Pelangi di Langit Singosari 10 [tamat seri I]

Jilid 47

SIAPKAN mereka” perintah Akuwu kemudian kepada Witantra.

Wajahnya masih dibayangi oleh kemarahannya kepada Ken Arok,

“Aku akan segera berangkat”.

“Hamba Tuanku”.

Witantra pun kemudian meninggalkan Akuwu seorang diri

menimang busurnya, untuk menyiapkan sebuah rombongan kecil

yang akan mengikuti Akuwu Tunggul Ametung pergi berburu. Ketika

di halaman belakang ia bertemu dengan Ken Arok, maka dengan

nada berat ia berkata, “Jangan kau hiraukan lagi kata-kata Akuwu.

Ia sendiri akan segera melupakannya. Mungkin lain kali kau akan

mendapat kesempatan untuk ikut bersama dengan Akuwu pergi

berburu”.

Kepala Ken Arok tertunduk. Dengan wajah yang muram ia

menjawab, “Aku menyangka bahwa kata-kataku akan menimbulkan

kemarahan. Aku akan berkata dan bersikap jujur. Seandainya aku

berkata bahwa aku dapat memanah dengan baik, namun ternyata

sebaliknya, aku akan dimarahinya juga. Apalagi, tanpa aku sadari

aku telah menyinggung busur yang baru itu”.

“Besok Akuwu akan melupakan apa yang terjadi hari ini” berkata

Witantra.

“Aku belum pernah dimarahi oleh Akuwu seperti ini. Itulah

sebabnya aku merasa, bahwa aku seakan-akan telah melalaikan

suata kesalahan yang maha besar”.

Witantra tersenyum, Jawabnya, “Kau adalah seorang hamba

istana yang bertanggung jawab. Kau selalu berbuat seperti

seharusnya kau lakukan, Apa yang terjadi sama sekali tidak ada

sangkut pautnya dengan tugasmu. Itu hanyalah sekedar salah

paham yang tidak akan berpengaruh apa-apa”.

“Mudah-mudahan” desis Ken Arok.

“Percayalah. Besok ia pasti sudah akan lupa, apa yang

dikatakannya sendiri”.

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya dengan wajah yang

muram. Tetapi, ketika Witantra kemudian meninggalkannya, sekali

lagi ia tersenyum dan berkata kepada diri sendiri, “Witantra hampir

sama dungunya dengan Akuwu Tunggul Ametung”.

Beberapa lama kemudian Ken Arok berdiri di balik sebatang

pohon ketika Akuwu bersama pengawalnya berpacu meninggalkan

istana. Tetapi, ketika Akuwu sudah lampau, maka Ken Arok segera

melangkah ke samping sambil menganggukkan kepalanya kepada

Witantra.

Witantra tersenyum sambil mengangkat tangannya. Kemudian

hilang di balik regol samping istana. Yang tinggal hanyalah kepulan

debu yang putih.

Ken Arok berpaling ketika ia mendengar seorang prajurit

bertanya, “He, kenapa kau bersembunyi?”

Ken Arok mengangkat keningnya, tetapi ia tidak menjawab.

Sambil menggelengkan kepalanya ia pun kemudian pergi

meninggalkan prajurit itu di tempatnya.

Sepeninggal Akuwu dan beberapa orang pengawalnya, istana ini

serasa menjadi lengang. Ken Arok adalah seorang hamba istana

yang mendapat kepercayaan karena berbagai jasa. yang telah

ditunjukkannya. Itulah sebabnya, maka ia seolah-olah mendapat

kepercayaan untuk memasuki setiap ruang di dalam istana ini.

Apalagi kedudukannya memang memungkinkannya untuk berbuat

demikian.

Tetapi, Ken Arok yang telah matang dengan rencananya itu tidak

bertindak dengan tergesa-gesa. Ia harus menggunakan akal dan

nalarnya. Tidak sekedar membiarkan perasaan dan nafsunya

melonjak-lonjak tidak terkendali. Itulah sebabnya, maka tidak

seorang pun yang menaruh curiga terhadapnya. Sikapnya adalah

sikap Ken Arok yang mereka lihat sehari-hari, karena mereka, para

hamba istana dan para prajurit, tidak melihat, apa yang tersimpan

di dalam dada anak muda, pelayan dalam istana Tumapel itu.

Pada hari itu, Ken Arok melakukan tugasnya seperti biasa. Tidak

ada kesan perubahan apa pun, dalam pandangan mata orang-orang

lain yang berada di istana itu pula.

Setiap orang menganggap, bahwa wajar sekali apabila suatu

ketika Ken Arok itu bertemu dengan Permaisuri Ken Dedes yang

sedang turun ke halaman, untuk pergi ke taman. Karena Akuwu

Tunggul Ametung tidak ada, maka Ken Dedes ingin mencari

kesibukan dengan para emban di taman istana.

Dengan hormatnya Ken Arok menganggukkan kepalanya dalamdalam.

Sambil menunduk Ken Arok bertanya dengan sopannya,

“Ampun Tuan Puteri, apakah Tuan Puteri akan pergi ke taman?”

Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Tetapi, suaranya agak

gemetar, “Ya Ken Arok. Aku akan pergi ke taman”.

“Hamba Tuan Puteri” sahut Ken Arok kemudian, “hamba telah

membawa beberapa jenis bunga-bungaan dari taman yang hamba

buat di Padang Karautan”.

Langkah Ken Dedes tiba-tiba berhenti. Dipandanginya wajah Ken

Arok untuk sesaat. Dan tanpa disangka-sangka Ken Arok

mengangkat wajahnya sehingga tatapan mata mereka bertemu.

Tidak seorang pun yang memperhatikan peristiwa sekejap itu. Tidak

seorang pun yang melihat wajah Permaisuri menjadi semburat

merah. Dan tidak seorang pun yang melihat, bahwa sesuatu yang

telah tumbuh di dalam hati permaisuri itu berkembang tanpa dapat

dihindarkannya lagi.

Karena itu, maka sesaat Permaisuri itu seakan-akan terbungkam.

Kepalanya pun kemudian menunduk dalam-dalam. Sekejap ia

kehilangan kesadaran diri, sehingga ia tidak berbuat sesuatu, selain

berdiri sambil memandangi ujung ibu jari kakinya.

Para emban tidak ada yang menaruh prasangka apa pun. Mereka

hanya menyangka, bahwa Permaisuri sedang mengingat-ingat

sesuatu. Mungkin tentang bunga yang dikatakan oleh Ken Arok, di

bawa dari Padang Karautan.

Dan ternyata bahwa yang pertama-tama dikatakan oleh

Permaisuri itu kemudian adalah benar-benar tentang bunga.

Katanya, “Manakah bunga itu, Ken Arok. Apakah kau dapat

menunjukkan?”

Ken Arok tergagap sejenak. Ia tidak menyangka bahwa

Permaisuri akan minta kepadanya untuk menunjukkan bunga itu,

yang sama sekali tidak pernah ada di dalam taman. Jangankan

bunga yang dibawanya dari Padang Karautan, sedang bunga yang

ada di dalam taman itu pun sama sekali tidak mendapat

perhatiannya. Namun demikian ia menjawab, “Baiklah Tuan Puteri.

Tetapi, sudah agak lama hamba tidak melihat, apakah bunga itu

masih ada dan dapat hidup baik untuk seterusnya”.

Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Pergilah.

Berjalanlah di depan”.

“Ampun Tuan Puteri, hamba akan berjalan di belakang”.

“Berjalanlah di depan”.

Ken Arok tidak dapat membantah lagi. Meskipun terasa

punggungnya seolah-olah dijalari oleh segenggam ulat yang paling

gatal, namun ia berjalan juga di depan Permaisuri.

Ketika mereka memasuki taman, keringat Ken Arok menjadi

semakin banyak mengalir. Ia tidak tahu, kemana ia harus pergi

untuk menunjukkan bunga yang dibawanya dari Padang Karautan,

sehingga untuk sesaat ia berdiri membatu di regol taman.

Ken Dedes yang kemudian berdiri dibelakangnya terhenti juga.

Setelah sejenak Ken Arok berdiri diam, terpaksa Permaisuri itu

bertanya, “Manakah bunga itu?”

Ken Arok berpaling. Kemudian dibungkukkannya kepalanya

dalam-dalam. Namun sementara itu ia melihat, bahwa para emban

tidak berdiri terlampau dekat dengan permaisuri.

Sejenak Ken Arok dicengkam oleh kebimbangan. Apakah ia akan

mencoba menjajagi perasaan Permaisuri saat itu juga, justru ketika

Permaisuri itu bertanya tentang bunga kepadanya? Dan justru

bahwa bunga yang sesungguhnya tidak ada.

Ken Arok menjadi semakin berdebar-debar, dan bahkan

jantungnya serasa akan meledak ketika sekali lagi Permaisuri

bertanya, “Kenapa kau berhenti, Ken Arok?”

Dalam keadaan yang demikian, maka tiba-tiba tumbuhlah

kedirian Ken Arok yang sebenarnya. Seorang anak yang paling liar

di seluruh Tumapel. Meskipun kini ia berdiri dengan kepala

menunduk dalam-dalam, meskipun ia berpakaian seperti seorang

pelayan dalam, namun ia tidak berhasil membuat hati dan

jantungnya sewarna dengan pakaian lahiriahnya.

Karena itu, seperti api yang tersekap dalam sekam, maka ketika

Ken Arok tidak mampu lagi menahan dirinya, meledaklah perasaan

yang selama ini membakar dadanya.

Meskipun kepalanya masih menunduk, namun Ken Arok

kemudian berkata sangat lambat, sehingga hanya dapat di dengar

oleh Permaisuri itu sendiri, “Ampun Tuan Puteri, ternyata hamba

tidak memindahkan bunga dari Padang Karautan, tetapi hamba

memindahkan bunga dari Padepokan Panawijen, dan sama sekali

tidak hamba tanam di dalam taman ini”.

Sepercik pertanyaan membayang di wajah Permaisuri itu. Ia tidak

segera menangkap arti kata-kata Ken Arok, sehingga sesaat ia

berdiri saja membisu sambil memandang wajah Ken Arok yang

tertunduk.

“Jadi?” bertanya Permaisuri itu kemudian, “Di manakah kau

tanam bunga itu”.

Ken Arok menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia

memutuskan, “Matilah, aku sekarang kalau aku akan mati. Buat apa

aku hidup lebih lama lagi, kalau semua impianku itu tidak akan

dapat terwujud? Seharusnya aku memang segera mengetahui,

apakah berguna untuk berbuat seterusnya, atau aku harus

menghentikannya sekarang, kemudian membunuh diri”.

Permaisuri itu menjadi bingung karena Ken Arak tidak segera

menjawab. Karena itu, untuk melepaskan kegelisahannya ia

mendesak, “Di mana kau tanam bunga itu Ken Arok?”

Kini Ken Arok telah sampai pada tangga terakhir dari

pengkhianatannya. Karena ilu, maka dengan dada berdebar-debar

dan jantung yang serasa meledak ia berkata, “Ampun Tuan Puterri,

bunga itu ada di dalam dada ini”.

Jawaban Ken Arok itu serasa petir yang meledak di dalam telinga

Permaisuri Ken Dedes. Sejenak ia tegak seperti patung yang

membeku. Namun kemudian darahnya seakan-akan berhenti

mengalir.

Taman bunga yang telah berada beberapa jengkal dihadapannya,

serasa berputaran mengelilinginya. Semakin lama menjadi semakin

cepat. Semakin cepat dan semakin cepat.

Permaisuri Ken Dedes itu seakan-akan kehilangan

keseimbangannya. Sejenak ia terhuyung-huyung. Lamat-lamat

bibirnya bergerak dan memanggil, “Emban, emban”.

Emban yang berdiri beberapa langkah daripadanya tidak

mendengar panggilan itu, sehingga Ken Dedes mengulanginya,

“Emban, kemarilah”.

Tetapi, emban itu juga belum mendengarnya. Mereka berdiri

sambil berbisik-bisik di antara mereka. Mereka tidak melihat, bahwa

wajah Permaisuri menjadi terlampau pucat, dan keringat dinginnya

telah membasahi seluruh tubuhnya.

Ken Arok menyadari keadaan itu, sehingga dengan serta-merta ia

memanggil, “He, emban, lihatlah Tuan Puteri itu”.

Emban yang masih berbisik-bisik diantara mereka itu terkejut.

Segera mereka berlari-lari mendapatkan Permaisurinya yang sudah

hampir kehilangan keseimbangan sama sekali.

Melihat Ken Dedes yang pucat dan berkeringat itu, para emban

menjadi bingung. Beberapa orang di antara mereka segera

berusaha menahan agar Ken Dedes tidak terjatuh. Namun beberapa

orang yang lain hanya kebingungan saja tanpa berbuat sesuatu.

“Ampun Tuan Puteri, kenapa Tuan Puteri?”

Ken Dedes tidak menyahut. Ia berusaha berpegangan kepada

dua orang emban yang berdiri di kedua sisinya.

“Aku akan kembali ke istana emban” desis Permaisuri.

“Tetapi, kenapakah sebenarnya Tuan Puteri?” Ken Dedes

menggeleng, “Aku tidak tahu. Tiba-tiba saja aku merasa pening”.

“Marilah Tuan Puteri”. berkata salah seorang dari emban itu,

“Hamba antar Tuan Puteri kembali ke istana”.

Kedua emban yang masih sempat berpikir itu segera memapah

Ken Dedes kembali ke istana. Sementara yang lain masih saja

kebingungan.

Sementara itu, Ken Arok masih berdiri tegak seperti patung. Ia

sadar, bahwa keadaan Permaisuri itu adalah akibat dari katakatanya.

Tetapi, ia belum tahu pasti, apakah tanggapan Permaisuri

itu sebenarnya.

Tetapi, tekat Ken Arok sudah tidak dapat diredakan. Ia

bergumam di dalam hatinya, “Hanya ada dua pilihan, mukti atau

mati. Kalau aku harus mati, biarlah itu cepat terjadi. Besok atau

lusa, kalau Akuwu kembali dari berburu, Permaisuri pasti akan

mengatakannya, bahwa aku telah berkhianat. Pada hari itu juga aku

akan di gantung di depan regol samping istana, atau di tengah alunalun.

Tetapi, apabila besok atau lusa Akuwu Tunggul Ametung

kembali, dan aku tidak segera harus menjalani hukuman mati, maka

itu suatu pertanda bahwa Permaisuri Ken Ddes tidak marah

kepadaku. Aku akan berjalan terus sesuai dengan rencanaku”.

Ken Arok itu pun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya.

Ia masih melihat emban pemomong Ken Dedes yang kebetulan

tidak ikut pergi ke taman berlari-lari menyongsong momongannya.

Kemudian membantu memapahnya masuk ke dalam istana.

Dengan penuh kasih sayang emban tua itu membawa Ken Dedes

berbaring di pembaringannya. Kemudian dibelainya keningnya dan

di pijit-pijitnya pundaknya.

“Kenapa Tuan Puteri?” dengan sareh ia bertanya, “Apakah Tuan

Puteri sakit?”

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Sekilas terbayang wajah

pelayan dalam yang masih muda itu berdiri sambil tersenyum. Tibatiba

pula teringat olehnya, pergaulan masa kecilnya. Kemudian pada

saat ia tumbuh menjadi dewasa.

Sepercik kenangan telah membayang di rongga matanya,

tentang seorang anak muda yang bernama Wiraprana. Tanpa

sesadarnya Ken Dedes itu mulai memperbandingkannya. Dan tibatiba

saja ia berkata di dalam hatinya, “Kenapa kedua mempunyai

beberapa persamaan? Tetapi, aku tidak dapat mengatakan,

dimanakah letak persamaan itu”.

Permaisuri itu terkejut ketika ia mendengar suara embannya,

“Apakah Tuanku menjadi pening sekali?” Ken Dedes mengangguk.

“Kenapa Tuan Puteri? Apakah Tuan Puteri terkejut, atau cemas

atau tiba-tiba saja teringat akan sesuatu?”

Ken Dedes menggelengkan kepalanya, “Tidak bibi?”

“Lalu, kenapa Tuanku tiba-tiba saja menjadi hampir pingsan?”

Permaisuri itu menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu bibi.

Tiba-tiba saja mataku menjadi berkunang-kunang, dan taman itu

seolah-olah berputar. Badanku menjadi sangat dingin, tetapi

peluhku serasa terperas dari tubuh”.

“Mungkin Tuan Puteri terlampau lelah. Atau Tuan Puteri

mempunyai suatu keinginan yang tidak terucapkan. Apakah Tuan

Puteri ingin ikut berburu?”

Ken Dedes menggelengkan kepalanya, “Tidak bibi. Aku tidak

mempunyai keinginan apa pun juga”.

Emban tua itu tidak bertanya lagi. Kini ia memijit lengan dan

pergelangan Permaisuri yang menjadi dingin sekali. Ketika seorang

emban membawa minyak kelapa dan brambang, maka segera

diulaskannya pada telapak kaki Ken Dedes supaya menjadi hangat.

“Tidurlah Tuan Puteri” berkata emban tua itu, “Kalau Tuanku

dapat tidur, maka Tuan Puteri pasti akan segera sembuh”.

Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Dipejamkannya matanya

dan dicobanya untuk melupakan apa yang baru saja terjadi.

“Aku salah dengar” berkata Permaisuri itu kepada diri sendiri di

dalam hatinya, “Mudah-mudahan aku salah dengar”.

“Tetapi,” suara itu terdengar pula di relung jantungnya, “Ia

bersungguh-sungguh. Aku pasti, ia telah mengatakannya”.

Ken Dedes menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian

ditutupnya wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Permaisuri itu terkejut ketika embannya bertanya pula, “Apakah

ada yang mengganggu perasaan Tuan Puteri?”

“Oh, tidak bibi, tidak”. jawabnya dengan serta-merta.

“Aku hanya merasa terganggu sekali, bahwa aku tidak dapat

segera tidur. Aku ingin beristirahat, dan tidur dengan nyenyak”.

“Tuanku harus meletakkan semua beban perasaan” sahut

embannya, “Mudah-mudahan Tuanku segera dapat tidur. Hamba

akan berada di luar pintu”.

Ken Dedes tidak menyahut, tetapi ia mengangguk-angguk kecil.

Emban tua itu pun segera meninggalkan Ken Dedes seorang diri

berbaring di dalam biliknya. Namun kesendiriannya itu agaknya

telah memberi kesempatan kepadanya, kepada angan-angannya,

untuk menyelusuri dunia yang mengambang. Pikirannya jauh

menerawang ke alam yang tidak dapat disentuhnya. Dan dalam

dunia yang asing itulah terjadi benturan yang dahsyat antara

perasaan keperempuanannya dengan pikiran wajarnya.

“Aku seorang Permaisuri” suara itu terdengar melengking di

dadanya. Namun kemudian terdengar suara yang lain, “Tetapi, aku

belum pernah meneguk betapa manisnya memadu cinta. Aku telah

kehilangan masa remajaku, dan aku terlempar ke dalam sangkar

emas yang mengurungku kini”.

Berganti-ganti membayang di dalam angan-angannya wajahwajah

Kuda Sempana, wajah Tunggul Ametung, Mahendra dan

Wiraprana. Terbayang pula wajah-wajah lain yang pernah disebutsebut

oleh ayahnya dahulu ingin melamarnya.

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Terasa denyut

jantungnya menjadi semakin cepat berdetak.

“Aku berhak menikmati cinta itu” desisnya, “Seperti anak-anak

muda yang lain, yang kawin dengan laki-laki yang mereka cintai”.

Demikianlah, dada Ken Dedes itu serasa terbakar oleh benturan

perasaan yang tidak dapat dikendalikan, sehingga akhirnya ia tidak

dapat menahan hatinya lagi.

Pemomongnya yang berada di luar pintu menjadi cemas, ketika

ia mendengar Ken Dedes itu sama sekali tidak tertidur, namun

justru menangis. Karena itu, maka perlahan-lahan ia bangkit dan

berjalan memasuki bilik itu dengan hati-hati. Supaya tidak

mengejutkan Permaisuri yang sedang menangis itu, emban

pemomongnya terbatuk-batuk kecil di depan pintu.

Emban tua itu pun kemudian duduk bersimpuh di samping

pembaringan Permaisuri itu sambil bertanya perlahan-lahan,

“Apakah sebenarnya yang telah mengganggu perasaan Tuan Puteri?

Sejak Tuanku masih kecil hamba selalu melayani Tuan Puteri. Tuan

Puteri tidak pernah menyimpan rahasia kepada hamba. Kini agaknya

sesuatu sedang mengganggu hati Tuan Puteri. Apakah salahnya

kalau Tuan Puteri bersedia membaginya dengan hamba. Mungkin

hamba dapat membantu mencari jalan untuk menyelesaikan

kesulitan yang agaknya sedang Tuanku sandang”.

Tetapi, Ken Dedes yang sekarang bukan Ken Dedes yang dahulu.

Perlahan-lahan Permaisuri itu menggeleng, “Aku tidak apa-apa bibi.

Tetapi, kepalaku terlampau pening”.

Namun emban tua itu pun menggelengkan kepalanya pula.

Katanya, “Hamba melihat sesuatu yang menyesak di dalam hati

Tuanku”.

“Tidak bibi, sungguh tidak”.

Emban itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dibelainya Ken

Dedes itu seperti ia membelainya di masa kanak-kanak. Dengan

suara yang lembut emban itu berkata, “Tuanku, sejak Tuanku kecil

aku selalu, melayani Tuanku. Dalam keadaan yang bagaimanapun

juga. Pada saat-saat Tuanku berada di dalam kesulitan, yang betapa

pun juga, Tuanku selalu mengatakannya kepada hamba. Bahkan

pada saat ayahanda Tuan Puteri menerima lebih dari sepuluh

lamaran bersama-sama. Ternyata Tuan Puteri tidak menghendaki

seorang pun diantara mereka. Tetapi, Tuanku tidak berani

mengatakannya. Bukankah Tuanku ingat bahwa Tuanku

mengatakannya kepada hamba, bahwa Tuan Puteri telah

mempunyai pilihan”.

“Jangan, jangan bibi” tangis Ken Dedes justru menjadi semakin

keras. Sambil memeluk pemomongnya ia berkata terus, “Jangan kau

katakan lagi tentang hal itu bibi. Kau akan mengungkit luka yang

masih membekas di dalam hati, yang justru kini seakan-akan telah

menjadi parah kembali”.

Emban tua itu mengerutkan keningnya. Jawaban itu wajar sekali.

Agaknya Ken Dedes tidak mau mengenang masa-masa yang

baginya terasa terlampau pahit itu. Namun yang menyentuh jantung

emban tua itu adalah pengakuan Ken Dedes, “yang justru kini

seakan-akan telah menjadi parah kembali”.

Emban tua itu menjadi berdebar-debar. Apakah yang sebenarnya

sedang mengganggu hati pemomongnya ini? Apakah kenangan

lama itu justru sedang tumbuh di dalam hatinya dan menimbulkan

kejutan yang hampir membuatnya pingsan?

“Tentu ada rangsang apapun yang menuntun kenangannya

terbang kembali kemasa-masa itu” berkata emban itu di dalam

hatinya. Dan itu terjadi terlampau tiba-tiba. Tadi, sebelum emban

itu meraba ke dalam dunia yang hanya dikhayalkan saja oleh Ken

Dedes, dan yang membuatnya semakin terisak, emban itu menduga

bahwa sebenarnya Ken Dedes tiba-tiba saja menjadi pening dan

mungkin gangguan pada bagian-bagian tubuhnya. Tetapi, kini ia

berpikir agak lain.

“Sebelum Akuwu meninggalkan istana, Permaisuri sama sekali

tidak menunjukkan gejala-gejala yang demikian” berkata emban itu

di dalam hatinya. Meskipun demikian, emban itu sama sekali tidak

mempunyai petunjuk, ke arah mana ia harus mencari jawaban.

Di hari berikutnya, Permaisuri tampak lebih banyak merenung.

Namun setelah matahari memanjat agak tinggi, tiba-tiba Permaisuri

itu berminat untuk pergi ke taman.

“Kali ini kau harus ikut bibi” berkata Permaisuri itu kepada

pamomongnya.

“Hamba Tuanku. Apa perintah Tuanku, akan baik untuk hamba”.

Permaisuri itu kemudian segera berkemas. Beberapa kali ia

menukar pakaiannya dan beberapa kali pemomongnya

membantunya menyanggul rambutnya.

“Aneh” desis emban itu di dalam hati, “Tuan Puteri tidak pernah

berpakaian demikian rapinya untuk sekedar pergi ke taman”. Tetapi,

emban tua itu tidak berani bertanya.

Dengan beberapa yang lain, Permaisuri itu pun kemudian pergi

ke taman. Suatu kebiasaan baru baginya. Biasanya Tuan Puteri Ken

Dedes berjalan-jalan ke taman di sore hari. Jarang sekali terjadi,

Ken Dedes turun ke taman di pagi hari.

“Mungkin Tuan Puteri kesepian karena Akuwu belum kembali dari

berburu” desis beberapa emban dan palayan yang melihatnya.

Namun selanjutnya mereka sama sekali tidak mempersoalkannya

lagi.

Para emban itu juga tidak menghiraukan, kenapa Tuan Puteri

berjalan terlampau lambat. Mereka tidak memperhatikannya, bahwa

Permaisuri itu selalu menebarkan pandangan matanya ke segenap

sudut-sudut halaman. Diamat-amatinya setiap prajurit, pelayan

dalam dan para pengawal yang sedang bertugas. Namun setiap kali

ia menjadi kecewa dan menarik nafas dalam-dalam.

Hanya emban tua pemomongnyalah yang memperhatikan semua

itu. Dengan persoalan yang semakin membelit hatinya ia melihat

kelainan yang tiba-tiba saja menghinggapi Permaisuri

momongannya itu, meskipun masih terlampau sukar untuk

diselusuri sebab-sebabnya.

Seperti seorang ibu yang mengamat-amati tabiat dari anak

tercinta. Demikianlah, emban tua pemomong Ken Dedes itu

mencoba melihat apakah yang sebenarnya telah menarik perhatian

Permaisuri itu. Emban tua itu selalu memandang apa yang di

pandangi oleh Permaisuri dan mengamat-amati olehnya. Setiap

lembar daun yang di sentuh oleh Permaisuri itu tidak luput dari

sentuhan tangannya pula. Ia ingin mencari sebab kemurungan hati

Permaisuri itu, dan apakah yang telah menyeretnya pagi ini pergi ke

taman.

Emban tua itu mengerutkan keningnya ketika ia melihat tiba-tiba

saja permaisuri itu tertegun beberapa langkah di depan regol

taman. Sejenak ia melihat sepercik sinar yang aneh memancar di

wajah itu. Namun sejenak kemudian wajah itu pun tertunduk dalamdalam.

Wajah emban tua itu pun dengan tiba-tiba telah menegang,

wajahnya memandang ke tempat yang telah membuat wajah

Permaisuri berubah dengan tiba-tiba.

Wajah emban tua itu pun dengan tiba-tiba telah menengang.

Sejenak ia membeku di tempatnya. Namun sejenak kemudian ia

menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya kemudian wajah

Permaisuri yang menunduk.

Orang tua itu seakan-akan tidak percaya akan yang telah

dilihatnya. Sebagai seorang tua ia mempunyai tanggapan atas

peristiwa yang terjadi hanya sekejap itu.

Ketika ia sekali lagi mengangkat wajahnya dan memandang ke

dalam taman, hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Ia melihat

seorang anak muda yang seolah-olah membantu sambil

menundukkan kepalanya pula. Seorang anak muda dalam pakaian

seorang pelayan dalam. Ken Arok.

Tiba-tiba tubuh emban tua itu menjadi gemetar, seperti

Permaisuri Ken Dedes. Namun dengan susah payah pemomong itu

berhasil mempertahankan keseimbangan nalarnya. Dengan sepenuh

kesadaran ia berhasil menguasai dirinya. Sehingga kemudian

dengan sareh ia bertanya, “Tuan Puteri, kenapa Tuan Puteri

berhenti di sini?”

“O” Ken Dedes tergagap, “Tidak bibi, tidak apa-apa”.

“Apakah Tuan Puteri akan memasuki taman?”

“Ya, ya” sahut Ken Dedes yang perlahan-lahan telah berhasil

menguasai dirinya, “Aku akan pergi ke taman”.

“Marilah Tuan Puteri”.

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Ia berjuang untuk tidak

hanyut lagi dalam arus goncangan perasaan seperti kemarin, yang

dengan tiba-tiba ia telah dihempaskan ke dalam suatu keadaan

yang tidak disangka-sangka, sehingga ia tidak mempunyai persiapan

apapun untuk menghadapinya.

Kini ia berada dalam keadaan yang lebih baik dari kemarin,

meskipun dadanya masih juga terasa terguncang. Pengakuan Ken

Arok tentang bunga yang dipindahkannya dari Panawijen ke dalam

dadanya membuatnya hampir-hampir kehilangan kesadaran.

Ken Dedes itu mengangguk ketika sekali lagi emban

pemomongnya mendesak, “Marilah Tuanku”.

“O” Permaisuri itu berdesah. Kemudian dengan berat diangkatnya

kakinya dan melangkah maju memasuki taman.

Para emban yang lain sama sekali tidak memperhatikan peristiwa

yang terjadi tidak terlampau lama itu. Mereka hanya menyangka

bahwa Ken Dedes menjadi ragu-ragu karena teringat keadaannya

kemarin. Atau semula mereka menjadi agak cemas jangan-jangan

Permaisuri akan terserang penyakitnya yang kemarin itu pula.

Tetapi, ketika Permaisuri itu kemudian melangkah maju, mereka

sama sekali sudah melupakannya. Mereka sudah mulai berbisik-bisik

lagi di antara mereka. Mereka mulai memperkatakan diri mereka

sendiri. Ada pula yang memperkatakan jenis-jenis bunga yang

menjadi semakin banyak, dan ada pula yang menjadi heran, apa

saja kerja pelayan dalam yang cakap itu di dalam taman sepagi ini?

Tetapi, mereka tidak melihat sorot mata Ken Arok yang seolah-olah

akan membakar tubuh Permaisuri Ken Dedes itu.

Dengan kaki gemetar Ken Dedes memasuki taman. Segera ia

pergi ke arah yang barlawanan dari tempat Ken Arok berdiri

mematung. Permaisuri itu tidak membalas dan bahkan seakan-akan

tidak melihat, ketika dengan penuh hormat Ken Arok

menganggukkan kepalanya dalam-dalam.

“Hem” Ken Arok itu berdesah di dalam dadanya, “Burung-burung

akan menjadi gila melihat kecantikannya di cemerlangnya pagi”.

Dan matanya hampir-hampir tidak berkedip melihat Permaisuri

yang kemudian membelakanginya. Ken Arok itu pun tidak melihat,

bahwa sepasang mata wanita tua selalu memperhatikannya dengan

saksama.

Di sudut taman itu kemudian Permaisuri berhenti dan duduk di

atas sepotong kayu yang di alasi dengan kulit domba yang lunak.

Dicobanya untuk memandangi ujung dedaunan yang sedang

bersemi dan kuncup-kuncup yang hampir mekar. Namun matanya

seolah-olah tidak melihatnya. Pandangannya yang kosong bergerakgerak

tidak menentu, sama sekali tidak sejalan dengan rabaan

ujung jarinya yang lentik.

Emban tua pemomongnya duduk bersimpuh di atas rerumputan

meskipun masih basah oleh embun. Terasa getar di dadanya seolaholah

menjadi semakin cepat. Sekali-kali ia masih mencoba

memandangi Ken Arok yang masih berdiri di tempatnya, tanpa

menghiraukan dua orang juru taman yang lewat di mukanya sambil

menjinjing parang menyabit rumput.

Ken Arok pun sama sekali tidak melihat juru taman itu kemudian

menghilang di balik regol butulan, karena ia tidak dapat meneruskan

pekerjaannya justru di dalam taman itu sedang hadir Permaisuri Ken

Dedes.

Betapapun pahitnya, namun emban tua itu telah memberanikan

diri berkata kepada dirinya sendiri, “Inilah agaknya yang telah

membuat Permaisuri menjadi murung”. Namun sebuah pertanyaan

telah terselip di dadanya pula, “Tetapi, kenapa dengan tiba-tiba.

Perasaan yang demikian akan tumbuh dengan perlahan-lahan

karena mereka telah sering betemu. Ken Dedes tidak baru kemarin

melihat anak muda yang bernama Ken Arok itu dan sebaliknya”.

Emban itu tidak segera dapat menemukan jawabnya. Tetapi,

sesuatu yang hampir pasti, “Ken Dedes telah dipengaruhi oleh

perasaan seorang perempuan atas seorang laki-laki”.

Tangkapan emban tua itu atas sikap Ken Dedes telah

membuatnya sangat prihatin. Meskipun ia belum yakin akan

kebenarannya, namun ia condong pada dugaan itu. Ia tidak melihat

alasan lain yang dapat dipakainya untuk menilai keadaan

Permaisuri.

Ternyata Ken Dedes juga tidak lama berada di dalam taman. Ia

tidak berjalan-jalan melihat-lihat seperti biasanya, dan memetik

kuncup bunga untuk di bawa ke dalam biliknya. Ia hanya sekedar

duduk dan termenung. Kemudian berdiri dan berkata kepada

pemomongnya, “Kita akan kembali emban”.

Emban tua itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada yang

dalam ia menjawab, “Marilah Tuan Puteri”.

Permaisuri itu pun kemudian berjalan perlahan-lahan

meninggalkan tempat duduknya. Sejenak matanya beredar ke

seluruh taman. Agaknya ia sedang mencari sesuatu.

Emban tua itu masih saja selalu memperhatikannya. Ken Arok

memang sudah tidak berdiri di tempatnya lagi. Tetapi, emban tua

itu tahu pasti, bahwa Ken Arok tidak akan pergi terlamapau jauh. Ia

pasti berada beberapa langkah saja dari regol.

Dugaan emban tua itu tepat. Begitu Permaisuri melangkahkan

kakinya keluar regol taman, langkahnya itu pun tertegun. Wajahnya

kemudian menjadi pucat, dan keringat dingin mengembun di

keningnya.

Sekilas pandangan matanya berbenturan dengan tatapan mata

Ken Arok yang seolah-olah telah membakar jantungnya. Kemudian

pandangan matanya itu pun jatuh di atas tanah yang di tumbuhi

oleh rerumputan yang hijau.

Permaisuri itu menjadi bingung ketika Ken Arok membungkukkan

kepalanya dalami sambil bertanya perlahan-lahan, “Ampun Tuanku.

Tuanku hanya sebentar sekali berada di dalam taman”.

Keringat dingin semakin banyak mengalir di kening dan

punggungnya. Terbata-bata ia menjawab, “Ya, ya. Aku sudah

terlampau lelah”.

“Bukankah Tuanku baru saja datang ke dalam taman ini?”

“Ya” Ken Dedes mengangguk.

“Dan sekarang Tuanku telah kembali ke istana?”

“Ya“.

Ken Arok pun menjadi bingung, apa yang akan dikatakannya.

Namun sekali lagi ia mencoba memandang wajah Permaisuri itu

walaupun hanya sekilas, kemudian berkata pula, “Silahkan Tuanku”.

“Oh” Ken Dedes tergagap. Sambil meremas tangannya sendiri, ia

berkata, “Aku akan kembali ke istana”.

Ken Arok tidak menyahut lagi. Sambil membungkuk dalam-dalam

ia melangkah surut, seolah-olah memberi kesempatan kepada

Permaisuri untuk berlalu.

Ken Dedes pun tidak mengucapkan sepatah kata lagi. Dengan

dada yang berdebar-debar ia berjalan langsung masuk ke dalam

biliknya. Hanya emban pemomongnya sajalah yang mengikutinya

sampai ke dalam bilik. Yang lain segera berkumpul di ruang

belakang. Mereka sama sekali tidak menghiraukan lagi apa yang

telah terjadi. Mereka telah mulai lagi berbicara tentang diri mereka

sendiri. Saling mengganggu dan mengejek.

Sementara itu, Ken Dedes langsung berbaring di pembaringannya

tanpa berganti pakaian. Permaisuri itu hampir-hampir tidak tahu,

bahwa emban pamomongnya duduk bersimpuh di sampingnya,

apabila emban itu tidak bertanya, “Apakah Tuanku tidak akan

berganti pakaian dahulu?”

“Oh” Permaisuri itu berpaling, “Aku terlampau lelah bibi. Nanti

sajalah”.

Emban tua itu menggigit bibirnya. Sambil mengangguk-angukkan

kepalanya ia bertanya, “Apakah hamba diperkenankan untuk

meninggalkan bilik Tuanku?”

“Tunggu bibi” jawab Permaisuri itu sambil bangkit dari

pembaringannya. Namun sejenaik kemudian ia berkata, “Ah,

baiklah. Aku kira tidak ada yang harus kau lakukan pagi ini”.

“Hamba Tuanku. Kalau begitu, hamba akan mohon diri”.

Dahi Ken Dedes itu berkerut. Agaknya ia sedang memikirkan

sesuatu. Namun kemudian ia mengangguk, “Baiklah emban. Tetapi,

jangan pergi. Mungkin aku memerlukanmu”.

Emban tua itu pun segera meninggalkan bilik itu. Tetapi, ia tidak

pergi seperti pesan Permaisuri. Ia duduk saja di depan bilik itu

sambil merenung.

Tiba-tiba, pandangan mata emban tua itu menjadi kabur. Ketika

ia mengusap matanya, terasa tangannya menjadi hangat. Setitik air

telah melelah dari mata yang tua itu.

Satu-satu terbayang berbagai macam kenangan masa lampau.

Sejak ia merawat seorang gadis padepokan yang masih kecil. Gadis

yang kemudian mekar menjadi sekuntum bunga di lereng Gunung

Kawi. Namun ketika bunga itu mulai kembang, seakan bertiup badai

yang kencang, mengguncang-guncangnya dan menghentakhentakkannya

tanpa belas kasihan.

Terbayang kembali di dalam angan-angan emban tua itu, betapa

ia mencoba melindungi gadis itu dari renggutan tangan Kuda

Sempana. Terbayang pula sepasukan prajurit di bawah pimpinan

Tunggul Ametung sendiri merampas gadis itu. Yang terakhir, Ken

Dedes adalah seorang Permaisuri dari Akuwu Tunggul Ametung.

Terkilas pula seleret kenangan tentang Wiraprana, dan kemudian

tentang anaknya sendiri Mahisa Agni.

“Hem” emban tua itu berdesah. Dicobanya untuk mengusir

kenangan yang telah mengganggu ingatannya itu.

“Tidak ada gunanya” katanya kepada diri sendiri ”Semuanya itu

sudah berlalu. Yang sekarang dihadapi oleh Ken Dedes adalah suatu

masa yang terlampaui di masa remajanya. Sepeninggal Wiraprana,

maka ia merasa kehilangan hari-hari yang penuh dengan anganangan

tentang masa depan. Perkembangan keadaan telah

melemparkannya ke dalam istana. Dengan susah payah Ken Dedes

berusaha untuk menyesuaikan dirinya dengan menekan semua

perasaannya, dengan berusaha melupakan masa-masa yang hilang

itu. Namun agaknya kini tiba-tiba saja, masa itu tumbuh kembali

dalam hatinya yang semula telah menjadi hambar. Agaknya anak

muda yang berpakaian seperti pelayan dalam itulah yang telah

melemparkannya kembali ke dalam dunia angan-angan, seorang

gadis remaja”.

Sekali lagi emban tua itu mengusap matanya yang menjadi

panas. Dan sekali lagi terasa setitik air mata telah pecah di

pelupuknya.

“Apakah akan jadinya apabila perasaan ini berkembang terus di

dalam hatinya?” berkata orang tua itu kepada diri sendiri, “Apalagi,

menilik sikap Ken Arok yang pasti akan menanggapinya” emban itu

berdesah, “Ya, laki-laki manakah yang akan menolak tumpahan

kasih dari seorang perempuan secantik Ken Dedes?”

Emban tua itu kemudian bangkit berdiri dan menjengukkan

kepalanya dari pintu yang tidak digerendel. Ia menarik nafas dalamdalam

ketika dilihatnya Permaisuri Ken Dedes itu tidur dengan

nyenyaknya. Bibirnya yang tipis membayangkan sebuah senyuman

yang aneh.

Karena Permaisuri itu tidur, maka emban itu pun kemudian

meninggalkannya setelah pintunya di tutup rapat. Kepada seorang

emban yang lain, ia berpesan untuk menungguinya di luar pintu

apabila Permaisuri itu memerlukan seseorang untuk membantunya.

“Mudah-mudahan Akuwu segera kembali” emban itu mengharap

di dalam hatinya, “Apabila suaminya ada, maka Permaisuri itu akan

tidak mendapat kesempatan untuk berpikir tentang hal-hal lain yang

dapat menyeretnya ke dalam malapetaka”.

Tetapi, ternyata hari itu pun Akuwu masih belum kembali. Karena

itu, maka Ken Dedes masih mendapat kesempatan yang luas untuk

merenungkan mimpinya yang indah.

Ketika emban tua itu kembali ke bilik Ken Dedes di sore hari,

sekali lagi hatinya berguncang. Permaisuri yang masih belum mandi,

tetapi masih mengenankan pakaian yang dipakainya turun ke

taman, sedang bercakap-cakap dengan Ken Arok di tangga serambi

belakang.

Meskipun anak muda itu bersikap terlampau hormat kepada Ken

Dedes, namun emban tua itu tidak dapat menyangsikan lagi menilik

tatapan mata keduanya.

“Betapa malang nasib anak itu, apabila ia tidak berhasil

merenggut dirinya dari tangan iblis ini” desisnya.

Tetapi, emban tua itu tidak segera dapat berbuat sesuatu.

Kehadirannya agaknya telah mengganggu percakapan kedua

orang itu, sehingga dengan hormatnya Ken Arok membungkukkan

kepalanya sambil berkata, “Ampun Tuan Puteri. Hamba akan

melanjutkan tugas hamba, mengelilingi istana di bagian dalam”.

“Pergilah” jawab Ken Dedes sambil tersenyum. Sepeninggal Ken

Arok, Ken Dedes kembali masuk ke biliknya, dan kembali ia

meletakkan tubuhnya di pembaringan.

“Tuan Puteri” berkata emban tua itu, “Apakah Tuan Puteri tidak

hendak mandi dahulu?”

“Sebentar lagi emban. Aku baru saja bangun tidur”.

“Apakah tidak dilayankan makan siang bagi Tuan Puteri?”

“Aku baru bangun bibi. Aku memang belum makan”.

“O, kalau begitu, Tuan Puteri sebaiknya mandi dahulu. Kemudian

hamba persilahkan untuk bersantap. Kalau Tuan Puteri terlampau

lambat makan, mungkin Tuan Puteri akan menjadi tidak sehat

badan hari ini”.

Permaisuri itu tersenyum sambil bangkit dari pembaringannya.

Ditepuknya bahu emban tua itu. Katanya, “Kau terlampau baik bibi.

Baiklah, aku akan mandi”.

“Biarlah hamba menyuruh menyediakan air hangat dahulu Tuan

Puteri, sementara Tuan Puteri melepaskan sanggul. Nanti hamba

tolong melepaskan pakaian Tuan Puteri”.

Ken Dedes tertawa. Jawabnya, “Baiklah”.

Emban tua itu pun segera memanggil seorang emban yang lain,

dan memberitahukan bahwa Permaisuri akan mandi.

“Oh, tentu air panas itu belum tersedia. Tidak menjadi kebiasaan

Tuan Puteri mandi terlampau cepat”.

Emban tua itu mengerutkan keningnya. Ditengadahkan wajahnya

ke langit sambil bergumam, “Mengapa terlampau cepat?”

“Matahari masih terlampau tinggi. Tetapi, agaknya langit disaput

oleh mendung”.

“Tidak apa. Permaisuri akan mandi sekarang” emban itu

mengangguk. Kemudian ditinggalkannya emban tua itu dalam

keragu-raguan.

“Apakah aku benar-benar telah menjadi pikun, atau memang aku

sudah hampir menjadi gila” desisnya, “Aku sudah tidak mengenal

waktu lagi. Tetapi, lebih baik mandi dahulu baru makan, daripada

makan sekarang, kemudian sebentar lagi terus mandi” gumamnya.

Emban tua itu menggeleng-gelengkan kepalanya ketika ia

melihat, Permaisuri itu setelah mandi, segera berkemas. Bukanlah

menjadi kebiasaannya pula untuk bersolek demikian lamanya,

apalagi sekedar untuk pergi ke ruang makan.

Agaknya apa yang terjadi, telah cukup bagi emban tua itu untuk

meyakinkan tangkapannya atas hubungan antara Permaisuri dengan

pelayan dalam yang tampan itu. Meskipun demikian emban tua itu

sama sekali tidak segera dapat berbuat sesuatu. Meskipun ada

niatnya untuk mencegah Ken Dedes semakin hanyut ke dalam arus

perasaannya, namun ia masih belum menemukan waktu yang tepat

untuk melakukannya.

Ternyata kehadiran Akuwu di hari berikutnya memberikan

harapan bagi emban tua itu. Satu dua hari, Permaisuri telah

mencoba mengisi kekosongan hatinya bersama Akuwu yang baru

saja pulang dari berburu dengan hasil yang membuatnya terlalu

bangga dan gembira. Akuwu berhasil membawa dua helai kulit

harimau loreng, kijang dan beberapa jenis binatang buruan yang

lain.

Tetapi, harapan emban tua itu kemudian menjadi pecah

berserakan, seperti asap tertiup angin, ketika tiba-tiba saja ia

melihat pertemuan seperti yang pernah dilihatnya. Meskipun tidak

menumbuhkan kesan apapun bagi mereka yang tidak

memperhatikan perkembangan keadaan Permaisuri saat-saat

terakhir, namun bagi emban pemomong yang mengenal Ken Dedes

seperti ia mengenal dirinya sendiri itu, menangkap semua persoalan

dengan hati yang pedih.

“Akuwu memang terlampau mementingkan dirinya sendiri.

Kesenangan sendiri terlalu banyak mendapat perhatiannya,

sehingga Permaisurinya kadang-kadang merasa terlampau

dikesampingkan. Dan Permaisuri itu adalah seorang perempuan

yang merindukan kasih sayang”.

Emban tua itu melihat perkembangan keadaan Ken Dedes

seterusnya seperti melihat seorang bayi yang merangkak-rangkak di

pinggir sumur yang dalam. Namun ia tidak mempunyai cukup

keberanian untuk mencegahnya, sehingga yang dapat dilakukan

adalah hanya sekedar mengelus dada.

Selagi Akuwu semakin tenggelam ke dalam kesenangan sendiri,

maka Ken Dedes pun menjadi semakin jauh terdorong ke dalam

dunia yang hitam.

Setiap kali Akuwu melupakan waktu dan isterinya apabila ia

sudah berada di dalam lingkaran sabung ayam. Kemudian

membenamkan diri ke dalam biusan minum tuak bersama beberapa

pemimpin Tumapel yang lain. Mereka berebut mendapatkan hati

Akuwu dengan caranya masing-masing, sehingga kadang-kadang

Akuwu tidak menyadari bahwa dirinya semakin jauh terseret ke

dalam kehidupan yang dapat membahayakan dirinya dan bahkan

Tumapel. Ketidak-puasan telah merajalela hampir di segenap

kalangan.

Yang paling berprihatin dari semua orang terdekat dengan

Akuwu adalah Witantra. Ia melihat Akuwu yang sekarang ini, agak

berbeda dari Akuwu beberapa saat yang lampau. Meskipun Akuwu

sejak ia menduduki tempatnya bukan orang pemimpin yang

sempurna, namun pada waktu itu, masih ada harapan bahwa

Akuwu, berkembang ke arah yang baik, namun yang terjadi adalah

sebaliknya.

Witantra tidak tahu, apakah sebabnya. Tetapi, akibat yang terjadi

membuatnya cemas.

Hubungan antara Akuwu dan Permaisurinya pun semakin lama

menjadi semakin aneh. Akuwu merasa bahwa Ken Dedes bersikap

terlampau dingin sehingga ia memerlukan isi dari kekosongan

hidupnya dengan berbagai macam kesenangan. Tuak, sabung

ayam, berburu dan mengadakan pertemuan-pertemuan makan

bersama dengan para pemimpin Tumapel yang lain.

“Aneh” kata Witantra kepada diri sendiri, “Semuanya seolah-olah

terjadi menurut rencana yang telah tersusun lebih dahulu.

Kedudukan Akuwu yang meluncur ke dalam keadaan yang sulit.

Seolah-olah ada golongan di dalam istana yang dengan sengaja

menyeret Akuwu ke dalam kesulitan. Sedang di luar istana ada

golongan yang meniup-niupkan ketidak puasan atas keadaan yang

sekarang ini berlaku”.

Tetapi, Witantra tidak dapat mengetahui, jaring-jaring yang

sebenarnya memang sudah terpasang di dalam dan di luar istana.

Tidak seorang pun dari para pemimpin yang menyadari saluran

manakah sebenarnya yang telah mengalirkan segala macam kabut

yang buram ke dalam istana dan seluruh wilayah Tumapel ini.

Witantra kadang-kadang menjadi heran, dari manakah

kemewahan yang akhir-akhir ini tampak membanjiri istana Tumapel.

Adalah tidak masuk di akalnya bahwa setiap kali satu dua orang

pemimpin pemerintahan Tumapel itu datang memberikan

pisungsung berupa kelengkapan dari sebuah bujana mewah.

Kesimpulan Witantra adalah, “Pasti ada pihak yang sengaja

menjerumuskan Akuwu ke dalam kesulitan. Tetapi, untuk

mencarinya di perlukan waktu dan ketekunan. Jalur-jalur itu

agaknya dikemudikan oleh seorang yang luar biasa”.

Kesimpulan itu telah membuat Witantra menjadi semakin

waspada. Seolah-olah ia tidak sampai hati melepaskan Akuwu

seorang diri tanpa pengawasannya meskipun hanya sekejap.

Namun, Witantra tentu tidak akan dapat berbuat sepanjang waktu.

Suatu ketika ia harus pulang ke rumah, dan suatu ketika Akuwu

berada di bilik Permaisurinya sehingga Akuwu itu pada saat-saat

tertentu terlepas dari pengawasannya.

Tetapi, agaknya kesempatan bagi Witantra untuk mengawasi

Akuwu itu pun menjadi semakin terbatas karena Akuwu sendiri agak

menjauhkannya dari pergaulan istana. Bahkan kadang-kadang

Akuwu itu dengan kasar berkata kepadanya, “Kau adalah pemimpin

pasukan pengawal Witantra. Aku hanya memerlukan kau dalam

keadaan yang berbahaya. Aku tidak perlu pengawalanmu selagi aku

tidur, makan dan minum bersama para pemimpin Tumapel”.

Witantra hanya dapat mengelus dadanya. Tetapi, ia tidak dapat

berbuat apa-apa.

“Aku tidak mengerti guru” berkata Witantra kepada gurunya pada

suatu ketika, “Tetapi, keadaan berkembang ke arah yang tidak

seharusnya”.

“Ya Witantra” sahut gurunya, “Aku juga melihat ketidakpuasan

tersebar dimana-mana”.

“Itulah yang membuat aku prihatin. Tetapi, Akuwu tidak memberi

kesempatan kepadaku untuk mencari sumber dari malapetaka yang

dengan perlahan-lahan menerkam Tumapel”.

Gurunya mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya ia masih

ingin mengatakan sesuatu, tetapi kemudian bahkan ia menggelenggelengkan

kepalanya. Witantra melihat sesuatu tersirat di wajah

gurunya, tetapi ia tidak berani bertanya.

“Witantra” berkata gurunya, “Kau harus bersiap menghadapi

setiap kemungkinan. Awan yang hitam memang sedang

menyelubungi Tumapel”.

“Apakah yang harus aku lakukan guru?”

“Sudah tentu, bahwa kau dapat mulai dengan dirimu sendiri.

Sudah datang waktunya bagimu Witantra, bahwa kau harus

menyempurnakan ilmumu. Selagi aku masih hidup dan masih cukup

tenaga untuk membimbingmu”.

“Tetapi guru, aku tidak dapat meninggalkan istana untuk waktu

yang lama pada saat ini”.

“Kau tidak perlu meninggalkan tugasmu. Aku memerlukan kau di

setiap malam untuk beberapa hari saja. Di siang hari kau tetap

dalam tugasmu” gurunya berhenti sejenak, “Sudah tentu bahwa kau

tidak akan segera menjadi sempurna dengan cara itu. Tetapi,

setidak-tidaknya kau memiliki beberapa bekal yang lebih banyak dari

bekalmu sekarang. Apabila kau mempunyai waktu kelak, kau harus

mengurung dirimu untuk waktu yang agak lama”.

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Inilah yang dapat

dilakukan untuk sementara. Selagi asap yang hitam kemelut di atas

Tumapel, pemimpin pasukan pengawal itu telah menempa dirinya

sendiri.

Namun dengan demikian, jarak antara Akuwu Tunggul Ametung

dengan Witantra pun menjadi semakin jauh. Witantra memerlukan

waktu untuk kepentingannya sendiri, sehingga apabila tidak

diperlukan oleh Akuwu ia tidak membuang waktunya hadir dalam

pertemuan-pertemuan yang diadakan di istana.

Witantra lebih senang pergi ke padang agak jauh di luar kota

Tumapel bersama gurunya, mesu diri untuk mendapatkan

kelengkapan yang lebih banyak lagi dari ilmunya.

Tetapi, pada suatu kali Witantra terkejut ketika gurunya berkata

kepadanya, “Witantra, apakah kau tidak memperhatikan adikmu

akhir-akhir ini?”

“Siapakah yang guru maksudkan? Mahendra atau Kebo Ijo?”

“Mahendra telah melepaskan diri dari persoalan yang

menyangkut istana dan pemerintahan. Ia lebih senang bekerja

sendiri pada dunianya. Ia lebih senang memelihara tanahnya dan

berternak yang agaknya dapat memberinya kepuasan”.

“Jadi Kebo Ijo yang guru maksud?” Gurunya menganggukkan

kepalanya.

“Bagaimana dengan Kebo Ijo?”

“Aku melihat beberapa perubahan. Bukan pada watak dan

sifatnya yang dibawanya sejak lahir dan akan dibawanya pula mati

kelak. Tetapi, pada kehidupannya. Aku melihat yang kurang wajar

padanya. Ia memiliki kekayaan yang tidak mungkin didapatkannya

dengan cara yang wajar”.

“Ah, “Witantra mengerutkan keningnya, “Apakah guru yakin?”

“Seharusnya kau lebih dekat dengan anak itu daripada aku”.

Witantra mengerutkan keningnya. Sambil menggelengkan

kepalanya ia berkata, “Anak itu memang anak yang bengal. Tetapi,

aku yakin bahwa ia tidak akan melakukan kejahatan dengan

kesadarannya. Ia memang anak yang sombong dan terlampau

tinggi hati, sehingga ia kadang-kadang lupa diri apabila ia

mendapatkan pujian. Tetapi, dengan sengaja melakukan kejahatan,

aku kira tidak guru”.

“Mudah-mudahan kau benar Witantra” jawab gurunya, “Tetapi,

lihatlah pada suatu ketika. Mungkin kau akan tertarik untuk

mengetahui, dari manakah ia mendapat semuanya itu”.

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baik guru. Aku

akan berusaha”.

Ternyata keterangan gurunya itu selalu mengganggu pikiran

Witantra. Ia benar-benar berkeinginan untuk pada suatu ketika

berkunjung ke rumah adik seperguruannya itu, dan menanyakan,

bagaimanakah keadaannya sekarang.

“Kalau benar kata guru, aku memang harus menyelidikinya.

Apakah ia hanyut juga dalam arus yang agaknya kini sedang

melanda Tumapel”.

Dalam kemelutnya kabut yang kelam, yang lambat laun namun

pasti, semakin mencengkam Tanah Tumapel itu, Ken Dedes seolaholah

mendapat cukup kesempatan untuk setiap kali bertemu dengan

Ken Arok. Seorang anak muda yang seakan-akan dapat menemukan

kembali buatnya, apa yang pernah hilang. Masa remaja yang

terlampaui dalam perjalanan hidupnya itu, kini seakan-akan telah

didapatnya kembali.

Dengan demikian maka suami isteri Tunggul Ametung itu telah

terjerumus ke dalam suatu pusaran lingkaran kegelapan yang tidak

berujung pangkal. Akuwu Tunggul Ametung menenggelamkan

dirinya dalam berbagai macam kesenangan, sabung ayam, tuak dan

makan minum bersama para pemimpin Tumapel yang lain, karena ia

ingin mengisi waktunya. Permaisurinya terlampau dingin dan sama

sekali tidak memberinya kegairahan. Tetapi, Permaisuri merasa

bahwa ia seakan-akan memang sudah tidak diperlukan lagi oleh

Akuwu Tunggul Ametung, karena kesenangannya itu, sehingga ia

menjadi dingin. Dan bahkan dicarinya sandaran bagi hatinya yang

lemah.

Demikianlah Tumapel perlahan-lahan telah meluncur ke dalam

suatu keadaan yang paling membahayakan kelangsungan hidupnya.

Di arena sabung ayam, dalam samar-samar mabuk tuak, Akuwu

sama sekali tidak ingat apa-apa lagi selain dirinya sendiri. Sama

sekali tidak diingatnya lagi Permaisurinya yang ditinggalkannya

sendiri. Sama sekali tidak diingatnya lagi, bagaimana ia pernah

terpesona melihat cahaya yang memancar dari tubuh gadis

Panawijen yang dilarikan oleh Kuda Sempana itu.

Dan yang paling parah, bahwa ia kini sama sekali tidak

mengetahui bahwa Permaisurinya sedang terjerat oleh kesepian dan

kelemahannya.

Ken Arok melihat perkembangan Tumapel dengan hati yang

berdebar-debar. Ia hanya mempunyai waktu lima bulan sejak ia

mulai. Dan yang lima bulan itu kini telah hampir habis sama sekali.

Tetapi, sebagian besar dari rencananya telah dapat dilakukannya.

Tidak seorang pun yang melihat ia pergi hilir mudik ketengahtengah

hutan tempat ia menyembunyikan harta kekayaan yang

tidak terkira banyaknya, yang telah bertahun-tahun dikumpulkan

oleh sekawanan perampok yang dahsyat. Yang menjelajahi tidak

saja telatah Tumapel, tetapi juga telatah Kediri yang lain.

Juga tidak ada seorang pun yang menaruh prasangka, bahwa

setiap kali Permaisuri Ken Dedes sempat berbicara tentang harapanharapan

di masa datang dengan anak muda yang tampan itu.

Namun, masih ada satu orang yang melihat perkembangan

keadaan Ken Dedes dengan hati yang pedih. Ialah emban tua

pemomong Ken Dedes yang dibawanya dari Panawijen. Bahkan

kadang-kadang ia menangis seorang diri di dalam biliknya. Apakah

akan jadinya dengan Permaisuri dan bahkan dengan Tumapel.

Dalam kepedihan itu selalu dikenangnya anaknya, Mahisa Agni

yang masih saja berada di Padang Karautan. Anaknya yang sama

sekali tidak menghiraukan kemewahan istana Tumapel. Mahisa Agni

telah membakar dirinya dalam terik panas matahari di Padang

Karautan untuk kepentingan orang banyak.

“Alangkah jauh jaraknya” desis perempuan tua itu.

Dan tiba-tiba saja kerinduannya kepada anaknya telah membakar

dadanya. Tetapi, ia tidak mendapat kesempatan untuk

menengoknya. Apalagi dalam keadaan serupa ini. Tanpa dirinya di

samping Ken Dedes, keadaan Permaisuri itu pasti akan menjadi

semakin parah.

Emban tua itu sama sekali tidak mempunyai tempat untuk

menumpahkan kepepatan perasaannya. Tidak seorang pun yang

dapat dibawanya berbincang mengenai keadaan yang mendebarkan

jantung itu. Sedangkan Ken Dedes sendiri, kini seolah-olah menjadi

acuh tidak acuh saja kepadanya, meskipun kadang-kadang

Permaisuri itu masih memerlukannya. Tetapi, tidak seperti dahulu.

Kini Permaisuri baginya merupakan sebuah bilik yang tertutup.

Kalau dahulu, ia dapat melihat, apa yang tersimpan di lubuk

hatinya, kini Permaisuri itu merupakan sebuah rahasia baginya.

Namun, akhirnya emban itu tidak dapat lagi menahan dirinya.

Kerinduannya kepada anaknya, kepepatan hati yang membuat

dadanya serasa akan bengkah, dan seribu macam persoalan yang

lain. Sehingga akhirnya pada suatu hari diberanikannya dirinya

menghadap kepada Permaisuri dan mohon diri untuk beberapa hari

saja.

“Kau akan pergi ke mana bibi?” bertanya Permaisuri.

“Hamba tidak dapat menahan rindu untuk mengunjungi

Panawijen Tuanku. Panawijen yang lama dan yang baru, yang telah

berkembang di tengah-tengah Padang Karautan”.

“Kenapa tiba-tiba saja kau merindukannya?”

“Hamba tidak tahu Tuanku. Tiba-tiba saja hamba

merindukannya. Mungkin juga karena hamba ingin beristirahat

barang sepekan”.

Permaisuri itu mengerutkan keningnya, dan sejenak kemudian ia

berkata, “Baiklah bibi. Aku beri kau ijm untuk beberapa hari pulang

mengunjungi kampung halaman. Salamku buat kawan-kawan

sepermainan di masa kanak, salam buat kakang Mahisa Agni dan

tetangga-tetangga yang baik di Panawijen”.

“Hamba Tuanku. Dan apakah Tuanku tidak berpesan apapun

untuk Ki Buyut?”

“O, aku lupa bibi. Ya, salamku kepadanya. Mudah-mudahan ia

berhasil memimpin Rakyat Panawijen untuk seterusnya”.

“Hamba Tuanku. Semua pesan akan hamba sampaikan”.

Permaisuri itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi,

kemudian ia bertanya, “Tetapi, apakah kau dapat menempuh

perjalanan sedemikian jauhnya?”

Emban itu menarik nafas dalam-dalam. Perjalanan ke Panawijen

tidak dapat ditempuh dalam satu hari.

“Biarlah aku minta dua orang prajurit mengantarmu bibi” berkata

Permaisuri itu pula, “Prajurit itu akan menunggu kau sampai kau

nanti kembali ke istana. Aku tidak akan membatasi masa

istirahatmu. Karena kau sudah menjadi semakin tua, maka adalah

wajar sekali apabila kau memerlukan waktu untuk beristirahat”.

Emban itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Terasa bahwa

bagi Permaisuri, kepergiannya akan merupakan peluang yang lebih

baik. Agaknya tidak akan ada orang lain yang selalu

membayanginya seperti dirinya.

“Terima kasih Tuanku” jawab emban itu, “Tetapi, prajurit itu

tidak perlu menunggu hamba kembali. Besok akan hamba minta

angger Mahisa Agni untuk mengantar hamba, apabila masa istirahat

hamba telah selesai”.

Tiba-tiba wajah Permaisuri itu berkerut. Dengan ragu-ragu ia

berkata, “Itu tidak perlu bibi. Kau jangan menyusahkannya. Kakang

Mahisa Agni mempunyai kewajiban yang berat di padukuhannya.

Karena itu, lebih baik bagimu untuk membawa dua orang prajurit

yang akan mengawanimu. Atas perintahku, kau dapat minta kepada

kedua prajurit itu untuk melakukan apa saja yang kau perlukan di

perjalanan. Bahkan di Panawijen sampai kau kembali lagi ke istana

ini. Aku akan memberi mereka bekal yang cukup selama mereka

berada di Panawijen”.

Emban tua itu menarik nafas dalam-dalam. Bagi emban yang

sudah cukup umur itu, segera dapat menangkap kesan dari sikap

Permaisuri itu. Ia tidak ingin bertemu dengan Mahisa Agni dalam

keadaan seperti itu. Mahisa Agni akan menjadi penghalang pula

baginya apabila kelak anak muda itu mengetahui, apa yang sudah

terjadi di istana ini.

“Bukankah lebih baik begitu bibi?” bertanya Permaisuri itu.

Emban tua itu tidak dapat menjawab lain kecuali menganggukkan

kepalanya dan berkata, “Hamba Tuanku. Titah Tuanku akan hamba

junjung”.

“Nah begitulah. Kasihan kakang Mahisa Agni. Ia diperlukan di

Padang Karautan setiap saat. Waktunya akan hilang, apabila kau

minta ia mengantarmu”.

“Hamba Tuanku”.

“Dan kapan kau akan berangkat bibi?”

“Secepatnya Tuanku ijinkan”.

“Terserahlah kepadamu”.

“Besok pagi Tuanku”.

Permaisuri itu berpikir sejenak. Kemudian ia berkata, “Baiklah.

Besok dua orang prajurit itu akan siap mengantarmu kembali ke

Panawijen”.

Ketika fajar menyingsing di pagi harinya, dua orang prajurit telah

siap untuk mengantar emban tua itu kembali ke Panawijen. Dengan

bekal secukupnya, mereka pun segera minta diri kepada Permaisuri

yang ternyata sudah bangun.

“Atas ijin Tuanku Akuwu Tungaul Ametung, dua orang prajurit itu

akan mengantarmu. Atas ijin Tuanku Akuwu pula, kau dapat minta

kepadanya untuk menolongmu apa saja yang kau perlukan. Dua

prajurit itu diberi waktu tanpa batas menunggumu di Panawijen”.

“Terima kasih Tuanku”.

“Kau adalah emban pemomongku. Engkau adalah orang terdekat

dengan aku sejak aku kanak-kanak. Karena itu, kau mempunyai

beberapa kesempatan yang lebih baik dari orang lain”.

“Terima kasih Tuan Puteri. Kini perkenankanlah hamba

berangkat. Hamba tidak akan terlalu lama”.

“Ambillah waktu secukupnya bibi. Aku tidak akan dapat

memaksamu untuk bekerja terlalu keras. Kau sudah cukup tua, dan

memang sudah waktunya uintuk banyak beristirahat”.

Emban tua itu menarik nafas dalam-dalam. Terasa jantungnya

seakan-akan tergores oleh tajamnya sembilu. Meskipun tampaknya

Permaisuri itu memberinya kesempatan sebaik-baiknya, tetapi

emban tua itu merasa bahwa ia memang sudah tidak diperlukan

lagi.

“Ken Dedes sudah berubah” berkata emban itu di dalam hatinya.

Namun tiba-tiba kepalanya menunduk semakin dalam. Dikenangnya

masa remajanya sendiri.

“Hidupku sendiri tidak sebersih kapas” emban itu berdesis kepada

dirinya sendiri, “Bukan hanya satu nama laki-laki yang pernah

menyangkut di hatinya, sehingga justru akhirnya keduanya tidak

dimilikinya. Tetapi, aku mempunyai Mahisa Agni”.

Emban tua itu pun kemudian berangkat meninggalkan istana. Ia

tidak dapat menahan lagi ketika air matanya titik satu-satu.

Ken Dedes masih berdiri di tangga serambi belakang ketika

emban itu hilang di balik regol. Setelah menarik nafas dalam-dalam,

Ken Dedes kemudian melangkah kembali ke dalam biliknya.

Baru ketika ia duduk di pembaringannya, terasa bilik itu menjadi

sepi. Emban pemomongnya yang hampir setiap saat mengawasinya,

kini telah pergi, tanpa diketahui lagi apakah ia akan segera kembali

justru karena pesannya sendiri yang mendorong emban itu untuk

berbuat demikian.

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Terbayang wajah

perempuan tua itu. Perasaan iba terungkit di dalam hatinya. Namun

sejenak kemudian perasaan yang lain telah mendorongnya

kesamping, “Emban tua itu hanya akan mengganggu saja di istana”.

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Tanpa sesadarnya ia

bangkit dan melangkah keluar. Dari sela-sela pintu ia melihat

cahaya matahari pagi memercik di halaman belakang. Tiba-tiba saja

ia melihat sinar itu terlampau cerah.

Sementara itu, emban tua pemomong Ken Dedes berjalan

tertatih-tatih meninggalkan istana diantar oleh dua orang prajurit.

Dengan sabarnya kedua orang prajurit itu mengikuti langkahnya

yang lamban. Sekali-sekali emban tua itu berpaling, tetapi ia hanya

dapat melihat dinding-dinding batu di sebelah menyebelah jalan.

“Bibi” salah seorang dari kedua prajurit itu bertanya, “Kenapa bibi

yang sudah tua ini masih juga berhasrat menempuh perjalanan

sejauh ini?”

“O, aku adalah orang Panawijen Ngger. Justru aku sudah tua aku

ingin melihat kampung halaman. Panawijen pasti sudah jauh

berubah. Panawijen lama kini pasti sudah menjadi padang rumput

yang kering dan Padang Karautan akan menjadi padukuhan yang

subur”.

Prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya, begitulah”

berkata prajurit itu, “dalam saat-saat terakhir, kita sering

merindukan kampung halaman. Tetapi, apakah bibi masih juga akan

kembali ke Tumapel?”

“Ya ngger. Bibi memang ingin kembali ke Tumapel. Tuanku

Permaisuri, bagiku sama nilainya dengan Padukuhan dan Padepokan

Panawijen”.

“Berapa lama bibi akan tinggal di Panawijen?”

“Ijin Tuanku Permaisuri tidak terbatas Ngger. Tetapi, apakah

Angger berdua tergesa-gesa kembali ke Tumapel?”

“O, tidak, tidak bibi. Ijin buat kami berdua pun tidak terbatas.

Semakin panjang semakin baik, karena dengan demikian kami tidak

usah bekerja apapun. Tidak usah bertugas jaga di malam hari dan

tidak usah nganglang di siang hari”.

Emban itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “Tetapi,

bagaimana dengan keluarga Angger berdua?”

“Kami keduanya belum berkeluarga bibi”.

“O”.

“Kami masih belum mampu untuk memberi makan isteri dan apa

lagi anak-anak nanti”.

“Ah. Aku tidak percaya” sahut emban itu, “Penghasilan Angger

pasti cukup baik”.

Kedua prajurit itu tertawa, dan emban itu pun tersenyum pula.

Dengan demikian, maka perjalanan itu tidak terasa terlampau

melelahkan. Meskipun demikian, emban tua itu tidak dapat berjalan

terlampau cepat karena ketuaannya. Namun emban tua itu bukan

sekedar perempuan tua kebanyakan. Betapapun tipisnya, ia masih

juga memiliki beberapa kelebihan dari perempuan-perempuan yang

lain. Meskipun tidak terlampau mengagumkan, tetapi perempuan

tua itu pernah mengisi kekosongan hidupnya dengan olah senjata,

sehingga kemampuan jasmaniahnya masih juga berpengaruh

sampai di hari tuanya.

Pengaruh itulah yang agaknya menolong emban tua itu dalam

perjalanannya meskipun lambat. Kedua prajurit yang tidak

mengenal emban itu sebelumnya menjadi heran, bahwa perempuan

setua itu masih juga mampu melakukan perjalanan yang begitu

jauh.

Dalam kemelutnya asap hitam di atas Tumapel, Ken Arok merasa

tersiksa karena ia harus menunggu hari-hari yang ditentukan oleh

Empu Gandring. Semua rencananya dapat berjalan sebaik-baiknya

tanpa menumbuhkan kecurigaan meskipun ia harus selalu berhatihati

menghadapi Witantra. Tetapi, Witantra agaknya tidak banyak

mempunyai kawan. Bahkan Kebo Ijo, adik seperguruannya, tidak

lagi terlampau dekat dengan perwira pengawal itu. Kebo Ijo yang

merasa kawan terdekat Ken Arok, menjadi semakin sombong dan

merasa dirinya lebih besar dari kawannya yang lain. Sikap itu

agaknya memang diusahakan oleh Ken Arok. Sedikit demi sedikit,

sambil membuat Kebo Ijo itu menjadi seorang yang berkecukupan.

Dengan demikian, maka kebencian orang terhadapnya menjadi

semakin meruncing. Sehingga kawan-kawannya menjadi pening

memikirkan keanehan itu. Kenapa Ken Arok yang ramah dan rendah

hati itu dapat berkawan demikian eratnya dengan Kebo Ijo?

Namun hari pun merambat betapa lambatnya. Siang menjadi

malam dan malam menjadi siang. Satu-satu perputaran waktu pun

telah dilampaui, sehingga bulan yang satu meloncat ke bulan yang

lain.

Beberapa hari sepeninggal emban pemomong Ken Dedes, Ken

Arok menjadi semakin gelisah. Bulan ke empat telah lewati dan ia

sudah berada di bulan yang kelima. Bulan yang dijanjikan oleh

Empu Gandring.

Pada saat-saat terakhir itu Ken Arok membuat penilaian kembali

atas semua usahanya membentuk keadaan. Ternyata semuanya

dapat berjalan sesuai dengan rencananya, sehingga waktunya

memang telah matang untuk melakukan niatnya.

Maka pada saat yang telah dinanti-nantikan, setelah lima bulan

penuh ia menunggu, sampailah saatnya ia pergi ke Lulumbang

untuk mengambil kerisnya.

Tetapi, tidak seorang pun yang tahu, apa yang akan

dikerjakannya, Ken Dedes pun tidak. Meskipun Ken Arok minta diri

pula kepada Permaisuri itu bahwa ia akan pergi untuk beberapa

hari, tetapi ia tidak berterus terang, apakah yang akan

dilakukannya.

Setelah mendapat ijin dari Akuwu, maka Ken Arok pun segera

meninggalkan istana pergi ke Lulumbang. Meskipun pada mulanya

ia disentuh pula oleh keragu-raguan, namun kemudian ia

menggertakkan giginya sambil berkata, “Semua sudah terlanjur. Aku

sudah menyeberang sampai ke tengah-tengah. Terus atau kembali,

aku sudah terlanjur basah. Karena itu, aku kira sudah tidak ada

gunanya berpikir lagi”.

Dan Ken Arok pun menjadi semakin mantap. Permaisuri yang

cantik itu selalu membayanginya. Apalagi cahaya yang memancar

dari tubuhnya. Perempuan dari Panawijen itu ternyata memiliki

suatu kelengkapan yang tidak ada bandingnya.

Sebagai seorang perempuan kecantikannya tanpa cacat, dan

sebagai seseorang yang bercita-cita maka Ken Dedes akan dapat

memberikan suatu kedudukan yang paling tinggi diatas bumi.

Karena itu, untuk mendapatkannya, apapun akan

dikorbankannya. Siapapun yang harus disingkirkan, akan

disingkirkan. Siapa yang dapat menjadi penghalang pasti harus

dimusnakan. Harga Ken Dedes tidak dapat diperbandingkan dengan

siapapun, sebab Ken Dedes adalah suatu lambang dari

kesempurnaan seorang perempuan. Ia akan memberikan

kecantikannya dan bumi seisinya.

Dengan pendirian yang matang Ken Arok dengan tergesa-gesa

pergi ke Lulumbang. Semakin cepat semakin baik. Tetapi, harus di

jaga bahwa rahasianya tidak akan diketahui oleh siapapun juga.

Tidak boleh seorang pun menjadi saksi atas segala perbuatannya

itu.

Sementara itu emban tua pemomong Ken Dedes telah sampai

pula di Padang Karautan. Hampir saja ia tidak dapat menahan

gejolak di dadanya ketika ia melihat Mahisa Agni menyongsongnya.

Dipeluknya anak laki-lakinya itu sambil menangis, bagaimanapun

juga ia mencoba menahannya. Tetapi, setitik-titik air matanya

menetesi dada Mahisa Agni.

Mahisa Agni tidak mengerti, kenapa tiba-tiba saja ibunya

menangis. Ibunya adalah seorang perempuan yang tabah. Hampir

tidak pernah ia melihat keadaan perempuan itu demikian, sejak ia

kanak-kanak. Sejak ia belum mengenal bahwa perempuan itu

adalah ibunya.

Kedua prajurit yang mengantarkannya pun menjadi heran.

Kenapa emban tua itu menangis ketika ia bertemu dengan Mahisa

Agni. Sedang tangisnya pun mempunyai kesan yang menyentuh

langsung pusat jantung.

Setelah mereka duduk, di dalam sebuah rumah yang kecil, yang

telah dibangun oleh Mahisa Agni di tengah-tengah pedukuhannya

yang baru, maka barulah Mahisa Agni dapat bertanya tentang

keselamatan emban tua itu, dan tentang keselamatan Ken Dedes.

Meskipun masih terisak, namun perempuan tua itu pun sempat pula

bertanya tentang Mahisa Agni dan tentang Padang Karautan yang

telah menjadi sebuah padukuhan yang subur.

“Kami senang tinggal di sini bibi” berkata Mahisa Agni kepada

perempuan tua itu, “Kami tidak merasa berada di tempat yang

asing, karena kami bersama-sama seluruh pedukuhan pindah ke

tempat ini. Kami mencoba membuat pedukuhan pindah ke tempat

ini. Kami mencoba membuat pedukuhanan kami yang baru ini

seperti pedukuhan yang kami tinggalkan. Atas persetujuan kami

bersama, kami telah membuat jalan-jalan di dalam pedukuhan ini

seperti jalan-jalan di dalam pedukuhan yang kami tinggalkan. Kami

membuat seolah-olah tempat tinggal kami yang baru ini, seiauh

mungkin mencerminkan tempat yang kami tinggalkan meskipun

tidak dapat sesuai benar”.

Emban tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya, “Aku

mengharap kalian berbahagia di tempat yang baru ini”.

“Tentu bibi. Tanah di sini adalah tanah yang baru saja ditanami.

Tanah yang sebelumnya belum pernah dihisap makanannya kecuali

oleh rerumputan liar dan gerumbul-gerumbul perdu”.

“Tentu kalian merasa senang tinggal di sini”.

“Tentu bibi. Kami merasa senang. Kami merasa berbahagia

seperti Ken Dedes merasa berbahagia di dalam istana”.

“O” perempuan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi,

diurungkannya kata-katanya. Bahkan kemudian ia berkata, “Aku

sudah rindu untuk bertemu dengan tetangga-tetangga dan

penghuni Padepokan Empu Purwa. Para emban dan cantrik. Apakah

mereka juga tinggal di padukuhan ini?”

“Tentu bibi” sahut Mahisa Agni, “Seperti pada saat mereka

tinggal di Panawijen, maka di sini pun mereka telah membangun

sebuah padepokan”.

“Siapakah yang tinggal di dalam padepokan itu?”

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya, “Tidak ada bibi. Selain

para emban dan cantrik”.

“Kau?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi, kemudian ia

berkata, “Aku tinggal di sini. Namun setiap kali aku juga berada di

padepokan itu. Aku kira belum waktunya aku tinggal di dalam

padepokan dalam suasana yang terlampau tenang. Aku masih harus

mengikuti gejolak perkembangan pedukuhan ini. Aku masih harus

melihat banjir yang melanda bendungan itu, dan aku masih harus

berpikir, untuk memperbaiki jalan-jalan padukuhan ini, memperbaiki

saluran air dan jalan-jalan. Kami masih belum berpindah dalam arti

keseluruhan”.

Perempuan tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya,

“Ya, aku mengerti. Kau merasa belum waktunya menempuh

kehidupan seperti gurumu. Bukankah begitu?”

“Bukan saja belum waktunya bibi, tetapi apakah aku dapat

menempuh cara hidup seperti itu?”

Perempuan itu tidak menjawab. Ditatapnya mata Mahisa Agni

tajam-tajam, seolah-olah ia ingin melihat langsung ke dalam

hatinya. Tetapi, sejenak kemudian perempuan itu menundukkan

kepalanya. Berbagai macam perasaan bercampur-baur di dalam

dadanya. Apalagi apabila dikenangnya, bahwa anaknya itu, Mahisa

Agni, pernah menyangkutkan hatinya kepada gadis puteri gurunya

itu. Namun perasaan itu direndamnya di dalam lubuk hatinya,

sehingga Ken Dedes sama sekali tidak mengetahuinya. Yang

diketahui oleh gadis itu adalah, bahwa Mahisa Agni adalah kakak

angkatnya, yang dikasihinya seperti kakaknya sendiri dan yang

mengasihinya seperti adiknya sendiri.

Tetapi, emban tua itu tidak mengucapkannya. Bahkan kemudian,

apa yang terendam di dalam hatinya seperti merendam duri di

dalam daging, sama sekali tidak terucapkan pula.

Bukan karena kedua prajurit itu ikut pula mendengar, tetapi pada

kesempatan-kesempatan berikutnya, ketika ia berada berdua saja

bersama anaknya itu, semuanya yang dibawanya dari Tumapel,

tetap disimpannya di dalam hati.

Kadang-kadang memang terasa dadanya seakan-akan hendak

retak menahan semuanya itu di dalam diri. Kadang-kadang memang

tumbuh suatu keinginan untuk memuntahkannya keluar dan

mengatakannya kepada Mahisa Agni untuk mengurangi kepepatan

di dalam dadanya itu. Namun setiap kali mulutnya serasa

terbungkam. Tidak sepatah katapun yang dapat diucapkannya

tentang Ken Dedes dan tentang Ken Arok.

Dengan demikian, maka beban itu masih tetap disimpannya

rapat-rapat. Rahasia yang seakan-akan tidak dapat merembes

barang setitik pun.

“Aku harus mendapat saluran yang lain,” desis perempuan itu,

“Aku tidak mungkin mengatakannya kepada Mahisa Agni, yang

terlibat langsung dalam persoalan ini. Kalau ia tahu apa yang

terjadi, maka sakit hatinya pasti akan terangkat kembali”.

Sehingga akhirnya perempuan tua itu mengambil keputusan

untuk tidak mengatakannya kepada Mahisa Agni.

Tetapi, ia masih tetap memerlukan saluran untuk menumpahkan

segala macam kepepatan di dalam hatinya. Karena itu, maka pada

suatu ketika ia berkata kepada Mahisa Agni, “Mahisa Agni. Apakah

kau bersedia membawaku kepada pamanmu Empu Gandring?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Permintaan ibunya itu

bukan suatu permintaan yang berlebih-lebihanan. Adalah wajar

sekali bahwa keduanya itu saling merindukannya. Sehingga Mahisa

Agni pun ternyata tidak berkeberatan sama sekali.

“Kapan bibi akan pergi?”

“Secepatnya Agni. Waktuku tidak terlampau panjang. Aku harus

segera kembali ke Tumapel”.

“Baiklah bibi, aku akan meyediakan sebuah pedati. Kita pergi

bersama-sama di dalam pedati itu, sehingga kita akan dapat

membawa bekal pula secukupnya”.

Perempuan tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baiklah,

dengan pedati aku tidak akan kelelahan. Tetapi, bagaimana dengan

kedua orang prajurit itu?”

“Biarlah mereka menunggu bibi di sini”.

Perempuan tua itu menggelengkan kepalanya, “Tidak Agni.

Biarlah mereka pergi bersama kita. Dari Lulumbang aku akan terus

pergi ke Tumapel. Aku tidak dapat terlampau lama meninggalkan

Tuan Puteri sendiri”.

“Bukankah ada berpuluh-puluh emban di istana, dan bukankah

ada suaminya, Tunggul Ametung”.

Emban tua itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia

berdesah, “Ya. Tetapi, kadang-kadang Permaisuri itu memerlukan

aku. Aku adalah pemomongnya sejak kanak-kanak”.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, “Sokurlah kalau

Ken Dedes masih selalu mengingat masa kecilnya. Mudahkan ia

tidak menjadi mabuk dibuai oleh kebahagiaan hidup di dalam istana

yang mewah”.

Dada emban tua itu berdesir. Serasa sebuah goresan telah

menambah luka di dinding jantungnya. Tetapi, ia tidak berkata

apapun juga.

Mahisa Agni pun kemudian mempersiapkan sebuah padati yang

dilengkapinya dengan bekal di perjalanan. Ia sendiri membawa

seekor kuda. Kelak, apabila sampai saatnya ibunya kembali ke

Tumapel, ia akan mengantarkannya pula bersama salah seorang

cantrik pamannya. Pedati itu akan ditinggalkannya di Lulumbang.

Sehingga cantrik itulah yang akan membawanya kembali ke

padepokan pamannya. Dan ia akan kembali ke Padang Karautan

dengan kudanya. Pamannya pasti memerlukannya. Sebuah pedati

dengan sepasang, lembu yang baik.

Pada pagi hari berikutnya, Ki Buyut Panawijen, beberapa orang

perempuan tua dan bebahu padukuhan itu, telah mengantarkan ibu

Mahisa Agni sampai kepinggir desa. Mereka melepaskan emban tua

itu dengan lambaian tangan dan senyum yang tulus. Sedang Ki

Buyut Panawijen berpesan kepada Mahisa Agni, “Jangan terlampau

lama di perjalanan Ngger. Tanah yang baru ini masih memerlukan

kau”.

Mahisa Agni tersenyum sambil berkata, “Aku hanya akan

meninggalkan tempat ini dalam beberapa hari saja Kiai”.

“Sokurlah. Aku sendiri masih harus mondar-mandir antara

padang yang telah menjadi hijau ini dan Panawijen lama. Apabila

kelak semuanya telah berpindah kemari, maka pekerjaan kita akan

menjadi semakin ringan”.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian sekali

lagi ia minta diri untuk mengantarkan emban tua itu ke Lulumbang.

Sementara itu, Ken Arok telah berada pula di perjalanan. Dengan

seekor kuda yang besar dan tegar ia berpacu ke Lulumbang. Kali ini

ia tidak memakai kain panjang yang kumal dan kusut, apalagi

berbekas darah. Tetapi, ia datang dalam pakaian yang lengkap

sebagai seorang hamba istana.

Namun satu hal yang masih akan diulanginya. Ia ingin datang ke

rumah Empu Gandring pada malam hari, dimana sudah tidak

terlampau banyak orang yang melihatnya.

Dengan dada yang berdebar-debar Ken Arok termenung di atas

punggung kudanya. Sekali-kali diamatinya pakaiannya. Pakaian

seorang hamba istana. Tetapi, sama sekali bukan pakaian seorang

pelayan dalam. Yang dipakainya adalah pakaian yang lain, pakaian

seorang prajurit pengawal.

Setiap kali Ken Arok masih harus menggeretakkan giginya untuk

mengusir keragu-raguannya. Ia sudah hampir sampai pada

tujuannya. Karena itu ia sudah tidak ada pilihan lain daripada

berjalan terus. Menyingkirkan semua hambatan dan menghilangkan

jejak yang mungkin akan timbul.

Ternyata perhitungan Ken Arok cukup baik. Ia harus sampai di

padepokan Empu Gandring pada malam hari. Dan sebenarnya ia

telah memasuki padukuhan Lulumbang ketika matahari telah

tenggelam.

Dalam kegelapan malam Ken Arok memperlambat langkah

kudanya. Bahkan beberapa lama ia berhenti di tikungan. Sekali lagi

ia berusaha untuk meyakinkan dirinya, bahwa tidak mungkin ia

melangkah surut. Ia harus berjalan terus.

Sambil menggeretakkan giginya Ken Arok maju lagi mendekati

regol padepokan Empu Gandring. Ketika ia sudah berada di depan

regol maka segera ia meloncat turun. Ken Arok menjadi berdebardebar

ketika ia melihat seorang cantrik berdiri di samping regol yang

masih terbuka beberapa cengkang.

“Apakah regol itu memang dijaga?” ia bertanya kepada diri

sendiri.

Tetapi, belum lagi ia sempat menemukan jawabnya, cantrik itu

telah melangkah mendekatinya sambil bertanya, “Apakah tuan akan

singgah di padepokan ini?”

Ken Arok mengangguk, “Ya. Aku akan singgah di padepokan ini.

Apakah Empu Gandring ada?”

“Ada tuan. Empu Gandring ada di sanggarnya. Baiklah aku

memberitahukan kepadanya”.

“Jangan” cegah Ken Arok, “aku akan datang ke sanggarnya saja.

Dimanakah letak sanggar itu?”

Cantrik itu menjadi heran. Tetapi, ia menjawab juga ”Di situ tuan,

di sebelah kiri pendapa”.

“Di gandok?”

”Di ujung gandok, tuan akan menjumpai sebuah rumah kecil

menghadap ke Timur. Itulah sanggar Empu”.

“Terima kasih. Tolong jaga kudaku. Aku hanya sebentar. Aku

adalah utusan Akuwu Tunggul Ametung. Aku seorang prajurit

pengawal istana”.

Cantrik itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Selempang tali

berwarna kuning yang menyilang di dada anak muda itu sangat

menarik perhatiannya. Tali itu berjuntai di arah lambung, kemudian

ujungnya terikat pada ikat pinggang di bawah keris yang tersisip di

punggung. Tali itu adalah salah satu ciri pakaian seorang prajurit

pengawal istana.

Cantrik itu sama sekali tidak membayangkan bahwa prajurit yang

gagah itu adalah seorang yang pernah datang ke padepokan ini lima

bulan yang lalu dengan pakaian yang kumal dan kotor.

Seperti orang yang kehilangan kesadaran cantrik itu menerima

kendali kuda Ken Arok. Dengan mulut ternganga ia melihat Ken

Arok melingkari melintasi halaman langsung menuju ke ujung

gandok. Seperti kata cantrik yang berdiri di regol sambil memegang

kendali kudanya, Ken Arok melihat sebuah ruangan di ujung gandok

dengan pintu tersendiri menghadap ke Timur. Itulah sanggar Empu

Gandring.

Dengan hati-hati Ken Arok mendekat. Kemudian menyelinap

dalam kegelapan. Dari celah-celah dinding ia mengintip ke dalam.

Dilihatnya Empu Gandring duduk tepekur sambil memejamkan

matanya.

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar bahwa Empu

Gandring adalah seorang yang sakti. Namun, rencananya harus

berjalan seperti yang dikehendakinya.

Sekali lagi Ken Arok mencoba mengintip. Selain Empu Gandring

di dalam sanggar itu dilihatnya sebuah perapian yang padam.

Sebuah paron dan beberapa perlengkapan yang lain. Agaknya di

dalam sanggar itulah Empu Gandring bekerja membuat keris.

Dada Ken Arok berdesir ketika tiba-tiba saja ia mendengar Empu

Gadring itu berkata perlahan-lahan, “Siapa di luar? Masuklah. Aku

masih belum tidur”.

Ken Arok justru tertegun sejenak. Dengan hati-hati sekali ia

mendekati sanggar itu, bahkan dengan kaki berjingkat.

Ditahankannya jalan pernafasannya, dan dicobanya untuk tidak

menimbulkan suara apapun. Ternyata Empu Gandring dapat

mendengar desir yang betapapun lembutnya.

“Marilah, pintu masih terbuka”.

Ken Arok tidak dapat berbuat lain daripada berjalan ke pintu

yang meskipun sudah tertutup namun tidak terkancing.

Perlahan-lahan Ken Arok mendorong pintu lereg itu ke samping.

Sambil menjengukkan kepalanya ia berkata lirih, “Aku Empu. Aku

Ken Arok”.

“Oh” Empu Gandring terkejut. Dengan serta-merta ia berdiri

menyongsong tamunya, “Marilah Ngger, marilah”.

Ken Arok pun kemudian melangkah masuk sambil berjalan

terbungkuk-bungkuk. Dengan senyum yang membayang dibibirnya

ia berkata, “Maaf Empu. Aku datang tidak pada waktu yang

sepantasnya”.

“Marilah Ngger. Pintuku selalu terbuka kapan saja ada seorang

tamu. Apalagi Angger Ken Arok”.

“Terima kasih Empu”.

Ken Arok pun kemudian duduk menghadap Empu Gandring yang

mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan ramahnya orang tua itu

bertanya tentang keselamatan tamunya selama ini dan sebaliknya.

Ternyata ujung dari pertemuan itu telah memberikan kesan kepada

Empu Gandring, bahwa Ken Arok yang sekarang agaknya telah

berada dalam keadaannya yang wajar. Ramah, berwajah jernih dan

rendah hati.

Memang Ken Arok telah berusaha sejauh-jauhnya untuk tidak

merubah sifat dan kebiasaannya. Empu Gandring harus mendapat

kesan, bahwa ia tidak sedang diburu-buru oleh suatu pekerjaan

yang menegangkan syarafnya. Karena itulah, maka Ken Arok justru

telah berada dalam kewajarannya kembali setelah lima bulan yang

lalu datang kepadanya dengan sikap yang aneh.

“Apakah Angger datang dari Tumapel?” bertanya Empu tua itu,

“Atau telah singgah kemanapun juga?”

“Tidak Empu. Aku sengaja datang kemari dari Tumapel”.

“Angger datang terlampau malam, sehingga aku tidak dapat

segera menjamunya. Tetapi, baiklah aku lihat, barangkali para

endang masih belum tidur”.

“Terima kasih Empu, terima kasih. Aku hanya sebentar saja”.

“Ah” Empu Gandring terkejut, “Angger selalu membuat aku

bertanya-tanya seperti lima bulan yang lalu”.

Ken Arok tertawa, katanya, “Tidak Empu. Kedatanganku kali ini

berbeda dengan kedatanganku lima bulan yang lampau. Saat itu

aku sedang diburu oleh ketegangan syaraf setelah aku bertempur

menghadapi beberapa orang perampok. Aku merasa bahwa aku

benar-benar tidak berdaya menghadapi salah seorang dari mereka.

Seolah-olah kulitnya kebal dan tidak mampu dilukai oleh senjata

biasa. Pedangku sama sekali tidak mampu menyobek kulitnya,

apalagi tulang-tulangnya. Karena itulah, dengan meninggalkan

sopan santun aku telah berani memesan sebilah keris kepada Empu

Gandring, didorong oleh ketegangan syaraf yang tidak teratasi”.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanpa

prasangka apapun ia mendengarkan ceritera yang memang masuk

akal itu.

“Kemudian, kedatanganku kali ini Empu” Ken Arok meneruskan,

“Sekedar memenuhi janjiku saat itu untuk datang lima bulan lagi.

Sebenarnya aku sudah tidak begitu memerlukannya sekarang Empu.

Meskipun demikian, aku masih tetap ingin memilikinya, seandainya

pada suatu ketika aku bertemu dengan orang itu, aku tidak perlu

lagi lari tunggang langgang. Sudah tentu sebagai seorang prajurit

aku akan malu sekali, kalau ada seseorang yang melihatnya saat itu.

Lari terbirit-birit seperti dikejar hantu”.

Empu Gandring tersenyum mendengar ceritera Ken Arok itu, dan

bahkan Ken Arok sendiri tertawa.

“Angger Ken Arok telah berhasil mengendapkan perasaannya”

berkata Empu Gandring di dalam hatinya, “Karena itu, aku kira ia

sudah tidak berbahaya lagi. Meskipun demikian, aku harus melihat,

apakah dalam waktu yang dekat ia tidak dirangsang lagi oleh

ketegangan syaraf seperti lima bulan yang lalu. Karena itu,

sebaiknya Ken Arok masih harus menunggu lagi beberapa hari”.

“Tetapi,” Empu Gandring kemudian berkata, “kenapa Angger

sekarang begitu tergesa-gesa”.

“Aku tidak mendapat istirahat kali ini Empu. Karena itu, aku

mempergunakan waktu yang sedikit itu untuk datang. Aku

berangkat hari ini, dan besok aku harus sudah berada dalam

tugasku lagi, supaya Tuanku Akuwu tidak marah kepadaku”.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,

“Jadi Angger datang kemari sekedar mengambil pesanan Angger

itu?”

“Ya Empu. Meskipun aku tidak begitu memerlukannya lagi, tetapi

adalah menjadi kewajibanku untuk datang lagi memenuhi waktu

yang sudah aku katakan, meski dalam keadaan apapun juga aku

pada saat itu”.

Empu Gandring tertawa. Katanya, “Angger benar seorang yang

bertanggung jawab atas segala kata-kata yang telah terucapkan”.

Ken Arok pun tertawa pula, “Tetapi, aku memang ingin

mempunyai kenang-kenangan yang berkesan dari Empu Gandring”.

“Baiklah Ngger. Aku akan memenuhinya”. Empu Gandring

menjadi ragu-ragu sejenak. Di dalam hatinya ia berkata, “Agaknya

Ken Arok telah membuang waktu yang baginya pasti sangat

berharga untuk mengambil keris itu sekedar karena ia sudah

mengatakan untuk kembali dalam waktu lima bulan lagi. Tetapi,

ternyata bahwa keris itu sengaja belum aku siapkan karena

kecurigaan itu. Tetapi, apaboleh buat”.

Betapapun beratnya akhirnya Empu Gandring terpaksa berkata

terus terang, “Tetapi, maaf Ngger. Sebenarnya keris itu masih

belum siap”.

Seleret ketegangan menyambar wajah Ken Arok, bahkan rasarasanya

darahnya pun telah berhenti mengalir. Namun sesaat

kemudian kesan itu pun segera dapat dikuasainya. Sambil

mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Sayang Empu. Aku

ragu-ragu apakah aku pada suatu saat yang dekat akan dapat

datang lagi kemari. Mungkin aku akan segera mendapat tugas yang

lain”.

“Aku minta maaf Ngger. Biarlah aku berterus terang. Sebenarnya

aku memang meragukan Angger pada saat itu. Sebenarnya

membuat keris tidak memperlukan waktu terlampau lama. Tetapi,

aku sengaja membuat jarak vang cukup panjang. Menurut

perhitunganku waktu itu, seandainya Angger sedang bingung, maka

dalam waktu lima bulan Angger telah mendapatkan ketenangan.

Dan ternyata harapanku itu terjadi”.

“Tetapi, bukankah yang lima bulan telah lampau?” bertanya Ken

Arok sambil tersenyum.

Empu Gandring pun tersenyum pula, “Ya, Ngger. Yang lima bulan

memang telah lampau. Tetapi, aku belum melihat keadaan Angger.

Kalau aku tahu Angger telah mendapatkan ketenangan itu, maka

keris itu pasti sudah aku siapkan. Karena aku masih ragu-ragu,

maka aku memang ingin bertemu dengan Angger dahulu. Kalau aku

yakin bahwa Angger sudah tidak berbahaya, maka keris itu akan

segera aku siapkan dalam sehari dua hari. Paling lama sepekan

sesudah ini”.

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Seolah-olah ia

tidak kecewa sama sekali karena keris itu belum jadi. Sambil

tersenyum ia kemudian berkata, “Tetapi, apakah aku boleh melihat

keris itu Empu. Meskipun masih belum siap”.

“O, tentu-tentu. Keris itu sendiri sudah siap, tetapi aku belum

memberinya, hulu yang baik. Aku baru sekedar memberinya untuk

sementara”.

“Apabila Kiai tidak berkeberatan, aku minta ijin untuk melihatnya

sebentar Kiai”.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun

demikian ia tampaknya masih juga ragu-ragu. Karena itu ia tidak

segera beranjak dari tempatnya.

Ken Arok melihat keragu-raguan yang membayang di wajah

Empu Gandring. Maka katanya sambil tersenyum pula, “Mungkin

ada pantangan Empu, bahwa keris yang masih belum siap benar,

tidak boleh dilihat oleh calon pemiliknya”.

“Ah tidak Ngger, tidak” jawab Empu Gandring dengan serta

merta, “sudah aku katakan sebenarnya keris itu sudah siap. Aku

tinggal menghaluskannya sedikit dan membuat hulunya”.

Empu Gandring pun kemudian berdiri dan melangkah ke sudut

sanggarnya. Dari dalam geledeg bambu diambilnya sebilah keris

yang masih belum diberinya wrangka. Tangkainya masih sangat

sederhana karena hulu yang sebenarnya masih belum dipasangnya

juga.

Melihat keris itu hati Ken Arok menjadi berdebar-debar. Meskipun

ia belum merabanya, namun kilatan wilahannya telah membuatnya

yakin, bahwa keris itu adalah keris yang pilih tanding.

Perlahan-lahan Empu Gandring berjalan ke tempatnya kembali.

Diamat-amatinya keris itu. Kemudian katanya, “Aku masih harus

memandikannya sekali lagi. Kemudian memberinya hulu yang sesuai

dengan nilai keris ini. Aku telah memilih baja yang paling baik yang

ada padaku”.

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun

tampaknya ia masih duduk saja dengan tenang, namun keringat

dingin telah mengaliri seluruh punggungnya. Tangannya yang

gemetar seolah-olah ingin segera merebut keris itu dari tangan

Empu Gandring yang masih asyik mengamat-amatinya.

“Mudah-mudahan keris ini sesuai dengan kau Ngger. Seorang

prajurit yang gagah berani, yang tidak mengenal takut menghadapi

kesulitan apapun”.

“Ya Kiai” jawab Ken Arok pendek.

“Sudah lama aku ingin membuat keris serupa ini. Dan sekarang

aku telah berhasil. Seandainya yang datang sekarang ini Angger Ken

Arok lima bulan yang lalu, maka aku kira keris ini tidak akan aku

tunjukkan. Bahkan mungkin pada saatnya aku akan memberikan

keris yang lain lagi. Tetapi, Angger kini telah meyakinkan aku.

Karena itu maka keris ini akan aku serahkan kelak apabila sudah

siap sekali”.

Ken Arok mengumpat-umpat di dalam hati. Seakan-akan ia ingin

meloncat menerkam keris itu.

Tetapi, ia masih tetap harus bersikap tenang dan tidak

mencurigakan. Selama keris itu masih di tangan Empu Gandring,

maka ia masih harus menahan dirinya sejauh-jauh dapat dilakukan.

Ia tidak boleh menimbulkan kecurigaan pada orang tua itu, supaya

Empu Gandring tidak mengurungkan niatnya, menunjukkan keris itu

kepadanya. Karena itu, betapa dadanya berguncang-guncang,

namun ia masih saja duduk dengan tenangnya sambil tersenyumsenyum.

Dalam pada itu Empu Gandring masih saja mengamat-amati

kerisnya dengan saksama. Kepuasan terbayang di wajahnya yang

telah dihiasi dengan garis ketuaannya. Seakan-akan begitu

sayangnya ia kepada keris itu untuk menyerahkannya ke tangan

Ken Arok.

Sementara Ken Arok dicengkam oleh kegelisahan yang hampirhampir

tidak tertanggungkan, di jalan yang menuju Lulumbang, dari

arah Padang Karautan, sebuah pedati berjalan perlahan-lahan

seperti seekor siput raksasa yang merayap mendekati padepokan

Empu Gandring.

Seorang perempuan tua duduk bersandar tiang pedati itu sambil

terkantuk-kantuk, sedang dua orang prajurit yang duduk

bersamanya di dalam pedati itu sudah lama tertidur sambil

bersandar dinding pedati. Dipaling depan duduk Mahisa Agni

memegang tali kendali sepasang lembu yang besar. Di belakang

pedati itu terikat seekor kuda yang berjalan dengan malasnya.

Gemetaran roda pedati di atas tanah berbatu-batu kadangkadang

telah membangunkan orang-orang yang sedang tidur di

dalamnya. Kadang-kadang tubuh mereka terguncang-guncang

untuk beberapa saat. Namun kedua prajurit itu segera tertidur

kembali.

“Apakah bibi perlu beristirahat?” bertanya Mahisa Agni.

Emban tua yang duduk di dalam pedati itu menggelengkan

kepalanya, “tidak usah Agni. Aku ingin segera sampai ke

Lulumbang. Entahlah, aku tidak pernah dicengkam oleh perasaan

rindu serupa ini. Aku ingin segera bertemu dengan pamanmu Empu

Gandring”.

“Ya, bibi sudah terlampau lama tidak bertemu”.

“Bukan itu saja soalnya. Entahlah. Aku ingin segera sampai.

Kalau saja pedati ini dapat berjalan lebih cepat”.

Mahisa Agni tersenyum. Dicobanya melecut lembunya yang

malas. tegapi lembu itu hanya sekedar berpaling, dan Manisa Agni

pun tidak melecutnya lagi.

Malam yang gelap terbentang dihadapan pedati itu, sebuah obor

yang kecil terpancang di sisi. Cahayanya yang terayun-ayun

diguncang-guncang oleh angin malam kadang-kadang membuat

obor itu hampir padam.

Bagi Mahisa Agni, perjalanan itu memang terasa menjemukan. Ia

akan lebih senang berpacu dengan kudanya. Tetapi, sudah tentu

ibunya tidak akan mungkin berkuda untuk jarak yang cukup jauh.

Dari Padang Karautan ke Lulumbang, kemudian kembali lagi ke

Tumapel. Apalagi ibunya bukannya seorang yang memang dapat

berkuda dengan baik.

Betapa lambatnya, maka pedati itu merayap juga semakin dekat

dengan Lulumbang. Dalam pada itu, hati perempuan tua itu menjadi

semakin berdebar-debar. Serasa ada sesuatu yang tidak wajar bakal

terjadi.

Kadang-kadang perempuan tua itu menjadi cemas, kalau-kalau

ada gangguan di perjalanan. Tetapi, apabila dilihatnya Mahisa Agni

duduk di depan, kemudian dua orang prajurit yang meskipun saat

itu baru tidur mendekur, hatinya menjadi tenang.

Sekali-sekali perempuan tua itu mencoba untuk tidur barang

sejenak, di dalam pedati itu. Tetapi, matanya terlampau sulit di

pejamkan. Bukan karena roda pedati yang bergemeretak dan

mengguncang-guncang pedati itu, tetapi juga karena kegelisahan

yang mencengkam jantung tanpa diketahui sebab-sebabnya.

Tiba-tiba perempuan itu tersentak. Dengan kedua tangannya

dipeganginya dadanya yang berdebar-debar.

“Agni” berkata perempuan tua itu, “Aku kira memang terjadi

sesuatu dengan pamanmu. Hatiku menjadi sangat berdebar-debar.

Jantungku serasa berhenti mengalir”.

“Ibu membayangkan yang bukan-bukan” sahut Mahisa Agni.

“Tidak Agni. Aku tidak membayangkan apapun” jawab ibunya,

“apakah aku telah mendapat suatu firasat yang kurang baik tentang

pamanmu?”

“Bukankah hari telah jauh malam bibi? Aku kira bibi telah

mengantuk dan bermimpi dalam sekejap”.

“Tidak Agni. Aku yakin”. Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.

“Agni” berkata ibunya, “Apakah kau mau mendahului perjalanan

pedati yang terlampau lambat ini?”

“Maksud bibi?”

“Pergilah berkuda. Kau akan cepat mencapai Lulumbang. Hatiku

menjadi semakin tidak enak”.

Sekali lagi Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi, ia

tidak ingin mengecewakan ibunya, sehingga karena itu ia

menjawab, “Baik ibu. Aku akan mendahului”.

Mahisa Agni pun kemudian membangunkan kedua prajurit yang

sedang tidur itu. Katanya, “Aku akan mendahului. Terserahlah

kepada kalian keselamatan bibi sampai ke Lulumbang”.

Kedua prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya meskipun

sambil bersungut-sungut. Mereka lebih senang tidur dari pada

mengemudikan pedati itu.

“Kalau kalian masih mengantuk” berkata Mahisa Agni, “Kalian

dapat bergantian. Yang seorang tidur, yang seorang memegang tali

kemudi”.

“Baiklah” sahut salah seorang dari kedua prajurit itu. Kemudian

katanya kepada kawannya yang seorang lagi, “Peganglah tali itu

lebih dahulu, aku akan tidur. Nanti segera bergantian, aku tidur dan

kau memegang tali itu”.

“Hus” desis yang lain.

“Terserahlah kepada kalian” Mahisa Agni terpaksa tersenyum,

“Sekarang aku akan mendahului perjalanan ini”.

Mahisa Agni pun segera melepaskan kudanya dan meloncat naik

ke punggungnya. Sejenak kemudian suara derap kaki-kaki kuda itu

gemeretak di sepanjang jalan, mendahului perjalanan pedati yang

sedang merayap.

Sebenarnya mula Mahisa Agni tidak mempunyai perasaan apapun

tentang pamannya di Lulumbang. Namun desakan ibunya telah

membuatnya mulai berpikir. Apakah sebabnya?

“Memang kadang-kadang sentuhan yang sangat halus telah

menggerakkan hati seseorang untuk menangkap persoalan yang

tidak kasat mata. Tetapi, tali yang menghubungkan getaran yang

bersamaan, yang memancar dari dalam diri, akan dapat saling

mempengaruhi” desis Mahisa Agni itu sambil berpacu, sehingga

tiba-tiba saja Mahisa Agni pun menjadi cemas. Katanya, “Mungkin

benar-benar telah terjadi sesuatu atas paman di Lulumbang”.

Dengan demikian maka Mahisa Agni pun segera melecut kudanya

dan berpacu semakin cepat.

Dalam pada itu sambil tersenyum Empu Gandring masih

memandangi kerisnya. Berkali-kali diusapnya janggutnya yang telah

memutih.

“Apakah ada yang masih belum sempurna Empu?” bertanya Ken

Arok. Betapapun kegelisahan melanda dinding jantungnya namun ia

masih tetap duduk sambil tersenyum.

“Tidak Ngger” Empu Gandring menggelengkan kepalanya, “Aku

kira keris ini telah siap. Kekurangan kecil itu sama sekali tidak akan

berpengaruh apa-apa. Hanya bentuknya sajalah yang masih akan

aku sempurnakan. Tetapi, isi dari keris ini telah penuh. Aku telah

menganggap keris ini keris yang telah jadi”.

Ken Arok bergeser setapak maju. Ditunjukkannyalah sikap ingin

tahunya. Bahkan kadang-kadang ia telah mengangkat tangannya

untuk menerima keris itu.

Tetapi, Empu Gandring tidak segera memberikannya. Serasa ada

sesuatu yang menahannya.

Ketika terpandang oleh Empu tua itu ujung kerisnya yang

runcing, seruncing taring Naga Taksaka, hatinya berdesir. Tanpa

diketahuinya, apakah sebabnya, tangannya tiba-tiba menjadi

gemetar.

Dilihatnya di sela-sela pamor yang memang dikehendaki, tiga

buah bintik kecil berwarna kekuning-kuningan. Sekilas melintas di

dalam angan-angannya ujung keris yang pernah dilihatnya, keris

sakti yang bernama Kiai Naga Singkik buatan Empu Sekadi. Keris

yang maksudnya disiapkan untuk membasmi kejahatan, namun

jatuh ke tangan orang yang tidak dikehendakinya, sehingga keris itu

telah menelan terlampau banyak korban yang sia-sia.

Hati Empu Gandring menjadi berdebar-debar. Ia adalah seorang

ahli membuat keris. Bahkan seorang Empu yang seakan-akan hidup

matinya ada di dalam sanggar kerisnya. Namun sekali ini ia telah

membuat suatu kesalahan.

“Aku tidak dapat menyebutnya lagi bahwa keris ini berpamor

Manggada” berkata Empu Gandring di dalam hatinya, “Aku rasa aku

telah mengulangi kesalahan Empu Sekadi”. Namun sejenak

kemudian Empu Gandring mengerutkan keningnya. Dicobanya untuk

menenangkan hatinya sambil bergumam di dalam dadanya, “Aku

terlampau terpengaruh oleh keris Naga Singkik. Setiap orang dapat

saja membuat kesalahan. Tetapi, kalau aku mencemaskan akibat

kesalahan itu tanpa dasar, agaknya aku keliru”. Tetapi, kemudian di

relung hatinya terdengar suara, “Bukanlah sesuatu kebetulan,

persamaan yang jarang sekali dapat terjadi”.

Dengan demikian Empu Gandring masih saja memegangi

kerisnya dengan dada yang berdebar-debar. Sementara Ken Arok

mengumpat-umpat di dalam hatinya meskipun ia masih juga tampak

tersenyum-senyum.

“Apakah ada sesuatu yang membuat Empu menyesal atas keris

itu?” bertanya Ken Arok ketika dilihatnya wajah Empu Gandring

menjadi berkerut-merut.

“Oh, tidak, tidak Ngger. Aku sudah puas sama sekali dengan

keris ini”.

“Sokurlah” sahut Ken Arok, “keris itu akan menjadi kenangkenangan

yang paling baik bagiku”. Tetapi, Ken Arok berhenti

sejenak, “Tetapi, apakah aku dapat melihatnya sejenak?”

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apakah

Angger tidak menunggu kelak apabila keris ini telah siap sama

sekali? Nanti Angger kecewa melihat ukiran yang masih belum siap.

Sebab menurut rencana kami ukirannya masih harus diganti dengan

hulu yang lebih baik”.

Ken Arok tersenyum. Jawabnya, “Tidak Empu. Aku tidak akan

kecewa, sebab aku sudah tahu bahwa keris itu memang belum siap.

Seandainya ada kekurangannya, maka dalam lima atau enam hari,

keris itu sudah akan siap”.

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Ditatapnya wajah

Ken Arok dengan tajamnya, keragu-raguan di dalam hatinya

semakin lama menjadi semakin dalam.

“Tetapi, aku tidak melihat kesan apapun di wajah anak muda ini”

berkata Empu Gandring di dalam hatinya, “wajahnya jauh lebih

cerah dari pada lima bulan yang lalu. Agaknya Angger Ken Arok

benar-benar telah berhasil mengendapkan diri”. Dengan demikian

maka Empu Gandring menganggap bahwa keragu-raguan di dalam

hatinya itu sama sekali tidak beralasan. Desisnya di dalam hati, “Aku

sangat terpengaruh oleh kedatangan Angger Ken Arok lima bulan

yang lampau serta bintik-bintik di ujung keris, di sela-sela

pamornya”. Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya,

kemudian, “Tidak baik aku terlampau berprasangka. Hal itu justru

akan menimbulkan kesan yang jelek pada Angger Ken Arok”.

Karena itu, maka Empu Gandring pun kemudian memutuskan

untuk memberikan kerisnya kepada Ken Arok, “Anak ini agaknya

sudah baik”.

“Baiklah Ngger” berkata Empu Gandring selanjutnya, “Marilah.

Tetapi, jangan kecewa lebih dahulu, karena aku masih akan

memperbaikinya nanti”.

Ken Arok bergeser maju. Diangkatnya kedua tangannya untuk

menerima keris itu. Dengan hati-hati Empu Gandring menyerahkan

kerisnya. Ketika keris itu menyentuh tangan Ken Arok, Empu

Gandring merasa bahwa tangan itu gemetar, sehingga tiba-tiba

dadanya pun menjadi gemetar pula.

Kini keris itu telah berpindah ke tangan Ken Arok. Sebenarnyalah

bahwa tangan Ken Arok menjadi gemetar. Diamat-amatinya keris itu

dengan saksama, seolah-olah setiap garis dan lekuk pamornya

dinilainya dengan saksama. Meskipun ia bukan ahli keris, tetapi

terasa bahwa keris yang sedang dipegangnya itu adalah keris yang

jarang ada bandingnya.

“Rencanaku tidak boleh tertunda” Ken Arok itu menggeram di

dalam hatinya. Namun tiba-tiba dadanya seolah-olah bergejolak

dengan dahsyatnya. Sekali-kali dipandanginya wajah Empu

Gandring yang sejuk lunak, seperti sejuknya embun di pagi hari. Di

wajah itu sama sekali tidak terbayang permusuhan yang

bagaimanapun bentuknya. Di wajah itu sama sekali tidak terbayang

sama sekali sifat-sifat yang dapat memperkuat niat Ken Arok

melakukan rencananya. Dengan demikian maka dada Ken Arok

seolah-olah telah dibakar oleh benturan yang semakin lama menjadi

semakin dahsyat. Benturan antara rencana yang sudah matang

tersusun, dengan tanggapannya atas orang yang kini sedang

dihadapi.

“Apakah aku sampai hati melakukannya” ia bertanya kepada diri

sendiri dengan penuh keragu-raguan.

Tangan Ken Arok yang gemetar itu menjadi semakin gemetar.

Bahkan ujung keris itu kemudian seolah-olah terkulai menunduk.

Empu Gandring melihat keadaan Ken Arok dengan heran. Apakah

yang sebenarnya terjadi atas anak muda itu. Keragu-raguan yang

sejak semula mencengkamnya, tiba-tiba menjadi semakin

mengganggu perasaannya.

Tetapi, tiba-tiba ia mendengar Ken Arok berkata, “Empu, keris ini

terlampau baik. Terlampau baik buatku. Seandainya Empu benarbenar

akan memberikan keris ini kepadaku, maka aku akan

mengucapkan beribu terima kasih”.

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ah, kau

terlampau memuji Ngger. Mudah-mudahan kau puas dengan keris

itu”.

“Tentu Empu. Aku terlampau puas. Keris itu terlampau baik”.

Ketika Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya

dengan sebuah senyum yang tergores di bibirnya, hati Ken Arok

seakan-akan menjadi runtuh.

“Tidak. Aku tidak dapat berbuat gila atas orang tua yang

terlampau baik ini”.

Ketika Ken Arok menggeleng-gelengkan kepalanya Empu

Gandring bertanya, “Apakah ada yang tidak berkenan dihatimu

Ngger?”

“Tidak Empu. Keris ini terlampau sempurna” jawab Ken Arok,

“memang hulunya masih harus diganti, disesuaikan dengan kerisnya

itu sendiri. Tetapi, hulu keris sebenarnya tidak begitu penting

dibandingkan dengan nilai keris itu sendiri”.

Empu Gandring tersenyum sambil mengangguk-anggukkan

kepalanya, sementara dada Ken Arok menjadi semakin bergemuruh

oleh kebimbangan yang hampir tidak tertahankan.

Sementara itu gemuruh derap kaki-kaki kuda yang dipacu oleh

Mahisa Agni menjadi semakin bergemeretakan. Semakin cepat kuda

itu berpacu, hati anak muda itu menjadi semakin bergetar. Bahkan

kini seakan-akan ia sendiri merasakan, betapa pamannya itu sedang

terancam bahaya.

Karena itu, maka Mahisa Agni pun semakin mempercepat lari

kudanya, beberapa kali ia menyentuh perut kuda itu. Namun

langkahnya serasa masih terlampau malas.

Di dalam dinginnya malam terasa keringat mengalir di punggung

Mahisa Agni, sehinga punggungnya menjadi basah seperti sedang

kehujanan.

Punggung Ken Arok pun menjadi basah seperti sedang

kehujanan. Berbagai macam pikiran berbenturan dan bergolak di

dalam dadanya. Sekali-kali dipandanginya ujung keris yang runcing

tajam, kemudian wajah Empu tua yang berkerut-merut.

Empu Gandring melihat kegelisahan yang sangat membayang di

wajah Ken Arok. Ia melihat tangan yang menggenggam keris itu

menjadi semakin gemetar dan ujung keris itu pun menjadi semakin

menunduk.

Hati Ken Arok yang semakin luluh itu pun seakan-akan merontaronta

di dalam dadanya. Apakah ia harus melaksanakan rencananya

atau mengurungkannya.

Dalam keragu-raguan itu, tiba-tiba Ken Arok menggeretakkan

giginya. Ia seakan-akan sedang mencari kekuatan. Dengan

kekuatan terakhir ia mencoba menggeram di dalam dadanya,

“Harus. Aku harus melakukannya sekarang. Kalau aku melepaskan

kesempatan ini, maka aku tidak akan pernah menemukan

kesempatan yang lain”, sehingga semua rencana yang telah

disusunnya dan yang sebagian telah berjalan itu akan gagal. Gagal

sama sekali. Dengan demikian berarti bahwa ia tidak akan dapat

mencapai cita-citanya. Tidak akan ada perubahan yang akan terjadi

pada dirinya.

Terbayang sekilas wajah Permaisuri Ken Dedes yang cantik yang

memancarkan cahaya yang cemerlang. Kemudian terbayang wajah

Akuwu Tunggul Ametung yang terlampau mementingkan dirinya

sendiri dari pada kepentingan Tumapel.

“Tidak. Aku tidak boleh mundur. Betapapun banyaknya korban

yang harus jatuh. Tetapi, aku harus melaksanakan. Korban-korban

itu adalah rabuk bagi kesuburan Tanah Tumapel. Memang mungkin

korban-korban itu tidak bersalah. Dan korban yang demikian itulah

yang akan membuat Tumapel menjadi besar” ia menggeram di

dalam hatinya.

Dengan demikian, maka dada Ken Arok menjadi semakin

berdebar-debar. Benturan yang dahsyat seolah-olah akan

memecahkan jantungnya, sehingga tangannya menjadi semakin

bergetar pula.

Empu Gandring akhirnya tidak dapat melihat sambil berdiam diri.

Dengan herannya ia bertanya, “Kau kenapa Ngger? Apakah kau

menjadi kecewa melihat keris itu, atau kau mempunyai sesuatu

pendapat atau apapun?”

Ken Arok tidak tahu, bagaimana menjawab pertanyaan itu..

Namun sekenanya saja ia berkata, “Empu, aku melihat tiga buah

bintik yang membuat aku menjadi berdebar-debar. Bintik yang

mempunyai warna dan ciri yang lain dari keseluruhan pamor keris

ini”.

Jawaban itu membuat dada Empu Gandring berdesir. Ia tidak

menyangka bahwa Ken Arok akan memperhatikan ketiga bintik yang

dilihatnya itu. Memang sebenarnya bahwa bintik itu mempunyai

warna yang berbeda dari warna keseluruhan dari pamor keris itu.

“Empu” berkata Ken Arok kemudian, “Lihatlah, betapa bintikbintik

ini membuat keseluruhan pamor keris ini menjadi sebuah

teka-teki yang aneh. Aku tidak mampu menebak, apakah maksud

Empu dengan ketiga bintik-bintik ini, dan memberinya warna yang

lain dari keseluruhan pamor keris ini, sehingga ketiga bintik ini

seakan-akan terlepas dari hubungannya dengan bentuk

keseluruhan”.

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Kenapa baru kali ini

ia sendiri melihat bintik-bintik itu? Sejak keris itu berbentuk, ia selalu

mengamat-amatinya. Hampir setiap saat ia duduk, di dalam sanggar

ini, ia selalu menimang-nimang keris itu. Tetapi, kemarin ia masih

belum melihat ketiga bintik-bintik itu. Sehingga bintik-bintik itu

seolah-olah timbul begitu saja dengan tiba-tiba.

“Memang aneh” ia berdesis di dalam hatinya.

“Empu” berkata Ken Arok kemudian, “Apakah dengan sengaja

Empu memberikan bintik-bintik ini? Seandainya demikian apakah

maksudnya?”

Empu Gandring menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak

Ngger. Aku sama sekali tidak sengaja menempatkan ketiga bintikbintik

kecil itu”.

“Ah” desis Ken Arok, “Adalah mustahil sekali, Empu adalah

seorang ahli membuat keris. Karena itu, Empu menguasai segala

macam bentuk dan watak dari setiap keris yang Empu buat”.

“Kau benar Ngger. Tetapi, tidak mustahil bahwa seseorang

membuat kesalahan. Selama aku adalah manusia biasa, maka aku

pasti masih akan membuat kesalahan-kesalahan”.

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Keringatnya

semakin banyak mengalir di seluruh tubuhnya. Desakan di dalam

dadanya sudah tidak tertahankan lagi untuk melakukan rencananya,

tetapi perasaannya masih dibayangi oleh gambaran-gambaran yang

aneh.

“Harus, harus. Lakukanlah sekarang” terdengar perintah itu di

dalam dadanya.

Sekali lagi Ken Arok mencari kekuatan sambil mengepalkan

tangannya, menggenggam hulu keris itu keras-keras. Dan tiba-tiba

saja ia berkata, “Lihat Empu, aneh. Bintik-bintik ini dapat bergerak”.

Empu Gandring terkejut mendengarnya. Tiba-tiba saja ia

bergeser maju tanpa prasangka apapun. Dengan mata terbelalak ia

mengamat-amati ujung kerisnya.

Namun tiba-tiba uiung keris itu bergetar dan bergerak cepat

sekali, melampaui kecepatan tatit yang menyambar di langit. Ujung

keris itu tiba-tiba saja telah menghujam memecahkan dadanya.

Sejenak Empu Gandring membeku di tempatnya. Seakan-akan ia

tidak percaya, bahwa hal itu telah terjadi dan dialaminya sendiri.

Tetapi, sejenak kemudian, Empu tua itu menyadari keadaannva.

Ternyata keris buatannya sendiri itu telah tertancap di dadanya.

Ketika tangannya meraba hulu keris yang masih melekat di dada itu,

terasa tangannya menjadi hangat oleh darah yang memerah.

Terasa dada itu menjadi pedih bukan kepalang. Kerisnya adalah

keris yang benar-benar pilih tanding. Keris yang jarang dicari

duanya di dunia.

Empu Gandring bukan saja seorang Empu yang terpilih di antara

golongannya. Tetapi, ia adalah seorang yang pilih tanding dalam

oleh kanuragan. Empu Gandring adalah seseorang yang dapat

melawan Kebo Sindet dan dapat disejajarkan dengan Empu Purwa

dan Panji Bojong Santi. Namun menghadapi keadaan yang tidak

disangka-sangkanya itu, ia tidak dapat mengelakkan diri.

Tubuh orang tua itu pun segera menjadi gemetar. Ternyata

ujung keris yang telah dibuatnya sendiri itu telah menyentuh

jantungnya. Dengan demikian, maka kekuatannya dan segenap

kemampuan yang sukar dicari bandingnya itu pun segera susut

dengan cepatnya. Karena betapapun juga, kemampuan manusia

pasti pada suatu ketika akan sampai pada batasnya. Demikian juga

Empu tua yang sakti itu.

Sesaat ia masih dapat duduk di tempatnya tanpa bergerak sama

sekali. Kedua tangannya masih menggenggam hulu kerisnya,

sedang tatapan matanya yang menyorotkan beribu macam

pertanyaan lelah menghunjam langsung ke dada Ken Arok.

Ken Arok, yang telah mengerahkan segenap kekuatan lahir dan

batinnya untuk menaikkan keris itu ke dada Empu Gandring,

menjadi gemetar pula. Dengan tajam dipandanginya Empu tua yang

masih saja duduk di tempatnya menahan pedih di dadanya. Sekalikali

terdengar Empu Gandring berdesis. Namun yang paling tajam

merobek-robek perasaannya adalah kejapan matanya yang semakin

lama menjadi semakin sayu.

Tiba-tiba Ken Arok itu bertiarap di depan Empu Gandring yang

telah menenggang nafas itu. Dengan suara tertahan-taham ia

berkata, “Tidak. Tidak. Itu tidak boleh terjadi”.

Empu Gandring mencoba menarik nafas dalam-dalam. Setiap

hembusan nafasnya telah mendorong darahnya untuk melelah dari

lukanya.

“Ampunkan aku Empu, ampun” Ken Arok merengek seperti

kanak-kanak yang ditinggal ayahnya pergi merantau, “Aku tidak

menginginkannya. Itu bukan maksudku”.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya perlahanlahan.

Dengan sisa tenaganya ia menghentakkan keris itu dari

dadanya. Demikian ia berhasil mencabut keris itu, maka darahnya

pun menjadi semakin banyak mengalir dari lukanya.

Sejenak diamat-amatinya keris yang sudah berlumuran darah itu.

Tetapi, matanya yang menjadi semakin kabur telah tidak lagi dapat

melihat tiga buah bintik yang asing baginya, meskipun ialah yang

telah membuat keris itu.

Ketika Ken Arok melihat Empu Gandring telah berhasil menarik

keris itu, tiba-tiba ia berkata setengah meratap, “Empu, bunuhlah

aku sebelum aku benar-benar menjadi semakin gila. Tolonglah aku

Empu. Bunuhlah aku”.

Tetapi, tubuh Empu Gandring sudah menjadi semakin lemah.

Ketika terlihat olehnya kilasan mata Ken Arok, maka Empu tua itu

mencoba untuk berkata, “Kau telah membuat suatu kesalahan

Ngger?” nafas Empu Gandring mengalir semakin cepat, “Selama ini

kau adalah seorang prajurit yang baik. Tetapi, Ken Arok sebagai

seorang prajurit yang baik, agaknya telah mati bersama

kematianku”.

Terasa dada, Ken Arok tergores oleh kata-kata itu demikian

parahnya. Terngiang kembali kata-kata Lohgawe yang serupa

dengan kata-kata yang diucapkan oleh Empu Gandring itu.

“Aku menyesal Empu. Karena itu, bunuhlah aku supaya nafsu ini

tidak menjalar ke seluruh Tumapel”.

Empu Gandring menggelengkan kepalanya.

“Aku telah mencoba membunuh Empu, adalah wajar apabila

Empu membunuhku”.

Sekali lagi Empu Gandring menggelengkan kepalanya, “Sudah

saatnya aku kembali kepada Yang Maha Agung, Ngger”.

“Tetapi, Empu harus membunuh aku lebih dahulu. Dengan

demikian Empu telah mebuat kebaikan di saat terakhir Empu.

Ketahuilah Empu, dengan keris itu aku akan membunuh Akuwu

Tunggul Ametung. Aku akan memperisteri Ken Dedes, dan aku ingin

menjadi seorang Akuwu, bahkan seorang Maharaja. Karena itu,

sebelum nafsu itu membakar Tumapel, sebaiknya Empu

membunuhku”.

Wajah Empu Gandring meniadi semakin pucat. Tenaganya

memadi semakin lemah, sehingga keris ditangannya itu pun terkulai

di atas tikar yang meniadi kemerah-merahan oleh darahnya.

“Angger Ken Arok” suara Empu tua itu menjadi semakin lemah,

“Kalau kau menyesal, maka aku berpesan kepadamu, hancurkan

sajalah keris itu, karena keris itu akan meminta korban dan korban.

Akan datang saatnya keris itu membunuh Akuwu Tunggul Ametung,

tetapi juga orang-orang lain. Karena itu, sebaiknya keris itu, kau

tiadakan saja, ternyata aku telah mengulangi kesalahan Empu

Sekadi”.

“Empu” hampir saga Ken Arok memekik. Dengan gerak naluriah

kedua tangannya menutup mulutnya, ketika ia melihat Empu

Gandring itu menunduk. Semakin lama semakin dalam, meskipun ia

masih tetap duduk. Akhirnya tubuh itu diam. Diam sama sekali.

“Empu” bisik Ken Arok. Dengan tangan gemetar ia merayap

maju. Ketika dirabanya tangan Empu Gandring, tangan itu seakanakan

telah membeku.

Dada Ken Arok hampir meledak karenanya. Tiba-tiba dengan

penyesalan yang luar biasa ia mengambil keris itu perlahan-lahan

dari tangan Empu Gandring. Kemudian ia meloncat berdiri sambil

menggeram, “Keris ini harus aku hancurkan. Harus”.

Mata Ken Arok menjadi nanar. Dipandanginya setiap benda yang

ada di dalam sanggar itu.

Dalam kegelapan hati, hampir saja ia membunuh dirinya. Tetapi,

dengan demikian ia tidak mungkin dapat memenuhi pesan Empu

Gandring. Kalau keris itu ditusukkannya ke dadanya sendiri, maka

keris itu masih akan tetap utuh. Sehingga orang lain akan dapat

mempergunakannya untuk membunuh sesamanya.

“Tidak” ia menggeram, “Aku harus memusnakan keris itu lebih

dahulu”.

Ketika terlihat olehnya sebuah paron, maka hatinya berdesir.

“Dengan paron itulah agaknya Empu Gandring menempa keriskerisnya”

katanya di dalam hati, “Karena itu, di atas paron itu pula

keris ini akan aku hancurkan”.

Dengan hati yang berdebar-debar Ken Arok mendekati paron itu.

Kemudian dikerahkannya segenap kekuatan dan kemampuan yang

ada padanya. Diangkatnya keris itu tinggi-tinggi. Sekejap kemudian

dengan cepatnya keris itu terayun. Seperti lidah api yang meloncat

di langit, keris itu menyambar paron.

Ken Arok merasakan tangannya menjadi pedih. Terdengar

benturan yang dahsyat, dan ia melihat bunga api memercik. Tetapi,

tiba-tiba matanya terbelalak. Keris yang digenggamnya ternyata

masih utuh. Dan yang lebih mengherankan; sehingga hampir ia

tidak percaya kepada penglihatannya, ternyata bahwa paron itulah

yang menjadi hancur.

“Luar biasa. Keris ini memang luar biasa” desisnya.

“Bukan keris ini yang luluh tetapi paron itulah yang hancur”.

Ken Arok berhenti sejenak. Matanya menjadi nyalang. Sekejap

dipandanginya keris di dalam genggamannya, dan sekejap

ditatapnya paron yang sudah pecah berserakan itu.

“Keris ini tidak ada duanya di dunia”. Dan tiba-tiba Ken Arok itu

menggeram, “Sayang, kalau keris sesakti ini harus aku hancurkan.

Hanya dengan keris yang demikian inilah Tunggul Ametung dapat

aku binasakan”.

Tiba-tiba saja Ken Arok itu meloncat menghambur keluar sanggar

setelah mengganti kerisnya sendiri dengan keris Empu Gandring itu.

Ia sudah tidak ingat lagi Empu Gandring yang meninggal di dalam

sanggarnya. Ia sudah tidak ingat lagi untuk menghancurkan keris

itu, dan apalagi untuk membunuh diri. Ditutupnya pintu sanggar itu

rapat-rapat, kemudian seperti tidak pernah terjadi sesuatu ia

berjalan ke pintu regol.

Ia masih melihat cantrik yang memegangi kendali kudanya.

Bahkan ia duduk di pinggir regol bersama seorang kawannya.

Seorang cantrik yang lain.

Ketika terlihat oleh mereka prajurit yang menitipkan kuda itu,

maka merekapun segera berdiri.

Ken Arok tersenyum. Diterimanya kendali kudanya. Katanya,

“Aku akan segera kembali ke Tumapel. Tugasku masih cukup berat.

Terima kasih kalian telah menjaga kudaku”.

“Terima kasih kembali” jawab cantrik ini, “Apakah tuan sudah

bertemu dengan Empu?”

“Sudah, aku sudah bertemu. Persoalanku sudah selesai”.

Cantrik itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia masih

bertanya, “Tetapi, kenapa tuan begitu tergesa-gesa”.

Ken Arok tertawa, “Sudah aku katakan, tugasku masih banyak.

Terlampau banyak. Sebagai seorang prajurit pengawal istana dan

pengawal Akuwu, aku harus selalu berada di samping Akuwu hampir

dalam segala hal”.

“Oh” cantrik itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Sudahlah. Aku minta diri”.

“Silahkan”.

Ken Arok menuntun kudanya keluar regol. Namun belum lagi ia

meloncat naik, tiba-tiba ia mendengar lamat-lamat derap seekor

kuda berlari kencang semakin lama semakin dekat.

“Siapa?” dadanya berdesir. Namun ia tidak mau terlambat.

Siapapun yang datang, ia tidak boleh lengah. Kalau orang yang

datang itu sudah mengenalnya, maka semua rencananya akan

rusak. Apalagi kalau orang yang datang itu tidak mampu

dibinasakannya.

Dengan demikian, maka segera ia meloncat ke punggung

kudanya. Tanpa berkata sepatah katapun lagi, maka kudanya pun

segera berpacu menjauh. Ken Arok menyadari, bahwa ia harus

memilih jalan sehingga ia tidak akan berpapasan dengan kuda yang

mendatang itu.

Sejenak kemudian kuda Ken Arok pun telah keluar dari

padukuhan Lulumbang. Semakin lama kudanya berpacu semakin

cepat. Seandainya kuda yang datang itu kemudian memasuki

padepokan Empu Gandring dan mengetahui apa yang telah terjadi,

maka kudanya sendiri sudah menjadi sedemikian jauhnya, sehingga

tidak mungkin akan terkejar.

Dalam pada itu, kuda yang mendatang itu pun menjadi semakin

dekat pula. Cantrik yang baru saja menyerahkan kuda Ken Arok

masih berdiri di samping regol. Sejenak mereka saling

berpandangan, dan sejenak kemudian salah seorang dari mereka

berkata, “Siapa lagi yang akan datang? Bukankah kita di sini tidak

biasa menerima tamu di malam hari?”

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi, mereka

menunggu saja di muka regol, kalau-kalau kuda itu benar-benar

mendatangi pedepokan Empu Gandring.

Ternyata dugaan mereka benar. Sejenak kemudian mereka

melihat seseorang berhenti di depan regol. Kemudian menuntun

kudanya memasuki halaman.

“Siapa?” bertanya Cantrik yang masih berdiri di sisi regol.

Orang itu agaknya terkejut. Jawabnya, “He, kalian masih berada

di halaman? Karena itu aku melihat regol itu masih terbuka”.

“Ya, baru saja aku mengantarkan seorang tamu. Tetapi, siapakah

tuan?”

“Mahisa Agni. Kemanakan Empu Gandring”.

“O,. mari, marilah. Baru saja Empu menerima tamu dari Tumapel.

Baru saja”.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ditatapnya wajah cantrik

itu, seolah-olah ia tidak percaya pada keterangannya, bahwa di

malam hari begini tamu Empu Gandring itu baru saja meninggalkan

padepokan.

“Berapa orangkah tamu itu?” bertanya Mahisa Agni.

“Satu orang”.

“Siapakah namanya?”

Cantrik itu mengerutkan keningnya. Kemudian ia menggeleng,

“Aku tidak tahu, dan aku tidak bertanya siapakah namanya. Tetapi,

ia adalah seorang prajurit”.

“Prajurit?”

“Ya, seorang prajurit”.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian,

katanya, “Baiklah, aku akan bertanya kepada paman, siapakah

tamunya itu”.

“Silahkanlah”.

Mahisa Agni pun kemudian menuntun kudanya melintasi

pendapa. Kemudian mengikatkannya pada sebatang pohon di depan

gandok.

“Empu berada di sanggarnya” berkata salah seorang cantrik yang

mengikutinya dibelakang, “di sanggar itu pula Empu menerima

tamunya”.

“Baiklah” sahut Mahisa Agni, yang segera pergi ke pintu sanggar.

Beberapa saat yang lampau, ketika ia mengunjungi pamannya, ia

sering juga melihat pamannya bekerja di sanggar itu.

Perlahan-lahan Mahisa Agni mengetuk pintu. Tetapi, tidak ada

jawaban.

“Apakah paman sudah tidur?” desisnya.

Sekali lagi ia mengetuk pintunya. Sekali lagi dan sekali lagi.

Namun sama sekali tidak terdengar jawaban.

Mahisa Agni menjadi heran. Seandainya Empu Gandring sudah

tidur sekalipun, ia pasti akan terbangun. Apalagi ketukan pada daun

pintu yang sedemikian kerasnya. Sedangkan desir langkahnya pun

pasti sudah didengarnya.

Karena itu, dadanya pun menjadi berdebar-debar. Ia mencoba

melihat ke dalam lewat lubang-lubang dinding, tetapi ia sama sekali

tidak dapat melihat sesuatu.

Dalam kegelisahan Mahisa Agni mengetuk sekali lagi. Lebih

keras. Tetapi, masih juga tidak terjawab.

“Paman telah masuk ke dalam” gumamnya. Namun tanpa

disadarinya tangannya mendorong pintu lereg itu ke samping.

Hatinya berdesir ketika ternyata bahwa pintu itu tidak dikancing.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Sanggar itu tampaknya

terlampau sepi. Perlahan-lahan Mahisa Agni naik ke tangga dan

melangkahi tlundak.

Tiba-tiba, serasa darahnya berhenti mengalir. Ia melihat Empu

Gandring duduk sambil menundukkan punggungnya seakan-akan

sedang mencium lututnya.

“Paman” hampir saja ia berteriak. Dengan sekali loncat Mahisa

Agni telah berjongkok di samping pamannya. Ketika dengan sertamerta

ia meraba tubuh pamannya, maka tubuh itu pun telah

membeku.

Sejenak Mahisa Agni serasa kehilangan nalar. Ia tidak mengerti

apa yang harus dilakukan, sehingga karena itu, Mahisa Agni masih

saja berjongkok di samping pamannya tanpa berbuat sesuatu.

Baru sejenak kemudian anak muda itu tersadar akan

keadaannya. Perlahan-lahan ia berdiri. Kemudian dipandanginya

setiap sudut sanggar itu. Matanya seolah-olah tanpa berkedip

mengamat-amati setiap benda yang ada di sekitarnya.

Tatapan matanya itu pun kemudian membentur kepingankepingan

paron yang tergolek di lantai. Dengan tegangnya

diamatinya kepingan itu sambil bergumam, “Apakah yang telah

memecahkan paron ini? Hanya senjata yang pilih tanding sajalah

yang dapat membelah bungkalan baja pilihan ini. Dan senjata yang

demikian itu tidak akan banyak jumlahnya”.

Nafas Mahisa Agni menjadi terengah-engah. Kembali ia

berjongkok di samping pamannya. Terlihatlah kini olehnya darah

yang sudah membeku di tikar di arah bawah dada pamannya. Darah

itu tidak begitu banyak sebagaimana luka-luka yang lazim

menembus dada.

“Senjata yang dahsyat. Pasti senjata ini pulalah yang telah

membelah paron itu. Senjata ini pasti senjata yang luar biasa.

Benar-benar luar biasa. Tetapi, juga senjata yang sangat

berbahaya”.

Debar jantung Mahisa Agni pun menjadi kian bertambah cepat.

Ia tiba-tiba meloncat ketika ia melihat sebilah keris terkapar di lantai

sanggar. Tatapi ia segera menjadi kecewa. Keris, itu pasti bukan

keris yang dipakai untuk menusuk dada Empu Gandring karena keris

itu sama sekali tidak membekas darah dan menurut pengamatan

Mahisa Agni, keris itu bukanlah keris yang dapat dibanggakan.

Apalagi untuk membelah paron di dalam sanggar keris Empu

Gandring.

Meskipun demikian keris itu disimpannya juga di dalam geledeg

Empu Gandring, “Mungkin suatu saat keris ini diperlukan”. Setelah

menyimpan keris itu, Mahisa Agni pun segera pergi keluar mencari

cantrik yang ditemuinya di regol halaman. Kemudian digandengnya

cantrik itu pergi ke sanggar Empu Gandring.

“Kenapa aku ini?” bertanya cantrik itu.

Mahisa Agni tidak menjawab. Dituntunnya cantrik itia menaiki

tangga sanggar kemudian melangkah masuk.

“Lihat, apa yang terjadi dengan Empu Gandring!”

Cantrik itu sejenak berdiri membeku, kemudian terpekik keraskeras,

“Empu, Empu. Empu Gandring”. Dan cantrik itu pun terduduk

dengan lemahnya di samping mayat Empu Gandring.

Mahisa Agni yang berdiri di sampingnya kemudian memegangi

pundaknya sambil bertanya, “Katakan, bagaimanakah ujud prajurit

itu menurut ingatanmu”.

Cantrik itu mencoba mengingat-ingat. Kemudian dengan suara

gemetar ia berkata, “Seorang yang bertubuh sedang, tampan dan

memakai pakaian seorang prajurit”.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ada lebih dari seratus

orang prajurit yang bertubuh sedang dan berwajah tampan.

Memang terlampau sukar untuk dapat memilih salah seorang dari

sekian banyak prajurit Tumapel.

Namun tiba-tiba Mahisa Agni bertanya, “Apakah ciri pakaiannya

yang paling kau ingat?”

Cantrik itu mengingat-ingat sebentar, kemudian jawabnya,

“Sebuah selempang tali yang berwarna kuning keemasan”.

“Pasukan pengawal” tanpa sesadarnya Mahisa Agni berdesis.

“Ya, pasukan pengawal istana. Demikian ia menyebut dirinya

sendiri”.

“Ia dapat menyebut dirinya dengan sebutan apapun. Tetapi,

pakaian itu telah mengatakan, bahwa ia sebenarnya dari pasukan

pengawal” geram Mahisa Agni.

Kalau saja ia tidak ingin menunggu ibunya datang dan memberi

keseimbangan apabila terjadi goncangan perasaan, maka Mahisa

Agni pasti sudah berpacu ke Tumapel. Demikian ia menyadari

keadaan pamannya, maka segera ia teringat pada derap kaki-kaki

kuda yang menjauh pada saat ia datang.

“Belum terlampau jauh” ia menggeram, “Tetapi, untuk

menyusulnya sudah tidak mungkin lagi. Yang dapat dilakukan

adalah mencarinya di seluruh bagian Tumapel. Di barak-barak dan

rumah-rumah prajurit Pengawal Istana”.

Namun, Mahisa Agni tidak dapat segera pergi. Ia tidak sampai

hati membiarkan ibunya sendiri menghadapi keadaan pamannya.

Karena itu, maka betapapun desakan di dalam dirinya untuk segera

berpacu ke Tumapel, terpaksa ditahankannya sampai keadaan

ibunya menjadi bertambah baik.

Karena itu, dengan gelisah Mahisa Agni menunggu ibunya di

dalam hirup pikuk para cantrik dan endang. Keluarga terdekat Empu

Gandring dan orang-orang yang bergaul setiap hari. Mereka

menyesal tiada taranya bahwa hal itu terjadi. Apalagi cantrik-cantrik

yang terdekat. Cantrik yang memegangi kuda Ken Arok merasa,

bahwa ialah orang yang paling bersalah. Kenapa ia tidak bertanya

siapakah nama tamu itu, dan kenapa dibiarkannya Empu Gandring

menemuinya seorang diri? Padahal kehadiran tamu yang tidak pada

waktunya itu sudah harus menumbuhkan kecurigaan padanya.

Tetapi, semua sudah terjadi. Mereka hanya dapat menyesal dan

menyalahkan diri sendiri.

Kehadiran sebuah pedati yang membawa ibu Mahisa Agni

menambah pedepokan Empu Gandring menjadi kian basah oleh air

mata. Seperti terperas dari pelupuk matanya, perempuan tua itu

menangis sejadi-jadinya. Sekian lama mereka berpisah, dan

kesempatan yang terakhir, perempuan tua itu hanya dapat melihat

mayatnya yang telah terbujur tidak bergerak.

Padepokan Lulumbang benar-benar sedang disaput oleh

kepedihan.

Ketika orang-orang Lulumbang sudah dapat mengatur perasaan

mereka dan jenazah Empu Gandring telah mulai dibersihkan, untuk

diselenggarakan sebagaimana seharusnya, maka Mahisa Agni tidak

dapat menahan diri lagi. Setelah minta diri kepada ibunya, dan

menyerahkan perempuan tua itu kepada dua orang prajurit yang

bertugas mengantarkannya, maka Mahisa Agni pun segera berpacu

ke Tumapel tanpa menunggu pagi.

Dalam remang-remang cahaya kemerahan fajar, Mahisa Agni

dengan dada yang berdebar-debar berusaha untuk secepatcepatnya

sampai ke Tumapel. Apapun yang akan dihadapinya tidak

dihiraukannya. Bahkan dipunggungnya pun telah terselip sebilah

keris yang diambilnya dari sekian banyak perbendaharaan keris

pamannya. Dan keris itu adalah keris yang sering dipakai langsung

oleh pamannya sendiri, sebilah keris yang besar yang bersilang di

punggungnya.

Terasa oleh Mahisa Agni, betapa kudanya berlari terlampau

lambat, seolah-olah sengaja bermalas-malasan, sehingga berkali-kali

Mahisa terpaksa mencambuknya. Namun bagaimanapun juga ia

berusaha, kecepatan lari kudanya itu pun sangat terbatas.

Tetapi, betapapun lambatnya, namun Tumapel semakin lama

menjadi semakin dekat. Sehingga dada Mahisa Agni pun menjadi

semakin berdebar-debar. Ia hanya berhenti beberapa kali untuk

memberi kesempatan kudanya minum air dan beristirahat sejenak.

Tetapi, ia sendiri sama sekali tidak bernafsu untuk makan dan

minum. Yang menyesak di dadanya hanyalah kemungkinankemungkinan,

untuk dapat menemukan orang yang membunuh

pamannya.

“Paman pasti dibunuh dengan cara yang paling curang Agaknya

paman sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk membela diri.

Betapapun saktinya seseorang, tetapi paman Empu Gandring adalah

seorang yang pilih tanding. Seandainya beberapa orang sekaligus

datang kepadanya, tidak mungkin mereka dapat membunuh paman

dengan begitu mudahnya apabila paman memang menyadari bahwa

ia sedang diancam bahaya”.

Karena itulah, maka kemarahan di dada Mahisa Agni menjadi

semakin mendidih. Seandainya pamannya terbunuh dalam perang

tanding yang jujur, ia tidak akan berbuat apapun juga. Tetapi, yang

dijumpainya adalah lain. Pamannya dibunuh dengan cara yang

sangat licik.

Beberapa saat setelah matahari melampaui puncak langit, Mahisa

Agni telah memasuki telatah kota Tumapel. Sejenak ia menjadi

ragu-ragu, namun kemudian dengan bulat ia bertekad untuk

menemui pemimpin tertinggi pasukan pengawal istana. Witantra.

Witantra yang saat itu ada dirumahnya menjadi terkejut bukan

buatan melihat kehadiran Mahisa Agni yang agaknya begitu tergesagesa.

Karena itu, setelah mereka duduk di atas sehelai tikar,

Witantra segera bertanya, “Aku melihat sesuatu yang tidak wajar

telah terjadi. Benarkah?”

“Ya” sahut Agni, “Paman Empu Gandring terbunuh?”

“He?” Witantra pun terkejut mendengarnya, dan bahkan hampir

ia tidak percaya, “benarkah begitu?”

“Aku baru datang dari padepokannya” jawab Mahisa Agni.

Sejenak Witantra terdiam. Tetapi, terjadilah pergolakan yang

dahsyat di dalam dirinya. Meskipun Empu Gandring tinggal jauh dari

Tumapel, namun persoalannya agaknya memang bersangkut-maut

dengan kekisruhan yang dilihatnya di istana Tumapel kini.

“Apakah kau tahu siapa yang membunuhnya?” bertanya Witantra

kemudian.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dengan ragu-ragu ia

menjawab, “Aku tidak mengetahui dengan pasti. Tetapi, para cantrik

yang melihatnya, dapat menyebutkan orang yang baru saja datang

ke padepokan itu sesaat sebelum Empu Gandring terbunuh. Ketika

orang itu pergi, maka Empu Gandring terdapat telah tebunuh di

dalam sanggarnya”.

“Siapa?”

“Seorang prajurit Tumapel”.

“Hanya begitu?”

“Prajurit itu memakai ciri khusus. Sebuah selempang tali yang

berwarna kuning keemasan”.

“He” mata Witantra terbelalak, “Pengawal istana”.

“Begitulah menurut para cantrik yang melihatnya”.

Witantra merenung sejenak. Pergolakan di dalam dadanya

menjadi semakin ribut. Kalau yang terbunuh itu bukan seorang

Empu Gandring, maka persoalannya tidak akan begitu berat

baginya. Tetapi, kali ini yang terbunuh adalah seorang Empu yang

tidak ada duanya di Tumapel.

“Kalau benar penglihatan cantrik itu, siapakah diantara praiurit

pengawal yang mampu membunuh Empu Gandring?” berkata

Witantra.

“Paman Empu Gandring dibunuh dengan curang. Paman sama

sekali tidak mendapat kesempatan untuk melawan, bahkan paman

pasti sama sekali tidak menaruh kecurigaan apapun” lalu

diceriterakannya keadaan pamannya seperti saat diketemukannya di

dalam sanggar itu.

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya” desisnya,

“Apabila demikian, maka pembunuhan itu adalah pembunuhan yang

sudah direncanakan sebelumnya dengan teliti”.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “Di dalam

sanggar itu aku menemukah sebilah keris. Tetapi, keris itu sama

sekali tidak mempunyai cirri-ciri yang menarik. Keris itu adalah keris

kebanyakan”.

“Apakah keris itu juga yang dipergunakannya”.

“Tentu bukan. Keris itu sama sekali tidak membekas darah”.

“Pembunuhan yang keji dan curang”. Lalu Witantra menggeram,

“Aku akan mencari diantaran para pengawal, siapakah yang baru

saja meninggalkan Tumapel”.

Mahisa Agni menatap wajah Witantra sejenak. Kemudian

katanya, “Aku mengucapkan terima kasih, kalau kau bersedia

menolong aku membantu mencari pembunuh itu”.

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya, “Aku memang

berkepentingan. Tumapel sendiri memang sedang dihangatkan oleh

keadaan yang belum diketahui ujung pangkalnya. Namun tiba-tiba

saja semuanya telah berubah”.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Katanya, “Apakah

persoalan yang kita hadapi ini memang bersangkut paut?”

“Mungkin” jawab Witantra, “Sekarang, tinggallah disini. Aku akan

mencari siapakah orang itu, selagi belum terlampau kasip”.

“Terima kasih. Mudah-mudahan kau berhasil”. Witantra pun

segera pergi meninggalkan rumahnya untuk mencoba menemukan

seorang prajuritnya yang baru saja datang ke Lulumbang.

Seandainya tidak seorang pun yang akan mengaku telah pergi ke

padepokan Empu Gandring, maka diantara sekian banyak

prajuritnya, ia harus memisahkan, siapakah yang semalam tidak ada

di rumah atau di dalam baraknya.

Sepeninggal Witantra, Mahisa Agni duduk merenung seorang diri.

Isteri Witantra mengawaninya sejenak, namun kemudian

ditinggalkannya Mahisa Agni duduk di pendapa rumahnya.

Ketika Mahisa Agni sedang asyik merenung, tiba-tiba ia terkejut

ketika terdengar suara seorang perempuan yang lembut dari balik

pintu, “Kenapa kau ributkan kematian Empu Gandring itu?”

Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Dilihatnya seorang gadis

muncul dari balik pintu dan bersandar pada sisi pintu itu.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Gadis itu adalah Ken

Umang.

“Kenapa, Mahisa Agni?” bertanya Ken Umang itu pula. Kini ia

tidak lagi berdiri bersandar sisi pintu, tetapi ia melangkah mendekat,

lalu duduk di samping anak muda itu.

Mahisa Agni bergeser setapak tanpa dikehendakinya sendiri. Dan

tiba-tiba saja ia terkejut ketika ia mendengar Ken Umang tertawa,

“Kenapa kau takut duduk di dekat seorang gadis, he?” suara

tertawanya mengeras, “Memang anak-anak padesan terlampau

tebal dicengkam oleh perasaannya”.

Mahisa Agni tidak menjawab.

“Tetapi, berbeda dengan perempuan yang kini menjadi

Permaisuri itu. He, bukankah ia adikmu? Perempuan itu sama sekali

tidak usah malu-malu untuk langsung tinggal di istana” berkata

gadis itu seterusnya.

Dada Mahisa Agni berdesir, tetapi ia tidak menyahut.

“Seharusnya kau tinggal di kota Tumapel, Agni” berkata Ken

Umang selanjutnya, “Kau tidak pantas untuk seterusnya tinggal di

Padang Karautan. Aku kira kau akan lebih menarik apabila kau

mengenakan pakaian seorang prajurit._Apalagi seorang pengawal

seperti kakang Witantra. Kau akan menjadi seorang anak muda

yang gagah. Dan kau akan digilai oleh gadis-gadis di seluruh

Tumapel”, suara tertawa Ken Umang meninggi, sehingga tiba-tiba

tubuh Mahisa Agni menjadi meremang, seolah-olah ia mendengar

suara hantu betina yang menemukan mangsanya.

Dengan demikian maka Mahisa Agni itu pun seakan-akan justru

terbungkam. Yang diharapkannya adalah agar Witantra segera

pulang, berhasil atau tidak berhasil. Apabila ia terlampau lama

duduk berdua saja dengan Ken Umang, maka ia akan kehilangan

keseimbangan, sehingga mungkin ia akan berbuat atau berkata

sesuatu yang dapat menyakitkan hati gadis itu.

“Kau terlampau pendiam Agni” berkata Ken Umang seterusnya,

“Jawablah, bagaimana pendapatku? Kau tinggal saja di Tumapel.

Kakang Witantra akan dapat menolongmu, sehingga dengan mudah

kau akan diterima menjadi seorang prajurit”.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia tetap mencoba untuk

tidak menyakiti hati gadis itu. Sebab, menurut penilaiannya, Ken

Umang akan dapat berbuat apa saja apabila hatinya terluka. Ia akan

dapat menjadi sangat marah dan bahkan mungkin dapat

mengatakan hitam menjadi putih dan putih menjadi hitam. Karena

itu, sekuat-kuat hatinya, ia berusaha untuk tidak melukai hati gadis

itu.

“Bagaimana Agni? Apakah kau setuju?”

“Aku belum dapat menjawab Ken Umang. Sampai saat ini Padang

Karautan masih sangat memerlukan aku. Apalagi aku sama sekali

tidak berkepandaian apapun selain memelihara sawah dan ladang.

Untuk menjadi seorang prajurit, aku harus mampu olah senjata atau

mempunyai kecakapan khusus yang lain. Dan itu sama sekali tidak

aku miliki”.

“Bohong” Ken Umang memotong, “Kakang Witantra sering

menyebut-nyebut namamu. Namun seandainya benar-benar kau

tidak memiliki kemampuan khusus, biarlah kakang Witantra

mengajarimu. Kemudian kau diterima menjadi seorang prajurit

pengawal”. Ken Umang berhenti sejenak, lalu, “Kau tidak usah

bingung, dimana kau akan bertempat tinggal. Kau dapat tinggal saja

di rumah ini. Setuju? Akulah yang akan mengatakannya kepada

kakang Witantra”.

“Entahlah untuk lain kali Ken Umang, tetapi sekarang aku belum

mempunyai keputusan begitu”.

Suara tertawa Ken Umang menggeletar lagi. Semakin meninggi.

Katanya, “Memang anak-anak padesan sering merasa terlampau

rendah diri. Tetapi, sebenarnya kau tidak perlu merasa sedemikian

tidak berharga”.

“Aku sekarang sedang dibingungkan oleh kematian pamanku”

desah Mahisa Agni kemudian.

“Kenapa mesti dirisaukan? Aku mendengar ceriteramu tentang

Empu Gandring. Biarlah yang mati sudah terlanjur mati. Tetapi,

hiruk pikuk dunia ini tidak akan berhenti karenanya. Tumapel akan

berkembang terus, dengan atau tidak dengan seorang penghuni

yang bernama Empu Gandring. Dan kau harus menyesuaikan dirimu

dengan arus perputaran jaman. Jangan berhenti karena pamanmu

meninggal dunia”.

“Kau benar Ken Umang. Tetapi, aku yang tidak dapat membuat

arak di dalam diriku sendiri, tidak semudah itu untuk melakukannya.

Aku dapat menasehatkannya kepada orang lain, seperti pada saat

tetangga kematian orang tuanya. Tetapi, untuk melakukannya

sendiri, agaknya terlampau sulit”.

Suara tertawa Ken Umang tiba-tiba saja meledak tidak

tertahankan, diantara derai tertawanya ia berkata, “Oh, kau adalah

searang perasa. Melampaui lembutnya perasaan seorang gadis. Kau

memang tidak pantas untuk menjadi seorang prajurit. Tetapi, kau

dapat mencari jabatan yang sesuai dengan sifat dan kebiasaanmu

itu”.

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Ia telah benar-benar

dicengkam oleh kejemuan. Tetapi, ia tidak berdaya untuk mengusir

gadis itu.

Namun tiba-tiba Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia

mendengar suara Nyai Witantra memanggil adiknya, “Dimana kau

Umang?”. Ken Umang mengangkat wajahnya, kemudian desisnya,

“Aku telah dipanggil. Jangan pergi dahulu sebelum kakang Witantra

kembali. Aku akan segera mengawani kau lagi”.

Mahisa Agni tidak menjawab. Dipandanginya saja gadis itu

kemudian berdiri dan berjalan meninggalkannya menyusup ke balik

pintu.

Sepeninggal Ken Umang, kembali Mahisa Agni merenung.

Dengan gelisah ia menunggu kedatangan Witantra yang berusaha

untuk membantunya mencari seorang prajurit pengawal jang datang

ke Lulumbang semalam.

Dengan cepat Witantra berhasil mengumpulkan para perwira di

dalam lingkungannya, yang sebagian besar melihat perkembangan

Tumapel dengan cemasnya. Ketika mereka mendengar berita

kematian Empu Gandring dan cara yang dilakukan oleh

pembunuhnya, mereka menarik nafas dalam-dalam.

“Aku harus segera mendapat laporan” berkata Witantra, “Semua

prajurit pengawal harus dilihat, apakah mereka pada saat terakhir

tidak ada di Tumapel. Setiap orang yang meragukan, harus segera

dibawa kepadaku”.

Para perwira itu pun segera bertindak ke dalam lingkungan

masing-masing. Prajurit pengawal istana memang tidak terlampau

banyak, sehingga penyelidikan itu dapat dilakukan dengan saksama.

Setiap perwira telah .menyebarkan bawahannya di dalam

lingkungannya untuk menghubungi langsung setiap prajurit tanpa

ada kecualinya. Merekapun harus melaporkan apabila mereka

melihat salah seorang kawan mereka yang baru saja kembali dari

perjalanan kemana pun.

Sambil menunggu laporan Witantra pun kemudian kembali ke

rumahnya. Kepada para perwiranya ia berpesan, agar hal ini untuk

sementara harus dirahasiakannya.

Dengan berdebar-debar Mahisa Agni menunggu keterangan

terakhir dari usaha itu di rumah Witantra. Meskipun mereka

mencoba untuk mengisi waktu mereka, namun terasa betapa

lamanya meeka harus menunggu.

Waktu serasa berjalan begitu lambat, meskipun mereka telah

berusaha untuk melupakannya.

Namun akhirnya, seorang demi seorang, para perwira itu pun

datang ke rumah Witantra. Tetapi, tidak seorang pun dari mereka

yang dapat berkata dengan pasti, “Aku telah menemukan

orangnya”.

Hampir semuanya mengatakan kepada Witantra bahwa tidak

seorang pun yang diketemukan baru saja datang dari Lulumbang.

Bahkan tidak seorang pun yang baru saja datang dari mana saja.

Ketika seorang perwira melaporkan bahwa dua orang prajuritnya

baru saja datang dari sebuah perjalanan. Mahisa Agni tergeser

maju. Tetapi, perwira itu kemudian melanjutkan, “Namun kedua

orang itu masing-masing mempunyai saksi bahwa mereka berada di

rumah orang tua masing-masing yang jauh dari Lulumbang pada

saat-saat yang menentukan itu”.

“Dan menurut pengamatan saja, keduanya tidak akan

mempunyai kepentingan apapun dengan Empu Gandring, “berkata

perwira itu.

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Mahisa Agni

yang kecewa. Katanya, “Agni, aku kira, memang tidak seorang pun

dari prajuritku yang akan berbuat demikian. Aku yakin”.

“Tetapi, para cantrik itu, pasti bahwa yang membunuh Empu

Gandring adalah seorang prajurit yang memakai selempang kuning

keemasan”.

(bersambungke jilid-48)

 

Jilid 48

WITANTRA mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,

“Baiklah. Aku tidak akan ingkar. Kalau benar katamu, itu adalah

tanggung jawabku. Untuk seterusnya, sampai pembunuhnya itu

diketemukan, aku akan selalu berusaha. Bahkan apabila perlu, kau

dapat membawa cantrik itu kemari, untuk melihat sendiri, siapakah

orang yang dicurigainya. Aku atau perwira-perwira yang aku

percaya akan membawanya berkunjung ke setiap orang, terutama

yang pantas dicurigai. Apabila pada suatu saat ia bertemu dengan

orangnya, maka ia akan segera mengenalnya”.

“Terima kasih Witantra”.

“Untuk sementara, aku kira lebih baik kau tinggal di Tumapel.

Aku akan mengadakan penyelidikan terus-menerus. Mudahmudahan

aku dapat membantumu dalam waktu yang singkat. Aku

harus segera membersihkan nama baik pasukanku. Kalau benar aku

dapat menemukan di dalam lingkunganku, maka ia harus menerima

hukuman yang seberat-beratnya”.

Mahisa Agni menjadi ragu-ragu. Sebenarnya ia senang sekali

mendapat tawaran Witantra untuk tinggal di Tumapel. Tetapi

apabila sekilas terbayang wajah adik ipar Witantra itu, terasa bulubulu

tengkuk Mahisa Agni meremang.

“Bagaimana Agni? Apakah kau bersedia? Pada suatu saat aku

mungkin akan memerlukanmu untuk menghubungi cantrik yang

melihat sendiri wajah prajurit itu”.

Mahisa Agni tidak segera menyahut, ia berdiri di antara dua

masalah yang sama-sama berat baginya, ia memang ingin tinggal di

Tumapel untuk sementara. Dengan demikian, ia akan ikut

membantu menemukan pembunuh pamannya. Tetapi rumah itu

serasa didiami oleh sesosok hantu betina.

”Bagaimana?” desak Witantra.

Namun bagaimanapun juga akhirnya Mahisa Agni

menganggukkan kepalanya. Ia menganggap kematian pamannya

adalah masalah yang penting yang harus dapat dipecahkannya.

Apabila ternyata ia tidak dapat tinggal di rumah Witantra, ia akan

mencari tempat yang lain, yang mungkin dapat ditempatinya untuk

sementara.

Dalam pada itu, tiba-tiba sekilas meloncat di dalam anganangannya

seorang yang bernama Ken Arok. Seorang yang pernah

dikenalnya dengan baik, yang menurut pendengarannya, telah

membantunya dan membantu pamannya pada saat-saat ia berada

di dalam kekuasaan Kebo Sindet. Bahkan Ken Arok saat itu tidak

memperhitungkan keselamatannya sendiri.

“Tetapi anak muda itu tidak tinggal di rumahnya. Ia tinggal di

dalam barak. Sudah tentu aku tidak dapat tinggal bersamanya”

katanya di dalam hati.

“Nah, apabila demikian” terdengar suara Witantra, ”Kau akan

tinggal di gandok kanan. Setiap saat kau dapat keluar dan

memasukinya tanpa terganggu, karena gandok kanan mempunyai

pintu masuk ke dalam bilik-biliknya tersendiri”.

“Terima kasih Witantra” sahut Mahisa Agni. Witantra kemudian

membawa Mahisa Agni ke dalam bilik yang diperuntukkannya.

Tetapi begitu Witantra meninggalkannya di dalam bilik itu, hatinya

menjadi berdebar-debar. Dimuka pintu bilik itu berdiri seorang gadis

sambil tersenyum, “Bukankah kakang Witantra cukup baik

terhadapmu?”

“Mudah-mudahan kau kerasan tinggal di sini”.

“Mudah-mudahan”.

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya, “Ya, aku sangat

berterima kasih”.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam ketika ia mendengar

suara tertawa gadis itu menjauh. Kemudian, hilang perlahan-lahan.

Atas persetujuan Witantra, Mahisa Agni pada suatu kesempatan

telah pergi menemui Ken Arok di baraknya. Dengan penuh harapan

Mahisa Agni ingin menyampaikan persoalannya kepada anak muda

yang baik itu. Ia yakin, bahwa Ken Arok pasti tidak akan

berkeberatan untuk membantunya.

Ternyata kedatangan Mahisa Agni telah sangat mengejutkan

anak muda itu, sehingga sejenak ia berdiri dengan tegangnya

seperti melihat hantu yang sangat menakutkan.

“Apakah kedatanganku terasa aneh bagimu Ken Arok?” bertanya

Mahisa Agni tanpa prasangka apapun.

“Tidak, tidak” Ken Arok tergagap, “Aku senang sekali mendapat

kunjunganmu. Apakah kau baru saja datang dari Karautan atau

Panawijen lama?”

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya, “Tidak Ken Arok. Aku

baru saja datang dari Lulumbang”.

Terasa darah Ken Arok berguncang di dalam jantungnya. Sejenak

ia membeku di tempatnya. Namun sejenak kemudian terasa

dadanya menjadi seakan-akan pepat. Berbagai prasangka telah

timbul di dalam hatinya. Hampir saja ia kehilangan pengamatan diri

dan berbuat sesuatu di luar sadarnya. Untunglah bahwa ia masih

berhasil mengekang dirinya. Ia masih berhasil menahan hati,

seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu dengan dirinya, betapapun

berat tekanan di dadanya.

Bahkan kemudian Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya.

Dengan tenangnya ia bertanya, “Apakah kau baru mengunjungi

pamanmu? Dan apakah Empu Gandring baik-baik saja?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia berdesah,

“Pamanku bernasib kurang baik”.

“Kenapa?” Ken Arok tampak terkejut.

“Pamanku telah mati terbunuh”.

“He” Ken Arok menjadi tegang sejenak. Namun dadanya menjadi

semakin lapang. Dengan demikian, jelas baginya bahwa Mahisa Agni

sama sekali tidak menaruh prasangka apapun terhadapnya.

“Aku datang kerumahnya di malam hari, tetapi aku tinggal

menemukan mayatnya di dalam sanggarnya”.

“Aneh” jawab Ken Arok, “Empu Gandring adalah seorang yang

pilih tanding dalam olah kanuragan”.

“Ya, tetapi ia sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk

melawan”.

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Sementara Mahisa

Agni menceriterakan apa yang dilihatnya.

“Pengecut” Ken Arok menggeram, “Apakah pamrih orang itu

dengan membunuh Empu Gandring?”

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu. Dan

tidak seorang pun yang tahu”.

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Gumamnya,

“Apakah tidak ada ciri-ciri yang dapat menunjukkan siapakah

pembunuh itu?”

“Ada” sahut Mahisa Agni, “Seorang prajurit dengan selempang

tali berwarna kuning keemasan”.

“Prajurit pengawal istana” ia berseru.

“Ya, pengawal istana”.

“Apakah kau sudah bertemu dengan Witantra?”

“Aku tinggal di rumahnya, sementara aku mencari siapakah

pembunuh pamanku itu. Witantra sedang menyelidiki semua anak

buahnya. Mudah-mudahan akan segera diketemukan”.

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya,

“Aku akan membantumu Mahisa Agni. Aku akan berusaha untulk

ikut mencari siapakah orangnya di dalam lingkungan prajurit

pengawal. Meskipun aku bukan dari lingkungan itu, tetapi karena

aku seorang pelayan dalam, maka tugas-tugasku hampir bersamaan

dengan para pengawal. Dengan demikian aku banyak mengenal

mereka bahkan seperti lingkungan sendiri. Dengan tidak langsung

aku akan berusaha menemukan orang-orang yang pada saat

terbunuhnya Empu Gandring tidak berada di tempatnya”.

“Terima kasih Ken Arok. Aku memang mengharapkan bantuanmu

dan bantuan segala pihak. Mudah-mudahan segera berhasil”.

“Baiklah. Tetapi, sampai kapan kau berada di Tumapel?”

“Aku tidak tahu”.

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dengan

sungguh-sungguh ia berkata, “Tetapi hati-hatilah Mahisa Agni.

Agaknya pembunuhan itu telah direncanakan untuk maksud

tertentu. Kehadiranmu di sini pasti akan menjadi perhatian prajurit

itu”.

“Aku sudah memperhitungkan” jawab Mahisa Agni, “Tetapi aku

tidak mempunyai jalan lain”.

“Sebenarnya kau tidak perlu berada di Tumapel. Kau dapat

kembali ke Karautan atau ke Lulumbang. Serahkan persoalanmu di

sini kepadaku dan kepada Witantra. Setiap saat aku atau Witantra

akan menghubungimu di mana kau tinggal”.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia

menjawab, “Sementara aku akan tinggal di Tumapel. Tetapi sudah

tentu tidak terlampau lama, karena pekerjaanku sendiri. Apabila

orang itu masih belum dapat kita ketemukan, maka pada suatu saat

aku harus meninggalkan kota ini. Aku berterima kasih sebelumnya

kepadamu dan kepada Witantra atas semua bantuan yang akan

kalian berikan kepadaku”.

“Itu sudah menjadi kuwajibanku. Juga menjadi kuwajiban

Witantra. Ia harus bertanggung jawab atas orang-orangnya,

meskipun seandainya orang itu masih mempunyai sangkut paut

dengannya”.

“Ya, Witantra memang tidak ingkar”.

“Aku percaya. Bukan watak Witantra untuk mengingkari

tanggung jawabnya. Tetapi, aku pesan kepadamu Agni. Sungguh.

Agar kau berhati-hati. Pembunuh pamanmu adalah seorang yang

kejam dan yang paling berbahaya, ia seorang yang licik”.

“Aku menyadari. Karena itu aku akan tetap berhati-hati. Dan atas

perhitungan semacam itu pulalah, aku mempersiapkan diriku sebaikbaiknya.

Aku membawa senjata paman yang paling terpercaya.

Mungkin sewaktu-waktu berguna bagiku”.

Dada Ken Arok berdesir mendengar keterangan itu. Senjata

Empu Gandring yang terpercaya. Senjata itu pasti senjata yang

paling baik yang pernah dibuatnya, karena senjata itu

dipergunakannya sendiri. Ia tidak akan membuat senjata yang lain

yang akan melampaui senjatanya sendiri.

Sejenak kemudian, maka Mahisa Agni pun segera minta diri

untuk segera kembali ke rumah Witantra. Setelah sekali lagi ia

mengucapkan terima kasih, maka ia pun meninggalkan barak anak

muda anggauta pelayan dalam Istana Tumapel itu.

Ken Arok yang masih berdiri di regol halaman memandangi

Mahisa Agni sampai hilang di tikungan. Namun sesaat kemudian ia

menggeretakkan giginya, “Kenapa kau ikut campur persoalan

pamanmu Agni. Dengan demikian, maka kau pun harus

dimusnahkan. Sayang, kau masih terlampau muda untuk mati.

Tetapi apa boleh buat”.

Ken Arok menghentakkan kakinya. Kemudian menggeram. Ia

merasa sangat terganggu atas kehadiran Mahisa Agni di Tumapel.

Ia pasti akan bekerja sama dengan Witantra, dan apalagi apabila

Mahisa Agni kemudian berhubungan dengan Ken Dedes. Mungkin

Permaisuri itu tidak akan dapat menahan hatinya untuk mengatakan

rahasianya kepada kakaknya, satu-satunya keluarganya. Apabila

demikian, maka Mahisa Agni pasti akan mencari hubungan atas

segala peristiwa yang telah terjadi. Kepergiannya, sikap dan tindak

tanduknya, pasti akan dapat mengarahkan kecurigaan Mahisa Agni

dan Witantra.

“Adalah salahmu sendiri anak yang malang, apabila suatu ketika

mayatnya terkapar di tengah jalan di kota Tumapel tanpa ada

seorang pun yang mengetahui sebab-sebabnya” gumam Ken Arok

kepada diri sendiri.

Sejenak kemudian Ken Arok pun segera masuk ke dalam biliknya.

Dijatuhkannya dirinya di pembaringannya sambil mereka-reka

apakah yang seharusnya dilakukan.

Dihari-hari berikutnya, selama Mahisa Agni masih berada di

Tumapel, ia selalu menghubungi Witantra dan Ken Arok dalam

segala tindakannya. Sehingga kedua orang itu jelas mengetahui,

apakah yang sedang dilakukan oleh Mahisa Agni pada suatu saat.

“Aku sama sekali belum dapat mengatakan tentang kemungkinan

untuk menemukan pembunuh itu” berkata Witantra pada suatu

ketika.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, “Pada

suatu ketika, kita harus melihat keluar lingkungan pasukan

pengawal. Siapa saja yang pada saat-saat itu tidak berada di

Tumapel dan di rumah masing-masing”.

Tetapi Witantra menggeleng, “Tidak mungkin Agni. Terlampau,

banyak orang yang harus dihubungi. Dan waktu pun sudah

melangkah semakin jauh dari peristiwa itu”.

Mahisa Agni menyadarinya, tetapi ia masih belum berputus asa.

Katanya kemudian, “Aku akan minta tolong kepada Ken Arok, untuk

melakukan penyelidikan di luar lingkungan Pengawal Istana”.

“Memang hal itu dapat diusahakan. Tetapi hasilnya sangat kecil

untuk diharapkan. Meskipun demikian, aku akan membantumu

mengusahakannya”.

“Terima kasih”.

Dengan demikian Mahisa Agni masih akan tinggal beberapa hari

lagi di Tumapel. Ia masih belum puas dan masih merasa belum

selesai, apabila ia harus meninggalkan kota pada saat itu. Karena

itu, maka ia masih tetap berusaha untuk berbuat sesuatu.

Dalam kepepatan hati, kadang-kadang Mahisa Agni berjalan saja

tanpa tujuan di malam hari di sepanjang jalan Tumapel. Kadangkadang

sendiri dan kadang-kadang bersama Witantra. Bahkan

kadang-kadang juga di siang hari. Menyusuri jalan tanpa tujuan.

Kadang-kadang ia singgah di barak Ken Arok untuk berbicara

tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi. Tetapi

Mahisa Agni tidak pernah mendapatkan petunjuk yang dapat

memberinya jalan terang.

“Kita akan berusaha terus Agni” berkata Ken Arok, “Tetapi

sampai kapan, dan sampai sejauh mana, aku tidak dapat

mengatakan. Karena itu, apa tidak lebih baik bagimu untuk

menyerahkan persoalan ini kepada Witantra. Aku akan embantunya

sekuat-kuat tenagaku”.

Mahisa Agni yang merasa sudah terlampau lama tinggal di

Tumapel mengerutkan keningnya.

“Aku akan mempertimbangkannya” jawabnya.

Sepeninggal Mahisa Agni, Ken Arok menjadi gelisah. Tiba-tiba ia

mengenakan pakaian seorang prajurit. Dibawah kainnya

disembunyikannya sebuah tali berwarna kuning keemasan.

Kemudian dengan diam-diam ia meninggalkan baraknya, melalui

pintu butulan lewat saat matahari terbenam.

Sementara itu Mahisa Agni berjalan sambil merenung, menyusuri

jalan yang telah menjadi semakin sepi, karena malam menjadi

semakin dalam. Tetapi Mahisa Agni sama sekali tidak

menghiraukannya. Hanya sekali-kali dikerlingnya lampu-lampu yang

dipasang di regol-regol halaman, dan di sudut-sudut simpang jalan.

Tetapi tidak ada yang menarik perhatiannya. Karena itu, maka ia

berjalan saja dengan kepala menunduk.

Sementara itu sapasang mata yang jalang, selalu mengawasinya.

Diikutinya saja langkah anak muda itu dengan hati-hati. Dengan

kemampuan yang tinggi, orang itu mengikuti langkah Mahisa Agni

pada jarak yang tidak terlampau jauh.

Namun ternyata Mahisa Agni memiliki ketajaman indera di luar

dugaan orang yang mengikutinya. Orang itu sama sekali tidak tahu,

bahwa justru di dalam tangan Kebo Sindet, Mahisa Agni telah

menemukan inti dari ilmunya, bahkan bergabung dengan ilmu yang

didapatinya dari Empu Sada dan kekerasan jasmaniah yang

disadapnya dari tata gerak Kebo Sindet.

Dengan demikian, maka ketajaman inderanya yang terlatih itu

segera mengetahui, bahwa seseorang telah mengikutinya. Desir

dedaunan, gemerisik rumput-rumput kering tersentuh kaki, telah

menyentuh telinganya.

Tetapi Mahisa Agni tidak segera memberikan tanggapan.

Meskipun dadanya menjadi berdebar-debar, namun ia tidak

merubah sikapnya. Bahkan ia mengharap, mudah-mudahan terjadi

sesuatu, ia pasti bahwa yang akan terjadi itu ada hubungannya

dengan kehadirannya di Tumapel seperti yang dikatakan oleh Keri

Arok.

Langkah Mahisa Agni pun semakin lama menjadi semakin

mendekati rumah Witantra. Sebelum sampai ke rumah itu, ia akan

melewat suatu halaman yang masih belum digarap, meskipun sudah

dipagari.

“Aku harus berhati-hati” desisnya, “Mungkin orang itu akan

berbuat sesuatu, apabila aku lewat di dekat halaman yang masih

kosong itu. Ia pasti menghindari agar tidak seorang pun yang akan

ikut campur dalam persoalan ini”.

Dengan demikian maka Mahisa Agni pun menjadi semakin

berhati-hati. Dipasangnya pendengarannya baik-baik untuk

mengetahui, apakah desir lembut yang didengarnya itu masih saja

mengikutinya.

Sejenak Mahisa Agni sempat memandang bintang-bintang yang

bergayutan di langit. Selembar mega yang putih hanyut dibawa oleh

arus angin ke Utara.

Sejenak kemudian dadanya berdesir. Gemersik di pinggir

halaman menjadi semakin jelas baginya. Dan apalagi ketika ia telah

sampai di depan halaman yang masih kosong itu.

Ternyata bayangan yang mengikuti Mahisa Agni itu un telah siap

untuk menerkam korbannya. Agaknya ia tidak akan bekerja

tanggung-tanggung. Ditangannya telah tergenggam sehelai keris

yang luar biasa, yang seakan-akan bercahaya kebiru-biruan di

dalam gelapnya malam. Namun diantara cahayanya yang biru itu

terdapat beberapa bintik warna kekuning-kuningan.

Dengan susah payah orang itu menahan nafasnya. Ia memang

menunggu Mahisa Agni sampai di depan halaman kosong itu,

supaya apabila timbul beberapa keributan, suaranya tidak segera

didengar oleh rumah di sebelah jalan.

“Aku harus membunuhnya pada tikaman yang pertama” desis

bayangan itu di dalam hatinya. Karena itu, maka ia berusaha untuk

semakin dekat dengan Mahisa Agni, “Ia tidak boleh mendapat

kesempatan untuk melawan”.

Ketika saat yang ditunggunya itu tiba, maka dengan serta-merta

sosok tubuh yang mengikuti Mahisa Agni itu pun meloncat dari

dalam kegelapan. Demikian cepatnya, seakan-akan meluncur dari

langit yang kehitam-hitaman. Sebelah tangannya mengembang,

sedang tangannya yang lain, siap menghujamkan senjatanya ke

dada Mahisa Agni.

Namun agaknya Mahisa Agni pun telah menunggu saat itu pula.

Ia mengerti dan menyadari sepenuhnya apa yang akan terjadi.

Karena itu, maka ia tidak terkejut ketika ia mendengar desir

loncatan seseorang menerkamnya.

Mahisa Agni ternyata tidak kalah tangkasnya dari bayangan yang

menerkamnya itu. Sebagai seorang anak muda yang menyimpan

ilmu yang matang, maka Mahisa Agni sama sekali tidak menjadi

bingung. Dengan sigapnya ia meloncat sambil merendahkan dirinya,

sehingga tangan bayangan yang mengembang itu tidak sempat

menyentuhnya. Namun dengan demikian, maka tiba-tiba tangannya

yang lain terayun deras sekali, dalam usahanya menyentuh Mahisa

Agni dengan senjatanya yang mengerikan itu.

Sekali lagi Mahisa Agni harus bergeser. Kali inipun ia berhasil

menghindari sambaran senjata itu. Namun ketika senjata itu

meluncur beberapa cengkang dari kulitnya, hatinya berdesir tajam.

Terasa udara yang panas menyambarnya, dan dilihatnya cahaya

kebiru-biruan di dalam gelapnya malam. Dan dilihatnya pula, bintikbintik

yang kekuning-kuningan itu.

“Bukan main” ia berdesis, “Senjata ini bukan senjata kebanyakan.

Senjata ini adalah senjata yang luar biasa. Pasti buatan seorang

Empu yang nggegirisi”.

Dan Mahisa Agni seterusnya tidak sempat untuk merenungi

kedahsyatan lawannya. Gabungan antara gerak yang demikian

cepatnya dan senjata yang pilih tanding. Karena sejenak kemudian

ia mendengar geram yang berat dan serangan yang mengejutkan.

Untunglah, bahwa Mahisa Agni telah berhasil menguasai ilmu

gurunya hampir sempurna. Dalam olah kanuragan Mahisa Agni

sudah tidak kalah lagi dari Empu Purwa, Empu Sada, Panji Bojong

Santi dan orang-orang sejajarnya. Itulah sebabnya, maka meskipun

ia harus melawan seseorang yang luar biasa dengan senjata yang

luar biasa pula, ia masih mampu untuk bertahan.

Sementara itu, bayangan yang menerkam Mahisa Agni itu pun

ternyata terkejut bukan buatan melihat tata gerak Mahisa Agni. Ia

tidak menyangka, bahwa Mahisa Agni mampu menghindar dan

untuk kemudian menghindari pula ayunan senjatanya yang

nggegirisi itu, sehingga dengan demikian usahanya untuk

membunuh Mahisa Agni pada serangannya yang pertama ternyata

telah gagal.

“Untunglah aku mengenakan pakaian ini” desis bayangan itu di

dalam hatinya.

Dan ternyata Mahisa Agni yang kini telah siap menghadapi setiap

kemungkinan itu melihat, bahwa lawannya adalah seorang prajurit

yang memakai selempang tali berwarna kuning keemasan.

Dengan segera Mahisa Agni menemukan hubungan yang hampir

pasti, bahwa orang inilah yang telah membunuh pamannya. Namun

yang dihadapinya itu ternyata tidak mau menampakkan wajahnya

yang sebenarnya. Orang itu ternyata telah menutup sebagian besar

wajahnya dengan selembar kain berwarna gelap.

Dengan demikian maka nafsu Mahisa Agni untuk menemukan

pembunuh pamannya seolah-olah seperti api dihembus angin. Ia

yakin bahwa orang ini harus ditangkap. Seandainya bukan orang ini

yang melakukannya, namun pasti ada hubungan yang erat antara

orang ini dan pembunuh pamannya. Tetapi menilik kelengkapan

yang ada pada orang itu, maka hampir dapat dipastikan, orang ini

sendirilah yang telah membunuh pamannya. Keris yang berwarna

kebiru-biruan itu, selempang berwarna kuning keemasan, adalah

tanda yang meyakinkan. Apalagi usaha orang itu untuk

membunuhnya. Kalau tidak ada sangkut paut apapun maka sudah

tentu tidak akan ada usaha pembunuhan ini.

“Benar juga peringatan Ken Arok itu” berkata Mahisa Agni di

dalam hatinya, “Tetapi adalah kebetulan sekali aku dapat bertemu.

Dengan senjata yang demikian inilah agaknya ia berhasil membunuh

Empu Gandring, dan senjata ini pulalah agaknya yang telah

dipakainya untuk memecah paron itu”.

Sedang orang yang merasa gagal untuk membunuh Mahisa Agni

pada serangannya yang pertama itu pun menjadi semakin bernafsu

pula untuk segera menyelesaikan pekerjaannya.

Dengan demikian maka keduanya segera terlibat dalam

perkelahian yang sengit. Orang yang menyerang Mahisa Agni itu

mempergunakan sebilah keris yang berwarna kebiru-biruan

berbintik kuning, sedang Mahisa Agni pun segera mencabut kerisnya

pula. Keris pamannya yang besar, yang menyilang di punggungnya.

Namun ternyata kedua keris itu telah membuat keduanya

terkejut. Keris Mahisa Agni pun ternyata berwarna kebiru-biruan di

dalam gelapnya malam.

“Oh” desis orang itu di dalam hatinya, “Keris itu pun berwarna

kebiru-biruan”.

Keduanya pun kemudian menjadi sadar, bahwa di tangan

lawannya tergenggam senjata-senjata yang luar biasa. Kelengahan

yang paling kecil pun dapat membuat mereka kehilangan

kesempatan untuk mempertahankan hidup mereka.

Meskipun, perkelahian itu menjadi semakin lama semakin sengit,

tetapi ternyata keduanya tidak dapat berkelahi pada puncak

kemampuan masing-masing.

Orang yang ingin membunuh Mahisa Agni itu harus bertempur

sambil berusaha menyembunyikan kediriannya. ia harus berbuat

dan bersuara sedemikian, sehingga Mahisa Agni tidak akan segera

dapat mengenalnya. Ia harus menyembunyikan tata gerak

perkelahian yang dimilikinya, kebiasaannya dan berbagai macam ciri

yang ada padanya. Ia harus berkelahi dengan tata gerak yang

disaputnya dengan tata gerak yang dibuat-buat. Kadang-kadang ia

hampir kehilangan kendali apabila nafsunya telah membakar

jantungnya. Tetapi setiap kali ia berusaha untuk menjaga dirinya.

Pada dasarnya tata-gerak yang dimilikinya adalah tata-gerak yang

kasar dan keras. Dalam keadaan yang memaksa ia menjadi buas

dan liar, sebuas binatang di dalam hutan dan seliar hantu di Padang

Karautan. Tetapi ia tidak dapat berbuat demikian melawan Mahisa

Agni. Itulah sebabnya, maka ia tidak berada di puncak

kemampuannya.

Sedang Mahisa Agni pun harus berhati-hati. Ia sadar, bahwa

keris pamannya itu adalah sebilah keris yang dahsyat. Kalau ia

menyentuh tubuh lawannya, maka sulit baginya untuk

mengharapkan lawannya itu dapat bertahan untuk hidup. Padahal ia

ingin menangkap lawannya itu hidup-hidup. Ia ingin mendengar

keterangan tentang pamannya. Apakah latar belakang dari

pembunuhan yang keji dan licik itu.

Dengan demikian, maka Mahisa Agni pun harus menjaga dirinya.

Ia ingin mengalahkan lawannya, tetapi tidak membunuhnya.

Padahal keduanya adalah orang-orang yang aneh. Mahisa Agni,

dalam umurnya yang semuda itu, ternyata telah memiliki ilmu yang

sukar dicari tandingnya. Sama sekali tidak diduga oleh lawannya itu,

bahwa Mahisa Agni ternyata adalah seorang yang pilih tanding.

Tetapi. lawannya itu pun adalah orang yang aneh. Ia memiliki

ketahanan tubuh dan kecepatan bergerak yang luar biasa. Meskipun

kadang-kadang ia menjadi bingung dan tidak mengerti apa yang

harus dilakukan. Apabila demikian, maka ia pun segera meloncat

dengan loncatan yang aneh, mengambil jarak dari lawannya.

Meskipun, Mahisa Agni mempunyai kelebihan dari lawannya,

bahwa senjatanya lebih panjang, namun ia kurang dapat

memanfaatkannya, karena ia tidak ingin mambunuh lawannya. Yang

bergetar di dalam dadanya, ialah suatu keinginan untuk

menangkapnya hidup-hidup. Ia akan membawanya kepada Witantra

dan menuntut diadilinya sesuai dengan keharusan seorang prajurit.

Namun disamping itu, maka latar belakang pembunuhan itu pun

pasti akan segera dapat diungkapkannya.

Tetapi untuk menangkap orang itu sama sulitnya seperti

menangkap angin. Apalagi di tangan orang itu pun tergenggam

sebilah keris yang mengerikan.

Meskipun demikian, tetapi Mahisa Agni berusaha sekuat tenaga

dan kemampuannya. Dikerahkannya ilmunya, untuk

memungkinkannya menangkap orang itu hidup-hidup. Sedangkan,

orang itu pun mengerahkan segenap kemampuannya, untuk

bertahan dengan tetap menyembunyikan kediriannya.

Justru dengan demikian maka keduanya pun menjadi terlampau

tegang. Keduanya berusaha menahan diri agar mereka tidak

terlanjur melakukan kesalahan yang akibatnya akan sangat

merugikan diri masing-masing. Apabia orang yang menyerang

Mahisa Agni itu terbunuh, maka Mahisa Agni akan merasa

kehilangan jalur pengamatannya untuk seterusnya. Sedang orang

yang menyerangnya itu pun harus tetap bertahan untuk tidak

melepaskan kemampuannya yang sebenarnya. Sebab dengan

demikian maka Mahisa Agni pasti akan segera mengenalnya sebagai

hantu yang pernah berkeliaran di Padang Karautan.

Tetapi betapapun juga, keduanya pasti tidak mau terkalahkan.

Itulah sebabnya maka mareka masih saja berkelahi semakin seru,

sehingga keringat merekapun seakan-akan telah terperas dari dalam

tubuh mereka. Sedang debu yang berhamburan oleh kaki-kaki

merekapun telah melekat pula pada tubuh yang basah itu.

Ternyata kedua-duanya telah dihinggapi oleh perasaan heran

tiada taranya. Lawan Mahisa Agni menjadi heran, bahwa anak muda

itu kini mempunyai kemampuan yang luar biasa, sedang Mahisa

Agni menjadi heran, bahwa ia pun tidak segera dapat menangkap

orang itu.

“Aku pernah bertempur melawan Kebo Sindet, dan akupun masih

tetap hidup” desis Mahisa Agni di dalam hatinya, “Tetapi sekarang

aku tidak dapat menangkap prajurit pengawal ini. Adalah aneh

sekali bahwa seorang prajurit pengawal memiliki kemampuan yang

sedemikian tinggi dalam tata-gerak yang kurang dikenal, dan

bahkan agak kabur. Apabila setiap prajurit pengawai memiliki

kemampuan setinggi prajurit ini, maka Tumapel pasti akan menjadi

sangat kuat”.

“Tetapi menurut pengamatanku, kemampuan Witantra sendiri

pun tidak akan setinggi prajurit ini, kecuali apabila disaat-saat

terakhir ia sempat menempa dirinya”.

Tetapi Mahisa Agni telah memutuskan di dalam hatinya, bahwa ia

harus menangkap orang itu hidup-hidup. Ia harus mendengar dari

mulutnya sebuah pengakuan, kenapa Empu Gandring dibunuhnya.

Sedang orang yang menyerangnya itu pun telah memutuskan di

dalam hatinya, bahwa Mahisa Agni harus dibunuh.

Namun bahwa orang itu mempergunakan menutup wajah, telah

sangat menarik perhatian Mahisa Agni. Ia menjadi semakin bernafsu

untuk mengetahui, siapakah orang yang tiba-tiba saja telah

menyerangnya dan yang menurut dugaannya, telah membunuh

Empu Gandring itu pula.

Semakin sengit keduanya bertempur, maka semakin terasa oleh

orang yang bertutup muka itu, bahwa ia tidak akan dapat

mengalahkan Mahisa Agni. Seandainya ia tidak harus

menyembunyikan dirinya dalam tata gerak sekalipun, belum pasti ia

dapat menang, apalagi selama ia masih belum dapat mencurahkan

segenap kemampuannya.

“Kenapa aku harus merahasiakan diri” kadang-kadang tumbuh

pertanyaan itu di dalam hatinya, “Bukankah aku akan

membunuhnya? Meskipun ia mengerti siapa aku, namun ia tidak

akan dapat berkata lagi kepada siapapun, karena ia akan segera

terkapar di tanah. Mati”. Tetapi ternyata ia manjadi ragu-ragu

sendiri, “Apakah aku dapat melakukannya?”

Ternyata kemudian bahwa Mahisa Agni memang seorang yang

luar biasa. Apalagi di tangannya tergenggam senjata yang dahsyat

pula. Sehingga akhirnya lawannya pun harus mengakui, bahwa tidak

akan mungkin untuk memenangkan perkelahian itu.

“Aku memang harus tetap merahasiakan diriku” gumam orang

itu.

Mahisa Agni pun semakin lama menjadi semakin bernafsu.

Bahkan terbersit pertanyaan di dalam hatinya, “Bagaimana kalau

aku tidak dapat menangkapnya hidup-hidup?”

“Tidak ada pilihan lain” gumam Mahisa Agni di dalam hatinya,

“Kalau aku tidak dapat menangkapnya hidup, aku akan

menangkapnya mati. Meskipun aku tidak akan mendapat

keterangan apapun tentang pembunuhan itu, tetapi aku akan dapat

membuktikan, bahwa pembunuhan itu memang seorang pengawal

istana. Dan Witantra pasti akan mengenalnya. Bahkan mungkin

akupun dapat mengenalnya apabila tutup wajahya itu dapat aku

singkapkan”.

Dengan demikian, maka tata gerak Mahisa Agni pun menjadi

semakin mantap. Bahkan kadang-kadang ia tidak lagi

mengendalikan dirinya. Apalagi katika semakin lama tangannya

menjadi semakin basah oleh keringat, dan hatinya menjadi semakin

terbakar oleh kemarahannya.

Tetapi, sejalan dengan itu, maka orang yang menyerangnya

dengan tiba-tiba itu pun menjadi semakin menyadari dirinya.

Sehingga kemudian berkembang pendirian di dalam hatinya,

“Gila. Aku tidak akan berhasil membunuhnya. Bahkan apabila aku

tidak segera berbuat sesuatu, akulah yang pasti akan mati

terbunuh. Bukan saja semua rencanaku gagal, tetapi setiap orang

akan mengatakan, bahwa akulah pembunuh Empu Gandring yang

telah menyamar memakai pakaian seorang prajurit pengawal”.

Memang orang itu sama sekali tidak dapat mengingkari

kenyataan bahwa Mahisa Agni tidak dapat dibunuh semudah ia

sangka. Bahkan setelah barkelahi beberapa lama, menjadi semakin

nyata bahwa Mahisa Agni memang memiliki kemampuan yang luar

biasa.

“Pantaslah, bahwa Mahisa Agni telah bertekat untuk mencari

pembunuh pamannya. Ternyata ia memang seorang yang luar

biasa. Yang barangkali sudah setingkat dengan pamannya itu”

berkata orang itu di dalam hatinya. Yang akhirnya, ia mengambil

kesimpulan untuk mengurungkan niatnya betapapun beratnya.

“Aku harus menghindar. Kalau tidak aku akan mati, namaku akan

menjadi sama sekali tidak bernilai, melampaui kotornya sampah di

pinggir jalan”.

Maka setelah keputusan itu tidak berubah lagi, maka dengan

serta-merta, ia pun segera meloncat surut. Kemudian dengan

cepatnya ditinggalkannya arena parkelahian itu.

Mahisa Agni terkejut. Tetapi ia sudah bertekat untuk tidak

melepaskan lawannya, sehingga karena itu, maka ia pun melompat

pula mengejarnya.

Ketika orang itu menyusup ke dalam halaman yang kosong itu,

maka Mahisa Agni pun mengejarnya pula. Pandangan matanya serta

pandengarannya yang tajam, telah menuntunnya kemana arah

buruannya berlari.

Tetapi ternyata buruannya, adalah buruan yang paling liar.

Buruannya adalah orang yang memiliki pengalaman luar biasa

dalam hal itu. Apalagi yang mengejarnya hanya seorang diri. Ia

pernah dikejar oleh orang-orang sepadukuhan sekaligus. Dan ia

pernah pula dikejar oleh prajurit Tumapel selagi ia berkeliaran di

Padang Karautan. Apalagi kini ia mempunyai keuntungan. Ia

mengenal medan jauh lebih baik dari Mahisa Agni, sehingga dengan

demikian, ia mampu membuat Mahisa Agni kebingungan, dan

betapapun tajam pendengaran dan pengamatan matanya, namun

pada suatu saat ia menjadi bingung dan kehilangan buruannya.

Mahisa Agni menggeram. Sejenak ia berdiri mematung sambil

berusaha menangkap setiap bunyi yang paling lembut sekalipun.

Tetapi usahanya ternyata sia-sia. Lawannya yang menyadari dengan

siapa ia berhadapan, berusaha untuk menghilangkan segala macam

jejak. Dipergunakannya segala kemampuannya, untuk

manghindarkan dirinya dari pengamatan lawannya.

“Apakah ia mampu melenyapkan dirinya seperti asap” geram

Mahisa Agni, “Tidak mungkin ia lari. Aku tidak mendengar langkah

itu, namun aku tidak mendengar desah nafasnya”.

Mahisa Agni masih juga diam membeku di tempatnya. Ia

menunggu sejenak. Namun ia tidak dapat menangkap isyarat

apapun yang dapat memberinya jalan untuk menemukan lawannya

di dalam gelapnya malam.

Yang didengarnya adalah gemersik angin yang silir

menggerakkan dedaunan, dan derik cengkerik di mulut liang.

Selainnya tidak ada sesuatu pun yang didengarnya.

“Luar biasa” desisnya, “Orang itu dapat menghilang seperti

hantu. Aku yakin ia masih ada di sekitar tempat ini. Tetapi aku tidak

dapat menemukannya”.

Meskipun Mahisa Agni masih menunggu sejenak di tempatnya,

namun ia tidak berhasil menemukan sesuatu, sehingga akhirnya ia

menjadi jemu.

“Sayang” katanya di dalam hati, “Kalau aku tidak gagal, aku akan

dapat membuka tabir pembunuhan itu sekarang. Tetapi sayang

sekali. Orang itu berhasil lolos”.

Mahisa Agni pun kemudian tidak menunggu lebih lama lagi.

Dengan hati-hati ia meninggalkan tempatnya. Kerisnya masih ada di

dalam genggamannya. Ia masih harus tetap bersiap menghadapi

setiap kemungkinan apabila dengan tiba-tiba saja lawannya itu

menyerangnya.

Namun tidak seorang pun lagi yang ditemuinya di sekitar tempat

itu. Sehingga ketika ia berjalan lagi di jalan yang dilaluinya semula,

keris itu disarungkannya. Ia tidak mau menarik perhatian orang lain

yang sama sekali tidak berkepentingan, apalagi para peronda yang

sedang nganglang di malam hari.

Ceriteranya tentang prajurit yang tiba-tiba menyerangnya itu

sangat menarik perhatian Witantra. Sambil mengangguk-anggukkan

kepalanya ia berdesis, “Benar-benar mengherankan. Tetapi

sepengetahuanku, tidak ada seorang pun prajurit pengawal yang

memiliki kemampuan begitu tinggi. Meskipun demikian aku akan

menyelidikinya. Aku akan meneliti setiap prajurit sampai perwira

yang paling tinggi”.

“Terima kasih” jawab Mahisa Agni, “Mudah-mudahan aku akan

dapat menjumpai orang itu lagi pada kesempatan lain”.

“Mudah-mudahan, dan aku pun akan mencari kesempatan untuk

itu pula”.

Maka sejak itu, Mahisa Agni menjadi semakin sering keluar di

malam hari. Ia mencari kesempatan seperti kesempatannya yang

hilang itu. Tetapi beberapa hari kemudian tidak terjadi sesuatu pada

dirinya.

Pada suatu ketika, maka diperlukannya datang kepada Ken Arok

untuk menceritakan apa yang telah terjadi atasnya.

“Gila” Ken Arok mengumpat, “Itu sudah keterlaluan. Untunglah

bahwa kau masih mampu menghindarinya”.

“Aku akan selalu berhati-hati Ken Arok”.

“Nah, apa kataku. Bukankah orang itu terlampau licik?” Ken Arok

berhenti sebentar, lalu, “Agni. Orang itu akan melakukannya sekali

lagi dan sekali lagi. Di kesempatan lain ia akan berbuat lebih licik

dan lebih kasar. Mungkin ia memakai panah atau tulup beracun atau

apapun karena ia tidak mungkin mengalahkan kau dalam

perkelahian. Ia akan mengintipmu, dan dengan tiba-tiba

menyerangmu dari jarak yang cukup jauh, dengan berbagai macam

cara dan Senjata”.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia

menjawab, “Aku sudah bertekat untuk menemukan pembunuh itu

Ken Arok. Apapun yang akan aku hadapi. Aku memang sudah

mempersiapkan diriku sejak aku berangkat dari Lulumbang”.

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Kalau

kau memang sudah memutuskan untuk melakukannya, apa boleh

buat. Tetapi kau harus berhati-hati”.

“Terima kasih Ken Arok. Mungkin setiap saat aku memerlukan

bantuanmu. Mungkin aku tidak hanya berhadapan dengar satu dua

orang. Tetapi dengan sebuah gerombolan yang aku tidak dapat

menduga jumlahnya. Apabila demikian, maka aku mengharap kau

dan Witantra langsung membantuku”.

“Oh, jangan cemas. Witantra adalah seorang pemimpin pasukan

pengawal istana. Ia dapat menggerakkan sekaligus sepuluh atau

duapuluh orang apabila diperlukan. Meskipun demikian, aku sama

sekali tidak akan berkeberatan, apabila suatu ketika aku pun harus

membantumu”.

“Terima kasih” jawab Mahisa Agni, “Pada suatu ketika aku ingin

dapat berbicara dengan kalian berdua bersama-sama. Apakah kau

tidak berkeberatan apabila pada suatu kesempatan kau datang

berkunjung ke rumah Witantra?”

“Tentu tidak Agni. Tetapi di dalam tata keprajuritan, jarak antara

aku dan Witantra agak jauh. Meskipun secara pribadi Witantra

sangat baik kepadaku”.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak pernah berpikir

tentang jenjang kepangkatan karena ia sendiri bukan seorang

prajurit. Karena itu, maka katanya, “Pergilah bersama aku. Aku tidak

pernah menghiraukan jenjang semacam itu”.

Ken Arok berpikir sejenak. Lalu, “Baiklah. Aku akan ikut

bersamamu pergi ke rumah Witantra. Sekarang aku sedang tidak

mempunyai kerja apapun. Aku akan pergi bersamamu sekarang”.

“Bagus” sambut Mahisa Agni, “Marilah, kita pergi menemui

Witantra”.

Keduanya pun kemudian pergi ke rumah Witantra. Witantra

menyambut kedatangan Ken Arok dengan senang hati. Bahkan

dengan jujur ia menyatakan kesulitannya mengenai masalah Empu

Gandring itu. Sampai saat terakhir Witantra belum menyatakan

persoalan itu secara terbuka. Ia masih berusaha untuk mencari jejak

dengan diam-diam sebelum ia mengambil jalan yang lain.

Baik Witantra, maupun Mihisa Agni sama sekali tidak

berprasangka apapun terhadap Ken Arok, sehingga dengan

demikian, maka pembicaraan itu pun berjalan dengan sepenuh

minat. Mereka tidak menyadari arti yang tersirat di dalam setiap

tarikan nafas Ken Arok dan di setiap anggukan kepalanya.

Pembicaraan itu terhenti ketika seorang gadis keluar dari ruang

dalam sambil menjinjing nampan berisi mangkuk air hangat,

sehangat sikap gadis itu sendiri.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Setiap ia melihat Ken

Umang hatinya selalu bergetar. Bukan karena ia tertarik kepada

gadis itu, tetapi justru sebaliknya. Kadang-kadang ia manjadi ngeri

melihat sikapnya yang berlebih-lebihan.

Ken Arok pun pernah melihat gadis itu apabila ia berkunjung ke

rumah Witantra meskipun jarang-jarang sekali. Tetapi ia pun kurang

menaruh perhatian atas gadis itu. Apalagi setelah seluruh

perhatiannya dicurahkannya kepada Ken Dedes. Maka seolah-olah

tidak ada perempuan lain di dunia ini kecuali Permaisuri itu.

Tetapi, kali ini sikap Ken Umang terlampau menyentuh

perhatiannya, sehingga mau tidak mau Ken Arok menatapnya juga

untuk sejenak.

Adalah aneh sekali, bahwa Ken Arok itu kini tiba-tiba telah

berubah. Seakan-akan ia telah terlempar kembali ke dalam dunianya

yang gelap. Hampir setiap saat ia terdorong untuk melakukan

berbagai macam kejahatan. Dan hampir setiap kali ia bertemu

dengan perempuan dan gadis-gadis, nafsunya tidak dapat terkendali

lagi.

Sebelum ia melakukan rencananya yang berlumuran darah, maka

ia merasa, bahwa penyakitnya itu pun telah sembuh seperti

kegemarannya berburu harta benda di Padang Karautan. Tetapi

tiba-tiba sejalan dengan titik-titik darah yang membasahi

tangannya, maka nafsunya itu pun seakan-akan terangkat kembali.

Ken Dedes baginya adalah perempuan idaman. Ia adalah puncak

dari segala cita-cita. Tetapi ia tidak tahu, kenapa gadis yang pernah

sekali dua kali dilihatnya ini, tiba-tiba telah menarik perhatiannya

pula.

“O, aku benar-benar telah menjadi gila. Gila segala-galanya”.

Tetapi sudah tentu bahwa Ken Umang bukanlah Ken Dedes.

”Ken Dedes adalah seorang perempuan yang halus dan lembut.

Seorang perempuan lambang dari cita-cita yang agung. Sedang Ken

Umang adalah lambang dari dunia ini. Dunia dengan segala macam

warnanya yang cemerlang. Dunia tempat kita meneguk airnya.

Bukan, bukan sekedar meneguk airnya, tetapi kita harus meneguk

kegembiraannya sampai tuntas. Dan aku memerlukan keduaduanya”

Ken Arok bergumam di dalam hatinya, namun kemudian,

“O, itu adalah perbuatan yang sangat bodoh. Aku harus

menyelesaikan rencanaku lebih dahulu. Kalau aku memalingkan

perhatianku, maka aku akan terlempar jatuh ke dalam bencana”.

Tetapi pancaran mata Ken Umang yang seakan-akan bara api

yang menyentuh jantungnya, tidak dapat dilupakannya. Namun Ken

Umang tidak duduk bersama mereka, karena di antara mereka ada

Witantra. Ia hanya meletakkan mangkuk-mangkuk minuman,

kemudian meninggalkan mereka dengan langkah yang menyentuh

hati. Hati Ken Arok.

“Gadis ini pasti dapat menghangatkan kehidupan. Sedang Ken

Dedes adalah sumber dari cinta dan cita-cita. Namun untuk

memperjuangkan cita-cita aku memerlukan gairah yang menyala”.

Tetapi Ken Arok tidak dapat berangan-angan terlampau lama.

Sejenak kemudian Mahisa Agni dan Witantra telah terlibat dalam

pembicaraan, sehingga mau tidak mau, Ken Arok pun harus

memperhatikannya pula.

Namun, Ken Arok tidak lama lagi duduk bersama mereka.

Sejenak kemudian ia minta diri dengan berbagai macam alasan.

Dengan demikian, maka Mahisa Agni dan Witantra tidak dapat

menahannya lagi.

Sepeninggal Ken Arok, maka Witantra pun mempersilahkan

Mahisa Agni bersitirahat di biliknya, karena ia pun akan pergi untuk

sesuatu keperluan.

“Beristirahatlah” berkata Witantra, “Pekerjaan kita masih

terlampau banyak”.

“Terima kasih” sahut Mahisa Agni.

Maka sepeninggal Witantra, Mahisa Agni pun segera pergi ke

biliknya. Langkahnya lambat, sedang kepalanya tertunduk dalamdalam.

Berbagai persoalan tersangkut di kepalanya. Sedang

persoalan pamannya masih terlampau gelap baginya.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Langkah kuda Witantra

sudah tidak terdengar lagi. Yang kini terdengar tinggallah tarikan

nafasnya sendiri.

Perlahan-lahan Mahisa Agni menarik daun pintu biliknya Tetapi

ketika ia menjengukkan kepalanya, maka tiba-tiba saja darahnya

serasa berhenti. Sama sekali tidak terlintas di dalam benaknya,

bahwa hal itu dapat terjadi, sehingga dengan demikian sesaat ia

berdiri saja membeku di depan pintu.

Dengan dada serasa retak, Mahisa Agni melihat Ken Umang

berbaring di pembaringannya. Ketika pintu itu terbuka, maka gadis

itu berpaling. Namun seperti acuh tak acuh saja ia berdesis,

“Masuklah Agni”.

Agni masih tegak di luar pintu. Kakinya seakan-akan menjadi

beku sehingga ia tidak tahu, apa yang sebaiknya dilakukannya.

“Masuklah” sekali lagi ia mendengar suara Ken Umang. Namun

suara itu bagaikan ringkik iblis betina yang mengerikan.

“Kenapa kau berdiri saja di situ? Masuklah Agni. Tidak ada orang

lain di rumah. Kakang Witantra baru saja pergi, sedang isterinya

pun tidak ada di rumah pula. Apa lagi yang kita segani sekarang?”

Mahisa Agni masih tetap berdiam diri. Nafasnya menjadi semakin

memburu. Namun kakinya masih merasa membeku di tempatnya.

Yang terdengar kemudian adalah suara tertawa gadis itu. Diselasela

tertawanya ia berkata, “Kemarilah anak Panawijen. Adikmu

telah menjadi seorang Permaisuri. Tidak sepantasnya masih kau

saja tetap menjadi seorang pemalu seperti anak-anak padesan yang

lain”.

Dada Mahisa Agni benar-benar serasa menjadi bengkah. Tetapi

ketika Ken Umang itu memandanginya, sorot mata gadis itu seakanakan

telah memukaunya, sehingga ia tidak berdaya untuk

meninggalkan tempatnya.

Sebagai seorang laki-laki muda, maka darahnya pun telah mulai

merangkak ke kepalanya. Sikap dan tatapan mata Ken Umang

seakan-akan bara yang telah memanasi darahnya yang selama ini

dingin membeku.

Sejenak Mahisa Agni berdiri seperti patung. Terasa dadanya

berguncang-guncang, seperti air laut dihempas angin prahara.

“Kenapa kau ragu-ragu?” terdengar suara Ken Umang. Seulas

senyum telah membuat jantung Mahisa Agni menjadi semakin

panas.

Namun, tiba-tiba Mahisa Agni menggeretakkan giginya. Ia adalah

seorang anak muda yang hampir sepanjang umurnya berada di

padepokan seorang pendeta. Ia telah terlatih untuk menggunakan

nalar di samping perasaannya. Sehingga dengan demikian ia dapat

menimbang budi dengan pandangan yang wening.

Demikian juga ketika ia kini seakan terbentur pada suatu

keadaan yang hampir tidak dapat dihindarinya sebagai seorang lakilaki

muda. Maka dengan sekuat keteguhan hatinya, ia berhasil

manguasai dirinya, dalam keweningan budi. Karena itu, perlahanlahan

Mahisa Agni berhasil menenangkan hatinya. Ia mulai dapat

melihat jalan yang harus dilaluinya. Ia mulai menyadari bahwa

rumah ini adalah rumah Witantra, dan gadis tu adalah adik iparnya.

Apabila terjadi sesuatu atas gadis itu, meskipun sebagian adalah

karena kesalahannya sendiri, apakah yang harus dikatakannya?

Mahisa Agni menjadi ngeri memikirkannya, dan kengerian yang

demikian itu ditanggapinya dengan ucapan syukur.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam ketika ia masih

mendengar Ken Umang memanggilnya, “Agni, Agni”.

Mahisa Agni kini telah menjadi tenang. Sambil menganggukanggukkan

kepalanya ia berkata, “Apakah kau menyadari apa yang

kau lakukan, Ken Umang?”

Pertanyaan yang tidak disangka-sangka itu serasa membakar

telinga gadis itu. Tiba-tiba saja ia terloncat berdiri. Wajahnya

menjadi merah membara. Sejenak ia berdiri saja di tempatnya tanpa

berbuat sesuatu. Namun tampaklah sinar matanya yang seakanakan

ingin menusuk pusat jantungnya.

”Udara terlampau panas” berkata Mahisa Agni, “Aku akan berada

di halaman”.

Ken Umang masih berdiri membeku, ia tidak menyangka sama

sekali, bahwa anak muda itu sama sekali tidak memperhatikannya.

Tetapi sebelum Ken Umang berbuat sesuatu Mahisa Agni telah

melangkahkan kakinya, turun ke halaman. Tanpa tujuan ia berjalan

saja sambil menjinjing keris yang masih belum dikenakannya di

punggungnya.

Sekali-kali ia menarik nafas dalam-dalam.

Sementara itu, Ken Umang pun segera berlari keluar dari bilik

Mahisa Agni. Wajahnya yang merah itu serasa menjadi panas,

sepanas hati di dalam dadanya.

”Setan yang bodoh” ia mengumpat, “Pada suatu saat kau akan

bersimpuh di bawah kakiku. Aku adalah Ken Umang. Seribu kali aku

akan membalas sakit hatiku. Setiap anak-anak muda menangisnangis

dihadapanku. Dan kau membuat hatiku serasa terbakar”.

Ken Umang itu pun langsung masuk ke dalam biliknya sendiri.

Dihempaskannya dirinya di pembaringannya. Tetapi ia tidak mau

menangis. Justru dendam yang membara telah mewarnai matanya.

Peristiwa itu telah membuat Mahisa Agni menjadi bingung.

Usahanya untuk menemukan pembunuh pamannya belum berhasil.

Tetapi apakah ia dapat bertahan beberapa hari lagi tinggal di rumah

Witantra? Kalau Witantra tidak ada di rumah, ia pasti merasa

seakan-akan rumah itu menjadi rumah hantu. Sebagai manusia

Mahisa Agni menyadari, bahwa dadanya tidak berlapis baja. Betapa

kerasnya batu hitam, tetapi titik air yang terus-menerus, pasti akan

membuat lekuk di permukaannya. Dan Mahisa Agni merasa dirinya

masih juga bernafas seperti manusia biasa. Masih juga makan nasi

dan meneguk air. Itulah sebabnya, ia merasa rumah Witantra tidak

aman lagi baginya. Pada suatu saat ia akan terperosok ke dalan

suatu bencana yang akan membuat namanya hancur tanpa arti. Dan

dengan demikian ia akan kehilangan semuanya. Ia tidak akan

berhasil menangkap pembunuh pamannya, dan sekaligus ia akan

kehilangan namanya. Karena ia adalah saudara Permaisuri Ken

Dedes, maka Ken Dedes pun pasti akan tersangkut pula.

Mahisa Agni menjadi semakin bingung. Sudah tentu ia tidak akan

dapat tinggal bersama Ken Arok, karena Ken Arok pun hanya

sekedar mendapat sebuah pembaringan di baraknya.

“Apakah aku dapat menemui Ken Dedes?” pertanyaan itu telah

terbersit di hatinya. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya,

“Tidak. Aku tidak akan mengganggunya dengan perkara-perkara

yang tidak bersangkut paut apapun dengan dirinya”.

“Tetapi lalu apa yang akan aku lakukan?” Mahisa Agni menarik

nafas dalam-dalam.

Namun akhirnya ia tidak dapat menemukan jalan apapun.

Tinggal di rumah Witantra akan sangat berbahaya baginya, sedang

tempat yang lain tidak dapat diketemukannya.

Ketika Witantra pulang, barulah Mahisa Agni mengikutinya masuk

ke pendapa. Meskipun demikian hatinya sama sekali sudah tidak

tenteram. Setiap kali ia menjadi gelisah. Apalagi ketika malam

menjadi semakin malam, dan Witantra minta diri untuk beristirahat.

Dengan tergesa-gesa Mahisa Agni masuk ke dalam biliknya, dan

dengan tergesa-gesa pula ia menyelarak pintu dari dalam. Baru ia

dapat menarik nafas dalam-dalam. Disangkutkannya kerisnya pada

dinding biliknya di atas pembaringannya. Perlahan-lahan ia

berbaring. Namun tiba-tiba ia bangkit. Sesuatu terasa menusuk

hidungnya. Bau yang sangat harum. Bau bunga yang ternyata

terjatuh dari sanggul Ken Umang yang tadi berbaring di

pembaringan itu.

Dengan dada yang berdebar-debar Mahisa Agni memungut

bunga itu. Bunga melati yang diuntai dalam suatu rangkaian yang

panjang. Dan bunga itu kini berada di tangan Mahisa Agni.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Terasa pengaruh bau

bunga itu menggetarkan jantungnya. Sekali lagi terseret oleh

perasaan seorang laki-laki muda.

Namun sekali lagi Mahisa Agni berhasil menghentakkan dirinya

dari pengaruh parasaannya itu. Bahkan kemudian ia menjadi

semakin menyadari keadaannya, bahwa sebenarnyalah hatinya

adalah hati yang lemah.

“Aku memang harus segera meninggalkan rumah ini” ia berdesis,

“Kalau tidak, maka sentuhan di hati mudaku, akan mencelakakan

aku, apabila aku pada suatu ketika kehilangan kemudi”.

Demikianlah, maka Mahisa Agni justru mengambil keputusan,

bahwa ia harus meninggalkan rumah itu secepatnya. Meskipun ia

masih menimang untaian bunga itu di tangannya, namun ia tetap

berada dalam kesadarannya. Nalarnya masih tetap utuh bekerja di

dalam dirinya.

Perlahan-lahan Mahisa Agni itu pun kemudian melangkah ke

sudut biliknya dan menyangkutkan untaian bunga itu di dinding.

Sekali lagi ia memandang bunga itu. Namun kemudian ia kembali ke

pembaringannya dan perlahan-lahan diletakkannya pula tubuhnya di

pembaringan itu.

Meskipun kemudian, matanya dipejamkannya, namun ia lidak

dapat menghapus angan-angannya yang hilir mudik dikepalanya.

Bayangan tentang pamannya, ibunya yang masih tinggal di

Lulumbang, Ken Dedes, Ken Arok, Witantra dan Ken Umang, serasa

berganti-ganti mengganggunya, sehingga ia tidak segera dapat

tertidur.

Namun lambat laun, kesadaran Mahisa Agni pun menjadi

semakin, sehingga akhirnya ia tertidur nyenyak.

Ia terbangun pada saat ayam jantan berkokok untuk yang

terakhir kalinya. Setelah membenahi pakaiannya, maka ia pun

segera membuka pintu biliknya perlahan-lahan. Dengan hati-hati ia

menjengukkan kepalanya, seolah-olah ia sedang mengintai musuh

di medan peperangan. Ketika tidak terlihat olehnya seorang pun,

maka ia pun segera melangkah keluar dari biliknya. Namun ia masih

tetap berhati-hati seperti sedang berada di peperangan. Kerisnya,

pusaka peninggalan Empu Gandring itu dijinjingnya di tangan

kanan.

“Kalau keris ini tertinggal di dalam bilik itu, aku akan dijebaknya

dengan keris ini” ia bergumam.

Meskipun masih samar-samar, namun langit telah menjadi agak

cerah. Burung-burung liar berkicau, seolah-olah sedang

mendendangkan kidung yang gembira menyambut matahari pagi.

Mumpung masih agak gelap, Mahisa Agni pun segera mandi.

Alangkah segarnya. Dan ia merasa bahwa ia tidak akan dapat

berlama-lama menghirup segarnya udara pagi di rumah itu. Karena

apabila kesegaran pagi ini telah lewat, seperti embun yang

menguap karena sentuhan panas matahari. Maka udara pun akan

segera menjadi panas pengab. Dan ia tidak akan tahan terpanggang

di dalamnya.

“Hari ini adalah hariku yang terakhir” gumam Mahisa Agni, “Dan

nanti malam aku akan minta diri. Meskipun tugasku belum selesai,

dan aku belum menemukan pembunuh paman. Namun untuk

sementara aku harus menghindar dari rumah ini”.

Demikianlah, maka pada hari itu Mahisa Agni sama sekali tidak

berada di rumah Witantra. Ia minta diri ketika matahari naik.

Kemudian berjalan saja menyusuri kota, dari satu lorong ke lorong

lain tanpa tujuan. Ketika matahari kemudian bergeser turun di

sebelah Barat, maka ia pun singgah ke barak Ken Arok untuk minta

diri.

“Kenapa tiba-tiba saja kau memutuskan untuk meninggalkan

Tumapel” bertanya Ken Arok dengan curiga.

“Tidak apa-apa Ken Arok” jawab Mahisa Agni, “Aku sudah

terlampau lama di sini. Tetapi aku mengharap bahwa pada suatu

ketika aku dapat berada di sini kembali”.

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan sejenak

kemudian ia berkata, “Apakah kau telah melepaskan niatmu untuk

mencari pembunuh pamanmu?”

“Tentu tidak. Sampai sepanjang umurku aku akan tetap

mencarinya” jawab Mahisa Agni.

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam, “Kau mendendamnya

bukan, Agni?”

“Mungkin aku memang mendendam, Ken Arok” jawab Mahisa

Agni, “Tetapi yang lebih membuatku hampir gila adalah alasan

apakah yang membuat orang itu membunuh paman Empu

Gandring. Kalau aku kemudian mengetahui alasan itu, aku kira aku

tidak akan menjadi sepanas sekarang”.

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak

segera menjawab.

Mahisa Agnilah yang kemudian berbicara. Katanya, “Seperti

nasehatmu Ken Arok, aku akan menyerahkan persoalanku kepada

Witantra sebagai pemimpm tertinggi dari pasukan pengawal. Dan

aku akan minta kepadamu untuk membantunya apabila kau tidak

berkeberatan”.

“Tentu Agni. Aku sama sekali, tidak berkeberatan”.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelah

mengucapkan terima kasih, maka Mahisa Agni pun kemudian minta

diri untuk kembali ke rumah Witantra.

Ketika ia telah berada beberapa langkah dari rumah Witantra itu,

hatinya menjadi berdebar-debar. Ia melihat sesosok tubuh berdiri di

regol bersandar dinding.

Mahisa Agni menarik nafas. Ketika ia menengadahkan wajahnya,

dilihatnya matahari sudah menjadi semakin rendah. Bahkan telah

menyentuh punggung bukit di ujung Barat.

Mahisa Agni tidak dapat melangkah surut. Kalau ia berbelok, atau

kembali ke arah yang berlawanan, pasti akan sangat menyakitkan

hati. Karena itu, meskipun tengkuknya meremang seperti disentuh

hantu, ia berjalan terus.

Dadanya menjadi kian berdebar-debar ketika ia menjadi semakin

dekat dan melihat gadis itu tersenyum.

“Darimana kau sehari-harian Agni?” terdengar suara gadis itu

semanak.

Terasa jantung Mahisa Agni berdetak semakin cepat. Dengan

suara yang datar ia menjawab, “Berjalan-jalan Ken Umang. Aku

ingin melihat wajah kota ini saluruhnya sebelum uku kembali ke

Panawijen”.

Ken Umang tertawa. Katanya, “Kau hanya melihat wajah kota ini

di siang hari. Apakah kau tidak ingin melihat kehidupan kota ini di

malam hari?”

“Sudah Ken Umang. Aku sudah sering berjalan-jalan di malam

hari bersama Witantra. Tetapi kota ini tertidur nyenyak apabila

matahari telah terbenam”.

Ken Umang tertawa. Katanya, “Kalau kau berjalan-jalan dengan

kakang Witantra, memang, kau hanya akan melihat bayangan

lampu-lampu di regol halaman. Tetapi apakah kau pernah

menyusuri jalan-jalan di tengah-tengah padukuhan di kota ini?

Apakah kau pernah pergi ke banjar-banjar di sudut-sudut kota?

Nah, apabila kau ingin melihat gadis-gadis berlatih menari, marilah,

pergilah bersama aku. Aku akan menunjukkan kepadamu,

bagaimana kami, gadis-gadis, berlatih menari”.

Sejenak Mahisa Agni berdiri mematung. Ia benar-benar berdiri di

simpang jalan. Hati laki-laki mudanya mendorongnya untuk

menerima ajakan itu. Bahkan sebuah alasan telah memperkuatnya.

Katanya di dalam sudut hatinya, “Mungkin aku akan bertemu

dengan orang yang sedang aku cari itu”.

Namun tiba-tiba ia menggelengkan kepalanya sambil berkata,

“Terima kasih Ken Umang. Mungkin aku akan pergi melihatnya lain

kali. Tetapi kini aku terlampau lelah setelah aku berjalan hampir

sehari penuh”.

“Salahmu. Dan perjalananmu yang melelahkan itu pasti tidak

akan melihat apapun yang berarti”.

Mahisa Agni tidak menyahut.

“Tetapi kalau kau mau pergi bersamaku, kau tidak akan menjadi

kian lelah. Justru sebaliknya. Kau akan menjadi segar. Dan semalam

kau akan dapat tidur dengan nyenyak”.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam, “Terima kasih Ken

Umang. Mungkin tidak malam ini”.

Wajah Ken Umang yang cerah sudah mulai menjadi muram.

Senyumnya sudah tidak menghiasi bibirnya lagi. Katanya, “Mahisa

Agni. Kau jangan menyakitkan hatiku. Kalau kau tidak angin

berjalan-jalan, sudahlah. Tetapi apakah kau bersedia mengantar aku

malam ini? Hari ini adalah hari latihan. Aku akan berlatih di banjar.

Lima hari lagi akan datang hari Aditya ketiga di bulan Palguna ini?

Nah, Ki Buyut akan merayakan hari lahirnya pada windu yang

kesembilan”.

Sekali lagi Mahisa Agni menarik nafas. Namun ia menjadi makin

menyadari keadaannya, sehingga justru ia bertahan semakin kuat.

Jawabnya, “Maaf Ken Umang. Kali ini aku benar minta maaf.

Mungkin lain kali aku akan mengantarkanmu”.

Semua sisa-sisa senyum di wajah Ken Umang seakan-akan telah

tersapu bersih. Wajah itu kini menjadi tegang. Dan gadis itu pun kini

berdiri gemetar.

“Kau terlampau sombong anak Panawijen. Kau tidak melihat ke

dirimu sendiri. Kalau kau mau bercermin di permukaan

belumbangmu, kau akan melihat, bahwa kau sama sekali tidak

berarti apapun bagi Tumapel. Kesempatan ini terlampau baik

bagimu Mahisa Agni. Tetapi agaknya kau tidak dapat melihat ke

masa depan yang baik selain sawah-sawahmu. Memang kau

sepantasnya berada di terik matahari di belakang bajak-bajakmu.

Kau telah menyia-nyiakan belas kasihanku, ingat, aku adalah adik

Pimpinan Tertinggi Pasukan Pengawal Istana Tumapel. Dan kau

adalah seorang anak padesan yang tidak berarti apa-apa. Kalau

sekarang kau masih sempat menyombongkan dirimu, suatu ketika

kau akan mencium ujung jari kakiku. Kau sangka aku tidak dapat

berbuat jauh lebih banyak dari yang aku lakukan sekarang? Kau

sangka bahwa aku tidak akan dapat menjadi seorang Permaisuri

seperti adikmu, gadis yang dungu itu?”

Terasa dada Mahisa Agni berguncang. Tetapi ia berusaha untuk

tetap mengendalikan perasaannya. Ken Umang ternyata adalah

seorang gadis yang tidak selembut wajahnya. Karena itu, maka

gadis itu pasti akan dapat berbuat apa saja untuk memuaskan sakit

hatinya. Dan dada Mahisa Agni menjadi kian berdebar-debar ketika

ia mendengar Ken Umang berkata, “Nah, baiklah. Tetapi kembalikan

untaian bungaku yang terjatuh d ibilikmu kemarin”.

Sejenak Mahisa Agni terbungkam. Ia berdiri mematung. Namun

dadanya serasa menjadi semakin berdentangan.

“Supaya kau tidak berprasangka, bahwa aku akan mengambil

barang-barangmu, nah antarkan aku masuk ke dalam bilikmu itu

untuk mengambil bunga itu”.

Dan tiba-tiba saja Mahisa Agni menggelengkan kepalanya,

“Sayang Ken Umang, bunga itu sudah tidak ada di dalam bilikku”.

“He” Ken Umang membelalakkan matanya, “Di mana kau

letakkan bunga itu?”

Mahisa Agni tidak segera dapat menjawab. Ia merasa

keadaannya menjadi semakin sulit. Sudah tentu ia tidak akan dapat

mengantarkan Ken Umang masuk ke dalam biliknya dengan alasan

apapun. Menilik kekerasan hati gadis itu, maka banyak hal akan

dapat terjadi. Karena itu, maka ia pun tidak segera dapat

menjawab.

“Kau apakan bunga yang kuuntai hampir sehari penuh itu?”

desak gadis itu.

Mahisa Agni masih tetap berdiam diri. Ia tidak segera

menemukan jawabnya. Apalagi ketika dilihatnya sekilas mata Ken

Umang yang seakan-akan telah menyala itu.

“Kau apakan hai anak padesan yang sombong?” bentak Ken

Umang.

Mahisa Agni kini mengangkat wajahnya. Ia tidak senang

mengalami perlakukan yang demikian. Untunglah bahwa ia masih

tetap menyadari, bahwa ia berhadapan dengan seorang gadis.

“Ken Umang” berkata Mahisa Agni kemudian, “Kau jangan

bersikap terlampau berlebih-lebihan. Mungkin kau dapat menghina

aku, dan mungkin aku tidak akan berbuat apa-apa, karena kau

seorang perempuan. Tetapi apakah sikap yang demikian itu baik

bagimu? Bagi seorang gadis kota yang seharusnya lebih banyak

mengenal unggah-ungguh daripada anak-anak padesan?”

Tetapi ternyata kemarahan yang membakar dada Ken Umang

tidak mereda, justru menjadi kian membara. Kini sorot mata gadis

itu langsung menusuk ke dadanya. Katanya dengan suara yang

gemetar, “Kau mau apa? Kalau kau ingin berbuat sesuatu

lakukanlah”.

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya, “Aku akan melakukan

kesalahan yang sangat besar apabila aku melakukan sesuatu

atasmu dalam keadaan ini”.

Gigi gadis itu menjadi gemeretak. Tiba-tiba ia berlari masuk ke

halaman, menyusup dibawah pintu regol sambil berkata, “Aku akan

mencari bungaku di dalam bilikmu. Aku akan merusak apapun yang

kau punyai di dalam bilik itu. Kalau kau tidak rela, cegahlah aku”.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Sudah tentu ia tidak

berani menyusul gadis itu ke dalam biliknya. Gadis yang sendang

sakit hati itu dapat saja berteriak, dan menyebutnya apa saja.

Dengan demikan, maka ia akan kehilangan semua kesempatan di

dalam rumah itu.

Karena itu, maka Mahisa Agni sama sekali tidak pergi ke dalam

biliknya. Ia langsung naik ke pendapa dan masuk ke pringgitan.

Setelah sejenak ia duduk, maka Witantra pun kemudian keluar pula

dari ruang dalam.

Kesempatan itu, dipakai oleh Mahisa Agni untuk menyatakan

maksudnya, meninggalkan Tumapel, meskipun ia belum berhasil

menemukan pembunuh pamannya.

“Aku harus segera kembali ke Padang Karautan Witantra” berkata

Mahisa Agni.

“Tetapi bukankah kau berhasrat untuk menemukan pembunuh

Empu Gandring?”

“Ya, sebenarnya demikian”.

“Tetapi, apakah ada sesuatu yang membuat kau mendapat

kesulitan? Mungkin ancaman dari seseorang atau dari sesuatu

pihak?”

“Aku kira, aku tidak akan menghindari ancaman apapun juga

Witantra. Tetapi……” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.

“Tetapi, apakah ada persoalan lain?”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Namun kemudian ia

mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Aku

mempunyai banyak kewajiban di Padang Karautan Witantra. Aku

tidak dapat meninggalkan mereka terlampau lama. Selain Padang

Karautan, akupun harus singgah dahulu di Lulumbang. Aku harus

memberikan laporan kepada keluarga Empu Gandring”.

“Apa yang akan kau katakan kepada mereka? Kau sama sekali

belum berhasil menemukan pembunuh itu”.

“Itulah yang akan aku laporkan, bahwa aku belum dapat

menemukan pembunuh itu. Tetapi aku telah bertemu dengan orang

yang aku cari itu, meskipun aku tidak berhasil menangkapnya”.

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Waktu yang aku perlukan tidak terbatas” berkata Mahisa Agni

kemudian, “Karena itu, aku akan pulang lebih dahulu. Namun

demikian, aku akan tetap minta bantuanmu Witantra. Apabila kau

menemukannya, tolong, tanyakan kepadanya, apakah alasannya

maka ia membunuh paman Empu Gandring. Selebihnya, terserah

kepada peraturan yang ada. Apakah hukuman orang yang

membunuh orang lain tanpa sebab dan tidak dalam suatu

perkelahian yang adil”.

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Apabila mungkin” berkata Mahisa Agni kemudian, “Aku

mengharap seseorang memberitahukan kepadaku. Mungkin Ken

Arok akan bersedia melakukannya”.

“Baiklah, Aku akan mencobanya. Dan aku kira Ken Arak memang

akan bersedia memberitahukan hal itu kepadamu”.

“Aku akan menunggu di Padang Karautan. Apabila dalam suatu

kesempatan aku tidak terlampau sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan

seorang petani, maka aku akan datang berkunjung kemari”.

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kapankah kau akan berangkat ke Panawijen atau ke

Lulumbang?”

Mahisa Agni menjadi ragu-ragu. Kalau ia menunggu esok, maka

malam ini sesuatu akan dapat terjadi atasnya, apabila Ken Umang

benar-benar telah disilaukan oleh sakit hatinya. Karena itu, maka ia

tidak mempunyai pilihan lain daripada menjawab, “Sekarang

Witantra”.

“Sekarang?” Mahisa Agni mengangguk.

“He, apakah kau sedang bermimpi?”

“Aku memang lebih senang menempuh perjalanan di malam hari.

Tidak panas dan tidak terlampau banyak berpapasan dengan orangorang

lain, yang kadang-kadang membuat persoalan tanpa kita

kehendaki. Karena itu, aku akan berangkat sekarang”.

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kedatanganmu

memberikan persoalan kepadaku. Sekarang kepergianmu pun

memberikan kesan yang aneh kepadaku. Seolah-olah ada sesuatu

yang tidak kau katakan. Apakah kau mendapat petunjuk-petunjuk

yang lain tentang pembunuhan itu?”

Mahisa Agni menjadi bingung, bagaimana menjawab pertanyaan

itu. Agaknya Witantra dapat melihat sikapnya, bahwa sebenarnya

ada sesuatu masalah yang telah memaksanya meninggalkan rumah

itu. Tetapi bagaimanapun juga, maka sudah barang tentu, ia tidak

akan mengatakannya.

“Tidak ada petunjuk lain dan bahkan petunjuk apapun Witantra,

dan juga tidak ada sebab apapun, selain kuwajibanku yang telah

memanggil aku di Padang Karautan”.

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya, “Sokurlah, kalau

tidak ada persoalan-oersoalan yang lain, yang justru akan dapat

menghambat persoalan yang masih belum selesai itu”.

“Tidak Witantra” Mahisa Agni menggelengkan kepalanya.

“Tetapi sebaiknya kau menunggu sampai esok”. Mahisa Agni

menggelengkan kepalanya, “Terima kasih”.

“Dalam waktu dekat, aku akan segera datang lagi ke Tumapel”.

Witantra sudah tidak dapat menahan Mahisa Agni lagi. Karena

itu, maka dilepaskannya saja Mahisa Agni itu kemudian

meninggalkan rumahnya.

Katika ia minta diri kepada isteri Witantra maka Nyai Witantra itu

pun terkejut pula. Bahkan ia bertanya, “Apakah pelayanan kami

mengecewakan?”

“Oh tidak. Tidak” jawab Mahisa Agni dengan serta-merta, “Aku

berterima kasih sekali. Dan aku tidak akan melupakan kebaikan hati

kalian”.

Ketika Mahisa Agni menuntun kudanya ke regol halaman, dan

ketika kuda itu meringkik, maka Ken Umang yang masih berada di

dalam bilik Mahisa Agni terkejut. Ternyata Maliisa Agni benar-benar

tidak mau masuk ke dalam biliknya. Dengan tergesa-gesa Ken

Umang itu meloncat keluar dan dari celah-celah daun pintu

mengintip ke halaman. Dilihatnya Mahisa Agni diantar oleh kakaknya

suami isteri sampai ke regol halaman. Kemudian Mahisa Agni itu

pun hilang dibalik dinding halaman dan kegelapan malam.

“Kemanakah anak itu?” desisnya.

Ketika kemudian kakak perempuannya masuk ke ruang dalam, ia

bertanya, “Kemanakah tamu itu malam-malam begini?”

“Pulang”.

“Pulang? Kemana?”

“Kerumahnya, Padang Karautan”.

Dada Ken Umang berdesir. Tetapi segera ia meredakan luapan

perasaannya, sehingga tidak berkesan di wajahnya.

Namun kemudian ia pergi ke dalam biliknya, menjatuhkan diri di

pembaringan sambil mengumpat-umpat di dalam hati.

“Anak desa yang dungu. Aku telah kehilangan harga diriku

sebagai seorang gadis karena aku tergila-gila kepada ketampanan

dan kejantanan yang memancar dari dirinya. Tetapi aku

dicampakkanya tanpa belas kasihan”. Tetapi hanya sejenak

kemudian ia sudah bangkit sambil menggeretakkan giginya. Dengan

penuh dendam ia berkata, “Aku telah dihinakannya. Aku harus

membalas dengan cara apapun”.

Sementara itu Mahisa Agni telah memacu kudanya disepanjang

jalan Tumapel. Sekali-kali ia berpaling, namun malam yang gelap

sajalah yang dilihatnya memutarinya.

Sebenarnya ia masih saja dicengkam oleh keragu-raguan

meninggalkan kota ini. Ia masih selalu dibayangi oleh tugas yang

telah ditetapkannya sendiri di atas pundaknya. Mencari pembunuh

pamannya. Tetapi ternyata ia tidak berhasil. Bahkan ia hamperhampir

saja jatuh ke dalam kesulitan, apabila ia tidak segera

menghindar dari rumah Witantra.

Seluruh keluarga Empu Gandring menjadi kecewa, ketika mereka

menerima kedatangan Mahisa Agni dengan tangan hampa. Namun

mereka masih tetap berpengharapan, bahwa suatu ketika

pembunuhan itu akan dapat tersingkap. Apalagi ketika mereka

mendengar, bahwa seseorang telah mencoba membunuh Mahisa

Agni dengan curang.

Sementara itu, sepeninggal Mahisa Agni, Witantra sama sekali

tidak menghentikan usahanya, mencari pembunuh Empu Gandring.

Tetapi usahanya selalu sia-sia. Tidak ada tanda-tanda sama sekali

bahwa salah seorang anak buahnya telah melakukannya.

Setiap kali Witantra selalu berusaha menghubungi Ken Arok.

Namun bagaimanapun juga, rahasia pembunuhan itu masih tetap

gelap sama sekali. Sama sekali tidak ada petunjuk secercah pun

yang dapat dipakai untuk merintis jalan, mencari pembunuh yang

licik itu.

Maka lambat laun, usaha pencaharian itu pun menjadi semakin

kendor. Baik Witantra, maupun Ken Arok, telah hampir tidak pernah

membicarakannya lagi.

Ketika pada suatu ketika Mahisa Agni datang lagi ke Tumapel

untuk mengantarkan ibunya bersama dua orang prajurit yang

memang mendapat tugas untuk itu, Witantra dengan menyesal

mengatakan, bahwa usahanya sama sekali belum berhasil.

“Bagaimanapun juga, aku mengucapkan beribu terima kasih

Witantra” berkata Mahisa Agni, “Mudah-mudahan pada suatu ketika

orang itu diketemukan. Aku yakin, bahwa tuntutan keadilan tidak

akan dapat dihindarkannya”.

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya, “Begitulah

hendaknya”.

Dalam pada itu, ketika hampir semua orang telah melupakan

peristiwa pembunuhan yang menggemparkan itu, Ken Arok

berkunjung ke rumah sahabatnya, seorang prajurit pengawal yang

masih muda, Kebo Ijo.

Kunjungan itu sendiri sama sekali tidak menarik. Setiap kali Ken

Arok memang sering berkunjung ke rumahnya dan sebaliknya, Kebo

Ijo pun selalu datang ke baraknya.

Namun kunjungan Ken Arok kali ini telah sangat menarik

perhatian Kebo Ijo. Ken Arok yang datang dengan pakaian lengkap

seorang Pelayan Dalam, membawa sebilah keris yang terselip di

punggungnya. Keris yang agak lain dari keris yang pernah

dilihatnya.

“He, Ken Arok. Apakah kau mendapat sebilah keris baru?”

Ken Arok tidak segera menjawab. Diputarnya kerisnya yang

terselip di punggung itu, sehingga hulunya kini berada di

lambungnya.

Kebo Ijo menjadi semakin tertarik. Ia pun kemudian menjadi

semakin dekat di belakang Ken Arok, “He, kerismu itu agak aneh”

katanya.

“Kenapa?” bertanya Ken Arok.

“Hulu kerismu bukanlah ukiran biasa”.

Ken Arok tertawa. Katanya, “Memang kerisku sangat menarik

perhatian. Mungkin di seluruh Tumapel, bahkan di seluruh dunia,

tidak akan ada yang serupa”.

“Lihat, apakah kerismu itu benar-benar sebilah keris atau hanya

sekedar mainan anak-anak”.

Ken Arok mengerutkan keningnya. “Jangan menghina” katanya.

“Tetapi hulu itu”.

Ken Arok menarik keris dan sarungnya sama sekali dari

lambungnya. Ditimangnya sejenak, lalu .katanya, “Aku membuat

hulu keris mi dengan caraku”.

“Bagaimana?”

“Aku mengambil sebatang dahan hidup. Begitu saja aku jadikan

hulu kerisku ini. Kayu cangkring”.

“Tetapi dengan demikian kerismu menjadi sangat menarik Ken

Arok” Kebo Ijo mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ketika

tangannya terjulur, Ken Arok menarik keris itu, “Jangan. Hanya

orang-orang yang bijaksana saja yang boleh memakai keris ini”.

“Omong kosong” jawab Kebo Ijo, “Lihat, aku ingin melihat

wilahan keris itu”.

“Keris ini bukan keris mainan, Kebo Ijo”.

“Dan aku bukan anak-anak yang baru dapat bermain-main”

jawab Kebo Ijo.

Akhirnya Ken Arok tidak dapat mencegahnya lagi. Dengan hatihati

sekali Kebo Ijo menarik keris itu dari wrangkanya. Demikian ia

melihat wilahan keris itu, maka dengan serta-merta ia bergumam,

“Bukan main, bukan main”.

Setelah diangkatnya keris itu di atas kepalanya, maka dengan

seksama diperhatikannya setiap lekuk pada wilahannya. Pamor yang

seakan-akan bercahaya kebiru-biruan di atas besi baja pilihan.

Tiba-tiba ia mengerutkan keningnya. Ia melihat sesuatu yang

tidak lazim terdapat pada wilahan keris.

“Ken Arok, apakah mataku yang kurang baik, atau memang

terdapat pada wilahan keris ini?”

“Apa yang kau lihat?”

“Bintik-bintik yang berwarna kekuning-kuningan”.

Ken Arok mengerutkan keningnya. Kemudian, jawabnya, ”Itulah

letak kelebihan keris itu dari keris-keris yang lain. Meskipun mungkin

ada seorang Empu yang sanggup membuat keris dengan dapur dan

pamor yang sama, tetapi tidak akan ada seorang Empu pun yang

sanggup membuat bintik-bintik yang seolah-olah menyala, apalagi di

dalam kegelapan. Warna kuning itu akan memancar seperti kunangkunang

emas”.

Kebo Ijo mengangguk-anggukkan kepalanya. Keris itu agaknya

sangat menarik perhatiannya.

“Ken Arok, dari manakah kau mendapat keris ini?”

“Keris itu adalah keris peninggalan”.

Kebo Ijo mengerutkan keningnya, “Tetapi bukankah hulu keris ini

baru dan pada beberapa bagian aku melihat, seolah-olah keris ini

baru saja dibuat”.

“Apakah kau sudah melihatnya dengan teliti?” Kebo Ijo menarik

nafas dalam-dalam. Ia melihat jalur-jalur yang aneh pada pamor

keris itu. Meskipun Ken Arok telah membersihkannya, namun ada

juga noda-noda yang masih tersangkut pada lekuk-lekuk yang

lembut pada wilahan keris itu. Tetapi Kebo Ijo tidak dapat

menyebutkannya, bahwa jalur-jalur yang aneh itu, adalah bekas

darah yang telah menjadi kering, yang masih tinggal ketika keris itu

dibersihkan.

Tetapi keseluruhan dari keris itu, menurut tangkapan mata Kebo

Ijo adalah keris yang paling sempurna yang pernah dilihatnya.

Karena itu, terdorong oleh wataknya, maka Kebo Ijo itu pun

berkata, “Ken Arok, apakah keris ini merupakan pusaka warisan

bagimu?”

“Ya, keris itu adalah keris peninggalan. Satu-satunya warisan

yang aku miliki dari orang tuaku”.

Kebo Ijo mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tiba-tiba ia

bertanya, “Siapakah sebenarnya kau ini? Kalau orang tuamu

memberikan warisan serupa ini, maka orang tuamu pasti seorang

yang memiliki keahlian dalam menilai keris. Aku memang

mempelajarinya serba sedikit. Meskipun belum sempurna benar,

tetapi aku dapat membedakan dan dapat mengerti bahwa keris ini

adalah keris yang luar biasa”.

Tetapi Ken Arok menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Orang

tuaku adalah orang kebanyakan, seorang patani yang miskin”.

Kebo Ijo tidak mendesaknya. Ia menganggap bahwa Ken Arok

sengaja merahasiakannya.

“Tetapi” berkata Kebo Ijo kemudian, “Aku belum pernah melihat

kau mempergunakan keris ini. Kau selalu membawa keris yang lain,

yang menurut penilaianku, keris yang sama sekali tidak bernilai

apapun. Baik sebagai senjata maupun sebagai sipat kandel”.

Ken Arok tertawa. Katanya, “Keris yang berharga tidak setiap hari

dibawa kemana-mana. Hanya apabila perlu dan penting sajalah

keris itu akan disandang”.

“Tetapi sekarang kau membawa keris ini, apakah ada sesuatu,

yang penting akan terjadi?”

Ken Arok menggelengkan kepalanya, “Kali ini tidak. Aku hanya

sekedar ingin memakainya. Aku tidak tahu, apakah sebabnya.

Mungkin karena sudah terlalu lama aku menyimpannya”.

Kebo Ijo memandang wajah Ken Arok dengan penuh curiga.

Kalau keris itu keris pusaka, maka alasan Ken Arok itu terlampau

dibuat-buat. Karena itu, maka Kebo Ijo mendesaknya, “Apakah kau

merahasiakan sesuatu Ken Arok, sehingga kau tidak mau

mengatakan yang sebenarnya”.

“Aku berkata sebenarnya” jawab Ken Arok. Sekali lagi Kebo Ijo

termangu-mangu. Namun kemudian, ia berkata, “Aku tahu. Agaknya

kau hanya ingin memamerkan kerismu itu”.

“Yah. Kalau kau berpendapat demikian, tidak ada salahnya. Aku

memang ingin menunjukkan kepadamu, bahwa aku mempunyai

sebilah keris yang sangat baik”.

Kebo Ijo mengangguk-angguk. Tetapi ia masih tetap bercuriga.

Meskipun demikian, ia bertanya, “Apakah kau tidak hanya sekedar

berpura-pura untuk sesuatu maksud yang tidak aku ketahui?”

“Tidak Kebo Ijo. Aku tidak mempunyai maksud apapun. Aku

benar-benar hanya ingin mengeluarkan pusaka itu sekali waktu dari

simpanan, kemudian aku memang juga ingin menunjukkan

kepadamu bahwa aku mempunyai pusaka yang yang baik sekali”.

Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba ia bertanya,

“Betulkah bagitu?”

“Apakah kau tidak percaya?”

Sekali lagi Kebo Ijo mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi

tiba-tiba ia berkata bersungguh-sungguh, “Ken Arok. Selama ini aku

belum pernah mempunyai sebilah keris sebagus ini. Apakah kau

tidak berkeberatan apabila keris ini kau berikan kepadaku?”

“He” Ken Arok membelalakkan matanya, “Mana mungkin. Keris

itu adalah keris pusaka, satu-satunya peninggalan dari orang tuaku.

Kepada Akuwu pun tidak akan aku serahkan, apabila ia

menginginkannya”.

“Tetapi, aku bukan Akuwu Tunggul Ametung. Aku adalah

sahabatmu”.

“Maaf Kebo Ijo. Keris itu memiliki banyak sekali kasiat. Ia dapat

membuat hati menjadi tenteram. Ketenangan di dalam keluarga.

Tetapi apabila keris itu berada di medan peperangan, ia akan

membakar seluruh kekuatan lawan menjadi abu”.

“Ya, ya. Aku percaya. Aku memang melihat kelebihan pada keris

ini, meskipun aku tidak mengenal bintik-bintik yang berwarna

kekuning-kuningan. Sejak aku belajar mengenal keris, aku belum

pernah melihat bintik-bintik yang demikian itu”.

“Karena itu, keris itu tidak akan dapat aku serahkan kepada

siapapun”.

“Ken Arok. Bukankah kau belum berumah tangga, sehingga kau

belum memerlukan ketenteraman di dalam sebuah keluarga.

Tolonglah aku. Isteriku kadang-kadang sering membuat keributan di

dalam rumah. Mungkin keris itu akan dapat berpengaruh”.

“Bohong” jawab Ken Arok, “Aku yakin bahwa bukan itu

maksudmu yang sebenarnya. Aku berani bertaruh, tujuh helai

rambut. Kau pasti akan memamerkan keris itu kepada kawankawanmu

apabila keris itu ada padamu”.

“Ah”.

Ken Arok tertawa. Sambil menunjuk wajah Kebo Ijo yang masih

berusaha untuk berkata bersungguh-sungguh, “Jangan bohong”.

Namun kemudian Ken Arok berkata, “Tetapi kalau kau tunjukkan

kepada orang-orang yang mengerti tentang keris, tidak apalah.

Mereka akan memberikan penilaian yang wajar atas keris itu. Kalau

ada cacatnya mereka pasti akan mengatakan cacat itu, sedangkan

kalau ada kelebihannya, mereka akan menyebutkan kelebihan itu

pula”.

Tiba-tiba wajah Kebo Ijo menjadi cerah. Dengan serta-merta ia

berkata, “Jadi kau berikan keris ini kepadaku?”

“He? Siapa bilang?” potong Ken Arok, “Sudah aku katakan bahwa

keris itu adalah keris pusaka. Tidak akan aku lepaskan kepada

siapapun juga, meskipun kepada Akuwu Tunggul Ametung, bahkan

kepada Maharaja di Kediri”.

“Lalu apa maksudmu?”

“Sejauh-jauhnya keris itu hanya dapat aku pinjamkan untuk

sementara”.

“Begitu pun jadilah” sahut Kebo Ijo, “Aku ingin meminjam

kerismu untuk beberapa lama. Mudah-mudahan pengaruhnya akan

memberikan ketenteraman di dalam keluargaku, meskipun aku

masih meragukan bintik-bintik yang berwarna kekuning-kuningan

itu”.

Dada Ken Arok berdesir. Agaknya Kebo Ijo memang mengenal

keris, sehingga ia dapat melihat kelainan pada kerisnya karena

bintik-bintik yang aneh itu.

“Tetapi” berkata Kebo Ijo kemudian, “Yang pasti, bahwa keris itu

adalah yang luar biasa. Aku melihat kesejukan memancar dari keris

ini. Tetapi aku tidak mengerti, kenapa aku agak menyayangkan

ketiga bintik-bintik yang berwarna kuning ini. Tetapi aku kira

pengaruhnya tidak akan dapat melampaui kemampuan kerismu

memberikan ketenteraman dan kesejukan”. Kebo Ijo berhenti

sejenak, lalu, “Namun, di medan perang kerismu memang

mempunyai pengaruh yang luar biasa. Bahkan aku menjadi cemas,

bahwa keris akan dapat membawa malapetakan bagi lawan”.

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi” berkata Kebo Ijo, “Semuanya itu belum merupakan

kepastian. Yang sudah pasti, kerismu adalah keris yang luar biasa.

Buatannya halus dan cermat, hulunya yang aneh inipun justru

memberikan warna yang lain daripada keris yang biasa kita kenal”.

“Ya, demikianlah”.

”Jadi, bagaimana? Apakah aku dapat memakai kerismu beberapa

lama?”

“Baiklah. Tetapi aku pesan kepadamu. Seandainya keris itu kau

perlihatkan juga kepada orang-orang yang mengerti tentang keris,

jangan sekali-sekali kau sebutkan, bahwa keris itu adalah kerisku”.

“Kenapa?”

“Kalau keris itu benar-benar keris yang baik, mereka pasti akan

membuat aku bertambah pekerjaan dengan melayani mereka”.

Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Ia tidak, segera tahu maksud

Ken Arok. Apakah hubungannya, antara keris yang baik dan

pekerjaan Ken Arok yang kian menjadi banyak.

Sehingga karena itu ia terpaksa bertanya, “Kenapa pekerjaanmu

menjadi kian banyak dengan pelayanan itu?”

“Mereka tentu akan datang kepadaku dan bertanya-tanya

tentang keris itu” jawab Ken Arok, “Karena itu, aku minta kau tidak

usah mengatakan bahwa keris itu adalah kerisku. Katakan saja

bahwa keris itu kerismu, dan kau terima warisan, dari orang tuamu.

Atau kau katakan apa saja tentang keris itu, asal tidak kau katakan,

bahwa keris itu dari aku”.

Kebo Ijo merenung sejenak. Kemudian ia menganggukanggukkan

kepalanya sambil menjawab, “Baik. Baik. Aku tidak akan

mengatakan apapun tentang keris itu”.

“Baiklah” jawab Ken Arok, “Tetapi ingat. Kalau kau meminjam

keris itu untuk kepentingan apapun, namun jangan sampai

menimbulkan persoalan apapun padaku. Kalau kau menambah

persoalan betapapun kecilnya, maka keris itu akan segera aku ambil

kembali”.

“Tentu, tentu. Aku tidak akan membuat persoalan apapun karena

keris itu”.

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan sejenak

kemudian ia berkata, “Hati-hatilah dengan pusaka itu”.

“Aku bukan anak-anak lagi. Aku adalah seseorang yang pernah

mempelajari masalah keris meskipun belum sempurna”.

Sekali lagi Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan

sambil minta diri ia bergumam, “Aku titipkan keris itu kepadamu.

Aku akan pulang. Jagalah baik-baik”.

“Tentu, tentu”.

Ken Arok itu pun kemudian meninggalkan rumah Kebo Ijo.

Disepanjang jalan hatinya menjadi berdebar-debar. Ia harus

menunggu perkembangan keadaan. Keris itu memang

ditinggalkanya di rumah Kebo Ijo sebagai kelanjutan rencananya.

Kalau rencana ini gagal maka keseluruhannya pun pasti akan gagal.

Bahkan apabila seseorang mengenal bahwa keris itu adalah buatan

Empu Gandring yang terakhir, maka pasti akan timbul persoalan

karenanya. Namun agaknya Ken Arok memang sudah menyusun

rencananya dengan cermat. Dan otaknya yang cerah, agaknya telah

sangat membantunya untuk menyelesaikan rencana itu.

Baru saja Ken Arok keluar, dari pintu rumah Kebo Ijo. Kebo Ijo

ternyata telah dihinggapi oleh penyakitnya. Ia adalah anak muda

yang sombong. Yang terlampau senang dipuji dan kadang-kadang

sifat-sifat itu mendapatkan bentuknya yang berlebih-lebihan

sehingga Kebo Ijo menjadi tidak begitu disukai oleh orang-orang di

sekitarnya.

Demikian pula dengan keris itu.

Belum lagi Ken Arok sampai ke baraknya, Kebo Ijo telah

berpakaian rapi. Kemudian ia pergi berjalan-jalan kemana saja

tanpa tujuan tertentu. Yang penting baginya adalah menunjukkan

bahwa ia mempunyai sebilah keris yang baru.

Memang yang mula-mula didatanginya adalah orang-orang yang

dianggapnya mengerti tentang keris. Mereka yang disangkanya akan

dapat memberikan pujian atas keris itu, dan sudah tentu

kepadanya.

“Darimana kau dapat keris itu Kebo Ijo?” bertanya salah seorang

kawannya yang mengagumi keris itu.

“Tentu dari orang tuaku. Keris ini adalah keris warisan. Ayahku

adalah seorang yang banyak menyimpan keris-keris yang baik

serupa ini. Tetapi keris yang diberikan kepadaku adalah keris yang

paling baik”.

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka

benar kagum melihat keris itu. Buatannya yang halus dan cermat.

Terlebih-lebih lagi bahwa keris itu seakan-akan mempunyai

kekuatan yang tidak kasat mata. Pamornya yang bercahaya kebirubiruan,

dan yang sangat menarik perhatian adalah bintik-bintik yang

berwarna kekuning-kuningan sehingga seolah-olah di dalam cahaya

yang kebiru-biruan itu memancar percikan-percikan warna

keemasan.

“Bukan main” berkata kawannya yang lain, “Hanya keris yang

tiada taranya dapat memancarkan cahaya yang demikian cerahnya.

Aku memang pernah melihat keris yang seakan-akan menyalakan

warna kebiru-biruan, dan aku pernah juga melihat keris yang

bagaikan bara api di malam hari. Tetapi aku tidak pernah

merasakan getar yang langsung menyusup sampai ke pusat jantung

seperti ketika aku menyentuh tangkai keris ini”.

Kebo Ijo mengangkat kepalanya sambil tersenyum. Dan ia pun

kemudian meninggalkan kawan-kawannya yang sedang

mengaguminya. Ia pergi dari seorang kawan ke kawannya yang

lain.

Demikianlah dalam beberapa hari saja, telah banyak kawankawan

Kebo Ijo yang mengetahui, bahwa Kebo Ijo memiliki sebilah

keris yang amat bagus.

Tetapi sampai sekian jauh, Kebo Ijo tidak mau memamerkan

kerisnya itu kepada Witantra. Ia takut kalau kakak seperguruannya

itu akan mendesaknya, darimana ia mendapat keris itu. Kalau ia

mengatakannya bahwa keris itu didapatkannya dari ayahnya, maka

Witantra pasti akan bertanya-tanya di dalam hatinya. Kenapa

warisan itu baru kini dilihatnya, setelah ia bergaul sekian lama

dengan Kebo Ijo sebagai saudara seperguruan.

Ken Arok yang telah menyusun rencananya dengan cermat,

mengikuti perkembangan keadaan dengan seksama. Hampir setiap

hari ia medengar, kawan-kawan Kebo Ijo mempercakapkan keris

yang pernah dipamerkannya kepadanya.

Namun setelah Kebo Ijo puas dengan kekaguman beberapa

orang kepadanya, maka kawan-kawannya pun telah mulai

melupakannya pula. Sebagian yang lain sudah tidak

memperhatikannya lagi. Adalah soal yang sangat wajar, bahwa

seseorang menerima warisan sebilah keris. Dan Kebo Ijo adalah

salah seorang dari mereka yang menerima warisan serupa itu.

Sedang Kebo Ijo sendiri pun akhirnya hampir melupakannya

pula, bahwa ia masih menyimpan sebilah keris yang hampir tiada

celanya kepunyaan Ken Arok.

Semuanya itu sama sekali tidak terlepas dari pengamatan Ken

Arok. Hampir setiap kejap mata ia mematangkan rencananya. Tidak

seorang pun orang-orang di dalam istana Tumapel yang terlepas

dari pengamatannya. Sejak Akuwu Tunggul Ametung, sampai

kepada jajar dan Juru Taman. Apalagi para emban, juru dang, juru

pengangsu, juru penebah. Semuanya diperhatikannya seorang demi

seorang.

Tetapi dari sekian banyak orang yang diperhatikan oleh Ken Arok,

namun masih ada seorang yang terlepas dari pengawasannya.

Seorang yang bagi Ken Arok tidak begitu penting, meskipun ia selalu

dekat dengan Ken Dedes. Yaitu emban tua pemomong Ken Dedes.

Ketika Kebo Ijo telah jemu memamerkan keris yang dipinjamnya

dari Ken Arok, maka Ken Arok merasa, bahwa ia sudah hampir

sampai kepada puncak rencana yang telah disusunnya. Ia harus

bekerja semakin cermat dan kadang-kadang ia harus masih

berjuang melawan segala macam persoalan di dalam dirinya sendiri.

Apalagi setiap persoalan dipikirkan dan dilaksanakannya seorang

diri. Ia tidak percaya kepada siapapun juga. Meskipun ia berusaha

membangunkan suasana yang aneh di dalam istana Tumapel

dengan menghambur-hamburkan simpanannya yang didapatkannya

dari beberapa orang perampok, dan yang masih disimpannya di

dalam hutan, namun tidak seorangpun yang tahu, bahwa sumber

dari keadaan yang aneh itu adalah Ken Arok. Yang terjadi di Istana

Tumapel adalah suasana yang diliputi oleh kabut rahasia. Hampir

setiap orang hanya sekedar memikirkan dirinya sendiri. Tidak

seorang pun yang tahu, siapakah yang mulai, membiuskan segala

macam asap kemaksiatan. Kini hampir setiap orang di dalam

lingkungan istana telah dihinggapi oleh penyakit harta dan benda.

Suap dan judi. Dan segala macam kelemahan batin yang lain.

Betapa prihatin Witantra melihat suasana itu. Tetapi ia

kehilangan kesempatan untuk mencarinya. Akuwu Tunggul Ametung

tanpa sesadarnya telah menjauhkan pimpinan pengawal itu dari

padanya. Bahkan beberapa anak buahnya pun telah tidak dapat

dipercaya lagi. Sekali dua kali, Witantra sendiri hampir terjerat

dalam keadaan yang serupa. Namun setiap ia mencoba menyelusur

sumber dari segala kekalutan itu, ia terbentur kepada banyak sekali

kesulitan.

Ken Arok melihat suasana itu dengan hati yang berdebar. Ia tidak

boleh meleset. Setiap langkah harus diperhitungkannya. Dan

langkah yang kemudian adalah menyingkirkan Akuwu Tunggul

Ametung.

Tetapi kematian Tunggul Ametung bukanlah tujuan yang

terakhir. Tujuan yang terakhir adalah memperisteri Ken Dedes.

Seorang perempuan yang memiliki kelebihan dari perempuanperempuan

lain. Perempuan yang demikian itulah yang dari guwagarbanya

kelak akan melahirkan orang-orang besar di Tanah

Tumapel, bahkan di seluruh daerah Kediri dan tanah-tanah di

sekitarnya.

Ken Arok yang telah disilaukan oleh cita-citanya yang

membumbung sampai ke langit itu, kemudian sudah tidak dapat

melangkah surut lagi. Empu Gandring telah dikorbankannya.

Kemudian datang giliran Akuwu Tunggul Ametung. Akuwu yang

hanya memikirkan diri sendiri. Akuwu yang sama sekali tidak dapat

mengerti, apa yang sedang berkembang dan apa yang sedang

bergolak di wilayahnya.

Dan saat yang ditunggu-tunggu oleh Ken Arok itu pun telah

datang.

Dalam malam yang gelap, Ken Arok berjalan tersuruk-suruk pergi

ke rumah Kebo Ijo. Udara yang pengap panas telah memeras

keringat dari tubuhnya. Ketika ia menengadahkan wajahnya,

dilihatnya langit yang hitam kelam, dilapisi oleh mendung yang

tebal.

“Hujan akan turun” desis Ken Arok, “Aku harus segera

menyelesaikan pekerjaan ini. Tetapi hujan yang nanti akan turun,

apabila tidak terlampau cepat, justru akan dapat membantuku”.

Dengan hati-hati Ken Arok berjalan di dalam kelam, menyusuri

jalan sempit yang menuju ke rumah Kebo Ijo. Tidak lewat jalan

yang cukup lebar seperti biasanya, yang akan sampai ke regol

depan, tetapi Ken Arok memilih jalan sempit yang menuju ke

butulan dinding halaman rumah Kebo Ijo.

Dengan mengerahkan segenap kemampuannya, Ken Arok

berusaha untuk memasuki halaman rumah Kebo Ijo dari arah

belakang. Dengan lincahnya ia meloncat seperti seekor tupai tanpa

menimbulkan suara apapun. Kemudian dengan mengendapendapkan

dirinya ia berjalan mendekati rumah sahabatnya itu.

Beberapa saat ia berdiri di belakang rumah itu untuk

memperhatikan keadaan, kalau-kalau masih ada seseorang

pembantu rumah Kebo Ijo yang masih terbangun.

Namun rumah itu telah benar-benar menjadi sepi. Sepi, tanpa

sepercik bunyi apapun.

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Sebagai seorang sahabat,

ia sudah sering datang ke rumah itu. Ia mengenal semua segi dan

sudut-sudutnya seperti ia mengenal rumahnya sendiri. Namun Ken

Arok sadar sesadar-sadarnya, sejak ia bersahabat terlampau erat

dengan Kebo Ijo itu, bahwa pada suatu saat sahabatnya ini pun

harus, diumpankannya. Ia akan menjadi salah satu alas untuk

meloncat mencapai cita-citanya.

Setelah menenangkan hatinya sejenak, Ken Arok itu pun segera

mulai bekerja. Dengan hati-hati ia berusaha membuka selarak pintu

belakang. Ia tidak ingin melakukannya dengan kekerasan, supaya

rencananya dapat berlangsung dengan sempurna.

Ken Arok menahan nafas ketika ia mendengar selarak itu

bergeser dan berderit. Sejenak ia menunggu. Kalau-kalau seseorang

terbangun karenanya. Tetapi agaknya rumah itu masih tetap sepi.

Maka dengan sangat berhati-hati Ken Arok kemudian mendorong

pintu itu, sehingga perlahan-lahan pintu itu pun terbuka. Semakin

lama semakin lebar, semakin lebar.

Ketika pintu itu kemudian menganga, Ken Arok menarik nafas

dalam-dalam. Sebagian terbesar dari usahanya telah berhasil,

karena seterusnya, pekerjaannya, tidak akan begitu berat lagi.

Dengan tidak mendapat kesukaran apapun juga Ken Arok masuk ke

ruang tengah. Didapatkannya sebuah geledeg dari kayu. Disitulah

kerisnya disimpan oleh Kebo Ijo.

Dengan hati-hati Ken Arok membuka geledeg itu, kemudian

diambilnya kerisnya. Sekali lagi Ken Arok menarik nafas dalamdalam.

Ditekankannya keris itu di dadanya sambil berdesis, “Kini

datang lagi saatnya aku memerlukan pertolonganmu” Sejenak

kemudian Ken Arok itu pun dengan hati-hati pula merayap keluar

dari ruang tengah. Ia mengambil jalan seperti pada saat ia masuk.

Selarak pintu yang tersandar miring, dilepaskannya sama sekali,

kemudian ditutupnya pintu itu rapat-rapat kembali, sehingga kesan

yang pertama-tama akan dilihat adalah, bahwa pintu itu lupa tidak

diselarak.

Demikianlah, setelah berada di luar, Ken Arokpun kemudian

meloncat dan berlari-lari kecil di dalam gelapnya malam menuju ke

istana. Semuanya harus terjadi malam itu. Malam itu, tidak dapat

ditundanya lagi.

Semakin dekat Ken Arok dengan dinding halaman istana, Ken

Arok menjadi semakin berdebar-debar. Kali ini ia tidak masuk lewat

pintu gerbang. Baik pintu gerbang depan maupun samping. Tetapi

Ken Arok ingin meloncati dinding yang cukup tinggi itu.

Tetapi Ken Arok memang seakan-akan telah menguasai keadaan.

Ia mengerti benar-benar, dimanakah tempat-tempat, sudut-sudut

dan bagian-bagian yang dijaga dan mendapat pengawasan

langsung. Karena itu, maka ia dapat memilih tempat yang lepas

sama sekali dari segala pengawasan.

Dengan kemampuan yang ada padanya, Ken Arok meloncat ke

atas dinding yang tinggi itu dengan penuh kewaspadaan. Kemudian

meloncat masuk ke dalam kegelapan. Dengan hati-hati ia berjalan

terbungkuk-bungkuk menyusup dinding. Sebagai seorang pelayan

dalam, maka ia mengenal segala lekuk dan liku Istana Tumapel.

Dan ia mengenal pula, dimanakah Akuwu Tunggul Ametung sedang

tidur.

Ken Arok sebenarnyalah memang orang yang memiliki kelebihan

dari orang-orang kebanyakan. Ia ternyata berhasil menyusup dari

sela-sela daerah pengawasan para penjaga, mendekati bilik tempat

tidur Akuwu. Ia merayap setapak demi setapak, dari balik gerumbnl

yang satu ke balik gerumbul yang lain.

Malam pun semakin lama menjadi semakin dalam. Dan para

penjaga pun menjadi semakin letih. Sementara itu, Keri Arok telah

berada beberapa langkah dari serambi belakang Istana Tumapel.

Dengan hati-hati dilihatnya keseluruhan suasana halaman belakang

istana itu dari kegelapan. Sejenak ia berjongkok di balik sebuah

gerumbul bunga. Namun betapapun juga, hatinya, masih juga

berdebar-debar.

Dengan cermat Ken Arok memperhitungkan setiap keadaan. Ia

harus sangat berhati-hati. Betapapun ia memiliki kemampuan yang

mengagumkan, namun Istana Tumapel pun berisi banyak sekali

prajurit dan orang-orang yang memiliki kemampuan dan ilmu yang

tidak dapat diabaikannya.

Sehingga akhirnya pada suatu saat Ken Arok menemukan

kesempatan itu. Kesempatan yang ditunggu-tunggunya. Ketika

seorang penjaga baru saja lewat di depan pintu serambi, Ken Arok

justru melangkah dengan tenangnya, masuk ke dalam. Namun

begitu ia berada di dalam serambi, segera ia berlindung di balik

sehelai tirai.

Dadanya pun menjadi kian berdebar-debar. Dan tiba-tiba saja ia

menjadi cemas.

“Mudah-mudahan Akuwu sedang berada di biliknya sendiri. Kalau

Akuwu berada di bilik Ken Dedes, maka usahaku akan gagal, atau

aku terpaksa berbuat dengan agak kasar” desisnya di dalam hati,

“Akuwu akan berada di dalam bilik itu semalam penuh”.

Ken Arok menahan nafasnya ketika ia mendengear langkah kecilkecil

lewat di depan tirai itu. Seorang emban.

”Aku harus melihat bilik Akuwu lebih dadulu” ia berkata di dalam

hatinya pula.

Sejenak kemudian Ken Arok pun meloncat dari balik tirai yang

satu ke balik tirai yang lain. Kemudian ia turun ke longkangan

dalam. Ketika seorang prajurit lewat, ia segera berjongkok di balik

sebuah arca yang berada di dalam kegelapan, di sudut longkangan.

Ia menarik nafas dalam-dalam ketika prajurit itu kemudian hilang

dari pintu samping. Dan longkangan itu pun kembali menjadi sepi.

Kalau ia kemudian naik tangga, ia akan memasuki bagian dalam dari

Istana Tumapel. Dan ia akan melampaui beberapa ruangan sebelum

ia sampai ke dalam bilik Akuwu Tunggul Ametung.

Namun bagian istana yang terpisah satu dengan yang lain,

agaknya mempermudah usahanya untuk mendekati bilik Akuwu

Tunggul Ametung. Kadang-kadang ia masih harus bersembunyi di

balik tirai yang tebal, dan kadang-kadang dibalik daun pintu yang

terbuka. Bahkan kadang-kadang dibalik peti-peti dan kotak-kotak

tempat hiasan dan juga dibalik patung-patung yang berserakan di

dalam istana.

Akhirnya Ken Arok sampai juga kedekat bilik Akuwu Tunggul

Ametung. Dengan dada yang berdebar-debar ia berjongkok di balik

sebuah tirai yang gelap. Dicobanya untuk mengatur perasaannya

yang bergejolak. Yang bahkan kadang-kadang masih juga disentuh

oleh keragu-raguan.

Namun setiap kali Ken Arok menggeretakkan giginya. Ia sudah

tidak dapat melangkah surut. Tidak. Tidak dapat. Ia harus berjalan

terus. Dan malam ini semuanya harus dilakukan. Kalau tidak ia pasti

akan gagal. Dan apa yang akan terjadi atasnya, sama sekali tidak

dapat dibayangkannya.

Tetapi dada Ken Arok masih juga berdebar-debar. Ia memerlukan

waktu untuk dapat mengatur perasaannya. Sehingga akhirnya ia

menarik nafas dalam-dalam.

“Bilik itu sangat sepi” katanya di dalam hati, “Mudah-mudahan

Akuwu Tunggul Ametung tidur di dalamnya”.

Maka sejenak kemudian jatuhlah keputusannya. Ia harus

melaksanakan selagi bilik itu masih sepi.

Sesaat kemudian Ken Arok pun berdiri. Dipasangnya telinganya

baik-baik. Karena ia tidak mendengar apapun juga, maka ia pun

menjengukkan kepalanya. Sepi. Benar-benar sepi.

Dengan hati-hati Ken Arok melangkah mendekati pintu bilik.

Perlahan-lahan sekali ia mendorong kesamping. Dan pintu itu pun

mulai terbuka. Seperti kebiasaannya, Akuwu yang merasa aman di

dalam istananya tidak pernah mengancing pintunya, seperti juga

pintu-pintu bilik yang lain.

Dalam Ken Arok menjadi bertambah sesak ketika ia melihat

Akuwu tidur terbujur di pembaringannya dengan tenangnya.

Sejenak ia berdiri diam di luar pintu. Namun tiba-tiba ia menyadari

bahwa setiap saat seorang emban atau seorang Pelayan Dalam

yang sedang bertugas akan lewat di muka bilik ini. Karena itu, maka

Ken Arok pun dengan tergesa-gesa meloncat masuk.

Namun ternyata bahwa Akuwu Tunggul Ametung adalah seorang

yang luar biasa. Betapa pun Ken Arok mencoba menghilangkan

gemerisik yang mungkin timbul oleh langkahnya, dan betapa

halusnya suara loncatannya, ternyata telah menyentuh pendengaran

Akuwu yang sedang tidur nyenyak itu.

Dada Ken Arok bergetar dahsyat sekali, ketika ia melihat Akuwu

Tunggul Ametung bergerak, dan bahkan kemudian membuka

matanya.

Datanglah suatu saat dimana ia tidak mampu lagi untuk berpikir.

Akuwu Tunggul Ametung telah membuka matanya meskipun ia

masih dipengaruhi oleh suasana yang masih kabur, karena baru saja

ia terbangun.

Tetapi dalam waktu sekejap Akuwu itu pasti sudah akan bersikap

lain. Kalau Akuwu itu menyadari apa yang dihadapinya, maka ia

tidak akan membiarkan dadanya berlubang oleh keris buatan Empu

Gandring itu.

Karena itu, maka dalam keadaan tanpa pilihan itulah, maka Ken

Arok segera meloncat menerkam Akuwu Tunggul Ametung yang

belum menyadari benar keadaannya. Ia hanya melihat sebuah

bayangan seolah-olah terbang menimpanya. Kemudian terasa

sesuatu menghunjam di dadanya.

Dengan gerak naluriah, Akuwu Tunggul Ametung mencoba

membela dirinya. Tetapi semuanya sudah terlambat. Ken Arok pun

bukan orang kebanyakan, sedang keris yang dipakainya pun adalah

sebilah keris buatan Empu Gandring yang hampir tidak ada tara

bandingnya.

Meskipun demikian, hempasan tangan Akuwu Tunggu Ametung

telah mengenai kening Ken Arok. Sesaat matanya menjadi

berkunang-kunang, dan ia terdorong beberapa langkah surut. Tanpa

dapat bertahan lagi ia pun terhempas di atas lantai, sehingga terasa

kepalanya seakan-akan berputar.

Sejenak Ken Arok mencoba bertahan untuk tidak kehilangan

seluruh kesadarannya. Dalam keadaannya ia sempat melihat, Akuwu

Tunggul Ametung bangkit sambil memegang hulu keris yang masih

tertancap di dadanya. Dengan kemarahan yang memancar dari

wajahnya ia memandang Ken Arok yan masih terbaring di lantai.

Namun ketika Akuwu Tunggul Ametung mencoba untuk berdiri,

maka ia pun terdorong surut, dan jatuh ke atas pembaringannya.

Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Akuwu Tunggul Ametung

menghembuskan nafasnya yang terakhir di pinggir pembaringannya

yang menjadi merah oleh darah yang memancar dari lukanya.

Tetapi ternyata darah Akuwu tidak terlampau banyak mengalir.

Darah itu pun segera menjadi biru dan merah beku.

Ken Arok yang masih belum mampu menguasai

keseimbangannya, masih juga terbaring di lantai. Dengan sekuat

tenaganya ia memusatkan segenap kemampuan yang ada padanya

sehingga perlahan-lahan ia berhasil menguasai dirinya. Perlahan

pula ia bangkit. Kemudian memperhatikan keadaan di sekelilingnya.

Semuanya itu hanya terjadi dalam waktu yang sangat singkat.

Namun dalam waktu yang sangat singkat itu, bilik Akuwu telah

menjadi berubah sama sekali. Kesan yang timbul bagi mereka yang

pertama-tama melihat bilik itu, adalah sesuatu perkelahian. Karena

ternyata letak Akuwu Tunggul Ametung pun tidak lagi seperti pada

saat ia masih tidur nyenyak.

Beberapa macam hiasan yang terdorong oleh tubuh Ken Arok

pun telah tergeser, dan darah yang menitik di beberapa tempat

pada saat Akuwu mencoba bangkit berdiri.

Setelah Ken Arok menjadi sadar sesadar-sadarnya, maka barulah

ia dapat menilai keadaan yang sedang dihadapinya. Akuwu Tunggul

Ametung ternyata telah mati.

Dengan serta-merta, Ken Arok pun kemudian memutus sehelai

tali yang berwarna kekuning-kuningan yang memang telah

dibawanya dari baraknya. Tali itu kemudian dilemparkannya ke

sudut pembaringan. Dan tanpa mengambil kerisnya dari dada

Akuwu Tunggul Ametung, maka Ken Arok pun kemudian barusaha

meninggalkan bilik itu untuk seterusnya keluar dari halaman istana.

Tetapi seperti pada saat ia masuk, maka ia tidak mengambil jalan

melalui regol-regol halaman. Tetapi ia menyusur tempat yang gelap

dan kemudian meloncati dinding halaman, untuk seterusnya pergi

menghilang.

Beberapa puluh langkah dari dinding yang diloncatinya, Ken Arok

berhenti. Dipandanginya dinding yang tegak membeku itu. Seolaholah

ia ingin melihat, apa yang kini sedang terjadi di dalam istana.

Tetapi istana itu masih sepi. Seandainya seseorang telah

menemukan Akuwu Tunggul Ametung yang terbunuh itu, maka

pasti akan segera terdengar tanda-tanda dari para pengawal.

Maka Ken Arok pun segera meneruskan langkahnya. Ia ingin

segera sampai ke baraknya. Namun sebelum ia bertemu dengan

seorang pun di dalam barak itu, ia harus membersihkan dirinya lebih

dahulu.

Ternyata Ken Arok mampu bekerja dengan cermat. Ia berusaha,

menghilangkan setiap jejak yang mungkin ditimbulkan. Karena itu,

tanpa setahu seorang pun, ia telah berhasil masuk ke dalam biliknya

dan langsung membaringkan dirinya di pembaringannya.

Tetapi ternyata ia tidak mendapat kesempatan untuk membuat

penilaian tentang peristiwa yang baru saja dilakukannya. Karena

belum lagi ia meluruskan letak kakinya, Tumapel telah digemparkan

oleh suara titir yang menjalar dari sebuah kentongan ke kentongan

lainnya di sudut-sudut padukuhan, di gardu-gardu, di panggunganpanggungan.

Para Pelayan Dalam yang sedang tidak bertugas, dan berada di

baraknya segera berloncatan dari pembaringan mereka. Sejenak

kemudian mereka telah berada di luar bilik masing-masing.

Suara titir itu semakin lama menjadi semakin merata. Kemudian

di antara suara titir yang mengumandang di seluruh kota itu,

terdengar perintah setiap pimpinan pasukan agar setiap orang di

dalam pasukannya segera bersiap.

“Sesuatu telah terjadi” bisik setiap orang.

Ken Arok pun kini telah berada di antara kawan-kawannya.

Dengan wajah tegang ia ikut berbisik-bisik pula, “Sesuatu telah

terjadi”.

Ternyata penghubung yang sedang bertugas di istana telah

melakukan tugasnya sebaik-baiknya. Sekejap kemudian para

pemimpin tertinggi Tumapel telah mendengar, apa yang terjadi di

istana.

Orang yang pertama-tama datang, kecuali para petugas di istana

adalah Witantra. Dengan gemetar ia melangkah masuk dalam bilik

Akuwu. Tidak seorang pun yang berani merubah apa yang ada di

dalam bilik itu. Namun demikian Witantra sudah tidak dapat melihat,

bagaimanakah letak Akuwu pada saat diketemukan, karena ketika ia

memasuki ruangan itu, Ken Dedes, Permaisuri Akuwu Tunggul

Ametung, menjerit tinggi sambil memeluk jenazahnya. Dan sejenak

kemudian Ken Dedes itu pun telah menjadi pingsan.

“Bawalah ia ke bilik sebelah” perintah Witantra kepada para

emban.

Dengan ditangisi oleh para emban, Ken Dedes kemudian dibawa

ke bilik sebelah. Dengan cemas dan gemetar emban pemomongnya

berusaha sedapat-dapat dilakukan untuk membuat pemongannya

itu menjadi sadar.

Namun, demikian Permaisuri itu sadar, maka sekali lagi terpekik

dan ia segera menjadi pingsan kembali.

Witantra dan beberapa pemimpin Tumapel yang lain berdiri

termangu-mangu di dalam bilik Akuwu Tunggul Ametung. Sekali-kali

terdengar Witantra menggeretakkan giginya. Ia adalah pimpinan

pasukan pengawal. Karena itu, sebagian terbesar tanggung jawab

atas peristiwa itu berada di tangannya.

Setelah meneliti sejenak, maka Witantra segera mengeluarkan

perintah, “Tidak seorang pun yang diperkenankan keluar dari

halaman istana. Semua pintu harus dijaga”.

Perintah itu pun dalam sekejap telah merata. Setiap pintu regol

pun segera ditutup. Tidak seorang pun yang diperkenankan keluar.

Namun dalam pada itu, para pemimpin pasukan yang lain pun

segera berada di istana. Mereka pun kemudian berkerumun di

depan bilik Akuwu. Tetapi belum seorang pun yang berani terubah

sama sekali, apa yang terdapat di dalam bilik itu.

Di luar istana, para prajurit pun ternyata telah bersiap pu1a.

Mereka pun segera mendengar, bahwa Akuwu Tunggul Ametung

telah terbunuh di dalam biliknya.

Para prajurit yang tidak berada di dalam barak, tetapi di rumah

masing-masing pun segera berlari-larian ke induk pasukan masingmasing

untuk mendengar apa yang telah terjadi. Dan mereka pun

hanya dapat menggeretakkan gigi mereka, setelah mereka

mendengar apa yang telah terjadi atas Akuwu Tunggul Ametung.

Tanpa perintah apapun lagi, maka setiap pemimpin pasukan

telah mengetahui apa yang wajib mereka lakukan. Mereka telah

mempersiapkan pasukan masing-masing dalam kesiap-siagaan

tertinggi. Yang pertama-tama terlintas di dalam kepala mereka,

ialah suatu usaha untuk merebut kekuasaan dari tangan Akuwu

yang terbunuh itu oleh sekelompok orang-orang yang tidak

menyukainya. Kesimpulan itu diambil, karena Tumapel saat itu tidak

sedang berada dalam perselisihan dengan pihak luar yang manapun

juga.

Bersama beberapa orang tua-tua dan pemimpin prajurit, Witantra

mulai meneliti satu demi satu, apa yang terdapat di dalam bilik

Akuwu. Karena ternyata letak Akuwu sudah berubah, ketika dengan

serta merta Permaisurinya memeluknya sambil menjerit, maka

Akuwu Tunggul Ametung itu pun kemudian diangkat dan

dibaringkan di pembaringannya. Namun keris yang tertancap di

dada Akuwu itu masih belum dilepaskan.

Ternyata Witantra mempunyai pandangan yang tajam sekali atas

apa yang terjadi di dalam bilik itu. Meskipun beberapa bagian dari

hiasan yang ada telah tergeser, dan beberapa titik darah yang

memercik dari luka Akuwu, namun dengan nada yang berat

Witantra berkata, “Akuwu tidak mendapat banyak kesempatan

untuk membela dirinya. Mungkin timbul juga sedikit perkelahian,

namun agaknya Akuwu telah tertusuk selagi ia masih tidur”.

Orang-orang lain yang mendengarnya mengangguk-anggukkan

kepalanya. Salah seorang dari mereka berkata, “Kalau Akuwu

mendapat kesempatan, maka ia tidak akan terbunuh. Tidak ada

orang lain yang dapat melawannya, apalagi apabila ia sempat

mengambil pusakanya”.

“Ya, karena itu, maka hal ini dapat terjadi karena kelengahan”

Witantra berhenti sejenak, kemudian, “Setiap orang yang bertugas

malam ini akan dimintai pertanggungan jawab. Mereka harus segera

berkumpul setelah menyerahkan tugasnya kepada giliran

berikutnya”.

Dalam pada itu Ken Arok yang telah siap pula di dalam baraknya

menjadi berdebar-debar ketika pemimpin pasukannya

memerintahkan kepadanya dan beberapa perwira yang terdekat dan

terpandang untuk mengikutinya ke istana.

Sebenarnya baginya, lebih baik tinggal di baraknya daripada

pergi ke istana. Apa yang terjadi di istana itu, akan dapat

menggetarkan jantungnya, apabila ia harus menyaksikannya sekali

lagi. Namun demikian, kadang-kadang ia menjadi ragu-ragu. Apakah

ia telah melakukannya dengan sempurna. Apabila timbul keraguraguannya

yang demikian, maka justru ia ingi melihat akibat dari

perbuatannya itu.

Tetapi ia tidak dapat memilih. Dikehendaki atau tidak, mendapat

perintah untuk bersama-sama dengan pimpinannya pergi ke istana.

Dengan dada berdebar-debar Ken Arok dengan tergesa-gesa

bersama-sama dengan beberapa orang terkemuka di dalam

lingkungannya memasuki bagian dalam istana. Kedatangan mereka

telah menambah jumlah para pemimpin yang telah ada di dalam

istana itu.

Sejenak kemudian mereka berdiri di luar bilik. Pemimpin

pasukannya itu pun kemudian menemui Pimpinan tertinggi Pelayan

Dalam beserta Witantra. Sejenak mereka bercakap-cakap dan

sejenak kemudian pemimpin pasukannya itu pun memanggil Ken

Arok mendekatinya.

Ken Arok masuk ke dalam bilik itu dengan ragu-ragu. Namun

telah berhasil menekan perasaannya, sehingga tidak ada kesan lain

di wajahnya dari pada ketegangan yang memuncak.

“Bawa sekelompok pasukanmu untuk mengambil alih tugas

Pelayan Dalam yang ada di istana. Mereka yang bertugas pada saat

Akuwu terbunuh harus segera berkumpul seperti yang dilakukan

oleh prajurit Pengawal Istana dan prajurit-prajurit dari kesatuankesatuan

yang lain yang sedang bertugas”.

Ken Arok mengerutkan keningnya. Kemudian ia mengangguk

dalam sambil menjawab, “Baik. Akan kami lakukan”.

Ken Arok pun segera kembali ke dalam kelompok yang

dipimpinnya. Ternyata semuanya telah bersiap untuk melakukan

tugas apa saja. Termasuk mengambil alih tugas di dalam istana

malam itu.

Sejenak kemudian semua petugas dari segala kesatuan dan

ikatan telah berkumpul. Mereka akan diperiksa seorang demi

seorang oleh pemimpin pasukan masing-masing.

Ken Arok, yang mendapat perintah untuk mengambil alih tugas

Pelayan Dalam malam itu, telah langsung memimpin sekelompok

pasukannya. Dan ia sendiri telah berada pula dekat bilik tempat

Akuwu dibaringkan.

Ketika kebingungan dan kegelisahan telah mereda. Serta ketika

para pemimpin tertinggi setiap kesatuan sudah siap untuk

meninggalkan bilik itu dan memeriksa bawahan mereka masingmasing,

maka tiba-tiba Ken Arok maju menyusup diantara mereka

sambil berkata, “Apakah aku diperkenankan menyatakan

pendapat?”

Witantra mengerutkan keningnya. Ia mengenal Ken Arok secara

pribadi. Karena itu maka katanya, “Apakah yang akan kau katakan?”

Ken Arok menahan nafasnya sejenak. Kemudian diedarkannya

tatapan matanya berkeliling. Dipandanginya setiap wajah yang

berada di dalam bilik itu. Satu demi satu. Dan setiap mata yang

tersentuh oleh tatapan mata anak muda itu terasa sebuah getar

telah meronta di dalam dada mereka. Ternyata Pelayan Dalam yang

seorang ini, meskipun bukan pimpinan pasukan, dan apalagi

pimpinan tertingginya, mempunyai perbawa yang luar biasa.

“Sebelum kita mulai memeriksa seorang demi seorang, segala

kesatuan yang bertugas, kemanakah kita harus memusatkan

perhatian kita?” bertanya Ken Arok kepada Witantra.

Pertanyaan itu memang terdengar aneh sekali. Beberapa orang

saling berpandangan. Namun Witantra sendiri mengetahui arah

pertanyaan itu, karena ia masih menimang sehelai tali yang

berwarna kekuning-kuningan yang terputus dan diketemukan di

dalam bilik itu juga. Karena itu maka sambil mengangkat tali

berwarna kuning itu ia menjawab, “Ya, aku sependapat, meskipun

tidak mutlak. Bukankah kau melihat tali ini, sehingga kau

mengajukan pertanyaan itu?”

“Ya” jawab Ken Arok, “Dan aku mendengar dari orang-orang

yang telah hadir lebih dahulu, bahwa tali itu diketemukan di dalam

bilik ini juga”.

“Ya” sahut Witantra, “Aku sependapat sepenuhnya, siapakah

yang harus mendapat perhatian lebih banyak”.

“Baiklah” berkata Ken Arok, “Selanjutnya, apakah aku

diperkenankan melihat keris yang tertancap di dada Akuwu Tunggul

Ametung itu?”

Witantra mengerutkan keningnya. Dipandanginya para pemimpin

tertinggi dari pasukan-pasukan yang lain, selain para tetua

Pemerintahan Tumapel.

“Nanti dulu Angger Witantra” berkata seorang tua, “Kita sedang

menunggu seorang pendeta untuk mengucapkan doa dan mantra.

Pendeta itulah yang akan mengambil keris itu dari dada Akuwu

Tunggul Ametung. Kita tidak tahu, apakah keris itu mengandung

tuah dan kekuatan yang hitam”.

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun Ken Arok

menyahut, “Aku tidak dapat menolak kepercayaan itu. Tetapi kita

harus dengan cepat mengetahui, siapakah pembunuhnya, sebelum

ia sendiri sempat melarikan diri. Karena itu, biarlah aku

menyediakan diri untuk melihat keris itu. Seandainya ada kekuatan

hitam yang bagaimanapun juga, aku kira aku akan dapat

mengatasinya”.

Orang-orang tua yang ada di dalam bilik itu mengerutkan kening?

mereka yang telah berkerut-merut. Salah seorang maju kedepan

sambil berkata, “Kau masih terlampau muda”.

“Tetapi kita bertanggung jawab. Kalau pembunuh itu sempat

melarikan diri, maka kita akan kehilangan jejak”.

“Lalu apakah dengan keris itu kau dapat menemukan

pembunuhnya?”

“Belum tentu. Tetapi kadang-kadang kita dapat mengenal keris

seseorang. Apalagi keris yang mampu menembus dada Akuwu”.

Witantra tidak segera dapat memberikan keputusan. Pendapat

Ken Arok itu memang dapat diterima oleh akal. Tali kuning yang

dipegangnya itu telah sedikit memberikan arah. Kemudian apabila

keris itu memang dapat berbicara, maka ia akan segera dapat

mencari jejak pembunuhnya.

Orang-orang tua yang berdiri di dalam bilik itu menjadi bimbang.

Mereka sebenarnya masih menunggu seorang pendeta yang dapat

menawarkan pengaruh jahat dari keris itu. Tetapi agaknya Ken Arok

terlampau mendesak. Dan agaknya para pemimpin pasukan lebih

condong untuk melakukannya segera.

Dalam keragu-raguan itu Witantra berkata, “Baiklah. Kita cabut

saja keris itu. Nanti kita lihat bersama-sama, apakah diantara kita

atau siapapun juga, ada yang pernah mengenal, senjata siapakah

yang tertinggal setelah dipakainya untuk membunuh Akuwu Tunggul

Ametung. Mungkin pembunuh itu terlalu tergesa-gesa karena Akuwu

sempat melakukan perlawanan meskipun tidak begitu berarti,

sehingga ia tidak sempat membawa senjatanya”.

Para pemimpin kesatuan prajurit Tumapel menganggukanggukkan

kepala mereka, sedang orang-orang tua masih juga

menjadi ragu-ragu.

“Baiklah. Kita lihat saja keris itu”.

Witantra pun kemudian maju mendekat. Dengan tangam

gemetar diraihnya keris itu. Dan sambil memejamkan matanya,

maka dicabutlah keris yang berlumuran darah yang telah membeku

itu sambil berdesis, “Biarlah aku menanggung segala akibatnya.

Bukan orang lain. Akulah yang paling bertanggung jawab atas

kejadian yang paling memalukan ini, sehingga seorang Akuwu telah

terbunuh di dalam biliknya”.

Ken Arok berdiri tegak ditempatnya. Ternyata Witantra sendirilah

yang melakukannya, mencabut keris itu dari dada Akuwu Tunggul

Ametung.

Tangan Witantra menjadi semakin gemetar ketika ia kemudian

mengangkat keris itu. Dadanya menjadi berdebar-debar. Ternyata

keris itu adalah keris yang luar biasa. Meskipun telah dilumuri oleh

darah yang merah kehitam-hitaman, namun masih juga tampak

cahaya kebiru-biruan memancar dari padanya.

“Keris yang memiliki daya kemampuan yang luar biasa” ia

berdesis. Namun kemudian Witantra itu mengerutkan keningnya.

Ternyata diantara cahaya yang kebiru-biruaa itu terdapat tiga bintik

cahaya berwarna kekuning-kuningan.

Sambil menahan nafasnya, dengan suara gemetar Witantra itu

berkata, “Nah, siapakah yang telah mengenal keris ini?” Beberapa

orang .mengerutkan keningnya. Ketika keris itu masih tertancap di

dada Akuwu mereka tidak begitu banyak berkesempatan untuk

melihatnya dengan jelas karena kesibukan, kebingungan dan

memang maksud yang demikian itu masih belum terlintas di dalam

kepala setiap orang yang ada di dalam bilik itu. Namun kini,

segenap perhatian mereka tertumpah pada keris itu. Pada keris

yang bercahaya kebiru-biruan dan berbintik kuning. Keris yang

memiliki kekhususan dan tidak ada duanya.

Karena itu, maka beberapa di antara orang-orang tua itu pun

menjadi berdebar-debar. Ternyata ada beberapa diantara mereka

yang rasa-rasanya telah pernah melihat dan mengenal keris itu.

Satu dua pemimpin pasukan yang ada di dalam bilik itu pun menjadi

bertanya-tanya di dalam hati. Apakah penglihatan matanya itu

benar.

Tiba-tiba seorang tua maju kedepan. Dengan wajah yang tegang

diamatinya keris itu. Ujungnya, pamornya yang terbalut oleh darah

yang membeku, kemudian hulu keris yang mempunyai bentuk yang

tidak lazim itu.

Dengan bibir gemetar orang tua itu berkata ”Aku pernah melihat

keris ini. Ya, aku pernah melihatnya, ketika pemiliknya minta

pertimbangan tentang nilai dari keris ini”.

Dahi Witantra menjadi berkerut-merut.

“Apakah Angger Witantra belum pernah melihatnya?” bertanya

orang tua itu.

Witantra menggelengkan kepalanya, “Belum. Aku belum pernah

melihatnya”.

Bibir orang tua itu bergerak-gerak, tetapi sama sekali tidak

terdengar suara apapun yang diucapkannya.

“Siapakah yang mempunyai keris ini?” desak Witantra.

Selangkah demi selangkah orang tua itu bergeser mundur.

“Siapa?” desak Witantra.

Tetapi orang tua itu justru menggelengkan kepalanya.

“Siapa? Siapa?” Witantra malangkah maju, “Sebutkan, siapakah

yang mempunyai keris ini?”

Orang tua itu masih belum mengucapkan sesuatu. Bahkan ia

berpaling untuk menatap wajah kawan-kawannya, para tetua

Pemerintahan Tumapel.

“Katakan, katakan” Witantra hampir berteriak. Orang tua itu

bahkan menjadi gemetar.

Namun dalam pada itu, seorang tua yang lain melangkah maju.

Dengan dahi yang berkerut-merut ia bertanya, “Apakah Angger

Witantra memang belum pernah melihat keris ini”

“Belum, aku memang belum pernah melihatnya”.

Orang tua itu memandang wajah Witantra dengan tajamnya.

Kemudian katanya, “Sebenarnya kami mengharap bahwa Angger

Witantra sendirilah yang akan menyebut, siapakah yang memiliki

keris ini”.

“Jangan membuat aku menjadi gila. Katakanlah, siapa yang

memiliki keris ini. Aku benar-benar tidak tahu dan baru kali inilah

aku melihat keris ini”.

Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya

dengan nafas yang terengah-engah, “Terlampau berat untuk

menyebutkannya. Tetapi apaboleh buat kalau Angger

menghendakinya”.

”Katakan” Witantra hampir berteriak.

“Keris itu milik perguruan Angger Witantra sendiri, atau setidaktidaknya

milik saudara seperguruan Angger”.

“He?” jawaban orang tua itu serasa ledakan petir di telinga

Witantra yang berdiri tegak dengan tubuh gemetar.

Sejenak pemimpin pasukan pengawal istana itu seolah-olah

membeku di tempatnya sambil memandangi keris itu. Sekali-kali ia

menatap orang tua yang mengatakan, bahwa keris itu keris

perguruannya.

Setelah getar di dadanya mereda, maka dengan suara gemetar ia

bertanya, “Apakah yang kau maksud sebenarnya?”

“Demikianlah. Keris itu adalah keris yang seharusnya Angger

kenal dengan baik”.

”Aku tidak mengenal keris ini. Perguruanku tidak mengenal pula

keris ini”. Witantra berkata dengan tegas, “Sebutkan, sebutkan,

siapakah pemiliknya?”

Orang tua itu menjadi ragu-ragu.

“Sepanjang umurku, aku belum, pernah melihat guruku memiliki

keris serupa itu”.

Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian

katanya, “Memang aku kira keris itu bukan keris yang temurun dari

guru ke murid. Menurut pengakuannya keris itu diterima sebagai

warisan dari ayahnya sendiri”.

“Ya, tetapi kau belum menyebut orangnya”.

“Keris itu pernah, dibawa kepadaku pula, untuk mendapat

penilaian tentang bentuk dan pamornya. Keris itu menang keris

yang luar biasa”.

“Tetapi sebut namanya. Siapa orang yang membawa keris itu?”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Dan Witantra berteriak,

“Katakanlah. Hanya ada tiga orang murid di perguruanku, Aku

sendiri, Mahendra dan Kebo Ijo. Siapakah diantara kami yang

pernah datang kepadamu dan kepada orang lain untuk

memperlihatkan keris itu?”

“Maaf ngger. Orang itu adalah yang kau sebut terakhir”

“Kebo Ijo?” mata Witantra terbelalak.

Orang itu menganggukkan kepalanya, “Ya, Angger Kebo Ijo. Aku

kira banyak orang yang pernah melihat Angger Kebo Ijo membawa

keris itu. Aku sendiri yakin, bahwa keris itulah yang pernah dibawa

ke rumahku”.

Dada Witantra serasa akan meledak mendengar keterangan itu.

Apalagi ketika terpandang olehnya tali yang berwarna kuning

keemasan yang diketemukannya di dalam bilik itu. Petunjuk, yang

ada memang mendekatkan keterangan itu pada kemungkinan

terjadi.

Ketika ia mendengar Ken Arok berbicara, maka serasa

ruangan.itu akan meledak, “Aku juga pernah melihat keris itu

Witantra. Maaf, memang menjadi sifat Kebo Ijo. Ia memamerkan

keris itu kepada banyak orang, sehingga banyak sekali yang akan

dapat menjadi saksi, bahwa keris itu adalah keris Kebo Ijo. Aku

adalah sahabatnya yang terdekat. Aku tahu benar, bahwa ia sangat

berbangga dengan keris itu. Tetapi aku tidak tahu, bahwa pada

suatu saat ia telah mempergunakan kerisnya”.

Wajah Witantra menjadi merah seperti darah. Antara terdengar

dan tidak ia menggeram, “Tidak mungkin. Betapa gilanya anak itu,

tetapi ia tidak akan melakukannya”. Meskipun demikian sebagai

seorang prajurit ia berkata, “Tangkap anak itu. Bawa ia kemari”.

Seorang pandega pengawal istana menganggukkan kepalanya

sambil berkata, “Akan segera aku jalankan”.

Tetapi sebelum orang itu berangkat, maka Ken Arok berkata,

“Witantra. Mungkin akan terjadi sesuatu yang tidak kita kehendaki.

Kita mengetahui, bahwa Kebo Ijo bukanlah seorang kebanyakan dan

dapat dianggap ringan. Apalagi ia merasa, bahwa ia telah berbuat

kesalahan. Aku kira akan lebih baik, apabila, dicari jalan lain untuk

membawanya kemari”.

“Maksudmu?”

“Aku akan menemuinya. Aku akan membawanya kemari dengan

cara seorang sahabat”.

Witantra mengerutkan keningnya. Katanya kemudian, “Kau dapat

mencobanya Ken Arok. Pergilah bersama perwira itu”.

Ken Arok mengangguk sambil berkata, “Terima kasih atas

kesempatan ini”.

Kemudian kepada perwira pandega pengawal itu ia berkata,

“Marilah kita pergi”.

Keduanya pun kemudian meninggalkan istana. Perwira itu semula

ingin membawa beberapa orang terpercaya apabila terjadi sesuatu,

tetapi Ken Arok berkata, “Itu tidak perlu. Aku akan mencoba

membujuknya”.

Keduanya pun kemudian berpacu dia tas punggung kuda. Dalam

sepi malam derap kaki-kaki kuda itu mengumandang menyusup

kesegenap sudut kota.

Sejenak kemudian mereka telah sampai ke barak pasukan

pengawal istana. Semua orang telah bersiap, dan para perwiranya

pun telah hadir pula. Demikian juga para perwira yang tinggal di

rumah masing-masing, diantaranya Kebo Ijo.

Kebo Ijo terkejut ketika ia melihat Ken Arok mencarinya bersama

seorang perwira bawahan Witantra.

“Tunggulah di sini” berkata Ken Arok, “Aku akan mencoba

membujuknya”.

Perwira itu mengerutkan keningnya. Ia melihat Kebo Ijo dalam

sikapnya yang wajar. Tidak tampak tanda-tanda apapun padanya.

Bahkan ketika ia melihat kedatangan mereka, ia masih saja

tersenyum dengan tenangnya.

“Anak itu licik seperti setan” desis Ken Arok. Perwira itu

menganggukkan kepalanya.

Ken Arok pun kemudian menemui Kebo Ijo seorang diri.

Dibawanya Kebo Ijo menyendiri, meskipun tidak terlampau jauh,

sehingga perwira bawahan Witantra itu dapat mengawasinya

apabila terjadi sesuatu.

“Kebo Ijo” berkata Ken Arok perlahan-lahan agaknya Tumapel

sedang disaput oleh kabut yang hitam”.

Kebo lio tertawa pendek , “Kematian Akuwu maksudmu?”

“Ya. Tumapel akan terguncang karenanya. Akuwu sama sekali

belum mempunyai seorang putera yang akan dapat menggantikan

kedudukannya”.

Kebo Ijo tidak segera menyahut. Dipandanginya wajah Ken Arok

yang tampak bersungguh-sungguh itu sejenak. Kemudian sekali lagi

Kebo Ijo tertawa, “Kenapa kau tampak murung sekali? Bukankah

Akuwu Tunggul Ametung itu bukan sanak, bukan kadangmu?”

“Benar Kebo Ijo. Akuwu memang bukan sanak bukan kadang.

Tetapi yang penting bagiku adalah Tumapel. Lalu bagaimana

dengan Tumapel kemudian?”

“Itu bukan urusanmu Ken Arok. Kau tidak usah ikut berpusing

kepala”.

“Tentu tidak mungkin Kebo Ijo”. Kebo Ijo tertawa. Kali ini lebih

keras.

Dalam pada itu, perwira yang mendapat tugas bersama Ken Arok

menjadi heran melihat sikap Kebo Ijo. Timbulah perasaan curiga di

dalam hatinya, seakan-akan anak itu sama sekali tidak

menghiraukan apa yang telah terjadi. Karena itu, maka ia pun

kemudian mendekatinya.

“Kemarilah” panggil Kebo Ijo, “Jangan seperti orang asing di

sini”.

Perwira itu menganggukkan kepalanya. Ia sudah banyak

mengenal tentang Kebo Ijo. Meskipun demikian sikapnya tidak

menyenangkannya.

“Kau juga berduka seperti Ken Arok?” bertanya Kebo Ijo.

“Jagalah mulutmu Kebo Ijo. Sejak dahulu aku telah

memperingatkan kau. Apalagi dalam keadaan serupa ini” desis Ken

Arok.

Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menyahut.

“Adalah menjadi kuwajiban kita untuk memikirkan hari depan

Tumapel. Kita tidak dapat berpeluk tangan, acuh tidak acuh saja

menanggapi setiap keadaan. Apalagi puncak dari persoalan kali ini”.

“Kenapa kau tidak memilih aku saja untuk menjadi seorang

Akuwu?” desis Kebo Ijo sambil tersenyum.

“Ah” Ken Arok berdesah, “Kau memang terlalu bodoh”.

Kebo Ijo mengangguk-anggukkan kepalanya, “Mungkin, mungkin

aku memang terlampau bodoh. Tetapi, apakah sebenarnya

maksudmu menemui aku dalam keadaan yang gawat ini? Apakah

kau akan minta aku untuk mencari pembunuhnya, atau bahkan

menjadi Akuwu sama sekali”.

Ken Arok menarik nafas. Kemudian jawabnya, “Aku hanya

sekedar utusan Kebo Ijo. Kau dipanggil oleh kakang Witantra”.

“He? Kakang Witantra memanggil aku?”

“Ya”.

“Ada persoalan apa dengan kakang Witantra?”

“Tidak tahu Kebo Ijo. Aku hanya sekedar seorang utusan. Dalam

keadaan serupa ini, mungkin sekali ada tugas-tugas yang akan

dibebankan kepadamu”.

Kebo Ijo mengerutkan dahinya, “Kenapa aku, bukan pimpinan

pasukanku atau orang lain”.

Ken Arok menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu. Tetapi aku

kira, karena kau adalah adik seperguruannya. Kepercayaannya

kepadamu melampaui kepercayaannya kepada siapapun juga.

Apalagi kau pun termasuk di dalam kesatuannya”.

Kebo Ijo berpikir sejurus. Kemudian katanya, “Kalau pimpinan

pasukan mengijinkan, aku tidak berkeberatan”.

“Kenapa tidak. Aku datang bersama seorang perwira tinggi dari

kesatuanmu yang dapat memberikan perintah Witantra itu”.

“Baiklah. Aku akan segera berkemas. Temuilah pimpinan

pasukanku. Aku orang penting di pasukan ini, sehingga aku selalu

diperlukannya”.

“Ya aku tahu. Kau perwira yang paling terpercaya dalam pasukan

ini. Tetapi pimpinanmu tidak boleh berkeberatan”.

“Terserahlah kepada kalian”.

Kebo Ijo pun kemudian meninggalkan mereka untuk berkemas.

Dengan tergesa-gesa ia masuk ke dalam barak pasukannya untuk

mengambil kelengkapan yang diperlukan, sambil menemui

pimpinannya untuk menyampaikan maksud Ken Arok dan perwira

bawahan Witantra itu.

“Dimanakah mereka?” bertanya pemimpin pasukan itu.

“Sebentar lagi mereka akan datang kemari”.

Sementara itu Ken Arok dan perwira Pengawal itu telah masuk ke

dalam barak itu pula. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya

perwira itu berkata perlahan-lahan, “Bukan main anak itu. Tetapi

sikapnya sudah keterlaluan”.

“Ia mencoba untuk menyembunyikan kesan perasaannya yang

mungkin sangat tertekan”.

“Mungkin, mungkin demikian, sehingga sikapnya menjadi

bertambah liar”.

”Tetapi aku tidak sampai hati mengatakan maksud Witantra

sebenarnya”.

“Itu tidak perlu. Biarlah kakang Witantra mengatakan sendiri

kepadanya”.

“Kau benar. Tetapi hal itu akan mengakibatkan persoalan yang

berkepanjangan. Apakah kau yakin, bahwa Witantra dapat menarik

batas antara tugasnya sebagai seorang Manggala Pasukan Pengawal

dan sebagai saudara tua seperguruan?”

“Jadi bagaimana maksudmu?”

“Sebaiknya kau memulainya. Tetapi setelah agak dekat dari

istana. Kita akan mendapat kesan, apakah dugaan kita itu benar.

Kau dapat mengajukan beberapa pertanyaan tentang keris yang

tertancap di dada Akuwu itu”.

Perwira itu tidak segera menyahut. Tetapi ia menganggukanggukkan

kepalanya. Ia memang tidak dapat ingkar, bahwa

Witantra adalah kakak seperguruan Kebo Ijo. Apalagi ia telah

mendengar lamat-lamat Witantra berdesis, “Tidak mungkin. Betapa

gilanya anak itu, tetapi ia tidak akan melakukannya”.

“Hal itu tidak mustahil terjadi” katanya di dalam hati, “Bahwa

suatu saat kakang Witantra berdiri di persimpangan jalan. Betapa

teguhnya kakang Witantra, namun suatu ketika ia dapat tergelincir

dalam sikap yang tidak terpuji”.

Karena itu, maka kemudian pandega itu pun menganggukanggukan

kepalanya. Ia dapat memulai seperti rencana Ken Arok

itu. Dengan demikian ia akan mendapat kesan, apakah yang

sebenarnya telah terjadi.

“Tetapi, kenapa harus setelah dekat dari istana?” tiba-tiba ia

bertanya.

“Tidak banyak kesempatan untuk berbuat sesuatu” jawab Ken

Arok, “Mungkin kita memang terlampau berprasangka. Tetapi

seandainya Kebo Ijo memberontak, kita tidak akan terlampau

banyak mengalami kesulitan. Kita tahu bahwa Kebo Idjo bukanlah

seorang yang dapat dianggap ringan. Ia adalah saudara

seperguruan Witantra. Apalagi akhir-akhir ini ia mendapat banyak

sekali kemajuan di dalam ilmunya. Aku tidak tahu, apakah hal itu

sejalan dengan rencana-rencananya yang lain, termasuk

pembunuhan kali ini”.

Perwira itu tidak menjawab lagi. Kini mereka telah berada di

dalam lingkungan dalam barak itu, dan beberapa langkah lagi

mereka akan naik ke bilik pimpinan pasukan pengawal di dalam

barak itu.

“Aku membawa perintah kakang Witantra” berkata perwira itu.

“Silahkanlah”.

“Kebo Ijo diperlukan di istana”.

“Ya. Aku sudah mendengar dari Kebo Ijo sendiri”.

“Aku memerlukan ijinmu”.

“Baiklah. Aku hanya dapat mentaati perintah itu”.

Sejenak kemudian Kebo Ijo pun telah ikut bersama Ken Arok dan

perwira Pasukan Pengawal itu menuju ke istana. Tidak banyak yang

mereka percakapkan di sepanjang jalan. Ken Arok hanya berbicara

sepatah-sepatah, apalagi perwira itu. Ia hampir tidak berbicara

sama sekali.

Seperti yang telah mereka rencanakan, maka setelah mereka

menjadi semakin dekat dengan istana, perwira itu mulai merekareka,

apakah yang akan dikatakan kepada Kebo Ijo.

Sejenak ia menyambar wajah Ken Arok, dan ketika Ken Arok

mengangguk-anggukkan kepalanya, maka ia segera siap untuk

memulainya.

Perwira itu kemudian menempatkan kudanya dekat di samping

Kebo Ijo. Hati-hati ia mulai berkata, “Kebo Ijo, apakah kau tahu,

apakah sebabnya Akuwu itu dibunuh orang?”

“He” Kebo Ijo mengerutkan keningnya, “Pertanyaanmu seperti

pertanyaan orang bermimpi”.

“Tidak Kebo Ijo, aku bertanya sebenarnya”.

“Persetan dengan igauanmu”.

Perwira itu menarik nafas dalam-dalam. Sifat Kebo Ijo memang

tidak disukainya. Ia mengharap lebih baik Ken Arok saja yang

menanyakannya, supaya darahnya sendiri tidak mendidih. Tetapi

Ken Arok sebagai seorang sahabat, menurut pengakuannya sendiri,

tidak sampai hati untuk mempersoalkannya.

“Kebo Ijo” berkata perwira itu, “Apakah kau menyadari apa yang

sedang dipikirkan oleh para perwira tertinggi dan para pemimpin

pemerintahan kini di istana?”

“Tentu. Seperti yang kalian sedihkan. Kematian Akuwu Tunggul

Ametung”.

“Ya, sudah tentu. Tetapi sehubungan dengan kematian itu. Kami

para perwira tertinggi, telah dibingungkan oleh senjata yang

tertancap di dada Akuwu Tunggul Ametung itu”.

“Kenapa dengan senjata itu? Apakah senjata itu telah menakutnakuti

kalian?”

Perwira itu menjadi semakin menahan hati. Tetapi ia masih

mencoba untuk bersabar.

“Seharusnya kau tahu, hubungan antara perintah Witantra

memanggilmu dan senjata yang tertinggal di dada Akuwu dari

pembunuhnya itu”.

“O, kau benar-benar sedang mengingau. Persetan dengan

ingauanmu. Katakan, apakah sebenarnya yang kau maksudkan.

Atau barangkali apakah perintah kakang Witantra yang harus aku

jalankan. Mencari pembunuhnya atau apa?”

“Ya” jawab perwira itu yang hampir kehilangan kesabaran,

“Kakang Witantra memang memerintahkan kepadamu untuk

mencari pembunuhnya”.

Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Sementara Ken Arok

mendengarkan percakapan itu dengan dada yang berdebar-debar.

Ia mencoba mendengar setiap pembicaraan itu dengan jelas, karena

itu, maka ia menempatkan dirinya pada sisi Kebo Ijo yang lain.

Dengan demikian maka mereka kini berkuda berjajar tiga. Tanpa

mereka sadari langkah kuda mereka menjadi semakin lambat.

“Biarlah kakang Witantra mengucapkan perintah itu sendiri”

Jawab Kebo Ijo kemudian.

Perwira itu menjadi semakin tersinggung, dan Ken Arok pun

mengharap, bahwa Kebo Ijo akan berkata sekenanya, seperti

biasanya juga, dalam persoalan yang gawat ini. Ia mengharap

perwira itu pun akan menjadi marah, dan selanjutnya, ia akan

mendapat kesempatan seperti yang direncanakannya.

“Kebo Ijo” berkata perwira itu, “Kau memang seorang yang

mengagumkan. Kau dapat menahan perasaanmu dan bahkan

menyalurkannya dalam bentuk-bentuk yang tidak disangka-sangka”.

“Apakah maksudmu?”

“Jangan berputar-putar. Katakanlah, siapakah yang memiliki keris

yang berwarna kebiru-biruan, berbintik tiga buah dengan warna

yang kekuning-kuningan? Ciri yang lain, tangkai keris itu sama sekali

bukan sebuah ukiran seperti lazimnya, tetapi sepotong kayu dalam

bentuknya yang khusus”.

“He” mata Kebo Ijo terbelalak mendengar pertanyaan itu.

“Apakah kau mengenal keris itu?”

“Kenapa dengan keris itu?” ia bertanya.

“Kau sebenarnya telah mengerti jawab dari pertanyaanmu itu.

Tetapi biarlah aku menjawab juga. Keris itulah yang tertancap di

dada Akuwu Tunggul Ametung”.

Jawaban perwira itu menyambar telinga Kebo Ijo seperti

tajamnya ujung senjata. Terasa telinganya menjadi panas dan

dadanya berguncang-guncang. Sejenak justru ia terbungkam.

Namun, tanpa sesadarnya ia telah menarik kekang kudanya,

sehingga, kuda itu berhenti karenanya.

“Aku hormati kau sebagai perwira atasanku” berkata Kebo Ijo

sambil menggeretakkan giginya, “Tetapi jangan mengigau terus

menerus. Aku bukan anak-anak lagi dan aku bukan orang yang

paling rendah martabatku di dunia ini, sehingga kau dapat

menghinaku sesuka hatimu”.

Dada Ken Arok menjadi berdebar-debar. Ia memang sudah

menduga bahwa Kebo Ijo yang berdarah panas itu pasti akan

segera menjadi marah. Dan ia mengharap perwira itu akan marah

pula.

Ken Arok pun kemudian menahan nafasnya. Ia melihat perwira

itu menjadi tegang. Sejenak ia diam di atas punggung kudanya yang

telah berhenti pula. Namun agaknya ia masih berusaha untuk

menahan dirinya, betapapun darahnya telah mendidih.

Ketegangan itulah yang diharapkan oleh Ken Arok untuk

mendapat kesempatan berbicara sendiri dengan Kebo Ijo. Karena

itu maka ia pun mendekati keduanya sambil berkata sareh, “Kebo

Ijo. Demikianlah yang benarnya telah kami lihat di istana. Keris yang

dicabut dari dada Akuwu itu adalah keris yang dikatakannya tadi.

Banyak orang yang akan dapat menjadi saksi bahwa keris itu adalah

kerismu”.

“Tetapi……… “ Kebo Ijo memotong, tetapi. Ken Arok

mendahuluinya, “Tunggu dulu Kebo Ijo. Kami tidak segera dapat

mengambil keputusan tentang keris itu. Apalagi Witantra yang

memang belum pernah melihatnya”. Ken Arok berhenti sebentar

lalu, “Aku mempunyai cara yang sebaik-baiknya. Bagimu dan bagi

orang-orang yang kini berada di istana. Sebaiknya kau pulang

sebentar. Kau lihatlah kerismu itu. Kalau kerismu itu masih tetap

dalam simpanan, maka bawalah keris itu. Kau sudah membuktikan,

bahwa keris itu sama sekali bukan kerismu”.

Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Kini ia harus berpikir dengan

sungguh-sungguh. Agaknya perwira itu dan Ken Arok tidak sedang

bermain-main.

“Tetapi apakah kita biarkan Kebo Ijo pulang dahulu?” bertanya

perwira itu.

“Aku akan pergi bersamanya. Aku akan mempertanggungjawabkannya.

Akulah yang nanti akan membawanya ke istana.

Dengan atau tidak dengan keris itu”.

Perwira pasukan Pengawal istana itu berpikir sejenak. Dalam

keragu-raguan ditatapnya wajah Ken Arok tajam-tajam.

“Percayakanlah ia kepadaku” desis Ken Arok.

“O, jadi kalian menyangka bahwa aku akan lari?” peram Kebo Ijo,

“Aku bukan pengecut. Seandainya aku sekalipun yang membunuh

Akuwu Tunggul Ametung, aku akan mengangkat dadaku dihadapan

siapapun juga. Bahkan dihadapan kakang Witantra” Kebo Ijo

menggeretakkan giginya. Katanya kemudian, “Tetapi aku akan

membuktikannya. Aku akan membawa keris itu kepada kalian”.

Perwira itu tidak menyahut. Betapapun darahnya serasa

mendidih, tetapi ia mendapat kesan yang aneh pada Kebo Ijo yang

tampaknya benar-benar tidak tahu menahu sama sekali tentang

pembunuhan itu. Kebo Ijo sama sekali tidak menunjukkan

kecemasan, apa lagi ketakutan tentang kemungkinan-kemungkinan

yang dapat membahayakan keselamatannya.

Karena itu maka perwira itu masih saja ragu-ragu.

“Biarlah Kebo Ijo mencoba membuktikan” berkata Ken Arok, “Aku

akan menyertainya. Kembalilah kepada Witantra, dan katakan

bahwa sebentar lagi kami akan menghadap”.

Perwira itu tidak segera menjawab. Ia masih merenungi keadaan

yang dihadapinya. Namun sejenak kemudian ia berkata, “Semuanya

akan tergantung kepadamu Ken Arok, kepada tanggung jawabmu.

Apabila terjadi sesuatu yang tidak menjadi keinginan kakang

Witantra, maka kesalahan itu pasti akan dilimpahkan kepadamu.

Aku hanya mendapat perintah sekedar menyertaimu. Kaulah yang

memang mendapat tugas untuk membawanya ke istana”.

“Tanpa orang lain aku akan menghadap sendiri” sahut Kebo Ijo.

Perwira itu mengerutkan dahinya. Tetapi ia masih tetap menahan

diri, meskipun seandainya hal itu terjadi di dalam keadaan yang lain,

ia pasti sudah bertindak atas kekuasaan yang ada padanya sebagai

seorang perwira tinggi di dalam pasukannya. Seandainya Kebo Ijo

akan melawan sekalipun, pasti ia akan melakukan kekerasan. Tetapi

dalam keadaan kalut itu, ia berusaha untuk tidak menambah

pekerjaan Witantra menjadi semakin sulit. Itulah sebabnya ia tetap

menahan hati untuk tidak melakukan sesuatu yang dapat membuat

keadaan menjadi kian gelap.

“Nah” berkata Ken Arok, “Marilah Kebo Ijo. Kau harus

membuktikan bahwa bukan kau yang melakukannya. Keris itu bukan

kerismu. Mungkin ada persamaan dalam berbagai hal, dan mungkin

ada orang lain yang dengan sengaja menjerumuskan kau dalam

kesulitan. Namun tidak ada seorang pun yang mampu membuat

keris serupa benar dengan keris asli milikmu itu”.

Kebo Ijo tidak menyahut lagi. Segera ia menarik kekang kudanya,

berputar pulang ke rumahnya diikuti oleh Ken Arok.

Ken Arok yang masih sempat mendekati perwira itu berbisik,

“Percayakan ia kepadaku. Aku adalah sahabatnya, dan aku tahu,

betapa ia licik seperti iblis”.

Perwira itu mengangguk-anggukan kepalanya, “Ya, ia licik seperti

demit. Ia licik seperti iblis”.

Sejenak perwira itu memandangi derap kuda Ken Arok yang

berpacu di jalan-jalan kota menyusul Kebo Ijo yang sudah hampir

hilang di tikungan.

“Hem, mudah-mudahan Ken Arok tidak gagal”.

Sekilas tumbuhlah niatnya untuk mengikuti keduanya. Tetapi niat

itu pun kemudian diurungkannya. Ken Arok agaknya dapat

dipercaya untuk membawa Kebo Ijo ke istana.

Perwira itu tidak mau menyinggung perasaan Ken Arok. Maka ia

pun kemudian menggerakkan kudanya, kembali ke istana. Ia harus

segera melaporkan apa yang terjadi. Dengan demikian maka orangorang

yang menunggunya di istana tidak menjadi gelisah dan

bertanya-tanya.

Mendengar laporan perwira itu, Witantra mengerutkan

keningnya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia bertanya,

“Kita menunggu mereka sesaat sebelum mengambil kesimpulan.

Mungkin Kebo Ijo benar-benar dapat membuktikan dengan

membawa kerisnya kemari. Sehingga dengan demikian namanya

pun akan menjadi bersih karenanya”.

Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun sekali lagi

ia mendapat kesan, bagaimanapun juga Kebo Ijo adalah adik

seperguruan Witantra, sehingga kenyataan yang dihadapinya akan

terasa terlampau pahit.

Sementara itu, Kebo Ijo berpacu secepat-cepatnya pulang ke

rumahnya diikuti oleh Ken Arok. Tanpa mengurangi kecepatan derap

kudanya ia menyelusur jalan-jalan yang semakin kecil. Dengan

tergesa-gesa ia meloncat turun ketika ia sampai di muka regol

halaman rumahnya yang tertutup. Cepat ia membuka pintu regol itu

dan cepat-cepat pula ia melangkah di halaman, naik ke pependapa

dan mengetuk pintu pringgitan.

“Siapa?” bertanya isterinya.

“Aku. Aku pulang Nyi” sahut Kebo Ijo. Isterinya terkejut. Dengan

tergesa-gesa pula ia membuka pintu. Ketika dilihatnya Kebo Ijo

berdiri tegak dalam kegelapan malam, maka dengan cemasnya ia

bertanya, “Ada apa kakang? Apakah semuanya sudah selesai?”

Kebo Ijo menggeleng, “Belum Nyai. Semuanya masih gelap”.

Isterinya mengangguk-anggukkan kepala, “Tetapi kenapa kakang

pulang?”

Kebo Ijo menggeleng-gelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak

apa-apa. Ada sesuatu yang tertinggal. Aku bersama Ken Arok”.

“O” kemudian ia mempersilahkan Ken Arok, “marilah, masuklah”.

Ken Arok sudah terlampau biasa memasuki rumah itu. Hampir

setiap hari. Namun tiba-tiba saat itu ia merasa sehelai garis batas

telah terentang dihadapannya. Namun dengan penuh kesadaran ia

menghadapi persoalannya. Bagaimanapun juga perasaannya

bergolak, namun nalarnya tetap mampu mengatasinya, sehingga

dengan demikian tidak ada kesan apapun tersirat di wajahnya.

Sambil tersenyum ia menjawab, “Terima kasih. Kami berdua hanya

sebentar. Kalau aku masuk ke rumah, kau akan menjadi sibuk

merebus air”.

“Tidak. Aku tidak akan menjadi sibuk. Tetapi masuklah”.

Ken Arok pun kemudian melangkah masuk. Dengan dada yang

berdebar-debar ia duduk di atas sebuah bale-bale bambu. Dilihatnya

Kebo Ijo sedang membuka geledegnya, lewat pintu yang tidak

tertutup rapat. Derit pintu geledeg di ruang tengah itu serasa

menggores jantung Ken Arok. Perlahan-lahan sekali pintu itu pun

terbuka.

Ken Arok melihat Kebo Ijo terperanjat sekali. Sejenak ia

membeku di muka geledeg itu. Peluh yang dingin satu-satu menitik

dari keningnya. Darah Kebo Ijo serasa berhenti mengalir ketika ia

melihat kerisnya sudah tidak berada lagi ditempatnya.

Sejenak Kebo Ijo tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun.

Dengan sorot mata aneh ditatapnya wajah Ken Arok yang menjadi

tegang.

(bersambung ke jilid-49)

 

Jilid 49

SEJENAK kemudian perlahan-lahan Kebo Ijo berdiri dengan kaki

gemetar. Terhuyung-huyung ia melangkah mendekati Ken Arok.

Sejenak ia berpaling. Ketika istrinya tidak dilihatnya berada di

dekatnya, ia berkata lirih, “Keris itu hilang Ken Arok.”

Ken Arok meloncat berdiri. Wajahnya menjadi semakin tegang.

“Duduklah, duduklah,” desis Kebo Ijo, “aku tidak mau membuat

istriku menjadi gila.”

Ken Arok tidak segera menyahut. Tetapi wajahnya yang tegang

itu menjadi semakin tegang.

“Duduklah,” desis Kebo Ijo.

Perlahan-lahan Ken Arok duduk kembali di tempatnya. Wajahnya

masih tetap tegang. Namun di dalam hati ia menjadi heran. Kebo Ijo

yang cepat sekali dibakar oleh perasaannya itu, mampu menahan

hati menghadapi kenyataan yang tidak diduga-duganya. Anak

bengal itu masih juga mampu berpikir, bahwa ia tidak mau

membuat istrinya menjadi gila karena persoalannya itu.

Ken Arok pun kemudian menjadi gemetar. Kebo Ijo harus

mendapat kesan bahwa ia terkejut sekali mendengar keterangan

bahwa keris itu benar-benar telah hilang.

“Keris itu telah lenyap, Ken Arok,” sekali lagi Kebo Ijo berdesis.

Sejenak Ken Arok masih berdiam diri. Seakan-akan ia sedang

dicengkam oleh perasaannya yang tidak dapat dikuasainya lagi.

“Kebo Ijo,” berkata Ken Arok dengan suara gemetar, “aku juga

melihat keris yang tertancap di dada Akuwu. Aku segera menjadi

gelisah. Keris itu mirip benar dengan kerisku yang ada di tanganmu.

Tetapi aku percaya bahwa kau tidak akan melakukannya. Itulah

sebabnya aku menolak untuk membawa sepasukan prajurit, untuk

menangkapmu. Aku menyangka, bahwa keris itu hanya sekedar

mirip dengan kerisku itu. Tetapi ternyata keris itu sudah tidak ada

lagi di dalam simpanan.”

Kebo Ijo tidak segera menyahut, ia kini duduk di samping Ken

Arok dengan kepala tunduk.

“Kebo Ijo,” desis Ken Arok, “hampir setiap orang dapat

mengatakan, bahwa keris itu adalah kerismu. Agaknya kau pernah

memperlihatkan keris itu kepada banyak orang, Di dalam bilik

Akuwu yang penuh dengan para pemimpin tertinggi Tumapel aku

tidak sempat mengamat-amati keris itu dengan baik. Apalagi aku

yakin, bahwa keris itu hanya sekedar bersamaan bentuk, karena aku

yakin, aku yakin Kebo Ijo, bahwa kau tidak akan melakukannya. Ya,

aku yakin bahwa kau akan dapat membuktikannya dengan

membawa keris itu ke istana. Tetapi …”

Ken Arok berhenti berbicara.

Kebo Ijo tidak segera dapat menjawab. Kepalanya yang tunduk

menjadi semakin tunduk. Ia tidak dapat mengerti kenapa keris di

dalam geledeg itu tiba-tiba saja tidak ada di tempatnya.

Sejenak kemudian terdengar, ia bergumam dalam nada yang

dalam, “Aku tidak mengerti, bagaimana hal itu dapat, terjadi?”

“Lihatlah Kebo Ijo, apakah ada pencuri yang masuk ke rumah

ini?”

Kebo Ijo menggeleng, “Tidak. Tidak ada apapun yang hilang dari

rumah ini selain keris itu. Agaknya semua masih dalam keadaan

semula. Tidak ada dinding yang pecah, atau tanah yang tergali.”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Lalu apakah

kira-kira yang terjadi? Persoalan ini bukan sekedar persoalan

hilangnya keris itu Kebo Ijo. Kau agaknya menganggap hal ini

seperti permainan yang tidak akan membawa akibat.”

“Aku sadar Ken Arok. Aku sadar bahwa mungkin aku harus

mempertaruhkan nyawaku.”

“Bukan kau Kebo Ijo. Kalau orang-orang itu kemudian tahu

bahwa keris itu adalah kerisku, maka akulah yang akan digantung di

bawah gerbang istana.”

“Tidak. Tidak,” tiba-tiba Kebo Ijo berdiri, “aku bukan pengecut.

Keris itu ada di tanganku. Karena itu akulah yang akan

menengadahkan dada apabila terjadi sesuatu.”

Terasa dada Ken Arok berdesir. Ia tidak menyangka bahwa Kebo

Ijo langsung bertanggung jawab. Dalam kesempatan ini, ia memang

sedang menjajaki hati Kebo Ijo. Seandainya Kebo Ijo itu berbahaya

baginya, maka ada seribu macam alasan untuk menyelesaikannya.

Ia tidak boleh ragu-ragu lagi. Sedangkan Empu Gandring telah

dikorbankannya pula.

Setiap kali masih terngiang di telinganya kata-kata Buyut

Karuman, “Memang kadang-kadang yang tidak bersalah menjadi

korban. Menjadi tawur untuk masa mendatang yang lebih baik.”

Empu Gandring telah menjadi korban meskipun ia tidak bersalah

sama sekali. Sekarang datang giliran Kebo Ijo. Saat yang lain siapa

lagi?

Ken Arok tersadar ketika ia mendengar Kebo Ijo berkata dengan

tatag, “Marilah Ken Arok, kita pergi ke istana. Aku akan melihat keris

itu. Seandainya keris itu adalah kerisku yang hilang, maka aku tidak

akan mengganggumu. Justru aku minta maaf kepadamu. Akulah

yang akan menanggung semua akibatnya.”

Sekali lagi dada Ken Arok berdesir. Dan apalagi ketika sejenak

kemudian ia mendengar suara anak yang merengek.

“Siapa?” bertanya Ken Arok.

“Anakku.”

“Oh,” Ken Arok menundukkan kepalanya. Ia mengetahui dengan

pasti, bahwa Kebo Ijo mempunyai seorang anak.

Tetapi ia tidak mempunyai sasaran lain selain orang itu untuk

korban berikutnya.

“Marilah Ken Arok,” desis Kebo Ijo, “aku akan minta diri dahulu

kepada istriku.”

Ken Arok menganggukkan kepalanya. ia pun kemudian berdiri

ketika Kebo Ijo melangkah masuk ke dalam biliknya.

Sejenak kemudian Kebo Ijo dan istri serta anaknya di dalam

dukungan keluar dari dalam biliknya. Anak Kebo Ijo yang masih

terlampau kecil itu memandang Ken Arok dengan tatapan mata

yang aneh.

Ken Arok tiba-tiba menjadi berdebar-debar melihat mata yang

basah itu. Mata anak Kebo Ijo yang masih sangat kecil, yang masih

belum mengerti persoalan yang sedang terjadi atas ayahnya.

“Anak itu sudah mulai berjalan,” desis Kebo Ijo.

“Oh,” Ken Arok menarik nafas dalam-dalam.

“Mahisa Randi,” berkata Kebo Ijo kepada anaknya, “Ayah akan

pergi bersama paman Ken Arok. Tinggallah di rumah sayang.

Jangan nakal.”

Anak itu tidak menjawab. Tetapi matanya masih basah.

Kemudian kepada istrinya Kebo Ijo minta diri. Hatinya yang gelap

membuat kata-katanya menjadi bergetar.

“Aku pergi dulu Nyai. Aku akan ke istana melihat apa yang

sedang terjadi bersama Ken Arok.”

Istrinya menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Silakan Kakang.

Apakah malam nanti Kakang tidak pulang?”

“Entahlah,” jawab Kebo Ijo, “istana baru dilanda oleh persoalan

yang gawat sekali. Hati-hatilah kau mengurus anakmu, Nyai.

Seandainya aku terlambat pulang, ajarilah anakmu berjalan di setiap

pagi.”

Istrinya mengerutkan keningnya, “Berapa hari Kakang akan

pergi?”

“Oh,” Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia

tertawa, “aku tidak tahu Nyai. Seandainya ada tugas yang harus aku

lakukan. Mungkin Kakang Witantra memberikan tugas kepadaku

untuk mencari orang-orang yang dianggap bersalah. Atau mungkin

justru aku harus pergi keluar Tumapel.”

“Apakah Tumapel akan mengalami peperangan?”

“Oh, tidak Nyai. Tidak,” suara Kebo Ijo menjadi semakin

perlahan. Ada sesuatu terasa menyumbat kerongkongannya. Ia tahu

benar akibat yang akan terjadi atas dirinya, seandainya keris itu

benar-benar Keris Ken Arok yang disimpannya. Tetapi ia tidak dapat

mengatakannya kepada istrinya.

“Aku seorang prajurit, Nyai,” berkata Kebo Ijo itu kemudian, “kau

tahu bahwa aku seorang prajurit sejak kita kawin.”

Istrinya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Baik-baiklah di rumah, Randi. Kau harus menjadi anak yang

baik. Hati-hatilah dalam tindakan dan ucapan. Ayahmu agaknya

telah terperosok karena sikapnya.”

“Kenapa kau Kakang?” bertanya istrinya.

Kebo Ijo tertawa. Tetapi suara tertawa itu terasa betapa

hambarnya di telinga Ken Arok.

“Sudahlah. Kakang Witantra menunggu kedatanganku. Mungkin

aku akan dibawanya ke Singasari atau ke Kediri atau Ke manapun.

Tetapi mungkin juga tidak.”

Seleret pertanyaan membayang di wajah istrinya. Dipandanginya

saja Kebo Ijo berganti-ganti dengan Ken Arok. Tetapi perempuan itu

tidak bertanya sesuatu.

“Sudah terlampau lama aku di rumah. Keadaan memerlukan aku

segera berada di istana. Selaraklah pintu rumah ini kembali. Hatihatilah!”

berkata Kebo Ijo.

Istrinya menganggukkan kepalanya. Desisnya, “Kalau sudah

selesai pekerjaanmu, lekaslah pulang, Kakang.”

“Tentu. Aku tentu segera pulang.”

Lalu dikecupnya dahi anaknya. Sekali, dua kali. Tetapi Kebo Ijo

menahan hatinya sekuat tenaganya ketika ia ingin mengecupnya

untuk ketiga kali, seolah-olah untuk yang terakhir kalinya.

Mahisa Randi memandang ayahnya dengan mata yang masih

basah.

Tiba-tiba tangan anak itu menggapai-gapai, seolah-olah

mengatakan kepada ayahnya, bahwa ia ingin ikut pergi bersamanya.

“Anak nakal,” desis Kebo Ijo. Suaranya tiba-tiba menjadi

terlampau dalam, “ia sekarang sudah mengerti bahwa inilah

ayahnya.”

Kebo Ijo mencoba tertawa. Namun kemudian ia melangkah

sambil berkata, “Ah, tidak ada habis-habisnya kita berbicara di sini.

Marilah Ken Arok. Kita harus segera sampai ke istana.”

“Marilah,” sahut Ken Arok, yang kemudian minta diri kepada istri

Kebo Ijo, “aku akan mengantarkan suamimu ke istana.”

“Aku titipkan ia kepadamu.”

“He,” tiba-tiba Kebo Ijo berhenti, “ada-ada saja kau Nyai. Apakah

aku kau persamakan dengan sepotong benda mati?”

Sekali lagi Kebo Ijo mencoba tertawa.

Keduanya pun kemudian berjalan melintasi halaman menuju ke

kuda mereka. Kebo Ijo tertegun ketika ia mendengar anaknya tibatiba

menangis sambil meronta-ronta. Digapai-gapaikanya tangannya

untuk menyatakan keinginannya ikut bersama ayahnya.

“He, masuklah,” berkata Kebo Ijo, “tidak baik bagi anak-anak,

udara malam terlampau dingin.”

Istrinya tidak menjawab. Dicobanya untuk menenteramkan

anaknya dan mendukungnya masuk ke dalam rumahnya. Sejenak

kemudian pintu pun telah tertutup. Namun suara tangis itu masih

juga terdengar.

Betapapun juga hati Ken Arok serasa tergores oleh tangis itu. Ia

merasa bahwa ialah yang telah menjerumuskan Kebo Ijo ke dalam

kesulitan. Sekali-kali ia menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak

dapat menarik rencananya itu. Semuanya harus terlaksana. Apapun

yang harus dikorbankannya.

Sementara itu istri Kebo Ijo masih berusaha untuk menenangkan

anaknya. Didukungnya anak itu hilir mudik di dalam rumahnya.

Bahkan sekali-kali dibawanya anak itu ke belakang, ke ruang

tengah, ke pringgitan. Tetapi anak itu masih juga menangis.

“Cup, cup Ngger,” bisik istri Kebo Ijo, “ayah pergi hanya

sebentar. Nanti ayah akan segera kembali membawa oleh-oleh

buatmu.”

Tetapi anak itu masih juga menangis. Sehingga ibunya masih

harus berjalan hilir mudik sambil mendukungnya.

Tiba-tiba langkah perempuan itu terhenti. Dilihatnya selarak pintu

butulan tergolek di samping pintu. Dengan ragu-ragu ia melangkah

mendekatinya dan kemudian mengambilnya. Sambil menyelarak

pintu ia berdesis, “Agaknya kami lupa menyelarak pintu. Untunglah

tidak ada seorang pun yang memasuki rumah ini. Tetapi sebagai

peringatan aku harus mengatakannya kepada Kakang Kebo Ijo,

bahwa pintu butulan masih terbuka.”

Tetapi ternyata, bahwa istri Kebo Ijo itu untuk selama-lamanya

tidak lagi mendapat kesempatan untuk mengatakannya.

Kebo Ijo mencoba untuk memacu kudanya meskipun dengan

ragu-ragu. Suara tangis anaknya masih terngiang saja di telinganya.

Sebagai seorang prajurit ia sudah terlampau biasa pergi di dalam

tugasnya. Tetapi kali ini ia merasakan kelainan dari masa-masa

lampau. Ia sadar, bahwa ia sedang terancam bahaya yang paling

parah. Keris itu akan dapat menyeretnya ke tiang gantungan, atau

hukuman lain yang sama artinya. Mati.

Karena itu, maka di sepanjang jalan Kebo Ijo itu hanya dapat

menundukkan kepalanya. Kini disadarinya semua tingkah lakunya

yang salah. Terngiang kembali guraunya, ‘Suatu ketika Akuwu yang

dungu itu akan aku cekik sampai mati’. Dan di lain kali, ‘hanya

orang-orang yang bodoh sajalah yang mau menjadi hamba-hamba

yang mati bagi Akuwu yang dungu itu’. Bahkan pernah ia sambil

menepuk dadanya berkata, “Aku tidak sudi menjadi kuda

tunggangan seperti Kakang Witantra.”’

Kebo Ijo menarik nafas dalam-dalam. Dan tiba-tiba saja ia

berkata lambat, “Aku menyesal Ken Arok, bahwa sejak semula aku

tidak pernah mendengarkan nasihatmu. Aku kini merasa bahwa

tingkah lakuku sama sekali tidak disukai orang lain. Mungkin mereka

menganggap aku terlampau sombong. Dalam keadaan serupa ini

aku baru merasa bahwa tidak akan ada seorang pun yang akan

membelaku. Semua orang pasti akan memastikan, seandainya keris

itu adalah kerismu yang ada padaku, bahwa akulah yang telah

membunuh Akuwu. Apalagi mereka yang pernah mendengar senda

gurauku yang gila.”

Ken Arok tidak menjawab. Tetapi kepalanya tertunduk dalamdalam.

“Aku berterima kasih kepadamu Ken Arok, meskipun sudah

terlambat. Aku merasa bahwa tidak akan ada gunanya lagi untuk

disesali. Aku akan menghadap Kakang Witantra dengan dada

tengadah, dan aku akan menjalani semua hukuman yang akan

ditimpakan kepadaku. Kakang Witantra adalah seorang prajurit. Ia

tidak akan membedakan, apakah aku saudara seperguruannya. Ia

akan bertindak terhadap siapa pun juga yang dianggapnya

bersalah.”

Ken Arok masih tetap berdiam diri. Namun di dalam dadanya

telah terjadi benturan yang maha dahsyat. Sekali-kali ia berpaling

memandangi wajah Kebo Ijo di dalam gelapnya malam. Dan betapa

ia menjadi heran melihat wajah itu justru menjadi bening.

Ternyata hati Kebo Ijo telah mengendap. Ia tidak cemas lagi

menghadapi setiap kemungkinan. Ia harus menghadapi kenyataan

itu sebagai seorang laki-laki.

“Kalau aku ingkar dan mencoba lari dari kenyataan ini, maka

namaku akan menjadi semakin tidak berharga. Tidak ada seorang

pun yang akan mampu melepaskan aku dari bencana,” katanya di

dalam hati, “Namun seandainya aku mendapat kesempatan

mengetahui siapakah pembunuh yang sebenarnya, yang telah

mempergunakan keris itu, aku akan berbesar hati. Adalah di luar

kemampuan berpikir bahwa keris itu tiba-tiba saja telah lenyap dari

geledeg itu tanpa tanda-tanda yang dapat memberikan petunjuk

apapun juga.”

Tetapi sama sekali tidak tebersit hasrat Kebo Ijo untuk menyeret

Ken Arok dalam kesulitan. Ia sudah cukup merasa berterima kasih

bahwa setiap kali Ken Arok memberinya peringatan. Adalah

salahnya sendiri, bahwa peringatan Ken Arok itu tidak pernah

dihiraukannya. Kini datanglah saat itu. Saat ia terdorong ke dalam

suatu bencana.

Semakin dekat mereka dengan gerbang istana, hati Ken Arok

menjadi semakin berdebar-debar, seperti juga hati Kebo Ijo. Tetapi

Kebo Ijo sendiri sudah pasrah. Pasrah kepada tangan-tangan Yang

Maha Penentu.

Setiap prajurit yang bertugas di pintu gerbang melihat keduanya

memasuki halaman belakang istana. Dengan dada yang berdebaran

mereka berbisik, “He, itulah Kebo Ijo.”

“Tidak aku sangka semudah itu untuk menangkapnya,” sahut

yang lain.

Para prajurit itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Hampir

setiap orang di istana telah mendengar bahwa keris yang tertancap

di dada Akuwu adalah keris Kebo Ijo, sehingga setiap orang telah

memastikan bahwa Kebo Ijolah yang membunuhnya.

“Aku pernah mendengar, Kebo Ijo mengancam untuk membunuh

Akuwu,” desis salah seorang dari mereka, “kini ternyata maksud itu

telah dilaksanakan. Tetapi aku heran, bahwa seseorang yang telah

berani membunuh Akuwu Tunggul Ametung, begitu mudahnya

dibawa ke istana.”

“Ken Arok memang orang luar biasa. Selain Ken Arok tidak akan

dapat melakukannya. Bahkan Witantra pun tidak,” jawab yang lain.

“Witantra adalah saudara seperguruannya,” gumam yang lain

lagi.

Dan para prajurit itu pun kemudian saling menganggukanggukkan

kepala mereka.

Kebo Ijo tanpa berbuat apapun telah dibawa oleh Ken Arok

masuk ke dalam istana. Ia merasa bahwa setiap mata

memandanginya dengan penuh kebencian. Tetapi Kebo Ijo tidak

menundukkan kepalanya. Ia menengadahkan wajah dan dadanya.

“Anak itu masih juga menyombongkan dirinya,” berkata salah

seorang prajurit yang lain, yang bertugas di dalam istana.

Sementara itu Kebo Ijo mengikuti Ken Arok langsung menuju ke

dalam bilik Akuwu Tunggul Ametung. Betapapun juga ia mencoba

mengendapkan perasaannya, namun ia masih juga berdebar-debar.

Yang paling menyakitkan hatinya adalah cara orang lain yang

sangat licik itu. Pembunuh Akuwu Tunggul Ametung yang

sebenarnya.

“Kalau saja aku mendapat kesempatan,” katanya di dalam hati,

“aku ingin bertemu dengan pembunuhnya. Tetapi itu hanyalah

sebuah mimpi yang mengambang. Tidak seorang pun yang menolak

tuduhan bahwa akulah yang telah melakukannya.”

Kebo Ijo menarik nafas dalam-dalam.

Ketika mereka sampai ke muka bilik Akuwu, maka orang-orang

yang berdiri di depan pintu pun segera menyibak. Seolah-olah

mereka melihat Akuwu Tunggul Ametung sendiri akan memasuki

ruangan itu.

Demikian Kebo Ijo muncul di pintu bilik, maka Witantra pun

kemudian menggeram. Ditatapnya mata Kebo Ijo tajam-tajam,

seolah-olah ia ingin melihat jauh sampai ke pusat otaknya.

“Kebo Ijo!” suara Witantra bergetar, “Apakah keris ini kerismu?”

Kebo Ijo maju selangkah. Sekilas ia berpaling kepada Ken Arok

yang berdebar-debar. Seandainya Kebo Ijo ingkar, maka persoalan

itu pasti akan berkepanjangan. Apalagi apabila kemudian terdengar

oleh Mahisa Agni dan para cantrik di padepokan Empu Gandring.

“Kenapa anak itu tidak aku bunuh saja sama sekali,” geram Ken

Arok di dalam hatinya, “selagi ia masih hidup, ia akan dapat

berbicara tentang apa saja.”

Namun Ken Arok melihat Kebo Ijo menganggukkan kepalanya

sambil menjawab, “Ya Kakang. Keris itu adalah kerisku.”

Witantra yang sudah tidak dapat menahan hati itu pun langsung

bertanya kepadanya, “Jadi kaukah yang membunuh Akuwu Tunggul

Ametung?”

Kebo Ijo menggelengkan kepalanya dengan tatag. Sama sekali

tidak terbayang kecemasan di dalam sorot matanya, “Tidak Kakang.

Aku tidak segila itu. Apakah pamrihku membunuh Akuwu Tunggul

Ametung?”

“Lalu bagaimana mungkin keris ini dapat sampai di sini?”

“Itulah yang membuat hatiku menjadi terlampau pahit. Aku tidak

takut menghadapi kemungkinan apapun. Tetapi bahwa kerisku yang

dipergunakan oleh pembunuhnya itulah yang paling menyakitkan

hati.”

“Tetapi bagaimana mungkin kerismu hilang dari rumahmu?”

Witantra berhenti sebentar, lalu suaranya bergetar semakin dalam,

“Kebo Ijo, aku mengharap kau datang membawa sebilah keris, dan

sambil membuktikan bahwa kerismu masih ada padamu kau berjanji

untuk menangkap pembunuhnya. Tetapi ternyata keris ini adalah

kerismu.”

Kebo Ijo tidak segera menjawab. Kenyataan itu memang tidak

dapat diingkarinya. Keris itu adalah kerisnya, dan keris itu pulalah

yang tertancap di dada Akuwu Tunggul Ametung.

“Kebo Ijo, apa katamu?” desak Witantra.

“Aku tidak dapat mengingkari kenyataan itu Kakang.”

“Jadi kau mengaku, bahwa kau yang membunuhnya?”

“Aku tidak akan pernah mengaku, bahwa aku yang telah

membunuh, karena aku memang tidak melakukannya,” jawab Kebo

Ijo dengan hati yang tabah.

“Lalu bagaimana dengan kenyataan ini?”

“Terserahlah kepada Kakang Witantra. Keputusan apakah yang

akan dijatuhkan kepadaku. Aku akan patuh menjalani. Baik aku

sebagai prajurit maupun aku sebagai adik seperguruan. Tetapi

apapun yang akan terjadi, aku tidak akan mengakuinya, karena aku

memang tidak melakukannya.”

Witantra menggeretakkan giginya. Ia berdiri pada suatu keadaan

yang paling sulit. Namun menilik sikap dan jawaban Kebo Ijo,

Witantra dapat mempercayainya, bahwa Kebo Ijo tidak

melakukannya. Tetapi apabila ia berkata demikian, maka setiap

orang pasti akan mencemoohkannya, karena justru Kebo Ijo adalah

adik seperguruannya.

Karena itu, dalam kekeruhan nalar, Witantra tidak segera berbuat

dan berkata sesuatu. Bahkan akhirnya kepalanya ditundukkannya

sambil mengamat-amati keris yang masih digenggamnya.

Sementara itu setiap orang di luar dan di dalam bilik itu sudah

menjatuhkan kepastian, bahwa Kebo Ijolah yang melakukannya.

Sikapnya sehari-hari, kata-katanya dan tingkah lakunya, sama sekali

tidak disenangi oleh orang-orang di sekitarnya. Dalam keadaan yang

demikian itulah akan sangat terasa, hampir tidak ada seorang pun

yang berdiri di pihaknya, meskipun benar-benar ia tidak merasa

bersalah. Kesalahan yang membebani hatinya adalah, bahwa ia

tidak pernah mendengarkan nasihat Ken Arok. Hanya itu, bukan

karena ia merasa membunuh Akuwu Tunggul Ametung.

Witantra yang menjadi pening, akhirnya menyerahkan keris itu

kepada orang-orang tua dalam pemerintahan Tumapel. Sambil

menahan gelora hati yang tidak tertahankan ia berkata,

“Terserahlah kepada kalian. Apakah yang sebaiknya kita lakukan.

Pimpinan pemerintahan yang tujuh, termasuk manggala perang

akan menjatuhkan keputusan. Aku hanya salah seorang dari

mereka.”

Salah seorang tetua pemerintahan yang diserahi keris itu berpikir

sejenak. Kemudaan diterimanya keris itu sambil berkata, “Kau dapat

menentukan Witantra. Orang yang bersalah adalah seorang prajurit

di dalam pasukanmu, justru pasukan pengawal.”

“Aku adalah seorang prajurit yang harus berdiri pada watak dan

sifat prajurit,” jawab Witantra, “tetapi di sini aku berhadapan

dengan diriku sendiri. Aku melihat bukti yang tidak dapat disangkal

lagi. Tetapi aku berkeyakinan bahwa Kebo Ijo memang tidak

melakukannya, menilik sikap dan jawabannya. Aku mengenal Kebo

Ijo sejak lama. Aku mengenal wataknya. Kegilaannya,

kebengalannya dan memang kadang-kadang ia berbuat licik. Tetapi

aku tidak akan dapat membayangkan, kalau suatu ketika ia

melakukan pembunuhan yang sebenarnya. Apalagi membunuh

Akuwu Tunggul Ametung.”

Kata-kata Witantra ternyata telah menggetarkan setiap dada.

Mereka heran melihat sikap itu. Witantra yang selama ini mereka

kenal sebagai seorang prajurit yang bersikap lurus, siapa pun yang

dihadapinya. Namun pada suatu saat, di mana saudara

seperguruannya sendiri yang terlihat, ia menjadi miyur.

Sejenak terdengar suara bergeramang di dalam dan di luar bilik.

Semua mata kini memandang ke wajah Witantra yang merah dan

tegang. Setegang wajah Ken Arok. Berbagai masalah telah

menggelegak di dalam dadanya. Ia pun sama sekali tidak

menyangka bahwa Witantra ternyata akan bersikap demikian.

“Karena itulah,” berkata Witantra kemudian, “aku serahkan

persoalan ini kepada kalian. Suara kalianlah yang akan menentukan.

Aku sudah merasa, bahwa kali ini suara hatiku akan lain sekali

dengan keputusan kalian. Aku yakin bahwa yang terjadi bukan

seperti yang kita kira-kirakan. Aku tidak menganggap Kebo Ijo

sebagai seorang pembunuh yang biadab.”

Witantra berhenti sejenak. Lalu, “dan aku tidak dapat

melepaskan keyakinanku, meskipun aku tahu, bahwa aku akan

berdiri menyendiri.”

Sekali lagi terdengar suara bergeramang. Sedang Witantra masih

berdiri di tengah-tengah bilik itu dengan keringat yang membasahi

seluruh tubuhnya. Ternyata di dalam dirinya telah terjadi

pertentangan yang dahsyat, ia tidak dapat melepaskan bukti yang

pasti tidak dapat diingkari lagi. Tetapi dalam pada itu, ia mempunyai

suatu keyakinan yang asing di dalam pertemuan itu. Namun

bagaimanapun juga ia tidak dapat melepaskan keyakinannya.

Tiba-tiba di dalam ketegangan itu, salah seorang tetua

pemerintahan berkata, “Angger Witantra. Kita sudah dihadapkan

pada suatu kenyataan. Sudah tentu kita tidak akan dapat ingkar

lagi.”

“Ya, itulah yang akan aku dengar. Aku sudah tahu. Dan kini

terserah kepada kalian,” jawab Witantra. Ketika sejenak

dipandanginya wajah Kebo Ijo yang masih saja menatap lurus-lurus

ke depan ia menjadi semakin yakin, bahwa Kebo Ijo tidak

melakukannya. Namun sejalan dengan itu, ia pun menjadi semakin

yakin pula, bahwa Kebo Ijo tidak akan dapat lepas lagi dari

bencana.

Witantra itu mengatupkan bibirnya rapat-rapat ketika ia

mendengar pimpinan prajurit Tumapel berkata, “Baiklah Witantra.

Meskipun Kebo Ijo termasuk di dalam pasukan pengawal, tetapi

karena kau sudah menyerahkannya kepada kami maka kami akan

mengambil keputusan bersama-sama dengan pimpinan

pemerintahan yang tujuh dan segenap manggala, termasuk kau.”

Witantra tidak menjawab. Dan ia semakin mengatupkan giginya

ketika ia mendengar pimpinan prajurit itu berkata, “Kau menjadi

tawanan kami Kebo Ijo.”

Kebo Ijo sama sekali tidak terkejut mendengar perintah pimpinan

prajurit itu. Ia sudah menyadari sebelumnya bahwa itu pasti akan

menjadikannya seorang tawanan. Namun demikian ia mencoba

untuk menatap wajah Witantra. Tetapi Witantra membuang

pandangan matanya jauh-jauh. Seakan-akan ia tidak berani lagi

menatap wajah Kebo Ijo.

Ketika dua orang prajurit mendekati Kebo Ijo dan memegang

kedua belah tangannya Kebo Ijo mengibaskannya sambil

menggeram, “Apa kau sangka aku tidak dapat berjalan sendiri?”

Kedua prajurit itu mundur selangkah.

Setiap orang yang melihat hal itu mengerutkan keningnya.

Bahkan Witantra pun kemudian menatapnya. Dalam keadaan yang

demikian, maka segala hal dapat terjadi. Apalagi kalau Kebo Ijo itu

kemudian menjadi berputus asa.

Dalam keadaan yang demikian itu, Ken Arok maju beberapa

langkah mendekatinya. Perlahan-lahan ia berbisik, “Marilah Kebo

Ijo. Mudah-mudahan pembicaraan di antara para pemimpin akan

memberimu jalan.”

Kebo Ijo menggelengkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab.

Perlahan-lahan ia meraba hulu pedangnya sambil mengerutkan

keningnya.

Sikap itu semakin mendebarkan setiap jantung. Tetapi Ken Arok

tidak beranjak dari tempatnya. Bahkan sekali lagi ia berbisik,

“Apakah kau akan melawan?”

“Alangkah gilanya,” jawab Kebo Ijo.

Perlahan-lahan maka tangan Kebo Ijo itu menarik pedangnya,

tetapi beserta wrangkanya. Kemudian dilemparkannya pedang itu di

lantai sambil berkata lantang, “Aku tetap seorang prajurit. Meskipun

sampai saat terakhir aku tidak pernah merasa bersalah, tetapi aku

akan tunduk kepada setiap keputusan kalau keputusan itu akan

memberi kalian kepuasan.”

Wajah-wajah yang ada di sekitarnya pun menjadi semakin

tegang. Sejenak tidak seorang pun yang mengucapkan sepatah

kata. Dan ruangan itu menjadi sunyi.

“Marilah,” terdengar suara Kebo Ijo memecah kesepian, “Ke

mana aku akan dibawa? Aku tidak akan lari.”

Orang-orang yang ada di dalam bilik itu seakan-akan tersadar

dari lamunan mereka. Hampir mereka tidak percaya melihat apa

yang telah terjadi. Dan mereka masih juga berdiam diri ketika

mereka melihat Ken Arok menggandeng Kebo Ijo keluar dari

ruangan itu.

“Aku hormati kau Kebo Ijo,” bisik Ken Arok, “pada saat terakhir

kau adalah seorang yang paling jantan yang pernah aku lihat.”

“Jangan memuji. Setiap pujian kini sudah tidak berarti lagi

bagiku. Selama ini aku selalu mabuk oleh segala macam sanjungan,

pujian dan sikap yang berpura-pura. Tetapi sekarang aku sudah

tidak memerlukannya lagi.”

“Aku tidak memuji. Tetapi aku kagum melihat kenyataan ini. Aku

kira, selama kau tidak akan ada seorang pun yang dapat

melakukannya. Seandainya aku yang mengalaminya, mungkin aku

akan berbuat lain. Mungkin lari dan mungkin membunuh diri.”

Kebo Ijo tidak menyahut. Sekali ia berpaling memandang dua

orang prajurit yang mengikutinya beberapa langkah di belakangnya.

Salah seorang dari mereka berkata, “Kita tempatkan Kebo Ijo di

bilik sebelah ruang perbendaharaan. Menurut perintah, ia akan tetap

ditahan di dalam istana.”

“Persetan!” Kebo Ijo menggeram.

Ken Arok sama sekali tidak menyahut. Tetapi dibawanya Kebo Ijo

itu berbelok ke kiri menyusur serambi belakang. Kemudian

melampaui sebuah longkangan, dan naik ke bilik perbendaharaan.

“Kami berdua bertugas untuk menjaganya,” berkata salah

seorang dari kedua prajurit itu.

Baik Ken Arok maupun Kebo Ijo masih tetap berdiam diri. Mereka

kemudian melangkah masuk ke dalam sebuah bilik yang kecil di

sebelah ruang perbendaharaan istana.

“Biarlah ia berada di dalam. Sebaiknya kau keluar Ken Arok,”

berkata salah seorang prajurit itu, “pintunya akan aku palang dari

luar.”

“Tunggu,” sahut Ken Arok, “aku masih memerlukannya.”

“Tinggalkan aku,” desis Kebo Ijo.

“Aku akan mengawanimu Kebo Ijo. Kau harus tetap tenang dan

tidak kehilangan kebeningan akal.”

“Aku tidak menjadi gila karenanya.”

“Karena kau masih mempunyai kawan untuk membagi perasaan.

Karena itu, aku akan tetap tinggal di sini. Seseorang yang dalam

keadaan gelap, mudah mempunyai angan-angan yang bukanbukan.”

“Aku menyadari keadaanku Ken Arok. Aku telah menduga, bahwa

tidak ada hukuman lain yang lebih pantas bagiku selain hukuman

mati.”

“Kau sudah mulai berputus asa.”

Kata-kata Ken Arok terputus ketika ia mendengar prajurit di luar

berkata, “Ken Arok, tinggalkan ia sendiri.”

“Tunggu! Aku masih berbicara.”

“Tinggalkan aku,” desis Kebo Ijo.

“Tidak Kebo Ijo. Apalagi agaknya kau sudah mulai berputus asa.

Sikap yang demikian adalah tanda-tanda yang kurang baik. Putus

asa bagimu dalam keadaan ini adalah langkah pertama menuju

kepada bunuh diri.”

Kebo Ijo termenung sejenak. Tiba-tiba ia menyahut, “Itu akan

lebih baik daripada aku mati di tiang gantungan. Apa lagi di alunalun

atau di bawah pintu gerbang.”

“Siapa bilang bahwa hukuman itu akan dilakukan dengan cara

demikian?”

Kebo Ijo terdiam sejenak. Wajahnya merenung ke alam anganangannya

yang terlampau jauh.

Sejenak mereka saling berdiam diri. Kebo Ijo mencoba untuk

membayangkan apa saja yang dapat terjadi atasnya. Sedang Ken

Arok dengan berdebar-debar memperhatikan perkembangan

perasaan Kebo Ijo.

Ken Arok mengangkat kepalanya ketika ia mendengar para

penjaga sekali lagi berteriak, “He Ken Arok. Kenapa kau masih ada

di dalam?”

“Aku belum selesai. Aku masih mempunyai beberapa persoalan

yang harus kami perbincangkan.”

Para prajurit di luar pintu bersungut-sungut. Tetapi mereka

menyangka bahwa Ken Arok sedang melakukan tugasnya.

“Kebo Ijo,” berkata Ken Arok seterusnya, “kau harus tetap

tenang. Apapun yang akan terjadi dengan kau.”

Kebo Ijo tidak menyahut. Tetapi wajahnya merenung semakin

dalam. Kalau teringat olehnya, perbuatan licik seseorang, dengan

mencuri kerisnya dan dipergunakannya untuk membunuh Akuwu,

darahnya serasa mendidih. Tetapi kemudian ia pun sampai juga

pada suatu kesimpulan adalah kesalahannya, kenapa kerisnya dapat

jatuh ke tangan seseorang yang tidak dikenal dan tanpa

diketahuinya.

Sejenak terbayang, jenis-jenis hukuman yang dapat dilakukan

atasnya apabila para pemimpin di Tumapel menetapkan hukuman

mati atasnya. Ia dapat digantung di alun-alun, di bawah gerbang

depan istana di muka rakyat Tumapel, ditusuk dengan keris di atas

sebuah panggungan yang juga disaksikan oleh rakyat atau disapu

sampai mati.

Kebo Ijo menarik nafas dalam-dalam. Sekilas terbayang anak dan

istrinya yang menunggunya di rumah.

“Istri seorang prajurit tidak boleh kehilangan akal apabila ia

kematian suaminya,” geram Kebo Ijo di dalam hatinya, “tetapi

ternyata aku tidak mati di peperangan. Dan meskipun ia istri

seorang prajurit, maka ketahanan hatinya pasti akan runtuh juga

apabila ia melihat suaminya tergantung di alun-alun, atau di bawah

regol besar istana atau ditusuk dengan keris sampai mati, apalagi

disapu.”

“Aku kira, lebih baik aku mati Ken Arok,” tiba-tiba ia berdesis.

“He,” Ken Arok terkejut, “kenapa?”

“Aku akan menjadi gila apabila di alun-alun besok aku dapat

melihat istri dan anakku menangisi aku sebelum aku digantung.”

“Ah,” desis Ken Arok, “kau membayangkan yang bukan-bukan.

Meskipun seandainya kau dihukum mati, kau pun harus

menengadahkan dadamu sebagai laki-laki jantan.”

“Tetapi aku tidak akan dapat melakukannya apabila istri dan

anakku hadir untuk melihat dan mendapat kesempatan bertemu

untuk yang terakhir.”

Ken Arok tidak menjawab, tetapi ditundukkannya kepalanya

dalam-dalam.

“Bagaimana pertimbanganmu Ken Arok?”

“Tetapi aku tidak yakin bahwa kau akan dihukum mati.”

Kebo Ijo menggelengkan kepalanya, “Tidak ada seorang pun

yang menghendaki aku terlepas dari hukuman ini. Karena itu, aku

harus menjalani.”

Ken Arok merenung sejenak. Kemudian katanya, “Aku akan

melihat, apakah yang dibicarakan oleh para pemimpin yang tujuh itu

sekarang.”

Kebo Ijo tidak menyahut.

“Mungkin hal itu mereka lakukan secara rahasia. Tetapi aku akan

berusaha.”

“Terserahlah kepadamu.”

“Aku minta diri sebentar. Tetapi jangan kau biarkan angananganmu

membubung ke segala arah tanpa terkendali. Mungkin kau

akan terjerumus ke dalam suatu sikap yang keliru.”

Kebo Ijo tidak menyahut.

“Tenanglah. Aku akan segera kembali.”

“Beri tahukan kepadaku, kalau mereka mengambil keputusan

untuk menghukum aku mati. Lebih baik dilakukan sekarang di

tempat tertutup ini daripada di tempat terbuka.”

“Aku akan melihatnya.”

Ken Arok pun kemudian meninggalkan tempat itu. Dicobanya

untuk mendekati tempat para pemimpin yang sedang bersidang.

Tetapi beberapa langkah dari pintu bilik tempat bersidang itu dijaga

oleh beberapa orang prajurit, beberapa orang pengawal istana dan

pelayan dalam yang dipimpinnya untuk malam itu.

Sejenak Ken Arok menjadi ragu-ragu. Namun kemudian ia

berjalan mendekat. Beberapa orang prajurit memandangnya dengan

penuh pertanyaan, dan para pengawal istana menjadi berdebardebar.

“Aku perlu dengan orang-orangku,” berkata Ken Arok kepada

pemimpin prajurit yang bertugas di tempat itu.

Orang itu menganggukkan kepalanya. “Silakanlah.”

Ken Arok memanggil orang-orangnya dengan isyarat tangannya.

Kemudian setelah mereka berkumpul diberinya mereka beberapa

peringatan. Lalu katanya, “Kembalilah ke tempatmu. Aku akan

menghadap Witantra.”

“Mereka sedang bersidang,” jawab salah seorang dari mereka,

“tidak seorang pun diperkenankan mendekat.”

“Tetapi aku adalah orang yang khusus. Akulah yang menangkap

Kebo Ijo.”

Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sesaat ia berpaling

kepada pemimpin prajurit dan pengawai istana yang bertugas.

“Aku akan berbicara dengan orang itu,” desis Ken Arok.

Ternyata kesibukan Ken Arok itu mempengaruhi perasaan

pemimpin prajurit itu. Agaknya Ken Arok memang sedang

melakukan tugas yang penting.

“Mintalah izin langsung kepada mereka, apakah kau diizinkan

masuk ke tempat sidang itu,” berkata pemimpin pengawal istana.

“Aku tidak akan ikut bersidang. Itu bukan tugasku.”

“Ya. Lalu apa kepentinganmu?” bertanya pemimpin prajurit.

“Aku akan menyampaikan beberapa laporan saja.”

Pemimpin prajurit dan pengawal istana yang sedang bertugas itu

saling berpandangan sejenak. Mereka tidak mengerti, apakah

mereka dapat melarang atau mengizinkan, karena Ken Arok sendiri

saat itu sedang memimpin sekelompok pelayan dalam yang sedang

bertugas pula.

Sejenak kemudian pemimpin prajurit itu berkata, “Terserahlah

kepadamu. Ketuklah pintu dan sampaikan maksudmu.”

Ken Arok tidak menjawab. ia pun menjadi ragu-ragu sejenak.

Namun ia pun kemudian melangkah mendekati pintu.

Para petugas yang berada beberapa langkah di depan pintu itu

melihat Ken Arok berdiri tepat di muka pintu. Mereka melihat Ken

Arok beberapa kali mengetok, tetapi pintu itu tidak segera terbuka.

Namun sebenarnya Ken Arok sama sekali tidak mengetuk pintu.

Para penjaga yang berdiri beberapa langkah daripadanya hanya

melihat tangannya bergerak-gerak. Tetapi tangan itu sama sekali

tidak menyentuh pintu bilik. Dengan demikian ia dapat mengelabui

para penjaga termasuk orang-orangnya sendiri.

Yang dilakukan sebenarnya adalah berusaha mendengar

pembicaraan, di dalam bilik itu. Betapa lembutnya, namun

telinganya yang tajam berhasil menangkap beberapa patah kata

daripadanya.

Dadanya berdebar-debar ketika ia mendengar Witantra berkata,

“Terserah kepada kalian. Aku tetap pada pendirianku. Kebo Ijo tidak

bersalah. Kalau ia memang membunuh Akuwu Tunggul Ametung,

maka ia tidak akan gila meninggalkan kerisnya. Betapa ia tergesagesa.

Apalagi ternyata bahwa pembunuhan itu baru diketahui ketika

darah yang meleleh dari luka itu sudah kering. Itu berarti bahwa

masih ada beberapa waktu terpaut. Dan waktu itu cukup bagi Kebo

Ijo untuk membawa kerisnya serta.”

“Aku tidak yakin,” jawab seseorang, yang agaknya salah seorang

dari tetua pemerintahan, “mungkin telah terjadi perkelahian antara

Kebo Ijo dan Akuwu, sehingga Kebo Ijo harus melarikan diri segera.

Terlebih lagi, ternyata bahwa tanda pasukan pengawal itu

tertinggal.”

“Tetapi,” sahut Witantra, “pembunuhnya pasti telah

menancapkan keris itu pada saat Akuwu sedang tidur. Tidak ada

tanda bahwa Akuwu berusaha mengambil pusakanya. Gerak Akuwu

pun pasti sangat terbatas sehingga perkelahian itu tidak

berlangsung lama. Waktu yang kemudian cukup banyak bagi Kebo

Ijo untuk membawa keris itu.”

Sejenak ruangan itu menjadi sepi. Dan sejenak kemudian

terdengar suara yang lain lagi, “Ya. Aku cabut tuduhanku. Aku dapat

mengerti penjelasan Witantra. Kebo Ijo yang sudah demikian berani

dan berhati-hati, sehingga dapat mencapai bilik Akuwu Tunggul

Ametung, pasti tidak akan membuat kesalahan yang bodoh. Keris

itu pasti tidak akan tertinggal, apalagi masih tetap di dada Akuwu.

Sedangkan tidak seorang pun yang segera mengetahui

pembunuhan itu. Seandainya ia tergesa-gesa meninggalkan bilik itu,

maka ia masih mendapat kesempatan untuk mengambil kerisnya

kembali.”

Sekali lagi ruangan itu menjadi sepi. Namun kesepian itu telah

mendebarkan jantung Ken Arok. Dalam kesepian yang demikian

maka setiap orang akan mendapat kesempatan berpikir dengan

bening. Apalagi ketika ia kemudian mendengar seseorang berdesis

di dalam bilik itu, “Maka aku adalah orang yang ketiga yang

menyadari kebodohan kita. Seperti yang kita kehendaki selama ini,

mengambil keputusan tanpa prasangka dan tanpa pilih bulu.

Ternyata kita sudah dipengaruhi oleh sikap, kebiasaan dan watak

Kebo Ijo yang tidak kita sukai. Namun akhirnya aku menyadari

kesalahan itu, dan aku mencoba menempatkan persoalan ini

sewajarnya dengan melepaskan prasangka dan kebencian yang ada

di dalam diri kita.”

Suara itu berhenti sejenak. Lalu, “terserahlah kepada kita yang

tujuh. Masih ada empat orang yang dapat menentukan

pendiriannya.”

Ketika suasana di dalam bilik itu menjadi sepi kembali, Ken Arok

merasa, bahwa ia harus cepat bertindak. Kalau setiap orang di

dalam bilik itu kemudian dipengaruhi oleh sikap Witantra, yang telah

menjalar kepada dua orang lainnya, maka keadaannya akan

menjadi terlampau jelek baginya. Masih ada saksi yang hidup, yang

akan dapat mempengaruhi keadaan kemudian. Ia menyesal bahwa

ia tidak membunuh saja sama sekali cantrik yang melepasnya pergi

di padepokan Empu Gandring, meskipun ada kemungkinan cantrik

itu sudah tidak mengenalnya.

Karena itu, maka Ken Arok pun kemudian telah benar-benar

mengetuk pintu itu, sehingga terdengar desis di dalam ruangan,

“Siapa?”

“Aku, Ken Arok.”

Terdengar langkah mendekat pintu. Kemudian terdengar palang

pintu terangkat, dan pintu itu pun terbuka.

“Ken Arok,” berkata Witantra, “seharusnya kau tahu, bahwa kau

tidak dapat mengganggu sidang ini.”

“Maafkan,” jawab Ken Arok, “aku pun menyangka bahwa aku

akan mengganggu. Tetapi aku memerlukan suatu tindakan yang

cepat di dalam masalah ini. Aku mengharap bahwa sebelum para

pemimpin yang tujuh ini dapat mengambil keputusan, maka tidak

akan terjadi kesalahan yang kurang bijaksana.”

“Apa maksudmu?”

“Kebo Ijo ingin melihat keris itu. Ialah orang yang paling

mengenalnya. Meskipun kerisnya tidak ditemukan di dalam

rumahnya, tetapi masih ada kemungkinan, bahwa sebenarnya keris

itu bukan kerisnya. Keris itu hanyalah mirip atau sengaja dibuat

mirip dengan keris yang hilang itu. Kemiripan yang paling mencolok

terletak pada tangkainya. Sedang tangkai yang demikian dapat

dibuat oleh siapa pun juga. Dengan melihat keris itu dari dekat

maka Kebo Ijo akan dapat mengatakan, apakah keris itu benarbenar

kerisnya.”

Witantra mengerutkan keningnya. Sejenak ia terdiam sambil

berpaling ke arah enam orang yang lain, yang ada di dalam ruangan

itu.

Ruangan itu menjadi sunyi sesaat. Beberapa orang saling

berpandangan. Tetapi mereka tidak segera dapat mengambil suatu

keputusan.

Ken Arok sendiri masih berdiri tegak di depan pintu.

Dipandanginya setiap wajah seorang demi seorang. Namun yang

dilihatnya hanyalah keragu-raguan dan kebimbangan.

Baru sejenak kemudian terdengar Witantra berkata, “Bukankah

Kebo Ijo telah melihat keris itu?”

“Ya, tetapi Kebo Ijo ingin meyakinkan. Ia ingin melihat setiap

guratan pamornya. Dan ia akan dapat memutuskan apakah keris itu

miliknya yang hilang.”

“Ia akan dapat berbohong,” berkata salah seorang tetua

pemerintahan, “anak itu dapat berkata apa saja tentang keris itu.”

“Bukan maksud Kebo Ijo,” Ken Arok menggelengkan kepalanya,

“Kebo Ijo tidak akan minta belas kasihan atau membuat cerita yang

aneh-aneh untuk membebaskan dirinya. Ia cukup jantan

menghadapi kenyataan. Yang penting baginya adalah kepuasan

perasaan. Kalau keris itu adalah kerisnya yang hilang, maka ia akan

dapat menghadapi setiap kemungkinan dengan perasaan yang

tenang. Tetapi apabila keris itu bukan kerisnya, meskipun ia tidak

ingin bebas karenanya, apalagi membuat-buat cerita ngayawara,

namun hal itu akan dapat menyinggung rasa keadilan kita jauh lebih

parah lagi.”

Ken Arok berhenti sejenak, “tetapi itu pun bukan berarti suatu

pengakuan bahwa seandainya keris itu benar-benar kerisnya ia telah

melakukan pembunuhan. Tetapi bahwa kekhilafannya dan hilangnya

pusaka itu dari rumahnya, adalah suatu kesalahan yang harus

ditebusnya dengan nyawanya.”

Ketika Ken Arok terdiam, maka sekali lagi ruangan itu menjadi

senyap. Beberapa orang menundukkan kepalanya dan beberapa

orang yang lain menjadi semakin ragu-ragu.

“Aku tidak keberatan,” tiba-tiba Witantra berdesis.

“Aku juga tidak berkeberatan,” sahut yang seorang.

Seorang yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya sambil

berkata, “Aku juga tidak. Tetapi siapa yang bertanggung jawab

apabila terjadi sesuatu?”

Ken Arok mengangkat dadanya, “Akulah yang bertanggung

jawab. Aku adalah sahabatnya. Aku akan menghadapinya apabila ia

mencoba mempergunakan senjata itu untuk melakukan perlawanan.

Tetapi sekali lagi aku ingin menjelaskan, bahwa Kebo Ijo cukup

jantan menghadapi kenyataan ini. Kenyataan yang tidak terdugaduga.”

Sesaat orang di dalam bilik itu menjadi tegang. Mereka saling

berpandangan. Akhirnya seorang yang lain lagi berkata, “Aku juga

tidak berkeberatan.”

Empat orang dari yang tujuh telah menyatakan sikapnya. Karena

itu, maka telah merupakan keputusan, sebagai pengganti kekuasaan

Akuwu, bahwa yang lain harus memberikan alasan-alasan yang

dapat dimengerti oleh setidak-tidaknya seorang dari keempat orang

itu apabila keputusan itu hendak diubah atau ditolak. Apabila yang

tiga orang itu atau salah seorang daripadanya tidak mengajukan

keberatan apapun maka sikap yang empat itu akan menjadi

keputusan yang harus dilaksanakan.

Demikianlah, karena tidak ada seorang pun yang berkeberatan,

maka orang yang menyimpan keris berkata, “Baiklah. Aku akan

menyerahkan keris itu kepadamu Ken Arok. Kaulah yang akan

bertanggung jawab.”

“Aku akan bertanggung jawab,” sahut Ken Arok.

Maka keris itu pun segera diambilnya, dan diserahkannya kepada

Ken Arok. “Hati-hatilah. Keris ini merupakan barang bukti.”

“Ya. Aku menjadi taruhan, bahwa keris ini tidak akan hilang.”

Witantra memandang keris itu sambil mengatupkan bibirnya

rapat-rapat. Tetapi ia tidak berkata sepatah kata pun lagi.

Sepeninggal Ken Arok, maka orang yang tertua di antara ketujuh

orang itu berkata, “Kita akan menunda pembicaraan ini. Kita akan

menunggu kedatangan Ken Arok yang telah membawa keris itu.”

Yang lain mengangguk-anggukkan kepala mereka.

“Kita akan tetap tinggal di dalam bilik ini.”

“Ya,” jawab yang lain, “kita akan tetap tinggal di sini.”

Demikianlah, maka ketujuh orang itu pun kemudian duduk

kembali di dalam suatu lingkaran. Mereka tidak beranjak dari

tempatnya, meskipun mereka hampir tidak berbicara lagi. Masingmasing

mencoba membayangkan apa yang telah terjadi dengan

Akuwu Tunggul Ametung.

Dalam kesenyapan itulah, maka sebagian terbesar dari mereka,

mulai melihat suatu gambaran yang agak bening. Sebenarnyalah

bahwa terlampau bodoh, apabila Kebo Ijo setelah membunuh

Akuwu meninggalkan keris itu di dadanya.

Tetapi mereka harus menunggu. Mereka akan mendengar

keterangan Ken Arok tentang keris itu.

Beberapa orang berpendapat, apabila Kebo Ijo mengaku tanpa

banyak persoalan, bahwa keris itu adalah kerisnya maka dugaan

bahwa ia yang telah membunuh Akuwu menjadi semakin tipis.

Mungkin setiap orang tetap pada tuduhannya, karena sikap, watak

dan tingkah laku Kebo Ijo. Tetapi ketujuh orang itu tidak boleh

ingkar dari suatu keyakinan, apabila memang demikian, apabila

menurut keyakinan mereka, Kebo Ijo tidak melakukan pembunuhan

itu. Mungkin keputusan mereka tidak sesuai dengan tuntutan

sebagian terbesar dari rakyat Tumapel, terutama mereka yang

mengenal Kebo Ijo. Tetapi mereka harus tetap berusaha

menegakkan keadilan. Seperti juga Witantra telah berkorban

perasaan untuk mempertahankan keyakinannya, meskipun ia tahu,

bahwa setiap orang akan menganggapnya berpihak, karena Kebo

Ijo adalah adik seperguruannya. Tetapi justru karena itu ia telah

bersikap tanpa pilih. Siapa pun Kebo Ijo, ia berdiri di atas

keyakinannya. Keyakinan yang dilandasi oleh berbagai macam bukti,

pertimbangan dan pengamatan.

Dalam pada itu Ken Arok pun pergi dengan tergesa-gesa ke bilik

Kebo Ijo. Kedua penjaga yang menungguinya menjadi ragu-ragu

untuk mengizinkannya masuk kembali ke dalam bilik itu.

“Aku tidak sedang bermain-main,” desis Ken Arok, “aku adalah

pimpinan pelayan dalam yang bertugas kali ini. Sadarilah itu. Kalau

kau melihat bahwa aku membawa keris yang telah tertancap ke

dalam dada Akuwu ini, kau pasti dapat mengerti, bahwa kalian tidak

berhak melarang aku masuk.”

Kedua penjaga itu berpandangan sejenak. Kemudian yang tua di

antara keduanya menganggukkan kepalanya sambil berkata,

“Silakanlah. Tetapi jangan terlampau lama. Kami berdualah yang

kali ini bertanggung jawab atas tawanan ini.”

“Aku tidak menyangkal. Tetapi aku pun sedang menjalankan

tugas.”

Palang pintu bilik itu pun kemudian diangkat, dan Ken Arok pun

masuk ke dalamnya dengan nafas terengah-engah.

Kebo Ijo menjadi cemas melihat kedatangan Ken Arok yang

tergesa-gesa itu, sehingga ia pun bertanya dengan serta-merta,

“Apa kata mereka Ken Arok?”

Namun ia terkejut melihat Ken Arok membawa keris itu, “Buat

apa kau bawa keris itu?”

“Aku meminjamnya Kebo Ijo. Aku masih ingin meyakinkan,

apakah keris ini benar-benar kerisku yang ada padamu,” Ken Arok

berhenti sejenak, “dan ternyata bahwa keris ini benar kerisku itu.”

Kebo Ijo menundukkan kepalanya. Katanya perlahan-lahan, “Dan

kau percaya juga bahwa aku telah membunuh Akuwu dengan keris

ini.”

Ken Arok menggelengkan kepalanya, “Tidak Kebo Ijo. Aku tidak

percaya bahwa kau telah melakukannya.”

Kebo Ijo mengangkat wajahnya. Matanya memancarkan sepercik

sinar. Terdengar ia berkata, “Itulah yang aku perlukan darimu Ken

Arok. Aku berterima kasih, bahwa masih ada orang yang dapat

melihat kebenaran. Tetapi apakah keputusan yang diambil oleh para

pemimpin yang tujuh itu?”

Ken Arok menelan ludahnya. Beberapa saat ia berdiam diri sambil

menundukkan kepalanya.

Kebo Ijo menarik nafas dalam-dalam. Beberapa langkah ia

berjalan sampai ke sudut bilik itu, kemudian berputar dan menyusur

dinding.

“Aku mengerti Ken Arok. Apakah mereka mengambil keputusan

dengan hukuman mati?”

Perlahan-lahan Ken Arok menganggukkan kepalanya.

“Apakah suara mereka dapat memutuskan? Tanpa Akuwu

mereka tidak dapat berbuat sendiri-sendiri. Hanya Akuwulah yang

berwenang menentukan tanpa pertimbangan mereka bersamasama.”

“Akhirnya suara mereka menentukan. Bukti inilah yang

berbicara,” Ken Arok berhenti sejenak, “apakah kau sependapat

Kebo Ijo, apabila aku melenyapkan bukti ini.”

“Apakah maksudmu?”

“Aku telah berhasil membujuk mereka dan meminjam bukti ini.

Kalau aku lenyapkan bukti ini, maka para pemimpin harus berpikir

lagi.”

“Tetapi akibatnya bagimu terlampau parah.”

“Aku akan lari. Aku adalah seorang petualang sejak kecil. Apa

artinya hidup di istana ini bagiku.”

“Jangan Ken Arok,” desis Kebo Ijo, “aku berterima kasih atas

semuanya itu. Tetapi itu tidak perlu. Biarlah aku menerima akibat

dari kebodohanku selama ini. Dan puncak dari kebodohan itu adalah

hilangnya keris itu dari simpananku.”

“Lalu apakah kau akan menerima keputusan itu?”

“Tidak ada hakku untuk menolak. Aku tinggal menjalaninya.

Bagaimanakah bunyi keputusan itu?”

Ken Arok tidak segera menjawab.

“Bagaimana Ken Arok?”

“Aku hanya mendengar bagian terakhir dari pembicaraan itu.

Kemudian aku mencoba meminjam barang bukti ini.”

Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Ia harus percaya kepada katakata

Ken Arok. Terbukti pula ia telah membawa keris itu.

“Dan bagaimana bunyi keputusan itu? “ Kebo Ijo mendesak.

“Sebenarnya aku tidak akan sampai hati mengatakannya

kepadamu Kebo Ijo. Biarlah salah seorang dari merekalah yang akan

menyampaikan kepadamu nanti atau besok.”

“Tidak. Aku ingin mendengarkan sekarang. Katakanlah Ken Arok.

Aku akan semakin berterima kasih kepadamu.”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan suara

tertahan-tahan ia berkata, “Kau akan dihukum mati Kebo Ijo.

Hukuman mati itu akan dilaksanakan di alun-alun. Hukuman tusuk

sampai mati.”

“Gila!” Kebo Ijo menggeram, “Aku tidak takut mati. Tetapi

hukuman itu adalah hukuman yang paling jahat.”

“Tetapi itu akan lebih baik dari hukuman gantung.”

“Tetapi akibatnya sama saja. Aku tidak mencemaskan cara

kematian itu. Tetapi kematian di hadapan banyak orang sebagai

tontonan adalah kematian yang paling hina.”

“Karena itu, apakah aku harus melarikan keris ini?”

Kebo Ijo menggeleng. Setelah merenung sejenak ia berkata,

“Tidak Ken Arok. itu tidak perlu. Kalau kau benar-benar ingin

menolongku, bunuh sajalah aku sekarang.”

“Uh, gila! Itu adalah suatu kegilaan Kebo Ijo,” wajah Ken Arok

menjadi tegang, “kalau kau ingin melarikan diri, aku akan

menolongmu. Tetapi tidak dengan cara itu mengakhiri persoalan.”

“Ken Arok,” berkata Kebo Ijo, “sudah aku katakan, aku tidak

ingin melihat kau di dalam persoalan ini. Kau sudah cukup baik

selama ini. Karena itu, aku minta kepadamu untuk yang terakhir

kalinya. Bunuhlah aku dengan kerismu itu. Keris yang telah

merenggut jiwa Akuwu Tunggul Ametung pula.”

“Tidak mungkin Kebo Ijo, tidak mungkin.”

Kebo Ijo menatap mata Ken Arok dengan tajamnya, sehingga

seolah-olah langsung tembus ke dalam pusat otaknya. Sejenak ia

seakan-akan membeku. Namun sejenak kemudian ia berkata, “Ken

Arok. Tidak ada jalan yang lebih baik daripada itu. Apakah kau

sampai hati melihat aku diikat pada sebuah tonggak di panggungan

di alun-alun? Beribu-ribu orang melihat dengan wajah yang

memancarkan kebencian. Kemudian seorang prajurit naik ke atas

panggung itu dengan keris di tangan. Diiringi oleh sorak-sorai

orang-orang yang menonton itulah, aku harus mengakhiri hidupku.

Tidak Ken Arok. Aku tidak mau.”

“Tetapi,” Ken Arok tergagap, “aku tidak akan mungkin dapat

melakukannya. Aku tidak akan sampai hati pula membunuhmu.”

Kebo Ijo menundukkan kepalanya. Terdengar ia berdesis, “Aku

minta pertolonganmu yang terakhir, sebab aku tidak mau memilih

jalan yang kedua.”

“Apakah jalan yang kedua itu?”

“Aku tidak akan menemui kesulitan apapun untuk memecah

dinding bilik ini, atau palang pintu, tidak usah bersusah payah

dengan aji Bajra Pati. Tetapi aku tidak akan lari. Aku dapat

mengamuk di dalam istana ini. Dengan demikian aku pun akan mati

dikeroyok orang. Mungkin malahan Kakang Witantra sendiri yang

akan membunuhku. Tetapi jalan itu tidak begitu menyenangkan,

seolah-olah aku ingin mati bersama beberapa orang. Dan kematian

yang demikian kurang menyenangkan pula agaknya.”

“Tetapi itu lebih jantan Kebo Ijo.”

“Tetapi tidak bijaksana melawan kakak seperguruan.”

Ken Arok diam sejenak. Dan Kebo Ijo itu berkata selanjutnya,

“Aku minta dengan sangat Ken Arok. Bunuhlah aku. Kau jugalah

yang telah menangkap aku dan membawa kemari. Sekarang kau

jugalah yang sebaiknya menyelesaikannya.”

Ken Arok tidak segera menjawab.

“Cepatlah Ken Arok,” Kebo Ijo pun kemudian mendekati Ken

Arok, “angkat kerismu. Kau pasti bukan seorang laki-laki yang takut

melihat darah.”

Ken Arok tidak menjawab. Tetapi justru ia berpaling dan

melangkah menjauh.

“Tolonglah aku, Ken Arok.”

Nafas Ken Arok menjadi terengah-engah. Ia benar-benar berada

dalam keragu-raguan meskipun hal itu memang diharapkannya.

Tetapi ketika ia sudah berdiri berhadapan dengan Kebo Ijo, maka

hatinya menjadi kisruh.

“Cepat, sebelum ada perkembangan lebih lanjut.”

Ken Arok perlahan-lahan mengangkat kepalanya. Dipandanginya

wajah Kebo Ijo yang sama sekali tidak membayangkan kecemasan

dan ketakutan.

“Aku sudah mapan Ken Arok,” nada suara Kebo Ijo merendah,

“tetapi sepeninggalku, aku titipkan pengawasan anakku kepadamu.

Mudah-mudahan Mahisa Randi dapat menjadi seorang yang baik.

Seorang yang rendah hati seperti kau.”

Terasa sebuah desir yang tajam tergores di dinding jantung Ken

Arok. Pesan itu telah menghempaskannya ke dalam suatu

pengakuan yang pahit. Hampir saja Ken Arok kehilangan

keseimbangannya dan membatalkan semua rencananya. Namun

sejenak kemudian ia menghentakkan giginya sambil menggeram di

dalam hatinya, “Aku tidak boleh, mundur lagi.”

“Bagaimana Ken Arok?” bertanya Kebo Ijo.

Ken Arok mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia mencoba mencari

kekuatan untuk melangkah lebih jauh lagi. Kalau Kebo Ijo sudah

tersingkirkan, maka bahaya baginya sudah akan berkurang lagi.

“Bagaimana aku dapat melakukannya, Kebo Ijo?”

“Ini dadaku Ken Arok. Kau tinggal memasukkan keris aku telah

membunuh seorang tawanan.”

“Tidak. Aku tidak dapat. Seandainya aku dapat memaksa diriku

memenuhi permintaanmu yang gila itu, namun akulah besok yang

harus terikat di atas panggungan itu.”

Karena Kebo Ijo mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, kau

benar,” Namun tiba-tiba, “Tetapi aku ada jalan Ken Arok. Aku akan

memecah pintu, dan melawan kedua penjaga itu. Kau harus datang

tepat pada waktunya dan kaulah yang harus membunuhku sebelum

aku membunuh kedua penjaga itu, supaya aku tidak bertambah

beban lagi di saat kematianku.”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam.

“Jangan terlampau banyak berpikir Ken Arok. Kau adalah seorang

laki-laki perasa. Lakukanlah, dan kau tidak akan menyesal karena

kau telah menolong aku. Bagiku, kematianku sekarang akan lebih

baik daripada besok, meskipun agak lebih cepat.”

Ken Arok masih belum menjawab.

“Cepatlah, Ken Arok. Sebentar lagi mereka pasti akan datang

kemari untuk menyampaikan keputusan itu.”

Ken Arok masih tetap diam.

“Cepat, kau sekarang pergi keluar bilik ini. Sebelum kau jauh aku

akan memecah pintu. Kemudian kau berlari kembali menolong

kedua penjaga yang dungu itu.”

Sebelum Ken Arok menjawab, Kebo Ijo telah mendorongnya ke

pintu. “Cepat, keluar.”

Seakan-akan di luar sadarnya Ken Arok melangkah maju,

mendorong pintu dan berjalan keluar bilik.

“Apakah persoalanmu sudah selesai?” bertanya salah seorang

penjaga yang duduk beberapa langkah di depan pintu.

“Sudah,” jawab Ken Arok, “aku akan menghadap Witantra.”

Tanpa berpaling lagi Ken Arok kemudian berjalan perlahan-lahan

meninggalkan bilik itu, sedang kedua penjaganya itu pun segera

memasang palang pintu itu.

Tetapi belum lagi Ken Arok melampaui longkangan, tiba-tiba ia

telah dikejutkan oleh suatu hentakan yang keras. Ketika ia

berpaling, ia melihat pintu bilik yang ditinggalkannya itu pecah.

Dengan sigapnya kedua penjaga itu pun berloncatan ke muka

pintu sambil mengacukan senjata masing-masing.

Kebo Ijo yang telah memecah pintu itu tertegun sejenak, ia

sadar, bahwa prajurit yang diserahi tugas untuk menjaganya itu

pasti bukan sembarang prajurit. Karena itu, ia harus berhati-hati,

agar ia tidak mati terbunuh oleh keduanya. Kebo Ijo ingin mati

karena keris yang telah dibasahi oleh darah Akuwu Tunggul

Ametung itu. Dan ia akan lebih ikhlas apabila Ken Aroklah yang

menghunjamkan keris itu di dadanya.

“Apa maksudmu memecahkan pintu Kebo Ijo?”

Kebo Ijo tidak menjawab. Ia melihat kemungkinan untuk

melawan keduanya sampai Ken Arok datang.

“Jangan mencoba untuk berbuat sesuatu yang dapat membuat

kau lebih parah lagi.”

Kebo Ijo tidak menjawab. Tiba-tiba saja ia meloncat ke samping.

Begitu kakinya menjejak tanah, maka kakinya yang lain dengan

sikapnya menyambar pergelangan tangan salah seorang dari kedua

penjaga itu sehingga pedangnya terpelanting.

Belum lagi penjaga itu menyadari keadaan sepenuhnya, Kebo Ijo

telah meloncat dan memukulnya tepat pada dagunya, sehingga

prajurit itu terpelanting jatuh.

Dengan cepatnya Kebo Ijo meraih pedang yang terjatuh, dan

sesaat kemudian ia telah siap untuk melakukan perlawanan.

Prajurit yang terjatuh itu pun dengan lincahnya meloncat berdiri.

Betapa perasaan sakit seakan-akan membakar dagunya, namun

rasa bertanggung jawab atas orang yang diserahkan kepadanya

telah membuatnya membuang perasaan sakit itu jauh-jauh.

Tetapi dada prajurit itu berdesir ketika ia melihat pedangnya

telah berada di tangan Kebo Ijo.

“Apakah kau akan mencoba melawan Kebo Ijo?” bertanya salah

seorang dari kedua prajurit itu.

“Ya. Aku akan melawan. Aku akan melarikan diri dari kurungan

ini.”

“Kau gila. Kau sangka kau akan dapat keluar dari istana ini?”

“Tentu,” jawab Kebo Ijo sambil mencoba mengedarkan

pandangan matanya. Ia sekilas melihat Ken Arok berdiri di sudut di

seberang longkangan. Tetapi kemudian meloncat menyembunyikan

dirinya.

“Menyerahlah,” geram salah seorang prajurit itu.

“Kalianlah yang akan aku binasakan sebelum aku digantung.”

“Persetan!” prajurit yang masih bersenjata itu pun segera

menyerang Kebo Ijo. Namun agaknya Kebo Ijo cukup tangkas untuk

menghindarinya, sehingga serangan itu sama sekali tidak mengenai

sasarannya. Bahkan kemudian dengan sigapnya Kebo Ijo

menjulurkan pedangnya sambil meloncat ke samping. Sebuah

sentuhan telah mengenai pundak prajurit itu, sehingga ia terpaksa

meloncat mundur sambil berdesis.

“Gila!” ia mengumpat. Sementara kawannya yang tidak

bersenjata telah mengambil sepotong palang pintu yang patah

karena hentakan Kebo Ijo dari dalam.

Dengan senjata itu ia menyerang, sementara kawannya yang lain

berusaha memperbaiki kedudukannya.

Namun ternyata pedang Kebo Ijo lebih lincah. Apalagi ternyata

pula bahwa Kebo Ijo memang mempunyai kelebihan dari keduanya,

sehingga sejenak kemudian Kebo Ijo telah berhasil melukai mereka.

“Beri tahukan kepada gardu penjaga,” desis salah seorang dari

kedua prajurit yang masih memegang senjatanya, “aku akan

menahannya di sini. Cepat!”

Dada Kebo Ijo berdesir. Kalau prajurit itu berhasil mencapai

gardu penjaga, kemudian beberapa orang datang untuk

menangkapnya, maka ia harus berkelahi dengan sungguh-sungguh.

Tetapi ternyata prajurit yang masih bersenjata itu berusaha sekuat

tenaganya untuk memberi kesempatan kawannya itu meninggalkan

arena.

Sepeninggal kawannya maka prajurit itu bertempur mati-matian

sambil mengerahkan segenap kemampuannya. Ia harus menahan

Kebo Ijo untuk beberapa saat, supaya Kebo Ijo tidak mendapat

kesempatan untuk berlari.

Kebo Ijo menggeram, dan ia belum melihat Ken Arok.

“Apakah Ken Arok ingkar karena ia tidak sampai hati untuk

melakukannya?” pertanyaan itu mendengung di dadanya.

Namun dada Kebo Ijo berdesir ketika ia melihat prajurit yang

sedang berlari ke gardu penjagaan tertegun karena di sudut

longkangan itu hampir saja ia membentur Ken Arok.

“Ada apa?” bertanya Ken Arok, “aku mendengar kalian ribut di

penjagaan kalian.”

“Kebo Ijo berusaha melarikan diri.”

“Kenapa kau malah lari?”

“Aku akan memberitahukan ke gardu penjagaan.”

Ken Arok tidak bertanya lagi. Berlari-lari ia mendekati prajurit

yang sedang berkelahi melawan Kebo Ijo mati-matian.

Namun Kebo Ijo memang tidak berusaha membunuhnya. Ia

hanya melukainya di beberapa tempat. Tetapi lambat laun, prajurit

itu betapapun ia mencoba mengerahkan tenaganya, namun

tenaganya itu sangat terbatas. Sehingga akhirnya pada suatu saat ia

sudah tidak mampu lagi melakukan perlawanan. Terhuyung-huyung

ia terdorong surut, dan kemudian dengan lemahnya jatuh berguling

di lantai.

Kebo Ijo tinggal meloncat maju sambil menjulurkan pedangnya

dan menghunjamkan pedang itu di dada prajurit yang sudah tidak

berdaya melawannya.

Prajurit itu pun telah pasrah diri meskipun pedangnya masih juga

digenggamnya erat-erat. Namun menurut perhitungannya lawannya

pasti sudah sampai di gardu penjagaan dan menyampaikan

persoalannya kepada pimpinan penjaga.

Pada saat yang demikian itulah Ken Arok datang berlari-lari.

Dengan keris terhunus ia berdiri tegak menatap Kebo Ijo dengan

wajah yang tegang.

Setapak Kebo Ijo maju mendekatinya sambil berdesis perlahanlahan,

“Apakah yang kau tunggu lagi Ken Arok?”

Ken Arok masih berdiri tegak mematung di tempatnya. Sekilas

dipandanginya prajurit yang terbaring dengan lemahnya, meskipun

ia masih menggenggam pedang. Dengan susah payah ia masih

berusaha untuk bangkit. Tetapi tubuhnya telah terlampau lemah,

sehingga setiap kali ia kembali terjatuh di lantai.

“Cepat Ken Arok,” desis Kebo Ijo sambil mengacu-ngacukan

pedangnya.

Ken Arok telah dicengkam oleh keragu-raguan. Sebenarnya

keragu-raguan. Ketika ia menatap mata Kebo Ijo yang pasrah,

seolah-olah dilihatnya dirinya sendiri di dalam mata itu. Dirinya

sendiri yang berdiri di atas mayat korban-korbannya dengan tangan

berlumuran darah. Ia telah mengorbankan Empu Gandring yang

baik, Akuwu Tunggul Ametung yang terlampau mementingkan diri

sendiri, kini ia berhadapan dengan Kebo Ijo yang sombong dan

tinggi hati. Namun Kebo Ijo yang berdiri di hadapannya kini seolaholah

adalah Kebo Ijo yang lain. Kebo Ijo yang tenang dan

mengendap.

“Oh, kenapa ia tidak berbuat sesuatu yang dapat membakar

hatiku? Kenapa ia tidak mengumpat-umpati aku atau bercerita

tentang keris itu, atau berbuat apa saja sehingga aku akan ringan

tangan untuk membunuhnya? Kenapa ia terlampau pasrah dan

menengadahkan dadanya?” Ken Arok telah dicengkam oleh

perasaannya.

“Cepat, Ken Arok!” desis Kebo Ijo yang kini terpaksa

mengayunkan pedangnya, “Hati-hati. Aku harus berpura-pura,

supaya kau tidak dicurigai.”

Ken Arok menghindar dengan gerak naluriah. Namun kemudian

ia berdiri tegak seperti patung pula tanpa berbuat sesuatu.

“He, kenapa kau Ken Arok?” geram Kebo Ijo yang hampir

kehabisan kesabaran.

“Aku tidak bisa, Kebo Ijo.”

“Bodoh, aku sudah terlanjur. Kau harus melakukannya.”

Ken Arok tidak menjawab. Ketika Kebo Ijo menyerangnya, ia

menghindar pula.

“Ayo lekas!”

Ken Arok masih belum dapat mengambil suatu sikap. Sejenak ia

merenungi keadaannya yang terasa semakin lama menjadi semakin

kotor. Kebo Ijo adalah seorang ayah dari seorang bayi yang masih

sangat memerlukannya. Dan ayah itu harus dikorbankannya.

Dalam keragu-raguan itu Ken Arok terkejut mendengar hirukpikuk.

Sejenak kemudian ia melihat beberapa orang prajurit berlarilari

ke arahnya.

“Mereka datang,” desis Kebo Ijo, “cepat Ken Arok, cepat!”

Tanpa sesadarnya serangan Kebo Ijo pun menjadi semakin

cepat, dan gerak Ken Arok pun menjadi semakin cepat pula, seakanakan

mereka memang baru berkelahi.

“Mereka menjadi semakin dekat Ken Arok. Jangan memberi

kesempatan aku melakukan pembunuhan supaya aku menjadi

lapang di perjalananku.”

Ken Arok menggeretakkan giginya. Dan tiba-tiba ia dihadapkan

pada suatu keharusan untuk berbuat. Prajurit-prajurit itu pun

menjadi semakin dekat dengan senjata telanjang di tangan mereka.

“Ken Arok, lakukan. Bukankah kau tidak akan sampai hati

membiarkan aku dirampok orang seperti seekor binatang buas di

dalam rampogan di alun-alun.”

Wajah Ken Arok menjadi tegang. Ia masih harus berloncatan

menghindari pedang Kebo Ijo yang menyambar-nyambar. Dan tibatiba

saja di luar sadarnya Kebo Ijo telah meloncat sambil

mengayunkan pedangnya. Ken Arok terkejut. Seolah-olah Kebo Ijo

bersungguh-sungguh hendak mengenainya, sehingga dengan

tergesa-gesa ia merendahkan dirinya sambil bergeser surut.

“Sekarang, sekarang. Mereka telah menjadi semakin dekat.”

Ken Arok menghentakkan kakinya. Tiba-tiba terngiang di

kepalanya suara nafsunya yang selama ini telah membakar jiwanya.

“Jangan kau lepaskan kesempatan ini Ken Arok. Kalau Kebo Ijo

tertangkap hidup, mungkin ia tidak akan bertahan lagi. Mungkin ia

akan membuka rahasiamu dan mungkin Mahisa Agni akan datang

sambil membawa cantrik yang melihat kehadiranmu di padepokan

Empu Gandring untuk membuktikan, siapakah yang sebenarnya

datang ke padepokan itu. Kau atau Kebo Ijo.”

Dalam keadaan yang demikian itulah, Ken Arok meloncat sambil

memukul pergelangan tangan Kebo Ijo dengan tangan kirinya.

Sebenarnya pukulan itu tidak terlampau keras, karena

bagaimanapun juga Ken Arok masih belum dapat mempergunakan

segenap kekuatannya. Apalagi Kebo Ijo pun bukanlah seorang

prajurit biasa. Tetapi pukulan itu telah cukup untuk melontarkan

pedang Kebo Ijo dari tangannya.

“Nah, sekarang. Aku akan sangat berterima kasih,” Justru tanpa

senjata apapun Kebo Ijo membenturkan dirinya ke arah Ken Arok

sambil menengadahkan dadanya. “Sekarang Ken Arok.”

Seperti dipukau oleh kekuatan di luar sadarnya, tiba-tiba Ken

Arok menggerakkan tangannya. Sebuah tekanan telah

menghunjamkan keris itu di dada Kebo Ijo.

Ken Arok baru sadar, bahwa tekanan itu adalah tekanan tangan

Kebo Ijo sendiri yang menarik tangannya, sehingga keris itu

langsung menusuk ke dada menembus jantung.

“Terima kasih,” desis Kebo Ijo, “titip anakku. Awasilah. Semoga

ia menjadi orang yang baik.”

Tangan Ken Arok menjadi gemetar. Dan tiba-tiba tanpa disadarinya

keris itu pun terlepas dari tangannya.

Ketika ia melangkah selangkah surut, maka Kebo Ijo itu pun

jatuh terjerembab di lantai. Dadanya tertembus oleh keris yang

telah menghunjam ke dada Akuwu Tunggul Ametung dan Empu

Gandring. Darahnya pun kemudian mengalir dan memerahi lantai di

bawah tubuhnya yang diam.

Pada saat itulah para prajurit Tumapel yang berlari-lari itu sampai

di tempat keributan itu. Mereka hanya dapat melihat tubuh Kebo Ijo

terbujur berlumuran darah.

“Kau tidak apa-apa Ken Arok?” bertanya salah seorang daripada

prajurit-prajurit itu.

Ken Arok tidak segera dapat menjawab. Ia berdiri tegak seperti

tonggak sambil memandang mayat Kebo Ijo yang terbaring di

lantai, bermandikan darah. Betapapun juga, terasa jantung Ken

Arok seolah-olah tergores oleh sembilu, ketika ia tahu pasti apa

yang sebenarnya telah terjadi. Ia tahu pasti bahwa Kebo Ijo

sebenarnya tidak bersalah. Kebo Ijo sama sekali tidak pernah

membunuh Akuwu Tunggul Ametung. Dan ia tahu pula, bahwa

pemimpin-pemimpin Tumapel yang tujuh orang itu sudah mulai

meragukan kebenaran tuduhan mereka kepada Kebo Ijo.

Namun Kebo Ijo harus mati. Dan kini ia telah mati. Dan tiba-tiba

di luar sadarnya Ken Arok berdesis, “Kasihan anak ini.”

Beberapa orang yang mendengar desis itu termangu-mangu

sejenak. Kemudian salah seorang dari mereka bertanya, “Apakah

kau tidak apa-apa Ken Arok?”

Ken Arok menggelengkan kepalanya, “Tidak.”

“Kenapa ia harus dikasihani kalau ia memang ingin melarikan

dirinya?”

Ken Arok tidak segera menjawab. Dipandanginya mayat itu

dengan tajamnya. Baru sejenak kemudian ia berkata, “Ia masih

terlampau muda. Sebenarnya hari depannya masih cukup panjang.”

“Tetapi ia tersesat jalan.”

“Itulah yang menjadikan aku kasihan kepadanya.”

Dalam pada itu, para prajurit segera menyibak dan berdiri tegak

ketika dengan tergesa-gesa para pemimpin pemerintahan Tumapel

termasuk para pemimpin prajurit, pengawal istana, pelayan dalam,

para pemimpin pemerintahan, para Senapati dan para pandega

mendekati tempat itu.

“Apa yang telah terjadi Ken Arok?” bertanya Witantra dengan

suara yang gemetar.

“Maafkan aku Witantra,” desis Ken Arok. Kini ia tidak boleh

diombang-ambingkan oleh perasaannya. Ia harus segera menyadari,

bahwa ia sedang melakukan rencananya. Ia harus melakukannya

dengan sempurna. Kebo Ijo yang malang, anak dan istrinya sama

sekali tidak boleh mempengaruhinya apabila ia tidak ingin gagal,

dan justru ia akan digantung di alun-alun.

Witantra mengerutkan keningnya yang tegang. Dilihatnya mayat

Kebo Ijo yang terbujur diam.

“Aku telah membunuhnya,” berkata Ken Arok, “terpaksa.

Terpaksa sekali, meskipun aku adalah sahabatnya yang paling

dekat.”

“Apa yang akan dilakukannya?”

“Sebaiknya biarlah prajurit-prajurit yang bertugas menceritakan.”

Witantra diam sejenak. Ditatapnya pengawal yang masih sangat

lemah berdiri terhuyung-huyung berpegangan dinding. Sedang yang

seorang lagi berdiri tegak dengan nafas terengah-engah.

“Katakan apa yang sebenarnya telah terjadi!” geram Witantra.

Prajurit itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian terputus-putus

ia menjawab, “Kebo Ijo mencoba melarikan diri. Ia telah memecah

pintu dan menyerang kami berdua. Kami berdua tidak dapat

melawannya. Salah seorang dari kami berusaha memanggil para

penjaga di gardu, sedang aku menahannya agar ia tidak sempat

melarikan diri. Tetapi akhirnya aku terlempar jatuh. Aku sudah tidak

dapat bertahan sama sekali. Sedang para penjaga masih belum

datang. Pada saat itulah Ken Arok datang. Sebelum ia berbuat

sesuatu, Kebo Ijo melepaskan aku yang sudah tidak mampu berbuat

apapun lagi, dan menyerang Ken Arok, sehingga keduanya

berkelahi. Ketika para prajurit datang. Ken Arok tepat mengakhiri

perkelahian.”

Wajah Witantra menjadi merah padam. Apalagi ketika ia

memandangi wajah para pemimpin Tumapel satu demi satu.

Sejenak kemudian terdengar salah seorang berdesis, “Hampir saja

aku percaya kepada kau, Angger Witantra. Hampir saja aku

melepaskan kecurigaanku, bahwa Kebo Ijo bersalah. Tetapi ternyata

sekarang, bahwa Kebo Ijo benar-benar telah bersalah. Terbukti ia

berusaha melarikan dirinya.”

“Ya. Aku yang sudah terlanjur menarik tuduhanku, kini telah

menyadari, hampir-hampir saja aku lalai. Ternyata Kebo Ijo benarbenar

bersalah. Kalau ia yakin bahwa dirinya bersih, maka ia tidak

akan mencoba melarikan diri. Justru setelah ia melihat keris yang

dibawa oleh Ken Arok,” berkata yang lain.

“Akhirnya yang bersalah telah terbukti,” sahut yang lain lagi,

“apapun yang dikatakan sebagai pembelaan.”

“Ya,” berkata yang lain pula, “kini telah ternyata siapakah yang

bersalah. Ia telah terhukum sebelum kami menjatuhkan keputusan.”

Lalu kepada Ken Arok ia berkata, “Terima kasih Ken Arok. Kau

memang orang yang luar biasa. Kaulah yang menangkap Kebo Ijo

dengan mudah karena kau justru sahabatnya, dan sekarang kau

pulalah yang telah menyudahinya. Kau memang seorang yang luar

biasa. Rakyat Tumapel akan sangat berterima kasih kepadamu.”

Ken Arok tidak menjawab. Kepalanya pun kemudian tertunduk

dalam-dalam.

Namun dalam pada itu, terdengar suara Witantra mengguntur,

“Aku tetap pada pendirianku. Kebo Ijo tidak bersalah. Bukan

maksudku menyalahkan kau, Ken Arok. Kau sudah bertindak wajar

sebagai seorang prajurit. Kebo Ijo pun telah wajar, menerima

hukuman karena ia berusaha untuk melarikan diri. Tetapi bahwa

Kebo Ijolah yang membunuh Akuwu Tunggul Ametung, aku tidak

percaya!”

Semua mata memandang wajah Witantra yang seolah-olah

menyala. Pemimpin prajurit Tumapel maju selangkah sambil

berdesis, “Apakah kau masih akan menyangsikan lagi? Lihat, semua

orang di sini mendapat kesimpulan yang serupa. Tetapi kau

berpendirian lain karena kau adalah kakak seperguruannya.”

“Justru aku adalah kakak seperguruannya, aku mengenal watak

dan tabiatnya. Ia adalah seorang anak yang bengal, tetapi ia bukan

seorang yang biadab. Bukan. Aku tidak percaya bahwa Kebo Ijo

telah melakukan pembunuhan.”

“Itu adalah pendirian yang aneh. Seharusnya kau melepaskan

hubungan yang ada itu, dan bersikap sebagai seorang prajurit,

seperti yang selalu kau perlihatkan selama ini.”

Dada Witantra serasa akan retak mendengar kata-kata itu.

Kemarahan yang membakar jantungnya serasa tidak dapat

dikendalikannya lagi, sehingga hampir saja ia kehilangan

keseimbangan. Untunglah bahwa ia masih tetap berhasil

mengekang dirinya sendiri.

Meskipun demikian ia masih juga menggeram, “Siapa pun Kebo

Ijo, aku tidak akan dapat melepaskan keyakinanku, bahwa bukan

anak itulah yang telah membunuh Akuwu Tunggul Ametung. Aku

tidak dapat melepaskan peristiwa ini dengan peristiwa yang

mendahuluinya, di mana Akuwu seakan-akan tenggelam dalam

suatu suasana yang tidak terkendali lagi, sehingga aku merasa,

seakan-akan diriku dikesampingkan.”

Witantra berhenti sejenak, kemudian, “Nah, siapa yang berani

melihat ke diri sendiri selama ini. Apakah yang telah kalian lakukan?

Pemimpin pemerintahan Tumapel seakan-akan sudah tidak berjalan

wajar lagi. Dan sejak itulah aku merasa tersisih. Seakan-akan

memang ada kesengajaan memisahkan Akuwu dan aku sebagai

pimpinan pengawalnya. Dan apa yang kalian lakukan selama ini

adalah melayani keinginan Akuwu yang sesat. Nah, ternyata kita

semuanya menjadi lengah. Inilah akhir dari semuanya. Dan kalian

ingin menyelesaikan persoalan dengan mudah. Tanpa berpikir. Asal

kalian dapat memberi kepuasan kepada rakyat Tumapel.”

Mereka yang berada di tempat itu terdiam, seakan-akan sedang

mengunyah kata-kata Witantra di dalam hatinya. Namun dengan

demikian mereka merasa dihadapkan ke muka cermin yang

memperlihatkan cacat cela mereka. Dengan demikian, maka sengaja

atau tidak sengaja, para pemimpin Tumapel itu berusaha mengelak.

“Angger Witantra,” berkata salah seorang dari mereka, “aku

sudah tua. Aku sudah berada di Tumapel berpuluh tahun. Aku

sudah menjadi pembantu Tuanku Tunggul Ametung sejak Akuwu

Tunggul Ametung memegang kekuasaan di Tumapel. Aku sudah

kenyang makan garam pemerintahan. Sedang kau adalah orang

yang masih terlampau muda. Itulah sebabnya kau masih kabur

melihat kebenaran.”

“Aku tidak lebih muda dari Akuwu Tunggul Ametung. Coba

sebutkan. Siapakah yang lebih muda di antara kami. Pada saat

Tuanku Tunggul Ametung memegang kekuasaan, aku sudah

seorang perwira di istana. Belum lagi tiga tahun, aku kemudian

menjabat jabatanku yang sekarang. Tetapi dibandingkan dengan

kalian, akulah orang yang paling dekat dengan Akuwu. Hampir

setiap saat, ke manapun Akuwu pergi aku selalu pergi bersamanya.

Karena itu, aku lebih mengenalnya dari kalian. Dan karena

pengenalanku itulah, maka aku tidak melihat ada suatu tali

hubungan antara Kebo Ijo dengan Akuwu dalam arti yang kurang

baik. Maksudku, bahwa kelakuan Akuwu akhir-akhir ini tidak ada

sangkut pautnya sama sekali dengan Kebo Ijo yang tidak pernah

berbuat sesuatu kecuali menyombongkan diri dan mencari pujian

dari siapa pun.”

Namun ketika Witantra berhenti sejenak, hampir setiap kepala

menggeleng. Bahkan seorang pandega berkata, “Orang yang paling

mungkin melakukan adalah Kebo Ijo.”

“Diam!” Witantra membentak, sehingga pandega itu pun segera

menundukkan kepalanya.

“Adalah tidak Adil,” geram Witantra, “bahwa karena Kebo Ijo

adalah adik seperguruanku, lalu aku tidak boleh menyatakan

keyakinanku. Tidak, yang penting bagiku, bukan siapa Kebo Ijo.

Tetapi apakah ia benar-benar bersalah atau tidak.”

Pemimpin tertinggi pelayan dalam, yang termasuk salah seorang

pimpinan pemerintahan menggelengkan kepalanya. Katanya, “Kami

tidak dapat ingkar lagi. Bukti yang pertama adalah keris itu.

Kemudian usahanya melarikan diri. Jelas. Sudah cukup jelas.”

“Aku masih minta persoalan ini dibicarakan lagi.”

“Buat apa,” bertanya pemimpin prajurit Tumapel, “Kebo Ijo

sudah mati. Ia harus segera dikuburkan sebagai seorang

pengkhianat.”

“Itu yang aku tidak mau. Ia harus diselenggarakan sewajarnya.

Kita mencari kebenaran atas peristiwa yang terjadi itu. Kalau

menurut keyakinan kita ia bersalah, kita nyatakan bahwa Kebo Ijo

bersalah. Tetapi kalau tidak, kita umumkan, bahwa Kebo Ijo tidak

bersalah meskipun ia telah mati. Kesalahan yang tidak dapat

diingkari lagi, justru usahanya untuk melarikan diri. Tetapi melarikan

diri bukan bukti, bahwa ia telah melakukan pembunuhan atas

Akuwu Tunggul Ametung.”

“Tidak,” desis salah seorang pemimpin Tumapel.

“Tidak,” yang lain bergumam.

“Tidak,” pemimpin prajurit Tumapel pun bersikap serupa.

Dan yang lain pun menggelengkan kepalanya, “Tidak.”

Darah Witantra menjadi mendidih karenanya. Tetapi ia adalah

seorang prajurit yang baik, sehingga karena itu ia tidak dapat hanya

sekedar digerakkan oleh perasaannya, dan melakukan tindakan

yang salah menurut tata keprajuritan.

“Seorang prajurit harus jujur,” desisnya, “apapun yang akan

terjadi atas diriku, tetapi aku berkeyakinan bahwa Kebo Ijo tidak

bersalah.”

Witantra diam sejenak. Disambarnya wajah Ken Arok sekilas,

seolah-olah minta pendapatnya, sebagai seorang sahabat terdekat

Kebo Ijo. Tetapi Ken Arok hanya menundukkan kepalanya saja.

“Kenapa ia tidak mau berbicara?” pertanyaan itu melonjak di

hatinya, “apakah ia termasuk salah seorang pengecut yang

mengorbankan keyakinannya untuk keselamatan dan

kedudukannya?”

Tetapi Witantra tidak dapat memaksanya untuk berbicara.

Dan kesabaran Witantra itu pun sampai ke batasnya ketika

pemimpin prajurit Tumapel itu berkata, “Kita akan mengambil

kesimpulan. Kebo Ijo adalah seorang pengkhianat. Dan kita akan

segera memberikan anugerah kepada jasa Ken Arok selama ini.”

“Tidak!” Witantra berteriak, “Masalahnya belum selesai. Aku,

salah seorang dari pemimpin yang tujuh, menolak keputusan itu.”

“Kami yang enam sudah sependirian. Tidak ada jalan lagi bagimu

untuk menolak, kecuali …”

“Aku akan mengambil jalan itu. Keputusan harus ditangguhkan,

dan aku akan melakukan pembelaan dengan ujung senjata.”

Kata-kata Witantra itu seakan-akan petir yang meledak di

tengah-tengah pembicaraan itu. Semua orang yang mendengarnya

terkejut karenanya. Mereka tidak menyangka, bahwa pendirian

Witantra begitu kuatnya dalam hal ini, sehingga ia telah menentang

keputusan keenam pemimpin Tumapel itu dengan sebuah perang

tanding.

Dalam keheningan suasana terdengar suara Witantra, “Aku akan

melakukan perang tanding untuk Kebo Ijo. Apabila kalian tidak mau

mengubah keputusan atau setidak-tidaknya membicarakannya lagi,

aku tidak melihat jalan lain. Dan aku persilakan kalian

mempertahankan keputusan itu, siapa pun yang akan turun ke

arena.”

Sejenak para pemimpin Tumapel yang lain itu diam mematung.

Tantangan itu telah membuat dada mereka berdebaran. Tidak

banyak orang yang dapat menyamai tingkat Witantra di seluruh

Tumapel. Sehingga untuk melawannya dalam perang tanding,

agaknya jarang yang akan bersedia melakukannya.

Namun kalau keenam pemimpin yang lain itu ingin

mempertahankan keputusannya. maka perang tanding itu harus

dilakukan.

Sejenak mereka saling berpandangan. Pemimpin tertinggi prajurit

Tumapel, pemimpin tertinggi pelayan dalam dan senapati yang lain,

adalah orang-orang yang pertama-tama harus menyatakan dirinya

untuk mewakili keputusan keenam pemimpin itu. Tetapi semua

orang menyadari, bahwa tidak ada di antara mereka yang akan

mampu bertahan melawan Witantra. Namun keenam pemimpin itu

sebagai kesatria, sudah tentu tidak akan menjilat ludah mereka

kembali. Mereka tidak akan mencabut keputusan yang sudah

mereka anggap jatuh.

Ken Arok yang mendengar keputusan Witantra untuk naik ke

arena perang tanding itu pun sangat mendebarkan jantungnya.

Sebagai seorang yang mempunyai banyak kelebihan dari orangorang

lain, Ken Arok sama sekali tidak merasa segan seandainya ia

harus naik ke arena itu pula, untuk mewakili para pemimpin

Tumapel dalam mempertahankan keputusan mereka, bahwa Kebo

Ijo telah bersalah. Tetapi dengan melibatkan diri langsung di dalam

persoalan itu, Ken Arok agak menjadi cemas. Sebagai sahabat Kebo

Ijo adalah tidak mungkin sama sekali baginya, justru bertempur

untuk memperkuat keputusan kesalahan Kebo Ijo. Tetapi apabila

dibiarkannya para pemimpin itu mencari wakilnya, maka akan

mungkin sekali orang itu dapat dikalahkan oleh Witantra. Dengan

demikian maka keputusan atas Kebo Ijo itu batal meskipun Kebo Ijo

telah mati. Hal itu akan berarti bahwa Tumapel masih harus mencari

pembunuh Tunggul Ametung itu sampai ketemu.

“Ayo,” suara Witantra lantang, “siapakah yang akan mewakili

kalian? Nah, sekarang kalian harus memilih. Membatalkan atau

menunda keputusan kalian atas Kebo Ijo, atau meletakkan

persoalannya di atas arena.”

Para pemimpin itu tidak segera dapat menjawab.

“Aku memberi kalian waktu tiga hari. Kalau kalian telah

mendapat cara yang paling baik, kalian harus memberitahukan

kepadaku. Manakah yang akan kalian pilih. Sekarang, mayat Kebo

Ijo akan aku bawa. Akan aku serahkan kepada guru dan

keluarganya. Sampai saat ini tidak seorang pun yang dapat

mengatakan bahwa Kebo Ijo telah bersalah. Keputusan kalian belum

dapat diterapkan, karena aku menentang dengan cara itu.”

Tidak seorang pun yang menjawab, sehingga suasana menjadi

hening sepi.

Namun dalam kediaman itu, Ken Arok, otak dari segala peristiwa

itu, memeras pikiran untuk menentukan lakon selanjutnya. Ia tidak

boleh gagal. Dan cerita yang sedang disusunnya itu tidak boleh

mandek.

Dan tiba-tiba saja Ken Arok itu berkata, “Witantra. Masih ada

satu orang lagi yang akan dapat dibawa berbicara tentang hal ini.”

Witantra yang sedang tegang itu mengerutkan keningnya.

Dengan suara gemetar ia bertanya, “Siapa?”

“Aku tidak yakin, apakah orang itu terlibat langsung atau tidak.

Tetapi aku menyangka, bahwa ada jalur yang menghubungkan

peristiwa ini dengan orang itu.”

“Ya, siapa,” Witantra yang sedang dicengkam oleh kegelapan hati

itu membentak, “sebut namanya.”

Dada Ken Arok berdesir. Ia tidak senang mendengar bentakanbentakan

itu. Tetapi ia harus menahan diri supaya lakon yang

dikarangkannya ini tidak gagal.

“Mahisa Agni.”

Dada Witantra berdesir mendengar nama itu, Mahisa Agni adalah

kakak Permaisuri Ken Dedes. Ketika ia berada di Tumapel untuk

mencari pembunuh pamannya, ia telah diserang oleh seseorang

yang berpakaian seorang pengawal.

Meskipun demikian ia bertanya kepada Ken Arok, “Kenapa kau

sebut-sebut juga Mahisa Agni.”

“Aku belum tahu pasti, seperti yang sudah aku katakan, apakah

ia ada sangkut pautnya dengan pembunuhan ini. Tetapi aku ingin

minta izin, meminjam keris itu. Aku tidak dapat mencampuri

keputusan para pemimpin yang tujuh dengan cara apapun yang

akan ditempuh. Namun aku akan mencoba mencari jalan lain yang

lebih baik dan mudah. Tetapi sekali lagi, aku belum pasti,” Ken Arok

berhenti sejenak. Lalu, “Aku ingin menunjukkan keris itu kepada

Mahisa Agni. Apakah keris itu dapat dikenalinya.”

“Apakah hubungannya, dengan pembunuhan ini menurut

dugaanmu itu. Dugaanmu yang belum kau yakini kebenarannya.”

Ken Arok merenung sejenak. Kemudian jawabnya, “Mahisa Agni

pernah berkelahi melawan seseorang yang menyerangnya. Apakah

keris yang dikatakannya bercahaya kebiru-biruan itu juga keris ini.”

“Ia bertempur di malam hari.”

“Aku akan memperlihatkan keris itu di malam hari.”

Witantra mengerutkan keningnya. Kalau Mahisa Agni mengenali

keris itu sebagai keris yang dipergunakan untuk menyerangnya,

maka justru akan memperberat tuduhan terhadap Kebo Ijo. Tetapi

kalau bukan, maka persoalannya pasti akan berkait dengan

persoalan-persoalan lain. Sedangkan Witantra yakin, Kebo Ijo tidak

pernah bersangkut paut dengan kegiatan orang lain, selain tugasnya

sendiri.

Apalagi bagi Witantra, yang penting bukan sekedar

menyelamatkan nama Kebo Ijo yang telah terbunuh itu. Yang

penting baginya adalah kebenaran, sejauh-jauh dapat dicapai.

Karena itu, maka jawab Witantra selanjutnya, “Baiklah Ken Arok.

Pergilah kepada Mahisa Agni. Aku tidak tahu apakah hal itu akan

menguntungkan atau justru sebaliknya. Tetapi bagiku yang penting,

adalah mengetahui dengan pasti Kalau Kebo Ijo bersalah, biarlah

aku yakin kalau ia bersalah. Selama aku tidak dapat meyakininya,

maka aku tetap menganggap bahwa ia tidak bersalah apapun.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Katanya kemudian, “Jadi aku

diizinkan pergi ke Karautan?”

“Ya.”

“Dengan membawa keris ini?”

“Aku tidak berkeberatan. Terserah kepada yang lain.”

Keenam pemimpin Tumapel yang lain pun kemudian merenung

sejenak. Namun bagi mereka, Ken Arok telah menunjukkan

kelebihannya dan bertindak cepat. Karena itu, maka kepercayaan

mereka kepada Ken Arok pun menjadi bertambah-tambah jua.

“Aku juga tidak berkeberatan,” berkata salah seorang dari

mereka.

“Aku pun tidak. Kami berpengharapan agar masalah ini menjadi

cepat selesai,” berkata yang lain lagi.

Dan ternyata bahwa keenam orang itu pun tidak berkeberatan

pula. Dengan demikian, maka Ken Arok telah diizinkan untuk

mengambil keris itu dan membawanya kepada Mahisa Agni.

Sepeninggal Ken Arok, tidak seorang pun yang dapat menahan

Witantra mengambil mayat Kebo Ijo. Dengan hati yang pahit, mayat

itu pun kemudian dibawanya kepada gurunya.

Panji Boiong Santi pun terkejut bukan buatan. Ia tahu benar

bahwa Kebo Ijo adalah anak yang bengal. Tetapi seperti Witantra ia

berpendirian, bahwa anak yang bengal itu, betapapun juga tidak

akan melakukan pembunuhan terhadap Akuwu.

“Tetapi bukti-bukti itu menunjukkan kesalahan Kebo Ijo,” desis

gurunya.

“Ya, Guru. Memang tidak dapat disangkal. Tetapi keyakinanku

berkata lain.”

“Kekuasaan tertinggi memang berada di tangan kalian bertujuh,

Witantra. Enam orang telah menyatakan pendiriannya, dan kau

akan membatalkan keputusan itu dengan perang tanding,” gurunya

berhenti sejenak, kemudian, “sebenarnya terlampau berat bagimu

Witantra.”

“Kenapa, Guru?”

“Setiap orang, dan bahkan seluruh rakyat Tumapel tidak akan

menolak keputusan keenam pemimpin itu. Kau memang dapat

membuat perhitungan, bahwa tidak seorang pun dari para

pemimpin itu, dan mungkin tidak seorang prajurit pun yang akan

dapat mengalahkan kau di arena. Tetapi meskipun kau menang,

hasilnya tidak akan bermanfaat apapun bagi Kebo Ijo. Apalagi Kebo

Ijo telah terlanjur mati terbunuh.”

“Kenapa, Guru?”

“Seandainya kau menang di arena Witantra, maka secara resmi

tuduhan atas Kebo Ijo untuk sementara digugurkan. Tetapi itu

hanya bersifat resmi. Tetapi tidak ada seorang pun yang akan

percaya langsung sampai ke dalam hatinya, bahwa Kebo Ijo

memang tidak bersalah. Nama Kebo Ijo akan tetap cemas di dalam

setiap dada rakyat Tumapel. Lebih daripada itu, peristiwa ini telah

menodai namamu sendiri.”

“Jadi apakah maksud Guru aku harus mengorbankan

keyakinanku sekedar untuk kedudukanku?”

“Tidak. Memang bukan begitu. Seandainya Kebo Ijo masih hidup,

tindakanmu itu benar-benar tepat Witantra. Setidak-tidaknya kau

akan menyambung nyawa Kebo Ijo sampai persoalan yang

sebenarnya terungkapkan. Tetapi Kebo Ijo telah mati. Sehingga

seharusnya kau mengambil cara lain untuk menyelesaikan

masalahnya. Biarlah Kebo Ijo dicemarkan untuk sementara. Tetapi

kau yang masih tetap mendapat hati di kalangan rakyat dan setiap

pemimpin dan prajurit Tumapel, dapat dengan diam-diam mencari.

Kalau kemudian kau temukan, maka kau akan segera dapat

menghapus noda pada nama Kebo Ijo itu. Tetapi sekarang

keadaannya akan lain. Setiap orang akan memandangmu dengan

curiga. Dan setiap orang akan tidak lagi bersedia bekerja sama

dengan kau, karena kau telah berpihak kepada seorang yang

bersalah menurut anggapan mereka. Karena mereka pun agaknya

yakin, seperti kau yakin, bahwa Kebo Ijo memang bersalah.”

Witantra menundukkan kepalanya. Tetapi darahnya yang masih

segar di dalam jantung kemudaannya, tidak dapat mengekang diri

begitu lunak seperti gurunya.

“Witantra,” berkata gurunya, “selama ini kau telah berusaha

menyempurnakan ilmumu, meskipun kau belum sampai ke

puncaknya. Tetapi setapak lagi kau maju, kau sudah akan

menyamai aku. Dengan demikian, kau pun harus berusaha berpikir

dan berbuat seperti seorang tua.”

Witantra tidak menjawab. Namun dengan demikian gurunya

dapat mengerti, bahwa Witantra telah memilih jalan seperti yang

telah diucapkannya.

“Baiklah Witantra,” berkata gurunya kemudian, “agaknya kau

telah memilih jalan itu. Mudah-mudahan kau berhasil. Namun

setelah itu pun kau masih harus bekerja keras, mungkin kau akan

bekerja sendiri, untuk mencari pembunuh Akuwu Tunggul Ametung

yang sebenarnya.”

Witantra masih belum menjawab.

“Kau memberikan waktu kepada para pemimpin Tumapel untuk

menentukan wakil mereka, mempertahankan keputusan itu.

Sementara itu, kau dapat memanggil adikmu Mahendra, keluarga

Kebo Ijo dan beberapa orang untuk menyelenggarakan mayat Kebo

Ijo sebagaimana mestinya.”

“Baik, Guru.”

Dan Witantra pun kemudian melakukannya. Memanggil beberapa

orang yang terdekat, meskipun ada di antara mereka yang segan

memenuhinya, karena Kebo Ijo adalah seorang pembunuh.

Sementara itu Ken Arok sedang berpacu ke padang Karautan.

Dibungkusnya keris yang bernoda darah itu dengan selembar kulit,

dan diselipkannya pada ikat pinggangnya.

“Aku harus segera bertemu dengan Mahisa Agni,” gumam Ken

Arok. “Tetapi aku tidak akan segera mengatakan apa yang terjadi.

Aku harus mengingatkannya tentang keris ini, sehingga aku akan

menunggu di Karautan sampai malam hari.”

Namun tiba-tiba Ken Arok menjadi ragu-ragu.

“Apakah Mahisa Agni berada di Karautan atau di rumah Empu

Gandring?”

“Aku hanya dapat menemuinya di Karautan,” desisnya, “aku tidak

akan dapat pergi ke rumah pamannya. Mungkin cantrik itu masih

dapat mengenali aku. Kalau Mahisa Agni tidak ada di Karautan maka

aku tidak akan dapat menemuinya.”

Ken Arok pun kemudian berpacu semakin cepat. Udara malam

yang dingin telah menjamah seluruh tubuhnya, seakan-akan

meresap sampai ke tulang sumsum.

Ken Arok menengadahkan wajahnya ketika ia melihat cahaya

semburat merah di langit. Kemudian perlahan-lahan ia menarik

nafas dalam-dalam seolah-olah ingin menghirup seluruh kesegaran

nafas fajar.

Meskipun semalam suntuk Ken Arok sama sekali tidak

memejamkan matanya sekejap pun, namun ketahanan tubuhnya

memang luar biasa. Seakan-akan ia telah terlatih untuk hidup di

malam hari. Karena itu maka sama sekali ia tidak terpengaruh. Ia

masih tetap segar sesegar angin pagi.

Kudanya pun berpacu semakin cepat pula. Apalagi ketika udara

menjadi semakin cerah, serta tanah tempat kaki-kaki kuda itu

berpijak menjadi semakin jelas pula.

Ketika Ken Arok berpacu di pinggir hutan yang rindang, maka

burung-burung liar pun berloncatan terbang ke atas dahan yang

agak tinggi sambil memandang debu yang putih terhambur dari

kaki-kaki kuda yang berlari kencang itu. Namun kemudian terdengar

kicaunya yang nyaring, seakan-akan mengucapkan selamat pagi

kepada penunggang kuda di pagi yang nyaman itu.

Sinar matahari yang pertama terlempar dan balik perbukitan,

menyentuh kulit Ken Arok yang basah oleh keringat. Terasa tubuh

itu menjadi hangat. Sedang kicau burung pun menjadi semakin

meriah, menyambut kedatangan pagi yang bening.

Tetapi hati Ken Arok tidak sebening pagi itu. Semakin dekat

padang Karautan, hatinya menjadi semakin gelisah.

“Apakah Mahisa Agni ada di Karautan? Dan apakah tidak

mungkin cantrik itu berada di Karautan pula.”

“Persetan!” ia menggeram, “Aku harus segera menemuinya.”

Ken Arok memacu kudanya semakin cepat. Namun sekali-sekali

ia berhenti di sebuah parit untuk memberi kesempatan kudanya

meneguk air yang sejuk, dan beristirahat sejenak.

Akhirnya kuda Ken Arok itu pun memasuki ujung dari padang

Karautan yang terbentang luas. Matahari yang semakin tinggi,

terasa menjadi gatal menusuk-nusuk kulit.

“Sebentar lagi kita akan sampai,” desis Ken Arok sambil menepuk

leher kudanya. Dan kuda itu seakan-akan menyadarinya, sehingga

langkahnya menjadi semakin cepat.

Matahari pun semakin lama menjadi semakin tinggi, dan Ken

Arok pun menjadi semakin dekat dengan padang Karautan. Ia

menjadi semakin berdebar-debar ketika ia melihat gerumbul yang

kehijau-hijauan di tengah-tengah padang yang luas. Segera ia

mengenal, bahwa ia telah sampai ke tempat yang ditujunya.

Beberapa orang terheran-heran melihat kedatangan seorang

tamu. Namun mereka pun segera mengenalnya, bahwa yang datang

itu adalah Ken Arok. Seorang pelayan dalam yang pernah

ditugaskan oleh Akuwu Tunggul Ametung di padang ini, membantu

membuka tanah ini menjadi sebuah padukuhan yang subur dan

bahkan sebuah taman yang paling indah di seluruh Tumapel.

“Selamat datang,” orang-orang Panawijen pun segera

menyapanya dengan penuh keramahan.

“Terima kasih. Terima kasih,” Ken Arok mengangguk-anggukkan

kepalanya sambil tersenyum. Kemudian ia pun meloncat turun dari

punggung kudanya dan langsung bertanya, “Apakah Mahisa Agni

ada di padukuhan ini?”

“Ya. Mahisa Agni ada di padukuhan ini.”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam.

“Marilah,” ajak seseorang, “pergilah ke banjar. Kami akan

memberitahukannya kepada Mahisa Agni dan kepada Ki Buyut

Panawijen.”

“Terima kasih,” sahut Ken Arok, “di manakah banjar itu?”

“Di tepi jalan induk ini.”

“Terima kasih.”

Ken Arok pun kemudian naik pula ke atas punggung kudanya dan

berjalan perlahan-lahan menuju ke banjar. Di sepanjang jalan

beberapa orang menyapanya dengan ramahnya. Ken Arok bagi

orang-orang Panawijen adalah seorang yang banyak mempunyai

jasa.

Berita tentang kedatangan Ken Arok segera sampai ke telinga

Mahisa Agni dan Ki Buyut Panawijen. Maka dengan tergesa-gesa

mereka pun pergi ke banjar, meskipun dengan tujuan yang

berbeda-beda. Mahisa Agni telah dikejar oleh keinginan tahunya,

apakah Ken Arok telah membawa berita tentang pembunuh

pamannya.

Karena itu, ketika ia melihat Ken Arok di banjar, sebelum ia

menanyakan tentang keselamatannya, yang pertama-tama terloncat

dari bibirnya adalah, “He, kau Ken Arok. Apakah kau sudah

menemukan pembunuh itu?”

Ken Arok yang tengah duduk di pendapa banjar itu pun berdiri

sambil tersenyum. Dengan sareh ia berkata, “Marilah Agni. Aku

memang membawa persoalan tentang yang kau tanyakan itu.

Tetapi aku tidak terlalu tergesa-gesa duduklah. Aku masih

mempunyai cukup waktu.”

Mahisa Agni pun kemudian tersenyum kecut. Perlahan-lahan ia

naik ke pendapa dan duduk di atas tikar pandan. Barulah ia sadar,

bahwa sebagaimana lazimnya, ditanyakannya tentang keselamatan

Ken Arok dan orang-orang yang dikenalnya di Tumapel.

Sejenak kemudian maka Ki Buyut pun telah duduk pula di antara

mereka. Percakapan mereka segera menjadi ramai. Beberapa orang

tua-tua dan anak-anak muda yang terkemuka telah memerlukan

datang untuk menemui Ken Arok, karena Ken Arok adalah

seseorang yang telah banyak membantu membangun padukuhan

ini. Padukuhan yang masih belum dewasa sampai saat Ken Arok

datang itu.

Namun sampai begitu jauh, Ken Arok masih belum mengatakan

sesuatu tentang maksud kedatangannya. Justru ketika Mahisa Agni

bertanya sekali lagi, maka Ken Arok itu berkata, “Ah, apakah kau

mau memberi kesempatan aku untuk beristirahat? Semalam suntuk

aku tidak tidur.”

“Baiklah,” jawab Mahisa Agni, “kau dapat tidur di ruang belakang

banjar ini.”

“Jangan,” sahut Ki Buyut, “datanglah ke rumahku. Meskipun

rumahku belum siap seluruhnya, tetapi aku kira Angger lebih baik

berada di sana. Setiap kebutuhan Angger akan segera dapat kami

penuhi.”

Ken Arok tersenyum. Katanya, “Terima kasih Ki Buyut. Tetapi aku

kira, aku lebih senang berada di banjar ini. Mungkin aku ingin

berjalan-jalan di tengah malam, atau mungkin aku harus menemui

anak-anak muda yang datang untuk menjumpai aku. Dan aku

memang bermaksud untuk dapat bertemu dengan kawan-kawan

yang telah bersama-sama bekerja beberapa lama di padang ini. Aku

sudah rindu kepada mereka dan kelakar mereka yang riang.”

“Tetapi tidak ada seorang pun akan dapat melayanimu di sini.”

“Terima kasih Ki Buyut. Aku akan datang kepada Ki Buyut atau

siapa pun, apabila aku memerlukan sesuatu.”

Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia

berkata, “Lihat tidak ada seorang pun yang dapat merebus air di

sini, apabila aku tidak menyuruh seseorang datang kemari.”

Ken Arok tertawa, “Kedatanganku jangan terlalu merepotkan

kalian. Aku sudah biasa minum air sumur seperti pada saat-saat kita

membuat bendungan itu. Apakah bedanya sekarang?”

Ki Buyut pun tersenyum pula. “Terserahlah, kalau Angger lebih

senang di sini, biarlah Angger di sini. Biarlah ruangan di belakang

banjar itu dibersihkan.”

Setelah minum dan makan, Ken Arok pun minta waktu untuk

beristirahat. Perjalanannya memang sangat melelahkan. Duduk di

atas punggung kuda di malam yang dingin.

Tetapi Ken Arok tidak segera dapat tidur. Ia selalu diganggu oleh

keputusan Witantra untuk melakukan perang tanding.

“Apakah aku dapat menyeret Mahisa Agni ke dalam persoalan ini

secara langsung?” katanya di dalam hati, “kalau aku dapat

memberikan kesan kepadanya, bahwa keris ini adalah keris buatan

Empu Gandring dan dengan keris ini pula Kebo Ijo membunuh

Akuwu setelah ia gagal berusaha membunuh Mahisa Agni, maka

harapan untuk memperoleh keputusan seperti yang aku inginkan

akan dapat aku capai.”

Dengan demikian, maka sebagian terbesar waktu Ken Arok

selama berada di dalam biliknya adalah justru mereka-reka apakah

yang seharusnya dilakukan.

Di sore hari Ken Arok mempergunakan waktunya untuk bergurau

dengan anak-anak muda Panawijen yang pernah bersama-sama

membuat bendungan dan susukan. Berbagai macam masalah telah

mereka bicarakan. Hilir mudik tidak henti-hentinya. Bahkan soal-soal

yang sama sekali tidak ada gunanya pun telah mereka percakapkan

pula.

Ketika kemudian senja turun, maka tiba-tiba saja Ken Arok

mengajak Mahisa Agni berjalan-jalan. “Aku ingin melihat belumbang

itu. Apakah selama ini masih selalu dipelihara.”

“Tentu,” jawab Agni, “kami merasa wajib karena belumbang itu

kau titipkan kepada kami di sini.”

“Terima kasih,” sahut Ken Arok, “sekarang, apakah kau tidak

berkeberatan untuk pergi bersama?”

“Sebentar lagi matahari telah tenggelam sama sekali.”

“Aku hanya ingin mendapat kesan tentang taman itu.”

Mahisa Agni merenung sejenak. Kemudian katanya, “Baiklah. Aku

antar kau pergi ketaman itu.”

“Terima kasih.”

Dan keduanya pun kemudian pergi ke taman agak ke tengah

padang Karautan. Mereka berjalan di sepanjang tanggul susukan

induk. Susukan yang kini telah berhasil menghijaukan tanah di

sebagian dari padang Karautan. Mengairi sawah dan petegalan.

“Padukuhan ini berkembang terlampau cepat,” desis Ken Arok,

“sawah-sawah telah menjadi hijau merata sampai seluas ini.”

“Kami harus bekerja keras,” jawab Mahisa Agni, “sampai saat ini

belum seluruh kehidupan di Panawijen yang lama dapat kami

pindahkan. Meskipun Panawijen lama menjadi semakin kering,

namun beberapa bagian dari kami masih harus tetap tinggal di

sana. Kami mengharap, bahwa dalam waktu yang singkat,

padukuhan ini telah menjadi padukuhan yang sempurna.”

“Waktunya tidak akan lama lagi,” desis Ken Arok, “ternyata kalian

benar-benar menguasai masalah yang kalian hadapi.”

Mahisa Agni tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab.

Dalam kediaman, yang terdengar hanyalah desir langkah kaki

mereka di atas tanggul susukan induk. Sementara matahari telah

hilang di ujung langit di sebelah barat.

Keduanya untuk sejenak masih tetap berdiam diri. Sedang langit

pun menjadi semakin gelap.

Mahisa Agni terperanjat ketika tiba-tiba Ken Arok berhenti.

Sekilas Ken Arok itu menengadahkan wajahnya, melihat bintang

yang gemerlapan, namun kemudian ia meloncat beberapa langkah

menjauhi Mahisa Agni. Sekejap kemudian tangannya telah bergerak

dengan cepatnya mencabut keris yang dibawanya dari wrangka

kulitnya.

“Apakah artinya ini?” desis Mahisa Agni. Namun dengan gerak

naluriah, ia pun segera mempersiapkan dirinya menghadapi setiap

kemungkinan.

Sejenak mereka berdiri berhadapan. Ken Arok dengan keris

telanjang di tangannya. Keris yang bercahaya kebiru-biruan, dengan

bintik-bintik yang berwarna kekuning-kuningan.”

“Apa maksudmu Ken Arok?” Mahisa Agni bertanya sekali lagi.

Tetapi Ken Arok tidak menjawab. Dan tiba-tiba saja dada Mahisa

Agni berdesir. Ia pernah melihat keris itu. Ketika ia berada di

Tumapel mencari pembunuh pamannya ia telah diserang oleh

seseorang dengan mempergunakan keris yang berwarna kebirubiruan.

Karena itu, maka tiba-tiba ia mendesis, “Jadi kaukah itu Ken

Arok?”

Ken Arok masih belum menjawab. Dibiarkannya Mahisa Agni

berteka-teki.

Mahisa Agni memandang keris itu dengan tajamnya, “Ya, tidak

salah lagi. Keris inilah”

Karena itu maka sekali lagi ia menggeram, “Jadi kaulah yang

menyerang aku di Tumapel dengan keris itu?”

Mahisa Agni menjadi heran, ketika tiba-tiba saja ia melihat Ken

Arok tertawa. Keris itu pun kemudian terkulai. Yang terdengar

disela-sela suara tertawanya adalah gumamnya, “Kau masih ingat

kepada keris ini?”

“Tentu. Jadi apa maksudmu sekarang?” bertanya Mahisa Agni.

“Jangan salah mengerti. Aku hanya ingin membuktikannya. Keris

ini sama sekali bukan kerisku.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya, “Dari mana kau dapat keris

itu?”

“Kau akan dapat melihat nanti di dalam terang, bahwa keris ini

telah bernoda darah.”

“Darah?”

“Darah Akuwu Tunggul Ametung.”

“He?”

Maka Ken Arok pun berceritalah tentang kematian Akuwu

Tunggul Ametung. Keris yang digenggamnya itu, dan kematian

Kebo Ijo karena ia ingin melarikan dirinya.

“Kebo Ijo. Kebo Ijo.”

“Bukankah kau sudah mengenalnya.”

“Tentu aku sudah mengenalnya. Anak yang sombong itu. Ketika

ia berada di padang ini, bersama dengan kau, kesan yang

ditinggalkannya memang kurang baik.”

“Lalu bagaimanakah pendapatmu? Apakah kau dapat melihat

hubungan antara keris ini, serangan atasmu di Tumapel dan

kematian pamanmu?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Sejenak ia merenung. Dan

sejenak kemudian ia menggeram, “Aku akan melihat nanti, apakah

keris itu buatan paman Empu Gandring. Kalau benar, maka

masalahnya akan menjadi semakin jelas. Dan adalah mungkin

sekali, bahwa semuanya itu adalah perbuatan Kebo Ijo.”

“Nah, itulah keperluanku yang sebenarnya. Aku tidak begitu

tertarik untuk pergi ke taman. Aku hanya ingin mengingatkan kau

kepada keris ini dan peristiwa yang pernah terjadi.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia

merenung. Dicobanya menghubung-hubungkan semua peristiwa

yang pernah dialaminya.

Tiba-tiba Mahisa Agni menggeram, “Kemungkinan terbesar Kebo

Ijolah yang telah melakukannya. Marilah kita pulang. Aku ingin

melihat keris itu dari dekat.”

Keduanya pun kemudian segera kembali ke padukuhan. Tetapi

mereka tidak bermaksud menunjukkan keris itu kepada siapa pun,

sehingga karena itu, maka mereka pun segera masuk ke dalam bilik

yang disediakan untuk Ken Arok. Di bawah cahaya lampu minyak,

Mahisa Agni mencoba melihat keris itu dengan seksama.

Dibandingkannya keris itu dengan kerisnya sendiri, dan dengan keris

pamannya yang dibawanya sebagai senjata peninggalan.

“Aku yakin keris ini pun buatan paman Empu Gandring,” desis

Ken Arok.

“Jadi, apakah kau melihat hubungan itu?”

Mahisa Agni merenung sejenak. Kemudian bergumam seakanakan

kepada diri sendiri, “Kebo Ijo telah minta agar paman

membuat keris ini. Kemudian justru dengan keris ini pula paman

telah ditikam dengan curang. Ternyata aku temukan paman yang

telah terbunuh itu masih duduk di tempatnya. Sama sekali ia tidak

sempat untuk melawan. Paman pasti tidak akan menyangka, bahwa

Kebo Ijo akan menikamnya. Sekarang aku pasti, bahwa rencana

yang disusun oleh Kebo Ijo, adalah membunuh Akuwu Tunggul

Ametung. Pembunuhan atas paman Empu Gandring adalah sekedar

untuk menghilangkan jejak.”

Mahisa Agni berhenti sejenak. Lalu, “Kemudian dilakukannya

rencana itu, setelah ia gagal membunuhku pula. Akuwu Tunggul

Ametung ternyata berhasil dibunuhnya. Tetapi adalah suatu

kebodohan bahwa keris ini ditinggalkannya. Mungkin ia menyangka,

bahwa tidak seorang pun yang tahu, bahwa keris ini adalah

kerisnya.”

“Banyak sekali orang yang mengetahuinya, dan bersedia menjadi

saksi,” sahut Ken Arok.

“Mungkin ia meninggalkan keris itu tanpa disengaja,” desis

Mahisa Agni, “namun ia sudah menjalani hukumannya. Bukankah ia

sudah mati terbunuh? Dan bukankah dengan demikian kau

dianggap sebagai seorang pahlawan?”

“Ah,” Ken Arok berdesah, namun kemudian, “tetapi persoalan ini

masih belum selesai.”

“Kenapa? Bukankah pembunuhnya telah terbunuh? Tetapi aku

pun tidak akan dapat menuntut sesosok mayat untuk

mempertanggung jawabkan kematian paman.”

“Bukan itu soalnya Mahisa Agni,” jawab Ken Arok, “Witantra

menolak keputusan keenam pimpinan pemerintahan Tumapel yang

menyatakan bahwa Kebo Ijo adalah pembunuh Akuwu Tunggul

Ametung.”

“He,” Mahisa Agni terkejut, “Tetapi, bukankah sudah jelas bahwa

Kebo Ijolah yang membunuh Akuwu dengan keris ini?”

“Ya. Tetapi kau harus ingat. Kebo Ijo adalah adik seperguruan

Witantra.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya mendengar jawaban Ken

Arok itu. Witantra menurut pengenalan Mahisa Agni adalah seorang

yang berdiri tegak sebagai seorang prajurit pilihan. Yang selama ini

tidak pernah meninggalkan sifat-sifat seorang prajurit. Pertama kali

ia melihat Witantra, ketika ia mengantarkan Mahendra mencari

Wiraprana di Panawijen. Ia sama sekali tidak mau melihat

kecurangan adik-adik seperguruannya. Bahkan Witantralah yang

saat itu berkata kepada Mahendra, ‘Mahendra, kau kalah’.

Tetapi apakah Witantra yang sekarang bukan Witantra yang

dahulu? Atau dalam keadaan yang paling berharga bagi seorang

kesatria, yaitu mempertahankan nama, ia telah terperosok ke dalam

sikap yang tidak terpuji?

Ken Arok yang melihat keragu-raguan membayang di wajah

Mahisa Agni segera meneruskan kata-katanya, “Mahisa Agni,

bagaimanapun juga Witantra adalah manusia seperti kita. Suatu

ketika ia menjadi khilaf dan kehilangan pegangan.”

“Lalu apakah yang akan dilakukan oleh Witantra?”

“Witantra minta pimpinan Tumapel tidak segera mengambil

kesimpulan bahwa Kebo Ijo adalah pembunuh Akuwu. Ia tidak

yakin. Hanya karena ia tidak yakin. Witantra sama sekali tidak

mempunyai bukti, bahkan petunjuk pun tidak, untuk menyangkal

tuduhan bahwa Kebo Ijo telah membunuh Akuwu.”

Mahisa Agni mendengarkan keterangan Ken Arok itu dengan

dada yang bergetar, ia tidak dapat mengerti, kenapa tiba-tiba saja

Witantra telah berubah.

“Bagaimana pendapatmu Agni?”

“Mungkin Witantra telah diguncang oleh keadaan. Tetapi setelah

ia sempat berpikir, mungkin ia akan bersikap lain.”

“Tidak Agni. Witantra berkata di atas keyakinannya. Menurut

Witantra, betapa gilanya Kebo Ijo, tetapi ia tidak akan berbuat

sebiadab itu.”

Mahisa Agni tidak segera menjawab.

“Setelah pemimpin Tumapel yang enam mengambil keputusan,

maka Witantra mempergunakan kesempatan satu-satunya untuk

membatalkan keputusan itu.”

Mahisa Agni masih belum menjawab.

“Apabila dugaan bahwa Kebo Ijo telah membunuh Akuwu ini

dapat digugurkan, maka kau tidak akan dapat menarik garis yang

dapat sampai pada suatu kesimpulan seperti yang kau katakan.”

“Maksudmu?”

“Kalau bukan Kebo Ijo yang membunuh Akuwu, maka sudah

tentu sulit untuk dikatakan bahwa Kebo Ijolah yang telah berusaha

membunuhmu dengan keris ini. Sudah barang tentu, akan sulit

pulalah dikatakan bahwa Kebo Ijo telah membunuh Empu Gandring

setelah ia memesan keris ini kepadanya.”

“Yang tidak dilakukan menurut Witantra adalah membunuh

Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi bahwa keris itu adalah keris Kebo

Ijo adalah pasti. Aku tidak akan terpengaruh apapun dengan

penolakan Witantra itu. Memang mungkin, Kebo Ijo yang memiliki

keris itu dan dipesannya dari Empu Gandring, yang karena sesuatu

sebab Kebo Ijo telah membunuhnya. Dan karena aku mencari

pembunuh paman, maka ia berusaha melenyapkan aku. Kemudian

orang lainlah yang telah mempergunakan keris itu untuk membunuh

Akuwu Tunggul Ametung. Mungkin atas persetujuan Kebo Ijo, tetapi

mungkin pula tidak.”

Terasa dada Ken Arok berguncang mendengar jawaban Mahisa

Agni itu, sehingga sejenak ia terpaku di tempatnya. Namun sejenak

kemudian ia menjawab, “Tetapi jika demikian, maka dugaanmu

bahwa Kebo Ijolah yang membunuh Empu Gandring untuk

menghilangkan jejak, akan hapus karenanya. Kalau Kebo Ijo

memang tidak mempunyai rencana apapun, maka apakah kira-kira

yang telah mendorongnya untuk membunuh Empu Gandring?

Apakah sekedar agar Empu Gandring tidak dapat minta kepadanya

biaya yang telah dijanjikan oleh Kebo Ijo sebagai harga keris itu?

Sudah tentu, alasan itu terlampau dibuat-buat.”

Mahisa Agni merenung sejenak. Keterangan Ken Arok itu

memang masuk di akalnya. Adalah suatu rangkaian yang tidak

terpisahkan. Apabila dugaannya benar, maka pasti pembunuhan

atas Empu Gandring itu pun didasari oleh perhitungan yang cermat,

bukan sekedar alasan cengeng dan dibuat-buat.

“Bagaimana Mahisa Agni?”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya, mungkin

memang begitu.”

“Jadi bagaimana pendapatmu tentang pembunuh Akuwu Tunggul

Ametung?”

“Aku tidak melihat dan aku tidak banyak mengerti. Kalau keenam

pemimpin yang lain telah mengambil kesimpulan, dan keris ini

memang keris Kebo Ijo, maka aku kira tidak ada alasan lagi bagi

Witantra untuk menolak keputusan itu.”

“Agni, kalau kau tidak berkeberatan, sebaiknya kau datang ke

Tumapel. Kau akan melihat suasana yang telah terjadi di istana.

Adikmu pingsan untuk waktu yang tidak terbatas. Setiap ia sadar,

segera ia menjerit tinggi untuk kemudian pingsan kembali.”

Terasa sesuatu bergetar di dada Mahisa Agni. Tetapi ia tidak

segera menjawab.

“Kalau kau berhasil Agni, maka kau akan dapat menetapkan

sama sekali, bahwa Kebo Ijo adalah pembunuh pamanmu pula.

Karena itu maka nama Kebo Ijo akan terpahat di dalam setiap hati,

bahwa ia adalah seorang pembunuh yang paling licik di Tumapel.

Meskipun ia telah terbunuh sebelum ia sempat melakukan hukuman

yang akan ditentukan oleh para pemimpin Tumapel, namun apabila

penetapan tentang kelakuannya itu dapat dinyatakan, maka

keadaannya akan sama saja. Dan kau pun tidak lagi diburu oleh

suatu kewajiban untuk mencari pembunuh pamanmu.”

Mahisa Agni tidak menjawab. Namun terasa getar di jantungnya

menjadi semakin keras. Kemarahan yang selama ini tersimpan di

dalam hatinya atas kematian pamannya, seakan-akan telah

terungkit kembali perlahan-lahan. Apalagi apabila dibayangkannya,

betapa derita batin Ken Dedes atas kematian suaminya itu.

Sejenak keduanya saling berdiam diri. Ken Arok melihat warna

merah membayang di wajah Mahisa Agni. Kemudian sorot matanya

yang menjadi semakin tajam dan lekuk-lekuk di dahinya.

“Mudah-mudahan aku berhasil,” desisnya, “Mahisa Agni adalah

seorang yang luar biasa.”

Tanpa sesadarnya Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Ketika

ia mencoba membunuhnya dengan keris yang kini berada di

tangannya ia menyadari, betapa Mahisa Agni telah jauh maju

dengan pesatnya.

Dalam berpengharapan itu Ken Arok menjadi berdebar-debar

karena Mahisa Agni masih tetap diam saja. Tetapi Ken Arok tidak

ingin mengganggunya. Karena itu dibiarkannya Mahisa Agni berpikir.

“Apakah dapat dibenarkan, bahwa Witantra seorang diri

menentang keputusan keenam yang lain?”

“Dengan suatu cara yang khusus. Tetapi kalau ia kalah, maka

keputusan itu tidak dapat diubah lagi.”

“Apakah cara itu?”

“Perang tanding.”

“He?”

“Witantra berhak mempergunakan cara itu satu kali. Kalau ia

tidak naik sendiri ke arena, ia dapat menunjuk atas persetujuan

seorang yang lain. Tetapi kali ini Witantra sendiri yang akan naik ke

arena. Ia memberi kesempatan tiga hari sejak hari yang baru lalu,

Kalau tidak ada seorang pun yang melawannya, maka

keputusannyalah yang berlaku.”

Tiba-tiba terasa darah Mahisa Agni bergetar. Mula-mula di ujung

tangannya, namun kemudian merambat sampai ke pusat

jantungnya. Sejenak ia membeku, namun sejenak kemudian ia

berkata, “Aku akan minta ia mengubah keputusan itu. Aku

berkepentingan, karena Kebo Ijo telah membunuh pamanku pula.”

Dada Ken Arok berdesir. Ia mengharap Mahisa Agni menyatakan

dirinya untuk melawan Witantra. Tetapi yang akan dilakukan

hanyalah sekedar minta Witantra mengubah sikapnya.

“Bagaimana kalau Witantra bersedia dan bagaimana kalau ia

menolak?” pertanyaan itu melonjak di dalam dada Ken Arok. Namun

ia mencoba untuk berkata, “Tidak banyak gunanya Agni. Witantra

adalah seorang yang keras kepala.”

“Aku akan menemuinya.”

Ken Arok menggigit bibirnya. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain

kecuali menganggukkan kepalanya.

“Besok pagi-pagi kita berangkat,” desis Mahisa Agni.

Ken Arok mengangguk, “Baiklah. Memang sebaiknya kau

mencoba agar Witantra mengurungkan niatnya.”

Semalam keduanya hampir tidak tidur sekejap pun. Karena itu

ketika fajar menyingsing keduanya seolah-olah berebut dahulu pergi

ke bendungan. Mandi dan siap untuk berangkat ke Tumapel. Namun

keduanya masih memerlukan menghadap Ki Buyut untuk mohon

diri.

“Kau juga pergi, Agni?” bertanya Ki Buyut.

“Ya, Ki Buyut. Sudah lama aku tidak menengok Ken Dedes, eh

maksudku, Tuan Putri.”

Ki Buyut tersenyum, katanya, “Hati-hatilah di jalan Ngger.”

Keduanya kemudian meninggalkan padukuhan yang sedang

berkembang di tengah-tengah padang Karautan itu. Sekali-sekali

Mahisa Agni berpaling, memandangi padukuhannya yang telah

menghijau, dan sawah-sawah yang telah ditumbuhi oleh berbagai

macam tanaman. Pategalan dengan kebun buah-buahan yang telah

bertambah besar, meskipun masih belum berbuah.

Ketika sinar matahari telah mulai menggatalkan kulit maka

keduanya pun kemudian memacu kuda mereka. Semakin lama

semakin cepat, seakan-akan mereka sedang ditunggu oleh seluruh

rakyat Tumapel dalam masalah Kebo Ijo yang telah

menggemparkan itu.

Di sepanjang perjalanan, tidak banyaklah yang mereka

percakapkan. Masing-masing telah terlibat dalam angan-angan yang

membubung tanpa batas. Dengan sudut pandangan masing-masing

dan kepentingan masing-masing, mereka mencoba menilai, apakah

yang kira-kira akan terjadi di Tumapel.

“Seandainya Kebo Ijo tidak membunuh paman Empu Gandring,

aku tidak akan mencampuri persoalan ini,” desis Mahisa Agni, “aku

hanyalah sekedar seorang anak pedesaan. Anak padukuhan yang

setiap hari hanya pantas bergaul dengan batu-batu dan tanah liat.

Tetapi karena Kebo Ijo telah mengorbankan paman Empu Gandring

yang baik, yang selama ini telah banyak sekali berbuat untukku.

Pada saat aku sedang mulai membuka tanah ini, pada saat-saat aku

masih diancam oleh Empu Sada.”

Tiba-tiba dada Mahisa Agni menjadi kian bergetar. Semakin

dalam ia mengenangkan pamannya, maka hatinya menjadi semakin

bergolak.

“Kenapa tiba-tiba Witantra telah dikaburkan oleh hubungan

perguruan dengan Kebo Ijo, sehingga ia telah tergelincir karenanya,

justru pada saat yang gawat ini?” bertanya Mahisa Agni di dalam

hati, “Tumapel dalam keadaan ini memerlukan seorang kuat. Kalau

tidak maka Tumapel akan menjadi seperti sebuah perahu yang

kehilangan kemudi di tengah lautan yang buas. Ia akan tenggelam

dan tidak akan muncul kembali. Maharaja di Kediri akan

menentukan sikap dan bentuk baru bagi Tumapel, apabila Tumapel

tidak dapat segera membentuk dirinya sendiri.”

Namun kemudian ia menarik nafas, “Aku adalah seorang anak

pedesaan. Aku terlampau bodoh untuk memikirkan nasib Tumapel.

Aku tidak tahu, apa yang sudah dilakukan oleh pemimpinpemimpinnya.

Yang enam dan seorang Witantra. Apakah mereka

telah menyusun suatu sikap bagi Tumapel sepeninggal Akuwu,

ataukah mereka sedang disibukkan oleh Kebo Ijo, ataukah mereka

justru sedang saling menyiasati untuk merebut kepemimpinan yang

kosong sebelum ada seorang pun yang dapat mewarisinya.”

Berbagai macam pikiran telah berputar di kepala anak muda dari

Panawijen itu. Namun caranya menanggapi persoalan telah dilandasi

oleh kesadaran diri, bahwa ia tidak banyak mengerti mengenai tata

pemerintahan, justru ia adalah seorang anak padukuhan yang

jarang sekali bergaul dengan orang-orang yang berada di pusat

pimpinan Tumapel.

Kedua anak muda itu akhirnya memasuki kota Tumapel yang

masih sedang berkabung. Mereka langsung menuju ke rumah

Witantra. Ken Arok mengharap, bahwa Witantra tidak berada di

pusat pimpinan Tumapel.

Ternyata dugaan Ken Arok itu tidak salah. Meskipun Witantra

masih tampak lesu, namun ia telah berada di rumahnya.

Dengan hati yang kosong dipersilakannya Mahisa Agni dan Ken

Arok naik ke pendapa dan duduk di atas sehelai tikar.

“Baru saja aku pulang dari rumah Kebo Ijo,” desis Witantra

setelah ia menanyakan keselamatan Mahisa Agni dan Ken Arok

sebagai pemenuhan tata pergaulan.

“Bagaimana dengan istri dan anaknya?” bertanya Ken Arok.

“Kepahitan yang tiada taranya. Mereka sama sekali tidak

menyangka bahwa malapetaka itu akan menimpa keluarga mereka.”

“Kasihan bahwa mereka telah terjerat oleh seseorang yang

ternyata bukan yang diinginkannya,” gumam Ken Arok.

“Maksudmu?”

“Bukankah dengan demikian, Kebo Ijo telah membuat istri dan

anaknya menderita?”

“Maksudmu, bahwa Kebo Ijo telah bersalah dan membunuh

Akuwu sehingga mengakibatkan keluarganya hancur seperti

sekarang ini?”

Ken Arok tidak menjawab, tetapi ia menganggukkan kepalanya.

“Jangan kau ulangi, Ken Arok!” geram Witantra, “Aku masih tetap

yakin bahwa Kebo Ijo tidak bersalah.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Sekilas ia mencoba

memandang wajah Mahisa Agni. Dan ia melihat wajah itu menjadi

merah.

“Witantra,” berkata Mahisa Agni, “apakah kau benar-benar

meyakini bahwa Kebo Ijo tidak bersalah?”

“Ya, aku yakin. Apalagi ketika aku mendengar dari istrinya,

bahwa pintu rumahnya di bagian belakang pada malam itu tidak

diselaraknya. Maka menurut perhitunganku, kemungkinan yang

terbesar, orang lain telah mengambil keris itu dan

mempergunakannya.”

Mahisa Agni tidak segera menyahut.

“Istriku dan Ken Umang sekarang masih berada di rumah Kebo

Ijo untuk mengawaninya di dalam duka.”

Mahisa Agni masih belum menjawab.

Namun dalam pada itu dada Ken Aroklah yang berdentingan.

Apakah pada suatu saat Witantra akan berhasil menelusuri,

siapakah yang sebenarnya telah melakukan pembunuhan itu?

Ternyata otak orang itu terlampau cerah untuk menyelidiki suatu

masalah.

“Witantra,” berkata Mahisa Agni kemudian, “aku telah

mendengar peristiwa sedih yang menimpa istana Tumapel. Aku juga

telah mendengar bahwa Kebo Ijo telah terbunuh oleh Ken Arok,

meskipun ia tidak sengaja membunuhnya.”

“Ya. Menyedihkan sekali.”

“Dan aku pun mendengar pula, bahwa kau menolak keputusan

pemimpin-pemimpin Tumapel yang lain, bahwa Kebo Ijolah yang

telah membunuh Akuwu.”

“Ya. Aku menolak dengan cara satu-satunya karena aku tidak

melihat cara yang lain.”

“Witantra, apakah kau telah berpikir masak-masak?”

Witantra mengerutkan keningnya. Ia menjadi heran mendengar

pertanyaan Mahisa Agni itu.

“Apakah maksudmu?”

“Aku minta kau merenungkannya kembali Witantra. Dengan

bening, dan hati-hati. Agaknya kali ini kau tergelincir dari sikap yang

selama ini kau pegang teguh.”

Dada Witantra berdesir. Hatinya yang sedang pepat itu segera

merasa tersinggung. Meskipun bukan kebiasaannya, cepat merasa

dipersalahkan, tetapi kali ini ia dipengaruhi oleh keadaannya

terakhir.

“Jadi kau ikut menyalahkan aku pula, Mahisa Agni?” ia bertanya.

“Bukan maksudku Witantra,” jawab Mahisa Agni, “tetapi tuduhan

kepada Kebo Ijo itu aku kira sudah Adil. Memang mungkin

anggapan seseorang itu salah. Tetapi apabila kelak ternyata bahwa

ada petunjuk yang lain, maka keputusan itu dapat digugurkan.”

“Ah,” Witantra berdesah. Dengan susah payah ia menahan

dirinya untuk tetap menyadari, dengan siapa ia berhadapan, “bukan

demikian cara menanggapi suatu persoalan Agni. Kalau Kebo Ijo

masih hidup dan caramu memutuskan perkara dengan cara itu,

maka setelah ia dihukum gantung, ia tidak akan hidup lagi meskipun

hukuman itu kelak dibatalkan.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat mengerti

keterangan Witantra itu. Namun ia masih menjawab, “Tetapi

masalah Kebo Ijo kali ini berlainan Witantra. Justru Kebo Ijo sudah

meninggal. Apalagi keenam pemimpin Tumapel yang lain sudah

yakin, bahwa Kebo Ijo telah bersalah.”

“Aku yakin pula bahwa Kebo Ijo tidak bersalah. Sudah aku

katakan, pasti ada orang lain yang melakukan setelah mengambil

keris itu dari rumahnya.”

“Bukti-bukti telah cukup Witantra. Dan alasan yang kau

kemukakan itu terlampau lemah. Tidak seorang pun dapat

membuktikan bahwa pintu itu memang telah terbuka.”

“Mahisa Agni,” desis Witantra yang hampir tidak dapat menahan

diri lagi. Ia sedang kesal menanggapi peristiwa itu dan badannya

pun masih terlampau lelah setelah ia menyelenggarakan mayat adik

seperguruannya, sehingga dengan demikian pikirannya pun tidak

cukup bening untuk menanggapi persoalan yang dikemukakan oleh

Mahisa Agni, “aku sudah mempertimbangkan masak-masak. Aku

sudah mengambil keputusan untuk membatalkan keputusan itu

dengan perang tanding.”

Mendengar jawaban Witantra itu jantung Mahisa Agni terasa

berdentingan. Namun ia masih berkata datar, “Kau terlampau

tergesa-gesa Witantra. Kau telah terpengaruh hubungan perguruan

antara kau dan Kebo Ijo.”

“Agni,” Witantra benar-benar tidak dapat menahan hatinya lagi,

“sebaiknya kau tidak ikut mencampuri persoalan ini. Persoalan ini

adalah persoalan kami, persoalan pucuk pimpinan pemerintahan

Tumapel.”

Dalam keadaan yang biasa mungkin Mahisa Agni tidak akan

segera terbakar oleh kata-kata Witantra itu. Tetapi seperti juga

Witantra, hati Mahisa Agni sedang disaput oleh kedukaan atas

kematian pamannya yang terungkit kembali, justru rasa-rasanya

lebih dalam lagi melukai hatinya. Apalagi bisa dibayangkannya,

betapa sedihnya adiknya yang sedang menikmati ketenteraman

hidup sebagai seorang permaisuri. Dan tiba-tiba saja suaminya telah

direnggut dari sisinya oleh maut.

Karena itu, maka jawaban Witantra itu menjadi serasa api yang

menyentuh hatinya. Panas.

Sejenak Mahisa Agni mencoba menguasai perasaannya. Namun

tanpa dapat dikendalikan lagi ia menggeram, “Witantra, persoalan

ini bukan sekedar persoalan pucuk pimpinan pemerintahan di

Tumapel. Persoalan ini adalah persoalan Tumapel seluruhnya.”

“Tetapi tidak perlu setiap orang ikut campur menyelesaikannya

menurut seleranya sendiri-sendiri. Sudah ada peraturan-peraturan

yang dapat dijadikan pedoman. Dan aku tidak menyimpang

daripadanya. Aku minta perang tanding. Tidak ada jalan lain. Dan

kau sebaiknya menunggu saja dan melihat apa yang akan terjadi.

Sebaiknya kau kembali ke Panawijen atau ke padang Karautan. Di

sana kau dapat menentukan cara yang kau sukai. Tidak di sini, di

pusat pemerintahan Tumapel.”

“Witantra,” wajah Mahisa Agni menjadi merah padam, karena

dengan kata-kata Witantra itu ia merasa dihina, bahwa ia tidak lebih

dari seorang anak pedesaan. Namun dengan demikian harga diri

Mahisa Agni pun terungkit karenanya. Maka jawabnya, “Tidak. Aku

merasa ikut bertanggung jawab akan hal ini. Aku bukan sekedar

anak pedesaan yang tidak boleh ikut campur membicarakan

masalah-masalah yang terjadi di Tumapel. Seolah-olah masalah

yang hanya boleh dibicarakan oleh para pemimpin dan bangsawan.

Tetapi seandainya demikian, aku pun berhak menyebut diriku orang

penting di Tumapel. Aku adalah kakak Permaisuri Tumapel. Kalau

aku menerima, aku sudah mendapat gelar kebangsawanan dan

kedudukan yang penting di pemerintahan pada saat Ken Dedes

akan diangkat menjadi seorang permaisuri. Tetapi seandainya hal

itu tidak diakui, aku adalah ipar dari seseorang yang terbunuh, dan

aku adalah kemenakan orang lain yang telah terbunuh pula. Atas

hak itulah aku berbicara sekarang.”

Kini wajah Witantra pun telah membara pula. Meskipun sejenak

tersirat pengakuan di dadanya bahwa Mahisa Agni memang tidak

terlepas sama sekali dari peristiwa ini. Namun demikian, kegelapan

hatinya sama sekali tidak dapat dikuasainya, sehingga ia pun

menjawab lantang, “Kalau kau merasa dirimu berhak mencampuri

persoalan ini, lakukanlah. Aku tidak akan melarang. Tetapi kau

jangan mencoba mengubah keputusanku.”

“Baik. Aku tidak akan mengubah keputusanmu. Tetapi aku justru

akan memberi kesempatan kepadamu melakukan perang tanding

itu. Tetapi ingat. Aku berpendirian sebaliknya. Kebo Ijo adalah

pembunuh paman dan iparku sekaligus. Karena itu, namanya harus

dipahatkan di dinding gerbang istana, bahwa Kebo Ijo adalah

seorang pembunuh yang paling licik dan kejam.”

“Tidak. Aku menentang. Sudah aku katakan, aku menentang

keputusan itu dengan perang tanding.”

“Aku akan menguatkan keputusan itu. Kalau aku diizinkan, aku

menyediakan diriku untuk naik ke arena mempertahankan

keputusan bahwa Kebo Ijo adalah seorang pembunuh.”

Jawaban Mahisa Agni itu serasa petir yang meledak di atas

kepala Witantra. Sejenak ia membeku di tempatnya. Namun sorot

matanya yang membara seakan-akan membakar udara di ruangan

itu.

Dua jantung yang masih terhitung muda itu telah menyala. Tidak

seorang lagi yang dapat memadamkannya. Dan ketetapan mereka

pun agaknya sudah pasti, masing-masing akan berhadapan di

arena.

Ken Arok yang ada di ruangan itu sama sekali tidak

mengucapkan sepatah kata pun lagi. Ia melihat perbantahan itu

dengan tubuh yang gemetar, seakan-akan ia menyesali apa yang

telah terjadi. Tetapi Ken Arok tertawa di dalam hati. Memang inilah

yang diinginkannya. Inilah yang selama ini diharapkannya akan

terjadi. Mahisa Agni adalah kekuatan yang diharapkannya dapat

mengimbangi kekuatan Witantra di arena, karena Ken Arok telah

menjajaki betapa tinggi ilmu Mahisa Agni kini.

Dalam keadaan yang demikian ikut terdengar suara Witantra

gemetar, “Bagus. Kau pun laki-laki jantan yang jarang ada duanya

Agni. Kalau kau memang berhasrat untuk mempertahankan

keputusan itu, pergilah ke pemimpin yang enam. Ajukan

permintaanmu, dan apabila diizinkan, kau akan dapat

melakukannya. Kau memang pahlawan yang perkasa. Aku mengenal

kau sejak Mahendra mempunyai persoalan dengan seseorang yang

bernama Wiraprana. Kau telah menyerahkan dirimu untuk berkelahi

melawan Mahendra dengan nama Wiraprana. Dan kau berhasil

memenangkan perkelahian itu. Sekarang kau akan bertindak

sebagai pahlawan pula untuk menetapkan Kebo Ijo sebagai seorang

pembunuh.”

“Apapun yang kau katakan tentang diriku, aku tidak akan

menolak. Tetapi aku harus ikut mempertahankan keadilan di atas

Tanah Tumapel. Tidak boleh terjadi seorang pembunuh dapat

melepaskan dirinya karena pergulatan di arena. Kalau demikian,

maka tegaknya kebenaran berada di ujung senjata. Tetapi kalau

memang seharusnya demikian, maka apa boleh buat.”

“Bagus Agni. Aku mengharap enam pemimpin yang lain tidak

akan berkeberatan menerima kau. Supaya kau tidak terlambat,

karena mereka telah menetapkan orang lain, datanglah kepada

mereka, dan nyatakan maksudmu itu. Katakanlah bahwa kau adalah

ipar Akuwu Tunggul Ametung dan kemenakan Empu Gandring yang

telah terbunuh pula.”

“Baik,” jawab Mahisa Agni pendek, “aku minta diri.”

Mahisa Agni pun kemudian meninggalkan rumah Witantra

bersama Ken Arok menemui pemimpin yang enam untuk

menyatakan maksudnya.

Sepeninggal Mahisa Agni Witantra duduk tepekur di dalam

rumahnya. Ia memang tidak menyangka, bahwa kedatangan Mahisa

Agni justru telah menimbulkan persoalan baru baginya.

Namun bagaimanapun juga, Witantra sudah bertekad bulat. Ia

akan mempertaruhkan namanya untuk menegakkan keyakinannya.

Sebab ia pasti, bahwa bukan Kebo Ijolah yang telah melakukan

pengkhianatan. Ia kenal Kebo Ijo sebaik-baiknya.

Menurut perhitungan Witantra, pasti ada orang lain yang sengaja

ingin menjerumuskannya.

Tetapi yang tidak dimengertinya, kenapa justru Kebo Ijo. Bukan

dirinya sendiri atau orang lain. Ia tidak dapat mengerti, pamrih

apakah yang dikehendaki oleh orang yang melakukan pembunuhan

itu atas nama Kebo Ijo dan atas Akuwu Tunggul Ametung. Apalagi

seandainya benar dugaan Mahisa Agni, bahwa Empu Gandring telah

terbunuh pula oleh orang yang sama.

“Apakah orang yang datang ke rumah Empu Gandring itu juga

Kebo Ijo?” pertanyaan itu selalu mengganggunya, “Seandainya Kebo

Ijo masih hidup, maka cantrik itu akan dapat ditanya, orang itukah

yang dilihatnya di padepokan Empu Gandring seperti yang dikatakan

oleh Mahisa Agni beberapa waktu berselang, ketika ia mencari

pembunuh pamannya?”

“Inilah yang harus aku hadapi. Banyak hal yang tidak terdugaduga

dapat terjadi, seperti pada saatnya aku harus naik ke arena

melawan Mahisa Agni. Tetapi apa boleh buat. Aku mempertahankan

keyakinanku, sedang Mahisa Agni mempertahankan keyakinannya.”

Sementara itu Mahisa Agni yang diantar oleh Ken Arok pergi

menghadap pemimpin Tumapel yang lain, yang setiap saat selalu

berkumpul di istana.

Dengan heran para pemimpin itu menerima Mahisa Agni. Dan

dengan dada yang berdebar-debar pula mereka mendengarkan

keinginan itu.

Sejenak keenam pemimpin itu tidak dapat segera memberikan

tanggapan. Mereka saling berpandangan dan mencoba melihat apa

saja yang bergolak di dalam dada masing-masing.

Dan tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata, “Sebaiknya

kami mohon pertimbangan Tuanku Permaisuri.”

“Tidak perlu,” jawab Mahisa Agni, “Ken Dedes, eh maksudku

Tuanku Permaisuri tidak perlu tahu apa yang bakal terjadi. Ia

tinggal menerima keputusan akibat dari perang tanding di arena

itu.”

Keenam pemimpin itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi

salah seorang dari mereka berkata, “Seandainya Tuanku tidak

sedang terganggu, maka Tuan Putrilah yang dapat mengambil

semua keputusan dan kebijaksanaan. Perang tanding itu pun

mungkin dapat dibatalkan. Sebab kekuasaan Permaisuri yang

sekarang adalah mutlak seperti kekuasaan Akuwu sendiri. Atau

dengan kata lain, Tuanku Ken Dedeslah sebenarnya Akuwu di

Tumapel, karena sebenarnya Tuanku Tunggul Ametung pernah

menyerahkan segala yang ada padanya kepada Tuan Putri Ken

Dedes sebelum mereka kawin.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Namun hatinya yang panas

telah membakar darah mudanya, sehingga ia menjawab, “Biarlah

keputusan itu disaksikan oleh rakyat Tumapel.”

“Tetapi kalau hal itu memang tidak perlu dilakukan, apakah

salahnya?” bertanya yang lain.

“Tetapi Witantra menghendakinya,” sahut pemimpin tertinggi

pelayan dalam.

“Itu adalah jalan satu-satunya yang dapat dilihatnya,” berkata

panglima prajurit Tumapel.

Dengan demikian maka keenam pemimpin itu menjadi terdiam

sejenak. Ternyata pendapat mereka berbeda-beda. Para pemimpin

dari kalangan keprajuritan menghendaki perang tanding. Sedang

pemimpin-pemimpin yang lain masih ingin melihat jalan yang lain.

Dalam pada itu Ken Arok berkata, “Aku tidak tahu, jalan manakah

yang paling baik dilakukan. Tetapi sebaiknya hal ini tidak usah

dibicarakan dengan Tuan Putri. Setiap kali Tuan Putri mendengar

peristiwa ini, maka Tuanku Ken Dedes pasti menjadi pingsan, dan

kadang-kadang kehilangan kesadaran dalam waktu yang lama.

Karena itu, apakah tidak sebaiknya keputusan pemimpin yang enam

ini sajalah yang menentukan. Kalau perang tanding itu sebaiknya

dilakukan, biarlah keputusan itu di jalankan. Kalau pemimpin yang

enam ini menerima tuntutan Witantra untuk membatalkan

keputusan tentang Kebo Ijo, biarlah keputusan itu dibatalkan tanpa

setahu Tuan Putri.”

Keenam pemimpin itu mengangguk-anggukkan kepala mereka.

Mereka memang tidak mungkin berbicara dengan Ken Dedes dalam

keadaan serupa itu. Setiap kali permaisuri itu selalu diserang oleh

kejutan-kejutan yang kadang-kadang mengganggu kesadarannya,.

Hanya emban tua pemomongnya sajalah yang dapat

melayaninya. Bahkan kadang-kadang permaisuri itu memeluknya

tanpa sebab. Kemudian menangis sejadi-jadinya.

Pemomong Ken Dedes itu berusaha menghibur sejauh-jauh dapat

dilakukan. Namun kadang-kadang hatinya sendiri menjadi pedih

mengenang perkembangan terakhir di istana Tumapel, sebelum

Akuwu Tunggul Ametung terbunuh. Hubungan yang tidak

sewajarnya antara permaisuri dengan seorang pelayan dalam yang

cakap dan tampan.

Karena itu, ketika tiba-tiba Akuwu terbunuh, maka dada

pemomong Permaisuri itu bergetar dahsyat, seakan-akan

terguncang-guncang. Dan perempuan tua itu memang meragukan,

apakah benar Kebo Ijo yang telah membunuh Akuwu Tunggul

Ametung.

“Untuk apa?” pertanyaan itu selalu mengganggunya.

Tetapi sebagai seorang emban ia tidak dapat berbuat dan

berkata apapun. Ia hanya dapat menunggui dan menghibur hati

permaisuri yang tiba-tiba telah menjadi janda. Namun kepedihan

hati permaisuri itu pun agaknya bukan sekedar karena ia

ditinggalkan oleh suaminya. Tetapi agaknya ia menyimpan soal-soal

yang lain pula, yang tidak dapat dikatakan kepada orang lain

dengan kata-kata. Sehingga yang dapat dilimpahkan hanyalah air

matanya saja.

Oleh kenyataan itu, maka keenam pemimpin itu telah bersepakat

untuk tidak menyerahkan persoalan ini kepada permaisuri yang

sedang berduka itu.

Karena itu, maka apa yang sebaiknya mereka lakukan, mereka

bicarakan dengan tinjauan dari segala segi dan segala

kemungkinan.

Selama keenam pemimpin itu sedang berbincang, maka Ken Arok

dan Mahisa Agni harus menunggunya di luar bilik. Mereka duduk

tepekur tanpa berbicara sepatah kata pun. Sekali-sekali tatapan

mata mereka beredar menyusuri tiap-tiap di dalam ruangan itu.

Namun, kemudian kembali kepala-kepala mereka tepekur.

Pembicaraan keenam pemimpin itu ternyata berlangsung cukup

lama. Keduanya terperanjat, ketika mereka mendengar pintu bilik

itu terbuka. Namun agaknya pembicaraan itu belum selesai.

Ternyata mereka memanggil Ken Arok untuk dimintai beberapa

keterangan.

Kembali Mahisa Agni duduk tepekur. Dengan sudut matanya ia

melihat salah seorang penjaga yang duduk terkantuk-kantuk.

“Pantas. Kebo Ijo berhasil mendekati bilik Akuwu tanpa diketahui

orang. Agaknya telah menjadi kebiasaan para penjaga di dalam

istana ini duduk terkantuk-kantuk,” gumam Mahisa Agni di dalam

hatinya.

Akhirnya Mahisa Agni menjadi jemu duduk termenung tanpa

berbuat sesuatu. Karena itu, maka ia pun segera berdiri dan

berjalan hilir mudik di dalam ruangan itu.

Penjaga yang semula terkantuk-kantuk itu pun memandanginya

dengan curiga. Tetapi ia tidak menyapanya, karena ia tahu, bahwa

Mahisa Agni sedang menunggu hasil pembicaraan keenam

pemimpin Tumapel yang kini berada di dalam bilik yang tertutup itu.

Mahisa Agni tertegun ketika ia melihat prajurit yang lain berdiri di

belakang tiang di depan longkangan dalam. Kemudian ia melihat

yang lain lagi di sebelah sebuah patung yang besar.

“Tidak ada gunanya. Penjagaan di dalam istana ini diperkuat

setelah Akuwu Tunggul Ametung terbunuh,” katanya di dalam hati,

namun kemudian dijawabnya sendiri, “Mungkin mereka masih

dibayangi oleh kecemasan, bahwa peristiwa yang terjadi tidak hanya

terhenti sampai sekian. Mungkin mereka mencemaskan nasib Ken

Dedes pula. Apabila pembunuhan ini dikendalikan oleh sekelompok

pemimpin Tumapel untuk merebut kekuasaan dengan cara yang

masih belum dimengerti, maka memang keselamatan Ken Dedes

juga terganggu.”

Mahisa Agni pun akhirnya berhenti. Diamatinya sebuah ukiran

nada tiang yang hampir sepemeluk. Ukiran yang halus dan diwarnai

oleh sungging yang bagus. Namun warna-warna itu kini tampak

terlampau suram baginya.

Mahisa Agni berpaling ketika ia mendengar derit pintu terbuka.

Sejenak kemudian ia melihat Ken Arok berdiri di muka pintu sambil

melampaikan tangan memanggilnya.

Dengan dada berdebar-debar Mahisa Agni melangkah dengan

tergesa-gesa mendekat. Kemudian Ken Arok menariknya masuk ke

dalam bilik, dan pintu pun segera tertutup kembali.

“Mahisa Agni,” bertanya salah seorang pemimpin Tumapel yang

telah berusia lanjut, “apakah kau benar-benar telah bertekad bulat

untuk naik ke arena?”

“Ya,” jawab Mahisa Agni singkat.

“Atas dasar dan pertimbangan apakah maka hal itu kau

lakukan.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Sejenak kemudian ia

menjawab, “Aku ingin membantu menegakkan kebenaran di

Tumapel. Seandainya kesalahan seseorang terhapus karena

kekuatan seorang di dalam perang tanding, maka hal itu menurut

aku sama sekali tidak adil. Kalau seseorang bersalah, betapapun

juga ia telah bersalah. Meskipun orang lain mempertahankannya

dengan kemenangan seratus kali di arena.”

“Apakah kau yakin bahwa kau akan menang?”

“Tidak. Tetapi hasrat itulah yang ada padaku,” Mahisa Agni

berhenti sejenak, kemudian, “tetapi kalau ditanyakan kepadaku

tentang kepentinganku yang langsung, maka aku adalah kakak

Tuan Putri Ken Dedes, sehingga aku adalah ipar dari Akuwu yang

terbunuh. Selain Akuwu juga pamanku telah terbunuh. Dengan

demikian adalah kewajibanku untuk berbuat sesuatu.”

Keenam pemimpin Tumapel itu pun mengangguk-anggukkan

kepalanya. Dari Ken Arok mereka telah mendengar, bahwa Mahisa

Agni adalah murid dari seorang Empu, dan Empu itu adalah ayahnya

sendiri juga ayah Ken Dedes, Empu Purwa.

“Kebo Ijo pernah dikalahkannya, juga kakak seperguruannya

yang lain, Mahendra,” berkata Ken Arok ketika ia dimintai

keterangan para pemimpin itu.

Sejenak kemudian para pemimpin itu terdiam. Agaknya mereka

masih diliputi oleh keragu-raguan. Namun kemudian salah seorang

yang mewakili mereka berkata, “Setelah mendapatkan beberapa

keterangan Agni, baiklah aku menerima permintaanmu. Kau kami

percaya untuk mewakili kami. mempertahankan keputusan yang

telah kami ambil tentang Kebo Ijo. Kau memang bukan orang lain.

Kau pun berhak untuk melakukan pembelaan itu, karena kau adalah

ipar Akuwu Tunggul Ametung dan sekaligus kemenakan Empu

Gandring yang terbunuh pula. Kalau kau berhasil, maka sekaligus

kita menemukan pembunuh pamanmu itu pula.”

Mahisa Agni menahan nafasnya. Hatinya serasa mengembang di

dadanya. Ia mendapat saluran untuk menyatakan kesetiaannya,

meskipun yang terutama untuk kepentingan pamannya.

Demikianlah, maka telah menjadi keputusan, bahwa Mahisa

Agnilah yang akan naik ke arena untuk mempertahankan keputusan

pemimpin Tumapel yang enam, melawan keyakinan Witantra bahwa

adik seperguruannya itu sama sekali tidak bersalah.

Meskipun Witantra sadar, bahwa pendapat sebagian terbesar

rakyat Tumapel tidak condong kepadanya, namun ia telah siap

menerima akibat dari keyakinannya itu.

(bersambung ke jilid 50)

 

Jilid 50

MAKA PADA HARI itu JUGA, pimpinan pemerintahan Tumapel

telah mengumumkan keputusan itu. Di hari berikutnya, di alun-alun

Tumapel akan dilakukan perang tanding.

Demikianlah segala macam persiapan telah dilakukan. Sebuah

panggungan telah dibangun di alun-alun sebagai ajang dari perang

tanding itu.

Keputusan itu pun segera saja menjalar dari setiap mulut ke

setiap telinga, sehingga belum lagi matahari terbit di keesokan

harinya, rakyat di seluruh Tumapel telah mendengar apa yang akan

terjadi itu.

Keputusan itu telah mengejutkan keluarga Witantra yang baru

saja pulang dari rumah Kebo Ijo. Dengan cemas istrinya bertanya,

apakah yang akan terjadi.

“Aku telah menempuh jalan satu-satunya,” desis Witantra.

Istrinya segera terdiam. Ia adalah istri seorang senapati yang

harus dapat mengerti tugas-tugas suaminya. Namun terasa kali ini

hatinya menjadi berdebar-debar. Suaminya tidak akan berangkat

perang melawan kekuatan yang manapun juga di luar kekuatan

Tumapel. Tetapi suaminya kali ini akan melakukan perang tanding

untuk membela nama adik seperguruannya.

“Nyai,” berkata Witantra, “aku tidak terlampau bernafsu untuk

menyelamatkan nama Kebo Ijo itu sendiri. Tetapi aku ingin

mempertahankan keyakinanku. Kebo Ijo tidak bersalah.”

“Tetapi bagaimana dengan bukti-bukti itu, Kakang?” bertanya

istrinya.

“Itulah kelemahanku. Aku tidak mempunyai bukti apapun,” sahut

suaminya, “tetapi, sebelum Kebo Ijo berusaha melarikan diri, aku

hampir dapat meyakinkan pemimpin yang enam itu, bahwa Kebo Ijo

tidak akan sebodoh itu, seandainya ia memang melakukan

pembunuhan atas Akuwu Tunggul Ametung. Yang aku sesalkan

adalah kebodohan Kebo Ijo yang ingin melarikan diri, sehingga

dalam perkelahian melawan Ken Arok ia telah terbunuh. Meskipun

demikian, namanya harus dicuci. Nama Kebo Ijo dan nama seluruh

perguruan.”

Istrinya tidak menyahut lagi. Bagaimanapun juga, sebagai

seorang istri yang mencintai suaminya, terasa bahwa keluarganya

sedang berada di depan pintu gerbang malapetaka.

Demikianlah, maka semalam sebelum perang tanding itu

dilaksanakan, baik Mahisa Agni maupun Witantra hampir tidak dapat

tidur sekejap pun.

Witantra merasa, bahwa ia memang tidak dapat memberikan

bukti-bukti sangkalannya atas kesalahan Kebo Ijo. Sehingga ia naik

ke arena semata-mata berdasarkan keyakinan yang ada padanya.

“Kalau Kebo Ijo benar-benar tidak bersalah sesuai dengan

keyakinanku, maka sungguh tidak adil, apa yang telah terjadi

atasnya. Ia menjadi korban nafsu yang menyala di hati orang lain.”

Dan pada saat yang sama Mahisa Agni berkata di dalam hatinya,

“Kenapa aku harus naik ke arena? Sayang, bahwa aku harus

berhadapan dengan Witantra. Tetapi apa boleh buat. Setiap

kesalahan harus mendapat hukuman. Seandainya Kebo Ijo masih

hidup, aku pasti tidak akan begitu bernafsu mempertahankan

keputusan atas kesalahannya. Aku tidak bernafsu bahwa Kebo Ijo

harus dihukum mati. Tetapi ia sudah mati. Dan kesalahan ini tidak

boleh ditimpakan kepada orang lain lagi, seandainya keputusan

tentang Kebo Ijo dapat dibatalkan. Dengan demikian, maka harus

ada orang lain yang akan menerima hukuman atas kematian Akuwu,

selain kematian Kebo Ijo. Alangkah tidak adilnya. Hanya karena

nama Kebo Ijo diselamatkan di atas arena perang tanding.”

Dengan demikian, keduanya merasa, bahwa mereka akan

bertempur untuk mempertahankan keyakinan masing-masing, demi

keadilan.

Ketika fajar menyingsing, maka Witantra segera mempersiapkan

dirinya. Setelah mandi dan mencuci rambutnya, Witantra segera

masuk ke dalam biliknya untuk sejenak mengheningkan hati. Dicoba

melihat ke dirinya sendiri. Siapa dan apakah dia sebenarnya. Dari

mana dan ke mana ia akan pergi sebelum dan sesudah hidup ini.

Kemudian setelah ia selesai menimbang diri, maka mulai

terbayang wajah gurunya yang kekurus-kurusan. Yang selama ini

telah menempanya dalam olah kanuragan.

“Bukan maksudku untuk membanggakan diri,” desisnya, “tetapi

aku tidak mempunyai alat yang lain.”

Terbayang, betapa ia mesu diri di saat-saat terakhir. Di saat ia

merasa tersisih dari Akuwu Tunggul Ametung. Namun justru dengan

demikian ia merasa bahwa bahaya semakin dekat mengancam

Tumapel. Karena itu, maka ia telah memperdalam ilmu yang telah

dimilikinya.

Dari hari ke hari ilmunya kian bertambah-tambah sempurna,

sehingga akhirnya kemampuannya mencapai tingkat yang hampir

setinggi gurunya. Ia hanya memerlukan setapak lagi untuk sampai

ke puncak. Tetapi yang setapak itu belum sempat dilakukan, karena

yang setapak itu memerlukan segenap pemusatan segala inderanya

untuk waktu yang agak banyak.

Namun, untuk naik ke arena Witantra telah membawa bekal yang

cukup itulah sebabnya, maka ia dengan tenang mempersiapkan

dirinya menghadapi setiap kemungkinan. Meskipun demikian, terasa

di sudut hatinya sesuatu yang selalu menyentuh-nyentuh

perasaannya. Getaran yang tidak dikenalnya, seakan-akan memberi

isyarat kepadanya bahwa kali ini yang dihadapinya, meskipun bukan

salah seorang senapati perang, atau manggala pasukan apapun,

namun Mahisa Agni adalah seseorang yang mempunyai banyak

kelebihan dari orang-orang kebanyakan. Lebih daripada itu, Mahisa

Agni adalah seorang anak muda yang sangat dikenalnya. Seorang

yang baik, seorang yang jujur dan sama sekali tidak dikendalikan

oleh nafsu. Tetapi sayang, kematian pamannya telah membuatnya

menjadi mata gelap.

Sedang Mahisa Agni pun telah mencoba mempersiapkan dirinya

pula lahir dan batin. ia pun sadar, siapakah Witantra. Agaknya

Witantra tidak berhenti seperti beberapa saat yang lampau. Karena

itu, maka ia pun selalu mencoba menilai diri.

“Witantra adalah orang yang baik,” katanya di dalam hati, “tetapi

sayang, bahwa ia telah tergelincir. Meskipun demikian, ia bagiku

tetap seorang prajurit yang jarang ada duanya. Seorang prajurit

yang berdiri tegak di atas garis keprajuritannya.”

Demikianlah waktu yang semalam itu agaknya telah

mengendapkan dua hati yang sedang menggelegak itu. Meskipun

mereka masih tetap di dalam pendirian masing-masing untuk naik

ke arena, tetapi mereka sudah tidak lagi dibakar oleh kemarahan

yang meluap-luap. Mereka kini adalah orang-orang yang merasa

bertanggung jawab atas keyakinannya, dan menghadapi

pertanggungan jawab itu dengan sepenuh kesadaran.

Pada hari itu, rakyat Tumapel seperti terhisap seluruhnya keluar

dari rumahnya pergi ke alun-alun. Tua muda, laki-laki perempuan.

Hampir tidak ada yang ketinggalan.

Semuanya ingin melihat, apa yang akan terjadi di arena.

Kematian Akuwu Tunggul Ametung adalah persoalan yang telah

mengguncangkan seluruh Tumapel. Kemudian disusul oleh kematian

Kebo Ijo dan keputusan perang tanding ini sebagai ekor dari

peristiwa pembunuhan itu.

Setelah menghadap pemimpin yang enam di pagi-pagi benar,

maka Mahisa Agni pun telah siap untuk pergi ke alun-alun bersamasama

keenam pemimpin itu. Namun sebelum ia berangkat, maka

seorang perempuan tua telah menemuinya. Perempuan tua

pemomong Ken Dedes. Dan perempuan tua pemomong Ken Dedes

itu adalah ibunya.

“Aku ingin berbicara dengan kau, Agni,” bisik perempuan tua itu.

Agni tidak menjawab. Ia tahu bahwa perempuan tua itu ingin

berbicara seorang diri, tanpa didengar oleh orang lain. Karena itu

tanpa menjawab sepatah kata pun ia mengikuti perempuan tua itu

memasuki suatu bilik yang kosong di bagian belakang istana.

“Di bilik sebelah Tuan Putri terbaring,” desisnya.

“Apa katanya mengenai perang tanding ini?”

“Ken Dedes tidak tahu, apa yang akan terjadi itu.”

“Kenapa?”

“Tidak seorang pun boleh memberitahukan. Setiap kali ia selalu

diganggu oleh kejutan-kejutan yang kadang-kadang tidak dapat

diatasinya sehingga pingsan.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Agni,” berkata perempuan tua itu, “kenapa kau tidak berbicara

dengan aku dahulu sebelum kau menentukan sikap ini?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya.

“Maksud Ibu? “ ia bertanya.

“Kalau kau berbicara dengan aku, Agni, sebagai seorang emban

dan sebagai ibumu, aku akan mencoba mencegahnya.”

“Kenapa?”

“Sudah tentu sebagai seorang ibu, aku mencemaskan nasibmu,

Agni. Kau adalah satu-satunya anakku. Kau adalah penyambung

hidupku. Dan sebagai seorang emban, aku memang meragukan,

apakah benar Angger Kebo Ijo telah melakukannya.”

Dada Ken Arok berdesir, ia tidak terkejut ketika ia mendengar

alasan ibunya sebagai seorang ibu yang mencemaskan nasib

anaknya. Tetapi ia menjadi heran, kenapa ibunya dapat mengatakan

bahwa ia meragukan kesalahan Kebo Ijo.

“Kenapa Ibu meragukannya?”

“Aku tidak tahu Agni. Aku memang orang bodoh. Aku terlampau

dipengaruhi oleh perasaanku. Seandainya belum terlanjur, maka aku

akan dapat bercerita panjang lebar tentang keadaan Ken Dedes.”

“Aku ingin mendengar.”

“Terlambat. Meskipun aku mencemaskan kau, Agni, tetapi aku

tidak dapat melarang kau atau mempengaruhi dengan segala

macam cara, sehingga kau ragu-ragu naik ke arena. Meskipun

mungkin sikap dan kata-kataku ini sudah membuat kau ragu-ragu,

tetapi kau akan segera melupakannya. Apalagi karena Kebo Ijo

sendiri sudah mati.”

Perempuan tua itu berhenti sejenak. Lalu, “Sudahlah. Hatihatilah.

Kalau kau naik ke arena, berdoalah. Bukan saja agar kau

mendapat kemenangan, tetapi yang terpenting bagimu, agar kau

mendapat sinar terang di hatimu.”

“Apa sebenarnya yang tersimpan di hati ibu?”

“Jangan kau tanyakan sekarang. Kau sudah berada di atas

sebuah keputusan untuk perang tanding. Kalau kau mendapat

perlindungan dan menang, kau masih mempunyai banyak

kesempatan mendengar ceritaku. Segala sesuatu masih dapat

diperbaiki. Karena itu, kau harus berusaha sebaik-baiknya. Tetapi

kalau kau kalah, maka kau tidak akan mendapat kemungkinan

apapun. Sebab, kau harus tahu, akibat dari kekalahan di arena

untuk mendukung suatu sikap atas suatu keputusan.”

Mahisa Agni menundukkan kepalanya. Ia tahu benar, bahwa

perang tanding yang demikian, menurut ketentuan, berlangsung

sampai salah seorang kalah dan mati.

“Sudahlah Agni, pergilah.”

Mahisa Agni mengangguk perlahan-lahan. Kemudian tanpa

sesadarnya ia berlutut di hadapan ibunya, mencium tangannya

kemudian sambil berdiri ia berkata, “Aku mohon restu, Ibu. Mudahmudahan

aku dapat mempertahankan keyakinanku, untuk

menegakkan keadilan di atas bumi Tumapel.”

Ibu menarik nafas dalam-dalam.

“Aku berdoa untuk kemenanganmu, Agni. Tetapi aku tahu bahwa

Angger Witantra adalah seorang yang baik. Seorang yang kuat. Dan

kau akan menghadapinya.”

“Ya, Ibu. Aku menyadari.”

“Pergilah.”

Perlahan-lahan Mahisa Agni melangkah meninggalkan ibunya,

keluar dari bilik itu. Demikian Mahisa Agni hilang dibalik pintu,

perempuan tua itu terhuyung-huyung melangkah ke sudut. Sejenak

ia berpegangan tiang yang tegak dengan kokohnya. Namun

kemudian ia jatuh berlutut. Tanpa dapat ditahan-tahan lagi ia

menangis sejadi-jadinya. Ia melihat dan merasakan, bahwa

Tumapel memang sedang dilanda oleh kekalutan.

“Anakku,” desisnya, “mudah-mudahan kau selamat. Meskipun

dengan keselamatanmu itu, maka sebuah keadilan telah

terguncang. Aku mempunyai keyakinan seperti Angger Witantra,

bahwa bukan Angger Kebo Ijo yang telah berbuat. Aku melihat apa

yang terjadi sebelum peristiwa pembunuhan ini, dan aku melihat

perasaan Ken Dedes setelah peristiwa itu terjadi. Dan aku menarik

sebuah kesimpulan, bahwa tangan yang lainlah yang telah berbuat.

Tetapi aku terlampau bodoh dan terlampau lemah. Aku tidak

mempunyai keberanian seperti Angger Witantra, dan Mahisa Agni

ternyata kurang mempunyai bahan pertimbangan. Ia masih terlalu

muda.”

Perempuan itu menangis sepuas-puasnya. Bilik itu adalah bilik

yang jarang sekali dimasuki oleh siapa pun. Yang biasa berada di

dalam bilik itu di sore hari adalah Permaisuri Ken Dedes dan

kadang-kadang Akuwu sendiri hadir bersamanya untuk sekedar

bercakap-cakap.

Tetapi sejak Akuwu terbunuh dan sejak Ken Dedes selalu berada

di dalam biliknya, maka bilik ini hampir setiap saat kosong.

Ketika pemomong Ken Dedes itu sudah puas menangis, maka ia

pun kemudian mengusap air matanya yang tersisa dengan ujung

kainnya, kemudian dengan langkah yang berat keluar dari bilik itu

menuju ke bilik permaisuri.

Ketika ternyata permaisuri masih tidur maka ia menarik nafas

dalam-dalam. Kepada setiap emban ia telah berpesan, agar

permaisuri dijauhkan dari setiap berita mengenai persoalan Akuwu

Tunggul Ametung beserta semua akibat-akibatnya, termasuk perang

tanding yang akan dilakukan.

Pada saat itu, di alun-alun Tumapel, rakyat sudah berjejal-jejal

menunggu perang tanding yang akan datang. Mereka sama sekali

tidak menghiraukan beberapa orang perempuan sedang berada

dalam kecemasan. Mereka adalah Nyai Witantra, pemomong Ken

Dedes dan janda Kebo Ijo. Mereka mencemaskan orang-orang yang

mereka kasihi dalam nada yang berbeda-beda.

Ketika matahari memanjat langit semakin tinggi, maka hadirlah

pemimpin Tumapel yang enam bersama Mahisa Agni. Kemudian

naik ke atas panggung yang khusus, seorang yang akan berdiri

berlawanan, Witantra.

Sejenak kemudian maka seorang pemimpin yang tertua naik ke

arena dan memberikan kata-kata pengantar yang singkat. Betapa

pedihnya melihat putra-putra Tumapel yang terbaik justru akan

berhadapan di arena. Namun mereka ternyata tidak dapat

dipertemukan lagi di dalam keyakinan. Witantra dengan

keyakinannya dan Mahisa Agni yang mendukung keyakinan

pemimpin yang enam.

Ketika kemudian seorang prajurit memukul bende, alun-alun itu

seakan-akan meledak oleh gemuruhnya sorak orang-orang yang

menyaksikan perang tanding itu. Mereka yang sudah lama tidak

melihat perang tanding semacam itu, serta mereka yang ingin

melihat orang-orang terkuat di Tumapel akan bertempur. Mereka

sama sekali tidak menghiraukan lagi, bahwa dengan demikian

berarti bahwa kesatuan Tumapel sedang retak. Apabila tidak ada

tangan yang kuat untuk membina Tumapel, maka Tumapel sedang

meluncur ke dalam jurang perpecahan.

Tetapi sorak-sorai yang membahana itu pun kemudian berangsur

mereda ketika mereka melihat kedua orang itu naik ke arena.

Ternyata keduanya sama sekali tidak seperti yang mereka

bayangkan. Mereka sama sekali tidak berwajah merah padam. Sorot

mata mereka tidak menjadi buas dan liar.

Keduanya naik ke arena dengan kepala tunduk. Keduanya

mengenakan pakaian keprajuritan. Dan kali ini Witantra sama sekali

tidak memakai tanda-tanda kebesarannya. Baik sebagai seorang

prajurit pengawal, maupun sebagai seorang manggala kesatuan dan

salah seorang pemimpin tertinggi dari pemimpin yang tujuh di

Tumapel.

Sejenak mereka saling berpandangan. Tetapi sama sekali tidak

terpancar nafsu dari mata mereka.

Ternyata bahwa keduanya adalah orang-orang besar. Mereka

adalah orang-orang yang cukup dewasa menanggapi persoalan.

Meskipun di dalam hati mereka menyala tekad untuk

mempertahankan keyakinan, namun sama sekali tidak membayang

nafsu yang tidak terkendali.

Seorang pemimpin yang lain naik juga ke arena, memberikan

keterangan tentang keharusan yang berlaku di dalam perang

tanding.

“Perang tanding ini berlangsung sampai salah seorang mati, atau

atas kehendak yang menang, yang kalah tidak dibunuhnya, tetapi

sudah yakin, bahwa ia tidak akan dapat melawan dan

memenangkan perang tanding ini apabila dilanjutkan, atas

persetujuan kami.”

Witantra sama sekali tidak mengajukan keberatan sama sekali,

meskipun ia kurang mantap dengan ketentuan itu, karena pemimpin

yang enam itu sendiri kesemuanya berdiri di satu pihak. Tetapi

Witantra masih yakin, bahwa mereka adalah orang-orang yang

memiliki jiwa besar dan jujur menghadapi keputusan ini.

Sedang Mahisa Agni pun masih saja menundukkan kepalanya.

Kata-kata ibunya ternyata masih saja terngiang di telinganya.

Namun ia selalu ingat pula pesan ibunya itu, “Aku berdoa untuk

kemenanganmu Agni.”

Ketika semuanya telah siap, maka terdengarlah suara bende

sebagai tengara, bahwa perang tanding sudah akan dimulai. Bende

pertama memberi tanda bahwa keduanya siap berada di tempat

masing-masing. Bende kedua, mereka harus bersiap untuk mulai

dengan perang tanding, dan ketika bende ketiga terdengar, maka

perang tanding itu pun segera mulai.

Namun justru penonton yang berjejal-jejal itu sama sekali tidak

lagi bersuara seperti orong-orong terinjak kaki. Diam. Diam dalam

ketegangan. Mereka terpengaruh oleh sikap kedua orang yang kini

berada di arena. Keduanya sama sekali tidak menunjukkan nafsu

berkelahi yang meluap-luap.

Bahkan mereka masih melihat keduanya maju selangkah dan

melihat bibir Witantra bergerak-gerak. Tetapi kata-katanya

terlampau lambat untuk didengar oleh mereka, “Aku terpaksa

melakukan Agni.”

Dan Mahisa Agni pun menganggukkan kepalanya, “Aku mengerti

Witantra. Kita bukan lagi anak-anak yang sedang diseret oleh

nafsu.”

“Baiklah. Tanda untuk mulai sudah berbunyi.”

“Aku sudah siap.”

Keduanya menjadi semakin mendekat. Betapapun dada mereka

menampung persoalan itu dengan nafas kedewasaan, namun

mereka pun menjadi semakin tegang juga. Mereka menyadari,

bahwa di dalam perang tanding ini mereka bukan saja sekedar

mempertahankan keyakinan, tetapi juga mempertahankan nyawa.

Demikianlah, maka mereka pun telah berusaha melupakan

semua kenangan tentang hubungan mereka selama ini. Kini mereka

sedang mengemban suatu tugas yang adil menurut sudut pandang

masing-masing.

Sejenak kemudian mulailah Witantra menyerang. Meskipun ia

masih sedang berusaha menjajaki kemampuan lawannya.

Mahisa Agni yang telah siap pun segera menanggapinya, dengan

hati-hati ia menghindari serangan pertama itu. Seperti juga Witantra

ia mencoba untuk mengetahui, sampai di mana kemampuan

lawannya.

Dengan demikian maka dalam gerakan-gerakan yang pertama,

tampaklah betapa kedua belah pihak berbuat dengan sangat hatihati.

Keduanya memang bukan orang-orang yang mudah terbakar

oleh nafsu tanpa kendali. Sehingga dengan demikian, maka

perkelahian itu sama sekali tidak berlangsung seperti apa yang

diharapkan oleh sebagian dari para penontonnya. Mereka

mengharap, yang naik ke arena adalah ayam sabungan, yang

demikian bertemu dengan lawan, langsung berkelahi dengan mata

gelap.

Keenam pemimpin yang lain yang berada di dalam sebuah

panggungan khusus menyaksikan pertempuran itu dengan

berdebar-debar. Seandainya ada jalan lain, maka jalan yang satu ini

memang harus dihindari. Setiap serangan dari masing-masing pihak

terasa telah menggetarkan dada mereka.

Namun keenam pemimpin yang lain itu pun menyadari, betapa

kedua orang yang bertempur itu bukanlah orang-orang yang masih

dikuasai oleh nafsu melulu.

Tetapi dengan demikian, agaknya, kecemasan di hati mereka pun

menjadi semakin tajam. Orang-orang yang demikian itu adalah

orang-orang yang matang di dalam ilmunya, sehingga perkelahian

itu pun semakin, lama akan menjadi semakin sengit. Apabila

pertempuran itu nanti akan sempat ke puncaknya maka pasti akan

membuat setiap jantung seakan-akan berhenti berdetak. Di antara

para penonton terdapat seorang anak muda yang bernama Ken

Arok. Kali ini ia tidak sedang bertugas di manapun juga, karena ia

memang seharusnya berada di alun-alun. Ia adalah seorang pelayan

dalam yang ikut langsung menangani masalah Kebo Ijo. Apalagi

kematian Kebo Ijo adalah karena tangannya.

Dengan seksama ia mengikuti pertempuran yang terjadi di arena.

Tidak seperti orang-orang kebanyakan, maka penilaian Ken Arok

jauh lebih dalam. Seperti pemimpin yang enam, maka ia

mengharap, pada saatnya perang tanding itu akan menjadi perang

tanding yang paling dahsyat yang pernah berlangsung di arena

alun-alun Tumapel.

Demikianlah pertempuran itu pun setiap saat telah meningkat.

Ketika keduanya telah mulai dibasahi oleh keringat, maka

ketegangan di dalam hati keduanya pun meningkat pula, seperti

ketegangan di hati pemimpin yang enam, para pemimpin prajurit,

para pandega. Senapati dan prajurit-prajurit yang bertugas di

seputar arena dan di sekeliling alun-alun. Demikian juga ketegangan

di dalam dada Ken Arok. Bahkan yang tampak olehnya di saat itu

bukanlah sekedar pergulatan di dalam arena itu, Tetapi Ken Arok

memandang alun-alun itu sebagai lautan manusia Tumapel. Tibatiba

terasa dadanya mengembang. Orang-orang itulah tujuan dari

segala macam rencananya. Menguasai semuanya itu.

Tiba-tiba Ken Arok itu tersenyum sendiri. Sebagian terbesar

rencananya telah dapat berjalan dengan baik. Apa yang terjadi di

arena itu adalah salah satu dari permainannya. Dan ia berbangga

karenanya. Witantra adalah pemimpin tertinggi dari pasukan

pengawal istana. Mahisa Agni adalah seorang yang pilih tanding,

kakak Permaisuri Ken Dedes.

Ia mengharap bahwa akhir dari perang tanding ini adalah, Mahisa

Agnilah yang menang. Dengan demikian maka Witantra yang

selama ini menentang keputusan tentang Kebo Ijo, tidak akan lagi

mengganggunya. Apabila Witantra masih ada, maka ia pasti kelak

mengadakan penyelidikan untuk menemukan pembunuh Akuwu

Tunggul Ametung yang sebenarnya.

Kalau Witantra kalah dalam perang tanding ini berarti Witantra

telah tersingkirkan untuk selama-lamanya.

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Namun hatinya masih saja

berdebar-debar. Meskipun perang tanding di arena itu telah

meningkat, namun masih belum mencapai puncak dari kemampuan

keduanya. Keduanya masih mencari-cari setiap kemungkinan untuk

menyelesaikan perang tanding ini dengan pasti. Kesalahan yang

kecil sekalipun akan dapat menggagalkan usaha salah seorang dari

mereka.

“Apabila perang tanding ini selesai, dan Mahisa Agni dapat

menguasai keadaan, maka aku akan sampai pada rencana terakhir.

Aku harus sampai pada kepastian untuk dapat kawin dengan Ken

Dedes. Jika hal itu terjadi, maka tidak ada satu atau dua orang

lainnya, akulah yang akan menguasai Tumapel. Akulah yang akan

menguasai manusia ini seluruhnya termasuk Mahisa Agni, pemimpin

yang enam itu dan bahkan Ken Dedes.”

Ken Arok masih saja tersenyum sendiri. Diedarkannya pandangan

matanya. Dipandanginya setiap prajurit yang sedang bertugas, dan

bahkan, kemudian keenam pemimpin Tumapel yang berada di

panggung yang khusus. Katanya pula di dalam hatinya, “Suatu saat,

kalian akan menjadi orang-orangku yang harus patuh kepada

perintahku.”

Ken Arok seolah-olah tersadar, ketika ia melihat guncangan

dalam perang tanding di arena. Sebuah serangan yang dahsyat,

sedahsyat badai, telah mendorong Mahisa Agni, sehingga Mahisa

Agni terjatuh. Serangan berikutnya beruntun mengejar Mahisa Agni

yang berguling-guling menjauhi lawannya. Namun agaknya Witantra

tidak memberinya kesempatan.

Ken Arok menahan nafas. Ia melihat seolah-olah Mahisa Agni

tidak berkelahi di dalam puncak kemampuannya sedang Witantra

agaknya telah mulai mengerahkan ilmu-ilmu puncaknya.

Namun nafasnya seakan-akan berhenti ketika tiba-tiba saja ia

melihat Mahisa Agni mengerahkan kemampuannya. Agaknya ia tidak

segera menerima usaha Witantra untuk segera memaksakan akhir

dari perang tanding ini. Karena itu, maka Mahisa Agni pun kemudian

telah berusaha dengan segenap kemampuan yang ada padanya,

untuk melepaskan diri dari keadaan yang sulit, yang tiba-tiba saja

telah melibatnya.

Karena ia tidak berhasil mencapai jarak dengan lawannya, maka

tiba-tiba Mahisa Agni telah mempergunakan sepasang tangannya

untuk melontarkan diri melenting, justru menyerang lawannya.

Witantra terkejut mengalami serangan yang tidak terduga-duga

itu. Mahisa Agni telah menjulurkan kedua kaki kirinya sambil

membelakangi lawannya, didorong oleh kekuatan lenting

tangannya.

Karena itu, maka Witantra tidak sempat untuk mengelak. Dengan

cepat ia memiringkan tubuhnya, merendah sedikit pada lututnya

dan membentur kedua kaki Mahisa Agni itu dengan sikunya.

Sebuah benturan yang keras telah terjadi. Mahisa Agni hampir

saja tertelungkup. Dengan susah payah ia menjatuhkan dirinya pada

pundaknya untuk seterusnya berguling beberapa kali. Sedang

Witantra terguncang dan terdorong dua langkah surut.

Terdengar keduanya menggeram. Tetapi Witantra tidak segera

dapat mengejar Mahisa Agni. karena keseimbangannya. Karena itu

maka selagi ia mencoba untuk tegak, Mahisa Agni telah berhasil

meloncat berdiri tegak pula di atas kedua kakinya.

Sejenak kemudian mereka pun telah berloncatan maju

menyerang dengan garangnya. Witantra bertempur dengan lincah

dan tangguh. Setiap langkahnya diperhitungkannya, dan setiap

geraknya selalu mendebarkan hati lawannya. Namun Mahisa Agni

semakin lama menjadi semakin mantap. Ketika keringatnya telah

membasahi seluruh tubuhnya, maka ia tidak segan-segan lagi untuk

mempergunakan segenap kemampuannya meskipun ia masih tetap

mempergunakan akalnya. Namun tandangnya telah benar-benar

menjadi seperti banteng ketaton.

Beberapa saat yang lampau, ia pernah bertempur mati-matian

melawan seorang iblis yang paling buas, tidak saja di seluruh

Tumapel, tetapi di seluruh Kediri. Setelah ia menyempurnakan

ilmunya di bawah bimbingan gurunya, Empu Purwa, dan Empu

Sada, maka ia telah berhasil mencari suatu tingkatan ilmu yang

dapat mengatasi ilmu iblis itu, dan bahkan mengatasi ilmu gurunya

dan ilmu Empu Sada seorang demi seorang.

Itulah sebabnya, maka Mahisa Agni tidak terlampau banyak

mengalami kesulitan, ketika ia berperang tanding melawan

Witantra, yang masih belum berhasil menyamai gurunya, Panji

Bojong Santi.

Namun Witantra adalah seorang yang mempunyai otak yang

cerdas. Karena itu, maka segera ia menyesuaikan dirinya dalam

pertempuran itu. Ia lebih banyak mempergunakan perhitunganperhitungan

yang teliti, daripada benturan-benturan yang mungkin

dapat terjadi. Meskipun demikian, ia masih belum menyadari, bahwa

Mahisa Agni yang sekarang adalah Mahisa Agni yang hampir tidak

ada duanya.

Di kejauhan, di belakang para penonton yang lain, guru Witantra

menyaksikan perkelahian itu sambil mengusap dada. Segera ia

menyadari, bahwa lawan Witantra pasti tidak akan dapat dikalahkan

oleh muridnya. Betapapun muridnya berusaha dengan segala

kemampuan ilmu dan akal. Namun kemungkinan untuk menang

dalam perang tanding itu terlampau tipis, dan bahkan hampir tidak

ada sama sekali.

“Bagaimana Guru?” bertanya seseorang.

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. “Aku tidak

menyangka, bahwa murid Empu Purwa itu kini telah berhasil

mencapai tingkat gurunya.”

Muridnya yang bertanya itu Mahendra, mengerutkan keningnya.

“Maksud Guru, bahwa tingkat ilmu Mahisa Agni telah melampaui

Kakang Witantra?”

“Aku kira demikian.”

Mahendra menggigit bibirnya. Ia sama sekali tidak menyangka,

bahwa suatu ketika kakaknya Witantra benar-benar akan

berhadapan dengan Mahisa Agni di arena.

“Jadi bagaimana, Guru?” bertanya Mahendra cemas.

Gurunya menggelengkan kepalanya, “Aku tidak akan dapat

berbuat apa-apa Mahendra. Mereka naik ke arena sebagai dua

orang lelaki.”

Mahendra mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang setiap

campur tangan gurunya dalam perang tanding itu pasti hanya akan

menodai nama kakak seperguruannya.

“Kasihan Witantra,” desis gurunya, “ia telah dibakar oleh

keyakinannya. Aku sudah memperingatkan, agar ia mempergunakan

cara lain. Apalagi kini ternyata bahwa anak muda yang melawannya

itu mempunyai ilmu yang aneh. Aku melihat sebuah perkembangan

ilmu Empu Purwa yang diwarnai oleh tata gerak yang luar biasa dari

ilmu Empu Sada.”

“Empu Sada?” desis Mahendra, “maksud guru Empu Sada guru

Kuda Sempana?”

Panji Bojong Santi mengangguk.

Mahendra mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Meskipun

ilmunya sendiri tidak jauh berada di bawah kakak seperguruannya,

namun terasa sulitnya mengikuti tata gerak Mahisa Agni.

Di arena, ternyata bahwa Witantra pun telah merasakan, bahwa

sekali-kali ia ketinggalan dari kecepatan gerak Mahisa Agni. Bahkan

dalam beradu tenaga, dalam benturan-benturan yang terjadi,

Witantra pun merasa pula, bahwa Mahisa Agni mempunyai

beberapa kelebihan daripadanya. Karena itu, maka dadanya pun

menjadi berdebar-debar. Ia menjadi cemas bahwa ia tidak akan

berhasil membersihkan nama Kebo Ijo dan nama perguruannya.

Sama sekali bukan karena nyawanya sendiri.

Demikianlah, perang tanding itu semakin lama menjadi semakin

memuncak. Witantra telah terpaksa mengerahkan segenap

kemampuan yang ada padanya, lahir dan batin. Semua unsur-unsur

gerak yang dimilikinya, dilandasi oleh pengalaman yang tiada

terhitung banyaknya yang tersimpan di dalam dirinya, serta tekad

yang menyala-nyala di dalam dadanya. Namun demikian ia masih

tetap sadar sepenuhnya, sehingga karena itu, ia tidak pernah

kehilangan akal.

Dalam pada itu, lambat laun, Mahisa Agni pun menjadi semakin

mantap. Meskipun ia tidak dapat meyakini bahwa ia dapat

mengalahkan Witantra, namun ia merasa, bahwa ilmunya selapis

lebih tinggi dari lawannya. Kalau ia tidak melakukan kesalahan,

maka ia berharap untuk dapat memenangkan perang tanding itu.

Karena itu, tanpa kehilangan pengamatan diri Mahisa Agni

setapak demi setapak maju terus. Semakin lama ia semakin berhasil

mendesak lawannya.

Namun, Witantra tidak dengan mudah menjadi berputus asa.

Betapa ia heran, bahwa Mahisa Agni ternyata memiliki ilmu yang

tidak dapat diimbanginya. Meskipun demikian, dengan cermat

Witantra bertempur terus. Diperasnya segenap kemampuan, akal

dan tekadnya untuk tetap bertahan. Mempertahankan hidupnya dan

mempertahankan keyakinannya.

Karena itu, maka perkelahian itu pun menjadi semakin lama

semakin seru. Keduanya sama sekali tidak bersenjata. Namun

keduanya memiliki kemampuan yang luar biasa, sehingga senjata

bagi mereka hampir tidak banyak artinya.

Dalam puncak perkelahian itu. mereka saling mendesak, saling

menyerang dan saling membenturkan kekuatan masing-masing.

Tangan-tangan mereka bergerak dalam irama maut. Mereka sudah

tidak dapat lagi membatasi diri dan menahan-nahan kekuatan dan

kemampuan. Semua ilmu yang ada telah mereka tumpahkan.

Semua.

Ken Arok yang tegang, lambat laun mulai menarik nafas lega. Ia

melihat Mahisa Agni telah menguasai keadaan.

Setiap kali ia selalu berhasil mematahkan serangan Witantra dan

bahkan menyerangnya kembali. Meskipun sekali dua kali serangan

Witantra terasa sangat berbahaya, namun Mahisa Agni selalu dapat

menghindarinya.

Tetapi justru dengan demikian, maka Witantra menjadi mapan.

Ia merasa bahwa ia akan gagal mempertahankan keyakinannya.

Namun ia tidak kehilangan akal. Ia bahkan pasrah diri dalam

keadaannya, sehingga perlawanannya justru menjadi semakin

mantap. Kedewasaannya sama sekali tidak menyeretnya ke dalam

perbuatan putus asa yang berbahaya.

“Bukan main,” gumam Mahisa Agni di dalam hatinya, “betapa

tenang dan mantapnya pertimbangan di dalam hatinya. Witantra

memang seorang yang mempunyai kedewasaan berpikir. Sayang ia

harus mengorbankan nama dan nyawanya.”

Dalam pada itu Witantra pun berkata di dalam hatinya, “Mahisa

Agni telah sampai ke puncak ilmunya yang luar biasa. Agaknya ia

telah dimatangkan oleh gurunya, sehingga ia telah mencapai tingkat

seperti gurunya sendiri. Namun demikian ia berhasil menguasai

dirinya dengan sikap dewasa. Meskipun ia masih semuda itu, ia

sempat mengendalikan diri. Tetapi sayang, kali ini ia telah dibakar

oleh kepedihan perasaannya karena ia telah kehilangan paman dan

iparnya. Sehingga ia telah bertempur untuk suatu keyakinan yang

keliru menurut penilaianku. Tetapi apa boleh buat. Sudah menjadi

garis hidupku, bahwa mungkin sekali aku harus mati di tangannya.”

Demikianlah, maka pertempuran itu merayap ke ujungnya.

Keduanya telah memeras segenap kemampuan dan tenaga,

sehingga semakin lama tenaga mereka pun semakin menurun pula.

Sehingga agaknya tidak ada jalan bagi Witantra untuk mengakhiri

pertempuran itu seperti yang diharapkannya.

Meskipun demikian, di bagian terakhir dari perkelahian itu telah

benar-benar menggetarkan jantung. Sekali-kali karena ketenangan

dan kematangannya, Witantra masih juga berhasil mengenai

lawannya. Suatu kesalahan kecil dari Mahisa Agni telah

membuatnya terpelanting. Sebuah pukulan yang dahsyat telah

mengenai dagunya. Sebelum ia dapat berdiri tegak, maka Witantra

mencoba menggunakan kesempatan itu. Dengan sebuah loncatan

panjang ia memburu. Dengan sisi telapak tangannya ia berhasil

mengenai pundak Mahisa Agni. Sekali lagi Mahisa Agni terdorong

surut. Hampir saja ia kehilangan keseimbangan, namun justru ia

meloncat mundur untuk mengambil jarak, sehingga ia mempunyai

waktu untuk tegak di atas kedua kakinya. Namun kali ini pun

Witantra tidak membiarkannya. Ia tidak akan mendapat kesempatan

serupa ini lagi. Karena itu, maka dengan tangkasnya ia meloncat

maju mendekati lawannya. Kakinya kali ini diputarnya mendatar

setinggi lambung.

Sebuah sambaran yang deras telah menyentuh tubuh Mahisa

Agni. Kaki Witantra tepat mengenai lambungnya. Betapa perutnya

menjadi mual. Apalagi Witantra telah mempergunakan sepenuh

tenaganya.

Mahisa Agni kali ini terdorong ke samping. Namun betapa ia

dilibat oleh serangan-serangan beruntun, ia tidak menjadi bingung.

Ia sadar sepenuhnya ketika ia melihat Witantra berputar sekali lagi

di atas satu kakinya. Maka ketika kaki Witantra yang lain

menyambarnya, selagi ia masih belum sempat menguasai

keseimbangan seutuhnya, maka ia pun justru menghindar dengan

menjatuhkan dirinya, sehingga kali ini Witantra telah kehilangan

sasaran.

Sebelum Witantra sempat menarik kakinya, maka sambil

berguling Mahisa Agni telah menangkap kaki itu, dan sebuah

putaran yang tiba-tiba dibarengi dengan berat badannya sendiri,

Mahisa Agni berhasil memutar Witantra, sehingga ia pun terbanting

jatuh. Namun Witantra pun tidak menyerahkan dirinya begitu saja.

Secepatnya ia menelungkupkan dirinya menyentakkan kakinya yang

berada di dalam tangkapan Mahisa Agni dan menyerang sekaligus

dengan kakinya yang lain.

Begitu cepatnya, sehingga Mahisa Agni hampir saja kehilangan

kesempatan. Tepat pada saatnya Mahisa Agni berhasil menghindar

sambil meloncat ke samping.

Namun waktu yang sekejap itu pun telah dimanfaatkan pula oleh

Witantra. Dengan tangkasnya ia melenting berdiri di atas telapak

kakinya.

Sebuah desir yang tajam telah tergores di jantung Mahisa Agni.

Ketika tanpa disengaja ia mengusap bibirnya, maka tangannya telah

diwarnai oleh setitik darah dari mulutnya.

Bagaimanapun juga, maka jantung Mahisa Agni menjadi

bergelora karenanya. Pundaknya terasa sakit dan perutnya masih

juga mual. Namun dalam pada itu, kaki Witantra pun menjadi

betapa sakitnya. Nafasnya telah menjadi semakin sesak dan

tenaganya pun telah semakin susut.

Darah di bibir Mahisa Agni ternyata telah membuatnya semakin

garang. Sakit di pundaknya sama sekali tidak mengganggu

geraknya, dan bahkan mual di perutnya pun lambat laun telah

hilang.

Namun pada saat yang demikian, agaknya Witantra telah tidak

melihat kemungkinan untuk memenangkan perkelahian itu. Karena

itu, maka ia akan segera mengambil jalan yang paling cepat.

Dengan suatu loncatan panjang ia mengambil jarak dari lawannya.

Kemudian diheningkannya hatinya, dipusatkannya segenap

kemampuan lahir dan batinnya. Dalam sekejap ia telah mampu

membangunkan puncak dari kekuatan ilmunya, aji pamungkasnya.

Mahisa Agni terkejut melihat sikap itu. Ia tidak menyangka

bahwa perang tanding ini benar-benar perang tanding antara hidup

dan mati. Sudah barang tentu bahwa ia tidak akan membiarkan

dirinya hancur lumat dihantam oleh kekuatan yang tiada taranya.

Karena itu, maka ia pun segera mempersiapkan dirinya dalam

kemampuannya yang tertinggi. Gundala Sasra.

“Terpaksa aku membentur Bajra Pati itu,” desisnya, “kalau tidak,

maka aku tidak akan keluar dari arena ini.”

Keduanya tidak memerlukan waktu yang lama. Puncak ilmu

mereka seakan-akan telah siap untuk muncul ke permukaan setiap

saat. Dan kali ini pun puncak ilmu dari kedua perguruan itu pun

telah siap.

Ken Arok yang menyaksikan keduanya itu pun menahan

nafasnya. Ia tidak dapat membayangkan, apakah yang akan terjadi

apabila keduanya nanti berbenturan. Bahkan ketika keduanya siap

untuk meloncat dan melepaskan ilmu puncak masing-masing, Ken

Arok menjadi gemetar, dan darahnya pun serasa berhenti mengalir.

Demikian juga para pemimpin, para manggala, pandega dan

senapati-senapati yang mampu menangkap getaran di wajah kedua

orang yang berada di arena itu.

Kecuali mereka, Panji Bojong Santi dan Mahendra pun menjadi

berdebar-debar. Orang tua yang kekurus-kurusan itu meraba

dadanya dengan telapak tangannya. Perlahan-lahan ia bergumam,

“Tidak ada kekuatan yang dapat mencegah lagi.”

Mahendra pun menjadi tegang. Dan bibirnya terkatup rapatrapat.

Sekejap kemudian, hampir setiap orang yang berada di seputar

arena di alun-alun Tumapel itu memejamkan mata mereka. Mereka

tidak sampai hati melihat betapa dahsyatnya benturan yang terjadi

di antara keduanya. Keduanya adalah anak-anak terbaik dari bumi

Tumapel. Keduanya adalah kekuatan yang dahsyat dari tanah ini.

Akibat dari benturan itu memang dahsyat sekali. Keduanya

terlempar beberapa langkah surut. Mahisa Agni merasa, seakanakan

dadanya menjadi retak, dan matanya berkunang-kunang.

Tulang-tulangnya seakan-akan terlepas dari persendiannya. Namun

ia masih tetap sadar. Dengan susah payah ia menempatkan dirinya,

pada keadaan yang sebaik-baiknya ketika ia terbanting jatuh. Ia

masih sempat berusaha mengangkat kepalanya sehingga tidak

terbentur lantai arena sambil menekuk lututnya dan merentangkan

tangannya. Namun kemudian ia menjadi lemah, dan seakan-akan

terkulai tidak berdaya.

Dengan sekuat sisa tenaganya. Mahisa Agni masih mencoba

untuk mengatur jalan pernafasannya. Ia masih tetap dalam

pemusatan segenap kekuatan lahir dan batinnya. Sehingga lambat

laun, betapapun lambatnya ia berhasil menguasai keadaan dirinya.

Darahnya menjadi semakin lancar, dan tulang-tulangnya pun

seakan-akan telah saling berhubungan kembali. Namun terasa

betapa badannya seakan-akan terhimpit oleh gunung Kawi. Ketika

terasa sesuatu di pipinya, maka Mahisa Agni sadar, bahwa darah

telah meleleh dari mulutnya.

“Dadaku terluka di dalam,” desisnya.

Namun tiba-tiba terbayang kembali bahwa di arena itu masih ada

Witantra. Lawannya yang baru saja membenturkan kekuatan

puncaknya melawan Gundala Sasra. Karena itu, maka

dikerahkannya kemampuannya, dan perlahan-lahan ia mengangkat

kepalanya. Ia tidak mau telentang saja untuk menerima nasibnya,

sampai Witantra datang menginjak lehernya.

Tetapi ketika dengan susah payah ia bangkit dan bersandar pada

kedua tangannya, sementara kedua kakinya masih tetap menjelujur,

ia melihat Witantra masih terbaring diam.

“Oh, agaknya ia pun terluka parah seperti aku,” desis Mahisa

Agni di dalam hatinya, “namun agaknya keadaanku masih agak lebih

baik.”

Maka segera diingatnya apa yang baru saja terjadi. Perang

tanding yang dahsyat. Namun di dalam perang tanding itu Mahisa

Agni menyadari, bahwa tingkat ilmunya masih lebih tinggi setataran

dari lawannya. Dan kini, dalam penerapan ilmu puncaknya pun

ternyata, bahwa Mahisa Agni lebih kuat dari Witantra. Perlahanlahan

Mahisa Agni berusaha bangkit. Terhuyung-huyung ia berdiri.

Ketika ia berusaha menarik nafas dalam-dalam, terasa dadanya

menjadi pedih. Namun karena itu, justru ia mengulanginya

beberapa kali, sehingga terasa tubuhnya agak menjadi lebih segar,

meskipun dadanya serasa masih pepat.

Tertatih-tatih Mahisa Agni melangkah maju. Sejenak kemudian

langkahnya tertegun. Ia masih melihat Witantra terbaring diam.

Namun tiba-tiba dahinya berkerut. Perlahan-lahan Witantra

membuka matanya. Seperti dirinya sendiri, dari mulut Witantra pun

telah meleleh darah. Agaknya ia pun terluka di dalam dadanya.

Dengan susah payah Witantra mencoba menarik nafas dalamdalam.

Sekali, dua kali. Dan ia pun menyeringai menahan sakit,

betapa dadanya serasa terbelah.

Samar-samar ia melihat Mahisa Agni berdiri beberapa langkah

daripadanya. Sekilas terbayang di kepalanya, apa yang baru saja

terjadi. Namun kemudian terbayang tubuh yang tegak berdiri itu

maju mendekatinya dan tanpa kesulitan apapun mencekiknya

sampai mati, karena ia masih belum mampu berbuat apapun juga.

Dan ternyata Witantra memang melihat Mahisa Agni itu setapak

maju. Setapak lagi. Sedang pandangan mata Witantra masih juga

agak kabur.

Tidak ada kemungkinan lain bagi Witantra daripada pasrah diri

kepada nasibnya. Kepada kekuasaan Yang Maha Agung. Ia sama

sekali bukan seseorang yang mudah jatuh ke dalam keputusasaan.

Seperti saat itu ia pun sama sekali tidak berputus asa. Tetapi adalah

suatu kenyataan yang tidak dapat diingkarinya, bahwa tubuhnya

sama sekali tidak dapat digerakkannya untuk melawan. Tangannya

serasa telah terlepas dari tubuhnya dan dadanya serasa telah

pecah.

Ketika ia memaksa diri menggerakkan kakinya, maka betapa sakit

tulang-tulang belakangnya sampai meraba ubun-ubun. Karena itu ia

hanya dapat menyeringai, kemudian membiarkan apa saja yang

akan dilakukan oleh Mahisa Agni atasnya.

Tetapi Mahisa Agni yang melangkah tertatih-tatih mendekatinya

itu tertegun dan berhenti beberapa langkah daripadanya. Ia melihat

bahwa Witantra seakan-akan sama sekali tidak bergerak. Pimpinan

tertinggi pasukan pengawal itu terbaring di lantai arena tanpa

berdaya sama sekali menolak apa saja yang akan terjadi atasnya,

sebagai akibat dari usahanya untuk mempertahankan keyakinannya.

Witantra yang masih terbaring itu semakin lama menjadi semakin

sadar akan keadaan di sekelilingnya. Dan ia menjadi heran kenapa

Mahisa Agni masih saja berdiri mematung. Kenapa anak muda itu

tidak segera menyelesaikan tugasnya, membunuhnya sama sekali.

Dalam keragu-raguan menghadapi lawannya itu. Witantra masih

juga berusaha untuk mengatur pernafasannya. Satu-satu ia

mencoba menyegarkan dadanya yang seolah-olah telah pecah.

Sementara itu di luar arena, Ken Arok mengerutkan keningnya.

Wajahnya semakin lama menjadi semakin tegang. Kenapa Mahisa

Agni tidak segera menyelesaikan lawannya yang sudah tidak

berdaya? Betapa lemahnya Mahisa Agni saat itu, namun ia masih

mampu berjalan maju. Mendekap leher Witantra sampai ia tidak

dapat menarik nafas lagi. Bahkan tanpa mengeluarkan tenaga sama

sekali ia akan dapat melakukannya. Dengan mendekap hidung

Witantra, maka lambat laun Witantra akan terputus juga nafasnya.

Tetapi kenapa Mahisa Agni masih tegak di tempatnya?

Beberapa orang yang lain pun menjadi heran. Perang tanding itu

adalah perang tanding sampai mati. Apakah Mahisa Agni

menganggap bahwa Witantra sudah tidak akan dapat melawannya

lagi dan tidak akan membunuhnya? Tetapi apabila demikian, hal itu

akan sangat berbahaya bagi Mahisa Agni sendiri. Witantra pada

dasarnya adalah seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Kalau ia

masih hidup, maka ia tidak akan dapat melupakan kekalahannya. Ia

hanya memerlukan waktu yang singkat untuk menyempurnakan

ilmunya. Dan setelah itu, maka perang tanding ini pasti akan

berulang. Dan Mahisa Agni tidak akan sepasti ini menyelesaikan

pekerjaannya.

Dada setiap orang menjadi semakin berdebar-debar ketika

mereka melihat Mahisa Agni melangkah maju. Namun dada itu

berguncang ketika mereka melihat Mahisa Agni kemudian justru

berjongkok di samping Witantra.

“Witantra,” desis Mahisa Agni, “marilah kita anggap persoalan

kita sudah selesai.”

Witantra membelalakkan matanya. Namun ketika ia mencoba

untuk bangkit, terasa bahwa tenaganya seolah-olah benar-benar

sudah lenyap sama sekali.

“Belum,” desisnya kemudian, “kau baru selesai apabila aku sudah

mati. Dan sekarang kau mempunyai kesempatan untuk membunuh

aku.”

Mahisa Agni merenungi wajah Witantra yang pucat itu sejenak.

Tiba-tiba ia menggelengkan kepalanya, “Tidak Witantra. Aku tidak

dapat membunuhmu.”

“Gila kau Agni. Itu suatu penghinaan yang tiada taranya bagi

seorang prajurit di dalam arena perang tanding. Tidak. Kau harus

membunuh aku.”

Sekali lagi Mahisa Agni menggelengkan kepadanya, “Itu tidak

perlu Witantra.”

“Kau gila. Apa memang kau ingin menghinakan aku? Setelah kau

pamerkan kemenanganmu di hadapan rakyat Tumapel, kemudian

kau pamerkan keluhuran budimu sekedar untuk menghina aku? Itu

bukan suatu perbuatan yang terpuji Mahisa Agni.”

“Apapun yang akan kau katakan tentang diriku Witantra, tetapi

aku sama sekali tidak mendapat dorongan untuk membunuhmu.

Bahkan sekarang aku tidak tahu lagi arti dari perang tanding ini

yang sebenarnya.”

“Kenapa?” bertanya Witantra dengan nafas terengah-engah.

“bukankah kita masing-masing sedang mempertahankan keyakinan

kita?”

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku

sekarang menjadi ragu-ragu. Apakah kebenaran dapat

dipertahankan dengan cara ini? Sebagaimana keadaan yang

sebenarnya telah terjadi, tidak akan berubah, siapa pun sama sekali

tidak akan dapat mengubah keyakinan di dalam dirimu dan di dalam

diriku. Ternyata kita telah berbuat suatu kebodohan.”

“Apa maksudmu?”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Perlahan-lahan ia menarik

nafas dalam sekali. Kemudian desahnya, “Aku tidak tahu, apakah

hasil dari perkelahian ini. Aku tidak tahu dan justru aku tidak

meyakininya. Yang dapat kita lakukan adalah suatu keputusan yang

diakui oleh rakyat Tumapel selain suatu kebenaran. Dalam hal ini

pembunuhan atas Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi bukan

kebenaran itu sendiri.”

“Bukankah memang itu maksudmu? Agar seluruh rakyat Tumapel

mengutuk Kebo Ijo sebagai seorang pembunuh? Pembunuh Akuwu

Tunggul Ametung dan pembunuh pamanmu Empu Gandring?”

Mahisa Agni termenung sejenak. Kemudian perlahan-lahan

kepalanya terangguk lemah.

Witantra pun terdiam pula untuk sejenak. Dicobanya

memperbaiki letak tubuhnya. Namun terasa betapa tulangtulangnya

seakan-akan berpatahan.

Tanpa disangka-sangkanya Mahisa Agni bergeser maju dan

membantunya menggerakkan kakinya.

“Terima kasih,” desis Witantra.

Sementara itu orang-orang yang berdiri di sekitar arena itu,

seakan-akan membeku di tempatnya. Mereka tidak tahu, apakah

yang sebenarnya telah terjadi di arena. Mereka tidak mendengar

apa yang dipercakapkan Mahisa Agni dan Witantra. Namun mereka

dapat membaca di wajah Mahisa Agni, bahwa gairahnya untuk

membunuh lawannya tiba-tiba telah padam.

“Mahisa Agni,” desis Witantra kemudian, “kau harus membunuh

aku. Tidak ada gunanya lagi aku hidup. Karena aku pasti sudah

tidak berharga lagi di mata rakyat Tumapel. Kau harus tahu, bahwa

seseorang yang kalah di arena, tetapi ia turun dari arena ini dalam

keadaan hidup, maka ia adalah orang yang paling hina. Jauh lebih

hina dari kaum paria.”

“Tidak Witantra,” jawab Mahisa Agni, “kau memiliki ilmu dan

kemampuan. Kau dapat mencari cara yang baik bagimu untuk

memanfaatkan ilmumu.”

“Kau harus membunuh aku supaya kemenanganmu sempurna.

Kalau aku tidak mati Agni, aku pasti masih akan memperjuangkan

keyakinanku.”

“Itu hakmu Witantra.”

“Tetapi kau harus membunuh aku. Harus.”

Mahisa Agni menggeleng, “Tidak.”

“Agni kalau kau tidak membunuhku, akulah yang pada suatu saat

akan membunuhmu.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Tetapi ia kemudian

menjawab, “Seandainya memang terjadi demikian, aku tidak akan

kecewa.”

“Persetan!” Witantra tiba-tiba menggeram, “Ayo bunuh aku!”

Mahisa Agni tidak menyahut.

“Cepat, sebelum rakyat Tumapel bersorak menghinaku.”

Mahisa Agni masih tetap membeku.

“Agni, apakah kau pengecut yang tidak berani melihat mayat

terbujur di bawah kakimu?”

Tetapi Mahisa Agni masih tetap diam.

“Agni, Agni.”

Suara Witantra itu telah menghentak-hentak dada Mahisa Agni,

sehingga ia tidak tahan lagi. Selangkah ia bergeser mundur. Namun

Witantra justru berteriak sambil menyeringai, “Cepat Agni, cepat.”

Suara itu serasa bergulung-gulung di dalam dada Mahisa Agni.

Sejenak ia menjadi bingung, bahkan dicobanya untuk menyumbat

telinganya dengan telapak tangannya. Tetapi suara itu seakan-akan

bergema memenuhi rongga telinganya.

“Tidak, tidak,” tiba-tiba Mahisa Agni berteriak untuk mengatasi

suara Witantra yang serasa semakin menderu di telinganya.

Tetapi suara Witantra itu sama sekali tidak terdesak karenanya,

bahkan semakin keras, “Bunuh aku, bunuh aku.”

“Tidak! Tidak!” Mahisa Agni berteriak semakin keras. Tetapi suara

itu masih saja, tetap didengarnya.

Karena itu, maka Mahisa Agni akhirnya tidak tahan lagi berada di

samping Witantra yang pucat seperti kapas, yang terbaring

menenggang nafas. Maka tanpa diduga oleh siapa pun juga. Mahisa

Agni itu pun segera meloncat berdiri dan berlari menjauh. Tidak saja

sampai ke sudut arena, namun kemudian ia pun meloncat turun dan

berlari menyusup di antara para penonton yang berdiri dengan

mulut ternganga.

Para pemimpin yang enam, Ken Arok, para senapati dan para

pemimpin prajurit yang lain pun terheran-heran karenanya. Mereka

seolah-olah terpukau sehingga mereka sama sekali membeku untuk

sesaat. Bahkan Witantra sendiri menjadi heran. Heran sekali.

Baru sejenak kemudian alun-alun itu menjadi gempar. Setiap

orang bergeramang tanpa ujung dan pangkal. Bahkan salah seorang

pemimpin yang enam itu berteriak, “He. ke mana Mahisa Agni itu?”

Tidak seorang pun yang menjawab, karena memang tidak

seorang pun yang tahu.

Namun dalam pada itu. Ken Arok mempunyai pikiran yang lain.

Ia menyadari bahwa Mahisa Agni tidak dapat membunuh Witantra.

Dan bahwa Witantra masih tetap hidup itu akan sangat berbahaya

baginya.

Karena itu, maka ia memutar otaknya untuk dapat berbuat

sesuatu.

Sementara itu, beberapa orang tanpa mereka sengaja telah

menebar. Seolah-olah ada suatu keharusan pada mereka untuk

menemukan Mahisa Agni. Karena itu, maka beberapa orang justru

bertanya-tanya, “Di mana Mahisa Agni?”

“Seharusnya ia memenangkan perang tanding itu,” sahut yang

lain.

“Itu sudah pasti, tetapi kenapa ia meninggalkan arena dan justru

lari terbirit-birit,” bertanya yang lain lagi.

Tidak seorang pun dapat menjawab. Semuanya hanya mampu

melontarkan bermacam-macam pertanyaan yang tidak akan

terjawab.

Sementara itu Ken Arok merayap semakin dekat dengan arena.

Di dalam dadanya berkecamuk berbagai macam persoalan. Kadangkadang

ia menjadi ragu-ragu, namun kadang-kadang ia menjadi

begitu bernafsu.

“Anak itu harus mati!” geramnya, “Bagaimanapun juga caranya.

Aku dapat berpura-pura menolongnya atau berbuat apapun atas

Witantra, sementara itu aku dapat mencekiknya. Ia sudah terlampau

lemah dan tidak mungkin akan dapat melawan atau bahkan

mengeluh sekalipun.”

Dengan demikian, maka Ken Arok sama sekali tidak

menghiraukan lagi ke mana Mahisa Agni akan pergi. Yang terpatri di

dalam kepalanya adalah meremas leher Witantra sampai mati.

Ken Arok mengharap, selagi orang-orang di sekitar arena itu

sibuk dengan Mahisa Agni, maka kesempatan itulah yang akan

dipergunakannya. Tidak akan ada orang yang memperhatikan apa

yang akan dilakukannya. Mereka akan terkejut dan mungkin heran,

apabila, mereka melihat Witantra itu mati. Namun mereka pasti

akan menyangka, bahwa hal itu terjadi karena luka yang parah di

dalam dadanya.

Demikianlah, maka Ken Arok telah mengambil suatu keputusan.

Ialah yang akan menyelesaikan pekerjaan Mahisa Agni. Membunuh

Witantra yang masih terbaring di arena.

Ketika orang-orang di sekitar arena itu masih belum tenang, Ken

Arok telah berdiri di sisi arena itu, Dengan dada yang berdebardebar

ia semakin mendekat, dan dengan sebuah loncatan ia telah

berada di atas arena, tanpa seorang pun yang memedulikannya.

Bahkan pemimpin Tumapel yang enam pun agaknya masih

terlampau sibuk bertanya kepada para pengawal, ke mana Mahisa

Agni pergi. Dan seandainya ada orang yang memperhatikannya pun,

ia dapat mengatakan bahwa sebenarnya ia ingin menolong Witantra

yang begitu saja ditinggal terbaring di arena.

Sekilas Ken Arok menebarkan pandangannya. Agak tergesa-gesa.

Apalagi orang-orang di sekitar arena itu bergerak-gerak seperti

gabah di penampian.

Namun ketika ia selangkah maju mendekati Witantra, tiba-tiba

hatinya berdesir. Nafasnya serasa berhenti mengalir dan

menyumbat tenggorokannya, sehingga dadanya menjadi pepat.

Perlahan-lahan ia mendengar seseorang bertanya. “Apakah

Witantra dapat ditolong, Ngger?”

Ketika Ken Arok berpaling, dilihatnya seorang tua yang kekuruskurusan.

Panji Bojong Santi. Sedang di sampingnya berdiri adik

seperguruan Witantra, Mahendra.

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Tetapi hatinya

mengumpat-umpat tidak habis-habisnya, di hadapan orang itu ia

tidak akan dapat berbuat apa-apa. Sedang ia tahu bahwa orang itu

adalah guru Witantra, seorang yang pilih tanding.

“Bagaimana, Ngger?” bertanya orang tua itu pula.

Ken Arok tergagap. Namun ia kemudian menjawab, “Aku sedang

mencobanya Kiai. Mudah-mudahan tidak ada peraturan yang

melarang untuk menolongnya.”

“Bukankah Angger juga seorang prajurit?”

“Ya, tetapi aku kurang memperhatikannya. Hal serupa ini

terlampau jarang terjadi. Apalagi selagi masih ada Akuwu. Selama

aku berada di istana, hal serupa ini baru untuk pertama kalinya

terjadi.”

“Baiklah. Kalau begitu biarlah kami yang menolongnya. Biarlah

Witantra kami bawa pulang ke padepokan kami.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Jika demikian maka usahanya

untuk membunuh orang itu menjadi terlampau sulit. Karena itu

maka ia pun berkata, “Tetapi jangan sekarang. Biarlah ia berada di

arena lebih dahulu. Kalau tidak ada suatu keputusan apapun dari

pemimpin yang enam, biarlah aku akan mengambilnya dan

menyerahkannya kepada Kiai.”

“Tetapi ia akan mati Ngger, apabila tidak segera mendapat

pertolongan.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Desisnya, “Aku akan mencoba

menolongnya di atas arena. Karena aku seorang prajurit, maka aku

akan lebih leluasa untuk berbuat sesuatu di sini. Sebaiknya Kiai dan

Mahendra jangan berada di dekat arena ini supaya tidak

menumbuhkan kecurigaan.”

Panji Bojong Santi mengerutkan keningnya yang sudah keputihputihan.

Namun bisiknya, “Keadaan Witantra sudah terlampau

gawat. Aku akan mengambilnya sekarang, apapun yang akan

terjadi. Aku minta Angger membantu aku. Tetapi aku tidak akan

mencurinya. Aku akan menemui pemimpin yang enam itu, dan

memintanya dengan berterus terang.”

Dada Ken Arok menjadi berdebar-debar. Tetapi sebelum ia dapat

menjawab, Mahendra telah bergeser dari tempatnya sambil berkata,

“Akulah yang akan menghadap pemimpin yang enam itu.”

Ken Arok tidak dapat mencegahnya. Karena itu dengan dada

berdebar-debar ia memandangi langkah Mahendra yang pergi

menghadap ke panggung yang khusus bagi pemimpin yang enam.

Mahendra menganggukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan

mereka sebagai tata kesopanan apabila ia menghadap para

pemimpin, yang apalagi belum semua dikenalnya.

“Siapa kau anak muda?” bertanya salah seorang dari keenam

pemimpin itu.

“Aku adalah Mahendra, saudara seperguruan Kakang Witantra

yang sekarang terbaring di arena.”

“Oh, maksudmu?” keenam pemimpin itu menjadi berdebar-debar.

Mereka menyangka, bahwa anak muda yang bernama Mahendra ini

akan menuntut kekalahan saudara seperguruannya, dengan

membuka kemungkinan untuk mengadakan perang tanding yang

baru. Apabila demikian, maka keadaan akan berlarut-larut tidak ada

putus-putusnya.

Tetapi Mahendra berkata. “Aku datang bersama guruku. Aku

ingin memohon agar Kakang Witantra yang meskipun telah

terkalahkan, tetapi masih hidup itu, untuk kami bawa ke

padepokan.”

Keenam pemimpin itu terdiam sesaat. Mereka pun tahu benar,

akibat dari kekalahan Witantra itu baginya. Selagi ia masih hidup,

maka persoalannya tidak akan terhenti sampai sekian.

Tetapi keenam pemimpin itu tidak dapat membuat perintah

untuk membunuh Witantra. itu adalah hak Mahisa Agni. Dan tibatiba

saja Mahisa Agni telah lari meninggalkan arena, justru setelah

ia memenangkan perang tanding itu. Sehingga tidak seorang pun

yang tahu, apakah sebabnya, maka ia berbuat demikian.

Karena mereka tidak segera menjawab, maka Mahendra pun

mendesaknya, “Apakah ada keharusan, bahwa Kakang Witantra

harus mati? Sehingga apabila ia masih hidup, maka ia harus

dibunuh?”

Hampir bersamaan keenam pemimpin itu menggeleng.

“Tidak,” sahut salah seorang dari mereka.

Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Tumbuhlah harapan di

dalam hatinya untuk dapat membawa kakak seperguruannya itu

kembali ke padepokan. Kemudian apabila ia telah sadar benar,

menunggu perintahnya, apakah yang sebaiknya dilakukan.

Meskipun Witantra naik ke arena sebagai seorang lelaki, namun

kekalahannya telah membuat hati Mahendra terbakar juga.

“Jadi,” katanya kemudian, “dengan demikian aku membawanya

keluar dari arena?”

Keenam pemimpin itu masih saja ragu-ragu. Mahendra berdiri

saja menunggu keputusan mereka tanpa bergeser dari tempatnya.

“Biarlah Witantra dibawa oleh saudara seperguruannya itu,” desis

salah seorang dari mereka, “bagaimanakah pendapat kalian tentang

hal ini?”

“Baiklah, aku tidak berkeberatan,” sahut yang lain. Akhirnya

karena pemimpin itu bersepakat untuk memberikan Witantra yang

masih hidup itu kepada saudara seperguruannya.

“Bawalah. Mudah-mudahan ia segera sembuh.”

“Terima kasih,” jawab Mahendra sambil menganggukkan

kepalanya dalam-dalam.

Mahendra pun segera meninggalkan panggung khusus itu

kembali ke arena. Dikatakannya kepada gurunya, bahwa keenam

pemimpin itu telah memberinya izin untuk membawa Witantra

pulang.

“Kau harus berterima kasih kepada mereka,” berkata gurunya.

“Aku sudah mengucapkannya. Aku sangat berterima kasih.”

Panji Bojong Santi menarik nafas dalam-dalam. Kemudian

katanya kepada Ken Arok, “Sudahlah, Ngger. Biarlah kami

mengambil Witantra. Aku akan berusaha untuk mengobatinya.”

Dada Ken Arok menjadi berdebar-debar. Ia melihat nafas

Witantra menjadi semakin teratur, meskipun masih tampak betapa

lemah tenaganya. Namun ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya

dapat menganggukkan kepalanya sambil, berkata, “Silakan.

Silakan.”

Mahendra pun segera meloncat naik ke panggung bekas arena

perang tanding itu. Kemudian didekatinya kakak seperguruannya

dan berjongkok di sampingnya.

“Kakang,” desisnya.

Witantra yang sudah tidak berpengharapan itu membuka

matanya. Dilihatnya Mahendra, dan beberapa langkah di

belakangnya, Ken Arok berdiri kaku.

“Tinggalkan aku,” desisnya perlahan-lahan, “umurku sudah aku

ikhlaskan.”

“Guru ada di sini Kakang.”

“He?” wajah Witantra memancar sesaat, namun kemudian

menjadi suram kembali, “di mana Guru sekarang?”

“Di bawah, di samping arena ini.”

“Aku mohon maaf, bahwa aku telah menodai nama perguruanku.

Aku telah berani naik ke arena perang tanding, namun aku tidak

dapat mengatasi Gundala Sasra yang hampir sempurna itu.”

“Guru memerintahkan aku untuk membawamu ke padepokan

Kakang.”

“Aku kira akan lebih baik bagiku, apabila aku mati di arena

perang tanding ini daripada di padepokan.”

“Tetapi itu perintah Guru, Kakang.”

Witantra terdiam sejenak. Ia tidak dapat melawan perintah

gurunya, sehingga karena itu, maka katanya, “Terserahlah, apabila

Guru benar-benar memerintahkannya.”

“Marilah, aku bantu Kakang berjalan dan turun dari arena ini.”

Witantra tidak menjawab lagi. Dibiarkannya Mahendra

melingkarkan tangannya di bawah lehernya, kemudian perlahanlahan

mengangkatnya bangkit.

Alangkah sakitnya punggung Witantra. Seandainya tidak memiliki

ketahanan tubuh yang luar biasa, maka tentu tidak akan kuat lagi

menanggung sakit yang demikian. Bahkan ketika ia sudah terduduk

dilayani oleh adik seperguruannya. tiba-tiba mulutnya mengalir

darah yang kehitam-hitaman.

“Oh,” Mahendra terkejut. Tanpa disadarinya ia berpaling mencari

gurunya.

Panji Bojong Santi yang melihatnya, menjadi cemas juga,

sehingga ia pun kemudian meloncat naik ke arena. Demikian

tergesa-gesa ia mendekati muridnya yang ternyata terluka cukup

parah di dadanya.

Ketika Witantra melihat gurunya, maka dipaksanya mulutnya

berkata, “Maafkan aku, Guru. Aku tidak dapat berlahan, sehingga

dengan demikian aku telah menodai nama perguruan.”

“Jangan salahkan diri sendiri, Witantra,” jawab gurunya.

“Akhir yang paling baik bagiku sekarang adalah kematian.”

“Jangan putus asa. Kau akan membuat kesalahan baru lagi.”

gurunya berhenti sejenak, lalu. “kalau kau mencari kesalahan, maka

semua pihak bersalah. Aku pun bersalah, karena aku tidak dapat

membuatmu tanpa tanding.”

Sekali lagi ia berhenti, kemudian setelah menarik nafas dalamdalam

ia berkata, “Karena itu, kau harus tetap hidup, supaya kau

sempat berbuat sesuatu.”

“Namaku sudah dihinakan di arena ini. Aku akan tersingkir dari

pergaulan. Apalagi di kalangan keprajuritan.”

“Tetapi itu tidak berarti bahwa semua kemampuan yang telah

ada padamu itu pun ikut tersingkir. Kau masih dapat

mempergunakannya untuk kepentingan yang lain.”

Witantra tidak menyahut, tetapi ia justru menyeringai menahan

sakit di dadanya.

“Aku tidak dapat berbuat sesuatu dalam perang tanding ini,”

gumam gurunya, “karena kau adalah laki-laki. Dan kau telah

berbuat sebagai seorang laki-laki.”

“Tetapi yang sempurna, perang tanding ini diakhiri dengan

kematian.”

Gurunya menggelengkan kepalanya, “Tidak perlu. Dan kau harus

berani menghadapi hari depanmu yang suram itu sebagai seorang

lelaki pula. Kau tidak dapat lari. Kalau kau terbunuh, terbunuhlah.

Tetapi selagi kau masih hidup, kau harus berani menghayatinya.”

Witantra yang terluka parah itu terdiam. Ia tidak dapat berbantah

dengan gurunya. Bagaimanapun juga gejolak perasaannya, ia harus

keluar dari arena itu.

“Sebenarnya aku ingin mati di arena ini,” katanya di dalam hati,

“tetapi guru menghendaki lain.”

Witantra pun kemudian dengan dibantu oleh Mahendra mencoba

untuk berdiri. Betapa sakit seluruh tubuhnya, namun Witantra telah

memaksa dirinya. Perlahan-lahan mereka pun kemudian menepi dan

dengan susah payah Witantra telah ditolong turun oleh guru dan

saudara seperguruannya.

Ken Arok masih saja berdiri di dekat mereka. Ketika Witantra

kemudian duduk bersandar tiang-tiang arena ia pun mendekat.

“Mudah-mudahan kau akan segera sembuh, Witantra,” desisnya.

Namun di telinga Witantra ucapan itu tidak lebih dari suatu ejekan

yang pahit. Namun Witantra mengangguk sambil menyeringai

menahan sakit.

“Angger Ken Arok,” berkata Panji Bojong Santi, “Aku akan segera

minta diri. Aku sangat berterima kasih kepadamu Ngger, bahwa aku

sempat membawa Witantra kembali ke padepokan.”

“Oh, bukankah aku tidak berbuat apa-apa?” sahut Ken Arok.

Panji Bojong Santi tersenyum, katanya kemudian, “Dan terima

kasihku kepada pimpinan Tumapel. Kepada siapa saja.”

Ken Arok pun mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Namun ia

masih saja mengumpat-umpat di dalam hatinya. Kali ini ia gagal

membunuh Witantra, dengan tangan Mahisa Agni maupun dengan

tangannya sendiri. Dan ia sadar, bahwa hal ini pasti akan menjadi

masalah di hari kemudian.

Dengan dada berdebar-debar Ken Arok kemudian menyaksikan

Panji Bojong Santi memberikan sebutir reramuan obat kepada

Witantra. Agaknya obat itu cukup tajam. Sejenak kemudian tampak

Witantra sudah menjadi agak segar. Meskipun demikian, ketika

Mahendra membantunya berdiri, wajahnya masih saja

membayangkan penderitaan yang luar biasa di dadanya.

“Gundala Sasra yang sempurna,” desis Ken Arok di dalam

hatinya.

Dengan dada berdebar-debar Ken Arok menyaksikan Witantra

dibantu oleh Mahendra berjalan di antara penonton yang tinggal

beberapa orang. Namun mereka tanpa sadar telah mengerumuni

Witantra dan bahkan ada yang berjalan mengikutinya beberapa

langkah.

Dengan demikian maka Witantra sama sekali tidak berani

mengangkat wajahnya. Ia merasa, seolah-olah orang-orang itu

mengikutinya sambil mencibirkan bibir mereka, menyorakinya,

“Pengecut. Pengecut.”

Namun sejenak kemudian mereka telah sampai ke pinggir alunalun.

Panji Bojong Santi dan Mahendra ternyata hanya membawa

dua ekor kuda. Karena itu maka Witantra pun kemudian berdua

bersama-sama dengan Mahendra, perlahan-lahan meninggalkan

alun-alun diantar oleh tatapan mata orang-orang Tumapel yang

masih berada di alun-alun dengan berbagai macam kesan yang

tidak terbaca.

Dengan berakhirnya perang tanding itu, maka para pemimpin

Tumapel menganggap bahwa persoalan Kebo Ijo telah selesai.

Tidak ada lagi persoalan dalam masalah pembunuhan yang terjadi

di istana. Kebo Ijo telah dinyatakan bersalah, membunuh Akuwu

Tunggul Ametung dan bahkan telah lebih dahulu membunuh Empu

Gandring. Selain bukti yang ditemukan, maka pembelaan Witantra

di arena perang tanding pun telah gagal pula.

Dan kegagalan Witantra di arena telah melemparkan Witantra

sekaligus dari istana. Ia tidak pernah lagi tampak di antara para

pemimpin dan para prajurit. Hal itu telah diduga sejak semula oleh

para pemimpin yang enam, sehingga dengan demikian maka

kedudukan Witantra pun menjadi kosong karenanya.

Kekosongan kedudukan Witantra itu pun telah menjadi masalah

pula bagi para pemimpin yang enam. Mereka harus segera

menemukan seorang yang kuat untuk menjadi seorang pemimpin

pasukan pengawal. Pasukan yang akan bertanggung jawab

terutama atas pengawalan istana seisinya.

Untuk menemukan orang yang mampu menggantikan Witantra

bukanlah pekerjaan yang mudah. Setiap perwira harus mendapat

penilaian yang tepat. Sejak Akuwu masih hidup, maka siapakah

yang mendapat kepercayaan daripadanya, mendapat perhatian

sebaik-baiknya pula.

Namun yang telah melonjak di dalam perhatian keenam

pemimpin itu adalah Mahisa Agni. Meskipun ia bukan seorang

perwira prajurit yang manapun, namun ia ternyata memiliki

kemampuan yang luar biasa. Lebih daripada itu semua, ia adalah

kakak dari Tuan Putri Ken Dedes yang kini telah menjadi janda.

“Pengangkatan Mahisa Agni akan menimbulkan persoalan baru di

kalangan para prajurit,” berkata salah seorang dari keenam

pemimpin itu.

Yang lain mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka

menyadari, bahwa hal itu akan sulit dimengerti oleh para perwira.

Mereka mengharap bahwa salah seorang dari merekalah yang akan

menduduki kekosongan itu. Mereka yang sudah cukup lama

mengabdikan dirinya, atau mereka telah nyata memberikan jasajasanya

kepada Tumapel.

“Sebaliknya kita memikirkan calon yang lain, meskipun

kemungkinan untuk memanggil Mahisa Agni masih ada,” berkata

pemimpin yang lain.

“Aku sangsi, apakah Mahisa Agni bersedia menerima jabatan itu.

Sejak semula ia telah menolak untuk berada di dalam istana. Sejak

adiknya diambil oleh akuwu. Pada saat itu Akuwu Tunggul Ametung

telah menawarkan kedudukan kepadanya,” berkata yang lain lagi.

Sekali lagi para pemimpin itu mengangguk-anggukkan kepala

mereka. Dan sekali lagi salah seorang dari mereka berkata, “Kita

mencari seorang lagi dari antara para perwira.”

Keenam pemimpin itu mengangguk-angguk dan menganggukangguk.

Mereka sedang merenungkan beberapa orang yang

mungkin dapat diangkat untuk menjadi seorang pemimpin pasukan

pengawal.

Tetapi untuk mendapatkan seorang prajurit yang memenuhi

syarat-syarat untuk mengisi jabatan yang ditinggalkan oleh Witantra

memerlukan pertimbangan yang semasak-masaknya. Karena itu,

maka belum seorang pun yang dapat menyebutkan sebuah nama

untuk pencalonan itu.

“Kita kumpulkan beberapa nama,” berkata salah seorang

pemimpin itu, “mungkin setiap orang dari antara kita mempunyai

nama yang dapat dibicarakan. Kemudian kita pertimbangkan

bersama-sama. Mungkin kita akan mendapatkan sebuah nama yang

paling baik dari antara nama-nama itu. Nama itulah yang akan kita

jajarkan dengan nama Mahisa Agni.”

Para pemimpin yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya.

Tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata, “Bagaimanakah

seandainya keputusan kita itu ditolak oleh Permaisuri.”

“Oh,” kawan-kawannya seolah-olah baru tersadar dari sebuah

mimpi. Mereka hampir lupa mempertimbangkan kemungkinan itu,

karena kedudukan Ken Dedes bukanlah sekedar seorang bekas

permaisuri. Seorang janda dari Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi

Tunggul Ametung sebagai seorang akuwu pernah mengucapkannya

sendiri, bahwa semua miliknya, bahkan nyawanya, telah

diserahkannya kepada Ken Dedes. Kekuasaannya dan jabatannya

sebagai akuwu pula. Karena itu, sebenarnya kematian Akuwu

Tunggul Ametung tidak menyebabkan kekosongan pimpinan di

Tumapel.

Setelah mereka mengangguk-anggukkan kepala mereka, maka

salah seorang dari mereka berkata, “Ada dua jalan. Kita serahkan

semuanya kepada Tuan Putri, atau kita membawa nama-nama yang

sudah kita pertimbangan masak-masak itu kepadanya.”

“Cara yang kedua.” sahut yang lain, “bukan maksud kami

menandingi kekuasaan Tuan Putri yang akan berhak bergelar

sebagai Akuwu. Tetapi kita tahu, sebenarnyalah kita tahu dengan

pasti, bahwa saat ini Tuan Putri Ken Dedes pasti belum dapat

menyesuaikan dirinya dengan keharusan seorang pemimpin

tertinggi.”

“Ya, aku sependapat,” sahut yang lain lagi, “selanjutnya terserah

kepada Tuan Putri, apakah yang akan dilakukannya.”

“Nah, akhirnya kita akan sampai juga pada menemukan sebuah

nama,” berkata salah seorang dari mereka pula.

Kembali keenam pemimpin itu mengangguk-anggukkan kepala.

Mereka mencoba menilai setiap perwira yang namanya agak

menonjol dari para perwira yang lain. Selain kemampuan mereka

seorang demi seorang sebagai seorang prajurit, tetapi

dipertimbangkan juga apakah yang pernah mereka lakukan.

“Baiklah, marilah kita mengumpulkan nama-nama. Mungkin

untuk pertama kalinya kita akan mendapat lebih dari sepuluh atau

dua puluh nama, kemudian kita pilih, sekali dua kali, sehingga kita

hanya tinggal mempunyai sebuah nama.”

“Sebutkan siapakah nama-nama yang ada padamu.” berkata

yang lain.

Pemimpin yang seorang itu mengerutkan keningnya. Kemudian

katanya, “Ada lebih dari seribu nama perwira yang tersebar di

seluruh Tumapel. Tetapi dalam keadaan serupa ini, kita terlampau

sulit untuk menemukan seorang saja di antara mereka.”

Orang itu berhenti sejenak, kemudian, “setelah

mempertimbangkan segala kemungkinan, maka aku telah

menemukan sebuah nama. Hanya satu. Aku kira aku tidak akan

dapat menemukan yang lain lagi. Tetapi terserahlah kepada kalian.”

“Ya, tetapi siapa yang satu itu?”

“Oh, apakah aku belum menyebutkannya?”

“Sebut namanya.”

“Biarlah aku mengutarakan alasannya lebih dahulu, mengapa aku

memilih nama itu. Ia mendapat banyak kepercayaan dari Akuwu

Tunggul Ametung semasa hidupnya. Dan semasa ia terbunuh, orang

ini pulalah yang telah berjasa paling banyak dari antara para

prajurit, meskipun ia termasuk seorang perwira yang baru.”

“Siapa? Ya, siapa?”

“Namanya Ken Arok. Hanya itulah yang akan aku ajukan. Tetapi

mungkin kalian mempunyai sepuluh atau dua puluh nama yang lain,

sebab pengamatan kita berbeda-beda. Aku tidak akan melihat

daerah pengamatan kalian masing-masing, dan demikian berlaku di

antara kita semuanya.”

Tetapi pemimpin itu mengerutkan keningnya ketika ia melihat

para pemimpin yang lain, mengangguk-anggukkan kepala mereka,

bahkan ada di antara mereka yang berdesah.

“Bagaimana?”

“Aku adalah pemimpin prajurit Tumapel,” berkata salah seorang

dari mereka, “bukan pemimpin tertinggi dari pelayan dalam,

lingkungan kesatuan Ken Arok. Tetapi adalah aneh sekali bahwa aku

tidak melihat ke dalam lingkunganku. Ada beberapa orang perwira

yang mengagumkan di dalam lingkunganku. Tetapi tidak ada yang

dapat bertindak secepat Ken Arok. Apalagi Ken Arok memang

pernah mendapat kepercayaan dari Akuwu Tunggul Ametung.

Kenapa Akuwu menunjuk Ken Arok ketika Akuwu mengirimkan

pasukan ke padang Karautan? Dan bahkan ketika Akuwu

memerlukan sebuah taman di padang itu pula, Ken Arok pulalah

yang diserahinya. Karena itu, adalah kebetulan sekali bahwa aku

pun akan mengusulkan Ken Arok untuk menggantikan kedudukan

Witantra. Justru bukan dari lingkungan sendiri, atau dari lingkungan

pasukan pengawal itu sendiri.”

Para pemimpin yang lain masih mengangguk-anggukkan kepala

mereka. Pemimpin tertinggi Pelayan Dalam pun berkata. “Aku akan

sependapat sekali. Ken Arok adalah seorang perwira yang luar

biasa. Ia banyak berjasa dalam penyelesaian masalah pembunuhan

ini. Ialah orang yang membawa Kebo Ijo sehingga ia dapat

ditangkap dengan mudah. Ia pulalah yang berhasil

menyelesaikannya ketika Kebo Ijo berusaha melarikan diri.”

“Ternyata aku mempunyai persamaan pendapat dengan kalian,”

berkata pemimpin yang lain. “Aku setuju. Ken Arok adalah satusatunya

nama yang dapat kita ke tengahkan.”

Agaknya keenam pemimpin itu sama sekali tidak menemui

kesulitan apapun juga. Ternyata mereka sependirian, bahwa tidak

ada orang lain yang lebih baik dari Ken Arok untuk menggantikan

Witantra apabila Mahisa Agni menolak.

“Kita memang sependapat. Sebaiknya kita menghadap Tuan Putri

untuk mengemukakan masalah ini,” berkata salah seorang dari

keenam pemimpin itu.

“Baik. Kekosongan ini tidak boleh berlarut-larut,” sahut yang lain.

Maka bersepakatlah mereka untuk pergi menghadap Ken Dedes

yang sudah menjadi semakin tenang setelah perasaannya

diguncang oleh kematian suaminya.

“Apa yang baik bagi kalian, baik juga untukku,” jawab Ken Dedes

ketika keenam pemimpin Tumapel itu mengemukakan pendirian

mereka.

“Hamba Tuan Putri,” berkata yang tertua, “kami telah bersepakat

untuk membicarakan calon pengganti itu. Namun keputusan terakhir

berada di tangan Tuan Putri.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi wajahnya

masih tetap sayu. Matanya bendul dan kemerah-merahan.

“Kalian pasti lebih mengenal, siapakah yang sepantasnya

menggantikan Witantra?” bertanya Ken Dedes.

“Hamba Tuan Putri. Dalam pembicaraan di antara kami berenam,

maka kami telah menemukan dua buah nama yang akan kami

kemukakan kepada Tuan Putri. Meskipun demikian, semuanya

terserah kepada Tuan Putri.”

“Siapakah nama-nama itu?”

“Yang pertama adalah seorang yang perkasa, yang telah Tuanku

kenal baik-baik. Bahkan mungkin seorang yang tidak ada duanya di

kalangan prajurit Tumapel meskipun ia sendiri bukan seorang

prajurit.”

“Siapa?”

“Kakanda Tuan Putri. Mahisa Agni.”

“Oh,” Ken Dedes terperanjat mendengar nama itu. Ia tidak

menyangka bahwa para pemimpin yang enam itu menaruh minat

begitu besar terhadap kemampuan kakaknya. Namun, terasa

sesuatu yang mengganggu perasaannya. Ken Dedes sendiri tidak

segera dapat mengerti perasaannya itu.

Namun Putri itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya

kemudian, “Dan siapakah nama yang kedua?”

“Orang itu adalah orang yang paling berjasa di dalam keributan

yang baru saja terjadi. Orang itulah yang sebagian terbesar telah

berbuat sehingga Kebo Ijo tertangkap dan terbukti bersalah.”

Terasa sesuatu berdesir tajam di dalam dada Ken Dedes. Dengan

serta-merta ia bertanya. “Siapa?”

“Ken Arok.”

Tubuh Ken Dedes tiba-tiba saja menjadi gemetar mendengar

nama itu. Sejenak ia tidak dapat berkata sepatah kata pun. Dalam

sekejap, tubuhnya telah dibasahi oleh keringat yang seakan-akan

terperas daripada tubuhnya.

“Nama itu,” desisnya di dalam hati.

Berbagai tanggapan telah bergolak di dalam dirinya. Yang

pertama-tama meloncat di hatinya adalah suatu harapan yang cerah

bahwa anak muda itu akan semakin dekat dengan dirinya. Tetapi

kemudian melonjaklah harga dirinya sebagai seorang permaisuri dan

bahkan seorang yang sebenarnya memegang kekuasaan di

Tumapel, sejak Akuwu Tunggul Ametung menyerahkannya

kepadanya.

Bahkan kemudian pertimbangan-pertimbangan yang lebih jauh

telah bergumul pula di hatinya. Apakah kata orang tentang dirinya,

apabila pada suatu saat ia menjadi semakin dekat dengan anak

muda itu.

Dalam keadaan yang demikian Ken Dedes telah berjuang sekuat

tenaganya untuk tidak menimbulkan kesan yang dapat

mengaburkan tanggapan keenam pemimpin itu atasnya.

Pemimpin yang enam itu masih duduk sambil menundukkan

kepala mereka. Mereka menunggu apa yang akan dikatakan oleh

Ken Dedes. Karena pemimpin yang enam itu tidak memandang

wajah Ken Dedes, maka mereka tidak melihat apa yang kadangkadang

tampak membayang di wajah itu. Justru karena Ken Dedes

adalah seorang putri. Memandangi wajahnya terlampau lama akan

dapat menimbulkan kesan yang keliru. Dan mereka tidak usah

berbuat demikian terhadap Akuwu Tunggul Ametung. Dan bahkan

Akuwu kadang-kadang telah membawa keenam pemimpin itu,

bertujuh dengan Witantra untuk berbicara, bergurau dan berbincang

dengan bebas, sampai pada saat-saat terakhir Akuwu menjadi agak

berubah dari kebiasaan itu.

Ternyata perubahan-perubahan yang tidak dapat dimengerti oleh

sebagian dari orang-orang Tumapel itu sendiri, berakhir dengan

suatu bencana yang dahsyat bagi Tumapel.

Karena Ken Dedes tidak segera menjawab, maka pemimpin yang

enam itu menjadi gelisah. Sekali-kali mereka mencuri pandang,

menatap wajah Putri itu. Namun mereka menjadi semakin gelisah

karena mereka melihat wajah Ken Dedes seakan-akan menjadi beku

karenanya.

Namun akhirnya, Ken Dedes itu berkata, “Apakah kalian telah

mempertimbangkannya masak-masak.”

“Hamba Tuan Putri,” jawab yang tertua di antara mereka.

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia berada dalam

kesulitan untuk memilih. Mahisa Agni adalah kakaknya, yang justru

ia akan berbuat terlampau hati-hati atasnya. Mungkin kakaknya itu

akan membuat kekangan-kekangan yang sangat membatasinya.

Seandainya ada perbedaan pendapat di antara mereka, maka akan

sulitlah bagi Ken Dedes untuk bersikap sebagai seorang pemimpin

tertinggi di Tumapel. Dan kakaknya itu pun pasti tidak akan dapat

melepaskan kebiasaannya, kebiasaan seorang kakak terhadap

adiknya.

Sedang Ken Arok? Dadanya berguncang apabila ia mengingat

nama itu. Nama yang tidak dapat diingkarinya telah berkesan

dalam-dalam di hatinya. Namun adalah terlampau pahit untuk

mengakuinya.

Dalam kebimbangan Ken Dedes duduk merenung memandang ke

kejauhan. Ia benar-benar berada di simpang jalan yang tidak segera

dapat dipilihnya.

“Kami menunggu keputusan Tuan Putri,” berkata salah seorang

dari pemimpin yang enam itu.

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam.

Namun katanya kemudian, “Sudah tentu aku tidak akan dapat

memutuskan saat ini. Tetapi sebaiknya kalian menghubungi kedua

orang itu. Kalian dapat bertanya kepada mereka, apakah mereka

bersedia menerima jabatan itu.”

“Tuan Putri,” berkata salah seorang dari keenam orang itu,

“adalah menjadi idaman setiap prajurit untuk sampai kejahatan

puncak di dalam tata pemerintahan Tumapel. Menurut dugaan

hamba, tidak akan ada seorang prajurit pun yang menolak tawaran

yang memang mereka impikan sebagai landasan pengabdian

mereka.”

“Tetapi Kakang Mahisa Agni bukan seorang prajurit.”

Keenam pemimpin itu mengangguk-anggukkan kepala mereka.

Jawab salah seorang daripadanya, “Memang Mahisa Agni bukan

seorang prajurit. Tetapi ia mempunyai syarat-syarat yang lengkap

untuk jabatan itu.”

“Maksudku,” sahut Ken Dedes, “adalah kesediaan Kakang Mahisa

Agni itu sendiri. Aku tidak meragukan kemampuannya, apalagi

demikian juga menurut penilaian kalian.”

“Baiklah.” jawab yang tertua, “kami akan menghubungi

keduanya.”

“Aku minta keterangan kalian segera.”

“Baiklah Tuan Putri. Sekarang perkenankan kami mengundurkan

diri.”

Keenam pemimpin Tumapel itu pun kemudian meninggalkan Ken

Dedes seorang diri. Sejenak Putri itu termenung. Namun sejenak

kemudian terasa dadanya mulai terguncang. Baru saja ia kematian

suaminya, dan tiba-tiba saja ia telah disentuh oleh suatu

pengharapan baru tentang seorang laki-laki.

“Oh, aku adalah perempuan yang paling hina,” tiba-tiba ia

menjerit di dalam hatinya. Dan hampir saja mulutnya pun menjerit

pula.

Namun tiba-tiba ia terperanjat ketika ia mendengar seseorang

yang duduk di belakangnya sambil berkata, “Apakah Tuan Putri

sudah selesai?”

Ken Dedes berpaling. Dilihatnya emban pemomongnya duduk

bersimpuh sambil menatapnya.

“Bibi,” suara Ken Dedes terputus. Dan tiba-tiba Putri itu berdiri

sambil berkata, “Kepalaku pening, Bibi.”

“Tuanku,” sahut emban itu, “Tuanku memang masih lelah sekali.

Tetapi Tuanku memang sudah seharusnya mulai dengan tugastugas

seorang pemimpin tertinggi Tanah Tumapel. Sudah beberapa

lama Tuanku belajar dari Tuanku Akuwu Tunggul Ametung. Sedang

Tuanku telah mempunyai bekal yang meskipun agak berbeda

bentuknya, yang Tuanku terima dari ayahanda. Nah, sekarang

adalah waktunya bagi Tuan Putri untuk berbuat sesuatu. Tuan Putri

adalah putri seorang pendeta yang agung.”

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Tetapi, kata-kata emban

pemomongnya itu justru telah membuat kepalanya menjadi semakin

pening. Ketika terbayang wajah ayahnya, maka jantungnya serasa

berhenti berdenyut.

Ken Dedes menundukkan kepalanya dalam-dalam. Namun

seakan-akan wajah ayahnya masih tampak di pelupuk matanya,

memandanginya dengan mata yang tajam sambil berkata, “Anakku,

apakah kau sadari apa yang telah terjadi atasmu?”

“Oh,” hampir saja Ken Dedes terpekik. Tetapi telapak tangannya

telah menyumbat mulutnya itu sendiri. Meskipun demikian emban

pemomongnya itu melihat sesuatu pada momongannya, sehingga ia

pun berdiri pula sambil memegangi kedua lengan Ken Dedes.

“Kenapa Putri?”

“Kepalaku pening, Bibi. Pening sekali.”

“Marilah, masuklah ke dalam bilik peraduan.”

Ken Dedes pun kemudian dibimbing oleh pemomongnya masuk

ke dalam biliknya. Perlahan-lahan ia berbaring ditunggui oleh

pemomongnya. Namun betapapun juga, bayangan-bayangan yang

mendebarkan jantungnya itu masih saja berkeliaran tidak hentihentinya.

“Tuan Putri memang perlu banyak beristirahat ,” berkata

pemomongnya, “seandainya Tuanku memang masih belum merasa

tenang, baiklah segala persoalan yang menyangkut tanah ini,

diserahkan saja kepada pemimpin yang enam itu.”

Ken Dedes hanya mengangguk-angguk kecil. Ia sama sekali tidak

berminat untuk berbicara tentang apapun juga. Ia ingin tidur saja

apabila mungkin.

“Bibi,” berkata Ken Dedes kemudian, “aku ingin beristirahat.

Tetapi aku selalu diganggu oleh bermacam-macam persoalan yang

tidak dapat aku singkirkan. Karena itu, tolong, katakan kepada

emban untuk membuat air pala. Aku ingin tidur sepanjang hari.”

Pemomongnya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak

menyanggah. Memang Putri itu harus beristirahat. Tetapi air pala itu

sebenarnya tidak begitu perlu baginya.

Meskipun demikian emban pemomong Ken Dedes itu pun pergi

juga ke dapur. Disuruhnya seorang emban untuk membuat air pala

yang akan diminum oleh Tuan Putri Ken Dedes.

Dalam pada itu. pemimpin yang enam telah memerintahkan

seorang perwira dengan dua orang prajurit untuk pergi ke padang

Karautan menemui Mahisa Agni. Perwira itu bertugas untuk

menanyakan, apakah Mahisa Agni bersedia untuk memangku

sebuah jabatan di istana Tumapel.

“Kami menyangka, bahwa Mahisa Agni telah kembali ke padang

Karautan setelah ia selesai dengan perang tanding itu,” berkata

salah seorang dari pemimpin yang enam, “sampaikan pesan kami.

Dan agaknya lebih baik apabila ia bersedia datang ke Tumapel

untuk membicarakannya.”

Sejenak kemudian tiga ekor kuda telah berderap keluar kota

Tumapel menuju ke padang Karautan. Semakin lama semakin cepat.

Debu yang putih menghambur naik ke udara. kemudian pecah

dihembus angin padang.

Demikianlah, maka ketiga utusan itu telah mengemban suatu

tugas yang penting untuk mencari seorang perwira pengganti

Witantra.

Ketika ketiga perwira itu memasuki padang Karautan, pakaian

dan seluruh tubuh mereka telah basah oleh keringat, setelah

mereka berkuda untuk waktu yang panjang. Sekali-kali mereka

harus berhenti memberi kesempatan kuda-kuda mereka meneguk

air dan sekedar beristirahat.

“He, apakah kira-kira jawab Mahisa Agni?” bertanya perwira itu.

Salah seorang kawannya menyahut, “Hanya orang-orang yang

aneh yang menolak jabatan ini. Apalagi kalau orang itu memang

memiliki kemampuan. Meskipun bagi Mahisa Agni jabatan itu

terlampau melonjak. Tetapi karena ia adalah saudara tua Tuan

Putri, maka hal itu mungkin saja terjadi.”

“Dan Mahisa Agni memang seorang yang luar biasa,” sahut

kawannya yang lain, “ia berhasil mengalahkan Witantra di arena.

Dan dengan demikian jabatan Witantra itu telah ditinggalkannya.”

“Tetapi untuk menjadi seorang pemimpin ia harus memiliki

beberapa kemampuan. Bukan keunggulan itulah satu-satunya syarat

yang harus dimilikinya.” berkata yang pertama.

“Tetapi itu adalah syarat yang terpenting bagi seorang perwira

tertinggi.”

Mereka pun kemudian berhasil berbicara ketika mereka melihat

kehijauan yang terhampar di tengah-tengah padang yang kekuningkuningan.

Kedatangan mereka telah mengejutkan Mahisa Agni yang

memang telah berada di padukuhannya yang baru.

“Apakah kepergianku itu telah menimbulkan persoalan?”

desisnya.

Karena itu, begitu perwira itu dipersilakan duduk di banjar

padukuhannya, dan setelah saling bertanya tentang keselamatan

sebagai lazimnya, maka Mahisa Agni pun bertanya, “Kedatangan

kalian telah membuat aku berdebar-debar.”

Tetapi perwira itu tersenyum sambil berkata, “Agaknya kau

bermimpi terlampau baik. Mungkin memangku bulan atau naik

seekor gajah putih bertaring emas.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya.

“Kenapa?”

“Kedatangan kami telah mengemban suatu tugas dari pemimpin

yang enam atas persetujuan Tuan Putri Ken Dedes untuk

menemuimu.”

“Ya?”

“Kami mengemban pesan yang harus kami sampaikan, bahwa

kau telah dicalonkan untuk menggantikan kedudukan Witantra.”

Dada Mahisa Agni berdesir mendengar tawaran itu. Sekilas ia

merasa bahwa ia benar-benar telah menerima suatu kehormatan

yang besar. Ia tahu bahwa apabila ia bersedia menerima jabatan

itu, pasti akan berarti bahwa ia termasuk salah seorang dari

pemimpin tertinggi Tumapel. Pemimpin yang Tujuh.

“Dari tempat itu aku akan mendapat kesempatan lebih banyak

lagi untuk menegakkan segala macam peraturan dan ketentuan

yang seharusnya berlaku di Tumapel,” berkata Mahisa Agni di dalam

hatinya.

Namun tiba-tiba wajahnya menjadi buram. Tanpa sesadarnya

diedarkannya pandangan matanya berkeliling, keluar halaman dan

sekitarnya. Kalau ia pergi meninggalkan padukuhan yang masih

sangat muda itu, apakah padukuhan ini dapat berkembang seperti

yang diharapkannya. Anak-anak muda yang dituntunnya menjadi

tenaga-tenaga terpenting di padukuhan ini masih belum cukup

masak. Dan lebih daripada itu, sekilas Mahisa Agni teringat kepada

kedudukan Ken Dedes yang kini menentukan bagi pemerintahan

Tumapel sepeninggal Akuwu Tunggul Ametung.

“Apakah tawaran ini didasarkan alas kemampuanku, atau sekedar

karena aku kakak Ken Dedes dalam pengertian mereka?” ia

bertanya di dalam hatinya.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kepalanya pun

kemudian terangguk-angguk. Tetapi ia masih belum menjawab.

“Pemimpin yang enam mengharap kedatanganmu ke Tumapel

untuk membicarakannya,” berkata perwira itu pula.

Namun kemudian Mahisa Agni menjawab perlahan-lahan, “Aku

sangat berterima kasih atas tawaran itu. Suatu kesempatan yang

barangkali tidak akan terulang lagi sepanjang hidupku. Namun

sayang sekali bahwa aku tidak dapat menerimanya.”

Ketiga prajurit itu terperanjat. Sejenak mereka terbungkam

sambil menatap wajah Mahisa Agni yang suram. Terngiang di

telinga mereka kata-kata salah seorang dari mereka bertiga, “Hanya

orang-orang yang aneh yang menolak jabatan ini.”

Dan ternyata Mahisa Agni telah menolak.

“Kami tidak dapat mengerti,” berkata perwira itu, “kenapa kau

menolak tawaran yang barangkali tidak pernah kau impikan.”

“Ada beberapa alasan,” jawab Mahisa Agni, “padukuhan yang

baru berkembang ini memerlukan aku setiap saat. Kemudian,

apakah aku mampu melakukan tugas itu? Aku adalah seorang anak

pedesaan. Adalah kebetulan saja bahwa aku mempunyai sangkutan

keluarga dengan Tuan Putri Ken Dedes. tetapi itu bukan suatu

jaminan akan kemampuanku. Bukan terjadi dengan sendirinya,

bahwa keluarga seorang besar akan selalu mendapat kesempatan

sebaik-baiknya untuk jabatan-jabatan tertinggi.”

Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Alasan itu cukup

dimengertinya. Namun yang tidak dapat dimengerti, justru alasan

itu diterangkan pada diri sendiri, jarang sekali ia menjumpai

seseorang yang dengan jujur mengakui kekurangan pada dirinya.

Pada kebanyakan orang maka kekurangan itu akan selalu

disembunyikannya. Apa lagi untuk sebuah tawaran yang demikian.

Tetapi ternyata Mahisa Agni berbuat lain. Ia telah menolak

sebuah tawaran untuk menjadi seorang perwira tertinggi di dalam

pasukan pengawal.

Bagaimanapun juga perwira itu mencoba mendesak untuk

meyakinkan pendirian Mahisa Agni, namun Mahisa Agni masih juga

tetap menolak.

“Maaf,” berkata Mahisa Agni, “aku sudah memutuskan.”

“Kau terlampau tergesa-gesa,” berkata perwira itu, “mungkin kau

dapat merenungkannya.”

Mahisa Agni menarik nafas. Tetapi ia tidak ingin terlampau

mengecewakan utusan pemimpin yang enam itu, sehingga ia

kemudian menjawab, “Baiklah. Aku akan berpikir tiga hari. Kalau

dalam waktu tiga hari aku tidak datang ke Tumapel, maka aku tidak

berubah pendirian. Aku menolak pencalonan itu.”

Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Baiklah,” katanya, “aku akan menyampaikannya kepada

pemimpin yang enam itu.”

Demikianlah setelah mereka bermalam satu malam, perwira dan

kedua kawan-kawannya itu pun meninggalkan padang Karautan.

Mereka tidak berhasil membujuk Mahisa Agni untuk dicalonkan

sebagai seorang pemimpin tertinggi sekaligus termasuk salah

seorang dari pemimpin yang tujuh di Tumapel.

Tetapi jawaban Mahisa Agni itu tidak mengejutkan pemimpin

yang enam di Tumapel. Mereka memang sudah menyangka bahwa

Mahisa Agni tidak akan bersedia untuk menjadi seorang penjabat

apapun di istana, tentu karena ia adalah kakak Tuan Putri Ken

Dedes.

Maka satu-satunya calon untuk jabatan itu adalah Ken Arok.

Tidak ada orang lain yang dapat memenuhi banyak syarat seperti

Ken Arok. meskipun tidak berarti bahwa Ken Arok adalah seorang

yang sempurna.

Akhirnya keenam pemimpin itu pun menyampaikannya pula

kepada Tuan Putri Ken Dedes, bahwa Mahisa Agni telah

menolaknya. Sampai waktu yang tiga hari telah lampau, Mahisa

Agni sama sekali tidak datang ke Tumapel. Dan itu berarti bahwa

Mahisa Agni tetap berada dalam pendiriannya.

Mendengar laporan para pemimpin itu Ken Dedes menganggukanggukkan

kepalanya, ia mencoba menemukan alasan buat dirinya

sendiri, bahwa ia tidak dapat berbuat lain kecuali menerima

pencalonan Ken Arok. Satu-satunya.

“Bukan aku yang telah menunjukkannya,” ia berkata di dalam

hatinya, “aku tidak dapat dituduh menyalah gunakan wewenangku

untuk memilihnya. Namanya telah dicalonkan oleh pemimpin yang

enam. Dan aku tidak mempunyai pilihan setelah Kakang Mahisa

Agni menolak.”

“Kami segera memerlukan keputusan,” berkata salah seorang

dari pemimpin yang enam itu.

“Aku memerlukan waktu sepekan,” jawab Ken Dedes.

Para pemimpin itu mengangguk-anggukkan kepala mereka.

Mereka menyadari, bahwa Ken Dedes harus mempertimbangkannya

masak-masak. Jabatan ini langsung menyangkut lingkungan

terdekat dengan dirinya, di samping para pelayan dalam. Namun

pada umumnya, ke manapun ia pergi, maka pemimpin pengawal itu

pun selalu mengikutinya. Apalagi apabila ia pergi keluar dari istana.

“Baiklah Tuan Putri, kami menunggu titah Tuan Putri. Semakin

cepat semakin baik bagi kami. Dengan demikian maka lingkungan

kami pun menjadi lengkap,” berkata salah seorang pemimpin itu

pula.

“Ya. Aku telah memberikan batas waktu. Mudah-mudahan aku

dapat bekerja lebih cepat.”

Sepeninggal pemimpin yang enam itu, mulailah dada Ken Dedes

bergolak. Ia bersyukur bahwa pilihan pemimpin yang enam itu jatuh

kepada Ken Arok. Tidak kepada yang lain. Namun kadang-kadang ia

merasa, bahwa ia telah berbuat sesuatu yang sangat tercela.

Seolah-olah ia telah berkhianat kepada Akuwu Tunggul Ametung.

Apalagi sebenarnyalah bahwa Ken Dedes telah mulai mengandung.

Dan putra yang akan lahir itu adalah putra Akuwu Tunggul

Ametung.

Namun akhirnya Ken Dedes tidak dapat menghindarkan dirinya

lagi. Betapapun pergolakan terjadi di dalam dirinya, namun akhirnya

ia memutuskan, untuk menerima usul pemimpin yang enam itu dan

dijadikannya sebuah penetaran, bahwa Ken Aroklah yang akan

menggantikan pemimpi tertinggi pasukan pengawal Tumapel.

Namun sebelum waktu yang sepekan itu habis Ken Dedes masih

belum menyatakan keputusannya itu. Ia masih menyimpannya, dan

masih meragukannya, apakah pendiriannya tidak akan berubah lagi.

“Adalah hakku untuk tetap hidup meskipun Akuwu telah

meninggal. Tidak seharusnya aku pun ikut membeku di dalam

hidupku. Kehadiranku di istana bukan maksudku. Dan kini apa yang

terjadi pun sama sekali tidak pernah aku rencanakan lebih dahulu.

Usul nama itu pun bukan dari aku. Aku hanya tinggal menerima,

karena tidak ada nama yang lain.”

Setiap kali Ken Dedes berusaha membela dirinya, apabila dari

dalam dirinya pula terlontar berbagai macam tuduhan dan sebutan.

Maka pada pekan berikutnya, pemimpin yang enam telah

menghadapnya lagi. Mereka berharap agar Tuan Putri Ken Dedes

mengabulkan permohonan mereka. Apalagi Ken Arok yang telah

dihubungi menyatakan, apabila tidak ada orang lain, apa boleh buat.

“Apakah Ken Arok sendiri bersedia?” bertanya Ken Dedes.

Para pemimpin itu menyampaikan apa yang pernah mereka

dengar dari Ken Arok.

“Pada dasarnya ia tidak menolak Tuan Putri.”

Sampai saat yang terakhir Ken Dedes masih tetap ragu-ragu.

Namun kemudian dihentakkannya perasaannya untuk menemukan

kekuatan. Dan terlontarlah dari sela-sela bibirnya yang tipis, “Aku

menerimanya. Karena memang tidak ada orang lain yang lebih baik

daripadanya.”

Para pemimpin yang enam itu pun mengangguk-anggukkan

kepala mereka. Mereka merasa bahwa pekerjaan mereka yang

terberat telah selesai. Seandainya Ken Dedes tidak menerima Ken

Arok untuk menggantikan Witantra, maka mereka masih harus

bekerja lagi untuk mencari orang lain. Dan pekerjaan itu adalah

pekerjaan yang sulit.

Tetapi ternyata kini bahwa Ken Dedes telah menerimanya.

Sehingga yang perlu mereka kerjakan adalah saat-saat meresmikan

pengangkatan Ken Arok, untuk menggantikan kedudukan Witantra.

Keputusan itu pun segera tersebar ke seluruh Tumapel. Mahisa

Agni di padang Karautan pun kemudian diberi tahu pula oleh dua

orang prajurit yang memang diutus menyampaikan berita itu.

Bahkan kemudian Panji Bojong Santi, Mahendra dan Witantra pun

mendengarnya pula.

“Ken Arok?” desis Witantra.

“Ya, anak muda itu,” sahut Mahendra.

Witantra yang masih belum sembuh benar dari luka-luka di dalam

dadanya itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian,

“Ia anak muda yang baik, cerdas dan mempunyai kemampuan yang

kuat. Ia telah berhasil memimpin sepasukan prajurit di padang

Karautan. Dan kita dapat melihat hasil kerja itu.”

Mahendra mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Mudah-mudahan ia dapat menunaikan tugasnya yang baru.

Mudah-mudahan tidak ada perwira-perwira yang lebih tua

daripadanya, baik umurnya maupun pengalamannya, yang merasa

tersinggung karenanya.”

“Tetapi ia telah banyak membuktikan kemampuannya.”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Kini ia telah benar-benar

tersisih dari istana. itu adalah akibat wajar dari kekalahannya. Ia

sudah harus dianggap mati.

“Aku tidak mengerti, kenapa Mahisa Agni menolak tawaran itu,”

desis Mahendra kemudian.

Witantra mengerutkan keningnya. ia pun mendengar pula

penolakan itu.

“Tidak mengejutkan,” berkata Witantra, “Mahisa Agni bukan

seorang yang menginginkan segala macam jabatan. ia pun orang

yang baik. Terlalu baik, sehingga perasaannya mudah sekali

tergerak apabila rasa keadilannya tersinggung.”

“Aku tidak dapat memperbandingkan keduanya,” berkata

Mahendra kemudian, “manakah yang lebih baik di antara mereka.”

“Kita akan melihat,” jawab Witantra.

Mahendra pun mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Sekilas

terkenang olehnya, bagaimana Mahisa Agni menyebut dirinya

Wiraprana dan mewakilinya berkelahi. Memang benar kata-kata

kakaknya. Anak muda itu mudah sekali tergerak apabila perasaan

keadilannya tersinggung. Namun dengan demikian, orang lain

mungkin akan dapat menyalahgunakannya.

Keputusan pemimpin Tumapel untuk mengangkat Ken Arok

menggantikan Witantra, telah mendorong Witantra untuk

mengambil keputusan pula. Bersama keluarganya ia akan

membuang diri jauh-jauh dari kota Tumapel.

“Apakah itu kau anggap pemecahan yang paling baik Witantra?”

bertanya gurunya.

“Aku sudah mati guru.”

Gurunya menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat mengerti, betapa

parah luka di dada Witantra, tetapi betapa lebih parah luka di

hatinya. Hati mudanya.

“Mungkin aku akan dapat mempergunakan kelebihan umur yang

sudah seharusnya tidak aku miliki ini untuk semakin mendekatkan

diri kepada Yang Maha Agung.”

Gurunya mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun demikian

ia berkata, “Tetapi tidak seorang pun yang mengusir kau dari kota

ini Witantra. Bukan saja pemimpin yang enam itu, Tuan Putri Ken

Dedes pun tidak.”

“Mereka memang tidak perlu mengusir aku, Guru. Karena bagi

mereka aku sudah tidak ada lagi.”

Panji Bojong Santi tidak dapat menahannya lagi. Betapa pahit

perasaan orang tua itu. Ia merasa kehilangan muridnya, dua orang

sekaligus. Tetapi ia masih mengharap, bahwa pada suatu ketika

Witantra akan bangkit kembali, setelah luka hatinya itu berkurang.

Demikianlah maka menjelang peresmian Ken Arok yang diangkat

untuk menggantikannya, Witantra pergi meninggalkan Tumapel.

Dari gurunya ia mendapat petunjuk, untuk pergi saja ke utara,

sehingga pada suatu ketika ia menemukan sebuah hutan yang

rindang.

“Kau dapat membuka hutan itu Witantra. Daerah itu didiami oleh

orang-orang yang masih jauh terkebelakang. Mungkin kau akan

mendapat sedikit kesulitan dengan mereka, tetapi kau akan segera

dapat mengatasinya. Orang-orang itu jarang-jarang sekali

berhubungan dengan lingkungan yang lain.”

“Baik Guru. Aku akan mencoba bergaul dengan mereka.”

Namun agaknya Mahendra tidak sampai hati melepaskan mereka.

Karena itu, katanya, “Kakang Witantra. Aku akan ikut bersama

Kakang. Bukan maksudku untuk melepaskan diri dari lingkunganku.

Aku hanya akan melihat di mana Kakang akan menetap. Kemudian

aku akan kembali lagi ke tempatku dan pekerjaanku. Dengan

demikian setiap kali kami memerlukan, aku dapat segera

menemuimu.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Sepercik keharuan

telah melonjak di dada Witantra.

“Terima Kasih,” jawabnya, “aku tidak akan dapat menolak

kemurahan hatimu yang tulus ini.”

Maka sebelum matahari muncul dibalik perbukitan. Witantra telah

menyiapkan sebuah pedati berisi alat-alat untuk membuka hutan.

Sebuah pedati untuk bekal, dan sebuah pedati lagi untuk

ditumpanginya. Beberapa orang pelayannya yang setia telah

bertekad untuk mengikutinya meninggalkan Tumapel. Mereka telah

menyerahkan diri mereka untuk hidup bersama-sama dengan

Witantra.

“Kami telah merasakan manisnya, maka pahitnya pun harus kami

telan bersama-sama.”

Bagaimanapun juga, istri Witantra tidak dapat menahan titik air

matanya ketika pedati-pedati itu keluar dari halaman rumah yang

sudah sekian lama dihuninya. Batang-batang pohon buah-buahan,

pohon bunga-bungaan dan taman serta belumbang ikan yang

selama ini dipeliharanya.

Dan kini semuanya itu harus ditinggalkannya.

Witantra menarik nafas ketika ia melihat titik air mata jatuh di

pangkuan istrinya. Tetapi ia tidak berkata sepatah kata pun juga. Ia

mengerti perasaan apa yang bergolak di dalam dada istrinya itu.

Di belakang pedati yang ditumpangi oleh suami istri itu,

Mahendra berada di punggung kuda sambil menundukkan

kepalanya. Terasa sesuatu bergetar di dadanya. Seperti Witantra ia

pun yakin bahwa Kebo Ijo tidak akan melakukan pembunuhan atas

Akuwu. betapapun bengalnya anak itu. Tetapi tanpa dapat

membuktikan ia tidak akan dapat menolak keputusan yang telah

jatuh, dan apalagi seakan-akan seluruh rakyat Tumapel telah

membenarkannya.

Di belakang Mahendra berderik-derik suara pedati-pedati yang

lain, dan kemudian beberapa ekor kuda pelayan-pelayan Witantra

yang setia kepadanya.

Ketika ayam jantan mulai berkokok bersahut-sahutan. dan ketika

di langit sebelah timur membayang warna kemerah-merahan

Witantra telah meninggalkan kota. Dilaluinya jalan berbatu-batu di

bulak-bulak sawah yang panjang, seakan-akan tidak berujung.

Batang-batang padi yang hijau segar dialiri oleh air yang jernih

lewat parit yang menelusuri di sepanjang tepi jalan.

Nyai Witantra memandangi sawah yang terhampar itu dengan

hati yang ngelangut. Daun-daun padi yang kemerah-merahan

disentuh oleh cahaya fajar, membuat jantungnya semakin cepat

berdenyut.

Tetapi ia adalah seorang istri yang setia. Ke manapun suaminya

pergi, ia tidak dapat tinggal, meskipun suaminya akan pergi ke

daerah yang dipenuhi oleh kesulitan dan bahaya.

Sementara itu. Tumapel pun sedang sibuk menyiapkan segala

sesuatu untuk menyambut hari pengangkatan Ken Arok menjadi

pemimpin tertinggi pasukan pengawal. Memang ada satu dua orang

yang merasa tersinggung karenanya, namun kemudian mereka

menyadari, bahwa Ken Arok memang telah menunjukkan kelebihankelebihannya.

Pada saat kesibukan sedang mencengkam istana, Ken Arok

sendiri memerlukan memacu kudanya pergi ke rumah Witantra. Ia

ingin minta restu kepadanya, bahwa ia telah ditunjuk untuk

mengganti kedudukannya. Ken Arok ingin mengatakan, bahwa sama

sekali bukan maksudnya untuk merebut kedudukan itu.

Tetapi Ken Arok menjadi kecewa. Ketika ia memasuki halaman

rumah Witantra, rumah itu telah kosong. Pintu-pintu tertutup rapat

dan bahkan regol-regol samping pun tertutup pula.

“Ke manakah isi rumah ini?” katanya di dalam hati.

Ken Arok pun kemudian meloncat turun dari kudanya. Dengan

hati-hati ia melangkahkan kakinya naik ke tangga pendapa.

Dirabanya pintu pringgitan yang tertutup rapat itu. Kemudian

selangkah demi selangkah ia menelusur dinding dan turun lagi ke

halaman di samping pendapa itu. Ketika terlihat olehnya pintu regol

samping, tiba-tiba saja ia tertarik untuk melihat halaman belakang

rumah itu. Apakah benar-benar telah kosong sama sekali.

Dengan hati-hati pula ia mendorong pintu yang tertutup itu. Dan

ternyata ia berhasil membukanya. Kemudian perlahan-lahan ia

berjalan ke halaman belakang.

Ken Arok menjadi berdebar-debar. Rumah itu benar-benar telah

kosong. Semua pintu telah tertutup, dan bahkan pintu-pintu

longkangan belakang yang menuju ke dapur.

Tanpa sesadarnya ia menjengukkan kepalanya ketika ia berhasil

membuka sebuah pintu longkangan. Sepi.

Namun tiba-tiba ia terperanjat ketika ia mendengar sebuah sapa

halus dari dalam dapur yang disangkanya kosong itu.

“Marilah anak muda.”

Sejenak Ken Arok justru membuka di tempatnya. Dicobanya

melihat langsung ke dalam dapur yang masih agak gelap karena

pintunya yang belum terbuka sepenuhnya.

“Marilah, jangan takut. Aku bukan wewe yang sedang mencari

anak.”

Ken Arok ragu-ragu sejenak. Kemudian ia pun melangkah maju.

Dengan satu hentakan ia telah berhasil membuka pintu dapur itu

selebar-lebarnya.

Ken Arok berdiri tegak di tempatnya seperti tiang yang mati.

Matanya terbelalak ketika ia melihat seorang gadis yang sedang

berbaring justru di amben dapur.

Tanpa bangkit dari pembaringannya gadis itu tersenyum sambil

berkata, “Apakah kau mencari aku?”

Dada Ken Arok menjadi terguncang-guncang. Agaknya dari

tempatnya berbaring gadis itu dapat melihat langsung ke pintu

longkangan, sehingga ia melihat kedatangannya.

“Kemarilah Ken Arok,” desis gadis itu.

“Apa kerjamu di sini Ken Umang?” bertanya Ken Arok.

Ken Umang tertawa, “Tidak apa-apa.”

“Ke manakah seisi rumah ini?”

“Pergi. Semuanya pergi karena putus asa. Tetapi aku tidak. Aku

mau hidup dan menikmati hidup ini. Kenapa aku harus ikut

melarikan diri dari kenyataan? Betapa bodohnya. Aku menolak

untuk ikut pergi Kakang Witantra, jauh ke tempat yang paling sepi.

Sebagai seorang petapa yang sama sekali tidak ikut membangun

masa depan lagi.”

Ken Arok mengerutkan keningnya.

“Aku mengucapkan selamat,” berkata gadis itu, “bukankah kau

akan menjadi pemimpin tertinggi pasukan pengawal menggantikan

Kakang Witantra? Ha, kau akan menjadi terlampau dekat dengan

janda yang baru saja kematian suaminya itu.”

Terasa dada Ken Arok berdesir. Ditatapnya mata Ken Umang

tajam-tajam.

Sementara itu Ken Umang pun bangkit sambil mengibaskan

rambutnya yang terurai. Kemudian duduk sambil tersenyum.

Dijulurkannya kakinya di atas amben sambil berdesah, “Kenapa kau

masih berdiri di situ?”

Seperti orang yang kehilangan, akal Ken Arok melangkah maju.

Ia pernah menjadi seorang yang paling liar di sekitar padang

Karautan. Sebagai seorang hantu ia pernah berbuat apa saja

terhadap setiap orang, setiap perempuan dan gadis-gadis yang

ditemuinya.

Dalam keadaannya kini. terasa darah Ken Arok itu telah

mendidih. Selangkah demi selangkah ia maju, dan Ken Umang itu

masih saja tersenyum.

Ketika Ken Arok berada beberapa langkah daripadanya, maka

tiba-tiba gadis itu menangkap tangannya dan menariknya sambil

berdesis, “Kau adalah seorang senapati yang menggemparkan. Kau

masih muda dalam kedudukan yang begitu tinggi, sehingga kau

pasti akan menjadi sorotan gadis-gadis.”

Ken Arok yang memiliki segala jenis pengalaman di dalam dirinya

itu sama sekali tidak dapat melawan senyum Ken Umang yang

serasa membakar jantung. Seperti seorang anak yang dungu ia

duduk di amben itu sambil mengusap keringat yang mengalir dari

keningnya.

Ken Arok tidak berbuat apapun ketika gadis itu membelai

pundaknya sambil berkata, “Aku tidak mau pergi dari kota ini. Aku

masih mempunyai beberapa orang keluarga. Karena itu, maka aku

tetap tinggal di sini. Aku bermaksud untuk tinggal pada keluargaku

yang lain. Sebelum aku berangkat kau tiba-tiba datang kemari. Dan

kau telah memberikan harapan baru bagi hidupku di kota ini.”

Ken Arok yang telah berhasil membunuh Akuwu Tunggul

Ametung, membunuh Empu Gandring dan membuat istana Tumapel

gempar karena Kebo Ijo yang terbunuh pula itu, kini duduk diam,

seolah-olah tidak mempunyai kekuasaan apapun atas dirinya

sendiri.

“Hari ini kau akan diwisuda,” desis Ken Umang, “dan kau tidak

sebodoh Mahisa Agni itu.”

Ken Arok tidak menjawab.

Namun tiba-tiba tengkuknya meremang ketika ia mendengar Ken

Umang tertawa sambil berdesis, “Kau tidak boleh lepas dari

tanganku. Kau adalah seorang anak muda yang paling memenuhi

unsur idamanku.”

Ken Arok masih terdiam.

“Setelah kau menjadi seorang pemimpin tertinggi pasukan

pengawal, maka kau harus segera beristri. Kau dengar?”

Ken Arok mengangguk.

“Dengan demikian barulah kau menjadi lengkap.”

Ken Arok mengangguk pula. Tanpa dapat melawan lagi Ken

Umang menariknya semakin dekat.

Namun tiba-tiba Ken Arok itu menyentakkan dirinya. Ia adalah

seorang yang telah berhasil membuat lakon yang dahsyat. Dan ia

telah berhasil mendalanginya. Karena itu, ia tidak boleh kehilangan

dirinya sendiri. Betapa lunak dan mesra sentuhan tangan gadis itu,

namun Ken Arok pun kemudian meloncat berdiri sambil

menggeretakkan giginya. Sambil menunjuk gadis itu ia menggeram,

“Apakah yang kau lakukan he anak gila?”

Ken Umang terkejut. Namun ia pun kemudian tertawa, “Jangan

marah. Demikianlah hasrat hati nuranimu. Tetapi kau masih tetap

dapat dikuasai oleh akalmu. Nah. mudah-mudahan kau berhasil

menjadi seorang pemimpin yang baik. Tetapi setiap saat kau akan

tetap teringat kepadaku. Dan aku pun akan menunggu kau datang

kepadaku dan menjemputku.”

“Persetan!”

Ken Umang masih tetap tertawa ketika ia melihat Ken Arok

berlari meninggalkan dapur itu. Katanya, “Jangan takut, aku tidak

akan mengejarmu. Kaulah yang akan mencari aku kelak.”

Ken Arok tidak berpaling lagi. Ia kemudian berlari ke kudanya di

halaman depan dan segera meloncat ke punggungnya.

Seperti seseorang yang ketakutan dikejar oleh hantu yang akan

menghisap darahnya, Ken Arok segera memacu kudanya

meninggalkan halaman rumah Witantra. Namun tanpa dapat

ditahan-tahankannya lagi, ia masih juga berpaling.

Ken Umang masih berada di dalam dapur sambil tertawa

berkepanjangan. Seperti orang yang kehilangan ingatan ia berbicara

kepada dirinya sendiri, “Ternyata Ken Arok adalah seorang anak

muda yang lemah hati. Jauh lebih lemah dari Mahisa Agni. Aku

bersumpah pada suatu saat aku akan mengikatnya di bawah

kakiku.”

Dan suara tertawa, Ken Umang pun menjadi semakin tinggi.

“Mahisa Agni pasti akan terkejut melihat pada suatu saat aku

menjadi seorang istri dari pemimpin yang tujuh di Tumapel.”

Namun wajahnya tiba-tiba berkerut. Terlintas di kepalanya

terbayang tentang seorang perempuan yang cantik, janda Akuwu

Tunggul Ametung.

“Huh, masih juga ada perempuan yang lebih tinggi dari istri salah

seorang pemimpin yang tujuh di Tumapel.”

Ken Arok yang berpacu itu pun berpacu semakin cepat. Tetapi ia

tidak dapat melarikan dirinya dari bayangan-bayangan tentang gadis

yang telah membelai kulitnya. Sentuhan tangannya serasa telah

menggetarkan darahnya sehingga jantungnya pun serasa telah

terbakar.

Tetapi Ken Arok harus tetap berpegangan pada nalarnya. Ia ingin

tidak saja menjadi seorang pemimpin tertinggi pasukan pengawal,

sekaligus menjadi salah seorang dari pemimpin yang tujuh. Apabila

Akuwu, siapa pun orangnya telah melakukan tugasnya, maka

kekuasaan dari pemimpin yang tujuh itu sangat terbatas.

Karena itu, maka Ken Arok telah mulai membayangkan betapa

Ken Dedes kini menjadi seorang yang paling berkuasa di Tumapel.

Apalagi perempuan itu adalah perempuan yang memiliki kelihaian

yang mengagumkan.

Ken Arok menghentak-hentakkan kendali kudanya. Hari ini ia

akan menerima pengangkatannya sebagai seorang pemimpin

tertinggi pasukan pengawal. Tetapi yang membayang di kepalanya

adalah kesempatan-kesempatan yang akan terbuka karenanya.

Ken Arok memejamkan matanya sejenak. Terkilas di kepalanya

cahaya yang kemilau memancar dari tubuh Ken Dedes. Pancaran

cahaya itu adalah pertanda bahwa Ken Dedes adalah seorang

perempuan yang lain dari perempuan kebanyakan.

“Sepanjang pendengaranku, perempuan itu akan menurunkan

orang-orang besar yang kelak akan memiliki kekuasaan dan

kewibawaan,” desis Ken Arok.

“Persetan dengan gadis yang gila di rumah Witantra itu,”

gumamnya.

Namun kehangatan gadis itu masih terasa seakan-akan merayapi

kulitnya.

Memang keduanya berbeda, Ken Dedes yang lembut, dan Ken

Umang yang panas.

Tiba-tiba tebersit sepercik nafsu di kepalanya, “Kenapa tidak

keduanya?”

“Ah,” ia berdesah.

Ken Arok ternyata kini sedang terombang-ambing antara dua

dunia yang berlawanan. Dunianya yang hitam dan dunia lain yang

pernah ditemukannya. Dan keduanya kini sedang bergolak berebut

pengaruh di dalam hatinya.

Tetapi kuda Ken Arok berpacu terus. Semakin lama semakin

dekat dengan istana.

Ken Arok akhirnya sampai juga pada saatnya, ia menerima

pengangkatan itu.

Ketika matahari telah mulai condong ke barat, maka terdengarlah

suara yang menggelegar dari dalam istana, suara sebuah gong yang

besar, yang tergantung di paseban depan.

Sejenak kemudian Ken Dedes sebagai pemegang kekuasaan

tertinggi di Tumapel atas dasar penyerahan kekuasaan dari Akuwu

Tunggul Ametung sejak semasa hidupnya, menyerahkan sebilah

keris pimpinan kepada Ken Arok dan mengalungkan seutas tali yang

berwarna kekuning-kuningan di lehernya, sebagai pertanda bahwa

Ken Arok dengan demikian telah diangkat menjadi seorang

pemimpin tertinggi dari pasukan pengawal.

Tidak seorang pun yang mempunyai alasan yang cukup untuk

menentang keputusan itu. Sehingga dengan demikian tidak ada lagi

persoalan di antara para pemimpin tertinggi Tumapel, para

senapati, para manggala dan pandega serta seluruh rakyat.

Namun persoalan yang tumbuh justru di dalam dada Ken Dedes

itu sendiri. Betapa tangannya menjadi gemetar ketika ia meletakkan

tali yang berwarna kekuning-kuningan itu di leher Ken Arok, serta

ketika ia menyerahkan keris kepada anak muda itu. Dalam pakaian

kebesaran Ken Arok menjadi semakin mengagumkan di dalam

pandangan mata Ken Dedes.

Dan getar itu ternyata dapat ditangkap oleh perasaan Ken Arok

yang tajam. Sentuhan tangan Ken Dedes pada saat mengalungkan

tali yang kekuning-kuningan itu, serta ketika tangan Ken Arok

menerima keris pimpinan, terasa bahwa jantung Putri yang

memegang pimpinan tertinggi di Tumapel itu bergetar.

Tanpa sesadarnya Ken Arok memandang wajah Tuan Putri yang

sedang berpakaian kebesaran itu pula. Pada saat yang bersamaan

Ken Dedes pun sedang memandanginya pula.

Benturan pandangan itu telah mengguncangkan hati keduanya.

Hati Ken Dedes serasa meledak berkeping-keping. Hampir saja ia

kehilangan kekuatan untuk menahan dirinya sendiri. Untunglah

bahwa ia masih berhasil menguasai perasaannya, sehingga ia tidak

meloncat dan berlari ke dalam biliknya.

Sementara itu Ken Arok pun segera menundukkan kepalanya.

Namun tangannya yang memegang keris itu pun menjadi gemetar

pula.

Ketika Ken Arok telah kembali ke tempatnya, maka ia sama sekali

tidak berani lagi mengangkat wajahnya. Ia menunduk dalam-dalam

dengan jantung yang serasa mengembang.

Demikianlah maka untuk hari-hari seterusnya. Ken Arok adalah

seorang pengawal yang mengagumkan. Ternyata ia tidak hanya

pandai memanjakan nafsunya, tetapi ia benar-benar mampu

melakukan tugasnya.

Namun dengan demikian, ia menjadi selalu dekat dengan Ken

Dedes sebagai pemegang pimpinan tertinggi di Tumapel. Sebagai

minyak yang selalu dekat dengan api. maka akhirnya menyalalah

hati keduanya tanpa dapat ditahan-tahankan lagi.

Sementara Mahisa Agni bekerja keras membangun

padukuhannya yang baru, terbetiklah berita, bahwa hubungan

antara Ken Dedes dan Ken Arok sama sekali sudah tidak dapat

dicegah lagi.

Namun Mahisa Agni telah belajar banyak dan pengalaman

hidupnya. Ia tidak lagi dapat diterkam oleh kehilangan akal dan

kebingungan. Ia menanggapi masalah hidup dengan sepenuh

kedewasaan.

Karena itu, maka hatinya kini benar-benar telah lekat dengan

kerjanya, seperti Witantra yang semakin mencintai kesepian yang

ditanggapinya sebagai suatu kedamaian di dalam hati setelah ia

berhasil menyesuaikan hidupnya dengan alam di sekitarnya.

Namun semuanya ternyata tidak berhenti di tempatnya. Semua

masih bergerak dalam lingkaran yang saling bersinggungan.

Maka seperti tersebut di dalam Kitab Pararaton, “Selanjutnya

Dewa memang telah menghendaki, bahwasanya Ken Arok memang

sungguh-sungguh menjadi jodoh Ken Dedes, lamalah sudah mereka

saling hendak-menghendaki, tak ada orang Tumapel yang berani

membicarakan semua tingkah-laku Ken Arok, demikian juga semua

keluarga Tunggul Ametung diam, tak ada yang berani mengucap

apa-apa, akhirnya Ken Arok kawin dengan Ken Dedes (terjemahan:

Ki J. Padmapuspita).

Tetapi ternyata yang terjadi belumlah akhir yang terakhir.

Pada saat perkawinan itu berlangsung, maka kekuasaan pun

seakan-akan telah berpindah pula ke tangan Ken Arok. Tetapi Ken

Arok bukanlah seorang yang lekas puas. Ia kemudian mengangkat

kepalanya, dan memandang kepada kekuasaan Kerajaan Kediri.

Namun persoalan di dalam dirinya masih akan berjalan. Di dalam

diri Ken Dedes telah terkandung putra Tunggul Ametung. Bayi itu

kelak akan dilahirkan, berbareng dengan lahirnya masalah-masalah

baru.

Demikianlah, seperti matahari yang mengelilingi bumi, maka

yang pernah tenggelam akan terbit pada saatnya. Dan cerita

tentang keluarga ini masih akan berkepanjangan, dalam

sangkutannya dengan nama-nama yang pernah tersebut di dalam

kisah ini.”