Welcome to topmdi - ebook collection
Buku 1 KEDUA orang anak muda itu telah
menyusuri jalan padu kuhan Nguter yang menjadi sibuk karena
persoalan Mas Rara. Beberapa orang prajurit masih nampak sibuk
mempersiapkan segala sesuatunya. Namun Manggada dan Laksana berjalan
semakin lama semakin jauh, sehingga keduanya telah meninggalkan
pintu gerbang padukuhan. Sebuah padukuhan yang ternyata menyimpan
persoalan yang justru menjadi rumit. Sementara itu. panas matahari
terasa menyengat kulit. Namun hijaunya batang padi di sawah, membuat
udara terasa segar. Pohon turi yang tumbuh di sebelahmenyebelah
jalan bulak telah memberikan perlindungan kepada para pejalan.
Sementara bunganya setiap kali dipetik untuk dimasak bersama
beberapa jenis dedaunan. Parit di pinggir jaian mengalir deras.
Airnya jemih menyusup di antara rerumputan yang tumbuh di tanggul.
Di teriknya sinar matahari masih nampak beberapa erang bekerja
disawah. Menyiangi rumput liar yang tumbuh di sela-sela batang padi.
"Kita sekarang akan pulang" berkata Manggada. Laksana menarik nafas
dalam-dalam. Katanya "Jalan ini adalah jalan yang langsung menuju
Pajang, meskipun kita tidak akan sampai ke Pajang pada hari ini".
Manggada mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berdesis "Bukankah
kita masih mempunyai uang serba sedikit? “ "Kita masih mempunyai
cukup uang. Kita belum banyak mempergunakannya dalam perjalanan"
jawab Laksana. Manggada mengangguk-angguk. Hampir di luar sadarnya
ia berkata "Ternyata Mas Rara bukan gadis desa". Laksana tertawa.
Katanya "Gadis itu juga menuju ke Pajang hari ini". "Naik kereta"
desis Manggada. "Pengiringnya naik kuda" sahut Laksana. "Jika
demikian, kita akan mengambil jalan lain. Jika mereka juga mengambil
jalan ini, mereka tentu akan melampaui kita" berkata Manggada. "Ya.
Mas Rara yang naik kereta itu bersama Nyi Partija Wirasentana akan
melambaikan tangannya kepada kita" desis Laksana sambil tertawa.
"Kita harus mengambil jalan lain" berkata Manggada. Sebenarnyalah,
ketika mereka sampai ke simpang empat, Manggada telah mengajak
Laksana berbelok meninggalkan jalan utama menuju ke Pajang. Dengan
demikian, mereka telah menempuh jalan yang lebih kecil. Namun mereka
yakin, bahwa mereka tidak akan dapat menunjukkan jalan yang menuju
ke Pajang. Ternyata jalan yang lebih kecil itu justru telah melewati
sebuah padukuhan yang besar. Di sudut padukuhan itu terdapat sebuah
pasar yang agaknya cukup ramai di pagi hari. Menilik iuasnya dan
beberapa gubug di tepi pasar yang dipergunakan oleh para pande besi,
maka pasar itu merupakan pasar yang cukup penting. Setidak-tidaknya
di hari pasaran sepekan sekali. Tetapi ketika keduanya melewati
jalan di sebelah pasar itu, maka pasar itu sudah menjadi sepi.
Meskipun demikian, masih juga ada sebuah kedai yang masih dibuka.
Bahkan masih ada satu dua orang didalamnya. "Kita berhenti sebentar.
Aku haus" desis Laksana. Manggada mengangguk. Iapun merasa sangat
haus setelah berjalan di bawah teriknya matahari di bulak panjang.
Di kedai itu Manggada dan Laksana itu mendengar beberapa orang yang
telah ada di dalamnya berbicara tentang padukuhan mereka. Ternyata
mereka adalah orangorang yang tinggal di sekitar pasar itu. Seorang
di antara mereka berkata "Ternyata keadaan mulai menjadi buruk lagi.
Perselisihan di antara kedua orang yang berpengaruh itu akibatnya
tidak hanya menimpa mereka dan keluarga mereka. Tetapi orang-orang
yang terkait dalam kerja dengan merekapun terpengaruh pula".
Manggada dan Laksana yang sedang minum minuman hangat itupun tergoda
untuk mendengarkannya. Namun kemudian keduanya menarik nafas
dalam-dalam hampir bersamaan. Ternyata yang mereka bicarakan
benar-benar persoalan keluarga. Seorang yang lain berkata "Lamaran
yang semula nampaknya akan diterima itu, kenapa tiba-tiba saja telah
ditolak? “ "Kau benar-benar tidak tahu sebabnya?" orang pertama
bertanya. "Tidak". "Itulah. Semula keadaan membaik. Keduanya
nampaknya akan mengijinkan anak-anak mereka menikah. Tetapi
tiba-tiba keadaan menjadi buruk lagi ketika mereka mulai berbicara
tentang air yang mengalir di antara sawahsawah mereka yang sudah
lama menjadi sengketa" jawab orang pertama. Yang lain
mengangguk-angguk. Mereka mengerti, bahwa persoalan air telah
menjadi persoalan yang berkepanjangan di antara kedua keluarga dari
orang-orang yang berpengaruh di padukuhan itu. Nampaknya
perselisihan itu akan diakhiri dengan perkawinan antara anak-anak
mereka. Tetapi perkawinan itupun telah urung pula. Manggada dan
Laksana tidak menaruh banyak perhatian tentang persoalan keluarga
itu. Namun yang kemudian menarik adalah justru ketika mereka
berbicara tentang pasar yang cukup luas itu. Dari pembicaraan
mereka, Manggada dan Laksana dapat mengetahui bahwa pasar itu adaiah
pasar yang terbesar di antara tiga buah pasar yang ada di Kademangan
mereka. Justru lebih besar dari pasar yang ada di Kademangan induk.
Namun pembicaraan mereka terputus ketika dua orang di antara mereka
harus meninggalkan kedai itu. "Kami masih harus melihat air. Jika
kotak sawah kami sudah penuh, kami harus menutupnya. Kotak-kotak
sawah yang lain tentu membutuhkannya" berkata salah seorang dari
mereka yang meninggalkan kedai itu. Manggada dan Laksanapun kemudian
telah membayar harga minuman dan beberapa potong makanan. Ketika
mereka keluar dari kedai itu, matahari sudah condong di sisi Barat.
Keduanyapun kemudian telah melanjutkan perjalanan melewati lorong di
dalam padukuhan yang cukup besar itu. Beberapa rumah di pinggir
jalan itu memang cukup besar dan rapi. Agaknya padukuhan itu
termasuk padukuhan yang berkecukupan. Namun ketika Manggada dan
Laksana melewati tiga padukuhan yang disekat oleh bulak-bulak
panjang, matahari sudah menjadi sangat rendah. Sebentar lagi senja
tentu akan segera turun. "Apakah kita akan bermalam di sini?"
bertanya Manggada. Laksana termangu-mangu. Padukuhan itu memang
tidak sebesar padukuhan yang memiliki pasar terbesar di Kademang-
itu. Tetapi nampaknya padukuhan itu cukup ramai. "Kita bermalam di
padukuhan yang kecil dan sepi saja" berkata Laksana. "Kenapa?"
bertanya Manggada. "Nampaknya di sini terlalu sibuk. Jika bermalam
di banjar, agaknya di banjar padukuhan itupun banyak terdapat
anak-anak muda atau orang-orang jlain dengan kesibukannya " jawab
Laksana. Manggada mengangguk. Katanya "baiklah. Kita melintas satu
bulak lagi". Keduanyapun telah meneruskan perjalanan. Langitpun
menjadi semakin suram. Matahari telah semakin rendah dan kemudian
bertengger di punggung bukit. Namun sejenak kemudian, senja
benar-benar turun. Kedua anak muda itu telah memasuki sebuah
padukuhan yang lebih kecil dan lebih sepi, sehingga Laksana
menganggap bahwa tempat itu adalah tempat yang paling baik untuk
beristirahat. Apalagi di pinggir padukuhan itu terdapat sebuah
sungai kecil yang airnya cukup jernih. Karena itulah, kedua orang
anak muda itu telah menuju ke banjar padukuhan ketika malam mulai
turun. Ternyata banjar padukuhan yang tidak begitu besar itu na-npak
sepi. Lampu memang sudah dinyalakan, tetapi tidak ada seorangpun
yang nampak di banjar maupun di halamannya. Agaknya orang yang
menyalakan lampu minyak itu telah pergi pula meninggalkan banjar
yang kosong itu. Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Namun
Manggadapun kemudian berdesis "Suasana yang sesuai dengan
keinginanmu. Sepi". "Ah" Laksana berdesah "kita bertanya di rumah
sebelah". Keduanya telah pergi ke rumah di sebelah banjar itu Rumah
yang juga tidak begitu besar meskipun halamannya cukup luas. Namun
nampaknya tidak cukup terpelihara. Ternyata pintu rumah itu sudah
tertutup. Perlahan-lahan agar tidak mengejutkan pemilik rumah itu.
Manggada mengetuk pintunya. Sejenak kemudian, pintu rumah itu memang
terbuka. Seorang laki-laki yang sudah lewat setengah abad berdiri
lermangu-mangu di belakang pintu. "Siapa yang kalian cari anak-anak
muda?" bertanya lakilaki itu. Manggadapun kemudian menjelaskan,
bahwa ia sekadar ingin bermalam di banjar. Tetapi banjar itu
ternyata kosong meskipun lampu telah menyala. "Oo. Mari. mari
silahkan. Akulah yang telah menyalakan lampu di banjar itu" orang
tua itu ternyata cukup ramah. "Tetapi kami hanya ingin mohon ijin
untuk bermalam di banjar" berkata Manggada. "Banjar kami seluruhnya
terbuka anak-anak muda" jawab orang tua itu "angin malam akan
berhembus mendinginkan darah kalian. Karena itu, jika kalian ingin
bermalam, marilah, bermalam saja di rumahku. Aku jugalah yang
melayani banjar itu. sehingga bagiku, kalian lebih baik bermalam di
sini daripada di banjar. Jika ada air panas, aku tidak usah membawa
ke banjar". "Tetapi, kami tidak ingin membuat Kiai menjadi sibuk “
jawab Manggada "kami hanya ingin tidur. Itu saja". "Sudahlah,
marilah. Jangan segan-segan. Di rumah ini aku juga hanya sendiri
orang tua itu masih saja mempersilahkan. Manggada dan Laksana tidak
dapat menolak. Manggada dan Laksana tidak dapat menolak. Merekapun
kemudian telah melangkah masuk ke rumah orangtua itu. Se; jrti
halamannya yang kurang terpelihara, isi rumah itu-pun agaknya kurang
terawat. Apalagi perabot rumah itu memang cukup sederhana. Tidak ada
barang-barang yang berharga yang tampak. Tentu saja keduanya tidak
tahu, apakah orangtua itu mempunyai simpanan atau tidak. "Duduklah"
orangtua itu mempersiiahkan. Manggada dan Laksanapun duduk di sebuah
amben yang besar. Ketika orangtua itu masuk ke sentong kiri sejenak,
Manggada dan Laksana sempat memperhatikan isi rumah itu. Selain
amben besar tempat mereka duduk, mereka hanya melihat sebuah geledeg
bambu yang agak besar. Ajug-ajug, tempat orangtua itu meletakkan
dlupak minyak klentik yang sudah menyala. Apinya tampak bening dan
tidak terlalu banyak mengeluarkan asap kehitam-hitaman. Sejenak
kemudian, orangtua itu telah keluar dari sentong kiri. Ternyata ia
telah membenahi pakaiannya. Dikenakannya baju yang lebih pantas,
serta merapikan rambutnya yang panjang di bawah ikat kepalanya. "Di
sini angger berdua tentu merasa lebih hangat daripada di banjar"
berkata orangtua itu. "Tetapi kami benar-benar tidak ingin
merepotkan Kiai. Kami hanya ingin tidur. Besok pagi-pagi kami ingin
melanjutkan perjalanan" jawab Manggada dan Laksana. "Angger berdua
itu akan pergi kemana?" bertanya orangtua itu. Manggada dan Laksana
sempat menceriterakan serba sedikit tentang perjalanannya. Mereka
mengatakan bahwa mereka ingin pulang. "Apakah angger berdua sudah
tahu, jalan manakah yang harus angger lalui?" bertanya orangtua itu.
"Tidak terlalu sulit. Kiai. Bukankah setiap orang akan dapat
menunjukkan jalan ke Pajang? Seteiah sampai di Pajang, kami dapat
dengan mudah mencari jalan pulang" jawab Manggada. Orangtua itu
mengangguk-angguk. Katanya "Baiklah jika demikian. Tampaknya, angger
berdua telah berpengalaman menempuh perjalanan". "Kami memang sedang
menempuh perjaianan panjang. Mungkin jauh lebih panjang dari jalan
yang seharusnya menuju ke Pajang, karena kami memang sedang
mengembara. Kami ingin melihat seberapa jauhnya cakrawala". Orangtua
itu tertawa. Katanya "Kalian tampaknya memang anak-anak muda yang
haus akan pengalaman. Jika kau dekati cakrawala, maka cakrawala itu
akan selalu saja tetap jauh. Jika cakrawala itu kemudian membentur
gunung, maka cakrawala itu justru akan menghilang". "Itulah yang
menarik, Kiai" jawab Manggada. Orangtua itu mengangguk-angguk pula.
Katanya "bagus anak muda. Pengalaman dapat memberikan banyak
pengetahuan kepada kalian, asal kalian dapat menangkapnya dan
mencerna dengan baik didalam dirimu". "Kami memang ingin
melakukannya Kiai. Tetapi betapa bodohnya kami, sehingga apa yang
kami alami, apa yang kami lihat, dan apa yang kami dengar, tidak
menambah pengetahuan kami, sehingga kami masih saja tetap dungu"
jawab Manggada. Orangtua itu tertawa. Katanya "kalian ternyata
adalah anak-anak muda yang cerdas. Bukankah kalian ingin mengatakan,
semakin banyak yang kalian ketahui, maka kalian merasa semakin
banyak pula yang tidak kalian ketahui?” Kedua anak muda itu
berpandangan sejenak. Namun Laksana kemudian berkata "Ya Kiai. Kami
memang merasa demikian". "Bagus" orangtua itu mengangguk-angguk "itu
adalah pertanda bahwa pintu berbendaharaan ilmumu terbuka. Kau akan
dapat menimba pengetahuan sebanyakbanyaknya. Orang yang merasa
dirinya penuh dengan pengetahuan, maka itu adalah batas akhir dari
kemampuannya, la telah menutup pintu perbendaharaan pengetahuannya
sendiri, sehingga orang yang demikian itu tidak akan dapat menambah
ilmu dan pengetahuan lagi". Manggada dan Laksana mengangguk-angguk.
Menurut pendapat kedua anak muda itu, orangtua itu ternyata memiliki
jangkauan penalaran yang jauh. Jauh lebih luas dari ujud
kewadagannya yang sangat sederhana itu. Tetapi kedua anak muda itu
tidak mengatakan sesuatu tentang orangtua itu. Namun orangtua itu
tiba-tiba saja berkata "Silakan duduk anak muda. Aku akan merebus
air". “Sudahlah Kiai. Terima kasih. Kiaipun sudah waktunya untuk
beristirahat Bukankah Kiai tadi sudah berbaring?" bertanya
Mangagada. Orangtua itu tersenyum. Katanya "Aku mempunyai pohon
jeruk pecel. Tentu sedap sekali untuk membuat minun.an di malam yang
dingin begini. Hanya daunnya. Bukan jeruknya. Aku juga mempunyai
beberapa tangkap gula kelapa. Jangan kira aku membeli. Aku justru
menjual gula kelapa, karena aku mempunyai beberapa batang pohon
kelapa yang aku sadap air manggarnya". "Tetapi sudahlah Kiai. Kiai
tidak usah menjadi sibuk karena kehadiran kami" berkata Laksana.
Orangtua itu justru tertawa. Katanya "Aku ingin memanaskan tubuhku.
Malam terasa sangat dingin.” Manggada dan Laksana tidak dapat
mencegahnya lagi. O-rangtua itu kemudian meninggalkan keduanya di
ruang tengah. Lewat pintu samping orangtua itu telah pergi ke dapur.
Ketika pintu samping terbuka, dan tengah bertiup menyibakkan kain
yang menutup pintu sentong tengah yang tidak berdaun, kedua anak
muda itu sempat melihat sebuah ploncon dengan tiga batang tombak di
dalamnya, serta sebuah songsong yang berwarna kuning bergaris hijau.
Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Demikian orangtua
itu pergi ke dapur, maka Manggadapun berkata "Kau lihat songsong
itu? “ "Ya. Tetapi apakah songsong itu milik Kiai pemilik rumah ini?
Jika ia petugas banjar padukuhan ia tentu orang yang sudah terhitung
lama tinggal di sini" jawab Laksana. Manggadapun mengangguk-angguk.
Namun songsong dan tiga batang tombak di sentong tengah itu, telah
menimbulkan pertanyaan di hati kedua anak muda itu. Ternyata
orangtua itu cukup lama berada di dapur. Ia harus, membuat api,
mengisi periuk dan menunggu air itu mendidih. Di ruang dalam,
Manggada dan Laksana menjadi gelisah. Bahkan Laksanapun berdesis
"Aku sudah mengantuk". "Orangtua itu sedang merebus air bagi kita.
Jangan kecewakan dia" berkata Manggada. Sebenarnyalah, beberapa saat
kemudian, pintu samping telah terbuka lagi. Orangtua itu dengan
nampan yang bulat terbuat dari kayu, telah membawa beberapa mangkuk
minuman dan bahkan ketela rebus. Asapnya masin tampak mengepul di
atasnya. "Maaf, mungkin aku terlalu lama. Aku telah pergi kekebun
untuk memetik daun jeruk pecel dan mencabut dua batang ketela pohon"
berkata orangtua itu. "Ah, kami membuat Kiai menjadi sibuk sekali"
desis Manggada. "Tidak. Tidak. Aku senang masih ada orang yang mau
datang kerumahku" jawab orangtua itu seakan-akan di luar sadarnya.
Manggada dan Laksana saling berpandangan pula. Tetapi mereka tidak
mengatakan apa-apa. Demikianlah. Sejenak kemudian, mereka telah
menikmati rebus ketela dan minuman yang masih hangat. Seperti
dikatakan oleh orangtua itu. Mereka menghirup wedang jeruk. Namun
bukan jeruknya, tetapi daunnya sajalah yang dipakai untuk
menyedapkan air yang telah mendidih, kemudian diberi beberapa potong
gula kelapa. Ketika kemudian angin malam menyusup di antara
dinding-dinding yang berlubang, dan sekali lagi menyingkapkan kain
penutup pintu yang tidak berdaun di sentong tengah, maka di luar
sadar, Manggada dan Laksana telah memperhatikan lagi songsong dan
tombak yang ada di sebuah ploncon yang besar di sentong tengah itu.
Ternyata orangtua .tu tanggap. Karena itu, tanpa diminta orangtua
itupun berkata "Songsong itu adalah songsong titipan. Selain
songsong itu ada tiga batang tombak yang menurut pemiliknya
mempunyai tuah". Kedua anak muda yang mulai berkeringat oleh
panasnya wedang jeruk dan ketela pohon yang masih hangat itu,
mengangguk-angguk. Tetapi mereka mengharap orangtua itu berceritera
lebih banyak lagi tentang songsong dan tombak itu. Namun ternyata
orangtua itupun telah menghirup minuman panas dan makan ketela rebus
itu pula. Bahkan telah mempersilahkan kedua anak itu untuk makan
pula lebih banyak lagi. Berapa saat Manggada dan Laksana menunggu.
Tetapi orangtua itu tidak berceritera lagi tentang songsong dan
tombak itu. Karena itu, Laksana yang ingin mengetahui lebih banyak
telah bertanya "Siapakah yang telah menitipkan songsong dan
tombak-tombak itu? “ Orangtua itu mengerutkan keningnya. Namun
kemudian kalanya "Sudah lama terjadi. Aku sendiri tidak tahu.
apakah, orang yang menitipkan benda-benda itu masih ingat atau
tidak" orangtua itu berhenti sejenak. Lalu katanya "Saat itu, banjar
di sebelah masih dianggap banjar padukuhan ini". "Apakah sekarang
sudah tidak?" bertanya Laksana. "Orang-orang padukuhan ini telah
membuat banjar yang lebih baik. Karena itu, banjar ini tidak lagi
banyak dipergunakan. Hanya kadang-kadang saja jika kegiatan di
banjar yang baru itu sudah tidak menampung lagi. Karena itu, banjar
ini tampak sepi. Hanya kadang-kadang saja para pemuda singgah
beberapa lama duduk-duduk di banjar lama itu. Lalu meneruskan tugas
mereka lagi mengelilingi padukuhan. Terakhir mereka kembali ke
banjar baru” Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Merekapun
menganggap bahwa banjar itu memang terlalu sepi. Namun merekapun
kemudian mengetahui bahwa disamping banjar lama itu, sudah ada lagi
banjar yang baru, sehingga hampir semua kegiatan padukuhan itu telah
beralih ke banjar yang baru itu. Tetapi kedua anak muda itu segera
teringat kembali kepada pertanyaan mereka yang belum terjawab.
Karena itu, Laksanapun kembali bertanya "Tetapi, siapakah yang telah
menitipkan pusaka-pusaka itu?” "Itu sudah lama terjadi" jawab
orangtua itu "seandainya aku sekarang bertemu dengan orang yang
menitipkan pusaka-pusaka itu, aku sudah tidak akan dapat
mengenalinya lagi". "Jadi, bagaimana seandainya ada orang lain yang
berpura-pura memiliki pusaka-pusaka itu?" bertanya Manggada. Lalu
"Orang yang pernah mengetahuinya, datang dan mengaku bahwa orang
itulah yang telah menitipkannya dan kemudian akan mengambilnya
kembali". Orangtua itu tertawa. Katanya "Itu tidak mungkin ngger.
Pada tangkai songsong itu terdapat karah besi baja. Di bawah karah
besi baja itu, terdapat patung kecil yang kakinya tepat masuk pada
karah besi itu. Patung seekor harimau yang terbuat dari perunggu.
Nah, siapa yang membawa patung itu dan kakinya dapat masuk tepat
pada lubang karah besi itu, barulah ia dapat mengambilnya". Manggada
mengerutkan dahinya dan Laksana mengangguk-angguk. Katanya "Jika
orang yang memiliki patung itu telah melupakannya dan tidak akan
mengambilnya lagi?” "Benda-benda itu akan menjadi benda-benda yang
tidak bertuan. Benda-benda yang tidak ada pemiliknya" jawab orangtua
itu. "Bukankah dengan demikian benda-benda itu akan menjadi milik
Kiai?" bertanya Manggada. "Ah" orangtua itu tertawa. Katanya "Tidak
pantas aku memiliki benda-benda seperti itu. Yang pantas bagiku
adalah cangkul dan barangkali bajak dan garu". Manggada dan Laksana
saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Manggadapun bertanya
"Kenapa patung kecil itu dilepas, Kiai. Apakah sengaja untuk menjadi
pertanda bagi pemiliknya, atau karena perhitungan lain". "Yang
penting adalah bagi pertanda itu. Tanpa pertanda itu, tidak
seorangpun dapat mengambilnya. Tetapi sebenarnya patung kecil itu
sejak sebelumnya memang sudah dilepas. Pemilik songsong itu tidak
sampai hati melihat patung harimau yang kakinya melekat pada karah
tangkai songsong itu. Jika songsong itu diletakkan pada tangkainya,
maka kepala harimau itulah yang akan menjadi tumpuannya." jawab
orangtua itu. Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sambil
tersenyum, Manggada bertanya "Apakah orang yang memiliki songsong
itu seorang yang hatinya sangat lembut, sehingga merasa belas
kasihan terhadap sebuah patung? “ "Ya" orangtua itu
mengangguk-angguk "seorang yang hatinya memang sangat lembut.
Seorang yang ramah dan berpandangan luas". "Apakah ia datang seorang
diri dengan membawa songsong dan pusaka-pusaka itu?" bertanya
Laksana. "Tidak. Ia datang dengan beberapa orang pengiringnya" jawab
orangtua itu. Lalu katanya "Tanpa mau mengatakan tentang dirinya,
asalnya dan tujuannya. Ia hanya mengatakan bahwa ia menitipkan
songsong dan pusakapusaka itu. Pada suaiu saat, akan diambilnya
dengan pertanda yang dibawanya. Tetapi ternyata, sampai sekarang
benda-benda itu masih belum diambilnya". "Sudah berapa tahun benda
itu ada di sini?" bertanya Manggada. "Sudah lama. Jauh sebelum Raden
Panji Prangpranata berkuasa di daerah ini" jawab orangtua itu. “Jadi
kekuasaan Raden Panji Prangpranata juga terasa sampai di sini?"
bertanya Manggada. "Ya. Raden Panji yang semula menjadi gantungan
harapan rakyat dengan menghalau kerusuhan di daerah ini, ternyata
kemudian justru mencemarkan sekali" jawab orangtua itu. "Apakah
Raden Panji sering datang kemari?" bertanya Laksana. "Perempuan di
sebelah, kira-kira berantara empat rumah dari rumah ini, telah
diambil menjadi isterinya. Tetapi entah apa yang terjadi, perempuan
itu telah meninggal" jawab orangtua itu. Manggada dan Laksana
mengangguk-angguk. Jarak padukuhan itu dari pusat pengendalian
pasukan Raden Panji tidak jauh berbeda dengan jarak antara Nguter
dan tempat tinggal orangtua itu. Manggada dan Laksana
mengangguk-angguk. Jarak padukuhan itu dari pusat pengendalian
pasukan Raden Panji tidak jauh berbeda dengan jarak antara Nguter
dan tempat tinggal Raden Panji. "Untunglah bahwa Raden Panji tidak
mengetahui Songsong dan pusaka-pusaka yang ada di rumah ini. Jika ia
mengetahui, mungkin benda-benda itu sudah diambilnya." berkata
orangtua itu pula. Namun kemudian Manggada berkata "Raden Panji
telah diganti Kiai". "He?" orangtua itu terkejut "darimana kau
tahu?” "Aku baru saja dari Nguter. Peristiwa pergantian kedudukan
itu terjadi di Nguter" jawab Manggada. "Siapakah yang menggantikan
kedudukan Raden Panji sekarang?" bertanya orangtua itu. "Ki Panji
Wiratama" "jawab Manggada. Orangtua itu mengangguk-angguk. Katanya
"Aku belum mengenalnya. Tetapi mudah-mudahan caranya memerintah
lebih baik dari Raden Pada Prangpranata.” "Tampaknya begitu Kiai"
jawab Manggada. "Petugas yang baru itu tentu saja tidak tahu bahwa
di rumah ini ada benda-benda pusaka yang dititipkan. Jika mereka
mengetahui, dan berusaha untuk mengambilnya tanpa menunjukkan
penanda sebagaimana yang diperankan oleh pemiliknya, aku tentu
menjadi sangat bingung. Aku tidak berani menolak, tetapi aku juga
tidak berani memberikan" berkata orangtua itu. "Ki Panji Wiratama
tidak akan berbuat seperti Raden Panji" berkata Manggada "menilik
sikapnya dan langkahlangkah yang diambilnya” "Sebelum memegang
kekuasaan" desis orangtua itu. "Ya. Sebelum menggantikan kedudukan
Raden Panji" jawab Manggada. "Itulah nggger. Kadang-kadang seseorang
dapat berubah karena kedudukannya. Kelengkapan duniawi yang mewarnai
kehidupan seseorang, akan dapat menusuk sampai kewatak dan
pribadinya, sehinggga seseorang akan dapat menjadi orang lain.
Tetapi mudah-mudahan tidak demikian dengan orang yang baru itu.
Karena aku yakin bahwa masih ada orang yang tetap teguh berpijak
pada pribadinya, meskipun ia mengalami banyak perubahan dalam
hubungannya dengan tata kehidupan keduniawiannya" berkata orang itu.
Manggada menarik nafas dalam-dalam. Hampir di luar sadarnya ia
berkata "Ya. Mungkin sekali hal seperti itu terjadi". "Ya anak-anak.
muda" berkata orangtua itu bersungguhsungguh "kalian berdua masih
muda. Banyak kemungkinan dapat terjadi. Jika pada suatu ketika
kalian mendapat satu kedudukan yang tinggi, maka kalian jangan cepat
berubah. Jika perubahan itu membuat kalian menjadi lebih baik, itu
tidak mengapa. Tetapi jika sebaliknya". Kedua anak muda itu
mengangguk-angguk. Sementara orangtua itu berkata "Marilah. Silahkan
minuman hangat kalian". "Ya, ya Kiai" jawab Manggada dan Laksana
hampir berbareng. Namun rasa-rasanya kedua anak muda itu masih ingin
mengetahui lebih banyak tentang pusaka-pusaka itu. Tetapi mereka
tidak merasa pantas untuk mendesak orangtua itu untuk berbicara
lebih banyak lagi. Yang kemudian diceriterakan oleh orangtua itu
adalah perkembangan padukuhannya. Meskipun perlahan-lahan, namun
semakin lama menjadi semakin baik. "Kita sudah berhasil membuat
sebuah banjar yang lebih baik, dan perbaikan-perbaikan yang lain
yang mulai merata". Kedua anak muda itu mengangguk-angguk.
Sebenarnya mereka tidak begitu tc:tarik mendengar ceritera tentang
padukuhan itu. Namun mereka tidak ingin menyinggung perasaan
orangtua itu. Tetapi tiba-tiba saja Laksana bertanya "Apakah nama
padukuhan ini Kiai?” Orangtua itu mengerutkan keningnya. Kemudian
katanya "Nama padukuhan ini singkat saja. seperti padukuhan yang kau
sebut-sebut, Nguter. Nama padukuhan ini Ngandong. Termasuk
Kademangan Ringin Sewu". Kedua anak muda itu mengangguk-angguk.
Sementara itu, orangtua itu masih juga berceritera tentang padukuhan
dan Kademangan, tanpa menyinggung lagi tentang songsong dan
pusaka-pusaka itu. Baru setelah orangtua itu merasa puas dengan
ceriteranya, iapun berkata "Nah anak muda. Maaf, aku terlalu banyak
berbicara. Kalian berdua tentu letih dan mengantuk. Silahkan angger
berdua beristirahat". "Terima kasih Kiai" jawab keduanya hampir
berbareng. "Tetapi aku tidak mempunyai tempat yang lebih baik dari
amben ini ngger. Aku persilahkan kalian tidur di amben ini" berkata
orangtua itu. "Terima kasih Kiai. Kami mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya" sahut Manggada. Namun ia masih juga bertanya
"Tetapi kenapa Kiai tinggal seorang diri di sini? Apakah Kiai tidak
mempunyai sanak kadang?” "Ada ngger. Aku sebenarnya mempunyai
seorang anak laki-laki" jawab orang itu "tetapi ia sudah dewasa dan
berumahtangga. Sebenarnya, anakku minta aku tinggal bersamanya,
namun padukuhan ini masih memerlukan aku, sehingga aku harus tetap
tinggal di sini merawat banjar tua itu. Entahlah besok kalau aku
menjadi semakin tua. Sementara anakku sama sekali tidak berminat
untuk menggantikan tugasku merawat banjar tua ini". Manggada dan
Laksana mengangguk-angguk pula. Sementara orangtua itu berkata
"Silahkan beristirahat anak muda. Akupun sudah mengantuk". Orangtua
itupun kemudian telah menyingkirkan mangkuk-mangkuk minuman dan
dibawanya ke dapur. Manggada dan Laksana memandangi ruangan itu
sekilas. Kemudian mereka membaringkan diri. Mereka meletakkan
pedang-pedang mereka di sisi tubuh mereka yang terbaring.
Bagaimanapun juga. kedua anak muda itu harus berhatihati. Mereka
berada di tempat yang tidak begitu dikenalnya. Karena itu, mereka
telah sepakat untuk bergantian tidur. Namun mereka berdua tidak
ingin menunjukkan sikap hati-hati kepada orangtua pemilik rumah itu.
Orangtua itu akan dapat menjadi salah mengerti dan tersinggung
karena merasa dicurigai. Beberapa saat kemudian suasana di rumah itu
telah menjadi hening. Orangtua pemilik rumah itu, yang membawa
mangkuk-mangkuk ke dapur, telah kembali pula dan masuk ke dalam
sebuah bilik kecil di sebelah kiri sentong tengah, tempat ia
menyimpan songsong dan tiga batang tombak yang dikatakannya
barang-barang titipan itu. Sesekali angin memang menyingkap tirai
sentong tengah itu, dan kedua anak muda itu dapat melihat songsong
dan tiga batang tombak yang panjangnya tidak sama itu. Ketika malam
menjadi semakin hening, Manggada yang mendapat giliran untuk
berjaga-jaga, meskipun sambil berbaring, melihat orangtua itu keluar
dari bilik kecilnya.. Di bawah cahaya lampu yang redup, Manggada
melihat orangtua itu termangu-mangu sejenak. Diperhatikannya kedua
anak muda yang disangkanya telah tertidur itu. Perlahan-lahan
orangtua itu melangkah ke sentong tengah. Kemudian hilang di balik
tirai yang tergantung di lubang pintu yang tidak berdaun itu.
Manggada telah menggamit Laksana yang sudah mulai tertidur. Namun
Manggadapun telah berdesis untuk memberi isyarat agar Laksana tidak
bertanya kepadanya. Dengan isyarat pula, Manggada menunjuk pintu
sentong tengah yang tertutup oleh tirai itu. Tetapi ketika tirai itu
tersingkap oleh angin yang menyusup lewat lubang-lubang dinding,
kedua anak tidak itu melihat, orangtua pemilik rumah itu berjongkok
di depan ploncon tempat ia meletakkan songsong dan ketiga batang
tombak itu. Tangannya diletakkannya pada ploncon itu. sedangkan
kepalanya menunduk dalam-dalam. Hal itu dilakukannya beberapa saat.
Namun kedua anak muda itu tidak melihat orangtua itu keluar dari
sentong tengah. Tangannya sibuk mengusap matanya, tanpa diketahui
sebabnya. Apakah ada seekor binatang kecil masuk ke dalam mata tua
itu, atau orangtua itu baru saja menangis. Namun sejenak kemudian,
orangtua itu justru melangkah mendekati Manggada dan Laksana yang
baru tidur, meskipun hanya berpura-pura. Kepada diri sendiri,
orangtua itu bergumam "Sebaiknya mereka meninggalkan rumah ini
pagi-pagi benar, sebelum orang-orang itu datang. Sayang, mereka
datang pada saat yang tidak baik. Jika saja tidak ada persoalan
apapun, aku ingin penahannya barang satu dua hari untuk menemani
aku". Orangtua itupun kemudian melangkah meninggalkan Manggada dan
Laksana kembali masuk ke dalam biliknya. Manggada dan Laksana tidak
mengatakan apa-apa. Mereka berdua justru terdiam dan mencoba
mengurai katakata orangtua itu. Namun akhirnya justru kedua-duanya
tertidur bersamasama. Menjelang fajar, keduanya terkejut. Mereka
mendengar pintu samping berderit keras. Ketika keduanya terbangun,
mereka melihat orangtua itu masuk membawa mangkuk minuman hangat.
Agaknya orangtua itu sudah lebih dahulu bangun dan menjerang air
didapur, "Hampir fajar" berkata orang itu sambil tersenyum "silahkan
minum minuman hangat. Kalian tentu akan berangkat sebelum matahari
terbit. Saat yang paling baik untuk memulai sebuah perjalanan.
Mungkin kalian masih akan mandi lebih dahulu. Di belakang rumah ini
ada pakiwan.” Manggada dan Laksana kemudian bergantian pergi ke
pakiwan. Bergantian pula mereka menimba air dengan timba upih yang
tergantung pada senggol bambu yang panjang. Namun kedua anak muda
itu sempat berbicara tentang kata-kata orangtua yang sama-sama dapat
mereka dengar. “Tampaknya akan terjadi sesuatu di rumah ini" berkata
Manggada. "Ya. Itulah agaknya, dengan sengaja ia membuka pintunya
agak keras, agar kita berdua terbangun karena ternyata kita berdua
telah tertidur bersama-sama" sahut Laksana. "Ia menghendaki agar
kiia meninggalkan tempat ini pagipagi sekali" desis Manggacb "Kita
akan mengulur waktu" desis Laksana, "Ya. Akupun ingin tahu apa yang
akan cerjadi. Apakah ada hubungannya dengan songsong dan
tombak-tombak itu." sahut Manggada Laksana mengangguk-angguk. Mereka
harus mendapatkan cara untuk dapat bertahan berada di tempat itu
sampai orang-orang yang dimaksud oleh orangtua itu datang. Sejenak
kemudian, mereka telah duduk di ruang dalam rumah orang-tua yang
tidak begitu besar itu. Minuman yang disediakan masih tetap hangat.
Wedang jahe dengan gula kelapa yang kehitam-hitaman. "Marilah ngger"
orangtua itu mempersilahkan "mumpung masih pagi. Udaranya masih
segar dan matahari-pun belum mulai naik". "Terima kasih Kiai" jawab
Manggada sambil mengangkat mangkuknya. Demikian pula Laksana. "Aku
tidak dapat menyuguhkan apapun kecuali sekadar minum" berkata
orangtua itu pula, Kaduanya tidak menjawab. Tetapi keduanya sibuk
meneguk minuman hangat dengan gula kelapa yang menurut orangtua itu
dibuatnya sendiri. “Maaf anak-anak muda" berkata orangtua itu
kemudian "sebentar lagi, aku harus berada di kebun kelapaku. Aku
harus menyadap legen untuk membuat gula. Pekerjaan yang aku lakukan
dua kali sehari". "Kiai masih memanjat dan menyadap sendiri ?"
bertanya Manggada. "Ya. Aku lakukan itu setiap hari, pagi dan sore"
berkata orangtua itu, "Kiai" tiba-tiba saja Laksana berkata "apakah
kami dapat membantu?” Wajah orangtua itu berkerut. Katanya "Tidak.
Itu tidak perlu. Aku justru ingin mempersilahkan angger berdua mulai
dengan perjalanan pagi-pagi, mumpung matahari belum terbit.
Sementara aku pergi ke kebun kelapa. Aku harus mulai pagi-pagi
sekali agar tidak kesiangan". "Kiai" berkata Manggada "kami berdua
tidak tergesagesa. Kami ingin mengucapkan terima kasih dengan
melakukan apa saja pagi ini. Nanti setelah matahari sepenggalan.
kami akan melanjutkan perjalanan". Orangtua itu termangu-mangu
sejenak. Namun kemududian katanya "Aku tahu. Kalian berdua tentu
masih ingin mendengar ceritera tentang songsong dan pusaka-pusaka
itu. Marilah, aku akan menunjukkan kepada angger berdua agar angger
tidak dibebani oleh perasaan ingin tahu. Bendabenda yang terlarang
untuk disaksikan. Tetapi aku memang membatasi diri agar tidak
terlalu banyak orang yang mengetahuinya. Jika demikian, maka
kemungkinan buruk akan dapat terjadi". Sebelum kedua anak muda itu
menjawab, orangtua itu telah melangkah ke sentong tengah.
Disingkapkannya lirai pintu sentong tengah itu dan disangkutkannya
pada ugeruger di sebelah. "Marilah ngger. Silahkan melihat-lihat
benda-benda titipan ini." berkata orangtua itu. Manggada dan Laksana
tidak dapat menolak. Merekapun telah masuk pula ke sentong tengah,
sementara orangtua itu berlutut di depan ploncon tempat songsong dan
tombak-tombak itu diletakkan. "Inilah benda-benda itu ngger.
Bukankah seperti songsong kebanyakan? Tampaknya memang songsong
bertanda kebangsawanan, karena warnanya yang kuning emas itu dan
lingkaran hijau di tengah-tengahnya.” Manggada dan Laksana masih
tetap berdiri tegak. Tetapi dalam cahaya pagi serta sinar lampu di
ruang tengah, keduanya melihat karah tangkai tombak di bawah mata
tombak itu terbuat dari logam yang berwarna kekuningkuningan, "Emas"
desis keduanya di dalam hati. Bahkan ketika mereka sempat melihat
tombak yang bertangkai lebih pendek, karah itu bukan saja terbuat
dari emas. tetapi terdapat pula permata yang gemerlapan. Agaknya
orangtua itu mengerti, apa yang diperhatikan oleh kedua anak muda
itu. Karena itu, maka katanya "Sama sekali bukan emas dan permata.
Tetapi logam-logam tiruan sehingga mirip seperti emas. Demikian pula
permata itu “ "Meskipun tiruan. tetapi bentuknya bagus sekali Kiai"
sahut Manggada. "Nah, sekarang angger berdua telah melihatnya" desis
orangtua itu sambil bangkit dan melangkah surut. "Marilah kita
kembali ke ruang tengah". Ketiganya telah duduk kembali diamben yang
besar. Sementara orang tua itu berkata "Maaf angger. Sebentar lagi
aku akan pergi ke kebun. Mungkin agak lama. Karena itu. maka
biasanya aku menutup pinta depan rapat-rapat dan keluar lewat pintu
butulan. Sementara itu, angger berdua dapat melanjutkan perjalanan
angger "Kami berdua ingin ikut ke kebun Kiai. Kami benarbenar ingin
membantu Kiai" jawab Manggada. "Tetapi angger tentu tidak tahu
caranya menyadap legen. Sekali salah potong, maka manggar itu tidak
akan mengeluarkan legen lagi ngger. Setidak-tidaknya untuk satu
janjang." berkata orangtua itu, "Kami tidak akan melakukannya Kiai.
Tetapi kerja apapun yang dapat kami lakukan, Atau sekadar menunggui
Kiai bekerja di kebun" desis Laksana. Tetapi orangtua itu
menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya dengan nada rendah "Jangan
ngger. Aku perintahkan angger meninggalkan rumah ini. Aku sama
sekali tidak mengusir angger, tetapi aku memang tidak dapat berbuat
lain". "Maaf Kiai. Kenapa Kiai berkeberatan jika aku masih ingin
tinggal bersama Kiai barang sepagi ini?" bertanya Manggada. "Aku
tidak ingin terganggu ngger" jawab orangtua itu. "Kiai, kami justru
ingin berbuat sesuatu bagi Kiai. yang telah dengan senang hati
menerima kami bermalam. Memberikan minuman dan makanan dengan
ikhlas" berkata Laksana kemudian. Tetapi orangtua itupun berkeras.
Katanya "Sudah ngger. Aku sudah merasa berbuat sebaik-baiknya
terhadap angger berdua. Kini angger berdua jangan mengecewakan aku".
"Sama sekali tidak Kiai. Justru sebaliknya" jawab Laksana. Wajah
orangtua itu menegang. Dengan dahi yang berkerut orangtua itu
berkata dengan nada yang semakin keras "Tidak. Aku minta kalian
pergi. Aku tidak dapat menerima kalian lebih lama lagi". "Kenapa
Kiai berkeberatan membiarkan kami lebih lama berada disini? Apakah
kami telah mengganggu Kiai?" bertanya Laksana pula. "Ya" jawab
orangtua itu tegas "aku akan pergi ke kebun untuk menyadap legen.
Selama itu kau akan dapat mengambil benda-benda yang agaknya kau
kagumi dan membawanya lari". "Kiai" desis Laksana. Namun Manggada
menggamitnya dan berkata "Apakah pernyataan itu benar-benar keluar
dari hati Kiai? Jika demikian, alangkah nistanya kami berdua. Tetapi
jika karena kecemasan itu, baiklah. Aku akan meninggalkan tempat
ini". Orangtua itu memandang kedua anak muda itu bergantiganti.
Wajahnya tiba-tiba menjadi buram. Katanya dengan nada sendat "Tidak
ngger. Tidak. Aku sama sekali tidak mencurigai angger berdua. Tetapi
aku tidak dapat membiarkan ansger berdua tetap berada di rumah ini.
meskipun hanya setengah hari. Kau datang pada waktu yang kurang
baik.” "Apakah sebenarnya yang akan terjadi Kiai? Jika Kiai berkata
sebenarnya, sementara kami berdua dapat mengerti, maka kami tentu
akan melakukannya" berkata Manggada. Orangtua itu menunduk
dalam-dalam. Katanya "Aku tidak mengira bahwa benda-benda itu pada
suatu saat akan mendatangkan kesulitan padaku". "Kesulitan apa
Kiai?" bertanya Laksana tidak sabar. Orangtua itu menarik nafas
dalam-dalam. Agaknya memang terasa berat baginya untuk mengatakan
kepada kedua anak muda itu. Namun Manggada pun mendesaknya "Katakan
Kiai. Kiai telah berbuat baik kepada kami. Apa yang telah Kiai
lakukan, telah menumbuhkan kesan tersendiri di dalam hati kami.
Dengan sikap Kiai terhadap kami. yang sebelumnya belum pernah Kiai
kenal itu. menunjukkan bahwa Kiai memang seorang yang baik tanpa
pamrih. Kiai pun tidak cemas bahwa semalam kami mencuri benda-benda
berharga itu dan membawanya lari. Karena itu. ketika Kiai mengatakan
bahwa Kiai mencemaskan benda-benda aku yakin bahwa itu bukan maksud
Kiai yang sebenarnya untuk mencurigai kami". "Anak-anak muda"
berkata orangtua itu "baiklah aku katakan kesulitanku kepada kalian.
Tetapi aku minta kalian jangan melibatkan diri. Biarlah aku sendiri
yang mengalaminya" berkata orangtua itu. "Aku akan mempertimbangkan
Kiai" Jawab Manggada. Orangtua itu masih saja ragu-ragu. Namun
kemudian ia pun berkata “Ternyata seperti yang pernah angger
tanyakan, bagaimana jika ada orang yang berpura-pura berhak atas
benda-benda berharga itu?” "Jadi ada seseorang yang mengaku berhak
atas bendabenda itu. Kiai?" potong Laksana. Orangtua itu mengangguk
kecil. Katanya "Seseorang telah datang, la mengaku mendapat perintah
dari pemilik songsong dan tombak-tombak itu. Tetapi ia tidak membawa
pertanda sebagaimana telah disepakati sebelumnya. Tidak ada patung
perunggu berbentuk seekor harimau yang kakinya dapat tepat masuk ke
dalam lubang di karah besi pada pangkal tangkai songsong itu. Tentu
saja aku tidak dapat memberikannya sebelum orang itu dapat
menunjukkan patung kecil itu". "Lalu. apakah orang itu memaksa
Kiai?" bertanya Laksana. "Waktu itu, orang itu menyatakan
kesediaannya untuk mengambilnya. Hari ini ia akan datang kembali"
berkata orangtua itu. Namun katanya kemudian "Tetapi orang itu
tampaknya kurang meyakinkan. Aku juga kurang yakin bahwa ia akan
datang dengan membawa pertanda yang sudah disepakati itu". "Jika ia
tidak membawa?" bertanya Manggada. "Aku tidak akan memberikannya"
jawab orangtua itu. "Bagaimana jika ia memaksa?" desak Laksana.
"Persoalannya jadi lain ngger. Sudah tentu aku akan tetap
mempertahankannya. Tetapi aku harus menyadari bahwa aku adalah
seorangtua yang lemah. Yang tentu tidak akan dapat berbuat banyak"
Orangtua itu berhenti sejenak, lalu "tetapi aku tidak dapat
memberikan benda-benda itu selagi aku masih ada". "Jadi, Kiai akan
mempertahankannya sampai tuntas?" bertanya Manggada dengan cemas.
"Aku sudah tua ngger. Umurku tentu sudah tidak jauh lagi. Jika aku
harus mati, maka tidak akan banyak bedanya. Apalagi aku mempunyai
satu keyakinan, bahwa kematian itu tidak akan dapat dipercepat akan
ditunda. Jika aku harus mati, maka aku akan mati dengan sebab apapun
juga" berkata orangtua itu "Namun sudah tentu bahwa aku tidak akan
dapat mempertahankannya lagi". Manggada dan Laksana termangu-mangu
sejenak. Namun kemudian Manggada pun berkata "Biarlah aku berada di
sini". "Jangan ngger. Sebaiknya kau tidak mengalami perlakuan buruk
dari orang-orang yang tidak kau kenal dan tidak mempunyai sangkut
paut apapun juga" berkata orangtua itu dengan nada rendah. "Tetapi
Kiai sudah berbuat baik terhadap kami" sahut Manggada "apa gunanya
kami membawa senjata di lambung jika kami akan menyingkir dari
tindak kebajikan Kiai, aku akan tetap berada di sini dengan adikku".
Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Aku sudah.mencoba
memperingatkan kalian". "Ya, kami mengerti. Segala sesuatunya adalah
tanggungjawab kami sendiri Kiai" desis Manggada. Ternyata orangtua
itu tidak dapat memaksa kedua anak muda itu untuk pergi. Ia memang
menjadi cemas. Namun sesuatu terasa bergetar di dalam hatinya.
Anak-anak muda itu ternyata memiliki jiwa yang besar serta kesediaan
untuk melindungi sesama yang mengalami kesulitan. Karena itu,
orangtua itu tidak memaksa mereka lagi. Bahkan katanya kemudian
"Baiklah anak muda. Jika kalian berkeras untuk tinggal. Sekarang,
marilah kita pergi kekebun belakang. Aku akan menyadap legen
dibelakang. Aku akan menyelarak pintu depan dan membuka pintu
butulan yang langsung dapat diawasi dari kebun". Manggada dan
Laksana tidak menjawab. Keduanyapun kemudian mengikuti orangtua itu
keluar dari pintu belakang. Seperti kebiasaannya, orangtua itu
membawa beberapa buah bumbung untuk mengganti bumbung yang telah
dipasang kemarin sore. "Mereka akan datang hari ini" desis orangtua
itu sambil mendekati sebatang pohon kelapa. Manggada dan Laksana
mengangguk kecil. Namun mereka tidak menjawab. Sementara itu,
orangtua itupun telah mulai memanjat sebatang pohon kelapa dengan
membawa satu di antara bumbung-bumbungnya yang diikatnya dengan tali
sabut pada lambungnya. Meskipun orang itu sudah tua, namun dengan
tangkasnya ia memanjat. Dalam waktu yang terhitung singkat, orangtua
itu sudah bertengger pada pelepah pohon kelapa itu untuk melepas
bumbung yang sudah terpasang. Kemudian memotong manggar itu dengan
irisan-irisan tipis dan memasang bumbung yang baru untuk menerima
titiktitik legen dari manggar yang telah diirisnya itu. Sejenak
kemudian, bumbung legen yang baru saja dilepas itupun telah
dibawanya turun. "Biarlah kami membantu membawa bumbung itu Kiai"
berkata Laksana. Orangtua itu tersenyum. Katanya "Biasanya aku
melakukannya sendiri". "Tetapi hari ini kami ada disini" jawab
Laksana. Orangtua itu tertawa kecil. Tetapi ia tidak berkeberatan
memberikan bumbung-bumbung itu kepada Manggada dan Laksana. Dari
satu pohon, orangtua itu pergi ke pohon yang lain. Memang tidak
cukup banyak. Tetapi beberapa batang pohon kelapa ia telah
memberikan beberapa bumbung legen yang dapat dibuatnya menjadi gula
kelapa. Ternyata kerja itu telah membuat orangtua itu melupakan
kegelisahannya. Yang masih saja gelisah, justru Manggada dan
Laksana. Setiap kali mereka berpaling ke arah pintu butulan yang
meskipun tertutup, tetapi tidak diselarak itu. Sementara merekapun
sadar, bahwa jika orang yang akan mengambil pusaka-pusaka itu
datang, mereka tentu tidak akan masuk dengan diam-diam dan membawa
lari benda-benda berharga itu. Ternyata sampai batang kelapa yang
terkahir, belum ada seorangpun yang datang memasuki halaman rumah
orang itu. Sehingga orangtua itu sempat mengerjakan pekerjaannya
yang lain. Menuang legen ketempayan dan mempersiapkan pembuatan gula
kelapa di serambi belakang rumahnya. Manggada dan Laksana yang
dipersilahkan duduk di dalam, ternyata lebih senang menunggui
orangtua itu bekerja. Keduanya masih mengagumi tenaga orangtua itu
yang bekerja dengan tangkasnya. Sejenak kemudian, maka perapianpun
telah menyala. Legen kelapa di tempayan itupun kemudian diletakkan
di atas perapian. Dengan kayu bakar yang dikumpulkan di kebun serta
dicampur dengan daun-daun kering yang dikumpulkan pagi-pagi ketika
menyapu halaman, maka legen kelapa itu direbus sehingga menyusut.
Pada akhirnya, legen itu menjadi semakin lama semakin kenthal dan
siap dituang ditempurung kelapa sebagai alat untuk mencetak gula
kelapa. Namun orang tua itu sempat berkata kepada Manggada dan
Laksana "Tolong, cabut satu atau dua batang ketela pohon". "Untuk
apa?" bertanya Manggada. "Kita masukkan kedalam legen yang hampir
siap dituang ini" berkata orang tua itu. Manggada dan Laksana tahu
benar maksud orang tua itu. Karena itu maka keduanyapun telah
berlari-lari kekebun, mencabut masing-masing sebatang ketela pohon.
Dengan cepat mereka mengupasnya dan mencucinya. Kemudian membawa
kepada orang tua di dapur rumahnya. Tetapi ternyata orangtua itu
sudah tidak berada disana. Sebagian gulanya sudah dituang di
tempurung kelapa, namun yang lain masih ditempayan, bahkan diatas
perapian. Untunglah bahwa api dari kayu-kayu seadanya dan daun-daun
kering itu sudah padam dengan sendirinya, sehingga sisa legen di
tempayan tidak kering. Manggada cepat-cepat mengambil air dari
persediaan di dapur, menuangkannya di tempayan secukupnya. Kemudian
memasukkan ketela pohon yang telah dikupasnya keda-latnnya. Namun
keduanya tidak lagi memperhatikan ketela pohonnya. Keduanya mulai
memikirkan orang tua yang agaknya terpaksa meninggalkan gula
kelapanya. Dengan hati-hati Manggada dan Laksana melangkah memasuki
rumah orang tua itu dari belakang. Namun mereka tertegun ketika
mereka mendengar orang bercakapcakap di-ruang dalam. Sejenak
keduanya termangu-mangu. Namun tanpa berjanji, keduanya telah
mendengarkan percakapan diruang dalam itu. Sekali-sekali mereka
mendengar suara orang tua itu gemetar. Namun kemudian terdengar
suara orang lain yang nampaknya memang sudah ditunggu oleh orang tua
itu. Tidak hanya seorang. Tetapi dua orang. Manggada dan Laksana
memang menjadi tegang. Orang-.orang itu adalah orang-orang yang
datang untuk mengambil benda-benda berharga yang dititipkan
kepadanya. Namun antara terdengar dan tidak seseorang berkata "Ki
Gumrah. Patung kecil itu sudah hilang. Yakinlah. Aku bukan orang
lain dari orang yang menitipkan benda-benda pertanda kebangsawanan
itu. Aku adalah pamannya". "Tetapi bagaimana aku tahu bahwa Ki Sanak
adalah pamannya. Bagiku, siapapun orangnya, tetapi pertanda itu ada
padanya, maka aku akan menyerahkannya. Bukankah hal itu sudah aku
katakan ketika Ki Sanak datang kemari beberapa waktu yang lalu?"
berkata orang tua yang disebut Ki Gumrah itu. "Aku juga sudah
menemuinya. Tetapi ia mengatakan bahwa patung kecil itu telah hilang
sehingga ia tidak dapat memberikannya kepadaku" jawab orang itu.
"Maaf Ki Sanak" berkata orang tua itu "aku masih tetap pada
pendirianku, karena pemilik benda-benda yang dianggapnya berharga
itu sendirilah yang berpesan". "Ki Gumrah" terdengar suara yang lain
"kau sudah tua. Sebaiknya kau tidak usah berkeras untuk
mempertahankan benda-benda yang memang bukan milikmu itu. Apakah
keuntunganmu mempertahankan benda-benda itu?” "Aku memang tidak
mendapat keuntungan apa-apa Ki Sanak" jawab Ki Gumrah "tetapi aku
sudah berjanji untuk melakukannya. Bagiku janji mempunyai nilai yang
tinggi". "Kau mempersulit dirimu sendiri" berkata orang yang datang
itu "jika kau berkeras untuk mempertahankan benda-benda yang bukan
milikmu itu, maka kami terpaksa berkeras untuk membawanya. Pemilik
benda-benda berharga itu berpesan kepada kami, agar benda-benda itu
dapat kami bawa. Kemudian sudah berjanji bahwa kami akan kembali
dengan membawa benda-benda itu. Sedang menurutmu, janji itu
mempunyai nilai yang tinggi". Orang tua itu menarik nafas
dalam-dalam. Namun iapun kemudian berkata "Maaf Ki Sanak.
Bagaimanapun juga, aku tidak akan dapat memberikan, benda-benda itu.
Aku terikat pada janjiku. Sebagai orang tua aku justru harus
berpegang kepada janji itu". "Jika demikian, kita masing-masing akan
berpegang kepada janji yang telah kita ucapkan." berkata orang yang
pertama. "Karena itu Ki Sanak" berkata orang tua itu "usahakan agar
pertanda itu kalian dapatkan, sehingga tidak akan terjadi kesulitan
apapun juga". “Benda kecil itu sudah hilang. Bukankah aku sudah
mengatakannya?" jawab orang itu. "Maaf Ki Sanak. Aku tidak dapat
memberikannya" berkata orang tua itu. "Kami akan mengambil sendiri"
terdengar suara orang yang datang itu menjadi semakin keras.
Manggada dan Laksana menjadi berdebar-debar. Ki Gumrah sudah terlalu
tua untuk mempertahankan bendabenda berharga itu. Karena itu,
sejenak keduanya saling berpandangan. Sementara itu, suasana uiruang
dalam menjadi semakin panas ketika terdengar seseorang berkata
"Sudahlah Ki Gumrah, kau jangan berbuat bodoh. Kau tidak akan
dirugikan seandainya benda-benda itu kami bawa. Kaupun tidak akan
mendapat keuntungan apa-apa dengan mempertahankan benda-benda itu".
"Ada Ki Sanak. Jika aku mempertahankan benda-benda itu, aku
mendapatkan keuntungan meskipun keuntungan itu tidak berujud. Aku
adalah orang tua yang berpegang pada janji" jawab orang tua itu.
"Sebenarnya aku tidak ingin berbuat kasar. Apalagi terhadap orang
tua. Karena itu, ketika aku datang yang pertama, aku dengan senang
hati menuruti permintaanmu, mengambil patung kecil itu. Tetapi sudah
aku katakan, patung itu sudah hilang. Kau tidak dapat memaksaku
menemukan patung itu kembali. Demikian pula pemilik benda-benda
berharga itu tidak akan mendapatkan patungnya lagi." berkata orang
yang datang itu. "Jika demikian, biarlah pemiliknya datang sendiri
untuk mengambilnya. Meskipun aku sudah pikun, tetapi aku tentu masih
dapat mengenalnya dengan baik." berkata Ki Gumrah selanjutnya.
Tetapi orang-orang yang datang uu nampaknya sudah tidak sabar lagi.
Yang terdengar adalah suara salah seorang dari mereka menjadi
semakin keras "Cukup. Aku sudah cukup menahan diri. Sekarang aku
akan mengambil bendabenda itu. Aku akan membawanya. Boleh atau tidak
boleh.” "Jangan, Ki Sanak. Jangan. Lalu dimana harga diriku, jika
kata-kataku tidak dapat dipegang lagi. Jika aku sudah tidak memegang
janji, aku akan menjadi semakin tidak berharga lagi." minta orang
tua itu. "Aku tidak peduli lagi" geram orang itu. Yang kemudian
terjadi, dapat dibayangkan. Orang tua yang memegangi lengan tamunya
itu telah dikibaskan. Yang terdengar suara orang yang terjatuh
diamben bambu serta orang tua itu mencoba mencegahnya "Jangan,
jangan lakukan itu". Tetapi suaranya sama sekali tidak dihiraukan.
Manggada dan Laksana tidak menunggu lebih !ama lagi. Keduanya
kemudian telah mendorong pintu butulan. Sesaat kemudian, keduanya
telah berada di ruang dalam itu pula. "Jangan lakukan itu Ki Sanak"
desis Manggada. "Siapa kau?" bertanya seorang yang ternyata bertubuh
kecil namun agak tinggi. "Aku cucu Ki Gumrah" jawab Manggada. "O"
yang satu lagi mengangguk-angguk. Orangnya bertubuh sedang. Namun
wajahnya nampak keras dan kasar "Jadi Ki Gumrah sudah mempunyai cucu
sebesar ini. Yang seorang lagi apakah juga cucunya?” "Ya" jawab
Laksana singkat. "Bagus. Nampaknya kalian dipanggil oleh kakekmu
khusus hari ini untuk melindungi benda-benda berharga itu?" desis
orang yang berwajah keras itu. "Aku tidak sengaja datang mengunjungi
kakekku hari ini. Ternyata kakek sedang menghadapi satu masalah yang
tidak dapat dipecahkannya sendiri" berkata Laksana. "Baiklah"
berkata orang yang bertubuh tinggi "sekarang kami akan mengambil
benda-benda berharga itu. Terserah kepada kalian berdua, cucu-cucu
Ki Gumrah. Apakah kalian akan mencegah kami atau tidak.” "Sudah
tentu" berkata Manggada "kakek yang sudah terlanjur berjanji harus
ditepati. Aku tidak peduli apakah kau akan mengaku sudah berjanji
pula membawa bendabenda itu atau kau akan merampoknya. Jika kau
mempergunakan kekerasan untuk mengambil benda-benda itu. maka itu
akan sama saja artinya dengan kalian telah merampok kakekku".
"Sudahlah anak-anak muda" berkata orang yang bertubuh tinggi "jangan
terlalu banyak bicara sehingga membuat telingaku merah. Jika'kau
berniat untuk mempertahankan benda-benda itu. maka aku memang
terpaksa mempergunakan kekerasan". "Cobalah" berkata Manggada "kami
akan mempertahankan dengan kekerasan pula". Wajah orang bertubuh
tinggi itu berkerut. Namun kemudian katanya "Aku akan memaksa kalian
untuk minggir” Tetapi Manggada dan Laksana masih tetap berdiri
ditempatnya. Sementara itu, orang bertubuh kasar itupun berkata
dengan nada geram "Aku tidak telaten. Kita harus segera
menyingkirkannya. ?” Manggada dan Laksanapun segera bersiap
menghadapinya kedua orang itu. Ruangan memang agak terlalu sempit.
Tetapi kedua orang itu tidak boleh mengambil benda-benda yang memang
bukan haknya. Kedua orang itu benar-benar tidak menunggu lagi.
Tetapi ketika keduanya melangkah maju, maka Manggada dan Laksanapun
telah menyerangnya. Ditempat yang tidak begitu luas itupun kemudian
telah terjadi perkelahian. Manggada menghadapi orang yang bertubuh
tinggi tetapi kecil itu, sedangkan Laksana melawan orang-orang yang
lain. Namun agaknya kedua orang itu tidak ingin bertempur dalam
ruang yang sempit itu. Karena itu, maka keduanyapun telah memancing
lawan-lawan mereka untuk keluar dan turun ke halaman. Manggada dan
Laksanapun tidak berkeberatan pula. Merekapun lebih senang bertempur
ditempat yang lebih luas. Dengan demikian memreka akan lebih leluasa
untuk bergerak dan mengambil ancang-ancang. Demikianlah keduanya
telah terlibat dalam pertempuran yang semakin lama menjadi semakin
sengit. Manggada dan Laksana yang muda itu cepat menyesuaikan diri
dengan lawannya yang garang dan berkelahi deraan keras. Manggada
yang bertempur melawan orang bertubuh tinggi itu telah bertempur
dengan cepat. Orang bertubuh tinggi itu ternyata sangat giat. ia
dapat berloncatan, berputar diudara dan bahkan seakan-akan terbang
mengitari lawannya. Sementara Manggada yang telah menekuni olah
kanuragan serta berlatih dengan keras berusaha untuk mengimbanginya.
Peningkatan ilmunya disepanjang perjalanannya, telah membuatnya
menjadi semakin tangkas. Karena itu. maka Manggadapun dengan cepat
pula telah bertempur meiawan orang yang bertubuh tinggi itu.
Beberapa saat mereka masih saling menjajagi kemampuan masing-masing.
Namun kemudian orang bertubuh tinggi itu dengan cepat meningkatkan
kemampuannya. Manggadapun telah melakukan hal yang sama. Ketika
lawannya mendesaknya, maka Manggadapun telah berusaha untuk
bertahan. Bahkan dengan garangnya Manggada ielah menyerang lawannya
semakin cepat. Tetapi lawan Manggada agaknya seorang yang memiliki
pengalaman yang sangat luas. Bahkan kekuatan dan kemam-puannyapun
telah menggetarkan pertahanan Manggada yang muda itu. "Ternyata kau
memiliki bekal yang cukup anak muda" berkata orang yang bertubuh
tinggi itu "sayang, kau belum mampu mengembangkan dasar ilmumu,
sehingga gerakmu masih sangat terbatas pada umur-umur gerak murni.
Namun ternyata kaupun telah pernah mendapatkan peningkatan landasan
ilmu dan kemampuanmu oleh seorang yang berilmu tinggi, sehingga kau
memiliki tataran ilmu yang pantas kau banggakan, apalagi pada umurmu
yang masih sangat muda itu". Manggada tidak menjawab. Namun iapun
telah mengerahkan kemampuannya untuk mengatasi lawannya benar-benar
seorang yang memiliki pengalaman yang dapat menompang kemampuannya.
Bukan saja kecepatannya bergerak serta unsur-unsur geraknya yang
rumit. Namun orang bertubuh tinggi itu seakan-akan dapat membaca,
apa yang akan dilakukan oleh Manggada. sehingga karena itu, maka
Manggada seakan-akan merasa telah dipotong serangan-serangannya oleh
lawannya. Dengan demikian, maka Manggada mulai merasakan kesulitan
untuk mengimbangi kemampuan lawannya yang ternyata cukup tinggi.
Dalam pada itu, Laksanapun telah mengalami kesulitan pula. Bahkan
rasa-rasanya orang yang bertubuh sedang namun berwajah keras itu
telah mendesaknya tanpa memberinya banyak kesempatan. Meskipun
Laksanapun kemudian telah mengerahkan kemampuannya, tetapi lawannya
itu benar-benar seorang yang berilmu tinggi. Serangan-serangannya
datang beruntun dengan landasan kekuatan yang sangat besar,
kecepatan bergerak yang tinggi dan bahkan juga unsur-unsur yang
sulit diperhitungkan. Sementara itu orang tua yang disebut Ki Gumrah
itu berdiri termangu-mangu didepan pintu rumahnya, ia menyaksikan
pertempuran itu dengan dahi yang berkerut semakin dalam. Manggada
dan Laksana ternyata dalam waktu singkat telah terdesak oleh
kemampuan lawannya yang tinggi. Kedua orang yang datang untuk
mengambil pusaka itu adalah orang-orang yang memang berbekal ilmu
sehingga mereka benar-benar akan dapat melakukan tugas mereka dengan
baik. Kedua anak muda yang merasa memiliki bekal dan juga pengalaman
yang cukup itu, menjadi tidak banyak berarti dihadapan kedua orang
yang mendapat tugas untuk mengambil benda-benda berharga itu. Namun
Manggada dan Laksana adalah anak-anak muda yang keras hati. Mereka
tidak mudah menyerah menghadapi kesulitannn itu. Karena itu, maka
mereka masih tetap bertempur dengan mengerahkan segenap
kemampuannya. Tetapi beberapa saat kemudian, maka serangan lawan
Laksana yang berwajah keras itu datang beruntun seperti banjir
bandang yang sulit untuk dibendung. Sebuah serangan yang keras telah
menghantam langsung mengenai lambung Laksana sehingga anak muda itu
terdorong beberapa langkah surut. Sebelum Laksana mampu memperbaiki
keadaannya, maka serangan berikutnyapun telah datang. Orang itu
meloncat sambil menjulurkan tangannya tepat mengenai dadanya.
Laksana bukan saja sekedar terdorong surut, tetapi iapun telah
terlempar beberapa langkah dan terbanting jatuh. Namun dengan cepat
pula Laksana berusaha untuk bangkit. Ketika ia sempat melihat
lawannya meloncat menjulurkan kakinya lurus mengarah ke keningnya,
maka Laksana telah menjatuhkan dirinya sekali lagi. Tetapi ia sempat
menyapu kaki lawannya, sehingga lawannya itupun telah kehilangan
keseimbangannya pula. Namun ketika Laksana bangkit berdiri, ternyata
lawannya itupun telah berdiri tegak pula. Sedangkan yang terjadi
kemudian adalah serangan-serangan yang datang beruntun.
Susul-menyusul tidak henti-hentinya sehingga Laksana harus
berloncatan surut beberapa langkah. Dilingkaran pertempuran yang
lain, Manggadapun telah terdesak pula. Ketika tangan lawannya
terayun mendatar, maka serangan itu masih membentur pertahanan
Manggada sehingga tidak menyentuh tubuhnya. Tetapi sesaat kemudian,
justru kaki lawannya yang bertubuh tinggi itulah yang menyerang
kearah dadanya, justru lawannya sedang membelakanginya Manggada
masih sempat mengelakkan serangan itu. Namun sekejap kemudian
lawannya itu bagaikan melenting sambil berputar. Satu kakinya
terayun deras tepat mengenai kening anak muda itu. Manggada bagaikan
terlempar jatuh. Dengan cepat ia berguling menjauhi lawannya. Ketika
lawannya memburunya, Manggada sudah sempat melenting berdiri.
Meskipun demikian, maka tangan lawannya yang terjulur lurus telah
menggapai dadanya. Manggada harus meloncat beberapa langkah surut
sambil berusaha mengatasi rasa sakit. Sementara dadanya bagaikan
menjadi sesak. Namun ia sempat mempersiapkan diri ketika lawannya
yang bertubuh tinggi itu siap untuk menyerangnya lagi. Tetapi
bagaimanapun juga, maka kemudian yang terjadi sudah dapat diduga.
Manggada dan Laksana tidak mendapat banyak kesempatan lagi. Karena
itu. maka kedua anak muda itu tidak mempunyai pilihan lain. Dengan
keadaan yang terdesak, maka keduanya sampai kepuncak perlawanannya.
Karena itu, maka beberapa saat kemudian, baik Manggada maupun
Laksana telah menarik pedangnya. Kedua orang lawan Manggada dan
Laksana itupun termangu-mangu sejenak. Namun orang bertubuh tinggi
itupun kemudian berkata "Anak-anak muda. Senjata-senjata kalian itu
akan sangat berbahaya bagi kalian sendiri. Jika kamipun kemudian
menarik senjata kami, maka kalian berdua akan dapat terbunuh
disini". "Aku tidak peduli" geram Manggada "tetapi kalian tidak
boleh mengambil apapun yang bukan hak kalian". "Anak-anak muda.
sebaiknya kalian tidak mncampuri persoalan orang lain" berkata orang
bertubuh tinggi itu. "Persoalan ini adalah persoalan kakekku." jawab
Manggada. "Baiklah" berkata orang itu "jika demikian apabo-leh buat.
Kalian berdua memang harus disingkirkan lebih dahulu". Manggada dan
Laksana tidak menjawab. Namun kedua orang itupun kemudian telah
menarik senjata mereka masing-masing. Orang yang bertubuh tinggi itu
bersenjata sepasang tongkat baja yang tidak begitu panjang sedangkan
orang yang berwajah kasar itu telah mengurai sehelai rantai yang
tidak terlalu panjang. Manggada dan Laksana memang menjadi
berdebardebar. Mereka melihat bagaimana kedua orang itu begitu yakin
akan jenis senjata mereka. Sejenak kemudian, maka pertempuran telah
terjadi iagi di halaman rumah orang tua itu. Manggada dan Laksana
telah mempermainkan pedangnya. Keduanya memiliki ilmu pedang yang
tinggi. Namun melawan senjata-senjata yang aneh itu, keduanya masih
harus menyesuaikan diri. Meskipun mereka pernah berlatih melawan
beberapa jenis senjata, tetapi ketika mereka benar-benar berhadapan
dengan senjata yang tidak terlalu sering dipergunakan itu, masih
juga harus sangat berhati-hati . Tetapi Manggada dan Laksanapun
telah terdesak pula. Ketika tongkat baja orang bertubuh tinggi itu
membentur pedang Manggada maka rasa-rasanya pedangnya itu hampir
meluncur dari tangannya. Namun Manggada cukup trampil sehingga ia
masih mampu mempertahankan pedangnya itu. Sementara itu Laksana
telah berloncatan surut. Ujung rantai lawannya itu seperti seekor
lalat yanag memburunya dan setiap kali hinggap dikulitnya. Meskipun
sentuhansentuhan itu masih belum melukainya, tetapi perasaan pedih
telah menyengatnya beberapa kali. Bagaimanapun juga Manggada dan
Laksana tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk mengimbangi kedua
orang itu. Ternyata keduanya bukan sekedar orangorang yang berniat
buruk, tetapi keduanya benar-benar berbekal ilmu melampaui
orang-oranag yang pernah dijumpai sebelumnya. Karena itu, yang dapat
dilakukan oleh kedua orang anak muda itu hanya bertahan. Namun
beberapa kali mereka harus berlebatan mengambil jarak. Tetapi kedua
orang itu terus mendesaknya. Manggada yang mengerahkan segenap
kemampuannya, ternyata tidak dapat mengimbangi lawannya. Tongkat
baja itu mulai mengenai tubuhnya. Ketika ia mengayunkan pedangnya
mendatar, tetapi tidak menggapai sasaran, maka lawannya telah
mempergunakan saat itu untuk menyerng kembali. Manggada memang
meloncat surut, tetapi tongkat itu masih juga mengeni lengannya.
Manggada mengeluh tertahan. Tulangnya seakan-akan. menjadi retak.
Sehingga karena itu. maka ia pun telah berloncat beberapa kali
menjauhi lawannya. Namun lawannya ternyata memburunya sambil
menggeram. "Salahmu sendiri" berkata orang itu "senjatamu telah
membuatmu semakin sulit. Jangan menyalahkan aku jika kunjunganmu ke
kakekmu kali ini adalah kunjunganmu yang terakhir. Tetapi Manggada
tidak mudah menyerah. Apapun yang terjadi, harus dihadapinya. Ia
sudah terlanjur mulai dengan satu pertempuran, karena ia tidak dapat
melihat laku sewenang-wenang. Tetapi ternyata lawan anak-anak muda
itu adalah orang yang berilmu tinggi, karena itu, Manggada dan juga
Laksana telah mengalami kesulitan. Akhirnya kedua anak muda itu
telah terdesak sampai ke dinding halaman. Keduanya tidak mungkin
lagi untuk bergesci mundur. Yang dapat mereka lakukan adalah
bertahan sampai kemungkinan terakhir. Ternyata kedua anak muda itu
telah beberapa kali dikenai senjata-senjata lawannya. Selain
tulang-tulang mereka serasa retak, kulit mereka pun mulai terluka.
Darah pun mula» menitik dari luka-luka itu. Dalam keadaan yang
paling gawat itu. tiba-tiba saja mereka mendengar tepuk tangan.
Bahkan terasa sangat mengejutkan, bahwa dalam keadaan yang demikian
ada seseorang yang bertepuk tangan sambil berkata "Bagus. Bagus
sekali. Kalian utusan orang linuwih telah mampu mengalahkan
anak-anak yang masih pantas bermain bengkat". Orang-orang yang
mendesak Manggada dan laksana itu terkejut pula. Mereka pun
berloncatan mundur. Ketika mereka berpaling, mereka melihat Ki
Gumrah masih bertepuk tangan. "Apakah kau sudah menjadi gila?"
bertanya orang yang bersenjata sepasang tongkat baja pendek itu. Ki
Gumrah tertawa. Katanya "Tentu tidak. Aku masih cukup sadar melihat
apa yang telah terjadi. Kenapa kau menyangka aku sudah gila". “Apa
yang membuatmu bertepuk tangan? Keputusasaan melihat cucu-cucumu,
atau justru karena kau sudah kehilangan akal?" bertanya lawan
Laksana. "Tidak Ki Sanak" jawab orangtua itu "aku kagum akan
anak-anak itu. Dalam usianya yang masih sangat muda. mereka telah
mampu menunjukkan ilmu yang mapan meskipun masih harus dikembangkan.
Tetapi mereka sudah menguasai unsur-unsur gerak yang rumit, serta
memiiiki kemungkinan yarg jauh lebih baik dari ilmu kalian". Wajah
orang itu berkerut. Bahkan Manggada dan Laksana pun menjadi heran.
Ternyata orang itu mampu menilai kemampuan mereka dan kemampuan
lawan-lawan mereka. Tetapi dengan geram lawan Manggada itu berkata
"Tetapi kebanggaanmu atas cucu-cucumu tidak akan lama Ki Gumrah.
Kami akan menyelesaikannya. Dengan bekal yang tipis itu, mereka
menjadi terlalu sombong. Kelak mereka akan menjadi orang yang sangat
berbahaya apabila mereka tumbuh semakin matang dalam olah
kanuragan". "Jangan Ki Sanak. Biarlah mereka mendapat kesempatan
untuk mekar. Meningkatkan ilmu dan mengamalkan ilmu mereka bagi
kebaikan" jawab Ki Gumrah. "Itu tidak akan terjadi. Mereka terlalu
sombong dan tentu akan menjadi sewenang-wenang" geram lawan
Manggada. "Sudahlah" berkata Ki Gumrah "aku minta maaf atas tingkah
laku cucu-cucuku itu". "Jadi kau berikan songsong dan tombak-tombak
itu?" bertanya lawan Manggada. Orangtua itu mengerutkan dahinya.
Katanya "Sayang Ki Sanak, aku tidak dapat memberikan sebelum Ki
Sanak membawa pertanda pemilikan seperti yang aku katakan". "Jadi,
kami bunuh cucu-cucumu?" desak lawan Laksana. "Juga tidak." jawab Ki
Gumrah. "Aku tidak peduli" geram lawan Manggada "aku justru akan
melakukan kedua-duanya. Membunuh cucu-cucumu, kemudian membawa
songsong dan tombak-tombak itu". "Sebenarnya sudah tidak pantas
bagiku untuk bermainmain dengan kalian. Tetapi apaboleh buat. Aku
tidak mau kedua-duanya. Aku tidak mau cucu-cucuku mati dan juga
tidak mau songsong dan tombak-tombak itu kau bawa" jawab Ki Gumrah.
“Jadi kau akan berbuat apa?" bertanya lawan Manggada itu "kau akan
melawan kami berdua?” "Sudah aku katakan, sebenarnya aku sudah tidak
pantas untuk melayani kalian, tetapi aku tidak dapat berdiam diri
menghadapi sikap kalian" jawab orangtua itu. Kedua orang yang akan
mengambil songsong dan tombak-tombak itu termangu-mangu. Namun
kemudian seorang di antara mereka berkata-kata "Baiklah. Ternyata
kami harus mempergunakan kekerasan. Tetapi dengan demikian kami
dapat menduga, bahwa sebenarnya kau memiliki bekal kemampuan untuk
mencoba bertahan. Siapa kau sebenarnya?” "Jangan bertanya tentang
hal yang aneh-aneh. Kau tahu, namaku Ki Gumrah. Itu saja. Tetapi
karena aku sudah berjanji, maka aku tidak dapat menyerahkan
benda-benda itu kepada seseorang yang tidak berhak. Juga tidak
kepada kalian." berkata orangtua itu. "Jika demikian, maka aku tidak
merubah rencanaku. Mengambil benda-benda itu dan membunuh
orang-orang yang merintangi niat itu" geram lawan Manggada yang
kemudian berkata kepada kawannya "Selesaikan kedua anak itu. Aku
akan menyelesaikan orangtua itu. Namun agaknya ia merasa mampu
melawanku. Selama itu, ternyata ia hanya berpura-pura saja ketakutan
dan seakanakan tidak berdaya. Justru orang-orang seperti itu adalah
orang yang sangat berbahaya.” Kawannya mengangguk. Namun ia tidak
menunggu terlalu lama. Ia pun segera bersiap dan mulai menyerang
Manggada dan Laksana yang sudah terluka dan kehilangan sebagian dari
kekuatannya, setelah memeras tenaganya habis-habisan. Sementara
darah semakin banyak mengalir dari luka-luka mereka. Sedangkan
tulang-tulang mereka masih saja terasa bagaikan retak. Sejenak
kemudian, seorang diantara mereka telah berhadapan dengan orangtua
itu. Ternyata orangtua itu telah menyingsingkan kain panjangnya dan
berkata "Meskipun aku sudah tua, tetapi aku masih tetap merasa
bertanggungjawab atas janji yang sudah aku ucapkan". Lawannya tidak
menjawab.Tetapi ia pun segera meloncat menyerang. Sepasang
tongkatnya terayun-ayun mengerikan. Hampir saja tongkat itu
menyambar kepala Ki Gumrah yang untung saja sempat mengelak.
Sementara itu, Manggada dan Laksana benar-benai sudah terkurung.
Meskipun lawan mereka tinggal seorang, tetapi mereka seakan-akan
sudah tidak berdaya lagi. Namun kedua anak muda itu masih berusaha
untuk melindungi dirinya. Yang sama sekali tidak terduga adalah
lawan Ki Gumrah. Mula-mula ia tampak demikian garangnya. Namun dalam
waktu singkat, orang itu sudah terdesak dan seakan-akan tidak
mempunyai kesempatan untuk melawan. Bahkan kemudian ia pun telah
memberikan isyarat kepada kawannya untuk membantunya. Orang yang
bersenjata rantai itupun telah melepaskan Manggada dan Laksana yang
benar-benar dalam kesulitan. Namun orang itu masih menggeram
"Nyawamu masih akan tinggal beberapa saat di dalam tubuhmu. Tetapi
setelah orangtua itu kami selesaikan, kalian pun akan mati. Kalian
tidak akan dapat melarikan diri dalam keadaan kalian seperti itu".
Manggada dan Laksana memang tidak dapat menjawab. Mereka benar-benar
dalam keadaan yang sulit. Mereka menyadari, jika mereka harus
bertempur beberapa saat lagi, maka tubuh mereka akan menjadi semakin
sakit. Darah akan semakin banyak mengalir dan tenaga mereka pun akan
terkuras habis sama sekali. Namun justru saat-saat kematian sudah
membayang, lawannya telah meninggalkannya. Tetapi seperti yang
dikatakan oleh lawannya itu, bahwa dalam keadaan seperti itu, mereka
tidak akan mampu melarikan diri. Satu-satunya kemungkinan yang dapat
mereka lakukan adalah mengganggu pemusatan perhatian kedua orang
yang bertempur bersama-sama melawan orangtua yang semula disangkanya
tidak berdaya sama sekali. Namun, dengan tekad apapun yang terjadi
atas mereka, karena hanya dengan cara itulah mereka dapat membantu
oiangtua itu. Tetapi sebelum keduanya berbuat sesuatu, Manggada dan
Laksana yang terluka itu melihat bagaimana orangtua itu mendesak
kedua lawannya. Bahkan sambil tertawa orangtua itu berkata "Nah,
bukankah kalian pun harus mengalami sebagaimana dialami oleh kedua
cucuku". Dengan geram seorang di antara lawannya bertanya "Setan
kau. Siapakah kau sebenarnya?” Orangtua itu masih saja tertawa.
Katanya "Kalian sudah mengenal namaku Itu sudah cukup". Beberapa
saat kemudian, kedua orang itu benar-benar tidak mampu mengatasi
ketangkasan dan kecepatan gerak lawannya. Meski pun kedua orang itu
bersenjata, namun orangtua itu sekali-sekali mampu juga menembus
pertahanan mereka. Namun tiba-tiba seorang di antara kedua orang itu
berteriak "Bunuh saja cucu-cucunya". Orangtua itu terkejut. Katanya
"Jangan licik." Orang bersenjata rantai itulah yang kemudian
meloncat untuk menyelesaikan Manggada dan Laksana yang memang sudah
tidak mampu berbuat banyak. Meski pun demikian, aba-aba itu telah
membangunkan mereka untuk mengangkat senjata mereka dengan sisa
tenaga yang ada padanya. Tetapi Manggada dan Laksana memang sudah
menjadi semakin lemah. Perasaan sakit, pedih dan nyeri, serta darah
yang masih saja mengalir, membuat kedua anak muda itu tidak akan
mampu lagi bertahan. Sementara itu, rantai baja telah berdesing
semakin keras. Manggada dan Laksana dengan sisa tenaga terakhirnya
justru mengambil jarak, sehingga yang seorang akan dapat berbuat
sesuatu betapapun lemahnya untuk membantu yang lain. Namun dalam
keadaan yang paling gawat bagi Manggada dan laksana, tiba-tiba saja
mereka terkejut. Mereka melihat orang yang bersenjata rantai itu
terhenyak sejenak. Kemudian terhuyung-huyung, sebelum orang itu
sempat menyerang Manggada dan Laksana. Akhirnya orang itu terjatuh
menelungkup. Sementara itu, sebuah gelang-gelang besi baja jatuh di
sisinya. "Aku tidak mempunyai cara lain" terdengar suara Ki Gumrah
yang meloncat mengambil jarak dari lawannya. Lawannya terkejut
melihat keadaan itu. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian ia
menggeram "Kau licik". "Tidak. Bukan aku yang licik. Tetapi kawanmu
dan. justru kau" sahut Ki Gumrah. "Kenapa kau sebut kawanku dan
bahkan aku licik? Bukankah kita sudah terlihat dalam pertempuran?
Apakah membunuh kedua anak tikus itu dapat disebut licik?" geram
orang itu. "Jika demikian, apakah membunuh kawanmu juga dapat
disebut licik?" jawab K: Gumrah. Orang itu termangu-mangu sejenak.
Namun kemudian ia berkata "Kau akan menyesal bahwa kau telah
membunuh kawanku. Dengar, aku akan menyampaikan persoalan ini kepada
orang yang memerintahkan aku mengambil bendabenda pusaka itu".
"Bagaimana jika aku juga membunuhmu?" bertanya Ki Gumrah. "Persetan"
jawab orang itu. Namun ia memang menjadi cemas, bahwa hal itu
benar-benar akan dilakukan oleh Ki Gumrah. Sehingga karena itu, ia
pun telah melangkah surut menuju ke halaman rumah orangtua itu.
Orang itu tidak mau memutar tubuhnya membelekangi Ki Gumrah yang
ternyata memiliki senjata khusus, yang dapat dilontarkan pada jarak
tertentu. Ki Gumrah termangu-mangu sejenak. Namun ia memang tidak
ingin membunuh orang itu. Bahkan ia sempat berkata "Apakah kau tidak
ingin melihat kawanmu? Apakah kau yakin ia sudah mati?” Orang itu
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya "Mati atau tidak
mati, aku tidak dapat membawanya. Kaupun dapat berbuat licik saat
aku melihat kawanku. Yang penting, salah seorang diantara kami dapat
kembali dan memberitkan laporan tentang benda-benda berharga itu".
Ki Gumrah tersenyum. Katanya "Kau kira aku tidak dapat membunuhmu?”
"Lakukan jika kau mulai menjadi ketakutan kepada orang yang
memerintahkan aku kemari. Tetapi bahwa kami berdua tidak kembali,
berarti bencana yang semakin besar bagimu" jawab orang itu. Ki
Gumrah tertawa. Katanya "Satu cara yang baik untuk menyelamatkan
diri. Kau singgung harga diriku agar aku tidak membunuhmu. Tetapi
jika aku tidak membunuhmu, sama sekali tidak ada sangkut pautnya
dengan kata-kata itu. Aku memang tidak berniat membunuhmu. Aku
kasihan kepadamu. Kau sudah menjadi pucat pasi. Meskipun kau memaksa
diri untuk tampak tetap tegar dan tanpa mengenal ancaman maut. Namun
sebenarnya jantungmu tentu sudah tidak berdarah lagi". "Setan tua"
geram orang itu. Namun ia masih juga melangkah surut ke pintu
gerbang. Demikian orang itu sampai kepintu gerbang, Ki Gumrah telah
menimbang sebuah lingkaran besi baja. Karena itu, orang itu dengan
cepat meloncat ke belakang pintu gerbang halaman rumah Ki Gumrah. Ki
Gumrah tersenyum. Namun kemudian dengan tergesa-gesa ia menyimpan
kembali gelang-gelang baja itu dibawah ikat pinggangnya. Kemudian Ki
Gumrah pun telah mendekati Manggada dan Laksana. "Marilah. Aku obati
luka-lukamu, berkata Ki Gumrah. Manggada dan Laksana telah
menyarungkan senjata mereka. Dengan dibantu oleh orangtua itu,
keduanya berjalan perlahan-lahan ke serambi rumah tua itu, dan
kemudian duduk disebuah amben panjang. "Duduklah sebentar. Jangan
banyak bergerak" berkata orangtua itu. Dengan tergesa-gesa pula Ki
Gumrah mendekati tubuh yang terbaring itu. Nampaknya gelang-gelang
besi baja Ki Gumrah telah mengenai tengkuknya. Tetapi orang itu
tidak mati. Orang itu hanya pingsan saja. "Biarlah ia tidur
sebentar" berkata Ki Gumrah yang telah menelentangkan orang itu.
Tetapi kemudian ia telah menyentuh beberapa bagian simpul syarafnya
dan berkata "Ia tidak akan dapat lari". Ki Gumrah kembali kepada
Manggada dan Laksana. Diperintahkannya kedua anak muda itu
berbaring. Katanya "Lepas baju kalian. Aku akan melihat luka-luka
ditubuh kalian.” Manggada dan Laksana pun telah membuka baju mereka
sambil menyeringai menahan pedih. Kemudian keduanya berbaring
berjajar diamben bambu di serambi. "Disini udara lebih baik daripada
didalam rumah yang pengab itu" berkata Ki Gumrah. Sejenak kemudian
orangtua itu telah melihat luka-luka ditubuh Manggada dan Laksana.
Kebanyakan hanya lukaluka memar. Tetapi ada pula kulitnya yang
terkoyak, sehingga darah mengalir dari luka-luka itu. Namun
kemudian, dengan hati-hati Ki Gumrah telah menaburkan semacam serbuk
di luka-luka kedua anak muda itu. Meskipun mula-mula luka itu
bagaikan disentuh api, namun kemudian perlahan-lahan penjadi semakin
sejuk. Darah yang mengalir dari luka-luka itupun telah menjadi
pampat pula. "Luka-luka kalian, baik yang terbuka maupun yang tampak
memar pada kulit daging kalian, tidak berbahaya" berkata orangtua
itu "tetapi tentu terasa pedih. Apalagi jika keringat kalian
mengenainya". Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Namun
obat Ki Gumrah telah dapat jauh mengurangi rasa sakit, meskipun
mula-mula terasa panas. Bahkan sejenak kemudian Manggada telah mulai
bangkit dan duduk dibibir pembaringan. Laksana pun telah bangkit
pula dan duduk disebelah Manggada. "Daya tahan kalian luar biasa"
berkata Ki Gumrah "latihan-latihan yang berat telah membuat kalian
mengatasi perasaan sakit yang mencekam tubuh kalian, serta kemampuan
kalian mempertahankan kekuatan dan tenaga didalam diri kalian,
sehingga kalian masih mampu bangkit dan duduk sekarang ini, bahkan
seolah-olah tidak terjadi sesuatu atas diri kalian. Sudah tentu
bahwa sebenarnyalah kekuatan kalian belum pulih kembali, karena
untuk itu diperlukan waktu. Namun sekiias, wajah kalian, tatapan
mata kafian dan sikap duduk kalian, benar-benar menunjukkan
ketahanan tubuh yang luar biasa". "Obat Ki Gumrah tadi agaknya yang
telah menumbuhkan kekuatan di dalam tubuh kami, meskipun belum pulih
kembali." jawab Manggada. "Tidak. Obatku hanya sekadar mengobati
luka-luka ditubuh kalian dan memampatkan darah" jawab Ki Gumrah.
Namun kemudian katanya "Tetapi aku juga ingin memberikan obat yang
nanti dapat kalian minum, sehingga kekuatan kalian akan cepat pulih
kembali". Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Dengan nada rendah
Manggada menjawab "Terima kasih Kiai". "Akulah yang harus
mengucapkan terima kasih." jawab Ki Gumrah. "Tidak." jawab Manggada
"kami ternyata benar-benar terlalu sombong dan dungu. Kami tidak
tahu siapa sebenarnya Kiai. sehingga kami merasa mempunyai kemampuan
untuk menolong Kiai yang kemudian justru merepotkan Kiai". Ki Gumrah
tertawa. Katanya "Anak-anak muda. Meskipun kalian tidak berhasil
menolong aku, seandainya aku tidak mampu mengatasi mereka berdua,
tetapi niat kalian urtuk menolong itu sudah menunjukkan sesuatu yang
menarik pada kalian. Kalian tidak mengenal aku sebelumnya. Namun
dalam keadaan yang gawat, kalian tiba-tiba saja telah mengaku
sebagai cucu-cucuku. Bukankah sikap itu harus dihargai? Selebihnya,
aku memang ingin melihat tingkat kemampuan kalian. Ternyata bahwa
kalian selain telah berguru dan menyadap ilmu juga pernah
mendapatkan petunjuk-petunjuk khusus untuk menjalani laku, sehingga
kalian memiliki kelebihan dan orang lain. Dalam umur kalian yang
masih muda itu, kalian telah memiliki sesuatu yang berharga. Namun
masih juga tergantung penggunaannya, apakah yang kalian miliki itu
berarti bagi orang banyak atau justru mengganggu orang banyak".
Manggada dan Laksana tidak menjawab. Ketika mereka menarik nafas
dalam-dalam, maka tulang-tulang mereka memang tidak lagi terasa
terlalu sakit. Menurut Ki Gumrah, itu bukan karena obat yang
ditaburkan pada luka-lukanya, tetapi justru karena daya tahan tubuh
mereka sendiri. Sementara itu. Ki Gumrah itu kemudian berkata
"Duduklah. Beristirahatlah agar darahmu tidak keluar lagi dari
luka-lukamu yang mulai pampat. Aku akan melihat orang itu". Ketika
Ki Gumrah mendekati orang yang terbaring di halaman itu, maka ia
melihat bahwa orang itu telah sadar dari pingsannya. Namun orang itu
masih saja berbaring diam karena sentuhan jari-jari Ki Gumrah pada
bagian tertentu pada jaringan dan simpul-simpul syarafnya, Demikian
Ki Gumrah membuka bagian-bagian yang ditutupnya itu, maka orang
itupun telah menarik nafas dalam-dalam. "Bangkitlah dan duduklah"
desis Ki Gumrah. Orang itu menggeliat. Namun ia merasa bahwa ia
masih mampu untuk bangkit dan duduk ditanah meskipun tengkuknya
terasa sakit sekali. Agaknya tengkuknya itulah yang telah dikenai
senjata lawannya dan membuatnya menjadi pingsan. "Kawanmu telah
melarikan diri" desis Ki Gumrah. Orang itu termangu-mangu sejenak.
Dipandanginya orang yang menyebut dirinya Ki Gumrah. Kemudian orang
itu sempat memandang Manggada dan Laksana yang duduk dise-rambi.
"Kenapa kau tidak membunuh aku saja?" bertanya orang itu. Ki Gumrah
tersenyum. Katanya "Tidak. Aku juga tidak membunuh kawanmu. Aku
biarkan kawanmu melarikan diri". Orang itu termangu-mangu sejenak.
Namun iapun kemudian bertanya "Kenapa kau tidak membunuh kami?
Bukankah kau tahu bahwa kami adalah orang yang sangat berbahaya
bagimu. Bahkan seandainya kami mampu, kami tentu sudah membunuhmu
dan membawa benda-benda berharga itu keluar dari rumahmu ini".
Orangtua itu tersenyum. Katanya "Sebenarnya untuk apa kami membunuh?
Aku dan cucu-cucuku bukan pembunuh. Kami hanya sekadar mencegah usaa
kalian membawa benda-benda yang tidak berhak kalian bawa itu. Hanya
itu.” Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia benarbenar
tidak mengerti, kenapa orangtua itu tidak membunuhnya. Bahkan
orangtua itu kemudian membantunya untuk ber diri sambil berkata
"Marilah. Duduklah bersama cucucucuku itu". Orang itu berusaha untuk
bangkit berdiri dan berjalan tertatih-tatih dibantu oleh Ki Gumrah
ke serambi. Kemudian Ki Gumrah telah mempersilahkan orang itu untuk
duduk diamben bambu, disebelah Manggada dan Laksana. Namun orang itu
ternyata masih merasa bahwa masih ada anggauta badannya yang tidak
dapat bergerak sewajarnya. "Agaknya masih ada simpul syarafnya yang
tertutup" berkata orang itu didalam hatinya. Namun orang itu tidak
bertanya kepada Ki Gumrah. Karena ia tidak yakin, apakah keadaanya
itu terjadi karena ia memang mengalami lukaluka didalam tubuhnya.
"Biarlah kau duduk bersama cucu-cucuku. Aku akan menengok gula
kelapaku lebih dahulu, berkata orangtua itu.” Manggada dan Laksana
termangu-mangu melihat Ki Gumrah begitu saja meninggalkan mereka
bersama orang yang semula berniat buruk itu. Namun Manggada dan
Laksana tidak bertanya pula kepadanya. Ia yakin, bahwa orangtua itu
tidak berbuat begitu saja tanpa memikirkan akibatnya. Untuk beberapa
saat mereka yang duduk diserambi itu saling berdiam diri. Memang ada
niat orang yang telah sadar dari pingsannya itu untuk melarikan
diri. Tetapi setiap kali niatnya diurungkan karena ada sesuatu yang
belum wajar pada dirinya, yang mungkin akan dapat mengganggunya se
panjang umurnya. Tetapi karena orangtua itu cukup lama tidak muncul
dari dalam rumahnya, maka orang itupun kemudian bertanya "Anak-anak
muda. Apakah kalian juga berguru kepada kakekmu, sehingga dalam
umurmu yang masih muda itu kalian memiliki bekal ilmu yang cukup
baik? “ Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian
Manggada menjawab singkat "Ya". Tetapi orang itu masih bertanya
"Menilik penglihatanku, unsur-unsur gerak yang terdapat dalam ilmumu
berbeda dengan unsur-unsur yang tampak pada kakekmu. Kenapa?" Sekali
lagi Manggada dan Laksana termangu-mangu. Tetapi Manggada pun
kemudian menjawab "Kami terlalu dungu untuk dapat menyesuaikan diri
dengan tuntunan ilmu kakek". "Apakah kalian telah mengembangkannya
sendiri?" bertanya orang itu. "Tentu tidak. Tetapi kakek yang
memiliki ilmu yang tinggi itulah yang mampu berbuat apa saja dengan
ilmunya. Ia mampu merubah sifat dan watak ilmunya dalam sekejap,
sehingga seolah-olah ada dua atau tiga jalur kemampuan ilmu pada
kakek" jawab Manggada. Orang itu mengangguk-angguk kecil. Namun
katanya "Ternyata orangtua itu berilmu sangat tinggi. Aku tidak
mengira. Bahkan aku tetap tidak mengerti kenapa kakekmu tidak
membunuh aku". Manggada dan Laksana mengangguk-angguk kecil. Namun
tiba-tiba Laksana bertanya "Siapa namamu?"” Orang itulah yang
kemudian termangu-mangu. Tetapi iapun kemudian menjawab "Namaku
Kundala. Lengkapnya Kundala Geni". Laksana mengerutkan keningnya.
Namun ia bertanya lagi. "Apakah namamu memang Kundala Geni atau kau
tambahi sendiri agar namamu menjadi lebih berwibawa". Manggada
menggamit Laksana. Tetapi pertanyaan itu sudah terloncat. Sambil
menarik nafas panjang orang itu menjawab "Memang aku bernama Kundala
Geni mulai lahir. Waktu itu rumahku terbakar, sehingga ibuku yang
baru saja melahirkan aku, telah terkepung api. Untunglah, ayahku
semprt menyelamatkan aku". "O" Laksana mengangguk-angguk. Sementara
orang itu berkata selanjutnya "Namun ternyata peristiwa itu telah
ikut menentukan garis hidupku". Laksana justru menjadi tertarik lagi
untuk bertanya. Namun sekali lagi Manggada menggamitnya, sehingga
Laksana pun terdiam karenanya. Untuk beberapa saat orang-orang yang
duduk diserambi itu saling berdiam diri. Namun kemudian Ki Gumrah
telah muncul dari balik pintu sambil membawa mangkuk berisi ketela
rebus legen yang masih panas. Sebelum Manggada dan Laksana bertanya,
Ki Gumrah berkata "Ketela ini sudah ada di kuali dengan sisa adonan
gula yang belum sempat aku tuang kedalam tempurung. Namun apinya
tinggal kecil sekali, sehingga tidak dapat membuat air yang kau
tuangkan itu mendidih. Baru kemudian, aku nyalakan iagi sehingga
ketela pohon ini teiah masak. Karena itu, aku agak terlalu lama
meninggalkan kalian". Ki Gumrah pun kemudian ikut duduk pula di
serambi, sehingga mereka berempat sempat makan ketela pohon yang
direbus dengan legen sehingga menjadi manis sekali. Orang yang
menyebut namanya Kundala Geni itu menjadi semakn heran. Ki Gumah
sama sekali tidak menyinggung-nyinggung lagi tentang kedatangannya
berdua dengan kawannya yang melarikan diri. Ki Gumrah tampaknya
menganggap Kundala itu sebagai tamunya saja. Bahkan kemudian
orangtua itu berkata "Duduklah. Wedang sereku tentu sudah jadi
pula". Sejenak kemudian Ki Gumrah itupun telah masuk lagi untuk
mengambil wedang serenya. Ternyata Kundala Geni tidak dapat menahan
keheranannya itu didalam dadanya. Hampir diluar sadarnya orang itu
berkata.. "Orangtua yang aneh. Kenapa ia memperlakukan aku seperti
ini? Aku justru menjadi bingung atas sikapnya. Seharusnya ia
membunuhku. Apalagi kawanku telah melarikan diri". "Kakek sengaja
tidak membunuhmu dan tidak pula membunuh kawanmu. Jika kakek mau,
kawanmu tentu sudah menjadi mayat disini".berkata Laksana. "Itulah
yang tidak aku mengerti," desis Kundaia. Namun Manggada pun menyahut
"Kakek bukan seorang pembunuh. Bahwa ia harus berkelahi, ia tentu
akan menjadi amat sedih. Semalam-malaman nanti kakek tentu akan
merenungi peristiwa yang baru saja terjadi. Kenapa ia masih harus
berkelahi dalam usianya setua itu". Kundala mengangguk-angguk.
Sementara Manggada berkata selanjutnya "Apalagi jika karena
kecelakaan misalnya, kakek membunuh salah seorang dari kalian. Maka
kakek tentu akan sangat menyesali dirinya. Sepekan kakek akan tidak
mau makan". Kundala menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Bukan
maksudku untuk memusuhi kakekmu. Tetapi aku memang berada dibawah
perintah seseorang, sehingga aku harus melaksanakannya". Kundala
menggeleng. Katanya "Aku tidak akan mengatakannya. Bagaimanapun juga
aku mempunyai kewajiban untuk menyembunyikan nama itu". "Tetapi kau
dapat dipaksa oleh kakek untuk menyebutnya" berkata Laksana. Orang
itu terdiam. Ia memang tidak menjawab apa-apa. Tetapi terasa betapa
ia wajib bertahan untuk tidak berkhianat kepada orang yang telah
memerintahkannya mengambil pusaka-pusaka itu. Pembicaraan mereka
terputus ketika Ki Gumrah telah keluar lagi membawa wedang sere dan
beberapa mangkuk kecil. Manggada yang bangkit untuk membantu Ki
Gumrah membawa minuman dan mangkuk-mangkuk kecil itu, masih
menyeringai menahan sakit dipunggungnya. Namun ketika ia mulai
melangkah, maka perasaan sakit itu justru berkurang. Manggadalah
yang kemudian meletakkan minuman itu diamben, sementara Ki Gumrah
masih masuk lagi untuk mengambil gula kelapa. "Ini bukan gula yang
aku buat hari ini" berkata Ki Gumrah "tetapi gula yang aku buat
kemarin. Aku belum sempat membawanya ke pasar". Demikianlah, keempat
orang itu justru duduk-duduk di serambi sambil minum-minuman hangat
dan makan ketela pohon yang direbus dengan legen kelapa. Namun
beberapa saat kemudian Kundala itu tidak dapat duduk dalam perlakuan
yang tidak d'mengerti itu Karena itu maka iapun bertanya "Ki Gumrah.
Lalu apa maksud Ki Gumrah dengan aku. Apakah Ki Gumrah memperlakukan
aku seperti ini sekadar mempermainkan aku untuk kemudian dibunuh
dengan cara Ki Gumrah sendiri, atau apa?” "Jangan berprasangka buruk
terhadap orang lain Ki Sanak. Sudah aku katakan, aku bukan pembunuh"
jawab Ki Gumrah "tugasku hanya menjaga benda benda berharga itu.
Jika benda-benda itu sudah aman dan dapat aku selamatkan, maka
apakah perlu aku membunuh orang?” "Tetapi orang-orang itu tentu
orang-orang yang sangat berbahaya bagi Ki Gumrah. Aku dan kawanku
dapat kembali lagi, bahkan bersama dengan sepuluh atau duapuluh
orang" berkata Kundala. Ki Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Katanya
"Aku telah menyatakan kesedianku untuk menjaga benda-benda yang
berharga itu. Apapun yang terjadi, aku harus mempertahankannya.
Tetapi untuk itu aku tidak harus menjadi seorang pembunuh". "Apakah
Kiai pada suatu saat akan membiarkan diri Kiai dibunuh?” bertanya
Kundala. "Setiap orang tentu akan berusaha mempertahankan hidupnya
dalam keadaan yang wajar. Kecuali mereka yang telah kehilangan nalar
dan sengaja membunuh dirinya sendiri." desis Ki (Jumrah. Kundala
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata "Ki Gumrah.
Tampaknya Ki Gumrah belum tahu watak orang yang telah memerintahkan
kami datang untuk mengambil benda-benda berharga itu. Orang itu sama
sekali tidak berperasaan. Ia tidak akan mengerti meskipun Ki Gumrah
tidak membunuh kami berdua. Yang ia tahu, niatnya harus dapat
dilaksanakan dengan cara apapun juga. Bahkan dengan membunuh
sekalipun". Ki Gumrah tersenyum. Katanya "Mudah-mudahan pada suatu
saat ia akan berubah". "Itu tidak mungkin" sahut Kundala "ia tidak
akan berubah sampai tanah akan menelannya". "Tentu kita tidak tahu
apa yang akan terjadi" jawab Ki Gumrah. Kundala tidak berbicara
lagi. Namun kepalanya masih saja menunduk dalam-dalam. Sementara itu
Ki Gumrah telah mempersilahkan mereka mengulangi lagi makan ketela
rebus legen yang masih tersisa sambil minum minuman yang sudah
menjadi semakin dingin. "Siiahkan. Aku akan melihat dapur sebentar."
berkata orangtua itu sambil melangkah masuk kedalam rumahnya.
Kundaia menarik nafas dalam-dalam. Hampir diluar sadarnya ketika ia
kemudian berdesis "Aku benar-benar tersiksa. Mungkin orangtua itu
sengaja menyiksa aku dengan cara ini. Jika ia membunuhku, ia akan
menganggap bahwa hukuman bagiku itu masih terlalu ringan". "Tidak"
sahut Manggada "kakek benar-benar bukan seorang pembunuh. Jika ia
ingin menyiksa, maka ia tidak akan membiarkan kawanmu terlepas dari
tangannya. Sebenarnya ia dapat menangkap kawanmu sebagaimana
dilakukan atasmu. Jika kakek melempar kawanmu dengan gelanggelang
bajanya, maka ia tentu tidak akan sempat melarikan diri". "Aku
benar-benar tidak mengerti" desis orang itu "namun aku akan menjadi
semakin tersiksa jika pada suatu saat orangtua itu terbunuh oleh
kawan-kawanku". "Kau dan kawan-kawanmu tidak akan datang lagi" desis
Laksana. "Jika hal itu-dapat aku lakukan, aku akan merasa berbahagia
sekali. Tetapi jika perintah itu datang, maka siapa yang menentang
akan dibinasakan. Dan tentu saja aku tidak ingin mengalaminya,
karena seperti yang dikatakan oleh Ki Gumrah tentu setiap orang
berusaha mempertahankan hidupnya, kecuali jika terjadi sesuatu yang
mengacaukan penalarannya." jawab Kundala. Manggada dan Laksana
mengangguk-angguk. Keduanya mengerti perasaan orang yang menamakan
dirinya Kundala itu. Namun keduanyapun agak sulit untuk mengerti
sikap Ki Gumrah. Ia sama sekali tidak berusaha untuk mengenali siapa
yang telah memerintahkan Kundala datang kepadanya untuk mengambil
benda-benda berharga itu. "Hanya belum" gumam mereka didalam
hatinya. Namun Manggada dan Laksana memperhitungkan, bahwa Ki Gumrah
pada suatu saat tentu bertanya tentang orang yang memerintahkan
Kundala Geni datang kerumahnya. Untuk beberapa lama Kundala masih
berbicara dengan Manggada dan Laksana. Namun Kundala tidak juga
menyebut-nyebut nama orang yang telah memberikan perintah kepadanya
untuk datang kerumah itu. Ternyata Ki Gumrah tidak segera keluar
dari rumahnya. Ketiga orang yang berada di serambi itu menunggunya.
Namun ternyata kemudian mereka mendengar suara orangtua sedang sibuk
menghitung, Agaknya orangtua itu sedang menghitung gula kelapa yang
ada di dapur. Agar tidak mudah lupa atau keliru, maka hitungan yang
diucapkan beralun dalam nada-nada tembang yang menyentuh. Ternyata
suara orangtua itu cukup bagus. Meskipun hanya lamat-lamat, namun
terdengar suara itu kadang-kadang melengking tinggi. Tetapi kemudian
menukik sampai ke dasar jantung mereka yang mendengarkan, meskipun
yang disebut tidak lebih dari angka-angka hitungan gula kelapanya.
Beberapa saat kemudian, suara tembang itupun berhenti. Manggada,
Laksana dan Kundala Geni pun tidak berbincang lagi. Mereka
bertigamerenungiperistiwayang baru saja terjadi. Sementara Kundala
masih saja tersiksa oleh sikap orangtua itu. Apalagi ketika ia
menyadari, bahwa masih ada simpul syarafnya yang belum terbuka
sepenuhnya. Ketiganya berpaling ketika Ki Gumrah muncul dari pintu
rumahnya sambil membawa sekeranjang gula kelapa yang diletakkannya
ditlundak pintu rumahnya. Kemudian iapun telah mendekati ketiga
orang yang duduk di serambi sambil berkata "Nah, tolong, jaga
rumahku sebentar. Aku akan menyerahkan gula kepala yang sudah aku
simpan sejak kemarin, ditambah dengan gula yang akan aku buat hari
ini". "Tetapi............." Manggada memang menjadi bimbang. Namun
orangtua itu berkata "Aku hanya sebentar. Gula ini akan aku bawa
kerumah sebelah, yang memang berdagang gula kelapa. Jika sudah
terkumpul sepedati, maka gula itu akan dibawa kepasar". Bahkan
sebelum pergi orangtua itu mendekati Kundala sambil berkata "Ada
yang masih tertinggal. Berdirilah". Kundala mengerti yang dimaksud
oleh orangtua itu. Simpul syarafnya yang masih tertutup agaknya akan
dibuka. Karena itu maka iapun telah bangkit berdiri dan melangkah
mendekati. Ki Gumrah telah memutar tubuh Kundala sehingga
membelakanginya. Kemudian beberapa ketukan jari telah membuka
simpul-simpul syaraafnya yang masih tertutup. Kundala menarik nafas
panjang. Terasa bahwa anggauta badannya benar-benar telah terbebas
dari ketukan orangtua itu. Ia sudah dapat berbuat apa saja. Bahkan
rasa-rasanya kekuatannya telah hampir pulih kembali. "Nah" berkata
Ki Gumrah "aku akan pergi sebentar. Silahkan menghabiskan ketela
itu. Nanti kita akan membuat lagi. Masih banyak batang pohon ketela
yang ada dikebun belakang. Nanti sore aku akan memanjat untuk
mengambil legen lagi". Ketiganya tidak sempat menjawab. Ki Gumrah
itupun kemudian mengambil keranjang yang penuh gula yang terletak
ditlundak pintu. Kemudian diangkatnya keranjang itu dan dibawanya
diatas kepalanya. Orangtua itu tidak berpaling lagi. Apalagi setelah
kepalanya diletakkan keranjang gula itu. Kundala masih tetap
berdiri. Segala-galanya telah pulih kembali. Ketika ia mengangkat
tangannya dan menggerakkannya, tidak lagi terasa sesuatu yang
menghambat. Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Namun
keduanya sadar, bahwa tampaknya Kundala benarbenar telah memiliki
kembali bukan saja tenaganya, tetapi juga kemampuannya. Sementara
itu merekapun sadar bahwa Kundala Geni adalah seorang yang berilmu
tinggi. Jika saja kepalanya mulai diganggu lagi oleh kepentingannya
datang di rumah itu. maka keduanya tidak boleh tinggal diam apapun
yang akan terjadi. Tetapi Kundala itu ternyata tidak menjadi garang.
Bahkan dengan kepala tunduk ia mendekati menjadi diserambi itu dan
duduk lagi. Terdengar ia menarik nafas panjang sambil memandang
kekejauhan. Bahkan kemudian terdengar ia mengeluh "Apa yang
sebenarnya dikehendaki oleh orangtua itu". Manggada dan Laksana
tidak menyahut. Sementara itu Kundala masih berbicara seakan-akan
kepada dirinya sendiri "Apakah ia dengan sengaja mencobai aku.
Dibiarkannya aku tinggal dirumah ini. Dibebaskannya aku dari ketukan
jari-jarinya pada simpul-simpul syarafku, sehingga tenaga dan
kemampuanku seakan-akan telah pulih kembali. Kemudian
ditinggalkannya aku dengan kesempatan yang luas untuk mengambil
barang-barang berharga itu". Manggada dan Laksana masih saja berdiam
diri. Namun dnuar sadarnya, keduanya memang sudah mempersiapkan
diri. Mereka tahu bahwa kedoanya tentu akan sulit bertahan melawan
Kundala Geni jika orang itu benar-benar ingin mengambil
pusaka-pusaka itu sebagaimana dilakukannya sebelumnya. Tetapi
ternyata Kundala tidak berbuat apa-apa. Bahkan orang itu tampak
sangat gelisah. Keringatnya mengembun di keningnya. Yang dilakukan
Kundala kemudian adalah justru meraih mangkuk minumannya. Diteguknya
wedang serenya. Kemudian sekali lagi menarik nafas dalam-dalam.
Namun kemudian Kundala duduk termenung memandangi bayang-bayang yang
bermain di halaman rumah orangtua itu. Ternyata Ki Gumrah tidak juga
segera kembali. Ketiga orang yang duduk diamben itu saling berdiam
diri. Pikiran yang bermacam-macam telah bermain di kepala Kundala.
Sekati ia ingin lari saja. Lari dari himpitan perasaannya yang
bagaikan mencekik. Namun kemudian timbul niatnya untuk menyelesaikan
tugasnya. Mengambil benda-benda pusaka itu. Bahkan kalau perlu
menyingkirkan siapa saja yang mencoba menghalanginya. Termasuk kedua
anak muda itu. Tanpa disengaja, Kundala telah berpaling memandangi
Manggada dan Laksana yang ternyata juga sedang merenungi pepohonan
di halaman. Namun dimaui Kundala Geni, Manggada dan Laksana telah
berubah. Tidak lagi sebagai anak-anak muda yang garang, yang
menghalangi niat mereka dan balikan menghantuinya meskipun Kundala
yakin akan dapat mengalahkan mereka. Namun keduanya dimata Kundala
kemudian tampak seperti anak-anak yang tidak tahu menahu tentang
kerasnya benturan kepentingan uiatas bumi ini. Sorot matanya yang
bersih dan lugu. Kundala Geni menjadi semakin bimbang. Sehingga a-,
khirnya ia hanya dapat berdesah untuk mengurangi sesak nafas
didadanya. Ki Gumrah memang cukup lama pergi. Sementara orang-orang
yang berada diserambi rumahnya menjadi gelisah. Namun akhirnya Ki
Gumrah itu muncul diregol halaman rumahnya sambil menjinjing
keranjangnya yang lelah kosong. Sebelum orang-orang yang berada
diserambi itu bertanya. Ki Gumrah sudah mendahului berkata. "Ada
beberapa orang yang menyerahkan gula kelapanya, sehingga menunggu
giliran untuk dihitung". "Apakah banyak orang yang nderes kelapa
disini?" bertanya Kundala yang tidak sempat memikirkan pertanyaan
yang lain. Ki Gumrah mengangguk sambil menjawab "Ya. Padukuhan ini
adalah padukuhannva orang nderes kelapa. Hampir setiap kebun
terdapat satu dua batang pohon kelapa yang disadap legennya untuk
membuat gula kelapa". Kundala mengangguk kecil. Namun ia tidak
bertanya lebih banyak lagi. Sementara itu Ki Gumrah pun telah
langsung masuk kedalam rumahnya sambil berkata "Aku akan menyimpan
keranjangku lebih dahulu". Manggada yang merasa jantungnya selalu
dihinggapi berbagai pertanyaan itu telah bangkit dan menyusul
orangtua itu kedalam. la sempat berkata kepada adik sepupunya "Aku
akan ke pakiwan sebentar". Laksana mengangguk, la tidak tahu untuk
apa Manggada masuk kcdalam rumah itu. Tetapi Laksana sudah mengira
bahwa Manggada tidak benar-benar pergi ke pakiwan. Sebenarnya
Manggada hanya sekadar menyusul Ki Gumrah untuk bertanya "Apa yang
akan Kiai lakukan terhadap orang itu?” Ki Gumrah mengerutkan
keningnya. Kemudian ia bertanya "Apa yang harus aku lakukan? Aku
tidak akan berbuat apa-apa atasnya. Jika ia ingin pergi, biarlah ia
pergi.” "Tetapi itu akan sangat berbahaya bagi Kiai. karena ia akan
dapat datang lagi bersama banyak orang." berkata Manggada pula.
"Jadi apa yang harus aku lakukan?" justru orangtua itulah yang
bertanya. "Aku tidak tahu Kiai" jawab Manggada "yang aku cemaskan,
jika ia benar-benar datang dengan kekuatan yang lebih besar untuk
merampas benda-benda berharga itu. Kundala sendiri adalah orang yang
berilmu tinggi sebagaimana seorang kawannya yang melarikan diri". Ki
Gumrah termangu-mangu. Katanya "Anak muda. biarlah ia berbuat sesuai
dengan keinginannya. Tetapi aku tidak dapat berbuat apa-apa
atasnya". "Apakah Kiai tidak ingin mengetahui, siapakah yang telah
memerintahkan orang itu datang kemari?" bertanya Manggada.
"Pertanyaan yang sia-sia ngger. Orang itu tentu tidak akan
mengatakannya." jawab Ki Gumrah. "Tetapi Kiai perlu mengetahuinya."
sahut Manggada. Ki Gumrah tersenyum. Katanya "Aku tentu tidak akan
dapat memaksanya untuk mengatakannya dengan cara-cara yang tidak
wajar. Bahkan seandainya ia menyebut satu nama. apakah dapat dijamin
bahwa ia berkata jujur?” Manggada menarik nafas dalam-dalam. Tetapi
ia tidak mendesak terus. Karena itu Manggada itupun telah keluar
lagi dari ruang dalam dan duduk diserambi bersama Laksana dan
Kundala. Beberapa saat kemudian, orangtua itu telah keluar pula
sambil berkata "Nah, duduklah kalian di serambi. Aku harus menanak
nasi. Kemudian mencari bahan untuk masak di kebun belakang.” Ketiga
orang yang ada di serambi itu termangu-mangu . Namun Kundala
ternyata tidak dapat menahan hatinya. Katanya "Kiai. Apa yang
sebenarnya Kiai inginkan atasku? Kiai jangan membiarkan aku menjadi
gelisah seperti ini". "Kenapa kau menjadi gelisah?" bertanya Ki
Gumrah "Bukankah aku tidak berbuat sesuatu atasmu? Duduklah. Nanti
kita akan makan bersama-sama". "Justru karena Kiai tidak berbuat
apa-apa. Jika Kiai memaksa aku untuk mengaku, mengikat aku atau
menyakiti aku agar aku mau berbicara. Itu masih dapat aku mengerti.
Tetapi tidak seperti ini" berkata Kundala. "Aku tidak mengerti
maksudmu ngger" desis orangtua itu. Namun kemudian katanya "Mungkin
kau membayangkan langkah-langkah kasar yang dapat aku lakukan untuk
mengetahui siapakah yang telah memerintahkan kau datang kemari.
Tetapi bagiku, itu sama sekali tidak ada gunanya. Karena kau dapat
membohongi aku. Dan itu tentu kau lakukan". Kundala menjadi semakin
bingung. Kemudian justru katanya "Bagaimana jika aku melarikan diri?
Atau kau memang mengharap aku berusaha melarikan diri sehingga kau
mempunyai alasan untuk membunuhku?” "Sekali lagi aku minta, kau
jangan terlalu berprasangka buruk. Aku sama sekali tidak ingin
menahanmu disi-ni. Aku tidak berhak melakukannya jika kau akan
pergi, maka kau dapat melakukannya kapan saja. Tetapi sudah tentu
tidak pantas bagiku untuk mengusirmu dari tempat ini. Namun jika kau
sendiri ingin meninggalkan kami, maka tidak akan ada persoalan."
berkata orangtua itu. Kundala menjadi semakin bingung. Dalam
kegelisahan itu ia berkata "Tetapi Kiai tentu akan menyesal. Aku
akan datang lagi dengan kekuatan yang jauh lebih besar untuk
merampas pusaka-pusaka itu". "Sudah aku katakan pula" jawab orangtua
itu. "aku akan mempertahankannya. Sokurlah jika pemiliknya sudah
mengambilnya sebelum kau datang lagi". "Kiai benar-benar tidak dapat
dimengerti" orang itu benar-benar menjadi bingung. "Jangan berpikir
yang aneh-aneh Ki Sanak" berkata orangtua itu. Namun Kundala
kemudian bangkit dan berkata lantang "Aku akan pergi dari neraka
ini. Aku merasa tersiksa disini. Jika kau akan membunuhku, bunuhlah.
Aku tidak peduli.” Orang itu segera melangkah ke halaman
meninggalkan serambi rumah Ki Gumrah. Sementara itu Manggada dan
Laksana telah meloncat turun ke halaman. Namun Ki Gumrah hanya
tersenyum saja mengawasi orang yang melangkah menjauh itu. Tetapi
sebelum orang itu sampai ke regol halaman, ia pun telah berhenti dan
membalikkan tubuhnya. Wajahnya tampak sangat tegang. Bahkan katanya
lantang “Kiai. Kenapa kau tidak berbuat sesuatu? Kenapa kau tidak
melempar aku dengan gelang-gelangmu, sehingga tulang leherku patah
dan aku mati disini? Kenapa itu tidak kau lakukan?” "Pergilah.
Pergilah Ki Sanak. Seperti kawanmu yang telah pergi lebih dahulu,
aku sama sekali tidak berkeberatan kau pergi, dan apapun yang akan
kau lakukan kemudian." berkata Ki Gumrah. "Baik. Baik. Aku akan
pergi. Kau kelak tentu akan menyesal." geram orang itu. Ki Gumrah
tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab. Dengan tergesa-gesa orang
itupun telah meninggalkan rumah Ki Gumrah. Sampai hiiang dibalik
regol, orang itu tidak berpaling lagi. Sepeninggal orang itu
Manggada berkata "Bukan saja orang itu yang tidak dapat mengerti,
tetapi kami juga.” "Ya. Justru akulah yang mengerti. Aku tahu bahwa
kebiasaan kita adalah memaksa orang untuk berbicara. Kebiasaan kita,
kita mempergunakan kekerasan dan menyakiti orang lain untuk
memaksanya berbicara, sehingga cara yang lain tidak akan mudah untuk
dimengerti." berkata Ki Gumrah sambil tersenyum. Manggada dan
Laksana hanya termangu-mangu saja. Namun mereka pun ikut
menengadahkan kepala mereka, ketika mereka melihat Ki Gumrah
seakan-akan mencari sesuatu di langit. Manggada dan Laksana
terkejut. Mereka melihat seekor burung elang yang terbang berputaran
di udara. "Elang itu" tiba-tiba Manggada berdesis "Elang dari
lingkaran ilmu hitam". Ki Gumrah mengerutkan dahinya. Dengan ragu ia
bertanya "Kau pernah melihat elang itu?” "Ya. Elang yang dilepaskan
oleh seorang Panembahan yang pernah menggemparkan karena usahanya
untuk membuat pusaka-pusakanya menjadi pusaka yang paling baik
diseluruh muka bumi. Namun dengan cara yang tidak sewajarnya.
Pusakanya harus meneguk darah seratus orang gadis". "Jadi kau
mengenai Panembahan dari dunia hitam itu?" bertanya Ki Gumrah.
"Apakah Kiai juga mengenalnya?" bertanya Laksana tiba-tiba. "Ya" Ki
Gumrah mengangguk-angguk. Namun kemudian kembali ia mengawasi burung
elang yang terbang semakin rendah. Katanya "Kalian benar. Elang itu
tentu bukan burung elang kebanyakan yang sedang mencari anak ayam.
Ujung jari-jari kakinya yang kadang-kadang berkedip itu adalah logam
untuk melengkapi agar elang itu mampu bertempur sesuai dengan
kehendak Panembahan itu". "Ya" sahut Manggada "ujung kaki elang itu
dilengkapi dengan kuku-kuku buatan yang tajam". "Elang itu sedang
mencari Kundala." desis Ki Gumrah. Lalu katanya "Nah, bukankah aku
tidak perlu mengikat dan mencambuk Kundala untuk menanyakan siapakah
yang telah memerintahkannya kemari?” "Panembahan itu?" bertanya
Manggada. "Atau orang lain, namun sejalan dengan ilmu sesat yang
dimilikinya," jawab Ki Gumrah. Manggada dan Laksana menjadi semakin
tertarik. Hampir diluar sadarnya Laksana bertanya "Kiai juga
mengenal Ki Ajar Pangukan atau Ki Pandi?” Ki Gumrah menarik nafas
dalam-dalam. Katanya "Ketika aku melihat kalian bertempur, aku sudah
menduga, meskipun landasan ilmumu bukan dari Ki Ajar Pangukan atau
Ki Pandi, tetapi pada ilmu kalian terdapat bekas tangan mereka.
Semula aku masih ragu-ragu. Tetapi sekarang aku pasti, bahwa kalian
pernah tinggal dirumah Ki Ajar Pangukan". Manggada dan Laksana
mengangguk-angguk, Namun Laksana itupun berkata "Jika Kundala ada
hubungannya dengan Panembahan itu, bukankah ia orang yang sangat
berbahaya?” "Tetapi aku melihat sesuatu yang masih dapat diharapkan
pada Kundala dan mungkin juga kawannya. Perasaannya masih hidup
segar didalam jantungnya, sehingga aku masih berharap bahwa Kundala
tidak benarbenar terbenam dalam putaran perbuatan Panembahan hitam
itu." berkata Ki Gumrah. Lalu katanya "Aku berharap masih ada
sedikit pikiran wajar pada Kundala, sehingga mudah-mudahan dapat
tumbuh dan berkembang dihatinya. Tetapi jika ia tidak mampu
melepaskan diri dari pengaruh sesat itu, maka ia masih orang yang
terbaik dari segalanya yang hitam itu". Manggada dan Laksana
mengangguk-angguk. Tetapi Laksana masih bertanya "Kiai, Panembahan
yang memelihara elang itu adalah seorang yang berilmu sangat tinggi.
Aku tahu, bahwa Kiai pun berilmu tinggi. Tetapi jika ia membawa
pengikut-pengikutnya setataran Kundala, sementara Kiai hanya seorang
diri, apakah Kiai tidak merasa cemas? Mungkin Kiai sama sekali tidak
mencemaskan jiwa Kiai sendiri. Tetapi seandainya Kiai gagal
bertahan, pusaka-pusaka itu akan jatuh ketangan mereka? Apalagi
Panembahan yang gagal membuat kerisnya menjadi pusaka terbaik dimuka
bumi ini memerlukan pusaka lain yang tentunya dapat dianggap lebih
baik dari kerisnya yang haus darah itu. Bahkan darah seratus orang
gadis". Ki Gumrah tidak segera menjawab. Tetapi katanya "Marilah,
kita berbicara di dalam". Ketiganya kemudian masuk keruang dalam.
Manggada dan Laksana membantu membawa mangkuk-mangkuk dan sisa
makanan mereka. Setelah meletakkan mangkuk mangkuk itu di belakang,
maka mereka telah duduk diruang tengah. "Biarlah nanti aku
mencucinya" berkata Ki Gumrah. Mangg'da dan Laksana tidak menyahut.
Namun mereka justru memandangi tirai sentong yang bergerak-gerak
disentuh angin. Namun kemudian terdengar orangtua itu berkata" Aku
tidak memperhitungkan kemungkinan. Panembahan iblis itu akan
mengetahui bahwa aku berada disini". "Apakah Kiai mempunyai hubungan
dengan Panembahan itu?" bertanya Manggada kemudian. Ki Gumrah tidak
segera menjawab. Namun ia justru bertanya "Dimana angger berdua
bertemu dengar. Panembahan itu? Apapula yang telah dilakukannya
dengan kerisnya itu?’ Manggada pun kemudian lelah menceritakan apa
yang pernah dilakukannya berdua dengan Laksana, la pun berceritera
tentang Ki Ajar Pangukan dan Ki Pandi yang bongkok. Manggada tidak
merasa perlu untuk merahasiakan lagi karena menurut pendapatnya. Ki
Gumrah adalah orang yang dapat dipercaya, la bukan seorang yang
berwatak seperti Panembahan Iblis itu. Bahkan sikapnya agaknya lebih
lunak dari Ki Ajar Pangukan dan Ki Pandi. Namun Manggada dan Laksana
masih belum tahu pasti, perbandingan ilmu antara orangtua itu dengan
Panembahan berilmu sesat itu, serta dengan Ki Ajar Pangukan dan Ki
Pantli. Sementara itu Ki Gumrah mendengarkan ceritera Manggada dan
Laksana dengan saksama. Sekali-sekali tampak keningnya berkerut.
Namun kemudian ia mengangguk-angguk kecil. Ketika Manggada selesai
berceritera. Ki Gumrah berkata "Menarik sekali. Ternyata dalam usia
kalian yang muda. kalian telah mengalami banyak hal yang dapat
memperkaya pengalaman kalian. Bukan saja pengalaman lahir tetapi
juga pengalaman batin. Bahkan kalian telah berada di Nguter dan
bersentuhan dengan kuasa Raden Panji Prangpranata. Tetapi apakah
kalian tidak berkeberatan jika aku ingin tahu, siapakah sebenarnya
kalian seutuh nya?” Manggada menarik nafas dalam-dalam. Sejenak
dipandanginya Laksana. Namun Laksana pun tampak bimbang. Tetapi
Manggada yang sudah mempercayai orangtua itu akhirnya berceritera
juga serba sedikit tentang dirinya dan adik sepupunya itu. Orangtua
itu mengangguk-angguk. Namun kemudian ia berkata "Aku belum mengenal
pamanmu itu anak muda. la tentu seorang yang berilmu tinggi". "Tidak
Kiai" jawab Laksana "ayah bukan seorang yang berilmu tinggi seperti
Kiai". Ki Gumrah tertawa. Katanya "Seorang anak kadangkadang memang
tidak sempat melihat kelebihan ayahnya sendiri. Tetapi jika ayahmu
bukan seorang yang berilmu tinggi, maka ia tidak akan dapat
meletakkan dasar ilmunya sedalam yang telah kalian miliki. Meskipun
Ki Ajar Pangukan telah ikut mengasahnya, namun dasar ilmu kalian
telah kuat dan mapan. Hanya orang yang berilmu tinggi sajalah yang
mampu melakukannya atas anak-anak semuda kalian". "Kiai terlalu
memuji" desis Laksana. "Baiklah. Orangtua kalian tentu mengajari
kalian untuk menjadi seorang yang rendah hati. Seorang yang tidak
menyombongkan kemampuannya. Namun melihat apa yang telah kalian
lakukan terhadap orang-orang yang datang itu, maka aku dapat membaca
tingkat kemampuan guru kalian itu." berkata Ki Gumrah. Manggada dan
Laksana tidak menjawab lagi. Sebenarnyalah mereka tidak dapat
mengukur kemampuan guru mereka, ayah Laksana. Ki Gumrah yang telah
mendengar ceritera tentang diri kedua anak muda itu kemudian berkata
"Jika demikian ngger. sebaiknya kalian meneruskan perjalanan kalian.
Ayah angger Manggada tentu sudah menunggu. Dalam perjalanan pulang,
angger berdua telah banyak kehilangan waktu di perjalanan". "Ya
Kiai." jawab Manggada. "tetapi kedatangan Kundala dan kawannya itu
rasa-rasanya telah menahan kami berdua disini. Meskipun barangkali
kami tidak mampu brbuat sesuatu, tetapi rasa-rasanya tidak adil
untuk pergi begitu saja setelah kami menyebut diri kami sebagai
cucu-cucu Kiai". “Aku tahu ngger. Kalian berdua selain memiliki
landasan ilmu yang mantap, juga bukan orang-orang yang mementingkan
diri sendiri. Kalian tidak ingin melihat orang lain mengalami
kesulitan tanpa berbuat sesuatu. Untuk itu aku sangat berterima
kasih. Tetapi akupun tidak dapat membiarkan kalian ikut terjerat
dalam kesulitan-kesulitan yang akan dapat mengancam keselamatan
kalian." jawab orangtua itu. "Mungkin kami akan menjadi beban Kiai.
Tetapi biarlah kami mohon diijinkan tinggal disini barang dua tiga
hari." berkata Manggada kemudian. Ki Gumrah menarik nafas panjang.
Katanya "Persoalanku tidak akan selesai dalam dua tiga hari ini
justru tidak akan terjadi sesuatu. Bagaimana dengan kalian jika
persoalanku ini akan berkepanjangan sampai berbilang tahun".
Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Namun rasa-rasanya
mereka tidak dapat begitu saja meninggalkan rumah itu. Karena itu,
maka Laksana pun kemudian berkata "Kiai. Apapun yang akan terjadi,
biarlah kami tinggal dirumah ini sampai saatnya kami mohon diri.
Kami senang dengan kehidupan dirumah ini. Menyadap legen setiap pagi
dan sore. Membuat gula kelapa dan merebus ketela.” Ki Gumrah menarik
nafas dalam-dalam. Katanya "Baiklah anak-anak muda. Jika kalian
memang ingin tinggal disini. Tetapi sebenarnya aku ingin kalian
tidak terpercik getah dari nangka yang tidak kalian makan". "Kamilah
yang menginginkannya. Kiai" jawab Laksana. "Aku tidak dapat
menolaknya. Selain kalian memang ingin menolong aku, maka kalianpun
ingin mendapatkan pengalaman yang seluas-luasnya. Tetapi sebenarnya
tempat ini tempat yang sangat berbahaya bagi kalian. Bahkan tidak
kalah berbahayanya dengan daerah yang luas dibawah pengaruh
Panembahan Hitam itu. Tidak pula kurang bahayanya dan lingkungan
kuasa Raden Panji Prangpranata yang kehilangan calon isterinya itu."
berkata Ki Gumrah. "Terima kasih Kiai" sahut Manggada dan Laksana
hampir berbareng. Dengan demikian, maka dalam satu dua hari,
Manggada dan Laksana akan berada dirumah itu. Memang mendebarkan,
tetapi keduanya rasa-rasanya berkewajiban untuk melakukannya. Karena
itulah, maka Manggada da Laksana telah sempat membersihkan halaman
depan, yang tampaknya tidak begitu bersih. Memotong dahan yang mulai
mengering dari pepohonan yang tumbuh dihalaman, agar daunnya yang
dengan cepat menguning tidak runtuh dihalaman. Ki Gumrah melihat
kedua anak muda itu dengan jantung yang berdebaran. Keduanya bukan
saja berilmu, tetapi keduanya ternyata anak-anak muda yang rajin
bekerja. Setelah sehari keduanya tinggal dirumah Ki Gumrah, maka
halaman rumah itu kelihatan lebih bersih. Pepohonan-pun seakan-akan
telah dipangkas rapi. Jambangan di pakiwan pun menjadi bersih pula.
Lumut yang kehijauan telah dibersihkan. Batang sirih yang tumbuh
didekat pakiwan dan merambat ke segala penjuru, telah ditertibkan
pula. Meskipun Ki Gumrah tidak makan sirih, tetapi daun sirih adalah
daun yang dapat dibuat berbagai macam obat. Di halaman belakang
empon-empon yang merupakan bagian dari tanaman-tanaman yang mampu
dibuat obat pula, telah disiangi sehingga akan dapat menjadi lebih
subur. Namun ketika malam turun, setelah kedua anak muda itu berada
di pembaringan, mereka masih juga berbisik yang satu kepada yang
lain "Jangan terlalu nyenyak tidur". Tetapi lewat tengah malam, maka
kedua anak muda itu benar-benar telah tertidur nyenyak. Diluar
pengetahuan mereka, ketika Ki Gumrah kemudian keluar dari biliknya.
Dengan sangat hati-hati, orang itu telah duduk diamben yang cukup
besar, tempat Manggada dan Laksana tidur. Ternyata orangtua itu
dapat duduk diamben bambu tanpa berderit dan tanpa membangunkan
kedua anak muda yang tertidur nyenyak itu. Dipandanginya wajah kedua
anak muda yang memang agak mirip yang satu dengan saudara sepupu.
Wajah yang kosong itu tampak bersih, seakan-akan keduanya masih
belum menyentuh gejolak kehidupan yang keras dan kadang-kadang
terasa buas. Ki Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Pada wajah kedua
anak muda itu terbayang masa depan. Diluar sadarnya Ki Gumrah itu
berdesis "Keduanya akan menjadi bagian dari dunia olah kanuragan
dimasa depan. Jika saja ada beberapa orang lagi dari antara mereka
yang berilmu memiliki jiwa seperti anak itu, maka lingkungannya
tentu akan menjadi tenang dan terlindung dari nafsu rendah.”
Beberapa saat Ki Gumrah duduk menunggui kedua anak muda yang tidur
nyenyak itu. Bahkan kemudian seakanakan ia akan melakukannya sampai
pagi. Sambil bersandar dinding, orangtua itu menyilangkan tangannya
didada. Namun tiba-tiba saja dahi orangtua itu berkerut. Telinganya
yang tajam telah menangkap desir halus diluar dinding rumahnya.
Untuk beberapa saat Ki Gumrah tidak berbuat sesuatu, la mendengarkan
saja desir itu menyusuri dinding rumahnya yang tidak terlalu besar
itu. Namun kemudian seakan-akan telah menghilang disudut belakang.
Tetapi Ki Gumrah tahu bahwa desir itu tentu masih belum akan
meninggalkan halaman rumahnya. Bahkan kemudian Ki Gumrah mendengar
bukan saja desir lembut, tetapi desis suara orang berbisik perlahan
sekali. Suara itu jelas dan pasti. Ki Gumrah tahu, bahwa ada lebih
dari seorang diluar rumahnya. Namun Ki Gumrah tidak mendengar apa
yang dibicarakan. Ketika desir langkah orang itu menjauh lagi,
memutari rumahnya, Ki Gumrah bergeser turun dari amben itu dengan
hati-hati. Ia tidak ingin mengejutkan anak-anak muda itu. Tetapi
iapun tidak ingin membiarkan anak-anak muda itu dikejutkan oleh
peristiwa yang tidak mereka ketahui karena mereka masih tertidur
nyenyak. Karena itu, Ketika Ki Gumrah sudah berdiri dilantai
rumahnya, iapun menyentuh Manggada pada kakinya. Manggada memang
terkejut, Ia cepat tanggap akan keadaan. Karena itu, iapun segera
bangkit duduk. Namun sementara itu, Ki Gumrah yang sudah berdiri itu
memberikan isyarat agar Manggada tidak berbicara apapun juga dengan
meletakkan jari-jari tangannya di mulutnya. Manggada mengerutkan
keningnya. Namun kesadarannya telah sepenuhnya dikuasainya. Karena
itu, iapun tidak betanya apapun kepada Ki Gumrah. Bahkan dengan
hati-hati iapun telah turun dari amben. Ki Gumrah memberi isyarat
lagi. bahwa ia masih mendengar sesuatu. Suara itu memang sudah
berpindah lagi didinding bagian depan rumahnya. Bahkan mereka
mendengar suara derit amben di serambi. Agaknya orangorang yang ada
diluar itu telah duduk di amben di serambi rumahnya. Dengan
hati-hati pula Manggada telah membangunkan Laksana. Namun secepat
Laksana bangun, secepat itu pula Manggada memberikan isyarat agar ia
juga tidak bertanya sesuatu. Demikianlah, ketiga orang itupun segera
mengatur diri. Laksana tetap berada di tempatnya, sementara Manggada
akan pergi ke belakang. Sedangkan Ki Gumrah sendiri akan pergi ke
sentong tempat ia menyimpan pusaka-pusaka yang dititipkannya
kepadanya itu. Perlahan-lahan sekali Ki Gumrah berdesis
"Hati-hatilah. Mungkin mereka akan mempergunakan cara lain untuk
mengambil barang-barang berharga itu". Demikianlah mereka bertiga
telah membagi diri. Beberapa saat mereka menunggu. Seperti
diperhitungkan oleh Ki Gumrah maka sejenak kemudian, desir langkah
itu terdengar lagi dan berhenti diluar sentong tempat bendabenda
berharga itu disimpan. Ki Gumrah yang berada di sentong itu duduk
dengan hati yang berdebar-debar. Bahkan Ki Gumrah telah mengatur
pernafasan sebaik-baiknya, agar tidak terdengar oleh orang-orang
yang berada diluar rumahnya. "Dinding sentong ini rangkap" desis
orang yang diluar. "Ya" sahut yang lain sambil berbisik "kita tidak
dapat melihat kedalam. Tetapi tampaknya dinding ini tidak terlalu
kuat". Untuk beberapa saat tidak terdengar mereka berbicara lagi.
Tetapi Ki Gumrah dengan pendengarannya yang sangat tajam masih
mendengar tarikan nafas mereka. Karena itu, Ki Gumrah tahu bahwa
orang-orang yang ada diluar rumahnya itu sedang melihat kemungkinan
untuk merusak dinding sentong itu. Tetapi sejenak kemudian terdengar
seorang diantara mereka berkata "Apakah kita akan membuat lubang
dibawah dinding untuk masuk?” "Rumah ini diberi sasak bambu
berkeliling. Jika menggali tanah dibawah dinding, maka galian itu
tentu akan panjang sekali sampai keruang tengah rumah ini." jawab
yang lain. "Jadi apa yang kita lakukan?" bertanya orang yang pertama
Mereka kembali diam. Namun tiba-tiba tiang di sudut sentong itu
berguncang. Agaknya salah seorang diantara mereka mencoba untuk
mengetahui kekuatan tiang bambu disudut sentong itu. Tetapi agaknya
orang-orang itu tidak memperhatikan, bahwa tiang itu dipergunakan
oleh Ki Gumrah untuk menyangkutkan palang bambu jemuran yang
meskipun tidak panjang, namun telah mengguncang cabang sebatang
pohon waru pula, karena ujung bambu itu terikat pada pohon waru itu.
Guncangan itu sendiri tidak menimbulkan bunyi terlalu keras dan
tidak akan membangunkan orang yang sedang tidur nyenyak. Tetapi
karena bambu itu tidak terlalu kuat terikat pada tiang sentong di
bagian luar itu, maka bambu jemuran itu telah terjatuh hampir saja
menimpa orang yang mengguncang tiang itu, sehingga orang itu telah
meloncat ke samping. Bunyi bambu yang terjatuh itu telah menghentak
sepinya malam, Terdengar orang yang ada diluar itu mengumpat. Namun
kemudian terdengar langkah cepat menjauh. Agaknya bambu yang
terjatuh itu telah mengejutkan orang-orang yang ada diluar rumah Ki
Gumrah, sehingga mereka telah dengan tergesa-gesa meninggalkan rumah
itu, yang berkemampuan tinggi, tentu akan terbangun juga Manggada
dan Laksana yang juga terkejut mendengar suara itu, dengan serta
merta telah berlari ke sentong tempat Ki Gumrah menyimpan
pusaka-pusaka yang dititipkan kepadanya itu. Keduanya menarik nafas
dalam-dalam ketika mereka melihat Ki Gumrah masih duduk dengan
tenang menunggui pusaka-pusaka itu. "Aku mendengar suara" desis
Manggada. "Sepotong bambu yang terjatuh diluar" jawab Ki Gumrah.
"Dan suara orang berjalan tergesa-gesa" sambung Laksana. "Kita
kehilangan mereka" berkata Ki Gumrah "aku berharap mereka masuk ke
sentong itu. Aku ingih berbicara dengan mereka. Tetapi karena
ketergesa-gesaan mereka, atau kurang berhati-hati, maka bambu
jemuran itu telah terjatuh." jawab Ki Gumrah. Manggada dan Laksana
mengangguk-angguk. Namun mereka tidak bertanya lagi. Apalagi Ki
Gumrah kemudian telah mengajak anak-anak muda duduk diruang dalam.
"Ternyata mereka begitu cepat kembali. Meskipun mungkin bukan
Kundala dan kawannya yang datang sebelumnya. Tetapi orang yang
memerintahkan mereka mengambil pusaka-pusaka itu tentu sudah
mendapat laporan tentang kegagalan yang dialami oleh Kundala dan
kawannya." berkata Ki Gumrah. "Bukankah mereka sangat berbahaya bagi
Kiai" desis Manggada. "Sayang sekali bahwa aku tidak dapat berbicara
dengan orang-orang yang datang itu" desis Ki Gumrah. Manggada dan
Laksana mengangguk-angguk kecil. Nmaun Manggada kemudian berkata
"Kiai. Besok atau lusa, mereka tentu akan datang lagi. Mungkin
dengan cara sebagaimana dilakukan hari ini. Tetapi mungkin dengan
cara yang lebih kasar. Karena itu, apakah Kiai tidak mempunyai cara
lain untuk menyelamatkan pusaka-pusaka Itu? Apakah Kiai pernah
berhubungan dengan Ki Bekel atau Ki Demang, sehingga Kiai akan
mendapatkan perlindungan. Maksudku, dengan jumlah yang banyak.
Anak-anak muda dipadukuhan ini akan dapat membantu Kiai menjaga
pusaka-pusaka itu". Ki Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Katanya
"Angger berdua. Sebenarnya aku tidak ingin melibatkan banyak orang
dalam hal ini. Coba bayangkan, seandainya anak-anak muda padukuhan
ini terlibat, maka persoalannya akan berkembang semakin jauh. Jika
orang yang memelihara burung elang itu datang bersama sepuluh orang
saja, maka anak-anak muda di padukuhan itu tentu akan dibantai
habis. Nah, apakah aku masih akan dapat tidur nyenyak dan makan
minum dengan enak jika hal seperti itu terjadi? Bukan hanya untuk
satu dua hari. Tetapi tentu sepanjang hidupku". "Bagaimana jika Kiai
meninggalkan tempat ini dan tinggal ditempat lain? Minta
perlindungan prajurit Pajang misalnya?" bertanya Laksana. "Apakah
aku masih harus menjadi beban tugas para prajurit yang sudah
mempunyai beban tugas yang berat? Memang tugas prajurit adalah
melindungi rakyatnya. Tetapi aku tidak tahu apakah pusaka-pusaka itu
tidak malah menimbulkan persoalan? Jika para prajurit itu
memerintahkan aku menyerahku, pusaka-pusaka itu, maka aku akan
menjadi semakin bingung. Apa yang dapat aku katakan kepada
pemiliknya kepadaku." desis Kiai Gumrah. "Kiai dapat berterus-terang
bahwa pusaka-pusaka itu telah mengancam keselamatan Kiai. Apakah
Kiai harus mengorbankan jiwa Kiai untuk mempertahankan pusakapusaka
yang sekadar titipan, sementara yang menitipkan pusaka-pusaka itu
tidak mengetahui bahaya yang datang kerumah ini? Orang yang
menitipkan pusaka-pusaka itu dapat saja marah, menuntut atau
menganggap Kiai tidak memegang janji. Tetapi apakah ia tahu apa yang
telah terjadi dengan Kiai?" bertanya Manggada. Ki Gumrah menarik
nafas dalam-dalam. Katanya "Pendapat itu wajar sekali ngger. Tetapi
aku tidak dapat melakukannya". "Kenapa? Sampai sejauh mana orang
harus memegang janji kepada seseorang yang tidak mau tahu tentang
kesulitan-kesulitan kita." desak Laksana. "Sudahlah" jawab orangtua
itu "penalaranku tidak menolak pendapat itu. Tetapi perasaanku tidak
dapat melakukannya. Jika angger berdua bertanya keseimbangan antara
penalaran dan perasaan, maka aku akan menjadi semakin bingung.
Tetapi rasa-rasanya aku tidak dapat melakukannya.” Manggada dan
Laksana tidak mendesak lagi. Tampaknya orang tua itu tidak ingin
mengganggu orang lain sebagaimana mereka berdua yang didesak untuk
meninggalkan rumah itu saat rumah itu akan didatangi Kundala dan
kawannya untuk mengambil benda-benda yang berharga sangat tinggi
itu. "Sudahlah" berkata orang tua itu kemudian "sekarang kembalilah
ke pembaringan. Masih ada waktu untuk tidur". "Apakah Kiai tidak
akan tidur?" bertanya Laksana. "Aku akan tidur disini saja" berkata
Ki Gumrah sambil mengambil segulungan tikar di sudut bilik itu dan
membentangkannya di sebelah ploncon tempat bendabenda yang sangat
mahal itu diletakkan. Manggada dan Laksana pun segera kembali ke
amben mereka dan berbaring di tempat semula. Namun mereka tidak
segera dapat tertidur nyenyak. Meskipun keduanya tidak berbicara
diantara mereka, namun angan-angan mereka masih saja diliputi oleh
berbagai macam pertanyaan tentang pusaka-pusaka yang dihiasi dengan
permata dan orang yang menitipkannya. "Aku tidak yakin bahws emas
dan permata itu hanya tiruan" berkata Manggada tiba-tiba hampir
berbisik. Laksana yang berbaring menelentang menatap atap, berpaling
sambil berdesis perlahan "Ya. Agaknya orang tua itu bermaksud
berhati-hati. Orang itu belum mengenal kita dengan baik, sehingga ia
sengaja menyebut emas dan permata itu hanya tiruan". Keduanya
terdiam. Sementara itu, diluar suara cengkerik dan bilalang
bersahutan: Sekali-sekali terdengar gonggong anjing liar dikejauhan
Namun akhirnya Manggada dan Laksana sempat tertidur lagi beberapa
saat. Pagi-pagi benar, kedua anak muda itu sudah terbangun. Tetapi
ternyata Ki Gumrah telah bangun lebih dahulu. Karena itu, ketika
keduanya kemudian duduk di amben tempat mereka tidur, Ki Gumrah
berkata "Nah, mandilah. Aku sudah menjelang air. Hampir mendidih.
Aku membuat wedang sere". Kedua anak muda itupun kemudian pergi ke
pakiwan. Bergantian mereka menimba air dan mandi. Sejenak kemudian
keduanya telah duduk di serambi sambil menghirup wedang sere dengan
gula kelapa yang masih hangat. Disilirnya angin pagi yang sejuk,
terasa tubuh-tubuh mereka menjadi segar. "Nah" berkata orangtua itu
"sekarang aku akan mengambil legen dan menurunkannya selagi masih
pagi". "Kiai akan membuat gula hari ini?" bertanya Manggada.
"Bukankah itu pekerjaanku sehari-hari?” Ki Gumrah justru bertanya
sambil tersenyum. "Apakah aku boleh mencoba mengambil legen itu
Kiai?" bertanya Laksana. "Jangan ngger. Jika kita salah memotong
ujung manggar itu, maka legen itu tidak akan menitik dan bahkan
mungkin akan kering untuk selanjutnya." jawab Ki Gumrah. Manggada
dan Laksana tidak bertanya lagi. Sementara Kiai Gumrah pergi ke
kebun dan memanjat beberapa batang pohon kelapa, kedua anak muda itu
seperti hari-hari yang lewat, membantu membersihkan halaman dan
kebun yang nampak menjadi semakin bersih itu. Untuk beberapa saat
mereka dapat bekerja dengan tenang. Ki Gumrah dengan tangkasnya
memanjat batangbatang pohon kelapa, sementara Manggada dan Laksana
telah memotong pohon-pohon perdu yang hanya membuat kebun menjadi
tampak kotor dan bersemak. Namun ketika Ki Gumrah telah menyimpan
legen didapur untuk dipanasi, maka orangtua itu mulai menjadi
gelisah. Semula Manggada dan Laksana tidak tahu. kenapa orangtua itu
beberapa kali keluar masuk dapur. Namun kemudian keduanya melihat Ki
Gumrah itu setiap kali menengadahkan wajannya. Manggada dan Laksana
pun segera mengetahui. Ternyata orangtua itu telah melihat lagi
burung elang yang terbang mengitari rumah itu. Bahkan sekali-sekali
menukik rendah, kemudian naik lagi berputaran. Kedua anak muda
itupun kemudian telah berdiri di halaman belakang untuk melihat
burung elang yang terbang berputaran itu. Ki Gumrah menarik nafas
dalam-dalam. Hampir diluar sadarnya ia berkata "Kenapa orang itu
masih saja dikendalikan oleh ketamakan hatinya?” Manggada dan
Laksana memang menduga, bahwa Ki Gumrah dan orang yang memiliki
burung elang itu telah saling mengenal dan mempunyai hubungan
khusus. Tetapi kedua anak muda itu tidak akan dengan mudah
mengetahui lebih banyak tentang Ki Gumrah, karena orangtua itu tidak
begitu terbuka hatinya. Namun ketika burung elang itu kemudian
terbang menjauh, Ki Gumrah itu berpaling, memandang kedua anak muda
itu dengan tatapan mata yang redup. Sambil melangkah mendekati Ki
Gumrah berkata "Anak-anak muda. Sebenarnya aku masih ingin
mempersilahkan kalian meninggalkan tempat ini. Tetapi aku tahu
pasti, bahwa kalian agaknya memang tidak berniat untuk pergi". "Kami
memang ingin berada disini untuk beberapa lama Kiai" jawab Manggada.
"Kalian lihat burung elang itu lagi?" bertanya Ki Gumrah. "Ya" jawab
Manggada. "Burung itu berputar lebih dari empat kali. Menukik
seakan-akan ingin menyambar rumah ini, kemudian terbang lagi dan
berputar lima kali. Sekali lagi burung itu menukik. Kemudian
berputar-putar lagi" berkata orangtua itu. "Kiai sempat menghitung?
Apakah hitungan itu ada artinya?" bertanya Manggada. "Adalah
kebetulan bahwa aku juga mengenali isyarat itu. Dari kejauhan,
pemilik burung itu atau orang yang dipercayainya melihat pula
isyarat itu?" jawab Ki Gumrah. "Apakah arti isyarat itu?” bertanya
Laksana. "Aku tidak tahu dengan tepat, Namun elang itu mengatakan
bahwa yang dicari masih ada disini. Rumah ini masih belum
dikosongkan." jawab Ki Gumrah. "Bagaimana jika kita berada didalam
rumah?" bertanya Laksana pula. "Elang itu tahu. Mungkin nalurinya
lebih tajam dari kita, sehingga elang itu dapat mengetahui apakah
sebuah rumah itu kosong atau ada penghuninya. Bahkan seandainya
penghuninya tidak sedang berada di rumah." berkata Ki Gumrah.
Manggada dan Laksana menjadi semakin yakin, bahwa Ki Gumrah
mempunyai hubungan yang lebih dekat dengan orang yang memiliki
burung elang itu, meskipun mungkir, hubungan itu adalah hubungan
permusuhan. Selagi Manggada dan Laksana termangu-mangu, maka orang
itupun berkata "Anak-anak muda. Menilik isyarat yang diberikan oleh
burung elang itu, maka kita memang harus lebih berhati-hati.
Sebenarnya aku ingin kalian tidak usah terlibat semakin jauh.
Bukankah orangtua kalian masih selalu menunggu kalian pulang dengan
membawa ilmu dan pengetahuan tentang hidup dan kehidupan? Jika
kalian tertahan disini untuk satu keperluan yang tidak ada sangkut
pautnya dengan kalian, maka orangtua kalian tentu akan sangat
kecewa". Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Namun
Manggada pun kemudian berkata "Tidak Kiai. Jika ayah minta agar aku
mempelajari ilmu dan pengetahuan, sudah barang tentu tidak hanya
sekedar memiliki ilmu dan pengetahuan itu harus aku terapkan dalam
kehidupan sehari-hari". Orangtua itu mengangguk-angguk. Namun
kemudian katanya "Baiklah. Aku memang tidak berkeberatan kalian
tinggal disini. Mungkin kalian akan mendapatkan pengalaman yang
penting bagi kalian dihari depan. Tetapi kalianpun harus tahu bahaya
yang dapat mencengkam kalian setiap saat.” "Itu adalah kemungkinan
yang harus kami perhitungkan Kiai" jawab Manggada. Namun pembicaraan
mereka terputus, ketika tiba-tiba saja seseorang mengendap-endap
melingkari rumah Ki Gumrah dan langsung pergi ke belakang. "Kau?"
desis Ki Gumrah sedikit terkejut. "Ya Kiai. Kiai tidak lupa
kepadaku?" bertanya orang itu. "Baru kemarin kau datang. Sudah tentu
aku tidak lupa" jawab Ki Gumrah. "Kundala" desis Manggada. "Ya. Aku
hanya sempat singgah sesaat saja. Itupun aku harus menyembunyikan
diri dari penglihatan burung elang keparat itu." jawab Kundala. Ki
Gumrah mengangguk-angguk. Namun sambil tersenyum ia berkata "Jika
demikian elang itu tentu mengawasi perjalananmu". "Ya. Aku mendapat
perintah dari Ki Lurah untuk melihat-lihat keadaan pasar. Ki Lurah
telah berhubungan dengan seseorang. Aku harus menemui orang itu dan
membawanya menemui Ki Lurah." jawab Kundala. "Mana orang itu
sekarang?" bertanya Ki Gumrah. "Aku belum sampai ke pasar. Aku telah
berusaha untuk melepaskan diri dari pengamatan burung itu. Tampaknya
burung itupun curiga bahwa aku akan datang kemari." berkata Kundala
dengan gelisah. "Jika demikian, dugaanku salah. Aku kira aku dapat
menebak tingkah laku elang itu. Aku kira elang itu memberi isyarat
bahwa rumah ini masih berpenghuni" berkata Ki Gumrah sambil tertawa
kecil. "Ya. Kiai benar" jawab Kundala "aku melihat sikap elang itu
dari kejauhan. Selain mengabarkan bahwa aku tidak berada disini,
maka elang itu juga mengatakan bahwa rumah ini masih berpenghuni".
"Darimana kau tahu" bertanya Manggada. "Aku melihatnya dari
kejauhan, dari bawah sebatang pohon gayam." jawab Kundala. Ki Gumrah
mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian bertanya "Lalu. apa
sebenarnya maksudmu datang kemari". Orang itu termangu-mangu
sejenak. Namun kemudian katanya “Ki Lurah akan mengambil pusaka itu
sendiri. Maksudku, ia sendiri akan datang kemari bersama orang yang
harus aku jemput di pasar.” "Siapa yang kau sebut Ki Lurah itu?
Seorang yang mengaku Panembahan?" bertanya Ki Gumrah. "Tidak" jawab
orang itu "tetapi ia menyebut dirinya Kiai Windu Kusuma. Tetapi aku
memang sering mendengar Kiai Windu Kusuma menyebut-nyebut tentang
seorang Panembahan. Tetapi bukan dirinya sendiri.” Ki Gumrah menarik
nafas dalam-dalam. Dengar, nada rendah ia berkata "Apa sebenarnya
yang mereka kehendaki?” "Sudah jelas Kiai. Pusaka pusaka itu" jawab
Kundala "karena itu sebaiknya Kiai meninggalkan tempat ini sebelum
senja. Jika langit menjadi gelap, maka aku kira burung itu tidak
akan dapat mengawasi perjalanan Kiai sebaik-baiknya. Kemanapun asai
meninggalkan rumah ini.” "Tetapi aku tidak dapat pergi kemanapun.
Seandainva nanti menjelang senja aku pergi, akhirnya aku harus
kembali lagi." desis Kiai Gumrah. "Tetapi menilik apa yang ada di
rumah ini maka yang paling berharga adalah pusaka-pusaka itu dan
nyawa Kiai sendiri. Nyawa Kiai tentu lebih berharga dari
perabotperabot rumah yang sederhana ini. Kiai dan cucu-cucu Kiai
akan dapat membawa pusaka-pusaka itu kemanapun" berkata Kundala.
Lalu katanya pula. "Kiai dapat mengalahkan kami berdua. Tetapi jika
Ki Lurah sendiri dan seorang kawannya yang aku jemput di pasar nanti
yang datang kemari, tentu Kiai dan kedua cucu Kiai akan mengalami
kesulitan. Apalagi jika mereka membawa kami berdua dan seorang kawan
kami yang lain. Maka kami berlima, tentu tidak akan dapat Kiai lawan
bersama kedua cucu Kiai itu.” Kiai Gumrah mengangguk-angguk kecil.
Katanya "terima kasih. Aku mengucapkan terima kasih yang
sebesarbesarnya kepadamu, bahwa kau telah memberitahukan kepadaku,
bahaya yang sedang mengintip rumah ini. Baiklah. Aku akan
memikirkannya sebaik-baiknya.” "Aku mohon Kiai mengerti" berkata
Kundala yang segera minta diri "sudahlah. Aku harus pergi ke pasar.”
Kundala tidak menunggu jawaban. Iapun segera meninggalkan Ki Gumrah
dan kedua orang anak muda yang ada dirumah itu pula. Sekali-sekali
Kundala masih menengadahkan kepalanya untuk melihat apakah burung
elang yang menghantuinya itu masih nampak dilangit. Namun agaknya
elang itu benar-benar telah pergi. Sehingga dengan demikian maka
Kundala dapat berjalan cepat-cepat menuju ke pasar. Meskipun ia
sadar, bahwa tentu ada orang yang mengamati isyarat burung elang
itu. Tetapi tentu tidak dari jarak yang terlalu dekat. Sepeninggal
Kundala, Ki Gumrah menarik nafas dalamdalam. Namun katanya "Aku
harus segera membuat gula. Aku harus segera menyerahkan kepada
pedagang gula itu. Nampaknya kita memang harus segera mengambil
keputusan.” "Aku sependapat dengan orang itu Kiai" berkata Manggada
"Kiai harus menyelamatkan pusaka-pusaka itu.” "Nanti sajalah kita
bicarakan. Sekarang bantu aku membuat gula. He, sebaiknya kalian
ambil ketela pohon dan mengupasnya. Nanti kita masukkan lagi kedalam
legen setelah aku hampir selesai" berkata Ki Gumrah. Manggada dan
Laksana saling berpandangan sejenak. Berita yang dibawa Kundala itu
bagi mereka merupakan berita yang penting. Yang harus mereka
tanggapi dengan sungguh-sungguh. Tetapi orang tua itu masih saja
sibuk dengan gulanya. Namun Manggada dan Laksana pergi juga ke kebun
untuk mencabut sebatang pohon ketela yang dianggapnya berakar besar
dan lebat. Namun keduanya masih juga berbincang tentang orangtua
itu. "Orang yang aneh" berkata Manggada "jika orang yang akan datang
itu memiliki ilmu lebih baik dari Kundala, maka orang itu tentu
sangat berbahaya. Apalagi jika ia tidak datang seorang diri.”
Laksana mengangguk-angguk. Katanya "Apakah Ki Gumrah terlalu yakin
akan kemampuannya sehingga ia menganggap ilmu orang lain terlalu
rendah?” "Tetapi bukan sifatnya. Menilik apa yang dilakukan dan apa
yang dikatakan, ia bukan orang yang meremehkan orang lain" jawab
Manggada. "Ya. Tetapi nampaknya kita tidak akan dengan mudah
mengetahui latar beiakang sikapnya" berkata Laksana kemudian. "Aku
menjadi semakin tertarik untuk mengetahuinya meskipun sangat
berbahaya" berkata Manggada. "Ya. Aku juga tidak ingin menghindar.
Tetapi dengan kemungkinan yang sangat buruk. Kita akan dapat tidak
keluar dari rumah ini untuk selama-lamanya" desis Laksana. Manggada
mengangguk-angguk. Bahkan iapun berdesis "Sementara itu kita tidak
tahu, kenapa kita tertahan disini selain sekedar ingin tahu.” Namun
kedua anak muda itu kemudian sepakat untuk tidak meninggalkan ramah
itu, setidak-tidaknya sampai senja. Mereka masih mendapat kesempatan
untuk berpikir beberapa lama. Karena itu, maka keduanyapun telah
mengupas ketela pohon yang kemudian mereka cuci di sumur. Ketika
mereka sampai di dapur, orang tua itu masih sibuk memanasi bakal
gula kelapanya. Keringatnya nampak membasahi kening dan lehernya.
Namun orang itu sambil tersenyum berkata "Nah, kita akan
memasukkannya nanti. Letakkan saja dipagar itu. Kalian dapat
menunggu di serambi depan.” "Aku ingin membantu membuat gula itu
Kiai" jawab Manggada. Orang tua itu tertawa. Tetapi ia tidak
mengusir kedua orang anak itu. -ooo0dw0oooKKa aar
rryyyaaaSSSHMiiinnntttaaarrrdddjjjaaa
SSSeeerrriiiArrryyyaaaMaaannnggggggaaadddaaa333 SSaanngg
PPeenneerruuss Sumber djvu : Ismoyo Convert, editor & ebook oleh
: Dewi KZ Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ http://kang-zusi.info/ http://cerita-silat.co.cc/ http://dewi-kz.com/ SH MINTARDJA SERI
Arya Manggada-III "Sang Penerus" Dicetak dan diterbitkan oleh :
Badan Penerbit Kedaulatan Rakyat Yogyakarta. Seri Arya Manggada III
Sang Penerus Karya : S.H. Mintardja Gambar kulit : Andang S.
Illustrasi : Andang S. Jilid : 2 Cetakan : Pertama 1990 Hak cipta
dilindungi oleh Undang-undang Kenangan atas bapa tercinta bingkisan
untuk ibu, isteri, anak-anak serta keluarga
tersayang
Buku 2 MANGGADA dan Laksana memang
membantu orang tua itu. Ketika legen itu menjadi kental, maka orang
tua itu mulai menuangnya kedalam tempurung yang memang dibuat untuk
mencetak gula kelapa itu. Tetapi legen yang sudah mengental itu
disisakan sedikit didalam kuali, untuk merebus ketela pohon yang
sudah dikukus dan dibersihkan. Beberapa saat kemudian, ketiga
orang itu telah duduk diruang dalam sambil menikmati ketela yang
terasa sangat manis. Namun setiap kali Manggada dan Laksana
menyinggung-nyinggung tentang kemungkinan datangnya orang-orang
seperti yang dikatakan oleh Kundala, Ki Gumrah selalu saja
menghindar. "Nanti saja kita bicarakan. Jika kita berbicara sambil
makan, maka ketela pohon ini rasanya jadi lain" desis orang tua itu.
Akhirnya Manggada dan Laksana tidak lagi berusaha untuk berbicara
tentang kedatangan orang-orang yang dikatakan oleh Kundala itu.
Bahkan beberapa saat kemudian, maka Ki Gumrah itu bangkit sambil
berkata "Aku harus menyerahkan gula itu kepada pedagang disebelah.
Jika ia sudah terlanjur membawa gulanya ke pasar, maka aku harus
menunggu lagi sampai besok." "Tetapi bukankah hari telah siang?
Pedagang gula itu tentu sudah berangkat ke pasar" desis Manggada.
"Ia tidak menjual sendiri gulanya dipasar. Ia tidak memasokkan
gulanya kepada pedagang yang lebih besar, sehingga ia tidak harus
berangkat pagi-pagi ke pasar." jawab Kiai Gumrah. Manggada dan
Laksana tidak menjawab lagi. Tetapi bagi mereka, orang tua itu
memang orang tua yang aneh. Sikapnya sulit dimengerti. Beberapa saat
kemudian, orang tua itu telah sibuk menghitung gulanya dibelakang
sambil berlagu. Dengan demikian, maka orang tua itu tidak kehilangan
angka selama ia menghitung. Ketika Ki Gumrah kemudian membawa
gulanya yang ditempatkannya dalam keranjang, maka iapun berpesan
"Tolong, tunggu rumah ini. Tidak akan terjadi apa-apa disiang hari."
Manggada dan Laksanapun kemudian duduk diserambi depan rumah itu
sambil memandangi pepohonan di halaman yang mulai nampak bersih.
Dari sela-sela pintu regol yang terbuka, mereka melihat beberapa
orang berjalan di jalan yang tidak terlalu lebar dimuka rumah itu.
Namun dinding halaman Ki Gumrah memang tidak terlalu tinggi. Seperti
dinding rumah disebelah menyebelahnya, yang pada umumnya bukan
rumah-rumah yang baik dan besar, memang tidak terlalu tinggi dan
sederhana. Tidak lebih dari pecahan batu kali yang dilekat pakai
tanah liat. Dalam pada itu kedua orang anak muda itu ternyata
menunggu terlalu lama. Tidak seperti yang pernah dilakukan oleh
orang tua itu sebelumnya, yang hanya memerlukan waktu beberapa saat.
Tetapi ketika itu rasarasanya Manggada dan Laksana sudah menunggu
cukup lama diserambi. Namun Ki Gumrah tidak segera juga kembali.
"Apakah Ki Gumrah menyusul pergi ke pasar setelah pedagang gula itu
tidak ditemuinya dirumah?" desis Laksana. "Memang mungkin. Mungkin
Ki Gumrah juga ingin melihat, siapa yang telah ditemui oleh Kundala"
sahut Manggada. "Tetapi jaraknya sudah terlalu lama. Kundala datang
kemari sebelum Ki Gumrah mulai membuat gula" gumam Laksana kemudian.
Manggada memang mengangguk-angguk. Namun ia masih menjawab "Kundala
masih harus mencari orang itu diantara orang sepasar. Tetapi agaknya
jaraknya memang terlalu jauh." Manggada dan Laksana yang masih saja
duduk di serambi itu menjadi gelisah. Tetapi keduanyapun kemudian
turun kehalaman. Beberapa saat mereka memperhatikan sebatang pohon
sawo yang buahnya cukup lebat dan bahkan sudah cukup tua untuk
dipetik. "Aku akan memanjat pohon sawo ini saja." berkata Laksana.
Manggada termangu-mangu. Namun sebelum Laksana mulai naik, Ki
Gumrahpun telah datang. Sambil tertawa ia berkata "Kalian menunggu
terlalu lama? Ternyata pedagang gula itu sudah pergi. Aku memang
harus pergi ke pasar." Tetapi Manggada segera menyambut "Apakah Kiai
ingin melihat orang yang ditemui Kundala?" Ki Gumrah mengerutkan
dahinya. Namun iapun kemudian tersenyum sambil menjawab "Ternyata
panggraita-mu tajam ngger. Aku memang ingin melihatnya." "Dan Kiai
berhasil melihat orang itu?" bertanya Manggada. Kiai Gumrah
menggeleng sambil menjawab "Tidak ngger. Aku terlambat. Agaknya
mereka telah pergi. Aku hanya sempat melihat burung elang itu."
"Kiai melihat burung elang itu lagi?" bertanya Laksana. "Ya. Aku
melihat kemana arah burung itu terbang sambil berputaran. Tentu
perjalanan Kundala dan orang yang telah ditemuinya di pasar itu."
jawab Ki Gumrah. Manggada dan Laksana berpandangan sejenak. Dengan
dahi yang berkerut Manggada berkata "Kiai, seharusnya Kiai
memperhatikan kemungkinan yang dapat terjadi malam nanti. Nampaknya
apa yang dikatakan Kundala akan dapat menjadi ancaman yang sbenarnya
bagi Kiai." Kiai Gumrah mengangguk-angguk kecil. Wajahnya nampak
bersungguh-sungguh. Dengan nada rendah ia berkata "Sebenarnya aku
justru memikirkan kalian berdua, tetapi agaknya aku tidak akan
berhasil mengusir kalian." "Apakah Kiai masih akan tetap bertahan?
Nama Windu Kusuma dan orang yang sedang dijemput Kundala adalah
orang-orang yang benar-benar harus Kiai pertimbangkan." berkata
Manggada. Kiai Gumrah menarik nafas panjang. Katanya "Kalian sudah
mengetahui sikapku. Seharusnya kalian tidak mendesak lagi." Manggada
dan Laksana terdiam. Nampaknya hati orang tua itu telah mengeras.
Untuk beberapa saat suasana menjadi hening. Namun tiba-tiba orang
tua itu berkata dengan nada tinggi "Hari sudah cukup siang. Aku
harus mulai bekerja didapur. Menanak nasi dan menyiapkan
laukipauknya. Tolong kau petik sayuran dikebun." Orang tua itu tidak
menunggu jawaban Manggada dan Laksana. Iapun segera masuk ke
rumahnya dan langsung pergi ke dapur. Diambilnya beras dan dibawanya
kesumur untuk dicuci sebelum ditanak. Sementara itu Manggada dan
Laksana sudah berada di kebun. Sambil memetik kacang panjang
Manggada berkata "Kita benar-benar telah melihatkan diri dalam satu
persoalan yang tidak kita mengerti dengan jelas. Kau benar. Mungkin
kita tidak akan dapat keluar lagi dari rumah ini." "Apaboleh buat.
Kita agaknya telah terjebak dalam putaran keingintahuan kita
terhadap persoalan yang terjadi disini. Tetapi selain itu,
rasa-rasanya tidak adil untuk membiarkan Kiai Gumrah mengalami nasib
buruk bukan karena pokalnya sendiri. Ia menerima titipan itu agaknya
dengan maksud baik. Tetapi titipan itu telah membuatnya mengalami
kesulitan dihari tuanya. Sementara itu Kiai Gumrah sendiri sama
sekali tidak bersedia melepaskan tanggung jawabnya atas
barang-barang titipan yang menjadi tidak jelas itu." sahut Laksana.
Manggada tidak menjawab lagi. Mereka melihat orang tua, itu datang
kepada mereka. Sambil tersenyum orang tua itu berkata "Apakah kalian
telah mendapatkannya?" "Ya Kiai. Segenggam kacang panjang." "Itu
sudah cukup. Dengan kulit melinjo dan sedikit daunnya yang masih
muda, kita akan mendapatkan sekuali sayur lodeh." berkata orang tua
itu. Merekapun kemudian telah meninggalkan kebun dan pergi ke dapur.
Manggada dan Laksana telah mencoba membantu orang tua itu untuk
masak didapur. Hari itu, mereka bertiga tidak mengalami sesuatu
dirumah itu. Tidak ada orang yang datang apalagi untuk, mengambil
pusaka-pusaka yang dititipkan dirumah itu. Namun sebelum senja Kiai
Gumrah itupun berkata "Angger berdua. Sebentar lagi kami akan
mendapat dua orang tamu. Mereka adalah tetangga sebelah.
Kawankawanku berjualan gula. Selain keduanya, juragan gula yang
sering mengambil gulaku itu juga akan datang kemari. Kami sepakat
untuk berjaga-jaga semalam suntuk. Hari ini adalah hari lahirku.
Umurku telah genap delapan windu. Jika aku seorang berada maka aku
akan mengadakan peringatan tumbuk ageng." "Jadi Kiai sudah genap
berumur delapan windu?" bertanya Manggada. "Ya. Umurku genap delapan
windu." jawab orang tua itu. "Dan Kiai masih juga setiap hari pagi
dan sore memanjat batang kelapa untuk menyadap legennya." sambung
Laksana. Orang tua itu tersenyum. Sementara Manggada berkata pula
"Bukan hanya menyadap legen. Tetapi Kiai masih dapat menundukkan
Kundala dan kawannya itu." "Sudahlah. Tetapi nanti malam aku akan
makan bersama mereka meskipun seadanya. Sebenarnya aku tidak pernah
mengingat-ingat peringatan delapan windu itu. Tetapi mereka justru
ingat dan tanpa aku undang, mereka hertiga berniat untuk datang."
berkata Kiai Gumrah kemudian. Kedua anak muda itu mengangguk-angguk.
Sementara itu maka Ki Gumrahpun telah minta Manggada dan Laksana
menangkap seekor ayam yang cukup besar tetapi belum terlalu tua
untuk dipersiapkan menjadi hidangan makan bagi ketiga orang tamunya.
Ketika senja turun, maka bertiga seisi rumah itu menjadi sibuk.
Mereka telah menyiapkan hidangan untuk tamutamu yang bakal ikut
berjaga-jaga memperingati delapan windu umur Kiai Gumrah. Selain
menyiapkan nasi dan lauk pauknya. Kiai Gumrah juga telah merebus
ketela pohon dengan legen. Bahkan bukan hanya ketela pohon, tetapi
juga sukun yang dipetiknya dari pohonnya di kebun belakang. Namun
dalam pada itu, ketika Manggada dan Laksana berdua saja didapur,
maka Manggada itupun berkata "Kau percaya bahwa mereka datang untuk
memperingati delapan windu umur Kiai Gumrah itu?" "Aku sedang
memikirkannya" jawab Laksana. "Nampaknya ini adalah satu cara Kiai
Gumrah untuk membuat rumah ini tidak terlalu sepi. Jika keempat
orang itu berjaga-jaga semalam suntuk, maka orang-orang yang akan
datang memaksakan kehendaknya itu harus berpikir ulang. Orang-orang
yang datang itu harus memperhitungkan kehadiran tetangga-tetangga
Kiai Gumrah yang akan dapat mengganggu tugas mereka." berkata
Manggada meskipun agak ragu. "Tetapi jika orang-orang yang datang
itu orang-orang sebiadab Panembahan Lebdadadi, apakah tamu-tamu Kiai
Gumrah itu tidak akan mengalami nasib buruk? Orang itu tidak akan
menjadi segan karena kehadiran orang lain, tetapi mereka justru
marah dan orang-orang itu akan diselesaikan menurut caranya."
Manggada menarik nafas dalam-dalam. Sekilas ia memandang pintu
dapur. Ketika ia yakin bahwa Kiai Gumrah masih belum nampak dipintu
dapur, serta langkahnya masih belum terdengar, maka Manggadapun
berbisik "Memang satu dari sepuluh kemungkinan. Tetapi tetap dapat
terjadi. Orang-orang yang akan datang ikut memperingati delapan
windu umur Kiai Gumrah adalah bukan orang kebanyakan." Laksana hanya
dapat mengangguk-angguk. Tetapi kemungkian itu memang ada meskipun
seperti dikatakan oleh Manggada, satu dari sepuluh. Ketika kemudian
Kiai Gumrah masuk lagi kedapur, maka mereka tidak berbincang lagi.
Mereka bertiga nampak sibuk menyiapkan hidangan, mangkuk-mangkuknya
serta makanan yang sedang dijerang diatas api. Meskipun sekedar
ketela pohon dan sukun yang direbus dengan legen. Sementara Kiai
Gumrah menyelesaikan pekerjaan didapur, maka Manggada dan Laksana
telah menyalakan lampu diseluruh sudut rumah. Oncor diregolpun telah
dinyalakan pula, sementara langit menjadi semakin buram. Malam
perlahan-lahan mulai turun menyelimuti belahan bumi. Ketika
lampu-lampu telah menyala, maka Kiai Gumrahpun mulai mempersiapkan
mangkuk dan perlengkapannya. Sementara nasi masih tetap berada
diatas api. "Biar nasi itu tetap hangat" berkata Kiai Gumrah sambil
sibuk hilir mudik didapur. Beberapa saat kemudian, maka pintu rumah
itupun telah diketuk orang. Terdengar suara renyah memanggil "Kiai,
Kiai Gumrah. Aku sudah mencium bau masakanmu." "Mereka telah datang"
berkata Kiai Gumrah. Manggadapun kemudian telah bergegas pergi
keruang depan. Ketika ia membukakan pintu, maka dilihatnya tiga
orang berdiri diluar pintu. Ketiga orang itu termangu-mangu sejenak.
Dengan nada ragu seorang diantara mereka bertanya "Siapa kau anak
muda?" Manggada menjadi bingung. Namun kemudian iapun menjawab "Aku
cucu Kiai Gumrah." "O, jadi cucu Kiai Gumrah sudah sebesar ini?"
"Ya" terdengar suara Kiai Gumrah "dua orang cucuku ada disini
sekarang. Marilah, silahkan masuk." Ketiga orang itupun kemudian
melangkah masuk. Pintupun ditutup rapat kembali. Sementara Kiai
Gumrah mempersilahkan ketiga orang tamunya untuk naik dan duduk
diamben yang cukup besar diruang dalam rumah itu. Dengan nada dalam
seorang diantara mereka bertanya "Sejak kapan mereka ada disini?"
“Beberapa hari yang lalu. Aku senang mereka berada disini. Mereka
dapat membantu membersihkan halaman dan menimba air untuk mengisi
jambangan di kamar mandi dan gentong didapur." "Apakah mereka sudah
dapat menyadap legen?" bertanya yang lain. "Belum" jawab Kiai Gumrah
"aku belum mengajarinya. Tetapi dalam beberapa minggu, mereka akan
dapat melakukannya." Kepada Manggada yang baru saja menutup pintu
Kiai Gumrah berkata "He, siapkan minuman dan makanan. Nasinya nanti
saja. Jika nasi itu tergesa-gesa dihidangkan, mereka akan segera
pulang sebelum wayah sepi bocah." Ketiga orang tamu itu tertawa.
Seorang diantara mereka berkata "Kalau saja nasi itu boleh
dibungkus, maka aku akan minta diri sekarang juga." Kiai Gumrahpun
tertawa berkepanjangan. Sementara itu Manggada telah pergi ke dapur
untuk menyiapkan minuman bagi ketiga orang tamunya dan bagi Kiai
Gumrah itu sendiri. Ketika kemudian Laksana menghidangkan minuman
dan makanan, maka seorang tamunya bertanya "inikah cucumu yang
seorang lagi?" "Ya" jawab Kiai Gumrah "sudah lama mereka tidak
menengok aku. Aku sendiri hampir saja tidak mengenal mereka lagi."
"Beruntunglah kau" berkata yang lain "bahwa masih ada cucumu yang
sempat menengokmu. He, dimana anakmu sekarang tinggal? Sudah lama ia
tidak pula datang menengokmu." "Ia berada ditempat yang jauh. Nah,
sekarang, minuman dan makanan sudah dihidangkan. Minumlah dan
makanlah." Kiai Gumrah mempersilahkan. Laksana yang telah berada
didapurpun berdesis "Orangorang tua. Mereka sempat juga berkelakar."
"Apakah kau kira orang-orang tua sudah kehilangan selera leluconnya?
Mereka masih berhak mentertawakan kelucuan, juga kelucuan yang
dilihatnya dalam kehidupan ini." berkata Manggada. Laksana
mengangguk-angguk. Sambil tersenyum ia berkata "Kegembiraan itu akan
dapat membuat mereka menghambat laju ketuaan mereka." Manggadapun
tersenyum juga. Katanya "Ya. Nampaknya mereka masih akan berkelakar
sepanjang malam. He, tidak seorangpun diantara mereka memberikan
pernyataan atau ucapan selamat kepada Kiai Gumrah." Laksana
mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab. Sementara itu diruang
dalam, keempat orang tua itu masih saja berbincang. Sekali-sekali
terdengar mereka tertawa. Kemudian tertawa lagi berkepanjangan.
"Apakah mereka betah berbicara sepanjang malam?" desis Manggada.
Tetapi sebelum Laksana menjawab, Kiai Gumrah telah memanggil
Manggada. "Bawa mangkuk satu ngger." Manggadapun segera bangkit dan
mengambil sebuah mangkuk. Tetapi ia bergumam "Untuk apa?" Laksana
tidak menjawab. Ia tidak tahu untuk apa sebuah mangkuk itu. Tentu
tidak untuk minum atau makan makanan. Tetapi terdengar Kiai Gumrah
itu berkata pula "Bawa pula sebuah nampan kecil." Manggada dan
Laksana semakin tidak mengerti. Namun Manggada kemudian mengantarkan
mangkuk dan nampan kecil itu. Tetapi kedua anak muda itu semakin
tidak mengerti ketika Kiai Gumrah minta agar Manggada mengambil
beberapa lembar daun ketela pohon dibelakang rumah. "Untuk apa,
Kiai?" bertanya Manggada diluar sadarnya. "Ah, anak-anak tidak usah
tahu" jawab Kiai Gumrah. Manggada termangu-mangu sejenak. Tetapi
iapun kemudian telah pergi ke halaman belakang untuk memetik
beberapa helai daun ketela pohon. Baru kemudian Manggada dan Laksana
tahu, bahwa orang-orang tua itu akan bermain dadu. Lembar-lembaran
daun ketela pohon itu dipergunakan untuk menghitung kekalahan dan
kemenangan diantara mereka. Yang mereka dengar pembicaraan
orang-orang tua itu adalah, bahwa taruhan yang diperhitungkan dengan
lembar-lembar daun ketela itu kemudian akan dibayar dengan gula
kelapa. "Ada-ada saja" gumam Manggada. "Untuk mencegah kantuk."
sahut Laksana. "Kita menunggu disini untuk menyiapkan makan malam
mereka. Sayur dan lauk pauknya tentu sudah menjadi dingin." desis
Manggada pula. Tetapi Laksana berpaling keperapian. Apinya memang
kecil saja. Tetapi nasi yang masih saja belum disenduk didalam kuali
agaknya akan tetap hangat. Beberapa saat kemudian, terdengar
orang-orang tua itu bermain dadu dengan riuhnya. Setiap kali
terdengar suara tertawa berkepanjangan. Namun kemudian hening. Yang
terdengan adalah suara dadu didalam mangkuk yang sedang diguncang
diatas nampan kecil sebelum kemudian dibuka. Ternyata permainan itu
nampaknya cukup mengasikkan bagi orang-orang tua itu. Mereka
tenggelam dalam kegembiraan tersendiri. Mereka seakan-akan melupakan
persoalan-persoalan yang mereka hadapi sehari-hari. Dalam pada itu,
Manggada dan Laksanalah yang mulai terkantuk-kantuk didapur. Bahkan
Laksana telah berbaring diamben panjang. "Sampai kapan kami
menunggu" desis Laksana. "Sudah lewat wayah sepi bocah. Sebentar
lagi makan itu harus dihidangkan." jawab Manggada. Sebenarnyalah,
sejenak kemudian maka Kiai Gumrah telah memanggil Laksana. Demikian
Laksana sambil membenahi pakaiannya melangkah mendekati. Kiai Gumrah
itupun berkata "Nah, kalian siapkan makan malam. Bukankah nasi masih
hangat?" "Ya kek. Nasi masih diatas perapian." jawab Laksana.
"Bagus. Asal tidak menjadi hangus." sahut Kiai Gumrah. Demikianlah,
maka Laksana dan Manggadapun menjadi sibuk menyenduk nasi dan
menyiapkan lauk pauknya. Kemudian menghidangkannya dengan
mangkuk-mangkuk dan peralatannya yang lain. Dengan terampil Manggada
sudah dapat membuat sambal terasi untuk melengkapi lauk pauknya.
Sejenak kemudian, maka permainan dadu itupun berhenti untuk
sementara. Ketika orang-orang tua itu makan, maka terdengar lagi
kelakar mereka. Manggada dan Laksana yang mendengarkan kelakar itu
mengetahui, bahwa Kiai Gumrah ternyata menderita kekalahan dalam
permainan dadu itu. Esok ia harus menyerahkan beberapa tangkap gula
kelapa kepada ketiga orang lawannya meskipun jumlahnya tidak sama.
"Tetapi kita akan meneruskan permainan ini sesudah makan"berkata
Kiai Gumrah" mungkin akan terjadi sebaliknya. Akulah yang menang,
sehingga kalian semualah yang harus menyerahkan beberapa tangkap
gula kelapa kepadaku." Yang lain tertawa. Seorang diantara mereka
berkata "Tetapi yang terjadi justru lain. Hutangmu bertambah banyak,
sehingga hasil sedapanmu tiga hari akan habis kau pakai untuk
membayar hutang." Keempat orang tua itu tertawa semakin ramai. Namun
dalam pada itu, Manggada dan Laksana yang tidak terlibat dalam
permainan dadu itu sekali-sekali melepaskan perhatian mereka dari
keempat orang yang sedang makan sambil berkelakar itu. Untuk
mencegah kantuk, maka Manggada berniat untuk keluar dari dapur lewat
pintu butulan. Karena itu, maka iapun telah mengangkat selarak pintu
butulan. Tetapi Manggada itupun mengurungkan niatnya. Demikian ia
mengangkat selarak, maka iapun mendengar langkah kaki menjauh dari
pintu itu. Meskipun dengan sangat berhati-hati, namun karena
tergesa-gesa karena pintu itu tiba-tiba saja akan dibuka, maka
langkah kaki itu dapat didengar oleh Manggada. Laksana yang melihat
Manggada mengurungkan niatnya dan memasang kembali selarak pintu
itupun segera bangkit. Tetapi Manggada cepat memberi isyarat agar ia
tidak berkata apa-apa. Manggadalah yang kemudian bergeser menjauhi
pintu itu. Baru kemudian setelah ia berada agak jauh dari pintu dan
dinding dapur, ia berkata sambil berbisik "Aku mendengar langkah
orang diluar." Laksana mengangguk-angguk. Hal seperti itu memang
sudah dikira sebelumnya. Jika tidak malam itu, tentu malam
berikutnya atau pada malam berikutnya lagi. Sebagaimana dikatakan
oleh Kundala, maka niat untuk mengambil pusaka-pusaka itu akan
diteruskan kapanpun itu dilaksanakan. "Apakah kita akan
memberitahukan kepada Kiai Gumrah?" desis Laksana. "Ya, mumpung
mereka sedang berhenti bermain dadu." jawab Manggada. Laksanapun
mengangguk-angguk. Katanya perlahan "Katakan kepada Kiai Gumrah. Aku
akan memperhatikan pintu dan dinding dapur ini. Meskipun orang itu
telah bergeser, tetapi ada kemungkinan kembali dan mengamati dapur
ini lagi jika pintu tidak jadi kau buka." Manggada mengangguk kecil.
Iapun kemudian pergi menemui Kiai Gumrah yang masih sedang makan
bersama ketiga orang tamunya. Demikian Manggada mendekat dengan
ragu-ragu, seorang diantara tamunya itu berkata "Mari ngger. Apa
lagi yang akan kau hidangkan?" "Jangan ragu-ragu" berkata tamu Kiai
Gumrah yang lain "apapun yang kau bawa kemari, akan kami habiskan
sampai tuntas. Orang-orang yang kerjanya menyadap legen biasanya
makannya terlalu banyak. Bahkan apa saja dimakannya." Keempat orang
itu tertawa berkepanjangan. Manggadapun ikut tertawa pula. Namun
kemudian iapun berkata "Bukan hidangan yang akan aku sampaikan
kepada kakek. Tetapi aku memberitahukan bahwa diluar agaknya ada
tamu." Kiai Gumrah mengerutkan keningnya. Namun salah seorang
kawannya itupun berkata "Ah, masa malam-malam begini ada tamu."
"Dari mana kau tahu? Apakah ia mengetuk pintu dapur?" Manggada
memang menjadi ragu-ragu. Tetapi Kiai Gumrah itu berkata "Katakan.
Kakek-kakek yang lain ini tidak akan tahu maksudnya." Manggada masih
saja ragu-ragu. Bahkan ia menjadi gelisah. Jika ketiga orang kakek
yang lain itu tidak tahu menahu persoalannya, maka mereka akan dapat
mengalami kesulitan justru karena mereka ada di rumah Kiai Gumrah.
Namun Manggada itu akhirnya berkata "Kek. Aku hanya mendengar
langkah kaki di luar dapur. Tetapi aku belum menengok, siapa yang
ada diluar." "Ah, biarkan saja tamu itu jika ia tidak mengetuk
pintu" berkata salah seorang tamunya "barangkali ia ingin ikut
menghormatimu yang sekarang ini memperingati umurmu genap sepuluh
windu." "Tidak sepuluh windu. Tetapi delapan windu. Aku memperingati
tumbuk agengku." sahut Kiai Gumrah. Tetapi tamunya itu tertawa.
Bahkan kemudian ia bertanya "Berapa sebenarnya umurmu? Delapan
windu, sepuluh windu atau berapapun orang mengatakannya?" Keempat
orang itu tertawa meledak. Sementara Manggada masih berdiri
termangu-mangu. Nampaknya mereka tidak begitu menghiraukan
pemberitahuan Manggada yang menganggap bahwa bahaya telah mengintai
diluar. Namun karena Manggada masih berdiri saja ditempat-nya, Kiai
Gumrahpun berkata "Baiklah ngger. Aku memang menunggu tamu itu
mengetuk pintu. Menurut ingatanku, aku hanya mengundang ketiga orang
tetanggaku ini yang umurnya sudah sebaya dengan umurku. Meskipun
demikian jika ada orang lain yang mengetahuinya dan sudi untuk ikut
beramai-ramai bermain-main disini, aku akan menerimanya dengan
senang hati." "Jadi kita menunggu tamu itu mengetuk pintu kek?"
bertanya Manggada. "Ya. Hanya mereka yang mengetuk pintu sajalah
yang aku anggap sebagai tamu." jawab Kiai Gumrah. Seorang tamunya
yang sedang makan tiba-tiba menyahut "Seandainya tamu itu mengetuk
pintu juga, biarlah nanti saja dipersilahkan setelah aku selesai
makan. Kedatangan orang baru hanya akan mengurangi bagianku saja."
Orang-orang tua itu tertawa lagi, sementara Manggada masih berdiri
ditempatnya. Namun Kiai Gumrah yang melihat Manggada menjadi gelisah
berkata "Baiklah. Kembalilah kedapur. Jika tamu itu nanti mengetuk
pintu, biarlah aku membukakannya." "Jika tamu itu mengetuk dapur?"
bertanya Manggada. "Panggil aku. Biar aku sajalah yang membuka
pintu." jawab Kiai Gumrah. Manggadapun kemudian kembali kedapur.
Dilihat nya Laksana masih berada ditempatnya. Perhatiannya terutama
tertuju ke pintu butulan itu. Meskipun demikian ia memperhatikan
pula dinding dapur yang menghadap langsung ke halaman samping.
Sebenarnyalah ada beberapa orang diluar rumah itu. Orang-orang
sebagaimana dikatakan oleh Kundala. Mereka telah datang untuk
mengambil pusaka-pusaka sebagaimana pernah dilakukan oleh Kundala
dan seorang kawannya. Orang-orang yang ada diluar itu mendengar
pembicaraan antara Manggada dengan Kiai Gumrah dan tamu-tamunya.
Sikap Kiai Gumrah yang seakan-akan tidak menghiraukan mereka membuat
orang-orang itu merasa tersinggung. Namun mereka masih saja
menganggap bahwa Kiai Gumrah tidak tahu siapakah yang telah datang
itu. "Orang dungu itu mengira bahwa kita adalah tetanggatetangganya
yang datang untuk mendapatkan hidangan." desis salah seorang dari
mereka. "Aku akan mengetuk pintu" berkata seorang yang lain. Tetapi
orang yang memimpin kelompok kecil itu mencegahnya. Katanya "Tidak.
Kau tidak akan mengetuk pintu." "Apakah kita akan masuk lewat pintu
dapur?" bertanya orang itu. "Juga tidak" jawab pemimpin kelompok
itu. "Jadi bagaimana?" "Aku akan membuka pintu itu." desis pemimpin
kelompok itu. Tetapi sebelum ia melangkah mendekat maka seorang yang
lain telah mendahuluinya sambil berkata "Biar aku sajalah yang
membuka pintu itu." Namun orang-orang yang ada diluar itu terkejut.
Mereka tidak menduga bahwa percakapan itu didengar oleh orangorang
yang sedang berkelakar didalam. Ternyata orang yang ada didalam
rumah itu menyahut dengan suara lantang dan bahkan seakan-akan
melingkar-lingkar di halaman "Jika kau memang tidak tahu diri
bagaimana seorang tamu mengunjungi rumah orang lain, maka buka
sajalah pintunya. Kalian tidak usah berebut merusak pintu itu
meskipun dengan demikian kalian ingin menunjukkan kelebihan kalian.
Pintu itu terbuat dari bambu dan gedeg yang akan koyak dilanggar
seekor kucing. Tanpa Aji Rogrog asempun pintu akan patah. Karena itu
buka sajalah. Pintu itu tidak diselarak." Suasanapun menjadi
hening sejenak. Namun tiba-tiba seorang tamu Kiai Gumrah yang sedang
makan itu berkata "Marilah, kita selesaikan hidangan ini. Aku hampir
selesai. Tinggal menghabiskan sepotong paha ini. Gigiku nampaknya
sudah tidak setajam gigi kucing lagi." "Jika mereka akan masuk,
biarlah mereka masuk. Tetapi kita tidak akan dapat membagi hidangan
ini dengan mereka." berkata tamu yang lain. Manggada dan Laksana
mendengar lontaran kata-kata itu. Mereka berdua menarik nafas
dalam-dalam. Sambil melangkah mendekati Laksana, Manggada berkata
lirih "Ternyata mereka bukan orang kebanyakan. Tanggapan mereka
terhadap orang-orang yang berada diluar pintu sangat meyakinkan."
"Ya. Sekarang kita tahu, bahwa Kiai Gumrah bukan satu-satunya orang
yang menunggui pusaka-pusaka itu. Mungkin juga ceriteranya tentang
pusaka-pusaka itu tidak benar." desis Laksana. Manggada
mengangguk-angguk. Katanya "Kita memang tidak dapat segera mengambil
kesimpulan. Tetapi niat orang-orang itu mengambil pusaka yang ada
dirumah ini benar. Apapun alasannya dan apa yang sebenarnya terjadi
dibalik ceritera Kiai Gumrah tentang pusaka-pusaka itu, namun
agaknya memang hak Kiai Gumrah untuk mempertahankannya." Laksana
mengangguk-angguk. Perlahan-lahan ia berdesis "Ya. Bagi kita,
persoalannya menjadi semakin rumit." "Justru semakin menarik" sahut
Manggada "aku menjadi semakin ingin mengetahui persoalan yang
berkembang selanjutnya. Apalagi setelah kita tahu bahwa persoalannya
berhubungan dengan Panembahan Lebdadadi dan elangelangnya." Keduanya
terdiam ketika mereka mendengar pintu berderit keras seperti
dihempaskan. Keduanya segera mengetahui bahwa orang-orang yang ada
diluar itu telah membuka pintu rumah itu. Bahkan dengan kasar.
Hampir diluar sadarnya Manggada dan Laksanapun telah bergeser ke
ruang dalam untuk melihat, apa yang bakal terjadi. Keduanya menjadi
semakin yakin, bahwa orang-orang tua yang sedang makan itu adalah
bukan orang kebanyakan. Mereka sama sekali tidak terkejut atau
menjadi ketakutan melihat beberapa orang berdiri dipintu rumah itu.
Mereka bahkan seakan-akan tidak menghiraukan mereka sama sekali.
Seorang diantara tamu Kiai Gumrah itu masih sempat meraih sepotong
daging ayam dan menyumbatkan kedalam mulutnya. Sementara yang lain
sambil memandang orang yang berdiri dipintu itu berkata "Kalian
terlambat datang. Tinggal nasi, sayur dan sambal. Ayam yang
dihidangkan terlalu kecil untuk kami berempat. Apalagi untuk kalian.
He, kalian datang bersama berapa orang?" "Kiai Gumrah" berkata orang
yang berdiri didepan pintu "ternyata kau sempat mengumpulkan
kawan-kawanmu. Tetapi mereka akan menyesal setelah mereka tahu
dengan siapa mereka berhadapan sekarang." "O" sahut yang sedang
mengunyah daging ayam "jika demikian apakah kau bersedia
memberitahukan, dengan siapa kami berhadapan sekarang?" "Aku adalah
Kiai Windu Kusuma. Yang berdiri di sampingku ini adalah Putut
Sempada. Kami datang bersama beberapa orang berilmu tinggi yang
sudah lama kami persiapkan." "Kiai Windu Kusuma. Jadi kaukah yang
bernama Windu Kusuma?" "Ya" jawab orang yang berdiri dipintu. "Kau
kenal orang itu?" bertanya Kiai Gumrah. "Tidak" jawab orang yang
masih saja mengunyah daging ayam itu. "Gila kau" sahut tamu Kiai
Gumrah yang lain "aku kira kau sudah mengenalnya." "Aku hanya ingin
membuat Kiai Windu Kusamu itu berbangga, seolah-olah namanya membuat
kami terkejut." Namun yang terjadi kemudian sangat mengejutkan Tanpa
diduga maka mangkuk-mangkuk serta minuman dan makanan yang ada
diambin bambu itu seakan-akan telah disentakkan. Beberapa diantara
mangkuk-mangkuk itu terlempar keudara, kemudian terbanting jatuh
saling berbenturan. Beberapa diantara mangkuk-mangkuk itu telah
pecah. Manggada dan Laksana menjadi sangat tegang. Jantung mereka
terasa berdegup semakin cepat. Namun, seorang diantara tamu Kiai
Gumrah itu justru berkata sambil mengais pecahan mangkuk didepannya
“Kau gila. Sepotong sayap ayam masih utuh." Tanpa menghiraukan orang
yang menyebut dirinya Kiai Windu Kusuma itu, tamu Kiai Gumrah itu
memungut sepotong sayap ayam yang memang masih utuh. Katanya
"Sebenarnya aku ingin mensisakan sayap-sayap ayam ini bagi kedua
orang cucu Kiai Gumrah agar mereka dapat terbang seperti ayam." "Kau
kira ayam dapat terbang?" kawannya masih juga sempat bertanya.
"Cukup" bentak Kiai Windu Kusuma "kalian menyembunyikan perasaan
takut kalian pada kegilaan kalian. Jangan dikira bahwa kami tidak
dapat membara isi hati kalian. Orang-orang tua semacam kalian memang
tidak berharga. Dengan kepura-puraan itu, kalian mencoba untuk
nampak tenang dan meyakinkan." Kiai Gumrahlah yang kemudian turun
dari ambin bambu itu. Dengan nada dalam ia bertanya "Ki Sanak. Untuk
apa sebenarnya Ki Sanak datang tanpa aku undang malam ini?
Sebenarnya aku sedang merayakan peringatun tumbuk ageng. Aku hari
ini berumur delapan windu." Namun kawannya ternyata sulit menjaga
mulutnya. Katanya "Ia bohong. Umurnya lebih tua dari delapan windu.
Tetapi ia tetap dianggap paling muda diantara kami berempat. Juga
oleh kedua cucunya itu. He, jika umurmu baru enampuluh empat dan
kedua cucumu sudah perjaka, berapa tahun kau mempunyai anak dan
anakmu pada umur berapa tahun mempunyai anak pula." "Kau masih
sempat menghitung pada saat kita menghadapi ingkung ayam itu?"
bertanya kawannya pula. "Cukup" teriak Kiai Windu Kusuma "sekarang
sadari keadaan kalian. Kalian akan mati malam ini jika kalian tidak
merubah sikap kalian. Atau kalian sudah mulai mabuk?" "Tidak Kiai
Windu Kusuma. Kami tidak mabuk. Tidak ada setitik tuakpun disini
meskipun pekerjaan kami menyadap legen dan dapat membuat tuak
sendiri. Karena itu, kami tidak sedang mabuk. Mungkin ada satu
diantara kami yang kekenyangan. Tetapi itu bukan berarti mabuk."
jawab Kiai Gumrah. “Hentikan sikap gila kalian. Sekarang, aku akan
berbicara tanpa melingkar-lingkar lagi. Serahkan pusakapusaka itu.
Kau tidak usah bertanya apakah aku pemiliknya atau bukan, atau
apakah aku sudah minta ijin atau bukan. Yang penting pusaka-pusaka
itu jatuh ditanganku dan aku bawa pergi. Apa yang akan kau katakan
terhadap pemiliknya aku tidak peduli. Apakah kau sudah terlanjur
berjanji untuk menjaga pusaka-pusaka itu atau belum aku juga tidak
perduli." berkata Kiai Windu Kusuma. Kiai Gumrah menarik nafas
dalam-dalam. Ia mulai nampak bersungguh-sungguh. Katanya "Kiai Windu
Kusuma. Aku yakin bahwa kau bukan kanak-kanak lagi. Kau tentu tahu
makna dari sikapku dan sikap kawankawanku malam ini. Seharusnya kau
tidak usah mengatakan maksudmu itu seperti kanak-kanak yang berebut
manggis yang jatuh dari dahannya. Sekarang kau mau apa?" "Bagus"
berkata Kiai Windu Kusuma “tetapi aku masih ingin memperingatkanmu,
bahwa kegilaanmu dan kawankawanmu tidak berarti apa-apa bagi kami.
Aku datang dengan beberapa orang kawan yang benar-benar akan dapat
mengantar kalian keneraka malam ini juga.” “Kami sudah siap Kiai.
Elangmu siang tadi telah memberitahukan kepada kami, bahwa kalian
akan datang bersama beberapa orang yang berilmu tinggi. Tetapi
kaupun harus sudah mengetahui sikap apa yang akan kami ambil
menghadapi kedatangan kalian." jawab Kiai Gumrah. "Aku menunggumu
dihalaman Kiai Gumrah" berkata Kiai Windu Kusuma "kami tidak dapat
bertempur dengan baik diruang yang sempit ini." "Baiklah. Tunggulah
kami diluar. Sebentar lagi kami berempat akan keluar." jawab Kiai
Gumrah. Kiai Windu Kusuma kemudian telah melangkah mundur. Bersama
dengan beberapa orang yang datang bersamanya, maka mereka menunggu
dihalaman rumah itu. Nampaknya mereka telah benarbenar bersiap
menghadapi keempat orang yang ada diruang dalam. Meksipun demikian
seorang diantara mereka berdesis "Aku tidak mengira bahwa disini ada
ampat orang yang harus kita hadapi malam ini." "Apa artinya empat
orang tua itu? Sedangkan Kiai Gumrah sendiri hanya mampu
menakut-nakuti Kundala dan kawannya yang tidak lebih dari
cucurut-cucurut yang pengecut. Karena itu, aku tidak mau lagi
membawanya malam ini karena mereka tidak akan berarti apa-apa."
“Selain mereka masih ada anak-anak muda yang tadi ada didapur"
berkata yang lain. "Mereka tidak usah dihitung" jawab Kiai Windu
Kusuma "dengan mengibaskan tangan saja mereka tentu akan terbunuh."
Sementara itu, para tamu Kiai Gumrah sudah melangkah keluar.
Sementara itu Kiai Gumrah yang masih ada didalam berbicara sejenak
dengan Manggada dan Laksana "Kalian mau menolong aku lagi bukan,
ngger." "Tentu Kiai" jawab Manggada. "Kau tentu menganggap aku
sebagai pembohong" desis orang tua itu. "Kenapa Kiai?" bertanya
Manggada. "Nanti, jika aku masih sempat hidup aku beritahukan" jawab
Kiai Gumrah. Lalu katanya kemudian "tolong ngger. Jaga pusaka-pusaka
itu. Mungkin ada satu dua orang yang melepaskan diri dari
pertempuran dan berusaha untuk mengambil pusaka-pusaka itu langsung
dari plonconnya." "Baik Kiai" jawab Manggada. “Tetapi jika kalian
jumpai orang yang berilmu sangat tinggi dan diluar jangkauan
kemampuanmu, maka tinggalkan saja orang itu. Jangan kau korbankan
nyawamu untuk sesuatu yang bagimu tidak berarti apa-apa." Manggada
dan Laksana hampir bersamaan menjawab "Baiklah Kiai. Kami akan
menjaga pusaka-pusaka itu." "Terima kasih ngger" Kiai Gumrahpun
menganggukangguk "aku akan menemui orang-orang itu. Orang-orang itu
memang orang-orang berilmu tinggi. Tetapi aku percaya kepada
kawan-kawanku bahwa mereka akan dapat mengimbangi orang-orang yang
datang itu. Semoga Yang Maha Agung melindungi kami dan kalian
berdua" berkata Kiai Gumrah sambil melangkah keluar. Di halaman
beberapa orang telah mengepung tiga orang kawan Kiai Gumrah. Ketika
mereka melihat Kiai Gumrah, maka sebagian dari merekapun telah
menyibak. Sehingga akhirnya Kiai Gumrah berdiri disebelah ketiga
orang kawannya. "Nah" berkata Kiai Windu Kusuma "jadi kami kau paksa
untuk membunuh kalian berempat?" “Kami atau kalian yang akan mati"
berkata Kiai Gumrah "tetapi sebenarnya bukan kebiasaan kami membunuh
seseorang siapapun mereka.” “Kau tidak usah berpura-pura menjadi
orang yang baik hati. Bersiaplah. Kalian akan mati kecuali jika
kalian menyerahkan pusaka-pusaka itu." Kiai Gumrah menarik nafas
dalam-dalam. Katanya "Apaboleh buat. Pertempuran bukan cara yang
terbaik untuk memecahkan persoalan. Tetapi jika kalian memaksa kami
untuk melakukannya, maka kami tidak akan dapat mengelak. Sudah tentu
bahwa kami tidak akan membiarkan kepala kami kalian pisahkan dari
tubuh kami. Tetapi sebaliknya kami juga tidak akan menyerahkan
pusakapusaka itu, karena aku tidak berhak melakukannya. Berpuluh
kali aku katakan, bahwa aku hanya akan menyerahkan kepada
orang-orang yang menitipkannya kepadaku." "Alasan yang basi. Aku
muak mendengarnya. Sekarang, bersiaplah untuk mati. Sementara
pusaka-pusaka itu akan jatuh juga ketangan kami." Kiai Gumrah dan
ketiga orang kawannyapun segera mempersiapkan diri sebaik-baiknya.
Mereka berempat menghadap keempat arah, karena Kiai Windu Kusuma dan
kawan-kawannya telah mengepung Kiai Gumrah dan kawan-kawannya dari
segala arah pula. Sebelum Kiai Windu Kusuma mulai menyerang. Kiai
Gumrah sempat menghitung orang yang datang kerumahnya itu. Semuanya
ada tujuh orang. "Tujuh" Kiai Gumrah itu berdesis. "Ya. Tujuh orang
yang memiliki ilmu yang tinggi. Seorang melawan seorangpun kalian
tidak akan dapat berbuat sesuatu. Apalagi jumlah kami lebih banyak
dari jumlah kalian." berkata Kiai Windu Kusuma. Kiai Gumrah menarik
nafas dalam-dalam. Katanya "Ada satu hal yang tidak kau
perhitungkan." "Apa? Aku tahu pasti tingkat kemampuanmu Kiai Gumrah.
Kundala memberikan laporan terperinci." jawab Kiai Windu Kusuma
dengan penuh keyakinan. Tetapi Kiai Gumrah menjawab "Satu hal yang
tidak kau perhitungkan. Justru yang menentukan. Bahwa Yang Maha
Agung dapat berbuat apa saja yang tidak mungkin sekalipun." Tetapi
orang itu tertawa. Katanya "Itu adalah tumpuan orang yang sudah
berputus-asa. Orang yang tidak mampu keluar dari keruwetan dan
kesulitan atas usaha dan kepercayaannya kepada diri sendiri. Lalu
mencari sandaran apapun yang paling tidak masuk akal sekalipun."
"Terkutuklah kalian yang tidak meyakini kuasa Yang Maha Agung.
Baiklah. Marilah kita lihat. Betapa maha dahsyatnya kuasa Yang Maha
Agung itu." Kiai Windu Kusuma masih tertawa. Namun kemudian ia
memberikan isyarat kepada kawan-kawannya sambil berkata "He, kita
buktikan kepada mereka, bahwa mereka tidak akan dapat bersandar
kepada tumpuannya yang disebutnya Yang Maha Agung. Kuasa dari
Telenging Bumi serta Roh dan Arwah orang-orang sakti dari Padepokan
kami akan menunjukkan kepada kalian, bahwa sandaran kalian telah
lapuk." Wajah Kiai Gumrah menjadi merah. Ia tidak pernah menjadi
demikian marahnya seperti saat ini. Tetapi bagaimanapun juga ia
masih tetap mengekang diri dan berpijak pada penalarannya yang
terang. Kepada ketiga orang kawannya ia berkata "Marilah
saudara-saudaraku. Kita berhadapan dengan bayangan dari Kuasa
Kegelapan dan Iblis. Kita akan berusaha menerangi bayangan kelam itu
dengan cahaya daripada-Nya. Tetapi jika yang harus terjadi justru
permusuhan Kuasa Iblis itu, maka agaknya demikianlah yang harus
terjadi. Mereka agaknya mengira bahwa kekuatan Terang dari yang Maha
Agung itu tidak masuk dalam akal mereka, tetapi mereka justru
beralaskan Kuasa Iblis yang menurut mereka masuk akal." "Tentu,
karena kami dapat berhubungan langsung dalam sentuhan indera wadag
kami. Tetapi apa yang kau sebut Yang Maha Agung itu sama sekali
tidak." "Kami tidak memerlukan sentuhan indera wadag. Tetapi rabaan
jari-jari hati kami dapat menyentuhnya pula." Tetapi Kiai Windu
Kusuma itu tertawa. Katanya "Satu ceritera yang baik untuk
dilaporkan kepada Panembahan." "Panembahan siapa?" bertanya Kiai
Gumrah. "Panembahan siapapun, kau tidak akan mengerti" jawab Kiai
Windu Kusuma. Kiai Gumrah tidak menjawab lagi. Tetapi berempat
mereka sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Sementara itu Kiai
Windu Kusumapun telah memberikan perintah kepada orang-orangnya
untuk bergerak. Dalam pada itu, Kiai Gumrah telah bersiap langsung
menghadapi Kiai Windu Kusuma. Sementara ketiga orang kawannya harus
berhadapan dengan enam orang pengikut Windu Kusuma itu. Sejenak
kemudian, maka pertempuran itupun telah terjadi. Kiai Windu Kusuma
langsung menyerang Kiai Gumrah dengan garangnya meskipun belum
mempergunakan senjatanya. Sementara itu, para pengikutnyapun telah
mulai bertempur pula. Mereka bertempur berpasangan melawan tiga
orang kawan Kiai Gumrah. Namun dalam pada itu terdengar perintah
Kiai Windu Kusuma kepada para pengikutnya "Salah seorang dari
kalian, ambil pusaka-pusaka itu. Hati-hati. Ada dua orang anak muda
yang tadi didapur. Jika keduanya menghalangi, bunuh mereka. Kita
sudah tahu tataran kemampuan kedua orang anak muda itu sebagaimana
laporan yang pernah disampaikan kepada kita." Ketika salah seorang
dari mereka mulai melangkah keluar dari lingkaran pertempuran, Kiai
Windu Kusuma itu berkata "Biarlah Niskara saja melakukannya. Ia
tidak akan pernah gagal. Apalagi hanya kedua orang anak muda itu.
Berdua mereka tidak dapat mengalahkan Kundala. Bahkan seandainya ada
dua orang lagi. Niskara akan dapat menyelesaikannya dengan cepat."
Tidak ada yang menjawab. Namun seorang diantara mereka yang masih
bertempur itu melenting dan dengan kecepatan yang sangat tinggi,
orang itu bagaikan terbang menuju kepintu rumah dan kemudian hilang
diruang dalam. Kiai Gumrah memang menjadi berdebar-debar. Ia yakin
bahwa kedua orang anak muda itu tidak akan mampu melawan orang yang
disebut bernama Niskara itu. Tetapi ia tidak segera dapat berbuat
sesuatu. Ia harus berhadapan dengan Kiai Windu Kusuma yang tentu
memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Karena itu, maka bagaimanapun
juga Kiai Gumrah itu menjadi gelisah. Kedua anak muda itu seharusnya
tidak terlibat dalam persoalan yang rumit itu. Tetapi keduanya
ternyata berkeras untuk tetap berada dirumahnya. "Mudah-mudahan
mereka mau mendengarkan pesanku agar mereka tidak mempertahankan
nyawa mereka" berkata Kiai Gumrah didalam hatinya. Kiai Gumrah masih
berharap jika keduanya itu menyingkir dari pertempuran, maka Niskara
tentu akan lebih memperhatikan pusakapusaka itu daripada Manggada
dan Laksana. Tetapi bagaimanapun juga Kiai Gumrah tidak dapat
membiarkan keduanya tanpa memperhatikannya. Namun Kiai Gumrah tidak
mempunyai banyak kesempatan, karena Kiai Windu Kusuma itu mulai
menekannya. Seranganserangannya menjadi semakin cepat dan keras.
Sementara itu, ketiga orang kawannyapun telah bertempur pula. Dua
orang diantara mereka harus bertempur melawan masing-masing dua
orang. Didalam rumah, Manggada dan Laksana mendengar langkah
seseorang memasuki rumah itu. Dengan cepat merekapun telah bersiap.
Merekapun menyadari, bahwa orang-orang yang ingin mengambil pusaka
itu adalah orang-orang yang berilmu tinggi. Namun kedua orang anak
muda itu sudah berjanji untuk membantu Kiai Gumrah menjaga
pusaka-pusaka itu. Apapun yang terjadi, maka mereka tidak akan
ingkar. Karena itu ketika orang itu mendekati bilik tempat
pusaka-pusaka itu disimpan, maka Manggada dan Laksana segera
menghadang mereka dengan pedang terhunus. Niskara itu menggeram.
Dengan lantang ia berkata "Minggir anak-anak muda. Aku akan
mengambil pusakapusaka itu. Jika kau mencoba menghalangi, maka
kalian akan mati malam ini juga. Aku tidak mempunyai waktu banyak,
sehingga karena itu, maka jangan mencoba berbuat sesuatu yang dapat
memperpendek umurmu." "Aku telah berjanji untuk mempertahankan
pusakapusaka ini." jawab Manggada. "Jika demikian, jangan menyesal
jika kalian akan mati." geram Niskara. Manggada dan Laksana tidak
menghiraukannya. Keduanya hampir berbareng meloncat menyerang.
Ternyata Niskara memang seorang yang berilmu tinggi. Dengan cepat ia
menggeliat menghindari serangan kedua orang anak muda itu. Bahkan
tanpa diketahui apa yang telah dilakukannya, maka Laksana telah
terdorong beberapa langkah surut sehingga punggungnya membentur
dinding. Wajahnya terasa menjadi panas. Agaknya tangan Niskara telah
menampar mukanya. Tetapi Laksana sama sekali tidak menjadi gentar.
Dengan cepat ia menguasai dirinya dan siap untuk melanjutkan
pertempuran. Pedangnyapun berputar cepat saat ia meloncat maju
sementara Manggada telah menyerang pula dari arah yang berbeda.
Tetapi serangan-serangan itu sama sekali tidak menyentuh sasaran.
Bahkan kedua orang anak muda ilu telah mengalami serangan yang tidak
mereka ketahui bagaimana hal itu dapat terjadi. Keduanyapun telah
terdorong beberapa langkah surut. Sementara itu Niskarapun
menggeram. Katanya "Anakanak muda, sebaiknya kau dengarkan
peringatanku. Kali ini untuk yang terakhir. Minggirlah. Jangan
ganggu aku. Jika kalian masih saja menghalangi aku. maka kalian
benarbenar akan mati." Manggada dan Laksana memang menjadi
ragu-ragu. Mereka sadar bahwa mereka tidak akan pernah dapat
mengalahkan orang itu, apalagi jika ia sudah menarik senjatanya.
Merekapun teringat pesan Kiai Gumrah agar jika terpaksa mereka
supaya meninggalkan saja pusakapusaka itu. Mereka tidak usah
mengorbankan nyawa mereka untuk mempertahankan pusaka-pusaka itu.
Namun ternyata bahwa hati kedua orang anak muda tidak terlalu
lentur. Bahkan Manggada telah melangkah maju sambil berkata "Kami
tidak mempunyai pilihan lain. Kami harus mempertahankan
pusaka-pusaka itu." Niskara menggeram. Katanya "Jika demikian maka
kalian agaknya memang ingin membunuh diri. Baiklah. Aku akan
membantu kalian agar kalian lebih cepat mati dan tidak mengganggu
aku lagi." Dalam pada itu, di halaman Kiai Gumrah tengah bertempur
melawan Kiai Windu Kusuma. Bagaimanapun juga ia gelisah karena
Manggada dan Laksana, juga karena pusaka-pusaka itu akan dapat
diambil oleh Niskara, namun ia tidak dapat meninggalkan lawannya
yang memang berilmu tinggi. Bahkan untuk beberapa saat Kiai Windu
Kusuma dapat mendesak Kiai Gumrah yang gelisah. Bagi Kiai Gumrah,
seandainya Niskara dapat mengambil pusaka-pusakanya, maka ia akan
dapat berusaha menahan Kiai Windu Kusuma dalam pertempuran dengan
mempertaruhkan nyawanya. Karena Kiai Windu Kusuma adalah pemimpin
dari sekelompok orang yang datang itu, maka seandainya ia dapat
mengatasinya, maka Niskara tentu tidak akan tergesa-gesa
meninggalkan halaman rumah itu. Namun agaknya Manggada dan Laksana
justru lebih menggelisahkannya lagi. Kedua anak muda yang keras hati
itu tentu tidak akan begitu saja meninggalkan pusakapusaka itu
meskipun ia sudah berpesan kepada mereka. Bagi Kiai Gumrah yang
sudah berjanji untuk menyimpan dan menjaga pusaka-pusaka itu
ternyata tidak dapat begitu saja membiarkan Manggada dan Laksana
menjadi korban. Kecuali mereka masih terlalu muda untuk mati, maka
merekapun sebenarnya tidak mempunyai beban tanggung jawab apapun
terhadap pusaka itu, kecuali karena mereka memang berniat
membantunya. Tetapi untuk sementara Kiai Gumrah harus menghadapi
kenyataan. Ia harus bertempur melawan Kiai Windu Kusuma tanpa
berbuat apapun yang lain. Ia sadar, jika ia tidak mampu memusatkan
nalar budinya untuk menghadapi Kiai Windu Kusuma, maka ia akan
segera mengalami kesulitan karena Kiai Windu Kusuma adalah seorang
yang berilmu sangat tinggi. Sementara itu ketiga orang kawan Kiai
Gumrahpun harus bertempur dengan mengerahkan kemampuan mereka. Dua
diantara kawan-kawan Kiai Gumrah itu harus menghadapi masing-masing
dua orang. Namun agaknya mereka bukan orang-orang berilmu sangat
tinggi setataran dengan Kiai Windu Kusuma sendiri. Meskipun mereka
agaknya memiliki kemampuan lebih baik dari Kundala dan kawannya yang
pernah datang pula kerumah itu, namun mereka tidak dapat dengan
cepat menguasai kawan-kawan Kiai Gumrah. Meskipun sejak Kundala
gagal mengambil pusakapusaka itu. Kiai Windu Kusuma sudah
memperhitungkan bahwa Kiai Gumrah yang ternyata bukan orang
kebanyakan itu tentu tidak sendiri, bahkan selain anak-anak muda itu
tentu ada orang-orang lain yang berilmu, namun ia tidak mengira
bahwa pada saat yang bersamaan ada empat orang tua yang berilmu
tinggi. Ampat orang yang ilmunya tidak saling bertaut banyak
meskipun Kiai Gumrah harus mendapat perhatian terbesar karena Kiai
Gumrah adalah orang yang harus mempertanggungjawabkan pusaka-pusaka
itu. Sambil bertempur melawan Kiai Gumrah, Kiai Windu Kusuma sempat
memperhatikan pertempuran yang terjadi disekitarnya. Dibawah cahaya
oncor diserambi rumah Kiai Gumrah yang lemah, ia melihat
kawan-kawannya berusaha untuk dengan segera mengalahkan ketiga orang
tua tamu Kiai Gumrah itu. Tetapi ketiga orang tua itu ternyata juga
memiliki ilmu yang tinggi. Seorang diantaranya, yang disebut juragan
yang menerima dan membeli gula kelapa Kiai Gumrah dan para pembuat
gula yang lain dan membawanya ke pasar itu, bertempur hanya melawan
seorang saja. Tetapi orang itu adalah seorang yang masih terhitung
muda, bertubuh tegap dan kekar. Putut Sempada. Dengan keras orang
itu menyerang juragan Kiai Gumrah sehingga orang tua itu beberapa
kali terdesak mundur. "Apakah kau tidak mempertimbangkan untuk
menyerah saja orang tua? Tulang-tulangmu sudah rapuh dan barangkali
penglihatanmu sudah tidak jelas lagi." berkata orang bertubuh kekar
itu. Tetapi orang tua itu tersenyum. Sambil mengelakkan serangan
lawannya yang bertubuh tegap dan kekar itu ia menjawab "Aku jauh
lebih tua dari kau orang muda. Aku tentu mempunyai pengalaman yang
jauh lebih banyak. Karena itu, berhati-hatilah. Apalagi bukankah
seharusnya kau menghormati setua aku ini." "Setan kau kakek tua.
Agaknya kau ingin mempercepat kematianmu. Tetapi katakan, siapa
namamu?" "Aku adalah juragan gula kelapa yang dihormati diseluruh
lingkungan ini. Kalau kau tidak percaya bertanyalah kepada Kiai
Gumrah. Ia salah seorang pembuat gula yang selalu menyerahkan
gulanya kepadaku. Aku tidak pernah menghutang dan kemudian baru
membayar setelah gula itu laku. Aku selalu membayar langsung
demikian mereka menyerahkan gula itu kepadaku." "Cukup" orang yang
bertubuh tegap kekar itu berteriak "aku tidak ingin mendengar
bualanmu itu. Siapa namamu, he. Itu saja yang ingin aku dengar."
Juragan gula itu tertawa. Katanya sambil setiap kali meloncat
mengambil jarak "Namaku Ki Padma." "Uah" desah orang bertubuh kekar
itu diluar sadarnya. Sejenak kemudian, maka serangannyapun datang
beruntun. Juragan gula yang menyebut dirinya Ki Padma itu masih saja
berloncatan menghindari serangan-serangan itu. Katanya "Kenapa? Kau
heran mendengar namaku? Padma adalah bunga. Sama manisnya dengan
gula. Kau setuju?" "Setan tua. Kau tidak pantas dengan nama itu.
Pantasnya kau bernama Clurut." geram lawannya. Ki Padma itu tertawa
berkepanjangan sambil berloncatan. Tetapi justru karena itu, maka
iapun telah terdesak beberapa langkah surut. Namun kemudian sambil
berganti menyerang ia bertanya "Siapa namamu?" "Kau tentu juga tidak
percaya."jawab lawannya. "Aku percaya. Katakanlah"sahut Ki Padma.
"Namaku Putut Sempada."jawab orang itu."Nah, kau tentu akan
menyangkal dan akan menyebut nama lain yang paling buruk." "Tidak.
Aku percaya bahwa kau bernama Sempada, meskipun itu bukan nama yang
kau terima dari kedua orang tuamu. Namun bagaimanapun juga, sekarang
kau disebut Putut Sempada."jawab Ki Padma. "Atau kau memang pernah
mendengar nama itu?" bertanya Putut Sempada. "Ya. Aku memang pernah
mendengar nama itu. Aku juga pernah mendengar nama Putut Bahudenda
dan Bahutama. Mereka memiliki ciri perguruan Panjer Bumi. Nah,
jangan menyangkal bahwa aku melihat ciri perguruan itu pada
unsur-unsur gerakmu." "Aku tidak menyangkal bahwa aku murid
perguruan Panjer Bumi. Jilka kau tahu aku dari perguruan Panjer
Bumi, katakan, kau bersumber dari perguruan mana?" bertanya
Bahusasra. "Ternyata pengetahuanmu sangat picik. Putut Sempada
adalah nama yang agung. Aku tidak ingin meniru kau yang merendahkan
pribadiku dibandingkan dengan namaku. Tetapi sebenarnyalah bahwa
nama itu terlalu besar buat orang sepicik kau. Kita sudah bergulat
dalam pertarungan ilmu sekian jauh, tetapi kau sama sekali tidak
mampu menyebut sumber ilmuku." "Kau tentu lahir dari perguruan kecil
di tempat terpencil. Kau dapat melihat kebesaran perguruanku tetapi
aku tidak." geram orang yang mengaku bernama Putut Sempada itu. Ki
Padma tertawa. Katanya "Apapun yang kau katakan, tetapi kita akan
menyelesaikan pertempuran ini sampai tuntas. Betapa besarnya
perguruanmu, tetapi kau nanti harus mengakui, bahwa kuasa Yang Maha
Agung akan menentukan segala-galanya. Bukan kuasa dari Telenging
Bumi atau iblis yang manapun juga. Semakin kau mengingkari, maka kau
akan menjadi semakin dihimpit oleh kuasa-Nya." "Kau ingin melarikan
diri kenyataan seperti Kiai Gumrah." geram Bahusasra. "Sama sekali
tidak. Tetapi hatiku sejalan dengan orang itu." jawab Ki Padma.
Lawannya tidak menjawab lagi. Tetapi dikerahkannya kemampuan untuk
menghancurkan orang yang menyebut dirinya Ki Padma, juragan gula
kelapa itu. Namun ternyata bahwa Ki Padma benar-benar orang yang
berilmu tinggi. Meskipun Sempada tidak segera melihat sumber ilmu
juragan gula itu, tetapi ia merasakan kekuatan yang sangat besar
pada ilmu yang melandasi kemampuannya itu. Dengan demikian maka
pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin sengit sebagaimana
Kiai Gumrah melawan Kiai Windu Kusuma yang juga berilmu sangat
tinggi. Sementara itu kedua kawan Kiai Gumrah yang lain
masing-masing harus bertempur melawan dua orang. Namun lawan-lawan
mereka ilmunya tidak setinggi Kiai Windu Kusuma atau Putut Sempada.
Meskipun demikian melawan dua orang, kawan-kawan Kiai Gumrah itupun
harus mengerahkan kemampuan mereka. Bahkan baik Kiai Gumrah maupun
ketiga orang kawannya, masih harus selalu mengingat kedua orang anak
muda yang berada didalam rumah. Mereka sadar, bahwa orang yang
bernama Niskara itu tentu saja seorang yang dianggap akan mampu
menyelesaikan kedua orang anak muda itu juga mereka bertahan untuk
melindungi pusaka-pusaka itu. Kawankawan Kiai Gumrah itu sebenarnya
sudah mendengar bagaimana kekerasan hati kedua anak muda yang
terdampar dirumahnya. Meskipun keduanya tidak mempunyai sangkut paut
dengan Kiai Gumrah, apalagi pusaka-pusaka itu, namun keduanya telah
menyatakan kesediaan mereka untuk membantunya. Karena itu, baik Kiai
Gumrah maupun ketiga orang kawannya tentu tidak akan sampai hati
membiarkan kedua orang anak muda itu mengalami kesulitan. Tetapi
mereka tidak mempunyai kesempatan untuk menolong mereka karena
mereka sedang terlibat dalam pertempuran yang sengit. Namun setelah
menjajagi ilmunya beberapa saat, salah seorang kawan Kiai Gumrah
yang bertempur melawan dua orang lawan itu berkata lantang "He, aku
akan meninggalkan orang-orang itu. Biarlah keduanya menempatkan diri
untuk melawan salah seorang dari kalian. Aku akan melihat apa yang
terjadi didalam." "Lakukanlah" sahut Kiai Gumrah sambil bertempur
melawan Kiai Windu Kusuma. Meskipun Kiai Windu Kusuma berilmu sangat
tinggi, jika kedua orang itu bergabung bersamanya, maka Kiai Gumrah
masih berharap untuk dapat bertahan beberapa lama meskipun ia harus
berlari-lari berputaran di halaman. Sementara itu, ia berharap bahwa
kawannya itu akan dapat segera menyelesaikan orang yang disebut
Niskara itu. Namun dalam pada itu, kawan Kiai Gumrah yang akan
meninggalkan kedua lawannya itu justru tertegun. Karena kedua
lawannya masih saja menyerangnya dan seakan-akan tidak ingin
melepaskannya, maka kawan Kiai Gumrah itu masih harus berloncatan
menghindar. Bahkan kedua orang lawannya itu dengan sengaja menahan
agar orang itu tidak dapat meninggalkan mereka. Sementara keempat
orang tua-tua itu masih bertempur dengan sengitnya, maka didalam
rumah itu, Manggada dan Laksana benar-benar tidak mampu berbuat
banyak menghadapi Niskara. Meskipun Niskara itu masih belum
mempergunakan senjatanya, namun Manggada dan Laksana berkali-kali
terdorong dan terbanting jatuh. Bahkan kemudian keduanya menjadi
semakin tidak berdaya. Ketika kepala Laksana membentur tiang, maka
seisi rumah itu rasa-rasanya menjadi berputar. Hanya karena
ketahanannya saja, ia masih tetap sadar. Meskipun demikian ketika ia
berusaha untuk bangkit, ia justru terhuyung-huyung kehilangan
keseimbangannya. Meskipun Laksana mencoba berpegangan tiang, tetapi
iapun jatuh terduduk. Pedangnya telah terlepas dari tangannya,
sementara nafasnya menjadi sesak. Sementara itu Manggadapun tidak
dapat bertahan lebih lama lagi. Dengan kerasnya Manggada terlempar
ketika kaki Niskara itu mengenai pundaknya. Demikian kerasnya
sehingga Manggada membentur dinding dan bahkan dinding itu telah
terkoyak. Manggada yang terlempar itu terjatuh keluar rumah. Tetapi
tidak dihalaman depan. Manggada berguling beberapa kali di halaman
sam ping. Kepalanya yang membentur dinding sehingga koyak itu
menjadi pening. Matanya berkunang-kunang dan kemudian menjadi gelap.
Hampir bersamaan kedua orang anak muda itu menjadi pingsan.
Sementara itu pertempuran di halaman masih berlangsung dengan
sengitnya. Kiai Gumrah dengan ketiga orang kawannya yang gelisah itu
telah meningkatkan kemampuan mereka. Namun lawan-lawan merekapun
berbuat serupa pula, sehingga karena itu, maka pertempuran itu
benar-benar menjadi pertempuran yang seru diantara orang-orang
berilmu tinggi. Kiai Windu Kusuma yang berhadapan dengan Kiai
Gumrah, ternyata juga menjadi gelisah. Ia berharap agar Niskara
dapat menguasai pusaka-pusaka itu dengan cepat. Namun ternyata
Niskara masih juga belum keluar dari rumah itu dengan membawa
pusaka-pusaka yang diinginkannya. Justru karena itu, maka dua orang
berilmu tinggi itu bertempur dalam kegelisahan mereka masing-masing.
Kiai Gumrah gelisah karena Manggada dan Laksana yang keras hati,
keduanya tentu tidak akan begitu saja meninggalkan pusaka-pusaka itu
meskipun lawannya dapat mengancam jiwanya. Sementara itu,
kawan-kawannya dan bahkan dirinya sendiri tentu tidak akan dapat
dengan mudah meninggalkan lawan-lawannya. Sedangkan Kiai Windu
Kusuma menjadi gelisah karena Niskara tidak segera keluar dari rumah
dengan membawa pusaka-pusaka yang mereka kehendaki. Menurut
perhitungan Kiai Windu Kusuma. Niskara akan dapat dengan mudah
menyelesaikan kedua orang anak muda yang ada didalam yang
kemampuannya masih sangat dasar sebagaimana dilaporkan oleh dua
orang yang telah datang lebih dahulu kerumah itu. Kiai Windu Kusuma
untuk sementara masih menahan diri. Ia mencoba untuk mengerahkan
kemampuannya serta memusatkan nalar budinya menghadapi Kiai Gumrah.
Tetapi kegelisahannya itu seakan-akan tidak tertahankan lagi. Karena
itu, maka iapun berteriak "He, lihat, apakah Niskara justru tidur
didalam atau ia telah berkhianat dan membawa pusaka-pusaka itu pergi
melalui pintu butulan." Untuk sesaat masih belum ada yang
meninggalkan arena pertempuran itu. Dua orang kawan Kiai Gumrah yang
masing-masing harus menghadapi dua orang sekaligus telah mengerahkan
ilmunya. Mereka mencoba untuk menahan salah seorang dari lawannya
yang akan meninggalkan arena. Tetapi karena lawannya juga
menghentakkan kemampuan mereka, maka kedua orang kawan Kiai Gumrah
itu justru terdesak surut. Justru pada saat itu seorang dari mereka
telah meloncat meninggalkan salah seorang kawan Kiai Gumrah itu dan
berlari kepintu rumah Kiai Gumrah. Sementara itu seorang kawannya
harus bertempur seorang melawan seorang dengan kawan Kiai Gumrah
itu. Orang itu memang segera terdesak. Tetapi ia masih mempunyai
beberapa cara untuk mempertahankan hidupnya. Halaman rumah Kiai
Gumrah ternyata cukup luas untuk menghindar disaat-saat yang sulit.
Bahkan beberapa batang pohon buah-buahan dapat dipergunakan untuk
sekedar menyelamatkan diri pada saatsaat yang paling gawat.
Demikianlah, seorang pengikut Kiai Windu Kusuma yang memasuki rumah
Kiai Gumrah itupun langsung menuju keruang dalam. Dilihatnya seorang
anak muda yang pingsan terbaring dilantai. Kemudian dilihatnya pula
dinding bambu yang koyak. Demikian ia melihat keluar lewat lubang
dinding itu, dilihatnya seorang anak muda yang lain telah terbaring
pula. Namun orang itu terkejut bukan buatan ketika ia melihat
Niskara juga terbaring diluar rumah tidak terlalu jauh dari anak
muda yang juga terbaring diluar itu. Dengan cepat ia merunduk lewat
lubang dinding itu keluar. Ketika ia berjongkok disebelah Niskara,
maka dilihatnya tubuh itu terkoyak mengerikan. Luka-luka yang parah
terdapat hampir diseluruh tubuhnya. "Siapa yang telah memperlakukan
Niskara seperti ini?" pertanyaan itupun telah bergejolak didalam
hatinya. Tetapi orang itupun harus menjadi sangat berhati-hati.
Niskara memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari kemampuannya.
Tetapi ia gagal mempertahankan hidupnya. Justru dengan luka yang
sangat parah. Tetapi kawan Niskara itu tidak yakin bahwa luka-luka
itu adalah luka-luka senjata. Luka-luka itu menurut pengamatannya
seakan-akan luka oleh kuku-kuku dan taring binatang buas. "Tetapi
dimana ada binatang buas disini?" orang itu bertanya didalam
hatinya. Karena itulah, maka orang itupun segera mengambil keputusan
untuk mengambil pusaka-pusaka yang disimpan oleh Kiai Gumrah. Dengan
senjata teracu ia kemudian meninggalkan Niskara dengan sangat
berhati-hati. Karena Niskara telah mati, maka ia tidak akan berbuat
apa-apa untuk menyelamatkannya. Apalagi kedua orang anak muda itu
mungkin pingsan. Jika mereka sadar, maka ia harus bertempur lagi
melawan keduanya. Karena itu, maka kawan Niskara itupun segera
menyuruk kembali masuk kedalam rumah. Perlahan-lahan ia melangkah ke
bilik tempat pusaka-pusaka itu mungkin disimpan. Ketika angin
bertiup menyingkap tirai dipintu bilik sebelah, maka nampak sebuah
ploncon dengan pusakapusaka yang tentu pusaka yang dicarinya. Dalam
keremangan lampu yang redup, orang itu melihat beberapa batang
tombak dan songsong berdiri tegak pada ploncon itu. Orang itu tidak
berpikir panjang. Dengan serta-merta orang itu meloncat masuk
kedalam bilik yang redup itu. Tetapi orang itu terkejut bukan
buatan. Demikian ia berdiri didalam bilik itu, maka dilihatnya dua
ekor harimau menggeram siap untuk menerkamnya. Dengan cepat orang
itu meloncat mundur. Namun kedua ekor harimau itu telah
mengikutinya, keluar dari bilik itu. Orang itu bukan seorang
penakut. Seandainya ia harus berkelahi melawan seekor dari kedua
harimau yang besar itu, ia tidak akan gentar. Tetapi melawan dua
ekor harimau yang besar dan garang itu, maka nasibnya tentu tidak
akan lebih baik dari Niskara yang telah terbunuh itu. Dalam waktu
yang pendek itu otaknya bekerja dengan cepat. Ia akan memancing
harimau itu keluar rumah dan membawanya ke halaman. Jika harimau itu
berada dihalaman, maka harimau itu tentu tidak akan dapat memilih
siapakah yang akan dilawannya. Meskipun demikian sekilas timbul
keheranan didalam hatinya, bahwa kedua ekor harimau itu tidak
berbuat apaapa terhadap kedua orang anak muda yang pingsan itu.
Tetapi ia tidak sempat berpikir panjang. Dengan cepat ia meloncat
keluar pintu rumah dan berlari ke halaman. "Kenapa kau berlari-lari
he?" Kiai Windu Kusuma berteriak "Dimana Niskara?" Orang itu
berhenti sejenak. Ternyata kedua ekor harimau itu tidak mengejarnya.
Satupun diantara keduanya tidak ada yang nampak keluar pintu depan
rumah itu. "He, dimana Niskara?" sekali lagi Kiai Windu Kusuma yang
masih bertempur melawan Kiai Gumrah itu berteriak. Terdengar Kiai
Gumrah tertawa. Ia memanfaatkan keadaan itu untuk mempengaruhi
lawannya. Katanya "Nah, ternyata Niskara tidak dapat mengalahkan
kedua orang cucuku itu." "Tidak" teriak orang itu yang masih berdiri
ter-mangumangu beberapa langkah didepan pintu. "Kedua anak muda itu
terbaring diam di rumah itu. Mungkin ia pingsan atau mati atau
pingsan sampai mati." "Jika demikian kenapa kau berlari-lari
keluar?" bertanya Kiai Gumrah. “Ternyata didalam rumah terdapat
harimau jadi-jadian. Atau pusaka-pusaka itu dapat berwujud harimau.
Ada dua ekor harimau di bilik penyimpanan pusaka itu." teriak orang
itu dengan suara bergetar. Masih terasa betapa jantungnya menjadi
ngeri melihat kedua ekor harimau itu. Yang mendengarkan teriakan
orang itu menjadi terkejut karenanya. Bahkan Kiai Gumrah dan
kawan-kawannyapun terkejut pula. Kiai Gumrah yang tinggal dirumah
itu tidak pernah melihat ada seekor harimau. Apalagi didalam
rumahnya. Ia juga tidak percaya bahwa pusakapusaka itu dapat berubah
menjadi harimau atau dari dalamnya keluar seekor harimau atau bahkan
lebih. Namun dalam pada itu, pertempuran itu masih berlangsung.
Seorang pengikut Kiai Windu Kusuma yang harus bertempur menghadapi
seorang kawan Kiai Gumrah telah mengalami kesulitan. Sejak kawannya
meninggalkannya masuk mencari Niskara, maka ia lebih banyak
berlari-lari menghindar. Kadang-kadang bahkan ia harus
berputar-putar mengelilingi pohon-pohon besar dan perdu untuk
menyelamatkan diri. Karena kawannya yang berlari keluar dari rumah
itu masih saja termangu-mangu, sementara kulitnya telah mulai
tergores ujung senjata lawannya, maka ia segera berteriak "He,
jangan tidur disitu. Kau menunggu jantungku koyak?" Orang itupun
segera menyadarinya. Karena itu, maka iapun segera berlari
menggabungkan diri dengan kawannya yang ditinggalkannya. Namun
keadaan keselamatan pertempuran itu sudah berubah. Kawan-kawan Kiai
Gumrah sudah mulai menekan lawan-lawannya. Bahkan yang melawan kedua
orang pengikut Kiai Windu Kusuma itupun telah berhasil menekan
lawannya. Meskipun lawannya bertempur berpasangan, namun
kemampuannya memang masih belum setingkat dengan Niskara yang
terbunuh itu. Ternyata Kiai Windu Kusuma mulai mempertimbangkan
keadaan. Ia sendiri merasa tidak akan dapat mengatasi Kiai Gumrah.
Bahkan semakin lama maka tekanan Kiai Gumrah itupun terasa menjadi
semakin berat. Apalagi dengan ceritera tentang kedua ekor harimau
itu. "Jika harimau itu mampu memilih lawan, maka persoalannya akan
menjadi lain" berkata Kiai Windu Kusuma didalam hatinya. Meskipun
demikian untuk beberapa saat ia masih mencoba untuk mengerahkan
kemampuannya. Tetapi Kiai Gumrahpun telah sampai ketataran yang
lebih tinggi pula. Bagaimanapun juga, maka Kiai Windu Kusuma tidak
akan dapat mengalahkan lawannya. Kecuali jika ia mencoba untuk
mempergunakan ilmu puncaknya. Meskipun demikian maka Kiai Windu
Kusuma itupun yakin bahwa Kiai Gumrahpun tentu memiliki ilmu
simpanannya. Ternyata kehadirannya dirumah itu telah disambut oleh
kekuatan diluar perhitungannya. Meskipun ia memang menduga bahwa
Kiai Gumrah tidak sendiri, tetapi ia tidak mengira bahwa ada empat
orang berilmu tinggi dirumah itu selain kedua orang cucu Kiai
Gumrah. Memang timbul niat Kiai Windu Kusuma untuk menyelesaikan
pertempuran itu dengan tuntas. Ia sudah siap mempertaruhkan hidup
dan matinya untuk mendapatkan pusaka-pusaka itu. Namun ketika dalam
kegelapan malam dihalaman samping ia sempat melihat dua pasang sinar
yang kehijau-hijauan, maka Kiai Windu Kusuma memang harus berpikir
ulang. Kiai Windu Kusuma sadar, bahwa sinar kehijauan yang dua
pasang memancar dalam kegelapan itu tentu mata dua ekor harimau
sebagaimana dikatakan oleh salah seorang pengikutnya itu. Karena
itu, maka Kiai Windu Kusuma harus membuat perhitungan yang cermat.
Sementara itu Putut Sempada yang bertempur melawan kawan Kiai Gumrah
yang disebut juragan gula itupun berkata "Jadi kalian menyimpan
harimau jadi-jadian dirumah ini? Harimau seperti itu memang berarti
untuk satu saat. Tetapi pada kesempatan lain, setelah kami tahu
bahwa disini ada harimau jadi-jadian, maka kalian tidak akan sempat
berbuat sesuatu lagi." Juragan gula itu tidak menjawab. Ia memang
ikut bingung menanggapi persoalan harimau yang ada dirumah itu.
Iapun melihat bulatan-bulatan cahaya kehijauan di kegelapan. Juragan
gula itu juga mengira bahwa yang bercahaya itu bukan sekedar mata
kucing. Tetapi tentu mata harimau. "Kiai Gumrah belum pernah
berceritera tentang harimau itu" berkata juragan gula itu didalam
hatinya. Bahkan Kiai Gumrah sendiri menjadi gelisah melihat dua
pasang mata harimau dihalaman samping rumahnya. Ia sendiri tidak
tahu sama sekali tentang harimau-harimau itu. Bahkan Kiai Gumrah
juga memikirkan kemungkinan buruk atas Manggada dan Laksana yang
mungkin pingsan. Jika mereka masih mempunyai kesempatan hidup, maka
harimau-harimau itu akan dapat mengoyakkan tubuhnya. Ternyata
kebingungan itu membuat mereka yang sedang bertempur itu tidak lagi
memusatkan perhatian mereka. Kiai Windu Kusuma, Putut Sempada, para
pengikut Kiai Windu Kusuma yang lain menganggap bahwa harimauharimau
itu adalah semacam harimau jadi-jadian yang dapat membantu Kiai
Gumrah. Jika demikian maka keadaan mereka benar-benar akan menjadi
semakin sulit. Tanpa harimau-harimau itu mereka merasa bahwa tidak
mudah menundukkan orang-orang tua itu. Apalagi dengan harimau
jadi-jadian. Karena itu, maka Kiai Windu Kusuma itu tiba-tiba saja
berkata lantang "He, Kiai Gumrah. Itukah yang kau sebut pertolongan
dari Yang Maha Agung? Ternyata kaupun bertumpu pada kekuatan iblis.
He, apakah harimau jadijadian bukan salah satu ujud kekuatan hitam?"
Kiai Gumrah tidak mau menerima tuduhan itu. Katanya "Aku tidak
pernah berhubungan dengan iblis." "Jadi, apa artinya harimau-harimau
itu? Seandainya pusaka-pusaka itu dapat menjelma menjadi harimau,
itukah yang kau maksudkan?" "Tidak." jawab Kiai Gumrah "tetapi jika
harimauharimau itu datang dari hutan karena kebingungan dan disini
mereka menemukan Niskara dan membunuhnya, itu harus kau renungkan."
"Omong kosong." geram Kiai Windu Kusuma "tetapi baiklah. Pada
kesempatan lain, aky akan datang dan siap melawan harimau
jadijadianmu. Kau akan menyesal bahwa kau ternyata tidak jujur dan
licik." Kiai Gumrah tidak menjawab. Namun kemudian terdengar isyarat
dari Kiai Windu Kusuma. Isyarat agar para pengikutnya mengundurkan
diri dari halaman rumah Kiai Gumrah. Sambil bergeser keregol
halaman, Kiai Windu Kusuma dan para pengikutnya berusaha untuk dapat
melepaskan diri dari keempat orang tua yang mempertahankan
pusakapusaka itu. Sementara Kiai Gumrah dan kawan-kawannya masih
saja memikirkan nasib Manggada dan Laksana. Karena itu, ketika
kemudian Kiai Windu Kusuma meloncat meninggalkan halaman itu. Kiai
Gumrah tidak mengejarnya. Bahkan ia memberikan isyarat kepada
kawankawannya agar mereka tidak mengejar orang-orang yang melarikan
diri dari halaman rumahnya. Ada yang meloncat keluar dari regol,
tetapi ada pula yang memanjat dinding halaman yang memang tidak
terlalu tinggi. Demikian orang-orang itu pergi, maka tanpa berjanji
Kiai Gumrah dan kawan-kawannya telah berlari kepintu rumah. Namun
Kiai Gumrah dan kawan-kawannya tidak meninggalkan kewaspadaan.
Harimau yang semula ada dihalaman, namun kemudian sinar mata itu
bagaikan padam, justru mungkin telah ada didalam rumah itu kembali.
Mungkin harimau-harimau itu siap untuk menerkam mereka berempat
demikian mereka masuk. Tetapi keempat orang itu tidak melihat
sesuatu. Mereka tidak melihat harimau. Yang mereka temukan adalah
Laksana yang telah mulai sadar kembali. "Anak itu pingsan" desis
Kiai Gumrah. Sambil berjongkok disisi Laksana Kiai Gumrah bertanya
"Dimana Manggada?" Laksana termangu-mangu sejenak. Ia mencoba
mengingat apa yang telah terjadi. "Aku masih melihat ia bertahan"
desis Laksana. Tibatiba saja mereka mendengar seorang diantara kawan
Kiai Gumrah itu berkata "Ia ada disini." Merekapun dengan
tergesa-gesa telah berlari kearah suara itu, menyusup dinding yang
terkoyak dan sebenarnyalah mereka menemukan Manggada yang juga sudah
mulai sadar. Laksana yang baru sadar itupun telah ikut pula berlari.
Ia menarik nafas panjang ketika ia melihat Manggadapun telah duduk
pula. Tetapi mereka terkejut pula ketika mereka melihat tubuh
seseorang terbaring tidak jauh dari Manggada. "Itulah orang yang
disebut Niskara" desis Kiai Gumrah. "Ya" jawab seorang kawannya yang
sedang mengamati tubuh yang terbaring diam dengan luka yang sangat
parah itu. Ketika orang-orang itu menyaksikan luka-luka ditubuh
Niskara itu, maka mereka sepakat bahwa luka-luka itu adalah bekas
kuku-kuku dan taring harimau. "Jika hanya seekor harimau, mungkin
Niskara akan dapat mengatasinya. Tetapi dua ekor harimau yang besar
dan kuat dimalam yang gelap. Bahkan mungkin tiba-tiba." berkata Kiai
Gumrah sambil memandang berkeliling. "Harimau-harimau itu ada
didekat tempat ini. Dari halaman depan kita melihat cahaya matanya
yang kehijauhijauan." berkata salah seorang tamu Kiai Gumrah itu.
"Ya" juragan gula itu "tetapi aku tidak melihatnya sekarang. Mungkin
harimau-harimau itu bersembunyi. Dengan tiba-tiba mereka akan
meloncat menerkam kita." "Apakah kita juga akan menjadi ketakutan?"
bertanya Kiai Gumrah. Juragan gula itu tertawa. Katanya "Harimau
itulah yang menjadi ketakutan." "Ya. Apalagi setelah mendengar
suaramu. Jauh lebih garang dari aum seekor harimau" berkata salah
seorang yang lain. Orang-orang tua itu sempat tertawa. Namun
kemudian Kiai Gumrah teringat kepada Manggada dan Laksana yang baru
saja sadar dari pingsan. Sambil mendekati kedua orang anak yang
termangu-mangu itu, Kiai Gumrahpun bertanya "Apakah kau melihat
seekor atau dua ekor harimau didalam atau diluar rumah ini?" "Tidak
kek" jawab Manggada "yang aku ingat adalah, aku terlempar keluar.
Sesudah itu semuanya gelap.” "Manggada" desis juragan gula itu "kau
lihat, seorang diantara mereka yang datang kerumah ini adalah yang
terbunuh itu. Menilik lukanya, tentu bukan luka karena senjata. Luka
itu adalah bekas kuku dan taring harimau yang garang. Sementara itu
seorang yang lain telah melihat dua ekor harimau dirumah ini.
Sehingga dengan demikian mereka tidak sempat mengambil pusaka-pusaka
itu meskipun kalian berdua sudah pingsan." Manggada termangu-mangu
sejenak. Sementara Kiai Gumrahpun bertanya kepada Laksana "Apakah
kau juga tidak melihat?" "Tidak kek" jawab Laksana "akupun menjadi
pingsan. Kami berdua tidak mampu menahan orang yang datang untuk
mengambil pusaka itu. Tetapi agaknya orang itu gagal karena orang
itu justru terbunuh." "Baiklah. Kita dihadapkan pada satu teka-teki.
Tetapi Kiai Windu Kusuma yang agaknya bersumber pada ilmu hitam itu
justru mengira bahwa harimau itu adalah harimau jadi-jadian." Para
Tamu Kiai Gumrahpun mengangguk-angguk. Tetapi mereka masih saja
berusaha untuk mengamati keadaan. Seorang diantara mereka telah
melihat beberapa batang pohon perdu yang rusak. Iapun melihat jejak
kaki. Kaki harimau. "Memang ada dua ekor harimau" desis orang itu.
"Baiklah" berkata Kiai Gumrah "tetapi bagaimana dengan tubuh Niskara
ini." "Bukan kita yang membunuhnya" berkata juragan gula itu. "Kita
kuburkan saja di sudut kebun belakang. Jika ada orang yang melihat,
maka akan menjadi persoalan yang berkepanjangan. Apalagi ceritera
tentang harimau itu tentu akan segera menjalar keseluruh padukuhan
dan bahkan seluruh Kademangan." berkata seorang yang lain. Kiai
Gumrahpun sependapat. Karena itu, maka mereka telah menggali lubang
kubur buat Niskara disudut halaman belakang rumah itu. Malam yang
tersisa itupun telah diliputi suasana yang lain. Keempat orang tua
itu tidak berkelakar lagi seperti sebelum mereka bertempur. Meskipun
sekali-sekali masih terdengar mereka tertawa, tetapi tidak
meledak-ledak lagi. Manggada dan Laksanapun tidak lagi berada di
dapur. Mereka juga berada diruang dalam bersama dengan orangorang
tua itu. Untuk sementara dinding yang koyak itu ditautkan dan diikat
saja dengan tali ijuk yang sering dipergunakan oleh Kiai Gumrah
mengikat keranjangkeranjang gula. Juragan gula itupun ternyata
menaruh perhatian yang besar kepada Manggada dan Laksana. Karena
itu, maka iapun kemudian berkata "Ngger, kau telah melihat sendiri
apa yang terjadi disini. Bahkan ikut pula bermain dua ekor harimau
yang tidak diketahui asal-usulnya. Di padukuhan ini sebelumnya kami
tidak pernah menemukan seekor harimaupun. Bahkan kucing hutanpun
tidak, meskipun disebelah bulak panjang itu terdapat padang perdu
yang langsung berhubungan dengan hutan yang meskipun tidak terlalu
besar, tetapi terhitung hutan yang buas. Dan kini, tiba-tiba saja di
rumah ini dua ekor harimau. Karena itu, ngger. Sebaiknya kalian
berdua mempertimbangkan kemungkinan untuk meninggalkan tempat ini.
Bukankah kalian datang kerumah ini sekedar untuk bermalam?
Seandainya malam itu angger berada dibanjar, bukankah angger tidak
akan tetap berada dibanjar sampai sekarang ini?" Manggada dan
Laksana saling berpandangan sejenak. Namun dengan nada rendah
Manggada berkata "Kami mohon maaf bahwa kami masih tetap tinggal.
Sebenarnyalah bahwa kami merasa semakin terikat dengan rumah ini.
Kami sudah terlanjur terlibat. Setidak-tidaknya menurut pendapat
kami sendiri." "Ngger" berkata Kiai Gumrah "seharusnya kau tidak
lagi bertahan dirumah ini. Kau tentu melihat, betapa aku selama ini
berusaha membohongimu. Aku tidak bersikap terbuka terhadap kalian
berdua meskipun kalian dengan ikhlas berusaha membantu kami. Dengan
demikian, sepantasnya kalian menjadi curiga kepadaku sehingga kalian
tidak lagi percaya kepadaku." "Kiai" berkata Manggada kemudian "aku
tahu bahwa tidak semua hal dapat Kiai katakan kepada orang lain,
termasuk kepada kami berdua. Tetapi bagaimanapun juga, kami merasa
wajib untuk membantu Kiai. Meskipun pengertian membantu itu
sesungguhnya tidak lebih dari beban bagi Kiai dan yang lain." Kiai
Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Apaboleh buat. Tetapi kau
sudah melihat bahaya yang mengancam rumah ini. Meskipun demikian aku
ingin menjelaskan, bahwa dua ekor harimau itu tidak termasuk
permainan kami. Kami benar-benar tidak tahu, bahwa kedua ekor
harimau itu ada dan bahkan seakan-akan telah membantu melindungi
pusaka-pusaka itu atau bahkan pusaka-pusaka itu dapat menjelma
menjadi harimau." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Mereka
sama sekali tidak melihat harimau itu karena mereka menjadi pingsan.
Tetapi mereka melihat jejak harimau itu. Dan harimau itu tidak
hilang didalam bilik penyimpanan pusaka. Tetapi jejaknya menuju ke
sudut halaman dan kemudian jejak itu seakan-akan telah hilang.
Tetapi orangorang tua itu menduga bahwa harimau itu telah meloncat
memanjat pepohonan dan kemudian keluar dari halaman. Namun dalam
pada itu, tiba-tiba saja Manggada berkata "Kiai. Mungkin aku dapat
berceritera tentang dua ekor harimau yang pernah aku lihat." "Dimana
kau lihat dua ekor harimau yang besar dan garang itu?" bertanya Kiai
Gumrah. Keterangan Manggada itu sangat menarik perhatiannya. Ketika
kami berada dibalik hutan dilingkungan kuasa Panembahan Lebdadadi,
maka Ki Pandi yang bongkok itu juga mempunyai dua ekor harimau yang
jinak. Jinak bagi Ki Pandi, tetapi ia tetap garang bagi orang lain,
terutama sesuai dengan petunjuk Ki Pandi. Kecuali kegarangan harimau
sebagaimana kebanyakan harimau liar, maka kedua ekor harimau itu
telah mendapat latihan-latihan khusus dari Ki Pandi." berkata
Manggada kemudian. "Ki Pandi orang bongkok itu" tiba-tiba saja
juragan gula itu bertanya. "Ya" desis Manggada ragu-ragu. Ia tidak
tahu, bagaimana tanggapan Kiai Gumrah dan kawan-kawannya itu
terhadap orang yang bernama Ki Pandi itu. Jika mereka justru
bermusuhan, maka tanggapan mereka tentu akan menjadi aneh, karena
harimau-harimau itu justru telah menyelamatkan pusaka-pusaka itu.
Tetapi seorang tamu Kiai Gumrah yang lainpun kemudian tertawa sambil
berkata "Orang bongkok yang selalu murung itu? He, darimana ia tahu
bahwa ada persoalan yang timbul disini. Seandainya kedua ekor
harimau itu memang milik orang bongkok itu." "Ki Pandi, dan tentu
kedua ekor harimau itu mengenal burung-burung elang yang berkuku
baja itu. Ki Pandi pernah bertempur dengan Panembahan Lebdadadi."
Orang-orang tua itu mengangguk-angguk. Juragan gula itulah yang
kemudian berkata "Memang masuk akal. Tetapi kita masih harus
melihat, apakah benar Ki Pandi telah ikut campur dalam persoalan
ini." "Dan bahkan mungkin juga Ki Ajar Pangukan" desis Laksana.
"Siapakah Ki Ajar Pangukan itu?"bertanya salah seorang kawan Kiai
Gumrah. Laksana termangu-mangu sejenak. Ia tidak mengerti bagaimana
menjelaskan orang yang bernama Ki Ajar Pangukan itu. Agaknya Kiai
Gumrah mengerti kesulitan Laksana. Katanya "Kau tentu tidak akan
dapat memberikan keterangan lebih banyak ngger, karena bagaimanapun
juga kami akan sulit membayangkannya seandainya kami memang belum
mengenalnya. Tetapi bagiku orang itu tidak terlalu asing." "He,
jangan sombong Kiai Gumrah. Kau kira kau dapat mengenali orang seisi
bumi ini?" "Jangan marah" berkata Kiai Gumrah "tetapi pengetahuan
memang lebih luas dari kau. Aku sudah pernah menjadi penjaja gula
keliling dari pasar ke pasar sehingga aku melihat dunia yang penuh
dengan gejolak ini." "Tetapi ternyata pengenalanmu atas dunia ini
masih belum seluas anak-anak itu. He, kau tahu darimana datangnya
harimau-harimau itu?" sahut kawannya. Kiai Gumrah justru tertawa.
Katanya "Jangan merajuk begitu kek. Kita sama-sama penyadap legen
kelapa." Yang lainpun tertawa pula, sementara orang itu berkata
"Kalau begitu aku pulang saja." Kawan-kawannya tertawa semakin
keras. Kiai Gumrah justru berkata "He, aku masih mempunyai hidangan
buat kalian. Marilah. Kita teruskan permainan kita." "Tetapi
mangkuk-mangkuk itu sudah pecah. Isinya sudah berserakan. Apa yang
harus kami makan dan kami minum jika kami masih harus meneruskan
permainan itu?” "Kau kira aku sudah tidak mempunyai makanan lagi?
Didalam kuali didapur masih terdapat ketela dan sukun yang direbus
dengan legen. Kalau kalian tidak percaya, bertanyalah kepada kedua
orang cucuku itu." Ketiga orang tamu Kiai Gumrah itu saling
berpandangan sejenak. Namun kemudian juragan gula itu berkata
"Baiklah. Kami akan meneruskan permainan sampai menjelang fajar.
Besok aku harus pergi ke pasar pagi-pagi. Aku sudah membuat
perjanjian jual beli gula dipasar dengan pedagang dari Kademangan
sebelah." Manggada dan Laksanapun kemudian membantu mengumpulkan dan
membersihkan mangkuk-mangkuk yang pecah serta makanan yang tumpah.
Baru kemudian mereka menghidangkan makanan yang masih tersisa dua
kuali. Tetapi orang-orang tua itu nampaknya sudah merasa letih.
Mereka tidak lagi banyak tertawa, meskipun sekalisekali masih
terdengar mereka berkelakar. Menjelang fajar, permainan itu memang
sudah selesai. Ketiga orang tamu Kiai Gumrahpun telah minta diri.
Ternyata mereka tidak menghitung lembaran-lembaran daun ketela pohon
yang mereka pergunakan dalam permainan dadu itu. Orang-orang tua itu
tidak benar-benar bertaruh dengan gula kelapa sebagaimana yang
mereka katakan. Sehingga dengan demikian maka Manggada dan
Laksanapun semakin yakin bahwa orang-orang itu telah dengan sengaja
membantu Kiai Gumrah melindungi pusaka-pusaka yang dititipkan
dirumah itu. Meskipun ceritera tentang pusaka yang dititipkan itupun
masih harus diuji kebenarannya. Agaknya Kiai Gumrah memang tidak
mengatakan yang sebenarnya kepada Manggada dan Laksana. Tetapi
Manggada dan Laksana merasakan bahwa orang tua itu sama sekali tidak
bermaksud buruk. Ketika para tamu Kiai Gumrah itu sudah bangkit
berdiri dan minta diri, juragan gula itu masih sempat berkata kepada
kedua orang anak muda itu "Kalian telah melihat apa yang terjadi
disini. Mungkin ada hal-hal yang membuat kalian heran dan bahkan
kecewa. Kau mungkin merasakan bahwa tidak semua yang pernah kau
dengar tentang Kiai Gumrah, tentang kami, pedagang-pedagang gula ini
serta tentang pusaka-pusaka itu, benar adanya. Karena itu, maka
apakah tidak sebaiknya kalian meninggalkan tempat ini. Berulang kali
kami menyatakan hal itu, karena sebenarnyalah kami merasa ikut
bertanggung jawab atas keselamatan kalian. Justru karena kalian
sebenarnya tidak terlibat dalam persoalan yang terjadi disini."
Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Meskipun ragu-ragu,
namun Mariggada masih berusaha menjelaskan sikapnya. Katanya "Kiai.
Kami masih ingin memohon, bahwa kami diperkenankan tinggal disini
untuk beberapa lama. Persoalan yang terjadi disini semakin lama
menjadi semakin menarik. Ketika kami melihat burungburuhg elang
berkuku baja itu, kami merasa seolah-olah kami memang telah
terlibat. Apalagi dengan jejak kedua ekor harimau itu. Seakan-akan
kami telah mengenalinya. Seandainya harimau itu harimau liar, maka
mungkin tubuh kami juga sudah dikoyak-koyaknya disaat kami pingsan.
Tetapi ternyata kami masih utuh, sehingga seakan-akan kami yakin
bahwa kedua ekor harimau itu telah mengenal kami dengan baik. Atau
setidak-tidaknya dikendalikan oleh orang yang telah mengenal kami."
Keempat orang tua itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian seorang
diantara mereka berkata "Kami dapat mengerti perasaanmu ngger.
Tetapi kaupun harus ingat, bahwa yang sedang kami hadapi adalah
bukan orangorang kebanyakan. Merekapun orang-orang berilmu tinggi.
Kiai Windu Kusuma menurut penilaianku, adalah orang yang memiliki
ilmu yang sangat tinggi. Namun ia tidak sempat mempergunakannya
karena kehadiran dua ekor harimau yang baginya menyimpan rahasia
yang sulit ditebak. Sementara itu Kiai Windu Kusuma juga
memperhitungkan kemampuan kami berempat. Tetapi apa yang dilihat dan
diamatinya malam ini tentu akan menjadi bahan bagi
langkah-langkahnya selanjutnya. Jika ia menyebut-nyebut nama seorang
Panembahan, maka Panembahan itu tentu seorang yang jarang ada
duanya." "Kami mengerti Kiai. Tetapi sulit bagi kami untuk
meninggalkan tempat ini sebelum persoalannya menjadi tuntas." desis
Manggada. Orang-orang tua itu memang tidak dapat memaksa Manggada
dan Laksana untuk meninggalkan tempat itu. Karena itu, maka akhirnya
Kiai Gumrahpun berkata "Jika demikian, apaboleh buat. Tetapi
sebagaimana kalian ketahui, bahwa ada kemungkinan buruk dapat
terjadi atas kami dan tentu saja juga atas kalian sebagaimana baru
saja terjadi. Meskipun kemudian ternyata bahwa Yang Maha Agung masih
melindungi kalian berdua dan kami semuanya. Karena kalian berdua
juga sudah cukup mempunyai penilaian atas persoalan yang kalian
hadapi,, serta menyadari bahaya yang mungkin mengancam kalian, maka
sebaiknya kalian pertimbangkan keputusan kalian sebaik-baiknya."
"Rasa-rasanya kami sudah mengambil keputusan Kiai." jawab Manggada.
Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Tetapi hatinya telah tergetar
mendengar tekad anak-anak muda itu. Katanya "Baiklah ngger. Tekadmu
tidak tergoyahkan lagi. Aku berterima kasih kepadamu. Apapun yang
dapat kalian lakukan, tetapi niatmu harus aku hargai. Karena itu,
jika tekadmu sudah bulat serta menyadari kemungkinankemungkinan yang
dapat terjadi, maka aku tidak berkeberatan kalian tinggal dirumahku
untuk sementara." Manggada dan Laksana itupun mengangguk hormat.
Hampir berbareng kedua orang anak muda itu berkata "Terima kasih.
Kiai." "Nah, sekarang kalian telah menjadi bagian dari persoalan
yang sedang aku hadapi. Jika semula kalian yang berusaha mendorongku
keluar dari pergumulan yang sengit karena pusaka-pusaka yang
dititipkan kepadaku itu, maka kemudian akulah yang berusaha
memaksamu keluar. Tetapi kita bersama-sama tidak berhasil. Karena
itu, maka biarlah kita bersama-sama terlibat didalamnya." berkata
Kiai Gumrah kemudian. Tetapi juragan gula itu berkata "Aku tidak
tahu yang kau maksud." Kiai Gumrah tersenyum. Katanya "Kedua anak
muda ini pernah menganjurkan agar aku berusaha untuk menghindar dari
keadaan yang rumit ini atau menitipkan pusaka-pusaka itu kepada
prajurit Pajang atau tindakan pengamanan yang lain. Tetapi justru
karena aku berkeberatan, maka nampaknya mereka justru terikat
dirumah ini untuk melihat akhir dari persoalan yang kita hadapi."
Juragan gula itupun tertawa. Katanya"Jika demikian, maka kita memang
sudah sama-sama bertekad untuk menghadapi persoalan ini. Langsung
atau tidak langsung kita memang akan berhadapan dengan Panembahan
itu." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Mereka menyadari
sepenuhnya, bahwa orang-orang tua yang menginginkannya meninggalkan
tempat, itu sama sekali bukan didorong oleh keinginan mereka
merahasiakan persoalan yang mereka hadapi, tetapi justru karena
mereka mencemaskan nasib mereka. Karena itu, maka kedua anak muda
itu merasa bahwa mereka harus mempertanggung jawabkan sendiri
keputusan yang telah mereka ambil. Mereka tidak akan dapat
menyalahkan atau menuntut pertanggung-jawaban siapapun jika terjadi
sesuatu atas diri mereka. Demikianlah, maka sejenak kemudian para
tamu Kiai Gumrah itupun telah minta diri, sementara cahaya
dilangitpun menjadi semakin terang. Fajarpun tersirat dibibir awan
dilangit. Kicau burung telah membangunkan seisi padukuhan. Tetapi
banjar disebelah rumah Kiai Gumrah itu masih tetap sepi. Bahkan
ternyata semalaman Kiai Gumrah telah lupa menyalakan lampu di banjar
karena perhatiannya sepenuhnya tertuju kepada ancaman yang ternyata
benarbenar datang kerumahnya itu. Kiai Gumrah dan kedua orang anak
muda itupun kemudian telah masuk kembali keruang dalam. Mereka masih
harus membenahi ruang dalam rumah Kiai Gumrah yang sempit itu.
Mereka harus membuang mangkukmangkuk yang telah pecah serta makanan
yang telah tumpah, yang semalam sudah mereka kumpulkan disudut
ruangan. Kepada kedua orang anak muda itu Kiai Gumrahpun berkata
"Kita mempunyai pekerjaan hari ini. Kita harus memperbaiki dinding
yang roboh itu. Kita akan menebang beberapa batang bambu
dibelakang." Kedua anak muda itu mengangguk-angguk. Namun mereka
setiap kali menjadi berdebar-debar jika mereka teringat bahwa
disudut halaman belakang telah dikuburkan sesosok tubuh. Niskara.
Meskipun kematian Niskara itu tidak disebabkan oleh orang yang ada
dirumah itu semalam, tetapi justru masih merupakan teka-teki yang
baru dapat diduga-duga jawabannya. Namun dalam pada itu, selagi
seisi rumah itu sibuk membersihkan ruang dalam, tiga orang anak muda
telah mendatangi rumah Kiai Gumrah. Didepan rumah mereka telah
memanggil-manggil dengan lantangnya. "Kiai, Kiai Gumrah." Manggada
dan Laksana termangu-mangu sejenak. Namun ketika mereka akan
melangkah keluar, Kiai Gumrah itu berkata "Tentu anak-anak muda
padukuhan ini." Manggada dan Laksana menarik nafas dalam-dalam. Jika
mereka anak-anak muda padukuhan itu, maksud kedatangan mereka tentu
tidak ada hubungannya dengan peristiwa yang terjadi semalam.
Sebenarnyalah ketika Kiai Gumrah muncul dari pintu rumahnya, maka
yang ditanyakan oleh anak-anak muda itu adalah tentang lampu yang
semalam tidak menyala di banjar. "Semalam kami tidak melihat lampu
menyala dibanjar. Sebenarnya ketika kami lewat didepan banjar itu,
kami ingin singgah barang sebentar. Tetapi banjar itu gelap."
berkata salah seorang dari anak-anak muda itu. "Maaf ngger" jawab
Kiai Gumrah "aku benar-benar lupa. Apalagi aku memang agak kurang
sehat semalaman." "Sudah beberapa kali Kiai lupa menyalakan lampu di
banjar. Meskipun sudah ada banjar yang baru, tetapi banjar inipun
masih tetap kita pergunakan. Karena itu, seharusnya Kiai tidak boleh
lupa." "Lain kali tidak akan terulang lagi ngger." jawab Kiai Gumrah
yang terbungkuk-bungkuk dihadapan anak-anak muda itu. Manggada dan
Laksana menarik nafas dalam-dalam. Mereka mengerti bahwa dihadapan
anak-anak itu Kiai Gumrah tidak lebih dari seorang pembuat dan
penjual gula kelapa. Namun ketika anak-anak muda itu melihat
Manggada dan Laksana yang berdiri dibelakang Kiai Gumrah, maka salah
seorang diantara mereka bertanya "Siapakah mereka Kiai?" Kiai Gumrah
berpaling. Sambil mengerutkan dahinya ia kemudian menjawab "Mereka
adalah cucu-cucuku, ngger.” "Apakah mereka akan tinggal bersama Kiai
disini?" bertanya anak muda itu. "Untuk sementara ngger" jawab Kiai
Gumrah. "Nah, jika demikian, biarlah ia bergaul dengan kami. Biarlah
mereka ikut dengan kegiatan-kegiatan kami. Gugur gunung memperbaiki
bendungan yang setiap kali kami lakukan. Meratakan jalan-jalan
padukuhan dan terutama meronda dimalam hari." "Baik ngger. Aku akan
mendorongnya untuk melakukannya. Tetapi mereka adalah pemalu yang
memang jarang bergaul dengan orang lain selain keluarganya sendiri"
jawab Kiai Gumrah. "Mereka tidak boleh berbuat begitu" berkata anak
muda yang lain" jika mereka tidak bergaul dengan kami, maka
anak-anak muda di padukuhan ini tidak mengenalnya. Hal itu akan
dapat menumbuhkan salah paham yang merugikan bagi kedua cucu Kiai
itu." "Ya, ya ngger" jawab Kiai Gumrah yang kemudian berpaling
kepada Manggada dan Laksana "bukankah kalian dengar sendiri.
Sebaiknya kalian juga bergabung dengan mereka." Manggada dan Laksana
mengangguk-angguk. Dengan nada rendah Manggada berkata "Tetapi kami
belum mengenal seorangpun diantara mereka kek." "Sekarang kau dapat
memperkenalkan diri. Nah, jabat tangan mereka, lalu malam nanti
datanglah ke banjar." Manggada dan Laksana termangu-mangu. Tetapi
merekapun melangkah keluar dan menjabat tangan ketiga orang anak
muda itu. "Datanglah ke banjar nanti malam. Aku akan berada di
banjar lama itu. Meskipun malam nanti bukan giliranku meronda,
tetapi aku akan datang. Kalian dapat berkenalan dengan anak-anak
muda di padukuhan ini meskipun kau hanya akan tinggal disini untuk
sementara." "Baiklah" jawab Manggada "nanti malam biarlah kami
berdua datang ke banjar." "Bukankah kalian dapat membantu Kiai
Gumrah untuk menyalakan lampu di banjar? Kiai Gumrah sudah semakin
tua. Ia masih harus memanjat pohon kelapa pagi dan sore." berkata
anak muda yang lain. "Kami akan melakukannya" jawab Manggada.
Sementara itu Kiai Gumrah menyela "Sejak mereka berada disini,
mereka sama sekali belum pernah keluar halaman. Kedatangan angger
bertiga agaknya dapat memancing mereka keluar dari halaman rumah
ini. Setidak-tidaknya membantu aku membersihkan dan menyalakan lampu
di banjar lama itu." "Ya." sahut salah seorang dari mereka "lambat
laun kalian akan mengenal seisi padukuhan ini. Dengan demikian
kalian tidak akan canggung lagi berada disini." Manggada dan Laksana
mengangguk-angguk. Demikianlah, maka ketiga orang anak muda itupun
telah minta diri. Tetapi seorang diantara mereka masih berpesan
"Nah, jangan lupa menyalakan lampu di banjar lama. Dan biarlah kedua
cucu Kiai itu membantu Kiai dan bergabung bersama kami." "Ya, ya
ngger" jawab Kiai Gumrah. Sepeninggal anakanak muda itu, Kiai Gumrah
menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Aku benar-benar lupa menyalakan
lampu semalam. Untung anak-anak muda itu tidak datang kemari. Jika
mereka datang kemari, sementara dirumah ini masih ada Kiai Windu
Kusuma, maka persoalannya akan menjadi berkepanjangan. Seisi
padukuhan akan tergerak untuk mempersoalkannya." “Jika mereka lewat
didepan banjar, apakah mereka tidak mendengar keributan yang terjadi
dihalaman rumah ini Kiai?" bertanya Laksana. “Halaman-halaman rumah
di padukuhan ini pada umumnya luas ngger. Apalagi halaman banjar
itu, sehingga apa yang terjadi dihalaman rumahku yang dibatasi
dinding batu meskipun tidak terlalu tinggi itu, agaknya memang tidak
diketahui orang, kecuali jika ada sekelompok peronda yang menengok
halaman ini dari pintu regol halaman." Manggada dan Laksana
mengangguk-angguk, sementara Kiai Gumrah itu berkata "Nah, anak-anak
muda itu sudah minta agar kau bergabung dengan mereka. Karena itu,
sebaiknya kalian memang sering datang ke banjar. Kalian dapat
menyalakan lampu dan membantu membersihkan banjar itu pagi dan
sore." "Baik Kiai" jawab Laksana dan Manggada hampir berbareng.
"Selanjutnya jika kalian memang sudah berniat tinggal disini
meskipun untuk sementara, kalian tidak perlu menyebutku Kiai lagi.
Panggil saja aku dengan kakek, agar pada saat tertentu, kalian tidak
keliru menyebutnya." Kedua orang anak muda itu mengangguk mengiakan.
Mereka memang lebih senang memanggilnya dengan sebutan yang sama
agar mereka tidak perlu mengingat-ingat kapan dan dimana mereka
harus memanggil kakek dan kapan mereka harus menyebutnya Kiai.
"Terima kasih. Kiai" berkata Manggada "bagi kami tentu akan lebih
baik, kek." "Nah. begitulah. Mulai nanti malam, maka lampu dibanjar
adalah tugas kalian. Bukan hanya lampu, tetapi kalian juga harus
menjaga kebersihan banjar itu. Seperti yang dikatakan oleh anak-anak
muda itu, maka banjar yang lama itu masih tetap dipergunakan
meskipun sudah ada yang baru." "Baik, kek. Banjar lama itu akan
menjadi beban tugas kami." jawab Manggada. "Nah, sekarang, kita
selesaikan pekerjaan kita. Aku terlambat mengambil bumbung itu.
Tetapi belum terlalu lambat." berkata Kiai Gumrah. "Jika kakek tidak
berkeberatan, kami juga ingin belajar menyadap legen manggar, kek."
berkata Laksana ketika Kiai Gumrah mengambil bumbung dan siap pergi
ke kebun untuk mengambil bumbung yang tergantung pada manggar kelapa
dan menggantinya dengan yang baru. Kiai Gumrah tertawa. Katanya
"Pada saatnya kalian akan belajar menyadap legen." Manggada dan
Laksana tidak berbicara lagi. Sementara itu Kiai Gumrahpun telah
pergi ke kebun. Meskipun semalam suntuk orang tua itu tidak tidur,
tetapi badannya sama sekali tidak nampak menjadi lesu, sementara
Manggada dan Laksana yang muda itu merasa mulai diganggu oleh
kantuk. Selagi seisi rumah itu menjadi sibuk dengan pekerjaan mereka
masing-masing, maka Ki Windu Kusumapun sibuk berbincang dengan
orang-orangnya. Putut Sempada yang juga ada diantara mereka hanya
dapat mengumpat-umpat. Ia telah kehilangan seorang kawannya yang
dianggapnya cukup baik. Niskara yang telah dikoyak-koyak oleh
harimau. "Ternyata orang tua itu telah memelihara harimau
jadijadian" geram Putut Sempada. "Belum tentu" jawab Kiai Windu
Kusuma "mungkin dua ekor harimau kelaparan yang tersesat sampai ke
halaman rumah orang tua itu.” "Memang mungkin. Tetapi kemungkinan
itu mempunyai kesempatan yang sama dengan kemungkinan yang aku
katakan, bahwa orang itu memelihara harimau jadi-jadian. Atau
malahan pusaka-pusaka itulah yang telah menjelma menjadi harimau."
berkala Putut Sempada. "Dugaanku belum sampai kesana. Tetapi
seandainya demikian, maka pantaslah jika Panembahan menghendaki
pusaka-pusaka itu secepatnya." jawab Kiai Windu Kusuma. "Tetapi
bukankah alasan Panembahan bukan karena pusaka-pusaka itu dapat
menjelma menjadi harimau yang garang?" sahut Putut Sempada.. "Ya.
Memang bukan. Tetapi apakah kau yakin bahwa apa yang dikatakan oleh
Panembahan itu adalah yang sebenarnya?" bertanya Kiai Windu Kusuma.
Putut Sempada menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia
berkata "Memang mungkin. Tetapi kita tidak dapat mencurigai
Panembahan seperti itu." "Aku sama sekali tidak mencurigai
Panembahan. Tetapi apakah artinya jantung segar yang harus disiapkan
jika pusaka-pusaka itu dapat kita kuasai?" bertanya Kiai Windu
Kusuma. "Panembahan mengetahui, bahwa pusaka yang disimpan oleh Kiai
Gumrah itu, salah satu diantaranya adalah Kiai Simarengu. Selain itu
masih ada songsong yang diberi nama Simariwut. Nah, apakah tidak
mungkin bahwa nama yang memang mempunyai arti harimau itu ada
hubungannya dengan harimau jadi-jadian yang ada dirumah Kiai
Gumrah?" "Ternyata aku menjadi ragu-ragu. Antara percaya dan tidak.
Aku masih mencoba untuk menolak anggapan bahwa ada hubungan antara
pusaka-pusaka itu dengan harimau yang ada dirumah itu. Tetapi setiap
kali aku teringat tentang pusaka-pusaka itu, nama yang diberikan
kepada pusaka-pusaka itu, dan perintah Panembahan untuk menyediakan
jantung manusia segar yang harus dikorbankan sebagai makanan pusaka
yang bernama Simarengu itu." Putut Sempada menarik nafas panjang.
Katanya "Kita sama-sama ragu. Tetapi baiklah kita kesampingkan
keraguraguan itu." Kiai Windu Kusuma mengangguk-angguk. Katanya "Ya.
Apapun alasan Panembahan, kita harus mendapatkan pusaka-pusaka itu.
Kemudian jantung manusia yang segar dan korban bagi pusaka yang
disebut Kiai Simarengu." "Semuanya itu harus secepatnya kita
lakukan" berkata Putut Sempada "karena menurut Panembahan, jika pada
purnama bulan dengan korban itu belum diberikan bagi Kiai Simarengu,
maka tuahnya akan hilang sama sekali." Kiai Windu Kusuma menarik
nafas dalam-dalam. Katanya "Ya. Kita memang harus secepatnya
menguasai Kiai Simarengu. Sebelum purnama bulan depan ujung tombak
itu harus sudah ditanam didada seseorang. Sudah tentu bukan setiap
orang yang berjantung segar yang dapat dikorbankan." “Itu adalah
persoalan Panembahan sendiri. Panembahanlah yang akan menentukan,
orang yang bagaimana yang pantas untuk menjadi korbannya itu. Serta
upacara apa saja yang harus diselenggarakan. Tugas kita adalah
menyediakan pusaka-pusaka itu." “Tetapi darimana Panembahan tahu
tentang pusakapusaka itu. Darimana pula ia mengetahui bahwa jika
sampai purnama bulan depan pusaka-pusaka itu belum dimandikan dan
disediakan korban jantung manusia yang segar tuahnya akan hilang
untuk selama-lamanya." pertanyaan itu meluncur dari bibir Kiai Windu
Kusuma tanpa disadarinya. Namun Putut Sempada menyahut "Tidak
seorangpun tahu. Tidak pula ada yang tahu bahwa tiba-tiba saja
Panembahan dengan mata hatinya sendiri, bahwa dirumah itu tersimpan
pusaka-pusaka yang dicarinya untuk waktu yang lama." Kiai Windu
Kusuma mengangguk-angguk. Memang banyak hal yang tidak mereka
ketahui tentang Panembahan. Tentang ketajaman penglihatan batinnya
serta kepekaan panggaritanya. Karena itu, betapa tingginya ilmu Kiai
Windu Kusuma, namun ia tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh
orang yang disebutnya Panembahan. Dalam pada itu, ternyata semua
pembicaraan itu terdengar oleh Kundala. Seorang yang hatinya sedang
diombang-ambingkan oleh kebingungannya. Kundala seakan-akan sedang
berdiri diambang pintu. Terdapat dua tarikan yang sangat kuat
menghisapnya keluar dan kedalam. Seakan-akan ia melihat cahaya
putih, didalam dan cahaya yang hitam diluar tanpa mengetahui
sumbernya. "Gila" geram Kundala "kenapa aku mendengar pembicaraan
mereka? Jika aku tidak mendengarnya, aku tidak akan merasa berdosa
jika aku tidak mengatakannya kepada Kiai Gumrah." Namun kemudian
sambil menghentakkan tangannya ia berkata "Persetan dengan Kiai
Gumrah. Aku adalah pengikut setia Kiai Windu Kusuma. Aku sudah
memperingatkan Kiai Gumrah untuk membunuhku agar aku tidak dapat
datang justru membunuhnya." Kundala hanya dapat menggeletakkan
giginya, menghentakkan kaki dan tangannya. Namun ia tidak dapat
melepaskan diri dari tarikan yang seakan-akan sama kuatnya. Ia
merasa berkewajiban untuk tetap setia kepada Kiai Windu Kusuma.
Tetapi ia merasa bahwa hidupnya yang tersisa itu sudah bukan
miliknya. Tetapi milik Kiai Gumrah, sehingga apa yang diketahuinya
rasa-rasanya harus diketahui pula oleh Kiai Gumrah. "Gila. Agaknya
aku sudah gila" desis Kundala sambil memukuli kepalanya sendiri.
Namun Kundala telah berusaha sekuat-kuatnya untuk tidak menunjukkan
perubahan sikap dihadapan Kiai Windu Kusuma. Jika gejolak
perasaannya itu diketahui oleh Kiai Windu Kusuma, maka ia tidak akan
dapat berharap hidup lebih lama lagi. "Kecuali jika aku melarikan
diri dan mengungsikan hidupku pada Kiai Gumrah." berkata Kundala
didalam hatinya. Tetapi ia tidak akan dapat melakukannya. Jika ia
berbuat demikian, maka ia telah menjadi seorang pengkhianat. Namun
sebuah pertanyaan tiba-tiba saja seperti petir yang meledak
ditelinganya telah mengejutkannya "Apakah aku memang belum
berkhianat?" Kundala tidak dapat berbuat ingkar kepada dirinya
sendiri. Bahwa ia telah memberitahukan akan kedatangan orang-orang
berilmu tinggi untuk mengambil pusaka-pusaka itu ketika ia menjemput
Putut Sempada di pasar, bukankah itu sudah berarti suatu
pengkhianatan. Karena itulah, maka Kundala itupun telah tenggelam
dalam goncangan perasaan. Ia tidak segera dapat menemukan pijakan
sikap yang mapan. Yang kemudian dilakukannya adalah sekedar
menyembunyikan gejolak perasaannya itu terhadap Kiai Windu Kusuma
serta kawankawannya, agar ia tidak dihukum mati dihadapan mereka
sebagai pengkhianatan. Namun untuk sementara Kundala masih mempuyai
waktu berpikir ulang atas sikapnya. Menurut pembicaraan Kiai Windu
Kusuma dan Putut Sempada dengan beberapa orang pengikutnya, agaknya
mereka tidak akan langsung mengambil tindakan baru. Kegagalan mereka
telah membuat mereka semakin berhati-hati. Ternyata Kiai Gumrah
mempunyai beberapa orang kawan yang berilmu tinggi dan yang
meragukan mereka adalah sepasang harimau yang tiba-tiba saja ada
dihalaman rumah Kiai Gumrah. Sementara Kiai Windu Kusuma membuat
perhitunganperhitungan baru, maka rumah Kiai Gumrah menjadi semakin
ramai. Kawan-kawan Kiai Gumrah yang tiga orang itu, berganti-ganti
datang mengunjunginya. Tidak saja di-siang hari. Tetapi
kadang-kadang juga di malam hari. Bahkan kadang-kadang mereka
bertiga berkumpul bersama-sama sambil bermain dadu dengan hitungan
daun ketela pohon atau daun melinjo. Orang-orang tua itu nampaknya
selain berjaga-jaga karena adanya pusakapusaka dirumah itu, juga
untuk mengisi kekosongan hidup mereka dihari tua. Manggada dan
Laksana bahkan sering bertanya diantara mereka "Apakah orang-orang
tua itu tidak berkeluarga dirumah mereka? Apakah mereka tidak
mempunyai anak atau cucu atau apapun?" Tetapi anak-anak muda itu
tidak berani bertanya. Kepada Kiai Gumrahpun mereka juga tidak
bertanya tentang keluarganya. Meskipun Kiai Gumrah pernah mengatakan
bahwa ia mempunyai anak dan cucu yang tinggal ditempat lain karena
anaknya tidak ingin menggantikan tugasnya menjaga banjar lama itu.
Dalam pada itu, memenuhi permintaan anak-anak muda yang pernah
datang kerumah Kiai Gumrah, maka Manggada dan Laksanapun sudah pula
sering berada di banjar lama. Disore hari mereka menyalakan lampu di
banjar dan oncor diregol. Di pagi hari keduanya membantu Kiai Gumrah
menyapu halaman dan membersihkan ruangan-ruangan banjar lama setelah
Kiai Gumrah mengambil dan memasang bumbungnya di manggar batang
kelapa. Dengan demikian maka Manggada dan Laksana mulai berkenalan
dan bergaul dengan anak-anak muda di padukuhan itu. Mereka berusaha
menyesuaikan diri dengan pergaulan anak-anak muda di padukuhan itu.
Di malam hari beberapa orang anak muda kadang-kadang dudukduduk di
banjar lama itu. Bergurau dan mengisi waktu mereka dengan berbagai
macam permainan. Terutama mereka yang bertugas ronda pada malam itu.
Disiang hari anak-anak muda kebanyakan bekerja disawah dan ladang
mereka. Jika keadaan mendesak, mereka bersama-sama melakukan kerja
untuk kepentingan bersama. Memperbaiki bendungan yang harus sering
mereka lakukan. Setiap kebocoran betapa kecilnya harus segera
diperbaiki. Jika kebocoran itu menjadi semakin besar, maka mereka
akan mengalami kesulitan, apalagi dimusim hujan. Banjir dapat datang
setiap saat. Selain bendungan, maka parit-paritpun banyak menuntut
pemeliharaan. Meskipun Kiai Gumrah tidak mempunyai sawah, selain
kebunnya yang banyak ditanami pohon kelapa sebagai gantungan
hidupnya, namun Kiai Gumrah sendiri juga sering ikut dalam kerja
bersama-sama memperbaiki bendungan, parit dan pemeliharaan
jalur-jalur air yang menusuk membelah tanah persawahan. Kehadiran
Manggada dan Laksana memang memberikan kesempatan Kiai Gumrah untuk
lebih banyak berada dirumahnya, karena kedua orang anak muda itu
dapat mewakilinya. Meskipun demikian Kiai Gumrah selalu mengingatkan
Manggada dan Laksana agar mereka berhati-hati. "Orang-orang yang
berniat jahat itu mengenal kalian sebagai cucu-cucuku" berkata Kiai
Gumrah "karena itu, mereka akan dapat berbuat jahat terhadap
kalian." "Tetapi setiap kali, kami berada diantara orang banyak,
kek" jawab Manggada "aku kira, mereka juga memperhitungkan hal itu.”
"Tetapi tentu ada saatnya kalian hanya berdua. Mungkin saat kalian
membersihkan banjar atau menyalakan lampu atau pada saat-saat lain.
Karena itu dalam keadaan terpaksa, jangan segan-segan membunyikan
isyarat." "Baik, kek" jawab Manggada. Demikianlah maka hari dan
haripun lewat. Ternyata masih belum ada tanda-tanda bahwa
orang-orang yang menginginkan pusaka-pusaka itu kembali. Meskipun
demikian, namun kawan-kawan Kiai Gumrah masih saja sering datang
kerumah Ki Gumrah. Kadang-kadang sendiri, berdua atau bahkan bertiga
bersama-sama. Setelah sekian hari berlalu, teka-teki tentang dua
ekor harimau itupun masih tetap belum terpecahkan. Sejak peristiwa
itu, maka tidak pernah nampak seekor harimaupun di halaman rumah
itu. Atau bahkan di padukuhan itu. Jejaknyapun tidak pernah dilihat
orang dipadukuhan. Namun setelah agak lama keadaan menjadi tenang,
maka tiba-tiba Manggada dan Laksana telah melihat seekor elang yang
terbang melayang-layang diatas rumah Kiai Gumrah. Karena itu, maka
iapun segera berlindung dibawah rimbunnya pepohonan. Sementara itu,
Kiai Gumrah agaknya juga melihat burung elang itu. Ia memberi
tahukan hal itu kepada Manggada dan Laksana dari kebun kelapanya.
"Hati-hatilah" berkata Kiai Gumrah "elang itu nampak lagi di
langit." "Ya, Kiai" jawab Manggada. Namun Kiai Gumrah sendiri sama
sekali tidak berusaha untuk berlindung dari pengamatan burung elang
itu. Ia masih saja memanjat sebatang pohon kelapa. Tetapi tidak
untuk memasang bumbung legen. Kiai Gumrah memanjat sebatang pohon
kelapa yang dibiarkannya berbuah untuk mengambil buahnya. Dalam pada
itu, dari balik rimbunnya dedaunan, Manggada dan Laksana berusaha
untuk dapat melihat apa yang dilakukan elang itu. Seperti yang
pernah dilakukan beberapa saat yang lampau, maka elang itu
berputar-putar beberapa kali diatas rumah Kiai Gumrah, menukik dan
kembali naik ke ketinggian. Namun beberapa saat kemudian, maka elang
itupun telah terbang menjauh, sehingga akhirnya hilang dilangit.
Ketika Kiai Gumrah kemudian turun dari pohon kelapa. Manggada dan
Laksanapun telah mendekatinya. Kedua anak muda itu ikut memungut
beberapa butir kelapa yang dipetik oleh Kiai Gumrah dari batangnya
itu. "Elang itu berputar-putar, kek." desis Laksana. "Seperti yang
pernah dilakukan beberapa saat lalu" jawab Kiai Gumrah "nampaknya
orang-orang itu sudah mulai bersiap-siap untuk bergerak lagi."
"Mereka tentu sudah siap pula untuk melawan dua ekor harimau itu,
kek" berkata Manggada kemudian. "Mereka mungkin benar-benar
menyangka bahwa kedua ekor harimau itu adalah harimau jadi-jadian.
Atau barangkali tombak-tombak atau payung itulah yang dikiranya
dapat menjelma menjadi harimau atau dari dalamnya keluar sepasang
harimau itu." "Apapun yang mereka katakan, tetapi nampaknya harimau
itu telah membantu kita. Atau tanpa niat membantu kita, tetapi
harimau-harimau itu adalah musuh bebuyutan dari orang-orang yang
datang itu sehingga harimau-harimau itu menyerang mereka." sahut
Manggada kemudian. " Apapun yang akan terjadi, kita harus
meningkatkan kewaspadaan kita. Kita berhadapan dengan orang yang
berilmu sangat tinggi meskipun mereka kurang memperhitungkan
penalaran kita" berkata Manggada kemudian. "Maksudmu?" bertanya Kiai
Gumrah. "Bukankah burung elang itu telah mengisyaratkan kepada kita
agar kita bersiap menghadapi segala kemungkinan?" jawab Manggada
meskipun agak ragu. "Kau benar ngger. Tetapi mungkin juga justru
Panembahan itu ingin menakuti kita atau semacam tantangan bagi kita,
karena mereka terlalu yakin akan kelebihan mereka." jawab Kiai
Gumrah. Manggada mengangguk-angguk. Sementara Laksana bertanya
"Semacam sikap sombong begitu, kek?" "Ya, begitulah. Tetapi
kesombongan mereka benar-benar berisi karena mereka memang berilmu
tinggi." jawab Kiai Gumrah. Manggada dan Laksana tidak bertanya
lagi. Sementara itu Manggada telah mengupas kelapa-kelapa yang baru
saja dipetik itu dengan slumbat, semacam linggis yang ujungnya tajam
dan pipih. Namun ketika mereka membawa kelapa-kelapa yang sudah
terkupas itu kedapur, Manggada masih bertanya lagi "Kek, apakah
Kakek tidak berniat untuk membuat hubungan dengan Ki Pandi?" "Si
Bongkok itu?" bertanya Kiai Gumrah. "Ya, kek. Kami masih
menghubungkan kedua ekor harimau yang datang itu dengan kedua ekor
harimau milik Ki Pandi. Mungkin kedua ekor harimau itu masih
mengenali kami berdua, sehingga saat kami pingsan, kami tidak
dikoyak-koyaknya seperti Niskara itu." Kiai Gumrah menarik nafas
dalam-dalam. Namun katanya "Aku tidak tahu dimana Si Bongkok itu
berada. Aku memang mengenalinya, tetapi tidak begitu akrab. Meskipun
demikian, jika kami bertemu, maka aku akan menjajagi hatinya, apakah
ia merasa bersangkut-paut dalam persoalan ini, atau karena Si
Bongkok itu sekedar ingin menyelamatkan kalian berdua dari tangan
Niskara meskipun akibatnya juga menyelamatkan pusaka-pusaka itu."
Manggada dan Laksana hanya mengangguk-angguk saja. Mereka sadar
sepenuhnya bahwa tidak semua dikatakan dengan terbuka oleh Kiai
Gumrah. Bagaimanapun juga Kiai Gumrah harus berhati-hati terhadap
dua orang anak muda yang belum diketahui dengan pasti asal-usulnya.
Demikianlah, maka ketiga orang itupun menjadi sibuk memecah dan
mencukil kelapa. Kiai Gumrah hari itu ingin membuat minyak kelapa
karena minyaknya sudah habis. Selain untuk memasak. Kiai Gumrah juga
mempergunakan minyak kelapa untuk lampu dirumahnya dan di banjar.
Karena kesibukannya itu, maka hari itu Kiai Gumrah memang tidak
pergi menyerahkan gula kelapa kepada juragan gula yang tinggal tidak
terlalu jauh dari rumahnya. "Besok saja akan aku serahkan sekaligus
dengan hasil besok pagi" berkata Kiai Gumrah "hari ini aku masih
mempunyai uang cukup. He, bukankah beras masih cukup sampai dua hari
lagi?" "Masih, kek." jawab Manggada. "Baiklah. Biarlah hari ini aku
tidak pergi. Aku akan membuat minyak kelapa." berkata Kiai Gumrah
kemudian. Bertiga merekapun kemudian sibuk mengukur kelapa. Memeras
santannya dan kemudian memanasi santan itu agar menjadi minyak.
Namun dalam pada itu, Manggada dan Laksana sempat berbicara diantara
mereka ketika Kiai Gumrah keluar dari dapur beberapa saat. "Kiai
Gumrah tidak meninggalkan rumahnya bukan karena membuat minyak. Kami
dapat melakukannya" berkata Manggada. "Ya. Tentu elang itu
membuatnya berjaga-jaga hari ini dan tentu juga malam nanti" sahut
Laksana. "Ia menanggapi isyarat burung elang itu dengan
sungguh-sungguh" desis Manggada. Keduanyapun terdiam ketika Kiai
Gumrah telah berada di dapur itu lagi. Untuk beberapa saat ketiganya
terdiam. Mereka sibuk dengan tugas mereka masing-masing didapur itu.
Namun selagi mereka bertiga sibuk, tiba-tiba saja seseorang muncul
dari pintu butulan. Sambil tertawa orang itu bertanya "He, Kiai
Gumrah. Apa yang kau kerjakan hari ini? Kenapa kau tidak menyerahkan
gula? Aku menunggununggu sesiang ini sehingga hari ini aku terpaksa
tidak pergi kepasar. Tentu sudah kesiangan. Para pedagang gula telah
meninggalkan pasar." "Aku sedang membuat minyak" berkata Kiai
Gumrah. "Kenapa begitu tergesa-gesa? Bukankah dapat kau lakukan
siang nanti? Seandainya minyakmu sudah habis sama sekali, bukankah
baru nanti malam minyak itu kau pergunakan." "Aku akan menggoreng
ikan lele. Sebentar lagi aku akan turun kebelumbang" berkata Kiai
Gumrah. Juragan gula yang datang itu ternyata malahan berjongkok
disamping Kiai Gumrah yang menunggu santannya yang mendidih. Katanya
"Pekerjaan yang menjemukan. Kau harus mengaduk santan itu
terusmenerus." Kiai Gumrah itu mengangguk. Katanya "Aku sudah
terbiasa melakukannya." Lalu tiba-tiba katanya kepada Manggada dan
Laksana "Ambil kayu bakar lagi, anakanak” Manggada dan Laksanapun
kemudian bangkit dan melangkah keluar dapur untuk mengambil kayu
bakar. Namun sambil memungut kayu bakar Manggada berkata "Juragan
gula itu juga melihat elang yang berputaran. Mereka tentu sedang
merundingkan apa yang akan mereka lakukan, karena agaknya mereka
mulai mendapat isyarat, bahwa Kiai Windu Kusuma atau bahkan
Panembahan itu sendiri akan mulai bergerak lagi." Laksana
mengangguk-angguk. Katanya "Kenapa kita tidak boleh mendengar
pembicaraan mereka?" "Tentu ada sebabnya. Mereka tidak ingin membuat
kita gelisah, atau mereka memang belum sepenuhnya mempercayai kita."
jawab Manggada. Laksana mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak
berbicara lagi. Mereka masing-masing membawa seonggok kayu bakar ke
dapur untuk memanasi santan yang dibuat minyak itu. Ketika mereka
masuk kedapur, maka dilihatnya Kiai Gumrah dan juragan gula itu
berbincang dengan sungguhsungguh. Sekilas mereka memandang kedua
orang anak muda yang masuk sambil membawa kayu bakar itu. Namun
mereka ternyata masih berbincang terus. Meskipun perlahan-lahan
Manggada dan Laksana dapat mendengar juga Kiai Gumrah berkata
"Baiklah. Biarlah orang itu disini untuk satu dua hari." Keduanya
ternyata tidak berbicara lebih panjang lagi. Juragan gula itupun
bengkit berdiri sambil berkata kepada Manggada dan Laksana "Ngger.
Kami memang tidak akan merahasiakan lagi kegelisahan kami. Kalian
lihat burung elang itu terbang berputar-putar lagi. Kalian tentu
juga dapat menduga maksudnya." "Ya Kiai" jawab Manggada dan Laksana
hampir berbareng. "Nah, karena itu, maka salah seorang dari antara
kami bertiga akan tinggal dirumah ini. Kita memang harus
berjaga-jaga. Jika kita masih saja sekedar bermain-main, sementara
lawan kita mulai bersungguh-sungguh, maka kita akan dapat terjebak
dalam kesulitan yang parah." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk
kecil. Sementara juragan gula itu berkata "Sudahlah, aku minta diri.
Malam nanti dirumah ini akan bertambah penghuninya meskipun
sebelumnya juga hampir selalu berada dirumah ini." Demikian juragan
gula itu pergi, maka Kiai Gumrahpun berkata kepada Manggada dan
Laksana dengan nada dalam "Aku tidak dapat berpura-pura lagi ngger.
Aku dan saudarasaudaraku itu memang menjadi gelisah. Kami
benar-benar harus mempertahankan pusaka-pusaka itu. Tetapi jangan
bertanya lebih dahulu, apakah aku berbohong atau tidak tentang
pusaka-pusaka itu. Yang penting, pusaka-pusaka itu tidak boleh
berpindah ketangan orang lain." Manggada dan Laksana
mengangguk-angguk pula. Namun tiba-tiba saja Laksana bertanya
"Tetapi apakah benar tidak boleh ada pihak lain yang ikut melindungi
pusaka-pusaka itu, kek. Misalnya prajurit Pajang atau
setidak-tidaknya orang-orang padukuhan ini." "Alasanku seperti yang
pernah aku katakan ngger. Aku tidak berpura-pura. Kau tentu tahu,
jika aku melibatkan orang-orang padukuhan untuk melawan orang-orang
berilmu tinggi itu, apakah tidak sama artinya aku menabur maut di
padukuhan ini?" Manggada dan Laksana masih saja mengangguk-angguk.
Mereka mengerti bahwa akibatnya memang akan menjadi sangat parah.
Sementara itu. Kiai Gumrah juga tidak dapat menyerahkan
pusaka-pusaka itu kepada prajurit Pajang. "Sudahlah. Apapun yang
terjadi, kita akan mempertahankan pusaka-pusaka itu dengan kekuatan
dan kemampuan kita sendiri." berkata Kiai Gumrah. Lalu katanya pula
"Tetapi sebaiknya malam nanti kau tidak terlalu lama berada di
banjar. Sebaiknya setelah beberapa saat berkumpul dengan anak-anak
muda jika mereka datang ke banjar, kalian harus segera pulang.
Kalian dapat memberi alasan apa saja. Mungkin ada pekerjaan yang
harus kalian lakukan, atau salah seorang dari kalian mengatakan
bahwa badan kalian sedang tidak enak atau apapun. Elang yang
berputar-putar itu membuat aku menjadi gelisah. Apalagi orang-orang
itu tentu sudah mengenal kalian pula." "Baik kek" jawab Manggada
"kami tidak akan terlalu lama berada di banjar malam
nanti."
Buku 3 TETAPI sebelum matahari turun
disisi Barat belahan langit, Ki Gumrah yang sedang sibuk menuang
minyaknya kedalam guci, terkejut mendengar suara orang memanggilnya
sambil mengetuk pintu depan rumahnya. Karena Kiai Gumrah tidak
segera menjawab, maka ketukan pintu dan suara yang memanggil namanya
itu menjadi semakin keras. Tetapi suara itu terdengar akrab sekali.
Manggada dan Laksana yang sedang membantunya menuang minyak itu
termangu-mangu. Sementara Kiai Gumrah berkata "Lihat, siapa yang
datang. Tetapi berhatihatilah. Pergilah kalian berdua." Manggada dan
Laksanapun telah pergi ke pintu depan rumahnya. Pintu itu tidak
diselarak. Karena itu, maka Manggadapun telah membuka
perlahan-lahan, sementara Laksana tetap berhati-hati karena hal-hal
yang tidak terduga akan dapat terjadi. Ketika pintu itu terbuka,
maka kedua anak muda itu terkejut. Yang berdiri dimuka pintu
ternyata tidak hanya seorang saja. Tetapi tiga orang. Seorang
laki-laki, seorang perempuan dan seorang gadis yang sedang tumbuh
dewasa. Ternyata bukan saja Manggada dan Laksana yang terkejut.
Tetapi ketiga orang yang berdiri dimuka pintu itupun terkejut.
Dengan kerut dikeningnya, laki-laki yang berdiri didepan pintu itu
bertanya "Bukankah ini rumah Kiai Gumrah?" Manggada termangu-mangu
sejenak. Namun kemudian jawab "Ya paman. Rumah ini rumah Kiai
Gumrah." "Apakah Kiai Gumrah ada?" bertanya orang itu. "Ada. Kakek
sedang menuang minyak. Biarlah aku memanggilnya" sahut Manggada.
"Tetapi siapakah kalian berdua?" bertanya orang itu. "Kami cucunya,
paman" jawab Manggada. "Cucunya? He, kalian anak siapa?" bertanya
perempuan yang berdiri termangu-mangu. Manggada dan Laksana memang
menjadi bingung. Mereka tidak tahu bagaimana harus menjawab
pertanyaan itu. Namun selagi keduanya berdiri termangu-mangu, maka
terdengar suara Kiai Gumrah "He, ternyata kalian yang datang.
Marilah, masuklah." Ketiga orang itupun kemudian melangkah masuk
keruang dalam. Dengan wajah yang cerah Kiai Gumrah berkata "Marilah.
Sudah lama kalian tidak datang melihat rumah ini." "Kami memang
sedang sibuk ayah" jawab laki-laki itu "daerah kami baru saja
terserang banjir. Hujan yang tidak berkeputusan telah membuat. Kali
Panjer meluap. Untunglah bahwa rumah kami tidak hanyut." "Sokurlah"
Kiai Gumrah mengangguk-angguk "marilah, duduklah." Kiai Gumrahpun
kemudian melangkah mendekati gadis yang sedang tumbuh dewasa itu
"Kau sudah besar sekarang nduk. Sudah berapa tahun kau tidak ikut
datang kemari. Ketika ayah dan ibumu beberapa waktu yang lalu datang
kemari, kau tidak ikut bersama mereka." "Ayah dan ibu tidak
memperbolehkan aku ikut kek." jawab gadis itu. "Kenapa?" bertanya
Kiai Gumrah. Gadis itu tidak menjawab. Tetapi ia berpaling
memandangi laki-laki dan perempuan yang ternyata adalah ayah dan
ibunya itu. Ayahnya tersenyum sambil menjawab "Waktu itu kami datang
hanya sekedar menengok ayah. Kami hanya bermalam satu malam saja.
Anak itu tentu akan kelelahan jika ikut bersama kami." "Sebenarnya
tidak kek. Aku dapat berjalan dengan jarak dua tiga kali lipat jarak
yang kami tempuh sampai ke-rumah kakek ini." sahut gadis itu.
Kakeknya tertawa. Katanya "Nah, ayah dan ibumu tidak mau kau menjadi
sangat letih. Sekarang ayah dan ibumu agaknya akan bermalam lebih
dari satu malam disini." "Anak itu pulalah yang memaksa kami untuk
datang kemari, ayah" berkata ibunya. "Bukan. Bukan aku kek" sahut
gadis itu "ayah dan ibu memang ingin menengok kakek." Kiai Gumrah
tertawa berkepanjangan. Katanya kemudian "Duduklah. Duduklah."
Mereka bertigapun kemudian duduk diamben yang cukup besar diruang
dalam, sementara Manggada dan Laksana masih berdiri termangu-mangu.
Baru sejenak kemudian ayah gadis itu bertanya "Ayah, siapakah kedua
orang anak muda ini? Mereka mengatakan bahwa mereka adalah cucu
ayah. Sepengetahuanku cucu ayah hanya seorang saja. Winih ini." Kiai
Gumrah tertawa. Katanya "Keduanya memang cucuku meskipun ayah dan
ibunya kedua-duanya bukan anakku.". "Maksud ayah?" bertanya anaknya.
"Mereka telah tersesat kerumah ini dalam perjalanannya ke Pajang.
Ternyata keduanya kerasan tinggal disini. . Sehingga mereka telah
aku anggap sebagai cucuku sendiri." Kiai Gumrah berhenti sejenak,
lalu katanya kepada Manggada dan Laksana "Nah, sekarang kau sempat
berkenalan dengan anakku. Bukankah aku pernah mengatakan bahwa aku
mempunyai seorang anak tetapi sudah lama sekali pergi meninggalkan
rumah ini? Sekarang ia datang bersama seluruh keluarganya karena
anaknya memang hanya seorang yang dinamainya Winih." Anak dan
menantu Kiai Gumrah itu tertawa. Tetapi Winih menundukkan kepalanya.
Sementara Manggada dan Laksana mengangguk hormat. Dengan nada rendah
Manggada berkata "Kami mohon maaf paman. Kami berdua belum mengenal
paman sebelumnya." "Namanya Prawara. Panggil saja paman Prawara."
potong Kiai Gumrah sambil tertawa. "Jika kalian kemudian dianggap
cucu ayahku dan kau juga menganggap ayahku sebagai kakekmu, maka
kita sudah menjadi keluarga." namun Prawara itupun kemudian bertanya
"Ayah, jika demikian sebaiknya siapakah yang lebih dituakan. Winih
atau kedua anak muda ini?" "Biarlah Manggada dan Laksana dianggap
lebih tua. Umurnya memang lebih tua dari Winih." jawab Kiai Gumrah.
Lalu katanya kepada Winih "nDuk, panggil keduanya dengan sebutan.
kakang, karena kau dianggap sebagai cucuku yang lebih muda dari
mereka." Seleret Winih memandang Manggada dan Laksana. Namun iapun
kemudian menundukkan kepalanya pula. Ketika Kiai Gumrah kemudian
juga duduk diamben itu, iapun berkata "Marilah,-duduk pulalah
disini." Manggada dan Laksana menjadi ragu-ragu. Diluar sadarnya
Manggada berkata "Kami akan ke dapur kek." "Duduk sajalah dahulu.
Biarlah nanti saja kita membuat minuman bagi tamu-tamu kita." jawab
Kiai Gumrah. "Tidak usah ngger" berkata Nyi Prawara "biarlah, nanti
aku dan Winih membuatnya sendiri." Manggada dan Laksana tidak
membantah lagi. Mereka duduk diamben yang besar itu pula bersama
ketiga orang tamu yang baru datang itu. Kiai Gumrahpun kemudian
telah mempertanyakan keselamatan mereka. Keadaan tempat tinggal
mereka yang diterpa banjir. Serta perjalanan mereka sampai kerumah
itu. Sementara itu Ki Prawarapun bertanya pula "Bagaimana pula
keadaan ayah selama ini?" "Kami baik-baik saja disini. Kedua anak
muda ini telah membantu aku dalam segala hal. Mereka pulalah yang
setiap hari membersihkan banjar, menyalakan lampu dan jika di banjar
itu hadir anak-anak muda sebelum ke banjar yang baru, maka keduanya
ikut pula bersama mereka. Bahkan kedua anak ini dapat mewakili aku
melakukan kegiatan di padukuhan ini." “Sokurlah" Ki Prawara
mengangguk-angguk "kami memang selalu memikirkan keadaan ayah
disini. Bahwa ayah tidak bersedia tinggal bersama kami, membuat kami
kadang-kadang gelisah sebagaimana sejak dua pekan terakhir. Akhirnya
kami memaksa diri untuk datang betapapun sibuknya kami mengerjakan
sawah dan ladang dimusim seperti ini." Kiai Gumrah tertawa. Katanya
"Aku sudah menduga bahwa kalian akan datang. Dalam kegelisahan
seperti ini, kedatangan kalian dapat sedikit memberikan ketenangan
kepada kami." Ki Prawara mengerutkan keningnya. Diluar sadarnya,
dipandanginya Manggada dan Laksana. Namun Kiai Gumrah yang tanggap
itupun berkata "Keduanya telah mengetahui segala-galanya tentang
pusaka-pusaka itu. Setidak-tidaknya sebagian besar dari persoalan
yang sedang aku hadapi." Ki Prawarapun menarik nafas dalam-dalam.
Dengan nada dalam ia berkata "Kami datang sesuai dengan pesan ayah."
Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Katanya dengan nada rendah kepada
Manggada dan Laksana "Aku telah memberikan kesan kepada anakku. Ia
memang anakku. Bukan dongeng sebagaimana pernah kalian dengar dan
kepura-puraan yang pernah kalian lihat terjadi dirumah ini.
Kegelisahan yang semakin mencengkam memaksa aku untuk memanggilnya,
karena aku berharap bahwa anakku dapat membantuku” Manggada dan
Laksana mengangguk-angguk kecil. Seperti juga Kiai Gumrah dan
kawan-kawannva yang berdagang gula itu, maka Ki Prawara itu menilik
ujud lahiriahnya tidak lebih dari seorang petani kebanyakan.
Pakaiannya, sikapnya dan caranya berbicara. Namun Manggada dan
Laksana yakin bahwa Ki Prawara adalah seorang yang tentu juga
berilmu tinggi. Namun dalam pada itu. Nyi Prawara yang sejak semula
mendengarkan pembicaraan itupun berkata "Ayah, biarlah aku pergi
kedapur untuk merebus air." Namun Manggadalah yang menyahut "Masih
ada air terjerang diatas perapian." "Kebetulan" jawab Nyi Prawara
yang kemudian menggamit Winih "marilah. Bantu aku membuat minuman."
“Kau dapat mencari mangkuk di paga bambu" berkata Kiai Gumrah
“Biarlah aku mengambilnya" berkata .Laksana. "Tidak" dengan cepat
Nyi Prawara menyahut "duduk sajalah ngger. Biarlah aku dan Winih
yang berada di-dapur. Bukankah kami berada dirumah ayah sehingga
tidak bedanya dirumah sendiri." Laksana tidak menjawab. Iapun merasa
bahwa Ki Prawara, Nyi Prawara dan Winih adalah keluarga terdekat
Kiai Gumrah. Sedangkan ia dan Manggada adalah orang yang tersesat
saja sampai kerumah itu. Sehingga karena itu, maka Nyi Prawara dan
winih dapat berbuat lebih banyak dirumah itu. Karena itu, ketika Nyi
Prawara dan Winih pergi ke dapur, Laksana tidak beranjak dari
tempatnya. Dalam pada itu Kiai Gumrahpun berkata kepada Manggada dan
Laksana "Baiklah aku berterus terang. Anakku memang memiliki sedikit
kemampuan sehingga ia akan dapat membantuku melindungi pusaka-pusaka
itu disamping beberapa orang kawan-kawanku, para pedagang gula itu.
Seperti pernah aku katakan, bahwa orang-orang yang menghendaki
pusaka-pusaka itu mulai bersungguhsungguh, sehingga kamipun harus
mulai bersungguhsungguh pula. Karena itu, maka kami harus menghimpun
segala orang yang akan dapat ikut serta membantuku. Tentu bukan
anak-anak muda padukuhan ini, karena hal itu akan dapat berarti
menghancurkan mereka pula. Juga bukan para prajurit Pajang, karena
mereka akan dapat membuat kebijaksanaan yang tidak sesuai dengan
keinginan kita meskipun mereka juga berniat melindungi pusakapusaka
itu." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Kiai Gumrah memang
pernah mengatakan hal itu. Tetapi agaknya ia sengaja mengulanginya
dihadapan Ki Prawara. Dalam pada itu, di dapur, Nyi Prawara dan
Winih menjadi sibuk membuat minuman. Meskipun mereka tidak terbiasa
dengan peralatan dapur Kiai Gumrah, namun merekapun akhirnya dapat
menyiapkan wedang jahe hangat dengan gula kelapa yang banyak
terdapat didapur itu. Namun dalam pada itu, selagi Nyi Prawara sibuk
menyiapkan minuman, iapun terkejut ketika tiba-tiba seseorang telah
berdiri dipintu dapur. Orang itupun terkejut pula melihat dua orang
perempuan didapur itu. Namun Nyi Prawara masih juga sempat bertanya
"Apakah keperluan Ki Sanak? Siapakah yang Ki Sanak cari?" Tetapi
Winih justru bertanya "Apakah Ki Sanak juga cucu kakek Gumrah?"
"Tidak” jawab orang itu "tetapi aku memang mencari Kiai Gumrah."
Keduanya memang merasa heran, bahwa orang itu tidak mengetuk pintu
depan, tetapi langsung ke pintu dapur. Namun Nyi Prawara itupun
kemudian berkata "Winih, panggil kakekmu." Winihpun kemudian
bergegas masuk keruang dalam sambil berkata "Kek, ada tamu." "Tamu?"
bertanya Kiai Gumrah. "Ya. Orang itu langsung masuk ke dapur" jawab
Winih. Kiai Gumrah mengerutkan dahinya. Namun iapun kemudian segera
bangkit dan melangkah menuju ke dapur. Ternyata Kiai Gumrahpun-
terkejut. Hampir diluar sadarnya ia berdesis "Kundala." "Ya, Kiai"
jawab orang itu lirih, seakan-akan hanya untuk didengarnya sendiri
saja. -"Marilah, masuklah" Kiai Gumrah mempersilahkan. "Tidak Kiai"
jawab Kundala "aku sedang dalam perjalanan menemui seseorang."
"Siapa?" bertanya Kiai Gumrah. Kunuala memang ragu-ragu. Keningnya
telah menitikkan keringat. Bahkan baju dibagian punggungnyapun telah
menjadi basah kuyup seakan-akan ia baru saja kehujanan di bulak
panjang. Ia memang tidak dapat dengan serta merta menyebutkan sebuah
nama. Kiai Gumrah-agaknya tanggap akan kesulitan perasaan Kundala.
Karena itu, maka ia tidak mendesaknya. Ia justru bertanya
"Barangkali kau mempunyai keperluan dengan aku atau dengan kedua
cucuku? Marilah duduklah.” "Tidak Kiai" jawab Kundala "tidak ada
apa-apa. Aku hanya ingin singgah untuk melihat keselamatan Kiai dan
cucu-cucu Kiai. Agaknya semuanya selamat disini. Bahkan mungkin
dirumah ini sedang ada tamu." "Ya. Memang ada tamu dirumah ini.
Tetapi mereka adalah keluargaku sendiri." "Tidak ada yang ingin aku
sampaikan kecuali sekedar menengok keselamatan Kiai itulah." Kiai
Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada lembut ia berkata
"Kundala. Aku tahu bahwa kau berada dalam kebingungan yang sangat.
Terserah kepadamu, apakah kau akan mengatakannya atau tidak. Tetapi
tentu ada yang mendorongmu untuk singgah dirumahku ini. Aku yakin
bahwa itu adalah nuranimu yang untuk waktu yang panjang tentu telah
kau timbuni dengan ketamakan, kedengkian dan kepura-puraan. Tetapi
kenapa kau justru berusaha menutup telinga hatimu dan membiarkan
kepurapuraan itu menguasai dan kemudian menimbuni nuranimu sehingga
tenggelam jauh kedasar jiwamu?" Kundala termangu-mangu sejenak.
Tetapi ia mengakui bahwa dorongan nuraninyalah yang telah membawanya
singgah kerumah Kiai Gumrah. Bahkan nuraninya itu pula telah
mendorongnya untuk mengatakan kenapa ia telah singgah. Kiai Gumrah
membiarkan Kundala itu termangu-mangu dimuka pintu. Keringatnya
semakin banyak mengalir membasahi pakaiannya, sementara hatinya
telah diguncang-guncang oleh keragu-raguan. Namun akhirnya ia
berkata “Kiai. Aku baru saja menemui utusan Panembahan."
"Utusannya?" bertanya Kiai Gumrah. "Ya Kiai. Utusan Panembahan itu
akan berbicara dengan Kiai Windu Kusuma tentang pusaka-pusaka itu."
jawab Kundala. "Kenapa utusan itu tidak langsung menemui Kiai Windu
Kusuma?" bertanya Kiai Gumrah. "Nampaknya memang masih ada jarak
antara Panembahan dan Kiai Windu Kusuma meskipun Kiai Windu Kusuma
telan berada dibawah pengaruh Panembahan." jawab Kundala. "Lalu apa
tugasmu menemui utusan Panembahan?" "Kami akan membicarakan
pertemuan antara Panembahan dan Kiai Windu Kusuma. Pertemuan
langsung itu harus dilakukan tanpa gangguan apapun juga. Termasuk
keselamatan Panembahan itu sendiri. Karena itu. maka penyelenggaraan
pertemuan itu harus dilakukan dengan sangat berhati-hati" jawab
Kundpla. Kiai Gumrah termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya
"Apakah Panembahan dan Kiai Windu Kusuma belum pernah melakukan
pertemuan itu?" "Sudah. Sudah beberapa kali. Tetapi ditempat yang
jauh dan terpencil. Pertemuan kali ini akan dilakukan ditempat Kiai
Windu Kusuma." jawab Kundala pula. "Dimana tempat itu?" Kundala
tidak menjawab. Ia justru termangu-mangu kebingungan. Sekali-sekali
dipandanginya Nyi Prawara yang duduk diamben yang lain di dapur itu.
Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Kepada Nyi Prawara ia berkata
"Ngger. Aku minta tamuku ini juga disuguh minuman yang hangat.
Nanti, hidangkan saja minuman yang lain keruang dalam. Suamimu tentu
sudah haus." Nyi Prawara seakan-akan tersadar dari sebuah renungan
yang dalam. Tergagap ia berkata "Ya, ya. Ayah." Nyi Prawarapun
kemudian telah menyuguhkan minuman hangat kepada Kundala yang
tegang. Kemudian iapun telah membawa minuman ke ruang dalam. "Ia
menantuku" berkata Kiai Gumrah. Kundala mengangguk-angguk. Dengan
nada rendah ia berkata "Aku tidak mempunyai banyak waktu.".
"Minumlah." Kiai Gumrah. mempersilahkan. Kundalapiun kemudian
meneguk mangkuknya menghirup minuman hangat dengan gula kelapa.
Sementara itu Kiai Gumrah berkata "Jadi bagaimana dengan
burungburung elang itu? Apakah burung-burung elang itu dilepaskan
oleh Panembahan atau oleh Kiai Windu Kusuma?" "Seorang pembantu
Panembahan yang menjadi serati burung-burung elang itu berada
bersama Kiai Windu Kusuma" jawab Kunuaia meskipun agak ragu. "Tetapi
kaulah yang mendapat tugas untuk menjadi penghubung sebelum
pertemuan itu diselenggarakan" desis Kiai Gumrah. Kundala mengangguk
kecil. "Aku mengucapkan terima kasih atas keteranganmu" berkata Kiai
Gumrah "tetapi apakah masih ada hal lain yang dapat aku ketahui?"
Kundala menjadi semakin tegang. Beberapa kali ia mengusap keningnya
yang basah oleh keringat. Pertentangan didalam dirinya semakin
bergejolak. Sekalisekali terdengar ia berdesah. Kiai Gumrah
membiarkan Kundala dalam kegelisahannya. Bahkan iapun kemudian
mempersilahkan lagi "Minumlah, selagi masih hangat." Kundala
mengangkat mangkuknya. Iapun menghirup lagi seteguk. Baru kemudian
ia berkata "Panembahan nampaknya mengenali pusaka-pusaka yang
tersimpan itu dengan baik, Kiai." "Darimana ia tahu?" bertanya Kiai
Gumrah. Seakan-akan diluar sadar Kundalapun menceriterakan apa yang
pernah didengarnya pembicaraan antara Kiai Windu kusuma dengan Putut
Sempada tentang pusakapusaka yang tersimpan dirumah Kiai Gumrah itu.
Kiai Gumrahpun menarik nafas dalam-dalam. Dengan kerut dikening Kiai
Gumrah berkata hampir kepada diri sendiri "Darimana ia mengetahui
bahwa diantara pusaka-pusaka itu terdapat Kiai Simarengu dan Kiai
Simariwut." "Entahlah" Kundala menyahut lirih. Namun tiba-tiba
Kundala itupun berkata "Sudahlah Kiai. Aku sudah terlalu lama
disini. Aku harus segera kembali agar aku tidak dicurigai oleh Kiai
Wmdukusuma. Apalagi sekarang dalam beberapa hal aku sudah mulai
tersisih. Bukan karena aku dianggap tidak setia, tetapi aku dianggap
tidak cukup memiliki kemampuan untuk menghadapi pekerjaan-pekerjaan
besar. Namun mudah-mudahan pada suatu saat, aku masih diperlukan
oleh Kiai Windukusuma." Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Katanya
"Terima kasih. Keteranganmu sangat penting artinya bagi kami.
Hati-hatilah. Mungkin burung elang itu memantau perjalananmu."
"Memang mungkin, tetapi aku tidak melihat burung itu dilangit."
"Minumlah dahulu. Aku akan melihat, apakah burung itu terbang atau
tidak." berkata Kiai Gumrah yang kemudian keluar dari dapur dan
menengadahkan wajahnya. Namun iapun kemudian masuk lagi kedapur
sambil berkata "Burung itu tidak ada..” "Baiklah Kiai" berkata
Kundala "aku mohon diri." "Berhati-hatilah. Kau berada dikandang
serigala. Setiap saat serigala-serigala itu. akan dapat
menggigitmu." pesan Kiai Gumrah. Kundala tidak menunggu lebih lama
lagi. Iapun segera minta diri dan meninggalkan Kiai Gumrah yang
termangumangu. Ketika kemudian Kiai Gumrah berada diruang dalam
bersama anak, menantu dan cucunya, maka ternyata Kiai Gumrah tidak
merahasiakan kehadiran dan pesan-pesan Kundala. Dengan demikian maka
Manggada dan Laksana mengambil kesimpulan bahwa Kiai Gumrah
mengharap kedatangan anaknya benar-benar untuk membantunya
melindungi pusaka-pusaka itu. Karena itu, maka kedua anak muda itu
berkesimpulan bahwa Ki Prawara itu tentu juga seorang yang berilmu
tinggi. Jika tidak demikian, maka kehadirannya tentu tidak akan
berarti apa-apa. Justru malah membahayakan jiwa Ki Prawara itu
sendiri. Apalagi isteri dan anak gadisnya. Ternyata pesan Kundala
itu telah ditanggapi dengan sungguh-sungguh oleh Kiai Gumrah dan Ki
Prawara. Mereka memperhitungkan bahwa Panembahan itu akan turun
sendiri untuk mengambil pusaka-pusaka itu. "Lebih dari itu
Panembahan itu berniat untuk mengorbankan seseorang. Ia memerlukan
jantung seseorang yang masih segar. Bahkan mungkin jantung seseorang
yang disyaratkan oleh Panembahan itu." berkata Kiai Gumrah.
"Nampaknya Panembahan itu masih hidup pada. jaman yang gelap, pada
jaman manusia masih terpisah dari Yang Maha Agung. Nampaknya
Panembahan itu-masih belum menyadari panggilan Sumber Hidupnya,
sehingga ia telah mengabdi kepada kegelapan."desis Ki Prawara
“dengan demikian maka ia merupakan manusia yang sangat berbahaya
pada jaman seperti ini. Ia sampai hati mengorbankan sesamanya dengan
cara yang tidak pantas dan tidak berperikemanusiaan sama sekali
untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Satu kekuatan yang berasal
dari dunia kegelapan.” "Itulah yang kita hadapi sekarang Prawara?”
desis Kiai Gumrah "ternyata kita berhadapan dengan kekuatan iblis
dalam arti yang sebenarnya." Manggadapun kemudian sempat
menceriterakan dengan singkat, bagaimana seorang Panembahan yang
juga memiliki burung-burung elang itu membenamkan Kerisnya didada
gadis-gadis yang masih suci disetiap bulan purnama karena Panembahan
itu memuja keris yang dianggapnya sangat bertuah itu. Keris yang
jika digenapi mereguk darah gadis-gadis dalam jumlah tertentu akan
menjadi keris yang dapat mendukung derajatnya karena tuahnya yang
tidak ada bandingnya. Bahkan keris itu akan menjadi pusaka yang
paling sakti dimuka bumi.” Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam,
sementara tengkuk Nyi Prawara terasa meremang. "Sekarang kejahatan
seperli itu akan diulangi. Aku yakin bahwa Panembahan yang kau
katakan itu adalah Panembahan yang ingin memiliki pusaka-pusaka itu
pula. Beberapa pertandanya sama terutama bahwa ia memuja kuasa
kegelapan." berkata Kiai Gumrah. Ki Prawara mengangguk-angguk.
Katanya kemudian "Jika demikian kita memang harus menjadi sangat
berhati-hati." Kiai Gumrah mengangguk pula. Katanya "Malam nanti,
seorang diantara kita akan berada dirumah ini pula." "Siapa ayah?"
bertanya Ki Prawara. "Kiai Linggar. Ia akan tidur dirumah ini untuk
menjaga kemungkinan buruk yang dapat terjadi." jawab Kiai Gumrah.
"Bagaimana dengan saudara-saudara kita yang lain?" bertanya Prawara
"Hampir semua saudara-saudara kita sudah mengetahui apa yang dapat
terjadi disini. Mereka sudah berada diputaran kejadian sehingga
tidak terlalu sulit lagi untuk menghubungi mereka seorang demi
seorang, sebagaimana kau sendiri" Prawara mengangguk-angguk.
Panembahan yang disebut-sebut itu telah bersungguh-sungguh pula,
sehingga merekapun harus bersungguh-sungguh sebagaimana Panembahan
itu. Demikianlah, maka sejenak kemudian Nyi Prawarapun telah berada
didapur pula. Ketika Kiai Gumrah akan menyiapkan makan bagi mereka,
Nyi Prawara itu berkata "Bukankah kami, perempuan, lebih pantas
untuk berada didapur?" "Biasanya aku, Manggada dan Laksanalah yang
masak untuk kami sendiri. Aku ajari mereka membumbui bermacam-macam
masakan, sehingga sekarang mereka telah dapat melakukannya." berkata
Kiai Gumrah. "Tetapi hari-hari biasa dirumah ini tidak ada seorang
perempuan. Sekarang ada dua orang perempuan disini." sahut Nyi
Prawara. Kiai Gumrah tertawa. Katanya "Baiklah. Jika kau akan
memetik sayuran, ambillah di halaman belakang. Daun kacang panjang,
so, melinjo dan kroto, atau terung ungu. Jika kau senang sayur
rebung, sekaranglah musimnya.” "Baik ayah. Kami akan mengambil
bahan-bahan itu sendiri di halaman belakang." jawab Nyi Prawara.
Dengan kehadiran anak, menantu dan cucunya, maka rumah Kiai Gumrah
menjadi semakin terasa hidup. Rumah dan halaman yang telah
dibersihkan oleh Manggada dan Laksana akan menjadi semakin nampak
cerah karena ada tangan-tangan perempuan yang memeliharanya,
meskipun hanya untuk sementara. Dalam pada itu, ketika malam
kemudian turun, maka rumah itu menjadi semakin ramai. Ternyata.yang
datang kerumah Kiai Gumrah bukan hanya seorang kawannya yang untuk
sementara akan berada. dirumah itu, tetapi, yang datang ternyata
ampat orang termasuk juragan gula kelapa itu. Diantara mereka
terdapat orang-yang telah mengirimkan pesan untuk Ki Prawara. Ki
Prawara telah ikut menyambut tamu-tamu Kiai Gumrah itu. Terdengar
suara tertawa yang gembira. Orangorang tua itu mulai berkelakar
dengan ramainya. "Pesanku kapan sampai kepadamu Prawara?," bertanya
salah seorang diantara tamu-tamu Kiai Gumrah. "Dua. hari yang lalu
Kiai." jawab Prawara. "Ternyata pesan itu memerlukan waktu tiga hari
untuk sampai ketelingamu.” "Tetapi aku sekarang sudah ada disini"
jawab Prawara. Sementara itu Kiai Linggarpun berkata "Jika demikian,
maka aku tidak perlu lagi berada ditempat ini. Rumah ini akan
menjadi penuh sesak. Selain Prawara, isteri dan anak gadisnya,
disini sudah ada dua orang cucu Kiai Gumrah yang lain." "Ya" Juragan
gula itulah yang menjawab "disini kau hanya akan memenuhi ruangan
dan menghabiskan makanan yang disediakan oleh Nyi Prawara."
Orang-orang -tua itu tertawa. Ki Prawarapun tertawa pula.
Demikianlah malam itu rumah Kiai Gumrah menjadi ramai. Meskipun
mereka tidak bermain dadu, tetapi kehadiran Ki Prawara telah
menyerap perhatian tamu-tamu Kiai Gumrah. Ki Prawara ternyata
seorang yang pandai menyusun ceritera sehingga hal-hal yang biasa
terjadi menjadi sangat menarik. Ia sempat menceriterakan pengalaman
hidupnya yang terpisah dari ayahnya untuk waktu yang lama. Sementara
itu, Nyi Prawara dan Winih masih saja sibuk didapur. Manggada dan
Laksana ikut membantunya dan kemudian menghidangkan suguhan keruang
dalam. Minuman, makanan dan makan malam. Meskipun hanya
sayur-sayuran saja, tetapi karena Nyi Prawara pandai memasak,
hidangan itu terasa nikmat di mulut tamu-tamu Kiai Gumrah. Namun
menjelang, tengah malam, suara tertawa dan kelakar menjadi semakin
susut. Pembicaraan orang-orang tua itu menjadi semakin
bersungguh-sungguh. Manggada dan Laksana yang sudah selesai
menghidangkan suguhan bagi mereka yang berada di ruang dalam, duduk
dibersandar dinding didapur. Justru karena mereka sudah tidak sibuk
lagi, maka mereka mulai merasa kantuk. Karena itu, maka Nyi
Prawarapun berkata "Duduklah didalam ngger. Kalian sudah berhak
mendengarkan pembicaraan orang-orang tua itu, karena kalian memang
sudah memanjat usia dewasa." Manggada dan Laksana memang menjadi
ragu-ragu. Tetapi kemudian Manggada itupun menyahut "Biarlah kami
duduk disini saja Nyi. Mungkin masih ada yang harus kami kerjakan.
Jika minuman para tamu itu habis, maka kami akan menuang lagi."
"Bukankah itu dapat dilakukan oleh Winih?" sahut Nyi Prawara sambil
memandang anak gadisnya. Namun Manggada berkata "Adi winih tentu
letih. Bukankah ia baru datang hari ini." Tetapi Nyi Prawara
tertawa, katanya "Ia terbiasa berjalan jauh. Dirumah sehari-hari ia
bekerja disawah, sehingga tubuhnya telah terbiasa." Manggada dan
Laksana hanya mengangguk-angguk saja, sementara Winih sendiri memang
tidak nampak letih. Juga tidak nampak mengantuk. Ia masih tetap
nampak segar. Dalam pada itu, diam-diam Manggada dan Laksana
memandangi gadis itu. Gadis itu nampak tegar. Tubuhnya seakan-akan
selalu bergerak, apapun yang dilakukan. Seakan-akan gadis itu tidak
dapat duduk diam barang sekejappun. Jika ia duduk, maka kakinya atau
tangannya yang bergerak-gerak, Meskipun ujudnya Winili telah dewasa,
namun wajahnya masih nampak kekanak-kanakan. Tetapi jika
sekali-sekali Manggada dan Laksana, sempat memandang matanya, maka
di mata itu seakan-akan tersimpan api gejolak jiwanya. Tetapi Winih
masih belum menjadi akrab dengan Manggada dan Laksana. Diantara
mereka masih ada jarak, justru karena Manggada dan Laksana adalah
anak-anak muda, sedangkan Winih seorang gadis yang sama-sama
meningkat dewasa. Namun dalam pada itu terdengar Kiai Gumrah
memanggil Manggada dan Laksana. Ternyata Kiai Gumrah justru ingin
Manggada dan Laksana mendengarkan pembicaraan mereka yang mulai
bersungguh-sungguh. "Sayang. Kita semuanya sudah menjadi tua.
Satusatunya orang yang masih terhitung muda adalah kau, Prawara."
berkata Kiai Linggar. "Itulah kelemahan kita" berkata juragan gula
itu "kita mabuk akan kebanggaan atas diri kita sendiri, sehingga
kita lupa, bahwa pada suatu saat kita akan menjadi tua, dan
kehilangan landasan kekuatan kewadagan kita. Jika sebentar lagi kita
sudah harus merenungi kerapuhan wadag kita, maka orang-orang yang
lebih muda masih belum siap untuk menggantikan tugas kita." "Kiai
sekalian masih belum terlambat" berkata Prawara "masih ada
kesempatan untuk menempa mereka yang lebih muda dari kita, atau
katakan lebih muda dari aku." Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Hampir
diluar sadarnya mereka memandang Manggada dan Laksana yang sudah
duduk diamben itu pula, meskipun agak dibelakang. Tetapi Manggada
dan Laksana agaknya menundukkan wajah mereka. Orang-orang tua yang
ada diruang dalam itu tanggap akan maksud Kiai Gumrah. Tetapi mereka
masih harus berpikir, "apakah keduanya bersedia untuk benar-benar,
bergabung dengan orang-orang tua itu dalam arti yang,sebenarnya.
Karena mereka tahu, bahwa anak-anak muda itu sedang dalam perjalanan
pulang kerumah mereka tidak jauh dari Kotaraja. Namun Prawaralah
yang kemudian berkata "Tetapi yang penting bagi kita adalah
persoalan dalam waktu dekat ini. Jika menurut ayah, seorang pengikut
Kiai Windu Kusuma yang bernama Kundala telah mengabarkan hal-hal
tersebut, berarti bahwa kita harus menanggapinya dengan mengerahkan
segenap, kemampuan yang ada pada kita. Untuk waktu yang pendek dan
mendesak ini, kita belum sempat memikirkan, siapakah yang akan
menjadi penerus kita kemudian. Karena dihadapan kita sekarang
ternyata menganga mulut sekelompok buaya yang buas." Orang-orang tua
itu mengangguk-angguk. Juragan gula itupun berkata "Untunglah, bahwa
ada seseorang yang bernama Kundala. Dengan demikian kita berharap
untuk selanjutnya, ia akan dapat membantu kita." Demikianlah,
orang-orang tua itu berbicara berkepanjangan. Namun akhirnya
merekapun menjadi letih. Kiai Linggarlah yang kemudian berkata
"Sudahlah. Kami datang untuk mengucapkan selamat datang kepada
Prawara. Selain itu, akupun tidak perlu lagi berada dirumah ini
untuk sementara. Karena itu, aku mohon diri." Ternyata orang-orang
tua yang lainpun telah minta diri pula. Juragan gula itupun berkata
"Sudah terlalu malam. Aku kira sudah tidak ada suguhan lagi yang
akan dihidangkan. Karena itu, kami akan pulang saja." Ki Prawara
tertawa. Tetapi Kiai Gumrah berkata "Kalian harus membayar sebanyak
yang kalian makan hari ini." Orang-orang tua itu tertawa. Namun
mereka berjalan terus meninggalkan rumah Kiai Gumrah. Demikian
mereka keluar dari regol halaman, mereka bertemu dengan beberapa
orang anak muda yang sedang meronda. Namun anak-anak muda itu sudah
mengenal orang-orang tua itu, sehingga mereka tidak terlalu banyak
bertanya-tanya. Tetapi justru kepada Manggada dan Laksana anak-anak
muda itu bertanya, kenapa ia tidak pergi ke banjar. “Kami hanya
sekedar menyalakan lampu. Kami harus segera pulang karena dirumah
banyak tamu." jawab Manggada. "Tetapi bukankah mereka tamu kakekmu?"
bertanya salah seorang di antara mereka. “Ya. Tetapi bukankah harus
ada yang merebus air dan menyediakan hidangan meskipun hanya sekedar
merebus ketela pohon atau ubi rambat?" Anak-anak muda itu tersenyum.
Seorang diantara mereka berkata "He, jika tersisa bawa ke banjar.
Kami akan beristirahat di banjar sebentar." Laksanalah yang menjawab
"Sayang. Yang masih tersisa tinggal gua kelapa." "Tentu, kakekmu
setiap hari membuat gula" sahut salan seorang dari anak-anak muda
itu. Manggada dan Laksana hanya tertawa saja. Namun mereka kemudian
justru masuk kembali keregol halaman dan menutupnya ketika
orang-orang tua yang meninggalkan rumah itu sudah menjadi semakin
jauh. Malam itu Manggada dan Laksana harus tidur diamben dapur.
Namun bagi mereka berdua sama sekali tidak ada persoalan. Amben yang
besar diruang tengah dipergunakan untuk Ki Prawara, Nyi Prawara dan
Winih. Namun kehadiran Ki Prawara memang membuat Manggada dan
Laksana menjadi semakin tenang, karena mereka tahu bahwa Ki Prawara
itu tentu memiliki ilmu yang dapat diandalkan sebagaimana dikatakan
oleh Kiai Gumrah dan kawan-kawannya. Ketika kemudian fajar
menyingsing, sebagaimana biasa Manggada dan Laksana sudah bangun.
Mereka segera pergi ke banjar dan membersihkan halaman banjar,
mengisi jambangannya dan memadamkan lampu-lampunya. Baru kemudian
mereka pulang untuk membersihkan halaman rumah Kiai Gumrah. Tetapi
ketika mereka memasuki halaman, ternyata bahwa halaman rumah itu
sudah menjadi bersih. Mereka masih melihat Winih menyelesaikan
pekerjaannya dengan memasukkan sampah kelubang sampah disudut
halaman. "Kami terlambat" berkata Manggada. "Seberapa luas halaman
banjar itu, sehingga kalian berdua baru selesai?" bertanya Winih
yang sudah mulai mengatasi keseganan masing-masing. “Bukan hanya
membersihkan halaman" jawab Laksana "kami harus membersihkan
ruangan-ruangan banjar dan mengisi jambangan di pakiwan." "O" Winih
mengangguk-angguk "sebelum kalian datang, apakah semuanya itu
dilakukan oleh kakek sendiri?” "Agaknya memang demikian. Tetapi
justru karena itu, maka rumah kakek inilah yang tidak mendapat waktu
untuk dibersihkan. Waktu kami datang, nampaknya rumah dan halaman
ini jarang disapu sedangkan perabot didalampun agaknya tidak sempat
disentuh tangan. Kakek memang terlalu sibuk. Sedangkan pohon-pohon
kelapa itu memerlukan perhatiannya" jawab Manggada. "Kasihan kakek"
desis Winih "jika aku tahu, aku tentu sudah datang jauh sebelum ayah
dan ibu mengajak aku kemari." Manggada dan Laksana yang kemudian
melintas sempat berhenti sejenak. Namun; kemudian mereka mulai
melangkah lagi melintas halaman samping. Sambil berjalan Manggadapun
berdesis "Kami akan mengisi jambangan." "Ayah sudah mengisinya"
sahut Winih "Kalau begitu, apa lagi yang harus kami kerjakan?
Menyiapkan minuman? "Laksana justru bertanya. “Ibu sedang sibuk
didapur" jawab Winih. "Dan kakek?” bertanya Manggada. "Kakek sudah
berada dikebun dengan bumbungbumbungnya." Manggada dan Laksana
saling berpandangan. Agaknya tugas mereka menjadi ringan oleh
kehadiran Ki Prawara dengan keluarganya dirumah itu. Namun dalam
pada itu Winih itupun tiba-tiba berkata, "Bukankah kita tidak
mempunyai pekerjaan apa-apa lagi? Bagaimana jika kita pergi ke
pasar?" "Kepasar?” ulang Manggada. “Ya. Aku akan minta kepada ibu
agar aku saja yang berbelanja dipasar. Tetapi bukankah kahan juga
tidak ada kerja dirumah pagi ini? Nah, kita sajalah yang pergi ke
pasar." Manggada dan Laksana memang menjadi ragu-ragu. Mereka memang
senang untuk berbelanja bersama Winih yang ceria itu. Namun dengan
ragu Manggada berkata “Kami harus minta ijin dahulu kepada kakek."
"Kakek tentu tidak berkeberatan. Bukan kalian yang berbelanja.
Tetapi aku. Bukankah pantas jika aku yang berbelanja? Kalian hanya
menemani aku saja" berkata Winih dengan lancar. Seakan-akan mereka
sudah akrab sebelumnya. Manggada dan Laksana masih saja ragu-ragu.
Mereka selalu ingat akan pesan Kiai Gumrah, bahwa mereka harus
berhati-hati karena orang-orang berilmu tinggi itu sudah mengenal
mereka "Kenapa kalian ragu-ragu? Apakah kalian merasa malu berjalan
bersama seorang gadis?" bertanya Winih. Manggada dan Laksana justru
merasa jantungnya tergetar mendengar pertanyaan itu. Namun mereka
menyadari bahwa pertanyaan itu meluncur dari mulut Winih dengan
lugu, jujur dan tanpa maksud apa-apa. Karena itu, maka-meskipun agak
memaksa diri Manggada menjawab "Tidak. Soalnya bukan itu. Tetapi
kakek selalu berpesan agar kami berhati-hati dalam keadaan yang
nampaknya semakin genting ini." “Tetapi bukankah itu persoalan
kakek, kawan-kawannya dan barangkali ayah. Tetapi itu bukan
persoalan kita." "Kami berdua sudah terlibat kedalam persoalan itu."
jawab Laksana. "Jadi kalian takut pergi ke pasar?" bertanya Winih.
Bagaimanapun juga Manggada dan Laksana tersinggung mendengar
pertanyaan itu. Namun justru karena itu, mereka tidak segera
menjawab. Tetapi Winih sambil meneruskan kerjanya berdesis
seakan-akan kepada diri sendiri "Jika demikian aku akan pergi
sendiri ke pasar." Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak.
Namun Manggadapun kemudian berkata "Baiklah. Kami akan pergi. Tetapi
kami harus minta ijin lebih dahulu kepada kakek." Wajah Winih nampak
menjadi gembira. Katanya "Jika demikian aku akan segera mandi. Kita
pergi kepasar selagi masih pagi. Kita akan mendapatkan sayur-sayuran
yang masih segar." Hampir diluar sadarnya Laksana berkata "Selama
ini kami mengambil sayuran dikebun." "Tetapi dipasar kita
mendapatkan sayuran yang jenisnya jauh lebih banyak dari yang ada
dikebun kakek." jawab Winih. "Tentu saja" sahut Laksana "tetapi kita
harus membelinya. Dikebun kita tinggal memetik." "Aku akan minta
uang kepada ibu” desis Winih. Manggada dan Laksana hanya
termangu-mangu saja. Sementara itu Winihpuh telah berlari masuk
rumah mencari ibunya, sementara, sapunya ditinggalkannya begitu
saja. Laksana menarik nafas dalam-dalam. Iapun kemudian telah
memungut sapu lidi yang ditinggalkan Winih dan menyelesaikan
pekerjaan Winih yang tinggal sedikit. Sebagian kecil sampah itu
ternyata masih tersisa. Belum seluruhnya masuk kedaiam lubang sampah
disudut halaman itu: Dalam pada itu, maka Manggada dan Laksanapun
telah mencari Kiai Gumrah di kebun. Agaknya Kiai Gumrah juga sudah
selesai dengan pekerjaannya. Sambil membawa beberapa buah bumbung
legen ia berjalan menuju ke dapur. Manggada dan Laksanapun telah
membantunya membawa bumbung legen itu. Sementara itu Manggadapun
berkata "Kek, apakah kami berdua boleh pergi ke pasar?" "Untuk apa?"
bertanya Kiai Gumrah. "Winih ingin pergi ke pasar. Ia minta kami
mengantarkannya." "Ah, anak itu" desis Kiai Gumrah "ia tidak tahu
bahaya yang tersembunyi di sekitar keluarga kita." "Winih nampaknya
ingin sekali pergi ke pasar." desis Laksana. Lalu katanya "Agaknya
iapun akan minta ijin kepada kakek. Tentu saja juga kepada ayah dan
ibunya, karena Winih masih akan minta uang lebih dahulu." "Apa yang
akan dicarinya di pasar?" bertanya Kiai Gumrah. "Anak itu ingin
berbelanja. Katanya jenis sayuran dipasar jauh lebih banyak dari
jenis sayuran yang ada dikebun." jawab Laksana. Kiai Gumrah
mengangguk-angguk. Katanya "Biar anak itu minta ijin ayah dan
ibunya. Ayah dan ibunya tentu sudah tahu bahwa kita seluruh keluarga
harus berhati-hati.” Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Tetapi
mereka tidak menjawab lagi. Tetapi ketika mereka sampai didapur,
Winih itu sudah menunggu. Demikian ia melihat Manggada dan Laksana,
maka iapun berkata lantang "He,lcalian belum mandi?" "Apakah kau
sudah selesai berbenah diri?" bertanya Manggada. “Tentu. Aku sudah
menunggumu." jawab Winih. "Apakah kau sudah minta ijin ayah dan
ibumu?" bertanya Kiai Gumrah. "Sudah kek. Ayah dan ibu tidak
berkeberatan. Ibu malahan sudah memberi uang belanja kepadaku." Kiai
Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Namun, kemudian katanya "Baiklah.
Jika kau sudah mendapat ijin ayah dan ibumu." Lalu Kiai Gumrah
itupun berkata kepada Manggada dan Laksana "Kalian harus tetap
berhati-hati." "Ya kek" jawab Manggada. Tetapi Winih segera memotong
"Tetapi mereka belum mandi." Kiai Gumrah itupun tersenyum. Katanya
"Mandilah.” "Cepat sedikit. Biasanya laki-laki berbenah diri lebih
cepat dari perempuan." berkata Winih. Kiai Gumrah bahkan tertawa.
Katanya "Hari masih pagi. Pasar itu tidak akan segera bubar."
"Tetapi sayuran yang segar itu sudah habis." jawab Winih. "Tentu
belum. Tetapi seandainya sudah habis, maka biarlah Manggada dan
Laksana memetik sayuran segar dari kebun dan biar mereka membawanya
kepasar. Nah, kau akan dapat membeli sayuran yang masih sangat
segar." berkata Kiai Gumrah. "Ah, kakek mesti bercanda” desis gadis
itu. Sementara itu Manggada dan Laksana tergesa-gesa menyiapkan
dirinya. Sementara Winih menunggu didepan. Bahkan hampir saja ia
kehilangan kesabaran. Tetapi ketika Manggada dan Laksana selesai
berpakaian, maka mereka justru dipanggil oleh Nyi Prawara didapur.
Katanya "Kalian belum minum. Nanti minuman ini menjadi dingin.”
"Terima kasih Nyi" jawab Manggada dan Laksana hampir berbareng.
Tetapi demikian keduanya meneguk minumannya, Winih telah berdiri
dipjnfcu sambil berkata “Kalian masih sempat minum. Matahari
sernakin tinggi." "Kenapa kau Winih” ibunya yang menyahut “biarlah
mereka minum lebih dahulu. Bukankah hari masih pagi. Justru para
penjual sayuran masih belum ada di pasar." "Kakek kalau pergi ke
pasar agak siang" berkata Manggada. "Tetapi kakek menjual gula.
Itupun sudah ada orangorang tertentu yang menerimanya sehingga kakek
tidak usah menjajakan dagangannya dan menungginya berlamalama."
jawab Winih. "Baiklah" berkata Laksana kemudian "kami sudah selesai.
Demikianlah mereka bertigapun segera meninggalkan regol halaman
rumahnya. Disimpang tiga tidak jauh dari banjar mereka bertemu
dengan beberapa orang anak muda yang akan pergi kesawah. Ternyata
anak-anak muda itu terkejut melihat Manggada dan Laksana berjalan
bersama seorang gadis yang tumbuh dewasa. Gadis yang sangat cantik
menurut penglihatan mereka. "He" seorang dari anak-anak muda itu
menegur. Dengan cepat Manggada tanggap dan menjawab "Kami. mengantar
adik” Anak-anak muda itu tersenyum Seorang diantara mereka bertanya
"Kapan adikmu datang?" “Kemarin” jawab.Manggada. Beberapa anak muda
itu tanpa berjanji mengangguk hormat, sementara Winihpun mengangguk
hormat pula meskipun ia melihat kerlingan mata yang nakal. Tetapi
Winih tidak menghiraukannya. Sebagai seorang gadis yang tumbuh
dewasa dengan gaya hidupnya yang agak lebih bebas dari gadis-gadis
sebayanya maka Winih telah sering melihat sorot mata yang
seolah-olah ingin menusuk sampai kedasar jantungnya. Tetapi
anak-anak muda itu masih tetap dalam batasbatas kewajaran, sehingga
Winihpun tidak terlalu merasa terganggu. Sesaat kemudian, maka
masing-masingpun telah meneruskan perjalanan mereka. Winih diantar
oleh Manggada dan Laksana ke pasar, sementara beberapa orang anak
muda itu pergi ke sawah. Namun belum lagi mereka melangkah terlalu
jauh, merekapun telah berpaling ketika mereka mendengar langkah
sorang berlari-lari. Seorang anak muda yang bertubuh kekar dan
berwajah keras. Anak muda itu berlarilari menyusul kawan-kawannya
yang pergi kesawah. Namun Manggada dan Laksana yang telah mengenal
anak muda itu pula menjadi berdebar-debar. Dari kawankawannya
Manggada dan Laksana mengetahui, bahwa anak muda itu adalah anak
muda yang keras hati, yang hanya menuruti kemauannya sendiri tanpa
menghiraukan perasaan orang lain. Beberapa orang kawannya berusaha
untuk menjauhinya. Tetapi anak-anak muda itu tidak dapat
menghindarinya jika anak yang bertubuh kekar dan berwajah keras itu
hadir diantara mereka. Hampir seluruh anak-anak muda sepadukuhan
berada dibawah pengaruhnya. Bukan karena ia mempunyai wibawa yang
tinggi, tetapi karena kekasaran dan kekerasannya. Ketika Manggada
dan Laksana sekali-sekali berpaling, mereka melihat bahwa anak muda
yang bertubuh kekar itu memperhatikan Winih dengan penuh perhatian.
"Mudah-mudahan tidak ada niat buruknya" berkata Manggada didalam
hatinya. Sementara itu Laksanapun menjadi cemas karena sikap anak
muda itu. Winih sendiri tidak menghiraukannya lagi. Ia belum
mengetahui sifat anak muda yang berlari-lari itu. Ia mengira bahwa
anak muda itu ingin menyusul kawan-kawannya yang sudah berangkat
lebih dahulu. Demikianlah, maka ketiga orang itu berjalan agak
bergegas menuju kepasar yang tidak begitu jauh. Tetapi Winih yang
ingin cepat-cepat sampai kepasar diluar sadarnya telah berjalan
semakin cepat, sehingga Manggada merasa perlu untuk
memperingatkannya "Jangan terlalu cepat Winih. Orang-orang yang
berpapasan dengan kita akan memperhatikan kita, seolah-olah kita
sedang dikejar oleh satu kepentingan yang sangat mendesak." "O"
Winih mengangguk-angguk kecil. Ia memang memperlambat langkahnya.
Tetapi langkahnya yang kecil itu semakin lama menjadi semakin cepat
pula. Bahkan kemudian Winih tidak menghiraukan lagi orang-orang yang
Setelah melewati bulak-bulak kecil, maka merekapun sampai kepasar.
Pasar yang terhitung ramai dihari pasaran sebagaimana hari itu.
Beberapa orang pedagang dari padukuhan lain telah berdatangan ke
pasar itu. Ternyata Winih memang menjadi gembira melihat keramaian
di1 pasar itu. Tidak seperti yang direncanakan, bahwa ia akan segera
membeli sayur-sayuran segar. Tetapi yang pertama-tama menarik
perhatiannya adalah justru para pedagang kain lurik yang
beraneka-warna. Kain dengan garis-garis yang besar, tetapi ada yang
bergaris-garis lembut. Ada yang berwarna pekat, tetapi ada juga yang
berwarna cerah. Laksana yang berjalan dipaling belakang sempat
bertanya "He, aku kira kita salah memilih sasaran." “Kenapa?"
bertanya Winih. "Bukankah kau tergesa-gesa karena kau tidak mau
kehabisan sayuran segar?" bertanya Laksana pula. "Nanti dulu" jawab
Winih "aku senang melihat kain yang beraneka warna ini. Sebenarnya
aku ingin membeli barang selembar atau dua lembar. Tetapi uang yang
diberikan ibu hanya cukup untuk berbelanja sayur-sayuran dan bahan
masakan yang lain.” "Karena itu, marilah, kita pergi kesisi lain,
ketempat para pedagang, sayuran menjajakan dagangannya." berkata
Laksana "Nanti dulu. Aku masih ingin melihat-lihat” jawab Winih.
Laksana tidak berkata apapun lagi. Ia hanya berjalan saja mengikuti
Winih sebagaimana Manggada. Keduanya tidak dapat berbuat apa-apa,
bahkan seperti kerbau dicocok hidung. Namun dalam pada itu, ketiga
anak muda itu sama sekali tidak menyadari, bahwa dua pasang mata
tengah mengawasi mereka. Kedua orang yang melihat mereka bertiga
telah dengan sengaja menjauhkan diri meskipun keduanya tetap
mengawasinya. “Kedua orang anak muda itu adalah cucu Kiai Gumrah"
berkata seorang diantara mereka. Yang seorang lagi adalah Kundala.
Keringatnya mengaur membasahi seluruh tubuhnya seperti saat ia
berada dirumah Kiai Gumrah. Ia tahu bahwa gadis itu tentu juga cucu
Kiai Gumrah. Bahkan saat ia memasuki dapur Kiai Gumrah ia telah
melihat pula gadis itu didapur bersama seorang perempuan yang
disebut oleh Kiai Gumrah sebagai menantunya. "Kenapa kau menjadi
gelisah?" bertanya kawannya. Kundala bagaikan tersadar dari mimpi
buruknya. Dengan gagap ia menjawab "tidak. Sama sekali tidak."
"Wajahmu menampakkan kecemasanmu. He, jangan takut terhadap
anak-anak." "Aku tidak takut. Aku pernah mengalahkan mereka berdua"
jawab Kundala. "Jadi kenapa kau menjadi begitu gelisah. Bahkan
wajahmu bukan saja menunjukkan kecemasan hatimu, tetapi bahkan
wajahmu menjadi pucat." berkata kawannya pula. "Aku sama sekali
tidak cemas karena anak-anak itu. Tetapi Kiai Gumrah adalah
pedagang-gula dipasar ini. Ia mempunyai beberapa kawan disini. Juga
para pedagang gulai" jawab Kundala. “Darimana kau tahu?" bertanya
kawannya. "Bukankah aku sering mendapat tugas kepasar. Menjemput
seseorang, mengawasi seseorang atau bertemu dengan siapapun menurut
perintah Kiai Windu Kusuma." jawab Kundala. Kawannya
mengangguk-angguk. Ia memang percaya bahwa Kundala sudah sering
berada di pasar bahkan tugastugas lain diluar lingkungan mereka.
"Siapakah gadis itu" tiba-tiba kawannya bertanya. "Aku tidak tahu"
jawab Kundala. Namun terasa katakatanya itu begitu pahitnya
dilidahnya. Setiap kali ia selalu dibayangi oleh tuduhan dihidungnya
bahwa ia telah berkhianat. "Aku tidak peduli" Kundala berteriak
didalam hatinya "aku memang berkhianat." Namun mulutnya justru
terkatup rapat. Sementara kawannya berkata "Kundala. Kau tidak perlu
menjadi sangat cemas seperti itu. Seandainya pedagang gula itu
berniat berbuat sesuatu, maka kita masih dapat melawan. Jika tidak,
maka kesempatan untuk menghindarpun banyak sekali, karena kita ada
dipasar yang ramai." Kundala tidak menjawab. Namun jantungnya
berdenyut semakin keras ketika ia mendengar kawannya itu berdesis
"Gadis itu sangat cantik." "Jangan ganggu gadis itu." Kawannya
justru tertawa. Tetapi ia bertanya "Siapa kah gadis itu sebenarnya?
Bukankah ia bukan anakmu?" "Memang bukan" jawab Kundala "tetapi jika
gadis itu bersama-sama dengan cucu Kiai Gumrah, maka gadis itu tentu
ada hubungannya pula dengan Kiai Gumrah." "Aku tidak peduh” jawab
kawannya “aku masih muda. Gadis itu tumbuh dewasa. Apa salahnya jika
aku memperkenalkan diriku? Jika kau takut dikenali kedua cucu Kiai
Gumrah itu sebaiknya kau tidak usah ikut aku." berkata kawannya.
“Kedua cucu Kiai Gumrah itu akan mengenalmu "jawab Kundala yang
menjadi semakin gelisah. "Mereka belum mengenal aku" jawab kawannya.
"Tetapi darimana kau tahu bahwa mereka adalah cucu Kiai Gumrah?
Bukankah kau mengenalnya saat kau menyerang rumah Kiai Gumrah itu?"
bertanya Kundala. "Sama sekali tidak. Bukankah aku belum pernah
datang kerumah itu? Aku mengenalinya dari pengamatan saja. He,
bukankah anak itu yang sering berada diregol rumah Kiai Gumrah? Yang
sering pergi ke banjar lama itu?" sahut kawannya. Kundala tidak
menjawab. Tetapi dengan demikian keringatnya menjadi semakin deras
mengalir dipunggungnya. Karena dengan demikian ia tahu bahwa yang
bertugas keluar lingkungan Kiai Windu Kusuma itu tentu beberapa
orang pula. Bahkan tugas pengamatan. Jika saja ada tugas pengamatan
yang dikirim oleh Kiai Windu Kusuma melihat ia singgah dirumah Kiai
Gumrah, maka umurnya tentu akan segera berakhir. "Ternyata para
pengikut Kiai Windu Kusuma tidak saling mengetahui tugas mereka yang
satu dengan yang lain" berkata Kundala didalam hatinya. Namun
Kundalapun meyadari bahwa dengan demikian maka Kiai Windu Kusuma
akan dapat mengawasi orangorangnya sebaik-baiknya, meskipun Kundala
sampai saat itu masih belum diketahui bahwa ia telah berkhianat.
Meskipun Kundala masih dicengkam oleh kegelisahan, namun ia masih
juga sempat memperingatkan kawannya itu "Jika kau mau mendengarkan
aku, jangan ganggu gadis itu atau kau akan terjerumus kedalam
kesulitan. Bahkan akan dapat mempengaruhi usaha Kiai Windu Kusuma
yang menginginkan pusaka-pusaka dirumah Kiai Gumrah itu. Jika Kiai
Windu Kusuma menganggap bahwa kau yang menyebabkannya, maka kau
tahu, akibat apa yang akan kau alami." "Kau tahu hubunganku dengan
Kiai Windu Kusuma?" bertanya kawannya. "Kau memang dianggap orang
penting. Tetapi kedudukanmu bukan berarti memberimu kesempatan
berbuat apa saja" berkata Kundala bersungguh-sungguh. Kawannya
tertawa lagi. Katanya "Aku memang pengikut Kiai Windu Kusuma. Tetapi
aku masih tetap mempunyai hak dan wewenang dalam persoalan
pribadiku." "Tetapi kau tidak akan dapat menempatkan hak dan
wewenangmu dalam persoalan pribadimu sekalipun melampaui kepentingan
Kiai Windu Kusuma." berkata Kundala. "Kau tidak usah mengajari aku
Kundala. Aku lebih tahu dari kau. Sebaliknya justru aku
memperingatkairnu agar kau tidak mencampuri persoalanku.” Kundala
memang tidak menjawab. Tetapi ia menjadi gelisah. Gadis itu pernah
melihat ia datang kerumah Kiai Gumrah. Seandainya gadis itu kemudian
benar-benar dapat berkenalan dengan kawannya itu, maka Kundala
sendiri akan menjadi semakin sulit berhubungan dengan Kiai Gumrah.
Bahkan mungkin gadis itu akan berceritera tentang hubungannya dengan
penjual gula itu. Tetapi Kundala memang tidak berhasil mencegah
kawannya itu. Dalam segala hal ia memang berada dibawa! tatarannya.
Termasuk kemampuan olah kanuragan. Dalam pada itu, Winih memang
sudah berada di sudut tempat para penjual sayuran menjajakan
dagangannya. Dengan senang hati Winih memilih sayuran yang
dikehendaki. Sambil menimang sebuah waluh kenti gadis itu berkata
“Nah, bukankah di kebun kakek tidak ada buah waluh kenti seperti
ini? Juga kangkung yang segar seperti ini.” "Kau senang sayur waluh
kenti?" bertanya Laksana. "Tidak." jawab Winih. "Kenapa kau akan
membelinya?" bertanya Laksana ?pula. "Siapa yang akan membelinya?"
justru Winih bertanya. "Jadi?" Laksana termangu-mangu. "Aku hanya
mengatakan bahwa di kebun kakek tidak terdapat buah waluh kenti.
Tetapi aku tidak ingin membelinya." Laksana hanya mengangguk-angguk
saja. Sementara Manggada tersenyum sambil menggamitnya. Namun dalam
pada itu Winihpun berkata "Aku akan membeli kangkung. Aku ingin ibu
membuat sayur padamara. Kangkung dengan kedelai hitam." Laksana
hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi ia tidak ingin bertanya atau
menebak kemauan Winih. Beberapa saat Winih memilih beberapa ikat
daun kangkung yang nampak muda, hijau dan segar Kemudian setelah ia
membayarnya, maka iapun segera beralih untuk membeli beberapa
kebutuhan dapur yang lain. Namun ketika ia akan membeli seekor ayam,
Manggada bertanya "Untuk apa kau membeli ayam?" "Aku ingin ayah
menyembelihnya. Hari ini aku ingin makan dengan daging ayam selain
sayur padamara." jawab Winih. "Bukankah kakek mempunyai banyak
sekali ayam. Setiap kali kakek ingin daging ayam, maka kakek akan
menyembelihnya seekor." berkata Manggada. "Aku tidak pernah dapat
makan daging ayam yang pernah dipelihara sendiri." jawab Winih.
"Bukankah ayam kakek itu bukan ayam yang pernah kau pelihara karena
ketika kau datang ayam itu sudah ada disana." "Tetapi bukankah ayam
itu dipelihara oleh kakek? Nah, itu sama saja artinya dengan ayam
itu dipelihara sendiri." Manggada tidak bertanya lagi. Ia hanya
mengikut saja dibelakang ketika Winih kemudian membeli bukan hanya
seekor, tetapi bahkan dua ekor ayam. Beberapa saat kemudian, maka
Winihpun telah selesai berbelanja. Ketika mereka pulang, maka
Manggada dan Laksana harus ikut membantu membawa hasil pembelian
Winih dipasar. Ketika mereka berjalan meninggalkan pasar itu, maka
Darpati, kawan Kundala itu, memandang Winih dari kejauhan. Kundala
yang telah mengenal dan dikenal oleh Winih, Manggada dan Laksana
tidak ingin terlihat oieh ketiganya, sehingga Kundala lebih senang
berada didalam pasar yang ramai ketika Darpati berada diluar pasar
untuk memperhatikan Winih yang berjalan meninggalkan pasar bersama
Manggada dan Laksana. Beberapa saat kemudian, maka perjalanan Winih
bersama Manggada dan Laksana telah sampai ke bulak yang tidak begitu
luas. Sementara itu, jalanpun nampak sepi. Orang-orang yang pergi ke
pasar masih belum banyak yang pulang. Sementara itu, tanaman
di.sawah yang tumbuh subur tidak lagi memerlukan penanganan setiap
hari, sehingga dengan demikian maka bulak pendek itu kesannya memang
sepi. Manggada dan Laksana memang terkejut ketika ia melihat anak
muda yang tadi berlari-lari menyusul kawannya itu duduk diatas
tanggul parit dipinggir jalan. Manggada dan Laksana yang berjalan
dibelakang Winihpun merapat. Hampir berbisik Manggadapun berkata
"Apa maksud anak muda itu? Kawan-kawan tidak begitu senang dengan
anak muda itu." "Nampaknya ia sangat memperhatikan Winih." jawab
Laksana "Jika ia berniat buruk, maka kita akan menghadapi persoalan
yang rumit. Ia mempunyai pengaruh yang sangat besar atas
anak-anak-muda sepadukuhan." desis Manggada. Laksana mengangguk
kecil. Iapun sudah membayangkan kesulitan yang bakal terjadi jika
anak itu mulai mengganggu Winih. Manggada dan Laksana sama sekali
tidak takut menghadapi anak muda itu sendiri. Tetapi itu akan
berarti hubungannya dengan anak-anak muda padukuhan itu mengalami
hambatan. Anak muda yang mempunyai pengaruh yang sangat besar itu
akan dapat mengendalikan sikap anak-anak muda padukuhan itu. Namun
demikian mereka berjalan terus. Manggada dan Laksana masih belum
melihat apakah anak muda itu memang bermaksud buruk atau kebetulan
saja ia memang duduk disitu. Semakin dekat dengan anak muda yang
duduk di tanggul parit itu, maka Manggada dan Laksana menjadi
semakin berdebar-debar. Apalagi ketika kemudian anak muda itu justru
berdiri saat Winih tinggal beberapa langkah saja dari padanya.
Tetapi Winih sendiri sama sekali tidak memperhatikan anak muda itu.
Ia berjalan saja tanpa berprasangka apapun terhadap anak muda yang
kemudian berdiri diatas tanggul itu. Namun Winih itu terpaksa
menghentikan langkahnya ketika anak muda itu mengangguk hormat.
Dengan nada rendah ia berkata "Selamat datang di padukuhan kami.
anak manis." Winih mengerutkan dahinya. Ketika ia berpaling kepada
Manggada dan Laksana, maka kedua anak muda itu sudah berdiri dekat
dibelakangnya. “Anak itu adikku" berkata Manggada. "O" anak muda itu
mengangguk-angguk "satu kebetulan. Bukankah kita sudah bersahabat?
Apa salahnya jika aku juga berkenalan dengan adikmu?" Manggada dan
Laksana terkejut ketika Winih sendiri menjawab "Jika kau sahabat
kakak-kakakku, maka sudah tentu aku tidak berkeberatan berkenalan
dengan kau.” Bahkan anak muda itu sendiri terheran-heran mendengar
jawaban gadis itu. Apalagi kemudian Winih itu berkata "Namaku Winih.
Siapa namamu?" Anak muda itu termangu-mangu sejenak. Baru kemudian
ia menjawab "Namaku Rambatan." "Nama yang bagus" sahut Winih.
Rambatan itu semakin heran ketika Winih berkata "Marilah. Aku akan
pulang. Ibu tentu menunggu. Jika aku kesiangan sampai dirumah, maka
ibupun akan kesiangan pula menyiapkan makan kami sekeluarga."
Rambatan semakin termangu-mangu. Niat yang sudah memenuhi kepalanya
untuk mengganggu gadis itu justru bagaikan terdesak tenggelam dalam
keheranannya melihat sikap Winih yang sama sekali tidak diduganya.
Sama sekali tidak terlintas dikepalanya jika kemudian gadis itu
berkata "Rambatan. Marilah, kita berjalan bersama. Bukankah kita
tinggal di padukuhan yang sama." Rambatan itu dengan gagap menjawab
"Tetapi, tetapi aku masih harus pergi ke sawah. Terima kasih. Lain
kali saja." Manggada dan Laksana justru termangu-mangu ketika
Rambatan itu berkata kepada mereka "Aku akan pergi ke sawah. Sawahku
ada disebelah itu." "Baiklah" jawab Manggada dan Laksana hampir
berbareng. Rambatan memang segera pergi. Sementara itu seolaholah
tidak terjadi sesuatu. Winih melanjutkan perjalanannya Dengan nada
tinggi ia berkata "Ibu tentu sudah menunggu” Manggada dan Laksana
mengikuti saja langkah Winih yang menjadi semakin cepat. Sementara
itu Manggada dan Laksana justru mulai menilai sikap gadis itu.
Apakah gadis itu memiliki kemampuan menilai seseorang, kemudian
dengan kematangan sikapnya menanggapinya atau justru karena Winih
seorang gadis yang lugu sehingga ia sama sekali tidak berprasangka
buruk terhadap siapapun juga. Juga kepada Rambatan. Namun Manggada
dan Laksana yang kemudian saling berbincang diperjalanan meskipun
perlahan-lahan telah memutuskan untuk menyampaikan hal itu kepada
Kiai Gumrah dalam kesempatan yang khusus. Agar ayah dan ibu Winih
tidak mendengarnya. Kecuali jika kemudian Kiai Gumrah memang ingin
berbicara dengan ayah dan ibunya. Ketika mereka bertiga sampai
dirumah, maka ibu Winih memang sudah sibuk didapur. Nasi telah
dijerang. Bumbu yang sudah adapun telah tersedia. Namun, demikian
Kiai Gumrah melihat Laksana membawa dua ekor ayam, maka iapun
bertanya "He, untuk apa kalian membeli ayam?" "Hari ini kita akan
makan agak lain dari biasanya" jawab Winih "aku akan minta ayah
memotong kedua ekor ayam itu." "Winih, bukankah kakek mempunyai
beberapa ekor ayam?" berkata Kiai Gumrah. "Aku tidak mau menyembelih
ayam sendiri." jawab Winih. Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam,
sementara Nyi Prawara berkata "Anak itu memang tidak mau menyembelih
ayam yang dipelihara sendiri. Karena itu, jika ia ingin ayahnya
menyembehh ayam, maka lebih baik ia membeli. Bahkan jika tidak
mempunyai uang ayamnya sendiri dijualnya." Kiai Gumrah tersenyum.
Namun terbersit dihatinya tanggapannya atas jiwa cucunya itu. Gadis
itu tentu mempunyai perasaan yang mudah tersentuh serta
kesetiakawanan yang tinggi. Karena itu, maka Kiai Gumrahpun tidak
bertanya lagi tentang kedua ekor ayam itu. Sementara itu Rambatan
memang telah pergi ke. sawahnya. Tetapi demikian ia sampai di sawah,
maka iapun menjadi seperti tersadar dari mimpi yang asing. “Kenapa
aku justru seperti orang yang terbius?" pertanyaan itu telah
bergejolak dihatinya. Rambatan menyesal, kenapa ia tidak berjalan
mengikuti gadis itu sampai kepadukuhan. Berbicara dan barangkali
bercanda dengan gadis cantik itu. Manggada dan Laksana tentu tidak
akan berani melarangnya berbuat apa saja terhadap adiknya itu. "Aku
telah melewatkan kesempatan ini" berkata Rambatan yang kesal kepada
diri sendiri. Tetapi sebenarnyalah kesempatan itu masih terbuka
baginya. Winih tidak hanya sekali pergi ke pasar. Dikeesokan
harinya, ternyata Winih minta Manggada dan Laksana mengantarnya lagi
ke pasar. "Apakah kau akan membeli ayam lagi?" bertanya Manggada.
"Ah kau" desis Winih "aku ingin membeli kain lurik yang berwarna
merah bata itu. Aku senang sekali. Mungkin ibu juga senang setelah
melihatnya dan ingin pula membelinya." Namun Manggada dan Laksana
masih saja selalu ingat pesan Kiai Gumrah. Jika mereka terlalu
sering keluar rumah maka persoalannya akan dapat berkembang.
Orangorang Kiai Windu Kencana mungkin akan mempunyai rencana
tertentu terhadap mereka. Apalagi jika mereka mengetahui bahwa Winih
memang cucu Kiai Gumrah. Namun agaknya Winih sama sekali tidak
menghiraukan bahaya itu. Bahkan ketika ayahnya memperingatkan agar
ia tidak usah pergi kepasar hari itu, Winih mulai merengek. "Biarlah
ia pergi" desis ibunya "angger Manggada dan Laksana akan
menemaninya." Ki Prawara sempat berbisik "Ayah mencemaskannya.
Orang-orang Kiai Windu Kusuma mungkin sekali mengamatinya." "Apa
yang akan mereka lakukan disiang hari? Bukankah jalan tidak terlalu
sepi? Sementara itu angger Manggada dan Laksana bersamanya." Ki
Prawara mengangguk-angguk. Katanya "Baiklah. Tetapi besok Winih
tidak boleh pergi iagi ke pasar.” Nyi Prawara mengangguk. Katanya
"Baiklah. Setelah hari ini, maka ia tidak boleh terlalu sering pergi
ke pasar. Kecuali untuk menjaga keselamatannya, maka uang kitapun
akan segera habis." Ki Prawarapun tersenyum. Sambil mengangguk kecil
ia berkata "Kau benar. Bekal kita memang tidak terlalu banyak."
Seperti direncanakan, maka Winih memang telah pergi ke pasar bersama
Manggada dan Laksana. Mereka bertemu lagi beberapa orang anak muda
yang pergi ke sawah. Merekapun melihat anak muda yang berwajah keras
dan bernama Rambatan itu berjalan dengan beberapa orang anak muda
pula sambil membawa cangkul. Winih menanggapi sikap mereka dengan
baik. Ketika anak-anak muda itu mengangguk hormat, maka Winihpun
mengangguk homat pula. Demikian pula ketika ia bertemu dengan
Rambatan. Ia menjawab sapa Rambatan dengan wajar. Namun nampaknya
Winih tidak memperhatikan sorot mata Rambatan yang memancar bagaikan
sorot mata serigala yang melihat seekor anak domba. Manggada dan
Laksana yang melihat kilatan sorot mata itu-menjadi berdebar-debar
pula. Tetapi Laksanapun berkata perlahan-lahan tanpa didengar oleh
Winih "Tetapi kemarin ia bersikap baik. Rambatan tidak mengganggu
Winih.” "Mudah-mudahan untuk seterusnya ia bersikap baik." jawab
Manggada. Di pasar, Winih memang langsung menuju ketempat para
penjual kain lurik. Beberapa kali ia memilih. Digelarnya beberapa
lembar kain. Tetapi kain itupun harus dilipat lagi oleh penjualnya
karena Winih ternyata tidak menyenanginya. Manggada dan Laksana
menjadi tidak telaten menunggu Winih memilih kain lurik yang di
mgminya. Tetapi ketika hal itu dikatakan oleh Laksana, maka sambil
memberengut Winih berkata "Jika kalian akan pulang dahulu, pulang
sajalah." "Bukan itu maksudku, Winih" jawab Laksana "tetapi penjual
kain itu akan dapat marah kepada kita. Berapa saja yang sudah
digelarnya. Tetapi kau selalu menolaknya." Winih memandang Laksana
sejenak. Namun kemudian katanya "Bukankah wajar untuk memilih barang
yang hendak kita beli?" "Tetapi tidak terlalu lama seperti itu."
Namun ternyata Winihpun mengangguk. Seperti yang direncanakan dari
rumah, maka akhirnya Winih memang memilih selembar kain yang
berwarna merah bata. Tetapi sementara itu, sepasang mata masih saja
selalu mengikutinya. Ternyata Darpati, kawan Kundala, yang melihat
Winih berada dipasar lagi, telah mengikutinya meskipun dari jarak
tertentu, sehingga Winih, Manggada dan Laksana tidak mengetahuinya,
bahkan ketika Darpati itu lewat dan sempat menyinggung Winih yang
sedang memilih kain lurik itu. Namun yang kemudian telah mengambil
jarak lagi. Dalam pada itu, setelah mendapat kain yang diingininya,
maka Winihpun mengajak Manggada dan Laksana pulang. Namun Winih
masih singgah untuk membeli beberapa kebutuhan dapur sesuai dengan
pesan ibunya. Dengan wajah yang cerah Winih melangkah menyusuri
jalan pulang. Manggada dan Laksana yang berjalan dibelakangnya
mengikuti langkah-langkah kecil yang cepat itu, Sambil berpaling
Winih berkata "Marilah. Kenapa begitu lambat? Aku ingin segera
menunjukkan kain itu kepada ibu. Biarlah ibu menilainya, apakah
pilihanku tepat atau tidak. Sesuai atau tidak dengan kulitku."
Diluar sadarnya Manegrada dan Laksana justru memperhatikan kulit
Winih. Gadis itu kulitnya memang nampak bersih. Sebagai seorang
gadis desa, maka Winih termasuk berkulit kuning meskipun nampak
terpaan sinar matahari yang membakar. Seperti dikatakan ibunya,
Winih hampir setiap hari dipanggang oleh panasnya matahari di sawah
dan pategalan bersama dengan ayah dan ibunya. Namun dalam pada itu,
ketika mereka sampai dibulak kecil, Manggada dan Laksana melihat
lagi Rambatan duduk di tanggul parit, la tidak sendiri. Tetapi
Rambatan duduk diparit bersama dengan ampat orang kawannya. Manggada
dan Laksana menjadi berdebar-debar. Bahwa Rambatan berada di bulak
pendek itu bersama dengan ampat orang kawannya, maka persoalan yang
tidak diinginkan akan dapat timbul. Winihpun kemudian melihat pula
Rambatan dan kawankawannya. Karena itu, maka berbeda dengan hari
sebelumnya, Winih telah memperlambat langkahnya. Bahkan kemudian ia
bertanya "Kenapa Rambatan itu ada disana lagi?" "Entahlah" berkata
Manggada "mudah-mudahan ia tidak mengganggumu lagi." "Rambatan belum
pernah menggangguku" jawab Winih. "Bukankah kemarin ia juga
menunggumu disana?" bertanya Laksana. "Tetapi aku tidak merasa
terganggu dengan kehadirannya kemarin. Tetapi sekarang ia datang
lagi bersama beberapa orang kawannya. Jika semuanya nanti bertanya
seorang demi seorang, maka aku memang akan merasa terganggu." desis
Winih. "Mudah-mudahan mereka hanya bertanya saja" desis Laksana.
"Apakah mungkiri lebih dari itu?" bertanya Winih "Winih" berkata
Manggada kemudian "hati-hatilah. Menurut beberapa orang kawannya
yang aku kenal. Rambatan bukan seorang yang baik. Ia mempunyai sifat
yang tidak disukai oleh kawan-kawannya karena ia sangat mementingkan
dirinya sendiri." "Teiapi kenapa kawan-kawannya mau datang
bersamanya?" bertanya Winih. "Memang ada beberapa orang anak muda
yang secara khusus sangat dekat dengan Rambatan. Anak-anak muda itu
tentu mempunyai pamrih. Karena Rambatan ditakuti oleh anak-anak muda
sepadukuhan dan bahkan padukuhan-padukuhan disekitarnya, maka ada
beberapa orang yang ingin menompang untuk ikut ditakuti karena
mereka adalah kawan-kawan dekat Rambatan." jawab Manggada. "Tetapi
disiang hari mereka tidak akan berbuat apa-apa" berkata Winih.
"Belum tentu Winih" jawab Laksana "bulak kecil ini terhitung sepi
pada saat seperti ini. Memang sebentar lagi jalan ini akan banyak
dilalui orang dari pasar. Tetapi sekarang kita tidak melihat orang
lewat dan orang yang berada di sawah." Winih tidak menjawab. Tetapi
ia tidak lagi berjalan terlalu cepat. Sementara itu Rambatan dan
kawan-kawannya telah bangkit berdiri. Dengan nada berat Rambatan
berkata kepada kawan-kawannya "Gadis itu tidak akan dapat menyihirku
lagi." "Apakah kau pernah disihirnya?" bertanya seorang kawannya.
"Kemarin aku seakan-akan disihirnya. Tiba-tiba saja aku menjadi
dungu, dan kehilangan akal menghadapi gadis itu." jawab Rambatan.
"Sekarang apa yang akan kau lakukan?" bertanya kawannya yang lain.
"Aku akan mengajaknya singgah dirumah. Aku mempunyai dua ekor ayam
yang dapat aku berikan kepadanya. Kemarin gadis itu membawa dua ekor
ayam dari pasar."jawab Rambatan. "Hanya itu?" bertanya kawannya yang
lain lagi. "Ya. Lalu apa?" Rambatan justru bertanya "aku tidak gila
untuk berbuat lebih dari itu kali ini. Entah besok atau lusa.
Mudah-mudahan ia berada disini untuk waktu yang lama. Kakeknya,
penjual gula itu tidak akan banyak bertingkah." "Bagaimana dengan
ayahnya dan kedua orang anak muda itu?" bertanya kawannya pula.
"Mereka bukan penghuni padukuhan ini. Mereka tidak akan berani
berbuat apa-apa." jawab Rambatan. Kawan-kawannya tidak menjawab
lagi. Winih dan Manggada serta Laksana yang berjalan disebelah
menyebelah menjadi semakin dekat. Bertiga mereka memang nampak
berhati-hati. Demikian Winih menjadi semakin dekat maka Rambatan
itupun melangkah menyongsongnya sambil ter:senyum. Winih yang mulai
memperhatikan anak muda itu melihat betapa Wajahnya nampak keras
sehingga senyumnya sama sekali tidak berkesan ramah. Tetapi Winih
justru bertanya lebih dahulu "Bukankah kau Rambatan yang kemarin?"
"Ya" jawab Rambatan "aku memang ingin berbicara dengan kau Winih."
“Berbicara apa? Bukankah sejak kemarin kita sudah berbicara?" justru
Winih yang bertanya. Rambatan mengerutkan dahinya. Namun sambil
mengangguk ia menjawab "Ya. Kemarin kita memang sudah berbicara.”
"Jika demikian, apa lagi yang akan kita bicarakah?" Rambatan
tiba-tiba menjadi bingung. Diluar sadarnya ia berpaling kepada
kawan-kawannya. Seorang kawannyalah yang kemudian berkata "Bukankah
kau mempunyai dua ekor ayam?" "O, ya" berkata Rambatan dengan serta
merta "aku mempunyai dua ekor ayam. Aku minta kau singgah sebentar
dirumahku. Kau dapat membawa dua ekor ayam itu. Bukankah kemarin kau
membeli dua ekor ayam rlinasar?" Winih tersenyum. Katanya "Terima
kasih Rambatan. Ayam itu masih ada sampai sekarang. Ayah belum
sempat menyembelihnya. Karena itu, aku masih belum memerlukan ayam
lagi. Mungkin lain kali saja." Satu kesalahan telah dilakukan oleh
Winih tanpa disadarinya. Justru karena itu tersenyum. Rambatan yang
melihat Winih tersenyum, jantungnya serasa berdebar semakin cepat.
Meskipun kemarin Winih juga tersenyum, tetapi saat itu Rambatan
melihat wajah Winih menjadi secantik wajah bidadari. Karena itu,
maka per.alaian Rambutan menjadi semakin goncang. Dengan suara
bergetar ia kemudian berkata bahkan dengan nada memaksa "Winih. Aku
minta kau singgah sebentar dirumahku. Aku sudah menyediakan dua ekor
ayam buatmu. Kau tidak boleh menolak. Ayah dan ibuku sudah tahu
bahwa kedua ekor ayam itu akan aku peruntukkan bagimu." "Bagaimana
ayah dan ibumu mengetahui tentang aku?" bertanya Winih. "Aku yang
mengatakannya kepada mereka. Aku berceritera tentang kau. Bahwa kau
cucu pembuat dan penjual gula itu. Bahwa kau cantik dan ramah."
berkata Rambatan. Winih menarik nafas dalam-dalam. Pernyataan itu
mulai tidak menyenangkan hati gadis itu. Tetapi gadis itu masih saja
mengulangi kesalahan yang tidak disadarinya. Tersenyum. Winih sama
sekali tidak mengetahui bahwa senyumnya telah membuat Rambatan
menjadi bagaikan orang mabuk. Namun Winih itu menjawab "Rambatan.
Aku tidak dapat membuat ibu gelisah. Aku harus segera pulang. Atau
kau saja yang pergi kerumah kakek? Aku akan menghidangkan minuman
hangat dengan gula kelapa. Kakek mempunyai banyak gula kelapa”
Rambatan menjadi bingung. Bahkan ia menjadi gelisah. Keringat dingin
membasahi punggung dan keningnya. Hampir saja ia mengangguk
mengiakan. Tetapi seorang kawannya berkata "Bukankah kau telah
berniat untuk mengajak Winih pulang dan memberinya dua ekor ayam?"
Sebelum Rambatan menjawab, Winih sudah lebih, dahulu menjawab "Ia
sudah mengatakannya tadi. Akupun telah menjawab." "Tetapi jawabmu
tidak sebagaimana dimaksudkan oleh Rambatan" berkata anak muda kawan
Rambatan itu "Rambatan ingin mengajak kau kerumahnya sekarang."
Manggada dan Laksana memang menjadi ragu-ragu.. Jika ia langsung
demikian mencampurinya, maka kemungkinan buruk dapat terjadi. Dengan
demikian mereka tidak akan dapat menyembunyikan diri lagi terhadap
anak-anak muda pedukuhan itu sehingga hubungannya dengan anak-anak
muda sepadukuhah akan berubah. Dalam pada itu Winihpun menjawab
"Maaf, Ki Sanak. Aku akan segera pulang. Aku justru mengajak
Rambatan singgah dirumahku." Tetapi kawannya masih saja berkata
"Tentu kurang pantas jika Rambatan yang harus singgah dirumah
kakekmu. Kau sajalah yang singgah dirumahnya." Manggada ternyata
tidak tahan lagi. Karena itu, maka iapun menjawab “Itu terbalik Ki
Sanak. Bukankah lebih baik seorang laki-laki datang berkunjung
kerumah seorang gadis daripada sebaliknya?" "Itu pikiran orang-orang
tua yang tidak tahu diri." jawab kawan Rambatan itu "tetapi apapun
alasannya, sebaiknya Winih singgah sebentar dirumah Rambatan."
Rambatan sendiri memang menjadi agak bingung. Ia bahkan menjadi
sangat gelisah. Apalagi ketika Winih menjawab langsung ditujukan
kepadanya "Rambatan. Bukankah kau tidak berkeberatan berjalan
bersama aku dan singgah dirumah kakek?" Rambatan memang tidak segera
menjawab. Tetapi kawannya yang lain tiba-tiba dengan kasar berkata
"Kau tidak mempunyai pilihan, Winih. Kau harus singgah. Manggada dan
Laksana juga harus ikut meskipun kalian tidak perlu ikut singgah
dirumah Rambatan." Manggada dan Laksana melihat gelagat yang tidak
baik. karena itu maka ia tidak mempunyai pilihan laim Karena itu,
maka Laksanapun telah menjawab meskipun masih berusaha mengekang
diri "Jangan begitu Ki Sanak Winih tentu akan bersedia singgah.
Tetapi lain kali. Tidak sekarang. Jika ia terlambat pulang, tentu
ibu dan ayahnya menjadi gelisah sekali.” "Mungkin. Tetapi jika
saatnya Winih pulang dengan membawa dua ekor ayam, ayah dan ibunya
tentu tidak akan marah." jawab kawan Rambatan yang bermata merah.
Karena Rambatan sendiri masih saja berdiam diri, maka seorang
kawannya menggamitnya sambil berkata "Kau harus berkata dengan
tegas. Kau adalah seorang laki-laki. Bahkan laki-laki yang paling
ditakuti di padukuhan ini. Bukan saja oleh anak-anak muda, tetapi
orang-orang tuapun takut kepadamu." Rambatan mengerutkan dahinya.
Sementara kawannya berkata "Dua orang kakak Winih itupun tentu tidak
akan berani menghalangimu. Karena itu, kau mempunyai wewenang untuk
memaksa Winih mengikutimu." Rambatan memandang Manggada dan Laksana
berganti-ganti. Meskipun ia menjadi bingung menghadapi seorang
gadis, tetapi ketika ia melihat Manggada dan Laksana, maka kekerasan
hatinya dan kekasarannyapun justru timbul. Hampir diluar sadarnya ia
berkata "Jangan ikut campur. Nanti aku memilin lehermu sampai
patah." Manggada dan Laksana sebenarnya sama sekali tidak takut
terhadap anak muda yang bernama Rambatan itu. Bahkan dengan
kawan-kawannya sama sekali. Tetapi yang diragukan justru anak-anak
padukuhan akan mengenali kemampuannya. Namun dalam pada itu, mereka
melihat seorang yang masih nampak muda, sedikit lebih tua dari
Manggada dan Laksana, berjalan menuju kearah mereka. Langkahnya
lebar dan cepat, sehingga beberapa saat kemudian orang itupun
menjadi semakin dekat. "Sokurlah" berkata Winih “ada orang lewat.
Aku akan, berjalan bersamanya jika Rambatan tidak mau berjalan
bersama aku." Tetapi seorang kawannya memperingatkan "Jangan
menyeret orang itu kedalam kesulitan. Biarlah orang itu tidak usah
turut campur, sehingga ia tidak akan terjerumus kedalam lumpur sawah
yang basah itu." Tetapi orang itu sudah menjadi semakin dekat.
Bahkan kemudian orang itu justru melangkah langsung mendekati Winih.
Manggada dan Laksana menjadi berdebar-debar. Hampir saja mereka
menahan orang itu agar tidak berdiri terlalu dekat dengan Winih.
Tetapi demikian orang itu berhenti, maka iapun segera, menghadap
kearah Rambatan sambil berkata "Apakah kalian bermaksud mengganggu
gadis ini?" "Siapakah kau?" bertanya kawan Rambatan. "Namaku
Darpati. Aku kebetulan saja lewat. Dari kejauhan aku melihat sesuatu
yang tidak sewajarnya terjadi disini, sehingga aku tergesa-gesa
mendekat.” Rambatan yang melihat sikap anak muda itu hatinya
bagaikan disulut api. Kekerasan dan kekasarannya yang mulai
terungkit oleh sikap Manggada dan Laksana, semakin membara
dihatinya. Karena itu maka iapun berkata lantang "He, anak dungu.
Jika kau ingin lewat, lewat sajalah. Jangan ikut mencampuri
persoalan kami dengan gadis itu. Tidak ada persoalan apa-apa
diantara kami. Kami yang sudah akrab memang sedang
berbincang-bincang saja. Karena itu, pergilah dan jangan membuat aku
marah." Namun tiba-tiba saja Winih berkata kepada anak muda yang
lewat itu "Ki Sanak. Apakah kau akan pergi kepadukuhan sebelah? Jika
demikian, marilah, kita akan berjalan bersama-sama." Darpati
mengerutkah dahinya. Namun kemudian ia menjawab "marilah, aku memang
akan berjalan ke padukuhan sebelah." Tetapi seorang kawan Rambatan
justru berteriak "Tidak. Kau tidak akan pergi kemanapun. Kau harus
mengambil dua ekor ayam itu. Ayam itu sudah terlanjur ditangkap dan
diikat sejak fajar." "Kalian memang aneh Ki Sanak" berkata Darpati
"sikap kalian tidak dapat aku mengerti. Gadis ini akan berjalan
terus. Agaknya kalian memaksa gadis ini untuk melakukan sesuatu."
"Ia sendiri yang memesan dua ekor ayam" jawab kawan Rambatan "ayam
itu sudah disediakan." "Sudahlah" berkata Winih'yang nampaknya masih
saja tenang "aku akan pulang bersama anak muda ini. Selain kedua
orang kakakku itu." "Tidak. Kau tidak dapat berbuat begitu" kawan
Rambatan mulai membentak. Namun Darpatipun berkata" Marilah. Aku
antar kau sampai kerumahmu. Jangan takut." Lalu iapun berpaling
kepada Manggada dan Laksana "aku akan pulang bersamamu.” Tetapi
Rambatan menggeram "Anak muda. Tinggalkan tempat ini atau kau akan
menyesali tingkah lakumu itu." "Kau mau apa?" bertanya Darpati. "Aku
akan memilin lehermu" jawab Rambatan. Darpati tertawa. Iapun
kemudian berpaling kepada Manggada dan Laksana. Darpati tahu bahwa
Manggada dan Laksan memiliki kemampuan yang tentu cukup untuk
mengalahkan Rambatan dan kawan-kawannya, karena Darpati sudah
mendengar tentang keduanya. Tetapi adalah kebetulan bahwa Manggada
dan Laksana belum berbuat sesuatu Darpati memang merasa beruntung
mendapatkan kesempatan itu, karena dengan demikian ia akan dapat
berkenalan dengan Winih dan bahkan telah memberikan jasa baiknya
pula. Dengan nada rendah ia berkata kepada Manggada dan Laksana
“Bawa adikmu menepi. Aku akan menyelesaikan anak yang tidak tahu
diri ini." "Setan kau” geram Rambatan. Ia sudah terbiasa berbuat
kasar. Diantara kawan-kawannya maka ia adalah anak muda yang paling
ditakuti. Bahkan sepadukuhan menganggapnya orang yang terkuat dari
antara semua lakilaki. Karena itu, melihat sikap Darpati, jantungnya
benarbenar telah terbakar. Dengan garangnya ia menggeram pula "Aku
tidak terbiasa memberi kesempatan,orang yang berani menentangku
lolos dari tanganku. Tetapi kali ini aku masih berusaha untuk
mengekang diri. Pergilah dan jangan ganggu gadis itu." Darpati
justru tertawa. Katanya “Siapakah yang mengganggu gadis itu. Ia
minta agar aku berjalan bersamanya ke padukuhan sebelah." "Jika kau
tidak mau mendengar kata-kataku, maka aku akan melakukan sebagaimana
selalu aku lakukan terhadap siapa saja yang menentangku." Tetapi
Darpati masih saja tertawa. Katanya "Lakukan apa yang ingin kau
lakukan. Hanya para pengecut sajalah yang takut kepadamu." Rambatan
tidak menunggu lebih lama lagi. Iapun segera bergeser dan bersiap
untuk berkelahi. Manggada dan Laksana telah membawa Winih menepi.
Keduanya memang merasa beruntung pula bahwa mereka tidak perlu
berkelahi. Melihat sikap dan gerak Darpati, maka Manggada dan
Laksana mengetahui bahwa ia tentu seorang yang memiliki bekal ilmu
kanuragan. Memang agak berbeda dengan Rambatan yang melandasi
keberaniannya pada tenaganya yang besar dan mungkin sedikit saja
pengetahuannya tentang olah kanuragan. Demikianlah, sejenak kemudian
maka Rambatanpun mulai menyerang dengan- garangnya. Tenaganya memang
kuat sekali. Ayunan serangannya telah menggetarkan udara
disekitarnya. Tetapi Darpati tersenyum saja melihat serangan itu.
Dengan gerak yang sederhana ia berhasil menghindarinya. Bahkan
demikian tangan Rambatan terayun sejengkal dihadapan wajahnya, maka
dengan keempat ujung jarinya yang terbuka dan merapat Darpati
menyentuh lambung Rambatan. Sambil menyeringai menahan sakit yang
menyengat Rambatan meloncat surut.. Darpati tidak memburunya. Sambil
tersenyum ia berkata "Ki Sanak. Untuk memenangkan sebuah
perkelahian, seseorang tidak cukup mengandalkan kekuatan kewadagan
saja. Tetapi kita harus mengenal cara dan akal untuk mengatasi
sekedar kekuatan wadag. Bahkan seseorang yang lebih lemah akan dapat
mengalahkan lawannya yang jauh lebih kuat, justru dengan meminjam
kekuatan lawannya yang berlebihan itu." "Cukup" bentak Rambatan "aku
tidak perlu sesorahmu. Aku justru ingin mengoyak mulutmu itu."
Darpati justru tertawa. Kalanya "Kau harus berlatih bertahun-tahun
untuk dapat menguasai dasar ilmu untuk menyelesikan tataran pertama.
Dan bertahun-tahun tataran kedua dan berikutnya.” Tetapi Rambatan
tidak menjawab. Sekali lagi ia meloncat menyerang. Tangannya yang
kuat dengan jari-jari terbuka menerkam wajahnya. Darpati sama sekali
tidak mengalami kesulitan untuk menghindar. Tetapi Darpati tidak
menghindar seluruhnya. Seperti yang dikatakan, maka Darpati justru
menangkap pergelangan tangan Rambatan dan mempergunakan tenaga
dorongnya, maka Darpati membalikkan tubuhnya sambil menarik tangan
lawannya. Tarikan yang tidak begitu kuat, didorong oleh tenaganya
sendiri, maka Rambatan justru terlempar lewat diatas pundak Darpati
yang merendah, sambil membalikkan tubuhnya. Rambatan benar-benar
telah terlempar. Bahkan berputar sekali diudara dan jatuh terbanting
ditanah. Darpati yang kemudian berdiri bertolak pinggang memandangi
Rambatan yang kesakitan. Anak muda itu memang berusaha untuk bangkit
dan berdiri. Tetapi punggungnya terasa nyeri Dalam pada itu adalah
diluar dugaan, bahwa seorang diantara kawan Rambatan telah meloncat
menyerang dari belakang. Darpatipun sama sekali tidak menduga.
Sementara itu Manggada dan Laksana berdiri pada jarak yang cukup
jauh karena mereka telah mengajak Winih menepi. Dengan demikian maka
serangan kaki itu langsung mengenai punggung Darpati. Darpati
terdorong dengan derasnya beberapa langkah dan bahkan jatuh
terjerembab. Tetapi Darpati memang tangkas. Ia tidak tersuruk dengan
wajahnya membentur tanah. Tetapi Darpati justru melingkar dan jatuh
pada pundaknya dan bergulung beberapa kali. Dalam sekejap Darpati
sudah berdiri tegak. Keningnya nampak berkerut, sementara sorot,
matanya memancarkan kemarahan yang menyala di dadanya. Dengan nada
tinggi ia berkata "Pengecut kau. Kau serang aku dari belakang justru
saat aku memberi kesempatan kawanmu bangkit. Karena itu, maka kau
akan menerima akibat dari perbuatanmu itu." Anak muda yang telah
menyerang Darpati dari belakang itu mundur selangkah. Sorot mata
Darpati memang membuat jantungnya bergetar. Tetapi karena Ia tidak
sendiri maka iapun berpaling kepada kawan-kawannya agar merekapun
ikut bertanggung jawab. Sebenarnyalah bahwa kawan-kawannya memang
tidak membiarkannya melawan seorang diri. Bahkan Rambatan yang
punggungnya terasa nyeri itupun sudah siap untuk berkelahi. Darpati
menyadari bahwa ia harus melawan lima orang sekaligus. Tetapi ia
sama sekali tidak tergetar hatinya. Manggada dan Laksana yang
melihat Darpati harus berhadapan dengan lima orang itu tidak dapat
tinggal diam. Betapapun mereka ingin berbuat sebagaimana Kiai Gumrah
tanpa menunjukkan kemampuannya kepada orang-orang padukuhan itu,
namun mereka tidak akan dapat berdiam diri melihat Darpati yang
berusaha melindungi Winih harus bertempur seorang diri. Tetapi
ketika Manggada dan Laksana melangkah maju meninggalkan Winih
sendiri, Darpati itupun berkata "Jangan tinggalkan gadis itu
sendiri. Biarlah aku selesaikan anak-anak yang tidak tahu diri ini."
Rambatan dan keempat kawannya itu mulai menge pungnya. Rambatan yang
punggungnya masih terasa nyeri itupun berkata "Kau akan menyesal
anak yang sombong." Tetapi Darpati tertawa. Katanya "aku tidak akan
pernah menyesal menginjak kepala cucurut yang licik." Rambatan
memang merasa terhina sekali. Iapun kemudian memberi isyarat kepada
kawan-kawan untuk segera menyerang. Kelima orang itu memang serentak
menyerang. Tetapi Darpati benar-benar seorang yang tangkas. Ketika
kelima orang itu menyerang, maka Darpati nampaknya memang tidak
menghindar. Tetapi orang-orang yang sedang berkelahi itu nampak
berputaran, berbenturan dan kemudian seakan-akan tidak dapat diikuti
lagi apa yang terjadi karena, mereka saling berbaur seakan-akan
hanya sekedar dorong-mendorong. Tetapi yang mengejutkan kemudian
adalah, kelima orang itu seakan-akan telah terlempar dan berjatuhan
terbanting ditanah. "Apa yang terjadi?" bertanya Manggada didalam
hatinya. Demikian pula Laksana memang menjadi heran melihat
peristiwa itu. Kelima orang anak muda yang dipimpin oleh Rambatan
itu ternyata telah mengalami kesulitan. Mereka mengalami kesulitan
untuk bangkit berdiri, badan mereka terasa sakit. Tulang-tulang
mereka bagaikan menjadi retak. Apalagi Rambatan sendiri yang nyeri
di punggungnya masih terasa. Ditambah lagi dengan perasaan sakit
yang menyengat pundak dan lambungnya. Bahkan nafasnyapun seakan-akan
menjadi sesak. Darpati berdiri tegak diantara tubuh yang terbaring
dan menggeliat Kesakitan. Namun ternyata ia masih marah kepada anak
muda yang menyerangnya dari belakang. Digapanrya baju anak itu dan
ditariknya berdiri. Dengan geram Darpati berkata "Nah, sekarang aku
ingin membalas. Aku ingin menyerang punggungmu dengan tendangan
sekuat tenagaku." "Jangan" anak itu merengek "aku minta ampun." "Aku
mengampuni kawan-kawanmu. Tetapi karena kau licik, maka aku tidak
mengampunimu." "Ampun. Aku mohon ampun" anak itu menangis. Tiba-tiba
saja Darpati mendorong anak itu sehingga jatuh. Namun iapun kemudian
tertawa sambil berkata "Kau benar-benar licik. Kau serang aku dari
belakang, sekarang kau menangis Sehingga aku menjadi iba."
Darpatipun kemudian meninggalkan anak-anak muda yang sudah tidak
mampu berbuat, apa-apa itu. Bahkan Rambatan masih saja mengerang
kesakitan. Sambil mendekati Winih. ia berkata "Marilah. Aku antar
kau pulang, Winih." Winih tersenyum sambil menjawab "Terima kasih.
Aku hanya merepotkan saja." "Tidak" jawab Darpati "Itu sudah menjadi
kewajibanku." Winih tidak menjawab lagi Tetapi iapun kemudian
melangkah bersama Darpati menuju kepadukuhan sebelah. Sekali Winih
masih berpaling kepada Rambatan dan kawan-kawannya. Namun kemudian
ia melangkah semakin jauh. Manggada dan Laksana berjalan dibelakang
mereka. Disebelah Rambatan yang berusaha bangkit, keduanya berhenti.
Tetapi keduanya juga tidak berbuat sesuatu, karena keduanyapun
segera melanjutkan perjalanan mereka mengikuti Winih yang berjalan
bersama Darpati. Dibelakang mereka pada jarak beberapa langkah
Manggada berkata "Orang itu ternyata seorang yang memiliki
kelebihan." "Ya. Hanya orang berilmu tinggi dapat berbuat seperti
itu" jawab Laksana. "Siapakah orang itu sebenarnya? Orang itu
sengaja mencegah kita melibatkan diri dalam perkelahian itu. Apakah
ia mengetahui bahwa kita sengaja menyembunyikan sedikit kemampuan
yang kita miliki terhadap anak-anak muda padukuhan ini? Atau ia
ingin menunjukkan kepada Winih bahwa ia memiliki ilmu yang tinggi
atau maksud-maksud yang lain lagi?" desis Manggada. Laksana
mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menjawab "Perhatiannya
tertumpah kepada Winih. Ia tentu ingin menunjukkan kepada gadis itu
bahwa ia memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Dengan mudah ia
dapat mengalahkan lima orang anak muda termasuk Rambatan, anak muda
yang ditakuti diseluruh padukuhan." Manggada mengangguk-angguk.
Tetapi ia sempat bergurau, katanya "Sudahlah, biarlah orang itu
menjadi seorang pahlawan bagi Winih. Kau tidak usah menyesal." "He?"
Laksana justru berhenti melangkah. Manggadapun berhenti pula. Namun
Laksanapun kemudian berkata “Bukankah Winih itu adik kita?" Manggada
tertawa. Laksanapun kemudian tertawa Demikianlah, mereka berempat
menyusuri jalan padukuhan disebelah bulak yang tidak begitu luas
itu. Ternyata Darpati yang mengantar Winih tidak menjadi canggung
ketika Winih mempersilahkamrya untuk singgah pula. Kiai Gumrah, Ki
Prawara dan bahkan Nyi Prawara telah ikut menemui Darpati yang
menyerahkan Winih kepada kedua orang tuanya itu. Darpatipun telah
menceritera-kan apa yang telah terjadi atas Winih dijalan.bulak yang
meskipun tidak begitu luas, tetapi jalan memang agak sepi. Demikian
pula tidak nampak para petai berada disawah mereka. "Terima kasih
ngger" berkata Kiai Gumrah "angger telah menyelamatkan cucuku. Jika
saja angger tidak membantunya, maka tidak ada seorangpun diantara
kami yang dapat melepaskannya dari tangan Rambatan itu." Darpati
tertawa. Ia bukan saja tertawa atas pujian itu. Tetapi sebenarnyalah
ia mentertawakan Kiai Gumrah, karena Darpati sebagai bagian dari
kekuatan Kiai Windu Kusuma sudah mengerti bahwa Kiai Gumrah adalah
seorang yang berilmu sangat tinggi. Bahkan ketika ia bertemu dan
berbicara dengan Ki Prawara, Darpati itupun menduga bahwa anak Kiai
Gumrah itu tentu juga seorang yang berilmu meskipun seandainya,
tidak, atau belum setinggi ilmu Kiai Gumrah. Untuk beberapa lama
Darpati berada dirumah Kiai Gumrah. Winih sendiri yang ikut menemui
Darpati bersikap sangat ramah. Setiap kali nampak senyumnya
menghiasi bibirnya. Ia berbicara panjang, namun terasa nada
bicaranya, bahwa Winih adalah seorang gadis yang lugu. Tetapi apakah
tersirat perasaan lain pada nada bicaranya selain ungkapan terima
kasihnya dan pendapatnya yang serta-merta saja keluar dari mulutnya
Namun akhirnya setelah meneguk minuman yang dihidangkan baginya
serta sepotong ketela pohon rebus, maka Darpatipun minta diri. Kiai
Gumrah serta kedua orang tua winih masih saja mengucapkan terima
kasih ketika Darpati itu keluar dari regol halaman rumah Kiai
Gumrah. Sepeninggal Darpati, maka Kiai Gumrah, kedua orang tua Winih
telah memanggil Manggada dan Laksana serta Winih sendiri. Mereka
minta mereka menceriterakan apa yang telah terjadi. Manggada dan
Laksana hampir tidak pernah mendapat kesempatan untuk berbicara.
Winih sendirilah yang berceritera banyak tentang Darpati yang telah
menolongnya. "Seandainya Darpati itu tidak datang menolongmu,
bukankah ada kakakmu Manggada dan Laksana?" bertanya Kiai Gumrah.
"Kakang Manggada dan Laksana tidak berbuat apa-apa" jawab Winih.
"Apakah begitu?" bertanya Kiai Gumrah. Sebelum Manggada dan Laksana
menjawab, Winih sudah mendahuluinya "Aku tidak tahu pasti apakah
mereka akan melindungi aku atau tidak, tetapi setidak-tidaknya
mereka sangat lamban.” "Seandainya Manggada dan Laksana lamban,
serta orang itu tidak datang?" desak ibunya. Manggada dan Laksana
mengerutkan dahinya. Baginya pertayaan itu memang aneh. Tetapi Winih
tidak menjawab. Ia hanya menunduk saja. "Winih" berkata Ki Prawara
"aku ingin mendengar pendapat Manggada dan Laksana tentang orang
itu. Aku minta kau diam saja lebih dahulu.” Winih memandang ayahnya
sejenak. Namun kemudian kembali ia menunduk. Ki Prawarapun kemudian
bertanya kepada Manggada dan Laksana "Menurut pendapatmu, apakah ia
memang berilmu tinggi?" "Ya paman" jawab Manggada "kami
kadang-kadang tidak sempat mengikuti apa yang dilakukannya." Ki
Prawara mengangguk-angguk, sementara Laksana sempat menceriterakan
apa yang telah terjadi dengan lebih jelas, apakah yang telah
dilakukan oleh Darpati terhadap kelima orang anak muda yang dipimpin
oleh Rambatan itu. Ki Prawara mengangguk-angguk. Sementara itu
kepada Kiai G umrah ia berkata "Apakah sebelumnya ayah pernah
mendengar disekitar daerah atau lingkungan ini terdapat satu
perguruan atau sekelompok orang yang berilmu tinggi?" Kiai Gumrah
menggelengkan kepalanya. Katanya "Baru setelah orang-orang Windu
Kencana ada disini." Ki Prawara masih mengangguk-angguk. Katanya
"Apakah ada hubungannya antara orang»orang Kiai Windu Kusuma dengan
orang ini? Seandainya demikian, maka kita harus menjadi sangat
berhati-hati." "Ayah terlalu curiga" berkata Winih hampir bergumam.
"Bukan terlalu curiga Winih" jawab ayahnya "mungkin orang itu
sengaja memanfaatkan kehadiranmu disini agar ia sempat memasuki dan
melihat-lihat rumah ini.” "Orang itu telah menolongku. Sekarang ayah
menjadi curiga kepadanya. Bukankah seharusnya ayah berterimakasih
sebagaimana ayah katakan? Apakah apa yang ayah katakan memang tidak
sesuai dengan apa yang ayah pikirkan? ."bertanyaWinih “Bukan begitu
Winih" jawab ayahnya "tetapi dalam keadaan seperti sekarang ini,
maka wajarlah jika kita mencurigai setiap orang. Tentu saja termasuk
Darpati." "Tetapi ia orang baik, ayah” gumam Winih. Ayahnya hanya
mengangguk-angguk. Kemudian Ki Prawara itupun telah memberikan
isyarat kepada Nyi Prawara untuk membawa anaknya keluar atau kedapur
saja. Nyi Prawara yang tanggap itu kemudian berkata "Winih.
Sudahlah, bantu saja aku masak didapur." "Aku ingin menunjukkan kain
lurikku." gumam Winih sambil memberengut. "O" sahut ibunya "bawa
saja kedapur. Aku akan melihatnya. Mungkin aku juga ingin memiliki
kain seperti itu." Winihpun kemudian pergi ke dapur bersama ibunya
sambil membawa kainnya yang dibelinya di pasar. Sementara itu, Kiai
Gumrah dan Ki Prawara masih menahan Manggada dan Laksana. Mereka
ingin mendapat keterangan keduanya lebih banyak lagi. Kesan yang
diberikan oleh Manggada dan Laksana memang mengatakan mempunyai
dasar ilmu kanuragan, masih merasa sulit untuk memahami apa yang
telah dilakukan oleh Darpati atas Rambatan dan kawankawannya. "Aku
menjadi gelisah" berkata Ki Prawara "nampaknya Winih menganggap
orang itu terlalu baik." Kiai Gumrah mengangguk kecil. Katanya
"Agaknya lebih dari itu. Bukankah kau merasakan pertumbuhan
anakmu-itu, baik secara kewadagan maupun kajiwan. Ujud anakmu
sekarang adalah benar-benar seorang gadis dewasa, sedangkan.
jiwanyapun tentu sedang bergejolak menembus dinding masa remajanya
memasuki usia dewasanya. Justru pada umur. yang paling rawan bagi
seorang gadis yang sedang tumbuh." Ki Prawara mengangguk-angguk. Ia
memang merasakan beberapa perubahan pada anak gadisnya. Sikapnya
terhadap anak-anak mudapun berubah. Agaknya sebagaimana dikatakan
oleh Kiai Gumrah, bahwa umur Winih adalah umur yang paling rawan
dalam pertumbuhan dan perkembangan jiwa seorang gadis. "Sudahlah"
berkata Kiai Gumrah "kitalah yang harus berhati-hati. Kita awasi
Winih sebagaimana menguasai kanak-kanak yang bermain dipinggir
jurang. Kita memang tidak boleh lengah sekejappun." "Ya ayah" sahut
Ki Prawara sambil mengangguk kecil. Namun iapun berdesis "Darpati,
menilik ujudnya, memang seorang yang menarik. Adalah mungkin sekali
Winih sudah tertarik sejak penglihatannya yang pertama atas orang
lain. Apalagi Darpati telah menunjukkan jasanya kepada Winih.
Meskipun Winih sudah ditemani oleh Manggada dan Laksana." "Maaf kek"
berkata Manggada kemudian "kami memang terlambat berbuat sesuatu.
Kami merasa ragu, karena selama ini kami menyatakan diri sebagai
anak-anak muda kebanyakan tanpa ilmu kanuragan jika kami berada
diantara anak-anak muda padukuhan." Kiai Gumrah mengangguk sambil
menjawab "Sudahlah. Kalian tidak dapat disalahkan. Keragu-raguan itu
wajar sekali. Kalian tentu tahu bahwa orang-orang padukuhan ini
mengenal aku sebagai seorang pembuat dan penjual gula, tidak lebih.
Karena itu, maka sudah sepantasnya jika kalian juga menyesuaikan
diri." Manggada dan Laksana, hanya dapat menundukkan kepalanya
Tetapi mereka masih juga merenungi sikap Winih. Bahkan mereka juga
merasa menyesal, kenapa mereka tidak segera berbuat sesuatu, saat
Rambatan, sudah menjadi semakin kasar. Namun perkenalan antara
Rambatan dan Darpati itu sudah terjadi. Yang harus dilakukan memang
sebagaimana dikatakan, oleh Kiai Gumrah, bagaimana melepas
kanakkanak dipinggir jurang. Ketika kemudian Manggada dan Laksana
meninggalkan ruang dalam dan keluar ke halaman, maka mereka
terkejut. Mereka melihat seekor burung elang yang melayang-layang
tinggi. Burung yang sudah sangat mereka kenal "Beritahukan kakek"
desis Manggada "aku akan melihatnya kemana burung itu terbang.”
Laksana mengangguk. Sambil melangkah masuk ia berkata "Baiklah. Aku
akan memberitahukan kepada kakek." Ketika hal itu disampaikan kepada
Kiai Gumrah, maka Kiai Gumrahpun berkata kepada Ki Prawara "Burung
itu adalah perpanjangan mata Kiai Windu Kusuma. Sebenarnya burung
itu milik seseorang yang disebut Panembahan, yang mengingini
pusaka-pusaka itu. Burung itu mampu menterjemahkan penglihatannya
sehingga dapat memberikan keterangan-keterangan yang diperlukan oleh
Kiai Windu Kusuma. Isyarat yang diberikan burung itu dapat dibaca
dengan tepat oleh seseorang yang bertugas sebagai pawangnya." "Luar
biasa" desis Ki Prawara "apakah burung itu hanya seekor?" "Tidak"
jawab Kiai Gumrah "lebih dari seekor. Cobalah kau melihat burung itu
dari halaman belakang saja. Mungkin kau perlu berlindung dibawah
dedaunan." Ki Prawara mengangguk-angguk. Namun, kemudian katanya
"Betapapun pandainya seekor burung, tetapi akal manusia akan tetap
lebih mampu mengatasinya." Demikianlah, maka Ki Prawara dan Kiai
Gumrahpun segera keluar dari ruang dalam. Namun mereka telah pergi
ke belakang, melalui pintu butulan untuk melihat seekor burung elang
yang berterbangan dilangit. Ki Prawara mengangguk-angguk kecil
melihat burung itu. Memang ada kesan bahwa burung itu seakan-akan
mempunyai nalar. Seakan-akan burung itu tahu benar apa yang harus
dilihat dan diperhatikannya dirumah yang ditunjuk oleh pawangnya.
"Asal kau mengetahui saja" berkata Kiai. Gumrah yang ada dibawah
sebatang pohon yang berdaun rimbun. "Aku tidak perlu bersembunyi
dari tatapan mata burung itu" berkata Ki Prawara "orang-orang Kiai
Windu Kusuma tentu sudah tahu bahwa aku ada disini." "Burung itu
mengawasi tempat ini untuk melihat apa yang sedang dikerjakan di
tempat ini, jika saja ada kesibukan apapun atau mungkin sekali
kesibukan yang tinggi disini." Ki Prawara mengangguk-angguk. Tetepi
burung itu memang memberikan kesan tersendiri- Dengan nada daiam Ki
Prawara berkata "Burung itu tentu tidak sekedar mengawasi. Tetapi
burung itu dipersiapkan untuk menyerang dan setidak-tidaknya
mengganggu. Kukunya memberikan kesan khusus." "Ya" jawab Kiai Gumrah
"kuku-kukunya berselut baja." Ki Prawara tidak menjawab lagi.
Dipandanginya burung yang berputaran beberapa kali. Bahkan menukik
beberapa kali. Kemudian terbang tinggi menyusup awan yang mengalir
rendah. Ketika bunmg elang itu kemudian hilang dari pandangan mata
mereka, maka Ki Prawarapun telah masuk kembali keruang dalam.
Manggada dan Laksana telah berada diruang dalam pula. Demikian juga
Kiai Gumrah. "Kita memang harus berhati-hati terhadap burungburung
itu" berkata Ki Prawara Manggada dan Laksana mengangguk-angguk.
Mereka mengenal burung-burung itu sejak mereka mengenal seseorang
yang bernama Panembahan yang bergelimang kegelapan itu. Demikianlah,
maka orang-orang yang tinggal dirumah Kiai Gumrah itu menjadi
semakin bersiaga menghadapi segala kemungkinan. Memang tidak ada
niat mereka untuk minta perlindungan kepada pihak lain atau
menitipkan pusaka-pusaka itu kepada siapapun juga. Mereka berniat
untuk menyelamatkan pusaka-pusaka itu sendiri bersama dengan
kawan-kawan mereka. Yang membuat Kiai Gumrah dan Ki Prawara prihatin
adalah anak gadis Ki Prawara. Nampaknya Winih benarbenar telah
tertarik pada pertemuannya yang pertama dengan Darpati. Ketika
dihari berikutnya Darpati datang berkunjung kerurnah Kiai Gumrah,
maka Winih telah menerimanya dengan akrab. Ki Prawara dan Nyi
Prawara tidak dapat dengan serta merta melarang hubungan anaknya
dengan orang yang baru saja dikenalnya itu. Meskipun demikian,
ketika kemudian Darpati itu minta diri, maka Ki Prawara mencoba
untuk menasehati anaknya. "Winih" berkata Ki Prawara "kau harus
membatasi hubunganmu dengan orang asing itu." "Orang asing?"
bertanya Winih "bukankah ia orang baik ayah. Jika ia bukan orang
baik, ia tidak akan menolong aku. Ia dapat saja membiarkan aku
diperlakukan buruk oleh siapapun, karena itu memang bukan
tanggung-jawabnya." “Kita memang harus berterirna-kasih kepadanya,
Tetapi untuk berhubung jauh lagi. Maka kita perlu mengetahui,
siapakah orang itu. Bagaimana dengan keluarganya dan bagaimana
sikapnya memandang kehidupan” berkata ayahnya "Apakah kita masih
membedakan latar belakang kehidupan seseorang dalam hubungan
pergaulan ini?" bertanya. Winih. "Tentu, Winih. Apalagi pergaulan
antara laki-laki dan perempuan yang masing-masing sudah menginjak
dewasa" berkata ayahnya. "Jadi apakah ayah bermaksud menjadikan aku
gadis pingitan seperti kebanyakan, kawan-kawanku? bukankah ayah dan
ibu sudah berjanji untuk tidak menjadikan aku gadis pingitan yang
hanya boleh mengintip sisi pergaulan anak-anak muda dari
lubang-lubang dinding?” bertanya Winih. "Bukan maksud ayah dan ibu
Winih. Tetapi kau tidak boleh bergaul terlalu akrab dengan orang
yang baru kau kenal kemarin. Kau tentu mengetahui perlunya kita
mengenal latar belakang kehidupan orang baru itu. Misalnya saja,
jika orang itu mempunyai isteri dan apalagi anak, bukankah
hubunganmu dengan orang itu akan menimbulkan persoalan bagi isteri
dan.anak-anaknya? Katakan bahwa hubunganmu dengan orang itu sama
sekali tidak mengarah pada perhubungan yang lebih khusus, namun
bahwa ia datang kepadamu dengan sikapnya seperti itu, akan dapat
menimbulkan persoalan pada keluarganya." Winih mengerutkan
keningnya. Wajahnya memang menjadi buram. Dengan nada berat ia
berkata "Ayah dan ibu selalu berpikir hal yang bukan-bukan."
"Mungkin ayah dan ibu terlalu berhati-hati Winih. Tetapi bukankah
sudah banyak terjadi bahwa pergaulan dari perkenalan yang terlalu
singkat tanpa mengetahui latar belakang kehidupan masing-masing akan
dapat menimbulkan persoalan." “Bukankah aku sudah dewasa, sehingga
aku akan dapat menjaga diri?" berkata Winih. "Menjaga diri dalam
kesadaran sepenuhnya memang dapat menghindarkan diri
setidak-tidaknya mengurangi kemungkinan yang tidak diinginkan.
Tetapi jika perasaan mulai diguncang oleh perasaan lain, maka
penalaran akan terdorong kesamping." Namun Winih itu berkata dengan
suara bergetar "Ayah dan ibu masih selalu menganggap aku
kanak-kanak." "Tidak. Bukan begitu. Tetapi jika kau katakan bahwa
ayah dan ibu menganggapku kurang berpengalaman dalam pergaulan,
memang benar." jawab ayahnya. Winih memang tidak menjawab. Tetapi di
wajahnya nampak betapa ia menjadi kecewa terhadap sikap ayah dan
ibunya. Tetapi ternyata dihari berikutnya, Darpati itu datang
kembali. Winihpun masih tetap bersikap akrab sekali. Bahkan setelah
mereka berbicara serba sedikit, maka Winih itu menemui ayah dan
ibunya untuk minta ijin melihat-lihat keadaan disekitar padukuhan
itu. Ayah dan ibunya memang menjadi cemas. Mereka memang berusaha
untuk mencegah. Tetapi Winih selalu berkata "Aku hanya ingin
berjalan jalan. Bukankah Winih bukan kanak-kanak lagi? Winih akan
dapat menjaga diri dan mengetahui batas-batas yang tidak harus
dilewati." "Winih" berkata ibunya kemudian "jika kau ingin pergi
juga, ajak kakak-kakakmu. Manggada dan Laksana. "Ibu, bukankah itu
aneh?" bertanya Winih. “Tidak Winih Tidak aneh bagi mereka yang baru
berkenalan dua hari yang lalu. Aku tidak ingin kau dianggap seorang
gadis yang dengan mudah dapat dibujuk oleh kata-kata, sikap dan
meskipun oleh kebaikan hati sekalipun. Atau kau tidak akan pergi
sama sekali.." ibunya mulai bersikap keras. Winih menundukkan
kepalanya. Ia tahu sifat ibunya. Karena itu, betapapun ia sebagai
gadis tunggal yang manja, namun Winih tidak berani lagi menolak
perintah ibunya. Karena itu, maka Winihpun mengangguk kecil. Ketika
hal itu didengar oleh Kiai Gumrah, serta Winihpun sedang memanggil
Manggada dan Laksana, maka Kiai Gumrah itupun berkata "Manggada dan
Laksana tidak akan mampu menjaga Winih jika terjadi kekerasan. Ilmu
anak muda itu menurut Manggada dan Laksana sendiri, jauh lebih
tinggi dari anak-anak itu." "Tetapi setidak-tidaknya kehadiran
mereka akan dapat mempengaruhi sikap Darpati jika ia berniat buruk."
jawab ibunya. Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Katanya "Aku mengerti."
Demikianlah, maka Winihpun telah mengatakan pula kepada Darpati
bahwa kedua orang kakaknya akan ikut pula bersama mereka
melihat-lihat keadaan disekitar padukuhan itu. Adalah diluar dugaan
Winih, bahwa Darpati dengan serta merta menyahut "Bagus sekali. Aku
senang Manggada dan Laksana bersama kita. Rasa-rasanya kita tidak
kesepian dijalan." Darpati. termangu-mangu sejenak. Namun kemudian
ia berkata selanjutnya "Sebenarnya aku juga merasa ragu untuk
berjalan-jalan berdua. Mungkin orangorang padukuhan ini tidak
terbiasa melihat hal yang demikian. Karena itu, menyenangkan sekali
jika Manggada dan Laksana ikut pula." Wajah Winih memang menjadi
merah. Tetapi ia merasa, beruntung bahwa ibunya berkeras untuk
mengajak Manggada dan Laksana. Jika tidak, agaknya pandangan dan
anggapan Darpati terhadap dirinyapun akan terpengaruh juga. Bahkan
Winih itu bertanya kepada diri sendiri "Apakah Darpati itu sedang
menilai sikapku?" Diam-diam Winih merasa berterima kasih kepada
ibunya. Demikianlah maka sejenak kemudian mereka berempatpun telah
meninggalkan rumah Kiai Gumrah. mereka memang hanya ingin
berjalan-jalan saja. Tetapi Darpati tidak menawarkan kepada Winih
untuk pergi ke pasar. Bahkan Darpati mengajak Winih serta Manggada
dan Laksana untuk melihat pancuran dipiriggir hutan. "Bukankah
kalian belum pernah melihatnya? Pancuran itu terhitung pancuran yang
jarang ada duanya. Airnya memang tidak begitu deras dan tidak pula
begitu tinggi. Tetapi didekat pancuran itu terdapat semacam hutan
pepohonan berbunga yang sangat indah. Seakan-akan ada tangan yang
telah mengaturnya." "Menarik sekali" sahut Winih dengan serta merta.
Manggada dan Laksana yang memang sudah merasa cemas terhadap Darpati
bahwa ia mempunyai hubungan dengan Kiai Windu Kusuma tidak berkata
sesuatu. Kelebihan Darpati dari orang kebanyakan, bahkan ilmunya
yang sangat tinggi memang sangat menarik perhatian. Apalagi
sebelumnya Darpati tidak dikenal didaerah itu dan disekitarnya Sinar
matahari pagi yang cerah; angin yang semilir menggoyang batang padi
yang sedang tumbuh segar, membuat Winih manjadi semakin gembira.
Tetapi semakin Winih gembira dan seakan-akan melupakan
kehati-hatian, maka Manggada dan Laksana justru menjadi semakin
berhati-hati. Ketika mereka kemudian mendekati hutan yang terhitung
agak lebat, Winih mulai menyadari kembali perjalanannya. Bahkan
kemudian ia mulai memperlambat langkahnya. "Dimanakah letak pancuran
itu?" bertanya Winih. "Kau lihat bukit kecil itu?" bertanya Darpati.
Winih mengangguk. "Kita akan pergi ke bukit kecil itu. Disisi
sebelah Timur, kita akan melihat taman yang telah diciptakan oleh
alam itu. Taman yang melampaui keindahan taman yang dibuat oleh
tangan manusia." jawab Darpati. Winih mengangguk-angguk. Bukit itu
memang tidak terlalu jauh lagi. Justru karena Winih melihat
pohon-pohon raksasa diatas bukit kecil itu, maka winih percaya bahwa
dilereng bukit itu memungkinkan sekali terdapat sebuah pancuran.
Beberapa saat lagi mereka berjalan. Sekali-sekali Winih memang harus
berhenti dan bahkan harus ditolong meloncati parit-parit kecil yang
dibuat oleh arus air yang mengalir dari bukit. Bahkan parit-parit
itu ada yang agak dalam dan licin. Tetapi ternyata apa yang
dikatakan oleh Darpati itu benar. Beberapa saat kemudian mereka
sampai disebuah lembah yang tidak begitu luas. Tetapi di lembah itu
memang terdapat air terjun meskipun tidak terlalu besar sehingga
Darpati menyebutnya sebagai pancuran saja. Tidak seorangpun yang
telah mengaturnya, bahwa lembah itu menjadi sebuah lembah yang
sangat menarik. Dise-kitar air terjun yang memang tidak begitu deras
itu terdapat sekelompok pepohonan berbunga yang sangat menarik.
"Bagus sekali" desis Winih dengan sertamerta. Manggada dan
Laksanapun ikut mengagumi pepohonan dilembah itu pula Mereka
terpesona memandangi pepohonan yang sedang berbunga. Berbagai warna
tersebar memanjang lembah yang basah itu. Namun Manggada yang dengan
tidak sengaja memandang langit, nampak dua ekor burung elang yang
terbang berputaran. Karena itu, maka iapun telah menggamit Laksana
sambil berdesis "kau lihat burung-elang itu?” Wajah Laksana menjadi
tegang. Katanya "Ya. Burung elang itu mulai melingkar-lingkar."
Keduanyapun segera mempersiapkan diri. Mereka sejak semula sudah
merasa curiga kepada Darpati. Apalagi ketika mereka melihat sepasang
elang yang berterbangan justru selagi mereka berada ditempat yang
jarang dikunjungi orang itu. Darpati sendiri sama sekali tidak
menghiraukan sepasang elang yang berterbangan itu. Kepada Winih ia
berceritera tentang jenis-jenis pepohonan yang terdapat dilem-bah
kecil disekitar air terjun yang tidak begitu besar itu. Namun
Manggada dan Laksana menjadi semakin tegang ketika mereka melihat
kedua ekor burung itu mulai menukik dan menyambar-nyambar. Manggada
dan Laksanapun segera bersiap menghadapi segala kemungkinan. Mereka
memperhitungkan bahwa bukan hanya sepasang elang itu saja yang hadir
ditempat itu, yang seakan-akan memang telah diatur oleh Darpati.
"Winih, berhati-hatilah" berkata Manggada tiba-tiba. Winih berpaling
kepadanya sambil bertanya "Kenapa?" "Kau lihat bunmg elang itu"
jawab Manggada. Winih mengangkat wajahnya. Demikian pula. Darpati.
Dengan nada tinggi Darpati bertanya "Kenapa dengan burung elang
itu?" Namun Winih memang sudah mendengar serba sedikit tentang
burung elang itu. Karena itu, maka iapun bergeset mendekati Manggada
dan Laksana sambil berkata "Apa yang akan dilakukan oleh burung
elang itu?." "Kedua ekor burung itu sangat berbahaya" berkata Winih
kemudian. "Aku tidak takut kepada siapapun juga. Apalagi hanya
kepada dua ekor burung elang." jawab Darpati. Winih mengangguk
kecil. Ia percaya kepada kata-kata Darpati itu, karena Darpati
memang seorang yang berilmu tinggi. Namun dalam pada itu, kedua ekor
burung itu tidak juga segera pergi. Justru keduanya berputar semakin
cepat dan menukik semakin dalam. Darpati juga memperhatikan kedua
ekor elang itu. Nampaknya iapun telah bersiap untuk melawan, jika
elang itu akan menyerangnya. Bahkan tangan Darpati itu sudah melekat
pada hulu pedangnya. Namun tiba-tiba mereka telah dikejutkan oleh
teriakan nyaring yang datang dari dalam gerumbul-gerumbul lebat
disekitar pepohonan yang berbunga itu. Beberapa orang telah
berloncatan muncul dengan senjata di t angan mereka. "Jangan lari"
teriak orang-orang itu "kalian telah terkepung rapat." Manggada dan
Laksana segera merapat. Demikian pula Darpati. Iapun segera menarik
pedangnya sambil berdiri didepan Winih. "Siapakah kalian dan apakah
yang kalian inginkan?" bertanya Darpati, "Jangan melawan. Berikan
gadis itu kepada kami." bentak seorang diantara orang-orang yang
muncul dari hutan itu. "Kau gila" geram Darpati "gadis ini bukan
sanak kadangku. Tetapi akulah yang mengajaknya datang ketempat ini.
Karena itu, maka aku bertanggung jawab, atas keselamatannya."
"Jangan membunuh diri. Aku hanya membutuhkan gadis itu. Bukan
siapa-siapa. Jika kalian akan pergi, pergilah. Tetapi jika kalian
mencoba untuk mencegahnya, maka kalian akan mati. Pada akhirnya
gadis itu akan jatuh ketanganku juga." "Tidak" teriak Darpati sambil
membelalakkan matanya "pergi kalian. Atau kalian yang akan mati
disini." Ternyata orang-orang itu tidak mau pergi. Mereka justru
mulai bergeser mendekat diseputar mereka berempat. Manggada dan
Laksanapun sudah menggenggam pedangnya pula. Ketika mereka sempat
menghitung, maka orang-orang yang mengepung mereka itu berjumlah
tidak lebih dari ampat orang saja. Darpati tidak berbicara lebih
panjang lagi. Kepada Manggada dan Laksana ia berkata "Kali ini aku
terpaksa minta bantuan kalian. Nampaknya orang-orang ini bukan
tataran Rambatan dan kawan-kawannya. Orang-orang ini memiliki
kemampuan yang harus diperhitungkan." Manggada dan Laksana memang
sudah bersiap. Karena itu. ketika orang-orang itu mulai bergerak,
maka bertempur anpun segera terjadi. Sementara itu sepasang burung
elang itu masih saja berputaran dan menukik-nukik tajam. Bahkan
kemudian sepasang burung itu telah ikut pula menyerang Manggada dan
Laksana. Sehingga dengan demikian maka kedua anak muda itu harus
bertempur melawan kedua orang lawannya serta kedua ekor burung elang
yang berkuku baja
itu.
Buku 4 SEMENTARA itu kedua orang yang
lain telah bertempur melawan Darpati yang telah mencabut pedangnya.
Dengan tangkasnya Darpati berloncatan sambil memutar senjatanya.
Manggada dan Laksana yang bertempur melawan masing-masing seorang
lawan dan harus pula memperhatikan sambaran-samabaran kuku baja
burung elang yang garang itu, harus mengerahkan kemampuan mereka.
Namun ternyata orang-orang yang bertempur melawan mereka itu adalah
orang-orang yang memang memiliki ilmu yang mapan. Manggada dan
Laksanapun dengan cepat mulai terdesak. Ketika Manggada mengayunkan
pedangnya menebas seekor burung elang yang menyambar dengan cepat,
maka lawan-nyapun telah meloncat pula sambil menulurkan pedangnya.
Manggada terpaksa mengurungkan niatnya menyerang burung elang itu.
Dengan cepat ia harus mengelak dari ujung senjata lawannya. Tetapi
demikian Manggada meloncat, maka burung elang itu benar-benar
menyambarnya. Kuku-kuku bajanya yang tajam telah menggores pundak
anak muda itu. Manggada mengaduh tertahan. Tetapi ia harus
menyeringai menahan pedih yang menggigit luka dipundaknya itu.
Laksana terkejut melihat Manggada mulai terluka. Namun ia tidak
sempat berbuat banyak. Serangan lawannya datang demikian cepatnya.
Dengan tangkas Laksana menangkis serangan itu. Tetapi burung elang
itu menyambarnya dengan cepat pula. Hampir saja kuku-kuku tajam itu
mengcengkam wajahnya. Tetapi Laksana sempat meloncat mengelak sambil
mengayunkan pedangnya. Tetapi burung itu dengan cepat menggeliat dan
kemudian terbang membubung. Tetapi pada saat itu, ujung senjata
lawannya ternyata telah menyambarnya diarah dada. Laksana tidak
banyak mendapat kesempatan. Ia memang dapat menarik dadanya surut.
Tetapi ia tidak dapat melepaskan diri seluruhnya dari jangkauan
pedang lawannya. Karena itu, maka ujung pedang itu telah tergores
didada Laksana. Laksanapun berdesah kesakitan. Luka didadanya itu
kemudian telah mengalirkan darah, sebagaimana luka dipundak
Manggada. Sementara itu Darpati bertempur dengan garangnya. Kakinya
berloncatan dengan tangkasnya. Kedua lawannya yang tidak kalah
garangnya telah menyerangnya dari arah yang berbeda. Tetapi keduanya
ternyata sangat sulit untuk dapat mengenainya. Tetapi Darpati juga
tidak segera dapat mendesak kedua lawannya yang seakan-akan
bergantian datang menyerang. Winih berdiri termangu-mangu
menyaksikan pertempuran itu. Wajahnya menjadi sangat tegang.
Dipandanginya Manggada dan Laksana berganti-ganti. Keduanya memang
mengalami kesulitan. Luka Manggada telah bertambah lagi. Lengannya
juga telah tergores pedang sehingga kulitnya telah terkoyak. Winih
memang menjadi sangat tegang melihat keadaan Manggada dan Laksana.
Sementara itu lawan mereka sama sekali tidak mengekang diri.
Keduanya benar-benar berniat untuk membunuh Manggada dan laksana.
Senjata mereka terayun-ayun mendebarkan jantung. Sementara itu,
sepasang burung elang itupun benar-benar telah ikut pula dalam
pertempuran itu. Keduanya seakan-akan telah digerakkan oleh kekuatan
yang memiliki kemampuan tinggi dalam olah kanuragan. Burung-burung
itu seakan-akan tahu, kapan mereka harus menyerang. Kapan mereka
harus menarik perhatian sehingga serangan lawan-lawan Manggada dan
Laksana mendapat kesempatan menusukkan pedangnya. Rasa-rasanya
Manggada dan Laksana memang tidak mempunyai kesempatan lagi.
Sementara itu Darpati tidak segera dapat mengalahkan lawannya dan
membantu mereka. Ketika Darpati masih berusaha untuk mempertahankan
dirinya dari serangan kedua lawannya yang datang berganti-ganti
susul-menyusul, maka Manggada dan Laksana menjadi semakin terdesak.
Luka-luka ditubuh mereka menjadi semakin banyak. Darahpun mengalir
semakin deras pula. Dalam keadaan yang demikian, adalah diluar
dugaan bahwa tiba-tiba saja terdengar aum yang keras dari dalam
rimbunnya pepohonan dan batang-batang perdu. Aum seekor harimau yang
garang telah disaut oleh aum harimau yang lain. Selagi orang-orang
yang sedang bertempur itu masih belum siap menghadapi kemungkinan
baru itu dua ekor harimau telah bermunculan dari dalam belukar.
Kedua ekor harimau itu dengan serta merta telah menyerang kedua
orang lawan Manggada dan laksana serta kedua orang lawan Darpati.
Keduanya seakan-akan menyatakan diri untuk ikut bertempur dipihak
mereka yang mendapat serangan tiba-tiba itu. Orang-orang yang
mendapat serangan dari sepasang harimau itu terkejut. Sementara
Manggada dan Laksana masih berdiri termangu-mangu, maka kedua orang
lawan Manggada dan Laksana itupun segera bergabung untuk melawan
seekor diantaranya, sedang lawan Darpati bersama-sama menyerang
seekor yang lain. Orang-orang itu pada dasarnya sama sekali tidak
takut menghadapi harimau yang paling garang sekalipun. Namun
ternyata bahwa Manggada dan Laksana melihat kedua ekor harimau itu
bukan harimau kebanyakan. Sebagaimana dua ekor elang yang
berterbangan melingkar-lingkar dan kemudian menyambar-nyambar itu,
maka kedua ekor harimau itu seakan-akan juga memiliki kemampuan
untuk bertempur. Keduanya seakan-akan mengenal bahwa pedang itu
termasuk senjata yang berbahaya yang dapat melukai kulit mereka.
Namun lebih dari itu, kedua ekor harimau itu mengingatkan Manggada
dan Laksana pada dua ekor harimau yang datang kerumah Kiai Gumrah.
Bahkan Manggada dan Laksanapun segera teringat pula dua ekor harimau
milik Ki Pandi yang bongkok yang ternyata adalah saudara seperguruan
Sang Panembahan. Karena itu, maka rasa-rasanya Manggada dan Laksana
tidak dapat membiarkan kedua ekor harimau itu bertempur tanpa
bantuan mereka. Setelah mengamati keadaan sejenak, maka Manggada dan
Laksana segera turun lagi ke arena. Mula-mula keduanya harus
bertempur melawan kedua ekor elang yang masih saja
menyambar-nyambar. Namun ketika pedang Manggada melukai seekor
diantarahya, maka kedua ekor elang itupun terbang menjauh. Yang
terluka itu agaknya harus berjuang untuk dapat pulang sampai
kesangkarnya, sedang yang lain mengikutinya dibelakangnya,
seakan-akan menjaganya agar kawannya itu tidak kehilangan
keseimbangannya. Ketika kedua ekor elang itu terbang semakin tinggi,
maka nampak bahwa yang terluka itu menjadi semakin miring. Namun
akhirnya keduanya hilang dibalik pepohonan. Perhatian Manggada dan
Laksana kemudian terpusat kepada ampat orang yang bertempur melawan
kedua ekor harimau yang sangat garang itu. harimau yang seakan-akan
memiliki ilmu kanuragan sehingga keempat orang yang bertempur
melawan mereka itu mengalami kesulitan. Apalagi ketika kemudian
Manggada dan Laksana ikut pula dalam pertempuran itu. Luka-luka
ditubuh Manggada dan Laksana membuat kedua orang anak muda itu marah
dan ingin membalas dendam. Dalam pada itu Darpati menjadi
termangu-mangu. Bahkan beberapa kali Darpati memanggil Manggada dan
Laksana. "Kemarilah. Nanti harimau itu keliru menyerangmu." teriak
Darpati "harimau itu tidak lebih dari seekor binatang yang tidak
tahu apa yang sedang dilakukan." Tetapi Manggada menjawab "Kedua
ekor elang itu ternyata juga tahu, siapa saja yang harus
diserangnya. Agaknya demikian pula kedua harimau itu." Darpati
memang menjadi sangat gelisah. Sementara itu keempat orang yang
harus bertempur melawan Manggada, Laksana dan dua ekor harimau yang
sangat garang itu menjadi semakin terdesak. Bahkan kemudian mereka
mulai dilukai oleh kuku-kuku harimau itu. Kulit-kulit mereka menjadi
terkoyak dan bahkan darahpun bagaikan terperas dari tubuh mereka.
Manggada dan Laksana yang melihat keadaan keempat orang itupun telah
mengekang diri. Meskipun mereka tahu bahwa orang-orang itu telah
benar-benar ingin membunuh mereka, setidak-tidaknya kedua orang
lawan Manggada dan Laksana itu. Tetapi nampaknya kedua ekor harimau
itu tidak berbuat sebagaimana Manggada dan Laksana. Keempat orang
yang sudah tidak berdaya itu, sama sekali tidak dilepaskan. Bukan
saja kuku-kuku kedua ekor harimau itu. Tetapi taring-taring
mereka-pun telah mengoyak tubuh keempat orang itu, sehingga beberapa
saat kemudian, keempat orang itu tidak lagi berdaya untuk
menyelamatkan nyawa mereka. Manggada, Laksana, Darpati apalagi Winih
telah memalingkan wajah mereka. Winih yang gemetar telah berpegangan
tangan Manggada sambil berkata "Tolong mereka." Manggada dan Laksana
memang tidak dapat berbuat sesuatu. Darpatipun hanya dapat berdiri
dengan wajah yang tegang. Ketika kemudian terdengar aum kedua ekor
harimau itu, maka Darpatipun telah bersiap menghadapi segala
kemungkinan. Bahkan iapun sempat berdesis "Manggada dan Laksana.
Bersiaplah, harimau-harimau itu tidak akan tahu bahwa kalian telah
membantu mereka. Setelah keempat orang itu terbunuh, mungkin
keduanya akan menyerang kita." Manggada dan Laksana tidak menjawab.
Mereka memandangi kedua ekor harimau yang masih berbau darah itu.
Kedua ekor harimau yang telah membunuh keempat orang itu dengan
taringnya yang masih menyeringai memandang keempat orang yang tegang
itu. Namun ternyata kedua ekor harimau itu tidak menyerang mereka.
Bahkan kemudian keduanya telah meloncat meninggalkan arena
pertempuran itu. Yang terdengar adalah aumnya yang panjang
seakan-akan menggetarkan pepohonan dan bahkan bukit kecil itu.
Ketika kedua ekor harimau itu hilang, maka Manggada dan Laksana
semakin merasa betapa sakit dan nyeri menggigit tubuhnya pada
luka-lukanya yang menganga. "Beristirahatlah" berkata Winih kepada
keduanya "tetapi jangan disini. Kita bergeser menjauh." Manggada dan
Laksana mengerti, bahwa Winih ingin menjauhi keempat sosok tubuh
yang telah dikoyak-koyak oleh kedua ekor harimau itu. Dibawah
sebatang pohon yang rindang, Manggada dan Laksana duduk dengan
lemah. Namun keduanya memang membawa obat yang dapat menolong mereka
untuk sementara. Winih dibantu oleh Darpati telah mencoba untuk
mengobati luka-luka keduanya. Luka-luka yang terdapat dibeberapa
bagian ditubuh mereka. Sebagian luka-luka karena ujung senjata,
sedangkan yang lain, luka-luka karena kuku-kuku sepasang elang itu.
Namun angin yang segar yang bertiup disela-sela pepohonan membuat
tubuh kedua orang anak muda itu terasa segar pula. Bahkan kemudian
Manggada sempat bertanya "Bagaimana dengan tubuh keempat orang yang
telah dibunuh oleh kedua ekor harimau itu?" "Kita tidak dapat
berbuat sesuatu " jawab Darpati. "Tetapi kita tidak dapat
meninggalkan tubuh-tubuh itu begitu saja." sahut Manggada. "Lalu apa
yang dapat kita lakukan?" bertanya Darpati. "Kita harus menguburkan
tubuh-tubuh itu" jawab Manggada. Darpati mengerutkan dahinya.
Katanya "Apakah kita harus menggali ampat buah lubang kubur untuk
mereka?" "Tetapi tubuh-tubuh itu harus dilindungi dari ganasnya
binatang-binatang buas. Mungkin harimau yang bukan kedua ekor
harimau itu, mungkin serigala atau anjing hutan." sahut Laksana yang
sambil menunjuk ke udara berkata pula "Lihat, burung-burung gagak
pemakan bangkai itu." Winihpun menengadahkan wajahnya pula. Yang
nampak dilangit bukan lagi sepasang burung elang. Tetapi beberapa
ekor burung gagak yang berwarna hitam lekam. Suaranya bagaikan
menguak keheningan lembah kecil itu dan memecahkan suara air terjun
yang memang tidak begitu besar. Darpati yang nampaknya agak segan
untuk menggali lubang kubur keempat orang itu kemudian berkata “Kita
dapat melindungi tubuh-tubuh itu tanpa membuat lubang kubur. Kita
justru menimbuninya dengan bebatuan yang banyak berserakan ditempat
ini." Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Dengan nada
rendah Manggada berkata "Baiklah. Agaknya hanya itulah yang dapat
kita lakukan." “Tetapi kau masih terlalu lemah. Biarlah aku dan
Darpati sajalah yang melakukannya " berkata Winih. "Kau akan menjadi
terlalu letih" desis Laksana. "Aku terbiasa bekerja keras dirumah."
jawab Winih. Namun Manggada dan Laksana tidak membiarkan Darpati dan
Winih berdua saja yang melakukannya. Sementara itu Winih berusaha
untuk tidak melihat tubuhtubuh yang terkoyak oleh kuku dan taring
harimau itu. Karena itu, maka Winih hanya membantu dari kejauhan. Ia
telah melemparkan bebatuan kearah tubuh-tubuh itu terbaring tanpa
melihatnya. Sementara itu Darpatilah yang menempatkan bebatuan itu
untuk menutup tubuh-tubuh yang terkoyak itu. Manggada dan Laksana
yang lemah itu membantu sejauh dapat mereka lakukan. Demikianlah,
setelah mereka beristirahat barang sejanak, serta setelah mereka
mencuci kaki dan tangan mereka, serta minum beberapa teguk air
pancuran yang jernih, maka mereka-pun segera meninggalkan tempat
itu. Keempat orang itu tidak dapat berjalan terlalu cepat. Manggada
dan Laksana yang telah mengobati luka-lukanya meskipun hanya untuk
sementara, masih merasa tubuh mereka sangat lemah. Bahkan
sekali-sekali Darpati dan Winih harus membantu mereka melintasi
batu-batu padas serta mendaki lereng yang meskipun tidak terlalu
tinggi. Ketika kemudian mereka sampai di padukuhan, beruntunglah
mereka bahwa jalan-jalan terasa sepi, sehingga tidak banyak orang
yang melihat keadaan Manggada dan Laksana. Satu dua orang yang
melihat mereka dari kotak-kotak sawah, tidak begitu menghiraukan
keadaan mereka. Orangorang itu hanya menduga bahwa keempat orang itu
sedang berjalan-jalan saja tanpa tujuan, sehingga mereka berjalan
perlahan-lahan. Namun ketika mereka sampai dirumah, maka keadaan
Manggada dan Laksana telah mengejutkan seisi rumah itu. Kiai Gumrah,
Ki Prawara dan Nyi Prawara dengan serta merta telah mengerumuni
kedua anak muda itu tetapi sebelum mereka bertanya, maka Winih sudah
berceritera seperti gerontol jagung yang tumpah. "Benar begitu
ngger?" bertanya Ki Prawara. “Ya paman" jawab Manggada dan Laksana
hampir berbareng. Sementara itu Darpatipun berkata "Nampaknya memang
terjadi keajaiban. Ditempat itu terdapat dua jenis binatang yang
seakan-akan memiliki ketajaman indera sehingga dapat memilih lawan.
Bahkan kedua jenis binatang itu seakan-akan telah terlatih dan
memiliki kemampuan olah kanuragan." Kiai Gumrah menarik nafas
dalam-dalam. Baginya kehadiran dua ekor harimau itu bukannya
didengarnya untuk yang pertama. Dihalaman rumah itupun pernah hadir
dua ekor harimau yang seakan-akan telah membantunya menyelamatkan
pusaka-pusaka yang tersimpan dirumahnya itu. "Dengan demikian jelas,
bahwa tidak ada hubungan apapun antara harimau-harimau itu dengan
pusaka-pusaka yang tersimpan itu" berkata Kiai Gumrah didalam
hatinya. Namun dalam pada itu, Nyi Prawarapun berkata “Marilah
anak-anak. Aku coba untuk membersihkan lukaluka kalian.
Mudah-mudahan luka-luka itu tidak beracun." Manggada dan Laksanapun
kemudian telah pergi kedapur mengikuti Nyi Prawara. Tubuh mereka
memang terasa sangat lemah. Meskipun mereka telah mengobati
luka-lukanya dengan obat yang mereka bawa untuk memampatkan
darahnya, namun tenaga mereka ternyata sudah banyak tersusut. Sesaat
kemudian Ki Prawarapun telah menyusul mereka ke dapur pula. Bahkan
dengan sungguh-sungguh ia bertanya "Bagaimana menurut tanggapanmu
atas apa yang telah terjadi?” Manggada dan Laksana termangu-mangu
sejenak. Mereka telah membuka baju mereka yang bukan saja kusut,
kotor dan koyak. Tetapi juga bernoda darah. Ketika Nyi Prawara
mengusap lukanya dengan kain yang bersih yang dibasahi dengan air
panas, maka mereka harus menahan perasaan pedih yang menggigit. Baru
kemudian Manggada justru bertanya “Maksud paman?" "Maksudku,
tanggapanmu atas Darpati." "Ia telah bertempur pula melawan keempat
orang penyerang itu. Justru Darpati telah bertempur melawan dua
orang diantara mereka." "Tetapi ia sama sekali tidak terluka " desis
Ki Prawara. "Darpati memang berilmu tinggi " sahut Nyi Prawara.
“Tetapi kedua ekor burung itu justru menyerang Manggada dan Laksana.
Keduanya tidak membantu dan tidak menyerang Darpati yang mampu
mengimbangi kedua orang lawannya." berkata Ki Prawara dengan dahi
yang berkerut. Manggada dan Laksanapun mulai berpikir. Semula mereka
tidak mengurai persoalan itu sedemikian jauh. Tetapi ternyata
keduanya merasakan bahwa kedua orang yang bertempur melawan Darpati
tidak segarang kedua orang yang bertempur melawan mereka berdua.
Apalagi kedua ekor burung elang berkuku baja itu justru menyerang
mereka berdua pula. Hampir diluar sadarnya Manggada bertanya
“Seandainya hal itu sudah diketahui oleh Darpati sebelumnya, lalu
apakah maksudnya hal itu dilakukannya?" "Anak-anak muda. Menurut
ceritera Winih dan apa yang kalian katakan melengkapi ceriteranya,
maka kedua orang lawan kalian serta kedua ekor burung itu agaknya
benarbenar berniat membunuh kalian. Bukankah begitu?" bertanya Ki
Prawara. "Ya paman" jawab Manggada dan Laksana hampir berbareng.
"Tetapi tidak demikian yang dialami Darpati" berkata Ki Prawara
selanjutnya. "Kami tidak begitu yakin, paman" jawab Manggada.
"Tetapi aku mengambil kesimpulan seperti itu " berkata Ki Prawara.
Manggada dan Laksana tidak menjawab. Sementara itu, Nyi Prawara
telah mengusapkan obat pada luka-luka mereka, sehingga keduanya
harus menyeringai lagi menahan pedih. Obat itu rasa-rasanya telah
menyengat luka-lukanya sampai keurat-urat dagingnya. Bahkan kemudian
terasa luka-luka itu menjadi panas. "Obat kalian cukup baik meskipun
hanya sekedar memampatkan luka-luka saja" berkata Nyi Prawara.
Manggada dan Laksana tidak menjawab. Mereka masih harus menahan
pedih untuk beberapa saat. "Aku akan keruang dalam" berkata Ki
Prawara. Ki Prawara tidak menunggu jawaban Manggada dan laksana atau
isterinya. Iapun segera kembali ke ruang dalam. Diruang dalam masih
duduk Darpati, Winih dan Kiai Gumrah. Ketika Ki Prawara sudah pergi
keruang dalam, maka Nyi Prawarapun telah selesai mengobati luka-luka
Manggada dan Laksana. Hampir diluar sadarnya ia berkata
"lawan-lawanmu memang benar-benar ingin membunuhmu." Manggada dan
Laksana mengangguk-angguk kecil. Hampir tidak terdengar Laksana
bertanya seakan-akan kepada diri sendiri "Apa maksud mereka
sebenarnya?" Nyi Prawara dengan bersungguh-sungguh berkata perlahan
"Ngger. Mereka memang ingin membunuh kalian. Darpati tentu
mengetahui bahwa hal itu akan terjadi, katakan, bahwa ia memang
merencanakannya. Kita memang tidak tahu, apa maksud mereka melakukan
hal itu. Mungkin karena Darpati tahu bahwa kalian bukan sanakkadang
Winih. Atau tegasnya kalian orang lain bagi Winih, sehingga timbul
niatnya untuk menyingkirkan kalian dari sisi Winih. Atau justru
karena Darpati menganggap bahwa kalian benar-benar cucu Kiai Gumrah
yang telah ikut mempertahankan pusaka-pusaka itu. Namun apapun
alasannya, kalian memang harus berhati-hati terhadap anak itu.”
Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Agaknya memang masuk akal.
Terutama dalam hubungannya dengan kedua ekor elang itu. Namun
kemudian justru Nyi Prawaralah yang bertanya "Tetapi bagaimana
dengan sepasang harimau itu?" “Aku mempunyai jawabnya” sahut
Manggada. Katanya kemudian "kedua ekor harimau itu tentu harimau
milik Ki Pandi. Saudara seperguruan, tetapi juga lawan bebuyutan
Panembahan yang menginginkan pusaka-pusaka itu." "Bagaimana kedua
ekor harimau itu berdiri dipihakmu?" bertanya Nyi Prawara. "Kami
pernah bersama-sama Ki Pandi bertempur melawan Panembahan itu."
jawab Manggada. "Jadi kedua ekor harimau itu pernah mengenalmu?"
bertanya Nyi Prawara. "Ya" jawab Manggada dan Laksana berbareng.
"Bagaimana sikap harimau itu terhadap Darpati?" bertanya Nyi
Prawara. Manggada dan Laksana justru mulai mengingat-ingat. Tetapi
yang jelas kedua ekor harimau itu tidak menyerang Darpati. Meskipun
demikian Manggada dan Laksana memang melihat, kedua ekor harimau itu
untuk beberapa saat memandangi Darpati dengan menyeringai
menampakkan taring-taring mereka. Tetapi keduanya justru
meninggalkan arena perkelahian itu dan hilang kedalam hutan. Nyi
Prawara mengangguk-angguk. Kemudian katanya "Nah, aku sudah selesai
mengobati luka-luka kalian. Sekarang sebaiknya kalian memakai baju
kalian. Tentu saja bukan yang sudah koyak dan dikotori oleh
noda-noda darah itu. Nampaknya baju-baju itu sudah tidak akan dapat
dipakai lagi." Manggada dan Laksanapun kemudian telah mengambil baju
yang lain. Setelah mereka mengenakannya, maka merekapun segera
bersiap untuk pergi keruang dalam, ikut menemui Darpati yang masih
duduk bersama Kiai Gumrah, Ki Prawara dan Winih. Namun dalam pada
itu, Manggada sempat berbincang dengan Laksana tentang Darpati.
Karena sejak semula mereka sudah menaruh kecuriagaan terhadapnya,
maka Mangga-dapun kemudian berkata "Agaknya ada benarnya juga dugaan
Ki Prawara dan Nyi Prawara. Meskipun semula Nyi Prawara bersikap
lain, tetapi kemudian pikirannya sejalan dengan suaminya." "Ya.
Ternyata Nyi Prawara juga menaruh perhatian terhadap sikap Darpati."
desis Laksana. "Karena hal itu menyangkut anak gadisnya" jawab
Manggada. Namun kemudian katanya "Tetapi agaknya ada hal lain yang
perlu diperhatikan.. Nyi Prawara memiliki pengetahuan tentang
pengobatan. Lebih dari itu, iapun dapat mengurai peristiwa didekat
pancuran itu dengan cermat." "Aku juga menganggap bahwa hal itu
bukan hal yang kebetulan" berkata Laksana. Manggada
mengangguk-angguk. Katanya "Tentu ada kelebihan pada Nyi Prawara.
Setidak-tidaknya ia memiliki ilmu pengobatan yang tinggi." Laksana
hanya mengangguk-angguk saja. Namun kemudian katanya "marilah. Kita
ikut menemui Darpati." Keduanyapun kemudian telah masuk keruang
dalam. Keduanya ikut duduk pula bersama Kiai Gumrah dan Ki Prawara.
Bahkan kemudian Nyi Prawarapun telah hadir pula di ruang dalam
sambil membawa hidangan. Ketika Winih melihat ibunya membawa nampan
berisi mangkuk minuman, maka iapun segera bangkit. Tetapi ibunya
berkata "Duduklah Winih. Tidak ada lagi yang harus dihidangkan."
Winih memang duduk lagi. Sementara itu Kiai Gumrahpun berkata
“Marilah, silahkan ngger. Hanya minuman yang dapat kami hidangkan."
"Terima kasih Kiai" jawab Darpati "sebenarnyalah aku memang haus."
Darpatipun kemudian menghirup minuman hangat yang dihidangkan oleh
Nyi Prawara dengan gula kelapa. Nampaknya betapa segarnya wedang
sere itu. Agaknya Darpati memang benar-benar haus. Untuk beberapa
saat Darpati masih berbincang dengan Ki Prawara, Nyi Prawara dan
Kiai Gumrah. Meskipun Manggada dan Laksana ada juga diantara mereka,
tetapi Darpati seakan-akan tidak banyak menaruh perhatian kepada
mereka. Berbeda dengan Winih. Meskipun Winih juga lebih banyak diam,
namun Darpati setiap kali berbicara dengan Winih atau tentang Winih.
Kiai Gumrah, Ki Prawara dan Nyi Prawara hanya tersenyum-senyum saja
jika Darpati memuji-muji Winih. Mungkin tentang sikapnya, mungkin
tentang ketabahan hatinya, juga tentang tanggapannya terhadap
Rambatan dan kawan-kawannya. Demikianlah, beberapa saat kemudian,
maka Darpatipun minta diri. Dengan nada tinggi ia berkata "Besok aku
datang lagi mengunjungi Winih. Tetapi untuk sementara kita tidak
akan berjalan-jalan lebih dahulu." Kiai Gumrahlah yang menjawab "Ya
ngger. Nampaknya ada sesuatu yang harus kita perhitungkan. Agaknya
disekitar padukuhan ini terdapat orang-orang jahat yang berniat
buruk. Bahkan anak-anak muda di padukuhan inipun telah berniat buruk
pula terhadap Winih." "Kita memang harus berhati-hati Kiai" jawab
Darpati. Lalu katanya kepada Manggada dan Laksana seperti perintah
seorang lurah prajurit "Jaga adikmu baik-baik." Manggada dan Laksana
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian keduanyapun mengangguk.
Meskipun dengan segan Manggada menjawab "Aku akan menjaganya."
Darpati tersenyum. Namun kemudian ia berkata kepada Ki Prawara dan
Nyi Prawara “Sudahlah. Aku minta diri. Mudah-mudahan Winih tidak
mengalami sesuatu. Sebaiknya Winih jangan diijinkan keluar halaman
rumah ini tanpa aku. Lingkungan ini memang berbahaya sekali." Ki
Prawaralah yang menjawab sambil menganggukangguk "Ya, ya ngger. Aku
akan melarang Winih keluar halaman. Siapapun yang mengajaknya."
Darpati mengerutkan dahinya. Katanya "Kecuali aku ynng mengajaknya."
“Tetapi Winih akan mempersulit keadaan angger. Hampir saja angger
mengalami kesulitan karena Winih." "Bukan aku yang hampir saja
mengalami bukan saja kesulitan, bahkan bencana. Tetapi Manggada dan
Laksana." jawab Darpati. "Seandainya Manggada dan Laksana telah
diselesaikan oleh kedua orang lawannya, maka kau akan menghadapi
ampat orang sekaligus. Bahkan dengan dua ekor burung elang." desis
Ki Prawara. Tetapi Darpati tertawa. Katanya "Aku masih akan dapat
menyelamatkan diriku." “Jadi bagaimana dengan Winih?” bertanya Nyi
Prawara. "Sudah tentu menyelamatkan Winih. Aku akan mampu
menghancurkan keempat orang itu meskipun mereka bertempur
bersama-sama." “Terima kasih ngger" berkata Ki Prawara "sebagai
orang tua, maka aku selalu dibayangi oleh kecemasan tentang
satu-satunya anakku." Darpati tertawa. Hampir saja ia mengatakan
bahwa Kiai Gumrah dan sudah tentu Ki Prawara dapat menilai apa yang
dihadapinya karena mereka adalah orang-orang berilmu tinggi.
Terutama Kiai Gumrah sendiri sebagai dikatakan oleh Ki Windu kusuma
sendiri. Untunglah bahwa ia masih dapat menahan diri untuk tidak
mengatakannya. Ia merasa lebih aman jika Kiai Gumrah dan tentu juga
Ki Prawara yang berilmu tinggi itu, tidak mengetahui, bahwa
sebenarnya ia sudah tahu tentang kemampuan orang tua itu.
Demikianlah, maka sejenak kemudian, Darpatipun sudah meninggalkan
rumah Kiai Gumrah. Demikian Darpati itu hilang dibalik regol, maka
Kiai Gumrahpun berkata "Duduklah Winih. Aku ingin berbicara dengan
kau, kedua orang tuamu dan orang kakakmu, nampaknya memang ada yang
penting kita bicarakan." Winih mengerutkan dahinya. Tetapi ia tidak
membantah. Iapun kemudian duduk lagi diamben yang besar itu bersama
ayah dan ibunya serta Manggada dan Laksana. "Apa yang ingin kakek
katakan" wajah Winih sudah mulai cemberut. Ia tahu bahwa ayahnya
akan berbicara tentang Darpati. "Winih" berkata kakeknya kemudian
"bagaimana tanggapanmu tentang Darpati?" "Maksud kakek?" Winih
justru bertanya. "Apakah menurut pendapatmu Darpati itu seorang yang
baik, jujur dan dapat dipercaya?" "Kakek. Darpati adalah seorang
yang berilmu tinggi dan mempunyai wawasan yang sangat luas. Ia baik
dan bertanggung jawab." jawab Winih. "Apakah menurut pendapatmu ia
melakukannya dengan jujur ?" desak kakeknya. Winih termangu-mangu.
Nampak kerut yang dalam didahi-nya. Dengan ragu ia berkata “Aku
tidak melihat bahwa Darpati berpura-pura. Ia telah mempertaruhkan
ilmunya ketika ampat orang itu tiba-tiba saja menyerang." "Bagaimana
sikapnya terhadap seorang gadis?" bertanya kakeknya pula. "Bukankah
sikapnya baik sekali? Seperti yang aku katakan, ia seorang yang
bertanggung-jawab." jawab Winih. "Bagiku sikapnya justru terlalu
baik. Ia bersikap sangat akrab meskipun kau baru dikenalnya. Sama
sekali ia tidak merasa canggung." Berkata Kiai Gumrah. "Ya. Ia sama
sekali tidak merasa canggung." jawab Winih. "Dan tidak mempunyai
perasaan segan" Ki Prawara meneruskan. "Ya" jawab Winih. "Kau benar
Winih. Darpati sama sekali tidak merasa canggung dan segan meskipun
kau baru dikenalnya kemarin. Kau tahu artinya atas sikapnya itu?"
bertanya Ki Prawara. Winih mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak
segera mengetahui maksud ayahnya. Karena itu, maka iapun bertanya
"Apakah yang ayah maksudkan? Aku tidak mengerti." "Winih" berkata Ki
Prawara "menilik sikapnya yang sama sekali tidak canggung dan
segan-segan lagi terhadapmu yang baru saja dikenalnya, maka menurut
pendapatku, Darpati adalah seorang anak muda yang telah terbiasa
berhubungan dengan perempuan. Mungkin mereka adalah gadis-gadis
remaja, mungkin sudah dewasa, tetapi mungkin juga
perempuan-perempuan yang lebih masak lagi." "Ayah" Winih benar-benar
terkejut. “Winih. Kau adalah seorang gadis yang baru saja memasuki
usia dewasa. Kau baru menginjak satu masa pancaroba. Sementara itu,
kau belum mengenal liku-liku kehidupan cukup jauh. Karena itu, jika
kau mau mendengar kata-kata ibu, ayah dan kakek, maka kau jangan
bergaul terlalu rapat dengan Darpati" berkata ibunya kemudian. Wajah
Winih menjadi tegang. Dengan nada berat ia bertanya “Ibu, ayah dan
kakek mencurigainya bahwa ia tidak jujur?" bertanya Winih. Nyi
Prawara memandang mata Winih yang memancarkan kegelisahan hatinya
yang sangat. Namun dengan nada dalam Nyi Prawara itu menjawab "Ya
Winih. Kami tidak dapat berkata lain, bahwa kami memang mencurigai
Darpati, bahwa ia tidak jujur terhadapmu." Mata Winih menjadi basah.
Katanya "Bagaimana kakek, ayah dan ibu dapat menganggap bahwa ia
tidak jujur, justru ia sudah menunjukkan jasanya yang besar. Ia
menolongku ketika Rambatan dan kawan-kawannya menggangguku,
sementara kakang Manggada dan Laksana tidak berbuat apa-apa. Iapun
telah menyelamatkan aku ketika aku diancam untuk dibawa oleh ampat
orang yang tidak dikenal, sementara kakang Manggada dan Laksana
berdua tidak dapat berbuat banyak. Bahkan kakang Manggada dan
Laksana belum tentu akan dapat mempertahankan nyawanya sendiri."
"Tetapi bukankah Darpati yang mengajakmu ke tempat yang sepi itu?"
bertanya ibunya pula. "Jadi maksud ibu, Darpati telah menempatkan
orangorangnyaditempat itu?" desak Winih. Ibunya menarik nafas
dalam-dalam. Katanya agak sendat "Kami belum memastikan bahwa hal
itu dilakukannya, Winih. Tetapi kami mengambil kesimpulan sementara,
bahwa Darpati telah melakukannya. Kami juga menghubungkan kehadiran
dua ekor burung elang berkuku baja itu. Luka Manggada dan Laksana
menunjukkan, bahwa kedua ekor burung elang itu memang sangat
berbahaya. Bekas kuku-kukunya yang mengoyak bukan saja kulitnya,
tetapi juga daging kakak-kakakmu. Sementara itu Darpati sama sekali
tidak diganggu oleh kedua ekor burung elang itu." "Tetapi Darpati
sudah bertempur melawan dua orang." jawab Winih. "Apakah kau sempat
memperhatikan pertempuran itu?" bertanya ibunya dengan nada lebih
keras. Winih tertunduk dalam-dalam. Perhatiannya memang tertarik
pada sepasang burung elang yang menyerang Manggada dan Laksana
disamping kedua orang lawannya. "Sudahlah" berkata Kiai Gumrah "kita
memang masih harus menyeledikinya. Namun yang penting kau ketahui
Winih, bahwa sikap Darpati kepadamu menunjukkan bahwa ia sudah
terbiasa bergaul dengan perempuan jenis apapun juga. Ketahuilah dan
pertimbangkan hal ini baikbaik." Kata-kata kakeknya itulah yang
justru menyentuh perasaannya yang paling dalam. Winih memang menjadi
sedih mendengarnya. Sebagai gadis yang tumbuh dewasa, Winih memang
jarang bergaul dengan laki-laki. Sebagaimana dengan kawan-kawannya,
jika seorang gadis tumbuh mendekati masa dewasanya, maka
pergaulannya dengan anak-anak muda justru menjadi semakin jauh.
Meskipun demikian, masih nampak pada mata Winih yang basah, bahwa ia
masih belum percaya sepenuhnya kata-kata kakek, ayah dan ibunya.
Baginya Darpati adalah seorang laki-laki yang memiliki tanggung
jawab yang sangat besar. Tetapi Winih tidak lagi menjawab. Kiai
Gumrahpun kemudian telah meninggalkan ruangan itu untuk pergi ke
kebun. Nyi Prawarapun telah kembali ke dapur, sementara Ki Prawara
pergi ke halaman depan. Yang tinggal diruang dalam adalah Manggada,
Laksana dan Winih yang masih merenungi persoalan yang menyangkut
Darpati. Kepada Manggada dan Laksana Winih itu bertanya "Kakang,
jika Darpati sengaja memancing kita kedalam jebakannya di dekat
pancuran itu, apa yang mereka kehendaki?” Manggada dan Laksana
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Manggadapun menjawab "Kami
tidak tahu pasti Winih. Tetapi jika ia berhasil menyelamatkanmu,
maka dimatamu, ia tentu benar-benar menjadi seorang pahlawan.” Winih
memandang Manggada dengan tajamnya. Katanya "Apakah ia menjadi
sejahat itu?" Namun Laksana itu justru menjawab "Mungkin lebih jahat
dari itu Winih. Mungkin Darpati benar-benar ingin membunuh kami
berdua, namun-tanpa meninggalkan jejak kejahatannya." "Kenapa ia
ingin membunuh kalian berdua?" bertanya Winih. Agaknya hati Laksana
lebih terbuka dari Manggada. Karena itu, maka jawabnya menirukan
pendapat Nyi Prawara "Mungkin Darpati tahu bahwa kau bukan adikku
dan bukan adik kakang Manggada. Maksudku, bukan adik kandung atau
sepupu atau sama sekali bukan sanak kadang." "Lalu, kenapa jika
demikian?" bertanya Winih. "Darpati tidak ingin melihat seorang anak
muda ada didekatmu" jawab Laksana. Wajah Winih menjadi merah.
Ternyata ia menjadi marah mendengar kata-kata Laksana itu. Dengan
suara bergetar ia berkata "Jadi selama ini kau menganggap bahwa
kehadiranku, sikapku dan keakrabanku terhadap kalian itu kau artikan
sebagaimana sikap seorang gadis terhadap seorang anak muda? Kakang,
ternyata kaulah yang tidak jujur terhadapku. Selama ini aku
menganggap kalian sebagai kakak-kakak kandungku sendiri." Winihpun
segera bangkit berdiri dan hampir saja ia melangkah pergi. Namun
Manggadalah yang kemudian berkata dengan sabar "Winih. Dengarlah
penjelasan kami. Ternyata kau salah paham." "Tidak. Aku tidak salah
paham. Aku tahu benar apa yang kalian maksudkan" jawab Winih.
"Tunggu Winih. Seandainya kau tahu benar maksud kami, kami masih
ingin menambah pengertianmu sedikit saja. Duduklah." berkata
Manggada. Winih memang duduk. Tetapi wajahnya masih saja nampak
gelap. Bukan saja kekecewaannya terhadap sikap kakek, ayah dan
ibunya, tetapi juga sikap Manggada dan Laksana. "Winih" berkata
Manggada "kami tidak sedang mengatakan sikap batinmu. Aku tahu bahwa
kau telah menganggap kami berdua sebagaimana kakak kandungmu
sendiri. Kami berduapun menganggapmu sebagai adik kandungku sendiri.
Sehingga dengan demikian, maka apa yang kami lakukan, adalah
ungkapan sikap seorang kakak terhadap adiknya. Tetapi yang kami
katakan adalah sikap batin Darpati. Ia tahu bahwa aku dan Laksana
bukan kakak kandungmu, bukan pula sepupumu dan bahkan bukan
sanak-kadangmu sendiri. Karena itu, maka Darpati berpendapat, bahwa
ada kemungkinan, aku atau Laksana ingin berdiri menjadi sekat
keinginannya untuk mendekatimu. Karena itu, maka baik aku maupun
Laksana harus disingkirkan dengan caranya, a-gar tidak meninggalkan
jejak." "Hati kalianlah yang berbulu. Kalian menuduh Darpati berbuat
jahat. Tetapi bukabkah dihati kalian sendiri tumbuh niat seperti
itu? Kalian ingin menyingkirkan Darpati, jika tidak merampas
nyawanya karena kalian tidak mampu, juga dengan menghancurkan nama
baiknya. Agaknya kakek, ayah dan ibu mulai terpengaruh oleh
tanggapan kalian terhadap Darpati." sahut Winih. "Winih" berkata
Manggada yang mulai berkeringat mengendalikan perasaannya yang
bergejolak "kau harus mencoba mendengarkan kata-kata kami."
Laksanalah yang menjadi hampir tidak sabar. Tetapi karena ia
mengingat bahwa gadis itu adalah cucu Kiai Gumrah, maka Laksana
dengan susah payah masih mengendalikan dirinya. "Apa lagi yang harus
aku dengar?" bertanya Winih. "Apapun yang kami lakukan, adalah
karena kami menganggapmu sebagai adik kandung kami sendiri. Kami
tidak mau melihat kau ditelan oleh serigala yang ganas, namun yang
mengenakan bulu domba itu." berkata Manggada "sekali lagi harus kau
sadari, bahwa yang kami katakan adalah sikap batin Darpati. Bukan
sikap hatimu. Kau harus yakin, bahwa kami tidak dapat menganggapmu
lain daripada adik kandung. Itupun merupakan satu kehormatan yang
tidak ada taranya, karena kami adalah anak-anak terbuang yang
mengembara menyusuri loronglorong sempit, lereng-lereng terjal dan
tepi-tepi hutan yang pepat. Disiang hari kami berpayung matahari dan
dimalam hari kami berkandang langit dan berselimut awan. Dengan
demikian, bagaimana kanii berani memikirkan atau bahkan
berangan-angan jauh melampaui derajat dan martabat kami sebagai
pengembara yang. tidak berharga?" Winih mengerutkan dahinya. Namun
kemudian iapun Iri senyum sambil berkata lembut "Maaf kakang. Tetapi
kakang jangan merajuk seperti itu. Seharusnya sebagai seorang
laki-laki kakang menjadi marah kepadaku." "Winih" desis Manggada
"seandainya aku tidak menganggapmu sebagai adik kandungku, maka aku
tentu akan marah, karena aku tidak berhak bersikap demikian
terhadapku." "Aku minta maaf kepada kakang berdua" desis Winih pula.
"Baiklah Winih" berkata Manggada kemudian "aku akan melupakannya.
Tetapi apa yang aku katakan tentang Darpati sama sekali bukan
fitnah. Tetapi benar-benar muncul dari nurani kami, kakak-kakak
kandungmu. Mudah-mudahan dugaan kami itu tidak benar sehingga
persoalannya tidak akan berekor dengan luka-luka dihatimu dan dihati
ayah, ibu serta kakekmu. Jika kau percaya, tentu juga dihatiku dan
dihati Laksana." "Aku berterima kasih bahwa kalian tidak menjadi
marah kepadaku kakang." bertaka Winih kemudian. "Jika kau, mau
mendengarkan kata-kata kami, kata-kata kakek, ayah serta ibumu, maka
kami akan menjadi sangat berbahagia." jawab Manggada, Winihpun
kemudian bangkit berdiri sambil berdesis "Kakang, aku akan
memperhatikan keteranganmu, keterangan ayah, kakek dan ibu. Tetapi
kenyataanlah yang akan membuktikan, apakah anggapan kalian terhadap
Darpati itu benar." "Tentu saja Winih. Tetapi kesadaranmu jangan
datang terlambat" berkata Manggada. Winih mengangguk sambil
tersenyum. Namun kemudian iapun melangkah kedapur sambil berdesis
“Aku harus membantu ibu." Demikian Winih hilang dibalik pintu,
Laksana tiba-tiba saja berkata "Apa pula yang kau lakukah? He, Winih
sendiri berkata kepadamu, jangan merajuk. Seharusnya kau marah.
Kenapa justru kau berkata dengan nada cengeng tentang pengembaraan
kita, seolah-olah kita disiang hari berpayung matahari dan dimalam
hari hati kita berkandang langit berselimut awan." Manggada tertawa
tertahan. Katanya "Tetapi bukankah hati Winih menjadi luluh? Apa
katanya? Ia telah minta maaf kepada kita berdua. He, Laksana.
Seorang gadis yang sedang mulai menapakkan kakinya kedalam dunia
mimpi, maka ia akan lebih mudah tersentuh oleh kata-kata yang
sedikit merajuk seperti itu." Laksana mengerutkan dahinya. Namun
iapun kemudian tertawa. Katanya "Pantas Winih menyebut kita tidak
jujur. Ternyata kau memang pandai berpura-pura." "Tetapi bukankah
kita tidak bermaksud buruk?" Laksana mengangguk. Katanya ."Ya. Kita
memang tidak bermaksud buruk." "Nah, kita sekarang akan turun ke
kebun. Kita akan membantu Kiai Gumrah." ajak Manggada. Namun Laksana
sempat berdesis "Tetapi mata Darpati tidak kabur." "Kenapa?"
bertanya Manggada. Laksana tersenyum. Perlahan-lahan ia berdesis
"Winih memang cantik." "Ah, kau" sahut Manggada "ketika kita
menyelamatkan gadis yang hampir saja menjadi korban keris Panembahan
itu, kau mengatakan bahwa gadis itu cantik sekali. Kemudian ketika
kita membantu menyelamatkan Mas Rara, kau berkata bahwa Mas Rara
adalah gadis yang sangat cantik. Sekarang kau bertemu dengan Winih,
kau berkata bahwa Winih adalah seorang gadis yang memang cantik."
Laksana tertawa. Hampir saja ia tidak dapat menahan suara
tertawanya. Namun kemudian ia menutup mulutnya dengan telapak
tangannya. Tetapi ia sempat berdesis "Ketiga-tiganya telah kita
pertaruhkan dengan nyawa kita." "Sudahlah" desis Manggada "kau
jangan mengigau begitu." Laksana tidak menjawab. Tetapi ia masih
tersenyum sambil melangkah mengikuti Manggada yang pergi ke halaman
belakang. Demikian keduanya berada dipintu butulan, mereka melihat
Kiai Gumrah yang telah berdiri di longkangan bersama Ki Prawara
memandang ke udara. Tanpa ragu-ragu Manggadapunj menebak "Burung
elang itu lagi, kek?" "Ya. Kemarilah. Biarlah burung itu melihat
bahwa kau berdua telah selamat sampai dirumah ini." Manggada dan
Laksanapun segera turun ke longkangan. Mereka melihat sepasang
burung elang yang terbang berputar-putar. Yang seekor tentu bukan
elang yang telah terluka. Sedangkan yang seekor lagi nampaknya juga
masih segar. Tetapi mereka memang tidak dapat membedakan seekor
elang dengan elang yang lain. Beberapa saat burung elang itu
berputar-putar diatas rumah Kiai Gumrah. Sementara Manggada berdesis
hampir kepada diri sendiri "Apakah ada semacam isyarat buat
Darpati?" Manggada terkejut ketika ia mendengar Ki Prawara bertanya
"Kau yakin ada hubungan antara burung-burung itu dengan Darpati
sehingga dengan demikian kau yakin bahwa yang telah terjadi itu
sengaja dilakukan oleh Darpati sebagai jebakan?" Manggada dan
Laksana saling berpandangan sejenak. Baru kemudian Manggada menjawab
sambil mengangguk kecil "Kami hanya menduga paman. Tetapi menurut
pendengaran kami atas beberapa pendapat dari paman sendiri, kakek
dan bibi agaknya memang demikian. Namun Winih akan berpendapat
lain." Ki Prawara mengangguk-angguk, Ketika Ki Prawara itu kemudian
menengadahkan wajahnya, maka burung elang itu sudah terbang menjauh
dan kemudian hilang dikejauhan. "Winih telah membuat kepalaku
menjadi pening" berkata Ki Prawara "aku menyesal membawanya kemari
sehingga ia bertemu dengan Darpati. Bagiku Darpati jauh lebih
berbahaya dari Rambatan, karena kita tahu dengan pasti, siapakah
Rambatan itu dan seberapa tinggi kemampuannya. Tetapi Darpati bagi
kita masih terlalu asing. Sementara Winih telah langsung tertarik
melihat ujud orang itu. "Tetapi bagi seorang gadis seumur Winih,
kita masih mempunyai kesempatan untuk mengarahkannya. Menurut
pendapatku, sebaiknya kita berterus-terang bahwa kita menduga bahwa
Darpati adalah salah seorang dari antara mereka yang ingin mengambil
pusaka-pusaka itu." berkata Kiai Gumrah. "Aku juga berpikir demikian
ayah. Tetapi apakah Winih percaya? Apakah ia tidak mengira bahwa itu
adalah sekedar alasan kita untuk mencegahnya berhubungan dengan
Darpati?" "Kita akan mencobanya." berkata Kiai Gumrah. Ki Prawara
mengangguk-angguk. Katanya "Baiklah ayah. Kita memang harus
berbicara dengan terbuka terhadap gadis itu. Kita berharap bahwa ia
akan dapat mengerti apa yang sebaiknya dilakukan. Kita tidak ingin
Winih menjadi semakin jauh terjerumus kedalam ikatan batin dengan
Darpati." Kiai Gumrah mengangguk-angguk saja. Namun katanya kemudian
kepada Manggada dan Laksana "Kalian harus membantu kami." " Ya
kakek." jawab Manggada dan Laksana. "Baiklah" jawab Kiai Gumrah
"kita harus menjaga agar persoalan kita tidak menjadi semakin kusut.
Sementara Kiai Windu Kencana tentu sudah membicarakan rencananya
semakin masak. Waktu kita menjadi semakin sempit. Orang yang kita
harapkan dapat memberikan keterangan adalah Kundala. Tetapi jika
benar Darpati adalah salah seorang diantara mereka, maka Kundala
akan semakin sulit menghubungi kita. Apalagi jika pada suatu saat
Darpati ada disini, sengaja atau tidak sengaja melihat Kundala
singgah." Ki Prawara mengangguk-angguk. Katanya "Kita harus
menemukan satu cara untuk menyingkirkan Darpati dari Winih." Tetapi
Ki Prawara dan Kiai Gumrah sepakat untuk berbicara langsung dengan
Winih lebih dahulu. Menjelang sore hari, maka Manggada dan Laksana
telah melakukan tugasnya sehari-hari. Mereka telah berada di banjar
untuk membersihkan halaman banjar menggantikan pekerjaan Kiai
Gumrah. Mengisi lampu dan kemudian menyiapkannya. Jika senja turun,
maka mereka tinggal menyulutnya saja. Namun dalam pada itu, seorang
anak muda yang agaknya tergesa-gesa datang menemui mereka. "Ada
apa?" bertanya Manggada. "Rambatan" desis anak muda itu. "Kenapa
dengan Rambatan?" bertanya Laksana sambil mengerutkan dahinya. "Ia
mendendammu " jawab anak muda itu. "Kenapa dendam aku?" bertanya
Laksana pula. "Ketika ia berniat mengajak adikmu singgah dirumahnya,
maka niatnya itu telah terhalang." "Tetapi bukan kami yang
menghalanginya. Tetapi Darpati” "Nampaknya ia tidak berani melawan
orang itu. Selain itu ia tidak tahu dimana tinggalnya orang yang
telah memukulinya bersama dengan beberapa orang anak muda dari
pa-dukuhan kami." Manggada dan Laksana justru mulai mengingat-ingat.
Tetapi yang jelas kedua ekor harimau itu tidak menyerang Darpati.
"Jadi dendamnya ditimpakan kepada kami?" bertanya Manggada dengan
nada tinggi. "Ya. Bahkan bukan hanya itu. Tetapi Rambatan telah
mengadu kepada Ki Bekel. Meskipun Ki Bekel dan para bebahu padukuhan
ini tidak senang terhadap Rambatan dan tingkah lakunya, tetapi bahwa
anak-anaknya dipukuli oleh orang lain, Ki Bekel agaknya menjadi
marah juga." "Apakah Rambatan telah mengelabui Ki Bekel dengan
keterangan palsu?" bertanya Manggada. "Tidak. Ki Bekel sudah
mendapat laporan tentang apa yang terjadi. Ki Bekel memang menjadi
marah kepada Rambatan dan memberinya peringatan. Tetapi disamping
itu, Ki Bekel tidak mau anak padukuhan ini dipukuli oleh orang
lain." "Bukankah Rambatan berbuat salah? Jika tidak ada orang lain
itu, maka adikku dapat saja mengalami hal yang buruk." jawab anak
muda itu. "Menurut Ki Bekel, Rambatan harus dilaporkan kepadanya.
Bukan dipukuli dan bahkan dilukai" jawab anak muda itu. "Terlambat.
Jika saat itu, kami harus melapor kepada Ki Bekel, maka yang tidak
diinginkan mungkin sudah terjadi. Sementara itu memang Rambatan dan
kawan-kawannya yang justru mendahului sehingga timbul perselisihan
itu." berkata Laksana. "Ya. Aku mengerti. Tetapi berhati-hatilah.
Atau pulang sajalah. Rambatan dan kawan-kawannya kadang-kadang tidak
dapat menahan diri." berkata anak muda itu. "Tetapi jika ia berbuat
demikian, maka Darpati akan marah. Ia dapat berbuat banyak atas
Rambatan dan kawan-kawannya." jawab Manggada. "Betapapun tinggi
kemampuan orang itu, tetapi Rambatan dapat menggerakkan banyak
anakanak muda padukuhan ini. Senang atau tidak senang, anak-anak
muda itu tidak berani menolak jika Rambatan minta agar mereka
melakukannya." berkata anak muda itu. "Jika dasarnya adalah karena
mereka takut terhadap Rambatan dan kawan-kawannya, maka ketakutan
yang lebih besar akan mencegah mereka. Darpati pantas lebih ditakuti
dari Rambatan." jawab Manggada. "Tetapi orang yang bernama Darpati
itu tidak bertemu setiap hari dengan anak-anak muda di padukuhan
ini." berkata anak muda itu. Manggada dan Laksana termangu-mangu
sejenak. Namun kemudian Manggada berdesis "Baiklah. Kami akan
pulang. Pekerjaan kami memang sudah selesai. Tinggal nanti
menyalakan lampu-lampu minyak itu." Tetapi Laksana itupun bertanya
"Jika kami pulang, apakah Rambatan dan kawan-kawannya tidak akan
menyusul kami?" "Ada beberapa pertimbangan" berkata anak muda itu
"aku sudah berbicara dengan beberapa orang kawan. Rambatan agaknya
segan datang kerumahmu karena ada adikmu. Apalagi melakukan
kekerasan terhadap kalian berdua." Manggada dan Laksana
mengangguk-angguk. Katanya "Jika Kiai Gumrah tidak terlalu sibuk,
biar Kiai Gumrah sajalah nanti yang menyalakan lampu di banjar."
Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Dengan nada datar
Manggada berkata "Baiklah. Aku akan berbicara dengan kakek."
Demikianlah, maka Manggada dan Laksana itupun segera meninggalkan
banjar itu, sementara anak muda itupun telah pergi pula. Anak muda
itu berusaha agar kedatangannya tidak diketahui oleh Rambatan atau
kawankawannya yang seakan-akan telah menjadi pengikutnya. Ketika
Manggada dan Laksana sampai dirumah Kiai Gumrah, maka keduanya masih
saja ragu-ragu. Apakah mereka akan mengatakannya apa yang akan
dilakukan oleh Rambatan. Tetapi tiba-tiba saja Laksana berkata "Aku
tidak mau selalu menghindar dari setiap persoalan. Kita tidak akan
dapat terus-menerus bersembunyi, Kakek juga tidak. Sementara itu
Darpati sudah mengetahui bahwa kita bukan Rambatan.” Manggada
mengangguk angguk. Namun tiba-tiba ia berdesis "Darpati sama sekali
tidak merasa heran melihat kita berkelahi di dekat pancuran itu.
Agaknya ia memang sudah mengetahui bahwa kita memang bukan orang
yang sama sekali tidak berdaya." "Agaknya memang demikian. Ketika ia
melindungi Winih dari niat Rambatan mengajaknya singgah dirumahnya,
ia sengaja mencegah kita berbuat sesuatu, jika kita berbuat sesuatu,
maka kejantanannya akan menyusut dimata Winih." sahut Laksana.
Manggada termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya "Baiklah.
Kita tidak akan menyembunyikan diri untuk seterusnya. Kita akan
pergi ke banjar untuk menyalakan lampu nanti." "Kita tidak usah
minta pertimbangan kakek. Kita justru akan mengatakan kepada kakek,
bahwa kita tidak mempunyai kesempatan untuk mengelakkan diri dari
benturan kekerasan." berkata Laksana kemudian. Manggada
mengangguk-angguk. Rasa-rasanya memang menjemukan untuk
terus-menerus berpura-pura. Karena itu, maka keduanya memang tidak
mengatakan kepada Kiai Gumrah bahwa Rambatan akan mengajak
kawan-kawannya melontarkan dendam dan kemarahannya kepada mereka
berdua. Tidak seperti yang dikatakan mereka kepada anak muda itu,
maka Manggada dan Laksana justru dengan sengaja pergi ke banjar lama
itu untuk menyalakan lampu minyak. Mereka sama sekali tidak merasa
perlu lagi untuk menghindar, karena dengan demikian maka persoalan
antara mereka dan Rambatan justru tidak akan segera dapat
diselesaikan. Manggada dan Laksana kemudian sepakat, jika mereka
tidak melarikan diri, maka Rambatan dan kawan-kawannya tidak akan
menakut-nakuti mereka lagi. Ternyata anak muda yang datang
memberitahukan kepada mereka, bahwa Rambatan dan kawan-kawannya akan
datang itu tidak berbohong. Demikian lampu-lampu minyak di banjar
lama itu menyala, maka di halaman banjar itu telah menunggu beberapa
orang anak muda yang dipimpin oleh Rambatan. "Orang-orang yang
mencegat Winih di bulak itu" desis Manggada yang hanya didengar oleh
Laksana. Laksana menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Rambatan
benar-benar menjadi sakit hati. Agaknya ia ingin membangkitkan
kepercayaan kawan-kawan yang telah menjadi pengikutnya itu. Jika
mereka berhasil menghajar kami berdua, maka cacat nama Rambatan
karena kekalahannya dari Darpati akan sedikit dipulihkan." Tetapi
Laksana itupun berkata "Tetapi aku tidak mau dikalahkan. Aku akan
berbuat sebagaimana dilakukan oleh Darpati." Namun ketika keduanya
turun dari tangga pendapa banjar lama, yang berdiri dipaling depan
bukan Rambatan, tetapi seorang yang sebelumnya belum pernah dilihat
oleh Manggada dan Laksana. "Hati-hati terhadap orang ini" bisik
Manggada. Laksana mengangguk. Tetapi ia justru langsung melangkah
mendapatkan orang itu. Orang itu mengerutkan dahinya. Dengan
tajamnya ia memandang Laksana yang kemudian berdiri dihadapannya.
Seakan-akan tidak ada persoalan apapun, Laksana berkata "Selamat
malam, Ki Sanak. Apakah kalian mempunyai keperluan?" "Siapa kau?"
bertanya orang yang bertubuh kekuruskurusan itu. "Aku adalah cucu
Kiai Gumrah, yang terbiasa merawat banjar lama ini. Bukankah
Rambatan dan anak-anak muda padukuhan ini mengetahuinya? Tetapi
justru aku yang bertanya kepada Ki Sanak. Selama aku berada disini,
aku belum pernah bertemu dengan Ki Sanak. "Persetan dengan kau"
jawab orang itu "aku tidak peduli apakah kau mengenal aku atau
tidak. Tetapi dibulak itu kalian telah menyakiti hatiku, hati
kawan-kawanku." jawab orang itu. "Tetapi apa hubunganmu dengan
persoalan yang pernah terjadi antara Darpati dan Rambatan? Jika
Rambatan mendendam dan datang kepadamu untuk minta bantuanmu, maka
sasaran dendamnya seharusnya adalah Darpati, bukan kami" berkata
Laksana. "Tidak ada dendam dan aku tidak peduli dengan Darpati. Aku
datang membalas sakit hatiku dan sakit hati kawan-kawanku." "Ya.
Tetapi kenapa kau dan kawan-kawanmu menjadi sakit hati kepada kami?
Jangan berputar-putar. Berkatalah terus-terang. Rambatan gagal
mengganggu adikmu Winih. Tetapi ia tidak berani membalas dendam
kepada Darpati. Sekarang ia datang kepadaku bersama kawan-kawannya,
bahkan dengan kau yang asing bagi padukuhan ini." Laksana berkata
lantang. "Persetan semuanya itu. Aku tidak peduli. Apapun sebab dan
alasannya, bahkan seandainya tanpa alasan sekalipun. Kami ingin
memukuli kalian berdua sampai kalian berdua tidak dapat bangkit
berdiri. Itu saja." Laksana menggeram. Wajahnya menjadi panas.
Dengan geram ia berkata "Kau kira kami akan menyerahkan diri kami
untuk diperlakukan demikian? He, berapa kau diupah untuk berbuat
demikian atasku oleh Rambatan?" "Setan kau " jawab orang itu dengan
suara bergetar oleh kemarahan yang menghentak dadanya "aku bukan
orang upahan." "Tentu kau orang upahan" jawab Laksana "apapun ujud
upahnya. Mungkin bukan uang. Mungkin kesempatan, mungkin pujian atau
mungkin kau ingin menjadi pahlawan dan dikagumi kawan-kawanmu."
"Cukup. Kau yang hanya dua orang itu akan berbual apa, he? Jika
kalian mempersulit diri, maka nasib kalian akan semakin buruk. Lebih
buruk lagi jika kami nanti datang kerumahmu untuk mengambil adikmu
itu. Karena itu, sebaiknya kalian dengar dan lakukan perintah kami."
"Melakukan perintahmu untuk memukuli diri sendiri" bertanya Laksana.
"Satu pendapat yang bagus" berkata orang yang tinggi kekurus-kurusan
itu. Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Sambil tersenyum
orang itu berkata "Kami ingin melihat kalian berdua berkelahi.
Kalian harus bersungguh-sungguh sehingga salah seorang diantara
kalian tidak dapat bangkit lagi. Nah. yang menang akan kami maafkan.
Yang kalah, akan mengalami nasib yang lebih buruk lagi." Tetapi
Laksana tersenyum. Katanya "Bagaimana jika kalian saja yang
berkelahi? Yang menang akan aku maafkan.” Wajah orang itu menjadi
merah. Sambil berpaling kepada Rambatan ia berkata "Rambatan. Aku
sependapat dengan kau, bahwa kedua-duanya harus mendapat pelajaran
yang setimpal dengan kesombongannya. Mereka telah berpihak kepada
orang yang dengan sengaja melawanmu. Nah, sekarang kau pantas
memberikan hukuman kepada mereka. "Jangan menunggu lagi" berkata
Rambatan "aku sudah tidak sabar." "Marilah" berkata orang yang
kekurus-kurusan itu "kita sebagaimana aku katakan, akan memukuli
mereka sampai mereka tidak dapat bangkit lagi." Adalah tidak diduga
sama sekali, bahwa tiba-tiba saja Laksana justru telah meloncat
menyerang orang yang kekurus-kurusan itu. la menganggap bahwa orang
itu adalah orang yang paling diandalkan diantara sekelompok orang
yang dipimpin oleh Rambatan itu. Serangan yang tiba-tiba itu sangat
mengejutkan orang yang tinggi agak kekurus-kurusan itu. Karena itu,
maka ia tidak sempat menghindar. Yang dapat dilakukan adalah
berusaha melindungi dadanya yang menjadi sasaran serangan kaki
Laksana dengan tangannya. Serangan Laksana demikian kerasnya
didorong oleh segenap kekuatannya. Kakinya yang terjulur itu telah
menghantam tangan orang yang kekurus-kurusan yang bersilang
didadanya. Demikian kerasnya serangan itu, sehingga dorongan
kekuatannya yang menghentak pada tangan yang bersilang itu telah
menekan dadanya pula. Orang itupun telah terdorong beberapa langkah
surut. Bahkan iapun telah kehilangan keseimbangannya, sehingga
terhuyung-huyung menimpa beberapa orang yang berdiri dibelakangnya.
Namun dengan demikian orang itu tidak jatuh terlentang di halaman
banjar itu. Dengan sigapnya orang itu segera memperbaiki
keseimbangannya yang goyah. Sejenak kemudian ia sudah berdiri tegak
sambil mengumpat. Namun kemudian mulutnya harus menyeringai menahan
sakit. Dadanya serasa menjadi sesak. Sedangkan tulang-tulang iganya
bagaikan menjadi retak. "Setan yang licik" geram orang itu. Tetapi
Laksana tidak mau mendengarnya. Iapun dengari cepat telah menyerang
pula. Rambatan juga terkejut melihat serangan Laksana. Ia tidak
menduga sama sekali, bahwa Laksana itu mampu bergerak demikian
cepatnya. Dengan mendorong kawannya yang bertubuh kekurus-kurusan
itu sehingga kehilangan keseimbangannya. Karena itu, maka dengan
cepat Rambatan mempersiapkan diri. Ia adalah anak muda yang ditakuti
oleh seisi padu-kuhan itu. Karena itu, maka iapun dapat bersikap
garang pula. Tetapi Manggada dengan cepat mendapatkannya sambil
berkata "Jangan campuri persoalan mereka." "Iblis kau. Ternyata
kalian tidak tahu diri. Kalian harus menyadari dengan siapa kalian
berhadapan." "Aku tahu. Aku berhadapan dengan Rambatan" jawab
Manggada. "Dan kau tahu siapa Rambatan itu?" bertanya Rambatan itu
lagi. "Tentu. Kau adalah anak muda yang disegani dipadukuhan ini.
Sehingga kau seakan-akan dapat berbuat apa saja menurut kehendakmu
sendiri." "Nah, jika demikian, kenapa kau berani menentang aku?"
"Karena aku bukan orang padukuhan ini" jawab Manggada “aku datang
kepadukuhah ini hanya sekedar untuk menengok kakekku. Karena itu,
maka aku tidak terikat oleh keadaan yang berlaku di padukuhan ini.
Juga keseganan anak-anak muda padukuhan ini terhadapmu." "Kau akan
menyesal anak sombong. Apalagi jika mau tahu, siapakah kawanku itu."
geram Rambatan. "Siapa?" bertanya Manggada. "Ia datang dari jauh. Ia
datang untuk menolongku dari penghinaan orang seperti yang kau sebut
Darpati itu. Dan apalagi kau berdua. Malam ini kami akan membuat
kalian jera. Besok atau lusa kami akan menghancurkan Darpati."
“Siapakah orang itu?" desak Manggada. “Kau tidak perlu tahu lebih
banyak. Tetapi ia seolah-olah datang dari langit." Manggada termangu
mangu sejenak. Ia sempat melihat bagaimana Laksana bertempur melawan
orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu. Rambatan yang juga
berpaling kepada kawannya yang kekurus-kurusan itu, sempat terkejut.
Laksana telah mendesaknya sehingga beberapa kali orang itu
berloncatan surut. Namun Rambatanpun kemudian membentak
kawankawannya yang seperti kebingungan menyaksikan pertempuran itu
"He, kenapa kau menjadi seperti patung." Seorang kawannya menjawab
"Bukankah orang itu tidak mau diganggu jika ia sudah mulai
bertempur?" "Persetan. Sekarang, hancurkan yang satu ini." perintah
Rambatan. Kawan-kawan Rambatan itupun segera bergerak. Namun seperti
Laksana, maka Manggadapun tidak mau terlambat. Dengan cepat ia
menyerang seorang yang ingin menunjukkan keberaniannya, maju terlalu
dekat dengan Manggada. Serangan Manggadapun tidak tanggung-tanggung
pula. Begitu cepat dan langsung kesasaran. Dengan dilandasi
kekuatannya yang besar, maka kakinya yang telah terlatih itu
terjulur langsung menikam arah ulu hati. Anak muda yang dikenai
serangan itu mengaduh. Tubuhnyapun kemudian terbanting jatuh
terguling ditanah. Namun iapun kemudian telah berguling-guling
sambil memegangi arah ulu hatinya yang bagaikan terkoyak itu.
Rambatan yang marahpun menerkamnya. Rasa-rasanya ia ingin meremas
leher Manggada yang telah melumpuhkannya seorang kawannya. Tetapi
Manggada yang terlatih itu tidak mudah untuk disentuhnya. Karena
itu, maka tangannya sama sekali tidak mengenai sasaran. Sementara
itu Manggadapun telah berloncatan diantara beberapa orang lawannya.
Kakinya yang terayun mendatar telah menyambar seorang lagi diantara
kawan-kawan Rambatan. Orang itu masih berusaha menahan ayunan kaki
Manggada dengan tangannya. Tetapi ayunan kaki itu demikian kerasnya,
sehingga tangan orang itu justru bagaikan dihentakkan dengan sangat
kerasnya sehingga tulangnya serasa menjadi retak. Orang itu mengaduh
tertahan. Iapun meloncat beberapa langkah surut sambil memegangi
sebelah tangannya dengan tangannya yang lain. Rambatan memang
menjadi semakin marah. Tetapi Manggadapun tidak ingin bertempur
terlalu lama. iapun segera berloncatan. Kaki dan tangannya
menyambarnyambar seperti burung sikatan. Kawan-kawan Rambatanpun
seakan-akan telah kehilangan kesempatan melawan. Ketika mereka
melawan Darpati, mereka tidak tahu apa yang terjadi atas diri
mereka. Yang mereka ketahui adalah, bahwa mereka telah terlempar dan
kesakitan. Namun melawan Manggada mereka juga tidak mempunyai
kesempatan untuk membalas serangan-serangan yang datang beruntun.
Bahkan Rambatanpun kemudian menjadi bingung ketika kedua tangan
Manggada telah mengenai kedua sisi pelipisnya hampir bersamaan.
Sementara itu, Laksana masih bertempur melawan orang yang
kekurus-kurusan itu. Ternyata bahwa orang itu juga memiliki bekal
kemampuan yang cukup. Karena itu, maka Laksana harus mengerahkan
kemampuannya untuk mengatasinya. Beruntunglah Laksana bahwa ia telah
menyerang lebih dahulu, sehingga setiap kali orang itu harus
memegangi dadanya yang menjadi sakit serta nafasnbya yang sesak,
sehingga bagaimanapun juga dapat mengganggu kemantapannya bertempur.
Namun Laksana telah ditempa selain oleh ayahnya, juga kesempatannya
untuk meningkatkan ilmunya dalam bimbingan Ki Ajar Pangukan. Karena
itu, meskipun lawannya juga berbekal ilmu, namun Laksana sama sekali
tidak tergetar karenanya. Bahkan semakin lama semakin nampak bahwa
Laksana memiliki kelebihan dari lawannya itu. Dalam pada itu,
Ramnbatan memang mengalami kesulitan pula menghadapi Manggada.
Bersama kawankawannya ia telah menjadi semakin terdesak. Dua orang
kawannya telah menjadi kesakitan. Kemudian Rambatan telah beberapa
kali dikenai oleh serangan-serangan Manggada. Kemampuannya mulai
disengat oleh perasaan nyeri. Bahkan kemudian bahu-nyapun telah
kesakitan pula. Sedangkan serangan-serangan Manggada semakin lama
justru menjadi semakin cepat. Meskipun tidak segarang Darpati, namun
Manggada ternyata memang tidak mudah dikuasai oleh Rambatan dan
kawan-kawannya, bahkan seorang lagi telah terlempar dari perkelahian
itu dan terdorong jatuh menimpa sebatang pohon di halaman banjar
lama itu. Sehingga kepalanya menjadi sangat pening. Ketika ia
mencoba untuk bangkit ternyata halaman banjar itu rasa-rasanya
menjadi berputar. Karena itu, maka o-rang itupun telah menjatuhkan
dirinya dan duduk sambil menyembunyikan wajahnya dibelakang kedua
tangannya. Namun bumi tempat ia duduk itupun rasa-rasanya masih saja
berputar. Rambatan menjadi semakin marah. Tetapi ia harus melihat
kenyataan. Kawan-kawannya menjadi semakin berkurang. Sementara itu,
orang yang kekurus-kurusan, yang diharapkannya akan dapat
menyelesaikan persoalan, ternyata juga mengalami kesulitan melawan
Laksana. Orang yang kekurus-kurusan itu mengumpat sejadijadinya
ketika ia terlempar beberapa langkah surut karena kaki Laksana telah
menghantam dada orang itu. Sambil menggeram orang itu telah
mengerahkan segenap kemampuannya. Namun Laksanapun telah
meningkatkan ilmunya pula. Ketika orang kekurus-kurusan itu mencoba
untuk menembus pertahanan Laksana dengan serangan tangannya yang
terayun mendatar kearah kening, maka Laksana sempat merendahkan
dirinya. Dengan cepat tangannya terjulur lurus dengan jari-jari
telapak tangannya yang merapat, keempat jari-jari tangannya itu
justru sempat menyusup dibawah ayunan tangan lawannya langsung
mengenai lambungnya. Orang itu menyeringai menahan sakit sambil
meloncat surut. Namun kemudian sambil mengerahkan segenap tenaganya,
dengan cepat orang itu melontarkan serangan kaki yang meluncur
mengarah kedada Laksana. Tetapi Laksana memang lebih mapan. Demikian
serangan itu datang, Laksana dengan cepat menjatuhkan dirinya. Kedua
kakinya sempat terbuka dan bagaikan menyuruk menjepit kaki lawannya
yang satu lagi. Demikian Laksana memutar tubuhnya, maka lawannya itu
bagaikan dihentakkan jatuh kesamping. Orang yang bertubuh
kekurus-kurusan itu tidak menahan dirinya, karena ia sadar, bahwa
hal itu tidak mungkin dilakukan. Jepitan dan putaran kaki Laksana
terlalu kuat untuk ditahan. Karena itu, maka ia justru menjatuhkan
dirinya dan berusaha untuk berguling beberapa kali sambil melepaskan
jepitan kaki Laksana. Dengan tangkasnya orang itu melenting berdiri.
Namun ternyata Laksana bergerak lebih cepat. Demikian orang itu
berdiri, maka tangan Laksana telah terjulur menyambar dagunya.
Pukulan itu telah menghentakkannya sehingga kepalanya terangkat.
Dengan cepat serangan berikutnya telah menyusul pula. Tangan Laksana
telah menghantam perut lawannya yang kekurus-kurusan itu sesaat
kepalanya terangkat. Pukulan Laksana itu menjadi demikian kerasnya
sehingga orang itu terbungkuk kesakitan. Tetapi ternyata bahwa orang
itu memiliki tubuh yang liat. Demikian Laksana mengayunkan sisi
telapak tangannya kearah tengkuknya saat ia membungkuk, ternyata
orang itu sempat membentur tubuh Laksana dengan kepalanya. Demikian
kerasnya sehingga keduanya jatuh berguling. Namun orang itu luput
dari serangan Laksana yang hampir saja mengakhiri perkelahian itu.
Sejenak kemudian, keduanyapun telah bangkit berdiri dan bersiap
untuk melanjutkan perkelahian, meskipun orang yang bertubuh
kekurus-kurusan itu masih harus menyeringai menahan sakit
diperutnya. Laksana yang meskipun tidak sedang kesakitan
termangu-mangu sejenak. Ternyata lawannya memiliki daya tahan yang
luar biasa. Meskipun ia mendapat kesempatan lebih banyak untuk
mengenainya, tetapi lawannya itu masih dapat bertahan dan melawannya
dengan kekuatannya yang masih saja tidak menyusut. Karena itu, maka
Laksana menjadi lebih berhati-hati. Orang itu tentu memiliki sesuatu
yang dapat dibanggakannya. Namun dalam pada itu, Rambatan dan
kawan-kawannya menjadi semakin lama semakin tidak berdaya melawan
Manggada. Seorang demi seorang mereka terlempar dari arena, sehingga
disaat terakhir Rambatanpun telah terdorong beberapa langkah surut.
Ia masih sempat bertahan agar tidak terbanting jatuh, namun serangan
Manggada berikutnya telah menghantam dadanya. Demikian kerasnya
sehingga Rambatan tidak lagi mampu bertahan. Ketika ia terbanting
jatuh, ia masih sempat melihat dedaunan yang menjadi kehitaman
di-malam yang semakin gelap itu berputar. Namun kemudian Rambatan
itu menjadi pingsan. Ketika Rambatan kemudian kehilangan
kesadarannya, Manggada telah meninggalkannya. Seperti Laksana, maka
Manggadapun berkesimpulan bahwa orang yang bertubuh kekurus-kurusan
itu ternyata memiliki ketahanan tubuh yang sangat tinggi. Meskipun
serangan Laksana semakin banyak mengenai tubuhnya dan bahkan
menyakitinya, namun beberapa saat kemudian, perasaan sakit itu
seakanakan telah diatasinya. Beberapa kali orang itu menahan desah
kesakitan. Beberapa kali ia harus menyeringai jika serangan Laksana
mengenainya. Bahkan orang itu nampaknya selalu terdesak dan tidak
mempunyai kesempatan untuk membalas serangan-serangan Laksana yang
datang beruntun. Tetapi untuk waktu yang lama Laksana masih saja
belum dapat mengalahkan orang itu. Ketika kekuatan dan tenaga
Laksana sudah terasa mulai menyusut karena ia harus mengerahkan
tenaganya, ternyata bahwa lawannya itu masih saja tegar dan liat.
Karena itulah, maka Manggada merasa perlu untuk segera melibatkan
diri. Sesuatu yang aneh pada lawannya itu, membuat Manggada
meragukan, apakah Laksana akan dapat memenangkan pertempuran itu.
Orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu memang menjadi gelisah
ketika ia melihat Rambatan dan kawankawannya menjadi tidak berdaya
sama sekali. Bahkan Rambatan sendiri telah menjadi pingsan. Ia sudah
menduga, bahwa anak muda yang seorang lagi tentu akan ikut berkelahi
melawannya. Sebenarnyalah sejenak kemudian, maka orang itu harus
bertempur melawan Laksana dan Manggada. Dua orang anak muda yang
telah memiliki dasar-dasar kemampuan olah kanuragan. Ternyata orang
yang kekurus-kurusan itu memang menjadi semakin sulit. Tetapi
semakin lama tubuhnya seakan-akan menjadi semakin liat.
Sekali-sekali orang itu mengaduh dan menyeringai menahan sakit.
Namun kemudian ia telah bertempur lagi dengan garangnya. Bahkan
sekali-sekali orang itu dengan sengaja telah membentur serangan
Manggada atau Laksana. Meskipun orang itu terlempar dan terguling,
jatuh, namun iapun cepat bangkit dan bersiap melanjutkan
pertempuran. Sesaat ia masih terdengar mengeluh atau mengurut
pinggangnya yang kesakitan. Namun setelah ia berloncatan lagi, maka
perasaan sakit itu rasa-rasanya telah hilang. Orang yang
kekusus-kurusan itu telah melupakan perasaan sakitnya yang terdahulu
ketika serangan Manggada dan Laksana yang kemudian mengenainya lagi.
Namun bagaimanapun juga, melawan kedua orang anak muda yang
mempunyai landasan ilmu yang semakin mapan itupun memang terlalu
berat baginya. Betapapun ia memiliki ketahanan tubuh yang sangat
tinggi, tetapi serangan kedua orang anak muda itu menjadi semakin
sering mengenainya. Seperti Manggada dan Laksana yang menjadi heran
karena lawan mereka yang memiliki daya tahan tubuh yang sangat
tinggi itu, maka orang yang kekurus-kurusan itupun merasa heran,
bahwa tenaga dan kemampuan kedua anak muda itu juga tidak segera
terasa menyusut. Meskipun sebenarnya Laksana sudah mulai merasa
bahwa kekuatannya tidak lagi sesegar saat ia mulai bertempur dan
bahkan sebenarnya sudah mulai menyusut, namun ketika Manggada
kemudian bertempur bersamanya, maka Laksana masih dapat
menghentakkan tenaganya sehingga rasa-rasanya kekuatannya masih
utuh. Dengan demikian maka orang yang bertubuh kekuruskurusan itu
harus menyadari kenyataan yang dihadapinya. Bagaimanapun juga,
agaknya terlalu berat baginya untuk melawan kedua orang anak muda
itu. Karena itu, maka orang yang bertubuh tinggi kekuruskurusan itu
tidak ingin memaksa diri melawan kedua orang anak muda yang
sebelumnya disangka tidak akan dapat melawannya bersama dengan
Rambatan dan kawankawannya. Rambatan dan kawan-kawannya diharap
dapat menguasai seorang diantara kedua orang anak muda itu. Kemudian
o-rang yang bertubuh kekurus-kurusan itu akan menguasai seorang yang
lain. Namun ternyata Rambatan dan kawan-kawannya menjadi tidak
berdaya. Karena itu, maka orang itupun telah mengambil satu
keputusan untuk meninggalkan perkelahian itu. Ia merasa bahwa ia
tidak akan berhasil, sementara itu, persoalannya justru akan dapat
mengembang seandainya kedua orang itu kemudian dapat menguasainya.
Maka ketika ia kemudian mendapat kesempatan, orang yang bertubuh
kekurus-kurusan itu telah mempergunakannya sebaik-baiknya. Dengan
cepat orang itupun segera meloncat kedalam gelap. Ketika itu
melenting hinggap diatas dinding halaman banjar tua itu. Kemudian
dengan cepat meluncur seperti terbang, turun dalam bayangan
pepohonan diluar dinding banjar. Manggada dan Laksana memang
mengejarnya. Tetapi ketika keduanya meloncat turun pula diluar
dinding halaman, mereka seakan-akan telah kehilangan jejak. Orang
yang ber-tubuh kekurus-kurusan itu sudah tidak nampak lagi. Manggada
dan Laksana saling berpandangan sejenak. Namun kemudian keduanya
telah meloncati dinding itu dan kembali memasuki halaman banjar.
Dihalaman itu masih terbaring Rambatan yang pingsan serta beberapa
orang yang kesakitan. Ketika Manggada dan Laksana mendekati Rambatan
yang masih terbaring, ternyata ia sudah mulai menyadari keadaannya.
Perlahan-lahan matanya mulai terbuka. Dibawah cahaya lampu minyak
dipendapa banjar yang berkere dipan ditiup angin, Rambatan nampak
menahan sakit ditu buhnya. "Rambatan" Laksana mengguncang tubuh yang
mu lai bergerak itu. Wajah Rambatan justru menjadi pucat, ketika ia
melihat Laksana berdiri disebelahnya. "Bangun" perintah Laksana
"cepat. Aku ingin bicara." Rambatan memang menjadi ketakutan.
Apalagi ketika ia melihat Manggada yang menatapnya dengan tajamnya.
Bahkan Manggada itupun kemudian berkata pula "Bangunlah. Kita akan
berbicara atau kita harus berkelahi lagi." "Tidak. Aku tidak ingin
berkelahi lagi" jawab Rambatan yang menjadi ketakutan. "Bagus" jawab
Manggada "jika demikian, marilah. Kita akan naik kependapa. Kita
akan berbicara." "Apa yang akan kita bicarakan?" bertanya Rambatan.
"Apa saja. Kau harus menjawab pertanyaanpertanyaanku." jawab
Laksana. "Apa yang akan kau tanyakan?" bertanya Rambatan pula.
"Sekarang ikut naik atau- kita akan berkelahi. Kami berdua, kau
seorang diri, karena kawan-kawanmu masih kesakitan." Rambatan sempat
memandang berkeliling. Kawankawannya sama sekali tidak dapat berbuat
apa-apa. Meskipun mereka sudah duduk, tetapi mereka rasa-rasanya
sulit untuk bangkit berdiri. Rambatanpun kemudian duduk pula. Bahkan
kemudian dengan susah payah iapun bangkit berdiri tertatih-tatih.
Meskipun tubuhnya masih terasa sakit, namun ia memaksa diri untuk
naik kependapa. Ternyata kedua orang anak muda itu bukan anak muda
kebanyakan sebagaimana anakanak muda padukuhan itu. Ketika mereka
sudah duduk dipendapa, maka Manggada dan Laksana yang duduk
disebelah menyebelahnya mulai mengajukan beberapa pertanyaan. Dengan
suara bergetar Rambatan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan
Manggada dan Laksana. "Aku tidak percaya jika kau belum mengenal
orang itu tadi sebelumnya" geram Laksana. "Benar. Aku belum
mengenalnya" jawab Rambatan. "Jika ia belum mengenalmu, kenapa ia
bersedia membantumu?" desak Manggada. "Ia datang kepadaku dan
menawarkan bantuannya" jawab Rambatan. Wajahnya menjadi semakin
pucat, sedangkan keringat dingin membasahi punggungnya. "Kau jangan
berbohong" geram Manggada "kau tahu bahwa aku dapat memilin lehermu?
Kawan-kawanmu tidak akan berani membantumu sementara orang yang kau
anggap akan dapat menyelesaikan dendammu itu sudah melarikan diri."
Wajah Rambatan menjadi semakin pucat. Dengan suara yang terbata-bata
Rambatan menjawab "Aku tidak berbohong. Aku berkata sebenarnya."
"Jika demikian, ceriterakan kepadaku, bagaimana terjadi, bahwa orang
itu bersedia membantumu sehingga kau bawa orang itu kemari." desak
Laksana. Rambatan memang menjadi sangat ragu-ragu. Tetapi ketika
Laksana memegang pergelangan tangannya, maka Rambatan yang disegani
oleh orang-orang sepadukuhan itu terpaksa berceritera tentang orang
yang kekurus-kurusan itu. "Tanpa aku ketahui asal-usulnya, maka ia
datang kepadaku. Begitu tiba-tiba. Ia menawarkan jasa baiknya jika
aku ingin membalas dendam. Aku sudah mengatakan kepadanya, bahwa aku
mendendam kepada Darpati. Tetapi orang itu justru menunjuk kalian
berdua merupakan bagian dari sasaran dendamku. Sementara itu, aku
tidak akan dapat mencari dimana Darpati tinggal." berkata Rambatan.
"Apakah orang itu mengenal Darpati? Apakah ia tahu apa yang telah
terjadi di bulak saat kau mencegat Winih? Apa pula yang diketahuinya
tentang kami berdua?" bertanya Manggada. "Tidak banyak yang
diketahuinya selain bahwa kalian harus mendapat sedikit peringatan
atas tingkah laku kalian." jawab Rambatan. "Tingkah laku yang mana?"
desak Laksana. "Orang itu tidak mengatakannya." jawab Rambatan. "Dan
kau lakukan apa yang dikatakannya seperti korban yang dicocok
hidung?" bertanya Manggada. "Bukan maksudku " jawab Rambatan. "Omong
kosong. Kau memang mempunyai kebiasaan buruk. Kau mempunyai
kesenangan berkelahi dan menyakiti hati orang lain. Menyakiti
tubuhnya, tetapi juga menyakiti hatinya." geram Laksana yang
kemudian mengguncang tubuh Rambatan sambil berkata selanjutnya
"Katakan, siapa nama orang itu?" Rambatan menjadi semakin ketakutan.
Tetapi kemudian ia memberanikan diri untuk menjawab "Aku tidak
tahu." "Setan kau" Laksana menjadi marah "lalu apa yang kau ketahui,
he? Apakah aku harus mencekikmu?" "Benar, aku tidak tahu namanya"
bukan hanya suara Rambatan yang bergetar. Tetapi tubuhnya juga mulai
gemetar. "Jadi kau benar-benar tidak tahu apa-apa tentang orang itu
atau demikian pandainya kau berbohong?" bentak Laksana. "Aku
benar-abenar tidak tahu." jawab Rambatan hampir menangis karena
ketakutan. Laksana yang menahan kemarahannya itu menggeram "Kau tahu
bahwa apa yang kau katakan itu tidak masuk akal?” "Tetapi
sebenarnyalah demikian yang terjadi. Aku dan kawan-kawanku tidak
mengenal orang itu. Ia datang dan menawarkan diri untuk membantuku.
Itu saja." suara Rambatan menjadi hampir tidak terdengar. "Dan kau
tidak bertanya lebih lanjut?" Laksana mulai mengguncang tubuh
Rambatan dengan memegang bajunya. Rambatan semakin gemetar dan
ketakutan. Justru karena itu, maka ia tidak mampu lagi berkata
sesuatu. Dalam, papda itu, tiba-tiba saja terdengar suara Kiai
Gumrah yang memasuki regol halaman banjar tua itu. Sambil bergegas
mendekati Manggada dan Laksana ia bertanya "Ada apa? Ada apa dengan
Rambatan?" Laksana harus melepaskan pegangannya atas baju Rambatan.
Bahkan iapun telah bergeser surut. "Apa yang terjadi?" bertanya Kiai
Gumrah. "Katakan apa yang terjadi kepada kakek" geram Laksana. "Apa
yang terjadi Rambatan?" bertanya Kiai Gumrah "aku minta maaf, jika
kedua cucuku telah mengganggumu." "Kek" berkata Laksana "aku tidak
ingin terus-menerus menyembunyikan diri. Dalam keadaan seperti ini
aku tidak dapat berbuat lain kecuali melawan." Kiai Gumrah menarik
nafas dalam-dalam. Sementara itu Rambatan telah diminta untuk
menceriterakan apa yang telah terjadi di banjar tua itu. Dengan
singkat Rambatan telah menceriterakan apa yang telah terjadi. Iapun
menceriterakan tentang orang yang bertubuh kekurus-kurusan yang
sebenarnya sama sekali tidak dikenalnya itu. "Apakah kita dapat
percaya dengan ceritera itu kek?" bertanya Laksana. Tetapi Kiai
Gumrah mengangguk kecil sambil menjawab "Aku percaya kepadanya. Ia
telah berceritera apa adanya.” Wajah Manggada dan Laksana memang
menjadi tegang sejenak. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa.
Kiai Gumrah justru percaya kepada Rambatan. Bahkan kemudian Kiai
Gumrah itu berkata "Sudahlah Rambatan. Pulangkan. Ajak
kawan-kawanmu. Sebenarnya kau tidak terlibat dalam persoalan ini."
Rambatan mengangguk-angguk sambil berkata "Terima kasih Kiai. Terima
kasih." Manggada dan Laksana tidak mengatakan sesuatu. Mereka
memandang Rambatan dengan tajamnya. Sementara itu Kiai Gumrah telah
mengulanginya lagi "Pulanglah. Ajak kawan-kawanmu." Rambatanpun
mulai beringsut. Meskipun-tubuhnya terasa sakit dipunggung,
pinggang, kening dan bahkan dimana-mana, namun bahwa ia
diperkenankan pulang telah membuat hatinya sedikit lapang. Namun
ketika Rambatan itu mulai menyeret kakinya turun pendapa banjar tua
itu, tiba-tiba saja beberapa orang telah memasuki halaman banjar
itu. Diantara mereka terdapat Ki Bekel. Belum lagi berhenti
melangkah, Ki Bekel sudah berteriak "He, apa yang kalian lakukan
terhadap anak-anak padukuhanku?" Kiai Gumrahpun kemudian melangkah
turun pula diikuti oleh Manggada dan Laksana. Dengan nada rendah
Kiai Gumrah bertanya "Apakah yang Ki Bekel maksudkan?" Ki Bekel dan
beberapa orang yang datang bersamanya, diantara mereka adalah bebahu
padukuhan itu, telah berhenti ditengah-tengah halaman. Sekali lagi
ia bertanya "Apa yang kalian lakukan disini?" "Aku baru saja datang
Ki Bekel." jawab Kiai Gumrah. "Aku bertanya kepada cucu-cucumu itu.
Mereka bukan anak padukuhan ini. Mereka orang asing bagi kami.
Tetapi mereka sudah berani menyakiti anak-anakku. Betapa nakalnya
Rambatan, tetapi ia tetap anakku. Mungkin aku memang harus
mengajarinya untuk berlaku lebih baik. Tetapi aku tidak senang jika
orang lain menyakitinya seperti itu. Beberapa hari yang lalu, hal
yang serupa telah terjadi. Orang asing telah menyakiti Rambatan.
Sekarang cucucucumu Kiai Gumrah." "Yang terjadi adalah perselisihan
diantara anak-anak muda Ki Bekel." jawab Kiai Gumrah. "Bukankah kau
dapat mengajari cucu-cucumu? Jika ia datang kepadukuhan ini hanya
untuk memamerkan kemampuannya berkelahi, maka aku tidak akan
segansegan mengambil tindakan. Bukan hanya terhadap cucucucumu.
Tetapi juga terhadapmu. Kau harus ingat, bahwa kau berada di
padukuhan ini karena kami, orang-orang sepadukuhan ini menaruh belas
kasihan kepadamu. Kami tahu bahwa kau memerlukan pegangan untuk
dapat hidup dan mencukupi kebutuhanmu sehari-hari. Kami sudah
memberikan kesempatan kepadamu untuk dapat hidup dengan sekedar
penghasilan atas tanah yang kami berikan kepadamu disebelah banjar
itu dengan memberimu pekerjaan sebagai penjaga banjar. Ternyata
sekarang kau telah mensia-siakan kebaikan hati kami dengan
membiarkan cucu-cucumu menyakiti anak-anak padukuhan ini." "Aku
mohon maaf Ki Bekel. Aku akan berusaha sebaikbaiknya untuk mencegah
hal seperti ini terjadi." berkata Kiai Gumrah. "Kali ini aku masih
memaafkan cucu-cucumu. Tetapi lain kali tidak. Jika terjadi lagi hal
seperti ini, aku akan mengusir mereka dari padukuhan ini. Jika
perlu, maka kaupun akan dapat kami usir dari padukuhan ini." berkata
Ki Bekel. "Aku mengerti Ki Bekel. Aku akan berbuat sebaikbaiknya
agar cucu-cucuku tidak melakukannya lagi." Ki Bekel itupun kemudian
berpaling kepada Rambatan sambil berkata "Marilah. Ikut aku. Kau
dapat pulang kerumahmu. Demikian pula kawan-kawanmu itu." Ki Bekel
tidak lagi mengatakan kepada Kiai Gumrah. Iapun kemudian mengajak
Rambatan dan kawan-kawannya pulang. Namun mereka sempat melihat
bekas-bekas perkelahian itu pada Rambatan dan kawan-kawannya yang
masih saja merasa kesakitan. Demikian Ki Bekel dan orang-orang yang
datang bersamanya itu meninggalkan regol halaman banjar, maka
Manggadapun segera berkata kepada Kiai Gumrah "Kami mohon maaf kek.
Kami tidak ingin menyulitkan kakek." Kiai Gumrah tersenyum. Katanya
"Aku mengerti apa yang kalian lakukan. Aku melihat semuanya. Karena
itu maka kalian tidak bersalah. Agaknya kalian telah merasa jemu
untuk terus-menerus berpura-pura. Bukan saja kalian, tetapi ternyata
akupun menjadi jemu. Jika tidak ada Kiai Windu Kusuma serta orang
yang disebut Panembahan itu, maka aku kira aku masih dapat hidup
tenang tanpa terusik. Namun ternyata bahwa telah tiba waktunya,
perubahanperubahan sikap dan tingkah-laku harus terjadi.
Sebenarnyalah bahwa karena itu, maka akupun sudah menjadi jemu untuk
berpura-pura. Apalagi menghadapi Kiai Windu Kusuma." Manggada dan
Laksana itupun mengangguk-angguk. Dengan nada datar Laksana bertanya
"Apakah sikap Ki Bekel itu wajar, kek?" Kiai Gumrah tertawa. Katanya
"Tidak. Aku menganggap sikap itu sama sekali tidak wajar." "Jadi
apakah ada hubungannya dengan laki-laki yang kekurus-kurusan itu?"
bertanya Manggada. Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Katanya
"Semakin lama persoalan yang terjadi disekeliling kita memang
menjadi semakin rumit. Karena itu, maka kita harus membuat
pertimbangan-pertimbangan lain. Jika selama ini kami selalu
berpura-pura, kami anggap bahwa cara itu adalah cara yang paling
baik untuk menyembunyikan beberapa benda pusaka yang agaknya memang
telah mengundang persoalan." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk.
Sementara Kiai Gumrah berkata selanjutnya "Kehadiran Prawara adalah
salah satu diantara banyak hal yang akan kami lakukan untuk
meninggalkan sikap kepura-puraan ini. Kami memang sedang
menghubungkan persoalan yang kita hadapi sekarang serta kehadiran
Kiai Windu Kusuma dengan musuh bebuyutan perguruan kami." Manggada
dan Laksana mengangguk-angguk. Ternyata yang mereka ketahui tentang
Kiai Gumrah baru sebagian kecil saja dari seluruh persoalannya.
Tentang pusakapusaka itu. Tentang orang-orang tua pembuat gula
kelapa. Kemudian tentang perguruannya dan musuh bebuyutan dari
perguruannya itu dalam hubungannya dengan Kiai Windu Kusuma dan
orang yang disebut Panembahan itu. Namun yang juga sangat menarik
baginya adalah kehadiran sepasang harimau yang menurut dugaan
Manggada dan Laksana adalah harimau peliharaan milik Ki Pandi, orang
bongkok yang berilmu sangat tinggi itu. Namun dalam itu, Kiai
Gumrahpun berkata "Tetapi marilah, kita pulang saja. Kita akan
berbicara dirumah dengan Prawara. Kita dapat mendengar pendapatnya."
Manggada dan Laksanapun kemudian mengikuti Kiai Gumrah meninggalkan
banjar tua itu. Sehingga dengan demikian maka banjar itu menjadi
lengang. Lampu minyak yang menyala dipendapa dan dibeberapa ruang
penting di banjar itu, masih mengedipkan sinarnya yang
kekuningkuningan. Dirumah, Kiai Gumrah telah menceriterakan apa yang
terjadi di banjar kepada anak dan menantunya. Ki Prawara yang
mendengarkan dengan sungguh-sungguh itupun kemudian berkata
"Peristiwa ini justru penting ayah." "Ya." jawab ayahnya "Nah,
siapakah orang yang disebut kekurus-kurusan oleh Manggada dan
Laksana itu?" "Tentu ada hubungannya dengan Darpati. Demikian pula
tindakan yang telah diambil oleh Ki Bekel yang sebelumnya tidak
banyak berbuat sesuatu terhadap Rambatan dan bahkan nampaknya ada
keseganan untuk menanganinya. Justru tiba-tiba saja ia berusaha
melindunginya dan bersikap memusuhi manggada dan Laksana, meskipun
persoalan itu bermula dari tindakan Darpati." berkata Kiai Gumrah.
"Tentu ada orang yang mulai menghasut" berkata K Prawara. Tiba-tiba
saja Nyi Prawara menyela "Kesempatan yang baik untuk berbicara
dengan Winih.” Ki Prawara mengangguk-angguk. Katanya "Ya. Kita akan
berbicara dengan Winih." Nyi Prawaralah yang kemudian bangkit untuk
memanggil Winih. Ketika ia memasuki bilik Winih yang sempit, maka
dilihatnya gadis itu berbaring menengadahkan wajahnya memandang
langit-langit. Lampu minyak yang redup menerangi bilik kecil itu.
Nyi Prawarapun kemudian duduk dibibir amben. Dengan nada keibuan ia
berkata "Winih. Ayah dan kakek memanggilmu." "Aku sudah mengantuk
ibu." desis Winih. "Hanya sebentar saja Winih" berkata ibunya.
"Apakah begitu penting sehingga tidak dapat dibicarakan esok pagi?"
bertanya Winih. Ibunya mengangguk. Katanya "Persoalannya memang
penting. Tetapi ayah dan kakekmu tidak akan berbicara banyak."
"Tentu tentang Darpati" gumam Winih "kenapa ayah dan kakek
meributkan persoalan itu. Curiga dan bahkan mempunyai prasangka yang
sangat buruk, sedangkan orang itu tidak berbuat apa-apa kecuali
menolong aku sampai dua kali." "Bertanyalah kepada ayah dan kakekmu.
Marilah, hari belum terlalu malam." berkata ibunya. Winih tidak
dapat menolak. Iapun kemudian bangkit dan membenahi pakaiannya.
Seperti yang direncanakan, maka Kiai Gumrahpun berkata
berterus-terang kepada Winih, tentang kecurigaan mereka yang semakin
tajam terhadap Darpati. Peristiwa yang terjadi di banjar itu
termasuk permainan Darpati sebagaimana yang terjadi di pancuran
sebelumnya. "Nampaknya Darpati memang ingin menyingkirkan Manggada
dan Laksana." Winih yang memang sudah menduga tentang apa yang akan
dikatakan kakeknya menundukkan kepalanya. Tetapi ia masih menyahut
"Jika Darpati ingin menyingkirkan kakang Manggada dan Laksana,
karena ia mempunyai kemampuan untuk melakukannya." "Belum tentu
Winih" jawab kakeknya "Darpati memang berilmu tinggi. Ilmunya tentu
lebih tinggi dari Manggada dan Laksana. Tetapi jika harus menghadapi
mereka berdua, mungkin Darpati masih harus berpikir ulang.
Selebihnya, jika hal itu dilakukannya sendiri dan kau sempat
mengetahuinya, maka ia tidak akan dapat mengharapkanmu lagi.
Meskipun baginya kau hanya salah satu diantara sekian banyak
perempuan yang pernah singgah dihati iblisnya itu." "Kakek sudah
menghukumnya sebelum dapat membuktikannya." berkata Winih. "Aku
ingin segalanya tidak terlambat. Darpati termasuk salah seorang
diantara mereka yang ingin mendapatkan pusaka-pusaka itu. Sedangkan
ayahmu atau ibumu tentu mengetahui nilai pusaka-pusaka itu bagi
perguruan kami." Manggada dan Laksana memang agak terkejut mendengar
pernyataan itu, sehingga keduanya telah memperhatikan tanggapan
Winih. Namun Winih tidak terkejut, sehingga Manggada dan Laksana
mendapat kesimpulan bahwa Winih memang sudah mengetahui nilai dari
pusaka-pusaka itu. Winih tidak menyahut. Tetapi matanya menjadi
semakin redup. Sementara itu, ibunya berkata "Winih. Kami tidak
ingin menyakiti hatimu. Kami hanya ingin menyelamatkan apa yang
masih kita miliki. Kau dan pusaka-pusaka itu." Winih memandang
ibunya sekilas. Namun sambil menunduk iapun berkata "Kita terlalu
mencemaskan pusaka-pusaka itu. Demikian kita berhati-hati, sehingga
kita menjadi curiga kepada setiap orang yang berhubungan dengan
keluarga kita." "Bukan begitu Winih. Kita tidak kehilangan penalaran
kita. Jika kita mencurigai Darpati, tentu kita mempunyai
alasan-alasan tertentu. Sebaliknya kau tidak boleh menjadi silau
terhadap ujud lahiriah yang kau hadapi, sehingga kau kehilangan
penalaranmu yang bening." "Aku sudah cukup dewasa kek. Aku tahu apa
yang harus aku lakukan." jawab Winih. "Tidak" ayahnyalah yang
menyahut "ternyata kau tidak mampu melihat anak muda yang barangkali
di matamu nampak tampan, baik hati dan bertanggung jawab, tetapi
yang menurut pengamatan kami, ia justru seorang yang sama sekali
tidak menghargai perempuan. Selebihnya, ia mempunyai maksud yang
lebih buruk lagi daripada sekedar merampas segala milikmu yang
paling berharga, karena ia juga akan merampas pusaka-pusaka itu."
"Itu hanya sebuah prasangka" berkata Winih "kita harus
membuktikannya." "Tetapi dengar Winih" berkata ayahnya "sejak saat
ini, kau tidak boleh lagi pergi keluar halaman rumah ini. Aku tidak
berniat untuk memingitmu sebagaimana gadis-gadis pingitan. Tetapi
kita sedang dalam bahaya. Kita harus berhati-hati." Winih memang
terkejut. Tetapi ia tidak membantah, ia sudah menjadi pening
sehingga nalarnya tidak lagi dapat bekerja dengan baik. Yang terasa
kemudian adalah kejengkelan, marah dan perasaan-perasaan lain yang
membuat dadanya menjadi sakit. "Sudahlah" berkata ayahnya "jika kau
akan tidur, tidurlah. Tetapi jika kau ingin mendengarkan kami
berbincang, duduk sajalah disitu." Winih tidak menjawab. Tetapi
gadis itu segera bangkit dan tanpa berkata apapun juga ia pergi ke
biliknya dan menjatuhkan dirinya dipembaringannya. Ibunyalah yang
menyusulnya. Masih dengan sikap seorang- ibu ia berkata "Kami
lakukan semuanya itu untuk kebaikanmu Winih." Winih tidak menjawab.
Tetapi ia telah menyembunyikan wajah di bantalnya sambil
menelungkup. Lamat-lamat terdengar Winih berdesis "Ayah, kakek dan
ibu tidak adil. Ayah dan kakek menilai kakang Darpati hanya sekedar
mengurai peristiwa-peristiwa yang terjadi. Sementara itu, uraian
yang berdasarkan dugaan-dugaan itu tidak selalu benar. Tetapi ayah
dan kakek dan bahkan ibu sudah menjatuhkan keputusan untuk menghukum
kakang Darpati." "Sudahlah Winih. Peristiwa yang terjadi beruntun
dalam waktu yang terhitung singkat ini membuat dugaan kami semakin
meyakinkan. Tetapi sudahlah. Sekarang beristirahatlah. Sebaiknya kau
memang tidur." berkata ibunya. Winih tidak menjawab. Sementara itu
ibunyapun telah keluar dari bilik anak gadisnya. Ketika ia melihat
Manggada dan Laksana masih duduk diamben besar diruang dalam, maka
Nyi Prawara itu mendekatinya sambil berkata "Lihat luka-lukamu."
Manggada dan Laksana telah membuka bajunya. Ternyata luka Laksana
telah mengembun lagi. Darah setitik-setitik keluar dari lukanya yang
sudah diobati oleh Nyi Prawara. "Marilah, aku ganti obat kalian."
berkata Nyi Prawara. Luka yang sudah hampir dilupakan itu memang
mulai terasa sedikit nyeri. Namun Nyi Prawara segera mengobatinya.
Beberapa saat kemudian, maka Kiai Gumrahpun telah menyuruh Manggada
dan Laksana untuk beristirahat. Sementara itu bersama Ki Prawara,
keduanya justru pergi keluar Kepada Nyi Prawara suaminya berkata
"Aku akan berada diluar. Udara terasa panas malam ini."
"Berhati-hatilah kakang" pesan Nyi Prawara. Suaminya tersenyum.
Katanya "Dalam keadaan seperti ini, kami selalu berhati-hati Nyi."
Ketika keduanya telah berada diluar dan menutup pintu butulan, maka
Nyi Prawarapun telah pergi ke bilik Winih. "Aku temani kau tidur"
berkata Nyi Prawara "aku tahu, bahwa kau tidak mudah untuk tidur
malam ini." Winih memang tidak menjawab. Tetapi iapun beringut dan
memberi tempat kepada ibunya di pembaringannya yang tidak begitu
luas itu. Diluar, Ki Prawara duduk di bebatur samping rumah,
sedangkan Kiai Gumrah berjalan saja hilir mudik. Seakanakan kepada
diri sendiri Kiai Gumrah itu berkata "Sudah larut malam, tetapi
orang itu masih belum datang." "Mungkin malam ini. Tetapi mungkin
juga besok malam, ayah" jawab Ki Prawara. "Aku harap ia datang,
berhasil atau tidak berhasil" berkata Kiai Gumrah. Ki Prawara tidak
menjawab. Sambil bersandar dinding ia memandangi pepohonan yang
menjadi kehitam-hitaman di gelapnya malam. Namun keduanyapun telah
bergeser dan duduk diserambi depan rumah Kiai Gumrah. Jalan didepan
rumah Kiai Gumrah itu sudah sepi. Tidak seorangpun yang lewat di
malam yang kelam. Dikejauhan terdengar suara kentongan yang
mengisyaratkan, bahwa malam sudah sampai kepertengahannya. "Malam
berjalan begitu cepatnya" berkata Kiai Gumrah. "Ya. Suara kentongan
itu." jawab Ki Prawara. Lalu katanya pula "Kentongan itu memang
kentongan yang bagus. Suaranya seperti bergema." "Kentongan itulah
yang dahulu berada di banjar ini. Tetapi ketika dipergunakan banjar
yang baru, maka kentongan itupun dipindahkan ke banjar yang baru.
Sedangkan di banjar ini ditaruh kentongan yang lebih kecil. Tetapi
kentongan itu jarang sekali aku tabuh." "Kenapa?" bertanya Ki
Prawara. "Suaranya kurang baik dan jangkauannya tidak cukup jauh."
jawab Kiai Gumrah. Ki Prawara mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak
menjawab lagi. Sementara itu, Kiai Gumrah yang kemudian berjalan
hilir mudik di halaman rumahnya, tiba-tiba berhenti. Sambil bergeser
mendekati Ki Prawara ia berdesis "Ada orang diluar regol. Aku
melihat bayangannya. Mudahmudahan orang itulah yang kami tunggu
malam ini." Ki Prawara tidak menjawab. Namun kemudian iapun telah
bangkit pula dan bergeser menepi. Demikianlah, untuk beberapa lama
mereka menunggu. Tetapi tidak seorangpun yang memasuki halaman rumah
itu lewat regol yang memang sedikit terbuka. Namun Kiai Gumrah itu
kemudian berpaling, sebagaimana Ki Prawara yang berkisar dan
menghadap kearah halaman samping rumah Kiai Gumrah itu. Terdengar
suara tertawa perlahan. Seseorang telah muncul dari bayangan hitam
pepohonan. Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Aku kira
Kiai Windu Kusuma atau orang yang disebut Panembahan itu." "Bukankah
aku berjanji akan datang?" jawab orang itu. "Kau sudah berada
diregol. Kenapa kau bersusah payah masuk halaman rumahku dengan
meloncati dinding, sementara regol halaman itu sudah terbuka?”
"Bukankah terlalu biasa masuk halaman rumah seseorang lewat pintu
regol yang terbuka?" orang itu justru bertanya. "Maksudmu?" bertanya
Kiai Gumrah. "Aku ingin menunjukkan bahwa aku dapat melakukan hal
yang tidak biasa " jawab orang itu sambil tertawa. "Ah, kau. Kelapa
kau harus mempersulit diri?” bertanya Ki Prawara "Bukankah aku orang
berilmu tinggi?" orang itu tertawa semakin keras. "Jangan
berteriak-teriak dimalam hari" berkata Kiai Gumrah "suaramu akan
didengar oleh orang-orang yang sedang tertidur nyenyak." Orang itu
menutup mulutnya. Suara tertawanyapun segera terhenti. Namun
kemudian katanya "Nah, aku datang untuk memberikan laporan."
"Marilah, duduklah." Kiai Gumrah mempersilahkan tamunya. "Dimana?"
bertanya orang yang baru datang itu yang juga seorang pedagang gula.
"Disini saja" jawab Kiai Gumrah. "Kita akan berbicara" desis orang
itu. "Lebih baik disini. Jika ada orang yang mendengarkan, kita
justru dapat melihat. Tetapi jika kita berada didalam, maka kita
tidak tahu apakah diluar ada orang yang mendengarkan atau tidak."
jawab Kiai Gumrah. Orang itu mengangguk-angguk. Iapun kemudian telah
duduk pula diatas amben bambu diserambi rumah Kiai Gumrah. Sementara
itu, malampun menjadi semakin malam. Namun Ki Prawara justru bangkit
untuk menutup pintu regol dan menyelaraknya dari dalam. Ketika ia
sudah duduk kembali, maka iapun berkata "Ternyata tamu kita tidak
memerlukan pintu itu. Karena itu lebih baik ditutup dan diselarak."
Tamunya tertawa lagi. Tetapi ia tidak menyahut. Sementara itu, Kiai
Gumrah dan Ki Prawara telah duduk bersama tamunya. Dengan nada
rendah Kiai Gumrah mulai bersungguh-sungguh "Kau berhasil?" Orang
itu termangu-mangu sejenak. Baru kemudian ia menjawab "Dapat disebut
berhasil, tetapi dapat juga belum." "Kenapa?" bertanya Kiai Gumrah.
"Aku telah menemukan rumah tempat burung elang itu turun. Bahkan
ketika aku mengamati hari ini, aku sempat melihat dua ekor burung
itu muncul dari halaman belakang rumah itu, sehingga aku yakin,
bahwa rumah itu adalah sarang beberapa ekor burung elang yang dapat
dikendalikan itu." jawab tamunya. "Jika demikian, maka agaknya kau
telah berhasil" desis Kiai Gumrah. "Aku memang berhasil menemukan
rumahnya. Tetapi aku belum dapat mengetahui kegiatan yang dilakukan
didalam rumah itu. Rumah yang berdinding agak tinggi dan kesannya
memang tertutup. Regolnya tidak pernah terbuka. Jarang sekali ada
orang keluar masuk lewat regol halaman. Jika ada juga orang yang
keluar atau masuk, maka kesannya orang itu bukan orang kebanyakan.
Wajah-wajah mereka nampak mengandung rahasia." "Apakah orang tua
saja yang keluar masuk rumah itu! Atau orang muda juga?" bertanya
Kiai Gumrah. "Ada yang tua. Tetapi ada juga yang muda" jawab
tamunya. Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Katanya "Tolong, jika kau
masih sempat melihat lagi keadaan rumah itu, awasi, jika ada orang
muda yang keluar atau masuk, ingatingat cirinya. Mungkin orang itu
dapat kita kenali." Orang itu mengangguk-angguk. Katanya "Baiklah.
Aku akan mengamati terus. Kebetulan didepan rumah itu, meskipun agak
menyamping, terdapat sebuah warung. Ketika aku menawarkan gula
dengan harga yang lebih murah dari harga yang sebenarnya, warung itu
nampaknya senang menerimanya. Sambil menyerahkan gula, aku dapat
minum-minum barang sebentar di warung itu." "Bagus. Tetapi
hati-hatilah. Mungkin kaupun diawasi oleh orang yang tinggal dirumah
itu tanpa kau sadari. Jika kau tertangkap, terbukti atau tidak, maka
kau tentu akan dihancurkannya. Mereka tentu tidak mempunyai
pertimbangan perikemanusiaan." Orang itu mengangguk-angguk. Katanya
"Aku akan berhati-hati. Aku mempunyai modal yang sangat berarti bagi
tugasku." "Apa? Ilmumu yang tinggi? Dirumah itu tentu terdapat
banyak orang berilmu tinggi." jawab Kiai Gumrah. "Bukan ilmu yang
tinggi. Tetapi aku telah mempelajari ilmu yang khusus, bagaimana
dapat berlari kencang sekali. Aku telah belajar secara khusus
mengetrapkan tenaga dalam untuk mendorong gerak kaki jika kita
sedang melarikan diri." "Ah, kau" desis Kiai Gumrah. Orang itu
tetawa. Ki Prawarapun tertawa pula. Namun Kiai Gumrahpun kemudian
berkata "Jika benar kita akhirnya mengetahui dengan pasti tempat
tinggal mereka, maka kita bukan sekedar menjadi sasaran. Tetapi jika
perlu kita dapat datang mengunjungi rumah itu." "Aku sependapat"
berkata tamu Kiai Gumrah itu."rasarasanya menjadi muak untuk selalu
berjaga-jaga, kapan kita akan disergap. Sebaiknya kitapun sekali
waktu datang menyergapnya." "Bagus" sahut orang itu "tetapi kita
harus ingat, bahwa benda yang diperebutkan itu ada disini. Jika kita
menyerang mereka, maka ada kemungkinan buruk dapat terjadi dengan
pusaka-pusaka itu. Bahkan anak-anakpun akan mampu mengambilnya.
Justru karena kita pergi kerumah mereka yang jaraknya cukup jauh.
Rumah itu berada di padukuhan lain." "Bukankah ada diantara kita
yang tinggal?" bertanya Kiai Gumrah. "Seberapa besarnya tenaga kita"
tamunya justru ganti bertanya "jika kita tidak pergi semua ke rumah
yang tertutup itu, maka kemungkinan buruk dapat terjadi pula atas
kita, karena aku yakin bahwa dirumah ini terdapat orang-orang
berilmu tinggi." Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Sementara itu Ki
Prawara berkata "Ya. Kita dapat mengerti. Karena itu untuk sementara
kau awasi saja rumah ini. Meskipun demikian dalam waktu singkat kita
harus dapat segera mengambil sikap, karena nampaknya merekapun tidak
akan menunggu terlalu lama lagi." "Sebelum purnama dibulan depan"
berkata Kiai Gumrah. Tamu Kiai Gumrah itu mengangguk-angguk. Katanya
"Baiklah. Aku akan terus-menerus mengawasinya. Tentu saja jika
keadaan memungkinkan, karena aku tidak mau mati digebugi oleh
orang-orang yang tinggal dirumah yang tertutup itu." "He, bukankah
kau berilmu tinggi?" bertanya Ki Prawara. Orang itu tertawa.
Jawabnya "Aku memang berilmu tinggi. Tetapi orang-orang yang tinggal
dirumah itu berilmu lebih tinggi lagi." Kiai Gumrahpun tertawa.
Demikian pula Ki Prawara. Disela-sela tertawanya Kiai Gumrah berkata
"Kau sudah menyerah sebelum bertempur." "Bukan begitu, tetapi aku
mempunyai perhitungan yang tajam dan cermat atas persoalan yang
Sedang aku hadapi." jawab orang itu masih sambil tertawa. Kiai
Gumrahpun masih tertawa berkepanjangan pula. "Duduk sajalah dahulu,
biar aku mengambil minuman di dapur. Meskipun barangkali sudah tidak
panas lagi. Tetapi barangkali kau merasa haus" berkata Ki Prawara.
"Tidak. Tidak usah. Aku akan segera minta diri" sahut orang itu.
Lalu katanya pula “Aku harus menengok rumah dahulu sebelum besok
pagi-pagi aku membawa gula kewarung yang ada didepan rumah yang
tertutup itu. Tetapi gulaku tinggal sedikit. Sehari kemarin aku
tidak sempat membuat gula." "Aku masih mempunyai persediaan gula"
berkata Kiai Gumrah. "Terima kasih. Kau tidak pernah dapat membuat
gula yang berwarna jernih. Gulamu terlalu hitam. Sedangkan kedai itu
minta gula yang berwarna jernih." "Kau belum melihat gulaku yang
terakhir" berkata Kiai Gumrah. "Tentu juga sehitam kulitmu" jawab
orang itu sambil bangkit berdiri dan bergeser. Meskipun demikian ia
masih berkata "Orang yang kulitnya hitam, jika membuat gula tentu
hitam juga." "Omong kosong" sahut Kiai Gumrah "kau sudah pandai
membual sekarang." Orang itu tertawa lagi. Katanya "Sudahlah. Aku
akan pulang. Besok aku masih harus mengawasi rumah itu. Tugas yang
sebenarnya tidak aku sukai." "Kenapa kau menawarkan dirimu untuk
melakukannya." Orang itu tertawa semakin keras. Katanya "Tidak sejak
mula-mula. Sebenarnya aku ingin menolak tugas ini. Tetapi ternyata
pemilik warung didepan rumah yang tertutup itu adalah seorang janda
dan tidak mempunyai anak pula." "Setan kau" geram Kiai Gumrah "he,
bukankah rambutmu sudah putih?" "Kenapa kalau rambutku sudah putih?"
orang itu justru bertanya. "Kau tidak pantas lagi mengintai seorang
janda yang belum mempunyai anak. Jika kau ingin kawin lagi
sepeninggal isterimu yang dipanggil kembali oleh Yang Maha Agung
itu, sebaiknya kau mencari perempuan yang sebaya dengan umurmu,
sehingga jika kau besok atau lusa juga dipanggilmenghadap-Nya,
isterimu tidak akan terlalu lama menjanda lagi." "He, kau kira aku
yang membutuhkan janda itu?" orang itu membelalakkan matanya.
"Jadi?" bertanya Ki Prawara. "Aku sedang mencari jodoh buat adikku
yang bungsu. Isterinya meninggal saat melahirkan. Demikian pula
anaknya.” Kiai Gumrah dan Ki Prawara tertawa. Disela-sela
tertawanya, Ki Prawara berkata "Maaf. Kami tidak tahu bahwa kau
mempunyai seorang adik bungsu yang memerlukan seorang isteri."
Sambil melangkah pergi orang itu masih bergumam "Kalian selalu
berprasangka buruk terhadapku." "Maaf, kami sudah minta maaf."
"Sudahlah, aku akan pergi." berkata orang itu. "Apakah kau akan
lewat regol halaman?" bertanya Kiai Gumrah. "Tidak. Aku seorang yang
berilmu tinggi. Aku harus melakukan sesuatu yang tidak biasa
dilakukan orang lain. Aku akan meninggalkan rumah ini lewat jalan
yang aku lalui saat aku memasuki halaman rumah ini." jawab orang
itu. "Pergilah" desis Kiai Gumrah. Orang itupun kemudian melangkah
kekegelapan disisi rumah Kiai Gumrah. Sebagaimana saat ia datang,
maka iapun tidak keluar dari halaman rumah itu lewat regol. Kiai
Gumrah menggeleng-gelengkan kepalanya sambil bergumam "Orang itu
memang aneh-aneh saja." Tetapi Ki Prawara menjawab "Siapakah
diantara kita yang tidak aneh-aneh? Ayah sendiri, kawan-kawan ayah
yang sering datang kemari itu dan barangkah aku juga jika aku berada
diantara kawan-kawan ayah." Kiai Gumrah mengerutkan dahinya. Namun
kemudian iapun tertawa. Katanya "Ya. Tetapi, dengan berbuat yang
aneh-aneh itu, maka kita mendapat kepuasan tersendiri." Ki Prawara
juga tertawa. Namun demikian Kiai Gumrahpun tertawa berkepanjangan.
Ketika suara tertawa Kiai Gumrah mereda, maka iapun kemudian berkata
"Marilah, kita masuk kedalam. Rasarasanya malam menjadi semakin
dingin." Ki Prawarapun telah bangkit pula. Keduanyapun kemudian
masuk kembali kedalam lewat pintu butulan. Namun sebelum mereka
sempat berbaring diamben panjang, terdengar pintu butulan itu
diketuk orang. "Siapa?" bertanya Kiai Gumrah. "Aku" jawab orang yang
mengetuk pintu itu, yang ternyata adalah tamunya yang baru saja
meninggalkan halaman rumah Kiai Gumrah. Dengan tergesa-gesa Kiai
Gumrah membuka pintu butulan diikuti oleh Ki Prawara. "Ada apa
lagi?" bertanya Kiai Gumrah. Wajah orang itu nampak
bersungguh-sungguh. Katanya "Hati-hatilah. Aku melihat sesosok
bayangan disudut halaman rumahmu. Meskipun bayangan itu berada
diluar dinding, tetapi dalam sekejap ia akan dapat berada didalam
dinding." "Apakah bayangan itu melihatmu?" bertanya Kiai Gumrah.
"Mungkin, ketika aku meloncati dinding. Tetapi bayangan itu justru
menghilang. Mungkin sekarang bayangan itu sedang mengintai aku yang
memberitahukan kehadirannya kepadamu." "Berhati-hatilah. Atau kau
akan bermalam disini?" bertanya Kiai Gumrah. "Kenapa? Kau kira aku
ketakutan melihat bayangan itu? Aku justru datang untuk
memperingatkanmu. Kaulah yang harus berhati-hati." berkata orang itu
dengan dahi berkerut. "Ya, ya. Aku akan berhati-hati. Tetapi kau
juga harus berhati-hati." jawab Kiai Gumrah. Tetapi orang itu
menjawab, justru agak keras "Kau tidak usah merisaukan aku. Bukankah
aku berilmu tinggi?" Kiai Gumrah hanya menarik nafas panjang saja,
sementara tamunya itupun kemudian telah meninggalkannya tanpa
berpaling lagi, sehingga sejenak kemudian, iapun telah hilang dari
penglihatan Kiai Gumrah dan Ki Prawara. Sejenak kemudian, maka pintu
itupun telah tertutup kembali. Dengan nada dalam Kiai Gumrah berkata
"Ternyata rumah ini selalu diawasi. Jika tidak dengan burung-burung
elang itu, maka mereka telah mengirimkan orang kemari. Tetapi
agaknya orang itu masih berada diluar dinding.” "Tetapi orang itu
tidak akan mengganggu kita ayah." berkata Ki Prawara. "Ya. Orang itu
tentu hanya sekedar mengawasi saja." desis Kiai Gumrah "sudahlah,
beristirahatlah." Ki Prawarapun kemudian telah berada diruang
tengah. Ketika ia duduk diamben yang besar, maka iapun memperhatikan
Manggada dan Laksana yang berbaring dengan mata terpejam. Namun
sambil tersenyum ia berdesis "Tidurlah. Tidak ada apa-apa. Kami
hanya mencari angin diluar." Manggada dan Laksana membuka matanya.
Ternyata Ki Prawara tahu bahwa mereka memang belum dapat tidur.
Dengan nada rendah Manggada berkata "Ada tamu diluai paman?" Ki
Prawara tersenyum. "Kau mendengar percakapan kami?" bertanya Ki
Prawara. "Tidak paman. Tetapi aku mendengar suaranya tertawanya.”
"Sudahlah, tidurlah " desis Ki Prawara kemudian. Sementara itu Kiai
Gumrah masih saja berada di dapur. Bahkan kemudian iapun berbaring
diamben yang ada didapur. Ia memang sering tidur ditempat itu atau
diamben yang lain diruang dalam. Namun bukan hanya Manggada dan
Laksana saja yang masih belum tidur. Winih dan ibunyapun ternyata
masih belum tidur juga. Bahkan mereka mendengar pembicaraan Kiai
Gumrah dan tamunya yang datang kembali dimuka pintu butulan untuk
memberitahukan bahwa ada bayangan diluar dinding halaman rumah Kiai
Gumrah. Malam itu, para penghuni rumah Kiai Gumrah itu tidak dapat
tidur nyenyak. Manggada dan Laksanapun seakanakan mempergunakan
waktu yang tinggal sedikit itu untuk tidur bergantian. Kiai Gumrah,
bahkan menjelang fajar baru dapat tidur sekejap ketika Ki Prawara
keluar lewat pintu butulan pergi ke pakiwan. "Tidurlah ayah" desis
Ki Prawara "aku sudah sempat tidur sekejap." Kiai Gumrah baru dapat
tidur dengan tenang, meskipun hanya sebentar, karena ia tahu, bahwa
Ki Prawara tidak akan tidur lagi. Ketika matahari naik, maka Kiai
Gumrah sudah berada di kebun kelapanya. Iapun mulai memanjat
batang-batang kelapa untuk mengganti bumbung-bumbung legennya.
Manggada dan Laksana mengikutinya untuk membantu membawa
bumbung-bumbung legen yang akan dipasang dan yang baru saja
diturunkan. Sementara itu, yang lain seisi rumah itu telah melakukan
tugas mereka masing-masing pula. Ketika matahari sepenggalah, maka
Kiai Gumrah telah sibuk diperapian memanasi legen untuk dibuat gula.
Demikian Kiai Gumrah menuang jladren yang sudah mengental kedalam
tempurung kelapa untuk mencetak, maka terdengar orang mengetuk pintu
Jepan sambil memanggil nama Winih. "Siapa orang itu?" bertanya Kiai
Gumrah yang sudah menduga bahwa orang itu tentu Darpati. Manggada
yang menjenguk keluar memang melihat bahwa orang yang datang itu
adalah Darpati. "Apakah Winih sudah mandi?" bertanya Darpati.
Manggada mengerutkan dahinya. Pertanyaan itu terdengar aneh.
Demikian Manggada muncul, maka yang ditanyakan adalah, apakah Winih
sudah mandi. "Kenapa?" bertanya Darpati ketika ia melihat Manggada
agak kebingungan. Ternyata Darpati tidak menunggu Manggada
mempersilahkan. Iapun segera melangkahi tlundak pintu, bahkan
seakan-akan telah menyibak jalan menyisihkan Manggada yang berdiri
dipintu dan kemudian duduk diruang dalam. "He, kau belum menjawab,
apakah Winih sudah mandi " berkata Darpati. "Kenapa kau tanyakan hal
itu?" Manggada justru bertanya. Darpati tertawa. Katanya "Aku ingin
membawa Winih berjalan-jalan. Aku ingin mengajakmu pula bersama
Laksana." "Kemana?" bertanya Manggada. "Tentu tidak kepancuran itu
lagi." jawab Darpati. "Biarlah winih nanti yang bertanya kepadaku.
Aku akan menjawab hanya kepada Winih." jawab Darpati. Manggada
menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Katanya
"Aku akan menanyakan kepada Winih, apakah ia sudah mandi atau
belum." Darpati tertawa, ia tahu bahwa pertanyaannya itu membuat
Manggada menjadi kesal. Tetapi juga karena ia tidak mau menjawab
pertanyaan Manggada, kemana ia akan mengajak Winih. Sementara itu,
ternyata Nyi Prawara mendengar katakata Darpati itu. Karena itu
iapun berbisik ditelinga Winih “Kau ingat pesan ayahmu?" "Kenapa
ibu?" Winih masih bertanya. Ibunya meletakkan jarinya dibibirnya
sambil berdesis "Ayahmu sudah memberikan alasan-alasannya. Kau harus
mengerti." Winih menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti bahwa ibunya
minta agar ia tidak berbicara terlalu keras. Tetapi bahwa ia tidak
boleh keluar dari halaman rumah kakeknya itu telah membuatnya
bersedih. Apalagi Darpati telah menjemputnya. Baginya Darpati adalah
seorang anak muda yang baik, yang tidak ditemuinya di tempat
tinggalnya. Bahkan telah menunjukkan kesediaannya untuk menolongnya
ketika ia mendapat gangguan diperjalanan pulang. "Apa yang kau
pikirkan Winih" desis ibunya "bukankah kau mendengar ceritera kakek
semalam? Darpati bukan satu-satunya orang yang dapat
menyelamatkanmu. Seandainya waktu itu Darpati tidak menolongmu,
Manggada dan Laksana tentu akan dapat melakukannya. Bedanya,
Manggada dan Laksana tidak dengan mudah menunjukkan kemampuannya.
Hanya jika perlu, sebagaimana terjadi di pancuran dan semalam di
banjar tua itu. Dalam keadaan yang tidak dapat dihindarinya lagi,
maka keduanya baru mempergunakan kemampuannya. Berbeda dengan
Darpati. Ia dengan sengaja, bahkan ia akan mencari banyak kesempatan
untuk menunjukkan kelebihannya." "Bukan ibu, bukan itu sebabnya"
berkata Winih. Namun sekali lagi ibunya menempelkan jari-jarinya,
justru dibibir Winih. Winih terdiam. Namun kemudian ia meneruskan
"Barangkali tidak terpikir olehnya untuk berbuat seperti itu."
"Sudahlah Winih. Turuti saja perintah ayah dan kakekmu." "Tetapi ibu
dapat minta agar ayah tidak berkeras seperti itu." minta Winih.
Tetapi jawaban ibunya benar-benar membuat Winih bersedih. Katanya
"Winih. Seandainya ayah dan kakekmu tidak melarangmu, maka akulah
yang akan melarangmu." Winih tidak dapat mendesak lagi.
Kadang-kadang ia memang dapat merubah sikap ayahnya lewat ibunya.
Tetapi jika ibunyalah yang berkeras melarangnya, maka larangan itu
harus ditaatinya. Sementara itu Manggada telah berdiri dipintu bilik
Winih. Ia memang tidak segera mengetuk pintu lereg yang sudah
sedikit terbuka. Tetapi ia sempat mendengar pembicaraan Winih dengan
ibunya, meskipun hanya lamatlamat dan tidak lengkap. Namun Manggada
mengerti, bahwa ibunya, memang melarang Winih untuk pergi, apalagi
bersama Darpati. Namun kemudian Manggada itupun telah mengetuk pintu
bilik Winih yang memang terasa sempit. "Marilah" desis ibu Winih
perlahan-lahan "kami sudah mendengar beberapa pertanyaan Darpati.
Tolong, jawablah. Winih belum mandi." "Tidak" potong Winih "aku
sendiri yang akan mengatakannya bahwa aku tidak akan pergi kemanapun
sesuai dengan perintah kakek, ayah, ibu dan barangkali juga kakang
Manggada dan Laksana." "Aku?" bertanya Manggada. "Sudahlah" potong
Nyi Prawara. Lalu katanya kepada Winih perlahan-lahan tetapi tegas
"Temuilah jika kau sendiri ingin mengatakan bahwa kau tidak akan
pergi kemana-pun, siapapun yang melarangmu." Ibunya yang mulai
menunjukkan sikap kerasnya. Winih tidak menjawab. Ia memang bangkit
berdiri dan berjalan keruang depan tanpa membenahi pakaiannya.
Meskipun Winih sudah mandi, tetapi ia tidak berpakaian dan berhias
sebagaimana jika ia akan pergi. Demikian Winih keluar keruang dalam,
maka Darpatipun bangkit berdiri sambil berkata "He, kau belum siap?”
"Untuk apa?" bertanya Winih. "Kita akan berjalan-jalan. Kau tidak
usah sendiri. Biarlah Manggada dan Laksana ikut bersama kita." jawab
Darpati. "Aku tidak siap untuk pergi Darpati " jawab Winih.
"Bukankah kau sudah mandi? Berpakaianlah, aku a-kan menunggu "
berkata Darpati kemudian. Tetapi Winih menjawab "Aku hari ini tidak
akan pergi, Darpati. Keadaan disekitarku menjadi tidak menentu.
Perkelahian, kekerasan dan kejadian-kejadian yang membuat aku
ketakutan untuk keluar dari halaman rumah kakek ini." jawab Winih.
"Kenapa kau takut? Kau akan pergi bersama aku dan Manggada serta
Laksana. Apapun yang akan terjadi, maka kami bertiga tentu akan
dapat mengatasinya." berkata Darpati. "Tidak Darpati. Kakek, ayah
dan ibu mencemaskan keselamatanku. Meskipun aku pergi bersamamu
serta kakang Manggada dan Laksana, namun jika bahayanya terlalu
besar, ada kemungkinan kalian tidak dapat mengatasi." jawab Winih.
"Aku ingin berbicara dengan kakek dan ayahmu, Winih." berkata.
Darpati kemudian. "Tentang apa?" bertanya Winih. "Aku akan memberi
penjelasan kepada mereka, agar mereka tidak dibayangi oleh
kecemasan." berkata Darpati. Winih termangu-mangu sejenak. Agaknya
memang lebih baik jika Darpati itu berbicara dengan kakek dan
ayahnya, agar ia tidak menjadi marah kepadanya. Karena dengan
demikian maka Darpati akan mengetahui, bahwa bukan ia yang menolak
ajakannya. Karena itu, maka Winihpun kemudian telah mendapatkan
kakeknya diruang sebelah. "Kakek sudah mendengar?" desis Winih
perlahan. "Aku dan ayahmu sudah mendengar" jawab Kiai Gumrah. "Jika
demikian, biar kakek atau ayah sajalah yang menjawab" minta
Winih
Buku 5 KIAI Gumrah dan Ki Prawara
saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Kiai Gumrah berkata
"Baiklah. Aku akan berbicara dengan angger Darpati." Bersama Winih
maka Kiai Gumrahpun kemudian menemui Darpati diruang dalam. Demikian
Kiai Gumrah duduk, maka Darpatipun segera berkata "Kiai. Aku akan
mengajak Winih, Manggada dan Laksana untuk berjalanjalan. Kiai tidak
usah cemas. Kami bertiga akan dapat melindungi Winih dari ancaman
bahaya yang bagaimanapun besarnya.. Karena itu, sebenarnya Kiai
tidak mempunyai alasan untuk melarang Winih keluar hari ini."
"Tetapi bukankah angger sendiri pernah mengatakan, bahwa sebaiknya
Winih tidak usah pergi kemana-mana lebih dahulu dalam waktu-waktu
seperti ini?" sahut Kiai Gumrah. "Aku memang pernah mengatakannya.
Tetapi seingatku, aku mengatakan bahwa Winih jangan pergi keluar
dahulu tanpa aku. Jika sekarang aku ada, maka aku kira tidak ada
keberatannya Winih berjalan keluar." berkata Darpati. Kiai Gumrah
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya "Tetapi sebaiknya
tidak saja ngger. Sebaiknya Winih dan juga angger Darpati serta
Manggada dan Laksana tidak usah pergi keluar. Persoalannya ternyata
menjadi semakin rumit. Kemarin, menjelang malam, anakanak padukuhan
ini telah berkelahi dengan Manggada dan Laksana." "Tetapi itu bukan
persoalan baru Kiai" jawab Dvarpati "Rambatan memang membenci kami.
Maksudku, aku, Manggada dan Laksana. Nampaknya ia ingin membalas
dendam, justru selagi aku tidak ada. Mereka mengira bahwa mereka
akan dapat mengalahkan Manggada dan Laksana. Apalagi mereka mendapat
bantuan dari seorang yang dianggapnya berilmu tinggi." Kiai Gumrah
termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Darpati dengan tajamnya. Namun
Kiai Gumrah kemudian hanya menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu
Darpatipun berkata "Nah, Kiai. Serahkan tanggung-jawab atas Winih
kepadaku. Aku akan membawanya pulang dengan selamat." "Manggada dan
Laksana?" bertanya Kiai Gumrah. Darpati menjadi termangu-mangu
sejenak. Namun kemudian katanya "Mereka adalah anak-anak muda yang
berilmu. Karena itu, maka mereka akan dapat melindungi diri mereka
sendiri." Namun jawaban Kiai Gumrah membuat denyut jantung Darpati
semakin cepat berdetak. Orang tua itupun kemudian menjawab "Maaf
ngger! Orang tua ini selalu saja dibayangi oleh kecemasan: Karena
itu, maka sebaiknya angger tidak membawa Winih keluar hari ini. Aku
bahkan ingin mempersilahkan angger duduk-duduk saja disini. Aku
sedang merebus ketela pohon dengan legen kelapa yang baru aku
turunkan pagi tadi." "Kiai" Darpati mulai menjadi jengkel "Apakah
Kiai tidak percaya kepadaku?" "Tentu ngger. Aku percaya kepada
angger. Bahwa angger akan bertanggung jawab Tetapi kita tidak tahu,
seberapa besarnya kekuatan orang yang ingin mengganggu ketenangan.
Mungkin mereka memusuhi kami dan mencoba untuk menumpahkan
permusuhan itu kepada Winih, Manggada dan Laksana. Atau orang itu
memang memusuhi angger, karena orang itu tidak senang melihat angger
berkawah dengan Winih atau alasan-alasan yang lain." "Kiai" berkata
Darpati "sekali lagi aku minta Kiai tidak mencemaskan keadaan Winih.
Aku bertanggung jawab sepenuhnya. Apalagi Winih sudah dewasa,
sehingga ia seharusnya tidak lagi terlalu dikekang seperti
kanak-kanak." "Itu terbalik ngger" jawab Kiai Gumrah "justru Winih
sudah memasuki usia dewasanya. Gadis-gadis sebaya Winih memang sudah
waktunya untuk dipingit. Ia harus tinggal saja dirumah sampai
saatnya ayah dan ibunya menemukan jodoh baginya. Nah, ternyata ayah
dan ibu Winih juga sudah membicarakannya dengan aku. kakeknya, bahwa
Winih harus sudah memasuki masa bahwa ia harus dipingit. Ayah dan
ibunya mulai merasa cemas, bahwa Winih mulai berhubungan dengan
laki-laki yang barangkali tidak sesuai dengan keinginan ayah dan
ibunya." "Kek" diluar sadarnya Winih telah memotong pembicaraan
kakeknya. Namun kata-katanya itupun bagaikan terputus dikerongkongan
sehingga kemudian Winihpun terdiam, sambil menundukkan kepalanya.
Dalam pada itu, Darpatilah yang menyahut "Kiai, apakah dengan
demikian berarti bahwa ayah dan ibu Winih menganggap bahwa aku tidak
pantas berhubungan dengan Winih?" "Bukan begitu ngger" jawab Kiai
Gumrah "dalam usia sebagaimana Winih sekarang, maka hubungannya,
dengan setiap laki-laki akan diputuskan. Bukan hanya angger
Darpati." "Itu tidak adil" Darpati hampir berteriak. "Kenapa?"
bertanya Kiai Gumrah. "Aku telah berbuat baik atas Winih. Aku sudah
menyelamatkannya dari tangan Rambatan. Kemudian menyelamatkannya di
pancuran. Jika aku tidak berbuat demikian, maka mungkin Winih sudah
disekap dirumah Rambatan atau dibawa oleh orang-orang liar yang
datang kepancuran itu." "Tetapi itu bukan satu perbuatan yang
berlebihan. Seandainya angger Darpati tidak ada, maka Manggada dan
Laksana akan dapat melindunginya saat Rambatan ingin membawa Winih
untuk mengambil ayam kerumahnya. Sementara itu, tanpa angger Daipati
maka Winih tidak akan pergi ke pancuran." "Kek" sekali lagi Winih
ingin memotong kata-kata kakeknya. Tetapi sekali lagi suaranya
terhenti dikerongkongan. Sementara itu Darpati berkata "Jadi Kiai
menganggap apa yang pernah aku lakukan itu sia-sia?" "Bukan ngger.
Bukan begitu. Apa yang angger lakukan tidak aku anggap sia-sia.
Tetapi aku juga tidak menanggapinya dengan berlebihan. Apa yang
angger lakukan itu adalah sangat wajar. Setiap laki-laki akan
berbuat seperti apa yang angger lakukan." Wajah Darpati menjadi
merah. Namun kemudian katanya “Apapun tanggapan Kiai, tetapi
sekarang aku minta Winih dapat pergi bersamaku, bersama Manggada dan
Laksana” Kiai Gumrah termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba
pertanyaan aneh "Bagaimana jika tanpa Manggada dan Laksana?" "Tidak”
jawab Darpati "tentu tidak akan baik dilihat orang." Darpati
berhenti sejenak, lalu katanya "Dan bukankah sikap Kiai aneh sekali?
Kiai mengatakan bahwa Winih akan mulai dipingit. Kemudian justru
Kiai menawarkan Winih pergi bersamaku tanpa orang lain?" "Sudahlah
ngger" berkata'Kiai Gumrah "lupakan keinginan angger mengajak Winih
berjalan-jalan hari ini. Biarlah ia berada dirumah membantu ibunya
mencetak gula. Ia harus belajar bekerja keras sebagaimana seorang
gadis yang lain, anak orang-orang melarat seperti kakek ini.” "Jadi
kakek ingin Winih juga menjadi orang melarat seperti Kiai?" bertanya
Darpati. "Kami bukan pemimpi ngger. Biarlah kami hidup dengan
berjejak diatas bumi kita sendiri. Kami harus menerima kenyataan
ini." jawab Kiai Gumrah. Darpati benar-benar telah menjadi marah.
Dengan lantang ia berkata "Jika Kiai ingin memisahkan Winih dari
semua laki-laki, kemudian melarangnya pergi bersamaku, itu tidak
adil." "Kenapa tidak adil" bertanya Kiai Gumrah. Wajah Darpati
menjadi semakin tegang. Namun kemudian katanya "Kiai. Aku dan Winih
memang belum terlalu lama saling berkenalan. Tetapi aku tahu. bahwa
Winih tanggap akan perasaanku. Karena itu, maka tidak seorangpun
yang dapat menghalangi hubungan kami. Kami berdua telah sama-sama
dewasa, sehingga kami dapat menentukan jalan hidup kami sendiri."
"Angger Darpati bukan saja telah dewasa. Tetapi angger sudah terlalu
matang serta berpengalaman berhubungan dengan bukan saja
gadis-gadis, tetapi juga perempuan macam apapun." jawab Kiai Gumrah
diluar dugaan. Telinga Darpati bagaikan disentuh bara api. Wajahnya
menjadi merah menyala. Dipandanginya Kiai Gumrah dengan matanya yang
seolah-olah akan meloncat dari pelupuknya. Sedangkan Winih bergeser
selangkah maju sambil berdesis "Kakek. Kenapa kakek berkata seperti
itu?" "Aku sudah memikirkan dengan baik apa yang aku katakan Winih"
jawab Kiai Gumrah. "Tetapi kata-kata kakek itu dapat menyakiti
hatinya" berkata Winih dengan suara bergetar. Dimatanya mulai nampak
air matanya mengembun. "Mungkin kata-kataku menyakiti hatinya.
Tetapi jika aku yakin bahwa apa yang aku katakan itu satu kebenaran,
maka apakah salahnya jika aku mengucapkannya?" sahut Kiai Gumrah.
Darpati memang menahan kemarahan yang menghentak-hentak didadanya.
Tetapi bagaimanapun juga Darpati mengetahui, bahwa Kiai Gumrah
adalah seorang yang berilmu tinggi. Karena itu, betapa hatinya
bergelora, namun Darpati harus menahan diri. Jika ia memaksakan
kehendaknya, maka orang tua itupun agaknya tidak mau lagi melangkah
surut. Karena itu, maka Darpati itupun kemudian menggeram "Hanya
karena aku mengingat hubunganku dengan Winih, aku tidak berbuat
apa-apa sekarang ini. Tetapi kesabaran seseorang memang ada
batasnya. Jika aku sekarang pergi, bukan berarti bahwa persoalan
kita sudah selesai." Darpati tidak menunggu jawaban. Iapun segera
melangkah pergi meninggalkan rumah Kiai Gumrah. Demikian Darpati
pergi, maka Winihpun berkata diselasela isaknya yang tertahan "Kakek
telah menyakiti hatinya. Seharusnya kakek tidak berkata seperti itu.
Ia adalah seseorang yang mempunyai perasaan, sehingga ia telah
tersinggung karenanya." Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam.
Sementara itu ayah dan ibu Winih telah mendekatinya pula. Manggada
dan Laksana sebenarnya juga ingin mendekat, tetapi mereka masih
menjaga jarak, karena mereka merasa bahwa sebenarnya mereka tidak
termasuk keluarga Ki Gumrah. Sementara itu Kiai Gumrahpun berkata
"Winih, Aku memang sengaja menyinggung perasaannya. Aku ingin tahu,
apakah yang akan dilakukan oleh, Darpati jika ia marah." "Karena
kakek adalah kakekku, maka Darpati tentu tidak akan berbuat
sesuatu.”jawab Winih. "Bukan itu alasannya, Winih. Darpati bukan
jenis orang yang mempunyai pertimbangan unggah-ungguh atau berusaha
untuk menjaga perasaan orang lain. Kau tahu, bagaimana sikapnya,
terhadap aku, ayah dan ibumu sejak ia datang untuk pertama kalinya
kerumah ini beberapa saat yang lalu. Kau tahu bagaimana sikap
Darpati terhadap Manggada dan Laksana yang seharusnya dihormatinya
sebagai saudara tua. Tetapi ia tidak bersikap seperti itu. Karena
itu, jika ia marah, ia tidak akan mempedulikan apakah aku kakeknya
atau bukan. Bahkan terhadap kedua orang tuamupun ia tidak akan
menghiraukannya. Apalagi Manggada dan Laksana." "Tetapi nyatanya,
Darpati tidak berbuat apa-apa kek. meskipun ia merasa sangat
tersinggung. Bukankah ia berkata bahwa karena hubunganku dengan
Darpati, maka Darpati tidak berbuat apa-apa sekarang ini." nada
suara Winih menjadi semakin tinggi. Tetapi Kiai Gumrah menggeleng.
Katanya "Tidak Winih. Ia tidak berbuat apa-apa bukan karena
hubungannya denganmu. Sudah aku katakan, ia tidak akan menghormati
aku, kakekmu, juga ayah dan ibumu." "Jadi kenapa Darpati tidak
berbuat sesuatu dalam keadaan marah seperti itu?" bertanya Winih
disela-sela isaknya. " Ia tidak berbuat sesuatu karena ia tahu,
bahwa ia tidak akan dapat mengalahkan aku atau ayahmu. Ia tahu bahwa
dalam keadaan yang memaksa aku dapat membunuhnya." jawab Kiai
Gumrah. Kening Winih berkerut mendengar jawaban kakeknya. Tiba-tiba
saja isaknya berhenti. Dengan nada dalam ia bertanya "Maksud kakek?"
"Ia mengenali keluarga kita dengan baik. Ia tahu pasti bahwa aku
sedang melindungi pusaka-pusaka itu, dan ia termasuk bagian dari
mereka yarig menginginkan pusaka itu." Wajah Winih menegang. Namun
tiba-tiba saja ia berkata "Prasangka kakek selalu lari kesana.
Kecurigaan terhadap siapapun karena ayah sedang melindungi
pusakapusaka itu. Mungkin kakek benar bahwa Darpati telah banyak
berhubungan dengan perempuan. Mungkin benar Darpati mengetahui bahwa
kekek dan ayah memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi apakah hal itu
selalu berhubungan dengan niat untuk mengambil pusaka-pusaka itu?
Apakah kakek menganggap bahwa Darpati bersikap baik kepadaku karena
ia mendapat tugas untuk mengambil pusaka-pusaka itu?" "Bahkan
kedua-duanya Winih. Darpati memang menghendaki kau dan pusaka-pusaka
itu." jawab Kiai Gumrah. "Kakek" potong Winih "kakek sudah
berprasangka buruk terhadap seseorang." "Dengar Winih. Ia tentu
sudah mendengar dari lingkungannya bahwa aku tidak akan dapat
dikalahkannya. Karena itu ia tidak berbuat apa-apa meskipun ia
tersinggung. Karena itu, maka pertimbangkan baik-baik. Penalaranmu
jangan menjadi buram karena kau sudah menjadi silau melihat ujud
lahiriahnya. Darpati akan merasa berhasil jika ia dapat menangkapmu
dalam perangkapnya sekaligus mendapat jalan untuk mengambil
pusaka-pusaka itu. Sementara nasibmu tentu akan menjadi seperti
banyak perempuan yang sebelumnya pernah singgah dalam kehidupan
Darpati." “Tidak. Tidak" Winih hampir berteriak. Iapun kemudian
berlari masuk kedalam biliknya. Sambil terisak Winih menelungkupkan
wajahnya dlpembaringan. Air matanya mengalir tanpa terbendung lagi.
Sementara itu ibunyalah yang datang mendekatinya dan duduk dibibir
pembaringan. Sambil mengusap rambut anaknya ibunya berkata “Winih,
agaknya kau memang harus menghadapi kenyataan, yang pahit." "Apakah
ibu juga mempunyai prasangka buruk terhadap Darpati sebagaimana
kakek dan ayah?" bertanya Winih meskipun sebenarnya Winihpun tahu,
bahwa ibunyapun bersikap demikian sebagaimana pernah dikatakannya.
Tetapi rasa-rasanya Winih masih ingin meyaldnkarinya. Ibunya
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya masih dengan lembut
"Winih. Ternyata aku tidak dapat bersikap lain. Aku juga mencurigai
Darpati. Mungkin kau pernah mendengar atau membaca kesan sikap ibu
seperti itu sebelumnya." Winih masih saja terisak Namun jawabnya
tidak diduga oleh ibunya. Katanya "Ibu, aku akan mencoba untuk
memikirkannya dengan sebaik-baiknya. Aku akan mencoba mempergunakan
penalaran dan perasaanku serta mencoba untuk berbincang dengan
firasat yang aku tangkap selama ini.” Ibunya tiba-tiba saja memeluk
Winih yang memang kemudian bangkit dan duduk disamping ibunya "Kau
memberi harapan baru bagi kami sekeluarga Winih. Ayah dan ibumu
merasa sangat sedih atas sikapmu akhir-akhir ini. Bahkan kakek sudah
memutuskan untuk bertindak lebih keras lagi sebagaimana dilakukannya
itu." Winih mengangguk kecil. Katanya "Aku mohon maaf ibu. Tetapi
jika aku boleh berterus-terang, sebenarnya sulit bagiku untuk
mengerti sikap dan pendapat kakek, ayah dan ibu. Namun aku akan
mencoba melihat kenyataan itu betapapun pahitnya. Tetapi jika
ternyata prasangka kakek, ayah dan ibu tidak terbukti?" "Kakek, ayah
dan ibu tidak bermaksud menyakiti hatimu Winih. Karena itu, jika
ternyata dugaan kami salah, sudah tentu kami tidak akan berkeras
untuk memisahkanmu dari padanya." Winih mengangguk kecil. Ia
mengerti bahwa kakek, ayah dan ibunya berniat baik, meskipun Winih
masih ingin, membuktikan kebenaran dugaan mereka terhadap Darpati.
Sementara itu, Manggada dan Laksanapun telah, dipanggil oleh Kiai
Gumrah. Kepada kedua anak muda itu, Kiai Gumrah telah memberitahukan
sikapnya terhadap Darpati. Dengan nada berat Kiai Gumrah itupun
kemudian berpesan "Karena itu ngger. Kalian berdua harus menjadi
semakin berhati-hati. Aku menjadi semakin yakin, bahwa Darpati
memang ingin menyingkirkan kalian berdua, apapun alasannya. Mungkin
Darpati tahu pasti, bahwa kau dengan Winih sama sekali tidak
mempunyai hubungan darah, sehingga Darpati ingin menyingkirkan
kalian karena kalian terlalu dekat dengan Winih." "Tetapi mungkin
Darpati juga berniat mengurangi kekuatan yang ada dirumah ini "
desis Ki Prawara. "Manggada dan Laksana tidak terlalu
diperhitungkan, karena kemampuan mereka masih dianggap tidak terlalu
mengganggu." jawab Kiai Gumrah. Ki Prawara mengangguk-angguk.
Katanya "Agaknya memang demikian. Karena itu, nanti sore jika kalian
akan membersihkan dan menyalakan lampu di banjar tua itu, biarlah
aku menyertai kalian karena persoalannya agaknya menjadi semakin
bersungguh-sungguh." Manggada dan Laksana tidak menjawab. Dengan
dahi yang berkerut mereka mengangguk-angguk mengiakan. Sementara itu
Kiai Gumrahpun berkata "Waktu memang menjadi semakin mendesak. Orang
yang disebut Panembahan itu tidak akan bermain-main dengan setiap
kesempatan karena orang itu mempunyai batas waktu yang semakin
mendekat” Manggada dan Laksana masih saja mengangguk-angguk. Tetapi
mereka memang dapat mengerti, bahwa udara di rumah tua itu menjadi
semakin hari semakin panas. Hari itu Manggada dan Laksana memang
tidak keluar dari halaman rumah Kiai Gumrah. Sementara Kiai Gumrah
sendiri telah pergi kerumah pedagang gula untuk menyerahkan gulanya
yang masih hangat. Namun seisi rumah itu tahu, bahwa Kiai Gumrah
tidak sekedar menyerahkan gulanya. Tetapi ia telah memberitahukan
persoalan yang terjadi dirumahnya kepada pedagang gula itu. Dengan
demikian maka kawan-kawan Kiai Gumrahpun akan segera mendengarnya
pula. Sementara itu dirumah, Ki Prawara, Manggada dan Laksana tetap
saja berhati-hati. Kemarahan Darpati akan dapat menimbulkan
persoalan khusus disamping usaha sekelompok orang untuk mendapatkan
pusaka-pusaka yang tersimpan dirumah Kiai Gumrah. Seperti biasanya
Kiai Gumrah tidak terlalu lama pergi meninggalkan rumahnya. Ketika
ia kemudian kembali, maka Kiai Gumrah seperti biasanya membawa uang
harga gulanya yang diserahkannya kepada juragan gula yang
menampungnya. Menjelang sore hari, maka juragan gula itu bersama
seorang kawannya telah datang pula kerumah Kiai Gumrah. Seperti
biasa mereka berbicara kesana-kemari. Berkelakar dan sekali-sekali
terdengar mereka tertawa serentak. Ki Prawarapun telah ikut pula
berbincang diantara mereka. Namun disela-sela kelakar mereka itu,
terselip juga pembicaraan yang berarti. Juragan gula dan kawannya
itu minta keterangan lebih terperinci tentang peristiwa yang menimpa
Manggada dan Laksana di banjar, serta sikap Darpati yang marah itu.
Manggada dan Laksana yang menghidangkan suguhan bagi mereka,
sedikit-sedikit ikut mendengar pembicaraan mereka itu. Apalagi Kiai
Gumrah memang tidak berniat untuk merahasiakan pembicaraan itu
terhadap Manggada dan Laksana. Namun dalam pada itu, selagi mereka
sibuk berbincang dan sekali-sekali terdengar suara tertawa meledak,
tiba-tiba saja seorang anak muda telah datang mengetuk pintu rumah
itu. Manggadalah yang kemudian membukakan pintu. Ia melihat seorang
anak muda yang telah begitu sajamenyusup masuk. "Kau?" desis
Manggada yang mengenal anak muda itu. "Dengar" berkata anak muda itu
serta merta dengan suara bergetar disela-sela nafasnya yang
terengah-engah "nanti setelah senja atau disaat malam mulai turun,
Ki Bekel dan beberapa orang bebahu akan datang kemari." "Untuk apa?"
bertanya Manggada yang terkejut “apakah masih ada hubungannya dengan
persoalan Rambatan?" "Ya. Alasannya memang demikian. Tetapi justru
Rambatan setuju aku datang memberitahukan hal ini kepadamu atau
bahkan kepada kakekmu." jawab anak muda itu. "Sikap Rambatan tidak
aku mengerti" berkata Manggada. "Peristiwa yang terjadi kemarin
telah mengguncang perasaan dan penalarannya. Nampaknya ia akan
berubah. Karena itu, ia justru menganjurkan aku datang kemari."
jawab anak muda itu. "Jadi, apa yang akan terjadi?" bertanya
Manggada. "Ki Bekel telah dihasut oleh orang-orang yang tidak
dikenal " jawab anak muda itu. Manggada mengerutkan keningnya.
Keterangan itu agaknya cukup penting, sehingga Manggadapun berkata
"Marilah. Bicarakan dengan kakek." Anak muda itupun kemudian telah
dibawa keruang dalam untuk bertema dengan Kiai Gumrah yang sedang
menemui tamu-tamunya. Tetapi Kiai Gumrah tidak mengajak anak muda
itu untuk berbicara diantara mereka. Bahkan katanya "Biarlah
tamu-tamuku mendengarnya. Mungkin keterangan ini penting bukan saja
bagi kami sekeluarga. Tetapi juga bagi tamu-tamuku." Anak muda itu
memang termangu-mangu. Namun kemudian katanya "Seseoprang telah
menghasut Ki Bekel sebagaimana seseorang telah menghasut Rambatan
kemarin.” "Apa saja yang dikatakannya?" bertanya Kiai Gumrah. "Orang
itu mengatakan kepada Ki Bekel bahwa Kiai dan keluarga Kiai sangat
membahayakan bagi penghuni padukuhan ini. Kiai dan keluarga Kiai
dianggep bertindak sewenang-wenang terhadap anak-anak muda di
padukuhan ini, meskipun anak muda itu bersalah. Jika kemarin
Rambatan berhasil dibujuknya. mereka sekarang telah membujuk Ki
Bekel meskipun orangnya lain. Tetapi aku yakin, bahwa orang yang
membujuk Rambatan dan orang yang mempunyai kepentingan yang sama."
Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Dengan nada berat iapun bertanya
"Bagaimana sikap Ki Bekel serta sikap Rambatan?" "Setelah peristiwa
kemarin, Rambatan justru berubah. Ia merasa diperalat oleh orang
yang tidak dikenal dengan memanfaatkan sikap serta namanya yang
sudah cacat. Sedangkan Ki Bekel nampaknya bukan saja sekedar
dibujuk. Tetapi dengan janji-janji yang tidak kami ketahui. Bahkan
mungkin uang. Rambatan yang justru berubah sikap tidak setuju dengan
sikap Ki Bekel itu. Apalagi anakanakmuda yang lain." "Lalu tindakan
apa yang akan diambil oleh Ki Bekel?” bertanya Kai Gumrah. “Kiai dan
seisi rumah ini akan diusir. Bahkan orangyang membujuk Ki Bekel itu
menganjurkan agar Kiai tidak diperkenankan membawa apapun juga,
karena segala milik Kiai Gumrah itu adalah hasil yang diperoleh
selama Kiai tinggal di padukuhan ini. Karena Kiai dianggap
berkhianat terhadap padukuhan ini, maka apa yang Kiai peroleh
dipadukuhan ini harus kembali kepada padukuhan ini pula." Kiai
Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Dengan agak ragu Kiai Gumrah
bertanya "Bagaimana menurut pendapatmu?" Anak muda itu dengan
serta-merta menjawab "Itu tidak masuk akal. Karena itu, anak-anak
muda yang mengenal Kiai Gumrah dengan baik serta yang pada
akhir-akhir ini bergaul dengan Manggada dan Laksana, menganggap hal
itu tidak dapat diterima begitu saja. Bahkan Rambatan yang juga
merasa pernah diperalat, juga menganggap bahwa Ki Bekel telah
diperalat. Apalagi setelah ada keterangan yang bocor dari salah
seorang bebahu, bahwa orang yang menghasut Ki Bekel itu telah
memberikan uang serta janjijanji." "Jadi apa yang terjadi ini
merupakan kelanjutan dari peristiwa yang terjadi kemarin di banjar
tua?" bertanya Kiai Gumrah. "Agaknya memang demikian" jawab anak
muda itu. Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Katanya "Terima kasih anak
muda. Kami akan berhati-hati menghadapi persoalan ini” "Kiai"
berkata anak muda itu "jika ada sesuatu yang berharga dirumah Kiai,
sebaiknya Kiai menyingkirkan lebih dahulu karena agaknya Ki Bekel
benar-benar telah terhasut dan bahkan dengan sungguh-sungguh berniat
melaksanakannya." Kiai Gumrah itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya
"Ngger. Tidak ada yang pantas aku singkirkan dari rumah ini. Aku
tidak mempunyai apa-apa selain beberapa buah amben bambu dan gledeg
bambu. Tetapi apakah aku akan dengan suka-rela meninggalkan rumah
ini, itulah yang sedang aku pikirkan." "Kiai" berkata anak muda itu
“ada beberapa orang bebahu yang juga terhasut.-Ada beberapa orang
anak muda penjilat yang akan mendukung Ki Bekel yang merasa berhak
mempergunakan kuasanya sewenang-wenang yang tentu juga karena ada
janji. Bukankah dengan demikian sebaiknya Kiai tidak melawan mereka”
"Angger" berkata Kiai Gumrah "kami seisi rumah ini memang tidak akan
mampu melawan mereka. Tetapi bukankah kami wajib mempertahankan hak
kami ?” "Kiai, Manggada dan Laksana memiliki kemampuan untuk
berkelahi sebagaimana terjadi di banjar kemarin. Tetapi jika yang
bakal datang itu adalah Ki Bekel sendiri serta beberapa orang bebahu
yang juga termasuk Ki Jagabaya dan beberapa orang anak muda, apa
yang dapat dilakukan oleh Manggada dan Laksana?" Kiai Gumrah
mengangguk-angguk. Katanya "Kami akan memikirkannya ngger. Aku
menyatakan sangat berterimakasih atas kesediaanmu memberitahukan hal
ini kepadaku." "Kiai. hal ini aku lakukan, karena kami tahu, Kiai
tidak bersalah. Bahkan Rambatanpun menganggap demikian pula." jawab
anak muda itu bersungguh-sungguh "tetapi sekali lagi kami minta,
Kiai jangan mencoba untuk mempertahankan hak Kiai atas tanah ini,
karena agaknya hal itulah yang mereka harapkan." "Kenapa mereka
mengharapkan hal itu?" bertanya Kiai Gumrah dengan heran. "Mereka
mempunyai alasan untuk berbuat kasar. Mereka akan mengusir Kiai
dengan kekerasan." jawab anak muda itu. Kiai Gumrah
mengangguk-angguk. Katanya kemudian "Terima kasih ngger atas
keteranganmu. Ternyata masih adat juga anak-anak muda yang berbicara
dengan hati nuraninya” "Baiklah, Kiai. Aku minta diri. Jika Ki Bekel
dan orangorang yang sejalan dengan sikapnya mengetahui aku ada
disini, mereka tentu akan marah kepadaku," jawab anak muda itu..
Dengan demikian, maka anak muda itupun segera meninggalkan rumah
Kiai Gumrah. Dengan hati-hati anak muda itupun segera menghilang
ditikungan jalan sempit disebelah halaman rumah Kiai Gumrah itu.
Sepeninggal anak muda itu, Kiai Gumrahpun bertanya kepada Manggada
dan Laksana yang ikut mendengarkan pembicaraan itu "Apakah anak muda
itu juga yang kemarin datang memberitahukan niat Rambatan untuk
membalas dendam?" "Bukan kek. Tetapi anak muda ini adalah sahabat
dari anak muda yang datang kemarin. Mereka selalu bersamasama pergi
ke sawah dan bahkan meronda dimalam hari. Merekalah yang sering
duduk berlama-lama di banjar tua itu bersama kami berdu?.."
"Baiklah” berkata Kiai Gumrah "aku justru menganggap bahwa
persoalannya menjadi semakin jelas. Tentu ada hubungannya dengan
sikap Darpati." "Jika demikian, kita harus semakin berhati-hati"
berkata juragan gula itu. "Aku memang menjadi agak bingung" desis
Kiai Gumrah "bagaimana cara kami menghadapi orang-orang padukuhan
ini. Mereka adalah orang-orang yang tidak tahu menahu, apa yang
sebenarnya mereka lakukan. Tetapi sudah tentu bahwa kami tidak dapat
begitu saja mengungsi dari tempat ini sambd membawa pusaka-pusaka
itu." "Satu langkah yang cerdik dari para pengikut Kiai Windu
Kusuma" berkata juragan juragan gula itu "tetapi juga tidak mustahil
bahwa diantara para bebahu itu terdapat para pengikut Kiai Windu
Kusuma atau orang yang disebut Panembahan itu." "Jadi, apa yang
sebaiknya kita lakukan?" bertanya Kiai Gumrah. "Aku akan memanggil
beberapa orang kita. Mungkin kita memang harus berkelahi meskipun
kita harus menyesuaikan diri dengan siapa kita berhadapan. Jika ada
diantara mereka orang-orang Kiai Windu Kusuma atau bahkan para
pengikut orang yang disebut Panembahan itu, apaboleh buat. Kita
tidak sekedar bermain-main. Tetapi jika yang datang benar-benar
hanya orang-orang padukuhan ini, tentu kita akan berbuat lain,
meskipun akhirnya kita tidakakan keluar dari rumah ini." Kiai Gumrah
mengangguk-angguk. Katanya "Baiklah. Beritahukan beberapa kawan
kita." Kedua orang tamu Kiai Gumrah itupun segera minta diri.
Juragan gula itupun berkata "Aku akan sampai kemari lagi sebelum
senja bersama beberapa orang kawan” "Jangan datang bersama-sama"
pesan Kiai Gumrah "datanglah seorang demi seorang." Juragan gula itu
tersenyum. Katanya "Kau kira aku sudah menjadi demikian dungu
sehingga kau perlu berpesan seperti itu?" "Siapa yang mengatakan
bahwa aku menganggapmu semakin dungu sekarang ini? Dengar, aku
menganggapmu dungu sejak dahulu." "Setan kau. Jika demikian, aku
akan duduk disini saja sambil menghirup minuman hangat." jawab
juragan gula itu. Tetapi kawannya menariknya sambil berkata "Kau
bukan saja menjadi semakin dungu. Tetapi, kau juga menjadi cengeng
dan perajuk sekarang." Juragan gula itu tertawa sambil bangkit
berdiri sementara kawannya berkata “Kita tidak mempunyai waktu
lagi." Demikianlah, maka kedua orang tamu itupun telah meninggalkan
rumah Kiai Gumrah untuk memberitahukan beberapa orang kawan mereka
tentang peristiwa yang akan terjadi dirumah Kiai Gumrah, Dalam pada
itu, Kiai Gumrahpun telah menjadi semakin berhati-hati. Manggada dan
Laksana harus mengawasi halaman belakang rumah Kiai Gumrah. Mungkin
ada sesuatu yang mencurigakan. Kepada mereka berdua Kiai Gumrah
berpesan, agar mereka tidak usah pergi ke banjar. Menjelang senja,
seperti yang dijanjikan, juragan gula itu telah datang. Kemudian
disusul seorang demi seorang para pembuat dan penjual gula. Sebagian
dari mereka telah dikenal oleh Manggada dan Laksana. Tetapi yang
lain terhitung orang-orang baru bagi kedua orang anak muda itu,
Ketika mereka sudah berkumpul diruang dalam, maka rasa-rasanya
ruangannya menjadi terlalu sempit. Sementara Nyi Prawara. Winih,
Manggada dan Laksana menjadi sibuk membuat dan menghidangkan minuman
dan ketela rebus. "Berapa orang?" bertanya Nyi Prawara yang
menyiapkan hidangan bagi tamu-tamu Kiai Gumrah. "Enam orang " jawab
Manggada. "Jadi semuanya ada delapan termasuk kakek dan paman
Prawara " berkata Laksana kemudian. Nyi Prawara mengangguk-angguk.
Tetapi hidangan yang disediakan akan lebih dari mencukupi bagi
keenam tamu itu. Sejenak kemudian, maka pembicaraan yang riuh telah
terjadi di ruang dalam. Seperti biasanya, jika kawan-kawan Kiai
Gumrah yang pada umumnya memang sudah setengah baya dan bahkan lewat
setengah abad itu berkumpul, maka suasana menjadi ramai. Mereka
berbicara apa saja. Kadang-kadang mereka tidak menahan diri untuk
berbicara semakin lama semakin keras. Suara tertawa yang
kadang-kadang meledak mewarnai pembicaraan mereka. Namun dalam pada
itu, setelah mereka minum beberapa teguk serta menelan
sepotong-sepotong ketela rebus, mereka bertanya “kenapa kami
diundang untuk datang-kerumah ini." Sebelum Kiai Gumrah menjawab,
seorang diantara para tamu itu menyahut "Biasanya Kiai Gumrah
memperingati hari kelahirannya. Bahkan tumbuk ageng." "Kenapa
biasanya?" bertanya yang lain “bukankah tumbuk ageng itu hanya
terjadi sekali dalam hidup seseorang?" "Tetapi Kiai Gumrah tidak. Ia
memperingati hari apapun dengan istilah tumbuk ageng. Juga jika ia
ingin bermain dadu dengan mengundang beberapa orang kawan. Iapun
menyebutnya memperingati hari tumbuk agengnya." "Sekarang kita
memang akan memperingati tumbuk ageng" berkata Kiai Gumrah "tetapi
juragan kita itu tentu sudah mengatakan kenapa kalian diminta
datang." "Katakanlah" berkata juragan gula itu "itu penting, karena
kau yang menjadi tuan rumah sekarang ini." Kiai Gumrah menarik nafas
dalam-dalam. Namun iapun kemudian mengatakan, kenapa ia mengharap
kawankawannya yang sempat dihubungi untuk datang. "Jadi Ki Bekel
malam ini akan datang kemari?" bertanya seseorang. "Ya" jawab Kiai
Gumrah "seperti pendapat anak-anak muda padukuhan ini, niat Ki Bekel
itu memang tidak masuk akal jika tidak ada seseorang yang
membujuknya, menghasutnya atau menyuapnya. Orang-orang itu agaknya
ingin mempergunakan semua cara yang mungkin ditempuh untuk mencapai
maksudnya. Bahkan juga membenturkan kekuasaan Ki Bekel dengan
kekuatan kita yang tentu sudah mereka ketahui." "Apakah mereka tidak
memperhitungkan bahwa langkah yang mereka ambil itu akan sia-sia
saja?" desis seorang yang lain. "Aku tidak tahu apa maksud mereka
sebenarnya dengan langkah yang diambilnya kali ini” berkata Kiai
Gumrah kemudian. "Baiklah" berkata juragan gula itu "kita akan
menunggu, apa yang nanti akan terjadi." "Tetapi jika Kiai Windu
Kusuma datang dengan seluruh kekuatannya, menumpang gejolak yang
telah dibuatnya, maka kita akan mengalami kesulitan." berkata Kiai
Gumrah. “Aku belum yakin, kalau Kiai Windu Kusuma memakai cara ini
untuk tujuan akhir. Mungkin ia sekedar memancing satu pergolakan
untuk rencananya yang lebih besar" sahut juragan gula itu. Kiai
Gumrah mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya "Sudahlah, Kita
menunggu apa yang terjadi. Aku akan pergi ke dapur lebih dahulu."
Didapur Kiai Gumrah telah memberikan beberapa pesan kepada Nyi
Prawara dan kepada Winih. Agaknya Kiai Gumrah menanggapi peristiwa
yang akan terjadi itu dengan bersungguh-sungguh. Ketika senja mulai
turun, Manggada dan Laksana diperingatkan oleh Kiai Gumrah untuk
tidak pergi ke banjar lama karena kemungkinan-kemungkinan buruk akan
dapat terjadi. "Kita akan menunggu disini" berkata Kiai Gumrah.
"Tetapi banjar itu akan tetap gelap" desis Manggada. "Biar sajalah
untuk malam ini. Atau mungkin malammalam berikutnya. Jika Ki Bekel
nanti benar-benar datang, mungkin akan ada perubahan-perubahan
terjadi di padukuhan ini." Manggada hanya dapat mengangguk-angguk
saja. Sementara Kiai Gumrah berkata "Hari-harilah, Perhatikan
halaman belakang rumah ini. Tetapi kau tidak perlu keluar dan turun
ke halaman belakang karena hal itu juga berbahaya bagi kalian
berdua." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk kecil. Mereka memang
dapat menyadari, bahwa bahaya akan mengintip mereka setiap saat.
Sementara itu, lampupun telah dinyalakan dirumah Kiai Gumrah. Bahkan
oncor diregolpun telah menyala pula. Tetapi banjar, lama padukuhan
itu masih tetap gelap karena Manggada dan Laksana tidak, datang
kebanjar untuk membersihkan banjar dan menyalakan lampu-lampu minyak
sebagaimana dilakukannya setiap hari. Ketika malam mulai turun, maka
pembicaraan diantara orang-orang tua diruang tengah itupun menjadi
semakin mereda. Bagaimanapun juga terasa bahwa mereka mulai diusik
oleh ketegangan. Menurut keterangan anak muda yang datang kerumah
itu, Ki Bekel akan datang lepas senja atau saat malam mulai turun.
Ketika diruang dalam itu tidak lagi terdengar suara gurau dan tawa,
maka seperti yang mereka tunggu, maka Ki Bekel benar-benar telah
datang kerumah itu. Ternyata bukan sekedar Ki Bekel dan beberapa
orang bebahu, tetapi berpuluh-puluh orang padukuhan itu dengan
membawa obor ditangan telah memasuki halaman rumah Kiai Gumrah.
Suara riuh di halaman memang membuat orang-orang yang ada didalam
rumah itu terkejut. Mereka memang sudah menunggu kedatangan Ki
Bekel. Tetapi ternyata bahwa Ki Bekel telah membawa banyak orang
datang kehalaman rumah itu. "Apa pula yang dilakukan Ki Bekel itu?"
desis Kiai Gumrah. Kawan-kawannya tidak menyahut. Namun merekapun
mendengar bahwa di halaman rumahnya itu telah berkumpul orang-orang
yang membawa obor sambil berteriak memanggil-manggil “Kiai Gumrah,
keluarlah." Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Iapun kemudian
memanggil Nyi Prawara, Winih, Manggada dan Laksana. Kepada mereka
Kiai Gumrah berkata. "Jangan keluar. Kalian sebaiknya tetap berada
didalam. Selain untuk, kepentingan kalian, awasi pusaka-pusaka ini.
Mungkin Ki Bekel telah diperalat oleh orang-orang yang menginginkan
pusaka-pusaka itu. Dalam kekisruhan ini, mereka dapat
memanfaatkannya untuk mengambil pusakapusaka itu. Berhati-hatilah."
"Baik kakek" jawab Manggada dan Laksana hampir berbareng.
Demikianlah, maka Kiai Gumrahpun telah melangkah ke pintu. Sebelum
ia membuka pintu itu, maka terdengarpintu itu diketuk keras-keras
dari luar. Terdengar suara Ki Bekel memanggil-manggil “Kiai Gumrah.
Keluarlah. Cepat, sebelum kami menjadi semakin marah." Kiai Gumrah
menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun segera membuka
pintu. Ki Bekel memang berdiri didepan pintu. Ketika pintu itu
terbuka, maka Ki Bekelpun segera melangkah surut. Beberapa orangpun
telah ikut melangkah surut pula. Ki Bekel itu mengerutkan dahinya
ketika ia melihat beberapa orang lain telah keluar pula dan rumah
Kiai Gumrah. "Jadi kalian sudah bersiapsiap menyambut kedatangan
kami, he?" berteriak Ki Bekel. "Ki Bekel" berkata Kiai Gumrah “aku
tidak tahu apa yang telah terjadi. Tetapi perkenankan aku
mengucapkan selamat datang kepada Ki Bekel dan beberapa puluh orang
saudara-saudaraku yang malam ini datang kerumahku." "Kiai Gumrah"
berkata Ki Bekel "aku akan langsung kepersoalannya saja. Aku datang
untuk menjatuhkan keputusan bahwa kau harus meninggalkan rumah ini.
Rumah dan halaman yang kami sediakan bagimu dan keluargamu ternyata
tidak berarti sama sekali bagi padukuhan ini. Justru sebaliknya,
kehadiranmu dirumah ini telah membuat persoalan yang sangat
merugikan padukuhan ini." Kiai Gumrah termangu-mangu sejenak. Namun
kemudian katanya "Ki Bekel. Aku tidak tahu apa maksud Ki Bekel
sebenarnya." "Jangan berpura-pura. Aku sudah memperingatkanmu, jika
kau berbuat kesalahan lagi, maka kau akan kami usir dari padukuhan
ini. Ternyata kau tidak mendengarkan peringatanku itu. Dan kau
benar-benar telah melakukan kesalahan lagi. Bahkan nampaknya kau
sengaja bersama cucu-cucumu. Karena itu, maka kami sudah kehabisan
kesabaran. Kalian, seisi rumah ini harus pergi. Tetapi karena segala
milikmu adalah hasil dari tanah dan ladangmu, termasuk kebun
kelapamu, maka kau tidak berhak membawanya. Semuanya harus kau
tinggalkan. Yang dapat kau bawa hanyalah pakaian yang sekarang
melekat ditubuhmu itu saja." "Ah” desah Kiai Gumrah “Ki Bekel jangan
bergurau.” "Setan kau. Aku tidak bergurau. Aku bersungguhsungguh.
Kalian kami usir dari padukuhan ini. Kalian tidak perlu bertanya
lagi. Kalian tentu sudah tahu akan kesalahan kalian,” "Ki Bekel"
berkata Kiai Gumrah “ketika aku menerima peringatan dari Ki Bekel
kemarin, maka akupun telah mengingatnya dengan baik. Aku sudah
menasehati cucucucuku agar mereka tidak melakukan kesalahan lagi."
-“Omong kosong” geram Ki Bekel “kau lihat, malam ini banjar lama itu
gelap gulita. Halamannya kotor seperti rumah yang sudah
bertahun-tahun tidak berpenghuni." "O" Kiai Gumrah mengangguk-angguk
“tetapi bukankah itu kesalahan yang tidak mendasar? Tidak
sebagaimana dilakukannya kemarin. Sehari ini aku marahi cucu-cucuku,
sehingga mereka dan juga aku, justru lupa menyalakan lampu.
Sementara itu, kesalahan kecil itu apakah seimbang dengan keputusan
yang Ki Bekel ambil untuk mengusir kami dari rumah ini?" "Jangan
banyak bicara" berkata Ki Bekel "kami tidak ingin berbantah tentang
apapun juga. Tetapi keputusan kami sudah bulat. Kalian harus pergi."
Bahkan Ki Bekel itu tiba-tiba saja menghadap kepada orang-orang yang
mengikutinya sambil bertanya "He, apakah pendapat kalian tentang
kakek tua yang keras kepala ini?" "Usir saja. Usir saja" terdengar
teriakan gemuruh. Bahkan seseorang diantara mereka berteriak "Jika
perlu, bunuh saja." Celakanya beberapa orang menyahut “Bunuh saja.
Bunuh saja." Kiai Gumrah memang menjadi tegang. Bukan karena ia
ketakutan menghadapi orang banyak. Tetapi Kiai Gumrah memang
bingung, apa yang harus dilakukan terhadap orang-orang itu. Ketika
teriakan orang-orang itu menjadi semakin keras, maka Ki Bekel
berkata "Nah, kau dengar tuntutan mereka atas kalian? Karena itu,
sekarang kalian dan orang-orang yang kalian kumpulkan dirumah ini
harus pergi tanpa membawa apapun juga." "Ki Bekel" sahut Kiai Gumrah
"ternyata Ki Bekel tidak adil. Beritahu kesalahanku. Beri aku
kesempatan untuk membela diri. Jika ternyata aku benar-benar
bersalah, maka aku tidak akan berkeberatan untuk pergi." "Jangan
-banyak bicara" geram Ki Bekel "aku masih dapat menahan kemarahan
orang-orang yang sebagaimana kau dengar sendiri ingin membunuhmu."
"Tetapi Ki Bekel harus memberikan penjelasan" sahut Kiai Gumrah “Ki
Bekel tidak dapat berlaku sewenangwenang. Ki Bekel harus menenangkan
orang-orang itu. Atau Ki Bekel dapat menunjuk salah seorang diantara
mereka untuk mengatakan apa kesalahanku sehingga mereka ingin
mengusirku, bahkan membunuhku." "Cukup" teriak Ki Bekel "aku tidak
sedang berbantah. Tetapi aku sedang memerintahkan kau pergi dari
padukuhan ini." "Itu tidak cukup" tiba-tiba saja Kiai Gumrah juga
berteriak "aku tidak menerima perlakuan yang tidak adil ini."
Teriakan Kiai Gumrah justru mengejutkan sehingga Ki Bekel dan
orang-orang yang berkumpul di halaman Kiai Gumrah itu terdiam.
Kesempatan itu dipergunakan oleh Kiai Gumrah untuk berbicara
selanjutnya "Nah, siapa yang dapat menunjukkan kesalahanku atau
kesalahan cucucucuku. Maksudku tentu kesalahan yang mendasar. Yang
berarti, sehingga pantas dijadikan alasan untuk mengusir aku dari
padukuhan ini. Katakan. Siapa yang akan mengatakannya?" Orang-orang
itu justru terdiam "atau sekedar prasangka buruk? Atau lebih buruk
dari itu? Fitnah, hasutan orang lain karena iri, dengki atau
kepentingan-kepentingan yang lain? Ki Bekel yang tidak siap menerima
pertanyaan, yang beruntun itu justru terdiam. Meskipun wajahnya
menjadi tegang, tetapi mulutnya justru terbungkam. Ia tidak dapat
langsung menjawab. Apalagi orang-orang lain yang mengikutinya sambil
membawa obor itu. Mereka benarbenar menjadi bingung. Sementara
beberapa orang diantara mereka sebelumnya sama sekali tidak
mempunyai persoalan apapun dengan Kiai Gumrah yang mereka kenal
sebagai seorang penyadap legen kelapa untuk dibuat gula. Bahkan ada
diantara mereka yang menganggap bahwa Kiai Gumrah adalah seorang tua
yang baik dan ramah Untuk Sesaat halaman rumah Kiai Gumrah itu
menjadi hening. Ki Bekel hanya berdiri tennangu-mangu saja.
Sementara orang-orang yang membawa obor di halaman itu menjadi
bingung. Namun tiba-tiba dalam keheningan itu terdengar seseorang
berteriak "Kiai Gumrah. Jangan berpura-pura tidak tahu akan
kesalahanmu sendiri. Memang bukan sekedar lampu banjar tua atau
halaman banjar itu yang kotor. Juga bukan sekedar karena cucu-cucumu
yang berkelahi dan memukuli Rambatan yang tidak bersalah meskipun
Rambatan kami anggap anak nakal disini. Tetapi yang lebih mendasar
dari kesalahanmu adalah, bahwa kau adalah seorang tukang tenung. Kau
mempunyai kemampuan ilmu sihir yang kau pergunakan untuk tujuan yang
buruk. Kau sudah membunuh beberapa orang dengan tenungmu atas upah
orang lain." Kiai Gumrahlah yang kemudian terkejut mendengar jawaban
itu. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa tuduhan yang
dilemparkannya adalah pekerjaan yang sama sekali tidak
dimengertinya. Tenung. Karena itu, maka Kiai Gumrahpun langsung
mengerti, bahwa orang yang menghasut Ki Bekel adalah orang yang
benar-benar menghendaki kehancurannya. Dengan demikian, maka hampir
diluar kesadarannya iapun berdesis kepada kawan-kawannya "Kita
benar-benar berhadapan dengan mereka. Tetapi kita belum tahu,
sejauhmana sasaran yang mereka kehendaki dengan permainan yang kotor
ini." Kawan-kawannyapun mengangguk-angguk. Merekapun melihat
permainan yang kotor dan licik itu. Bahkan orangorang yang berniat
mengambil pusaka-pusaka itu sampai hati mengumpankan orang-orang
yang tidak tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan itu. Dalam pada
itu, maka terdengar suara itu lagi "Jika kita ingin padukuhan kita
bersih, maka orang tua itu harus diusir dari padukuhan ini." "Jika
perlu bunuh saja" suara itu terdengar lagi. Tetapi tidak terdengar
sahutan yang serta-merta. Orangorang yang membawa obor itu tidak
lagi berteriak-teriak. Namun dalam pada itu, Ki Bekel yang
seakan-akan sudah terbangun dari mimpinya itu tiba-tiba saja telah
berteriak pula "Nah, apa katamu Kiai Gumrah. Berapa orang yang telah
kau bunuh dengan tenagamu dengan upah orang lain? Orang-orang yang
tidak pernah bersalah kepadamu dan bahkan belum pernah mengenalmu,
harus mati karena ilmu hitammu." Dan suara itu terdengar lagi "Bunuh
saja. Bunuh saja.” Karena tidak ada sahutan yang gemuruh, maka Ki
Bekelpun kemudian berteriak "He, saudara-saudaraku. Jika kemarin
kiai Gumrah teiah membunuh orang yang tidak kalian kenal, apa kata
kalian jika besok atau lusa kalian sendiri yang akan dibunuhnya?
Apalagi setelah Kiai Gumrah melihat kalian datang malam ini
bersamaku untuk mengusirnya.." Beberapa orang memang mulai
terpengaruh lagi. Tetapi tidak menghentak dan bahkan ada orang yang
sempat berpikir apa yang sebenarnya dilakukannya. Dalam pada itu
Kiai Gumrahpun berkata "Saudara saudaraku. Satu perbuatan yang keji
telah dilakukan oleh sekelompok orang yang datang untuk menghasut Ki
Bekel dan bahkan menghasut kalian semuanya. Jika aku pernah membunuh
seorangpun dengan tenung, nah, katakan siapakah yang telah aku bunuh
itu. Apa pula tandatandanya bahwa akulah yang telah membunuhnya?
Sebelum kalian datang kerumahku hari ini, apakah kalian pernah
mendengar sepatah katapun dari siapapun yang mengatakan bahwa aku
memiliki ilmu tenung? Tidak saudara-saudaraku. Baru-saat ini orang
yang menuduhku mempunyai ilmu tenung itu ingat, tuduhan apakah yang
terbaik dikatakan untuk memperkuat niatnya mengusir aku, meskipun
aku tidak tahu apakah tujuannya yang sebenarnya." "Jangan dengarkan
ia membual" terdengar suara dari antara orang-orang yang membawa
obor itu "orang tua tukang tenung itu harus diusir dari padukuhan
ini." Dan suara yang itu-itu juga terdengar lagi "Bunuh saja orang
tua tukang tenung itu." Tetapi dengan cepat Kiai Gumrah berkata
"Saudarasaudaraku. Kalian tidak usah bersusah payah membunuh aku.
Jika kalian dapat membuktikan bahwa aku tukang tenung, maka aku akan
membunuh diri dihadapan saudarasaudaraku malam ini juga." "Bohong.
Omong kosong" teriak seseorang "selama ini orang yang kau bunuh
adalah orang-orang yang tidak tinggal dipadukuhan ini. Tetapi besok,
lusa dan kesempatan berikutnya?" Ki Bekelpun berteriak pula "Orang
itu memang licik. Sekarang kita harus segera bertindak. Usir orang
itu. Usir juga kawan-kawannya. Mereka tentu juga tukang tenung atau
pembantu-pembantu Kiai Gumrah." Tetapi juragan gula itulah yang
kemudian melangkah maju sambil berkata "Ki Sanak. Apakah kalian lupa
kepadaku? Apakah kalian belum mengenal aku? Sebagian besar dari Ki
Sanak tentu pernah berhubungan dengan aku. Mungkin dipasar atau
dirumah atau dimana saja. Demikian pula kawan-kawanku yang hari ini
sengaja datang untuk sekedar berbincang dirumah ini. Bukankah gula
kami tetap manis? Nah, kenapa tiba-tiba saja kalian seperti orang
bermimpi dan berbicara tentang tenung?" “Cukup. Cukup" Ki Bekel
berteriak. Lalu katanya kepada orang-orang yang datang bersamanya
“Nah, kalian sudah mulai merasakan, betapa tajamnya pengaruh
sihirnya atas kalian. Kalian yang datang dengan tekad yang bulat,
kini kalian seakan-akan telah kehilangan diri kalian, masing-masing.
Karena itu, maka kalian harus cepat bertindak sebelum kalian akan
menjadi lemas dan jatuh pingsan dihalaman rumah ini. Padukuhan ini
mulai besok akan dimakan page-blug Pagi sakit, sore mati dan sore
mulai sakit, paginya sudah mati." Beberapa orang mulai tergerak
lagi. Para bebahu yang sudah terbius oleh janji-janji yang muluk
tanpa menghiraukan kebenaran telah berteriak pula "Usir orang itu."
Dan suara itu terdengar lagi "Bunuh saja. Bunuh saja.” Orang-orang
yang membawa obor itu menjadi semakin kebingungan. Tetapi ketika Ki
Bekel dan para bebahu mulai bergerak dan berteriak-teriak, maka
beberapa orangpun telah mulai melakukannya pula. Namun dalam sekilas
Kiai Gumrah dan kawankawannya sempat melihat beberapa orang yang
tidak dikenalnya diantara mereka yang membawa obor itu. Karena itu,
maka Kiai Gumrahpun berteriak keras-keras "He, lihat. Siapakah yang
berteriak paling keras diantara kalian? Selain Ki Bekel, lihat,
apakah kalian, orang-orang padukuhan ini, mengenali beberapa orang
diantara kalian? Orang yang justru berusaha mempengaruhi kesadaran
kalian? Ingat, kita adalah sama-sama penghuni padukuhan ini. Kita
sudah mengenal masing-masing lahir dan batinnya. Tetapi kalian
lihat, siapakah orang-orang yang paling gigih mengajukan tuntunan
terhadap kami malam ini?" Tetapi Ki Bekel tidak memberi kesempatan
berpikir kepada orang-orangnya. Iapun kemudian berteriak "Cepat,
usir orang itu. Semakin cepat semakin baik." Tetapi Ki Bekel tidak
mampu menggerakkan semua orang yang datang kehalaman rumah Kiai
Gumrah. Memang beberapa orang yang melihat beberapa orang bebahu
mendesak maju, merekapun ikut-ikutan pula. Bahkan beberapa orang
telah mendorong mereka dari belakang. Ketika seorang diantara mereka
berpaling, ternyata yang mendorongnya adalah orang yang tidak
dikenalnya. Bukan penghuni padukuhan itu. Sementara itu, Kiai Gumrah
sesaat menjadi bingung. Ia tidak ingin berkelahi melawan
tetangga-tetangganya sendiri. Tetapi iapun tidak mau menjadi
bulan-bulanan oleh Ki Bekel yang telah dihasut oleh orang-orang yang
tidak dikenal itu. Karena itu, ketika sebagian dari orang-orang yang
datang kehalaman rumah Kiai Gumrah itu mulai bergerak, maka Kiai
Gumrahpun berdesis kepada kawan-kawannya "Apaboleh buat. Kita tidak
akan mengumpankan diri dimakan api obor-obor itu. Tetapi kita harus
tahu diri, siapapun yang kita hadapi." Kawan-kawan Kiai Gumrah
itupun menyadari, bahwa yang akan mereka hadapi bukan orang-orang
padukuhan itu. Tetapi orang-orang yang justru tidak dikenal yang
berteriak-teriak paling keras untuk memacu kemarahan orang-orang
padukuhan itu. Namun Kiai Gumrah kemudian telah membuat rencana
tersendiri. Ketika orang-orang itu mendesak maju, maka iapun
meloncat dengan cepatnya. Jauh melampaui kecepatan yang dapat
dibayangkan oleh orang-orang padukuhan itu, yang tidak mengetahui
kemampuan Kiai Gumrah yang sebenarnya. Sebelum orang-orang yang
datang kerumahnya itu menyadari, maka Kiai Gumrah telah menangkap Ki
Bekel. Diputarnya tangan Ki Bekel itu setelah ditarik beberapa
langkah surut menjauhi orang-orang yang bergerak itu. Adalah diluar
kemampuan pengamatan orang-orang yang mengikutinya termasuk para
bebahu, maka Kiai Gumrah itu telah menarik keris Ki Bekel itu
sendiri. Sambil mengacukan ujung keris itu ke leher Ki Bekel, maka
Kiai Gumrahpun berteriak "Berhenti. Atau Ki Bekel ini akan menjadi
mayat." Orang-orang yang mengikuti Ki Bekel itu terkejut. Mereka
memang berhenti bergerak. Dihadapan mereka, diterangi oleh cahaya
obor, maka mereka melihat ujung keris Ki Bekel itu sendiri telah
melekat dilehernya. "Apaboleh buat ?" berkata Kiai Gumrah
keras-keras "kalian tidak akan dapat membunuh aku dua kali. Jika
kalian benar-benar ingin membunuhku, maka Ki Bekel ini akan mati
juga bersamaku." Para bebahu padukuhan itu menjadi tegang. Sementara
itu Ki Bekel sendiri sudah tidak berdaya. Tangannya yang sebelah
terpilin dibelakang tubuhnya, sementara ujung kerisnya sendiri
melekat dilehernya. "Ki Bekel" berkata Kiai Gumrah "perintahkan
orangorangmu untuk mundur." Karena Ki Bekel masih berdiam diri, maka
ujung keris itu mulai menekan kulitnya. Kiai Gumrah itupun berkata
lagi "Cepat, atau Ki Bekel akan mati bersamaku." Ki Bekel memang
tidak dapat berbuat lagi. Dengan, suara parau ia berkata "Mundurlah.
Mundurlah." Suasana benar-benar menjadi tegang. Para bebahu dan
orang-orang yang membawa obor itu tidak mempunyai pilihan lain.
Setapak demi setapak mereka melangkah surut. Ternyata hal itu tidak
mereka perhitungkan sebelumnya. Juga orang-orang yang tidak dikenal
oleh orang-orang padukuhan itu tidak memperhitungkannya. Karena itu,
ketika hal itu terjadi, mereka harus berpikir untuk mencari jalan
keluar. Namun satu hal harus terjadi, keributan di halaman rumah
itu. Karena itu, ketika Ki Bekel yang tidak berdaya itu
memerintahkan orang-orangnya untuk melangkah surut, maka beberapa
orang tiba-tiba telah bergerak sambil berteriak "Bunuh tukang tenung
itu. Jangan hiraukan Ki Bekel. Untuk mencapai satu tujuan yang
besar, kita harus berani memberikan pengorbanan." Para bebahu dan
orang-orang padukuhan itu semakin menjadi bingung. Sementara
beberapa orang mulai bergerak sambil mendorong orang-orang padukuhan
itu untuk bergerak maju. "Marilah, jangan hiraukan Ki Bekel" teriak
seseorang. Tetapi Ki Bekel memberikan isyarat dengan tangannya yang
sebelah, yang sengaja dilonggarkan oleh Kiai Gumrah sambil berteriak
"Jangan. Mundurlah." Tetapi orang-orang itu berteriak "Kita
selesaikan orang itu sekarang. Jangan menunda lagi." Kiai Gumrahlah
yang kemudian bergumam "Ki Bekel. Orang-orang itu tidak menghiraukan
lagi nyawamu. Mereka membiarkan kau mati bersamaku." "Tidak. Jangan
lakukan itu. Aku masih ingin hidup" teriak Ki Bekel sambil meronta.
Kiai Gumrah terpaksa melonggarkan tekanan kerisnya agar tidak
melukai leher Ki Bekel Dengan nada berat ia berkata "Kau lihat Ki
Bekel, bahwa ternyata kau juga tidak berharga. Harga nyawamu sama
dengan harga nyawaku." "Terkutuklah kalian. Jangan biarkan aku
mati." Tetapi teriakan Ki Bekel benar-benar tidak berarti. Seseorang
diantara orang-orang yang menyusup itu berteriak "Relakan Ki Bekel.
Kita akan segera memilih orang baru. Mungkin salah seorang dari para
bebahu yang ada disini akan dipilih menjadi Bekel di padukuhan ini."
"Setan kau" geram Ki Bekel “ternyata kalian adalah pengkhianat."
"Jangan dengarkan Ki Bekel yang cengeng dan sedang merajuk itu, Ia
harus rela menjadi korban bagi kepentingan padukuhan ini. Jika ia
memang seorang pemimpin yang baik, maka seharusnya tidak memikirkan
diri sendiri. Seandainya ia harus mati, maka kematiannya akan
menjadi pupuk mensejahteraan rakyat padukuhan ini. Dengan demikian,
maka Ki Bekel akan mati sebagai seorang pahlawan. Berbahagialah
kalian mempunyai seorang pemimpin yang bersedia mengorbankan
dirinya. Kalianpun selanjutnya akan memiliki seorang pahlawan yang
akan dapat kalian ceriterakan kepada anak cucu kalian." Jantung
orang-orang padukuhan itu, terutama para bebahu, menjadi semakin
terguncang. Kata-kata itu memang sangat mempengaruhinya, sehingga
merekapun mulai bergerak lagi. Namun yang mereka hadapi kemudian
seakan-akan bukan lagi Kiai Gumrah yang mereka kenal sehari-hari.
Orang yang memilih tangan Ki. Bekel dan mengacukan ujung keris
kelehemya itu seolah-olah adalah orang lain. Seorang yang sangat
garang dengan pandangan mata yang menyala bagaikan bara api. Ketika
orang-orang yang tidak dikenal itu mendorong beberapa orang maju,
maka Kiai Gumrahpun berkata "Ki Bekel. Sekarang kau dapat menilai
sendiri. Bukankah,kau sekedar diumpankan untuk memancing kerusuhan
disini. Aku akan melepaskanmu. Terserah, apa yang. akan kau lakukan.
Tetapi aku akan melawan habis-habisan menghadapi orang-orang yang
tidak dikenal itu” Ki Bekel, tidak menjawab. Namun seperti yang
dikatakan, ketika sekelompok orang benar-benar menyerang, maka Ki
Bekel itu telah dilepaskannya. Didorongnya Ki Bekel ke-samping,
sementara Kiai Gumrahpun telah meloncat menghadapi orang-orang yang
memang menyerangnya. Justru bukan orang-orang padukuhan itu.
Demikianlah, maka pertempuranpun telah terjadi. Kawan-kawan Kiai
Gumrah dan Ki Prawara telah bertempur menghadapi beberapa orang yang
ikut serta menyelinap diantara berpuluh orang yang datang ke halaman
rumah itu. Beberapa saat kemudian, pertempuranpun menjadi semakin
sengit dan keras. Para pembuat gula itu benarbenar telah berubah.
Mereka bukan orang-orang tua yang ramah, yang menerima uang keping
demi keping ketika mereka menjual gulanya. Tetapi mereka telah
menjadi orang-orang yang garang dan bertempur dengan mengerahkan
segenap tenaga dan kemampuan mereka. Dalam pertempuran yang tegang
itu terdengar Kiai Gumrah berkata "Kalian tidak akan dapat ingkar
lagi. Kalian adalah para pengikat Kiai Windu Kusuma." "Persetan
dengan igauanmu" geram lawan Kiai Gumrah. "Ki Bekel" teriak Kiai
Gumrah "perhatikan mereka. Mereka adalah orang-orang jahat yang
telah menghasut dan memperalat Ki Bekel untuk memusuhi kami." Ki
Bekel berdiri termangu-mangu. Para bebahupun telah berloncatan
menepi. Mereka tidak lagi mengerti apa yang telah terjadi di halaman
rumah Kiai Gumrah itu. Yang mereka lihat adalah pertempuran yang
menjadi semakin sengit. Orang-orang yang datang sambil membawa obor
itu mulai sempat menilai apa yang telah mereka lakukan. Demikian
pula beberapa orang bebahu. Bahkan Ki Bekel sendiri yang merasa
dikhianati. Apalagi setelah ternyata Kiai Gumrah telah melepaskannya
tanpa menyakitinya. "Jika saja ia ingin membunuhku, maka ia tidak
akan mengalami kesulitan." berkata Ki Bekel didalam hatinya. Dalam
pada itu, pertempuranpun menjadi semakin cepat. Ternyata orang-orang
yang menyusupi diantara berpuluh orang padukuhan itupun cukup
banyak, sehingga Kiat Gumrah, enam tamunya dan Ki Prawara harus
bekerja keras untuk bertahan. Namun merekapun segera menyadari,
bahwa yang dikirim oleh Kiai Windu-Kusuma saat itu bukanlah orang
yang terbaik. Kiai Gumrahpun segera teringat akan Darpati yang hari
itu menjadi sangat marah karena ia gagal membawa Winih, Manggada dan
Laksana. Agaknya Darpati termasuk salah seorang yang menggerakkan
orang-orang Kiai Windu Kusuma itu. Sebenarnyalah bahwa Darpati
memang ikut bergerak malam itu. Manggada dan Laksana yang ada
diruang belakang telah mendengar pintu diketuk orang perlahanlahan.
Namun keduanya tidak segera membukakannya. Dalam keragu-raguan itu
Winihpun telah datang pula sambil berdesis "Aku mendengar pintu
diketuk orang." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun dengan
berdesis Manggada.berkata "Kita tidak dapat membukakannya." Winih
memang tidak memaksa, tetapi tiba-tiba saja terdengar desis dipintu
"Winih. Apakah kau mengalami kesulitan?" Winih terkejut mendengar
suara itu. Suara itu adalah suaral Darpati. Namun ketika ia
melangkah kepintu, Manggada memperingatkannya "Winih. Jangan kau
buka pintu itu.” Winih memang menjadi, ragu-ragu. Namun terdengar
lagi suara itu "Winih. Sebenarnya aku ingin tidak mempedulikan apa
yang terjadi karena kakekmu telah menyakiti hatiku. Tetapi ternyata
aku tidak sampai hati membiarkan kau terlindas oleh kerusuhan yang
terjadi itu. Kakekmu, ayahmu dan kawan-kawannya agaknya mengalami
kesulitan karena, yang datang bukan hanya orang-orang padukuhan ini.
Tetapi juga beberapa orang yang tidak dikenal." Manggadalah yang
menyahut "Terima kasih atas kesediaanmu Darpati. Jika kakek
mengalami kesulitan, turunlah ke medan pertempuran itu. Selamatkan
kakek dan paman Prawara serta kawan-kawannya." Sejenak tidak
terdengar jawaban Darpati. Namun kemudian suara itu terdengar lagi
“Manggada. Aku tidak dapat melakukannya karena hanya akan sia-sia
saja. Orangorang yang datang itu terlalu banyak. Bahkan diantara
mereka terdapat orang-orang berilmu tinggi. Karena jalan yang
terbaik bagi kalian adalah meninggalkan tempat ini meskipun hanya
untuk sementara sebelum kita menemukan jalan lain." "Tidak Darpati.
Aku tidak dapat membuka pintu itu." jawab Manggada. Namun dalam pada
itu, Winih berdiri dengan tegang. Keringatnya mengalir membasahi
keningnya. Dipandanginya pintu yang bergetar diketuk-ketuk dari
luar. Sementara Manggada dan Laksana tidak mau membuka pintu itu.
Ketegangan yang sangat ternyata telah mencengkam jantung Winih. Ada
sesuatu yang bergejolak didadanya. Namun tiba-tiba diluar dugaan
Manggada dan Laksana, Winih itupun dengan serta merta berlari menuju
kepintu. Tanpa minta pertimbangan siapapun juga, Winih telah
mengangkat selarak pintu itu dan membukanya. “Winih” Manggada dan
Laksana yang terkejut itu berteriak. Tetapi pintu itu sudah terbuka.
Darpati yang berdiri diluar pintu itu juga terkejut. Ia memang tidak
mengira bahwa pintu akan segera dibuka. Namun demikian ia melihat
Winih berdiri dimuka pintu, maka iapun segera menangkap tangannya
dan menariknya keluar. "Marilah Winih. Waktu kita sangat sempit."
Sementara itu Nyi Prawara yang mendengar teriakan Manggada dan
Laksana telah datang pula sambil bertanya “Kenapa dengan Winih?"
Manggada tidak sempat menjawab, karena ia telah berlari menyusul.
Laksana yang sedang melangkah itupun terhenti sambil menjawab "Winih
telah membuka pintu. Ia sedang ditarik Darpati keluar." Laksana
tidak memberikan penjelasan lebih panjang. Tetapi iapun segera
berlari menyusul. Diluar pintu ternyata Winih tidak begitu saja
mengikuti Darpati yang berusaha menariknya. Sambil menahan dirinya
Winih bertanya “Darpati. Kita, akan pergi ke mana?": "Marilah Winih"
sahut Darpati "jangan bertanya sekarang. Kita menyelamatkan diri
lebih dahulu. Baru nanti kita berbincang." Namun dalam pada itu,
Manggada dan kemudian disusul oleh Laksanapun telah berdiri
disebelah Winih. Dengan nada berat Manggada bertanya “Apa yang akan
kau lakukan Darpati” "Sudah aku katakan. Aku akan menyelamatkan
Winih." jawab Darpati. "Tidak. Kau tidak dapat membawanya pergi"
jawab Manggada. "Manggada" desis Darpati "apakah kau tidak sayang
kepada adikmu? Bukankah seharusnya kau ikut membantuku,
menyelamatkan adikmu. Kenapa justru kau berniat menghalanginya?
Apakah dengan demikian bukan berarti bahwa kau. ikut menjerumuskan
adikmu dalam kesulitan?" “Apapun yang kau katakan, tetapi kami tidak
dapat melepaskan Winih pergi." geram Laksana. "Laksana. Aku
mencintai, Winih. Barangkah kata-kata itu belum pernah aku katakan.
Bahkan kepada Winih sendiri. Tetapi sikapku dan perbuatanku telah
menyiratkan nilai dari sikapku itu. Karena itu, maka akupun ingin
menyelamatkannya." “Terima kasih atas niatmu Tetapi kami tidak
setuju dengan cara yang kau tempuh.” Jawab Laksana. “Jika demikian,
apaboleh buat. Aku akan mempergunakan caraku yang mungkin tidak
sesuai dengan maksudmu “ berkataDarpati. "Aku akan membawa Winih
kembali masuk keruang dalam" berkata Manggada. "Tidak. Aku akan
membawa Winih pergi" geram Darpati. Ketika Darpati akan menarik
Winih semakin jauh, Manggada dan Laksana telah bergerak untuk
menghalanginya. Namun Darpatipun tertawa pendek. Katanya "Manggada
dan Laksana. Kita sudah saling mengetahui kemampuan kita
masing-masing. Nah, apakah kau akan berani melawan aku?" "Apapun
yang terjadi, kami tidak akan melepaskan Winih" jawab Manggada.
Darpati memang menjadi kehilangan kesabarannya. Sambil mendorong
Winih kesamping ia berkata "Aku terpaksa melakukannya, Winih. Waktu
kita tidak banyak, sementara orang-orang itu menjadi semakin buas.
Jika mereka berhasil mengalahkan kakek, ayahmu dan kawankawannya,
maka nasibmu akan menjadi sangat buruk." Manggada dan Laksana tidak
mempedulikannya lagi. Merekapun segera melangkah mendekati Darpati
yang telah siap pula menghadapinya. Sejenak kemudian, maka Manggada
dan Laksana itu telah bertempur melawan Darpati. Sejak semula
Manggada dan Laksana telah menyadari, bahwa ilmu mereka tidak akan
mampu melawan Darpati. Namun keduanya, tidak mempunyai pilihan lain
karena mereka tidak akan dapat membiarkan Winih dibawa oleh Darpati
yang memang mencurigakan sejak semula. Namun Manggada dan Laksana
bukannya tidak berkemampuan sama sekali. Keduanya pernah menerima
ajaran tentang olah kanuragan. Keduanya pernah berhubungan dengan
seorang Ajar yang telah membantunya meningkatkan landasan ilmu
mereka. Merekapun memiliki pengalaman yang cukup banyak selama
pengembaraan mereka. Karena itu, meskipun pada dasarnya Darpati
adalah seorang yang berilmu tinggi, namun Darpati tidak dapat
serta-merta menghentikan perlawanan Manggada dan Laksana. Dengan
demikian maka Darpatipun menjadi semakin marah. Sambil menghentakkan
kemampuannya, maka Darpatipun berkata "Kalian memang harus dibunuh.
Jangan menyesal bahwa aku akan benar-benar melakukannya." Manggada
dan Laksana menyadari, bahwa Darpati tidak main-main dengan
ancamannya. Ketika Darpati sampai kepuncak ilmunya yang tinggi, maka
Manggada dan Laksana mulai mengalami kesulitan. Tetapi karena mereka
pemah ditempa selama mereka berguru serta pengalamannya yang luas,
maka keduanya tidak segera menjadi gentar. Betapapun Darpati
mengancam, menggertak dan menghentakkan ilmunya, namun Manggada dan
Laksana sama sekali tidak beranjak dari arena. Sementara itu
Darpatilah yang menjadi cemas. Meskipun setiap kali ia berhasil
mendesak kedua orang anak muda itu, namun keduanya ternyata cukup
kuat untuk mengatasinya. Dalam keadaan yang semakin gawat, karena
Darpati memperhitungkan perlawanan yang diberikan oleh Kiai Gumrah
dan kawan-kawannya, maka tiba-tiba saja Darpati itu bersuit nyaring.
Adalah sangat mengejutkan bahwa beberapa orang telah muncul dari
dalam kegelapan. Dengan serta merta mereka teiah mengepung Manggada
dan Laksana. Manggada dan Laksana meloncat surut. Jantung mereka
memang menjadi berdebaran. Ampat orang yang garang dengan senjata
ditangan itu nampaknya benar-benar pembunuh yang tidak berjantung.
Winih yang juga terkejut melihat kehadiran mereka tibatiba saja
melangkah maju sambil bertanya "Apa artinya ini Darpati ? Siapakah
mereka dan untuk apa mereka datang kemari?" “Waktu kita sangat
sempit, Winih.. Aku terpaksa minta bantuan mereka. Mereka tidak akan
berbuat apa-apa. Mereka hanya akan menahan Manggada dan Laksana yang
mencoba menghalangimu. Sementara itu kita akan pergi menyelamatkan
diri” "Tetapi apa yang kau lakukan ini sudah berlebihan Darpati”
berkata Winih “aku mengenali keempat orang itu sebagaimana ampat
orang yang ada di pancuran itu. Meskipun keempat orang yang ada
dipancuran itu sudah mati, tetapi rasa-rasanya mereka telah muncul
kembali saat ini “ “Winih” kata Darpati “Kau jangan membayangkan
yang bukan-bukan seperti itu. Kita tidak mempunyai waktu. Jika saja
Manggada dan Laksana tidak mengganggu rencana ini, maka aku tidak
akan memanggil mereka, karena sebenarnyalah mereka adalah
orang-orang yang aku minta membantuku menyelamatkanmu." "Darpati"
desis Winih kemudian "aku menjadi semakin tidak mengerti akan
sikapmu. Kenapa kau dengan orangorangmu tidak turun kemedan membantu
kakek dan ayah?" "Tidak ada gunanya Winih" jawab Darpati "orang yang
datang itu terlalu kuat." "Tetapi kau dan ampat orang itu tentu akan
sangat berarti bagi kakek, ayah serta kawan-kawan mereka." jawab
Winih. "Sudahlah” berkata Darpati “kita tidak usah berbantah
sekarang. Marilah, kita tinggalkan tempat ini." Namun jawab Winih
kemudian justru tidak ragu-ragu lagi "Tidak Darpati. Aku tidak dapat
meninggalkan kakek, ayah, ibu serta kakang Manggada dan Laksana
dalam kesulitan." “Apa maksudmu Winih” suara Darpati menjadi
meninggi "Aku akan tetap tinggal bersama mereka apapun yang akan
terjadi dirumah ini." jawab Winih. "Winih, kau jangan bodoh." "Tidak
Darpati. Aku tidak dapat pergi." "Jika semua orang terbunuh di rumah
ini, siapakah yang akan meneruskan keturunan mereka? Keluarga ini
akan terputus tanpa anak turun yang dapat melanjutkan kesinambungan
hidup mereka." berkata Darpati. “Itu lebih baik daripada aku hidup
dalam siksaan kenangan karena aku kehilangan segala-galanya" jawab
Winih. “Kau tidak akan kehilangan aku, Winih” berkata Darpati
bersungguh-sungguh. "Tetapi kau orang baru bagiku, Darpati. Aku
tidak ingin berpisah dari apa yang pernah aku miliki sebelumnya,
sedangkan kau bagiku masih merupakan seseorang yang berdiri diluar
pintu.” “Winih" berkata Darpati yang menjadi tidak sabar lagi "kita
tidak mempunyai waktu untuk berbicara sekarang." “Tinggalkan aku
Darpati. Terima kasih atas segala kebaikanmu sampai saat ini."
berkata Winih. "Tidak. Aku akan pergi bersamamu" sahut Darpati. “Aku
akan tetap berada bersama kakang Manggada dan Laksana apapun yang
terjadi." berkata Winih kemudian. Wajah Darpati menjadi merah.
Kesabaran telah sampai ke batas, sehingga iapun berkata “Jika
demikian, aku akan membawamu. Maaf jika aku bersikap agak keras,
sematamata demi keselamatanmu." Tetapi ketika Darpati akan menarik
tangan Winih, tibatiba saja terdengar suara seorang perempuan
"Akhirnya kami yakin ngger, bahwa kami memang tidak dapat
mempercayaimu." "Bibi" Manggada dan Laksana hampir berbareng
berdesis "berbahaya bagi bibi untuk turun sekarang." "Apaboleh buat.
Aku tentu tidak akan membiarkan anakku dibawa orang yang meragukan."
jawab Nyi Prawara. "Nyi Prawara" berkata Darpati "aku sedang
menyelamatkan Winih." "Tidak. Kau tidak menyelamatkan Winih. Tetapi
kau sedang menculik Winih." jawab Nyi Prawara. Ternyata Darpati
memang tidak dapat ingkar lagi. Dengan geram iapun kemudian menjawab
"Baik. Baik. Katakanlah aku sedang menculik Winih. Nah, apa yang
akan kalian perbuat.” Suasana menjadi tegang. Darpati telah
memegangi pergelangan tangan. Winih kuat-kuat dan siap untuk
menyeretnya. Katanya kemudian, kepada keempat orang yang mengepung
Manggada dan Laksana "Selesaikan saja mereka. Aku tidak
memerlukannya lagi. Manggada dan Laksana memang harus dibunuh.
Terserah kau apakan perempuan itu. Sementara aku akan membawa gadis
ini pergi." “Darpati" berkata Nyi Prawara “ternyata kau memang tidak
dapat dicegah lagi. Niatmu membawa Winih sudah bulat. Tetapi
katakan, apa yang sebenarnya sedang kau lakukan? Apakah kau
mengambil Winih karena Winih seorang gadis yang berkenan dihatimu
atau kau mempunyai kepentingan yang lain?” “Kau berusaha mengulur
waktu, Nyai. Tetapi baiklah aku menjawab. Aku memerlukan Winih untuk
banyak keperluan. Aku mengambilnya karena ia seorang gadis yang
cantik. Tetapi juga akan dapat aku pergunakan sebagai umpan untuk
memancing pusaka-pusaka itu. Kelak, aku akan menukarkan Winih dengan
pusaka-pusaka itu jika aku sudah menjadi jemu padanya. Jika Kiai
Gumrah menolak, maka gadis ini akan mau." "Licik kau Darpati" desis
Winih. "Jangan menyesal Winih. Nah, sekarang sudah sampai saatnya
kita pergi. Ucapkan selamat tinggal kepada ibumu. Mungkin kau masih
akan bertemu lagi kelak, jika kakekmu menyerahkan pusaka-pusaka itu.
Tetapi yang pasti, kau tidak akan bertemu lagi dengan Manggada dan
Laksana yang akan mati malam ini." Tetapi ketika Darpati menariknya,
maka Winih telah mengibaskan tangan Darpati sehingga genggaman
terlepas. Dengan cepat Winih berusaha berlari menjauhi Darpati.
Namun Darpati sudah tentu tidak melepaskannya. Dengan kecepatan yang
tinggi Darpati meloncat sambil menjulurkan tangannya untuk menggapai
pundak Winih. Tetapi yang tidak pernah diduga sebelumnya telah
terjadi. Demikian tangan Darpati terjulur, maka Winih justru
berhenti sambil merendahkan dirinya. Dengan merendah Winih menarik
Darpati lewat diatas pundaknya. Dengan ayunan tubuh Darpati sendiri,
maka Darpati itu telah terlempar lewat diatas pundak Winih. Darpati
adalah seorang yang berilmu tinggi. Tetapi karena yang dihadapinya
itu sama sekali tidak diduganya, maka ia memang menjadi lengah.,
Meskipun demikian, kelihaian tubuhnya telah menolongnya. Darpati
jatuh dengan mapan. Ia sempat berguling dua kali ditanah, kemudian
meloncat bangkit dengan wajah yang merah menyala. "Winih" Darpati
menggeram. Ternyata Winih sudah berubah. Ia bukan lagi gadis yang
lembut yang mulai meningkat dewasa. Wajahnya memang masih tetap
cantik, tetapi sorot matanya yang tajam bagaikan menusuk langsung
kepusat jantung Darpati. Ketika Darpati melangkah mendekat, maka
Winih telah menyingsingkan kain panjangnya. Ternyata Winih memang
sudah mengenakan pakaian khusus dibawah kain panjangnya itu. Darpati
berdiri termangu-mangu. Bahkan orang-orang yang ada disekitarnyapun
bagaikan membeku Manggada dan Laksana justru menjadi bingung. Bahkan
ampat orang yang muncul dari kegelapan itupun berdiri mematung pula.
"Darpati" terdengar suara Winih yang bergetar "aku ternyata hampir
saja menjadi korbanmu. Aku tidak mengira bahwa kau dapat berlaku
sedemikian liciknya, sehingga aku hampir saja terjerumus kedalam
kesulitan." "Winih” geram Darpati “kau ternyata juga tidak jujur.
Kau tidak pernah menunjukkan kesan, bahwa kau memiliki kelebihan
dari kebanyakan perempuan. Sehingga seandainya aku tidak berniat
memanfaatkan hubungan kita, kaupun tidak mempercayai aku sepenuhnya.
Dengan demikian maka kita ternyata berdiri pada sikap yang sama."
"Tidak Darpati" jawab Winih "jika aku tidak menunjukkan pribadiku
seutuhnya, justru aku ingin menjaga wibawamu sebagai seorang
laki-laki. Aku tidak mau menyinggung perasaanmu, karena aku menduga
bahwa apa yang kau perbuat terhadapku, termasuk perlindunganmu itu
kau lakukan karena kau merasa sebagai seorang laki-laki. Jika kau
sadari bahwa apa yang kau lakukan itu sia-sia, maka kau tentu akan
kecewa." "Sekarang kita sudah tidak berpura-pura lagi Winih. Aku
tidak dan kaupun tidak." geram Darpati kemudian. “Bagus Darpati,
aku-sudah melihat bagaimana kau bertempur. Aku sadar, bahwa apa yang
aku lihat itu tentu belum seluruhnya. Apalagi ketika kau bertempur
melawan dua orang di pancuran itu. Tetapi waktu itu keraguanku
agaknya telah disaput asap yang telah mengaburkan mata hatiku
memandang bentuk lahiriahmu. Bahkan aku telah mengabaikan nasehat
ayah, ibu dan kakekku yang mempunyai pandangan yang lebih wajar
karena mereka tidak terlihat dalam perasaan yang lain." sahut Winih.
"Bersiaplah Winih, kita akan benar-benar bertempur. Aku tidak akan
sekedar bermain-main atau karena aku kau anggap mencintaimu, maka
aku akan menahan diri dalam keadaan-keadaan yang menentukan." geram
Darpati. . . “Aku mengerti Darpati. Akupun tidak akan menahan diri
meskipun aku tidak ingkar, bahwa aku memang pernah tertarik
kepadamu." jawab Winih. "Tetapi ingat, Manggada dan Laksana akan
mati malam ini. Jika kau berkeras melawan betapapun tinggi ilmumu,
namun kau tentu akan tunduk kepadaku, jika kau tidak ingin ibumu
menjadi korban pula." ancam Darpati. Tetapi Nyi Prawara yang melihat
anak perempuannya telah bangkit itupun berkata "Jangan hiraukan aku
Winih. Aku tidak apa-apa. Tidak pula akan terjadi apa-apa atasku.”
Darpati termangu-maugu sejenak. Suara itu bukan suara seorang
perempuan yang cemas dan ketakutan. Tetapi suara itu justru
merupakan suara seorang yang penuh akan kepercayaan dan keyakinan
atas kemampuannya. Karena itu, maka Darpati tidak mau menunggu lebih
lama lagi. Iapun segera berteriak kepada orang-orangnya "Selesaikan
kedua orang anak muda itu. Mereka harus mati. Tangkap perempuan tua
yang sombong itu. Kita akan dapat memanfaatkannya. Jika ternyata
tidak, kita akan dapat membunuhnya kelak. Biarlah aku mengurus gadis
manis ini. Bagaimanapun juga aku memerlukannya. Setidak-tidaknya
untuk beberapa bulanl” Winih yang mendengar kata-kata Darpati itu
jantungnya bagaikan tersentuh api. Karena itu, maka iapun segera
meloncat menyerang. Namun Darpati berhasil menghindarinya dengan
bergeser selangkah kesamping. Dengan demikian, maka pertempuranpun
segera telah mulai. Ternyata Nyi Prawara bukan sekedar seorang
perempuan yang pandai menunggui perapian menanak nasi dan membuat
wedang jahe yang manis. Bukan pula sekedar memiliki kemampuan
tentang obatobatan, tetapi juga seorang perempuan yang memiliki
kelebihan. Dalam keadaan yang gawat itu, Nyi Prawara sebagaimana
juga Winih telah menyingsingkan kain panjangnya. Nyi Prawarapun
telah mengenakan pakaian khusus pula untuk menghadapi orang-orang
yang telah siap menyerangnya. Bahkan Nyi Prawara itu sempat berkata
“Angger Manggada dan Laksana. Pertahankan dirimu. Bertempurlah
berpasangan." Manggada dan Laksana tidak menjawab. Tetapi keduanya
telah merapat. Mereka sadar, bahwa kemampuan mereka masih dibawah
kemampuan Darpati dan bahkan mungkin juga dibawah kemampuan
orang-orang Darpati itu. Dalam pada itu, maka dua orang kawan
Darpati itu segera bersiap melawan Manggada dan Laksana. Sementara
dua orang lagi telah beriap untuk menangkap hidup-hidup Nyi Prawara.
Namun baik Manggada dan Laksana, maupun Nyi Prawara, telah bersiap
pula menghadapi mereka. Sejenak kemudian, maka pertempuranpun telah
berlangsung dengan cepat. Manggada dan Laksana telah berusaha
mengerahkan segenap kemampuan mereka. Namun dalam waktu yang pendek,
maka kedua orang lawan merekapun telah mampu menekan kedua orang
anak muda itu. Namun Manggada dan Laksana tidak mudah berputus asa.
Keduanya telah mengerahkan kemampuan mereka. Namun ternyata
lawan-lawan mereka adalah orang-orang yang berilmu tinggi, sehingga
sejenak kemudian Manggada dan Laksana telah terdesak, semakin lama
semakin jauh memasuki kebun rumah Kiai Gumrah. Nyi Prawara yang
bertempur melawan kedua orang lawannya ternyata masih mampu
bertahan. Kedua orang lawannya yang berumu tinggi itu telah
membentur perlawanan yang keras dari seorang perempuan. Namun
semakin lama Nyi Prawarapun mulai mengalami kesulitan pula. Meskipun
ternyata ilmu Nyi Prawara berada pada tataran yang lebih tinggi dari
dugaan kedua orang lawannya. Meskipun demikian, Nyi Prawara
masih.berusaha untuk, memperpanjang waktu perlawanannya. Nyi Prawara
masih berharap bahwa suami dan mertuanya akan dapat lebih cepat
menyelesaikan lawan-lawannya di halaman depan sebelum Nyi Prawara
kehabisan kesempatan mempertahankan diri. Namun Nyi Prawara itu
mulai menjadi cemas melihat kesulitan yang dialami oleh Manggada dan
Laksana. Tetapi Nyi Prawara masih belum mendapat kesempatan untuk
membantu mereka. Sementara itu, Winih benar-benar sudah bertempur
dengan Darpati. Keduanya telah meningkatkan ilmu mereka semakin
tinggi.. Darpati memang menjadi heran, bahwa Winih ternyata mampu
mengimbangi kemampuannya. Bahkan kadang-kadang. gadis itu telah
mengejutkannya.. Ketika serangan Winih sempat menyusup disela-sela
pertahanan Darpati dan mengenai bahunya, maka Darpati itu telah
meloncat surut. Serangan Winih terasa sakit di bahunya. Keempat
jari-jari tangan Winih yang terbuka dan merapat, rasa-rasanya
bagaikan meretakkan tulangnya. "Ternyata gadis ini memiliki ilmu
iblis" geram Darpati didalam hatinya "sikapnya yang seakan-akan
tidak tahu apa apa itu ternyata justru ungkapan dari kepercayaannya
akan kemampuannya, sehingga ia tidak merasa gentar sama sekali."
Sebenarnyalah Winih sama sekali tidak terguncang oleh
serangan-serangan Darpati yang datang beruntun bagaikan arus ombak
yang menepis tebing. Seperti kokohnya batu karang ia menghalau
setiap serangan. Bahkan benturanbenturan yang terjadi memperingatkan
Darpati, bahwa Winih memiliki tenaga dalam yang sangat besar. "Gadis
itu masih muda" berkata Darpati kepada diri sendiri "apakah sejak
didalam kandungan ibunya ia sudah belajar olah kanuragan?" Namun Nyi
Prawara juga seorang perempuan yang berilmu tinggi. Melawan dua
orang kawan Darpati yang dianggap akan dengan mudah menyelesaikan
tugas mereka, ternyata Nyi Prawara masih mampu bertahan, betapa ia
sekali-sekali harus berloncatan surut. Yang mencemaskan adalah
Manggada dan Laksana. Darpati yang mulai gelisah menahan kemampuan
Winih yang ternyata tidak kalah dari ilmunya, telah berusaha
mempengaruhi ketahanan jiwani Winih dengan katakatanya. Dengan
lantang Darpati berteriak "Jangan menunggu apa-apa. Bunuh kedua
orang kelinci kecil itu." Kedua orang yang melawan Manggada dan
Laksana memang tidak akan mendapat banyak kesulitan. Meskipun
Manggada dan Laksana pernah berguru sehingga menguasai landasan
kemampuan dasar dari perguruan kecilnya, namun menghadapi dua orang
berilmu tinggi, keduanya memang mengalami kesulitan. Tataran ilmu
Manggada dan Laksana masih belum setingkat dengan kedua orang
lawannya itu. Teriakan itu memang mempengaruhi perasaan Winih. Winih
memang menjadi gelisah melihat. Manggada dan Laksana. Meskipun
keduanya baru dikenalnya dirumah kakeknya, tetapi justru karena
keduanya diaku sebagai cucu oleh Kiai Gumrah, maka rasa-rasanya
mereka sudah menjadi seperti sanak kadang sendiri. Karena itu,
bagaimanapun juga Winih tidak dapat bertempur tanpa mempedulikan
keadaan Manggada dan Laksana. Tetapi Winih sendiri menghadapi
Darpati yang berilmu tinggi, sehingga karena itu, maka Winih memang
menjadi gelisah sebagaimana dikehendaki oleh Darpati Dalam
kegelisahan itu, maka Winih menjadi kurang dapat memusatkan
perhatiannya kepada lawannya. Sekalisekali Winih masih juga berusaha
berpaling kearah Manggada dan Laksana. Tetapi Manggada dan Laksana
menjadi semakin terdesak kedalam kegelapan. Sementara itu, Nyi
Prawara juga masih belum dapat mengatasi lawannya. Bahkan
sekali-sekali Nyi Prawara memang harus mengambil jarak untuk
memperbaiki keadaannya. Dalam pada itu, karena kedua lawannya
bersenjata, maka Nyi Prawarapun telah mengurai senjatanya pula.
Seutas rantai baja yang tidak terlalu panjang dan tidak terlalu
besar. Namun di tangan Nyi Prawara rantai itu menjadi sangat
berbahaya. Ujungnya bergerak menyambarnyambar. Kemudian terayun
menebas keatas dada. Tetapi tiba-tiba mematuk kearah kerung
lawan-lawannya. Meskipun kedua lawan Nyi Prawara itu bersenjata
parang yang panjang dan besar, namun putaran rantai itu merupakan
perisai yang sangat rapat bagi Nyi Prawara. Sementara itu, Darpati
masih saja berusaha untuk mempengaruhi perasaan Winih. Ia masih saja
berterik abaaba kepada kedua orang kawannya yang bertempur melawan
Manggada dan Laksana, Bahkan kemudian iapun berteriak pula "Jika
perempuan itu tidak mau menyerah sehingga kalian tidak dapat
menawannya hidup-hidup, maka iapun pantas dibunuh." “Jika demikian,
maka tugas kami menjadi lebih ringan" teriak salah seorang diantara
kedua orang yang bertempur melawan Nyi Prawara itu. Tetapi demikian
mulutnya terkatup, maka ia harus mengaduh tertahan. Ternyata ujung
rantai Nyi Prawara telah menyambarnya. Dengan tergesa-gesa orang itu
bergeser kesamping untuk menghindar. Namun ujung rantai itu masih
juga menyentuh lengan orang itu sehingga terluka. Orang itu
mengumpat kasar dan kotor sehingga telinga Nyi Prawara menjadi
panas. “Kita sedang bertempur. Bukan mengumpat-umpat. Apalagi dengan
kata-kata kotor dan kasar" berkata Nyi Prawara dengan lantang.
Tetapi lawannya justru mengetahui, bahwa kata-kata kotor dan kasar
itu dapat mempengaruhi perasaan Nyi Prawara. Karena itu, maka orang
itu justru mengulangi lagi. Mengumpat dengan kata-kata yang bahkan
lebih kotor dan kasar. Telinga Nyi Prawara terasa bagaikan disentuh
bara. Kata-kata itu sangat menyakitkan hatinya sebagai seorang
perempuan. Apalagi didengar pula oleh anak gadisnya yang sudah
dewasa. Namun berbeda dengan perhitungan lawannya. Mereka menganggap
bahwa Nyi Prawara akan menjadi bingung dan tidak dapat memusatkan
nalar budinya menghadapi kedua orang lawannya. Tetapi Nyi Prawara
justru berbuat sebaliknya. Ia justru mengerahkan segenap
kemampuannya dengan pemusatan nalar budinya untuk berusaha
membungkam mulut orang yang berteriak-teriak dengan kata-kata kotor
dan kasar itu. Tetapi ternyata kemampuan Nyi Prawara memang tidak
cukup tinggi untuk mengalahkah kedua orang lawannya. Sehingga dengan
demikian, maka beberapa saat kemudian, Nyi Prawara memang hanya
dapat bertahan sambil menanti pertolongan suami dan ayah mertuanya
yang bertempur di halaman depan. Dalam pada itu keadaan Manggada dan
Laksana menjadi semakin sulit. Bahu Manggada telah terluka. Demikian
pula lambung Laksana. Meskipun lukanya tidak terlalu dalam, tetapi
darah sudah mengalir dari luka-luka itu. "Sudah tiba saatnya kami
mengakhiri pertempuran yang menjemukan ini" berkata lawan Laksana
“kalian sudah mendapat kesempatan untuk memperpanjang hidup kalian
beberapa saat. Sekarang, maka bersiaplah untuk mati." Manggada dan
Laksana memang menjadi gelisah. Pedang mereka segera teracu kearah
lawan-lawan mereka yang nampaknya benar-benar akan.segera mengakhiri
pertempuran itu. Namun sekali lagi yang tidak terduga itu terjadi.
Tibatiba saja tanpa terdengar desah langkah kakinya, dua ekor
Harimau yang sudah merunduk itupun meloncat Keluar dari
persembunyiannya menyerang kedua orang lawan Manggada dan Laksana
Kedua orang itu terkejut. Tetapi mereka tidak mempunyai banyak
waktu. Merekapun dengan serta merta telah berloncatan mengambil
jarak dari Manggada dan Laksana untuk menghadapi kedua ekor harimau
itu. Namun Manggada dan Laksana yang seakan-akan telah mengenal
kedua ekor harimau itu tidak melepaskan lawanlawan mereka. Meskipun
mereka juga terkejut, namun merekapun segera mampu mengendalikan
dirinya. Bahkan merekapun segera menempatkan diri bertempur bersama
kedua ekor harimau yang seakan-akan menguasai olah kanuragan itu.
Kedua orang lawan Manggada dan Laksana itu menjadi sangat gelisah.
Ketika mereka hampir sampai pada saat-saat terakhir untuk
menyelesaikan kedua anak muda itu, maka dua ekor harimau telah
muncul dengan tiba-tiba. Dengan demikian, maka pertempuranpun
menjadi semakin sengit. Kedua orang kawan Darpati itu sudah
mengetahui bahwa ada. dua ekor harimau, yang kadangkadang ikut
campur, jika terjadi pertempuran. Ada diantara kawan mereka yang
pernah terbunuh di halaman rumah Kiai Gumrah itu. Tetapi yang lain
mati di dekat air terjun kecil justru disaat mereka berusaha
menjebak Manggada dan Laksana. Sehingga dengan demikian maka
kehadiran kedua ekor harimau itu benar-benar telah menggelisahkan
kedua orang itu. Sementara itu, Manggada dan Laksana ternyata masih
juga terus menyerang mereka. Pada saat-saat mereka bertempur melawan
kedua ekor harimau itu, maka Manggada dan Laksana justru ikut
menyerang mereka pula. Ternyata kedua ekor harimau itu seakan-akan
mampu menyesuaikan diri dengan serangan-serangan Manggada serta
Laksana. Kedua ekor harimau itu tidak sebagaimana kebanyakan
harimau, merunduk dan kemudian meloncat menerkam sasarannya. Tetapi
kedua ekor harimau itu justru mendekati lawannya, menyerang dengan
kedua kaki depannya yang-berkuku tajam. Bahkan gigi serta taringnya
yang tajam siap pula mengoyak kulit lawannya. Jika kedua orang yang
diserangnya itu sempat mengayunkan atau menusukkan pedang, maka
harimau itu bergeser surut. Namun dalam pada itu, Manggada dan
Laksanalah yang mendapat kesempatan untuk menyerang- Demikianlah,
maka yang terjadi adalah sebagaimana yang pernah terjadi di pancuran
itu. Kedua orang lawan Manggada dan Laksana itu tidak banyak
mempunyai kesempatan. Beberapa kali keduanya berteriak memanggil
Darpati. Tetapi ternyata Darpati tidak dapat berbuat banyak. Winih,
gadis yang ingin diculiknya itu ternyata adalah seorang gadis yang
bejrilmu tinggi pada usianya yang baru menginjak dewasa. Kedua orang
yang bertempur melawan Nyi Prawarapun menjadi gelisah. Mereka memang
mendengar harimau itu menggeram. Apalagi kedua orang kawannya memang
berteriak-teriak tentang kedua ekor harimau itu. Tetapi keduanya
masih terikat dalam pertempuran melawan Nyi Prawara. Namun
teriakan-teriakan kawannya yang telah mulai dilukai oleh kuku-kuku
harimau serta senjata Manggada dan Laksana itu, telah menggelitik
kedua orang itu. Karena itu, maka salah seorang dari merekapun telah
meninggalkan Nyi Prawara untuk melihat keadaan kedua orang kawannya.
Tetapi usaha itu sama sekali tidak menolong. Seorang yang harus
bertempur melawan Nyi Prawara itupun telah mengalami kesulitan pula.
Rantai Nyi Prawara telah menyentuh tubuhnya lagi. Bahkan hampir saja
mata orang itu dipatuk oleh ujung rantai Nyi Prawara yang menjadi
semakin garang. Darpati menyadari bahwa keadaannya serta
kawankawannya menjadi semakin sulit. Karena itu, maka Darpati tidak
dapat berpegang pada keinginannya saja. Ia harus menentukan sikap
dalam keadaan yang sulit itu. Karena itu, maka niatnya untuk
mengambil Winih dalam keadaan yang utuhpun telah ditinggalkannya.
Ternyata Winih bukan lagi sebuah golek kencana yang manis, yang
hanya mampu tersenyum luruh dalam keadaan apapun serta diperlukan
bagaimanapun. Juga bukan sekuntum kembang melati yang putih bersih
dengan baunya yang wangi. Tetapi Winih adalah sekuntum kembang mawar
yang meskipun semerbak tetapi berduri tajam. Karena itu, maka
Darpatipun telah menarik senjatanya. Sehelai pedang yang
berkilat-kilat memantulkan cahaya oncor diserambi rumah Kiai Gumrah.
“Aku memang harus bersungguh-sungguh Winih” geram Darpati “kau sama
sekali bukan lagi gadis yang menarik buatku. Bagiku sekarang, kau
tidak lebih dari sesosok peri yang cantik, berbau wangi, tetapi pada
suatu saat akan dapat menghisap darahku sampai kering." “Bukan pada
suatu saat Darpati. Tetapi sekarang" jawah Winih yang juga mengurai
senjatanya. Seperti senjata ibunya. Seutas rantai baja putih yang
mengkilap. "Jangan menyesali diri Darpati" desis Winih "kawankawanmu
akan mati. Harimau-harimau itu ternyata memiliki kepandaian yang
lebih dari sejenisnya. Mereka seakan-akan mengerti, kapan mereka
harus mengaum menggetarkan jantung, dan kapan mereka harus menyerang
dengan diam-diam. Tetapi jangan menangisi kematian kawan-kawanmu
itu." Darpati memang menjadi semakin garang. Dengan ilmu pedangnya
yang tinggi, ia menyerang Winih dengan cepat. Pedangnya berputaran
terayun, mematuk dn menebas dengan cepatnya. Sehelai pedang Darpati
itu seakan-akan telah berubah menjadi beberapa helai pedang yang
tajam berkilauan. Tetapi rantai Winih yang berputaran itu bagaikan
kabut putih yang melindungi seluruh tubuhnya, sehingga berapapun
banyak ujung pedang yang menyerang dari segala arah, akan membentur
perisai kabut yang putih itu. Demikianlah maka pertempuran diantara
keduanya menjadi semakin sengit. Beberapa kali terdengar benturan
antara daun pedang Darpati dengan rantai baja Winih, sehipgga bunga
apipun nampak berhamburan. Sementara itu, ketiga orang yang
bertempur melawan Manggada dan Laksana benar-benar tidak dapat
tertolong lagi. Kedua ekor harimau itu dengan garangnya telah
mengoyak kulit mereka dengari kuku-kukunya yang tajam. Sementara
itu, seorang diantara ketiganya yang berusaha melarikan diri, justru
telah diterkam oleh salah satu dari antara kedua ekor harimau itu
dipunggungnya. Agaknya harimau itu tidak memperhitungkan apakah ia
menyerang dari depan atau dari belakang. Sementara itu dua orang
yang lainpun telah terkapar tanpa dapat bergerak lagi. Dalam pada
itu, lawan Nyi Prawara itupun tidak lagi dapat mengimbangi kemampuan
perempuan yang semula tidak diperhitungkan itu. Setelah seorang
kawahnya berusaha membantu kedua lawan Mangagada dan Laksana, maka
orang itupun segera mengalami kesulitan. Seranganserangan Nyi
Prawara datang membadai. Rantai bajanya seakan-akan mempunyai mata
di-ujungnya. Kemanapun ia menghindar, maka ujung rantai itu
rasa-rasanya selalu memburunya, Sehingga setiap kali terasa ujung
rantai itu menyengat tubuhnya, sehingga luka-lukapun telah hinggap
pula dimana-mana ditubuhnya. Akhirnya orang itu tidak mampu lagi
bertahan. Tubuhnya menjadi semakin lemah, sementara darahnya menjadi
semakin banyak mengalir. Nyi Prawara yang melihat lawannya tidak
berdaya lagi, telah menghentikan serangan-serangannya. Sambil
melipat rantainya ia bertanya "Apakah kau masih akan melawan?"
"Tidak" suara itu bergetar. Kekuatannya seakan-akan telah terhisap
habis. “Pengecut kau" teriak Darpati yang mendengar suaranya “jika
kau menyerah, maka akulah nanti yang akan membunuhmu." Tetapi
Winihlah yang menyahut “Kau tidak akan dapat, membunuhnya, Darpati.
Kita masih belum tahu, siapa diantara kita yang akan menang."
Darpati menggeram. Namun rantai baja Winih hampir saja menyambar
keningnya. Dengan demikian, maka pertempuranpun telah berakhir
kecuali antara Darpati dan Winih. Ketiga orang yang bertempur
melawan Manggada dan Laksana telah terbunuh dengan luka luka yang
segera dapat diketahui bahwa luka itu bukan luka oleh ujung-ujung
pedang Manggada dan Laksana. Seorang lagi yang ditinggalkan kawannya
bertempur melawan Nyi Prawara telah menjadi tidak berdaya. Sementara
itu Darpati tidak dapat mengingkari kenyataan. Tetapi iapun merasa
bahwa ia tidak mungkin dapat melarikan diri. Dua ekor harimau yang
masih berkeliaran dihalaman itu tentu akan membantu mengejarnya.
Karena itu, maka satu-satunya cara yang dapat ditempuh adalah
menangkap Winih dan mempergunakannya sebagai perisai untuk keluar
dari halaman rumah itu. Tetapi untuk mengalahkan Winih itupun masih
merupakan teka-teki baginya, apakah ia dapat melakukannya Tetapi
Darpati adalah orang yang memiliki ilmu yang tinggi dan pengalaman
yang luas. Bagaimanapun juga ia mempunyai cara-cara yang licik untuk
mempengaruhi lawannya. Ketika rantai baja Winih rasa-rasanya semakin
berbahaya baginya, bahkan rasa-rasanya ujung-ujung rantai itu sudah
mulai menyentuh pakaiannya, maka Darpati justru telah berdesis
"Winih, pertempuran diantara kita adalah pertempuran yang tidak
adil." "Kenapa?" bertanya Winih yang tetap berhati-hati. Ia sudah
memperhitungkan bahwa Darpati ingin memecah perhatiannya “Kau
nampaknya bersungguh-sungguh ingin membunuhku" desis Darpati. "Jika
kau menyerah, aku tidak akan membunuhmu" Jawab Winih sambil meloncat
memutar rantainya. Ketika ia kemudian menggeliat, maka rantainya
itupun seakanakan ikut menggeliat pula. Tiba-tiba saja ujung rantai
itu seolah-olah terjulur lurus menusuk kearah jantung. Darpati
dengan tergesa-gesa meloncat surut. Ujung rantai Winih memang belum
berhasil menggapai sasaran. Dalam pada itu Darpati berdesis "Winih.
Sebenarnyalah jika aku ingin membunuhmu, maka kau memang sudah mati.
Aku sebenarnya memang berniat untuk melakukannya. Tetapi setiap kali
aku memandang wajahnya yang cantik, aku menjadi ragu-ragu.
Bagaimanapun juga aku harus mengakui bahwa aku mencintaimu." "Cukup"
bentak Winih sambil menyerang. Sementara Darpatipun telah bergeser
lagi beberapa langkah surut. "Winih. Kenapa kita harus berdiri
berseberangan? Apakah kita tidak dapat memilih jalan kita sendiri?
Kita masing-masing meninggalkan landasan tempat kita berdiri. Kita
menjadi orang lain sama sekali. Tidak dipihakmu, tetapi juga tidak
dipihakku. Bukankah dengan demikian kita akan dapat hidup bersama
tanpa dibayangi oleh rasa permusuhan." "Tutup mulutmu" serangan
Winih justru mengejutkan Darpati. Ternyata serangan itu udak sempat
dihindarinya dengan baik. Karena itu, maka ujung rantai Winih telah
menyentuh lambung Darpati, Meskipun tidak dalam, tetapi luka itu
ternyata telah menitikkan darah. "Winih" desis Darpati "kau
bersungguh-sungguh." "Sebagaimana kau katakan, kaupun
bersungguhsungguh. Maka akupun bersungguh-sungguh." jawab Winih.
"Aku memang berniat demikian Winih. Tetapi ternyata aku tidak dapat
melakukannya. Kau teriaki cantik untuk dimusuhi. Dan kulitmu terlalu
lembut untuk dilukai. Bagaimanapun juga aku berusaha membuat diriku
sendiri membencimu, tetapi aku tidak dapat ingkar, bahwa aku
ternyata tetap mencintaimu.” "Kau jangan mengigau. Bersiaplah. Aku
bersungguhsungguh. Aku akan membunuhmu." geram Winih. “Dihadapanmu,
maka nalar dan perasaanku tidak dapat menyatu. Bahkan tiba-tiba saja
aku ingin melihat kau tersenyum lagi." desis Darpati. "Tidak. Tidak"
Winih berteriak, ia tidak ingin mendengar lagi kata-kata Darpati
yang dapat mengganggu perasaannya itu. Sebenarnyalah bahwa
pemusatan.nalar budi Winih telah terganggu. Ketika ujung pedang
Darpati kemudian terjulur maka Darpati benar-benar telah mampu
menembus perisai putaran rantai Winih. Terdengar Winih berdesah
tertahan. Selangkah ia meloncat surut. Ternyata lengannya telah
benar-benar tergores ujung pedang Darpati. Nyi Prawara yang berdiri
beberapa langkah dari arena pertempuran itu melihat dalam keremangan
malam Winih tergores senjata. Karena itu, diluar sadarnya Nyi
Prawara itu telah berloncatan mendekat. Demikian pula Manggada dan
Laksana yang telah kehilangan lawannya, bahkan kedua ekor harimau
yang ternyata masih berada di kebon dibelakang rumah Kiai Gumrah itu
sekali-sekali nampak hilir mudik tanpa memperdengarkan suaranya sama
sekali. Dalam pada itu, Darpatipun berdesis "Winih. Kau terluka? Aku
benar-benar tidak sengaja Winih. Aku benarbenar tidak sampai hati
menyentuh kulitmu yang lembut." "Tidak. Jangan katakan itu" Winih
berteriak lagi. Sementara itu Darpati melihat kesempatan terbuka. Ia
memang tidak mau membunuh Winih. Ia ingin menangkapnya hidup-hidup
dan menjadikannya perisai untuk meninggalkan halaman itu. Jika ia
berhasil maka ia akan dapat memancing pusaka pusaka itu sebagaimana
direncanakan sejak kedatangannya jika ia tidak dapat langsung
mengambil pusaka-pusaka itu. Dalam kesempatan itu, maka Darpati
telah meloncat mendekati Winih sambil menjulurkan pedangnya. Ia
ingin menekan tubuh Winih dengan pedang itu dan mengancamnya,
sementara tangannya yang lain akan berusaha menangkap pergelangan
Winih pada tangan yang memegangi senjatanya. Kesempatan itu memang
hanya diperolehnya sekejap, saat Winih dihempaskan kedalam hentakan
perasaannya sebagai seorang gadis yang tumbuh dewasa. Jika
keperkasaan gadis itu kembali lagi menguasainya serta kesadaran
ilmunya yang tinggi menghentaknya, maka kecil sekali harapan Darpati
dapat melindungi dirinya sendiri, karena sebenarnyalah bahwa Darpati
harus mengakui, bahwa sulit baginya untuk dapat mengalahkan Winih.
Dalam sekejap, perasaan Winih memang terguncang. Bagaimanapun juga
ia memang pernah tertarik kepada orang yang bernama Darpati itu.
Karena itu kata-katanya yang lembut seperti hembusan semilirnya
angin, rasarasanya sempat mengasah pemusatan nalar budinya. Namun
ibunya yang berdiri semakin dekat, mendengar dan mengetahui
kelicikan cara yang dipergunakan oleh Darpati yang agaknya memang
sudah mempunyai pengalaman yang sangat luas dalam hubungannya dengan
banyak macam perempuan. Karena itu, maka bersamaan dengan saat
Darpati meloncat, Nyi Prawara berteriak "Winih. Hati-hati." Winih
tersentak. Tetapi Darpati telah meloncat sambil mengacukan
pedangnya. Kesempatan Winih memang terlalu sempit. Yang dapat
dilakukannya kemudian untuk menghindari ujung pedang yang hampir
menggapai tubuhnya itu adalah dengan menjatuhkan dirinya, ia
berharap bahwa lontaran tubuh Darpati yang kuat akan dapat
melemparkan Darpati itu melampauinya tanpa melukainya. Tetapi
Darpati tidak menyerangnya dengan sepenuh tenaga. Darpati hanya
ingin mengancamnya. Karena itu, ketika Winih menjatuhkan dirinya
untuk menghindar, maka daya dorong tubuh Darpati tidak cukup
melontarkan tubuhnya melewati tubuh Winih yang sudah siap
melemparkannya semakin jauh dengan kedua kakinya, justru karena itu,
maka tubuh Darpati itu memang telah terlempar, tetapi tidak cukup
jauh. Bahkan tubuh itu telah terhempas jatuh dekat disebelah tubuh
Winih. Tetapi tendangan kaki Winih yang mengenai perut Darpati telah
membuat orang itu kesakitan. Dalam pada itu, maka hampir serentak
keduanya telah berusaha untuk bangkit. Ketika Darpati sempat berdiri
tegak, maka Winihlah yang justru telah mendapat kesempatan. Dengan
kecepatan yang sangat tinggi serta kemarahan yang menghentak-hentak
didadanya, Winih telah mengayunkan rantai bajanya menyerang Darpati
yang baru berusaha mempersiapkan dirinya menghadapi
kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Yang terjadi kemudian
ternyata telah mengejutkan orang-orang yang ada di kebun Kiai Gumrah
itu. Rantai baja Winih yang diayunkannya dengan kecepatan yang
tinggi serta sepenuh tenaga itu telah mengenai tubuh Darpati yang
berusaha menangkis tetapi terlambat. Terdengar Darpati memekik
kesakitan. Tubuhnya terdorong surut. Sebuah luka yang panjang telah
menyilang didadanya. Sesaat ia berdiri termangu-mangu. Namun
wajahnya seakan-akan telah berubah. Matanya menjadi merah menyala.
Giginya gemeretak. Berlahan-lahan Darpati mengangkat pedangnya dan
mengacukannya kepada Winih sambil berkata "Kau adalah perempuan
cantik yang paling garang yang pernah aku temui. Lebih dari seratus
perempuan yang pernah aku miliki. Dan sekarang kau akan menjadi satu
diantara mereka. Tidak seorangpun diantara mereka yang berkesempatan
memilih apa yang dapat mereka lakukan selain menjalankan segala
perintahku dan memenuhi segala keinginanku sampai aku menjadi jemu
dan mencampakkannya." Winih menjadi gemetar. Ia melihat sesosok
iblis yang menjadi merah oleh darahnya sendiri. Namun selangkah demi
selangkah Darpati masih bergerak maju dengan pedang yang terjulur.
Jantung Winih rasa-rasanya berdetak semakin cepat. Sebagai seorang
yang memiliki ilmu yang tinggi, Winih dibekali oleh ketahanan jiwani
yang kokoh. Namun Winih memang belum mempunyai cukup banyak
pengalaman. Karena itu, ketika ia melihat Darpati yang bersimbah
darah itu melangkah mendekatinya, jiwanya seakan-akan telah
terguncang. Tetapi ia tidak mau membiarkan dirinya diterkam oleh
iblis itu. Ketika sosok yang menjadi menakutkan itu mendekatinya
sambil mengacukan pedangnya, maka Winih seakan-akan telah kehilangan
pengendalian diri. Begitu kerasnya jiwanya terguncang, sehingga
Winih seakan-akan tidak tahu lagi apa yang dilakukannya. Winih baru
sadar, ketika ia mendengar ibunya menjerit memanggil namanya. Bahkan
kemudian ibunya itu telah memeluknya dari belakang dan menariknya
menjauhi sosok tubuh yang kemudian terhuyung-huyung dan jatuh
terjerembab ditanah "Winih, Winih. Hentikan " teriak ibunya. Winih
yang masih saja gemetar bagaikan terbangun dari mimpi yang sangat
buruk. Ketika ibunya kemudian mengguncang tubuhnya, maka Winihpun
melihat sosok tubuh yang terbaring itu. Darpati telah terbunuh
dengan luka arang keranjang. Winihlah yang kemudian menjerit tinggi.
Sambil memejamkan matanya ia memeluk ibunya erat-erat seakanakan
tidak mau melepaskannya lagi. Jerit Nyi Prawara dan Winih ternyata
terdengar dari halaman didepan. Sejenak kemudian, maka beberapa
orang telah berlari-larian mendekati mereka. Kiai Gumrah, Ki Prawara
serta juragan gula yang semula ikut bertempur di halaman melawan
orang-orang yang ternyata cukup liat dan berilmu tinggi, sehingga
memerlukan waktu yang cukup lama. “Apa yang terjadi?" bertanya Kiai
Gumrah. Namun ketika ia melihat sosok tubuh yang arang keranjang
serta rantai yang masih ada ditangan Winih, maka Kiai Gumrahitupun
bertanya "Apa yang telah kau lakukan, Winih?" Winih masih berada
didalam pelukan ibunya. Bahkan sifat kegadisannya tiba-tiba telah
muncul. Winih itu menangis terisak-isak. Sekan-akan ia ingin
menyembunyikan wajahnya dari bayangan yang mengerikan itu didada
ibunya. “Nyi, bukankah kau ada disini?” bertanya Ki Prawara "Nanti
aku ceriterakan apa yang terjadi. Tetapi Winih tidak dapat berbuat
lain. " jawab Nyi Prawara. Kiai Gumrah dan Ki Prawara saling
berpandangan sejenak. Kemudian merekapun melihat Manggada dan
Laksana yang sudah terluka dan berdarah, berdiri termangu-mangu.
Namun orang-orang yang datang kemudian itu tidak lagi melihat kedua
ekor harimau itu lagi. Namun ketika mereka melihat luka-luka ditubuh
ketiga orang yang terbunuh itu, maka merekapun segera mengenali
bahwa dua ekor harimau itu telah ikut campur pula. Diantara mereka
terdapat seorang yang terduduk lemas. Orang itu tidak lagi mampu
berbuat sesuatu. Bahkan tidak lagi dapat melarikan dirinya. Kepada
Kiai Gumrah, Nyi Prawara yang masih memeluk anaknya itu berkata
"Orang itu salah seorang dari mereka yang datang menyerang kami."
Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Katanya "Ternyata Darpatilah yang
mengatur segala-galanya. Aku sudah berbicara dengan Ki Bekel dan
seorang diantara orangorang Darpati yang dapat kami tangkap
hidup-hidup." “Apakah Ki Bekel masih ada dihalaman?” bertanya Nyi
Prawara. “Semuanya masih lengkap Memang ada orang-orang berilmu yang
dapat melarikan diri. Tetapi ada yang berhasil kami tangkap." jawab
Kiai Gumrah. Lalu katanya pula “Tetapi aku akan membawa Ki Bekel
kemari. Aku akan menunjukkan kepadanya, apa yang telah terjadi
disini." Nyi Prawara mengangguk kecil. Namun katanya."Aku akan
membawa Winih masuk. Biarlah Manggada dan Laksana berceritera."
"Mereka juga terluka?" bertanya-Kiai Gumrah. "Ya. Aku akan
menyiapkan obat bagi semuanya, termasuk Winih yang juga terluka."
jawab-Nyi Prawara. Nyi Prawarapun kemudian telah mengajak Winih
masuk keruang dalam. Dihiburnya anaknya sebagaimana seorang ibu.
yang dengan penuh kasih membesarkan hati anaknya yang terguncang
perasaannya. Dibelainya rambutnya dan diusapnya air mata yang
meleleh dipipi. "Aku telah membunuhnya ibu. Bukan sekedar membunuh,
tetapi aku telah berbuat lebih dari membunuh" desis Winih. "Bukan
salahmu, Winin. Orang itu telah membuatmu kehilangan kendali. Ia
bermaksud mempengaruhi pemusatan nalar budimu karena ilmunya yang
berada dibawah ilmumu. Tetapi ia benar-benar memiliki pengalaman
yang sangat luas. Baik dalam, olah kanuragan, maupun dalam
hubungannya dengan perempuan, sehingga ia mampu mengusik
kelemahan-kelemahan yang ada pada perasaan seorang perempuan"
berkata ibunya. Setelah berhenti sejenak, iapun berkata "Tetapi
perbuatannya itu justru telah menjerumuskannya kedalam satu keadaan
yang sangat pahit. Meskipun demikian, orang itu sendirilah yang
bersalah, sehingga ia mendapat perlakuan yang sangat buruk.” Winih
tidak menjawab. Tetapi sikap ibunya, belaian tangannya serta
kata-katanya yang lembut membuat perasaan Winih yang terguncang
menjadi sedikit tenang. Sementara itu Manggada dan Laksana telah
berceritera tentang peristiwa yang mereka alami bersama Nyi Prawara
dan Winih. Kemudian munculnya kedua ekor harimau yang memang sering
datang justru pada saat-saat yang sangat diperlukan. "Aku percaya
bahwa kedua ekor harimau itu milik Setan Bongkok, itu" desis Kiai
Gumrah. "Ki Pandi yang kakek maksud?" bertanya Manggada. "Ya. Orang
aneh itu" jawab Kiai Gumrah. Manggada mengerutkan dahinya. Namun
dihatinya iapun berkata "Kakek juga seorang yang aneh." Seperti yang
dikatakannya, maka Kiai Gumrahpun telah memanggil Ki Bekel untuk
melihat apa yang terjadi di kebun belakang rumahnya. Dua orang
bebahu dan beberapa orang yang lain diminta pula oleh Kiai Gumrah
untuk melihat sendiri, apa yang baru saja terjadi. Mereka juga
dipersilahkan untuk melihat tiga sosok tubuh yang dikoyakkoyak oleh
kuku dan taring binatang buas. "Nah, aku minta Ki Bekel berbicara
dengan seorang diantara mereka yang masih hidup itu" berkata Kiai
Gumrah "agar Ki Bekel akan mendapat gambaran yang lebih lelas, apa
terjadi di rumah ini” Sikap Ki Bekel sudah jauh berubah, ia tidak
lagi menganggap Kiai Gumrah sebagai seorang penyadap legen dan
pembuat gula kelapa saja. Tetapi dengan mata kepala sendiri ia
melihat apa yang telah dilakukan oleh Kiai Gumrah itu, sehingga Ki
Bekel tidak lagi mempunyai penilaian yang salah. Meskipun demikian
ia tetap saja merasa heran atas kedunguannya, kenapa selama ini ia
menganggap bahwa Kiai Gumrah adalah seorang yang tidak berharga di
padukuhannya kecuali sekedar seorang penunggu banjar lama. Demikian
pula atas beberapa orang kawan Kiai Gumrah yang ternyata memiliki
kemampuan yang sangat tinggi. "Seandainya mereka tidak dapat
mengendalikan diri dan memusuhi kami, maka orang-orang sepadukuhan
tentu tidak akan dapat melawan mereka” berkata Ki Bekel didalam
hatinya. Apalagi ketika Kiai Gumrah yang berhasil menguasainya untuk
menghindari benturan kekerasan, namun yang sama sekali tidak
dihiraukan oleh sekelompok orang yang menghasutnya, membuatnya
merasa berhutang budi. Seandainya Kiai Gumrah memang bermaksud
buruk, maka ia tentu sudah mati dihalaman rumah itu. Penyesalan
telah memenuhi kepala Ki Bekel. Janji, upah dan suap yang
diterimanya dari orang-orang itu hampir saja harus diimbali dengan
nyawanya. Beberapa saat kemudian, maka Ki Bekel, beberapa orang
bebahu serta para pembuat gula itu telah membicarakan
langkah-langkah yang akan mereka ambil. Yang harus mereka lakukan
pertama-tama adalah menguburkan orangorang yang terbunuh, termasuk
Darpati. Tiga orang yang dikoyak-koyak harimau dan dua orang yang
bertempur dihalaman melawan para pembuat gula dan Ki Prawara. "Aku
mohon bantuan Ki Bekel untuk memerintahkan orang-orang yang sudah
berada di halaman rumah ini" berkata Kiai Gumrah. "Baik. Baik Kiai.
Kami akan membantu apa saja yang dapat kami lakukan" jawab Ki Bekel.
Seperti yang dikatakannya, maka Ki Bekelpun kemudian minta kepada
orang-orang yang datang bersamanya untuk membantu menguburkan
orang-orang yang terbunuh di halaman dan dikebun Kiai Gumrah itu.
"Kita bawa sosok-sosok tubuh itu dan kita. tempatkan di banjar lama.
Besok, demikian matahari terbit, maka kita akan menguburkan mereka"
berkata Ki Bekel. Demikianlah, maka setelah halaman rumah itu
dibersihkan, Ki Bekel, para bebahu dan orang-orang yang
mengikutinya, telah minta diri. Sebagian dari mereka akan tetap
berada di banjar menunggui sosok-sosok tubuh dari korban yang jatuh
di halaman rumah Kiai Gumrah itu. Sebelum meninggalkan halaman rumah
Kiai Gumrah, Ki Bekel mewakili orang-orang yang datang bersamanya
telah minta maaf yang sebesar-besarnya kepada Kiai Gumrah. "Kami
telah salah memilih langkah" berkata Ki Bekel. "Tidak" jawab Kiai
Gumrah “Ki Bekel tidak salah pilih." "Maksud Kiai?" bertanya Ki
Bekel. "Ki Bekel sudah tahu bahwa jalan yang Ki Bekel pilih itu
tidak wajar. Ki Bekel tahu bahwa Ki Bekel telah dihasut, diberi
janji-janji, bahkan suap. Tetapi Ki Bekel tetap saja melakukannya.
Bukankah itu satu kesengajaan? Satu penyalah-gunaan kedudukan yang
Ki Bekel emban?" Ki Bekel tidak dapat menjawab. Ia hanya dapat
menundukkan kepalanya. Namun kemudian terdengar ia berdesis "Ya
Ktai. Sekali lagi kami mohon maaf." "Baiklah. Setiap orang dapat
melakukan kesalahan Tetapi hendaknya kita tidak selalu mengulangi
kesalahankesalahan yang sama, justru yang pernah kita akui sebagai
satu kesalahan." berkata Kiai Gumrah. Ki Bekel hanya dapat berdesis
"Ya Kiai." "Sekarang, jika Ki Bekel ingin pulang, silahkan. Tetapi
besok aku serahkan segala sesuatunya tentang sosok-sosok tubuh itu
kepada Ki Bekel." berkata Kiai Gumrah kemudian. "Baik, Kiai. Baik.
Aku akan mengurusnya." Kiai Gumrah tidak berbicara lagi. Sementara
itu Ki Bekel-pun telah minta diri dan meninggalkan halaman rumah
itu. Sementara itu, beberapa orang diantara mereka telah mengurus
dan memindahkan sosok-sosok tubuh itu ke banjar. Sementara itu, Nyi
Prawara telah menyiapkan obatobatan buat mereka yang terluka. Selain
penghuni rumah itu, Nyi Prawara juga menyiapkan obat bagi orang yang
telah dikalahkannya dan seorang lagi yang tertangkap di halaman
depan. Orang itu juga telah terluka, sehingga tidak sempat melarikan
diri sebagaimana beberapa orang kawan mereka. Dari keduanya Kiai
Gumrah dan orang-orang yang ada dirumah itu mendengar, apa yang
telah dilakukan oleh Darpati sepengetahuan Kiai Windu Kencana.
Darpati memang mendapat kesempatan untuk mencoba mengambil
pusaka-pusaka itu dengan caranya. Namun ternyata cara itu telah
gagal. Dalam pada itu, hampir semalam suntuk Nyi Prawara telah
mengobati orang-orang yang terluka. Manggada dan Laksana yang tidak
terlalu parah lukanya, telah duduk di dapur sambil menunggui
perapian. Mereka telah merebus air untuk membuat minuman bagi mereka
yang telah bekerja keras, termasuk kawan-kawan Kiai Gumrah. Meskipun
demikian, Nyi Prawara juga berpesan kepada keduanya agar mereka
tidak bergerak terlalu banyak. "Jika air telah mendidih, beritahu
aku" berkata Nyi Prawara sambil mengobati bekas lawannya yang
dilukainya dengan ujung rantainya serta seorang lagi diantara
orangorang yang datang menyerang, yang bertempur dihalaman depan.
Peristiwa itu telah mendorong Kiai Gumrah dan kawankawannya untuk
mengambil tindakan yang lebih jelas. Dengan nada tinggi juragan gula
itu berkata "Kita tidak dapat hanya sekedar menunggu sekarang ini.
Permusuhan diantara kita dengan mereka sudah semakin terbuka. Jika.
kita sekedar menunggu, maka pada suatu saat kita akan dapat lengah
sehingga kita benar-benar akan dapat mereka hancurkan.” Kiai Gumrah
mengangguk-angguk Sementara seorang diantara kawan-kawan Kiai Gumrah
itu berkata "Kita, sudah tahu sarang mereka. Apalagi kesulitan kita
jika kita. akan menyerang?" Kiai Gumrah. menarik nafas dalam-dalam.
Namun kemudian katanya "Kita belum dapat menggambarkan kekuatan,
mereka. Menurut perhitunganku, saat ini orang - yang disebut
Panembahan itu. telah berada diantara mereka." Juragan gula itupun
kemudian berkata "Kita memang harus membicarakannya dengan
bersungguh-sungguh. Tetapi segala-galanya bukan lagi rahasia
sekarang. Kita sudah cukup lama berpura-pura, sementara mereka masih
saja memburu kita sampai sekarang. Padahal kita merasa yakin bahwa
kita tidak bersalah. Apa yang kita lakukan sesuai dengan garis yang
telah ditentukan oleh perguruan kita." “Kita memang sudah pasti
sekarang. Nama-nama Windu Kusuma dan orang-orang yang bekerja
bersamanya, orang yang disebut Panembahan dan orang-orang yang lain
lagi, adalah orang-orang yang telah bekerja bersama dengan
pengkhianat itu." berkata salah seorang kawan Kiai Gumrah yang lain.
"Baiklah" berkata Kiai Gumrah "kita memang harus membicarakannya
dengan bersungguh-sungguh. Kawan kita akan memastikan sasaran yang
harus kita tuju. Kita memang tidak akan menunggu Kiai Windu Kusuma
dan Sang Panembahan itu datang kemari. Menurut keterangan seorang
diantara mereka yang berbaik hati menghubungi kita, maka sebelum
purnama, pusaka-pusaka itu sudah harus berada ditangannya. Bahkan
harus sudah menyentuh jantung segar seseorang agar tuahnya tidak
akan berkurang." "Satu sanepa yang mengerikan. Itu adalah sekedar
perlambang bahwa Panembahan itu akan menghabisi kita semuanya dengan
tombak kita sendiri." berkata juragan gula itu. "Tetapi Panembahan
yang agaknya adalah Panembahan, itu juga, benar-benar telah
membasahi kerisnya dengan darah gadis-gadis. Agaknya ia benar-benar
percaya justru karena ilmu hitamnya, bahwa hal yang demikian itu
dapat memberikan arti bagi pusaka-pusakanya." Kawan-kawan Kiai
Gumrah itu mengangguk-angguk. Agaknya Panembahan itu memang percaya
bahwa dengan menusukkan ujung tombak itu pada jantung segar didalam
diri seseorang, maka pusaka-pusaka itu akan menjadi semakin bertuah.
Sementara itu, selama pusaka-pusaka itu disimpan oleh Kiai Gumrah,
maka hal seperti itu sama sekali tidak pernah dilakukannya. Bahkan
terpikirpun tidak. Karena itu, maka Kiai Gumrah itupun berkata
"Baiklah. Kita memang harus membicarakannya dengan sungguhsungguh.
Kita akan datang kepada mereka. Semakin cepat semakin haik. Kita
atau merekalah yang akan hancur." Tetapi Kiai Gumrah minta agar
kawan-kawan mereka tidak meninggalkan rumahnya untuk sementara.
Dengan nada berat ia berkata "Sejak sekarang kita tidak akan
raguragu mempergunakan isyarat. Kentongan misalnya." "Jika demikian
kenapa kita tidak dapat meninggalkan rumahmu ini?" bertanya
seseorang. "Aku dan satu dua orang diantara kalian akan ikut pergi
ke kuburan jika orang-orang padukuhan nanti menguburkan orang-orang
yang terbunuh itu." berkata Kiai Gumrah. "Untuk apa?" bertanya
seorang yang lain. "Kita harus mampu membuat permainan yang dapat
mengimbangi permainan mereka." jawab Kiai Gumrah. "Maksudmu?"
bertanya seorang kawannya. "Berapa orang lawan yang terbunuh di
rumah ini?” desis Kiai Gumrah. "Ampat orang di belakang, termasuk
Darpati dan dua dihalaman depan" sahut juragan gula itu. "Enam
orang" desis Kiai Gumrah. Lalu katanya "Jika demikian maka kuburan
itu harus berjumlah delapan." "Kenapa?" bertanya salah seorang
kawannya yang lain "apakah kita akan mengubur kedua orang lain
hiduphidup?" Kiai Gumrah tersenyum. Beberapa orang-kawannya
termangu-mangu. Namun seorang demi seorang kemudian mulai memahami.
Ki Prawarapun kemudian menganggukangguk pula. Demikianlah, seperti
yang direncanakan, maka ketika matahari mulai memanjat langit, maka
orang-orang padukuhan itu dipimpin langsung oleh Ki Bekel telah
mengusung beberapa sosok tubuh yang terbaring di banjar lama. Mereka
dibawa kekuburan tua untuk dikuburkan. Enam gundukan tanah berjajar
ditempat yang agak terpisah. Kiai Gumrah, juragan gula dan seorang
kawannya ada diantara mereka yang membawa tubuh-tubuh yang sudah
membeku itu. Maka seperti yang direncanakan, setelah orang-orang
padukuhan itu meninggalkan kuburan, Kiai Gumrah dan kedua kawannya
telah membuat dua gundukan tanah disebelah gundukan yang berjajar
itu. Dengan demikian, maka dua gundukan tanah itu memang menyerupai
benar kuburan-kuburan baru yang lain. Baru setelah Kiai Gumrah dan
kedua kawannya kembali, maka. orang-orang yang berkumpul dirumah
Kiai Gumrah itu minta diri untuk kembali kerumah mereka
masingmasing. "Kita sekarang tidak usah merasa segan untuk
membunyikan isyarat dengan kentongan" berkata juragan gula ilu. “Ya”
jawab Kiai Gumrah "kita dapat membuat persetujuan, bunyi isyarat
yang harus kita bunyikan dalam keadaan tertentu, tetapi tidak
mengacaukan tanda-tanda atau-isyarat yang sudah terbiasa
dipergunakan didalam tatahan kehidupan di padukuhan ini."
Demikianlah, Kiai Gumrah dan kawan-kawannya yang dalam kehidupan
mereka sehari-hari pada umumnya menjadi penyadap legen kelapa serta
membuatnya menjadi gula, tidak lagi berusaha membuat tirai yang
dapat menyembunyikan kenyataan mereka. Justru keadaan telah
menyudutkan mereka untuk menyatakan diri, siapakah sebenarnya mereka
itu. Usaha mereka untuk dapat hidup tenang sebagaimana para petani
di padukuhan itu, ternyata telah dikacaukan oleh perbuatan yang
tidak bertanggung jawab. Dalam pada itu, Kiai Gumrah dan
kawan-kawannya sepakat untuk membiarkan kedua orang yang terluka itu
bera dirumah Kiai Gumrah. Mereka harus mendapat pengobatan yang
baik, namun juga pengawasan yang saksama, karena mereka tidak boleh
terlepas dari tangan mereka. Karena itu, maka dengan terpaksa sekali
Kiai Gumrah harus mengikat tangan mereka selama mereka berbaring di
pembaringan, meskipun ikatannya cukup longgar. "Maaf Ki Sanak"
berkata Kiai Gumrah "kami tidak dapat berbuat lain." Kedua orang itu
tidak menjawab. Namun mereka mengerti, bahwa yang dilakukan terhadap
keduanya itu adalah wajar sebagaimana sikap mereka yang sedang
bermusuhan. Bahkan keduanya tidak mengalami perlakuan yang buruk,
itupun sudah merupakan satu kelebihan tersendiri. Sementara itu,
maka keluarga Kiai Gumrah. yang menjadi semakin besar itupun telah
membagi tugas mengawasi orang-orang yang menjadi tawanan, mereka dan
yang tangannya terikat pada tiang dipembaringan mereka. Demikianlah
maka, kegagalan rencana Darpati untuk mengambil pusaka-pusaka yang
tersimpan dirumah Kiai Gumrah, atau mengambil Winih yang akan dapat
dipertukarkan dengan pusaka-pusaka itu telah mendapat perhatian
tersendiri dari para pengikut Kiai Windu Kusuma. Ketika beberapa
orang datang memberitahukan kegagalan itu, serta kegagalan mereka
memanfaatkan orang-orang sepadukuhan, maka Kiai Windu Kusuma
menyadari, bahwa mereka harus mengambil jalan lain. Namun timbul
kecemasan diantara para pengikut Kiai Windu Kusuma, bahwa ada
diantara orang-orang yang tertangkap hidup-hidup sehingga mereka
akan dapat memberikan beberapa keterangan kepada Kiai Gumrah. Karena
sebenarnyalah mereka mengetahui, bahwa Kiai Gumrah bukan sekedar
penyadap legen kelapa dan pembuat gula. Yang tersebar dipadukuhan
itu, sebenarnyalah murid-murid dari satu perguruan yang besar. "Kita
harus yakin, bahwa tidak ada orang yang tertangkap hidup-hidup"
berkata Kiai Windu Kusuma. Maka Kiai Windu Kusuma itupun telah
memerintahkan orang-orangnya untuk menyelidiki kemungkinan itu.
"Kita dapat mencari sumber keterangan dari orang-orang padukuhan
itu. Tentu ada diantara mereka yang membantu melakukan penguburan"
berkata Kiai Windu Kusuma. Namun seorang yang lain berkata "Kenapa
kita harus mengambil langkah yang berbahaya? Orang-orang padukuhan
itu sekarang tentu menjadi sangat curiga terhadap orang yang tidak
mereka kenal." "Tetapi kita harus tahu pasti nasib orang-orang kita
yang tidak, kembali." jawab Kiai Windu Kusuma "semua ada delapan
orang termasuk Darpati sendiri." "Bukankah ada jalan yang lebih
mudah. Kita pergi ke kuburan itu. Kita hitung, ada berapa kuburan
baru yang ada. Orang-orang kita yang. terbunuh itu tentu dikubur
menjadi satu. Seandainya ada orang-orang padukuhan itu yang
terbunuh, maka tubuh mereka tentu akan dikubur ditempat. yang
terpisah, karena mereka tentu akan membedakan, kuburan
pahlawan-pahlawan mereka dengan tubuh-tubuh dari orang-orang yang
mereka anggap orangorang jahat. Apalagi setelah Ki Bekel dan
orang-orang padukuhan itu berubah pikiran." Kiai Windu Kusuma itupun
mengangguk-angguk. Katanya "Bagus. Perintahkan satu dua untuk
melihat kekuburan itu." Demikianlah, maka dua orang diantara para
pengikut Kiai Windu Kusuma itu telah melihat kuburan yang
diketahuinya sebagai tempat untuk mengubur korban yang jatuh dalam
pertempuran semalam. Dua ekor burung elang sempat melihat
iring-iringan penguburan itu, sehingga dua orang pengikut Kiai Windu
Kusuma itu segera mengetahui kuburan yang dicarinya karena kedua
ekor elang itu terbang berputaran diatasnya. Ketika kuburan itu
sudah menjadi sepi, maka dua orang pengikut Kiai Windu Kusuma itupun
telah masuk kedalamnya untuk menghitung, berapa orang yang
dikuburkan oleh orang-orang padukuhan. "Delapan" desis salah seorang
daripadanya. Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Kita sudah
terlalu banyak memberikan korban. Tetapi persoalannya masih belum
selesai. Pusaka-pusaka yang dikehendaki oleh Panembahan itu belum
dapat kita kuasai." "Tetapi bahwa kedelapan orang termasuk Darpati
itu ternyata sudah mati semua adalah lebih baik daripada ada
diantara mereka yang tertangkap hidup. Yang tertangkap hidup itu,
akan dapat memberikan banyak, keterangan kepada Kiai Gumrah dan
kawan-kawannya." Berkata orang yang pertama. Kawannya
mengangguk-angguk. Katanya "Ya. Memang lebih baik jika semuanya
mati. Kita tidak mencemaskan lagi, apa saja yang akan diceriterakan
kepada orang-orang yang menangkapnya. Betapapun ketahanan jiwani
seseorang, namun jika dipaksa dengan kekerasan, maka biasanya
mulutnya akan terbuka pula." "Nampaknya Kiai Gumrah dan
kawan-kawannya juga sudah mulai kehilangan kesabaran. Delapan orang
kawan kita dibunuhnya." "Kita tentu dapat mengerti, kenapa mereka
berbuat demikian. Apalagi menghadapi orang-orang dalam
kelompok-kelompok baru dilingkungan kita. Mereka lebih keras dari
orang-orang lama seperti kita ini." "Tetapi Darpati sudah mati. Ia
terlalu yakin akan kemampuannya. Aku dengar Kundala pernah
memperingatkannya." "Kundala sekarang sudah tidak banyak berarti
lagi bagi para pemimpin kita." Keduanyapun kemudian telab
meninggalkan kuburan itu. Mereka yakin, bahwa semua orang yang tidak
sempat meloloskan diri dari halaman rumah Kiai Gumrah telah
terbunuh. Namun dengan demikian, maka para pengikut Kiai Windu
Kusuma tidak mempersoalkannya lagi. Demikian keduanya meninggalkan
kuburan, maka seseorang telah muncul dari balik gerumbul. Orang itu
adalah salah seorang kawan Kiai Gumrah yang ingin meyakinkan, apakah
perhitungan Kiai Gumrah itu benar. Ternyata bahwa Kiai Windu Kusuma
benar-benar telah memerintahkan orangnya untuk menghitung jumlah
kuburan baru ditempat yang agak terpisah dari yang.lain. Dengan
demikian, maka orang itupun yakin pula, bahwa Kiai Windu Kusuma
menganggap bahwa semua orangnya yang hilang itu telah
terbunuh.
Buku 6 ANGGAPAN itulah yang ternyata
kemudian merupakan salah satu kelemahan bagi Kiai Windu Kusuma,
karena ia menganggap bahwa tidak ada orang yang dapat memberikan
keterangan lebih banyak tentang isi dan kekuatan kelompok Kiai Windu
Kusuma dan orang yang disebutnya Panembahan itu. Mereka menganggap
bahwa Kiai Gumrah tidak akan berani berbuat lebih jauh dari sekedar
mempertahankan diri dirumah-nya karena ia tidak mempunyai gambaran
sama sekali tentang lawannya yang ingin mendapatkan pusaka-pusaka
yang disimpannya itu. Kiai Windu Kusuma memang tidak mengingkari
kemungkinan bahwa Kiai Gumrah akan dapat mengetahui letak
persembunyiannya dengan mengikuti arah terbang burung-burung elang
yang dipergunakannya untuk mengetahui beberapa hal tentang keadaan
Kiai Gumrah, lingkungannya dan bahkan beberapa kegiatannya. Tetapi
persembunyian itu ternyata bukan merupakan satu hal yang sangat
penting bagi mereka. Sebenarnyalah pengamatan salah seorang kawan
Kiai Gumrah atas sarang lawannya masih jauh dari yang diharapkan.
Untunglah bahwa Kiai Gumrah dan kawankawannya berhasil menangkap dua
orang pengikut Darpati yang telah berusaha untuk mengambil
pusaka-pusaka yang tersimpan dirumah Kiai Gumrah itu dengan caranya,
setelah mereka berhasil mengelabui dan menggerakkan orang-orang
padukuhan bahkan termasuk Ki Bekel pula. Ternyata perlakuan yang
baik, serta perawatan yang bersungguh-sungguh telah membuat hati
kedua orang tawanan itu berguncang. Jika mereka semula berniat untuk
tidak mengatakan sesuatu tentang kelompoknya, maka kemudian sedikit
demi sedikit tekad yang semula mengeras seperti batu hitam itu mulai
mencair. Kiai Gumrah sejak semula memang meyakini, bahwa sikap dan
perlakuan yang baik, akan dapat mengkikis kekerasan hati kedua orang
tawanannya. Karena itu maka perlahan-lahan Kiai Gumrah dapat
menggiring mereka kedalam satu pembicaraan yang bersungguh-sungguh.
Ketika keadaan kedua orang itu menjadi sedikit baik, maka mereka
mulai dapat duduk diamben yang besar diruang dalam rumah Kiai
Gumrah. Tali yang mengikat dengan pembaringan mereka telah dilepas
disaat-saat tertentu, sebagaimana saat mereka duduk diruang dalam
bersama dengan Kiai Gumrah dan Ki Prawara. Meskipun tangan dan
kakinya tidak terikat, tetapi kedua orang itu menyadari, bahwa ia
berada disatu lingkungan yang dikelilingi oleh orang-orang berilmu
tinggi. Ternyata dua orang perempuan yang ada dirumah itu adalah
perempuan yang berilmu tinggi pula. Seorang diantaranya berhasil
membunuh Darpati, sedangkan yang seorang lagi telah mengalahkan
salah seorang dari kedua orang tawanan itu. Setelah menghirup
beberapa teguk minuman hangat, maka mereka mulai berbincang tentang
beberapa hal yang menyangkut tentang kelompok yang dipimpin oleh
Kiai Windu Kusuma. Kedua orang itu memang tidak segera menjawab
pertanyaan-pertanyaan Kiai Gumrah. Namun sedikit demi sedikit Kiai
Gumrah meyakinkan kepada keduanya, bahwa keduanya bagi Kiai Windu
Kusuma sudah dianggap sebagai orang-orang yang hilang. "Ki Sanak"
berkata Kiai Gumrah "dikuburan itu terdapat delapan onggok tanah
galian baru. Seorang diantara kawanku menyaksikan dua orang pengikut
Kiai Windu Kusuma yang datang dan menghitungnya" "Bagaimana kawan
Kiai dapat mengerti, bahwa kedua orang itu adalah pengikut Kiai
Windu Kusuma?" bertanya salah seorang dari kedua orang tawanan itu.
"Kawanku bersembunyi dibalik sebuah gerumbul yang tidak terlalu
jauh. Ia mendengar percakapan kedua orang itu, sehingga kawanku
yakin bahwa Kiai Windu Kusuma telah menganggap kalian orang-orang
yang telah dikubur bersama enam orang kawan kalian" Orang itu masih
merasa ragu. Namun kemudian Kiai Gumrah berkata "Ki Sanak. Justru
kalian sudah dianggap hilang, aku merasa kasihan kepada kalian.
Kalian tidak akan dapat berlindung kepada siapapun. Seandainya
mereka tahu bahwa kalian masih ada, mungkin mereka akan berusaha
untuk membebaskan kalian. Tetapi mungkin juga sebaliknya. Mereka
akan berusaha membunuh kalian agar kalian tidak dapat berbicara
lagi. Tetapi dengan dua onggok tanah kuburan itu, kalian tidak akan
lagi merasa dibayangi oleh ancaman pembunuhan itu" Kedua orang itu
termangu-mangu sejenak, sementara Kiai Gumrahpun berkata
"Pertimbangkan keadaanmu baikbaik Ki Sanak. Karena kalian tentu
tidak akan merasa senang untuk benar-benar berada dikuburan itu,
siapapun yang mengantarkan kalian kesana" Keduanya
mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata "Aku mengerti
Kiai. Akupun merasa perlakuan Kiai dan keluarga Kiai terlalu baik
buat kami. Karena itu, maka rasa-rasanya kami memang harus menilai
sikap kami" "Kalian masih mempunyai waktu Ki Sanak" berkata Kiai
Gumrah "meskipun sangat sempit. Sekarang, beristirahatlah agar
keadaan kalian menjadi semakin baik" "Tidak Kiai. Kami sudah cukup
beristirahat" berkata orang itu. "Jika demikian, apakah kita dapat
berbicara lebih lanjut?" berkata Kiai Gumrah. Kedua orang itu
menarik nafas dalam-dalam. Sejenak mereka saling berpandangan. Namun
kemudian seorang diantara mereka berkata “Kami sudah mengetahui apa
yang Kiai inginkan" "Sokurlah" jawab Kiai Gumrah. Tetapi kemudian ia
justru bertanya "Apa menurut pendapatmu yang ingin aku ketahui itu?"
"Tentu kekuatan dan sarang para pengikut Kiai Windu Kusuma" jawab
seorang diantara keduanya. "Kami sudah mengetahui sarang mereka.
Tetapi yang memang belum kami ketahui sepenuhnya adalah kekuatan
mereka" Wajah kedua orang itu berkerut. Namun seorang diantara
mereka berkata "Darimana Kiai mengetahuinya?" "Kawan-kawan kami
berhasil mengikuti arah terbang burung-burung elang yang sering
dilepaskan oleh para pengikut Kiai Windu Kusuma" jawab Kiai Gumrah.
Kedua orang itu mengangguk-angguk. Namun kemudian seorang diantara
mereka berkata "Kiai. Aku sekarang sudah disini. Aku kira aku memang
tidak akan dapat kembali kelingkunganku yang lama. Jika aku kembali,
maka nasibkupun akan menjadi buruk sekali. Karena itu, maka aku
justru akan menitipkan hidup matiku kepada Kiai" "Ki Sanak.
Sebenarnyalah bahwa kami bukan sekelompok pembunuh yang haus melihat
darah tertumpah. Jika kami melakukan kekerasan itu semata-mata,
karena kami sekedar mempertahankan diri dan mempertahankan hak kami.
Karena itu, maka jika kalian memang ingin mendapat perlindungan
kami, maka kami tentu tidak akan berkeberatan. Tetapi apakah hal ini
ada hubungannya dengan pengenalan kami atas sarang Kiai Windu Kusuma
dan para pengikutnya atau bahkan sarang orang yang disebut
Panembahan itu?" Kedua orang itu mengangguk-angguk. Seorang diantara
mereka berkata “Ya Kiai. Kami ingin memperingatkan bahwa pengenalan
Kiai atas sarang Kiai Windu Kusuma dan orang yang disebut Panembahan
itu tidak lengkap" Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Dengan nada rendah
ia bertanya “Apakah yang kau maksud tidak lengkap? Bukankah sudah
aku katakan, bahwa kami memang belum mengetahui dengan pasti
kekuatan mereka?" "Bukan hanya kekuatan mereka, Kiai" jawab orang
itu "tetapi juga sarang mereka yang sebenarnya. Karena sarang
burung-burung elang itu bukan sarang Kiai Windu Kusuma yang
sebenarnya. Rumah itu memang dipergunakan oleh Kiai Windu Kusuma.
Tetapi hanya beberapa orang saja yang tinggal disana. Terutama orang
yang mampu mengendalikan burung-burung elang itu. Sedangkan yang
lain berada ditempat yang terpisah.” Wajah Kiai Gumrah nampak
berkerut. Keterangan itu sangat menarik perhatiannya. Tetapi Kiai
Gumrah tidak segera mempercayainya begitu saja. Bahkan Ki Prawara
dengan serta-merta bertanya "Apakah kau berkata sebenarnya?" Orang
itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia dapat mengerti bahwa Kiai
Gumrah dan Ki Prawara itu tentu tidak begitu saja mempercayainya.
Karena itu, maka katanya "Kiai. Bukankah Kiai mempunyai kawan-kawan
yang memiliki ilmu yang tinggi? Jumlah kawan-kawan Kiai memang tidak
begitu banyak. Tetapi kawan-kawan Kiai benar-benar memiliki
kelebihan dari orang-orang kebanyakan. Hadirnya dua ekor harimau itu
juga merupakan rahasia tersendiri bagi Kiai Windu Kusuma. Semuanya
itu merupakan satu landasan yang sangat berarti bagi Kiai. Sementara
itu salah seorang diantara kawan-kawan Kiai tentu akan dapat
menyelidiki tempat sebenarnya dari Kiai Windu Kusuma dan
kawankawannya. Bahkan sekarang, orang yang disebut Panembahan itu
telah ada disana pula" Kiai Gumrah menganggukangguk. Dengan kening
yang berkerut iapun kemudian bertanya "Siapakah nama Panembahan
itu?" "Kami hanya menyebutnya dengan Panembahan begitu saja"
"Baiklah. Kita tidak mempersoalkan namanya. Tetapi kami yakin bahwa
Panembahan itu adalah Panembahan yang pernah kami kenal namanya,
karena Panembahan yang kami kenal namanya itu juga mempunyai tingkah
laku sebagaimana Panembahan yang ada diantara kalian. Jika
Panembahan yang kami kenal namanya itu menurut pendengaran kami
telah mengorbankan gadis-gadis untuk membuat pusakanya yang berupa
sebilah keris menjadi pusaka yang terbaik didunia, maka sekarang
Panembahan yang ada diantaramu itu akan memelihara dan meningkatkan
tuah dari pusaka-pusaka yang akan diambilnya dari rumahku ini dengan
menikam jantung manusia yang masih segar. Bukankah pada keduaduanya
berarti membasahi pusaka-pusaka itu dengan darah. Satu lambang
betapa hausnya Panembahan itu terhadap darah yang tertumpah. Bahkan
mungkin Panembahan itupun mengerti bahwa darah itu tidak akan
berarti apa-apa, apalagi memberikan tuah. Tetapi kepuasan Panembahan
itu mula-mula justru saat ia melihat darah yang memancar. Namun
lambat laun, kebiasaan untuk mencari kepuasan itu telah diberinya
alasan yang lebih mapan agar ia dapat melakukannya dengan lebih
mantap" Tetapi kedua orang itu hampir bersamaan menggeleng. Seorang
diantaranya berkata "Tidak Kiai. Meskipun mungkin ada juga sedikit
kebenarannya. Tetapi sebenarnya Panembahan itu adalah salah seorang
yang memuja kuasa kegelapan" Kiai Gumrah mengangguk-angguk.
Sementara Ki Prawara bertanya “Apa tandanya bahwa Panembahan itu
menuju kuasa kegelapan?" Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun
kemudian katanya "Tingkah lakunya yang aneh. Benda-benda yang
melekat pada dirinya, serta korban yang selalu diberikannya kepada
kuasa yang dipujanya itu. Kami memang menjadi curiga bahwa yang
dikorbankan itu merupakan bagian yang diambilnya dari tubuh manusia,
terutama darah" "Kapan Panembahan itu menyerahkan korbannya?"
bertanya Kiai Gumrah. "Kiai" berkata orang itu "kami adalah
orang-orang yang sebenarnya adalah pengikut Kiai Windu Kusuma,
sehingga kami tidak terlalu banyak mengetahui apa yang dilakukan
oleh Panembahan. Tetapi menurut pendengaranku, Panembahan setiap
bulan purnama telah menyerahkan korban" Kiai Gumrah
mengangguk-angguk. Dengan demikian maka ia menjadi semakin yakin
bahwa Panembahan itu adalah orang yang sangat berbahaya. Ia dapat
berbuat apa saja diluar dugaan setiap saat, sehingga yang tidak
terbayangkanpun akan dapat dilakukan pula. Namun Kiai Gumrahpun
kemudian bertanya "Tetapi kenapa Kiai Windu Kusuma telah terlibat
dalam kegiatan panembahan itu?" Kedua orang itu menggeleng. Seorang
diantara mereka berkata "Kami tidak tahu, hubungan apakah yang telah
mendorong Kiai Windu Kusuma untuk melibatkan diri dalam perebutan
pusaka-pusaka itu. Tetapi nampaknya pengaruh Panembahan itu terhadap
Kiai Windu Kusuma cukup kuat, sehingga mau tidak mau Kiai Windu
Kusuma harus terlibat kedalamnya" Kiai Gumrah mengangguk-angguk.
Namun ia percaya akan keterangan itu. Karena itu, maka Kiai Gumrah
dan Ki Prawara mengangguk-angguk mengiakan. "Kami harus segera
membicarakannya" berkata Kiai Gumrah "kami minta kalian bersedia
berbicara bersama kami terutama untuk menilai kekuatan Panembahan
dan Kiai Windu Kusuma" Kedua orang itu mengangguk kecil. Namun
kemudian seorang diantara mereka berkata "Masih ada satu pihak lagi
yang terlibat dalam hubungan ini. Jika aku tidak mengatakannya, maka
aku cemas bahwa penilaian Kiai atas kekuatan Panembahan tidak
lengkap. Karena itu, sebaiknya Kiai juga mengetahuinya" "Siapa lagi
yang terlibat dalam hubungannya dengan niat Panembahan?" bertanya
Kiai Gumrah. "Tetapi nampaknya orang itu tergerak sekedar karena
nilai kebendaan yang diinginkannya" jawab orang itu. "Siapa orang
itu?" bertanya Kiai Gumrah selanjutnya. Orang itu termangu-mangu.
Namun kemudian orang itu berkata "Aku hanya mendengar namanya
disebut Kiai Kajar.” Wajah Kiai Gumrah dan Ki Prawara menjadi
tegang. Diluar sadarnya Ki Prawara berdesis "Iblis itu benar-benar
berkhianat" "Kiai kenal orang itu?" bertanya salah seorang dari
kedua tawanan itu. "Ya. Orang itu adalah saudara seperguruanku"
berkata Kiai Gumrah "karena itulah agaknya Kiai Windu Kusuma dan
bahkan Panembahan itu mengetahui bahwa disini tersimpan
pusaka-pusaka yang diinginkannya" "Aku kira tidak Kiai" sahut orang
itu "Kiai Windu Kusuma memang mengetahui adanya pusaka-pusaka itu
dari Kiai Kajar. Tetapi Panembahan itu tidak. Seakan-akan ia tahu
segala-galanya, terutama tentang pusaka-pusaka yang menurut
pendapatnya sangat bertuah" "Kau tentu tidak mengetahui
segala-galanya. Meski ada yang terlampaui" berkata Kiai Gumrah.
Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia-pun
mengangguk-angguk sambil berkata "Ya. Aku memang bukan termasuk
salah seorang pemimpin yang ikut menentukan. Tetapi aku mendapat
sedikit kepercayaan. Bukan dari Panembahan, tetapi dari Kiai Windu
Kusuma" Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Hampir saja ia bertanya
tentang Kundala. Tetapi niatnya diurungkannya. Agaknya masih belum
saatnya, Kiai Gumrah menyebut kehadiran Kundala di rumah itu. Masih
banyak kemungkinan dapat terjadi atas kedua orang itu, juga atas
Kundala, sehingga kemungkinan buruk dapat saja terjadi atas mereka.
Namun pembicaraan itu telah memberikan banyak bahan bagi Kiai
Gumrah. Ia sadar, bahwa satu pertemuan yang lebih besar harus
diselenggarakan. Kiai Gumrah sudah dapat membayangkan, bahwa yang
dihadapi adalah satu kekuatan yang cukup besar. Ternyata meskipun
Kiai Gumrah telah memasuki usia tuanya, namun ia masih melangkah
dengan tegar. Dalam waktu singkat ia sudah menghubungi
kawan-kawannya. Beranting mereka menyampaikan undangan Kiai Gumrah
bagi kawan-kawannya yang tidak kurang dari saudarasaudara
seperguruannya. "Besok sore kita bertemu. Aku akan meminjam banjar
tua itu untuk mengadakan pertemuan. Aku akan minta agar Ki Bekel
tidak mengatakan kepada siapapun, bahwa kita akan mengadakan
pertemuan di banjar. Anak-anak muda padukuhan ini juga tidak perlu
mengetahui, sehingga karena itu, maka biarlah Ki Bekel membuat satu
kegiatan apapun bagi anak-anak muda agar mereka tidak berkeliaran ke
banjar tua" berkata Kiai Gumrah kepada salah seorang pedagang gula
yang termasuk saudara seperguruannya. Kiai Gumrahpun telah menemui
juragan gula itu pula, agar ia menyampaikan kepada saudara-saudara
seperguruannya yang esok pagi menyerahkan gula kelapa kepadanya.
"Apakah kawan-kawan yang lain sudah tahu?" bertanya juragan gula
itu. "Beranting" jawab Kiai Gumrah "dipasar besok mudahmudahan
banyak yang dapat ditemui. Jika tidak, maka biarlah saudara-saudara
kita saling mengunjungi dirumah mereka masing-masing" Malam itu juga
Kiai Gumrah telah menemui Ki Bekel. Ia minta ijin untuk menggunakan
banjar tua yang untuk waktu yang terhitung panjang telah
ditungguinya, dibersihkan dan dijaga dengan baik. "Tentu" berkata Ki
Bekel "Kiai Gumrah dapat saja mempergunakan banjar itu untuk
keperluan apapun.” "Tetapi aku mohon anak-anak muda tidak mengganggu
pertemuan kami. Biasanya ada beberapa anak muda yang singgah di
banjar itu dimalam hari. Sebenarnya aku merasa senang akan kehadiran
anak-anak muda itu. Tetapi kali ini aku mohon Ki Bekel mengatur satu
pertemuan di banjar baru, agar anak-anak muda tidak pergi ke banjar
lama" Ki Bekel termangu-mangu. Katanya "Aku tidak berkeberatan.
Tetapi apa alasanku untuk mengikat mereka di banjar baru" Kiai
Gumrah mengangguk-angguk. Tanpa alasan apapun, Ki Bekel memang tidak
dapat menahan anak-anak muda di banjar baru. Namun tiba-tiba Kiai
Gumrah berkata "Ki Bekel. Selama ini Rambatan dan beberapa orang
kawannya seakan-akan telah terpisah dari anak-anak muda yang lain.
Tetapi pada saat terakhir, agaknya Rambatan telah berubah sikap.
Apakah Ki Bekel dapat mempergunakannya sebagai alasan?" "Maksud Kiai
Gumrah?" bertanya Ki Bekel. "Undang anak-anak muda termasuk Rambatan
dan kawan-kawannya itu. Ki Bekel dapat mengatakan kepada mereka,
bahwa pertemuan itu adalah pertemuan untuk menghilangkan jarak
antara Rambatan dan kelompoknya dengan anak-anak muda yang lain.
Katakan bahwa anakanak muda padukuhan itu telah menyatu kembali.
Rambatan telah meninggalkan cara hidupnya yang lama" Ki Bekel
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya "Bagus. Aku akan
mengajak anak-anak itu makan untuk merayakan perubahan sikap
sebagian dari anak-anak muda padukuhan ini. Dan lebih dari itu, juga
sikapku sendiri. Bukankah perubahan sikapku juga pantas disambut
baik dengan sebuah kegembiraan" "Tentu" Kiai Gumrah tertawa "aku
ikut bergembira. Sayang aku tidak dapat hadir dalam pertemuan untuk
mensukuri beberapa perubahan yang terjadi di padukuhan ini" Kiai
Gumrah berhenti sejenak, lalu "Tetapi aku mohon Ki Bekel tidak
mengatakan sesuatu tentang pertemuan itu tidak baik untuk diketahui
oleh anak-anak muda itu. Kita masih harus tetap curiga, bahwa
setelah berbagai perubahan sikap terjadi di padukuhan ini, ternyata
masih ada satu dua orang yang meragukan sikapnya" "Aku mengerti,
Kiai. Aku akan berbuat sebaik-baiknya" jawab Ki Bekel. Demikianlah,
maka ketika pasar mulai ramai, beberapa orang pedagang gulapun
saling bertemu. Mereka telah menyebarkan panggilan dari Kiai Gumrah
untuk bertemu di banjar tua yang untuk waktu yang terhitung lama
ditunggui olehnya. "Apakah tempat itu sudah diamankan?" bertanya
salah seorang dari mereka. "Itu tanggung jawab Kiai Gumrah” jawab
saudagar gula yang menerima gula dari para pembuat gula yang
jumlahnya sampai satu dua pedati. Sebagian besar dari gula-gula itu
telah dikirimkan kepada pedagang gula di pasar-pasar yang lain,
bahkan dipadukuhan-padukuhan yang agak jauh. Jaringan perdagangan
gula itulah yang menjadi jalur hubungan antara Kiai Gumrah dan
saudara-saudara seperguruannya, meskipun tidak semua pedagang gula
termasuk dalam lingkungan seperguruan Kiai Gumrah. Dengan demikian
maka panggilan Kiai Gumrah itu telah merambat dari satu orang kepada
orang yang lain, sehingga tersebar kepada saudara-saudara
seperguruannya, bahwa setelah malam turun, maka mereka akan bertemu
untuk berbicara di banjar tua didekat rumah Kiai Gumrah. Ketika
kemudian senja mulai membayangi padukuhan itu, Kiai Gumrahpun mulai
bersiap-siap. Ia berpesan kepada Nyi Prawara dan Winih, agar mereka
berhati-hati dirumah. Demikian pula Manggada dan Laksana. "Kalian
tidak usah keluar dari rumah" pesan Kiai Gumrah. Nyi Prawara
mengangguk. Katanya "Kami akan menempatkan kentongan kecil didalam
rumah ini ayah. Mungkin kami memerlukannya mengingat kekuatan lawan
yang ternyata cukup besar. Mereka dapat datang setiap saat. Bahkan
disaat yang tidak diduga-duga" "Aku setuju. Biarlah Manggada
memasukkan kentongan kecil diserambi belakang itu" berkata Kiai
Gumrah. Lalu katanya "Aku dan Prawara akan berada di banjar tua itu"
Nyi Prawara mengangguk. Dengan nada dalam ia berkata kepada Manggada
"Ambillah kentongan di serambi belakang itu. Kita harus berhati-hati
menghadapi mereka" Demikianlah, ketika Kiai Gumrah dan Ki Prawara
pergi ke banjar, maka yang tinggal dirumah adalah Nyi Prawara,
Winih, Manggada dan Laksana. Mereka duduk diruang dalam, didepan
sentong tempat Kiai Gumrah menyimpan pusaka-pusakanya. Namun untuk
dapat mengamati langsung pusaka-pusaka itu, maka tirai dipintu bilik
itupun telah disingkapkannya. Sehingga dengan demikian maka mereka
dapat melihat langsung pusaka-pusaka yang sedang mereka lindungi
itu. Sementara itu, di banjar itu telah berkumpul lebih dari sepuluh
orang. Semuanya sudah nampak separo baya. Bahkan Ki Prawarapun
nampaknya terhitung muda diantara para pedagang dan pembuat gula
itu. Dengan singkat Kiai Gumrah menguraikan tentang niat Kiai Windu
Kusuma dan seorang yang disebut Panembahan untuk memiliki pusaka
itu. "Aku mengajak dua orang pengikut Kiai Windu Kusuma yang dapat
kami tangkap" berkata Kiai Gumrah. Semua orang yang hadir di banjar
itu telah memandang kedua orang tawanan yang menundukkan kepalanya.
Namun Kiai Gumrahpun kemudian berkata "Tetapi keduanya dapat aku
anggap sebagai orang yang baik" "Kenapa?" bertanya seorang pembuat
gula yang bertubuh tinggi besar, sehingga kawan-kawannya menyebutnya
Buta Ijo. "Mereka telah memberikan banyak petunjuk" jawab Kiai
Gumrah. "Mereka berbicara karena terpaksa" desis seorang yang lain,
yang rambut dan kumisnya sudah mulai memutih. "Tidak. Aku tidak
memaksa. Mereka berbicara atas kehendak mereka sendiri. Seandainya
disebut terpaksa, bukan karena tekanan kekerasan" jawab Kiai Gumrah
yang kemudian dengan singkat menguraikan tentang delapan onggok
kuburan. "Bagaimanapun juga unsur keterpaksaan itu ada” berkata
raksasa itu pula. "Jika kita membuat tataran, maka tataran kejahatan
mereka masih belum terlalu tinggi, meskipun mereka termasuk
orang-orang yang datang untuk membunuh cucucucuku dan bahkan
menantuku" berkata Kiai Gumrah. "Baiklah jika kau menganggap bahwa
kesalahannya tidak sampai ke ubun-ubun. Nah, sekarang apa lagi?”
bertanya yang lain, yang kurang sabar terhadap perkembangan
pembicaraan itu. Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Namun
kemudian ia mulai berbicara tentang pendapatnya bahwa sebaiknya
mereka tidak sekedar menunggu Panembahan itu datang kepadanya. "Satu
pilihan yang paling baik" berkata juragan gula yang nampaknya agak
terkantuk-kantuk. "Apakah kita sudah mempunyai gambaran apa yang
akan kita lakukan?" bertanya orang yang bertubuh raksasa yang jarang
berhubungan dengan saudara-saudara seperguruannya. Juragan gula itu
tersenyum. Dengan nada rendah ia berkata "Kau selama ini selalu
mengurung diri. He, kepada siapa gulamu kau jual? Kenapa tidak
kepadaku?" "Kau kira aku tidak perlu makan buat aku dan keluargaku"
jawab Buta Ijo itu "kalau aku menjual gula itu kepadamu, berapa aku
mendapat uang? Hasil penjualan gula itu masih harus dikurangi upah
mengangkut gula dari tempatku yang cukup jauh dari rumahmu" Juragan
gula itu tertawa. Katanya "Meskipun demikian, sekali-sekali kau
hubungi aku. Dengan demikian kau tidak akan ketinggalan mengikuti
perkembangan keadaan. Khususnya yang menyangkut keluarga seperguruan
kita" "Yang penting sekarang, beri aku keterangan tentang persoalan
yang kita hadapi" berkata raksasa itu "disini bukan tempat untuk
mencari dagangan" Yang lain tertawa. Kiai Gumrahpun tertawa pula.
Namun kemudian ia berkata "Baiklah. Agaknya aku dapat sedikit
memberikan keterangan" Namun tiba-tiba kawan Kiai Gumrah yang pernah
menemukan sarang burung elang itu berkata "Aku sudah menemukan
sarang mereka yang ingin merampas pusakapusaka itu" "Ya" jawab Kiai
Gumrah "tetapi masih perlu mendapat penjelasan tentang sarang itu"
Kawan Kiai Gumrah itu mengerutkan dahinya. Dengan nada berat ia
bertanya "Penjelasan apa lagi? Aku sudah menemukannya. Hanya orang
berilmu tinggi mampu melakukannya.” Beberapa orang tertawa serentak.
Seorang yang berjanggut beberapa lembar saja berkata “He, sejak
kapan kau menyadap ilmu itu? Tiba-tiba saja kau mengaku berilmu
tinggi" "Sejak aku menemukan sarang itu, baru aku yakin bahwa aku
berilmu tinggi" jawab orang itu. Kawan-kawannya tertawa. Juragan
gula yang sempat berbincang dengan Kiai Gumrah sebelum pertemuan itu
dimulai berkata “Kau dengar, bahwa penemuanmu masih memerlukan
penjelasan" "Penjelasan apa?" bertanya orang itu. Kiai Gumrahlah
yang kemudian mengatakan pengakuan kedua orang yang pengikut Kiai
Windu Kusuma yang dapat ditangkapnya itu. Orang-orang yang ada di
banjar tua itu menganggukangguk. Kemudian katanya "Aku orang berilmu
tinggi. Biarlah aku menyelidiki sarang mereka sebagaimana dikatakan
oleh kedua orang itu. Tetapi jika mereka berbohong, maka mereka akan
aku gantung di depan sarang burung-burung elang itu" Kiai Gumrahpun
berpaling kepada kedua orang itu. Dengan dahi yang berkerut ia
bertanya “Nah kau dengar? Bukankah kau tidak berbohong? Kau juga
mendengar bahwa orang itu berilmu tinggi sehingga ia benar-benar
akan dapat menggantung kalian tinggi-tinggi pada batang pohon randu
alas" Namun seorang yang lain menambahkannya "Tetapi kedua orang itu
harus diikat dahulu kaki dan tangannya. Jika tidak, maka ia tidak
akan berani melakukannya meskipun ia berilmu tinggi" Orang-orang
yang hadir itu tertawa serentak. Orang yang menyebut dirinya berilmu
tinggi itu juga tertawa. Kedua orang tawanan itu saling
berpandangan. Mereka tidak melihat suasana seperti itu di sarang
Kiai Windu Kusuma. Yang mereka lihat hampir setiap hari adalah
wajah-wajah yang berkerut, sikap yang keras dan kasar. Susunan
hubungan yang satu dengan yang lain seakan-akan dibayangi oleh
tataran kepemimpinan yang ketat, sehingga para pemimpin dapat
berlaku sekehendak hatinya terhadap para pengikutnya. Bahkan
diantara para pemimpin masih saja selalu timbul persoalan-persoalan
yang harus dibicarakan dengan tegang. Apalagi ketika Panembahan
bersama beberapa orang pengikutnya telah datang. Tetapi di banjar
tua itu ia melihat orang-orang berilmu tinggi itu dapat berbicara
sambil bergurau dan tertawa. Mereka dapat meningkatkan pembicaraan
mereka setingkat demi setingkat tanpa ketegangan sama sekali. Dengan
demikian maka kedua orang itu merasa berada didunia yang sama sekali
berbeda isi dan suasananya. Demikianlah, maka Kiai Gumrah dan
saudara-saudara seperguruannya itu mulai berbicara tentang sarang
Kiai Windu Kusuma yang sebenarnya. Mereka memang menunjuk dua orang
diantara mereka untuk menyelidiki sarang itu. Dari kedua orang
tawanan itu, Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya
mengetahui bahwa disamping orang-orang berilmu tinggi terdapat para
pengikutnya yang jumlahnya cukup banyak. Tiba-tiba saja Ki Prawara
itupun bertanya kepada para tawanan itu "Kau dilingkungan para
pengikut Kiai Windu Kusuma termasuk tataran yang mana? Apakah kau
termasuk pengikut yang tidak diperhitungkan atau pada tataran
menengah atau kau terhitung berilmu tinggi?" Orang itu menarik nafas
dalam-dalam. Katanya "Kawankawan setataranku telah berkurang banyak.
Ternyata Darpati yang ingin memenuhi keinginannya sendiri telah
banyak mengorbankan kawan-kawan kami. Terakhir rencananya memang
dapat diterima penalaran Kiai Windu Kusuma meskipun sebelumnya
Darpati telah dimarahinya dan hampir kehilangan kepercayaan" "Apa
rencana terakhirnya?" bertanya Ki Prawara. "Sebagaimana telah
terjadi" jawab orang itu "Darpati ingin mengambil pusaka itu dengan
caranya sendiri. Ia menghasut orang-orang padukuhan, termasuk Ki
Bekel. Darpati memperhitungkan bahwa Kiai Gumrah akan sibuk melayani
orang-orang padukuhan itu sementara ia akan mengambil pusaka-pusaka
itu dengan beberapa orang terpilih. Sedangkan rencana kedua sebagai
cadangan jika rencana pertama gagal, ia akan menculik Winih. Tetapi
ternyata kedua-duanya gagal, bahkan Darpati sendiri terbunuh. Salah
satu kesalahannya adalah, ia tidak tahu bahwa Winih ternyata berilmu
tinggi dan bahkan dapat mengalahkannya" Ki Prawara
mengangguk-angguk. Katanya "Nah, kalian dengar rencana itu? Jika
demikian maka kedua orang ini tentu termasuk orang yang dipilih oleh
Darpati. Karena itu, maka mereka adalah orang-orang yang berada pada
tataran menengah" "Sayang, aku tidak melihat tingkat kemampuannya"
berkata orang bertubuh raksasa yang disebut Buta Ijo. Lalu katanya
“Bagaimana jika kedua orang itu kita adu sampai salah seorang
diantara mereka mati? Kita tentu akan melihat catatan kemampuan
mereka, orang-orang yang berada ditingkat menengah" Kiai Gumrah
menarik nafas dalam-dalam, sementara jantung kedua orang itu menjadi
berdebar-debar. Namun mereka menjadi tenang ketika juragan gula itu
berkata "Jangan cemas. Buta Ijo itu memang senang menakut-nakuti
orang. Tetapi sebenarnya hatinya lembut seperti beludru.” "Persetan
kau" geram Buta Ijo itu. Tetapi ia tidak berbicara lebih lanjut.
Dalam pada itu, meskipun sambil bergurau, namun orang-orang itu
telah menemukan satu sikap yang sama. Mereka tidak akan menunggu
lagi. Bahkan merekalah yang akan datang untuk menyerang sarang Kiai
Windu Kusuma. Menurut pendapat mereka, itu adalah cara yang paling
baik untuk mempertahankan pusaka-pusaka milik perguruan mereka yang
bagi Kiai Gumrah memang benar-benar titipan sebagaimana dikatakannya
kepada Manggada dan Laksana. Tetapi bukan titipan dari orang lain,
namun titipan dari perguruannya sendiri. Sebenarnyalah bahwa
Manggada dan Laksana juga sudah meragukan kebenaran ceritera Kiai
Gumrah tentang pusaka-pusaka itu. Namun demikian kedua orang anak
muda itu memang merasa tidak berhak untuk mendapatkan keterangan
yang lebih terperinci. Namun Kiai Gumrah dan saudara-saudara
seperguruannya itu masih harus mendapatkan keterangan yang lebih
terperinci tentang sarang Kiai Windu Kusuma dan orang yang disebut
Panembahan itu. "Kita serahkan saja kepada beberapa orang" berkata
Buta Ijo "kita menunggu perintah, kapan kita akan melakukannya"
"Masih banyak yang harus kita bicarakan" berkata Kiai Gumrah. "Aku
tahu. Tetapi tidak perlu semuanya ikut berbicara. Kita tunjuk lima
atau enam orang. Yang lain akan melaksanakan segala keputusannya
tanpa membantah sama sekali" Sebelum Kiai Gumrah menjawab, maka
beberapa orangpun berkata hampir berbareng "Aku sependapat" Kiai
Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Ternyata bahwa semuanya tidak
berkeberatan. Namun Kiai Gumrahpun berkata "Baiklah. Aku akan
menunjuk lima orang, tentu saja dengan minta persetujuan kalian
semuanya. Ingat, persetujuan, bukan kesanggupan, karena semua orang
harus sanggup melakukan tugas betapapun beratnya" Buta Ijo itu
dengan serta merta menyahut "Bagus, aku sependapat. Tetapi dengan
syarat, bukan aku yang ditunjuk untuk bertugas apapun juga"
"Kenapa?" bertanya juragan gula itu. "Aku sedang mempunyai pekerjaan
yang sulit ditinggalkan" jawab Buto Ijo itu. "Pekerjaan apa?"
bertanya orang yang selalu mengaku berilmu tinggi itu. Bahkan
katanya kemudian "Kita berdua akan menyelidiki sarang Kiai Windu
Kusuma" "Anakku yang bungsu sedang merajuk. Ia minta seekor kuda
berbulu putih. Nah, aku sedang sibuk mencari uang untuk membeli kuda
berbulu putih" "He, isteriku juga sedang merajuk" berkata orang yang
mengaku berilmu tinggi itu. "Ah, kau juga akan membuat dongeng?"
bertanya Buta Ijo. "Kau mengaku bahwa kau telah membuat dongeng?"
bertanya Kiai Gumrah kepada Buto Ijo itu. Buta Ijo itu tertawa.
Tetapi ia tidak menjawab. Namun akhirnya orangorang yang berkumpul
di banjar tua itu berhasil menunjuk lima orang yang akan memegang
pimpinan untuk melakukan perlawanan dan bahkan menyerang sarang Kiai
Windu Kusuma dan orang yang disebut Panembahan. Diantara mereka
adalah Kiai Gumrah, juragan gula, orang yang selalu menyebut dirinya
berilmu tinggi, orang yang melihat dua orang pengikut Kiai Windu
Kusuma menghitung onggokan tanah kuburan kawna-kawannya yang
terbunuh di halaman rumah Kiai Gumrah dan seorang lagi yang sudah
terbiasa duduk-duduk berbincang dirumah Kiai Gumrah. Namun Kiai
Gumrah itu berkata "Selain berlima, aku selalu menunggu pendapat
kalian. Kawan-kawan yang sering datang kerumahku justru aku minta
selalu datang. Tidak terbatas hanya kelima orang ini saja" "Tentu"
jawab Buta Ijo. "Kau juga akan selalu datang?" bertanya juragan gula
itu. Buta Ijo itu tertawa berkepanjangan. Namun dalam pada itu, maka
Kiai Gumrah itupun berkata "Masih ada satu hal yang penting kalian
ketahui" "Apa lagi?" bertanya seorang yang bertubuh kurus. Nampaknya
matanya sudah lebih banyak terpejam. Hampir mengigau ia berkata
dalam kantuknya "Aku haus" "Sayang " berkata Kiai Gumrah "aku tidak
menyediakan minuman malam ini. Aku hanya mempunyai beberapa bumbung
legen" "Buat apa legen" berkata Buta Ijo "aku mempunyai legen
setempayan besar penuh dirumah" "Aku benar-benar minta maaf, bahwa
aku tidak menyediakan minuman buat kalian" berkata Kiai Gumrah
"tetapi jangan takut. Biarlah dirumah Nyi Prawara merebus air.”
"Justru saat pertemuan ini sudah selesai" desah orang yang
terkantuk-kantuk" Kiai Gumrahpun segera berpaling kepada Ki Prawara
sambil berdesis "Lihat, apakah isterimu merebus air? Aku masih ingin
berbicara dengan mereka sebentar lagi" Ki Prawarapun kemudian telah
bangkit berdiri sambil berkata "Aku akan pulang dahulu" Hampir
berbareng beberapa orang berkata "Bagus. Ia akan melihat, apakah
wedang jaenya sudah siap" Demikianlah Ki Prawara dengan tergesa-gesa
pulang melihat apakah isterinya merebus air. Meskipun ia dan ayahnya
tidak memesannya, namun biasanya Nyi Prawara mengerti dengan
sendirinya bahwa diperlukan minuman dan makanan. Ketika Ki Prawara
sampai ke rumah, maka sebenarnyalah Nyi Prawara memang sudah merebus
air dan bahkan merebus ketela pohon. Namun Nyi Prawara itupun
berkata "Kalian tidak memberitahukan kepada kami, berapa orang yang
datang, sehingga seberapa banyak kami harus merebus air dan ketela
pohon" "Yang kau sediakan sudah terlalu banyak. Baiklah, biar aku
bawa hidangan ini kesana" "Ayah membawanya sendiri?" bertanya Winih.
"Biarlah nanti satu dua orang membantu mengambilnya kemari" jawab Ki
Prawara. "Apakah kami dapat membantu membawanya?" bertanya Manggada
dan Laksana hampir berbareng. Tetapi Ki Prawara menggeleng. Katanya
"Jangan. Kalian sebaiknya tetap tinggal dirumah. Jarak antara rumah
ini ke banjar itu memang pendek saja. Meskipun demikian, biarlah aku
dan orang-orang dibanjar itu sajalah yang membawa hidangan itu
kesana" Manggada dan Laksana tidak membantah. Mereka sadar, bahwa
orang-orang tua itu bersikap berhati-hati menghadapi suasana yang
kurang menentu. Segala kemungkinan memang masih dapat terjadi.
Apalagi terhadap mereka yang tataran ilmunya masih belum cukup
tinggi. Namun ketika Ki Prawara itu membuka pintu sambil membawa
nampan berisi beberapa mangkuk minuman, iapun terkejut. Ia melihat
bayangan dalam kegelapan malam. Karena itu, maka ia telah melangkah
surut kembali. Diletakkannya mangkuk berisi minuman hangat itu.
Bahkan kemudian disingsingkannya kain panjangnya. Nyi Prawara dan
Winih yang ada didalam tidak melihat bayangan yang bergerak dengan
cepat dalam kegelapan itu. Namun ketika ia melihat kesiagaan Ki
Prawara, maka Nyi Prawarapun bertanya "Kau melihat sesuatu kakang?"
"Ya" jawab Ki Prawara "aku melihat bayangan di kegelapan. Hanya
sekilas. Tetapi kesannya, tentu orang berilmu tinggi" "Jadi?"
bertanya Nyi Prawara. "Aku hanya melihat seorang saja. Biarlah aku
pergi ke banjar tanpa membawa apa-apa. Nanti biar saja mereka datang
kemari jika mereka haus. Sediakan saja minuman dan makanan itu"
berkata Ki Prawara. "Tempat terlalu sempit disini" berkata Nyi
Prawara. "Pembicaraan kami sudah selesai di banjar. Karena itu, maka
jika orang-orang yang ada di banjar itu tidak dapat masuk seluruhnya
keruang dalam, biarlah sebagian berada diluar. Asal minuman itu
masih hangat" "Tetapi minuman itu sudah mulai dingin" jawab Nyi
Prawara. “Jika demikian biarlah sebagian masih tetap diatas perapian
saja" jawab Ki Prawara. Nyi Prawara mengangguk kecil. Namun ia
berkata "Jika kakang pergi ke banjar, berhati-hatilah. Kakang sudah
melihat bayangan orang di halaman. Mungkin ia tidak sendiri" “Banjar
itu tidak terlalu jauh. Jika aku berteriak memanggil dengan kata
sandi, maka mereka tentu akan segera datang" jawab Ki Prawara.
“Mereka yang di kegelapan itu dapat berbuat licik” desis Nyi Prawara
kemudian. Namun kemudian katanya "Kami ada disini. Pintu tidak
diselarak" "Kalian juga harus berhati-hati dirumah" pesan Ki
Prawara. Ki Prawara memang menjadi sangat berhati-hati. Ia sadar,
bahwa bayangan itu tentu orang yang berilmu tinggi. Ki Prawara tidak
melihat, kemana orang itu menghilang. Namun Ki Prawara juga berilmu
tinggi. Karena itu maka Ki Prawara sama sekali tidak menjadi gentar.
Namun ia memang harus dengan saksama memperhatikan keadaan
disekitarnya. Tetapi ketika Ki Prawara itu keluar dari regol halaman
rumah ayahnya, maka ia melihat lagi bayangan itu. Namun justru
menjauhinya dan hilang dalam kegelapan. Demikian cepatnya bayangan
itu hilang, sehingga Ki Prawara tidak dapat melihat ujudnya dengan
jelas. Ketikia Ki Prawara sampai di banjar tua itu lagi, maka
beberapa orang bertanya hampir berbareng "He, kau tidak membawa
apa-apa?" Yang lainpun telah menyahut "Kami sudah terlalu lama
menunggu. Jika kami tahu bahwa kau datang tanpa membawa sesuatu,
kami sudah pulang sejak tadi" Ki Prawara tidak menghiraukan
kata-kata itu. Namun iapun kemudian berkata "Ada sesuatu yang
penting kalian ketahui.” "Yang penting itu sudah dikatakan oleh Kiai
Gumrah. Kau tidak usah mengulangi" berkata Buta Ijo itu. Ki Prawara
berpaliang kepada ayahnya dan bertanya "Apa yang sudah ayah
katakan?" "Aku telah mengatakan bahwa Kiai Kajar berada diantara
mereka yang ingin memiliki pusaka-pusaka itu" jawab Kiai Gumrah
dengan nada tinggi. "Iblis itu benar-benar berkhianat" berkata
juragan gula itu “sebenarnya ia termasuk orang terbaik di perguruan
kita" "Ia tidak usah ikut berusaha merampas pusaka-pusaka itu karena
pusaka-pusaka itu termasuk miliknya juga" berkata Buta Ijo. Lalu
katanya pula "Dengan demikian ia berusaha untuk merampas miliknya
sendiri" Ki Prawara mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya "Bukan
itu yang ingin aku katakan. Aku tahu bahwa hal itu tentu sudah
dikatakan oleh ayah" "Jadi apa yang akan kau katakan?" bertanya
juragan gula itu, bahkan Kiai Gumrahpun telah bertanya pula "Apa ada
yang lain yang penting diketahui oleh saudara-saudara kita?” "Ya”
jawab Ki Prawara “ternyata ada orang di halaman rumah kita" "Kau
lihat itu?" bertanya Kiai Gumrah. "Ya. Aku melihat orang itu sekilas
dalam kegelapan. Tetapi aku tidak dapat melihat ujudnya. Demikian
cepatnya orang itu menghilang" jawab Ki Prawara. "Kesanmu orang
berilmu tinggi?" bertanya Kiai Gumrah. "Ya” jawab Ki Prawara "karena
itu aku mengurungkan untuk membawa mangkuk-mangkuk minuman kemari.
Sementara itu dirumah selain minuman ada pula ketela rebus yang
masih hangat" "Kalau begitu, aku akan mengambilnya" berkata Buta
Ijo. "Kita tidak usah mengambilnya dan membawanya kemari. Kita nanti
jika pembicaraan memang sudah selesai, bersama-sama pergi kerumah.
Kita akan minum dan makan ketela rebus di rumah. Biar berhimpitan,
tetapi tentu lebih mapan. Kita tidak perlu membawa mangkuk
kesanakemari" berkata Ki Prawara. "Baiklah" jawab orang yang
bertubuh kekurusan "kita kesana sekarang. Sebentar lagi aku tentu
sudah tertidur disini" Ki Prawara termangu-mangu sejenak. Namun
iapun bertanya "Apakah pembicaraan kita sudah benar-benar selesai"
"Masih ada satu dua pesan yang penting" berkata Kiai Gumrah sambil
beringsut setapak. Sebenarnyalah Kiai Gumrah masih memberikan
beberapa pesan kepada saudara-saudara seperguruannya. Iapun masih
perlu membicarakan langkah-langkah yang harus segera diambil bersama
saudara-saudara seperguruannya meskipun mereka telah menunjuk lima
orang yang akan mengatur segala-galanya. "Dua hari lagi kalian wajib
datang kerumahku. Ada atau tidak ada kepentingan. Waktunya sudah
terlalu sempit" berkata Kiai Gumrah "tetapi harus diatur sehingga
kalian tidak datang bersama-sama. Ada yang datang pagi, siang atau
sore atau malam. Mungkin rumahku selalu diawasi" Saudara-saudara
seperguruannya mengangguk-angguk. Tidak seorangpun yang menolak.
Namun dalam pada itu, selagi Kiai Gumrah masih berbicara dengan
saudara-saudara seperguruannya, maka pintu rumah Kiai Gumrah diketuk
orang perlahan-lahan. Bukan pintu depan, tetapi pintu butulan. Seisi
rumah itupun menjadi berdebar-debar. Manggada dan Laksana telah siap
untuk pergi kepintu. Namun Nyi Prawara telah menahannya. Ia memberi
isyarat agar keduanya tidak membuka pintu itu lebih dahulu. Nyi
Prawaralah yang kemudian melangkah mendekati pintu sambil bertanya
"Siapa?" "Aku Nyai" jawab suara diluar. "Aku siapa?" bertanya Nyi
Prawara yang rasa-rasanya belum pernah mengenal suara itu. "Aku
ingin berbicara dengan Manggada dan Laksana, Nyai" jawab suara itu.
Nyi Prawara termangu-mangu. Sementara Manggada dan Laksana melangkah
mendekati pintu butulan. Tetapi Nyi Prawara telah memberi isyarat,
agar mereka berhenti beberapa langkah dari pintu butulan itu.
"Tetapi siapa kau Ki Sanak?" bertanya Nyai Prawara, sementara Winih
telah mempersiapkan dirinya menghadapi segala kemungkinan. Namun
suara itu terdengar lagi “Aku tidak mengharapkan mereka keluar. Aku
hanya ingin memberikan pesan" Nyi Prawara termangu-mangu sejenak.
Namun kemudian iapun telah memberikan isyarat kepada Manggada dan
Laksana untuk mendekati pintu. "Siapakah kau Ki Sanak?" bertanya
Manggada. "Kau masih ingat aku? Ki Pandi" terdengar suara diluar.
"Ki Pandi" hampir berbareng Manggada dan Laksana mengulang nama itu.
"Ya. Dengarlah suara kedua sahabatku itu" Manggada dan Laksana
saling berpandangan. Yang kemudian terdengar adalah suara dua ekor
harimau menggeram. "Aku kenal, Ki Pandi" sahut Manggada. "Nah, aku
hanya ingin memberikan isyarat. Di banjar tua itu, saudara-saudara
seperguruan Kiai Gumrah telah bertemu dan berbicara tentang Kiai
Windu Kusuma dan orang yang mereka kenal dengan sebutan Panembahan.
Sebenarnyalah Panembahan itu adalah Panembahan yang pernah kita
kenal dahulu. Yang mencari gadis-gadis bersih untuk mencuci kerisnya
dengan darah gadis-gadis bersih itu. Sekarang iapun mulai haus akan
darah lagi. Nah, katakan kepada Kiai Gumrah, bahwa meskipun aku
tidak berkepentingan langsung, tetapi aku akan menyertai mereka jika
mereka akan pergi menemui Ki Windu Kusuma dan Panembahan itu. Salah
seorang saudara seperguruannya ada pula yang bergabung dengan Kiai
Windu Kuruma. Namanya Kiai Kajar" "Ya" jawab Manggada dan Laksana
yang juga sudah mendengar tentang seseorang yang bernama Kiai Kajar
sebagaimana dikatakan oleh kedua orang tawanan itu. "Karena itu,
maka aku minta kau sampaikan keinginanku menyertai mereka. Kita akan
bertemu lagi pada kesempatan lain. Aku ingin mendapat keterangan,
apakah niatku ini diterima atau tidak. Aku tidak mempunyai pamrih
apapun juga dalam soal ini, kecuali menghentikan perbuatan
Panembahan yang sudah dikuasai oleh kuasa kegelapan itu" berkata
suara diluar dinding. "Apakah Ki Pandi ingin bertemu dan berbicara
dengan kakek atau paman Prawara, atau bibi yang sekarang ada
dirumah?" bertanya Manggada. "Bukankah Nyi Prawara sudah mendengar
kata-kataku? Bukankah aku tidak perlu mengulanginya.” bertanya Ki
Pandi. "Tetapi Ki Pandi belum berbicara dengan bibi" desis Manggada.
"Baiklah" berkata Ki Pandi "aku mohon Nyi Prawara sudi mendengarkan
aku" "Aku mendengar Ki Sanak" jawab Nyi Prawara. "Aku berkata
sebenarnya Nyai. Aku tidak mempunyai pamrih apapun, karena kehidupan
duniawi sudah lampau bagiku" "Tetapi sebaiknya Ki Sanak bertemu
dengan ayah" jawab Nyi Prawara. "Aku akan menemuinya pada kesempatan
lain" jawab Ki Pandi. Nyi Prawara masih akan berbicara lagi. Tetapi
Ki Pandi itu berdesis "Aku mohon diri. Pertemuan di banjar itu sudah
selesai. Mereka sudah datang kemari" "Satu kesempatan Ki Sanak.
Bukankah Ki Sanak dapat bertemu dengan banyak orang sekaligus?"
berkata Nyi Prawara. Tetapi sudah tidak terdengar jawaban lagi. Yang
berada didalam dinding rumah itu tidak mendengar suara kaki Ki Pandi
yang beringsut menjauh. Demikian pula kedua ekor harimau yang
agaknya ikut bersama Ki Pandi. "Orang itu sudah pergi" desis
Laksana. Sebenarnyalah sejenak kemudian, pintu rumah itu diketuk
orang. Terdengar suara beberapa orang bercakap-cakap diluar. Bahkan
terdengar suara tertawa pula diantara mereka. Yang
kemudianterdengaradalah suara Ki Prawara "Buka pintunya Nyi"
Laksanalah yang dengan tergesa-gesa membuka pintu, sementara Winih
dan ibunya justru pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman yang masih
saja hangat. Demikian pintu terbuka, maka beberapa orang telah
memasuki pintu dapur. Tetapi ruang dalam rumah Kiai Gumrah yang
memang tidak terlalu luas itu segera terasa sesak, sementara masih
ada beberapa orang yang berdiri diluar. Namun Kiai Gumrahpun
ternyata kemudian berkata "Kita semuanya akan berada diluar saja.
Kita dapat duduk dimana saja, sementara minuman hangat akan
disuguhkan" Orang-orang yang sudah terlanjur berada diruang dalam
itupun keluar lagi sambil bergeremang. Namun kemudian mereka duduk
tersebar di amben bambu, di bebatur rumah atau di tlundak pintu.
Tetapi ketika Manggada dan Laksana menghidangkan minuman dan
makanan, maka yang duduk ditelundak itupun terpaksa berdiri. Namun
ternyata bahwa Kiai Gumrah dan kawankawannya dapat menikmati wedang
jae dan ketela pohon rebus yang hangat bersama-sama. Sementara itu,
dua orang tawanan Kiai Gumrah ada diantara mereka pula. Beberapa
saat setelah mereka meneguk minuman dan makan beberapa kerat ketela
pohon, maka tiba-tiba orangorang yang ada dihalaman itu dikejutkan
oleh suara seruling yang terdengar mengalun diantara desah angin
malam. Sejenak halaman rumah Kiai Gumrah itu menjadi hening.
Orang-orang yang ada dihalaman sambil minum dan makan ketela pohon
itu seakan-akan telah terpukau mendengar suara seruling itu. Namun
mereka bukan saja tertarik oleh suara seruling yang ngelangut,
menggetarkan jantung. Apalagi di malam yang hening. Namun mereka
juga tertarik karena mereka merasakan tenaga yang terlontar bersama
suara seruling itu. Tenaga itu telah menggetarkan udara malam
melibat dan menyentuh perasaan orang-orang yang mendengarnya. Kiai
Gumrahlah yang kemudian bangkit berdiri dan berkata kepada
kawan-kawannya "Orang yang meniup seruling itu agaknya ingin tahu,
apakah jantung kita masih tetap berdegup. "Siapakah orang itu"
bertanya Buta Ijo "apakah aku harus berteriak untuk menghentikan
suara seruling itu" "Bukan suara seruling itu yang berhenti" jawab
juragan gula "tetapi tetangga-tetangga Kiai Gumrahlah yang akan
terbangun semuanya" Buta Ijo itu tertawa. Justru berkepanjangan.
Kiai Gumrah tidak mencegahnya. Ia tahu, bahwa Buta Ijo itu tidak
senang mendengar suara seruling yang ngelangut. Seakan-akan ratapan
dari dalam dasar luweng yang sangat dalam. Tetapi suara seruling itu
tidak berhenti. Nadanya justru meninggi, seakan-akan menggapai
lapisan awan ditataran langit ketujuh. Namun kemudian menukik
menyambar seperti burung elang yang sering nampak berterbangan
diatas padukuhan itu. "Setan itu" geram Buta Ijo. "Tenanglah"
berkata juragan gula itu "kau tidak usah menjadi gelisah seperti
itu. Bukankah suara seruling itu tidak mengganggu kita?" "Memang
tidak. Tetapi aku merasakan betapa sombongnya orang yang meniup
seruling ini" jawab Buta Ijo itu. "Aku tidak yakin, bahwa ia seorang
yang sombong. Tetapi aku justru mengira bahwa orang itu ingin
memperkenalkan diri" jawab Kiai Gumrah. "Kau rasakan suara itu mulai
menggelitik?" bertanya Buta Ijo. "Hanya menggelitik. Tidak
menyakiti” jawab Kiai Gumrah. "Aku lebih senang disakiti daripada
digelitik" jawab Buta Ijo itu. Namun tiba-tiba saja Manggada yang
ada diruang dalam melangkah keluar. Sejenak ia berdiri
termangu-mangu. Namun kemudian katanya kepada Kiai Gumrah "Kek,
barangkali aku tahu, siapakah yang meniup seruling itu" "He,
darimana kau tahu?" bertanya Buto Ijo itu dengan serta-merta.
Manggada memang ragu-ragu. Tetapi Kiai Gumrah itupun berkata
"Katakan apa yang kau ketahui" Manggada menarik nafas dalam-dalam
untuk menenangkan jantungnya yang berdetak semakin keras karena
semua mata memandang kearahnya. Namun kemudian iapun berkata "Kek.
Aku menduga bahwa yang meniup seruling itu adalah Ki Pandi"
"Siapakah Ki Pandi itu?" bertanya orang yang selalu menyebut dirinya
berilmu tinggi. "Orang yang memiliki kedua ekor harimau yang selalu
datang setiap saat diperlukan. Seakan-akan mereka tahu kapan mereka
harus datang membantu" jawab Manggada. "Orang bongkok itu" berkata
Kiai Gumrah kemudian. "Orang bongkok dari hutan Jatimalang?"
bertanya orang yang kekurus-kurusan yang lebih banyak memejamkan
matanya dan terkantuk-kantuk. Namun dapat menangkap semua
pembicaraan disekitarnya dengan jelas. "Ia tidak berasal dari hutan
Jatimalang" jawab orang yang bertubuh sedang, berkumis panjang "ia
memang pernah tinggal di hutan itu. Tetapi tidak terlalu lama" "Kiai
mengenalnya?" bertanya Manggada, "Pada umumnya kami mengenalnya"
jawab Kiai Gumrah "tetapi tidak terlalu akrab" "He, darimana kau
tahu bahwa yang meniup seruling itu orang bongkok dari Jatimalang?"
bertanya Buta Ijo. "Kami berdua pernah tinggal bersamanya. Bersama
Ki Ajar Pangukan dibelakang hutan Jatimalang" jawab Manggada. Semua
orang justru tertarik pada pengakuan Manggada itu kecuali Kiai
Gumrah, karena ia pernah mendengarnya. "Jadi kau juga pernah tinggal
di hutan Jatimalang?" bertanya orang yang menyebut dirinya berilmu
tinggi. "Ya, Kiai" jawab Manggada "kami datang ke belakang hutan
Jatimalang bersama Ki Wiradadi, seorang yang mencari anak gadisnya
yang hilang. Kami bertemu dengan Ki Ajar Pangukan dan Ki Pandi.
Bahkan kemudian sekelompok prajurit Pajang yang mencium keberadaan
Panembahan Lebdagati di belakang hutan Jatimalang, dilereng gunung,
telah datang pula. Tetapi Panembahan Lebdagati itu berhasil
melepaskan diri" "Aku yakin bahwa Panembahan dibelakang hutan
Jatimalang itu tentu Panembahan yang bekerja bersama Kiai Windu
Kusuma dan Kiai Kajar" berkata Kiai Gumrah. "Kita memang harus
menghancurkan mereka. Kita tidak usah menunggu prajurit Pajang. Kita
akan menyelesaikan persoalan dengan Kiai Windu Kusuma itu sendiri"
berkata juragan gula itu. Semuanya mengangguk-angguk. Suara seruling
itu masih terdengar, mengalun menggetarkan udara malam yang terasa
semakin dingin. Tetapi ketika mereka mengetahui bahwa yang
membunyikan seruling itu adalah orang bongkok dari hutan Jatimalang,
maka mereka tidak lagi merasa sangat terganggu. Getaran yang
dilontarkan memang bukan getaran yang dapat mengguncang jantung.
Namun seperti yang dikatakan oleh Kiai Gumrah, orang bongkok itu
seakan-akan ingin memperkenalkan dirinya. Manggadapun kemudian
berkata lagi "Ki Pandi pernah langsung bertempur dengan Panembahan.
Namun Panembahan itu berhasil melepaskan diri. Agaknya usahanya
untuk menghentikan langkah-langkah Panembahan yang dipengaruhi oleh
kuasa kegelapan itu tidak akan berhenti" "Apakah orang bongkok itu
selalu membawa seruling?" bertanya orang yang terkantuk-kantuk itu.
"Sepengetahuanku, ia memang mempunyai sebuah seruling” jawab
Manggada. "Kenapa ia tidak menemui kami sekarang?" bertanya Buta
Ijo. "Ia memang telah datang. Ia berbicara dengan kami. Juga dengan
bibi Prawara. Tetapi Ki Pandi masih belum bersedia menemui kakek
sekarang. Pada satu saat ia memang akan berusaha untuk dapat
berbicara dengan kakek, karena Ki Pandi telah menyatakan untuk
menyertai kakek dan saudara-saudaranya pergi ke sarang Kiai Windu
Kusuma. Bahkan Ki Pandi juga mengetahui bahwa disana ada seorang
yang bernama Kiai Kajar" "Darimana ia tahu?" bertanya Kiai Gumrah.
"Ki Pandi tidak mengatakannya, kek" jawab Manggada. Kiai Gumrah
mengangguk-angguk. Katanya "Baiklah. Biarlah aku menunggu
kedatangannya. Tetapi jika kami sudah siap melangkah dan orang itu
belum juga datang, maka aku tidak akan menunggunya lebih lama lagi"
Demikianlah, maka seorang diantara saudara-saudara seperguruan Kiai
Gumrah itupun telah mengeluarkan rinding dari kantong ikat
pinggangnya yang besar. Kemudian diletakannya rinding itu
dimulutnya. Sejenak kemudian, beralunlah lagu yang berdengung
menggetarkan udara malam, menyentuh getaran suara seruling yang
masih terdengar. Dengan irama yang berbeda kedua lontaran lagu itu
mengalun meninggi. Namun seakan-akan semakin lama semakin tinggi,
sehingga akhirnya keduanya berhenti sama sekali. Rasa-rasanya kedua
irama itu terputus setelah keduanya yakin bahwa nada yang terlontar
tidak akan mampu mencapai bintang. Orang yang membunyikan rinding
itu menarik nafas panjang. Kemudian tangannya menggapai mangkuk
minumannya. Beberapa teguk minuman ditelannya seakanakan orang itu
baru saja berlari-lari mengelilingi padukuhan. Manggada yang sudah
duduk pula di bebatur rumah nafasnya menjadi tersengal-sengal. Namun
kemudian iapun bangkit dan melangkah masuk keruang dalam. Didalam
dilihatnya Laksana juga terduduk diam. Nyi Prawaralah yang kemudian
menghampirinya. Dipandangnya Manggada dan dimintanya duduk disebelah
Laksana. Sambil memberikan dua mangkuk minuman, Nyi Prawara berkata
"Minumlah" Manggada dan Laksanapun kemudian minum beberapa teguk.
Dada mereka kemudian terasa lapang. Meskipun suara seruling dan
rinding yang berbaur dan melontarkan getaran itu tidak berniat
menyerang siapapun juga, tetapi rasa-rasanya nafas kedua orang anak
muda itu menjadi sesak. "Kedua irama itu masih belum dapat luluh"
desis Nyi Prawara "Tetapi dalam keadaan yang lebih baik, kedua irama
itu akan dapat diatur lebih serasi, sehingga dapat saling menyerap
atau saling memperkuat sesuai dengan kebutuhan" Manggada dan Laksana
mengangguk-angguk. Ketika mereka sempat melihat Winih yang keluar
dari dapur, maka nampaknya Winih sama sekali tidak terpengaruh oleh
kedua irama yang masih terasa saling berebut untuk saling
mengtasasi. Dengan demikian maka Manggada dan Laksana itu justru
merasa semakin kecil. Keduanya adalah orang yang paling lemah
diantara sekian banyak orang yang berkumpul itu. Meskipun mereka
sudah memiliki bekal ilmu kanuragan, namun ilmu mereka ternyata
masih belum memadai dibandingkan dengan orang-orang yang berilmu
tinggi itu. Dalam pada itu, tiba-tiba Buta Ijo yang ada di halaman
itu berkata lantang "He, aku akan pulang. Jika kalian masih akan
duduk disini sepanjang malam, terserah saja" Namun orang yang
terkantuk-kantuk itupun menyahut "Aku juga akan pulang. Aku sudah
mengantuk" Orang yang selalu menyebut dirinya berilmu tinggi itu
menyahut "Aku tidak pernah melihat kau tidak mengantuk" Yang lainpun
tertawa hampir berbareng. Tetapi orang itu tidak menghiraukannya. Ia
justru sudah mulai melangkah keregol halaman. Namun juragan gula itu
berkata "He, kau belum minta diri kepada orang yang telah
menyuguhkan minuman dan makanan ini. Begitu kau merasa kenyang,
begitu kau pergi" "O, baiklah. Tetapi kepada siapa?" orang itu
bertanya. "Sudahlah" berkata Kiai Gumrah "biarlah aku yang
menyampaikannya" Demikianlah, maka saudara-saudara seperguruan Kiai
Gumrah itupun segera minta diri. Satu-satu mereka keluar dari regol
halaman. Melihat suasana diluar dan kemudian melangkah
sendiri-sendiri atau sebanyak-banyaknya berdua. Mereka menuju kearah
yang berbeda-beda. Namun jalan-jalan sudah menjadi sangat sepi.
Tidak ada seorangpun yang lewat. Meskipun demikian, mereka mendengar
kotekan anak-anak muda yang meronda agak dikejauhan. Beberapa saat
kemudian, rumah Kiai Gumrahpun menjadi sepi. Kedua orang tawanan
itupun sudah berada diruang dalam pula. Bagaimanapun juga,
kepercayaan Kiai Gumrah dan keluarganya kepada mereka masih belum
utuh, sehingga Kiai Gumrahpun berkata "Maaf Ki Sanak. Kami masih
akan mengikat kalian pada pembaringan kalian. Kami tidak dapat
berbuat lain. Jika malam ini kami semuanya tertidur nyenyak, maka
banyak hal akan dapat terjadi. Sementara itu kalian sudah mendengar
rahasia besar sebagai keputusan pembicaraan diantara kami" Kedua
orang itu tidak dapat menolak. Mereka harus memberikan tangan dan
kaki mereka untuk diikat dengan pembaringan. Meskipun demikian,
diluar pengetahuan kedua orang tawanan itu, Kiai Gumrah dan
keluarganya telah mengatur diri agar kedua orang itu tetap dapat
diawasi setiap saat. Manggada dan Laksanapun ikut pula mendapat
tugas bergantian. Namun sebelum seisi rumah itu sempat tidur, mereka
terkejut ketika mereka mendengar suara geramang beberapa orang yang
berada dihalaman. Bahkan kemudian terdengar pintu diketuk orang.
Kiai Gumrah dan bahkan seisi rumah itu telah berkumpul diruang
dalam. Namun yang terdengar kemudian adalah suara anak-anak muda
yang memanggil Manggada dan Laksana. Ketika kemudian pintu dibuka,
seorang telah menyerahkan sebakul kecil nasi dan lauk-pauknya sambil
bertanya "He, kenapa kau tidak datang ke banjar? Kami makan-makan
disana bersama Ki Bekel untuk menghormati perubahan tatanan
kehidupan yang terjadi di padukuhan ini" "O" desis Manggada "sayang
sekali. Kami sedang sibuk dengan persoalan kami sendiri" "Bukankah
persoalan keluarga kalian dapat ditingalkan sebentar?" bertanya
salah seorang anak muda itu. "Sebenarnya demikian. Tetapi beberapa
orang saudara kami baru saja pulang. Mereka datang berkunjung
setelah untuk waktu yang lama kami berpisah" jawab Manggada.
Anak-anak muda itu tidak bertanya lagi. Namun yang menyerahkan bakul
itu berkata "Kami memaksa Ki Bekel untuk menyisihkan hidangan
sekedarnya. Kami ingin kalian berdua juga ikut menikmatinya. Semula
Ki Bekel berkeberatan. Tetapi akhirnya ia tidak dapat mencegahnya"
"Terima kasih" berkata Manggada dan Laksana bersamaan. Sepeninggal
anak-anak muda itu, Kiai Gumrah menarik nafas panjang. Ki Bekel
agaknya memang sudah mencegahnya. Tetapi anak-anak itu tidak lagi
dapat ditahan. Untunglah bahwa saudara-saudara seperguruan Kiai
Gumrah sudah berlalu. Demikianlah, maka keluarga Kiai Gumrah itu
telah mempergunakan sisa malam untuk beristirahat, meskipun ada
diantara mereka yang harus berjaga-jaga. Pagi-pagi benar, seperti
biasanya, seisi rumah itu sudah terbangun. Nyi Prawara dan Winih
mulai sibuk didapur. Sementara Manggada dan Laksana telah memerlukan
pergi ke banjar untuk membersihkan halaman. Sedangkan seperti biasa
pula. Kiai Gumrah mulai sibuk dengan bumbungbumbung legennya. Namun
dalam pada itu, maka rencana yang dibuat oleh Kiai Gumrah dan
saudara-saudara seperguruannya sudah mulai pada langkah yang
menentukan. Mereka mulai mempersiapkan diri menyerang sarang Kiai
Windu Kusuma. Di tempat itu tinggal pula orang yang disebut
Panembahan yang berakibat pada kuasa kegelapan, serta Kiai Kajar,
justru saudara seperguruan yang dianggap salah satu dari orang-orang
terbaik. Dirumah, Kiai Gumrah dan keluarganya mengawasi kedua orang
tawanannya semakin ketat. Kedua orang itu sudah mendengar rencana
terpenting dari Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya.
Sebelum mereka menyelesaikan persoalan mereka dengan Kiai Windu
Kusuma, maka kedua orang itu sama sekali tidak akan diijinkan
berhubungan dengan orang lain. Namun pagi itu, ketika Kiai Gumrah
telah mengumpulkan bumbungnya yang baru saja dipungut dari
batang-batang kelapa dan dituang di tempayan, sementara Manggada dan
Laksana yang sudah terbiasa membantunya sedang sibuk dengan
perapian, maka merekapun telah dikejutkan oleh kedatangan seseorang
yang pernah mereka kenal. Kundala. Kiai Gumrah memang terkejut.
Dengan tergopoh-gopoh dipersilahkan Kundala itu masuk kedapur.
Tetapi Kundala itu berkata "Waktuku hanya sedikit sekali, Kiai"
"Apakah kau sedang bertugas?" bertanya Kiai Gumrah. "Ya, Kiai. Aku
harus menghubungi seseorang dipasar dan membawanya ke sarang kami"
"Apakah kau sudah pergi ke pasar?" bertanya Kiai Gumrah. "Aku baru
berangkat ke pasar. Aku memerlukan singgah sebentar" jawab Kundala.
"Apakah kau yakin bahwa kau tidak diawasi?" bertanya Kiai Gumrah
pula. "Aku yakin, karena aku memilih jalan bulak" jawab Kundala.
"Sekarang, apa yang akan kau katakan?" bertanya Kiai Gumrah
selanjutnya. "Panembahan tidak sabar lagi. Malam setelah tiga hari
mendatang, rumah ini akan didatanginya dengan kekuatan penuh. Orang
yang akan aku hubungi adalah salah satu diantara orang terpenting
dilingkungan kelompok Panembahan" "Apakah Panembahan itu bernama
Lebdagati?" bertanya Kiai Gumrah. "Aku tidak tahu Kiai. Yang aku
ketahui hanyalah Panembahan begitu saja" Kiai Gumrah
mengangguk-angguk. Katanya "Jadi mereka akan datang tiga hari lagi?"
"Ya. Ada beberapa orang berilmu tinggi. Juga para pengikutnya akan
dikerahkan. Mereka mempunyai tataran ilmu yang bermacam-macam. Ada
yang terhitung tinggi, sedang dan ada yang sekedar mengandalkan
kekuatan wadagnya saja" "Terima kasih, Kundala. Aku akan
mempersiapkan diri untuk melawan mereka" berkata Kiai Gumrah.
"Tetapi Kiai, kekuatan mereka cukup besar. Apakah tidak sebaiknya
Kiai menyingkir saja? Ketika Darpati datang kemari bersama beberapa
orang kawannya, itu tentu hanya sekedar penjajagan, meskipun Darpati
bersama tujuh orang lainnya harus dikorbankan, dan bahkan ada
diantara mereka yang berilmu tinggi hampir setingkat Darpati
sendiri. Tetapi yang dipersiapkan nanti adalah jauh lebih besar dari
itu. Mungkin berlipat tiga atau ampat" "Kau akan ikut serta?"
bertanya Kiai Gumrah. "Ya, Kiai. Aku akan ikut bersama mereka" jawab
Kundala. Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Ketika kemudian Ki Prawara
datang, maka dipersilahkannya Ki Prawara untuk ikut berbincang.
Namun agaknya waktu Kundala amat sempit. Karena itu, maka katanya
"Aku harus segera pergi ke pasar. Sebentar lagi siang itu tentu
menyusul untuk mengawasi perjalananku" "Terima kasih Kundala.
Berhati-hatilah" pesan Kiai Gumrah. Demikianlah, maka Kundalapun
segera meninggalkan tempat itu. Manggada dan Laksana masih tetap
duduk diperapian. Sementara Nyi Prawara dan Winihpun telah mendekat
Kiai Gumrah untuk ikut mendengar keterangan Kundala. Kiai Gumrahpun
tidak merahasiakannya pula. Bahkan kepada Manggada dan Laksana.
Namun Kiai Gumrah masih menjaga, agar para tawanannya yang masih
saja diikat diruang dalam tidak ikut mendengarnya. "Jadi, langkah
apa yang akan kita ambil?" bertanya Ki Prawara. "Aku akan berbicara
dengan beberapa orang yang dapat aku hubungi. Menurut pendapatku,
rencana kita tetap. Kita akan menyerang sarang mereka. Tentu sebelum
mereka datang lebih dahulu" "Waktunya sangat sempit, ayah" desis Nyi
Prawara. "Kita tidak mempunyai pilihan lain. Menurut pendapatku,
kita akan lebih banyak mendapat kesempatan jika kita menyerang.
Tidak hanya sekedar bertahan" "Lalu, bagaimana dengan pusaka-pusaka
itu?" bertanya Winih. "Kita akan membawanya. Kita akan
mempergunakannya. Tentu orang yang paling bertanggung jawablah yang
akan maju ke medan dengan mempergunakan senjata pusaka perguruan
itu. Kiai Kajar tentu akan berkerut jantungnya melihat pusaka itu
langsung kita pergunakan di medan" Ki Prawara menarik nafas panjang.
Katanya "Tetapi bagaimana dengan songsong itu?" "Kita akan
membawanya pula. Songsong itu juga dapat dipergunakan sebagai
senjata. Bukankah kau tahu? Jarijarinya yang terbuat dari baja
menjadikan songsong itu tidak mudah rusak. Jika kainnya koyak,
bukankah dapat diganti lagi dengan yang baru dan diwarnai
sebagaimana warna semula" Ki Prawara mengangguk-angguk. Katanya
"Jika demikian, kita harus bergerak lebih cepat dari yang
direncanakan" "Aku akan menemui juragan gula itu dan selanjutnya
pergi ke pasar" berkata Kiai Gumrah "mudah-mudahan akw dapat melihat
Kundala selain menemui saudarasaudaranya Hati-hatilah dirumah.
Meskipun disiang hari dapat saja terjadi sesuatu" Dengan membawa
sisa gula yang ada, maka Kiai Gumrahpun telah pergi ke rumah juragan
gula. Yang penting baginya, bukannya menyerahkan gulanya dan
menerima uangnya, tetapi ia harus bergerak lebih cepat dari yang
direncanakan. Hari itu juga jaringan hubungan saudara-saudara
seperguruan Kiai Gumrah mulai bergerak. Sebelum senja, maka semua
orang harus berhasil ditemui. Mereka bukan sekedar melakukan
hubungan, tetapi mereka sudah memutuskan, bahwa malam ketiga,
semalam sebelum Kiai Windu Kusuma merencanakan untuk mengambil
pusakapusaka itu, mereka akan menyerang sarangnya. Rencana yang
disusun dengan cepat dipasar, telah tersebar kepada semua saudara
seperguruan Kiai Gumrah. Dimana mereka harus berkumpul, saatnya dan
kelengkapan yang harus disediakan. Sementara itu, ketika Kiai Gumrah
masih berada dipasar bersama dua tiga orang penjual gula, termasuk
juragan gula itu, ternyata mereka sempat melihat orang yang dijemput
oleh Kundala. Dengan sengaja Kundala mengajak orang itu berjalan
melewati sisi pasar yang khusus dipergunakan bagi para pedagang dan
penjual gula kelapa. "Dua orang " desis Kiai Gumrah. Juragan gula
itu mengangguk-angguk. Katanya "Menurut ingatanku, yang tua itu
datang dari perguruan Susuhing Angin. "Ya. Aku masih ingat. Yang
muda itu tentu salah seorang dari perguruan itu juga. Mungkin murid
utama dari pemimpin perguruan Susuhing Angin itu" jawab Kiai Gumrah.
"Iblis itu telah melibatkan perguruan yang banyak dikenal itu pula"
"Apakah orang itu tidak mengenal kita?" desis Kiai Gumrah. "Mereka
tidak sempat berpaling kearah kita. Apalagi kita sempat
menyembunyikan wajah kita. Tetapi agaknya mereka memang tidak
mengira bahwa kita ada disini" jawab juragan gula itu. Kiai Gumrah
mengangguk-angguk. Iapun berpendapat, bahwa kedua orang yang
berjalan bersama Kundala itu tidak melihat mereka diantara
keranjang-keranjang gula yang berserakan. Ketika Kiai Gumrah tiba di
rumahnya, maka iapun telah mempersiapkan segala sesuatu. Bukan saja
senjata-senjata mereka serta pusaka-pusaka yang mereka rawat dan
mereka jaga dengan baik itu. Tetapi juga persiapan ketahanan jiwani
untuk menghadapi satu tugas yang sangat berat. "Kita, seisi rumah
ini akan berangkat semuanya" berkata Kiai Gumrah "semua pusaka yang
ada akan ikut dalam pertempuran" Nyi Prawara menarik nafas
dalam-dalam. Katanya "Baiklah. Kita semuanya harus mempersiapkan
diri sebaikbaiknya. Namun tiba-tiba saja hampir diluar sadarnya
Manggada bertanya "Bagaimana dengan Ki Pandi?" "Jika aku bertemu
sebelum saat pertempuran terjadi, maka aku akan memberitahukan
kepadanya. Jika ia datang terlambat, apaboleh buat" jawab Kiai
Gumrah. Manggada tidak bertanya lagi. Ia sadar, bahwa Kiai Gumrah
tidak dapat bergantung kepada Ki Pandi. Apalagi setelah ia mendengar
bahwa Panembahan akan mengambil langkah terakhir karena purnama
sudah menjadi semakin dekat. Dihari berikutnya, maka beberapa orang
sengaja datang kepasar untuk saling bertemu. Sedangkan disore hari,
bahkan sampai malam, beberapa orang yang lain telah datang pula
kerumah Kiai Gumrah untuk mendapatkan penjelasan. Namun
saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah benar-benar sudah siap untuk
menghadapi tugas yang berat itu. Kepada saudara-saudara
seperguruannya. Kiai Gumrah juga sudah mengatakan niat Ki Pandi
untuk bersama mereka menghadapi Kiai Windu Kusuma dan orang yang
disebut Panembahan itu. "Satu hal yang barangkali ada diantara
kalian yang belum mengetahui, bahwa Ki Pandi memelihara dua ekor
harimau yang akan dapat diajak bersamanya dalam tugastugas beratnya"
berkata Kiai Gumrah. "Bagaimana kita dapat menghubunginya?" bertanya
orang yang selalu menyebut dirinya berilmu tinggi. "Kita hanya dapat
menunggu orang bongkok itu datang kepada kita" jawab Kiai Gumrah.
Dalam pada itu, kedua orang tawanan yang ada dirumah Kiai Gumrah
itupun melihat kesibukan yang semakin meningkat. Tetapi mereka
merasa bahwa mereka sama sekali tidak berhak untuk bertanya apapun
kecuali jika Kiai Gumrah mengajak mereka berbicara. Ketika matahari
terbit dihari berikutnya, maka keluarga Kiai Gumrah mulai dibayangi
ketegangan. Hari itu adalah hari yang menentukan. Menjelang malam
mereka akan berkumpul ditempat yang ditentukan, kemudian mereka akan
menyerang sarang Kiai Windu Kusuma yang didalamnya terdapat pula
o-rang yang disebut Panembahan, Kiai Kajar serta orang yang baru
datang dari perguruan Susuhingj Angin. Namun Kiai Gumrah masih juga
pergi ke pasar untuk mengadakan hubungan terakhir sebelum segalanya
dimulai. Dipasar, Kiai Gumrah juga melihat Kundala berjalan dengan
seorang kawannya. Namun Kiai Gumrah merasa bersukur bahwa Kundala
masih mendengar suara nuraninya yang paling dalam, sehingga ia tidak
mengatakan kepada kawannya tentang kegiatan Kiai Gumrah itu.
Sementara Kiai Windu Kusuma masih juga mempercayainya meskipun
kemampuan Kundala dianggap kurang memadai lagi diantara para
pengikut Kiai Windu Kusuma. Meskipun demikian, Kundala masih sering
mendapat tugas-tugas khusus sebagaimana dilakukannya itu. Meskipun
hanya sekedar sebagai penghubung. Dalam pada itu Kiai Gumrah masih
juga bertemu dan berbicara dengan beberapa orang saudara
seperguruannya. Pertemuan itu memang penting, justru pada saat-saat
terakhir menjelang pertempuran yang menentukan. Untuk meyakinkan
keberhasilan rencananya, Kiai Windu Kusuma memang mengirimkan orang
untuk melihat keadaan rumah Kiai Gumrah. Yang mendapatkan tugas
memang bukan Kundala, karena Kiai Windu Kusuma mencemaskan, bahwa
Kundala akan dapat dikenali oleh Kiai Gumrah atau cucu-cucunya.
Orang itu memang melaporkan bahwa terdapat kesibukan dirumah penjual
gula itu. Namun kesibukan itu masih terbatas sekali. Orang itu belum
melihat usaha-usaha Kiai Gumrah untuk menyusun pertahanan di
rumahnya. Orang-orang yang berdatanganpun telah meninggalkan
rumahnya. Bahkan tidak ada lagi nampak orang-orang yang bermalam
dirumahnya. Namun Kundala tahu benar, kapan orang itu mengawasi
rumah Kiai Gumrah, dan kapan rumah itu terlepas dari pengawasan. Di
siang hari rumah itu justru jarang sekali diawasi. Sekali-sekali
memang ada orang yang ditugaskan. Namun dikesempatan lain, Kiai
Windu Kusuma sekedar melepaskan burung-burung elang yang telah
mendapat latihan khusus itu. Pada hari yang terakhir itu, Kiai
Gumrah memang tidak terlalu lama berada di pasar. Ketika matahari
memanjat langit semakin tinggi, justru saat pasar sedang mencapai
puncak keramaiannya, Kiai Gumrah telah meninggalkan pasar, karena
masih banyak yang harus dipersiapkan. Ia tidak dapat ingkar akan
tugas yang dibebankan kepadanya, karena ia dianggap saudara
seperguruan yang terbaik. Karena itu, ia akan memikul tanggung-jawab
terberat atas rencana mereka. Penyerangan ke sarang Kiai Windu
Kusuma, karena Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya
menganggap langkah itu merupakan cara yang terbaik untuk
mempertahankan diri serta mempertahankan hak mereka. Namun ketika
Kiai Gumrah mendekati sudut padukuhan-nya, iapun tertegun. Ia
melihat seseorang yang duduk diatas seonggok batu padas dibawah
sebatang pohon turi. "Orang bongkok itu" desis Kiai Gumrah. Orang
itu memang Ki Pandi. Demikian ia melihat Kiai Gumrah melangkah
mendekatinya, maka iapun mulai beringsut. "Apakah kau menunggu aku?"
bertanya Kiai Gumrah. "Ya" jawab orang itu. "Ada sesuatu yang ingin
kau katakan?" bertanya Kiai Gumrah pula. "Aku sudah berpesan kepada
cucumu, bahwa aku akan menemuimu sekitar dua tiga hari kemudian.
Nah, hari ini aku memerlukan menemuimu" "Ya. Cucu-cucuku sudah
mengatakannya. Juga sudah mengatakan niatmu untuk bersama-sama
menghancurkan Panembahan yang mengabdi pada kuasa kegelapan itu"
“Aku menempatkan diri dalam pasukanmu. Aku menunggu perintahmu. Aku
hanya seorang diri bersama dua ekor harimauku. Mereka akan ikut
bersamaku" berkata Ki Pandi. Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Meskipun
tidak terlalu akrab, namun Kiai Gumrah mempercayai Ki Pandi,
sehingga karena itu, maka Kiai Gumrahpun telah memberitahukan
rencananya untuk menyerang malam nanti. "Apakah kalian sudah
menguasai medan?" bertanya Ki Pandi. "Saat kami berkumpul nanti, dua
orang yang kami tugaskan untuk melihat dan mengamati keadaan akan
memberikan laporan tentang medan. Selain itu, ada dua orang tawanan
kami yang bersedia menguraikan serba sedikit sasaran yang akan kita
datangi malam nanti. Juga sedikit tentang kekuatan mereka" "Aku juga
mempunyai beberapa keterangan. Aku juga akan membantu memberikan
keterangan itu jika diperlukan nanti" berkata Ki Pandi kemudian.
"Terima kasih. Mudah-mudahan keterangan yang kami dapatkan itu akan
mencukupi, sehingga kami tidak salah menilai lawan serta menilai
medan" berkata,Kiaj Gumrah. Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya "Aku
nanti akan datang bersama kedua ekor harimauku" Kiai Gumrah
mengangguk-angguk. Katanya "Terima kasih atas kesediaanmu.
Mudah-mudahan kita berhasil" Ki Pandi mengangguk kecil. Katanya
"Kegilaan Panembahan itu harus dihentikan. Ia tidak berhak lagi
hidup dimuka bumi karena bayangan kegelapan yang menguasai
jantungnya.” "Kami akan menunggumu. Kami berharap bahwa kami akan
mendapat keterangan yang cukup sehingga kami tidak justru akan
terjebak disarang mereka" berkata Kiai Gumrah kemudian sambil
melangkah melanjutkan perjalanannya. Sementara itu dikejauhan dua
ekor burung elang terbang dengan cepat melintas. Tetapi Kiai Gumrah
sudah hilang dibalik regol padukuhannya. Ketika Kiai Gumrah itu
berpaling, maka orang bongkok itu sudah tidak dilihatnya lagi.
"Setan bongkok itu memang berilmu sangat tinggi" desis Kiai Gumrah.
Demikianlah, maka sejenak kemudian, Kiai Gumrah sudah berada
dirumahnya. Iapun segera mengatur segala sesuatunya yang berhubungan
dengan rencana mereka. Kepada seisi rumahnya yang berkumpul Kiai
Gumrah berkata “Sebelum rumah ini mendapat pengawasan yang lebih
ketat, karena besok mereka akan menyerang kita, maka sebaiknya
kalian berada di banjar tua itu. Kita akan berangkat dari banjar
itu. Yang mereka awasi tentu rumah kita" Seisi rumah itu memang
dapat mengerti. Karena itu, mereka tidak bertanya terlalu banyak. Ki
Prawara, Nyi Prawara dan Winih segera berbenah diri. Nyi Prawara dan
Winiihpun segera mengenakan pakaian khusus mereka, siap untuk
menghadapi segala kemungkinan. Manggada dan Laksanapun telah
bersiap-siap pula. Namun mereka berdua merasa diri mereka terlalu
kecil diantara keluarga rumah itu. Meskipun keduanya telah memiliki
bekal olah kanuragan, namun dibanding dengan ilmu Winih, masih
terpaut agak terlalu banyak. Apalagi dengan kedua orang tua mereka
dan Kiai Gumrah, serta saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah.
Namun Laksana yang melihat Winih dalam pakaian khususnya berdesis
"Gadis itu nampak semakin cantik. Tubuhnya semakin kelihatan
ramping, namun tangkas dan lincah" "Kau akan berguru kepadanya?"
bertanya Manggada sambil tersenyum. Laksanapun tersenyum pula.
Katanya "Malam nanti kita akan menjadi kelinci diantara sekawanan
harimau" Manggada mengangguk-angguk. Katanya kemudian "Satu
pengalaman yang menarik" "Apakah kita masih sempat menganggap yang
akan terjadi malam nanti satu pengalaman?" bertanya Laksana.
Manggada menarik nafas dalam-dalam. Dengan dahi yang berkerut ia
menjawab “Apapun yang akan terjadi atas diri kita, maka kita harus
siap mengalaminya. Sejak semula kita sendirilah yang berniat untuk
melibatkan diri. Pada hari-hari pertama kita disini, Kiai Gumrah
sudah berusaha mengusir kita agar kita tidak terlibat. Tetapi
kitalah yang berkeras untuk tetap tinggal” Laksana termangu-mangu
sejenak. Namun kemudian katanya "Semuanya sudah terjadi. Kita memang
tidak dapat melangkah surut" Pembicaraan keduanyapun terputus. Kiai
Gumrah minta agar mereka semuanya pergi ke banjar. "Jika mereka
mengirimkan orang, maka mereka tidak akan mengamati banjar tua itu"
berkata Kiai Gumrah. Tetapi rencana itu tertunda, ketika Manggada
melihat dua ekor elang yang berterbangan. "Tidak akan lama" berkata
Kiai Gumrah "justru tampakkan dirimu di halaman" Manggada dan
Laksanapun kemudian justru telah memungut kayu bakar yang sedang
dijemur di halaman samping, sekedar untuk menyatakan bahwa dirumah
itu tidak terdapat perubahan apa-apa. Penghuninya masih tetap ada
ditempat dengan kesibukan sehari-hari pula. Seperti yang diduga,
maka elang itu tidak terlalu lama berputar-putar. Beberapa saat
kemudian, maka kedua ekor elang itupun segera pergi tanpa melakukan
gerakan-gerakan yang menarik perhatian. "Hati-hatilah" pesan Kiai
Gumrah "tidak terlalu jauh dari tempat ini tentu ada pengikut Kiai
Windu Kusuma yang melihat gerakan-gerakan elang itu serta memberikan
tafsiran artinya. Biarlah Manggada dan Laksana melihat keluar
halaman.” Manggada dan Laksanapun kemudian telah pergi keregol
halaman. Satu dua orang lewat dijalan didepan rumah Kiai Gumrah.
Namun mereka sama sekali tidak memperhatikan rumah itu. Sementara
itu, Ki Prawara, Nyi Prawara dan Winih telah pergi ke banjar lewat
pintu butulan yang dibuat pada dinding yang memisahkan halaman rumah
Kiai Gumrah dengan halaman banjar. Pintu itu sangat berarti bagi
Kiai Gumrah selama ia bertugas menjaga dan membersihkan banjar tua
itu. Seperti keinginan Kiai Gumrah, maka Ki Prawara, Nyi Prawara dan
Winih telah diperintahkan pula untuk membawa tombak-tombak pusaka
yang disimpannya serta sebuah songsong yang berwarna kuning keemasan
dengan lingkaran hijau itu. Ketika Manggada dan Laksana kemudian
masuk kembali kedalam rumah, maka Kiai Gumrahpun telah memerintahkan
agar Manggada dan Laksana juga pergi ke banjar. Sejenak keduanya
termangu-mangu. Dengan ragu Manggada bertanya "Bagaimana dengan
kedua orang tawanan itu?" “Biarlah mereka tinggal dirumah" jawab
Kiai Gumrah. “Tetapi.......................”Manggada tidak
meneruskan kata-katanya, karena Kiai Gumrah telah menyahutnya sambil
tersenyum "aku akan membuat mereka tertidur untuk semalam suntuk"
Manggada dan Laksana menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia percaya
bahwa Kiai Gumrah dapat melakukannya. Ia akan dapat menyentuh
simpul-simpul syaraf sehingga membuat seseorang tertidur atau
seolaholah membeku pada sebagian tubuhnya. Karena itu, maka Manggada
dan laksana tidak bertanya lagi. Keduanyapun kemudian telah menyusul
mereka yang sudah berada di banjar. Meskipun rumah itu seolah-olah
telah menjadi kosong, tetapi Kiai gumrah tidak menutup pintu depan.
Kiai Gumrah memang ingin memberikan kesan bahwa tidak ada perubahan
apa-apa terjadi di rumah itu, sehingga orangorang yang mengamatinya
tidak akan menaruh banyak perhatian. Bahkan mereka akan menganggap
bahwa Kiai Gumrah masih belum mengetahui rencana Kiai Windu Kusuma
dan Panembahan Lebdagati untuk datang mengambil pusaka-pusaka yang
mereka anggap keramat itu. Sebenarnyalah bahwa pengikut Kiai Windu
Kusuma yang lewat didepan rumah Kiai Gumrah tidak melihat kesan
apapun. Bahkan ia masih melihat lewat pintu regol halaman rumahnya
yang terbuka, Kiai Gumrah yang sedang menyapu halaman rumahnya.
Ketika kemudian senja turun, Kiai Gumrah masih juga menyalakan
lampu-lampu dirumahnya. Sedangkan Manggada dan Laksana yang sudah
berada di banjar, juga telah menyalakan lampu-lampu di banjar tua
itu. Namun demikian Kiai Gumrah menutup pintu rumahnya ketika malam
turun, maka rumah itu telah menjadi kosong. Yang ada didalam
hanyalah kedua orang tawanan Kiai Gumrah yang tangan dan kakinya
masih terikat, sementara dengan ketukan pada simpul syarafnya telah
membuat kedua orang itu tertidur. Sekeluarga, Kiai Gumrahpun
kemudian telah meninggalkan banjar tua itu pula. Lewat lorong-lorong
sempit di paduku-hannya. Dengan hati-hati mereka menghindari
pertemuan dengan seseorang agar pusakapusaka yang mereka bawa tidak
menimbulkan persoalan. Demikianlah, pada saat yang ditentukan, maka
saudarasaudara seperguruan Kiai Gumrahpun telah berkumpul disebuah
kebun yang kosong dekat sebuah kuburan. Ki Prawara yang berdiri
didekat Manggada dan Laksana sempat berdesis "Di kuburan ini orang
yang kami hormati semasa hidupnya, telah dimakamkan" Manggada dan
Laksana termangu-mangu sejenak. Dengan ragu-ragu Manggada bertanya
“Siapakah orang yang dihormati itu?" "Ceriteranya panjang" jawab Ki
Prawara "nanti, setelah tugas kita selesai, semoga aku masih sempat,
aku ceriterakan selengkapnya" "Semoga kami berdua juga masih sempat
mendengarkannya" sahut Manggada. "Kita sama-sama berdoa” gumam Ki
Prawara kemudian. Merekapun kemudian terdiam. Agaknya Kiai Gumrah
mulai berbicara dengan bersungguh-sungguh. Namun masih terbatas
dengan juragan gula itu serta dua orang saudara seperguruannya yang
lain. Selagi mereka masih menunggu, maka terdengar geram dua ekor
harimau yang berada dikuburan itu. Saudarasaudara seperguruan Kiai
Gumrah yang sudah tahu bahwa Ki Pandi akan datang bersama kedua ekor
harimau peliharaannya itupun serentak berpaling kearah suara itu.
Sebenarnyalah yang muncul memang orang bongkok yang berilmu tinggi
itu. Dengan kedatangan Ki Pandi, maka pembicaraanpun segera dimulai.
Saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah itupun duduk melingkar
dibawah rimbunnya pepohonan. Dua orang yang mendapat tugas mengamati
keadaanpun segera memberikan keterangan tentang sasaran yang akan
mereka datangi. "Kami telah melihat sasaran dari segala sudut"
berkata salah seorang dari keduanya. Dengan jelas orang itu menyebut
ciri-ciri serta kemungkinan-kemungkinan yang dapat mereka lihat dari
luar. Kiai Gumrahlah yang kemudian melengkapi keterangan itu.
Agaknya Kiai Gumrah telah berhasil menyadap keterangan terperinci
dari kedua orang tawanan yang ditinggalkannya dirumah. "Kita tidak
menyerang dengan memecahkan regol halaman beramai-ramai sebagaimana
pasukan segelarsepapan. Tetapi kita akan melakukannya
sendiri-sendiri. Kita masing-masing akan memasuki rumah itu dari
arah yang berbeda. Ingat, didalam rumah itu tinggal Kiai Windu
Kusuma dengan beberapa orang berilmu tinggi. Selain mereka masih
terdapat para pengikutnya yang jumlahnya cukup banyak. Selain para
pengikut Kiai Windu Kusuma, maka di dalam rumah itu terdapat pula
para pengikut orang yang disebut panembahan itu. Diantara mereka
terdapat pula orang-orang dari perguruan Susuhing Angin dan tidak
mustahil, masih ada lagi orang-orang dari perguruan lain yang
terpengaruh oleh Panembahan itu" Demikianlah, maka saudara-saudara
seperguruan Kiai Gumrah itupun telah membicarakan segala sesuatunya
dengan cermat. Mereka menilai segala macam kemungkinan yang dapat
terjadi. Isyarat-isyarat yang harus mereka berikan dari yang satu
kepada yang lain agar tidak terjadi salah paham. Terakhir Kiai
Gumrah itupun berkata "Yang dikehendaki oleh Panembahan itu adalah
pusaka-pusaka ini. Karena itu, maka tidak mustahil bahwa Panembahan
itu akan langsung berusaha mengambilnya" Kiai Gumrah itupun berhenti
sejenak, lalu "karena itu, maka pusakapusaka itu harus berada di
tangan-tangan yang benar-benar bertanggung jawab" Namun Ki Pandipun
memotong pembicaraan itu "Aku tidak ingin membawa salah satu
diantara pusaka-pusaka itu. Tetapi aku akan menyertai mereka yang
membawanya. Aku akan minta kerelaan kalian untuk dapat bertemu
langsung dengan orang yang disebut Panembahan itu, sementara kalian
tentu menganggap penting untuk bertemu dengan Kiai Kajar. Menurut
pendapatku, baik Panembahan itu, maupun Kiai Kajar akan berusaha
untuk dapat langsung menguasai pusaka-pusaka itu, sehingga aku akan
dapat menemukannya jika aku berada didekat orang yang membawa pusaka
itu" Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Katanya “Tentu kami tidak
berkeberatan. Tetapi jika Ki Pandi tidak berhasil menemui
Panembahan, jangan menyalahkan kami" Ki Pandi mengerutkan dahinya.
Tetapi ia tidak menjawab. Ternyata saudara-saudara seperguruan Kiai
Gumrah itu telah mempercayakan pusaka-pusaka itu kepada Kiai Gumrah,
juragan gula dan satu lagi diserahkan kepada Ki Prawara dan Nyi
Prawara. "Masih ada satu lagi. Siapakah yang akan membawa songsong
itu?" Kiai Gumrah termangu-mangu sejenak. Songsong itu memang tidak
secara khusus dapat dipergunakan sebagai senjata. Namun songsong itu
mempunyai nilai yang tinggi bagi Kiai Gumrah dan saudara-saudara
seperguruannya. Karena itu, maka orang yang selalu menyebut dirinya
berilmu tinggi itu berkata "Songsong itu akan berada ditangan ketiga
cucu Kiai Gumrah. Namun dua orang diantara kami harus
melindunginya.” "Bagus" sahut Buta Ijo "tetapi jika mereka juga
harus memasuki sarang Kiai Windu Kusuma dengan membawa songsong itu,
bukankah sama saja artinya dengan memanggil perhatian para pengikut
Kiai Windu Kusuma yang sedang bertugas" "Tetapi kita memerlukan
semua orang untuk bersaman sama memasuki lingkungan lawan. Jumlah
kita yang hanya tiga belas orang ditambah dengan tiga orang cucu
Kilai Gumrah itu tentu akan menjadi terlalu sedikit dibandingkan
dengan jumlah lawan" "Kau belum menghitung Ki Pandi dan kedua ekor
harimaunya " berkata Ki Prawara kemudian. Saudara-saudara
seperguruan Kiai Gumrah itu mengangguk-angguk, sementara Kiai Gumrah
berkata "Baiklah. Mereka akan memasuki regol halaman rumah itu
setelah salah seorang diantara kita membuka pintu itu dari dalam"
“Baik” berkata juragan gula itu ”demikian pintu terbuka, maka mereka
akan memasuki halaman. Songsong itu memang akan menarik perhatian.
Tetapi kita dapat mempergunakan sekaligus sebagai pancingan. Namun
hal itu baru akan kita lakukan setelah kita membersihkan sebagian
para pengikut Kiai Windu Kusuma yang akan dapat mengganggu benturan
akhir dari serangan kita" "Tetapi aku ingin memperingatkan kalian"
berkata Kiai Gumrah "kita semuanya bukan pembunuh-pembunuh yang
tidak berjantung. Kita menjunjung tinggi ajaran perguruan kita. Jika
kita datang kesarang lawan kali ini adalah justru dalam rangka
mempertahankan hak kita yang ingin mereka kuasai" Tetapi Buta Ijo
itu menyahut "Apa yang dapat kita lakukan jika kita tidak boleh
membunuh? Bukankah itu berarti kita sekedar membunuh diri?" “Apakah
kau artikan ajaran perguruan kita seperti itu?" bertanya Kiai
Gumrah. Buta Ijo itu terdiam. Sementara Kiai Gumrahpun berkata "Kita
mengerti batas kewajaran ajaran perguruan kita. Tetapi bukankah kita
juga dapat melumpuhkan lawan tanpa membunuhnya? Tentu saja dalam
batas-batas kemungkinan" Saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah itu
mengangguk-angaguk. Buta Ijo itupun mengangguk-angguk pula. Sambil
menunggu tengah malam, maka Kiai Gumrah dan saudara-saudara
seperguruannya telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Mereka
melihat senjata-senjata mereka, agar pada saatnya tidak
mengecewakannya. Kiai Gumrah, juragan gula serta Ki Prawara telah
menggegam tombak ditangan mereka masing-masing. Tombak yang akan
mereka pergunakan langsung dipertempuran yang bakal terjadi di rumah
besar yang menjadi sarang Kiai Windu Kusuma. Menjelang tengah malam,
maka segala macam persiapan benar-benar telah mapan. Karena itu,
maka Kiai Gumrahpun segera minta saudara-saudara seperguruannya
bersiap. "Anak setan" geram orang yang selalu menyebut dirinya
berilmu tinggi "Buta Ijo itu telah mendekur" Juragan gula itulah
yang kemudian membangunkannya. Sambil mengguncang lengannya ia
berkata "He. Bangun dari mimpi burukmu itu" Buta Ijo itu terkejut.
Sekali ia menguap sambil menggeliat. Tetapi kawannya yang selalu
terkantuk-kantuk membentak "He, tutup mulutmu. Seekor katak dapat
meloncat masuk kedalam mulutmu yang terbuka itu" "Setan kau” geram
Buta Ijo itu "kenapa kau tidak kembali kekuburan itu saja" Tetapi
saudara seperguruannya yang lain berkata "Kau yang selalu mengantuk,
ternyata tidak semudah Buta Ijo itu untuk dapat benar-benar tidur"
"Sudahlah" berkata juragan gula itu "kita akan segera berangkat"
Kiai Gumrahpun kemudian telah memberikan pesanpesan terakhir kepada
saudara-saudara seperguruannya. Mereka diperingatkan untuk berusaha
memasuki halaman rumah itu dengan diam-diam. Mereka harus dapat
mengurangi lawan sebanyak-banyaknya. Tetapi diperingatkan pula bahwa
mereka Demikianlah, maka saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah itu
sekali lagi berdiri dalam lingkaran. Sejenak mereka memusatkan nalar
budi mereka untuk mempersiapkantugasme-reka yang sangat berat.
Sejenak kemudian, maka terdengar Kiai Gumrah berkata "Semoga kita
selalu mendapat perlindungan dari yang Maha Agung" Demikianlah, maka
saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah itupun mulai bergerak.
Mereka membenahi pakaian mereka agar tidak justru mengganggu tugas
mereka. Senjata merekapun sudah siap pula. Setiap saat mereka akan
mempergunakannya. Dalam kegelapan malam, maka saudara-saudara
seperguruan Kiai Gumrah itu mulai merayap mendekati rumah yang
terhitung besar yang menjadi sarang Kiai Windu Kusuma dan para
pengikutnya. Didalam rumah itu juga terdapat orang-orang berilmu
tinggi yang lain. Seperti yang direncanakan, maka saudara-saudara
seperguruan Kiai Gumrah itu akan bergerak sendiri-sendiri. Mereka
akan memasuki halaman rumah itu dengan meloncati dinding. Namun
seperti yang ditentukan, ketiga orang cucu Kiai Gumrah serta dua
orang yang akan melindungi mereka, baru akan memasuki halaman rumah
itu setelah pintu gerbang dibuka. Yang kemudian harus membawa payung
yang bertangkai agak panjang itu adalah Manggada dan Laksana. Namun
mereka tidak akan membawa songsong itu bersama-sama. Tetapi
bergantian. Meskipun mereka tidak akan memasuki halaman bersama-sama
dengan yang lain, namun berlima mereka telah bergerak mendekati
pintu gerbang, meskipun masih pada jarak yang terbatas. Winih
sengaja tidak memasang selongsong payung yang berwarna putih itu.
Tetapi menyulubunginya dengan baju lurik hitam milik kakeknya agar
warna kuning keemasan yang mengkilat itu tidak justru memantulkan
cahaya oncor yang sengaja dipasang disudut-sudut dinding halaman
rumah itu. Sementara itu, maka Kiai Gumrah dan saudara-saudara
seperguruannya yang lain telah merayap mendekati dinding rumah itu.
Dengan diam-diam mereka berusaha untuk dapat meloncati dinding. Dari
saudara seperguruan mereka yang telah mengamati dinding halaman
rumah itu dari luar serta keterangan terperinci yang diberikan oleh
Kiai Gumrah berdasarkan keterangan kedua orang tawanannya, maka
mereka dapat memilih tempat-tempat, yang paling aman untuk meloncat
memasuki halaman. Yang mula-mula mencapai dinding halaman itu adalah
o-rang yang selalu menyebut dirinya berilmu tinggi. Sejenak ia
mendengarkan setiap suara dengan saksama. Namun sudut dinding
halaman ditempat ia menempelkan tubuhnya itu sangat sunyi. Tidak
terdengar suara apapun juga. Karena itu, maka orang itu telah
memberanikan diri untuk meloncat menggapai bibir dinding halaman
itu. Perlahan-lahan ia beringsut naik, sehingga akhirnya ia berhasil
memandang kedalam. Keadaan didalam halaman itupun sangat sunyi,
padahal menurut perhitungannya, jika besok mereka akan bergerak
mengambil pusaka-pusaka itu dirumah Kiai Gumrah, maka mereka tentu
sudah membuat persiapan-persiapan. Sejenak kemudian orang itupun
telah menelungkup datar diatas bibir dinding halaman. Dengan baju
yang terbuat dari kain lurik ketan ireng serta celana komprang yang
juga berwarna hitam serta kain panjang latar ireng, maka orang itu
tidak begitu nampak. Apalagi cahaya oncor yang lemah tidak sempat
menggapai tempat itu. Untuk beberapa saat lamanya ia masih
menelungkup melekat bibir dinding halaman. Dengan saksama ia
mengamati keadaan. Oleh cahaya lampu minyak yang dipasang diserambi,
maka samar-samar ia dapat melihat keadaan halaman belakang rumah
yang besar itu. Baru kemudian ia melihat dua orang duduk diserambi,
dibawah bayangan kere bambu yang sebagian masih digulung naik.
Justru karena itu, maka orang itu menjadi sangat berhatihati. Bahkan
orang itu masih memperhitungkan bahwa tentu masih ada orang lain
yang bertugas di halaman belakang itu. Ternyata beberapa saat
kemudian, orang itu melihat dua orang petugas yang lain berjalan
melintasi serambi, menuju ke sebelah rumah itu. Nampaknya mereka
memang sedang meronda berkeliling. Orang yang menyebut dirinya
berilmu tinggi harus menahan nafas ketika kedua orang itu ternyata
berjalan seakan-akan menuju ketempatnya. Untunglah bahwa kedua orang
yang meronda berkeliling itu tidak melihatnya. Demikian kedua orang
itu lewat, orang yang melekat dibibir dinding halaman itu menarik
nafas dalam-dalam. Namun demikian, kedua orang itu menjauh, maka
orang itupun segera meloncat turun didalam halaman rumah itu.
Perlahan-lahan sekali ia beringsut. Disusunnya dinding halaman itu.
Perlahan-lahan ia berusaha mendekati kedua orang yang duduk
diserambi itu, Orang itu berhenti sejenak dibawah sebatang pohon
kemuning yang rimbun. Diperhatikannya suasana rumah itu dengan
sungguh-sungguh. Sekali lagi orang itu tertegun. Dalam keheningan
malam ia mendengar suara perempuan tertawa tertahan-tahan dibelakang
serambi tempat dua orang yang sedang duduk dibayangan kere bambu
itu. Sejenak kemudian, maka pintu serambi itu terbuka. Seorang
perempuan didorong keluar lewat pintu itu. Hampir saja perempuan itu
terjatuh menimpa kedua orang yang sedang duduk diserambi itu.
Perempuan itu masih tertawa. Ketika dua orang yang duduk diserambi
itu menyeretnya untuk duduk bersamanya. Ketika perempuan itu mulai
mengigau, maka saudara seperguruan Kiai Gumrah itu mengerti, bahwa
perempuan itu sedang mabuk. Tetapi menurut penilaiannya, perempuan
itu tentu bukan perempuan baik-baik. "Setan" geram orang yang
menyebut dirinya berilmu tinggi itu ia terpaksa mengurungkan niatnya
mendekati kedua orang di serambi itu. Tetapi kesan yang
didapatkannya adalah, bahwa isi rumah yang besar itu ternyata adalah
warna-warna buram, sehingga sepantasnyalah bahwa isi rumah itu
dibersihkan sama sekali. Demikian orang itu beranjak pergi, maka
terdengar lagi suara tertawa berkepanjangan. Masih juga terdengar
suara perempuan, tetapi bukan perempuan yang telah berada diserambi
itu. Saudara seperguruan Kiai Gumrah itu bergumam meninggalkan
tempat itu. Dengan hati-hati ia menyelinap kebelakang gerumbul perdu
disebelah rumah yang besar itu. Ia mulai yakin, bahwa rumah itu
masih belum tertidur meskipun sudah lewat tengah malam. Namun iapun
yakin pula, bahwa seisi rumah itu sama sekali tidak menduga, bahwa
beberapa orang yang asing bagi mereka telah berada di halaman rumah
itu. Ketika orang itu kemudian melihat dua orang penjaga yang
berjalan hilir mudik didekat pintu butulan pada dinding halaman yang
menghadap ke samping, maka saudara seperguruan Kiai Gumrah itupun
telah menghembus kedua telapak tangannya sambil berdesis “Apaboleh
buat. Jika daya tahan kalian cukup tinggi, maka kalian tidak akan
mati. Tetapi jika kalian ternyata mati, itu bukan salahku, karena
ilmuku memang terlalu tinggi bagi kalian" Dengan hati-hati orang itu
merayap mendekati. Kemudian demikian ia meloncat keluar dari
kegelapan, maka, tangannya telah melayang menyambar tengkuk salah
seorang dari kedua orang itu. Orang itu memang tidak sempat
mengaduh. Sesaat ia terhuyung-huyung. Namun kemudian orang itupun
terjatuh di-tanah. Sementara itu kawannya terkejut. Tetapi ia juga
tidak mendapat kesempatan. Satu pukulan yang sangat keras telah
mengenai ulu hatinya sehingga orang itu terbungkuk kesakitan, baru
kemudian telapak tangan saudara seperguruan Kiai Gumrah itu
menghantam tengkuknya. Orang itupun telah kehilangan kesadarannya.
Iapun kemudian telah terjatuh pula. Orang yang selalu menyebut
dirinya berilmu tinggi itu tersenyum sambil berdesis "Mudah-mudahan
kalian tidak mati. Kiai Gumrah berpesan agar kami tidak menjadi
pembunuh yang haus darah. Tetapi bukankah kalian sama sekali tidak
menitikkan darah?" Orang itu kemudian masih sempat menyeret kedua
sosok tubuh.itu kedalam gerumbul disebelah pintu butulan. Tetapi ia
sadar, bahwa tidak hanya kedua orang itu sajalah yang harus
diselesaikan lebih dahulu, sebelum mereka benar-benar memasuki rumah
itu dan berusaha bertemu dengan Kiai Windu Kusuma dan orang-orang
penting lainnya yang tinggal dirumah itu. "Aku ingin bertemu dengan
Kiai Kajar" berkata orang itu didalam hatinya "ia seorang yang
terlalu manja diperguruan. Tetapi aku tidak yakin bahwa ilmunya
melampaui ilmu saudara-saudara seperguruannya" Namun baginya Kiai
Kajar adalah seorang yang sangat bodoh. Jika sekelompok orang yang
tinggal dirumah itu berhasil memiliki pusaka-pusaka yang disimpan
oleh Kiai Gumrah, maka Kiai Kajar itu tentu hanya mendapat bagian
yang kecil saja. Bahkan seandainya pusaka-pusaka itu harus dibagi
diantara saudara-saudara seperguruannya, maka ia akan mendapatkan
lebih banyak. Tetapi orang itu bergumam "Tetapi pusaka-pusaka itu
bukan milik siapa-siapa diperguruan" Sejenak orang itupun beringsut
pula. Ia menuju sudut belakang gandok rumah itu. Namun ia terkejut
ketika ia menemukan sebatang tombak pendek yang tergeletak di tanah,
baru kemudian ia melihat jejak sesuatu yang ditarik ke gerumbul
disudut gandok yang gelap itu. rerumputan dan daun-daun perdu yang
patah menuntunnya menemukan dua sosok tubuh yang terbaring diam.
Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun telah
menyembunyikan tombak itu pula didekat tubuh yang membeku itu. "Juga
tidak ada darah " desisnya. Ternyata saudara-saudara seperguruan
Kiai Gumrah telah berada dihalaman rumah itu kecuali yang bertugas
melindungi songsong didepan pintu gerbang utama. Mereka yang ada
dihalaman itu telah berusaha membersihkan para petugas yang
berjaga-jaga. Bahkan orang-orang yang meronda berkelilingpun telah
mengalami nasib buruk pula. Sementara itu Kiai Gumrah sendiri dan Ki
Pandi masih berada di halaman depan yang luas. Mereka berjongkok di
belakang sebatang pohon soka yang daunnya menjadi sangat rimbun.
Bunganya yang kemerah-merahan nampak hampir disetiap ujung
ranting-rantingnya. Keduanya agaknya masih menunggu. Juragan gula
itulah yang mendapat tugas untuk memberikan isyarat jika mereka akan
memasuki rumah yang besar itu. Namun sebelumnya akan ada
isyarat-isyarat kecil untuk menandai kesiagaan semua saudara-saudara
seperguruan Kiai Gumrah itu. Yang terjadi kemudian adalah gerakan
yang diam dari mereka yang memasuki halaman rumah itu. Orang yang
selalu terkantuk-kantuk itu ternyata telah berhasil memasuki
longkangan samping setelah berhasil meloncati dinding disebelah
seketheng. Dua orang yang ada dilongkangan itupun tidak berdaya
ketika orang itu menyentuhnya. Sementara itu, Buta Ijo yang bertubuh
seperti raksasa itu justru telah masuk kedalam dapur dengan membuka
dinding perlahan-lahan. Ketika ia membuka geledeg ia masih menemukan
beberapa potong makanan. Tetapi sentuhan-sentuhan mangkuk digeledeg
itu telah membangunkan seorang anak muda yang tidur di dapur itu.
namun, demikian anak muda itu bangkit, maka mulutnyapun telah
dibungkam oleh Buta Ijo yang masih mengunyah sepotong ledre pisang.
Anak muda itu tidak dapat berbuat apa-apa. Ia merasa tekanan yang
sangat keras ditengkuk dan punggungnya. Namun kemudian anak muda itu
telah tertidur kembali. "Kau akan tidur untuk waktu yang lebih lama
dari kebiasaanmu anak muda" desis Buta Ijo itu "mungkin besok tengah
hari kau baru akan menyadari keadaanmu lagi" Buta Ijo itupun
kemudian telah beringsut dari tempatnya. Ketika ia melewati pintu
dapur disisi lain, ternyata ia sudah berada di sebuah longkangan.
"Kiai Gumrah tidak menyebut longkangan ini" berkata orang itu
didalam hatinya. Untuk beberapa saat Buta Ijo itu mengamat-amati
tempat itu. Beberapa kali ia memperhatikan bangunan disebelah
Iongkangan yang berdinding bambu sebagaimana dinding dapur itu.
Namun ia menjadi ragu-ragu. Namun akhirnya Buta Ijo itu
mengangguk-angguk ketika ia teringat pesan Kiai Gumrah, bahwa memang
telah dibuat bangunan baru. Dapur itupun merupakan bangunan susulan
karena dapur yang sebenarnya telah dipergunakan untuk kepentingan
lain. "Agaknya didalam bangunan disebelah longkangan itu tinggal
beberapa orang pengikut Kiai Windu Kusuma atau pengikut Panembahan
yang dibawanya kemari" berkata Buta Ijo itu didalam hatinya. Tetapi
Buta Ijo itu tidak akan memasuki bangunan didepan longkangan itu.
Jika ia terperosok kedalamnya, maka ia tentu akan bertemu dengan
beberapa orang pengikut Kiai Windu Kusuma. Raksasa itu tidak akan
mati ketakutan, tetapi dengan demikian, maka suasana tentu akan
segera menjadi ribut. Karena itu, maka Buta Ijo itu akan menghindari
saja tempat itu dan kembali keluar lewat dinding bambu didapur yang
telah dibukanya. Sejenak kemudian Buta Ijo itu sudah ada diluar. Ia
tidak mau meninggalkan jejak yang dapat menarik perhatian. Karena
itu, maka dilekatkannya lagi dinding bambu yang telah dibukanya itu.
Tetapi sebelum ia beranjak, dua orang dengan tergesagesa
mendekatinya. Dua orang peronda yang masih lolos dari tangan
saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah. Sambil mengacukan
senjatanya, seorang diantara keduanya itu membentak "Siapa kau, he?"
Buta Ijo itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun tertawa
sambil menjawab "kau aneh. Kenapa kau bertanya seperti itu?" Orang
itu mengerutkan keningnya. Sementara itu Buta Ijo itu berkata
"Bukankah aku yang dua hari yang lalu datang dari perguruan Susuhing
Angin?" Kedua orang itu masih termangu-mangu. Tetapi yang seorang
kemudian berkata “Bohong. Yang datang dari perguruan Susuhing Angin
telah aku kenal semuanya" “Ternyata tidak. Kenapa kau tidak mengenal
aku" desis Buta Ijo dengan tenang. "Menyerahlah. Bagaimana kau
berhasil masuk kelingkungan kami yang tertutup ini" geram orang yang
lain. Ujung senjatanya mulai bergetar. Tetapi Buto Ijo masih
tenang-tenang saja. Bahkan iapun berkata pula “Kalian memang aneh.
Jika aku bukan orang dari perguruan Susuhing Angin, bagaimana aku
dapat masuk kemari?" "Tidak ada gunanya kau berbohong. Jika kau
orang dari Susuhing Angin, apa yang kau lakukan disini?" Buta Ijo
itu melihat berkeliling. Namun kemudian katanya perlahan-lahan
"Tetapi jangan berkata kepada siapapun. Aku ingin masuk ke dapur"
"Untuk apa?" bertanya salah seorang dari kedua peronda itu. "Aku
lapar" Buta Ijo itu menjawab sambi] tertawa. Kedua orang itu saling
berpandangan sejenak. Namun ternyata Buta Ijo telah memanfaatkan
kesempatan itu. Dengan cepat ia meloncat menyusup diantara dua ujung
senjata kedua orang itu. Dengan cepat pula kedua tangannya meraih
kepala kedua orang itu. Kedua orang itu tidak sempat mengetahui apa
yang terjadi kemudian. Duniapun segera menjadi gelap. Buta Ijo itu
terbelalak melihat akibat perbuatannya. Kepala kedua orang itu
menjadi retak. Dan darah telah mengalir. "Bukan maksudku" desis Buta
Ijo yang menjadi sangat gelisah "aku bukan pembunuh yang mendapat
kepuasan karena kematian orang lain" Tetapi ia tidak sempat berpikir
panjang. Iapun kemudian telah menyeret kedua orang itu dan
membenamkannya dibelakang gerumbul. Kedua pucuk senjata itupun telah
dibuangnya kedalam gerumbul itu pula. Setelah menenangkan hatinya
sejenak, Buta Ijo itupun mengendap-endap pula di kegelapan. Ia telah
melingkari rumah yang besar itu. Namun dengan serta-merta Buta Ijo
itu telah berhenti, menyusup kebalakang gerumbul ketika ia melihat
sesuatu yang bergerak. Perlahan-lahan mulutnya telah berdecak
seperti suara seekor bilalang. Ketika dari gerumbul yang lain juga
terdengar suara yang sama, maka Buta Ijo itupun yakin, kalau yang
dilihatnya bergerak itu adalah saudara seperguruannya. Karena itu,
maka Buta Ijopun telah mendekatinya. Sebenarnyalah bahwa yang
bersembunyi dibelakang gerumbul itu adalah saudara seperguruannya
yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan dengan kumis yang panjang
diujungnya. "Aku terpaksa membunuh" desis Buta Ijo. "Apaboleh buat"
desis yang berkumis. Lalu katanya "Sebenarnya kita dapat
mengetrapkan ilmu sirep saja" “Jangan" cegah Buta Ijo "sirepmu tidak
akan berarti bagi orang-orang berilmu tinggi dirumah itu. Justru
hanya akan mengundang kecurigaan saja. Jika mereka menyadari bahwa
ada sirep, maka mereka justru akan segera bersiapsiap" Orang
berkumis panjang dikedua ujungnya itu mengerutkan dahinya. Katanya
"Sirepku melampaui ilmu sirep yang manapun. Kaupun akan tertidur
pula karenanya" "Jika saudara-saudara kami tertidur, apa yang akan
kami lakukan?" "Setan kau" geram orang berkumis itu. Buta Ijo itu
tertawa. Tetapi orang berkumis itu cepat berdesis "Kau jangan
mengacaukan rencana kita" Buta Ijo itu menutup mulutnya. Namun
keduanya terkejut ketika mereka melihat beberapa orang keluar dari
pintu samping dengan senjata siap ditangan. Mereka berhenti sejenak
ketika pemimpin sekelompok orang itu memberikan perintah “Menyebar.
Bayangan itu tentu masih belum keluar.” "Ternyata mereka sudah
mengetahui bahwa ada orang lain di halaman rumah ini" gumam orang
berkumis itu. "Beri isyarat" sahut Buta Ijo. "Kau sajalah. Suaramu
lebih mirip dengan suara burung bence daripada suaraku" "Tetapi
orang-orang itu sudah berada dihadapan hidung kita. Jika mereka
mendengar suara burung bence disini, maka mereka tentu akan
berdatangan kemari" desis Buta Ijo. Kawannya tidak menjawab. Tetapi
tiga orang diantara mereka yang menyebar itu melangkah mendekati
gerumbul tempat keduanya bersembunyi. Ketika ketiga orang itu
benar-benar menyibak dedaunan gerumbul itu, maka kedua orang itu
tidak mempunyai pilihan lain. Dengan cepat kedua orang itu meloncat
dan menerkam ketiga orang itu. Orang berkumis itu menangkap seorang
diantara mereka tepat dikepalanya. Satu putaran yang keras sekali
ternyata telah mematahkan leher orang itu. Sementara sekali lagi
Buta Ijo itu meraih dua kepala dan membenturkannya. Tetapi keduanya
tidak lagi dapat bersembunyi. Tiga orang yang lain yang bergerak
kesamping telah melihat serangan singkat yang telah melumpuhkan tiga
orang kawannya itu. Karena itu, maka ketiga orang itupun segera
berteriak "Mereka ada disini" "Wah" desah Buta Ijo "tetapi bukan
kita yang menyebabkan kehadiran kita diketahui" "Tidak. Tentu bukan
kita. Ketika mereka keluar dari pintu samping rumah itu, mereka
sudah mencari seseorang. Tentu orang kantuk itu yang menyebabkannya"
"Jangan menuduh" jawab Buta Ijo. Demikianlah, maka orang-orang yang
keluar dari pintu samping itu segera mengepung Buta Ijo dan orang
berkumis panjang diujungnya itu. Dengan demikian maka keduanya tidak
dapat berbuat lain. Mereka harus bertempur menghadapi beberapa orang
yang mengepung mereka. Namun Buta Ijo itu masih berdesis "Jika
terjadi seperti ini, bagaimana kita dapat menghentikan perlawanan
mereka tanpa membunuh?" "Tetapi bukan niat kita membunuh. Jika ada
yang mati, itu salah mereka sendiri" jawab orang berkumis itu. "Ya,
salah mereka sendiri " sahut Buta Ijo. Pemimpin sekelompok orang
yang mengepung kedua orang saudara seperguruan Kiai Gumrah itupun
berkata lantang "Menyerahlah. Mungkin kalian masih dapat diampuni"
"Jika kami diampuni, apakah kami boleh pergi?" bertanya Buta Ijo.
"Itu bukan persoalanku. Itu persoalan pemimpinku" jawab pemimpin
kelompok itu. "Siapa pemimpinmu?" bertanya orang berkumis tipis.
"Itu bukan urusanmu" jawab pemimpin kelompok "sekarang menyerahlah.
Lemparkan senjata kalian. Melangkah maju perlahan-lahan" Buta Ijo
itu termangu-mangu sejenak. Tetapi kemudian ia menggamit saudara
seperguruannya sambil berdesis “Kita melangkah maju" Kedua orang
itupun melangkah maju. Mereka terhenti ketika pemimpin kelompok itu
berteriak "Lemparkan senjata kalian" Buta Ijo itu termangu-mangu.
Luwuknya yang besar masih berada disarungnya. Demikian pula senjata
orang berkumis itu. Ia membawa sepasang trisula yang masih terselip
pada ikat pinggangnya, bersilang dipunggungnya. "Perlahan-lahan
tarik senjata kalian dari sarungnya" teriak orang itu yang dengan
sengaja ingin diperdengarkan kepada orang-orang yang ada didalam
rumah itu. Sebenarnyalah bahwa para pemimpin dari kelompokkelompok
yang ada dirumah itu mendengarnya. Seorang diantara mereka berdesis
"Bodoh. Seharusnya ia tidak memerintahkan untuk mencabut senjata
dari sarungnya. Biar saja senjata itu dilemparkan bersama sarungnya"
Baru saja orang yang ada didalam rumah itu mengatupkan bibirnya,
yang dicemaskan itu sudah terjadi. Buta Ijo dan orang berkumis itu
memang menarik senjatasenjata mereka. Tetapi mereka tidak
melemparkan senjata itu. Dengan cepat mereka telah meloncat
menyerang dengan garangnya. Orang-orang yang mengepung dengan
senjata teracu itu terkejut. Mereka tidak mengira bahwa kedua orang
yang sudah dikepung itu masih berani menyerang. Namun mereka
terlambat menyadari kesalahan mereka. Buta Ijo itu memutar luwuknya
dengan cepat. Beberapa buah senjata terpelanting dari tangan
pemiliknya. Namun mereka tidak sempat berbuat sesuatu karena ayunan
luwuk itu berikut nya telah menyambar tubuh mereka. Beberapa orang
telah terpelanting jatuh. Sementara itu beberapa orang yang lain
telah berteriak kesakitan. Tajamnya trisula telah melukai beberapa
orang pula. Pertempuran tidak dapat dihindari lagi. Namun Buta Ijo
yang mempunyai kesempatan lebih dahulu tidak menyianyiakannya.
Dengan cepat orang bertubuh raksasa itu berloncatan menyerang,
sehingga lawan-lawannyapun berjatuhan. Demikian pula orang berkumis
itu. Sepasang trisulanya berputaran dikedua tangannya. Setiap kali
senjata lawannya yang sempat terjepit oleh mata trisula yang
bercabang tiga itu, tentu terhempas dari tangan. Putaran trisula itu
merupakan kekuatan yang dapat merenggut senjata lawan dengan
kekuatan yang besar. Namun kedua orang itu tidak melayani
lawan-lawannya terlalu lama. Keduanyapun kemudian sepakat untuk
bergeser dari tempatnya dan berlari ke halaman belakang. Beberapa
orang yang tersisa telah mengejar mereka berdua. Namun yang terjadi
benar-benar menggetarkan jantung. Ketika mereka melewati sudut
belakang rumah yang besar itu, maka dua orang yang berlari dipaling
belakang telah terlempar jatuh. Demikian beberapa orang berhenti,
maka dua orang lagi jatuh terpelanting sambil mengaduh kesakitan.
Lima orang yang tersisa menjadi bingung. Mereka melihat seseorang
berlari dari sudut belakang rumah itu dan menghilang di kegelapan.
Pertempuranpun telah menjalar. Dari longkangan rumah itu terdengar
suara kentongan memberikan isyarat kepada seisi rumah itu untuk
bersiap menghadapi bahaya yang ternyata telah ada dihalaman rumah
itu pula. Tetapi tiba-tiba saja suara kentongan itu terputus.
Beberapa saat tidak terdengar lagi isyarat itu. Tetapi kemudian dari
longkangan yang lain, telah terdengar lagi suara kentongan dengan
nada titir. Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya tidak
mempunyai pilihan lain. Merekapun telah bergerak bertindak. Beberapa
kelompok pengikut Kiai Windu Kusuma, orang yang disebut Panembahan,
Kiai Kajar dan orang-orang dari perguruan Susuhing Angin dan
semuanya yang ada didalam lingkungan rumah yang besar itu telah
menghambur keluar pula.' Orang-orang yang bergerak dalam
kelompok-kelompok itu memang setiap kali terkejut. Tiba-tiba saja
mereka diserang oleh orang-orang yang berloncatan dari
gerumbulgerumbul perdu. Setelah terjadi pertempuran sejenak, maka
orang itu segera berlari. Namun orang-orang yang mengejarnya,
tiba-tiba saja telah mendapat serangan dengan cepat pula. Dua tiga
orang terjatuh dengan luka-luka yang parah. Dengan demikian maka
para pengikut orang-orang yang berkumpul dirumah yang besar itu
dengan cepat menjadi susut. Tubuh mereka terbaring silang melintang
di halaman samping dan halaman belakang. Kiai Gumrah dan Ki Pandi
yang berada di halaman depan masih menunggu isyarat juragan gula
sebagaimana disepakati. Sementara itu juragan gula yang ada
disamping rumah yang besar itu, telah melibatkan diri pula. Ujung
tombak ditangannya beberapa kali telah mematuk orangorang yang
berlari-larian dan kejar-mengejar disekitarnya. Bahkan juragan gula
itu sendiri juga harus ikut berlarilarian. Akhirnya orang-orang yang
tinggal dirumah itu menyadari, bahwa orang yang datang memasuki
halaman rumah itu jumlahnya cukup banyak. Karena itu, maka sekali
lagi terdengar suara kentongan yang memberikan isyarat bahaya
tertinggi bagi mereka yang tinggal di rumah itu. “Apa yang terjadi?"
bertanya Kiai Windu Kusuma kepada seorang kepercayaannya. "Beberapa
orang telah menyerang rumah ini, Kiai" jawab orang itu. "Berapa
orang?" bertanya Kiai Windu Kusuma. "Belum dapat diketahui dengan
pasti. Tetapi rasarasanya dimana-mana ada. Mereka memakai baju lurik
hitam, celana hitam dan kain serta ikat kepala tatar ireng yang juga
kehitam-hitaman" "Apakah kalian tidak dapat menyelesaikannya?"
bertanya Kiai Windu Kusuma. "Aku cemas, bahwa tidak lama lagi
orang-orang kita sudah habis dibantai oleh mereka. Mereka
bersembunyi di balik geurmbul yang gelap..Namun kemudian tiba-tiba
saja mereka menyergap jika ada orang-orang kita yang berlarilari
dekat tempat persembunyian mereka" "Kenapa kalian berlari-lari?"
bertanya Kiai Windu Kusuma. "Kami mengejar diantara mereka yang
berlari untuk bersembunyi ditempat-tempat gelap" "Pikirkan. Bukankah
kalian yang dungu" Kiai Windu Kusuma yang marah berteriak. Orang
kepercayaannya itu tidak menjawab. Sementara itu orang yang disebut
Panembahan yang juga sudah berkumpul diruang tengah itu berkata
“Semua gerakan harus mulai diatur.” "Jangan menunggu sampai semua
orang-orangku dibantai habis. Kita semuanya harus segera bertindak"
berkata Kiai Windu Kusuma kepada orang-orang yang ada di ruang dalam
"Maksudmu?" bertanya Kiai Kajar. "Semua orang harus keluar untuk
menyongsong orangorang yang telah berani memasuki halaman rumah
ini?" jawab Kiai Windu Kusuma. "Apakah kau tidak lagi mampu
mengatasinya. Kau tuan rumah disini. Kau harus dapat mengamankan
tamutamumu" berkata pemimpin Perguruan Susuhing Angin. "Kita
mempunyai kepentingan bersama-sama. Jika orang-orangku habis
dibantai, kita akan menjadi semakin lemah. Selagi hal itu belum
terjadi, perintahkan orang-orang kalian dan bahkan kita semua untuk
keluar" "Seberapa orang yang telah memasuki halamanmu? Siapa pula
mereka?" bertanya Kiai Kajar. "Jangan berpura-pura lagi. Kita
semuanya menjadi cemas. Jika sekelompok orang berani memasuki
halaman rumahku, mereka tentu bukan orang kebanyakan" jawab Kiai
Windu Kusuma. Yang menjawab adalah orang yang nampaknya paling
berpengaruh diantara mereka. Panembahan itu. Katanya "Kita tidak
dapat berpura-pura tenang disini. Aku setuju, semua kekuatan yang
ada harus mulai bergerak. Semuanya barus mulai diatur dengan tertib.
Jika kita tidak langsung ikut campur, maka kita sendiri akan
mengalami kesulitan" Karena yang berbicara adalah orang yang sangat
berpengaruh diantara mereka, maka tidak seorangpun yang membantah.
Sementara Panembahan itu berkata "Kita harus mengetahui, siapakah
orang yang datang itu. Aku condong menduga bahwa mereka adalah Kiai
Gumrah dan kawan-kawannya. Ternyata rencana kita untuk datang,
kerumahnya telah bocor, sehingga ia lebih dahulu datang kepada kita"
"Itu tidak penting" jawab Kiai Kajar "mereka akan kita hancurkan
disini" "Kita harus menemukan orang yang telah membocorkan rahasia
ini" berkata pemimpin perguruan Susuhing Angin "Tidak perlu
sekarang" jawab Kiai Windu Kusuma "yang penting kita hadapi
orang-orang yang datang itu lebih dahulu" Orang-orang yang ada
diruang dalam itupun telah mempersiapkan diri. Sementara itu,
sebagaimana dikatakan oleh Panembahan, maka para pengikut dari
berbagai macam perguruan itupun telah diperintahkan untuk ikut serta
keluar dari bilik-bilik mereka. Karena itu, maka terdengar pula
suara kentongan dalam nada yang berbeda. Bukan sekedar
memperingatkan bahaya tertinggi bagi orang-orang yang ada didalam
rumah yang besar dan halaman yang sangat luas itu. Tetapi nadanya
menyiratkan perintah bagi semua orang untuk keluar. Kiai Gumrah dan
saudara-saudara seperguruannya tidak tahu maksud isyarat itu. Namun
bunyi kentongan itu memperingatkan kepada mereka, bahwa mereka harus
menjadi lebih berhati-hati. Sebenarnyalah sesaat kemudian,
kelompok-kelompok yang ada di rumah itu telah keluar pula. Bukan
hanya para pengikut Kiai Windu Kusuma. Namun merekapun segera
disergap oleh saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah yang
bertebaran di
halaman.
Buku 7 Tamat SEPERTI yang sudah terjadi,
maka orang-orang yang keluar kemudian itupun mengalami kesulitan
menghadapi saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah. Mereka
seakanakan muncui begitu saja dari kegelapan, menyerang dengan
garangnya. Sebelum mereka menemukan orang yang menghilang itu, maka
dari.arah lain telah meloncat bayangan, yang lain menyerang dengan
cepat. Senjatanya menebas orang-orang terdekat. Tetapi sebelum yang
lain mampu berbuat banyak, maka orang itupun telah meninggalkan
mereka. Dua tiga orang yang mengejar» tibatiba saja harus menghadapi
orang lain yang menyerang dari arah yang lain pula. Demikianlah
halaman rumah itu menjadi bagaikan diaduk oleh saudara-saudara
seperguruan Kiai Gumrah. Namun saudara-saudara seperguruan Kiai
Gumrah itu telah mengalami kesulitan untuk mengendalikan diri agar
ujungujung senjata, mereka tidak membunuh lawan-lawan mereka.
Tetapi-mereka memang tidak mempunyai pilihan lain. Dalam keadaan
yang gawat, maka sikap merekapun telah terpengaruh pula, karena
mereka tentu tidak ingin membiarkan diri mereka sendiri yang harus
jatuh menjadi korban. Dalam kekalutan itu, maka beberapa orang
pemimpin yang ada diruang dalam telah keluar pula. Mereka menuju ke
tempat yang berbeda. Namun mereka kemudian telah meneriakkan
perintah agar para pengikut mereka semuanya mengepung halaman rumah
itu dimulai dengan melekatkan punggung mereka pada dinding halaman
dan menggiring orang-orang yang memasuki halaman itu ke halaman yang
terbuka disisi sebelah kiri rumah yang besar itu. "Kita akan
membantai mereka disana" teriak para pemimpin itu. Para pengikutnya
itupun mulai menyadari kebodohan mereka. Karena itu, maka merekapun
segera bergerak kedinding halaman. Berdiri berjajar pada jarak yang
sama. Kemudian dengan aba-aba yang diteriakkan oleh Kiai Windu
Kusuma dari serambi samping yang kemudian disambung sahut-menyahut,
mereka bergerak maju. Saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah yang
ada di halaman itu mengerti apa yang mereka hadapi. Mereka melihat
orang-orang yang berlari-larian menebar mengelilingi halaman rumah
itu, Merekapun sadar, bahwa orang-orang itu akan menyisir seluruh
halaman untuk menemukah orang-orang yang bersembunyi di halaman
rumah itu. Karena itu, maka mereka tidak menemukan pilinan lain.
Mereka harus menghadapi orang-orang yang menebar itu. Namun
sebenarnyalah bahwa orang-orang dari beberapa perguruan yang
berkumpul di tempat itu menjadi berdebardebar. Mereka melihat
beberapa orang pengikut Kiai Windu Kusuma yang telah menjadi korban.
Bahkan kawankawan mereka yang baru saja keluar dari dalam rumah
itupuri telah banyak yang menjadi korban pula. Karena itu, ketika
aba-aba Kiai Windu Kusuma yang disambung sahut menyahut telah
menggetarkan seluruh halaman, maka orang-orang yang mengepung
halaman itu mulai melangkah maju dengan senjata yang merunduk.
Setiap saat mereka siap untuk menghujamkan senjata mereka. Tetapi
kebun belakang dari rumah yang besar itu cukup gelap oleh pepohonan
dan gerumbul-gerumbul perdu. Dengan demikian maka orang-orang yang
berjalan menyisir halaman itu tidak segera melihat, dimana lawan
mereka bersembunyi. Namun ada beberapa orang saudara seperguruan
Kiai Gumrah yang mempunyai cara yang sama untuk menghindar meskipun
mereka tidak saling bicara lebih dulu. Tiga orang diantara mereka
telah memanjat pohon yang cukup besar di kebun belakang rumah yang
besar itu. Ternyata gelap malam dan gerumbul-gerumbul perdu cukup
melindungi mereka dari orang-orang yang berjajar melangkah maju
dengan senjata yang merunduk itu. Mereka sama sekali tidak melihat
bahwa ada orang-orang yang sedang melekat pada dahan pepohonan.
Tetapi beberapa orang yang lain tidak dapat menghindar lagi. Mereka
benar-benar telah digiring ke halaman samping yang terbuka.
Sementara beberapa orang pemimpin dari berbagai perguruan telah
berada di tempat itu pula. Namun dalam pada itu, juragan gula itupun
menyadari bahwa keadaan sudah semakin gawat. Karena itu, maka semua
kekuatan harus dikerahkan. Sehingga dengan demikian, maka juragan
gula itu menganggap bahwa sudah sampai saatnya pintu gerbang halaman
rumah itu dibuka dan membiarkan cucu-cucu Kiai Gumrah yang membawa
songsong itu masuk kehalaman. Dengan demikian, maka mereka akan
dapat memancing perhatian para pemimpin yang sedang menunggu di
halaman samping, sementara orang-orangnya berusaha
menggiring-saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah yang ada di
halaman. Karena itu, maka sejenak kemudian terdengar suitan nyaring.
Suaranya menggetarkan udara di seluruh halaman yang luas itu.
Suaranya bukan sekedar bunyi, yang nyaring. Tetapi getarannya telah
menerpa isi dada orang-orang yang mendengarnya Orang-orang yang
datang dari berbegai perguruan itu memang terkejut mendengar suitan
nyaring itu Rasarasanya dada mereka telah dihentak oleh kekuatan
yang sangat besar. Dengan demikian, maka mereka harus mengerahkan
daya tahan mereka untuk menjaga agar mereka tidak mengalami
kesulitan pada bagian dalam tubuh mereka. Narnun suitan itu bagi
Kiai Gumrah merupakan isyarat. Ia harus membuka pintu gerbang
halaman rumah itu. Tetapi sebelum Kiai Gumrah yang membawa sebatang
tombak itu beranjak, maka Ki Pandipun berdesis "Biarlah aku saja
yang membuka.” Ki Pandi yang bongkok itulah yang kemudian berlari ke
pintu gerbang: Dua orang penjaga, pintu gerbang itu memang sedang
kebingungan. Mereka tidak tahu pasti, apa yang terjadi. Mereka hanya
mendengar isyarat pertanda bahaya. Bahkan kemudian perintah bagi
semua orang yang ada di rumah yang besar itu. Bahkan ia mendengar
para pemimpinnya berteriak memberikan aba-aba. Ketika mereka melihat
orang bongkok berlari-lari menuju pintu gerbang, merekapun segera
bersiaga. Demikian Ki Pandi itu mendekat, maka kedua orang itu
dengan serta-merta telah menyerangnya. Namun mereka tidak tahu apa
yang telah terjadi. Tibatiba saja mereka terpelanting jatuh. Kepala
mereka seakanakan telah dibenturkan ditanah. Pandangan mata
merekapun menjadi gelap. Senjatasenjata mereka terlempar tanpa
mereka ketahui dimana senjata-senjata itu terjatuh. Ternyata kedua
orang itupun menjadi pingsan karenanya. Karena itulah, maka Ki
Pandipun dengan cepat mengangkat selarak dan membuka pintu gerbang
itu. Tetapi ternyata beberapa orang yang sedang sibuk di halaman
samping dan belakang itupun melihat apa yang terjadi. Karena itu,
maka beberapa orang telah berlari-lari menuju ke pintu gerbang
halaman depan. Halaman yang terbuka, yang dikira tidak menjadi
tempat persembunyian orang-orang yang memasuki halaman rumah yang
besai itu. Karena itu, maka halaman depan rumah itu agak luput dari
perhatian penghuni rumah itu. Bahkan merekapun tidak ingin
menyelesaikan pertempuran itu di halaman depan. Tetapi di halaman
samping yang juga terbuka, yang tidak mendapat pemeliharaan
sebagaimana halaman depan yang diatur dengan rapi dan ditanami
dengan beberapa pohon bunga diantara tebaran rumput yang hijau.
Tetapi meskipun pohon bunga itu terhitung jarang, namun dapat juga
dipergunakan untuk bersembunyi Kiai Gumrah dan Ki Pandi. Pintu
gerbang yang terbuka itu memang merupakan isyarat bagi kelima orang
yang membawa songsong yang disimpan dengan baik oleh Kiai Gumrah
atas nama perguruannya. Karena itu, maka demikian mereka melihat
pintu itu terbuka, merekapun segera berlari memasuki pintu gerbang
itu. Namun, demikian mereka masuk, maka mereka segera melihat Ki
Pandi tengah menghalau beberapa orang yang menyerangnya. Kehadiran
kelima orang itu memang mengejutkan. Apalagi seorang diantara mereka
membawa sebuah songsong yang terbungkus, namun yang masih dapat
dilihat kilatan warna kuning keemasan jika kain yang membungkusnya
itu tersingkap. Demikian mereka berada di halaman, maka Winih lah
yang telah menarik baju lurik yang dipergunakan menutupi payung itu.
Tutup itu sudah tidak ada artinya lagi, justru payung itu sengaja
ditunjukkan untuk menarik perhatian orang-orang terpenting yang ada
di rumah itu. Sebenarnyalah beberapa orang yang berlari-larian ke
halaman depan memang mengejutkan para pemimpin yang sudah berada di
serambi menghadap ke halaman samping yang terbuka untuk menunggu
orang-orang yang akan digiring ke halaman itu Apalagi ketika seorang
diantara mereka berteriak "Mereka berada di halaman depan Lihat,
songsong itu." Beberapa orang pemimpin yang ada di rumah itu memang
segera tertarik untuk menyaksikannya. Karena itu, maka merekapun
segera bergeser melingkari serambi rumah itu. Sebenarnyalah mereka
melihat songsong kuning gemerlapan memantulkan cahaya oncor yang ada
di sudutsudut halaman dan bahkan di serambi depan. Songsong kuning
keemasan yang dilingkari warna hijau ditengahnya. Melihat songsong
itu, maka Kiai Kajar telah menggeram "Mereka telah mengantarkannya
sendiri. Aku harus berterimakasih kepada mereka." "Mereka
benar-benar sombong" desis Kiai Windu Kusuma "Tetapi mereka tentu
akan menyesal." Disebelah mereka orang yang disebut Panembahan itu
berkata "Aku akan mengambilnya. Juga tombak-tombak yang tentu mereka
bawa kemari” Kiai Kajar mengerutkan dahinya. Tetapi ia tidak
mengatakan sesuatu. Sementara Susuhing Angin justru telah melangkah
mendekati sekelompok orang yang membawa dan melindungi songsong itu.
Tetapi ternyata bukan hanya mereka. Beberapa orang yang lainpun
telah mengikutinya pala. Sementara itu di halaman belakang telah
terjadi keributan. Pertempuran tidak dapat dihindarkan lagi.
Beberapa orang saudara seperguruan Kiai Gumrah tidak mampu
bersembunyi lebin lama ketika orang-orang yang mengepung halaman itu
bergerak menyisir kebun menggiring mereka ke halaman samping. Tetapi
orang-orang dari beberapa perguruan yang berkumpul di rumah itu
menjadi berdebar-debar. Ternyata mereka harus bertempur dengan
orang-orang berilmu tinggi. Meskipun jumlah mereka jauh lebih
banyak. Namun sulit bagi mereka untuk dapat bertahan. Dalam
kekalutan pertempuran itu, maka saudarasaudara seperguruan Kiai
Gumrah yang memanjat pohon telah berloncatan turun. Mereka justru
telah berada di belakang kepungan. Ketika mereka menyerang dari
belakang, maka orang-orang yang berusaha menggiring saudara-saudara
seperguruan Kiai Gumrah itu terkejut. Sehingga dengan demikian maka
kepungan merekapun telah terkoyak. Sementara itu, beberapa orang
saudara seperguruan Kiai Gumrah yang sudah berada di longkangan
dalam serta bahkan memasuki pintu butulan, terkejut ketika mendengar
jerit beberapa orang perempuan. Ternyata mereka telah tersesat
memasuki satu ruang yang berisi beberapa perempuan yang beberapa
diantaranya sedang mabuk. Ketika kawannya menjerit ketakutan melihat
kehadiran saudara seperguruan Kiai Gumrah, perempuan yang mabuk itu
justru tertawa berkepanjangan. Saudara seperguruan Kiai Gumrah itu
telah keluar lagi dari ruangan itu. Dengan hati-hati seorang
diantaranya menyusup ke ruang yang lain. Namun rumah itu seakanakan
telah menjadi kosong. Bahkan ketika ia memasuki ruang tengah, maka
yang dijumpainya adalah Buta Ijo yang juga sedang termangu-mangu.
"Mereka telah pergi keluar" desis Buta Ijo. Keduanyapun kemudian
telah memasuki ruanganruangan yang lain dan mencari jalan untuk
menuju ke pintu pringgitan. Ternyata pintu pringgitan meskipun sudah
ditutup, tetapi tidak diselarak. Dengan demikian mereka membuka
pintu, maka mereka melihat apa yang terjadi di halaman depan yang
terbuka. Sejenak kedua orang saudara seperguruan Kiai Gumrah yang
ada di pringgitan itu menjadi tegang. Mereka melihat beberapa orang
yang tentu berilmu tinggi sedang melintasi halaman depan. "Tentu
mereka para pemimpin dari perguruan-perguruan yang berkumpul disini"
desis Buta Ijo. "Apa yang kita lakukan sekarang?" bertanya pada
kawannya. “Aku ingin beristirahat disini" berkata Buta Ijo. "Gila.
Kau biarkan saudara-saudara kita bertempur sementara Kau akan tidur
di laicak itu?" geram kawannya. "Aku sudah bertempur. Kiai Gumrah
tentu sejak tadi bersembunyi disana." jawab Buta Ijo. "Tetapi bukan
karena Kiai Gumrah malas. Bukankah menurut kesepakatan kita, Kiai
Gumrah memang harus menunggu di halaman depan sehinga terdengar
isyarat untuk membuka pintu gerbang?" Buta Ijo tidak menjawab.
Tetapi ia melangkah melintasi pendapa menuju ke tangga yang
menghadap ke halaman depan. Saudara seperguruannya itupun telah
mengikutinya pula dibelakangnya. Sesaat mereka berdua berdiri
termangu-mangu di pendapa. Namun mereka kemudian mendengar keributan
terjadi di halaman samping yang terbuka. "Apa yang terjadi?" Desis
Buta Ijo. "Pertempuran di halaman samping." jawab saudara
seperguruannya itu. Buta Ijo Itu termangu-mangu. Namun sambil
memandang ke halaman depan ia bertanya "Kita akan pergi kemana?"
"Kita turun, ke halaman depan. Nampaknya orang-orang berilmu tinggi
itu akan berkumpul disana, justru setelah payung itu dibawa masuk.
Bukankan Kiai Gumrah sengaja memancing para pemimpin dari berbagai
perguruan itu untuk datang kesana?" "Apakah saudara-saudara kita
tidak akan mengalami kesulitan melawan orang-orang yang terlalu
banyak itu.? “ "Mudah-mudahan tidak. Namun yang harus tampil ke
halaman itu adalah Ki Prawara dan isterinya, juragan gula yang kikir
itu dan Kiai Gumrah sendiri. Bukankan pusakapusaka itu ditangan
mereka?" "Tetapi juragan gula itu tidak kikir" jawab Buta Ijo
"Menurut pendapat ku, ia tidak pernah menunda pembayaran gula yang
diserahkan kepadanya ." "Tetapi ia membeli dengan harga murah dan
menjual dengan harga mahal." "Itu termasuk satu keahlian" jawab Buta
Ijo. Namun saudara seperguruannya berdesis "Mereka hampir mulai.
Kita tidak bisa berlama-lama disini." Buta Ijo itu termangu-mangu
sejenak. Dahinya nampak berkerut. Ia belum melihat juragan gula, Ki
Prawara dan isterinya di halaman depan, sementara para pemimpin dari
perguruan-perguruan yang ada di rumah itu sudah mendekati mereka
yang membawa songsong setelah mereka memasuki regol halaman yang
telah terbuka. Dalam pada itu. orang yang disebut Panembahan yang
ada diantara mereka yang mendekati songsong sudah berada di halaman
itu tidak segera melihat orang bongkok yang nampaknya dengan sengaja
berdiri dibelakang sekelompok orang yang membawa dan yang harus
melindungi songsong itu. Beberapa langkah kemudian orang-orang
berilmu tinggi itu berhenti. Panembahan, orang yang paling
berpengaruh diantara para pemimpin perguruan yang ada di rumah
itulah yang bertanya "Siapakah yang memerintahkan kalian datang
untuk menyerahkan songsong itu kemari ?” Yang menjawab adalah salah
seorang saudara seperguruan Kiai Gumrah "Kami datang tidak untuk
menyerahkan songsong ini. Kami datang karena kami tidak.dapat
menahan, diri lagi oleh tingkah laku kalian yang sangat menyakitkan
itu. Bagi kami, lebih baik kami datang kemari untuk membuat
penyelesaian tuntas daripada kami harus selalu menunggu dengan
gelisah, karena kalian ingin merebut pusaka-pusaka kami." "Siapakah
kau ?"bertanya Panembahan.- "Aku bukan siapa-siapa. Bertanyalah
kepada Kiai Kajar." Panembahan itu memang berpaling kepada Kiai
Kajar. Sementara Kiai Kajar melangkah maju sambil berdesis "Kau
cucurut kecil. Dimana Gumrah. Aku ingin membuat penyelesaian tuntas.
Akulah yang berwenang menyimpan pusaka-pusaka itu. Bukan Gumrah."
Namun para pemimpin perguruan yang berkumpul di rumah itu terkejut
ketika mendengar jawaban dari balik segerumbul pohon soka yang
sedang berbunga itu. Kiai Gumrahlah yang kemudian melangkah mendekat
dengan membawa tombak pusakanya sambil berkata "Sudah lama aku
menunggu kesempatan untuk bertemu denganmu Kiai Kajar." "Gumrah"
gumam Kiai Kajar. "Aku ingin mengucapkan terimakasih, bahwa kau
sempat memberitahukan kepadaku lewat salah seorang pengikutmu bahwa
besok rumahku akan didatangi oleh Kiai Windu Kusuma dan orang-orang
berilmu tinggi yang lain." "Setan" geram pemimpin perguruan Susuhing
Angin "Jadi kaukah yang telah berkhianat." Wajah-wajah itu memang
menjadi tegang. Namun Panembahan itu tertawa. Katanya "Kau percaya
akan katakatanya. Satu usaha untuk membuat kita saling curiga."
"Tetapi bukankah masuk akal bila Kiai Kajar berkhianat? Bukankah ia
berasal dari perguruan yang sama dengan orang-orang yang menyimpan
pusaka-pusaka itu." jawab pemimpin perguruan Susuhing Angin. "Kau
memang gila" geram Kiai Kajar "itu adalah salah satu sifat licik
Kiai Gumrah. Aku memang mengenal orang itu sejak lama. Aku memang
saudara seperguruannya. Karena itu aku tahu, bagaimana ia berusaha
membenturkan kekuatan kita masing-masing." Tetapi Kiai Gumrah
tertawa. Katanya "Maaf Kiai Kajar. Aku terlalu tergesa-gesa
mengucapkan terimakasih kepadamu. Meskipun aku tahu bahwa
pemberitahuanmu itu termasuk usahamu untuk menjebak aku." "Diam"
bentak Kiai Kajar "tetapi apapun yang sudah kau katakan, sekarang
kau datang membawa pusaka-pusaka itu. Jadi kau ingin menyerahkannya,
serahkan segera sebelum terjadi sesuatu." "Kau tentu tahu bahwa
bukan itu maksudku" jawab Kiai Gumrah "aku datang justru untuk
mempertahankannya." "Cukup. Itu satu permainan yang buruk. Kami
tidak akan membiarkan pengkhianatan itu terjadi. Dibelakang,
orang-orang kami sudah banyak yang menjadi korban." teriak pemimpin
perguruan Susuhing Angin. "Bukan hanya terlalu banyak" Kiai Gumrah
menyahut "pada saatnya nanti, maka semua orang yang tidak menyerah
akan mati. Termasuk kalian." "Aku tidak akan membiarkan
pengkhianatan ini" pemimpin perguruan Susuhing Angin itu masih
berteriak. Namun Panembahan itulah yang menjawab lantang. Suaranya
tiba-tiba saja telah menggelegar menggetarkan setiap jantung “Hanya
orang dungu yang percaya igauan Kiai Gumrah. Aku tidak percaya. Aku
tidak pernah menganggap Kiai Kajar berkhianat kepada kita." Pemimpin
perguruan Susuhing Angin itu termangumangu sejenak. Namun ia
menyadari, bahwa Panembahan itu sudah marah. Karena itu, maka ia
tidak menyahut lagi. Baru kemudian dengan lantang Panembahan itu
berbicara, sementara getaran suaranya masih saja memukul isi dada
"Sekarang, tugas kita menyelesaikan mereka. Aku justru merasa
bersyukur bahwa mereka telah datang untuk menyerahkan pusaka-pusaka
itu. Purnama tinggal beberapa hari lagi. Tetapi disini banyak
terdapat jantung segar yang masih ada dalam dada. Karena itu, maka
aku akan mencuci tombak itu dengan darah yang masih mengalir di
jantung yang masih tergantung pada tangkainya.” Tetapi Kiai
Gumrahpun bertanya "Darimana kau tahu bahwa sebelum purnama tombak
ini harus dicuci dengan darah yang masih mengalir di dalam jantung."
"Pertanyaanmu aneh Kiai. Seharusnya kau tahu akan hal itu Kiai Kajar
juga mengetahuinya. Semua orangpun juga mengetahuinya." jawab
Panembahan. "Tetapi justru aku tidak mengetahuinya. Bagiku tombak
ini adalah tombak sewajarnya. Tetapi karena landeannya dibuat dari
bahan yang mahal, serta riwayat dari tombak ini yang mempunyai arti
khusus bagi perguruan kami, maka kami akan mempertahankannya dengan
segala kemampuan yang ada pada kami." Panembahan itu tertawa.
Katanya "Betapa dungunya kau Kiai. Kau sia-siakan tuah yang ada di
dalam tombak itu. Karena itu serahkan tombak itu kepadaku." “Aku
juga berhak atas tombak itu." geram Kiai Kajar. Kiai Gunirah tertawa
pula. Katanya “Aku tahu bahwa kita yang berada disini akan saling
memperebutkan tiga batang tombak yang disimpan oleh perguruan kami
serta songsong yang kuning keemasan itu. Yang penting bagi kalian,
apakah tuah pusaka-pusaka itu atau emas dan permata yang terdapat
pada pusaka-pusaka itu ? Atau barangkali keduanya-duanya “ "Persetan
Gumrah" teriak Kiai Kajar "serahkan tombak itu kepada kami” "Dan
kalian akan berkelahi memperebutkannya ?" bertanya Kiai Gumrah. "Ada
ampat batang pusaka yang akan kami ambil dari kalian" berkata Kiai
Windu Kusuma "persoalan diantara kami kemudian, bukan urusanmu.
Tetapi kau tidak akan dapat membenturkan kepentingan kami satu
dengan yang lain. Usahamu untuk mengadu domba itu tidak akan
berarti." "Sangat menarik" jawab Kiai Gumrah "tetapi baiklah.
Meskipun aku tidak sependapat dengan pendapat kalian bahwa pusaka
itu harus dicuci dengan darah yang masih mengalir di jantung, namun
jika kalian memaksanya, maka benar-benar aku akan melakukannya,
mencuci tombak ini." Panembahan itulah yang tertawa. Katanya "Kau
kira kau merasa seorang yang mumpuni dalam ilmu kanuragan ? Baiklah.
Kita akan membuktikannya apakah aku mampu mempertahankan dalan waktu
yang singkat. Ingat, aku akan mengambilnya. Jantungmu menurut
pendapatku adalah jantung yang paling baik untuk mencucinya." Namun
Panembahan itu terkejut. Ia melihat seseorang yang ada dibelakang
mereka yang membawa dan siap melindungi songsong itu bergerak dan
melangkah maju sambil berkata "Tidak semudah itu Lebdagati."
Panembahan itu mengerutkan dahinya. Dipandanginya orang itu
tajam-tajam. Namun kemudian ia menggeram "Kau bongkok buruk. Aku
sudah mengira bahwa kau.akan melibatkan diri. Ceritera tentang
harimau jadi-jadian itu telah memastikan, bahwa kau akan hadir dalam
persoalan ini." “Aku menunggumu, Panembahan Lebdagati. Sejak kau
lolos dari tanganku di sarangmu itu, maka aku telah mengembara untuk
dapat menemukanmu." "Seharusnya kau menyadari keadaan dirimu. Kau
bongkok, buruk dan dungu. Untuk apa kau mencari-cari aku, sementara
kau tidak mampu berbuat apa-apa atasku?" bertanya Panembahan.
"Sekarang kita buktikan, apakah kau dapat berbuat apaapa atau
tidak." jawab Ki Pandi. Wajah Panembahan itu menjadi tegang.
Sekali-sekali dipandanginya Kiai Gumrah yang membawa satu diantara
tombak-tombak pusaka yang dicarinya. Namun ia sadar bahwa ia tidak
dapat mengabaikan kehadiran orang bongkok itu. Karena itu, maka
iapun berkata kepada kawankawannya "Jaga agar tombak dan songsong
itu tidak lolos. Setidak-tidaknya yang ada di halaman ini. Biarlah
aku menyelesaikan orang bongkok ini lebih dahulu." Orang bongkok itu
memang bergeser menjauhi mereka yang membawa songsong, iapun segera
mempersiapkan diri menghadapi Panembahan itu sambil berkata "Marilah
Panembahan. Aku ingin agar persoalan yang ada diantara kita segera
tuntas." Panembahan itu tidak dapat berbuat lain. Ia sadar, orang
bongkok itupun mempunyai ilmu yang sangat tinggi. Ia dapat berbuat
apa saja sebagaimana yang dapat dilakukannya. Karena itu, maka
Panembahan itupun harus berhati-hati menghadapinya Demikian
Panembahan itu bergeser, maka Kiai Kajarlah yang serta merta
menghadapi Kiai Gumrah. Dua orang saudara seperguruan yang memiliki
kelebihan diantara saudara-saudaranya yang lain. Ketika Kiai Windu
Kusuma dan pemimpin dari perguruan Susuhing Angin itu akan bergerak,
maka dua orang saudara seperguruan Kiai Gumrah yang memang
ditugaskan untuk melindungi songsong itupun bergerak pula. Namun
mereka tertegun ketika dari halaman samping telah muncul dua orang
suami isteri. Seorang diantaranya membawa tombak pula. Ki Prawara
dan Nyi Prawara. Tetapi ternyata Ki Prawara dan Nyi Prawara tidak
sempat mendekat. Dua orang diantara mereka yang menyertai para
pemimpin mereka itupun telah menyongsong suami isteri itu. Seorang
diantara keduanya adalah murid terpercaya dari perguruan Susuhing
Angin. Seorang yang bertubuh tinggi besar. Berkumis lebat, namun
berkepala botak. Ia tidak mengenakan ikat kepalanya dengan baik.
Bahkan dengan sengaja menunjukkan kepalanya yang botak itu.
Sedangkan yang seorang lagi adalah seorang kepercayaan Kiai Windu
Kusuma. Ki Prawara dan Nyi Prawarapun berhenti untuk menanti kedua
orang itu. Demikian kedua orang itu mendekat, maka kepercayaan Kiai
Windu Kusuma itu menggeram "Setan. Ternyata seorang diantaranya
seorang perempuan." Orang bertubuh tinggi besar itupun mengumpat.
Katanya "Kalian menghina kami. Tetapi kalian akan menyesal sampai
tujuh turunan. Aku memang memerlukan seorang perempuan.
Perempuan-perempuan pemabuk itu sangat menjemukan bagiku." Wajah Nyi
Prawara menjadi merah. Tetapi iapun segera bergeser sambil berkata
"Katakan apa yang akan kau katakan, karena kesempatanmu akan segera
berakhir. Nanti kau tidak akan dapat mengatakan apapun juga setelah
nyawamu lepas dari tubuhmu." Orang bertubuh raksasa itu
membelalakkan matanya. Tetapi iapun kemudian tertawa "Jarang aku
temui perempuan yang garang seperti perempuan ini. Tetapi justru
karena itu, maka ia adalah perempuan langka yang banyak dicari." Nyi
Prawara tidak dapat menahan gejolak perasaannya lagi. Kemarahannya
telah membakar jantungnya dan membuat darahnya mendidih karenanya.
Karena itu, maka dengan serta-merta Nyi Prawara itupun telah
meloncat menyerang. Serangan yang tak diduga sama sekali oleh orang
yang bertubuh raksasa itu. Karena itu, maka ia tak sempat mengelak
lagi. Ketika kaki Nyi Prawara yang mengenakan pakaian khususnya
terjulur lurus kearah dada, maka orang yang bertubuh tinggi besar
itupun hanya sempat memiringkan tubuhnya sambil melindungi dadanya
dengan sikunya. Namun ternyata bahwa tenaga serangan Nyi Prawarapun
tidak terduga pula. Dengan kekuatan tenaga dalamnya, maka serangan
itu benar-benar telah mengguncang tubuh lawannya itu. Orang yang
bertubuh raksasa itu ternyata telah terdorong surut. Namun ia masih
mampu mempertahankan keseimbangannya sehingga raksasa itu tidak
terjatuh. Namun bahwa serangan perempuan itu sempat mengguncang
tubuhnya, maka raksasa itu benar-benar merasa tersinggung. Sambil
menggeram orang itu telah mempersiapkan dirinya. Tangannya
mengembang siap untuk menangkap dan meremas tubuh Nyi Prawara yang
jauh lebih kecil dari tubuh raksasa itu. Namun sebelum ia bergerak,
terdengar suara tertawa berkepanjangan. Seorang yang juga bertubuh
tinggi besar melangkah mendekat sambil berkata “He, ternyata dilihat
dari ukuran tubuh, agaknya kita akan dapat menjadi lawan yang
seimbang.” Raksasa yang siap meremas tubuh Nyi Prawara itu
termangu-mangu. Dilihatnya dua orang yang datang mendekat. Seorang
diantaranya adalah orang yang bertubuh tinggi besar, sebagaimana
dirinya sendiri. Nyi Prawara yang juga berpaling itupun berkata
"Menyingkirlah Buta Ijo. Apa kau kira aku tidak dapat melawannya."
“Tidak. Bukan itu Nyi" Berkata Buta Ijo "Jika aku melawannya,
agaknya akan menjadi tontonan yang menarik. Dua orang raksasa
berkelahi, He, Nyi. Masih ada banyak lawan yang bakal datang kemari.
Dihalaman samping itu mengalir orang-orang yang jumlahnya cukup
banyak." "Aku tidak peduli mereka. Aku ingin melawan raksasa dungu
ini. Carilah lawan yang lain." "Ia sudah merendahkan martabatku
sebagai seorang perempuan." berkata Nyi Prawara. Buta Ijo itu
mengangguk angguk kecil. Ia memang mendengar kata-kata tajam yang
menusuk perasaan Nyi Prawara. Karena maka katanya "Baiklah. Ia
memang menghinamu. Tetapi biarlah aku bermain-main dengan yang
seorang lagi.” "Serahkan itu kepadaku." barkata Nyi Prawara.
"Nampaknya kau ditunggu didekat pintu gerbang itu." berkata Buta
ljo. Ki Prawara memperhatikan pertempuran yaug sudah terjadi di
dekat pintu gerbang. Ternyata ada beberapa orang yang harus
bertempur melawan dua bahkan tiga orang. Karena itu, maka Ki Prawara
yang membawa satu diantara tombak-tombak pusaka itupun segera
meloncat kearah pintu gerbang sambil berkata "Selesaikan raksasa
dungu itu, Nyi” Nyi Prawara tidak menjawab. Tetapi iapun segera
beringsut untuk menghadapi raksasa yang telah merendahkan
martabatnya itu. Buta Ijo itulah yang kemudian termangu-mangu,
sementara kawannya lebih dahulu telah berhadapan dengan kawan
raksasa yang bertempur melawan Nyi Prawara itu. Untuk sementara Buta
Ijo justru kebingungan. Namun kemudian ia telah melihat pertempuran
di dihalaman sebelah kiri yang terbuka telah bergeser pula. Beberapa
kawan Buta Ijo itu memang terdesak. Lawan mereka masih terlalu
banyak. Buta Ijo itu menarik nafas dalam-dalam. Ia sama sekali tidak
gentar menghadapi lawan yang berapapun jumlahnya. Tetapi ia menjadi
ngeri melihat tubuh yang silang melintang dimana-mana. Tetapi Buta
Ijo itupun menyadari, tanpa berbuat demikian, maka justru
saudara-saudara seperguruannya-lah yang akan terbaring diam di
halaman dan dikebun yang luas itu. "Pertempuran yang gila” desis
Buta Ijo itu. Namun Buta Ijo itu tidak dapat berdiam diri. lapun
segera berlari dan bergabung dengan saudara-saudara seperguruannya
yang harus bertempur melawan kelompokkelompok orang yang datang dari
beberapa perguruan itu. Pertempuran itu dilihat dari jumlahnya
memang tidak seimbang. Tetapi saudara-saudara seperguruan Buta Ijo
itu memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari orang-orang yang
datang dari beberapa perguruan itu. Pemimpinpemimpin mereka yang
berilmu tinggi ternyata telah berkumpul didekat pintu gerbang karena
mereka memang terpancing oleh songsong yang berwarna kuning keemasan
itu, sebagaimana diinginkan oleh Kiai Gumrah. Karena itu, maka
dengan kemampuan yang tinggi, serta kerja sama yang sangat baik,
saudara-saudara seperguruan Buta Ijo itu mampu mengacaukan lawan
mereka yang jumlahnya jauh lebih banyak itu. Satu-satu orang-orang
dari beberapa perguruan itu jatuh dan tidak mampu bangun lagi.
Meskipun saudara-saudara seperguruan Buta Ijo itu bukan pembunuh
yang tidak berjantung, tetapi dalam keadaan itu, mereka akan sangat
sulit untuk mengekang ujung senjata mereka. Tanpa niat untuk
membunuh, maka beberapa lawan-pun telah terbunuh, sementara yang
lain terluka parah. Dalam pertempuran yang kalut itu, maka Buta
Ijopun segera berbaur dengan saudara-saudara seperguruannya yang
jumlahnya tidak begitu banyak itu. Namun dengan gerak yang cepat
dalam garis perlawanan yang tidak menentu, maka lawan-lawan mereka
memang menjadi bingung. Bahkan masih ada saudara-saudara seperguruan
Buta Ijó itu yang menyerang, namun kemudian berloncatan menjauh,
sementara orang lain telah berlari sambil menyambar dengan
senjatanya. Dalam pada itu. para pemimpin dari beberapa perguruan
serta pengawal-pengawal terbaik mereka telah bertempur pula didekat
pintu gerbang. Seorang Putut kepercayaan Kiai Windu Kusuma yang
berusaha langsung meraih songsong yang dibawa oleh Laksana harus
berhadapan dengan Winih. Putut memang terkejut ketika lawan yang
dihadapinya itu seorang perempuan yang masih terlalu muda. "Kenapa
kau ikut memasuki halaman rumah ini ? Apakah kau tidak tahu, bahwa
halaman ini akan menjadi neraka bagi mereka yang telah berani
memasukinya?" bertanya Putut itu. Sambil memutar rantainya Winih
menjawab "Aku memang sudah berniat melakukannya. Nah bersiaplah.
Kita akan bertempur." "Siapa namamu?" bertanya Putut itu. Ternyata
Winih tidak, merahasiakan namanya. Karena itu, maka iapun menjawab
"Namaku Winih." "Winih. Kaukah yang sering disebut-sebut oleh
Darpati?” "Mungkin" jawab Winih "sayang, bahwa aku harus membunuhnya
ketika ia berniat menjadikan aku barang taruhan.” "Kau telah
membunuh Darpati?" bertanya Putut itu. "Ya. Aku terpaksa
melakukannya" jawab Winih. Putut itu tertawa. Katanya "Jangan
mengigau. Darpati adalah anak muda berilmu tinggi. Ia memang
terbunuh. Tetapi tentu bukan kau yang membunuhnya." "Percaya atau
tidak, itu bukan persoalanku. Sekarang kita akan bertempur.
Bersiaplah." Putut itu termangu-mangu sejenak. Namun perempuan a itu
nampak yakin akan dirinya sendiri, sehingga karena maka Putut itu
harus berhati-hati menghadapinya. Winih yang sudah memutar rantainya
tidak menunggu lebih lama lagi. Ialah yang telah mendahului
menyerang Putut yang bersenjata pedang itu. Dengan loncatanloncatan
yang cepat. Winih berusaha untuk menembus pertahanan Putut itu.
Tetapi Putut juga mempunyai bekal yang cukup untuk menghadapi Winih.
Dengan tangkas Putut itu mengimbangi kecepatan gerak Winih.
Demikianlah, maka sejenak kemudian keduanya celah terlibat dalam
pertempuran yang sengit. Mereka saling menyerang dan menghindar.
Beberapa kali Winih berhasil mendorong lawannya berloncatan surut.
Tetapi kemudian Winih-lah yang harus melangkah mundur karena
serangan lawannya yang datang beruntun. Namun Putut itu menjadi
semakin tegang ketika ternyata perempuan itu memang tidak dapat
segera ditundukkan. . Bahkan ia mulai mempercayainya, bahwa
perempuan muda itu telah berhasil mempertahankan dirinya terhadap
Darpati, meskipun mungkin ia tidak sendiri. . Tetapi semakin lama
Putut itu menjadi semakin gelisah. Winih ternyata benar-benar
memiliki ilmu yang tinggi! Menilik ujudnya, perempuan itu tentu
masih sangat muda. Namun adalah diluar dugaannya, bahwa perempuan
muda itu benar-benar telah mampu mendesaknya. Putut itu tahu benar
bahwa Darpati termasuk seorang yang berilmu tinggi. Tetapi jika
benar perempuan muda itu dapat membunuhnya, maka perempuan yang
bernama Winih itu adalah perempuan yang sangat berbahaya. Dalam pada
itu, pertempuran didekat pintu gerbang itupun menjadi semakin
sengit. Beberapa orang telah langsung terlibat. Demikian pula
juragan gula itupun telah berada didekat pintu itu pula. Dengan
demikian tiga buah tombak pusaka dan sebuah songsong telah terkumpul
didekat pintu gerbang itu. Namun bukan sebagai benda-benda yang akan
dipersembahkan kepada Panembahan Lebdagati serta Kiai Windu Kusuma
dan kawan-kawannya. Tetapi senjata itu justru telah dipergunakan
untuk melawan mereka. Dengan demikian maka pertempuran itu merupakan
pertempuran habis-habisan dari dua kelompok orang-orang berilmu
tinggi. Ternyata Kiai Windu Kusuma kemudian berhadapan dengan Ki
Prawara yang juga membawa sebuah diantara tombak pusaka itu,
sedangkan juragan gula itu bertempur melawan pimpinan perguruan
Susuhing Angin yang masih saja selalu mencurigai Kiai Kajar tentang
kebocoran rencana mereka untuk menjemput pusakapusaka itu dirumah
Kiai Gumrah. Namun dalam pada itu, Kiai Kajar sendiri harus
bertempur dengan mempertaruhkan segala-galanya melawan Kiai Gumrah.
Keduanya saudara seperguruan yang dianggap memiliki kelebihan dari
saudara-saudara seperguruannya yang lain disamping juragan gula itu.
Sementara itu, diarena pertempuran yang lain, beberapa orang saudara
seperguruan Kiai Gumrah itu masih bertempur melawan orang-orang dari
berbagai perguruan. Namun jumlah mereka memang menjadi semakin
susut. Meskipun demikian, namun orang-orang itu masih tetap
merupakan bahaya yang sungguh-sungguh bagi saudarasaudara
seperguruan Kiai Gumrah. Tiga orang saudara seperguruan Kiai Gumrah
sudah terluka meskipun tidak parah. Justru orang yang selalu
menyebut dirinya sambil bergurau berilmu tinggi. Seorang lagi yang
lebih banyak mengantuk dari pada tidak. Sedangkan yang lain adalah
seorang yang kurang bersungguh-sungguh menghadapi lawannya. Orang
yang berjambang tebal itu menganggap permainan yang dilakukan sangat
menyenangkan. Baru ketika lengannya tergores senjata lawannya, orang
itu menjadi sangat marah dan bersungguh-sungguh. Namun kemarahannya
telah menimbulkan banyak kesulitan bagi lawan-lawannya. Dalam pada
itu Buta Ijopun telah berada diantara saudara-saudara
seperguruannya. Ternyata saudara-saudara seperguruannya telah
berusaha untuk memancing dilingkungan yang lebih luas dari halaman
yang terbuka disisi sebelah kiri rumah yang besar itu. Tetapi juga
menebar kehalaman depan. Semakin luas medan, maka saudara-saudara
seperguruan Kiai Gumrah itu sempat membuat lawan-lawan mereka
kadang-kadang kebingungan. Kadang-kadang orang-orang yang berpakaian
serba hitam itu bagaikan hilang lenyap dalam bayangbayang dedaunan.
Namun tiba-tiba mereka muncul bagaikan terbang menyambar korban yang
terdekat dengan sejata-senjata mereka. Berbeda dengan
saudara-saudaranya, Buta Ijo ternyata memilih cara yang lain. Ketika
beberapa orang menyerangnya, ia justru berlari naik ke pendapa,
kemudian melintasi pringgitan mendorong pintu dan masuk ke ruang
dalam. Ampat oang bersama-sama mengejarnya dengan senjata teracu.
Dibelakangnya tiga orang yang lain telah memburu pula. Buta Ijo itu
ternyata tidak berlari terus, Demikian ia menyelinap dibalik pintu,
iapun segera menunggu. Keempat orang yang memburunya itu terkejut.
Demikian mereka melintasi pintu, maka dari sisi pintu itu terayun
selarak pintu yang berat menghantam mereka. Dua orang yang berada
didepan telah terpental membentur orang-orang yang ada
dibelakangnya. Keempat orang itu seakan-akan telah terlempar kembali
keluar dari pintu pringgitan. Ketiga orang yang memburu dibelakang
mereka terkejut. Mereka bahkan berloncatan surut. Dua orang diantara
keempat orang yang jauh terlentang itu segera berloncatan bangkit.
Namun kepala mereka yang membentur lantai pendapa itu membuat mereka
merasa pening. Sementara dua orang yang berada didepan memang
mencoba juga untuk bangkit. Tetapi wajah mereka mulai dibasahi oleh
darah yang mengalir dari luka. Seorang diantara mereka telah
melelehkan darah dari sela-sela bibirnya. Tiga giginya patah,
sementara bibirnya menjadi pecah-pecah, sedang yang seorang lagi
dahinya bukan saja menjadi memar, tetapi juga terluka dan menitikkan
darah pula. "Setan" geram kawannya. Tetapi mereka tidak berani
berlari memasuki ruang dalam. Ternyata raksasa yang berlari keruang
dalam itu tidak mempergunakan senjatanya sendiri. Ia telah menyerang
justru dengan selarak pintu. Dengan hati-hati dua orang diantara
mereka telah melintasi pintu. Mereka melihat ruang dalam itu kosong.
Raksasa itu tentu sudah berlari dan bahkan mungkin bersembunyi.
Dibelakang mereka tiga orang yang lain mengikuti kedua orang
kawannya, sedangkan dua orang yang terluka itu berada dipaling
belakang. Sejenak kemudian tiba-tiba mereka terkejut. Mereka
mendengar, jerit perempuan-perempuan yang berkumpul dibilik
dibelakang ruang dalam. Agaknya raksasa itu telah masuk kedalam
bilik perempuan-perempuan itu. Ketika orang-orang yang mengejar
raksasa itu berlari kearah bilik itu, mereka telah saling
bertubrukan dengan beberapa orang perempuan yang berlari-larian
keluar dari bilik itu. Dari dalam bilik itu terdengar suara
membentak-bentak "cepat keluar, atau aku bunuh kalian. Cepat sebelum
aku kehilangan akal." Perempuan-perempuan itu memang menjadi
ketakutan dan berlarian keluar justru pada saat orang-orang yang
memburu Buta Ijo itu berlari menuju kebilik karena mereka mendengar
suara perempuan yang menjerit-jerit. Selagi orang-orang yang
mengejarnya itu menyibak perempuan yang berlari-larian menjauhi
bilik itu, maka Buta Ijopun telah berlari pula. Dengan cepat ia
menyelinap kesudut serambi disamping ruang dalam. Orang yang
mengejarnya itu menjadi lebih berhati-hati. Mereka tidak langsung
memburu melalui sudut serambi itu. Raksasa itu akan dapat dengan
tiba-tiba menyerang mereka. Dengan hati-hati mereka telah memasuki
serambi yang panjang. Namun mereka sama sekali tidak melihat Buta
Ijo. Orang yang tertua diantara mereka yang mengejar Buta ijo itu
berdesis "Kita berpencar. Tetapi hati-hati. Orang itu licik sekali."
Dengan demikian, maka mereka telah membagi diri menjadi dua
kelompok. Satu kelompok terdiri dari ampat orang, namun dua
diantaranya telah terluka dan kesakitan, sedangkan kelompok yang
lain terdiri dari tiga orang. Dengan hati-hati mereka menyelinap
diantara dindingdinding rumah yang besar itu. Tetapi ternyata mereka
memang mengalami kesulitan melawan raksasa itu. Meskipun mereka
lebih menguasai medan karena mereka memang tinggal dirumah itu,
tetapi Buta Ijo tiba-tiba saja dapat menyergap mereka. Dua orang
diantara keempat orang itu telah mengalami nasib yang buruk pula.
Buta Ijo telah memukul mereka dengan selarak pintu dari balik
selintru. Seorang diantara mereka tidak saja sekedar berdarah.
Tetapi orang itu langsung jatuh dan menjadi pingsan. Tengkuknya
serasa menjadi patah oleh selarak pintu itu. Sedangkan seorang lagi
terduduk sambil memegang perutnya yang dihantam selarak pintu itu
pula. Dua orang yang sudah terluka sebelumnya itu menjadi ragu-ragu.
Namun mereka masih juga memberanikan diri untuk mencari raksasa yang
bersembunyi didalam rumah itu. Sementara itu, di halaman. Nyi
Prawara yang hatinya telah dibakar oleh kata-kata lawannya yang
bertubuh raksasa itu, bertempur dengan tangkasnya. Meskipun
tenaganya tidak sekuat raksasa itu, namun kecepatannya bergerak
telah membuat lawannya menjadi bingung. Rasarasanya perempuan itu
berloncatan berputaran disekitar tubuhnya. Kadang-kadang bahkan
sempat hilang dari tangkapan penglihatannya. Namun tiba-tiba
perempuan itu meloncat menyerang dengan cepatnya. Raksasa itu mulai
gelisah. Semula ia merasa, bahwa ia tidak akan memerlukan waktu
terlalu lama. Bahkan raksasa itu ingin menangkap perempuan itu tanpa
melukainya. Namun setelah mereka bertempur beberapa lama, maka
raksasa itu mulai menjadi gelisah. Dalam keadaan terdesak maka
raksasa itu tidak mempunyai pilihan daripada mempergunakan
senjatanya Sebuah parang yang besar dan berat Namun Nyi Prawara sama
sekali tidak tergetar hatinya,. Dengan senjata rantainya maka Nyi
Prawara telah memberikan perlawanan yang justru semakin mendebarkan
jantung lawannya. Nyi Prawara yang bertumpu pada kecepatan geraknya.
membuat raksasa itu semakin bingung. Ia kadang-kadang hanya dapat
mengayun-ayunkan parangnya sementara sasarannya telah meloncat
mengambil jarak. Dengan kemarahan yang semakin menyala didadanya,
raksasa itu mengerahkan segenap kemampuannya. Tetapi kekuatan alami
yang dimilikinya, ditempa pula dengan latihan yang berat, yang
melampaui kekuatan lawannya yang dilambari dengan kekuatan dalamnya,
tidak mampu melindungi tubuhnya dari sengatan senjata lawannya.
Rantai yang berputaran itu, sekali-sekali terayun menebas dengan
derasnya, namun kemudian tiba-tiba mematuk dengan cepat. Raksasa itu
meloncat surut untuk mengambil jarak ketika ia merasakan dadanya
menjadi panas. Ujung rantai Nyi Prawara mematuk dadanya yang tidak
terlindung. Ternyata sentuhan rantai itu tidak saja membuat dadanya
merasa panas bagaikan disentuh bara api tempurung. Tetapi dadanya
telah terkoyak pula, sehingga darahpun telah meleleh dari luka itu.
Raksasa itu menggeram. Dengan suaranya yang berat ia berkata
"perempuan celaka. Kau ternyata tidak tahu diri. Aku masih berusaha
menahan diri agar aku tidak merusakkan kulitmu meskipun hanya
segores kecil. Namun kau telah melukai dadaku." "Aku tidak hanya
akan melukaimu, tetapi aku akan. membunuhmu" jawab Nyi Prawara.
"Meskipun kau sudah melukai aku, tetapi aku masih memberimu
kesempatan. Menyerahlah. Jika kau menyerah, kau tidak akan aku
bunuh." berkata orang bertubuh raksasa itu. "Itu tidak termasuk
pilihanku. Pilihanku hanya dua. Membunuhmu atau kau membunuhku."
jawab Nyi Prawara. "Aku senang kepada perempuan-perempuan yang
garang. Tetapi kau terlalu garang." berkata orang itu. Nyi Prawara
tidak menjawab. Kata-kata itu sangat memanaskan hatinya. Karena itu,
tiba-tiba saja rantainya sudah bergetar menyambar bibir raksasa itu,
Hanya satu sentuhan kecil, karena raksasa itu cepat menarik
wajahnya. Tetapi sentuhan kecil itu ternyata telah memecahkan
bibirnya, sehingga terasa darah yang hangat mulai mengalir dari
lukanya itu. Orang bertubuh tinggi besar itu meloncat surut. Dari
mulutnya terdengar umpatan kasar. "Setan betina. Kau benar-benar
tidak tahu diri." orang itu masih akan mengumpat lagi. Tetapi sekali
lagi rantai Nyi Prawara bergetar. Hampir saja bibir orang itu sekali
lagi dipatuk oleh ujung rantai Nyi Prawara. Untunglah bahwa raksasa
itu masih sempat mengelak. Dengan demikian, pertempuran segera
menyala kembali. Nyi Prawara ternyata tidak kalah garangnya dari
lawannya yang bertubuh raksasa. Parangnya yang besar dan berat itu
terayun-ayun mengerikan. Agaknya raksasa itu benar-benar telah
dibakar oleh kemerahannya sehingga ia sama sekali tidak mengekang
dirinya lagi. Tetapi ia tidak dapat berbuat lebih banyak dari
menyerang dan menyerang. Nyi Prawara bergerak terlalu cepat. Lebih
cepat dari ayunan senjatanya itu. Sementara itu, saudara-saudara
seperguruan Kiai Gumrah yang bertempur melawan orang-orang dari
berbagai perguruan yang ada di rumah itu, masih harus mengerahkan
kemampuan mereka. Meskipun lawan mereka sudah berkurang cukup
banyak, namun jumlah mereka masih terlalu banyak. Sehingga dengan
demikian, maka saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah itu masih
harus berlari-larian untuk menghindari serangan-serangan yang
tiba-tiba dari arah yang tidak diperhitungkan. Dalam pada itu, Buta
Ijo yang berlari-larian didalam rumah yang besar itu, telah berhasil
mengurangi lawanlawannya. Sehingga akhirnya menjadi tinggal seorang
saja. Hati orang itu tiba-tiba saja menjadi kecut. Orang yang
dikejarnya itu seakan-akan benar-benar telah berubah menjadi raksasa
yang garang dengan taring-taringnya yang besar dan runcing. Kedua
tangannya seakan-akan telah mengembang serta jari-jarinya yang
terluka siap menerkamnya. Orang yang tinggal sendiri itu benar-benar
telah kehilangan keberaniannya. Ketika raksasa itu melangkah
mendekat, maka orang itu tiba-tiba telah meloncat melarikan diri.
Buta Ijo itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dilemparkannya
selarak pintu yang terbuat dari kayu itu. Selarak itu telah
membantunya menyelesaikan beberapa orang tanpa membunuhnya. Beberapa
diantaranya menjadi pingsan, sedang yang lain terluka parah sehingga
tidak lagi mampu memburu raksasa itu lagi. Ketika Buta Ijo itu
kemudian bergerak menyusuri ruangan rumah yang besar itu, ia jusiru
terkejut. Ia telah berada disebuah ruangan tempat
perempuan-perempuan yang ketakutan itu bersembunyi. Demikian
perempuanperempuan itu melihat Buta Ijo itu masuk, maka merekapun
telah menjerit-jerit lagi dan berlari menghambur keluar. Seorang
diantara perempuan itu kakinya terantuk sesosok tubuh seseorang yang
pingsan karena tengkuknya dipukul dengan selarak pintu oleh raksasa
itu, sehingga dengan demikian perempuan itu telah jatuh
tertelungkup. Buta Ijo yang melihatnya diluar sadar telah berlari
kearahnya dan berusaha menolongnya. Namun demikian rempuan itu
melihat wajah Buta Ijo yang telah menakutnakutinya itu, maka
perempuan itu justru semakin, menjerit-jerit. Buta Ijopun menjadi
bingung. Karena itu kemudian dilepaskannya perempuan itu. Ia
mengurungkan niatnya untuk menolongnya. Buta Ijo yang kebingungan
itu justru berlari keluar menjauhi tempat itu. Buta Ijo menjadi agak
bingung ketika tiba-tiba ia sudah berada diserambi yang sepi. Lampu
minyak yang berada di ajuk-ajuk berkeredipan disentuh angin. Dengan
ragu-ragu ia membuka pintu samping. Perlahanlahan ia melangkah
keluar. Diluar nampak sepi. Namun ia mendengar keributan yang
terdengar diarah yang lain. "O, aku berada dibagian belakang rumah
yang besar ini. Bukankah tadi aku sudah berada disini?” Buta Ijo
itupun justru mencari lagi pintu dapur. Ia tahu bahwa didapur masih
ada makanan. Dihalaman depan, pertempuran menjadi semakin seru.
Orang-orang yang datang dari berbagai perguruan itu menjadi semakin
mengalami kesulitan. Jumlah mereka semakin berkurang. Namun saudara
seperguruan Buta Ijo yang terlukapun bertambah pula. Bahkan seorang
diantara mereka mengalami luka yang agak parah. Sedangkan seorang
yang bertubuh kecil harus menyingkir pula dari arena, karena
punggungnya serasa patah. Sebuah bindi yang besar telah menghantam
punggungnya itu ketika ia lengah. Dalam pertempuran yang semakin
sengit itu, maka Buta Ijo sambil mengunyah makanan telah melibatkan
diri pula. Demikian ia melihat beberapa orang saudara seperguruannya
terluka, maka ia tidak lagi mencari selarak pintu. Tetapi ia sudah
mencabut lagi luwuknya. Dengan tenaganya yang sangat besar, maka
iapun telah berloncatan diantara beberapa orang yang mencoba
mengurungnya. Didekat pintu gerbang, maka pertempuranpun menjadi
semakin sengit pula. Orang-orang berilmu tinggi telah meningkatkan
kemampuan mereka pula. Winih yang bertempur melawan seorang Putut
yang ilmunya telah mapan, harus mengerahkan kemampuannya. Tetapi
Winihpun pernah ditempa dengan laku berat, sehingga ia telah
benar-benar menjadi seorang gadis yang aneh. Gadis yang memiliki
kemampuan yang sangat tinggi. Beberapa kali Putut itu berusaha untuk
memecahkan pertahanan Winih dengan menghentakkan kemampuannya.
Tetapi setiap kali justru harus meloncat mundur. Rantai ditangan
Winih berputar dengan cepat untuk melindungi dirinya. Bahkan
rasa-rasanya menjadi lebih rapat dari sebuah perisai. Dengan
demikian maka ujung senjata Putut itu tidak mampu menembus
pertahanan gadis itu. Bahkan dengan kecepatan yang sangat tinggi,
maka justru ujung rantai itulah yang telah berhasil menyusup
disela-sela senjata lawannya. Satu sentuhan kecil ternyata telah
mampu mengoyak kulit lawannya, sehingga darahpun mulai mengembun.
Putut itu mengumpat kasar. Luka itu memang tidak banyak mempengaruhi
tenaga dan kemampuannya meskipun perasaan pedih telah menyengat.
Justru luka itu seakan-akan menjadi seperti minyak yang menyiram
jantungnya yang membara. Api kemarahanpun menjadi semakin berkobar
didalam dadanya. Demikianlah maka pertempuranpun menjadi semakin
sengit. Putut itu menyerang semakin garang. Namun yang kemudian
memecahkan pertahanan lawannya adalah Winih lagi. Ujung rantainya
yang menebas mendatar telah menggores pundak lawannya, sehingga luka
telah menganga. Luka yang lebih dalam dari luka dilengannya. Putut
itu menjadi semakin marah. Namun ia mulai percaya bahwa gadis itu
telah membunuh Darpati. Karena itu, maka iapun mulai bergeser
memancing agar Winih bergerak pula menjauhi orang-orang yang telah
mendatangi rumah itu dan bertempur didekat pintu gerbang itu. Ia
ingin membawa Winih bertempur diantara orangorang yang datang dari
berbagai perguruan yang ada ditengah halaman. Yang telah bergeser
dari halaman disebelah kiri rumah yang besar itu, bergerak ke
halaman depan, yang disangkanya telah menggiring lawan-lawan mereka,
agar bertempur ditempat yang lebih luas dan mapan. Namun
sebenarnyalah bahwa mereka justru telah terpancing oleh
saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah yang sengaja bertempur
diarena yang luas, karena jumian mereka yang jauh lebih sedikit dari
jumlah lawan-lawan mereha. sehingga mereka dapat berlari-larian dan
saling mengisi yang satu dengan yang lain. Dengan demikian, meskipun
beberapa kali crang-orang yang ada dirumah itu yang berasal dari
beberapa perguruan berusaha untuk mengepung mereka, namun kepungan
itu setiap kali tentu pecah, karena sulit bagi mereka untuk dapat
menjaring semua saudara saudara seperguruan Kiai Gumrah, justru
karena mereka selalu bergerak silang menyilang diarena yang luas.
Jika mereka berhasil membentuk lingkaran, maka tibatiba saja dua
tiga orang diantara lawan-lawan mereka yang berada diluar lingkaran,
telah menyerang dan mengoyak kepungan itu. Sementara mereka yang ada
didalam serentak menghentak pula, sehingga kepungan itupun menjadi
berserakan kembali. Namun hal itu luput dari penglihatan Putut yang
bertempur melawan Winih. Ia mengira bahwa orangorang yang berkumpul
dari beberapa perguruan dalam jumlah yang besar itu akan dapat
segera menguasai beberapa orang yang telah menyerang rumah itu.
Tetapi ternyata Winih tidak mudah untuk dipancing menjauhi songsong
yang dibawa oleh Laksana itu. Setiap kali Putut itu berloncatan
menjauh, maka Winih tidak dengan tergesa-gesa memburunya. Tetapi ia
bertahan ditempatnya sambil mempersiapkan diri untuk menghadapi
segala kemungkinan. Putut itu memang menjadi gelisah. Sementara itu,
ia menyadari bahwa ia tidak akan mampu melawan perempuan yang masih
sangat muda itu sendiri. Karena itu, yang dilakukan oleh Putut itu
kemudian adalah sekedar menyerang dan kemudian dengan cepat
menghindar. Jika Winih memburu selangkah dua langkah, maka Putut itu
meloncat semakin jauh. Namun Winih masih tetap tidak terpancing. Ia
memang tidak ingin menjauhi songsong yang berwarna kekuningkuningan
dengan lingkaran hijau itu. Betapapun kemarahan, kejengkelan dan
kebencian membakar seluruh isi dadanya dan membuat darahnya
mendidih, tetapi Putut itu memang tidak dapat berbuat banyak. Bahkan
ketika ia mencoba dengan tiba-tiba menyerang sambil menghentakkan
kemampuannya, justru ujung rantai Winih telah menyambar keningnya.
Hanya lapisan kulitnya sajalah yang tersentuh ujung rantai itu.
Namun Putut itu berteriak marah sekali. Apalagi ketika darah yang
hangat terasa meleleh sampai kepipinya Tetapi apapun yang dilakukan
oleh Putut itu sama sekali tidak mampu menggoyahkan pertahanan Winih
yang muda itu. Disisi lain, Ki Prawara barhadapan dengan Kiai Windu
Kusuma. Ia sudah menggeser seorang saudara seperguruan Kiai Gumrah.
Ketika Ki Prawara datang dengan membawa salah satu pusaka yang
diperebutkan itu, maka seakan-akan seseorang telah memberikan
kesempatan kepadanya untuk langsung berhadapan dengan pemimpin
landasan kekuatan dari orang-orang yang akan merampas pusaka-pusaka
yang sangat berharga itu dari tangan Kiai Gumrah. Namun bagaimanapun
juga, Ki Prawara sekali-kali masih harus melihat keadaan anaknya
meskipun hanya sekilas. Ia memang menjadi agak cemas menyaksikan
Putut yang menyerang dengan garangnya. Namun yang juga berusaha
memancing Winih untuk menjauhi songsong itu. Bahkan ia akan
mengalami kesulitan jika gadis itu memasuki lingkungan pertempuran
yang luas dihalaman itu. Dengan demikian, maka untuk beberapa saat,
justru Ki Prawara kadang-kadang harus berloncatan surut sambil
mengambil jarak dari lawannya untuk sekedar dapat melihat keadaan
Winih. Namun oleh cahaya oncor dipintu gerbang yang terbuka itu,
lamat-lamat Ki Prawara sempat melihat darah di wajah lawan anak
gadisnya itu. Sebenarnyalah, bahwa keadaan Putut itu menjadi semakin
sulit. Bahwa Winih sama sekali tidak terpancing itu telah membuat
Putut itu semakin marah. Bahkan kemudian kehilangan pegangan. Ia
menjadi tidak sabar. Tetapi juga tidak mampu berbuat lebih banyak.
Sementara itu, tidak ada orang lain yang dapat diharapkan dapat
membantunya karena semua orang telah bertempur ditempat yang
tersebar. Tetapi ketidak-sabaran orang itu, ternyata telah
menyeretnya kedalam keadaan yang paling buruk. Ketika kemarahannya
telah membakar ubun-ubunnya, sementara darah semaian banyak menitik
dari luka-lukanya, maka Putut itu menjadi mata gelap. Ia tidak lagi
berpijak pada penalarannya. Dengan mengerahkan segenap sisa
kemampuannya, maka Putut itupun menyerang Winih membabi buta.
Diputarnya senjatanya seperti baling-baling. Kemudian meloncat
sambil menebas langsung kearah leher Winih. Tetapi Winih telah siap
menghadapi Putut yang kehilangan akal itu. Dengan cepat Winih
meloncat mengelak, sehingga pedangnya sama sekali tidak menyentuh
sasaran. Putut yang menjadi seperti mabuk itu telah menggeliat.
Pedangnya yang berputar itu tiba-tiba telah mematuk kearah dada
Winih. Winih bergeser dengan cepat. Demikian ujung pedang itu
meluncur didepan tubuhnya yang miring, maka Winih mempergunakan
kesempatan itu sebaik-baiknya. Rantainya berputar dengan cepat dan
satu sabetan yang sangat deras telah menyambar leher Putut itu.
Terdengar jerit kesakitan menggetarkan jantung. Luka telah menganga
dileher Putut itu. Sejenak ia terhuyunghuyung. Namun kemudian
tubuhnya telah terjerembab jatuh terguling ditanah. Winih meloncat
mundur sambil memalingkan wajahnya. Iapun kemudian telah bergeser
dan berdiri dibelakang Laksana yang membawa songsong itu, sementara
Manggada berdiri disebelahnya dengan senjata ditangan. Winih
seakan-akan ingin menyembunyikan dirinya setelah rantainya melukai
lawannya dan bahkan kemudian Putut itu tidak lagi bergerak sama
sekali. Ki Prawara yang setiap kali seakan-akan terdesak oleh
lawannya itu menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat anak gadisnya
menyelesaikan lawannya. Namun Ki Prawara tidak sempat merenungi
kemenangan anaknya lebih lama. Hampir saja senjata Kiai Windu Kusuma
menyentuh keningnya. Dengan terhentinya perlawanan Putut itu, maka
Ki Prawara dapat memusatkan perhatiannya kepada lawannya, Kiai Windu
Kusuma yang telah menggenggam senjata yang mendebarkan. Senjata yang
agaknya hanya dipergunakan dalam keadaan yang paling gawat. Sebilah
keris yang besar dan berwarna kahitam-hitaman. Namun dalam
keremangan cahaya oncor diregol, nampak pamor keris itu berkedipan.
Ketika Kiai Windu Kusuma melihat lawannya memperhatikan senjatanya,
maka iapun berkata "Dengan pusakaku ini, aku tidak gentar menghadapi
tombak yang betapapun tinggi tuahnya. Keris raksasa ini adalah
peninggalan orang yang tidak terkalahkan pada masanya. Ia adalah
guruku yang ditakuti setiap orang." Ki Prawara mengerutkan dahinya.
Tombaknya telah merunduk, sementara ujungnya bagaikan bergetar.
"Kita akan melihat, seberapa besarnya tuah senjata kita
masing-masing." berkata Kiai Windu Kusurna. "Aku tidak bersandar
pada tuah senjataku. Akhirnya semuanya tergantung kepada siapa yang
memegangnya." jawab Ki Prawara. "Kenapa kalian pertahankan pusaka
itu dengan mempertaruhkan nyawamu?" bertanya Kiai Windu Kusuma.
"Tombak ini adalah peninggalan sebagaimana senjatamu. Jika kami
mempertahankan dengan mempertaruhkan nyawa, karena kami menghormati
pusaka ini sebagai warisan yang sangat berharga. He, kau lihat emas
dan tretes berlian pada landean tombak ini ? Apakah kau dapat
memperkirakan berapa saja harganya ?” "Setan kau?" geram Kiai Windu
Kusuma. Ki Prawara itu menyahut pula "Karena itu, kami tidak
berpikir untuk mempertahankan tuah senjata ini dengan mencucinya
dengan darah yang masih mengalir dijantung." Kiai Windu Kusuma tidak
menjawab. Tetapi ketika kerisnya mulai terayun, Ki Prawara itupun
meloncat kesamping sambil berkata "Aku bersandar kepada perlindungan
Yang Maha Agung, justru karena kami yakin, bahwa kami sama sekali
tidak bersalah dalam hal ini. Kami mempertahankan hak milik kami."
Kiai Windu Kusuma yang mulai meloncat menyerang itu masih juga
sempat menjawab "Aku pernah mendengar kata-kata itu dari mulut Kiai
Gumrah ketika aku datang untuk mengambil pusaka-pusaka itu. Omong
kosong yang tidak berarti." Ki Prawara tidak menjawab lagi. Serangan
Kiai Windu Kusuma ternyata cukup berbahaya sehingga Ki Prawara harus
meloncat surut. Ki Prawara memang pernah mendengar ceritera dari
Kiai Gumrah sebelumnya, bahwa Kiai Windu Kusuma memang pernah datang
untuk mengambil pusaka-pusaka itu dirumah Kiai Gumrah. Namun usaha
itu telah gagai. Kiai Windu Kusuma yang pernah bertempur dengan Kiai
Gumrah itu mulai menilai lawannya yang lebih muda itu. Ternyata
bahwa anak Kiai Gumrah itu memiliki ilmu yang tidak terpaut dari
Kiai Gumrah sendiri. Dalam pada itu, Winih yang masih berdiri
dibelakang Laksana dan Manggada untuk menyembunyikan penglihatannya
atas tubuh Putut yang terbaring diam dengan darah yang mengalir dari
lukanya, justru sempat melihat pertempuran yang terjadi di
tengah-tengah halaman itu. Ia melihat ibunya yang sedang bertempur
melawan seorang yang bertubuh raksasa. Namun seperti juga Ki Prawara
yang tidak mencemaskan isterinya, maka Winihpun melihat, betapa
ibunya benar-benar menguasai lawannya. Ketika lawannya yang bertubuh
raksasa itu terhuyung-huyung, maka Nyi Prawara justru telah meloncat
surut menjauhinya. Nyi Prawara tidak menyelesaikah pertempuran itu.
Dibiarkannya raksasa itu jatuh berlutut. Kemudian terduduk sambil
mengerang kesakitan. Yang mendekatinya justru Buta Ijo yang berlari
keluar dari arena petempuran. Digoyang-goyangnya tubuh raksasa yang
terduduk itu sambil berkata "Lain kali berhati-hatilah terhadap
perempuan. Nah, kau sekarang sudah merasakan, betapa kau menemukan
kesenangan itu." Raksasa yang sudah tidak berdaya itu tidak
menjawab. Namun Buta Ijo itu tidak sempat bergurau lebih lama.
Beberapa orang telah mengejarnya dan bahkan dua diantaranya telah
mendekati Nyi Prawara yang baru saja bergeser dari lawannya yang
bertubuh raksasa. Winih melihat kedua orang itu. Tetapi ia tidak mau
meninggalkan Laksana dan Manggada. Karena itu, maka ia-pun justru
berteriak "Ibu, aku disini." Nyi Prawara mendengar suara anaknya.
lapun tahu bahwa anaknya berada bersama songsong yang didekat pintu
gerbang. Karena itu, sebelum ia melihat Winih, Nyi Prawara sudah
berlari menuju kepintu gerbang. Suara anaknya itu telah membuatnya
cemas. Sedangkan kedua orang yang mendekatinya dengan senjata teracu
itu justru telah memburunya. Mereka mengira bahwa Nyi Prawara itu
berlari untuk mnghindari mereka berdua meskipun Nyi Prawara itu
telah mengalahkan orang yang bertubuh tinggi besar itu. Namun Nyi
Prawara memang tidak meninggalkan arena karena serangan kedua orang
itu. Bahkan ia tidak menghiraukan ketika kedua orang itu
mengejarnya. Winih yang melihat ibunya berlari kearahnya dan dikejar
oleh dua orang itu menjadi cemas. Mungkin ibunya tidak menyadari
bahwa dua orang telah memburunya, bahkan tidak terlalu jauh
dibelakangnya. Karena itu, maka Winihpun telah berian menyongsong
sambil berteriak "Ibu, dua orang dibelakang ibu." Nyi Prawara yang
melihat anaknya tidak dalam kesulitan, bahkan muncul dibelakang
Laksana dan Manggada berlari menyongsongnya, dadanya terasa menjadi
lapang. Karena itu, maka iapun segera berhenti berpaling sambil
memutar rantainya. Kedua orang yang mengejarnya itu terkejut.
Merekapun berhenti dan bersiap untuk menyerang. Namun yang mereka
hadapi kemudian adalah dua orang perempuan. Yang seorang bahkan
seorang perempuan yang masih terlalu muda. Namun kedua orang yang
mengejarnya itu menjadi raguragu. Seorang diantara kedua orang
perempuan itu telah mengalahkan raksasa yang ditakuti dilingkungan
mereka itu, sedang merekapun melihat tubuh Putut yang berilmu tinggi
itupun telah terbaring diam. Karena itu, maka keduanya menjadi
ragu-ragu. Ketika Winih dan ibunya bergerak maju, maka keduanya
justru bergeser mundur. Winih tidak mau maju lagi. Kepada ibunya ia
berdesis "Aku harus membantu menjaga songsong itu." Ibunya
mengangguk. Bahkan katanya kemudian "Baiklah aku akan menbantumu.
Biar saja kedua orang itu, apa saja yang akan dilakukan." Ketika
kemudian ternyata kedua perempuan itu tidak mengejarnya kedua orang
itu justru menjadi bingung. Ia harus berpikir ulang jika mereka akan
menyerang. Tetapi untuk meninggalkan begitu saja harga dirinya telah
direndahkan. Dalam kebingungan maka seorang diantara mereka telah
bersuit nyaring. Suaranya memang menyentuh setiap telinga mereka
yang ada dihalaman rumah yang besar itu. Meskipun masih juga
terdengar teriakan-teriakan, bentakanbentakan dan geram kemarahan,
namun orang-orang dari perguruan Susuhing Angin tertarik oleh
isyarat itu. Bagi mereka, isyarat itu merupakan permintaan untuk
membantu, karena orang yang memberikan isyarat itu berada dalam
kesulitan. Tetapi orang-orang dari perguruan Susuhing Angin
sebagaimana orang-orang yang datang dari perguruan lain, masih
sedang bertempur ditengah-tengah halaman depan: Sementara itu
kawan-kawan mereka masih saja berkurang seorang demi seorang. Karena
itu, maka tidak seorangpun yang sempat mendekat untuk memenuhi
isyarat itu. Bahkan hampir setiap orang dari perguruan Susuhing
Angin ingin membunyikan isyarat seperti itu pula. Karena itu, maka
kedua orang itu menjadi semakin gelisah. Tetapi karena tidak ada
orang yang datang membantunya, sementara keduanya sadar, bahwa
menyerang kedua orang perempuan itu akan sama halnya dengan membunuh
diri, maka keduanyapun justru bergeser semakin lama semakin menjauh.
Namun mereka terkejut ketika mendengar seseorang membentak
"Pengecut. Bunuh kedua orang perempuan itu." Mereka mengenal suara
itu dengan baik. Suara itu adalah suara pemimpin perguruan mereka.
Ketika keduanya berpaling kearah suara itu, maka mereka melihat
pemimpin perguruan Susuhing Angin itu bertempur dengan sengitnya
melawan seseorang yang bersenjata tombak. Seorang yang sudah
memasuki hari-hari tuanya. Namun ternyata orang itu masih dengan
tangkasnya memutar tembaknya. Kedua orang itu menjadi semakin
bingung. Tetapi mereka tidak berani melanggar perintah yang
diucapkan oleh pemimpin perguruan Susuhing Angin itu. Karena itu,
maka betapapun hati mereka menjadi kecut, namun keduanyapun
melangkah maju mendekati Nyi Prawara dan Winih. Kedua perempuan
itupun sudah bersiap sepenuhnya menghadapi mereka. Namun, keduanya
melihat, betapa kedua orang itu menjadi bimbang. Namun, terdengar
lagi suara pemimpin perguruan Susuhing Angin berteriak "Bunuh
perempuan itu. Jangan ragu-ragu. Meskipun mereka perempuan, tetapi
mereka telah membunuh kawan-kawan kita." Kedua orang itu memang
tidak mempunyai pilihan. Sambil berteriak nyaring untuk mengatasi
kebimbangannya keduanya berlari menyerang. Nyi Prawara dan Winihpun
telah mengambil jarak. Mereka segera mengetahui bahwa kedua orang
itu bukan terhitung orang-orang penting dalam keluarga perguruannya.
Meskipun mereka termasuk terpilih dalam tugas dirumah Kiai Windu
Kusuma itu, tetapi mereka bukan orang-orang dari tataran atas.
Meskipun demikian, Nyi Prawara dan Winih tidak mau menjadi lengah.
Demikian keduanya menyerang, maka Nyi Prawara dan Winihpun telah
menyongsongnya sambil memutar rantainya. Ternyata seperti yang
diperhitungkan, keduanya memang tidak mempunyai kemampuan cukup
tinggi untuk melawan Nyi Prawara dan Winih. Dengan demikian, maka
dalam waktu singkat, maka keduanyapun telah kehilangan kesempatan
untuk melawan. Winih sempat membelit senjata salah seorang diantara
mereka. Sebuah kapak yang cukup besar. Ketika Winih menghentakkan
rantainya, maka kapak itupun telah terlepas dan tangannya. Orang itu
tidak mampu berbuat sesuatu ketika rantai Winihpun kemudian terayun
kedadanya. Seleret luka menyilang didada orang itu. Terdengar orang
itu berteriak nyaring. Selangkah ia terdorong surut. Tanpa dapat
mempertahankan keseimbangannya lagi, maka orang itu telah jatuh
terlentang. Sekali ia berguling. Namun kemudian iapun terdiam.
Sementara itu, orang yang bertempur melawan Nyi Prawara itupun telah
kehilangan kendali akan dirinya. Bukan untuk menyerang, tetapi
dengan putus asa ia berlari menuju kepintu gerbang. Tanpa
menghiraukan apapun lagi, orang itu ingin melarikan dirinya dari
jangkauan rantai Nyi Prawara yang telah menyentuh pinggangnya. Namun
orang itu terkejut. Demikian ia sampai kepintu gerbang, maka
dilihatnya dua ekor harimau siap untuk menerkamnya. Orang itu
semakin menjadi kehilangan akal. Dengan serta merta ia berbalik
kembali masuk kehalaman sambil berteriak-teriak. Tetapi ia tidak
berani lagi mendekati Nyi Prawara. Seperti orang yang terganggu
syarafnya ia berlari secepat-cepatnya menghilang kehalaman samping
yang gelap sambil masih saja berteriak-teriak. Sementara itu, Winih
sempat mendekati lawannya yang sudah terbaring diam. Sambil
berjongkok disisinya ia berkata "He, lukamu hanya selapis tipis pada
kulitmu. Aku tahu kau pura-pura mati. Tetapi tidur sajalah dengan
nyenyak." Orang itu masih tetap berbaring diam. Tetapi ia berdesis
"Aku mohon ampun” "Aku tidak akan membunuhmu. Mudah-mudahan
pemimpinmu juga tidak." Orang itu tetap tidak bergerak. Sambil
tersenyum Winih bangkit dan melangkah mendekati ibunya yang sudah
berdiri didekat Laksana dan Manggada. Dalam pertempuran yang sengit
itu Manggada dan Laksana memang merasa dirinya terlalu kecil. Bekal
keduanya terlalu sedikit untuk terjun kedalam pertempuran seperti
itu. Bahkan seorang gadis muda harus melindungi mereka berdua.
Tetapi keduanya tidak dapat ingkar akan kenyataan itu. Apalagi jika
keduanya memperhatikan pertempuran antara orang-orang berilmu
tinggi. Pemimpin perguruan Susuhing Angin itu ternyata sempat
berteriak marah ketika ia melihat sekilas orangorangnya tidak
berdaya menghadapi perempuan. Namun ia sendiri tidak mempunyai
kesempatan untuk membantunya karena ia sedang terlibat dalam
pertempuran melawan juragan gula yang bersenjata sebuah tombak, yang
termasuk salah satu dari pusaka-pusaka yang diperebutkan. Pemimpin
perguruan Susuhing Angin itu memang harus mengakui, bahwa lawannya
yang sudah terhitung tua itu merniliki pengalaman yang sangat luas.
Betapapun ia mengerahkan kemampuannya, namun juragan gula itu masih
saja mampu mengimbanginya. Bahkan kadangkadang pemimpin perguruan
Susuhing Angin itulah yang terkejut mengalami serangan dengan
unsur-unsur gerak yang tidak diduganya sama sekali. Kemarahan
pemimpin perguruan Susuhing Angin itu sudah membakar ubun-ubunnya.
Orang-orangnya telah mengecewakannya. Sementara lawannya membuatnya
jantungnya bagaikan meledak. Namun pemimpin perguruan dari Susuhing
Angin itu tidak dapat mengingkari kenyataan yang digelar
dihadapannya. Orang-orangnya, bahkan orang-orang yang datang dari
perguruan yang lain yang ada di rumah Kiai Windu Kusuma yang besar
dan berhalaman luas itu, telah dihancurkan oleh lawan-lawan mereka
yang jumlahnya jauh lebih kecil. Meskipun masih terjadi pertempuran
disana-sini, tetapi pertempuran itu tinggal sekedar penyelesaian
saja. Jika para pemimpin itu tidak segera berhasil mengakhiri
lawan-lawannya sehingga dapat membantu orang-orang yang jumlahnya
sudah jauh menyusut itu, maka mereka tidak lagi mempunyai harapan.
Dengan marah pemimpin, perguruan Susuhing Angin itu menyerang
seperti arus banjir bandang. Juragan gula yang melawannya sempat
terdesak beberapa langkah surut. Bahkan pemimpin perguruan Susuhing
Angm itu sempat menggeram “Ternyata kau cukup liat Ki Sanak. Tetapi
kesempatanmu tidak terlalu banyak lagi” Juragan gula itu sama sekali
tidak menjawab. Tombaknya yang terayun mendatar hampir saja
menyambar wajah lawannya Tetapi lawannya sempat mengelak dan bahkan
meloncat memasuki jarak jangkau senjatanya justru ketika tombak
lawannya bergerak kesamping. Dengan derasnya senjatanya terayun
mengarah kedahi. Tetapi tombak juragan gula itu sempat berputar.
Dengan landeannya juragan gula itu sempat menangkis serangan itu dan
menebas senjata lawannya, menyamping. Namun pemimpin perguruan
Susuhing Angin itu sudah menjadi kehilangan kendali. Dengan
mengerahkan tenaga dan kemampuannya, ia berusaha melibat juragan
gula itu pada jarak yang lebih pendek. Pemimpin peguruan Susuhing
Angin itu berusaha agar tombak lawannya tidak banyak berarti lagi.
Tetapi juragan gula itu cukup tangkas. Meskipun pertempuran itu
jaraknya semakin rapat, namun tombak juragan gula itu masih tetap
berbahaya. Bukan saja ujungnya. Tetapi pangkalnyapun merupakan
senjata yang sangat berbahaya pula. Ketika pangkal landean tombak,
itu mengenai pundak pemimpin perguruan Susuhing Angin itu, maka
orang itu meloncat beberapa langkah surut. Pundaknya terasa menjadi
sakit sekali. Bahkan rasa-rasanya ada tulangnya yang retak. Namun
dengan demikian, maka iapun telah mengerahkan kemampuannya sampai
kepuncak. Ketika ia mempersiapkan diri untuk bertempur
habis-habisan, maka seakan-akan dari matanya telah membayang warna
kemerah-merahan. Jari-jarinya yang menggenggam senjatanya telah
disaput asap tipis yang berwarna kehitamhitaman. Seakan-akan
memancarkan warna landasan ilmunya yang hitam pula. Juragan gula
yang melihat lawannya sampai kepuncak ilmunya, iapun telah
mengerahkan kemampuannya pula. Kakinya yang merenggang, dan sedikit
merendah, pada lututnya, seakan-akan telah menghujam kedalam bumi.
Pertahanannya, menjadi semakin kokoh sehingga sulit untuk
digoyahkan. Pada puncak kemampuan masing-masing, maka pemimpin
perguruan Susuhing Angin itu sudah bertekad untuk menyelesaikan
pertempuran itu dengan segera. Membunuh lawannya atau mati. Dengan
demikian, maka pertempuran yang terjadi kemudian adalah benar-benar
pertempuran antara hidup dan mati. Pemimpin perguruan Susuhing Angin
yang datang dengan dada tengadah beserta beberapa orang pengikutnya,
tidak mau mengorbankan harga dirinya. Ketika ia memasuki rumah itu,
ia merasa yakin bahwa ia akan memegang peranan penting dalam
perebutan pusakapusaka yang amat mahal harganya itu.
Setidak-tidaknya ia akan dapat menjadi penentu disamping Panembahan
Lebdagati sendiri. Namun ternyata ia telah mendapat lawan yang
berilmu sangat tinggi, bahkan ditangannya telah tergenggam salah
satu dari pusaka-pusaka yang menurut ciri-cirinya adalah pusaka yang
diperebutkan itu. Namun betapapun pemimpin dari perguruan Susuhing
Angin itu berusaha, maka juragan gula itu masih saja tetap mampu
mempertahankan dirinya. Demikianlah, pada tataran tertinggi dari
hentakan ilmunya, maka pemimpin dari perguruan Susuhing Angin itu
telah berloncatan berputaran mengelilingi lawannya. Semakin lama
menjadi semakin cepat, sehingga putaran itu menjadi bagaikan angin
pusaran. Namun yang ada didalam pusaran itu adalah seorang yang juga
berilmu tinggi. Juragan gula dengan tombak ditangan justru berdiri
diam ditempatnya. Kakinya benarbenar bagaikan berakar menusuk
kedalam bumi. Pusaran yang mengitarinya itu tidak mampu
menggoyahkannya. Meskipun juragan gula itu seakan-akan justru
menunduk sambil memejamkan matanya, namun ia tahu pasti, dimana
lawannya itu berada. Pusaran yang semakin cepat sehingga berubah
menjadi semacam kabut kelabu yang berputar sama sekali tidak
membingungkannya. Juragan gula itu tahu pasti, bahwa lawannya yang,
berputar itu mengacukan senjatanya siap menggapai tubuhnya. Tetapi
dengan ketajaman inderanya, maka juragan gula itu seakan-akan
melihat ujung senjata lawannya yang berputar disekelilingnya itu.
Sejenak ketegangan telah mencekam. Nyi Prawara dan Winih yang telah
bebas dari lawan-lawan mereka melihat pertempuran itu dengan tegang,
sedangkan Manggada dan Laksana menjadi bingung, apakah yang
sebenarnya telah terjadi. Dalam pada itu, juragan gula yang berdiri
ditengahtengah pusaran sambil menundukkan kepalanya serta memejamkan
matanya itu telah memusatkan nalar budinya pula. Sekali-sekali saja
ujung tombaknya bergerak. Bahkan sekali-sekali terdengar dentang
senjata beradu. Tetapi Manggada dan Laksana tidak mengetahui apa
yang sebenarnya terjadi. Kabut kelabu yang berputar itu memang
menghalangi penglihatannya, sehingga ia tidak melihat jelas apa yang
terjadi. Bahkan menurut penglihatannya dalam keremangan cahaya oncor
dikejauhan, didalam pusaran itu tidak ada gerak sama sekali. Namun
dalam puncak benturan kekuatan ilmu itu, tibatiba terdengar juragan
gula itu berteriak menghentak mengatasi segala suara dan hiruk pikuk
pertempuran. Disusul oleh teriakan tertahan. Sementara itu, pusaran
yang melingkari juragan gula itu nampak bergejolak sesaat. Namun
kemudian tubuh pemimpin perguruan Susuhing Angin itu terlempar
beberapa langkah dan jatuh terbanting di tanah. Dengan tangkasnya
orang itu meloncat bangkit, sementara juragan gula itu sama sekali
tidak beranjak dari tempatnya. Tetapi jantung Manggada dan Laksana
bagaikan terhenti berdetak. Ia melihat pemimpin perguruan Susuhing
Angin itu terhuyung-huyung kembali dan akhirnya jatuh terguling.
Sementara itu, juragan gula ini masih berdiri tegak dengan tombak
yang merunduk ditangannya. Ujung tombak itu menjadi merah oleh
darah, sementara itu darah nampak mengalir dari tubuh lawannya yang
terbaring diam. Tetapi Nyi Prawara itupun kemudian berdesis "Kiai”
Mereka yang menyaksikan pertempuran itu menjadi tegang sejenak.
Namun Nyi Prawarapun kemudian berlari mendekati juragan gula yang
kemudian jatuh berlutut pada sebelah lututnya. Bahkan kemudian ia
harus berpegangan pada landean tombaknya yang menjadi tegak
disisinya. Winihpun hampir saja berlari mendekati pula. Namun
langkahnya tertahan. Ia harus berada dekat dengan songsong yang
masih saja dipegang oleh Laksana itu. "Kiai Padma" desis Nyi Prawara
"Apakah Kiai terluka?" Juragan gula itu menggeleng. Katanya "Tidak.
Tidak Nyi. Aku hanya merasa sangat letih setelah aku menghentakkan
segala tenaga dan kemampuanku." "Mari Kiai, aku bantu Kiai menepi."
berkata Nyi Prawara. "Tidak. Tidak usah Nyi. Aku justru ingin
melihat apa yang terjadi dengan saudara-saudara kita yang lain."
berkata juragan gula itu. Nyi Prawara termangu-mangu sejenak.
Sementara itu, juragan gula itu justru telah duduk di tanah,
sedangkan Nyi Prawara berdiri disebelahnya. Nampaknya setelah
mengerahkan segenap tenaga dan kemampuan yang ada didalam dirinya,
juragan gula itu seakan-akan telah kehabisan tenaganya. Nyi Prawara
memang tidak segera beranjak dari tempatnya. Ia tahu bahwa dalam
keadaan yang demikian juragan gula itu memang menjadi lemah. Dalam
pada itu, selagi Nyi Prawara berdiri disebelah juragan gula itu, ia
memperhatikan pertempuran yang masih membakar halaman rumah yang
besar itu; Saudarasaudara seperguruan Kiai Gumrah itu agaknya sudah
dapat menguasai keadaan. Tetapi Ki Prawara sendiri masih bertempur
dengan sengitnya melawan Kiai Windu Kusuma, sedangkan Kiai Gumrah
berhadapan langsung dengan saudara seperguruannya yang ternyata
telah berkhianat. Kiai Kajar. Kiai Windu kusuma yang telah pernah
bertempur melawan Kiai Gumrah tetapi tidak tuntas, harus mengakui
bahwa orang yang mengaku dirinya anak Kiai Gumrah itu juga berilmu
tinggi. Karena itu, Maka Kiai Windu Kusumapun harus mengerahkan
segenap kemampuannya. Meskipun demikian orang yang bersenjata tombak
itu masih belum dapat dikuasainya. Nyi Prawara memang menjadi
berdebar-debar menyaksikan pertempuran yang masih tersisa. Beberapa
orang saudara seperguruan Kiai Gumrah yang telah menyelesaikan
pertempuran dihalaman itu bergeser perlahan-lahan mendekati arena.
Dengan wajah yang tegang mereka melihat beberapa orang berilmu
tinggi masih terlibat dalam pertempuran. Namun mereka tidak langsung
dapat ikut memasuki arena, karena hal itu justru akan mengecewakan
mereka yang sedang bertempur itu sendiri. Nampaknya Ki Prawara ingin
menyelesaikan lawannya sendiri. Apapun akibatnya. Pemimpin dari
sekelompok orang yang menjadi landasan utama untuk mengambil
pusaka-pusaka itu. Sedangkan Kiai Gumrah yang bertempur melawan Kiai
Kajar merupakan pertempuran diantara saudara seperguruan.
Dilingkaran yang lain, Ki Pandi yang bongkok itupun telah bertempur
dengan sengitnya melawan orang yang sudah lama diburunya. Dalam
keriuhan pertempuran itu, beberapa orang yang ada dihalaman itu
masih juga sempat mendengar aum harimau diluar dinding halaman.
Mereka tidak tahu apa yang telah terjadi. Namun mereka sempat juga
membayangkan beberapa orang yang melarikan diri dari halaman itu
telah bertemu dengan dua ekor harimau diluar halaman. Sementara itu
Buta Ijo dan tiga orang saudara seperguruannya masih sibuk mengawasi
orang-orang yang telah menyerahkan diri. Mereka yang menyerahkan
diri itu telah dikumpulkan ditangga pendapa setelah mereka
melepaskan senjata-senjata mereka. Nyi Prawara yang menyaksikan
suaminya masih bertempur dengan garangnya menjadi sangat tegang.
Bahkan Winih-pun telah mengajak Manggada dan Laksana lebih mendekat,
agar ia dapat melihat apa yang terjadi dengan ayahnya. Namun baik
Nyi Prawara ataupun Winih yang tahu benar sifat Ki Prawara, sama
sekali tidak berani mencampuri pertempuran itu. Dalam ketegangan
itu, mereka telah dikejutkan oleh umpatan kasar Kiai Kajar. Dengan
serta merta Kiai Kajar itu meloncat beberapa langkah surut sambil
memegangi pundaknya. Ternyata bahwa ujung tombak Kiai Gumrah telah
berhasil menyentuh pundak orang itu. Kiai Kajar yang merasa
jari-jarinya dihangati oleh darah dipundaknya itu menjadi semakin
marah, rasa-rasanya jantungnya telah membara membakar seisi dadanya.
Namun Kiai Gumrah, saudara seperguruan Kiai Kajar memiliki landasan
ilmu yang sama, sehingga seakan-akan apa yang akan dilakukan oleh
Kiai Kajar, Kiai Gumrah sudah mengetahuinya. Demikian pula
sebaliknya. Bahkan tataran ilmu mereka yang maningkat selapis demi
selapis rasa-rasanya selalu membuat keseimbangan, sehingga sulit
untuk menentukan siapakah yang akan menang dan kalah. Tetapi
ditangan Kiai Giimrah tergenggam tombak pusaka perguruan mereka,
yang bahkan telah menyentuh pundak saudara seperguruannya itu.
Meskipun ditangan Kiai Kajar, juga tergenggam senjata pilihan,
tetapi ternyata melihat pusaka perguruannya ditangan Kiai ©umrah,
ketahanan jiwani Kiai Kajar tergoyahkan pula. Bagaimanapun juga ada
perasaan bersalah yang menyelinap didalam rongga dadanya karena ia
telah berkhianat dengan memberikan beberapa keterangan tentang
pusaka-pusaka yang nilainya sangat tinggi itu. Bukan saja sebagai
barang warisan, tetapi karena pusaka-pusaka itu berlapis emas dan
permata. Namun sebenarnya Kiai Kajar telah menjadi kecewa ketika
Panembahan itu menyatakan diri berhak atas pusaka itu pula. Bahkan
panembahan itulah yang akan membuat pusaka-pusaka itu tetap bertuah
dengan mencucinya dengan darah yang masih mengalir di dalam jantung.
Tetapi segala sesuatunya telah terlanjur. Ketika ia melihat pemimpin
perguruan Susuhing Angin terlempar jatuh dan tidak bergerak lagi,
maka ia justru berpengharapan bahwa ia akan dapat memenuhi
keinginannya. Jika Panembahan itu dapat dikalahkan pula oleh
lawannya, maka ia akan menjadi orang utama yang dapat memiliki
pusaka-pusaka itu. Saudara-saudara Kiai Gumrah yang hadir dihalaman
itu adalah saudara-saudara seperguruannya pula. Jika ia mampu
mengalahkan Kiai Gumrah. seorang yang dianggap orang terpenting
bersamasama dengan dirinya sendiri dan juragan gula itu, maka
saudara-saudara seperguruannya yang lain tentu akan tunduk pula
kepadanya. Juragan gula itu sendiri nampaknya sudah menjadi sangat
letih dan tidak berdaya. Yang kemudian harus dihancurkan adalah
orang yang mengaku anak Kiai Gumrah itu bersama isterinya dan anak
gadisnya. "Setan" geram Kiai Kajar "mereka juga berilmu tinggi."
Kenyataan-kenyataan itulah yang membuat hati Kiai Kajar
kadang-kadang menjadi bimbang. Apalagi setiap kali ujung tombak di
tangan Kiai Gumrah itu terayun didepan matanya. Pengaruh pusaka
ditangan lawannya, kebimbangan dan , kenyataan yang dihadapinya,
membuat perlawanan Kjai Kajar menjadi semakin goyah. Betapapun Kiai
Kajar berusaha untuk tetap tegar dalam sikapnya, namun peletik
kelemahan. telah mewarnai hatinya pula. Ternyata kelemahannya itulah
yang menentukan akhir dari perlawanannya. Meskipun Kiai Kajar itu
telah berusaha menghalau kegelisahannya itu dengan teriakanteriakan
yang menghentak-hentak, namun pertahanannya menjadi semakin goyah.
Itulah sebabnya ketika kedua saudara seperguruannya itu sampai
kepuncak ilmu mereka, maka kegelisahan dihati Kiai Kajar itu telah
berpengaruh pula. Baik Kiai Gumrah maupun Kiai Kajar dengan puncak
ilmunya, justru tidak lagi meloncat-loncat dan berputaran. Mereka
berhadapan dengan senjata mereka yang merunduk. Serangan-serangan
yang mereka lakukan tidak lagi menghentak-hentak susul menyusul
Pertempuran itu memang nampak menjadi semakin lamban. Tetapi ketika
senjata mereka beradu, maka bunga api telah berloncatan ke udara.
Mereka yang menyaksikan pertempuran itu mengerti, betapa besarnya
tenaga mereka masing-masing. Saudarasaudara seperguruan mereka yang
sempat menyaksikan pertempuran itu menjadi sangat tegang. Bahkan
jantung mereka terasa semakin cepat berdenyut ketika terdengar Kiai
Kajar berteriak nyaring sambil meng:ayunkan senjatanya langsung
mengarah ke kening Kiai Gumrah. Mereka melihat dan merasakan getar
kekuatan tertinggi dari puncak ilmu perguruan mereka. Kiai Gumrahpun
menyadari bahwa Kiai Kajar ingin dengan cepat mengakhiri pertempuran
itu. Karena itu, maka iapun telah berada dipuncak kemampuannya pula.
Ketika ayunan senjata Ki Kajar itu menyambar dengan, kekuatan yang
sangar besar. Maka. Kiai Gumrah tidak berusaha untuk menangkisnya.
Meskipun ia percaya akan kekuatan landean tombaknya, namun tenaga
Kiai Kajar yang disertai dengan landasan ilmunya mungkin akan dapat
mematahkan landean tombak yang terbuat dari kayu yang dihiasi dengan
lapisan emas dan permata. Karena itu, pada saat yang tepat, Kiai
Gumrah telah bergeser selangkah, sehingga serangan yang dahsyat itu
tidak mengenainya. Tetapi Kiai Kiajarpun melihat sikap itu. Dengan
cepat, senjatanya yang terayun itu berputar. Untuk mengimbangi
perubahan gerak senjatanya, Kiai Kajar telah bergeser kesamping.
Tetapi jantungnya bergetar ketika ia melihat ujung tombak itu dengan
cepat bergetar didepan dadanya. Ujung tombak yang dihormatinya sejak
ia berada diperguruannya, karena tombak itu adalah salah satu
diantara lambang kebesaran guru dan perguruannya. Waktu yang sekejap
itu ternyata telah menentukan. Pada saat ia bergeser kesamping
itulah, maka ujung tombak itu tidak sekedar bergetar didepan
dadanya. Tetapi ujung tombak itu telah mematuk dadanya. Terdengar
Kiai Kajar itu berteriak nyaring. Namun ketika Kiai Gumrah menarik
tombaknya, maka Kiai Kajar itu-pun terhuyung-huyung sejenak. Darah
memancar dari lukanya, sehingga membasahi pakaiannya. Tanpa
dikehendakinya, maka senjata Kiai Kajar itu telah terlepas dari
tangannya dan jatuh ditanah. Beberapa orang saudara seperguruannya
yang menyaksikan menahan nafas sejenak. Ketika mereka melihat Kiai
Kajar itu tidak lagi mampu menguasai keseimbangannya, maka merekapun
segera berloncatan membantu menahan agar Kiai Kajar tidak jatuh
terbanting ditanah Namun, Kiai Kajar memang sudah tidak berdaya.
Darah bagaikan ditumpahkan dari luka-lukanya, sehingga karena itu,
maka saudara-saudara seperguruannya telah membaringkannya
perlahan-lahan. Kiai Gumrah sendiri berdiri termangu-mangu. Diluar
sadarnya ia memperhatikan tombaknya yang basah oleh darah segar yang
masih mengalir di jantung. "Tidak" berkata Kiai Gumrah dalam
hatinya. "Aku sama sekali tidak ingin mencuci ujung tombak ini
dengan darah yang masih mengalir di Jahtung." Sambil menarik nafas
panjang, Kiai Gumrah itu melangkah mendekati Kiai Kajar yang
terbaring dikerumuni oleh beberapa saudara seperguruannya. Tetapi
mereka terkejut ketika mendengar teriakan nyaring yang menggetarkan
halaman dan bahkan rumah yang besar itu. Bukan sekedar teriakan
marah. Tetapi hentakan ilmu yang sangat dahsyat yang dilontarkan
Panembahan Lebdagati. Akibatnya memang luar biasa. Beberapa orang
yang terluka, yang masih mungkin untuk mendapatkan penyembuhan,
telah menggeliat dan jantungnyapun segera berhenti berdetak. Bahkan
Kiai Kajar yang terluka parah itu telah menjadi semakin parah. Satu
kalimat masih terucapkan "Saudara-saudaraku. Aku minta maaf atas
kekhilafanku." "Kiai Kajar" seorang dari saudara seperguruannya itu
meraba tangannya. Tetapi tangan itu sudah tidak berdaya. Ketika yang
lain meletakkan telinganya didada. maka nafas Kiai Kajar telah
berhenti. Dalam pada itu, selagi seluruh perhatian seakan-akan
tertumpah pada tubuh Kiai Kajar, maka terdengar Ki Pandi yang
bongkok berteriak nyaring dengan suara wajarnya "Jangan lari." Semua
orang berpaling. Sementara Ki Pandi melenting berlari mengejar
Panembahan Lebdagati yang bagaikan terbang meloncati dinding
halaman. Namun merekapun melihat bayangan berikutnya menyusul. Ki
Pandi. Diluar dinding terdengar aum kedua ekor harimau Ki Pandi.
Tetapi suaranya tidak lagi dekat dibalik dinding. Bahkan ketika
suara itu terdengar lagi, rasa-rasanya suara itu sudah menjadi
semakin jauh. Tidak seorangpun yang sempat membantu Ki Pandi
menghentikan orang itu. Panembahan Lebdagati yang memang sejak
semula tidak dapat mengalahkan Ki Pandi, ternyata telah gagal lagi.
Apalagi ketika ia melihat beberapa orang yang berdiri dipihaknya
telah berjatuhan. Demikian pula orang-orang yang datang dari
berbagai perguruan itupun telah tidak berdaya lagi. .Panembahan
Lebdagati agaknya merasa tidak akan banyak berarti jika ia
mempergunakan ilmu pamungkasnya, karena Ki Pandi tentu akan dapat
mengimbanginya. Sehingga karena itu, ketika terbuka kesempatan, maka
lebih baik ia meninggalkan neraka yang sangat menyakitkan. Dihalaman
rumah itu ternyata telah berkumpul orang-orang berilmu tinggi yang
berusaha mempertahankan pusakapusaka yang dingini-nya itu. Satu
kekuatan yang sebenarnya diiuar dugaannya. Sepeninggal Panembahan
dan Ki Pandi, maka pertempuran yang tersisa tidak banyak berarti
lagi. Meskipun demikian, Kiai Windu Kusuma yang masih bertempur
melawan Ki Prawara tetap tidak mau menyerah. Kiai Gumrahlah yang
kemudian sambil memegangi tombaknya melangkah mendekat. Dengan suara
yang bergetar Kiai Gumrah itupun berkata “Kiai Windu Kusuma.
Sebaiknya kau menyerah saja. Kau sudah tidak mempunyai kesempatan
lagi untuk mempertahankan diri. Bukan saja karena kau tidak akan
dapat mengalahkan Prawara, tetapi kau sudah dikelilingi
lawan-lawanmu. Kawan-kawanmu telah terbunuh kecuali Panembahan yang
licik itu. Tetapi iapun akan segera dapat dibinasakan oleh Ki Pandi
dan harimau-harimaunya." "Persetan kau Gumrah. Jika kau takut orang
ini mati, lakukan apa yang ingin kau lakukan." geram Kiai Windu
Kusuma. Bahkan katanya kemudian "Jika kalian merasa perlu untuk
meramai-ramai mengeroyokku, aku sama sekali tidak akan gentar.” Kiai
Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat Kiai Windu Kusuma
Justru menyerang Ki Prawara dengan garangnya. Kerisnya yang besar
itu berputaran dan menggapai-gapai dada lawannya. Sambil meloncat
maju Kiai Windu Kusuma mengayunkan kerisnya kemudian menusuk kearab
lambung. Dengan tangkas Ki Prawara mengimbangi kecepatan gerak
lawannya. Namun KL Prawarapun melihat betapa Kiai Windu Kusuma
menjadi kehilangan pengamatan diri. Sekali-sekali oleh cahaya oncor
yang lemah, Ki Prawara sempat melihat sorot mata Kiai Windu Kusuma
yang menjadi liar. "Ki Sanak" berkata Ki Prawara kemudian sambil
meloncat mundur. Namun ketika Kiai Windu Kusuma akan memburunya
sambil mengayunkan kerisnya, maka ujung tombak Ki Prawara telah
merunduk tepat diarah dada. Tetapi Ki Prawara menjadi ragu-ragu
untuk mendorong tombaknya menghujam kedada Kiai Windu Kusuma yang
nampaknya telah berputus asa itu. Bahkan Ki Prawara telah meloncat
selangkah mundur sambil berkata "Kau tidak mempunyai kesempatan lagi
Ki Sanak." Tetapi Kiai Windu Kusuma tertawa. Katanya "Kenapa kau
tidak menusuk jantungku ? Ki Sanak, Apakah kau tidak berani melihat
darah atau kau sengaja menghina aku?" "Menyerahlah" berkata Ki
Prawara "apakah artinya pertempuran ini ? Seandainya salah seorang
dari kita mati, tidak akan menimbulkan perubahan apapun juga.
Pusakapusaka itu masih akan tetap ditangan Kiai Gumrah dan
saudara-saudara seperguruannya. Rumah ini akan tetap saja hancur dan
orang-orang yang telah terbunuh tidak akan bangkit kembali."
"Persetan" teriak Kiai Windu Kusuma sambil meloncat menyerang dengan
garangnya. Tetapi Ki Prawara sempat mengelak. Sementara itu Kiai
Gumrah telah melangkah semakin dekat sambil, berkata "Berhentilah."
"Setan tua kau Gumrah. Jika kau akan ikut, ikutlah." teriak Kiai
Windu Kusuma. "Kau tidak boleh menjadi kehilangan akal, Kiai. Kita
masih mempunyai mulut untuk berbicara." Kiai Gumrah hampir
berteriak. Namun yang tidak terduga telah dilakukan Kiai Windu
Kusuma. Ketika Kiai Gumrah berdiri tidak terlalu jaun dari arena
untuk mencoba melerai pertempuran itu, tiba-tiba saja Kiai Windu
Kusuma telah meloncat meninggalkan Ki Prawara justru menyerang orang
tua itu. Yang menyaksikan serangan itu memang terkejut. Nyi Prawara
justru sempat berteriak "Ayah." Kiai Gumrah juga menjadi terkejut
sekali. Justru karena itu, maka ia tidak dapat mengendalikan
nalurinya untuk menyelamatkan diri. Karena itu, ketika ia melihat
Kiai Windu Kusuma meloncat sambil mengayunkan kerisnya dengan
membabi buta, maka Kiai Gumrah telah mengangkat ujung tombaknya.
Bahkan Kiai Gumrah tidak sempat mengekang tangannya yang mendorong
ujung tombak itu menghujam kedalam dada Kiai Windu Kusuma. Apa yang
tidak dapat dilakukan oleh Ki Prawara ternyata terpaksa dilakukan
Kiai Gumrah. Terdengar Kiai Windu Kusuma berteriak nyaring. Namun
suaranya kemudian bagaikan menggantung diawan. Semakin tinggi,
semakin tinggi, sehingga bersamaan dengan tubuhnya yang terguling
jatuh ditanah setelah Kiai Gumrah menarik ujung tombaknya dengan
tangan yang gemetar, maka suara Kiai Windu Kusuma itupun menjadi
semakin lambai. Yang terdengar kemudian adalah umpatannya yang
terakhir "Kau memang iblis, Gumrah." Kiai Gumrah tidak menjawab.
Namun ia berdiri temangu-mangu memandang tubuh yang terbaring diam
itu. "Aku tidak dapat berbuat lain " desis Kiai Gumrah yang menyesal
bahwa orang terakhir itu harus dibunuhnya pula. Ki Prawara menarik
nafas dalam-dalam. Katanya "Apa boleh buat." "Aku terkejut mendapat
serangan yang tiba-tiba itu" desis Kiai Gumrah. "Ya" Juragan gula
yang sudah mendapatkan kekuatannya kembali setelah beberapa saat ia
mengalami keletihan itu menyahut "kami tidak dapat menyalahkan kau,
Kiai." Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Dipandanginya ujung tombaknya
yang telah dibasahi lagi dengan darah yang masih mengalir di jantung
diluar kehendaknya sendiri. Demikian, sesaat kemudian orang-orang
berilmu tinggi itupun telah berkumpul. Kiai Gumrah minta agar
saudarasaudara seperguruannya mengumpulkan sisa orang-orang dari
beberapa perguruan yang ada dihalaman itu yang telah menyerah dan
yang masih sanggup untuk berjalan ke depan tangga pendapa rumah Kiai
Windu Kusuma. Selain itu maka semua saudara-saudara seperguruan Kiai
Gumrahpun telah diminta berkumpul pula. Yang terluka parah, telah
dibantu oleh saudara-saudaranya berkumpul dipendapa. Kiai Gumrah
harus meyakinkan keadaan semuanya. Tiga batang tombak dan songsong
milik Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah itu
telah berkumpul dipendapa itu pula. Kiai Gumrah dan saudara-saudara
seperguruannya itu terkejut ketika terdengar pintu pringgitan
terbuka. Ketika mereka berpaling dilihatnya seorang yang muncul dari
balik pintu pringgitan itu. Beberapa orang serentak bangkit berdiri
dengan senjata terhunus menghadap orang yang melangkah memasuki
pringgitan dari ruang dalam itu. Tetapi Kiai Gumrahlah yang kemudian
mendekatinya. Dibawah cahaya lampu dipendapa itu. Kiai Gumrah
melihat, bahwa yang datang itu adalah Kundala. "Kau Kundala" desis
Kiai Gumrah. "Ya, Kiai" sahut orang itu. "Dimana kau selama
pertempuran berlangsung?" hartanya Kiai Gumrah. "Aku berada diatas
langit-langit diruang dalam. Aku tidak tahu harus berbuat apa."
jawab Kundala. "Marilah, duduklah. Kita akan berbicara." berkata
Kiai Gumrah kemudian. Kundalapun kemudian duduk dipendapa bersama
Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya. Sementara itu
suasana dihalaman rumah yang luas itu terasa sangat mencengkam.
Disana-sini tergolek tubuh yang berdarah. Diantara mereka masih
terdengar ada yang sedang mengerang kesakitan. Karena itu, maka Kiai
Gumrah- yang duduk dipendapa itupun kemudian berkata kepada
saudara-saudara seperguruannya. “Sebaiknya kita berbuat sesuatu atas
mereka yang terluka. Bukan saudara-saudara kita saja yang akan
mendapat perawatan, tetapi semuanya sejauh kita dapat melakukan.
Karena itu kita dapat minta bantuan mereka yang telah menyerah,
untuk mengumpulkan kawankawannya serta membantu merawat mereka.
Namun kita harus mengawasi pelaksanaannya dengan sebaik-baiknya."
Dengan demikian, maka beberapa orang saudara seperguruan Kiai
Gumrahpun segera bangkit dan melangkah turun tangga pendapa,
mendekati orang-orang yang telah menyerah, yang ada dihalaman rumah
itu. Dengan pengawasan saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah, maka
orang-orang yang menyerah itu mendapat tugas untuk mengumpulkan
kawan-kawan mereka yang terluka dan yang telah terbunuh dalam
pertempuran itu. Sementara itu langit menjadi merah oleh cahaya
fajar, Regol halaman yang sudah terbuka itu justru ditutup kembali.
Meskipun rumah itu tempatnya terpisah dari padukuhan-padukuhan,
namun mereka harus tetap menghindari kemungkinan-kemungkinan akan
ada orang lain yang melihat apa yang telah terjadi dihalaman rumah
yang luas yang menurut penglihatan orang-orang padukuhan regolnya
selalu tertutup. Namun disamping mereka yang terbaring dihalaman,
ternyata ketika salah seorang saudara seperguruan Kiai Gumrah
membawa dua orang yang sudah menyerah itu keluar regol, mereka telah
menemukan dua sosok tubuh yang agaknya telah dikoyak-koyak oleh
kedua ekor harimau Ki Pandi. Agaknya kedua orang itu berusaha untuk
melarikan diri dengan meloncati dinding, namun harimau Ki Pandi itu
sempat melihatnya dan kemudian menerkamnya. Pekerjaan itu belum
selesai sampai saatnva matahari terbit. Sementara itu, Kiai Gumrah,
juragan gula, Ki Prawara yang duduk dipendapa bersama Kundala tengah
mengadakan pembicaraan tersendiri. Disisi lain Nyi Prawara, Winih,
Manggada dan Laksana Nampak termenung merenungi pengalaman yang
sangat berkesan dihati mereka. Mereka mengucap sokur dalam hati,
bahwa mereka masih mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung,
sehingga mereka selamat dari bencana yang telah mencengkam seisi
rumah dan halamannya itu. Manggada dari Laksana yang sejak semula
sudah merasa dirinya kecil, maka mereka merasa menjadi semakin
kecil. Keduanya sama sekali tidak dapat ikut berbuat, sesuatu ketika
terjadi pertempuran yang menentukan, justru di lingkungan kekuasaan
lawan yang jumlahnya jauh lebih besar dari jumlah saudara-saudara
seperguruan Kiai. Gumrah. . . . Namun Nyi Prawara tidak dapat
terlalu lama beristirahat. Bersama dua orang saudara seperguruan
Kiai Gumrah yang lain, maka Nyi Prawarapun telah membantu merawat
saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah. Bahkan sejauh jangkauan
mereka, mereka juga berusaha menolong para pengikut dari mereka yang
ingin merampas pusaka-pusaka itu dari tangan Kiai Gumrah dan
saudarasaudara seperguruannya, setelah mereka dikumpulkan di
pendapa. Dalam pada itu, Kiai Gumrah yang secara khusus berbicara
dengan Kundala, telah menanyakan kepadanya, apakah Kundala bersedia
untuk mengambil alih pimpinan dirumah itu. "Aku tidak yakin, bahwa
orang-orang yang tersisa itu akan bersedia menerima aku" berkata
Kundala. "Kenapa?" bertanya Kiai Gumrah. "Meskipun Kiai Windu Kusuma
sampai saat terakhir masih belum mengetahui, bahwa aku telah
mengkhianatinya, namun kepercayaan Kiai Windu Kusuma kepadaku sudah
jauh menyusut. Bukan karena ia mencurigai aku bahwa aku tidak setia,
tetapi kemampuanku dianggap kurang memadai." "Tetapi sebagaimana kau
lihat, tidak ada orang iain lagi di rumah yang besar ini. Kecuali
itu, maka kami akan selalu membantumu jika terjadi sesuatu dirumah
ini." Kundala menarik nafas dalam-dalam. Diluar sadarnya ia
memandang berkeliling. Ia sempat melihat orang-orang yang tinggal
dirumah itu seakan-akan telah kehilangan dirinya. Yang nampak hanya
ujud-ujud kewadagannya saja. Tidak lagi membayangkan keperkasaan
mereka. Apalagi mereka yang terluka, terbaring sambil menahan desah
kesakitan, sementara. yang menyerah dalam keadaan yang utuh dan
sedang mengumpulkan orang-orang yang terluka, tidak lagi berani
mengangkat wajah mereka. Sedangkan yang mengawasi mereka hanyalah
beberapa orang yang jumlahnya jauh lebih kecil. "Jika kau bersedia,
Kundala, maka aku akan berbicara dengan orang-orang itu. Sudah tentu
bahwa kami tidak akan tinggal disini untuk selanjutnya. Mungkin hari
ini kami masih akan berada disini. Tetapi mungkin pula besok kami
sudah akan pergi. Kundala ternyata ragu-ragu. Namun Kiai Gumrah,
juragan gula dan Ki Prawara telah membesarkan hatinya. Dengan nada
rendah Ki Prawara berkata "Kundala, orang-orang itu telah kehilangan
keberanian untuk berbuat sesuatu. Bahkan untuk bersikap didalam
hatipun seperti itu, harus tampil seseorang. Kundala, jika kau ingin
melahirkan, perubahan tata kehidupan dilingkungan mereka, sekarang
adalah waktunya Jangan beri kesempatan mereka untuk membuat
pertimbangan-pertimbangan lagi. Kau harus mengajukan satu ujud
tatanan kehidupan yang masuk akal dan dapat mereka cerna dengan
panalaran. Pada kesempatan ini kau dapat menawarkan poia masa depan
yang penuh harapan bagi mereka." Kundala menarik nafas dalam-dalam.
Sementara juragan gula itu berkata pula "Kau satu-satunya pilihan
kami. Bagaimanapun juga kami masih melihat, bahwa kau masih sempat
berpaling pada hati nuranimu justru disaat yang paling gawat."
Kundala menundukkan kepalanya. Namun akhirnya ia berdesis "Aku akan
mencobanya." "Bagus" berkata Kiai Gumrah "aku akan berbicara nanti
dengan orang-orang yang masih tertinggal disini darimanapun mereka
datang." “Tetapi bagaimana dengan Panembahan yang sempat melarikan
diri itu? " bertanya Kundala. "Ia tidak akan banyak mendapat
kesempatan" berkata Kiai Gumrah "orang bongkok itu tentu akan selalu
membayanginya." Kundala mengerutkan dahinya. Namun Kiai Gumrah
sempat menjelaskan, bahwa Ki Pandi agaknya tidak akan pernah
melepaskan orang yang menyebut dirinya Panembahan itu. "Jika
Panembahan itu pada suatu saat datang kemari, maka Ki Pandipun tentu
akan datang pula kemari," berkata Kiai Gumrah. Kundala
mengangguk-angguk sambil berdesis "Semoga aku dapat memikul beban
ini. Kiai." "Kau akan dapat melakukannya. Bukankah kami tidak berada
terlalu jauh dari tempat ini?” Kundala mengangguk sambil menjawab
"Terima kasih Kiai. Mudah-mudahan kami akan dapat mulai dengan satu
bentuk kehidupan baru. Tentu saja yang lebih baik dari masa yang
lalu." "Kalian harus berani memasuki satu tatanan yang barangkali
sangat berbeda dengan tatanan kehidupan yang pernah kalian jalani
sebelumnya. Tetapi dengan satu keyakinan, bahwa kalian akan dapat
melakukannya." berkata juragan gula itu. Kundala tidak menjawab.
Namun matanya menerawang jauh meloncati dinding halaman rumah yang
besar itu. Hari itu, dirumah itu telah dilakukan satu kesibukan yang
luar biasa. Semua orang telah dikerahkan untuk memberikan
pertolongan kepada mereka yang memerlukan perawatan. Bahkan Nyi
Prawara rasa-rasanya tidak sempat lagi untuk beristirahat. Namun
hari itu juga telah digali lubang-lubang kubur jauh dibagian
belakang kebun yang paling jauh dari rumah yang besar dan berhalaman
luas itu. Hal itu terpaksa dilakukan karena Kiai Gumrah dan
saudara-saudara seperguruannya tidak ingin menarik perhatian
orang-orang yang tinggal di padukuhan terdekat dari rumah itu. Jika
mereka membawa tubuh-tubuh orang yang terbunuh di halaman itu ke
kuburan, maka tentu akan mengundang banyak sekali pertanyaan.
Sementara itu, Kundala telah memerintahkan beberapa orang perempuan
yang memang terbiasa bekerja didapur untuk melakukan pekerjaan
mereka, tetapi perempuanperempuan itu, tidak dapat menolak. Mereka
harus keluar dari persembunyian mereka didalam rumah yang besar itu
dan masuk kedalam dapur yang luas. Sedangkan persediaan bahan
makanan dirumah itu cukup banyak dan akan mencukupi untuk waktu yang
panjang. Tetapi perempuan-perempuan lain, yang tidak termasuk
perempuan baik-baik dan bukan pula perempuan yang sehari-harinya
memang dipekerjakan dirumah itu telah dikumpulkan disatu ruang yang
khusus. Kundala memang berniat untuk menyingkirkan mereka dari rumah
itu. Atas desakan Kiai Gumrah, maka para penghuni rumah itu yang
tersisa dan menyerah, telah menerima Kundala memimpin mereka.
Meskipun Kundala bukan termasuk salah seorang pemimpin yang tataran
ilmunya sejajar dengan Kiai Windu Kusuma, namun ternyata Kundala
mempunyai kekuatan yang lain. Sebagaimana dikatakan oleh Kiai
Gumrah, maka kesempatan itu memang dipergunakan sebaik-baiknya untuk
memberikan pola kehidupan yang baru bagi orang-orang yang tersisa di
rumah itu. Kiai Gumrah ternyata berada dirumah itu tidak hanya
sehari. Bersama dengan saudara-saudara seperguruannya, mereka
diminta untuk tinggal dua tiga hari lagi sampai keadaan menjadi
tenang. Goncangan yang terjadi benarbenar telah menikam kedalam
setiap jantung dari para penghuni rumah itu. Ternyata tawaran
Kundala tentang pola tatanan kehidupan yang baru telah menarik
perhatian para penghuni rumah itu yang tersisa. Apalagi Kundala
telah menunjuk sawah, ladang dan pategalan yang sangat luas, milik
Kiai Windu Kusuma yang akan dapat menjadi ladang kehidupan mereka
kemudian selain usaha lain dengan cara yang lebih baik dari cara
yang pernah mereka tempuh. Dalam waktu tiga hari, maka keadaan rumah
itu telah mulai tenang kembali. Meskipun disana-sini masih terbaring
orang-orang yang lukanya, terhitung parah. Bahkan ada diantara.
mereka yang terpaksa menyusul kawan-kawannya yang tubuhnya telah
terbaring di kebun belakang dari rumah yang besar itu. Selama,
berada di rumah itu, Manggada dan Laksana setiap kali diajak Winih
untuk ikut mengawasi perempuanperempuan yang bekerja didapur. Namun
agaknya tugas itu tidak begitu menyenangkan bagi Manggada dan
Laksana. Hanya karena Winih yang mengajak mereka, maka mereka tidak
menolak. Apalagi keduanya memang tidak tahu, apa yang sebaiknya
mereka lakukan dirumah itu. Tetapi ketika keadaan menjadi semakin
tenang, serta tatanan baru mulai disusun oleh Kundala dan dua orang
yang ditunjuknya, maka Manggada dan Laksana merasa bahwa kehadiran
mereka sama sekali sudah tidak diperlukan lagi. Karena itu, maka
keduanya telah mulai membicarakan kepentingan mereka sendiri. "Kapan
kita akan meneruskan perjalanan kita?" bertanya Manggada. Laksana
mengangguk kecil. Katanya "Kita memang tidak diperlukan lagi
disini." "Baiklah. Kita akan berbicara dengan kakek." desis Manggada
kemudian. "Kakek siapa?" bertanya Laksana. Manggada tersenyum.
Tetapi ia masih juga bertanya "Apakah kau akan berbicara juga dengan
Winih? — "Ah kau. Winih memang cantik. Tetapi ia terlalu garang."
Keduanya tertawa. Sementara Manggada berkata "Kita menunggu sampai
Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya meninggalkan rumah
ini, tetapi kita langsung melanjutkan perjalanan kita yang
tertunda-tunda." Laksana menarik nafas dalam-dalam. Katanya
"Ternyata sampai saat terakhir kita tetap tidak mengetahui dengan
pasti, siapakah orang-orang yang setiap hari ada disekeliling kita.
Kita juga tidak tahu pasti tentang pusaka-pusaka yang disimpan oleh
Kiai Gumrah." "Ya. Kita telah melihat satu dunia yang seakan-akan
dibatasi oleh tabir yang tipis. Kita memang dapat melihat tembus,
tetapi tidak jelas” umam Manggada. Namun di malam hari, ketika Kiai
Gumrah dan saudarasaudara perguruannya duduk dipendapa membicarakan
rencana mereka meninggalkan rumah itu, telah dikejutkan oleh
kehadiran Ki Pandir. Kiai Gumrah dan saudarasaudara seperguruannya
mengira bahwa Ki Pandi tidak akan secepat itu, datang kembali
mengunjungi mereka. Kiai Gumrahpun kemudian mempersilahkan Ki Pandi
untuk duduk bersama mereka di pendapa. Dengan singkat Ki Pandi
menceriterakan bahwa ia tidak berhasil menemukan Panembahan
Lebdagati malam itu. Namun Ki Pandipun berkata "Tetapi aku yakin,
bahwa aku akan dapat membayanginya di hari-hari mendatang.
Panggraitaku akan dapat menjadi penunjuk yang dapat dipercaya untuk
membayangi Panembahan itu." Kiai Gumrah mengangguk-angguk: Katanya
"Kami berharap demikian, agar Panembahan itu tidak akan mengacaukan
pola tatanan kehidupan baru yang sedang disusun dirumah ini." Ki
Pandi mengangguk-angguk. Katanya "Aku bersukur bahwa goncangan
dirumah ini telah dapat menumbuhkan sesuatu yang berarti. Jika
orang-orang yang tersisa itu dapat menemukan jalan yang baru itu
adalah karena kalian telah melakukan sesuatu yang bukan saja berarti
bagi kalian sendiri. Ternyata akibatnya bukan sekedar mempertahankan
pusaka-pusaka itu, tetapi satu perubahan sikap hidup bagi banyak
orang." "Kita memang harus mensukurinya, Ki Pandi." "Itulah sebabnya
aku datang kembali. Ketika aku meninggalkan rumah ini, aku belum
sempat mengucapkan selamat atas keberhasilan kalian." berkata Ki
Pandi. “Tetapi itu juga karena bantuan Ki Pandi. Bukan hanya saat
kami datang kerumah ini, tetapi juga sejak jauh sebelumnya. Tanpa
kehadiran kedua ekor harimau itu, maka sulit bagi kami untuk
mempertahankan pusakapusaka itu dirumahku sebelum saudara-saudaraku
berkumpul” Ki Pandi menggeleng. Katanya "Tidak. Kalian mempunyai
kekuatan cukup untuk mempertahankan pusaka itu saat ini.” Kiai
Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya termangu-mangu sejenak.
Sementara Ki Pandi berkata selanjutnya "Tidak ada seorangpun, bahkan
sekelompok orang-pun yang akan dapat mengambil pusaka-pusaka itu
dari kalian sekarang, selagi kalian masih lengkap atau
setidak-tidaknya sebagian besar dari kalian.” Kiai Gumrah dan
saudara-saudara seperguruannya mulai merenungi kata-kata Ki Pandi
yang berkata seterusnya "Tetapi aku yakin, bahwa tidak selamanya
kalian dapat berkumpul seperti ini. Sebagaimana berlaku bagi setiap
yang hidup, maka satu demi satu kalian tentu akan pergi. Hingga pada
suatu saat, maka pusaka-pusaka itu tidak akan ada lagi yang dapat
mempertahankannya jika seseorang atau sekelompok orang berusaha
untuk memilikinya. Bahkan mungkin sekelompok orang yang bermaksud
buruk. Apakah karena pusaka-pusaka itu dianggap bertuah atau karena
pusaka-pusaka itu dibalut dengan bahan yang sangat mahal." Kiai
Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Ia mulai meraba arah bicara Ki
Pandi yang bongkok itu. Dengan nada dalam ia berkata "Jadi, menurut
Ki Pandi, apa yang sebaiknya kami lakukan?” "Kiai" sahut Ki Pandi
"menurut penglihatanku, kalian yang mempertahankan pusaka-pusaka itu
rata-rata sudah seumur dengan aku. Berapa tahun lagi kalian masih
dapat bertahan. Lima tahun, atau sepuluh tahun atau berapa? Kalian
sekarang dapat berbangga atas keutuhan kalian sebagai
saudara-saudara seperguruan. Seakan-akan tidak akan ada kekuatan
yang dapat memecahkan hubungan kalian yang satu dengan yang lain.
Tetapi kalian tidak sempat memikirkan, bahwa saat itu akan datang
juga. Satu demi satu kalian akan tidak ada lagi." Kiai Gumrah dan
saudara-saudara seperguruannya mulai mengerutkan kening mereka.
Kata-kata Ki Pandi itu. mulai menyentuh jantung mereka. "Kiai"
berkata Ki Pandi kemudian "yang ingin aku tanyakan kepada Kiai dan
saudara-saudara seperguruan Kiai, apakah Kiai pernah memikirkan,
siapakah yang akan meneruskan tugas Kiai menjaga pusaka-pusaka
warisan yang nilainya sangat tinggi itu? Kiai tentu tidak akan dapat
selalu berbangga karena Kiai dan saudara-saudara seperguruan Kiai
masih mampu mempertahankannya. Kiai, coba marilah kita lihat, yang
umurnya masih terhitung muda disini hanyalah anak, menantu dan
seorang cucu Kiai. Tetapi apakah mereka kemudian akan mampu
melindungi pusaka-pusaka itu sebagaimana Kiai dan saudara-saudara
seperguruan Kiai sekarang ini?” Kiai Gumrah menarik nafas
dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata "Aku mengerti Ki Pandi.
Pertanyaan Kiai telah membuka Hati kami." "Nah" berkata Ki Pandi
selanjutnya "nampaknya masih ada waktu. Kalian harus menyusun
kekuatan untuk meneruskan tugas kalian menjaga pusaka pusaka itu.
Satu angkatan penerus yang setidak-tidaknya memiliki kemampuan
sebagaimana kalian yang sudah tua-tua itu." "Aku mengerti Ki Pandi"
Kiai Gumrah masih mengangguk-angguk "selama ini kami memang terlalu
berbangga akan diri kami sendiri. Kami memang merasa bahwa kami
merupakan satu kekuatan yang sulit untuk dapat ditundukkan. Tetapi
kami memang melupakan masa depan sebagaimana yang Ki Pandi katakan."
"Kiai. Aku sangat kagum melihat kemampuan gadis cucu Kiai itu.
Dengan demikian maka akan mempunyai gambaran, bahwa kalian akan
dapat menyusun satu angkatan penerus sebagaimana Winih yang telah
ditempa menjadi seorang yang memiliki kemampuan yang sangat tinggi.
Meskipun pengalamannya masih belum terlalu banyak, tetapi agaknya
penalarannya lebih banyak membantu nya." "Nah, Kiai" berkata Ki
Pandi pula "Kiai dan saudarasaudara seperguruan Kiai harus segera
mulai." Kiai Gumrah termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia
memandangi saudara-saudara seperguruannya yang duduk disekitarnya
sambil berkata "Bagaimana pendapat kalian?" Juragan gula itulah yang
menyahut "Aku sependapat dengan Ki Pandi. Selama ini kita memang
terlalu berbangga akan diri kita sendiri. Bahkan sampai hari ini.
Kita berbangga bahwa kita dapat mempertahankan pusakapusaka warisan
serta lambang dari perguruan kita. Sehingga kita tenggelam dalam
kebanggaan ifu. Tetapi kita memang tidak dapat berpikir bagaimana
yang akan terjadi jika lima tahun lagi, atau sepuluh tahun lagi,
keadaan seperti ini akan terulang. Sementara, orang lain menyusun
kekuatan untuk mulai dengan langkah-langkah baru." Orang yang
selalu-menyebut dirinya berilmu tinggi itupun berkata sambil
mengusap-usap lukanya yang masih terasa pedih "Ya. Kita sekarang
mampu melawan orang yang jumlahnya jauh lebih banyak dari jumlah
kita. Kita dapat mengurangi jumlah mereka seorang demi seorang
dengan cara kita. Namun suatu saat, jumlah kitalah yang akan
dikurangi seorang demi seorang." Seorang yang lainpun berkata
"Apakah kita dapat menghentikan laju umur kita yang memanjat dari
tahun ketahun?" Kiai Gumrah tersenyum. Katanya sambil
menganggukangguk "Ya. Kita lupakan masa depan kita." Tetapi suaranya
kemudian meninggi "Saudara-saudaraku. Aku sendiri telah menyiapkan
pilar penyangga masa depan itu. Aku punya Prawara, isterinya dan
cucu-cucuku. Nah, bagaimana depgan kalian?" Buta Ijo itu bergumam
hampir kepada dirinya sendiri “Cucu-cucumu. Berapa jumlah cucumu?"
"Tiga" jawab Kiai Gumrah "seorang perempuan dan dua orang
laki-laki." Tiba-tiba saja semua orang berpaling kepada Manggada dan
Laksana. Sementara Manggada dan Laksana sendiri menjadi bingung.
Namun Kiai Gumrah itupun berkata "Sebenarnya aku memang pernah
berbicara tentang pendukung masa depan. Aku juga pernah berbicara
dengan kedua cucu laki-lakiku itu. Sekarang aku ingin menegaskan,
bahwa keduanya akan termasuk menjadi penerus dari perguruan kita."
Manggada dan Laksana menjadi bingung. Sementara Kiai Gumrah itupun
berkata kepada saudara-saudara seperguruannya "Tetapi sudah tentu
bahwa kalian juga berkewajiban untuk menyiapkannya. Mungkin anak
atau cucu kalian masing-masing. Suatu ketika mereka akan kita
kumpulkan agar mereka saling mengenal sehingga mereka akan terikat
dalam satu lingkaran persaudaraan sebagaimana kita sendiri."
“Baiklah" berkata Kiai Padma yang lebih dikenal sebagai juragan gula
itu "Aku juga berjanji akan ikut mendukung; masa depan itu dengan
menyiapkan penerus yang akan menjadi pengawal bagi masa depan. Tanpa
mereka kita memang tidak berarti apa-apa. Apa yang kita pertahankan
dengan penuh kebanggaan sekarang ini, tidak lebih dari satu mimpi
buruk." Seorang yang lebih banyak mengantuk itupun berkata "Kita
terlalu asyik dengan kebanggaan kita sendiri. He, bagaimana jika ada
diantara kita tidak mempunyai anak seperti orang berkumis tidak rata
itu." "Siapa bilang" jawab orang yang disebut berkumis tidak rata
"aku mempunyai lebih dari selusin anak meskipun anak tetangga.
Tetapi aku dapat memilih yang terbaik diantara mereka." "Baiklah"
bakata Kiai Gumrah "hari ini kita berjanji untuk segera mulai dengan
mempersiapkan masa depan itu” Namun dalam pada itu, Manggada dan
Laksana menjadi gelisah. Mereka tidak akan dapat terikat dengan
rencana itu, dengan memaksa diri Manggada berkata "Kiai. Kami berdua
mohon maaf. Kecuali kami berdua merasa sama sekali tidak berarti
disini. kamipun masih mempunyai kepentingan yang lain. Sejak kami
meninggalkan rumah paman, kami belum pernah sampai kerumah ayah.
Jika suatu hari paman berkunjung kerumah ayah dan kami belum ada
dirumah, maka ayah tentu akan menjadi gelisah." Kiai Gumrah
mengerutkan dahinya. Katanya "Bukankah kalian sudah menyatakan
keinginan kalian untuk tinggal bersama kami?" "Waktu itu memang
demikian" jawab Manggada "tetapi betapa bodohnya kami, bahwa kami
merasa akan dapat membantu Kiai." "Pada suatu hari kau akan kami
antar pulang dan sekaligus minta kepada orang tua kalian bahwa
kalian akan berada dilingkungan kami." berkata Kiai Gumrah "Terima
kasih Kiai. Tetapi sebaiknya kami pulang lebih dahulu." suara
Manggada merendah. Ki Pandilah yang kemudian menyahut "Jika
demikian-, biarlah aku menemani anak-anak ini. Aku sudah kenal
mereka sejak lama.. Aku akan mengantarnya pula. Suatu ketika aku
akan membawa mereka kembali kepada kalian." Kiai Gumrah menarik
nafas dalam-dalam. Sementara Winih yang duduk disebelah anak-anak
muda itu bertanya "Kalian akan meninggalkan kami ?” "Orang tua kami
akan kehilangan kami, jika kami tidak pulang" jawab Manggada. Kiai
Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Tetapi ingat anak-anak.
Kalian adalah cucu-cucuku." Manggada dan Laksana termangu-mangu
sejenak. Merekapun sebenarnya merasa sangat berat untuk meninggalkan
Kiai Gumrah. Meskipun mereka tahu bahwa mereka tidak berarti apa-apa
bagi orang tua itu, namun selama ia berada dirumah Kiai Gumrah, maka
ia memang merasa seolah-olah tinggal dirumah sendiri. Bahkan setelah
anak dan menantu Kiai Gumrah beserta Winih datang, hubungan mereka
dengan keluarga Kiai Gumrah itu menjadi semakin akrab. Bahkan
Manggada dan Laksana kadang-kadang sering lupa dan merasa bahwa
mereka memang bagian dari keluarga itu. Namun akhirnya Kiai
Gumrahpun telah melepasnya pula. Juragan gula yang sudah akrab pula
dengan kedua orang anak muda itu, bahkan beberapa orang yang lain,
juga ikut menyesalkan kepergian Manggada dan Laksana. Namun mereka
memang tidak dapat menahannya tanpa memperhatikan kepentingan
anak-anak muda itu sendiri. Meskipun demikian, kedua anak muda itu
masih diminta untuk singgah dirumah Kiai Gumrah sebelum mereka
benar-benar meninggalkan keluarga itu. Demikianlah, maka keesokan
harinya, Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya itupun telah
meninggalkan Kundala yang nampaknya mulai dapat menguasai orangorang
yang masih tersisa dirumah itu. Kepada mereka Kiai Gumrah berkata
"Ikutilah jejak langkah Kundala. Jika kalian berjanji, maka kami
tidak akan melaporkan kegiatan kalian kepada Senapati Pajang yang
mendapat tugas didaerah ini. Tetapi jika kalian berkeras dengan cara
hidup kalian sebelumnya, maka akan datang gilirannya pasukan Pajang
menghancurkan kalian." Wajah-wajah yang suram itu hanya dapat
menunduk. Namun kata-kata Kiai Gumrah itu meresap dihati mereka.
Ternyata bahwa saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah itu akan
langsung pulang kerumah masing-masing. Hanya mereka yang masih belum
sembuh dari lukalukanya, akan diantar oleh saudara seperguruan yang
terdekat. Dua orang yang lukanya masih agak parah, akan dibawa lebih
dahulu kerumah Kiai Gumrah. Demikian pula pusaka-pusaka yang telah
berhasil mereka pertahankan itu akan tetap disimpan dirumah Kiai
Gumrah untuk sementara, sebelum mereka mengambil keputusan lain,
karena tempat itu sudah menjadi tidak tenang lagi. Ketika Kiai
Gumrah dan keluarganya serta kedua orang saudara seperguruannya yang
terluka itu sampai dirumah, mereka menjadi heran. Dua orang yang
tertangkap dan ditahan dirumah itu ternyata masih tetap menunggu.
Ketika pengaruh ketukan jari-jari Kiai Gumrah telah mengendur,
sehingga keduanya terbangun, keduanya tidak berniat untuk melarikan
diri. Ternyata mereka merasa bahwa mereka tidak akan dapat hidup
lagi tanpa perlindungan Kiai Gumrah. "Baiklah. Besok kau akan kami
serahkan kepada Kundala yang sekarang memimpin kawan-kawanmu dirumah
Kiai Windu Kusuma." berkata Kiai Gumrah kepada mereka. Namun dalam
pada itu. Manggada dan Laksana benarbenar akan meninggalkan rumah
itu. Betapa beratnya hati keluarga Kiai Gumrah, namun mereka harus
melepas mereka. Meskipun demikian mereka merasa berbesar hati bahwa
Ki Pandi akan membawa mereka sampai kepada orang tua mereka dan
ke!ak, akan membawa mereka kembali kepadanya. Kedua anak muda itu
diharapkan akan dapat menjadi bagian dari penerus yang akan mengawal
lambang kehadiran mereka... Winih melepas kedua orang anak muda itu
dengan mata yang basah. Banyak kesan yang tertinggal dihatinya
tentang kedua anak muda itu. Setiap kali Winih masih
memperbandingkan keduanya dengan Darpati yang hampir saja merampas
hatinya sehingga ia akan dapat kehilangan pribadinya. Manggada yang
sudah siap untuk berangkat itu berkata "Aku kagumi kau Winih. Kami
berdua bukan apa-apa dipandangan matamu." "Kalian salah mengerti
kakang." jawab Winih "Aku bangga terhadap kalian berdua. Ilmu
kemampuan dan kelebihan apapun tidak berarti apa-apa tanpa dukungan
kepribadian yang kuat. Dan kalian sudah memiliki kepribadian itu.
Pada saatnya kalian akan kembali dengan ilmu dan kemampuan yang
tinggi didukung oleh kepribadian yang sangat kuat." Manggada
mengangguk-angguk, sementara Laksana berkata "Jika kelak aku
kembali, apakah kau masih tetap menganggap kami sebagai kakakmu
sendiri." "Tentu kakang " jawab Winih. Dahi Laksana berkerut. Tetapi
iapun berdesis "Terima kasih Winih. Kelak kami tentu akan datang
kembali” Demikianlah, maka Manggada dan Laksanapun benarbenar
meninggalkan rumah itu. Nyi Prawara membekali mereka dengan
obat-obatan yang penting bagi mereka diperjalanan. "Kami titipkan
anak-anak ini kepadamu, Ki Pandi." berkata Kiai Gumrah. Ki Pandi
tersenyum sambil mengangguk. Namun sejenak kemudian maka merekapun
telah
pergi.
Setelah seri ARYA MANGGADA III "SANG
PENERUS" berakhir, maka akan dilanjutkan dengan seri IV dengan judul
"SEJUKNYA KAMPUNG HALAMAN" Tetapi ketika ARYA MANGGADA menginjakkan
kakinya di Kampung Halamannya justru tanahnya seakanakan sedang
membara.
|