[back to topmdi.net]

Sang Penerus

Welcome to topmdi - ebook collection 

Buku 1
KEDUA orang anak muda itu telah menyusuri jalan padu kuhan Nguter yang menjadi sibuk karena persoalan Mas Rara. Beberapa orang prajurit masih nampak sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Namun Manggada dan Laksana berjalan semakin lama semakin jauh, sehingga keduanya telah meninggalkan pintu gerbang padukuhan. Sebuah padukuhan yang ternyata menyimpan persoalan yang justru menjadi rumit. Sementara itu. panas matahari terasa menyengat kulit. Namun hijaunya batang padi di sawah, membuat udara terasa segar. Pohon turi yang tumbuh di sebelahmenyebelah jalan bulak telah memberikan perlindungan kepada para pejalan. Sementara bunganya setiap kali dipetik untuk dimasak bersama beberapa jenis dedaunan. Parit di pinggir jaian mengalir deras. Airnya jemih menyusup di antara rerumputan yang tumbuh di tanggul. Di teriknya sinar matahari masih nampak beberapa erang bekerja disawah. Menyiangi rumput liar yang tumbuh di sela-sela batang padi. "Kita sekarang akan pulang" berkata Manggada. Laksana menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Jalan ini adalah jalan yang langsung menuju Pajang, meskipun kita tidak akan sampai ke Pajang pada hari ini". Manggada mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berdesis "Bukankah kita masih mempunyai uang serba sedikit? “ "Kita masih mempunyai cukup uang. Kita belum banyak mempergunakannya dalam perjalanan" jawab Laksana. Manggada mengangguk-angguk. Hampir di luar sadarnya ia berkata "Ternyata Mas Rara bukan gadis desa". Laksana tertawa. Katanya "Gadis itu juga menuju ke Pajang hari ini". "Naik kereta" desis Manggada. "Pengiringnya naik kuda" sahut Laksana. "Jika demikian, kita akan mengambil jalan lain. Jika mereka juga mengambil jalan ini, mereka tentu akan melampaui kita" berkata Manggada. "Ya. Mas Rara yang naik kereta itu bersama Nyi Partija Wirasentana akan melambaikan tangannya kepada kita" desis Laksana sambil tertawa. "Kita harus mengambil jalan lain" berkata Manggada. Sebenarnyalah, ketika mereka sampai ke simpang empat, Manggada telah mengajak Laksana berbelok meninggalkan jalan utama menuju ke Pajang. Dengan demikian, mereka telah menempuh jalan yang lebih kecil. Namun mereka yakin, bahwa mereka tidak akan dapat menunjukkan jalan yang menuju ke Pajang. Ternyata jalan yang lebih kecil itu justru telah melewati sebuah padukuhan yang besar. Di sudut padukuhan itu terdapat sebuah pasar yang agaknya cukup ramai di pagi hari. Menilik iuasnya dan beberapa gubug di tepi pasar yang dipergunakan oleh para pande besi, maka pasar itu merupakan pasar yang cukup penting. Setidak-tidaknya di hari pasaran sepekan sekali. Tetapi ketika keduanya melewati jalan di sebelah pasar itu, maka pasar itu sudah menjadi sepi. Meskipun demikian, masih juga ada sebuah kedai yang masih dibuka. Bahkan masih ada satu dua orang didalamnya. "Kita berhenti sebentar. Aku haus" desis Laksana. Manggada mengangguk. Iapun merasa sangat haus setelah berjalan di bawah teriknya matahari di bulak panjang. Di kedai itu Manggada dan Laksana itu mendengar beberapa orang yang telah ada di dalamnya berbicara tentang padukuhan mereka. Ternyata mereka adalah orangorang yang tinggal di sekitar pasar itu. Seorang di antara mereka berkata "Ternyata keadaan mulai menjadi buruk lagi. Perselisihan di antara kedua orang yang berpengaruh itu akibatnya tidak hanya menimpa mereka dan keluarga mereka. Tetapi orang-orang yang terkait dalam kerja dengan merekapun terpengaruh pula". Manggada dan Laksana yang sedang minum minuman hangat itupun tergoda untuk mendengarkannya. Namun kemudian keduanya menarik nafas dalam-dalam hampir bersamaan. Ternyata yang mereka bicarakan benar-benar persoalan keluarga. Seorang yang lain berkata "Lamaran yang semula nampaknya akan diterima itu, kenapa tiba-tiba saja telah ditolak? “ "Kau benar-benar tidak tahu sebabnya?" orang pertama bertanya. "Tidak". "Itulah. Semula keadaan membaik. Keduanya nampaknya akan mengijinkan anak-anak mereka menikah. Tetapi tiba-tiba keadaan menjadi buruk lagi ketika mereka mulai berbicara tentang air yang mengalir di antara sawahsawah mereka yang sudah lama menjadi sengketa" jawab orang pertama. Yang lain mengangguk-angguk. Mereka mengerti, bahwa persoalan air telah menjadi persoalan yang berkepanjangan di antara kedua keluarga dari orang-orang yang berpengaruh di padukuhan itu. Nampaknya perselisihan itu akan diakhiri dengan perkawinan antara anak-anak mereka. Tetapi perkawinan itupun telah urung pula. Manggada dan Laksana tidak menaruh banyak perhatian tentang persoalan keluarga itu. Namun yang kemudian menarik adalah justru ketika mereka berbicara tentang pasar yang cukup luas itu. Dari pembicaraan mereka, Manggada dan Laksana dapat mengetahui bahwa pasar itu adaiah pasar yang terbesar di antara tiga buah pasar yang ada di Kademangan mereka. Justru lebih besar dari pasar yang ada di Kademangan induk. Namun pembicaraan mereka terputus ketika dua orang di antara mereka harus meninggalkan kedai itu. "Kami masih harus melihat air. Jika kotak sawah kami sudah penuh, kami harus menutupnya. Kotak-kotak sawah yang lain tentu membutuhkannya" berkata salah seorang dari mereka yang meninggalkan kedai itu. Manggada dan Laksanapun kemudian telah membayar harga minuman dan beberapa potong makanan. Ketika mereka keluar dari kedai itu, matahari sudah condong di sisi Barat. Keduanyapun kemudian telah melanjutkan perjalanan melewati lorong di dalam padukuhan yang cukup besar itu. Beberapa rumah di pinggir jalan itu memang cukup besar dan rapi. Agaknya padukuhan itu termasuk padukuhan yang berkecukupan. Namun ketika Manggada dan Laksana melewati tiga padukuhan yang disekat oleh bulak-bulak panjang, matahari sudah menjadi sangat rendah. Sebentar lagi senja tentu akan segera turun. "Apakah kita akan bermalam di sini?" bertanya Manggada. Laksana termangu-mangu. Padukuhan itu memang tidak sebesar padukuhan yang memiliki pasar terbesar di Kademang- itu. Tetapi nampaknya padukuhan itu cukup ramai. "Kita bermalam di padukuhan yang kecil dan sepi saja" berkata Laksana. "Kenapa?" bertanya Manggada. "Nampaknya di sini terlalu sibuk. Jika bermalam di banjar, agaknya di banjar padukuhan itupun banyak terdapat anak-anak muda atau orang-orang jlain dengan kesibukannya " jawab Laksana. Manggada mengangguk. Katanya "baiklah. Kita melintas satu bulak lagi". Keduanyapun telah meneruskan perjalanan. Langitpun menjadi semakin suram. Matahari telah semakin rendah dan kemudian bertengger di punggung bukit. Namun sejenak kemudian, senja benar-benar turun. Kedua anak muda itu telah memasuki sebuah padukuhan yang lebih kecil dan lebih sepi, sehingga Laksana menganggap bahwa tempat itu adalah tempat yang paling baik untuk beristirahat. Apalagi di pinggir padukuhan itu terdapat sebuah sungai kecil yang airnya cukup jernih. Karena itulah, kedua orang anak muda itu telah menuju ke banjar padukuhan ketika malam mulai turun. Ternyata banjar padukuhan yang tidak begitu besar itu na-npak sepi. Lampu memang sudah dinyalakan, tetapi tidak ada seorangpun yang nampak di banjar maupun di halamannya. Agaknya orang yang menyalakan lampu minyak itu telah pergi pula meninggalkan banjar yang kosong itu. Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Namun Manggadapun kemudian berdesis "Suasana yang sesuai dengan keinginanmu. Sepi". "Ah" Laksana berdesah "kita bertanya di rumah sebelah". Keduanya telah pergi ke rumah di sebelah banjar itu Rumah yang juga tidak begitu besar meskipun halamannya cukup luas. Namun nampaknya tidak cukup terpelihara. Ternyata pintu rumah itu sudah tertutup. Perlahan-lahan agar tidak mengejutkan pemilik rumah itu. Manggada mengetuk pintunya. Sejenak kemudian, pintu rumah itu memang terbuka. Seorang laki-laki yang sudah lewat setengah abad berdiri lermangu-mangu di belakang pintu. "Siapa yang kalian cari anak-anak muda?" bertanya lakilaki itu. Manggadapun kemudian menjelaskan, bahwa ia sekadar ingin bermalam di banjar. Tetapi banjar itu ternyata kosong meskipun lampu telah menyala. "Oo. Mari. mari silahkan. Akulah yang telah menyalakan lampu di banjar itu" orang tua itu ternyata cukup ramah. "Tetapi kami hanya ingin mohon ijin untuk bermalam di banjar" berkata Manggada. "Banjar kami seluruhnya terbuka anak-anak muda" jawab orang tua itu "angin malam akan berhembus mendinginkan darah kalian. Karena itu, jika kalian ingin bermalam, marilah, bermalam saja di rumahku. Aku jugalah yang melayani banjar itu. sehingga bagiku, kalian lebih baik bermalam di sini daripada di banjar. Jika ada air panas, aku tidak usah membawa ke banjar". "Tetapi, kami tidak ingin membuat Kiai menjadi sibuk “ jawab Manggada "kami hanya ingin tidur. Itu saja". "Sudahlah, marilah. Jangan segan-segan. Di rumah ini aku juga hanya sendiri orang tua itu masih saja mempersilahkan. Manggada dan Laksana tidak dapat menolak. Manggada dan Laksana tidak dapat menolak. Merekapun kemudian telah melangkah masuk ke rumah orangtua itu. Se; jrti halamannya yang kurang terpelihara, isi rumah itu-pun agaknya kurang terawat. Apalagi perabot rumah itu memang cukup sederhana. Tidak ada barang-barang yang berharga yang tampak. Tentu saja keduanya tidak tahu, apakah orangtua itu mempunyai simpanan atau tidak. "Duduklah" orangtua itu mempersiiahkan. Manggada dan Laksanapun duduk di sebuah amben yang besar. Ketika orangtua itu masuk ke sentong kiri sejenak, Manggada dan Laksana sempat memperhatikan isi rumah itu. Selain amben besar tempat mereka duduk, mereka hanya melihat sebuah geledeg bambu yang agak besar. Ajug-ajug, tempat orangtua itu meletakkan dlupak minyak klentik yang sudah menyala. Apinya tampak bening dan tidak terlalu banyak mengeluarkan asap kehitam-hitaman. Sejenak kemudian, orangtua itu telah keluar dari sentong kiri. Ternyata ia telah membenahi pakaiannya. Dikenakannya baju yang lebih pantas, serta merapikan rambutnya yang panjang di bawah ikat kepalanya. "Di sini angger berdua tentu merasa lebih hangat daripada di banjar" berkata orangtua itu. "Tetapi kami benar-benar tidak ingin merepotkan Kiai. Kami hanya ingin tidur. Besok pagi-pagi kami ingin melanjutkan perjalanan" jawab Manggada dan Laksana. "Angger berdua itu akan pergi kemana?" bertanya orangtua itu. Manggada dan Laksana sempat menceriterakan serba sedikit tentang perjalanannya. Mereka mengatakan bahwa mereka ingin pulang. "Apakah angger berdua sudah tahu, jalan manakah yang harus angger lalui?" bertanya orangtua itu. "Tidak terlalu sulit. Kiai. Bukankah setiap orang akan dapat menunjukkan jalan ke Pajang? Seteiah sampai di Pajang, kami dapat dengan mudah mencari jalan pulang" jawab Manggada. Orangtua itu mengangguk-angguk. Katanya "Baiklah jika demikian. Tampaknya, angger berdua telah berpengalaman menempuh perjalanan". "Kami memang sedang menempuh perjaianan panjang. Mungkin jauh lebih panjang dari jalan yang seharusnya menuju ke Pajang, karena kami memang sedang mengembara. Kami ingin melihat seberapa jauhnya cakrawala". Orangtua itu tertawa. Katanya "Kalian tampaknya memang anak-anak muda yang haus akan pengalaman. Jika kau dekati cakrawala, maka cakrawala itu akan selalu saja tetap jauh. Jika cakrawala itu kemudian membentur gunung, maka cakrawala itu justru akan menghilang". "Itulah yang menarik, Kiai" jawab Manggada. Orangtua itu mengangguk-angguk pula. Katanya "bagus anak muda. Pengalaman dapat memberikan banyak pengetahuan kepada kalian, asal kalian dapat menangkapnya dan mencerna dengan baik didalam dirimu". "Kami memang ingin melakukannya Kiai. Tetapi betapa bodohnya kami, sehingga apa yang kami alami, apa yang kami lihat, dan apa yang kami dengar, tidak menambah pengetahuan kami, sehingga kami masih saja tetap dungu" jawab Manggada. Orangtua itu tertawa. Katanya "kalian ternyata adalah anak-anak muda yang cerdas. Bukankah kalian ingin mengatakan, semakin banyak yang kalian ketahui, maka kalian merasa semakin banyak pula yang tidak kalian ketahui?” Kedua anak muda itu berpandangan sejenak. Namun Laksana kemudian berkata "Ya Kiai. Kami memang merasa demikian". "Bagus" orangtua itu mengangguk-angguk "itu adalah pertanda bahwa pintu berbendaharaan ilmumu terbuka. Kau akan dapat menimba pengetahuan sebanyakbanyaknya. Orang yang merasa dirinya penuh dengan pengetahuan, maka itu adalah batas akhir dari kemampuannya, la telah menutup pintu perbendaharaan pengetahuannya sendiri, sehingga orang yang demikian itu tidak akan dapat menambah ilmu dan pengetahuan lagi". Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Menurut pendapat kedua anak muda itu, orangtua itu ternyata memiliki jangkauan penalaran yang jauh. Jauh lebih luas dari ujud kewadagannya yang sangat sederhana itu. Tetapi kedua anak muda itu tidak mengatakan sesuatu tentang orangtua itu. Namun orangtua itu tiba-tiba saja berkata "Silakan duduk anak muda. Aku akan merebus air". “Sudahlah Kiai. Terima kasih. Kiaipun sudah waktunya untuk beristirahat Bukankah Kiai tadi sudah berbaring?" bertanya Mangagada. Orangtua itu tersenyum. Katanya "Aku mempunyai pohon jeruk pecel. Tentu sedap sekali untuk membuat minun.an di malam yang dingin begini. Hanya daunnya. Bukan jeruknya. Aku juga mempunyai beberapa tangkap gula kelapa. Jangan kira aku membeli. Aku justru menjual gula kelapa, karena aku mempunyai beberapa batang pohon kelapa yang aku sadap air manggarnya". "Tetapi sudahlah Kiai. Kiai tidak usah menjadi sibuk karena kehadiran kami" berkata Laksana. Orangtua itu justru tertawa. Katanya "Aku ingin memanaskan tubuhku. Malam terasa sangat dingin.” Manggada dan Laksana tidak dapat mencegahnya lagi. O-rangtua itu kemudian meninggalkan keduanya di ruang tengah. Lewat pintu samping orangtua itu telah pergi ke dapur. Ketika pintu samping terbuka, dan tengah bertiup menyibakkan kain yang menutup pintu sentong tengah yang tidak berdaun, kedua anak muda itu sempat melihat sebuah ploncon dengan tiga batang tombak di dalamnya, serta sebuah songsong yang berwarna kuning bergaris hijau. Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Demikian orangtua itu pergi ke dapur, maka Manggadapun berkata "Kau lihat songsong itu? “ "Ya. Tetapi apakah songsong itu milik Kiai pemilik rumah ini? Jika ia petugas banjar padukuhan ia tentu orang yang sudah terhitung lama tinggal di sini" jawab Laksana. Manggadapun mengangguk-angguk. Namun songsong dan tiga batang tombak di sentong tengah itu, telah menimbulkan pertanyaan di hati kedua anak muda itu. Ternyata orangtua itu cukup lama berada di dapur. Ia harus, membuat api, mengisi periuk dan menunggu air itu mendidih. Di ruang dalam, Manggada dan Laksana menjadi gelisah. Bahkan Laksanapun berdesis "Aku sudah mengantuk". "Orangtua itu sedang merebus air bagi kita. Jangan kecewakan dia" berkata Manggada. Sebenarnyalah, beberapa saat kemudian, pintu samping telah terbuka lagi. Orangtua itu dengan nampan yang bulat terbuat dari kayu, telah membawa beberapa mangkuk minuman dan bahkan ketela rebus. Asapnya masin tampak mengepul di atasnya. "Maaf, mungkin aku terlalu lama. Aku telah pergi kekebun untuk memetik daun jeruk pecel dan mencabut dua batang ketela pohon" berkata orangtua itu. "Ah, kami membuat Kiai menjadi sibuk sekali" desis Manggada. "Tidak. Tidak. Aku senang masih ada orang yang mau datang kerumahku" jawab orangtua itu seakan-akan di luar sadarnya. Manggada dan Laksana saling berpandangan pula. Tetapi mereka tidak mengatakan apa-apa. Demikianlah. Sejenak kemudian, mereka telah menikmati rebus ketela dan minuman yang masih hangat. Seperti dikatakan oleh orangtua itu. Mereka menghirup wedang jeruk. Namun bukan jeruknya, tetapi daunnya sajalah yang dipakai untuk menyedapkan air yang telah mendidih, kemudian diberi beberapa potong gula kelapa. Ketika kemudian angin malam menyusup di antara dinding-dinding yang berlubang, dan sekali lagi menyingkapkan kain penutup pintu yang tidak berdaun di sentong tengah, maka di luar sadar, Manggada dan Laksana telah memperhatikan lagi songsong dan tombak yang ada di sebuah ploncon yang besar di sentong tengah itu. Ternyata orangtua .tu tanggap. Karena itu, tanpa diminta orangtua itupun berkata "Songsong itu adalah songsong titipan. Selain songsong itu ada tiga batang tombak yang menurut pemiliknya mempunyai tuah". Kedua anak muda yang mulai berkeringat oleh panasnya wedang jeruk dan ketela pohon yang masih hangat itu, mengangguk-angguk. Tetapi mereka mengharap orangtua itu berceritera lebih banyak lagi tentang songsong dan tombak itu. Namun ternyata orangtua itupun telah menghirup minuman panas dan makan ketela rebus itu pula. Bahkan telah mempersilahkan kedua anak itu untuk makan pula lebih banyak lagi. Berapa saat Manggada dan Laksana menunggu. Tetapi orangtua itu tidak berceritera lagi tentang songsong dan tombak itu. Karena itu, Laksana yang ingin mengetahui lebih banyak telah bertanya "Siapakah yang telah menitipkan songsong dan tombak-tombak itu? “ Orangtua itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian kalanya "Sudah lama terjadi. Aku sendiri tidak tahu. apakah, orang yang menitipkan benda-benda itu masih ingat atau tidak" orangtua itu berhenti sejenak. Lalu katanya "Saat itu, banjar di sebelah masih dianggap banjar padukuhan ini". "Apakah sekarang sudah tidak?" bertanya Laksana. "Orang-orang padukuhan ini telah membuat banjar yang lebih baik. Karena itu, banjar ini tidak lagi banyak dipergunakan. Hanya kadang-kadang saja jika kegiatan di banjar yang baru itu sudah tidak menampung lagi. Karena itu, banjar ini tampak sepi. Hanya kadang-kadang saja para pemuda singgah beberapa lama duduk-duduk di banjar lama itu. Lalu meneruskan tugas mereka lagi mengelilingi padukuhan. Terakhir mereka kembali ke banjar baru” Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Merekapun menganggap bahwa banjar itu memang terlalu sepi. Namun merekapun kemudian mengetahui bahwa disamping banjar lama itu, sudah ada lagi banjar yang baru, sehingga hampir semua kegiatan padukuhan itu telah beralih ke banjar yang baru itu. Tetapi kedua anak muda itu segera teringat kembali kepada pertanyaan mereka yang belum terjawab. Karena itu, Laksanapun kembali bertanya "Tetapi, siapakah yang telah menitipkan pusaka-pusaka itu?” "Itu sudah lama terjadi" jawab orangtua itu "seandainya aku sekarang bertemu dengan orang yang menitipkan pusaka-pusaka itu, aku sudah tidak akan dapat mengenalinya lagi". "Jadi, bagaimana seandainya ada orang lain yang berpura-pura memiliki pusaka-pusaka itu?" bertanya Manggada. Lalu "Orang yang pernah mengetahuinya, datang dan mengaku bahwa orang itulah yang telah menitipkannya dan kemudian akan mengambilnya kembali". Orangtua itu tertawa. Katanya "Itu tidak mungkin ngger. Pada tangkai songsong itu terdapat karah besi baja. Di bawah karah besi baja itu, terdapat patung kecil yang kakinya tepat masuk pada karah besi itu. Patung seekor harimau yang terbuat dari perunggu. Nah, siapa yang membawa patung itu dan kakinya dapat masuk tepat pada lubang karah besi itu, barulah ia dapat mengambilnya". Manggada mengerutkan dahinya dan Laksana mengangguk-angguk. Katanya "Jika orang yang memiliki patung itu telah melupakannya dan tidak akan mengambilnya lagi?” "Benda-benda itu akan menjadi benda-benda yang tidak bertuan. Benda-benda yang tidak ada pemiliknya" jawab orangtua itu. "Bukankah dengan demikian benda-benda itu akan menjadi milik Kiai?" bertanya Manggada. "Ah" orangtua itu tertawa. Katanya "Tidak pantas aku memiliki benda-benda seperti itu. Yang pantas bagiku adalah cangkul dan barangkali bajak dan garu". Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Manggadapun bertanya "Kenapa patung kecil itu dilepas, Kiai. Apakah sengaja untuk menjadi pertanda bagi pemiliknya, atau karena perhitungan lain". "Yang penting adalah bagi pertanda itu. Tanpa pertanda itu, tidak seorangpun dapat mengambilnya. Tetapi sebenarnya patung kecil itu sejak sebelumnya memang sudah dilepas. Pemilik songsong itu tidak sampai hati melihat patung harimau yang kakinya melekat pada karah tangkai songsong itu. Jika songsong itu diletakkan pada tangkainya, maka kepala harimau itulah yang akan menjadi tumpuannya." jawab orangtua itu. Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sambil tersenyum, Manggada bertanya "Apakah orang yang memiliki songsong itu seorang yang hatinya sangat lembut, sehingga merasa belas kasihan terhadap sebuah patung? “ "Ya" orangtua itu mengangguk-angguk "seorang yang hatinya memang sangat lembut. Seorang yang ramah dan berpandangan luas". "Apakah ia datang seorang diri dengan membawa songsong dan pusaka-pusaka itu?" bertanya Laksana. "Tidak. Ia datang dengan beberapa orang pengiringnya" jawab orangtua itu. Lalu katanya "Tanpa mau mengatakan tentang dirinya, asalnya dan tujuannya. Ia hanya mengatakan bahwa ia menitipkan songsong dan pusakapusaka itu. Pada suaiu saat, akan diambilnya dengan pertanda yang dibawanya. Tetapi ternyata, sampai sekarang benda-benda itu masih belum diambilnya". "Sudah berapa tahun benda itu ada di sini?" bertanya Manggada. "Sudah lama. Jauh sebelum Raden Panji Prangpranata berkuasa di daerah ini" jawab orangtua itu. “Jadi kekuasaan Raden Panji Prangpranata juga terasa sampai di sini?" bertanya Manggada. "Ya. Raden Panji yang semula menjadi gantungan harapan rakyat dengan menghalau kerusuhan di daerah ini, ternyata kemudian justru mencemarkan sekali" jawab orangtua itu. "Apakah Raden Panji sering datang kemari?" bertanya Laksana. "Perempuan di sebelah, kira-kira berantara empat rumah dari rumah ini, telah diambil menjadi isterinya. Tetapi entah apa yang terjadi, perempuan itu telah meninggal" jawab orangtua itu. Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Jarak padukuhan itu dari pusat pengendalian pasukan Raden Panji tidak jauh berbeda dengan jarak antara Nguter dan tempat tinggal orangtua itu. Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Jarak padukuhan itu dari pusat pengendalian pasukan Raden Panji tidak jauh berbeda dengan jarak antara Nguter dan tempat tinggal Raden Panji. "Untunglah bahwa Raden Panji tidak mengetahui Songsong dan pusaka-pusaka yang ada di rumah ini. Jika ia mengetahui, mungkin benda-benda itu sudah diambilnya." berkata orangtua itu pula. Namun kemudian Manggada berkata "Raden Panji telah diganti Kiai". "He?" orangtua itu terkejut "darimana kau tahu?” "Aku baru saja dari Nguter. Peristiwa pergantian kedudukan itu terjadi di Nguter" jawab Manggada. "Siapakah yang menggantikan kedudukan Raden Panji sekarang?" bertanya orangtua itu. "Ki Panji Wiratama" "jawab Manggada. Orangtua itu mengangguk-angguk. Katanya "Aku belum mengenalnya. Tetapi mudah-mudahan caranya memerintah lebih baik dari Raden Pada Prangpranata.” "Tampaknya begitu Kiai" jawab Manggada. "Petugas yang baru itu tentu saja tidak tahu bahwa di rumah ini ada benda-benda pusaka yang dititipkan. Jika mereka mengetahui, dan berusaha untuk mengambilnya tanpa menunjukkan penanda sebagaimana yang diperankan oleh pemiliknya, aku tentu menjadi sangat bingung. Aku tidak berani menolak, tetapi aku juga tidak berani memberikan" berkata orangtua itu. "Ki Panji Wiratama tidak akan berbuat seperti Raden Panji" berkata Manggada "menilik sikapnya dan langkahlangkah yang diambilnya” "Sebelum memegang kekuasaan" desis orangtua itu. "Ya. Sebelum menggantikan kedudukan Raden Panji" jawab Manggada. "Itulah nggger. Kadang-kadang seseorang dapat berubah karena kedudukannya. Kelengkapan duniawi yang mewarnai kehidupan seseorang, akan dapat menusuk sampai kewatak dan pribadinya, sehinggga seseorang akan dapat menjadi orang lain. Tetapi mudah-mudahan tidak demikian dengan orang yang baru itu. Karena aku yakin bahwa masih ada orang yang tetap teguh berpijak pada pribadinya, meskipun ia mengalami banyak perubahan dalam hubungannya dengan tata kehidupan keduniawiannya" berkata orang itu. Manggada menarik nafas dalam-dalam. Hampir di luar sadarnya ia berkata "Ya. Mungkin sekali hal seperti itu terjadi". "Ya anak-anak. muda" berkata orangtua itu bersungguhsungguh "kalian berdua masih muda. Banyak kemungkinan dapat terjadi. Jika pada suatu ketika kalian mendapat satu kedudukan yang tinggi, maka kalian jangan cepat berubah. Jika perubahan itu membuat kalian menjadi lebih baik, itu tidak mengapa. Tetapi jika sebaliknya". Kedua anak muda itu mengangguk-angguk. Sementara orangtua itu berkata "Marilah. Silahkan minuman hangat kalian". "Ya, ya Kiai" jawab Manggada dan Laksana hampir berbareng. Namun rasa-rasanya kedua anak muda itu masih ingin mengetahui lebih banyak tentang pusaka-pusaka itu. Tetapi mereka tidak merasa pantas untuk mendesak orangtua itu untuk berbicara lebih banyak lagi. Yang kemudian diceriterakan oleh orangtua itu adalah perkembangan padukuhannya. Meskipun perlahan-lahan, namun semakin lama menjadi semakin baik. "Kita sudah berhasil membuat sebuah banjar yang lebih baik, dan perbaikan-perbaikan yang lain yang mulai merata". Kedua anak muda itu mengangguk-angguk. Sebenarnya mereka tidak begitu tc:tarik mendengar ceritera tentang padukuhan itu. Namun mereka tidak ingin menyinggung perasaan orangtua itu. Tetapi tiba-tiba saja Laksana bertanya "Apakah nama padukuhan ini Kiai?” Orangtua itu mengerutkan keningnya. Kemudian katanya "Nama padukuhan ini singkat saja. seperti padukuhan yang kau sebut-sebut, Nguter. Nama padukuhan ini Ngandong. Termasuk Kademangan Ringin Sewu". Kedua anak muda itu mengangguk-angguk. Sementara itu, orangtua itu masih juga berceritera tentang padukuhan dan Kademangan, tanpa menyinggung lagi tentang songsong dan pusaka-pusaka itu. Baru setelah orangtua itu merasa puas dengan ceriteranya, iapun berkata "Nah anak muda. Maaf, aku terlalu banyak berbicara. Kalian berdua tentu letih dan mengantuk. Silahkan angger berdua beristirahat". "Terima kasih Kiai" jawab keduanya hampir berbareng. "Tetapi aku tidak mempunyai tempat yang lebih baik dari amben ini ngger. Aku persilahkan kalian tidur di amben ini" berkata orangtua itu. "Terima kasih Kiai. Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya" sahut Manggada. Namun ia masih juga bertanya "Tetapi kenapa Kiai tinggal seorang diri di sini? Apakah Kiai tidak mempunyai sanak kadang?” "Ada ngger. Aku sebenarnya mempunyai seorang anak laki-laki" jawab orang itu "tetapi ia sudah dewasa dan berumahtangga. Sebenarnya, anakku minta aku tinggal bersamanya, namun padukuhan ini masih memerlukan aku, sehingga aku harus tetap tinggal di sini merawat banjar tua itu. Entahlah besok kalau aku menjadi semakin tua. Sementara anakku sama sekali tidak berminat untuk menggantikan tugasku merawat banjar tua ini". Manggada dan Laksana mengangguk-angguk pula. Sementara orangtua itu berkata "Silahkan beristirahat anak muda. Akupun sudah mengantuk". Orangtua itupun kemudian telah menyingkirkan mangkuk-mangkuk minuman dan dibawanya ke dapur. Manggada dan Laksana memandangi ruangan itu sekilas. Kemudian mereka membaringkan diri. Mereka meletakkan pedang-pedang mereka di sisi tubuh mereka yang terbaring. Bagaimanapun juga. kedua anak muda itu harus berhatihati. Mereka berada di tempat yang tidak begitu dikenalnya. Karena itu, mereka telah sepakat untuk bergantian tidur. Namun mereka berdua tidak ingin menunjukkan sikap hati-hati kepada orangtua pemilik rumah itu. Orangtua itu akan dapat menjadi salah mengerti dan tersinggung karena merasa dicurigai. Beberapa saat kemudian suasana di rumah itu telah menjadi hening. Orangtua pemilik rumah itu, yang membawa mangkuk-mangkuk ke dapur, telah kembali pula dan masuk ke dalam sebuah bilik kecil di sebelah kiri sentong tengah, tempat ia menyimpan songsong dan tiga batang tombak yang dikatakannya barang-barang titipan itu. Sesekali angin memang menyingkap tirai sentong tengah itu, dan kedua anak muda itu dapat melihat songsong dan tiga batang tombak yang panjangnya tidak sama itu. Ketika malam menjadi semakin hening, Manggada yang mendapat giliran untuk berjaga-jaga, meskipun sambil berbaring, melihat orangtua itu keluar dari bilik kecilnya.. Di bawah cahaya lampu yang redup, Manggada melihat orangtua itu termangu-mangu sejenak. Diperhatikannya kedua anak muda yang disangkanya telah tertidur itu. Perlahan-lahan orangtua itu melangkah ke sentong tengah. Kemudian hilang di balik tirai yang tergantung di lubang pintu yang tidak berdaun itu. Manggada telah menggamit Laksana yang sudah mulai tertidur. Namun Manggadapun telah berdesis untuk memberi isyarat agar Laksana tidak bertanya kepadanya. Dengan isyarat pula, Manggada menunjuk pintu sentong tengah yang tertutup oleh tirai itu. Tetapi ketika tirai itu tersingkap oleh angin yang menyusup lewat lubang-lubang dinding, kedua anak tidak itu melihat, orangtua pemilik rumah itu berjongkok di depan ploncon tempat ia meletakkan songsong dan ketiga batang tombak itu. Tangannya diletakkannya pada ploncon itu. sedangkan kepalanya menunduk dalam-dalam. Hal itu dilakukannya beberapa saat. Namun kedua anak muda itu tidak melihat orangtua itu keluar dari sentong tengah. Tangannya sibuk mengusap matanya, tanpa diketahui sebabnya. Apakah ada seekor binatang kecil masuk ke dalam mata tua itu, atau orangtua itu baru saja menangis. Namun sejenak kemudian, orangtua itu justru melangkah mendekati Manggada dan Laksana yang baru tidur, meskipun hanya berpura-pura. Kepada diri sendiri, orangtua itu bergumam "Sebaiknya mereka meninggalkan rumah ini pagi-pagi benar, sebelum orang-orang itu datang. Sayang, mereka datang pada saat yang tidak baik. Jika saja tidak ada persoalan apapun, aku ingin penahannya barang satu dua hari untuk menemani aku". Orangtua itupun kemudian melangkah meninggalkan Manggada dan Laksana kembali masuk ke dalam biliknya. Manggada dan Laksana tidak mengatakan apa-apa. Mereka berdua justru terdiam dan mencoba mengurai katakata orangtua itu. Namun akhirnya justru kedua-duanya tertidur bersamasama. Menjelang fajar, keduanya terkejut. Mereka mendengar pintu samping berderit keras. Ketika keduanya terbangun, mereka melihat orangtua itu masuk membawa mangkuk minuman hangat. Agaknya orangtua itu sudah lebih dahulu bangun dan menjerang air didapur, "Hampir fajar" berkata orang itu sambil tersenyum "silahkan minum minuman hangat. Kalian tentu akan berangkat sebelum matahari terbit. Saat yang paling baik untuk memulai sebuah perjalanan. Mungkin kalian masih akan mandi lebih dahulu. Di belakang rumah ini ada pakiwan.” Manggada dan Laksana kemudian bergantian pergi ke pakiwan. Bergantian pula mereka menimba air dengan timba upih yang tergantung pada senggol bambu yang panjang. Namun kedua anak muda itu sempat berbicara tentang kata-kata orangtua yang sama-sama dapat mereka dengar. “Tampaknya akan terjadi sesuatu di rumah ini" berkata Manggada. "Ya. Itulah agaknya, dengan sengaja ia membuka pintunya agak keras, agar kita berdua terbangun karena ternyata kita berdua telah tertidur bersama-sama" sahut Laksana. "Ia menghendaki agar kiia meninggalkan tempat ini pagipagi sekali" desis Manggacb "Kita akan mengulur waktu" desis Laksana, "Ya. Akupun ingin tahu apa yang akan cerjadi. Apakah ada hubungannya dengan songsong dan tombak-tombak itu." sahut Manggada Laksana mengangguk-angguk. Mereka harus mendapatkan cara untuk dapat bertahan berada di tempat itu sampai orang-orang yang dimaksud oleh orangtua itu datang. Sejenak kemudian, mereka telah duduk di ruang dalam rumah orang-tua yang tidak begitu besar itu. Minuman yang disediakan masih tetap hangat. Wedang jahe dengan gula kelapa yang kehitam-hitaman. "Marilah ngger" orangtua itu mempersilahkan "mumpung masih pagi. Udaranya masih segar dan matahari-pun belum mulai naik". "Terima kasih Kiai" jawab Manggada sambil mengangkat mangkuknya. Demikian pula Laksana. "Aku tidak dapat menyuguhkan apapun kecuali sekadar minum" berkata orangtua itu pula, Kaduanya tidak menjawab. Tetapi keduanya sibuk meneguk minuman hangat dengan gula kelapa yang menurut orangtua itu dibuatnya sendiri. “Maaf anak-anak muda" berkata orangtua itu kemudian "sebentar lagi, aku harus berada di kebun kelapaku. Aku harus menyadap legen untuk membuat gula. Pekerjaan yang aku lakukan dua kali sehari". "Kiai masih memanjat dan menyadap sendiri ?" bertanya Manggada. "Ya. Aku lakukan itu setiap hari, pagi dan sore" berkata orangtua itu, "Kiai" tiba-tiba saja Laksana berkata "apakah kami dapat membantu?” Wajah orangtua itu berkerut. Katanya "Tidak. Itu tidak perlu. Aku justru ingin mempersilahkan angger berdua mulai dengan perjalanan pagi-pagi, mumpung matahari belum terbit. Sementara aku pergi ke kebun kelapa. Aku harus mulai pagi-pagi sekali agar tidak kesiangan". "Kiai" berkata Manggada "kami berdua tidak tergesagesa. Kami ingin mengucapkan terima kasih dengan melakukan apa saja pagi ini. Nanti setelah matahari sepenggalan. kami akan melanjutkan perjalanan". Orangtua itu termangu-mangu sejenak. Namun kemududian katanya "Aku tahu. Kalian berdua tentu masih ingin mendengar ceritera tentang songsong dan pusaka-pusaka itu. Marilah, aku akan menunjukkan kepada angger berdua agar angger tidak dibebani oleh perasaan ingin tahu. Bendabenda yang terlarang untuk disaksikan. Tetapi aku memang membatasi diri agar tidak terlalu banyak orang yang mengetahuinya. Jika demikian, maka kemungkinan buruk akan dapat terjadi". Sebelum kedua anak muda itu menjawab, orangtua itu telah melangkah ke sentong tengah. Disingkapkannya lirai pintu sentong tengah itu dan disangkutkannya pada ugeruger di sebelah. "Marilah ngger. Silahkan melihat-lihat benda-benda titipan ini." berkata orangtua itu. Manggada dan Laksana tidak dapat menolak. Merekapun telah masuk pula ke sentong tengah, sementara orangtua itu berlutut di depan ploncon tempat songsong dan tombak-tombak itu diletakkan. "Inilah benda-benda itu ngger. Bukankah seperti songsong kebanyakan? Tampaknya memang songsong bertanda kebangsawanan, karena warnanya yang kuning emas itu dan lingkaran hijau di tengah-tengahnya.” Manggada dan Laksana masih tetap berdiri tegak. Tetapi dalam cahaya pagi serta sinar lampu di ruang tengah, keduanya melihat karah tangkai tombak di bawah mata tombak itu terbuat dari logam yang berwarna kekuningkuningan, "Emas" desis keduanya di dalam hati. Bahkan ketika mereka sempat melihat tombak yang bertangkai lebih pendek, karah itu bukan saja terbuat dari emas. tetapi terdapat pula permata yang gemerlapan. Agaknya orangtua itu mengerti, apa yang diperhatikan oleh kedua anak muda itu. Karena itu, maka katanya "Sama sekali bukan emas dan permata. Tetapi logam-logam tiruan sehingga mirip seperti emas. Demikian pula permata itu “ "Meskipun tiruan. tetapi bentuknya bagus sekali Kiai" sahut Manggada. "Nah, sekarang angger berdua telah melihatnya" desis orangtua itu sambil bangkit dan melangkah surut. "Marilah kita kembali ke ruang tengah". Ketiganya telah duduk kembali diamben yang besar. Sementara orang tua itu berkata "Maaf angger. Sebentar lagi aku akan pergi ke kebun. Mungkin agak lama. Karena itu. maka biasanya aku menutup pinta depan rapat-rapat dan keluar lewat pintu butulan. Sementara itu, angger berdua dapat melanjutkan perjalanan angger "Kami berdua ingin ikut ke kebun Kiai. Kami benarbenar ingin membantu Kiai" jawab Manggada. "Tetapi angger tentu tidak tahu caranya menyadap legen. Sekali salah potong, maka manggar itu tidak akan mengeluarkan legen lagi ngger. Setidak-tidaknya untuk satu janjang." berkata orangtua itu, "Kami tidak akan melakukannya Kiai. Tetapi kerja apapun yang dapat kami lakukan, Atau sekadar menunggui Kiai bekerja di kebun" desis Laksana. Tetapi orangtua itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya dengan nada rendah "Jangan ngger. Aku perintahkan angger meninggalkan rumah ini. Aku sama sekali tidak mengusir angger, tetapi aku memang tidak dapat berbuat lain". "Maaf Kiai. Kenapa Kiai berkeberatan jika aku masih ingin tinggal bersama Kiai barang sepagi ini?" bertanya Manggada. "Aku tidak ingin terganggu ngger" jawab orangtua itu. "Kiai, kami justru ingin berbuat sesuatu bagi Kiai. yang telah dengan senang hati menerima kami bermalam. Memberikan minuman dan makanan dengan ikhlas" berkata Laksana kemudian. Tetapi orangtua itupun berkeras. Katanya "Sudah ngger. Aku sudah merasa berbuat sebaik-baiknya terhadap angger berdua. Kini angger berdua jangan mengecewakan aku". "Sama sekali tidak Kiai. Justru sebaliknya" jawab Laksana. Wajah orangtua itu menegang. Dengan dahi yang berkerut orangtua itu berkata dengan nada yang semakin keras "Tidak. Aku minta kalian pergi. Aku tidak dapat menerima kalian lebih lama lagi". "Kenapa Kiai berkeberatan membiarkan kami lebih lama berada disini? Apakah kami telah mengganggu Kiai?" bertanya Laksana pula. "Ya" jawab orangtua itu tegas "aku akan pergi ke kebun untuk menyadap legen. Selama itu kau akan dapat mengambil benda-benda yang agaknya kau kagumi dan membawanya lari". "Kiai" desis Laksana. Namun Manggada menggamitnya dan berkata "Apakah pernyataan itu benar-benar keluar dari hati Kiai? Jika demikian, alangkah nistanya kami berdua. Tetapi jika karena kecemasan itu, baiklah. Aku akan meninggalkan tempat ini". Orangtua itu memandang kedua anak muda itu bergantiganti. Wajahnya tiba-tiba menjadi buram. Katanya dengan nada sendat "Tidak ngger. Tidak. Aku sama sekali tidak mencurigai angger berdua. Tetapi aku tidak dapat membiarkan ansger berdua tetap berada di rumah ini. meskipun hanya setengah hari. Kau datang pada waktu yang kurang baik.” "Apakah sebenarnya yang akan terjadi Kiai? Jika Kiai berkata sebenarnya, sementara kami berdua dapat mengerti, maka kami tentu akan melakukannya" berkata Manggada. Orangtua itu menunduk dalam-dalam. Katanya "Aku tidak mengira bahwa benda-benda itu pada suatu saat akan mendatangkan kesulitan padaku". "Kesulitan apa Kiai?" bertanya Laksana tidak sabar. Orangtua itu menarik nafas dalam-dalam. Agaknya memang terasa berat baginya untuk mengatakan kepada kedua anak muda itu. Namun Manggada pun mendesaknya "Katakan Kiai. Kiai telah berbuat baik kepada kami. Apa yang telah Kiai lakukan, telah menumbuhkan kesan tersendiri di dalam hati kami. Dengan sikap Kiai terhadap kami. yang sebelumnya belum pernah Kiai kenal itu. menunjukkan bahwa Kiai memang seorang yang baik tanpa pamrih. Kiai pun tidak cemas bahwa semalam kami mencuri benda-benda berharga itu dan membawanya lari. Karena itu. ketika Kiai mengatakan bahwa Kiai mencemaskan benda-benda aku yakin bahwa itu bukan maksud Kiai yang sebenarnya untuk mencurigai kami". "Anak-anak muda" berkata orangtua itu "baiklah aku katakan kesulitanku kepada kalian. Tetapi aku minta kalian jangan melibatkan diri. Biarlah aku sendiri yang mengalaminya" berkata orangtua itu. "Aku akan mempertimbangkan Kiai" Jawab Manggada. Orangtua itu masih saja ragu-ragu. Namun kemudian ia pun berkata “Ternyata seperti yang pernah angger tanyakan, bagaimana jika ada orang yang berpura-pura berhak atas benda-benda berharga itu?” "Jadi ada seseorang yang mengaku berhak atas bendabenda itu. Kiai?" potong Laksana. Orangtua itu mengangguk kecil. Katanya "Seseorang telah datang, la mengaku mendapat perintah dari pemilik songsong dan tombak-tombak itu. Tetapi ia tidak membawa pertanda sebagaimana telah disepakati sebelumnya. Tidak ada patung perunggu berbentuk seekor harimau yang kakinya dapat tepat masuk ke dalam lubang di karah besi pada pangkal tangkai songsong itu. Tentu saja aku tidak dapat memberikannya sebelum orang itu dapat menunjukkan patung kecil itu". "Lalu. apakah orang itu memaksa Kiai?" bertanya Laksana. "Waktu itu, orang itu menyatakan kesediaannya untuk mengambilnya. Hari ini ia akan datang kembali" berkata orangtua itu. Namun katanya kemudian "Tetapi orang itu tampaknya kurang meyakinkan. Aku juga kurang yakin bahwa ia akan datang dengan membawa pertanda yang sudah disepakati itu". "Jika ia tidak membawa?" bertanya Manggada. "Aku tidak akan memberikannya" jawab orangtua itu. "Bagaimana jika ia memaksa?" desak Laksana. "Persoalannya jadi lain ngger. Sudah tentu aku akan tetap mempertahankannya. Tetapi aku harus menyadari bahwa aku adalah seorangtua yang lemah. Yang tentu tidak akan dapat berbuat banyak" Orangtua itu berhenti sejenak, lalu "tetapi aku tidak dapat memberikan benda-benda itu selagi aku masih ada". "Jadi, Kiai akan mempertahankannya sampai tuntas?" bertanya Manggada dengan cemas. "Aku sudah tua ngger. Umurku tentu sudah tidak jauh lagi. Jika aku harus mati, maka tidak akan banyak bedanya. Apalagi aku mempunyai satu keyakinan, bahwa kematian itu tidak akan dapat dipercepat akan ditunda. Jika aku harus mati, maka aku akan mati dengan sebab apapun juga" berkata orangtua itu "Namun sudah tentu bahwa aku tidak akan dapat mempertahankannya lagi". Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Manggada pun berkata "Biarlah aku berada di sini". "Jangan ngger. Sebaiknya kau tidak mengalami perlakuan buruk dari orang-orang yang tidak kau kenal dan tidak mempunyai sangkut paut apapun juga" berkata orangtua itu dengan nada rendah. "Tetapi Kiai sudah berbuat baik terhadap kami" sahut Manggada "apa gunanya kami membawa senjata di lambung jika kami akan menyingkir dari tindak kebajikan Kiai, aku akan tetap berada di sini dengan adikku". Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Aku sudah.mencoba memperingatkan kalian". "Ya, kami mengerti. Segala sesuatunya adalah tanggungjawab kami sendiri Kiai" desis Manggada. Ternyata orangtua itu tidak dapat memaksa kedua anak muda itu untuk pergi. Ia memang menjadi cemas. Namun sesuatu terasa bergetar di dalam hatinya. Anak-anak muda itu ternyata memiliki jiwa yang besar serta kesediaan untuk melindungi sesama yang mengalami kesulitan. Karena itu, orangtua itu tidak memaksa mereka lagi. Bahkan katanya kemudian "Baiklah anak muda. Jika kalian berkeras untuk tinggal. Sekarang, marilah kita pergi kekebun belakang. Aku akan menyadap legen dibelakang. Aku akan menyelarak pintu depan dan membuka pintu butulan yang langsung dapat diawasi dari kebun". Manggada dan Laksana tidak menjawab. Keduanyapun kemudian mengikuti orangtua itu keluar dari pintu belakang. Seperti kebiasaannya, orangtua itu membawa beberapa buah bumbung untuk mengganti bumbung yang telah dipasang kemarin sore. "Mereka akan datang hari ini" desis orangtua itu sambil mendekati sebatang pohon kelapa. Manggada dan Laksana mengangguk kecil. Namun mereka tidak menjawab. Sementara itu, orangtua itupun telah mulai memanjat sebatang pohon kelapa dengan membawa satu di antara bumbung-bumbungnya yang diikatnya dengan tali sabut pada lambungnya. Meskipun orang itu sudah tua, namun dengan tangkasnya ia memanjat. Dalam waktu yang terhitung singkat, orangtua itu sudah bertengger pada pelepah pohon kelapa itu untuk melepas bumbung yang sudah terpasang. Kemudian memotong manggar itu dengan irisan-irisan tipis dan memasang bumbung yang baru untuk menerima titiktitik legen dari manggar yang telah diirisnya itu. Sejenak kemudian, bumbung legen yang baru saja dilepas itupun telah dibawanya turun. "Biarlah kami membantu membawa bumbung itu Kiai" berkata Laksana. Orangtua itu tersenyum. Katanya "Biasanya aku melakukannya sendiri". "Tetapi hari ini kami ada disini" jawab Laksana. Orangtua itu tertawa kecil. Tetapi ia tidak berkeberatan memberikan bumbung-bumbung itu kepada Manggada dan Laksana. Dari satu pohon, orangtua itu pergi ke pohon yang lain. Memang tidak cukup banyak. Tetapi beberapa batang pohon kelapa ia telah memberikan beberapa bumbung legen yang dapat dibuatnya menjadi gula kelapa. Ternyata kerja itu telah membuat orangtua itu melupakan kegelisahannya. Yang masih saja gelisah, justru Manggada dan Laksana. Setiap kali mereka berpaling ke arah pintu butulan yang meskipun tertutup, tetapi tidak diselarak itu. Sementara merekapun sadar, bahwa jika orang yang akan mengambil pusaka-pusaka itu datang, mereka tentu tidak akan masuk dengan diam-diam dan membawa lari benda-benda berharga itu. Ternyata sampai batang kelapa yang terkahir, belum ada seorangpun yang datang memasuki halaman rumah orang itu. Sehingga orangtua itu sempat mengerjakan pekerjaannya yang lain. Menuang legen ketempayan dan mempersiapkan pembuatan gula kelapa di serambi belakang rumahnya. Manggada dan Laksana yang dipersilahkan duduk di dalam, ternyata lebih senang menunggui orangtua itu bekerja. Keduanya masih mengagumi tenaga orangtua itu yang bekerja dengan tangkasnya. Sejenak kemudian, maka perapianpun telah menyala. Legen kelapa di tempayan itupun kemudian diletakkan di atas perapian. Dengan kayu bakar yang dikumpulkan di kebun serta dicampur dengan daun-daun kering yang dikumpulkan pagi-pagi ketika menyapu halaman, maka legen kelapa itu direbus sehingga menyusut. Pada akhirnya, legen itu menjadi semakin lama semakin kenthal dan siap dituang ditempurung kelapa sebagai alat untuk mencetak gula kelapa. Namun orang tua itu sempat berkata kepada Manggada dan Laksana "Tolong, cabut satu atau dua batang ketela pohon". "Untuk apa?" bertanya Manggada. "Kita masukkan kedalam legen yang hampir siap dituang ini" berkata orang tua itu. Manggada dan Laksana tahu benar maksud orang tua itu. Karena itu maka keduanyapun telah berlari-lari kekebun, mencabut masing-masing sebatang ketela pohon. Dengan cepat mereka mengupasnya dan mencucinya. Kemudian membawa kepada orang tua di dapur rumahnya. Tetapi ternyata orangtua itu sudah tidak berada disana. Sebagian gulanya sudah dituang di tempurung kelapa, namun yang lain masih ditempayan, bahkan diatas perapian. Untunglah bahwa api dari kayu-kayu seadanya dan daun-daun kering itu sudah padam dengan sendirinya, sehingga sisa legen di tempayan tidak kering. Manggada cepat-cepat mengambil air dari persediaan di dapur, menuangkannya di tempayan secukupnya. Kemudian memasukkan ketela pohon yang telah dikupasnya keda-latnnya. Namun keduanya tidak lagi memperhatikan ketela pohonnya. Keduanya mulai memikirkan orang tua yang agaknya terpaksa meninggalkan gula kelapanya. Dengan hati-hati Manggada dan Laksana melangkah memasuki rumah orang tua itu dari belakang. Namun mereka tertegun ketika mereka mendengar orang bercakapcakap di-ruang dalam. Sejenak keduanya termangu-mangu. Namun tanpa berjanji, keduanya telah mendengarkan percakapan diruang dalam itu. Sekali-sekali mereka mendengar suara orang tua itu gemetar. Namun kemudian terdengar suara orang lain yang nampaknya memang sudah ditunggu oleh orang tua itu. Tidak hanya seorang. Tetapi dua orang. Manggada dan Laksana memang menjadi tegang. Orang-.orang itu adalah orang-orang yang datang untuk mengambil benda-benda berharga yang dititipkan kepadanya. Namun antara terdengar dan tidak seseorang berkata "Ki Gumrah. Patung kecil itu sudah hilang. Yakinlah. Aku bukan orang lain dari orang yang menitipkan benda-benda pertanda kebangsawanan itu. Aku adalah pamannya". "Tetapi bagaimana aku tahu bahwa Ki Sanak adalah pamannya. Bagiku, siapapun orangnya, tetapi pertanda itu ada padanya, maka aku akan menyerahkannya. Bukankah hal itu sudah aku katakan ketika Ki Sanak datang kemari beberapa waktu yang lalu?" berkata orang tua yang disebut Ki Gumrah itu. "Aku juga sudah menemuinya. Tetapi ia mengatakan bahwa patung kecil itu telah hilang sehingga ia tidak dapat memberikannya kepadaku" jawab orang itu. "Maaf Ki Sanak" berkata orang tua itu "aku masih tetap pada pendirianku, karena pemilik benda-benda yang dianggapnya berharga itu sendirilah yang berpesan". "Ki Gumrah" terdengar suara yang lain "kau sudah tua. Sebaiknya kau tidak usah berkeras untuk mempertahankan benda-benda yang memang bukan milikmu itu. Apakah keuntunganmu mempertahankan benda-benda itu?” "Aku memang tidak mendapat keuntungan apa-apa Ki Sanak" jawab Ki Gumrah "tetapi aku sudah berjanji untuk melakukannya. Bagiku janji mempunyai nilai yang tinggi". "Kau mempersulit dirimu sendiri" berkata orang yang datang itu "jika kau berkeras untuk mempertahankan benda-benda yang bukan milikmu itu, maka kami terpaksa berkeras untuk membawanya. Pemilik benda-benda berharga itu berpesan kepada kami, agar benda-benda itu dapat kami bawa. Kemudian sudah berjanji bahwa kami akan kembali dengan membawa benda-benda itu. Sedang menurutmu, janji itu mempunyai nilai yang tinggi". Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian berkata "Maaf Ki Sanak. Bagaimanapun juga, aku tidak akan dapat memberikan, benda-benda itu. Aku terikat pada janjiku. Sebagai orang tua aku justru harus berpegang kepada janji itu". "Jika demikian, kita masing-masing akan berpegang kepada janji yang telah kita ucapkan." berkata orang yang pertama. "Karena itu Ki Sanak" berkata orang tua itu "usahakan agar pertanda itu kalian dapatkan, sehingga tidak akan terjadi kesulitan apapun juga". “Benda kecil itu sudah hilang. Bukankah aku sudah mengatakannya?" jawab orang itu. "Maaf Ki Sanak. Aku tidak dapat memberikannya" berkata orang tua itu. "Kami akan mengambil sendiri" terdengar suara orang yang datang itu menjadi semakin keras. Manggada dan Laksana menjadi berdebar-debar. Ki Gumrah sudah terlalu tua untuk mempertahankan bendabenda berharga itu. Karena itu, sejenak keduanya saling berpandangan. Sementara itu, suasana uiruang dalam menjadi semakin panas ketika terdengar seseorang berkata "Sudahlah Ki Gumrah, kau jangan berbuat bodoh. Kau tidak akan dirugikan seandainya benda-benda itu kami bawa. Kaupun tidak akan mendapat keuntungan apa-apa dengan mempertahankan benda-benda itu". "Ada Ki Sanak. Jika aku mempertahankan benda-benda itu, aku mendapatkan keuntungan meskipun keuntungan itu tidak berujud. Aku adalah orang tua yang berpegang pada janji" jawab orang tua itu. "Sebenarnya aku tidak ingin berbuat kasar. Apalagi terhadap orang tua. Karena itu, ketika aku datang yang pertama, aku dengan senang hati menuruti permintaanmu, mengambil patung kecil itu. Tetapi sudah aku katakan, patung itu sudah hilang. Kau tidak dapat memaksaku menemukan patung itu kembali. Demikian pula pemilik benda-benda berharga itu tidak akan mendapatkan patungnya lagi." berkata orang yang datang itu. "Jika demikian, biarlah pemiliknya datang sendiri untuk mengambilnya. Meskipun aku sudah pikun, tetapi aku tentu masih dapat mengenalnya dengan baik." berkata Ki Gumrah selanjutnya. Tetapi orang-orang yang datang uu nampaknya sudah tidak sabar lagi. Yang terdengar adalah suara salah seorang dari mereka menjadi semakin keras "Cukup. Aku sudah cukup menahan diri. Sekarang aku akan mengambil bendabenda itu. Aku akan membawanya. Boleh atau tidak boleh.” "Jangan, Ki Sanak. Jangan. Lalu dimana harga diriku, jika kata-kataku tidak dapat dipegang lagi. Jika aku sudah tidak memegang janji, aku akan menjadi semakin tidak berharga lagi." minta orang tua itu. "Aku tidak peduli lagi" geram orang itu. Yang kemudian terjadi, dapat dibayangkan. Orang tua yang memegangi lengan tamunya itu telah dikibaskan. Yang terdengar suara orang yang terjatuh diamben bambu serta orang tua itu mencoba mencegahnya "Jangan, jangan lakukan itu". Tetapi suaranya sama sekali tidak dihiraukan. Manggada dan Laksana tidak menunggu lebih !ama lagi. Keduanya kemudian telah mendorong pintu butulan. Sesaat kemudian, keduanya telah berada di ruang dalam itu pula. "Jangan lakukan itu Ki Sanak" desis Manggada. "Siapa kau?" bertanya seorang yang ternyata bertubuh kecil namun agak tinggi. "Aku cucu Ki Gumrah" jawab Manggada. "O" yang satu lagi mengangguk-angguk. Orangnya bertubuh sedang. Namun wajahnya nampak keras dan kasar "Jadi Ki Gumrah sudah mempunyai cucu sebesar ini. Yang seorang lagi apakah juga cucunya?” "Ya" jawab Laksana singkat. "Bagus. Nampaknya kalian dipanggil oleh kakekmu khusus hari ini untuk melindungi benda-benda berharga itu?" desis orang yang berwajah keras itu. "Aku tidak sengaja datang mengunjungi kakekku hari ini. Ternyata kakek sedang menghadapi satu masalah yang tidak dapat dipecahkannya sendiri" berkata Laksana. "Baiklah" berkata orang yang bertubuh tinggi "sekarang kami akan mengambil benda-benda berharga itu. Terserah kepada kalian berdua, cucu-cucu Ki Gumrah. Apakah kalian akan mencegah kami atau tidak.” "Sudah tentu" berkata Manggada "kakek yang sudah terlanjur berjanji harus ditepati. Aku tidak peduli apakah kau akan mengaku sudah berjanji pula membawa bendabenda itu atau kau akan merampoknya. Jika kau mempergunakan kekerasan untuk mengambil benda-benda itu. maka itu akan sama saja artinya dengan kalian telah merampok kakekku". "Sudahlah anak-anak muda" berkata orang yang bertubuh tinggi "jangan terlalu banyak bicara sehingga membuat telingaku merah. Jika'kau berniat untuk mempertahankan benda-benda itu. maka aku memang terpaksa mempergunakan kekerasan". "Cobalah" berkata Manggada "kami akan mempertahankan dengan kekerasan pula". Wajah orang bertubuh tinggi itu berkerut. Namun kemudian katanya "Aku akan memaksa kalian untuk minggir” Tetapi Manggada dan Laksana masih tetap berdiri ditempatnya. Sementara itu, orang bertubuh kasar itupun berkata dengan nada geram "Aku tidak telaten. Kita harus segera menyingkirkannya. ?” Manggada dan Laksanapun segera bersiap menghadapinya kedua orang itu. Ruangan memang agak terlalu sempit. Tetapi kedua orang itu tidak boleh mengambil benda-benda yang memang bukan haknya. Kedua orang itu benar-benar tidak menunggu lagi. Tetapi ketika keduanya melangkah maju, maka Manggada dan Laksanapun telah menyerangnya. Ditempat yang tidak begitu luas itupun kemudian telah terjadi perkelahian. Manggada menghadapi orang yang bertubuh tinggi tetapi kecil itu, sedangkan Laksana melawan orang-orang yang lain. Namun agaknya kedua orang itu tidak ingin bertempur dalam ruang yang sempit itu. Karena itu, maka keduanyapun telah memancing lawan-lawan mereka untuk keluar dan turun ke halaman. Manggada dan Laksanapun tidak berkeberatan pula. Merekapun lebih senang bertempur ditempat yang lebih luas. Dengan demikian memreka akan lebih leluasa untuk bergerak dan mengambil ancang-ancang. Demikianlah keduanya telah terlibat dalam pertempuran yang semakin lama menjadi semakin sengit. Manggada dan Laksana yang muda itu cepat menyesuaikan diri dengan lawannya yang garang dan berkelahi deraan keras. Manggada yang bertempur melawan orang bertubuh tinggi itu telah bertempur dengan cepat. Orang bertubuh tinggi itu ternyata sangat giat. ia dapat berloncatan, berputar diudara dan bahkan seakan-akan terbang mengitari lawannya. Sementara Manggada yang telah menekuni olah kanuragan serta berlatih dengan keras berusaha untuk mengimbanginya. Peningkatan ilmunya disepanjang perjalanannya, telah membuatnya menjadi semakin tangkas. Karena itu. maka Manggadapun dengan cepat pula telah bertempur meiawan orang yang bertubuh tinggi itu. Beberapa saat mereka masih saling menjajagi kemampuan masing-masing. Namun kemudian orang bertubuh tinggi itu dengan cepat meningkatkan kemampuannya. Manggadapun telah melakukan hal yang sama. Ketika lawannya mendesaknya, maka Manggadapun telah berusaha untuk bertahan. Bahkan dengan garangnya Manggada ielah menyerang lawannya semakin cepat. Tetapi lawan Manggada agaknya seorang yang memiliki pengalaman yang sangat luas. Bahkan kekuatan dan kemam-puannyapun telah menggetarkan pertahanan Manggada yang muda itu. "Ternyata kau memiliki bekal yang cukup anak muda" berkata orang yang bertubuh tinggi itu "sayang, kau belum mampu mengembangkan dasar ilmumu, sehingga gerakmu masih sangat terbatas pada umur-umur gerak murni. Namun ternyata kaupun telah pernah mendapatkan peningkatan landasan ilmu dan kemampuanmu oleh seorang yang berilmu tinggi, sehingga kau memiliki tataran ilmu yang pantas kau banggakan, apalagi pada umurmu yang masih sangat muda itu". Manggada tidak menjawab. Namun iapun telah mengerahkan kemampuannya untuk mengatasi lawannya benar-benar seorang yang memiliki pengalaman yang dapat menompang kemampuannya. Bukan saja kecepatannya bergerak serta unsur-unsur geraknya yang rumit. Namun orang bertubuh tinggi itu seakan-akan dapat membaca, apa yang akan dilakukan oleh Manggada. sehingga karena itu, maka Manggada seakan-akan merasa telah dipotong serangan-serangannya oleh lawannya. Dengan demikian, maka Manggada mulai merasakan kesulitan untuk mengimbangi kemampuan lawannya yang ternyata cukup tinggi. Dalam pada itu, Laksanapun telah mengalami kesulitan pula. Bahkan rasa-rasanya orang yang bertubuh sedang namun berwajah keras itu telah mendesaknya tanpa memberinya banyak kesempatan. Meskipun Laksanapun kemudian telah mengerahkan kemampuannya, tetapi lawannya itu benar-benar seorang yang berilmu tinggi. Serangan-serangannya datang beruntun dengan landasan kekuatan yang sangat besar, kecepatan bergerak yang tinggi dan bahkan juga unsur-unsur yang sulit diperhitungkan. Sementara itu orang tua yang disebut Ki Gumrah itu berdiri termangu-mangu didepan pintu rumahnya, ia menyaksikan pertempuran itu dengan dahi yang berkerut semakin dalam. Manggada dan Laksana ternyata dalam waktu singkat telah terdesak oleh kemampuan lawannya yang tinggi. Kedua orang yang datang untuk mengambil pusaka itu adalah orang-orang yang memang berbekal ilmu sehingga mereka benar-benar akan dapat melakukan tugas mereka dengan baik. Kedua anak muda yang merasa memiliki bekal dan juga pengalaman yang cukup itu, menjadi tidak banyak berarti dihadapan kedua orang yang mendapat tugas untuk mengambil benda-benda berharga itu. Namun Manggada dan Laksana adalah anak-anak muda yang keras hati. Mereka tidak mudah menyerah menghadapi kesulitannn itu. Karena itu, maka mereka masih tetap bertempur dengan mengerahkan segenap kemampuannya. Tetapi beberapa saat kemudian, maka serangan lawan Laksana yang berwajah keras itu datang beruntun seperti banjir bandang yang sulit untuk dibendung. Sebuah serangan yang keras telah menghantam langsung mengenai lambung Laksana sehingga anak muda itu terdorong beberapa langkah surut. Sebelum Laksana mampu memperbaiki keadaannya, maka serangan berikutnyapun telah datang. Orang itu meloncat sambil menjulurkan tangannya tepat mengenai dadanya. Laksana bukan saja sekedar terdorong surut, tetapi iapun telah terlempar beberapa langkah dan terbanting jatuh. Namun dengan cepat pula Laksana berusaha untuk bangkit. Ketika ia sempat melihat lawannya meloncat menjulurkan kakinya lurus mengarah ke keningnya, maka Laksana telah menjatuhkan dirinya sekali lagi. Tetapi ia sempat menyapu kaki lawannya, sehingga lawannya itupun telah kehilangan keseimbangannya pula. Namun ketika Laksana bangkit berdiri, ternyata lawannya itupun telah berdiri tegak pula. Sedangkan yang terjadi kemudian adalah serangan-serangan yang datang beruntun. Susul-menyusul tidak henti-hentinya sehingga Laksana harus berloncatan surut beberapa langkah. Dilingkaran pertempuran yang lain, Manggadapun telah terdesak pula. Ketika tangan lawannya terayun mendatar, maka serangan itu masih membentur pertahanan Manggada sehingga tidak menyentuh tubuhnya. Tetapi sesaat kemudian, justru kaki lawannya yang bertubuh tinggi itulah yang menyerang kearah dadanya, justru lawannya sedang membelakanginya Manggada masih sempat mengelakkan serangan itu. Namun sekejap kemudian lawannya itu bagaikan melenting sambil berputar. Satu kakinya terayun deras tepat mengenai kening anak muda itu. Manggada bagaikan terlempar jatuh. Dengan cepat ia berguling menjauhi lawannya. Ketika lawannya memburunya, Manggada sudah sempat melenting berdiri. Meskipun demikian, maka tangan lawannya yang terjulur lurus telah menggapai dadanya. Manggada harus meloncat beberapa langkah surut sambil berusaha mengatasi rasa sakit. Sementara dadanya bagaikan menjadi sesak. Namun ia sempat mempersiapkan diri ketika lawannya yang bertubuh tinggi itu siap untuk menyerangnya lagi. Tetapi bagaimanapun juga, maka kemudian yang terjadi sudah dapat diduga. Manggada dan Laksana tidak mendapat banyak kesempatan lagi. Karena itu. maka kedua anak muda itu tidak mempunyai pilihan lain. Dengan keadaan yang terdesak, maka keduanya sampai kepuncak perlawanannya. Karena itu, maka beberapa saat kemudian, baik Manggada maupun Laksana telah menarik pedangnya. Kedua orang lawan Manggada dan Laksana itupun termangu-mangu sejenak. Namun orang bertubuh tinggi itupun kemudian berkata "Anak-anak muda. Senjata-senjata kalian itu akan sangat berbahaya bagi kalian sendiri. Jika kamipun kemudian menarik senjata kami, maka kalian berdua akan dapat terbunuh disini". "Aku tidak peduli" geram Manggada "tetapi kalian tidak boleh mengambil apapun yang bukan hak kalian". "Anak-anak muda. sebaiknya kalian tidak mncampuri persoalan orang lain" berkata orang bertubuh tinggi itu. "Persoalan ini adalah persoalan kakekku." jawab Manggada. "Baiklah" berkata orang itu "jika demikian apabo-leh buat. Kalian berdua memang harus disingkirkan lebih dahulu". Manggada dan Laksana tidak menjawab. Namun kedua orang itupun kemudian telah menarik senjata mereka masing-masing. Orang yang bertubuh tinggi itu bersenjata sepasang tongkat baja yang tidak begitu panjang sedangkan orang yang berwajah kasar itu telah mengurai sehelai rantai yang tidak terlalu panjang. Manggada dan Laksana memang menjadi berdebardebar. Mereka melihat bagaimana kedua orang itu begitu yakin akan jenis senjata mereka. Sejenak kemudian, maka pertempuran telah terjadi iagi di halaman rumah orang tua itu. Manggada dan Laksana telah mempermainkan pedangnya. Keduanya memiliki ilmu pedang yang tinggi. Namun melawan senjata-senjata yang aneh itu, keduanya masih harus menyesuaikan diri. Meskipun mereka pernah berlatih melawan beberapa jenis senjata, tetapi ketika mereka benar-benar berhadapan dengan senjata yang tidak terlalu sering dipergunakan itu, masih juga harus sangat berhati-hati . Tetapi Manggada dan Laksanapun telah terdesak pula. Ketika tongkat baja orang bertubuh tinggi itu membentur pedang Manggada maka rasa-rasanya pedangnya itu hampir meluncur dari tangannya. Namun Manggada cukup trampil sehingga ia masih mampu mempertahankan pedangnya itu. Sementara itu Laksana telah berloncatan surut. Ujung rantai lawannya itu seperti seekor lalat yanag memburunya dan setiap kali hinggap dikulitnya. Meskipun sentuhansentuhan itu masih belum melukainya, tetapi perasaan pedih telah menyengatnya beberapa kali. Bagaimanapun juga Manggada dan Laksana tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk mengimbangi kedua orang itu. Ternyata keduanya bukan sekedar orangorang yang berniat buruk, tetapi keduanya benar-benar berbekal ilmu melampaui orang-oranag yang pernah dijumpai sebelumnya. Karena itu, yang dapat dilakukan oleh kedua orang anak muda itu hanya bertahan. Namun beberapa kali mereka harus berlebatan mengambil jarak. Tetapi kedua orang itu terus mendesaknya. Manggada yang mengerahkan segenap kemampuannya, ternyata tidak dapat mengimbangi lawannya. Tongkat baja itu mulai mengenai tubuhnya. Ketika ia mengayunkan pedangnya mendatar, tetapi tidak menggapai sasaran, maka lawannya telah mempergunakan saat itu untuk menyerng kembali. Manggada memang meloncat surut, tetapi tongkat itu masih juga mengeni lengannya. Manggada mengeluh tertahan. Tulangnya seakan-akan. menjadi retak. Sehingga karena itu. maka ia pun telah berloncat beberapa kali menjauhi lawannya. Namun lawannya ternyata memburunya sambil menggeram. "Salahmu sendiri" berkata orang itu "senjatamu telah membuatmu semakin sulit. Jangan menyalahkan aku jika kunjunganmu ke kakekmu kali ini adalah kunjunganmu yang terakhir. Tetapi Manggada tidak mudah menyerah. Apapun yang terjadi, harus dihadapinya. Ia sudah terlanjur mulai dengan satu pertempuran, karena ia tidak dapat melihat laku sewenang-wenang. Tetapi ternyata lawan anak-anak muda itu adalah orang yang berilmu tinggi, karena itu, Manggada dan juga Laksana telah mengalami kesulitan. Akhirnya kedua anak muda itu telah terdesak sampai ke dinding halaman. Keduanya tidak mungkin lagi untuk bergesci mundur. Yang dapat mereka lakukan adalah bertahan sampai kemungkinan terakhir. Ternyata kedua anak muda itu telah beberapa kali dikenai senjata-senjata lawannya. Selain tulang-tulang mereka serasa retak, kulit mereka pun mulai terluka. Darah pun mula» menitik dari luka-luka itu. Dalam keadaan yang paling gawat itu. tiba-tiba saja mereka mendengar tepuk tangan. Bahkan terasa sangat mengejutkan, bahwa dalam keadaan yang demikian ada seseorang yang bertepuk tangan sambil berkata "Bagus. Bagus sekali. Kalian utusan orang linuwih telah mampu mengalahkan anak-anak yang masih pantas bermain bengkat". Orang-orang yang mendesak Manggada dan laksana itu terkejut pula. Mereka pun berloncatan mundur. Ketika mereka berpaling, mereka melihat Ki Gumrah masih bertepuk tangan. "Apakah kau sudah menjadi gila?" bertanya orang yang bersenjata sepasang tongkat baja pendek itu. Ki Gumrah tertawa. Katanya "Tentu tidak. Aku masih cukup sadar melihat apa yang telah terjadi. Kenapa kau menyangka aku sudah gila". “Apa yang membuatmu bertepuk tangan? Keputusasaan melihat cucu-cucumu, atau justru karena kau sudah kehilangan akal?" bertanya lawan Laksana. "Tidak Ki Sanak" jawab orangtua itu "aku kagum akan anak-anak itu. Dalam usianya yang masih sangat muda. mereka telah mampu menunjukkan ilmu yang mapan meskipun masih harus dikembangkan. Tetapi mereka sudah menguasai unsur-unsur gerak yang rumit, serta memiiiki kemungkinan yarg jauh lebih baik dari ilmu kalian". Wajah orang itu berkerut. Bahkan Manggada dan Laksana pun menjadi heran. Ternyata orang itu mampu menilai kemampuan mereka dan kemampuan lawan-lawan mereka. Tetapi dengan geram lawan Manggada itu berkata "Tetapi kebanggaanmu atas cucu-cucumu tidak akan lama Ki Gumrah. Kami akan menyelesaikannya. Dengan bekal yang tipis itu, mereka menjadi terlalu sombong. Kelak mereka akan menjadi orang yang sangat berbahaya apabila mereka tumbuh semakin matang dalam olah kanuragan". "Jangan Ki Sanak. Biarlah mereka mendapat kesempatan untuk mekar. Meningkatkan ilmu dan mengamalkan ilmu mereka bagi kebaikan" jawab Ki Gumrah. "Itu tidak akan terjadi. Mereka terlalu sombong dan tentu akan menjadi sewenang-wenang" geram lawan Manggada. "Sudahlah" berkata Ki Gumrah "aku minta maaf atas tingkah laku cucu-cucuku itu". "Jadi kau berikan songsong dan tombak-tombak itu?" bertanya lawan Manggada. Orangtua itu mengerutkan dahinya. Katanya "Sayang Ki Sanak, aku tidak dapat memberikan sebelum Ki Sanak membawa pertanda pemilikan seperti yang aku katakan". "Jadi, kami bunuh cucu-cucumu?" desak lawan Laksana. "Juga tidak." jawab Ki Gumrah. "Aku tidak peduli" geram lawan Manggada "aku justru akan melakukan kedua-duanya. Membunuh cucu-cucumu, kemudian membawa songsong dan tombak-tombak itu". "Sebenarnya sudah tidak pantas bagiku untuk bermainmain dengan kalian. Tetapi apaboleh buat. Aku tidak mau kedua-duanya. Aku tidak mau cucu-cucuku mati dan juga tidak mau songsong dan tombak-tombak itu kau bawa" jawab Ki Gumrah. “Jadi kau akan berbuat apa?" bertanya lawan Manggada itu "kau akan melawan kami berdua?” "Sudah aku katakan, sebenarnya aku sudah tidak pantas untuk melayani kalian, tetapi aku tidak dapat berdiam diri menghadapi sikap kalian" jawab orangtua itu. Kedua orang yang akan mengambil songsong dan tombak-tombak itu termangu-mangu. Namun kemudian seorang di antara mereka berkata-kata "Baiklah. Ternyata kami harus mempergunakan kekerasan. Tetapi dengan demikian kami dapat menduga, bahwa sebenarnya kau memiliki bekal kemampuan untuk mencoba bertahan. Siapa kau sebenarnya?” "Jangan bertanya tentang hal yang aneh-aneh. Kau tahu, namaku Ki Gumrah. Itu saja. Tetapi karena aku sudah berjanji, maka aku tidak dapat menyerahkan benda-benda itu kepada seseorang yang tidak berhak. Juga tidak kepada kalian." berkata orangtua itu. "Jika demikian, maka aku tidak merubah rencanaku. Mengambil benda-benda itu dan membunuh orang-orang yang merintangi niat itu" geram lawan Manggada yang kemudian berkata kepada kawannya "Selesaikan kedua anak itu. Aku akan menyelesaikan orangtua itu. Namun agaknya ia merasa mampu melawanku. Selama itu, ternyata ia hanya berpura-pura saja ketakutan dan seakanakan tidak berdaya. Justru orang-orang seperti itu adalah orang yang sangat berbahaya.” Kawannya mengangguk. Namun ia tidak menunggu terlalu lama. Ia pun segera bersiap dan mulai menyerang Manggada dan Laksana yang sudah terluka dan kehilangan sebagian dari kekuatannya, setelah memeras tenaganya habis-habisan. Sementara darah semakin banyak mengalir dari luka-luka mereka. Sedangkan tulang-tulang mereka masih saja terasa bagaikan retak. Sejenak kemudian, seorang diantara mereka telah berhadapan dengan orangtua itu. Ternyata orangtua itu telah menyingsingkan kain panjangnya dan berkata "Meskipun aku sudah tua, tetapi aku masih tetap merasa bertanggungjawab atas janji yang sudah aku ucapkan". Lawannya tidak menjawab.Tetapi ia pun segera meloncat menyerang. Sepasang tongkatnya terayun-ayun mengerikan. Hampir saja tongkat itu menyambar kepala Ki Gumrah yang untung saja sempat mengelak. Sementara itu, Manggada dan Laksana benar-benai sudah terkurung. Meskipun lawan mereka tinggal seorang, tetapi mereka seakan-akan sudah tidak berdaya lagi. Namun kedua anak muda itu masih berusaha untuk melindungi dirinya. Yang sama sekali tidak terduga adalah lawan Ki Gumrah. Mula-mula ia tampak demikian garangnya. Namun dalam waktu singkat, orang itu sudah terdesak dan seakan-akan tidak mempunyai kesempatan untuk melawan. Bahkan kemudian ia pun telah memberikan isyarat kepada kawannya untuk membantunya. Orang yang bersenjata rantai itupun telah melepaskan Manggada dan Laksana yang benar-benar dalam kesulitan. Namun orang itu masih menggeram "Nyawamu masih akan tinggal beberapa saat di dalam tubuhmu. Tetapi setelah orangtua itu kami selesaikan, kalian pun akan mati. Kalian tidak akan dapat melarikan diri dalam keadaan kalian seperti itu". Manggada dan Laksana memang tidak dapat menjawab. Mereka benar-benar dalam keadaan yang sulit. Mereka menyadari, jika mereka harus bertempur beberapa saat lagi, maka tubuh mereka akan menjadi semakin sakit. Darah akan semakin banyak mengalir dan tenaga mereka pun akan terkuras habis sama sekali. Namun justru saat-saat kematian sudah membayang, lawannya telah meninggalkannya. Tetapi seperti yang dikatakan oleh lawannya itu, bahwa dalam keadaan seperti itu, mereka tidak akan mampu melarikan diri. Satu-satunya kemungkinan yang dapat mereka lakukan adalah mengganggu pemusatan perhatian kedua orang yang bertempur bersama-sama melawan orangtua yang semula disangkanya tidak berdaya sama sekali. Namun, dengan tekad apapun yang terjadi atas mereka, karena hanya dengan cara itulah mereka dapat membantu oiangtua itu. Tetapi sebelum keduanya berbuat sesuatu, Manggada dan Laksana yang terluka itu melihat bagaimana orangtua itu mendesak kedua lawannya. Bahkan sambil tertawa orangtua itu berkata "Nah, bukankah kalian pun harus mengalami sebagaimana dialami oleh kedua cucuku". Dengan geram seorang di antara lawannya bertanya "Setan kau. Siapakah kau sebenarnya?” Orangtua itu masih saja tertawa. Katanya "Kalian sudah mengenal namaku Itu sudah cukup". Beberapa saat kemudian, kedua orang itu benar-benar tidak mampu mengatasi ketangkasan dan kecepatan gerak lawannya. Meski pun kedua orang itu bersenjata, namun orangtua itu sekali-sekali mampu juga menembus pertahanan mereka. Namun tiba-tiba seorang di antara kedua orang itu berteriak "Bunuh saja cucu-cucunya". Orangtua itu terkejut. Katanya "Jangan licik." Orang bersenjata rantai itulah yang kemudian meloncat untuk menyelesaikan Manggada dan Laksana yang memang sudah tidak mampu berbuat banyak. Meski pun demikian, aba-aba itu telah membangunkan mereka untuk mengangkat senjata mereka dengan sisa tenaga yang ada padanya. Tetapi Manggada dan Laksana memang sudah menjadi semakin lemah. Perasaan sakit, pedih dan nyeri, serta darah yang masih saja mengalir, membuat kedua anak muda itu tidak akan mampu lagi bertahan. Sementara itu, rantai baja telah berdesing semakin keras. Manggada dan Laksana dengan sisa tenaga terakhirnya justru mengambil jarak, sehingga yang seorang akan dapat berbuat sesuatu betapapun lemahnya untuk membantu yang lain. Namun dalam keadaan yang paling gawat bagi Manggada dan laksana, tiba-tiba saja mereka terkejut. Mereka melihat orang yang bersenjata rantai itu terhenyak sejenak. Kemudian terhuyung-huyung, sebelum orang itu sempat menyerang Manggada dan Laksana. Akhirnya orang itu terjatuh menelungkup. Sementara itu, sebuah gelang-gelang besi baja jatuh di sisinya. "Aku tidak mempunyai cara lain" terdengar suara Ki Gumrah yang meloncat mengambil jarak dari lawannya. Lawannya terkejut melihat keadaan itu. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian ia menggeram "Kau licik". "Tidak. Bukan aku yang licik. Tetapi kawanmu dan. justru kau" sahut Ki Gumrah. "Kenapa kau sebut kawanku dan bahkan aku licik? Bukankah kita sudah terlihat dalam pertempuran? Apakah membunuh kedua anak tikus itu dapat disebut licik?" geram orang itu. "Jika demikian, apakah membunuh kawanmu juga dapat disebut licik?" jawab K: Gumrah. Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berkata "Kau akan menyesal bahwa kau telah membunuh kawanku. Dengar, aku akan menyampaikan persoalan ini kepada orang yang memerintahkan aku mengambil bendabenda pusaka itu". "Bagaimana jika aku juga membunuhmu?" bertanya Ki Gumrah. "Persetan" jawab orang itu. Namun ia memang menjadi cemas, bahwa hal itu benar-benar akan dilakukan oleh Ki Gumrah. Sehingga karena itu, ia pun telah melangkah surut menuju ke halaman rumah orangtua itu. Orang itu tidak mau memutar tubuhnya membelekangi Ki Gumrah yang ternyata memiliki senjata khusus, yang dapat dilontarkan pada jarak tertentu. Ki Gumrah termangu-mangu sejenak. Namun ia memang tidak ingin membunuh orang itu. Bahkan ia sempat berkata "Apakah kau tidak ingin melihat kawanmu? Apakah kau yakin ia sudah mati?” Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya "Mati atau tidak mati, aku tidak dapat membawanya. Kaupun dapat berbuat licik saat aku melihat kawanku. Yang penting, salah seorang diantara kami dapat kembali dan memberitkan laporan tentang benda-benda berharga itu". Ki Gumrah tersenyum. Katanya "Kau kira aku tidak dapat membunuhmu?” "Lakukan jika kau mulai menjadi ketakutan kepada orang yang memerintahkan aku kemari. Tetapi bahwa kami berdua tidak kembali, berarti bencana yang semakin besar bagimu" jawab orang itu. Ki Gumrah tertawa. Katanya "Satu cara yang baik untuk menyelamatkan diri. Kau singgung harga diriku agar aku tidak membunuhmu. Tetapi jika aku tidak membunuhmu, sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kata-kata itu. Aku memang tidak berniat membunuhmu. Aku kasihan kepadamu. Kau sudah menjadi pucat pasi. Meskipun kau memaksa diri untuk tampak tetap tegar dan tanpa mengenal ancaman maut. Namun sebenarnya jantungmu tentu sudah tidak berdarah lagi". "Setan tua" geram orang itu. Namun ia masih juga melangkah surut ke pintu gerbang. Demikian orang itu sampai kepintu gerbang, Ki Gumrah telah menimbang sebuah lingkaran besi baja. Karena itu, orang itu dengan cepat meloncat ke belakang pintu gerbang halaman rumah Ki Gumrah. Ki Gumrah tersenyum. Namun kemudian dengan tergesa-gesa ia menyimpan kembali gelang-gelang baja itu dibawah ikat pinggangnya. Kemudian Ki Gumrah pun telah mendekati Manggada dan Laksana. "Marilah. Aku obati luka-lukamu, berkata Ki Gumrah. Manggada dan Laksana telah menyarungkan senjata mereka. Dengan dibantu oleh orangtua itu, keduanya berjalan perlahan-lahan ke serambi rumah tua itu, dan kemudian duduk disebuah amben panjang. "Duduklah sebentar. Jangan banyak bergerak" berkata orangtua itu. Dengan tergesa-gesa pula Ki Gumrah mendekati tubuh yang terbaring itu. Nampaknya gelang-gelang besi baja Ki Gumrah telah mengenai tengkuknya. Tetapi orang itu tidak mati. Orang itu hanya pingsan saja. "Biarlah ia tidur sebentar" berkata Ki Gumrah yang telah menelentangkan orang itu. Tetapi kemudian ia telah menyentuh beberapa bagian simpul syarafnya dan berkata "Ia tidak akan dapat lari". Ki Gumrah kembali kepada Manggada dan Laksana. Diperintahkannya kedua anak muda itu berbaring. Katanya "Lepas baju kalian. Aku akan melihat luka-luka ditubuh kalian.” Manggada dan Laksana pun telah membuka baju mereka sambil menyeringai menahan pedih. Kemudian keduanya berbaring berjajar diamben bambu di serambi. "Disini udara lebih baik daripada didalam rumah yang pengab itu" berkata Ki Gumrah. Sejenak kemudian orangtua itu telah melihat luka-luka ditubuh Manggada dan Laksana. Kebanyakan hanya lukaluka memar. Tetapi ada pula kulitnya yang terkoyak, sehingga darah mengalir dari luka-luka itu. Namun kemudian, dengan hati-hati Ki Gumrah telah menaburkan semacam serbuk di luka-luka kedua anak muda itu. Meskipun mula-mula luka itu bagaikan disentuh api, namun kemudian perlahan-lahan penjadi semakin sejuk. Darah yang mengalir dari luka-luka itupun telah menjadi pampat pula. "Luka-luka kalian, baik yang terbuka maupun yang tampak memar pada kulit daging kalian, tidak berbahaya" berkata orangtua itu "tetapi tentu terasa pedih. Apalagi jika keringat kalian mengenainya". Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Namun obat Ki Gumrah telah dapat jauh mengurangi rasa sakit, meskipun mula-mula terasa panas. Bahkan sejenak kemudian Manggada telah mulai bangkit dan duduk dibibir pembaringan. Laksana pun telah bangkit pula dan duduk disebelah Manggada. "Daya tahan kalian luar biasa" berkata Ki Gumrah "latihan-latihan yang berat telah membuat kalian mengatasi perasaan sakit yang mencekam tubuh kalian, serta kemampuan kalian mempertahankan kekuatan dan tenaga didalam diri kalian, sehingga kalian masih mampu bangkit dan duduk sekarang ini, bahkan seolah-olah tidak terjadi sesuatu atas diri kalian. Sudah tentu bahwa sebenarnyalah kekuatan kalian belum pulih kembali, karena untuk itu diperlukan waktu. Namun sekiias, wajah kalian, tatapan mata kafian dan sikap duduk kalian, benar-benar menunjukkan ketahanan tubuh yang luar biasa". "Obat Ki Gumrah tadi agaknya yang telah menumbuhkan kekuatan di dalam tubuh kami, meskipun belum pulih kembali." jawab Manggada. "Tidak. Obatku hanya sekadar mengobati luka-luka ditubuh kalian dan memampatkan darah" jawab Ki Gumrah. Namun kemudian katanya "Tetapi aku juga ingin memberikan obat yang nanti dapat kalian minum, sehingga kekuatan kalian akan cepat pulih kembali". Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Dengan nada rendah Manggada menjawab "Terima kasih Kiai". "Akulah yang harus mengucapkan terima kasih." jawab Ki Gumrah. "Tidak." jawab Manggada "kami ternyata benar-benar terlalu sombong dan dungu. Kami tidak tahu siapa sebenarnya Kiai. sehingga kami merasa mempunyai kemampuan untuk menolong Kiai yang kemudian justru merepotkan Kiai". Ki Gumrah tertawa. Katanya "Anak-anak muda. Meskipun kalian tidak berhasil menolong aku, seandainya aku tidak mampu mengatasi mereka berdua, tetapi niat kalian urtuk menolong itu sudah menunjukkan sesuatu yang menarik pada kalian. Kalian tidak mengenal aku sebelumnya. Namun dalam keadaan yang gawat, kalian tiba-tiba saja telah mengaku sebagai cucu-cucuku. Bukankah sikap itu harus dihargai? Selebihnya, aku memang ingin melihat tingkat kemampuan kalian. Ternyata bahwa kalian selain telah berguru dan menyadap ilmu juga pernah mendapatkan petunjuk-petunjuk khusus untuk menjalani laku, sehingga kalian memiliki kelebihan dan orang lain. Dalam umur kalian yang masih muda itu, kalian telah memiliki sesuatu yang berharga. Namun masih juga tergantung penggunaannya, apakah yang kalian miliki itu berarti bagi orang banyak atau justru mengganggu orang banyak". Manggada dan Laksana tidak menjawab. Ketika mereka menarik nafas dalam-dalam, maka tulang-tulang mereka memang tidak lagi terasa terlalu sakit. Menurut Ki Gumrah, itu bukan karena obat yang ditaburkan pada luka-lukanya, tetapi justru karena daya tahan tubuh mereka sendiri. Sementara itu. Ki Gumrah itu kemudian berkata "Duduklah. Beristirahatlah agar darahmu tidak keluar lagi dari luka-lukamu yang mulai pampat. Aku akan melihat orang itu". Ketika Ki Gumrah mendekati orang yang terbaring di halaman itu, maka ia melihat bahwa orang itu telah sadar dari pingsannya. Namun orang itu masih saja berbaring diam karena sentuhan jari-jari Ki Gumrah pada bagian tertentu pada jaringan dan simpul-simpul syarafnya, Demikian Ki Gumrah membuka bagian-bagian yang ditutupnya itu, maka orang itupun telah menarik nafas dalam-dalam. "Bangkitlah dan duduklah" desis Ki Gumrah. Orang itu menggeliat. Namun ia merasa bahwa ia masih mampu untuk bangkit dan duduk ditanah meskipun tengkuknya terasa sakit sekali. Agaknya tengkuknya itulah yang telah dikenai senjata lawannya dan membuatnya menjadi pingsan. "Kawanmu telah melarikan diri" desis Ki Gumrah. Orang itu termangu-mangu sejenak. Dipandanginya orang yang menyebut dirinya Ki Gumrah. Kemudian orang itu sempat memandang Manggada dan Laksana yang duduk dise-rambi. "Kenapa kau tidak membunuh aku saja?" bertanya orang itu. Ki Gumrah tersenyum. Katanya "Tidak. Aku juga tidak membunuh kawanmu. Aku biarkan kawanmu melarikan diri". Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian bertanya "Kenapa kau tidak membunuh kami? Bukankah kau tahu bahwa kami adalah orang yang sangat berbahaya bagimu. Bahkan seandainya kami mampu, kami tentu sudah membunuhmu dan membawa benda-benda berharga itu keluar dari rumahmu ini". Orangtua itu tersenyum. Katanya "Sebenarnya untuk apa kami membunuh? Aku dan cucu-cucuku bukan pembunuh. Kami hanya sekadar mencegah usaa kalian membawa benda-benda yang tidak berhak kalian bawa itu. Hanya itu.” Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia benarbenar tidak mengerti, kenapa orangtua itu tidak membunuhnya. Bahkan orangtua itu kemudian membantunya untuk ber diri sambil berkata "Marilah. Duduklah bersama cucucucuku itu". Orang itu berusaha untuk bangkit berdiri dan berjalan tertatih-tatih dibantu oleh Ki Gumrah ke serambi. Kemudian Ki Gumrah telah mempersilahkan orang itu untuk duduk diamben bambu, disebelah Manggada dan Laksana. Namun orang itu ternyata masih merasa bahwa masih ada anggauta badannya yang tidak dapat bergerak sewajarnya. "Agaknya masih ada simpul syarafnya yang tertutup" berkata orang itu didalam hatinya. Namun orang itu tidak bertanya kepada Ki Gumrah. Karena ia tidak yakin, apakah keadaanya itu terjadi karena ia memang mengalami lukaluka didalam tubuhnya. "Biarlah kau duduk bersama cucu-cucuku. Aku akan menengok gula kelapaku lebih dahulu, berkata orangtua itu.” Manggada dan Laksana termangu-mangu melihat Ki Gumrah begitu saja meninggalkan mereka bersama orang yang semula berniat buruk itu. Namun Manggada dan Laksana tidak bertanya pula kepadanya. Ia yakin, bahwa orangtua itu tidak berbuat begitu saja tanpa memikirkan akibatnya. Untuk beberapa saat mereka yang duduk diserambi itu saling berdiam diri. Memang ada niat orang yang telah sadar dari pingsannya itu untuk melarikan diri. Tetapi setiap kali niatnya diurungkan karena ada sesuatu yang belum wajar pada dirinya, yang mungkin akan dapat mengganggunya se panjang umurnya. Tetapi karena orangtua itu cukup lama tidak muncul dari dalam rumahnya, maka orang itupun kemudian bertanya "Anak-anak muda. Apakah kalian juga berguru kepada kakekmu, sehingga dalam umurmu yang masih muda itu kalian memiliki bekal ilmu yang cukup baik? “ Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Manggada menjawab singkat "Ya". Tetapi orang itu masih bertanya "Menilik penglihatanku, unsur-unsur gerak yang terdapat dalam ilmumu berbeda dengan unsur-unsur yang tampak pada kakekmu. Kenapa?" Sekali lagi Manggada dan Laksana termangu-mangu. Tetapi Manggada pun kemudian menjawab "Kami terlalu dungu untuk dapat menyesuaikan diri dengan tuntunan ilmu kakek". "Apakah kalian telah mengembangkannya sendiri?" bertanya orang itu. "Tentu tidak. Tetapi kakek yang memiliki ilmu yang tinggi itulah yang mampu berbuat apa saja dengan ilmunya. Ia mampu merubah sifat dan watak ilmunya dalam sekejap, sehingga seolah-olah ada dua atau tiga jalur kemampuan ilmu pada kakek" jawab Manggada. Orang itu mengangguk-angguk kecil. Namun katanya "Ternyata orangtua itu berilmu sangat tinggi. Aku tidak mengira. Bahkan aku tetap tidak mengerti kenapa kakekmu tidak membunuh aku". Manggada dan Laksana mengangguk-angguk kecil. Namun tiba-tiba Laksana bertanya "Siapa namamu?"” Orang itulah yang kemudian termangu-mangu. Tetapi iapun kemudian menjawab "Namaku Kundala. Lengkapnya Kundala Geni". Laksana mengerutkan keningnya. Namun ia bertanya lagi. "Apakah namamu memang Kundala Geni atau kau tambahi sendiri agar namamu menjadi lebih berwibawa". Manggada menggamit Laksana. Tetapi pertanyaan itu sudah terloncat. Sambil menarik nafas panjang orang itu menjawab "Memang aku bernama Kundala Geni mulai lahir. Waktu itu rumahku terbakar, sehingga ibuku yang baru saja melahirkan aku, telah terkepung api. Untunglah, ayahku semprt menyelamatkan aku". "O" Laksana mengangguk-angguk. Sementara orang itu berkata selanjutnya "Namun ternyata peristiwa itu telah ikut menentukan garis hidupku". Laksana justru menjadi tertarik lagi untuk bertanya. Namun sekali lagi Manggada menggamitnya, sehingga Laksana pun terdiam karenanya. Untuk beberapa saat orang-orang yang duduk diserambi itu saling berdiam diri. Namun kemudian Ki Gumrah telah muncul dari balik pintu sambil membawa mangkuk berisi ketela rebus legen yang masih panas. Sebelum Manggada dan Laksana bertanya, Ki Gumrah berkata "Ketela ini sudah ada di kuali dengan sisa adonan gula yang belum sempat aku tuang kedalam tempurung. Namun apinya tinggal kecil sekali, sehingga tidak dapat membuat air yang kau tuangkan itu mendidih. Baru kemudian, aku nyalakan iagi sehingga ketela pohon ini teiah masak. Karena itu, aku agak terlalu lama meninggalkan kalian". Ki Gumrah pun kemudian ikut duduk pula di serambi, sehingga mereka berempat sempat makan ketela pohon yang direbus dengan legen sehingga menjadi manis sekali. Orang yang menyebut namanya Kundala Geni itu menjadi semakn heran. Ki Gumah sama sekali tidak menyinggung-nyinggung lagi tentang kedatangannya berdua dengan kawannya yang melarikan diri. Ki Gumrah tampaknya menganggap Kundala itu sebagai tamunya saja. Bahkan kemudian orangtua itu berkata "Duduklah. Wedang sereku tentu sudah jadi pula". Sejenak kemudian Ki Gumrah itupun telah masuk lagi untuk mengambil wedang serenya. Ternyata Kundala Geni tidak dapat menahan keheranannya itu didalam dadanya. Hampir diluar sadarnya orang itu berkata.. "Orangtua yang aneh. Kenapa ia memperlakukan aku seperti ini? Aku justru menjadi bingung atas sikapnya. Seharusnya ia membunuhku. Apalagi kawanku telah melarikan diri". "Kakek sengaja tidak membunuhmu dan tidak pula membunuh kawanmu. Jika kakek mau, kawanmu tentu sudah menjadi mayat disini".berkata Laksana. "Itulah yang tidak aku mengerti," desis Kundaia. Namun Manggada pun menyahut "Kakek bukan seorang pembunuh. Bahwa ia harus berkelahi, ia tentu akan menjadi amat sedih. Semalam-malaman nanti kakek tentu akan merenungi peristiwa yang baru saja terjadi. Kenapa ia masih harus berkelahi dalam usianya setua itu". Kundala mengangguk-angguk. Sementara Manggada berkata selanjutnya "Apalagi jika karena kecelakaan misalnya, kakek membunuh salah seorang dari kalian. Maka kakek tentu akan sangat menyesali dirinya. Sepekan kakek akan tidak mau makan". Kundala menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Bukan maksudku untuk memusuhi kakekmu. Tetapi aku memang berada dibawah perintah seseorang, sehingga aku harus melaksanakannya". Kundala menggeleng. Katanya "Aku tidak akan mengatakannya. Bagaimanapun juga aku mempunyai kewajiban untuk menyembunyikan nama itu". "Tetapi kau dapat dipaksa oleh kakek untuk menyebutnya" berkata Laksana. Orang itu terdiam. Ia memang tidak menjawab apa-apa. Tetapi terasa betapa ia wajib bertahan untuk tidak berkhianat kepada orang yang telah memerintahkannya mengambil pusaka-pusaka itu. Pembicaraan mereka terputus ketika Ki Gumrah telah keluar lagi membawa wedang sere dan beberapa mangkuk kecil. Manggada yang bangkit untuk membantu Ki Gumrah membawa minuman dan mangkuk-mangkuk kecil itu, masih menyeringai menahan sakit dipunggungnya. Namun ketika ia mulai melangkah, maka perasaan sakit itu justru berkurang. Manggadalah yang kemudian meletakkan minuman itu diamben, sementara Ki Gumrah masih masuk lagi untuk mengambil gula kelapa. "Ini bukan gula yang aku buat hari ini" berkata Ki Gumrah "tetapi gula yang aku buat kemarin. Aku belum sempat membawanya ke pasar". Demikianlah, keempat orang itu justru duduk-duduk di serambi sambil minum-minuman hangat dan makan ketela pohon yang direbus dengan legen kelapa. Namun beberapa saat kemudian Kundala itu tidak dapat duduk dalam perlakuan yang tidak d'mengerti itu Karena itu maka iapun bertanya "Ki Gumrah. Lalu apa maksud Ki Gumrah dengan aku. Apakah Ki Gumrah memperlakukan aku seperti ini sekadar mempermainkan aku untuk kemudian dibunuh dengan cara Ki Gumrah sendiri, atau apa?” "Jangan berprasangka buruk terhadap orang lain Ki Sanak. Sudah aku katakan, aku bukan pembunuh" jawab Ki Gumrah "tugasku hanya menjaga benda benda berharga itu. Jika benda-benda itu sudah aman dan dapat aku selamatkan, maka apakah perlu aku membunuh orang?” "Tetapi orang-orang itu tentu orang-orang yang sangat berbahaya bagi Ki Gumrah. Aku dan kawanku dapat kembali lagi, bahkan bersama dengan sepuluh atau duapuluh orang" berkata Kundala. Ki Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Aku telah menyatakan kesedianku untuk menjaga benda-benda yang berharga itu. Apapun yang terjadi, aku harus mempertahankannya. Tetapi untuk itu aku tidak harus menjadi seorang pembunuh". "Apakah Kiai pada suatu saat akan membiarkan diri Kiai dibunuh?” bertanya Kundala. "Setiap orang tentu akan berusaha mempertahankan hidupnya dalam keadaan yang wajar. Kecuali mereka yang telah kehilangan nalar dan sengaja membunuh dirinya sendiri." desis Ki (Jumrah. Kundala termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata "Ki Gumrah. Tampaknya Ki Gumrah belum tahu watak orang yang telah memerintahkan kami datang untuk mengambil benda-benda berharga itu. Orang itu sama sekali tidak berperasaan. Ia tidak akan mengerti meskipun Ki Gumrah tidak membunuh kami berdua. Yang ia tahu, niatnya harus dapat dilaksanakan dengan cara apapun juga. Bahkan dengan membunuh sekalipun". Ki Gumrah tersenyum. Katanya "Mudah-mudahan pada suatu saat ia akan berubah". "Itu tidak mungkin" sahut Kundala "ia tidak akan berubah sampai tanah akan menelannya". "Tentu kita tidak tahu apa yang akan terjadi" jawab Ki Gumrah. Kundala tidak berbicara lagi. Namun kepalanya masih saja menunduk dalam-dalam. Sementara itu Ki Gumrah telah mempersilahkan mereka mengulangi lagi makan ketela rebus legen yang masih tersisa sambil minum minuman yang sudah menjadi semakin dingin. "Siiahkan. Aku akan melihat dapur sebentar." berkata orangtua itu sambil melangkah masuk kedalam rumahnya. Kundaia menarik nafas dalam-dalam. Hampir diluar sadarnya ketika ia kemudian berdesis "Aku benar-benar tersiksa. Mungkin orangtua itu sengaja menyiksa aku dengan cara ini. Jika ia membunuhku, ia akan menganggap bahwa hukuman bagiku itu masih terlalu ringan". "Tidak" sahut Manggada "kakek benar-benar bukan seorang pembunuh. Jika ia ingin menyiksa, maka ia tidak akan membiarkan kawanmu terlepas dari tangannya. Sebenarnya ia dapat menangkap kawanmu sebagaimana dilakukan atasmu. Jika kakek melempar kawanmu dengan gelanggelang bajanya, maka ia tentu tidak akan sempat melarikan diri". "Aku benar-benar tidak mengerti" desis orang itu "namun aku akan menjadi semakin tersiksa jika pada suatu saat orangtua itu terbunuh oleh kawan-kawanku". "Kau dan kawan-kawanmu tidak akan datang lagi" desis Laksana. "Jika hal itu-dapat aku lakukan, aku akan merasa berbahagia sekali. Tetapi jika perintah itu datang, maka siapa yang menentang akan dibinasakan. Dan tentu saja aku tidak ingin mengalaminya, karena seperti yang dikatakan oleh Ki Gumrah tentu setiap orang berusaha mempertahankan hidupnya, kecuali jika terjadi sesuatu yang mengacaukan penalarannya." jawab Kundala. Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Keduanya mengerti perasaan orang yang menamakan dirinya Kundala itu. Namun keduanyapun agak sulit untuk mengerti sikap Ki Gumrah. Ia sama sekali tidak berusaha untuk mengenali siapa yang telah memerintahkan Kundala datang kepadanya untuk mengambil benda-benda berharga itu. "Hanya belum" gumam mereka didalam hatinya. Namun Manggada dan Laksana memperhitungkan, bahwa Ki Gumrah pada suatu saat tentu bertanya tentang orang yang memerintahkan Kundala Geni datang kerumahnya. Untuk beberapa lama Kundala masih berbicara dengan Manggada dan Laksana. Namun Kundala tidak juga menyebut-nyebut nama orang yang telah memberikan perintah kepadanya untuk datang kerumah itu. Ternyata Ki Gumrah tidak segera keluar dari rumahnya. Ketiga orang yang berada di serambi itu menunggunya. Namun ternyata kemudian mereka mendengar suara orangtua sedang sibuk menghitung, Agaknya orangtua itu sedang menghitung gula kelapa yang ada di dapur. Agar tidak mudah lupa atau keliru, maka hitungan yang diucapkan beralun dalam nada-nada tembang yang menyentuh. Ternyata suara orangtua itu cukup bagus. Meskipun hanya lamat-lamat, namun terdengar suara itu kadang-kadang melengking tinggi. Tetapi kemudian menukik sampai ke dasar jantung mereka yang mendengarkan, meskipun yang disebut tidak lebih dari angka-angka hitungan gula kelapanya. Beberapa saat kemudian, suara tembang itupun berhenti. Manggada, Laksana dan Kundala Geni pun tidak berbincang lagi. Mereka bertigamerenungiperistiwayang baru saja terjadi. Sementara Kundala masih saja tersiksa oleh sikap orangtua itu. Apalagi ketika ia menyadari, bahwa masih ada simpul syarafnya yang belum terbuka sepenuhnya. Ketiganya berpaling ketika Ki Gumrah muncul dari pintu rumahnya sambil membawa sekeranjang gula kelapa yang diletakkannya ditlundak pintu rumahnya. Kemudian iapun telah mendekati ketiga orang yang duduk di serambi sambil berkata "Nah, tolong, jaga rumahku sebentar. Aku akan menyerahkan gula kepala yang sudah aku simpan sejak kemarin, ditambah dengan gula yang akan aku buat hari ini". "Tetapi............." Manggada memang menjadi bimbang. Namun orangtua itu berkata "Aku hanya sebentar. Gula ini akan aku bawa kerumah sebelah, yang memang berdagang gula kelapa. Jika sudah terkumpul sepedati, maka gula itu akan dibawa kepasar". Bahkan sebelum pergi orangtua itu mendekati Kundala sambil berkata "Ada yang masih tertinggal. Berdirilah". Kundala mengerti yang dimaksud oleh orangtua itu. Simpul syarafnya yang masih tertutup agaknya akan dibuka. Karena itu maka iapun telah bangkit berdiri dan melangkah mendekati. Ki Gumrah telah memutar tubuh Kundala sehingga membelakanginya. Kemudian beberapa ketukan jari telah membuka simpul-simpul syaraafnya yang masih tertutup. Kundala menarik nafas panjang. Terasa bahwa anggauta badannya benar-benar telah terbebas dari ketukan orangtua itu. Ia sudah dapat berbuat apa saja. Bahkan rasa-rasanya kekuatannya telah hampir pulih kembali. "Nah" berkata Ki Gumrah "aku akan pergi sebentar. Silahkan menghabiskan ketela itu. Nanti kita akan membuat lagi. Masih banyak batang pohon ketela yang ada dikebun belakang. Nanti sore aku akan memanjat untuk mengambil legen lagi". Ketiganya tidak sempat menjawab. Ki Gumrah itupun kemudian mengambil keranjang yang penuh gula yang terletak ditlundak pintu. Kemudian diangkatnya keranjang itu dan dibawanya diatas kepalanya. Orangtua itu tidak berpaling lagi. Apalagi setelah kepalanya diletakkan keranjang gula itu. Kundala masih tetap berdiri. Segala-galanya telah pulih kembali. Ketika ia mengangkat tangannya dan menggerakkannya, tidak lagi terasa sesuatu yang menghambat. Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Namun keduanya sadar, bahwa tampaknya Kundala benarbenar telah memiliki kembali bukan saja tenaganya, tetapi juga kemampuannya. Sementara itu merekapun sadar bahwa Kundala Geni adalah seorang yang berilmu tinggi. Jika saja kepalanya mulai diganggu lagi oleh kepentingannya datang di rumah itu. maka keduanya tidak boleh tinggal diam apapun yang akan terjadi. Tetapi Kundala itu ternyata tidak menjadi garang. Bahkan dengan kepala tunduk ia mendekati menjadi diserambi itu dan duduk lagi. Terdengar ia menarik nafas panjang sambil memandang kekejauhan. Bahkan kemudian terdengar ia mengeluh "Apa yang sebenarnya dikehendaki oleh orangtua itu". Manggada dan Laksana tidak menyahut. Sementara itu Kundala masih berbicara seakan-akan kepada dirinya sendiri "Apakah ia dengan sengaja mencobai aku. Dibiarkannya aku tinggal dirumah ini. Dibebaskannya aku dari ketukan jari-jarinya pada simpul-simpul syarafku, sehingga tenaga dan kemampuanku seakan-akan telah pulih kembali. Kemudian ditinggalkannya aku dengan kesempatan yang luas untuk mengambil barang-barang berharga itu". Manggada dan Laksana masih saja berdiam diri. Namun dnuar sadarnya, keduanya memang sudah mempersiapkan diri. Mereka tahu bahwa kedoanya tentu akan sulit bertahan melawan Kundala Geni jika orang itu benar-benar ingin mengambil pusaka-pusaka itu sebagaimana dilakukannya sebelumnya. Tetapi ternyata Kundala tidak berbuat apa-apa. Bahkan orang itu tampak sangat gelisah. Keringatnya mengembun di keningnya. Yang dilakukan Kundala kemudian adalah justru meraih mangkuk minumannya. Diteguknya wedang serenya. Kemudian sekali lagi menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian Kundala duduk termenung memandangi bayang-bayang yang bermain di halaman rumah orangtua itu. Ternyata Ki Gumrah tidak juga segera kembali. Ketiga orang yang duduk diamben itu saling berdiam diri. Pikiran yang bermacam-macam telah bermain di kepala Kundala. Sekati ia ingin lari saja. Lari dari himpitan perasaannya yang bagaikan mencekik. Namun kemudian timbul niatnya untuk menyelesaikan tugasnya. Mengambil benda-benda pusaka itu. Bahkan kalau perlu menyingkirkan siapa saja yang mencoba menghalanginya. Termasuk kedua anak muda itu. Tanpa disengaja, Kundala telah berpaling memandangi Manggada dan Laksana yang ternyata juga sedang merenungi pepohonan di halaman. Namun dimaui Kundala Geni, Manggada dan Laksana telah berubah. Tidak lagi sebagai anak-anak muda yang garang, yang menghalangi niat mereka dan balikan menghantuinya meskipun Kundala yakin akan dapat mengalahkan mereka. Namun keduanya dimata Kundala kemudian tampak seperti anak-anak yang tidak tahu menahu tentang kerasnya benturan kepentingan uiatas bumi ini. Sorot matanya yang bersih dan lugu. Kundala Geni menjadi semakin bimbang. Sehingga a-, khirnya ia hanya dapat berdesah untuk mengurangi sesak nafas didadanya. Ki Gumrah memang cukup lama pergi. Sementara orang-orang yang berada diserambi rumahnya menjadi gelisah. Namun akhirnya Ki Gumrah itu muncul diregol halaman rumahnya sambil menjinjing keranjangnya yang lelah kosong. Sebelum orang-orang yang berada diserambi itu bertanya. Ki Gumrah sudah mendahului berkata. "Ada beberapa orang yang menyerahkan gula kelapanya, sehingga menunggu giliran untuk dihitung". "Apakah banyak orang yang nderes kelapa disini?" bertanya Kundala yang tidak sempat memikirkan pertanyaan yang lain. Ki Gumrah mengangguk sambil menjawab "Ya. Padukuhan ini adalah padukuhannva orang nderes kelapa. Hampir setiap kebun terdapat satu dua batang pohon kelapa yang disadap legennya untuk membuat gula kelapa". Kundala mengangguk kecil. Namun ia tidak bertanya lebih banyak lagi. Sementara itu Ki Gumrah pun telah langsung masuk kedalam rumahnya sambil berkata "Aku akan menyimpan keranjangku lebih dahulu". Manggada yang merasa jantungnya selalu dihinggapi berbagai pertanyaan itu telah bangkit dan menyusul orangtua itu kedalam. la sempat berkata kepada adik sepupunya "Aku akan ke pakiwan sebentar". Laksana mengangguk, la tidak tahu untuk apa Manggada masuk kcdalam rumah itu. Tetapi Laksana sudah mengira bahwa Manggada tidak benar-benar pergi ke pakiwan. Sebenarnya Manggada hanya sekadar menyusul Ki Gumrah untuk bertanya "Apa yang akan Kiai lakukan terhadap orang itu?” Ki Gumrah mengerutkan keningnya. Kemudian ia bertanya "Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak akan berbuat apa-apa atasnya. Jika ia ingin pergi, biarlah ia pergi.” "Tetapi itu akan sangat berbahaya bagi Kiai. karena ia akan dapat datang lagi bersama banyak orang." berkata Manggada pula. "Jadi apa yang harus aku lakukan?" justru orangtua itulah yang bertanya. "Aku tidak tahu Kiai" jawab Manggada "yang aku cemaskan, jika ia benar-benar datang dengan kekuatan yang lebih besar untuk merampas benda-benda berharga itu. Kundala sendiri adalah orang yang berilmu tinggi sebagaimana seorang kawannya yang melarikan diri". Ki Gumrah termangu-mangu. Katanya "Anak muda. biarlah ia berbuat sesuai dengan keinginannya. Tetapi aku tidak dapat berbuat apa-apa atasnya". "Apakah Kiai tidak ingin mengetahui, siapakah yang telah memerintahkan orang itu datang kemari?" bertanya Manggada. "Pertanyaan yang sia-sia ngger. Orang itu tentu tidak akan mengatakannya." jawab Ki Gumrah. "Tetapi Kiai perlu mengetahuinya." sahut Manggada. Ki Gumrah tersenyum. Katanya "Aku tentu tidak akan dapat memaksanya untuk mengatakannya dengan cara-cara yang tidak wajar. Bahkan seandainya ia menyebut satu nama. apakah dapat dijamin bahwa ia berkata jujur?” Manggada menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak mendesak terus. Karena itu Manggada itupun telah keluar lagi dari ruang dalam dan duduk diserambi bersama Laksana dan Kundala. Beberapa saat kemudian, orangtua itu telah keluar pula sambil berkata "Nah, duduklah kalian di serambi. Aku harus menanak nasi. Kemudian mencari bahan untuk masak di kebun belakang.” Ketiga orang yang ada di serambi itu termangu-mangu . Namun Kundala ternyata tidak dapat menahan hatinya. Katanya "Kiai. Apa yang sebenarnya Kiai inginkan atasku? Kiai jangan membiarkan aku menjadi gelisah seperti ini". "Kenapa kau menjadi gelisah?" bertanya Ki Gumrah "Bukankah aku tidak berbuat sesuatu atasmu? Duduklah. Nanti kita akan makan bersama-sama". "Justru karena Kiai tidak berbuat apa-apa. Jika Kiai memaksa aku untuk mengaku, mengikat aku atau menyakiti aku agar aku mau berbicara. Itu masih dapat aku mengerti. Tetapi tidak seperti ini" berkata Kundala. "Aku tidak mengerti maksudmu ngger" desis orangtua itu. Namun kemudian katanya "Mungkin kau membayangkan langkah-langkah kasar yang dapat aku lakukan untuk mengetahui siapakah yang telah memerintahkan kau datang kemari. Tetapi bagiku, itu sama sekali tidak ada gunanya. Karena kau dapat membohongi aku. Dan itu tentu kau lakukan". Kundala menjadi semakin bingung. Kemudian justru katanya "Bagaimana jika aku melarikan diri? Atau kau memang mengharap aku berusaha melarikan diri sehingga kau mempunyai alasan untuk membunuhku?” "Sekali lagi aku minta, kau jangan terlalu berprasangka buruk. Aku sama sekali tidak ingin menahanmu disi-ni. Aku tidak berhak melakukannya jika kau akan pergi, maka kau dapat melakukannya kapan saja. Tetapi sudah tentu tidak pantas bagiku untuk mengusirmu dari tempat ini. Namun jika kau sendiri ingin meninggalkan kami, maka tidak akan ada persoalan." berkata orangtua itu. Kundala menjadi semakin bingung. Dalam kegelisahan itu ia berkata "Tetapi Kiai tentu akan menyesal. Aku akan datang lagi dengan kekuatan yang jauh lebih besar untuk merampas pusaka-pusaka itu". "Sudah aku katakan pula" jawab orangtua itu. "aku akan mempertahankannya. Sokurlah jika pemiliknya sudah mengambilnya sebelum kau datang lagi". "Kiai benar-benar tidak dapat dimengerti" orang itu benar-benar menjadi bingung. "Jangan berpikir yang aneh-aneh Ki Sanak" berkata orangtua itu. Namun Kundala kemudian bangkit dan berkata lantang "Aku akan pergi dari neraka ini. Aku merasa tersiksa disini. Jika kau akan membunuhku, bunuhlah. Aku tidak peduli.” Orang itu segera melangkah ke halaman meninggalkan serambi rumah Ki Gumrah. Sementara itu Manggada dan Laksana telah meloncat turun ke halaman. Namun Ki Gumrah hanya tersenyum saja mengawasi orang yang melangkah menjauh itu. Tetapi sebelum orang itu sampai ke regol halaman, ia pun telah berhenti dan membalikkan tubuhnya. Wajahnya tampak sangat tegang. Bahkan katanya lantang “Kiai. Kenapa kau tidak berbuat sesuatu? Kenapa kau tidak melempar aku dengan gelang-gelangmu, sehingga tulang leherku patah dan aku mati disini? Kenapa itu tidak kau lakukan?” "Pergilah. Pergilah Ki Sanak. Seperti kawanmu yang telah pergi lebih dahulu, aku sama sekali tidak berkeberatan kau pergi, dan apapun yang akan kau lakukan kemudian." berkata Ki Gumrah. "Baik. Baik. Aku akan pergi. Kau kelak tentu akan menyesal." geram orang itu. Ki Gumrah tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab. Dengan tergesa-gesa orang itupun telah meninggalkan rumah Ki Gumrah. Sampai hiiang dibalik regol, orang itu tidak berpaling lagi. Sepeninggal orang itu Manggada berkata "Bukan saja orang itu yang tidak dapat mengerti, tetapi kami juga.” "Ya. Justru akulah yang mengerti. Aku tahu bahwa kebiasaan kita adalah memaksa orang untuk berbicara. Kebiasaan kita, kita mempergunakan kekerasan dan menyakiti orang lain untuk memaksanya berbicara, sehingga cara yang lain tidak akan mudah untuk dimengerti." berkata Ki Gumrah sambil tersenyum. Manggada dan Laksana hanya termangu-mangu saja. Namun mereka pun ikut menengadahkan kepala mereka, ketika mereka melihat Ki Gumrah seakan-akan mencari sesuatu di langit. Manggada dan Laksana terkejut. Mereka melihat seekor burung elang yang terbang berputaran di udara. "Elang itu" tiba-tiba Manggada berdesis "Elang dari lingkaran ilmu hitam". Ki Gumrah mengerutkan dahinya. Dengan ragu ia bertanya "Kau pernah melihat elang itu?” "Ya. Elang yang dilepaskan oleh seorang Panembahan yang pernah menggemparkan karena usahanya untuk membuat pusaka-pusakanya menjadi pusaka yang paling baik diseluruh muka bumi. Namun dengan cara yang tidak sewajarnya. Pusakanya harus meneguk darah seratus orang gadis". "Jadi kau mengenai Panembahan dari dunia hitam itu?" bertanya Ki Gumrah. "Apakah Kiai juga mengenalnya?" bertanya Laksana tiba-tiba. "Ya" Ki Gumrah mengangguk-angguk. Namun kemudian kembali ia mengawasi burung elang yang terbang semakin rendah. Katanya "Kalian benar. Elang itu tentu bukan burung elang kebanyakan yang sedang mencari anak ayam. Ujung jari-jari kakinya yang kadang-kadang berkedip itu adalah logam untuk melengkapi agar elang itu mampu bertempur sesuai dengan kehendak Panembahan itu". "Ya" sahut Manggada "ujung kaki elang itu dilengkapi dengan kuku-kuku buatan yang tajam". "Elang itu sedang mencari Kundala." desis Ki Gumrah. Lalu katanya "Nah, bukankah aku tidak perlu mengikat dan mencambuk Kundala untuk menanyakan siapakah yang telah memerintahkannya kemari?” "Panembahan itu?" bertanya Manggada. "Atau orang lain, namun sejalan dengan ilmu sesat yang dimilikinya," jawab Ki Gumrah. Manggada dan Laksana menjadi semakin tertarik. Hampir diluar sadarnya Laksana bertanya "Kiai juga mengenal Ki Ajar Pangukan atau Ki Pandi?” Ki Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Ketika aku melihat kalian bertempur, aku sudah menduga, meskipun landasan ilmumu bukan dari Ki Ajar Pangukan atau Ki Pandi, tetapi pada ilmu kalian terdapat bekas tangan mereka. Semula aku masih ragu-ragu. Tetapi sekarang aku pasti, bahwa kalian pernah tinggal dirumah Ki Ajar Pangukan". Manggada dan Laksana mengangguk-angguk, Namun Laksana itupun berkata "Jika Kundala ada hubungannya dengan Panembahan itu, bukankah ia orang yang sangat berbahaya?” "Tetapi aku melihat sesuatu yang masih dapat diharapkan pada Kundala dan mungkin juga kawannya. Perasaannya masih hidup segar didalam jantungnya, sehingga aku masih berharap bahwa Kundala tidak benarbenar terbenam dalam putaran perbuatan Panembahan hitam itu." berkata Ki Gumrah. Lalu katanya "Aku berharap masih ada sedikit pikiran wajar pada Kundala, sehingga mudah-mudahan dapat tumbuh dan berkembang dihatinya. Tetapi jika ia tidak mampu melepaskan diri dari pengaruh sesat itu, maka ia masih orang yang terbaik dari segalanya yang hitam itu". Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Tetapi Laksana masih bertanya "Kiai, Panembahan yang memelihara elang itu adalah seorang yang berilmu sangat tinggi. Aku tahu, bahwa Kiai pun berilmu tinggi. Tetapi jika ia membawa pengikut-pengikutnya setataran Kundala, sementara Kiai hanya seorang diri, apakah Kiai tidak merasa cemas? Mungkin Kiai sama sekali tidak mencemaskan jiwa Kiai sendiri. Tetapi seandainya Kiai gagal bertahan, pusaka-pusaka itu akan jatuh ketangan mereka? Apalagi Panembahan yang gagal membuat kerisnya menjadi pusaka terbaik dimuka bumi ini memerlukan pusaka lain yang tentunya dapat dianggap lebih baik dari kerisnya yang haus darah itu. Bahkan darah seratus orang gadis". Ki Gumrah tidak segera menjawab. Tetapi katanya "Marilah, kita berbicara di dalam". Ketiganya kemudian masuk keruang dalam. Manggada dan Laksana membantu membawa mangkuk-mangkuk dan sisa makanan mereka. Setelah meletakkan mangkuk mangkuk itu di belakang, maka mereka telah duduk diruang tengah. "Biarlah nanti aku mencucinya" berkata Ki Gumrah. Mangg'da dan Laksana tidak menyahut. Namun mereka justru memandangi tirai sentong yang bergerak-gerak disentuh angin. Namun kemudian terdengar orangtua itu berkata" Aku tidak memperhitungkan kemungkinan. Panembahan iblis itu akan mengetahui bahwa aku berada disini". "Apakah Kiai mempunyai hubungan dengan Panembahan itu?" bertanya Manggada kemudian. Ki Gumrah tidak segera menjawab. Namun ia justru bertanya "Dimana angger berdua bertemu dengar. Panembahan itu? Apapula yang telah dilakukannya dengan kerisnya itu?’ Manggada pun kemudian lelah menceritakan apa yang pernah dilakukannya berdua dengan Laksana, la pun berceritera tentang Ki Ajar Pangukan dan Ki Pandi yang bongkok. Manggada tidak merasa perlu untuk merahasiakan lagi karena menurut pendapatnya. Ki Gumrah adalah orang yang dapat dipercaya, la bukan seorang yang berwatak seperti Panembahan Iblis itu. Bahkan sikapnya agaknya lebih lunak dari Ki Ajar Pangukan dan Ki Pandi. Namun Manggada dan Laksana masih belum tahu pasti, perbandingan ilmu antara orangtua itu dengan Panembahan berilmu sesat itu, serta dengan Ki Ajar Pangukan dan Ki Pantli. Sementara itu Ki Gumrah mendengarkan ceritera Manggada dan Laksana dengan saksama. Sekali-sekali tampak keningnya berkerut. Namun kemudian ia mengangguk-angguk kecil. Ketika Manggada selesai berceritera. Ki Gumrah berkata "Menarik sekali. Ternyata dalam usia kalian yang muda. kalian telah mengalami banyak hal yang dapat memperkaya pengalaman kalian. Bukan saja pengalaman lahir tetapi juga pengalaman batin. Bahkan kalian telah berada di Nguter dan bersentuhan dengan kuasa Raden Panji Prangpranata. Tetapi apakah kalian tidak berkeberatan jika aku ingin tahu, siapakah sebenarnya kalian seutuh nya?” Manggada menarik nafas dalam-dalam. Sejenak dipandanginya Laksana. Namun Laksana pun tampak bimbang. Tetapi Manggada yang sudah mempercayai orangtua itu akhirnya berceritera juga serba sedikit tentang dirinya dan adik sepupunya itu. Orangtua itu mengangguk-angguk. Namun kemudian ia berkata "Aku belum mengenal pamanmu itu anak muda. la tentu seorang yang berilmu tinggi". "Tidak Kiai" jawab Laksana "ayah bukan seorang yang berilmu tinggi seperti Kiai". Ki Gumrah tertawa. Katanya "Seorang anak kadangkadang memang tidak sempat melihat kelebihan ayahnya sendiri. Tetapi jika ayahmu bukan seorang yang berilmu tinggi, maka ia tidak akan dapat meletakkan dasar ilmunya sedalam yang telah kalian miliki. Meskipun Ki Ajar Pangukan telah ikut mengasahnya, namun dasar ilmu kalian telah kuat dan mapan. Hanya orang yang berilmu tinggi sajalah yang mampu melakukannya atas anak-anak semuda kalian". "Kiai terlalu memuji" desis Laksana. "Baiklah. Orangtua kalian tentu mengajari kalian untuk menjadi seorang yang rendah hati. Seorang yang tidak menyombongkan kemampuannya. Namun melihat apa yang telah kalian lakukan terhadap orang-orang yang datang itu, maka aku dapat membaca tingkat kemampuan guru kalian itu." berkata Ki Gumrah. Manggada dan Laksana tidak menjawab lagi. Sebenarnyalah mereka tidak dapat mengukur kemampuan guru mereka, ayah Laksana. Ki Gumrah yang telah mendengar ceritera tentang diri kedua anak muda itu kemudian berkata "Jika demikian ngger. sebaiknya kalian meneruskan perjalanan kalian. Ayah angger Manggada tentu sudah menunggu. Dalam perjalanan pulang, angger berdua telah banyak kehilangan waktu di perjalanan". "Ya Kiai." jawab Manggada. "tetapi kedatangan Kundala dan kawannya itu rasa-rasanya telah menahan kami berdua disini. Meskipun barangkali kami tidak mampu brbuat sesuatu, tetapi rasa-rasanya tidak adil untuk pergi begitu saja setelah kami menyebut diri kami sebagai cucu-cucu Kiai". “Aku tahu ngger. Kalian berdua selain memiliki landasan ilmu yang mantap, juga bukan orang-orang yang mementingkan diri sendiri. Kalian tidak ingin melihat orang lain mengalami kesulitan tanpa berbuat sesuatu. Untuk itu aku sangat berterima kasih. Tetapi akupun tidak dapat membiarkan kalian ikut terjerat dalam kesulitan-kesulitan yang akan dapat mengancam keselamatan kalian." jawab orangtua itu. "Mungkin kami akan menjadi beban Kiai. Tetapi biarlah kami mohon diijinkan tinggal disini barang dua tiga hari." berkata Manggada kemudian. Ki Gumrah menarik nafas panjang. Katanya "Persoalanku tidak akan selesai dalam dua tiga hari ini justru tidak akan terjadi sesuatu. Bagaimana dengan kalian jika persoalanku ini akan berkepanjangan sampai berbilang tahun". Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Namun rasa-rasanya mereka tidak dapat begitu saja meninggalkan rumah itu. Karena itu, maka Laksana pun kemudian berkata "Kiai. Apapun yang akan terjadi, biarlah kami tinggal dirumah ini sampai saatnya kami mohon diri. Kami senang dengan kehidupan dirumah ini. Menyadap legen setiap pagi dan sore. Membuat gula kelapa dan merebus ketela.” Ki Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Baiklah anak-anak muda. Jika kalian memang ingin tinggal disini. Tetapi sebenarnya aku ingin kalian tidak terpercik getah dari nangka yang tidak kalian makan". "Kamilah yang menginginkannya. Kiai" jawab Laksana. "Aku tidak dapat menolaknya. Selain kalian memang ingin menolong aku, maka kalianpun ingin mendapatkan pengalaman yang seluas-luasnya. Tetapi sebenarnya tempat ini tempat yang sangat berbahaya bagi kalian. Bahkan tidak kalah berbahayanya dengan daerah yang luas dibawah pengaruh Panembahan Hitam itu. Tidak pula kurang bahayanya dan lingkungan kuasa Raden Panji Prangpranata yang kehilangan calon isterinya itu." berkata Ki Gumrah. "Terima kasih Kiai" sahut Manggada dan Laksana hampir berbareng. Dengan demikian, maka dalam satu dua hari, Manggada dan Laksana akan berada dirumah itu. Memang mendebarkan, tetapi keduanya rasa-rasanya berkewajiban untuk melakukannya. Karena itulah, maka Manggada da Laksana telah sempat membersihkan halaman depan, yang tampaknya tidak begitu bersih. Memotong dahan yang mulai mengering dari pepohonan yang tumbuh dihalaman, agar daunnya yang dengan cepat menguning tidak runtuh dihalaman. Ki Gumrah melihat kedua anak muda itu dengan jantung yang berdebaran. Keduanya bukan saja berilmu, tetapi keduanya ternyata anak-anak muda yang rajin bekerja. Setelah sehari keduanya tinggal dirumah Ki Gumrah, maka halaman rumah itu kelihatan lebih bersih. Pepohonan-pun seakan-akan telah dipangkas rapi. Jambangan di pakiwan pun menjadi bersih pula. Lumut yang kehijauan telah dibersihkan. Batang sirih yang tumbuh didekat pakiwan dan merambat ke segala penjuru, telah ditertibkan pula. Meskipun Ki Gumrah tidak makan sirih, tetapi daun sirih adalah daun yang dapat dibuat berbagai macam obat. Di halaman belakang empon-empon yang merupakan bagian dari tanaman-tanaman yang mampu dibuat obat pula, telah disiangi sehingga akan dapat menjadi lebih subur. Namun ketika malam turun, setelah kedua anak muda itu berada di pembaringan, mereka masih juga berbisik yang satu kepada yang lain "Jangan terlalu nyenyak tidur". Tetapi lewat tengah malam, maka kedua anak muda itu benar-benar telah tertidur nyenyak. Diluar pengetahuan mereka, ketika Ki Gumrah kemudian keluar dari biliknya. Dengan sangat hati-hati, orang itu telah duduk diamben yang cukup besar, tempat Manggada dan Laksana tidur. Ternyata orangtua itu dapat duduk diamben bambu tanpa berderit dan tanpa membangunkan kedua anak muda yang tertidur nyenyak itu. Dipandanginya wajah kedua anak muda yang memang agak mirip yang satu dengan saudara sepupu. Wajah yang kosong itu tampak bersih, seakan-akan keduanya masih belum menyentuh gejolak kehidupan yang keras dan kadang-kadang terasa buas. Ki Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Pada wajah kedua anak muda itu terbayang masa depan. Diluar sadarnya Ki Gumrah itu berdesis "Keduanya akan menjadi bagian dari dunia olah kanuragan dimasa depan. Jika saja ada beberapa orang lagi dari antara mereka yang berilmu memiliki jiwa seperti anak itu, maka lingkungannya tentu akan menjadi tenang dan terlindung dari nafsu rendah.” Beberapa saat Ki Gumrah duduk menunggui kedua anak muda yang tidur nyenyak itu. Bahkan kemudian seakanakan ia akan melakukannya sampai pagi. Sambil bersandar dinding, orangtua itu menyilangkan tangannya didada. Namun tiba-tiba saja dahi orangtua itu berkerut. Telinganya yang tajam telah menangkap desir halus diluar dinding rumahnya. Untuk beberapa saat Ki Gumrah tidak berbuat sesuatu, la mendengarkan saja desir itu menyusuri dinding rumahnya yang tidak terlalu besar itu. Namun kemudian seakan-akan telah menghilang disudut belakang. Tetapi Ki Gumrah tahu bahwa desir itu tentu masih belum akan meninggalkan halaman rumahnya. Bahkan kemudian Ki Gumrah mendengar bukan saja desir lembut, tetapi desis suara orang berbisik perlahan sekali. Suara itu jelas dan pasti. Ki Gumrah tahu, bahwa ada lebih dari seorang diluar rumahnya. Namun Ki Gumrah tidak mendengar apa yang dibicarakan. Ketika desir langkah orang itu menjauh lagi, memutari rumahnya, Ki Gumrah bergeser turun dari amben itu dengan hati-hati. Ia tidak ingin mengejutkan anak-anak muda itu. Tetapi iapun tidak ingin membiarkan anak-anak muda itu dikejutkan oleh peristiwa yang tidak mereka ketahui karena mereka masih tertidur nyenyak. Karena itu, Ketika Ki Gumrah sudah berdiri dilantai rumahnya, iapun menyentuh Manggada pada kakinya. Manggada memang terkejut, Ia cepat tanggap akan keadaan. Karena itu, iapun segera bangkit duduk. Namun sementara itu, Ki Gumrah yang sudah berdiri itu memberikan isyarat agar Manggada tidak berbicara apapun juga dengan meletakkan jari-jari tangannya di mulutnya. Manggada mengerutkan keningnya. Namun kesadarannya telah sepenuhnya dikuasainya. Karena itu, iapun tidak betanya apapun kepada Ki Gumrah. Bahkan dengan hati-hati iapun telah turun dari amben. Ki Gumrah memberi isyarat lagi. bahwa ia masih mendengar sesuatu. Suara itu memang sudah berpindah lagi didinding bagian depan rumahnya. Bahkan mereka mendengar suara derit amben di serambi. Agaknya orangorang yang ada diluar itu telah duduk di amben di serambi rumahnya. Dengan hati-hati pula Manggada telah membangunkan Laksana. Namun secepat Laksana bangun, secepat itu pula Manggada memberikan isyarat agar ia juga tidak bertanya sesuatu. Demikianlah, ketiga orang itupun segera mengatur diri. Laksana tetap berada di tempatnya, sementara Manggada akan pergi ke belakang. Sedangkan Ki Gumrah sendiri akan pergi ke sentong tempat ia menyimpan pusaka-pusaka yang dititipkannya kepadanya itu. Perlahan-lahan sekali Ki Gumrah berdesis "Hati-hatilah. Mungkin mereka akan mempergunakan cara lain untuk mengambil barang-barang berharga itu". Demikianlah mereka bertiga telah membagi diri. Beberapa saat mereka menunggu. Seperti diperhitungkan oleh Ki Gumrah maka sejenak kemudian, desir langkah itu terdengar lagi dan berhenti diluar sentong tempat bendabenda berharga itu disimpan. Ki Gumrah yang berada di sentong itu duduk dengan hati yang berdebar-debar. Bahkan Ki Gumrah telah mengatur pernafasan sebaik-baiknya, agar tidak terdengar oleh orang-orang yang berada diluar rumahnya. "Dinding sentong ini rangkap" desis orang yang diluar. "Ya" sahut yang lain sambil berbisik "kita tidak dapat melihat kedalam. Tetapi tampaknya dinding ini tidak terlalu kuat". Untuk beberapa saat tidak terdengar mereka berbicara lagi. Tetapi Ki Gumrah dengan pendengarannya yang sangat tajam masih mendengar tarikan nafas mereka. Karena itu, Ki Gumrah tahu bahwa orang-orang yang ada diluar rumahnya itu sedang melihat kemungkinan untuk merusak dinding sentong itu. Tetapi sejenak kemudian terdengar seorang diantara mereka berkata "Apakah kita akan membuat lubang dibawah dinding untuk masuk?” "Rumah ini diberi sasak bambu berkeliling. Jika menggali tanah dibawah dinding, maka galian itu tentu akan panjang sekali sampai keruang tengah rumah ini." jawab yang lain. "Jadi apa yang kita lakukan?" bertanya orang yang pertama Mereka kembali diam. Namun tiba-tiba tiang di sudut sentong itu berguncang. Agaknya salah seorang diantara mereka mencoba untuk mengetahui kekuatan tiang bambu disudut sentong itu. Tetapi agaknya orang-orang itu tidak memperhatikan, bahwa tiang itu dipergunakan oleh Ki Gumrah untuk menyangkutkan palang bambu jemuran yang meskipun tidak panjang, namun telah mengguncang cabang sebatang pohon waru pula, karena ujung bambu itu terikat pada pohon waru itu. Guncangan itu sendiri tidak menimbulkan bunyi terlalu keras dan tidak akan membangunkan orang yang sedang tidur nyenyak. Tetapi karena bambu itu tidak terlalu kuat terikat pada tiang sentong di bagian luar itu, maka bambu jemuran itu telah terjatuh hampir saja menimpa orang yang mengguncang tiang itu, sehingga orang itu telah meloncat ke samping. Bunyi bambu yang terjatuh itu telah menghentak sepinya malam, Terdengar orang yang ada diluar itu mengumpat. Namun kemudian terdengar langkah cepat menjauh. Agaknya bambu yang terjatuh itu telah mengejutkan orang-orang yang ada diluar rumah Ki Gumrah, sehingga mereka telah dengan tergesa-gesa meninggalkan rumah itu, yang berkemampuan tinggi, tentu akan terbangun juga Manggada dan Laksana yang juga terkejut mendengar suara itu, dengan serta merta telah berlari ke sentong tempat Ki Gumrah menyimpan pusaka-pusaka yang dititipkan kepadanya itu. Keduanya menarik nafas dalam-dalam ketika mereka melihat Ki Gumrah masih duduk dengan tenang menunggui pusaka-pusaka itu. "Aku mendengar suara" desis Manggada. "Sepotong bambu yang terjatuh diluar" jawab Ki Gumrah. "Dan suara orang berjalan tergesa-gesa" sambung Laksana. "Kita kehilangan mereka" berkata Ki Gumrah "aku berharap mereka masuk ke sentong itu. Aku ingih berbicara dengan mereka. Tetapi karena ketergesa-gesaan mereka, atau kurang berhati-hati, maka bambu jemuran itu telah terjatuh." jawab Ki Gumrah. Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun mereka tidak bertanya lagi. Apalagi Ki Gumrah kemudian telah mengajak anak-anak muda duduk diruang dalam. "Ternyata mereka begitu cepat kembali. Meskipun mungkin bukan Kundala dan kawannya yang datang sebelumnya. Tetapi orang yang memerintahkan mereka mengambil pusaka-pusaka itu tentu sudah mendapat laporan tentang kegagalan yang dialami oleh Kundala dan kawannya." berkata Ki Gumrah. "Bukankah mereka sangat berbahaya bagi Kiai" desis Manggada. "Sayang sekali bahwa aku tidak dapat berbicara dengan orang-orang yang datang itu" desis Ki Gumrah. Manggada dan Laksana mengangguk-angguk kecil. Nmaun Manggada kemudian berkata "Kiai. Besok atau lusa, mereka tentu akan datang lagi. Mungkin dengan cara sebagaimana dilakukan hari ini. Tetapi mungkin dengan cara yang lebih kasar. Karena itu, apakah Kiai tidak mempunyai cara lain untuk menyelamatkan pusaka-pusaka Itu? Apakah Kiai pernah berhubungan dengan Ki Bekel atau Ki Demang, sehingga Kiai akan mendapatkan perlindungan. Maksudku, dengan jumlah yang banyak. Anak-anak muda dipadukuhan ini akan dapat membantu Kiai menjaga pusaka-pusaka itu". Ki Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Angger berdua. Sebenarnya aku tidak ingin melibatkan banyak orang dalam hal ini. Coba bayangkan, seandainya anak-anak muda padukuhan ini terlibat, maka persoalannya akan berkembang semakin jauh. Jika orang yang memelihara burung elang itu datang bersama sepuluh orang saja, maka anak-anak muda di padukuhan itu tentu akan dibantai habis. Nah, apakah aku masih akan dapat tidur nyenyak dan makan minum dengan enak jika hal seperti itu terjadi? Bukan hanya untuk satu dua hari. Tetapi tentu sepanjang hidupku". "Bagaimana jika Kiai meninggalkan tempat ini dan tinggal ditempat lain? Minta perlindungan prajurit Pajang misalnya?" bertanya Laksana. "Apakah aku masih harus menjadi beban tugas para prajurit yang sudah mempunyai beban tugas yang berat? Memang tugas prajurit adalah melindungi rakyatnya. Tetapi aku tidak tahu apakah pusaka-pusaka itu tidak malah menimbulkan persoalan? Jika para prajurit itu memerintahkan aku menyerahku, pusaka-pusaka itu, maka aku akan menjadi semakin bingung. Apa yang dapat aku katakan kepada pemiliknya kepadaku." desis Kiai Gumrah. "Kiai dapat berterus-terang bahwa pusaka-pusaka itu telah mengancam keselamatan Kiai. Apakah Kiai harus mengorbankan jiwa Kiai untuk mempertahankan pusakapusaka yang sekadar titipan, sementara yang menitipkan pusaka-pusaka itu tidak mengetahui bahaya yang datang kerumah ini? Orang yang menitipkan pusaka-pusaka itu dapat saja marah, menuntut atau menganggap Kiai tidak memegang janji. Tetapi apakah ia tahu apa yang telah terjadi dengan Kiai?" bertanya Manggada. Ki Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Pendapat itu wajar sekali ngger. Tetapi aku tidak dapat melakukannya". "Kenapa? Sampai sejauh mana orang harus memegang janji kepada seseorang yang tidak mau tahu tentang kesulitan-kesulitan kita." desak Laksana. "Sudahlah" jawab orangtua itu "penalaranku tidak menolak pendapat itu. Tetapi perasaanku tidak dapat melakukannya. Jika angger berdua bertanya keseimbangan antara penalaran dan perasaan, maka aku akan menjadi semakin bingung. Tetapi rasa-rasanya aku tidak dapat melakukannya.” Manggada dan Laksana tidak mendesak lagi. Tampaknya orang tua itu tidak ingin mengganggu orang lain sebagaimana mereka berdua yang didesak untuk meninggalkan rumah itu saat rumah itu akan didatangi Kundala dan kawannya untuk mengambil benda-benda yang berharga sangat tinggi itu. "Sudahlah" berkata orang tua itu kemudian "sekarang kembalilah ke pembaringan. Masih ada waktu untuk tidur". "Apakah Kiai tidak akan tidur?" bertanya Laksana. "Aku akan tidur disini saja" berkata Ki Gumrah sambil mengambil segulungan tikar di sudut bilik itu dan membentangkannya di sebelah ploncon tempat bendabenda yang sangat mahal itu diletakkan. Manggada dan Laksana pun segera kembali ke amben mereka dan berbaring di tempat semula. Namun mereka tidak segera dapat tertidur nyenyak. Meskipun keduanya tidak berbicara diantara mereka, namun angan-angan mereka masih saja diliputi oleh berbagai macam pertanyaan tentang pusaka-pusaka yang dihiasi dengan permata dan orang yang menitipkannya. "Aku tidak yakin bahws emas dan permata itu hanya tiruan" berkata Manggada tiba-tiba hampir berbisik. Laksana yang berbaring menelentang menatap atap, berpaling sambil berdesis perlahan "Ya. Agaknya orang tua itu bermaksud berhati-hati. Orang itu belum mengenal kita dengan baik, sehingga ia sengaja menyebut emas dan permata itu hanya tiruan". Keduanya terdiam. Sementara itu, diluar suara cengkerik dan bilalang bersahutan: Sekali-sekali terdengar gonggong anjing liar dikejauhan Namun akhirnya Manggada dan Laksana sempat tertidur lagi beberapa saat. Pagi-pagi benar, kedua anak muda itu sudah terbangun. Tetapi ternyata Ki Gumrah telah bangun lebih dahulu. Karena itu, ketika keduanya kemudian duduk di amben tempat mereka tidur, Ki Gumrah berkata "Nah, mandilah. Aku sudah menjelang air. Hampir mendidih. Aku membuat wedang sere". Kedua anak muda itupun kemudian pergi ke pakiwan. Bergantian mereka menimba air dan mandi. Sejenak kemudian keduanya telah duduk di serambi sambil menghirup wedang sere dengan gula kelapa yang masih hangat. Disilirnya angin pagi yang sejuk, terasa tubuh-tubuh mereka menjadi segar. "Nah" berkata orangtua itu "sekarang aku akan mengambil legen dan menurunkannya selagi masih pagi". "Kiai akan membuat gula hari ini?" bertanya Manggada. "Bukankah itu pekerjaanku sehari-hari?” Ki Gumrah justru bertanya sambil tersenyum. "Apakah aku boleh mencoba mengambil legen itu Kiai?" bertanya Laksana. "Jangan ngger. Jika kita salah memotong ujung manggar itu, maka legen itu tidak akan menitik dan bahkan mungkin akan kering untuk selanjutnya." jawab Ki Gumrah. Manggada dan Laksana tidak bertanya lagi. Sementara Kiai Gumrah pergi ke kebun dan memanjat beberapa batang pohon kelapa, kedua anak muda itu seperti hari-hari yang lewat, membantu membersihkan halaman dan kebun yang nampak menjadi semakin bersih itu. Untuk beberapa saat mereka dapat bekerja dengan tenang. Ki Gumrah dengan tangkasnya memanjat batangbatang pohon kelapa, sementara Manggada dan Laksana telah memotong pohon-pohon perdu yang hanya membuat kebun menjadi tampak kotor dan bersemak. Namun ketika Ki Gumrah telah menyimpan legen didapur untuk dipanasi, maka orangtua itu mulai menjadi gelisah. Semula Manggada dan Laksana tidak tahu. kenapa orangtua itu beberapa kali keluar masuk dapur. Namun kemudian keduanya melihat Ki Gumrah itu setiap kali menengadahkan wajannya. Manggada dan Laksana pun segera mengetahui. Ternyata orangtua itu telah melihat lagi burung elang yang terbang mengitari rumah itu. Bahkan sekali-sekali menukik rendah, kemudian naik lagi berputaran. Kedua anak muda itupun kemudian telah berdiri di halaman belakang untuk melihat burung elang yang terbang berputaran itu. Ki Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Hampir diluar sadarnya ia berkata "Kenapa orang itu masih saja dikendalikan oleh ketamakan hatinya?” Manggada dan Laksana memang menduga, bahwa Ki Gumrah dan orang yang memiliki burung elang itu telah saling mengenal dan mempunyai hubungan khusus. Tetapi kedua anak muda itu tidak akan dengan mudah mengetahui lebih banyak tentang Ki Gumrah, karena orangtua itu tidak begitu terbuka hatinya. Namun ketika burung elang itu kemudian terbang menjauh, Ki Gumrah itu berpaling, memandang kedua anak muda itu dengan tatapan mata yang redup. Sambil melangkah mendekati Ki Gumrah berkata "Anak-anak muda. Sebenarnya aku masih ingin mempersilahkan kalian meninggalkan tempat ini. Tetapi aku tahu pasti, bahwa kalian agaknya memang tidak berniat untuk pergi". "Kami memang ingin berada disini untuk beberapa lama Kiai" jawab Manggada. "Kalian lihat burung elang itu lagi?" bertanya Ki Gumrah. "Ya" jawab Manggada. "Burung itu berputar lebih dari empat kali. Menukik seakan-akan ingin menyambar rumah ini, kemudian terbang lagi dan berputar lima kali. Sekali lagi burung itu menukik. Kemudian berputar-putar lagi" berkata orangtua itu. "Kiai sempat menghitung? Apakah hitungan itu ada artinya?" bertanya Manggada. "Adalah kebetulan bahwa aku juga mengenali isyarat itu. Dari kejauhan, pemilik burung itu atau orang yang dipercayainya melihat pula isyarat itu?" jawab Ki Gumrah. "Apakah arti isyarat itu?” bertanya Laksana. "Aku tidak tahu dengan tepat, Namun elang itu mengatakan bahwa yang dicari masih ada disini. Rumah ini masih belum dikosongkan." jawab Ki Gumrah. "Bagaimana jika kita berada didalam rumah?" bertanya Laksana pula. "Elang itu tahu. Mungkin nalurinya lebih tajam dari kita, sehingga elang itu dapat mengetahui apakah sebuah rumah itu kosong atau ada penghuninya. Bahkan seandainya penghuninya tidak sedang berada di rumah." berkata Ki Gumrah. Manggada dan Laksana menjadi semakin yakin, bahwa Ki Gumrah mempunyai hubungan yang lebih dekat dengan orang yang memiliki burung elang itu, meskipun mungkir, hubungan itu adalah hubungan permusuhan. Selagi Manggada dan Laksana termangu-mangu, maka orang itupun berkata "Anak-anak muda. Menilik isyarat yang diberikan oleh burung elang itu, maka kita memang harus lebih berhati-hati. Sebenarnya aku ingin kalian tidak usah terlibat semakin jauh. Bukankah orangtua kalian masih selalu menunggu kalian pulang dengan membawa ilmu dan pengetahuan tentang hidup dan kehidupan? Jika kalian tertahan disini untuk satu keperluan yang tidak ada sangkut pautnya dengan kalian, maka orangtua kalian tentu akan sangat kecewa". Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Namun Manggada pun kemudian berkata "Tidak Kiai. Jika ayah minta agar aku mempelajari ilmu dan pengetahuan, sudah barang tentu tidak hanya sekedar memiliki ilmu dan pengetahuan itu harus aku terapkan dalam kehidupan sehari-hari". Orangtua itu mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya "Baiklah. Aku memang tidak berkeberatan kalian tinggal disini. Mungkin kalian akan mendapatkan pengalaman yang penting bagi kalian dihari depan. Tetapi kalianpun harus tahu bahaya yang dapat mencengkam kalian setiap saat.” "Itu adalah kemungkinan yang harus kami perhitungkan Kiai" jawab Manggada. Namun pembicaraan mereka terputus, ketika tiba-tiba saja seseorang mengendap-endap melingkari rumah Ki Gumrah dan langsung pergi ke belakang. "Kau?" desis Ki Gumrah sedikit terkejut. "Ya Kiai. Kiai tidak lupa kepadaku?" bertanya orang itu. "Baru kemarin kau datang. Sudah tentu aku tidak lupa" jawab Ki Gumrah. "Kundala" desis Manggada. "Ya. Aku hanya sempat singgah sesaat saja. Itupun aku harus menyembunyikan diri dari penglihatan burung elang keparat itu." jawab Kundala. Ki Gumrah mengangguk-angguk. Namun sambil tersenyum ia berkata "Jika demikian elang itu tentu mengawasi perjalananmu". "Ya. Aku mendapat perintah dari Ki Lurah untuk melihat-lihat keadaan pasar. Ki Lurah telah berhubungan dengan seseorang. Aku harus menemui orang itu dan membawanya menemui Ki Lurah." jawab Kundala. "Mana orang itu sekarang?" bertanya Ki Gumrah. "Aku belum sampai ke pasar. Aku telah berusaha untuk melepaskan diri dari pengamatan burung itu. Tampaknya burung itupun curiga bahwa aku akan datang kemari." berkata Kundala dengan gelisah. "Jika demikian, dugaanku salah. Aku kira aku dapat menebak tingkah laku elang itu. Aku kira elang itu memberi isyarat bahwa rumah ini masih berpenghuni" berkata Ki Gumrah sambil tertawa kecil. "Ya. Kiai benar" jawab Kundala "aku melihat sikap elang itu dari kejauhan. Selain mengabarkan bahwa aku tidak berada disini, maka elang itu juga mengatakan bahwa rumah ini masih berpenghuni". "Darimana kau tahu" bertanya Manggada. "Aku melihatnya dari kejauhan, dari bawah sebatang pohon gayam." jawab Kundala. Ki Gumrah mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian bertanya "Lalu. apa sebenarnya maksudmu datang kemari". Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya “Ki Lurah akan mengambil pusaka itu sendiri. Maksudku, ia sendiri akan datang kemari bersama orang yang harus aku jemput di pasar.” "Siapa yang kau sebut Ki Lurah itu? Seorang yang mengaku Panembahan?" bertanya Ki Gumrah. "Tidak" jawab orang itu "tetapi ia menyebut dirinya Kiai Windu Kusuma. Tetapi aku memang sering mendengar Kiai Windu Kusuma menyebut-nyebut tentang seorang Panembahan. Tetapi bukan dirinya sendiri.” Ki Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Dengar, nada rendah ia berkata "Apa sebenarnya yang mereka kehendaki?” "Sudah jelas Kiai. Pusaka pusaka itu" jawab Kundala "karena itu sebaiknya Kiai meninggalkan tempat ini sebelum senja. Jika langit menjadi gelap, maka aku kira burung itu tidak akan dapat mengawasi perjalanan Kiai sebaik-baiknya. Kemanapun asai meninggalkan rumah ini.” "Tetapi aku tidak dapat pergi kemanapun. Seandainva nanti menjelang senja aku pergi, akhirnya aku harus kembali lagi." desis Kiai Gumrah. "Tetapi menilik apa yang ada di rumah ini maka yang paling berharga adalah pusaka-pusaka itu dan nyawa Kiai sendiri. Nyawa Kiai tentu lebih berharga dari perabotperabot rumah yang sederhana ini. Kiai dan cucu-cucu Kiai akan dapat membawa pusaka-pusaka itu kemanapun" berkata Kundala. Lalu katanya pula. "Kiai dapat mengalahkan kami berdua. Tetapi jika Ki Lurah sendiri dan seorang kawannya yang aku jemput di pasar nanti yang datang kemari, tentu Kiai dan kedua cucu Kiai akan mengalami kesulitan. Apalagi jika mereka membawa kami berdua dan seorang kawan kami yang lain. Maka kami berlima, tentu tidak akan dapat Kiai lawan bersama kedua cucu Kiai itu.” Kiai Gumrah mengangguk-angguk kecil. Katanya "terima kasih. Aku mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepadamu, bahwa kau telah memberitahukan kepadaku, bahaya yang sedang mengintip rumah ini. Baiklah. Aku akan memikirkannya sebaik-baiknya.” "Aku mohon Kiai mengerti" berkata Kundala yang segera minta diri "sudahlah. Aku harus pergi ke pasar.” Kundala tidak menunggu jawaban. Iapun segera meninggalkan Ki Gumrah dan kedua orang anak muda yang ada dirumah itu pula. Sekali-sekali Kundala masih menengadahkan kepalanya untuk melihat apakah burung elang yang menghantuinya itu masih nampak dilangit. Namun agaknya elang itu benar-benar telah pergi. Sehingga dengan demikian maka Kundala dapat berjalan cepat-cepat menuju ke pasar. Meskipun ia sadar, bahwa tentu ada orang yang mengamati isyarat burung elang itu. Tetapi tentu tidak dari jarak yang terlalu dekat. Sepeninggal Kundala, Ki Gumrah menarik nafas dalamdalam. Namun katanya "Aku harus segera membuat gula. Aku harus segera menyerahkan kepada pedagang gula itu. Nampaknya kita memang harus segera mengambil keputusan.” "Aku sependapat dengan orang itu Kiai" berkata Manggada "Kiai harus menyelamatkan pusaka-pusaka itu.” "Nanti sajalah kita bicarakan. Sekarang bantu aku membuat gula. He, sebaiknya kalian ambil ketela pohon dan mengupasnya. Nanti kita masukkan lagi kedalam legen setelah aku hampir selesai" berkata Ki Gumrah. Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Berita yang dibawa Kundala itu bagi mereka merupakan berita yang penting. Yang harus mereka tanggapi dengan sungguh-sungguh. Tetapi orang tua itu masih saja sibuk dengan gulanya. Namun Manggada dan Laksana pergi juga ke kebun untuk mencabut sebatang pohon ketela yang dianggapnya berakar besar dan lebat. Namun keduanya masih juga berbincang tentang orangtua itu. "Orang yang aneh" berkata Manggada "jika orang yang akan datang itu memiliki ilmu lebih baik dari Kundala, maka orang itu tentu sangat berbahaya. Apalagi jika ia tidak datang seorang diri.” Laksana mengangguk-angguk. Katanya "Apakah Ki Gumrah terlalu yakin akan kemampuannya sehingga ia menganggap ilmu orang lain terlalu rendah?” "Tetapi bukan sifatnya. Menilik apa yang dilakukan dan apa yang dikatakan, ia bukan orang yang meremehkan orang lain" jawab Manggada. "Ya. Tetapi nampaknya kita tidak akan dengan mudah mengetahui latar beiakang sikapnya" berkata Laksana kemudian. "Aku menjadi semakin tertarik untuk mengetahuinya meskipun sangat berbahaya" berkata Manggada. "Ya. Aku juga tidak ingin menghindar. Tetapi dengan kemungkinan yang sangat buruk. Kita akan dapat tidak keluar dari rumah ini untuk selama-lamanya" desis Laksana. Manggada mengangguk-angguk. Bahkan iapun berdesis "Sementara itu kita tidak tahu, kenapa kita tertahan disini selain sekedar ingin tahu.” Namun kedua anak muda itu kemudian sepakat untuk tidak meninggalkan ramah itu, setidak-tidaknya sampai senja. Mereka masih mendapat kesempatan untuk berpikir beberapa lama. Karena itu, maka keduanyapun telah mengupas ketela pohon yang kemudian mereka cuci di sumur. Ketika mereka sampai di dapur, orang tua itu masih sibuk memanasi bakal gula kelapanya. Keringatnya nampak membasahi kening dan lehernya. Namun orang itu sambil tersenyum berkata "Nah, kita akan memasukkannya nanti. Letakkan saja dipagar itu. Kalian dapat menunggu di serambi depan.” "Aku ingin membantu membuat gula itu Kiai" jawab Manggada. Orang tua itu tertawa. Tetapi ia tidak mengusir kedua orang anak itu. -ooo0dw0oooKKa aar rryyyaaaSSSHMiiinnntttaaarrrdddjjjaaa SSSeeerrriiiArrryyyaaaMaaannnggggggaaadddaaa333 SSaanngg PPeenneerruuss Sumber djvu : Ismoyo Convert, editor & ebook oleh : Dewi KZ Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ http://kang-zusi.info/ http://cerita-silat.co.cc/ http://dewi-kz.com/ SH MINTARDJA SERI Arya Manggada-III "Sang Penerus" Dicetak dan diterbitkan oleh : Badan Penerbit Kedaulatan Rakyat Yogyakarta. Seri Arya Manggada III Sang Penerus Karya : S.H. Mintardja Gambar kulit : Andang S. Illustrasi : Andang S. Jilid : 2 Cetakan : Pertama 1990 Hak cipta dilindungi oleh Undang-undang Kenangan atas bapa tercinta bingkisan untuk ibu, isteri, anak-anak serta keluarga tersayang

Buku 2
MANGGADA dan Laksana memang membantu orang tua itu. Ketika legen itu menjadi kental, maka orang tua itu mulai menuangnya kedalam tempurung yang memang dibuat untuk mencetak gula kelapa itu. Tetapi legen yang sudah mengental itu disisakan sedikit didalam kuali, untuk merebus ketela pohon yang sudah dikukus dan dibersihkan.
Beberapa saat kemudian, ketiga orang itu telah duduk diruang dalam sambil menikmati ketela yang terasa sangat manis. Namun setiap kali Manggada dan Laksana menyinggung-nyinggung tentang kemungkinan datangnya orang-orang seperti yang dikatakan oleh Kundala, Ki Gumrah selalu saja menghindar. "Nanti saja kita bicarakan. Jika kita berbicara sambil makan, maka ketela pohon ini rasanya jadi lain" desis orang tua itu. Akhirnya Manggada dan Laksana tidak lagi berusaha untuk berbicara tentang kedatangan orang-orang yang dikatakan oleh Kundala itu. Bahkan beberapa saat kemudian, maka Ki Gumrah itu bangkit sambil berkata "Aku harus menyerahkan gula itu kepada pedagang disebelah. Jika ia sudah terlanjur membawa gulanya ke pasar, maka aku harus menunggu lagi sampai besok." "Tetapi bukankah hari telah siang? Pedagang gula itu tentu sudah berangkat ke pasar" desis Manggada. "Ia tidak menjual sendiri gulanya dipasar. Ia tidak memasokkan gulanya kepada pedagang yang lebih besar, sehingga ia tidak harus berangkat pagi-pagi ke pasar." jawab Kiai Gumrah. Manggada dan Laksana tidak menjawab lagi. Tetapi bagi mereka, orang tua itu memang orang tua yang aneh. Sikapnya sulit dimengerti. Beberapa saat kemudian, orang tua itu telah sibuk menghitung gulanya dibelakang sambil berlagu. Dengan demikian, maka orang tua itu tidak kehilangan angka selama ia menghitung.
Ketika Ki Gumrah kemudian membawa gulanya yang ditempatkannya dalam keranjang, maka iapun berpesan "Tolong, tunggu rumah ini. Tidak akan terjadi apa-apa disiang hari." Manggada dan Laksanapun kemudian duduk diserambi depan rumah itu sambil memandangi pepohonan di halaman yang mulai nampak bersih. Dari sela-sela pintu regol yang terbuka, mereka melihat beberapa orang berjalan di jalan yang tidak terlalu lebar dimuka rumah itu. Namun dinding halaman Ki Gumrah memang tidak terlalu tinggi. Seperti dinding rumah disebelah menyebelahnya, yang pada umumnya bukan rumah-rumah yang baik dan besar, memang tidak terlalu tinggi dan sederhana. Tidak lebih dari pecahan batu kali yang dilekat pakai tanah liat. Dalam pada itu kedua orang anak muda itu ternyata menunggu terlalu lama. Tidak seperti yang pernah dilakukan oleh orang tua itu sebelumnya, yang hanya memerlukan waktu beberapa saat. Tetapi ketika itu rasarasanya Manggada dan Laksana sudah menunggu cukup lama diserambi. Namun Ki Gumrah tidak segera juga kembali. "Apakah Ki Gumrah menyusul pergi ke pasar setelah pedagang gula itu tidak ditemuinya dirumah?" desis Laksana. "Memang mungkin. Mungkin Ki Gumrah juga ingin melihat, siapa yang telah ditemui oleh Kundala" sahut Manggada. "Tetapi jaraknya sudah terlalu lama. Kundala datang kemari sebelum Ki Gumrah mulai membuat gula" gumam Laksana kemudian. Manggada memang mengangguk-angguk. Namun ia masih menjawab "Kundala masih harus mencari orang itu diantara orang sepasar. Tetapi agaknya jaraknya memang terlalu jauh." Manggada dan Laksana yang masih saja duduk di serambi itu menjadi gelisah. Tetapi keduanyapun kemudian turun kehalaman. Beberapa saat mereka memperhatikan sebatang pohon sawo yang buahnya cukup lebat dan bahkan sudah cukup tua untuk dipetik. "Aku akan memanjat pohon sawo ini saja." berkata Laksana. Manggada termangu-mangu. Namun sebelum Laksana mulai naik, Ki Gumrahpun telah datang. Sambil tertawa ia berkata "Kalian menunggu terlalu lama? Ternyata pedagang gula itu sudah pergi. Aku memang harus pergi ke pasar." Tetapi Manggada segera menyambut "Apakah Kiai ingin melihat orang yang ditemui Kundala?" Ki Gumrah mengerutkan dahinya. Namun iapun kemudian tersenyum sambil menjawab "Ternyata panggraita-mu tajam ngger. Aku memang ingin melihatnya." "Dan Kiai berhasil melihat orang itu?" bertanya Manggada. Kiai Gumrah menggeleng sambil menjawab "Tidak ngger. Aku terlambat. Agaknya mereka telah pergi. Aku hanya sempat melihat burung elang itu." "Kiai melihat burung elang itu lagi?" bertanya Laksana. "Ya. Aku melihat kemana arah burung itu terbang sambil berputaran. Tentu perjalanan Kundala dan orang yang telah ditemuinya di pasar itu." jawab Ki Gumrah. Manggada dan Laksana berpandangan sejenak. Dengan dahi yang berkerut Manggada berkata "Kiai, seharusnya Kiai memperhatikan kemungkinan yang dapat terjadi malam nanti. Nampaknya apa yang dikatakan Kundala akan dapat menjadi ancaman yang sbenarnya bagi Kiai." Kiai Gumrah mengangguk-angguk kecil. Wajahnya nampak bersungguh-sungguh. Dengan nada rendah ia berkata "Sebenarnya aku justru memikirkan kalian berdua, tetapi agaknya aku tidak akan berhasil mengusir kalian." "Apakah Kiai masih akan tetap bertahan? Nama Windu Kusuma dan orang yang sedang dijemput Kundala adalah orang-orang yang benar-benar harus Kiai pertimbangkan." berkata Manggada. Kiai Gumrah menarik nafas panjang. Katanya "Kalian sudah mengetahui sikapku. Seharusnya kalian tidak mendesak lagi." Manggada dan Laksana terdiam. Nampaknya hati orang tua itu telah mengeras. Untuk beberapa saat suasana menjadi hening. Namun tiba-tiba orang tua itu berkata dengan nada tinggi "Hari sudah cukup siang. Aku harus mulai bekerja didapur. Menanak nasi dan menyiapkan laukipauknya. Tolong kau petik sayuran dikebun." Orang tua itu tidak menunggu jawaban Manggada dan Laksana. Iapun segera masuk ke rumahnya dan langsung pergi ke dapur. Diambilnya beras dan dibawanya kesumur untuk dicuci sebelum ditanak. Sementara itu Manggada dan Laksana sudah berada di kebun. Sambil memetik kacang panjang Manggada berkata "Kita benar-benar telah melihatkan diri dalam satu persoalan yang tidak kita mengerti dengan jelas. Kau benar. Mungkin kita tidak akan dapat keluar lagi dari rumah ini." "Apaboleh buat. Kita agaknya telah terjebak dalam putaran keingintahuan kita terhadap persoalan yang terjadi disini. Tetapi selain itu, rasa-rasanya tidak adil untuk membiarkan Kiai Gumrah mengalami nasib buruk bukan karena pokalnya sendiri. Ia menerima titipan itu agaknya dengan maksud baik. Tetapi titipan itu telah membuatnya mengalami kesulitan dihari tuanya. Sementara itu Kiai Gumrah sendiri sama sekali tidak bersedia melepaskan tanggung jawabnya atas barang-barang titipan yang menjadi tidak jelas itu." sahut Laksana. Manggada tidak menjawab lagi. Mereka melihat orang tua, itu datang kepada mereka. Sambil tersenyum orang tua itu berkata "Apakah kalian telah mendapatkannya?" "Ya Kiai. Segenggam kacang panjang." "Itu sudah cukup. Dengan kulit melinjo dan sedikit daunnya yang masih muda, kita akan mendapatkan sekuali sayur lodeh." berkata orang tua itu. Merekapun kemudian telah meninggalkan kebun dan pergi ke dapur. Manggada dan Laksana telah mencoba membantu orang tua itu untuk masak didapur. Hari itu, mereka bertiga tidak mengalami sesuatu dirumah itu. Tidak ada orang yang datang apalagi untuk, mengambil pusaka-pusaka yang dititipkan dirumah itu. Namun sebelum senja Kiai Gumrah itupun berkata "Angger berdua. Sebentar lagi kami akan mendapat dua orang tamu. Mereka adalah tetangga sebelah. Kawankawanku berjualan gula. Selain keduanya, juragan gula yang sering mengambil gulaku itu juga akan datang kemari. Kami sepakat untuk berjaga-jaga semalam suntuk. Hari ini adalah hari lahirku. Umurku telah genap delapan windu. Jika aku seorang berada maka aku akan mengadakan peringatan tumbuk ageng." "Jadi Kiai sudah genap berumur delapan windu?" bertanya Manggada. "Ya. Umurku genap delapan windu." jawab orang tua itu. "Dan Kiai masih juga setiap hari pagi dan sore memanjat batang kelapa untuk menyadap legennya." sambung Laksana. Orang tua itu tersenyum. Sementara Manggada berkata pula "Bukan hanya menyadap legen. Tetapi Kiai masih dapat menundukkan Kundala dan kawannya itu." "Sudahlah. Tetapi nanti malam aku akan makan bersama mereka meskipun seadanya. Sebenarnya aku tidak pernah mengingat-ingat peringatan delapan windu itu. Tetapi mereka justru ingat dan tanpa aku undang, mereka hertiga berniat untuk datang." berkata Kiai Gumrah kemudian. Kedua anak muda itu mengangguk-angguk. Sementara itu maka Ki Gumrahpun telah minta Manggada dan Laksana menangkap seekor ayam yang cukup besar tetapi belum terlalu tua untuk dipersiapkan menjadi hidangan makan bagi ketiga orang tamunya. Ketika senja turun, maka bertiga seisi rumah itu menjadi sibuk. Mereka telah menyiapkan hidangan untuk tamutamu yang bakal ikut berjaga-jaga memperingati delapan windu umur Kiai Gumrah. Selain menyiapkan nasi dan lauk pauknya. Kiai Gumrah juga telah merebus ketela pohon dengan legen. Bahkan bukan hanya ketela pohon, tetapi juga sukun yang dipetiknya dari pohonnya di kebun belakang. Namun dalam pada itu, ketika Manggada dan Laksana berdua saja didapur, maka Manggada itupun berkata "Kau percaya bahwa mereka datang untuk memperingati delapan windu umur Kiai Gumrah itu?" "Aku sedang memikirkannya" jawab Laksana. "Nampaknya ini adalah satu cara Kiai Gumrah untuk membuat rumah ini tidak terlalu sepi. Jika keempat orang itu berjaga-jaga semalam suntuk, maka orang-orang yang akan datang memaksakan kehendaknya itu harus berpikir ulang. Orang-orang yang datang itu harus memperhitungkan kehadiran tetangga-tetangga Kiai Gumrah yang akan dapat mengganggu tugas mereka." berkata Manggada meskipun agak ragu. "Tetapi jika orang-orang yang datang itu orang-orang sebiadab Panembahan Lebdadadi, apakah tamu-tamu Kiai Gumrah itu tidak akan mengalami nasib buruk? Orang itu tidak akan menjadi segan karena kehadiran orang lain, tetapi mereka justru marah dan orang-orang itu akan diselesaikan menurut caranya." Manggada menarik nafas dalam-dalam. Sekilas ia memandang pintu dapur. Ketika ia yakin bahwa Kiai Gumrah masih belum nampak dipintu dapur, serta langkahnya masih belum terdengar, maka Manggadapun berbisik "Memang satu dari sepuluh kemungkinan. Tetapi tetap dapat terjadi. Orang-orang yang akan datang ikut memperingati delapan windu umur Kiai Gumrah adalah bukan orang kebanyakan." Laksana hanya dapat mengangguk-angguk. Tetapi kemungkian itu memang ada meskipun seperti dikatakan oleh Manggada, satu dari sepuluh. Ketika kemudian Kiai Gumrah masuk lagi kedapur, maka mereka tidak berbincang lagi. Mereka bertiga nampak sibuk menyiapkan hidangan, mangkuk-mangkuknya serta makanan yang sedang dijerang diatas api. Meskipun sekedar ketela pohon dan sukun yang direbus dengan legen. Sementara Kiai Gumrah menyelesaikan pekerjaan didapur, maka Manggada dan Laksana telah menyalakan lampu diseluruh sudut rumah. Oncor diregolpun telah dinyalakan pula, sementara langit menjadi semakin buram. Malam perlahan-lahan mulai turun menyelimuti belahan bumi. Ketika lampu-lampu telah menyala, maka Kiai Gumrahpun mulai mempersiapkan mangkuk dan perlengkapannya. Sementara nasi masih tetap berada diatas api. "Biar nasi itu tetap hangat" berkata Kiai Gumrah sambil sibuk hilir mudik didapur. Beberapa saat kemudian, maka pintu rumah itupun telah diketuk orang. Terdengar suara renyah memanggil "Kiai, Kiai Gumrah. Aku sudah mencium bau masakanmu." "Mereka telah datang" berkata Kiai Gumrah. Manggadapun kemudian telah bergegas pergi keruang depan. Ketika ia membukakan pintu, maka dilihatnya tiga orang berdiri diluar pintu. Ketiga orang itu termangu-mangu sejenak. Dengan nada ragu seorang diantara mereka bertanya "Siapa kau anak muda?" Manggada menjadi bingung. Namun kemudian iapun menjawab "Aku cucu Kiai Gumrah." "O, jadi cucu Kiai Gumrah sudah sebesar ini?" "Ya" terdengar suara Kiai Gumrah "dua orang cucuku ada disini sekarang. Marilah, silahkan masuk." Ketiga orang itupun kemudian melangkah masuk. Pintupun ditutup rapat kembali. Sementara Kiai Gumrah mempersilahkan ketiga orang tamunya untuk naik dan duduk diamben yang cukup besar diruang dalam rumah itu. Dengan nada dalam seorang diantara mereka bertanya "Sejak kapan mereka ada disini?" “Beberapa hari yang lalu. Aku senang mereka berada disini. Mereka dapat membantu membersihkan halaman dan menimba air untuk mengisi jambangan di kamar mandi dan gentong didapur." "Apakah mereka sudah dapat menyadap legen?" bertanya yang lain. "Belum" jawab Kiai Gumrah "aku belum mengajarinya. Tetapi dalam beberapa minggu, mereka akan dapat melakukannya." Kepada Manggada yang baru saja menutup pintu Kiai Gumrah berkata "He, siapkan minuman dan makanan. Nasinya nanti saja. Jika nasi itu tergesa-gesa dihidangkan, mereka akan segera pulang sebelum wayah sepi bocah." Ketiga orang tamu itu tertawa. Seorang diantara mereka berkata "Kalau saja nasi itu boleh dibungkus, maka aku akan minta diri sekarang juga." Kiai Gumrahpun tertawa berkepanjangan. Sementara itu Manggada telah pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman bagi ketiga orang tamunya dan bagi Kiai Gumrah itu sendiri. Ketika kemudian Laksana menghidangkan minuman dan makanan, maka seorang tamunya bertanya "inikah cucumu yang seorang lagi?" "Ya" jawab Kiai Gumrah "sudah lama mereka tidak menengok aku. Aku sendiri hampir saja tidak mengenal mereka lagi." "Beruntunglah kau" berkata yang lain "bahwa masih ada cucumu yang sempat menengokmu. He, dimana anakmu sekarang tinggal? Sudah lama ia tidak pula datang menengokmu." "Ia berada ditempat yang jauh. Nah, sekarang, minuman dan makanan sudah dihidangkan. Minumlah dan makanlah." Kiai Gumrah mempersilahkan. Laksana yang telah berada didapurpun berdesis "Orangorang tua. Mereka sempat juga berkelakar." "Apakah kau kira orang-orang tua sudah kehilangan selera leluconnya? Mereka masih berhak mentertawakan kelucuan, juga kelucuan yang dilihatnya dalam kehidupan ini." berkata Manggada. Laksana mengangguk-angguk. Sambil tersenyum ia berkata "Kegembiraan itu akan dapat membuat mereka menghambat laju ketuaan mereka." Manggadapun tersenyum juga. Katanya "Ya. Nampaknya mereka masih akan berkelakar sepanjang malam. He, tidak seorangpun diantara mereka memberikan pernyataan atau ucapan selamat kepada Kiai Gumrah." Laksana mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab. Sementara itu diruang dalam, keempat orang tua itu masih saja berbincang. Sekali-sekali terdengar mereka tertawa. Kemudian tertawa lagi berkepanjangan. "Apakah mereka betah berbicara sepanjang malam?" desis Manggada. Tetapi sebelum Laksana menjawab, Kiai Gumrah telah memanggil Manggada. "Bawa mangkuk satu ngger." Manggadapun segera bangkit dan mengambil sebuah mangkuk. Tetapi ia bergumam "Untuk apa?" Laksana tidak menjawab. Ia tidak tahu untuk apa sebuah mangkuk itu. Tentu tidak untuk minum atau makan makanan. Tetapi terdengar Kiai Gumrah itu berkata pula "Bawa pula sebuah nampan kecil." Manggada dan Laksana semakin tidak mengerti. Namun Manggada kemudian mengantarkan mangkuk dan nampan kecil itu. Tetapi kedua anak muda itu semakin tidak mengerti ketika Kiai Gumrah minta agar Manggada mengambil beberapa lembar daun ketela pohon dibelakang rumah. "Untuk apa, Kiai?" bertanya Manggada diluar sadarnya. "Ah, anak-anak tidak usah tahu" jawab Kiai Gumrah. Manggada termangu-mangu sejenak. Tetapi iapun kemudian telah pergi ke halaman belakang untuk memetik beberapa helai daun ketela pohon. Baru kemudian Manggada dan Laksana tahu, bahwa orang-orang tua itu akan bermain dadu. Lembar-lembaran daun ketela pohon itu dipergunakan untuk menghitung kekalahan dan kemenangan diantara mereka. Yang mereka dengar pembicaraan orang-orang tua itu adalah, bahwa taruhan yang diperhitungkan dengan lembar-lembar daun ketela itu kemudian akan dibayar dengan gula kelapa. "Ada-ada saja" gumam Manggada. "Untuk mencegah kantuk." sahut Laksana. "Kita menunggu disini untuk menyiapkan makan malam mereka. Sayur dan lauk pauknya tentu sudah menjadi dingin." desis Manggada pula. Tetapi Laksana berpaling keperapian. Apinya memang kecil saja. Tetapi nasi yang masih saja belum disenduk didalam kuali agaknya akan tetap hangat. Beberapa saat kemudian, terdengar orang-orang tua itu bermain dadu dengan riuhnya. Setiap kali terdengar suara tertawa berkepanjangan. Namun kemudian hening. Yang terdengan adalah suara dadu didalam mangkuk yang sedang diguncang diatas nampan kecil sebelum kemudian dibuka. Ternyata permainan itu nampaknya cukup mengasikkan bagi orang-orang tua itu. Mereka tenggelam dalam kegembiraan tersendiri. Mereka seakan-akan melupakan persoalan-persoalan yang mereka hadapi sehari-hari. Dalam pada itu, Manggada dan Laksanalah yang mulai terkantuk-kantuk didapur. Bahkan Laksana telah berbaring diamben panjang. "Sampai kapan kami menunggu" desis Laksana. "Sudah lewat wayah sepi bocah. Sebentar lagi makan itu harus dihidangkan." jawab Manggada. Sebenarnyalah, sejenak kemudian maka Kiai Gumrah telah memanggil Laksana. Demikian Laksana sambil membenahi pakaiannya melangkah mendekati. Kiai Gumrah itupun berkata "Nah, kalian siapkan makan malam. Bukankah nasi masih hangat?" "Ya kek. Nasi masih diatas perapian." jawab Laksana. "Bagus. Asal tidak menjadi hangus." sahut Kiai Gumrah. Demikianlah, maka Laksana dan Manggadapun menjadi sibuk menyenduk nasi dan menyiapkan lauk pauknya. Kemudian menghidangkannya dengan mangkuk-mangkuk dan peralatannya yang lain. Dengan terampil Manggada sudah dapat membuat sambal terasi untuk melengkapi lauk pauknya. Sejenak kemudian, maka permainan dadu itupun berhenti untuk sementara. Ketika orang-orang tua itu makan, maka terdengar lagi kelakar mereka. Manggada dan Laksana yang mendengarkan kelakar itu mengetahui, bahwa Kiai Gumrah ternyata menderita kekalahan dalam permainan dadu itu. Esok ia harus menyerahkan beberapa tangkap gula kelapa kepada ketiga orang lawannya meskipun jumlahnya tidak sama. "Tetapi kita akan meneruskan permainan ini sesudah makan"berkata Kiai Gumrah" mungkin akan terjadi sebaliknya. Akulah yang menang, sehingga kalian semualah yang harus menyerahkan beberapa tangkap gula kelapa kepadaku." Yang lain tertawa. Seorang diantara mereka berkata "Tetapi yang terjadi justru lain. Hutangmu bertambah banyak, sehingga hasil sedapanmu tiga hari akan habis kau pakai untuk membayar hutang." Keempat orang tua itu tertawa semakin ramai. Namun dalam pada itu, Manggada dan Laksana yang tidak terlibat dalam permainan dadu itu sekali-sekali melepaskan perhatian mereka dari keempat orang yang sedang makan sambil berkelakar itu. Untuk mencegah kantuk, maka Manggada berniat untuk keluar dari dapur lewat pintu butulan. Karena itu, maka iapun telah mengangkat selarak pintu butulan. Tetapi Manggada itupun mengurungkan niatnya. Demikian ia mengangkat selarak, maka iapun mendengar langkah kaki menjauh dari pintu itu. Meskipun dengan sangat berhati-hati, namun karena tergesa-gesa karena pintu itu tiba-tiba saja akan dibuka, maka langkah kaki itu dapat didengar oleh Manggada. Laksana yang melihat Manggada mengurungkan niatnya dan memasang kembali selarak pintu itupun segera bangkit. Tetapi Manggada cepat memberi isyarat agar ia tidak berkata apa-apa. Manggadalah yang kemudian bergeser menjauhi pintu itu. Baru kemudian setelah ia berada agak jauh dari pintu dan dinding dapur, ia berkata sambil berbisik "Aku mendengar langkah orang diluar." Laksana mengangguk-angguk. Hal seperti itu memang sudah dikira sebelumnya. Jika tidak malam itu, tentu malam berikutnya atau pada malam berikutnya lagi. Sebagaimana dikatakan oleh Kundala, maka niat untuk mengambil pusaka-pusaka itu akan diteruskan kapanpun itu dilaksanakan. "Apakah kita akan memberitahukan kepada Kiai Gumrah?" desis Laksana. "Ya, mumpung mereka sedang berhenti bermain dadu." jawab Manggada. Laksanapun mengangguk-angguk. Katanya perlahan "Katakan kepada Kiai Gumrah. Aku akan memperhatikan pintu dan dinding dapur ini. Meskipun orang itu telah bergeser, tetapi ada kemungkinan kembali dan mengamati dapur ini lagi jika pintu tidak jadi kau buka." Manggada mengangguk kecil. Iapun kemudian pergi menemui Kiai Gumrah yang masih sedang makan bersama ketiga orang tamunya. Demikian Manggada mendekat dengan ragu-ragu, seorang diantara tamunya itu berkata "Mari ngger. Apa lagi yang akan kau hidangkan?" "Jangan ragu-ragu" berkata tamu Kiai Gumrah yang lain "apapun yang kau bawa kemari, akan kami habiskan sampai tuntas. Orang-orang yang kerjanya menyadap legen biasanya makannya terlalu banyak. Bahkan apa saja dimakannya." Keempat orang itu tertawa berkepanjangan. Manggadapun ikut tertawa pula. Namun kemudian iapun berkata "Bukan hidangan yang akan aku sampaikan kepada kakek. Tetapi aku memberitahukan bahwa diluar agaknya ada tamu." Kiai Gumrah mengerutkan keningnya. Namun salah seorang kawannya itupun berkata "Ah, masa malam-malam begini ada tamu." "Dari mana kau tahu? Apakah ia mengetuk pintu dapur?" Manggada memang menjadi ragu-ragu. Tetapi Kiai Gumrah itu berkata "Katakan. Kakek-kakek yang lain ini tidak akan tahu maksudnya." Manggada masih saja ragu-ragu. Bahkan ia menjadi gelisah. Jika ketiga orang kakek yang lain itu tidak tahu menahu persoalannya, maka mereka akan dapat mengalami kesulitan justru karena mereka ada di rumah Kiai Gumrah. Namun Manggada itu akhirnya berkata "Kek. Aku hanya mendengar langkah kaki di luar dapur. Tetapi aku belum menengok, siapa yang ada diluar." "Ah, biarkan saja tamu itu jika ia tidak mengetuk pintu" berkata salah seorang tamunya "barangkali ia ingin ikut menghormatimu yang sekarang ini memperingati umurmu genap sepuluh windu." "Tidak sepuluh windu. Tetapi delapan windu. Aku memperingati tumbuk agengku." sahut Kiai Gumrah. Tetapi tamunya itu tertawa. Bahkan kemudian ia bertanya "Berapa sebenarnya umurmu? Delapan windu, sepuluh windu atau berapapun orang mengatakannya?" Keempat orang itu tertawa meledak. Sementara Manggada masih berdiri termangu-mangu. Nampaknya mereka tidak begitu menghiraukan pemberitahuan Manggada yang menganggap bahwa bahaya telah mengintai diluar. Namun karena Manggada masih berdiri saja ditempat-nya, Kiai Gumrahpun berkata "Baiklah ngger. Aku memang menunggu tamu itu mengetuk pintu. Menurut ingatanku, aku hanya mengundang ketiga orang tetanggaku ini yang umurnya sudah sebaya dengan umurku. Meskipun demikian jika ada orang lain yang mengetahuinya dan sudi untuk ikut beramai-ramai bermain-main disini, aku akan menerimanya dengan senang hati." "Jadi kita menunggu tamu itu mengetuk pintu kek?" bertanya Manggada. "Ya. Hanya mereka yang mengetuk pintu sajalah yang aku anggap sebagai tamu." jawab Kiai Gumrah. Seorang tamunya yang sedang makan tiba-tiba menyahut "Seandainya tamu itu mengetuk pintu juga, biarlah nanti saja dipersilahkan setelah aku selesai makan. Kedatangan orang baru hanya akan mengurangi bagianku saja." Orang-orang tua itu tertawa lagi, sementara Manggada masih berdiri ditempatnya. Namun Kiai Gumrah yang melihat Manggada menjadi gelisah berkata "Baiklah. Kembalilah kedapur. Jika tamu itu nanti mengetuk pintu, biarlah aku membukakannya." "Jika tamu itu mengetuk dapur?" bertanya Manggada. "Panggil aku. Biar aku sajalah yang membuka pintu." jawab Kiai Gumrah. Manggadapun kemudian kembali kedapur. Dilihat nya Laksana masih berada ditempatnya. Perhatiannya terutama tertuju ke pintu butulan itu. Meskipun demikian ia memperhatikan pula dinding dapur yang menghadap langsung ke halaman samping. Sebenarnyalah ada beberapa orang diluar rumah itu. Orang-orang sebagaimana dikatakan oleh Kundala. Mereka telah datang untuk mengambil pusaka-pusaka sebagaimana pernah dilakukan oleh Kundala dan seorang kawannya. Orang-orang yang ada diluar itu mendengar pembicaraan antara Manggada dengan Kiai Gumrah dan tamu-tamunya. Sikap Kiai Gumrah yang seakan-akan tidak menghiraukan mereka membuat orang-orang itu merasa tersinggung. Namun mereka masih saja menganggap bahwa Kiai Gumrah tidak tahu siapakah yang telah datang itu. "Orang dungu itu mengira bahwa kita adalah tetanggatetangganya yang datang untuk mendapatkan hidangan." desis salah seorang dari mereka. "Aku akan mengetuk pintu" berkata seorang yang lain. Tetapi orang yang memimpin kelompok kecil itu mencegahnya. Katanya "Tidak. Kau tidak akan mengetuk pintu." "Apakah kita akan masuk lewat pintu dapur?" bertanya orang itu. "Juga tidak" jawab pemimpin kelompok itu. "Jadi bagaimana?" "Aku akan membuka pintu itu." desis pemimpin kelompok itu. Tetapi sebelum ia melangkah mendekat maka seorang yang lain telah mendahuluinya sambil berkata "Biar aku sajalah yang membuka pintu itu." Namun orang-orang yang ada diluar itu terkejut. Mereka tidak menduga bahwa percakapan itu didengar oleh orangorang yang sedang berkelakar didalam. Ternyata orang yang ada didalam rumah itu menyahut dengan suara lantang dan bahkan seakan-akan melingkar-lingkar di halaman "Jika kau memang tidak tahu diri bagaimana seorang tamu mengunjungi rumah orang lain, maka buka sajalah pintunya. Kalian tidak usah berebut merusak pintu itu meskipun dengan demikian kalian ingin menunjukkan kelebihan kalian. Pintu itu terbuat dari bambu dan gedeg yang akan koyak dilanggar seekor kucing. Tanpa Aji Rogrog asempun pintu akan patah. Karena itu buka sajalah. Pintu itu tidak diselarak."
Suasanapun menjadi hening sejenak. Namun tiba-tiba seorang tamu Kiai Gumrah yang sedang makan itu berkata "Marilah, kita selesaikan hidangan ini. Aku hampir selesai. Tinggal menghabiskan sepotong paha ini. Gigiku nampaknya sudah tidak setajam gigi kucing lagi." "Jika mereka akan masuk, biarlah mereka masuk. Tetapi kita tidak akan dapat membagi hidangan ini dengan mereka." berkata tamu yang lain. Manggada dan Laksana mendengar lontaran kata-kata itu. Mereka berdua menarik nafas dalam-dalam. Sambil melangkah mendekati Laksana, Manggada berkata lirih "Ternyata mereka bukan orang kebanyakan. Tanggapan mereka terhadap orang-orang yang berada diluar pintu sangat meyakinkan." "Ya. Sekarang kita tahu, bahwa Kiai Gumrah bukan satu-satunya orang yang menunggui pusaka-pusaka itu. Mungkin juga ceriteranya tentang pusaka-pusaka itu tidak benar." desis Laksana. Manggada mengangguk-angguk. Katanya "Kita memang tidak dapat segera mengambil kesimpulan. Tetapi niat orang-orang itu mengambil pusaka yang ada dirumah ini benar. Apapun alasannya dan apa yang sebenarnya terjadi dibalik ceritera Kiai Gumrah tentang pusaka-pusaka itu, namun agaknya memang hak Kiai Gumrah untuk mempertahankannya." Laksana mengangguk-angguk. Perlahan-lahan ia berdesis "Ya. Bagi kita, persoalannya menjadi semakin rumit." "Justru semakin menarik" sahut Manggada "aku menjadi semakin ingin mengetahui persoalan yang berkembang selanjutnya. Apalagi setelah kita tahu bahwa persoalannya berhubungan dengan Panembahan Lebdadadi dan elangelangnya." Keduanya terdiam ketika mereka mendengar pintu berderit keras seperti dihempaskan. Keduanya segera mengetahui bahwa orang-orang yang ada diluar itu telah membuka pintu rumah itu. Bahkan dengan kasar. Hampir diluar sadarnya Manggada dan Laksanapun telah bergeser ke ruang dalam untuk melihat, apa yang bakal terjadi. Keduanya menjadi semakin yakin, bahwa orang-orang tua yang sedang makan itu adalah bukan orang kebanyakan. Mereka sama sekali tidak terkejut atau menjadi ketakutan melihat beberapa orang berdiri dipintu rumah itu. Mereka bahkan seakan-akan tidak menghiraukan mereka sama sekali. Seorang diantara tamu Kiai Gumrah itu masih sempat meraih sepotong daging ayam dan menyumbatkan kedalam mulutnya. Sementara yang lain sambil memandang orang yang berdiri dipintu itu berkata "Kalian terlambat datang. Tinggal nasi, sayur dan sambal. Ayam yang dihidangkan terlalu kecil untuk kami berempat. Apalagi untuk kalian. He, kalian datang bersama berapa orang?" "Kiai Gumrah" berkata orang yang berdiri didepan pintu "ternyata kau sempat mengumpulkan kawan-kawanmu. Tetapi mereka akan menyesal setelah mereka tahu dengan siapa mereka berhadapan sekarang." "O" sahut yang sedang mengunyah daging ayam "jika demikian apakah kau bersedia memberitahukan, dengan siapa kami berhadapan sekarang?" "Aku adalah Kiai Windu Kusuma. Yang berdiri di sampingku ini adalah Putut Sempada. Kami datang bersama beberapa orang berilmu tinggi yang sudah lama kami persiapkan." "Kiai Windu Kusuma. Jadi kaukah yang bernama Windu Kusuma?" "Ya" jawab orang yang berdiri dipintu. "Kau kenal orang itu?" bertanya Kiai Gumrah. "Tidak" jawab orang yang masih saja mengunyah daging ayam itu. "Gila kau" sahut tamu Kiai Gumrah yang lain "aku kira kau sudah mengenalnya." "Aku hanya ingin membuat Kiai Windu Kusamu itu berbangga, seolah-olah namanya membuat kami terkejut." Namun yang terjadi kemudian sangat mengejutkan Tanpa diduga maka mangkuk-mangkuk serta minuman dan makanan yang ada diambin bambu itu seakan-akan telah disentakkan. Beberapa diantara mangkuk-mangkuk itu terlempar keudara, kemudian terbanting jatuh saling berbenturan. Beberapa diantara mangkuk-mangkuk itu telah pecah. Manggada dan Laksana menjadi sangat tegang. Jantung mereka terasa berdegup semakin cepat. Namun, seorang diantara tamu Kiai Gumrah itu justru berkata sambil mengais pecahan mangkuk didepannya “Kau gila. Sepotong sayap ayam masih utuh." Tanpa menghiraukan orang yang menyebut dirinya Kiai Windu Kusuma itu, tamu Kiai Gumrah itu memungut sepotong sayap ayam yang memang masih utuh. Katanya "Sebenarnya aku ingin mensisakan sayap-sayap ayam ini bagi kedua orang cucu Kiai Gumrah agar mereka dapat terbang seperti ayam." "Kau kira ayam dapat terbang?" kawannya masih juga sempat bertanya. "Cukup" bentak Kiai Windu Kusuma "kalian menyembunyikan perasaan takut kalian pada kegilaan kalian. Jangan dikira bahwa kami tidak dapat membara isi hati kalian. Orang-orang tua semacam kalian memang tidak berharga. Dengan kepura-puraan itu, kalian mencoba untuk nampak tenang dan meyakinkan." Kiai Gumrahlah yang kemudian turun dari ambin bambu itu. Dengan nada dalam ia bertanya "Ki Sanak. Untuk apa sebenarnya Ki Sanak datang tanpa aku undang malam ini? Sebenarnya aku sedang merayakan peringatun tumbuk ageng. Aku hari ini berumur delapan windu." Namun kawannya ternyata sulit menjaga mulutnya. Katanya "Ia bohong. Umurnya lebih tua dari delapan windu. Tetapi ia tetap dianggap paling muda diantara kami berempat. Juga oleh kedua cucunya itu. He, jika umurmu baru enampuluh empat dan kedua cucumu sudah perjaka, berapa tahun kau mempunyai anak dan anakmu pada umur berapa tahun mempunyai anak pula." "Kau masih sempat menghitung pada saat kita menghadapi ingkung ayam itu?" bertanya kawannya pula. "Cukup" teriak Kiai Windu Kusuma "sekarang sadari keadaan kalian. Kalian akan mati malam ini jika kalian tidak merubah sikap kalian. Atau kalian sudah mulai mabuk?" "Tidak Kiai Windu Kusuma. Kami tidak mabuk. Tidak ada setitik tuakpun disini meskipun pekerjaan kami menyadap legen dan dapat membuat tuak sendiri. Karena itu, kami tidak sedang mabuk. Mungkin ada satu diantara kami yang kekenyangan. Tetapi itu bukan berarti mabuk." jawab Kiai Gumrah. “Hentikan sikap gila kalian. Sekarang, aku akan berbicara tanpa melingkar-lingkar lagi. Serahkan pusakapusaka itu. Kau tidak usah bertanya apakah aku pemiliknya atau bukan, atau apakah aku sudah minta ijin atau bukan. Yang penting pusaka-pusaka itu jatuh ditanganku dan aku bawa pergi. Apa yang akan kau katakan terhadap pemiliknya aku tidak peduli. Apakah kau sudah terlanjur berjanji untuk menjaga pusaka-pusaka itu atau belum aku juga tidak perduli." berkata Kiai Windu Kusuma. Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Ia mulai nampak bersungguh-sungguh. Katanya "Kiai Windu Kusuma. Aku yakin bahwa kau bukan kanak-kanak lagi. Kau tentu tahu makna dari sikapku dan sikap kawankawanku malam ini. Seharusnya kau tidak usah mengatakan maksudmu itu seperti kanak-kanak yang berebut manggis yang jatuh dari dahannya. Sekarang kau mau apa?" "Bagus" berkata Kiai Windu Kusuma “tetapi aku masih ingin memperingatkanmu, bahwa kegilaanmu dan kawankawanmu tidak berarti apa-apa bagi kami. Aku datang dengan beberapa orang kawan yang benar-benar akan dapat mengantar kalian keneraka malam ini juga.” “Kami sudah siap Kiai. Elangmu siang tadi telah memberitahukan kepada kami, bahwa kalian akan datang bersama beberapa orang yang berilmu tinggi. Tetapi kaupun harus sudah mengetahui sikap apa yang akan kami ambil menghadapi kedatangan kalian." jawab Kiai Gumrah. "Aku menunggumu dihalaman Kiai Gumrah" berkata Kiai Windu Kusuma "kami tidak dapat bertempur dengan baik diruang yang sempit ini." "Baiklah. Tunggulah kami diluar. Sebentar lagi kami berempat akan keluar." jawab Kiai Gumrah. Kiai Windu Kusuma kemudian telah melangkah mundur. Bersama dengan beberapa orang yang datang bersamanya, maka mereka menunggu dihalaman rumah itu. Nampaknya mereka telah benarbenar bersiap menghadapi keempat orang yang ada diruang dalam. Meksipun demikian seorang diantara mereka berdesis "Aku tidak mengira bahwa disini ada ampat orang yang harus kita hadapi malam ini." "Apa artinya empat orang tua itu? Sedangkan Kiai Gumrah sendiri hanya mampu menakut-nakuti Kundala dan kawannya yang tidak lebih dari cucurut-cucurut yang pengecut. Karena itu, aku tidak mau lagi membawanya malam ini karena mereka tidak akan berarti apa-apa." “Selain mereka masih ada anak-anak muda yang tadi ada didapur" berkata yang lain. "Mereka tidak usah dihitung" jawab Kiai Windu Kusuma "dengan mengibaskan tangan saja mereka tentu akan terbunuh." Sementara itu, para tamu Kiai Gumrah sudah melangkah keluar. Sementara itu Kiai Gumrah yang masih ada didalam berbicara sejenak dengan Manggada dan Laksana "Kalian mau menolong aku lagi bukan, ngger." "Tentu Kiai" jawab Manggada. "Kau tentu menganggap aku sebagai pembohong" desis orang tua itu. "Kenapa Kiai?" bertanya Manggada. "Nanti, jika aku masih sempat hidup aku beritahukan" jawab Kiai Gumrah. Lalu katanya kemudian "tolong ngger. Jaga pusaka-pusaka itu. Mungkin ada satu dua orang yang melepaskan diri dari pertempuran dan berusaha untuk mengambil pusaka-pusaka itu langsung dari plonconnya." "Baik Kiai" jawab Manggada. “Tetapi jika kalian jumpai orang yang berilmu sangat tinggi dan diluar jangkauan kemampuanmu, maka tinggalkan saja orang itu. Jangan kau korbankan nyawamu untuk sesuatu yang bagimu tidak berarti apa-apa." Manggada dan Laksana hampir bersamaan menjawab "Baiklah Kiai. Kami akan menjaga pusaka-pusaka itu." "Terima kasih ngger" Kiai Gumrahpun menganggukangguk "aku akan menemui orang-orang itu. Orang-orang itu memang orang-orang berilmu tinggi. Tetapi aku percaya kepada kawan-kawanku bahwa mereka akan dapat mengimbangi orang-orang yang datang itu. Semoga Yang Maha Agung melindungi kami dan kalian berdua" berkata Kiai Gumrah sambil melangkah keluar. Di halaman beberapa orang telah mengepung tiga orang kawan Kiai Gumrah. Ketika mereka melihat Kiai Gumrah, maka sebagian dari merekapun telah menyibak. Sehingga akhirnya Kiai Gumrah berdiri disebelah ketiga orang kawannya. "Nah" berkata Kiai Windu Kusuma "jadi kami kau paksa untuk membunuh kalian berempat?" “Kami atau kalian yang akan mati" berkata Kiai Gumrah "tetapi sebenarnya bukan kebiasaan kami membunuh seseorang siapapun mereka.” “Kau tidak usah berpura-pura menjadi orang yang baik hati. Bersiaplah. Kalian akan mati kecuali jika kalian menyerahkan pusaka-pusaka itu." Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Apaboleh buat. Pertempuran bukan cara yang terbaik untuk memecahkan persoalan. Tetapi jika kalian memaksa kami untuk melakukannya, maka kami tidak akan dapat mengelak. Sudah tentu bahwa kami tidak akan membiarkan kepala kami kalian pisahkan dari tubuh kami. Tetapi sebaliknya kami juga tidak akan menyerahkan pusakapusaka itu, karena aku tidak berhak melakukannya. Berpuluh kali aku katakan, bahwa aku hanya akan menyerahkan kepada orang-orang yang menitipkannya kepadaku." "Alasan yang basi. Aku muak mendengarnya. Sekarang, bersiaplah untuk mati. Sementara pusaka-pusaka itu akan jatuh juga ketangan kami." Kiai Gumrah dan ketiga orang kawannyapun segera mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Mereka berempat menghadap keempat arah, karena Kiai Windu Kusuma dan kawan-kawannya telah mengepung Kiai Gumrah dan kawan-kawannya dari segala arah pula. Sebelum Kiai Windu Kusuma mulai menyerang. Kiai Gumrah sempat menghitung orang yang datang kerumahnya itu. Semuanya ada tujuh orang. "Tujuh" Kiai Gumrah itu berdesis. "Ya. Tujuh orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Seorang melawan seorangpun kalian tidak akan dapat berbuat sesuatu. Apalagi jumlah kami lebih banyak dari jumlah kalian." berkata Kiai Windu Kusuma. Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Ada satu hal yang tidak kau perhitungkan." "Apa? Aku tahu pasti tingkat kemampuanmu Kiai Gumrah. Kundala memberikan laporan terperinci." jawab Kiai Windu Kusuma dengan penuh keyakinan. Tetapi Kiai Gumrah menjawab "Satu hal yang tidak kau perhitungkan. Justru yang menentukan. Bahwa Yang Maha Agung dapat berbuat apa saja yang tidak mungkin sekalipun." Tetapi orang itu tertawa. Katanya "Itu adalah tumpuan orang yang sudah berputus-asa. Orang yang tidak mampu keluar dari keruwetan dan kesulitan atas usaha dan kepercayaannya kepada diri sendiri. Lalu mencari sandaran apapun yang paling tidak masuk akal sekalipun." "Terkutuklah kalian yang tidak meyakini kuasa Yang Maha Agung. Baiklah. Marilah kita lihat. Betapa maha dahsyatnya kuasa Yang Maha Agung itu." Kiai Windu Kusuma masih tertawa. Namun kemudian ia memberikan isyarat kepada kawan-kawannya sambil berkata "He, kita buktikan kepada mereka, bahwa mereka tidak akan dapat bersandar kepada tumpuannya yang disebutnya Yang Maha Agung. Kuasa dari Telenging Bumi serta Roh dan Arwah orang-orang sakti dari Padepokan kami akan menunjukkan kepada kalian, bahwa sandaran kalian telah lapuk." Wajah Kiai Gumrah menjadi merah. Ia tidak pernah menjadi demikian marahnya seperti saat ini. Tetapi bagaimanapun juga ia masih tetap mengekang diri dan berpijak pada penalarannya yang terang. Kepada ketiga orang kawannya ia berkata "Marilah saudara-saudaraku. Kita berhadapan dengan bayangan dari Kuasa Kegelapan dan Iblis. Kita akan berusaha menerangi bayangan kelam itu dengan cahaya daripada-Nya. Tetapi jika yang harus terjadi justru permusuhan Kuasa Iblis itu, maka agaknya demikianlah yang harus terjadi. Mereka agaknya mengira bahwa kekuatan Terang dari yang Maha Agung itu tidak masuk dalam akal mereka, tetapi mereka justru beralaskan Kuasa Iblis yang menurut mereka masuk akal." "Tentu, karena kami dapat berhubungan langsung dalam sentuhan indera wadag kami. Tetapi apa yang kau sebut Yang Maha Agung itu sama sekali tidak." "Kami tidak memerlukan sentuhan indera wadag. Tetapi rabaan jari-jari hati kami dapat menyentuhnya pula." Tetapi Kiai Windu Kusuma itu tertawa. Katanya "Satu ceritera yang baik untuk dilaporkan kepada Panembahan." "Panembahan siapa?" bertanya Kiai Gumrah. "Panembahan siapapun, kau tidak akan mengerti" jawab Kiai Windu Kusuma. Kiai Gumrah tidak menjawab lagi. Tetapi berempat mereka sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Sementara itu Kiai Windu Kusumapun telah memberikan perintah kepada orang-orangnya untuk bergerak. Dalam pada itu, Kiai Gumrah telah bersiap langsung menghadapi Kiai Windu Kusuma. Sementara ketiga orang kawannya harus berhadapan dengan enam orang pengikut Windu Kusuma itu. Sejenak kemudian, maka pertempuran itupun telah terjadi. Kiai Windu Kusuma langsung menyerang Kiai Gumrah dengan garangnya meskipun belum mempergunakan senjatanya. Sementara itu, para pengikutnyapun telah mulai bertempur pula. Mereka bertempur berpasangan melawan tiga orang kawan Kiai Gumrah. Namun dalam pada itu terdengar perintah Kiai Windu Kusuma kepada para pengikutnya "Salah seorang dari kalian, ambil pusaka-pusaka itu. Hati-hati. Ada dua orang anak muda yang tadi didapur. Jika keduanya menghalangi, bunuh mereka. Kita sudah tahu tataran kemampuan kedua orang anak muda itu sebagaimana laporan yang pernah disampaikan kepada kita." Ketika salah seorang dari mereka mulai melangkah keluar dari lingkaran pertempuran, Kiai Windu Kusuma itu berkata "Biarlah Niskara saja melakukannya. Ia tidak akan pernah gagal. Apalagi hanya kedua orang anak muda itu. Berdua mereka tidak dapat mengalahkan Kundala. Bahkan seandainya ada dua orang lagi. Niskara akan dapat menyelesaikannya dengan cepat." Tidak ada yang menjawab. Namun seorang diantara mereka yang masih bertempur itu melenting dan dengan kecepatan yang sangat tinggi, orang itu bagaikan terbang menuju kepintu rumah dan kemudian hilang diruang dalam. Kiai Gumrah memang menjadi berdebar-debar. Ia yakin bahwa kedua orang anak muda itu tidak akan mampu melawan orang yang disebut bernama Niskara itu. Tetapi ia tidak segera dapat berbuat sesuatu. Ia harus berhadapan dengan Kiai Windu Kusuma yang tentu memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Karena itu, maka bagaimanapun juga Kiai Gumrah itu menjadi gelisah. Kedua anak muda itu seharusnya tidak terlibat dalam persoalan yang rumit itu. Tetapi keduanya ternyata berkeras untuk tetap berada dirumahnya. "Mudah-mudahan mereka mau mendengarkan pesanku agar mereka tidak mempertahankan nyawa mereka" berkata Kiai Gumrah didalam hatinya. Kiai Gumrah masih berharap jika keduanya itu menyingkir dari pertempuran, maka Niskara tentu akan lebih memperhatikan pusakapusaka itu daripada Manggada dan Laksana. Tetapi bagaimanapun juga Kiai Gumrah tidak dapat membiarkan keduanya tanpa memperhatikannya. Namun Kiai Gumrah tidak mempunyai banyak kesempatan, karena Kiai Windu Kusuma itu mulai menekannya. Seranganserangannya menjadi semakin cepat dan keras. Sementara itu, ketiga orang kawannyapun telah bertempur pula. Dua orang diantara mereka harus bertempur melawan masing-masing dua orang. Didalam rumah, Manggada dan Laksana mendengar langkah seseorang memasuki rumah itu. Dengan cepat merekapun telah bersiap. Merekapun menyadari, bahwa orang-orang yang ingin mengambil pusaka itu adalah orang-orang yang berilmu tinggi. Namun kedua orang anak muda itu sudah berjanji untuk membantu Kiai Gumrah menjaga pusaka-pusaka itu. Apapun yang terjadi, maka mereka tidak akan ingkar. Karena itu ketika orang itu mendekati bilik tempat pusaka-pusaka itu disimpan, maka Manggada dan Laksana segera menghadang mereka dengan pedang terhunus. Niskara itu menggeram. Dengan lantang ia berkata "Minggir anak-anak muda. Aku akan mengambil pusakapusaka itu. Jika kau mencoba menghalangi, maka kalian akan mati malam ini juga. Aku tidak mempunyai waktu banyak, sehingga karena itu, maka jangan mencoba berbuat sesuatu yang dapat memperpendek umurmu." "Aku telah berjanji untuk mempertahankan pusakapusaka ini." jawab Manggada. "Jika demikian, jangan menyesal jika kalian akan mati." geram Niskara. Manggada dan Laksana tidak menghiraukannya. Keduanya hampir berbareng meloncat menyerang. Ternyata Niskara memang seorang yang berilmu tinggi. Dengan cepat ia menggeliat menghindari serangan kedua orang anak muda itu. Bahkan tanpa diketahui apa yang telah dilakukannya, maka Laksana telah terdorong beberapa langkah surut sehingga punggungnya membentur dinding. Wajahnya terasa menjadi panas. Agaknya tangan Niskara telah menampar mukanya. Tetapi Laksana sama sekali tidak menjadi gentar. Dengan cepat ia menguasai dirinya dan siap untuk melanjutkan pertempuran. Pedangnyapun berputar cepat saat ia meloncat maju sementara Manggada telah menyerang pula dari arah yang berbeda. Tetapi serangan-serangan itu sama sekali tidak menyentuh sasaran. Bahkan kedua orang anak muda ilu telah mengalami serangan yang tidak mereka ketahui bagaimana hal itu dapat terjadi. Keduanyapun telah terdorong beberapa langkah surut. Sementara itu Niskarapun menggeram. Katanya "Anakanak muda, sebaiknya kau dengarkan peringatanku. Kali ini untuk yang terakhir. Minggirlah. Jangan ganggu aku. Jika kalian masih saja menghalangi aku. maka kalian benarbenar akan mati." Manggada dan Laksana memang menjadi ragu-ragu. Mereka sadar bahwa mereka tidak akan pernah dapat mengalahkan orang itu, apalagi jika ia sudah menarik senjatanya. Merekapun teringat pesan Kiai Gumrah agar jika terpaksa mereka supaya meninggalkan saja pusakapusaka itu. Mereka tidak usah mengorbankan nyawa mereka untuk mempertahankan pusaka-pusaka itu. Namun ternyata bahwa hati kedua orang anak muda tidak terlalu lentur. Bahkan Manggada telah melangkah maju sambil berkata "Kami tidak mempunyai pilihan lain. Kami harus mempertahankan pusaka-pusaka itu." Niskara menggeram. Katanya "Jika demikian maka kalian agaknya memang ingin membunuh diri. Baiklah. Aku akan membantu kalian agar kalian lebih cepat mati dan tidak mengganggu aku lagi." Dalam pada itu, di halaman Kiai Gumrah tengah bertempur melawan Kiai Windu Kusuma. Bagaimanapun juga ia gelisah karena Manggada dan Laksana, juga karena pusaka-pusaka itu akan dapat diambil oleh Niskara, namun ia tidak dapat meninggalkan lawannya yang memang berilmu tinggi. Bahkan untuk beberapa saat Kiai Windu Kusuma dapat mendesak Kiai Gumrah yang gelisah. Bagi Kiai Gumrah, seandainya Niskara dapat mengambil pusaka-pusakanya, maka ia akan dapat berusaha menahan Kiai Windu Kusuma dalam pertempuran dengan mempertaruhkan nyawanya. Karena Kiai Windu Kusuma adalah pemimpin dari sekelompok orang yang datang itu, maka seandainya ia dapat mengatasinya, maka Niskara tentu tidak akan tergesa-gesa meninggalkan halaman rumah itu. Namun agaknya Manggada dan Laksana justru lebih menggelisahkannya lagi. Kedua anak muda yang keras hati itu tentu tidak akan begitu saja meninggalkan pusakapusaka itu meskipun ia sudah berpesan kepada mereka. Bagi Kiai Gumrah yang sudah berjanji untuk menyimpan dan menjaga pusaka-pusaka itu ternyata tidak dapat begitu saja membiarkan Manggada dan Laksana menjadi korban. Kecuali mereka masih terlalu muda untuk mati, maka merekapun sebenarnya tidak mempunyai beban tanggung jawab apapun terhadap pusaka itu, kecuali karena mereka memang berniat membantunya. Tetapi untuk sementara Kiai Gumrah harus menghadapi kenyataan. Ia harus bertempur melawan Kiai Windu Kusuma tanpa berbuat apapun yang lain. Ia sadar, jika ia tidak mampu memusatkan nalar budinya untuk menghadapi Kiai Windu Kusuma, maka ia akan segera mengalami kesulitan karena Kiai Windu Kusuma adalah seorang yang berilmu sangat tinggi. Sementara itu ketiga orang kawan Kiai Gumrahpun harus bertempur dengan mengerahkan kemampuan mereka. Dua diantara kawan-kawan Kiai Gumrah itu harus menghadapi masing-masing dua orang. Namun agaknya mereka bukan orang-orang berilmu sangat tinggi setataran dengan Kiai Windu Kusuma sendiri. Meskipun mereka agaknya memiliki kemampuan lebih baik dari Kundala dan kawannya yang pernah datang pula kerumah itu, namun mereka tidak dapat dengan cepat menguasai kawan-kawan Kiai Gumrah. Meskipun sejak Kundala gagal mengambil pusakapusaka itu. Kiai Windu Kusuma sudah memperhitungkan bahwa Kiai Gumrah yang ternyata bukan orang kebanyakan itu tentu tidak sendiri, bahkan selain anak-anak muda itu tentu ada orang-orang lain yang berilmu, namun ia tidak mengira bahwa pada saat yang bersamaan ada empat orang tua yang berilmu tinggi. Ampat orang yang ilmunya tidak saling bertaut banyak meskipun Kiai Gumrah harus mendapat perhatian terbesar karena Kiai Gumrah adalah orang yang harus mempertanggungjawabkan pusaka-pusaka itu. Sambil bertempur melawan Kiai Gumrah, Kiai Windu Kusuma sempat memperhatikan pertempuran yang terjadi disekitarnya. Dibawah cahaya oncor diserambi rumah Kiai Gumrah yang lemah, ia melihat kawan-kawannya berusaha untuk dengan segera mengalahkan ketiga orang tua tamu Kiai Gumrah itu. Tetapi ketiga orang tua itu ternyata juga memiliki ilmu yang tinggi. Seorang diantaranya, yang disebut juragan yang menerima dan membeli gula kelapa Kiai Gumrah dan para pembuat gula yang lain dan membawanya ke pasar itu, bertempur hanya melawan seorang saja. Tetapi orang itu adalah seorang yang masih terhitung muda, bertubuh tegap dan kekar. Putut Sempada. Dengan keras orang itu menyerang juragan Kiai Gumrah sehingga orang tua itu beberapa kali terdesak mundur. "Apakah kau tidak mempertimbangkan untuk menyerah saja orang tua? Tulang-tulangmu sudah rapuh dan barangkali penglihatanmu sudah tidak jelas lagi." berkata orang bertubuh kekar itu. Tetapi orang tua itu tersenyum. Sambil mengelakkan serangan lawannya yang bertubuh tegap dan kekar itu ia menjawab "Aku jauh lebih tua dari kau orang muda. Aku tentu mempunyai pengalaman yang jauh lebih banyak. Karena itu, berhati-hatilah. Apalagi bukankah seharusnya kau menghormati setua aku ini." "Setan kau kakek tua. Agaknya kau ingin mempercepat kematianmu. Tetapi katakan, siapa namamu?" "Aku adalah juragan gula kelapa yang dihormati diseluruh lingkungan ini. Kalau kau tidak percaya bertanyalah kepada Kiai Gumrah. Ia salah seorang pembuat gula yang selalu menyerahkan gulanya kepadaku. Aku tidak pernah menghutang dan kemudian baru membayar setelah gula itu laku. Aku selalu membayar langsung demikian mereka menyerahkan gula itu kepadaku." "Cukup" orang yang bertubuh tegap kekar itu berteriak "aku tidak ingin mendengar bualanmu itu. Siapa namamu, he. Itu saja yang ingin aku dengar." Juragan gula itu tertawa. Katanya sambil setiap kali meloncat mengambil jarak "Namaku Ki Padma." "Uah" desah orang bertubuh kekar itu diluar sadarnya. Sejenak kemudian, maka serangannyapun datang beruntun. Juragan gula yang menyebut dirinya Ki Padma itu masih saja berloncatan menghindari serangan-serangan itu. Katanya "Kenapa? Kau heran mendengar namaku? Padma adalah bunga. Sama manisnya dengan gula. Kau setuju?" "Setan tua. Kau tidak pantas dengan nama itu. Pantasnya kau bernama Clurut." geram lawannya. Ki Padma itu tertawa berkepanjangan sambil berloncatan. Tetapi justru karena itu, maka iapun telah terdesak beberapa langkah surut. Namun kemudian sambil berganti menyerang ia bertanya "Siapa namamu?" "Kau tentu juga tidak percaya."jawab lawannya. "Aku percaya. Katakanlah"sahut Ki Padma. "Namaku Putut Sempada."jawab orang itu."Nah, kau tentu akan menyangkal dan akan menyebut nama lain yang paling buruk." "Tidak. Aku percaya bahwa kau bernama Sempada, meskipun itu bukan nama yang kau terima dari kedua orang tuamu. Namun bagaimanapun juga, sekarang kau disebut Putut Sempada."jawab Ki Padma. "Atau kau memang pernah mendengar nama itu?" bertanya Putut Sempada. "Ya. Aku memang pernah mendengar nama itu. Aku juga pernah mendengar nama Putut Bahudenda dan Bahutama. Mereka memiliki ciri perguruan Panjer Bumi. Nah, jangan menyangkal bahwa aku melihat ciri perguruan itu pada unsur-unsur gerakmu." "Aku tidak menyangkal bahwa aku murid perguruan Panjer Bumi. Jilka kau tahu aku dari perguruan Panjer Bumi, katakan, kau bersumber dari perguruan mana?" bertanya Bahusasra. "Ternyata pengetahuanmu sangat picik. Putut Sempada adalah nama yang agung. Aku tidak ingin meniru kau yang merendahkan pribadiku dibandingkan dengan namaku. Tetapi sebenarnyalah bahwa nama itu terlalu besar buat orang sepicik kau. Kita sudah bergulat dalam pertarungan ilmu sekian jauh, tetapi kau sama sekali tidak mampu menyebut sumber ilmuku." "Kau tentu lahir dari perguruan kecil di tempat terpencil. Kau dapat melihat kebesaran perguruanku tetapi aku tidak." geram orang yang mengaku bernama Putut Sempada itu. Ki Padma tertawa. Katanya "Apapun yang kau katakan, tetapi kita akan menyelesaikan pertempuran ini sampai tuntas. Betapa besarnya perguruanmu, tetapi kau nanti harus mengakui, bahwa kuasa Yang Maha Agung akan menentukan segala-galanya. Bukan kuasa dari Telenging Bumi atau iblis yang manapun juga. Semakin kau mengingkari, maka kau akan menjadi semakin dihimpit oleh kuasa-Nya." "Kau ingin melarikan diri kenyataan seperti Kiai Gumrah." geram Bahusasra. "Sama sekali tidak. Tetapi hatiku sejalan dengan orang itu." jawab Ki Padma. Lawannya tidak menjawab lagi. Tetapi dikerahkannya kemampuan untuk menghancurkan orang yang menyebut dirinya Ki Padma, juragan gula kelapa itu. Namun ternyata bahwa Ki Padma benar-benar orang yang berilmu tinggi. Meskipun Sempada tidak segera melihat sumber ilmu juragan gula itu, tetapi ia merasakan kekuatan yang sangat besar pada ilmu yang melandasi kemampuannya itu. Dengan demikian maka pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin sengit sebagaimana Kiai Gumrah melawan Kiai Windu Kusuma yang juga berilmu sangat tinggi. Sementara itu kedua kawan Kiai Gumrah yang lain masing-masing harus bertempur melawan dua orang. Namun lawan-lawan mereka ilmunya tidak setinggi Kiai Windu Kusuma atau Putut Sempada. Meskipun demikian melawan dua orang, kawan-kawan Kiai Gumrah itupun harus mengerahkan kemampuan mereka. Bahkan baik Kiai Gumrah maupun ketiga orang kawannya, masih harus selalu mengingat kedua orang anak muda yang berada didalam rumah. Mereka sadar, bahwa orang yang bernama Niskara itu tentu saja seorang yang dianggap akan mampu menyelesaikan kedua orang anak muda itu juga mereka bertahan untuk melindungi pusaka-pusaka itu. Kawankawan Kiai Gumrah itu sebenarnya sudah mendengar bagaimana kekerasan hati kedua anak muda yang terdampar dirumahnya. Meskipun keduanya tidak mempunyai sangkut paut dengan Kiai Gumrah, apalagi pusaka-pusaka itu, namun keduanya telah menyatakan kesediaan mereka untuk membantunya. Karena itu, baik Kiai Gumrah maupun ketiga orang kawannya tentu tidak akan sampai hati membiarkan kedua orang anak muda itu mengalami kesulitan. Tetapi mereka tidak mempunyai kesempatan untuk menolong mereka karena mereka sedang terlibat dalam pertempuran yang sengit. Namun setelah menjajagi ilmunya beberapa saat, salah seorang kawan Kiai Gumrah yang bertempur melawan dua orang lawan itu berkata lantang "He, aku akan meninggalkan orang-orang itu. Biarlah keduanya menempatkan diri untuk melawan salah seorang dari kalian. Aku akan melihat apa yang terjadi didalam." "Lakukanlah" sahut Kiai Gumrah sambil bertempur melawan Kiai Windu Kusuma. Meskipun Kiai Windu Kusuma berilmu sangat tinggi, jika kedua orang itu bergabung bersamanya, maka Kiai Gumrah masih berharap untuk dapat bertahan beberapa lama meskipun ia harus berlari-lari berputaran di halaman. Sementara itu, ia berharap bahwa kawannya itu akan dapat segera menyelesaikan orang yang disebut Niskara itu. Namun dalam pada itu, kawan Kiai Gumrah yang akan meninggalkan kedua lawannya itu justru tertegun. Karena kedua lawannya masih saja menyerangnya dan seakan-akan tidak ingin melepaskannya, maka kawan Kiai Gumrah itu masih harus berloncatan menghindar. Bahkan kedua orang lawannya itu dengan sengaja menahan agar orang itu tidak dapat meninggalkan mereka. Sementara keempat orang tua-tua itu masih bertempur dengan sengitnya, maka didalam rumah itu, Manggada dan Laksana benar-benar tidak mampu berbuat banyak menghadapi Niskara. Meskipun Niskara itu masih belum mempergunakan senjatanya, namun Manggada dan Laksana berkali-kali terdorong dan terbanting jatuh. Bahkan kemudian keduanya menjadi semakin tidak berdaya. Ketika kepala Laksana membentur tiang, maka seisi rumah itu rasa-rasanya menjadi berputar. Hanya karena ketahanannya saja, ia masih tetap sadar. Meskipun demikian ketika ia berusaha untuk bangkit, ia justru terhuyung-huyung kehilangan keseimbangannya. Meskipun Laksana mencoba berpegangan tiang, tetapi iapun jatuh terduduk. Pedangnya telah terlepas dari tangannya, sementara nafasnya menjadi sesak. Sementara itu Manggadapun tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Dengan kerasnya Manggada terlempar ketika kaki Niskara itu mengenai pundaknya. Demikian kerasnya sehingga Manggada membentur dinding dan bahkan dinding itu telah terkoyak. Manggada yang terlempar itu terjatuh keluar rumah. Tetapi tidak dihalaman depan. Manggada berguling beberapa kali di halaman sam ping. Kepalanya yang membentur dinding sehingga koyak itu menjadi pening. Matanya berkunang-kunang dan kemudian menjadi gelap. Hampir bersamaan kedua orang anak muda itu menjadi pingsan. Sementara itu pertempuran di halaman masih berlangsung dengan sengitnya. Kiai Gumrah dengan ketiga orang kawannya yang gelisah itu telah meningkatkan kemampuan mereka. Namun lawan-lawan merekapun berbuat serupa pula, sehingga karena itu, maka pertempuran itu benar-benar menjadi pertempuran yang seru diantara orang-orang berilmu tinggi. Kiai Windu Kusuma yang berhadapan dengan Kiai Gumrah, ternyata juga menjadi gelisah. Ia berharap agar Niskara dapat menguasai pusaka-pusaka itu dengan cepat. Namun ternyata Niskara masih juga belum keluar dari rumah itu dengan membawa pusaka-pusaka yang diinginkannya. Justru karena itu, maka dua orang berilmu tinggi itu bertempur dalam kegelisahan mereka masing-masing. Kiai Gumrah gelisah karena Manggada dan Laksana yang keras hati, keduanya tentu tidak akan begitu saja meninggalkan pusaka-pusaka itu meskipun lawannya dapat mengancam jiwanya. Sementara itu, kawan-kawannya dan bahkan dirinya sendiri tentu tidak akan dapat dengan mudah meninggalkan lawan-lawannya. Sedangkan Kiai Windu Kusuma menjadi gelisah karena Niskara tidak segera keluar dari rumah dengan membawa pusaka-pusaka yang mereka kehendaki. Menurut perhitungan Kiai Windu Kusuma. Niskara akan dapat dengan mudah menyelesaikan kedua orang anak muda yang ada didalam yang kemampuannya masih sangat dasar sebagaimana dilaporkan oleh dua orang yang telah datang lebih dahulu kerumah itu. Kiai Windu Kusuma untuk sementara masih menahan diri. Ia mencoba untuk mengerahkan kemampuannya serta memusatkan nalar budinya menghadapi Kiai Gumrah. Tetapi kegelisahannya itu seakan-akan tidak tertahankan lagi. Karena itu, maka iapun berteriak "He, lihat, apakah Niskara justru tidur didalam atau ia telah berkhianat dan membawa pusaka-pusaka itu pergi melalui pintu butulan." Untuk sesaat masih belum ada yang meninggalkan arena pertempuran itu. Dua orang kawan Kiai Gumrah yang masing-masing harus menghadapi dua orang sekaligus telah mengerahkan ilmunya. Mereka mencoba untuk menahan salah seorang dari lawannya yang akan meninggalkan arena. Tetapi karena lawannya juga menghentakkan kemampuan mereka, maka kedua orang kawan Kiai Gumrah itu justru terdesak surut. Justru pada saat itu seorang dari mereka telah meloncat meninggalkan salah seorang kawan Kiai Gumrah itu dan berlari kepintu rumah Kiai Gumrah. Sementara itu seorang kawannya harus bertempur seorang melawan seorang dengan kawan Kiai Gumrah itu. Orang itu memang segera terdesak. Tetapi ia masih mempunyai beberapa cara untuk mempertahankan hidupnya. Halaman rumah Kiai Gumrah ternyata cukup luas untuk menghindar disaat-saat yang sulit. Bahkan beberapa batang pohon buah-buahan dapat dipergunakan untuk sekedar menyelamatkan diri pada saatsaat yang paling gawat. Demikianlah, seorang pengikut Kiai Windu Kusuma yang memasuki rumah Kiai Gumrah itupun langsung menuju keruang dalam. Dilihatnya seorang anak muda yang pingsan terbaring dilantai. Kemudian dilihatnya pula dinding bambu yang koyak. Demikian ia melihat keluar lewat lubang dinding itu, dilihatnya seorang anak muda yang lain telah terbaring pula. Namun orang itu terkejut bukan buatan ketika ia melihat Niskara juga terbaring diluar rumah tidak terlalu jauh dari anak muda yang juga terbaring diluar itu. Dengan cepat ia merunduk lewat lubang dinding itu keluar. Ketika ia berjongkok disebelah Niskara, maka dilihatnya tubuh itu terkoyak mengerikan. Luka-luka yang parah terdapat hampir diseluruh tubuhnya. "Siapa yang telah memperlakukan Niskara seperti ini?" pertanyaan itupun telah bergejolak didalam hatinya. Tetapi orang itupun harus menjadi sangat berhati-hati. Niskara memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari kemampuannya. Tetapi ia gagal mempertahankan hidupnya. Justru dengan luka yang sangat parah. Tetapi kawan Niskara itu tidak yakin bahwa luka-luka itu adalah luka-luka senjata. Luka-luka itu menurut pengamatannya seakan-akan luka oleh kuku-kuku dan taring binatang buas. "Tetapi dimana ada binatang buas disini?" orang itu bertanya didalam hatinya. Karena itulah, maka orang itupun segera mengambil keputusan untuk mengambil pusaka-pusaka yang disimpan oleh Kiai Gumrah. Dengan senjata teracu ia kemudian meninggalkan Niskara dengan sangat berhati-hati. Karena Niskara telah mati, maka ia tidak akan berbuat apa-apa untuk menyelamatkannya. Apalagi kedua orang anak muda itu mungkin pingsan. Jika mereka sadar, maka ia harus bertempur lagi melawan keduanya. Karena itu, maka kawan Niskara itupun segera menyuruk kembali masuk kedalam rumah. Perlahan-lahan ia melangkah ke bilik tempat pusaka-pusaka itu mungkin disimpan. Ketika angin bertiup menyingkap tirai dipintu bilik sebelah, maka nampak sebuah ploncon dengan pusakapusaka yang tentu pusaka yang dicarinya. Dalam keremangan lampu yang redup, orang itu melihat beberapa batang tombak dan songsong berdiri tegak pada ploncon itu. Orang itu tidak berpikir panjang. Dengan serta-merta orang itu meloncat masuk kedalam bilik yang redup itu. Tetapi orang itu terkejut bukan buatan. Demikian ia berdiri didalam bilik itu, maka dilihatnya dua ekor harimau menggeram siap untuk menerkamnya. Dengan cepat orang itu meloncat mundur. Namun kedua ekor harimau itu telah mengikutinya, keluar dari bilik itu. Orang itu bukan seorang penakut. Seandainya ia harus berkelahi melawan seekor dari kedua harimau yang besar itu, ia tidak akan gentar. Tetapi melawan dua ekor harimau yang besar dan garang itu, maka nasibnya tentu tidak akan lebih baik dari Niskara yang telah terbunuh itu. Dalam waktu yang pendek itu otaknya bekerja dengan cepat. Ia akan memancing harimau itu keluar rumah dan membawanya ke halaman. Jika harimau itu berada dihalaman, maka harimau itu tentu tidak akan dapat memilih siapakah yang akan dilawannya. Meskipun demikian sekilas timbul keheranan didalam hatinya, bahwa kedua ekor harimau itu tidak berbuat apaapa terhadap kedua orang anak muda yang pingsan itu. Tetapi ia tidak sempat berpikir panjang. Dengan cepat ia meloncat keluar pintu rumah dan berlari ke halaman. "Kenapa kau berlari-lari he?" Kiai Windu Kusuma berteriak "Dimana Niskara?" Orang itu berhenti sejenak. Ternyata kedua ekor harimau itu tidak mengejarnya. Satupun diantara keduanya tidak ada yang nampak keluar pintu depan rumah itu. "He, dimana Niskara?" sekali lagi Kiai Windu Kusuma yang masih bertempur melawan Kiai Gumrah itu berteriak. Terdengar Kiai Gumrah tertawa. Ia memanfaatkan keadaan itu untuk mempengaruhi lawannya. Katanya "Nah, ternyata Niskara tidak dapat mengalahkan kedua orang cucuku itu." "Tidak" teriak orang itu yang masih berdiri ter-mangumangu beberapa langkah didepan pintu. "Kedua anak muda itu terbaring diam di rumah itu. Mungkin ia pingsan atau mati atau pingsan sampai mati." "Jika demikian kenapa kau berlari-lari keluar?" bertanya Kiai Gumrah. “Ternyata didalam rumah terdapat harimau jadi-jadian. Atau pusaka-pusaka itu dapat berwujud harimau. Ada dua ekor harimau di bilik penyimpanan pusaka itu." teriak orang itu dengan suara bergetar. Masih terasa betapa jantungnya menjadi ngeri melihat kedua ekor harimau itu. Yang mendengarkan teriakan orang itu menjadi terkejut karenanya. Bahkan Kiai Gumrah dan kawan-kawannyapun terkejut pula. Kiai Gumrah yang tinggal dirumah itu tidak pernah melihat ada seekor harimau. Apalagi didalam rumahnya. Ia juga tidak percaya bahwa pusakapusaka itu dapat berubah menjadi harimau atau dari dalamnya keluar seekor harimau atau bahkan lebih. Namun dalam pada itu, pertempuran itu masih berlangsung. Seorang pengikut Kiai Windu Kusuma yang harus bertempur menghadapi seorang kawan Kiai Gumrah telah mengalami kesulitan. Sejak kawannya meninggalkannya masuk mencari Niskara, maka ia lebih banyak berlari-lari menghindar. Kadang-kadang bahkan ia harus berputar-putar mengelilingi pohon-pohon besar dan perdu untuk menyelamatkan diri. Karena kawannya yang berlari keluar dari rumah itu masih saja termangu-mangu, sementara kulitnya telah mulai tergores ujung senjata lawannya, maka ia segera berteriak "He, jangan tidur disitu. Kau menunggu jantungku koyak?" Orang itupun segera menyadarinya. Karena itu, maka iapun segera berlari menggabungkan diri dengan kawannya yang ditinggalkannya. Namun keadaan keselamatan pertempuran itu sudah berubah. Kawan-kawan Kiai Gumrah sudah mulai menekan lawan-lawannya. Bahkan yang melawan kedua orang pengikut Kiai Windu Kusuma itupun telah berhasil menekan lawannya. Meskipun lawannya bertempur berpasangan, namun kemampuannya memang masih belum setingkat dengan Niskara yang terbunuh itu. Ternyata Kiai Windu Kusuma mulai mempertimbangkan keadaan. Ia sendiri merasa tidak akan dapat mengatasi Kiai Gumrah. Bahkan semakin lama maka tekanan Kiai Gumrah itupun terasa menjadi semakin berat. Apalagi dengan ceritera tentang kedua ekor harimau itu. "Jika harimau itu mampu memilih lawan, maka persoalannya akan menjadi lain" berkata Kiai Windu Kusuma didalam hatinya. Meskipun demikian untuk beberapa saat ia masih mencoba untuk mengerahkan kemampuannya. Tetapi Kiai Gumrahpun telah sampai ketataran yang lebih tinggi pula. Bagaimanapun juga, maka Kiai Windu Kusuma tidak akan dapat mengalahkan lawannya. Kecuali jika ia mencoba untuk mempergunakan ilmu puncaknya. Meskipun demikian maka Kiai Windu Kusuma itupun yakin bahwa Kiai Gumrahpun tentu memiliki ilmu simpanannya. Ternyata kehadirannya dirumah itu telah disambut oleh kekuatan diluar perhitungannya. Meskipun ia memang menduga bahwa Kiai Gumrah tidak sendiri, tetapi ia tidak mengira bahwa ada empat orang berilmu tinggi dirumah itu selain kedua orang cucu Kiai Gumrah. Memang timbul niat Kiai Windu Kusuma untuk menyelesaikan pertempuran itu dengan tuntas. Ia sudah siap mempertaruhkan hidup dan matinya untuk mendapatkan pusaka-pusaka itu. Namun ketika dalam kegelapan malam dihalaman samping ia sempat melihat dua pasang sinar yang kehijau-hijauan, maka Kiai Windu Kusuma memang harus berpikir ulang. Kiai Windu Kusuma sadar, bahwa sinar kehijauan yang dua pasang memancar dalam kegelapan itu tentu mata dua ekor harimau sebagaimana dikatakan oleh salah seorang pengikutnya itu. Karena itu, maka Kiai Windu Kusuma harus membuat perhitungan yang cermat. Sementara itu Putut Sempada yang bertempur melawan kawan Kiai Gumrah yang disebut juragan gula itupun berkata "Jadi kalian menyimpan harimau jadi-jadian dirumah ini? Harimau seperti itu memang berarti untuk satu saat. Tetapi pada kesempatan lain, setelah kami tahu bahwa disini ada harimau jadi-jadian, maka kalian tidak akan sempat berbuat sesuatu lagi." Juragan gula itu tidak menjawab. Ia memang ikut bingung menanggapi persoalan harimau yang ada dirumah itu. Iapun melihat bulatan-bulatan cahaya kehijauan di kegelapan. Juragan gula itu juga mengira bahwa yang bercahaya itu bukan sekedar mata kucing. Tetapi tentu mata harimau. "Kiai Gumrah belum pernah berceritera tentang harimau itu" berkata juragan gula itu didalam hatinya. Bahkan Kiai Gumrah sendiri menjadi gelisah melihat dua pasang mata harimau dihalaman samping rumahnya. Ia sendiri tidak tahu sama sekali tentang harimau-harimau itu. Bahkan Kiai Gumrah juga memikirkan kemungkinan buruk atas Manggada dan Laksana yang mungkin pingsan. Jika mereka masih mempunyai kesempatan hidup, maka harimau-harimau itu akan dapat mengoyakkan tubuhnya. Ternyata kebingungan itu membuat mereka yang sedang bertempur itu tidak lagi memusatkan perhatian mereka. Kiai Windu Kusuma, Putut Sempada, para pengikut Kiai Windu Kusuma yang lain menganggap bahwa harimauharimau itu adalah semacam harimau jadi-jadian yang dapat membantu Kiai Gumrah. Jika demikian maka keadaan mereka benar-benar akan menjadi semakin sulit. Tanpa harimau-harimau itu mereka merasa bahwa tidak mudah menundukkan orang-orang tua itu. Apalagi dengan harimau jadi-jadian. Karena itu, maka Kiai Windu Kusuma itu tiba-tiba saja berkata lantang "He, Kiai Gumrah. Itukah yang kau sebut pertolongan dari Yang Maha Agung? Ternyata kaupun bertumpu pada kekuatan iblis. He, apakah harimau jadijadian bukan salah satu ujud kekuatan hitam?" Kiai Gumrah tidak mau menerima tuduhan itu. Katanya "Aku tidak pernah berhubungan dengan iblis." "Jadi, apa artinya harimau-harimau itu? Seandainya pusaka-pusaka itu dapat menjelma menjadi harimau, itukah yang kau maksudkan?" "Tidak." jawab Kiai Gumrah "tetapi jika harimauharimau itu datang dari hutan karena kebingungan dan disini mereka menemukan Niskara dan membunuhnya, itu harus kau renungkan." "Omong kosong." geram Kiai Windu Kusuma "tetapi baiklah. Pada kesempatan lain, aky akan datang dan siap melawan harimau jadijadianmu. Kau akan menyesal bahwa kau ternyata tidak jujur dan licik." Kiai Gumrah tidak menjawab. Namun kemudian terdengar isyarat dari Kiai Windu Kusuma. Isyarat agar para pengikutnya mengundurkan diri dari halaman rumah Kiai Gumrah. Sambil bergeser keregol halaman, Kiai Windu Kusuma dan para pengikutnya berusaha untuk dapat melepaskan diri dari keempat orang tua yang mempertahankan pusakapusaka itu. Sementara Kiai Gumrah dan kawan-kawannya masih saja memikirkan nasib Manggada dan Laksana. Karena itu, ketika kemudian Kiai Windu Kusuma meloncat meninggalkan halaman itu. Kiai Gumrah tidak mengejarnya. Bahkan ia memberikan isyarat kepada kawankawannya agar mereka tidak mengejar orang-orang yang melarikan diri dari halaman rumahnya. Ada yang meloncat keluar dari regol, tetapi ada pula yang memanjat dinding halaman yang memang tidak terlalu tinggi. Demikian orang-orang itu pergi, maka tanpa berjanji Kiai Gumrah dan kawan-kawannya telah berlari kepintu rumah. Namun Kiai Gumrah dan kawan-kawannya tidak meninggalkan kewaspadaan. Harimau yang semula ada dihalaman, namun kemudian sinar mata itu bagaikan padam, justru mungkin telah ada didalam rumah itu kembali. Mungkin harimau-harimau itu siap untuk menerkam mereka berempat demikian mereka masuk. Tetapi keempat orang itu tidak melihat sesuatu. Mereka tidak melihat harimau. Yang mereka temukan adalah Laksana yang telah mulai sadar kembali. "Anak itu pingsan" desis Kiai Gumrah. Sambil berjongkok disisi Laksana Kiai Gumrah bertanya "Dimana Manggada?" Laksana termangu-mangu sejenak. Ia mencoba mengingat apa yang telah terjadi. "Aku masih melihat ia bertahan" desis Laksana. Tibatiba saja mereka mendengar seorang diantara kawan Kiai Gumrah itu berkata "Ia ada disini." Merekapun dengan tergesa-gesa telah berlari kearah suara itu, menyusup dinding yang terkoyak dan sebenarnyalah mereka menemukan Manggada yang juga sudah mulai sadar. Laksana yang baru sadar itupun telah ikut pula berlari. Ia menarik nafas panjang ketika ia melihat Manggadapun telah duduk pula. Tetapi mereka terkejut pula ketika mereka melihat tubuh seseorang terbaring tidak jauh dari Manggada. "Itulah orang yang disebut Niskara" desis Kiai Gumrah. "Ya" jawab seorang kawannya yang sedang mengamati tubuh yang terbaring diam dengan luka yang sangat parah itu. Ketika orang-orang itu menyaksikan luka-luka ditubuh Niskara itu, maka mereka sepakat bahwa luka-luka itu adalah bekas kuku-kuku dan taring harimau. "Jika hanya seekor harimau, mungkin Niskara akan dapat mengatasinya. Tetapi dua ekor harimau yang besar dan kuat dimalam yang gelap. Bahkan mungkin tiba-tiba." berkata Kiai Gumrah sambil memandang berkeliling. "Harimau-harimau itu ada didekat tempat ini. Dari halaman depan kita melihat cahaya matanya yang kehijauhijauan." berkata salah seorang tamu Kiai Gumrah itu. "Ya" juragan gula itu "tetapi aku tidak melihatnya sekarang. Mungkin harimau-harimau itu bersembunyi. Dengan tiba-tiba mereka akan meloncat menerkam kita." "Apakah kita juga akan menjadi ketakutan?" bertanya Kiai Gumrah. Juragan gula itu tertawa. Katanya "Harimau itulah yang menjadi ketakutan." "Ya. Apalagi setelah mendengar suaramu. Jauh lebih garang dari aum seekor harimau" berkata salah seorang yang lain. Orang-orang tua itu sempat tertawa. Namun kemudian Kiai Gumrah teringat kepada Manggada dan Laksana yang baru saja sadar dari pingsan. Sambil mendekati kedua orang anak yang termangu-mangu itu, Kiai Gumrahpun bertanya "Apakah kau melihat seekor atau dua ekor harimau didalam atau diluar rumah ini?" "Tidak kek" jawab Manggada "yang aku ingat adalah, aku terlempar keluar. Sesudah itu semuanya gelap.” "Manggada" desis juragan gula itu "kau lihat, seorang diantara mereka yang datang kerumah ini adalah yang terbunuh itu. Menilik lukanya, tentu bukan luka karena senjata. Luka itu adalah bekas kuku dan taring harimau yang garang. Sementara itu seorang yang lain telah melihat dua ekor harimau dirumah ini. Sehingga dengan demikian mereka tidak sempat mengambil pusaka-pusaka itu meskipun kalian berdua sudah pingsan." Manggada termangu-mangu sejenak. Sementara Kiai Gumrahpun bertanya kepada Laksana "Apakah kau juga tidak melihat?" "Tidak kek" jawab Laksana "akupun menjadi pingsan. Kami berdua tidak mampu menahan orang yang datang untuk mengambil pusaka itu. Tetapi agaknya orang itu gagal karena orang itu justru terbunuh." "Baiklah. Kita dihadapkan pada satu teka-teki. Tetapi Kiai Windu Kusuma yang agaknya bersumber pada ilmu hitam itu justru mengira bahwa harimau itu adalah harimau jadi-jadian." Para Tamu Kiai Gumrahpun mengangguk-angguk. Tetapi mereka masih saja berusaha untuk mengamati keadaan. Seorang diantara mereka telah melihat beberapa batang pohon perdu yang rusak. Iapun melihat jejak kaki. Kaki harimau. "Memang ada dua ekor harimau" desis orang itu. "Baiklah" berkata Kiai Gumrah "tetapi bagaimana dengan tubuh Niskara ini." "Bukan kita yang membunuhnya" berkata juragan gula itu. "Kita kuburkan saja di sudut kebun belakang. Jika ada orang yang melihat, maka akan menjadi persoalan yang berkepanjangan. Apalagi ceritera tentang harimau itu tentu akan segera menjalar keseluruh padukuhan dan bahkan seluruh Kademangan." berkata seorang yang lain. Kiai Gumrahpun sependapat. Karena itu, maka mereka telah menggali lubang kubur buat Niskara disudut halaman belakang rumah itu. Malam yang tersisa itupun telah diliputi suasana yang lain. Keempat orang tua itu tidak berkelakar lagi seperti sebelum mereka bertempur. Meskipun sekali-sekali masih terdengar mereka tertawa, tetapi tidak meledak-ledak lagi. Manggada dan Laksanapun tidak lagi berada di dapur. Mereka juga berada diruang dalam bersama dengan orangorang tua itu. Untuk sementara dinding yang koyak itu ditautkan dan diikat saja dengan tali ijuk yang sering dipergunakan oleh Kiai Gumrah mengikat keranjangkeranjang gula. Juragan gula itupun ternyata menaruh perhatian yang besar kepada Manggada dan Laksana. Karena itu, maka iapun kemudian berkata "Ngger, kau telah melihat sendiri apa yang terjadi disini. Bahkan ikut pula bermain dua ekor harimau yang tidak diketahui asal-usulnya. Di padukuhan ini sebelumnya kami tidak pernah menemukan seekor harimaupun. Bahkan kucing hutanpun tidak, meskipun disebelah bulak panjang itu terdapat padang perdu yang langsung berhubungan dengan hutan yang meskipun tidak terlalu besar, tetapi terhitung hutan yang buas. Dan kini, tiba-tiba saja di rumah ini dua ekor harimau. Karena itu, ngger. Sebaiknya kalian berdua mempertimbangkan kemungkinan untuk meninggalkan tempat ini. Bukankah kalian datang kerumah ini sekedar untuk bermalam? Seandainya malam itu angger berada dibanjar, bukankah angger tidak akan tetap berada dibanjar sampai sekarang ini?" Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Namun dengan nada rendah Manggada berkata "Kami mohon maaf bahwa kami masih tetap tinggal. Sebenarnyalah bahwa kami merasa semakin terikat dengan rumah ini. Kami sudah terlanjur terlibat. Setidak-tidaknya menurut pendapat kami sendiri." "Ngger" berkata Kiai Gumrah "seharusnya kau tidak lagi bertahan dirumah ini. Kau tentu melihat, betapa aku selama ini berusaha membohongimu. Aku tidak bersikap terbuka terhadap kalian berdua meskipun kalian dengan ikhlas berusaha membantu kami. Dengan demikian, sepantasnya kalian menjadi curiga kepadaku sehingga kalian tidak lagi percaya kepadaku." "Kiai" berkata Manggada kemudian "aku tahu bahwa tidak semua hal dapat Kiai katakan kepada orang lain, termasuk kepada kami berdua. Tetapi bagaimanapun juga, kami merasa wajib untuk membantu Kiai. Meskipun pengertian membantu itu sesungguhnya tidak lebih dari beban bagi Kiai dan yang lain." Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Apaboleh buat. Tetapi kau sudah melihat bahaya yang mengancam rumah ini. Meskipun demikian aku ingin menjelaskan, bahwa dua ekor harimau itu tidak termasuk permainan kami. Kami benar-benar tidak tahu, bahwa kedua ekor harimau itu ada dan bahkan seakan-akan telah membantu melindungi pusaka-pusaka itu atau bahkan pusaka-pusaka itu dapat menjelma menjadi harimau." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Mereka sama sekali tidak melihat harimau itu karena mereka menjadi pingsan. Tetapi mereka melihat jejak harimau itu. Dan harimau itu tidak hilang didalam bilik penyimpanan pusaka. Tetapi jejaknya menuju ke sudut halaman dan kemudian jejak itu seakan-akan telah hilang. Tetapi orangorang tua itu menduga bahwa harimau itu telah meloncat memanjat pepohonan dan kemudian keluar dari halaman. Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Manggada berkata "Kiai. Mungkin aku dapat berceritera tentang dua ekor harimau yang pernah aku lihat." "Dimana kau lihat dua ekor harimau yang besar dan garang itu?" bertanya Kiai Gumrah. Keterangan Manggada itu sangat menarik perhatiannya. Ketika kami berada dibalik hutan dilingkungan kuasa Panembahan Lebdadadi, maka Ki Pandi yang bongkok itu juga mempunyai dua ekor harimau yang jinak. Jinak bagi Ki Pandi, tetapi ia tetap garang bagi orang lain, terutama sesuai dengan petunjuk Ki Pandi. Kecuali kegarangan harimau sebagaimana kebanyakan harimau liar, maka kedua ekor harimau itu telah mendapat latihan-latihan khusus dari Ki Pandi." berkata Manggada kemudian. "Ki Pandi orang bongkok itu" tiba-tiba saja juragan gula itu bertanya. "Ya" desis Manggada ragu-ragu. Ia tidak tahu, bagaimana tanggapan Kiai Gumrah dan kawan-kawannya itu terhadap orang yang bernama Ki Pandi itu. Jika mereka justru bermusuhan, maka tanggapan mereka tentu akan menjadi aneh, karena harimau-harimau itu justru telah menyelamatkan pusaka-pusaka itu. Tetapi seorang tamu Kiai Gumrah yang lainpun kemudian tertawa sambil berkata "Orang bongkok yang selalu murung itu? He, darimana ia tahu bahwa ada persoalan yang timbul disini. Seandainya kedua ekor harimau itu memang milik orang bongkok itu." "Ki Pandi, dan tentu kedua ekor harimau itu mengenal burung-burung elang yang berkuku baja itu. Ki Pandi pernah bertempur dengan Panembahan Lebdadadi." Orang-orang tua itu mengangguk-angguk. Juragan gula itulah yang kemudian berkata "Memang masuk akal. Tetapi kita masih harus melihat, apakah benar Ki Pandi telah ikut campur dalam persoalan ini." "Dan bahkan mungkin juga Ki Ajar Pangukan" desis Laksana. "Siapakah Ki Ajar Pangukan itu?"bertanya salah seorang kawan Kiai Gumrah. Laksana termangu-mangu sejenak. Ia tidak mengerti bagaimana menjelaskan orang yang bernama Ki Ajar Pangukan itu. Agaknya Kiai Gumrah mengerti kesulitan Laksana. Katanya "Kau tentu tidak akan dapat memberikan keterangan lebih banyak ngger, karena bagaimanapun juga kami akan sulit membayangkannya seandainya kami memang belum mengenalnya. Tetapi bagiku orang itu tidak terlalu asing." "He, jangan sombong Kiai Gumrah. Kau kira kau dapat mengenali orang seisi bumi ini?" "Jangan marah" berkata Kiai Gumrah "tetapi pengetahuan memang lebih luas dari kau. Aku sudah pernah menjadi penjaja gula keliling dari pasar ke pasar sehingga aku melihat dunia yang penuh dengan gejolak ini." "Tetapi ternyata pengenalanmu atas dunia ini masih belum seluas anak-anak itu. He, kau tahu darimana datangnya harimau-harimau itu?" sahut kawannya. Kiai Gumrah justru tertawa. Katanya "Jangan merajuk begitu kek. Kita sama-sama penyadap legen kelapa." Yang lainpun tertawa pula, sementara orang itu berkata "Kalau begitu aku pulang saja." Kawan-kawannya tertawa semakin keras. Kiai Gumrah justru berkata "He, aku masih mempunyai hidangan buat kalian. Marilah. Kita teruskan permainan kita." "Tetapi mangkuk-mangkuk itu sudah pecah. Isinya sudah berserakan. Apa yang harus kami makan dan kami minum jika kami masih harus meneruskan permainan itu?” "Kau kira aku sudah tidak mempunyai makanan lagi? Didalam kuali didapur masih terdapat ketela dan sukun yang direbus dengan legen. Kalau kalian tidak percaya, bertanyalah kepada kedua orang cucuku itu." Ketiga orang tamu Kiai Gumrah itu saling berpandangan sejenak. Namun kemudian juragan gula itu berkata "Baiklah. Kami akan meneruskan permainan sampai menjelang fajar. Besok aku harus pergi ke pasar pagi-pagi. Aku sudah membuat perjanjian jual beli gula dipasar dengan pedagang dari Kademangan sebelah." Manggada dan Laksanapun kemudian membantu mengumpulkan dan membersihkan mangkuk-mangkuk yang pecah serta makanan yang tumpah. Baru kemudian mereka menghidangkan makanan yang masih tersisa dua kuali. Tetapi orang-orang tua itu nampaknya sudah merasa letih. Mereka tidak lagi banyak tertawa, meskipun sekalisekali masih terdengar mereka berkelakar. Menjelang fajar, permainan itu memang sudah selesai. Ketiga orang tamu Kiai Gumrahpun telah minta diri. Ternyata mereka tidak menghitung lembaran-lembaran daun ketela pohon yang mereka pergunakan dalam permainan dadu itu. Orang-orang tua itu tidak benar-benar bertaruh dengan gula kelapa sebagaimana yang mereka katakan. Sehingga dengan demikian maka Manggada dan Laksanapun semakin yakin bahwa orang-orang itu telah dengan sengaja membantu Kiai Gumrah melindungi pusaka-pusaka yang dititipkan dirumah itu. Meskipun ceritera tentang pusaka yang dititipkan itupun masih harus diuji kebenarannya. Agaknya Kiai Gumrah memang tidak mengatakan yang sebenarnya kepada Manggada dan Laksana. Tetapi Manggada dan Laksana merasakan bahwa orang tua itu sama sekali tidak bermaksud buruk. Ketika para tamu Kiai Gumrah itu sudah bangkit berdiri dan minta diri, juragan gula itu masih sempat berkata kepada kedua orang anak muda itu "Kalian telah melihat apa yang terjadi disini. Mungkin ada hal-hal yang membuat kalian heran dan bahkan kecewa. Kau mungkin merasakan bahwa tidak semua yang pernah kau dengar tentang Kiai Gumrah, tentang kami, pedagang-pedagang gula ini serta tentang pusaka-pusaka itu, benar adanya. Karena itu, maka apakah tidak sebaiknya kalian meninggalkan tempat ini. Berulang kali kami menyatakan hal itu, karena sebenarnyalah kami merasa ikut bertanggung jawab atas keselamatan kalian. Justru karena kalian sebenarnya tidak terlibat dalam persoalan yang terjadi disini." Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Meskipun ragu-ragu, namun Mariggada masih berusaha menjelaskan sikapnya. Katanya "Kiai. Kami masih ingin memohon, bahwa kami diperkenankan tinggal disini untuk beberapa lama. Persoalan yang terjadi disini semakin lama menjadi semakin menarik. Ketika kami melihat burungburuhg elang berkuku baja itu, kami merasa seolah-olah kami memang telah terlibat. Apalagi dengan jejak kedua ekor harimau itu. Seakan-akan kami telah mengenalinya. Seandainya harimau itu harimau liar, maka mungkin tubuh kami juga sudah dikoyak-koyaknya disaat kami pingsan. Tetapi ternyata kami masih utuh, sehingga seakan-akan kami yakin bahwa kedua ekor harimau itu telah mengenal kami dengan baik. Atau setidak-tidaknya dikendalikan oleh orang yang telah mengenal kami." Keempat orang tua itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian seorang diantara mereka berkata "Kami dapat mengerti perasaanmu ngger. Tetapi kaupun harus ingat, bahwa yang sedang kami hadapi adalah bukan orangorang kebanyakan. Merekapun orang-orang berilmu tinggi. Kiai Windu Kusuma menurut penilaianku, adalah orang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Namun ia tidak sempat mempergunakannya karena kehadiran dua ekor harimau yang baginya menyimpan rahasia yang sulit ditebak. Sementara itu Kiai Windu Kusuma juga memperhitungkan kemampuan kami berempat. Tetapi apa yang dilihat dan diamatinya malam ini tentu akan menjadi bahan bagi langkah-langkahnya selanjutnya. Jika ia menyebut-nyebut nama seorang Panembahan, maka Panembahan itu tentu seorang yang jarang ada duanya." "Kami mengerti Kiai. Tetapi sulit bagi kami untuk meninggalkan tempat ini sebelum persoalannya menjadi tuntas." desis Manggada. Orang-orang tua itu memang tidak dapat memaksa Manggada dan Laksana untuk meninggalkan tempat itu. Karena itu, maka akhirnya Kiai Gumrahpun berkata "Jika demikian, apaboleh buat. Tetapi sebagaimana kalian ketahui, bahwa ada kemungkinan buruk dapat terjadi atas kami dan tentu saja juga atas kalian sebagaimana baru saja terjadi. Meskipun kemudian ternyata bahwa Yang Maha Agung masih melindungi kalian berdua dan kami semuanya. Karena kalian berdua juga sudah cukup mempunyai penilaian atas persoalan yang kalian hadapi,, serta menyadari bahaya yang mungkin mengancam kalian, maka sebaiknya kalian pertimbangkan keputusan kalian sebaik-baiknya." "Rasa-rasanya kami sudah mengambil keputusan Kiai." jawab Manggada. Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Tetapi hatinya telah tergetar mendengar tekad anak-anak muda itu. Katanya "Baiklah ngger. Tekadmu tidak tergoyahkan lagi. Aku berterima kasih kepadamu. Apapun yang dapat kalian lakukan, tetapi niatmu harus aku hargai. Karena itu, jika tekadmu sudah bulat serta menyadari kemungkinankemungkinan yang dapat terjadi, maka aku tidak berkeberatan kalian tinggal dirumahku untuk sementara." Manggada dan Laksana itupun mengangguk hormat. Hampir berbareng kedua orang anak muda itu berkata "Terima kasih. Kiai." "Nah, sekarang kalian telah menjadi bagian dari persoalan yang sedang aku hadapi. Jika semula kalian yang berusaha mendorongku keluar dari pergumulan yang sengit karena pusaka-pusaka yang dititipkan kepadaku itu, maka kemudian akulah yang berusaha memaksamu keluar. Tetapi kita bersama-sama tidak berhasil. Karena itu, maka biarlah kita bersama-sama terlibat didalamnya." berkata Kiai Gumrah kemudian. Tetapi juragan gula itu berkata "Aku tidak tahu yang kau maksud." Kiai Gumrah tersenyum. Katanya "Kedua anak muda ini pernah menganjurkan agar aku berusaha untuk menghindar dari keadaan yang rumit ini atau menitipkan pusaka-pusaka itu kepada prajurit Pajang atau tindakan pengamanan yang lain. Tetapi justru karena aku berkeberatan, maka nampaknya mereka justru terikat dirumah ini untuk melihat akhir dari persoalan yang kita hadapi." Juragan gula itupun tertawa. Katanya"Jika demikian, maka kita memang sudah sama-sama bertekad untuk menghadapi persoalan ini. Langsung atau tidak langsung kita memang akan berhadapan dengan Panembahan itu." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Mereka menyadari sepenuhnya, bahwa orang-orang tua yang menginginkannya meninggalkan tempat, itu sama sekali bukan didorong oleh keinginan mereka merahasiakan persoalan yang mereka hadapi, tetapi justru karena mereka mencemaskan nasib mereka. Karena itu, maka kedua anak muda itu merasa bahwa mereka harus mempertanggung jawabkan sendiri keputusan yang telah mereka ambil. Mereka tidak akan dapat menyalahkan atau menuntut pertanggung-jawaban siapapun jika terjadi sesuatu atas diri mereka. Demikianlah, maka sejenak kemudian para tamu Kiai Gumrah itupun telah minta diri, sementara cahaya dilangitpun menjadi semakin terang. Fajarpun tersirat dibibir awan dilangit. Kicau burung telah membangunkan seisi padukuhan. Tetapi banjar disebelah rumah Kiai Gumrah itu masih tetap sepi. Bahkan ternyata semalaman Kiai Gumrah telah lupa menyalakan lampu di banjar karena perhatiannya sepenuhnya tertuju kepada ancaman yang ternyata benarbenar datang kerumahnya itu. Kiai Gumrah dan kedua orang anak muda itupun kemudian telah masuk kembali keruang dalam. Mereka masih harus membenahi ruang dalam rumah Kiai Gumrah yang sempit itu. Mereka harus membuang mangkukmangkuk yang telah pecah serta makanan yang telah tumpah, yang semalam sudah mereka kumpulkan disudut ruangan. Kepada kedua orang anak muda itu Kiai Gumrahpun berkata "Kita mempunyai pekerjaan hari ini. Kita harus memperbaiki dinding yang roboh itu. Kita akan menebang beberapa batang bambu dibelakang." Kedua anak muda itu mengangguk-angguk. Namun mereka setiap kali menjadi berdebar-debar jika mereka teringat bahwa disudut halaman belakang telah dikuburkan sesosok tubuh. Niskara. Meskipun kematian Niskara itu tidak disebabkan oleh orang yang ada dirumah itu semalam, tetapi justru masih merupakan teka-teki yang baru dapat diduga-duga jawabannya. Namun dalam pada itu, selagi seisi rumah itu sibuk membersihkan ruang dalam, tiga orang anak muda telah mendatangi rumah Kiai Gumrah. Didepan rumah mereka telah memanggil-manggil dengan lantangnya. "Kiai, Kiai Gumrah." Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Namun ketika mereka akan melangkah keluar, Kiai Gumrah itu berkata "Tentu anak-anak muda padukuhan ini." Manggada dan Laksana menarik nafas dalam-dalam. Jika mereka anak-anak muda padukuhan itu, maksud kedatangan mereka tentu tidak ada hubungannya dengan peristiwa yang terjadi semalam. Sebenarnyalah ketika Kiai Gumrah muncul dari pintu rumahnya, maka yang ditanyakan oleh anak-anak muda itu adalah tentang lampu yang semalam tidak menyala di banjar. "Semalam kami tidak melihat lampu menyala dibanjar. Sebenarnya ketika kami lewat didepan banjar itu, kami ingin singgah barang sebentar. Tetapi banjar itu gelap." berkata salah seorang dari anak-anak muda itu. "Maaf ngger" jawab Kiai Gumrah "aku benar-benar lupa. Apalagi aku memang agak kurang sehat semalaman." "Sudah beberapa kali Kiai lupa menyalakan lampu di banjar. Meskipun sudah ada banjar yang baru, tetapi banjar inipun masih tetap kita pergunakan. Karena itu, seharusnya Kiai tidak boleh lupa." "Lain kali tidak akan terulang lagi ngger." jawab Kiai Gumrah yang terbungkuk-bungkuk dihadapan anak-anak muda itu. Manggada dan Laksana menarik nafas dalam-dalam. Mereka mengerti bahwa dihadapan anak-anak itu Kiai Gumrah tidak lebih dari seorang pembuat dan penjual gula kelapa. Namun ketika anak-anak muda itu melihat Manggada dan Laksana yang berdiri dibelakang Kiai Gumrah, maka salah seorang diantara mereka bertanya "Siapakah mereka Kiai?" Kiai Gumrah berpaling. Sambil mengerutkan dahinya ia kemudian menjawab "Mereka adalah cucu-cucuku, ngger.” "Apakah mereka akan tinggal bersama Kiai disini?" bertanya anak muda itu. "Untuk sementara ngger" jawab Kiai Gumrah. "Nah, jika demikian, biarlah ia bergaul dengan kami. Biarlah mereka ikut dengan kegiatan-kegiatan kami. Gugur gunung memperbaiki bendungan yang setiap kali kami lakukan. Meratakan jalan-jalan padukuhan dan terutama meronda dimalam hari." "Baik ngger. Aku akan mendorongnya untuk melakukannya. Tetapi mereka adalah pemalu yang memang jarang bergaul dengan orang lain selain keluarganya sendiri" jawab Kiai Gumrah. "Mereka tidak boleh berbuat begitu" berkata anak muda yang lain" jika mereka tidak bergaul dengan kami, maka anak-anak muda di padukuhan ini tidak mengenalnya. Hal itu akan dapat menumbuhkan salah paham yang merugikan bagi kedua cucu Kiai itu." "Ya, ya ngger" jawab Kiai Gumrah yang kemudian berpaling kepada Manggada dan Laksana "bukankah kalian dengar sendiri. Sebaiknya kalian juga bergabung dengan mereka." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Dengan nada rendah Manggada berkata "Tetapi kami belum mengenal seorangpun diantara mereka kek." "Sekarang kau dapat memperkenalkan diri. Nah, jabat tangan mereka, lalu malam nanti datanglah ke banjar." Manggada dan Laksana termangu-mangu. Tetapi merekapun melangkah keluar dan menjabat tangan ketiga orang anak muda itu. "Datanglah ke banjar nanti malam. Aku akan berada di banjar lama itu. Meskipun malam nanti bukan giliranku meronda, tetapi aku akan datang. Kalian dapat berkenalan dengan anak-anak muda di padukuhan ini meskipun kau hanya akan tinggal disini untuk sementara." "Baiklah" jawab Manggada "nanti malam biarlah kami berdua datang ke banjar." "Bukankah kalian dapat membantu Kiai Gumrah untuk menyalakan lampu di banjar? Kiai Gumrah sudah semakin tua. Ia masih harus memanjat pohon kelapa pagi dan sore." berkata anak muda yang lain. "Kami akan melakukannya" jawab Manggada. Sementara itu Kiai Gumrah menyela "Sejak mereka berada disini, mereka sama sekali belum pernah keluar halaman. Kedatangan angger bertiga agaknya dapat memancing mereka keluar dari halaman rumah ini. Setidak-tidaknya membantu aku membersihkan dan menyalakan lampu di banjar lama itu." "Ya." sahut salah seorang dari mereka "lambat laun kalian akan mengenal seisi padukuhan ini. Dengan demikian kalian tidak akan canggung lagi berada disini." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Demikianlah, maka ketiga orang anak muda itupun telah minta diri. Tetapi seorang diantara mereka masih berpesan "Nah, jangan lupa menyalakan lampu di banjar lama. Dan biarlah kedua cucu Kiai itu membantu Kiai dan bergabung bersama kami." "Ya, ya ngger" jawab Kiai Gumrah. Sepeninggal anakanak muda itu, Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Aku benar-benar lupa menyalakan lampu semalam. Untung anak-anak muda itu tidak datang kemari. Jika mereka datang kemari, sementara dirumah ini masih ada Kiai Windu Kusuma, maka persoalannya akan menjadi berkepanjangan. Seisi padukuhan akan tergerak untuk mempersoalkannya." “Jika mereka lewat didepan banjar, apakah mereka tidak mendengar keributan yang terjadi dihalaman rumah ini Kiai?" bertanya Laksana. “Halaman-halaman rumah di padukuhan ini pada umumnya luas ngger. Apalagi halaman banjar itu, sehingga apa yang terjadi dihalaman rumahku yang dibatasi dinding batu meskipun tidak terlalu tinggi itu, agaknya memang tidak diketahui orang, kecuali jika ada sekelompok peronda yang menengok halaman ini dari pintu regol halaman." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk, sementara Kiai Gumrah itu berkata "Nah, anak-anak muda itu sudah minta agar kau bergabung dengan mereka. Karena itu, sebaiknya kalian memang sering datang ke banjar. Kalian dapat menyalakan lampu dan membantu membersihkan banjar itu pagi dan sore." "Baik Kiai" jawab Laksana dan Manggada hampir berbareng. "Selanjutnya jika kalian memang sudah berniat tinggal disini meskipun untuk sementara, kalian tidak perlu menyebutku Kiai lagi. Panggil saja aku dengan kakek, agar pada saat tertentu, kalian tidak keliru menyebutnya." Kedua orang anak muda itu mengangguk mengiakan. Mereka memang lebih senang memanggilnya dengan sebutan yang sama agar mereka tidak perlu mengingat-ingat kapan dan dimana mereka harus memanggil kakek dan kapan mereka harus menyebutnya Kiai. "Terima kasih. Kiai" berkata Manggada "bagi kami tentu akan lebih baik, kek." "Nah. begitulah. Mulai nanti malam, maka lampu dibanjar adalah tugas kalian. Bukan hanya lampu, tetapi kalian juga harus menjaga kebersihan banjar itu. Seperti yang dikatakan oleh anak-anak muda itu, maka banjar yang lama itu masih tetap dipergunakan meskipun sudah ada yang baru." "Baik, kek. Banjar lama itu akan menjadi beban tugas kami." jawab Manggada. "Nah, sekarang, kita selesaikan pekerjaan kita. Aku terlambat mengambil bumbung itu. Tetapi belum terlalu lambat." berkata Kiai Gumrah. "Jika kakek tidak berkeberatan, kami juga ingin belajar menyadap legen manggar, kek." berkata Laksana ketika Kiai Gumrah mengambil bumbung dan siap pergi ke kebun untuk mengambil bumbung yang tergantung pada manggar kelapa dan menggantinya dengan yang baru. Kiai Gumrah tertawa. Katanya "Pada saatnya kalian akan belajar menyadap legen." Manggada dan Laksana tidak berbicara lagi. Sementara itu Kiai Gumrahpun telah pergi ke kebun. Meskipun semalam suntuk orang tua itu tidak tidur, tetapi badannya sama sekali tidak nampak menjadi lesu, sementara Manggada dan Laksana yang muda itu merasa mulai diganggu oleh kantuk. Selagi seisi rumah itu menjadi sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, maka Ki Windu Kusumapun sibuk berbincang dengan orang-orangnya. Putut Sempada yang juga ada diantara mereka hanya dapat mengumpat-umpat. Ia telah kehilangan seorang kawannya yang dianggapnya cukup baik. Niskara yang telah dikoyak-koyak oleh harimau. "Ternyata orang tua itu telah memelihara harimau jadijadian" geram Putut Sempada. "Belum tentu" jawab Kiai Windu Kusuma "mungkin dua ekor harimau kelaparan yang tersesat sampai ke halaman rumah orang tua itu.” "Memang mungkin. Tetapi kemungkinan itu mempunyai kesempatan yang sama dengan kemungkinan yang aku katakan, bahwa orang itu memelihara harimau jadi-jadian. Atau malahan pusaka-pusaka itulah yang telah menjelma menjadi harimau." berkala Putut Sempada. "Dugaanku belum sampai kesana. Tetapi seandainya demikian, maka pantaslah jika Panembahan menghendaki pusaka-pusaka itu secepatnya." jawab Kiai Windu Kusuma. "Tetapi bukankah alasan Panembahan bukan karena pusaka-pusaka itu dapat menjelma menjadi harimau yang garang?" sahut Putut Sempada.. "Ya. Memang bukan. Tetapi apakah kau yakin bahwa apa yang dikatakan oleh Panembahan itu adalah yang sebenarnya?" bertanya Kiai Windu Kusuma. Putut Sempada menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berkata "Memang mungkin. Tetapi kita tidak dapat mencurigai Panembahan seperti itu." "Aku sama sekali tidak mencurigai Panembahan. Tetapi apakah artinya jantung segar yang harus disiapkan jika pusaka-pusaka itu dapat kita kuasai?" bertanya Kiai Windu Kusuma. "Panembahan mengetahui, bahwa pusaka yang disimpan oleh Kiai Gumrah itu, salah satu diantaranya adalah Kiai Simarengu. Selain itu masih ada songsong yang diberi nama Simariwut. Nah, apakah tidak mungkin bahwa nama yang memang mempunyai arti harimau itu ada hubungannya dengan harimau jadi-jadian yang ada dirumah Kiai Gumrah?" "Ternyata aku menjadi ragu-ragu. Antara percaya dan tidak. Aku masih mencoba untuk menolak anggapan bahwa ada hubungan antara pusaka-pusaka itu dengan harimau yang ada dirumah itu. Tetapi setiap kali aku teringat tentang pusaka-pusaka itu, nama yang diberikan kepada pusaka-pusaka itu, dan perintah Panembahan untuk menyediakan jantung manusia segar yang harus dikorbankan sebagai makanan pusaka yang bernama Simarengu itu." Putut Sempada menarik nafas panjang. Katanya "Kita sama-sama ragu. Tetapi baiklah kita kesampingkan keraguraguan itu." Kiai Windu Kusuma mengangguk-angguk. Katanya "Ya. Apapun alasan Panembahan, kita harus mendapatkan pusaka-pusaka itu. Kemudian jantung manusia yang segar dan korban bagi pusaka yang disebut Kiai Simarengu." "Semuanya itu harus secepatnya kita lakukan" berkata Putut Sempada "karena menurut Panembahan, jika pada purnama bulan dengan korban itu belum diberikan bagi Kiai Simarengu, maka tuahnya akan hilang sama sekali." Kiai Windu Kusuma menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Ya. Kita memang harus secepatnya menguasai Kiai Simarengu. Sebelum purnama bulan depan ujung tombak itu harus sudah ditanam didada seseorang. Sudah tentu bukan setiap orang yang berjantung segar yang dapat dikorbankan." “Itu adalah persoalan Panembahan sendiri. Panembahanlah yang akan menentukan, orang yang bagaimana yang pantas untuk menjadi korbannya itu. Serta upacara apa saja yang harus diselenggarakan. Tugas kita adalah menyediakan pusaka-pusaka itu." “Tetapi darimana Panembahan tahu tentang pusakapusaka itu. Darimana pula ia mengetahui bahwa jika sampai purnama bulan depan pusaka-pusaka itu belum dimandikan dan disediakan korban jantung manusia yang segar tuahnya akan hilang untuk selama-lamanya." pertanyaan itu meluncur dari bibir Kiai Windu Kusuma tanpa disadarinya. Namun Putut Sempada menyahut "Tidak seorangpun tahu. Tidak pula ada yang tahu bahwa tiba-tiba saja Panembahan dengan mata hatinya sendiri, bahwa dirumah itu tersimpan pusaka-pusaka yang dicarinya untuk waktu yang lama." Kiai Windu Kusuma mengangguk-angguk. Memang banyak hal yang tidak mereka ketahui tentang Panembahan. Tentang ketajaman penglihatan batinnya serta kepekaan panggaritanya. Karena itu, betapa tingginya ilmu Kiai Windu Kusuma, namun ia tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh orang yang disebutnya Panembahan. Dalam pada itu, ternyata semua pembicaraan itu terdengar oleh Kundala. Seorang yang hatinya sedang diombang-ambingkan oleh kebingungannya. Kundala seakan-akan sedang berdiri diambang pintu. Terdapat dua tarikan yang sangat kuat menghisapnya keluar dan kedalam. Seakan-akan ia melihat cahaya putih, didalam dan cahaya yang hitam diluar tanpa mengetahui sumbernya. "Gila" geram Kundala "kenapa aku mendengar pembicaraan mereka? Jika aku tidak mendengarnya, aku tidak akan merasa berdosa jika aku tidak mengatakannya kepada Kiai Gumrah." Namun kemudian sambil menghentakkan tangannya ia berkata "Persetan dengan Kiai Gumrah. Aku adalah pengikut setia Kiai Windu Kusuma. Aku sudah memperingatkan Kiai Gumrah untuk membunuhku agar aku tidak dapat datang justru membunuhnya." Kundala hanya dapat menggeletakkan giginya, menghentakkan kaki dan tangannya. Namun ia tidak dapat melepaskan diri dari tarikan yang seakan-akan sama kuatnya. Ia merasa berkewajiban untuk tetap setia kepada Kiai Windu Kusuma. Tetapi ia merasa bahwa hidupnya yang tersisa itu sudah bukan miliknya. Tetapi milik Kiai Gumrah, sehingga apa yang diketahuinya rasa-rasanya harus diketahui pula oleh Kiai Gumrah. "Gila. Agaknya aku sudah gila" desis Kundala sambil memukuli kepalanya sendiri. Namun Kundala telah berusaha sekuat-kuatnya untuk tidak menunjukkan perubahan sikap dihadapan Kiai Windu Kusuma. Jika gejolak perasaannya itu diketahui oleh Kiai Windu Kusuma, maka ia tidak akan dapat berharap hidup lebih lama lagi. "Kecuali jika aku melarikan diri dan mengungsikan hidupku pada Kiai Gumrah." berkata Kundala didalam hatinya. Tetapi ia tidak akan dapat melakukannya. Jika ia berbuat demikian, maka ia telah menjadi seorang pengkhianat. Namun sebuah pertanyaan tiba-tiba saja seperti petir yang meledak ditelinganya telah mengejutkannya "Apakah aku memang belum berkhianat?" Kundala tidak dapat berbuat ingkar kepada dirinya sendiri. Bahwa ia telah memberitahukan akan kedatangan orang-orang berilmu tinggi untuk mengambil pusaka-pusaka itu ketika ia menjemput Putut Sempada di pasar, bukankah itu sudah berarti suatu pengkhianatan. Karena itulah, maka Kundala itupun telah tenggelam dalam goncangan perasaan. Ia tidak segera dapat menemukan pijakan sikap yang mapan. Yang kemudian dilakukannya adalah sekedar menyembunyikan gejolak perasaannya itu terhadap Kiai Windu Kusuma serta kawankawannya, agar ia tidak dihukum mati dihadapan mereka sebagai pengkhianatan. Namun untuk sementara Kundala masih mempuyai waktu berpikir ulang atas sikapnya. Menurut pembicaraan Kiai Windu Kusuma dan Putut Sempada dengan beberapa orang pengikutnya, agaknya mereka tidak akan langsung mengambil tindakan baru. Kegagalan mereka telah membuat mereka semakin berhati-hati. Ternyata Kiai Gumrah mempunyai beberapa orang kawan yang berilmu tinggi dan yang meragukan mereka adalah sepasang harimau yang tiba-tiba saja ada dihalaman rumah Kiai Gumrah. Sementara Kiai Windu Kusuma membuat perhitunganperhitungan baru, maka rumah Kiai Gumrah menjadi semakin ramai. Kawan-kawan Kiai Gumrah yang tiga orang itu, berganti-ganti datang mengunjunginya. Tidak saja di-siang hari. Tetapi kadang-kadang juga di malam hari. Bahkan kadang-kadang mereka bertiga berkumpul bersama-sama sambil bermain dadu dengan hitungan daun ketela pohon atau daun melinjo. Orang-orang tua itu nampaknya selain berjaga-jaga karena adanya pusakapusaka dirumah itu, juga untuk mengisi kekosongan hidup mereka dihari tua. Manggada dan Laksana bahkan sering bertanya diantara mereka "Apakah orang-orang tua itu tidak berkeluarga dirumah mereka? Apakah mereka tidak mempunyai anak atau cucu atau apapun?" Tetapi anak-anak muda itu tidak berani bertanya. Kepada Kiai Gumrahpun mereka juga tidak bertanya tentang keluarganya. Meskipun Kiai Gumrah pernah mengatakan bahwa ia mempunyai anak dan cucu yang tinggal ditempat lain karena anaknya tidak ingin menggantikan tugasnya menjaga banjar lama itu. Dalam pada itu, memenuhi permintaan anak-anak muda yang pernah datang kerumah Kiai Gumrah, maka Manggada dan Laksanapun sudah pula sering berada di banjar lama. Disore hari mereka menyalakan lampu di banjar dan oncor diregol. Di pagi hari keduanya membantu Kiai Gumrah menyapu halaman dan membersihkan ruangan-ruangan banjar lama setelah Kiai Gumrah mengambil dan memasang bumbungnya di manggar batang kelapa. Dengan demikian maka Manggada dan Laksana mulai berkenalan dan bergaul dengan anak-anak muda di padukuhan itu. Mereka berusaha menyesuaikan diri dengan pergaulan anak-anak muda di padukuhan itu. Di malam hari beberapa orang anak muda kadang-kadang dudukduduk di banjar lama itu. Bergurau dan mengisi waktu mereka dengan berbagai macam permainan. Terutama mereka yang bertugas ronda pada malam itu. Disiang hari anak-anak muda kebanyakan bekerja disawah dan ladang mereka. Jika keadaan mendesak, mereka bersama-sama melakukan kerja untuk kepentingan bersama. Memperbaiki bendungan yang harus sering mereka lakukan. Setiap kebocoran betapa kecilnya harus segera diperbaiki. Jika kebocoran itu menjadi semakin besar, maka mereka akan mengalami kesulitan, apalagi dimusim hujan. Banjir dapat datang setiap saat. Selain bendungan, maka parit-paritpun banyak menuntut pemeliharaan. Meskipun Kiai Gumrah tidak mempunyai sawah, selain kebunnya yang banyak ditanami pohon kelapa sebagai gantungan hidupnya, namun Kiai Gumrah sendiri juga sering ikut dalam kerja bersama-sama memperbaiki bendungan, parit dan pemeliharaan jalur-jalur air yang menusuk membelah tanah persawahan. Kehadiran Manggada dan Laksana memang memberikan kesempatan Kiai Gumrah untuk lebih banyak berada dirumahnya, karena kedua orang anak muda itu dapat mewakilinya. Meskipun demikian Kiai Gumrah selalu mengingatkan Manggada dan Laksana agar mereka berhati-hati. "Orang-orang yang berniat jahat itu mengenal kalian sebagai cucu-cucuku" berkata Kiai Gumrah "karena itu, mereka akan dapat berbuat jahat terhadap kalian." "Tetapi setiap kali, kami berada diantara orang banyak, kek" jawab Manggada "aku kira, mereka juga memperhitungkan hal itu.” "Tetapi tentu ada saatnya kalian hanya berdua. Mungkin saat kalian membersihkan banjar atau menyalakan lampu atau pada saat-saat lain. Karena itu dalam keadaan terpaksa, jangan segan-segan membunyikan isyarat." "Baik, kek" jawab Manggada. Demikianlah maka hari dan haripun lewat. Ternyata masih belum ada tanda-tanda bahwa orang-orang yang menginginkan pusaka-pusaka itu kembali. Meskipun demikian, namun kawan-kawan Kiai Gumrah masih saja sering datang kerumah Ki Gumrah. Kadang-kadang sendiri, berdua atau bahkan bertiga bersama-sama. Setelah sekian hari berlalu, teka-teki tentang dua ekor harimau itupun masih tetap belum terpecahkan. Sejak peristiwa itu, maka tidak pernah nampak seekor harimaupun di halaman rumah itu. Atau bahkan di padukuhan itu. Jejaknyapun tidak pernah dilihat orang dipadukuhan. Namun setelah agak lama keadaan menjadi tenang, maka tiba-tiba Manggada dan Laksana telah melihat seekor elang yang terbang melayang-layang diatas rumah Kiai Gumrah. Karena itu, maka iapun segera berlindung dibawah rimbunnya pepohonan. Sementara itu, Kiai Gumrah agaknya juga melihat burung elang itu. Ia memberi tahukan hal itu kepada Manggada dan Laksana dari kebun kelapanya. "Hati-hatilah" berkata Kiai Gumrah "elang itu nampak lagi di langit." "Ya, Kiai" jawab Manggada. Namun Kiai Gumrah sendiri sama sekali tidak berusaha untuk berlindung dari pengamatan burung elang itu. Ia masih saja memanjat sebatang pohon kelapa. Tetapi tidak untuk memasang bumbung legen. Kiai Gumrah memanjat sebatang pohon kelapa yang dibiarkannya berbuah untuk mengambil buahnya. Dalam pada itu, dari balik rimbunnya dedaunan, Manggada dan Laksana berusaha untuk dapat melihat apa yang dilakukan elang itu. Seperti yang pernah dilakukan beberapa saat yang lampau, maka elang itu berputar-putar beberapa kali diatas rumah Kiai Gumrah, menukik dan kembali naik ke ketinggian. Namun beberapa saat kemudian, maka elang itupun telah terbang menjauh, sehingga akhirnya hilang dilangit. Ketika Kiai Gumrah kemudian turun dari pohon kelapa. Manggada dan Laksanapun telah mendekatinya. Kedua anak muda itu ikut memungut beberapa butir kelapa yang dipetik oleh Kiai Gumrah dari batangnya itu. "Elang itu berputar-putar, kek." desis Laksana. "Seperti yang pernah dilakukan beberapa saat lalu" jawab Kiai Gumrah "nampaknya orang-orang itu sudah mulai bersiap-siap untuk bergerak lagi." "Mereka tentu sudah siap pula untuk melawan dua ekor harimau itu, kek" berkata Manggada kemudian. "Mereka mungkin benar-benar menyangka bahwa kedua ekor harimau itu adalah harimau jadi-jadian. Atau barangkali tombak-tombak atau payung itulah yang dikiranya dapat menjelma menjadi harimau atau dari dalamnya keluar sepasang harimau itu." "Apapun yang mereka katakan, tetapi nampaknya harimau itu telah membantu kita. Atau tanpa niat membantu kita, tetapi harimau-harimau itu adalah musuh bebuyutan dari orang-orang yang datang itu sehingga harimau-harimau itu menyerang mereka." sahut Manggada kemudian. " Apapun yang akan terjadi, kita harus meningkatkan kewaspadaan kita. Kita berhadapan dengan orang yang berilmu sangat tinggi meskipun mereka kurang memperhitungkan penalaran kita" berkata Manggada kemudian. "Maksudmu?" bertanya Kiai Gumrah. "Bukankah burung elang itu telah mengisyaratkan kepada kita agar kita bersiap menghadapi segala kemungkinan?" jawab Manggada meskipun agak ragu. "Kau benar ngger. Tetapi mungkin juga justru Panembahan itu ingin menakuti kita atau semacam tantangan bagi kita, karena mereka terlalu yakin akan kelebihan mereka." jawab Kiai Gumrah. Manggada mengangguk-angguk. Sementara Laksana bertanya "Semacam sikap sombong begitu, kek?" "Ya, begitulah. Tetapi kesombongan mereka benar-benar berisi karena mereka memang berilmu tinggi." jawab Kiai Gumrah. Manggada dan Laksana tidak bertanya lagi. Sementara itu Manggada telah mengupas kelapa-kelapa yang baru saja dipetik itu dengan slumbat, semacam linggis yang ujungnya tajam dan pipih. Namun ketika mereka membawa kelapa-kelapa yang sudah terkupas itu kedapur, Manggada masih bertanya lagi "Kek, apakah Kakek tidak berniat untuk membuat hubungan dengan Ki Pandi?" "Si Bongkok itu?" bertanya Kiai Gumrah. "Ya, kek. Kami masih menghubungkan kedua ekor harimau yang datang itu dengan kedua ekor harimau milik Ki Pandi. Mungkin kedua ekor harimau itu masih mengenali kami berdua, sehingga saat kami pingsan, kami tidak dikoyak-koyaknya seperti Niskara itu." Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya "Aku tidak tahu dimana Si Bongkok itu berada. Aku memang mengenalinya, tetapi tidak begitu akrab. Meskipun demikian, jika kami bertemu, maka aku akan menjajagi hatinya, apakah ia merasa bersangkut-paut dalam persoalan ini, atau karena Si Bongkok itu sekedar ingin menyelamatkan kalian berdua dari tangan Niskara meskipun akibatnya juga menyelamatkan pusaka-pusaka itu." Manggada dan Laksana hanya mengangguk-angguk saja. Mereka sadar sepenuhnya bahwa tidak semua dikatakan dengan terbuka oleh Kiai Gumrah. Bagaimanapun juga Kiai Gumrah harus berhati-hati terhadap dua orang anak muda yang belum diketahui dengan pasti asal-usulnya. Demikianlah, maka ketiga orang itupun menjadi sibuk memecah dan mencukil kelapa. Kiai Gumrah hari itu ingin membuat minyak kelapa karena minyaknya sudah habis. Selain untuk memasak. Kiai Gumrah juga mempergunakan minyak kelapa untuk lampu dirumahnya dan di banjar. Karena kesibukannya itu, maka hari itu Kiai Gumrah memang tidak pergi menyerahkan gula kelapa kepada juragan gula yang tinggal tidak terlalu jauh dari rumahnya. "Besok saja akan aku serahkan sekaligus dengan hasil besok pagi" berkata Kiai Gumrah "hari ini aku masih mempunyai uang cukup. He, bukankah beras masih cukup sampai dua hari lagi?" "Masih, kek." jawab Manggada. "Baiklah. Biarlah hari ini aku tidak pergi. Aku akan membuat minyak kelapa." berkata Kiai Gumrah kemudian. Bertiga merekapun kemudian sibuk mengukur kelapa. Memeras santannya dan kemudian memanasi santan itu agar menjadi minyak. Namun dalam pada itu, Manggada dan Laksana sempat berbicara diantara mereka ketika Kiai Gumrah keluar dari dapur beberapa saat. "Kiai Gumrah tidak meninggalkan rumahnya bukan karena membuat minyak. Kami dapat melakukannya" berkata Manggada. "Ya. Tentu elang itu membuatnya berjaga-jaga hari ini dan tentu juga malam nanti" sahut Laksana. "Ia menanggapi isyarat burung elang itu dengan sungguh-sungguh" desis Manggada. Keduanyapun terdiam ketika Kiai Gumrah telah berada di dapur itu lagi. Untuk beberapa saat ketiganya terdiam. Mereka sibuk dengan tugas mereka masing-masing didapur itu. Namun selagi mereka bertiga sibuk, tiba-tiba saja seseorang muncul dari pintu butulan. Sambil tertawa orang itu bertanya "He, Kiai Gumrah. Apa yang kau kerjakan hari ini? Kenapa kau tidak menyerahkan gula? Aku menunggununggu sesiang ini sehingga hari ini aku terpaksa tidak pergi kepasar. Tentu sudah kesiangan. Para pedagang gula telah meninggalkan pasar." "Aku sedang membuat minyak" berkata Kiai Gumrah. "Kenapa begitu tergesa-gesa? Bukankah dapat kau lakukan siang nanti? Seandainya minyakmu sudah habis sama sekali, bukankah baru nanti malam minyak itu kau pergunakan." "Aku akan menggoreng ikan lele. Sebentar lagi aku akan turun kebelumbang" berkata Kiai Gumrah. Juragan gula yang datang itu ternyata malahan berjongkok disamping Kiai Gumrah yang menunggu santannya yang mendidih. Katanya "Pekerjaan yang menjemukan. Kau harus mengaduk santan itu terusmenerus." Kiai Gumrah itu mengangguk. Katanya "Aku sudah terbiasa melakukannya." Lalu tiba-tiba katanya kepada Manggada dan Laksana "Ambil kayu bakar lagi, anakanak” Manggada dan Laksanapun kemudian bangkit dan melangkah keluar dapur untuk mengambil kayu bakar. Namun sambil memungut kayu bakar Manggada berkata "Juragan gula itu juga melihat elang yang berputaran. Mereka tentu sedang merundingkan apa yang akan mereka lakukan, karena agaknya mereka mulai mendapat isyarat, bahwa Kiai Windu Kusuma atau bahkan Panembahan itu sendiri akan mulai bergerak lagi." Laksana mengangguk-angguk. Katanya "Kenapa kita tidak boleh mendengar pembicaraan mereka?" "Tentu ada sebabnya. Mereka tidak ingin membuat kita gelisah, atau mereka memang belum sepenuhnya mempercayai kita." jawab Manggada. Laksana mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak berbicara lagi. Mereka masing-masing membawa seonggok kayu bakar ke dapur untuk memanasi santan yang dibuat minyak itu. Ketika mereka masuk kedapur, maka dilihatnya Kiai Gumrah dan juragan gula itu berbincang dengan sungguhsungguh. Sekilas mereka memandang kedua orang anak muda yang masuk sambil membawa kayu bakar itu. Namun mereka ternyata masih berbincang terus. Meskipun perlahan-lahan Manggada dan Laksana dapat mendengar juga Kiai Gumrah berkata "Baiklah. Biarlah orang itu disini untuk satu dua hari." Keduanya ternyata tidak berbicara lebih panjang lagi. Juragan gula itupun bengkit berdiri sambil berkata kepada Manggada dan Laksana "Ngger. Kami memang tidak akan merahasiakan lagi kegelisahan kami. Kalian lihat burung elang itu terbang berputar-putar lagi. Kalian tentu juga dapat menduga maksudnya." "Ya Kiai" jawab Manggada dan Laksana hampir berbareng. "Nah, karena itu, maka salah seorang dari antara kami bertiga akan tinggal dirumah ini. Kita memang harus berjaga-jaga. Jika kita masih saja sekedar bermain-main, sementara lawan kita mulai bersungguh-sungguh, maka kita akan dapat terjebak dalam kesulitan yang parah." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk kecil. Sementara juragan gula itu berkata "Sudahlah, aku minta diri. Malam nanti dirumah ini akan bertambah penghuninya meskipun sebelumnya juga hampir selalu berada dirumah ini." Demikian juragan gula itu pergi, maka Kiai Gumrahpun berkata kepada Manggada dan Laksana dengan nada dalam "Aku tidak dapat berpura-pura lagi ngger. Aku dan saudarasaudaraku itu memang menjadi gelisah. Kami benar-benar harus mempertahankan pusaka-pusaka itu. Tetapi jangan bertanya lebih dahulu, apakah aku berbohong atau tidak tentang pusaka-pusaka itu. Yang penting, pusaka-pusaka itu tidak boleh berpindah ketangan orang lain." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk pula. Namun tiba-tiba saja Laksana bertanya "Tetapi apakah benar tidak boleh ada pihak lain yang ikut melindungi pusaka-pusaka itu, kek. Misalnya prajurit Pajang atau setidak-tidaknya orang-orang padukuhan ini." "Alasanku seperti yang pernah aku katakan ngger. Aku tidak berpura-pura. Kau tentu tahu, jika aku melibatkan orang-orang padukuhan untuk melawan orang-orang berilmu tinggi itu, apakah tidak sama artinya aku menabur maut di padukuhan ini?" Manggada dan Laksana masih saja mengangguk-angguk. Mereka mengerti bahwa akibatnya memang akan menjadi sangat parah. Sementara itu. Kiai Gumrah juga tidak dapat menyerahkan pusaka-pusaka itu kepada prajurit Pajang. "Sudahlah. Apapun yang terjadi, kita akan mempertahankan pusaka-pusaka itu dengan kekuatan dan kemampuan kita sendiri." berkata Kiai Gumrah. Lalu katanya pula "Tetapi sebaiknya malam nanti kau tidak terlalu lama berada di banjar. Sebaiknya setelah beberapa saat berkumpul dengan anak-anak muda jika mereka datang ke banjar, kalian harus segera pulang. Kalian dapat memberi alasan apa saja. Mungkin ada pekerjaan yang harus kalian lakukan, atau salah seorang dari kalian mengatakan bahwa badan kalian sedang tidak enak atau apapun. Elang yang berputar-putar itu membuat aku menjadi gelisah. Apalagi orang-orang itu tentu sudah mengenal kalian pula." "Baik kek" jawab Manggada "kami tidak akan terlalu lama berada di banjar malam nanti."

Buku 3
TETAPI sebelum matahari turun disisi Barat belahan langit, Ki Gumrah yang sedang sibuk menuang minyaknya kedalam guci, terkejut mendengar suara orang memanggilnya sambil mengetuk pintu depan rumahnya. Karena Kiai Gumrah tidak segera menjawab, maka ketukan pintu dan suara yang memanggil namanya itu menjadi semakin keras. Tetapi suara itu terdengar akrab sekali. Manggada dan Laksana yang sedang membantunya menuang minyak itu termangu-mangu. Sementara Kiai Gumrah berkata "Lihat, siapa yang datang. Tetapi berhatihatilah. Pergilah kalian berdua." Manggada dan Laksanapun telah pergi ke pintu depan rumahnya. Pintu itu tidak diselarak. Karena itu, maka Manggadapun telah membuka perlahan-lahan, sementara Laksana tetap berhati-hati karena hal-hal yang tidak terduga akan dapat terjadi. Ketika pintu itu terbuka, maka kedua anak muda itu terkejut. Yang berdiri dimuka pintu ternyata tidak hanya seorang saja. Tetapi tiga orang. Seorang laki-laki, seorang perempuan dan seorang gadis yang sedang tumbuh dewasa. Ternyata bukan saja Manggada dan Laksana yang terkejut. Tetapi ketiga orang yang berdiri dimuka pintu itupun terkejut. Dengan kerut dikeningnya, laki-laki yang berdiri didepan pintu itu bertanya "Bukankah ini rumah Kiai Gumrah?" Manggada termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawab "Ya paman. Rumah ini rumah Kiai Gumrah." "Apakah Kiai Gumrah ada?" bertanya orang itu. "Ada. Kakek sedang menuang minyak. Biarlah aku memanggilnya" sahut Manggada. "Tetapi siapakah kalian berdua?" bertanya orang itu. "Kami cucunya, paman" jawab Manggada. "Cucunya? He, kalian anak siapa?" bertanya perempuan yang berdiri termangu-mangu. Manggada dan Laksana memang menjadi bingung. Mereka tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan itu. Namun selagi keduanya berdiri termangu-mangu, maka terdengar suara Kiai Gumrah "He, ternyata kalian yang datang. Marilah, masuklah." Ketiga orang itupun kemudian melangkah masuk keruang dalam. Dengan wajah yang cerah Kiai Gumrah berkata "Marilah. Sudah lama kalian tidak datang melihat rumah ini." "Kami memang sedang sibuk ayah" jawab laki-laki itu "daerah kami baru saja terserang banjir. Hujan yang tidak berkeputusan telah membuat. Kali Panjer meluap. Untunglah bahwa rumah kami tidak hanyut." "Sokurlah" Kiai Gumrah mengangguk-angguk "marilah, duduklah." Kiai Gumrahpun kemudian melangkah mendekati gadis yang sedang tumbuh dewasa itu "Kau sudah besar sekarang nduk. Sudah berapa tahun kau tidak ikut datang kemari. Ketika ayah dan ibumu beberapa waktu yang lalu datang kemari, kau tidak ikut bersama mereka." "Ayah dan ibu tidak memperbolehkan aku ikut kek." jawab gadis itu. "Kenapa?" bertanya Kiai Gumrah. Gadis itu tidak menjawab. Tetapi ia berpaling memandangi laki-laki dan perempuan yang ternyata adalah ayah dan ibunya itu. Ayahnya tersenyum sambil menjawab "Waktu itu kami datang hanya sekedar menengok ayah. Kami hanya bermalam satu malam saja. Anak itu tentu akan kelelahan jika ikut bersama kami." "Sebenarnya tidak kek. Aku dapat berjalan dengan jarak dua tiga kali lipat jarak yang kami tempuh sampai ke-rumah kakek ini." sahut gadis itu. Kakeknya tertawa. Katanya "Nah, ayah dan ibumu tidak mau kau menjadi sangat letih. Sekarang ayah dan ibumu agaknya akan bermalam lebih dari satu malam disini." "Anak itu pulalah yang memaksa kami untuk datang kemari, ayah" berkata ibunya. "Bukan. Bukan aku kek" sahut gadis itu "ayah dan ibu memang ingin menengok kakek." Kiai Gumrah tertawa berkepanjangan. Katanya kemudian "Duduklah. Duduklah." Mereka bertigapun kemudian duduk diamben yang cukup besar diruang dalam, sementara Manggada dan Laksana masih berdiri termangu-mangu. Baru sejenak kemudian ayah gadis itu bertanya "Ayah, siapakah kedua orang anak muda ini? Mereka mengatakan bahwa mereka adalah cucu ayah. Sepengetahuanku cucu ayah hanya seorang saja. Winih ini." Kiai Gumrah tertawa. Katanya "Keduanya memang cucuku meskipun ayah dan ibunya kedua-duanya bukan anakku.". "Maksud ayah?" bertanya anaknya. "Mereka telah tersesat kerumah ini dalam perjalanannya ke Pajang. Ternyata keduanya kerasan tinggal disini. . Sehingga mereka telah aku anggap sebagai cucuku sendiri." Kiai Gumrah berhenti sejenak, lalu katanya kepada Manggada dan Laksana "Nah, sekarang kau sempat berkenalan dengan anakku. Bukankah aku pernah mengatakan bahwa aku mempunyai seorang anak tetapi sudah lama sekali pergi meninggalkan rumah ini? Sekarang ia datang bersama seluruh keluarganya karena anaknya memang hanya seorang yang dinamainya Winih." Anak dan menantu Kiai Gumrah itu tertawa. Tetapi Winih menundukkan kepalanya. Sementara Manggada dan Laksana mengangguk hormat. Dengan nada rendah Manggada berkata "Kami mohon maaf paman. Kami berdua belum mengenal paman sebelumnya." "Namanya Prawara. Panggil saja paman Prawara." potong Kiai Gumrah sambil tertawa. "Jika kalian kemudian dianggap cucu ayahku dan kau juga menganggap ayahku sebagai kakekmu, maka kita sudah menjadi keluarga." namun Prawara itupun kemudian bertanya "Ayah, jika demikian sebaiknya siapakah yang lebih dituakan. Winih atau kedua anak muda ini?" "Biarlah Manggada dan Laksana dianggap lebih tua. Umurnya memang lebih tua dari Winih." jawab Kiai Gumrah. Lalu katanya kepada Winih "nDuk, panggil keduanya dengan sebutan. kakang, karena kau dianggap sebagai cucuku yang lebih muda dari mereka." Seleret Winih memandang Manggada dan Laksana. Namun iapun kemudian menundukkan kepalanya pula. Ketika Kiai Gumrah kemudian juga duduk diamben itu, iapun berkata "Marilah,-duduk pulalah disini." Manggada dan Laksana menjadi ragu-ragu. Diluar sadarnya Manggada berkata "Kami akan ke dapur kek." "Duduk sajalah dahulu. Biarlah nanti saja kita membuat minuman bagi tamu-tamu kita." jawab Kiai Gumrah. "Tidak usah ngger" berkata Nyi Prawara "biarlah, nanti aku dan Winih membuatnya sendiri." Manggada dan Laksana tidak membantah lagi. Mereka duduk diamben yang besar itu pula bersama ketiga orang tamu yang baru datang itu. Kiai Gumrahpun kemudian telah mempertanyakan keselamatan mereka. Keadaan tempat tinggal mereka yang diterpa banjir. Serta perjalanan mereka sampai kerumah itu. Sementara itu Ki Prawarapun bertanya pula "Bagaimana pula keadaan ayah selama ini?" "Kami baik-baik saja disini. Kedua anak muda ini telah membantu aku dalam segala hal. Mereka pulalah yang setiap hari membersihkan banjar, menyalakan lampu dan jika di banjar itu hadir anak-anak muda sebelum ke banjar yang baru, maka keduanya ikut pula bersama mereka. Bahkan kedua anak ini dapat mewakili aku melakukan kegiatan di padukuhan ini." “Sokurlah" Ki Prawara mengangguk-angguk "kami memang selalu memikirkan keadaan ayah disini. Bahwa ayah tidak bersedia tinggal bersama kami, membuat kami kadang-kadang gelisah sebagaimana sejak dua pekan terakhir. Akhirnya kami memaksa diri untuk datang betapapun sibuknya kami mengerjakan sawah dan ladang dimusim seperti ini." Kiai Gumrah tertawa. Katanya "Aku sudah menduga bahwa kalian akan datang. Dalam kegelisahan seperti ini, kedatangan kalian dapat sedikit memberikan ketenangan kepada kami." Ki Prawara mengerutkan keningnya. Diluar sadarnya, dipandanginya Manggada dan Laksana. Namun Kiai Gumrah yang tanggap itupun berkata "Keduanya telah mengetahui segala-galanya tentang pusaka-pusaka itu. Setidak-tidaknya sebagian besar dari persoalan yang sedang aku hadapi." Ki Prawarapun menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia berkata "Kami datang sesuai dengan pesan ayah." Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Katanya dengan nada rendah kepada Manggada dan Laksana "Aku telah memberikan kesan kepada anakku. Ia memang anakku. Bukan dongeng sebagaimana pernah kalian dengar dan kepura-puraan yang pernah kalian lihat terjadi dirumah ini. Kegelisahan yang semakin mencengkam memaksa aku untuk memanggilnya, karena aku berharap bahwa anakku dapat membantuku” Manggada dan Laksana mengangguk-angguk kecil. Seperti juga Kiai Gumrah dan kawan-kawannva yang berdagang gula itu, maka Ki Prawara itu menilik ujud lahiriahnya tidak lebih dari seorang petani kebanyakan. Pakaiannya, sikapnya dan caranya berbicara. Namun Manggada dan Laksana yakin bahwa Ki Prawara adalah seorang yang tentu juga berilmu tinggi. Namun dalam pada itu. Nyi Prawara yang sejak semula mendengarkan pembicaraan itupun berkata "Ayah, biarlah aku pergi kedapur untuk merebus air." Namun Manggadalah yang menyahut "Masih ada air terjerang diatas perapian." "Kebetulan" jawab Nyi Prawara yang kemudian menggamit Winih "marilah. Bantu aku membuat minuman." “Kau dapat mencari mangkuk di paga bambu" berkata Kiai Gumrah “Biarlah aku mengambilnya" berkata .Laksana. "Tidak" dengan cepat Nyi Prawara menyahut "duduk sajalah ngger. Biarlah aku dan Winih yang berada di-dapur. Bukankah kami berada dirumah ayah sehingga tidak bedanya dirumah sendiri." Laksana tidak menjawab. Iapun merasa bahwa Ki Prawara, Nyi Prawara dan Winih adalah keluarga terdekat Kiai Gumrah. Sedangkan ia dan Manggada adalah orang yang tersesat saja sampai kerumah itu. Sehingga karena itu, maka Nyi Prawara dan winih dapat berbuat lebih banyak dirumah itu. Karena itu, ketika Nyi Prawara dan Winih pergi ke dapur, Laksana tidak beranjak dari tempatnya. Dalam pada itu Kiai Gumrahpun berkata kepada Manggada dan Laksana "Baiklah aku berterus terang. Anakku memang memiliki sedikit kemampuan sehingga ia akan dapat membantuku melindungi pusaka-pusaka itu disamping beberapa orang kawan-kawanku, para pedagang gula itu. Seperti pernah aku katakan, bahwa orang-orang yang menghendaki pusaka-pusaka itu mulai bersungguhsungguh, sehingga kamipun harus mulai bersungguhsungguh pula. Karena itu, maka kami harus menghimpun segala orang yang akan dapat ikut serta membantuku. Tentu bukan anak-anak muda padukuhan ini, karena hal itu akan dapat berarti menghancurkan mereka pula. Juga bukan para prajurit Pajang, karena mereka akan dapat membuat kebijaksanaan yang tidak sesuai dengan keinginan kita meskipun mereka juga berniat melindungi pusakapusaka itu." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Kiai Gumrah memang pernah mengatakan hal itu. Tetapi agaknya ia sengaja mengulanginya dihadapan Ki Prawara. Dalam pada itu, di dapur, Nyi Prawara dan Winih menjadi sibuk membuat minuman. Meskipun mereka tidak terbiasa dengan peralatan dapur Kiai Gumrah, namun merekapun akhirnya dapat menyiapkan wedang jahe hangat dengan gula kelapa yang banyak terdapat didapur itu. Namun dalam pada itu, selagi Nyi Prawara sibuk menyiapkan minuman, iapun terkejut ketika tiba-tiba seseorang telah berdiri dipintu dapur. Orang itupun terkejut pula melihat dua orang perempuan didapur itu. Namun Nyi Prawara masih juga sempat bertanya "Apakah keperluan Ki Sanak? Siapakah yang Ki Sanak cari?" Tetapi Winih justru bertanya "Apakah Ki Sanak juga cucu kakek Gumrah?" "Tidak” jawab orang itu "tetapi aku memang mencari Kiai Gumrah." Keduanya memang merasa heran, bahwa orang itu tidak mengetuk pintu depan, tetapi langsung ke pintu dapur. Namun Nyi Prawara itupun kemudian berkata "Winih, panggil kakekmu." Winihpun kemudian bergegas masuk keruang dalam sambil berkata "Kek, ada tamu." "Tamu?" bertanya Kiai Gumrah. "Ya. Orang itu langsung masuk ke dapur" jawab Winih. Kiai Gumrah mengerutkan dahinya. Namun iapun kemudian segera bangkit dan melangkah menuju ke dapur. Ternyata Kiai Gumrahpun- terkejut. Hampir diluar sadarnya ia berdesis "Kundala." "Ya, Kiai" jawab orang itu lirih, seakan-akan hanya untuk didengarnya sendiri saja. -"Marilah, masuklah" Kiai Gumrah mempersilahkan. "Tidak Kiai" jawab Kundala "aku sedang dalam perjalanan menemui seseorang." "Siapa?" bertanya Kiai Gumrah. Kunuala memang ragu-ragu. Keningnya telah menitikkan keringat. Bahkan baju dibagian punggungnyapun telah menjadi basah kuyup seakan-akan ia baru saja kehujanan di bulak panjang. Ia memang tidak dapat dengan serta merta menyebutkan sebuah nama. Kiai Gumrah-agaknya tanggap akan kesulitan perasaan Kundala. Karena itu, maka ia tidak mendesaknya. Ia justru bertanya "Barangkali kau mempunyai keperluan dengan aku atau dengan kedua cucuku? Marilah duduklah.” "Tidak Kiai" jawab Kundala "tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin singgah untuk melihat keselamatan Kiai dan cucu-cucu Kiai. Agaknya semuanya selamat disini. Bahkan mungkin dirumah ini sedang ada tamu." "Ya. Memang ada tamu dirumah ini. Tetapi mereka adalah keluargaku sendiri." "Tidak ada yang ingin aku sampaikan kecuali sekedar menengok keselamatan Kiai itulah." Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada lembut ia berkata "Kundala. Aku tahu bahwa kau berada dalam kebingungan yang sangat. Terserah kepadamu, apakah kau akan mengatakannya atau tidak. Tetapi tentu ada yang mendorongmu untuk singgah dirumahku ini. Aku yakin bahwa itu adalah nuranimu yang untuk waktu yang panjang tentu telah kau timbuni dengan ketamakan, kedengkian dan kepura-puraan. Tetapi kenapa kau justru berusaha menutup telinga hatimu dan membiarkan kepurapuraan itu menguasai dan kemudian menimbuni nuranimu sehingga tenggelam jauh kedasar jiwamu?" Kundala termangu-mangu sejenak. Tetapi ia mengakui bahwa dorongan nuraninyalah yang telah membawanya singgah kerumah Kiai Gumrah. Bahkan nuraninya itu pula telah mendorongnya untuk mengatakan kenapa ia telah singgah. Kiai Gumrah membiarkan Kundala itu termangu-mangu dimuka pintu. Keringatnya semakin banyak mengalir membasahi pakaiannya, sementara hatinya telah diguncang-guncang oleh keragu-raguan. Namun akhirnya ia berkata “Kiai. Aku baru saja menemui utusan Panembahan." "Utusannya?" bertanya Kiai Gumrah. "Ya Kiai. Utusan Panembahan itu akan berbicara dengan Kiai Windu Kusuma tentang pusaka-pusaka itu." jawab Kundala. "Kenapa utusan itu tidak langsung menemui Kiai Windu Kusuma?" bertanya Kiai Gumrah. "Nampaknya memang masih ada jarak antara Panembahan dan Kiai Windu Kusuma meskipun Kiai Windu Kusuma telan berada dibawah pengaruh Panembahan." jawab Kundala. "Lalu apa tugasmu menemui utusan Panembahan?" "Kami akan membicarakan pertemuan antara Panembahan dan Kiai Windu Kusuma. Pertemuan langsung itu harus dilakukan tanpa gangguan apapun juga. Termasuk keselamatan Panembahan itu sendiri. Karena itu. maka penyelenggaraan pertemuan itu harus dilakukan dengan sangat berhati-hati" jawab Kundpla. Kiai Gumrah termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya "Apakah Panembahan dan Kiai Windu Kusuma belum pernah melakukan pertemuan itu?" "Sudah. Sudah beberapa kali. Tetapi ditempat yang jauh dan terpencil. Pertemuan kali ini akan dilakukan ditempat Kiai Windu Kusuma." jawab Kundala pula. "Dimana tempat itu?" Kundala tidak menjawab. Ia justru termangu-mangu kebingungan. Sekali-sekali dipandanginya Nyi Prawara yang duduk diamben yang lain di dapur itu. Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Kepada Nyi Prawara ia berkata "Ngger. Aku minta tamuku ini juga disuguh minuman yang hangat. Nanti, hidangkan saja minuman yang lain keruang dalam. Suamimu tentu sudah haus." Nyi Prawara seakan-akan tersadar dari sebuah renungan yang dalam. Tergagap ia berkata "Ya, ya. Ayah." Nyi Prawarapun kemudian telah menyuguhkan minuman hangat kepada Kundala yang tegang. Kemudian iapun telah membawa minuman ke ruang dalam. "Ia menantuku" berkata Kiai Gumrah. Kundala mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata "Aku tidak mempunyai banyak waktu.". "Minumlah." Kiai Gumrah. mempersilahkan. Kundalapiun kemudian meneguk mangkuknya menghirup minuman hangat dengan gula kelapa. Sementara itu Kiai Gumrah berkata "Jadi bagaimana dengan burungburung elang itu? Apakah burung-burung elang itu dilepaskan oleh Panembahan atau oleh Kiai Windu Kusuma?" "Seorang pembantu Panembahan yang menjadi serati burung-burung elang itu berada bersama Kiai Windu Kusuma" jawab Kunuaia meskipun agak ragu. "Tetapi kaulah yang mendapat tugas untuk menjadi penghubung sebelum pertemuan itu diselenggarakan" desis Kiai Gumrah. Kundala mengangguk kecil. "Aku mengucapkan terima kasih atas keteranganmu" berkata Kiai Gumrah "tetapi apakah masih ada hal lain yang dapat aku ketahui?" Kundala menjadi semakin tegang. Beberapa kali ia mengusap keningnya yang basah oleh keringat. Pertentangan didalam dirinya semakin bergejolak. Sekalisekali terdengar ia berdesah. Kiai Gumrah membiarkan Kundala dalam kegelisahannya. Bahkan iapun kemudian mempersilahkan lagi "Minumlah, selagi masih hangat." Kundala mengangkat mangkuknya. Iapun menghirup lagi seteguk. Baru kemudian ia berkata "Panembahan nampaknya mengenali pusaka-pusaka yang tersimpan itu dengan baik, Kiai." "Darimana ia tahu?" bertanya Kiai Gumrah. Seakan-akan diluar sadar Kundalapun menceriterakan apa yang pernah didengarnya pembicaraan antara Kiai Windu kusuma dengan Putut Sempada tentang pusakapusaka yang tersimpan dirumah Kiai Gumrah itu. Kiai Gumrahpun menarik nafas dalam-dalam. Dengan kerut dikening Kiai Gumrah berkata hampir kepada diri sendiri "Darimana ia mengetahui bahwa diantara pusaka-pusaka itu terdapat Kiai Simarengu dan Kiai Simariwut." "Entahlah" Kundala menyahut lirih. Namun tiba-tiba Kundala itupun berkata "Sudahlah Kiai. Aku sudah terlalu lama disini. Aku harus segera kembali agar aku tidak dicurigai oleh Kiai Wmdukusuma. Apalagi sekarang dalam beberapa hal aku sudah mulai tersisih. Bukan karena aku dianggap tidak setia, tetapi aku dianggap tidak cukup memiliki kemampuan untuk menghadapi pekerjaan-pekerjaan besar. Namun mudah-mudahan pada suatu saat, aku masih diperlukan oleh Kiai Windukusuma." Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Katanya "Terima kasih. Keteranganmu sangat penting artinya bagi kami. Hati-hatilah. Mungkin burung elang itu memantau perjalananmu." "Memang mungkin, tetapi aku tidak melihat burung itu dilangit." "Minumlah dahulu. Aku akan melihat, apakah burung itu terbang atau tidak." berkata Kiai Gumrah yang kemudian keluar dari dapur dan menengadahkan wajahnya. Namun iapun kemudian masuk lagi kedapur sambil berkata "Burung itu tidak ada..” "Baiklah Kiai" berkata Kundala "aku mohon diri." "Berhati-hatilah. Kau berada dikandang serigala. Setiap saat serigala-serigala itu. akan dapat menggigitmu." pesan Kiai Gumrah. Kundala tidak menunggu lebih lama lagi. Iapun segera minta diri dan meninggalkan Kiai Gumrah yang termangumangu. Ketika kemudian Kiai Gumrah berada diruang dalam bersama anak, menantu dan cucunya, maka ternyata Kiai Gumrah tidak merahasiakan kehadiran dan pesan-pesan Kundala. Dengan demikian maka Manggada dan Laksana mengambil kesimpulan bahwa Kiai Gumrah mengharap kedatangan anaknya benar-benar untuk membantunya melindungi pusaka-pusaka itu. Karena itu, maka kedua anak muda itu berkesimpulan bahwa Ki Prawara itu tentu juga seorang yang berilmu tinggi. Jika tidak demikian, maka kehadirannya tentu tidak akan berarti apa-apa. Justru malah membahayakan jiwa Ki Prawara itu sendiri. Apalagi isteri dan anak gadisnya. Ternyata pesan Kundala itu telah ditanggapi dengan sungguh-sungguh oleh Kiai Gumrah dan Ki Prawara. Mereka memperhitungkan bahwa Panembahan itu akan turun sendiri untuk mengambil pusaka-pusaka itu. "Lebih dari itu Panembahan itu berniat untuk mengorbankan seseorang. Ia memerlukan jantung seseorang yang masih segar. Bahkan mungkin jantung seseorang yang disyaratkan oleh Panembahan itu." berkata Kiai Gumrah. "Nampaknya Panembahan itu masih hidup pada. jaman yang gelap, pada jaman manusia masih terpisah dari Yang Maha Agung. Nampaknya Panembahan itu-masih belum menyadari panggilan Sumber Hidupnya, sehingga ia telah mengabdi kepada kegelapan."desis Ki Prawara “dengan demikian maka ia merupakan manusia yang sangat berbahaya pada jaman seperti ini. Ia sampai hati mengorbankan sesamanya dengan cara yang tidak pantas dan tidak berperikemanusiaan sama sekali untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Satu kekuatan yang berasal dari dunia kegelapan.” "Itulah yang kita hadapi sekarang Prawara?” desis Kiai Gumrah "ternyata kita berhadapan dengan kekuatan iblis dalam arti yang sebenarnya." Manggadapun kemudian sempat menceriterakan dengan singkat, bagaimana seorang Panembahan yang juga memiliki burung-burung elang itu membenamkan Kerisnya didada gadis-gadis yang masih suci disetiap bulan purnama karena Panembahan itu memuja keris yang dianggapnya sangat bertuah itu. Keris yang jika digenapi mereguk darah gadis-gadis dalam jumlah tertentu akan menjadi keris yang dapat mendukung derajatnya karena tuahnya yang tidak ada bandingnya. Bahkan keris itu akan menjadi pusaka yang paling sakti dimuka bumi.” Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam, sementara tengkuk Nyi Prawara terasa meremang. "Sekarang kejahatan seperli itu akan diulangi. Aku yakin bahwa Panembahan yang kau katakan itu adalah Panembahan yang ingin memiliki pusaka-pusaka itu pula. Beberapa pertandanya sama terutama bahwa ia memuja kuasa kegelapan." berkata Kiai Gumrah. Ki Prawara mengangguk-angguk. Katanya kemudian "Jika demikian kita memang harus menjadi sangat berhati-hati." Kiai Gumrah mengangguk pula. Katanya "Malam nanti, seorang diantara kita akan berada dirumah ini pula." "Siapa ayah?" bertanya Ki Prawara. "Kiai Linggar. Ia akan tidur dirumah ini untuk menjaga kemungkinan buruk yang dapat terjadi." jawab Kiai Gumrah. "Bagaimana dengan saudara-saudara kita yang lain?" bertanya Prawara "Hampir semua saudara-saudara kita sudah mengetahui apa yang dapat terjadi disini. Mereka sudah berada diputaran kejadian sehingga tidak terlalu sulit lagi untuk menghubungi mereka seorang demi seorang, sebagaimana kau sendiri" Prawara mengangguk-angguk. Panembahan yang disebut-sebut itu telah bersungguh-sungguh pula, sehingga merekapun harus bersungguh-sungguh sebagaimana Panembahan itu. Demikianlah, maka sejenak kemudian Nyi Prawarapun telah berada didapur pula. Ketika Kiai Gumrah akan menyiapkan makan bagi mereka, Nyi Prawara itu berkata "Bukankah kami, perempuan, lebih pantas untuk berada didapur?" "Biasanya aku, Manggada dan Laksanalah yang masak untuk kami sendiri. Aku ajari mereka membumbui bermacam-macam masakan, sehingga sekarang mereka telah dapat melakukannya." berkata Kiai Gumrah. "Tetapi hari-hari biasa dirumah ini tidak ada seorang perempuan. Sekarang ada dua orang perempuan disini." sahut Nyi Prawara. Kiai Gumrah tertawa. Katanya "Baiklah. Jika kau akan memetik sayuran, ambillah di halaman belakang. Daun kacang panjang, so, melinjo dan kroto, atau terung ungu. Jika kau senang sayur rebung, sekaranglah musimnya.” "Baik ayah. Kami akan mengambil bahan-bahan itu sendiri di halaman belakang." jawab Nyi Prawara. Dengan kehadiran anak, menantu dan cucunya, maka rumah Kiai Gumrah menjadi semakin terasa hidup. Rumah dan halaman yang telah dibersihkan oleh Manggada dan Laksana akan menjadi semakin nampak cerah karena ada tangan-tangan perempuan yang memeliharanya, meskipun hanya untuk sementara. Dalam pada itu, ketika malam kemudian turun, maka rumah itu menjadi semakin ramai. Ternyata.yang datang kerumah Kiai Gumrah bukan hanya seorang kawannya yang untuk sementara akan berada. dirumah itu, tetapi, yang datang ternyata ampat orang termasuk juragan gula kelapa itu. Diantara mereka terdapat orang-yang telah mengirimkan pesan untuk Ki Prawara. Ki Prawara telah ikut menyambut tamu-tamu Kiai Gumrah itu. Terdengar suara tertawa yang gembira. Orangorang tua itu mulai berkelakar dengan ramainya. "Pesanku kapan sampai kepadamu Prawara?," bertanya salah seorang diantara tamu-tamu Kiai Gumrah. "Dua. hari yang lalu Kiai." jawab Prawara. "Ternyata pesan itu memerlukan waktu tiga hari untuk sampai ketelingamu.” "Tetapi aku sekarang sudah ada disini" jawab Prawara. Sementara itu Kiai Linggarpun berkata "Jika demikian, maka aku tidak perlu lagi berada ditempat ini. Rumah ini akan menjadi penuh sesak. Selain Prawara, isteri dan anak gadisnya, disini sudah ada dua orang cucu Kiai Gumrah yang lain." "Ya" Juragan gula itulah yang menjawab "disini kau hanya akan memenuhi ruangan dan menghabiskan makanan yang disediakan oleh Nyi Prawara." Orang-orang -tua itu tertawa. Ki Prawarapun tertawa pula. Demikianlah malam itu rumah Kiai Gumrah menjadi ramai. Meskipun mereka tidak bermain dadu, tetapi kehadiran Ki Prawara telah menyerap perhatian tamu-tamu Kiai Gumrah. Ki Prawara ternyata seorang yang pandai menyusun ceritera sehingga hal-hal yang biasa terjadi menjadi sangat menarik. Ia sempat menceriterakan pengalaman hidupnya yang terpisah dari ayahnya untuk waktu yang lama. Sementara itu, Nyi Prawara dan Winih masih saja sibuk didapur. Manggada dan Laksana ikut membantunya dan kemudian menghidangkan suguhan keruang dalam. Minuman, makanan dan makan malam. Meskipun hanya sayur-sayuran saja, tetapi karena Nyi Prawara pandai memasak, hidangan itu terasa nikmat di mulut tamu-tamu Kiai Gumrah. Namun menjelang, tengah malam, suara tertawa dan kelakar menjadi semakin susut. Pembicaraan orang-orang tua itu menjadi semakin bersungguh-sungguh. Manggada dan Laksana yang sudah selesai menghidangkan suguhan bagi mereka yang berada di ruang dalam, duduk dibersandar dinding didapur. Justru karena mereka sudah tidak sibuk lagi, maka mereka mulai merasa kantuk. Karena itu, maka Nyi Prawarapun berkata "Duduklah didalam ngger. Kalian sudah berhak mendengarkan pembicaraan orang-orang tua itu, karena kalian memang sudah memanjat usia dewasa." Manggada dan Laksana memang menjadi ragu-ragu. Tetapi kemudian Manggada itupun menyahut "Biarlah kami duduk disini saja Nyi. Mungkin masih ada yang harus kami kerjakan. Jika minuman para tamu itu habis, maka kami akan menuang lagi." "Bukankah itu dapat dilakukan oleh Winih?" sahut Nyi Prawara sambil memandang anak gadisnya. Namun Manggada berkata "Adi winih tentu letih. Bukankah ia baru datang hari ini." Tetapi Nyi Prawara tertawa, katanya "Ia terbiasa berjalan jauh. Dirumah sehari-hari ia bekerja disawah, sehingga tubuhnya telah terbiasa." Manggada dan Laksana hanya mengangguk-angguk saja, sementara Winih sendiri memang tidak nampak letih. Juga tidak nampak mengantuk. Ia masih tetap nampak segar. Dalam pada itu, diam-diam Manggada dan Laksana memandangi gadis itu. Gadis itu nampak tegar. Tubuhnya seakan-akan selalu bergerak, apapun yang dilakukan. Seakan-akan gadis itu tidak dapat duduk diam barang sekejappun. Jika ia duduk, maka kakinya atau tangannya yang bergerak-gerak, Meskipun ujudnya Winili telah dewasa, namun wajahnya masih nampak kekanak-kanakan. Tetapi jika sekali-sekali Manggada dan Laksana, sempat memandang matanya, maka di mata itu seakan-akan tersimpan api gejolak jiwanya. Tetapi Winih masih belum menjadi akrab dengan Manggada dan Laksana. Diantara mereka masih ada jarak, justru karena Manggada dan Laksana adalah anak-anak muda, sedangkan Winih seorang gadis yang sama-sama meningkat dewasa. Namun dalam pada itu terdengar Kiai Gumrah memanggil Manggada dan Laksana. Ternyata Kiai Gumrah justru ingin Manggada dan Laksana mendengarkan pembicaraan mereka yang mulai bersungguh-sungguh. "Sayang. Kita semuanya sudah menjadi tua. Satusatunya orang yang masih terhitung muda adalah kau, Prawara." berkata Kiai Linggar. "Itulah kelemahan kita" berkata juragan gula itu "kita mabuk akan kebanggaan atas diri kita sendiri, sehingga kita lupa, bahwa pada suatu saat kita akan menjadi tua, dan kehilangan landasan kekuatan kewadagan kita. Jika sebentar lagi kita sudah harus merenungi kerapuhan wadag kita, maka orang-orang yang lebih muda masih belum siap untuk menggantikan tugas kita." "Kiai sekalian masih belum terlambat" berkata Prawara "masih ada kesempatan untuk menempa mereka yang lebih muda dari kita, atau katakan lebih muda dari aku." Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Hampir diluar sadarnya mereka memandang Manggada dan Laksana yang sudah duduk diamben itu pula, meskipun agak dibelakang. Tetapi Manggada dan Laksana agaknya menundukkan wajah mereka. Orang-orang tua yang ada diruang dalam itu tanggap akan maksud Kiai Gumrah. Tetapi mereka masih harus berpikir, "apakah keduanya bersedia untuk benar-benar, bergabung dengan orang-orang tua itu dalam arti yang,sebenarnya. Karena mereka tahu, bahwa anak-anak muda itu sedang dalam perjalanan pulang kerumah mereka tidak jauh dari Kotaraja. Namun Prawaralah yang kemudian berkata "Tetapi yang penting bagi kita adalah persoalan dalam waktu dekat ini. Jika menurut ayah, seorang pengikut Kiai Windu Kusuma yang bernama Kundala telah mengabarkan hal-hal tersebut, berarti bahwa kita harus menanggapinya dengan mengerahkan segenap, kemampuan yang ada pada kita. Untuk waktu yang pendek dan mendesak ini, kita belum sempat memikirkan, siapakah yang akan menjadi penerus kita kemudian. Karena dihadapan kita sekarang ternyata menganga mulut sekelompok buaya yang buas." Orang-orang tua itu mengangguk-angguk. Juragan gula itupun berkata "Untunglah, bahwa ada seseorang yang bernama Kundala. Dengan demikian kita berharap untuk selanjutnya, ia akan dapat membantu kita." Demikianlah, orang-orang tua itu berbicara berkepanjangan. Namun akhirnya merekapun menjadi letih. Kiai Linggarlah yang kemudian berkata "Sudahlah. Kami datang untuk mengucapkan selamat datang kepada Prawara. Selain itu, akupun tidak perlu lagi berada dirumah ini untuk sementara. Karena itu, aku mohon diri." Ternyata orang-orang tua yang lainpun telah minta diri pula. Juragan gula itupun berkata "Sudah terlalu malam. Aku kira sudah tidak ada suguhan lagi yang akan dihidangkan. Karena itu, kami akan pulang saja." Ki Prawara tertawa. Tetapi Kiai Gumrah berkata "Kalian harus membayar sebanyak yang kalian makan hari ini." Orang-orang tua itu tertawa. Namun mereka berjalan terus meninggalkan rumah Kiai Gumrah. Demikian mereka keluar dari regol halaman, mereka bertemu dengan beberapa orang anak muda yang sedang meronda. Namun anak-anak muda itu sudah mengenal orang-orang tua itu, sehingga mereka tidak terlalu banyak bertanya-tanya. Tetapi justru kepada Manggada dan Laksana anak-anak muda itu bertanya, kenapa ia tidak pergi ke banjar. “Kami hanya sekedar menyalakan lampu. Kami harus segera pulang karena dirumah banyak tamu." jawab Manggada. "Tetapi bukankah mereka tamu kakekmu?" bertanya salah seorang di antara mereka. “Ya. Tetapi bukankah harus ada yang merebus air dan menyediakan hidangan meskipun hanya sekedar merebus ketela pohon atau ubi rambat?" Anak-anak muda itu tersenyum. Seorang diantara mereka berkata "He, jika tersisa bawa ke banjar. Kami akan beristirahat di banjar sebentar." Laksanalah yang menjawab "Sayang. Yang masih tersisa tinggal gua kelapa." "Tentu, kakekmu setiap hari membuat gula" sahut salan seorang dari anak-anak muda itu. Manggada dan Laksana hanya tertawa saja. Namun mereka kemudian justru masuk kembali keregol halaman dan menutupnya ketika orang-orang tua yang meninggalkan rumah itu sudah menjadi semakin jauh. Malam itu Manggada dan Laksana harus tidur diamben dapur. Namun bagi mereka berdua sama sekali tidak ada persoalan. Amben yang besar diruang tengah dipergunakan untuk Ki Prawara, Nyi Prawara dan Winih. Namun kehadiran Ki Prawara memang membuat Manggada dan Laksana menjadi semakin tenang, karena mereka tahu bahwa Ki Prawara itu tentu memiliki ilmu yang dapat diandalkan sebagaimana dikatakan oleh Kiai Gumrah dan kawan-kawannya. Ketika kemudian fajar menyingsing, sebagaimana biasa Manggada dan Laksana sudah bangun. Mereka segera pergi ke banjar dan membersihkan halaman banjar, mengisi jambangannya dan memadamkan lampu-lampunya. Baru kemudian mereka pulang untuk membersihkan halaman rumah Kiai Gumrah. Tetapi ketika mereka memasuki halaman, ternyata bahwa halaman rumah itu sudah menjadi bersih. Mereka masih melihat Winih menyelesaikan pekerjaannya dengan memasukkan sampah kelubang sampah disudut halaman. "Kami terlambat" berkata Manggada. "Seberapa luas halaman banjar itu, sehingga kalian berdua baru selesai?" bertanya Winih yang sudah mulai mengatasi keseganan masing-masing. “Bukan hanya membersihkan halaman" jawab Laksana "kami harus membersihkan ruangan-ruangan banjar dan mengisi jambangan di pakiwan." "O" Winih mengangguk-angguk "sebelum kalian datang, apakah semuanya itu dilakukan oleh kakek sendiri?” "Agaknya memang demikian. Tetapi justru karena itu, maka rumah kakek inilah yang tidak mendapat waktu untuk dibersihkan. Waktu kami datang, nampaknya rumah dan halaman ini jarang disapu sedangkan perabot didalampun agaknya tidak sempat disentuh tangan. Kakek memang terlalu sibuk. Sedangkan pohon-pohon kelapa itu memerlukan perhatiannya" jawab Manggada. "Kasihan kakek" desis Winih "jika aku tahu, aku tentu sudah datang jauh sebelum ayah dan ibu mengajak aku kemari." Manggada dan Laksana yang kemudian melintas sempat berhenti sejenak. Namun; kemudian mereka mulai melangkah lagi melintas halaman samping. Sambil berjalan Manggadapun berdesis "Kami akan mengisi jambangan." "Ayah sudah mengisinya" sahut Winih "Kalau begitu, apa lagi yang harus kami kerjakan? Menyiapkan minuman? "Laksana justru bertanya. “Ibu sedang sibuk didapur" jawab Winih. "Dan kakek?” bertanya Manggada. "Kakek sudah berada dikebun dengan bumbungbumbungnya." Manggada dan Laksana saling berpandangan. Agaknya tugas mereka menjadi ringan oleh kehadiran Ki Prawara dengan keluarganya dirumah itu. Namun dalam pada itu Winih itupun tiba-tiba berkata, "Bukankah kita tidak mempunyai pekerjaan apa-apa lagi? Bagaimana jika kita pergi ke pasar?" "Kepasar?” ulang Manggada. “Ya. Aku akan minta kepada ibu agar aku saja yang berbelanja dipasar. Tetapi bukankah kahan juga tidak ada kerja dirumah pagi ini? Nah, kita sajalah yang pergi ke pasar." Manggada dan Laksana memang menjadi ragu-ragu. Mereka memang senang untuk berbelanja bersama Winih yang ceria itu. Namun dengan ragu Manggada berkata “Kami harus minta ijin dahulu kepada kakek." "Kakek tentu tidak berkeberatan. Bukan kalian yang berbelanja. Tetapi aku. Bukankah pantas jika aku yang berbelanja? Kalian hanya menemani aku saja" berkata Winih dengan lancar. Seakan-akan mereka sudah akrab sebelumnya. Manggada dan Laksana masih saja ragu-ragu. Mereka selalu ingat akan pesan Kiai Gumrah, bahwa mereka harus berhati-hati karena orang-orang berilmu tinggi itu sudah mengenal mereka "Kenapa kalian ragu-ragu? Apakah kalian merasa malu berjalan bersama seorang gadis?" bertanya Winih. Manggada dan Laksana justru merasa jantungnya tergetar mendengar pertanyaan itu. Namun mereka menyadari bahwa pertanyaan itu meluncur dari mulut Winih dengan lugu, jujur dan tanpa maksud apa-apa. Karena itu, maka-meskipun agak memaksa diri Manggada menjawab "Tidak. Soalnya bukan itu. Tetapi kakek selalu berpesan agar kami berhati-hati dalam keadaan yang nampaknya semakin genting ini." “Tetapi bukankah itu persoalan kakek, kawan-kawannya dan barangkali ayah. Tetapi itu bukan persoalan kita." "Kami berdua sudah terlibat kedalam persoalan itu." jawab Laksana. "Jadi kalian takut pergi ke pasar?" bertanya Winih. Bagaimanapun juga Manggada dan Laksana tersinggung mendengar pertanyaan itu. Namun justru karena itu, mereka tidak segera menjawab. Tetapi Winih sambil meneruskan kerjanya berdesis seakan-akan kepada diri sendiri "Jika demikian aku akan pergi sendiri ke pasar." Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Namun Manggadapun kemudian berkata "Baiklah. Kami akan pergi. Tetapi kami harus minta ijin lebih dahulu kepada kakek." Wajah Winih nampak menjadi gembira. Katanya "Jika demikian aku akan segera mandi. Kita pergi kepasar selagi masih pagi. Kita akan mendapatkan sayur-sayuran yang masih segar." Hampir diluar sadarnya Laksana berkata "Selama ini kami mengambil sayuran dikebun." "Tetapi dipasar kita mendapatkan sayuran yang jenisnya jauh lebih banyak dari yang ada dikebun kakek." jawab Winih. "Tentu saja" sahut Laksana "tetapi kita harus membelinya. Dikebun kita tinggal memetik." "Aku akan minta uang kepada ibu” desis Winih. Manggada dan Laksana hanya termangu-mangu saja. Sementara itu Winihpuh telah berlari masuk rumah mencari ibunya, sementara, sapunya ditinggalkannya begitu saja. Laksana menarik nafas dalam-dalam. Iapun kemudian telah memungut sapu lidi yang ditinggalkan Winih dan menyelesaikan pekerjaan Winih yang tinggal sedikit. Sebagian kecil sampah itu ternyata masih tersisa. Belum seluruhnya masuk kedaiam lubang sampah disudut halaman itu: Dalam pada itu, maka Manggada dan Laksanapun telah mencari Kiai Gumrah di kebun. Agaknya Kiai Gumrah juga sudah selesai dengan pekerjaannya. Sambil membawa beberapa buah bumbung legen ia berjalan menuju ke dapur. Manggada dan Laksanapun telah membantunya membawa bumbung legen itu. Sementara itu Manggadapun berkata "Kek, apakah kami berdua boleh pergi ke pasar?" "Untuk apa?" bertanya Kiai Gumrah. "Winih ingin pergi ke pasar. Ia minta kami mengantarkannya." "Ah, anak itu" desis Kiai Gumrah "ia tidak tahu bahaya yang tersembunyi di sekitar keluarga kita." "Winih nampaknya ingin sekali pergi ke pasar." desis Laksana. Lalu katanya "Agaknya iapun akan minta ijin kepada kakek. Tentu saja juga kepada ayah dan ibunya, karena Winih masih akan minta uang lebih dahulu." "Apa yang akan dicarinya di pasar?" bertanya Kiai Gumrah. "Anak itu ingin berbelanja. Katanya jenis sayuran dipasar jauh lebih banyak dari jenis sayuran yang ada dikebun." jawab Laksana. Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Katanya "Biar anak itu minta ijin ayah dan ibunya. Ayah dan ibunya tentu sudah tahu bahwa kita seluruh keluarga harus berhati-hati.” Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak menjawab lagi. Tetapi ketika mereka sampai didapur, Winih itu sudah menunggu. Demikian ia melihat Manggada dan Laksana, maka iapun berkata lantang "He,lcalian belum mandi?" "Apakah kau sudah selesai berbenah diri?" bertanya Manggada. “Tentu. Aku sudah menunggumu." jawab Winih. "Apakah kau sudah minta ijin ayah dan ibumu?" bertanya Kiai Gumrah. "Sudah kek. Ayah dan ibu tidak berkeberatan. Ibu malahan sudah memberi uang belanja kepadaku." Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Namun, kemudian katanya "Baiklah. Jika kau sudah mendapat ijin ayah dan ibumu." Lalu Kiai Gumrah itupun berkata kepada Manggada dan Laksana "Kalian harus tetap berhati-hati." "Ya kek" jawab Manggada. Tetapi Winih segera memotong "Tetapi mereka belum mandi." Kiai Gumrah itupun tersenyum. Katanya "Mandilah.” "Cepat sedikit. Biasanya laki-laki berbenah diri lebih cepat dari perempuan." berkata Winih. Kiai Gumrah bahkan tertawa. Katanya "Hari masih pagi. Pasar itu tidak akan segera bubar." "Tetapi sayuran yang segar itu sudah habis." jawab Winih. "Tentu belum. Tetapi seandainya sudah habis, maka biarlah Manggada dan Laksana memetik sayuran segar dari kebun dan biar mereka membawanya kepasar. Nah, kau akan dapat membeli sayuran yang masih sangat segar." berkata Kiai Gumrah. "Ah, kakek mesti bercanda” desis gadis itu. Sementara itu Manggada dan Laksana tergesa-gesa menyiapkan dirinya. Sementara Winih menunggu didepan. Bahkan hampir saja ia kehilangan kesabaran. Tetapi ketika Manggada dan Laksana selesai berpakaian, maka mereka justru dipanggil oleh Nyi Prawara didapur. Katanya "Kalian belum minum. Nanti minuman ini menjadi dingin.” "Terima kasih Nyi" jawab Manggada dan Laksana hampir berbareng. Tetapi demikian keduanya meneguk minumannya, Winih telah berdiri dipjnfcu sambil berkata “Kalian masih sempat minum. Matahari sernakin tinggi." "Kenapa kau Winih” ibunya yang menyahut “biarlah mereka minum lebih dahulu. Bukankah hari masih pagi. Justru para penjual sayuran masih belum ada di pasar." "Kakek kalau pergi ke pasar agak siang" berkata Manggada. "Tetapi kakek menjual gula. Itupun sudah ada orangorang tertentu yang menerimanya sehingga kakek tidak usah menjajakan dagangannya dan menungginya berlamalama." jawab Winih. "Baiklah" berkata Laksana kemudian "kami sudah selesai. Demikianlah mereka bertigapun segera meninggalkan regol halaman rumahnya. Disimpang tiga tidak jauh dari banjar mereka bertemu dengan beberapa orang anak muda yang akan pergi kesawah. Ternyata anak-anak muda itu terkejut melihat Manggada dan Laksana berjalan bersama seorang gadis yang tumbuh dewasa. Gadis yang sangat cantik menurut penglihatan mereka. "He" seorang dari anak-anak muda itu menegur. Dengan cepat Manggada tanggap dan menjawab "Kami. mengantar adik” Anak-anak muda itu tersenyum Seorang diantara mereka bertanya "Kapan adikmu datang?" “Kemarin” jawab.Manggada. Beberapa anak muda itu tanpa berjanji mengangguk hormat, sementara Winihpun mengangguk hormat pula meskipun ia melihat kerlingan mata yang nakal. Tetapi Winih tidak menghiraukannya. Sebagai seorang gadis yang tumbuh dewasa dengan gaya hidupnya yang agak lebih bebas dari gadis-gadis sebayanya maka Winih telah sering melihat sorot mata yang seolah-olah ingin menusuk sampai kedasar jantungnya. Tetapi anak-anak muda itu masih tetap dalam batasbatas kewajaran, sehingga Winihpun tidak terlalu merasa terganggu. Sesaat kemudian, maka masing-masingpun telah meneruskan perjalanan mereka. Winih diantar oleh Manggada dan Laksana ke pasar, sementara beberapa orang anak muda itu pergi ke sawah. Namun belum lagi mereka melangkah terlalu jauh, merekapun telah berpaling ketika mereka mendengar langkah sorang berlari-lari. Seorang anak muda yang bertubuh kekar dan berwajah keras. Anak muda itu berlarilari menyusul kawan-kawannya yang pergi kesawah. Namun Manggada dan Laksana yang telah mengenal anak muda itu pula menjadi berdebar-debar. Dari kawankawannya Manggada dan Laksana mengetahui, bahwa anak muda itu adalah anak muda yang keras hati, yang hanya menuruti kemauannya sendiri tanpa menghiraukan perasaan orang lain. Beberapa orang kawannya berusaha untuk menjauhinya. Tetapi anak-anak muda itu tidak dapat menghindarinya jika anak yang bertubuh kekar dan berwajah keras itu hadir diantara mereka. Hampir seluruh anak-anak muda sepadukuhan berada dibawah pengaruhnya. Bukan karena ia mempunyai wibawa yang tinggi, tetapi karena kekasaran dan kekerasannya. Ketika Manggada dan Laksana sekali-sekali berpaling, mereka melihat bahwa anak muda yang bertubuh kekar itu memperhatikan Winih dengan penuh perhatian. "Mudah-mudahan tidak ada niat buruknya" berkata Manggada didalam hatinya. Sementara itu Laksanapun menjadi cemas karena sikap anak muda itu. Winih sendiri tidak menghiraukannya lagi. Ia belum mengetahui sifat anak muda yang berlari-lari itu. Ia mengira bahwa anak muda itu ingin menyusul kawan-kawannya yang sudah berangkat lebih dahulu. Demikianlah, maka ketiga orang itu berjalan agak bergegas menuju kepasar yang tidak begitu jauh. Tetapi Winih yang ingin cepat-cepat sampai kepasar diluar sadarnya telah berjalan semakin cepat, sehingga Manggada merasa perlu untuk memperingatkannya "Jangan terlalu cepat Winih. Orang-orang yang berpapasan dengan kita akan memperhatikan kita, seolah-olah kita sedang dikejar oleh satu kepentingan yang sangat mendesak." "O" Winih mengangguk-angguk kecil. Ia memang memperlambat langkahnya. Tetapi langkahnya yang kecil itu semakin lama menjadi semakin cepat pula. Bahkan kemudian Winih tidak menghiraukan lagi orang-orang yang Setelah melewati bulak-bulak kecil, maka merekapun sampai kepasar. Pasar yang terhitung ramai dihari pasaran sebagaimana hari itu. Beberapa orang pedagang dari padukuhan lain telah berdatangan ke pasar itu. Ternyata Winih memang menjadi gembira melihat keramaian di1 pasar itu. Tidak seperti yang direncanakan, bahwa ia akan segera membeli sayur-sayuran segar. Tetapi yang pertama-tama menarik perhatiannya adalah justru para pedagang kain lurik yang beraneka-warna. Kain dengan garis-garis yang besar, tetapi ada yang bergaris-garis lembut. Ada yang berwarna pekat, tetapi ada juga yang berwarna cerah. Laksana yang berjalan dipaling belakang sempat bertanya "He, aku kira kita salah memilih sasaran." “Kenapa?" bertanya Winih. "Bukankah kau tergesa-gesa karena kau tidak mau kehabisan sayuran segar?" bertanya Laksana pula. "Nanti dulu" jawab Winih "aku senang melihat kain yang beraneka warna ini. Sebenarnya aku ingin membeli barang selembar atau dua lembar. Tetapi uang yang diberikan ibu hanya cukup untuk berbelanja sayur-sayuran dan bahan masakan yang lain.” "Karena itu, marilah, kita pergi kesisi lain, ketempat para pedagang, sayuran menjajakan dagangannya." berkata Laksana "Nanti dulu. Aku masih ingin melihat-lihat” jawab Winih. Laksana tidak berkata apapun lagi. Ia hanya berjalan saja mengikuti Winih sebagaimana Manggada. Keduanya tidak dapat berbuat apa-apa, bahkan seperti kerbau dicocok hidung. Namun dalam pada itu, ketiga anak muda itu sama sekali tidak menyadari, bahwa dua pasang mata tengah mengawasi mereka. Kedua orang yang melihat mereka bertiga telah dengan sengaja menjauhkan diri meskipun keduanya tetap mengawasinya. “Kedua orang anak muda itu adalah cucu Kiai Gumrah" berkata seorang diantara mereka. Yang seorang lagi adalah Kundala. Keringatnya mengaur membasahi seluruh tubuhnya seperti saat ia berada dirumah Kiai Gumrah. Ia tahu bahwa gadis itu tentu juga cucu Kiai Gumrah. Bahkan saat ia memasuki dapur Kiai Gumrah ia telah melihat pula gadis itu didapur bersama seorang perempuan yang disebut oleh Kiai Gumrah sebagai menantunya. "Kenapa kau menjadi gelisah?" bertanya kawannya. Kundala bagaikan tersadar dari mimpi buruknya. Dengan gagap ia menjawab "tidak. Sama sekali tidak." "Wajahmu menampakkan kecemasanmu. He, jangan takut terhadap anak-anak." "Aku tidak takut. Aku pernah mengalahkan mereka berdua" jawab Kundala. "Jadi kenapa kau menjadi begitu gelisah. Bahkan wajahmu bukan saja menunjukkan kecemasan hatimu, tetapi bahkan wajahmu menjadi pucat." berkata kawannya pula. "Aku sama sekali tidak cemas karena anak-anak itu. Tetapi Kiai Gumrah adalah pedagang-gula dipasar ini. Ia mempunyai beberapa kawan disini. Juga para pedagang gulai" jawab Kundala. “Darimana kau tahu?" bertanya kawannya. "Bukankah aku sering mendapat tugas kepasar. Menjemput seseorang, mengawasi seseorang atau bertemu dengan siapapun menurut perintah Kiai Windu Kusuma." jawab Kundala. Kawannya mengangguk-angguk. Ia memang percaya bahwa Kundala sudah sering berada di pasar bahkan tugastugas lain diluar lingkungan mereka. "Siapakah gadis itu" tiba-tiba kawannya bertanya. "Aku tidak tahu" jawab Kundala. Namun terasa katakatanya itu begitu pahitnya dilidahnya. Setiap kali ia selalu dibayangi oleh tuduhan dihidungnya bahwa ia telah berkhianat. "Aku tidak peduli" Kundala berteriak didalam hatinya "aku memang berkhianat." Namun mulutnya justru terkatup rapat. Sementara kawannya berkata "Kundala. Kau tidak perlu menjadi sangat cemas seperti itu. Seandainya pedagang gula itu berniat berbuat sesuatu, maka kita masih dapat melawan. Jika tidak, maka kesempatan untuk menghindarpun banyak sekali, karena kita ada dipasar yang ramai." Kundala tidak menjawab. Namun jantungnya berdenyut semakin keras ketika ia mendengar kawannya itu berdesis "Gadis itu sangat cantik." "Jangan ganggu gadis itu." Kawannya justru tertawa. Tetapi ia bertanya "Siapa kah gadis itu sebenarnya? Bukankah ia bukan anakmu?" "Memang bukan" jawab Kundala "tetapi jika gadis itu bersama-sama dengan cucu Kiai Gumrah, maka gadis itu tentu ada hubungannya pula dengan Kiai Gumrah." "Aku tidak peduh” jawab kawannya “aku masih muda. Gadis itu tumbuh dewasa. Apa salahnya jika aku memperkenalkan diriku? Jika kau takut dikenali kedua cucu Kiai Gumrah itu sebaiknya kau tidak usah ikut aku." berkata kawannya. “Kedua cucu Kiai Gumrah itu akan mengenalmu "jawab Kundala yang menjadi semakin gelisah. "Mereka belum mengenal aku" jawab kawannya. "Tetapi darimana kau tahu bahwa mereka adalah cucu Kiai Gumrah? Bukankah kau mengenalnya saat kau menyerang rumah Kiai Gumrah itu?" bertanya Kundala. "Sama sekali tidak. Bukankah aku belum pernah datang kerumah itu? Aku mengenalinya dari pengamatan saja. He, bukankah anak itu yang sering berada diregol rumah Kiai Gumrah? Yang sering pergi ke banjar lama itu?" sahut kawannya. Kundala tidak menjawab. Tetapi dengan demikian keringatnya menjadi semakin deras mengalir dipunggungnya. Karena dengan demikian ia tahu bahwa yang bertugas keluar lingkungan Kiai Windu Kusuma itu tentu beberapa orang pula. Bahkan tugas pengamatan. Jika saja ada tugas pengamatan yang dikirim oleh Kiai Windu Kusuma melihat ia singgah dirumah Kiai Gumrah, maka umurnya tentu akan segera berakhir. "Ternyata para pengikut Kiai Windu Kusuma tidak saling mengetahui tugas mereka yang satu dengan yang lain" berkata Kundala didalam hatinya. Namun Kundalapun meyadari bahwa dengan demikian maka Kiai Windu Kusuma akan dapat mengawasi orangorangnya sebaik-baiknya, meskipun Kundala sampai saat itu masih belum diketahui bahwa ia telah berkhianat. Meskipun Kundala masih dicengkam oleh kegelisahan, namun ia masih juga sempat memperingatkan kawannya itu "Jika kau mau mendengarkan aku, jangan ganggu gadis itu atau kau akan terjerumus kedalam kesulitan. Bahkan akan dapat mempengaruhi usaha Kiai Windu Kusuma yang menginginkan pusaka-pusaka dirumah Kiai Gumrah itu. Jika Kiai Windu Kusuma menganggap bahwa kau yang menyebabkannya, maka kau tahu, akibat apa yang akan kau alami." "Kau tahu hubunganku dengan Kiai Windu Kusuma?" bertanya kawannya. "Kau memang dianggap orang penting. Tetapi kedudukanmu bukan berarti memberimu kesempatan berbuat apa saja" berkata Kundala bersungguh-sungguh. Kawannya tertawa lagi. Katanya "Aku memang pengikut Kiai Windu Kusuma. Tetapi aku masih tetap mempunyai hak dan wewenang dalam persoalan pribadiku." "Tetapi kau tidak akan dapat menempatkan hak dan wewenangmu dalam persoalan pribadimu sekalipun melampaui kepentingan Kiai Windu Kusuma." berkata Kundala. "Kau tidak usah mengajari aku Kundala. Aku lebih tahu dari kau. Sebaliknya justru aku memperingatkairnu agar kau tidak mencampuri persoalanku.” Kundala memang tidak menjawab. Tetapi ia menjadi gelisah. Gadis itu pernah melihat ia datang kerumah Kiai Gumrah. Seandainya gadis itu kemudian benar-benar dapat berkenalan dengan kawannya itu, maka Kundala sendiri akan menjadi semakin sulit berhubungan dengan Kiai Gumrah. Bahkan mungkin gadis itu akan berceritera tentang hubungannya dengan penjual gula itu. Tetapi Kundala memang tidak berhasil mencegah kawannya itu. Dalam segala hal ia memang berada dibawa! tatarannya. Termasuk kemampuan olah kanuragan. Dalam pada itu, Winih memang sudah berada di sudut tempat para penjual sayuran menjajakan dagangannya. Dengan senang hati Winih memilih sayuran yang dikehendaki. Sambil menimang sebuah waluh kenti gadis itu berkata “Nah, bukankah di kebun kakek tidak ada buah waluh kenti seperti ini? Juga kangkung yang segar seperti ini.” "Kau senang sayur waluh kenti?" bertanya Laksana. "Tidak." jawab Winih. "Kenapa kau akan membelinya?" bertanya Laksana ?pula. "Siapa yang akan membelinya?" justru Winih bertanya. "Jadi?" Laksana termangu-mangu. "Aku hanya mengatakan bahwa di kebun kakek tidak terdapat buah waluh kenti. Tetapi aku tidak ingin membelinya." Laksana hanya mengangguk-angguk saja. Sementara Manggada tersenyum sambil menggamitnya. Namun dalam pada itu Winihpun berkata "Aku akan membeli kangkung. Aku ingin ibu membuat sayur padamara. Kangkung dengan kedelai hitam." Laksana hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi ia tidak ingin bertanya atau menebak kemauan Winih. Beberapa saat Winih memilih beberapa ikat daun kangkung yang nampak muda, hijau dan segar Kemudian setelah ia membayarnya, maka iapun segera beralih untuk membeli beberapa kebutuhan dapur yang lain. Namun ketika ia akan membeli seekor ayam, Manggada bertanya "Untuk apa kau membeli ayam?" "Aku ingin ayah menyembelihnya. Hari ini aku ingin makan dengan daging ayam selain sayur padamara." jawab Winih. "Bukankah kakek mempunyai banyak sekali ayam. Setiap kali kakek ingin daging ayam, maka kakek akan menyembelihnya seekor." berkata Manggada. "Aku tidak pernah dapat makan daging ayam yang pernah dipelihara sendiri." jawab Winih. "Bukankah ayam kakek itu bukan ayam yang pernah kau pelihara karena ketika kau datang ayam itu sudah ada disana." "Tetapi bukankah ayam itu dipelihara oleh kakek? Nah, itu sama saja artinya dengan ayam itu dipelihara sendiri." Manggada tidak bertanya lagi. Ia hanya mengikut saja dibelakang ketika Winih kemudian membeli bukan hanya seekor, tetapi bahkan dua ekor ayam. Beberapa saat kemudian, maka Winihpun telah selesai berbelanja. Ketika mereka pulang, maka Manggada dan Laksana harus ikut membantu membawa hasil pembelian Winih dipasar. Ketika mereka berjalan meninggalkan pasar itu, maka Darpati, kawan Kundala itu, memandang Winih dari kejauhan. Kundala yang telah mengenal dan dikenal oleh Winih, Manggada dan Laksana tidak ingin terlihat oieh ketiganya, sehingga Kundala lebih senang berada didalam pasar yang ramai ketika Darpati berada diluar pasar untuk memperhatikan Winih yang berjalan meninggalkan pasar bersama Manggada dan Laksana. Beberapa saat kemudian, maka perjalanan Winih bersama Manggada dan Laksana telah sampai ke bulak yang tidak begitu luas. Sementara itu, jalanpun nampak sepi. Orang-orang yang pergi ke pasar masih belum banyak yang pulang. Sementara itu, tanaman di.sawah yang tumbuh subur tidak lagi memerlukan penanganan setiap hari, sehingga dengan demikian maka bulak pendek itu kesannya memang sepi. Manggada dan Laksana memang terkejut ketika ia melihat anak muda yang tadi berlari-lari menyusul kawannya itu duduk diatas tanggul parit dipinggir jalan. Manggada dan Laksana yang berjalan dibelakang Winihpun merapat. Hampir berbisik Manggadapun berkata "Apa maksud anak muda itu? Kawan-kawan tidak begitu senang dengan anak muda itu." "Nampaknya ia sangat memperhatikan Winih." jawab Laksana "Jika ia berniat buruk, maka kita akan menghadapi persoalan yang rumit. Ia mempunyai pengaruh yang sangat besar atas anak-anak-muda sepadukuhan." desis Manggada. Laksana mengangguk kecil. Iapun sudah membayangkan kesulitan yang bakal terjadi jika anak itu mulai mengganggu Winih. Manggada dan Laksana sama sekali tidak takut menghadapi anak muda itu sendiri. Tetapi itu akan berarti hubungannya dengan anak-anak muda padukuhan itu mengalami hambatan. Anak muda yang mempunyai pengaruh yang sangat besar itu akan dapat mengendalikan sikap anak-anak muda padukuhan itu. Namun demikian mereka berjalan terus. Manggada dan Laksana masih belum melihat apakah anak muda itu memang bermaksud buruk atau kebetulan saja ia memang duduk disitu. Semakin dekat dengan anak muda yang duduk di tanggul parit itu, maka Manggada dan Laksana menjadi semakin berdebar-debar. Apalagi ketika kemudian anak muda itu justru berdiri saat Winih tinggal beberapa langkah saja dari padanya. Tetapi Winih sendiri sama sekali tidak memperhatikan anak muda itu. Ia berjalan saja tanpa berprasangka apapun terhadap anak muda yang kemudian berdiri diatas tanggul itu. Namun Winih itu terpaksa menghentikan langkahnya ketika anak muda itu mengangguk hormat. Dengan nada rendah ia berkata "Selamat datang di padukuhan kami. anak manis." Winih mengerutkan dahinya. Ketika ia berpaling kepada Manggada dan Laksana, maka kedua anak muda itu sudah berdiri dekat dibelakangnya. “Anak itu adikku" berkata Manggada. "O" anak muda itu mengangguk-angguk "satu kebetulan. Bukankah kita sudah bersahabat? Apa salahnya jika aku juga berkenalan dengan adikmu?" Manggada dan Laksana terkejut ketika Winih sendiri menjawab "Jika kau sahabat kakak-kakakku, maka sudah tentu aku tidak berkeberatan berkenalan dengan kau.” Bahkan anak muda itu sendiri terheran-heran mendengar jawaban gadis itu. Apalagi kemudian Winih itu berkata "Namaku Winih. Siapa namamu?" Anak muda itu termangu-mangu sejenak. Baru kemudian ia menjawab "Namaku Rambatan." "Nama yang bagus" sahut Winih. Rambatan itu semakin heran ketika Winih berkata "Marilah. Aku akan pulang. Ibu tentu menunggu. Jika aku kesiangan sampai dirumah, maka ibupun akan kesiangan pula menyiapkan makan kami sekeluarga." Rambatan semakin termangu-mangu. Niat yang sudah memenuhi kepalanya untuk mengganggu gadis itu justru bagaikan terdesak tenggelam dalam keheranannya melihat sikap Winih yang sama sekali tidak diduganya. Sama sekali tidak terlintas dikepalanya jika kemudian gadis itu berkata "Rambatan. Marilah, kita berjalan bersama. Bukankah kita tinggal di padukuhan yang sama." Rambatan itu dengan gagap menjawab "Tetapi, tetapi aku masih harus pergi ke sawah. Terima kasih. Lain kali saja." Manggada dan Laksana justru termangu-mangu ketika Rambatan itu berkata kepada mereka "Aku akan pergi ke sawah. Sawahku ada disebelah itu." "Baiklah" jawab Manggada dan Laksana hampir berbareng. Rambatan memang segera pergi. Sementara itu seolaholah tidak terjadi sesuatu. Winih melanjutkan perjalanannya Dengan nada tinggi ia berkata "Ibu tentu sudah menunggu” Manggada dan Laksana mengikuti saja langkah Winih yang menjadi semakin cepat. Sementara itu Manggada dan Laksana justru mulai menilai sikap gadis itu. Apakah gadis itu memiliki kemampuan menilai seseorang, kemudian dengan kematangan sikapnya menanggapinya atau justru karena Winih seorang gadis yang lugu sehingga ia sama sekali tidak berprasangka buruk terhadap siapapun juga. Juga kepada Rambatan. Namun Manggada dan Laksana yang kemudian saling berbincang diperjalanan meskipun perlahan-lahan telah memutuskan untuk menyampaikan hal itu kepada Kiai Gumrah dalam kesempatan yang khusus. Agar ayah dan ibu Winih tidak mendengarnya. Kecuali jika kemudian Kiai Gumrah memang ingin berbicara dengan ayah dan ibunya. Ketika mereka bertiga sampai dirumah, maka ibu Winih memang sudah sibuk didapur. Nasi telah dijerang. Bumbu yang sudah adapun telah tersedia. Namun, demikian Kiai Gumrah melihat Laksana membawa dua ekor ayam, maka iapun bertanya "He, untuk apa kalian membeli ayam?" "Hari ini kita akan makan agak lain dari biasanya" jawab Winih "aku akan minta ayah memotong kedua ekor ayam itu." "Winih, bukankah kakek mempunyai beberapa ekor ayam?" berkata Kiai Gumrah. "Aku tidak mau menyembelih ayam sendiri." jawab Winih. Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam, sementara Nyi Prawara berkata "Anak itu memang tidak mau menyembelih ayam yang dipelihara sendiri. Karena itu, jika ia ingin ayahnya menyembehh ayam, maka lebih baik ia membeli. Bahkan jika tidak mempunyai uang ayamnya sendiri dijualnya." Kiai Gumrah tersenyum. Namun terbersit dihatinya tanggapannya atas jiwa cucunya itu. Gadis itu tentu mempunyai perasaan yang mudah tersentuh serta kesetiakawanan yang tinggi. Karena itu, maka Kiai Gumrahpun tidak bertanya lagi tentang kedua ekor ayam itu. Sementara itu Rambatan memang telah pergi ke. sawahnya. Tetapi demikian ia sampai di sawah, maka iapun menjadi seperti tersadar dari mimpi yang asing. “Kenapa aku justru seperti orang yang terbius?" pertanyaan itu telah bergejolak dihatinya. Rambatan menyesal, kenapa ia tidak berjalan mengikuti gadis itu sampai kepadukuhan. Berbicara dan barangkali bercanda dengan gadis cantik itu. Manggada dan Laksana tentu tidak akan berani melarangnya berbuat apa saja terhadap adiknya itu. "Aku telah melewatkan kesempatan ini" berkata Rambatan yang kesal kepada diri sendiri. Tetapi sebenarnyalah kesempatan itu masih terbuka baginya. Winih tidak hanya sekali pergi ke pasar. Dikeesokan harinya, ternyata Winih minta Manggada dan Laksana mengantarnya lagi ke pasar. "Apakah kau akan membeli ayam lagi?" bertanya Manggada. "Ah kau" desis Winih "aku ingin membeli kain lurik yang berwarna merah bata itu. Aku senang sekali. Mungkin ibu juga senang setelah melihatnya dan ingin pula membelinya." Namun Manggada dan Laksana masih saja selalu ingat pesan Kiai Gumrah. Jika mereka terlalu sering keluar rumah maka persoalannya akan dapat berkembang. Orangorang Kiai Windu Kencana mungkin akan mempunyai rencana tertentu terhadap mereka. Apalagi jika mereka mengetahui bahwa Winih memang cucu Kiai Gumrah. Namun agaknya Winih sama sekali tidak menghiraukan bahaya itu. Bahkan ketika ayahnya memperingatkan agar ia tidak usah pergi kepasar hari itu, Winih mulai merengek. "Biarlah ia pergi" desis ibunya "angger Manggada dan Laksana akan menemaninya." Ki Prawara sempat berbisik "Ayah mencemaskannya. Orang-orang Kiai Windu Kusuma mungkin sekali mengamatinya." "Apa yang akan mereka lakukan disiang hari? Bukankah jalan tidak terlalu sepi? Sementara itu angger Manggada dan Laksana bersamanya." Ki Prawara mengangguk-angguk. Katanya "Baiklah. Tetapi besok Winih tidak boleh pergi iagi ke pasar.” Nyi Prawara mengangguk. Katanya "Baiklah. Setelah hari ini, maka ia tidak boleh terlalu sering pergi ke pasar. Kecuali untuk menjaga keselamatannya, maka uang kitapun akan segera habis." Ki Prawarapun tersenyum. Sambil mengangguk kecil ia berkata "Kau benar. Bekal kita memang tidak terlalu banyak." Seperti direncanakan, maka Winih memang telah pergi ke pasar bersama Manggada dan Laksana. Mereka bertemu lagi beberapa orang anak muda yang pergi ke sawah. Merekapun melihat anak muda yang berwajah keras dan bernama Rambatan itu berjalan dengan beberapa orang anak muda pula sambil membawa cangkul. Winih menanggapi sikap mereka dengan baik. Ketika anak-anak muda itu mengangguk hormat, maka Winihpun mengangguk homat pula. Demikian pula ketika ia bertemu dengan Rambatan. Ia menjawab sapa Rambatan dengan wajar. Namun nampaknya Winih tidak memperhatikan sorot mata Rambatan yang memancar bagaikan sorot mata serigala yang melihat seekor anak domba. Manggada dan Laksana yang melihat kilatan sorot mata itu-menjadi berdebar-debar pula. Tetapi Laksanapun berkata perlahan-lahan tanpa didengar oleh Winih "Tetapi kemarin ia bersikap baik. Rambatan tidak mengganggu Winih.” "Mudah-mudahan untuk seterusnya ia bersikap baik." jawab Manggada. Di pasar, Winih memang langsung menuju ketempat para penjual kain lurik. Beberapa kali ia memilih. Digelarnya beberapa lembar kain. Tetapi kain itupun harus dilipat lagi oleh penjualnya karena Winih ternyata tidak menyenanginya. Manggada dan Laksana menjadi tidak telaten menunggu Winih memilih kain lurik yang di mgminya. Tetapi ketika hal itu dikatakan oleh Laksana, maka sambil memberengut Winih berkata "Jika kalian akan pulang dahulu, pulang sajalah." "Bukan itu maksudku, Winih" jawab Laksana "tetapi penjual kain itu akan dapat marah kepada kita. Berapa saja yang sudah digelarnya. Tetapi kau selalu menolaknya." Winih memandang Laksana sejenak. Namun kemudian katanya "Bukankah wajar untuk memilih barang yang hendak kita beli?" "Tetapi tidak terlalu lama seperti itu." Namun ternyata Winihpun mengangguk. Seperti yang direncanakan dari rumah, maka akhirnya Winih memang memilih selembar kain yang berwarna merah bata. Tetapi sementara itu, sepasang mata masih saja selalu mengikutinya. Ternyata Darpati, kawan Kundala, yang melihat Winih berada dipasar lagi, telah mengikutinya meskipun dari jarak tertentu, sehingga Winih, Manggada dan Laksana tidak mengetahuinya, bahkan ketika Darpati itu lewat dan sempat menyinggung Winih yang sedang memilih kain lurik itu. Namun yang kemudian telah mengambil jarak lagi. Dalam pada itu, setelah mendapat kain yang diingininya, maka Winihpun mengajak Manggada dan Laksana pulang. Namun Winih masih singgah untuk membeli beberapa kebutuhan dapur sesuai dengan pesan ibunya. Dengan wajah yang cerah Winih melangkah menyusuri jalan pulang. Manggada dan Laksana yang berjalan dibelakangnya mengikuti langkah-langkah kecil yang cepat itu, Sambil berpaling Winih berkata "Marilah. Kenapa begitu lambat? Aku ingin segera menunjukkan kain itu kepada ibu. Biarlah ibu menilainya, apakah pilihanku tepat atau tidak. Sesuai atau tidak dengan kulitku." Diluar sadarnya Manegrada dan Laksana justru memperhatikan kulit Winih. Gadis itu kulitnya memang nampak bersih. Sebagai seorang gadis desa, maka Winih termasuk berkulit kuning meskipun nampak terpaan sinar matahari yang membakar. Seperti dikatakan ibunya, Winih hampir setiap hari dipanggang oleh panasnya matahari di sawah dan pategalan bersama dengan ayah dan ibunya. Namun dalam pada itu, ketika mereka sampai dibulak kecil, Manggada dan Laksana melihat lagi Rambatan duduk di tanggul parit, la tidak sendiri. Tetapi Rambatan duduk diparit bersama dengan ampat orang kawannya. Manggada dan Laksana menjadi berdebar-debar. Bahwa Rambatan berada di bulak pendek itu bersama dengan ampat orang kawannya, maka persoalan yang tidak diinginkan akan dapat timbul. Winihpun kemudian melihat pula Rambatan dan kawankawannya. Karena itu, maka berbeda dengan hari sebelumnya, Winih telah memperlambat langkahnya. Bahkan kemudian ia bertanya "Kenapa Rambatan itu ada disana lagi?" "Entahlah" berkata Manggada "mudah-mudahan ia tidak mengganggumu lagi." "Rambatan belum pernah menggangguku" jawab Winih. "Bukankah kemarin ia juga menunggumu disana?" bertanya Laksana. "Tetapi aku tidak merasa terganggu dengan kehadirannya kemarin. Tetapi sekarang ia datang lagi bersama beberapa orang kawannya. Jika semuanya nanti bertanya seorang demi seorang, maka aku memang akan merasa terganggu." desis Winih. "Mudah-mudahan mereka hanya bertanya saja" desis Laksana. "Apakah mungkiri lebih dari itu?" bertanya Winih "Winih" berkata Manggada kemudian "hati-hatilah. Menurut beberapa orang kawannya yang aku kenal. Rambatan bukan seorang yang baik. Ia mempunyai sifat yang tidak disukai oleh kawan-kawannya karena ia sangat mementingkan dirinya sendiri." "Teiapi kenapa kawan-kawannya mau datang bersamanya?" bertanya Winih. "Memang ada beberapa orang anak muda yang secara khusus sangat dekat dengan Rambatan. Anak-anak muda itu tentu mempunyai pamrih. Karena Rambatan ditakuti oleh anak-anak muda sepadukuhan dan bahkan padukuhan-padukuhan disekitarnya, maka ada beberapa orang yang ingin menompang untuk ikut ditakuti karena mereka adalah kawan-kawan dekat Rambatan." jawab Manggada. "Tetapi disiang hari mereka tidak akan berbuat apa-apa" berkata Winih. "Belum tentu Winih" jawab Laksana "bulak kecil ini terhitung sepi pada saat seperti ini. Memang sebentar lagi jalan ini akan banyak dilalui orang dari pasar. Tetapi sekarang kita tidak melihat orang lewat dan orang yang berada di sawah." Winih tidak menjawab. Tetapi ia tidak lagi berjalan terlalu cepat. Sementara itu Rambatan dan kawan-kawannya telah bangkit berdiri. Dengan nada berat Rambatan berkata kepada kawan-kawannya "Gadis itu tidak akan dapat menyihirku lagi." "Apakah kau pernah disihirnya?" bertanya seorang kawannya. "Kemarin aku seakan-akan disihirnya. Tiba-tiba saja aku menjadi dungu, dan kehilangan akal menghadapi gadis itu." jawab Rambatan. "Sekarang apa yang akan kau lakukan?" bertanya kawannya yang lain. "Aku akan mengajaknya singgah dirumah. Aku mempunyai dua ekor ayam yang dapat aku berikan kepadanya. Kemarin gadis itu membawa dua ekor ayam dari pasar."jawab Rambatan. "Hanya itu?" bertanya kawannya yang lain lagi. "Ya. Lalu apa?" Rambatan justru bertanya "aku tidak gila untuk berbuat lebih dari itu kali ini. Entah besok atau lusa. Mudah-mudahan ia berada disini untuk waktu yang lama. Kakeknya, penjual gula itu tidak akan banyak bertingkah." "Bagaimana dengan ayahnya dan kedua orang anak muda itu?" bertanya kawannya pula. "Mereka bukan penghuni padukuhan ini. Mereka tidak akan berani berbuat apa-apa." jawab Rambatan. Kawan-kawannya tidak menjawab lagi. Winih dan Manggada serta Laksana yang berjalan disebelah menyebelah menjadi semakin dekat. Bertiga mereka memang nampak berhati-hati. Demikian Winih menjadi semakin dekat maka Rambatan itupun melangkah menyongsongnya sambil ter:senyum. Winih yang mulai memperhatikan anak muda itu melihat betapa Wajahnya nampak keras sehingga senyumnya sama sekali tidak berkesan ramah. Tetapi Winih justru bertanya lebih dahulu "Bukankah kau Rambatan yang kemarin?" "Ya" jawab Rambatan "aku memang ingin berbicara dengan kau Winih." “Berbicara apa? Bukankah sejak kemarin kita sudah berbicara?" justru Winih yang bertanya. Rambatan mengerutkan dahinya. Namun sambil mengangguk ia menjawab "Ya. Kemarin kita memang sudah berbicara.” "Jika demikian, apa lagi yang akan kita bicarakah?" Rambatan tiba-tiba menjadi bingung. Diluar sadarnya ia berpaling kepada kawan-kawannya. Seorang kawannyalah yang kemudian berkata "Bukankah kau mempunyai dua ekor ayam?" "O, ya" berkata Rambatan dengan serta merta "aku mempunyai dua ekor ayam. Aku minta kau singgah sebentar dirumahku. Kau dapat membawa dua ekor ayam itu. Bukankah kemarin kau membeli dua ekor ayam rlinasar?" Winih tersenyum. Katanya "Terima kasih Rambatan. Ayam itu masih ada sampai sekarang. Ayah belum sempat menyembelihnya. Karena itu, aku masih belum memerlukan ayam lagi. Mungkin lain kali saja." Satu kesalahan telah dilakukan oleh Winih tanpa disadarinya. Justru karena itu tersenyum. Rambatan yang melihat Winih tersenyum, jantungnya serasa berdebar semakin cepat. Meskipun kemarin Winih juga tersenyum, tetapi saat itu Rambatan melihat wajah Winih menjadi secantik wajah bidadari. Karena itu, maka per.alaian Rambutan menjadi semakin goncang. Dengan suara bergetar ia kemudian berkata bahkan dengan nada memaksa "Winih. Aku minta kau singgah sebentar dirumahku. Aku sudah menyediakan dua ekor ayam buatmu. Kau tidak boleh menolak. Ayah dan ibuku sudah tahu bahwa kedua ekor ayam itu akan aku peruntukkan bagimu." "Bagaimana ayah dan ibumu mengetahui tentang aku?" bertanya Winih. "Aku yang mengatakannya kepada mereka. Aku berceritera tentang kau. Bahwa kau cucu pembuat dan penjual gula itu. Bahwa kau cantik dan ramah." berkata Rambatan. Winih menarik nafas dalam-dalam. Pernyataan itu mulai tidak menyenangkan hati gadis itu. Tetapi gadis itu masih saja mengulangi kesalahan yang tidak disadarinya. Tersenyum. Winih sama sekali tidak mengetahui bahwa senyumnya telah membuat Rambatan menjadi bagaikan orang mabuk. Namun Winih itu menjawab "Rambatan. Aku tidak dapat membuat ibu gelisah. Aku harus segera pulang. Atau kau saja yang pergi kerumah kakek? Aku akan menghidangkan minuman hangat dengan gula kelapa. Kakek mempunyai banyak gula kelapa” Rambatan menjadi bingung. Bahkan ia menjadi gelisah. Keringat dingin membasahi punggung dan keningnya. Hampir saja ia mengangguk mengiakan. Tetapi seorang kawannya berkata "Bukankah kau telah berniat untuk mengajak Winih pulang dan memberinya dua ekor ayam?" Sebelum Rambatan menjawab, Winih sudah lebih, dahulu menjawab "Ia sudah mengatakannya tadi. Akupun telah menjawab." "Tetapi jawabmu tidak sebagaimana dimaksudkan oleh Rambatan" berkata anak muda kawan Rambatan itu "Rambatan ingin mengajak kau kerumahnya sekarang." Manggada dan Laksana memang menjadi ragu-ragu.. Jika ia langsung demikian mencampurinya, maka kemungkinan buruk dapat terjadi. Dengan demikian mereka tidak akan dapat menyembunyikan diri lagi terhadap anak-anak muda pedukuhan itu sehingga hubungannya dengan anak-anak muda sepadukuhah akan berubah. Dalam pada itu Winihpun menjawab "Maaf, Ki Sanak. Aku akan segera pulang. Aku justru mengajak Rambatan singgah dirumahku." Tetapi kawannya masih saja berkata "Tentu kurang pantas jika Rambatan yang harus singgah dirumah kakekmu. Kau sajalah yang singgah dirumahnya." Manggada ternyata tidak tahan lagi. Karena itu, maka iapun menjawab “Itu terbalik Ki Sanak. Bukankah lebih baik seorang laki-laki datang berkunjung kerumah seorang gadis daripada sebaliknya?" "Itu pikiran orang-orang tua yang tidak tahu diri." jawab kawan Rambatan itu "tetapi apapun alasannya, sebaiknya Winih singgah sebentar dirumah Rambatan." Rambatan sendiri memang menjadi agak bingung. Ia bahkan menjadi sangat gelisah. Apalagi ketika Winih menjawab langsung ditujukan kepadanya "Rambatan. Bukankah kau tidak berkeberatan berjalan bersama aku dan singgah dirumah kakek?" Rambatan memang tidak segera menjawab. Tetapi kawannya yang lain tiba-tiba dengan kasar berkata "Kau tidak mempunyai pilihan, Winih. Kau harus singgah. Manggada dan Laksana juga harus ikut meskipun kalian tidak perlu ikut singgah dirumah Rambatan." Manggada dan Laksana melihat gelagat yang tidak baik. karena itu maka ia tidak mempunyai pilihan laim Karena itu, maka Laksanapun telah menjawab meskipun masih berusaha mengekang diri "Jangan begitu Ki Sanak Winih tentu akan bersedia singgah. Tetapi lain kali. Tidak sekarang. Jika ia terlambat pulang, tentu ibu dan ayahnya menjadi gelisah sekali.” "Mungkin. Tetapi jika saatnya Winih pulang dengan membawa dua ekor ayam, ayah dan ibunya tentu tidak akan marah." jawab kawan Rambatan yang bermata merah. Karena Rambatan sendiri masih saja berdiam diri, maka seorang kawannya menggamitnya sambil berkata "Kau harus berkata dengan tegas. Kau adalah seorang laki-laki. Bahkan laki-laki yang paling ditakuti di padukuhan ini. Bukan saja oleh anak-anak muda, tetapi orang-orang tuapun takut kepadamu." Rambatan mengerutkan dahinya. Sementara kawannya berkata "Dua orang kakak Winih itupun tentu tidak akan berani menghalangimu. Karena itu, kau mempunyai wewenang untuk memaksa Winih mengikutimu." Rambatan memandang Manggada dan Laksana berganti-ganti. Meskipun ia menjadi bingung menghadapi seorang gadis, tetapi ketika ia melihat Manggada dan Laksana, maka kekerasan hatinya dan kekasarannyapun justru timbul. Hampir diluar sadarnya ia berkata "Jangan ikut campur. Nanti aku memilin lehermu sampai patah." Manggada dan Laksana sebenarnya sama sekali tidak takut terhadap anak muda yang bernama Rambatan itu. Bahkan dengan kawan-kawannya sama sekali. Tetapi yang diragukan justru anak-anak padukuhan akan mengenali kemampuannya. Namun dalam pada itu, mereka melihat seorang yang masih nampak muda, sedikit lebih tua dari Manggada dan Laksana, berjalan menuju kearah mereka. Langkahnya lebar dan cepat, sehingga beberapa saat kemudian orang itupun menjadi semakin dekat. "Sokurlah" berkata Winih “ada orang lewat. Aku akan, berjalan bersamanya jika Rambatan tidak mau berjalan bersama aku." Tetapi seorang kawannya memperingatkan "Jangan menyeret orang itu kedalam kesulitan. Biarlah orang itu tidak usah turut campur, sehingga ia tidak akan terjerumus kedalam lumpur sawah yang basah itu." Tetapi orang itu sudah menjadi semakin dekat. Bahkan kemudian orang itu justru melangkah langsung mendekati Winih. Manggada dan Laksana menjadi berdebar-debar. Hampir saja mereka menahan orang itu agar tidak berdiri terlalu dekat dengan Winih. Tetapi demikian orang itu berhenti, maka iapun segera, menghadap kearah Rambatan sambil berkata "Apakah kalian bermaksud mengganggu gadis ini?" "Siapakah kau?" bertanya kawan Rambatan. "Namaku Darpati. Aku kebetulan saja lewat. Dari kejauhan aku melihat sesuatu yang tidak sewajarnya terjadi disini, sehingga aku tergesa-gesa mendekat.” Rambatan yang melihat sikap anak muda itu hatinya bagaikan disulut api. Kekerasan dan kekasarannya yang mulai terungkit oleh sikap Manggada dan Laksana, semakin membara dihatinya. Karena itu maka iapun berkata lantang "He, anak dungu. Jika kau ingin lewat, lewat sajalah. Jangan ikut mencampuri persoalan kami dengan gadis itu. Tidak ada persoalan apa-apa diantara kami. Kami yang sudah akrab memang sedang berbincang-bincang saja. Karena itu, pergilah dan jangan membuat aku marah." Namun tiba-tiba saja Winih berkata kepada anak muda yang lewat itu "Ki Sanak. Apakah kau akan pergi kepadukuhan sebelah? Jika demikian, marilah, kita akan berjalan bersama-sama." Darpati mengerutkah dahinya. Namun kemudian ia menjawab "marilah, aku memang akan berjalan ke padukuhan sebelah." Tetapi seorang kawan Rambatan justru berteriak "Tidak. Kau tidak akan pergi kemanapun. Kau harus mengambil dua ekor ayam itu. Ayam itu sudah terlanjur ditangkap dan diikat sejak fajar." "Kalian memang aneh Ki Sanak" berkata Darpati "sikap kalian tidak dapat aku mengerti. Gadis ini akan berjalan terus. Agaknya kalian memaksa gadis ini untuk melakukan sesuatu." "Ia sendiri yang memesan dua ekor ayam" jawab kawan Rambatan "ayam itu sudah disediakan." "Sudahlah" berkata Winih'yang nampaknya masih saja tenang "aku akan pulang bersama anak muda ini. Selain kedua orang kakakku itu." "Tidak. Kau tidak dapat berbuat begitu" kawan Rambatan mulai membentak. Namun Darpatipun berkata" Marilah. Aku antar kau sampai kerumahmu. Jangan takut." Lalu iapun berpaling kepada Manggada dan Laksana "aku akan pulang bersamamu.” Tetapi Rambatan menggeram "Anak muda. Tinggalkan tempat ini atau kau akan menyesali tingkah lakumu itu." "Kau mau apa?" bertanya Darpati. "Aku akan memilin lehermu" jawab Rambatan. Darpati tertawa. Iapun kemudian berpaling kepada Manggada dan Laksana. Darpati tahu bahwa Manggada dan Laksan memiliki kemampuan yang tentu cukup untuk mengalahkan Rambatan dan kawan-kawannya, karena Darpati sudah mendengar tentang keduanya. Tetapi adalah kebetulan bahwa Manggada dan Laksana belum berbuat sesuatu Darpati memang merasa beruntung mendapatkan kesempatan itu, karena dengan demikian ia akan dapat berkenalan dengan Winih dan bahkan telah memberikan jasa baiknya pula. Dengan nada rendah ia berkata kepada Manggada dan Laksana “Bawa adikmu menepi. Aku akan menyelesaikan anak yang tidak tahu diri ini." "Setan kau” geram Rambatan. Ia sudah terbiasa berbuat kasar. Diantara kawan-kawannya maka ia adalah anak muda yang paling ditakuti. Bahkan sepadukuhan menganggapnya orang yang terkuat dari antara semua lakilaki. Karena itu, melihat sikap Darpati, jantungnya benarbenar telah terbakar. Dengan garangnya ia menggeram pula "Aku tidak terbiasa memberi kesempatan,orang yang berani menentangku lolos dari tanganku. Tetapi kali ini aku masih berusaha untuk mengekang diri. Pergilah dan jangan ganggu gadis itu." Darpati justru tertawa. Katanya “Siapakah yang mengganggu gadis itu. Ia minta agar aku berjalan bersamanya ke padukuhan sebelah." "Jika kau tidak mau mendengar kata-kataku, maka aku akan melakukan sebagaimana selalu aku lakukan terhadap siapa saja yang menentangku." Tetapi Darpati masih saja tertawa. Katanya "Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Hanya para pengecut sajalah yang takut kepadamu." Rambatan tidak menunggu lebih lama lagi. Iapun segera bergeser dan bersiap untuk berkelahi. Manggada dan Laksana telah membawa Winih menepi. Keduanya memang merasa beruntung pula bahwa mereka tidak perlu berkelahi. Melihat sikap dan gerak Darpati, maka Manggada dan Laksana mengetahui bahwa ia tentu seorang yang memiliki bekal ilmu kanuragan. Memang agak berbeda dengan Rambatan yang melandasi keberaniannya pada tenaganya yang besar dan mungkin sedikit saja pengetahuannya tentang olah kanuragan. Demikianlah, sejenak kemudian maka Rambatanpun mulai menyerang dengan- garangnya. Tenaganya memang kuat sekali. Ayunan serangannya telah menggetarkan udara disekitarnya. Tetapi Darpati tersenyum saja melihat serangan itu. Dengan gerak yang sederhana ia berhasil menghindarinya. Bahkan demikian tangan Rambatan terayun sejengkal dihadapan wajahnya, maka dengan keempat ujung jarinya yang terbuka dan merapat Darpati menyentuh lambung Rambatan. Sambil menyeringai menahan sakit yang menyengat Rambatan meloncat surut.. Darpati tidak memburunya. Sambil tersenyum ia berkata "Ki Sanak. Untuk memenangkan sebuah perkelahian, seseorang tidak cukup mengandalkan kekuatan kewadagan saja. Tetapi kita harus mengenal cara dan akal untuk mengatasi sekedar kekuatan wadag. Bahkan seseorang yang lebih lemah akan dapat mengalahkan lawannya yang jauh lebih kuat, justru dengan meminjam kekuatan lawannya yang berlebihan itu." "Cukup" bentak Rambatan "aku tidak perlu sesorahmu. Aku justru ingin mengoyak mulutmu itu." Darpati justru tertawa. Kalanya "Kau harus berlatih bertahun-tahun untuk dapat menguasai dasar ilmu untuk menyelesikan tataran pertama. Dan bertahun-tahun tataran kedua dan berikutnya.” Tetapi Rambatan tidak menjawab. Sekali lagi ia meloncat menyerang. Tangannya yang kuat dengan jari-jari terbuka menerkam wajahnya. Darpati sama sekali tidak mengalami kesulitan untuk menghindar. Tetapi Darpati tidak menghindar seluruhnya. Seperti yang dikatakan, maka Darpati justru menangkap pergelangan tangan Rambatan dan mempergunakan tenaga dorongnya, maka Darpati membalikkan tubuhnya sambil menarik tangan lawannya. Tarikan yang tidak begitu kuat, didorong oleh tenaganya sendiri, maka Rambatan justru terlempar lewat diatas pundak Darpati yang merendah, sambil membalikkan tubuhnya. Rambatan benar-benar telah terlempar. Bahkan berputar sekali diudara dan jatuh terbanting ditanah. Darpati yang kemudian berdiri bertolak pinggang memandangi Rambatan yang kesakitan. Anak muda itu memang berusaha untuk bangkit dan berdiri. Tetapi punggungnya terasa nyeri Dalam pada itu adalah diluar dugaan, bahwa seorang diantara kawan Rambatan telah meloncat menyerang dari belakang. Darpatipun sama sekali tidak menduga. Sementara itu Manggada dan Laksana berdiri pada jarak yang cukup jauh karena mereka telah mengajak Winih menepi. Dengan demikian maka serangan kaki itu langsung mengenai punggung Darpati. Darpati terdorong dengan derasnya beberapa langkah dan bahkan jatuh terjerembab. Tetapi Darpati memang tangkas. Ia tidak tersuruk dengan wajahnya membentur tanah. Tetapi Darpati justru melingkar dan jatuh pada pundaknya dan bergulung beberapa kali. Dalam sekejap Darpati sudah berdiri tegak. Keningnya nampak berkerut, sementara sorot, matanya memancarkan kemarahan yang menyala di dadanya. Dengan nada tinggi ia berkata "Pengecut kau. Kau serang aku dari belakang justru saat aku memberi kesempatan kawanmu bangkit. Karena itu, maka kau akan menerima akibat dari perbuatanmu itu." Anak muda yang telah menyerang Darpati dari belakang itu mundur selangkah. Sorot mata Darpati memang membuat jantungnya bergetar. Tetapi karena Ia tidak sendiri maka iapun berpaling kepada kawan-kawannya agar merekapun ikut bertanggung jawab. Sebenarnyalah bahwa kawan-kawannya memang tidak membiarkannya melawan seorang diri. Bahkan Rambatan yang punggungnya terasa nyeri itupun sudah siap untuk berkelahi. Darpati menyadari bahwa ia harus melawan lima orang sekaligus. Tetapi ia sama sekali tidak tergetar hatinya. Manggada dan Laksana yang melihat Darpati harus berhadapan dengan lima orang itu tidak dapat tinggal diam. Betapapun mereka ingin berbuat sebagaimana Kiai Gumrah tanpa menunjukkan kemampuannya kepada orang-orang padukuhan itu, namun mereka tidak akan dapat berdiam diri melihat Darpati yang berusaha melindungi Winih harus bertempur seorang diri. Tetapi ketika Manggada dan Laksana melangkah maju meninggalkan Winih sendiri, Darpati itupun berkata "Jangan tinggalkan gadis itu sendiri. Biarlah aku selesaikan anak-anak yang tidak tahu diri ini." Rambatan dan keempat kawannya itu mulai menge pungnya. Rambatan yang punggungnya masih terasa nyeri itupun berkata "Kau akan menyesal anak yang sombong." Tetapi Darpati tertawa. Katanya "aku tidak akan pernah menyesal menginjak kepala cucurut yang licik." Rambatan memang merasa terhina sekali. Iapun kemudian memberi isyarat kepada kawan-kawan untuk segera menyerang. Kelima orang itu memang serentak menyerang. Tetapi Darpati benar-benar seorang yang tangkas. Ketika kelima orang itu menyerang, maka Darpati nampaknya memang tidak menghindar. Tetapi orang-orang yang sedang berkelahi itu nampak berputaran, berbenturan dan kemudian seakan-akan tidak dapat diikuti lagi apa yang terjadi karena, mereka saling berbaur seakan-akan hanya sekedar dorong-mendorong. Tetapi yang mengejutkan kemudian adalah, kelima orang itu seakan-akan telah terlempar dan berjatuhan terbanting ditanah. "Apa yang terjadi?" bertanya Manggada didalam hatinya. Demikian pula Laksana memang menjadi heran melihat peristiwa itu. Kelima orang anak muda yang dipimpin oleh Rambatan itu ternyata telah mengalami kesulitan. Mereka mengalami kesulitan untuk bangkit berdiri, badan mereka terasa sakit. Tulang-tulang mereka bagaikan menjadi retak. Apalagi Rambatan sendiri yang nyeri di punggungnya masih terasa. Ditambah lagi dengan perasaan sakit yang menyengat pundak dan lambungnya. Bahkan nafasnyapun seakan-akan menjadi sesak. Darpati berdiri tegak diantara tubuh yang terbaring dan menggeliat Kesakitan. Namun ternyata ia masih marah kepada anak muda yang menyerangnya dari belakang. Digapanrya baju anak itu dan ditariknya berdiri. Dengan geram Darpati berkata "Nah, sekarang aku ingin membalas. Aku ingin menyerang punggungmu dengan tendangan sekuat tenagaku." "Jangan" anak itu merengek "aku minta ampun." "Aku mengampuni kawan-kawanmu. Tetapi karena kau licik, maka aku tidak mengampunimu." "Ampun. Aku mohon ampun" anak itu menangis. Tiba-tiba saja Darpati mendorong anak itu sehingga jatuh. Namun iapun kemudian tertawa sambil berkata "Kau benar-benar licik. Kau serang aku dari belakang, sekarang kau menangis Sehingga aku menjadi iba." Darpatipun kemudian meninggalkan anak-anak muda yang sudah tidak mampu berbuat, apa-apa itu. Bahkan Rambatan masih saja mengerang kesakitan. Sambil mendekati Winih. ia berkata "Marilah. Aku antar kau pulang, Winih." Winih tersenyum sambil menjawab "Terima kasih. Aku hanya merepotkan saja." "Tidak" jawab Darpati "Itu sudah menjadi kewajibanku." Winih tidak menjawab lagi Tetapi iapun kemudian melangkah bersama Darpati menuju kepadukuhan sebelah. Sekali Winih masih berpaling kepada Rambatan dan kawan-kawannya. Namun kemudian ia melangkah semakin jauh. Manggada dan Laksana berjalan dibelakang mereka. Disebelah Rambatan yang berusaha bangkit, keduanya berhenti. Tetapi keduanya juga tidak berbuat sesuatu, karena keduanyapun segera melanjutkan perjalanan mereka mengikuti Winih yang berjalan bersama Darpati. Dibelakang mereka pada jarak beberapa langkah Manggada berkata "Orang itu ternyata seorang yang memiliki kelebihan." "Ya. Hanya orang berilmu tinggi dapat berbuat seperti itu" jawab Laksana. "Siapakah orang itu sebenarnya? Orang itu sengaja mencegah kita melibatkan diri dalam perkelahian itu. Apakah ia mengetahui bahwa kita sengaja menyembunyikan sedikit kemampuan yang kita miliki terhadap anak-anak muda padukuhan ini? Atau ia ingin menunjukkan kepada Winih bahwa ia memiliki ilmu yang tinggi atau maksud-maksud yang lain lagi?" desis Manggada. Laksana mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menjawab "Perhatiannya tertumpah kepada Winih. Ia tentu ingin menunjukkan kepada gadis itu bahwa ia memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Dengan mudah ia dapat mengalahkan lima orang anak muda termasuk Rambatan, anak muda yang ditakuti diseluruh padukuhan." Manggada mengangguk-angguk. Tetapi ia sempat bergurau, katanya "Sudahlah, biarlah orang itu menjadi seorang pahlawan bagi Winih. Kau tidak usah menyesal." "He?" Laksana justru berhenti melangkah. Manggadapun berhenti pula. Namun Laksanapun kemudian berkata “Bukankah Winih itu adik kita?" Manggada tertawa. Laksanapun kemudian tertawa Demikianlah, mereka berempat menyusuri jalan padukuhan disebelah bulak yang tidak begitu luas itu. Ternyata Darpati yang mengantar Winih tidak menjadi canggung ketika Winih mempersilahkamrya untuk singgah pula. Kiai Gumrah, Ki Prawara dan bahkan Nyi Prawara telah ikut menemui Darpati yang menyerahkan Winih kepada kedua orang tuanya itu. Darpatipun telah menceritera-kan apa yang telah terjadi atas Winih dijalan.bulak yang meskipun tidak begitu luas, tetapi jalan memang agak sepi. Demikian pula tidak nampak para petai berada disawah mereka. "Terima kasih ngger" berkata Kiai Gumrah "angger telah menyelamatkan cucuku. Jika saja angger tidak membantunya, maka tidak ada seorangpun diantara kami yang dapat melepaskannya dari tangan Rambatan itu." Darpati tertawa. Ia bukan saja tertawa atas pujian itu. Tetapi sebenarnyalah ia mentertawakan Kiai Gumrah, karena Darpati sebagai bagian dari kekuatan Kiai Windu Kusuma sudah mengerti bahwa Kiai Gumrah adalah seorang yang berilmu sangat tinggi. Bahkan ketika ia bertemu dan berbicara dengan Ki Prawara, Darpati itupun menduga bahwa anak Kiai Gumrah itu tentu juga seorang yang berilmu meskipun seandainya, tidak, atau belum setinggi ilmu Kiai Gumrah. Untuk beberapa lama Darpati berada dirumah Kiai Gumrah. Winih sendiri yang ikut menemui Darpati bersikap sangat ramah. Setiap kali nampak senyumnya menghiasi bibirnya. Ia berbicara panjang, namun terasa nada bicaranya, bahwa Winih adalah seorang gadis yang lugu. Tetapi apakah tersirat perasaan lain pada nada bicaranya selain ungkapan terima kasihnya dan pendapatnya yang serta-merta saja keluar dari mulutnya Namun akhirnya setelah meneguk minuman yang dihidangkan baginya serta sepotong ketela pohon rebus, maka Darpatipun minta diri. Kiai Gumrah serta kedua orang tua winih masih saja mengucapkan terima kasih ketika Darpati itu keluar dari regol halaman rumah Kiai Gumrah. Sepeninggal Darpati, maka Kiai Gumrah, kedua orang tua Winih telah memanggil Manggada dan Laksana serta Winih sendiri. Mereka minta mereka menceriterakan apa yang telah terjadi. Manggada dan Laksana hampir tidak pernah mendapat kesempatan untuk berbicara. Winih sendirilah yang berceritera banyak tentang Darpati yang telah menolongnya. "Seandainya Darpati itu tidak datang menolongmu, bukankah ada kakakmu Manggada dan Laksana?" bertanya Kiai Gumrah. "Kakang Manggada dan Laksana tidak berbuat apa-apa" jawab Winih. "Apakah begitu?" bertanya Kiai Gumrah. Sebelum Manggada dan Laksana menjawab, Winih sudah mendahuluinya "Aku tidak tahu pasti apakah mereka akan melindungi aku atau tidak, tetapi setidak-tidaknya mereka sangat lamban.” "Seandainya Manggada dan Laksana lamban, serta orang itu tidak datang?" desak ibunya. Manggada dan Laksana mengerutkan dahinya. Baginya pertayaan itu memang aneh. Tetapi Winih tidak menjawab. Ia hanya menunduk saja. "Winih" berkata Ki Prawara "aku ingin mendengar pendapat Manggada dan Laksana tentang orang itu. Aku minta kau diam saja lebih dahulu.” Winih memandang ayahnya sejenak. Namun kemudian kembali ia menunduk. Ki Prawarapun kemudian bertanya kepada Manggada dan Laksana "Menurut pendapatmu, apakah ia memang berilmu tinggi?" "Ya paman" jawab Manggada "kami kadang-kadang tidak sempat mengikuti apa yang dilakukannya." Ki Prawara mengangguk-angguk, sementara Laksana sempat menceriterakan apa yang telah terjadi dengan lebih jelas, apakah yang telah dilakukan oleh Darpati terhadap kelima orang anak muda yang dipimpin oleh Rambatan itu. Ki Prawara mengangguk-angguk. Sementara itu kepada Kiai G umrah ia berkata "Apakah sebelumnya ayah pernah mendengar disekitar daerah atau lingkungan ini terdapat satu perguruan atau sekelompok orang yang berilmu tinggi?" Kiai Gumrah menggelengkan kepalanya. Katanya "Baru setelah orang-orang Windu Kencana ada disini." Ki Prawara masih mengangguk-angguk. Katanya "Apakah ada hubungannya antara orang»orang Kiai Windu Kusuma dengan orang ini? Seandainya demikian, maka kita harus menjadi sangat berhati-hati." "Ayah terlalu curiga" berkata Winih hampir bergumam. "Bukan terlalu curiga Winih" jawab ayahnya "mungkin orang itu sengaja memanfaatkan kehadiranmu disini agar ia sempat memasuki dan melihat-lihat rumah ini.” "Orang itu telah menolongku. Sekarang ayah menjadi curiga kepadanya. Bukankah seharusnya ayah berterimakasih sebagaimana ayah katakan? Apakah apa yang ayah katakan memang tidak sesuai dengan apa yang ayah pikirkan? ."bertanyaWinih “Bukan begitu Winih" jawab ayahnya "tetapi dalam keadaan seperti sekarang ini, maka wajarlah jika kita mencurigai setiap orang. Tentu saja termasuk Darpati." "Tetapi ia orang baik, ayah” gumam Winih. Ayahnya hanya mengangguk-angguk. Kemudian Ki Prawara itupun telah memberikan isyarat kepada Nyi Prawara untuk membawa anaknya keluar atau kedapur saja. Nyi Prawara yang tanggap itu kemudian berkata "Winih. Sudahlah, bantu saja aku masak didapur." "Aku ingin menunjukkan kain lurikku." gumam Winih sambil memberengut. "O" sahut ibunya "bawa saja kedapur. Aku akan melihatnya. Mungkin aku juga ingin memiliki kain seperti itu." Winihpun kemudian pergi ke dapur bersama ibunya sambil membawa kainnya yang dibelinya di pasar. Sementara itu, Kiai Gumrah dan Ki Prawara masih menahan Manggada dan Laksana. Mereka ingin mendapat keterangan keduanya lebih banyak lagi. Kesan yang diberikan oleh Manggada dan Laksana memang mengatakan mempunyai dasar ilmu kanuragan, masih merasa sulit untuk memahami apa yang telah dilakukan oleh Darpati atas Rambatan dan kawankawannya. "Aku menjadi gelisah" berkata Ki Prawara "nampaknya Winih menganggap orang itu terlalu baik." Kiai Gumrah mengangguk kecil. Katanya "Agaknya lebih dari itu. Bukankah kau merasakan pertumbuhan anakmu-itu, baik secara kewadagan maupun kajiwan. Ujud anakmu sekarang adalah benar-benar seorang gadis dewasa, sedangkan. jiwanyapun tentu sedang bergejolak menembus dinding masa remajanya memasuki usia dewasanya. Justru pada umur. yang paling rawan bagi seorang gadis yang sedang tumbuh." Ki Prawara mengangguk-angguk. Ia memang merasakan beberapa perubahan pada anak gadisnya. Sikapnya terhadap anak-anak mudapun berubah. Agaknya sebagaimana dikatakan oleh Kiai Gumrah, bahwa umur Winih adalah umur yang paling rawan dalam pertumbuhan dan perkembangan jiwa seorang gadis. "Sudahlah" berkata Kiai Gumrah "kitalah yang harus berhati-hati. Kita awasi Winih sebagaimana menguasai kanak-kanak yang bermain dipinggir jurang. Kita memang tidak boleh lengah sekejappun." "Ya ayah" sahut Ki Prawara sambil mengangguk kecil. Namun iapun berdesis "Darpati, menilik ujudnya, memang seorang yang menarik. Adalah mungkin sekali Winih sudah tertarik sejak penglihatannya yang pertama atas orang lain. Apalagi Darpati telah menunjukkan jasanya kepada Winih. Meskipun Winih sudah ditemani oleh Manggada dan Laksana." "Maaf kek" berkata Manggada kemudian "kami memang terlambat berbuat sesuatu. Kami merasa ragu, karena selama ini kami menyatakan diri sebagai anak-anak muda kebanyakan tanpa ilmu kanuragan jika kami berada diantara anak-anak muda padukuhan." Kiai Gumrah mengangguk sambil menjawab "Sudahlah. Kalian tidak dapat disalahkan. Keragu-raguan itu wajar sekali. Kalian tentu tahu bahwa orang-orang padukuhan ini mengenal aku sebagai seorang pembuat dan penjual gula, tidak lebih. Karena itu, maka sudah sepantasnya jika kalian juga menyesuaikan diri." Manggada dan Laksana, hanya dapat menundukkan kepalanya Tetapi mereka masih juga merenungi sikap Winih. Bahkan mereka juga merasa menyesal, kenapa mereka tidak segera berbuat sesuatu, saat Rambatan, sudah menjadi semakin kasar. Namun perkenalan antara Rambatan dan Darpati itu sudah terjadi. Yang harus dilakukan memang sebagaimana dikatakan, oleh Kiai Gumrah, bagaimana melepas kanakkanak dipinggir jurang. Ketika kemudian Manggada dan Laksana meninggalkan ruang dalam dan keluar ke halaman, maka mereka terkejut. Mereka melihat seekor burung elang yang melayang-layang tinggi. Burung yang sudah sangat mereka kenal "Beritahukan kakek" desis Manggada "aku akan melihatnya kemana burung itu terbang.” Laksana mengangguk. Sambil melangkah masuk ia berkata "Baiklah. Aku akan memberitahukan kepada kakek." Ketika hal itu disampaikan kepada Kiai Gumrah, maka Kiai Gumrahpun berkata kepada Ki Prawara "Burung itu adalah perpanjangan mata Kiai Windu Kusuma. Sebenarnya burung itu milik seseorang yang disebut Panembahan, yang mengingini pusaka-pusaka itu. Burung itu mampu menterjemahkan penglihatannya sehingga dapat memberikan keterangan-keterangan yang diperlukan oleh Kiai Windu Kusuma. Isyarat yang diberikan burung itu dapat dibaca dengan tepat oleh seseorang yang bertugas sebagai pawangnya." "Luar biasa" desis Ki Prawara "apakah burung itu hanya seekor?" "Tidak" jawab Kiai Gumrah "lebih dari seekor. Cobalah kau melihat burung itu dari halaman belakang saja. Mungkin kau perlu berlindung dibawah dedaunan." Ki Prawara mengangguk-angguk. Namun, kemudian katanya "Betapapun pandainya seekor burung, tetapi akal manusia akan tetap lebih mampu mengatasinya." Demikianlah, maka Ki Prawara dan Kiai Gumrahpun segera keluar dari ruang dalam. Namun mereka telah pergi ke belakang, melalui pintu butulan untuk melihat seekor burung elang yang berterbangan dilangit. Ki Prawara mengangguk-angguk kecil melihat burung itu. Memang ada kesan bahwa burung itu seakan-akan mempunyai nalar. Seakan-akan burung itu tahu benar apa yang harus dilihat dan diperhatikannya dirumah yang ditunjuk oleh pawangnya. "Asal kau mengetahui saja" berkata Kiai. Gumrah yang ada dibawah sebatang pohon yang berdaun rimbun. "Aku tidak perlu bersembunyi dari tatapan mata burung itu" berkata Ki Prawara "orang-orang Kiai Windu Kusuma tentu sudah tahu bahwa aku ada disini." "Burung itu mengawasi tempat ini untuk melihat apa yang sedang dikerjakan di tempat ini, jika saja ada kesibukan apapun atau mungkin sekali kesibukan yang tinggi disini." Ki Prawara mengangguk-angguk. Tetepi burung itu memang memberikan kesan tersendiri- Dengan nada daiam Ki Prawara berkata "Burung itu tentu tidak sekedar mengawasi. Tetapi burung itu dipersiapkan untuk menyerang dan setidak-tidaknya mengganggu. Kukunya memberikan kesan khusus." "Ya" jawab Kiai Gumrah "kuku-kukunya berselut baja." Ki Prawara tidak menjawab lagi. Dipandanginya burung yang berputaran beberapa kali. Bahkan menukik beberapa kali. Kemudian terbang tinggi menyusup awan yang mengalir rendah. Ketika bunmg elang itu kemudian hilang dari pandangan mata mereka, maka Ki Prawarapun telah masuk kembali keruang dalam. Manggada dan Laksana telah berada diruang dalam pula. Demikian juga Kiai Gumrah. "Kita memang harus berhati-hati terhadap burungburung itu" berkata Ki Prawara Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Mereka mengenal burung-burung itu sejak mereka mengenal seseorang yang bernama Panembahan yang bergelimang kegelapan itu. Demikianlah, maka orang-orang yang tinggal dirumah Kiai Gumrah itu menjadi semakin bersiaga menghadapi segala kemungkinan. Memang tidak ada niat mereka untuk minta perlindungan kepada pihak lain atau menitipkan pusaka-pusaka itu kepada siapapun juga. Mereka berniat untuk menyelamatkan pusaka-pusaka itu sendiri bersama dengan kawan-kawan mereka. Yang membuat Kiai Gumrah dan Ki Prawara prihatin adalah anak gadis Ki Prawara. Nampaknya Winih benarbenar telah tertarik pada pertemuannya yang pertama dengan Darpati. Ketika dihari berikutnya Darpati datang berkunjung kerurnah Kiai Gumrah, maka Winih telah menerimanya dengan akrab. Ki Prawara dan Nyi Prawara tidak dapat dengan serta merta melarang hubungan anaknya dengan orang yang baru saja dikenalnya itu. Meskipun demikian, ketika kemudian Darpati itu minta diri, maka Ki Prawara mencoba untuk menasehati anaknya. "Winih" berkata Ki Prawara "kau harus membatasi hubunganmu dengan orang asing itu." "Orang asing?" bertanya Winih "bukankah ia orang baik ayah. Jika ia bukan orang baik, ia tidak akan menolong aku. Ia dapat saja membiarkan aku diperlakukan buruk oleh siapapun, karena itu memang bukan tanggung-jawabnya." “Kita memang harus berterirna-kasih kepadanya, Tetapi untuk berhubung jauh lagi. Maka kita perlu mengetahui, siapakah orang itu. Bagaimana dengan keluarganya dan bagaimana sikapnya memandang kehidupan” berkata ayahnya "Apakah kita masih membedakan latar belakang kehidupan seseorang dalam hubungan pergaulan ini?" bertanya. Winih. "Tentu, Winih. Apalagi pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang masing-masing sudah menginjak dewasa" berkata ayahnya. "Jadi apakah ayah bermaksud menjadikan aku gadis pingitan seperti kebanyakan, kawan-kawanku? bukankah ayah dan ibu sudah berjanji untuk tidak menjadikan aku gadis pingitan yang hanya boleh mengintip sisi pergaulan anak-anak muda dari lubang-lubang dinding?” bertanya Winih. "Bukan maksud ayah dan ibu Winih. Tetapi kau tidak boleh bergaul terlalu akrab dengan orang yang baru kau kenal kemarin. Kau tentu mengetahui perlunya kita mengenal latar belakang kehidupan orang baru itu. Misalnya saja, jika orang itu mempunyai isteri dan apalagi anak, bukankah hubunganmu dengan orang itu akan menimbulkan persoalan bagi isteri dan.anak-anaknya? Katakan bahwa hubunganmu dengan orang itu sama sekali tidak mengarah pada perhubungan yang lebih khusus, namun bahwa ia datang kepadamu dengan sikapnya seperti itu, akan dapat menimbulkan persoalan pada keluarganya." Winih mengerutkan keningnya. Wajahnya memang menjadi buram. Dengan nada berat ia berkata "Ayah dan ibu selalu berpikir hal yang bukan-bukan." "Mungkin ayah dan ibu terlalu berhati-hati Winih. Tetapi bukankah sudah banyak terjadi bahwa pergaulan dari perkenalan yang terlalu singkat tanpa mengetahui latar belakang kehidupan masing-masing akan dapat menimbulkan persoalan." “Bukankah aku sudah dewasa, sehingga aku akan dapat menjaga diri?" berkata Winih. "Menjaga diri dalam kesadaran sepenuhnya memang dapat menghindarkan diri setidak-tidaknya mengurangi kemungkinan yang tidak diinginkan. Tetapi jika perasaan mulai diguncang oleh perasaan lain, maka penalaran akan terdorong kesamping." Namun Winih itu berkata dengan suara bergetar "Ayah dan ibu masih selalu menganggap aku kanak-kanak." "Tidak. Bukan begitu. Tetapi jika kau katakan bahwa ayah dan ibu menganggapku kurang berpengalaman dalam pergaulan, memang benar." jawab ayahnya. Winih memang tidak menjawab. Tetapi di wajahnya nampak betapa ia menjadi kecewa terhadap sikap ayah dan ibunya. Tetapi ternyata dihari berikutnya, Darpati itu datang kembali. Winihpun masih tetap bersikap akrab sekali. Bahkan setelah mereka berbicara serba sedikit, maka Winih itu menemui ayah dan ibunya untuk minta ijin melihat-lihat keadaan disekitar padukuhan itu. Ayah dan ibunya memang menjadi cemas. Mereka memang berusaha untuk mencegah. Tetapi Winih selalu berkata "Aku hanya ingin berjalan jalan. Bukankah Winih bukan kanak-kanak lagi? Winih akan dapat menjaga diri dan mengetahui batas-batas yang tidak harus dilewati." "Winih" berkata ibunya kemudian "jika kau ingin pergi juga, ajak kakak-kakakmu. Manggada dan Laksana. "Ibu, bukankah itu aneh?" bertanya Winih. “Tidak Winih Tidak aneh bagi mereka yang baru berkenalan dua hari yang lalu. Aku tidak ingin kau dianggap seorang gadis yang dengan mudah dapat dibujuk oleh kata-kata, sikap dan meskipun oleh kebaikan hati sekalipun. Atau kau tidak akan pergi sama sekali.." ibunya mulai bersikap keras. Winih menundukkan kepalanya. Ia tahu sifat ibunya. Karena itu, betapapun ia sebagai gadis tunggal yang manja, namun Winih tidak berani lagi menolak perintah ibunya. Karena itu, maka Winihpun mengangguk kecil. Ketika hal itu didengar oleh Kiai Gumrah, serta Winihpun sedang memanggil Manggada dan Laksana, maka Kiai Gumrah itupun berkata "Manggada dan Laksana tidak akan mampu menjaga Winih jika terjadi kekerasan. Ilmu anak muda itu menurut Manggada dan Laksana sendiri, jauh lebih tinggi dari anak-anak itu." "Tetapi setidak-tidaknya kehadiran mereka akan dapat mempengaruhi sikap Darpati jika ia berniat buruk." jawab ibunya. Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Katanya "Aku mengerti." Demikianlah, maka Winihpun telah mengatakan pula kepada Darpati bahwa kedua orang kakaknya akan ikut pula bersama mereka melihat-lihat keadaan disekitar padukuhan itu. Adalah diluar dugaan Winih, bahwa Darpati dengan serta merta menyahut "Bagus sekali. Aku senang Manggada dan Laksana bersama kita. Rasa-rasanya kita tidak kesepian dijalan." Darpati. termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berkata selanjutnya "Sebenarnya aku juga merasa ragu untuk berjalan-jalan berdua. Mungkin orangorang padukuhan ini tidak terbiasa melihat hal yang demikian. Karena itu, menyenangkan sekali jika Manggada dan Laksana ikut pula." Wajah Winih memang menjadi merah. Tetapi ia merasa, beruntung bahwa ibunya berkeras untuk mengajak Manggada dan Laksana. Jika tidak, agaknya pandangan dan anggapan Darpati terhadap dirinyapun akan terpengaruh juga. Bahkan Winih itu bertanya kepada diri sendiri "Apakah Darpati itu sedang menilai sikapku?" Diam-diam Winih merasa berterima kasih kepada ibunya. Demikianlah maka sejenak kemudian mereka berempatpun telah meninggalkan rumah Kiai Gumrah. mereka memang hanya ingin berjalan-jalan saja. Tetapi Darpati tidak menawarkan kepada Winih untuk pergi ke pasar. Bahkan Darpati mengajak Winih serta Manggada dan Laksana untuk melihat pancuran dipiriggir hutan. "Bukankah kalian belum pernah melihatnya? Pancuran itu terhitung pancuran yang jarang ada duanya. Airnya memang tidak begitu deras dan tidak pula begitu tinggi. Tetapi didekat pancuran itu terdapat semacam hutan pepohonan berbunga yang sangat indah. Seakan-akan ada tangan yang telah mengaturnya." "Menarik sekali" sahut Winih dengan serta merta. Manggada dan Laksana yang memang sudah merasa cemas terhadap Darpati bahwa ia mempunyai hubungan dengan Kiai Windu Kusuma tidak berkata sesuatu. Kelebihan Darpati dari orang kebanyakan, bahkan ilmunya yang sangat tinggi memang sangat menarik perhatian. Apalagi sebelumnya Darpati tidak dikenal didaerah itu dan disekitarnya Sinar matahari pagi yang cerah; angin yang semilir menggoyang batang padi yang sedang tumbuh segar, membuat Winih manjadi semakin gembira. Tetapi semakin Winih gembira dan seakan-akan melupakan kehati-hatian, maka Manggada dan Laksana justru menjadi semakin berhati-hati. Ketika mereka kemudian mendekati hutan yang terhitung agak lebat, Winih mulai menyadari kembali perjalanannya. Bahkan kemudian ia mulai memperlambat langkahnya. "Dimanakah letak pancuran itu?" bertanya Winih. "Kau lihat bukit kecil itu?" bertanya Darpati. Winih mengangguk. "Kita akan pergi ke bukit kecil itu. Disisi sebelah Timur, kita akan melihat taman yang telah diciptakan oleh alam itu. Taman yang melampaui keindahan taman yang dibuat oleh tangan manusia." jawab Darpati. Winih mengangguk-angguk. Bukit itu memang tidak terlalu jauh lagi. Justru karena Winih melihat pohon-pohon raksasa diatas bukit kecil itu, maka winih percaya bahwa dilereng bukit itu memungkinkan sekali terdapat sebuah pancuran. Beberapa saat lagi mereka berjalan. Sekali-sekali Winih memang harus berhenti dan bahkan harus ditolong meloncati parit-parit kecil yang dibuat oleh arus air yang mengalir dari bukit. Bahkan parit-parit itu ada yang agak dalam dan licin. Tetapi ternyata apa yang dikatakan oleh Darpati itu benar. Beberapa saat kemudian mereka sampai disebuah lembah yang tidak begitu luas. Tetapi di lembah itu memang terdapat air terjun meskipun tidak terlalu besar sehingga Darpati menyebutnya sebagai pancuran saja. Tidak seorangpun yang telah mengaturnya, bahwa lembah itu menjadi sebuah lembah yang sangat menarik. Dise-kitar air terjun yang memang tidak begitu deras itu terdapat sekelompok pepohonan berbunga yang sangat menarik. "Bagus sekali" desis Winih dengan sertamerta. Manggada dan Laksanapun ikut mengagumi pepohonan dilembah itu pula Mereka terpesona memandangi pepohonan yang sedang berbunga. Berbagai warna tersebar memanjang lembah yang basah itu. Namun Manggada yang dengan tidak sengaja memandang langit, nampak dua ekor burung elang yang terbang berputaran. Karena itu, maka iapun telah menggamit Laksana sambil berdesis "kau lihat burung-elang itu?” Wajah Laksana menjadi tegang. Katanya "Ya. Burung elang itu mulai melingkar-lingkar." Keduanyapun segera mempersiapkan diri. Mereka sejak semula sudah merasa curiga kepada Darpati. Apalagi ketika mereka melihat sepasang elang yang berterbangan justru selagi mereka berada ditempat yang jarang dikunjungi orang itu. Darpati sendiri sama sekali tidak menghiraukan sepasang elang yang berterbangan itu. Kepada Winih ia berceritera tentang jenis-jenis pepohonan yang terdapat dilem-bah kecil disekitar air terjun yang tidak begitu besar itu. Namun Manggada dan Laksana menjadi semakin tegang ketika mereka melihat kedua ekor burung itu mulai menukik dan menyambar-nyambar. Manggada dan Laksanapun segera bersiap menghadapi segala kemungkinan. Mereka memperhitungkan bahwa bukan hanya sepasang elang itu saja yang hadir ditempat itu, yang seakan-akan memang telah diatur oleh Darpati. "Winih, berhati-hatilah" berkata Manggada tiba-tiba. Winih berpaling kepadanya sambil bertanya "Kenapa?" "Kau lihat bunmg elang itu" jawab Manggada. Winih mengangkat wajahnya. Demikian pula. Darpati. Dengan nada tinggi Darpati bertanya "Kenapa dengan burung elang itu?" Namun Winih memang sudah mendengar serba sedikit tentang burung elang itu. Karena itu, maka iapun bergeset mendekati Manggada dan Laksana sambil berkata "Apa yang akan dilakukan oleh burung elang itu?." "Kedua ekor burung itu sangat berbahaya" berkata Winih kemudian. "Aku tidak takut kepada siapapun juga. Apalagi hanya kepada dua ekor burung elang." jawab Darpati. Winih mengangguk kecil. Ia percaya kepada kata-kata Darpati itu, karena Darpati memang seorang yang berilmu tinggi. Namun dalam pada itu, kedua ekor burung itu tidak juga segera pergi. Justru keduanya berputar semakin cepat dan menukik semakin dalam. Darpati juga memperhatikan kedua ekor elang itu. Nampaknya iapun telah bersiap untuk melawan, jika elang itu akan menyerangnya. Bahkan tangan Darpati itu sudah melekat pada hulu pedangnya. Namun tiba-tiba mereka telah dikejutkan oleh teriakan nyaring yang datang dari dalam gerumbul-gerumbul lebat disekitar pepohonan yang berbunga itu. Beberapa orang telah berloncatan muncul dengan senjata di t angan mereka. "Jangan lari" teriak orang-orang itu "kalian telah terkepung rapat." Manggada dan Laksana segera merapat. Demikian pula Darpati. Iapun segera menarik pedangnya sambil berdiri didepan Winih. "Siapakah kalian dan apakah yang kalian inginkan?" bertanya Darpati, "Jangan melawan. Berikan gadis itu kepada kami." bentak seorang diantara orang-orang yang muncul dari hutan itu. "Kau gila" geram Darpati "gadis ini bukan sanak kadangku. Tetapi akulah yang mengajaknya datang ketempat ini. Karena itu, maka aku bertanggung jawab, atas keselamatannya." "Jangan membunuh diri. Aku hanya membutuhkan gadis itu. Bukan siapa-siapa. Jika kalian akan pergi, pergilah. Tetapi jika kalian mencoba untuk mencegahnya, maka kalian akan mati. Pada akhirnya gadis itu akan jatuh ketanganku juga." "Tidak" teriak Darpati sambil membelalakkan matanya "pergi kalian. Atau kalian yang akan mati disini." Ternyata orang-orang itu tidak mau pergi. Mereka justru mulai bergeser mendekat diseputar mereka berempat. Manggada dan Laksanapun sudah menggenggam pedangnya pula. Ketika mereka sempat menghitung, maka orang-orang yang mengepung mereka itu berjumlah tidak lebih dari ampat orang saja. Darpati tidak berbicara lebih panjang lagi. Kepada Manggada dan Laksana ia berkata "Kali ini aku terpaksa minta bantuan kalian. Nampaknya orang-orang ini bukan tataran Rambatan dan kawan-kawannya. Orang-orang ini memiliki kemampuan yang harus diperhitungkan." Manggada dan Laksana memang sudah bersiap. Karena itu. ketika orang-orang itu mulai bergerak, maka bertempur anpun segera terjadi. Sementara itu sepasang burung elang itu masih saja berputaran dan menukik-nukik tajam. Bahkan kemudian sepasang burung itu telah ikut pula menyerang Manggada dan Laksana. Sehingga dengan demikian maka kedua anak muda itu harus bertempur melawan kedua orang lawannya serta kedua ekor burung elang yang berkuku baja itu.

Buku 4
SEMENTARA itu kedua orang yang lain telah bertempur melawan Darpati yang telah mencabut pedangnya. Dengan tangkasnya Darpati berloncatan sambil memutar senjatanya. Manggada dan Laksana yang bertempur melawan masing-masing seorang lawan dan harus pula memperhatikan sambaran-samabaran kuku baja burung elang yang garang itu, harus mengerahkan kemampuan mereka. Namun ternyata orang-orang yang bertempur melawan mereka itu adalah orang-orang yang memang memiliki ilmu yang mapan. Manggada dan Laksanapun dengan cepat mulai terdesak. Ketika Manggada mengayunkan pedangnya menebas seekor burung elang yang menyambar dengan cepat, maka lawan-nyapun telah meloncat pula sambil menulurkan pedangnya. Manggada terpaksa mengurungkan niatnya menyerang burung elang itu. Dengan cepat ia harus mengelak dari ujung senjata lawannya. Tetapi demikian Manggada meloncat, maka burung elang itu benar-benar menyambarnya. Kuku-kuku bajanya yang tajam telah menggores pundak anak muda itu. Manggada mengaduh tertahan. Tetapi ia harus menyeringai menahan pedih yang menggigit luka dipundaknya itu. Laksana terkejut melihat Manggada mulai terluka. Namun ia tidak sempat berbuat banyak. Serangan lawannya datang demikian cepatnya. Dengan tangkas Laksana menangkis serangan itu. Tetapi burung elang itu menyambarnya dengan cepat pula. Hampir saja kuku-kuku tajam itu mengcengkam wajahnya. Tetapi Laksana sempat meloncat mengelak sambil mengayunkan pedangnya. Tetapi burung itu dengan cepat menggeliat dan kemudian terbang membubung. Tetapi pada saat itu, ujung senjata lawannya ternyata telah menyambarnya diarah dada. Laksana tidak banyak mendapat kesempatan. Ia memang dapat menarik dadanya surut. Tetapi ia tidak dapat melepaskan diri seluruhnya dari jangkauan pedang lawannya. Karena itu, maka ujung pedang itu telah tergores didada Laksana. Laksanapun berdesah kesakitan. Luka didadanya itu kemudian telah mengalirkan darah, sebagaimana luka dipundak Manggada. Sementara itu Darpati bertempur dengan garangnya. Kakinya berloncatan dengan tangkasnya. Kedua lawannya yang tidak kalah garangnya telah menyerangnya dari arah yang berbeda. Tetapi keduanya ternyata sangat sulit untuk dapat mengenainya. Tetapi Darpati juga tidak segera dapat mendesak kedua lawannya yang seakan-akan bergantian datang menyerang. Winih berdiri termangu-mangu menyaksikan pertempuran itu. Wajahnya menjadi sangat tegang. Dipandanginya Manggada dan Laksana berganti-ganti. Keduanya memang mengalami kesulitan. Luka Manggada telah bertambah lagi. Lengannya juga telah tergores pedang sehingga kulitnya telah terkoyak. Winih memang menjadi sangat tegang melihat keadaan Manggada dan Laksana. Sementara itu lawan mereka sama sekali tidak mengekang diri. Keduanya benar-benar berniat untuk membunuh Manggada dan laksana. Senjata mereka terayun-ayun mendebarkan jantung. Sementara itu, sepasang burung elang itupun benar-benar telah ikut pula dalam pertempuran itu. Keduanya seakan-akan telah digerakkan oleh kekuatan yang memiliki kemampuan tinggi dalam olah kanuragan. Burung-burung itu seakan-akan tahu, kapan mereka harus menyerang. Kapan mereka harus menarik perhatian sehingga serangan lawan-lawan Manggada dan Laksana mendapat kesempatan menusukkan pedangnya. Rasa-rasanya Manggada dan Laksana memang tidak mempunyai kesempatan lagi. Sementara itu Darpati tidak segera dapat mengalahkan lawannya dan membantu mereka. Ketika Darpati masih berusaha untuk mempertahankan dirinya dari serangan kedua lawannya yang datang berganti-ganti susul-menyusul, maka Manggada dan Laksana menjadi semakin terdesak. Luka-luka ditubuh mereka menjadi semakin banyak. Darahpun mengalir semakin deras pula. Dalam keadaan yang demikian, adalah diluar dugaan bahwa tiba-tiba saja terdengar aum yang keras dari dalam rimbunnya pepohonan dan batang-batang perdu. Aum seekor harimau yang garang telah disaut oleh aum harimau yang lain. Selagi orang-orang yang sedang bertempur itu masih belum siap menghadapi kemungkinan baru itu dua ekor harimau telah bermunculan dari dalam belukar. Kedua ekor harimau itu dengan serta merta telah menyerang kedua orang lawan Manggada dan laksana serta kedua orang lawan Darpati. Keduanya seakan-akan menyatakan diri untuk ikut bertempur dipihak mereka yang mendapat serangan tiba-tiba itu. Orang-orang yang mendapat serangan dari sepasang harimau itu terkejut. Sementara Manggada dan Laksana masih berdiri termangu-mangu, maka kedua orang lawan Manggada dan Laksana itupun segera bergabung untuk melawan seekor diantaranya, sedang lawan Darpati bersama-sama menyerang seekor yang lain. Orang-orang itu pada dasarnya sama sekali tidak takut menghadapi harimau yang paling garang sekalipun. Namun ternyata bahwa Manggada dan Laksana melihat kedua ekor harimau itu bukan harimau kebanyakan. Sebagaimana dua ekor elang yang berterbangan melingkar-lingkar dan kemudian menyambar-nyambar itu, maka kedua ekor harimau itu seakan-akan juga memiliki kemampuan untuk bertempur. Keduanya seakan-akan mengenal bahwa pedang itu termasuk senjata yang berbahaya yang dapat melukai kulit mereka. Namun lebih dari itu, kedua ekor harimau itu mengingatkan Manggada dan Laksana pada dua ekor harimau yang datang kerumah Kiai Gumrah. Bahkan Manggada dan Laksanapun segera teringat pula dua ekor harimau milik Ki Pandi yang bongkok yang ternyata adalah saudara seperguruan Sang Panembahan. Karena itu, maka rasa-rasanya Manggada dan Laksana tidak dapat membiarkan kedua ekor harimau itu bertempur tanpa bantuan mereka. Setelah mengamati keadaan sejenak, maka Manggada dan Laksana segera turun lagi ke arena. Mula-mula keduanya harus bertempur melawan kedua ekor elang yang masih saja menyambar-nyambar. Namun ketika pedang Manggada melukai seekor diantarahya, maka kedua ekor elang itupun terbang menjauh. Yang terluka itu agaknya harus berjuang untuk dapat pulang sampai kesangkarnya, sedang yang lain mengikutinya dibelakangnya, seakan-akan menjaganya agar kawannya itu tidak kehilangan keseimbangannya. Ketika kedua ekor elang itu terbang semakin tinggi, maka nampak bahwa yang terluka itu menjadi semakin miring. Namun akhirnya keduanya hilang dibalik pepohonan. Perhatian Manggada dan Laksana kemudian terpusat kepada ampat orang yang bertempur melawan kedua ekor harimau yang sangat garang itu. harimau yang seakan-akan memiliki ilmu kanuragan sehingga keempat orang yang bertempur melawan mereka itu mengalami kesulitan. Apalagi ketika kemudian Manggada dan Laksana ikut pula dalam pertempuran itu. Luka-luka ditubuh Manggada dan Laksana membuat kedua orang anak muda itu marah dan ingin membalas dendam. Dalam pada itu Darpati menjadi termangu-mangu. Bahkan beberapa kali Darpati memanggil Manggada dan Laksana. "Kemarilah. Nanti harimau itu keliru menyerangmu." teriak Darpati "harimau itu tidak lebih dari seekor binatang yang tidak tahu apa yang sedang dilakukan." Tetapi Manggada menjawab "Kedua ekor elang itu ternyata juga tahu, siapa saja yang harus diserangnya. Agaknya demikian pula kedua harimau itu." Darpati memang menjadi sangat gelisah. Sementara itu keempat orang yang harus bertempur melawan Manggada, Laksana dan dua ekor harimau yang sangat garang itu menjadi semakin terdesak. Bahkan kemudian mereka mulai dilukai oleh kuku-kuku harimau itu. Kulit-kulit mereka menjadi terkoyak dan bahkan darahpun bagaikan terperas dari tubuh mereka. Manggada dan Laksana yang melihat keadaan keempat orang itupun telah mengekang diri. Meskipun mereka tahu bahwa orang-orang itu telah benar-benar ingin membunuh mereka, setidak-tidaknya kedua orang lawan Manggada dan Laksana itu. Tetapi nampaknya kedua ekor harimau itu tidak berbuat sebagaimana Manggada dan Laksana. Keempat orang yang sudah tidak berdaya itu, sama sekali tidak dilepaskan. Bukan saja kuku-kuku kedua ekor harimau itu. Tetapi taring-taring mereka-pun telah mengoyak tubuh keempat orang itu, sehingga beberapa saat kemudian, keempat orang itu tidak lagi berdaya untuk menyelamatkan nyawa mereka. Manggada, Laksana, Darpati apalagi Winih telah memalingkan wajah mereka. Winih yang gemetar telah berpegangan tangan Manggada sambil berkata "Tolong mereka." Manggada dan Laksana memang tidak dapat berbuat sesuatu. Darpatipun hanya dapat berdiri dengan wajah yang tegang. Ketika kemudian terdengar aum kedua ekor harimau itu, maka Darpatipun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Bahkan iapun sempat berdesis "Manggada dan Laksana. Bersiaplah, harimau-harimau itu tidak akan tahu bahwa kalian telah membantu mereka. Setelah keempat orang itu terbunuh, mungkin keduanya akan menyerang kita." Manggada dan Laksana tidak menjawab. Mereka memandangi kedua ekor harimau yang masih berbau darah itu. Kedua ekor harimau yang telah membunuh keempat orang itu dengan taringnya yang masih menyeringai memandang keempat orang yang tegang itu. Namun ternyata kedua ekor harimau itu tidak menyerang mereka. Bahkan kemudian keduanya telah meloncat meninggalkan arena pertempuran itu. Yang terdengar adalah aumnya yang panjang seakan-akan menggetarkan pepohonan dan bahkan bukit kecil itu. Ketika kedua ekor harimau itu hilang, maka Manggada dan Laksana semakin merasa betapa sakit dan nyeri menggigit tubuhnya pada luka-lukanya yang menganga. "Beristirahatlah" berkata Winih kepada keduanya "tetapi jangan disini. Kita bergeser menjauh." Manggada dan Laksana mengerti, bahwa Winih ingin menjauhi keempat sosok tubuh yang telah dikoyak-koyak oleh kedua ekor harimau itu. Dibawah sebatang pohon yang rindang, Manggada dan Laksana duduk dengan lemah. Namun keduanya memang membawa obat yang dapat menolong mereka untuk sementara. Winih dibantu oleh Darpati telah mencoba untuk mengobati luka-luka keduanya. Luka-luka yang terdapat dibeberapa bagian ditubuh mereka. Sebagian luka-luka karena ujung senjata, sedangkan yang lain, luka-luka karena kuku-kuku sepasang elang itu. Namun angin yang segar yang bertiup disela-sela pepohonan membuat tubuh kedua orang anak muda itu terasa segar pula. Bahkan kemudian Manggada sempat bertanya "Bagaimana dengan tubuh keempat orang yang telah dibunuh oleh kedua ekor harimau itu?" "Kita tidak dapat berbuat sesuatu " jawab Darpati. "Tetapi kita tidak dapat meninggalkan tubuh-tubuh itu begitu saja." sahut Manggada. "Lalu apa yang dapat kita lakukan?" bertanya Darpati. "Kita harus menguburkan tubuh-tubuh itu" jawab Manggada. Darpati mengerutkan dahinya. Katanya "Apakah kita harus menggali ampat buah lubang kubur untuk mereka?" "Tetapi tubuh-tubuh itu harus dilindungi dari ganasnya binatang-binatang buas. Mungkin harimau yang bukan kedua ekor harimau itu, mungkin serigala atau anjing hutan." sahut Laksana yang sambil menunjuk ke udara berkata pula "Lihat, burung-burung gagak pemakan bangkai itu." Winihpun menengadahkan wajahnya pula. Yang nampak dilangit bukan lagi sepasang burung elang. Tetapi beberapa ekor burung gagak yang berwarna hitam lekam. Suaranya bagaikan menguak keheningan lembah kecil itu dan memecahkan suara air terjun yang memang tidak begitu besar. Darpati yang nampaknya agak segan untuk menggali lubang kubur keempat orang itu kemudian berkata “Kita dapat melindungi tubuh-tubuh itu tanpa membuat lubang kubur. Kita justru menimbuninya dengan bebatuan yang banyak berserakan ditempat ini." Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Dengan nada rendah Manggada berkata "Baiklah. Agaknya hanya itulah yang dapat kita lakukan." “Tetapi kau masih terlalu lemah. Biarlah aku dan Darpati sajalah yang melakukannya " berkata Winih. "Kau akan menjadi terlalu letih" desis Laksana. "Aku terbiasa bekerja keras dirumah." jawab Winih. Namun Manggada dan Laksana tidak membiarkan Darpati dan Winih berdua saja yang melakukannya. Sementara itu Winih berusaha untuk tidak melihat tubuhtubuh yang terkoyak oleh kuku dan taring harimau itu. Karena itu, maka Winih hanya membantu dari kejauhan. Ia telah melemparkan bebatuan kearah tubuh-tubuh itu terbaring tanpa melihatnya. Sementara itu Darpatilah yang menempatkan bebatuan itu untuk menutup tubuh-tubuh yang terkoyak itu. Manggada dan Laksana yang lemah itu membantu sejauh dapat mereka lakukan. Demikianlah, setelah mereka beristirahat barang sejanak, serta setelah mereka mencuci kaki dan tangan mereka, serta minum beberapa teguk air pancuran yang jernih, maka mereka-pun segera meninggalkan tempat itu. Keempat orang itu tidak dapat berjalan terlalu cepat. Manggada dan Laksana yang telah mengobati luka-lukanya meskipun hanya untuk sementara, masih merasa tubuh mereka sangat lemah. Bahkan sekali-sekali Darpati dan Winih harus membantu mereka melintasi batu-batu padas serta mendaki lereng yang meskipun tidak terlalu tinggi. Ketika kemudian mereka sampai di padukuhan, beruntunglah mereka bahwa jalan-jalan terasa sepi, sehingga tidak banyak orang yang melihat keadaan Manggada dan Laksana. Satu dua orang yang melihat mereka dari kotak-kotak sawah, tidak begitu menghiraukan keadaan mereka. Orangorang itu hanya menduga bahwa keempat orang itu sedang berjalan-jalan saja tanpa tujuan, sehingga mereka berjalan perlahan-lahan. Namun ketika mereka sampai dirumah, maka keadaan Manggada dan Laksana telah mengejutkan seisi rumah itu. Kiai Gumrah, Ki Prawara dan Nyi Prawara dengan serta merta telah mengerumuni kedua anak muda itu tetapi sebelum mereka bertanya, maka Winih sudah berceritera seperti gerontol jagung yang tumpah. "Benar begitu ngger?" bertanya Ki Prawara. “Ya paman" jawab Manggada dan Laksana hampir berbareng. Sementara itu Darpatipun berkata "Nampaknya memang terjadi keajaiban. Ditempat itu terdapat dua jenis binatang yang seakan-akan memiliki ketajaman indera sehingga dapat memilih lawan. Bahkan kedua jenis binatang itu seakan-akan telah terlatih dan memiliki kemampuan olah kanuragan." Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Baginya kehadiran dua ekor harimau itu bukannya didengarnya untuk yang pertama. Dihalaman rumah itupun pernah hadir dua ekor harimau yang seakan-akan telah membantunya menyelamatkan pusaka-pusaka yang tersimpan dirumahnya itu. "Dengan demikian jelas, bahwa tidak ada hubungan apapun antara harimau-harimau itu dengan pusaka-pusaka yang tersimpan itu" berkata Kiai Gumrah didalam hatinya. Namun dalam pada itu, Nyi Prawarapun berkata “Marilah anak-anak. Aku coba untuk membersihkan lukaluka kalian. Mudah-mudahan luka-luka itu tidak beracun." Manggada dan Laksanapun kemudian telah pergi kedapur mengikuti Nyi Prawara. Tubuh mereka memang terasa sangat lemah. Meskipun mereka telah mengobati luka-lukanya dengan obat yang mereka bawa untuk memampatkan darahnya, namun tenaga mereka ternyata sudah banyak tersusut. Sesaat kemudian Ki Prawarapun telah menyusul mereka ke dapur pula. Bahkan dengan sungguh-sungguh ia bertanya "Bagaimana menurut tanggapanmu atas apa yang telah terjadi?” Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Mereka telah membuka baju mereka yang bukan saja kusut, kotor dan koyak. Tetapi juga bernoda darah. Ketika Nyi Prawara mengusap lukanya dengan kain yang bersih yang dibasahi dengan air panas, maka mereka harus menahan perasaan pedih yang menggigit. Baru kemudian Manggada justru bertanya “Maksud paman?" "Maksudku, tanggapanmu atas Darpati." "Ia telah bertempur pula melawan keempat orang penyerang itu. Justru Darpati telah bertempur melawan dua orang diantara mereka." "Tetapi ia sama sekali tidak terluka " desis Ki Prawara. "Darpati memang berilmu tinggi " sahut Nyi Prawara. “Tetapi kedua ekor burung itu justru menyerang Manggada dan Laksana. Keduanya tidak membantu dan tidak menyerang Darpati yang mampu mengimbangi kedua orang lawannya." berkata Ki Prawara dengan dahi yang berkerut. Manggada dan Laksanapun mulai berpikir. Semula mereka tidak mengurai persoalan itu sedemikian jauh. Tetapi ternyata keduanya merasakan bahwa kedua orang yang bertempur melawan Darpati tidak segarang kedua orang yang bertempur melawan mereka berdua. Apalagi kedua ekor burung elang berkuku baja itu justru menyerang mereka berdua pula. Hampir diluar sadarnya Manggada bertanya “Seandainya hal itu sudah diketahui oleh Darpati sebelumnya, lalu apakah maksudnya hal itu dilakukannya?" "Anak-anak muda. Menurut ceritera Winih dan apa yang kalian katakan melengkapi ceriteranya, maka kedua orang lawan kalian serta kedua ekor burung itu agaknya benarbenar berniat membunuh kalian. Bukankah begitu?" bertanya Ki Prawara. "Ya paman" jawab Manggada dan Laksana hampir berbareng. "Tetapi tidak demikian yang dialami Darpati" berkata Ki Prawara selanjutnya. "Kami tidak begitu yakin, paman" jawab Manggada. "Tetapi aku mengambil kesimpulan seperti itu " berkata Ki Prawara. Manggada dan Laksana tidak menjawab. Sementara itu, Nyi Prawara telah mengusapkan obat pada luka-luka mereka, sehingga keduanya harus menyeringai lagi menahan pedih. Obat itu rasa-rasanya telah menyengat luka-lukanya sampai keurat-urat dagingnya. Bahkan kemudian terasa luka-luka itu menjadi panas. "Obat kalian cukup baik meskipun hanya sekedar memampatkan luka-luka saja" berkata Nyi Prawara. Manggada dan Laksana tidak menjawab. Mereka masih harus menahan pedih untuk beberapa saat. "Aku akan keruang dalam" berkata Ki Prawara. Ki Prawara tidak menunggu jawaban Manggada dan laksana atau isterinya. Iapun segera kembali ke ruang dalam. Diruang dalam masih duduk Darpati, Winih dan Kiai Gumrah. Ketika Ki Prawara sudah pergi keruang dalam, maka Nyi Prawarapun telah selesai mengobati luka-luka Manggada dan Laksana. Hampir diluar sadarnya ia berkata "lawan-lawanmu memang benar-benar ingin membunuhmu." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk kecil. Hampir tidak terdengar Laksana bertanya seakan-akan kepada diri sendiri "Apa maksud mereka sebenarnya?" Nyi Prawara dengan bersungguh-sungguh berkata perlahan "Ngger. Mereka memang ingin membunuh kalian. Darpati tentu mengetahui bahwa hal itu akan terjadi, katakan, bahwa ia memang merencanakannya. Kita memang tidak tahu, apa maksud mereka melakukan hal itu. Mungkin karena Darpati tahu bahwa kalian bukan sanakkadang Winih. Atau tegasnya kalian orang lain bagi Winih, sehingga timbul niatnya untuk menyingkirkan kalian dari sisi Winih. Atau justru karena Darpati menganggap bahwa kalian benar-benar cucu Kiai Gumrah yang telah ikut mempertahankan pusaka-pusaka itu. Namun apapun alasannya, kalian memang harus berhati-hati terhadap anak itu.” Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Agaknya memang masuk akal. Terutama dalam hubungannya dengan kedua ekor elang itu. Namun kemudian justru Nyi Prawaralah yang bertanya "Tetapi bagaimana dengan sepasang harimau itu?" “Aku mempunyai jawabnya” sahut Manggada. Katanya kemudian "kedua ekor harimau itu tentu harimau milik Ki Pandi. Saudara seperguruan, tetapi juga lawan bebuyutan Panembahan yang menginginkan pusaka-pusaka itu." "Bagaimana kedua ekor harimau itu berdiri dipihakmu?" bertanya Nyi Prawara. "Kami pernah bersama-sama Ki Pandi bertempur melawan Panembahan itu." jawab Manggada. "Jadi kedua ekor harimau itu pernah mengenalmu?" bertanya Nyi Prawara. "Ya" jawab Manggada dan Laksana berbareng. "Bagaimana sikap harimau itu terhadap Darpati?" bertanya Nyi Prawara. Manggada dan Laksana justru mulai mengingat-ingat. Tetapi yang jelas kedua ekor harimau itu tidak menyerang Darpati. Meskipun demikian Manggada dan Laksana memang melihat, kedua ekor harimau itu untuk beberapa saat memandangi Darpati dengan menyeringai menampakkan taring-taring mereka. Tetapi keduanya justru meninggalkan arena perkelahian itu dan hilang kedalam hutan. Nyi Prawara mengangguk-angguk. Kemudian katanya "Nah, aku sudah selesai mengobati luka-luka kalian. Sekarang sebaiknya kalian memakai baju kalian. Tentu saja bukan yang sudah koyak dan dikotori oleh noda-noda darah itu. Nampaknya baju-baju itu sudah tidak akan dapat dipakai lagi." Manggada dan Laksanapun kemudian telah mengambil baju yang lain. Setelah mereka mengenakannya, maka merekapun segera bersiap untuk pergi keruang dalam, ikut menemui Darpati yang masih duduk bersama Kiai Gumrah, Ki Prawara dan Winih. Namun dalam pada itu, Manggada sempat berbincang dengan Laksana tentang Darpati. Karena sejak semula mereka sudah menaruh kecuriagaan terhadapnya, maka Mangga-dapun kemudian berkata "Agaknya ada benarnya juga dugaan Ki Prawara dan Nyi Prawara. Meskipun semula Nyi Prawara bersikap lain, tetapi kemudian pikirannya sejalan dengan suaminya." "Ya. Ternyata Nyi Prawara juga menaruh perhatian terhadap sikap Darpati." desis Laksana. "Karena hal itu menyangkut anak gadisnya" jawab Manggada. Namun kemudian katanya "Tetapi agaknya ada hal lain yang perlu diperhatikan.. Nyi Prawara memiliki pengetahuan tentang pengobatan. Lebih dari itu, iapun dapat mengurai peristiwa didekat pancuran itu dengan cermat." "Aku juga menganggap bahwa hal itu bukan hal yang kebetulan" berkata Laksana. Manggada mengangguk-angguk. Katanya "Tentu ada kelebihan pada Nyi Prawara. Setidak-tidaknya ia memiliki ilmu pengobatan yang tinggi." Laksana hanya mengangguk-angguk saja. Namun kemudian katanya "marilah. Kita ikut menemui Darpati." Keduanyapun kemudian telah masuk keruang dalam. Keduanya ikut duduk pula bersama Kiai Gumrah dan Ki Prawara. Bahkan kemudian Nyi Prawarapun telah hadir pula di ruang dalam sambil membawa hidangan. Ketika Winih melihat ibunya membawa nampan berisi mangkuk minuman, maka iapun segera bangkit. Tetapi ibunya berkata "Duduklah Winih. Tidak ada lagi yang harus dihidangkan." Winih memang duduk lagi. Sementara itu Kiai Gumrahpun berkata “Marilah, silahkan ngger. Hanya minuman yang dapat kami hidangkan." "Terima kasih Kiai" jawab Darpati "sebenarnyalah aku memang haus." Darpatipun kemudian menghirup minuman hangat yang dihidangkan oleh Nyi Prawara dengan gula kelapa. Nampaknya betapa segarnya wedang sere itu. Agaknya Darpati memang benar-benar haus. Untuk beberapa saat Darpati masih berbincang dengan Ki Prawara, Nyi Prawara dan Kiai Gumrah. Meskipun Manggada dan Laksana ada juga diantara mereka, tetapi Darpati seakan-akan tidak banyak menaruh perhatian kepada mereka. Berbeda dengan Winih. Meskipun Winih juga lebih banyak diam, namun Darpati setiap kali berbicara dengan Winih atau tentang Winih. Kiai Gumrah, Ki Prawara dan Nyi Prawara hanya tersenyum-senyum saja jika Darpati memuji-muji Winih. Mungkin tentang sikapnya, mungkin tentang ketabahan hatinya, juga tentang tanggapannya terhadap Rambatan dan kawan-kawannya. Demikianlah, beberapa saat kemudian, maka Darpatipun minta diri. Dengan nada tinggi ia berkata "Besok aku datang lagi mengunjungi Winih. Tetapi untuk sementara kita tidak akan berjalan-jalan lebih dahulu." Kiai Gumrahlah yang menjawab "Ya ngger. Nampaknya ada sesuatu yang harus kita perhitungkan. Agaknya disekitar padukuhan ini terdapat orang-orang jahat yang berniat buruk. Bahkan anak-anak muda di padukuhan inipun telah berniat buruk pula terhadap Winih." "Kita memang harus berhati-hati Kiai" jawab Darpati. Lalu katanya kepada Manggada dan Laksana seperti perintah seorang lurah prajurit "Jaga adikmu baik-baik." Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian keduanyapun mengangguk. Meskipun dengan segan Manggada menjawab "Aku akan menjaganya." Darpati tersenyum. Namun kemudian ia berkata kepada Ki Prawara dan Nyi Prawara “Sudahlah. Aku minta diri. Mudah-mudahan Winih tidak mengalami sesuatu. Sebaiknya Winih jangan diijinkan keluar halaman rumah ini tanpa aku. Lingkungan ini memang berbahaya sekali." Ki Prawaralah yang menjawab sambil menganggukangguk "Ya, ya ngger. Aku akan melarang Winih keluar halaman. Siapapun yang mengajaknya." Darpati mengerutkan dahinya. Katanya "Kecuali aku ynng mengajaknya." “Tetapi Winih akan mempersulit keadaan angger. Hampir saja angger mengalami kesulitan karena Winih." "Bukan aku yang hampir saja mengalami bukan saja kesulitan, bahkan bencana. Tetapi Manggada dan Laksana." jawab Darpati. "Seandainya Manggada dan Laksana telah diselesaikan oleh kedua orang lawannya, maka kau akan menghadapi ampat orang sekaligus. Bahkan dengan dua ekor burung elang." desis Ki Prawara. Tetapi Darpati tertawa. Katanya "Aku masih akan dapat menyelamatkan diriku." “Jadi bagaimana dengan Winih?” bertanya Nyi Prawara. "Sudah tentu menyelamatkan Winih. Aku akan mampu menghancurkan keempat orang itu meskipun mereka bertempur bersama-sama." “Terima kasih ngger" berkata Ki Prawara "sebagai orang tua, maka aku selalu dibayangi oleh kecemasan tentang satu-satunya anakku." Darpati tertawa. Hampir saja ia mengatakan bahwa Kiai Gumrah dan sudah tentu Ki Prawara dapat menilai apa yang dihadapinya karena mereka adalah orang-orang berilmu tinggi. Terutama Kiai Gumrah sendiri sebagai dikatakan oleh Ki Windu kusuma sendiri. Untunglah bahwa ia masih dapat menahan diri untuk tidak mengatakannya. Ia merasa lebih aman jika Kiai Gumrah dan tentu juga Ki Prawara yang berilmu tinggi itu, tidak mengetahui, bahwa sebenarnya ia sudah tahu tentang kemampuan orang tua itu. Demikianlah, maka sejenak kemudian, Darpatipun sudah meninggalkan rumah Kiai Gumrah. Demikian Darpati itu hilang dibalik regol, maka Kiai Gumrahpun berkata "Duduklah Winih. Aku ingin berbicara dengan kau, kedua orang tuamu dan orang kakakmu, nampaknya memang ada yang penting kita bicarakan." Winih mengerutkan dahinya. Tetapi ia tidak membantah. Iapun kemudian duduk lagi diamben yang besar itu bersama ayah dan ibunya serta Manggada dan Laksana. "Apa yang ingin kakek katakan" wajah Winih sudah mulai cemberut. Ia tahu bahwa ayahnya akan berbicara tentang Darpati. "Winih" berkata kakeknya kemudian "bagaimana tanggapanmu tentang Darpati?" "Maksud kakek?" Winih justru bertanya. "Apakah menurut pendapatmu Darpati itu seorang yang baik, jujur dan dapat dipercaya?" "Kakek. Darpati adalah seorang yang berilmu tinggi dan mempunyai wawasan yang sangat luas. Ia baik dan bertanggung jawab." jawab Winih. "Apakah menurut pendapatmu ia melakukannya dengan jujur ?" desak kakeknya. Winih termangu-mangu. Nampak kerut yang dalam didahi-nya. Dengan ragu ia berkata “Aku tidak melihat bahwa Darpati berpura-pura. Ia telah mempertaruhkan ilmunya ketika ampat orang itu tiba-tiba saja menyerang." "Bagaimana sikapnya terhadap seorang gadis?" bertanya kakeknya pula. "Bukankah sikapnya baik sekali? Seperti yang aku katakan, ia seorang yang bertanggung-jawab." jawab Winih. "Bagiku sikapnya justru terlalu baik. Ia bersikap sangat akrab meskipun kau baru dikenalnya. Sama sekali ia tidak merasa canggung." Berkata Kiai Gumrah. "Ya. Ia sama sekali tidak merasa canggung." jawab Winih. "Dan tidak mempunyai perasaan segan" Ki Prawara meneruskan. "Ya" jawab Winih. "Kau benar Winih. Darpati sama sekali tidak merasa canggung dan segan meskipun kau baru dikenalnya kemarin. Kau tahu artinya atas sikapnya itu?" bertanya Ki Prawara. Winih mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera mengetahui maksud ayahnya. Karena itu, maka iapun bertanya "Apakah yang ayah maksudkan? Aku tidak mengerti." "Winih" berkata Ki Prawara "menilik sikapnya yang sama sekali tidak canggung dan segan-segan lagi terhadapmu yang baru saja dikenalnya, maka menurut pendapatku, Darpati adalah seorang anak muda yang telah terbiasa berhubungan dengan perempuan. Mungkin mereka adalah gadis-gadis remaja, mungkin sudah dewasa, tetapi mungkin juga perempuan-perempuan yang lebih masak lagi." "Ayah" Winih benar-benar terkejut. “Winih. Kau adalah seorang gadis yang baru saja memasuki usia dewasa. Kau baru menginjak satu masa pancaroba. Sementara itu, kau belum mengenal liku-liku kehidupan cukup jauh. Karena itu, jika kau mau mendengar kata-kata ibu, ayah dan kakek, maka kau jangan bergaul terlalu rapat dengan Darpati" berkata ibunya kemudian. Wajah Winih menjadi tegang. Dengan nada berat ia bertanya “Ibu, ayah dan kakek mencurigainya bahwa ia tidak jujur?" bertanya Winih. Nyi Prawara memandang mata Winih yang memancarkan kegelisahan hatinya yang sangat. Namun dengan nada dalam Nyi Prawara itu menjawab "Ya Winih. Kami tidak dapat berkata lain, bahwa kami memang mencurigai Darpati, bahwa ia tidak jujur terhadapmu." Mata Winih menjadi basah. Katanya "Bagaimana kakek, ayah dan ibu dapat menganggap bahwa ia tidak jujur, justru ia sudah menunjukkan jasanya yang besar. Ia menolongku ketika Rambatan dan kawan-kawannya menggangguku, sementara kakang Manggada dan Laksana tidak berbuat apa-apa. Iapun telah menyelamatkan aku ketika aku diancam untuk dibawa oleh ampat orang yang tidak dikenal, sementara kakang Manggada dan Laksana berdua tidak dapat berbuat banyak. Bahkan kakang Manggada dan Laksana belum tentu akan dapat mempertahankan nyawanya sendiri." "Tetapi bukankah Darpati yang mengajakmu ke tempat yang sepi itu?" bertanya ibunya pula. "Jadi maksud ibu, Darpati telah menempatkan orangorangnyaditempat itu?" desak Winih. Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Katanya agak sendat "Kami belum memastikan bahwa hal itu dilakukannya, Winih. Tetapi kami mengambil kesimpulan sementara, bahwa Darpati telah melakukannya. Kami juga menghubungkan kehadiran dua ekor burung elang berkuku baja itu. Luka Manggada dan Laksana menunjukkan, bahwa kedua ekor burung elang itu memang sangat berbahaya. Bekas kuku-kukunya yang mengoyak bukan saja kulitnya, tetapi juga daging kakak-kakakmu. Sementara itu Darpati sama sekali tidak diganggu oleh kedua ekor burung elang itu." "Tetapi Darpati sudah bertempur melawan dua orang." jawab Winih. "Apakah kau sempat memperhatikan pertempuran itu?" bertanya ibunya dengan nada lebih keras. Winih tertunduk dalam-dalam. Perhatiannya memang tertarik pada sepasang burung elang yang menyerang Manggada dan Laksana disamping kedua orang lawannya. "Sudahlah" berkata Kiai Gumrah "kita memang masih harus menyeledikinya. Namun yang penting kau ketahui Winih, bahwa sikap Darpati kepadamu menunjukkan bahwa ia sudah terbiasa bergaul dengan perempuan jenis apapun juga. Ketahuilah dan pertimbangkan hal ini baikbaik." Kata-kata kakeknya itulah yang justru menyentuh perasaannya yang paling dalam. Winih memang menjadi sedih mendengarnya. Sebagai gadis yang tumbuh dewasa, Winih memang jarang bergaul dengan laki-laki. Sebagaimana dengan kawan-kawannya, jika seorang gadis tumbuh mendekati masa dewasanya, maka pergaulannya dengan anak-anak muda justru menjadi semakin jauh. Meskipun demikian, masih nampak pada mata Winih yang basah, bahwa ia masih belum percaya sepenuhnya kata-kata kakek, ayah dan ibunya. Baginya Darpati adalah seorang laki-laki yang memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Tetapi Winih tidak lagi menjawab. Kiai Gumrahpun kemudian telah meninggalkan ruangan itu untuk pergi ke kebun. Nyi Prawarapun telah kembali ke dapur, sementara Ki Prawara pergi ke halaman depan. Yang tinggal diruang dalam adalah Manggada, Laksana dan Winih yang masih merenungi persoalan yang menyangkut Darpati. Kepada Manggada dan Laksana Winih itu bertanya "Kakang, jika Darpati sengaja memancing kita kedalam jebakannya di dekat pancuran itu, apa yang mereka kehendaki?” Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Manggadapun menjawab "Kami tidak tahu pasti Winih. Tetapi jika ia berhasil menyelamatkanmu, maka dimatamu, ia tentu benar-benar menjadi seorang pahlawan.” Winih memandang Manggada dengan tajamnya. Katanya "Apakah ia menjadi sejahat itu?" Namun Laksana itu justru menjawab "Mungkin lebih jahat dari itu Winih. Mungkin Darpati benar-benar ingin membunuh kami berdua, namun-tanpa meninggalkan jejak kejahatannya." "Kenapa ia ingin membunuh kalian berdua?" bertanya Winih. Agaknya hati Laksana lebih terbuka dari Manggada. Karena itu, maka jawabnya menirukan pendapat Nyi Prawara "Mungkin Darpati tahu bahwa kau bukan adikku dan bukan adik kakang Manggada. Maksudku, bukan adik kandung atau sepupu atau sama sekali bukan sanak kadang." "Lalu, kenapa jika demikian?" bertanya Winih. "Darpati tidak ingin melihat seorang anak muda ada didekatmu" jawab Laksana. Wajah Winih menjadi merah. Ternyata ia menjadi marah mendengar kata-kata Laksana itu. Dengan suara bergetar ia berkata "Jadi selama ini kau menganggap bahwa kehadiranku, sikapku dan keakrabanku terhadap kalian itu kau artikan sebagaimana sikap seorang gadis terhadap seorang anak muda? Kakang, ternyata kaulah yang tidak jujur terhadapku. Selama ini aku menganggap kalian sebagai kakak-kakak kandungku sendiri." Winihpun segera bangkit berdiri dan hampir saja ia melangkah pergi. Namun Manggadalah yang kemudian berkata dengan sabar "Winih. Dengarlah penjelasan kami. Ternyata kau salah paham." "Tidak. Aku tidak salah paham. Aku tahu benar apa yang kalian maksudkan" jawab Winih. "Tunggu Winih. Seandainya kau tahu benar maksud kami, kami masih ingin menambah pengertianmu sedikit saja. Duduklah." berkata Manggada. Winih memang duduk. Tetapi wajahnya masih saja nampak gelap. Bukan saja kekecewaannya terhadap sikap kakek, ayah dan ibunya, tetapi juga sikap Manggada dan Laksana. "Winih" berkata Manggada "kami tidak sedang mengatakan sikap batinmu. Aku tahu bahwa kau telah menganggap kami berdua sebagaimana kakak kandungmu sendiri. Kami berduapun menganggapmu sebagai adik kandungku sendiri. Sehingga dengan demikian, maka apa yang kami lakukan, adalah ungkapan sikap seorang kakak terhadap adiknya. Tetapi yang kami katakan adalah sikap batin Darpati. Ia tahu bahwa aku dan Laksana bukan kakak kandungmu, bukan pula sepupumu dan bahkan bukan sanak-kadangmu sendiri. Karena itu, maka Darpati berpendapat, bahwa ada kemungkinan, aku atau Laksana ingin berdiri menjadi sekat keinginannya untuk mendekatimu. Karena itu, maka baik aku maupun Laksana harus disingkirkan dengan caranya, a-gar tidak meninggalkan jejak." "Hati kalianlah yang berbulu. Kalian menuduh Darpati berbuat jahat. Tetapi bukabkah dihati kalian sendiri tumbuh niat seperti itu? Kalian ingin menyingkirkan Darpati, jika tidak merampas nyawanya karena kalian tidak mampu, juga dengan menghancurkan nama baiknya. Agaknya kakek, ayah dan ibu mulai terpengaruh oleh tanggapan kalian terhadap Darpati." sahut Winih. "Winih" berkata Manggada yang mulai berkeringat mengendalikan perasaannya yang bergejolak "kau harus mencoba mendengarkan kata-kata kami." Laksanalah yang menjadi hampir tidak sabar. Tetapi karena ia mengingat bahwa gadis itu adalah cucu Kiai Gumrah, maka Laksana dengan susah payah masih mengendalikan dirinya. "Apa lagi yang harus aku dengar?" bertanya Winih. "Apapun yang kami lakukan, adalah karena kami menganggapmu sebagai adik kandung kami sendiri. Kami tidak mau melihat kau ditelan oleh serigala yang ganas, namun yang mengenakan bulu domba itu." berkata Manggada "sekali lagi harus kau sadari, bahwa yang kami katakan adalah sikap batin Darpati. Bukan sikap hatimu. Kau harus yakin, bahwa kami tidak dapat menganggapmu lain daripada adik kandung. Itupun merupakan satu kehormatan yang tidak ada taranya, karena kami adalah anak-anak terbuang yang mengembara menyusuri loronglorong sempit, lereng-lereng terjal dan tepi-tepi hutan yang pepat. Disiang hari kami berpayung matahari dan dimalam hari kami berkandang langit dan berselimut awan. Dengan demikian, bagaimana kanii berani memikirkan atau bahkan berangan-angan jauh melampaui derajat dan martabat kami sebagai pengembara yang. tidak berharga?" Winih mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun Iri senyum sambil berkata lembut "Maaf kakang. Tetapi kakang jangan merajuk seperti itu. Seharusnya sebagai seorang laki-laki kakang menjadi marah kepadaku." "Winih" desis Manggada "seandainya aku tidak menganggapmu sebagai adik kandungku, maka aku tentu akan marah, karena aku tidak berhak bersikap demikian terhadapku." "Aku minta maaf kepada kakang berdua" desis Winih pula. "Baiklah Winih" berkata Manggada kemudian "aku akan melupakannya. Tetapi apa yang aku katakan tentang Darpati sama sekali bukan fitnah. Tetapi benar-benar muncul dari nurani kami, kakak-kakak kandungmu. Mudah-mudahan dugaan kami itu tidak benar sehingga persoalannya tidak akan berekor dengan luka-luka dihatimu dan dihati ayah, ibu serta kakekmu. Jika kau percaya, tentu juga dihatiku dan dihati Laksana." "Aku berterima kasih bahwa kalian tidak menjadi marah kepadaku kakang." bertaka Winih kemudian. "Jika kau, mau mendengarkan kata-kata kami, kata-kata kakek, ayah serta ibumu, maka kami akan menjadi sangat berbahagia." jawab Manggada, Winihpun kemudian bangkit berdiri sambil berdesis "Kakang, aku akan memperhatikan keteranganmu, keterangan ayah, kakek dan ibu. Tetapi kenyataanlah yang akan membuktikan, apakah anggapan kalian terhadap Darpati itu benar." "Tentu saja Winih. Tetapi kesadaranmu jangan datang terlambat" berkata Manggada. Winih mengangguk sambil tersenyum. Namun kemudian iapun melangkah kedapur sambil berdesis “Aku harus membantu ibu." Demikian Winih hilang dibalik pintu, Laksana tiba-tiba saja berkata "Apa pula yang kau lakukah? He, Winih sendiri berkata kepadamu, jangan merajuk. Seharusnya kau marah. Kenapa justru kau berkata dengan nada cengeng tentang pengembaraan kita, seolah-olah kita disiang hari berpayung matahari dan dimalam hari hati kita berkandang langit berselimut awan." Manggada tertawa tertahan. Katanya "Tetapi bukankah hati Winih menjadi luluh? Apa katanya? Ia telah minta maaf kepada kita berdua. He, Laksana. Seorang gadis yang sedang mulai menapakkan kakinya kedalam dunia mimpi, maka ia akan lebih mudah tersentuh oleh kata-kata yang sedikit merajuk seperti itu." Laksana mengerutkan dahinya. Namun iapun kemudian tertawa. Katanya "Pantas Winih menyebut kita tidak jujur. Ternyata kau memang pandai berpura-pura." "Tetapi bukankah kita tidak bermaksud buruk?" Laksana mengangguk. Katanya ."Ya. Kita memang tidak bermaksud buruk." "Nah, kita sekarang akan turun ke kebun. Kita akan membantu Kiai Gumrah." ajak Manggada. Namun Laksana sempat berdesis "Tetapi mata Darpati tidak kabur." "Kenapa?" bertanya Manggada. Laksana tersenyum. Perlahan-lahan ia berdesis "Winih memang cantik." "Ah, kau" sahut Manggada "ketika kita menyelamatkan gadis yang hampir saja menjadi korban keris Panembahan itu, kau mengatakan bahwa gadis itu cantik sekali. Kemudian ketika kita membantu menyelamatkan Mas Rara, kau berkata bahwa Mas Rara adalah gadis yang sangat cantik. Sekarang kau bertemu dengan Winih, kau berkata bahwa Winih adalah seorang gadis yang memang cantik." Laksana tertawa. Hampir saja ia tidak dapat menahan suara tertawanya. Namun kemudian ia menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Tetapi ia sempat berdesis "Ketiga-tiganya telah kita pertaruhkan dengan nyawa kita." "Sudahlah" desis Manggada "kau jangan mengigau begitu." Laksana tidak menjawab. Tetapi ia masih tersenyum sambil melangkah mengikuti Manggada yang pergi ke halaman belakang. Demikian keduanya berada dipintu butulan, mereka melihat Kiai Gumrah yang telah berdiri di longkangan bersama Ki Prawara memandang ke udara. Tanpa ragu-ragu Manggadapunj menebak "Burung elang itu lagi, kek?" "Ya. Kemarilah. Biarlah burung itu melihat bahwa kau berdua telah selamat sampai dirumah ini." Manggada dan Laksanapun segera turun ke longkangan. Mereka melihat sepasang burung elang yang terbang berputar-putar. Yang seekor tentu bukan elang yang telah terluka. Sedangkan yang seekor lagi nampaknya juga masih segar. Tetapi mereka memang tidak dapat membedakan seekor elang dengan elang yang lain. Beberapa saat burung elang itu berputar-putar diatas rumah Kiai Gumrah. Sementara Manggada berdesis hampir kepada diri sendiri "Apakah ada semacam isyarat buat Darpati?" Manggada terkejut ketika ia mendengar Ki Prawara bertanya "Kau yakin ada hubungan antara burung-burung itu dengan Darpati sehingga dengan demikian kau yakin bahwa yang telah terjadi itu sengaja dilakukan oleh Darpati sebagai jebakan?" Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Baru kemudian Manggada menjawab sambil mengangguk kecil "Kami hanya menduga paman. Tetapi menurut pendengaran kami atas beberapa pendapat dari paman sendiri, kakek dan bibi agaknya memang demikian. Namun Winih akan berpendapat lain." Ki Prawara mengangguk-angguk, Ketika Ki Prawara itu kemudian menengadahkan wajahnya, maka burung elang itu sudah terbang menjauh dan kemudian hilang dikejauhan. "Winih telah membuat kepalaku menjadi pening" berkata Ki Prawara "aku menyesal membawanya kemari sehingga ia bertemu dengan Darpati. Bagiku Darpati jauh lebih berbahaya dari Rambatan, karena kita tahu dengan pasti, siapakah Rambatan itu dan seberapa tinggi kemampuannya. Tetapi Darpati bagi kita masih terlalu asing. Sementara Winih telah langsung tertarik melihat ujud orang itu. "Tetapi bagi seorang gadis seumur Winih, kita masih mempunyai kesempatan untuk mengarahkannya. Menurut pendapatku, sebaiknya kita berterus-terang bahwa kita menduga bahwa Darpati adalah salah seorang dari antara mereka yang ingin mengambil pusaka-pusaka itu." berkata Kiai Gumrah. "Aku juga berpikir demikian ayah. Tetapi apakah Winih percaya? Apakah ia tidak mengira bahwa itu adalah sekedar alasan kita untuk mencegahnya berhubungan dengan Darpati?" "Kita akan mencobanya." berkata Kiai Gumrah. Ki Prawara mengangguk-angguk. Katanya "Baiklah ayah. Kita memang harus berbicara dengan terbuka terhadap gadis itu. Kita berharap bahwa ia akan dapat mengerti apa yang sebaiknya dilakukan. Kita tidak ingin Winih menjadi semakin jauh terjerumus kedalam ikatan batin dengan Darpati." Kiai Gumrah mengangguk-angguk saja. Namun katanya kemudian kepada Manggada dan Laksana "Kalian harus membantu kami." " Ya kakek." jawab Manggada dan Laksana. "Baiklah" jawab Kiai Gumrah "kita harus menjaga agar persoalan kita tidak menjadi semakin kusut. Sementara Kiai Windu Kencana tentu sudah membicarakan rencananya semakin masak. Waktu kita menjadi semakin sempit. Orang yang kita harapkan dapat memberikan keterangan adalah Kundala. Tetapi jika benar Darpati adalah salah seorang diantara mereka, maka Kundala akan semakin sulit menghubungi kita. Apalagi jika pada suatu saat Darpati ada disini, sengaja atau tidak sengaja melihat Kundala singgah." Ki Prawara mengangguk-angguk. Katanya "Kita harus menemukan satu cara untuk menyingkirkan Darpati dari Winih." Tetapi Ki Prawara dan Kiai Gumrah sepakat untuk berbicara langsung dengan Winih lebih dahulu. Menjelang sore hari, maka Manggada dan Laksana telah melakukan tugasnya sehari-hari. Mereka telah berada di banjar untuk membersihkan halaman banjar menggantikan pekerjaan Kiai Gumrah. Mengisi lampu dan kemudian menyiapkannya. Jika senja turun, maka mereka tinggal menyulutnya saja. Namun dalam pada itu, seorang anak muda yang agaknya tergesa-gesa datang menemui mereka. "Ada apa?" bertanya Manggada. "Rambatan" desis anak muda itu. "Kenapa dengan Rambatan?" bertanya Laksana sambil mengerutkan dahinya. "Ia mendendammu " jawab anak muda itu. "Kenapa dendam aku?" bertanya Laksana pula. "Ketika ia berniat mengajak adikmu singgah dirumahnya, maka niatnya itu telah terhalang." "Tetapi bukan kami yang menghalanginya. Tetapi Darpati” "Nampaknya ia tidak berani melawan orang itu. Selain itu ia tidak tahu dimana tinggalnya orang yang telah memukulinya bersama dengan beberapa orang anak muda dari pa-dukuhan kami." Manggada dan Laksana justru mulai mengingat-ingat. Tetapi yang jelas kedua ekor harimau itu tidak menyerang Darpati. "Jadi dendamnya ditimpakan kepada kami?" bertanya Manggada dengan nada tinggi. "Ya. Bahkan bukan hanya itu. Tetapi Rambatan telah mengadu kepada Ki Bekel. Meskipun Ki Bekel dan para bebahu padukuhan ini tidak senang terhadap Rambatan dan tingkah lakunya, tetapi bahwa anak-anaknya dipukuli oleh orang lain, Ki Bekel agaknya menjadi marah juga." "Apakah Rambatan telah mengelabui Ki Bekel dengan keterangan palsu?" bertanya Manggada. "Tidak. Ki Bekel sudah mendapat laporan tentang apa yang terjadi. Ki Bekel memang menjadi marah kepada Rambatan dan memberinya peringatan. Tetapi disamping itu, Ki Bekel tidak mau anak padukuhan ini dipukuli oleh orang lain." "Bukankah Rambatan berbuat salah? Jika tidak ada orang lain itu, maka adikku dapat saja mengalami hal yang buruk." jawab anak muda itu. "Menurut Ki Bekel, Rambatan harus dilaporkan kepadanya. Bukan dipukuli dan bahkan dilukai" jawab anak muda itu. "Terlambat. Jika saat itu, kami harus melapor kepada Ki Bekel, maka yang tidak diinginkan mungkin sudah terjadi. Sementara itu memang Rambatan dan kawan-kawannya yang justru mendahului sehingga timbul perselisihan itu." berkata Laksana. "Ya. Aku mengerti. Tetapi berhati-hatilah. Atau pulang sajalah. Rambatan dan kawan-kawannya kadang-kadang tidak dapat menahan diri." berkata anak muda itu. "Tetapi jika ia berbuat demikian, maka Darpati akan marah. Ia dapat berbuat banyak atas Rambatan dan kawan-kawannya." jawab Manggada. "Betapapun tinggi kemampuan orang itu, tetapi Rambatan dapat menggerakkan banyak anakanak muda padukuhan ini. Senang atau tidak senang, anak-anak muda itu tidak berani menolak jika Rambatan minta agar mereka melakukannya." berkata anak muda itu. "Jika dasarnya adalah karena mereka takut terhadap Rambatan dan kawan-kawannya, maka ketakutan yang lebih besar akan mencegah mereka. Darpati pantas lebih ditakuti dari Rambatan." jawab Manggada. "Tetapi orang yang bernama Darpati itu tidak bertemu setiap hari dengan anak-anak muda di padukuhan ini." berkata anak muda itu. Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Manggada berdesis "Baiklah. Kami akan pulang. Pekerjaan kami memang sudah selesai. Tinggal nanti menyalakan lampu-lampu minyak itu." Tetapi Laksana itupun bertanya "Jika kami pulang, apakah Rambatan dan kawan-kawannya tidak akan menyusul kami?" "Ada beberapa pertimbangan" berkata anak muda itu "aku sudah berbicara dengan beberapa orang kawan. Rambatan agaknya segan datang kerumahmu karena ada adikmu. Apalagi melakukan kekerasan terhadap kalian berdua." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Katanya "Jika Kiai Gumrah tidak terlalu sibuk, biar Kiai Gumrah sajalah nanti yang menyalakan lampu di banjar." Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Dengan nada datar Manggada berkata "Baiklah. Aku akan berbicara dengan kakek." Demikianlah, maka Manggada dan Laksana itupun segera meninggalkan banjar itu, sementara anak muda itupun telah pergi pula. Anak muda itu berusaha agar kedatangannya tidak diketahui oleh Rambatan atau kawankawannya yang seakan-akan telah menjadi pengikutnya. Ketika Manggada dan Laksana sampai dirumah Kiai Gumrah, maka keduanya masih saja ragu-ragu. Apakah mereka akan mengatakannya apa yang akan dilakukan oleh Rambatan. Tetapi tiba-tiba saja Laksana berkata "Aku tidak mau selalu menghindar dari setiap persoalan. Kita tidak akan dapat terus-menerus bersembunyi, Kakek juga tidak. Sementara itu Darpati sudah mengetahui bahwa kita bukan Rambatan.” Manggada mengangguk angguk. Namun tiba-tiba ia berdesis "Darpati sama sekali tidak merasa heran melihat kita berkelahi di dekat pancuran itu. Agaknya ia memang sudah mengetahui bahwa kita memang bukan orang yang sama sekali tidak berdaya." "Agaknya memang demikian. Ketika ia melindungi Winih dari niat Rambatan mengajaknya singgah dirumahnya, ia sengaja mencegah kita berbuat sesuatu, jika kita berbuat sesuatu, maka kejantanannya akan menyusut dimata Winih." sahut Laksana. Manggada termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya "Baiklah. Kita tidak akan menyembunyikan diri untuk seterusnya. Kita akan pergi ke banjar untuk menyalakan lampu nanti." "Kita tidak usah minta pertimbangan kakek. Kita justru akan mengatakan kepada kakek, bahwa kita tidak mempunyai kesempatan untuk mengelakkan diri dari benturan kekerasan." berkata Laksana kemudian. Manggada mengangguk-angguk. Rasa-rasanya memang menjemukan untuk terus-menerus berpura-pura. Karena itu, maka keduanya memang tidak mengatakan kepada Kiai Gumrah bahwa Rambatan akan mengajak kawan-kawannya melontarkan dendam dan kemarahannya kepada mereka berdua. Tidak seperti yang dikatakan mereka kepada anak muda itu, maka Manggada dan Laksana justru dengan sengaja pergi ke banjar lama itu untuk menyalakan lampu minyak. Mereka sama sekali tidak merasa perlu lagi untuk menghindar, karena dengan demikian maka persoalan antara mereka dan Rambatan justru tidak akan segera dapat diselesaikan. Manggada dan Laksana kemudian sepakat, jika mereka tidak melarikan diri, maka Rambatan dan kawan-kawannya tidak akan menakut-nakuti mereka lagi. Ternyata anak muda yang datang memberitahukan kepada mereka, bahwa Rambatan dan kawan-kawannya akan datang itu tidak berbohong. Demikian lampu-lampu minyak di banjar lama itu menyala, maka di halaman banjar itu telah menunggu beberapa orang anak muda yang dipimpin oleh Rambatan. "Orang-orang yang mencegat Winih di bulak itu" desis Manggada yang hanya didengar oleh Laksana. Laksana menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Rambatan benar-benar menjadi sakit hati. Agaknya ia ingin membangkitkan kepercayaan kawan-kawan yang telah menjadi pengikutnya itu. Jika mereka berhasil menghajar kami berdua, maka cacat nama Rambatan karena kekalahannya dari Darpati akan sedikit dipulihkan." Tetapi Laksana itupun berkata "Tetapi aku tidak mau dikalahkan. Aku akan berbuat sebagaimana dilakukan oleh Darpati." Namun ketika keduanya turun dari tangga pendapa banjar lama, yang berdiri dipaling depan bukan Rambatan, tetapi seorang yang sebelumnya belum pernah dilihat oleh Manggada dan Laksana. "Hati-hati terhadap orang ini" bisik Manggada. Laksana mengangguk. Tetapi ia justru langsung melangkah mendapatkan orang itu. Orang itu mengerutkan dahinya. Dengan tajamnya ia memandang Laksana yang kemudian berdiri dihadapannya. Seakan-akan tidak ada persoalan apapun, Laksana berkata "Selamat malam, Ki Sanak. Apakah kalian mempunyai keperluan?" "Siapa kau?" bertanya orang yang bertubuh kekuruskurusan itu. "Aku adalah cucu Kiai Gumrah, yang terbiasa merawat banjar lama ini. Bukankah Rambatan dan anak-anak muda padukuhan ini mengetahuinya? Tetapi justru aku yang bertanya kepada Ki Sanak. Selama aku berada disini, aku belum pernah bertemu dengan Ki Sanak. "Persetan dengan kau" jawab orang itu "aku tidak peduli apakah kau mengenal aku atau tidak. Tetapi dibulak itu kalian telah menyakiti hatiku, hati kawan-kawanku." jawab orang itu. "Tetapi apa hubunganmu dengan persoalan yang pernah terjadi antara Darpati dan Rambatan? Jika Rambatan mendendam dan datang kepadamu untuk minta bantuanmu, maka sasaran dendamnya seharusnya adalah Darpati, bukan kami" berkata Laksana. "Tidak ada dendam dan aku tidak peduli dengan Darpati. Aku datang membalas sakit hatiku dan sakit hati kawan-kawanku." "Ya. Tetapi kenapa kau dan kawan-kawanmu menjadi sakit hati kepada kami? Jangan berputar-putar. Berkatalah terus-terang. Rambatan gagal mengganggu adikmu Winih. Tetapi ia tidak berani membalas dendam kepada Darpati. Sekarang ia datang kepadaku bersama kawan-kawannya, bahkan dengan kau yang asing bagi padukuhan ini." Laksana berkata lantang. "Persetan semuanya itu. Aku tidak peduli. Apapun sebab dan alasannya, bahkan seandainya tanpa alasan sekalipun. Kami ingin memukuli kalian berdua sampai kalian berdua tidak dapat bangkit berdiri. Itu saja." Laksana menggeram. Wajahnya menjadi panas. Dengan geram ia berkata "Kau kira kami akan menyerahkan diri kami untuk diperlakukan demikian? He, berapa kau diupah untuk berbuat demikian atasku oleh Rambatan?" "Setan kau " jawab orang itu dengan suara bergetar oleh kemarahan yang menghentak dadanya "aku bukan orang upahan." "Tentu kau orang upahan" jawab Laksana "apapun ujud upahnya. Mungkin bukan uang. Mungkin kesempatan, mungkin pujian atau mungkin kau ingin menjadi pahlawan dan dikagumi kawan-kawanmu." "Cukup. Kau yang hanya dua orang itu akan berbual apa, he? Jika kalian mempersulit diri, maka nasib kalian akan semakin buruk. Lebih buruk lagi jika kami nanti datang kerumahmu untuk mengambil adikmu itu. Karena itu, sebaiknya kalian dengar dan lakukan perintah kami." "Melakukan perintahmu untuk memukuli diri sendiri" bertanya Laksana. "Satu pendapat yang bagus" berkata orang yang tinggi kekurus-kurusan itu. Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Sambil tersenyum orang itu berkata "Kami ingin melihat kalian berdua berkelahi. Kalian harus bersungguh-sungguh sehingga salah seorang diantara kalian tidak dapat bangkit lagi. Nah. yang menang akan kami maafkan. Yang kalah, akan mengalami nasib yang lebih buruk lagi." Tetapi Laksana tersenyum. Katanya "Bagaimana jika kalian saja yang berkelahi? Yang menang akan aku maafkan.” Wajah orang itu menjadi merah. Sambil berpaling kepada Rambatan ia berkata "Rambatan. Aku sependapat dengan kau, bahwa kedua-duanya harus mendapat pelajaran yang setimpal dengan kesombongannya. Mereka telah berpihak kepada orang yang dengan sengaja melawanmu. Nah, sekarang kau pantas memberikan hukuman kepada mereka. "Jangan menunggu lagi" berkata Rambatan "aku sudah tidak sabar." "Marilah" berkata orang yang kekurus-kurusan itu "kita sebagaimana aku katakan, akan memukuli mereka sampai mereka tidak dapat bangkit lagi." Adalah tidak diduga sama sekali, bahwa tiba-tiba saja Laksana justru telah meloncat menyerang orang yang kekurus-kurusan itu. la menganggap bahwa orang itu adalah orang yang paling diandalkan diantara sekelompok orang yang dipimpin oleh Rambatan itu. Serangan yang tiba-tiba itu sangat mengejutkan orang yang tinggi agak kekurus-kurusan itu. Karena itu, maka ia tidak sempat menghindar. Yang dapat dilakukan adalah berusaha melindungi dadanya yang menjadi sasaran serangan kaki Laksana dengan tangannya. Serangan Laksana demikian kerasnya didorong oleh segenap kekuatannya. Kakinya yang terjulur itu telah menghantam tangan orang yang kekurus-kurusan yang bersilang didadanya. Demikian kerasnya serangan itu, sehingga dorongan kekuatannya yang menghentak pada tangan yang bersilang itu telah menekan dadanya pula. Orang itupun telah terdorong beberapa langkah surut. Bahkan iapun telah kehilangan keseimbangannya, sehingga terhuyung-huyung menimpa beberapa orang yang berdiri dibelakangnya. Namun dengan demikian orang itu tidak jatuh terlentang di halaman banjar itu. Dengan sigapnya orang itu segera memperbaiki keseimbangannya yang goyah. Sejenak kemudian ia sudah berdiri tegak sambil mengumpat. Namun kemudian mulutnya harus menyeringai menahan sakit. Dadanya serasa menjadi sesak. Sedangkan tulang-tulang iganya bagaikan menjadi retak. "Setan yang licik" geram orang itu. Tetapi Laksana tidak mau mendengarnya. Iapun dengari cepat telah menyerang pula. Rambatan juga terkejut melihat serangan Laksana. Ia tidak menduga sama sekali, bahwa Laksana itu mampu bergerak demikian cepatnya. Dengan mendorong kawannya yang bertubuh kekurus-kurusan itu sehingga kehilangan keseimbangannya. Karena itu, maka dengan cepat Rambatan mempersiapkan diri. Ia adalah anak muda yang ditakuti oleh seisi padu-kuhan itu. Karena itu, maka iapun dapat bersikap garang pula. Tetapi Manggada dengan cepat mendapatkannya sambil berkata "Jangan campuri persoalan mereka." "Iblis kau. Ternyata kalian tidak tahu diri. Kalian harus menyadari dengan siapa kalian berhadapan." "Aku tahu. Aku berhadapan dengan Rambatan" jawab Manggada. "Dan kau tahu siapa Rambatan itu?" bertanya Rambatan itu lagi. "Tentu. Kau adalah anak muda yang disegani dipadukuhan ini. Sehingga kau seakan-akan dapat berbuat apa saja menurut kehendakmu sendiri." "Nah, jika demikian, kenapa kau berani menentang aku?" "Karena aku bukan orang padukuhan ini" jawab Manggada “aku datang kepadukuhah ini hanya sekedar untuk menengok kakekku. Karena itu, maka aku tidak terikat oleh keadaan yang berlaku di padukuhan ini. Juga keseganan anak-anak muda padukuhan ini terhadapmu." "Kau akan menyesal anak sombong. Apalagi jika mau tahu, siapakah kawanku itu." geram Rambatan. "Siapa?" bertanya Manggada. "Ia datang dari jauh. Ia datang untuk menolongku dari penghinaan orang seperti yang kau sebut Darpati itu. Dan apalagi kau berdua. Malam ini kami akan membuat kalian jera. Besok atau lusa kami akan menghancurkan Darpati." “Siapakah orang itu?" desak Manggada. “Kau tidak perlu tahu lebih banyak. Tetapi ia seolah-olah datang dari langit." Manggada termangu mangu sejenak. Ia sempat melihat bagaimana Laksana bertempur melawan orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu. Rambatan yang juga berpaling kepada kawannya yang kekurus-kurusan itu, sempat terkejut. Laksana telah mendesaknya sehingga beberapa kali orang itu berloncatan surut. Namun Rambatanpun kemudian membentak kawankawannya yang seperti kebingungan menyaksikan pertempuran itu "He, kenapa kau menjadi seperti patung." Seorang kawannya menjawab "Bukankah orang itu tidak mau diganggu jika ia sudah mulai bertempur?" "Persetan. Sekarang, hancurkan yang satu ini." perintah Rambatan. Kawan-kawan Rambatan itupun segera bergerak. Namun seperti Laksana, maka Manggadapun tidak mau terlambat. Dengan cepat ia menyerang seorang yang ingin menunjukkan keberaniannya, maju terlalu dekat dengan Manggada. Serangan Manggadapun tidak tanggung-tanggung pula. Begitu cepat dan langsung kesasaran. Dengan dilandasi kekuatannya yang besar, maka kakinya yang telah terlatih itu terjulur langsung menikam arah ulu hati. Anak muda yang dikenai serangan itu mengaduh. Tubuhnyapun kemudian terbanting jatuh terguling ditanah. Namun iapun kemudian telah berguling-guling sambil memegangi arah ulu hatinya yang bagaikan terkoyak itu. Rambatan yang marahpun menerkamnya. Rasa-rasanya ia ingin meremas leher Manggada yang telah melumpuhkannya seorang kawannya. Tetapi Manggada yang terlatih itu tidak mudah untuk disentuhnya. Karena itu, maka tangannya sama sekali tidak mengenai sasaran. Sementara itu Manggadapun telah berloncatan diantara beberapa orang lawannya. Kakinya yang terayun mendatar telah menyambar seorang lagi diantara kawan-kawan Rambatan. Orang itu masih berusaha menahan ayunan kaki Manggada dengan tangannya. Tetapi ayunan kaki itu demikian kerasnya, sehingga tangan orang itu justru bagaikan dihentakkan dengan sangat kerasnya sehingga tulangnya serasa menjadi retak. Orang itu mengaduh tertahan. Iapun meloncat beberapa langkah surut sambil memegangi sebelah tangannya dengan tangannya yang lain. Rambatan memang menjadi semakin marah. Tetapi Manggadapun tidak ingin bertempur terlalu lama. iapun segera berloncatan. Kaki dan tangannya menyambarnyambar seperti burung sikatan. Kawan-kawan Rambatanpun seakan-akan telah kehilangan kesempatan melawan. Ketika mereka melawan Darpati, mereka tidak tahu apa yang terjadi atas diri mereka. Yang mereka ketahui adalah, bahwa mereka telah terlempar dan kesakitan. Namun melawan Manggada mereka juga tidak mempunyai kesempatan untuk membalas serangan-serangan yang datang beruntun. Bahkan Rambatanpun kemudian menjadi bingung ketika kedua tangan Manggada telah mengenai kedua sisi pelipisnya hampir bersamaan. Sementara itu, Laksana masih bertempur melawan orang yang kekurus-kurusan itu. Ternyata bahwa orang itu juga memiliki bekal kemampuan yang cukup. Karena itu, maka Laksana harus mengerahkan kemampuannya untuk mengatasinya. Beruntunglah Laksana bahwa ia telah menyerang lebih dahulu, sehingga setiap kali orang itu harus memegangi dadanya yang menjadi sakit serta nafasnbya yang sesak, sehingga bagaimanapun juga dapat mengganggu kemantapannya bertempur. Namun Laksana telah ditempa selain oleh ayahnya, juga kesempatannya untuk meningkatkan ilmunya dalam bimbingan Ki Ajar Pangukan. Karena itu, meskipun lawannya juga berbekal ilmu, namun Laksana sama sekali tidak tergetar karenanya. Bahkan semakin lama semakin nampak bahwa Laksana memiliki kelebihan dari lawannya itu. Dalam pada itu, Ramnbatan memang mengalami kesulitan pula menghadapi Manggada. Bersama kawankawannya ia telah menjadi semakin terdesak. Dua orang kawannya telah menjadi kesakitan. Kemudian Rambatan telah beberapa kali dikenai oleh serangan-serangan Manggada. Kemampuannya mulai disengat oleh perasaan nyeri. Bahkan kemudian bahu-nyapun telah kesakitan pula. Sedangkan serangan-serangan Manggada semakin lama justru menjadi semakin cepat. Meskipun tidak segarang Darpati, namun Manggada ternyata memang tidak mudah dikuasai oleh Rambatan dan kawan-kawannya, bahkan seorang lagi telah terlempar dari perkelahian itu dan terdorong jatuh menimpa sebatang pohon di halaman banjar lama itu. Sehingga kepalanya menjadi sangat pening. Ketika ia mencoba untuk bangkit ternyata halaman banjar itu rasa-rasanya menjadi berputar. Karena itu, maka o-rang itupun telah menjatuhkan dirinya dan duduk sambil menyembunyikan wajahnya dibelakang kedua tangannya. Namun bumi tempat ia duduk itupun rasa-rasanya masih saja berputar. Rambatan menjadi semakin marah. Tetapi ia harus melihat kenyataan. Kawan-kawannya menjadi semakin berkurang. Sementara itu, orang yang kekurus-kurusan, yang diharapkannya akan dapat menyelesaikan persoalan, ternyata juga mengalami kesulitan melawan Laksana. Orang yang kekurus-kurusan itu mengumpat sejadijadinya ketika ia terlempar beberapa langkah surut karena kaki Laksana telah menghantam dada orang itu. Sambil menggeram orang itu telah mengerahkan segenap kemampuannya. Namun Laksanapun telah meningkatkan ilmunya pula. Ketika orang kekurus-kurusan itu mencoba untuk menembus pertahanan Laksana dengan serangan tangannya yang terayun mendatar kearah kening, maka Laksana sempat merendahkan dirinya. Dengan cepat tangannya terjulur lurus dengan jari-jari telapak tangannya yang merapat, keempat jari-jari tangannya itu justru sempat menyusup dibawah ayunan tangan lawannya langsung mengenai lambungnya. Orang itu menyeringai menahan sakit sambil meloncat surut. Namun kemudian sambil mengerahkan segenap tenaganya, dengan cepat orang itu melontarkan serangan kaki yang meluncur mengarah kedada Laksana. Tetapi Laksana memang lebih mapan. Demikian serangan itu datang, Laksana dengan cepat menjatuhkan dirinya. Kedua kakinya sempat terbuka dan bagaikan menyuruk menjepit kaki lawannya yang satu lagi. Demikian Laksana memutar tubuhnya, maka lawannya itu bagaikan dihentakkan jatuh kesamping. Orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu tidak menahan dirinya, karena ia sadar, bahwa hal itu tidak mungkin dilakukan. Jepitan dan putaran kaki Laksana terlalu kuat untuk ditahan. Karena itu, maka ia justru menjatuhkan dirinya dan berusaha untuk berguling beberapa kali sambil melepaskan jepitan kaki Laksana. Dengan tangkasnya orang itu melenting berdiri. Namun ternyata Laksana bergerak lebih cepat. Demikian orang itu berdiri, maka tangan Laksana telah terjulur menyambar dagunya. Pukulan itu telah menghentakkannya sehingga kepalanya terangkat. Dengan cepat serangan berikutnya telah menyusul pula. Tangan Laksana telah menghantam perut lawannya yang kekurus-kurusan itu sesaat kepalanya terangkat. Pukulan Laksana itu menjadi demikian kerasnya sehingga orang itu terbungkuk kesakitan. Tetapi ternyata bahwa orang itu memiliki tubuh yang liat. Demikian Laksana mengayunkan sisi telapak tangannya kearah tengkuknya saat ia membungkuk, ternyata orang itu sempat membentur tubuh Laksana dengan kepalanya. Demikian kerasnya sehingga keduanya jatuh berguling. Namun orang itu luput dari serangan Laksana yang hampir saja mengakhiri perkelahian itu. Sejenak kemudian, keduanyapun telah bangkit berdiri dan bersiap untuk melanjutkan perkelahian, meskipun orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu masih harus menyeringai menahan sakit diperutnya. Laksana yang meskipun tidak sedang kesakitan termangu-mangu sejenak. Ternyata lawannya memiliki daya tahan yang luar biasa. Meskipun ia mendapat kesempatan lebih banyak untuk mengenainya, tetapi lawannya itu masih dapat bertahan dan melawannya dengan kekuatannya yang masih saja tidak menyusut. Karena itu, maka Laksana menjadi lebih berhati-hati. Orang itu tentu memiliki sesuatu yang dapat dibanggakannya. Namun dalam pada itu, Rambatan dan kawan-kawannya menjadi semakin lama semakin tidak berdaya melawan Manggada. Seorang demi seorang mereka terlempar dari arena, sehingga disaat terakhir Rambatanpun telah terdorong beberapa langkah surut. Ia masih sempat bertahan agar tidak terbanting jatuh, namun serangan Manggada berikutnya telah menghantam dadanya. Demikian kerasnya sehingga Rambatan tidak lagi mampu bertahan. Ketika ia terbanting jatuh, ia masih sempat melihat dedaunan yang menjadi kehitaman di-malam yang semakin gelap itu berputar. Namun kemudian Rambatan itu menjadi pingsan. Ketika Rambatan kemudian kehilangan kesadarannya, Manggada telah meninggalkannya. Seperti Laksana, maka Manggadapun berkesimpulan bahwa orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu ternyata memiliki ketahanan tubuh yang sangat tinggi. Meskipun serangan Laksana semakin banyak mengenai tubuhnya dan bahkan menyakitinya, namun beberapa saat kemudian, perasaan sakit itu seakanakan telah diatasinya. Beberapa kali orang itu menahan desah kesakitan. Beberapa kali ia harus menyeringai jika serangan Laksana mengenainya. Bahkan orang itu nampaknya selalu terdesak dan tidak mempunyai kesempatan untuk membalas serangan-serangan Laksana yang datang beruntun. Tetapi untuk waktu yang lama Laksana masih saja belum dapat mengalahkan orang itu. Ketika kekuatan dan tenaga Laksana sudah terasa mulai menyusut karena ia harus mengerahkan tenaganya, ternyata bahwa lawannya itu masih saja tegar dan liat. Karena itulah, maka Manggada merasa perlu untuk segera melibatkan diri. Sesuatu yang aneh pada lawannya itu, membuat Manggada meragukan, apakah Laksana akan dapat memenangkan pertempuran itu. Orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu memang menjadi gelisah ketika ia melihat Rambatan dan kawankawannya menjadi tidak berdaya sama sekali. Bahkan Rambatan sendiri telah menjadi pingsan. Ia sudah menduga, bahwa anak muda yang seorang lagi tentu akan ikut berkelahi melawannya. Sebenarnyalah sejenak kemudian, maka orang itu harus bertempur melawan Laksana dan Manggada. Dua orang anak muda yang telah memiliki dasar-dasar kemampuan olah kanuragan. Ternyata orang yang kekurus-kurusan itu memang menjadi semakin sulit. Tetapi semakin lama tubuhnya seakan-akan menjadi semakin liat. Sekali-sekali orang itu mengaduh dan menyeringai menahan sakit. Namun kemudian ia telah bertempur lagi dengan garangnya. Bahkan sekali-sekali orang itu dengan sengaja telah membentur serangan Manggada atau Laksana. Meskipun orang itu terlempar dan terguling, jatuh, namun iapun cepat bangkit dan bersiap melanjutkan pertempuran. Sesaat ia masih terdengar mengeluh atau mengurut pinggangnya yang kesakitan. Namun setelah ia berloncatan lagi, maka perasaan sakit itu rasa-rasanya telah hilang. Orang yang kekusus-kurusan itu telah melupakan perasaan sakitnya yang terdahulu ketika serangan Manggada dan Laksana yang kemudian mengenainya lagi. Namun bagaimanapun juga, melawan kedua orang anak muda yang mempunyai landasan ilmu yang semakin mapan itupun memang terlalu berat baginya. Betapapun ia memiliki ketahanan tubuh yang sangat tinggi, tetapi serangan kedua orang anak muda itu menjadi semakin sering mengenainya. Seperti Manggada dan Laksana yang menjadi heran karena lawan mereka yang memiliki daya tahan tubuh yang sangat tinggi itu, maka orang yang kekurus-kurusan itupun merasa heran, bahwa tenaga dan kemampuan kedua anak muda itu juga tidak segera terasa menyusut. Meskipun sebenarnya Laksana sudah mulai merasa bahwa kekuatannya tidak lagi sesegar saat ia mulai bertempur dan bahkan sebenarnya sudah mulai menyusut, namun ketika Manggada kemudian bertempur bersamanya, maka Laksana masih dapat menghentakkan tenaganya sehingga rasa-rasanya kekuatannya masih utuh. Dengan demikian maka orang yang bertubuh kekuruskurusan itu harus menyadari kenyataan yang dihadapinya. Bagaimanapun juga, agaknya terlalu berat baginya untuk melawan kedua orang anak muda itu. Karena itu, maka orang yang bertubuh tinggi kekuruskurusan itu tidak ingin memaksa diri melawan kedua orang anak muda yang sebelumnya disangka tidak akan dapat melawannya bersama dengan Rambatan dan kawankawannya. Rambatan dan kawan-kawannya diharap dapat menguasai seorang diantara kedua orang anak muda itu. Kemudian o-rang yang bertubuh kekurus-kurusan itu akan menguasai seorang yang lain. Namun ternyata Rambatan dan kawan-kawannya menjadi tidak berdaya. Karena itu, maka orang itupun telah mengambil satu keputusan untuk meninggalkan perkelahian itu. Ia merasa bahwa ia tidak akan berhasil, sementara itu, persoalannya justru akan dapat mengembang seandainya kedua orang itu kemudian dapat menguasainya. Maka ketika ia kemudian mendapat kesempatan, orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu telah mempergunakannya sebaik-baiknya. Dengan cepat orang itupun segera meloncat kedalam gelap. Ketika itu melenting hinggap diatas dinding halaman banjar tua itu. Kemudian dengan cepat meluncur seperti terbang, turun dalam bayangan pepohonan diluar dinding banjar. Manggada dan Laksana memang mengejarnya. Tetapi ketika keduanya meloncat turun pula diluar dinding halaman, mereka seakan-akan telah kehilangan jejak. Orang yang ber-tubuh kekurus-kurusan itu sudah tidak nampak lagi. Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Namun kemudian keduanya telah meloncati dinding itu dan kembali memasuki halaman banjar. Dihalaman itu masih terbaring Rambatan yang pingsan serta beberapa orang yang kesakitan. Ketika Manggada dan Laksana mendekati Rambatan yang masih terbaring, ternyata ia sudah mulai menyadari keadaannya. Perlahan-lahan matanya mulai terbuka. Dibawah cahaya lampu minyak dipendapa banjar yang berkere dipan ditiup angin, Rambatan nampak menahan sakit ditu buhnya. "Rambatan" Laksana mengguncang tubuh yang mu lai bergerak itu. Wajah Rambatan justru menjadi pucat, ketika ia melihat Laksana berdiri disebelahnya. "Bangun" perintah Laksana "cepat. Aku ingin bicara." Rambatan memang menjadi ketakutan. Apalagi ketika ia melihat Manggada yang menatapnya dengan tajamnya. Bahkan Manggada itupun kemudian berkata pula "Bangunlah. Kita akan berbicara atau kita harus berkelahi lagi." "Tidak. Aku tidak ingin berkelahi lagi" jawab Rambatan yang menjadi ketakutan. "Bagus" jawab Manggada "jika demikian, marilah. Kita akan naik kependapa. Kita akan berbicara." "Apa yang akan kita bicarakan?" bertanya Rambatan. "Apa saja. Kau harus menjawab pertanyaanpertanyaanku." jawab Laksana. "Apa yang akan kau tanyakan?" bertanya Rambatan pula. "Sekarang ikut naik atau- kita akan berkelahi. Kami berdua, kau seorang diri, karena kawan-kawanmu masih kesakitan." Rambatan sempat memandang berkeliling. Kawankawannya sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa. Meskipun mereka sudah duduk, tetapi mereka rasa-rasanya sulit untuk bangkit berdiri. Rambatanpun kemudian duduk pula. Bahkan kemudian dengan susah payah iapun bangkit berdiri tertatih-tatih. Meskipun tubuhnya masih terasa sakit, namun ia memaksa diri untuk naik kependapa. Ternyata kedua orang anak muda itu bukan anak muda kebanyakan sebagaimana anakanak muda padukuhan itu. Ketika mereka sudah duduk dipendapa, maka Manggada dan Laksana yang duduk disebelah menyebelahnya mulai mengajukan beberapa pertanyaan. Dengan suara bergetar Rambatan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan Manggada dan Laksana. "Aku tidak percaya jika kau belum mengenal orang itu tadi sebelumnya" geram Laksana. "Benar. Aku belum mengenalnya" jawab Rambatan. "Jika ia belum mengenalmu, kenapa ia bersedia membantumu?" desak Manggada. "Ia datang kepadaku dan menawarkan bantuannya" jawab Rambatan. Wajahnya menjadi semakin pucat, sedangkan keringat dingin membasahi punggungnya. "Kau jangan berbohong" geram Manggada "kau tahu bahwa aku dapat memilin lehermu? Kawan-kawanmu tidak akan berani membantumu sementara orang yang kau anggap akan dapat menyelesaikan dendammu itu sudah melarikan diri." Wajah Rambatan menjadi semakin pucat. Dengan suara yang terbata-bata Rambatan menjawab "Aku tidak berbohong. Aku berkata sebenarnya." "Jika demikian, ceriterakan kepadaku, bagaimana terjadi, bahwa orang itu bersedia membantumu sehingga kau bawa orang itu kemari." desak Laksana. Rambatan memang menjadi sangat ragu-ragu. Tetapi ketika Laksana memegang pergelangan tangannya, maka Rambatan yang disegani oleh orang-orang sepadukuhan itu terpaksa berceritera tentang orang yang kekurus-kurusan itu. "Tanpa aku ketahui asal-usulnya, maka ia datang kepadaku. Begitu tiba-tiba. Ia menawarkan jasa baiknya jika aku ingin membalas dendam. Aku sudah mengatakan kepadanya, bahwa aku mendendam kepada Darpati. Tetapi orang itu justru menunjuk kalian berdua merupakan bagian dari sasaran dendamku. Sementara itu, aku tidak akan dapat mencari dimana Darpati tinggal." berkata Rambatan. "Apakah orang itu mengenal Darpati? Apakah ia tahu apa yang telah terjadi di bulak saat kau mencegat Winih? Apa pula yang diketahuinya tentang kami berdua?" bertanya Manggada. "Tidak banyak yang diketahuinya selain bahwa kalian harus mendapat sedikit peringatan atas tingkah laku kalian." jawab Rambatan. "Tingkah laku yang mana?" desak Laksana. "Orang itu tidak mengatakannya." jawab Rambatan. "Dan kau lakukan apa yang dikatakannya seperti korban yang dicocok hidung?" bertanya Manggada. "Bukan maksudku " jawab Rambatan. "Omong kosong. Kau memang mempunyai kebiasaan buruk. Kau mempunyai kesenangan berkelahi dan menyakiti hati orang lain. Menyakiti tubuhnya, tetapi juga menyakiti hatinya." geram Laksana yang kemudian mengguncang tubuh Rambatan sambil berkata selanjutnya "Katakan, siapa nama orang itu?" Rambatan menjadi semakin ketakutan. Tetapi kemudian ia memberanikan diri untuk menjawab "Aku tidak tahu." "Setan kau" Laksana menjadi marah "lalu apa yang kau ketahui, he? Apakah aku harus mencekikmu?" "Benar, aku tidak tahu namanya" bukan hanya suara Rambatan yang bergetar. Tetapi tubuhnya juga mulai gemetar. "Jadi kau benar-benar tidak tahu apa-apa tentang orang itu atau demikian pandainya kau berbohong?" bentak Laksana. "Aku benar-abenar tidak tahu." jawab Rambatan hampir menangis karena ketakutan. Laksana yang menahan kemarahannya itu menggeram "Kau tahu bahwa apa yang kau katakan itu tidak masuk akal?” "Tetapi sebenarnyalah demikian yang terjadi. Aku dan kawan-kawanku tidak mengenal orang itu. Ia datang dan menawarkan diri untuk membantuku. Itu saja." suara Rambatan menjadi hampir tidak terdengar. "Dan kau tidak bertanya lebih lanjut?" Laksana mulai mengguncang tubuh Rambatan dengan memegang bajunya. Rambatan semakin gemetar dan ketakutan. Justru karena itu, maka ia tidak mampu lagi berkata sesuatu. Dalam, papda itu, tiba-tiba saja terdengar suara Kiai Gumrah yang memasuki regol halaman banjar tua itu. Sambil bergegas mendekati Manggada dan Laksana ia bertanya "Ada apa? Ada apa dengan Rambatan?" Laksana harus melepaskan pegangannya atas baju Rambatan. Bahkan iapun telah bergeser surut. "Apa yang terjadi?" bertanya Kiai Gumrah. "Katakan apa yang terjadi kepada kakek" geram Laksana. "Apa yang terjadi Rambatan?" bertanya Kiai Gumrah "aku minta maaf, jika kedua cucuku telah mengganggumu." "Kek" berkata Laksana "aku tidak ingin terus-menerus menyembunyikan diri. Dalam keadaan seperti ini aku tidak dapat berbuat lain kecuali melawan." Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Rambatan telah diminta untuk menceriterakan apa yang telah terjadi di banjar tua itu. Dengan singkat Rambatan telah menceriterakan apa yang telah terjadi. Iapun menceriterakan tentang orang yang bertubuh kekurus-kurusan yang sebenarnya sama sekali tidak dikenalnya itu. "Apakah kita dapat percaya dengan ceritera itu kek?" bertanya Laksana. Tetapi Kiai Gumrah mengangguk kecil sambil menjawab "Aku percaya kepadanya. Ia telah berceritera apa adanya.” Wajah Manggada dan Laksana memang menjadi tegang sejenak. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Kiai Gumrah justru percaya kepada Rambatan. Bahkan kemudian Kiai Gumrah itu berkata "Sudahlah Rambatan. Pulangkan. Ajak kawan-kawanmu. Sebenarnya kau tidak terlibat dalam persoalan ini." Rambatan mengangguk-angguk sambil berkata "Terima kasih Kiai. Terima kasih." Manggada dan Laksana tidak mengatakan sesuatu. Mereka memandang Rambatan dengan tajamnya. Sementara itu Kiai Gumrah telah mengulanginya lagi "Pulanglah. Ajak kawan-kawanmu." Rambatanpun mulai beringsut. Meskipun-tubuhnya terasa sakit dipunggung, pinggang, kening dan bahkan dimana-mana, namun bahwa ia diperkenankan pulang telah membuat hatinya sedikit lapang. Namun ketika Rambatan itu mulai menyeret kakinya turun pendapa banjar tua itu, tiba-tiba saja beberapa orang telah memasuki halaman banjar itu. Diantara mereka terdapat Ki Bekel. Belum lagi berhenti melangkah, Ki Bekel sudah berteriak "He, apa yang kalian lakukan terhadap anak-anak padukuhanku?" Kiai Gumrahpun kemudian melangkah turun pula diikuti oleh Manggada dan Laksana. Dengan nada rendah Kiai Gumrah bertanya "Apakah yang Ki Bekel maksudkan?" Ki Bekel dan beberapa orang yang datang bersamanya, diantara mereka adalah bebahu padukuhan itu, telah berhenti ditengah-tengah halaman. Sekali lagi ia bertanya "Apa yang kalian lakukan disini?" "Aku baru saja datang Ki Bekel." jawab Kiai Gumrah. "Aku bertanya kepada cucu-cucumu itu. Mereka bukan anak padukuhan ini. Mereka orang asing bagi kami. Tetapi mereka sudah berani menyakiti anak-anakku. Betapa nakalnya Rambatan, tetapi ia tetap anakku. Mungkin aku memang harus mengajarinya untuk berlaku lebih baik. Tetapi aku tidak senang jika orang lain menyakitinya seperti itu. Beberapa hari yang lalu, hal yang serupa telah terjadi. Orang asing telah menyakiti Rambatan. Sekarang cucucucumu Kiai Gumrah." "Yang terjadi adalah perselisihan diantara anak-anak muda Ki Bekel." jawab Kiai Gumrah. "Bukankah kau dapat mengajari cucu-cucumu? Jika ia datang kepadukuhan ini hanya untuk memamerkan kemampuannya berkelahi, maka aku tidak akan segansegan mengambil tindakan. Bukan hanya terhadap cucucucumu. Tetapi juga terhadapmu. Kau harus ingat, bahwa kau berada di padukuhan ini karena kami, orang-orang sepadukuhan ini menaruh belas kasihan kepadamu. Kami tahu bahwa kau memerlukan pegangan untuk dapat hidup dan mencukupi kebutuhanmu sehari-hari. Kami sudah memberikan kesempatan kepadamu untuk dapat hidup dengan sekedar penghasilan atas tanah yang kami berikan kepadamu disebelah banjar itu dengan memberimu pekerjaan sebagai penjaga banjar. Ternyata sekarang kau telah mensia-siakan kebaikan hati kami dengan membiarkan cucu-cucumu menyakiti anak-anak padukuhan ini." "Aku mohon maaf Ki Bekel. Aku akan berusaha sebaikbaiknya untuk mencegah hal seperti ini terjadi." berkata Kiai Gumrah. "Kali ini aku masih memaafkan cucu-cucumu. Tetapi lain kali tidak. Jika terjadi lagi hal seperti ini, aku akan mengusir mereka dari padukuhan ini. Jika perlu, maka kaupun akan dapat kami usir dari padukuhan ini." berkata Ki Bekel. "Aku mengerti Ki Bekel. Aku akan berbuat sebaikbaiknya agar cucu-cucuku tidak melakukannya lagi." Ki Bekel itupun kemudian berpaling kepada Rambatan sambil berkata "Marilah. Ikut aku. Kau dapat pulang kerumahmu. Demikian pula kawan-kawanmu itu." Ki Bekel tidak lagi mengatakan kepada Kiai Gumrah. Iapun kemudian mengajak Rambatan dan kawan-kawannya pulang. Namun mereka sempat melihat bekas-bekas perkelahian itu pada Rambatan dan kawan-kawannya yang masih saja merasa kesakitan. Demikian Ki Bekel dan orang-orang yang datang bersamanya itu meninggalkan regol halaman banjar, maka Manggadapun segera berkata kepada Kiai Gumrah "Kami mohon maaf kek. Kami tidak ingin menyulitkan kakek." Kiai Gumrah tersenyum. Katanya "Aku mengerti apa yang kalian lakukan. Aku melihat semuanya. Karena itu maka kalian tidak bersalah. Agaknya kalian telah merasa jemu untuk terus-menerus berpura-pura. Bukan saja kalian, tetapi ternyata akupun menjadi jemu. Jika tidak ada Kiai Windu Kusuma serta orang yang disebut Panembahan itu, maka aku kira aku masih dapat hidup tenang tanpa terusik. Namun ternyata bahwa telah tiba waktunya, perubahanperubahan sikap dan tingkah-laku harus terjadi. Sebenarnyalah bahwa karena itu, maka akupun sudah menjadi jemu untuk berpura-pura. Apalagi menghadapi Kiai Windu Kusuma." Manggada dan Laksana itupun mengangguk-angguk. Dengan nada datar Laksana bertanya "Apakah sikap Ki Bekel itu wajar, kek?" Kiai Gumrah tertawa. Katanya "Tidak. Aku menganggap sikap itu sama sekali tidak wajar." "Jadi apakah ada hubungannya dengan laki-laki yang kekurus-kurusan itu?" bertanya Manggada. Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Semakin lama persoalan yang terjadi disekeliling kita memang menjadi semakin rumit. Karena itu, maka kita harus membuat pertimbangan-pertimbangan lain. Jika selama ini kami selalu berpura-pura, kami anggap bahwa cara itu adalah cara yang paling baik untuk menyembunyikan beberapa benda pusaka yang agaknya memang telah mengundang persoalan." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sementara Kiai Gumrah berkata selanjutnya "Kehadiran Prawara adalah salah satu diantara banyak hal yang akan kami lakukan untuk meninggalkan sikap kepura-puraan ini. Kami memang sedang menghubungkan persoalan yang kita hadapi sekarang serta kehadiran Kiai Windu Kusuma dengan musuh bebuyutan perguruan kami." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Ternyata yang mereka ketahui tentang Kiai Gumrah baru sebagian kecil saja dari seluruh persoalannya. Tentang pusakapusaka itu. Tentang orang-orang tua pembuat gula kelapa. Kemudian tentang perguruannya dan musuh bebuyutan dari perguruannya itu dalam hubungannya dengan Kiai Windu Kusuma dan orang yang disebut Panembahan itu. Namun yang juga sangat menarik baginya adalah kehadiran sepasang harimau yang menurut dugaan Manggada dan Laksana adalah harimau peliharaan milik Ki Pandi, orang bongkok yang berilmu sangat tinggi itu. Namun dalam itu, Kiai Gumrahpun berkata "Tetapi marilah, kita pulang saja. Kita akan berbicara dirumah dengan Prawara. Kita dapat mendengar pendapatnya." Manggada dan Laksanapun kemudian mengikuti Kiai Gumrah meninggalkan banjar tua itu. Sehingga dengan demikian maka banjar itu menjadi lengang. Lampu minyak yang menyala dipendapa dan dibeberapa ruang penting di banjar itu, masih mengedipkan sinarnya yang kekuningkuningan. Dirumah, Kiai Gumrah telah menceriterakan apa yang terjadi di banjar kepada anak dan menantunya. Ki Prawara yang mendengarkan dengan sungguh-sungguh itupun kemudian berkata "Peristiwa ini justru penting ayah." "Ya." jawab ayahnya "Nah, siapakah orang yang disebut kekurus-kurusan oleh Manggada dan Laksana itu?" "Tentu ada hubungannya dengan Darpati. Demikian pula tindakan yang telah diambil oleh Ki Bekel yang sebelumnya tidak banyak berbuat sesuatu terhadap Rambatan dan bahkan nampaknya ada keseganan untuk menanganinya. Justru tiba-tiba saja ia berusaha melindunginya dan bersikap memusuhi manggada dan Laksana, meskipun persoalan itu bermula dari tindakan Darpati." berkata Kiai Gumrah. "Tentu ada orang yang mulai menghasut" berkata K Prawara. Tiba-tiba saja Nyi Prawara menyela "Kesempatan yang baik untuk berbicara dengan Winih.” Ki Prawara mengangguk-angguk. Katanya "Ya. Kita akan berbicara dengan Winih." Nyi Prawaralah yang kemudian bangkit untuk memanggil Winih. Ketika ia memasuki bilik Winih yang sempit, maka dilihatnya gadis itu berbaring menengadahkan wajahnya memandang langit-langit. Lampu minyak yang redup menerangi bilik kecil itu. Nyi Prawarapun kemudian duduk dibibir amben. Dengan nada keibuan ia berkata "Winih. Ayah dan kakek memanggilmu." "Aku sudah mengantuk ibu." desis Winih. "Hanya sebentar saja Winih" berkata ibunya. "Apakah begitu penting sehingga tidak dapat dibicarakan esok pagi?" bertanya Winih. Ibunya mengangguk. Katanya "Persoalannya memang penting. Tetapi ayah dan kakekmu tidak akan berbicara banyak." "Tentu tentang Darpati" gumam Winih "kenapa ayah dan kakek meributkan persoalan itu. Curiga dan bahkan mempunyai prasangka yang sangat buruk, sedangkan orang itu tidak berbuat apa-apa kecuali menolong aku sampai dua kali." "Bertanyalah kepada ayah dan kakekmu. Marilah, hari belum terlalu malam." berkata ibunya. Winih tidak dapat menolak. Iapun kemudian bangkit dan membenahi pakaiannya. Seperti yang direncanakan, maka Kiai Gumrahpun berkata berterus-terang kepada Winih, tentang kecurigaan mereka yang semakin tajam terhadap Darpati. Peristiwa yang terjadi di banjar itu termasuk permainan Darpati sebagaimana yang terjadi di pancuran sebelumnya. "Nampaknya Darpati memang ingin menyingkirkan Manggada dan Laksana." Winih yang memang sudah menduga tentang apa yang akan dikatakan kakeknya menundukkan kepalanya. Tetapi ia masih menyahut "Jika Darpati ingin menyingkirkan kakang Manggada dan Laksana, karena ia mempunyai kemampuan untuk melakukannya." "Belum tentu Winih" jawab kakeknya "Darpati memang berilmu tinggi. Ilmunya tentu lebih tinggi dari Manggada dan Laksana. Tetapi jika harus menghadapi mereka berdua, mungkin Darpati masih harus berpikir ulang. Selebihnya, jika hal itu dilakukannya sendiri dan kau sempat mengetahuinya, maka ia tidak akan dapat mengharapkanmu lagi. Meskipun baginya kau hanya salah satu diantara sekian banyak perempuan yang pernah singgah dihati iblisnya itu." "Kakek sudah menghukumnya sebelum dapat membuktikannya." berkata Winih. "Aku ingin segalanya tidak terlambat. Darpati termasuk salah seorang diantara mereka yang ingin mendapatkan pusaka-pusaka itu. Sedangkan ayahmu atau ibumu tentu mengetahui nilai pusaka-pusaka itu bagi perguruan kami." Manggada dan Laksana memang agak terkejut mendengar pernyataan itu, sehingga keduanya telah memperhatikan tanggapan Winih. Namun Winih tidak terkejut, sehingga Manggada dan Laksana mendapat kesimpulan bahwa Winih memang sudah mengetahui nilai dari pusaka-pusaka itu. Winih tidak menyahut. Tetapi matanya menjadi semakin redup. Sementara itu, ibunya berkata "Winih. Kami tidak ingin menyakiti hatimu. Kami hanya ingin menyelamatkan apa yang masih kita miliki. Kau dan pusaka-pusaka itu." Winih memandang ibunya sekilas. Namun sambil menunduk iapun berkata "Kita terlalu mencemaskan pusaka-pusaka itu. Demikian kita berhati-hati, sehingga kita menjadi curiga kepada setiap orang yang berhubungan dengan keluarga kita." "Bukan begitu Winih. Kita tidak kehilangan penalaran kita. Jika kita mencurigai Darpati, tentu kita mempunyai alasan-alasan tertentu. Sebaliknya kau tidak boleh menjadi silau terhadap ujud lahiriah yang kau hadapi, sehingga kau kehilangan penalaranmu yang bening." "Aku sudah cukup dewasa kek. Aku tahu apa yang harus aku lakukan." jawab Winih. "Tidak" ayahnyalah yang menyahut "ternyata kau tidak mampu melihat anak muda yang barangkali di matamu nampak tampan, baik hati dan bertanggung jawab, tetapi yang menurut pengamatan kami, ia justru seorang yang sama sekali tidak menghargai perempuan. Selebihnya, ia mempunyai maksud yang lebih buruk lagi daripada sekedar merampas segala milikmu yang paling berharga, karena ia juga akan merampas pusaka-pusaka itu." "Itu hanya sebuah prasangka" berkata Winih "kita harus membuktikannya." "Tetapi dengar Winih" berkata ayahnya "sejak saat ini, kau tidak boleh lagi pergi keluar halaman rumah ini. Aku tidak berniat untuk memingitmu sebagaimana gadis-gadis pingitan. Tetapi kita sedang dalam bahaya. Kita harus berhati-hati." Winih memang terkejut. Tetapi ia tidak membantah, ia sudah menjadi pening sehingga nalarnya tidak lagi dapat bekerja dengan baik. Yang terasa kemudian adalah kejengkelan, marah dan perasaan-perasaan lain yang membuat dadanya menjadi sakit. "Sudahlah" berkata ayahnya "jika kau akan tidur, tidurlah. Tetapi jika kau ingin mendengarkan kami berbincang, duduk sajalah disitu." Winih tidak menjawab. Tetapi gadis itu segera bangkit dan tanpa berkata apapun juga ia pergi ke biliknya dan menjatuhkan dirinya dipembaringannya. Ibunyalah yang menyusulnya. Masih dengan sikap seorang- ibu ia berkata "Kami lakukan semuanya itu untuk kebaikanmu Winih." Winih tidak menjawab. Tetapi ia telah menyembunyikan wajah di bantalnya sambil menelungkup. Lamat-lamat terdengar Winih berdesis "Ayah, kakek dan ibu tidak adil. Ayah dan kakek menilai kakang Darpati hanya sekedar mengurai peristiwa-peristiwa yang terjadi. Sementara itu, uraian yang berdasarkan dugaan-dugaan itu tidak selalu benar. Tetapi ayah dan kakek dan bahkan ibu sudah menjatuhkan keputusan untuk menghukum kakang Darpati." "Sudahlah Winih. Peristiwa yang terjadi beruntun dalam waktu yang terhitung singkat ini membuat dugaan kami semakin meyakinkan. Tetapi sudahlah. Sekarang beristirahatlah. Sebaiknya kau memang tidur." berkata ibunya. Winih tidak menjawab. Sementara itu ibunyapun telah keluar dari bilik anak gadisnya. Ketika ia melihat Manggada dan Laksana masih duduk diamben besar diruang dalam, maka Nyi Prawara itu mendekatinya sambil berkata "Lihat luka-lukamu." Manggada dan Laksana telah membuka bajunya. Ternyata luka Laksana telah mengembun lagi. Darah setitik-setitik keluar dari lukanya yang sudah diobati oleh Nyi Prawara. "Marilah, aku ganti obat kalian." berkata Nyi Prawara. Luka yang sudah hampir dilupakan itu memang mulai terasa sedikit nyeri. Namun Nyi Prawara segera mengobatinya. Beberapa saat kemudian, maka Kiai Gumrahpun telah menyuruh Manggada dan Laksana untuk beristirahat. Sementara itu bersama Ki Prawara, keduanya justru pergi keluar Kepada Nyi Prawara suaminya berkata "Aku akan berada diluar. Udara terasa panas malam ini." "Berhati-hatilah kakang" pesan Nyi Prawara. Suaminya tersenyum. Katanya "Dalam keadaan seperti ini, kami selalu berhati-hati Nyi." Ketika keduanya telah berada diluar dan menutup pintu butulan, maka Nyi Prawarapun telah pergi ke bilik Winih. "Aku temani kau tidur" berkata Nyi Prawara "aku tahu, bahwa kau tidak mudah untuk tidur malam ini." Winih memang tidak menjawab. Tetapi iapun beringut dan memberi tempat kepada ibunya di pembaringannya yang tidak begitu luas itu. Diluar, Ki Prawara duduk di bebatur samping rumah, sedangkan Kiai Gumrah berjalan saja hilir mudik. Seakanakan kepada diri sendiri Kiai Gumrah itu berkata "Sudah larut malam, tetapi orang itu masih belum datang." "Mungkin malam ini. Tetapi mungkin juga besok malam, ayah" jawab Ki Prawara. "Aku harap ia datang, berhasil atau tidak berhasil" berkata Kiai Gumrah. Ki Prawara tidak menjawab. Sambil bersandar dinding ia memandangi pepohonan yang menjadi kehitam-hitaman di gelapnya malam. Namun keduanyapun telah bergeser dan duduk diserambi depan rumah Kiai Gumrah. Jalan didepan rumah Kiai Gumrah itu sudah sepi. Tidak seorangpun yang lewat di malam yang kelam. Dikejauhan terdengar suara kentongan yang mengisyaratkan, bahwa malam sudah sampai kepertengahannya. "Malam berjalan begitu cepatnya" berkata Kiai Gumrah. "Ya. Suara kentongan itu." jawab Ki Prawara. Lalu katanya pula "Kentongan itu memang kentongan yang bagus. Suaranya seperti bergema." "Kentongan itulah yang dahulu berada di banjar ini. Tetapi ketika dipergunakan banjar yang baru, maka kentongan itupun dipindahkan ke banjar yang baru. Sedangkan di banjar ini ditaruh kentongan yang lebih kecil. Tetapi kentongan itu jarang sekali aku tabuh." "Kenapa?" bertanya Ki Prawara. "Suaranya kurang baik dan jangkauannya tidak cukup jauh." jawab Kiai Gumrah. Ki Prawara mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Sementara itu, Kiai Gumrah yang kemudian berjalan hilir mudik di halaman rumahnya, tiba-tiba berhenti. Sambil bergeser mendekati Ki Prawara ia berdesis "Ada orang diluar regol. Aku melihat bayangannya. Mudahmudahan orang itulah yang kami tunggu malam ini." Ki Prawara tidak menjawab. Namun kemudian iapun telah bangkit pula dan bergeser menepi. Demikianlah, untuk beberapa lama mereka menunggu. Tetapi tidak seorangpun yang memasuki halaman rumah itu lewat regol yang memang sedikit terbuka. Namun Kiai Gumrah itu kemudian berpaling, sebagaimana Ki Prawara yang berkisar dan menghadap kearah halaman samping rumah Kiai Gumrah itu. Terdengar suara tertawa perlahan. Seseorang telah muncul dari bayangan hitam pepohonan. Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Aku kira Kiai Windu Kusuma atau orang yang disebut Panembahan itu." "Bukankah aku berjanji akan datang?" jawab orang itu. "Kau sudah berada diregol. Kenapa kau bersusah payah masuk halaman rumahku dengan meloncati dinding, sementara regol halaman itu sudah terbuka?” "Bukankah terlalu biasa masuk halaman rumah seseorang lewat pintu regol yang terbuka?" orang itu justru bertanya. "Maksudmu?" bertanya Kiai Gumrah. "Aku ingin menunjukkan bahwa aku dapat melakukan hal yang tidak biasa " jawab orang itu sambil tertawa. "Ah, kau. Kelapa kau harus mempersulit diri?” bertanya Ki Prawara "Bukankah aku orang berilmu tinggi?" orang itu tertawa semakin keras. "Jangan berteriak-teriak dimalam hari" berkata Kiai Gumrah "suaramu akan didengar oleh orang-orang yang sedang tertidur nyenyak." Orang itu menutup mulutnya. Suara tertawanyapun segera terhenti. Namun kemudian katanya "Nah, aku datang untuk memberikan laporan." "Marilah, duduklah." Kiai Gumrah mempersilahkan tamunya. "Dimana?" bertanya orang yang baru datang itu yang juga seorang pedagang gula. "Disini saja" jawab Kiai Gumrah. "Kita akan berbicara" desis orang itu. "Lebih baik disini. Jika ada orang yang mendengarkan, kita justru dapat melihat. Tetapi jika kita berada didalam, maka kita tidak tahu apakah diluar ada orang yang mendengarkan atau tidak." jawab Kiai Gumrah. Orang itu mengangguk-angguk. Iapun kemudian telah duduk pula diatas amben bambu diserambi rumah Kiai Gumrah. Sementara itu, malampun menjadi semakin malam. Namun Ki Prawara justru bangkit untuk menutup pintu regol dan menyelaraknya dari dalam. Ketika ia sudah duduk kembali, maka iapun berkata "Ternyata tamu kita tidak memerlukan pintu itu. Karena itu lebih baik ditutup dan diselarak." Tamunya tertawa lagi. Tetapi ia tidak menyahut. Sementara itu, Kiai Gumrah dan Ki Prawara telah duduk bersama tamunya. Dengan nada rendah Kiai Gumrah mulai bersungguh-sungguh "Kau berhasil?" Orang itu termangu-mangu sejenak. Baru kemudian ia menjawab "Dapat disebut berhasil, tetapi dapat juga belum." "Kenapa?" bertanya Kiai Gumrah. "Aku telah menemukan rumah tempat burung elang itu turun. Bahkan ketika aku mengamati hari ini, aku sempat melihat dua ekor burung itu muncul dari halaman belakang rumah itu, sehingga aku yakin, bahwa rumah itu adalah sarang beberapa ekor burung elang yang dapat dikendalikan itu." jawab tamunya. "Jika demikian, maka agaknya kau telah berhasil" desis Kiai Gumrah. "Aku memang berhasil menemukan rumahnya. Tetapi aku belum dapat mengetahui kegiatan yang dilakukan didalam rumah itu. Rumah yang berdinding agak tinggi dan kesannya memang tertutup. Regolnya tidak pernah terbuka. Jarang sekali ada orang keluar masuk lewat regol halaman. Jika ada juga orang yang keluar atau masuk, maka kesannya orang itu bukan orang kebanyakan. Wajah-wajah mereka nampak mengandung rahasia." "Apakah orang tua saja yang keluar masuk rumah itu! Atau orang muda juga?" bertanya Kiai Gumrah. "Ada yang tua. Tetapi ada juga yang muda" jawab tamunya. Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Katanya "Tolong, jika kau masih sempat melihat lagi keadaan rumah itu, awasi, jika ada orang muda yang keluar atau masuk, ingatingat cirinya. Mungkin orang itu dapat kita kenali." Orang itu mengangguk-angguk. Katanya "Baiklah. Aku akan mengamati terus. Kebetulan didepan rumah itu, meskipun agak menyamping, terdapat sebuah warung. Ketika aku menawarkan gula dengan harga yang lebih murah dari harga yang sebenarnya, warung itu nampaknya senang menerimanya. Sambil menyerahkan gula, aku dapat minum-minum barang sebentar di warung itu." "Bagus. Tetapi hati-hatilah. Mungkin kaupun diawasi oleh orang yang tinggal dirumah itu tanpa kau sadari. Jika kau tertangkap, terbukti atau tidak, maka kau tentu akan dihancurkannya. Mereka tentu tidak mempunyai pertimbangan perikemanusiaan." Orang itu mengangguk-angguk. Katanya "Aku akan berhati-hati. Aku mempunyai modal yang sangat berarti bagi tugasku." "Apa? Ilmumu yang tinggi? Dirumah itu tentu terdapat banyak orang berilmu tinggi." jawab Kiai Gumrah. "Bukan ilmu yang tinggi. Tetapi aku telah mempelajari ilmu yang khusus, bagaimana dapat berlari kencang sekali. Aku telah belajar secara khusus mengetrapkan tenaga dalam untuk mendorong gerak kaki jika kita sedang melarikan diri." "Ah, kau" desis Kiai Gumrah. Orang itu tetawa. Ki Prawarapun tertawa pula. Namun Kiai Gumrahpun kemudian berkata "Jika benar kita akhirnya mengetahui dengan pasti tempat tinggal mereka, maka kita bukan sekedar menjadi sasaran. Tetapi jika perlu kita dapat datang mengunjungi rumah itu." "Aku sependapat" berkata tamu Kiai Gumrah itu."rasarasanya menjadi muak untuk selalu berjaga-jaga, kapan kita akan disergap. Sebaiknya kitapun sekali waktu datang menyergapnya." "Bagus" sahut orang itu "tetapi kita harus ingat, bahwa benda yang diperebutkan itu ada disini. Jika kita menyerang mereka, maka ada kemungkinan buruk dapat terjadi dengan pusaka-pusaka itu. Bahkan anak-anakpun akan mampu mengambilnya. Justru karena kita pergi kerumah mereka yang jaraknya cukup jauh. Rumah itu berada di padukuhan lain." "Bukankah ada diantara kita yang tinggal?" bertanya Kiai Gumrah. "Seberapa besarnya tenaga kita" tamunya justru ganti bertanya "jika kita tidak pergi semua ke rumah yang tertutup itu, maka kemungkinan buruk dapat terjadi pula atas kita, karena aku yakin bahwa dirumah ini terdapat orang-orang berilmu tinggi." Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Prawara berkata "Ya. Kita dapat mengerti. Karena itu untuk sementara kau awasi saja rumah ini. Meskipun demikian dalam waktu singkat kita harus dapat segera mengambil sikap, karena nampaknya merekapun tidak akan menunggu terlalu lama lagi." "Sebelum purnama dibulan depan" berkata Kiai Gumrah. Tamu Kiai Gumrah itu mengangguk-angguk. Katanya "Baiklah. Aku akan terus-menerus mengawasinya. Tentu saja jika keadaan memungkinkan, karena aku tidak mau mati digebugi oleh orang-orang yang tinggal dirumah yang tertutup itu." "He, bukankah kau berilmu tinggi?" bertanya Ki Prawara. Orang itu tertawa. Jawabnya "Aku memang berilmu tinggi. Tetapi orang-orang yang tinggal dirumah itu berilmu lebih tinggi lagi." Kiai Gumrahpun tertawa. Demikian pula Ki Prawara. Disela-sela tertawanya Kiai Gumrah berkata "Kau sudah menyerah sebelum bertempur." "Bukan begitu, tetapi aku mempunyai perhitungan yang tajam dan cermat atas persoalan yang Sedang aku hadapi." jawab orang itu masih sambil tertawa. Kiai Gumrahpun masih tertawa berkepanjangan pula. "Duduk sajalah dahulu, biar aku mengambil minuman di dapur. Meskipun barangkali sudah tidak panas lagi. Tetapi barangkali kau merasa haus" berkata Ki Prawara. "Tidak. Tidak usah. Aku akan segera minta diri" sahut orang itu. Lalu katanya pula “Aku harus menengok rumah dahulu sebelum besok pagi-pagi aku membawa gula kewarung yang ada didepan rumah yang tertutup itu. Tetapi gulaku tinggal sedikit. Sehari kemarin aku tidak sempat membuat gula." "Aku masih mempunyai persediaan gula" berkata Kiai Gumrah. "Terima kasih. Kau tidak pernah dapat membuat gula yang berwarna jernih. Gulamu terlalu hitam. Sedangkan kedai itu minta gula yang berwarna jernih." "Kau belum melihat gulaku yang terakhir" berkata Kiai Gumrah. "Tentu juga sehitam kulitmu" jawab orang itu sambil bangkit berdiri dan bergeser. Meskipun demikian ia masih berkata "Orang yang kulitnya hitam, jika membuat gula tentu hitam juga." "Omong kosong" sahut Kiai Gumrah "kau sudah pandai membual sekarang." Orang itu tertawa lagi. Katanya "Sudahlah. Aku akan pulang. Besok aku masih harus mengawasi rumah itu. Tugas yang sebenarnya tidak aku sukai." "Kenapa kau menawarkan dirimu untuk melakukannya." Orang itu tertawa semakin keras. Katanya "Tidak sejak mula-mula. Sebenarnya aku ingin menolak tugas ini. Tetapi ternyata pemilik warung didepan rumah yang tertutup itu adalah seorang janda dan tidak mempunyai anak pula." "Setan kau" geram Kiai Gumrah "he, bukankah rambutmu sudah putih?" "Kenapa kalau rambutku sudah putih?" orang itu justru bertanya. "Kau tidak pantas lagi mengintai seorang janda yang belum mempunyai anak. Jika kau ingin kawin lagi sepeninggal isterimu yang dipanggil kembali oleh Yang Maha Agung itu, sebaiknya kau mencari perempuan yang sebaya dengan umurmu, sehingga jika kau besok atau lusa juga dipanggilmenghadap-Nya, isterimu tidak akan terlalu lama menjanda lagi." "He, kau kira aku yang membutuhkan janda itu?" orang itu membelalakkan matanya. "Jadi?" bertanya Ki Prawara. "Aku sedang mencari jodoh buat adikku yang bungsu. Isterinya meninggal saat melahirkan. Demikian pula anaknya.” Kiai Gumrah dan Ki Prawara tertawa. Disela-sela tertawanya, Ki Prawara berkata "Maaf. Kami tidak tahu bahwa kau mempunyai seorang adik bungsu yang memerlukan seorang isteri." Sambil melangkah pergi orang itu masih bergumam "Kalian selalu berprasangka buruk terhadapku." "Maaf, kami sudah minta maaf." "Sudahlah, aku akan pergi." berkata orang itu. "Apakah kau akan lewat regol halaman?" bertanya Kiai Gumrah. "Tidak. Aku seorang yang berilmu tinggi. Aku harus melakukan sesuatu yang tidak biasa dilakukan orang lain. Aku akan meninggalkan rumah ini lewat jalan yang aku lalui saat aku memasuki halaman rumah ini." jawab orang itu. "Pergilah" desis Kiai Gumrah. Orang itupun kemudian melangkah kekegelapan disisi rumah Kiai Gumrah. Sebagaimana saat ia datang, maka iapun tidak keluar dari halaman rumah itu lewat regol. Kiai Gumrah menggeleng-gelengkan kepalanya sambil bergumam "Orang itu memang aneh-aneh saja." Tetapi Ki Prawara menjawab "Siapakah diantara kita yang tidak aneh-aneh? Ayah sendiri, kawan-kawan ayah yang sering datang kemari itu dan barangkah aku juga jika aku berada diantara kawan-kawan ayah." Kiai Gumrah mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun tertawa. Katanya "Ya. Tetapi, dengan berbuat yang aneh-aneh itu, maka kita mendapat kepuasan tersendiri." Ki Prawara juga tertawa. Namun demikian Kiai Gumrahpun tertawa berkepanjangan. Ketika suara tertawa Kiai Gumrah mereda, maka iapun kemudian berkata "Marilah, kita masuk kedalam. Rasarasanya malam menjadi semakin dingin." Ki Prawarapun telah bangkit pula. Keduanyapun kemudian masuk kembali kedalam lewat pintu butulan. Namun sebelum mereka sempat berbaring diamben panjang, terdengar pintu butulan itu diketuk orang. "Siapa?" bertanya Kiai Gumrah. "Aku" jawab orang yang mengetuk pintu itu, yang ternyata adalah tamunya yang baru saja meninggalkan halaman rumah Kiai Gumrah. Dengan tergesa-gesa Kiai Gumrah membuka pintu butulan diikuti oleh Ki Prawara. "Ada apa lagi?" bertanya Kiai Gumrah. Wajah orang itu nampak bersungguh-sungguh. Katanya "Hati-hatilah. Aku melihat sesosok bayangan disudut halaman rumahmu. Meskipun bayangan itu berada diluar dinding, tetapi dalam sekejap ia akan dapat berada didalam dinding." "Apakah bayangan itu melihatmu?" bertanya Kiai Gumrah. "Mungkin, ketika aku meloncati dinding. Tetapi bayangan itu justru menghilang. Mungkin sekarang bayangan itu sedang mengintai aku yang memberitahukan kehadirannya kepadamu." "Berhati-hatilah. Atau kau akan bermalam disini?" bertanya Kiai Gumrah. "Kenapa? Kau kira aku ketakutan melihat bayangan itu? Aku justru datang untuk memperingatkanmu. Kaulah yang harus berhati-hati." berkata orang itu dengan dahi berkerut. "Ya, ya. Aku akan berhati-hati. Tetapi kau juga harus berhati-hati." jawab Kiai Gumrah. Tetapi orang itu menjawab, justru agak keras "Kau tidak usah merisaukan aku. Bukankah aku berilmu tinggi?" Kiai Gumrah hanya menarik nafas panjang saja, sementara tamunya itupun kemudian telah meninggalkannya tanpa berpaling lagi, sehingga sejenak kemudian, iapun telah hilang dari penglihatan Kiai Gumrah dan Ki Prawara. Sejenak kemudian, maka pintu itupun telah tertutup kembali. Dengan nada dalam Kiai Gumrah berkata "Ternyata rumah ini selalu diawasi. Jika tidak dengan burung-burung elang itu, maka mereka telah mengirimkan orang kemari. Tetapi agaknya orang itu masih berada diluar dinding.” "Tetapi orang itu tidak akan mengganggu kita ayah." berkata Ki Prawara. "Ya. Orang itu tentu hanya sekedar mengawasi saja." desis Kiai Gumrah "sudahlah, beristirahatlah." Ki Prawarapun kemudian telah berada diruang tengah. Ketika ia duduk diamben yang besar, maka iapun memperhatikan Manggada dan Laksana yang berbaring dengan mata terpejam. Namun sambil tersenyum ia berdesis "Tidurlah. Tidak ada apa-apa. Kami hanya mencari angin diluar." Manggada dan Laksana membuka matanya. Ternyata Ki Prawara tahu bahwa mereka memang belum dapat tidur. Dengan nada rendah Manggada berkata "Ada tamu diluai paman?" Ki Prawara tersenyum. "Kau mendengar percakapan kami?" bertanya Ki Prawara. "Tidak paman. Tetapi aku mendengar suaranya tertawanya.” "Sudahlah, tidurlah " desis Ki Prawara kemudian. Sementara itu Kiai Gumrah masih saja berada di dapur. Bahkan kemudian iapun berbaring diamben yang ada didapur. Ia memang sering tidur ditempat itu atau diamben yang lain diruang dalam. Namun bukan hanya Manggada dan Laksana saja yang masih belum tidur. Winih dan ibunyapun ternyata masih belum tidur juga. Bahkan mereka mendengar pembicaraan Kiai Gumrah dan tamunya yang datang kembali dimuka pintu butulan untuk memberitahukan bahwa ada bayangan diluar dinding halaman rumah Kiai Gumrah. Malam itu, para penghuni rumah Kiai Gumrah itu tidak dapat tidur nyenyak. Manggada dan Laksanapun seakanakan mempergunakan waktu yang tinggal sedikit itu untuk tidur bergantian. Kiai Gumrah, bahkan menjelang fajar baru dapat tidur sekejap ketika Ki Prawara keluar lewat pintu butulan pergi ke pakiwan. "Tidurlah ayah" desis Ki Prawara "aku sudah sempat tidur sekejap." Kiai Gumrah baru dapat tidur dengan tenang, meskipun hanya sebentar, karena ia tahu, bahwa Ki Prawara tidak akan tidur lagi. Ketika matahari naik, maka Kiai Gumrah sudah berada di kebun kelapanya. Iapun mulai memanjat batang-batang kelapa untuk mengganti bumbung-bumbung legennya. Manggada dan Laksana mengikutinya untuk membantu membawa bumbung-bumbung legen yang akan dipasang dan yang baru saja diturunkan. Sementara itu, yang lain seisi rumah itu telah melakukan tugas mereka masing-masing pula. Ketika matahari sepenggalah, maka Kiai Gumrah telah sibuk diperapian memanasi legen untuk dibuat gula. Demikian Kiai Gumrah menuang jladren yang sudah mengental kedalam tempurung kelapa untuk mencetak, maka terdengar orang mengetuk pintu Jepan sambil memanggil nama Winih. "Siapa orang itu?" bertanya Kiai Gumrah yang sudah menduga bahwa orang itu tentu Darpati. Manggada yang menjenguk keluar memang melihat bahwa orang yang datang itu adalah Darpati. "Apakah Winih sudah mandi?" bertanya Darpati. Manggada mengerutkan dahinya. Pertanyaan itu terdengar aneh. Demikian Manggada muncul, maka yang ditanyakan adalah, apakah Winih sudah mandi. "Kenapa?" bertanya Darpati ketika ia melihat Manggada agak kebingungan. Ternyata Darpati tidak menunggu Manggada mempersilahkan. Iapun segera melangkahi tlundak pintu, bahkan seakan-akan telah menyibak jalan menyisihkan Manggada yang berdiri dipintu dan kemudian duduk diruang dalam. "He, kau belum menjawab, apakah Winih sudah mandi " berkata Darpati. "Kenapa kau tanyakan hal itu?" Manggada justru bertanya. Darpati tertawa. Katanya "Aku ingin membawa Winih berjalan-jalan. Aku ingin mengajakmu pula bersama Laksana." "Kemana?" bertanya Manggada. "Tentu tidak kepancuran itu lagi." jawab Darpati. "Biarlah winih nanti yang bertanya kepadaku. Aku akan menjawab hanya kepada Winih." jawab Darpati. Manggada menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Katanya "Aku akan menanyakan kepada Winih, apakah ia sudah mandi atau belum." Darpati tertawa, ia tahu bahwa pertanyaannya itu membuat Manggada menjadi kesal. Tetapi juga karena ia tidak mau menjawab pertanyaan Manggada, kemana ia akan mengajak Winih. Sementara itu, ternyata Nyi Prawara mendengar katakata Darpati itu. Karena itu iapun berbisik ditelinga Winih “Kau ingat pesan ayahmu?" "Kenapa ibu?" Winih masih bertanya. Ibunya meletakkan jarinya dibibirnya sambil berdesis "Ayahmu sudah memberikan alasan-alasannya. Kau harus mengerti." Winih menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti bahwa ibunya minta agar ia tidak berbicara terlalu keras. Tetapi bahwa ia tidak boleh keluar dari halaman rumah kakeknya itu telah membuatnya bersedih. Apalagi Darpati telah menjemputnya. Baginya Darpati adalah seorang anak muda yang baik, yang tidak ditemuinya di tempat tinggalnya. Bahkan telah menunjukkan kesediaannya untuk menolongnya ketika ia mendapat gangguan diperjalanan pulang. "Apa yang kau pikirkan Winih" desis ibunya "bukankah kau mendengar ceritera kakek semalam? Darpati bukan satu-satunya orang yang dapat menyelamatkanmu. Seandainya waktu itu Darpati tidak menolongmu, Manggada dan Laksana tentu akan dapat melakukannya. Bedanya, Manggada dan Laksana tidak dengan mudah menunjukkan kemampuannya. Hanya jika perlu, sebagaimana terjadi di pancuran dan semalam di banjar tua itu. Dalam keadaan yang tidak dapat dihindarinya lagi, maka keduanya baru mempergunakan kemampuannya. Berbeda dengan Darpati. Ia dengan sengaja, bahkan ia akan mencari banyak kesempatan untuk menunjukkan kelebihannya." "Bukan ibu, bukan itu sebabnya" berkata Winih. Namun sekali lagi ibunya menempelkan jari-jarinya, justru dibibir Winih. Winih terdiam. Namun kemudian ia meneruskan "Barangkali tidak terpikir olehnya untuk berbuat seperti itu." "Sudahlah Winih. Turuti saja perintah ayah dan kakekmu." "Tetapi ibu dapat minta agar ayah tidak berkeras seperti itu." minta Winih. Tetapi jawaban ibunya benar-benar membuat Winih bersedih. Katanya "Winih. Seandainya ayah dan kakekmu tidak melarangmu, maka akulah yang akan melarangmu." Winih tidak dapat mendesak lagi. Kadang-kadang ia memang dapat merubah sikap ayahnya lewat ibunya. Tetapi jika ibunyalah yang berkeras melarangnya, maka larangan itu harus ditaatinya. Sementara itu Manggada telah berdiri dipintu bilik Winih. Ia memang tidak segera mengetuk pintu lereg yang sudah sedikit terbuka. Tetapi ia sempat mendengar pembicaraan Winih dengan ibunya, meskipun hanya lamatlamat dan tidak lengkap. Namun Manggada mengerti, bahwa ibunya, memang melarang Winih untuk pergi, apalagi bersama Darpati. Namun kemudian Manggada itupun telah mengetuk pintu bilik Winih yang memang terasa sempit. "Marilah" desis ibu Winih perlahan-lahan "kami sudah mendengar beberapa pertanyaan Darpati. Tolong, jawablah. Winih belum mandi." "Tidak" potong Winih "aku sendiri yang akan mengatakannya bahwa aku tidak akan pergi kemanapun sesuai dengan perintah kakek, ayah, ibu dan barangkali juga kakang Manggada dan Laksana." "Aku?" bertanya Manggada. "Sudahlah" potong Nyi Prawara. Lalu katanya kepada Winih perlahan-lahan tetapi tegas "Temuilah jika kau sendiri ingin mengatakan bahwa kau tidak akan pergi kemana-pun, siapapun yang melarangmu." Ibunya yang mulai menunjukkan sikap kerasnya. Winih tidak menjawab. Ia memang bangkit berdiri dan berjalan keruang depan tanpa membenahi pakaiannya. Meskipun Winih sudah mandi, tetapi ia tidak berpakaian dan berhias sebagaimana jika ia akan pergi. Demikian Winih keluar keruang dalam, maka Darpatipun bangkit berdiri sambil berkata "He, kau belum siap?” "Untuk apa?" bertanya Winih. "Kita akan berjalan-jalan. Kau tidak usah sendiri. Biarlah Manggada dan Laksana ikut bersama kita." jawab Darpati. "Aku tidak siap untuk pergi Darpati " jawab Winih. "Bukankah kau sudah mandi? Berpakaianlah, aku a-kan menunggu " berkata Darpati kemudian. Tetapi Winih menjawab "Aku hari ini tidak akan pergi, Darpati. Keadaan disekitarku menjadi tidak menentu. Perkelahian, kekerasan dan kejadian-kejadian yang membuat aku ketakutan untuk keluar dari halaman rumah kakek ini." jawab Winih. "Kenapa kau takut? Kau akan pergi bersama aku dan Manggada serta Laksana. Apapun yang akan terjadi, maka kami bertiga tentu akan dapat mengatasinya." berkata Darpati. "Tidak Darpati. Kakek, ayah dan ibu mencemaskan keselamatanku. Meskipun aku pergi bersamamu serta kakang Manggada dan Laksana, namun jika bahayanya terlalu besar, ada kemungkinan kalian tidak dapat mengatasi." jawab Winih. "Aku ingin berbicara dengan kakek dan ayahmu, Winih." berkata. Darpati kemudian. "Tentang apa?" bertanya Winih. "Aku akan memberi penjelasan kepada mereka, agar mereka tidak dibayangi oleh kecemasan." berkata Darpati. Winih termangu-mangu sejenak. Agaknya memang lebih baik jika Darpati itu berbicara dengan kakek dan ayahnya, agar ia tidak menjadi marah kepadanya. Karena dengan demikian maka Darpati akan mengetahui, bahwa bukan ia yang menolak ajakannya. Karena itu, maka Winihpun kemudian telah mendapatkan kakeknya diruang sebelah. "Kakek sudah mendengar?" desis Winih perlahan. "Aku dan ayahmu sudah mendengar" jawab Kiai Gumrah. "Jika demikian, biar kakek atau ayah sajalah yang menjawab" minta Winih


Buku 5
KIAI Gumrah dan Ki Prawara saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Kiai Gumrah berkata "Baiklah. Aku akan berbicara dengan angger Darpati." Bersama Winih maka Kiai Gumrahpun kemudian menemui Darpati diruang dalam. Demikian Kiai Gumrah duduk, maka Darpatipun segera berkata "Kiai. Aku akan mengajak Winih, Manggada dan Laksana untuk berjalanjalan. Kiai tidak usah cemas. Kami bertiga akan dapat melindungi Winih dari ancaman bahaya yang bagaimanapun besarnya.. Karena itu, sebenarnya Kiai tidak mempunyai alasan untuk melarang Winih keluar hari ini." "Tetapi bukankah angger sendiri pernah mengatakan, bahwa sebaiknya Winih tidak usah pergi kemana-mana lebih dahulu dalam waktu-waktu seperti ini?" sahut Kiai Gumrah. "Aku memang pernah mengatakannya. Tetapi seingatku, aku mengatakan bahwa Winih jangan pergi keluar dahulu tanpa aku. Jika sekarang aku ada, maka aku kira tidak ada keberatannya Winih berjalan keluar." berkata Darpati. Kiai Gumrah termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya "Tetapi sebaiknya tidak saja ngger. Sebaiknya Winih dan juga angger Darpati serta Manggada dan Laksana tidak usah pergi keluar. Persoalannya ternyata menjadi semakin rumit. Kemarin, menjelang malam, anakanak padukuhan ini telah berkelahi dengan Manggada dan Laksana." "Tetapi itu bukan persoalan baru Kiai" jawab Dvarpati "Rambatan memang membenci kami. Maksudku, aku, Manggada dan Laksana. Nampaknya ia ingin membalas dendam, justru selagi aku tidak ada. Mereka mengira bahwa mereka akan dapat mengalahkan Manggada dan Laksana. Apalagi mereka mendapat bantuan dari seorang yang dianggapnya berilmu tinggi." Kiai Gumrah termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Darpati dengan tajamnya. Namun Kiai Gumrah kemudian hanya menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Darpatipun berkata "Nah, Kiai. Serahkan tanggung-jawab atas Winih kepadaku. Aku akan membawanya pulang dengan selamat." "Manggada dan Laksana?" bertanya Kiai Gumrah. Darpati menjadi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya "Mereka adalah anak-anak muda yang berilmu. Karena itu, maka mereka akan dapat melindungi diri mereka sendiri." Namun jawaban Kiai Gumrah membuat denyut jantung Darpati semakin cepat berdetak. Orang tua itupun kemudian menjawab "Maaf ngger! Orang tua ini selalu saja dibayangi oleh kecemasan: Karena itu, maka sebaiknya angger tidak membawa Winih keluar hari ini. Aku bahkan ingin mempersilahkan angger duduk-duduk saja disini. Aku sedang merebus ketela pohon dengan legen kelapa yang baru aku turunkan pagi tadi." "Kiai" Darpati mulai menjadi jengkel "Apakah Kiai tidak percaya kepadaku?" "Tentu ngger. Aku percaya kepada angger. Bahwa angger akan bertanggung jawab Tetapi kita tidak tahu, seberapa besarnya kekuatan orang yang ingin mengganggu ketenangan. Mungkin mereka memusuhi kami dan mencoba untuk menumpahkan permusuhan itu kepada Winih, Manggada dan Laksana. Atau orang itu memang memusuhi angger, karena orang itu tidak senang melihat angger berkawah dengan Winih atau alasan-alasan yang lain." "Kiai" berkata Darpati "sekali lagi aku minta Kiai tidak mencemaskan keadaan Winih. Aku bertanggung jawab sepenuhnya. Apalagi Winih sudah dewasa, sehingga ia seharusnya tidak lagi terlalu dikekang seperti kanak-kanak." "Itu terbalik ngger" jawab Kiai Gumrah "justru Winih sudah memasuki usia dewasanya. Gadis-gadis sebaya Winih memang sudah waktunya untuk dipingit. Ia harus tinggal saja dirumah sampai saatnya ayah dan ibunya menemukan jodoh baginya. Nah, ternyata ayah dan ibu Winih juga sudah membicarakannya dengan aku. kakeknya, bahwa Winih harus sudah memasuki masa bahwa ia harus dipingit. Ayah dan ibunya mulai merasa cemas, bahwa Winih mulai berhubungan dengan laki-laki yang barangkali tidak sesuai dengan keinginan ayah dan ibunya." "Kek" diluar sadarnya Winih telah memotong pembicaraan kakeknya. Namun kata-katanya itupun bagaikan terputus dikerongkongan sehingga kemudian Winihpun terdiam, sambil menundukkan kepalanya. Dalam pada itu, Darpatilah yang menyahut "Kiai, apakah dengan demikian berarti bahwa ayah dan ibu Winih menganggap bahwa aku tidak pantas berhubungan dengan Winih?" "Bukan begitu ngger" jawab Kiai Gumrah "dalam usia sebagaimana Winih sekarang, maka hubungannya, dengan setiap laki-laki akan diputuskan. Bukan hanya angger Darpati." "Itu tidak adil" Darpati hampir berteriak. "Kenapa?" bertanya Kiai Gumrah. "Aku telah berbuat baik atas Winih. Aku sudah menyelamatkannya dari tangan Rambatan. Kemudian menyelamatkannya di pancuran. Jika aku tidak berbuat demikian, maka mungkin Winih sudah disekap dirumah Rambatan atau dibawa oleh orang-orang liar yang datang kepancuran itu." "Tetapi itu bukan satu perbuatan yang berlebihan. Seandainya angger Darpati tidak ada, maka Manggada dan Laksana akan dapat melindunginya saat Rambatan ingin membawa Winih untuk mengambil ayam kerumahnya. Sementara itu, tanpa angger Daipati maka Winih tidak akan pergi ke pancuran." "Kek" sekali lagi Winih ingin memotong kata-kata kakeknya. Tetapi sekali lagi suaranya terhenti dikerongkongan. Sementara itu Darpati berkata "Jadi Kiai menganggap apa yang pernah aku lakukan itu sia-sia?" "Bukan ngger. Bukan begitu. Apa yang angger lakukan tidak aku anggap sia-sia. Tetapi aku juga tidak menanggapinya dengan berlebihan. Apa yang angger lakukan itu adalah sangat wajar. Setiap laki-laki akan berbuat seperti apa yang angger lakukan." Wajah Darpati menjadi merah. Namun kemudian katanya “Apapun tanggapan Kiai, tetapi sekarang aku minta Winih dapat pergi bersamaku, bersama Manggada dan Laksana” Kiai Gumrah termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba pertanyaan aneh "Bagaimana jika tanpa Manggada dan Laksana?" "Tidak” jawab Darpati "tentu tidak akan baik dilihat orang." Darpati berhenti sejenak, lalu katanya "Dan bukankah sikap Kiai aneh sekali? Kiai mengatakan bahwa Winih akan mulai dipingit. Kemudian justru Kiai menawarkan Winih pergi bersamaku tanpa orang lain?" "Sudahlah ngger" berkata'Kiai Gumrah "lupakan keinginan angger mengajak Winih berjalan-jalan hari ini. Biarlah ia berada dirumah membantu ibunya mencetak gula. Ia harus belajar bekerja keras sebagaimana seorang gadis yang lain, anak orang-orang melarat seperti kakek ini.” "Jadi kakek ingin Winih juga menjadi orang melarat seperti Kiai?" bertanya Darpati. "Kami bukan pemimpi ngger. Biarlah kami hidup dengan berjejak diatas bumi kita sendiri. Kami harus menerima kenyataan ini." jawab Kiai Gumrah. Darpati benar-benar telah menjadi marah. Dengan lantang ia berkata "Jika Kiai ingin memisahkan Winih dari semua laki-laki, kemudian melarangnya pergi bersamaku, itu tidak adil." "Kenapa tidak adil" bertanya Kiai Gumrah. Wajah Darpati menjadi semakin tegang. Namun kemudian katanya "Kiai. Aku dan Winih memang belum terlalu lama saling berkenalan. Tetapi aku tahu. bahwa Winih tanggap akan perasaanku. Karena itu, maka tidak seorangpun yang dapat menghalangi hubungan kami. Kami berdua telah sama-sama dewasa, sehingga kami dapat menentukan jalan hidup kami sendiri." "Angger Darpati bukan saja telah dewasa. Tetapi angger sudah terlalu matang serta berpengalaman berhubungan dengan bukan saja gadis-gadis, tetapi juga perempuan macam apapun." jawab Kiai Gumrah diluar dugaan. Telinga Darpati bagaikan disentuh bara api. Wajahnya menjadi merah menyala. Dipandanginya Kiai Gumrah dengan matanya yang seolah-olah akan meloncat dari pelupuknya. Sedangkan Winih bergeser selangkah maju sambil berdesis "Kakek. Kenapa kakek berkata seperti itu?" "Aku sudah memikirkan dengan baik apa yang aku katakan Winih" jawab Kiai Gumrah. "Tetapi kata-kata kakek itu dapat menyakiti hatinya" berkata Winih dengan suara bergetar. Dimatanya mulai nampak air matanya mengembun. "Mungkin kata-kataku menyakiti hatinya. Tetapi jika aku yakin bahwa apa yang aku katakan itu satu kebenaran, maka apakah salahnya jika aku mengucapkannya?" sahut Kiai Gumrah. Darpati memang menahan kemarahan yang menghentak-hentak didadanya. Tetapi bagaimanapun juga Darpati mengetahui, bahwa Kiai Gumrah adalah seorang yang berilmu tinggi. Karena itu, betapa hatinya bergelora, namun Darpati harus menahan diri. Jika ia memaksakan kehendaknya, maka orang tua itupun agaknya tidak mau lagi melangkah surut. Karena itu, maka Darpati itupun kemudian menggeram "Hanya karena aku mengingat hubunganku dengan Winih, aku tidak berbuat apa-apa sekarang ini. Tetapi kesabaran seseorang memang ada batasnya. Jika aku sekarang pergi, bukan berarti bahwa persoalan kita sudah selesai." Darpati tidak menunggu jawaban. Iapun segera melangkah pergi meninggalkan rumah Kiai Gumrah. Demikian Darpati pergi, maka Winihpun berkata diselasela isaknya yang tertahan "Kakek telah menyakiti hatinya. Seharusnya kakek tidak berkata seperti itu. Ia adalah seseorang yang mempunyai perasaan, sehingga ia telah tersinggung karenanya." Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu ayah dan ibu Winih telah mendekatinya pula. Manggada dan Laksana sebenarnya juga ingin mendekat, tetapi mereka masih menjaga jarak, karena mereka merasa bahwa sebenarnya mereka tidak termasuk keluarga Ki Gumrah. Sementara itu Kiai Gumrahpun berkata "Winih, Aku memang sengaja menyinggung perasaannya. Aku ingin tahu, apakah yang akan dilakukan oleh, Darpati jika ia marah." "Karena kakek adalah kakekku, maka Darpati tentu tidak akan berbuat sesuatu.”jawab Winih. "Bukan itu alasannya, Winih. Darpati bukan jenis orang yang mempunyai pertimbangan unggah-ungguh atau berusaha untuk menjaga perasaan orang lain. Kau tahu, bagaimana sikapnya, terhadap aku, ayah dan ibumu sejak ia datang untuk pertama kalinya kerumah ini beberapa saat yang lalu. Kau tahu bagaimana sikap Darpati terhadap Manggada dan Laksana yang seharusnya dihormatinya sebagai saudara tua. Tetapi ia tidak bersikap seperti itu. Karena itu, jika ia marah, ia tidak akan mempedulikan apakah aku kakeknya atau bukan. Bahkan terhadap kedua orang tuamupun ia tidak akan menghiraukannya. Apalagi Manggada dan Laksana." "Tetapi nyatanya, Darpati tidak berbuat apa-apa kek. meskipun ia merasa sangat tersinggung. Bukankah ia berkata bahwa karena hubunganku dengan Darpati, maka Darpati tidak berbuat apa-apa sekarang ini." nada suara Winih menjadi semakin tinggi. Tetapi Kiai Gumrah menggeleng. Katanya "Tidak Winih. Ia tidak berbuat apa-apa bukan karena hubungannya denganmu. Sudah aku katakan, ia tidak akan menghormati aku, kakekmu, juga ayah dan ibumu." "Jadi kenapa Darpati tidak berbuat sesuatu dalam keadaan marah seperti itu?" bertanya Winih disela-sela isaknya. " Ia tidak berbuat sesuatu karena ia tahu, bahwa ia tidak akan dapat mengalahkan aku atau ayahmu. Ia tahu bahwa dalam keadaan yang memaksa aku dapat membunuhnya." jawab Kiai Gumrah. Kening Winih berkerut mendengar jawaban kakeknya. Tiba-tiba saja isaknya berhenti. Dengan nada dalam ia bertanya "Maksud kakek?" "Ia mengenali keluarga kita dengan baik. Ia tahu pasti bahwa aku sedang melindungi pusaka-pusaka itu, dan ia termasuk bagian dari mereka yarig menginginkan pusaka itu." Wajah Winih menegang. Namun tiba-tiba saja ia berkata "Prasangka kakek selalu lari kesana. Kecurigaan terhadap siapapun karena ayah sedang melindungi pusakapusaka itu. Mungkin kakek benar bahwa Darpati telah banyak berhubungan dengan perempuan. Mungkin benar Darpati mengetahui bahwa kekek dan ayah memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi apakah hal itu selalu berhubungan dengan niat untuk mengambil pusaka-pusaka itu? Apakah kakek menganggap bahwa Darpati bersikap baik kepadaku karena ia mendapat tugas untuk mengambil pusaka-pusaka itu?" "Bahkan kedua-duanya Winih. Darpati memang menghendaki kau dan pusaka-pusaka itu." jawab Kiai Gumrah. "Kakek" potong Winih "kakek sudah berprasangka buruk terhadap seseorang." "Dengar Winih. Ia tentu sudah mendengar dari lingkungannya bahwa aku tidak akan dapat dikalahkannya. Karena itu ia tidak berbuat apa-apa meskipun ia tersinggung. Karena itu, maka pertimbangkan baik-baik. Penalaranmu jangan menjadi buram karena kau sudah menjadi silau melihat ujud lahiriahnya. Darpati akan merasa berhasil jika ia dapat menangkapmu dalam perangkapnya sekaligus mendapat jalan untuk mengambil pusaka-pusaka itu. Sementara nasibmu tentu akan menjadi seperti banyak perempuan yang sebelumnya pernah singgah dalam kehidupan Darpati." “Tidak. Tidak" Winih hampir berteriak. Iapun kemudian berlari masuk kedalam biliknya. Sambil terisak Winih menelungkupkan wajahnya dlpembaringan. Air matanya mengalir tanpa terbendung lagi. Sementara itu ibunyalah yang datang mendekatinya dan duduk dibibir pembaringan. Sambil mengusap rambut anaknya ibunya berkata “Winih, agaknya kau memang harus menghadapi kenyataan, yang pahit." "Apakah ibu juga mempunyai prasangka buruk terhadap Darpati sebagaimana kakek dan ayah?" bertanya Winih meskipun sebenarnya Winihpun tahu, bahwa ibunyapun bersikap demikian sebagaimana pernah dikatakannya. Tetapi rasa-rasanya Winih masih ingin meyaldnkarinya. Ibunya termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya masih dengan lembut "Winih. Ternyata aku tidak dapat bersikap lain. Aku juga mencurigai Darpati. Mungkin kau pernah mendengar atau membaca kesan sikap ibu seperti itu sebelumnya." Winih masih saja terisak Namun jawabnya tidak diduga oleh ibunya. Katanya "Ibu, aku akan mencoba untuk memikirkannya dengan sebaik-baiknya. Aku akan mencoba mempergunakan penalaran dan perasaanku serta mencoba untuk berbincang dengan firasat yang aku tangkap selama ini.” Ibunya tiba-tiba saja memeluk Winih yang memang kemudian bangkit dan duduk disamping ibunya "Kau memberi harapan baru bagi kami sekeluarga Winih. Ayah dan ibumu merasa sangat sedih atas sikapmu akhir-akhir ini. Bahkan kakek sudah memutuskan untuk bertindak lebih keras lagi sebagaimana dilakukannya itu." Winih mengangguk kecil. Katanya "Aku mohon maaf ibu. Tetapi jika aku boleh berterus-terang, sebenarnya sulit bagiku untuk mengerti sikap dan pendapat kakek, ayah dan ibu. Namun aku akan mencoba melihat kenyataan itu betapapun pahitnya. Tetapi jika ternyata prasangka kakek, ayah dan ibu tidak terbukti?" "Kakek, ayah dan ibu tidak bermaksud menyakiti hatimu Winih. Karena itu, jika ternyata dugaan kami salah, sudah tentu kami tidak akan berkeras untuk memisahkanmu dari padanya." Winih mengangguk kecil. Ia mengerti bahwa kakek, ayah dan ibunya berniat baik, meskipun Winih masih ingin, membuktikan kebenaran dugaan mereka terhadap Darpati. Sementara itu, Manggada dan Laksanapun telah, dipanggil oleh Kiai Gumrah. Kepada kedua anak muda itu, Kiai Gumrah telah memberitahukan sikapnya terhadap Darpati. Dengan nada berat Kiai Gumrah itupun kemudian berpesan "Karena itu ngger. Kalian berdua harus menjadi semakin berhati-hati. Aku menjadi semakin yakin, bahwa Darpati memang ingin menyingkirkan kalian berdua, apapun alasannya. Mungkin Darpati tahu pasti, bahwa kau dengan Winih sama sekali tidak mempunyai hubungan darah, sehingga Darpati ingin menyingkirkan kalian karena kalian terlalu dekat dengan Winih." "Tetapi mungkin Darpati juga berniat mengurangi kekuatan yang ada dirumah ini " desis Ki Prawara. "Manggada dan Laksana tidak terlalu diperhitungkan, karena kemampuan mereka masih dianggap tidak terlalu mengganggu." jawab Kiai Gumrah. Ki Prawara mengangguk-angguk. Katanya "Agaknya memang demikian. Karena itu, nanti sore jika kalian akan membersihkan dan menyalakan lampu di banjar tua itu, biarlah aku menyertai kalian karena persoalannya agaknya menjadi semakin bersungguh-sungguh." Manggada dan Laksana tidak menjawab. Dengan dahi yang berkerut mereka mengangguk-angguk mengiakan. Sementara itu Kiai Gumrahpun berkata "Waktu memang menjadi semakin mendesak. Orang yang disebut Panembahan itu tidak akan bermain-main dengan setiap kesempatan karena orang itu mempunyai batas waktu yang semakin mendekat” Manggada dan Laksana masih saja mengangguk-angguk. Tetapi mereka memang dapat mengerti, bahwa udara di rumah tua itu menjadi semakin hari semakin panas. Hari itu Manggada dan Laksana memang tidak keluar dari halaman rumah Kiai Gumrah. Sementara Kiai Gumrah sendiri telah pergi kerumah pedagang gula untuk menyerahkan gulanya yang masih hangat. Namun seisi rumah itu tahu, bahwa Kiai Gumrah tidak sekedar menyerahkan gulanya. Tetapi ia telah memberitahukan persoalan yang terjadi dirumahnya kepada pedagang gula itu. Dengan demikian maka kawan-kawan Kiai Gumrahpun akan segera mendengarnya pula. Sementara itu dirumah, Ki Prawara, Manggada dan Laksana tetap saja berhati-hati. Kemarahan Darpati akan dapat menimbulkan persoalan khusus disamping usaha sekelompok orang untuk mendapatkan pusaka-pusaka yang tersimpan dirumah Kiai Gumrah. Seperti biasanya Kiai Gumrah tidak terlalu lama pergi meninggalkan rumahnya. Ketika ia kemudian kembali, maka Kiai Gumrah seperti biasanya membawa uang harga gulanya yang diserahkannya kepada juragan gula yang menampungnya. Menjelang sore hari, maka juragan gula itu bersama seorang kawannya telah datang pula kerumah Kiai Gumrah. Seperti biasa mereka berbicara kesana-kemari. Berkelakar dan sekali-sekali terdengar mereka tertawa serentak. Ki Prawarapun telah ikut pula berbincang diantara mereka. Namun disela-sela kelakar mereka itu, terselip juga pembicaraan yang berarti. Juragan gula dan kawannya itu minta keterangan lebih terperinci tentang peristiwa yang menimpa Manggada dan Laksana di banjar, serta sikap Darpati yang marah itu. Manggada dan Laksana yang menghidangkan suguhan bagi mereka, sedikit-sedikit ikut mendengar pembicaraan mereka itu. Apalagi Kiai Gumrah memang tidak berniat untuk merahasiakan pembicaraan itu terhadap Manggada dan Laksana. Namun dalam pada itu, selagi mereka sibuk berbincang dan sekali-sekali terdengar suara tertawa meledak, tiba-tiba saja seorang anak muda telah datang mengetuk pintu rumah itu. Manggadalah yang kemudian membukakan pintu. Ia melihat seorang anak muda yang telah begitu sajamenyusup masuk. "Kau?" desis Manggada yang mengenal anak muda itu. "Dengar" berkata anak muda itu serta merta dengan suara bergetar disela-sela nafasnya yang terengah-engah "nanti setelah senja atau disaat malam mulai turun, Ki Bekel dan beberapa orang bebahu akan datang kemari." "Untuk apa?" bertanya Manggada yang terkejut “apakah masih ada hubungannya dengan persoalan Rambatan?" "Ya. Alasannya memang demikian. Tetapi justru Rambatan setuju aku datang memberitahukan hal ini kepadamu atau bahkan kepada kakekmu." jawab anak muda itu. "Sikap Rambatan tidak aku mengerti" berkata Manggada. "Peristiwa yang terjadi kemarin telah mengguncang perasaan dan penalarannya. Nampaknya ia akan berubah. Karena itu, ia justru menganjurkan aku datang kemari." jawab anak muda itu. "Jadi, apa yang akan terjadi?" bertanya Manggada. "Ki Bekel telah dihasut oleh orang-orang yang tidak dikenal " jawab anak muda itu. Manggada mengerutkan keningnya. Keterangan itu agaknya cukup penting, sehingga Manggadapun berkata "Marilah. Bicarakan dengan kakek." Anak muda itupun kemudian telah dibawa keruang dalam untuk bertema dengan Kiai Gumrah yang sedang menemui tamu-tamunya. Tetapi Kiai Gumrah tidak mengajak anak muda itu untuk berbicara diantara mereka. Bahkan katanya "Biarlah tamu-tamuku mendengarnya. Mungkin keterangan ini penting bukan saja bagi kami sekeluarga. Tetapi juga bagi tamu-tamuku." Anak muda itu memang termangu-mangu. Namun kemudian katanya "Seseoprang telah menghasut Ki Bekel sebagaimana seseorang telah menghasut Rambatan kemarin.” "Apa saja yang dikatakannya?" bertanya Kiai Gumrah. "Orang itu mengatakan kepada Ki Bekel bahwa Kiai dan keluarga Kiai sangat membahayakan bagi penghuni padukuhan ini. Kiai dan keluarga Kiai dianggep bertindak sewenang-wenang terhadap anak-anak muda di padukuhan ini, meskipun anak muda itu bersalah. Jika kemarin Rambatan berhasil dibujuknya. mereka sekarang telah membujuk Ki Bekel meskipun orangnya lain. Tetapi aku yakin, bahwa orang yang membujuk Rambatan dan orang yang mempunyai kepentingan yang sama." Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Dengan nada berat iapun bertanya "Bagaimana sikap Ki Bekel serta sikap Rambatan?" "Setelah peristiwa kemarin, Rambatan justru berubah. Ia merasa diperalat oleh orang yang tidak dikenal dengan memanfaatkan sikap serta namanya yang sudah cacat. Sedangkan Ki Bekel nampaknya bukan saja sekedar dibujuk. Tetapi dengan janji-janji yang tidak kami ketahui. Bahkan mungkin uang. Rambatan yang justru berubah sikap tidak setuju dengan sikap Ki Bekel itu. Apalagi anakanakmuda yang lain." "Lalu tindakan apa yang akan diambil oleh Ki Bekel?” bertanya Kai Gumrah. “Kiai dan seisi rumah ini akan diusir. Bahkan orangyang membujuk Ki Bekel itu menganjurkan agar Kiai tidak diperkenankan membawa apapun juga, karena segala milik Kiai Gumrah itu adalah hasil yang diperoleh selama Kiai tinggal di padukuhan ini. Karena Kiai dianggap berkhianat terhadap padukuhan ini, maka apa yang Kiai peroleh dipadukuhan ini harus kembali kepada padukuhan ini pula." Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Dengan agak ragu Kiai Gumrah bertanya "Bagaimana menurut pendapatmu?" Anak muda itu dengan serta-merta menjawab "Itu tidak masuk akal. Karena itu, anak-anak muda yang mengenal Kiai Gumrah dengan baik serta yang pada akhir-akhir ini bergaul dengan Manggada dan Laksana, menganggap hal itu tidak dapat diterima begitu saja. Bahkan Rambatan yang juga merasa pernah diperalat, juga menganggap bahwa Ki Bekel telah diperalat. Apalagi setelah ada keterangan yang bocor dari salah seorang bebahu, bahwa orang yang menghasut Ki Bekel itu telah memberikan uang serta janjijanji." "Jadi apa yang terjadi ini merupakan kelanjutan dari peristiwa yang terjadi kemarin di banjar tua?" bertanya Kiai Gumrah. "Agaknya memang demikian" jawab anak muda itu. Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Katanya "Terima kasih anak muda. Kami akan berhati-hati menghadapi persoalan ini” "Kiai" berkata anak muda itu "jika ada sesuatu yang berharga dirumah Kiai, sebaiknya Kiai menyingkirkan lebih dahulu karena agaknya Ki Bekel benar-benar telah terhasut dan bahkan dengan sungguh-sungguh berniat melaksanakannya." Kiai Gumrah itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Ngger. Tidak ada yang pantas aku singkirkan dari rumah ini. Aku tidak mempunyai apa-apa selain beberapa buah amben bambu dan gledeg bambu. Tetapi apakah aku akan dengan suka-rela meninggalkan rumah ini, itulah yang sedang aku pikirkan." "Kiai" berkata anak muda itu “ada beberapa orang bebahu yang juga terhasut.-Ada beberapa orang anak muda penjilat yang akan mendukung Ki Bekel yang merasa berhak mempergunakan kuasanya sewenang-wenang yang tentu juga karena ada janji. Bukankah dengan demikian sebaiknya Kiai tidak melawan mereka” "Angger" berkata Kiai Gumrah "kami seisi rumah ini memang tidak akan mampu melawan mereka. Tetapi bukankah kami wajib mempertahankan hak kami ?” "Kiai, Manggada dan Laksana memiliki kemampuan untuk berkelahi sebagaimana terjadi di banjar kemarin. Tetapi jika yang bakal datang itu adalah Ki Bekel sendiri serta beberapa orang bebahu yang juga termasuk Ki Jagabaya dan beberapa orang anak muda, apa yang dapat dilakukan oleh Manggada dan Laksana?" Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Katanya "Kami akan memikirkannya ngger. Aku menyatakan sangat berterimakasih atas kesediaanmu memberitahukan hal ini kepadaku." "Kiai. hal ini aku lakukan, karena kami tahu, Kiai tidak bersalah. Bahkan Rambatanpun menganggap demikian pula." jawab anak muda itu bersungguh-sungguh "tetapi sekali lagi kami minta, Kiai jangan mencoba untuk mempertahankan hak Kiai atas tanah ini, karena agaknya hal itulah yang mereka harapkan." "Kenapa mereka mengharapkan hal itu?" bertanya Kiai Gumrah dengan heran. "Mereka mempunyai alasan untuk berbuat kasar. Mereka akan mengusir Kiai dengan kekerasan." jawab anak muda itu. Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Katanya kemudian "Terima kasih ngger atas keteranganmu. Ternyata masih adat juga anak-anak muda yang berbicara dengan hati nuraninya” "Baiklah, Kiai. Aku minta diri. Jika Ki Bekel dan orangorang yang sejalan dengan sikapnya mengetahui aku ada disini, mereka tentu akan marah kepadaku," jawab anak muda itu.. Dengan demikian, maka anak muda itupun segera meninggalkan rumah Kiai Gumrah. Dengan hati-hati anak muda itupun segera menghilang ditikungan jalan sempit disebelah halaman rumah Kiai Gumrah itu. Sepeninggal anak muda itu, Kiai Gumrahpun bertanya kepada Manggada dan Laksana yang ikut mendengarkan pembicaraan itu "Apakah anak muda itu juga yang kemarin datang memberitahukan niat Rambatan untuk membalas dendam?" "Bukan kek. Tetapi anak muda ini adalah sahabat dari anak muda yang datang kemarin. Mereka selalu bersamasama pergi ke sawah dan bahkan meronda dimalam hari. Merekalah yang sering duduk berlama-lama di banjar tua itu bersama kami berdu?.." "Baiklah” berkata Kiai Gumrah "aku justru menganggap bahwa persoalannya menjadi semakin jelas. Tentu ada hubungannya dengan sikap Darpati." "Jika demikian, kita harus semakin berhati-hati" berkata juragan gula itu. "Aku memang menjadi agak bingung" desis Kiai Gumrah "bagaimana cara kami menghadapi orang-orang padukuhan ini. Mereka adalah orang-orang yang tidak tahu menahu, apa yang sebenarnya mereka lakukan. Tetapi sudah tentu bahwa kami tidak dapat begitu saja mengungsi dari tempat ini sambd membawa pusaka-pusaka itu." "Satu langkah yang cerdik dari para pengikut Kiai Windu Kusuma" berkata juragan juragan gula itu "tetapi juga tidak mustahil bahwa diantara para bebahu itu terdapat para pengikut Kiai Windu Kusuma atau orang yang disebut Panembahan itu." "Jadi, apa yang sebaiknya kita lakukan?" bertanya Kiai Gumrah. "Aku akan memanggil beberapa orang kita. Mungkin kita memang harus berkelahi meskipun kita harus menyesuaikan diri dengan siapa kita berhadapan. Jika ada diantara mereka orang-orang Kiai Windu Kusuma atau bahkan para pengikut orang yang disebut Panembahan itu, apaboleh buat. Kita tidak sekedar bermain-main. Tetapi jika yang datang benar-benar hanya orang-orang padukuhan ini, tentu kita akan berbuat lain, meskipun akhirnya kita tidakakan keluar dari rumah ini." Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Katanya "Baiklah. Beritahukan beberapa kawan kita." Kedua orang tamu Kiai Gumrah itupun segera minta diri. Juragan gula itupun berkata "Aku akan sampai kemari lagi sebelum senja bersama beberapa orang kawan” "Jangan datang bersama-sama" pesan Kiai Gumrah "datanglah seorang demi seorang." Juragan gula itu tersenyum. Katanya "Kau kira aku sudah menjadi demikian dungu sehingga kau perlu berpesan seperti itu?" "Siapa yang mengatakan bahwa aku menganggapmu semakin dungu sekarang ini? Dengar, aku menganggapmu dungu sejak dahulu." "Setan kau. Jika demikian, aku akan duduk disini saja sambil menghirup minuman hangat." jawab juragan gula itu. Tetapi kawannya menariknya sambil berkata "Kau bukan saja menjadi semakin dungu. Tetapi, kau juga menjadi cengeng dan perajuk sekarang." Juragan gula itu tertawa sambil bangkit berdiri sementara kawannya berkata “Kita tidak mempunyai waktu lagi." Demikianlah, maka kedua orang tamu itupun telah meninggalkan rumah Kiai Gumrah untuk memberitahukan beberapa orang kawan mereka tentang peristiwa yang akan terjadi dirumah Kiai Gumrah, Dalam pada itu, Kiai Gumrahpun telah menjadi semakin berhati-hati. Manggada dan Laksana harus mengawasi halaman belakang rumah Kiai Gumrah. Mungkin ada sesuatu yang mencurigakan. Kepada mereka berdua Kiai Gumrah berpesan, agar mereka tidak usah pergi ke banjar. Menjelang senja, seperti yang dijanjikan, juragan gula itu telah datang. Kemudian disusul seorang demi seorang para pembuat dan penjual gula. Sebagian dari mereka telah dikenal oleh Manggada dan Laksana. Tetapi yang lain terhitung orang-orang baru bagi kedua orang anak muda itu, Ketika mereka sudah berkumpul diruang dalam, maka rasa-rasanya ruangannya menjadi terlalu sempit. Sementara Nyi Prawara. Winih, Manggada dan Laksana menjadi sibuk membuat dan menghidangkan minuman dan ketela rebus. "Berapa orang?" bertanya Nyi Prawara yang menyiapkan hidangan bagi tamu-tamu Kiai Gumrah. "Enam orang " jawab Manggada. "Jadi semuanya ada delapan termasuk kakek dan paman Prawara " berkata Laksana kemudian. Nyi Prawara mengangguk-angguk. Tetapi hidangan yang disediakan akan lebih dari mencukupi bagi keenam tamu itu. Sejenak kemudian, maka pembicaraan yang riuh telah terjadi di ruang dalam. Seperti biasanya, jika kawan-kawan Kiai Gumrah yang pada umumnya memang sudah setengah baya dan bahkan lewat setengah abad itu berkumpul, maka suasana menjadi ramai. Mereka berbicara apa saja. Kadang-kadang mereka tidak menahan diri untuk berbicara semakin lama semakin keras. Suara tertawa yang kadang-kadang meledak mewarnai pembicaraan mereka. Namun dalam pada itu, setelah mereka minum beberapa teguk serta menelan sepotong-sepotong ketela rebus, mereka bertanya “kenapa kami diundang untuk datang-kerumah ini." Sebelum Kiai Gumrah menjawab, seorang diantara para tamu itu menyahut "Biasanya Kiai Gumrah memperingati hari kelahirannya. Bahkan tumbuk ageng." "Kenapa biasanya?" bertanya yang lain “bukankah tumbuk ageng itu hanya terjadi sekali dalam hidup seseorang?" "Tetapi Kiai Gumrah tidak. Ia memperingati hari apapun dengan istilah tumbuk ageng. Juga jika ia ingin bermain dadu dengan mengundang beberapa orang kawan. Iapun menyebutnya memperingati hari tumbuk agengnya." "Sekarang kita memang akan memperingati tumbuk ageng" berkata Kiai Gumrah "tetapi juragan kita itu tentu sudah mengatakan kenapa kalian diminta datang." "Katakanlah" berkata juragan gula itu "itu penting, karena kau yang menjadi tuan rumah sekarang ini." Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian mengatakan, kenapa ia mengharap kawankawannya yang sempat dihubungi untuk datang. "Jadi Ki Bekel malam ini akan datang kemari?" bertanya seseorang. "Ya" jawab Kiai Gumrah "seperti pendapat anak-anak muda padukuhan ini, niat Ki Bekel itu memang tidak masuk akal jika tidak ada seseorang yang membujuknya, menghasutnya atau menyuapnya. Orang-orang itu agaknya ingin mempergunakan semua cara yang mungkin ditempuh untuk mencapai maksudnya. Bahkan juga membenturkan kekuasaan Ki Bekel dengan kekuatan kita yang tentu sudah mereka ketahui." "Apakah mereka tidak memperhitungkan bahwa langkah yang mereka ambil itu akan sia-sia saja?" desis seorang yang lain. "Aku tidak tahu apa maksud mereka sebenarnya dengan langkah yang diambilnya kali ini” berkata Kiai Gumrah kemudian. "Baiklah" berkata juragan gula itu "kita akan menunggu, apa yang nanti akan terjadi." "Tetapi jika Kiai Windu Kusuma datang dengan seluruh kekuatannya, menumpang gejolak yang telah dibuatnya, maka kita akan mengalami kesulitan." berkata Kiai Gumrah. “Aku belum yakin, kalau Kiai Windu Kusuma memakai cara ini untuk tujuan akhir. Mungkin ia sekedar memancing satu pergolakan untuk rencananya yang lebih besar" sahut juragan gula itu. Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya "Sudahlah, Kita menunggu apa yang terjadi. Aku akan pergi ke dapur lebih dahulu." Didapur Kiai Gumrah telah memberikan beberapa pesan kepada Nyi Prawara dan kepada Winih. Agaknya Kiai Gumrah menanggapi peristiwa yang akan terjadi itu dengan bersungguh-sungguh. Ketika senja mulai turun, Manggada dan Laksana diperingatkan oleh Kiai Gumrah untuk tidak pergi ke banjar lama karena kemungkinan-kemungkinan buruk akan dapat terjadi. "Kita akan menunggu disini" berkata Kiai Gumrah. "Tetapi banjar itu akan tetap gelap" desis Manggada. "Biar sajalah untuk malam ini. Atau mungkin malammalam berikutnya. Jika Ki Bekel nanti benar-benar datang, mungkin akan ada perubahan-perubahan terjadi di padukuhan ini." Manggada hanya dapat mengangguk-angguk saja. Sementara Kiai Gumrah berkata "Hari-harilah, Perhatikan halaman belakang rumah ini. Tetapi kau tidak perlu keluar dan turun ke halaman belakang karena hal itu juga berbahaya bagi kalian berdua." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk kecil. Mereka memang dapat menyadari, bahwa bahaya akan mengintip mereka setiap saat. Sementara itu, lampupun telah dinyalakan dirumah Kiai Gumrah. Bahkan oncor diregolpun telah menyala pula. Tetapi banjar, lama padukuhan itu masih tetap gelap karena Manggada dan Laksana tidak, datang kebanjar untuk membersihkan banjar dan menyalakan lampu-lampu minyak sebagaimana dilakukannya setiap hari. Ketika malam mulai turun, maka pembicaraan diantara orang-orang tua diruang tengah itupun menjadi semakin mereda. Bagaimanapun juga terasa bahwa mereka mulai diusik oleh ketegangan. Menurut keterangan anak muda yang datang kerumah itu, Ki Bekel akan datang lepas senja atau saat malam mulai turun. Ketika diruang dalam itu tidak lagi terdengar suara gurau dan tawa, maka seperti yang mereka tunggu, maka Ki Bekel benar-benar telah datang kerumah itu. Ternyata bukan sekedar Ki Bekel dan beberapa orang bebahu, tetapi berpuluh-puluh orang padukuhan itu dengan membawa obor ditangan telah memasuki halaman rumah Kiai Gumrah. Suara riuh di halaman memang membuat orang-orang yang ada didalam rumah itu terkejut. Mereka memang sudah menunggu kedatangan Ki Bekel. Tetapi ternyata bahwa Ki Bekel telah membawa banyak orang datang kehalaman rumah itu. "Apa pula yang dilakukan Ki Bekel itu?" desis Kiai Gumrah. Kawan-kawannya tidak menyahut. Namun merekapun mendengar bahwa di halaman rumahnya itu telah berkumpul orang-orang yang membawa obor sambil berteriak memanggil-manggil “Kiai Gumrah, keluarlah." Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Iapun kemudian memanggil Nyi Prawara, Winih, Manggada dan Laksana. Kepada mereka Kiai Gumrah berkata. "Jangan keluar. Kalian sebaiknya tetap berada didalam. Selain untuk, kepentingan kalian, awasi pusaka-pusaka ini. Mungkin Ki Bekel telah diperalat oleh orang-orang yang menginginkan pusaka-pusaka itu. Dalam kekisruhan ini, mereka dapat memanfaatkannya untuk mengambil pusakapusaka itu. Berhati-hatilah." "Baik kakek" jawab Manggada dan Laksana hampir berbareng. Demikianlah, maka Kiai Gumrahpun telah melangkah ke pintu. Sebelum ia membuka pintu itu, maka terdengarpintu itu diketuk keras-keras dari luar. Terdengar suara Ki Bekel memanggil-manggil “Kiai Gumrah. Keluarlah. Cepat, sebelum kami menjadi semakin marah." Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun segera membuka pintu. Ki Bekel memang berdiri didepan pintu. Ketika pintu itu terbuka, maka Ki Bekelpun segera melangkah surut. Beberapa orangpun telah ikut melangkah surut pula. Ki Bekel itu mengerutkan dahinya ketika ia melihat beberapa orang lain telah keluar pula dan rumah Kiai Gumrah. "Jadi kalian sudah bersiapsiap menyambut kedatangan kami, he?" berteriak Ki Bekel. "Ki Bekel" berkata Kiai Gumrah “aku tidak tahu apa yang telah terjadi. Tetapi perkenankan aku mengucapkan selamat datang kepada Ki Bekel dan beberapa puluh orang saudara-saudaraku yang malam ini datang kerumahku." "Kiai Gumrah" berkata Ki Bekel "aku akan langsung kepersoalannya saja. Aku datang untuk menjatuhkan keputusan bahwa kau harus meninggalkan rumah ini. Rumah dan halaman yang kami sediakan bagimu dan keluargamu ternyata tidak berarti sama sekali bagi padukuhan ini. Justru sebaliknya, kehadiranmu dirumah ini telah membuat persoalan yang sangat merugikan padukuhan ini." Kiai Gumrah termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya "Ki Bekel. Aku tidak tahu apa maksud Ki Bekel sebenarnya." "Jangan berpura-pura. Aku sudah memperingatkanmu, jika kau berbuat kesalahan lagi, maka kau akan kami usir dari padukuhan ini. Ternyata kau tidak mendengarkan peringatanku itu. Dan kau benar-benar telah melakukan kesalahan lagi. Bahkan nampaknya kau sengaja bersama cucu-cucumu. Karena itu, maka kami sudah kehabisan kesabaran. Kalian, seisi rumah ini harus pergi. Tetapi karena segala milikmu adalah hasil dari tanah dan ladangmu, termasuk kebun kelapamu, maka kau tidak berhak membawanya. Semuanya harus kau tinggalkan. Yang dapat kau bawa hanyalah pakaian yang sekarang melekat ditubuhmu itu saja." "Ah” desah Kiai Gumrah “Ki Bekel jangan bergurau.” "Setan kau. Aku tidak bergurau. Aku bersungguhsungguh. Kalian kami usir dari padukuhan ini. Kalian tidak perlu bertanya lagi. Kalian tentu sudah tahu akan kesalahan kalian,” "Ki Bekel" berkata Kiai Gumrah “ketika aku menerima peringatan dari Ki Bekel kemarin, maka akupun telah mengingatnya dengan baik. Aku sudah menasehati cucucucuku agar mereka tidak melakukan kesalahan lagi." -“Omong kosong” geram Ki Bekel “kau lihat, malam ini banjar lama itu gelap gulita. Halamannya kotor seperti rumah yang sudah bertahun-tahun tidak berpenghuni." "O" Kiai Gumrah mengangguk-angguk “tetapi bukankah itu kesalahan yang tidak mendasar? Tidak sebagaimana dilakukannya kemarin. Sehari ini aku marahi cucu-cucuku, sehingga mereka dan juga aku, justru lupa menyalakan lampu. Sementara itu, kesalahan kecil itu apakah seimbang dengan keputusan yang Ki Bekel ambil untuk mengusir kami dari rumah ini?" "Jangan banyak bicara" berkata Ki Bekel "kami tidak ingin berbantah tentang apapun juga. Tetapi keputusan kami sudah bulat. Kalian harus pergi." Bahkan Ki Bekel itu tiba-tiba saja menghadap kepada orang-orang yang mengikutinya sambil bertanya "He, apakah pendapat kalian tentang kakek tua yang keras kepala ini?" "Usir saja. Usir saja" terdengar teriakan gemuruh. Bahkan seseorang diantara mereka berteriak "Jika perlu, bunuh saja." Celakanya beberapa orang menyahut “Bunuh saja. Bunuh saja." Kiai Gumrah memang menjadi tegang. Bukan karena ia ketakutan menghadapi orang banyak. Tetapi Kiai Gumrah memang bingung, apa yang harus dilakukan terhadap orang-orang itu. Ketika teriakan orang-orang itu menjadi semakin keras, maka Ki Bekel berkata "Nah, kau dengar tuntutan mereka atas kalian? Karena itu, sekarang kalian dan orang-orang yang kalian kumpulkan dirumah ini harus pergi tanpa membawa apapun juga." "Ki Bekel" sahut Kiai Gumrah "ternyata Ki Bekel tidak adil. Beritahu kesalahanku. Beri aku kesempatan untuk membela diri. Jika ternyata aku benar-benar bersalah, maka aku tidak akan berkeberatan untuk pergi." "Jangan -banyak bicara" geram Ki Bekel "aku masih dapat menahan kemarahan orang-orang yang sebagaimana kau dengar sendiri ingin membunuhmu." "Tetapi Ki Bekel harus memberikan penjelasan" sahut Kiai Gumrah “Ki Bekel tidak dapat berlaku sewenangwenang. Ki Bekel harus menenangkan orang-orang itu. Atau Ki Bekel dapat menunjuk salah seorang diantara mereka untuk mengatakan apa kesalahanku sehingga mereka ingin mengusirku, bahkan membunuhku." "Cukup" teriak Ki Bekel "aku tidak sedang berbantah. Tetapi aku sedang memerintahkan kau pergi dari padukuhan ini." "Itu tidak cukup" tiba-tiba saja Kiai Gumrah juga berteriak "aku tidak menerima perlakuan yang tidak adil ini." Teriakan Kiai Gumrah justru mengejutkan sehingga Ki Bekel dan orang-orang yang berkumpul di halaman Kiai Gumrah itu terdiam. Kesempatan itu dipergunakan oleh Kiai Gumrah untuk berbicara selanjutnya "Nah, siapa yang dapat menunjukkan kesalahanku atau kesalahan cucucucuku. Maksudku tentu kesalahan yang mendasar. Yang berarti, sehingga pantas dijadikan alasan untuk mengusir aku dari padukuhan ini. Katakan. Siapa yang akan mengatakannya?" Orang-orang itu justru terdiam "atau sekedar prasangka buruk? Atau lebih buruk dari itu? Fitnah, hasutan orang lain karena iri, dengki atau kepentingan-kepentingan yang lain? Ki Bekel yang tidak siap menerima pertanyaan, yang beruntun itu justru terdiam. Meskipun wajahnya menjadi tegang, tetapi mulutnya justru terbungkam. Ia tidak dapat langsung menjawab. Apalagi orang-orang lain yang mengikutinya sambil membawa obor itu. Mereka benarbenar menjadi bingung. Sementara beberapa orang diantara mereka sebelumnya sama sekali tidak mempunyai persoalan apapun dengan Kiai Gumrah yang mereka kenal sebagai seorang penyadap legen kelapa untuk dibuat gula. Bahkan ada diantara mereka yang menganggap bahwa Kiai Gumrah adalah seorang tua yang baik dan ramah Untuk Sesaat halaman rumah Kiai Gumrah itu menjadi hening. Ki Bekel hanya berdiri tennangu-mangu saja. Sementara orang-orang yang membawa obor di halaman itu menjadi bingung. Namun tiba-tiba dalam keheningan itu terdengar seseorang berteriak "Kiai Gumrah. Jangan berpura-pura tidak tahu akan kesalahanmu sendiri. Memang bukan sekedar lampu banjar tua atau halaman banjar itu yang kotor. Juga bukan sekedar karena cucu-cucumu yang berkelahi dan memukuli Rambatan yang tidak bersalah meskipun Rambatan kami anggap anak nakal disini. Tetapi yang lebih mendasar dari kesalahanmu adalah, bahwa kau adalah seorang tukang tenung. Kau mempunyai kemampuan ilmu sihir yang kau pergunakan untuk tujuan yang buruk. Kau sudah membunuh beberapa orang dengan tenungmu atas upah orang lain." Kiai Gumrahlah yang kemudian terkejut mendengar jawaban itu. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa tuduhan yang dilemparkannya adalah pekerjaan yang sama sekali tidak dimengertinya. Tenung. Karena itu, maka Kiai Gumrahpun langsung mengerti, bahwa orang yang menghasut Ki Bekel adalah orang yang benar-benar menghendaki kehancurannya. Dengan demikian, maka hampir diluar kesadarannya iapun berdesis kepada kawan-kawannya "Kita benar-benar berhadapan dengan mereka. Tetapi kita belum tahu, sejauhmana sasaran yang mereka kehendaki dengan permainan yang kotor ini." Kawan-kawannyapun mengangguk-angguk. Merekapun melihat permainan yang kotor dan licik itu. Bahkan orangorang yang berniat mengambil pusaka-pusaka itu sampai hati mengumpankan orang-orang yang tidak tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan itu. Dalam pada itu, maka terdengar suara itu lagi "Jika kita ingin padukuhan kita bersih, maka orang tua itu harus diusir dari padukuhan ini." "Jika perlu bunuh saja" suara itu terdengar lagi. Tetapi tidak terdengar sahutan yang serta-merta. Orangorang yang membawa obor itu tidak lagi berteriak-teriak. Namun dalam pada itu, Ki Bekel yang seakan-akan sudah terbangun dari mimpinya itu tiba-tiba saja telah berteriak pula "Nah, apa katamu Kiai Gumrah. Berapa orang yang telah kau bunuh dengan tenagamu dengan upah orang lain? Orang-orang yang tidak pernah bersalah kepadamu dan bahkan belum pernah mengenalmu, harus mati karena ilmu hitammu." Dan suara itu terdengar lagi "Bunuh saja. Bunuh saja.” Karena tidak ada sahutan yang gemuruh, maka Ki Bekelpun kemudian berteriak "He, saudara-saudaraku. Jika kemarin kiai Gumrah teiah membunuh orang yang tidak kalian kenal, apa kata kalian jika besok atau lusa kalian sendiri yang akan dibunuhnya? Apalagi setelah Kiai Gumrah melihat kalian datang malam ini bersamaku untuk mengusirnya.." Beberapa orang memang mulai terpengaruh lagi. Tetapi tidak menghentak dan bahkan ada orang yang sempat berpikir apa yang sebenarnya dilakukannya. Dalam pada itu Kiai Gumrahpun berkata "Saudara saudaraku. Satu perbuatan yang keji telah dilakukan oleh sekelompok orang yang datang untuk menghasut Ki Bekel dan bahkan menghasut kalian semuanya. Jika aku pernah membunuh seorangpun dengan tenung, nah, katakan siapakah yang telah aku bunuh itu. Apa pula tandatandanya bahwa akulah yang telah membunuhnya? Sebelum kalian datang kerumahku hari ini, apakah kalian pernah mendengar sepatah katapun dari siapapun yang mengatakan bahwa aku memiliki ilmu tenung? Tidak saudara-saudaraku. Baru-saat ini orang yang menuduhku mempunyai ilmu tenung itu ingat, tuduhan apakah yang terbaik dikatakan untuk memperkuat niatnya mengusir aku, meskipun aku tidak tahu apakah tujuannya yang sebenarnya." "Jangan dengarkan ia membual" terdengar suara dari antara orang-orang yang membawa obor itu "orang tua tukang tenung itu harus diusir dari padukuhan ini." Dan suara yang itu-itu juga terdengar lagi "Bunuh saja orang tua tukang tenung itu." Tetapi dengan cepat Kiai Gumrah berkata "Saudarasaudaraku. Kalian tidak usah bersusah payah membunuh aku. Jika kalian dapat membuktikan bahwa aku tukang tenung, maka aku akan membunuh diri dihadapan saudarasaudaraku malam ini juga." "Bohong. Omong kosong" teriak seseorang "selama ini orang yang kau bunuh adalah orang-orang yang tidak tinggal dipadukuhan ini. Tetapi besok, lusa dan kesempatan berikutnya?" Ki Bekelpun berteriak pula "Orang itu memang licik. Sekarang kita harus segera bertindak. Usir orang itu. Usir juga kawan-kawannya. Mereka tentu juga tukang tenung atau pembantu-pembantu Kiai Gumrah." Tetapi juragan gula itulah yang kemudian melangkah maju sambil berkata "Ki Sanak. Apakah kalian lupa kepadaku? Apakah kalian belum mengenal aku? Sebagian besar dari Ki Sanak tentu pernah berhubungan dengan aku. Mungkin dipasar atau dirumah atau dimana saja. Demikian pula kawan-kawanku yang hari ini sengaja datang untuk sekedar berbincang dirumah ini. Bukankah gula kami tetap manis? Nah, kenapa tiba-tiba saja kalian seperti orang bermimpi dan berbicara tentang tenung?" “Cukup. Cukup" Ki Bekel berteriak. Lalu katanya kepada orang-orang yang datang bersamanya “Nah, kalian sudah mulai merasakan, betapa tajamnya pengaruh sihirnya atas kalian. Kalian yang datang dengan tekad yang bulat, kini kalian seakan-akan telah kehilangan diri kalian, masing-masing. Karena itu, maka kalian harus cepat bertindak sebelum kalian akan menjadi lemas dan jatuh pingsan dihalaman rumah ini. Padukuhan ini mulai besok akan dimakan page-blug Pagi sakit, sore mati dan sore mulai sakit, paginya sudah mati." Beberapa orang mulai tergerak lagi. Para bebahu yang sudah terbius oleh janji-janji yang muluk tanpa menghiraukan kebenaran telah berteriak pula "Usir orang itu." Dan suara itu terdengar lagi "Bunuh saja. Bunuh saja.” Orang-orang yang membawa obor itu menjadi semakin kebingungan. Tetapi ketika Ki Bekel dan para bebahu mulai bergerak dan berteriak-teriak, maka beberapa orangpun telah mulai melakukannya pula. Namun dalam sekilas Kiai Gumrah dan kawankawannya sempat melihat beberapa orang yang tidak dikenalnya diantara mereka yang membawa obor itu. Karena itu, maka Kiai Gumrahpun berteriak keras-keras "He, lihat. Siapakah yang berteriak paling keras diantara kalian? Selain Ki Bekel, lihat, apakah kalian, orang-orang padukuhan ini, mengenali beberapa orang diantara kalian? Orang yang justru berusaha mempengaruhi kesadaran kalian? Ingat, kita adalah sama-sama penghuni padukuhan ini. Kita sudah mengenal masing-masing lahir dan batinnya. Tetapi kalian lihat, siapakah orang-orang yang paling gigih mengajukan tuntunan terhadap kami malam ini?" Tetapi Ki Bekel tidak memberi kesempatan berpikir kepada orang-orangnya. Iapun kemudian berteriak "Cepat, usir orang itu. Semakin cepat semakin baik." Tetapi Ki Bekel tidak mampu menggerakkan semua orang yang datang kehalaman rumah Kiai Gumrah. Memang beberapa orang yang melihat beberapa orang bebahu mendesak maju, merekapun ikut-ikutan pula. Bahkan beberapa orang telah mendorong mereka dari belakang. Ketika seorang diantara mereka berpaling, ternyata yang mendorongnya adalah orang yang tidak dikenalnya. Bukan penghuni padukuhan itu. Sementara itu, Kiai Gumrah sesaat menjadi bingung. Ia tidak ingin berkelahi melawan tetangga-tetangganya sendiri. Tetapi iapun tidak mau menjadi bulan-bulanan oleh Ki Bekel yang telah dihasut oleh orang-orang yang tidak dikenal itu. Karena itu, ketika sebagian dari orang-orang yang datang kehalaman rumah Kiai Gumrah itu mulai bergerak, maka Kiai Gumrahpun berdesis kepada kawan-kawannya "Apaboleh buat. Kita tidak akan mengumpankan diri dimakan api obor-obor itu. Tetapi kita harus tahu diri, siapapun yang kita hadapi." Kawan-kawan Kiai Gumrah itupun menyadari, bahwa yang akan mereka hadapi bukan orang-orang padukuhan itu. Tetapi orang-orang yang justru tidak dikenal yang berteriak-teriak paling keras untuk memacu kemarahan orang-orang padukuhan itu. Namun Kiai Gumrah kemudian telah membuat rencana tersendiri. Ketika orang-orang itu mendesak maju, maka iapun meloncat dengan cepatnya. Jauh melampaui kecepatan yang dapat dibayangkan oleh orang-orang padukuhan itu, yang tidak mengetahui kemampuan Kiai Gumrah yang sebenarnya. Sebelum orang-orang yang datang kerumahnya itu menyadari, maka Kiai Gumrah telah menangkap Ki Bekel. Diputarnya tangan Ki Bekel itu setelah ditarik beberapa langkah surut menjauhi orang-orang yang bergerak itu. Adalah diluar kemampuan pengamatan orang-orang yang mengikutinya termasuk para bebahu, maka Kiai Gumrah itu telah menarik keris Ki Bekel itu sendiri. Sambil mengacukan ujung keris itu ke leher Ki Bekel, maka Kiai Gumrahpun berteriak "Berhenti. Atau Ki Bekel ini akan menjadi mayat." Orang-orang yang mengikuti Ki Bekel itu terkejut. Mereka memang berhenti bergerak. Dihadapan mereka, diterangi oleh cahaya obor, maka mereka melihat ujung keris Ki Bekel itu sendiri telah melekat dilehernya. "Apaboleh buat ?" berkata Kiai Gumrah keras-keras "kalian tidak akan dapat membunuh aku dua kali. Jika kalian benar-benar ingin membunuhku, maka Ki Bekel ini akan mati juga bersamaku." Para bebahu padukuhan itu menjadi tegang. Sementara itu Ki Bekel sendiri sudah tidak berdaya. Tangannya yang sebelah terpilin dibelakang tubuhnya, sementara ujung kerisnya sendiri melekat dilehernya. "Ki Bekel" berkata Kiai Gumrah "perintahkan orangorangmu untuk mundur." Karena Ki Bekel masih berdiam diri, maka ujung keris itu mulai menekan kulitnya. Kiai Gumrah itupun berkata lagi "Cepat, atau Ki Bekel akan mati bersamaku." Ki Bekel memang tidak dapat berbuat lagi. Dengan, suara parau ia berkata "Mundurlah. Mundurlah." Suasana benar-benar menjadi tegang. Para bebahu dan orang-orang yang membawa obor itu tidak mempunyai pilihan lain. Setapak demi setapak mereka melangkah surut. Ternyata hal itu tidak mereka perhitungkan sebelumnya. Juga orang-orang yang tidak dikenal oleh orang-orang padukuhan itu tidak memperhitungkannya. Karena itu, ketika hal itu terjadi, mereka harus berpikir untuk mencari jalan keluar. Namun satu hal harus terjadi, keributan di halaman rumah itu. Karena itu, ketika Ki Bekel yang tidak berdaya itu memerintahkan orang-orangnya untuk melangkah surut, maka beberapa orang tiba-tiba telah bergerak sambil berteriak "Bunuh tukang tenung itu. Jangan hiraukan Ki Bekel. Untuk mencapai satu tujuan yang besar, kita harus berani memberikan pengorbanan." Para bebahu dan orang-orang padukuhan itu semakin menjadi bingung. Sementara beberapa orang mulai bergerak sambil mendorong orang-orang padukuhan itu untuk bergerak maju. "Marilah, jangan hiraukan Ki Bekel" teriak seseorang. Tetapi Ki Bekel memberikan isyarat dengan tangannya yang sebelah, yang sengaja dilonggarkan oleh Kiai Gumrah sambil berteriak "Jangan. Mundurlah." Tetapi orang-orang itu berteriak "Kita selesaikan orang itu sekarang. Jangan menunda lagi." Kiai Gumrahlah yang kemudian bergumam "Ki Bekel. Orang-orang itu tidak menghiraukan lagi nyawamu. Mereka membiarkan kau mati bersamaku." "Tidak. Jangan lakukan itu. Aku masih ingin hidup" teriak Ki Bekel sambil meronta. Kiai Gumrah terpaksa melonggarkan tekanan kerisnya agar tidak melukai leher Ki Bekel Dengan nada berat ia berkata "Kau lihat Ki Bekel, bahwa ternyata kau juga tidak berharga. Harga nyawamu sama dengan harga nyawaku." "Terkutuklah kalian. Jangan biarkan aku mati." Tetapi teriakan Ki Bekel benar-benar tidak berarti. Seseorang diantara orang-orang yang menyusup itu berteriak "Relakan Ki Bekel. Kita akan segera memilih orang baru. Mungkin salah seorang dari para bebahu yang ada disini akan dipilih menjadi Bekel di padukuhan ini." "Setan kau" geram Ki Bekel “ternyata kalian adalah pengkhianat." "Jangan dengarkan Ki Bekel yang cengeng dan sedang merajuk itu, Ia harus rela menjadi korban bagi kepentingan padukuhan ini. Jika ia memang seorang pemimpin yang baik, maka seharusnya tidak memikirkan diri sendiri. Seandainya ia harus mati, maka kematiannya akan menjadi pupuk mensejahteraan rakyat padukuhan ini. Dengan demikian, maka Ki Bekel akan mati sebagai seorang pahlawan. Berbahagialah kalian mempunyai seorang pemimpin yang bersedia mengorbankan dirinya. Kalianpun selanjutnya akan memiliki seorang pahlawan yang akan dapat kalian ceriterakan kepada anak cucu kalian." Jantung orang-orang padukuhan itu, terutama para bebahu, menjadi semakin terguncang. Kata-kata itu memang sangat mempengaruhinya, sehingga merekapun mulai bergerak lagi. Namun yang mereka hadapi kemudian seakan-akan bukan lagi Kiai Gumrah yang mereka kenal sehari-hari. Orang yang memilih tangan Ki. Bekel dan mengacukan ujung keris kelehemya itu seolah-olah adalah orang lain. Seorang yang sangat garang dengan pandangan mata yang menyala bagaikan bara api. Ketika orang-orang yang tidak dikenal itu mendorong beberapa orang maju, maka Kiai Gumrahpun berkata "Ki Bekel. Sekarang kau dapat menilai sendiri. Bukankah,kau sekedar diumpankan untuk memancing kerusuhan disini. Aku akan melepaskanmu. Terserah, apa yang. akan kau lakukan. Tetapi aku akan melawan habis-habisan menghadapi orang-orang yang tidak dikenal itu” Ki Bekel, tidak menjawab. Namun seperti yang dikatakan, ketika sekelompok orang benar-benar menyerang, maka Ki Bekel itu telah dilepaskannya. Didorongnya Ki Bekel ke-samping, sementara Kiai Gumrahpun telah meloncat menghadapi orang-orang yang memang menyerangnya. Justru bukan orang-orang padukuhan itu. Demikianlah, maka pertempuranpun telah terjadi. Kawan-kawan Kiai Gumrah dan Ki Prawara telah bertempur menghadapi beberapa orang yang ikut serta menyelinap diantara berpuluh orang yang datang ke halaman rumah itu. Beberapa saat kemudian, pertempuranpun menjadi semakin sengit dan keras. Para pembuat gula itu benarbenar telah berubah. Mereka bukan orang-orang tua yang ramah, yang menerima uang keping demi keping ketika mereka menjual gulanya. Tetapi mereka telah menjadi orang-orang yang garang dan bertempur dengan mengerahkan segenap tenaga dan kemampuan mereka. Dalam pertempuran yang tegang itu terdengar Kiai Gumrah berkata "Kalian tidak akan dapat ingkar lagi. Kalian adalah para pengikat Kiai Windu Kusuma." "Persetan dengan igauanmu" geram lawan Kiai Gumrah. "Ki Bekel" teriak Kiai Gumrah "perhatikan mereka. Mereka adalah orang-orang jahat yang telah menghasut dan memperalat Ki Bekel untuk memusuhi kami." Ki Bekel berdiri termangu-mangu. Para bebahupun telah berloncatan menepi. Mereka tidak lagi mengerti apa yang telah terjadi di halaman rumah Kiai Gumrah itu. Yang mereka lihat adalah pertempuran yang menjadi semakin sengit. Orang-orang yang datang sambil membawa obor itu mulai sempat menilai apa yang telah mereka lakukan. Demikian pula beberapa orang bebahu. Bahkan Ki Bekel sendiri yang merasa dikhianati. Apalagi setelah ternyata Kiai Gumrah telah melepaskannya tanpa menyakitinya. "Jika saja ia ingin membunuhku, maka ia tidak akan mengalami kesulitan." berkata Ki Bekel didalam hatinya. Dalam pada itu, pertempuranpun menjadi semakin cepat. Ternyata orang-orang yang menyusupi diantara berpuluh orang padukuhan itupun cukup banyak, sehingga Kiat Gumrah, enam tamunya dan Ki Prawara harus bekerja keras untuk bertahan. Namun merekapun segera menyadari, bahwa yang dikirim oleh Kiai Windu-Kusuma saat itu bukanlah orang yang terbaik. Kiai Gumrahpun segera teringat akan Darpati yang hari itu menjadi sangat marah karena ia gagal membawa Winih, Manggada dan Laksana. Agaknya Darpati termasuk salah seorang yang menggerakkan orang-orang Kiai Windu Kusuma itu. Sebenarnyalah bahwa Darpati memang ikut bergerak malam itu. Manggada dan Laksana yang ada diruang belakang telah mendengar pintu diketuk orang perlahanlahan. Namun keduanya tidak segera membukakannya. Dalam keragu-raguan itu Winihpun telah datang pula sambil berdesis "Aku mendengar pintu diketuk orang." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun dengan berdesis Manggada.berkata "Kita tidak dapat membukakannya." Winih memang tidak memaksa, tetapi tiba-tiba saja terdengar desis dipintu "Winih. Apakah kau mengalami kesulitan?" Winih terkejut mendengar suara itu. Suara itu adalah suaral Darpati. Namun ketika ia melangkah kepintu, Manggada memperingatkannya "Winih. Jangan kau buka pintu itu.” Winih memang menjadi, ragu-ragu. Namun terdengar lagi suara itu "Winih. Sebenarnya aku ingin tidak mempedulikan apa yang terjadi karena kakekmu telah menyakiti hatiku. Tetapi ternyata aku tidak sampai hati membiarkan kau terlindas oleh kerusuhan yang terjadi itu. Kakekmu, ayahmu dan kawan-kawannya agaknya mengalami kesulitan karena, yang datang bukan hanya orang-orang padukuhan ini. Tetapi juga beberapa orang yang tidak dikenal." Manggadalah yang menyahut "Terima kasih atas kesediaanmu Darpati. Jika kakek mengalami kesulitan, turunlah ke medan pertempuran itu. Selamatkan kakek dan paman Prawara serta kawan-kawannya." Sejenak tidak terdengar jawaban Darpati. Namun kemudian suara itu terdengar lagi “Manggada. Aku tidak dapat melakukannya karena hanya akan sia-sia saja. Orangorang yang datang itu terlalu banyak. Bahkan diantara mereka terdapat orang-orang berilmu tinggi. Karena jalan yang terbaik bagi kalian adalah meninggalkan tempat ini meskipun hanya untuk sementara sebelum kita menemukan jalan lain." "Tidak Darpati. Aku tidak dapat membuka pintu itu." jawab Manggada. Namun dalam pada itu, Winih berdiri dengan tegang. Keringatnya mengalir membasahi keningnya. Dipandanginya pintu yang bergetar diketuk-ketuk dari luar. Sementara Manggada dan Laksana tidak mau membuka pintu itu. Ketegangan yang sangat ternyata telah mencengkam jantung Winih. Ada sesuatu yang bergejolak didadanya. Namun tiba-tiba diluar dugaan Manggada dan Laksana, Winih itupun dengan serta merta berlari menuju kepintu. Tanpa minta pertimbangan siapapun juga, Winih telah mengangkat selarak pintu itu dan membukanya. “Winih” Manggada dan Laksana yang terkejut itu berteriak. Tetapi pintu itu sudah terbuka. Darpati yang berdiri diluar pintu itu juga terkejut. Ia memang tidak mengira bahwa pintu akan segera dibuka. Namun demikian ia melihat Winih berdiri dimuka pintu, maka iapun segera menangkap tangannya dan menariknya keluar. "Marilah Winih. Waktu kita sangat sempit." Sementara itu Nyi Prawara yang mendengar teriakan Manggada dan Laksana telah datang pula sambil bertanya “Kenapa dengan Winih?" Manggada tidak sempat menjawab, karena ia telah berlari menyusul. Laksana yang sedang melangkah itupun terhenti sambil menjawab "Winih telah membuka pintu. Ia sedang ditarik Darpati keluar." Laksana tidak memberikan penjelasan lebih panjang. Tetapi iapun segera berlari menyusul. Diluar pintu ternyata Winih tidak begitu saja mengikuti Darpati yang berusaha menariknya. Sambil menahan dirinya Winih bertanya “Darpati. Kita, akan pergi ke mana?": "Marilah Winih" sahut Darpati "jangan bertanya sekarang. Kita menyelamatkan diri lebih dahulu. Baru nanti kita berbincang." Namun dalam pada itu, Manggada dan kemudian disusul oleh Laksanapun telah berdiri disebelah Winih. Dengan nada berat Manggada bertanya “Apa yang akan kau lakukan Darpati” "Sudah aku katakan. Aku akan menyelamatkan Winih." jawab Darpati. "Tidak. Kau tidak dapat membawanya pergi" jawab Manggada. "Manggada" desis Darpati "apakah kau tidak sayang kepada adikmu? Bukankah seharusnya kau ikut membantuku, menyelamatkan adikmu. Kenapa justru kau berniat menghalanginya? Apakah dengan demikian bukan berarti bahwa kau. ikut menjerumuskan adikmu dalam kesulitan?" “Apapun yang kau katakan, tetapi kami tidak dapat melepaskan Winih pergi." geram Laksana. "Laksana. Aku mencintai, Winih. Barangkah kata-kata itu belum pernah aku katakan. Bahkan kepada Winih sendiri. Tetapi sikapku dan perbuatanku telah menyiratkan nilai dari sikapku itu. Karena itu, maka akupun ingin menyelamatkannya." “Terima kasih atas niatmu Tetapi kami tidak setuju dengan cara yang kau tempuh.” Jawab Laksana. “Jika demikian, apaboleh buat. Aku akan mempergunakan caraku yang mungkin tidak sesuai dengan maksudmu “ berkataDarpati. "Aku akan membawa Winih kembali masuk keruang dalam" berkata Manggada. "Tidak. Aku akan membawa Winih pergi" geram Darpati. Ketika Darpati akan menarik Winih semakin jauh, Manggada dan Laksana telah bergerak untuk menghalanginya. Namun Darpatipun tertawa pendek. Katanya "Manggada dan Laksana. Kita sudah saling mengetahui kemampuan kita masing-masing. Nah, apakah kau akan berani melawan aku?" "Apapun yang terjadi, kami tidak akan melepaskan Winih" jawab Manggada. Darpati memang menjadi kehilangan kesabarannya. Sambil mendorong Winih kesamping ia berkata "Aku terpaksa melakukannya, Winih. Waktu kita tidak banyak, sementara orang-orang itu menjadi semakin buas. Jika mereka berhasil mengalahkan kakek, ayahmu dan kawankawannya, maka nasibmu akan menjadi sangat buruk." Manggada dan Laksana tidak mempedulikannya lagi. Merekapun segera melangkah mendekati Darpati yang telah siap pula menghadapinya. Sejenak kemudian, maka Manggada dan Laksana itu telah bertempur melawan Darpati. Sejak semula Manggada dan Laksana telah menyadari, bahwa ilmu mereka tidak akan mampu melawan Darpati. Namun keduanya, tidak mempunyai pilihan lain karena mereka tidak akan dapat membiarkan Winih dibawa oleh Darpati yang memang mencurigakan sejak semula. Namun Manggada dan Laksana bukannya tidak berkemampuan sama sekali. Keduanya pernah menerima ajaran tentang olah kanuragan. Keduanya pernah berhubungan dengan seorang Ajar yang telah membantunya meningkatkan landasan ilmu mereka. Merekapun memiliki pengalaman yang cukup banyak selama pengembaraan mereka. Karena itu, meskipun pada dasarnya Darpati adalah seorang yang berilmu tinggi, namun Darpati tidak dapat serta-merta menghentikan perlawanan Manggada dan Laksana. Dengan demikian maka Darpatipun menjadi semakin marah. Sambil menghentakkan kemampuannya, maka Darpatipun berkata "Kalian memang harus dibunuh. Jangan menyesal bahwa aku akan benar-benar melakukannya." Manggada dan Laksana menyadari, bahwa Darpati tidak main-main dengan ancamannya. Ketika Darpati sampai kepuncak ilmunya yang tinggi, maka Manggada dan Laksana mulai mengalami kesulitan. Tetapi karena mereka pemah ditempa selama mereka berguru serta pengalamannya yang luas, maka keduanya tidak segera menjadi gentar. Betapapun Darpati mengancam, menggertak dan menghentakkan ilmunya, namun Manggada dan Laksana sama sekali tidak beranjak dari arena. Sementara itu Darpatilah yang menjadi cemas. Meskipun setiap kali ia berhasil mendesak kedua orang anak muda itu, namun keduanya ternyata cukup kuat untuk mengatasinya. Dalam keadaan yang semakin gawat, karena Darpati memperhitungkan perlawanan yang diberikan oleh Kiai Gumrah dan kawan-kawannya, maka tiba-tiba saja Darpati itu bersuit nyaring. Adalah sangat mengejutkan bahwa beberapa orang telah muncul dari dalam kegelapan. Dengan serta merta mereka teiah mengepung Manggada dan Laksana. Manggada dan Laksana meloncat surut. Jantung mereka memang menjadi berdebaran. Ampat orang yang garang dengan senjata ditangan itu nampaknya benar-benar pembunuh yang tidak berjantung. Winih yang juga terkejut melihat kehadiran mereka tibatiba saja melangkah maju sambil bertanya "Apa artinya ini Darpati ? Siapakah mereka dan untuk apa mereka datang kemari?" “Waktu kita sangat sempit, Winih.. Aku terpaksa minta bantuan mereka. Mereka tidak akan berbuat apa-apa. Mereka hanya akan menahan Manggada dan Laksana yang mencoba menghalangimu. Sementara itu kita akan pergi menyelamatkan diri” "Tetapi apa yang kau lakukan ini sudah berlebihan Darpati” berkata Winih “aku mengenali keempat orang itu sebagaimana ampat orang yang ada di pancuran itu. Meskipun keempat orang yang ada dipancuran itu sudah mati, tetapi rasa-rasanya mereka telah muncul kembali saat ini “ “Winih” kata Darpati “Kau jangan membayangkan yang bukan-bukan seperti itu. Kita tidak mempunyai waktu. Jika saja Manggada dan Laksana tidak mengganggu rencana ini, maka aku tidak akan memanggil mereka, karena sebenarnyalah mereka adalah orang-orang yang aku minta membantuku menyelamatkanmu." "Darpati" desis Winih kemudian "aku menjadi semakin tidak mengerti akan sikapmu. Kenapa kau dengan orangorangmu tidak turun kemedan membantu kakek dan ayah?" "Tidak ada gunanya Winih" jawab Darpati "orang yang datang itu terlalu kuat." "Tetapi kau dan ampat orang itu tentu akan sangat berarti bagi kakek, ayah serta kawan-kawan mereka." jawab Winih. "Sudahlah” berkata Darpati “kita tidak usah berbantah sekarang. Marilah, kita tinggalkan tempat ini." Namun jawab Winih kemudian justru tidak ragu-ragu lagi "Tidak Darpati. Aku tidak dapat meninggalkan kakek, ayah, ibu serta kakang Manggada dan Laksana dalam kesulitan." “Apa maksudmu Winih” suara Darpati menjadi meninggi "Aku akan tetap tinggal bersama mereka apapun yang akan terjadi dirumah ini." jawab Winih. "Winih, kau jangan bodoh." "Tidak Darpati. Aku tidak dapat pergi." "Jika semua orang terbunuh di rumah ini, siapakah yang akan meneruskan keturunan mereka? Keluarga ini akan terputus tanpa anak turun yang dapat melanjutkan kesinambungan hidup mereka." berkata Darpati. “Itu lebih baik daripada aku hidup dalam siksaan kenangan karena aku kehilangan segala-galanya" jawab Winih. “Kau tidak akan kehilangan aku, Winih” berkata Darpati bersungguh-sungguh. "Tetapi kau orang baru bagiku, Darpati. Aku tidak ingin berpisah dari apa yang pernah aku miliki sebelumnya, sedangkan kau bagiku masih merupakan seseorang yang berdiri diluar pintu.” “Winih" berkata Darpati yang menjadi tidak sabar lagi "kita tidak mempunyai waktu untuk berbicara sekarang." “Tinggalkan aku Darpati. Terima kasih atas segala kebaikanmu sampai saat ini." berkata Winih. "Tidak. Aku akan pergi bersamamu" sahut Darpati. “Aku akan tetap berada bersama kakang Manggada dan Laksana apapun yang terjadi." berkata Winih kemudian. Wajah Darpati menjadi merah. Kesabaran telah sampai ke batas, sehingga iapun berkata “Jika demikian, aku akan membawamu. Maaf jika aku bersikap agak keras, sematamata demi keselamatanmu." Tetapi ketika Darpati akan menarik tangan Winih, tibatiba saja terdengar suara seorang perempuan "Akhirnya kami yakin ngger, bahwa kami memang tidak dapat mempercayaimu." "Bibi" Manggada dan Laksana hampir berbareng berdesis "berbahaya bagi bibi untuk turun sekarang." "Apaboleh buat. Aku tentu tidak akan membiarkan anakku dibawa orang yang meragukan." jawab Nyi Prawara. "Nyi Prawara" berkata Darpati "aku sedang menyelamatkan Winih." "Tidak. Kau tidak menyelamatkan Winih. Tetapi kau sedang menculik Winih." jawab Nyi Prawara. Ternyata Darpati memang tidak dapat ingkar lagi. Dengan geram iapun kemudian menjawab "Baik. Baik. Katakanlah aku sedang menculik Winih. Nah, apa yang akan kalian perbuat.” Suasana menjadi tegang. Darpati telah memegangi pergelangan tangan. Winih kuat-kuat dan siap untuk menyeretnya. Katanya kemudian, kepada keempat orang yang mengepung Manggada dan Laksana "Selesaikan saja mereka. Aku tidak memerlukannya lagi. Manggada dan Laksana memang harus dibunuh. Terserah kau apakan perempuan itu. Sementara aku akan membawa gadis ini pergi." “Darpati" berkata Nyi Prawara “ternyata kau memang tidak dapat dicegah lagi. Niatmu membawa Winih sudah bulat. Tetapi katakan, apa yang sebenarnya sedang kau lakukan? Apakah kau mengambil Winih karena Winih seorang gadis yang berkenan dihatimu atau kau mempunyai kepentingan yang lain?” “Kau berusaha mengulur waktu, Nyai. Tetapi baiklah aku menjawab. Aku memerlukan Winih untuk banyak keperluan. Aku mengambilnya karena ia seorang gadis yang cantik. Tetapi juga akan dapat aku pergunakan sebagai umpan untuk memancing pusaka-pusaka itu. Kelak, aku akan menukarkan Winih dengan pusaka-pusaka itu jika aku sudah menjadi jemu padanya. Jika Kiai Gumrah menolak, maka gadis ini akan mau." "Licik kau Darpati" desis Winih. "Jangan menyesal Winih. Nah, sekarang sudah sampai saatnya kita pergi. Ucapkan selamat tinggal kepada ibumu. Mungkin kau masih akan bertemu lagi kelak, jika kakekmu menyerahkan pusaka-pusaka itu. Tetapi yang pasti, kau tidak akan bertemu lagi dengan Manggada dan Laksana yang akan mati malam ini." Tetapi ketika Darpati menariknya, maka Winih telah mengibaskan tangan Darpati sehingga genggaman terlepas. Dengan cepat Winih berusaha berlari menjauhi Darpati. Namun Darpati sudah tentu tidak melepaskannya. Dengan kecepatan yang tinggi Darpati meloncat sambil menjulurkan tangannya untuk menggapai pundak Winih. Tetapi yang tidak pernah diduga sebelumnya telah terjadi. Demikian tangan Darpati terjulur, maka Winih justru berhenti sambil merendahkan dirinya. Dengan merendah Winih menarik Darpati lewat diatas pundaknya. Dengan ayunan tubuh Darpati sendiri, maka Darpati itu telah terlempar lewat diatas pundak Winih. Darpati adalah seorang yang berilmu tinggi. Tetapi karena yang dihadapinya itu sama sekali tidak diduganya, maka ia memang menjadi lengah., Meskipun demikian, kelihaian tubuhnya telah menolongnya. Darpati jatuh dengan mapan. Ia sempat berguling dua kali ditanah, kemudian meloncat bangkit dengan wajah yang merah menyala. "Winih" Darpati menggeram. Ternyata Winih sudah berubah. Ia bukan lagi gadis yang lembut yang mulai meningkat dewasa. Wajahnya memang masih tetap cantik, tetapi sorot matanya yang tajam bagaikan menusuk langsung kepusat jantung Darpati. Ketika Darpati melangkah mendekat, maka Winih telah menyingsingkan kain panjangnya. Ternyata Winih memang sudah mengenakan pakaian khusus dibawah kain panjangnya itu. Darpati berdiri termangu-mangu. Bahkan orang-orang yang ada disekitarnyapun bagaikan membeku Manggada dan Laksana justru menjadi bingung. Bahkan ampat orang yang muncul dari kegelapan itupun berdiri mematung pula. "Darpati" terdengar suara Winih yang bergetar "aku ternyata hampir saja menjadi korbanmu. Aku tidak mengira bahwa kau dapat berlaku sedemikian liciknya, sehingga aku hampir saja terjerumus kedalam kesulitan." "Winih” geram Darpati “kau ternyata juga tidak jujur. Kau tidak pernah menunjukkan kesan, bahwa kau memiliki kelebihan dari kebanyakan perempuan. Sehingga seandainya aku tidak berniat memanfaatkan hubungan kita, kaupun tidak mempercayai aku sepenuhnya. Dengan demikian maka kita ternyata berdiri pada sikap yang sama." "Tidak Darpati" jawab Winih "jika aku tidak menunjukkan pribadiku seutuhnya, justru aku ingin menjaga wibawamu sebagai seorang laki-laki. Aku tidak mau menyinggung perasaanmu, karena aku menduga bahwa apa yang kau perbuat terhadapku, termasuk perlindunganmu itu kau lakukan karena kau merasa sebagai seorang laki-laki. Jika kau sadari bahwa apa yang kau lakukan itu sia-sia, maka kau tentu akan kecewa." "Sekarang kita sudah tidak berpura-pura lagi Winih. Aku tidak dan kaupun tidak." geram Darpati kemudian. “Bagus Darpati, aku-sudah melihat bagaimana kau bertempur. Aku sadar, bahwa apa yang aku lihat itu tentu belum seluruhnya. Apalagi ketika kau bertempur melawan dua orang di pancuran itu. Tetapi waktu itu keraguanku agaknya telah disaput asap yang telah mengaburkan mata hatiku memandang bentuk lahiriahmu. Bahkan aku telah mengabaikan nasehat ayah, ibu dan kakekku yang mempunyai pandangan yang lebih wajar karena mereka tidak terlihat dalam perasaan yang lain." sahut Winih. "Bersiaplah Winih, kita akan benar-benar bertempur. Aku tidak akan sekedar bermain-main atau karena aku kau anggap mencintaimu, maka aku akan menahan diri dalam keadaan-keadaan yang menentukan." geram Darpati. . . “Aku mengerti Darpati. Akupun tidak akan menahan diri meskipun aku tidak ingkar, bahwa aku memang pernah tertarik kepadamu." jawab Winih. "Tetapi ingat, Manggada dan Laksana akan mati malam ini. Jika kau berkeras melawan betapapun tinggi ilmumu, namun kau tentu akan tunduk kepadaku, jika kau tidak ingin ibumu menjadi korban pula." ancam Darpati. Tetapi Nyi Prawara yang melihat anak perempuannya telah bangkit itupun berkata "Jangan hiraukan aku Winih. Aku tidak apa-apa. Tidak pula akan terjadi apa-apa atasku.” Darpati termangu-maugu sejenak. Suara itu bukan suara seorang perempuan yang cemas dan ketakutan. Tetapi suara itu justru merupakan suara seorang yang penuh akan kepercayaan dan keyakinan atas kemampuannya. Karena itu, maka Darpati tidak mau menunggu lebih lama lagi. Iapun segera berteriak kepada orang-orangnya "Selesaikan kedua orang anak muda itu. Mereka harus mati. Tangkap perempuan tua yang sombong itu. Kita akan dapat memanfaatkannya. Jika ternyata tidak, kita akan dapat membunuhnya kelak. Biarlah aku mengurus gadis manis ini. Bagaimanapun juga aku memerlukannya. Setidak-tidaknya untuk beberapa bulanl” Winih yang mendengar kata-kata Darpati itu jantungnya bagaikan tersentuh api. Karena itu, maka iapun segera meloncat menyerang. Namun Darpati berhasil menghindarinya dengan bergeser selangkah kesamping. Dengan demikian, maka pertempuranpun segera telah mulai. Ternyata Nyi Prawara bukan sekedar seorang perempuan yang pandai menunggui perapian menanak nasi dan membuat wedang jahe yang manis. Bukan pula sekedar memiliki kemampuan tentang obatobatan, tetapi juga seorang perempuan yang memiliki kelebihan. Dalam keadaan yang gawat itu, Nyi Prawara sebagaimana juga Winih telah menyingsingkan kain panjangnya. Nyi Prawarapun telah mengenakan pakaian khusus pula untuk menghadapi orang-orang yang telah siap menyerangnya. Bahkan Nyi Prawara itu sempat berkata “Angger Manggada dan Laksana. Pertahankan dirimu. Bertempurlah berpasangan." Manggada dan Laksana tidak menjawab. Tetapi keduanya telah merapat. Mereka sadar, bahwa kemampuan mereka masih dibawah kemampuan Darpati dan bahkan mungkin juga dibawah kemampuan orang-orang Darpati itu. Dalam pada itu, maka dua orang kawan Darpati itu segera bersiap melawan Manggada dan Laksana. Sementara dua orang lagi telah beriap untuk menangkap hidup-hidup Nyi Prawara. Namun baik Manggada dan Laksana, maupun Nyi Prawara, telah bersiap pula menghadapi mereka. Sejenak kemudian, maka pertempuranpun telah berlangsung dengan cepat. Manggada dan Laksana telah berusaha mengerahkan segenap kemampuan mereka. Namun dalam waktu yang pendek, maka kedua orang lawan merekapun telah mampu menekan kedua orang anak muda itu. Namun Manggada dan Laksana tidak mudah berputus asa. Keduanya telah mengerahkan kemampuan mereka. Namun ternyata lawan-lawan mereka adalah orang-orang yang berilmu tinggi, sehingga sejenak kemudian Manggada dan Laksana telah terdesak, semakin lama semakin jauh memasuki kebun rumah Kiai Gumrah. Nyi Prawara yang bertempur melawan kedua orang lawannya ternyata masih mampu bertahan. Kedua orang lawannya yang berumu tinggi itu telah membentur perlawanan yang keras dari seorang perempuan. Namun semakin lama Nyi Prawarapun mulai mengalami kesulitan pula. Meskipun ternyata ilmu Nyi Prawara berada pada tataran yang lebih tinggi dari dugaan kedua orang lawannya. Meskipun demikian, Nyi Prawara masih.berusaha untuk, memperpanjang waktu perlawanannya. Nyi Prawara masih berharap bahwa suami dan mertuanya akan dapat lebih cepat menyelesaikan lawan-lawannya di halaman depan sebelum Nyi Prawara kehabisan kesempatan mempertahankan diri. Namun Nyi Prawara itu mulai menjadi cemas melihat kesulitan yang dialami oleh Manggada dan Laksana. Tetapi Nyi Prawara masih belum mendapat kesempatan untuk membantu mereka. Sementara itu, Winih benar-benar sudah bertempur dengan Darpati. Keduanya telah meningkatkan ilmu mereka semakin tinggi.. Darpati memang menjadi heran, bahwa Winih ternyata mampu mengimbangi kemampuannya. Bahkan kadang-kadang. gadis itu telah mengejutkannya.. Ketika serangan Winih sempat menyusup disela-sela pertahanan Darpati dan mengenai bahunya, maka Darpati itu telah meloncat surut. Serangan Winih terasa sakit di bahunya. Keempat jari-jari tangan Winih yang terbuka dan merapat, rasa-rasanya bagaikan meretakkan tulangnya. "Ternyata gadis ini memiliki ilmu iblis" geram Darpati didalam hatinya "sikapnya yang seakan-akan tidak tahu apa apa itu ternyata justru ungkapan dari kepercayaannya akan kemampuannya, sehingga ia tidak merasa gentar sama sekali." Sebenarnyalah Winih sama sekali tidak terguncang oleh serangan-serangan Darpati yang datang beruntun bagaikan arus ombak yang menepis tebing. Seperti kokohnya batu karang ia menghalau setiap serangan. Bahkan benturanbenturan yang terjadi memperingatkan Darpati, bahwa Winih memiliki tenaga dalam yang sangat besar. "Gadis itu masih muda" berkata Darpati kepada diri sendiri "apakah sejak didalam kandungan ibunya ia sudah belajar olah kanuragan?" Namun Nyi Prawara juga seorang perempuan yang berilmu tinggi. Melawan dua orang kawan Darpati yang dianggap akan dengan mudah menyelesaikan tugas mereka, ternyata Nyi Prawara masih mampu bertahan, betapa ia sekali-sekali harus berloncatan surut. Yang mencemaskan adalah Manggada dan Laksana. Darpati yang mulai gelisah menahan kemampuan Winih yang ternyata tidak kalah dari ilmunya, telah berusaha mempengaruhi ketahanan jiwani Winih dengan katakatanya. Dengan lantang Darpati berteriak "Jangan menunggu apa-apa. Bunuh kedua orang kelinci kecil itu." Kedua orang yang melawan Manggada dan Laksana memang tidak akan mendapat banyak kesulitan. Meskipun Manggada dan Laksana pernah berguru sehingga menguasai landasan kemampuan dasar dari perguruan kecilnya, namun menghadapi dua orang berilmu tinggi, keduanya memang mengalami kesulitan. Tataran ilmu Manggada dan Laksana masih belum setingkat dengan kedua orang lawannya itu. Teriakan itu memang mempengaruhi perasaan Winih. Winih memang menjadi gelisah melihat. Manggada dan Laksana. Meskipun keduanya baru dikenalnya dirumah kakeknya, tetapi justru karena keduanya diaku sebagai cucu oleh Kiai Gumrah, maka rasa-rasanya mereka sudah menjadi seperti sanak kadang sendiri. Karena itu, bagaimanapun juga Winih tidak dapat bertempur tanpa mempedulikan keadaan Manggada dan Laksana. Tetapi Winih sendiri menghadapi Darpati yang berilmu tinggi, sehingga karena itu, maka Winih memang menjadi gelisah sebagaimana dikehendaki oleh Darpati Dalam kegelisahan itu, maka Winih menjadi kurang dapat memusatkan perhatiannya kepada lawannya. Sekalisekali Winih masih juga berusaha berpaling kearah Manggada dan Laksana. Tetapi Manggada dan Laksana menjadi semakin terdesak kedalam kegelapan. Sementara itu, Nyi Prawara juga masih belum dapat mengatasi lawannya. Bahkan sekali-sekali Nyi Prawara memang harus mengambil jarak untuk memperbaiki keadaannya. Dalam pada itu, karena kedua lawannya bersenjata, maka Nyi Prawarapun telah mengurai senjatanya pula. Seutas rantai baja yang tidak terlalu panjang dan tidak terlalu besar. Namun di tangan Nyi Prawara rantai itu menjadi sangat berbahaya. Ujungnya bergerak menyambarnyambar. Kemudian terayun menebas keatas dada. Tetapi tiba-tiba mematuk kearah kerung lawan-lawannya. Meskipun kedua lawan Nyi Prawara itu bersenjata parang yang panjang dan besar, namun putaran rantai itu merupakan perisai yang sangat rapat bagi Nyi Prawara. Sementara itu, Darpati masih saja berusaha untuk mempengaruhi perasaan Winih. Ia masih saja berterik abaaba kepada kedua orang kawannya yang bertempur melawan Manggada dan Laksana, Bahkan kemudian iapun berteriak pula "Jika perempuan itu tidak mau menyerah sehingga kalian tidak dapat menawannya hidup-hidup, maka iapun pantas dibunuh." “Jika demikian, maka tugas kami menjadi lebih ringan" teriak salah seorang diantara kedua orang yang bertempur melawan Nyi Prawara itu. Tetapi demikian mulutnya terkatup, maka ia harus mengaduh tertahan. Ternyata ujung rantai Nyi Prawara telah menyambarnya. Dengan tergesa-gesa orang itu bergeser kesamping untuk menghindar. Namun ujung rantai itu masih juga menyentuh lengan orang itu sehingga terluka. Orang itu mengumpat kasar dan kotor sehingga telinga Nyi Prawara menjadi panas. “Kita sedang bertempur. Bukan mengumpat-umpat. Apalagi dengan kata-kata kotor dan kasar" berkata Nyi Prawara dengan lantang. Tetapi lawannya justru mengetahui, bahwa kata-kata kotor dan kasar itu dapat mempengaruhi perasaan Nyi Prawara. Karena itu, maka orang itu justru mengulangi lagi. Mengumpat dengan kata-kata yang bahkan lebih kotor dan kasar. Telinga Nyi Prawara terasa bagaikan disentuh bara. Kata-kata itu sangat menyakitkan hatinya sebagai seorang perempuan. Apalagi didengar pula oleh anak gadisnya yang sudah dewasa. Namun berbeda dengan perhitungan lawannya. Mereka menganggap bahwa Nyi Prawara akan menjadi bingung dan tidak dapat memusatkan nalar budinya menghadapi kedua orang lawannya. Tetapi Nyi Prawara justru berbuat sebaliknya. Ia justru mengerahkan segenap kemampuannya dengan pemusatan nalar budinya untuk berusaha membungkam mulut orang yang berteriak-teriak dengan kata-kata kotor dan kasar itu. Tetapi ternyata kemampuan Nyi Prawara memang tidak cukup tinggi untuk mengalahkah kedua orang lawannya. Sehingga dengan demikian, maka beberapa saat kemudian, Nyi Prawara memang hanya dapat bertahan sambil menanti pertolongan suami dan ayah mertuanya yang bertempur di halaman depan. Dalam pada itu keadaan Manggada dan Laksana menjadi semakin sulit. Bahu Manggada telah terluka. Demikian pula lambung Laksana. Meskipun lukanya tidak terlalu dalam, tetapi darah sudah mengalir dari luka-luka itu. "Sudah tiba saatnya kami mengakhiri pertempuran yang menjemukan ini" berkata lawan Laksana “kalian sudah mendapat kesempatan untuk memperpanjang hidup kalian beberapa saat. Sekarang, maka bersiaplah untuk mati." Manggada dan Laksana memang menjadi gelisah. Pedang mereka segera teracu kearah lawan-lawan mereka yang nampaknya benar-benar akan.segera mengakhiri pertempuran itu. Namun sekali lagi yang tidak terduga itu terjadi. Tibatiba saja tanpa terdengar desah langkah kakinya, dua ekor Harimau yang sudah merunduk itupun meloncat Keluar dari persembunyiannya menyerang kedua orang lawan Manggada dan Laksana Kedua orang itu terkejut. Tetapi mereka tidak mempunyai banyak waktu. Merekapun dengan serta merta telah berloncatan mengambil jarak dari Manggada dan Laksana untuk menghadapi kedua ekor harimau itu. Namun Manggada dan Laksana yang seakan-akan telah mengenal kedua ekor harimau itu tidak melepaskan lawanlawan mereka. Meskipun mereka juga terkejut, namun merekapun segera mampu mengendalikan dirinya. Bahkan merekapun segera menempatkan diri bertempur bersama kedua ekor harimau yang seakan-akan menguasai olah kanuragan itu. Kedua orang lawan Manggada dan Laksana itu menjadi sangat gelisah. Ketika mereka hampir sampai pada saat-saat terakhir untuk menyelesaikan kedua anak muda itu, maka dua ekor harimau telah muncul dengan tiba-tiba. Dengan demikian, maka pertempuranpun menjadi semakin sengit. Kedua orang kawan Darpati itu sudah mengetahui bahwa ada. dua ekor harimau, yang kadangkadang ikut campur, jika terjadi pertempuran. Ada diantara kawan mereka yang pernah terbunuh di halaman rumah Kiai Gumrah itu. Tetapi yang lain mati di dekat air terjun kecil justru disaat mereka berusaha menjebak Manggada dan Laksana. Sehingga dengan demikian maka kehadiran kedua ekor harimau itu benar-benar telah menggelisahkan kedua orang itu. Sementara itu, Manggada dan Laksana ternyata masih juga terus menyerang mereka. Pada saat-saat mereka bertempur melawan kedua ekor harimau itu, maka Manggada dan Laksana justru ikut menyerang mereka pula. Ternyata kedua ekor harimau itu seakan-akan mampu menyesuaikan diri dengan serangan-serangan Manggada serta Laksana. Kedua ekor harimau itu tidak sebagaimana kebanyakan harimau, merunduk dan kemudian meloncat menerkam sasarannya. Tetapi kedua ekor harimau itu justru mendekati lawannya, menyerang dengan kedua kaki depannya yang-berkuku tajam. Bahkan gigi serta taringnya yang tajam siap pula mengoyak kulit lawannya. Jika kedua orang yang diserangnya itu sempat mengayunkan atau menusukkan pedang, maka harimau itu bergeser surut. Namun dalam pada itu, Manggada dan Laksanalah yang mendapat kesempatan untuk menyerang- Demikianlah, maka yang terjadi adalah sebagaimana yang pernah terjadi di pancuran itu. Kedua orang lawan Manggada dan Laksana itu tidak banyak mempunyai kesempatan. Beberapa kali keduanya berteriak memanggil Darpati. Tetapi ternyata Darpati tidak dapat berbuat banyak. Winih, gadis yang ingin diculiknya itu ternyata adalah seorang gadis yang bejrilmu tinggi pada usianya yang baru menginjak dewasa. Kedua orang yang bertempur melawan Nyi Prawarapun menjadi gelisah. Mereka memang mendengar harimau itu menggeram. Apalagi kedua orang kawannya memang berteriak-teriak tentang kedua ekor harimau itu. Tetapi keduanya masih terikat dalam pertempuran melawan Nyi Prawara. Namun teriakan-teriakan kawannya yang telah mulai dilukai oleh kuku-kuku harimau serta senjata Manggada dan Laksana itu, telah menggelitik kedua orang itu. Karena itu, maka salah seorang dari merekapun telah meninggalkan Nyi Prawara untuk melihat keadaan kedua orang kawannya. Tetapi usaha itu sama sekali tidak menolong. Seorang yang harus bertempur melawan Nyi Prawara itupun telah mengalami kesulitan pula. Rantai Nyi Prawara telah menyentuh tubuhnya lagi. Bahkan hampir saja mata orang itu dipatuk oleh ujung rantai Nyi Prawara yang menjadi semakin garang. Darpati menyadari bahwa keadaannya serta kawankawannya menjadi semakin sulit. Karena itu, maka Darpati tidak dapat berpegang pada keinginannya saja. Ia harus menentukan sikap dalam keadaan yang sulit itu. Karena itu, maka niatnya untuk mengambil Winih dalam keadaan yang utuhpun telah ditinggalkannya. Ternyata Winih bukan lagi sebuah golek kencana yang manis, yang hanya mampu tersenyum luruh dalam keadaan apapun serta diperlukan bagaimanapun. Juga bukan sekuntum kembang melati yang putih bersih dengan baunya yang wangi. Tetapi Winih adalah sekuntum kembang mawar yang meskipun semerbak tetapi berduri tajam. Karena itu, maka Darpatipun telah menarik senjatanya. Sehelai pedang yang berkilat-kilat memantulkan cahaya oncor diserambi rumah Kiai Gumrah. “Aku memang harus bersungguh-sungguh Winih” geram Darpati “kau sama sekali bukan lagi gadis yang menarik buatku. Bagiku sekarang, kau tidak lebih dari sesosok peri yang cantik, berbau wangi, tetapi pada suatu saat akan dapat menghisap darahku sampai kering." “Bukan pada suatu saat Darpati. Tetapi sekarang" jawah Winih yang juga mengurai senjatanya. Seperti senjata ibunya. Seutas rantai baja putih yang mengkilap. "Jangan menyesali diri Darpati" desis Winih "kawankawanmu akan mati. Harimau-harimau itu ternyata memiliki kepandaian yang lebih dari sejenisnya. Mereka seakan-akan mengerti, kapan mereka harus mengaum menggetarkan jantung, dan kapan mereka harus menyerang dengan diam-diam. Tetapi jangan menangisi kematian kawan-kawanmu itu." Darpati memang menjadi semakin garang. Dengan ilmu pedangnya yang tinggi, ia menyerang Winih dengan cepat. Pedangnya berputaran terayun, mematuk dn menebas dengan cepatnya. Sehelai pedang Darpati itu seakan-akan telah berubah menjadi beberapa helai pedang yang tajam berkilauan. Tetapi rantai Winih yang berputaran itu bagaikan kabut putih yang melindungi seluruh tubuhnya, sehingga berapapun banyak ujung pedang yang menyerang dari segala arah, akan membentur perisai kabut yang putih itu. Demikianlah maka pertempuran diantara keduanya menjadi semakin sengit. Beberapa kali terdengar benturan antara daun pedang Darpati dengan rantai baja Winih, sehipgga bunga apipun nampak berhamburan. Sementara itu, ketiga orang yang bertempur melawan Manggada dan Laksana benar-benar tidak dapat tertolong lagi. Kedua ekor harimau itu dengan garangnya telah mengoyak kulit mereka dengari kuku-kukunya yang tajam. Sementara itu, seorang diantara ketiganya yang berusaha melarikan diri, justru telah diterkam oleh salah satu dari antara kedua ekor harimau itu dipunggungnya. Agaknya harimau itu tidak memperhitungkan apakah ia menyerang dari depan atau dari belakang. Sementara itu dua orang yang lainpun telah terkapar tanpa dapat bergerak lagi. Dalam pada itu, lawan Nyi Prawara itupun tidak lagi dapat mengimbangi kemampuan perempuan yang semula tidak diperhitungkan itu. Setelah seorang kawahnya berusaha membantu kedua lawan Mangagada dan Laksana, maka orang itupun segera mengalami kesulitan. Seranganserangan Nyi Prawara datang membadai. Rantai bajanya seakan-akan mempunyai mata di-ujungnya. Kemanapun ia menghindar, maka ujung rantai itu rasa-rasanya selalu memburunya, Sehingga setiap kali terasa ujung rantai itu menyengat tubuhnya, sehingga luka-lukapun telah hinggap pula dimana-mana ditubuhnya. Akhirnya orang itu tidak mampu lagi bertahan. Tubuhnya menjadi semakin lemah, sementara darahnya menjadi semakin banyak mengalir. Nyi Prawara yang melihat lawannya tidak berdaya lagi, telah menghentikan serangan-serangannya. Sambil melipat rantainya ia bertanya "Apakah kau masih akan melawan?" "Tidak" suara itu bergetar. Kekuatannya seakan-akan telah terhisap habis. “Pengecut kau" teriak Darpati yang mendengar suaranya “jika kau menyerah, maka akulah nanti yang akan membunuhmu." Tetapi Winihlah yang menyahut “Kau tidak akan dapat, membunuhnya, Darpati. Kita masih belum tahu, siapa diantara kita yang akan menang." Darpati menggeram. Namun rantai baja Winih hampir saja menyambar keningnya. Dengan demikian, maka pertempuranpun telah berakhir kecuali antara Darpati dan Winih. Ketiga orang yang bertempur melawan Manggada dan Laksana telah terbunuh dengan luka luka yang segera dapat diketahui bahwa luka itu bukan luka oleh ujung-ujung pedang Manggada dan Laksana. Seorang lagi yang ditinggalkan kawannya bertempur melawan Nyi Prawara telah menjadi tidak berdaya. Sementara itu Darpati tidak dapat mengingkari kenyataan. Tetapi iapun merasa bahwa ia tidak mungkin dapat melarikan diri. Dua ekor harimau yang masih berkeliaran dihalaman itu tentu akan membantu mengejarnya. Karena itu, maka satu-satunya cara yang dapat ditempuh adalah menangkap Winih dan mempergunakannya sebagai perisai untuk keluar dari halaman rumah itu. Tetapi untuk mengalahkan Winih itupun masih merupakan teka-teki baginya, apakah ia dapat melakukannya Tetapi Darpati adalah orang yang memiliki ilmu yang tinggi dan pengalaman yang luas. Bagaimanapun juga ia mempunyai cara-cara yang licik untuk mempengaruhi lawannya. Ketika rantai baja Winih rasa-rasanya semakin berbahaya baginya, bahkan rasa-rasanya ujung-ujung rantai itu sudah mulai menyentuh pakaiannya, maka Darpati justru telah berdesis "Winih, pertempuran diantara kita adalah pertempuran yang tidak adil." "Kenapa?" bertanya Winih yang tetap berhati-hati. Ia sudah memperhitungkan bahwa Darpati ingin memecah perhatiannya “Kau nampaknya bersungguh-sungguh ingin membunuhku" desis Darpati. "Jika kau menyerah, aku tidak akan membunuhmu" Jawab Winih sambil meloncat memutar rantainya. Ketika ia kemudian menggeliat, maka rantainya itupun seakanakan ikut menggeliat pula. Tiba-tiba saja ujung rantai itu seolah-olah terjulur lurus menusuk kearah jantung. Darpati dengan tergesa-gesa meloncat surut. Ujung rantai Winih memang belum berhasil menggapai sasaran. Dalam pada itu Darpati berdesis "Winih. Sebenarnyalah jika aku ingin membunuhmu, maka kau memang sudah mati. Aku sebenarnya memang berniat untuk melakukannya. Tetapi setiap kali aku memandang wajahnya yang cantik, aku menjadi ragu-ragu. Bagaimanapun juga aku harus mengakui bahwa aku mencintaimu." "Cukup" bentak Winih sambil menyerang. Sementara Darpatipun telah bergeser lagi beberapa langkah surut. "Winih. Kenapa kita harus berdiri berseberangan? Apakah kita tidak dapat memilih jalan kita sendiri? Kita masing-masing meninggalkan landasan tempat kita berdiri. Kita menjadi orang lain sama sekali. Tidak dipihakmu, tetapi juga tidak dipihakku. Bukankah dengan demikian kita akan dapat hidup bersama tanpa dibayangi oleh rasa permusuhan." "Tutup mulutmu" serangan Winih justru mengejutkan Darpati. Ternyata serangan itu udak sempat dihindarinya dengan baik. Karena itu, maka ujung rantai Winih telah menyentuh lambung Darpati, Meskipun tidak dalam, tetapi luka itu ternyata telah menitikkan darah. "Winih" desis Darpati "kau bersungguh-sungguh." "Sebagaimana kau katakan, kaupun bersungguhsungguh. Maka akupun bersungguh-sungguh." jawab Winih. "Aku memang berniat demikian Winih. Tetapi ternyata aku tidak dapat melakukannya. Kau teriaki cantik untuk dimusuhi. Dan kulitmu terlalu lembut untuk dilukai. Bagaimanapun juga aku berusaha membuat diriku sendiri membencimu, tetapi aku tidak dapat ingkar, bahwa aku ternyata tetap mencintaimu.” "Kau jangan mengigau. Bersiaplah. Aku bersungguhsungguh. Aku akan membunuhmu." geram Winih. “Dihadapanmu, maka nalar dan perasaanku tidak dapat menyatu. Bahkan tiba-tiba saja aku ingin melihat kau tersenyum lagi." desis Darpati. "Tidak. Tidak" Winih berteriak, ia tidak ingin mendengar lagi kata-kata Darpati yang dapat mengganggu perasaannya itu. Sebenarnyalah bahwa pemusatan.nalar budi Winih telah terganggu. Ketika ujung pedang Darpati kemudian terjulur maka Darpati benar-benar telah mampu menembus perisai putaran rantai Winih. Terdengar Winih berdesah tertahan. Selangkah ia meloncat surut. Ternyata lengannya telah benar-benar tergores ujung pedang Darpati. Nyi Prawara yang berdiri beberapa langkah dari arena pertempuran itu melihat dalam keremangan malam Winih tergores senjata. Karena itu, diluar sadarnya Nyi Prawara itu telah berloncatan mendekat. Demikian pula Manggada dan Laksana yang telah kehilangan lawannya, bahkan kedua ekor harimau yang ternyata masih berada di kebon dibelakang rumah Kiai Gumrah itu sekali-sekali nampak hilir mudik tanpa memperdengarkan suaranya sama sekali. Dalam pada itu, Darpatipun berdesis "Winih. Kau terluka? Aku benar-benar tidak sengaja Winih. Aku benarbenar tidak sampai hati menyentuh kulitmu yang lembut." "Tidak. Jangan katakan itu" Winih berteriak lagi. Sementara itu Darpati melihat kesempatan terbuka. Ia memang tidak mau membunuh Winih. Ia ingin menangkapnya hidup-hidup dan menjadikannya perisai untuk meninggalkan halaman itu. Jika ia berhasil maka ia akan dapat memancing pusaka pusaka itu sebagaimana direncanakan sejak kedatangannya jika ia tidak dapat langsung mengambil pusaka-pusaka itu. Dalam kesempatan itu, maka Darpati telah meloncat mendekati Winih sambil menjulurkan pedangnya. Ia ingin menekan tubuh Winih dengan pedang itu dan mengancamnya, sementara tangannya yang lain akan berusaha menangkap pergelangan Winih pada tangan yang memegangi senjatanya. Kesempatan itu memang hanya diperolehnya sekejap, saat Winih dihempaskan kedalam hentakan perasaannya sebagai seorang gadis yang tumbuh dewasa. Jika keperkasaan gadis itu kembali lagi menguasainya serta kesadaran ilmunya yang tinggi menghentaknya, maka kecil sekali harapan Darpati dapat melindungi dirinya sendiri, karena sebenarnyalah bahwa Darpati harus mengakui, bahwa sulit baginya untuk dapat mengalahkan Winih. Dalam sekejap, perasaan Winih memang terguncang. Bagaimanapun juga ia memang pernah tertarik kepada orang yang bernama Darpati itu. Karena itu kata-katanya yang lembut seperti hembusan semilirnya angin, rasarasanya sempat mengasah pemusatan nalar budinya. Namun ibunya yang berdiri semakin dekat, mendengar dan mengetahui kelicikan cara yang dipergunakan oleh Darpati yang agaknya memang sudah mempunyai pengalaman yang sangat luas dalam hubungannya dengan banyak macam perempuan. Karena itu, maka bersamaan dengan saat Darpati meloncat, Nyi Prawara berteriak "Winih. Hati-hati." Winih tersentak. Tetapi Darpati telah meloncat sambil mengacukan pedangnya. Kesempatan Winih memang terlalu sempit. Yang dapat dilakukannya kemudian untuk menghindari ujung pedang yang hampir menggapai tubuhnya itu adalah dengan menjatuhkan dirinya, ia berharap bahwa lontaran tubuh Darpati yang kuat akan dapat melemparkan Darpati itu melampauinya tanpa melukainya. Tetapi Darpati tidak menyerangnya dengan sepenuh tenaga. Darpati hanya ingin mengancamnya. Karena itu, ketika Winih menjatuhkan dirinya untuk menghindar, maka daya dorong tubuh Darpati tidak cukup melontarkan tubuhnya melewati tubuh Winih yang sudah siap melemparkannya semakin jauh dengan kedua kakinya, justru karena itu, maka tubuh Darpati itu memang telah terlempar, tetapi tidak cukup jauh. Bahkan tubuh itu telah terhempas jatuh dekat disebelah tubuh Winih. Tetapi tendangan kaki Winih yang mengenai perut Darpati telah membuat orang itu kesakitan. Dalam pada itu, maka hampir serentak keduanya telah berusaha untuk bangkit. Ketika Darpati sempat berdiri tegak, maka Winihlah yang justru telah mendapat kesempatan. Dengan kecepatan yang sangat tinggi serta kemarahan yang menghentak-hentak didadanya, Winih telah mengayunkan rantai bajanya menyerang Darpati yang baru berusaha mempersiapkan dirinya menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Yang terjadi kemudian ternyata telah mengejutkan orang-orang yang ada di kebun Kiai Gumrah itu. Rantai baja Winih yang diayunkannya dengan kecepatan yang tinggi serta sepenuh tenaga itu telah mengenai tubuh Darpati yang berusaha menangkis tetapi terlambat. Terdengar Darpati memekik kesakitan. Tubuhnya terdorong surut. Sebuah luka yang panjang telah menyilang didadanya. Sesaat ia berdiri termangu-mangu. Namun wajahnya seakan-akan telah berubah. Matanya menjadi merah menyala. Giginya gemeretak. Berlahan-lahan Darpati mengangkat pedangnya dan mengacukannya kepada Winih sambil berkata "Kau adalah perempuan cantik yang paling garang yang pernah aku temui. Lebih dari seratus perempuan yang pernah aku miliki. Dan sekarang kau akan menjadi satu diantara mereka. Tidak seorangpun diantara mereka yang berkesempatan memilih apa yang dapat mereka lakukan selain menjalankan segala perintahku dan memenuhi segala keinginanku sampai aku menjadi jemu dan mencampakkannya." Winih menjadi gemetar. Ia melihat sesosok iblis yang menjadi merah oleh darahnya sendiri. Namun selangkah demi selangkah Darpati masih bergerak maju dengan pedang yang terjulur. Jantung Winih rasa-rasanya berdetak semakin cepat. Sebagai seorang yang memiliki ilmu yang tinggi, Winih dibekali oleh ketahanan jiwani yang kokoh. Namun Winih memang belum mempunyai cukup banyak pengalaman. Karena itu, ketika ia melihat Darpati yang bersimbah darah itu melangkah mendekatinya, jiwanya seakan-akan telah terguncang. Tetapi ia tidak mau membiarkan dirinya diterkam oleh iblis itu. Ketika sosok yang menjadi menakutkan itu mendekatinya sambil mengacukan pedangnya, maka Winih seakan-akan telah kehilangan pengendalian diri. Begitu kerasnya jiwanya terguncang, sehingga Winih seakan-akan tidak tahu lagi apa yang dilakukannya. Winih baru sadar, ketika ia mendengar ibunya menjerit memanggil namanya. Bahkan kemudian ibunya itu telah memeluknya dari belakang dan menariknya menjauhi sosok tubuh yang kemudian terhuyung-huyung dan jatuh terjerembab ditanah "Winih, Winih. Hentikan " teriak ibunya. Winih yang masih saja gemetar bagaikan terbangun dari mimpi yang sangat buruk. Ketika ibunya kemudian mengguncang tubuhnya, maka Winihpun melihat sosok tubuh yang terbaring itu. Darpati telah terbunuh dengan luka arang keranjang. Winihlah yang kemudian menjerit tinggi. Sambil memejamkan matanya ia memeluk ibunya erat-erat seakanakan tidak mau melepaskannya lagi. Jerit Nyi Prawara dan Winih ternyata terdengar dari halaman didepan. Sejenak kemudian, maka beberapa orang telah berlari-larian mendekati mereka. Kiai Gumrah, Ki Prawara serta juragan gula yang semula ikut bertempur di halaman melawan orang-orang yang ternyata cukup liat dan berilmu tinggi, sehingga memerlukan waktu yang cukup lama. “Apa yang terjadi?" bertanya Kiai Gumrah. Namun ketika ia melihat sosok tubuh yang arang keranjang serta rantai yang masih ada ditangan Winih, maka Kiai Gumrahitupun bertanya "Apa yang telah kau lakukan, Winih?" Winih masih berada didalam pelukan ibunya. Bahkan sifat kegadisannya tiba-tiba telah muncul. Winih itu menangis terisak-isak. Sekan-akan ia ingin menyembunyikan wajahnya dari bayangan yang mengerikan itu didada ibunya. “Nyi, bukankah kau ada disini?” bertanya Ki Prawara "Nanti aku ceriterakan apa yang terjadi. Tetapi Winih tidak dapat berbuat lain. " jawab Nyi Prawara. Kiai Gumrah dan Ki Prawara saling berpandangan sejenak. Kemudian merekapun melihat Manggada dan Laksana yang sudah terluka dan berdarah, berdiri termangu-mangu. Namun orang-orang yang datang kemudian itu tidak lagi melihat kedua ekor harimau itu lagi. Namun ketika mereka melihat luka-luka ditubuh ketiga orang yang terbunuh itu, maka merekapun segera mengenali bahwa dua ekor harimau itu telah ikut campur pula. Diantara mereka terdapat seorang yang terduduk lemas. Orang itu tidak lagi mampu berbuat sesuatu. Bahkan tidak lagi dapat melarikan dirinya. Kepada Kiai Gumrah, Nyi Prawara yang masih memeluk anaknya itu berkata "Orang itu salah seorang dari mereka yang datang menyerang kami." Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Katanya "Ternyata Darpatilah yang mengatur segala-galanya. Aku sudah berbicara dengan Ki Bekel dan seorang diantara orangorang Darpati yang dapat kami tangkap hidup-hidup." “Apakah Ki Bekel masih ada dihalaman?” bertanya Nyi Prawara. “Semuanya masih lengkap Memang ada orang-orang berilmu yang dapat melarikan diri. Tetapi ada yang berhasil kami tangkap." jawab Kiai Gumrah. Lalu katanya pula “Tetapi aku akan membawa Ki Bekel kemari. Aku akan menunjukkan kepadanya, apa yang telah terjadi disini." Nyi Prawara mengangguk kecil. Namun katanya."Aku akan membawa Winih masuk. Biarlah Manggada dan Laksana berceritera." "Mereka juga terluka?" bertanya-Kiai Gumrah. "Ya. Aku akan menyiapkan obat bagi semuanya, termasuk Winih yang juga terluka." jawab-Nyi Prawara. Nyi Prawarapun kemudian telah mengajak Winih masuk keruang dalam. Dihiburnya anaknya sebagaimana seorang ibu. yang dengan penuh kasih membesarkan hati anaknya yang terguncang perasaannya. Dibelainya rambutnya dan diusapnya air mata yang meleleh dipipi. "Aku telah membunuhnya ibu. Bukan sekedar membunuh, tetapi aku telah berbuat lebih dari membunuh" desis Winih. "Bukan salahmu, Winin. Orang itu telah membuatmu kehilangan kendali. Ia bermaksud mempengaruhi pemusatan nalar budimu karena ilmunya yang berada dibawah ilmumu. Tetapi ia benar-benar memiliki pengalaman yang sangat luas. Baik dalam, olah kanuragan, maupun dalam hubungannya dengan perempuan, sehingga ia mampu mengusik kelemahan-kelemahan yang ada pada perasaan seorang perempuan" berkata ibunya. Setelah berhenti sejenak, iapun berkata "Tetapi perbuatannya itu justru telah menjerumuskannya kedalam satu keadaan yang sangat pahit. Meskipun demikian, orang itu sendirilah yang bersalah, sehingga ia mendapat perlakuan yang sangat buruk.” Winih tidak menjawab. Tetapi sikap ibunya, belaian tangannya serta kata-katanya yang lembut membuat perasaan Winih yang terguncang menjadi sedikit tenang. Sementara itu Manggada dan Laksana telah berceritera tentang peristiwa yang mereka alami bersama Nyi Prawara dan Winih. Kemudian munculnya kedua ekor harimau yang memang sering datang justru pada saat-saat yang sangat diperlukan. "Aku percaya bahwa kedua ekor harimau itu milik Setan Bongkok, itu" desis Kiai Gumrah. "Ki Pandi yang kakek maksud?" bertanya Manggada. "Ya. Orang aneh itu" jawab Kiai Gumrah. Manggada mengerutkan dahinya. Namun dihatinya iapun berkata "Kakek juga seorang yang aneh." Seperti yang dikatakannya, maka Kiai Gumrahpun telah memanggil Ki Bekel untuk melihat apa yang terjadi di kebun belakang rumahnya. Dua orang bebahu dan beberapa orang yang lain diminta pula oleh Kiai Gumrah untuk melihat sendiri, apa yang baru saja terjadi. Mereka juga dipersilahkan untuk melihat tiga sosok tubuh yang dikoyakkoyak oleh kuku dan taring binatang buas. "Nah, aku minta Ki Bekel berbicara dengan seorang diantara mereka yang masih hidup itu" berkata Kiai Gumrah "agar Ki Bekel akan mendapat gambaran yang lebih lelas, apa terjadi di rumah ini” Sikap Ki Bekel sudah jauh berubah, ia tidak lagi menganggap Kiai Gumrah sebagai seorang penyadap legen dan pembuat gula kelapa saja. Tetapi dengan mata kepala sendiri ia melihat apa yang telah dilakukan oleh Kiai Gumrah itu, sehingga Ki Bekel tidak lagi mempunyai penilaian yang salah. Meskipun demikian ia tetap saja merasa heran atas kedunguannya, kenapa selama ini ia menganggap bahwa Kiai Gumrah adalah seorang yang tidak berharga di padukuhannya kecuali sekedar seorang penunggu banjar lama. Demikian pula atas beberapa orang kawan Kiai Gumrah yang ternyata memiliki kemampuan yang sangat tinggi. "Seandainya mereka tidak dapat mengendalikan diri dan memusuhi kami, maka orang-orang sepadukuhan tentu tidak akan dapat melawan mereka” berkata Ki Bekel didalam hatinya. Apalagi ketika Kiai Gumrah yang berhasil menguasainya untuk menghindari benturan kekerasan, namun yang sama sekali tidak dihiraukan oleh sekelompok orang yang menghasutnya, membuatnya merasa berhutang budi. Seandainya Kiai Gumrah memang bermaksud buruk, maka ia tentu sudah mati dihalaman rumah itu. Penyesalan telah memenuhi kepala Ki Bekel. Janji, upah dan suap yang diterimanya dari orang-orang itu hampir saja harus diimbali dengan nyawanya. Beberapa saat kemudian, maka Ki Bekel, beberapa orang bebahu serta para pembuat gula itu telah membicarakan langkah-langkah yang akan mereka ambil. Yang harus mereka lakukan pertama-tama adalah menguburkan orangorang yang terbunuh, termasuk Darpati. Tiga orang yang dikoyak-koyak harimau dan dua orang yang bertempur dihalaman melawan para pembuat gula dan Ki Prawara. "Aku mohon bantuan Ki Bekel untuk memerintahkan orang-orang yang sudah berada di halaman rumah ini" berkata Kiai Gumrah. "Baik. Baik Kiai. Kami akan membantu apa saja yang dapat kami lakukan" jawab Ki Bekel. Seperti yang dikatakannya, maka Ki Bekelpun kemudian minta kepada orang-orang yang datang bersamanya untuk membantu menguburkan orang-orang yang terbunuh di halaman dan dikebun Kiai Gumrah itu. "Kita bawa sosok-sosok tubuh itu dan kita. tempatkan di banjar lama. Besok, demikian matahari terbit, maka kita akan menguburkan mereka" berkata Ki Bekel. Demikianlah, maka setelah halaman rumah itu dibersihkan, Ki Bekel, para bebahu dan orang-orang yang mengikutinya, telah minta diri. Sebagian dari mereka akan tetap berada di banjar menunggui sosok-sosok tubuh dari korban yang jatuh di halaman rumah Kiai Gumrah itu. Sebelum meninggalkan halaman rumah Kiai Gumrah, Ki Bekel mewakili orang-orang yang datang bersamanya telah minta maaf yang sebesar-besarnya kepada Kiai Gumrah. "Kami telah salah memilih langkah" berkata Ki Bekel. "Tidak" jawab Kiai Gumrah “Ki Bekel tidak salah pilih." "Maksud Kiai?" bertanya Ki Bekel. "Ki Bekel sudah tahu bahwa jalan yang Ki Bekel pilih itu tidak wajar. Ki Bekel tahu bahwa Ki Bekel telah dihasut, diberi janji-janji, bahkan suap. Tetapi Ki Bekel tetap saja melakukannya. Bukankah itu satu kesengajaan? Satu penyalah-gunaan kedudukan yang Ki Bekel emban?" Ki Bekel tidak dapat menjawab. Ia hanya dapat menundukkan kepalanya. Namun kemudian terdengar ia berdesis "Ya Ktai. Sekali lagi kami mohon maaf." "Baiklah. Setiap orang dapat melakukan kesalahan Tetapi hendaknya kita tidak selalu mengulangi kesalahankesalahan yang sama, justru yang pernah kita akui sebagai satu kesalahan." berkata Kiai Gumrah. Ki Bekel hanya dapat berdesis "Ya Kiai." "Sekarang, jika Ki Bekel ingin pulang, silahkan. Tetapi besok aku serahkan segala sesuatunya tentang sosok-sosok tubuh itu kepada Ki Bekel." berkata Kiai Gumrah kemudian. "Baik, Kiai. Baik. Aku akan mengurusnya." Kiai Gumrah tidak berbicara lagi. Sementara itu Ki Bekel-pun telah minta diri dan meninggalkan halaman rumah itu. Sementara itu, beberapa orang diantara mereka telah mengurus dan memindahkan sosok-sosok tubuh itu ke banjar. Sementara itu, Nyi Prawara telah menyiapkan obatobatan buat mereka yang terluka. Selain penghuni rumah itu, Nyi Prawara juga menyiapkan obat bagi orang yang telah dikalahkannya dan seorang lagi yang tertangkap di halaman depan. Orang itu juga telah terluka, sehingga tidak sempat melarikan diri sebagaimana beberapa orang kawan mereka. Dari keduanya Kiai Gumrah dan orang-orang yang ada dirumah itu mendengar, apa yang telah dilakukan oleh Darpati sepengetahuan Kiai Windu Kencana. Darpati memang mendapat kesempatan untuk mencoba mengambil pusaka-pusaka itu dengan caranya. Namun ternyata cara itu telah gagal. Dalam pada itu, hampir semalam suntuk Nyi Prawara telah mengobati orang-orang yang terluka. Manggada dan Laksana yang tidak terlalu parah lukanya, telah duduk di dapur sambil menunggui perapian. Mereka telah merebus air untuk membuat minuman bagi mereka yang telah bekerja keras, termasuk kawan-kawan Kiai Gumrah. Meskipun demikian, Nyi Prawara juga berpesan kepada keduanya agar mereka tidak bergerak terlalu banyak. "Jika air telah mendidih, beritahu aku" berkata Nyi Prawara sambil mengobati bekas lawannya yang dilukainya dengan ujung rantainya serta seorang lagi diantara orangorang yang datang menyerang, yang bertempur dihalaman depan. Peristiwa itu telah mendorong Kiai Gumrah dan kawankawannya untuk mengambil tindakan yang lebih jelas. Dengan nada tinggi juragan gula itu berkata "Kita tidak dapat hanya sekedar menunggu sekarang ini. Permusuhan diantara kita dengan mereka sudah semakin terbuka. Jika. kita sekedar menunggu, maka pada suatu saat kita akan dapat lengah sehingga kita benar-benar akan dapat mereka hancurkan.” Kiai Gumrah mengangguk-angguk Sementara seorang diantara kawan-kawan Kiai Gumrah itu berkata "Kita, sudah tahu sarang mereka. Apalagi kesulitan kita jika kita. akan menyerang?" Kiai Gumrah. menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya "Kita belum dapat menggambarkan kekuatan, mereka. Menurut perhitunganku, saat ini orang - yang disebut Panembahan itu. telah berada diantara mereka." Juragan gula itupun kemudian berkata "Kita memang harus membicarakannya dengan bersungguh-sungguh. Tetapi segala-galanya bukan lagi rahasia sekarang. Kita sudah cukup lama berpura-pura, sementara mereka masih saja memburu kita sampai sekarang. Padahal kita merasa yakin bahwa kita tidak bersalah. Apa yang kita lakukan sesuai dengan garis yang telah ditentukan oleh perguruan kita." “Kita memang sudah pasti sekarang. Nama-nama Windu Kusuma dan orang-orang yang bekerja bersamanya, orang yang disebut Panembahan dan orang-orang yang lain lagi, adalah orang-orang yang telah bekerja bersama dengan pengkhianat itu." berkata salah seorang kawan Kiai Gumrah yang lain. "Baiklah" berkata Kiai Gumrah "kita memang harus membicarakannya dengan bersungguh-sungguh. Kawan kita akan memastikan sasaran yang harus kita tuju. Kita memang tidak akan menunggu Kiai Windu Kusuma dan Sang Panembahan itu datang kemari. Menurut keterangan seorang diantara mereka yang berbaik hati menghubungi kita, maka sebelum purnama, pusaka-pusaka itu sudah harus berada ditangannya. Bahkan harus sudah menyentuh jantung segar seseorang agar tuahnya tidak akan berkurang." "Satu sanepa yang mengerikan. Itu adalah sekedar perlambang bahwa Panembahan itu akan menghabisi kita semuanya dengan tombak kita sendiri." berkata juragan gula itu. "Tetapi Panembahan yang agaknya adalah Panembahan, itu juga, benar-benar telah membasahi kerisnya dengan darah gadis-gadis. Agaknya ia benar-benar percaya justru karena ilmu hitamnya, bahwa hal yang demikian itu dapat memberikan arti bagi pusaka-pusakanya." Kawan-kawan Kiai Gumrah itu mengangguk-angguk. Agaknya Panembahan itu memang percaya bahwa dengan menusukkan ujung tombak itu pada jantung segar didalam diri seseorang, maka pusaka-pusaka itu akan menjadi semakin bertuah. Sementara itu, selama pusaka-pusaka itu disimpan oleh Kiai Gumrah, maka hal seperti itu sama sekali tidak pernah dilakukannya. Bahkan terpikirpun tidak. Karena itu, maka Kiai Gumrah itupun berkata "Baiklah. Kita memang harus membicarakannya dengan sungguhsungguh. Kita akan datang kepada mereka. Semakin cepat semakin haik. Kita atau merekalah yang akan hancur." Tetapi Kiai Gumrah minta agar kawan-kawan mereka tidak meninggalkan rumahnya untuk sementara. Dengan nada berat ia berkata "Sejak sekarang kita tidak akan raguragu mempergunakan isyarat. Kentongan misalnya." "Jika demikian kenapa kita tidak dapat meninggalkan rumahmu ini?" bertanya seseorang. "Aku dan satu dua orang diantara kalian akan ikut pergi ke kuburan jika orang-orang padukuhan nanti menguburkan orang-orang yang terbunuh itu." berkata Kiai Gumrah. "Untuk apa?" bertanya seorang yang lain. "Kita harus mampu membuat permainan yang dapat mengimbangi permainan mereka." jawab Kiai Gumrah. "Maksudmu?" bertanya seorang kawannya. "Berapa orang lawan yang terbunuh di rumah ini?” desis Kiai Gumrah. "Ampat orang di belakang, termasuk Darpati dan dua dihalaman depan" sahut juragan gula itu. "Enam orang" desis Kiai Gumrah. Lalu katanya "Jika demikian maka kuburan itu harus berjumlah delapan." "Kenapa?" bertanya salah seorang kawannya yang lain "apakah kita akan mengubur kedua orang lain hiduphidup?" Kiai Gumrah tersenyum. Beberapa orang-kawannya termangu-mangu. Namun seorang demi seorang kemudian mulai memahami. Ki Prawarapun kemudian menganggukangguk pula. Demikianlah, seperti yang direncanakan, maka ketika matahari mulai memanjat langit, maka orang-orang padukuhan itu dipimpin langsung oleh Ki Bekel telah mengusung beberapa sosok tubuh yang terbaring di banjar lama. Mereka dibawa kekuburan tua untuk dikuburkan. Enam gundukan tanah berjajar ditempat yang agak terpisah. Kiai Gumrah, juragan gula dan seorang kawannya ada diantara mereka yang membawa tubuh-tubuh yang sudah membeku itu. Maka seperti yang direncanakan, setelah orang-orang padukuhan itu meninggalkan kuburan, Kiai Gumrah dan kedua kawannya telah membuat dua gundukan tanah disebelah gundukan yang berjajar itu. Dengan demikian, maka dua gundukan tanah itu memang menyerupai benar kuburan-kuburan baru yang lain. Baru setelah Kiai Gumrah dan kedua kawannya kembali, maka. orang-orang yang berkumpul dirumah Kiai Gumrah itu minta diri untuk kembali kerumah mereka masingmasing. "Kita sekarang tidak usah merasa segan untuk membunyikan isyarat dengan kentongan" berkata juragan gula ilu. “Ya” jawab Kiai Gumrah "kita dapat membuat persetujuan, bunyi isyarat yang harus kita bunyikan dalam keadaan tertentu, tetapi tidak mengacaukan tanda-tanda atau-isyarat yang sudah terbiasa dipergunakan didalam tatahan kehidupan di padukuhan ini." Demikianlah, Kiai Gumrah dan kawan-kawannya yang dalam kehidupan mereka sehari-hari pada umumnya menjadi penyadap legen kelapa serta membuatnya menjadi gula, tidak lagi berusaha membuat tirai yang dapat menyembunyikan kenyataan mereka. Justru keadaan telah menyudutkan mereka untuk menyatakan diri, siapakah sebenarnya mereka itu. Usaha mereka untuk dapat hidup tenang sebagaimana para petani di padukuhan itu, ternyata telah dikacaukan oleh perbuatan yang tidak bertanggung jawab. Dalam pada itu, Kiai Gumrah dan kawan-kawannya sepakat untuk membiarkan kedua orang yang terluka itu bera dirumah Kiai Gumrah. Mereka harus mendapat pengobatan yang baik, namun juga pengawasan yang saksama, karena mereka tidak boleh terlepas dari tangan mereka. Karena itu, maka dengan terpaksa sekali Kiai Gumrah harus mengikat tangan mereka selama mereka berbaring di pembaringan, meskipun ikatannya cukup longgar. "Maaf Ki Sanak" berkata Kiai Gumrah "kami tidak dapat berbuat lain." Kedua orang itu tidak menjawab. Namun mereka mengerti, bahwa yang dilakukan terhadap keduanya itu adalah wajar sebagaimana sikap mereka yang sedang bermusuhan. Bahkan keduanya tidak mengalami perlakuan yang buruk, itupun sudah merupakan satu kelebihan tersendiri. Sementara itu, maka keluarga Kiai Gumrah. yang menjadi semakin besar itupun telah membagi tugas mengawasi orang-orang yang menjadi tawanan, mereka dan yang tangannya terikat pada tiang dipembaringan mereka. Demikianlah maka, kegagalan rencana Darpati untuk mengambil pusaka-pusaka yang tersimpan dirumah Kiai Gumrah, atau mengambil Winih yang akan dapat dipertukarkan dengan pusaka-pusaka itu telah mendapat perhatian tersendiri dari para pengikut Kiai Windu Kusuma. Ketika beberapa orang datang memberitahukan kegagalan itu, serta kegagalan mereka memanfaatkan orang-orang sepadukuhan, maka Kiai Windu Kusuma menyadari, bahwa mereka harus mengambil jalan lain. Namun timbul kecemasan diantara para pengikut Kiai Windu Kusuma, bahwa ada diantara orang-orang yang tertangkap hidup-hidup sehingga mereka akan dapat memberikan beberapa keterangan kepada Kiai Gumrah. Karena sebenarnyalah mereka mengetahui, bahwa Kiai Gumrah bukan sekedar penyadap legen kelapa dan pembuat gula. Yang tersebar dipadukuhan itu, sebenarnyalah murid-murid dari satu perguruan yang besar. "Kita harus yakin, bahwa tidak ada orang yang tertangkap hidup-hidup" berkata Kiai Windu Kusuma. Maka Kiai Windu Kusuma itupun telah memerintahkan orang-orangnya untuk menyelidiki kemungkinan itu. "Kita dapat mencari sumber keterangan dari orang-orang padukuhan itu. Tentu ada diantara mereka yang membantu melakukan penguburan" berkata Kiai Windu Kusuma. Namun seorang yang lain berkata "Kenapa kita harus mengambil langkah yang berbahaya? Orang-orang padukuhan itu sekarang tentu menjadi sangat curiga terhadap orang yang tidak mereka kenal." "Tetapi kita harus tahu pasti nasib orang-orang kita yang tidak, kembali." jawab Kiai Windu Kusuma "semua ada delapan orang termasuk Darpati sendiri." "Bukankah ada jalan yang lebih mudah. Kita pergi ke kuburan itu. Kita hitung, ada berapa kuburan baru yang ada. Orang-orang kita yang. terbunuh itu tentu dikubur menjadi satu. Seandainya ada orang-orang padukuhan itu yang terbunuh, maka tubuh mereka tentu akan dikubur ditempat. yang terpisah, karena mereka tentu akan membedakan, kuburan pahlawan-pahlawan mereka dengan tubuh-tubuh dari orang-orang yang mereka anggap orangorang jahat. Apalagi setelah Ki Bekel dan orang-orang padukuhan itu berubah pikiran." Kiai Windu Kusuma itupun mengangguk-angguk. Katanya "Bagus. Perintahkan satu dua untuk melihat kekuburan itu." Demikianlah, maka dua orang diantara para pengikut Kiai Windu Kusuma itu telah melihat kuburan yang diketahuinya sebagai tempat untuk mengubur korban yang jatuh dalam pertempuran semalam. Dua ekor burung elang sempat melihat iring-iringan penguburan itu, sehingga dua orang pengikut Kiai Windu Kusuma itu segera mengetahui kuburan yang dicarinya karena kedua ekor elang itu terbang berputaran diatasnya. Ketika kuburan itu sudah menjadi sepi, maka dua orang pengikut Kiai Windu Kusuma itupun telah masuk kedalamnya untuk menghitung, berapa orang yang dikuburkan oleh orang-orang padukuhan. "Delapan" desis salah seorang daripadanya. Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Kita sudah terlalu banyak memberikan korban. Tetapi persoalannya masih belum selesai. Pusaka-pusaka yang dikehendaki oleh Panembahan itu belum dapat kita kuasai." "Tetapi bahwa kedelapan orang termasuk Darpati itu ternyata sudah mati semua adalah lebih baik daripada ada diantara mereka yang tertangkap hidup. Yang tertangkap hidup itu, akan dapat memberikan banyak, keterangan kepada Kiai Gumrah dan kawan-kawannya." Berkata orang yang pertama. Kawannya mengangguk-angguk. Katanya "Ya. Memang lebih baik jika semuanya mati. Kita tidak mencemaskan lagi, apa saja yang akan diceriterakan kepada orang-orang yang menangkapnya. Betapapun ketahanan jiwani seseorang, namun jika dipaksa dengan kekerasan, maka biasanya mulutnya akan terbuka pula." "Nampaknya Kiai Gumrah dan kawan-kawannya juga sudah mulai kehilangan kesabaran. Delapan orang kawan kita dibunuhnya." "Kita tentu dapat mengerti, kenapa mereka berbuat demikian. Apalagi menghadapi orang-orang dalam kelompok-kelompok baru dilingkungan kita. Mereka lebih keras dari orang-orang lama seperti kita ini." "Tetapi Darpati sudah mati. Ia terlalu yakin akan kemampuannya. Aku dengar Kundala pernah memperingatkannya." "Kundala sekarang sudah tidak banyak berarti lagi bagi para pemimpin kita." Keduanyapun kemudian telab meninggalkan kuburan itu. Mereka yakin, bahwa semua orang yang tidak sempat meloloskan diri dari halaman rumah Kiai Gumrah telah terbunuh. Namun dengan demikian, maka para pengikut Kiai Windu Kusuma tidak mempersoalkannya lagi. Demikian keduanya meninggalkan kuburan, maka seseorang telah muncul dari balik gerumbul. Orang itu adalah salah seorang kawan Kiai Gumrah yang ingin meyakinkan, apakah perhitungan Kiai Gumrah itu benar. Ternyata bahwa Kiai Windu Kusuma benar-benar telah memerintahkan orangnya untuk menghitung jumlah kuburan baru ditempat yang agak terpisah dari yang.lain. Dengan demikian, maka orang itupun yakin pula, bahwa Kiai Windu Kusuma menganggap bahwa semua orangnya yang hilang itu telah terbunuh.

Buku 6
ANGGAPAN itulah yang ternyata kemudian merupakan salah satu kelemahan bagi Kiai Windu Kusuma, karena ia menganggap bahwa tidak ada orang yang dapat memberikan keterangan lebih banyak tentang isi dan kekuatan kelompok Kiai Windu Kusuma dan orang yang disebutnya Panembahan itu. Mereka menganggap bahwa Kiai Gumrah tidak akan berani berbuat lebih jauh dari sekedar mempertahankan diri dirumah-nya karena ia tidak mempunyai gambaran sama sekali tentang lawannya yang ingin mendapatkan pusaka-pusaka yang disimpannya itu. Kiai Windu Kusuma memang tidak mengingkari kemungkinan bahwa Kiai Gumrah akan dapat mengetahui letak persembunyiannya dengan mengikuti arah terbang burung-burung elang yang dipergunakannya untuk mengetahui beberapa hal tentang keadaan Kiai Gumrah, lingkungannya dan bahkan beberapa kegiatannya. Tetapi persembunyian itu ternyata bukan merupakan satu hal yang sangat penting bagi mereka. Sebenarnyalah pengamatan salah seorang kawan Kiai Gumrah atas sarang lawannya masih jauh dari yang diharapkan. Untunglah bahwa Kiai Gumrah dan kawankawannya berhasil menangkap dua orang pengikut Darpati yang telah berusaha untuk mengambil pusaka-pusaka yang tersimpan dirumah Kiai Gumrah itu dengan caranya, setelah mereka berhasil mengelabui dan menggerakkan orang-orang padukuhan bahkan termasuk Ki Bekel pula. Ternyata perlakuan yang baik, serta perawatan yang bersungguh-sungguh telah membuat hati kedua orang tawanan itu berguncang. Jika mereka semula berniat untuk tidak mengatakan sesuatu tentang kelompoknya, maka kemudian sedikit demi sedikit tekad yang semula mengeras seperti batu hitam itu mulai mencair. Kiai Gumrah sejak semula memang meyakini, bahwa sikap dan perlakuan yang baik, akan dapat mengkikis kekerasan hati kedua orang tawanannya. Karena itu maka perlahan-lahan Kiai Gumrah dapat menggiring mereka kedalam satu pembicaraan yang bersungguh-sungguh. Ketika keadaan kedua orang itu menjadi sedikit baik, maka mereka mulai dapat duduk diamben yang besar diruang dalam rumah Kiai Gumrah. Tali yang mengikat dengan pembaringan mereka telah dilepas disaat-saat tertentu, sebagaimana saat mereka duduk diruang dalam bersama dengan Kiai Gumrah dan Ki Prawara. Meskipun tangan dan kakinya tidak terikat, tetapi kedua orang itu menyadari, bahwa ia berada disatu lingkungan yang dikelilingi oleh orang-orang berilmu tinggi. Ternyata dua orang perempuan yang ada dirumah itu adalah perempuan yang berilmu tinggi pula. Seorang diantaranya berhasil membunuh Darpati, sedangkan yang seorang lagi telah mengalahkan salah seorang dari kedua orang tawanan itu. Setelah menghirup beberapa teguk minuman hangat, maka mereka mulai berbincang tentang beberapa hal yang menyangkut tentang kelompok yang dipimpin oleh Kiai Windu Kusuma. Kedua orang itu memang tidak segera menjawab pertanyaan-pertanyaan Kiai Gumrah. Namun sedikit demi sedikit Kiai Gumrah meyakinkan kepada keduanya, bahwa keduanya bagi Kiai Windu Kusuma sudah dianggap sebagai orang-orang yang hilang. "Ki Sanak" berkata Kiai Gumrah "dikuburan itu terdapat delapan onggok tanah galian baru. Seorang diantara kawanku menyaksikan dua orang pengikut Kiai Windu Kusuma yang datang dan menghitungnya" "Bagaimana kawan Kiai dapat mengerti, bahwa kedua orang itu adalah pengikut Kiai Windu Kusuma?" bertanya salah seorang dari kedua orang tawanan itu. "Kawanku bersembunyi dibalik sebuah gerumbul yang tidak terlalu jauh. Ia mendengar percakapan kedua orang itu, sehingga kawanku yakin bahwa Kiai Windu Kusuma telah menganggap kalian orang-orang yang telah dikubur bersama enam orang kawan kalian" Orang itu masih merasa ragu. Namun kemudian Kiai Gumrah berkata "Ki Sanak. Justru kalian sudah dianggap hilang, aku merasa kasihan kepada kalian. Kalian tidak akan dapat berlindung kepada siapapun. Seandainya mereka tahu bahwa kalian masih ada, mungkin mereka akan berusaha untuk membebaskan kalian. Tetapi mungkin juga sebaliknya. Mereka akan berusaha membunuh kalian agar kalian tidak dapat berbicara lagi. Tetapi dengan dua onggok tanah kuburan itu, kalian tidak akan lagi merasa dibayangi oleh ancaman pembunuhan itu" Kedua orang itu termangu-mangu sejenak, sementara Kiai Gumrahpun berkata "Pertimbangkan keadaanmu baikbaik Ki Sanak. Karena kalian tentu tidak akan merasa senang untuk benar-benar berada dikuburan itu, siapapun yang mengantarkan kalian kesana" Keduanya mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata "Aku mengerti Kiai. Akupun merasa perlakuan Kiai dan keluarga Kiai terlalu baik buat kami. Karena itu, maka rasa-rasanya kami memang harus menilai sikap kami" "Kalian masih mempunyai waktu Ki Sanak" berkata Kiai Gumrah "meskipun sangat sempit. Sekarang, beristirahatlah agar keadaan kalian menjadi semakin baik" "Tidak Kiai. Kami sudah cukup beristirahat" berkata orang itu. "Jika demikian, apakah kita dapat berbicara lebih lanjut?" berkata Kiai Gumrah. Kedua orang itu menarik nafas dalam-dalam. Sejenak mereka saling berpandangan. Namun kemudian seorang diantara mereka berkata “Kami sudah mengetahui apa yang Kiai inginkan" "Sokurlah" jawab Kiai Gumrah. Tetapi kemudian ia justru bertanya "Apa menurut pendapatmu yang ingin aku ketahui itu?" "Tentu kekuatan dan sarang para pengikut Kiai Windu Kusuma" jawab seorang diantara keduanya. "Kami sudah mengetahui sarang mereka. Tetapi yang memang belum kami ketahui sepenuhnya adalah kekuatan mereka" Wajah kedua orang itu berkerut. Namun seorang diantara mereka berkata "Darimana Kiai mengetahuinya?" "Kawan-kawan kami berhasil mengikuti arah terbang burung-burung elang yang sering dilepaskan oleh para pengikut Kiai Windu Kusuma" jawab Kiai Gumrah. Kedua orang itu mengangguk-angguk. Namun kemudian seorang diantara mereka berkata "Kiai. Aku sekarang sudah disini. Aku kira aku memang tidak akan dapat kembali kelingkunganku yang lama. Jika aku kembali, maka nasibkupun akan menjadi buruk sekali. Karena itu, maka aku justru akan menitipkan hidup matiku kepada Kiai" "Ki Sanak. Sebenarnyalah bahwa kami bukan sekelompok pembunuh yang haus melihat darah tertumpah. Jika kami melakukan kekerasan itu semata-mata, karena kami sekedar mempertahankan diri dan mempertahankan hak kami. Karena itu, maka jika kalian memang ingin mendapat perlindungan kami, maka kami tentu tidak akan berkeberatan. Tetapi apakah hal ini ada hubungannya dengan pengenalan kami atas sarang Kiai Windu Kusuma dan para pengikutnya atau bahkan sarang orang yang disebut Panembahan itu?" Kedua orang itu mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata “Ya Kiai. Kami ingin memperingatkan bahwa pengenalan Kiai atas sarang Kiai Windu Kusuma dan orang yang disebut Panembahan itu tidak lengkap" Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia bertanya “Apakah yang kau maksud tidak lengkap? Bukankah sudah aku katakan, bahwa kami memang belum mengetahui dengan pasti kekuatan mereka?" "Bukan hanya kekuatan mereka, Kiai" jawab orang itu "tetapi juga sarang mereka yang sebenarnya. Karena sarang burung-burung elang itu bukan sarang Kiai Windu Kusuma yang sebenarnya. Rumah itu memang dipergunakan oleh Kiai Windu Kusuma. Tetapi hanya beberapa orang saja yang tinggal disana. Terutama orang yang mampu mengendalikan burung-burung elang itu. Sedangkan yang lain berada ditempat yang terpisah.” Wajah Kiai Gumrah nampak berkerut. Keterangan itu sangat menarik perhatiannya. Tetapi Kiai Gumrah tidak segera mempercayainya begitu saja. Bahkan Ki Prawara dengan serta-merta bertanya "Apakah kau berkata sebenarnya?" Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia dapat mengerti bahwa Kiai Gumrah dan Ki Prawara itu tentu tidak begitu saja mempercayainya. Karena itu, maka katanya "Kiai. Bukankah Kiai mempunyai kawan-kawan yang memiliki ilmu yang tinggi? Jumlah kawan-kawan Kiai memang tidak begitu banyak. Tetapi kawan-kawan Kiai benar-benar memiliki kelebihan dari orang-orang kebanyakan. Hadirnya dua ekor harimau itu juga merupakan rahasia tersendiri bagi Kiai Windu Kusuma. Semuanya itu merupakan satu landasan yang sangat berarti bagi Kiai. Sementara itu salah seorang diantara kawan-kawan Kiai tentu akan dapat menyelidiki tempat sebenarnya dari Kiai Windu Kusuma dan kawankawannya. Bahkan sekarang, orang yang disebut Panembahan itu telah ada disana pula" Kiai Gumrah menganggukangguk. Dengan kening yang berkerut iapun kemudian bertanya "Siapakah nama Panembahan itu?" "Kami hanya menyebutnya dengan Panembahan begitu saja" "Baiklah. Kita tidak mempersoalkan namanya. Tetapi kami yakin bahwa Panembahan itu adalah Panembahan yang pernah kami kenal namanya, karena Panembahan yang kami kenal namanya itu juga mempunyai tingkah laku sebagaimana Panembahan yang ada diantara kalian. Jika Panembahan yang kami kenal namanya itu menurut pendengaran kami telah mengorbankan gadis-gadis untuk membuat pusakanya yang berupa sebilah keris menjadi pusaka yang terbaik didunia, maka sekarang Panembahan yang ada diantaramu itu akan memelihara dan meningkatkan tuah dari pusaka-pusaka yang akan diambilnya dari rumahku ini dengan menikam jantung manusia yang masih segar. Bukankah pada keduaduanya berarti membasahi pusaka-pusaka itu dengan darah. Satu lambang betapa hausnya Panembahan itu terhadap darah yang tertumpah. Bahkan mungkin Panembahan itupun mengerti bahwa darah itu tidak akan berarti apa-apa, apalagi memberikan tuah. Tetapi kepuasan Panembahan itu mula-mula justru saat ia melihat darah yang memancar. Namun lambat laun, kebiasaan untuk mencari kepuasan itu telah diberinya alasan yang lebih mapan agar ia dapat melakukannya dengan lebih mantap" Tetapi kedua orang itu hampir bersamaan menggeleng. Seorang diantaranya berkata "Tidak Kiai. Meskipun mungkin ada juga sedikit kebenarannya. Tetapi sebenarnya Panembahan itu adalah salah seorang yang memuja kuasa kegelapan" Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Sementara Ki Prawara bertanya “Apa tandanya bahwa Panembahan itu menuju kuasa kegelapan?" Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya "Tingkah lakunya yang aneh. Benda-benda yang melekat pada dirinya, serta korban yang selalu diberikannya kepada kuasa yang dipujanya itu. Kami memang menjadi curiga bahwa yang dikorbankan itu merupakan bagian yang diambilnya dari tubuh manusia, terutama darah" "Kapan Panembahan itu menyerahkan korbannya?" bertanya Kiai Gumrah. "Kiai" berkata orang itu "kami adalah orang-orang yang sebenarnya adalah pengikut Kiai Windu Kusuma, sehingga kami tidak terlalu banyak mengetahui apa yang dilakukan oleh Panembahan. Tetapi menurut pendengaranku, Panembahan setiap bulan purnama telah menyerahkan korban" Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Dengan demikian maka ia menjadi semakin yakin bahwa Panembahan itu adalah orang yang sangat berbahaya. Ia dapat berbuat apa saja diluar dugaan setiap saat, sehingga yang tidak terbayangkanpun akan dapat dilakukan pula. Namun Kiai Gumrahpun kemudian bertanya "Tetapi kenapa Kiai Windu Kusuma telah terlibat dalam kegiatan panembahan itu?" Kedua orang itu menggeleng. Seorang diantara mereka berkata "Kami tidak tahu, hubungan apakah yang telah mendorong Kiai Windu Kusuma untuk melibatkan diri dalam perebutan pusaka-pusaka itu. Tetapi nampaknya pengaruh Panembahan itu terhadap Kiai Windu Kusuma cukup kuat, sehingga mau tidak mau Kiai Windu Kusuma harus terlibat kedalamnya" Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Namun ia percaya akan keterangan itu. Karena itu, maka Kiai Gumrah dan Ki Prawara mengangguk-angguk mengiakan. "Kami harus segera membicarakannya" berkata Kiai Gumrah "kami minta kalian bersedia berbicara bersama kami terutama untuk menilai kekuatan Panembahan dan Kiai Windu Kusuma" Kedua orang itu mengangguk kecil. Namun kemudian seorang diantara mereka berkata "Masih ada satu pihak lagi yang terlibat dalam hubungan ini. Jika aku tidak mengatakannya, maka aku cemas bahwa penilaian Kiai atas kekuatan Panembahan tidak lengkap. Karena itu, sebaiknya Kiai juga mengetahuinya" "Siapa lagi yang terlibat dalam hubungannya dengan niat Panembahan?" bertanya Kiai Gumrah. "Tetapi nampaknya orang itu tergerak sekedar karena nilai kebendaan yang diinginkannya" jawab orang itu. "Siapa orang itu?" bertanya Kiai Gumrah selanjutnya. Orang itu termangu-mangu. Namun kemudian orang itu berkata "Aku hanya mendengar namanya disebut Kiai Kajar.” Wajah Kiai Gumrah dan Ki Prawara menjadi tegang. Diluar sadarnya Ki Prawara berdesis "Iblis itu benar-benar berkhianat" "Kiai kenal orang itu?" bertanya salah seorang dari kedua tawanan itu. "Ya. Orang itu adalah saudara seperguruanku" berkata Kiai Gumrah "karena itulah agaknya Kiai Windu Kusuma dan bahkan Panembahan itu mengetahui bahwa disini tersimpan pusaka-pusaka yang diinginkannya" "Aku kira tidak Kiai" sahut orang itu "Kiai Windu Kusuma memang mengetahui adanya pusaka-pusaka itu dari Kiai Kajar. Tetapi Panembahan itu tidak. Seakan-akan ia tahu segala-galanya, terutama tentang pusaka-pusaka yang menurut pendapatnya sangat bertuah" "Kau tentu tidak mengetahui segala-galanya. Meski ada yang terlampaui" berkata Kiai Gumrah. Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia-pun mengangguk-angguk sambil berkata "Ya. Aku memang bukan termasuk salah seorang pemimpin yang ikut menentukan. Tetapi aku mendapat sedikit kepercayaan. Bukan dari Panembahan, tetapi dari Kiai Windu Kusuma" Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Hampir saja ia bertanya tentang Kundala. Tetapi niatnya diurungkannya. Agaknya masih belum saatnya, Kiai Gumrah menyebut kehadiran Kundala di rumah itu. Masih banyak kemungkinan dapat terjadi atas kedua orang itu, juga atas Kundala, sehingga kemungkinan buruk dapat saja terjadi atas mereka. Namun pembicaraan itu telah memberikan banyak bahan bagi Kiai Gumrah. Ia sadar, bahwa satu pertemuan yang lebih besar harus diselenggarakan. Kiai Gumrah sudah dapat membayangkan, bahwa yang dihadapi adalah satu kekuatan yang cukup besar. Ternyata meskipun Kiai Gumrah telah memasuki usia tuanya, namun ia masih melangkah dengan tegar. Dalam waktu singkat ia sudah menghubungi kawan-kawannya. Beranting mereka menyampaikan undangan Kiai Gumrah bagi kawan-kawannya yang tidak kurang dari saudarasaudara seperguruannya. "Besok sore kita bertemu. Aku akan meminjam banjar tua itu untuk mengadakan pertemuan. Aku akan minta agar Ki Bekel tidak mengatakan kepada siapapun, bahwa kita akan mengadakan pertemuan di banjar. Anak-anak muda padukuhan ini juga tidak perlu mengetahui, sehingga karena itu, maka biarlah Ki Bekel membuat satu kegiatan apapun bagi anak-anak muda agar mereka tidak berkeliaran ke banjar tua" berkata Kiai Gumrah kepada salah seorang pedagang gula yang termasuk saudara seperguruannya. Kiai Gumrahpun telah menemui juragan gula itu pula, agar ia menyampaikan kepada saudara-saudara seperguruannya yang esok pagi menyerahkan gula kelapa kepadanya. "Apakah kawan-kawan yang lain sudah tahu?" bertanya juragan gula itu. "Beranting" jawab Kiai Gumrah "dipasar besok mudahmudahan banyak yang dapat ditemui. Jika tidak, maka biarlah saudara-saudara kita saling mengunjungi dirumah mereka masing-masing" Malam itu juga Kiai Gumrah telah menemui Ki Bekel. Ia minta ijin untuk menggunakan banjar tua yang untuk waktu yang terhitung panjang telah ditungguinya, dibersihkan dan dijaga dengan baik. "Tentu" berkata Ki Bekel "Kiai Gumrah dapat saja mempergunakan banjar itu untuk keperluan apapun.” "Tetapi aku mohon anak-anak muda tidak mengganggu pertemuan kami. Biasanya ada beberapa anak muda yang singgah di banjar itu dimalam hari. Sebenarnya aku merasa senang akan kehadiran anak-anak muda itu. Tetapi kali ini aku mohon Ki Bekel mengatur satu pertemuan di banjar baru, agar anak-anak muda tidak pergi ke banjar lama" Ki Bekel termangu-mangu. Katanya "Aku tidak berkeberatan. Tetapi apa alasanku untuk mengikat mereka di banjar baru" Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Tanpa alasan apapun, Ki Bekel memang tidak dapat menahan anak-anak muda di banjar baru. Namun tiba-tiba Kiai Gumrah berkata "Ki Bekel. Selama ini Rambatan dan beberapa orang kawannya seakan-akan telah terpisah dari anak-anak muda yang lain. Tetapi pada saat terakhir, agaknya Rambatan telah berubah sikap. Apakah Ki Bekel dapat mempergunakannya sebagai alasan?" "Maksud Kiai Gumrah?" bertanya Ki Bekel. "Undang anak-anak muda termasuk Rambatan dan kawan-kawannya itu. Ki Bekel dapat mengatakan kepada mereka, bahwa pertemuan itu adalah pertemuan untuk menghilangkan jarak antara Rambatan dan kelompoknya dengan anak-anak muda yang lain. Katakan bahwa anakanak muda padukuhan itu telah menyatu kembali. Rambatan telah meninggalkan cara hidupnya yang lama" Ki Bekel termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya "Bagus. Aku akan mengajak anak-anak itu makan untuk merayakan perubahan sikap sebagian dari anak-anak muda padukuhan ini. Dan lebih dari itu, juga sikapku sendiri. Bukankah perubahan sikapku juga pantas disambut baik dengan sebuah kegembiraan" "Tentu" Kiai Gumrah tertawa "aku ikut bergembira. Sayang aku tidak dapat hadir dalam pertemuan untuk mensukuri beberapa perubahan yang terjadi di padukuhan ini" Kiai Gumrah berhenti sejenak, lalu "Tetapi aku mohon Ki Bekel tidak mengatakan sesuatu tentang pertemuan itu tidak baik untuk diketahui oleh anak-anak muda itu. Kita masih harus tetap curiga, bahwa setelah berbagai perubahan sikap terjadi di padukuhan ini, ternyata masih ada satu dua orang yang meragukan sikapnya" "Aku mengerti, Kiai. Aku akan berbuat sebaik-baiknya" jawab Ki Bekel. Demikianlah, maka ketika pasar mulai ramai, beberapa orang pedagang gulapun saling bertemu. Mereka telah menyebarkan panggilan dari Kiai Gumrah untuk bertemu di banjar tua yang untuk waktu yang terhitung lama ditunggui olehnya. "Apakah tempat itu sudah diamankan?" bertanya salah seorang dari mereka. "Itu tanggung jawab Kiai Gumrah” jawab saudagar gula yang menerima gula dari para pembuat gula yang jumlahnya sampai satu dua pedati. Sebagian besar dari gula-gula itu telah dikirimkan kepada pedagang gula di pasar-pasar yang lain, bahkan dipadukuhan-padukuhan yang agak jauh. Jaringan perdagangan gula itulah yang menjadi jalur hubungan antara Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya, meskipun tidak semua pedagang gula termasuk dalam lingkungan seperguruan Kiai Gumrah. Dengan demikian maka panggilan Kiai Gumrah itu telah merambat dari satu orang kepada orang yang lain, sehingga tersebar kepada saudara-saudara seperguruannya, bahwa setelah malam turun, maka mereka akan bertemu untuk berbicara di banjar tua didekat rumah Kiai Gumrah. Ketika kemudian senja mulai membayangi padukuhan itu, Kiai Gumrahpun mulai bersiap-siap. Ia berpesan kepada Nyi Prawara dan Winih, agar mereka berhati-hati dirumah. Demikian pula Manggada dan Laksana. "Kalian tidak usah keluar dari rumah" pesan Kiai Gumrah. Nyi Prawara mengangguk. Katanya "Kami akan menempatkan kentongan kecil didalam rumah ini ayah. Mungkin kami memerlukannya mengingat kekuatan lawan yang ternyata cukup besar. Mereka dapat datang setiap saat. Bahkan disaat yang tidak diduga-duga" "Aku setuju. Biarlah Manggada memasukkan kentongan kecil diserambi belakang itu" berkata Kiai Gumrah. Lalu katanya "Aku dan Prawara akan berada di banjar tua itu" Nyi Prawara mengangguk. Dengan nada dalam ia berkata kepada Manggada "Ambillah kentongan di serambi belakang itu. Kita harus berhati-hati menghadapi mereka" Demikianlah, ketika Kiai Gumrah dan Ki Prawara pergi ke banjar, maka yang tinggal dirumah adalah Nyi Prawara, Winih, Manggada dan Laksana. Mereka duduk diruang dalam, didepan sentong tempat Kiai Gumrah menyimpan pusaka-pusakanya. Namun untuk dapat mengamati langsung pusaka-pusaka itu, maka tirai dipintu bilik itupun telah disingkapkannya. Sehingga dengan demikian maka mereka dapat melihat langsung pusaka-pusaka yang sedang mereka lindungi itu. Sementara itu, di banjar itu telah berkumpul lebih dari sepuluh orang. Semuanya sudah nampak separo baya. Bahkan Ki Prawarapun nampaknya terhitung muda diantara para pedagang dan pembuat gula itu. Dengan singkat Kiai Gumrah menguraikan tentang niat Kiai Windu Kusuma dan seorang yang disebut Panembahan untuk memiliki pusaka itu. "Aku mengajak dua orang pengikut Kiai Windu Kusuma yang dapat kami tangkap" berkata Kiai Gumrah. Semua orang yang hadir di banjar itu telah memandang kedua orang tawanan yang menundukkan kepalanya. Namun Kiai Gumrahpun kemudian berkata "Tetapi keduanya dapat aku anggap sebagai orang yang baik" "Kenapa?" bertanya seorang pembuat gula yang bertubuh tinggi besar, sehingga kawan-kawannya menyebutnya Buta Ijo. "Mereka telah memberikan banyak petunjuk" jawab Kiai Gumrah. "Mereka berbicara karena terpaksa" desis seorang yang lain, yang rambut dan kumisnya sudah mulai memutih. "Tidak. Aku tidak memaksa. Mereka berbicara atas kehendak mereka sendiri. Seandainya disebut terpaksa, bukan karena tekanan kekerasan" jawab Kiai Gumrah yang kemudian dengan singkat menguraikan tentang delapan onggok kuburan. "Bagaimanapun juga unsur keterpaksaan itu ada” berkata raksasa itu pula. "Jika kita membuat tataran, maka tataran kejahatan mereka masih belum terlalu tinggi, meskipun mereka termasuk orang-orang yang datang untuk membunuh cucucucuku dan bahkan menantuku" berkata Kiai Gumrah. "Baiklah jika kau menganggap bahwa kesalahannya tidak sampai ke ubun-ubun. Nah, sekarang apa lagi?” bertanya yang lain, yang kurang sabar terhadap perkembangan pembicaraan itu. Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia mulai berbicara tentang pendapatnya bahwa sebaiknya mereka tidak sekedar menunggu Panembahan itu datang kepadanya. "Satu pilihan yang paling baik" berkata juragan gula yang nampaknya agak terkantuk-kantuk. "Apakah kita sudah mempunyai gambaran apa yang akan kita lakukan?" bertanya orang yang bertubuh raksasa yang jarang berhubungan dengan saudara-saudara seperguruannya. Juragan gula itu tersenyum. Dengan nada rendah ia berkata "Kau selama ini selalu mengurung diri. He, kepada siapa gulamu kau jual? Kenapa tidak kepadaku?" "Kau kira aku tidak perlu makan buat aku dan keluargaku" jawab Buta Ijo itu "kalau aku menjual gula itu kepadamu, berapa aku mendapat uang? Hasil penjualan gula itu masih harus dikurangi upah mengangkut gula dari tempatku yang cukup jauh dari rumahmu" Juragan gula itu tertawa. Katanya "Meskipun demikian, sekali-sekali kau hubungi aku. Dengan demikian kau tidak akan ketinggalan mengikuti perkembangan keadaan. Khususnya yang menyangkut keluarga seperguruan kita" "Yang penting sekarang, beri aku keterangan tentang persoalan yang kita hadapi" berkata raksasa itu "disini bukan tempat untuk mencari dagangan" Yang lain tertawa. Kiai Gumrahpun tertawa pula. Namun kemudian ia berkata "Baiklah. Agaknya aku dapat sedikit memberikan keterangan" Namun tiba-tiba kawan Kiai Gumrah yang pernah menemukan sarang burung elang itu berkata "Aku sudah menemukan sarang mereka yang ingin merampas pusakapusaka itu" "Ya" jawab Kiai Gumrah "tetapi masih perlu mendapat penjelasan tentang sarang itu" Kawan Kiai Gumrah itu mengerutkan dahinya. Dengan nada berat ia bertanya "Penjelasan apa lagi? Aku sudah menemukannya. Hanya orang berilmu tinggi mampu melakukannya.” Beberapa orang tertawa serentak. Seorang yang berjanggut beberapa lembar saja berkata “He, sejak kapan kau menyadap ilmu itu? Tiba-tiba saja kau mengaku berilmu tinggi" "Sejak aku menemukan sarang itu, baru aku yakin bahwa aku berilmu tinggi" jawab orang itu. Kawan-kawannya tertawa. Juragan gula yang sempat berbincang dengan Kiai Gumrah sebelum pertemuan itu dimulai berkata “Kau dengar, bahwa penemuanmu masih memerlukan penjelasan" "Penjelasan apa?" bertanya orang itu. Kiai Gumrahlah yang kemudian mengatakan pengakuan kedua orang yang pengikut Kiai Windu Kusuma yang dapat ditangkapnya itu. Orang-orang yang ada di banjar tua itu menganggukangguk. Kemudian katanya "Aku orang berilmu tinggi. Biarlah aku menyelidiki sarang mereka sebagaimana dikatakan oleh kedua orang itu. Tetapi jika mereka berbohong, maka mereka akan aku gantung di depan sarang burung-burung elang itu" Kiai Gumrahpun berpaling kepada kedua orang itu. Dengan dahi yang berkerut ia bertanya “Nah kau dengar? Bukankah kau tidak berbohong? Kau juga mendengar bahwa orang itu berilmu tinggi sehingga ia benar-benar akan dapat menggantung kalian tinggi-tinggi pada batang pohon randu alas" Namun seorang yang lain menambahkannya "Tetapi kedua orang itu harus diikat dahulu kaki dan tangannya. Jika tidak, maka ia tidak akan berani melakukannya meskipun ia berilmu tinggi" Orang-orang yang hadir itu tertawa serentak. Orang yang menyebut dirinya berilmu tinggi itu juga tertawa. Kedua orang tawanan itu saling berpandangan. Mereka tidak melihat suasana seperti itu di sarang Kiai Windu Kusuma. Yang mereka lihat hampir setiap hari adalah wajah-wajah yang berkerut, sikap yang keras dan kasar. Susunan hubungan yang satu dengan yang lain seakan-akan dibayangi oleh tataran kepemimpinan yang ketat, sehingga para pemimpin dapat berlaku sekehendak hatinya terhadap para pengikutnya. Bahkan diantara para pemimpin masih saja selalu timbul persoalan-persoalan yang harus dibicarakan dengan tegang. Apalagi ketika Panembahan bersama beberapa orang pengikutnya telah datang. Tetapi di banjar tua itu ia melihat orang-orang berilmu tinggi itu dapat berbicara sambil bergurau dan tertawa. Mereka dapat meningkatkan pembicaraan mereka setingkat demi setingkat tanpa ketegangan sama sekali. Dengan demikian maka kedua orang itu merasa berada didunia yang sama sekali berbeda isi dan suasananya. Demikianlah, maka Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya itu mulai berbicara tentang sarang Kiai Windu Kusuma yang sebenarnya. Mereka memang menunjuk dua orang diantara mereka untuk menyelidiki sarang itu. Dari kedua orang tawanan itu, Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya mengetahui bahwa disamping orang-orang berilmu tinggi terdapat para pengikutnya yang jumlahnya cukup banyak. Tiba-tiba saja Ki Prawara itupun bertanya kepada para tawanan itu "Kau dilingkungan para pengikut Kiai Windu Kusuma termasuk tataran yang mana? Apakah kau termasuk pengikut yang tidak diperhitungkan atau pada tataran menengah atau kau terhitung berilmu tinggi?" Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Kawankawan setataranku telah berkurang banyak. Ternyata Darpati yang ingin memenuhi keinginannya sendiri telah banyak mengorbankan kawan-kawan kami. Terakhir rencananya memang dapat diterima penalaran Kiai Windu Kusuma meskipun sebelumnya Darpati telah dimarahinya dan hampir kehilangan kepercayaan" "Apa rencana terakhirnya?" bertanya Ki Prawara. "Sebagaimana telah terjadi" jawab orang itu "Darpati ingin mengambil pusaka itu dengan caranya sendiri. Ia menghasut orang-orang padukuhan, termasuk Ki Bekel. Darpati memperhitungkan bahwa Kiai Gumrah akan sibuk melayani orang-orang padukuhan itu sementara ia akan mengambil pusaka-pusaka itu dengan beberapa orang terpilih. Sedangkan rencana kedua sebagai cadangan jika rencana pertama gagal, ia akan menculik Winih. Tetapi ternyata kedua-duanya gagal, bahkan Darpati sendiri terbunuh. Salah satu kesalahannya adalah, ia tidak tahu bahwa Winih ternyata berilmu tinggi dan bahkan dapat mengalahkannya" Ki Prawara mengangguk-angguk. Katanya "Nah, kalian dengar rencana itu? Jika demikian maka kedua orang ini tentu termasuk orang yang dipilih oleh Darpati. Karena itu, maka mereka adalah orang-orang yang berada pada tataran menengah" "Sayang, aku tidak melihat tingkat kemampuannya" berkata orang bertubuh raksasa yang disebut Buta Ijo. Lalu katanya “Bagaimana jika kedua orang itu kita adu sampai salah seorang diantara mereka mati? Kita tentu akan melihat catatan kemampuan mereka, orang-orang yang berada ditingkat menengah" Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam, sementara jantung kedua orang itu menjadi berdebar-debar. Namun mereka menjadi tenang ketika juragan gula itu berkata "Jangan cemas. Buta Ijo itu memang senang menakut-nakuti orang. Tetapi sebenarnya hatinya lembut seperti beludru.” "Persetan kau" geram Buta Ijo itu. Tetapi ia tidak berbicara lebih lanjut. Dalam pada itu, meskipun sambil bergurau, namun orang-orang itu telah menemukan satu sikap yang sama. Mereka tidak akan menunggu lagi. Bahkan merekalah yang akan datang untuk menyerang sarang Kiai Windu Kusuma. Menurut pendapat mereka, itu adalah cara yang paling baik untuk mempertahankan pusaka-pusaka milik perguruan mereka yang bagi Kiai Gumrah memang benar-benar titipan sebagaimana dikatakannya kepada Manggada dan Laksana. Tetapi bukan titipan dari orang lain, namun titipan dari perguruannya sendiri. Sebenarnyalah bahwa Manggada dan Laksana juga sudah meragukan kebenaran ceritera Kiai Gumrah tentang pusaka-pusaka itu. Namun demikian kedua orang anak muda itu memang merasa tidak berhak untuk mendapatkan keterangan yang lebih terperinci. Namun Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya itu masih harus mendapatkan keterangan yang lebih terperinci tentang sarang Kiai Windu Kusuma dan orang yang disebut Panembahan itu. "Kita serahkan saja kepada beberapa orang" berkata Buta Ijo "kita menunggu perintah, kapan kita akan melakukannya" "Masih banyak yang harus kita bicarakan" berkata Kiai Gumrah. "Aku tahu. Tetapi tidak perlu semuanya ikut berbicara. Kita tunjuk lima atau enam orang. Yang lain akan melaksanakan segala keputusannya tanpa membantah sama sekali" Sebelum Kiai Gumrah menjawab, maka beberapa orangpun berkata hampir berbareng "Aku sependapat" Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Ternyata bahwa semuanya tidak berkeberatan. Namun Kiai Gumrahpun berkata "Baiklah. Aku akan menunjuk lima orang, tentu saja dengan minta persetujuan kalian semuanya. Ingat, persetujuan, bukan kesanggupan, karena semua orang harus sanggup melakukan tugas betapapun beratnya" Buta Ijo itu dengan serta merta menyahut "Bagus, aku sependapat. Tetapi dengan syarat, bukan aku yang ditunjuk untuk bertugas apapun juga" "Kenapa?" bertanya juragan gula itu. "Aku sedang mempunyai pekerjaan yang sulit ditinggalkan" jawab Buto Ijo itu. "Pekerjaan apa?" bertanya orang yang selalu mengaku berilmu tinggi itu. Bahkan katanya kemudian "Kita berdua akan menyelidiki sarang Kiai Windu Kusuma" "Anakku yang bungsu sedang merajuk. Ia minta seekor kuda berbulu putih. Nah, aku sedang sibuk mencari uang untuk membeli kuda berbulu putih" "He, isteriku juga sedang merajuk" berkata orang yang mengaku berilmu tinggi itu. "Ah, kau juga akan membuat dongeng?" bertanya Buta Ijo. "Kau mengaku bahwa kau telah membuat dongeng?" bertanya Kiai Gumrah kepada Buto Ijo itu. Buta Ijo itu tertawa. Tetapi ia tidak menjawab. Namun akhirnya orangorang yang berkumpul di banjar tua itu berhasil menunjuk lima orang yang akan memegang pimpinan untuk melakukan perlawanan dan bahkan menyerang sarang Kiai Windu Kusuma dan orang yang disebut Panembahan. Diantara mereka adalah Kiai Gumrah, juragan gula, orang yang selalu menyebut dirinya berilmu tinggi, orang yang melihat dua orang pengikut Kiai Windu Kusuma menghitung onggokan tanah kuburan kawna-kawannya yang terbunuh di halaman rumah Kiai Gumrah dan seorang lagi yang sudah terbiasa duduk-duduk berbincang dirumah Kiai Gumrah. Namun Kiai Gumrah itu berkata "Selain berlima, aku selalu menunggu pendapat kalian. Kawan-kawan yang sering datang kerumahku justru aku minta selalu datang. Tidak terbatas hanya kelima orang ini saja" "Tentu" jawab Buta Ijo. "Kau juga akan selalu datang?" bertanya juragan gula itu. Buta Ijo itu tertawa berkepanjangan. Namun dalam pada itu, maka Kiai Gumrah itupun berkata "Masih ada satu hal yang penting kalian ketahui" "Apa lagi?" bertanya seorang yang bertubuh kurus. Nampaknya matanya sudah lebih banyak terpejam. Hampir mengigau ia berkata dalam kantuknya "Aku haus" "Sayang " berkata Kiai Gumrah "aku tidak menyediakan minuman malam ini. Aku hanya mempunyai beberapa bumbung legen" "Buat apa legen" berkata Buta Ijo "aku mempunyai legen setempayan besar penuh dirumah" "Aku benar-benar minta maaf, bahwa aku tidak menyediakan minuman buat kalian" berkata Kiai Gumrah "tetapi jangan takut. Biarlah dirumah Nyi Prawara merebus air.” "Justru saat pertemuan ini sudah selesai" desah orang yang terkantuk-kantuk" Kiai Gumrahpun segera berpaling kepada Ki Prawara sambil berdesis "Lihat, apakah isterimu merebus air? Aku masih ingin berbicara dengan mereka sebentar lagi" Ki Prawarapun kemudian telah bangkit berdiri sambil berkata "Aku akan pulang dahulu" Hampir berbareng beberapa orang berkata "Bagus. Ia akan melihat, apakah wedang jaenya sudah siap" Demikianlah Ki Prawara dengan tergesa-gesa pulang melihat apakah isterinya merebus air. Meskipun ia dan ayahnya tidak memesannya, namun biasanya Nyi Prawara mengerti dengan sendirinya bahwa diperlukan minuman dan makanan. Ketika Ki Prawara sampai ke rumah, maka sebenarnyalah Nyi Prawara memang sudah merebus air dan bahkan merebus ketela pohon. Namun Nyi Prawara itupun berkata "Kalian tidak memberitahukan kepada kami, berapa orang yang datang, sehingga seberapa banyak kami harus merebus air dan ketela pohon" "Yang kau sediakan sudah terlalu banyak. Baiklah, biar aku bawa hidangan ini kesana" "Ayah membawanya sendiri?" bertanya Winih. "Biarlah nanti satu dua orang membantu mengambilnya kemari" jawab Ki Prawara. "Apakah kami dapat membantu membawanya?" bertanya Manggada dan Laksana hampir berbareng. Tetapi Ki Prawara menggeleng. Katanya "Jangan. Kalian sebaiknya tetap tinggal dirumah. Jarak antara rumah ini ke banjar itu memang pendek saja. Meskipun demikian, biarlah aku dan orang-orang dibanjar itu sajalah yang membawa hidangan itu kesana" Manggada dan Laksana tidak membantah. Mereka sadar, bahwa orang-orang tua itu bersikap berhati-hati menghadapi suasana yang kurang menentu. Segala kemungkinan memang masih dapat terjadi. Apalagi terhadap mereka yang tataran ilmunya masih belum cukup tinggi. Namun ketika Ki Prawara itu membuka pintu sambil membawa nampan berisi beberapa mangkuk minuman, iapun terkejut. Ia melihat bayangan dalam kegelapan malam. Karena itu, maka ia telah melangkah surut kembali. Diletakkannya mangkuk berisi minuman hangat itu. Bahkan kemudian disingsingkannya kain panjangnya. Nyi Prawara dan Winih yang ada didalam tidak melihat bayangan yang bergerak dengan cepat dalam kegelapan itu. Namun ketika ia melihat kesiagaan Ki Prawara, maka Nyi Prawarapun bertanya "Kau melihat sesuatu kakang?" "Ya" jawab Ki Prawara "aku melihat bayangan di kegelapan. Hanya sekilas. Tetapi kesannya, tentu orang berilmu tinggi" "Jadi?" bertanya Nyi Prawara. "Aku hanya melihat seorang saja. Biarlah aku pergi ke banjar tanpa membawa apa-apa. Nanti biar saja mereka datang kemari jika mereka haus. Sediakan saja minuman dan makanan itu" berkata Ki Prawara. "Tempat terlalu sempit disini" berkata Nyi Prawara. "Pembicaraan kami sudah selesai di banjar. Karena itu, maka jika orang-orang yang ada di banjar itu tidak dapat masuk seluruhnya keruang dalam, biarlah sebagian berada diluar. Asal minuman itu masih hangat" "Tetapi minuman itu sudah mulai dingin" jawab Nyi Prawara. “Jika demikian biarlah sebagian masih tetap diatas perapian saja" jawab Ki Prawara. Nyi Prawara mengangguk kecil. Namun ia berkata "Jika kakang pergi ke banjar, berhati-hatilah. Kakang sudah melihat bayangan orang di halaman. Mungkin ia tidak sendiri" “Banjar itu tidak terlalu jauh. Jika aku berteriak memanggil dengan kata sandi, maka mereka tentu akan segera datang" jawab Ki Prawara. “Mereka yang di kegelapan itu dapat berbuat licik” desis Nyi Prawara kemudian. Namun kemudian katanya "Kami ada disini. Pintu tidak diselarak" "Kalian juga harus berhati-hati dirumah" pesan Ki Prawara. Ki Prawara memang menjadi sangat berhati-hati. Ia sadar, bahwa bayangan itu tentu orang yang berilmu tinggi. Ki Prawara tidak melihat, kemana orang itu menghilang. Namun Ki Prawara juga berilmu tinggi. Karena itu maka Ki Prawara sama sekali tidak menjadi gentar. Namun ia memang harus dengan saksama memperhatikan keadaan disekitarnya. Tetapi ketika Ki Prawara itu keluar dari regol halaman rumah ayahnya, maka ia melihat lagi bayangan itu. Namun justru menjauhinya dan hilang dalam kegelapan. Demikian cepatnya bayangan itu hilang, sehingga Ki Prawara tidak dapat melihat ujudnya dengan jelas. Ketikia Ki Prawara sampai di banjar tua itu lagi, maka beberapa orang bertanya hampir berbareng "He, kau tidak membawa apa-apa?" Yang lainpun telah menyahut "Kami sudah terlalu lama menunggu. Jika kami tahu bahwa kau datang tanpa membawa sesuatu, kami sudah pulang sejak tadi" Ki Prawara tidak menghiraukan kata-kata itu. Namun iapun kemudian berkata "Ada sesuatu yang penting kalian ketahui.” "Yang penting itu sudah dikatakan oleh Kiai Gumrah. Kau tidak usah mengulangi" berkata Buta Ijo itu. Ki Prawara berpaliang kepada ayahnya dan bertanya "Apa yang sudah ayah katakan?" "Aku telah mengatakan bahwa Kiai Kajar berada diantara mereka yang ingin memiliki pusaka-pusaka itu" jawab Kiai Gumrah dengan nada tinggi. "Iblis itu benar-benar berkhianat" berkata juragan gula itu “sebenarnya ia termasuk orang terbaik di perguruan kita" "Ia tidak usah ikut berusaha merampas pusaka-pusaka itu karena pusaka-pusaka itu termasuk miliknya juga" berkata Buta Ijo. Lalu katanya pula "Dengan demikian ia berusaha untuk merampas miliknya sendiri" Ki Prawara mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya "Bukan itu yang ingin aku katakan. Aku tahu bahwa hal itu tentu sudah dikatakan oleh ayah" "Jadi apa yang akan kau katakan?" bertanya juragan gula itu, bahkan Kiai Gumrahpun telah bertanya pula "Apa ada yang lain yang penting diketahui oleh saudara-saudara kita?” "Ya” jawab Ki Prawara “ternyata ada orang di halaman rumah kita" "Kau lihat itu?" bertanya Kiai Gumrah. "Ya. Aku melihat orang itu sekilas dalam kegelapan. Tetapi aku tidak dapat melihat ujudnya. Demikian cepatnya orang itu menghilang" jawab Ki Prawara. "Kesanmu orang berilmu tinggi?" bertanya Kiai Gumrah. "Ya” jawab Ki Prawara "karena itu aku mengurungkan untuk membawa mangkuk-mangkuk minuman kemari. Sementara itu dirumah selain minuman ada pula ketela rebus yang masih hangat" "Kalau begitu, aku akan mengambilnya" berkata Buta Ijo. "Kita tidak usah mengambilnya dan membawanya kemari. Kita nanti jika pembicaraan memang sudah selesai, bersama-sama pergi kerumah. Kita akan minum dan makan ketela rebus di rumah. Biar berhimpitan, tetapi tentu lebih mapan. Kita tidak perlu membawa mangkuk kesanakemari" berkata Ki Prawara. "Baiklah" jawab orang yang bertubuh kekurusan "kita kesana sekarang. Sebentar lagi aku tentu sudah tertidur disini" Ki Prawara termangu-mangu sejenak. Namun iapun bertanya "Apakah pembicaraan kita sudah benar-benar selesai" "Masih ada satu dua pesan yang penting" berkata Kiai Gumrah sambil beringsut setapak. Sebenarnyalah Kiai Gumrah masih memberikan beberapa pesan kepada saudara-saudara seperguruannya. Iapun masih perlu membicarakan langkah-langkah yang harus segera diambil bersama saudara-saudara seperguruannya meskipun mereka telah menunjuk lima orang yang akan mengatur segala-galanya. "Dua hari lagi kalian wajib datang kerumahku. Ada atau tidak ada kepentingan. Waktunya sudah terlalu sempit" berkata Kiai Gumrah "tetapi harus diatur sehingga kalian tidak datang bersama-sama. Ada yang datang pagi, siang atau sore atau malam. Mungkin rumahku selalu diawasi" Saudara-saudara seperguruannya mengangguk-angguk. Tidak seorangpun yang menolak. Namun dalam pada itu, selagi Kiai Gumrah masih berbicara dengan saudara-saudara seperguruannya, maka pintu rumah Kiai Gumrah diketuk orang perlahan-lahan. Bukan pintu depan, tetapi pintu butulan. Seisi rumah itupun menjadi berdebar-debar. Manggada dan Laksana telah siap untuk pergi kepintu. Namun Nyi Prawara telah menahannya. Ia memberi isyarat agar keduanya tidak membuka pintu itu lebih dahulu. Nyi Prawaralah yang kemudian melangkah mendekati pintu sambil bertanya "Siapa?" "Aku Nyai" jawab suara diluar. "Aku siapa?" bertanya Nyi Prawara yang rasa-rasanya belum pernah mengenal suara itu. "Aku ingin berbicara dengan Manggada dan Laksana, Nyai" jawab suara itu. Nyi Prawara termangu-mangu. Sementara Manggada dan Laksana melangkah mendekati pintu butulan. Tetapi Nyi Prawara telah memberi isyarat, agar mereka berhenti beberapa langkah dari pintu butulan itu. "Tetapi siapa kau Ki Sanak?" bertanya Nyai Prawara, sementara Winih telah mempersiapkan dirinya menghadapi segala kemungkinan. Namun suara itu terdengar lagi “Aku tidak mengharapkan mereka keluar. Aku hanya ingin memberikan pesan" Nyi Prawara termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun telah memberikan isyarat kepada Manggada dan Laksana untuk mendekati pintu. "Siapakah kau Ki Sanak?" bertanya Manggada. "Kau masih ingat aku? Ki Pandi" terdengar suara diluar. "Ki Pandi" hampir berbareng Manggada dan Laksana mengulang nama itu. "Ya. Dengarlah suara kedua sahabatku itu" Manggada dan Laksana saling berpandangan. Yang kemudian terdengar adalah suara dua ekor harimau menggeram. "Aku kenal, Ki Pandi" sahut Manggada. "Nah, aku hanya ingin memberikan isyarat. Di banjar tua itu, saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah telah bertemu dan berbicara tentang Kiai Windu Kusuma dan orang yang mereka kenal dengan sebutan Panembahan. Sebenarnyalah Panembahan itu adalah Panembahan yang pernah kita kenal dahulu. Yang mencari gadis-gadis bersih untuk mencuci kerisnya dengan darah gadis-gadis bersih itu. Sekarang iapun mulai haus akan darah lagi. Nah, katakan kepada Kiai Gumrah, bahwa meskipun aku tidak berkepentingan langsung, tetapi aku akan menyertai mereka jika mereka akan pergi menemui Ki Windu Kusuma dan Panembahan itu. Salah seorang saudara seperguruannya ada pula yang bergabung dengan Kiai Windu Kuruma. Namanya Kiai Kajar" "Ya" jawab Manggada dan Laksana yang juga sudah mendengar tentang seseorang yang bernama Kiai Kajar sebagaimana dikatakan oleh kedua orang tawanan itu. "Karena itu, maka aku minta kau sampaikan keinginanku menyertai mereka. Kita akan bertemu lagi pada kesempatan lain. Aku ingin mendapat keterangan, apakah niatku ini diterima atau tidak. Aku tidak mempunyai pamrih apapun juga dalam soal ini, kecuali menghentikan perbuatan Panembahan yang sudah dikuasai oleh kuasa kegelapan itu" berkata suara diluar dinding. "Apakah Ki Pandi ingin bertemu dan berbicara dengan kakek atau paman Prawara, atau bibi yang sekarang ada dirumah?" bertanya Manggada. "Bukankah Nyi Prawara sudah mendengar kata-kataku? Bukankah aku tidak perlu mengulanginya.” bertanya Ki Pandi. "Tetapi Ki Pandi belum berbicara dengan bibi" desis Manggada. "Baiklah" berkata Ki Pandi "aku mohon Nyi Prawara sudi mendengarkan aku" "Aku mendengar Ki Sanak" jawab Nyi Prawara. "Aku berkata sebenarnya Nyai. Aku tidak mempunyai pamrih apapun, karena kehidupan duniawi sudah lampau bagiku" "Tetapi sebaiknya Ki Sanak bertemu dengan ayah" jawab Nyi Prawara. "Aku akan menemuinya pada kesempatan lain" jawab Ki Pandi. Nyi Prawara masih akan berbicara lagi. Tetapi Ki Pandi itu berdesis "Aku mohon diri. Pertemuan di banjar itu sudah selesai. Mereka sudah datang kemari" "Satu kesempatan Ki Sanak. Bukankah Ki Sanak dapat bertemu dengan banyak orang sekaligus?" berkata Nyi Prawara. Tetapi sudah tidak terdengar jawaban lagi. Yang berada didalam dinding rumah itu tidak mendengar suara kaki Ki Pandi yang beringsut menjauh. Demikian pula kedua ekor harimau yang agaknya ikut bersama Ki Pandi. "Orang itu sudah pergi" desis Laksana. Sebenarnyalah sejenak kemudian, pintu rumah itu diketuk orang. Terdengar suara beberapa orang bercakap-cakap diluar. Bahkan terdengar suara tertawa pula diantara mereka. Yang kemudianterdengaradalah suara Ki Prawara "Buka pintunya Nyi" Laksanalah yang dengan tergesa-gesa membuka pintu, sementara Winih dan ibunya justru pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman yang masih saja hangat. Demikian pintu terbuka, maka beberapa orang telah memasuki pintu dapur. Tetapi ruang dalam rumah Kiai Gumrah yang memang tidak terlalu luas itu segera terasa sesak, sementara masih ada beberapa orang yang berdiri diluar. Namun Kiai Gumrahpun ternyata kemudian berkata "Kita semuanya akan berada diluar saja. Kita dapat duduk dimana saja, sementara minuman hangat akan disuguhkan" Orang-orang yang sudah terlanjur berada diruang dalam itupun keluar lagi sambil bergeremang. Namun kemudian mereka duduk tersebar di amben bambu, di bebatur rumah atau di tlundak pintu. Tetapi ketika Manggada dan Laksana menghidangkan minuman dan makanan, maka yang duduk ditelundak itupun terpaksa berdiri. Namun ternyata bahwa Kiai Gumrah dan kawankawannya dapat menikmati wedang jae dan ketela pohon rebus yang hangat bersama-sama. Sementara itu, dua orang tawanan Kiai Gumrah ada diantara mereka pula. Beberapa saat setelah mereka meneguk minuman dan makan beberapa kerat ketela pohon, maka tiba-tiba orangorang yang ada dihalaman itu dikejutkan oleh suara seruling yang terdengar mengalun diantara desah angin malam. Sejenak halaman rumah Kiai Gumrah itu menjadi hening. Orang-orang yang ada dihalaman sambil minum dan makan ketela pohon itu seakan-akan telah terpukau mendengar suara seruling itu. Namun mereka bukan saja tertarik oleh suara seruling yang ngelangut, menggetarkan jantung. Apalagi di malam yang hening. Namun mereka juga tertarik karena mereka merasakan tenaga yang terlontar bersama suara seruling itu. Tenaga itu telah menggetarkan udara malam melibat dan menyentuh perasaan orang-orang yang mendengarnya. Kiai Gumrahlah yang kemudian bangkit berdiri dan berkata kepada kawan-kawannya "Orang yang meniup seruling itu agaknya ingin tahu, apakah jantung kita masih tetap berdegup. "Siapakah orang itu" bertanya Buta Ijo "apakah aku harus berteriak untuk menghentikan suara seruling itu" "Bukan suara seruling itu yang berhenti" jawab juragan gula "tetapi tetangga-tetangga Kiai Gumrahlah yang akan terbangun semuanya" Buta Ijo itu tertawa. Justru berkepanjangan. Kiai Gumrah tidak mencegahnya. Ia tahu, bahwa Buta Ijo itu tidak senang mendengar suara seruling yang ngelangut. Seakan-akan ratapan dari dalam dasar luweng yang sangat dalam. Tetapi suara seruling itu tidak berhenti. Nadanya justru meninggi, seakan-akan menggapai lapisan awan ditataran langit ketujuh. Namun kemudian menukik menyambar seperti burung elang yang sering nampak berterbangan diatas padukuhan itu. "Setan itu" geram Buta Ijo. "Tenanglah" berkata juragan gula itu "kau tidak usah menjadi gelisah seperti itu. Bukankah suara seruling itu tidak mengganggu kita?" "Memang tidak. Tetapi aku merasakan betapa sombongnya orang yang meniup seruling ini" jawab Buta Ijo itu. "Aku tidak yakin, bahwa ia seorang yang sombong. Tetapi aku justru mengira bahwa orang itu ingin memperkenalkan diri" jawab Kiai Gumrah. "Kau rasakan suara itu mulai menggelitik?" bertanya Buta Ijo. "Hanya menggelitik. Tidak menyakiti” jawab Kiai Gumrah. "Aku lebih senang disakiti daripada digelitik" jawab Buta Ijo itu. Namun tiba-tiba saja Manggada yang ada diruang dalam melangkah keluar. Sejenak ia berdiri termangu-mangu. Namun kemudian katanya kepada Kiai Gumrah "Kek, barangkali aku tahu, siapakah yang meniup seruling itu" "He, darimana kau tahu?" bertanya Buto Ijo itu dengan serta-merta. Manggada memang ragu-ragu. Tetapi Kiai Gumrah itupun berkata "Katakan apa yang kau ketahui" Manggada menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan jantungnya yang berdetak semakin keras karena semua mata memandang kearahnya. Namun kemudian iapun berkata "Kek. Aku menduga bahwa yang meniup seruling itu adalah Ki Pandi" "Siapakah Ki Pandi itu?" bertanya orang yang selalu menyebut dirinya berilmu tinggi. "Orang yang memiliki kedua ekor harimau yang selalu datang setiap saat diperlukan. Seakan-akan mereka tahu kapan mereka harus datang membantu" jawab Manggada. "Orang bongkok itu" berkata Kiai Gumrah kemudian. "Orang bongkok dari hutan Jatimalang?" bertanya orang yang kekurus-kurusan yang lebih banyak memejamkan matanya dan terkantuk-kantuk. Namun dapat menangkap semua pembicaraan disekitarnya dengan jelas. "Ia tidak berasal dari hutan Jatimalang" jawab orang yang bertubuh sedang, berkumis panjang "ia memang pernah tinggal di hutan itu. Tetapi tidak terlalu lama" "Kiai mengenalnya?" bertanya Manggada, "Pada umumnya kami mengenalnya" jawab Kiai Gumrah "tetapi tidak terlalu akrab" "He, darimana kau tahu bahwa yang meniup seruling itu orang bongkok dari Jatimalang?" bertanya Buta Ijo. "Kami berdua pernah tinggal bersamanya. Bersama Ki Ajar Pangukan dibelakang hutan Jatimalang" jawab Manggada. Semua orang justru tertarik pada pengakuan Manggada itu kecuali Kiai Gumrah, karena ia pernah mendengarnya. "Jadi kau juga pernah tinggal di hutan Jatimalang?" bertanya orang yang menyebut dirinya berilmu tinggi. "Ya, Kiai" jawab Manggada "kami datang ke belakang hutan Jatimalang bersama Ki Wiradadi, seorang yang mencari anak gadisnya yang hilang. Kami bertemu dengan Ki Ajar Pangukan dan Ki Pandi. Bahkan kemudian sekelompok prajurit Pajang yang mencium keberadaan Panembahan Lebdagati di belakang hutan Jatimalang, dilereng gunung, telah datang pula. Tetapi Panembahan Lebdagati itu berhasil melepaskan diri" "Aku yakin bahwa Panembahan dibelakang hutan Jatimalang itu tentu Panembahan yang bekerja bersama Kiai Windu Kusuma dan Kiai Kajar" berkata Kiai Gumrah. "Kita memang harus menghancurkan mereka. Kita tidak usah menunggu prajurit Pajang. Kita akan menyelesaikan persoalan dengan Kiai Windu Kusuma itu sendiri" berkata juragan gula itu. Semuanya mengangguk-angguk. Suara seruling itu masih terdengar, mengalun menggetarkan udara malam yang terasa semakin dingin. Tetapi ketika mereka mengetahui bahwa yang membunyikan seruling itu adalah orang bongkok dari hutan Jatimalang, maka mereka tidak lagi merasa sangat terganggu. Getaran yang dilontarkan memang bukan getaran yang dapat mengguncang jantung. Namun seperti yang dikatakan oleh Kiai Gumrah, orang bongkok itu seakan-akan ingin memperkenalkan dirinya. Manggadapun kemudian berkata lagi "Ki Pandi pernah langsung bertempur dengan Panembahan. Namun Panembahan itu berhasil melepaskan diri. Agaknya usahanya untuk menghentikan langkah-langkah Panembahan yang dipengaruhi oleh kuasa kegelapan itu tidak akan berhenti" "Apakah orang bongkok itu selalu membawa seruling?" bertanya orang yang terkantuk-kantuk itu. "Sepengetahuanku, ia memang mempunyai sebuah seruling” jawab Manggada. "Kenapa ia tidak menemui kami sekarang?" bertanya Buta Ijo. "Ia memang telah datang. Ia berbicara dengan kami. Juga dengan bibi Prawara. Tetapi Ki Pandi masih belum bersedia menemui kakek sekarang. Pada satu saat ia memang akan berusaha untuk dapat berbicara dengan kakek, karena Ki Pandi telah menyatakan untuk menyertai kakek dan saudara-saudaranya pergi ke sarang Kiai Windu Kusuma. Bahkan Ki Pandi juga mengetahui bahwa disana ada seorang yang bernama Kiai Kajar" "Darimana ia tahu?" bertanya Kiai Gumrah. "Ki Pandi tidak mengatakannya, kek" jawab Manggada. Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Katanya "Baiklah. Biarlah aku menunggu kedatangannya. Tetapi jika kami sudah siap melangkah dan orang itu belum juga datang, maka aku tidak akan menunggunya lebih lama lagi" Demikianlah, maka seorang diantara saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah itupun telah mengeluarkan rinding dari kantong ikat pinggangnya yang besar. Kemudian diletakannya rinding itu dimulutnya. Sejenak kemudian, beralunlah lagu yang berdengung menggetarkan udara malam, menyentuh getaran suara seruling yang masih terdengar. Dengan irama yang berbeda kedua lontaran lagu itu mengalun meninggi. Namun seakan-akan semakin lama semakin tinggi, sehingga akhirnya keduanya berhenti sama sekali. Rasa-rasanya kedua irama itu terputus setelah keduanya yakin bahwa nada yang terlontar tidak akan mampu mencapai bintang. Orang yang membunyikan rinding itu menarik nafas panjang. Kemudian tangannya menggapai mangkuk minumannya. Beberapa teguk minuman ditelannya seakanakan orang itu baru saja berlari-lari mengelilingi padukuhan. Manggada yang sudah duduk pula di bebatur rumah nafasnya menjadi tersengal-sengal. Namun kemudian iapun bangkit dan melangkah masuk keruang dalam. Didalam dilihatnya Laksana juga terduduk diam. Nyi Prawaralah yang kemudian menghampirinya. Dipandangnya Manggada dan dimintanya duduk disebelah Laksana. Sambil memberikan dua mangkuk minuman, Nyi Prawara berkata "Minumlah" Manggada dan Laksanapun kemudian minum beberapa teguk. Dada mereka kemudian terasa lapang. Meskipun suara seruling dan rinding yang berbaur dan melontarkan getaran itu tidak berniat menyerang siapapun juga, tetapi rasa-rasanya nafas kedua orang anak muda itu menjadi sesak. "Kedua irama itu masih belum dapat luluh" desis Nyi Prawara "Tetapi dalam keadaan yang lebih baik, kedua irama itu akan dapat diatur lebih serasi, sehingga dapat saling menyerap atau saling memperkuat sesuai dengan kebutuhan" Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Ketika mereka sempat melihat Winih yang keluar dari dapur, maka nampaknya Winih sama sekali tidak terpengaruh oleh kedua irama yang masih terasa saling berebut untuk saling mengtasasi. Dengan demikian maka Manggada dan Laksana itu justru merasa semakin kecil. Keduanya adalah orang yang paling lemah diantara sekian banyak orang yang berkumpul itu. Meskipun mereka sudah memiliki bekal ilmu kanuragan, namun ilmu mereka ternyata masih belum memadai dibandingkan dengan orang-orang yang berilmu tinggi itu. Dalam pada itu, tiba-tiba Buta Ijo yang ada di halaman itu berkata lantang "He, aku akan pulang. Jika kalian masih akan duduk disini sepanjang malam, terserah saja" Namun orang yang terkantuk-kantuk itupun menyahut "Aku juga akan pulang. Aku sudah mengantuk" Orang yang selalu menyebut dirinya berilmu tinggi itu menyahut "Aku tidak pernah melihat kau tidak mengantuk" Yang lainpun tertawa hampir berbareng. Tetapi orang itu tidak menghiraukannya. Ia justru sudah mulai melangkah keregol halaman. Namun juragan gula itu berkata "He, kau belum minta diri kepada orang yang telah menyuguhkan minuman dan makanan ini. Begitu kau merasa kenyang, begitu kau pergi" "O, baiklah. Tetapi kepada siapa?" orang itu bertanya. "Sudahlah" berkata Kiai Gumrah "biarlah aku yang menyampaikannya" Demikianlah, maka saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah itupun segera minta diri. Satu-satu mereka keluar dari regol halaman. Melihat suasana diluar dan kemudian melangkah sendiri-sendiri atau sebanyak-banyaknya berdua. Mereka menuju kearah yang berbeda-beda. Namun jalan-jalan sudah menjadi sangat sepi. Tidak ada seorangpun yang lewat. Meskipun demikian, mereka mendengar kotekan anak-anak muda yang meronda agak dikejauhan. Beberapa saat kemudian, rumah Kiai Gumrahpun menjadi sepi. Kedua orang tawanan itupun sudah berada diruang dalam pula. Bagaimanapun juga, kepercayaan Kiai Gumrah dan keluarganya kepada mereka masih belum utuh, sehingga Kiai Gumrahpun berkata "Maaf Ki Sanak. Kami masih akan mengikat kalian pada pembaringan kalian. Kami tidak dapat berbuat lain. Jika malam ini kami semuanya tertidur nyenyak, maka banyak hal akan dapat terjadi. Sementara itu kalian sudah mendengar rahasia besar sebagai keputusan pembicaraan diantara kami" Kedua orang itu tidak dapat menolak. Mereka harus memberikan tangan dan kaki mereka untuk diikat dengan pembaringan. Meskipun demikian, diluar pengetahuan kedua orang tawanan itu, Kiai Gumrah dan keluarganya telah mengatur diri agar kedua orang itu tetap dapat diawasi setiap saat. Manggada dan Laksanapun ikut pula mendapat tugas bergantian. Namun sebelum seisi rumah itu sempat tidur, mereka terkejut ketika mereka mendengar suara geramang beberapa orang yang berada dihalaman. Bahkan kemudian terdengar pintu diketuk orang. Kiai Gumrah dan bahkan seisi rumah itu telah berkumpul diruang dalam. Namun yang terdengar kemudian adalah suara anak-anak muda yang memanggil Manggada dan Laksana. Ketika kemudian pintu dibuka, seorang telah menyerahkan sebakul kecil nasi dan lauk-pauknya sambil bertanya "He, kenapa kau tidak datang ke banjar? Kami makan-makan disana bersama Ki Bekel untuk menghormati perubahan tatanan kehidupan yang terjadi di padukuhan ini" "O" desis Manggada "sayang sekali. Kami sedang sibuk dengan persoalan kami sendiri" "Bukankah persoalan keluarga kalian dapat ditingalkan sebentar?" bertanya salah seorang anak muda itu. "Sebenarnya demikian. Tetapi beberapa orang saudara kami baru saja pulang. Mereka datang berkunjung setelah untuk waktu yang lama kami berpisah" jawab Manggada. Anak-anak muda itu tidak bertanya lagi. Namun yang menyerahkan bakul itu berkata "Kami memaksa Ki Bekel untuk menyisihkan hidangan sekedarnya. Kami ingin kalian berdua juga ikut menikmatinya. Semula Ki Bekel berkeberatan. Tetapi akhirnya ia tidak dapat mencegahnya" "Terima kasih" berkata Manggada dan Laksana bersamaan. Sepeninggal anak-anak muda itu, Kiai Gumrah menarik nafas panjang. Ki Bekel agaknya memang sudah mencegahnya. Tetapi anak-anak itu tidak lagi dapat ditahan. Untunglah bahwa saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah sudah berlalu. Demikianlah, maka keluarga Kiai Gumrah itu telah mempergunakan sisa malam untuk beristirahat, meskipun ada diantara mereka yang harus berjaga-jaga. Pagi-pagi benar, seperti biasanya, seisi rumah itu sudah terbangun. Nyi Prawara dan Winih mulai sibuk didapur. Sementara Manggada dan Laksana telah memerlukan pergi ke banjar untuk membersihkan halaman. Sedangkan seperti biasa pula. Kiai Gumrah mulai sibuk dengan bumbungbumbung legennya. Namun dalam pada itu, maka rencana yang dibuat oleh Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya sudah mulai pada langkah yang menentukan. Mereka mulai mempersiapkan diri menyerang sarang Kiai Windu Kusuma. Di tempat itu tinggal pula orang yang disebut Panembahan yang berakibat pada kuasa kegelapan, serta Kiai Kajar, justru saudara seperguruan yang dianggap salah satu dari orang-orang terbaik. Dirumah, Kiai Gumrah dan keluarganya mengawasi kedua orang tawanannya semakin ketat. Kedua orang itu sudah mendengar rencana terpenting dari Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya. Sebelum mereka menyelesaikan persoalan mereka dengan Kiai Windu Kusuma, maka kedua orang itu sama sekali tidak akan diijinkan berhubungan dengan orang lain. Namun pagi itu, ketika Kiai Gumrah telah mengumpulkan bumbungnya yang baru saja dipungut dari batang-batang kelapa dan dituang di tempayan, sementara Manggada dan Laksana yang sudah terbiasa membantunya sedang sibuk dengan perapian, maka merekapun telah dikejutkan oleh kedatangan seseorang yang pernah mereka kenal. Kundala. Kiai Gumrah memang terkejut. Dengan tergopoh-gopoh dipersilahkan Kundala itu masuk kedapur. Tetapi Kundala itu berkata "Waktuku hanya sedikit sekali, Kiai" "Apakah kau sedang bertugas?" bertanya Kiai Gumrah. "Ya, Kiai. Aku harus menghubungi seseorang dipasar dan membawanya ke sarang kami" "Apakah kau sudah pergi ke pasar?" bertanya Kiai Gumrah. "Aku baru berangkat ke pasar. Aku memerlukan singgah sebentar" jawab Kundala. "Apakah kau yakin bahwa kau tidak diawasi?" bertanya Kiai Gumrah pula. "Aku yakin, karena aku memilih jalan bulak" jawab Kundala. "Sekarang, apa yang akan kau katakan?" bertanya Kiai Gumrah selanjutnya. "Panembahan tidak sabar lagi. Malam setelah tiga hari mendatang, rumah ini akan didatanginya dengan kekuatan penuh. Orang yang akan aku hubungi adalah salah satu diantara orang terpenting dilingkungan kelompok Panembahan" "Apakah Panembahan itu bernama Lebdagati?" bertanya Kiai Gumrah. "Aku tidak tahu Kiai. Yang aku ketahui hanyalah Panembahan begitu saja" Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Katanya "Jadi mereka akan datang tiga hari lagi?" "Ya. Ada beberapa orang berilmu tinggi. Juga para pengikutnya akan dikerahkan. Mereka mempunyai tataran ilmu yang bermacam-macam. Ada yang terhitung tinggi, sedang dan ada yang sekedar mengandalkan kekuatan wadagnya saja" "Terima kasih, Kundala. Aku akan mempersiapkan diri untuk melawan mereka" berkata Kiai Gumrah. "Tetapi Kiai, kekuatan mereka cukup besar. Apakah tidak sebaiknya Kiai menyingkir saja? Ketika Darpati datang kemari bersama beberapa orang kawannya, itu tentu hanya sekedar penjajagan, meskipun Darpati bersama tujuh orang lainnya harus dikorbankan, dan bahkan ada diantara mereka yang berilmu tinggi hampir setingkat Darpati sendiri. Tetapi yang dipersiapkan nanti adalah jauh lebih besar dari itu. Mungkin berlipat tiga atau ampat" "Kau akan ikut serta?" bertanya Kiai Gumrah. "Ya, Kiai. Aku akan ikut bersama mereka" jawab Kundala. Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Ketika kemudian Ki Prawara datang, maka dipersilahkannya Ki Prawara untuk ikut berbincang. Namun agaknya waktu Kundala amat sempit. Karena itu, maka katanya "Aku harus segera pergi ke pasar. Sebentar lagi siang itu tentu menyusul untuk mengawasi perjalananku" "Terima kasih Kundala. Berhati-hatilah" pesan Kiai Gumrah. Demikianlah, maka Kundalapun segera meninggalkan tempat itu. Manggada dan Laksana masih tetap duduk diperapian. Sementara Nyi Prawara dan Winihpun telah mendekat Kiai Gumrah untuk ikut mendengar keterangan Kundala. Kiai Gumrahpun tidak merahasiakannya pula. Bahkan kepada Manggada dan Laksana. Namun Kiai Gumrah masih menjaga, agar para tawanannya yang masih saja diikat diruang dalam tidak ikut mendengarnya. "Jadi, langkah apa yang akan kita ambil?" bertanya Ki Prawara. "Aku akan berbicara dengan beberapa orang yang dapat aku hubungi. Menurut pendapatku, rencana kita tetap. Kita akan menyerang sarang mereka. Tentu sebelum mereka datang lebih dahulu" "Waktunya sangat sempit, ayah" desis Nyi Prawara. "Kita tidak mempunyai pilihan lain. Menurut pendapatku, kita akan lebih banyak mendapat kesempatan jika kita menyerang. Tidak hanya sekedar bertahan" "Lalu, bagaimana dengan pusaka-pusaka itu?" bertanya Winih. "Kita akan membawanya. Kita akan mempergunakannya. Tentu orang yang paling bertanggung jawablah yang akan maju ke medan dengan mempergunakan senjata pusaka perguruan itu. Kiai Kajar tentu akan berkerut jantungnya melihat pusaka itu langsung kita pergunakan di medan" Ki Prawara menarik nafas panjang. Katanya "Tetapi bagaimana dengan songsong itu?" "Kita akan membawanya pula. Songsong itu juga dapat dipergunakan sebagai senjata. Bukankah kau tahu? Jarijarinya yang terbuat dari baja menjadikan songsong itu tidak mudah rusak. Jika kainnya koyak, bukankah dapat diganti lagi dengan yang baru dan diwarnai sebagaimana warna semula" Ki Prawara mengangguk-angguk. Katanya "Jika demikian, kita harus bergerak lebih cepat dari yang direncanakan" "Aku akan menemui juragan gula itu dan selanjutnya pergi ke pasar" berkata Kiai Gumrah "mudah-mudahan akw dapat melihat Kundala selain menemui saudarasaudaranya Hati-hatilah dirumah. Meskipun disiang hari dapat saja terjadi sesuatu" Dengan membawa sisa gula yang ada, maka Kiai Gumrahpun telah pergi ke rumah juragan gula. Yang penting baginya, bukannya menyerahkan gulanya dan menerima uangnya, tetapi ia harus bergerak lebih cepat dari yang direncanakan. Hari itu juga jaringan hubungan saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah mulai bergerak. Sebelum senja, maka semua orang harus berhasil ditemui. Mereka bukan sekedar melakukan hubungan, tetapi mereka sudah memutuskan, bahwa malam ketiga, semalam sebelum Kiai Windu Kusuma merencanakan untuk mengambil pusakapusaka itu, mereka akan menyerang sarangnya. Rencana yang disusun dengan cepat dipasar, telah tersebar kepada semua saudara seperguruan Kiai Gumrah. Dimana mereka harus berkumpul, saatnya dan kelengkapan yang harus disediakan. Sementara itu, ketika Kiai Gumrah masih berada dipasar bersama dua tiga orang penjual gula, termasuk juragan gula itu, ternyata mereka sempat melihat orang yang dijemput oleh Kundala. Dengan sengaja Kundala mengajak orang itu berjalan melewati sisi pasar yang khusus dipergunakan bagi para pedagang dan penjual gula kelapa. "Dua orang " desis Kiai Gumrah. Juragan gula itu mengangguk-angguk. Katanya "Menurut ingatanku, yang tua itu datang dari perguruan Susuhing Angin. "Ya. Aku masih ingat. Yang muda itu tentu salah seorang dari perguruan itu juga. Mungkin murid utama dari pemimpin perguruan Susuhing Angin itu" jawab Kiai Gumrah. "Iblis itu telah melibatkan perguruan yang banyak dikenal itu pula" "Apakah orang itu tidak mengenal kita?" desis Kiai Gumrah. "Mereka tidak sempat berpaling kearah kita. Apalagi kita sempat menyembunyikan wajah kita. Tetapi agaknya mereka memang tidak mengira bahwa kita ada disini" jawab juragan gula itu. Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Iapun berpendapat, bahwa kedua orang yang berjalan bersama Kundala itu tidak melihat mereka diantara keranjang-keranjang gula yang berserakan. Ketika Kiai Gumrah tiba di rumahnya, maka iapun telah mempersiapkan segala sesuatu. Bukan saja senjata-senjata mereka serta pusaka-pusaka yang mereka rawat dan mereka jaga dengan baik itu. Tetapi juga persiapan ketahanan jiwani untuk menghadapi satu tugas yang sangat berat. "Kita, seisi rumah ini akan berangkat semuanya" berkata Kiai Gumrah "semua pusaka yang ada akan ikut dalam pertempuran" Nyi Prawara menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Baiklah. Kita semuanya harus mempersiapkan diri sebaikbaiknya. Namun tiba-tiba saja hampir diluar sadarnya Manggada bertanya "Bagaimana dengan Ki Pandi?" "Jika aku bertemu sebelum saat pertempuran terjadi, maka aku akan memberitahukan kepadanya. Jika ia datang terlambat, apaboleh buat" jawab Kiai Gumrah. Manggada tidak bertanya lagi. Ia sadar, bahwa Kiai Gumrah tidak dapat bergantung kepada Ki Pandi. Apalagi setelah ia mendengar bahwa Panembahan akan mengambil langkah terakhir karena purnama sudah menjadi semakin dekat. Dihari berikutnya, maka beberapa orang sengaja datang kepasar untuk saling bertemu. Sedangkan disore hari, bahkan sampai malam, beberapa orang yang lain telah datang pula kerumah Kiai Gumrah untuk mendapatkan penjelasan. Namun saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah benar-benar sudah siap untuk menghadapi tugas yang berat itu. Kepada saudara-saudara seperguruannya. Kiai Gumrah juga sudah mengatakan niat Ki Pandi untuk bersama mereka menghadapi Kiai Windu Kusuma dan orang yang disebut Panembahan itu. "Satu hal yang barangkali ada diantara kalian yang belum mengetahui, bahwa Ki Pandi memelihara dua ekor harimau yang akan dapat diajak bersamanya dalam tugastugas beratnya" berkata Kiai Gumrah. "Bagaimana kita dapat menghubunginya?" bertanya orang yang selalu menyebut dirinya berilmu tinggi. "Kita hanya dapat menunggu orang bongkok itu datang kepada kita" jawab Kiai Gumrah. Dalam pada itu, kedua orang tawanan yang ada dirumah Kiai Gumrah itupun melihat kesibukan yang semakin meningkat. Tetapi mereka merasa bahwa mereka sama sekali tidak berhak untuk bertanya apapun kecuali jika Kiai Gumrah mengajak mereka berbicara. Ketika matahari terbit dihari berikutnya, maka keluarga Kiai Gumrah mulai dibayangi ketegangan. Hari itu adalah hari yang menentukan. Menjelang malam mereka akan berkumpul ditempat yang ditentukan, kemudian mereka akan menyerang sarang Kiai Windu Kusuma yang didalamnya terdapat pula o-rang yang disebut Panembahan, Kiai Kajar serta orang yang baru datang dari perguruan Susuhingj Angin. Namun Kiai Gumrah masih juga pergi ke pasar untuk mengadakan hubungan terakhir sebelum segalanya dimulai. Dipasar, Kiai Gumrah juga melihat Kundala berjalan dengan seorang kawannya. Namun Kiai Gumrah merasa bersukur bahwa Kundala masih mendengar suara nuraninya yang paling dalam, sehingga ia tidak mengatakan kepada kawannya tentang kegiatan Kiai Gumrah itu. Sementara Kiai Windu Kusuma masih juga mempercayainya meskipun kemampuan Kundala dianggap kurang memadai lagi diantara para pengikut Kiai Windu Kusuma. Meskipun demikian, Kundala masih sering mendapat tugas-tugas khusus sebagaimana dilakukannya itu. Meskipun hanya sekedar sebagai penghubung. Dalam pada itu Kiai Gumrah masih juga bertemu dan berbicara dengan beberapa orang saudara seperguruannya. Pertemuan itu memang penting, justru pada saat-saat terakhir menjelang pertempuran yang menentukan. Untuk meyakinkan keberhasilan rencananya, Kiai Windu Kusuma memang mengirimkan orang untuk melihat keadaan rumah Kiai Gumrah. Yang mendapatkan tugas memang bukan Kundala, karena Kiai Windu Kusuma mencemaskan, bahwa Kundala akan dapat dikenali oleh Kiai Gumrah atau cucu-cucunya. Orang itu memang melaporkan bahwa terdapat kesibukan dirumah penjual gula itu. Namun kesibukan itu masih terbatas sekali. Orang itu belum melihat usaha-usaha Kiai Gumrah untuk menyusun pertahanan di rumahnya. Orang-orang yang berdatanganpun telah meninggalkan rumahnya. Bahkan tidak ada lagi nampak orang-orang yang bermalam dirumahnya. Namun Kundala tahu benar, kapan orang itu mengawasi rumah Kiai Gumrah, dan kapan rumah itu terlepas dari pengawasan. Di siang hari rumah itu justru jarang sekali diawasi. Sekali-sekali memang ada orang yang ditugaskan. Namun dikesempatan lain, Kiai Windu Kusuma sekedar melepaskan burung-burung elang yang telah mendapat latihan khusus itu. Pada hari yang terakhir itu, Kiai Gumrah memang tidak terlalu lama berada di pasar. Ketika matahari memanjat langit semakin tinggi, justru saat pasar sedang mencapai puncak keramaiannya, Kiai Gumrah telah meninggalkan pasar, karena masih banyak yang harus dipersiapkan. Ia tidak dapat ingkar akan tugas yang dibebankan kepadanya, karena ia dianggap saudara seperguruan yang terbaik. Karena itu, ia akan memikul tanggung-jawab terberat atas rencana mereka. Penyerangan ke sarang Kiai Windu Kusuma, karena Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya menganggap langkah itu merupakan cara yang terbaik untuk mempertahankan diri serta mempertahankan hak mereka. Namun ketika Kiai Gumrah mendekati sudut padukuhan-nya, iapun tertegun. Ia melihat seseorang yang duduk diatas seonggok batu padas dibawah sebatang pohon turi. "Orang bongkok itu" desis Kiai Gumrah. Orang itu memang Ki Pandi. Demikian ia melihat Kiai Gumrah melangkah mendekatinya, maka iapun mulai beringsut. "Apakah kau menunggu aku?" bertanya Kiai Gumrah. "Ya" jawab orang itu. "Ada sesuatu yang ingin kau katakan?" bertanya Kiai Gumrah pula. "Aku sudah berpesan kepada cucumu, bahwa aku akan menemuimu sekitar dua tiga hari kemudian. Nah, hari ini aku memerlukan menemuimu" "Ya. Cucu-cucuku sudah mengatakannya. Juga sudah mengatakan niatmu untuk bersama-sama menghancurkan Panembahan yang mengabdi pada kuasa kegelapan itu" “Aku menempatkan diri dalam pasukanmu. Aku menunggu perintahmu. Aku hanya seorang diri bersama dua ekor harimauku. Mereka akan ikut bersamaku" berkata Ki Pandi. Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Meskipun tidak terlalu akrab, namun Kiai Gumrah mempercayai Ki Pandi, sehingga karena itu, maka Kiai Gumrahpun telah memberitahukan rencananya untuk menyerang malam nanti. "Apakah kalian sudah menguasai medan?" bertanya Ki Pandi. "Saat kami berkumpul nanti, dua orang yang kami tugaskan untuk melihat dan mengamati keadaan akan memberikan laporan tentang medan. Selain itu, ada dua orang tawanan kami yang bersedia menguraikan serba sedikit sasaran yang akan kita datangi malam nanti. Juga sedikit tentang kekuatan mereka" "Aku juga mempunyai beberapa keterangan. Aku juga akan membantu memberikan keterangan itu jika diperlukan nanti" berkata Ki Pandi kemudian. "Terima kasih. Mudah-mudahan keterangan yang kami dapatkan itu akan mencukupi, sehingga kami tidak salah menilai lawan serta menilai medan" berkata,Kiaj Gumrah. Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya "Aku nanti akan datang bersama kedua ekor harimauku" Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Katanya "Terima kasih atas kesediaanmu. Mudah-mudahan kita berhasil" Ki Pandi mengangguk kecil. Katanya "Kegilaan Panembahan itu harus dihentikan. Ia tidak berhak lagi hidup dimuka bumi karena bayangan kegelapan yang menguasai jantungnya.” "Kami akan menunggumu. Kami berharap bahwa kami akan mendapat keterangan yang cukup sehingga kami tidak justru akan terjebak disarang mereka" berkata Kiai Gumrah kemudian sambil melangkah melanjutkan perjalanannya. Sementara itu dikejauhan dua ekor burung elang terbang dengan cepat melintas. Tetapi Kiai Gumrah sudah hilang dibalik regol padukuhannya. Ketika Kiai Gumrah itu berpaling, maka orang bongkok itu sudah tidak dilihatnya lagi. "Setan bongkok itu memang berilmu sangat tinggi" desis Kiai Gumrah. Demikianlah, maka sejenak kemudian, Kiai Gumrah sudah berada dirumahnya. Iapun segera mengatur segala sesuatunya yang berhubungan dengan rencana mereka. Kepada seisi rumahnya yang berkumpul Kiai Gumrah berkata “Sebelum rumah ini mendapat pengawasan yang lebih ketat, karena besok mereka akan menyerang kita, maka sebaiknya kalian berada di banjar tua itu. Kita akan berangkat dari banjar itu. Yang mereka awasi tentu rumah kita" Seisi rumah itu memang dapat mengerti. Karena itu, mereka tidak bertanya terlalu banyak. Ki Prawara, Nyi Prawara dan Winih segera berbenah diri. Nyi Prawara dan Winiihpun segera mengenakan pakaian khusus mereka, siap untuk menghadapi segala kemungkinan. Manggada dan Laksanapun telah bersiap-siap pula. Namun mereka berdua merasa diri mereka terlalu kecil diantara keluarga rumah itu. Meskipun keduanya telah memiliki bekal olah kanuragan, namun dibanding dengan ilmu Winih, masih terpaut agak terlalu banyak. Apalagi dengan kedua orang tua mereka dan Kiai Gumrah, serta saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah. Namun Laksana yang melihat Winih dalam pakaian khususnya berdesis "Gadis itu nampak semakin cantik. Tubuhnya semakin kelihatan ramping, namun tangkas dan lincah" "Kau akan berguru kepadanya?" bertanya Manggada sambil tersenyum. Laksanapun tersenyum pula. Katanya "Malam nanti kita akan menjadi kelinci diantara sekawanan harimau" Manggada mengangguk-angguk. Katanya kemudian "Satu pengalaman yang menarik" "Apakah kita masih sempat menganggap yang akan terjadi malam nanti satu pengalaman?" bertanya Laksana. Manggada menarik nafas dalam-dalam. Dengan dahi yang berkerut ia menjawab “Apapun yang akan terjadi atas diri kita, maka kita harus siap mengalaminya. Sejak semula kita sendirilah yang berniat untuk melibatkan diri. Pada hari-hari pertama kita disini, Kiai Gumrah sudah berusaha mengusir kita agar kita tidak terlibat. Tetapi kitalah yang berkeras untuk tetap tinggal” Laksana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya "Semuanya sudah terjadi. Kita memang tidak dapat melangkah surut" Pembicaraan keduanyapun terputus. Kiai Gumrah minta agar mereka semuanya pergi ke banjar. "Jika mereka mengirimkan orang, maka mereka tidak akan mengamati banjar tua itu" berkata Kiai Gumrah. Tetapi rencana itu tertunda, ketika Manggada melihat dua ekor elang yang berterbangan. "Tidak akan lama" berkata Kiai Gumrah "justru tampakkan dirimu di halaman" Manggada dan Laksanapun kemudian justru telah memungut kayu bakar yang sedang dijemur di halaman samping, sekedar untuk menyatakan bahwa dirumah itu tidak terdapat perubahan apa-apa. Penghuninya masih tetap ada ditempat dengan kesibukan sehari-hari pula. Seperti yang diduga, maka elang itu tidak terlalu lama berputar-putar. Beberapa saat kemudian, maka kedua ekor elang itupun segera pergi tanpa melakukan gerakan-gerakan yang menarik perhatian. "Hati-hatilah" pesan Kiai Gumrah "tidak terlalu jauh dari tempat ini tentu ada pengikut Kiai Windu Kusuma yang melihat gerakan-gerakan elang itu serta memberikan tafsiran artinya. Biarlah Manggada dan Laksana melihat keluar halaman.” Manggada dan Laksanapun kemudian telah pergi keregol halaman. Satu dua orang lewat dijalan didepan rumah Kiai Gumrah. Namun mereka sama sekali tidak memperhatikan rumah itu. Sementara itu, Ki Prawara, Nyi Prawara dan Winih telah pergi ke banjar lewat pintu butulan yang dibuat pada dinding yang memisahkan halaman rumah Kiai Gumrah dengan halaman banjar. Pintu itu sangat berarti bagi Kiai Gumrah selama ia bertugas menjaga dan membersihkan banjar tua itu. Seperti keinginan Kiai Gumrah, maka Ki Prawara, Nyi Prawara dan Winih telah diperintahkan pula untuk membawa tombak-tombak pusaka yang disimpannya serta sebuah songsong yang berwarna kuning keemasan dengan lingkaran hijau itu. Ketika Manggada dan Laksana kemudian masuk kembali kedalam rumah, maka Kiai Gumrahpun telah memerintahkan agar Manggada dan Laksana juga pergi ke banjar. Sejenak keduanya termangu-mangu. Dengan ragu Manggada bertanya "Bagaimana dengan kedua orang tawanan itu?" “Biarlah mereka tinggal dirumah" jawab Kiai Gumrah. “Tetapi.......................”Manggada tidak meneruskan kata-katanya, karena Kiai Gumrah telah menyahutnya sambil tersenyum "aku akan membuat mereka tertidur untuk semalam suntuk" Manggada dan Laksana menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia percaya bahwa Kiai Gumrah dapat melakukannya. Ia akan dapat menyentuh simpul-simpul syaraf sehingga membuat seseorang tertidur atau seolaholah membeku pada sebagian tubuhnya. Karena itu, maka Manggada dan laksana tidak bertanya lagi. Keduanyapun kemudian telah menyusul mereka yang sudah berada di banjar. Meskipun rumah itu seolah-olah telah menjadi kosong, tetapi Kiai gumrah tidak menutup pintu depan. Kiai Gumrah memang ingin memberikan kesan bahwa tidak ada perubahan apa-apa terjadi di rumah itu, sehingga orangorang yang mengamatinya tidak akan menaruh banyak perhatian. Bahkan mereka akan menganggap bahwa Kiai Gumrah masih belum mengetahui rencana Kiai Windu Kusuma dan Panembahan Lebdagati untuk datang mengambil pusaka-pusaka yang mereka anggap keramat itu. Sebenarnyalah bahwa pengikut Kiai Windu Kusuma yang lewat didepan rumah Kiai Gumrah tidak melihat kesan apapun. Bahkan ia masih melihat lewat pintu regol halaman rumahnya yang terbuka, Kiai Gumrah yang sedang menyapu halaman rumahnya. Ketika kemudian senja turun, Kiai Gumrah masih juga menyalakan lampu-lampu dirumahnya. Sedangkan Manggada dan Laksana yang sudah berada di banjar, juga telah menyalakan lampu-lampu di banjar tua itu. Namun demikian Kiai Gumrah menutup pintu rumahnya ketika malam turun, maka rumah itu telah menjadi kosong. Yang ada didalam hanyalah kedua orang tawanan Kiai Gumrah yang tangan dan kakinya masih terikat, sementara dengan ketukan pada simpul syarafnya telah membuat kedua orang itu tertidur. Sekeluarga, Kiai Gumrahpun kemudian telah meninggalkan banjar tua itu pula. Lewat lorong-lorong sempit di paduku-hannya. Dengan hati-hati mereka menghindari pertemuan dengan seseorang agar pusakapusaka yang mereka bawa tidak menimbulkan persoalan. Demikianlah, pada saat yang ditentukan, maka saudarasaudara seperguruan Kiai Gumrahpun telah berkumpul disebuah kebun yang kosong dekat sebuah kuburan. Ki Prawara yang berdiri didekat Manggada dan Laksana sempat berdesis "Di kuburan ini orang yang kami hormati semasa hidupnya, telah dimakamkan" Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Dengan ragu-ragu Manggada bertanya “Siapakah orang yang dihormati itu?" "Ceriteranya panjang" jawab Ki Prawara "nanti, setelah tugas kita selesai, semoga aku masih sempat, aku ceriterakan selengkapnya" "Semoga kami berdua juga masih sempat mendengarkannya" sahut Manggada. "Kita sama-sama berdoa” gumam Ki Prawara kemudian. Merekapun kemudian terdiam. Agaknya Kiai Gumrah mulai berbicara dengan bersungguh-sungguh. Namun masih terbatas dengan juragan gula itu serta dua orang saudara seperguruannya yang lain. Selagi mereka masih menunggu, maka terdengar geram dua ekor harimau yang berada dikuburan itu. Saudarasaudara seperguruan Kiai Gumrah yang sudah tahu bahwa Ki Pandi akan datang bersama kedua ekor harimau peliharaannya itupun serentak berpaling kearah suara itu. Sebenarnyalah yang muncul memang orang bongkok yang berilmu tinggi itu. Dengan kedatangan Ki Pandi, maka pembicaraanpun segera dimulai. Saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah itupun duduk melingkar dibawah rimbunnya pepohonan. Dua orang yang mendapat tugas mengamati keadaanpun segera memberikan keterangan tentang sasaran yang akan mereka datangi. "Kami telah melihat sasaran dari segala sudut" berkata salah seorang dari keduanya. Dengan jelas orang itu menyebut ciri-ciri serta kemungkinan-kemungkinan yang dapat mereka lihat dari luar. Kiai Gumrahlah yang kemudian melengkapi keterangan itu. Agaknya Kiai Gumrah telah berhasil menyadap keterangan terperinci dari kedua orang tawanan yang ditinggalkannya dirumah. "Kita tidak menyerang dengan memecahkan regol halaman beramai-ramai sebagaimana pasukan segelarsepapan. Tetapi kita akan melakukannya sendiri-sendiri. Kita masing-masing akan memasuki rumah itu dari arah yang berbeda. Ingat, didalam rumah itu tinggal Kiai Windu Kusuma dengan beberapa orang berilmu tinggi. Selain mereka masih terdapat para pengikutnya yang jumlahnya cukup banyak. Selain para pengikut Kiai Windu Kusuma, maka di dalam rumah itu terdapat pula para pengikut orang yang disebut panembahan itu. Diantara mereka terdapat pula orang-orang dari perguruan Susuhing Angin dan tidak mustahil, masih ada lagi orang-orang dari perguruan lain yang terpengaruh oleh Panembahan itu" Demikianlah, maka saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah itupun telah membicarakan segala sesuatunya dengan cermat. Mereka menilai segala macam kemungkinan yang dapat terjadi. Isyarat-isyarat yang harus mereka berikan dari yang satu kepada yang lain agar tidak terjadi salah paham. Terakhir Kiai Gumrah itupun berkata "Yang dikehendaki oleh Panembahan itu adalah pusaka-pusaka ini. Karena itu, maka tidak mustahil bahwa Panembahan itu akan langsung berusaha mengambilnya" Kiai Gumrah itupun berhenti sejenak, lalu "karena itu, maka pusakapusaka itu harus berada di tangan-tangan yang benar-benar bertanggung jawab" Namun Ki Pandipun memotong pembicaraan itu "Aku tidak ingin membawa salah satu diantara pusaka-pusaka itu. Tetapi aku akan menyertai mereka yang membawanya. Aku akan minta kerelaan kalian untuk dapat bertemu langsung dengan orang yang disebut Panembahan itu, sementara kalian tentu menganggap penting untuk bertemu dengan Kiai Kajar. Menurut pendapatku, baik Panembahan itu, maupun Kiai Kajar akan berusaha untuk dapat langsung menguasai pusaka-pusaka itu, sehingga aku akan dapat menemukannya jika aku berada didekat orang yang membawa pusaka itu" Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Katanya “Tentu kami tidak berkeberatan. Tetapi jika Ki Pandi tidak berhasil menemui Panembahan, jangan menyalahkan kami" Ki Pandi mengerutkan dahinya. Tetapi ia tidak menjawab. Ternyata saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah itu telah mempercayakan pusaka-pusaka itu kepada Kiai Gumrah, juragan gula dan satu lagi diserahkan kepada Ki Prawara dan Nyi Prawara. "Masih ada satu lagi. Siapakah yang akan membawa songsong itu?" Kiai Gumrah termangu-mangu sejenak. Songsong itu memang tidak secara khusus dapat dipergunakan sebagai senjata. Namun songsong itu mempunyai nilai yang tinggi bagi Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya. Karena itu, maka orang yang selalu menyebut dirinya berilmu tinggi itu berkata "Songsong itu akan berada ditangan ketiga cucu Kiai Gumrah. Namun dua orang diantara kami harus melindunginya.” "Bagus" sahut Buta Ijo "tetapi jika mereka juga harus memasuki sarang Kiai Windu Kusuma dengan membawa songsong itu, bukankah sama saja artinya dengan memanggil perhatian para pengikut Kiai Windu Kusuma yang sedang bertugas" "Tetapi kita memerlukan semua orang untuk bersaman sama memasuki lingkungan lawan. Jumlah kita yang hanya tiga belas orang ditambah dengan tiga orang cucu Kilai Gumrah itu tentu akan menjadi terlalu sedikit dibandingkan dengan jumlah lawan" "Kau belum menghitung Ki Pandi dan kedua ekor harimaunya " berkata Ki Prawara kemudian. Saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah itu mengangguk-angguk, sementara Kiai Gumrah berkata "Baiklah. Mereka akan memasuki regol halaman rumah itu setelah salah seorang diantara kita membuka pintu itu dari dalam" “Baik” berkata juragan gula itu ”demikian pintu terbuka, maka mereka akan memasuki halaman. Songsong itu memang akan menarik perhatian. Tetapi kita dapat mempergunakan sekaligus sebagai pancingan. Namun hal itu baru akan kita lakukan setelah kita membersihkan sebagian para pengikut Kiai Windu Kusuma yang akan dapat mengganggu benturan akhir dari serangan kita" "Tetapi aku ingin memperingatkan kalian" berkata Kiai Gumrah "kita semuanya bukan pembunuh-pembunuh yang tidak berjantung. Kita menjunjung tinggi ajaran perguruan kita. Jika kita datang kesarang lawan kali ini adalah justru dalam rangka mempertahankan hak kita yang ingin mereka kuasai" Tetapi Buta Ijo itu menyahut "Apa yang dapat kita lakukan jika kita tidak boleh membunuh? Bukankah itu berarti kita sekedar membunuh diri?" “Apakah kau artikan ajaran perguruan kita seperti itu?" bertanya Kiai Gumrah. Buta Ijo itu terdiam. Sementara Kiai Gumrahpun berkata "Kita mengerti batas kewajaran ajaran perguruan kita. Tetapi bukankah kita juga dapat melumpuhkan lawan tanpa membunuhnya? Tentu saja dalam batas-batas kemungkinan" Saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah itu mengangguk-angaguk. Buta Ijo itupun mengangguk-angguk pula. Sambil menunggu tengah malam, maka Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Mereka melihat senjata-senjata mereka, agar pada saatnya tidak mengecewakannya. Kiai Gumrah, juragan gula serta Ki Prawara telah menggegam tombak ditangan mereka masing-masing. Tombak yang akan mereka pergunakan langsung dipertempuran yang bakal terjadi di rumah besar yang menjadi sarang Kiai Windu Kusuma. Menjelang tengah malam, maka segala macam persiapan benar-benar telah mapan. Karena itu, maka Kiai Gumrahpun segera minta saudara-saudara seperguruannya bersiap. "Anak setan" geram orang yang selalu menyebut dirinya berilmu tinggi "Buta Ijo itu telah mendekur" Juragan gula itulah yang kemudian membangunkannya. Sambil mengguncang lengannya ia berkata "He. Bangun dari mimpi burukmu itu" Buta Ijo itu terkejut. Sekali ia menguap sambil menggeliat. Tetapi kawannya yang selalu terkantuk-kantuk membentak "He, tutup mulutmu. Seekor katak dapat meloncat masuk kedalam mulutmu yang terbuka itu" "Setan kau” geram Buta Ijo itu "kenapa kau tidak kembali kekuburan itu saja" Tetapi saudara seperguruannya yang lain berkata "Kau yang selalu mengantuk, ternyata tidak semudah Buta Ijo itu untuk dapat benar-benar tidur" "Sudahlah" berkata juragan gula itu "kita akan segera berangkat" Kiai Gumrahpun kemudian telah memberikan pesanpesan terakhir kepada saudara-saudara seperguruannya. Mereka diperingatkan untuk berusaha memasuki halaman rumah itu dengan diam-diam. Mereka harus dapat mengurangi lawan sebanyak-banyaknya. Tetapi diperingatkan pula bahwa mereka Demikianlah, maka saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah itu sekali lagi berdiri dalam lingkaran. Sejenak mereka memusatkan nalar budi mereka untuk mempersiapkantugasme-reka yang sangat berat. Sejenak kemudian, maka terdengar Kiai Gumrah berkata "Semoga kita selalu mendapat perlindungan dari yang Maha Agung" Demikianlah, maka saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah itupun mulai bergerak. Mereka membenahi pakaian mereka agar tidak justru mengganggu tugas mereka. Senjata merekapun sudah siap pula. Setiap saat mereka akan mempergunakannya. Dalam kegelapan malam, maka saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah itu mulai merayap mendekati rumah yang terhitung besar yang menjadi sarang Kiai Windu Kusuma dan para pengikutnya. Didalam rumah itu juga terdapat orang-orang berilmu tinggi yang lain. Seperti yang direncanakan, maka saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah itu akan bergerak sendiri-sendiri. Mereka akan memasuki halaman rumah itu dengan meloncati dinding. Namun seperti yang ditentukan, ketiga orang cucu Kiai Gumrah serta dua orang yang akan melindungi mereka, baru akan memasuki halaman rumah itu setelah pintu gerbang dibuka. Yang kemudian harus membawa payung yang bertangkai agak panjang itu adalah Manggada dan Laksana. Namun mereka tidak akan membawa songsong itu bersama-sama. Tetapi bergantian. Meskipun mereka tidak akan memasuki halaman bersama-sama dengan yang lain, namun berlima mereka telah bergerak mendekati pintu gerbang, meskipun masih pada jarak yang terbatas. Winih sengaja tidak memasang selongsong payung yang berwarna putih itu. Tetapi menyulubunginya dengan baju lurik hitam milik kakeknya agar warna kuning keemasan yang mengkilat itu tidak justru memantulkan cahaya oncor yang sengaja dipasang disudut-sudut dinding halaman rumah itu. Sementara itu, maka Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya yang lain telah merayap mendekati dinding rumah itu. Dengan diam-diam mereka berusaha untuk dapat meloncati dinding. Dari saudara seperguruan mereka yang telah mengamati dinding halaman rumah itu dari luar serta keterangan terperinci yang diberikan oleh Kiai Gumrah berdasarkan keterangan kedua orang tawanannya, maka mereka dapat memilih tempat-tempat, yang paling aman untuk meloncat memasuki halaman. Yang mula-mula mencapai dinding halaman itu adalah o-rang yang selalu menyebut dirinya berilmu tinggi. Sejenak ia mendengarkan setiap suara dengan saksama. Namun sudut dinding halaman ditempat ia menempelkan tubuhnya itu sangat sunyi. Tidak terdengar suara apapun juga. Karena itu, maka orang itu telah memberanikan diri untuk meloncat menggapai bibir dinding halaman itu. Perlahan-lahan ia beringsut naik, sehingga akhirnya ia berhasil memandang kedalam. Keadaan didalam halaman itupun sangat sunyi, padahal menurut perhitungannya, jika besok mereka akan bergerak mengambil pusaka-pusaka itu dirumah Kiai Gumrah, maka mereka tentu sudah membuat persiapan-persiapan. Sejenak kemudian orang itupun telah menelungkup datar diatas bibir dinding halaman. Dengan baju yang terbuat dari kain lurik ketan ireng serta celana komprang yang juga berwarna hitam serta kain panjang latar ireng, maka orang itu tidak begitu nampak. Apalagi cahaya oncor yang lemah tidak sempat menggapai tempat itu. Untuk beberapa saat lamanya ia masih menelungkup melekat bibir dinding halaman. Dengan saksama ia mengamati keadaan. Oleh cahaya lampu minyak yang dipasang diserambi, maka samar-samar ia dapat melihat keadaan halaman belakang rumah yang besar itu. Baru kemudian ia melihat dua orang duduk diserambi, dibawah bayangan kere bambu yang sebagian masih digulung naik. Justru karena itu, maka orang itu menjadi sangat berhatihati. Bahkan orang itu masih memperhitungkan bahwa tentu masih ada orang lain yang bertugas di halaman belakang itu. Ternyata beberapa saat kemudian, orang itu melihat dua orang petugas yang lain berjalan melintasi serambi, menuju ke sebelah rumah itu. Nampaknya mereka memang sedang meronda berkeliling. Orang yang menyebut dirinya berilmu tinggi harus menahan nafas ketika kedua orang itu ternyata berjalan seakan-akan menuju ketempatnya. Untunglah bahwa kedua orang yang meronda berkeliling itu tidak melihatnya. Demikian kedua orang itu lewat, orang yang melekat dibibir dinding halaman itu menarik nafas dalam-dalam. Namun demikian, kedua orang itu menjauh, maka orang itupun segera meloncat turun didalam halaman rumah itu. Perlahan-lahan sekali ia beringsut. Disusunnya dinding halaman itu. Perlahan-lahan ia berusaha mendekati kedua orang yang duduk diserambi itu, Orang itu berhenti sejenak dibawah sebatang pohon kemuning yang rimbun. Diperhatikannya suasana rumah itu dengan sungguh-sungguh. Sekali lagi orang itu tertegun. Dalam keheningan malam ia mendengar suara perempuan tertawa tertahan-tahan dibelakang serambi tempat dua orang yang sedang duduk dibayangan kere bambu itu. Sejenak kemudian, maka pintu serambi itu terbuka. Seorang perempuan didorong keluar lewat pintu itu. Hampir saja perempuan itu terjatuh menimpa kedua orang yang sedang duduk diserambi itu. Perempuan itu masih tertawa. Ketika dua orang yang duduk diserambi itu menyeretnya untuk duduk bersamanya. Ketika perempuan itu mulai mengigau, maka saudara seperguruan Kiai Gumrah itu mengerti, bahwa perempuan itu sedang mabuk. Tetapi menurut penilaiannya, perempuan itu tentu bukan perempuan baik-baik. "Setan" geram orang yang menyebut dirinya berilmu tinggi itu ia terpaksa mengurungkan niatnya mendekati kedua orang di serambi itu. Tetapi kesan yang didapatkannya adalah, bahwa isi rumah yang besar itu ternyata adalah warna-warna buram, sehingga sepantasnyalah bahwa isi rumah itu dibersihkan sama sekali. Demikian orang itu beranjak pergi, maka terdengar lagi suara tertawa berkepanjangan. Masih juga terdengar suara perempuan, tetapi bukan perempuan yang telah berada diserambi itu. Saudara seperguruan Kiai Gumrah itu bergumam meninggalkan tempat itu. Dengan hati-hati ia menyelinap kebelakang gerumbul perdu disebelah rumah yang besar itu. Ia mulai yakin, bahwa rumah itu masih belum tertidur meskipun sudah lewat tengah malam. Namun iapun yakin pula, bahwa seisi rumah itu sama sekali tidak menduga, bahwa beberapa orang yang asing bagi mereka telah berada di halaman rumah itu. Ketika orang itu kemudian melihat dua orang penjaga yang berjalan hilir mudik didekat pintu butulan pada dinding halaman yang menghadap ke samping, maka saudara seperguruan Kiai Gumrah itupun telah menghembus kedua telapak tangannya sambil berdesis “Apaboleh buat. Jika daya tahan kalian cukup tinggi, maka kalian tidak akan mati. Tetapi jika kalian ternyata mati, itu bukan salahku, karena ilmuku memang terlalu tinggi bagi kalian" Dengan hati-hati orang itu merayap mendekati. Kemudian demikian ia meloncat keluar dari kegelapan, maka, tangannya telah melayang menyambar tengkuk salah seorang dari kedua orang itu. Orang itu memang tidak sempat mengaduh. Sesaat ia terhuyung-huyung. Namun kemudian orang itupun terjatuh di-tanah. Sementara itu kawannya terkejut. Tetapi ia juga tidak mendapat kesempatan. Satu pukulan yang sangat keras telah mengenai ulu hatinya sehingga orang itu terbungkuk kesakitan, baru kemudian telapak tangan saudara seperguruan Kiai Gumrah itu menghantam tengkuknya. Orang itupun telah kehilangan kesadarannya. Iapun kemudian telah terjatuh pula. Orang yang selalu menyebut dirinya berilmu tinggi itu tersenyum sambil berdesis "Mudah-mudahan kalian tidak mati. Kiai Gumrah berpesan agar kami tidak menjadi pembunuh yang haus darah. Tetapi bukankah kalian sama sekali tidak menitikkan darah?" Orang itu kemudian masih sempat menyeret kedua sosok tubuh.itu kedalam gerumbul disebelah pintu butulan. Tetapi ia sadar, bahwa tidak hanya kedua orang itu sajalah yang harus diselesaikan lebih dahulu, sebelum mereka benar-benar memasuki rumah itu dan berusaha bertemu dengan Kiai Windu Kusuma dan orang-orang penting lainnya yang tinggal dirumah itu. "Aku ingin bertemu dengan Kiai Kajar" berkata orang itu didalam hatinya "ia seorang yang terlalu manja diperguruan. Tetapi aku tidak yakin bahwa ilmunya melampaui ilmu saudara-saudara seperguruannya" Namun baginya Kiai Kajar adalah seorang yang sangat bodoh. Jika sekelompok orang yang tinggal dirumah itu berhasil memiliki pusaka-pusaka yang disimpan oleh Kiai Gumrah, maka Kiai Kajar itu tentu hanya mendapat bagian yang kecil saja. Bahkan seandainya pusaka-pusaka itu harus dibagi diantara saudara-saudara seperguruannya, maka ia akan mendapatkan lebih banyak. Tetapi orang itu bergumam "Tetapi pusaka-pusaka itu bukan milik siapa-siapa diperguruan" Sejenak orang itupun beringsut pula. Ia menuju sudut belakang gandok rumah itu. Namun ia terkejut ketika ia menemukan sebatang tombak pendek yang tergeletak di tanah, baru kemudian ia melihat jejak sesuatu yang ditarik ke gerumbul disudut gandok yang gelap itu. rerumputan dan daun-daun perdu yang patah menuntunnya menemukan dua sosok tubuh yang terbaring diam. Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun telah menyembunyikan tombak itu pula didekat tubuh yang membeku itu. "Juga tidak ada darah " desisnya. Ternyata saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah telah berada dihalaman rumah itu kecuali yang bertugas melindungi songsong didepan pintu gerbang utama. Mereka yang ada dihalaman itu telah berusaha membersihkan para petugas yang berjaga-jaga. Bahkan orang-orang yang meronda berkelilingpun telah mengalami nasib buruk pula. Sementara itu Kiai Gumrah sendiri dan Ki Pandi masih berada di halaman depan yang luas. Mereka berjongkok di belakang sebatang pohon soka yang daunnya menjadi sangat rimbun. Bunganya yang kemerah-merahan nampak hampir disetiap ujung ranting-rantingnya. Keduanya agaknya masih menunggu. Juragan gula itulah yang mendapat tugas untuk memberikan isyarat jika mereka akan memasuki rumah yang besar itu. Namun sebelumnya akan ada isyarat-isyarat kecil untuk menandai kesiagaan semua saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah itu. Yang terjadi kemudian adalah gerakan yang diam dari mereka yang memasuki halaman rumah itu. Orang yang selalu terkantuk-kantuk itu ternyata telah berhasil memasuki longkangan samping setelah berhasil meloncati dinding disebelah seketheng. Dua orang yang ada dilongkangan itupun tidak berdaya ketika orang itu menyentuhnya. Sementara itu, Buta Ijo yang bertubuh seperti raksasa itu justru telah masuk kedalam dapur dengan membuka dinding perlahan-lahan. Ketika ia membuka geledeg ia masih menemukan beberapa potong makanan. Tetapi sentuhan-sentuhan mangkuk digeledeg itu telah membangunkan seorang anak muda yang tidur di dapur itu. namun, demikian anak muda itu bangkit, maka mulutnyapun telah dibungkam oleh Buta Ijo yang masih mengunyah sepotong ledre pisang. Anak muda itu tidak dapat berbuat apa-apa. Ia merasa tekanan yang sangat keras ditengkuk dan punggungnya. Namun kemudian anak muda itu telah tertidur kembali. "Kau akan tidur untuk waktu yang lebih lama dari kebiasaanmu anak muda" desis Buta Ijo itu "mungkin besok tengah hari kau baru akan menyadari keadaanmu lagi" Buta Ijo itupun kemudian telah beringsut dari tempatnya. Ketika ia melewati pintu dapur disisi lain, ternyata ia sudah berada di sebuah longkangan. "Kiai Gumrah tidak menyebut longkangan ini" berkata orang itu didalam hatinya. Untuk beberapa saat Buta Ijo itu mengamat-amati tempat itu. Beberapa kali ia memperhatikan bangunan disebelah Iongkangan yang berdinding bambu sebagaimana dinding dapur itu. Namun ia menjadi ragu-ragu. Namun akhirnya Buta Ijo itu mengangguk-angguk ketika ia teringat pesan Kiai Gumrah, bahwa memang telah dibuat bangunan baru. Dapur itupun merupakan bangunan susulan karena dapur yang sebenarnya telah dipergunakan untuk kepentingan lain. "Agaknya didalam bangunan disebelah longkangan itu tinggal beberapa orang pengikut Kiai Windu Kusuma atau pengikut Panembahan yang dibawanya kemari" berkata Buta Ijo itu didalam hatinya. Tetapi Buta Ijo itu tidak akan memasuki bangunan didepan longkangan itu. Jika ia terperosok kedalamnya, maka ia tentu akan bertemu dengan beberapa orang pengikut Kiai Windu Kusuma. Raksasa itu tidak akan mati ketakutan, tetapi dengan demikian, maka suasana tentu akan segera menjadi ribut. Karena itu, maka Buta Ijo itu akan menghindari saja tempat itu dan kembali keluar lewat dinding bambu didapur yang telah dibukanya. Sejenak kemudian Buta Ijo itu sudah ada diluar. Ia tidak mau meninggalkan jejak yang dapat menarik perhatian. Karena itu, maka dilekatkannya lagi dinding bambu yang telah dibukanya itu. Tetapi sebelum ia beranjak, dua orang dengan tergesagesa mendekatinya. Dua orang peronda yang masih lolos dari tangan saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah. Sambil mengacukan senjatanya, seorang diantara keduanya itu membentak "Siapa kau, he?" Buta Ijo itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun tertawa sambil menjawab "kau aneh. Kenapa kau bertanya seperti itu?" Orang itu mengerutkan keningnya. Sementara itu Buta Ijo itu berkata "Bukankah aku yang dua hari yang lalu datang dari perguruan Susuhing Angin?" Kedua orang itu masih termangu-mangu. Tetapi yang seorang kemudian berkata “Bohong. Yang datang dari perguruan Susuhing Angin telah aku kenal semuanya" “Ternyata tidak. Kenapa kau tidak mengenal aku" desis Buta Ijo dengan tenang. "Menyerahlah. Bagaimana kau berhasil masuk kelingkungan kami yang tertutup ini" geram orang yang lain. Ujung senjatanya mulai bergetar. Tetapi Buto Ijo masih tenang-tenang saja. Bahkan iapun berkata pula “Kalian memang aneh. Jika aku bukan orang dari perguruan Susuhing Angin, bagaimana aku dapat masuk kemari?" "Tidak ada gunanya kau berbohong. Jika kau orang dari Susuhing Angin, apa yang kau lakukan disini?" Buta Ijo itu melihat berkeliling. Namun kemudian katanya perlahan-lahan "Tetapi jangan berkata kepada siapapun. Aku ingin masuk ke dapur" "Untuk apa?" bertanya salah seorang dari kedua peronda itu. "Aku lapar" Buta Ijo itu menjawab sambi] tertawa. Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Namun ternyata Buta Ijo telah memanfaatkan kesempatan itu. Dengan cepat ia meloncat menyusup diantara dua ujung senjata kedua orang itu. Dengan cepat pula kedua tangannya meraih kepala kedua orang itu. Kedua orang itu tidak sempat mengetahui apa yang terjadi kemudian. Duniapun segera menjadi gelap. Buta Ijo itu terbelalak melihat akibat perbuatannya. Kepala kedua orang itu menjadi retak. Dan darah telah mengalir. "Bukan maksudku" desis Buta Ijo yang menjadi sangat gelisah "aku bukan pembunuh yang mendapat kepuasan karena kematian orang lain" Tetapi ia tidak sempat berpikir panjang. Iapun kemudian telah menyeret kedua orang itu dan membenamkannya dibelakang gerumbul. Kedua pucuk senjata itupun telah dibuangnya kedalam gerumbul itu pula. Setelah menenangkan hatinya sejenak, Buta Ijo itupun mengendap-endap pula di kegelapan. Ia telah melingkari rumah yang besar itu. Namun dengan serta-merta Buta Ijo itu telah berhenti, menyusup kebalakang gerumbul ketika ia melihat sesuatu yang bergerak. Perlahan-lahan mulutnya telah berdecak seperti suara seekor bilalang. Ketika dari gerumbul yang lain juga terdengar suara yang sama, maka Buta Ijo itupun yakin, kalau yang dilihatnya bergerak itu adalah saudara seperguruannya. Karena itu, maka Buta Ijopun telah mendekatinya. Sebenarnyalah bahwa yang bersembunyi dibelakang gerumbul itu adalah saudara seperguruannya yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan dengan kumis yang panjang diujungnya. "Aku terpaksa membunuh" desis Buta Ijo. "Apaboleh buat" desis yang berkumis. Lalu katanya "Sebenarnya kita dapat mengetrapkan ilmu sirep saja" “Jangan" cegah Buta Ijo "sirepmu tidak akan berarti bagi orang-orang berilmu tinggi dirumah itu. Justru hanya akan mengundang kecurigaan saja. Jika mereka menyadari bahwa ada sirep, maka mereka justru akan segera bersiapsiap" Orang berkumis panjang dikedua ujungnya itu mengerutkan dahinya. Katanya "Sirepku melampaui ilmu sirep yang manapun. Kaupun akan tertidur pula karenanya" "Jika saudara-saudara kami tertidur, apa yang akan kami lakukan?" "Setan kau" geram orang berkumis itu. Buta Ijo itu tertawa. Tetapi orang berkumis itu cepat berdesis "Kau jangan mengacaukan rencana kita" Buta Ijo itu menutup mulutnya. Namun keduanya terkejut ketika mereka melihat beberapa orang keluar dari pintu samping dengan senjata siap ditangan. Mereka berhenti sejenak ketika pemimpin sekelompok orang itu memberikan perintah “Menyebar. Bayangan itu tentu masih belum keluar.” "Ternyata mereka sudah mengetahui bahwa ada orang lain di halaman rumah ini" gumam orang berkumis itu. "Beri isyarat" sahut Buta Ijo. "Kau sajalah. Suaramu lebih mirip dengan suara burung bence daripada suaraku" "Tetapi orang-orang itu sudah berada dihadapan hidung kita. Jika mereka mendengar suara burung bence disini, maka mereka tentu akan berdatangan kemari" desis Buta Ijo. Kawannya tidak menjawab. Tetapi tiga orang diantara mereka yang menyebar itu melangkah mendekati gerumbul tempat keduanya bersembunyi. Ketika ketiga orang itu benar-benar menyibak dedaunan gerumbul itu, maka kedua orang itu tidak mempunyai pilihan lain. Dengan cepat kedua orang itu meloncat dan menerkam ketiga orang itu. Orang berkumis itu menangkap seorang diantara mereka tepat dikepalanya. Satu putaran yang keras sekali ternyata telah mematahkan leher orang itu. Sementara sekali lagi Buta Ijo itu meraih dua kepala dan membenturkannya. Tetapi keduanya tidak lagi dapat bersembunyi. Tiga orang yang lain yang bergerak kesamping telah melihat serangan singkat yang telah melumpuhkan tiga orang kawannya itu. Karena itu, maka ketiga orang itupun segera berteriak "Mereka ada disini" "Wah" desah Buta Ijo "tetapi bukan kita yang menyebabkan kehadiran kita diketahui" "Tidak. Tentu bukan kita. Ketika mereka keluar dari pintu samping rumah itu, mereka sudah mencari seseorang. Tentu orang kantuk itu yang menyebabkannya" "Jangan menuduh" jawab Buta Ijo. Demikianlah, maka orang-orang yang keluar dari pintu samping itu segera mengepung Buta Ijo dan orang berkumis panjang diujungnya itu. Dengan demikian maka keduanya tidak dapat berbuat lain. Mereka harus bertempur menghadapi beberapa orang yang mengepung mereka. Namun Buta Ijo itu masih berdesis "Jika terjadi seperti ini, bagaimana kita dapat menghentikan perlawanan mereka tanpa membunuh?" "Tetapi bukan niat kita membunuh. Jika ada yang mati, itu salah mereka sendiri" jawab orang berkumis itu. "Ya, salah mereka sendiri " sahut Buta Ijo. Pemimpin sekelompok orang yang mengepung kedua orang saudara seperguruan Kiai Gumrah itupun berkata lantang "Menyerahlah. Mungkin kalian masih dapat diampuni" "Jika kami diampuni, apakah kami boleh pergi?" bertanya Buta Ijo. "Itu bukan persoalanku. Itu persoalan pemimpinku" jawab pemimpin kelompok itu. "Siapa pemimpinmu?" bertanya orang berkumis tipis. "Itu bukan urusanmu" jawab pemimpin kelompok "sekarang menyerahlah. Lemparkan senjata kalian. Melangkah maju perlahan-lahan" Buta Ijo itu termangu-mangu sejenak. Tetapi kemudian ia menggamit saudara seperguruannya sambil berdesis “Kita melangkah maju" Kedua orang itupun melangkah maju. Mereka terhenti ketika pemimpin kelompok itu berteriak "Lemparkan senjata kalian" Buta Ijo itu termangu-mangu. Luwuknya yang besar masih berada disarungnya. Demikian pula senjata orang berkumis itu. Ia membawa sepasang trisula yang masih terselip pada ikat pinggangnya, bersilang dipunggungnya. "Perlahan-lahan tarik senjata kalian dari sarungnya" teriak orang itu yang dengan sengaja ingin diperdengarkan kepada orang-orang yang ada didalam rumah itu. Sebenarnyalah bahwa para pemimpin dari kelompokkelompok yang ada dirumah itu mendengarnya. Seorang diantara mereka berdesis "Bodoh. Seharusnya ia tidak memerintahkan untuk mencabut senjata dari sarungnya. Biar saja senjata itu dilemparkan bersama sarungnya" Baru saja orang yang ada didalam rumah itu mengatupkan bibirnya, yang dicemaskan itu sudah terjadi. Buta Ijo dan orang berkumis itu memang menarik senjatasenjata mereka. Tetapi mereka tidak melemparkan senjata itu. Dengan cepat mereka telah meloncat menyerang dengan garangnya. Orang-orang yang mengepung dengan senjata teracu itu terkejut. Mereka tidak mengira bahwa kedua orang yang sudah dikepung itu masih berani menyerang. Namun mereka terlambat menyadari kesalahan mereka. Buta Ijo itu memutar luwuknya dengan cepat. Beberapa buah senjata terpelanting dari tangan pemiliknya. Namun mereka tidak sempat berbuat sesuatu karena ayunan luwuk itu berikut nya telah menyambar tubuh mereka. Beberapa orang telah terpelanting jatuh. Sementara itu beberapa orang yang lain telah berteriak kesakitan. Tajamnya trisula telah melukai beberapa orang pula. Pertempuran tidak dapat dihindari lagi. Namun Buta Ijo yang mempunyai kesempatan lebih dahulu tidak menyianyiakannya. Dengan cepat orang bertubuh raksasa itu berloncatan menyerang, sehingga lawan-lawannyapun berjatuhan. Demikian pula orang berkumis itu. Sepasang trisulanya berputaran dikedua tangannya. Setiap kali senjata lawannya yang sempat terjepit oleh mata trisula yang bercabang tiga itu, tentu terhempas dari tangan. Putaran trisula itu merupakan kekuatan yang dapat merenggut senjata lawan dengan kekuatan yang besar. Namun kedua orang itu tidak melayani lawan-lawannya terlalu lama. Keduanyapun kemudian sepakat untuk bergeser dari tempatnya dan berlari ke halaman belakang. Beberapa orang yang tersisa telah mengejar mereka berdua. Namun yang terjadi benar-benar menggetarkan jantung. Ketika mereka melewati sudut belakang rumah yang besar itu, maka dua orang yang berlari dipaling belakang telah terlempar jatuh. Demikian beberapa orang berhenti, maka dua orang lagi jatuh terpelanting sambil mengaduh kesakitan. Lima orang yang tersisa menjadi bingung. Mereka melihat seseorang berlari dari sudut belakang rumah itu dan menghilang di kegelapan. Pertempuranpun telah menjalar. Dari longkangan rumah itu terdengar suara kentongan memberikan isyarat kepada seisi rumah itu untuk bersiap menghadapi bahaya yang ternyata telah ada dihalaman rumah itu pula. Tetapi tiba-tiba saja suara kentongan itu terputus. Beberapa saat tidak terdengar lagi isyarat itu. Tetapi kemudian dari longkangan yang lain, telah terdengar lagi suara kentongan dengan nada titir. Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya tidak mempunyai pilihan lain. Merekapun telah bergerak bertindak. Beberapa kelompok pengikut Kiai Windu Kusuma, orang yang disebut Panembahan, Kiai Kajar dan orang-orang dari perguruan Susuhing Angin dan semuanya yang ada didalam lingkungan rumah yang besar itu telah menghambur keluar pula.' Orang-orang yang bergerak dalam kelompok-kelompok itu memang setiap kali terkejut. Tiba-tiba saja mereka diserang oleh orang-orang yang berloncatan dari gerumbulgerumbul perdu. Setelah terjadi pertempuran sejenak, maka orang itu segera berlari. Namun orang-orang yang mengejarnya, tiba-tiba saja telah mendapat serangan dengan cepat pula. Dua tiga orang terjatuh dengan luka-luka yang parah. Dengan demikian maka para pengikut orang-orang yang berkumpul dirumah yang besar itu dengan cepat menjadi susut. Tubuh mereka terbaring silang melintang di halaman samping dan halaman belakang. Kiai Gumrah dan Ki Pandi yang berada di halaman depan masih menunggu isyarat juragan gula sebagaimana disepakati. Sementara itu juragan gula yang ada disamping rumah yang besar itu, telah melibatkan diri pula. Ujung tombak ditangannya beberapa kali telah mematuk orangorang yang berlari-larian dan kejar-mengejar disekitarnya. Bahkan juragan gula itu sendiri juga harus ikut berlarilarian. Akhirnya orang-orang yang tinggal dirumah itu menyadari, bahwa orang yang datang memasuki halaman rumah itu jumlahnya cukup banyak. Karena itu, maka sekali lagi terdengar suara kentongan yang memberikan isyarat bahaya tertinggi bagi mereka yang tinggal di rumah itu. “Apa yang terjadi?" bertanya Kiai Windu Kusuma kepada seorang kepercayaannya. "Beberapa orang telah menyerang rumah ini, Kiai" jawab orang itu. "Berapa orang?" bertanya Kiai Windu Kusuma. "Belum dapat diketahui dengan pasti. Tetapi rasarasanya dimana-mana ada. Mereka memakai baju lurik hitam, celana hitam dan kain serta ikat kepala tatar ireng yang juga kehitam-hitaman" "Apakah kalian tidak dapat menyelesaikannya?" bertanya Kiai Windu Kusuma. "Aku cemas, bahwa tidak lama lagi orang-orang kita sudah habis dibantai oleh mereka. Mereka bersembunyi di balik geurmbul yang gelap..Namun kemudian tiba-tiba saja mereka menyergap jika ada orang-orang kita yang berlarilari dekat tempat persembunyian mereka" "Kenapa kalian berlari-lari?" bertanya Kiai Windu Kusuma. "Kami mengejar diantara mereka yang berlari untuk bersembunyi ditempat-tempat gelap" "Pikirkan. Bukankah kalian yang dungu" Kiai Windu Kusuma yang marah berteriak. Orang kepercayaannya itu tidak menjawab. Sementara itu orang yang disebut Panembahan yang juga sudah berkumpul diruang tengah itu berkata “Semua gerakan harus mulai diatur.” "Jangan menunggu sampai semua orang-orangku dibantai habis. Kita semuanya harus segera bertindak" berkata Kiai Windu Kusuma kepada orang-orang yang ada di ruang dalam "Maksudmu?" bertanya Kiai Kajar. "Semua orang harus keluar untuk menyongsong orangorang yang telah berani memasuki halaman rumah ini?" jawab Kiai Windu Kusuma. "Apakah kau tidak lagi mampu mengatasinya. Kau tuan rumah disini. Kau harus dapat mengamankan tamutamumu" berkata pemimpin Perguruan Susuhing Angin. "Kita mempunyai kepentingan bersama-sama. Jika orang-orangku habis dibantai, kita akan menjadi semakin lemah. Selagi hal itu belum terjadi, perintahkan orang-orang kalian dan bahkan kita semua untuk keluar" "Seberapa orang yang telah memasuki halamanmu? Siapa pula mereka?" bertanya Kiai Kajar. "Jangan berpura-pura lagi. Kita semuanya menjadi cemas. Jika sekelompok orang berani memasuki halaman rumahku, mereka tentu bukan orang kebanyakan" jawab Kiai Windu Kusuma. Yang menjawab adalah orang yang nampaknya paling berpengaruh diantara mereka. Panembahan itu. Katanya "Kita tidak dapat berpura-pura tenang disini. Aku setuju, semua kekuatan yang ada harus mulai bergerak. Semuanya barus mulai diatur dengan tertib. Jika kita tidak langsung ikut campur, maka kita sendiri akan mengalami kesulitan" Karena yang berbicara adalah orang yang sangat berpengaruh diantara mereka, maka tidak seorangpun yang membantah. Sementara Panembahan itu berkata "Kita harus mengetahui, siapakah orang yang datang itu. Aku condong menduga bahwa mereka adalah Kiai Gumrah dan kawan-kawannya. Ternyata rencana kita untuk datang, kerumahnya telah bocor, sehingga ia lebih dahulu datang kepada kita" "Itu tidak penting" jawab Kiai Kajar "mereka akan kita hancurkan disini" "Kita harus menemukan orang yang telah membocorkan rahasia ini" berkata pemimpin perguruan Susuhing Angin "Tidak perlu sekarang" jawab Kiai Windu Kusuma "yang penting kita hadapi orang-orang yang datang itu lebih dahulu" Orang-orang yang ada diruang dalam itupun telah mempersiapkan diri. Sementara itu, sebagaimana dikatakan oleh Panembahan, maka para pengikut dari berbagai macam perguruan itupun telah diperintahkan untuk ikut serta keluar dari bilik-bilik mereka. Karena itu, maka terdengar pula suara kentongan dalam nada yang berbeda. Bukan sekedar memperingatkan bahaya tertinggi bagi orang-orang yang ada didalam rumah yang besar dan halaman yang sangat luas itu. Tetapi nadanya menyiratkan perintah bagi semua orang untuk keluar. Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya tidak tahu maksud isyarat itu. Namun bunyi kentongan itu memperingatkan kepada mereka, bahwa mereka harus menjadi lebih berhati-hati. Sebenarnyalah sesaat kemudian, kelompok-kelompok yang ada di rumah itu telah keluar pula. Bukan hanya para pengikut Kiai Windu Kusuma. Namun merekapun segera disergap oleh saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah yang bertebaran di halaman.

Buku 7
Tamat SEPERTI yang sudah terjadi, maka orang-orang yang keluar kemudian itupun mengalami kesulitan menghadapi saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah. Mereka seakanakan muncui begitu saja dari kegelapan, menyerang dengan garangnya. Sebelum mereka menemukan orang yang menghilang itu, maka dari.arah lain telah meloncat bayangan, yang lain menyerang dengan cepat. Senjatanya menebas orang-orang terdekat. Tetapi sebelum yang lain mampu berbuat banyak, maka orang itupun telah meninggalkan mereka. Dua tiga orang yang mengejar» tibatiba saja harus menghadapi orang lain yang menyerang dari arah yang lain pula. Demikianlah halaman rumah itu menjadi bagaikan diaduk oleh saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah. Namun saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah itu telah mengalami kesulitan untuk mengendalikan diri agar ujungujung senjata, mereka tidak membunuh lawan-lawan mereka. Tetapi-mereka memang tidak mempunyai pilihan lain. Dalam keadaan yang gawat, maka sikap merekapun telah terpengaruh pula, karena mereka tentu tidak ingin membiarkan diri mereka sendiri yang harus jatuh menjadi korban. Dalam kekalutan itu, maka beberapa orang pemimpin yang ada diruang dalam telah keluar pula. Mereka menuju ke tempat yang berbeda. Namun mereka kemudian telah meneriakkan perintah agar para pengikut mereka semuanya mengepung halaman rumah itu dimulai dengan melekatkan punggung mereka pada dinding halaman dan menggiring orang-orang yang memasuki halaman itu ke halaman yang terbuka disisi sebelah kiri rumah yang besar itu. "Kita akan membantai mereka disana" teriak para pemimpin itu. Para pengikutnya itupun mulai menyadari kebodohan mereka. Karena itu, maka merekapun segera bergerak kedinding halaman. Berdiri berjajar pada jarak yang sama. Kemudian dengan aba-aba yang diteriakkan oleh Kiai Windu Kusuma dari serambi samping yang kemudian disambung sahut-menyahut, mereka bergerak maju. Saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah yang ada di halaman itu mengerti apa yang mereka hadapi. Mereka melihat orang-orang yang berlari-larian menebar mengelilingi halaman rumah itu, Merekapun sadar, bahwa orang-orang itu akan menyisir seluruh halaman untuk menemukah orang-orang yang bersembunyi di halaman rumah itu. Karena itu, maka mereka tidak menemukan pilinan lain. Mereka harus menghadapi orang-orang yang menebar itu. Namun sebenarnyalah bahwa orang-orang dari beberapa perguruan yang berkumpul di tempat itu menjadi berdebardebar. Mereka melihat beberapa orang pengikut Kiai Windu Kusuma yang telah menjadi korban. Bahkan kawankawan mereka yang baru saja keluar dari dalam rumah itupuri telah banyak yang menjadi korban pula. Karena itu, ketika aba-aba Kiai Windu Kusuma yang disambung sahut menyahut telah menggetarkan seluruh halaman, maka orang-orang yang mengepung halaman itu mulai melangkah maju dengan senjata yang merunduk. Setiap saat mereka siap untuk menghujamkan senjata mereka. Tetapi kebun belakang dari rumah yang besar itu cukup gelap oleh pepohonan dan gerumbul-gerumbul perdu. Dengan demikian maka orang-orang yang berjalan menyisir halaman itu tidak segera melihat, dimana lawan mereka bersembunyi. Namun ada beberapa orang saudara seperguruan Kiai Gumrah yang mempunyai cara yang sama untuk menghindar meskipun mereka tidak saling bicara lebih dulu. Tiga orang diantara mereka telah memanjat pohon yang cukup besar di kebun belakang rumah yang besar itu. Ternyata gelap malam dan gerumbul-gerumbul perdu cukup melindungi mereka dari orang-orang yang berjajar melangkah maju dengan senjata yang merunduk itu. Mereka sama sekali tidak melihat bahwa ada orang-orang yang sedang melekat pada dahan pepohonan. Tetapi beberapa orang yang lain tidak dapat menghindar lagi. Mereka benar-benar telah digiring ke halaman samping yang terbuka. Sementara beberapa orang pemimpin dari berbagai perguruan telah berada di tempat itu pula. Namun dalam pada itu, juragan gula itupun menyadari bahwa keadaan sudah semakin gawat. Karena itu, maka semua kekuatan harus dikerahkan. Sehingga dengan demikian, maka juragan gula itu menganggap bahwa sudah sampai saatnya pintu gerbang halaman rumah itu dibuka dan membiarkan cucu-cucu Kiai Gumrah yang membawa songsong itu masuk kehalaman. Dengan demikian, maka mereka akan dapat memancing perhatian para pemimpin yang sedang menunggu di halaman samping, sementara orang-orangnya berusaha menggiring-saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah yang ada di halaman. Karena itu, maka sejenak kemudian terdengar suitan nyaring. Suaranya menggetarkan udara di seluruh halaman yang luas itu. Suaranya bukan sekedar bunyi, yang nyaring. Tetapi getarannya telah menerpa isi dada orang-orang yang mendengarnya Orang-orang yang datang dari berbegai perguruan itu memang terkejut mendengar suitan nyaring itu Rasarasanya dada mereka telah dihentak oleh kekuatan yang sangat besar. Dengan demikian, maka mereka harus mengerahkan daya tahan mereka untuk menjaga agar mereka tidak mengalami kesulitan pada bagian dalam tubuh mereka. Narnun suitan itu bagi Kiai Gumrah merupakan isyarat. Ia harus membuka pintu gerbang halaman rumah itu. Tetapi sebelum Kiai Gumrah yang membawa sebatang tombak itu beranjak, maka Ki Pandipun berdesis "Biarlah aku saja yang membuka.” Ki Pandi yang bongkok itulah yang kemudian berlari ke pintu gerbang: Dua orang penjaga, pintu gerbang itu memang sedang kebingungan. Mereka tidak tahu pasti, apa yang terjadi. Mereka hanya mendengar isyarat pertanda bahaya. Bahkan kemudian perintah bagi semua orang yang ada di rumah yang besar itu. Bahkan ia mendengar para pemimpinnya berteriak memberikan aba-aba. Ketika mereka melihat orang bongkok berlari-lari menuju pintu gerbang, merekapun segera bersiaga. Demikian Ki Pandi itu mendekat, maka kedua orang itu dengan serta-merta telah menyerangnya. Namun mereka tidak tahu apa yang telah terjadi. Tibatiba saja mereka terpelanting jatuh. Kepala mereka seakanakan telah dibenturkan ditanah. Pandangan mata merekapun menjadi gelap. Senjatasenjata mereka terlempar tanpa mereka ketahui dimana senjata-senjata itu terjatuh. Ternyata kedua orang itupun menjadi pingsan karenanya. Karena itulah, maka Ki Pandipun dengan cepat mengangkat selarak dan membuka pintu gerbang itu. Tetapi ternyata beberapa orang yang sedang sibuk di halaman samping dan belakang itupun melihat apa yang terjadi. Karena itu, maka beberapa orang telah berlari-lari menuju ke pintu gerbang halaman depan. Halaman yang terbuka, yang dikira tidak menjadi tempat persembunyian orang-orang yang memasuki halaman rumah yang besai itu. Karena itu, maka halaman depan rumah itu agak luput dari perhatian penghuni rumah itu. Bahkan merekapun tidak ingin menyelesaikan pertempuran itu di halaman depan. Tetapi di halaman samping yang juga terbuka, yang tidak mendapat pemeliharaan sebagaimana halaman depan yang diatur dengan rapi dan ditanami dengan beberapa pohon bunga diantara tebaran rumput yang hijau. Tetapi meskipun pohon bunga itu terhitung jarang, namun dapat juga dipergunakan untuk bersembunyi Kiai Gumrah dan Ki Pandi. Pintu gerbang yang terbuka itu memang merupakan isyarat bagi kelima orang yang membawa songsong yang disimpan dengan baik oleh Kiai Gumrah atas nama perguruannya. Karena itu, maka demikian mereka melihat pintu itu terbuka, merekapun segera berlari memasuki pintu gerbang itu. Namun, demikian mereka masuk, maka mereka segera melihat Ki Pandi tengah menghalau beberapa orang yang menyerangnya. Kehadiran kelima orang itu memang mengejutkan. Apalagi seorang diantara mereka membawa sebuah songsong yang terbungkus, namun yang masih dapat dilihat kilatan warna kuning keemasan jika kain yang membungkusnya itu tersingkap. Demikian mereka berada di halaman, maka Winih lah yang telah menarik baju lurik yang dipergunakan menutupi payung itu. Tutup itu sudah tidak ada artinya lagi, justru payung itu sengaja ditunjukkan untuk menarik perhatian orang-orang terpenting yang ada di rumah itu. Sebenarnyalah beberapa orang yang berlari-larian ke halaman depan memang mengejutkan para pemimpin yang sudah berada di serambi menghadap ke halaman samping yang terbuka untuk menunggu orang-orang yang akan digiring ke halaman itu Apalagi ketika seorang diantara mereka berteriak "Mereka berada di halaman depan Lihat, songsong itu." Beberapa orang pemimpin yang ada di rumah itu memang segera tertarik untuk menyaksikannya. Karena itu, maka merekapun segera bergeser melingkari serambi rumah itu. Sebenarnyalah mereka melihat songsong kuning gemerlapan memantulkan cahaya oncor yang ada di sudutsudut halaman dan bahkan di serambi depan. Songsong kuning keemasan yang dilingkari warna hijau ditengahnya. Melihat songsong itu, maka Kiai Kajar telah menggeram "Mereka telah mengantarkannya sendiri. Aku harus berterimakasih kepada mereka." "Mereka benar-benar sombong" desis Kiai Windu Kusuma "Tetapi mereka tentu akan menyesal." Disebelah mereka orang yang disebut Panembahan itu berkata "Aku akan mengambilnya. Juga tombak-tombak yang tentu mereka bawa kemari” Kiai Kajar mengerutkan dahinya. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu. Sementara Susuhing Angin justru telah melangkah mendekati sekelompok orang yang membawa dan melindungi songsong itu. Tetapi ternyata bukan hanya mereka. Beberapa orang yang lainpun telah mengikutinya pala. Sementara itu di halaman belakang telah terjadi keributan. Pertempuran tidak dapat dihindarkan lagi. Beberapa orang saudara seperguruan Kiai Gumrah tidak mampu bersembunyi lebin lama ketika orang-orang yang mengepung halaman itu bergerak menyisir kebun menggiring mereka ke halaman samping. Tetapi orang-orang dari beberapa perguruan yang berkumpul di rumah itu menjadi berdebar-debar. Ternyata mereka harus bertempur dengan orang-orang berilmu tinggi. Meskipun jumlah mereka jauh lebih banyak. Namun sulit bagi mereka untuk dapat bertahan. Dalam kekalutan pertempuran itu, maka saudarasaudara seperguruan Kiai Gumrah yang memanjat pohon telah berloncatan turun. Mereka justru telah berada di belakang kepungan. Ketika mereka menyerang dari belakang, maka orang-orang yang berusaha menggiring saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah itu terkejut. Sehingga dengan demikian maka kepungan merekapun telah terkoyak. Sementara itu, beberapa orang saudara seperguruan Kiai Gumrah yang sudah berada di longkangan dalam serta bahkan memasuki pintu butulan, terkejut ketika mendengar jerit beberapa orang perempuan. Ternyata mereka telah tersesat memasuki satu ruang yang berisi beberapa perempuan yang beberapa diantaranya sedang mabuk. Ketika kawannya menjerit ketakutan melihat kehadiran saudara seperguruan Kiai Gumrah, perempuan yang mabuk itu justru tertawa berkepanjangan. Saudara seperguruan Kiai Gumrah itu telah keluar lagi dari ruangan itu. Dengan hati-hati seorang diantaranya menyusup ke ruang yang lain. Namun rumah itu seakanakan telah menjadi kosong. Bahkan ketika ia memasuki ruang tengah, maka yang dijumpainya adalah Buta Ijo yang juga sedang termangu-mangu. "Mereka telah pergi keluar" desis Buta Ijo. Keduanyapun kemudian telah memasuki ruanganruangan yang lain dan mencari jalan untuk menuju ke pintu pringgitan. Ternyata pintu pringgitan meskipun sudah ditutup, tetapi tidak diselarak. Dengan demikian mereka membuka pintu, maka mereka melihat apa yang terjadi di halaman depan yang terbuka. Sejenak kedua orang saudara seperguruan Kiai Gumrah yang ada di pringgitan itu menjadi tegang. Mereka melihat beberapa orang yang tentu berilmu tinggi sedang melintasi halaman depan. "Tentu mereka para pemimpin dari perguruan-perguruan yang berkumpul disini" desis Buta Ijo. "Apa yang kita lakukan sekarang?" bertanya pada kawannya. “Aku ingin beristirahat disini" berkata Buta Ijo. "Gila. Kau biarkan saudara-saudara kita bertempur sementara Kau akan tidur di laicak itu?" geram kawannya. "Aku sudah bertempur. Kiai Gumrah tentu sejak tadi bersembunyi disana." jawab Buta Ijo. "Tetapi bukan karena Kiai Gumrah malas. Bukankah menurut kesepakatan kita, Kiai Gumrah memang harus menunggu di halaman depan sehinga terdengar isyarat untuk membuka pintu gerbang?" Buta Ijo tidak menjawab. Tetapi ia melangkah melintasi pendapa menuju ke tangga yang menghadap ke halaman depan. Saudara seperguruannya itupun telah mengikutinya pula dibelakangnya. Sesaat mereka berdua berdiri termangu-mangu di pendapa. Namun mereka kemudian mendengar keributan terjadi di halaman samping yang terbuka. "Apa yang terjadi?" Desis Buta Ijo. "Pertempuran di halaman samping." jawab saudara seperguruannya itu. Buta Ijo Itu termangu-mangu. Namun sambil memandang ke halaman depan ia bertanya "Kita akan pergi kemana?" "Kita turun, ke halaman depan. Nampaknya orang-orang berilmu tinggi itu akan berkumpul disana, justru setelah payung itu dibawa masuk. Bukankan Kiai Gumrah sengaja memancing para pemimpin dari berbagai perguruan itu untuk datang kesana?" "Apakah saudara-saudara kita tidak akan mengalami kesulitan melawan orang-orang yang terlalu banyak itu.? “ "Mudah-mudahan tidak. Namun yang harus tampil ke halaman itu adalah Ki Prawara dan isterinya, juragan gula yang kikir itu dan Kiai Gumrah sendiri. Bukankan pusakapusaka itu ditangan mereka?" "Tetapi juragan gula itu tidak kikir" jawab Buta Ijo "Menurut pendapat ku, ia tidak pernah menunda pembayaran gula yang diserahkan kepadanya ." "Tetapi ia membeli dengan harga murah dan menjual dengan harga mahal." "Itu termasuk satu keahlian" jawab Buta Ijo. Namun saudara seperguruannya berdesis "Mereka hampir mulai. Kita tidak bisa berlama-lama disini." Buta Ijo itu termangu-mangu sejenak. Dahinya nampak berkerut. Ia belum melihat juragan gula, Ki Prawara dan isterinya di halaman depan, sementara para pemimpin dari perguruan-perguruan yang ada di rumah itu sudah mendekati mereka yang membawa songsong setelah mereka memasuki regol halaman yang telah terbuka. Dalam pada itu. orang yang disebut Panembahan yang ada diantara mereka yang mendekati songsong sudah berada di halaman itu tidak segera melihat orang bongkok yang nampaknya dengan sengaja berdiri dibelakang sekelompok orang yang membawa dan yang harus melindungi songsong itu. Beberapa langkah kemudian orang-orang berilmu tinggi itu berhenti. Panembahan, orang yang paling berpengaruh diantara para pemimpin perguruan yang ada di rumah itulah yang bertanya "Siapakah yang memerintahkan kalian datang untuk menyerahkan songsong itu kemari ?” Yang menjawab adalah salah seorang saudara seperguruan Kiai Gumrah "Kami datang tidak untuk menyerahkan songsong ini. Kami datang karena kami tidak.dapat menahan, diri lagi oleh tingkah laku kalian yang sangat menyakitkan itu. Bagi kami, lebih baik kami datang kemari untuk membuat penyelesaian tuntas daripada kami harus selalu menunggu dengan gelisah, karena kalian ingin merebut pusaka-pusaka kami." "Siapakah kau ?"bertanya Panembahan.- "Aku bukan siapa-siapa. Bertanyalah kepada Kiai Kajar." Panembahan itu memang berpaling kepada Kiai Kajar. Sementara Kiai Kajar melangkah maju sambil berdesis "Kau cucurut kecil. Dimana Gumrah. Aku ingin membuat penyelesaian tuntas. Akulah yang berwenang menyimpan pusaka-pusaka itu. Bukan Gumrah." Namun para pemimpin perguruan yang berkumpul di rumah itu terkejut ketika mendengar jawaban dari balik segerumbul pohon soka yang sedang berbunga itu. Kiai Gumrahlah yang kemudian melangkah mendekat dengan membawa tombak pusakanya sambil berkata "Sudah lama aku menunggu kesempatan untuk bertemu denganmu Kiai Kajar." "Gumrah" gumam Kiai Kajar. "Aku ingin mengucapkan terimakasih, bahwa kau sempat memberitahukan kepadaku lewat salah seorang pengikutmu bahwa besok rumahku akan didatangi oleh Kiai Windu Kusuma dan orang-orang berilmu tinggi yang lain." "Setan" geram pemimpin perguruan Susuhing Angin "Jadi kaukah yang telah berkhianat." Wajah-wajah itu memang menjadi tegang. Namun Panembahan itu tertawa. Katanya "Kau percaya akan katakatanya. Satu usaha untuk membuat kita saling curiga." "Tetapi bukankah masuk akal bila Kiai Kajar berkhianat? Bukankah ia berasal dari perguruan yang sama dengan orang-orang yang menyimpan pusaka-pusaka itu." jawab pemimpin perguruan Susuhing Angin. "Kau memang gila" geram Kiai Kajar "itu adalah salah satu sifat licik Kiai Gumrah. Aku memang mengenal orang itu sejak lama. Aku memang saudara seperguruannya. Karena itu aku tahu, bagaimana ia berusaha membenturkan kekuatan kita masing-masing." Tetapi Kiai Gumrah tertawa. Katanya "Maaf Kiai Kajar. Aku terlalu tergesa-gesa mengucapkan terimakasih kepadamu. Meskipun aku tahu bahwa pemberitahuanmu itu termasuk usahamu untuk menjebak aku." "Diam" bentak Kiai Kajar "tetapi apapun yang sudah kau katakan, sekarang kau datang membawa pusaka-pusaka itu. Jadi kau ingin menyerahkannya, serahkan segera sebelum terjadi sesuatu." "Kau tentu tahu bahwa bukan itu maksudku" jawab Kiai Gumrah "aku datang justru untuk mempertahankannya." "Cukup. Itu satu permainan yang buruk. Kami tidak akan membiarkan pengkhianatan itu terjadi. Dibelakang, orang-orang kami sudah banyak yang menjadi korban." teriak pemimpin perguruan Susuhing Angin. "Bukan hanya terlalu banyak" Kiai Gumrah menyahut "pada saatnya nanti, maka semua orang yang tidak menyerah akan mati. Termasuk kalian." "Aku tidak akan membiarkan pengkhianatan ini" pemimpin perguruan Susuhing Angin itu masih berteriak. Namun Panembahan itulah yang menjawab lantang. Suaranya tiba-tiba saja telah menggelegar menggetarkan setiap jantung “Hanya orang dungu yang percaya igauan Kiai Gumrah. Aku tidak percaya. Aku tidak pernah menganggap Kiai Kajar berkhianat kepada kita." Pemimpin perguruan Susuhing Angin itu termangumangu sejenak. Namun ia menyadari, bahwa Panembahan itu sudah marah. Karena itu, maka ia tidak menyahut lagi. Baru kemudian dengan lantang Panembahan itu berbicara, sementara getaran suaranya masih saja memukul isi dada "Sekarang, tugas kita menyelesaikan mereka. Aku justru merasa bersyukur bahwa mereka telah datang untuk menyerahkan pusaka-pusaka itu. Purnama tinggal beberapa hari lagi. Tetapi disini banyak terdapat jantung segar yang masih ada dalam dada. Karena itu, maka aku akan mencuci tombak itu dengan darah yang masih mengalir di jantung yang masih tergantung pada tangkainya.” Tetapi Kiai Gumrahpun bertanya "Darimana kau tahu bahwa sebelum purnama tombak ini harus dicuci dengan darah yang masih mengalir di dalam jantung." "Pertanyaanmu aneh Kiai. Seharusnya kau tahu akan hal itu Kiai Kajar juga mengetahuinya. Semua orangpun juga mengetahuinya." jawab Panembahan. "Tetapi justru aku tidak mengetahuinya. Bagiku tombak ini adalah tombak sewajarnya. Tetapi karena landeannya dibuat dari bahan yang mahal, serta riwayat dari tombak ini yang mempunyai arti khusus bagi perguruan kami, maka kami akan mempertahankannya dengan segala kemampuan yang ada pada kami." Panembahan itu tertawa. Katanya "Betapa dungunya kau Kiai. Kau sia-siakan tuah yang ada di dalam tombak itu. Karena itu serahkan tombak itu kepadaku." “Aku juga berhak atas tombak itu." geram Kiai Kajar. Kiai Gunirah tertawa pula. Katanya “Aku tahu bahwa kita yang berada disini akan saling memperebutkan tiga batang tombak yang disimpan oleh perguruan kami serta songsong yang kuning keemasan itu. Yang penting bagi kalian, apakah tuah pusaka-pusaka itu atau emas dan permata yang terdapat pada pusaka-pusaka itu ? Atau barangkali keduanya-duanya “ "Persetan Gumrah" teriak Kiai Kajar "serahkan tombak itu kepada kami” "Dan kalian akan berkelahi memperebutkannya ?" bertanya Kiai Gumrah. "Ada ampat batang pusaka yang akan kami ambil dari kalian" berkata Kiai Windu Kusuma "persoalan diantara kami kemudian, bukan urusanmu. Tetapi kau tidak akan dapat membenturkan kepentingan kami satu dengan yang lain. Usahamu untuk mengadu domba itu tidak akan berarti." "Sangat menarik" jawab Kiai Gumrah "tetapi baiklah. Meskipun aku tidak sependapat dengan pendapat kalian bahwa pusaka itu harus dicuci dengan darah yang masih mengalir di jantung, namun jika kalian memaksanya, maka benar-benar aku akan melakukannya, mencuci tombak ini." Panembahan itulah yang tertawa. Katanya "Kau kira kau merasa seorang yang mumpuni dalam ilmu kanuragan ? Baiklah. Kita akan membuktikannya apakah aku mampu mempertahankan dalan waktu yang singkat. Ingat, aku akan mengambilnya. Jantungmu menurut pendapatku adalah jantung yang paling baik untuk mencucinya." Namun Panembahan itu terkejut. Ia melihat seseorang yang ada dibelakang mereka yang membawa dan siap melindungi songsong itu bergerak dan melangkah maju sambil berkata "Tidak semudah itu Lebdagati." Panembahan itu mengerutkan dahinya. Dipandanginya orang itu tajam-tajam. Namun kemudian ia menggeram "Kau bongkok buruk. Aku sudah mengira bahwa kau.akan melibatkan diri. Ceritera tentang harimau jadi-jadian itu telah memastikan, bahwa kau akan hadir dalam persoalan ini." “Aku menunggumu, Panembahan Lebdagati. Sejak kau lolos dari tanganku di sarangmu itu, maka aku telah mengembara untuk dapat menemukanmu." "Seharusnya kau menyadari keadaan dirimu. Kau bongkok, buruk dan dungu. Untuk apa kau mencari-cari aku, sementara kau tidak mampu berbuat apa-apa atasku?" bertanya Panembahan. "Sekarang kita buktikan, apakah kau dapat berbuat apaapa atau tidak." jawab Ki Pandi. Wajah Panembahan itu menjadi tegang. Sekali-sekali dipandanginya Kiai Gumrah yang membawa satu diantara tombak-tombak pusaka yang dicarinya. Namun ia sadar bahwa ia tidak dapat mengabaikan kehadiran orang bongkok itu. Karena itu, maka iapun berkata kepada kawankawannya "Jaga agar tombak dan songsong itu tidak lolos. Setidak-tidaknya yang ada di halaman ini. Biarlah aku menyelesaikan orang bongkok ini lebih dahulu." Orang bongkok itu memang bergeser menjauhi mereka yang membawa songsong, iapun segera mempersiapkan diri menghadapi Panembahan itu sambil berkata "Marilah Panembahan. Aku ingin agar persoalan yang ada diantara kita segera tuntas." Panembahan itu tidak dapat berbuat lain. Ia sadar, orang bongkok itupun mempunyai ilmu yang sangat tinggi. Ia dapat berbuat apa saja sebagaimana yang dapat dilakukannya. Karena itu, maka Panembahan itupun harus berhati-hati menghadapinya Demikian Panembahan itu bergeser, maka Kiai Kajarlah yang serta merta menghadapi Kiai Gumrah. Dua orang saudara seperguruan yang memiliki kelebihan diantara saudara-saudaranya yang lain. Ketika Kiai Windu Kusuma dan pemimpin dari perguruan Susuhing Angin itu akan bergerak, maka dua orang saudara seperguruan Kiai Gumrah yang memang ditugaskan untuk melindungi songsong itupun bergerak pula. Namun mereka tertegun ketika dari halaman samping telah muncul dua orang suami isteri. Seorang diantaranya membawa tombak pula. Ki Prawara dan Nyi Prawara. Tetapi ternyata Ki Prawara dan Nyi Prawara tidak sempat mendekat. Dua orang diantara mereka yang menyertai para pemimpin mereka itupun telah menyongsong suami isteri itu. Seorang diantara keduanya adalah murid terpercaya dari perguruan Susuhing Angin. Seorang yang bertubuh tinggi besar. Berkumis lebat, namun berkepala botak. Ia tidak mengenakan ikat kepalanya dengan baik. Bahkan dengan sengaja menunjukkan kepalanya yang botak itu. Sedangkan yang seorang lagi adalah seorang kepercayaan Kiai Windu Kusuma. Ki Prawara dan Nyi Prawarapun berhenti untuk menanti kedua orang itu. Demikian kedua orang itu mendekat, maka kepercayaan Kiai Windu Kusuma itu menggeram "Setan. Ternyata seorang diantaranya seorang perempuan." Orang bertubuh tinggi besar itupun mengumpat. Katanya "Kalian menghina kami. Tetapi kalian akan menyesal sampai tujuh turunan. Aku memang memerlukan seorang perempuan. Perempuan-perempuan pemabuk itu sangat menjemukan bagiku." Wajah Nyi Prawara menjadi merah. Tetapi iapun segera bergeser sambil berkata "Katakan apa yang akan kau katakan, karena kesempatanmu akan segera berakhir. Nanti kau tidak akan dapat mengatakan apapun juga setelah nyawamu lepas dari tubuhmu." Orang bertubuh raksasa itu membelalakkan matanya. Tetapi iapun kemudian tertawa "Jarang aku temui perempuan yang garang seperti perempuan ini. Tetapi justru karena itu, maka ia adalah perempuan langka yang banyak dicari." Nyi Prawara tidak dapat menahan gejolak perasaannya lagi. Kemarahannya telah membakar jantungnya dan membuat darahnya mendidih karenanya. Karena itu, maka dengan serta-merta Nyi Prawara itupun telah meloncat menyerang. Serangan yang tak diduga sama sekali oleh orang yang bertubuh raksasa itu. Karena itu, maka ia tak sempat mengelak lagi. Ketika kaki Nyi Prawara yang mengenakan pakaian khususnya terjulur lurus kearah dada, maka orang yang bertubuh tinggi besar itupun hanya sempat memiringkan tubuhnya sambil melindungi dadanya dengan sikunya. Namun ternyata bahwa tenaga serangan Nyi Prawarapun tidak terduga pula. Dengan kekuatan tenaga dalamnya, maka serangan itu benar-benar telah mengguncang tubuh lawannya itu. Orang yang bertubuh raksasa itu ternyata telah terdorong surut. Namun ia masih mampu mempertahankan keseimbangannya sehingga raksasa itu tidak terjatuh. Namun bahwa serangan perempuan itu sempat mengguncang tubuhnya, maka raksasa itu benar-benar merasa tersinggung. Sambil menggeram orang itu telah mempersiapkan dirinya. Tangannya mengembang siap untuk menangkap dan meremas tubuh Nyi Prawara yang jauh lebih kecil dari tubuh raksasa itu. Namun sebelum ia bergerak, terdengar suara tertawa berkepanjangan. Seorang yang juga bertubuh tinggi besar melangkah mendekat sambil berkata “He, ternyata dilihat dari ukuran tubuh, agaknya kita akan dapat menjadi lawan yang seimbang.” Raksasa yang siap meremas tubuh Nyi Prawara itu termangu-mangu. Dilihatnya dua orang yang datang mendekat. Seorang diantaranya adalah orang yang bertubuh tinggi besar, sebagaimana dirinya sendiri. Nyi Prawara yang juga berpaling itupun berkata "Menyingkirlah Buta Ijo. Apa kau kira aku tidak dapat melawannya." “Tidak. Bukan itu Nyi" Berkata Buta Ijo "Jika aku melawannya, agaknya akan menjadi tontonan yang menarik. Dua orang raksasa berkelahi, He, Nyi. Masih ada banyak lawan yang bakal datang kemari. Dihalaman samping itu mengalir orang-orang yang jumlahnya cukup banyak." "Aku tidak peduli mereka. Aku ingin melawan raksasa dungu ini. Carilah lawan yang lain." "Ia sudah merendahkan martabatku sebagai seorang perempuan." berkata Nyi Prawara. Buta Ijo itu mengangguk angguk kecil. Ia memang mendengar kata-kata tajam yang menusuk perasaan Nyi Prawara. Karena maka katanya "Baiklah. Ia memang menghinamu. Tetapi biarlah aku bermain-main dengan yang seorang lagi.” "Serahkan itu kepadaku." barkata Nyi Prawara. "Nampaknya kau ditunggu didekat pintu gerbang itu." berkata Buta ljo. Ki Prawara memperhatikan pertempuran yaug sudah terjadi di dekat pintu gerbang. Ternyata ada beberapa orang yang harus bertempur melawan dua bahkan tiga orang. Karena itu, maka Ki Prawara yang membawa satu diantara tombak-tombak pusaka itupun segera meloncat kearah pintu gerbang sambil berkata "Selesaikan raksasa dungu itu, Nyi” Nyi Prawara tidak menjawab. Tetapi iapun segera beringsut untuk menghadapi raksasa yang telah merendahkan martabatnya itu. Buta Ijo itulah yang kemudian termangu-mangu, sementara kawannya lebih dahulu telah berhadapan dengan kawan raksasa yang bertempur melawan Nyi Prawara itu. Untuk sementara Buta Ijo justru kebingungan. Namun kemudian ia telah melihat pertempuran di dihalaman sebelah kiri yang terbuka telah bergeser pula. Beberapa kawan Buta Ijo itu memang terdesak. Lawan mereka masih terlalu banyak. Buta Ijo itu menarik nafas dalam-dalam. Ia sama sekali tidak gentar menghadapi lawan yang berapapun jumlahnya. Tetapi ia menjadi ngeri melihat tubuh yang silang melintang dimana-mana. Tetapi Buta Ijo itupun menyadari, tanpa berbuat demikian, maka justru saudara-saudara seperguruannya-lah yang akan terbaring diam di halaman dan dikebun yang luas itu. "Pertempuran yang gila” desis Buta Ijo itu. Namun Buta Ijo itu tidak dapat berdiam diri. lapun segera berlari dan bergabung dengan saudara-saudara seperguruannya yang harus bertempur melawan kelompokkelompok orang yang datang dari beberapa perguruan itu. Pertempuran itu dilihat dari jumlahnya memang tidak seimbang. Tetapi saudara-saudara seperguruan Buta Ijo itu memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari orang-orang yang datang dari beberapa perguruan itu. Pemimpinpemimpin mereka yang berilmu tinggi ternyata telah berkumpul didekat pintu gerbang karena mereka memang terpancing oleh songsong yang berwarna kuning keemasan itu, sebagaimana diinginkan oleh Kiai Gumrah. Karena itu, maka dengan kemampuan yang tinggi, serta kerja sama yang sangat baik, saudara-saudara seperguruan Buta Ijo itu mampu mengacaukan lawan mereka yang jumlahnya jauh lebih banyak itu. Satu-satu orang-orang dari beberapa perguruan itu jatuh dan tidak mampu bangun lagi. Meskipun saudara-saudara seperguruan Buta Ijo itu bukan pembunuh yang tidak berjantung, tetapi dalam keadaan itu, mereka akan sangat sulit untuk mengekang ujung senjata mereka. Tanpa niat untuk membunuh, maka beberapa lawan-pun telah terbunuh, sementara yang lain terluka parah. Dalam pertempuran yang kalut itu, maka Buta Ijopun segera berbaur dengan saudara-saudara seperguruannya yang jumlahnya tidak begitu banyak itu. Namun dengan gerak yang cepat dalam garis perlawanan yang tidak menentu, maka lawan-lawan mereka memang menjadi bingung. Bahkan masih ada saudara-saudara seperguruan Buta Ijó itu yang menyerang, namun kemudian berloncatan menjauh, sementara orang lain telah berlari sambil menyambar dengan senjatanya. Dalam pada itu. para pemimpin dari beberapa perguruan serta pengawal-pengawal terbaik mereka telah bertempur pula didekat pintu gerbang. Seorang Putut kepercayaan Kiai Windu Kusuma yang berusaha langsung meraih songsong yang dibawa oleh Laksana harus berhadapan dengan Winih. Putut memang terkejut ketika lawan yang dihadapinya itu seorang perempuan yang masih terlalu muda. "Kenapa kau ikut memasuki halaman rumah ini ? Apakah kau tidak tahu, bahwa halaman ini akan menjadi neraka bagi mereka yang telah berani memasukinya?" bertanya Putut itu. Sambil memutar rantainya Winih menjawab "Aku memang sudah berniat melakukannya. Nah bersiaplah. Kita akan bertempur." "Siapa namamu?" bertanya Putut itu. Ternyata Winih tidak, merahasiakan namanya. Karena itu, maka iapun menjawab "Namaku Winih." "Winih. Kaukah yang sering disebut-sebut oleh Darpati?” "Mungkin" jawab Winih "sayang, bahwa aku harus membunuhnya ketika ia berniat menjadikan aku barang taruhan.” "Kau telah membunuh Darpati?" bertanya Putut itu. "Ya. Aku terpaksa melakukannya" jawab Winih. Putut itu tertawa. Katanya "Jangan mengigau. Darpati adalah anak muda berilmu tinggi. Ia memang terbunuh. Tetapi tentu bukan kau yang membunuhnya." "Percaya atau tidak, itu bukan persoalanku. Sekarang kita akan bertempur. Bersiaplah." Putut itu termangu-mangu sejenak. Namun perempuan a itu nampak yakin akan dirinya sendiri, sehingga karena maka Putut itu harus berhati-hati menghadapinya. Winih yang sudah memutar rantainya tidak menunggu lebih lama lagi. Ialah yang telah mendahului menyerang Putut yang bersenjata pedang itu. Dengan loncatanloncatan yang cepat. Winih berusaha untuk menembus pertahanan Putut itu. Tetapi Putut juga mempunyai bekal yang cukup untuk menghadapi Winih. Dengan tangkas Putut itu mengimbangi kecepatan gerak Winih. Demikianlah, maka sejenak kemudian keduanya celah terlibat dalam pertempuran yang sengit. Mereka saling menyerang dan menghindar. Beberapa kali Winih berhasil mendorong lawannya berloncatan surut. Tetapi kemudian Winih-lah yang harus melangkah mundur karena serangan lawannya yang datang beruntun. Namun Putut itu menjadi semakin tegang ketika ternyata perempuan itu memang tidak dapat segera ditundukkan. . Bahkan ia mulai mempercayainya, bahwa perempuan muda itu telah berhasil mempertahankan dirinya terhadap Darpati, meskipun mungkin ia tidak sendiri. . Tetapi semakin lama Putut itu menjadi semakin gelisah. Winih ternyata benar-benar memiliki ilmu yang tinggi! Menilik ujudnya, perempuan itu tentu masih sangat muda. Namun adalah diluar dugaannya, bahwa perempuan muda itu benar-benar telah mampu mendesaknya. Putut itu tahu benar bahwa Darpati termasuk seorang yang berilmu tinggi. Tetapi jika benar perempuan muda itu dapat membunuhnya, maka perempuan yang bernama Winih itu adalah perempuan yang sangat berbahaya. Dalam pada itu, pertempuran didekat pintu gerbang itupun menjadi semakin sengit. Beberapa orang telah langsung terlibat. Demikian pula juragan gula itupun telah berada didekat pintu itu pula. Dengan demikian tiga buah tombak pusaka dan sebuah songsong telah terkumpul didekat pintu gerbang itu. Namun bukan sebagai benda-benda yang akan dipersembahkan kepada Panembahan Lebdagati serta Kiai Windu Kusuma dan kawan-kawannya. Tetapi senjata itu justru telah dipergunakan untuk melawan mereka. Dengan demikian maka pertempuran itu merupakan pertempuran habis-habisan dari dua kelompok orang-orang berilmu tinggi. Ternyata Kiai Windu Kusuma kemudian berhadapan dengan Ki Prawara yang juga membawa sebuah diantara tombak pusaka itu, sedangkan juragan gula itu bertempur melawan pimpinan perguruan Susuhing Angin yang masih saja selalu mencurigai Kiai Kajar tentang kebocoran rencana mereka untuk menjemput pusakapusaka itu dirumah Kiai Gumrah. Namun dalam pada itu, Kiai Kajar sendiri harus bertempur dengan mempertaruhkan segala-galanya melawan Kiai Gumrah. Keduanya saudara seperguruan yang dianggap memiliki kelebihan dari saudara-saudara seperguruannya yang lain disamping juragan gula itu. Sementara itu, diarena pertempuran yang lain, beberapa orang saudara seperguruan Kiai Gumrah itu masih bertempur melawan orang-orang dari berbagai perguruan. Namun jumlah mereka memang menjadi semakin susut. Meskipun demikian, namun orang-orang itu masih tetap merupakan bahaya yang sungguh-sungguh bagi saudarasaudara seperguruan Kiai Gumrah. Tiga orang saudara seperguruan Kiai Gumrah sudah terluka meskipun tidak parah. Justru orang yang selalu menyebut dirinya sambil bergurau berilmu tinggi. Seorang lagi yang lebih banyak mengantuk dari pada tidak. Sedangkan yang lain adalah seorang yang kurang bersungguh-sungguh menghadapi lawannya. Orang yang berjambang tebal itu menganggap permainan yang dilakukan sangat menyenangkan. Baru ketika lengannya tergores senjata lawannya, orang itu menjadi sangat marah dan bersungguh-sungguh. Namun kemarahannya telah menimbulkan banyak kesulitan bagi lawan-lawannya. Dalam pada itu Buta Ijopun telah berada diantara saudara-saudara seperguruannya. Ternyata saudara-saudara seperguruannya telah berusaha untuk memancing dilingkungan yang lebih luas dari halaman yang terbuka disisi sebelah kiri rumah yang besar itu. Tetapi juga menebar kehalaman depan. Semakin luas medan, maka saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah itu sempat membuat lawan-lawan mereka kadang-kadang kebingungan. Kadang-kadang orang-orang yang berpakaian serba hitam itu bagaikan hilang lenyap dalam bayangbayang dedaunan. Namun tiba-tiba mereka muncul bagaikan terbang menyambar korban yang terdekat dengan sejata-senjata mereka. Berbeda dengan saudara-saudaranya, Buta Ijo ternyata memilih cara yang lain. Ketika beberapa orang menyerangnya, ia justru berlari naik ke pendapa, kemudian melintasi pringgitan mendorong pintu dan masuk ke ruang dalam. Ampat oang bersama-sama mengejarnya dengan senjata teracu. Dibelakangnya tiga orang yang lain telah memburu pula. Buta Ijo itu ternyata tidak berlari terus, Demikian ia menyelinap dibalik pintu, iapun segera menunggu. Keempat orang yang memburunya itu terkejut. Demikian mereka melintasi pintu, maka dari sisi pintu itu terayun selarak pintu yang berat menghantam mereka. Dua orang yang berada didepan telah terpental membentur orang-orang yang ada dibelakangnya. Keempat orang itu seakan-akan telah terlempar kembali keluar dari pintu pringgitan. Ketiga orang yang memburu dibelakang mereka terkejut. Mereka bahkan berloncatan surut. Dua orang diantara keempat orang yang jauh terlentang itu segera berloncatan bangkit. Namun kepala mereka yang membentur lantai pendapa itu membuat mereka merasa pening. Sementara dua orang yang berada didepan memang mencoba juga untuk bangkit. Tetapi wajah mereka mulai dibasahi oleh darah yang mengalir dari luka. Seorang diantara mereka telah melelehkan darah dari sela-sela bibirnya. Tiga giginya patah, sementara bibirnya menjadi pecah-pecah, sedang yang seorang lagi dahinya bukan saja menjadi memar, tetapi juga terluka dan menitikkan darah pula. "Setan" geram kawannya. Tetapi mereka tidak berani berlari memasuki ruang dalam. Ternyata raksasa yang berlari keruang dalam itu tidak mempergunakan senjatanya sendiri. Ia telah menyerang justru dengan selarak pintu. Dengan hati-hati dua orang diantara mereka telah melintasi pintu. Mereka melihat ruang dalam itu kosong. Raksasa itu tentu sudah berlari dan bahkan mungkin bersembunyi. Dibelakang mereka tiga orang yang lain mengikuti kedua orang kawannya, sedangkan dua orang yang terluka itu berada dipaling belakang. Sejenak kemudian tiba-tiba mereka terkejut. Mereka mendengar, jerit perempuan-perempuan yang berkumpul dibilik dibelakang ruang dalam. Agaknya raksasa itu telah masuk kedalam bilik perempuan-perempuan itu. Ketika orang-orang yang mengejar raksasa itu berlari kearah bilik itu, mereka telah saling bertubrukan dengan beberapa orang perempuan yang berlari-larian keluar dari bilik itu. Dari dalam bilik itu terdengar suara membentak-bentak "cepat keluar, atau aku bunuh kalian. Cepat sebelum aku kehilangan akal." Perempuan-perempuan itu memang menjadi ketakutan dan berlarian keluar justru pada saat orang-orang yang memburu Buta Ijo itu berlari menuju kebilik karena mereka mendengar suara perempuan yang menjerit-jerit. Selagi orang-orang yang mengejarnya itu menyibak perempuan yang berlari-larian menjauhi bilik itu, maka Buta Ijopun telah berlari pula. Dengan cepat ia menyelinap kesudut serambi disamping ruang dalam. Orang yang mengejarnya itu menjadi lebih berhati-hati. Mereka tidak langsung memburu melalui sudut serambi itu. Raksasa itu akan dapat dengan tiba-tiba menyerang mereka. Dengan hati-hati mereka telah memasuki serambi yang panjang. Namun mereka sama sekali tidak melihat Buta Ijo. Orang yang tertua diantara mereka yang mengejar Buta ijo itu berdesis "Kita berpencar. Tetapi hati-hati. Orang itu licik sekali." Dengan demikian, maka mereka telah membagi diri menjadi dua kelompok. Satu kelompok terdiri dari ampat orang, namun dua diantaranya telah terluka dan kesakitan, sedangkan kelompok yang lain terdiri dari tiga orang. Dengan hati-hati mereka menyelinap diantara dindingdinding rumah yang besar itu. Tetapi ternyata mereka memang mengalami kesulitan melawan raksasa itu. Meskipun mereka lebih menguasai medan karena mereka memang tinggal dirumah itu, tetapi Buta Ijo tiba-tiba saja dapat menyergap mereka. Dua orang diantara keempat orang itu telah mengalami nasib yang buruk pula. Buta Ijo telah memukul mereka dengan selarak pintu dari balik selintru. Seorang diantara mereka tidak saja sekedar berdarah. Tetapi orang itu langsung jatuh dan menjadi pingsan. Tengkuknya serasa menjadi patah oleh selarak pintu itu. Sedangkan seorang lagi terduduk sambil memegang perutnya yang dihantam selarak pintu itu pula. Dua orang yang sudah terluka sebelumnya itu menjadi ragu-ragu. Namun mereka masih juga memberanikan diri untuk mencari raksasa yang bersembunyi didalam rumah itu. Sementara itu, di halaman. Nyi Prawara yang hatinya telah dibakar oleh kata-kata lawannya yang bertubuh raksasa itu, bertempur dengan tangkasnya. Meskipun tenaganya tidak sekuat raksasa itu, namun kecepatannya bergerak telah membuat lawannya menjadi bingung. Rasarasanya perempuan itu berloncatan berputaran disekitar tubuhnya. Kadang-kadang bahkan sempat hilang dari tangkapan penglihatannya. Namun tiba-tiba perempuan itu meloncat menyerang dengan cepatnya. Raksasa itu mulai gelisah. Semula ia merasa, bahwa ia tidak akan memerlukan waktu terlalu lama. Bahkan raksasa itu ingin menangkap perempuan itu tanpa melukainya. Namun setelah mereka bertempur beberapa lama, maka raksasa itu mulai menjadi gelisah. Dalam keadaan terdesak maka raksasa itu tidak mempunyai pilihan daripada mempergunakan senjatanya Sebuah parang yang besar dan berat Namun Nyi Prawara sama sekali tidak tergetar hatinya,. Dengan senjata rantainya maka Nyi Prawara telah memberikan perlawanan yang justru semakin mendebarkan jantung lawannya. Nyi Prawara yang bertumpu pada kecepatan geraknya. membuat raksasa itu semakin bingung. Ia kadang-kadang hanya dapat mengayun-ayunkan parangnya sementara sasarannya telah meloncat mengambil jarak. Dengan kemarahan yang semakin menyala didadanya, raksasa itu mengerahkan segenap kemampuannya. Tetapi kekuatan alami yang dimilikinya, ditempa pula dengan latihan yang berat, yang melampaui kekuatan lawannya yang dilambari dengan kekuatan dalamnya, tidak mampu melindungi tubuhnya dari sengatan senjata lawannya. Rantai yang berputaran itu, sekali-sekali terayun menebas dengan derasnya, namun kemudian tiba-tiba mematuk dengan cepat. Raksasa itu meloncat surut untuk mengambil jarak ketika ia merasakan dadanya menjadi panas. Ujung rantai Nyi Prawara mematuk dadanya yang tidak terlindung. Ternyata sentuhan rantai itu tidak saja membuat dadanya merasa panas bagaikan disentuh bara api tempurung. Tetapi dadanya telah terkoyak pula, sehingga darahpun telah meleleh dari luka itu. Raksasa itu menggeram. Dengan suaranya yang berat ia berkata "perempuan celaka. Kau ternyata tidak tahu diri. Aku masih berusaha menahan diri agar aku tidak merusakkan kulitmu meskipun hanya segores kecil. Namun kau telah melukai dadaku." "Aku tidak hanya akan melukaimu, tetapi aku akan. membunuhmu" jawab Nyi Prawara. "Meskipun kau sudah melukai aku, tetapi aku masih memberimu kesempatan. Menyerahlah. Jika kau menyerah, kau tidak akan aku bunuh." berkata orang bertubuh raksasa itu. "Itu tidak termasuk pilihanku. Pilihanku hanya dua. Membunuhmu atau kau membunuhku." jawab Nyi Prawara. "Aku senang kepada perempuan-perempuan yang garang. Tetapi kau terlalu garang." berkata orang itu. Nyi Prawara tidak menjawab. Kata-kata itu sangat memanaskan hatinya. Karena itu, tiba-tiba saja rantainya sudah bergetar menyambar bibir raksasa itu, Hanya satu sentuhan kecil, karena raksasa itu cepat menarik wajahnya. Tetapi sentuhan kecil itu ternyata telah memecahkan bibirnya, sehingga terasa darah yang hangat mulai mengalir dari lukanya itu. Orang bertubuh tinggi besar itu meloncat surut. Dari mulutnya terdengar umpatan kasar. "Setan betina. Kau benar-benar tidak tahu diri." orang itu masih akan mengumpat lagi. Tetapi sekali lagi rantai Nyi Prawara bergetar. Hampir saja bibir orang itu sekali lagi dipatuk oleh ujung rantai Nyi Prawara. Untunglah bahwa raksasa itu masih sempat mengelak. Dengan demikian, pertempuran segera menyala kembali. Nyi Prawara ternyata tidak kalah garangnya dari lawannya yang bertubuh raksasa. Parangnya yang besar dan berat itu terayun-ayun mengerikan. Agaknya raksasa itu benar-benar telah dibakar oleh kemerahannya sehingga ia sama sekali tidak mengekang dirinya lagi. Tetapi ia tidak dapat berbuat lebih banyak dari menyerang dan menyerang. Nyi Prawara bergerak terlalu cepat. Lebih cepat dari ayunan senjatanya itu. Sementara itu, saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah yang bertempur melawan orang-orang dari berbagai perguruan yang ada di rumah itu, masih harus mengerahkan kemampuan mereka. Meskipun lawan mereka sudah berkurang cukup banyak, namun jumlah mereka masih terlalu banyak. Sehingga dengan demikian, maka saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah itu masih harus berlari-larian untuk menghindari serangan-serangan yang tiba-tiba dari arah yang tidak diperhitungkan. Dalam pada itu, Buta Ijo yang berlari-larian didalam rumah yang besar itu, telah berhasil mengurangi lawanlawannya. Sehingga akhirnya menjadi tinggal seorang saja. Hati orang itu tiba-tiba saja menjadi kecut. Orang yang dikejarnya itu seakan-akan benar-benar telah berubah menjadi raksasa yang garang dengan taring-taringnya yang besar dan runcing. Kedua tangannya seakan-akan telah mengembang serta jari-jarinya yang terluka siap menerkamnya. Orang yang tinggal sendiri itu benar-benar telah kehilangan keberaniannya. Ketika raksasa itu melangkah mendekat, maka orang itu tiba-tiba telah meloncat melarikan diri. Buta Ijo itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dilemparkannya selarak pintu yang terbuat dari kayu itu. Selarak itu telah membantunya menyelesaikan beberapa orang tanpa membunuhnya. Beberapa diantaranya menjadi pingsan, sedang yang lain terluka parah sehingga tidak lagi mampu memburu raksasa itu lagi. Ketika Buta Ijo itu kemudian bergerak menyusuri ruangan rumah yang besar itu, ia jusiru terkejut. Ia telah berada disebuah ruangan tempat perempuan-perempuan yang ketakutan itu bersembunyi. Demikian perempuanperempuan itu melihat Buta Ijo itu masuk, maka merekapun telah menjerit-jerit lagi dan berlari menghambur keluar. Seorang diantara perempuan itu kakinya terantuk sesosok tubuh seseorang yang pingsan karena tengkuknya dipukul dengan selarak pintu oleh raksasa itu, sehingga dengan demikian perempuan itu telah jatuh tertelungkup. Buta Ijo yang melihatnya diluar sadar telah berlari kearahnya dan berusaha menolongnya. Namun demikian rempuan itu melihat wajah Buta Ijo yang telah menakutnakutinya itu, maka perempuan itu justru semakin, menjerit-jerit. Buta Ijopun menjadi bingung. Karena itu kemudian dilepaskannya perempuan itu. Ia mengurungkan niatnya untuk menolongnya. Buta Ijo yang kebingungan itu justru berlari keluar menjauhi tempat itu. Buta Ijo menjadi agak bingung ketika tiba-tiba ia sudah berada diserambi yang sepi. Lampu minyak yang berada di ajuk-ajuk berkeredipan disentuh angin. Dengan ragu-ragu ia membuka pintu samping. Perlahanlahan ia melangkah keluar. Diluar nampak sepi. Namun ia mendengar keributan yang terdengar diarah yang lain. "O, aku berada dibagian belakang rumah yang besar ini. Bukankah tadi aku sudah berada disini?” Buta Ijo itupun justru mencari lagi pintu dapur. Ia tahu bahwa didapur masih ada makanan. Dihalaman depan, pertempuran menjadi semakin seru. Orang-orang yang datang dari berbagai perguruan itu menjadi semakin mengalami kesulitan. Jumlah mereka semakin berkurang. Namun saudara seperguruan Buta Ijo yang terlukapun bertambah pula. Bahkan seorang diantara mereka mengalami luka yang agak parah. Sedangkan seorang yang bertubuh kecil harus menyingkir pula dari arena, karena punggungnya serasa patah. Sebuah bindi yang besar telah menghantam punggungnya itu ketika ia lengah. Dalam pertempuran yang semakin sengit itu, maka Buta Ijo sambil mengunyah makanan telah melibatkan diri pula. Demikian ia melihat beberapa orang saudara seperguruannya terluka, maka ia tidak lagi mencari selarak pintu. Tetapi ia sudah mencabut lagi luwuknya. Dengan tenaganya yang sangat besar, maka iapun telah berloncatan diantara beberapa orang yang mencoba mengurungnya. Didekat pintu gerbang, maka pertempuranpun menjadi semakin sengit pula. Orang-orang berilmu tinggi telah meningkatkan kemampuan mereka pula. Winih yang bertempur melawan seorang Putut yang ilmunya telah mapan, harus mengerahkan kemampuannya. Tetapi Winihpun pernah ditempa dengan laku berat, sehingga ia telah benar-benar menjadi seorang gadis yang aneh. Gadis yang memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Beberapa kali Putut itu berusaha untuk memecahkan pertahanan Winih dengan menghentakkan kemampuannya. Tetapi setiap kali justru harus meloncat mundur. Rantai ditangan Winih berputar dengan cepat untuk melindungi dirinya. Bahkan rasa-rasanya menjadi lebih rapat dari sebuah perisai. Dengan demikian maka ujung senjata Putut itu tidak mampu menembus pertahanan gadis itu. Bahkan dengan kecepatan yang sangat tinggi, maka justru ujung rantai itulah yang telah berhasil menyusup disela-sela senjata lawannya. Satu sentuhan kecil ternyata telah mampu mengoyak kulit lawannya, sehingga darahpun mulai mengembun. Putut itu mengumpat kasar. Luka itu memang tidak banyak mempengaruhi tenaga dan kemampuannya meskipun perasaan pedih telah menyengat. Justru luka itu seakan-akan menjadi seperti minyak yang menyiram jantungnya yang membara. Api kemarahanpun menjadi semakin berkobar didalam dadanya. Demikianlah maka pertempuranpun menjadi semakin sengit. Putut itu menyerang semakin garang. Namun yang kemudian memecahkan pertahanan lawannya adalah Winih lagi. Ujung rantainya yang menebas mendatar telah menggores pundak lawannya, sehingga luka telah menganga. Luka yang lebih dalam dari luka dilengannya. Putut itu menjadi semakin marah. Namun ia mulai percaya bahwa gadis itu telah membunuh Darpati. Karena itu, maka iapun mulai bergeser memancing agar Winih bergerak pula menjauhi orang-orang yang telah mendatangi rumah itu dan bertempur didekat pintu gerbang itu. Ia ingin membawa Winih bertempur diantara orangorang yang datang dari berbagai perguruan yang ada ditengah halaman. Yang telah bergeser dari halaman disebelah kiri rumah yang besar itu, bergerak ke halaman depan, yang disangkanya telah menggiring lawan-lawan mereka, agar bertempur ditempat yang lebih luas dan mapan. Namun sebenarnyalah bahwa mereka justru telah terpancing oleh saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah yang sengaja bertempur diarena yang luas, karena jumian mereka yang jauh lebih sedikit dari jumlah lawan-lawan mereha. sehingga mereka dapat berlari-larian dan saling mengisi yang satu dengan yang lain. Dengan demikian, meskipun beberapa kali crang-orang yang ada dirumah itu yang berasal dari beberapa perguruan berusaha untuk mengepung mereka, namun kepungan itu setiap kali tentu pecah, karena sulit bagi mereka untuk dapat menjaring semua saudara saudara seperguruan Kiai Gumrah, justru karena mereka selalu bergerak silang menyilang diarena yang luas. Jika mereka berhasil membentuk lingkaran, maka tibatiba saja dua tiga orang diantara lawan-lawan mereka yang berada diluar lingkaran, telah menyerang dan mengoyak kepungan itu. Sementara mereka yang ada didalam serentak menghentak pula, sehingga kepungan itupun menjadi berserakan kembali. Namun hal itu luput dari penglihatan Putut yang bertempur melawan Winih. Ia mengira bahwa orangorang yang berkumpul dari beberapa perguruan dalam jumlah yang besar itu akan dapat segera menguasai beberapa orang yang telah menyerang rumah itu. Tetapi ternyata Winih tidak mudah untuk dipancing menjauhi songsong yang dibawa oleh Laksana itu. Setiap kali Putut itu berloncatan menjauh, maka Winih tidak dengan tergesa-gesa memburunya. Tetapi ia bertahan ditempatnya sambil mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan. Putut itu memang menjadi gelisah. Sementara itu, ia menyadari bahwa ia tidak akan mampu melawan perempuan yang masih sangat muda itu sendiri. Karena itu, yang dilakukan oleh Putut itu kemudian adalah sekedar menyerang dan kemudian dengan cepat menghindar. Jika Winih memburu selangkah dua langkah, maka Putut itu meloncat semakin jauh. Namun Winih masih tetap tidak terpancing. Ia memang tidak ingin menjauhi songsong yang berwarna kekuningkuningan dengan lingkaran hijau itu. Betapapun kemarahan, kejengkelan dan kebencian membakar seluruh isi dadanya dan membuat darahnya mendidih, tetapi Putut itu memang tidak dapat berbuat banyak. Bahkan ketika ia mencoba dengan tiba-tiba menyerang sambil menghentakkan kemampuannya, justru ujung rantai Winih telah menyambar keningnya. Hanya lapisan kulitnya sajalah yang tersentuh ujung rantai itu. Namun Putut itu berteriak marah sekali. Apalagi ketika darah yang hangat terasa meleleh sampai kepipinya Tetapi apapun yang dilakukan oleh Putut itu sama sekali tidak mampu menggoyahkan pertahanan Winih yang muda itu. Disisi lain, Ki Prawara barhadapan dengan Kiai Windu Kusuma. Ia sudah menggeser seorang saudara seperguruan Kiai Gumrah. Ketika Ki Prawara datang dengan membawa salah satu pusaka yang diperebutkan itu, maka seakan-akan seseorang telah memberikan kesempatan kepadanya untuk langsung berhadapan dengan pemimpin landasan kekuatan dari orang-orang yang akan merampas pusaka-pusaka yang sangat berharga itu dari tangan Kiai Gumrah. Namun bagaimanapun juga, Ki Prawara sekali-kali masih harus melihat keadaan anaknya meskipun hanya sekilas. Ia memang menjadi agak cemas menyaksikan Putut yang menyerang dengan garangnya. Namun yang juga berusaha memancing Winih untuk menjauhi songsong itu. Bahkan ia akan mengalami kesulitan jika gadis itu memasuki lingkungan pertempuran yang luas dihalaman itu. Dengan demikian, maka untuk beberapa saat, justru Ki Prawara kadang-kadang harus berloncatan surut sambil mengambil jarak dari lawannya untuk sekedar dapat melihat keadaan Winih. Namun oleh cahaya oncor dipintu gerbang yang terbuka itu, lamat-lamat Ki Prawara sempat melihat darah di wajah lawan anak gadisnya itu. Sebenarnyalah, bahwa keadaan Putut itu menjadi semakin sulit. Bahwa Winih sama sekali tidak terpancing itu telah membuat Putut itu semakin marah. Bahkan kemudian kehilangan pegangan. Ia menjadi tidak sabar. Tetapi juga tidak mampu berbuat lebih banyak. Sementara itu, tidak ada orang lain yang dapat diharapkan dapat membantunya karena semua orang telah bertempur ditempat yang tersebar. Tetapi ketidak-sabaran orang itu, ternyata telah menyeretnya kedalam keadaan yang paling buruk. Ketika kemarahannya telah membakar ubun-ubunnya, sementara darah semaian banyak menitik dari luka-lukanya, maka Putut itu menjadi mata gelap. Ia tidak lagi berpijak pada penalarannya. Dengan mengerahkan segenap sisa kemampuannya, maka Putut itupun menyerang Winih membabi buta. Diputarnya senjatanya seperti baling-baling. Kemudian meloncat sambil menebas langsung kearah leher Winih. Tetapi Winih telah siap menghadapi Putut yang kehilangan akal itu. Dengan cepat Winih meloncat mengelak, sehingga pedangnya sama sekali tidak menyentuh sasaran. Putut yang menjadi seperti mabuk itu telah menggeliat. Pedangnya yang berputar itu tiba-tiba telah mematuk kearah dada Winih. Winih bergeser dengan cepat. Demikian ujung pedang itu meluncur didepan tubuhnya yang miring, maka Winih mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Rantainya berputar dengan cepat dan satu sabetan yang sangat deras telah menyambar leher Putut itu. Terdengar jerit kesakitan menggetarkan jantung. Luka telah menganga dileher Putut itu. Sejenak ia terhuyunghuyung. Namun kemudian tubuhnya telah terjerembab jatuh terguling ditanah. Winih meloncat mundur sambil memalingkan wajahnya. Iapun kemudian telah bergeser dan berdiri dibelakang Laksana yang membawa songsong itu, sementara Manggada berdiri disebelahnya dengan senjata ditangan. Winih seakan-akan ingin menyembunyikan dirinya setelah rantainya melukai lawannya dan bahkan kemudian Putut itu tidak lagi bergerak sama sekali. Ki Prawara yang setiap kali seakan-akan terdesak oleh lawannya itu menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat anak gadisnya menyelesaikan lawannya. Namun Ki Prawara tidak sempat merenungi kemenangan anaknya lebih lama. Hampir saja senjata Kiai Windu Kusuma menyentuh keningnya. Dengan terhentinya perlawanan Putut itu, maka Ki Prawara dapat memusatkan perhatiannya kepada lawannya, Kiai Windu Kusuma yang telah menggenggam senjata yang mendebarkan. Senjata yang agaknya hanya dipergunakan dalam keadaan yang paling gawat. Sebilah keris yang besar dan berwarna kahitam-hitaman. Namun dalam keremangan cahaya oncor diregol, nampak pamor keris itu berkedipan. Ketika Kiai Windu Kusuma melihat lawannya memperhatikan senjatanya, maka iapun berkata "Dengan pusakaku ini, aku tidak gentar menghadapi tombak yang betapapun tinggi tuahnya. Keris raksasa ini adalah peninggalan orang yang tidak terkalahkan pada masanya. Ia adalah guruku yang ditakuti setiap orang." Ki Prawara mengerutkan dahinya. Tombaknya telah merunduk, sementara ujungnya bagaikan bergetar. "Kita akan melihat, seberapa besarnya tuah senjata kita masing-masing." berkata Kiai Windu Kusurna. "Aku tidak bersandar pada tuah senjataku. Akhirnya semuanya tergantung kepada siapa yang memegangnya." jawab Ki Prawara. "Kenapa kalian pertahankan pusaka itu dengan mempertaruhkan nyawamu?" bertanya Kiai Windu Kusuma. "Tombak ini adalah peninggalan sebagaimana senjatamu. Jika kami mempertahankan dengan mempertaruhkan nyawa, karena kami menghormati pusaka ini sebagai warisan yang sangat berharga. He, kau lihat emas dan tretes berlian pada landean tombak ini ? Apakah kau dapat memperkirakan berapa saja harganya ?” "Setan kau?" geram Kiai Windu Kusuma. Ki Prawara itu menyahut pula "Karena itu, kami tidak berpikir untuk mempertahankan tuah senjata ini dengan mencucinya dengan darah yang masih mengalir dijantung." Kiai Windu Kusuma tidak menjawab. Tetapi ketika kerisnya mulai terayun, Ki Prawara itupun meloncat kesamping sambil berkata "Aku bersandar kepada perlindungan Yang Maha Agung, justru karena kami yakin, bahwa kami sama sekali tidak bersalah dalam hal ini. Kami mempertahankan hak milik kami." Kiai Windu Kusuma yang mulai meloncat menyerang itu masih juga sempat menjawab "Aku pernah mendengar kata-kata itu dari mulut Kiai Gumrah ketika aku datang untuk mengambil pusaka-pusaka itu. Omong kosong yang tidak berarti." Ki Prawara tidak menjawab lagi. Serangan Kiai Windu Kusuma ternyata cukup berbahaya sehingga Ki Prawara harus meloncat surut. Ki Prawara memang pernah mendengar ceritera dari Kiai Gumrah sebelumnya, bahwa Kiai Windu Kusuma memang pernah datang untuk mengambil pusaka-pusaka itu dirumah Kiai Gumrah. Namun usaha itu telah gagai. Kiai Windu Kusuma yang pernah bertempur dengan Kiai Gumrah itu mulai menilai lawannya yang lebih muda itu. Ternyata bahwa anak Kiai Gumrah itu memiliki ilmu yang tidak terpaut dari Kiai Gumrah sendiri. Dalam pada itu, Winih yang masih berdiri dibelakang Laksana dan Manggada untuk menyembunyikan penglihatannya atas tubuh Putut yang terbaring diam dengan darah yang mengalir dari lukanya, justru sempat melihat pertempuran yang terjadi di tengah-tengah halaman itu. Ia melihat ibunya yang sedang bertempur melawan seorang yang bertubuh raksasa. Namun seperti juga Ki Prawara yang tidak mencemaskan isterinya, maka Winihpun melihat, betapa ibunya benar-benar menguasai lawannya. Ketika lawannya yang bertubuh raksasa itu terhuyung-huyung, maka Nyi Prawara justru telah meloncat surut menjauhinya. Nyi Prawara tidak menyelesaikah pertempuran itu. Dibiarkannya raksasa itu jatuh berlutut. Kemudian terduduk sambil mengerang kesakitan. Yang mendekatinya justru Buta Ijo yang berlari keluar dari arena petempuran. Digoyang-goyangnya tubuh raksasa yang terduduk itu sambil berkata "Lain kali berhati-hatilah terhadap perempuan. Nah, kau sekarang sudah merasakan, betapa kau menemukan kesenangan itu." Raksasa yang sudah tidak berdaya itu tidak menjawab. Namun Buta Ijo itu tidak sempat bergurau lebih lama. Beberapa orang telah mengejarnya dan bahkan dua diantaranya telah mendekati Nyi Prawara yang baru saja bergeser dari lawannya yang bertubuh raksasa. Winih melihat kedua orang itu. Tetapi ia tidak mau meninggalkan Laksana dan Manggada. Karena itu, maka ia-pun justru berteriak "Ibu, aku disini." Nyi Prawara mendengar suara anaknya. lapun tahu bahwa anaknya berada bersama songsong yang didekat pintu gerbang. Karena itu, sebelum ia melihat Winih, Nyi Prawara sudah berlari menuju kepintu gerbang. Suara anaknya itu telah membuatnya cemas. Sedangkan kedua orang yang mendekatinya dengan senjata teracu itu justru telah memburunya. Mereka mengira bahwa Nyi Prawara itu berlari untuk mnghindari mereka berdua meskipun Nyi Prawara itu telah mengalahkan orang yang bertubuh tinggi besar itu. Namun Nyi Prawara memang tidak meninggalkan arena karena serangan kedua orang itu. Bahkan ia tidak menghiraukan ketika kedua orang itu mengejarnya. Winih yang melihat ibunya berlari kearahnya dan dikejar oleh dua orang itu menjadi cemas. Mungkin ibunya tidak menyadari bahwa dua orang telah memburunya, bahkan tidak terlalu jauh dibelakangnya. Karena itu, maka Winihpun telah berian menyongsong sambil berteriak "Ibu, dua orang dibelakang ibu." Nyi Prawara yang melihat anaknya tidak dalam kesulitan, bahkan muncul dibelakang Laksana dan Manggada berlari menyongsongnya, dadanya terasa menjadi lapang. Karena itu, maka iapun segera berhenti berpaling sambil memutar rantainya. Kedua orang yang mengejarnya itu terkejut. Merekapun berhenti dan bersiap untuk menyerang. Namun yang mereka hadapi kemudian adalah dua orang perempuan. Yang seorang bahkan seorang perempuan yang masih terlalu muda. Namun kedua orang yang mengejarnya itu menjadi raguragu. Seorang diantara kedua orang perempuan itu telah mengalahkan raksasa yang ditakuti dilingkungan mereka itu, sedang merekapun melihat tubuh Putut yang berilmu tinggi itupun telah terbaring diam. Karena itu, maka keduanya menjadi ragu-ragu. Ketika Winih dan ibunya bergerak maju, maka keduanya justru bergeser mundur. Winih tidak mau maju lagi. Kepada ibunya ia berdesis "Aku harus membantu menjaga songsong itu." Ibunya mengangguk. Bahkan katanya kemudian "Baiklah aku akan menbantumu. Biar saja kedua orang itu, apa saja yang akan dilakukan." Ketika kemudian ternyata kedua perempuan itu tidak mengejarnya kedua orang itu justru menjadi bingung. Ia harus berpikir ulang jika mereka akan menyerang. Tetapi untuk meninggalkan begitu saja harga dirinya telah direndahkan. Dalam kebingungan maka seorang diantara mereka telah bersuit nyaring. Suaranya memang menyentuh setiap telinga mereka yang ada dihalaman rumah yang besar itu. Meskipun masih juga terdengar teriakan-teriakan, bentakanbentakan dan geram kemarahan, namun orang-orang dari perguruan Susuhing Angin tertarik oleh isyarat itu. Bagi mereka, isyarat itu merupakan permintaan untuk membantu, karena orang yang memberikan isyarat itu berada dalam kesulitan. Tetapi orang-orang dari perguruan Susuhing Angin sebagaimana orang-orang yang datang dari perguruan lain, masih sedang bertempur ditengah-tengah halaman depan: Sementara itu kawan-kawan mereka masih saja berkurang seorang demi seorang. Karena itu, maka tidak seorangpun yang sempat mendekat untuk memenuhi isyarat itu. Bahkan hampir setiap orang dari perguruan Susuhing Angin ingin membunyikan isyarat seperti itu pula. Karena itu, maka kedua orang itu menjadi semakin gelisah. Tetapi karena tidak ada orang yang datang membantunya, sementara keduanya sadar, bahwa menyerang kedua orang perempuan itu akan sama halnya dengan membunuh diri, maka keduanyapun justru bergeser semakin lama semakin menjauh. Namun mereka terkejut ketika mendengar seseorang membentak "Pengecut. Bunuh kedua orang perempuan itu." Mereka mengenal suara itu dengan baik. Suara itu adalah suara pemimpin perguruan mereka. Ketika keduanya berpaling kearah suara itu, maka mereka melihat pemimpin perguruan Susuhing Angin itu bertempur dengan sengitnya melawan seseorang yang bersenjata tombak. Seorang yang sudah memasuki hari-hari tuanya. Namun ternyata orang itu masih dengan tangkasnya memutar tembaknya. Kedua orang itu menjadi semakin bingung. Tetapi mereka tidak berani melanggar perintah yang diucapkan oleh pemimpin perguruan Susuhing Angin itu. Karena itu, maka betapapun hati mereka menjadi kecut, namun keduanyapun melangkah maju mendekati Nyi Prawara dan Winih. Kedua perempuan itupun sudah bersiap sepenuhnya menghadapi mereka. Namun, keduanya melihat, betapa kedua orang itu menjadi bimbang. Namun, terdengar lagi suara pemimpin perguruan Susuhing Angin berteriak "Bunuh perempuan itu. Jangan ragu-ragu. Meskipun mereka perempuan, tetapi mereka telah membunuh kawan-kawan kita." Kedua orang itu memang tidak mempunyai pilihan. Sambil berteriak nyaring untuk mengatasi kebimbangannya keduanya berlari menyerang. Nyi Prawara dan Winihpun telah mengambil jarak. Mereka segera mengetahui bahwa kedua orang itu bukan terhitung orang-orang penting dalam keluarga perguruannya. Meskipun mereka termasuk terpilih dalam tugas dirumah Kiai Windu Kusuma itu, tetapi mereka bukan orang-orang dari tataran atas. Meskipun demikian, Nyi Prawara dan Winih tidak mau menjadi lengah. Demikian keduanya menyerang, maka Nyi Prawara dan Winihpun telah menyongsongnya sambil memutar rantainya. Ternyata seperti yang diperhitungkan, keduanya memang tidak mempunyai kemampuan cukup tinggi untuk melawan Nyi Prawara dan Winih. Dengan demikian, maka dalam waktu singkat, maka keduanyapun telah kehilangan kesempatan untuk melawan. Winih sempat membelit senjata salah seorang diantara mereka. Sebuah kapak yang cukup besar. Ketika Winih menghentakkan rantainya, maka kapak itupun telah terlepas dan tangannya. Orang itu tidak mampu berbuat sesuatu ketika rantai Winihpun kemudian terayun kedadanya. Seleret luka menyilang didada orang itu. Terdengar orang itu berteriak nyaring. Selangkah ia terdorong surut. Tanpa dapat mempertahankan keseimbangannya lagi, maka orang itu telah jatuh terlentang. Sekali ia berguling. Namun kemudian iapun terdiam. Sementara itu, orang yang bertempur melawan Nyi Prawara itupun telah kehilangan kendali akan dirinya. Bukan untuk menyerang, tetapi dengan putus asa ia berlari menuju kepintu gerbang. Tanpa menghiraukan apapun lagi, orang itu ingin melarikan dirinya dari jangkauan rantai Nyi Prawara yang telah menyentuh pinggangnya. Namun orang itu terkejut. Demikian ia sampai kepintu gerbang, maka dilihatnya dua ekor harimau siap untuk menerkamnya. Orang itu semakin menjadi kehilangan akal. Dengan serta merta ia berbalik kembali masuk kehalaman sambil berteriak-teriak. Tetapi ia tidak berani lagi mendekati Nyi Prawara. Seperti orang yang terganggu syarafnya ia berlari secepat-cepatnya menghilang kehalaman samping yang gelap sambil masih saja berteriak-teriak. Sementara itu, Winih sempat mendekati lawannya yang sudah terbaring diam. Sambil berjongkok disisinya ia berkata "He, lukamu hanya selapis tipis pada kulitmu. Aku tahu kau pura-pura mati. Tetapi tidur sajalah dengan nyenyak." Orang itu masih tetap berbaring diam. Tetapi ia berdesis "Aku mohon ampun” "Aku tidak akan membunuhmu. Mudah-mudahan pemimpinmu juga tidak." Orang itu tetap tidak bergerak. Sambil tersenyum Winih bangkit dan melangkah mendekati ibunya yang sudah berdiri didekat Laksana dan Manggada. Dalam pertempuran yang sengit itu Manggada dan Laksana memang merasa dirinya terlalu kecil. Bekal keduanya terlalu sedikit untuk terjun kedalam pertempuran seperti itu. Bahkan seorang gadis muda harus melindungi mereka berdua. Tetapi keduanya tidak dapat ingkar akan kenyataan itu. Apalagi jika keduanya memperhatikan pertempuran antara orang-orang berilmu tinggi. Pemimpin perguruan Susuhing Angin itu ternyata sempat berteriak marah ketika ia melihat sekilas orangorangnya tidak berdaya menghadapi perempuan. Namun ia sendiri tidak mempunyai kesempatan untuk membantunya karena ia sedang terlibat dalam pertempuran melawan juragan gula yang bersenjata sebuah tombak, yang termasuk salah satu dari pusaka-pusaka yang diperebutkan. Pemimpin perguruan Susuhing Angin itu memang harus mengakui, bahwa lawannya yang sudah terhitung tua itu merniliki pengalaman yang sangat luas. Betapapun ia mengerahkan kemampuannya, namun juragan gula itu masih saja mampu mengimbanginya. Bahkan kadangkadang pemimpin perguruan Susuhing Angin itulah yang terkejut mengalami serangan dengan unsur-unsur gerak yang tidak diduganya sama sekali. Kemarahan pemimpin perguruan Susuhing Angin itu sudah membakar ubun-ubunnya. Orang-orangnya telah mengecewakannya. Sementara lawannya membuatnya jantungnya bagaikan meledak. Namun pemimpin perguruan dari Susuhing Angin itu tidak dapat mengingkari kenyataan yang digelar dihadapannya. Orang-orangnya, bahkan orang-orang yang datang dari perguruan yang lain yang ada di rumah Kiai Windu Kusuma yang besar dan berhalaman luas itu, telah dihancurkan oleh lawan-lawan mereka yang jumlahnya jauh lebih kecil. Meskipun masih terjadi pertempuran disana-sini, tetapi pertempuran itu tinggal sekedar penyelesaian saja. Jika para pemimpin itu tidak segera berhasil mengakhiri lawan-lawannya sehingga dapat membantu orang-orang yang jumlahnya sudah jauh menyusut itu, maka mereka tidak lagi mempunyai harapan. Dengan marah pemimpin, perguruan Susuhing Angin itu menyerang seperti arus banjir bandang. Juragan gula yang melawannya sempat terdesak beberapa langkah surut. Bahkan pemimpin perguruan Susuhing Angm itu sempat menggeram “Ternyata kau cukup liat Ki Sanak. Tetapi kesempatanmu tidak terlalu banyak lagi” Juragan gula itu sama sekali tidak menjawab. Tombaknya yang terayun mendatar hampir saja menyambar wajah lawannya Tetapi lawannya sempat mengelak dan bahkan meloncat memasuki jarak jangkau senjatanya justru ketika tombak lawannya bergerak kesamping. Dengan derasnya senjatanya terayun mengarah kedahi. Tetapi tombak juragan gula itu sempat berputar. Dengan landeannya juragan gula itu sempat menangkis serangan itu dan menebas senjata lawannya, menyamping. Namun pemimpin perguruan Susuhing Angin itu sudah menjadi kehilangan kendali. Dengan mengerahkan tenaga dan kemampuannya, ia berusaha melibat juragan gula itu pada jarak yang lebih pendek. Pemimpin peguruan Susuhing Angin itu berusaha agar tombak lawannya tidak banyak berarti lagi. Tetapi juragan gula itu cukup tangkas. Meskipun pertempuran itu jaraknya semakin rapat, namun tombak juragan gula itu masih tetap berbahaya. Bukan saja ujungnya. Tetapi pangkalnyapun merupakan senjata yang sangat berbahaya pula. Ketika pangkal landean tombak, itu mengenai pundak pemimpin perguruan Susuhing Angin itu, maka orang itu meloncat beberapa langkah surut. Pundaknya terasa menjadi sakit sekali. Bahkan rasa-rasanya ada tulangnya yang retak. Namun dengan demikian, maka iapun telah mengerahkan kemampuannya sampai kepuncak. Ketika ia mempersiapkan diri untuk bertempur habis-habisan, maka seakan-akan dari matanya telah membayang warna kemerah-merahan. Jari-jarinya yang menggenggam senjatanya telah disaput asap tipis yang berwarna kehitamhitaman. Seakan-akan memancarkan warna landasan ilmunya yang hitam pula. Juragan gula yang melihat lawannya sampai kepuncak ilmunya, iapun telah mengerahkan kemampuannya pula. Kakinya yang merenggang, dan sedikit merendah, pada lututnya, seakan-akan telah menghujam kedalam bumi. Pertahanannya, menjadi semakin kokoh sehingga sulit untuk digoyahkan. Pada puncak kemampuan masing-masing, maka pemimpin perguruan Susuhing Angin itu sudah bertekad untuk menyelesaikan pertempuran itu dengan segera. Membunuh lawannya atau mati. Dengan demikian, maka pertempuran yang terjadi kemudian adalah benar-benar pertempuran antara hidup dan mati. Pemimpin perguruan Susuhing Angin yang datang dengan dada tengadah beserta beberapa orang pengikutnya, tidak mau mengorbankan harga dirinya. Ketika ia memasuki rumah itu, ia merasa yakin bahwa ia akan memegang peranan penting dalam perebutan pusakapusaka yang amat mahal harganya itu. Setidak-tidaknya ia akan dapat menjadi penentu disamping Panembahan Lebdagati sendiri. Namun ternyata ia telah mendapat lawan yang berilmu sangat tinggi, bahkan ditangannya telah tergenggam salah satu dari pusaka-pusaka yang menurut ciri-cirinya adalah pusaka yang diperebutkan itu. Namun betapapun pemimpin dari perguruan Susuhing Angin itu berusaha, maka juragan gula itu masih saja tetap mampu mempertahankan dirinya. Demikianlah, pada tataran tertinggi dari hentakan ilmunya, maka pemimpin dari perguruan Susuhing Angin itu telah berloncatan berputaran mengelilingi lawannya. Semakin lama menjadi semakin cepat, sehingga putaran itu menjadi bagaikan angin pusaran. Namun yang ada didalam pusaran itu adalah seorang yang juga berilmu tinggi. Juragan gula dengan tombak ditangan justru berdiri diam ditempatnya. Kakinya benarbenar bagaikan berakar menusuk kedalam bumi. Pusaran yang mengitarinya itu tidak mampu menggoyahkannya. Meskipun juragan gula itu seakan-akan justru menunduk sambil memejamkan matanya, namun ia tahu pasti, dimana lawannya itu berada. Pusaran yang semakin cepat sehingga berubah menjadi semacam kabut kelabu yang berputar sama sekali tidak membingungkannya. Juragan gula itu tahu pasti, bahwa lawannya yang, berputar itu mengacukan senjatanya siap menggapai tubuhnya. Tetapi dengan ketajaman inderanya, maka juragan gula itu seakan-akan melihat ujung senjata lawannya yang berputar disekelilingnya itu. Sejenak ketegangan telah mencekam. Nyi Prawara dan Winih yang telah bebas dari lawan-lawan mereka melihat pertempuran itu dengan tegang, sedangkan Manggada dan Laksana menjadi bingung, apakah yang sebenarnya telah terjadi. Dalam pada itu, juragan gula yang berdiri ditengahtengah pusaran sambil menundukkan kepalanya serta memejamkan matanya itu telah memusatkan nalar budinya pula. Sekali-sekali saja ujung tombaknya bergerak. Bahkan sekali-sekali terdengar dentang senjata beradu. Tetapi Manggada dan Laksana tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Kabut kelabu yang berputar itu memang menghalangi penglihatannya, sehingga ia tidak melihat jelas apa yang terjadi. Bahkan menurut penglihatannya dalam keremangan cahaya oncor dikejauhan, didalam pusaran itu tidak ada gerak sama sekali. Namun dalam puncak benturan kekuatan ilmu itu, tibatiba terdengar juragan gula itu berteriak menghentak mengatasi segala suara dan hiruk pikuk pertempuran. Disusul oleh teriakan tertahan. Sementara itu, pusaran yang melingkari juragan gula itu nampak bergejolak sesaat. Namun kemudian tubuh pemimpin perguruan Susuhing Angin itu terlempar beberapa langkah dan jatuh terbanting di tanah. Dengan tangkasnya orang itu meloncat bangkit, sementara juragan gula itu sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Tetapi jantung Manggada dan Laksana bagaikan terhenti berdetak. Ia melihat pemimpin perguruan Susuhing Angin itu terhuyung-huyung kembali dan akhirnya jatuh terguling. Sementara itu, juragan gula ini masih berdiri tegak dengan tombak yang merunduk ditangannya. Ujung tombak itu menjadi merah oleh darah, sementara itu darah nampak mengalir dari tubuh lawannya yang terbaring diam. Tetapi Nyi Prawara itupun kemudian berdesis "Kiai” Mereka yang menyaksikan pertempuran itu menjadi tegang sejenak. Namun Nyi Prawarapun kemudian berlari mendekati juragan gula yang kemudian jatuh berlutut pada sebelah lututnya. Bahkan kemudian ia harus berpegangan pada landean tombaknya yang menjadi tegak disisinya. Winihpun hampir saja berlari mendekati pula. Namun langkahnya tertahan. Ia harus berada dekat dengan songsong yang masih saja dipegang oleh Laksana itu. "Kiai Padma" desis Nyi Prawara "Apakah Kiai terluka?" Juragan gula itu menggeleng. Katanya "Tidak. Tidak Nyi. Aku hanya merasa sangat letih setelah aku menghentakkan segala tenaga dan kemampuanku." "Mari Kiai, aku bantu Kiai menepi." berkata Nyi Prawara. "Tidak. Tidak usah Nyi. Aku justru ingin melihat apa yang terjadi dengan saudara-saudara kita yang lain." berkata juragan gula itu. Nyi Prawara termangu-mangu sejenak. Sementara itu, juragan gula itu justru telah duduk di tanah, sedangkan Nyi Prawara berdiri disebelahnya. Nampaknya setelah mengerahkan segenap tenaga dan kemampuan yang ada didalam dirinya, juragan gula itu seakan-akan telah kehabisan tenaganya. Nyi Prawara memang tidak segera beranjak dari tempatnya. Ia tahu bahwa dalam keadaan yang demikian juragan gula itu memang menjadi lemah. Dalam pada itu, selagi Nyi Prawara berdiri disebelah juragan gula itu, ia memperhatikan pertempuran yang masih membakar halaman rumah yang besar itu; Saudarasaudara seperguruan Kiai Gumrah itu agaknya sudah dapat menguasai keadaan. Tetapi Ki Prawara sendiri masih bertempur dengan sengitnya melawan Kiai Windu Kusuma, sedangkan Kiai Gumrah berhadapan langsung dengan saudara seperguruannya yang ternyata telah berkhianat. Kiai Kajar. Kiai Windu kusuma yang telah pernah bertempur melawan Kiai Gumrah tetapi tidak tuntas, harus mengakui bahwa orang yang mengaku dirinya anak Kiai Gumrah itu juga berilmu tinggi. Karena itu, Maka Kiai Windu Kusumapun harus mengerahkan segenap kemampuannya. Meskipun demikian orang yang bersenjata tombak itu masih belum dapat dikuasainya. Nyi Prawara memang menjadi berdebar-debar menyaksikan pertempuran yang masih tersisa. Beberapa orang saudara seperguruan Kiai Gumrah yang telah menyelesaikan pertempuran dihalaman itu bergeser perlahan-lahan mendekati arena. Dengan wajah yang tegang mereka melihat beberapa orang berilmu tinggi masih terlibat dalam pertempuran. Namun mereka tidak langsung dapat ikut memasuki arena, karena hal itu justru akan mengecewakan mereka yang sedang bertempur itu sendiri. Nampaknya Ki Prawara ingin menyelesaikan lawannya sendiri. Apapun akibatnya. Pemimpin dari sekelompok orang yang menjadi landasan utama untuk mengambil pusaka-pusaka itu. Sedangkan Kiai Gumrah yang bertempur melawan Kiai Kajar merupakan pertempuran diantara saudara seperguruan. Dilingkaran yang lain, Ki Pandi yang bongkok itupun telah bertempur dengan sengitnya melawan orang yang sudah lama diburunya. Dalam keriuhan pertempuran itu, beberapa orang yang ada dihalaman itu masih juga sempat mendengar aum harimau diluar dinding halaman. Mereka tidak tahu apa yang telah terjadi. Namun mereka sempat juga membayangkan beberapa orang yang melarikan diri dari halaman itu telah bertemu dengan dua ekor harimau diluar halaman. Sementara itu Buta Ijo dan tiga orang saudara seperguruannya masih sibuk mengawasi orang-orang yang telah menyerahkan diri. Mereka yang menyerahkan diri itu telah dikumpulkan ditangga pendapa setelah mereka melepaskan senjata-senjata mereka. Nyi Prawara yang menyaksikan suaminya masih bertempur dengan garangnya menjadi sangat tegang. Bahkan Winih-pun telah mengajak Manggada dan Laksana lebih mendekat, agar ia dapat melihat apa yang terjadi dengan ayahnya. Namun baik Nyi Prawara ataupun Winih yang tahu benar sifat Ki Prawara, sama sekali tidak berani mencampuri pertempuran itu. Dalam ketegangan itu, mereka telah dikejutkan oleh umpatan kasar Kiai Kajar. Dengan serta merta Kiai Kajar itu meloncat beberapa langkah surut sambil memegangi pundaknya. Ternyata bahwa ujung tombak Kiai Gumrah telah berhasil menyentuh pundak orang itu. Kiai Kajar yang merasa jari-jarinya dihangati oleh darah dipundaknya itu menjadi semakin marah, rasa-rasanya jantungnya telah membara membakar seisi dadanya. Namun Kiai Gumrah, saudara seperguruan Kiai Kajar memiliki landasan ilmu yang sama, sehingga seakan-akan apa yang akan dilakukan oleh Kiai Kajar, Kiai Gumrah sudah mengetahuinya. Demikian pula sebaliknya. Bahkan tataran ilmu mereka yang maningkat selapis demi selapis rasa-rasanya selalu membuat keseimbangan, sehingga sulit untuk menentukan siapakah yang akan menang dan kalah. Tetapi ditangan Kiai Giimrah tergenggam tombak pusaka perguruan mereka, yang bahkan telah menyentuh pundak saudara seperguruannya itu. Meskipun ditangan Kiai Kajar, juga tergenggam senjata pilihan, tetapi ternyata melihat pusaka perguruannya ditangan Kiai ©umrah, ketahanan jiwani Kiai Kajar tergoyahkan pula. Bagaimanapun juga ada perasaan bersalah yang menyelinap didalam rongga dadanya karena ia telah berkhianat dengan memberikan beberapa keterangan tentang pusaka-pusaka yang nilainya sangat tinggi itu. Bukan saja sebagai barang warisan, tetapi karena pusaka-pusaka itu berlapis emas dan permata. Namun sebenarnya Kiai Kajar telah menjadi kecewa ketika Panembahan itu menyatakan diri berhak atas pusaka itu pula. Bahkan panembahan itulah yang akan membuat pusaka-pusaka itu tetap bertuah dengan mencucinya dengan darah yang masih mengalir di dalam jantung. Tetapi segala sesuatunya telah terlanjur. Ketika ia melihat pemimpin perguruan Susuhing Angin terlempar jatuh dan tidak bergerak lagi, maka ia justru berpengharapan bahwa ia akan dapat memenuhi keinginannya. Jika Panembahan itu dapat dikalahkan pula oleh lawannya, maka ia akan menjadi orang utama yang dapat memiliki pusaka-pusaka itu. Saudara-saudara Kiai Gumrah yang hadir dihalaman itu adalah saudara-saudara seperguruannya pula. Jika ia mampu mengalahkan Kiai Gumrah. seorang yang dianggap orang terpenting bersamasama dengan dirinya sendiri dan juragan gula itu, maka saudara-saudara seperguruannya yang lain tentu akan tunduk pula kepadanya. Juragan gula itu sendiri nampaknya sudah menjadi sangat letih dan tidak berdaya. Yang kemudian harus dihancurkan adalah orang yang mengaku anak Kiai Gumrah itu bersama isterinya dan anak gadisnya. "Setan" geram Kiai Kajar "mereka juga berilmu tinggi." Kenyataan-kenyataan itulah yang membuat hati Kiai Kajar kadang-kadang menjadi bimbang. Apalagi setiap kali ujung tombak di tangan Kiai Gumrah itu terayun didepan matanya. Pengaruh pusaka ditangan lawannya, kebimbangan dan , kenyataan yang dihadapinya, membuat perlawanan Kjai Kajar menjadi semakin goyah. Betapapun Kiai Kajar berusaha untuk tetap tegar dalam sikapnya, namun peletik kelemahan. telah mewarnai hatinya pula. Ternyata kelemahannya itulah yang menentukan akhir dari perlawanannya. Meskipun Kiai Kajar itu telah berusaha menghalau kegelisahannya itu dengan teriakanteriakan yang menghentak-hentak, namun pertahanannya menjadi semakin goyah. Itulah sebabnya ketika kedua saudara seperguruannya itu sampai kepuncak ilmu mereka, maka kegelisahan dihati Kiai Kajar itu telah berpengaruh pula. Baik Kiai Gumrah maupun Kiai Kajar dengan puncak ilmunya, justru tidak lagi meloncat-loncat dan berputaran. Mereka berhadapan dengan senjata mereka yang merunduk. Serangan-serangan yang mereka lakukan tidak lagi menghentak-hentak susul menyusul Pertempuran itu memang nampak menjadi semakin lamban. Tetapi ketika senjata mereka beradu, maka bunga api telah berloncatan ke udara. Mereka yang menyaksikan pertempuran itu mengerti, betapa besarnya tenaga mereka masing-masing. Saudarasaudara seperguruan mereka yang sempat menyaksikan pertempuran itu menjadi sangat tegang. Bahkan jantung mereka terasa semakin cepat berdenyut ketika terdengar Kiai Kajar berteriak nyaring sambil meng:ayunkan senjatanya langsung mengarah ke kening Kiai Gumrah. Mereka melihat dan merasakan getar kekuatan tertinggi dari puncak ilmu perguruan mereka. Kiai Gumrahpun menyadari bahwa Kiai Kajar ingin dengan cepat mengakhiri pertempuran itu. Karena itu, maka iapun telah berada dipuncak kemampuannya pula. Ketika ayunan senjata Ki Kajar itu menyambar dengan, kekuatan yang sangar besar. Maka. Kiai Gumrah tidak berusaha untuk menangkisnya. Meskipun ia percaya akan kekuatan landean tombaknya, namun tenaga Kiai Kajar yang disertai dengan landasan ilmunya mungkin akan dapat mematahkan landean tombak yang terbuat dari kayu yang dihiasi dengan lapisan emas dan permata. Karena itu, pada saat yang tepat, Kiai Gumrah telah bergeser selangkah, sehingga serangan yang dahsyat itu tidak mengenainya. Tetapi Kiai Kiajarpun melihat sikap itu. Dengan cepat, senjatanya yang terayun itu berputar. Untuk mengimbangi perubahan gerak senjatanya, Kiai Kajar telah bergeser kesamping. Tetapi jantungnya bergetar ketika ia melihat ujung tombak itu dengan cepat bergetar didepan dadanya. Ujung tombak yang dihormatinya sejak ia berada diperguruannya, karena tombak itu adalah salah satu diantara lambang kebesaran guru dan perguruannya. Waktu yang sekejap itu ternyata telah menentukan. Pada saat ia bergeser kesamping itulah, maka ujung tombak itu tidak sekedar bergetar didepan dadanya. Tetapi ujung tombak itu telah mematuk dadanya. Terdengar Kiai Kajar itu berteriak nyaring. Namun ketika Kiai Gumrah menarik tombaknya, maka Kiai Kajar itu-pun terhuyung-huyung sejenak. Darah memancar dari lukanya, sehingga membasahi pakaiannya. Tanpa dikehendakinya, maka senjata Kiai Kajar itu telah terlepas dari tangannya dan jatuh ditanah. Beberapa orang saudara seperguruannya yang menyaksikan menahan nafas sejenak. Ketika mereka melihat Kiai Kajar itu tidak lagi mampu menguasai keseimbangannya, maka merekapun segera berloncatan membantu menahan agar Kiai Kajar tidak jatuh terbanting ditanah Namun, Kiai Kajar memang sudah tidak berdaya. Darah bagaikan ditumpahkan dari luka-lukanya, sehingga karena itu, maka saudara-saudara seperguruannya telah membaringkannya perlahan-lahan. Kiai Gumrah sendiri berdiri termangu-mangu. Diluar sadarnya ia memperhatikan tombaknya yang basah oleh darah segar yang masih mengalir di jantung. "Tidak" berkata Kiai Gumrah dalam hatinya. "Aku sama sekali tidak ingin mencuci ujung tombak ini dengan darah yang masih mengalir di Jahtung." Sambil menarik nafas panjang, Kiai Gumrah itu melangkah mendekati Kiai Kajar yang terbaring dikerumuni oleh beberapa saudara seperguruannya. Tetapi mereka terkejut ketika mendengar teriakan nyaring yang menggetarkan halaman dan bahkan rumah yang besar itu. Bukan sekedar teriakan marah. Tetapi hentakan ilmu yang sangat dahsyat yang dilontarkan Panembahan Lebdagati. Akibatnya memang luar biasa. Beberapa orang yang terluka, yang masih mungkin untuk mendapatkan penyembuhan, telah menggeliat dan jantungnyapun segera berhenti berdetak. Bahkan Kiai Kajar yang terluka parah itu telah menjadi semakin parah. Satu kalimat masih terucapkan "Saudara-saudaraku. Aku minta maaf atas kekhilafanku." "Kiai Kajar" seorang dari saudara seperguruannya itu meraba tangannya. Tetapi tangan itu sudah tidak berdaya. Ketika yang lain meletakkan telinganya didada. maka nafas Kiai Kajar telah berhenti. Dalam pada itu, selagi seluruh perhatian seakan-akan tertumpah pada tubuh Kiai Kajar, maka terdengar Ki Pandi yang bongkok berteriak nyaring dengan suara wajarnya "Jangan lari." Semua orang berpaling. Sementara Ki Pandi melenting berlari mengejar Panembahan Lebdagati yang bagaikan terbang meloncati dinding halaman. Namun merekapun melihat bayangan berikutnya menyusul. Ki Pandi. Diluar dinding terdengar aum kedua ekor harimau Ki Pandi. Tetapi suaranya tidak lagi dekat dibalik dinding. Bahkan ketika suara itu terdengar lagi, rasa-rasanya suara itu sudah menjadi semakin jauh. Tidak seorangpun yang sempat membantu Ki Pandi menghentikan orang itu. Panembahan Lebdagati yang memang sejak semula tidak dapat mengalahkan Ki Pandi, ternyata telah gagal lagi. Apalagi ketika ia melihat beberapa orang yang berdiri dipihaknya telah berjatuhan. Demikian pula orang-orang yang datang dari berbagai perguruan itupun telah tidak berdaya lagi. .Panembahan Lebdagati agaknya merasa tidak akan banyak berarti jika ia mempergunakan ilmu pamungkasnya, karena Ki Pandi tentu akan dapat mengimbanginya. Sehingga karena itu, ketika terbuka kesempatan, maka lebih baik ia meninggalkan neraka yang sangat menyakitkan. Dihalaman rumah itu ternyata telah berkumpul orang-orang berilmu tinggi yang berusaha mempertahankan pusakapusaka yang dingini-nya itu. Satu kekuatan yang sebenarnya diiuar dugaannya. Sepeninggal Panembahan dan Ki Pandi, maka pertempuran yang tersisa tidak banyak berarti lagi. Meskipun demikian, Kiai Windu Kusuma yang masih bertempur melawan Ki Prawara tetap tidak mau menyerah. Kiai Gumrahlah yang kemudian sambil memegangi tombaknya melangkah mendekat. Dengan suara yang bergetar Kiai Gumrah itupun berkata “Kiai Windu Kusuma. Sebaiknya kau menyerah saja. Kau sudah tidak mempunyai kesempatan lagi untuk mempertahankan diri. Bukan saja karena kau tidak akan dapat mengalahkan Prawara, tetapi kau sudah dikelilingi lawan-lawanmu. Kawan-kawanmu telah terbunuh kecuali Panembahan yang licik itu. Tetapi iapun akan segera dapat dibinasakan oleh Ki Pandi dan harimau-harimaunya." "Persetan kau Gumrah. Jika kau takut orang ini mati, lakukan apa yang ingin kau lakukan." geram Kiai Windu Kusuma. Bahkan katanya kemudian "Jika kalian merasa perlu untuk meramai-ramai mengeroyokku, aku sama sekali tidak akan gentar.” Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat Kiai Windu Kusuma Justru menyerang Ki Prawara dengan garangnya. Kerisnya yang besar itu berputaran dan menggapai-gapai dada lawannya. Sambil meloncat maju Kiai Windu Kusuma mengayunkan kerisnya kemudian menusuk kearab lambung. Dengan tangkas Ki Prawara mengimbangi kecepatan gerak lawannya. Namun KL Prawarapun melihat betapa Kiai Windu Kusuma menjadi kehilangan pengamatan diri. Sekali-sekali oleh cahaya oncor yang lemah, Ki Prawara sempat melihat sorot mata Kiai Windu Kusuma yang menjadi liar. "Ki Sanak" berkata Ki Prawara kemudian sambil meloncat mundur. Namun ketika Kiai Windu Kusuma akan memburunya sambil mengayunkan kerisnya, maka ujung tombak Ki Prawara telah merunduk tepat diarah dada. Tetapi Ki Prawara menjadi ragu-ragu untuk mendorong tombaknya menghujam kedada Kiai Windu Kusuma yang nampaknya telah berputus asa itu. Bahkan Ki Prawara telah meloncat selangkah mundur sambil berkata "Kau tidak mempunyai kesempatan lagi Ki Sanak." Tetapi Kiai Windu Kusuma tertawa. Katanya "Kenapa kau tidak menusuk jantungku ? Ki Sanak, Apakah kau tidak berani melihat darah atau kau sengaja menghina aku?" "Menyerahlah" berkata Ki Prawara "apakah artinya pertempuran ini ? Seandainya salah seorang dari kita mati, tidak akan menimbulkan perubahan apapun juga. Pusakapusaka itu masih akan tetap ditangan Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya. Rumah ini akan tetap saja hancur dan orang-orang yang telah terbunuh tidak akan bangkit kembali." "Persetan" teriak Kiai Windu Kusuma sambil meloncat menyerang dengan garangnya. Tetapi Ki Prawara sempat mengelak. Sementara itu Kiai Gumrah telah melangkah semakin dekat sambil, berkata "Berhentilah." "Setan tua kau Gumrah. Jika kau akan ikut, ikutlah." teriak Kiai Windu Kusuma. "Kau tidak boleh menjadi kehilangan akal, Kiai. Kita masih mempunyai mulut untuk berbicara." Kiai Gumrah hampir berteriak. Namun yang tidak terduga telah dilakukan Kiai Windu Kusuma. Ketika Kiai Gumrah berdiri tidak terlalu jaun dari arena untuk mencoba melerai pertempuran itu, tiba-tiba saja Kiai Windu Kusuma telah meloncat meninggalkan Ki Prawara justru menyerang orang tua itu. Yang menyaksikan serangan itu memang terkejut. Nyi Prawara justru sempat berteriak "Ayah." Kiai Gumrah juga menjadi terkejut sekali. Justru karena itu, maka ia tidak dapat mengendalikan nalurinya untuk menyelamatkan diri. Karena itu, ketika ia melihat Kiai Windu Kusuma meloncat sambil mengayunkan kerisnya dengan membabi buta, maka Kiai Gumrah telah mengangkat ujung tombaknya. Bahkan Kiai Gumrah tidak sempat mengekang tangannya yang mendorong ujung tombak itu menghujam kedalam dada Kiai Windu Kusuma. Apa yang tidak dapat dilakukan oleh Ki Prawara ternyata terpaksa dilakukan Kiai Gumrah. Terdengar Kiai Windu Kusuma berteriak nyaring. Namun suaranya kemudian bagaikan menggantung diawan. Semakin tinggi, semakin tinggi, sehingga bersamaan dengan tubuhnya yang terguling jatuh ditanah setelah Kiai Gumrah menarik ujung tombaknya dengan tangan yang gemetar, maka suara Kiai Windu Kusuma itupun menjadi semakin lambai. Yang terdengar kemudian adalah umpatannya yang terakhir "Kau memang iblis, Gumrah." Kiai Gumrah tidak menjawab. Namun ia berdiri temangu-mangu memandang tubuh yang terbaring diam itu. "Aku tidak dapat berbuat lain " desis Kiai Gumrah yang menyesal bahwa orang terakhir itu harus dibunuhnya pula. Ki Prawara menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Apa boleh buat." "Aku terkejut mendapat serangan yang tiba-tiba itu" desis Kiai Gumrah. "Ya" Juragan gula yang sudah mendapatkan kekuatannya kembali setelah beberapa saat ia mengalami keletihan itu menyahut "kami tidak dapat menyalahkan kau, Kiai." Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Dipandanginya ujung tombaknya yang telah dibasahi lagi dengan darah yang masih mengalir di jantung diluar kehendaknya sendiri. Demikian, sesaat kemudian orang-orang berilmu tinggi itupun telah berkumpul. Kiai Gumrah minta agar saudarasaudara seperguruannya mengumpulkan sisa orang-orang dari beberapa perguruan yang ada dihalaman itu yang telah menyerah dan yang masih sanggup untuk berjalan ke depan tangga pendapa rumah Kiai Windu Kusuma. Selain itu maka semua saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrahpun telah diminta berkumpul pula. Yang terluka parah, telah dibantu oleh saudara-saudaranya berkumpul dipendapa. Kiai Gumrah harus meyakinkan keadaan semuanya. Tiga batang tombak dan songsong milik Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah itu telah berkumpul dipendapa itu pula. Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya itu terkejut ketika terdengar pintu pringgitan terbuka. Ketika mereka berpaling dilihatnya seorang yang muncul dari balik pintu pringgitan itu. Beberapa orang serentak bangkit berdiri dengan senjata terhunus menghadap orang yang melangkah memasuki pringgitan dari ruang dalam itu. Tetapi Kiai Gumrahlah yang kemudian mendekatinya. Dibawah cahaya lampu dipendapa itu. Kiai Gumrah melihat, bahwa yang datang itu adalah Kundala. "Kau Kundala" desis Kiai Gumrah. "Ya, Kiai" sahut orang itu. "Dimana kau selama pertempuran berlangsung?" hartanya Kiai Gumrah. "Aku berada diatas langit-langit diruang dalam. Aku tidak tahu harus berbuat apa." jawab Kundala. "Marilah, duduklah. Kita akan berbicara." berkata Kiai Gumrah kemudian. Kundalapun kemudian duduk dipendapa bersama Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya. Sementara itu suasana dihalaman rumah yang luas itu terasa sangat mencengkam. Disana-sini tergolek tubuh yang berdarah. Diantara mereka masih terdengar ada yang sedang mengerang kesakitan. Karena itu, maka Kiai Gumrah- yang duduk dipendapa itupun kemudian berkata kepada saudara-saudara seperguruannya. “Sebaiknya kita berbuat sesuatu atas mereka yang terluka. Bukan saudara-saudara kita saja yang akan mendapat perawatan, tetapi semuanya sejauh kita dapat melakukan. Karena itu kita dapat minta bantuan mereka yang telah menyerah, untuk mengumpulkan kawankawannya serta membantu merawat mereka. Namun kita harus mengawasi pelaksanaannya dengan sebaik-baiknya." Dengan demikian, maka beberapa orang saudara seperguruan Kiai Gumrahpun segera bangkit dan melangkah turun tangga pendapa, mendekati orang-orang yang telah menyerah, yang ada dihalaman rumah itu. Dengan pengawasan saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah, maka orang-orang yang menyerah itu mendapat tugas untuk mengumpulkan kawan-kawan mereka yang terluka dan yang telah terbunuh dalam pertempuran itu. Sementara itu langit menjadi merah oleh cahaya fajar, Regol halaman yang sudah terbuka itu justru ditutup kembali. Meskipun rumah itu tempatnya terpisah dari padukuhan-padukuhan, namun mereka harus tetap menghindari kemungkinan-kemungkinan akan ada orang lain yang melihat apa yang telah terjadi dihalaman rumah yang luas yang menurut penglihatan orang-orang padukuhan regolnya selalu tertutup. Namun disamping mereka yang terbaring dihalaman, ternyata ketika salah seorang saudara seperguruan Kiai Gumrah membawa dua orang yang sudah menyerah itu keluar regol, mereka telah menemukan dua sosok tubuh yang agaknya telah dikoyak-koyak oleh kedua ekor harimau Ki Pandi. Agaknya kedua orang itu berusaha untuk melarikan diri dengan meloncati dinding, namun harimau Ki Pandi itu sempat melihatnya dan kemudian menerkamnya. Pekerjaan itu belum selesai sampai saatnva matahari terbit. Sementara itu, Kiai Gumrah, juragan gula, Ki Prawara yang duduk dipendapa bersama Kundala tengah mengadakan pembicaraan tersendiri. Disisi lain Nyi Prawara, Winih, Manggada dan Laksana Nampak termenung merenungi pengalaman yang sangat berkesan dihati mereka. Mereka mengucap sokur dalam hati, bahwa mereka masih mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung, sehingga mereka selamat dari bencana yang telah mencengkam seisi rumah dan halamannya itu. Manggada dari Laksana yang sejak semula sudah merasa dirinya kecil, maka mereka merasa menjadi semakin kecil. Keduanya sama sekali tidak dapat ikut berbuat, sesuatu ketika terjadi pertempuran yang menentukan, justru di lingkungan kekuasaan lawan yang jumlahnya jauh lebih besar dari jumlah saudara-saudara seperguruan Kiai. Gumrah. . . . Namun Nyi Prawara tidak dapat terlalu lama beristirahat. Bersama dua orang saudara seperguruan Kiai Gumrah yang lain, maka Nyi Prawarapun telah membantu merawat saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah. Bahkan sejauh jangkauan mereka, mereka juga berusaha menolong para pengikut dari mereka yang ingin merampas pusaka-pusaka itu dari tangan Kiai Gumrah dan saudarasaudara seperguruannya, setelah mereka dikumpulkan di pendapa. Dalam pada itu, Kiai Gumrah yang secara khusus berbicara dengan Kundala, telah menanyakan kepadanya, apakah Kundala bersedia untuk mengambil alih pimpinan dirumah itu. "Aku tidak yakin, bahwa orang-orang yang tersisa itu akan bersedia menerima aku" berkata Kundala. "Kenapa?" bertanya Kiai Gumrah. "Meskipun Kiai Windu Kusuma sampai saat terakhir masih belum mengetahui, bahwa aku telah mengkhianatinya, namun kepercayaan Kiai Windu Kusuma kepadaku sudah jauh menyusut. Bukan karena ia mencurigai aku bahwa aku tidak setia, tetapi kemampuanku dianggap kurang memadai." "Tetapi sebagaimana kau lihat, tidak ada orang iain lagi di rumah yang besar ini. Kecuali itu, maka kami akan selalu membantumu jika terjadi sesuatu dirumah ini." Kundala menarik nafas dalam-dalam. Diluar sadarnya ia memandang berkeliling. Ia sempat melihat orang-orang yang tinggal dirumah itu seakan-akan telah kehilangan dirinya. Yang nampak hanya ujud-ujud kewadagannya saja. Tidak lagi membayangkan keperkasaan mereka. Apalagi mereka yang terluka, terbaring sambil menahan desah kesakitan, sementara. yang menyerah dalam keadaan yang utuh dan sedang mengumpulkan orang-orang yang terluka, tidak lagi berani mengangkat wajah mereka. Sedangkan yang mengawasi mereka hanyalah beberapa orang yang jumlahnya jauh lebih kecil. "Jika kau bersedia, Kundala, maka aku akan berbicara dengan orang-orang itu. Sudah tentu bahwa kami tidak akan tinggal disini untuk selanjutnya. Mungkin hari ini kami masih akan berada disini. Tetapi mungkin pula besok kami sudah akan pergi. Kundala ternyata ragu-ragu. Namun Kiai Gumrah, juragan gula dan Ki Prawara telah membesarkan hatinya. Dengan nada rendah Ki Prawara berkata "Kundala, orang-orang itu telah kehilangan keberanian untuk berbuat sesuatu. Bahkan untuk bersikap didalam hatipun seperti itu, harus tampil seseorang. Kundala, jika kau ingin melahirkan, perubahan tata kehidupan dilingkungan mereka, sekarang adalah waktunya Jangan beri kesempatan mereka untuk membuat pertimbangan-pertimbangan lagi. Kau harus mengajukan satu ujud tatanan kehidupan yang masuk akal dan dapat mereka cerna dengan panalaran. Pada kesempatan ini kau dapat menawarkan poia masa depan yang penuh harapan bagi mereka." Kundala menarik nafas dalam-dalam. Sementara juragan gula itu berkata pula "Kau satu-satunya pilihan kami. Bagaimanapun juga kami masih melihat, bahwa kau masih sempat berpaling pada hati nuranimu justru disaat yang paling gawat." Kundala menundukkan kepalanya. Namun akhirnya ia berdesis "Aku akan mencobanya." "Bagus" berkata Kiai Gumrah "aku akan berbicara nanti dengan orang-orang yang masih tertinggal disini darimanapun mereka datang." “Tetapi bagaimana dengan Panembahan yang sempat melarikan diri itu? " bertanya Kundala. "Ia tidak akan banyak mendapat kesempatan" berkata Kiai Gumrah "orang bongkok itu tentu akan selalu membayanginya." Kundala mengerutkan dahinya. Namun Kiai Gumrah sempat menjelaskan, bahwa Ki Pandi agaknya tidak akan pernah melepaskan orang yang menyebut dirinya Panembahan itu. "Jika Panembahan itu pada suatu saat datang kemari, maka Ki Pandipun tentu akan datang pula kemari," berkata Kiai Gumrah. Kundala mengangguk-angguk sambil berdesis "Semoga aku dapat memikul beban ini. Kiai." "Kau akan dapat melakukannya. Bukankah kami tidak berada terlalu jauh dari tempat ini?” Kundala mengangguk sambil menjawab "Terima kasih Kiai. Mudah-mudahan kami akan dapat mulai dengan satu bentuk kehidupan baru. Tentu saja yang lebih baik dari masa yang lalu." "Kalian harus berani memasuki satu tatanan yang barangkali sangat berbeda dengan tatanan kehidupan yang pernah kalian jalani sebelumnya. Tetapi dengan satu keyakinan, bahwa kalian akan dapat melakukannya." berkata juragan gula itu. Kundala tidak menjawab. Namun matanya menerawang jauh meloncati dinding halaman rumah yang besar itu. Hari itu, dirumah itu telah dilakukan satu kesibukan yang luar biasa. Semua orang telah dikerahkan untuk memberikan pertolongan kepada mereka yang memerlukan perawatan. Bahkan Nyi Prawara rasa-rasanya tidak sempat lagi untuk beristirahat. Namun hari itu juga telah digali lubang-lubang kubur jauh dibagian belakang kebun yang paling jauh dari rumah yang besar dan berhalaman luas itu. Hal itu terpaksa dilakukan karena Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya tidak ingin menarik perhatian orang-orang yang tinggal di padukuhan terdekat dari rumah itu. Jika mereka membawa tubuh-tubuh orang yang terbunuh di halaman itu ke kuburan, maka tentu akan mengundang banyak sekali pertanyaan. Sementara itu, Kundala telah memerintahkan beberapa orang perempuan yang memang terbiasa bekerja didapur untuk melakukan pekerjaan mereka, tetapi perempuanperempuan itu, tidak dapat menolak. Mereka harus keluar dari persembunyian mereka didalam rumah yang besar itu dan masuk kedalam dapur yang luas. Sedangkan persediaan bahan makanan dirumah itu cukup banyak dan akan mencukupi untuk waktu yang panjang. Tetapi perempuan-perempuan lain, yang tidak termasuk perempuan baik-baik dan bukan pula perempuan yang sehari-harinya memang dipekerjakan dirumah itu telah dikumpulkan disatu ruang yang khusus. Kundala memang berniat untuk menyingkirkan mereka dari rumah itu. Atas desakan Kiai Gumrah, maka para penghuni rumah itu yang tersisa dan menyerah, telah menerima Kundala memimpin mereka. Meskipun Kundala bukan termasuk salah seorang pemimpin yang tataran ilmunya sejajar dengan Kiai Windu Kusuma, namun ternyata Kundala mempunyai kekuatan yang lain. Sebagaimana dikatakan oleh Kiai Gumrah, maka kesempatan itu memang dipergunakan sebaik-baiknya untuk memberikan pola kehidupan yang baru bagi orang-orang yang tersisa di rumah itu. Kiai Gumrah ternyata berada dirumah itu tidak hanya sehari. Bersama dengan saudara-saudara seperguruannya, mereka diminta untuk tinggal dua tiga hari lagi sampai keadaan menjadi tenang. Goncangan yang terjadi benarbenar telah menikam kedalam setiap jantung dari para penghuni rumah itu. Ternyata tawaran Kundala tentang pola tatanan kehidupan yang baru telah menarik perhatian para penghuni rumah itu yang tersisa. Apalagi Kundala telah menunjuk sawah, ladang dan pategalan yang sangat luas, milik Kiai Windu Kusuma yang akan dapat menjadi ladang kehidupan mereka kemudian selain usaha lain dengan cara yang lebih baik dari cara yang pernah mereka tempuh. Dalam waktu tiga hari, maka keadaan rumah itu telah mulai tenang kembali. Meskipun disana-sini masih terbaring orang-orang yang lukanya, terhitung parah. Bahkan ada diantara. mereka yang terpaksa menyusul kawan-kawannya yang tubuhnya telah terbaring di kebun belakang dari rumah yang besar itu. Selama, berada di rumah itu, Manggada dan Laksana setiap kali diajak Winih untuk ikut mengawasi perempuanperempuan yang bekerja didapur. Namun agaknya tugas itu tidak begitu menyenangkan bagi Manggada dan Laksana. Hanya karena Winih yang mengajak mereka, maka mereka tidak menolak. Apalagi keduanya memang tidak tahu, apa yang sebaiknya mereka lakukan dirumah itu. Tetapi ketika keadaan menjadi semakin tenang, serta tatanan baru mulai disusun oleh Kundala dan dua orang yang ditunjuknya, maka Manggada dan Laksana merasa bahwa kehadiran mereka sama sekali sudah tidak diperlukan lagi. Karena itu, maka keduanya telah mulai membicarakan kepentingan mereka sendiri. "Kapan kita akan meneruskan perjalanan kita?" bertanya Manggada. Laksana mengangguk kecil. Katanya "Kita memang tidak diperlukan lagi disini." "Baiklah. Kita akan berbicara dengan kakek." desis Manggada kemudian. "Kakek siapa?" bertanya Laksana. Manggada tersenyum. Tetapi ia masih juga bertanya "Apakah kau akan berbicara juga dengan Winih? — "Ah kau. Winih memang cantik. Tetapi ia terlalu garang." Keduanya tertawa. Sementara Manggada berkata "Kita menunggu sampai Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya meninggalkan rumah ini, tetapi kita langsung melanjutkan perjalanan kita yang tertunda-tunda." Laksana menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Ternyata sampai saat terakhir kita tetap tidak mengetahui dengan pasti, siapakah orang-orang yang setiap hari ada disekeliling kita. Kita juga tidak tahu pasti tentang pusaka-pusaka yang disimpan oleh Kiai Gumrah." "Ya. Kita telah melihat satu dunia yang seakan-akan dibatasi oleh tabir yang tipis. Kita memang dapat melihat tembus, tetapi tidak jelas” umam Manggada. Namun di malam hari, ketika Kiai Gumrah dan saudarasaudara perguruannya duduk dipendapa membicarakan rencana mereka meninggalkan rumah itu, telah dikejutkan oleh kehadiran Ki Pandir. Kiai Gumrah dan saudarasaudara seperguruannya mengira bahwa Ki Pandi tidak akan secepat itu, datang kembali mengunjungi mereka. Kiai Gumrahpun kemudian mempersilahkan Ki Pandi untuk duduk bersama mereka di pendapa. Dengan singkat Ki Pandi menceriterakan bahwa ia tidak berhasil menemukan Panembahan Lebdagati malam itu. Namun Ki Pandipun berkata "Tetapi aku yakin, bahwa aku akan dapat membayanginya di hari-hari mendatang. Panggraitaku akan dapat menjadi penunjuk yang dapat dipercaya untuk membayangi Panembahan itu." Kiai Gumrah mengangguk-angguk: Katanya "Kami berharap demikian, agar Panembahan itu tidak akan mengacaukan pola tatanan kehidupan baru yang sedang disusun dirumah ini." Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya "Aku bersukur bahwa goncangan dirumah ini telah dapat menumbuhkan sesuatu yang berarti. Jika orang-orang yang tersisa itu dapat menemukan jalan yang baru itu adalah karena kalian telah melakukan sesuatu yang bukan saja berarti bagi kalian sendiri. Ternyata akibatnya bukan sekedar mempertahankan pusaka-pusaka itu, tetapi satu perubahan sikap hidup bagi banyak orang." "Kita memang harus mensukurinya, Ki Pandi." "Itulah sebabnya aku datang kembali. Ketika aku meninggalkan rumah ini, aku belum sempat mengucapkan selamat atas keberhasilan kalian." berkata Ki Pandi. “Tetapi itu juga karena bantuan Ki Pandi. Bukan hanya saat kami datang kerumah ini, tetapi juga sejak jauh sebelumnya. Tanpa kehadiran kedua ekor harimau itu, maka sulit bagi kami untuk mempertahankan pusakapusaka itu dirumahku sebelum saudara-saudaraku berkumpul” Ki Pandi menggeleng. Katanya "Tidak. Kalian mempunyai kekuatan cukup untuk mempertahankan pusaka itu saat ini.” Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya termangu-mangu sejenak. Sementara Ki Pandi berkata selanjutnya "Tidak ada seorangpun, bahkan sekelompok orang-pun yang akan dapat mengambil pusaka-pusaka itu dari kalian sekarang, selagi kalian masih lengkap atau setidak-tidaknya sebagian besar dari kalian.” Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya mulai merenungi kata-kata Ki Pandi yang berkata seterusnya "Tetapi aku yakin, bahwa tidak selamanya kalian dapat berkumpul seperti ini. Sebagaimana berlaku bagi setiap yang hidup, maka satu demi satu kalian tentu akan pergi. Hingga pada suatu saat, maka pusaka-pusaka itu tidak akan ada lagi yang dapat mempertahankannya jika seseorang atau sekelompok orang berusaha untuk memilikinya. Bahkan mungkin sekelompok orang yang bermaksud buruk. Apakah karena pusaka-pusaka itu dianggap bertuah atau karena pusaka-pusaka itu dibalut dengan bahan yang sangat mahal." Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Ia mulai meraba arah bicara Ki Pandi yang bongkok itu. Dengan nada dalam ia berkata "Jadi, menurut Ki Pandi, apa yang sebaiknya kami lakukan?” "Kiai" sahut Ki Pandi "menurut penglihatanku, kalian yang mempertahankan pusaka-pusaka itu rata-rata sudah seumur dengan aku. Berapa tahun lagi kalian masih dapat bertahan. Lima tahun, atau sepuluh tahun atau berapa? Kalian sekarang dapat berbangga atas keutuhan kalian sebagai saudara-saudara seperguruan. Seakan-akan tidak akan ada kekuatan yang dapat memecahkan hubungan kalian yang satu dengan yang lain. Tetapi kalian tidak sempat memikirkan, bahwa saat itu akan datang juga. Satu demi satu kalian akan tidak ada lagi." Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya mulai mengerutkan kening mereka. Kata-kata Ki Pandi itu. mulai menyentuh jantung mereka. "Kiai" berkata Ki Pandi kemudian "yang ingin aku tanyakan kepada Kiai dan saudara-saudara seperguruan Kiai, apakah Kiai pernah memikirkan, siapakah yang akan meneruskan tugas Kiai menjaga pusaka-pusaka warisan yang nilainya sangat tinggi itu? Kiai tentu tidak akan dapat selalu berbangga karena Kiai dan saudara-saudara seperguruan Kiai masih mampu mempertahankannya. Kiai, coba marilah kita lihat, yang umurnya masih terhitung muda disini hanyalah anak, menantu dan seorang cucu Kiai. Tetapi apakah mereka kemudian akan mampu melindungi pusaka-pusaka itu sebagaimana Kiai dan saudara-saudara seperguruan Kiai sekarang ini?” Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata "Aku mengerti Ki Pandi. Pertanyaan Kiai telah membuka Hati kami." "Nah" berkata Ki Pandi selanjutnya "nampaknya masih ada waktu. Kalian harus menyusun kekuatan untuk meneruskan tugas kalian menjaga pusaka pusaka itu. Satu angkatan penerus yang setidak-tidaknya memiliki kemampuan sebagaimana kalian yang sudah tua-tua itu." "Aku mengerti Ki Pandi" Kiai Gumrah masih mengangguk-angguk "selama ini kami memang terlalu berbangga akan diri kami sendiri. Kami memang merasa bahwa kami merupakan satu kekuatan yang sulit untuk dapat ditundukkan. Tetapi kami memang melupakan masa depan sebagaimana yang Ki Pandi katakan." "Kiai. Aku sangat kagum melihat kemampuan gadis cucu Kiai itu. Dengan demikian maka akan mempunyai gambaran, bahwa kalian akan dapat menyusun satu angkatan penerus sebagaimana Winih yang telah ditempa menjadi seorang yang memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Meskipun pengalamannya masih belum terlalu banyak, tetapi agaknya penalarannya lebih banyak membantu nya." "Nah, Kiai" berkata Ki Pandi pula "Kiai dan saudarasaudara seperguruan Kiai harus segera mulai." Kiai Gumrah termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia memandangi saudara-saudara seperguruannya yang duduk disekitarnya sambil berkata "Bagaimana pendapat kalian?" Juragan gula itulah yang menyahut "Aku sependapat dengan Ki Pandi. Selama ini kita memang terlalu berbangga akan diri kita sendiri. Bahkan sampai hari ini. Kita berbangga bahwa kita dapat mempertahankan pusakapusaka warisan serta lambang dari perguruan kita. Sehingga kita tenggelam dalam kebanggaan ifu. Tetapi kita memang tidak dapat berpikir bagaimana yang akan terjadi jika lima tahun lagi, atau sepuluh tahun lagi, keadaan seperti ini akan terulang. Sementara, orang lain menyusun kekuatan untuk mulai dengan langkah-langkah baru." Orang yang selalu-menyebut dirinya berilmu tinggi itupun berkata sambil mengusap-usap lukanya yang masih terasa pedih "Ya. Kita sekarang mampu melawan orang yang jumlahnya jauh lebih banyak dari jumlah kita. Kita dapat mengurangi jumlah mereka seorang demi seorang dengan cara kita. Namun suatu saat, jumlah kitalah yang akan dikurangi seorang demi seorang." Seorang yang lainpun berkata "Apakah kita dapat menghentikan laju umur kita yang memanjat dari tahun ketahun?" Kiai Gumrah tersenyum. Katanya sambil menganggukangguk "Ya. Kita lupakan masa depan kita." Tetapi suaranya kemudian meninggi "Saudara-saudaraku. Aku sendiri telah menyiapkan pilar penyangga masa depan itu. Aku punya Prawara, isterinya dan cucu-cucuku. Nah, bagaimana depgan kalian?" Buta Ijo itu bergumam hampir kepada dirinya sendiri “Cucu-cucumu. Berapa jumlah cucumu?" "Tiga" jawab Kiai Gumrah "seorang perempuan dan dua orang laki-laki." Tiba-tiba saja semua orang berpaling kepada Manggada dan Laksana. Sementara Manggada dan Laksana sendiri menjadi bingung. Namun Kiai Gumrah itupun berkata "Sebenarnya aku memang pernah berbicara tentang pendukung masa depan. Aku juga pernah berbicara dengan kedua cucu laki-lakiku itu. Sekarang aku ingin menegaskan, bahwa keduanya akan termasuk menjadi penerus dari perguruan kita." Manggada dan Laksana menjadi bingung. Sementara Kiai Gumrah itupun berkata kepada saudara-saudara seperguruannya "Tetapi sudah tentu bahwa kalian juga berkewajiban untuk menyiapkannya. Mungkin anak atau cucu kalian masing-masing. Suatu ketika mereka akan kita kumpulkan agar mereka saling mengenal sehingga mereka akan terikat dalam satu lingkaran persaudaraan sebagaimana kita sendiri." “Baiklah" berkata Kiai Padma yang lebih dikenal sebagai juragan gula itu "Aku juga berjanji akan ikut mendukung; masa depan itu dengan menyiapkan penerus yang akan menjadi pengawal bagi masa depan. Tanpa mereka kita memang tidak berarti apa-apa. Apa yang kita pertahankan dengan penuh kebanggaan sekarang ini, tidak lebih dari satu mimpi buruk." Seorang yang lebih banyak mengantuk itupun berkata "Kita terlalu asyik dengan kebanggaan kita sendiri. He, bagaimana jika ada diantara kita tidak mempunyai anak seperti orang berkumis tidak rata itu." "Siapa bilang" jawab orang yang disebut berkumis tidak rata "aku mempunyai lebih dari selusin anak meskipun anak tetangga. Tetapi aku dapat memilih yang terbaik diantara mereka." "Baiklah" bakata Kiai Gumrah "hari ini kita berjanji untuk segera mulai dengan mempersiapkan masa depan itu” Namun dalam pada itu, Manggada dan Laksana menjadi gelisah. Mereka tidak akan dapat terikat dengan rencana itu, dengan memaksa diri Manggada berkata "Kiai. Kami berdua mohon maaf. Kecuali kami berdua merasa sama sekali tidak berarti disini. kamipun masih mempunyai kepentingan yang lain. Sejak kami meninggalkan rumah paman, kami belum pernah sampai kerumah ayah. Jika suatu hari paman berkunjung kerumah ayah dan kami belum ada dirumah, maka ayah tentu akan menjadi gelisah." Kiai Gumrah mengerutkan dahinya. Katanya "Bukankah kalian sudah menyatakan keinginan kalian untuk tinggal bersama kami?" "Waktu itu memang demikian" jawab Manggada "tetapi betapa bodohnya kami, bahwa kami merasa akan dapat membantu Kiai." "Pada suatu hari kau akan kami antar pulang dan sekaligus minta kepada orang tua kalian bahwa kalian akan berada dilingkungan kami." berkata Kiai Gumrah "Terima kasih Kiai. Tetapi sebaiknya kami pulang lebih dahulu." suara Manggada merendah. Ki Pandilah yang kemudian menyahut "Jika demikian-, biarlah aku menemani anak-anak ini. Aku sudah kenal mereka sejak lama.. Aku akan mengantarnya pula. Suatu ketika aku akan membawa mereka kembali kepada kalian." Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Sementara Winih yang duduk disebelah anak-anak muda itu bertanya "Kalian akan meninggalkan kami ?” "Orang tua kami akan kehilangan kami, jika kami tidak pulang" jawab Manggada. Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Tetapi ingat anak-anak. Kalian adalah cucu-cucuku." Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Merekapun sebenarnya merasa sangat berat untuk meninggalkan Kiai Gumrah. Meskipun mereka tahu bahwa mereka tidak berarti apa-apa bagi orang tua itu, namun selama ia berada dirumah Kiai Gumrah, maka ia memang merasa seolah-olah tinggal dirumah sendiri. Bahkan setelah anak dan menantu Kiai Gumrah beserta Winih datang, hubungan mereka dengan keluarga Kiai Gumrah itu menjadi semakin akrab. Bahkan Manggada dan Laksana kadang-kadang sering lupa dan merasa bahwa mereka memang bagian dari keluarga itu. Namun akhirnya Kiai Gumrahpun telah melepasnya pula. Juragan gula yang sudah akrab pula dengan kedua orang anak muda itu, bahkan beberapa orang yang lain, juga ikut menyesalkan kepergian Manggada dan Laksana. Namun mereka memang tidak dapat menahannya tanpa memperhatikan kepentingan anak-anak muda itu sendiri. Meskipun demikian, kedua anak muda itu masih diminta untuk singgah dirumah Kiai Gumrah sebelum mereka benar-benar meninggalkan keluarga itu. Demikianlah, maka keesokan harinya, Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya itupun telah meninggalkan Kundala yang nampaknya mulai dapat menguasai orangorang yang masih tersisa dirumah itu. Kepada mereka Kiai Gumrah berkata "Ikutilah jejak langkah Kundala. Jika kalian berjanji, maka kami tidak akan melaporkan kegiatan kalian kepada Senapati Pajang yang mendapat tugas didaerah ini. Tetapi jika kalian berkeras dengan cara hidup kalian sebelumnya, maka akan datang gilirannya pasukan Pajang menghancurkan kalian." Wajah-wajah yang suram itu hanya dapat menunduk. Namun kata-kata Kiai Gumrah itu meresap dihati mereka. Ternyata bahwa saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah itu akan langsung pulang kerumah masing-masing. Hanya mereka yang masih belum sembuh dari lukalukanya, akan diantar oleh saudara seperguruan yang terdekat. Dua orang yang lukanya masih agak parah, akan dibawa lebih dahulu kerumah Kiai Gumrah. Demikian pula pusaka-pusaka yang telah berhasil mereka pertahankan itu akan tetap disimpan dirumah Kiai Gumrah untuk sementara, sebelum mereka mengambil keputusan lain, karena tempat itu sudah menjadi tidak tenang lagi. Ketika Kiai Gumrah dan keluarganya serta kedua orang saudara seperguruannya yang terluka itu sampai dirumah, mereka menjadi heran. Dua orang yang tertangkap dan ditahan dirumah itu ternyata masih tetap menunggu. Ketika pengaruh ketukan jari-jari Kiai Gumrah telah mengendur, sehingga keduanya terbangun, keduanya tidak berniat untuk melarikan diri. Ternyata mereka merasa bahwa mereka tidak akan dapat hidup lagi tanpa perlindungan Kiai Gumrah. "Baiklah. Besok kau akan kami serahkan kepada Kundala yang sekarang memimpin kawan-kawanmu dirumah Kiai Windu Kusuma." berkata Kiai Gumrah kepada mereka. Namun dalam pada itu. Manggada dan Laksana benarbenar akan meninggalkan rumah itu. Betapa beratnya hati keluarga Kiai Gumrah, namun mereka harus melepas mereka. Meskipun demikian mereka merasa berbesar hati bahwa Ki Pandi akan membawa mereka sampai kepada orang tua mereka dan ke!ak, akan membawa mereka kembali kepadanya. Kedua anak muda itu diharapkan akan dapat menjadi bagian dari penerus yang akan mengawal lambang kehadiran mereka... Winih melepas kedua orang anak muda itu dengan mata yang basah. Banyak kesan yang tertinggal dihatinya tentang kedua anak muda itu. Setiap kali Winih masih memperbandingkan keduanya dengan Darpati yang hampir saja merampas hatinya sehingga ia akan dapat kehilangan pribadinya. Manggada yang sudah siap untuk berangkat itu berkata "Aku kagumi kau Winih. Kami berdua bukan apa-apa dipandangan matamu." "Kalian salah mengerti kakang." jawab Winih "Aku bangga terhadap kalian berdua. Ilmu kemampuan dan kelebihan apapun tidak berarti apa-apa tanpa dukungan kepribadian yang kuat. Dan kalian sudah memiliki kepribadian itu. Pada saatnya kalian akan kembali dengan ilmu dan kemampuan yang tinggi didukung oleh kepribadian yang sangat kuat." Manggada mengangguk-angguk, sementara Laksana berkata "Jika kelak aku kembali, apakah kau masih tetap menganggap kami sebagai kakakmu sendiri." "Tentu kakang " jawab Winih. Dahi Laksana berkerut. Tetapi iapun berdesis "Terima kasih Winih. Kelak kami tentu akan datang kembali” Demikianlah, maka Manggada dan Laksanapun benarbenar meninggalkan rumah itu. Nyi Prawara membekali mereka dengan obat-obatan yang penting bagi mereka diperjalanan. "Kami titipkan anak-anak ini kepadamu, Ki Pandi." berkata Kiai Gumrah. Ki Pandi tersenyum sambil mengangguk. Namun sejenak kemudian maka merekapun telah pergi. 

Setelah seri ARYA MANGGADA III "SANG PENERUS" berakhir, maka akan dilanjutkan dengan seri IV dengan judul "SEJUKNYA KAMPUNG HALAMAN" Tetapi ketika ARYA MANGGADA menginjakkan kakinya di Kampung Halamannya justru tanahnya seakanakan sedang membara.
 

 

 (c) topmdi.net 2011. All Rights Reserved.