai dan Nyai Soka ilmunya memang telah
jauh meningkat dibandingkan dengan sepuluh tahun sebelumnya. Tetapi rasa-rasanya
Iswari belum memasuki satu masa penempaan diri yang bersungguh-sungguh. Meskipun
ilmu Janget Kinatelon yang dimilikinya juga sudah meningkat dan berkembang,
tetapi karena sumbernya memang masih belum sempurna, maka ilmu itu masih mungkin
di tingkatkan lagi.
Tetapi Iswaripun menyadari, bahwa Kiai Soka, Nyai Soka dan Kiai Badra telah
menjadi semakin tua. Mereka tentu tidak akan mampu lagi memberikan
latihan-latihan sebagaimana mereka lakukan beberapa tahun yang lalu.
Bagaimanapun juga pengaruh kewadagan orang-orang tua itu tidak akan dapat
diabaikan. Sebagaimana disaat-saat terakhir, Kiai Soka dan Nyai Soka lebih
banyak memberikan beberapa petunjuk untuk gerakan-gerakan yang keras daripada
memberikan contoh dan apalagi bersama-sama melakukan latihan. Tetapi
petunjuk-petunjuk itu sudah cukup berarti bagi Iswari dalam usahanya
meningkatkan dan mengembangkan ilmunya.
Pada masa-masa mempersiapkan diri, Iswari telah melakukan latihan-latihan
seorang diri. Ia telah mengentalkan kembali pokok-pokok ilmu Janget Kinatelon,
sehingga nampak tubuh dari ilmu itu seutuhnya. Kemudian iapun mulai meneliti
kembali perkembangan-perkembangan
yang telah dilakukannya dalam perjalanan waktu dan berdasarkan temuan-temuan
sepanjang pengalamannya. Dengan demikian, maka mulai nampak jelas didalam
pengamatan batinnya, batang dari ilmunya dan kemudian dahan-dahan serta
ranting-rantingnya yang tumbuh kemudian dari sebatang pohon ilmu yang utuh.
" Jika kakek dan nenek didalam pemusatan nalar dan budi serta samadinya
menemukan penyempurnaan dari ilmu itu, maka akar dari batang ilmu itu akan
menjadi semakin kokok sehingga tidak akan mudah dapat ditumbangkan oleh siapapun
juga " berkata Iswari kepada dirinya sendiri.
Pada hari ketiga, maka Iswari tidak lagi dapat mempergunakan sanggarnya, karena
ketiga orang gurunya telah memasuki sanggar itu. Dengan demikian, maka Iswari
justru telah mempergunakan sebuah bilik yang khusus dan cukup luas untuk
mengadakan persiapan-persiapan yang lebih mantap.
Di hari yang ketiga, ketiga orang gurunya telah memasuki tahap berikutnya dari
usaha mereka menyempurnakan ilmu Janget Kinatelon. Setelah di hari pertama dan
kedua mereka mengamati ilmu itu dengan penglihatan batinnya bersama-sama, maka
pada hari ketiga mereka mulai menilai bentuk kewadagan dari ilmunya itu.
Sebagaimana dilakukan oleh Iswari, maka mereka telah melihat batang dari
ilmunya. Mereka kemudian menukik mengamati akarnya untuk mencapai keseimbangan
yang mendekati sempurna dengan perkembangan dan pertumbuhan batang serta dahan
dan ranting-rantingnya.
Dalam pada itu, pengawasan atas daerah Tanah Perdikan itupun masih berlangsung
terus. Para petugas sandi dengan cermat selalu mengamati keadaan. Bahkan seorang
petugas sandi sempat melihat dua orang yang pantas dicurigai.
" Apa yang kau lakukan atas kedua orang itu? " bertanya pemimpin petugas sandi
kepada petugasnya yang memberikan laporan kepadanya.
" Kami belum mengambil langkah-langkah apapun Ki Lurah " jawab petugas sandi
itu.
" Baiklah. Kalian harus berhati-hati untuk mengambil langkah-langkah. Jika
mereka tidak melakukan sesuatu yang dapat dianggap kejahatan, untuk sementara
jangan diambil tindakan. Kalian hanya mengawasinya saja. Kecuali jika mereka
memang melanggar peugeran yang berlaku. Siapapun harus diambil tindakan
sebagaimana seharusnya. " berkata
pemimpin petugas sandi itu.
Dengan demikian, maka pengawasanpun menjadi semakin bersungguh-sungguh.
Seakan-akan setiap sudut Tanah Perdikan itu tidak lepas dari pengamatan para
petugas sandi.
Sambi Wulung dan Jati Wulung sendiri justru tidak berusaha untuk ikut serta
melakukan pengawasan. Jika orang-orang yang datang di Tanah Perdfkan itu orang
yang pernah melihatnya, maka persoalannya akan menjadi berkembang. Apalagi jika
kemudian sampai ketelinga Puguh.
DIhari berikutnya, justru telah terjadi sedikit keributan di pintu gerbang
dimana anak-anak telah menemukan sebuah topeng kecil.
Seperti biasanya, maka pada hari itu, sekelompok anak-anak sedang bermain
kejar-kejaran. Seorang diantara anak-anak itu memang membawa topeng kecil.
Tetapi anak-anak itu sama sekali tidak menyadari, bahwa sepasang mata sedang
memperhatikan mereka dengan saksama.
Beberapa saat kemudian, ketika anak-anak itu berhenti diluar pintu gerbang,
orang yang memperhatikan mereka itupun telah mendekat.
" He, darimana kau dapat topeng itu? " bertanya orang itu. "
Anak yang memegang topeng itu termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian
menjawab " Dipintu gerbang itu. Kami mendapatkan topeng itu tergantung di pintu
gerbang. "
" Kenapa topeng itu kau ambil he? " bertanya orang itu.
" Aku senang memilikinya. Topeng ini nampak lucu. Seperti topeng raksasa
meskipun kecil. " jawab anak itu.
" Berikan topeng itu kepadaku " minta orang itu.
" Jangan. Aku senang pada topeng ini " jawab anak yang memegang topeng.
" Berikan cepat. Biarlah aku pasang topeng itu kembali " orang yang mengawasi
anak-anak itu bermain nampaknya ingin memaksa.
Tetapi anak yang memegang topeng itu tidak mau menyerahkannya.
Ketika orang itu mendekatinya, maka anak itupun telah bergeser surut.
Beberapa orang kawannya ikut menjadi ketakutan. Bahkan ketika orang itu
melangkah semakin dekat, anak-anak itu telah menghambur berlari memasuki regol
padukuhan induk.
Orang itu semula telah berlari pula mengejarnya. Tetapi ketika anak-anak itu
berteriak-teriak minta tolong, maka orang itupun telah mengurungkan niatnya.
Bahkan orang itu telah dengan tergesa-gesa pergi meninggalkan regol padukuhan
induk itu.
Demikian orang itu menjauh, maka seorang anak muda yang semula menyabit rumput
telah bangkit berdiri. Sejenak ia mengawasi orang yang menjadi semakin jauh itu.
Namun kemudian anak muda itupun berjongkok kembali memenuhi keranjangnya dengan
rumput segar.
Tiga orang laki-laki kemudian telah melangkah keluar regol diikuti oleh
anak-anak yang ketakutan. Seorang diantara laki-laki itu bertanya " Dimana orang
itu? "
" Mungkin sudah lari " jawab salah seorang diantara anak-anak yang ketakutan
itu.
Ketiga orang laki-laki itu masih melihat dikejauhan seseorang yang berjalan
semakin lama semakin jauh.
Ketika mereka bertiga akan berbalik memasuki gerbang, anak muda yang sedang
memotong rumput itu telah bangkit pula dan melangkah menemui mereka.
" He, kau " sapa salah seorang diantara ketiga laki-laki itu.
" Ya paman. " jawab anak muda itu.
" Apa kerjamu disini? " bertanya laki-laki itu pula.
" Menyabit rumput " jawab anak muda itu.
" Kau lihat seorang laki-laki yang mengganggu anak-anak ini? " bertanya
laki-laki yang lain.
" Ya. Aku melihat. Tetapi ketika laki-laki itu melangkah pergi aku tidak
mencampurinya. Sebenarnya aku memang ingin mencegahnya mengganggu anak-anak. "
jawab anak muda itu.
" Baiklah " berkata laki-laki itu " tolong awasi anak-anak yang sedang bermain.
Mungkin memang ada orang yang senang mengganggu anak-anak. Laki-laki itu ingin
merampas topeng mainan anak kakang Kriya itu, yang katanya ditemukannya dipintu
gerbang ini. "
" Baik paman " jawab anak muda itu " jika kira-kira aku tidak dapat
mengatasinya, biarlah aku memanggil paman. "
" Ya. Panggil aku. Aku ingin tahu, apakah laki-laki itu berilmu kanuragan. "
jawab laki-laki yang marah itu.
Demikianlah, sejenak kemudian ketiga laki-laki itupun telah masuk kembali
kedalam regol sambil mengajak anak-anak itu. Bahkan kemudian salah seorang
diantara mereka berpesan " Jangan bermain diluar. Untung kalian tidak mengalami
sesuatu karena kami segera datang. "
Dalam pada itu, maka anak muda yang menyabit rumput itupun nampaknya telah
merasa cukup. Karena itu, maka iapun telah mengangkat keranjangnya yang berisi
rumput diatas kepala. Kemudian ketika ia memasuki regol padukuhan induk dan
bertemu dengan anak-anak yang bermain-main itu, iapun telah berpesan pula "
Bermain-mainlah dihalaman rumah salah seorang diantara kalian. Jangan berada
diregol. He, kau tahu apa yang disebut culik? Agaknya orang itu culik yang
mencari anak-anak. Kau pernah mendengar ceritera tentang dawet yang terbuat dari
mata kanak-kanak? Sejenis minuman yang dipakai untuk tumbal. "
" Ah, apakah benar-benar ada kakang? " bertanya salah seorang diantara
kanak-kanak itu.
" Entahlah. Tetapi jangan bermain diluar regol untuk sementara. Apalagi membawa
topeng kecil itu. " jawab anak muda yang membawa keranjang itu.
Anak-anak itu mengangguk-angguk. Ternyata mereka memang menjadi agak ketakutan
dengan ceritera tentang culik.
Anak muda itu kemudian berjalan menyusuri jalan induk. Rumahnya berada tidak
jauh dari rumah Kriya. Ketika ia memasuki jalan simpang yang lebih kecil, maka
ia memang lewat dimuka rumah Kriya yang dihalamannya terdapat sebatang pohon
duwet.
Setelah meletakkan rumputnya di kandangs maka anak muda itupun segera membenahi
pakaiannya.
" Kau masih menyabit rumput? " bertanya ayahnya.
" Rumput dikandang tinggal sedikit ayah " jawab anak muda itu.
" Bukankah adikmu biasanya yang menyabit rumput? Ia sekarang juga sedang
menyabit rumput sambil menggembala kambing. Apa kau tidak pergi ke barak? "
bertanya ayahnya pula.
" Sekarang aku akan pergi " jawab anak itu.
" Tidak kesiangan? " desak ayahnya pula.
Anak muda itu tersenyum. Katanya " Tidak. Dalam tiga hari ini aku sedang
istirahat. Aku dapat datang kapan saja di barak "
Ayahnya tidak bertanya lagi. Sementara anak muda itupun kemudian minta diri
setelah selesai berbenah diri.
Ternyata anak muda itu adalah salah seorang petugas sandi di Tanah Perdikan itu.
Iapun langsung menemui pemimpinnya untuk melaporkan hasil pengamatannya di salah
satu pintu gerbang padukuhan.
" Aku berhasil mengenali wajahnya Ki Lurah " berkata anak muda itu " jika
bertemu dengan orang itu sekali lagi, aku agaknya akan dapat mengenalnya. "
" Bagus " berkata pemimpinnya " orang itu tentu masih akan memasuki padukuhan
induk ini lagi. Karena itu, kau harus rajin berjalan-jalan. Sekali-sekali
pergilah ke pasar. Mungkin laki-laki itu ada disana. Ia tentu ingin berada lebih
dalam lagi di padukuhan induk ini. "
" Jika aku melihatnya lagi, apa yang harus aku lakukan? " bertanya anak muda
itu.
" Jangan bertindak lebih dahulu. Awasi saja apa yang dilakukan. Tetapi ada
baiknya ia melihat topeng itu ditangan anak-anak. Kita harus memberikan kesan
bahwa kita tidak mengetahui gerakan mereka di Tanah Perdikan Sembojan ini. "
pesan pemimpinnya sebagaimana dipesankan kepada para petugas sandi yang lain.
Sementara itu, di sanggar Kepala Tanah Perdikan, tiga orang tua sedang bekerja
keras untuk memecahkan hambatan-hambatan terakhir dari usaha mereka
menyempurnakan ilmu Janget Kinatelon. Dengan tanpa mengenal waktu mereka bertiga
mengerahkan segenap kemampuan dan ilmu mereka yang pada dasarnya berbeda-beda
namun dengan ketekunan dan kerja keras, mereka berhasil mengangkat kesamaannya
dan meluluhkan unsur-unsur yang berbeda-beda justru menjadi saling mengisi,
sehingga mereka telah menemukan satu kekuatan ilmu yang luar biasa dahsyatnya.
Ternyata yang dilakukan oleh ketiga orang itu bukannya hanya sehari. Tetapi
ketiga orang itu telah berada didalam sanggar selama tiga hari. Para pelayanlah
yang memberikan makan dan minum mereka kedalam sanggar disaat-saat yang sudah
ditentukan sehingga mereka tidak mengganggu pemusatan nalar budi. Meskipun
disaat yang sudah ditentukan, tetapi pintu sanggarnya masih diselarak dari
dalam, maka tidak seorangpun yang boleh masuk. Sementara Sambi Wulung dan Jati
Wulung telah mengawasi langsung sanggar itu.
Ternyata ketiga orang itu tidak dapat menyelesaikan tugas besar mereka dalam
waktu sepekan. Mereka baru dapat menyelesaikan tugas mereka itu dalam waktu
tujuh hari tujuh malam.
Baru ketika mereka merasa bahwa ilmu Janget Kinatelon telah berada pada
kemungkinan tertinggi, mereka menghentikan pekerjaan mereka. Namun mereka sadar,
bahwa tidak seorangpun yang dapat menyelesaikan pekerjaan mereka dengan
sempurna. Karena yang sempurna itu bukanlah milik seseorang.
Dihari yang ketujuh, maka sanggar itu ternyata telah diselarak sehari-semalam
penuh. Tidak seorangpun yang diperbolehkan memasuki sanggar itu. Ketiga orang
tua-tua didalam sanggar itu nampaknya sedang berada dalam puncak samadi mereka.
Pada hari yang kedelapan, di dini hari, pintu sanggar itu terbuka. Ketiga orang
tua itu telah keluar dari sanggar dengan tubuh yang sangat letih.
Sambi Wulung, Jati Wulung dan Nyi Wiradana sendiri telah membantu ketiganya
meninggalkan sanggar menuju keruang dalam rumah Kepala Tanah Perdikan itu.
Ketiga orang yang kemudian duduk diruang dalam itu selain nampak sangat letih,
wajah merekapun nampak pucat. Namun dibibir mereka nampak senyum yang cerah.
Berganti-ganti ketiga orang itu pergi ke pakiwan untuk membersihkan diri. Baru
kemudian, mereka duduk bersama Iswari, Sambi Wulung dan Jati Wulung sambil minum
minuman panas dan makan beberapa potong makanan.
" Kau memerlukan waktu lebih lama untuk dapat menyadap ilmu yang telah kami
sempurnakan itu Iswari " berkata Kiai Badra kepada gurunya.
" Aku akan melakukan apa saja yang guru perintahkan " jawab Iswari.
" Bagus. Kau telah menemukan kembali gelora didalam jantungmu. Kau harus
memiliki kemampuan tertinggi dari ilmu Janget Kinatelon. Bukan saja untuk
kepentinganmu sendiri, tetapi juga untuk kepentingan Tanah Perdikan ini. "
berkata Kiai Badra pula.
" Apakah kau sudah mempersiapkan diri? " bertanya Nyai Soka.
" Sejauh kemampuanku guru " jawab Iswari.
" Baik " jawab Nyai Soka " kami akan melihat ujud terakhir dari ilmumu itu. "
" Aku sudah siap kapan guru menghendaki " jawab Iswari. Namun kemudian katanya
pula " Tetapi bukankah guru masih letih. "
" Kami akan beristirahat hari ini " sahut Kiai Soka " tetapi malam nanti, kami
ingin berada didalam sanggar bersamamu. "
" Baik guru " jawab Iswari.
Namun dalam pada itu, ketiga orang tua itu juga sempat mempertanyakan
perkembangan yang terjadi diluar sanggar. Bagaimana dengan topeng-topeng kecil
itu dan apakah ada langkah-langkah tertentu yang perlu mendapat perhatian yang
sungguh-sungguh.
Iswaripun telah melaporkan kejadian-kejadian terakhir yang sempat diamati oleh
para petugas sandi. Telah dilaporkan pula hadirnya orang-orang yang
berkepentingan dengan topeng-topeng kecil itu.
" Ternyata mendung itu sudah datang " berkata Kiai Soka " jika benar-benar hari
akan hujan, maka kita sudah bersedia payung sebelumnya. "
Demikianlah hari itu, ketiga orang tua itu benar-benar telah beristirahat.
Mereka telah berada didalam bilik masing-masing. Meskipun bukan kebiasaan mereka
berbaring dipagi hari, namun ketiganya telah melakukannya karena mereka memang
benar-Benar letih. Namun mereka tidak tertidur.
Hari itu tidak ada sesuatu yang penting yang terjadi di Tanah Perdikan. Namun
Iswari benar-benar telah mempersiapkan diri. Ia sudah memasuki sanggar sejak
pagi hari setelah berbincang dengan ketiga orang gurunya. Namun menjelang tengah
hari, Iswari telah berada di ruang dalam kembali bersama-sama dengan ketiga
gurunya, yang nampaknya sudah jemu untuk berbaring terus.
" Nampaknya kau sudah mulai menyesuaikan dirimu " berkata Nyai Soka.
" Ya guru. Agar pada saatnya semuanya dapat berjalan lancar " jawab Iswari,
" Baiklah. Namun sebaiknya kau persiapkan tugas-tugas di Tanah Perdikan ini agar
selama kau berada didalam sanggar, semuanya dapat berjalan dengan baik
sebagaimana biasa. " pesan Kiai Badra.
" PAMAN SAMBI WULUNG dan paman Jati Wulung akan menangani segala sesuatunya.
Mudah-mudahan tidak ada persoalan-persoalan yang gawat. " sahut Iswari. Namun
demikian nampak keragu-raguan diwajahnya
Sementara itu Kiai Sokapun berkata " Iswari. Sebaiknya dalam waktu-waktu
penyempurnaan ilmu Janget Kinatelon, kau tidak terganggu oleh
persoalan-persoalan lain, sehingga pemusataft nalar budimu tidak terganggu. "
Iswari mengangguk-angguk, Namun sebagai seorang Kepala Tanah Perdikan, maka
nampak keragu-raguan di wajahnya. Bahkan Iswari itu seakan-akan bertanya kepada
diri sendiri " Apakah aku akan dapat melakukannya? Apakah aku benar-benar dapat
memisahkan diri dari kewajibanku di Tanah Perdikan ini meskipun hanya sepuluh
hari? "
Tetapi Iswari membiarkan pertanyaan itu melingkar-lingkar didalam dirinya. Namun
kemudian ia menyadari, bahwa pertanyaan itu harus disingkirkannya jika ia
memasuki pemusatan nalar budi untuk menerima tuntunan menyempurnakan ilmunya
Janget Kinatelon.
Karena itu maka Nyi Wiradana memang sudah memanggil beberapa orang pemimpin
Tanah Perdikan. Hanya beberapa orang yang benar-benar dipercaya termasuk
pemimpin petugas sandi dan pemimpin pasukan pengawal Tanah Perdikan. Kepada i
mereka Iswari memberi tahukan, bahwa sebelum menghubungi dirinya, dalam waktu
yang terbatas, sebaiknya mereka berhubungan lebih dahulu dengan Sambi Wulung dan
Jati Wulung.
" Kenapa? " bertanya pemimpin pengawal.
" Aku akan menjalani pengobatan yang berat " berkata Iswari " aku mempunyai
penyakit dalam yang berbahaya. Tetapi aku tidak menutup kemungkinan untuk
menerima persoalan yang benar-benar gawat. "
" Meskipun hal itu akan berakibat buruk bagi penyakitmu sebelum sembuh benar "
berkata Kiai Badra.
Iswari hanya menarik nafas dalam-dalam, sementara pemimpin pengawal itu berkata
" Baiklah. Kami akan berusaha bersama-sama Ki Sambi Wulung dan Ki Jati Wulung
untuk mengatasi persoalan-persoalan yang mungkin timbul. Terutama dengan adanya
topeng-topeng kecil itu. Sementara ini pemimpin petugas sandi akan bekerja keras
untuk mengamati keadaan. Kami sudah sewajarnya membantu agar pengobatan Nyi
Wiradana cepat selesai. "
Iswari menarik nal as dalam-dalam. Katanya kemudian dengan nada rendah " Terima
kasih. Kami mengharap semua pihak akan membantu. Mudah-mudahan pengobatan itu
akan segera selesai. Dengan demikian maka aku akan segera dapat menunaikan
tugasku kembali. " Iswari berhenti sejenak, lalu " Tetapi aku ulangi pesanku.
Hal ini merupakan rahasia yang harus sama-sama kita pegang. Akhir-akhir ini kita
melihat suasana yang kurang cerah di Tanah Perdikan ini, sehingga keadaanku itu
tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu yang memang ingin mengacaukan
ketenangan Tanah Perdikan ini. "
" Baik Nyi. Kami akan melakukannya " jawab pemimpin pengawal itu.
" Bahkan merupakan rahasia bagi para pengawal itu
sendiri " Iswari melanjutkan.
" Kami mengerti " pemimpin pengawal itu mengangguk-angguk.
Demikianlah, maka Nyi Wiradana itupun telah membagi tugasnya. Namun semuanya
akan bertumpu pada Sambi Wulung dan Jati Wulung. Meskipun demikian untuk
sementara Sambi Wulung dan Jati Wulung diminta agar tidak terlalu sering keluar
dari rumah.
Sambi Wulung jdan Jati Wulung menyadari, bahwa jika orang-orang yang sedang
mengamati Tanah Perdikan itu mengenalnya, maka persoalannya akan berkembang
semakin luas.
Sejak hari iti}, maka Iswari telah berusaha untuk memisahkan diri dari
tugas-tugasnya sebagai Pemangku Kepala Tanah Perdikan Menoreh. Malam nanti ia
sudah harus memasuki barak untuk memperdalam dan meningkatkan ilmunya Janget
Kinatelon.
Ketika matahari mulai bergeser kesebelah titik puncaknya, maka Iswaripun telah
membersihkan diri. Mandi keramas dengan air abu merang. Kemudian untuk beberapa
saat ia berada di biliknya. Sambil mengeringkan rambutnya yang panjang, Iswari
telah mempersiapkan diri sepenuhnya.
Ketika kemudian senja turun, maka bersama-sama dengan ketiga orang gurunya,
Iswari telah memasuki sanggarnya.
Iswari bukan lagi seorang perempuan muda. Umurnya sudah bertambah-tambah. Namun,
demikian ia memasuki sanggar, maka darahnya mulai bergetar sebagai mana sepuluh
tahun yang lalu.
Beberapa saat lamanya, mereka berempat itu duduk ditengah-tengah sanggar. Mereka
mulai menyesuaikan diri dengan lingkungan didalam sanggar itu.
Sesaat kemudian, dengan isyarat Kiai Badra minta kepada mereka semua untuk
memusatkan nalar budi, memanjatkan permohonan kepada Sumber Hidup mereka, agar
usaha mereka dapat berhasil dengan baik serta mohon tuntunan agar ilmu yang akan
mereka dalami itu akan memberikan arti yang baik bagi sesama dalam pengabdian.
Dalam keheningan sejenak, maka semua hati seakan-akan telah larut dalam
pendekatan tertinggi.
Untuk beberapa saat lamanya mereka terbenam dalam suasana hening, sehingga
seakan-akan sanggar itu menjadi lebih sepi dari saat-saat kosong sama sekali.
Bahkan tarikan nafas dari mereka yang sedang menundukkan kepala itu tidak
terdengar sama sekali.
Demikianlah, telah terjadi sentuhan-sentuhan dihati mereka betapa lembutnya,
sehingga merekapun menjadi semakin menyadari, betapa mereka tidak lebih dari
debu yang dihamburkan diluasnya padang ilalang di rawa-rawa.
Namun betapapun tidak berartinya mereka, tetapi mereka bermohon agar mereka
dapat berbuat sesuatu bagi kebaikan sesama dengan cara yang ingin mereka
lakukan. Justru karena cara yang mereka tempuh adalah cara yang dalam pengertian
dasarnya bertentangan dengan kasih kepada sesama itu sendiri, maka mereka telah
memohon agar hati mereka dibimbing untuk dapat mengetrapkan dalam pengertian
yang baik.
Demikianlah maka setelah beberapa saat mereka berada dalam keadaan yang hening,
maka merekapun telah mengangkat kembali wajah mereka yang tunduk. Tarikan nafas
panjang telah menandai berakhirnya satu saat yang betapapun pendeknyar namun
merupakan usaha pemusatan nalar budi dalam pendekatan tertinggi.
Untuk beberapa saat mereka masih tetap duduk sambil berdiam diri. Namun kemudian
Kiai Badralah yang mulai membuka pembicaraan " Nah, setelah kita benar-benar
berada dalam kesiagaan sepenuhnya, maka marilah, kita akan mulai dengan tugas
kita yang berat. "
" Kau sudah benar-benar siap Iswari? " bertanya Nyai Soka.
Ya guru. " jawab Iswari singkat.
" Jika demikian, maka mulailah dengan mengungkapkan kembali tingkat kemampuanmu
agar kami dapat mengerti dengan pasti, dari maha kita akan berangkat. " berkata
Kiai Badra.
Iswaripun kemudian berdiri tegak. Mengangguk dalam-dalam sebagaimana sikap
seorang murid kepada gurunya. Bukan lagi sikap seorang cucu kepada kakeknya.
Beberapa langkah ia surut, sementara ketiga orang kakek dan neneknya itupun
telah bergeser pula menepi.
Sejenak kemudian, maka Iswaripun telah mempersiapkan dirinya, mengatupkan kedua
telapak tangan didadanya. Memusatkan segenap tanggapan indriyanya dalam ungkapan
ilmu yang tersimpan didalam dirinya.
Perlahan-lahan Iswari mulai menggerakkan tangannya. Telapak tangannya yang
mengatup mulai terurai. Perlahan-lahan jari-jari tangannya mulai bergerak
membentuk lambang-lambang tertentu pada permulaan ungkapan ilmunya sebagaimana
diajarkan oleh gurunya. Kemudian jari-jari kedua tangannya mengembang dalam
jajaran yang rapat, sementara tangannya terjulur kedepan dengan telapak tangan
tengadah. Satu gerakan berputar disusul dengan pengendapan yang berat. Kedua
tangannya telah terangkat keatas. Kemudian kedua telapak tangannya telah
mengatup kembali dan turun perlahan-lahan sehingga akhirnya berhenti didadanya.
Sejenak Iswari berdiri dalam sikap seperti itu. Namun kemudian iapun mulai
bergerak dengan unsur-unsur gerak yang telah dipelajarinya dari ketiga gurunya
itu. Geraknya mula-mula perlahan-lahan. Namun semakin lama menjadi semakin
cepat, sehingga akhirnya Iswari mulai memasuki unsur-unsur gerak yang paling
sulit dari ilmu yang pernah diterimanya.
Untuk beberapa saat lamanya ketiga gurunya mengamati dengan saksama tata gerak
yang dilakukan oleh Iswari dalam pengungkapan ilmunya itu. Semakin lama terasa
betapa gerak Iswari menjadi semakin mantap.
Pada saat-saat unsur-unsur geraknya telah tertuang, maka mulailah IswaH
mengetrapkan ilmu yang memiliki kekuatan dan kemampuan yang jarang ada
bandingnya. Dengan kemampuan ilmunya Iswari mampu menyerap kekuatan yang ada
dilingkungannya, kemudian bergejolak didalam dirinya dan memadu dengan kekuatan
yang ada didalam dirinya pula.
Dengan demikian maka perlahan-lahan mulai nampak oleh mata orang-orang berilmu
semacam kabut tipis dari tubuh Iswari itu. Kabut yang sangat tipis dan bagaikan
menggelombang diudara.
Ketika kakek dan neneknya memperhatikan kabut tipis itu dengan saksama. Mereka
menyadari bahwa ilmu Iswari memang sudah meningkat. Kabut itu tidak lagi
berujud, tetapi nampak oleh ketiga orang tua itu, sebagaimana mereka melihat deg
amun-amun di padang rumput dalam panas yang sangat terik, sehingga udara
bagaikan bergetar karenanya tanpa menghalangi pandangan mereka.
Ketiga orang tua itu mengerti, bahwa Iswari mampu membangunkan kekuatan panas
semakin tinggi sejalan dengan tingkat perkembangan ilmunya. Dengan demikian maka
kekuatan ilmunya itupun telah bertambah berbahaya pula bagi lawan-lawannya.
Namun Iswari tidak mendorong kekuatan ilmunya itu bergerak karena ia tidak
mempunyai sasaran yang memadai didalam sanggarnya itu, sehingga dengan demikian
maka kekuatan ilmunya bagaikan hanya menyelubungi dirinya. Meskipun demikian,
dalam benturan kekuatan, dengan pengetrapan ilmunya seperti yang dilakukannya
itu, Iswari sudah akan dapat melindungi dirinya dari serangan lawan-lawannya
dalam sentuhan wadag, karena seseorang yang mendekatinya akan merasakan kekuatan
ilmu itu.
Beberapa saat lamanya Iswari telah menunjukkan kekuatan ilmunya yang telah
berkembang kepada kakek dan neneknya yang kebetulan adalah guru-gurunya,
diwarnai oleh unsur-unsur gerak yang mendukung kekuatan dan kemampuan ilmunya
yang telah berkembang pula.
Sehingga akhirnya, Iswari telah sampai kepada puncaknya. Demikian dahsyatnya
ilmu didalam dirinya, sehingga seluruh ruang di sanggar itu bagaikan menjadi
sepanas uap yang keluar dari tabung air yang mendidih.
Tetapi yang ada didalam sanggar itu selain Iswari adalah tiga orang berilmu
tinggi, sehingga karena itu, maka merekapun mampu melindungi kulit mereka
sehingga tidak mengalami luka-luka karena panasnya uap air yang mendidih.
Apalagi ilmu itu bersumber dari mereka bertiga pula.
Demikianlah, maka setelah Iswari benar-benar tuntas dipuncak kemampuannya,
meskipun ada bagian-bagian yang, tidak dilakukannya karena kemungkinan keadaan
disekelilingnya dan ruang, maka iapun mulai menyusut ungkapan ilmunya itu
perlahan-lahan. Semakin lama semakin ditekannya dan diendapkannya, sehingga
akhirnya kabut tipis yang hanya dapat dilihat oleh mata orang-orang berilmu
itupun telah lenyap pula. Ungkapan-ungkapan gerak kewadagannyapun telah menurun
pula perlahan-lahan, sehingga akhirnya, perlahan-lahan tangannyapun telah
terangkat dengan jari-jari terbuka. Kemudian perlahan-lahan pula megatup dan
turun kedadanya. Masih ada beberapa gerakan kecil. Tetapi terakhir telapak
tangan Iswari itu telah merapat dan mengatup kembali didadanya.
Sesaat mata Iswari terpejam. Namun kemudian ketika mata itu terbuka Iswari telah
membungkuk hormat kepada ketiga orang gurunya.
Ketiga orang kakek dan neneknya yang juga guru-gurunya itu mengangguk-angguk.
Mereka telah menyaksikan kemampuan Iswari dalam ungkapan ilmu Janget Kinatelon.
Yang mula-mula adalah tiga sumber ilmu yang karena kemampuan yang tinggi, telah
dijalin menjadi satu sehingga menjadi sejenis ilmu yang dapat disebut
diperbaharui dalam tataran yang lebih tinggi dari sumber dasarnya masing-masing.
Dalam pada itu maka terdengar Kiai Badra berkata kepada Iswari " Cukup Iswari.
Beristirahatlah sebentar. Kami akan menentukan langkah-langkah kami untuk
membimbingmu dalam waktu yang pendek ini. " Iswari sekali lagi mengangguk
dalam-dalam. Kemudian katanya " Terima kasih guru. "
Ketika Iswari kemudian menepi dengan kedua belah tangannya yang tergantung lemah
disisi tubuhnya untuk duduk dan beristilahat, maka ketiga orang gurunya telah
melakukan penilaian atas peragaan yang dilakukan oleh Iswari itu.
Beberapa saat mereka melihat kekuatan yang nampak pada perkembangan ilmunya yang
bahkan diluar dugaan, namun mereka juga melihat beberapa kekurangan dan
kelemahan yang ada pada ilmunya itu, sehingga beberapa diantara unsur geraknya
masih nampak rapuh. Bahkan pancaran kekuatan ilmunyapun masih juga belum padat,
sehingga masih ada lubang-lubang udara yang kosong.
" Jika terjadi benturan ilmu yang sama kuatnya, maka ilmu lawan akan mampu
menyusup diantara kekosongan itu dan sangat membahayakannya. " berkata Nyai
Soka.
—.Ya " desis Kiai Soka " segi itulah yang akan kita urai terlebih dahulu,
sebelum kita meningkat pada pengembangannya. "
Kiai Badrapun mengangguk-angguk. Katanya " Aku sependapat. Kita akan mengisi
kekosongan-kekosongan yang masih terdapat pada ungkapan ilmu anak itu, meskipun
ilmunya sudah meningkat. Kemudian mempertebal lapisan-lapisan ilmu itu dan
terakhir kita harus melihat bagaimana Iswari mendorong kekuatan ilmunya memancar
dari dirinya kearah sasaran, dengan kekuatan ilmu yang telah menjadi semakin
padat dan berat. "
Demikianlah, maka ketiga orang itu telah membicarakan langkah-langkah yang akan
mereka ambil untuk melaksanakannya.
Dalam pada itu, Iswari yang sempat beristirahat di pinggir sanggar, duduk pada
sebuah amben kecil. Dengan sungguh-sungguh ia memperhatikan pembicaraan
guru-gurunya meskipun ia tidak mendengar dengan jelas apa yang mereka katakan.
Namun Iswari merasa bahwa ia masih harus bekerja keras untuk mencapai satu
tataran baru pada ilmunya itu.
Demikianlah, maka sejak saat itu, Iswari memang lebih banyak berada didalam
sanggar. Ia benar-benar telah memisahkan diri dari tugasnya sehari-hari. Bahkan
tidak seorangpun yang dibenarkan menghubunginya selain ketiga orang gurunya.
Siang dan malam hampir tidak ada putusnya, Iswari berada didalam sanggar bersama
ketiga orang gurunya. Sehari semalam, Iswari hanya mendapat kesempatan yang
tidak terlalu panjang untuk berada diluar sanggar dan berada dipambaringannya.
Selebihnya, ia harus bekerja keras menjelang saatnya bulan purnama.
Bagi Iswari sendiri, bulan purnama tidak memberikan pengaruh apapun pada
ilmunya. Dan bahkan Iswari menganggap bahwa cahaya bulan tidak lebih dari salah
satu ujud kecantikan alam, diantara kecantikan alam yang lain.
Namun ketiga gurunya mempunyai pertimbangan yang lain. Mereka masih
memperhitungkan seseorang yang menganggap dirinya dipengaruhi oleh kekuatan
cahaya bulan.
Dalam pada itu, selagi Iswari berada didalam sanggarnya dan tenggelam pada
peningkatan kemampuan ilmunya, Sambi Wulung dan Jati Wulung berusaha untuk dapat
melakukan tugas-tugasnya meskipun tidak sepenuhnya. Namun Sambi Wulung dan Jati
Wulungpun masih selalu membatasi dirinya karena keduanya masih juga
memperhitungkan satu kemungkinan, bahwa orang-orang dari padepokan yang dihuni
oleh Puguh akan berkeliaran sampai ke Tanah Perdikan itu. Atau orang-orang dari
satu lingkungan yang tersembunyi, yang daerahnya dipagari oleh topeng-topeng
kecil yang mempunyai pengertian maut itu.
Sambi Wulung dan Jati Wulung masih berusaha untuk menyembunyikan wajah mereka
terhadap orang-orang yang mungkin menyusup ke Tanah Perdikan Sembojan itu, agar
tidak memberikan kemungkinan bagi Puguh untuk mengambil langkah-langkah
pengamanan sehingga mereka akan kehilangan jejaknya lagi.
Karena itulah, maka keduanya lebih banyak mengatur Tanah Perdikan itu dari rumah
Kepak Tanah Perdikannya. Tetapi sebaliknya justru di malam hari Sambi Wulung dan
Jati Wulung banyak mengunjungi padukuhan-padukuhan di seluruh Tanah Perdikan,
sehingga karena itu, maka setiap padukuhan tidak pernah merasa terpisah dari
induknya meskipun beberapa hari mereka tidak berhubungan dengan Iswari.
Untuk beberapa hari tidak terjadi sesuatu di Tanah Perdikan itu. Tetapi
tiba-tiba saja seorang petugas sandi yang mengawasi keadaan di dalam lingkungan
Tanah Perdikan telah melihat orang yang pernah mengganggu anak-anak karena
topeng kecil itu berada dipasar.
Petugas itu sempat menghubungi kawannya dan menyuruhnya untuk mengawasinya.
" Yang seorang dari kedua orang itu pernah aku kenali memburu dan menakut-nakuti
anak-anak karena anak-anak itu telah melepas topeng yang dipasangnya diregol.
Yang seorang lagi aku belum pernah melihatnya. .Tolong awasi mereka selama
mereka berada di pasar. Jika mereka pergi, tolong, ketahui kearah mana mereka
meninggalkan Tanah Perdikan ini. Aku akan melaporkannya kepada pimpinan kita. "
Kawannya mengangguk. Tetapi ia masih bertanya " Jadi aku tidak mengambil langkah
apa-apa selain mengawasi mereka? "
" Ya. Aku selalu mendapat pesan untuk sangat berhati-hati dengan mereka. " sahut
petugas yang pertama.
Demikianlah maka dengan tergesa-gesa petugas itu telah menemui pemimpinnya.
ftamun agaknya pemimpinnya masih harus berbicara lebih dahulu dengan Sambi
Wulung dan Jati Wulung
" Jangan tergesa-gesa mengambil langkah apapun - berkata pemimpinnya " awasi
saja mereka. Mungkin tidak hanya dua orang saja. Aku akan bertemu dengan Ki
Sambi Wulung atau Ki Jati Wulung. Berikan laporan kepadaku setiap ada
perkembangan baru. Aku berada dirumah Kepala Tanah Perdikan. "
Petugas sandi itupun kemudian telah kembali ke pasar. Ketika ditemuinya kawannya
membeli semangkuk dawet, maka kawannya itu telah memberikan isyarat, bahwa orang
yang sedang di awasinya ada ditempat pande besi.
Petugas itupun telah ikut pula duduk dimuka penjual dawet dan memesan sekaligus
dua mangkuk.
" Perutmu melembung nanti " berkata petugas yang menunggunya " mungkin kau ganti
harus masih minum lagi. Semelak, atau wedang sere atau apalagi. "
" Aku senang sekali minum dawet cendol dengan
pemanis badhek aren seperti ini. " jawab petugas itu.
" Terserah saja kau " desis kawannya.
Tetapi petugas sandi itu tidak menghabiskan dua mangkuk dawetnya sekaligus» Ia
minum seteguk demi seteguk sambil duduk bukan lagi dimuka penjual dawet itu,
tetapi disebelahnya. Dari tempatnya duduk, ia melihat dua orang yang harus
mereka awasi berada dipande besi yang sedang sibuk menempa kejen bajak.
Ternyata pande besi yang tidak tahu dengan siapa ia berhadapan itu, telah
mendapat beberapa pertanyaan dari kedua orang itu dan menjawabnya sebagaimana
diketahuinya. Kedua orang itu telah bertanya tentang pembuatan senjata di Tanah
Perdikan itu.
" Ada beberapa orang pande besi yang secara khusus telah membuat senjata "
berkata pande besi itu " meskipun dalam keadaan darurat semua pande besi yang
ada diperintahkan membuat senjata. Tentu saja dengan mutu yang berbeda. Aku
tidak terbiasa membuat senjata. Tetapi jika terpaksa, aku dapat juga membuat
pedang. Tetapi pedang buatan ku tidak akan lebih baik dari sebuah parang para
petani. "
Kedua orang itu mengangguk-angguk. Seorang diantaranya berkata " Betapa buruknya
sebuah pedang, tetapi jika mematuk perut yang terdiri dari kulit dan daging ini,
tentu akan koyak juga. "
Pande besi itu tertawa. Katanya " Jangankan pedang. Parang pembelah kayu itupun
akan dapat mengoyakkan kulit perut. "
Kedua orang itupun tertawa pula. Beberapa saat keduanya masih berada di bengkel
pande besi itu. Namun kemudian keduanyapun telah minta diri dan meninggalkan
tempat itu. Keduanya memang berhenti di depan pande besi yang lain disebelahnya.
Tetapi hanya sebentar.
Demikian kedua orang itu pergi, maka kedua orang petugas sandi itupun telah
bersiap-siap. Petugas sandi yang telah menemui pemimpinnya itu berkata " Nanti
saja kita bertanya kepada pande besi itu. Kita awasi dahulu, kemana mereka
pergi. "
Kedua orang itupun telah mengikuti dengan hati-hati dua orang yang dikenal
sebagai orang-orang yang mempunyai hubungan dengan topeng-topeng kecil itu.
Ternyata kedua orang itu telah keluar dari pasar dan berjalan menuju ke pintu
gerbang.
Kedua orang petugas sandi itupun telah memisahkan diri. Seorang akan langsung
menuju ke pintu gerbang, seorang yang lain masih saja mengawasi keduanya dari
kejauhan.
Seperti yang mereka perhitungkan, keduanya memang keluar lewat pintu gerbang
padukuhan induk. Ternyata di luar gerbang induk itu telah terdapat bukan hanya
sebuah topeng kecil. Tetapi sepasang topeng yang letaknya agak tinggi diluar
pada sebatang pohon, sehingga anak-anak tidak akan dapat menggapainya.
Kedua orang itu berhenti sejenak ketika mereka melewati gerbang dan memandangi
sepasang topeng yang menempel diluar batas pedukuhan induk itu.
Tetapi keduanya tidak mengatakan sesuatu. Seorang petugas sandi yang justru
telah berada diluar pinti gerbang itu, sempat bersembunyi dibalik sebuah
gerumbul. Namun ia tidak melihat sesuatu yang mencurigakan dilakukan oleh
keduanya kecuali bahwa keduanya memperhatikan sepasang topeng itu, lalu pergi.
" Marilah, kita melihat di gerbang yang lain. " berkata petugas yang pertama.
" Melihat apa? Bukankah kita sudah tahu, disana ada juga topeng kecil seperti
ini. " sahut kawannya.
" Apakah sekarang juga menjadi sepasang " berkata petugas itu.
" Kita biarkan saja keduanya pergi? " bertanya kawannya.
" Sulit mengikuti mereka tanpa mereka ketahui ditengah-tengah bulak " berkata
petugas itu " nanti kita akan menghubungi kawan-kawan kita dipadukuhan sebelah.
Namun agaknya yang menjadi sasaran perhatian mereka adalah padukuhan induk ini.
" sahut yang pertama.
Kawannya tidak menjawab. Namun keduanya telah pergi ke pintu gerbang yang lain
dari padukuhan induk itu.
Ternyata diluar pintu gerbng itu, juga pada sebatang pohon telah terdapat pula
sepasang topeng kecil. Sebuah topeng yang terdahulu justru telah tidak ada
ditempatnya.
" Apakah para peronda tidak mengetahui apa yang terjadi semalam? " desis petugas
sandi itu.
" Belum tentu hal itu terjadi semalam " jawab kawannya " mungkin baru hari ini
atau dua hari yang lalu, tetapi para peronda tidak begitu memperhatikannya.
Petugas sandi itu mengangguk-angguk. Katanya hampir kepada diri sendiri " Tentu
satu pertanda bahwa keadaan menjadi semakin mendesak. Hanya saja kita tidak tahu
apa yang akan mereka lakukan. "
Nampaknya kawannya itupun sependapat. Bahkan iapun berkata " Apakah harus
dimulai lagi pengawasan di pintu gerbang ini siang dan malam? "
" Ki Sambi Wulung dan Ki Jati Wulung tentu tidak setuju. " sahut petugas sandi
itu " sementara ini orang-orang itu masih belum merasa bahwa mereka telah kita
awasi. "
" Lalu, apa yang kita lakukan sekarang? " bertanya kawannya.
" Kita menghadap pemimpin kita. Kita perlu membicarakan beberapa hal. "
Demikianlah maka kedua orang itu telah menemui pimpinan petugas sandi yang sudah
berpesan berada dirumah Kepala Tanah Perdikan. Bersama Sambi Wulung dan Jati
Wulung mereka membicarakan kemungkinan-kemungkinan tentang dua topeng kecil
disetiap pintu gerbang.
" Kita harus memberikan tugas dengan diam-diam kepada para petugas sandi untuk
memperhatikan padukuhan-padukuhan lain atau tempat-tempat yang perlu mendapat
perhatian, apakah di tempat-tempat itu juga terdapat topeng-topeng kecil seperti
itu. " berkata pemimpin dari para petugas sandi itu.
Namun perintah yang kemudian keluar bukan hanya itu. Tetapi juga meningkatkan
kesiagaan dan pengawasan yang lebih bersungguh-sungguh terhadap orang-orang dari
luar Tanah Perdikan, meskipun hal yang demikian sulit dilakukan di pasar-pasar.
Ketika ada satu kesempatan kecil, Sambi Wulung dan Jati Wulung berbicara dengan
Kiai Badra yang kebetulan keluar dari sanggar disaat Iswari beristirahat, maka
Kiai Badra itupun berpesan " Perhatikan bulan nanti malam. Jangan dari padukuhan
induk ini. Tetapi dari padukuhan yang berada diujung Tanah Perdikan ini. "
" Untuk apa? " bertanya Jati Wulung.
" Bukankah cahaya bulan itu berarti sekali bagi Warsi? Ilmunya selain Gelap
Ngampar agaknya dipercaya akan dapat terpengaruh oleh cahaya bulan. " berkata
Kiai Badra. Lalu " Karena itu lihatlah. Mungkin kalian melihat sesuatu yang
menarik perhatian kalian. Mungkin ada hubungannya dengan topeng yang berpasangan
itu. Tetapi mungkin pula tidak. "
" Baiklah " jawab Jati Wulung " kami akan melakukannya malam ini. "
Ketika kemudian Kiai Badra kembali ke sanggar, maka Sambi Wulung dan jati
Wulungpun telah bersiap-siap untuk pergi"ke padukuhan yang paling ujung dari
Tanah Perdikan itu. Justru diujung sebelah Timur.
Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak membawa orang lain bersama mereka agar tidak
menarik perhatian. Tetapi keduanya minta agar pimpinan petugas sandi dan
pimpinan pengawal Tanah Perdikan berada di rumah Kepala Tanah Perdikan.
" Sementara pengobatan bagi Nyi Wiradana masih berlangsung, maka kita memang
harus menjaga rumah ini baik-baik " berkata Sambi Wulung kepada pemimpin
pengawal dan para petugas yang ada di rumah itu.
Meskipun tanpa perintah, tetapi rasa-rasanya para pengawal itu masing-masing
menyadari, bahwa mereka harus meningkatkan kesiagaan tertinggi. Karena itu, maka
mereka tidak membagi tugas menjadi dua kelompok seperti biasanya yang bergantian
tidur dan berjaga-jaga. Tetapi mereka yang tidur hanya seperempat dari jumlah
para petugas bergantian. Para petugas itu telah dibagi menjadi ampat kelompok.
Hanya satu kelompok sajalah yang beristirahat dengan waktu yang lebih pendek
dari biasanya.
Sambi Wulung dan Jati Wulung memang terbiasa untuk datang ke padukuhan-padukuhan
dimalam hari. Karena itu, keduanya memang tidak banyak menarik perhatian ketika
mereka melewati gardu-gardu di padukuhan-padukuhan. Bahkan keduanya masih juga
sempat berbicara beberapa lama digardu-gardu sekedar untuk memelihara jarak yang
sudah menjadi semakin dekat dengan anak-apak muda Tanah Perdikan itu.
Tetapi mereka tidak mengabaikan tugas mereka. Ketika bulan yang masih belum
bulat semakin tinggi memanjat langit, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung memang
telah berada diujung Tanah Perdikan itu. Tetapi keduanya sengaja tidak berada di
gardu di mulut pintu gerbang dipating ujung itu. Tetapi seperti orang-orang yang
pergi kesawah, maka keduanya menyusuri pematang memasuki daerah persawahan yang
masih menjadi lingkungan Tanah Perdikan.
Adalah kebetulan, bahwa mereka telah bertemu dengan dua orang yang berada
didalam gubugnya menunggui air yang gemericik mengalir dibawah gardu itu.
Sambi Wulung dan Jati Wulung telah ikut pula duduk digardu itu yang ternyata
terletak tidak begitu jauh dari lereng pebukitan.
" Sepi sekali malam ini " berkata salah seorang dari kedua orang petani itu.
" Apakah dimalam-malam lain tidak sesepi ini? " bertanya Sambi Wulung.
Orang itu tertawa. Katanya " Malam-malam lain juga sepi. Tetapi rasa-rasanya
malam ini terlalu sepi. Suara angin terdengar lebih ngelangut. "
Jati Wulung tertawa. Katanya " Yang sepi adalah hatimu sendiri. E, apakah sudah
agak lama kau tidak mendapat kesempatan untuk bermain dadu? "
" Ah " jawab petani itu " bukankah sekarang di Tanah Perdikan ini sudah tidak
ada lagi permainan dadu? Aku tahu sekarang. Kau sedang menyelidiki aku. "
Jati Wulung tertawa semakin keras. Katanya " Sama sekali tidak. Aku memang sudah
yakin, tidak ada lagi permainan apapun disini. "
Namun dalam pada itu, petani yang lainpun berkata " Suasananya memang lain. Dua
atau tiga malam ini rasa-rasanya memang lebih sepi. Malam kemarin kami tidak
keluar dimalam hari, karena kami mendapat giliran air disiang hari. Malam ini
sebenarnya kami mendapat giliran dipagi hari. Tetapi rasa-rasanya dipadukuhanpun
terlalu sepi. Anak-anak yang meronda bagaikan terkantuk-kantuk saja di gardu,
Karena itu, kamipun telah keluar pula jauh sebelum saat giliran kami sampai.
Rasa-rasanya ada yang menarik untuk diketahui ditengah-tengah bulak ini.
Sambi Wulung dan Jati Wulungpun mengangguk-angguk. Namun Jati Wulungpun berkata
" Yang membuat kita merasa lebih sepi adalah udara yang semakin dingin dalam *
dua tiga malam ini. Langit yang bersih memang membuat udara sangat dingin. Angin
yang bertiup ini rasa-rasanya semakin membuat tubuh gemetar. "
Kedua orang petani itu mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata " Kau
benar. Dua tiga malam ini udara terasa bagaikan menggigit tulang. "
Untuk sesaat merekapun telah terdiam. Malam dinginnya bukan kepalang. Namun
seorang diantara petani itu berkata " Aku membawa wedang jahe. Meskipun sudah
dingin tetapi hangatnya jahe akan membuat kita menjadi hangat pula. "
" Terima kasih " Jati Wulung menyahut " aku memang haus. "
Jati Wulung memang meneguk wedang jahe dari gendi tembaga yang dibawa oleh
petani itu. Namun belum lagi tiga teguk Jati Wulung telah menurunkan gendi itu
dari mulutnya,
" Kalian dengar suara itu? " Jati Wulung berdesis.
" Ya. Memang agak tidak biasa " berkata petani itu " suara itulah yang memang
mendorong kami untuk memperhatikan sawah kami. Apalagi pategalan sebelah.
" Bukanlah suara itu suara anjing hutan? " bertanya Jati Wulung.
—Ya. jawab petani itu.
" Bukankah anjing hutan tidak merusakkan sawah dan pategalan? " bertanya Jati
Wulung.
" Pada dasarnya memang tidak. Tetapi jika jumlah terlalu banyak, maka jalan yang
mereka lewati akan menguak tanaman di sawah dan petegalan. Dalam keadaan lapar
maka anjing-anjing hutan akan memasuki padukuhan-padukuhan untuk mencuri ternak.
"
" Apakah kalian tidak takut? " bertanya Jati Wulung.
" Anjing hutan tidak dapat memanjat. Mereka tidak akan dapat memanjat
tiang-tiang gubug kami. Sedangkan gubug kami cukup kuat sehingga tidak akan
dapat dirobohkannya. " jawab petani itu.
Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Tetapi Sambi Wulung masih
bertanya " Apakah anjing-anjing hutan itu tidak dapat memanjat tangga? "
Petani itu tertawa. Katanya " Tangga itu dapat kami tarik keatas. Sementara itu,
kami dapat memukuli kepala anjing hutan yang mencoba melonjak naik dengan
tongkat-tongkat besi ini atau menusuknya dengan parang. "
Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata "
Darimana kira-kira anjing-anjing itu datang? Bukankah biasanya tidak ada
seekorpun anjing hutan yang mendekati Tanah Perdikan ini? "
" Memang pernah " jawab petani yang seorang " tetapi tidak pasti sepuluh tahun
sekali. Menurut pendengaran kami, dibalik bukit itu ada sebuah goa yang angker.
Yang disebut jalma mara jalma mati, sato mara sato mati. Setiap kehidupan yang
datang ke goa itu tentu akan mati. "
" Goa itu sarang anjing hutan? " bertanya Sambi Wulung.
Orang itu menggeleng. Katanya " Bukan sarang anjing hutan. Tetapi terdapat
seorang pertapa yang dengan ilmunya dapat diciptakannya sejumlah anjing hutan.
Anjing hutan itu dapat diperintah sesuai dengan kehendaknya dan memiliki
penalaran sebagaimana orang yang memilikinya itu. "
" Ya. Sahut petani yang lain " ilmu itu memang ilmu siluman. Tetapi jarang
sekali ilmu itu dipergunakannya jika tidak ada persoalan yang sangat gawat. "
" Apakah kau pernah menyaksikan atau mendengar salah satu peristiwa yang
berhubungan dengan anjing hutan itu? " bertanya Sambi Wulung.
" Seharusnya kau tidak boleh lupa. Kau ingat, saat Nyi Wiradana bertempur dan
menjadi luka parah? Saat bulan purnama penuh itu ditandai dengan gonggongan
anjing-anjing liar. Nah, kurang lebih sepuluh tahun yang lalu. "
Tiba-tiba saja kulit Sambi Wulung dan Jati Wulung meremang. Hampir diluar sadar
mereka memandang kebulan yang belum bulat. Tetapi beberapa hari lagi bulan itu
akan purnama. Anjing-anjing hutan itu akan menjadi semakin liar dan apakah
mungkin akan terulang lagi peristiwa hampir sepuluh tahun yang lalu, disaat
Iswari dan Warsi masih cukup muda.
Tetapi suara anjing liar itu rasa-rasanya semakin lama semakin keras. Dan bahkan
semakin banyak. Seolah-olah anjing-anjing liar itu bergerak dalam kelompok yang
besar semakin lama semakin dekat. Tetapi setiap kali sumber suara itu
rasa-rasanya memang kembali lagi ke balik bukit.
Namun dalam pada itu, Sambi Wulungpun bertanya " Menurut ceritera-ceritera
orang-orang tua, apakah ada orang yang pernah sampai ke goa itu? "
Kedua orang petani itu mengangkat bahunya. Katanya " Aku tidak tahu. Tetapi
menurut kata orang jalma mara jalma mati, sato mara sato mati. Jika ada orang
yang mencoba melihat kedalam goa itu, maka ia tidak akan pernah kembali lagi. "
Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak melihat
hubungan antar ilmu yang dimiliki oleh Warsi dan tempat dibalik bukit itu,
karena ia tahu, bahwa Warsi memiliki padepokan jauh dari Tanah Perdikan
Sembojan. Bahkan Warsi sendiri mungkin telah mempergunakan bekas padepokan atau
sarang gerombolan Kalamerta atau tempat lain, tetapi tidak dibalik bukit itu.
Beberapa saat lamanya Sambi Wulung dan Jati Wulung masih tetap berada di gubug
itu. Mereka masih juga mendengar anjing hutan yang menggonggong. Kadang-kadang
memang diam untuk beberapa lama. Kemudian terdengar seekor diantaranya mengaum
seakan-akan meneriakkan isyarat kepada kawan-kawannya. Kemudian terdengar
sekelompok anjing menggongong bersama-sama.
Namun bagaimanapun juga suara anjing itu dan bulan yang terang dilangit,
merupakan pertanda yang buruk bagi Tanah Perdikan dalam hubungannya dengan
topeng kecil yang menjadi rangkap. Seakan-akan satu peringatan bahwa segala
sesuatunya telah menjadi semakin dekat.
" Sejak kapan kalian mendengar suara anjing itu? " bertanya Jati Wulung.
" Aku tidak ingat lagi. Tetapi sejak bulan mulai nampak cerah dilangit " jawab
petani itu.
Jati Wulung mengangguk-angguk. Tiba-tiba saja timbul keinginannya untuk
mendekat. Tetapi tentu hanya sampai batas Tanah Perdikan Sembojan di kaki bukit
itu. Diseberang jalan sempit di tengah-tengah bulak itu, maka tanah persawahan
itu. Tetapi milik sebuah Kademangan tetangga.
" Marilah " ajak Jati Wulung " kita berjalan-jalan lagi. "
Sambi Wulung setuju. Katanya " Marilah. Kita habiskan malam ini dengan
berkeliling Tanah Perdikan.Besok sejak dini hari kita akan tidur dengan nyenyak.
" Kedua orang itupun kemudian telah turun dari gardu dan minta diri untuk
melanjutkan perjalanan.
Salah seorang dari kedua petani itupun kemudian berpesan " Jangan mencoba-coba
memasukkan tanganmu kedalam api. " .
Sambi Wulung dan Jati Wulung termangu-mangu sejenak. Namun keduanyapun tertawa.
Sambi Wulungpun menjawab " Kami tidak akan pergi ke bukit itu. Terima kasih atas
peringatan kalian. "
Demikianlah Sambi Wulung dan Jati Wulung telah menelusuri pematang, mengikuti
aliran air parit yang tidak begitu besar, tetapi bening. Ketika Jati Wulung
menyentuh air itu dengan ujung jari kakinya, maka terasa air itu sangat dingin.
Tetapi para petani yang mendapat giliran mengairi sawahnya di malam hari, tidak
akan mengeluh meskipun seandainya air itu bagaikan membeku.
Ketika mereka sampai kebatas Tanah Perdikan Sembojan, maka merekapun terhenti.
Dihadapan mereka masih terbentang beberapa kotak sawah sampai kekaki bukit.
Tetapi sawah itu bukan milik Tanah Perdikan itu. Meskipun Tanah Perdikan selalu
berhubungan dengan para tetangga, tetapi adalah kurang bijaksana untuk memasuki
lingkungan mereka dimalam hari. Para petani dari Kademangan tetangga akan dapat
menuduhnya mencuri air yang seharusnya mengalir di tanah persawahan mereka atau
bahkan berbuat sesuatu yang kurang wajar.
Karena itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung hanya berdiri saja disebuah jalan
yang tidak cukup luas itu, yang disebelah-menyebelahnya terdapat parit.
Suara gonggong anjing - itu memang terdengar semak- dekat. Tetapi rasa-rasanya
memang dari balik bukit kecil itu. Namun demikian Sambi Wulung dan Jati Wulung
masih belum yakin, bahwa dibalik bukit itu ada sebuah goa yang dihuni oleh
seseorang yang memiliki atau memelihara anjing-anjing hutan itu. Apalagi
seseorang yang dengan ilmunya dapat menciptakan anjing-anjing hutan yang garang.
" Tetapi suara itu memang suara anjing hutan " berkata Sambi Wulung.
" Siapa tahu apa semacam ilmu yang dipengaruhi oleh sinar bulan, namun dibarengi
oleh suara-suara seperti gonggong anjing hutan. Sinar bulan dan suara seperti
gonggong anjing hutan itu merupakan dukungan atas kekuatan ilmu yang dimiliki
itu. Misalnya, kenapa Warsi beberapa tahun yang lalu menantang Iswari justru
disaat bulan purnama. Juga disaat itu terdengar gonggong anjing hutan. " desis
Jati Wulung.
" Kita memang dapat menghubungkannya dengan topeng yang tiba-tiba telah menjadi
rangkap " berkata Sambi Wulung pula. Lalu katanya " Kesimpulan daripada itu,
maka kita memang harus semakin berhati-hati. "
Keduanya ternyata sependapat, bahwa dalam waktu dekat memang akan dapat terjadi
sesuatu.
Sambi Wulung dan Jati Wulung tekejut ketika keduanya melihat sesuatu meloncat
dari balik gerumbul dipematang sawah diseberang jalan. Semula mereka mengira
seekor serigala. Namun ternyata bukan. Yang meloncat itupun kemudian berdiri
tegak sebagaimana seseorang. Bahkan bukan hanya seorang, tetapi tiga orang.
" Hati-hatilah " desis Sambi Wulung " tetapi ingat, kita belum siap. Iswari
belum selesai dengan peningkatan diri. Karena itu seandainya mereka bukan petani
dari Kademangan sebelah, dan mereka menyerang kita, kita tidak boleh melawan.
Apalagi mengalahkan mereka.
" Lalu? " bertanya Jati Wulung.
" Kita akan lari. Bukankah kita yakin, bahwa kita masih memiliki kemampuan untuk
mendorong agar kita dapat berlari lebih cepat. " berkata Sambi Wulung.
Kedua orang itu justru telah duduk di tanggul parit dipinggir jalan seperti laku
dua orang petani yang menunggui air diparit itu.
Ketiga orang itu memang telah mendekatinya. Seorang yang berjalan dipaling depan
telah berhenti beberapa langkah dari Sambi Wulung dan Jati Wulung. Dengan nada
kasar ia bertanya " He, apa kerja kalian disini? "
" Menelusuri air Ki Sanak " jawab Sambi Wulung.
" Tetapi kalian nampaknya tidak membawa cangkul atau alat-alat yang lain. "
berkata orang itu.
" Cangkul kami berada dimulut kotak sawah kami. Kami hanya menunggui air yang
kadang-kadang telah dicuri orang tetangga-tetangga yang tidak mau menuruti
perjanjian tentang pembagian air. " sahut Sambi Wulung. Namun Sambi Wulungpun
sempat juga bertanya " Kalian siapa? "
" Aku petani dari Kademangan sebelah " jawab salah seorang diantara mereka.
Tetapi Sambi Wulung masih menjawab " Aku terbiasa bertemu dengan mereka disini.
Tetapi rasa-rasanya aku belum pernah melihat kalian. "
Orang yang berdiri dipaling depan menggeram. Katanya " Apa boleh buat. Waktunya
memang sudah tiba untuk mulai dengan permainan kami yang mengasikkan. Kami akan
mulai dengan rencana kami atas orang-orang Tanah Perdikan. "
" Rencana apa? " bertanya Jati Wulung.
" Nasib kalian ternyata sangat buruk. Kalian berdua adalah orang yang
pertama-tama kami temui pada saat rencana kami mulai kami laksanakan. " geram
orang itu. Lalu katanya " Berlututlah. "
Sambi Wulung dan Jati Wulung nampak termangu- mangu. Sementara orang itu telah
membentak pula " Cepat, berlututlah. Jika kau mempersulit pekerjaan kami, maka
kau akan mengalami nasib yang jauh lebih buruk dari mati. "
" Untuk apa kami harus berlutut? " bertanya Sambi Wulung.
" Kami akan memenggal kepala kalian. " jawab orang itu.
" Jangan " jawab Sambi Wulung " aku tidak mau. "
Orang itu memandang Sambi Wulung dan Jati Wulung dengan sorot mata yang membara.
Katanya " Tidak ada orang yang pernah lepas dari tanganku. Kalianpun tidak. "
Sambi Wulung dan Jati Wulung bergeser beberapa langkah surut. Mereka mencoba
menyembunyikan wajah mereka dari cahaya bulan.
" Jangan berusaha untuk lari. Tidak ada gunanya " geram orang itu. Lalu " Aku
akan menghitung sampai tiga. Jika kalian tidak mau berlutut maka kami akan
mengikat kalian dan menyeret kalian disepanjang jalan ini sampai kalian mati.
Mungkin besok pagi. Mungkin kami masih harus menjemur kalian diteriknya matahari
sehari lagi sambil menyeret kalian naik keatas bukit. Jika sampai diatas bukit
kalian belum mati, maka kalian akan menjadi makanan semut merah. Nah, karena
itu, pikirkan. Cara mati yang mana yang kau kehendaki. "
Sambi Wulung dan Jati Wulung masih bergeser surut. Sementara orang itu mulai
menghitung " Satu, dua, tiga. "
Karena Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak berlutut maka orang yang agaknya
memimpin kawan-kawannya itu berteriak " Tangkap mereka dan ikat mereka. "
Namun Sambi Wulung telah memberikan isyarat kepada Jati Wulung. Karena itu, maka
mereka berduapun telah berlari meninggalkan orang-orang itu.
" Tangkap mereka. Jangan sampai lepas " teriak pemimpin mereka.
Kedua orang diantara mereka telah berusaha mengejar Sambi Wulung dan Jati
Wulung, namun ternyata kedua buruan itu berlari lebih kencang dari mereka. Sambi
Wulung dan Jati Wulung berlari menyusuri jalan panjang itu menuju ke padukuhan.
Orang-orang yang mengejarnya telah mengerahkan tenaga mereka pula. Namun
ternyata bahwa jarak diantara mereka semakin lama justru menjadi semakin
panjang, sehingga akhirnya kedua orang yang mengejarnya itu melepaskan
harapannya untuk dapat menangkap mereka.
Karena itu, maka kedua orang yang mengejarnya itu akhirnya telah berhenti.
Sambil mengumpat-umpat mereka akhirnya kembali kepada pemimpin mereka.
Ternyata pemimpin mereka telah marah bukan buatan. Hampir saja ia telah memukul
orang-orangnya. Untunglah ia masih dapat menahan diri.
" Kedua orang itu akan menyebarkan berita ini " geram pemimpinnya " seharusnya
orang-orang Tanah Perdikan itu menemukan orang-orangnya mati tanpa diketahui
siapakah yang membunuh mereka. Kita telah belajar bagaimana membunuh seseorang
dengan meninggalkan kesan bahwa orang itu telah dikoyak-koyak serigala. "
" Jika keduanya mau berlutut, maka kita akan dapat dengan mudah mengoyak
lehernya dan menghunjamkan kuku-kuku besi kita sebagaimana gigi serigala. Tetapi
orang itu tidak mau melakukannya, sehingga kita harus membunuhnya dengan cara
apapun juga. " jawab salah seorang diantara keduanya.
" Kau bodoh. " geram pemimpinnya " kita akan dapat memberikan kesan kematian
dengan cara yang kita kehendaki itu. Seandainya tidak, dengan cara apapun orang
itu ternyata tidak dapat kahan tangkap. Apalagi kalian bunuh. "
Kedua orang pengikutnya itu hanya dapat menundukkan kepalanya. Namun pemimpinnya
akan berkata " Sudahlah. Kita akan berusaha disisi lain dari Tanah Perdikan ini.
Mungkin kita memang tidak perlu meninggalkan kesan serigala itu. Dengan cara
apapun kita harus mulai menakut-nakuti orang-orang Tanah Perdikan yang sombong
ini. Tetapi harus kita sadari, apa yang terjadi ini besok tentu sudah tersebar
diseluruh Tanah Perdikan, karena Tanah Perdikan Sembojan mempunyai jaring-jaring
hubungan yang tertib antara padukuhan-padukuhan. Akupun berani bertaruh, besok
semua pengawal Tanah Perdikan itu tentu sudah dikerahkan. Dengan demikian tugas
kita akan bertambah berat dan kita harus lebih bersabar. "
Kedua orang pengikutnya masih tetap berdiam diri.
Sementara itu pemimpinnya berkata " Pada suatu saat, kita harus merayap memasuki
padukuhan. "
Akhirnya ketiga orang itupun telah meninggalkan tempatnya berjalan kembali
kearah bukit. Mereka tidak mengharapkan lagi akan bertemu dengan seseorang atau
lebih yang akan dapat dijadikan korban. Merekapun pada kesempatan pertama telah
gagal untuk memberikan kesan sekelompok serigala yang telah menyerang para
petani Tanah Perdikan Sembojan, karena kedua orang yang disangkanya petani itu
sempat melarikan diri.
Dalam pada itu, Sambi Wulung dan Jati Wulungpun ternyata tidak segera memasuki
padukuhan. Demikian kedua orang yang mengejar mereka itu berhenti, maka
merekapun telah berusaha untuk menyelinap dan menyusuri pematang kembali menemui
kedua orang petani yang ada didalam gubugnya.
" Kami persilahkan kalian pulang " minta Sambi Wulung.
" Kami belum sempat mengairi sawah kami. Sebentar lagi kami akan mendapat
giliran itu " jawab salah seorang dari mereka.
Tetapi Sambi Wulung berkata " Aku minta dengan sangat kalian pulang bersama
kami. Biarlah kita agak mendahului saat kau membuka pematang. Bukankah waktunya
hanya kurang sedikit? "
" Tetapi kami belum mendengar ayam berkokok untuk yang kedua kalinya " jawab
salah seorang diantara para petani itu.
" Sebentar lagi " jawab Sambi Wulung " mari,buka pematangmu dan kita tinggalkan
kembali ke padukuhan. Sesuatu telah terjadi. Kau pada saatnya akan
mengetahuinya. "
Kedua orang itu tidak membantah. Merekapun menjadi berdebar-debar. Karena itu,
maka keduanyapun telah turun dari gubug mereka dan mulai membuka pematang untuk
mengalirkan air kedalam sawah. Karena kedua orang itu memiliki sawah yang
terletak bersebelahan dari parit itu, maka mereka dapat bersama-sama
menghentikan air parit yang mengalir kesawah dibagian bawah dan mengambilnya
dengan mengalirkannya kedalam sawah mereka sebelah menyebelah. Tetapi karena
waktunya masih kurang sedikit, maka keduanya tidak menghentikan sepenuhnya
aliran air diparit itu. Sebagian kecil dari air parit itu masih mengalir terus,
sehingga seandainya kotak sawah yang terdahulu masih belum penuh, air itu akan
dapat menambahnya serba sedikit.
Demikianlah, maka kedua orang petani itupun telah bersama-sama dengan Sambi
Wulung dan Jati Wulung kembali ke padukuhan.
Malam itu juga Sambi Wulung dan Jati Wulung telah berbicara dengan para pemimpin
Tanah Perdikan, terutama yang bersangkutan. Ia telah berbicara dengan pemimpin
pengawal dan pemimpin petugas sandi.
Dengan singkat Sambi Wulung dan Jati Wulung telah menceriterakan apa yang telah
dialaminya.
" Kami telah lari dari mereka " berkata Sambi Wulung.
" Apakah mereka berilmu sangat tinggi? " bertanya pemimpin pengawal Tanah
Perdikan itu.
" Tidak. Tetapi bukankah kita belum siap untuk berhadapan langsung dengan
mereka? " sahut Sambi Wulung.
" Kita sudah siap. Kapan saja kita harus bergerak, maka kita tidak akan
mengecewakan. " jawab pemimpin pasukan pengawal itu.
" Tetapi Nyi Wiradana masih mengalami pengobatan. " jawab Sambi Wulung.
" Kita akan bergerak bersama Ki Sambi Wulung dan Ki Jati Wulung. Aku kira
kekuatan kita cukup besar menghadapi gerombolan yang betapapun besarnya. " jawab
pemimpin pengawal itu.
" Tetapi dapat terjadi kemungkinan lain. Jika gerombolan itu gerombolan Warsi,
ia akan dapat menantang lagi perang tanding. Itulah yang harus kita tunggu
sampai Nyi Wiradana siap melayaninya "
" Jadi apa yang sebaiknya kita lakukan? " bertanya pemimpin pasukan pengawal
itu.
" Hubungi setiap pemimpin pengawal disetiap padukuhan. Sebarkan perintah, untuk
sementara tidak seorangpun dibenarkan keluar dari padukuhan dimalam hari. Bahkan
disiang haripun jangan hanya dua atau tiga orang. Letakkan kentongan-kentongan
kecil digubug-gubug. Perondaan harus lebih sering dilakukan. Sementara dimalam
hari, setiap padukuhan menjadi padukuhan tertutup. " berkata Sambi Wulung.
" Apakah kita hanya akan bertahan seperti itu didalam padukuhan tanpa bergerak
keluar dimalam hari? " bertanya pemimpin pasukan pengawal itu.
" Hanya untuk dua tiga hari ini. Mudah-mudahan pengobatan itu selesai dan kita
dapat bergerak dengan sepenuh kekuatan. Bahkan seandainya ada tantangan perang
tandingpun tidak akan mengorbankan harga diri bukan saja pemimpin Tanah Perdikan
ini, tetapi seluruh rakyat Sembojan. " jawab Sambi Wulung.
" Tetapi bukankah tantangan perang tanding itu dapat diminta untuk ditunda untuk
beberapa waktu? " bertanya pemimpin pasukan khusus.
" Penundaan itu sudah mempengaruhi harga diri seseorang " jawab Sambi Wulung.
Pemimpin pengawal itu mengangguk-angguk. Agaknya Sambi Wulung dan Jati Wulung
masih belum ingin melakukan benturan terbuka dengan orang-orang yang nampaknya
memang mulai menyentuh ketenangan Tanah Perdikan Sembojan.
Namun dengan demikian, maka pemimpin pengawal itu telah mendapat perintah untuk
meningkatkan kekuatan para pengawal meskipun terbatas didalam lingkungan
padukuhan masing-masing.
" Kita akan melindungi setiap orang di Tanah Perdikan ini " berkata Sambi Wulung
" meskipun kita masih bersiap-siap didalam lingkungan sendiri, tetapi jika
mereka memasuki padukuhan, apaboleh buat. "
Pemimpin pengawal itu mengerti maksud Sambi Wulung. Langkah-langkah yang
diambilnya adalah bertahan tanpa memancing gerakan yang lebih besar dari
orang-orang yang memang berniat untuk mengacaukan Tanah Perdikan itu. Bukan saja
topeng-topeng kecil yang menja di rangkap, tetapi juga mereka telah mulai
menyerang. Untunglah bahwa yang diserang pertama kali adalah Sambi Wulung dan
Jati Wulung, sehingga korban tidak jatuh karenanya.
Demikianlah, maka malam itu juga segala persiapan telah dilakukan oleh pemimpin
pengawal itu. Karena itu, menjelang fajar, disaat langit mulai terang, maka para
pengawal telah tersebar keseluruh padukuhan di Tanah Perdikan Sembojan yang
besar itu. Semua pemimpin pengawal di padukuhan-padukuhan telah dipanggil.
Demikian pula setiap petugas sandi yang tersebar di padukuhan-padukuhan harus
datang pula ke rumah Ki Gede. Tetapi kedua pemimpin itu telah membagi waktu
sehingga tidak bersamaan.
Pemimpin pengawal itupun telah memerintahkan untuk menyebarkan perintah
sebagaimana dimaksudkan oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung.
" Bagaimanapun juga hubungannya dengan mengairi sawah, maka perinah itu harus
diikuti " perintah pemimpin pengawal itu " karena hubungannya dengan keselamatan
jiwa seseorang. "
Selanjutnya pemimpin pengawal itupun memerintahkan agar para pengawal berada
dalam kesiagaan tertinggi, tetapi tertutup. Untuk sementara mereka hanya
bergerak didalam dinding padukuhan masing-masing. Meskipun demikian jika perlu,
maka sebuah padukuhan dibenarkan untuk membunyikan isyarat, memanggil bantuan
jika keadaan memaksa.
Seperti yang dikatakan Sambi Wulung pemimpin pengawal itu berkata " Kita harus
melindungi setiap jiwa Demikianlah, maka perintah itupun dalam waktu yang cepat
telah tersebar ke setiap padukuhan. Para pemimpin pengawal telah mendatangi
setiap rumah, memasuki setiap halaman dan menemui setiap keluarga untuk
menyampaikan perintah itu.
Beberapa orang memang merasa berkeberatan mula-mula. Jika mereka tidak keluar
malam, maka mereka tidak akan dapat mengairi sawah mereka. Namun pemimpin
pengawal di padukuhan itu berkata " Kita harus menata kembali pembagian air
untuk waktu pendek ini, sehingga disetiap saat memasuki senja, kita tidak lagi
berada disawah. Bagi mereka yang belum mengairi sawahnya, maka menjelang senja
dapat membuka pintu air dipematang tanpa menutup air itu sehingga yang lain yang
seharusnya membuka air ditengah malam atau sesudahnya akan dapat membasahi
sawahnya pula. "
" Tetapi tanaman kami tidak akan dapat menjadi subur " jawab seorang petani yang
keras kepala.
" Soalnya adalah keselamatan jiwa " jawab pemimpin pengawal di padukuhan itu "
sementara itu, keadaan ini hanya berlaku untuk waktu yang sangat pendek. "
Petani yang keras kepala itu tidak menjawab lagi.
Dalam pada itu, menjelang siang hari, yang berkumpul di rumah Kepala Tanah
Perdikan Sembojan adalah para petugas sandi. Mereka membicarakan pengawasan yang
lebih bersungguh-sungguh lagi terhadap orang-orang yang tidak dikenal. Jika kita
melindungi setiap orang Tanah Perdikan ini dimalam hari, maka jangan terjadi
sesuatu disiang hari atas orang-orang kita. Apalagi justru ditempat-tempat yang
ramai seperti di pasar dan lain-lain.
Bukan hanya pasar di padukuhan indtik, tetapi juga dipasar-pasar sepekan di
padukuhan-padukuhan. Juga ditempat-tempat lain yang banyak dikunjungi orang.
Seperti yang diduga oleh orang-orang yang gagal membunuh Sambi Wulung dan Jati
Wulung, maka Tanah Perdikan Sembojan memang sudah siap. Tetapi yang tidak mereka
duga adalah bahwa kesiagaan itu adalah kesiagaan tertutup, sehingga tidak dengan
mudah dapat dilihat oleh orang luar.
Pada hari itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah mendapat kesempatan yang
pendek untuk berbicara dengan Kiai Badra. Dengan singkat, ia telah melaporkan
apa yang dialaminya dan langkah-langkah yang telah diambilnya.
" Kau sudah mengambil langkah-langkah yang benar " berkata Kiai Badra "
sementara itu, Iswaripun telah sampai kepuncak. Hari ini ia menyerap ilmu
tertinggi yang mampu kami susun, sementara besok ia akan mengalami pati-geni.
Besok malam baginya adalah puncak dari segala-galanya dalam penyadapan ilmu
sejauh dapat kami siapkan baginya. Menurut perhitungan kami, besok kita masih
belum memasuki bulan purnama. Masih ada waktu ampat hari lagi. "
" Ya Kiai " jawab Sambi Wulung " orang-orang itu agaknya telah mengambil
ancang-ancang sekitar sepuluh hari menjelang purnama. "
" Tetapi bukankah sampai hari ini masih tidak ada tantangan perang tanding itu?
" bertanya Kiai Badra.
" Sampai hari ini belum, Kiai " jawab Sambi Wulung.
Kiai Badra mengangguk-angguk. Iapun kemudian berpesan kepada Sambi Wulung "
Berhati-hatilah. Kau harus dapat mencari jalan terbaik sampai saatnya Iswari
menyelesaikan ilmunya besok malam. "
Dengan pesan itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung memang harus semakin
berhati-hati. Ia harus mempertahankan suasana dalam waktu dua hari menjelang
Iswari keluar dari sanggar. Namun setelah itu, Iswari tentu masih memerlukan
waktu untuk memulihkan kekuatan wadagnya barang satu dua hari.
Ketika kemudian malam tiba, maka rasa-rasanya seisi Tanah Perdikan menjadi
gelisah. Namun para pengawal yang bersiap sepenuhnya telah berada didalam
gardu-gardu sebagaimana anak-anak muda yang meronda. Memang tidak kelihatan
kesiagaan pasukan, tetapi dalam keadaan tertentu, semuanya dapat bergerak dengan
cepat.
Apalagi padukuhan-padukuhan yang terletak dibagian Timur Tanah Perdikan. Mereka
memang merasa terganggu oleh suara anjing hutan yang menggonggong sepanjang
malam tanpa henti-hentinya.
Dalam pada itu, ketika dua orang pengawal yang berjalan dijalan padukuhan
melihat petani yang keras kepala itu berdiri diregol halaman rumahnya menjelang
saat sepi uwong, seorang diantara mereka memperingatkan " Jangan kau langgar
perintah itu demi keselamatan sendiri. "
" Tetapi apakah air yang mengalir untuk beberapa kotak sawah sekaligus itu akan
dapat memenuhi kebutuhan tanaman di sawahku. " bertanya petani itu.
" Bukankah tidak jauh berbeda. Memang air yang mengalir masuk ke kotak sawahmu
hanya sedikit. Tetapi semalam suntuk. Sedangkan biasanya air yang mengalir
kesawahmu deras, tetapi hanya sebentar karena harus bergantian. " jawab pengawal
itu.
" Memang tidak banyak bedanya. Tetapi rasa-rasanya tidak puas dengan aliran air
yang sedikit itu. Sebagaimana kita minum, setitik-setitik itu tidak akan dapat
menghilangkan perasaan haus kita. " berkata petani itu.
" Sudahlah. Bukankah hal ini hanya berlaku untuk waktu yang pendek. Mungkin dua
tiga hari, mungkin sepekan dan agaknya tidak akan lebih dari itu. " berkata
pengawal itu.
" Omong kosong " jawab petani itu " jika bahaya yang mengancam Tanah Perdikan
ini masih saja ada, maka bukankah peraturan untuk tidak keluar malam dari
padukuhan itu masih berlaku? "
Kedua pengawal itu saling berpandangan. Seorang yang lain tiba-tiba saja
membentak " Kau jangan keras kepala seperti itu. Kami bermaksud baik. Jika kau
melanggarnya, maka akibatnya akan tertimpa kepada dirimu.
Bukan kepada aku, atau orang lain. "
Kedua orang pengawal itupun kemudian telah meninggalkannya. Petani yang keras
kepala itu termangu-mangu sejenak. Namun rasa-rasanya ia tidak puas dengan
keadaan sawahnya. Ia memang telah membuka pematang. Tetapi karena beberapa kotak
sawah akan diairi bersama-sama, maka tentu air yang mengalir ke kotak sawahnya
hanya kecil saja.
Meskipun demikian, betapapun ada dorongan didalam dirinya untuk melihat
sawahnya, ia masih juga ragu-ragu.
" Tetapi mereka hanya menakut-nakuti saja " gumamnya.
Untuk beberapa lama ia masih saja berada di regol halamannya. Diluar sadarnya,
ia telah berpaling memandangi pintu rumahnya yang tertutup. Tidak ada orang lain
dirumah itu. Isterinya telah pulang kerumah orang tuanya sejak dipukulinya
beberapa pekan yang lalu. Ayahnya yang tua sama sekali tidak betah tinggal
dirumah itu, sehingga ia lebih senang tinggal bersama anak perempuannya.
Sementara itu dalam perkawinannya yang telah berlangsung tujuh tahun, petani itu
belum dikurniai seorang anakpun. Bahkan disaat-saat terakhir, telah timbul
niatnya untuk kawin lagi. Bukan hanya karena ia tidak mempunyai anak dengan
isterinya yang pertama, tetapi perempuan yang diinginkannya itu adalah seorang
janda yang kaya.
Seorang janda kaya akan dapat memberinya uang cukup untuk berada di kalangan adu
jago. Atau bermain dadu atau bentuk-bentuk judi yang lain.
Namun akhirnya sejenak kemudian orang itu memutuskan " Aku akan pergi ke sawah.
Tidak akan ada apa-apa. Mereka hanya omong kosong saja. Mereka menganggap bahwa
orang-orang Tanah Perdikan yang bukan pengawal adalah penakut. "
Ternyata orang itupun kemudian telah menutup pintu regol halaman rumahnya.
Diam-diam iapun telah meninggalkan halaman itu dan berniat pergi ke sawah.
Tetapi petani yang keras kepala itu tidak mau melewati jalan induk. Ia telah
melalui jalan butulan yang tidak diawasi langsung.
Petani itu memang harus menunggu beberapa saat ketika ia melihat tiga orang
pengawal yang meronda lewat. Namun demikian pengawal itu lewat, maka dengan
serta mereka iapun telah lari ke pintu butulan. Dibukanya selarak pintu itu.
Kemudian meloncat keluar. Meskipun kemudian daun pintu regol butulan itu telah
didorong dan ditutup lagi, tetapi pintu kayu lereg itu tidak diselarak dari
dalam.
" Nanti, aku akan kembali melalui pintu ini pula. Aku akan menyelaraknya
kembali. Aku hanya ingin mengalirkan air seluruhnya kesawahku " berkata orang
itu kepada diri sendiri.
Demikian, maka diam-diam orang itu telah menyusuri pematang menuju ke sawahnya
di bulak yang menuju ke bukit. Sawah orang itu terletak tidak terlalu jauh
dengan sawah kedua orang yang dijumpai Sambi Wulung dan Jati Wulung digubugnya
dimalam sebelumnya. Namun kedua orang itu tidak ada digubugnya. Bukan hanya
karena keduanya tidak mendapat giliran air malam itu. Tetapi keduanya memang
mematuhi perintah untuk tidak keluar dari padukuhan di malam hari.
Petani yang keras kepala itu berjalan dengan tergesa-gesa di pematang. Ketika ia
menengadahkan wajahnya, dilihatnya cahaya bulan yang kuning cerah meskipun bulan
masih belum bulat.
" Semua omong kosong " geram petani itu " tidak ada apa-apa disini. "
Namun tengkuknya memang meremang ketika ia mendengar suara anjing hutan
dikejauhan.
" Anjing hutan itu ada dibalik bukit " gumamnya. Namun hatinya menjadi tenang
ketika ia melihat gubug ditengah sawah. Katanya kepada diri sendiri " Jika aku
meloncat naik ke gubug itu, betapapun banyaknya anjing hutan tidak akan dapat
menyerang aku. "
Petani itupun kemudian telah sampai ke parit yang mengalir tidak begitu deras.
Beberapa pematang yang seharusnya bergilir telah dibuka semuanya. Sehinga airpun
telah terbagi menjadi beberapa bagian.
Meskipun menurut perhitungan, jika air yang terbagi itu mengalir semalam suntuk,
kotak sawahnya akan cukup basah pula, namun ia lebih senang air itu mengalir
dengan deras ke kotak sawahnya. Baru ke kotak sawah orang lain.
Karena itu, maka ia telah menutup beberapa pematang yang terbuka, sehingga air
sepenuhnya telah mengalir ke kotak sawahnya. Ia telah menutup pula parit itu
sehingga tidak mengalir terus kebawah. Dengan demikian maka air di parit itu
seluruhnya mengalir ke kotak sawahnya.
" Tidak lama kotak sawah itu tentu akan segera penuh " berkata petani itu
didalam hatinya.
Ketika ia melihat gubug di sebelah itu kosong, maka petani itupun telah naik
kegubug itu sambil bergumam " Pemiliknya tidak berani turun kesawah malam ini
akibat perintah itu. Tetapi pemilik gubug ini juga tidak mendapat giliran malam
ini mengairi sawahnya. "
Beberapa saat ia berada di gubug itu. Gonggong anjing hutanpun rasa-rasanya
menjadi semakin dekat. Tetapi petani yang justru berbaring digubug itu merasa
dirinya cukup aman, karena anjing hutan tidak akan dapat mencapainya.
Malam itu di padukuhan-padukuhan di Tanah Perdikan memang terasa sepi.
Kegelisahan ternyata sudah mulai menyelimuti Tanah Perdikan itu. Perintah untuk
tidak keluar dari padukuhan memang membuat setiap orang bertanya-tanya, apa yang
dapat terjadi atas mereka, jika mereka melanggar perintah itu.
Jika ayam jantan berkokok dipagi hari menjelang fajar, maka rasa-rasanya setiap
orang dapat mulai menarik nafas lega. Sebentar lagi mereka tidak terkungkung
lagi oleh ketentuan untuk tidak keluar dari padukuhan. Mereka, terutama yang
dimalam hari mengairi sawahnya ingin segera pergi ke sawah untuk melihat, apakah
cara yang mereka tempuh cukup membasahi kotak-kotak sawah mereka.
Karena itulah maka pagi-pagi mereka sudah bersiap- siap. Demikian regol
padukuhan dibuka disaat langit mulai terang, maka beberapa orang telah keluar
dari padukuhan mereka sambil membawa cangkul dan parang menuju ke sawah mereka
masing-masing.
Mereka adalah orang-orang yang kebetulan mempunyai kotak-kotak sawah yang
berdekatan.
Namun beberapa saat kemudian bukan saja padukuhan itu, tetapi seluruh Tanah
Perdikan menjadi gempar. Para penghubung berkuda dengan cepat telah membawa
berita. Seorang petani telah terbunuh dipematang, dikoyak-koyak oleh anjing
liar.
Berita itu cepat pula sampai ketelinga Sambi Wulung dan Jati Wulung. Keduanya
tidak menunggu lagi. Bersama pemimpin pengawal dan pemimpin pasukan sandi
keduanya telah berpacu diatas punggung kuda menuju ketempat peristiwa yang
mengerikan itu terjadi.
Orang-orang yang berkerumun dibawah perlindungan pasukan pengawal yang dengan
cepat sampai ketempat itu, telah mengambil kesimpulan bahwa orang itu telah
dibunuh oleh sekelompok anjing hutan yang lapar.
Tetapi ketika Sambi Wulung dan Jati Wulung sampai ketempat itu, ia tidak
langsung percaya. Pemimpin pengawal dan pemimpin pasukan sandi itupun dengan
cepat mengambil kesimpulan serupa. Apalagi menilik kerusakan tanaman disekitar
tempat kejadian.
Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung yang telah mempunyai pengalaman tersendiri
itupun berusaha untuk menemukan sesuatu yang lain daripada pendapat kebanyakan
orang.
Karena itu, maka keduanya tidak sekedar mengamati lingkungan dekat dengan letak
tubuh yang terbunuh itu. Tetapi keduanya telah melihat-lihat keadaan agak jauh
pula dari tempat itu.
" Bukan anjing hutan " desis Sambi Wulung.
Jati Wulung mengangguk. Tetapi keduanya sependapat, bahwa untuk sementara
keduanya masih harus berdiam diri.
Demikianlah, maka tubuh yang terkoyak itupun telah dibawa kembali ke padukuhan.
Betapapun jauhnya jarak antara orang itu dengan isteri dan ayahnya, namun
keduanya telah menangisinya pula.
Dua orang pengawal yang menemuinya semalam diregol rumahnya telah melaporkan
pula kepada pemimpin pengawal yang sehari itu berada dipadukuhan itu bahwa
keduanya sudah berusaha mencegahnya.
" Ternyata regol butulan terbuka. Meskipun daun pintunya tertutup, tetapi tidak
diselarak lagi. Agaknya orang itu telah keluar dari padukuhan lewat regol
butulan itu. " lapor pengawal itu.
" Memang mengerikan sekali " geram Sambi Wulung. Lalu katanya " Perintah harus
diperketat. Mudah-mudahan peristiwa ini dapat menjadi peringatan kepada
orang-orang Tanah Perdikan Sembojan, bahwa bahaya anjing hutan itu juga tidak
dapat dianggap isapan jempol semata-mata. Bahkan para pengawal harus tahu benar.
Jika anjing liar itu kelaparan, maka mereka tentu akan berani memasuki padukuhan
untuk mencuri ternak atau bahkan membunuh orang. "
Pemimpin pengawal itupun dengan cepat telah memanggil semua pemimpin pengawal
padukuhan di Tanah Perdikan. Mereka telah mendapat penjelasan dan bahkan contoh
apa yang dapat terjadi jika perintah itu diabaikan.
" Kita semuanya harus menyadari, bahwa ada beberapa jenis bahaya yang mengancam
kita. Mungkin sekelompok penjahat, tetapi ternyata juga sekelompok anjing hutan.
" berkata pemimpin pengawal itu. Lalu katanya " Tetapi untuk sementara kita akan
bertahan didalam padukuhan kita masing-masing. "
" Korban telah jatuh " berkata seorang pemimpin pengawal padukuhan " apakah kita
masih harus berdiam diri? "
" Apa yang dapat kita lakukan selain bertahan? " bertanya pemimpin pengawal itu
" apakah kita akan menyerang keseberang bukit, tempat anjing liar itu bersarang?
Atau kita akan memasuki setiap Kademangan disekitar Tanah Perdikan ini untuk
mencari orang-orang jahat yang mulai membayangi Tanah Perdikan kita? "
Para pemimpin pengawal di padukuhan-padukuhan itu mengangguk-angguk. Mereka
memang belum mempunyai bahan, yang cukup untuk mengambil langkah-langkah. Karena
itu, maka yang dapat mereka lakukan dalam waktu dekat itu memang hanya bertahan
di padukuhan masing-masing.
" Tetapi pasukan di padukuhan induk telah menyiapkan kelompok pengawal berkuda
yang akan dapat memberikan bantuan dengan segera ke padukuhan-padukuhan yang
memerlukan. Meskipun kita tidak memiliki kuda yang baik, namun dengan kuda-kuda
kita, agaknya akan dapat dilakukan gerakan yang lebih cepat dari sekedar
berjalan kaki. " berkata pemimpin pengawal itu.
Dengan demikian maka Tanah Perdikan memang tidak dapat menghadapi persoalan yang
timbul itu dengan tenang-tenang saja. Namun orang-orang Tanah Perdikan itu
memang percaya, bahwa salah seorang diantara mereka telah terbunuh oleh
sekelompok anjing liar, sehingga jika mereka tidak keluar dari padukuhan, maka
mereka tentu tidak akan mengalaminya.
Hari itu juga telah diselenggarakan penguburan orang yang telah menjadi korban.
Sementara Sambi Wulung dan Jati Wulung meninggalkan padukuhan itu setelah
memberikan beberapa pesan setelah penguburan selesai bersama dengan pemimpin
pasukan pengawal dan pemimpin petugas sandi di Tanah Perdikan itu.
Di padukuhan induk,pengawalan memang diperkuat. Terutama dirumah Kepala Tanah
Perdikan. Hari itu Iswari akan melakukan pati geni, sehari penuh. Dan dimalam
harinya dalam keadaan pati geni ia akan melakukan pemusatan nalar budi. Dalam
samadi itulah segala sesuatu yang telah diserapnya akan menyatu dengan dirinya.
Dengan demikian, Iswari akan mengakhiri penempaan dirinya besok saat fajar
menyingsing. Tetapi ia masih harus memulihkan keadaan wadagnya barang satu dua
hari. Pada saat yang demikian ketiga gurunyapun tentu dalam keadaan yang sangat
letih pula.
Orang-orang yang tidak mengikuti perkembangan peningkatan ilmu Nyi Wiradana
memang tidak merasa terlalu tegang. Mereka merasa cukup aman jika mereka tidak
keluar dari padukuhan. Anjing-anjing liar itu tentu tidak akan memasuki
padukuhan. Seandainya demikian, maka semua orang di padukuhan itu tentu akan
menghalau mereka dan membunuh anjing-anjing liar itu sebanyak-banyaknya.
Tetapi dalam pada itu, terdengar pula bisik-bisik beberapa orang, bahwa
anjing-anjing liar itu bukan anjing sewajarnya.
" Anjing jadi-jadian " berkata seseorang. Tetapi yang diajak berbicara itu
menjawab " Jangan mengigau seperti itu. Tidak ada anjing jadi-jadian. "
" Terserah jika kau tidak percaya " berkata orang yang pertama " seorang tua
mengatakan bahwa dibalik bukit itu terdapat sebuah goa tempat tinggal seorang
pertapa. Nah, pertapa itulah yang dapat menciptakan anjing hutan jadi-jadian
itu. "
Kawannya termangu-mangu. Tetapi ia tidak menjawab.
Namun dalam pada itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung benar-benar merasa tegang. Ia
merasa mempunyai tanggung jawab yang sangat berat. Jika pada malam terakhir,
disaat Iswari bersamadi itu, padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan diserang
oleh sekelompok pengikut Warsi, maka keadaan akan menjadi sulit. Apalagi jika
diantara mereka terdapat Warsi sendiri, Ki Rangga Gupita dan Ki Randukeling.
Apalagi jika orang yang disebut guru Puguh itu ikut pula. Maka agaknya para
pengawal termasuk Sambi Wulung dan Jati Wulung akan mengalami kesulitan.
Sementara mereka yang berada didalam sanggar keadaan wadagnya masih terlalu
lemah oleh keletihan karena kerja keras mereka.
Karena itulah, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung telah memerintahkan para
pemimpin terpilih di Tanah Perdikan berada di rumah Kepala Tanah Perdikan.
Sedangkan Bibi yang menyatakan keinginannya untuk mengunjungi Risangpun telah
ditahan pula oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung.
" Kau boleh pergi setelah semuanya selesai " berkata Sambi Wulung.
" Aku sudah rindu kepada anak itu. Ia tentu kesepian sendiri " berkata Bibi.
" Gandar ada disana. Ia akan dapat membuat kesibukan-kesibukan yang berarti bagi
Risang. " jawab Sambi Wulung. *
Bibi tidak memaksa. Ia tahu keadaan Tanah Perdikan yang gawat, sehingga karena
itu, maka iapun merasa wajib untuk tinggal.
Sehari-semalam Sambi Wulung, Jati Wulung berada dalam ketegangan. Setiap saat ia
berusaha untuk mendapat laporan dari para petugas sandi.
Namun tidak ada sesuatu yang perlu mendapat perhatian secara khusus. Kehidupan
sehari-hari berjalan seperti biasa. Namun ditempat-tempat tertentu para pengawal
bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan, meskipun sebagian besar dari
pengawal tidak berkeliaran, di jalan-jalan. Anak-anak mudapun telah mendapat
pesan untuk bersiaga. Dalam keadaan yang memaksa, mereka akan dipanggil dan akan
melibatkan diri dalam kekerasan yang dapat terjadi setiap saat.
Ketika malam turun, maka semua orang Tanah Perdikan benar-benar tidak ada yang
berani keluar dari gerbang padukuhan. Tetapi mereka agaknya tidak ingin segera
tidur. Karena itu, kecuali anak-anak muda yang berada di gardu-gardu, maka
hampir semua orang laki-laki berada diluar rumah. Mereka duduk-duduk dimuka
regol tetangga, atau disimpang-simpang ampat didalam padukuhan. Namun mereka
berpesan kepada isteri dan anak-anak yang ada dirumah untuk menyelarak pintu.
" Aku takut kakang " seorang perempuan mencoba mencegah suaminya yang keluar.
" Jangan takut. Di jalan-jalan, digardu-gardu, disimpang-simpang jalan dan
dimana-mana berkeliaran orang-orang padukuhan ini. Semuanya bersenjata, sehingga
tidak seekor serigalapun akan akan dapat lolos dari maut jika sekelompok
diantara mereka memasuki padukuhan ini. " berkata suaminya. Namun katanya pula "
Meskipun demikian, tutup pintu rapat-rapat. Jika terjadi sesuatu, pukul
kentongan kecil itu. Aku ada diregol bersama beberapa tetangga yang nampaknya
juga tidak dapat segera tidur.—
Isterinya mengangguk. Demikian suaminya keluar, maka pintupun segera ditutup
rapat-rapat dan diselarak dari dalam. Bahkan perempuan itu sempat melihat semua
pintu rumahnya, apakah semuanya sudah di selarak kuat-kuat.
Di padukuhan induk, Sambi Wulung dan Jati Wulung sama sekali tidak beranjak dari
tugas mereka mengikuti perkembangan keadaan. Di halaman rumah Kepala Tanah
Perdikan Sembojan terdapat beberapa ekor kuda yang siap dipergunakan. Demikian
pula para pengawal berkuda selalu berada dalam kesiagaan tertinggi. Senjata
mereka tidak terpisah dari tubuh mereka. Setiap saat jika terdengar isyarat,
maka merekapun siap meloncat kepunggung kuda masing-masing.
Didalam sanggar suasananya justru sangat hening. Iswari duduk bersila. Kedua
telapak tangannya mengatup dadanya. Di belakangnya, ketiga orang gurunya duduk
pula bersamadi dengan sikap yang sama.
Iswari malam itu telah berada didalam puncak laku dalam usahanya mematangkan
ilmu yang diterimanya dari ketiga gurunya, Janget Kinatelon.
Justru karena itulah maka Sambi Wulung dan Jati Wulung benar-benar merasa
bertanggung jawab. Bukan saja atas Tanah Perdikan Sembojan yang diserahkan
pengamatannya kepadanya, tetapi juga bertanggung jawab atas keselamatan Iswari
dan ketiga orang gurunya yang berada didalam sanggar.
Bukan saja Sambi Wulung dan Jati Wulung, ternyata Bibipun tidak beranjak dari
dapur. Dua orang pembantu perempuan telah tertidur nyenyak di amben yang cukup
besar didapur itu. Namun Bibi masih saja duduk bersandar dinding. Sekali-sekali
matanya memang terpejam dan rasa-rasanya kesadarannya hilang untuk sesaat.
Tetapi setiap kali iapun telah tergagap dan mencoba untuk mengusir kantuknya.
Ia memang sudah agak lama tidak mengunjungi Risang. Tetapi ia sadar, bahwa ia
harus berada di Tanah Perdikan pada saat seperti itu.
Yang memberi sedikit ketenangan kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung adalah bahwa
bulan masih belum bulat dilangit. Tetapi meskipun demikian segala kemungkinan
dapat terjadi.
" Mudah-mudahan apa yang dilakukan oleh Iswari tidak tercium oleh mereka "
berkata Sambi Wulung didalam hatinya.
Lewat tengah malam, orang-orang Tanah Perdikan berharap bahwa disisa malam itu
tidak akan terjadi sesuatu. Orang-orang yang semula berada disimpang-simpang
ampat, di regol-regol halaman rumah, telah pulang kerumah masing-masing. Namun
merekapun telah menutup setiap pintu rapat-rapat.
Tetapi mereka percaya bahwa anak-anak muda di gardu-gardu tidak akan lengah.
Bahkan mereka bergantian akan meronda mengelilingi padukuhan meskipun semua
pintu di regol padukuhan telah ditutup rapat-rapat. Regol-regol butulanpun telah
diselarak, sehingga padukuhan mereka benar-benar telah menjadi padukuhan
tertutup.
Dalam keheningan sisa malam lewat tengah malam, suara gonggong anjing hutan yang
terdengar dari beberapa padukuhan di ujung Timur Tanah Perdikan itupun
rasa-rasanya terdengar semakin dekat. Anjing-anjing hutan itu seolah-olah telah
berada diluar dinding padukuhan. Bahkan beberapa kali rasa-rasanya anjing-anjing
hutan itu telah berusaha untuk menerobos masuk lewat regol butulan. Ketika dua
orang peronda lewat sebuah pintu butulan, maka terdengar pintu itu bagaikan
diguncang dari luar. Ketika keduanya mendekat maka gonggong anjingpun telah
terdengar dengan garangnya.
Kedua orang peronda itu termangu-mangu. Namun mereka tidak mau terpancing untuk
membuka pintu butulan itu dan mencoba menghalu anjing-anjing liar itu. Namun
keduanya justru bertindak dengan sangat berhati- hati. Keduanya menunggu
beberapa saat dengar sabar.
Namun pedang mereka telah terhunus ditangan.
Ternyata beberapa saat kemudian telah lewat pula dua orang peronda yang lain.
Ketika keduanya melihat dua orang kawannya melangkah mendekati mereka, maka
merekapun segera memberi isyarat.
Kedua orang yang meronda kemudian itupun mendekat. Merekapun segera mendengar
gonggong anjing hutan yang garang.
" Tentu tidak terlalu banyak " berkata peronda yang datang kemudian.
" Nampaknya memang demikian, tetapi kita harus berhati-hati. Anjing hutan
mempunyai naluri yang sangat tajam. Jika mereka menemukan mangsanya, maka
seolah-olah mereka dapat memanggil kawan-kawannya dengan gonggongannya yang
khusus. " jawab kawannya yang datang lebih dahulu.
" Aku akan melihatnya " berkata salah seorang dari yang datang kemudian.
" Tidak perlu. Berbahaya. " jawab yang dahulu.
" Kita tidak akan membuka pintu regol butulan ini. Aku akan memanjat dan melihat
dari atas. Anjing hutan itu tidak akan dapat memanjat. Sehingga sama sekali
tidak akan berbahaya bagiku. " berkata pengawal yang datang kemudian.
" Jangan " yang terdahulu masih mencoba, mencegah.
Tetapi kawannya itu tidak menghiraukannya. lapun kemudian telah bersiap-siap
untuk meloncat keatas dinding padukuhan itu, sementara kawannya masih juga
memperingatkan " Lebih baik tidak kau lakukan. Anjing hutan itu mempunyai
beberapa macam tabiat yang tidak mudah dipahami. "
Sambil tersenyum kawannya berkata " Aku ingin melihat ujud anjing-anjing hutan
itu. "
Kawan-kawannya hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu pengawal
itupun telah meloncat keatas dinding.
Namun demikian ia berada diatas dinding, maka tiba-tiba menurut penglihatannya,
seekor anjing hutan yang sangat besar telah meloncat pula, Giginya yang kuat
telah menggigit satu kakinya yang telah berada diluar dinding, dan menariknya
dengan sangat kuat.
Untunglah bahwa ia masih sempat berpegangan dengan tangannya kuat-kuat sambil
meletakkan tubuhnya pada dinding. Semenara itu ia sempat pula berteriak minta
tolong.
Ketiga orang kawannya terkejut. Merekapun dengan serta merta pula telah melompat
keatas dinding dengan pedang terhunus. Demikian mereka berada diatas dinding,
maka mereka sempat melihat dua ekor serigala yang berlari menghilang dibalik
gerumbul, sementara yang lain menggonggong agak jauh dari dinding padukuhan itu.
" Hanya tiga ekor " desis yang seorang.
Tetapi kawannya tidak sempat memperhatikannya, karena mereka sibuk menolong
pengawal yang kakinya telah terkoyak oleh gigi-gigi anjing hutan liar yang
garang itu.
" Untung kau belum terseret turun. Jika kau terjatuh, maka tubuhmu akan hancur
dikoyak-koyak oleh anjing-anjing liar itu seperti yang telah terjadi pada petani
yang telah melanggar perintah itu. " berkata seorang kawannya.
Dengan susah payah, maka tubuh yang menjadi lemah karena darah yang mengalir itu
telah diturunkan. Dengan cepat pula, pengawal yang kakinya koyak itu telah
dibawa ke banjar.
" Apa yang terjadi? " beberapa orang kemudian telah mengerumuninya.
Tiga orang pengawal yang lainlah yang kemudian berceritera, sementara orang yang
terluka itu dengan cepat telah mendapat pengobatan. Namun ternyata bahwa lukanya
cukup parah. Gigi harimau yang tajam itu benar-benar telah mengoyakkan betisnya
sehingga hampir sampai ketulang.
Peristiwa itupun dengan cepat telah sampai ke pada Sambi Wulung dan Jati Wulung.
Disaat fajar menyingsing, maka empat orang pengawal dan dua orang petugas sandi
telah menuju ke padukuhan induk berkuda. Dua orang diantara mereka telah membawa
panah sendaren. Jika terjadi sesuatu di perjalanan, maka mereka akan segera
melepaskan panah sendaren itu, sehingga bantuan akan segera berdatangan.
Terutama dari padukuhan terdekat.
Demikian Sambi Wulung dan Jati Wulung mendengar berita itu, maka mereka memang
menjadi agak kebingungan. Mereka sebenarnya ingin menyaksikan pengawal yang
hampir saja menjadi korban kedua itu. Tetapi jika mereka meninggalkan padukuhan
induk maka kemungkinan yang lebih parah akan dapat terjadi. Karena itu, maka
yang kemudian pergi ke padukuhan itu hanyalah pemimpin pengawal disertai oleh
pemimpin petugas sandi Tanah Perdikan Sembojan. Sementara itu, kesiagaan di
padukuhan induk sama sekali tidak berkurang.
Pemimpin pasukan pengawal dan pemimpin petugas sandi itu memang sependapat,
bahwa kaki pengawal itu memang dikoyak oleh gigi anjing hutan. Namun di
padukuhan induk, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah meragukannya. Bahkan mereka
berpendapat, bahwa tiga ekor anjing hutan raksasa itu tentu ada hubungannya
dengan tiga orang yang telah dijumpainya di bulak di dekat kaki bukit itu.
Dalam pada itu, dibalik bukit, diantara lereng yang curam memang terdapat sebuah
goa yang hampir tidak diketahui orang. Namun sekelompok orang ternyata justru
telah mempergunakan goa itu untuk sarang mereka.
Dari goa itu, para penghuninya memang mendengar bahwa Iswari, yang disebut Nyi
Wiradana, isteri anak Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang kemudian justru
memangku jabatan itu, sedang sakit.
" Perhatian mereka tentu tercurah kepada yang sakit itu " berkata seorang
diantara mereka " karena itu, apakah saat ini bukan kesempatan untuk menyerang?
"
Namun yang lain menjawab " Nyi Warsi masih ingin menunggu sampai purnama penuh.
" Apakah ia akan menantang perang tanding lagi? " bertanya orang pertama.
" Nyi Warsi ingin menjajagi keadaan. Kita tidak tahu keputusan terakhirnya.
Namun kita semuanya diperintahkan untuk melakukan sebagaimana direncanakan "
jawab kawannya.
Yang lain mengangguk-angguk. Mereka memang tidak akan dapat mendahului perintah
Warsi.
Tetapi tiba-tiba saja seseorang berkata " Mungkin karena Nyi Warsi tidak tahu
bahwa Iiwari sedang sakit sekarang. Jika ia datang dan mengetahuinya mungkin ia
akan menyesal "
Kawannya mengangguk-angguk. Katanya " Apakah sebaiknya kita memberikan laporan
kepadanya? "
" Agaknya itu lebih baik. Besok salah seorang dari kita akan menemui Nyi Warsi.
" desis yang lain " agaknya ia sudah siap. Namun puncak kemampuannya memang
terjadi pada saat bulan purnama. "
" Terserah kepadanya, apa yang akan dilakukan. Namun mungkin Iswari justru dapat
mempergunakan alasan untuk menunda perang tanding jika tantangan benar
diberikan, dengan alasan bahwa ia sedang sakit. " berkata yang lain pula.
" Memang mungkin. Alasan itu harus diterima. " berkata orang yang pertama "
karena itu, mungkin Nyi Warsi akan memilih cara lain. Bukan dengan perang
tanding. "
Yang lain-lain mengangguk-angguk. Tetapi mereka sepakat untuk menyampaikan
laporan bahwa Iswari sedang sakit. Ketiga orang tua-tua telah menungguinya untuk
memberikan pengobatan.
Dalam pada itu, tiba-tiba saja mereka telah berloncatan dan bersiaga menghadapi
segala kemungkinan ketika seorang pengawas telah memberikan isyarat dari depan
goa. Namun ternyata yang masuk adalah tiga orang kawannya.
" Kau tidak berhasil? " bertanya orang yang nampaknya pemimpin disarang
sekelompok orang yang ternyata pengikut Warsi itu.
Hampir berbareng ketiga orang itu menggeleng. Seorang diantara mereka berkata "
Tetapi hampir saja kami menyeret seorang anak muda yang berusaha menjenguk
keluar dari atas dinding. Demikian kakinya yang sebelah keluar, maka dengan
serta merta kaki itu telah kami koyakkan. Tetapi kami gagal menyeretnya keluar
karena ketiga orang kawannya telah datang membantunya sehingga kamipun telah
berloncatan memasuki gerumbul-gerumbul liar.
Orang yang bertugas memimpin kawan-kawannya ditempat itupun kemudian berkata "
Baiklah. Tetapi luka-luka itu sudah cukup memberikan kesan kegarangan sekelompok
anjing hutan. "
Ketiga orang yang gagal menyeret pengawal dari atas dinding itu
mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata " Besok kami akan memasuki
padukuhan itu. "
" Tetapi kalian harus sangat berhati-hati. Kalian harus mengoyak korban-korban
kalian. Bukan sebaliknya. Menurut pendapatku dibelakang dinding setiap padukuhan
itu, para pengawal tentu berkeliaran. "
Ketiga orang itu masih juga mengangguk-angguk. Seorang yang lain berkata " Kami
sudah mendapatkan beberapa pengalaman. "
Sementara itu pemimpin dari sekelompok orang itupun berkata " Tiga atau ampat
hari lagi purnama akan penuh. Saat-saat Nyi Warsi sampai kepuncak kemampuannya
yang sudah semakin meningkat. Aku kira ia tidak akan menantang perang tanding,
karena Iswari yang sakit itu akan mempunyai kesempatan untuk mengelak. Tetapi
Tanah Perdikan Sembojan harus dikacaukan dan Iswari
akan terpaksa berhadapan dengan Nyi Warsi. "
Namun orang-orang itu menyadari, bahwa untuk menyerang Tanah Perdikan Sembojan,
terutama Padukuhan induknya, maka diperlukan kekuatan yang sangat besar. Tetapi
orang-orang itu yakin bahwa mereka akan dapat melakukannya. Memancing para
pengawal sehingga mereka seakan-akan menyibak, sementara Warsi dan Ki Rangga
akan berhadapan Iswari dan orang-orang yang ada disekitarnya.
Orang-orang itupun telah mengetahui bahwa Warsi dan Ki Rangga yang menyadari
akan adanya beberapa orang berilmu di Tanah Sembojan tidak akan datang berdua
saja bersama orang-orangnya. Tetapi mereka sempat menghimpun beberapa orang yang
kecewa, yang sakit hatinya tidak akan pernah sembuh. Meskipun orang-orang itu
pada mulanya juga menentang sikap Arya penangsang dari Jipang, namun karena
kemudian yang memegang pemerintahan ternyata adalah Adiwijaya di Pajang, maka
orang-orang itu menjadi sangat kecewa, sehingga dalam perjalanan hidup mereka
yang buram, akhirnya mereka justru bergabung dengan Ki Rangga Gupita.
Tetapi ternyata Warsi datang lebih cepat dari yang mereka duga. Sebelum matahari
terbit telah datang dua orang utusan, yang memberitahukan, bahwa Warsi akan
datang hari itu juga bersama orang-orang terpenting yang akan membantunya.
Pasukannya akan datang berangsur-angsur agar tidak menarik perhatian orang
disepanjang perjalanan mereka.
" Bagus " berkata pemimpin dari orang-orang yang tinggal di goa itu " semakin
cepat semakin baik. "
Sementara itu, di Tanah Perdikan Sembojan, disaat matahari terbit, Iswari yang
pucat telah keluar dari dalam sanggar diikuti oleh ketiga orang gurunya yang
juga nampak sangat letih. Dengan wajah yang pucat, Iswaripun kemudian telah
mempersiapkan dirinya untuk mandi keramas dengan landha merang.
Seorang pembantu dirumahnya telah mempersiapkan abu merang yang direndam didalam
air. Kemudian demikian Iswari keluar dari sanggar, maka air abu merang itupun
disaringnya dan diletakkannya di pakiwan.
Iswari memang tidak langsung masuk kedalam rumahnya. Tetapi ia langsung menuju
ke pakiwan untuk mandi dan keramas.
Semalam suntuk Iswari telah mengendapkan semua kegiatan yang telah dilakukan
didalam sanggarnya dalam samadi Sehingga dengan demikian maka seakan-akan ilmu
yang diserapnya dari ketiga orang gurunya, peningkatan ilmu Janget Kinatelon itu
menjadi semakin merasuk, menyatu dan luluh didalam dirinya.
Menjelang fajar menyingsing, maka ketiga gurunya menganggap bahwa semua kegiatan
Iswari telah selesai, ketika ketiga orang gurunya yang menunggui Iswari
bersamadi seakan-akan melihat tubuh Iswari yang duduk itu terangkat dan tidak
lagi menyentuh lantai sanggar. Perlahan-lahan tubuh itu terangkat semakin
tinggi, sehingga akhirnya tubuh itu bagaikan melayang sejengkal diatas lantai
sanggar.
Iswari ternyata bertahan untuk beberapa saat dalam keadaannya. Namun kemudian
perlahan-lahan pula tubuh itu turun dan kembali berjejak pada lantai sanggar
itu. Masih dalam keadaan duduk bersilang kaki. Tetapi ternyata bahwa tubuh
Iswari menjadi sangat letih dan lemah. Seakan-akan tenaganya telah terhisap
habis dalam pemusatan nalar budinya.
Beberapa saat Iswari berada di pakiwan untuk mandi keramas. Kiai Badra, Kiai
Soka dan Nyai Soka mengawasinya dari kejauhan. Merekapun harus membersihkan diri
pula sebagaimana dilakukan oleh Iswari.
Namun sementara itu, Nyi Soka telah memerintahkan seorang perempuan pembantu
dirumah itu untuk berada didekat pakiwan. Mungkin Iswari yang letih dan lemah
itu memerlukan bantuan.
Tetapi Iswari tidak memerlukannya. Ia dapat menyelesaikannya sendiri. Tetapi
ketika ia keluar dari pakiwan, maka ia telah dibimbing oleh perempuan itu.
Ketika Iswari masuk kedalam biliknya, ternyata Bibi masih sibuk mempersiapkan
dan membersihkan bilik itu. Demikian ia melihat Iswari maka katanya " Sehari
nanti kau harus tidur nyenyak ditambah semalam suntuk agar tenagamu segera pulih
kembali. "
Iswari yang lemah itu tersenyum. Katanya " Bibi, aku minta air hangat. "
" Maksudmu minuman hangat? " bertanya Bibi.
" Ya. Tetapi air putih saja. Jangan terlalu dingin tetapi jangan terlalu panas.
" berkata Iswari.
Bibi mengangguk. Ia mengerti, Iswari baru saja melakukan pati geni. Karena itu,
maka air hangat itu tidak boleh mengganggu perutnya yang kosong.
Sambil mengambil air yang sedikit hangat, maka Bibi telah minta seorang
pembantunya membuat bubur cair. Iswari harus makan makanan yang lunak lebih
dahulu. Baru siang nanti ia dapat makan nasi seperti biasanya.
Sambi Wulung dan Jati Wulungpun telah mengetahui bahwa mereka yang berada
didalam sanggar telah selesai. Namun mereka tidak tergesa-gesa memberikan
laporan tentang keadaan Tanah Perdikan Sembojan, agar Iswari sempat mengatur
diri setelah bekerja keras beberapa hari lamanya.
Ketika matahari sepenggalah, maka ketiga orang guru Iswari itupun telah selesai
berbenah diri dan duduk diruang dalam. Mereka menyempatkan diri bersama Sambi
wulung dan Jati Wulung untuk minum dan makan bersama. Namun Iswari tidak duduk
bersama mereka. Ia benar-benar beristirahat didalam biliknya dilayani oleh Bibi.
Iswari telah meneguk beberapa teguk minuman hangat dan makan bubur cair untuk
mengisi perutnya yang kosong sama sekali setelah sehari-semalam melakukan pati
geni.
Berbeda dengan keletihan yang dialami oleh Iswari, maka ketiga orang gurunya
akan dapat dengan cepat mengatasinya. Mereka memang bekerja keras menuntun
Iswari meningkatkan ilmunya dalam pencapaian tataran tertinggi sesuai dengan
hasil yang telah dicapai oleh ketiga gurunya dalam peningkatan ilmu Janget
Kinatelon. Namun dihari terakhir mereka tidak melakukan pati geni dan tidak pula
melakukan samadi penuh sebagaimana dilakukan Iswari untuk mengendapkan, menyatu
dan meluluhkan ilmunya didalam dirinya.
Karena itu, maka ketiga orang gurunya memang sependapat untuk membiarkan Iswari
berada didalam biliknya, la benar-benar harus beristirahat penuh.
" Menjelang malam, kami masih akan kembali ke sanggar " berkata Kiai Badra.
Sambi Wulung dan Jati Wulung mengerutkan keningnya. Dengan ragu Jati Wulung
bertanya " Apakah masih belum selesai? "
" Sudah " jawab Kiai Badra " tetapi setelah membersihkan diri, kami akan
menyempatkan diri mengucap sukur kepada Yang Maha Agung.
" O " Jati Wulung mengangguk-angguk. Katanya " Tetapi sudah tidak memerlukan
lagi mengerahkan tenaga untuk melakukannya.
" Memang bukan pengerahan tenaga. Tetapi seluruh hati kita " berkata Kiai Badra.
Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Mereka menghargai sikap Iswari
beserta ketiga orang gurunya yang tidak pernah melupakan dan mensukuri segala
kurnia yang diberikan kepada mereka. Dan sudah barang tentu dengan permohonan
agar hati mereka selalu diberi terang, sehingga apa yang pernah di terimanya
sebagai kurnia itu memberikan arti bagi hidupnya.
Dalam kesempatan itu pula Sambi Wulung dan Jati Wulung telah melaporkan apa yang
telah terjadi di Tanah Perdikan Sembojan. Telah dilaporkan pula sekelompok orang
yang dengan sengaja memberikan kesan sebagai sekelompok serigala.
Kiai Badra yang mengangguk-angguk itupun berkata " Kita tidak akan salah menilai
mereka. Tentu Warsi dengan kelompoknya. Jika setelah sekian tahun tiba-tiba saja
ia datang lagi, tentu bukannya tidak dengan perhitungan yang mapan. Anaknya
tentu menjadikan tumpuan harapannya. Apalagi menurut keterangan kalian berdua
Puguh memiliki kelebihan dari anak-anak muda sebayanya. Pengalamannya luas dan
ia cepat menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapinya, "
" Kita tinggal mempunyai waktu sedikit. Tiga hari lagi bulan akan menjadi
purnama penuh. Memang ada dua kemungkinan. Warsi mengajukan tantangan perang
tanding, atau mereka menyerang padukuhan induk ini dengan mengerahkan kekuatan
yang barangkali telah berhasil mereka kumpulkan selama ini. Bukankah menurut
laporanmu disamping padukuhan yang kau lihat, tentu ada padukuhan lain yang
tersembunyi dan dilingkari oleh lingkungan yang tidak boleh diambah kaki manusia
dengan pertanda topeng-topeng kecil itu? " sambung Kiai Soka.
Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Tetapi merekapun menyadari,
semakin dekat dengan saat purnama naik, maka Tanah Perdikan Sembojan itupun
tentu akan menjadi semakin tegang.
Namun disiang hari, seakan-akan kehidupan di Tanah Perdikan tidak terpengaruh
sama sekali. Pasar di padukuhan induk tetap ramai dikunjungi orang. Pasar-pasar
sepekan di padukuhanpun pada saat hari pasaran, juga nampak ramai dan hidup.
Rasa-rasanya tidak ada bahaya apapun yang telah mengancam Tanah Perdikan mereka.
Dalam pada itu, Kiai Badrapun berpesan " Lihatlah setiap ada kesempatan. Atau
tugaskan para petugas sandi untuk melihat topeng kecil itu setiap saat. Pada
saatnya tiba, maka topeng itu agaknya bukan saja rangkap, tetapi akan menjadi
tiga, sebagaimana kebiasaan kita memberikan aba-aba dengan menghitung sampai
tiga. "
Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Ia sependapat dengan Kiai Badra.
Nampaknya topeng itu memang akan menjadi tiga. Ketika topeng itu baru satu, maka
masih belum nampak kegiatan apapun dari orang-orang yang dengan sengaja memang
ingin mengganggu Tanah Perdikan Sembojan. Ketika topeng itu menjadi dua, maka
kegiatan-kegiatan itu memang mulai nampak. Sehingga agaknya topeng itu akan
segera menjadi tiga menjelang purnama naik. Induk kekuatan lawan mulai akan
menjamah Tanah Perdikan itu.
Dalam pada itu, Sembojan masih belum menunjukkan sikap terbuka bagi lawan.
Sembojan sendiri masih membiarkan kesan anjing hutan .itu. Dengan demikian, maka
jika seseorang tidak keluar dari padukuhan, maka mereka tidak akan merasa
gelisah.
Karena itu, demikian senjata turun, lampu-lampu mulai terpasang, maka semua
regolpun telah ditutup. Regol-regol jalan induk maupun regol-regol butulan.
Diselarak dengan kuat dan setiap saat akan diamati oleh para peronda.
Sementara itu, Iswari bersama ketiga gurunya telah berada kembali didalam
sanggar untuk satu keperluan khusus. Namun mereka tidak terlalu lama. Mereka
telah menyatakan dengan tulus pernyataan sukur atas segala kurnia yang telah
mereka terima, sementara itu merekapun selalu mohon petunjuk apa yang sebaiknya
mereka lakukan justru sebagai pertanggungan jawab atas kurnia yang telah mereka
terima itu.
Sebelum wayah sepi hwong, ternyata mereka telah keluar dari sanggar. Mereka
kemudian berkumpul dengan beberapa orang pemimpin yang berada di rumah Kepala
Tanah Perdikan itu. Mereka telah menyempatkan diri untuk makan bersama-sama
termasuk Iswari dan Bibi.
Namun malam itu Iswari masih harus beristirahat. Ia masih harus memulihkan
segenap kekuatannya. Karena itu, maka Iswari tidak ikut berbincang-bincang
diruang dalam. Setelah makan bersama-sama selesai dan berbicara serba sedikit
tentang kesiagaan Tanah Perdikan, maka Iswari telah kembali kedalam biliknya
bersama Bibi.
Malam itu seperti malam-malam sebelumnya, setiap padukuhan menjadi sepi dan
lengang dilihat dari luar. Tetapi didalamnya justru menjadi hidup dan tegang.
Digardu-gardu, disimpang-simpang ampat, diregol-regol dan dibanjar, penuh dengan
kelompok-kelompok kecil yang berbincang-bincang dengan jantung yang tegang. Tiga
atau ampat orang berkelompok sambil menimang senjata ditangan.
Seperti malam-malam berikutnya pula, yang terdengar adalah gonggong anjing hutan
yang seakan-akan menjadi semakin banyak. Anjing-anjing hutan itu seolah-olah
berkeliaran di luar dinding padukuhan sambil menyalak keras-keras dan menggeram
mendebarkan.
Tetapi sampai menjelang pagi, tidak terdengar peristiwa apapun yang
menggelisahkan. Tidak seorangpun yang telah diserang oleh kelompok-kelompok
anjing hutan karena tidak seorangpun yang keluar dari padukuhan, meskipun hanya
seujung jari. Orang-orang Tanah Perdikan Sembojan telah menjadi jera setelah
seorang pengawal yang berada diatas dindingpun dapat digapai oleh anjing-anjing
hutan yang sangat besar yang tidak begitu jelas kelihatan di gelapnya malam.
Ketika para pengawal sudah siap membuka regol padukuhan, ternyata telah terjadi
kegemparan yang lain. Bukan seseorang yang telah mati dibunuh oleh anjing hutan
diluar dinding padukuhan, tetapi ternyata anjing-anjing hutan itu telah memasuki
padukuhan yang paling ujung di Tanah Perdikan Sembojan. Bukan yang paling ujung
yang menghadap ke bukit, tetapi justru yang paling ujung disebelah lain yang
menghadap ke Barat.
Ternyata seekor lembu telah mati dikandang dengan tubuh yang terkoyak-koyak.
Semua orang yang kemudian mengerumuninya menyatakan, bahwa lembu itu telah
dibunuh oleh sekawanan anjing hutan.
Berita itupun segera sampai ke padukuhan induk. Sambi Wulung dan Jati Wulung
serta para pemimpin yang lain dengan tergesa-gesa telah pergi ke padukuhan itu.
Para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan memang sependapat, bahwa lembu itu memang
telah dibunuh oleh sekelompok serigala yang buas.
Hanya Sambi Wulung dan Jati Wulung sajalah yang mempunyai kesimpulan lain.
Namun justru karena ketiga orang guru Iswari telah lepas dari tugas berat
mereka, serta mereka telah sempat beristirahat secukupnya, maka Sambi Wulungpun
mulai menyatakan pendapatnya " Menurut pendapatku yang membunuh lembu ini bukan
sekelompok anjing hutan. "
" Lalu siapa menurut pendapatmu? " bertanya Ki Bekel di padukuhan itu.
" Beberapa orang. Aku tidak yakin bahwa sekelompok anjing hutan dapat masuk
kedalam padukuhan yang tertutup ini. Akupun tidak yakin bahwa sekelompok anjing
hutan tidak menimbulkan suara yang gaduh disaat mereka membunuh korbannya. "
berkata Sambi Wulung.
" Jika yang membunuh itu beberapa orang, kenapa mereka meninggalkan bekas
seperti itu? " bertanya Ki Bekel.
" Mereka memang ingin memberikan kesan, bahwa yang telah mengganggu ketenangan
Tanah Perdikan ini adalaih sekelompok anjing hutan, tetapi bukan kebanyakan
anjing hutan. Mereka dengan sengaja telah menimbulkan ketakutan dan kegelisahan
pada rakyat Tanah Perdikan Sembojan. Perlahan-lahan, tetapi akhirnya tentu akan
merata, pendapat bahwa dibelakang bukit itu terdapat seorang pertapa yang dapat
menciptakan sekelompok anjing hutan yang dapat melakukan perintahnya dengan baik
termasuk menakut-nakuti rakyat Tanah Perdikan ini. "
Orang-orang itu mulai merenungi kata-kata Sambi Wulung. Sementara itu pemimpin
pasukan pengawal itupun berdesis perlahan-lahan ditelinga Sambi Wulung " Kenapa
kau tidak mengatakannya sejak semula? "
" Aku sedang meyakinkan diriku sendiri. Pengalamanku sendiri tentang ketiga
orang yang mengejarku itu memberikan perbandingan dengan apa yang terjadi. "
berkata Sambi Wulung.
" Tetapi pengawal itu melihat sendiri anjing-anjing liar yang menyerangnya "
berkata pemimpin pengawal itu.
" Apakah ia yakin bahwa yang dilihatnya adalah serigala? Menurut ceriteranya
yang dilihatnya adalah anjing hutan raksasa yang meloncat kedalam
gerumbul-gerumbul liar dipinggir bulak. Menurut penglihatan kami kemarin, tidak
ada tanaman yang rusak disawah itu. Sebab menurut naluri, seseorang tidak akan
menginjak-injak tanaman padi jika tidak terpaksa sekali. " jawab Sambi Wulung.
Pemimpin pengawal itu mengangguk-angguk. Katanya " Nampaknya memang demikian.
Tetapi kita masih meyakinkannya. "
Sambi Wulung mengangguk-angguk, sementara itu Jati Wulung berkata " Nampaknya
pengobatan atas Nyi Wiradana telah selesai. Kita akan dapat mengatur pertahanan
jauh lebih baik dari sebelumnya. Kita tidak akan merasa cemas lagi, bahwa
padukuhan induk akan disergap oleh sekelompok orang yang memang ingin
mengacaukan Tanah Perdikan Sembojan. Kita semua sudah siap. Hanya Nyi Wiradana
barangkali masih memerlukan sehari semalam untuk memulihkan kesehatan dan
kekuatannya sebagaimana sebelumnya. Bahkan seandainya datang tantangan perang
tandingpun ia tidak akan mengelak lagi. "
Pemimpin pengawal itu mengangguk-angguk. Katanya " Baiklah. Kita akan
mempersiapkan semuanya. "
Dengan demikian, maka sejak saat itu, Sambi Wulung, Jati Wulung dan para
pemimpin Tanah Perdikan itu memperingatkan rakyat Tanah Perdikan, bahwa mereka
tidak sekedar menghadapi sekelompok serigala. Tetapi sekelompok orang yang
dengan sengaja ingin mengacaukan Tanah Perdikan itu.
Pernyataan itu justru telah menimbulkan kesan yang lain. Jika semua rakyat Tanah
Perdikan merasa ngeri karena mereka harus berhadapan dengan kelompok anjing
hutan yang buas yang dapat menyergap mereka dengan tiba-tiba dalam jumlah yang
sangat besar, sedangkan jika mereka melawan dan menang, mereka tidak akan
mempunyai kebanggaan apapun juga, maka perlawanan terhadap kelompok orang-orang
yang akan menghancurkan Tanah Perdikan Sembojan akan mempunyai nilai yang
berbeda. Jika terpaksa mereka menjadi korban, maka mati diujung tombak lawan
nilainya berbeda dengan jika mereka mati karena taring anjing-anjing hutan.
Karena itu, maka rakyat Tanah Perdikan Sembojan itu justru menjadi semakin geram
menghadapi suasana. Mereka semakin merasa berkewajiban untuk ikut melibatkan
diri dalam pertahanan Tanah Perdikan mereka.
Dihari itu, maka mulai tersiar kabar bahwa sebenarnya mereka tidak berhadapan
dengan serigala. Mereka berhadapan dengan sekelompok orang yang pura-pura
menjadi anjing hutan. Juga bukan anjing hutan jadi-jadian sebagaimana dikabarkan
oleh beberapa orang.
Di pasar-pasar, di kedai-kedai dan ditempat orang banyak berkumpul, berita itu
semakin tersebar luas. Setiap telinga yang mendengar telah meneruskannya
ketelinga orang lain, sambung bersambung.
Namun dalam pada itu, pemimpin pengawal Tanah Perdikanpun telah mulai pula
dengan penggunaan pasukan secara terbuka. Para prajurit tidak lagi sekedar
bersiap-siap didalam barak dan hanya akan bertindak jika terdapat isyarat.
Sementara inti kekuatannya diletakkan di padukuhan induk, terlebih-lebih lagi
disekitar rumah Kepala Tanah Perdikan.
Sejak hari itu, maka pasukan pengawal Tanah Perdikan dalam kelompok-kelompok
telah berada tersebar di padukuhan induk, sementara para pengawal di
padukuhan-padukuhanpun telah bersiaga dalam kelompok-kelompok mereka
masing-masing dan telah mempersiapkan diri di banjar. Hanya kelompok-kelompok
cadangan sajalah yang masih tetap tinggal di barak-barak mereka. Sementara itu
anak-anak mudapun telah bersiap-siap pula menghadapi segala kemungkinan. Bahkan
bukan saja anak-anak muda. Tetapi setiap laki-laki yang masih mampu menggenggam
senjata telah bersiap-siap. Bukan sekedar menghadapi kelompok-kelompok anjing
hutan, tetapi sekelompok orang-orang yang akan berbuat jahat terhadap kampung
halaman mereka.
Perubahan sikap para pengawal itu memang sudah diperhitungkan oleh orang-orang
diseberang bukit. Apa lagi ketika kemudian Warsi, Ki Rangga dan beberapa orang
baru bersama pengikut mereka telah datang ke balik bukit.
Ternyata bahwa mereka sama sekali tidak mengeluh meskipun tempat yang disediakan
bagi mereka bukan tempat yang pantas dan memadai. Namun tempat itu telah
mencukupi kebutuhan disaat-saat mereka menunggu. Tempat itu sudah cukup dapat
melindungi mereka dari hujan dan panas.
Namun satu hal yang sulit untuk mereka atasi adalah menyembunyikan asap yang
mengepul disaat-saat mereka menyiapkan makan bagi orang-orang yang semakin
banyak. Sebelumnya mereka dapat memanasi makanan dan minuman di malam hari,
sehingga tidak banyak orang yang memperhatikan asap yang memang hanya sedikit
dan pada waktu yang tidak ajeg. Tetapi karena orang yang ada dibalik bukit itu
semakin banyak, maka mereka memerlukan makan dan minum semakin banyak pula.
Meskipun mereka dapat juga membuat perapian di malam hari, tetapi asap yang
mengepul diterangnya cahaya bulan untuk waktu yang cukup lama, memang akan dapat
menarik perhatian
Namun ketika mereka yang ada dibalik bukit itu mendapat laporran bahwa
orang-orang Tanah Perdikan sudah mulai curiga terhadap anjing-anjing hutan itu,
maka Ki Rangga Gupitapun berkata " Biar saja menarik perhatian. Kita kudah siap
menyerang kapanpun juga. "
dengan deihikian, maka orang-orang dibalik bukit itu tidak-lagi merasa
bersembunyi. Mereka merasa memiliki kekuatan yang cukup besar menghadapi Tanah
Perdikan.
Untuk waktu yang bertahun-tahun mereka menghimpun kekuatan. Mereka tidak akan
pernah melupakan, bagaimana pasukan mereka telah dihancurkan oleh prajurit
Pajang dan orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Sehingga dengan demikian maka
dendampun tetap menyala dihati mereka. Dendam terhadap Tanah Perdikan Sembojan
karena berbagai macam alasan.
Disaat-saat terakhir, Warsi masih mempertimbangkan langkah yang terbaik yang
akan diambilnya. Apakah ia akan menantang perang tanding
atau mereka dengan kekuatan penuh menyerang Tanah Perdikan, khususnya
padukuhan induk.
Warsi dan Ki Rangga yakin, bahwa menghadapi keadaan sebagaimana pernah
ditimbulkan oleh kehadiran gerombolan Kalamerta di Tanah Perdikan itu, maka
Tanah Perdikan itu tidak akan dapat menepuk dada. Jika pada saat pasukan
Kalamerta datang Ki Gede Sembojan kemudian berusaha mencegah kematian yang dapat
mencengkam sejumlah rakyatnya dan justru menantang perang tanding, maka apakah
Iswari yang kini memangku jabatan Kepala Tanah Perdikan itu akan berani berbuat
demikian.
Beberapa orang yang pernah mengalami kekecewaan sejak masa akhir pemerintahan di
Demak dan kemudian disaat Adiwijaya memerintah di Pajang yang kemudian bergabung
dengan Ki Rangga, telah mendapat penjelasan persoalan Tanah Perdikan itu,
meskipun agak berbeda dengan kenyataannya. Mereka menganggap bahwa permusuhan
itu memang sudah ada sejak masa Kalamerta masih muda. Persoalan pribadi antara
Kalamerta dengan Ki Gede Sembojan telah menyeret keduanya kedalam perang
tanding. Namun Warsi telah berhasil membalas dendam kematian Kalamerta itu. Ia
telah membunuh Ki Gede Sembojan. Namun yang timbul kemudian adalah persoalan
antara dirinya dan Iswari, meskipun agak berbeda sebabnya, namun mirip pula
sebagaimana persoalan antara Kalamerta dan Ki Gede Sembojan. Persoalan pribadi.
Kalau permusuhan antara Kalamerta dan Ki Gede Sembojan itu disebabkan dan
dimulai karena persoalan seorang perempuan, maka dalam kehidupan Warsi dan
Iswaripun pernah tersangkut pula persoalan seorang laki-laki yang pernah menjadi
suami mereka. Bahkan kedua-duanya mempunyai anak laki-laki yang merasa berhak
menggantikan kedudukannya sebagai Kepala Tanah Perdikan di Sembojan.
Warsi memang sudah mendapat laporan, bahwa untuk beberapa saat lamanya Iswari
sedang sakit. Jika ia menantang perang tanding, maka keadaan itu akan dapat
menjadi alasan yang sah untuk menundanya. Sementara itu, Warsi memang memerlukan
satu keadaan yang khusus. Disaat purnama penuh, ia merasa berada di puncak
kemampuannya.
Ketika ia berbicara dengan beberapa orang yang memiliki ilmu yang tinggi maka
merekapun sependapat, bahwa Warsi tidak perlu menantang perang tanding. Jika
Iswari memanfaatkan keadaannya maka ia dapat minta perang tanding itu ditunda
beberapa hari setelah ia sembuh. Saat itu tentu bukan saat yang terbaik.
Meskipun barangkali bulan masih ada dilangit, tetapi tentu bukan bulan yang
bulat sepenuhnya.
" Kita akan mengadakan pemanasan " berkata salah seorang yang telah bergabung
dengan Warsi " kita akan menyerang salah satu dari padukuhan itu sekedar untuk
menjajagi kekuatan para pengawalnya.
" Malam nanti kita akan dapat melakukannya " berkata Warsi " kita sudah tidak
lagi bermain serigala. Kita akan datang kesebuah padukuhan yang agak besar
sehingga kekuatan pengawalnya agak besar pula. Dengan demikian kita akan
mempunyai gambaran yang pantas untuk membuat perbandingan. Besok malam kita
beristirahat dan malam berikutnya adalah malam purnama penuh. "
Orang-orang yang bergabung bersamanya mengangguk-angguk. Seorang yang berwajah
pucat berkata " Jika demikian kita jangan terpancing untuk bertempur
habis-habisan malam nanti. "
" Kita harus dapat mengekang diri " berkata Ki Rangga " kita hanya sekedar
menjajagi. Jika orang-orang berilmu tinggi yang ada di Tanah Perdikan itu
berdatangan, maka-kita akan menghindar. "
Semuanya sependapat, sehingga karena itu, maka tidak ada persoalan yang timbul
diantara mereka. Bahkan merekapun sependapat untuk membawa sebagian saja dari
kekuatan yang ada dibalik bukit itu.
Hari itu orang-orang yang berada dibalik bukit telah mempersiapkan diri mereka
untuk mengadakan penjajagan ke salah satu padukuhan di Tanah Perdikan Sembojan.
Sebagai orang yang -nah tinggal di Tanah Perdikan, maka Ki Rangga dan Warsi
telah dapat membuat rencana yang paling baik yang akan mereka lakukan.
Namun dalam pada itu, setelah para petugas sandi yakin bahwa yang telah
mengganggu Tanah Perdikan itu ternyata bukan anjing hutan, maka mereka memang
merasa malu.
Namun sejalan dengan itu* maka para petugas sandi telah bertekad untuk mengamati
keadaan sebaik-baiknya. Mereka mengerti bahwa sekelompok orang telah berada
dibalik bukit kecil itu. Dari sana mereka mengatur permainan mereka untuk
membuat orang-orang Tanah Perdikan gelisah. Apalagi ketika para petugas sandi
itu melihat, bahwa dari balik bukit itu telah mengepul asap.
" Apakah kau pernah melihat serigala menyalakan perapian? " bertanya seorang
petugas sandi kepada kawannya.
" Bukan serigalanya. Tetapi seorang pertapa yang dapat membuat anjing hutan
jadi-jadian. " jawab kawannya sambil tersenyum.
Petugas sandi itu tertawa. Katanya " Anjing hutan jadi-jadian yang telah
berhasil mengurung orang-orang Tanah Perdikan beberapa malam didalam
padukuhannya. "
Kawannya mengangguk-angguk. Namun kemudian petugas sandi itupun bertanya "
Apakah kita akan mencari keterangan tentang keadaan dibalik bukit? "
" Sangat berbahaya " desis kawannya " tetapi hutan rindang dan bebatuan itu
memberi kemungkinan kepada kita. Tetapi jangan disiang hari. "
" Aku dimasa kecil pernah bermain keatas bukit itu. " berkata petugas sandi itu.
" Aku pernah masuk kedalam goa dan lengkeh-lengkeh bukit dibalik bukit itu. Aku
tahu beberapa tempat yang memang memungkinkan untuk menjadi tempat
persembunyian, " sahut kawannya.
" Baiklah. Malam nanti kita akan melihat keadaan dibalik bukit itu. Tetapi kita
harus memberikan laporan lebih dahulu serta membawa alat-alat yang cukup. "
berkata petugas sandi itu.
Demikianlah, maka kedua orang petugas sandi itu telah memberikan laporan kepada
pemimpinnya, bahwa keduanya berniat untuk melihat-lihat kebali k bukit.
" Kalian sadari, bahwa tugas itu sangat berbahaya? " bertanya pemimpinya.
Keduanya mengangguk. Seorang diantara mereka berkata " Kami telah pernah melihat
medannya sampai ke goa-goa dibalik bukit. Hutan yang meskipun tidak lebat,
gerumbul-gerumbul perdu dan batu-batu karang akan dapat menjadi pelindung yang
baik. "
" Baiklah. Lakukanlah dengan hati-hati " berkata pemimpinnya.
Namun dalam pada itu, ketika keduanya akan beranjak dari tempatnya, seorang
kawannya telah datang untuk memberikan laporan.
" Orang itu kami lihat lagi berada dipasar. Apakah dalam keadaan sekarang, kami
diperkenankan menangkapnya? " bertanya seorang petugas sandi yang lain.
Tetapi dengan serta merta petugas sandi yang ingin pergi ke balik bukit itu
berkata " Jangan. Biarlah mereka tidak merasa dirinya diketahui. Bahkan ada
usaha untuk melihat sampai kesarang mereka. Bukankah mereka hari ini tidak akan
mendapatkan keterangan apa-apa selain keterangan tentang para pengawal yang
telah bersiap-siap disegala tempat? Tanpa datang dan melihatpun mereka sudah
dapat memperhitungkan. Apalagi diantara mereka terdapat orang-orang yang memang
pernah tinggal di Tanah Perdikan ini. "
Pemimpin pengawal itu sependapat. Karena itu, maka katanya " Baiklah. Kita akan
membiarkannya. Tetapi awasi, apa yang dilakukannya di pasar atau pada saatnya
pergi, ikutilah sejauh dapat kau lakukan tanpa diketahuinya. "
Petugas sandi yang datang dari pasar itupun kemudian telah minta diri untuk
kembali ke pasar, sementara dua orang yang lain telah pergi pula untuk
mempersiapkan diri.
Dalam pada itu, ketika seorang petugas melihat topeng yang terpasang diluar
regol padukuhan induk itu agaknya masih tetap sepasang. Karena itu, maka para
pemimpin Tanah Perdikan itu menduga bahwa masih belum akan terjadi gerakan yang
menentukan dari orang-orang yang berada dibalik bukit.
Namun para pemimpin Tanah Perdikan itu tidak menjadi lengah. Topeng itu bukan
pegangan yang dapat dianggap menentukan, karena para pemimpin Tanah Perdikan itu
masih belum tahu arti yang sebenarnya dari topeng itu.
Dalam ketegangan itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung ternyata telah membuat
rencana sebagaimana dilakukan oleh para petugas sandi. Merekapun merasa perlu
untuk melihat kebalik bukit. Yang penting bagi Sambi Wulung dan Jati Wulung
adalah perkiraan kekuatan orang-orang yang telah bersiap-siap untuk mengacaukan
Tanah Perdikan itu.
Apalagi ketika laporan tentang asap yang mengepul dari balik bukit dan beberapa
macam uraian tentang keadaan terakhir yang dialami oleh Tanah Perdikan Sembojan.
Para pemimpin Tanah Perdikanpun tidak berkeberatan. Namun sementara itu,
pemimpin petugas sandipun telah memberitahukan rencana kedua petugasnya.
" Mereka sudah mengenal medannya " berkata pemimpin petugas sandi itu. \
" Jika demikian, biarlah mereka pergi bersama kami " berkata Sambi Wulung.
Sebenarnyalah ampat orang dari Tanah Perdikan itupun telah mempersiapkan diri
untuk mendekati goa-goa dibalik bukit.
Sambi Wulung dan Jati Wulung adalah pemanah-pemanah yang baik. Di Song Lawa
mereka mampu mengejutkan semua orang dengan kemampuan mereka memanah. Karena
itu, untuk menjaga segala kemungkinan, maka keempat orang itupun telah membawa
busur dan anak panah yang cukup selain senjata yang biasa mereka pergunakan.
Pedang.
Demikian ketika senja turun, maka Sambi Wulung, Jati Wulung dan kedua petugas
sandi telah siap untuk pergi ke bukit. Merekapun kemudian telah minta diri
kepada para pemimpin termasuk Iswari dan ketiga^rang gurunya.
Demikian langit kembali gelap, maka merekapun telah berangkat. Mereka sengaja
menghindari orang-orang di sepanjang jalan. Bahkan para pengawal diregolpun
ketika bertanya Sambi Wulung hanya menjawab " Kami ingin mengamati suasana. "
Tetapi tidak seorangpun yang mempertanyakan busur dan anak panah yang mereka
bawa. Setiap pengawal menyadari, bahwa keadaan lagi gawat. Dengan anak panah,
maka keempat orang itu akan dapat menyerang lawannya pada jarak yang masih jauh.
Jika mereka bertemu dengan lawan yang terlalu banyak bagi mereka, maka jauh
sebelum benturan terjadi, mereka akan dapat mengurangi jumlah lawan mereka.
Demikian keempat orang itu keluar dari padukuhan, maka merekapun telah melangkah
dengan cepat menuju ke bukit. Mereka menghindari jalan padukuhan agar mereka
tidak perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan para pengawal dan anak-anak muda yang
ada dimulut-mulut lorong dan di gardu-gardu.
Pada saat yang hampir bersamaan, maka orang-orang di balik bukitpun telah
mengatur persiapan untuk pergi kesebuah padukuhan yang telah mereka pilih untuk
menjadi sasaran. Tetapi mereka tidak perlu tergesa-gesa. Menurut rencana mereka
akan datang kepadukuhan yang telah mereka tentukan pada tengah malam.
Beberapa saat kemudian Sambi Wulung dan ketiga orang lainnya telah mendekati
bukit. Mereka menjadi semakin berhati-hati. Merekapun menyadari, bahwa
orang-orang yang berada di balik bukit itupun tentu telah menyebarkan beberapa
orang untuk mengamati keadaan.
Tetapi kedua orang petugas sandi itu, telah mengenal tempat itu dengan baik,
karena dimasa remajanya, mereka sering bermain-main ketempat itu. Bahkan yang
seorang diantara mereka telah sampai kebalik bukit itu pula.
Pada saat-saat Iswari menegakkan pemerintahan diTanah Perdikan itu, rasa-rasanya
keadaan Tanah Perdikan itu cukup tenang. Namun tiba-tiba saja Tanah Perdikan itu
kini telah diguncang oleh kegelisahan.
Dengan demikian, maka, mereka tidak terlalu banyak mengalami kesulitan. Mereka
tplah melintasi hutan rindang, kemudian padang perdu yang terasa liar dan
gersang. Bebatuan dan lekuk-lekuk bukit yang dibuat oleh arus air yang tidak
terkendali.
Keempat orang itu merayap dengan haji-hati. Bukan saja karena mereka menghindari
penglihatan para pengamat yang mungkin dipasang, merekapun harus menghindari
lereng-lereng terjal berbatu padas. Untunglah bahwa cahaya bulan dilangit cukup
cerah.
Jilid 14
BEBERAPA saat kemudian, maka merekapun telah melintasi puncak bukit. Seorang
diantara keempat orang itu membawa mereka menuju ke tempat yang paling mungkin
dipergunakan untuk berteduh sekelompok orang dari hujan dan panas.
Sambi Wulung mengisyaratkan kepada mereka agar sangat berhati-hati. Ternyata
dari balik segerumbul perdu mereka memang melihat dua orang yang berjalan
melintas. Tidak tergesa-gesa, sehingga mereka yakin bahwa dua orang itu adalah
dua orang pengawas yang mendapat tugas untuk berjaga-jaga.
“Kita sudah sangat dekat,“ desis Jati Wulung.
Sambi Wulung mengangguk. Namun dengan demikian mereka menjadi sangat
berhati-hati.
Ketika mereka berempat menjadi semakin dekat, maka mereka terkejut. Dalam cahaya
bulan yang terang, mereka melihat di hadapan mereka, diatas tanah yang gundul
berbatu padas, sepasukan pengikut Warsi yang riah bersiap. Jantung Sambi Wulung
dan Jati Wulungpun berdebaran. Menurut perhitungan orang-orang Tanah Perdikan,
Warsi akan memanfaatkan bulan yang purnama penuh, yang barangkali ada
hubungannya dengan kepercayaannya.
Untuk beberapa saat mereka berempat mengamati dari jarak yang jauh. Namun mampu
melihat dengan jelas susunan pasukan yang bergerak.
“Mereka belum bersungguh-sungguh,“ berkata Sambi Wulung.
Jati Wulung mengangguk-angguk. Mereka melihat sebagian dari para pengikut itu
masih tetap berdiri diluar pasukan, sementara Ki Rangga Gupita memberikan
beberapa pesan kepada mereka.
Sebenarnyalah, sejenak kemudian pasukan yang telah dipersiapkan itupun telah
berangkat, dipimpin oleh Ki Rangga Gupita sendiri.
Keempat orang itu harus menahan nafas ketika pasukan itu lewat beberapa langkah
saja dari tempat mereka bersembunyi dibalik gerumbul.
Untunglah bahwa tidak seorangpun diantara orang-orang yang berada dibalik bukit
itu, termasuk mereka yang berangkat menuju ke Tanah Perdikan menduga, bahwa akan
ada orang-orang dari Tanah Perdikan yang berani datang mengintai mereka dari
jarak yang cukup dekat.
Demikian pasukan itu lewat, maka Sambi Wulungpun berdesis, “Ki Rangga Gupita dan
Warsi ada didalam pasukan itu.”
Jati Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi mereka belum mengerahkan seluruh
kekuatan mereka.”
“Nampaknya mereka memang belum bersungguh-sungguh,“ berkata Sambi Wulung pula.
“Apakah tidak sebaiknya kita memberitahukan hal ini kepada Nyi Wiradana?“
bertanya salah seorang dari petugas sandi itu.
Sambi Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kalian berdua harus segera
turun. Hati-hati, jangan sampai kalian berpapasan dengan pasukan itu, agar
kalian tidak menjadi lumat dicincang oleh Ki Rangga.”
Kedua orang petugas sandi itu mengangguk-angguk. Tetapi mereka yang karena
mengenali lingkungan itu dengan baik, maka mereka yakin akan dapat mendahului
pasukan yang tentu akan melintasi bukit dan turun melalui jalan setapak yang
ada..
“Laporan apa yang kau lihat. Besarnya pasukan dan kedua orang yang berilmu
tinggi itu,“ berkata Sambi Wulung.
Para petugas sandi itu mengangguk. Merekapun kemudian bergeser dari tempatnya,
melintasi puncak bukit dan turun menuju ke Tanah Perdikan Sembojan. Mereka
ternyata mampu menemukan jalan pintas yang jauh lebih pendek dari jalan setapak
yang berkelok-kelok yang dilalui oleh sepasukan pengikut Warsi yang dipimpin
oleh Ki Rangga dan Warsi sendiri. Bahkan ketika mereka sudah berada di ngarai,
maka merekapun telah berlari-lari menuju ke Tanah Perdikan.
Namun ternyata keduanyapun sempat membagi tugas. Seorang diantara mereka
berkata, “Kau langsung ke padukuhan induk untuk memberikan laporan. Aku akan
berusaha untuk mengetahui, kemana mereka akan pergi. Apakah mereka akan menuju
ke padukuhan induk atau tidak. Mungkin mereka akan menyerang sasaran yang mereka
anggap tidak terlalu berat, sehingga mereka tidak membawa seluruh pasukan. Atau
mungkin mereka ingin melakukan sesuatu untuk tujuan yang belum kita ketahui.”
Demikianlah, seorang diantara mereka langsung menuju ke padukuhan induk.
Menyusuri pematang dan jalan-jalan sempit, petugas sandi itu menjadi terasa
lebih cepat mencapai padukuhan induk. Sementara kawannya masih menunggu untuk
mengamati pasukan yang akan memasuki Tanah Perdikan.
Ketika petugas sandi yang berlari-lari itu memasuki Tanah Perdikan, maka
rasa-rasanya nafasnya telah hampir terputus di kerongkongan. Ketika ia sampai di
gardu, maka kakinya seakan-akan tidak mau bergerak lagi.
Kawan-kawannya yang berada di gardu dengan serta merta telah menolongnya.
Membawanya ke gardu dan membantunya naik. Tetapi anak muda yang bertugas sebagai
petugas sandi itu menggeleng sambil berkata terputus-putus, “Aku harus menghadap
Nyi Wiradana.”
“Beristirahatlah,“ desis seorang kawannya.
“Aku harus cepat sampai kepada Nyi Wiradana,“ kata itu sajalah yang
diulang-ulang.
“Tetapi kau tidak dapat berjalan lagi. Nafasmu hampir putus dikerongkongan,“
berkata seorang kawannya.
“Bawa aku menghadap,“ desisnya.
Kawan-kawannya yang bertugas di gardu termangu-mangu. Namun seperti orang
mengigau petugas itu terus saja berkata, “Cepat. Bawa aku menghadap Nyi
Wiradana.”
“Katakan, apa yang harus kau sampaikan. Biarlah kami meneruskannya,“ jawab
seorang kawannya.
“Tidak. Aku sendiri harus menghadap. Bantu aku berjalan,“ berkata petugas sandi
itu.
Anak-anak muda itu tidak mempunyai pilihan lain. Dua orang diantara mereka telah
membantu petugas sandi yang kelelahan itu menuju ke rumah Nyi Wiradana. Namun
setiap saat petugas itu telah membentak kawan-kawannya yang memapahnya, agar
mereka dapat berjalan lebih cepat.
Ketika petugas sandi itu sampai kerumah Nyi Wiradana, maka Nyi Wiradana sendiri
masih duduk diruang tengah bersama Bibi. Karena itu, ketika seorang petugas yang
berjaga-jaga dirumah itu mengetuk pintu, Nyi Wiradanapun segera membukanya.
Nyi Wiradana terkejut melihat petugas yang nafasnya terengah-engah itu. Dengan
cemas Nyi Wiradana bertanya, “Kenapa orang ini?”
Tetapi petugas sandi itu sendirilah yang menjawab, “Aku tidak apa-apa Nyi.“
Nyi Wiradapun segera tanggap. Karena itu, maka dimintanya orang-orang yang
mengantar petugas sandi itu untuk menunggu diluar.
Betapapun keadaannya, namun petugas sandi itu masih juga dapat memberikan
laporan. Suaranya terputus-putus dan bahkan kadang-kadang terbatuk-batuk. Namun
akhirnya jelas bagi Nyi Wiradana apakah yang akan terjadi.
“Panggil guru,“ berkata Nyi Wiradana kepada Bibi.
Bibipun segera bangkit untuk menyampaikan permohonan Nyi Wiradana agar
guru-gurunya hadir diruang tengah.
Dengan singkat Nyi Wiradana telah menyampaikan laporan petugas sandi itu. Dengan
mantap pula Nyi Wiradana berkata, “Aku sendiri akan berangkat guru. Satu
kesempatan untuk bertemu dengan perempuan itu. Adalah kebetulan bahwa saat ini
purnama belum penuh.”
“Kau percaya pengaruh bulan penuh itu pada kekuatan ilmu Warsi?“ bertanya Kiai
Badra.
“Bukan aku yang percaya. Tetapi perempuan itu. Ia akan merasa bahwa kekuatannya
belum sepenuhnya dapat ditrapkan disaat bulan belum bulat. Perasaan itu tentu
akan sangat berpengaruh pada saat-saat yang gawat,“ berkata Iswari.
“Tetapi kaupun masih memerlukan waktu untuk dapat memulihkan kekuatanmu
sepenuhnya,“ berkata Kiai Badra.
“Aku sudah merasa utuh kembali,“ jawab Iswari.
Kiai Badra berpikir sejenak. Namun kemudian katanya, “Tetapi kami, orang-orang
tua masih berharap kau sempat menunggu satu dua hari lagi. Kau tidak usah
memperhatikan purnama itu. Namun dalam dua hari ini, kau tentu sudah berada pada
puncak kekuatan dan kemampuanmu. Keadaan wadagmu tentu akan berpengaruh
betapapun kesiagaan ilmu didalam dirimu. Jika kau menunggu dua hari atau
setidak-tidaknya sehari lagi itu sama sekali tidak ada pengaruh dari bulan itu.”
“Aku mengerti guru,“ jawab Iswari, “tetapi orang itu datang sekarang. Aku tidak
dapat membiarkannya sementara aku menunggu sampai besok malam.”
Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, Nyai Soka telah bangkit
sambil berkata, “berdirilah.”
Iswaripun segera bangkit pula berdiri.
Dengan kerut di dahinya yang memang sudah dilukisi dengan garis-garis umurnya
Nyai Soka berkata, “Lihat telapak tanganmu.”
Iswaripun kemudian telah mengangkat kedua tangannya untuk menunjukkan telapak
tangannya sebagaimana diminta oleh Nyai Soka.
Dengan ujung ibu jarinya, Nyai Soka telah memijit beberapa jalur urat nadi pada
telapak tangannya. Kemudian tangan itupun telah ditelungkupkannya pula. Seperti
yang dilakukan pada telapak tangannya, maka Nyai Sokapun telah memijit-mijit
pula punggung tangan Iswari. Bahkan kemudian pergelangannya dan yang terakhir
pada punggung perempuan itu.
Sambil menarik nafas dalam-dalam Nyai Soka berkata, “Baiklah. Kau boleh pergi.
Tetapi kau harus sangat berhati-hati. Kami akan pergi bersamamu.”
Demikianlah, maka Iswaripun dengan cepat telah menjatuhkan perintah lewat para
petugas dihalaman. Dalam waktu singkat, para pemimpin pengawal telah berada
dirumah itu, sementara beberapa orang telah menyiapkan pula pasukan.
Dalam pada itu, petugas sandi yang mengintai perjalanan pasukan yang dipimpin Ki
Rangga Gupita dan Warsi telah mendapat petunjuk arah. Karena itu, maka ia-pun
telah mendahului pasukan itu melalui jalan pintas pula ke padukuhan yang menurut
perhitungannya akan menjadi sasaran. Petugas sandi itu memang sudah
memperhitungkan bahwa pasukan yang tidak lengkap itu tidak akan menuju ke
padukuhan induk.
Dengan demikian maka para pengawal di padukuhan itupun sempat mempersiapkan
diri. Sementara dua orang penghubung berkuda telah menuju ke padukuhan induk
untuk memberikan laporan.
“Jika perlu, kita akan mempergunakan isyarat kenthongan,“ berkata Ki Bekel.
Pemimpin pengawal di padukuhan itupun mengangguk. Katanya, “Kita akan melihat
suasana.”
Demikianlah, maka para pengawalpun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Bukan hanya pengawal di padukuhan itu. Tetapi padukuhan terdekatpun telah diberi
tahu, bahwa para pengawal harus bersiap. Sebagian dari para pengawal di
padukuhan itu telah dipersiapkan untuk bergerak dengan cepat. Mereka telah
dipersiapkan pula untuk membantu padukuhan yang akan menjadi sasaran serangan
orang-orang dari balik bukit itu.
Sekelompok pengawal telah bersiap dibalik dinding padukuhan yang lebih besar
dari padukuhan-padukuhan yang lain, yang menurut perhitungan petugas sandi itu
akan menjadi sasaran serangan orang-orang yang dipimpin oleh Warsi dan Ki Rangga
Gupita.
Sebenarnyalah perhitungan petugas sandi itu ternyata tepat. Warsi yang pernah
tinggal di Tanah Perdikan itu tahu benar, padukuhan yang manakah yang dapat
dipergunakannya untuk menjajagi kesiagaan para pengawal serta dipergunakan
sebagai pemanasan orang-orangnya yang besok lusa akan menyerang padukuhan induk
Tanah Perdikan
Ketika pasukannya mendekati padukuhan yang menjadi sasaran itu, Ki Rangga Gupita
dan Warsi tidak melihat kesiagaan yang khusus. Mereka dari kejauhan memang
melihat obor diregol padukuhan. Tetapi itu adalah kebiasaan setiap padukuhan
yang memasang obor di regolnya.
Namun demikian, ternyata bahwa pasukan yang datang itupun cukup berhati-hati.
Mereka tidak dengan serta merta mendekati dan memasuki regol. Tetapi para
pengikut Ki Rangga dan Warsi itupun telah memencar diluar dinding padukuhan.
Para pengawal yang melihat pasukan yang datang itu dalam siraman cahaya bulan
menjadi berdebar-debar. Mereka mengerti bahwa pasukan itu tidak akan memasuki
padukuhan dengan memecah regol. Tetapi mereka akan berloncatan memasuki
padukuhan lewat diatas dinding.
Dengan demikian maka para pengawalpun telah menyesuaikan diri pula. Mereka harus
menahan para pengikut Ki Rangga dan Warsi itu selagi mereka berusaha meloncat.
Ki Bekel dan pemimpin pengawal yang berdiri diatas mata tangga disebelah regol
padukuhanpun melihat pasukan yang menyebar itu. Nampaknya bagi mereka, lebih
mudah meloncat dinding dari pada mematahkan selarak pintu gerbang padukuhan.
Dalam pada itu, petugas sandi yang telah berada di padukuhan itupun
memperingatkan bahwa pasukan itu dipimpin langsung oleh Warsi dan Ki Rangga
Gupita.
“Apakah kau dapat mengenalinya?“ bertanya Ki Bekel.
“Sambi Wulung dan Jati Wulung ada di balik bukit itu pula sekarang,“ jawab
petugas sandi itu.
Ki Bekel mengangguk-angguk. Tentu Sambi Wulung dan Jati wulung dapat mengenali
Warsi dan Ki Rangga, pernah atau tidak pernah berhubungan sebelumnya.
Untuk beberapa saat, para pengikut Ki Rangga dan Warsi dalam jumlah yang besar
itu menunggu. Ternyata Warsi dan Ki Rangga bersama beberapa orang pengawal
terpilihnya telah melangkah mendekati pintu gerbang yang tertutup, tetapi tidak
menunjukkan persiapan yang memang menunggu kedatangan mereka dalam kesiagaan
tertinggi.
“Agaknya mereka tidak tahu bahwa kita akan datang,“ desis Warsi.
Ki Rangga mengangguk. Katanya, “Kita akan mellioncati dinding. Dengan demikian
kita akan dengan cepat bersama-sama berada di dalam. Mungkin ada beberapa orang
peronda di gardu dibelakang pintu gerbang.”
Warsi mengerutkan keningnya. Diamatinya dinding padukuhan yang berada dibawah
lindungan dedaunan yang rimbun, sehingga cahaya bulan tidak dapat mencapai
wajah-wajah yang dengan sangat berhati-hati mengintip dibelakang dinding.
Namun ternyata Warsi memang memiliki kelebihan dari orang kebanyakan. Tiba-tiba
saja ia telah memberikan isyarat kepada Ki Rangga.
Ki Rangga termangu-mangu. Dikerahkannya kemampuannya untuk memperhatikan
keadaan. Sementara itu Warsi berbisik, “Ternyata dibelakang dinding itu terdapat
barisan pengawal.”
“Kau yakin?“ bertanya Ki Rangga.
“Aku yakin,“ jawab Warsi.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan?“ bertanya Ki Rangga.
“Kita akan masuk dengan cepat. Tetapi kita harus sangat berhati-hati,“ jawab
Warsi. Namun tiba-tiba saja Warsi itu berkata, “Kita ambil dua buah obor diregol
itu.”
“Untuk apa?“ bertanya Ki Rangga.
Warsi tidak menjawab. Ia sendirilah yang kemudian meloncat mengambil obor minyak
diregol. Dengan suara lantang ia berkata kepada orang-orangnya, “Cari
ranting-ranting dan rumput kering. Cepat, jangan bertanya untuk apa.”
Beberapa orang memang termangu-mangu. Namun Ki Rangga cepat tanggap, sehingga
iapun kemudian telah memerintahkan beberapa orang mencari ranting-ranting kering
dari gerumbul-gerumbul perdu diluar pintu gerbang.
Orang-orang yang ada dibalik pintu gerbang itupun menjadi heran. Apa pula yang
akan dilakukan oleh Warsi itu.
Namun ternyata bahwa Warsi telah menimbuni pintu gerbang dari regol padukuhan
itu dengan ranting dan daun-daun kering. Kemudian membakarnya dan bahkan satu
diantara kedua obornya telah dilemparkan pula sehingga minyaknya telah membasahi
ranting-ranting kering itu.
Dengan demikian maka ranting-ranting serta rerumputan dan daun-daun kering itu
menjadi cepat terbakar. Bahkan kemudian beberapa orang telah melemparkan lagi
ranting-ranting semakin banyak.
Pintu gerbang yang terbuat dari kayu itupun akan mudah terbakar. Sehingga karena
itu, orang-orang yang berada dibelakang regolpun dengan cepat menyadari keadaan.
Beberapa orang telah berlari-lari mencari air di sumur-sumur terdekat dengan
alat apa saja yang mereka dapatkan. Dengan upih, dengan kelenting, bahkan
jambangan di pakiwan untuk menyiram pintu gerbang agar api yang mulai menyala
tidak membakar gerbang itu seluruhnya yang tentu akan merambat ke bagian atap
regol dan bangunan yang lain yang berhubungan dengan regol padukuhan.
Ki Bekel dan pemimpin pasukan pengawal itupun telah mengumpat-umpat. Dengan
berteriak pemimpin pengawal itu berkata, “Licik. Kau bakar regol padukuhan
kami.”
Tetapi tidak terdengar jawaban. Yang nampak adalah api menjadi semakin besar dan
pintu regolpun mulai terbakar.
Ternyata Warsi tidak ingin memasuki padukuhan itu lewat pintu gerbang yang akan
hancur menjadi abu. Usaha untuk memancing perhatian para pengawal ternyata telah
berhasil. Ketika Ki Bekel dan para pemimpin pengawal sibuk memperhatikan api
yang semakin besar itu, maka lewat beberapa orang pengikutnya yang ikut sibuk di
luar regol itu, ia memerintahkan agar pasukannya mulai bergerak.
Hampir bersamaan, maka Ki Bekel dan pemimpin pengawal telah memerintahkan untuk
bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan apabila pintu gerbang itu tidak dapat
diselamatkan.
Namun dalam pada itu, terdengar isyarat dari beberapa orang pemimpin kelompok
dari antara para pengikut Ki Rangga Gupita dan Warsi. Dengan serta merta pula,
maka para pengikut mereka itupun telah bergerak. Bukan sekedar merangkak
mendekati dinding padukuhan. Tetapi merekapun telah berlari-larian untuk
mengambil ancang-ancang.
Selagi perhatian para pengawal sebagian tertuju kepada api yang telah membakar
regol padukuhan mereka, maka para pengikut Warsi dan Ki Rangga itupun telah
berloncatan memanjat dinding padukuhan dan berloncatan masuk.
Sejenak kemudian, maka pertempuranpun segera telah berkobar Para pengawal segera
menyadari, bahwa mereka telah terpancing oleh api di regoi itu, sehingga mereka
sedikit terlambat menerima kehadiran para pengikut Warsi dan Ki Rangga itu.
Namun ternyata keterlambatan yang sedikit itu mempunyai akibat yang cukup berat.
Demikian ujung dari pasukan para pengikut Warsi dan Ki Rangga berhasil masuk,
maka mereka telah membuka jalan bagi kawan-kawan mereka, sehingga sejenak
kemudian, seluruh kekuatan orang-orang dari balik bukit itu sudah berada didalam
padukuhan.
Tetapi para pengawal padukuhan itu bersama seluruh anak-anak mudanya telah
bersiap. Bahkan hampir setiap laki-laki di padukuhan itu sudah mempersiapkan
diri untuk bertempur dimanapun juga.
Karena itu, ketika mereka mendengar bahwa orang-orang yang menyerang padukuhan
mereka telah memasuki padukuhan, maka merekapun telah menyongsong dengan jumlah
yang cukup banyak. Mereka berdatangan dari segala penjuru padukuhan dengan
senjata telanjang ditangan.
Ternyata bahwa bukan anak-anak muda sajalah yang mampu mempergunakan senjata.
Orang-orang yang telah merambat keusia yang lebih tua, ternyata memiliki
kemampuan pula. Mereka adalah justru bekas-bekas pengawal disaat Tanah Perdikan
itu bergolak. Bahkan ada diantara mereka, yang setelah sekitar sepuluh tahun
kemudian masih juga menjadi pengawal. Namun mereka dalam tugas mereka
sehari-hari, tidak mendapat tugas yang berat seperti anak-anak mudanya. Bahkan
sebagian dari mereka justru telah mendapat kepercayaan untuk membantu memberikan
latihan-latihan kepada para pengawal yang masih muda.
Dengan demikian, maka orang-orang dari balik bukit itu telah membentur kekuatan
yang cukup besar di padukuhan itu. Mereka berhadapan dengan anak-anak muda yang
tenaganya seakan-akan justru sedang mekar. Namun diantara mereka terdapat
orang-orang yang lebih tua, yang pengalamannya justru telah mengendap. Sehingga
dengan demikian, maka pertahanan para pengawal padukuhan itupun menjadi cukup
kuat.
Tetapi jumlah orang-orang yang menyerang padukuhan itu memang cukup banyak.
Mereka masih saja berloncatan memasuki dinding. Seakan-akan tidak ada
habis-habisnya.
Ki Bekel dan pemimpin pengawal Tanah Perdikan di padukuhan itu melihat kesulitan
yang bakal timbul. Apalagi jika Ki Rangga dan Warsi memasuki padukuhan itu. Maka
keadaan mereka akan menjadi semakin sulit.
Karena itu, maka Ki Bekel dan pemimpin pengawal itu sepakat untuk membunyikan
isyarat dengan kentongan.
Namun sebelum isyarat itu dibunyikan, maka dua orang penghubung telah
berlari-lari menemui Ki Bekel dan pemimpin pengawal padukuhan itu.
“Ada apa?“ bertanya Ki Bekel.
“Pintu gerbang diujung yang lain dari lorong ini telah dibuka. Pasukan Pengawal
berkuda dari padukuhan induk telah masuk,“ jawab penghubung itu.
“Siapa yang memimpin pasukan?“ bertanya Ki Bekel.
Penghubung itu menggeleng. Jawabnya, “Aku belum tahu. Aku tergesa-gesa
menyampaikan berita ini kemari. Para pengawal yang bertugas di regol sebelah
akan membawa mereka lebih dahulu ke banjar untuk menempatkan kuda-kuda mereka.
Baru pasukan pengawal berkuda dari induk padukuhan itu akan kemari.”
“Apakah pasukan itu cukup besar?“ bertanya Ki Bekel.
“Tidak terlalu besar. Tetapi cukup meyakinkan,“ jawab penghubung itu.
Ki Bekel tidak bertanya lebih lanjut. Sementara itu pertempuran menjadi semakin
sengit. Orang-orang dari balik bukit telah berhasil mendesak orang-orang
padukuhan semakin dalam memasuki padukuhan mereka. Sementara regol padukuhan itu
telah terbakar semakin besar. Cahaya api yang kemerah-merahan telah menambah
cerahnya cahaya bulan yang belum bulat benar itu.
Ki Bekel dan pemimpin pengawal itu tidak beranjak dari tempat mereka. Mereka
tidak dapat menyongsong kedatangan pasukan dari padukuhan induk, karena setiap
saat pemimpin pasukan yang datang dari balik bukit akan memasuki piijtu gerbang
yang sebentar lagi akan roboh.
Namun dalam pada itu, pasukan yang datang dari padukuhan induk dengan cepat
menyiapkan diri. Beberapa orang diantara mereka dengan tangkas telah mengatur
kuda-kuda mereka di banjar padukuhan sementara yang lain langsung menuju ke
medan pertempuran. Pasukan berkuda itu dipimpin sendiri oleh pemimpin pasukan
disertai pemimpin pengawal Tanah Perdikan Sembojan bersama Pemangku Jabatan
Kepala Tanah Perdikan itu sendiri. Bahkan diikuti oleh beberapa orang tua yang
disebut guru oleh Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan itu.
Sebenarnyalah Kiai Badra dan Kiai Sokalah yang ternyata telah mengikuti Iswari
ke padukuhan itu, sementara Nyai Soka dan Bibi tinggal di rumah. Mungkin sesuatu
dapat terjadi di padukuhan induk yang ditinggalkan. Namun sekelompok pasukan
yang kuat masih tetap berada di padukuhan induk.
Demikianlah, maka Iswari disertai Kiai Badra dan Kiai Soka telah sampai ke pintu
gerbang yang telah terbakar itu. Mereka telah menerima laporan singkat dari Ki
Bekel tentang apa yang terjadi. Bahkan Ki Bekel itupun kemudian bertanya,
“Kenapa Nyi Wiradana tidak langsung menyergap mereka dari luar, tetapi justru
masuk ke padukuhan lewat pintu gerbang yang lain?”
“Kami melihat api,“ jawab Iswari, “karena itu kami menuju pintu gerbang yang
lain. Ternyata kami dapat masuk kedalam padukuhan ini. Karena itu, kami akan
bertempur bersama para pengawal di dalam padukuhan.”
Ki Bekel mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “Kami mengucapkan
terima kasih atas kesediaan Nyi Wiradana untuk hadir sendiri di padukuhan ini.
Dengan demikian, maka padukuhan ini akan merasa dirinya benar-benar mendapat
perlindungan dari pimpinan tertinggi Tanah Perdikan ini.”
“Bukankah itu sudah kewajibanku?“ sahut Nyi Wiradana.
Demikianlah maka pertempuran di padukuhan itu menjadi semakin sengit. Pasukan
pengawal berkuda yang telah menebar, ternyata memberikan pengaruh yang sangat
besar pada pertempuran itu. Meskipun jumlah mereka tidak terlalu banyak, namun
mereka adalah pengawal-pengawal pilihan, sehingga bersama-sama dengan hampir
semua laki-laki di padukuhan itu, mereka telah bertempur dengan gigihnya.
Dalam pada itu, ternyata bukan hanya pasukan berkuda sajalah yang kemudian telah
datang ke padukuhan itu. Ternyata bahwa kelompok-kelompok kecil dari
padukuhan-padukuhan terdekat juga telah datang membantu. Mereka tidak dapat
mengirimkan seluruh kekuatan di padukuhan mereka, karena mereka harus
memperhitungkan kemungkinan yang buruk, jika para penyerang itu justru datang ke
padukuhan mereka pula.
Api yang menyala di pintu gerbang merupakan isyarat yang telah memanggil mereka
untuk membantu. Sehingga beberapa saat kemudian jumlah para pengawal yang
bertempur disamping laki-laki di padukuhan itupun menjadi semakin banyak.
Iswari, Ki Bekel dan beberapa orang pemimpinlainnya masih menunggu di belakang
api yang semakin mengecil. Bahkan sejenak kemudian maka pintu gerbang yang
terbakar itupun telah runtuh menjadi abu.
Demikian gerbang itu runtuh, maka para pemimpin dari kedua belah pihak segera
melihat, dengan siapa mereka berhadapan.
Warsi menggeram. Ia tidak mengira, bahwa demikian cepatnya Iswari ada di
padukuhan itu. Namun ia merasa juga beruntung, bahwa dengan demikian ia akan
sempat menjajagi ilmunya.
Ki Rangga Gupita yang melihat kehadiran Iswari segera memperingatkan Warsi, “Kau
jangan tenggelam dalam gejolak perasaanmu. Ingat, kita baru akan menjajagi
kemampuan para pengawal Tanah Perdikan ini.”
Warsi mengerutkan keningnya. Sebelum ia menjawab Ki Rangga berkata pula, “Bulan
belum bulat malam ini.”
Warsi memang menengadahkan wajahnya kelangit. Bulan memang belum bulat.
Untuk beberapa saat para pemimpin itu menunggu. Mereka tengah mempersiapkan diri
untuk menghadapi segala kemungkinan yang bakal terjadi.
Sementara itu di balik bukit Sambi Wulung dan Jati Wulung masih mengintai
orang-orang yang tidak ikut dalam kelompok-kelompok yang menyerang Tanah
Perdikan Sembojan. Mereka agaknya tidak mempunyai tugas tertentu selain
mempersiapkan diri untuk tugas besar yang akan dilakukan oleh semua kekuatan
yang ada di balik bukit itu. Dua hari lagi, saat bulan penuh, mereka akan
menyerang Tanah Perdikan Sembojan dengan seluruh kekuatan ke padukuhan induk dan
menghancurkan semua isinya.
Sambi Wulung dan Jati Wulung yang masih bersembunyi di belakang
gerumbul-gerumbul perdu itu tidak segera meninggalkan tempat itu. Mereka yakin,
bahwa Tanah Perdikan akan dapat mengatasi kehadiran beberapa kelompok orang dari
balik bukit itu meskipun dipimpin langsung oleh Ki Rangga Gupita dan Warsi
sendiri. Tetapi di Tanah Perdikanpun terdapat orang-orang yang akan dapat
mengimbangi kemampuan mereka.
Karena itu, maka kedua orang itu ternyata telah mempunyai rencana mereka
sendiri.
Beberapa saat kemudian, keduanya sama sekali tidak menjauhi tempat itu, tetapi
justru semakin mendekat. Dalam cahaya bulan, mereka melihat dua orang yang
bertugas mengamati keadaan. Keduanya berjalan saja sambil berbicara
perlahan-lahan. Nampaknya keduanya terlalu yakin bahwa tidak akan terjadi
sesuatu di balik bukit itu.
Dengan sikap yang kurang berhati-hati kedua berdiri diatas tebing sambil
memandang ke dalam bayangan bulan. Sementara itu agak kebawah terdapat beberapa
buah goa yang dihuni oleh kelompok-kelompok pengikut Ki Rangga dan Warsi serta
beberapa kelompok lain yang telah bergabung dengan mereka, sementara mereka
membelakangi punggung pebukitan yang memang tidak terlalu tinggi. Panggung bukit
yang dijalari jalan setapak yang telah dilewati kawan-kawannya yang pergi ke
Tanah Perdikan Sembojan.
Nampaknya bayangan bulan yang gelap di lembah sempit dihadapan mereka telah
menarik perhatian mereka. Puncak-puncak pepohonan liar nampak kehitam-hitaman.
Namun yang tidak mereka perhitungkan sama sekali adalah dua orang dibalik
gerumbul yang telah menarik tali busur mereka.
Sejenak kemudian, kedua orang itu bagaikan terlempar kedalam jurang yang tidak
begitu dalam dan tanpa sempat mengeluh karena anak-panah telah menembus dari
punggung mereka langsung mengenai jantung.
Tetapi Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak segera meninggalkan tempat. Mereka itu
masih merayap mendekat. Ketika mereka melihat dua orang yang berjaga-jaga sambil
duduk diatas sebuah batu raksasa dipinggir jalan sempit yang menuruni tebing
menuju ke goa mereka, maka sekali lagi tali busur mereka bergetar. Kedua orang
itupun sama sekali tidak sempat mengaduh. Mereka terdorong dan jatuh kebalik
batu raksasa itu.
Demikianlah dengan diam-diam, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah mengurangi
jumlah lawan yang mungkin akan datang ke padukuhan induk Tanah Perdikan.
Orang-orang yang bertugas disekitar sarang dari orang-orang yang berada di balik
bukit itupun telah hilang tanpa sempat memberikan isyarat.
Bahkan Sambi Wulung dan Jati Wulung telah bergerak lebih dekat lagi dengan
goa-goa yang ada beberapa buah di lereng bukit yang berseberangan dengan arah
Tanah Perdikan itu.
Ternyata bahwa orang-orang yang tinggal di goa itu memang belum tidur. Beberapa
orang diantara mereka masih berkeliaran didepan goa. Namun agaknya yang lain
memang telah beristirahat didalam.
Sambi Wulung dan Jati Wulung memang orang-orang yang berani. Selain kemampuan
membidik yang tinggi, keduanya memiliki ilmu yang tinggi pula. Meskipun keduanya
masih belum ingin terlibat kedalam pertempuran langsung, namun keduanya memiliki
keyakinan, bahwa orang-orang didalam goa itu tidak akan mampu mengejarnya jika
keduanya mengelakkan diri.
Karena itu, untuk beberapa saat keduanya masih menunggu kesempatan. Orang-orang
yang bernasib buruk ternyata masih saja terdapat di tempat itu. Seorang yang
termangu-mangu disisi mulut goa telah jatuh pula terkulai.
Sambi Wulung dan Jati Wulung menjadi ragu-ragu ketika mereka melihat lima orang
sedang memanaskan diri diseputar api yang tidak terlalu besar. Agaknya kelima
orang itu tidak akan dapat dikenainya bersama-sama sehingga jika dua diantara
mereka terbunuh, maka yang lain tentu mempunyai kesempatan untuk memberikan
isyarat.
Karena itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulungpun telah menunggu.
Namun agaknya seseorang telah menemukan tubuh kawannya yang terbaring jatuh.
Dari kejauhan terdengar seseorang berteriak nyaring, “Kawan kita terbunuh.”
Beberapa orang didalam goa telah dengan sigapnya meloncat keluar dan
berlari-lari ke arah suara itu. Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung ternyata
masih mempergunakan kesempatan terakhirnya. Apapun yang dilakukan, maka sebentar
lagi, semua orang ditempat itu tentu akan mengetahui bahwa kawan-kawannya telah
terbunuh.
Karena itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung telah bertekad untuk membunuh
kelima orang itu sebelum mereka sempat pergi.
Ternyata ketangkasan kedua orang itu sangat mengagumkan. Dalam sekejap, dua
orang telah tertusuk ujung panah didada mereka. Sementara itu, ketiga orang
lainnya memang sempat menarik pedang mereka sambil berteriak. Tetapi dua
diantara mereka tidak mampu menangkis anak panah yang meluncur seperti tatit
diudara. Sementara orang kelima memang sempat meloncat dan menjatuhkan diri
berguling ditanah. Kemudian melenting berdiri dan meloncat kebelakang gerumbul.
Namun akhirnya ia juga terkapar jatuh. Bahkan dua anak panah telah menembus
tubuhnya.
Sarang para pengikut Warsi dan Ki Rangga Gupita itu memang menjadi gempar.
Beberapa orang segera berlarian. Sebagian ke arah orang pertama yang berteriak
karena melihat kawannya terbunuh oleh anak panah, sementara yang lain berlari ke
arah teriakan dari orang terakhir yang terkena anak panah itu.
Ketika beberapa orang kemudian berlari-lari, ternyata bukan hanya satu dua orang
saja yang terkena panah, tetapi jauh lebih banyak.
Sementara keributan itu terjadi, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah pergi
menjauh. Keduanya menyusuri jalan setapak naik kepunggung bukit. Namun kemudian
mereka berdua telah keluar dari jalan setapak itu dan berada didalam
gerumbul-gerumbul yang cukup lebat.
Tetapi dari tempatnya Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak sempat melihat
keributan dilembah, didepan beberapa buah goa yang dihuni oleh para pengikut Ki
Rangga Gupita dan Warsi.
Namun setelah beberapa saat mereka menunggu, maka yang mereka tunggu itu
benar-benar telah datang. Beberapa orang nampaknya berusaha mengejar mereka
mengikuti jalan setapak.
Sambi Wulung dan Jati Wulung membiarkan mereka lewat. Tetapi ketika yang nampak
dari tempat keduanya bersembunyi adalah punggung orang-orang itu, maka keduanya
mulai membidik.
Dalam sekejap dua orang mengaduh dan jatuh terkapar. Demikian iring-iringan itu
berhenti dan berpaling melihat kedua kawannya jatuh, dua orang lagi telah
terbanting ditanah. Sementara orang ke lima dan keenampun tidak sempat
menyelamatkan dirinya.
Namun orang ketujuh dan berikutnya telah menghambur kebalik gerumbul-gerumbul
liar disekitarnya.
Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak menghiraukan mereka lagi. Keduanya segera
mengendap-endap meninggalkan tempat itu. Mereka sadar bahwa masih ada beberapa
orang yang hidup. Tetapi agaknya Sambi Wulung dan Jati Wulungpun akan mengalami
kesulitan untuk dapat membunuh mereka semuanya.
Dengan demikian maka sisa orang-orang itupun telah ditinggalkannya justru
menuruni bukit diseberang. Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak mengalami
kesulitan, karena petugas sandi dari Tanah Perdikan Sembojan telah menunjukkan
jalan kepada mereka. Bukan jalan yang mengikuti jalan setapak. Tetapi jalan
diantara gerumbul-gerumbul perdu dan batu-batu padas.
Karena itulah, maka para pengikut Warsi dan Ki Rangga serta orang-orang yang
bergabung dengan mereka tidak dapat menemukan orang-orang yang telah menyerang
kawan-kawan mereka dengan panah.
Seorang pemimpin kelompok yang menjadi sangat marah telah bersepakat dengan
beberapa orang yang lain untuk mengerahkan orang-orang mereka mencari keseluruh
punggung bukit. Di lembah dan relung-relung, sementara yang lain mengikuti jalan
setapak sampai menuruni bukit yang menghadap ke Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi
mereka tidak menemukan seseorang. Yang mereka temukan adalah tubuh-tubuh yang
terbujur membeku dengan anak panah yang menembus tubuhnya menusuk jantung.
“Gila,“ geram para pemimpin kelompok, “sangat memalukan. Serangan iblis seperti
ini dapat terjadi tanpa perlawanan sama sekali.”
Namun hal itu nyatanya memang sudah terjadi.
Sementara itu agak jauh dibawah bukit, disebuah padukuhan yang cukup besar dari
lingkungan Tanah Perdikan Sembojan, pertempuran telah terjadi dengan sengitnya.
Para pengawal padukuhan itu dibantu oleh para pengawal berkuda serta beberapa
pengawal dari padukuhan sekitarnya, yang meskipun jumlahnya kecil namun
bersama-sama dari beberapa padukuhan, jumlahnya menjadi cukup pula.
Para pengikut Ki Rangga dan Warsipun mengetahui, bahwa mereka tidak bertempur
sesungguhnya untuk merebut padukuhan itu. Tetapi tugas mereka adalah untuk
menjajagi kemampuan para pengawal Tanah Perdikan. Namun ketika mereka
benar-benar telah terlibat dalam pertempuran, maka tidak ada lagi bedanya,
apakah mereka sedang menjajagi kemampuan para pengawal atau mereka memang ingin
menghancurkan padukuhan itu. Karena para pengawal itupun dengan senjatanya tidak
lagi sekedar menunjukkan kemampuan mereka, tetapi mereka benar-benar ingin
membunuh para pengikut Ki Rangga dan Warsi itu sebanyak-banyaknya.
Demikianlah maka pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin sengit. Kedua
belah pihak telah meningkatkan kemampuan mereka masing-masing.
Ternyata bahwa para pengikut Ki Rangga, Warsi dan orang-orang yang bergabung
dengan mereka, yang sebagian adalah bekas prajurit yang kehilangan pegangan
sebagaimana Ki Rangga Gupita, harus mengakui, bahwa para pengawal Tanah Perdikan
adalah anak-anak muda yang telah terlatih baik. Bahkan laki-laki yang sudah
lebih tuapun mampu mempergunakan senjatanya, apalagi mereka yang pernah menjadi
pengawal Tanah Perdikan justru pada saat Tanah Perdikan itu bergejolak.
Dalam pada itu, Ki Rangga, Warsi, beberapa orang pemimpin dari kelompok-kelompok
yang bergabung bersamanya serta beberapa pengawal masih berada di depan regol
yang telah menjadi abu. Namun sejenak kemudian, tangannya yang gemetar telah
bergerak menyentuh senjatanya.
“Ingat,“ sekali lagi Ki Rangga mengingatkan, “kau masih menunggu dua hari lagi.”
Warsi berdesah. Tetapi iapun kemudian memberi isyarat kepada para pemimpin dari
pengikutnya serta orang-orang yang bergabung bersamanya untuk memasuki
padukuhan.
Mereka telah berloncatan diatas reruntuhan yang dibeberapa bagian masih menyala.
Namun, tenaga mereka mampu melontarkan mereka melampaui reruntuhan yang panas
itu.
Didalam, Iswari memang telah menunggu. Dua orang kakeknya yang juga gurunya
berdiri disebelah menyebelahnya. Sementara pemimpin pengawal dan pemimpin
pengawal berkuda telah siap pula bersama beberapa orang pengawal terpilihnya.
Warsi nampaknya hampir tidak dapat mengendalikan diri lagi. Setelah kekalahannya
sekitar sepuluh tahun yang lalu, maka dendamnya bagaikan membakar kepalanya.
Meskipun Ki Randu Keling berusaha untuk membujuknya agar ia menganggap bahwa
persoalannya dengan Iswari telah selesai, namun dendam Warsi yang membara
rasa-rasanya tidak akan dapat terhapus tanpa lepasnya nyawanya atau membunuh
Iswari.
Karena itu, maka tanpa menghiraukan apapun juga, maka Warsipun dengan serta
merta telah menyerang Iswari yang sudah siap menunggunya.
Kiai Badra dan Kiai Soka yang ada disebelah menyebelahnya mengamatinya dengan
tegang. Namun mereka-pun kemudian harus bertempur pula melawan para pemimpin
yang ikut bersama Warsi, termasuk Ki Rangga Gupita.
Ki Bekel dan pemimpin pengawal dari padukuhan itu, menyadari, bahwa mereka
memang harus menepi. Jika tidak, maka ilmu yang tinggi diantara para pemimpin
dari kedua belah pihak itu akan dapat melumatkannya.
Beberapa saat kemudian, Warsi dan Iswari memang sudah bertempur. Dendam Warsi
yang menyala telah mendorongnya untuk sampai pada tataran yang tinggi dari
ilmunya, meskipun Warsi berusaha sekuat tenaganya untuk tidak sampai kepuncak,
dan tidak melibatkan diri dari pertempuran hidup dan mati melawan Iswari.
Sejenak kedua perempuan itu bertempur. Setelan sekitar sepuluh tahun yang lalu,
maka ternyata kedua orang itu telah meningkatkan ilmunya. Warsi merasa dininya
telah menjadi semakin mapan dengan ilmunya, sehingga karena itu, maka ia telah
berusaha menjajaginya dengan membenturkan ilmunya itu langsung kepada Iswari,
orang yang paling didendamnya.
Iswari memang terkejut melihat kekayaan unsur gerak yang kemudian dimiliki oleh
Warsi. Kecepatannyapun telah meningkat serta rasa-rasanya ilmu perempuan itu
memang benar-benar telah menjadi matang.
Namun Iswaripun mempergunakan perhitungan pula. Sebagai Pemangku Jabatan Kepala
Tanah Perdikan ia sadar, bahwa yang dilakukan oleh Warsi itu tentu belum
seluruhnya. Warsi masih belum menyerang padukuhan induk serta belum
mempergunakan seluruh kekuatannya.
Karena itu, maka Iswaripun sekedar melayani Warsi pada tataran ilmu yang
seimbang. Iswari masih belum menunjukkan tingkat terakhir dari ilmu Janget
Kinatelon yang telah disempurnakan oleh ketiga orang gurunya.
Meskipun demikian, meskipun kedua orang perempuan itu masih belum sampai
kepuncak, namun pertempuran diantara merekapun menjadi semakin sengit. Keduanya
berloncatan dengan cepat sekali dan dengan langkah-langkah panjang. Tangan Warsi
bergerak-gerak kesegala arah, seakan-akan kedua tangannya itu telah menjadi
beberapa pasang tangan yang bergerak bersama-sama.
Tetapi Iswaripun bagaikan tidak berjejak diatas tanah. Kakinya telah melontarkan
tubuhnya yang seakan-akan menjadi tanpa bobot. Sehingga dengan demikian, maka
tubuh Iswari bagaikan bayangan yang berputaran membingungkan.
Demikianlah kedua orang perempuan itu telah bertempur diantara hiruk pikuk
pertempuran. Sementara itu Ki Rangga Gupitapun telah bertemu dengan Kiai Badra
yang tua. Namun orang yang nampaknya sudah terlalu tua itu masih saja mampu
mengimbangi ketangkasan gerak Ki Rangga Gupita.
“Iblis manakah yang merasuk didalam tubuhmu yang telah menjadi rapuh itu he?“
bertanya Ki Rangga Gupita.
“Aku memang sudah tua,“ jawab Kiai Badra, “aku sudah punya cicit. Bahkan cicitku
sudah hampir dewasa. Beberapa tahun lagi aku harapkan bahwa aku akan mempunyai
udeg-udeg. He, bukankah anak dari cicit itu disebut udeg-udeg.?”
“Persetan,“ geram Ki Rangga sambil menyerang Kiai Badra yang tua itu.
Kiai Badra masih saja dapat bergerak dengan tangkas. Meskipun dukungan
kewadagannya tidak lagi seperti beberapa tahun yang lalu, tetapi karena dorongan
kekuatan cadangan didalam dirinya, maka ia tetap seorang yang sangat berbahaya.
Dalam pada itu, pertempuran di bagian lain dari padukuhan itupun berlangsung
dengan sengitnya. Para pengikut Warsi dan Ki Rangga, yang sebagian terdiri dari
bekas prajurit di masa pergolakan antara Jipang dan Pajang, harus mengakui,
bahwa pengawal di Tanah Perdikan itu terdiri dari anak-anak muda yang terlatih
baik, didampingi oleh orang-orang tua yang berpengalaman, sehingga dengan
demikian maka mereka harus berhati-hati menghadapi Tanah Perdikan Sembojan.
Pemimpin-pemimpin kelompoknyapun terpilih diantara orang-orang terbaik dari
antara para pengawal. Merekapun ternyata memiliki pengetahuan perang gelar yang
cukup luas serta memiliki kemampuan pribadi yang memadai.
Karena itulah, maka para pengikut Warsi dan Ki Rangga itu harus benar-benar
berhati-hati menghadapi lawan mereka.
Dalam pada itu, Ki Ranggapun sempat memperhatikan beberapa orang yang bertempur
disekitarnya. Iapun melihat betapa pertahanan Tanah Perdikan cukup kuat.
Sambil bertempur melawan Kiai Badra, maka Ki Rangga berusaha menilai keadaan,
sementara Kiai Badra sendiri sama sekali tidak berusaha untuk menekan lawannya.
Kiai Badra seakan-akan dengan sengaja memberi kesempatan kepada Ki Rangga untuk
melihat keseimbangan pertempuran itu. Karena itu, setiap kali Ki Rangga berusaha
menjauhinya, maka Kiai Badra sama sekali tidak memburunya.
Dengan demikian maka Ki Rangga itu berhasil mengamati pertempuran itu dengan
saksama. Iapun sempat menyaksikan pertempuran antara Warsi dan Iswari yang
meningkat memasuki tataran ilmu yang semakin tinggi.
Sebenarnyalah bahwa bagi Warsi dan Iswari, kesempatan itu tidak akan ada bedanya
dengan kesempatan kapanpun juga yang akan mereka peroleh. Karena itu, selagi
mereka bertemu di arena maka memang sulit bagi keduanya untuk mengekang diri.
Meskipun belum sampai pada puncak ilmu mereka masing-masing, maka pada setiap
kesempatan, serangan mereka benar-benar merupakan serangan-serangan yang
berbahaya. Bahkan serangan-serangan yang benar-benar mengarah ke tempat-tempat
yang paling berbahaya pada tubuh seseorang.
Tetapi keduanyapun memiliki ketangkasan untuk menghindari. Namun sekali-sekali
mereka menangkis serangan itu. Dengan demikian terjadi benturan-benturan kecil
yang dapat dipergunakan untuk menjajagi kemampuan lawan.
Dalam pada itu, Ki Rangga yang memang rasa-rasanya lebih bebas untuk mengamati
keadaan melihat Warsi dan Iswari justru semakin meningkatkan ilmu mereka.
Beberapa saat kemudian, Ki Rangga menganggap bahwa yang harus mereka lakukan
memang sudah selesai. Sementara itu Raden Rangga tahu, bahwa bantuan dari
padukuhan-padukuhan kecil disekitar padukuhan yang agak besar itu menjadi
semakin banyak sehingga Ki Rangga tidak mau menanggung akibat yang lebih buruk
lagi bagi orang-orangnya yang pada saatnya akan benar-benar dipergunakan.
Karena itu, maka Raden Rangga memang menganggap bahwa penjajagan yang mereka
lakukan saat itu telah cukup.
Dengan demikian, maka Ki Rangga Gupitapun telah membunyikan aba-aba untuk
meninggalkan padukuhan itu. Tanda-tanda sandi yang hanya diketahui oleh
orang-orangnya.
Sejenak kemudian isyarat itupun telah tersebar diseluruh medan. Dengan demikian,
meskipun para pengawal padukuhan semula tidak tahu maksudnya, namun akhirnya
mereka dapat menduga, apakah yang dimaksud dengan isyarat itu.
Sebenarnyalah, maka sejenak kemudian para pengikut Ki Rangga Gupita dan Warsi
itu telah melakukan gerakan yang mengejutkan para pengawal. Namun sejenak
kemudian, mereka memanfaatkan kesempatan yang timbul untuk menarik mundur
pasukan mereka. Tidak dengan perlahan-lahan. Tetapi dalam keremangan bayangan
pepohonan di padukuhan, mereka telah menghambur berlari ke dinding padukuhan.
Sejenak kemudian, maka orang-orang dari balik bukit itu telah berloncatan keluar
dari dinding padukuhan.
Di bagian dalam regol padukuhan itu, Warsipun telah bersiap-siap untuk
meninggalkan padukuhan itu. Ki Rangga telah mengatur beberapa orang pengikutnya
untuk menimbulkan suasana yang memungkinkan mereka keluar dari padukuhan itu.
Mereka tidak perlu lagi meloncati abu yang panas dari pintu gerbang yang telah
terbakar, karena api memang telah padam.
Demikianlah, maka sejenak kemudian, orang-orang dari balik bukit itupun telah
berloncatan meninggalkan arena. Ketika para pengawal akan mengejar mereka, maka
Iswari telah memberikan isyarat, agar mereka tidak melakukannya.
“Mungkin kalian akan memasuki satu jebakan di luar padukuhan,“ pesan Iswari
kepada para pemimpin pengawal.
Para pengawal memang menjadi kecewa. Tetapi mereka mengerti sikap hati-hati
Iswari, karena lawan mereka adalah orang-orang yang sangat licik. Sehingga
dengan demikian maka para pengawal memang tidak berusaha untuk mengejar
lawan-lawan mereka yang melarikan diri.
Pertempuran yang terjadi memang bukan pertempuran antara hidup dan mati dari
kedua belah pihak. Meskipun demikian ada juga korban yang jatuh. Baik dari
antara para pengawal, maupun dari orang-orang di balik bukit. Bahkan diantara
para penyerang terdapat pula beberapa orang yang tertangkap karena mereka tidak
berhasil melarikan diri oleh luka-lukanya.
Tetapi para pemimpin di Tanah Perdikan itu memang tidak terlalu banyak mengharap
keterangan dari mereka. Mereka tentu sudah mendapat petunjuk-petunjuk, bahkan
perintah yang disertai dengan ancaman, agar mereka tidak memberikan penjelasan
tentang kedudukan mereka.
Namun Iswari masih berpengharapan untuk mendapatkan keterangan itu. Mungkin
keterangan yang didengar dari orang-orang yang tertawan itu akan dapat
digabungkan dengan keterangan dari Sambi Wulung dan Jati Wulung.
Dalam pada itu, untuk beberapa saat Iswari dan Ki Bekel telah membenahi
padukuhan itu. Mereka berusaha untuk menemukan semua orang yang terluka. Setiap
orang harus melaporkan jika mereka tidak melihat seseorang yang dikenalnya.
Apakah tetangganya, apakah justru keluarganya atau siapa saja, sehingga dengan
segera dapat diketahui para korban yang jatuh malam itu.
Karena itulah, maka pencaharian telah dilakukan dengan mengerahkan semua orang,
terutama di bekas arena pertempuran. Sedangkan orang-orang yang tertawan telah
dibawa ke banjar. Adapun orang-orang padukuhan itu yang terluka dan yang menjadi
korban telah dibawa kerumah Ki Bekel.
Meskipun pertempuran itu terhitung tidak terlalu lama, namun memang ada korban
yang jatuh diantara orang-orang padukuhan itu. Seorang pengawal dan dua orang
yang lain telah gugur. Sedangkan lima orang terluka cukup parah dan lebih dari
sepuluh orang telah tergores senjata.
Beberapa orang telah sibuk membantu seorang tabib yang disegani di padukuhan
itu. Dengan kepandaiannya meramu berbagai macam dedaunan dan beberapa jenis
akar-akaran, maka ia telah membuat obat yang dapat dipergunakan untuk mengobati
luka-luka baru sehingga dalam wiaktu singkat darahpun telah menjadi pempat.
Sementara di padukuhan itu terjadi kesibukan untuk merawat orang-orang yang
gugur dan terluka, bahkan juga merawat orang-orang dari balik bukit yang
tertawan, Warsi dan Ki Rangga telah membawa orang-orangnya kembali. Merekapun
dengan cepat mengetahui bahwa tujuh orang tidak ada lagi diantara mereka.
Mungkin terbunuh, tetapi mungkin juga tertawan.
Sebenarnyalah diantara tujuh orang itu, dua orang memang terbunuh. Empat orang
terluka parah, sedangkan yang seorang benar-benar tertawan tanpa segores lukapun
ditubuhnya. Sedang juga lebih dari sepuluh orang yang terluka ringan sempat ikut
serta melarikan diri dari padukuhan itu.
Diperjalanan beberapa orang pemimpin kelompok terpaksa mengobati luka
orang-orangnya yang mengalirkan darah, agar mereka tidak mengalami nasib buruk,
justru karena kehabisan darah, sementara luka-lukanya tidak termasuk luka yang
parah.
Iring-iringan pasukan dari balik bukit itu memang menghindari
padukuhan-padukuhan yang tentu sudah bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.
Meskipun padukuhan-padukuhan itu kecil dan kekuatan para pengawal dan anak-anak
mudanya tidak seberapa, tetapi mereka akan dapat membunyikan syarat, sehingga
pengawal berkuda akan dapat dengan cepat datang ke padukuhan itu, sementara
mereka memang tidak berniat untuk merebut kedudukan yang manapun juga.
Ketika iring-iringan itu mencapai kaki bukit, maka dua pasang mata mengikutinya
dari kejauhan. Ternyata Sambi Wulung dan Jati Wulung belum kembali ke padukuhan
induk. Meskipun keduanya telah menjauhi sarang para pengikut Ki Rangga dan Warsi
sehingga keduanya telah melintasi bukit sehingga mereka sudah berada dilereng
yang menghadap ke Tanah Perdikan Sembojan, namun keduanya masih bersembunyi
dibalik gerumbul sambil menunggu iring-iringan yang tentu akan melintasi jalan
setapak, mendaki bukit dan turun keseberang.
Beberapa saat Sambi Wulung dan Jati Wulung mengamati iring-iringan itu. Ternyata
pasukan itu masih cukup segar. Tidak terlalu banyak orang yang harus dirawat.
“Pertempuran tidak berlangsung lama,“ desis Jati Wulung.
“Tentu belum pertempuran yng sesungguhnya,“ berkata Sambi Wulung, “tetapi mereka
tentu akan memaki-maki setelah mereka mendapat laporan tentang orang-orang
mereka yang terbunuh.”
Jati Wulung mengangguk-angguk. Tetapi iapun kemudian berdesis, “Apakah kira-kira
Puguh ada diantara mereka?”
Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Dari tempatnya, mereka tentu tidak akan
dapat melihat seandainya Puguh ada pula didalam iring-iringan itu. Meskipun
masih remaja, tetapi ujudnya sudah tidak dapat dibedakan dengan orang-orang
dewasa. Jika Puguh ada diantara orang-orang itu, maka bentuk tubuhnya tentu
tidak akan dapat menunjukkan bahwa seorang anak muda remaja ada diantara mereka.
“Kemungkinan kehadirannya harus kita perhitungkan,“ berkata Sambi Wulung
kemudian.
“Maksudmu?“ bertanya Jati Wulung.
“Mungkin Puguh tidak sendiri. Mungkin ia membawa pengawal yang pernah melihat
kita di padepokannya. Karena itu, jika kita akan turun kedalam pertempuran yang
sebenarnya jika mereka menyerang padukuhan induk, maka kita harus dapat
menyamarkan diri,“ berkata Sambi Wulung.
Jati Wulung mengangguk-angguk. Topeng-topeng kecil yang ujudnya menakutkan itu
terdapat didekat pintu-pintu gerbang padukuhan induk. Agaknya mereka memang akan
menyerang padukuhan induk itu. Sejalan dengan kepercayaan Warsi tentang bulatnya
bulan, maka memang dapat diperhitungkan, kapan Warsi akan menyerang.
Namun dalam pada itu, Jati Wulung itupun bertanya, “Masih ada beberapa anak
panah. Apakah kita akan mempergunakannya?”
Tetapi Sambi Wulung menggeleng. Katanya, “jangan. Biarlah mereka berjalan dengan
tenang sampai ke sarang mereka. Baru mereka akan mengumpat-umpat.”
Jati Wulung tidah menyahut. Diamatinya iring-iringan yang menjadi semakin jauh
dibawah siraman cahaya bulan yang cerah meskipun belum bulat.
Beberapa saat kemudian, maka ujung dari iring-iringan itu mulai merambat naik,
mengikuti jalan setapak seperti seekor ular raksasa yang merambat.
Sambi Wulung dan Jati Wulung hanya dapat memandanginya dari kejauhan. Bahkan
kemudian setelah iring-iringan itu memanjat semakin tinggi, maka Sambi Wulungpun
berkata, “Marilah. Kita lihat, apa yang telah terjadi.”
“Kita akan kemana? Kembali ke padukuhan induk?“ bertanya Jati Wulung.
“Iring-iringan itu tentu tidak pergi ke padukuhan induk. Kita akan bertanya
kepada para peronda di padukuhan, kemana orang-orang itu pergi,“ desis Sambi
Wulung.
Demikianlah, maka Sambi Wulung dan Jati Wulungpun telah meninggalkan lereng
bukit itu menuju ke padukuhan. Dari orang-orang padukuhanlah maka Sambi Wulung
dan Jati Wulung menduga dari mana iring-iringan itu pergi. Apalagi ketika
keduanya mendapat keterangan tentang api yang menyala dipintu gerbang sebuah
padukuhan.
“Mereka tentu dari sana,“ berkata Sambi Wulung.
Dengan tergesa-gesa dan hati yang berdebar-debar keduanya telah pergi menuju ke
padukuhan yang pintu gerbangnya telah terbakar.
Sebenarnyalah, bahwa orang-orang dari balik bukit itu telah membakar regol
padukuhan yang lebih besar dari padukuhan-padukuhan yang lain disekitarnya,
sehinga sejenak kemudian maka Sambi Wulung dan Jati Wulung sempat melihat akibat
dari pertempuran yang terjadi di padukuhan itu, sementara Iswari, Kiai Badra dan
Kiai Soka masih berada di padukuhan itu pula.
Sementara itu, maka para pengikut Ki Rangga Gupita dan Warsi telah melintasi
puncak bukit dan kemudian menuruni tebing diseberang. Namun mereka terkejut
ketika mereka melihat beberapa buah obor yang dipasang didepan sarang mereka.
Apalagi ketika mereka menjadi semakin dekat. Mereka melihat beberapa sosok tubuh
yang terbaring diam di plataran goa yang terbesar yang terdapat di lekuk
pebukitan itu.
“Apa yang telah terjadi disini?“ Warsi hampir berteriak.
Orang yang diserahi tanggung jawab selama Ki Rangga dan Warsi meninggalkan
sarangnya itu melangkah mendekat dengan jantung yang terasa berdegup semakin
keras. Katanya dengan suara bergetar, “Sarang kita sudah kemasukan iblis.”
“Apa maksudmu?“ bertanya Warsi dengan mata terbelalak.
“Seseorang telah memasuki lingkungan ini dan membunuh kawan-kawan kita dengan
licik,“ jawab orang itu.
Wajah Warsi menjadi merah membara, sementara Ki Rangga bertanya dengan suara
gagap, “Apa yang telah dilakukannya?”
“Mereka membunuh kawan-kawan kita dengan panah,“ jawab orang yang bertanggung
jawab disaat Warsi dan Ki Rangga pergi itu.
Ki Rangga mengumpat dengan kasar. Dengan garangnya ia meloncat mendekati
tubuh-tubuh yang terbaring itu. Disebelah setiap orang memang terdapat sebuah
anak panah.
Dengan sorot mata yang penuh kemarahan dan dendam Ki Rangga melihat setiap anak
panah yang telah membunuh orang-orangnya.
Sementara ia mengumpat-umpat kasar, maka seorang yang sudah berambut putih
mendekatinya sambil berkata, “Kau tidak dapat mengumpat-umpat saja. Kau harus
berbicara dengan para pemimpin dari kelompok ini. Kematian orang-orang kita
disarang sendiri adalah pertanda, betapa beratnya lawan yang akan kita hadapi.
Tentu ada satu atau dua orang yang dengan sangat berani telah datang ke tempat
ini.”
“Sedikitnya dua orang,“ berkata salah seorang diantara mereka yang pada
saat-saat terakhir hampir saja ikut menjadi sasaran anak panah Sambi Wulung dan
Jati Wulung.
“Kita harus membalas kematian itu dengan kematian,“ geram Warsi.
“Apa yang akan kita lakukan?“ bertanya orang yang sudah berambut putih.
“Kita membunuh orang-orang Tanah Perdikan Sembojan sebanyak-banyaknya,“ berkata
Warsi.
“Apakah pantas jika kita membunuh orang-orang yang tidak terlibat langsung dalam
pertentangan ini?“ bertanya orang berambut putih itu.
“Aku tidak peduli. Bahkan perempuan dan anak-anak. Mereka harus menebus
kelicikan mereka dengan harga yang mahal,“ geram Warsi.
“Mereka sama sekali tidak licik. Mereka justru menunjukkan keberanian yang luar
biasa. Jika kita kemudian membunuh siapa saja, termasuk perempuan dan anak-anak
itulah yang disebut licik dan bahkan buas. Aku tidak sependapat. Kecuali jika
kita dapat membedakan diantara orang-orang Sembojan, yang manakah pengawal dan
yang manakah bukan,“ berkata orang berambut putih itu.
“Tetapi ketika kita memasuki padukuhan itu, kita harus melawan semua orang
laki-laki. Bahkan yang tua-tua sekalipun. Sama sekali bukan hanya pengawal,“
geram Warsi.
Orang berambut putih itu mengangguk-angguk. Ia-pun ikut serta memasuki padukuhan
itu untuk menjajagi kemampuan dan perlawanan orang-orang Tanah Perdikan
Sembojan. Menurut pengamatannya memang semua laki-laki telah melibatkan diri
kecuali mereka yang telah menjadi pikun.
Dan seperti yang diduga, Warsipun berteriak, “Kita akan membunuh semua orang
laki-laki di Tanah Perdikan Sembojan dimanapun kita bertemu untuk membalas
kematian kawan-kawan kita karena kelicikan orang-orang Tanah Perdikan Sembojan.”
Dalam pada itu, Kiai Badra dan Kiai Soka memang tengah berbincang dengan Iswari,
Sambi Wulung dan Jati Wulung. Kedua orang tua itu memang menjadi sangat cemas
karena langkah-langkah yang diambil oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung.
“Bagaimana jika orang-orang diseberang bukit itu mendendam kepada setiap orang
Tanah Perdikan ini?“ bertanya Kiai Badra.
“Aku tidak sempat memikirkannya,“ berkata Sambi Wulung, “karena aku melihat
sasaran yang menarik, maka aku telah melepaskan anak panahku.”
“Baiklah,“ berkata Kiai Badra, “kita harus cepat mengatasi kemungkinan yang
paling buruk yang dapat terjadi. Kita harus menyebar penghubung keseluruh
padukuhan di Tanah Perdikan ini. Tidak seorangpun dibenarkan keluar dari
padukuhan, siang dan malam. Hanya untuk dua hari saja. Setelah bulan purnama,
mungkin akan terjadi perubahan.”
“Jika pada saat purnama naik mereka tidak mengambil langkah-langkah penting,
maka kita akan menyergap goa diseberang bukit itu guru,“ desis Iswari.
Kiai Badra mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti jalan pikiran Iswari, sementara
Iswari itupun berkata, “Kita tidak mau selalu dibayangi oleh ketakutan hanya
karena sekelompok orang berada di balik bukit. Dimalam purnama naik, kita akan
menentukan sikap. Mereka atau kita yang akan menyerang. Jika malam itu mereka
tidak menyerang, maka menjelang fajar, kitalah yang akan menyerang sehingga
ketika matahari terbit, maka kita sudah memasuki lingkungan mereka.”
Kiai Sokapun kemudian menyahut, “Iswari, kita masih mempunyai kesempatan untuk
memikirkannya. Besok siang kita akan berunding. Mungkin rencanamu itu baik untuk
ditrapkan. Namun kita tidak boleh tergesa-gesa, karena banyak segi yang harus
kita perhitungkan.”
“Tetapi kita tidak mau membiarkan Tanah Perdikan ini seakan-akan berada dibawah
pengaruh orang-orang dibalik bukit itu. Seakan-akan kita hanya dapat melayani
kemauan mereka tanpa dapat mengambil sikap sesuai dengan keinginan kita
sendiri,“ berkata Iswari dengan wajah yang bersungguh-sungguh.
Kiai Badra dan Kiai Soka mengangguk-angguk. Mereka tidak membantah lagi. Mereka
menyadari, bahwa jiwa Iswari memang sedang terbakar, sehingga mereka
membiarkannya menjadi lebih tenang untuk sempat diajak berbicara.
Dalam pada itu, yang dapat dilakukan adalah perintah lewat para penghubung
berkuda, bahwa tidak seorang-pun dibenarkan keluar dari padukuhan masing-masing
untuk keperluan apapun. Nyawa mereka dapat terancam sehingga karena itu, maka
setiap orang harus berjaga-jaga.
Hanya para pengawal saja yang dibenarkan untuk meronda dibulak-bulak panjang.
Sementara itu di perbatasan, di gerbang-gerbang, para pengawal harus
mengembalikan orang-orang dari luar Tanah Perdikan yang akan memasuki Tanah
Perdikan itu untuk keperluan apapun. Mereka harus diyakinkan bahwa memasuki
Tanah Perdikan Sembojan dalam suasana seperti saat itu adalah sangat berbahaya.
Dengan demikian maka kehidupan di Tanah Perdikan Sembojan memang menjadi
bagaikan terhenti. Kesibukan hanya terjadi di dalam padukuhan-padukuhan.
Orang-orang yang tidak sempat pergi ke pasar harus mencukupi kebutuhannya dengan
meminjam tetangga-tetangganya atau mencarinya dikebun belakang.
Namun dengan kesadaran yang tinggi, rakyat Tanah Perdikan Sembojan telah
mematuhinya sebagaimana mereka patuh untuk tidak keluar malam dari padukuhan,
karena saat itu mereka ditakut-takuti oleh gerombolan-gerombolan serigala.
Karena itulah, maka yang kemudian lewat menyusuri bulak-bulak panjang hanyalah
para pengawal yang cukup kuat. Diantara mereka tentu ada yang menyandang busur
dan membawa anak panah endong dipunggung. Jika orang-orang dari balik bukit akan
membalas menyerang mereka dengan anak panah, maka para pengawalpun telah bersiap
melawan mereka.
Ketika kemudian langit menjadi merah, maka jalan-jalanpun tetap sepi. Tidak ada
suara pedati yang memuat barang-barang dagangan yang akan dibawa kepasar. Tidak
ada perempuan yang mendukung hasil bumi di sawahnya sambil berdendang
disepanjang jalan. Dilereng-lereng gelap tidak nampak obor-obor yang menyala,
yang biasanya beruntun berurutan menerangi kegelapan dibawah pohon-pohon besar
di pinggir jalan.
Bahkan sampai saatnya matahari terbit, jalan-jalan di Tanah Perdikan Sembojan
tetap sepi. Orang-orang dari luar Tanah Perdikan itu terpaksa kembali ke
padukuhan masing-masing. Namun pada umumnya mereka merasa berterima kasih atas
keterangan yang mereka dapatkan dari para pengawal di regol-regol jalan yang
memasuki Tanah Perdikan itu.
“Keamanan jiwa kalian terancam,“ berkata para pengawal.
“Terima kasih. Mudah-mudahan keadaan seperti ini cepat dapat diatasi oleh para
pemimpin dan rakyat Tanah Perdikan Sembojan,“ berkata orang yang terpaksa
kembali itu.
Sebenarnyalah maka di balik bukit Warsi telah mengatur orang-orangnya. Beberapa
orang harus turun ke Tanah Perdikan Sembojan. Mereka mendapat perintah untuk
membunuh siapa saja yang mereka jumpai. Dengan senjata apapun yang dapat mereka
pergunakan.
Justru karena Warsi yang hatinya bagaikan terbakar oleh peristiwa yang sama
sekali tidak diduganya itu telah lupa berpesan bahwa hanya laki-laki sajalah
yang boleh dibunuh.
Beberapa orang pilihan telah melintasi bukit dan turun ke lingkungan Tanah
Perdikan Sembojan. Mereka nampaknya memang seperti orang-orang kebanyakan yang
akan pergi kesawah atau ke pasar. Tidak nampak senjata di lambung mereka. Tetapi
mereka membawa senjata-senjata pendek dibawah baju mereka. Sementara beberapa
orang yang lain telah turun ke Tanah Perdikan dengan cara yang lain. Mereka
berusaha untuk dilihat oleh siapapun. Mereka berusaha untuk menemukan
orang-orang yang sedang pergi ke sawah dan membunuh mereka.
Tetapi ternyata mereka tidak menemukan seseorang. Disawah tidak ada petani yang
mengairi sawah mereka. Dijalan-jalan tidak ada orang yang lewat. Bahkan jalan
yang biasanya ramai dilalui orang yang pergi ke pasar, nampaknya terlalu sepi
dan lengang.
Beberapa orang yang berpura-pura pergi ke pasar, telah mengikuti jalan yang
biasanya ramai itu. Namun ketika ia sampai kesebuah padukuhan, maka para
pengawal di pintu gerbang telah memberitahukan, sebaiknya mereka kembali saja.
“Kenapa?“ bertanya orang itu.
“Tanah Perdikan ini sedang dibayangi oleh kegelisahan. Bahkan keadaan menjadi
sangat gawat sekarang ini,“ berkata pengawal itu.
“Tetapi jika demikian pasar akan menjadi kosong. Sedangkan kebutuhanku sangat
mendesak,“ jawab orang itu.
“Kami hanya menginginkan kebaikanmu saja,“ jawab pengawal itu.
Terima kasih Ki Sanak. Tetapi beri kesempatan kami melihat pasar di padukuhan
induk. Mungkin ada beberapa orang yang berjualan meskipun tidak sepenuh
biasanya,“ berkata orang itu, “mungkin ada yang kami butuhkan itu.”
“Apakah Ki Sanak tidak yakin, bahwa pasar-pasar di Tanah Perdikan ini kosong? Ki
Sanak, sebenarnya Ki Sanak ini dari mana? Apakah Ki Sanak tidak memasuki Tanah
Perdikan ini lewat jalan induk atau beberapa jalan yang biasanya dilalui oleh
sanak kadang dari luar Tanah Perdikan? Dan apakah Ki Sanak tidak mendapat
pemberitahuan di pintu gerbang disaat Ki Sanak memasuki Tanah Perdikan ini?“
bertanya pengawal itu.
Orang-orang itu termangu-mangu. Sementara itu, pemimpin pengawal padukuhan itu
justru merasa heran melihat sikap mereka meskipun ia masih berdiam diri.
“Ki Sanak,“ berkata seorang diantara mereka,“ jangan hiraukan keselamatan kami.
Kami yakin bahwa kami akan dapat menjaga diri kami.”
“Kami tidak menyangkal Ki Sanak,“ jawab seorang pengawal, “nampaknya kalian
memang memiliki kemampuan untuk melindungi diri sendiri. Tetapi kami memang
tidak ingin terjadi sesuatu di Tanah Perdikan kami. Jika disatu tempat kalian
benar-benar diserang oleh orang-orang yang tidak dikenal disini, maka tentu akan
terjadi pertempuran. Siapapun yang akan mati, maka kami, orang-orang Tanah
Perdikan Sembojan tidak akan dapat begitu saja mencuci tangan. Kami harus
menjawab pertanyaan-pertanyaan dari keluarga kalian atau siapapun yang
berhubungan dengan kalian jika kalian gagal mempertahankan diri.”
Orang-orang itu termangu-mangu. Namun seorang diantara mereka berkata, “Terima
kasih atas peringatan kalian. Kami akan meneruskan perjalanan. Kami akan
menempuh jalan padukuhan ini dan menghindari jalan-jalan bulak sejauh mungkin.”
Para pengawal itu nampaknya masih saja berkeberatan. Namun tiba-tiba saja
pemimpin pengawal padukuhan itu berkata, “Baiklah Ki Sanak. Jika kalian memang
akan meneruskan perjalanan. Asal segala tanggung jawab ada pada Ki Sanak
sendiri. Mumpung masih pagi. Ki Sanak akan melihat bahwa pasar-pasar di Tanah
Perdikan ini benar-benar kosong.”
Beberapa orang itu saling berpandangan. Kemudian seorang diantara mereka
berkata, “Terima kasih atas kesempatan ini. Kami mohon diri.”
Beberapa orang itupun kemudian melangkah meninggalkan regol padukuhan. Seorang
diantara mereka sempat berbisik, “Kita tidak akan dapat membunuh seorangpun jika
kita tidak memasuki padukuhan seperti ini. Ternyata semua orang telah di
perintahkan untuk tinggal di padukuhan.”
“Nampaknya langkah kami benar. Kita harus membunuh siapa saja yang berpapasan
dengan kita. Sokur dapat kita lakukan dengan diam-diam, jika tidak, kita harus
mengambil sikap.”
“Kita mencari kesempatan. Kita membunuh dengan perhitungan,“ berkata yang lain.
Yang lain mengangguk-angguk. Merekapun kemudian berjalan tanpa melakukan sesuatu
yang mencurigakan. Merekapun tidak menghiraukan meskipun mereka tahu, beberapa
orang padukuhan itu memperhatikan mereka dari dalam regol-regol halaman mereka.
Seorang diantara mereka telah menggamit kawannya, ketika mereka melihat seorang
laki-laki yang sedang menyapu jalan didepan regol halaman rumahnya. Dengan nada
rendah ia berkata, “Mungkin orang itu akan menjadi korban pertama. Kita bunuh
dan kita lemparkan kebelakang dinding halaman sebelahnya yang masih banyak
ditunbuhi rumpun-rumpun bambu itu.”
“Dua orang diantara kita akan berjalan didepan. Semua harus berlangsung cepat
tanpa menimbulkan kesan apapun. Orang itu tidak boleh mendapat kesempatan untuk
berteriak.
Yang lain mengangguk-angguk. Setidak-tidaknya mereka telah membunuh seseorang.
Senjata mereka telah basah oleh darah yang akan dapat mereka tunjukkan kepada
para pemimpinnya.
Dua orang diantara mereka telah mendahului kawan-kawannya. Mereka siap menyergap
orang yang sedang menyapu jalan yang penuh dengan daun bambu itu, tanpa
menghiraukan bahwa orang itu sudah melampaui separo baya. Rambutnya sudah mulai
memutih dan menilik badannya yang kurus, orang itu sama sekali tidak termasuk
seorang yang pernah terlibat dalam pertempuran yang manapun.
Tetapi orang-orang itu tidak peduli. Mereka harus membunuh orang-orang Tanah
Perdikan sebanyak-banyaknya.
Ketika dua orang yang mendahului kawan-kawannya itu menjadi semakin dekat,
tiba-tiba saja mereka terkejut. Mereka mendengar suara orang berlari-lari
dibelakang mereka.
Ketika mereka berpaling, mereka melihat tiga orang anak muda saling berkejaran.
Bahkan seorang diantara mereka yang mengejar dua orang yang lain telah memungut
batu sambil berkata, “berhenti, kalau tidak aku lempar kepalamu dengan batu.”
Tetapi kedua orang anak muda yang dikejarnya hanya tertawa saja berkepanjangan
sambil berlari. Namun kemudian mereka telah mendahului orang-orang yang melewati
padukuhan itu dan justru keduanya berhenti dan bersembunyi dibelakang orang yang
sedang menyapu itu.
“Paman, itu anakmu nakal,“ berkata salah seorang dari kedua orang anak muda yang
ternyata sedang bergurau itu.
Pemimpin dari beberapa orang dari balik bukit itu menggeram. Anak-anak muda itu
telah mengacaukan rencana mereka. Namun tiba-tiba ia berkata, “Kita bunuh ketiga
anak muda itu pula. Jika mereka sempat melawan dan memanggil kawan-kawannya,
kita melarikan diri mengikuti jalan ini dan kemudian berpencar keluar dari
padukuhan ini. Kita harus menyelamatkan nyawa kita masing-masing. Mudah-mudahan
kawan-kawan kita yang berada di bulak-bulak dengan senjata jarak jauh akan dapat
membantu kita.”
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka membiarkan saja anak muda yang mengejar
kawan-kawannya itu mendahului mereka. Sementara orang yang sedang menyapu jalan
itupun harus berhenti pula karena anak-anak muda yang berdesakan itu.
Tetapi orang-orang itu sudah bertekad untuk membunuh. Angan-angan mereka yang
buram diliputi oleh ke mauan membunuh itu saja sehingga mereka tidak sempat
membuat perhitungan yang lebih cermat lagi.
Namun sekali lagi mereka terkejut. Mereka mendengar lagi suara tertawa
dibelakang. Ternyata bukan saja anak-anak muda yang sedang bergurau, tetapi
beberapa orang pengawal yang berjalan menyusuri jalan padukuhan itu sambil
berkelakar.
“Setan,“ geram pemimpin dari beberapa orang itu. Bagaimanapun juga mereka tidak
dapat berbuat apa-apa. Para pengawal itu berjalan searah dengan mereka.
Karena itu, maka mereka harus membiarkan saja orang yang menyapu jalan itu
menepi bersama anak-anak muda yang sedang bergurau itu. Mereka tidak dapat
membunuhnya apalagi anak-anak muda itu karena dibelakang mereka beberapa orang
pengawal yang agaknya dari bertugas kembali ke rumah masing-masing.
“Para pengawal itu akan segera memasuki halaman rumah masing-masing,“ berkata
pemimpin pengawal itu.
Kawan-kawannya mengangguk. Sebelum mereka keluar dari padukuhan itu, maka para
pengawal itu tentu sudah keluar dari jalan induk menuju kerumah masing-masing.
Tetapi ternyata dugaan itu keliru. Para pengawal itu berjalan terus menyusuri
jalan induk itu, seakan-akan telah mengikuti mereka kemana mereka pergi.
“Setan,“ geram pemimpin dari orang-orang dari balik bukit itu, “kenapa mereka
berjalan dibelakang kita terus?”
“Apakah mereka mengetahui siapa kita?“ desis yang lain.
“Tentu tidak. Justru mereka berusaha minta agar kita tidak berada di Tanah
Perdikan ini untuk keselamatan kita,“ berkata yang lain.
“Tetapi kenapa mereka mengikuti kita?“ bertanya yang lain.
“Agaknya mereka sudah menjadi gila,“ geram pemimpin dari sekelompok orang-orang
dari balik bukit itu.
Beberapa saat lamanya orang-orang itu mencoba untuk menahan diri. Namun ternyata
mereka tidak mampu lagi mengendapkan perasaan mereka yang bergejolak. Sehingga
karena itu, maka merekapun justru telah berhenti ketika pemimpin mereka
memberikan isyarat.
Para pengawal yang berjalan dibelakang merekapun tertegun. Namun mereka berjalan
terus. Semakin lama semakin dekat dengan orang-orang yang datang dari balik
bukit.
“Kenapa kalian mengikuti kami? “ tiba-tiba saja pemimpin dari orang-orang dari
balik bukit itu bertanya.
Para pengawal itu terkejut mendengar pertanyaan itu. Namun yang tertua diantara
mereka berkata, “Kami sama sekali tidak mengikuti kalian. Tetapi kami akan pergi
ke mulut lorong disebelah lain karena kami harus menyampaikan beberapa pesan
dari pemimpin kami kepada mereka.”
“Tentu kalian telah mencurigai kami,“ desis pemimpin dari beberapa orang
pendatang itu.
Para pengawal itu saling berpandangan. Yang tertua diantara merekapun kemudian
justru bertanya, “jadi kalian merasa kami curigai dan kemudian kami awasi?”
Pemimpin dari para pendatang itu ragu-ragu sejenak. Tetapi katanya kemudian,
“Baiklah. Lebih baik kami meninggalkan padukuhan ini.”
“Itu lebih baik Ki Sanak,“ berkata orang tertua diantara para pengawal itu,
“sikap kalian telah menyinggung perasaan kami, para pengawal padukuhan ini.”
Orang-orang dari balik bukit itupun kemudian memang memutuskan untuk keluar dari
padukuhan itu. Pemimpinnyapun berkata, “Kami akan keluar dari padukuhan ini
lewat gerbang yang tadi kami masuki.”
“Sikap kalian memaksa kami untuk mengantarkan kalian sampai keluar regol
padukuhan,“ berkata orang tertua diantara para pengawal itu.
Orang-orang dari balik bukit itu memang tertegun. Mereka sebenarnya ingin
memanfaatkan keadaan, justru pengawal yang ada di regol telah berkurang. Mungkin
mereka akan dapat membunuh mereka sebelum melarikan diri.
Tetapi beberapa orang pengawal itu justru telah mengikuti mereka. Para pengawal
itu telah mempersilahkan orang-orang dari balik bukit itu untuk berjalan
dihadapan mereka.
“Kami terpaksa mencurigai kalian,“ berkata pengawal itu.
Orang-orang dari balik bukit itu hanya dapat mengumpat. Tetapi mereka tidak
dapat menolak. Bahkan rasa-rasanya mereka memang telah digiring keluar dari
padukuhan itu.
Beberapa saat kemudian mereka sudah berada di pintu gerbang. Ternyata dipintu
gerbang itu hanya tinggal empat orang saja yang bertugasSeandainya sekelompok
pengawal itu tidak kembali menggiring mereka, maka orang-orang dari balik bukit
itu akan dapat membunuh keempat orang pengawal itu dengan tiba-tiba tanpa
menarik perhatian mereka sebelumnya.
“Setan,“ geram pemimpin dari orang-orang dari balik bukit itu didalam hatinya.
Tetapi ia tidak dapat mengatakan sesuatu.
Sebagaimana sekelompok orang-orang yang tidak disukai lagi disatu tempat, maka
orang-orang dari balik bukit itupun telah diusir pula dari padukuhan itu.
Beberapa orang pengawal berdiri di pintu gerbang sambil memandangi orang-orang
yang melangkah menjauh itu. Sekali-sekali beberapa orang diantara mereka masih
berpaling. Namun mereka tidak mempunyai kesempatan untuk berbuat sesuatu.
Bahkan sejenak kemudian, maka seakan-akan dire-gol padukuhan itu menjadi semakin
banyak orang yang menyaksikan kepergian mereka dengan jantung yang berdegup
semakin keras dan wajah yang menjadi panas oleh kemarahan yang menghentak-hentak
dada mereka.
Bahkan seorang diantara mereka bertanya, “Kenapa mereka tidak kalian tangkap
saja?”
Para pengawalpun termangu-mangu. Namun peminpin sekelompok pengawal yang
bertanggung jawab saat itu berkata, “Kami memang mencurigainya. Tetapi kami
masih menghindari benturan kekerasan. Mungkin mereka sengaja memancing persoalan
sementara mereka telah mempersiapkan jebakan yang tidak kami ketahui. Karena
itu, kami masih berusaha menghindari benturan kekerasan itu.”
Yang lain mengangguk-angguk. Tetapi pada umumnya mereka mengerti alasan pemimpin
kelompok pengawal yang bertugas itu.
“Mudah-mudahan padukuhan-padukuhan lain tidak dapat dikelabuinya pula,“ berkata
pemimpin sekelompok pengawal itu. Lalu katanya pula, “sejak kehadirannya kami
sudah mencurigainya. Jika mereka orang-orang dari daerah tetangga, maka mereka
tentu masuk Tanah Perdikan melalui jalan-jalan utama atau jalan-jalan simpang
yang ramai, sehingga disaat mereka melintasi batas Tanah Perdikan, tentu sudah
ada sekelompok pengawal yang memberitahukan agar mereka kembali. Tetapi
orang-orang itu tiba-tiba saja sudah sampai di padukuhan ini.”
Para pengawalpun mengangguk-angguk. Bahkan ternyata hal itu telah didengar oleh
Ki Bekel pula, sehingga Ki Bekelpun telah datang ke regol padukuhannya untuk
minta keterangan tentang beberapa orang yang memasuki padukuhannya.
Dengan singkat pemimpin kelompok pengawal yang bertugas itupun memberikan
laporan tentang orang-orang yang tidak dikenal yang memasuki padukuhan itu,
justru pada saat keadaan sedang gawat.
“Kita memang harus mencurigai orang-orang yang tidak kita kenal,“ berkata Ki
Bekel, “kalian sudah melangkah ke arah yang benar. Sikap kalian dapat aku
mengerti. Namun kemudian, kita harus bersiap semakin kuat. Mungkin ada
langkah-langkah lain yang akan diambil oleh orang-orang itu. Jika perlu, kita
membunyikan isyarat kentongan atau panah sendaren.”
Sebenarnyalah, bahwa para pengawal telah dipanggil. Mereka yang sedang
beristirahatpun harus datang ke banjar. Mereka dipersilahkan untuk tidur
dibanjar, terutama bagi mereka yang bertugas di malam hari. Sementara itu, yang
bertugas menggantikan mereka telah bersiap pula dengan berbagai macam pesan.
Dalam pada itu, orang-orang yang datang dari balik bukit itu ternyata bahwa
mereka telah gagal menjalankan tugas, di Tanah Perdikan yang luas itu. Tidak
seorang-pun yang dapat mereka bunuh untuk melepaskan dendam dan kemarahan
pemimpin mereka, serta membalaskan kematian kawan-kawan mereka.
Demikian pula orang-orang yang bertugas dengan diam-diam berkeliaran di Tanah
Perdikan untuk menyergap orang-orang yang pergi ke sawah. Ternyata mereka tidak
menemukan seorangpun yang dapat menjadi sasaran pembunuhan.
Karena itu, maka ketika mereka telah hampir setengah hari menunggu dan tidak
mendapat kesempatan sama sekali, merekapun menjadi kehilangan harapan untuk
dapat berhasil dengan tugas mereka, sehingga meskipun dengan jantung yang
berdebaran, mereka telah memanjat tebing dan pergi keseberang bukit.
“Bagaimana mungkin hal itu terjadi,“ Warsi berteriak-teriak seperti orang gila,
“kalian ternyata sama sekali tidak berarti bagi kita semuanya disini. Tentu
tidak masuk akal, bahwa diseluruh Tanah Perdikan, tidak seorangpun yang dapat
kalian bunuh. Aku berharap kalian dapat membunuh tiga puluh atau bahkan seratus
orang, siapapun di Tanah Perdikan. Di pasar, di sawah, di padukuhan-padukuhan
atau dimana saja.”
“Agaknya orang-orang Tanah Perdikan Sembojan sudah bersiap-siap menghadapi
kemungkinan seperti itu. Tidak seorangpun yang keluar dari padukuhan, sementara
setiap padukuhan berada dibawah pengawasan yang ketat oleh para pengawal dan
anak-anak mudanya. Bahkan setiap jengkal tanah seakan-akan tidak luput dari
pengawasan mereka.”
“Omong kosong,“ teriak Warsi, “aku sendiri akan membuktikan.”
Tetapi Ki Rangga Gupita berkata, “Tidak ada gunanya. Kau masih mempunyai tugas
yang lebih berarti daripada membunuh tikus-tikus kecil. Bukankah kau pada
saatnya harus membunuh seekor harimau?”
Warsi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kemudian katanya dengan suara bergetar
dan dengan mata yang merah, “Kita sudah dihinakan oleh orang-orang Tanah
Perdikan itu. Bukan kita yang berhasil menakuti-nakuti mereka dengan gaya
segerombolan serigala atau dengan cara-cara lain menjelang bulan purnama, tetapi
justru mereka yang datang memasuki sarang kita dan dengan begitu mudahnya
membunuh orang-orang kita.”
“Bukankah akan datang saatnya kita membalas dendam?“ bertanya Ki Rangga, “tetapi
tidak perlu sekarang. Besok malam bulan bulat dilangit.“
Warsi menggeretakkan giginya. Hampir saja ia terlempar kedalam sifat seorang
perempuan, betapa keras dan kasarnya perempuan itu. Hampir saja ia memekik dan
menjerit menangis sejadi-jadinya untuk melepaskan kejengkelannya. Namun
untunglah bahwa ia segera sadar, bahwa ia bukan seorang perempuan cengeng yang
hanya pandai menangis dan merengek.
Namun Warsi memang dapat menahan dirinya. Ia tidak lagi berniat untuk turun
keseberang bukit karena kemarahan yang membakar jantungnya.
Dengan upacara sederhana, para pengikut Ki Rangga Gupita dan Warsi yang telah
terbunuh oleh panah Sambi Wulung dan Jati Wulung itu dikuburkan. Namun
diha-dapan para pengikutnya Warsi telah membakar jantung mereka. Warsi telah
berhasil mengorek rasa dendam dihati para pengikutnya, sehingga merekapun telah
berjanji kepada diri sendiri, bahwa jika saatnya datang, mereka harus membunuh
orang-orang Tanah Perdikan sebanyak-banyaknya.
Dalam pada itu, Tanah Perdikan Sembojan memang masih dibayangi oleh perasaan
cemas dan bahkan bagi perempuan dan kanak-kanak, rasa-rasanya mereka memang
dicengkam oleh ketakutan. Apalagi mereka yang tinggal dipadukuhan yang menghadap
ke bukit. Mereka tahu bahwa di seberang bukit itu terdapat kekuatan yang besar
yang setiap saat dapat menerkam mereka.
Dengan demikian maka para pengawal di setiap padukuhan itu telah bersiap-siap
sepenuhnya. Para pengawas tidak pernah menjadi lengah. Mereka mengawasi
sekeliling padukuhan mereka masing-masing dengan saksama. Kentongan telah
dipersiapkan hampir segala tempat, yang dapat dibunyikannya setiap saat.
Suaranya akan dapat menjangkau padukuhan-padukuhan bukan saja yang terdekat,
tetapi dua tiga padukuhan yang lain yang akan dapat menyambung suara isyarat itu
ke padukuhan-padukuhan yang lain dengan pertanda sandi atas padukuhan sumber
isyarat itu.
Disisa hari itu tidak terjadi sesuatu di Tanah Perdikan. Namun masih berlaku
larangan untuk keluar dari padukuhan karena keadaan yang semakin gawat, justru
disaat bulan purnama tinggal kurang satu malam lagi.
Ketika malam turun, maka bulan memang nampaknya sudah bulat. Tetapi menurut
perhitungan waktu, bulan baru akan bulat penuh besok malam.
Malam itu, Warsi berniat untuk beristirahat sepenuhnya. Namun ternyata masih ada
satu hal yang perlu dipertimbangkan. Apakah ia besok akan turun ke arena dan
menantang Iswari untuk berperang tanding sebagaimana pernah dilakukan, atau
begitu saja menyerang Tanah Perdikan, membunuh, membakar dan mengacaukan
segala-galanya tanpa menghiraukan apakah ia akan bertempur. Bagi Warsi, tidak
ada lagi orang yang ditakutinya, bahkan seandainya Ki Randu Keling berpihak
kepada Tanah Perdikan Sembojan sekalipun.
Tetapi tiba-tiba Warsi berkata, “Aku akan tidur. Aku tidak mau memikirkannya
sekarang. Aku akan tidur dibawah cahaya bulan, agar tenaga yang memancar
daripadanya membuat tenaga didalam diriku semakin penuh. Dengan demikian besok
aku akan turun ke arena dengan kekuatan yang tidak akan dapat diatasi oleh
siapa-pun juga.”
Tidak ada yang mencegahnya. Ki Ranggapun tidak. Iapun justru percaya bahwa ilmu
Warsi dipengaruhi oleh cahaya bulan. Jika semalaman ia tidur dibawah cahaya
bulan, seakan-akan kekuatan cahaya bulan itu menyusup dan memenuhi wadah yang
sudah tersedia didalam diri Warsi.
Bahkan Ki Ranggapun berkata, “Aku temani kau tidur dibawah cahaya bulan.”
Warsi tidak menjawab lagi. Seorang pengikutnya telah memberikan sehelai tikar
kepadanya dan sehelai kepada Rangga Gupita. Keduanya kemudian telah
membentangkan diatas rerumputan dibawah cahaya bulan jauh dari pepohonan,
sehingga sampai saatnya bulan turun ke Barat, cahayanya masih akan menyentuh
tubuh Warsi.
Namun dalam pada itu, setelah kedua orang itu berbaring, Warsi masih sempat
berdesis, “Dalam keadaan seperti ini ada baiknya Puguh kita bawa.”
“Bukankah aku sudah mengatakannya,“ desis Rangga Gupita. “Kau wajib memberikan
benih didalam hatinya kebanggaan atas Tanah Perdikan ini. Ia adalah anak Kepala
Tanah Perdikan ini. Jika kita semuanya berhasil, maka ia masih akan tetap
memiliki hak itu. Apalagi jika Iswari dan Risang telah mati. Karena tidak ada
orang lain yang akan tumbuh. Iswari yang tidak bersuami lagi itu tidak akan
beranak. Tetapi kau, setelah Puguh masih mempunyai anak lagi.”
“Persetan,“ geram Warsi, “sayang, Puguh tidak kita bawa.”
Ki Rangga Gupita tidak menjawab lagi. Tetapi iapuh mulai memejamkan matanya.
Nampaknya Ki Rangga justru telah tertidur lebih dahulu dari Warsi yang gelisah.
Bahkan sambil berbaring Warsi masih sempat memandang bulan bulat sambil memohon,
agar bulan itu memberikan kekuatan jauh lebih besar dari yang pernah
diberikannya.
Ternyata langit memang bersih. Tidak selembar awanpun yang hanyut dipermukaan
wajah bulan, sehingga cahayanya yang penuh telah menyiram tubuh Warsi yang
terbaring diatas sehelai tikar rasa-rasanya seluruh tubuh Warsi memang bergetar.
Cahaya itu bagaikan mengusap dan kemudian menyusup diantara lubang-lubang
kulitnya. Namun Warsi tidak sempat melihat, bahwa dedaunanpun telah bergerak
oleh angin malam yang lembut. Tetapi keyakinannya sendiri itu ternyata memang
dapat memberikan dorongan kekuatan yang besar baginya dalam keadaan yang paling
gawat dan disaat-saat yang paling diperlukan.
Seperti sebuah jambangan, maka Warsi berharap dirinya akan dituangi kekuatan
semalam suntuk, hingga jambangan itu benar-benar penuh dan bahkan meluap.
Sehingga saat dipergunakan, maka ia akan menjadi semakin perkasa dan tidak dapat
di imbangi oleh siapapun juga.
Di Tanah Perdikan Sembojan, kesiagaanpun benar-benar telah berada pada tataran
tertinggi. Namun menurut perhitungan para pemimpinnya, serangan orang-orang dari
balik bukit baru akan terjadi malam berikutnya. Tetapi mungkin sekali terjadi
sebagaimana malam sebelumnya. Nampaknya orang-orang dibalik bukit itu sedang
mengadakan pemanasan.
Dari orang yang tertangkap para pemimpin Tanah Perdikan menjadi semakin yakin,
bahwa serangan yang sebenarnya akan datang disaat bulan bulat sepenuhnya.
Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung malam itu tidak merasa perlu untuk mendekati
lagi sarang orang-orang yang berada diseberang bukit. Menurut perhitungannya,
penjagaanpun tentu akan menjadi lebih rapat, sehingga jika ia memaksa juga untuk
mendekat, maka ia akan mengalami kesulitan.
Meskipun tidak ada hubungannya dengan bulan, namun malam itu Iswari telah berada
didalam sanggarnya. Sekali lagi ia menilai ilmu puncaknya yang telah
disempurnakan oleh ketiga gurunya. Dalam pemusatan nalar budinya, Iswari sempat
mengingat apa yang pernah terjadi hampir sepuluh tahun yang lalu, ketika ia
berperang tanding melawan Warsi. Iswari mencoba mengingat tata gerak,
unsur-unsur gerak, senjata yang dipergunakan dan ilmu-ilmu puncak yang ada pada
lawannya. Dalam waktu yang panjang Iswari memang yakin, bahwa ilmu itu tentu
sudah meningkat. Namun Iswaripun meyakini dirinya sendiri, bahwa dalam sepuluh
tahun ia bukannya berdiam diri. Bahkan disaat terakhir, ilmunya telah melonjak
dengan loncatan panjang, karena guru-gurunya berhasil menyempurnakan Ilmu Janget
Kinatelon.
Namun kemudian dengan kepala tunduk dan telapak kedua tangannya menelakup
didepan dadanya, maka Iswari telah berdoa kepada Sumber Hidupnya. Yang Maha
Agung.
“Semoga apa yang hamba lakukan, berkenan dihati Yang Maha Agung, karena hamba
berniat untuk melindungi sesama dan menyingkirkan keangkara murkaan. Betapa
hamba mendambakan kedamaian di atas Tanah ini, namun ternyata bahwa terpaksa
sekali harus terjadi kekerasan. Tetapi apa yang hamba lakukan bersama-sama
dengan seisi Tanah pemberian Yang Maha Agung ini, semata-mata didorong oleh
tanggung jawab hamba atas kewajiban hamba.”
Ternyata Iswari berada beberapa lama didalam sanggarnya. Baru menjelang tengah
malam Iswari keluar dari sanggar dengan kepala tunduk. Memang kadang-kadang
masih juga terngiang pertanyaan di telinga hatinya, kenapa harus terjadi
kekerasan di atas Tanah yang diasuhnya itu. Kenapa darah masih harus tertumpah
diatas Tanah yang hijau segar oleh pepohonan dan rerumputan. Kenapa kehidupan
masih harus diwarnai dengan permusuhan dan bahkan pembunuhan.
Kadang-kadang Iswari memang merasa bimbang, apakah yang dilakukannya itu sudah
sesuai dengan kewajiban dan tanggung jawabnya. Bukan saja sebagai Pemangku
Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan, tetapi juga sebagai titah Yang Maha
Agung.
Iswari menarik nafas dalam-dalam ketika kemudian ia berada di halaman.
Dilihatnya para pengawal benar-benar berada dalam kesiagaan tertinggi. Dua orang
pengawal agaknya bertugas khusus untuk mengawasi sanggar selama ia berada
didalamnya tanpa mendapat perintahnya.
“Mereka terlalu baik,“ berkata Iswari didalam hatinya. “mereka telah menyerahkan
apa saja yang dimilikinya bagi Tanah kelahirannya.”
Diruang dalam Iswari masih bertemu dengan ketiga orang gurunya yang duduk
bersama Sambi Wulung dan Jati Wulung. Ketika mereka melihat Iswari yang sudah
keluar dari sanggarnya, maka merekapun kemudian beringsut untuk memberikan
tempat kepadanya.
Beberapa saat mereka masih berbincang. Namun tidak seorangpun diantara mereka
yang mengetahui, apa yang akan terjadi besok. Namun Iswari memang sudah siap,
seandainya Warsi menantangnya sekali lagi berperang tanding.
Nampn hampir diluar sadarnya, Iswari berkata, “Mudah-mudahan Risang dimasa
pemerintahannya kelak tidak mengalami pergolakan seperti ini.”
Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Bagaimanapun juga Risang harus
dipersiapkan untuk menghadapi segala kemungkinan.”
“Tetapi ia harus berpegang pada alas kewajibannya,“ berkata Iswari, “sementara
ini aku merasa, seakan-akan pertentangan yang ada sekarang adalah persoalan
pribadi. Kadang-kadang aku merasa malu, bahwa darah anak-anak muda terbaik dari
Tanah Perdikan ini harus tertumpah karena persoalan pribadi yang timbul antara
aku dan perempuan itu. Justru karena seorang laki-laki.”
“Tidak. Bukan itu, “sahut Nyai Soka,“ persoalan itu sudah lama selesai. Apalagi
Wiradana sudah tidak ada lagi sekarang. Yang terjadi sekarang adalah persoalan
hak dan kewajiban atas Tanah Perdikan ini.”
Iswari tidak menjawab. Tetapi kepalanyapun kemudian telah menunduk.
“Sudahlah,“ berkata Kiai Soka,“ beristirahatlah. Kau perlu beristirahat lahir
dan batin. Lupakan segala persoalan. Malam ini tidak akan terjadi sesuatu. Kau
harus meyakini itu, sehingga kau benar-benar akan dapat beristirahat.”
Iswari mengangguk. Iapun kemudian minta diri untuk pergi ke biliknya.
Iswari tertegun ketika ia melihat Bibi masih duduk di bibir pembaringannya.
“Bibi,“ desis Iswari yang terkejut melihat di mata Bibi tergenang air yang
kemudian menitik dipipinya yang mulai menjadi berkeriput oleh umurnya.
“Kenapa kau menangis?“ bertanya Iswari.
Tanpa menjawab pertanyaan itu, Bibi telah memeluk Iswari. Tangisnya tidak dapat
ditahannya lagi. Meskipun ia pernah disebut Serigala Betina, tetapi ia adalah
seorang perempuan.
“Bibi, kenapa?“ bertanya Iswari kemudian setelah Bibi menjadi agak tenang.
“Tidak apa-apa Nyi,“ jawab Bibi, “tiba-tiba saja aku telah dicengkam oleh
kenangan buruk dari tingkah lakuku sendiri. Sementara itu, sebuah pertanyaan
telah timbul didalam hatiku, kenapa kau tidak boleh hidup tenang. Sejak kau
kawin dengan Wiradana, kau sudah mengalami cobaan yang berat. Sekarang, ketika
umurmu merambat semakin tua, kau masih juga harus mengalaminya. Alangkah
mengerikan saat-saat aku berusaha membunuhmu justru ketika kau sedang hamil.
Kemudian kau tersingkir untuk beberapa saat. Kaupun pernah mengalami perang
tanding sehingga kau menjadi terluka didalam. Ternyata sekarang kau masih harus
mengalaminya lagi.“ Bibi itu berhenti sejenak, lalu, “Kapan kau dapat hidup
tenang seperti kebanyakan orang. Agaknya Ki Wiradana adalah seorang yang
menyebabkan hidupmu mengalami goncangan terus-menerus.”
“Sudahlah Bibi,“ berkata Iswari, “yakinlah akan kekuasaan Yang Maha Agung. Kita
sandarkan hidup kita kepada-Nya.”
Bibi itu mengangguk-angguk. Dengan suara bergetar ia berkata, “Tidurlah Nyi. Kau
perlu beristirahat.”
Iswaripun berdesis, “Aku akan beristirahat lahir dan batin. Mudah-mudahan besok
aku mendapatkan tenagaku yang utuh.“ Lalu katanya kepada Bibi, “Silahkan Bibi
juga beristirahat.”
“Aku tidak akan berbuat apa-apa Nyi. Biarlah aku menunggui Nyi Wiradana disini,“
jawab Bibi.
Nyi Wiradana tersenyum. Pada wajah Bibi masih nampak sikapnya yang keras dan
bahkan garang. Dimasa umurnya masih lebih muda, maka ia adalah seorang perempuan
yang ditakuti. Namun ternyata Bibi itu dapat menemukan jalan yang baik pada sisa
hidupnya.
Ketika Iswari kemudian berbaring, maka Bibipun tanpa diminta telah memijit kaki
Iswari. Sebagai seorang yang bertualang didunia yang keras, Bibi mempunyai
pengetahuan tentang urat dan syaraf serba sedikit yang diwarisinya dari orang
tuanya. Karena itu, maka dengan memijit kaki Iswari, ia berharap dapat membantu
memperlancar jalan darah serta membenahi urat syarafnya, sehingga penguasaan
Iswari atas tubuhnya menjadi semakin mapan.
Adalah diluar dugaan Iswari, maka tangan Bibi yang besar dan berat itu terasa
lunak di kakinya. Rasa-rasanya darahnyapun telah mengalir semakin lancar dan
urutan urat syarafnyapun seolah-olah menjadi semakin peka.
Tanpa terasa, maka Iswari itupun kemudian benar-benar telah tertidur nyenyak.
Sementara Bibi dengan penuh kesungguhan hati masih saja memijit kaki Iswari.
Rasa-rasanya hatinya menjadi berat untuk melepaskannya.
“Sebaiknya kau tidak melakukan perang tanding lagi,“ bisik Bibi sambil mengelus
kaki Iswari, “sepantasnya kau adalah seorang ibu yang mengasuh anakmu dirumah.
Menyediakan makan dan minumnya, mendidiknya dengan lembut, mengajarinya mengenal
sastra dan berceritera tentang baik dan buruk serta keluhuran budi. Lebih dari
itu, kau ajari anakmu mengenal Yang Maha Pencipta dan kau ajari anakmu itu
berbakti kepadanya. Aku tidak pernah mendapat kesempatan untuk melakukannya
karena sejak remaja aku sudah tersesat sehingga aku memang tidak pantas
mempunyai anak. Tetapi anak itu kau punyai, Iswari. Namun kenapa kau tidak
sempat melakukannya, dan bahkan anakmu satu-satunya itu harus disisihkan oleh
pertentangan yang tidak berkeputusan.”
Tanpa disadarinya, dari mata Serigala Betina itu telah menitik lagi air matanya
yang hangat. Namun dengan cepat iapun telah mengusapnya.
Ketika Iswari kemudian telah benarbenar tertidur nyenyak, maka Bibi itupun telah
melepaskannya. Ia tidak mau justru akan dapat membangunkannya. Ia ingin Iswari
benar-benar beristirahat.
“Tidurlah anak manis,“ desisnya.
Setiap kali Bibi masih saja bersukur bahwa ia tidak membunuhnya disaat Iswari
mengandung Risang atas perintah Ki Wiradana. Bahkan saat-saat itu adalah garis
batas ia melangkah kembali ke jalan lurus setelah untuk waktu yang lama ia
menjelajahi jalan-jalan gelap.
Tetapi Bibi tidak keluar dari bilik itu. Iapun kemudian begitu saja berbaring
dilantai disebelah pembaringan Iswari.
Namun Iswari tidak mengetahuinya, karena Bibi itu bangun lebih dahulu dari
Iswari. Menjelang dini hari Bibi keluar dari bilik itu dan pergi ke pakiwan.
Iswari terbangun disaat fajar mulai menyingsing. Perlahan-lahan Iswari bangkit
dari pembaringannya. Ternyata sesuatu telah terjadi pada wadagnya. Ia tidak
mengira, bahwa akibat pijitan Bibi pada anggauta badannya, maka rasa-rasanya
tubuhnya menjadi semakin mapan. Sementara arus darahnya terasa lebih lancar
diseluruh tubuhnya.
“Apakah gejala yang terasa ini menguntungkan atau sebaliknya,“ bertanya Iswari
kepada diri sendiri.
Ketika ia kemudian keluar, maka langit pun nampak kemerah-merahan. Ayam mulai
bekejaran di halaman.
Tanpa memberitahukan kepada siapapun Iswari telah pergi ke Sanggar untuk
mengamati gejala yang terasa pada tubuhnya.
Sejenak Iswari memanaskan tubuhnya dengan meloncat-loncat kecil. Kemudian
menggerakkan tangannya dalam putaran yang ajeg. Baru ia mulai mengamati tubuhnya
sendiri. Mengamati gejala yang baru dikenalnya sejak ia bangun dari tidurnya.
Ternyata bahwa pengaruhnya memang menguntungkan bagi gerak dan penguasaan
tubuhnya. Badannya menjadi terasa semakin ringan sehingga ia mampu bergerak
lebih cepat. Bahkan ketika ia mulai merambah pada ilmu andalannya Janget
Kinatelon, maka rasa-rasanya keadaan tubuhnya menjadi semakin membantu pancaran
ilmunya itu.
Iswari menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ternyata Bibi mempunyai keahlian
yang khusus. Ia mengenal dengan cermat tata hubungan urat darah dan susunan
syaraf sehingga ia mampu membantu membuka kemungkinan-kemungkinan baru dalam
pengerahan tenaga cadangan didalam diri lebih baik dari sebelumnya.”
Meskipun Iswari hanya sampai pada ujung ilmunya, tetapi ia sudah merasakan
kelebihan dukungan wadagnya.
Beberapa saat kemudian, Iswari telah keluar dari sanggarnya. Namun demikian
untuk meyakinkan dirinya, maka iapun telah menemui Nyai Soka. Dengan singkat
Nyai Soka mendengarkan laporan Iswari tentang pijitan jari-jari Bibi.
Dengan pengetahuan yang ada padanya, maka Nyai Soka telah melihat gejala yang
ada didalam diri Iswari. Namun kemudian sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia
berkata, “Ternyata Serigala Betina itu memiliki kemampuan yang khusus. Berterima
kasihlah kepadanya. Aku sudah berusaha untuk melakukannya, tetapi hasilnya tidak
sejauh yang dilakukan oleh Bibi ini.”
“Jadi menurut guru, Bibi telah membantu meningkatkan-kemampuanku?“ bertanya
Iswari.
“Berterima kasihlah kepada Bibi. Penguasaanmu atas ilmu yang ada didalam dirimu
menjadi semakin mapan. Demikian pula ilmu Janget Kinatelon. Kau memang harus
mengucapkan terima kasih kepadanya,“ berkata Nyai Soka.
Iswari menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk ia berkata, “Aku akan
menemuinya.”
Iswaripun kemudian telah mencari Bibi ke dapur. Ditemuinya orang itu duduk
didepan perapian sambil merenungi api yang menyala memanasi periuk berisi beras
yang sedang ditanak.
“Bibi,“ desis Iswari ketika ia memasuki pintu dapur.
Bibipun berpaling. Sambil bangkit berdiri ia bertanya “Kau sudah bangun?”
“Aku sudah berada di sanggar untuk beberapa lama,“ jawab Iswari.
“Sepagi ini?“ bertanya Bibi pula.
Iswari tersenyum. Kemudian dibimbingnya Bibi duduk di amben yang cukup besar di
dapur.
Bibi terheran-heran melihat sikap Iswari. Bahkan kemudian iapun bertanya, “Ada
apa?”
“Kau memijit aku semalam Bibi?“ bertanya Iswari.
Wajah Bibi menjadi tegang. Katanya dengan gagap, “Ya, kenapa? Apa aku telah
melakukan kesalahan sehingga mempengaruhi ilmumu?”
Iswari termangu-mangu sejenak. Kemudian katanya, “Bibi memang sudah
memperngaruhi kemungkinan ungkapan ilmu yang ada didalam diriku. Beberapa titik
simpul syarat yang masih tertutup telah terbuka sehingga jalur penguasaan
seluruh tubuhku menjadi semakin mapan.”
“Nyi,“ wajah Bibi masih tegang, “apakah dengan demikian akibatnya menjadi lebih
buruk?”
“Tentu tidak. Bukankah kau mengetahui bahwa karena itu, maka segalanya menjadi
lebih baik? Bibi, aku ingin mengucapkan terima kasih. Kau telah memberikan
kemungkinan baru padaku untuk lebih memantapkan perlawananku terhadap ketamakan
dan kerakusan itu,“ jawab Iswari.
Bibi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sokurlah jika hal itu mempunyai arti
yang baik bagimu. Mudah-mudahan justru tidak sebaliknya. Tetapi yakinlah, bahwa
aku memang bermaksud baik.”
“Semuanya berakibat baik Bibi,“ jawab Iswari.
“Apakah kau yakin hanya karena kau berada di dalam sanggar beberapa saat saja?“
bertanya Bibi.
“Aku sudah menghadap guru. Nenek sudah mengamatinya. Ternyata yang Bibi lakukan
memberikan kemungkinan yang jauh lebih baik bagiku. Bahkan guru mengatakan, ia
sendiri tidak akan mampu melakukannya. Karena itu, maka guru menganjurkan, agar
aku segera menemuimu dan mengucapkan terima kasih kepadamu,“ jawab Iswari.
Bibi mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Aku bersukur jika dengan demikian aku
dapat memberikan sedikit bantuan kepadamu.”
“Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih Bibi,“ berkata Iswari pula.
Bibi masih mengangguk-angguk. Katanya, “Malam nanti bulan penuh. Mungkin sesuatu
akan terjadi.”
“Aku sudah siap Bibi,“ jawab Iswari, “apalagi setelah kau membuka simpul-simpul
sarafku yang masih tertutup. Yang belum dapat dimanfaatkan akan dapat bekerja
dalam tata hubungan jaringan didalam tubuhku.”
“Bagaimanapun juga kau harus hati-hati, Nyi,“ desis Bibi.
“Ya Bibi. Aku harus berhati-hati sebagaimana seluruh rakyat Tanah Perdikan harus
berhati-hati menghadapi lawan yang satu ini,“ jawab Iswari.
Bibi mengangguk-angguk kecil. Matanya kembali menatap api yang menyala
diperapian. Semakin lama nampak menjadi semakin besar. Namun Bibi itupun yakin,
bahwa api yang lebih besar telah menyala dihati Iswari, Pemangku Jabatan Kepala
Tanah Perdikan Sembojan.
Dalam pada itu, tiba-tiba saja keduanya terkejut. Seorang pengawal telah
langsung mencari Iswari didapur. Katanya sedikit gagap, “Ada. laporan Nyi.”
“Tentang apa?“ bertanya Nyi Wiradana.
“Petugas sandi itu berada diluar pintu dapur ini,“ jawab pengawal itu.
“Suruh ia masuk,“ berkata Nyi Wiradana.
Pengawal itupun kemudian telah memanggil petugas sandi itu dan mempersilahkan
duduk pula di amben dapur itu.
“Ada apa?“ bertanya Iswari.
Ternyata petugas sandi itu lebih tenang dari pengawal yang gagap itu. Katanya,
“Yang akan aku laporkan agaknya memang sudah kita duga sebelumnya Nyi.”
“Tentang apa?“ bertanya Nyi Wiradana.
“Topeng kecil di regol itu bertambah satu lagi,“ jawab petugas sandi itu.
Nyi Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Kemudian iapun bertanya, “Apakah kau
sudah melaporkan kepada pimpinanmu?”
“Sudah Nyi. Sekarang pemimpin petugas sandi itu sedang berada diregol untuk
menyaksikan sendiri topeng-topeng itu. Menurut pendapatnya, maka saatnya sudah
tiba untuk menentukan siapakah yang akan hancur malam nanti. Tanah Perdikan ini
atau orang-orang yang kini berada di balik bukit,“ jawab petugas sandi itu.
Nyi Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Segalanya kita serahkan kepada
Yang Maha Agung. Namun menurut perhitungan maka jumlah kita jauh lebih banyak
dari mereka. Jika setiap laki-laki menggenggam senjata di tangan, maka pasukan
Tanah Perdikan ini jumlahnya akan tidak terhitung.”
“Benar Nyi,“ jawab petugas sandi itu. Namun kemudian katanya, “Tetapi menurut
keterangan yang kami peroleh, sebagian dari orang-orang yang berada di balik
bukit itu adalah bekas prajurit serta anak-anak mereka yang kecewa setelah
kekalahan Jipang.”
“Perang itu sudah terjadi sekitar sepuluh tahun yang lalu,“ desis Nyi Wiradana,
“tetapi dendam masih tetap menyala di hati sebagaimana Ki Rangga Gupita itu
sendiri.”
“Segala sesuatunya kami serahkan kepada Nyi Wiradana,“ berkata petugas sandi
itu.
Nyi Wiradana mengangguk-angguk. Ia seakan-akan sudah mendapat kepastian, bahwa
malam nanti adalah malam penentuan. Bahkan Nyi Wiradana sudah bertekad, jika
malam nanti, orang-orang Tanah Perdikanlah yang akan menyerang mereka. Menurut
perhitungan Nyi Wiradana, Sambi Wulung dan Jati Wulung yang pernah mendekati
sarang itu akan dapat menjadi penuntun jika merekalah yang harus datang ke balik
bukit. Bagi Iswari, maka ia sama sekali tidak terikat pada sinar rembulan.
Justru menurut rencananya jika orang-orang dari balik bukit tidak menyerang,
Iswari akan mendatangi sarang mereka menjelang fajar. Demikian matahari terbit,
maka pasukannya akan menyerang sehingga akan terjadi pertempuran disiang hari.
Dalam pada itu, maka Iswaripun kemudian berkata kepada petugas sandi itu,
“Baiklah. Aku terima laporanmu. Terima kasih. Aku akan membicarakannya dengan
para pemimpin Tanah Perdikan ini. Setelah pimpinanmu nanti datang, mungkin ia
membawa keterangan lebih banyak sementara pemimpin pengawal Tanah Perdikan ini
sudah sudah datang pula.”
Petugas sandi itupun kemudian mohon diri. Ia akan menemui pemimpinnya untuk
menyampaikan dari Nyi Wiradana.
Sesaat kemudian, maka Nyi Wiradanapun telah membenahi dirinya. Demikian pula
ketiga orang gurunyapun telah berada diruang dalam. Sambi Wulung dan Jati Wulung
masih berada diserambi gandok bersama beberapa orang pemimpin pengawal yang
telah berada dirumah itu.
Hampir semua orang sependapat, bahwa orang-orang di balik bukit akan mengadakan
gerakan dimalam hari. Para pengawas yang bertugas menjelang dini untuk menjaga
kemungkinan orang-orang dibalik bukit datang dan menyerang disaat matahari
terbit, telah memberikan laporan, bahwa mereka tidak melihat gerakan pasukan
sama sekali.
“Warsi memang mempunyai kepercayaan yang berhubungan dengan cahaya bulan,“
berkata Sambi Wulung.
“Ya,“ jawab seorang yang umurnya sudah setua Sambi Wulung yang masih juga
dianggap salah seorang pengawal karena orang itu memiliki kemampuan pengobatan,
“tetapi ternyata bahwa ia tidak memperhitungkan kekuatan dan kemampuan bertempur
di malam hari meskipun dibawah terangnya cahaya bulan? Sementara itu, para
pengikutnya masih harus benar-benar mengenali medan jika pertempuran terjadi di
malam liari. Betapapun terangnya bulan, namun didalam padukuhan, keadaannya
tentu cukup gelap bagi mereka yang belum mengenal medan dengan baik.”
Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Ternyata orang itu juga memiliki
ketajaman perhitungan tentang medan. Bahkan orang itupun kemudian berkata,
“Warsi terlalu mementingkan dirinya sendiri. Yang memerlukan cahaya bulan itu
hanya satu orang, Warsi sendiri. Tetapi ia sudah menentukan sikap seakan-akan
dirinya sendirilah yang dapat menentukan kemenangan pertempuran itu. Kecuali
jika ia menantang perang tanding seperti yang pernah terjadi.”
Tetapi Jati Wulung menyahut, “Jika yang dimaksud adalah perang tanding, tentu
sudah ada tantangan sampai kepada Nyi Wiradana. Ternyata sampai saat ini
tantangan itu belum ada. Entahlah jika Nyi Wiradana masih merahasiakannya karena
menganggap belum waktunya di beritahukan kepada kita. Tetapi bagaimanapun juga
tentu ada orang yang telah mendengarnya.”
Yang lain mengangguk-angguk. Sebenarnya orang-orang Tanah Perdikan sendiri
menganggap lebih baik bertempur disiang hari. Mereka akan dapat melihat kawan
dan lawan lebih jelas daripada dimalam hari meskipun diterangi oleh cahaya bulan
yang paling bulat sekalipun.
Sementara itu di balik bukit, Warsipun telah berbenah diri. Wajahnya nampak
segar dan sekali-sekali ia tersenyum sambil berkata, “Aku benar-benar sudah
siap.”
Semalam suntuk Warsi telah bermandikan cahaya bulan. Ia tidur di tempat terbuka,
sehingga seakan-akan jambangan kemampuan didalam dirinya sudah diisi dengan
tenaga sepenuhnya.
“Sehari ini kita mempunyai kesempatan menyusun pasukan,“ berkata Warsi kepada Ki
Rangga.
“Kita akan bertempur malam hari sehingga di siang hari ini orang-orang kita
harus banyak beristirahat,“ berkata Ki Rangga.
“Kita mempunyai banyak waktu,“ berkata Warsi, “anak manis itu tidak akan berani
menyergap kita. Mereka hanya dapat menunggu. Kitalah yang menentukan kapan
pertempuran akan terjadi.”
“Mungkin mereka hari ini bersikap lain, sehingga kita harus lebih berhati-hati,“
berkata Ki Rangga Gupita.
“Tidak. Mereka tidak akan bersikap lain. Sudah menjadi kebiasaan
perempuan-perempuan cantik itu hanya dapat menunggu. Kitalah yang akan bergerak
dengan perhitungan dan kepentingan kita.”
Rangga Gupita mengangguk-angguk. Nampaknya orang-orang Tanah Perdikan Sembojan
memang hanya dapat menunggu dengan gelisah. Bahkan dengan ketakutan. Tetapi
pemanasan yang pernah dilakukan menunjukkan kesiagaan para pengawal Tanah
Perdikan di setiap padukuhan, sementara merekapun dapat bergerak dengan cepat
dari satu padukuhan ke padukuhan yang lain.
Namun Warsi merasa terlalu yakin akan dirinya. Ia nampak gembira semental
gerakanyapun seakan-akan menjadi lebih cekatan.
Ketika matahari naik kekaki langit, maka Warsi telah membawa beberapa orang
pengawalnya untuk naik ke atas bukit. Sekelompok pengawal telah mendahului
mereka untuk meyakinkan bahwa tidak ada bahaya diatas bukit itu.
Dengan sikap dan keyakinan seorang panglima perang Warsi kemudian berdiri tegak
diatas punggung bukit diikuti oleh Ki Rangga Gupita.
Dari tempatnya berdiri Warsi melihat lembah yang hijau terbentang luas dibawah
bukit itu. Beberapa gumuk dan bukit-bukit kecil nampak diantara hijaunya tanaman
disawah dan ladang. Jalur-jalur air yang mengalir berliku-liku di antara
kotak-kotak sawah membuat lukisan alam Tanah Perdikan Sembojan menjadi semakin
indah dimata Warsi.
“Betapa suburnya Tanah Perdikan itu,“ berkata Warsi.
“Ya,“ sahut Ki Rangga. “Hijaunya sawah dan hutan di lereng pegunungan itu. Hutan
yang merambat semakin meluas di lereng-lereng bukit. Pada suatu saat lereng
bukit inipun tentu akan menjadi hutan yang lebat pula seperti lereng-lereng
pegunungan yang lain. Hutan perdu ini akan segera berubah menjadi hutan
pohon-pohon raksasa pada saatnya nanti.”
“Tidak,“ jawab Warsi, “bukit ini memang tandus. Kau lihat batu-batu padas itu?
Satu dua batang pohon dapat hidup dicelah-celahnya disamping gerumbul-gerumbul
perdu. Berbeda dengan bukit-bukit hijau yang lain yang tanahnya memang
memungkinkan untuk ditumbuhi pepohonan hutan.”
Warsi mengangguk-angguk. Namun wajahnya masih tetap cerah. Dengan nada ringan ia
berkata, “Puguh mempunyai hak atas Tanah ini. Tetapi anak itu sulit untuk
diharapkan.”
“Kitalah yang mengemudikannya,“ berkata Ki Rangga, “tetapi bagaimanapun juga,
kita memerlukannya. Jika pergolakan di Pajang dapat menyala menjadi
pertentangan, maka Pajang tidak akan sempat lagi mengurusi Tanah Perdikan ini.
Tidak akan ada orang di Pajang yang sempat mengingat pertanda kedudukan Kepala
Tanah Perdikan ini, dan bahkan tidak ada lagi pejabat yang menghiraukan apa yang
terjadi. Nah, pada saat yang demikian Puguh kita perlukan. Ia harus tampil
meyakinkan. Jika malam ini kita dapat membunuh Iswari, serta menghancurkan
kemampuan perlawanan Tanah Perdikan ini, maka jalan kita menjadi semakin rata.”
“Bagaimana dengan Pajang itu?“ bertanya Warsi.
“Nampaknya Pajang mulai di sibukkan oleh dirinya sendiri. Seperti yang aku
katakan, kita berharap api akan membakar Kerajaan kerdil yang diperintah oleh
Jaka Tingkir itu,“ geram Ki Rangga Gupita.
Warsi mengangguk-angguk. Bagaimanapun juga, keinginannya untuk menguasai Tanah
Perdikan itu masih menyala dihatinya. Sedangkan alat yang mungkin dapat
dipergunakan, satu-satunya adalah Puguh. Anak yang dilahirkannya dari suaminya
Ki Wiradana. Meskipun bagi Warsi Puguh adalah anak yang seolah-olah sama sekali
tidak akan dapat diharapkannya, tetapi sebagai alat ia akan dapat
dipergunakannya.
Ketika cahaya matahari yang semakin tinggi memantul dari hijaunya dedaunan, maka
rasa-rasanya Tanah Perdikan Sembojan memang merupakan tanah harapan. Bukan saja
hasil yang dapat dipetik dari Tanah Perdikan itu, tetapi di Tanah Perdikan itu
ia juga akan menyandang kekuasaan.
Untuk beberapa saat Warsi masih berdiri di punggung bukit. Ia melihat beberapa
orang pengawalnya berada agak jauh di lereng yang menghadap ke Tanah Perdikan.
Mereka tidak mau diperbodoh lagi dengan orang-orang yang bersenjata panah dan
membunuh beberapa orang diantara mereka.
Ketika Warsi sudah puas memandang Tanah Perdikan yang terhampar dilembah yang
berbukit-bukit itu, maka iapun kemudian telah mengajak Ki Rangga kembali ke
sarang mereka. Namun beberapa orang pengawas telah ditugaskan untuk tetap
berjaga-jaga.
“Mungkin perempuan cantik itu menjadi gila karena ketakutan sehingga ia
memerintahkan orang-orangnya untuk menyerbu kita disiang hari,“ berkata Warsi.
“Tidak seorangpun akan sempat mencapai punggung bukit ini,“ berkata Ki Rangga
Gupita, “pasukan panah yang sudah kita siapkan akan menyapu mereka selagi mereka
memanjat tebing. Sementara itu bebatuan dan batang-batang kayu yang ada di atas
akan dapat menjadi senjata yang baik. Batu-batu padas itu akan dapat
menggelinding turun menimpa dan menghanyutkan bebatuan dibawahnya, sehingga akan
terjadi banjir batu padas.”
Warsi tertawa. Katanya, “Kita tidak perlu mencemaskannya. Sudah aku katakan,
biasanya perempuan cantik seperti Iswari itu hanya dapat menunggu tanpa berani
mengambil sikap lebih dahulu.”
Demikianlah, maka Warsi dan Ki Rangga Gupita itu-pun kemudian telah turun
kembali ke sarang mereka. Mereka sama sekali tidak menghiraukan kemungkinan
orang-orang Tanah Perdikan Sembojan akan menyerang mereka.
Meskipun demikian orang-orang diseberang bukit itu masih juga menempatkan
beberapa orang pengawas. Memang mungkin yang dianggap tidak akan terjadi itu
dapat juga terjadi.
Sambil menuruni lereng bukit, Warsi masih juga sempat berkata sambil tertawa,
“Aku membayangkan, betapa orang-orang Tanah Perdikan menjadi ketakutan melihat
topeng-topeng kecil yang kita pasang. Bukankah kita bukan manusia-manusia licik
yang menyerang dengan diam-diam? Kita sudah memberikan peringatan dan sekaligus
tantangan kepada mereka.”
Ki Rangga mengangguk. Katanya, “Mudah-mudahan mereka mengetahui makna dari
topeng-topeng itu.”
“Jika mereka tidak mengetahuinya, bukan salah kita. Tetapi kita sudah memberikan
pertanda dan kita akan melakukan sebagaimana yang biasa kita lakukan.
Topeng-topeng itu adalah pertanda maut.“ Suara tertawa Warsi telah mengumandang
memantul tebing pegunungan.
Ki Rangga Gupita mengangguk-angguk. Namun sebagai seorang prajurit yang
berpengalaman, Ki Rangga mempunyai perhitungan yang lebih luas dari Warsi yang
terlalu yakin akan dirinya sendiri. Karena itu, maka Ki Rang-gapun berkata,
“Tetapi kita harus berhati-hati. Di Tanah Perdikan Sembojan terdapat orang-orang
yang mempunyai pengalaman yang luas. Orang-orang tua yang meskipun sudah mulai
pikun, namun pereka tentu masih sempat memberikan banyak petunjuk kepada
Iswari.”
“Ya,“ Warsi mengangguk-angguk, “tugasmulah untuk mengatasi Tanah Perdikan itu
dengan kemampuan keprajuritanmu. Aku memang kurang mengetahuinya. Aku hanya
tahu, bahwa jika aku sempat berhadapan dengan perempuan cantik itu, aku akan
membunuhnya.”
“Kau tidak akan dapat melakukannya tanpa dukungan suasana disekitarmu. Kecuali
jika kau menantangnya berperang tanding,“ jawab Ki Rangga.
“Aku tidak yakin ia mau menerima tantanganku. Mungkin ia akan mengelak dengan
alasan bahwa ia baru saja sembuh dari sakit. Alasan yang paling pantas
dikemu-kakan untuk mengelakkan perang tanding tanpa menghancurkan harga dirinya.
Tetapi sudah tentu ia akan mengajukan syarat waktu yang lain. Orang-orang Tanah
Perdikan Sembojan nampaknya mengetahui bahwa ada hubungan antara ilmuku dengan
bulan yang bercahaya di langit. Karena itu, maka mungkin sekali Iswari akan
mengajukan waktu justru disaat langit gelap sama sekali,“ berkata Warsi. Namun
katanya kemudian, “kita akan mengaturnya bersama para bekas perwira Jipang.
Segalanya harus tuntas sehingga kita dapat menganggap bahwa yang kita lakukan
sekarang ini selesai pada satu tahap sebelum kita akan memasuki tahap
berikutnya, bersamaan dengan saatnya Pajang dibakar oleh api pertentangan.
Sementara itu Puguh sudah menjadi semakin dewasa, meskipun ia seorang yang dungu
dan tidak berarti apa-apa selain sebagai alat yang akan dapat menempatkan kita
disini.”
“Anak itu tidak boleh terlalu pandai memang,“ berkata Ki Rangga.
“Ia akan tetap dungu seperti ayahnya,“ sahut Warsi.
“Itu bukan soal,“ berkata Ki Rangga Gupita, “semakin dungu anak itu, bagi kita
akan menjadi semakin baik.”
Warsi termangu-mangu. Namun Ki Ranggapun kemudian tertawa. Katanya, “Untunglah
bahwa anak itu dungu seperti ayahnya. Jika ia cerdik seperti ibunya, maka
kitalah yang akan diperalatnya kelak.”
Warsi tidak ikut tertawa. Wajahnya justru menjadi tegang. Memang terkilas di
angan-angannya satu kehidupan yang saat itu dianggapnya paling manis, ketika ia
berhasil menjadi isteri bakal Kepala Tanah Perdikan Sembojan dan apalagi ketika
ia berhasil membalaskan dendamnya, membunuh ayah Wiradana.
Namun yang kemudian tinggal didalam kepalanya kini adalah kebencian. Bahkan
kebenciannya telah melimpah pula kepada anak Wiradana meskipun anak itu
dilahirkannya sendiri. Anak kandungnya. Betapa segannya ia mengasuh anak itu,
sehingga anak itu begitu saja diserahkan kepada seorang yang dianggapnya akan
dapat mengajari anak itu serba sedikit tentang olah kanuragan. Bahkan
didorongnya anak itu untuk melakukan hal-hal yang dapat membentuk sifatnya
menjadi kasar dan garang. Tetapi otaknya harus tetap tumpul sebagaimana ayahnya
yang memang kurang cepat menanggapi keadaan. Dengan sengaja di biarkannya
anaknya itu berada di tempat-tempat yang kusam sebagaimana Puguh sering berada
di Song Lawa.
Jilid 15
KARENA Warsi tidak menyahut, maka Ki Ranggapun kemudian berkata, “Sudahlah. Kita
memerlukan waktu untuk berbicara dengan para pemimpin kelompok dan para perwira
yang menyatukan diri dengan kita.”
“Berbicaralah dengan mereka,“ berkata Warsi, “beritahukan hasilnya kepadaku. Aku
kira aku tidak perlu ikut didalam pembicaraan itu, karena bagiku, yang penting
aku dapat berhadapan dan membunuh perempuan itu. Sedang dukungan suasana
sebagaimana yang kau maksudkan kau sajalah yang menyusun bersama para pemimpin
kelompok-kelompok yang bergabung bersama kita itu.“
“Tetapi sebaiknya kau harus hadir, meskipun hanya mendengarkannya. Meskipun kau
segan mempercayakan setiap keadaan medan kepada orang-orang kita untuk mengambil
sikap sendiri, namun ada baiknya kau memberikan pendapatmu,“ berkata Ki Rangga.
“Begitukah kau menilai aku?“ bertanya Warsi, “apakah aku tidak pernah memberikan
petunjuk-petunjuk kepada orang-orangku disetiap keadaan yang apalagi gawat.?”
“Bukan maksudku. Tetapi kau lebih senang berbicara tentang pokok-pokok
persoalan,“ berkata Ki Rangga.
“Orang-orang kita adalah orang-orang dewasa yang sudah matang. Apalagi
orang-orang yang berhasil aku himpun dari gerombolan Kalamerta. Memang agak
berbeda dengan bekas para prajurit. Mereka terlalu terikat kepada satu paugeran
yang kaku. Bahkan dimedan perang sekalipun. Mereka memerlukan petunjuk-petunjuk
terperinci untuk melakukan tugas mereka,“ berkata Warsi.
“Tidak seluruhnya benar,“ berkata Ki Rangga, “jika para prajurit itu terikat
pada satu ketentuan, itu adalah karena mereka bertempur dalam satu gelar
tertentu yang satu dengan lainnya saling berkait. Tetapi dalam keadaan yang
memaksa, maka setiap orang harus mampu juga mengambil sikap masing-masing tanpa
mengesampingkan kepentingan bersama.”
“Kau kira orang-orangku yang aku kumpulkan dari gerombolan Kalamerta tidak
berbuat begitu? “ nada suara Warsi meninggi.
“Sudahlah, “potong Ki Rangga, “tetapi aku minta kau hadir Warsi termangu-mangu.
Namun kemudian katanya, “Baiklah. Aku akan hadir.”
Demikianlah, maka sejenak kemudian, maka Ki Ranggapun telah memanggil para
pemimpin dari kelompok-kelompok yang bergabung dengan gerombolannya. Juga para
pemimpin kelompok dari beberapa padepokan yang berhasil dipengaruhinya disamping
padepokan Ki Rangga sendiri.
Ki Rangga yang memberikan pengantar pada pertemuan itu telah mengarahkan sikap
mereka pada satu pengharapan yang besar dihubungkan dengan kemelut yang terjadi
di Pajang,
“Kita jadikan Tanah Perdikan ini landasan utama dari perjuangan yang lebih
besar. Menuntut kembali kekuasaan Jipang. Meskipun kita tidak lagi mempunyai
seseorang yang berada pada jalur garis keturunan Demak, tetapi jika kita dapat
menunjukkan kekuatan kita, maka kita tentu akan berhasil. Setidak-tidaknya kita
akan menguasai satu lingkungan yang lebih luas dari Tanah Perdikan Sembojan
dengan kekuasaan yang jauh lebih besar. Jika kita mempunyai tempat berpijak,
maka kesempatan untuk mengumpulkan kekuatan menjadi semakin besar.
Ternyata ada beberapa golongan dengan sikapnya masing-masing. Para pengikut
Kalamerta yang berhasil dihimpun adalah orang-orang yang setia kepada
pemimpinnya apapun yang harus mereka lakukan. Sekelompok yang lain sama sekali
tidak memikirkan hari-hari yang akan datang. Namun mereka memerlukan saluran
untuk meluapkan dendam mereka. Sedangkan yang lain memang berpengharapan untuk
mendapatkan satu alas berpijak sehingga dari alas itu akan dapat dicapai
kesempatan yang lebih besar bagi mereka dalam percaturan pemerintahan di Tanah
ini. Sementara itu sekelompok yang lain menganggap bahwa yang mereka lakukan itu
bukan apa-apa sebagaimana mereka terbiasa merampok dan menyamun. Bahkan
sekali-sekali membunuh. Tanpa pertimbangan-pertimbangan yang rumit asal saja
mendapatkan harta benda sebanyak-banyaknya.
Kelompok yang terakhir itu tidak terlalu banyak mendengarkan penjelasan Ki
Rangga Gupita. Tetapi merekapun tidak mempersoalkannya apapun yang dikatakan
oleh Ki Rangga itu.
Namun beberapa orang telah menyatakan pendapatnya. Mereka yang merasa mempunyai
pengalaman yang luas, telah memberikan beberapa saran kepada Ki Rangga Gupita.
Sebenarnya Warsi menjadi jemu mendengar orang-orang itu berbicara. Menurut
Warsi, jika mereka telah berada di pertempuran, maka mereka akan melupakan semua
pembicaraan itu dan bertempur untuk membunuh atau dibunuh.
Tetapi yang paling menarik adalah pendapat beberapa orang tentang pertempuran
yang akan datang. Tentang serangan yang sebaiknya mereka lakukan.
“Kita akan langsung menuju ke padukuhan induk,“ berkata salah seorang dari
mereka. Lalu katanya, “Tanah Perdikan Sembojan tidak akan dapat mempergunakan
seluruh kekuatan yang ada. Mereka tidak akan dapat mengumpulkan semua pengawal
di padukuhan induk, karena setiap padukuhan tentu memerlukan pengawalan. Mungkin
sebagian besar para pengawal memang ditempatkan di padukuhan induk. Namun bukan
kekuatan seti tuhnya dari Tanah Perdikan Sembojan yang tentu terbagi itu.”
Ki Rangga mengangguk-angguk. Pendapat itu sesuai dengan perhitungannya dan
bahkan kemudian sebagian besar dari orang-orang yang telah dikumpulkan, meskipun
ada diantara mereka yang tidak mempedulikannya.
Bahkan ada orang yang berpendapat, “Apakah kita harus memberikan kesan bahwa
kita akan menyerang salah satu padukuhan yang besar sebagaimana kita lakukan
kemarin? Dengan demikian maka sebagian pengawal akan ditarik ke padukuhan itu.”
“Tidak akan banyak gunanya. Kecuali kekuatan kita juga terbagi, merekapun akan
menggerakkan pengawal-pengawal mereka dari satu padukuhan ke padukuhan lain,
kecuali pengawal-pengawal yang memang direncanakan untuk tetap berada di
padukuhan mereka masing-masing,“ berkata Ki Rangga.
Orang itu mengangguk-angguk. Namun ia tidak memaksakan pendapatnya.
Demikianlah, pertemuan itu setelah berbicara banyak, telah menentukan langkah
yang paling baik menurut pendapat mereka. Mereka akan langsung menyergap
padukuhan induk dari dua arah. Satu kelompok kecil akan memancing perhatian para
pengawal dari arah pintu gerbang induk. Sedangkan kekuatan yang terbesar akan
datang dari arah lain.
Dalam keremangan malam, meskipun cahaya bulan terang, tetapi mereka tidak akan
mampu membuat perhitungan yang baik tentang jumlah kekuatan yang sebenarnya dari
orang-orang yang menyerang padukuhan induk itu. Orang-orang padukuhan induk
tidak akan sempat mencurigai jumlah yang mereka hadapi di gerbang utama,
sehingga sempat memikirkan datangnya serangan dari arah yang lain.
“Karena itu, kita harus berusaha untuk mengaburkan jumlah kita. Terutama pasukan
yang memancing perhatian para pengawal di padukuhan induk itu. Dengan
gerakan-gerakan yang bersimpang siur, maka jumlah itu akan nampak lebih besar,“
berkata Ki Rangga. Lalu, “Dengan demikian maka para pemimpin Tanah Perdikan itu
akan terpancing untuk bertahan di pintu gerbang utama itu. Sementara pasukan
kita yang lain akan merayap dengan hati-hati mendekati dinding diarah lain.”
“Sebenarnya kita salah memilih waktu,“ tiba-tiba saja seseorang berkata,
“sebaiknya kita memilih disaat malam paling gelap.”
“Bodoh kau,“ Warsi yang lebih banyak diam itu telah membentak, “kau kira aku
tidak mempunyai perhitungan dengan bulan bulat itu?”
Orang itu mengerutkan keningnya. Namun kawannya yang ada disampingnya berdesis,
“Sinar bulan itu sangat penting baginya.”
Orang itu tidak menyahut, meskipun ia merasa agak tersinggung. Namun orang
itupun menyadari, bahwa Warsi adalah seorang perempuan yang garang dan memiliki
ilmu yang sangat tinggi.
Akhirnya pertemuan itupun berakhir. Semua orang memahami apa yang harus mereka
lakukan. Sebagai pemimpin dari kelompok mereka masing-masing, maka mereka telah
menyampaikan keputusan dari pertemuan itu kepada kelompok mereka. Terperinci dan
jelas bagi setiap orang.
Namun orang-orang yang tidak begitu mempedulikan tata cara dalam setiap
pertempuran memang tidak mau berpikir terlalu banyak. Mereka hanya memberikan
sekedar petunjuk kepada orang-orangnya dan memberitahukan di pasukan yang mana
mereka ditempatkan.
“Kita akan menyerang padukuhan induk itu,“ berkata pemimpin mereka yang tidak
mau terlalu banyak berpikir, “kita berada di pasukan kedua yang akan menyerang
padukuhan induk itu dari arah lain. Bukan dari arah pintu gerbang utama. Hal-hal
lain, tirukan saja orang-orang yang berpikiran rumit. Pokoknya kita menyerang,
memasuki padukuhan induk dan mendapatkan harta rampasan. Jika harta rampasan itu
harus dikumpulkan, maka kalian harus pandai menyembunyikan sebagian terbesar
daripadanya untuk kepentingan kelompok kita, sehingga kita tidak sekedar menjadi
alat mereka.”
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Merekapun orang-orang yang segan berpikir
terlalu banyak.
Di kelompok lain, seorang pemimpin kelompok tengah memberikan penjelasan kepada
orang-orangnya. Dengan hati-hati, jelas dan terperinci pemimpin kelompok itu
menunjukkan kepada orang-orangnya apa yang harus mereka lakukan.
“Kita termasuk kelompok yang pertama. Kelompok yang tidak sebesar kelompok yang
kedua. Tetapi kita harus memberikan kesan bahwa jumlah kita banyak. Tugas kita
sangat sulit dan berat. Tetapi kita sudah berjanji kepada diri kita sendiri,
bahwa kita harus dapat merebut Tanah Perdikan ini untuk menjadi tempat berpijak
bagi perjuangan kita selanjutnya. Justru pada saat Pajang mulai surut,“ berkata
pemimpin kelompok itu, yang kemudian disambungnya dengan kata-kata yang penuh
dengan hentakan-hentakan kemarahan dan cita-cita.
Jantung orang-orang yang mendengarnya memang berkobar pula menyalakan tekad
didalam dada mereka.
Setiap pemimpin kelompok, dengan cara dan keinginan masing-masing telah
berbicara dengan orang-orangnya. Apapun yang mereka katakan, namun semuanya
telah mempersiapkan serangan yang bakal mereka lakukan malam nanti.
Ketika matahari mulai turun, Warsi telah mulai bersiap-siap. Demikian pula
setiap orang dalam kelompok mereka masing-masing. Mereka sudah cukup
beristirahat di hari itu. Sebagian dari mereka telah sempat tidur lelap untuk
waktu yang cukup lama.
Ketika matahari menjadi semakin rendah, Ki Rangga mulai mengatur pasukannya. Ki
Rangga sudah membagi seluruh kekuatannya menjadi dua bagian. Sebagian yang lebih
kecil akan menyerang pintu gerbang utama, sedangkan yang lain akan meyerang dari
samping. Mereka tidak perlu memecah pintu-pintu gerbang, baik pintu gerbang
induk maupun pintu gerbang samping. Tetapi mereka merasa mampu untuk meloncati
dinding.
Demikianlah, ketika matahari menjadi telah semakin dekat dengan cakrawala,
pasukan itu benar-benar telah bersiap.
Ki Rangga Gupita, Warsi dan tiga orang kepercayaannya yang terdiri dari seorang
bekas perwira tinggi Jipang, seorang Ajar yang memiliki ilmu yang tinggi yang
biasa di panggil Ki Ajar Teluh, dan seorang pemimpin gerombolan Kalamerta yang
meskipun sudah tua, tetapi memiliki kemampuan yang dapat diandalkan, yang
menyebut dirinya Kala Sembung, telah memeriksa seluruh kekuatan yang telah
dihimpunnya. Mereka berdiri berjajar bersusun dilembah diantara bukit-bukit yang
banyak memiliki goa-goa yang meskipun tidak terlalu dalam, tetapi dapat mereka
pergunakan sebagai tempat berlindung dari teriknya panas dan dinginnya embun
malam.
Dengan bangga Warsi dan Ki Rangga melihat wajah-wajah yang garang. Sementara
itu, pada mereka masing-masing nampaknya telah tersedia bekal sehingga dalam
pertempuran mereka tidak akan kelaparan meskipun mereka akan bertempur semalam
suntuk, bahkan sampai besok sehari penuh. Bahkan pasukan itu akan didukung oleh
sekelompok kecil orang-orang yang khusus membawa bekal bagi mereka yang akan
bertempur. Orang-orang itu jika didesak oleh keadaan, akan mampu pula bergabung
dengan kawan-kawan mereka di peperangan. Bukan saja sekedar menyiapkan makan dan
keperluan-keperluan lain jika terjadi bencana pada pasukannya.
Orang-orang yang ada dibalik bukit itu sama sekali tidak mempergunakan
pertanda-pertanda apapun juga. Mereka tidak membawa panji-panji, umbul-umbul
atau apapun yang sejenis yang memberikan ciri kepada pasukan itu. Mereka sama
sekali tidak memerlukannya. Namun mereka telah memberikan pertanda itu justru
sebelumnya.
Warsi dan Ki Rangga telah memasang topeng-topeng kecil dipintu gerbang utama
padukuhan induk. Ciri-ciri yang bagi Warsi mempunyai arti yang lebih besar
daripada rontek, panji-panji dan umbul-umbul.
Sejenak kemudian, maka langitpun menjadi kemerah-merahan. Cahaya matahari yang
mulai redup justru bagaikan membakar langit. Cakrawala telah membara dan
ujung-ujung megapun menjadi merah.
“Kita siap untuk berangkat,“ berkata Warsi kepada Ki Rangga.
“Apakah kau sudah merasa saat itu datang?“ bertanya Ki Rangga.
Warsi berdiri tegak sambil menengadahkan kepalanya menghadap ke Timur. Namun
tiba-tiba saja ia tersenyum. Katanya, “Disaat kita mencapai punggung pebukitan
ini, bulan tentu sudah terbit. Aku akan mencapai puncak kemampuanku untuk
kepentingan apapun juga. Sesaat kemudian kita akan turun di lereng bukit sebelah
dan dengan tekad yang menyala didalam dada kita masing-masing, kita akan
menghancurkan padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan.”
Ki Rangga mengangguk-angguk. Ia sependapat dengan Warsi. Jika matahari
sepenuhnya tenggelam, maka bulan tentu akan terbit.
Demikianlah maka Ki Rangga telah memberikan apa-apa bagi pasukannya. Tidak ada
sangkakala. Tidak ada genderang dan tidak ada isyarat perang. Yang terdengar
adalah suitan nyaring yang bergema dilembah pebukitan itu.
Suitan itu telah disahut dan sambung bersambung, sehingga suara yang terpantul
oleh dinding-dinding padaspun terdengar saling menyusul seperti sebuah lagu yang
bernada datar.
Sejenak kemudian, maka sebuah iring-iringan yang cukup panjang itu mulai
bergerak. Setiap orang didalam pasukan itu telah mendapat penjelasan tentang
padukuhan induk yang akan menjadi sasaran serangan mereka. Terutama para
pemimpin kelompok. Mereka yang sama sekali belum pernah melihat padukuhan induk
telah mendapat beberapa petunjuk sehingga rasa-rasanya mereka telah menjadi
seorang yang telah memahami segala jalan dan lorong-lorong yang ada di padukuhan
induk Tanah Perdikan Sembojan itu.
Sementara itu langitpun menjadi semakin merah. Namun cahaya yang
kekuning-kuningan memang mulai memancar di Timur. Demikian matahari tenggelam,
maka merekapun mulai melihat bulan memanjat langit,
Warsi tertawa pendek disebelah Ki Rangga yang berjalan diujung pasukannya.
Katanya, “Kau lihat? Lambang kemenangan itu telah mulai hadir diatas Tanah
Perdikan Sembojan yang sebentar lagi akan jatuh ketanganku.”
Ki Rangga mengangguk-angguk. Tetapi sebenarnyalah Ki Rangga lebih percaya kepada
pasukannya yang nampak begitu perkasa. Di lorong-lorong sempit, dilereng bukit,
iring-iringan itu bagaikan seekor ular raksasa yang menjalar merambat naik ke
punggung bukit itu.
Tetapi Ki Rangga tidak mau mengecewakan Warsi. Ki Rangga pun tahu, bahwa
kepercayaan yang tebal didalam dada Warsi atas pengaruh cahaya bulan itu, memang
akan dapat benar-benar mempengaruhinya. Terutama pada segi kejiwaan perempuan
yang garang itu. Sedangkan sebagai seorang perwira yang juga pernah bertugas
dalam pasukan sandi, Ki Rangga tahu benar arti pengaruh kejiwaan bagi seorang
prajurit. Karena pengaruh kejiwaan pula maka seorang prajurit akan kalah sebelum
bertempur. Namun seorang prajurit akan dapat menjadi seekor harimau lapar di
medan perang yang ganas.
Sebenarnyalah seperti yang diperhitungkan oleh Warsi. Bahkan sebelum ia sampai
ke puncak pebukitan itu, bulan telah menerangi lereng-lerengnya dengan cahayanya
yang telah menghangatkan darah Warsi.
Beberapa saat kemudian, ujung pasukan itu telah sampai ke atas bukit kecil itu.
Warsi dan Ki Rangga memberi isyarat kepada pasukannya untuk berhenti. Dari
punggung bukit itu, Warsi telah memandang ngarai yang terbentang. Dibawah terang
sinar bulan, padukuhan-padukuhan yang kehitam-hitaman nampak seperti pulau-pulau
kecil yang terapung dilautan yang hijau.
Sekali lagi Warsi tertawa melihat Tanah Perdikan Sembojan yang terbentang
dihadapannya. “Marilah,“ berkata Warsi kemudian.
Ki Rangga berpaling kepada tiga orang kepercayaannya sambil berkata, “Demikian
kita menuruni bukit, maka kita sudah memasuki lingkungan medan. Kita harus mulai
berhati-hati. Kedua bagian pasukan kita tidak boleh salah memilih jalan ke
padukuhan induk sebagaimana sudah kita tentukan.”
Ketiga orang kepercayaan Ki Rangga itu mengangguk-angguk. Merekalah yang harus
memimpin langsung semua gerakan dari pasukan itu. Ki Ajar Tulaklah yang mendapat
tugas untuk memimpin pasukan yang harus memancing perhatian lawan dan menyerang
pintu gerbang utama. Sementara itu, bekas perwira tinggi Jipang yang sehari-hari
disebut Ki Sumbaga dan Ki Kala Sembung akan memimpin pasukan yang benar-benar
dipersiapkan untuk memasuki padukuhan induk Tanah Perdikan. Baru kemudian
setelah keadaan memungkinkan, Ki Sumbagapun harus membawa pasukannya masuk ke
padukuhan dan membantu pasukan yang telah berada di dalam.
“Nah,“ berkata Ki Rangga, “pergilah ke pasukan kalian masing-masing. Di bulak
itu kita akan membagi pasukan. Kalian akan menempuh jalan kalian masing-masing.
Jangan salah memilih jalan. Beri isyarat jika rencana tidak berjalan sebagaimana
seharusnya. Kami berdua akan berada di pasukan kedua. Kami harus dengan cepat
memasuki padukuhan induk, agar kami dapat segera menemui para pemimpin mereka.”
Ketiga orang itu mengangguk hormat. Sementara itu Ki Rangga berkata pula,
“Siapkan dengan baik kelompok-kelompok yang akan berhadapan dengan orang-orang
tua di Tanah Perdikan Sembojan, namun yang berilmu cukup tinggi. Lima kelompok
harus mampu mengikat lima orang lawan yang berilmu tinggi itu. Mungkin kelima
orang itu tidak berada ditempat yang sama, sehingga dengan demikian maka setiap
orang wajib memberikan laporan, dimana mereka berada sehingga kelompok-kelompok
yang dipersiapkan itu akan segera dapat menghadapi mereka. Sementara itu, Warsi
akan langsung berusaha bertemu dengan Iswari.”
Demikianlah, maka ketiga orang itupun telah bergeser surut. Mereka telah menuju
ke pasukan masing-masing. Satu kelompok dari pasukan itu dipimpin oleh Ki Ajar
Tulak akan berusaha memancing perhatian padukuhan induk di pintu gerbang utama,
sementara Ki Kala Sembung dan Ki Sumbaga akan memasuki padukuhan induk dari arah
lain bersama dengan Warsi dan Ki Rangga. Jika padukuhan induk itu telah menjadi
kacau dan kehilangan ketahanannya maka pasukan yang dipimpin Ki Ajar harus
dengan cepat berusaha memasuki padukuhan induk pula. Mereka harus menuju ke
banjar, sementara pasukan yang lain akan menguasai rumah Kepala Tanah Perdikan.
Perintah yang diberikan oleh Warsi dan Ki Rangga kepada setiap orang adalah
bahwa mereka harus segera membunuh jika mereka bertemu dengan seorang remaja
yang bernama Risang, anak Iswari. Siapapun juga.
Ketika semuanya sudah berada ditempat masing-masing, maka Ki Ranggapun telah
memberikan isyarat agar pasukan itu segera berangkat.
Dilereng bukit disaat pasukan itu bergerak menurun, maka beberapa orang masih
nampak berjaga-jaga untuk mengawasi keadaan. Bagaimanapun juga mereka masih juga
memperhitungkan kemungkinan orang-orang Tanah Perdikan berusaha mendaki bukit
itu dan menyerang mereka disarangnya. Kehadiran orang-orang Tanah Perdikan yang
kemudian membunuh beberapa orang diantara mereka dengan anak panah, telah
membuat mereka semakin berhati-hati.
Namun ketika iring-iringan yang memanjang itu lewat, maka orang-orang itu telah
mendapat perintah untuk masuk kedalam pasukan dan berada didalam kelompok mereka
masing-masing.
Karena itu, maka orang-orang itupun segera mencari hubungan dengan para pemimpin
kelompok mereka, untuk ikut bergerak turun menuju ke lembah. Selanjutnya mereka
dengan cepat akan bergerak ke padukuhan induk.
Namun ketika ujung pasukan itu telah melewati lambung pebukitan, Warsi dan Ki
Rangga yang berjalan dipaling depan terkejut. Mereka melihat sebuah patok bambu
yang berdiri di tengah-tengah jalan sempit yang dilewati oleh iring-iringan
pasukannya itu.
“Gila,“ Warsi mengumpat. Pada patok bambu itu terdapat topeng kecil menghadap ke
punggung bukit sebagaimana yang sering dipergunakannya untuk memberikan pertanda
atau peringatan bagi pihak lain. Pertanda yang biasanya dihubungkan dengan
kematian dan kekerasan.
“Siapa yang memasang patok dan meletakkan topeng kecil ini?“ bertanya Warsi.
Ki Ranggapun menggeram. Sambil menggeleng ia menjawab, “Aku tidak tahu. Tentu
tidak seorangpun yang tahu. Para pengawaspun tentu tidak tahu. Jika mereka tahu,
topeng ini tentu sudah disingkirkannya.”
“Anak iblis,“ Warsi hampir berteriak, “tantangan yang sangat menyakitkan hati
dari orang-orang Tanah Perdikan. Tetapi sebentar lagi Tanah Perdikan itu akan
kami hancurkan.”
Warsipun dengan marah telah mencabut patok bambu itu dan melemparkannya kedalam
semak-semak.
Sambil menggeretakkan giginya Warsipun melangkah dengan dada tengadah. Terdengar
ia berkata dengan geram, “Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri.”
Ki Rangga tidak menyahut. Tetapi ia lebih banyak memperhatikan lingkungan yang
mereka lewati. Mungkin masih akan terdapat hal-hal yang dapat mempengaruhi
perasaan mereka. Bahkan mungkin jebakan-jebakan yang akan menghambat gerak
pasukan itu.
Ketika pasukan itu mulai bergerak lagi, maka sekali lagi Warsi mengumpat marah
sekali. Tiba-tiba saja mereka telah mendengar gonggong anjing hutan
sahut-menyahut.
“Setan,“ geram Warsi, “kita harus menangkap anjing liar itu. Mereka tentu
orang-orang Tanah Perdikan.”
“Ya,“ jawab Ki Rangga, “tetapi jangan hiraukan mereka. Jika kita berusaha
menangkap mereka, maka kita tentu memerlukan waktu. Mereka mungkin berada
dipuncak bukit sebelah. Gaung suaranya memang menunjukkan bahwa mereka berada
ditempat yang jauh.”
“Aku tidak mau dipermainkan seperti ini,“ geram Warsi.
“Tetapi jika kita mengejar mereka, tertangkap atau tidak tertangkap, maka
rencana orang-orang Tanah Perdikan itu berjalan sebagaimana mereka harapkan.
Mereka tentu berharap kita menjadi marah atas sindiran itu dan berusaha
menangkap mereka. Tetapi dengan demikian maka pasukan kita telah terhambat,“
berkata Ki Rangga.
Warsi mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita harus cepat-cepat memasuki
padukuhan induk. Lihat, bulan yang bulat sudah naik. Aku berada dalam kemampuan
puncakku.”
Karena itulah, maka Warsi sama sekali tidak berhenti untuk menangkap orang-orang
Tanah Perdikan yang ditempat yang agak jauh telah menggonggong sebagaimana
seekor anjing hutan. Bahkan bersahut-sahutan.
Demikianlah maka iring-iringan itu telah turun dengan cepat. Beberapa saat
kemudian, mereka telah berada di ngarai dibawah bukit.
Ketika pasukan itu seluruhnya telah turun, maka Warsi dan Ki Rangga telah
memberikan isyarat, agar semua orang didalam pasukan itu bersiap-siap. Mereka
akan segera memasuki jalan-jalan Tanah Perdikan Sembojan. Di tengah-tengah bulak
itu, pasukan akan berpisah. Yang sebagian akan berbelok ke kiri, sedangkan yang
lain akan berjalan lurus. Yang berbelok itulah yang justru akan menuju ke pintu
gerbang utama. Sedangkan yang berjalan lurus itu akan melingkar dan menuju ke
padukuhan induk dari sisi yang lain.
Sejenak kemudian, maka iring-iringan itu benar-benar telah memasuki jalan-jalan
Tanah Perdikan Sembojan. Padukuhan induk memang bukan padukuhan yang ada
dihadapan mereka. Tetapi letak padukuhan induk tidak terlalu jauh.
Dengan dada tengadah maka setiap orang dalam pasukan itu melangkah menyusuri
jalan Tanah Perdikan Sembojan yang menjadi tanah harapan bagi para pemimpin
mereka. Dengan jantung yang berdebar-debar mereka bertekad untuk malam itu juga
menguasai padukuhan induk dan kemudian dihari berikutnya seluruh Tanah Perdikan.
Padukuhan-padukuhan yang tidak tunduk akan dihancurkan, karena jika kekuatan
para pengawal di padukuhan induk sudah dipatahkan, maka kekuatan di
padukuhan-padukuhan tidak akan berarti lagi.
Ketika kemudian terdengar lagi suara anjing hutan menggonggong dari lereng
bukit, yang suaranya bergema oleh pantulan batu-batu padas, maka Warsi dan Ki
Rangga Gupita sudah tidak menghiraukannya lagi. Mereka mengira bahwa orang-orang
Tanah Perdikan bukan saja sedang mempengaruhi perasaan para pengikutnya, tetapi
dengan cara itu mereka telah memberikan isyarat sambung bersambung, bahwa
pasukan dari balik bukit telah menyerang.
Tetapi Warsi dan Ki Rangga Gupita sama sekali tidak berkeberatan. Mereka memang
telah memberi pertanda bahwa hari itu, disaat purnama penuh, padukuhan induk
akan diserang dan dihancurkan. Bagaimanapun juga, orang-orang Tanah Perdikan
tidak akan dapat mengumpulkan dan memusatkan semua kekuatan Tanah Perdikannya di
padukuhan induknya, karena sebagian dari mereka masih harus tetap berada di
padukuhan masing-masing.
Demikianlah maka pasukan dari balik bukit itupun kemudian menjalar di
bulak-bulak persawahan. Mereka menyusuri jalan-jalan yang membujur diantara
tanaman padi di sawah.
Namun Warsi dan Ki Ranggapun terkejut ketika mereka melihat lagi patok bambu
ditengah jalan digantungi oleh topeng kecil pertanda kematian. Topeng yang
mereka pasang di depan pintu gerbang padukuhan induk Tanah Perdikan.
“Gila,“ geram Warsi. Dengan sangat marah ia mencabut patok bambu itu dan
melemparkannya ketepi sekaligus dengan topengnya. Tetapi ternyata bahwa
iring-iringan pasukannya sama sekali tidak berhenti.
Tetapi kemarahan Warsi bagaikan membakar ubun-ubunnya ketika mereka sampai
disebuah simpang empat kecil di tengah bulak itu, sekali lagi mereka menjumpai
patok bambu dengan topeng kecil itu pula.
Namun ketika Warsi menghentakkan patok kecil itu sambil mengumpat-umpat. Maka Ki
Ranggapun mendekatinya sambil berkata, “Kita berhenti disini.”
“Kenapa?“ bertanya Waisi.
Ki Rangga tidak menjawab ketika ia memberikan isyarat kepada pasukannya untuk
berhenti,
“Ada apa?“ bertanya Warsi pula. “Kita sudah hampir sampai ditempat pasukan kita
akan berpencar.”
“Orang-orang Tanah Perdikan memang iblis. Pertanda topeng kecil itu sudah genap
tiga kali. Kita harus berhati-hati,“ desis Ki Rangga.
“Tetapi bukankah kita yang menentukan isyarat itu. Bukan mereka?“ bertanya
Warsi.
“Itulah gilanya orang-orang Tanah Perdikan,“ jawab Ki Rangga Gupita.
Warsi mengerutkan keningnya. Ia masih belum begitu jelas apakah yang dimaksud
oleh Ki Rangga Gupita itu, sehingga iapun kemudian bertanya, “Apakah sebenarnya
yang terjadi?”
Ki Rangga memandang bulak yang luas itu. Dengan nada rendah ia berkata, “Kita
harus berhati-hati.”
Warsi masih saja termangu-mangu. Sementara itu Ki Rangga telah memanggil seorang
yang berada diantara dirinya dan pasukannya. Seorang yang memang bertugas
sebagai penghubung.
“Panggil Ki Sumbaga,“ berkata Ki Rangga.
“Untuk apa?“ bertanya Warsi.
“Ia mempunyai naluri keprajuritan yang sangat tajam,“ jawab Ki Rangga Gupita.
“Bulan sudah semakin tinggi,“ berkata Warsi, “aku ingin mempergunakan kesempatan
ini sebaik-baiknya.”
“Jangan tergesa-gesa. Yang kita hadapi adalah iblis yang sangat licik,“ jawab Ki
Rangga.
Sejenak kemudian Ki Sumbagapun telah mendekat. Dengan sungguh-sungguh Ki Rangga
Gupita bertanya, “Bagaimana pendapatmu?”
“Kita harus berhati-hati. Kita tidak akan bertempur di padukuhan induk,“ berkata
Ki Sumbaga.
“Apa katamu?“ bertanya Warsi.
“Bersiaplah. Perhitungan mereka ternyata lebih rumit dari perhitungan yang kita
buat,“ jawab Ki Sumbaga, “selama ini kita menganggap bahwa mereka adalah
orang-orang yang hanya mempercayakan diri kepada kemampuan olah kanuragan. Namun
ternyata mereka mempunyai pemikir-pemikir yang sangat baik,“ jawab Ki Sumbaga.
“Persetan,“ geram Warsi, “kita hancurkan padukuhan induk itu.”
“Kita tidak akan sampai kesana dengan cepat,“ berkata Ki Sumbaga.
“Kenapa? Jangan berteka-teki,“ Warsi menjadi tidak sabar lagi. “katakan apa yang
kalian ketahui.”
Ki Sumbaga memandang Ki Rangga Gupita dengan wajah yang tegang, sementara Ki
Ajar Tulak dan Kala Sembungpun telah mendekat pula sambil bertanya, “Kenapa kita
berhenti disini?”
“Lihat,“ berkata Ki Rangga Gupita, “setelah orang-orang Tanah Perdikan
memberikan peringatan kepada kita dengan pertanda milik kita sendiri sampai tiga
kali. Atur pasukan kalian dan menebarlah sebelum terlambat.”
“Apa yang terjadi?,“ Warsi hampir berteriak.
“Mereka telah menunggu kita di bulak ini,“ geram Ki Rangga Gupita.
“Siapa?“ teriak Warsi.
“Orang-orang Tanah Perdikan Sembojan,“ jawab Ki Rangga sambil memberikan isyarat
kepada ketiga orang kepercayaannya. “Kita bertempur disini.”
Warsipun akhirnya mengetahui maksud Ki Rangga dan Ki Sumbaga. Karena itu, maka
justru ialah yang mengumpat paling kasar. Sementara Ki Rangga berkata, “Kita
tidak akan memecah pasukan kita. Ki Sumbaga akan berada ditengah. Ki Ajar akan
berada di sayap kiri dan Ki Kala Sembung akan berada di sayap kanan. Usahakan
menilai gelar lawan agar kita mendapatkan cara yang sebaik-baiknya untuk
melawan.”
Ketiga orang itu mengangguk-angguk. Tetapi hanya Ki Sumbaga sajalah yang
memahami dengan baik arti sebuah gelar. Ki Ajar Tulak terlalu yakin akan
kemampuannya, sementara Kala Sembung tidak merasa perlu untuk memikirkan sebuah
gelar.
Tetapi ketiga orang itupun dengan cepat telah kembali ke pasukan masing-masing.
Seperti yang diperintahkan oleh Ki Rangga Gupita, maka pasukan yang semula
berjalan beriringan itu telah menebar. Ki Ajar Tulak berada disisi sebelah kiri,
sementara Kala Sembung membawa pasukannya kesebelah kanan. Sedangkan Ki Sumbaga
dan orang-orangnya berada di tengah.
Dalam keadaan yang gelisah itu, Ki Sumbaga masih sempat memberi peringatan
kepada orang-orangnya, agar kelompok-kelompok yang dipersiapkan untuk melawan
orang-orang yang disegani di Tanah Perdikan tetap utuh.
Disisi kiri, Ki Ajar memang mencoba untuk mengatur orang-orangnya. Mereka
menebar tanpa menghiraukan tanaman padi disawah yang hijau subur. Tanaman itu
telah terinjak-injak oleh kaki orang-orang yang bersiap dengan senjata.
Tetapi Ki Ajar memang tidak pernah mempelajari dengan sungguh-sungguh arti
sebuah gelar meskipun secara sepintas diketahuinya pula.
“Kita berada disayap sebelah kiri,“ berkata Ki Ajar kepada para pemimpin
kelompoknya, “kita harus menyesuaikan diri dengan lawan. Mungkin mereka
bertempur dalam gelar yang mapan. Tetapi kita tidak perlu gentar. Meskipun
demikian kita harus membagi kekuatan dengan merata. Dari ujung sayap, sampai ke
pangkal sayap. Namun setiap saat, kelompok-kelompok dapat bergeser menutup
kelemahan-kelemahan yang terjadi pada sayap kita dari ujung sampai ke pangkal.
Yang penting, setiap kelompok tidak boleh terpecah.”
Berbeda dengan Ki Ajar yang berusaha, Kala Sembung telah berpesan kepada para
pengikutnya, “Hancurkan dan bunuh setiap orang. Apakah ia sayap atau paruh atau
cakar sebuah gelar. Jangan pedulikan. Tetapi ingat, kalian harus saling
membantu. Jangan biarkan kawan-kawan kalian terbunuh seorang demi seorang,
karena jika demikian akan datang giliran kalian akan terbunuh juga. Karena itu,
tidak ada pilihan lain. Bunuh semua orang siapapun yang kalian hadapi dan dalam
kedudukan yang manapun.”
Orang-orangnya mengangguk-angguk. Orang-orang yang garang itu memang tidak
menghiraukan apakah lawannya ada dalam gelar atau tidak. Yang penting bagi
mereka adalah membunuh sebanyak-banyaknya.
Tetapi ada diantara mereka yang merasa kecewa, bahwa mereka harus bertempur di
bulak yang luas itu. Mereka ingin bertempur di padukuhan. Menghancurkan
padukuhan induk dan kesempatan memasuki rumah-rumah orang kaya untuk merampas
harta benda yang ada didalamnya. Jika mereka menghancurkan lawan di bulak itu,
maka mereka akan memasuki padukuhan induk dengan tertib dan terkendali oleh Ki
Rangga dan Warsi.
Sejenak kemudian, maka pasukan Ki Rangga Gupita itu telah menebar. Mereka telah
bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa pasukan Tanah Perdikan telah menunggu.
Betapapun beratnya hati mereka, namun mereka memang harus mengorbankan tanaman
di sawah. Pasukan Tanah Perdikan Sembojan ternyata tidak menunggu di padukuhan
induk. Para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan telah memperhitungkan bahwa mereka
lebih baik menghadapi lawan di bawah bukit daripada harus menunggu di padukuhan
induk. Di bawah bukit mereka memang harus mengorbankan tanaman mereka. Tetapi di
padukuhan, korban akan semakin besar. Bukan saja rumah-rumah yang rusak, harta
benda yang pasti akan dirampok, tetapi juga perempuan dan anak-anak ikut
terancam jiwanya.
Lebih daripada itu, maka menurut perhitungan para pemimpin Tanah Perdikan, jika
mereka menunggu lawan dibawah bukit, mereka akan dapat mengerahkan pasukan lebih
besar. Para pengawal hampir seluruhnya dapat digerakkan. Mereka memperhitungkan
bahwa para pengikut Warsi tidak akan sempat memasuki padukuhan-padukuhan yang
manapun juga.
Karena itu, maka Iswari telah membawa kekuatan yang ada di Tanah Perdikan hampir
sepenuhnya kebawah bukit. Dengan sangat hati-hati orang-orang Tanah Perdikan itu
bergerak. Menjelang senja semua kekuatan sedikit demi sedikit telah mengalir ke
padukuhan terdekat. Kemudian disaat matahari terbenam dan bulan mulai naik,
pasukan itu bagaikan merangkak memasuki bulak-bulak yang luas. Dengan
perhitungan yang cermat, maka para pengawas di lereng bukit memang tidak dapat
melihat apa yang terjadi di balik batang padi yang mulai meninggi. Sehingga pada
saatnya, pasukan Tanah Perdikan telah menunggu menebar dalam gelar yang mapan.
Gelar Wulan Tumanggal. Karena menurut perhitungan para pemimpin dari Tanah
Perdikan Sembojan, kekuatan lawan akan berada di induk pasukan, sehingga
sayap-sayap pasukannya tentu tidak akan terlalu kuat. Karena itu, maka gelar
yang dipergunakanpun adalah gelar yang meletakkan kekuatan terbesar di induk
pasukan.
Sambi Wulung dan Jati Wulung memang merasa ragu-ragu untuk ikut langsung
memasuki arena. Mereka masih selalu memikirkan kemungkinan bahwa Puguh atau
orang-orang yang pernah melihatnya di padepokan itu, ikut pula dalam pasukan
yang siap menyerang Tanah Perdikan itu.
Namun akhirnya keduanya mempunyai cara untuk berada diantara para pengawal.
Mereka telah membagi diri. Seorang berada di sayap kiri dan seorang yang lain di
sayap kanan. Mereka telah memberikan kelainan di wajah mereka masing-masing,
sehingga mereka tidak akan mudah dikenal. Sementara itu merekapun telah
mengenakan pakaian yang tidak terbiasa mereka pakai.
“Jika ada seorang saja yang mengenaliku, maka usahaku untuk menemukan tempat
tinggal Puguh itu akan kehilangan artinya,“ berkata Sambi Wulung.
Tetapi dengan caranya mereka berharap bahwa mereka tidak akan dapat dikenali
lagi.
Di induk pasukan, Iswari duduk dipematang bersama Kiai Badra, Kiai dan Nyai
Soka. Beberapa langkah daripadanya adalah pemimpin pengawal Tanah Perdikan yang
duduk bersama dua orang pembantunya.
Ketika terdengar pertanda terakhir sebagaimana mereka sepakati dengan suara
gonggong anjing hutan, maka Iswaripun menarik nafas dalam-dalam. Desisnya,
“Mereka telah datang.”
“Ya,“ berkata Kiai Badra, “mereka telah datang. Siapkan pasukanmu. Kita harus
menghentikan mereka di sini. Jika mereka berhasil mencapai padukuhan induk, maka
keadaan kita akan sulit. Bahkan seandainya kita berhasil mengusir mereka, namun
mereka tentu akan merusak dan barangkali membakar rumah-rumah penduduk yang
tidak bersalah serta mengganggu perempuan dan anak-anak. Bahkan mungkin
membunuh.”
“Marilah. Kita bersiap-siap,“ desis Iswari. Iswari tidak menunggu lagi. Iapun
kemudian telah bangkit berdiri bersamaan dengan isyarat yang berbunyi. Tidak
lagi gonggong anjing hutan, tetapi suara kentongan dengan nada titir yang
dipukul di pasukan induk.
Isyarat itupun segera disahut oleh para penghubung di sayap-sayap pasukan,
sehingga dengan demikian, maka terdengar suara titir yang sangat riuh.
Dalam waktu singkat, maka sebuah gelar telah muncul dari balik batang-batang
padi dan dari belakang tanggul-tanggul parit. Rasa-rasanya orang-orang Tanah
Perdikan itu telah terlalu lama menunggu dengan pakaian yang basah oleh embun di
daun padi yang mulai menitik serta basahnya air yang mengalir di parit-parit.
Tetapi orang-orang dari balik bukit tidak terkejut. Bahkan Kiai Soka sempat
memuji, “mereka tanggap akan isyarat yang kita berikan dengan topeng-topeng
mereka. Ternyata merekapun telah menebar.”
“Kita tidak lagi mempunyai hutang kepada mereka. Sebagaimana mereka memberikan
isyarat kepada kita saat-saat mereka akan menyerang, maka kitapun telah
memberikan isyarat pula. Kita bukan orang-orang yang justru lebih licik dari
mereka,“ desis Nyai Soka.
Kiai Soka mengangguk-angguk. Dalam cahaya bulan mereka melihat orang-orang dari
balik bukit itu bergerak maju. Kemarahan benar-benar telah membakar jantung
Warsi dan Ki Rangga Gupita. Ternyata orang-orang Tanah Perdikan itu mengenal
perhitungan yang tajam untuk menghadapinya. Mereka tidak sekedar menggantungkan
kepada kemampuan dan jumlah, tetapi mereka juga berpikir.
Tanpa menghiraukan tanaman padi yang tumbuh dengan suburnya, maka pasukan Ki
Rangga yang menebar itu bergerak maju. Mereka tidak memperhatikan lagi apakah
mereka akan berjalan diatas pematang. Tetapi batang-batang padi yang subur itu
telah terinjak-injak kaki orang-orang yang akan bertempur untuk mengungkapkan
permusuhan yang sudah mencengkam seluruh isi dada. Bahkan bukan saja dendam yang
menyala, tetapi juga ketamakan dan nafsu untuk menguasai Tanah Perdikan itu.
Sementara itu, orang-orang Tanah Perdikanpun sudah siap pula. Agak berbeda
dengan orang-orang dari balik bukit. Orang-orang Tanah Perdikan memang merasa
agak ragu-ragu untuk menginjak batang-batang padi yang sudah menjadi semakin
besar dan hampir menjadi bunting itu. Tetapi merekapun tidak mempunyai pilihan
lain. Mereka memang harus dan terpaksa menginjak-injak tanaman itu justru untuk
mempertahankan tanah mereka, agar mereka di hari kemudian dapat menanam padi
lagi tanpa mengalami pemerasan atas hasil panenannya.
Demikianlah kedua pasukan itu semakin lama menjadi semakin dekat. Pasukan Tanah
Perdikan Sembojan tidak saja terdiri dari para pengawal yang dikumpulkan dari
semua padukuhan, tetapi juga bekas para pengawal dan bahkan semua laki-laki yang
meskipun usianya sudah menjadi semakin tua, namun mereka masih mampu bermain
dengan senjata. Hanya sebagian kecil saja diantara mereka yang ditinggalkan di
setiap padukuhan sekedar untuk mengamati keadaan dan membunyikan isyarat jika
keadaan memaksa, sehingga bantuan dari padukuhan-padukuhan terdekat akan
berdatangan.
Bagi Tanah Perdikan Sembojan, menunggu lawan di bawah bukit itu adalah cara yang
terbaik dapat mereka lakukan. Selain mampu mengerahkan tenaga lebih banyak, maka
kerusakan di padukuhan induk akan dapat dihindari. Namun demikian, para pemimpin
Tanah Perdikan sudah mempersiapkan perempuan dan anak-anak untuk mengungsi
apabila perlu.
Ketika kedua pasukan itu semakin dekat, maka ternyata bahwa orang-orang didalam
pasukan Tanah Perdikan Sembojan lebih banyak jumlahnya dari pasukan orang-orang
dibalik bukit. Namun merekapun menyadari bahwa orang-orang dari balik bukit itu
adalah gabungan dari orang-orang yang kecewa, penuh kebencian dan dendam serta
dibekali dengan pengalaman yang sangat luas tanpa merasa bertanggung jawab atas
segala tingkah lakunya dihari-hari yang abadi.
Tangan dan senjata mereka dihari-hari yang lewat memang telah menjadi merah oleh
darah. Dan hati merekapun telah dibasahi oleh air mata dari keluarga mere ka
yang terbunuh. Namun mereka tidak pernah merasa kulitnya meremang.
Namun dalam pada itu, para pengawal, anak-anak muda dan semua laki-laki yang
berada didalam pasukan Tanah Perdikan telah meyakini apa yang mereka lakukan.
Mereka memang tidak mempunyai pilihan lain, sehingga dengan demikian, maka
mereka sama sekali tidak merasa gentar atas apa yang mereka hadapi. Namun mereka
tidak ingin menyerahkan kampung halaman mereka ketangan-tangan orang yang tidak
berhak.
Ketika kedua pasukan itu menjadi semakin dekat, maka terdengar suitan nyaring.
Ki Rangga telah memberikan isyarat kepada orang-orangnya untuk bersiaga
sepenuhnya. Kedua pasukan itu akan segera bertemu dan bertempur.
Beberapa orang didalam pasukan Ki Rangga itu justru tertawa. Mereka melihat
orang-orang Tanah Perdikan itu bagaikan melihat batang ilalang. Senjata yang
mencuat diatas kepala mereka, dalam cahaya bulan nampak bagaikan gelagah ilalang
yang mekar keputih-putihan.
“Kita akan segera menebas ilalang,“ berkata salah seorang pengikut Kala Sembung.
“Senjataku akan puas minum darah orang-orang dungu itu. Mereka mengira bahwa
mereka akan dapat mengimbangi kemampuan kita. Meskipun jumlah mereka lebih
banyak, tetapi sama sekali tidak berarti bagi kita. Semakin banyak mereka turun
ke arena, maka semakin menarik bagi kita,“ sahut yang lain.
Tetapi pemimpin kelompoknya yang mendengar menyahut, “jangan lengah. Mereka
adalah pengawal-pengawal yang terlatih.”
Namun yang terdengar adalah suara tertawa berkepanjangan.
Sementara itu, para pemimpin dari kedua pasukan memang berada diinduk pasukan.
Kecuali dipasukanTanah Perdikan, Sambi Wulung dan Jati Wulung berada diujung
sayap kiri dan kanan. Mereka bukan saja memimpin kedua sayap itu, tetapi mereka
harus merintis keduanya juga mendapat tugas untuk mengawasi sayap-sayap lawan,
agar tidak dengan licik meninggalkan arena dan menyerang padukuhan-padukuhan
terdekat untuk sekedar menumpahkan kemarahan dan dendam. Meskipun
padukuhan-padukuhan terdekat sudah dikosongkan karena perempuan dan anak-anak
sudah disingkirkan ke padukuhan-padukuhan lain.
Warsi rasa-rasanya sudah tidak sabar lagi. Ia yakin bahwa Iswari berada di
antara para pemimpin Tanah Perdikan itu. Sehingga rasa-rasanya ia ingin segera
meloncat menerkamnya.
Namun dalam kegelisahan itu ia menggeram, “Apakah iblis betina itu berani keluar
dan turun di arena ini?”
“Ia tentu akan datang,“ sahut Ki Rangga.
“Aku kira perempuan cantik itu hanya dapat menunggu. Tetapi ternyata ia
mempunyai keberanian juga untuk keluar dari sarangnya,“ berkata Warsi sambil
menengadahkan kepalanya. Seakan-akan ia sedang mencari perempuan yang
disebut-sebutnya itu diantara seleret pasukan yang bergerak maju itu.
Di pihak lain, Iswaripun telah bersiap sepenuhnya untuk menghadapi segala
kemungkinan. Ia telah berada pada tataran tertinggi dari ilmu yang dikuasainya.
Sementara itu, ternyata Bibi telah berhasil membantunya, membuka simpul-simpul
syarafnya yang masih tertutup sehingga dengan demikian, maka tingkat ilmunya
seakan-akan menjadi semakin tinggi. Tubuhnya menjadi semakin mudah dikuasainya
dan kehendaknyapun telah menyatu dengan setiap unsur pada tubuhnya itu.
Disebelah menyebelah gurunya selalu mendampinginya. Apalagi dalam keadaan yang
keras dan gawat. Untuk menghadapi Warsi, maka ketiga gurunya tidak begitu
mencemaskannya lagi, meskipun segala kemungkinan dapat terjadi. Warsipun tentu
sudah berusaha meningkatkan ilmunya pula untuk menghadapi Iswari pada hari yang
telah ditunggunya itu. Namun Iswaripun telah bersiap. Tetapi jika di samping
Warsi ada Ki Randu Keling dan barangkali satu dua orang kawannya, maka
orang-orang tua itu memang diperlukan.
Ketika kedua pasukan itu menjadi semakin dekat, maka para pemimpin dari kedua
belah pihakpun telah memberikan pertanda. Sambi Wulung dan Jati Wulung yang
berada diujung sayap, sekaligus memimpin sayap-sayap itu telah memberikan
isyarat pula kepada para pengawal. Sementara itu, pemimpin pasukan pengawal yang
memimpin induk pasukan telah memberikan pertanda pula, bukan saja kepada para
pengawal di induk pasukan, tetapi juga yang berada di sayap dengan bunyi
kentongan.
Demikianlah, maka senjatapun telah mulai merunduk. Orang-orang Tanah Perdikan
yang pernah mendapat tuntunan perang dalam gelar telah menyesuaikan dirinya
dengan gelar yang mapan. Namun jika keadaan memaksa, maka merekapun telah
berlatih untuk bertempur secara pribadi.
Seperti yang diperintahkan, maka orang-orang Tanah Perdikan itu tidak menunggu.
Tetapi sebelum lawannya mendahului, maka dengan irama tertentu, pemimpin
pengawal itu telah memerintahkan pasukannya menyerang.
Dengan cepat pasukan Tanah Perdikan itu telah bergerak maju. Ujung sayap pasukan
Tanah Perdikan yang mempergunakan gelar Wulan Tumanggal itu terdiri dari para
pengawal terpilih meskipun jumlah mereka tidak terlalu banyak. Dibawah pimpinan
Sarribi Wulung dan Jati Wulung disebelah-menyebelah maka ujung sayap pasukan itu
harus berusaha secepat-cepatnya menusuk ke sayap lawan. Sementara itu, di induk
pasukan, orang-orang terpilih memang berada di paling depan. Sedangkan bekas
penwal yang telah menjadi semakin tua, namun masih memiliki kekuatan dan
kemampuan yang memadai akan berada dilapisan berikutnya. Mereka adalah
orang-orang yang berpengalaman meskipun kekuatannya tidak lagi sedahsyat diusia
mudanya. Sedangkan dilapisan berikutnya adalah anak-anak muda Tanah Perdikan
yang meskipun bukan pengawal yang terpilih, tetapi merekapun telah mendapat
tuntunan olah kanuragan cukup memadai. Namun diantara mereka terdapat juga
justru orang-orang terpilih, karena hanya orang-orang berilmu sajalah yang akan
dapat menyusup lapisan-lapisan sebelumnya hingga sampai lapisan anak-anak muda
itu.
Dengan susunan yang telah diperhitungkan dengan masak oleh para pemimpin Tanah
Perdikan itu, maka pasukannya dalam gelar Wulan Tumanggal telah bergerak dengan
cepat menyerang pasukan lawan yang menebar meskipun tidak berujud gelar.
Namun dalam pada itu, para pemimpin dari pasukan yang datang dari balik bukit
itupun telah pula maju dengan cepat. Mereka justru telah berlari-lari dan
berteriak-teriak dengan kasarnya. Bahkan ada yang mengumpat-umpat dengan
kata-kata kotor dan tidak pantas diucapkan oleh mulut seseorang yang mengenal
sedikit unggah-ungguh.
Iswari memang terkejut mendengarnya. Ia tidak menduga, bahwa ia akan mendengar
kata-kata kotor dan sangat kasar itu. Namun ia segera mampu menguasai
perasaannya. Apalagi ketika ia melihat ujung senjata di kilatan cahaya bulan.
Sejenak kemudian kedua pasukan itu telah berbenturan. Senjatapun mulai beradu.
Hentakan pada benturan pertama telah menguji kemampuan pasukan dari kedua belah
pihak.
Pada pasukan Tanah Perdikan, maka orang-orang yang berada di lapisan pertama
tidak sekedar mempergunakan keberanian dan kemampuan mereka. Tetapi mereka juga
mempergunakan penalaran mereka. Sekali-sekali lapisan pertama itu memang menguak
sehingga beberapa orang lawan menyusup masuk. Namun pada lapisan kedua
orang-orang itu terkejut. Di lapisan kedua ujung ujung senjata dari orang-orang
yang berpengalaman telah menunggu mereka.
Orang-orang dilapisan kedualah yang harus bertahan. Mereka berusaha agar tidak
ada orang yang menyusup kebelakang mereka. Setidak-tidaknya mereka berusaha
untuk membatasi orang-orang yang menyusup ke lapisan ketiga sekecil mungkin,
meskipun dilapisan ketiga itu terdapat juga orang-orang pilihan. Namun sebagian
besar mereka adalah anak-anak muda Tanah Perdikan yang dengan suka rela ikut
mempertahankan kampung halaman mereka dari orang-orang yang bukan seharusnya
menguasainya.
Sejenak kemudian, maka disepanjang tebaran pasukan kedua belah pihak itu, telah
terjadi pertempuran yang sengit.
Namun dalam pada itu, pemimpin dari kedua belah pihak justru tidak segera dapat
bertemu. Ketika kedua pasukan itu maju dengan cepat menjelang benturan terjadi,
maka pasukan itu justru telah mendahului para pemimpin dari kedua belah pihak.
Orang-orang Tanah Perdikan Sembojan memang merasa terganggu oleh
teriakan-teriakan dan umpatan-umpatan kasar dari orang-orang yang terutama
dipimpin oleh Kala Sembung. Karena itu, maka seorang diantara para pengawal
Tanah Perdikan itu justru berteriak nyaring, “Hentikan teriakan-teriakan kasar
dan kotor itu.”
Ternyata untuk mengimbangi teriakan-teriakan yang menyakiti telinga itu,
orang-orang Tanah Perdikanpun telah berteriak pula, “Hentikan mereka. Hentikan
mereka.”
Jati Wulunglah yang berada disayap yang kebetulan berhadapan dengan sayap yang
dipimpin oleh Kala Sembung itu. Karena itu, maka kemarahannyapun segera telah
membakar jantungnya.
Namun sebagai seorang yang telah berpengalaman, maka Jati Wulung tidak segera
kehilangan penalaran. Betapapun marahnya, namun ia masih mampu membuat
perhitungan-perhitungan yang mapan, sehingga Jati Wulung masih dapat melakukan
langkah yang terbaik bagi pasukan diujung sayap itu.
Namun ternyata bahwa Jati Wulungpun tidak segera bertemu dengan Ki Kala Sembung.
Karena itu, untuk beberapa saat lamanya, Jati Wulung harus bertempur dengan
orang-orang yang kasar dan kadang-kadang justru menjadi liar.
Tetapi sesuai dengan tugasnya, bersama beberapa orang terpilih di sayap itu,
Jati Wulung harus menusuk masuk kedalam pasukan lawan. Ujung-ujung gelar Wulan
Tumanggal itu akan menghunjam dalam-dalam, dan menghancurkan kekuatan lawan
didalam pasukan lawan itu sendiri. Jika tugas itu dikedua sayap berhasil, maka
pada saatnya gelar Wulan Tumanggal itu akan berkerut dan bidang gerak lawanpun
akan menjadi semakin sempit sejalan dengan susutnya kekuatan mereka.
Tetapi menghadapi lawan yang tidak mengenal gelar dan bertempur dan kasar dan
liar, maka Jati Wulung memang agak menemui kesulitan. Namun demikian, hal yang
terjadi itu sebelumnya memang sudah diduganya sehingga serba sedikit sudah
diberitahukan kepada pasukannya.
Namun, bagaimanapun juga lawan yang dihadapi, Jati Wulung tidak berkisar dari
rencana yang telah disepakati. Karena itu maka Jati Wulung dan beberapa orang
terpilih benar-benar telah merintis jalan memasuki jantung sayap pasukan lawan.
Namun Jati Wulung memang terhambat ketika ia mendapat laporan bahwa pimpinan
sayap lawan itu ada di tengah-tengah benturan kedua sayap itu.
Karena itu maka Jati Wulungpun telah mengatur orang-orangnya. Orang-orang
terpilih itu harus meneruskan usahanya untuk menusuk pasukan lawan yang kasar
dan liar itu. Sementara Jati Wulung akan menemui pemimpin sayap lawan itu.
“Jangan terpengaruh oleh sikap mereka yang kasar itu. Kalian sedang bertempur.
Karena itu, maka yang penting, perhatikan kemampuan tempur mereka. Mereka tidak
akan dapat membunuh kalian dengan mulut mereka. Dengan umpatan-umpatan kasar
atau dengan sikap yang menakutnya. Mereka akan membunuh kalian dengan senjata
mereka. Karena itu perhatikan saja senjata mereka.“ pesan Jati Wulung kepada
para pengawal.
Para pengawal itupun kemudian telah berusaha dengan kemampuan mereka tanpa Jati
Wulung yang harus bertempur melawan pimpinan sayap lawan. Namun pesan Jati
Wulung itu ternyata sangat berarti bagi mereka. Dengan hanya memperhatikan
senjata lawan, maka para pengawal itu tidak terlalu terpengaruh oleh kekasaran
dan keliaran mereka. Serta tiak terlalu terganggu oleh ucapan-ucapan dan
umpatan-umpatan kotor yang tidak pantas.
Para pengawal terpilih itu ternyata memang mempunyai kemampuan yang cukup untuk
melakukan tugasnya. Diiikuti oleh para pengawal yang lain, orang-orang yang
lebih tua, bekas pengawal yang masih memiliki kekuatan cukup untuk bertempur,
baru kemudian anak-anak muda, yang berbekal tekad dan, sedikit tuntunan olah
kanuragan.
Perlahan-lahan, tetapi pasti, maka ujung sayap itu memang berhasil menusuk masuk
kedalam sayap pasukan lawan. Tetapi para pengawal terpilih itupun mengerti,
bahwa mereka tidak boleh tergesa-gesa. Mereka harus selalu memperhatikan pasukan
yang menyangga kekuatan mereka. Jika jalur itu terputus, maka sekelompok
pengawal diujung pasukan itu justru akan terkurung didalam pasukan lawan.
Namun para pengawal Tanah Perdikan itu mampu melakukan tugas mereka dengan baik.
Setapak demi setapak mereka maju. Bahkan kadang-kadang mereka harus berhenti
untuk memberikan kesempatan pasukan penyangganya maju.
Sementara itu, pangkal sayap itupun telah bertempur dengan garang pula. Mereka
berbenturan pada satu garis pertempuran yang sengit, sehingga ternyata bahwa
pertempuran di pangkal sayap itu cukup banyak menghisap tenaga. Dengan demikian
maka hambatan pada ujung sayap pasukan Tanah Perdikan Sembojan itu rasa-rasanya
telah terpengaruh juga oleh pertempuran di pangkal sayap itu. Karena kekuatannya
memang terhisap untuk bertahan dari tekanan pasukan Tanah Perdikan yang kuat.
Sehingga dengan demikian maka para pengawal terpilih diujung sayap itu tidak
menjadi terlalu berat mengatasi hambatan itu.
Dalam pada itu, Kala Sembung memang menjadi marah melihat orang-orang Tanah
Perdikan yang membentur kekuatannya. Kebiasaan Kala Sembung dan orang-orangnya
adalah menakut-nakuti orang-orang padukuhan. Dengan sekelompok kecil saja dari
kekuatan yang ada, Kala Sembung telah dapat menguasai seluruh padukuhan dan
merampas harta benda yang ada didalamnya. Dengan tujuh atau delapan orang,
seluruh padukuhan telah menjadi ketakutan. Namun saat itu Kala Sembung telah
mengerahkan segenap kekuatan yang ada padanya, kemudian sekelompok bekas
prajurit Jipang, yang merupakan bagian dari kekuatan Ki Sumbaga. Beberapa
kelompok kecil para penghuni sarang-sarang yang kelam dari orang-orang berilmu
hitam yang dapat dipengaruhinya. Baik dengan kata-kata maupun dengan ancaman
kekuatan, serta beberapa kelompok yang lain yang memiliki sifat yang bersamaan
dengan sifat orang-orangnya. Tetapi orang-orang padukuhan yang termasuk
lingkungan Tanah Perdikan Sembojan itu sama sekali tidak gentar. Mereka justru
telah membentur kekuatannya pada satu perang gelar yang mapan, sebagaimana
dilakukan oleh para prajurit.
Kemarahan itu ternyata telah membuat Kala Sembung menjadi semakin garang. Dengan
sebuah bindi yang berduri runcing dari pangkal sampai ke ujungnya, maka Kala
Sembung bagaikan telah kehilangan akalnya. Mengamuk tanpa menahan diri sama
sekali.
Para pengawal Tanah Perdikan memang menjadi berdebar-debar melihat Kala Sembung
yang mengayunkan bindi berputaran seperti angin pusaran. Tidak seorangpun yang
berani langsung membentur senjata yang mengerikan itu.
Karena itu, maka para pengawal telah menyusun kekuatan khusus untuk
menghadapinya sebelum seorang penghubung berhasil menemukan Jati Wulung untuk
memberikan laporan tentang Kala Sembung itu. Jika mungkin Jati Wulung dapat
menghadapinya, sedangkan jika ia tidak dapat meninggalkan tempatnya, maka
perintahnyalah yang ditunggu sebagai petunjuk untuk mengatasi amuk pemimpin
sayap pasukan lawan itu.
Lima orang pengawal telah mengkhususkan diri untuk menghadapi putaran bindi yang
dahsyat itu. Namun sekali-sekali orang-orang Kala Sembung itu juga
mengganggunya.
Berbeda dengan Jati Wulung yang memperhatikan keadaan seluruh sayap pasukan itu,
Kala Sembung yang terbiasa bertempur tanpa menghiraukan gelar itu, menyerahkan
segala sesuatunya kepada orang-orangnya. Dengan demikian maka Kala Sembung itu
dapat berbuat sesuai dengan keinginannya tanpa memperhatikan orang lain yang
berbuat sendiri-sendiri.
Ternyata bahwa para pengawal yang menghadapi Kala Sembung itu mendapat
kesulitan. Pedang-pedang mereka tidak akan mampu membentur bindi bergerigi tajam
itu, jika mereka tidak ingin pedang mereka terlepas. Ternyata kekuatan Kala
Sembung itu sedemikian besarnya sehingga tidak akan mungkin ditahan.
Karena itulah, meskipun para pengawal telah menyiapkan satu kelompok khusus,
namun kelompok yang khusus itu setiap kali telah terdesak, sehingga mempengaruhi
garis pertahanan seluruh sayap pasukan.
Pada saat yang gawat itu, Jati Wulung yang menyusup diantara pertempuran telah
mencapai pangkal sayap. Dari jarak beberapa langkah ia sudah melihat, betapa
Kala Sembung mampu menciptakan satu putaran pertempuran yang mengerikan, yang
perlahan-lahan mendesak pangkal sayap pasukan Tanah Perdikan Sembojan.
Karena itu, maka Jati Wulungpun telah mempercepat langkahnya mendekati arena
yang mendebarkan itu.
Ketika ia muncul diantara kelima pengawal yang khusus menghadapi Kala Sembung
itu, maka ia tidak segera memberi isyarat agar para pengawal itu menyingkir.
Tetapi Jati Wulung justru telah bertempur diantara mereka.
Tetapi sudah barang tentu, bahwa Jati Wulung tidak sekedar memiliki kemampuan
sebagaimana para pengawal itu.
Sambil mengayunkan pedangnya Jati Wulung berbisik, “Untuk sementara biarlah
kalian tetap disini.”
Para pengawal itu memang tidak meninggalkannya. Mereka masih saja bertempur
melawan Kala Sembung itu.
Tetapi Kala Sembung terkejut ketika sekali-sekali bindinya membentur kekuatan
yang terasa lebih besar dari kekuatan para pengawal yang lain. Bahkan ketika
satu kali Jati Wulung dengan sengaja menangkis serangan bindi Kala Sembung, maka
orang itu telah terkejut bukan kepalang. Terasa bindinya telah membentur
kekuatan yang sangat besar.
“Setan alas,“ Kala Sembung mengumpat, “ada juga diantara kalian yang memiliki
kekuatan yang pantas.”
Jati Wulunglah yang menjawab, “Ki Sanak. Apakah kau pemimpin dari sayap
pasukanmu ini?”
“Ya,“ jawab Kala Sembung bangga, “aku akan menggilas orang-orang Tanah Perdikan
Sembojan, menghancurkan mereka dan kemudian menguasai Tanah Perdikan dengan
segala isinya.”
“Bagaimana dengan Warsi?” bertanya Jati Wulung.
“Ia adalah pemimpin kami. Ialah yang kelak akan memimpin Tanah Perdikan ini,“
jawab Kala Sembung.
“Dan anak laki-lakinya?“ bertanya Jati Wulung pula.
“Anak itu sudah dipersiapkan untuk berkuasa. Nah, menyerahlah. Kalian akan
diampuni. Kalian akan dibunuh dengan cara yang terbaik. Tetapi jika kalian
melawan, maka kalian akan mati dengan cara yang paling pahit.”
Jati Wulung tertawa. Sementara itu serangan-serangan Kala Sembungpun menjadi
semakin lamban, sehingga seakan-akan telah berhenti sama sekali, meskipun ia
sama sekali tidak mengurangi kewaspadaan, bahkan senjatanya masih saja
bergerak-gerak dan siap terayun menghantam tubuh lawan.
Disela-sela tertawanya, Jati Wulung bertanya, “jadi itukah ukuran diampuni
menurut pengertianmu? Siapa yang dibunuh dengan cara yang baik itulah yang
diampuni. Sedangkan yang tidak diampuni akan mengalami siksaan menjelang
kematiannya?”
“Ya. Itulah akibat yang harus kalian perhitungkan bahwa kalian telah berani
melawan kehendak kami.“ Kala Sembung itu menggeram.
Tetapi Jati Wulung masih saja tertawa, sehingga Kala Sembung itu membentak, “He,
kenapa kau tertawa? Apakah kau menjadi gila karena ketakutan?”
“Kau memang pandai bergurau,“ jawab Jati Wulung, “Kau selalu mengatakan bahwa
kau akan membunuh kami dengan cara apapun. Tetapi kau tidak pernah menyebut cara
kematian yang kau ingini.”
“Tutup mulutmu,“ Kala Sembung berteriak. Tetapi iapun kemudian bertanya, “Siapa
kau? Apakah kau pemimpin dari sayap pasukan Tanah Perdikan Sembojan ini?”
Jati Wulung masih tertawa. Iapun kemudian mengangguk sambil menjawab, “Ya. Aku
pemimpin sayap dari pasukan Tanah Perdikan Sembojan. Sudah beberapa lama aku
mencarimu. Sekarang kita bertemu. Karena itu, maka kita akan dapat berhadapan
sebagai lawan yang tanggon.”
“Bagus,“ geram Kala Sembung, “majulah kalian berenam. Aku akan melakukan tugasku
dengan baik. Membunuh kalian dengan cara yang paling pahit karena kalian
melawan.”
Jati Wulung telah bergeser. Nampaknya ia memang harus segera mulai. Tetapi
tiba-tiba ia justru memberi isyarat kepada kelima orang yang semula bertempur
bersamanya agar mereka meninggalkannya.
“Aku akan bertempur seorang melawan seorang,“ berkata Jati Wulung.
Kala Sembunglah yang kemudian tertawa. Katanya, “Kau terlalu sombong.”
“Kita akan melihat, siapakah yang terlalu sombong,“ jawab Jati Wulung.
Demikianlah maka kedua orang itupun segera mempersiapkan diri. Sementara itu,
kelima orang pengawal Tanah Perdikan telah bergeser menjauh. Mereka telah
bersiap memasuki perang yang semakin sengit.
Ketika kedua pemimpin sayap pasukan itu telah mulai bertempur, maka orang-orang
yang berada disekitarnya dari kedua belah pihak mulai menjauh. Mereka tidak lagi
merasa perlu melindungi kedua pemimpin mereka yang sedang berbicara, karena
mereka justru merasa perlu untuk menghindar. Kedua pemimpin yang berilmu tinggi
itu akan menjadi sangat berbahaya bagi mereka, apalagi jika keduanya
mengungkapkan ilmu puncak mereka. Jika mereka tidak menguak, maka justru
merekalah yang akan mengalami akibat buruk dari serangan-serangan kedua orang
pemimpin itu jika keduanya saling mengelakkan diri.
Sebenarnyalah, maka sejenak kemudian, Kala Sembung dan Jati Wulung telah
terlibat kedalam pertempuran yang sengit. Bindi yang bergerigi tajam diseluruh
batangnya itu terayun-ayun mengerikan. Sementara itu pedang Jati Wulungpun
berputaran dengan cepatnya. Namun Jati Wulung menyadari bahwa ayunan bindi yang
berat itu tentu didorong oleh kekuatan yang besar serta dorongan kekuatan ayunan
itu sendiri, sehingga Jati Wulung tidak berusaha langsung membentur bindi itu
jika tidak terpaksa sekali. Tetapi bahwa pedangnya lebih ringan dari bindi itu,
memberinya kemungkinan untuk dapat bergerak lebih cepat.
Demikianlah, maka keduanyapun segera terlibat kedalam pertempuran yang semakin
meningkat. Apalagi ketika tangan-tangan mereka telah menjadi basah oleh
keringat.
Di sayap yang lain, Sambi Wulung harus berhadapan dengan seorang pemimpin
padepokan yang nampak lebih bersungguh-sungguh. Ki Ajar Tulak yang menurut
rencananya harus memancing kekuatan para pengawal di padukuhan induk untuk
berkumpul di pintu gerbang utama, sementara yang lain akan memasuki padukuhan
induk itu dari samping.
Namun ternyata bahwa orang-orang Tanah Perdikan telah memaksa pasukan Ki Rangga
itu merubah rencana mereka dengan tiba-tiba, karena pasukan Tanah Perdikan telah
bergerak maju dan menunggu dibawah bukit.
Dengan wajah yang buram Ki Ajar Tulak yang langsung dapat bertemu dengan Sambi
Wulung itu telah berkata, “Ki Sanak. Jangan terlalu bodoh untuk menemuiku di
pertempuran seperti ini hanya seorang diri.”
Sambi Wulung mengerutkan keningnya. Ia bergeser setapak surut. Sementara itu
pertempuran telah terjadi disekitarnya. Kedua belah pihak telah mengerahkan
kekuatan yang ada untuk melumpuhkan lawan.
“Kau harus mempersiapkan sebuah kelompok untuk melawanku. Sedikitnya terdiri
dari sepuluh orang. Jika seorang diantara mereka terbunuh, orang lain harus
cepat menggantikannya. Kalau tidak, maka sepuluh orang itu akan segera habis
dalam waktu sekejap,“ berkata Ki Ajar Tulak.
Sambi Wulung termangu-mangu sejenak. Menurut penglihatannya, orang itu memang
seorang yang terlalu yakin akan dirinya sendiri. Namun Sambi Wulung sempat
bertanya, “Siapa namamu Ki Sanak?”
Ternyata orang itu tidak ingin bersembunyi. Dengan tegas ia menjawab, “Namaku
Ajar Tulak. Orang-orang memanggilku Ki Ajar Tulak.”
“Kau seorang Ajar. Tentu kau memiliki kebijaksanaan yang lebih dari orang-orang
kebanyakan,“ berkata Sambi Wulung.
“Apapun yang dikatakan orang tentang seorang Ajar, aku tidak pernah
menghiraukannya. Siapa kau?,“ Ki Ajar itu bertanya.
“Namaku Sambi Wulung,“ jawab Sambi Wulung yang hampir salah menyebut namanya
dengan Wanengbaya.
“Apakah kau seorang pemimpin yang terbaik di Tanah Perdikan ini sehingga kau
berani menyongsongku?“ bertanya Ki Ajar.
“Tetapi menurut perhitunganku, kau bukan yang terbaik dipasukanmu. He, apakah
kau memiliki ilmu lebih baik dari Ki Rangga Gupita? Dari Warsi atau orang-orang
lain di pasukan induk?“ bertanya Sambi Wulung.
“Apakah kau tahu tingkat kemampuan Ki Rangga dan isterinya itu?“ bertanya Ki
Ajar.
Sambi Wulung tertawa. Katanya, “Tetapi kami dapat memperhitungkan. He, apakah
Warsi itu isteri Ki Rangga.”
“Persetan. Apa urusanmu? Sekarang kau sajalah yang harus memanfaatkan saat-saat
terakhirmu dengan sebaik-baiknya. Sebelum mati adakah kau ingin berbuat
sesuatu?“ bertanya Ki Ajar.
“Ya,“ jawab Sambi Wulung.
“Apa?“ bertanya Ki Ajar pula.
“Membunuhmu,“ jawab Sambi Wulung, “agaknya kau memang seorang Ajar yang justru
dungu. Kau tidak dapat menilai baik dan buruk. Kesalahan dan kebenaran.
Ketamakan dan berbudi. Agaknya pada suatu saat kau juga tidak akan dapat
membedakan lagi, terang dan gelap. He, lihat. Yang dilangit itu matahari atau
bulan?”
Wajah Ki Ajar menjadi merah. Ia adalah seorang yang sangat disegani oleh
orang-orangnya dan bahkan ia merasa bahwa orang-orang lainpun sangat
menghormatinya. Tetapi orang Tanah Perdikan ini telah menghinanya dan
memperlakukannya seperti seorang anak kecil.
Karena itu, maka iapun menggeram, “Kau harus dibunuh dengan cara yang khusus
karena kau telah menghinaku.”
Sambi Wulung justru tertawa. Katanya, “jangan marah Ki Ajar. Seorang Ajar harus
bijaksana, sabar dan berbudi luhur.”
Ki Ajar Tulak itu tidak lagi dapat menahan kemarahannya. Karena itu, maka iapun
segera bergeser sambil berdesis, “bersiaplah untuk mati. Kau sudah terlalu
banyak berbicara.”
Sambi Wulung masih juga menjawab, “He, apakah kau juga dapat menghisap kekuatan
dari cahaya bulan?”
Ki Ajar sudah tidak mau mendengarkan lagi. Ia mulai menyerang dengan garangnya.
Tetapi Sambi Wulungpun telah bersiap. Ki Ajar Tulak yang sudah berada di medan
itu segera memutar senjatanya. Senjata seorang Ajar yang memiliki ilmu yang
tinggi. Sebilah keris yang besar melampui keris kebanyakan. Batangnya yang
berkelok dan berwarna kehitam-hitaman memang nampak mendebarkan.
Sementara itu Sambi Wulung telah menggenggam senjatanya pula. Sebilah pedang.
Sejenak kemudian, maka keduanya telah bertempur. Nampaknya Ki Ajar yang marah
itu berusaha untuk dengan cepat mengalahkan bahkan membunuh lawannya. Kerisnya
yang mendebarkan itu dengan cepat berputaran. Sekali-sekali terayun mendatar
menebas ke arah dada, namun kemudian menyambar leher dan dengan cepat pula
mematuk ke arah jantung.
Tetapi Sambi Wulungpun cukup tangkas. Meskipun pedangnya tidak sebaik senjata
lawannya, tetapi di tangan Sambi Wulung, maka pedang itupun menjadi sangat
berbahaya. Pedang itu berputar bagaikan segulung asap putih yang menyelubungi
tubuhnya. Namun kadang-kadang gulungan asap itu berkisar kesebelah kanan dan
kiri tubuh Sambi Wulung. Sekali-sekali gulungan asap itu bahkan bagaikan
terhembus ke arah tubuh Ki Ajar Tulak.
“Setan alas,“ Ki Ajar itu mengumpat, “ilmu pedangnya luar biasa.”
Sambi Wulung tertawa. Namun gulungan putaran pedangnya itu sama sekali tidak
mengendor. Bahkan gulungan putaran pedang itu telah menyambarnya sehingga Ki
Ajar terpaksa berloncatan menjauh. Namun dengan tangkas pula Ki Ajar itu telah
meloncat dengan kerisnya terjulur lurus mengarah ke lambung, menyusup diantara
putaran pedang lawannya.
Sambi Wulung ternyata terus bergeser surut. Ki Ajar-pun memiliki ilmu pedang
yang cepat pula, sehingga senjatanya itu mampu menyerang langsung ke arah
lambungnya tanpa tersentuh putaran pedangnya.
Dengan demikian maka pertempuran antara kedua pemimpin sayap itu menjadi semakin
sengit. Keduanya mampu menguasai senjata masing-masing dengan baik. Ilmu pedang
mereka adalah ilmu pedang pada tataran tertinggi, sehingga untuk kebanyakan
orang, pertempuran itu sulit dipahami.
Sementara itu, orang-orang yang berada disayap itu-pun telah mengerahkah segenap
kemampuan mereka pula. Baik para pengawal dari Tanah Perdikan, maupun
orang-orang dari balik bukit. Namun ternyata orang-orang dari balik bukit itu
telah salah menilai. Ternyata para pengawal Tanah Perdikan yang masih muda
itupun memiliki kemampuan seorang prajurit yang tangguh. Sementara itu, yang
lebih tua, telah memiliki pengalaman yang panjang. Termasuk perang yang serupa
disekitar sepuluh tahun yang lalu ketika Ki Rangga dan Warsi mencoba menguasai
Tanah Perdikan itu sebagaimana mereka lakukan sekarang.
Dengan demikian maka para pengawal Tanah Perdikan itupun tidak terlalu mudah
untuk didesak. Meskipun diantara mereka ada pula anak-anak muda yang baru
mengenal olah kanuragan pada tataran yang permulaan, namun disebelah menyebelah
adalah kawan-kawan mereka yang lebih banyak menarik perhatian lawan. Apalagi
anak-anak muda itu telah mendapat beberapa pesan, agar mereka bergerak
berpasangan.
Dengan demikian maka pertempuran disayap kanan itu memang menjadi semakin
sengit. Orang-orang dari balik bukit semakin lama menjadi semakin keras dan
kasar.
Tetapi para pengawal Tanah Perdikan sama sekali tidak menjadi gentar. Apalagi
para pengawal yang telah berpengalaman. Mereka sudah sering mengalami
pertempuran dengan cara yang demikian. Namun justru karena itu, maka mereka
harus tetap menyadari kedudukan mereka di medan. Mereka tidak boleh kehilangan
akal, sehingga tidak mampu lagi mempergunakan penalaran mereka.
Sementara itu, Ki Ajar Tulak mulai menyadari, bahwa lawannya yang bernama Sambi
Wulung itu bukan hanya seorang yang pandai membual. Ternyata dalam
benturan-benturan senjata selanjutnya. Sambi Wulung benar-benar menunjukkan
kemampuannya bermain pedang. Bahkan iapun ternyata memiliki kekuatan yang cukup
besar.
Namun dengan demikian, Ki Ajar menjadi semakin berhati-hati. Ia tidak lagi
dengan tergesa-gesa ingin mengakhiri pertempuran itu. Karena ia sadar, jika
demikian maka mungkin ia sendiri yang akan terjerat kedalam kesulitan.
Sementara itu Sambi Wulung masih berusaha untuk menilai bukan saja lawannya.
Tetapi seluruh medan di sayap itu. Sekali-sekali ia memang mencari kesempatan
untuk memperhatikan pertempuran disebelah-menyebelah. Namun menurut
penilaiannya, para pengawal Tanah Perdikan tidak terlalu banyak mengalami
kesulitan meskipun lawannya bertempur dengan garangnya. Bahkan kasar dan liar.
Ki Ajar sendiri memang bertempur dengan keras. Tetapi ia masih menunjukkan sikap
seorang yang memiliki harga diri yang tinggi. Ki Ajar tidak mau merendahkan
dirinya dengan keliaran sebagaimana dilakukan oleh orang-orangnya.
Dalam pada itu, pertempuran di induk pasukanpun terjadi dengan sengitnya pula,
Ki Sumbaga memiliki kemampuan untuk bertempur dalam gelar. Meskipun ia tidak
mempersiapkan gelar untuk menghadapi orang-orang Tanah Perdikan, tetapi ternyata
bahwa ia mampu dengan aba-aba mengatur orang-orangnya.
Yang menjadi sangat garang justru Warsi yang merasa bahwa dirinya telah dipenuhi
oleh kekuatan cahaya bulan. Karena itu, maka Warsi itu telah bergerak dengan
garangnya. Ia tidak terikat menghadapi seorang lawan. Tetapi ia meloncat-loncat
dari satu tempat ke tempat lain.
Orang-orang Tanah Perdikan memang tergetar melihat sikapnya. Setiap tempat yang
disinggahinya, maka korban akan jatuh.
Demikian Ki Rangga Gupitapun telah mengamuk bagaikan harimau yang terluka.
Sebagai seorang yang berilmu tinggi, maka orang-orang Tanah Perdikan Sembojan
mengalami kesulitan untuk menghadapinya. Karena itu, dengan naluri seorang
prajurit, orang-orang Tanah Perdikan itu menghadapinya berpasangan. Bahkan tidak
hanya berdua, tetapi bertiga atau bahkan berempat.
Sementara itu, kelompok-kelompok yang memang sudah dipersiapkan oleh orang-orang
dari balik bukit itupun mulai bergerak. Oleh beberapa orang penghubung mereka
telah dibawa menghadapi orang-orang tua dari Tanah Perdikan Sembojan.
Oleh kemampuan Ki Sumbaga mengatur orang-orangnya, maka tiba-tiba saja Kiai
Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka telah dikurung oleh sekelompok orang yang telah
dipersiapkan. Demikian pula Iswari.
Demikianlah maka pertempuran di pasukan induk itupun menjadi semakin sengit.
Warsi dengan sengaja memang tidak segera berusaha menemui Iswari. Ketika ia
berada di medan, maka tiba-tiba saja ingin memanaskan darahnya lebih dahulu
dengan membunuh lawan sebanyak-banyaknya.
Ternyata yang dilakukan oleh Warsi itu tidak dilakukan oleh para pemimpin Tanah
Perdikan Sembojan.
Mereka sama sekali tidak mempunyai niat sebagaimana dilakukan oleh Warsi. Karena
itu, maka para pemimpin Tanah Perdikan itupun bertempur dengan sikap seorang
Senapati.
Meskipun didalam peperangan mereka tidak mempunyai pilihan lain daripada
menyingkirkan lawan-lawannya, tetapi dada mereka tidak dibakar oleh nafsu yang
tidak terkendali. Orang-orang Tanah Perdikan masih mengendalikan diri
menghindari kematian sejauh dapat dilakukan, meskipun merekapun berusaha untuk
menghentikan perlawanan lawan-lawannya.
Namun akhirnya laporan tentang tingkah laku Warsi dan Ki Rangga itu sampai juga
ketelinga Iswari. Ketika seorang penghubung dengan susah payah menerobos
kepungan dan bertempur disisi Iswari sambil berkata, “Setan betina itu ada
disisi kanan induk pasukan ini. Sementara itu, Ki Rangga bertempur tidak jauh
daripadanya.”
“Apakah mereka memimpin induk pasukan ini?“ bertanya Iswari. Sambil bertempur.
“Tidak. Orang lain memimpin pasukan induk ini,“ jawab penghubung itu.
Iswari terdiam sejenak. Sementara penghubung itupun melaporkan bahaya yang
gawat, yang ditimbulkan oleh Warsi dan Ki Rangga yang sama sekali tidak
mengekang diri.
Iswari mengangguk kecil. Sambil bertempur ia berkata, “Bawa aku menemui mereka.”
“Bagaimana dengan orang-orang ini?“ bertanya penghubung itu.
Iswari tidak menjawab. Namun dengan kemampuannya yang sangat tinggi, maka
sepasang pedangnya tiba-tiba saja berputar semakin cepat, Beberapa orang yang
mengepungnya tiba-tiba terdorong surut. Dua orang kehilangan pedangnya,
sementara seorang yang lain mengaduh kesakitan karena dadanya tergores tajamnya
senjata. Ketika dua orang lagi menyerang bersama-sama, maka keduanyapun harus
berloncatan mundur. Seorang diantaranya pundaknya telah tertusuk ujung senjata
Iswari. Sedang yang lain senjatanya telah terlempar. Namun hampir tidak dengan
sengaja, bahwa penghubung yang bertempur disebelah Iswari itu telah mengacukan
pedangnya lurus kedada orang itu.
“Kenapa kau bunuh orang itu?“ bertanya Iswari.
“Aku tidak sengaja membunuhnya,“ jawab penghubung itu.
Iswari tidak menjawab lagi. Iapun kemudian dengan sepasang pedangnya menyibak
pertempuran itu. Namun ia sempat memberikan isyarat kepada orang-orang tua yang
juga bertempur dalam kepungan, bahwa ia akan menemui Warsi disisi kanan induk
pasukan.
Kiai Badra yang mengetahui bahwa Warsi datang bersama Ki Rangga tidak ingin
membiarkan Iswari pergi sendiri. Sementara Kiai Soka dan Nyai Sokapun ingin
melihat, apa yang akan terjadi dengan murid mereka itu.
Karena itu, maka sambil bertempur merekapun telah bergeser pula. Orang-orang
yang telah disusun dalam kelompok-kelompok tertentu berusaha untuk menahan
mereka. Tetapi meskipun kelompok-kelompok itu terdiri dari orang-orang pilihan,
namun Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka tidak mengalami kesulitan sama sekali
untuk bergeser mengikuti Iswari.
Kelompok-kelompok yang sudah dipersiapkan itu, memang berusaha untuk mencegah
orang-orang terpenting dari Tanah Perdikan itu. Namun mereka tidak berdaya untuk
melakukannya. Bahkan ketika orang-orang itu menjadi semakin keras bertempur,
maka satu persatu mereka terpelanting dari medan, sehingga orang-orang baru
telah tampil untuk menggantikannya. Bahkan kelompok-kelompok itu menjadi semakin
besar. Tetapi bagi orang-orang tua itu, semakin banyak jumlah orang yang
mengepung mereka, bukan berarti semakin sulit bagi mereka. Kecuali mereka memang
berilmu tinggi, tetapi para pengawal Tanah Perdikanpun tidak membiarkan hal itu
terjadi. Karena orang-orang dari balik bukit itu semakin banyak yang mengerumuni
orang-orang tua dari Tanah Perdikan, maka para pengawalpun semakin banyak
mendapat kesempatan untuk memecah kepungan itu, karena mereka telah kehilangan
lawan.
Sementara itu, di medan perang yang semakin sengit itu, para pengawal Tanah
Perdikan Sembojan telah mempergunakan akal mereka pula. Dalam gelar Wulan
Punanggal itu, para pengawal yang berada di pasukan induk itu telah
mempergunakan anak gelar pula. Gelar Jurang Grawah.
Ketika orang-orang dari balik bulkit dengan marah dan mengerahkan segenap
kemampuan nereka, maka para pengawal dilapisan pertama telah menyibak, sehingga
orang-orang itu menganggap mereka telah berhasil menguakkan pasukan induk dari
Tanah Perdikan itu.
Tetapi demikian mereka memasuki lapisan berikutnya, maka para pengawal di
lapisan pertama itu telah mengatup kembali, sementara para pengawal yang telah
berpengalaman di lapisan kedua dengan cepat mengambil alih orang-orang yang
terjerumus masuk itu.
Dengan demikian maka beberapa kali orang-orang dari balik bukit itu terjebak
juga. Jika mereka dengan garangnya berhasil menembus pertahanan di lapisan
kedua, maka mereka masih harus berhadapan dengan anak-anak muda dari Tanah
Perdikan dilapisan ketiga yang bertempur berpasangan. Bahkan ada diantara mereka
orang-orang yang justru terpilih, sehingga orang-orang dari balik bukit itu akan
kehabisan kesempatan untuk mempertahankan dirinya.
Ketika satu dua orang diantara mereka dilepaskan oleh lapisan terakhir, maka
mereka justru merasa terkurung dibelakang gelar dari Tanah Perdikan itu.
Sehingga ketika beberapa orang pengawal mendekatinya, maka dengan gemetar mereka
telah melemparkan senjatanya dan menyerah.
Untuk menjaga segala kemungkinan, maka para pengawal Tanah Perdikan itu telah
mengikat tangan dan kaki orang-orang yang menyerah dan meletakkan mereka
dipematang. Beberapa orang duduk berjajar tanpa dapat menyingkir dari basahnya
lumpur. Bahkan beberapa orang menjadi kebingungan karena semut-semut merah telah
menggigit kulit mereka. Tetapi ikatan pada tangan dan kaki mereka sama sekali
tidak akan dilepas.
Beberapa orang pengawal dan anak-anak muda telah mendapat tugas untuk menjaga
para tawanan itu, sementara perang masih berlangsung dengan garangnya.
Untuk beberapa saat lamanya, garis perang itu masih belum bergeser dari
tempatnya. Ujung-ujung gelar Wulan Punanggal itu masih belum pula berhasil
meremas pasukan lawan dengan kemampuan pasukan di sayap-sayapnya. Ternyata bahwa
orang-orang dari balik bukit yang memiliki pengalaman yang keras dan kasar serta
tangan yang memang sudah direndam didalam darah itu, tidak mudah ditundukkan.
Sementara itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung yang memimpin pasukan pada sayap
gelar, telah berusaha untuk dengan cepat menyelasaikan lawan-lawan mereka.
Keduanya masih terbatas pada kemampuan ilmu pedang mereka yang didukung oleh
tenaga cadangan yang semakin besar.
Namun ternyata bahwa lawan-lawan merekapun memiliki kemampuan yang tinggi dan
kekuatan yang sangat besar. Merekapun ternyata begitu akrab dengan senjata
mereka, sehingga seakan-akan anggauta badan mereka sendiri.
Pertempuran di kedua sayap itupun menjadi semakin sengit. Karena orang-orang
dari balik bukit itu tidak mempergunakan gelar yang mapan, maka mereka
seakan-akan justru mempergunakan gelar Emprit Neba. Namun di induk pasukan gelar
itu ternyata telah merugikan mereka sendiri, karena para pengawal dari Tanah
Perdikan Sembojan di induk pasukan justru mempergunakan anak gelar Jurang
Grawah.
Orang-orang dari balik bukit, terutama yang berada disayap yang dipimpin oleh Ki
Kala Sembung, ternyata telah membentur kekuatan yang tidak diduganya.
Orang-orang kasar yang memiliki pengalaman yang sangat luas, serta dapat
membunuh lawannya dengan jantung yang sama sekali tidak berdebar itu, menjadi
semakin marah karena orang-orang Tanah Perdikan tidak dapat diper-lakukan
seperti orang-orang padukuhan yang pernah mereka rampok sebelumnya. Orang-orang
Tanah Perdikan Sembojan tidak menjadi ketakutan dan gemetar. Bahkan mereka
sempat mengangkat wajah mereka sambil menepuk dada dan berkata lantang, “Inilah
para pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Sedumuk bathuk, senyari bumi, taruhannya
mati.”
Orang-orang dari balik bukit itu menggeram. Mereka mengumpat dan memaki dengan
kata-kata kotor. Namun orang-orang Tanah Perdikan itupun telah berteriak pula
untuk mengatasi kegelisahan mereka mendengar kata-kata kotor, “Memakilah.
Makianmu tidak akan dapat membunuhku. Jika kau merasa puas memaki-maki sebelum
mati, lakukanlah.”
Orang-orang kasar itu menjadi semakin marah. Namun semakin mereka menjadi marah,
maka merekapun menjadi semakin liar dan buas. Tetapi juga mereka menjadi semakin
bermata gelap sehingga mereka tidak sempat mempergunakan otak mereka lagi.
Sehingga dengan demikian maka mereka tidak lagi membuat perhitungan-perhitungan
yang mapan. Mereka bertempur asal saja mempergunakan kekuatan dan kemampuan
mereka tanpa akal dan penalaran.
Para pengawal Tanah Perdikan memang sudah mendapat pesan sebelumnya, bahwa
mungkin sekali mereka akan berhadapan dengan orang sebagaimana dihadapinya itu.
Karena itu, mereka sudah mempersiapkan diri mereka baik-baik. Bahkan mereka
sudah mempersiapkan perlawanan yang paling baik menghadapi orang-orang yang
bagaikan menjadi mabuk itu.
Dalam pada itu, Iswari yang bergeser perlahan-lahan sambil menyibak pertempuran
yang sengit diinduk pasukan, memang menjadi semakin dekat dengan lingkaran
pertempuran antara Warsi dengan sekelompok pengawal. Karena itu, maka ia mulai
melihat kegelisahan pada pasukannya. Nampaknya Warsi masih saja berbuat kasar
dan keras.
Ketika orang-orang Tanah Perdikan ini melihat kehadiran Iswari, maka tiba-tiba
saja dengan serta merta orang-orang Tanah Perdikan itu telah bersorak. Mereka
yang mengalami tekanan oleh kekasaran dan kekerasan sikap Warsi, merasa bahwa
seorang pelindung telah datang,
Orang-orang dari balik bukit itu terkejut. Sorak yang bagaikan hendak
meruntuhkan langit itu telah menggetarkan jantung mereka. Karena sesuatu tentu
telah terjadi.
Baru kemudian mereka menyadari, bahwa Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan
Sembojan telah hadir di arena pertempuran itu.
Iswari bergeser terus. Yang mula-mula ditemuinya adalah justru putaran
pertempuran melawan Ki Rangga Gupita. Menurut perhitungan Iswari, agaknya Warsi
tentu lebih berbahaya dari Ki Rangga. Karena itu, maka Iswari itupun telah
meninggalkan Ki Rangga untuk mencari Warsi.
Ternyata jarak mereka memang tidak terlalu jauh. Sebentar kemudian, maka
orang-orang diseputar Warsilah yang bersorak kegirangan. Rasa-rasanya, nyawa
mereka yang sudah berada diujung ubun-ubun itu telah mantap kembali didalam
tubuh mereka.
Iswari dengan jantung yang berdebaran mendapat laporan dari seorang penghubung
yang lain yang mengikuti terus tingkah laku Warsi. Beberapa orang memang sudah
terbunuh dan terluka, sehingga mereka telah diangkat dan disingkirkan keluar
arena.
“Jika Nyi Wiradana tidak segera datang, maka di putaran pertempuran ini,
orang-orang kita akan dilumatkan. Pasukan kita tentu akan koyak dan gelar Wulan
Punanggal ini akan kehilangan arti,“ berkata penghubung itu.
Iswari mengangguk-angguk. Hampir diluar sadarnya ia telah mengangkat wajahnya.
Dilihatnya bulan yang bulat memancar dilangit yang bersih.
Tetapi Iswari itupun telah mengatupkan giginya rapat-rapat. Ia tidak percaya
bahwa cahaya bulan itu akan dapat membuat seseorang semakin tinggi tingkat
ilmunya selain sebagaimana pernah dikatakan oleh gurunya, bahwa pengaruhnya
justru ada dalam sikap kajiwan. Kepercayaan dan keyakinan yang mendalam akan
membuat seseorang berjiwa teguh dan penuh harapan.
Agaknya Warsipun akan bersikap demikian. Justru dibawah siraman cahaya bulan
yang penuh.
Beberapa saat kemudian, maka Iswari telah melihat, bagaimana kekasaran Warsi di
medan itu. Ia mulai melihat orang-orang Tanah Perdikan harus memeras
kemampuannya dalam kelompok yang cukup besar untuk menahan agar Warsi tidak
berloncatan di medan pertempuran itu sambil menyebarkan maut. Untuk menahan
kebebasan geraknya, maka beberapa orang pengawal telah berusaha untuk menahannya
dengan senjata bertangkai panjang dari beberapa arah. Namun tidak seorangpun
diantara mereka yang mampu menyentuh tubuhnya.
Apalagi ketika Warsi kemudian telah mempergunakan senjatanya yang mendebarkan.
Seutas rantai yang kadang-kadang terjulur panjang, namun kadang-kadang rantai
itu digulungnya, sehingga juntainya hanya pendek saja. Namun juntai yang pendek
itu di tangan Warsi justru menjadi sangat berbahaya, karena rantai itu
seakan-akan dapat berubah menjadi tongkat baja yang kuat yang bukan saja dapat
dipergunakan untuk menebas, tetapi juga untuk menusuk.
Ketika Iswari mendekati lingkaran pertempuran itu, tiba-tiba saja debar
jantungnya serasa semakin cepat. Ia mulai dibayangi oleh perasaannya sendiri.
Seolah-olah beberapa orang di medan itu telah memandanginya dengan bibir yang
mencibir. Seolah-olah beberapa orang tidak yakin, bahwa ia telah menempatkan
dirinya untuk melawan Warsi itu karena tanggung jawabnya atas Tanah Perdikan
Sembojan. Namun menurut perasaan Iswari, ada saja orang yang menganggapnya
Iswari bertempur menghadapi Warsi karena sakit hati, bahwa suaminya telah
diambil oleh perempuan itu. Seolah-olah yang dilakukan Iswari itu adalah
persoalan antara dua orang perempuan yang pernah dimadu oleh Ki Wiradana,
sehingga kesempatan itu tidak lebih dari kesempatan melepaskan dendam seorang
yang kehilangan suaminya.
Iswari terkejut ketika ia mendengar teriak kesakitan. Seorang pengawal telah
terlempar dari arena sehingga terguling beberapa kali, justru jatuh dikaki
pengikut Warsi.
Iswari terkejut melihat pengikut Warsi itu masih juga mengangkat senjata untuk
membunuh orang yang sudah tidak berdaya itu.
Adalah diluar sadarnya, bahwa dengan kecepatan seekor burung sikatan, Iswari
meloncat dan ujung pedangnya tiba-tiba telah mengoyak pundak orang yang akan
membunuh lawan yang sudah tidak berdaya itu.
Baru kemudian, dua orang Tanah Perdikan sempat berlari mendekat menolong orang
yang terluka oleh ujung rantai Warsi itu. Namun seorang dari orang-orang yang
menyerang Tanah Perdikan itupun jatuh berguling-guling sambil menahan sakit,
karena pundaknya yang koyak.
Dengan demikian maka Iswaripun semakin menyadari, apa yang telah terjadi
disekitar Warsi. Karena itu, maka iapun telah bertekad untuk segera memasuki
arena pertempuran melawan perempuan iblis itu.
Orang-orang Tanah Perdikan yang melihatnya telah bersorak lagi, sementara mereka
menyibak memberikan jalan kepada Iswari untuk memasuki arena, sementara yang
lain berusaha menahan orang-orang dari balik bukit yang ingin menyerang Iswari
itu.
“Kau anak manis “ tiba-tiba saja Warsi menggeram.
“Kita bertemu lagi dimalam terang bulan seperti ini. Aku sengaja menunggumu
sampai kau menemukan satu waktu yang dapat memberimu sedikit dukungan jiwani
karena sinar bulan itu kau sangka akan dapat membantumu,“ berkata Iswari.
Warsi mengerutkan keningnya. Namun kemudian terdengar ia tertawa berkepanjangan.
Namun yang sama sekali tidak diduga oleh Iswari, perempuan itu telah bertanya,
“jadi kau masih sakit hati karena suamimu kemudian meninggalkanmu dan mengawini
aku, sehingga kau perlukan malam ini mencariku?”
Telinga Iswari menjadi merah. Namun ia berusaha agar jiwanya tidak menjadi lemah
dan terpengaruh oleh kata-kata perempuan itu. Karena itu Iswari justru menjawab,
“Agaknya pertanyaan itu sudah lama kau persiapkan. Kau ingin mempengaruhi
perasaanku dengan pertanyaan-pertanyaan cengeng seperti itu.”
“Kau memang selalu berprasangka buruk. Memang agak bertentangan dengan wajahmu
yang cantik itu. Setelah umurmu bertambah dengan kurang lebih sepuluh tahun, kau
justru nampak lebih cantik dan muda. He, apakah kau tidak ingin kawin lagi?
Tentu ada segerobag laki-laki yang akan bersedia menjadi suamimu. Kau cantik,
berilmu dan seorang yang kini mendapat kesempatan untuk menguasai Tanah Perdikan
ini,“ berkata Warsi.
Tetapi Warsipun terkejut ketika Iswari bertanya, “Apakah kau juga kawin lagi?
Atau sekedar mencari kepuasan dari segerobag laki-laki yang kau kuasai lahir dan
batinnya?”
Warsi memang tidak mengira bahwa ia akan mendapat pertanyaan seperti itu dari
mulut Iswari. Seorang perempuan yang dianggapnya lebih banyak diam dan menunggu
itu. Seorang perempuan yang meskipun berilmu tinggi tetapi tetap cengeng dan
menutup diri.
Namun justru karena itu, maka kemarahan Warsi menjadi semakin terungkat. Dengan
garang ia menjawab, “Mulutmu ternyata tajamnya melampui ujung tombak. Aku tidak
mengira. Tetapi baiklah. Mulutmu itu akan segera tertutup rapat untuk selamanya.
Mulutmu yang mungil, Serasi dengan bentuk hidung dan matamu, sehingga membuat
kau menjadi seorang perempuan yang cantik itu, tidak akan dapat mengucapkan
kata-kata lagi, karena kau akan mati.”
Iswari tersenyum. Katanya, “Kenapa tiba-tiba saja kau menjadi sangat marah?
Apakah aku telah menyinggung perasaanmu? Tetapi kau memang menjadi semakin
cantik jika kau marah. Apalagi dibawah sinar bulan purnama.”
“Cukup,“ bentak Warsi, “bukankah kita datang ketempat ini tidak untuk berbicara
tentang diri kita masing-masing, tentang suami kita yang sudah mati dan tentang
kecantikan kita?”
“Bukan aku yang mendahuluinya,“ jawab Iswari, “kaulah yang pertama-tama
menyinggung hal itu. Aku kira aku memang masih berminat untuk sedikit mengenang
masa lalu. Sebagai perempuan maka kita tidak dapat ingkar. Yang cengeng itu
kadang-kadang memang muncul di hati kita.”
“Baiklah,“ berkata Warsi, “sekarang kita akan bertempur. Apapun alasannya.
Apakah itu karena kita pernah menjadi madu, atau karena kita menjadi kehilangan
akal setelah suami kita mati, atau karena Tanah Perdikan Sembojan yang
seharusnya jatuh ke tangan anakku. Terbuka atau tidak, kau tentu mengakui, bahwa
sebenarnya kau sudah tidak lagi berarti bagi Ki Wiradana, orang yang paling
berhak atas Tanah Perdikan ini. Anakmu lahir sesudah kau disingkirkan, bahkan
sudah dicoba untuk membunuhmu. Jika kau mempunyai sedikit harga diri, maka kau
tentu tidak akan mau menyentuh lagi semua warisan orang yang telah berusaha
membunuhmu itu. Karena anakmu lahir setelah kau disingkirkan, maka anakmu sudah
tidak mempunyai hak apapun atas Tanah Perdikan ini. Anakkulah yang berhak
memimpin Tanah Perdikan ini.”
“Sesudah kau membunuh Ki Wiradana?“ bertanya Iswari.
“Omong kosong itu tidak akan dipercaya oleh siapa-pun,“ jawab Warsi, “kami
adalah pasangan yang serasi. Dalam pertempuran, kakang Wiradana menjadi lengah.”
Sebenarnyalah bahwa kata-kata Warsi bagaikan bara yang menyentuh telinganya.
Hampir saja Iswari kehilangan pengendalian diri. Namun latihan yang mantap serta
penderitaan lahir batin yang lama, telah menempanya, sehingga ia memiliki
kemampuan yang tinggi untuk mengendalikan perasaannya dan mempergunakan
penalaranannya. Tetapi katanya kemudian, “Ingat, kau pernah mengakui
membunuhnya.”
Namun Warsilah yang membentak, “Cukup. Apapun yang terjadi, kau akan mati
sekarang ini. Lihat, cahaya bulan yang bulat, sedangkan langit bersih tanpa
selembar awanpun. Pertanda bahwa aku mendapat perlindungan sepenuhnya dari Dewi
Penguasa Langit yang cantik itu. Ilmuku ada dipuncak malam ini dan selanjutnya
cahaya bulan yang cantik ini akan membuat aku tetap muda dan segera serta
menambah kecantikanku sehingga aku akan dapat menguasai semua laki-laki di muka
bumi ini. Tanah Perdikan Sembojan akan aku kuasai dan akan menjadi landasan
perjuangan selanjutnya untuk memecah Pajang yang kini sedang disaput awan karena
Alas Mantaok itu. Tetapi Alas Mentaok itu sendiri tidak akan pernah dapat
bangkit menjadi satu pusat pemerintahan sesudah Pajang, karena pimpinan Tanah
ini akan dikendalikan dari Tanah Perdikan Sembojan.”
Iswari menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “jangkauanmu
memang cukup jauh. Sayang, kau telah menempuh jalan yang sesat.”
“Kau tahu apa yang dilakukan oleh Sultan Hadiwijaya, ketika ia berusaha
mendapatkan kekuasaan di Pajang?“ bertanya Warsi.
“Apa hubungannya dengan jalan yang kau tempuh?“ bertanya Iswari.
“Sultan Hadiwijaya adalah seorang gembala dimasa kecilnya. Namun akhirnya ia
berhasil menguasai tahta Pajang. Nah, setiap orang ternyata akan dapat melakukan
hal sama? Kau pernah mendengar dongeng tentang seorang penyamun, perampok dan
pembunuh yang dapat menjadi Raja di Singasari?“ bertanya Warsi.
“Alangkah nyamannya, dongeng menjelang tidur di bulan terang,“ desis Iswari.
Warsi menggeram. Katanya kasar, “Kau memang harus dibunuh dengan cara yang
paling buruk.”
“Kita sudah siap untuk saling membunuh. Marilah selagi bulanmu masih ada
dilangit. Jika kau terlambat sehingga saatnya bulan tenggelam besok pagi, maka
kau menjadi lampu yang kehabisan minyak. Semakin surut dan akhirnya padam sama
sekali,“ jawab Iswari.
“Tutup mulutmu. Bersiaplah untuk mati. Tetapi kau tidak perlu menangisi nasibmu
yang buruk sekarang ini. Berikan pesan terakhir kepada pengawalmu untuk
disampaikan kepada anakmu yang akan menjadi yatim piatu,“ geram Warsi.
Tetapi Iswari tidak menjawab lagi. Ia sudah bersiap dengan sepasang pedangnya
menghadapi Warsi yang mulai mengayun-ayunkan rantainya.
Demikianlah, maka sejenak kemudian keduanya mulai bergesek Dendam memang
membayang di wajah kedua orang perempuan itu. Tetapi mereka memang mempunyai
ungkapan yang berbeda. Warsi adalah orang yang tidak lagi terikat dengan
paugeran dan unggah-ungguh apapun, sementara Iswari masih tetap seorang
perempuan yang utuh. Perasaannya maupun penalarannya.
Warsi yang telah menahan kemarahan beberapa saat lamanya itupun tiba-tiba telah
mengayunkan rantainya menyambar ke arah kening lawannya. Namun Iswari dengan
tangkasnya mengelak. Bahkan ia masih sempat berkata, “Rasa-rasanya gerak
tanganmu seperti gerak tangan seorang penari yang seblak sonder. Jari-jarimu
yang lentik mampu mengibas rantai seperti mengibaskan sonder disaat kau menari
dipinggir-pinggir jalan diwaktu gadismu.”
“Tutup mulutmu,“ Warsi berteriak, “kita bertempur. Bukan berbicara
berkepanjangan.”
Iswari justru tersenyum. Namun serangan Warsi kemudian telah datang membadai.
Rantainya terayun-ayun dan berputaran dengan cepatnya.
Iswari memang sudah bersiap sepenuhnya. Kedua pedang di kedua tangannyapun telah
bergetar pula. Kakinya dengan cepat bergerak melontarkan tubuhnya yang
berloncatan menghindari serangan lawannya.
Meskipun keduanya pernah bertempur bahkan justru berperang tanding, namun itu
sudah terjadi di waktu yang telah lama berlalu. Keduanya tentu sudah
meningkatkan ilmu mereka masing-masing, sehingga keduanya merasa perlu untuk
kembali saling menjajagi.
Sementara itu, pertempuran diseluruh medan itu menjadi semakin sengit. Bulan
yang menjadi semakin tinggi memancarkan cahayanya yang kekuning-kuningan.
Seakan-akan bulan itu tengah mengerahkan segala kemampuan cahayanya untuk
menerangi bumi yang mulai basah bukan saja oleh embun, tetapi oleh darah.
Pertempuran yang liar telah terjadi di sayap-sayap gelar yang tidak merata itu.
Meskipun gelar pasukan pengawal Tanah Perdikan mapan, tetapi lawannya tidak
mempergunakan gelar yang baik. Mereka asal saja menebar dan bertempur dengan
garang dan kasar. Lebih-lebih lagi para pengikut Ki Kala Sembung. Sedangkan
pasukan yang ada disayap yang dipimpin oleh Ki Ajar Tulakpun rasa-rasanya tidak,
mungkin lagi dikuasai oleh pangeran atau tanggung jawab terhadap perbuatan yang
dilakukan baik oleh seluruh kekuatan disayap itu, oleh kelompok-kelompok yang
berada di sayap itu, ataupun secara pribadi. Sehingga dengan demikian, maka
orang-orang dari balik bukit itu, dikedua sayapnya, telah bertempur dengan liar
dan tidak terkekang.
Namun orang-orang Tanah Perdikan ternyata mampu mempertahankan gelar mereka.
Apalagi diinduk pasukan yang berhasil memanfaatkan anak gelar Jurang Grawah.
Ki Ajar Tulak yang tidak mampu menguasai seluruh gerak orang-orangnya itupun
telah membiarkan mereka. Bahkan tiba-tiba saja ia berteriak, “Kita mempergunakan
gelar Samodra Rob. Pasukan kita akan menghantam tebing beruntun terus-menerus.
Tidak ada jemu-jemunya sampai tebing itu runtuh dan pasukan kita akan naik
melanda gelar lawan dan menggulungnya, seperti ombak lautan yang sedang naik
didorong oleh prahara yang tidak terkekang oleh kekuatan apapun.”
Teriakan Ki Ajar Tulak itu justru semakin membakar jantung para pengikutnya
serta orang-orang yang ada di dalam kelompoknya. Yang kasar menjadi semakin
kasar. Yang buas menjadi semakin buas. Bagi mereka sama sekali tidak ada lagi
yang mengekang tingkah laku mereka.
Tetapi aba-aba Ki Ajar Tulak itu juga merupakan aba-aba bagi para pengawal Tanah
Perdikan Sembojan. Mereka yang mendengarnya segera mempersiapkan diri menghadapi
apa yang disebut gelar Samodra Rob itu. Bahkan di pangkal sayap yang bertempur
pada garis pertempuran, para pengawal Tanah Perdikan Sembojan mempergunakan anak
gelar seperti yang dilakukan di induk pasukan. Menghadapi Gelar Samodra Rob,
maka para pengawal itu telah mempergunakan anak gelar Jurang Grawah. Gelombang
yang datang menghantam tebing itu tidak dilawan dengan kerasnya batu padas yang
semakin lama akan dapat menjadi semakin aus. Tetapi gelombang yang beruntun
datang membadai itu telah menimpa tebing yang terbuka dan meluncur masuk kedalam
jurang yang dalam. Jurang yang tidak akan penuh betapapun juga gelombang yang
ganas meluap kedalamnya, karena air yang masuk kedalam jurang itu langsung
dihisap kedalam bumi.
Namun diujung-ujung sayap gelar, para pengawal tidak mempergunakan anak gelar
seperti itu. Ujung-ujung sayap gelar itu justru menusuk semakin lama semakin
dalam. Meskipun kemudian para pemimpin dari sayap-sayap itu bertempur seorang
melawan seorang, namun rencana yang sudah masak yang oleh orang-orang Tanah
Perdikan. Beberapa pengawal terpilih, diikuti oleh para pengawal yang tidak
terputus, telah berusaha untuk bertempur didalam lingkungan lawan, dibelakang
garis pertahan mereka.
Bahwa para pengawal terpilih itu berhasil menusuk masuk, maka pengaruh yang
terbesar sebenarnya tidak pada imbangan kekuatan pasukan, tetapi condong pada
pengaruh kejiwaan. Para pengawal yang sudah ada didalam pasukan lawan dan
bertempur didalamnya serta hubungan yang tidak terputus dengan induk pasukan
sayap itu, membuat lawan mereka menjadi sangat gelisah. Sementara itu, pasukan
sayap lawan itu tidak dapat memusatkan perhatian mereka untuk menghancurkan para
pengawal yang menyusup masuk itu, karena dibagian lain kekuatan sayap itu
seakan-akan juga tidak terbendung. Bahkan dengan gelar Samodra Rob yang diterima
oleh pasukan disayap lawan dengan anak gelar Jurang Grawah itu, maka
rasa-rasanya orang-orang dari balik bukit itu menjadi cepat susut.
Namun akhirnya para pemimpin kelompok orang-orang dari balik bukit itu
menyadari, bahwa lawan mereka terlalu cerdik sehingga merekapun telah mengekang
diri. Mereka tidak lagi membentur kekuatan lawan seperti gelombang samodra yang
didorong oleh angin prahara, namun yang kemudian. meluap masuk kedalam jurang
yang tidak akan dapat menjadi penuh itu. Tetapi mereka telah bertempur dengan
orang-orang yang langsung ada di hadapannya dan berusaha membunuhnya.
Sementara itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung masih saja bertempur dengan Ki Ajar
Tulak dan Ki Kala Sembung. Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak merasa perlu
untuk merambah sampai ke ilmu pamungkas mereka, karena dengan kemampuan ilmu
pedang mereka dengan landasan tenaga cadangan yang mampu dibangkitkannya, mereka
telah dapat mengatasi kemampuan lawan-lawan mereka.
Bahkan Sambi Wulung yang bertempur melawan Ki Ajar Tulak itu telah mendesaknya
sehingga Ki Ajar Tulak itu telah mengumpat-umpat. Ternyata bahwa sikap Ki Ajar
itu semakin lama menjadi semakin berubah. Jika mula-mula ia masih bertahan pada
sikap seorang yang berpegang pada harga dirinya, namun kemudian sikap itu
menjadi semakin kabur. Ternyata Ki Ajar itupun menjadi semakin kasar pula.
“Ki Ajar,“ berkata Sambi Wulung kemudian sambil mendesaknya, “aku mohon Ki Ajar
mampu membuat penilaian pada saat-saat yang gawat ini. Sebagai seorang Ajar,
maka Ki Ajar tentu mempunyai wawasan dan pertimbangan yang sangat luas. Bukan
saja berdasarkan unsur-unsur yang lebih tinggi nilainya, yaitu hubungan antara
kita dengan Yang Maha Tinggi.”
Tetapi Ki Ajar itu justru berteriak, “Tutup mulutmu. Aku tidak ingin mendengar
sesorahmu.”
Sambi Wulung tertawa. Katanya, “Jika kau sudah menobatkan dirimu menjadi seorang
Ajar, maka tentu kau harus memikul tanggung jawab yang besar karenanya.”
Tetapi Ki Ajar sama sekali tidak menjawab. Dengan garangnya ia menyerang Sambi
Wulung. Namun Sambi Wulung benar-benar memiliki kemampuan ilmu pedang yang
sangat tinggi.
Di sayap yang lain, Jati Wulung telah menekan Ki Kala Sembung dengan kerasnya.
Karena Kala Sembung juga hanya berlandaskan pada kemampuan kewadagan serta
pengalamannya yang keras, maka Jati Wulungpun telah melayaninya pula dengan
landasan ilmu pedangnya pula pada alas kekuatan cadangan didalam dirinya.
Kala Sembung yang keras dan kasar itu ternyata mendapat banyak kesulitan melawan
ilmu pedang Jati Wulung. Beberapa kali ia telah terdesak. Namun setiap kali
orang-orangnya telah membantunya, sehingga dua tiga orang bersama-sama memancing
perhatian Jati Wulung. Tetapi sejenak kemudian, maka para pengawalpun telah
hadir pula untuk mengikat orang-orang itu dalam pertempuran tersendiri, sehingga
Kala Sembung harus kembali bertempur seorang melawan seorang.
Dipasukan induk, pertempuranpun menjadi semakin sengit. Bulan dilangit merayap
semakin tinggi, sehingga akhirnya telah mencapai puncaknya. Cahayanya yang cerah
kekuningan telah menerangi bukan saja seluruh medan dan seluas Tanah Perdikan
Sembojan, tetapi hampir seluruh belahan bumi.
Sementara itu, Warsi yang disiram cahaya bulan penuh itu memang merasa bahwa
dirinya berada dipuncak kemampuannya. Rasa-rasanya cahaya bulan itu telah
menusuk masuk kedalam simpul-simpul syarafnya sehingga keseluruhannya telah
terbuka. Tubuhnya serasa seringan kapas dan sampai keujung-ujung rambutnya mampu
dikuasainya dengan mudah lewat kehendaknya.
Ketika bulan itu sampai kepuncak, maka Warsi itu-pun telah meningkatkan ilmunya
pula. Dengan wajah tengadah ia berkata, “Lihat Iswari. Dewi langit itu telah
tersenyum kepadaku. Itu pertanda yang sangat buruk bagimu.”
Tetapi Iswari tertawa sambil menghindari serangan Warsi. Katanya, “Di bulan itu
hanya terdapat seorang bidadari yang sedang menjalani hukuman karena
kesalahannya yang sangat besar. Ia dikawani oleh seekor kucing candramawa yang
setia. Kerjanya tidak lebih daripada menenun kain. He, apakah kau mengharapkan
bantuan bidadari yang tidak dapat menolong dirinya sendiri itu?”
Warsi mengerutkan keningnya. Katanya, “Kau telah menghinanya. Kau memang harus
mati.”
Putaran rantai Warsi menjadi semakin cepat. Desing yang timbul karena putaran
rantai itu terdengar menyentuh telinga dengan tajamnya. Bahkan rasa-rasanya
telah menusuk sampai ke pusat dada.
Tetapi Iswari tidak membiarkannya saja. Iapun telah memutar sepasang pedangnya
pula. Pedang itu memang tidak berdesing terlalu keras, tetapi udara yang
dihembus-kannya terasa menerpa kulit Warsi.
Demikianlah kedua orang perempuan yang berilmu sangat tinggi itu bertempur
dengan sengitnya. Keduanya telah meningkatkan ilmunya dengan cepat. Rasa-rasanya
keduanya tidak memerlukan lagi penjajagan yang lebih dalam, karena pada dasarnya
keduanya sudah mengenali ilmu mereka masing-masing.
Karena itulah, maka pertempuran diantara keduanya-pun telah meningkat dengan
cepat. Namun rasa-rasanya keduanya akan mendapat kepuasan yang lebih besar jika
salah seorang diantara mereka dapat mengalahkan lawannya dengan ilmu dan
ketrampilan tangan mereka meskipun harus dilandasi dengan tenaga cadangan yang
sangat tinggi didalam diri mereka masing-masing.
Namun nampaknya mereka masing-masing menyadari, bahwa tidak mungkin lagi mereka
untuk mengalahkan mereka itu dengan ilmu kewadagan semata-mata betapapun mereka
mempunyai kemampuan yang sulit diukur.
Dengan demikian maka keduanya agaknya telah mengambil kesimpulan bahwa mereka
memang harus beranjak dari landasan kemampuan mereka memasuki tingkatan ilmu
yang lebih tinggi. Ilmu yang mampu menyerap kekuatan dari dalam dan dari luar
diri mereka masing-masing.
Beberapa langkah dari mereka, Ki Rangga bertempur dengan garangnya pula.
Beberapa orang telah dilukainya. Bahkan ada diantaranya yang terbunuh.
Tetapi Ki Rangga tidak dapat berbuat sekehendaknya untuk seterusnya, karena
tiba-tiba saja muncul Kiai Badra di hadapannya.
“Sudahlah ngger,“ berkata Kiai Badra, “kau sudah cukup banyak menyakiti orang.
Dan bahkan mungkin satu dua orang tidak tertolong lagi. Aku mohon berhentilah.
Aku kira gurumu disaat mengajarimu ilmu sama sekali tidak terbayangkan, bahwa
akan terjadi pembunuhan yang tidak terkendali seperti ini.”
“Persetan,“ geram Ki Rangga,“ jangan kau kira bahwa ilmuku tidak meningkat,
sehingga aku tidak mampu menghadapimu. Bagiku kau tidak lagi seorang yang
menakutkan.”
Kiai Badra tertawa. Katanya, “Aku percaya ngger. Tetapi akupun mengemban tugas
kemanusiaan sehingga aku wajib mencegahmu.”
Ki Rangga tidak menjawab lagi. Iapun kemudian telah bersiap untuk menyerang
orang tua itu.
Sementara itu, Kiai Badra memang masih harus mengimbangi beberapa orang yang
selalu memburunya. Beberapa orang yang bertugas didalam kelompok sengaja untuk
mengurungnya, sebagaimana dilakukan atas Kiai Soka dan Nyai Soka.
Tetapi Kiai Badra tidak berbuat seperti yang dilakukan oleh Ki Rangga. Ia memang
berusaha untuk mengurangi tekanan orang-orang yang mengepungnya. Mungkin Kiai
Badra yang bersenjatakan pedang kebanyakan itu telah menggores tubuh lawannya.
Namun yang dilakukan sekedar mengurangi tekanan lawan dalam keseluruhan
menguiangi jumlah orang-orang dari balik bukit itu. Jika orang-orang yang
terluka itu dibawa menepi, maka mereka tidak lagi berusaha untuk memasuki arena
kembali. Mereka lebih senang berbaring sambil mengerang. Bahkan ada yang dengan
sengaja menggoreskan darah dari lukanya kebagian tubuhnya yang lain, sehingga
nampaknya lukanya menjadi sangat parah. Dengan demikian maka ia tidak akan
terpaksa memasuki arena itu kembali.
Berbeda dengan orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Para pengawal yang
terlukapun kadang-kadang tidak mau berhenti bertempur. Bahkan pemimpin-pemimpin
kelompoknya kadang-kadang terpaksa memaksa satu dua orang pengawal yang terluka
untuk berhenti bertempur.
“Beristirahatlah. Nanti jika lukamu telah pempat, kau dapat bertempur kembali,“
bentak pimpinan kelompok itu.
Dorongan untuk bertempur didalam hati anak-anak muda Tanah Perdikan memang
berbeda dengan dorongan dihati orang-orang dari balik bukit. Ada diantara mereka
yang dengan setia bertempur sampai lepas nyawanya. Tetapi ada yang lebih senang
berpura-pura tidak mampu bangkit lagi karena lukanya yang parah daripada harus
memasuki medan yang garang itu. Sementara itu mereka tidak meyakini apa yang
sedang mereka perjuangkan.
Nampaknya gairah perjuangan dalam kadar yang berbeda itu mempunyai pengaruh pula
pada pertempuran itu dalam keseluruhan. Hanya para pengikut Kala Sembung sajalah
yang ternyata tidak mampu berpikir lain kecuali membunuh atau dibunuh.
Dengan demikian maka mereka benar-benar bertempur seperti seekor kerbau yang
terlepas dari tali pembantaian. Mengamuk dan tidak mengenal perhitungan apapun
juga.
Jati Wulung yang menghadapi Kala Sembung dan orang-orangnya yang bagaikan gila
itu memang agak mengalami kesulitan. Ia terdesak oleh keadaan untuk tidak
berpikir terlalu panjang. Jati Wulung tidak sempat menghitung langkah para
pengawal agar mereka tidak asal saja membunuh. Namun ternyata bahwa para
pengawal memang tidak dapat berbuat lain jika ia sendiri tidak ingin terbunuh
dalam pertempuran itu.
Di induk pasukan Ki Sumbaga dengan sengaja tidak berada di garis pertempuran.
Dengan cerdik ia telah membetengi dirinya. Namun dengan demikian ia mampu
mengamati medan itu hampir secara keseluruhan. Ia masih sempat mengatur
perubahan-perubahan langkah yang harus dilakukan oleh orang-orangnya. Bahkan
kadang-kadang mengambil langkah yang sempat mengejutkan lawannya.
Ternyata seorang penghubung diantara para pengawal Tanah Perdikan sempat
mengenalinya. Menilik dari hubungan yang dilakukan oleh beberapa orang antara
seseorang yang berada dibelakang garis pertempuran dengan para pemimpin
kelompok. Juga sumber dari segala macam aba-aba yang dilontarkan.
Karena itu, maka penghubung itupun telah melaporkannya kepada pemimpin pengawal
Tanah Perdikan Sembojan.
“Jadi pasukan induk ini dikendalikan oleh seseorang yang bersembunyi dibalik
tirai orang-orangnya?“ bertanya pemimpin pengawal itu.
“Ya, Ki Lurah,“ jawab penghubung itu.
“Baiklah. Tunjukkan kepadaku, dimana orang itu bersembunyi,“ berkata pemimpin
pengawal itu.
“Sangat sulit untuk mencapainya. Orang itu seakan-akan telah dibentengi oleh
kekuatan yang sulit tertembus. Kecuali jika Nyi Wiradana sendiri atau salah
seorang dari orang tua-tua itu,“ jawab penghubung itu.
“Sudahlah. Bawa aku mendekati orang itu, “perintah pemimpin pengawal itu.
Demikianlah, maka pemimpin pengawal itu telah bergeser dari tempatnya. Ia menuju
ke arah pemimpin pasukan induk dari balik bukit itu bersembunyi dibelakang para
pengawal terpilihnya.
Namun sebenarnyalah, bahwa didepan pemimpin pasukan induk itu terdapat selapis
orang terpilih yang melindungi pemimpinnya itu. Mereka adalah bekas-bekas
prajurit pilihan dari Jipang. Meskipun pada umumnya mereka sudah tidak muda
lagi, namun ketangguhan mereka benar-benar sulit untuk dipecahkan.
“Bagaimana kau mengetahui tentang pemimpin pasukan itu?“ bertanya pemimpin
pengawal itu.
“Hanya satu kebetulan. Kami berusaha mengawasi pasukan lawan secermat-cermatnya.
Ketika Warsi dan Ki Rangga sudah bertempur melawan lawan yang mengikat mereka,
bahkan seakan-akan tidak mampu lagi mengendalikan keadaan sekelilingnya, maka
aku berpikir, tentu ada orang lain yang mengendalikan pasukan induk ini.
Terbukti dengan beberapa perubahan sikap yang terjadi selagi pertempuran serasa
bagaikan membakar. Dengan demikian maka aku telah bertekad untuk mencari.
Akhirnya aku ketemukan orang itu. Namun aku hanya dapat memandanginya dari
kejauhan. Ketika setiap kali orang itu dihubungi oleh orang-orangnya, maka aku
mengambil kesimpulan bahwa orang inilah pemimpin dadi pasukan induk yang datang
dari balik bukit. Dengan demikian maka aku mengambil kesimpulan, bahwa hal ini
perlu aku sampaikan kepada Ki Lurah.”
Pemimpin pengawal itu termangu-mangu sejenak. Dari tempat yang agak jauh ia
sempat melihat orang-orangnya bertempur. Sejenak ia tertegun. Pertempuran itu
ternyata pertempuran yang sangat keras.
“Bagaimana caraku untuk dapat mencapainya,“ desis pemimpin pasukan pengawal itu.
“Aku mohon Ki Lurah jangan kesana. Ki Lurah dapat bertempur disini. Mungkin
orang itu akan terpancing keluar dari bingkai prajurit yang mengelilinginya.
Baru kemudian Ki Lurah menghadapinya,“ berkata penghubung itu. Namun tiba-tiba
penghubung itu berdesis, “Tetapi hati-hatilah Ki Lurah. Orang itu sangat
berbahaya.”
“Aku akan berhati-hati,“ berkata pemimpin pengawal itu.
Demikianlah, maka pemimpin pengawal itu telah memasuki pertempuran
ditengah-tengah garis lengkung dari pasukan induk. Dengan tangkasnya ia
menebaskan pedangnya mendatar. Namun kemudian pedangnya berputar mengarah leher.
Tetapi sejenak ujung pedang itu mematuk dengan garangnya.
Pemimpin pengawal itu telah bertempur dengan garang. Ia memang berusaha untuk
memancing Ki Sumbaga keluar dari bingkai pasukannya.
Tetapi Ki Sumbaga menganggap dirinya lebih berarti jika ia berada dibelakang
garis benturan. Meskipun ia kemudian mendapat laporan tentang orang yang berilmu
cukup tinggi telah bertempur dengan garang di garis benturan kedua pasukan itu.
“Aku perintahkan dua atau tiga orang prajurit untuk menghadapinya. Jika aku
terpancing untuk bertempur melawannya, maka pasukan ini akan kehilangan kemudi.
Semua akan terserah kepada para prajurit yang akan bertindak menurut kemauan
mereka sendiri-sendiri.”
“Tetapi bukankah pasukan lawan juga tidak lagi perlu seorang pemimpin yang
setiap kali mengatur pasukannya?“ bertanya penghubung itu.
“Kau memang bodoh. Aku adalah bekas seorang perwira dari pasukan Jipang. Kaupun
bekas seorang prajurit. Seharusnya kau tahu bahwa pasukan Tanah Perdikan sudah
dipersiapkan sejak semula. Pasukan itu sudah berada dalam satu gelar yang mapan.
Para pemimpin kelompok sudah tahu dengan pasti, apa yang harus mereka lakukan.
Hanya dalam keadaan yang khusus saja maka diperlukan sekali sikap pemimpin
pasukan itu. Berbeda dengan pasukan kita. Kita tidak siap dalam gelar yang
mapan.”
Penghubung itu mengangguk.
Sementara Ki Sumbaga itu berkata, “Ternyata bahwa orang-orang Tanah Perdikan itu
cukup cerdik. Mereka tidak menunggu di padukuhan induk. Tetapi mereka telah
menyongsong kita disini, sehingga mereka dapat mempergunakan kekuatan yang lebih
besar dari yang dapat mereka pergunakan di padukuhan induk. Disini mereka tidak
mencemaskan padukuhan lain yang mungkin akan kita jamah, sehingga para pengawal
padukuhan itu sebagian besar akan dapat ditarik disini.”
Penghubung itu mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Sumbaga tengah memperhatikan
pertempuran yang terjadi di induk pasukan itu. Meskipun ia tidak dapat melihat
dengan jelas dari ujung sampai keujung, namun naluri keprajuritannya mampu
menangkap peristiwa yang sedang terjadi itu dengan melihat pertanda-pertanda
yang terdapat dalam pertempuran itu.
Namun kening Ki Sumbaga itu berkerut ketika ia melihat pertahanan pasukan di
induk pasukan itu goyah. Menurut pengamatan Ki Sumbaga maka pasukan yang paling
mapan adalah pasukan yang dipimpinnya, karena pasukannya sebagian besar terdiri
dari bekas para prajurit Jipang. Beberapa orang keluarga para bekas prajurit
yang sempat dikumpulkan telah mendapat latihan keprajuritan pula secara khusus.
Tiba-tiba saja Ki Sumbaga itu berkata, “jalankan perintahku. Dua atau tiga orang
terpilih agar menghadapi pemimpin pasukan induk Tanah Perdikan itu. Kemudian
lihat, apa yang terjadi atas Ki Rangga dan Nyi Wiradana. Kemudian apakah
kelompok-kelompok yang dipersiapkan itu dapat melakukan tugasnya dengan baik.
Aku tunggu laporannya atau kawanmu yang lain.”
“Baik,“ jawab penghubung itu.
Demikianlah maka penghubung itu telah meninggalkan Ki Sumbaga untuk menyaksikan
keadaan seluruh pasukan induk itu lebih cermat lagi.
Namun dalam pada itu, Ki Sumbaga memang menjadi cemas bahwa garis benturan kedua
pasukan itu telah menjadi goyah. Perlahan-lahan pasukan Tanah Perdikan mulai
mendesak pasukannya. Meskipun banyak kemungkinan masih dapat terjadi, tetapi
satu pertanda telah dilihatnya, bahwa keseimbangan pasukan itu memang mulai
goncang.
Beberapa saat kemudian, maka seorang penghubung yang lain telah datang
mendekatinya. Dengan nafas terengah-engah ia berkata, “Ki Sumbaga, kita agaknya
mengalami kesulitan.”
“Apakah Nyi Wiradana tidak segera dapat mengalahkan lawannya? Bagaimana dengan
Ki Rangga?”
“Segera Ki Sumbaga akan mendapat laporan. Seorang kawan sedang pergi untuk
melihat mereka. Aku bertemu di tengah-tengah medan,“ jawab penghubung.
“Kau sendiri dari mana?“ bertanya Ki Sumbaga.
“Aku sempat menyaksikan orang-orang tua Tanah Perdikan. Ternyata
kelompok-kelompok yang disusun itu mengalami kesulitan. Orang-orang tua itu
seakan-akan tidak terbatas oleh mereka, sehingga orang-orang tua itu dapat
berbuat apa saja sesuai dengan kehendak mereka. Meskipun nampaknya orang-orang
tua itu tidak terlalu bernafsu untuk membunuh, namun nampaknya merekapun tidak
ingin dibatasi geraknya oleh siapapun,“ berkata penghubung itu.
“Bukankah mereka tentu tidak jauh dari arena pertempuran antara Nyi Wiradana
melawan Iswari serta Ki Rangga Gupita,“ bertanya pemimpin itu.
“Agaknya aku terlalu tergesa-gesa sehingga aku tidak melihat pertempuran itu.
Tetapi kawanku yang tadi menghadap Ki Sumbaga sekarang sedang menuju ke arena
itu,“ jawab penghubung itu.
Ki Sumbaga termangu-mangu. Sebagai seorang bekas Senapati, maka ia telah dapat
membayangkan kesulitan yang lebih besar yang dapat terjadi, jika Ki Rangga dan
Warsi tidak segera dapat mengalahkan lawan-lawan mereka dan membantu para
pengikutnya untuk menghancurkan para pengawal Tanah Perdikan.
Namun Ki Sumbaga itu tiba-tiba telah memberikan perintah, “Lihat pasukan kita
pada sayap-sayapnya.”
“Sayap yang mana? Kiri, atau kanan?“ bertanya penghubung itu.
“Sayap yang dipimpin oleh Kala Sembung,“ jawab Ki Sumbaga.
Penghubung itu tidak bertanya lagi. Iapun segera meninggalkan Ki Sumbaga untuk
melihat keadaan sayap pasukan itu.
Dalam pada itu penghubung yang lain tengah menyaksikan apa yang terjadi dengan
Ki Rangga. Ternyata Ki Rangga tidak mampu beranjak dari tempatnya karena ia
harus menghadapi Kiai Badra. Orang yang nampaknya sudah terlalu tua untuk berada
di medan. Tetapi ternyata bahwa Ki Rangga tidak terlalu banyak mendapat
kesempatan melawannya. Apalagi ketika sekelompok orang yang dipersiapkan untuk
melawan orang tua itu sudah pecah disergap oleh para pengawal Tanah Perdikan.
Jilid 16
“ANGGER,“ berkata Kiai Badra, “sebaiknya kau
berhenti berperang. Perintahkan orang-orangmu untuk ditarik dari medan sebelum
kematian menjadi semakin banyak. Sekali-sekali sempatkan menyaksikan apa yang
telah terjadi. Kematian dan kematian. Sementara itu, kau dan orang-orangmu tidak
akan mampu memenangkan perang ini.”
“Kau memang sudah pikun,“ teriak Ki Rangga, “kaulah
yang harus melihat kenyataan. Orang-orang sudah banyak yang terbunuh. Jika kau
tidak mau menganjurkan agar Iswari menyerah, maka orang-orang Tanah Perdikan
akan tumpas. Jika pasukanmu disini hancur, maka semua padukuhan akan tunduk
kepadaku. Yang menentang pasti akan aku hancurkan sampai lumat.”
“Angan-anganmu telah dibayangi oleh mimpi yang buruk
itu,“ berkata Kiai Badra, “kau harus bangun dan mulai melihat kenyataan.”
“Persetan,“ geram Ki Rangga yang mengerahkan
kemampuannya. Tetapi Kiai Badra sama sekali tidak terguncang kedudukannya.
Dibagian lain dan medan itu, Iswari tengah bertempur
dengan dahsyatnya melawan Warsi. Ilmu mereka yang dahsyat telah mulai merambah
dalam pertempuran itu. Meskipun mereka masih menggenggam senjata masing-masing,
namun senjata mereka bukan lagi senjata sewajarnya. Rantai di tangan Warsi telah
menjadi jenis senjata yang lain. Rantai itu memang masih dapat diputar dan
melentur dengan cepat. Namun rantai itu kadang-kadang justru telah menjadi
tongkat baja yang menggetarkan. Ayunannya yang deras menimbulkan arus angin yang
deras pula.
Namun Iswaripun menguasai senjatanya dengan baik.
Kedua pedangnya telah berputaran bagaikan gumpalan-gumpalan asap disebelah
menyebelah tubuhnya.
Ketika pertempuran itu menjadi semakin meningkat,
maka orang-orang dari kedua belah pihak telah menyibak. Ayunan ujung rantai
Warsi benar-benar menggetarkan. Seseorang yang tersentuh ujung rantai itu, tanpa
merang-kapi kulitnya dengan ilmu kebal, akan segera koyak sampai ketulang.
Sedangkan ujung pedang Jswari merupakan bahaya yang sangat gawat. Jika seseorang
digulung oleh gumpalan putih yang terjadi karena putaran pedang Iswari, maka
tubuh orang itu tentu akan menjadi arang kranjang.
Dengan demikian, maka arena pertempuran antara
Iswari dan Warsi itupun menjadi semakin lama semakin luas, Keduanya seakan-akan
tidak lagi bertempur dimedan perang. Tetapi mereka seakan-akan telah terlibat
kedalam perang tanding.
Tetapi sementara itu, keseimbangan pertempuran dalam
keseluruhannya menjadi semakin jelas. Meskipun bulan bulat memancar terang
dilangit, namun sinarnya tidak mampu mempengaruhi kekuatan kedua belah pihak
yang sedang bertempur itu.
Bahkan beberapa orang pengikut Warsi yang mengetahui
bahwa Warsi yakin akan kekuatan cahaya bulan itu akan memberikan arti bagi
ilmunya, masih harus berharap-harap cemas, karena sedemikian jauh, Warsi masih
belum berhasil mendesak lawannya yang bertempur dengan pedang rangkap itu.
Tetapi Warsi sendiri sama sekali tidak merasakan
kecemasan itu. Ia memang masih belum sampai pada tingkat ilmunya yang tertinggi,
sehingga pengaruh cahaya bulan itu akan terasa dan bahkan ikut menentukan. Warsi
masih bertempur dengan mengandalkan tenaga cadangannya dan kemampuannya bermain
senjata serta ketrampilan tangan dan kakinya, ia sudah melatihnya bertahun-tahun
sehingga ia ingin tahu, apakah Iswari mampu mengimbanginya pula.
Namun ternyata Iswaripun telah menempa diri pula.
Itulah sebabnya, bahwa sekedar kecepatan gerak, kemampuan bermain senjata dan
kekuatan yang didorong oleh tenaga cadangannya, belum cukup bagi Warsi untuk
mendesak Iswari.
Meskipun demikian, Warsi masih belum tergesa-gesa.
Ia masih berusaha menghisap kekuatan cahaya bulan sebanyak-banyaknya malam itu,
setelah malam sebelumnya ia tidur di alam terbuka, dibawah cahaya bulan pula.
Agak berbeda dengan Warsi yang lebih asyik dengan
dirinya sendiri, serta warna dendam yang mencengkam jantungnya, maka Ki Rangga
harus memperhatikan keadaan seluruh medan, Sekali-sekali ia telah mengambil
jarak dari lawannya untuk sekedar melihat suasana dalam keseluruhan. Namun
agaknya sulit baginya untuk dapat menjangkau gambaran yang luas tentang
pertempuran itu.
Tetapi dalam pada itu, lawannya agaknya dengan
sengaja telah memberikan waktu kepadanya. Lawannya yang telah tua itu. “Usiamu
yang memiliki ilmu yang sangat tinggi, meskipun keadaan wadagnya tidak lagi
mampu mendukung ilmunya sebagaimana beberapa tahun sebelumnya.”
Bahkan Kiai Badra itupun kemudian berkata, “Sulit
ngger untuk dapat melihat keseluruhan medan meskipun cahaya bulan sangat terang,
hampir seperti siang hari. Sebaiknya angger mempergunakan penghubung untuk
mendapatkan laporan yang lebih jelas.
“Persetan,“ geram Ki Rangga yang kemudian menyerang
Kiai Badra seperti badai. Namun Kiai Badra memang sulit untuk dikuasainya.
Bahkan setiap kali Ki Rangga merasa betapa orang tua itu mampu menekannya dengan
kekuatan yang sangat besar, apalagi dibanding dengan umurnya yang tua itu.
Namun akhirnya, Ki Rangga langsung atau tidak
langsung telah menyetujui pendapat Kiai Badra. Dalam satu kesempatan yang
terbuka, yang seolah-olah dengan sengaja memang diberikan oleh lawannya, Ki
Rangga telah memerintahkan kepada seorang prajuritnya untuk mencari hubungan
dengan Ki Sumbaga.
Sebenarnyalah bahwa Kiai Badra memang membiarkan Ki
Rangga itu melakukannya. Dengan demikian Kiai Badra berharap bahwa Ki Rangga
akan mengetahui keadaan medan yang sebenarnya. Kiai Badra berharap bahwa Ki
Rangga akan dapat menerima laporan, bahwa pasukannya perlahan-lahan mulai
terdesak.
Sebenarnyalah, setelah menerima laporan yang
mendekati lengkap dari para penghubung, maka para pemimpin dari Tanah Perdikan
Sembojan telah menentukan langkah terakhir. Iswari sendiri tidak dapat
berhubungan dengan Pemimpin Pasukan Pengawal Tanah Perdikan Sembojan, karena
semakin lama pertempuran antara Iswari dan Warsi itu menjadi semakin sengit,
sehingga Iswari itu tidak mendapat kesempatan sama sekali berhubungan dengan
seorang penghubung.
Namun karena pasukan itu telah dipersiapkan dengan
masak, maka gerak pasukan itu memang tidak tergantung kepada Iswari atau
guru-gurunya.
Karena itulah, maka pemimpin pasukan pengawal
itliputi pada saatnya telah memberikan isyarat. Seorang penghubung telah
melepaskan anak panah sendaren ke udara. Panah sendaren itu telah diarahkan ke
kedua sayap pasukan Tanah Perdikan itu.
Ki Sumbaga, Ki Ajar Tulak dan Ki Kala Sembung yang
juga mendengar suara panah sendaren itupun menjadi berdebar-debar. Sambil
bertempur mereka mencoba untuk mengerti, apakah yang akan terjadi. Satu langkah
yang bagaimana yang akan diambil oleh para pengawal Tanah Perdikan Sembojan.
Dalam pada itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung yang
memimpin pasukan Tanah Perdikan pada sayap-sayapnya telah menangkap isyarat itu.
Karena itu, maka sebagaimana telah disepakati, ujung-ujung sayap dari gelar
Wulan Tumanggal itu harus berkerut. Pada saat kekuatan pasukan lawan menjadi
susut adalah kesempatan untuk mempersempit medan. Perlahan-lahan sejalan dengan
tingkat turunnya kemampuan lawan, sehingga di kedua belah pihak, terutama pada
pasukan Tanah Perdikan Sembojan sendiri, tidak terlalu banyak jatuh korban.
Karena itulah, maka perlahan-lahan rasa-rasanya
medan itu memang telah berkerut. Pasukan Tanah Perdikan mulai mendesak dari
kedua ujung gelarnya. Kedua orang yang memimpin kedua sayap gelar pasukan Tanah
Perdikan Sembojan itupun segera mengerahkan kemampuan mereka untuk mengatasi
lawan-lawan mereka.
Namun Ki Kala Sembung dan Ki Ajar Tulak memang orang
berilmu tinggi. Merekapun telah mengerahkan kemampuan mereka untuk menahan gerak
pasukan Tanah Perdikan. Jika gelar itu berhasil berkerut, maka gelar itu
seakan-akan meramas pasukan dari balik bukit itu.
Dengan demikian maka pertempuranpun menjadi semakin
keras, Orang-orang Tanah Perdikan telah mengerahkan segenap kekuatan untuk
memenuhi isyarat yang telah diberikan oleh para pemimpinnya sesuai dengan
ketentuan.
Justru pada saat-saat daya tahan orang-orang dari
balik bukit itu mulai susut, maka orang-orang Tanah Perdikan telah mengerahkan
kekuatan mereka yang tersisa.
Tetapi tanpa dukungan para pemimpin disayap, maka
orang-orang dari balik bukit yang menjadi bagaikan putus asa itu justru membuat
orang-orang Tanah Perdikan menjadi ngeri. Tingkah laku mereka bahkan tidk
terkendali lagi. Mereka tidak saja bertempur dengan keras dan kasar, tetapi
mereka benar-benar telah menjadi seperti orang gila.
Untuk meyakinkan bahwa sayap-sayap itu akan dapat
menjalankan tugasnya dengan baik, maka Jati Wulung dan Sambi Wulunglah yang akan
dapat ikut menentukan.
Karena itu, maka Sambi Wulungpun telah berusaha
untuk mendesak Ki Ajar. Namun ia masih berusaha memperingatkan, “Saatnya hampir
tiba Ki Ajar, Sadarilah akan keadaan. Kau tidak akan dapat lari dari kenyataan.”
“Persetan kau,“ geram Ki Ajar.
Sambi Wulung masih akan menjawab. Tetapi keris Ki
Ajar yang besar itu hampir saja menyambar wajahnya.
Namun dalam pada itu, Sambi Wulungpun menyadari,
bahwa Ki Ajar itu tidak lagi sekedar mempergunakan ilmu pedangnya yang nampak
mengerikan dalam ungkapan sebilah keris yang besar. Tetapi Ki Ajar itu telah
merambah pada ilmunya yang sangat tinggi. Dengan demikian, maka dibawah cahaya
bulan, Sambi Wulung kadang-kadang melihat keris itu tidak hanya sebuah. Pada
gerakannya yang cepat, kadang-kadang nampak bayangan keris itu menjadi beberapa
buah.
Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Ilmu
lawannya memang dapat membingungkannya. Kadang-kadang ia salah memperhitungkan
gerak senjata lawannya.
Sementara itu, orang-orang dari balik bukit itu
masih berpengharapan, Apalagi ketika mereka melihat di cahaya bulan, keris Ki
Ajar itu bagaikan berubah menjadi semakin banyak. Jika lawan Ki Ajar itu sudah
dibinasakan, maka sayap pasukan Tanah Perdikan Sembojan itu akan segera dapat
dihancurkan. Ki Ajar itu akan dapat membunuh lawan-lawannya seperti menebas
batang ilalang.
Namun pemimpin sayap pasukan Tanah Perdikan itu
ternyata tidak mudah untuk dihancurkan.
Apalagi ketika Sambi Wulung menyadari, bahwa
lawannya telah merambah pada ilmunya yang tinggi, maka Sambi Wulungpun tidak
dapat berbuat lain. Iapun telah bersiap-siap untuk menghadapi segala kemungkinan
dengan ilmu yang hampir tidak pernah dipergunakannya jika keadaan tidak sangat
memaksa.
Namun untuk melawan permainan keris lawannya yang
besar yang dilandasi dengan ilmu yang tinggi, sehingga kadang-kadang Sambi
Wulung menjadi bingung itu, maka Sambi Wulungpun telah mulai melepaskan ilmunya
pula. Tetapi Sambi Wulung tidak ingin membunuh membabi buta. Jika ia melontarkan
ilmunya dalam pertempuran yang hampir berdesakan itu, maka korbannya tentu bukan
saja lawan-lawannya. Tetapi tentu akan dapat menyentuh orang-orang Tanah
Perdikan Sembojan sendiri.
Karena itu, maka Sambi Wulung telah melawan ilmu
lawannya dengan ilmu yang khusus pula, namun masih berkisar pada kekuatan
panasnya api.
Pedang Sambi Wulung bukannya pedang yang terpilih.
Pedangnya adalah pedang seorang prajurit atau pengawal. Namun ditangannya pedang
itu memang memiliki kekuatan yang khusus.
Jika keris lawannya yang besar itu dibawah cahaya
bulan dapat berubah seolah-olah menjadi lebih banyak sehingga dapat
membingungkannya, seakan-akan Ki Ajar itu memanfaatkan cahaya bulan yang
kekuning-kuningan itu, maka Sambi Wulung justru mengatasi cahaya bulan itu. Daun
pedangnya yang terbuat dari baja yang biasa saja itu, tiba-tiba telah berubah
warnanya. Daun pedang itu menjadi kemerah-merahan seperti membara. Namun ketika
pedang itu berputar semakin keras, maka warna yang kemerah-merahan mengatasi
cahaya bulan itupun telah berubah lagi menjadi kebiru-biruan.
Ki Ajar terkejut melihat perubahan ujud senjata
lawannya. Apalagi ketika senjata itu kemudian berputar dengan cepat. Yang nampak
tidak lebih dari segulung kabut yang berwarna kebiru-biruan.
Ki Ajar memang tidak mengira, bahwa ia akan bertemu
dengan kekuatan yang ternyata bukan saja mampu mengimbanginya. Bahkan kemudian
terasa oleh Ki Ajar, bahwa ia benar-benar harus berjuang mati-matian untuk
melawan pemimpin sayap pasukan Tanah Perdikan itu.
Pertempuran antara kedua orang pemimpin di sayap
itupun menjadi semakin sengit. Sementara itu, para pengawal Tanah Perdikan yang
telah mendapat latihan dengan saksama dalam perang gelarpun telah mengetahui
tugas-tugas mereka.
Tanpa perintah dari pemimpin sayapnya, yang
diketahui sedang bertempur dengan sengitnya, bahkan antara hidup dan mati, maka
mereka telah mengambil sikap sebagaimana harus mereka lakukan.
Dengan kekuatan yang ada pada mereka, maka para
pengawal dan anak-anak muda yang berada pada sayap itu telah berusaha untuk
menekan lawannya sehingga arena pertempuran itu berkerut.
Sejenak kemudian, maka keadaanpun menjadi semakin
jelas. Meskipun Sambi Wulung tidak mempergunakan ilmunya yang tertinggi, untuk
menjaga agar ilmunya itu tidak justru menyentuh para pengawal Tanah Perdikan
sendiri, namun ilmu yang dipergunakannya ternyata telah mampu mengatasi ilmu
puncak lawannya.
Jika semula Sambi Wulung kadang-kadang dibingungkan
oleh ujud senjata lawannya yang seakan-akan menjadi lebih dari satu, maka
kemudian lawannyalah yang dibingungkan oleh gulungan kabut yang berwarna
kebiru-biruan. Meskipun Ki Ajar tahu, bahwa yang seakan-akan gulungan kabut itu
adalah bayangan putaran pedang lawannya, tetapi setiap kali ia mencoba untuk
menyerang, maka senjatanya telah membentur pedang lawannya. Sehingga karena itu,
maka sulit bagi Ki Ajar untuk dapat menyusupkan senjatanya apalagi mengenai
tubuh lawannya itu.
Bahkan dalam serangan-serangan yang cepat silih
berganti, ternyata bahwa ujung pedang Sambi Wulung telah menyentuh lengan Ki
Ajar sehingga segores luka telah menganga.
Ki Ajar mengumpat kasar. Terasa betapa lukanya bukan
saja menjadi pedih. Tetapi luka itu menjadi panas seperti dikoyak api.
Ki Ajar yang terluka itu harus segera mengambil
jarak. Sementara itu Sambi Wulung ternyata juga dengan sengaja memberinya
kesempatan. Karena dengan demikian Ki Ajar itu dapat merasa betapa pasukannya
telah mendapat tekanan yang berat sekali yang memaksa seluruh gelar itu
berkerut.
Sementara itu, di sayap yang lain Kala Sembung
bertempur seperti orang kehilangan akal. Seperti sayap yang dipimpin oleh Sambi
Wulung, maka sayap yang dipimpin oleh Jati Wulung itupun telah memaksa orang
orang dari balik bukit untuk mempersempit arena pertempuran
Pada saat yang demikian, maka keseimbangan kekuatan
antara kedua kekuatan itu menjadi semakin jelas. Apalagi ketika orang-orang dan
balik bukit itu tidak lagi dapat mengharapkan pemimpin-pemimpin mereka untuk
mengatasi kesulitan. Ternyata mereka tidak mampu melawan para pemimpin dari
Tanah Perdikan dan kemudian bertempur seperti menebas ilalang. Bahkan para
pemimpin dari para pengikut Ki Rangga itu telah terluka. Kala Sembungpun
ternyata tidak lagi mampu menghindari semua serangan Jati Wulung yang semakin
lama semakin garang, apalagi ketika Jati Wulung mulai merambah kemampuan ilmunya
yang tinggi.
Ternyata Kala Sembung tidak mampu mengimbangi
kegarangan Jati Wulung, meskipun Kala Sembung jauh lebih kasar dari lawannya.
Betapapun ia mengumpat-umpat dan berteriak-teriak dengan liarnya, namun justru
senjata Jati Wulunglah yang telah mengenai tubuhnya. Bukan sebaliknya.
Dengan demikian maka perlahan-lahan medan itu memang
berkerut. Sayap-sayap gelar Wulan Tumanggal yang berkerut itu telah memaksakan
arena pertempuran menjadi semakin sempit. Sementara itu kekuatan dan kemampuan
orang-orang dari balik bukit itupun menyusut.
Ki Sumbaga, bekas seorang perwira pasukan Jipang,
mengetahui dengan pasti apa yang terjadi. Selain naluri keprajuritannya maka
laporan-laporan yang sampai kepadanyapun telah mengatakan apa yang telah terjadi
di arena pertempuran itu.
Tetapi Ki Sumbaga tidak mempunyai cara yang dapat
dipergunakan untuk merubah keadaan. Dalam gelar yang utuh, maka pasukan tentu
menyediakan kelompok cadangan yang akan dapat dipergunakan untuk berbagai macam
keperluan. Tetapi pasukannya sama sekali tidak mempunyai kekuatan cadangan yang
dapat dipanggilnya untuk mengatasi kesulitan.
Karena itu, maka jalan satu-satunya yang dapat
dilihat oleh Ki Sumbaga untuk menyelamatkan pasukannya adalah menarik diri
sebelum kedua ujung sayap lawan terkatup dibelakang garis pertempuran. Jika
demikian, maka berarti pasukan dari balik bukit itu telah terkepung rapat.
Namun tidak mudah untuk melakukannya. Ada banyak
perimbangan yang harus dilakukan. Terutama bahwa Ki Sumbaga harus berhubungan
lebih dahulu dengan Ki Rangga dan Warsi.
Ketika seorang penghubung dikirim oleh Ki Rangga, Ki
Sumbaga sama sekali belum sampai pada satu kesimpulan untuk menarik pasukannya.
Bahkan terlintaspun sama sekali belum.
Namun setelah laporan-laporan terakhir sampai
kepadanya, juga tentang kesulitan kedua pemimpin diujurig sayap, maka Ki Sumbaga
tidak melihat kemungkinan lain sebelum pasukannya benar-benar hancur. Selagi
mereka masih mempunyai kekuatan, maka sambil bergeser ke kaki bukit untuk
seterusnya menghindar, mereka dapat mengurangi korban sebanyak-banyaknya.
Karena itu, maka beberapa saat kemudian justru Ki
Sumbagalah yang telah mengirimkan pesan kepada Ki Rangga, apa yang paling baik
dilakukan.
Namun ternyata Ki Rangga berpendirian lain. Ia
berharap bahwa Warsi dapat menyelesaikan lawannya lebih dahulu, baru mereka akan
mengambil sikap bagi seluruh pasukan. Mungkin mereka memang harus menarik diri.
Namun mungkin mereka justru akan dapat menghancur-lumatkan para pengawal Tanah
Perdikan sepeninggal Iswari.
Ketika sikap itu kemudian diberitahukan kepada Ki
Sumbaga, maka agaknya telah terjadi perbedaan sikap diantara kedua pemimpin itu.
Untuk beberapa saat Ki Sumbaga masih berusaha
bertahan. Namun akhirnya ia tidak melihat keuntungan apapun lagi untuk tetap
bertahan. Apalagi ketika ia mendapat laporan bahwa pertempuran antara Warsi dan
Iswari ternyata tidak segera dapat diketahui siapakah yang akan menang.
Karena itu, maka menurut perhitungan Ki Sumbaga
sebagai seorang yang memahami tentang keseimbangan pertempuran serta perhitungan
kekuatan, pasukannya tidak akan mungkin dapat bertahan lagi. Sehingga karena
itu, maka ia telah mengirimkan lagi seorang penghubung untuk memberitahukan
kepada Ki Rangga, bahwa seharusnya pasukannya menarik diri.
“Katakan kepada Ki Rangga. Kita tidak boleh menjadi
gila dan kehilangan pertimbangan. Perjuangan kita dipersiapkan untuk waktu yang
panjang. Bukan hanya sekedar hari ini. “ pesan Ki Sumbaga. Lalu, “Karena itu
maka kita harus menarik diri dan menyelamatkan yang masih mungkin kita
selamatkan. Warsipun harus menyadari keadaan ini. Ia tidak boleh tenggelam pada
dendam pribadinya sehingga mengorbankan seluruh pasukan ini. Katakan kepada Ki
Rangga, jika Ki Rangga berkeberatan, maka kita akan menarik diri tanpa
menghiraukan ia lagi. Mungkin orang-orang sisa gerombolan Kalamerta akan
tinggal. Tetapi orang-orangku akan aku selamatkan.”
Demikianlah ketika pesan itu sampai kepada Ki
Rangga, ia benar-benar menjadi bingung. Sementara itu, lawannya nampaknya dengan
sengaja membiarkannya mendengar pesan-pesan itu tanpa diganggunya meskipun Kiai
Badra sendiri tidak dapat ikut mendengarkannya. Namun ketajaman penggraita Kiai
Badra dapat menduga, apakah yang disampaikan oleh penghubung itu kepadanya.
Tetapi Ki Rangga tidak akan dapat menyampaikannya
kepada Warsi. Ia sadar, dalam keadaan demikian, maka sulit bagi Warsi untuk
mendengarkan pendapat orang lain. Ia telah tenggelam kedalam arus perasaannya
yang sulit untuk dikekang lagi.
Untuk mengatasi kesulitannya, maka Ki Rangga telah
berkata kepada penghubung itu, “beri tanda yang pertama. Tunggu sampai aku
sependapat untuk memberikan isyarat berikutnya.”
Penghubung itu agaknya tanggap akan kesulitan Ki
Rangga. Demikian pula Ki Sumbaga, Karena itu, untuk mengatasinya maka Ki Sumbaga
yang ada di induk pasukannya itu telah memberikan isyarat pertama kepada seluruh
pasukannya.
Tiga buah anak panah berapi telah naik keudara.
Demikianlah anak panah itu memancar dilangit, maka
terdengar aba-aba sandi yang memang sudah dipersiapkan oleh para pemimpin
pasukan dari balik bukit itu.
Ternyata semua orang didalam pasukan dari balik
bukit itu telah mendengar aba-aba itu. Mereka menyadari bahwa mereka harus
bersiap-siap untuk menarik diri dari medan.
Warsipun telah mendengar pula aba-aba itu. Tetapi
tanggapannya sebagai diduga oleh Ki Rangga Gupita. Yang terdengar adalah suitan
nyaring dari mulut Warsi yang sedang bertempur mati-matian itu. Satu isyarat,
bahwa pasukannya harus tetap bertahan.
Ki Sumbaga yang telah bergeser semakin dekat dengan
Ki Rangga akhirnya tidak dapat menerima kebijaksanaan itu. Ia tidak mau
mengorbankan orang-orangnya, bekas para prajurit Jipang, hanya karena dendam
pribadi Warsi yang bergejolak.
Karena itu, maka ia sama sekali tidak menghiraukan
isyarat yang diberikan oleh Warsi.
Dengan demikian maka sesaat kemudian, Ki Sumbaga
telah melepaskan isyarat kedua. Sehingga seluruh pasukannya, terutama bekas para
prajurit Jipang serta sanak keluarga mereka yang telah dibina dan dipersiapkan
untuk pertempuran itu, menjadi semakin bersiaga untuk mengundurkan diri
sebaik-baiknya tanpa meninggalkan korban terlalu banyak disaat penarikan itu
terjadi. Ki Sumbaga tidak mau tetap berada di medan dalam keadaan seperti itu,
sehingga mereka seakan-akan telah dengan sengaja membunuh diri bersama-sama.
Tetapi Warsi yang mendengar isyarat itu menjadi
sangat marah. Ia merasa dikhianati oleh orang-orang yang telah sepakat berjuang
bersamanya. Karena itu, maka iapun telah bersuit pula dengan nyaringnya untuk
mencoba mencegah agar pasukannya itu tidak menarik diri.
Namun Ki Sumbaga sama sekali tidak menghiraukannya
lagi. Keadaan menjadi semakin mendesak. Sehingga dengan demikian, maka sekali
lagi anak panah berapi telah melambung keudara disusul oleh teriakan-teriakan
para pemimpin kelompok yang memberikan isyarat kepada pasukannya untuk menarik
diri.
Isyarat itu memang dapat ditangkap sampai keujung
sayap. Karena itu, maka Ki Ajarpun telah berusaha menyesuaikan dirinya. Tetapi
agaknya Sambi Wulung sama sekali tidak memberinya kesempatan. Sehingga dengan
demikian, maka Sambi Wulung itu sama sekali tidak membiarkan lawannya itu
mengambil jarak sejengkalpun. Orang yang berilmu tinggi seperti Ki Ajar itupun
ternyata mengalami juga kesulitan. Tetapi ia telah memerintahkan orang-orangnya
untuk menarik diri sebagaimana isyarat yang diterimanya.
Namun bahwa para pengikut Ki Ajar ternyata adalah
orang-orang yang setia. Beberapa orang yang melihat kesulitan Ki Ajar melepaskan
diri dari lawannya, maka mereka telah menyergap Sambi Wulung tanpa menghiraukan
keselamatannya mereka sendiri meskipun mereka melihat seakan-akan gumpalan asap
yang berwarna kebiru-biruan disekitar tubuh Sambi Wulung.
Sambi Wulung terkejut. Namun ia justru bergeser
surut. Ia tidak bersiap menghadapi keadaan seperti itu.
Memang terbersit niat didalam dirinya untuk dengan
serta merta menyergap mereka dan membantainya tanpa ampun. Namun ada sesuatu
yang menahan didalam dadanya. Orang-orang itu memang bukan lawannya. Jika ia
berniat, maka lima bahkan sepuluh orang sekalipun akan dapat ditembusnya dengan
menghunjamkan pedangnya ketubuh mereka. Atau bahwa jika ia berniat melepaskan
ilmu pamungkasnya, maka orang-orang itu akan dengan segera dapat dibinasakannya.
Tetapi justru melihat kesetiaan mereka, Sambi Wulung
menjadi terpesona sesaat.
Kesempatan itu agaknya telah dipergunakan oleh Ki
Ajar yang telah tergores ujung senjata Sambi Wulung. Dengan cepat ia menyelinap
diantara para pengikutnya dan hilang diantara mereka.
Sambi Wulung memang menjadi marah. Pedangnya
tiba-tiba berputar semakin cepat. Tetapi ketika dua sosok terlempar dan jatuh
diantara kaki-kaki kawan-kawan mereka sendiri, sekali lagi terasa sesuatu telah
menghambatnya. Pedangnya tidak lagi berputar sehingga seakan-akan telah
menimbulkan kabut disekitar tubuhnya. Bahkan kebiru-biruan pada daun pedangnya
itupun seakan-akan telah memudar, sehingga Sambi Wulung harus mengkaji
kenyataan, bahwa ia telah kehilangan lawannya.
Sementara itu, pasukan dari balik bukit itu telah
mulai bergerak surut. Perlahan-lahan. Beberapa orang bekas prajurit telah
memberikan tuntunan bagaimana sebaiknya mereka menarik diri.
Tetapi agak berbeda dengan Ki Ajar, maka disayap
lain telah terjadi sikap yang berbeda dari Ki Kala Sembung.
Semula ia memang melihat isyarat panah api yang
melambung diudara. Tetapi disaat-saat ia mempersiapkan diri, maka Ki Kala
Sembungpun telah mendengar isyarat yang diberikan oleh Warsi. Isyarat yang
dikenalnya sebaik-baiknya, sehingga karena itu, maka sayap yang dipimpinnya
ternyata telah mengambil sikap sendiri.
Dengan garang Ki Kala Sembung memerintahkan kepada
orang-orangnya untuk tidak menarik diri.
“Pemimpin kita sedang menyabung nyawa. Isyarat itu
adalah perintah. Kita tidak akan menarik diri sebagaimana dilakukan oleh para
pengecut yang justru berada di induk pasukan.“ teriak Ki Kala Sembung sambil
mengayun-ayunkan senjatanya yang berat.
Para pengikutnya, yang sebagian besar adalah bekas
para pengikut Kalamerta ternyata sependapat dengan Kala Sembung. Mereka telah
ditempa oleh keadaan, bahwa mereka adalah landasan tempat para pemimpin mereka
berdiri. Karena itu, ketika mereka mendengar isyarat dari Warsi, mereka telah
bertekad untuk tetap berada di medan.
Dengan demikian, maka para pengikut Kalamerta yang
keras dan kasar itu, justru menjadi semakin buas. Mereka bertempur dengan cara
apapun juga untuk membinasakan lawan-lawan mereka.
Namun dalam pada itu, sebagian dari pasukan dari
balik bukit itu telah mulai bergerak menarik diri dari medan. Sebelum ujung
sayap gelar Wulan Tumanggal yang berkerut itu sempat mengurung pasukan lawan,
maka pasukan lawan itu sudah bergeser.
Namun tidak keseimbangan pada gerak lawan, memang
telah menimbulkan persoalan bagi gelar Wulan Tumanggal yang utuh itu. Sehingga
dengan demikian, maka para pemimpin dalam gelar itu harus mengambil
kebijaksanaan dengan segera.
Di sayap yang dipimpin Sambi Wulung, maka telah
diperintahkan usaha untuk bergerak melingkar. Tetapi gerak itu ternyata terlalu
lamban karena para pengikut Ki Ajarpun telah bergeser surut.
Sementara diinduk pasukan, sebagian besar pasukan
dari balik bukit itu telah bergerak mundur.
Tetapi ternyata bahwa Warsi sama sekali tidak
menghiraukan keadaan medan. Ia merasa bahwa kesempatan itu adalah kesempatan
yang paling baik baginya. Meskipun ia masih belum dapat menentukan siapakah yang
akan menang, namun pertempuran antara dirinya dan Iswari saat itu akan dapat
menjadi arena takaran, siapakah diantara mereka yang terbaik.
Dengan demikian, maka pertempuran antara Warsi dan
Iswari itu sama sekali tidak terpengaruh oleh arus pasukan yang mengalir. Bahkan
Ki Ranggapun telah terjebak pula didalamnya sehingga ia tidak akam mendapat
kesempatan untuk melarikan diri, karena ia telah berada diantara para pengawal
Tanah Perdikan bersama Warsi yang sedang bertempur itu.
Namun justru karena itu, Kiai Badra tidak lagi
mengikat Ki Rangga itu dalam pertempuran. Dibiarkannya saja Ki Rangga itu
berdiri termangu-mangu mengamati pertempuran antara Warsi dan Iswari.
Untuk beberapa saat lamanya memang terjadi gejolak
di medan pertempuran itu. Pasukan pengawal Tanah Perdikan memang berusaha untuk
memburu lawan mereka yang menarik diri. Namun pasukan lawan yang sebagian
terdiri dari bekas para prajurit serta keluarga mereka yang telah mendapat
latihan-latihan dan petunjuk-petunjuk khusus itu tidak mudah untuk melakukannya.
Untuk beberapa saat memang terjadi kekisruhan.
Apalagi karena orang-orang yang dipimpin oleh Kala Sembung mengamuk dengan
garangnya. Bahkan dalam kekisruhan itu, mereka telah berhasil menyusup mendekati
arena pertempuran antara Warsi dan Iswari.
Hampir saja terjadi kelengahan di dalam induk
pasukan Tanah Perdikan ketika sebagian besar dari mereka sibuk mengejar lawan
yang menarik diri. Untunglah diantara sejumlah kecil pengawal terdapat
orang-orang tua dari Tanah Perdikan, sehingga mereka dapat ikut membantu menahan
arus orang-orang yang sedang mengamuk itu.
Namun ketika seorang diantara mereka sempat
mendekati Warsi dan berusaha untuk membantunya, maka Warsi itu berteriak
nyaring, “Pergi. Jangan ganggu kami. Kami sedang berperang tanding.”
Pernyataan itu begitu saja terlontar dari mulut
Warsi. Namun Iswaripun mempunyai harga diri. Karena itu, maka iapun telah
menyahut, ”Bagus. Kita memang sedang berperang tanding.”
Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka menarik nafas
dalam-dalam. Sementara itu Ki Ranggapun merasa beruntung, bahwa keduanya telah
bersepakat untuk memasuki perang tanding, sehingga tidak ada orang lain yang
akan dapat membantunya.
Medan pertempuran itu untuk sementara memang menjadi
tidak menentu. Sebagian dari para pengawal Tanah Perdikan memang berusaha
memburu lawan-lawan mereka yang melarikan diri. Tetapi ternyata hal itu tidak
mudah mereka lakukan. Dengan pengalaman yang luas bekas prajurit-prajurit Jipang
itu ternyata mampu menarik pasukannya menuju ketebing, sehingga akhirnya mereka
berpencar sambil memanjat naik. Mereka menyelinap diantara gerumbul-gerumbul
perdu yang tumbuh liar di lereng diantara batu-batu padas dan lekuk-lekuk tanah
berkapur.
Ternyata bahwa tidak terlalu mudah untuk mengejar
mereka. Meskipun satu dua orang memang dapat ditangkap, namun sebagian besar
dari mereka berhasil lolos dan hilang ditebing yang liar itu.
Berbeda dengan mereka, maka orang-orang yang
dipimpin oleh Kala Sembung telah bertempur tanpa perhitungan. Mereka menyerang
membabi buta, sementara sebagian besar para pengawal meninggalkan gelar.
Sementara itu Ki Ranggalah yang masih sempat
mem-buat perhitungan tersendiri. Ketika Warsi dan Iswari sudah jelas memasuki
perang tanding, maka Ki Rangga itu pun telah memberi isyarat kepada para
pengikut Kala Sembung itu. Selagi orang-orang yang mengejar pasukan yang mundur
itu belum kembali, maka Ki Rangga ingin juga menyelamatkan sisa-sisa orang yang
masih ada.
Karena itu, maka terdengar isyarat yang diberikan
oleh Ki Rangga. Suitan nyaring telah menggetarkan udara.
Warsi sendiri, yang memang sudah menyatakan dirinya
berperang tanding, tidak menghiraukan lagi apa yang terjadi di medan pertempuran
itu. Ia hanya berniat untuk membunuh Iswari. Semua yang pernah diangan-angankan
telah dilupakannya. Tentang Tanah Perdikan Sembojan, tentang anak-anaknya yang
harus merebut kekuatan di Tanah Perdikan itu, landasan bagi langkah berikutnya
untuk mencapai Pajang dan angan-angan yang lain telah tenggelam dalam arus
dendamnya yang membara.
Kala Sembung memang menjadi ragu-ragu. Tetapi ketika
isyarat itu diulangi lagi, maka Kala Sembung tidak dapat berbuat lain. Iapun
telah mengulangi isyarat itu pula sehingga para pengikutnya menjadi yakin, bahwa
para pemimpin mereka menghendaki mereka meninggalkan medan.
Kala Sembung tidak sempat berusaha mengetahui apa
yang terjadi dengan Warsi dan Ki Rangga. Tetapi ia yakin bahwa isyarat itu telah
diberikan oleh Ki Rangga Gupita sendiri.
Karena itu, maka sebelum orang-orang yang mengejar
pasukan yang menarik diri terdahulu kembali, maka Kala Sembung berusaha membawa
orang-orangnya untuk menyelamatkan diri.
Namun ternyata nasibnyalah yang malang. Jati Wulung
benar-benar tidak mau melepaskannya. Ternyata Jati Wulung yang menjadi sangat
marah karena sikap Kala Sembung dan orang-orangnya yang menjadi gila dan hampir
saja sempat menerobos arena pertempuran antara Warsi dan Iswari justru diinduk
pasukan disaat para pengawal mengejar lawan-lawannya, benar-benar tidak mau
membiarkannya lari.
Kala Sembung sendiri memang berusaha untuk membawa
orang-orangnya meninggalkan medan. Tetapi karena Jati Wulung sama sekali tidak
memberinya kesempatan lagi, maka sambil menarik diri Kala Sembung harus
bertempur terus. Sekali-sekali ia sempat melepaskan pertempuran itu dan
berloncatan menjauh dengan loncatan-loncatan panjang didorong oleh kemampuan
ilmunya. Namun Jati Wulungpun mampu pula menyusulnya dan langsung melibatnya
kembali dalam pertempuran yang sengit.
Beberapa orang pengikut Kala Sembung memang berusaha
untuk membantunya. Tetapi para pengawal yang semula berada disayap yang dipimpin
oleh Jati Wulung itupun telah menyusul mereka pula, sehingga mereka sama sekali
tidak mendapat kesempatan untuk membantu pemimpinnya.
Bagaimanapun juga liarnya, ternyata Kala Sembung
termasuk orang yang bertanggung jawab. Meskipun ia sendiri berada dalam
kesulitan, namun ia masih juga sempat memberikan isyarat agar orang-orangnya
berusaha menyelamatkan diri dari medan yang garang itu.
Tetapi Kala Sembung sendiri harus bertempur
menghadapi Jati Wulung yang marah itu.
Dengan mengerahkan segenap kemampuannya, Kala
Sembung memutar bindinya. Bindi bergerigi yang mendebarkan. Meskipun bindi itu
cukup berat, tetapi ditangan Kala Sembung nampaknya tidak lebih berat dari
sebatang lidi.
Tetapi Jati Wulung memiliki banyak kelebihan dari
Kala Sembung. Karena itu ketika kemarahannya tidak terbendung lagi, maka Jati
Wulungpun tidak lagi mempunyai pertimbangan lain. Dengan mengerahkan kecepatan
Meraknya didasari dengan kemampuan ilmu dan tenaga cadangannya, maka ujung
pedang Jati Wulungpun telah mampu menyusup diantara bindi Kala Sembung.
Kala Sembung terkejut, ia merasa kulitnya tergores
oleh ujung pedang Jati Wulung. Karena itu, maka iapun memutar bindinya yang
bergerigi itu lebih cepat. Diayunkannya bindi itu mengarah langsung ke kepala
lawannya, ketika sekali lagi Jati Wulung berusaha menembus pertahanannya.
Namun Jati Wulung cukup tangkas. Dengan bergeser
kesamping ia berhasil membebaskan kepalanya dari ayunan bindi itu, meskipun
terasa angin ayunannya menampar wajahnya.
Namun tepat pada saat itu, Jati Wulung telah
berputar bertumpu pada satu kakinya, sementara tangannya terjulur lurus sambil
menggenggam pedangnya.
Terdengar Kala Sembung mengumpat kasar. Ujung pedang
Jati Wulung sekali lagi tergores di dadanya, sehingga Kala Sembung itu terdorong
beberapa langkah surut.
Ternyata Jati Wulung tidak membiarkan lawannya itu
memperbaiki keadaannya. Dengan loncatan yang cepat serta pedang terjulur lurus
kedepan, Jati Wulung telah memburunya.
Tidak ada kesempatan sama sekali bagi Kala Sembung
untuk berbuat sesuatu. Ia memang mencoba untuk menangkis dengan bindinya yang
berat. Tetapi ternyata Kala Sembung itu terlambat, sehingga pedang Jati Wulung
telah menghunjam jantungnya.
Kala Sembung mengerang kesakitan. Dengan penuh
kebencian itu memandang Jati Wulung yang marah itu.
Namun Kala Sembung tidak sempat berbuat apapun juga.
Ketika Jati Wulung kemudian menarik pedangnya, maka Kala Sembung itupun kemudian
telah jatuh terjerembab di tanah.
Jati Wulung berdiri termangu-mangu sejenak. Ketika
ia memandang disekelilingnya, maka dilihatnya para pengawal masih berusaha
mengejar orang-orang yang melarikan diri. Namun agaknya orang-orang yang
melarikan diri itu telah memanfaatkan setiap pepohonan, batang-batang perdu dan
tanaman disawah untuk menyelamatkan diri.
Sejenak Jati Wulung bagaikan membeku. Namun kemudian
iapun telah berpaling kearena pertempuran antara Warsi dan Iswari yang
dikelilingi oleh beberapa orang pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Sementara para
pengikut Kala Sembung yang berhasil menyusup ke induk gelar telah dilumpuhkan.
Selangkah demi selangkah Jati Wulung mendekati arena
itu. Dibawah cahaya bulan ia melihat orang-orang tua Tanah Perdikan berada di
dalam arena. Demikian pula Ki Rangga. Menilik sikap kedua orang yang bertempur
itu, maka Jati Wulung mengambil kesimpulan, bahwa mereka agaknya telah
bersepakat untuk berperang tanding.
Sejenak Jati Wulung mengamati orang-orang lain di
keliling arena itu. Beberapa kali ia harus bergeser untuk dapat melihat dengan
jelas siapa saja yang berada diantara mereka. Namun Jati Wulung tidak menemukan
Sambi Wulung.
Jati Wulung menjadi berdebar-debar. Menurut
pendapatnya, Sambi Wulung tentu sedang ikut bersama para pengawal mengejar
orang-orang dari balik bukit yang melarikan diri. Namun bagaimanapun juga ia
merasa cemas, bahwa lawan Sambi Wulung adalah seorang yang berilmu sangat
tinggi.
Untuk beberapa saat lamanya, Jati Wulung tidak
menghiraukan pertempuran di arena itu. Menurut pendapatnya di tempat itu sudah
terdapat orang-orang tua yang berilmu sangat tinggi, sehingga segala sesuatunya
akan dapat mereka selesaikan. Tetapi yang kemudian menjadi perhatiannya adalah
Sambi Wulung.
Karena itu, maka Jati Wulungpun telah melangkah
justru menjauhi arena itu menuju ke bukit. Ia bergeser melintasi arah pasukan
induk ke arah sayap yang lain. Kemudian mengikuti jejak dari pasukan lawan yang
menarik diri disusul oleh pasukan Tanah Perdikan Sembojan.
Sambil melangkah, Jati Wulung mengamati tubuh-tubuh
yang terkapar. Meskipun ia yakin akan kemampuan saudara seperguruannya, namun
dalam pertempuran segala sesuatu dapat saja terjadi.
Dalam siraman cahaya bulan Jati Wulung melangkah
selangkah demi selangkah dengan pedang masih tetap di tangannya.
Jati Wulung terkejut ketika ia melihat dua sosok
tubuh yang bergerak diantara batang padi. Nampaknya kedua sosok tubuh itu
berusaha untuk bangkit. Kebencian dan dendam masih menyala didalam hati
keduanya. Meskipun keduanya sudah terluka parah, namun keduanya masih berusaha
menyerang Jati Wulung.
Betapapun kemarahan masih saja terasa panas di
dadanya, tetapi menghadapi kedua orang yang sudah tidak berdaya itu Jati Wulung
memang tidak melawan. Ia hanya bergeser saja selangkah-selangkah menghindari
serangan keduanya yang sudah hampir tidak bertenaga sama sekali itu.
Namun dari mereka Jati Wulung dapat menangkap betapa
dendam itu mempunyai kekuatan yang luar biasa, sehingga mampu menunjukkan
kelebihan dari kewajaran.
Tetapi itupun tidak lama. Kedua orang itupun
kemudian telah terjatuh lagi disawah berlumpur.
Dengan demikian, maka tiba-tiba saja Jati Wulung
teringat akan pertempuran antara dua orang yang saling mendendam diarena. Antara
Warsi dan Iswari. Apapun alasan mereka bertempur, namun keduanya benar-benar
telah dicengkam oleh dendam yang tiada taranya.
Karena itu, maka Jati Wulungpun menjadi ragu-ragu
sesaat. Namun akhirnya ia memutuskan untuk kembali kelingkaran pertempuran yang
nampaknya masih berlangsung dengan dahsyatnya.
Jati Wulung tidak menyibak dan berdiri dipaling
depan. Ia masih memperhitungkan kemungkinan, bahwa ada diantara orang-orang yang
dibawa oleh Warsi atau Ki Rangga Gupita dari padepokan yang dihuni oleh Puguh,
sehingga orang itu dapat mengenalinya. Karena itu, maka ia justru telah berusaha
untuk bersembunyi dibayangan orang-orang yang berkerumun disekililing arena itu.
Namun dalam pada itu, ternyata orang-orang yang
mengelilingi arena pertempuran itu menjadi bingung melihat apa yang telah
terjadi. Ternyata Warsi dan Iswari masih ingin memperlihatkan kemampuan mereka
mempergunakan senjata. Warsi masih bertempur dengan rantainya, sementara Iswari
menggenggam sepasang pedang di sepasang tangannya.
Ternyata keduanya memiliki kemampuan yang sangat
tinggi. Dilandasi dengan kemampuan mereka bermain senjata yang didukung oleh
tingkat tenaga cadangan mereka yang tinggi pula, maka pertempuran itu
benar-benar merupakan pertempuran yang sulit untuk dimengerti oleh kebanyakan
para pengawal Tanah Perdikan.
Mereka menganggap rantai di tangan Warsi sebagai
senjata yang ajaib. Bahkan mereka yang telah pernah mendengar bahwa Warsi telah
menghubungkan kemampuannya dengan cahaya bulan, sekali-sekali telah
menengadahkan wajahnya kelangit, menatap bulan yang bulat kekuning-kuningan
dengan cahayanya yang cantik. Beberapa orang justru menjadi cemas. Mereka
menganggap bahwa pengaruh cahaya bulanlah yang telah membuat senjata Warsi
menjadi aneh. Rantai yapg lentur itu kadang-kadang justru menjadi tongkat yang
panjang dan kuat yang terayun-ayun mengerikan. Namun tiba-tiba saja rantai itu
telah menjadi lentur kembali dan bahkan bergerak melingkar-lingkar seperti
juntai sebuah cambuk.
Tetapi Iswari sendiri sama sekali tidak menjadi
bingung menghadapinya. Ia mengenali watak senjata sebagaimana dipergunakan oleh
Warsi. Senjata itu sendiri bukannya benda yang aneh. Namun kemampuan ilmu Warsi
yang dapat disalurkan pada senjatanya itulah yang mempunyai kekuatan dan sifat
yang tidak sewajarnya.
Namun Iswari yang juga berilmu tinggi itu memiliki
kemampuan ilmu pedang yang sulit dicari bandingnya.
Sementara itu, orang-orang yang mengejar lawan
sampai kebukit merasa bahwa mereka tidak akan banyak berhasil jika mereka naik
ke lereng. Banyak tempat yang dapat dipergunakan untuk menyelinap dan
menghilang. Sehingga karena itu, maka mengejar lawan diantara gerumbul-gerumbul
perdu, pepohonan dan batu-batu padas serta lekuk-lekuk batu berkapur adalah
berbahaya sekali.
Sambi Wulung serta pemimpin pasukan pengawal Tanah
Perdikanpun kemudian memberikan isyarat agar pengejaran dihentikan. Kemudian
diperintahkannya para pengawal dan anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan untuk
kembali ke medan.
Sedangkan para pengawal yang mengejar sisa-sisa
pengikut Kala Sembungpun memutuskan untuk tidak melanjutkan pengejaran. Para
pemimpin kelompok telah memerintahkan mereka kembali ketika mereka kemudian
menyadari bahwa induk pasukan merekapun telah turun pula dari lereng. Sementara
sisa-sisa pengikut Kala Sembung itu telah berlari cerai berai.
Ketika mereka kembali ke bekas medan, maka mereka
masih melihat sebuah arena pertempuran. Baru kemudian mereka mendengar, bahwa
Warsi memang telah menempatkan diri dalam perang tanding dengan Iswari,
sementara Iswari juga tidak menolak.
Sambi Wulung yang ternyata kemudian bergeser
mendekati Jati Wulung sempat bertanya, “Bagaimana dengan lawan-lawanmu?”
Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku
sempat membunuh pemimpin sayap yang bagaikan orang kehilangan akal. Bersenjata
bindi yang besar dan bergerigi. Namun ternyata ia bertanggung jawab atas
orang-orangnya.”
“Aku kehilangan orang yang menyebut dirinya Ki Ajar.
Seorang Ajar yang agak lain. Ia berhasil menyelinap diantara orang-orangnya yang
bergeser dalam kekisruhan. Ia mampu memanfaatkan gerak mundur untuk bersembunyi.
Dengan demikian, orang itu termasuk orang yang harus diperhatikan bagi masa yang
akan datang, karena ia juga berilmu tinggi.“ berkata Sambi Wulung.
Jati Wulung mengangguk-angguk. Satu hal yang
dikatakannya begitu tiba-tiba, “Orang itu tentu juga berbahaya bagi Risang.”
“Ya.” jawab Sambi Wulung. “Mudah-mudahan aku dapat
mengingat wajahnya.”
“Tetapi ia juga dapat mengingat wajahmu,“ berkata
Jati Wulung.
“Mudah-mudahan tidak dengan sedikit goresan-goresan
seperti wajah kita sekarang ini,“ jawab Sambi Wulung.
Jati Wulung mengangguk-angguk. Mereka memang telah
membuat sedikit penyamaran di wajah mereka. Apalagi dalam pertempuran yang sibuk
dan cahaya bulan yang tidak selalu sempat menerangi wajah-wajah itu. Mereka
berharap bahwa tidak seorangpun diantara para pengikut Ki Rangga dan Warsi itu
akan dapat mengenali mereka pada kesempatan lain. Apalagi jika ada diantara
lawan-lawan mereka itu orang-orang padepokan tempat Puguh tinggal. Dengan
demikian maka hubungan hjereka dengan Puguh tidak akan terputus. Karena menurut
pendapat mereka, Puguh disamping Warsi adalah ancaman yang paling gawat bagi
Tanah Perdikan Sembojan. Apalagi ternyata bahwa Puguh memiliki kelebihan dari
Risang. Meskipun umur Risang beberapa saat lebih tua dari Puguh, namun
pengalaman Puguh ternyata lebih luas dari Risang. Sehingga pengalamannya itu
juga mempengaruhi kemantapan berpikip dan menanggapi sesuatu.
Demikianlah keduanyapun kemudian telah menyaksikan
perang tanding yang seru itu. Perang tanding antara kedua orang perempuan yang
memiliki ilmu yang tinggi.
Namun beberapa orang yang menyaksikan pertempuran
itu ternyata dipengaruhi juga oleh tanggapan mereka atas kepercayaan Warsi,
bahwa cahaya bulan itu akan dapat mempengaruhi ilmunya. Cahaya bulan itu
bagaikan tenaga baru yang akan selalu mengisi tubuh Warsi sehingga meskipun ia
bertempur dengan mengerahkan tenaga namun tenaganya itu tidak akan pernah susut
selama ia masih berada dibawah cahaya bulan.
Bahkan ada diantara orang-orang Tanah Perdikan
Sembojan yang percaya bahwa hal itu memang dapat terjadi. Ada diantara mereka
yang mengaku pernah bertemu dengan orang yang ilmunya dipengaruhi oleh cahaya
bulan.
“Meskipun tidak setinggi ilmu perempuan itu, tetapi
bahwa pengaruh cahaya bulan itu benar-benar berarti telah pernah dibuktikan oleh
seseorang yang pernah aku kenal,“ berkata orang itu.
Tetapi kawannya bertanya, “Apakah kau tidak sekedar
bermimpi?”
“Jangan begitu,“ jawab orang yang pertama, “kau
boleh tidak percaya.”
“Aku berdoa agar Nyi Wiradana dapat mengalahkan
penari jalanan itu,“ berkata kawannya. Bahkan kemudian dengan nada berat ia
berkata, “Mudah-mudahan tidak ada pengaruh sinar bulan itu.”
Orang yang pertama itupun mengerutkan keningnya.
Namun ia tidak menjawab lagi.
Sementara itu pertempuran di arena itupun menjadi
semakin sengit. Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka berdiri termangu-mangu
ditempatnya. Sementa Ki Rangga Gupita menjadi sangat tegang. Perang tanding itu
merupakan perang tanding ulangan, sebagaimana pernah mereka lakukan hampir
sepuluh tahun yang lalu. Selama hampir sepuluh tahun kedua perempuan itu telah
menempa diri dalam jalur ilmu mereka masing-masing. Sehingga dengan demikian,
maka ilmu merekapun telah meningkat semakin jauh. Tetapi tidak seorangpun yang
akan mampu menahan perubahan-perubahan jasmaniah yang terjadi dalam sepuluh
tahun kemudian. Bahkan keadaan kewadagan mereka tentu sudah pula mengalami
perubahan.
Meskipun demikian didukung oleh tingkat perkembangan
ilmu yang tinggi, maka kedua orang perempuan itu merupakan dua raksasa ilmu yang
menggetarkan jantung.
***
Dalam pada itu, jauh dari arena pertempuran, Puguh
merenung di padepokannya. Ia tidak tahu, kenapa tiba-tiba saja gurunya pergi
tanpa memberi tahu tujuannya. Puguhpun sama sekali tidak diperkenankan ikut.
Bahkan Puguhpun tidak tahu kapan gurunya itu berangkat.
Yang diketahuinya adalah, bahwa gurunya itu berpesan
dengan sungguh-sungguh agar ia tidak meninggalkan padepokan sebelum gurunya itu
kembali.
“Jika kau melanggar perintahku kali ini Puguh, maka
aku tidak akan memaafkanmu,“ pesan gurunya.
Puguh tidak tahu apa yang dilakukan gurunya itu. Dan
kenapa gurunya berkeras agar ia tidak meninggalkan padepokan sebelum gurunya
datang.
Meskipun malam menjadi semakin dalam, namun
rasa-rasanya Puguh sama sekali tidak mengantuk. Bahkan udara yang terasa panas
didalam biliknya telah mendorongnya untuk berjalan-jalan di halaman padepokan.
“Kau belum tidur?“ bertanya salah seorang dari dua
orang cantrik yang berjaga-jaga.
“Udara terasa panas didalam,“ jawab Puguh.
Kedua orang cantrik itu saling berpandangan sejenak.
Seorang diantara mereka justru berdesis, “Udara terasa dingin sekali. Bulan
bulat dilangit. Udara bersih dan angin malam terasa basah.”
Puguh mengangguk-angguk. Diluar sadarnya iapun telah
menengadahkan wajahnya. Dilihatnya langit memang bersih. Selembar awan nampak
dilangit. Tetapi awan itu tidak melintas didepan wajah bulan yang bulat.
“Diluar memang terasa dingin,“ desis Puguh, “tetapi
rasa-rasanya menjadi lebih nyaman untuk tinggal diluar.”
Kedua cantrik itu tidak menyahut lagi. Tetapi
keduanyapun kemudian mengangguk dan melangkah memutari halaman depan padepokan
itu.
Puguhlah yang kemudian duduk sendiri di sudut
pendapa padepokan. Rasa-rasanya ia ingin pergi ke padepokan kedua. Tetapi niat
itu diurungkannya. Disana tentu akan terasa semakin sepi karena gurunya tidak
ada. Puguh tidak pernah merasa kesepian meskipun ayah dan ibunya jarang sekali
menengoknya Tetapi ia merasa sepi jika gurunya pergi untuk waktu yang agak lama.
Namun tiba-tiba saja terasa jantung Puguh berdesir.
Ia tidak tahu kenapa. Bahkan tanpa disadarinya tiba-tiba saja Puguh itupun
bangkit dan berdiri dihalaman.
Puguhpun tidak tahu kenapa ia menjadi berdebar-debar
ketika ia melihat segumpal awan lewat dilangit. Bahkan kemudian awan yang agak
tebal itu telah menutup bulan sehingga sinarnya menjadi suram. Namun hanya
beberapa saat, karena awan itupun kemudian telah hanyut dalam arus angin.
Namun Puguh mulai melihat gumpalan-gumpalan awan
yang lain meskipun tidak terlalu banyak. Gumpalan-gumpalan awan yang mengalir
perlahan-lahan. Tetapi tidak semua gumpalan awan itu akan melintasi dan memotong
cahaya bulan.
Puguh tidak tahu, kenapa tiba-tiba saja ia tertarik
oleh bulatnya bulan yang kekuning-kuningan.
Namun Puguh itu rasa-rasanya tidak ingin masuk ke
dalam biliknya lagi. Bahkan iapun telah berbaring di amben panjang diserambi.
Rasa-rasanya ia ingin tetap mengamati cahaya bulan itu semalam suntuk.
Ditempat yang lain, Risang yang telah berbaring
dipembaringanya merasa sangat gelisah. Bahkan demikian ia tertidur, maka
Gandarpun telah membangunkannya.
“Risang, apakah kau bermimpi buruk?“ bertanya
Gandar.
Risang terkejut. Iapun segera bangkit. Namun
kemudian ia mencoba mengingat apakah ia bermimpi.
Dengan ragu-ragu iapun kemudian berkata, “Tetapi
rasa-rasanya aku tidak bermimpi.”
“Kau seperti orang terkejut dan bahkan mendesah agak
keras. Aku kira kau bermimpi,“ berkata Gandar.
Risang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku
merasa bahwa aku belum tidur ketika aku melihat seakan-akan banjir mengalir dari
daerah perbukitan disebelah Tanah Perdikan Sembojan.”
Gandarlah yang kemudian menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, “Tentu kau telah bermimpi.”
Risang mengangguk. Katanya, “Ya, menurut
penalaranku, aku memang telah bermimpi, karena aku tidak akan dapat melihat hal
itu selain didalam mimpi. Tetapi rasa-rasanya aku melihat dengan jelas, bahwa
dari punggung bukit itu mengalir banjir yang besar. Orang-orang Tanah Perdikan
Sembojan, termasuk ibu, tengah sibuk membendung banjir itu agar tidak merusakkan
seluruh Tanah Perdikan.”
“Tidurlah,“ berkata Gandar, “jangan kau pikirkan
mimpimu itu. Hari sudah terlalu malam untuk merenung.”
Tetapi Risang justru bangkit dan berkata, “Aku akan
keluar.”
“Untuk apa?“ bertanya Gandar.
“Supaya nanti aku dapat tidur nyenyak.” jawab Risang
asal saja.
Gandar tidak mencegahnya. Tetapi diikutinya saja
Risang yang melangkah keluar. Dihalaman iapun telah menggeliat dengan mengangkat
kedua tangannya. Namun terpandang olehnya bulan yang bulat dilangit.
“Sinar bulan itu begitu silau dimataku,“ desis
Risang.
“Kau baru saja bangun dari tidurmu,“ sahut Gandar.
Risang mengangguk-angguk. Katanya sambil menggosok
matanya, “Ya. Mungkin karena itu.“ Namun kemudian iapun melangkah kepakiwan
sambil berkata, “Aku akan mencuci muka.”
Risang memang mencuci mukanya. Tetapi kegelisahan
hatinya ternyata tidak dapat hanyut bersama kantuk di matanya. Meskipun wajahnya
yang basah terasa segar, namun jantungnya terasa berdebar semakin keras.
Ternyata ditempat yang jauh terpisah, kedua orang
anak laki-laki dari dua orang ibu yang sedang bertempur itu seakan-akan
tergelitik perasaannya. Keduanya tidak, melihat apa yang terjadi, tetapi
keduanya tergetar oleh hentakan-hentakan kemarahan ibu mereka. Sedangkan
keduanya adalah anak-anak muda yang lahir dari satu bapa.
***
Sebenarnyalah bahwa pertempuran di depan lereng
pebukitan di Tanah Perdikan Sembojan itu masih berlangsung terus. Warsi yang
disiram oleh cahaya bulan penuh itu merasa, bahwa ia akan berhasil mengalahkan
lawannya.
Karena itu, ia sama sekali tidak merasa perlu untuk
menghemat tenaganya. Ia bertempur dengan mengerahkan kekuatan dan kemampuannya.
Ia memang masih belum mengetrapkan ilmunya karena ia ingin mendapat kepuasan
yang terbesar dengan membunuh Iswari tanpa ilmu pamungkasannya apabila ia dapat
melakukannya. Hanya dalam keadaan terdesak sajalah maka Warsi akan mempergunakan
ilmunya yang mampu menggetarkan pebukitan itu.
Sementara itu pasukan Tanah Perdikan Sembojan memang
sudah berkumpul kembali. Pemimpin pengawal Tanah Perdikan itupun segera
mengumpulkan mereka dalam kelompok-kelompok mereka.
“Biarlah orang-orang tua Tanah Perdikan ini menjadi
saksi. Kita harus segera mengetahui kawan-kawan kita yang menjadi korban
pertempuran ini. Dengan demikian, kita akan segera dapat mencari mereka dan
berusaha menolong mereka yang masih memungkinkan,“ berkata pemimpin pasukan
pengawal itu kepada para pemimpin kelompok.
Para pemimpin kelompok memang bergerak cepat. Setiap
pemimpin kelompok segera mengetahui jumlah kawan-kawan mereka yang tidak ada
lagi didalam kelompoknya.
Dengan demikian maka pemimpin pasukan pengawal itu
segera memerintahkan setiap kelompok untuk mencari kawan-kawan mereka
masing-masing yang ternyata tidak kembali lagi kedalam kelompok mereka.
“Kalian tahu pasti, dimana kalian bertempur,“
berkata pemimpin pasukan itu.
Sejenak kemudian, maka para pengawal itupun telah
membawa kelompoknya memasuki bekas medan yang garang itu.
Beberapa orang memang ingin menyaksikan pertempuran
antara kedua orang perempuan itu. Namun para pemimpin kelompok telah
memerintahkan mereka untuk bekerja terus.
Hanya sekelompok pengawal khusus yang biasanya mengawal rumah pemimpin Tanah Perdikan itu sajalah yang kemudian mengelilingi arena. Para penghubung d