Pelangi di Langit Singosari 05

Jilid 26

KEN AROK itu pun kemudian mendengar Mahisa Agni

menjawab, “Tidak cantrik. Aku sudah lama tinggal di dalam

sanggar”.

“Oh, baiklah” sahut cantrik itu.

“Kini aku akan kembali ke serambi samping”.

“Marilah”.

Keduanya pun kemudian berjalan meninggalkan sanggar itu

beriringan setelah Mahisa Agni menutup pintu rapat-rapat. Mahisa

Agni berjalan di depan dan cantrik itu berjalan di belakang. Dalam

keremangan sinar pelita di kejauhan Ken Arok melihat keduanya

semakin lama semakin jauh dari padanya.

Tetapi, darah Ken Arok itupun kemudian seakan-akan berhenti

mengalir. Kali ini ia melihat sesosok bayangan yang mengendapendap

di belakang Mahisa Agni dan cantrik yang mengikutinya.

Bayangan itu meloncat dari sisi sanggar ke tempat terlindung yang

lain di belakang cantrik yang berjalan di belakang Mahisa Agni.

Sebelum Ken Arok sempat berbuat sesuatu, ia melihat bayangan itu

menyambar cantrik yang berjalan di belakang Mahisa Agni tanpa

menimbulkan suara apapun.

Ken Arok adalah seorang yang memiliki tanggapan yang cepat

menghadapi persoalan yang demikian. Ia adalah seorang pelayan

dalam istana Tumapel dan sebelum itu ia adalah seorang hantu

yang menakutkan. Karena itu segera ia tahu, bahwa sekejap lagi,

maka Mahisa Agni lah yang akan mendapat sergapan dari bayangan

itu.

Karena itu dengan serta merta ia berteriak, “Agni. Awas di

belakangmu. Aku kira ia bukan seorang cantrik”.

Dengan gerak naluriah, segera Mahisa Agni yang mendengar

teriakan Ken Arok meloncat ke samping. Dengan serta pula

tangannya menarik hulu pedangnya dan terjulur lurus, tepat ke arah

bayangan yang handak menerkamnya.

Dalam pada itu tubuh cantrik yang berjalan di belakang Mahisa

Agni telah terbaring di tanah. Terdengar ia merintih, tetapi suara itu

pun segera berhenti.

Dada Mahisa Agni yang memang telah di liputi oleh kemarahan

dan kegelisahan itu rasa-rasanya meledak melihat kehadiran orang

yang sama sekali tak dikehendakinya. Apalagi ketika ia melihat

cantrik yang sama sekali tidak tahu menahu tentang segala macam

persoalan itu terbaring diam di tanah. Meskipun Mahisa Agni masih

mendengar deru nafasnya, namun serangan yang licik itu telah

membakar segenap urat darahnya.

Dengan suara bergetar terdengar Mahisa Agni bertanya,

“Siapakah kau?”

Orang-orang yang berdiri di hadapannya itu tidak segera

menjawab. Dalam keremangan tampaklah wajahnya membeku

seperti wajah sesosok mayat. Selangkah orang itu maju, dan

selangkah Mahisa Agni surut.

“Siapa kau?”

Orang itu masih juga berdiam diri. Wajahnya masih juga

membeku mengerikan.

Ken Arok yang melihat kehadiran orang itu tidak dapat tinggal

diam. Namun, ketika ia akan melangkahkan kakinya terdengar desis

di belakangnya, “Kau akan kemana anak muda?”

Pertanyaan itu pun telah benar-benar mengejutkan hati Ken

Arok. Cepat ia meloncat dan memutar tubuhnya. Kini ia berdiri

berhadapan dengan seorang yang bertubuh kekar meskipun tidak

cukup tinggi. Wajahnya yang kasar memancarkan sinar kebencian.

Tetapi orang itu tertawa. Katanya pula, ”jangan terkejut, apakah

kau belum pernah mengenal aku?”

Ken Arok tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah itu

dengan tajamnya. Ternyata sinar mata Ken Arok tidak dapat

ditundukkan oleh orang itu, sehingga orang itu berhenti tertawa.

Terdengar suaranya parau, “He, anak muda. Sebut namamu”.

Ken Arok masih tetap tidak menyahut. Kakinya yang merenggang

seolah-olah dalam-dalam menghunjam kepusat bumi. Tangannya

tanpa sesadarnya telah berada dihulu pedangnya.

“Kau tidak mau menjawab“ bentak orang yang berdiri di hadapan

Ken Arok itu, ”Baik. Kalau kau tidak mau menjawab, akulah yang

akan menyebutkan namaku. Wong Sarimpat”.

“Hem“ Ken Arok menggeram. Segera ia menyangka bahwa yang

berdiri di hadapan Mahisa Agni adalah Kebo Sindet. Karena itu maka

hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Kecemasan dan

kegelisahan yang dirasakannya sejak mereka berangkat dari padang

Karautan kini ternyata terjadi.

Dalam pada itu Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak segera

berbuat sesuatu. Mereka masih saja berdiri di tempatnya. Agaknya

mereka masih menunggu.

“Mereka menunggu Empu Sada“ pikir Ken Arok. “Hem, apakah

Mahisa Agni harus mengalami bencana itu.

Tiba-tiba Ken Arok terkejut ketika Wong Sarimpat sekali lagi

membentaknya keras-keras, “Ayo, sebut namamu “.

Ken Arok yang berdiri seperti batu karang itu masih berdiam diri.

Ia tidak beranjak dari tempatnya ketika Wong Sarimpat maju

selangkah mendekatinya.

Tetapi langkah Wong Sarimpat tiba-tiba terhenti ia mendengar

seseorang menegurnya “Wong Sarimpat, tunggu. Jangan hanya

berani mengganggu anak-anak”.

Kini Wong Sarimpat lah yang memutar tubuhnya menghadap

suara itu. Dari dalam kegelapan ia melihat sesosok tubuh berjalan

dengan tenang mendekatinya. Empu Gandring.

“Hem, kau pande keris itu pula”. desis Wong Sarimpat.

“Ya”.

Tiba-tiba mereka mendengar Kebo Sindet berkata, “Nah.

Sekarang sudah lengkap. Kami sengaja menunggu Empu Gandring,

supaya kami tidak kau sangka hanya berani mengganggu anakanak”.

“Jadi bagaimana?“ sahut Empu Gandring. Dilihatnya beberapa

langkah dari padanya, Kebo Sindet berdiri berhadapan dengan

Mahisa Agni yang seolah-olah membeku dengan pedang terjulur.

Empu Gandring segera dapat menduga, apa yang kira-kira akan

terjadi atas kemanakannya. Sekali dipandanginya Pelayan dalam

yang bernama Ken Arok itu. Apakah berdua dengan Mahisa Agni

mereka mampu setidak-tidaknya menyelamatkan diri mereka?

Tetapi, ia tidak dapat berbuat lain dari menghadapi kenyataan

itu. Meskipun Empu Gandring tampaknya masih tenang-tenang saja,

namun gejolak di dalam dadanya terasa menyentuh-nyentuh

dinding jantungnya. Bahaya yang kini dihadapinya, bukan sekedar

bermain-main seperti pada saat ia menghadapi seorang Wong

Sarimpat dan seorang Empu Sada. Ia masih sempat mengganggu

kedua orang itu sebelum mereka harus bertempur.

Kini, yang dihadapi adalah dua orang sekaligus. Wong Sarimpat

dan Kebo Sindet, bahkan mungkin Empu Sada yang segera akan

menyusul.

“Empu Gandring“ terdengar suara Kebo Sindet dalam nada yang

datar, “aku sebenarnya tidak ingin mengganggumu. Aku hanya akan

mengambil Mahisa Agni. Kali ini, kau jangan menghalangi aku lagi.

Sebab, pasti tidak akan ada gunanya. Dengarlah, jangan menjawab

dahulu. Kalau kau melawan, dan kita berkelahi, maka sementara

kau melawan Wong Sarimpat, maka aku telah sempat membunuh

anak muda dari istana Tumapel itu. Kemudian membuat Mahisa

Agni lumpuh. Sesudah itu kami berdua, aku dan Wong Sarimpat

akan membunuhmu bersama-sama. Nah bagaimana

pertimbanganmu Empu Gandring?”.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia

menjawab masih dalam ketenangan “Rencana itu kedengarannya

baik sekali. Beberapa hari kau perlukan waktu untuk menyusun

rencana itu? Aku kira kau telah mengaturnya jauh sebelum hari ini.

Sejak lumbung itu terbakar. Kemudian kau membuat orang-orang

Panawijen gelisah dan menjemput Mahisa Agni ke Padang Karautan.

Akhirnya rencana itu sampai pada puncaknya seperti yang kau

katakan itu”.

“Tepat“ jawab Kebo Sindet singkat.

“Dan kau merasa bahwa kau mampu melakukannya?”

“Bagaimana penilaianmu Empu?”

Yang menyahut kemudian adalah Ken Arok. Suaranya bergetar

seperti guruh yang menggetarkan udara, “Hem. Ternyata kalian

berhasil menyelesaikan sebagian dari rencana itu, tetapi bagaimana

selanjutnya?”

Kebo Sindet tidak segera menjawab. Terasa di dadanya pengaruh

suara Ken Arok yang agak aneh. Anak muda itu ternyata memiliki

beberapa kelainan dengan anak-anak muda sebayanya. Dengan

Mahisa Agni misalnya, atau Kuda-Sempana.

Tetapi sebelum Kebo Sindet menyahut, terdengar suara tertawa

Wong Sarimpat, “O, kau juga berani mengucapkan kata-kata itu?

Kau benar-benar anak yang luar biasa”.

Ken Arok tidak menyahut. Ditatapnya wajah Wong Sarimpat yang

kasar dan liar itu.

Yang berkata kemudian adalah Kebo Sindet. Suaranya bergulunggulung

seolah-olah melingkar-lingkar saja di dalam perutnya,

“Jangan mengungkiri kenyataan. Kalian akan mati hari ini. Kau anak

muda, kaupun akan mati pula apabila kau berpihak kepada Mahisa

Agni”.

Belum lagi mulut Kebo Sindet terkatup rapat, orang itu menjadi

terkejut. Ternyata Ken Arok tidak mau terlampau banyak berbicara.

Seperti tatit ia meloncat menyerang, bukan Wong Sarimpat tetapi

justru Kebo Sindet yang berdiri agak jauh dari padanya.

Dalam waktu yang pendek itu, Ken Arok berusaha membuat

pertimbangan. Baginya lebih baik melepaskan Wong Sarimpat yang

sudah berdiri berhadapan dengan Empu Gandring. Ia percaya

bahwa Empu Gandring akan mampu menyelesaikannya, setidaknya

untuk mengikat demit dari Kemundungan itu. Sedang di pihak lain

Mahisa Agni benar-benar berada dalam bahaya. Meskipun dirinya

sendiri tidak yakin bahwa ia dapat bertahan melawan Kebo Sindet,

namun ia mengharap bahwa berdua dengan Mahisa Agni, ia dapat

menggabungkan kekuatan.

Kebo Sindet sendiri terkejut bukan buatan menerima serangan

itu. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa anak muda itu mampu

membuat gerakan demikian cepatnya. Jauh lebih cepat dari apa

yang dapat di lakukan oleh Kuda-Sempana.

Tetapi, Kebo Sindet adalah setan tua yang memiliki pengalaman

sedalam lautan. Dengan cekatan pula ia meloncat menghindari

serangan Ken Arok. Bahkan dengan menjejakkan kakinya, ia

melingkar dan alangkah anehnya gerak Kebo Sindet itu. Sebelum

Ken Arok mampu berdiri tegak di atas tanah, maka serangan

lawannya itu telah melandanya seperti angin taufan.

Alangkah dahsyatnya serangan itu. Empu Gandring masih sempat

melihat apa yang terjadi. Seperti Kebo Sindet, ia heran melihat

kemampuan Ken Arok. Tetapi keheranan dan kekagumannya itu

dibarengi oleh perasaan cemas yang menghentak dadanya. Ia tahu

akibat dari perbuatan anak muda itu. Kebo Sindet pasti akan marah

dan setan tua yang berwajah beku itu akan segera memberikan

serangan balasan. Tidak tanggung-tanggung. Serangan itu pasti

serangan mematikan.

Dan kini ia melihat Kebo Sindet benar-benar berbuat demikian. Ia

melihat tangan Kebo Sindet terayun dengan kecepatan yang luar

biasa. Sudah pasti di luar kemampuan Ken Arok untuk

menghindarinya. Orang tua itu hanya dapat menahan nafasnya.

Jarak antara keduanya tidak terlampau dekat, sedang di

sampingnya berdiri Wong Sarimpat yang pasti akan mampu

menghalanginya apabila ia ingin berbuat sesuatu.

Serasa dada Empu Gandring itulah yang tersentuh tangan Kebo

Sindet. Dengan wajah yang tegang ia melihat apa yang akan terjadi

atas anak muda dari istana Tumapel itu. Apa lagi ketika ia

mendengar ledakan tertawa Wong Sarimpat yang gila.

Tetapi, tiba-tiba suara tertawa Wong Sarimpat terputus.

Selangkah ia maju dengan mata yang menyala. Bahkan tanpa

sesadarnya Empu Gandring pun meloncat maju mendekati Ken Arok

yang terbanting di atas tanah kerena sentuhan tangan Kebo Sindet.

Kedua orang tua yang telah masak itu hampir-hampir tidak

percaya melihat apa yang terjadi. Bahkan Kebo Sindet sendiri

seolah-olah terpaku di tempatnya. Adalah tidak mungkin sama sekali

bahwa ia melihat anak muda yang bernama Ken Arok, yang

terbanting dengan kerasnya karena dorongan tangan Kebo Sindet

yang sedang marah, setelah terguling beberapa kali, segera

berusaha bangun kembali.

Meskipun mula-mula Ken Arok kehilangan keseimbangannya dan

terhuyung-huyung hampir terjatuh lagi, tetapi akhirnya ia mampu

tegak berdiri dengan garangnya seperti batu karang di tengahtengah

lautan. Dengan tangannya ia mengusap dadanya yang

terasa panas bukan buatan seperti terbakar karena sentuhan tangan

Kebo Sindet yang sedang marah. Namun, lambat laun ia berhasil

menguasai rasa sakit itu.

Ketika Ken Arok itu telah berhasil berdiri tegak kembali, maka

tanpa sesadarnya terdengar Kebo Sindet berdesis, “Setan manakah

yang manjing ke dalam tubuhmu itu anak muda. Kau berhasil

menyelamatkan dirimu meskipun aku dapat menyentuh tubuhmu.

Kalau kau tidak bernyawa rangkap, maka hal itu tidak akan mungkin

terjadi pada seorang manusia biasa. Bahkan Empu Gandring pun

pasti tidak akan mampu bertahan apabila tanganku berhasil

mengenai dadanya.”

Ken Arok yang masih berdiri tegak itu menggeram. Kini,

kemarahannya pun memuncak sampai ke ubun-ubun. Tubuhnya

yang dibakar oleh kemarahan itu menggigil seperti orang

kedinginan. Perlahan-lahan mulutnya bergerak dan terdengarlah ia

berkata. Mahisa Agni yang seakan-akan membeku di tempatnya

melihat peristiwa itu menjadi terkejut. Yang didengarnya itu adalah

suara yang pernah didengarnya di Padang Karautan. Suara hantu

yang menakutkan.

“Kebo Sindet,“ suara itu terdengar parau dan dalam. Lontaran

getarannya menghantam dada mereka yang mendengarnya,

“jangan menyombongkan diri dengan kekuatan aji-ajimu. Meskipun

aku tidak memiliki ilmu macam apapun, tetapi kejahatan yang kau

lakukan pasti akan mencelakakanmu. Kalau tidak saat ini, pasti akan

datang suatu ketika kau hancur menjadi debu”.

“Ancaman seseorang yang telah berputus asa“ jawab Kebo

Sindet dalam nada datar. Kata-kata ita seakan-akan bergulunggulung

saja di dalam perutnya, “adalah hanya kebetulan saja bahwa

kau terlepas dari bahaya maut. Tetapi kalau aku mengulangnya

sekali lagi, maka kau tidak akan lagi dapat menyebut nama ayah

bundamu.”

Ken Arok tidak menjawab. Dengan tangan gemetar dijulurkannya

pedangnya sambil berkata, “Aku sudah siap”.

Agaknya kemarahan Kebo Sindet sudah tidak tertahankan lagi.

Hampir tak tertangkap oleh pandangan mata biasa ia melenting,

meloncat ke arah Ken Arok. Demikian cepatnya sehinga kali ini pun

Ken Arrok tidak sempat berbuat banyak. Ia hanya mampu

menggerakkan ujung pedangnya mengarah kepada lawannya.

Tetapi, sekali lagi gerakan Kebo Sindet tak dapat diikutinya. Sekali

lagi Kebo Sindet melenting, dan kali ini Ken Arok benar-benar tidak

mampu mengikuti kecepatan gerak itu.

Empu Gandring berdesis perlahan. Terasa bulu-bulunya

meremang membayangkan kemungkinan yang dapat terjadi atas

Ken Arok. Kini ia ingin mencoba mempengaruhi gerak Kebo Sindet,

tetapi dengan tiba-tiba Wong Sarimpat menghalangnya dengan

sebuah sambaran kaki pada lambung Empu Gandring. Terpaksa

Empu Gandring menghindari serangan itu, dan terpaksa ia tidak

dapat berbuat sesuatu atas Kebo Sindet. Yang dilihatnya adalah

sekali lagi Ken Arok terpelanting jatuh sesudah pedangnya terloncat

dari tangannya.

Mahisa Agni masih saja berdiri membeku. Kesadarannya seolaholah

terhisap habis-habis oleh peristiwa itu. Ia hanya mampu

menggerakkan biji-biji matanya, mengikuti bayangan Ken Arok

terbanting jatuh.

Tetapi, sekali lagi mereka menjadi heran dan kagum bercampurbaur.

Mereka melihat Ken Arok itu berguling beberapa kali. Lalu

dengan tertatih-tatih ia berdiri di atas kedua lututnya. Bahkan

kemudian anak muda itu telah tegak kembali. Tegak seperti tonggak

baja yang kokoh kuat.

Orang-orang tua yang melihat peristiwa itu hampir tidak dapat

mempercayai penglihatannya. Mereka melihat tata gerak Ken Arok

tidak terlampau jauh terpaut dari Mahisa Agni dan anak-anak muda

yang memiliki kelebihan yang lain. Tetapi bahwa Ken Arok tidak

lumat karena tangan Kebo Sindet adalah benar-benar di luar

dugaan.

Kebo Sindet sendiri yang telah dua kali mengenainya, sejenak

terpaku seperti patung. Bahkan tanpa sesadarnya ia berdesis, “Luar

biasa. Anak itu benar-benar anak setan”.

Yang terdengar kemudian adalah gemeretak gigi Ken Arok.

Suaranya menjadi semakin parau dan dalam, sedang nyala matanya

menjadi semakin membara. Seperti mengambang di udara

terdengar suaranya, “Marilah Agni, marilah kita hadapi jahanam ini.

Ternyata hidup dan mati sama sekali tidak berada di dalam

kekuasaan tangannya yang telah bernoda itu”.

Mahisa Agni benar-benar seperti terbangun dari mimpi. Dua kali

ia melihat Ken Arok terpelanting. Dua kali ia melihat anak itu

bangkit. Dan ia sendiri belum berbuat apa-apa. Karena itu, maka

dengan dada yang bergelora ia menyahut, “Aku sudah siap Ken

Arok”. Kalau saja kulitnya tidak kebal oleh senjatanya.

Belum lagi Kebo Sindet sempat menyahut, maka Ken Arok itu

pun telah meloncat menyerang. Kini sikapnya menjadi semakin

garang. Ia sama sekali tidak memungut pedangnya yang terjatuh,

tetapi di tangannya tergenggam sebilah pisau belati yang kasar.

“Pisau itu“ desis Mahisa Agni di dalam hatinya yang berdesir

“pisau itu adalah pisau hantu Karautan”.

Kebo Sindet yang memiliki berbagai macam ilmu itu tidak lengah

sama sekali dengan cekatan ia menghindarinya. Namun kali ini

serangan Ken Arok benar-benar seperti angin ribut. Geraknya

semakin lama menjadi semakin bertambah kasar. Meskipun Mahisa

Agni tidak lagi melihat gerakan yang mengerikan seperti ketika ia

berkelahi melawan anak itu di Padang Karautan, tetapi kini ia

melihat gerak-gerak yang serupa, bahkan bersumber pada gerakangerakan

yang aneh itu, namun dalam tingkatan yang lebih dahsyat.

Meskipun Kebo Sindet adalah seorang yang telah menyimpan

perbendaharaan pengalaman hampir tak terhitung jumlahnya,

teetapi ia terkejut melihat tandang lawannya. Ia tidak melihat

unsur-unsur yang tersusun rapi betapapun kasarnya, tetapi ia

merasakan bahaya yang mematuknya. Karena itu maka ia pun

berkata di dalam hatinya, “Anak ini benar anak setan atau jin

tetekan. Bagaimana mungkin ia bisa berkelahi dengan cara itu”.

Kini, Kebo Sindet tidak hanya merasakan seorang anak muda

yang sombong sedang membunuh dirinya. Tetapi ia kini berasa

berhadapan dengan anak iblis yang mengerikan. Karena itu, maka

orang tua itu segera melayaninya dengan penuh kemarahan.

Sejenak, Mahisa Agni melihat keduanya yang sedang bertempur

itu. Ia melihat Ken Arok tidak sebagai seorang prajurit atau seorang

pelayan-dalam yang berkelahi sebagai seorang prajurit dengan

pedangnya. Tetapi kini Mahisa Agni melihat hantu Karautan hidup

kembali, berkelahi dengan sebilah pisau di tangan.

Namun, Mahisa Agni tidak dapat berdiam diri lebih lama lagi.

Betapa kecil kemampuannya, ia merasa wajib untuk ikut serta dalam

pertempuran yang dahsyat itu. Karena itu, maka dengan hati-hati ia

mendekat, menjulurkan pedangnya, dan sejenak kemudian maka

pedang itu pun mulai bergetar. Dengan bekal ilmu yang dimilikinya

dari gurunya ia ikut bertempur, dipusatkannya segenap kemampuan

lahir dan batin, tersalur dalam jalur-jalur urat-nadinya,

menggerakkan pedang di dalam genggamannya. Meskipun Mahisa

Agni adalah seorang anak kecil saja dibandingkan dengan Kebo

Sindet, namun terasa juga serangannya agak mengganggu selagi

setan tua dari Kemundungan itu berusaha membinasakan hantu dari

Padang Karautan.

Tetapi, setiap kali Kebo Sindet menjadi kecewa. Selanjutnya ia

belum berbasil mengenai lawannya tepat seperti yang

dikehendakinya. Bahkan tenaga lawannya yang semakin liar itu pun

serasa menjadi semakin bertambah.

“Kekuatan apakah yang telah menyelusup ke dalam tubuh setan

kecil ini“ Kebo Sindet mengumpat-umpat di dalam hatinya. Sekalikali

ia berhasil menyentuh tubuh Ken Arok sehingga anak itu

terpental beberapa langkah, tetapi setiap kali anak muda itu

langsung meloncatinya kembali dengan ujung pisau di tangan

kanannya dan ujung kuku-kuku jari tangan kirinya.

Dengan demikian maka kemarahan Kebo Sindet pun semakin

menjadi-jadi. Sekali dua kali ia harus menghindari pedang Mahisa

Agni. Tetapi ia tidak menyerangnya. Betapa gelap hatinya namun ia

masih berusaha membiarkan saja anak muda itu. Sebab apabila ia

membalasnya dengan serangan-serangan ia takut apabila ia tidak

berhasil menguasai tenaganya, sehingga Mahisa Agni itu justru yang

terbunuh.

Wong Sarimpat dan Empu Gandring untuk beberapa saat masih

berdiri keheranan. Bahkan, tanpa dikehendakinya Wong Sarimpat

berdesis, “Apakah yang telah menggerakkan anak itu sehingga ia

dapat berkelahi dengan cara itu?”

Empu Gandring tanpa sesadarnya menyahut, “Alangkah keras

dan kasar unsur-unsur yang dipergunakannya. Bahkan jauh lebih

kasar dari Empu Sada. Hampir sekasar kau dan kakakmu Kebo

Sindet”.

“Tidak“ gumam Wong Sarimpat, “lihat, betapa kasarnya. Tidak

kalah kasar dari kakang Kebo Sindet. Tetapi yang gila adalah

simpanan tenaga dan kekuatan, sehingga ia mampu bertahan

terhadap sentuhan tangan kakang Kebo Sindet”.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya dan Wong

Sarimpat memandanginya dengan mata yang hampir tidak berkedip.

Mereka melihat betapa perkelahian antara Kebo Sindet melawan

Ken Arok dan Mahisa Agni menjadi semakin dahsyat. Setelah

mapan, maka tandang Mahisa Agni pun menjadi bertambah lincah.

Pedangnya menyambar-nyambar dari berbagai arah, sehingga mau

tidak mau Kebo Sindet harus memperhitungkannya. Tetapi ia tidak

dapat dengan garang menyerang kembali anak muda itu. Kebo

Sindet yang sedang berkelahi itu merasa sangat sulit untuk

mengukur tenaganya, sehingga Mahisa Agni tidak terbunuh oleh

sentuhan tangannya. Seandainya ia tidak sedang berkelahi dengan

iblis yang kasar itu, maka ia akan segera dapat menjajagi kekuatan

tubuh Mahisa Agni. Ia akan dapat mengendalikan tangannya,

menyentuh urat nadi kesadaran Mahisa Agni sehingga anak itu

pingsan. Tetapi tidak mati.

Tetapi kini ia berkelahi dengan anak muda yang tidak dapat

diduga kekuatannya. Meskipun ia hampir mempergunakan segenap

kekuatannya, namun anak muda yang bernama Ken Arok itu tidak

hancur lumat. Tulang-tulang iganya tidak menjadi rontok karenanya.

Bahkan setiap kali ia berhasil menghindarkan simpul-simpul sarafnya

yang berbahaya dari sentuhan tangan Kebo Sindet, sehingga setiap

kali ia terbanting jatuh, setiap kali ia dapat bangun kembali. Justru

semakin sering ia terpelanting, maka tubuhnya seakan-akan menjadi

semakin liat, dan semakin cepatlah ia bangkit kembali meloncat

dengan garang dan liar, menyerang membabi buta.

“Tidak” desis. Kebo Sindet di dalam hatinya, “anak itu tidak

membabi buta. Tetapi ilmu yang gila ini belum pernah aku kenal.

Belum pernah aku temui seorang sakti yang berkelahi dengan cara

ini.”

Dengan demikian, maka Mahisa Agni itu bagi Kebo Sindet terasa

benar-benar mengganggu usahanya membinasakan Ken Arok.

Karena itu maka tiba-tiba ia berteriak nyaring “Kuda-Sempana,

jangan bersembunyi saja. Ini, aku sudah berhasil memanggil orang

yang selama ini kau cari. Kau tidak usah menunggu gurumu.

Selesaikan Mahisa Agni ini lebih dahulu. Tetapi ingat, biarkan ia

hidup. Ia akan mengalami masa-masa yang tidak dikehendakinya”.

Panggilan itu benar menggetarkan dada Empu Gandring, Mahisa

Agni dan Ken Arok. Mereka merasa bahwa bahaya semakin lama

akan menjadi semakin besar. Menurut dugaan mereka, sebentar lagi

akan datang Empu Sada, guru Kuda-Sempana untuk membantu

mereka menangkap Mahisa Agni.

Belum lagi mereka sempat mempertimbangkan sesuatu, maka

dari dalam kegelapan meloncatlah sesosok tubuh yang telah

menggenggam pedang di tangan. Orang itu adalah Kuda Sempana.

Sejenak ia berdiri dengan penuh kebimbangan. Betapa dendam dan

bencinya kepada Mahisa Agni pada saat-saat yang lampau. Betapa

ia ingin membunuh dan mencincangnya. Tetapi tiba-tiba kini,

setelah ia berhadapan di bawah lindungan kedua iblis dari

Kemundungan, nafsunya itu susut hampir kering sama sekali.

Tetapi seperti apa yang selama ini dilakukannya. Berbuat apa

saja yang dikatakan oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Demikian

pula kali ini. Menurut Kebo Sindet ia harus bertempur melawan

Mahisa Agni. Karena itu, maka segera iapun mencoba membulatkan

hatinya. Bertempur tanpa sesuatu tujuan.

Mahisa Agni yang melihat kehadiran Kuda Sempana

menggeretakkan giginya. Ia tidak dapat melupakan apa yang telah

dilakukan oleh anak muda itu, sehingga keadaan menjadi semakin

lama semakin jelek. Tidak saja baginya sendiri, tetapi juga bagi

seluruh Panawijen. Dan kini, Kuda Sempana itu datang lagi,

membuat orang-orang Panawijen ketakutan.

Karena itu, ketika kemudian Kuda Sempana menyerangnya, maka

dengan serta-merta ditinggalkannya Kebo Sindet yang masih

berkelahi dengan Ken Arok dalam nada yang semakin lama semakin

kasar dan liar. Keduanya adalah hantu-hantu yang mengerikan, dan

keduanya dapat berbuat di luar bemampuan orang-orang biasa.

Sejenak kemudian Mahisa Agni telah terlibat dalam perkelahian

dengan Kuda Sempana. Kuda Sempana yang semula ragu-ragu, kini

ia harus menghadapi serangan Mahisa Agni yang membadai.

Serangan-serangan yang dilambari oleh berbagai perasaan

bercampur baur. Kebencian kemarahan dan kegelisahan. Namun

justru karena itu, maka kejernihan hatinya menjadi agak terganggu.

Tata geraknya menjadi tergesa-gesa dan dalam beberapa

kesempatan, ia membuat kesalahan-kesalahan. Tetapi berhadapan

dengan Kuda Sempana Mahisa Agni masih mempunyai kesempatan.

Betapa Kuda Sempana dapat menambah ilmunya dengan ilmu yang

diberikan oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, namun melawan

Mahisa Agni ia masih harus berbuat terlampau banyak. Apalagi pada

saat-saat perkelahian itu dimulai. Kuda Sempana bertempur asal

saja ia tidak tertusuk oleh ujung pedang lawannya. Namun semakin

lama nafsunya perlahan-lahan tumbuh kembali. Bukan sekedar

menyelamatkan diri, tetapi dalam lingkaran perkelahian, maka

hasratnya untuk membinasakan lawannya terasa seperti api tertiup

angin. Semakin lama menjadi semakin menyala di dalam dadanya.

Peristiwa itu telah membuat Ken Arok menjadi semakin marah.

Setiap kali ia terlempar jatuh, setiap kali ia merasa bahwa tenaga

yang tersimpan di dalam tubuhnya mengalir menyelusuri urat-urat

nadinya. Semakin besar nyala kemarahannya, maka tubuhnya

terasa semakin ringan dan geraknya pun menjadi semakin cepat.

Tetapi yang dihadapinya adalah Kebo Sindet. Betapa besar

kemampuan yang tersimpan di dalam dirinya, namun Ken Arok bagi

Kebo Sindet seolah-olah tidak lebih dari sebutir kemiri dalam

permainan jirak. Sekali terlempar ke samping, sekali terdorong surut

dan sekali terbanting jatuh.

Meskipun demikian Ken Arok masih juga mampu bangkit berdiri,

melenting dan meloncat menyerang dengan liarnya. Kuku-kukunya

mengembang seperti kuku seekor garuda yang buas, sedang

ditangan yang lain sebilah pisau seakan-akan melekat pada jari-jari

tangannya, sehingga pisau itu tidak dapat terpelanting lepas dari

genggamannya.

Apa yang dilakukan Ken Arok itu benar-benar tidak dapat di

mengerti nalar orang-orang tua yang mengitarinya. Wong Sarimpat,

Empu Gandring dan Kebo Sindet sendiri. Bagaimana mungkin, Ken

Arok itu mampu bertahan lama melawan Kebo Sindet.

Menilik tata gerak dan unsur-unsur yang dipergunakan oleh Ken

Arok, maka mereka merasakan, betapa sedikit pengertian yang

dimilikinya. Menurut perhitungan mereka, ilmu yang dimiliki oleh

Ken Arok dalam tata gerak dan tata berkelahi, tidak banyak terpaut

dari Mahisa Agni, meskipun dalam bentuk yang berbeda. Tetapi

kekuatan tenaga, kecepatan bergerak dan ketahanan tubuhnya,

benar-benar mengagumkan. Dan orang-orang tua itu menganggap

bahwa semuanya itu lama sekali bukan dilambari oleh sesuatu ilmu

apapun, tetapi apa yang dimilikinya itu adalah pembawaan sejak ia

dilahirkan.

Dalam keheranan dan kekagumannya, maka Wong Sarimpat dan

Empu Gandring masih saja berdiri tegak. Wong Sarimpat tidak lagi

menyerang Empu Gandring selagi Empu Gandring tidak berusaha

membantu Ken Arok atau Mahisa Agni.

Meskipun demikian, Empu Gandring masih juga selalu di

selubungi oleh perasaan cemas dan gelisah. Betapa ketahanan

tubuh Ken Arok itu, namun serangan Kebo Sindet yang datang

seperti badai, menghantam terus-menerus itu suatu ketika pasti

akan dapat melumpuhkan Ken Arok. Bahkan mungkin

membunuhnya.

Orang tua itu masih saja melihat Ken Arok terlempar, terbanting

dan berguling-guling menghindari serangan lawannya. Sekali ia

melenting sambil menerkam lawannya, untuk kemudian terlempar

kembali beberapa langkah.

Sekali-kali terdengar ia mengeluh pendek, tetapi lambat laun

suara itu terdengar seperti hantu yang sedang marah.

Tiba-tiba Empu Gandring menjadi tegang ketika ia melihat

sesuatu. Darahnya serasa berhenti mengalir. Selangkah ia maju

sambil menajamkan matanya. Bukan saja mata wadagnya, tetapi

juga mata batinnya. Terasa dadanya kemudian bergetar semakin

cepat. Tanpa sesadarnya ia berpaling memandangi wajah Wong

Sarimpat. Dan wajah itu pun menegang seperti seutas tali yang

hampir putus karena tarikan kedua ujungnya.

“He, tukang keris“ Wong Sarimpat itu hampir berteriak, “kau lihat

itu?”

Empu Gandring tidak segera menyahut. Ternyata Wong Sarimpat

betapapun kasarnya, namun ia telah berhasil melihat pula. Agaknya

kekuatan yang tersimpan di dalam diri orang itu pun telah mampu

menerima getaran yang aneh, yang memancar dari diri Ken Arok.

“Ternyata anak itu benar-benar anak setan”.

“Kau melihatnya?” desis Empu Gandring.

“Ya. Itulah sebabnya maka tubuhnya kuat seperti seekor gajah

kerdil”.

Empu Gandring terdiam. Tetapi debar di dalam dadanya menjadi

semakin lama semakin cepat. Dan apa yang dilihatnya menjadi

semakin jelas. Tidak sekedar dengan mata wadagnya.

Dengan jantung yang bergolak Empu Gandring dan Wong

Sarimpat melihat sebuah bayangan warna kemerah-merahan yang

seakan-akan memancar dari ubun-ubun Ken Arok. Tidak begitu

jelas. Tetapi keduanya yakin bahwa mereka telah melihatnya.

Seperti yang pernah dilihat oleh Empu Purwa di Padang Karautan.

Perlahan-lahan Empu Gandring berdesis, “Adalah manusia yang

terpilihlah yang memiliki tanda-tanda demikian”.

“Anak iblis “geram Wong Sarimpat.

Empu Gandring tidak menjawab. Namun timbullah sedikit

harapan padanya, bahwa Ken Arok memiliki kelebihan yang

meyakinkan dari anak-anak muda sebayanya. Tanda itu telah

memberitahukan kepadanya, bahwa Ken Arok bukanlah anak-anak

muda kebanyakan saja meskipun tandangnya kasar sekasar Kebo

Sindet dan Wong Sarimpat.

Wong Sarimpat pun melihat kelebihan itu, meskipun Dengan

mulut yang mengumpat-umpat. Ia tidak tahu pasti, apakah yang

telah menimbulkan bayangan kemerahan di atas ubun-ubun anak

itu. Tetapi, iapun pernah mendengar dongeng-dongeng tentang

anak-anak terpilih. Karena itu, maka ia menjadi sedemikian

marahnya, bahwa anak muda yang memiliki kelebihan itu memihak

Mahisa Agni.

“He, pande keris“ teriaknya “apakah kau sangka warna itu akan

dapat menyelamatkannya?”

“Aku tidak tahu“ sahut Empu Gandring, “warna itu adalah warna

keberanian”.

“Setan, iblis“ lagi-lagi orang itu mengumpat-umpat dengan

mulutnya yang kotor, “ia akan mati terbunuh oleh kakang Kebo

Sindet, dan warna itu akan padam dari kepalanya”.

“Marilah kita lihat”.

“Tidak. Aku tidak hanya ingin sekedar melihat, tetapi aku ingin

berkelahi seperti orang lain. Ayo, bersiaplah Empu tua”.

Belum lagi Empu Gandring menjawab, Wong Sarimpat telah

melompat menyerangnya sambil berteriak, “Aku akan segera

membunuhmu. Kemudian aku ingin turut membuktikan, apakah

anak muda itu benar-benar tak dapat dicincang kulit dagingnya”.

Tetapi Empu Gandring pun telah cukup mempersiapkan diri.

Karena itu, maka ia pun sempat menghindari serangan Wong

Sarimpat. Bahkan dengan cepatnya, tangannya menyambar tengkuk

lawannya.

“Kaupun anak setan“ teriak Wong Sarimpat ketika terasa sebuah

sambaran tangan Empu Gandring hampir menyentuh tengkuknya,

Orang itu terpaksa menghindar, sehingga hampir-hampir, ia

kehilangan keseimbangan. Tetapi ia tidak meneruskan kata-katanya,

sebab ia melihat Empu Gandring tidak membiarkannya. Orang itu

pun segera bersiap untuk menghindari serangan-serangan

berikutnya, yang datang seperti banjir menghantam tebing.

“Kau pun menjadi gila dan liar“ teriak Wong Sarimpat. Tetapi

dirinya sendirilah yang menjadi semakin liar dan buas. Tata

geraknya segera menjadi kasar, sekasar kakaknya Kebo Sindet.

Namun Empu Gandring tidak menjadi bingung. Ia tahu, apa yang

harus dilakukan melawan orang-orang liar seperti Kebo Sindet dan

Wong Sarimpat, sehingga betapa liarnya lawannya, namun Empu

Gandring masih juga tetap tenang. Sekali-kali ia sempat melihat

perkembangan keadaan Ken Arok dan Kebo Sindet yang bertempur

semakin ribut.

Kebo Sindet sendiri, yang berkelahi dengan Ken Arok tidak

segera melihat warna kemerah-merahan di ubun-ubun lawannya.

Dengan penuh kemarahan Kebo Sindet berusaha melumatkan

lawannya dengan tangannya. Meskipun berkali-kali ia tidak berhasil

memecahkan dada anak muda itu, tetapi ia masih percaya bahwa

Ken Arok tak akan dapat dihancurkannya. Itulah sebabnya Kebo

Sindet masih saja berkelahi dengan tangannya. Ia tahu benar

bahwa ilmu lawannya sama sekali tidak berarti untuk melawannya.

Namun ketahanan tubuh anak itu benar-benar memusingkan

kepalanya. Bahkan kadang-kadang timbul kecemasan di dalam

dirinya, apakah ilmunya telah lebur?”

Demikianlah, maka perkelahian itu menjadi kian seru. Tandang

Ken Arok benar-benar menjengkelkan sekali bagi Kebo Sindet yang

garang dan buas. Seakan-akan ia sedang berhadapan Dengan Aji

Candra Birawa. Ia pernah mendengar, bahwa seseorang mampu

membangunkan kekuatan yang tanpa batas. Kadang-kadang dapat

berwujud seorang raksasa. Kalau, raksasa itu terbunuh, maka

mayatnya akan membelah, dan datanglah kemudian dua orang

raksasa. Demikianlah setiap kali dibinasakan, maka kekuatan itu pun

menjadi berlipat.

“Apakah anak ini memiliki aji ini?” desisnya di dalam hati, “Setiap

kali kekuatannya terhantam, maka seakan-akan tubuhnya menjadi

semakin kuat. Kalau ia terbanting jatuh, maka segera ia bangkit

dengan kesigapan yang berlipat.

“Tetapi anak setan ini harus mati“ geramnya sambil

mempertajam serangan-serangannya, sehingga semakin lama

menjadi semakin dahsyat.

Namun akhirnya Kebo Sindet itu mampu melihat bayangan

kemerah-merahan di atas ubun-ubun Ken Arok. Semula orang itu

menyangka, bahwa kemarahannya telah menumbuhkan bayanganbayangan

yang tak dikenalnya. Tetapi ternyata warna merah itu

meloncat, melontar dan meluncur bersama-sama dengan kepala

lawannya. Warna itu memancar dari ubun-ubun kepala itu.

“Gila“ desisnya, “apakah anak ini anak pilihan?”

Kebo Sindet mengumpat-umpat di dalam hatinya. Selama ini ia

tidak pernah memikirkan persoalan serupa itu. Ia tidak mengenal

kepada kekuatan-kekuatan di luar dirinya dan lingkungannya yang

kasat mata maupun yang tidak kasat mata. Tetapi ia tidak mengenal

suatu kekuasaan yang Agung meskipun pernah didengarnya. Tibatiba

sekarang ia berhadapan dengan warna itu. Menurut dongeng

yang pernah didengarnya, warna yang memancar dari ubun-ubun

adalah pertanda bahwa orang itu adalah orang pilihan. Orang piniji.

Itulah sebabnya maka ia memiliki kekuatan dan ketahanan tubuh

melampui manusia biasa.

Sejenak, perasaan Kebo Sindet dilanda oleh kebimbangan.

Namun kembali ia menguatkan hatinya. Dengan gigi gemeretak ia

menggeram di dalam dadanya “Betapapun juga, ia adalah manusia.

Berapa kuat ketahanan tubuhnya, tetapi kulit dagingnya pasti akan

dapat menjadi lumat”.

Dengan demikian, maka tandang Kebo Sindet menjadi semakin

buas dan liar. Demikian juga Ken Arok. Semakin garang ia berkelahi,

nyala di atas ubun-ubunnya seolah-olah menjadi semakin terang.

Disisi lain, Kuda Sempana pun berkelahi dengan nafsu yang

semakin menyala. Kini ia tidak lagi sekedar digerakkan oleh perintah

Kebo Sindet, tetapi ia benar-benar berusaha membunuh Mahisa

Agni. Ia tidak lagi mengingat apakah dendamnya bertimbun setinggi

gunung, namun dalam perkelahian ini, ia ingin membunuh secepatcepatnya.

Tetapi Mahisa Agni pun berkelahi dengan kemarahan yang

meluap-luap. Ia ingin menghentikan petualangan anak muda itu. Ia

ingin Kuda Sempana tidak lagi dapat melakukan kejahatan. Baik

terhadap dirinya sendiri, terhadap Ken Dedes, terhadap, orangorang

Panawijen maupun terhadap bendungan yang sedang

dikerjakannya. Karena itu, maka ia harus dapat melumpuhkan

lawannya. Menangkap atau kalau terpaksa anak muda itu terbunuh,

adalah bukan semata-mata karena kebencian dan dendam, tetapi ia

didorong oleh suatu kuwajiban untuk suatu kepentingan yang lebih

besar dari kepentingannya sendiri.

Dorongan itulah yang telah memaksa Mahisa Agni bertempur

mati-matian. Apalagi kalau diingatnya, bahwa sebentar lagi, tangantangan

Kebo Sindet atau Wong Sarimpat pasti akan mencekiknya.

Itulah sebabnya, ia merasa bahwa ia harus segera menyelesaikan

tugasnya sebelum Ken Arok tidak lagi berdaya melawan Kebo

Sindet.

Tetapi Kuda Sempana sekarang sudah lain dengan Kuda

Sempana yang selalu dikalahkannya. Kuda Sempana kini, adalah

Kuda Sempana yang menjadi bertambah kasar, liar tetapi

bertambah kuat dan cekatan. Kuda Sempana itu mampu meloncat

secepat burung sikatan dan menyambar segarang elang di udara.

Merangsangnya seliar serigala dan menerkam sebuas harimau lapar.

Dengan demikian maka Mahisa Agni itu pun harus bertempur

sekuat tenaganya, setinggi kemampuannya. Dikerahkannya segenap

ilmunya lahir dan batin untuk mengalahkan lawannya. Tetapi

pekerjaan itu bukanlah pekerjaan yang mudah, semudah memijat

wohing ranti. Tetapi ia harus berjuang memeras segenap

kemampuan yang ada padanya. Namun sampai beberapa lama, ia

sama sekali belum melihat tanda-tanda bahwa usahanya itu akan

segera berhasil. Bahkan setiap kali ia harus meloncat menghindari

ujung pedang Kuda Sempana yang mematuk-matuk seperti seribu

kepala ular yang menyerangnya bersama-sama dari segala penjuru.

Tetapi, Kuda Sempana pun telah dibasahi oleh keringat yang

mengalir dari segenap lubang kulitnya. Betapa ia berusaha

membinasakan lawannya, tetapi lawannya bukan dengan suka rela

menyerahkan kepalanya, pasrah pati-urip. Karena itu, maka

pekerjaannya adalah sesulit menangkap kijang di padang rumput

dengan tangannya.

Tidak kalah ributnya adalah Wong Sarimpat. Sekali-kali terdengar

orang itu berteriak nyaring, sehingga suaranya membentur dindingdinding

halaman, melingkar-lingkar memenuhi padukuhan yang

sepi. Namun sejenak kemudian Panawijen itu telah diterkam oleh

ketakutan yang amat sangat. Beberapa orang akhirnya mendengar

hiruk pikuk perkelahian dan teriakan-teriakan Wong Sarimpat yang

liar itu.

Mereka yang terbangun mula-mula menjadi bingung. Mereka

belum tahu, suara apakah yang memecah sepinya malam,

melingkar-lingkar di seluruh padepokannya.

Beberapa orang laki-laki tua keluar dari rumah-rumah mereka,

membawa golok dan parang pembelah kelapa dan kayu.

Mengendap-endap mereka pergi ke arah suara yang hiruk pikuk dan

ribut di padepokan Empu Purwa. Tetapi ketika mereka menjadi

semakin dekat, maka tubuh mereka menjadi gemetar. Dalam

keremangan cahaya pelita di halaman padepokan itu, mereka

melihat lingkaran-lingkaran perkelahian. Perkelahian yang belum

pernah mereka lihat.

Sejenak, mereka terpaku di balik dinding halaman. Sekali-kali

mereka mengintip dari atas dinding sambil berdiri di atas bongkahan

batu padas. Namun kemudian mereka pun kembali bersembunyi di

balik dinding-dinding itu. Tak sepatah kata yang dapat mereka

ucapkan di antara mereka. Sekali-kali mereka saling berpandangan.

Namun kemudian mereka menggigil ketakutan.

Dada mereka serasa akan pecah ketika tiba-tiba mereka

mendengar teriakan Wong Sarimpat nyaring, “He yang berdiri di

balik dinding. Ayo, jangan bersembunyi. Kalau kalian cukup jantan.

Inilah Wong Sarimpat dari Kemundungan”.

Tetapi kata-kata itu terhenti ketika serangan Empu Gandring

hampir merobek mulutnya. Dengan lincahnya ia meloncat mundur.

Golok yang kini telah berada di tangannya berputar seperti balingbaling.

Tetapi setiap kali bunga api memercik tinggi apabila golok itu

membentur keris Empu Gandring. Keris yang tidak kalah besarnya

dari golok itu.

Ketika ketiga orang yang menjemput Mahisa Agni sampai di

tempat itu pula, maka mereka menjadi gemetar. Teringatlah apa

yang dirisaukan oleh orang tua yang ternyata adalah paman Mahisa

Agni dan pemimpin prajurit dari Tumapel. Kini mereka menyadari

kebenaran dari kecemasan orang-orang itu. Sehingga karena itu,

maka alangkah mereka menyesal. Apabila terjadi sesuatu atas

Mahisa Agni, maka mereka menjadi salah satu sebab dari bencana

itu.

“Siapakah mereka?” bisik salah seorang dari ketiga orang itu.

Kawannya menggelengkan kepalanya. Tetapi kembali mereka

terkejut ketika Wong Sarimpat sempat menjawab sambil bertiak

“Kami adalah Wong Sarimpat, Kebo Sindet dan Kuda Sempana dari

Kemundungan”.

Ketiga orang itu terbungkam. Tetapi di samping ketakutan dan

kecemasannya, terbayanglah wajah ayah Kuda Sempana yang

seolah-olah telah mendorong mereka menjemput Mahisa Agni dan

kini tiba-tiba mereka mendengar bahwa di antara mereka terdapat

Kuda Sempana.

Ketiga orang-orang tua yang menjemput Mahisa Agni ke Padang

Karautan itu merasakan sesuatu yang tidak pada tempatnya dengan

ayah Kuda Sempana. Apakah ayah Kuda Sempana itu telah menjadi

alat anaknya untuk menciderai Mahisa Agni?

Tiba-tiba salah seorang dari mereka menggamit kawannya.

Kawannya itupun mengangguk dan mereka bertiga pun

meninggalkan tempat itu.

Setelah cukup jauh dari padepokan Empu Purwa, maka salah

seorang dari mereka berkata, “Kita ke rumah ayah Kuda Sempana.

Ia harus bertanggung jawab atas semua peristiwa ini.”

“Marilah kakang“ jawab yang lain, tetapi nada suaranya terasa

diselubungi oleh kebimbangan, “tetapi apakah tidak ada orang lain

di rumah itu. Kawan-kawan orang yang datang dari Kemundungan

itu?”

Yang lain menjadi ragu-ragu pula, katanya, “Ya, apakah di rumah

itu tidak ada orang lain lagi yang akan dapat memenggal leher

kami”.

Sejenak mereka berdiam diri. Hanya langkah-langkah mereka

sajalah yang terdengar gemerisik di atas tanah berbatu. Lamatlamat

mereka masih mendengar suara Wong Sarimpat menjeritjerit.

Dan tiba-tiba Kuda Sempana yang menjadi semakin kasar pun

sekali-kali memekik tinggi pula.

Tetapi, orang-orang tua itupun kemudian dijalari oleh perasaan

yang aneh. Karena mereka merasa, bahwa mereka telah turut serta

menjerumuskan Mahisa Agni, maka mereka pun seakan-akan

mendapat suatu keberanian untuk berbuat sesuatu. Mereka yang

selama ini tidak pernah menggenggam senjata, kini parang

pembelah kayu itu merupakan senjata yang memberi mereka

ketabahan. “Ayah Kuda Sempana harus bertanggung jawab“ desis

mereka di dalam hati.

Dengan hati-hati mereka berjalan menyelusuri jalan-jalan

padukuhan menuju ke rumah Kuda Sempana. Karena di dalam

perkelahian itu hadir Kuda Sempana, maka mereka mengharap

bahwa ayahnya akan dapat mereka temui seorang diri.

Dari kejauhan mereka melibat pelita yang menyala di dalam

rumah Kuda Sempana. Beberapa berkas sinarnya melontar

menyelusup lubang-lubang dinding jatuh di halaman yang gelap

gulita.

Rumah itu tidak terlampau besar, tetapi juga tidak terlampau

kecil. Pada saat Kuda Sempana masih seorang pelayan dalam, maka

rumah itupun tampak terpelihara baik. Tetapi kini, semak-semak

yang liar tumbuh di sekeliling halaman. Bahkan regol dan pintunya

kini sama sekali sudah hampir tidak terbentuk lagi.

“Mudah-mudahan orang itu ada di rumahnya“ gumam salah

seorang.

“Aku kira ia ada di rumah“ sahut yang lain.

Perlahan-lahan, mereka mendekati pintu rumah itu. Salah

seorang dari mereka mencoba mengintip ke dalamnya lewat lubang

dinding yang menganga selebar hitam mata. Tetapi tak sesuatu

yang dilihatnya.

“Apakah kita ketuk pintunya?” bertanya salah seorang.

“Ketuklah pintu “sahut yang lain.

Salah seorang dari mereka pun segera mengetuk pintu. Sekali

dua kali, tetapi tidak terdengar jawaban.

“Apakah orang itu sudah tidur?”

Yang lain tidak sabar lagi. Diketuknya semakin keras. Namun

masih belum ada jawaban.

Akhirnya mereka tidak dapat menahan diri. Sejenak mereka

berbincang. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk memecah.

pintu itu dengan paksa.

Meskipun dengan agak bersusah payah, akhirnya ketiganya

berhasil merusak pintu. Dengan hati-hati mereka masuk ke

dalamnya. Senjata-senjata mereka telah berada di dalam

genggaman, seperti seorang pahlawan yang sedang mencari

lawannya yang bersembunyi.

Tetapi ternyata rumah itu telah menjadi kosong. Mereka sama

sekali tidak menemukan seorang pun di dalamnya.

“Kosong“ desis salah seorang dari mereka.

“Mungkin bersembunyi“ sahut yang lain.

Dengan sangat hati-hati mereka bertiga mencari ayah Kuda

Sempana. Beriringan kesegenap sudut. Namun meskipun pelita

terpasang hampir di setiap ruang, mereka tidak menemukan

seorang pun.

“Gila. Orang itu telah merasa dirinya bersalah. Karena itu maka ia

melarikan dirinya”.

“Hem“ yang lain menggeram. Tetapi tidak ada sesuatu yang

dapat dilakukannya.

Meskipun demikian sekali lagi mereka meneliti setiap sudut. Di

bawah kolong-kolong amben, di belakang geledeg dan di sisi-sisi

paga. Tetapi mereka tetap tidak menemukan seseorang.

“Lalu“ desis salah seorang dari mereka, “apa yang akan kita

kerjakan?”

Sejenak mereka bertiga terdiam. Sementara itu angin malam

berhembus masuk kedalam rumah itu lewat pintu yang masih

menganga. Di luar gelap yang pekat seakan-akan menyumbat setiap

lubang dinding rumah.

“Kita kembali“ tiba-tiba salah seorang berkata.

“Kembali kemana?” bertanya yang lain.

“Kembali ke tempat perkelahian tadi. Kuda Sempana lah yang

harus bertanggung jawab atas semua peristiwa ini. Karena

kebodohan kita, maka kita telah menjadi alatnya. Maka kita pun

harus menebus kebodohan itu.

“Apa yang akan kita lakukan?”

“Membunuh Kuda Sempana”.

“He?” “seorang yang lain menjadi ngeri mendengar jawaban itu,

seakan-akan mereka mampu membunuh Kuda Sempana.

“Ya. Kita membunuh Kuda Sempana bersama angger Mahisa

Agni”.

“Anak itu bukan lawan kita”.

“Kita hanya membantu. Membantu angger Mahisa Agni.

Betapapun lemah tenaga kita, tetapi kita akan dapat membantu

mengurangi kesungguhan perhatian Kuda Sempana atas Mahisa

Agni”.

Tetapi bukan sekedar menarik perhatiannya, bahkan mungkin

ujung pedangnya.

“Kalau ujung pedangnya menghunjam ke dada kita itu adalah

sekedar akibat dari kebodohan kita. Kenapa kita telah memanggil

angger Mahisa Agni kepedukuhan ini?”

Kedua kawannya yang lain menjadi tegang. Namun kemudian

mereka pun berkata, ”Mari. Kita kembali kepadepokan Empu Purwa.

Kita lihat, siapakah yang menang dalam perkelahian itu.”

“Kita tidak akan hanya sekedar melihat”.

“Baik. Kita ikut berkelahi”.

“Sampai akibat yang paling parah”.

“Sampai mati”.

Maka bulatlah tekad mereka untuk bertempur membantu Mahisa

Agni. Mereka merasa, bahwa mereka telah menyeret Mahisa Agni

kedalam bencana.

Dengan tergesa-gesa, mereka meninggalkan rumah Kuda

Sempana. Dibiarkannya pintu rumah itu menganga. Dan

dibiarkannya lampu-lampu rumah itu menyala sebesar-besarnya.

Sejenak kemudian mereka pun telah sampai kembali di tempat

perkelahian antara raksasa-raksasa itu terjadi. Perlahan-lahan

mereka mendekati dinding halaman Padepokan Empu Purwa.

Beberapa orang masih saja mengerumuni tempat itu dari jauh.

Mereka tidak berani mendekat, apalagi melihat. Tetapi mereka pun

tidak mau meninggalkannya, karena mereka ingin tahu, apakah

yang akan terjadi.

Ketika mereka bertiga, mencongakkan kepala-kepala mereka

hampir saja mereka terpelanting jatuh ketika mereka mendengar

suara Wong Sarimpat, “Ayo, siapa yang akan membantu,

Kemarilah”.

Ketiganya menjadi seakan-akan membeku pada dinding halaman.

Kebulatan tekad mereka sama sekali tidak lagi mereka ingat. Apalagi

turut berkelahi di pihak Mahisa Agni, sedang melihat kilatan senjata

mereka yang sedang berkelahi itu pun mereka seolah-olah telah

menjadi mati kaku.

Meskipun demikian, mereka masih sempat melihat perkelahian

yang mengerikan itu. Mereka masih melihat betapa Ken Arok

berkelahi seperti orang kesurupan. Tanpa menghiraukan apapun

anak muda itu mengamuk sejadi-jadinya. Meloncat menerkam,

memukul, menerjang dan segala macam gerak yang memusingkan

kepala. Kebo Sindet pun menjadi pusing pula karenanya. Hampirhampir

ia kehilangan akal untuk menjatuhkan lawannya yang gila

dan liar. Lebih liar dan buas dari dirinya sendiri.

“Anak setan ini benar-benar mengerikan“ desis Kebo Sindet di

dalam hatinya. Meskipun demikian, ia sama sekali belum

mempergunakan senjatanya. Kini keinginannya bukan saja ingin

menghancurkan dan membunuh lawannya, namun timbul pula

keinginannya untuk melihat, sampai dimana kekuatan dan

ketahanan tubuh anak muda yang ubun-ubunnya bercahaya

kemerah-merahan. Karena itu, betapapun juga, Kebo Sindet masih

saja melawannya dengan anggauta badannya. Sekali-kali

dihantamnya dada anak muda itu sehingga terpelanting beberapa

langkah. Baru saja anak muda itu melenting berdiri, maka kakinya

telah mengenai lambungnya, sehingga Ken Arok terangkat tinggitinggi,

melayang di udara untuk jatuh seperti sepotong tonggak

yang basah. Tetapi sekali lagi ia meloncat bangkit dengan pisaunya

ditangan kanan dan kuku-kukunya yang mengembang di tangan

kiri.

“Gila. Benar-benar gila“ Kebo Sindet menggeram. Ia adalah

seorang yang pilih tanding. Seorang yang sudah kenyang mencicipi

segala macam bentuk kehidupan. Yang paling lunak sampai yang

paling kasar. Tetapi belum pernah dijumpainya sejenis manusia

seperti yang kini sedang dilawannya.

Orang yang kini berkelahi melawannya dan bernama Ken Arok itu

memiliki ketabahan tubuh yang luar biasa. Namun justru karena itu,

maka ia menjadi semakin tertarik kepada anak muda itu. Semakin

sulit ia menjatuhkan lawannya, semakin tajam keinginannya untuk

mengukur titik akhir dari ketahanan tubuh Ken Arok.

Tetapi, akhirnya Kebo Sindet menyadari, bahwa kunci dari

pertempuran itu ada padanya. Adiknya, Wong Sarimpat yang

bertempur melawan Empu Gandring. Rasa-rasanya tidak akan

segera dapat mengakhiri perkelahian. Bahkan menurut penilaian

Kebo Sindet, maka sampai seminggu pun adiknya tidak akan

memenangkan pertempuran itu. Menilik ketenangan dan keyakinan

setiap geraknya, maka agaknya Empu Gandring masih lebih banyak

menyimpan tenaga daripada adiknya. Sehingga apabila perkelahian

itu dibiarkannya sampai sehari dua hari, maka adiknya, Wong

Sarimpatlah yang akan lebih dahulu susut tenaganya.

Sedang Kuda Sempana pasti tidak akan dapat mengalahkan

Mahisa Agni. Kebo Sindet masih sempat melihat sekilas-sekilas

perkelahian antara kedua anak muda itu. Dan Kebo Sindet masih

melihat beberapa kekurangan Kuda Sempana.

Dengan demikian, maka ia harus segera mengakhiri perkelahian

itu. Kalau ia berhasil melumpuhkan lawannya atau membunuhnya

sekali, maka ia akan segera dapat membantu kawan-kawannya

yang lain.

Tiba-tiba Kebo Sindet itu pun menggeram. Ia kini tidak mau

bermain-main lagi. Ia sudah cukup lama merasakan keliatan tubuh

lawannya. Dan kini ia benar-benar ingin menghancurkannya. Tetapi

tidak dengan senjata tajam. Ken Arok harus lumat dengan

tangannya.

Kebo Sindet itu pun segera memusatkan segenap kekuatan lahir

dan kekuatan yang tersimpan di dalam dirinya. Kekuatan yang

bersumber pada kekuatan sesat. Meskipun dalam ungkapannya,

seakan-akan ia memiliki kelebihan dari orang-orang lain, tetapi

kelebihannya itu didapatkannya dari dunia yang hitam; yang

bertentangan dengan jalan yang seharusnya dilalui oleh manusia,

titah Yang Maha Agung.

Demikianlah maka Kebo Sindet telah membangun kekuatannya.

Kekuatan yang dinamainya sendiri Aji Bajang. Kekuatan yang tidak

kasat mata, tetapi mempunyai akibat yang mengerikan.

Ketika tiba-tiba tubuh Kebo Sindet itu bergetar dan kedua

tangannya mengembang, maka berdesirlah dada Empu Gandring.

Orang tua itu tahu betapa mengerikan akibat sentuhan kekuatan

raksasa yang tersimpan dalam Aji yang justru dinamainya Aji

Bajang. Hanya mereka yang menyimpan kekuatan-kekuatan yang

seimbang sajalah yang akan menyelamatkan diri dari pada kekuatan

itu meskipun tidak akan dapat terlepas dari luka-luka di dalam

tubuhnya. Apabila seseorang yang memiliki kekuatan seimbang dan

sempat melawan Aji itu dengan kekuatan yang sama, maka

benturan yang terjadi itupun akan berakibat pula bagi orang itu.

Apalagi mereka yang tidak memiliki daya tahan yang cukup, maka ia

akan hancur lumat menjadi ndeg-pangamun-amun.

Karena itu, maka meskipun dirinya sendiri sibuk melayani Wong

Sarimpat yang melibatnya seperti angin pusaran, namun sempat

pula ia berteriak, “Angger Ken Arok. Hindarilah tangannya. Orang itu

siap melontarkan kekuatan terakhirnya”.

Ken Arok yang sedang waringuten itupun mendengar teriakan

itu. Terasa dadanya yang sedang bergelora itu pun berdesir.

Sejenak ia memandang lawannya yang bergetar seperti orang

kedinginan. Tangannya mengembang dan matanya menjadi merah

menyala.

Sejenak Ken Arok yang liar itu tertegun diam. Meskipun ia tidak

tahu, kekuatan apa yang akan memancar dari tangan Kebo Sindet,

namun terasa pula olehnya bahwa kekuatan itu adalah kekuatan

yang akan dapat menentukan hidup matinya.

Tetapi, Ken Arok sama sekali tidak ingin menghindarinya.

Tekadnya telah bulat untuk melawan Kebo Sindet itu sampai

kekuatannya yang terakhir. Sebagai hantu yang pernah hidup di

Padang Karautan yang buas, maka Ken Arok telah menjadi seorang

yang sama sekali tidak mengenal takut. Hidupnya dimasa lampau

yang penuh dengan kekerasan, liar dan buas, kini seakan-akan telah

muncul lagi ke atas permukaan sikapnya. Namun demikian ada

sesuatu yang lain tersimpan di dalam hatinya. Yang justru dahulu

belum pernah dikenalnya, meskipun pernah dirasakannya. Ia pernah

terlepas dari kepungan orang-orang yang marah kepadaya, karena

ia mencuri di Pamalantenan. Hanya dengan dua helai daun tal ia

berhasil menyeberangi sebuah sungai dan lari ke Nagamasa.

Saat itu ia sama sekali tidak tahu, kenapa ia dapat berbuat

demikian. Dan ia sama sekali tidak tahu, suara apakah yang

didengarnya dan memberinya petunjuk itu.

Tetapi sekarang ia telah mengenalnya. Dari Empu Purwa, guru

Mahisa Agni, ia pernah mendapatkan setitik terang yang kemudian

menjadi semakin jelas baginya ketika ia bertemu dengan seorang

Brahmana yang bernama Lohgawe, yang membawanya ke Istana

Tumapel, dan menyerahkannya sebagai seorang abdi dari Akuwu

Tunggul Ametung.

Dengan demikian, maka ia sama sekali tidak gentar melihat sikap

Kebo Sindet. Ia sama sekali tidak gentar, seandainya ia akan hancur

lumat dan mati. Tak pernah ia berbuat seperti saat ini. Pasrah

kepada Kekuasaan Tertinggi. Pasrah, sama sekali pasrah. Ken Arok

merasa pernah dilepaskan dari maut justru sebelum ia mengenal-

Nya. Kalau kini ia harus hancur dan lumat menjadi debu, maka

apapun yang dilakukannya, justru lari sekalipun, maka ia pasti tidak

akan terhindar dari padanya.

Ken Arok sendiri tidak sadar, apa yang kemudian dilakukannya.

Tiba-tiba saja, tanpa dikehendakinya sendiri, ia berdiri tegak pada

kedua kakinya. Dengan pasrah diri sepasrah-pasrahnya, ia

memusatkan segenap daya rasa dan nalarnya. Tanpa sesadarnya

pula ia telah membangunkan segenap kekuatan yang ada padanya

dalam pemusatan diri di luar kehendaknya. Itu adalah suatu bentuk

pemusatan kekuatan yang justru dilambari oleh kepercayaan yang

bulat kepada Yang Maha Agung, tanpa dimengertinya sendiri.

Justru Empu Gandring lah yang menjadi sangat cemas melihat

sikap Ken Arok yang sama sekali tidak berusaha untuk menghindar.

Bahkan, orang tua itu melihat Ken Arok dengan tenangnya menanti

serangan Kebo Sindet. Hilanglah kesan yang liar dan buas dari

wajah anak itu, justru pada saat ia menghadapi kekuatan terakhir

dari hantu Kemudungan. Wajah itu kini memancarkan keagungan

dan kesentausaan tiada taranya.

Wong Sarimpat yang melibat kakaknya telah membangunkan

kekuatan terakhir itu menjadi berdebar-debar pula. Apakah anak

muda serupa itu benar-benar anak pilihan yang tiada tara

bandingnya, sehingga seorang Kebo Sindet perlu mempergunakan

Aji Bajangnya? Wong Sarimpat masih melihat cahaya kemerahmerahan

di atas kepala Ken Arok, seolah-olah bahkan menjadi

semakin terang.

Dalam pada itu, karena kedua-duanya ingin melihat akibat dari

benturan Aji Bajang, maka tanpa berjanji perkelahian antara Empu

Gandring dan Wong Sarimpat itu pun menjadi semakin kendor, dan

bahkan akhirnya berhenti sama sekali.

Hanya Kuda Sempana dan Mahisa Agnilah yang kemudian masih

saja bertempur dengan sengitnya desak-mendesak, seperti

sepasang Garuda yang berlaga di udara.

Pada saat yang demikian itulah, Kebo Sindet meloncat, mirip

dengan seekor burung Alap-alap yang menyambar mangsanya di

langit, menukik dan tangannya terayun deras sekali ke dada

lawannya yang kini masih saja berdiri mematung.

Empu Gandring dan Wong Sarimpat menahan nafasnya. Sejenak

kemudian mereka seakan-akan membeku melihat akibat dari

pukulan Aji Bajang. Ketika tangan Kebo Sindet menyentuh dada Ken

Arok, maka seakan-akan terjadilah sebuah benturan yang

mengerikan. Kebo Sindet, hantu Kemundungan yang mengerikan itu

tergetar dan terpaksa meloncat beberapa langkah surut untuk

menyalurkan tekanan pada pangkal tangannya.

Sedang dalam pada itu Ken Arok terlempar beberapa langkah

dan dengan kerasnya ia terbanting di atas tanah. Bulat-bulat seperti

sebuah batu yang besar. Sama sekali tidak terdengar ia mengaduh

atau berteriak kesakitan. Tak ada sama sekali terdengar ia

mengeluh atau mengumpat.

Empu Gandring yang melihat anak muda itu terbanting jatuh

tanpa sesadarnya, segera meloncat memburu. Dengan serta merta

ia berjongkok di sampingnya dan memegang tangannya. Perlahanlahan

ia berdesis “Angger?”

Ken Arok tidak menjawab. Wajahnya pucat pasi, seperti mayat.

Tetapi Empu Gandring masih saja melihat warna yang kemerahmerahan

itu tidak padam. Karena itu, harapannya masih tebal di

dalam dadanya, bahwa anak itu masih mendapat perlindungan dari

Yang Maha Agung.

Sejenak kemudian Empu Gandring mendengar Ken Arok menarik

nafas perlahan-lahan. Sangat perlahan-lahan. Tetapi sejalan dengan

itu, harapan Empu Gandring pun menjadi semakin tebal. Dicobanya

menempelkan telinganya pada dada anak itu, dan ia masih

mendengar jantungnya berdetak.

“Ia masih hidup“ desis Empu Gandring.

Tetapi dengan demikian Empu Gandring menjadi lengah. Ia

masih akan mendengar dan sempat membela diri seandainya Kebo

Sindet dan Wong Sarimpat menyerangnya bersama-sama. Tetapi

tidak demikian yang terjadi. Empu Gandring hanya sejenak

mendengar keributan. Terlampau pendek. Dan ketika ia meloncat

bangkit, darahnya benar-benar serasa terhenti. Yang dilihatnya

adalah Mahisa Agni yang pingsan berada ditangan Kebo Sindet.

“Gila kau“ teriak Empu Gandring “lepaskan anak itu. Marilah kita

bertempur secara jantan, meskipun seandainya kau berdua akan

berkelahi berpasangan”.

Wajah Kebo Sindet sama sekali tidak bergerak. Beku. Tetapi yang

terdengar adalah suara tertawa Wong Sarimpat, “Apakah kau

sedang mengigau Empu. Sekian lama kita berkelahi, tetapi tak

seorang pun yang dapat mengalahkan lawannya. Kini kau

menantang kami berdua melawanmu. Apakah kau benar-benar akan

membunuh dirimu”.

“Aku tidak peduli apa yang terjadi. Tetapi lepaskan anak itu“

suara Empu Gandring terasa bergetar karena kemarahannya.

Senjatanya, sebilah keris raksasa tiba-tiba menjadi bergetar pula.

Kebo Sindet yang berwajah beku seperti mayat itu menjawab

dengan suara yang bergulung-gulung di dalam perutnya, “Empu

Gandring, kami tidak mempunyai kepentingan dengan kau. Karena

itu pergilah. Jangan ganggu kami lagi”.

“Aku berkepentingan dengan anak itu. Ia adalah ke manakanku.

Kalau kau bergerak selangkah membawanya pergi, maka aku tidak

tahu, apakah aku akan berbuat curang pula seperti kalian”.

Kebo Sindet dan Wong Sarimpat saling berpandangan sejenak.

Mereka tidak dapat membayangkan, apa yang dapat dilakukan oleh

Empu Gandring, meskipun dirinya sendiri menyebutnya curang.

Namun dengan demikian kemarahan Kebo Sindet menjadi semakin

menyala di dalam dadanya. Sehingga karena itu maka katanya

“Baik. Baik Empu gila. Aku dan adikku akan bersama-sama

membunuhmu. Tetapi jangan kau sangka, bahwa aku akan

melepaskan kemanakanmu ini“ Kebo Sindet diam sejenak. Lalu

katanya kepada Kuda Sempana, “Bawa anak ini dengan kudamu

mendahului kami ke Kemundungan. Aku akan segera menyusul.

Pekerjaan kami tidak lagi begitu berat. Membunuh Empu gila ini

berdua”.

Kuda Sempana tidak menjawab sepatah kata pun. Di terimanya

tubuh Mahisa Agni yang lepas dari tangan Kebo Sindet.

“Gila. Kau benar-benar setan alasan“ teriak Empu Gandring

sambil selangkah maju. Tetapi Wong Sarimpat telah berdiri

dimukanya dengan golok ditangannya, “Jangan maju lagi Empu”.

“Persetan. Aku penggal lehermu”.

“Lakukanlah”.

Empu Gandring yang marah itu maju setapak lagi. Seakan-akan

ia sama sekali tidak menghiraukan Wong Sarimpat. Dengan

marahnya ia menggeram, “Aku tidak peduli, apakah aku berbuat

curang atau kejam atau liar. Tetapi jagalah, sentuhan seujung

rambut dari kerisku yang satu ini telah cukup mencabut nyawamu“.

Dan ternyata di tangan kiri orang tua itu telah tergenggam sebilah

keris yang kecil.

Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tertegun melihat keris itu. Keris

itu agak lebih kecil dari keris biasa, tetapi keris yang kecil itu

seakan-akan memancarkan cahaya yang hijau suram.

Kedua hantu dari Kemendungan itu segera tahu pula, bahwa

pada keris yang kecil itu tersimpan semacam bisa yang tajamnya

melampaui bisa ular. Itulah sebabnya maka sejenak mereka menjadi

ragu-ragu.

“Aku tidak pernah bermimpi untuk mempergunakan keris ini“

desis Empu Gandring “karena itu maka keris ini tidak pernah

terpisah dari padaku, supaya keris ini tidak jatuh ketangan orang

lain. Tetapi, mungkin aku sekarang benar-benar telah menjadi gila.

Aku terpaksa nganggar keris ini. Meskipun demikian aku masih

cukup sadar memberi kalian peringatan”.

Terdengar Kebo Sindet menggeram. Tetapi wajah bekunya masih

juga membeku. Namun terdengar ia menjawab “Jangan menakutnakuti

kami seperti menakut-nakuti anak-anak dengan kelabang.

Betapa tajamnya racun kerismu itu Empu, namun keris itu tidak

akan dapat menyentuh tubuhku”.

“Jangan terlalu sombong“ sahut Empu Gandring “kau sudah

dapat menduga babwa keris ini mengandung bisa. Memang, aku

telah memberi bisa yang setajam-tajamnya pada keris ini, sekedar

sebagai suatu percobaan. Tetapi menghadapi setan-setan tidak

berjantung seperti kalian, maka aku terpaksa mempergunakannya.

Semoga aku tidak terkutuk karenanya”.

Kebo Sindet dan Wong Sarimpat masih ragu-ragu sejenak.

Tetapi, ketika mereka menyadari bahwa Kuda Sempana belum

beranjak dari tempatnya, maka Kebo Sindet itu pun membentak

“Ayo, lekas bawa anak itu pergi supaya bukan kau yang akan

menjadi korban pertama dari keris itu”.

Kuda Sempana terkejut. Sejenak ia ragu-ragu, tetapi kemudian ia

melangkah pergi.

“Berhenti“ teriak Empu Gandring.

“Jangan hiraukan“ sahut Kebo Sindet.

Dalam kebimbangan dan keragu-raguan, Kuda Sempana berjalan

menuju ke tempat kudanya disembunyikan.

Dalam pada itu Empu Gandring sudah tidak bersabar lagi. Cepat

ia meloncat menyerang Kebo Sindet dengan sepasang keris di kedua

tangannya. Sebilah keris raksasa di tangan kanan, dan sebilah keris

yang berwarna hijau suram di tangan kirinya.

Tetapi lawannya adalah sepasang bantu dari Kemundungan.

Hantu yang telah kenyang menghisap darah dan keringat sesama.

Itulah sebabnya, maka serangannya yang pertama itu tidak

mengenai serangannya. Sedang kedua iblis itu pun segera

berloncatan memencar. Ketika kemudian perkelahian pula dengan

sengitnya, di tangan Kebo Sindet telah tergenggam sebilah golok.

Empu Gandring yang tua, yang dibakar oleh kemarahan itu pun

bertempur dengan sepenuh kemampuan dan ilmunya. Sedang

kedua lawannya yang berkelahi berpasangan itu pun terlampau

bernafsu pula untuk segera membunuh Empu Gandring.

Dengan demikian maka perkelahian itu pun menjadi semakin

dahsyat. Tenaga mereka bagaikan angin taufan yang saling

berbenturan di atas lautan, sehingga kemudian timbullah gelombang

yang mengerikan, hantam-menghantam, hempas-menghempas

tiada henti-hentinya.

Tetapi Empu Gandring bertempur seorang diri. Lawannya, dua

iblis dari Kemundungan itu berkelahi berpasangan. Hanya karena

senjatanya yang mengerikan itu sajalah maka Empu Gandring masih

tetap mampu bertahan. Betapa berani dan gilanya Wong Sarimpat

dan Kebo Sindet, namun mereka benar-benar tidak mau tersentuh

oleh keris Empu Gandring yang berwarna bijau suram itu. Itu

pulalah sebabnya maka Empu Gandring masih mampu bertahan

melawan keduanya. Setiap kali kerisnya itu menyambar seperti

sikatan, sedang kerisnya yang lain menebas seperti baling-baling.

Namun bagaimanapun juga, ternyata kekuatan kedua orang

lawannya, Kebo Sindet dan Wong Sarimpat yang bergabung itu,

terlampau sukar ditandinginya. Setelah beberapa saat mereka

bertempur, maka terasa, bahwa akhirnya Empu Gandring itu pun

terdesak mundur. Dengan demikian maka ia tidak segera berhasil

menahan Kuda Sempana, bahkan untuk mempertahankan dirinya

sendiri pun, orang tua itu harus bertempur mati-matian.

Dengan hati yang pedih, Empu Gandring terpaksa membiarkan

Kuda Sempana menghilang membawa Mahisa Agni yang sedang

pingsan. Sejenak kemudian ia mendengar kaki kuda berderap, dan

lenyap pulalah semua harapannya untuk menyelamatkan anak muda

itu.

Tetapi dengan demikian, kemarahannya menjadi semakin

memuncak membakar ubun-ubunnya. Orang tua itu seolah-olah

tidak lagi menghiraukan keseimbangan perkelahian itu. Seperti

Orang yang kesurupan, Empu Gandring mengamuk sejadi-jadinya.

Dan justru karena itulah, maka kedua lawannya terpaksa

mengerahkan kemampuan mereka pula. Apalagi menghadapi keris

yang satu yang berwarna hijau suram itu.

Perkelahian itupun kemudian menjadi semakin mengerikan.

Orang-orang yang menyaksikannya dari kejauhan menggigil

ketakutan. Mereka melihat dedaunan berguguran di tanah dan

pepohonan menjadi tumbang, seperti padepokan itu sedang dilanda

oleh angin taufan yang maha dahsyat.

Tetapi mereka yang bertempur itu tiba-tiba terkejut ketika

mereka melihat Ken Arok yang terbaring diam itu mulai bergerak.

Perlahan-lahan ia menggeliat, dan tiba-tiba saja ia bangkit berdiri.

Sekali lagi anak muda itu mengeliat. Seperti orang yang baru

terbangun dari tidurnya ia memandang berkeliling. Ketika tiba-tiba

dilihatnya Empu Gandring yang sedang bertempur melawan kedua

bantu dari Kemundungan itu, tampak wajahnya menjadi tegang.

Ken Arok yang bangkit dengan serta merta itu benar-benar

mengejutkan ketiga orang-orang tua yang sedang berkelahi. Mereka

menganggap bahwa hal itu tidak akan mungkin dapat terjadi. Anak

muda itu baru saja terbanting jatuh dan pingsan. Bahkan hampir

mati. Nafasnya hanya terdengar lemah sekali, dan detak jantungnya

hampir berhenti. Tetapi tiba-tiba saja ia bangkit dan seperti bangun

saja dari tidur yang nikmat.

Apa yang terjadi atas diri Ken Arok itu, benar-benar telah

menggetarkan jantung Kebo Sindet. Dengan kekuatan yang selama

ini dibanggakan ia memukul dada Ken Arok tanpa perlawanan yang

berarti. Ia melihat anak itu terlempar dan terbanting jatuh. Tetapi

tiba-tiba anak itu bangun kembali hanya dalam waktu yang tidak

terlalu lama.

“Anak setan” Kebo Sindet mengumpat di dalam hatinya ”apakah

dadanya berlapis baja?”.

Namun dengan dengan demikian orang yang selama ini hidup di

dalam dunia yang kelam, di dalam lingkungan yang liar dan buas,

sebuas rimba belantara, hampir setiap hari bermain-main dengan

maut, tetapi menghadapi Ken Arok terasa kengerian merayapi

hatinya. Bukan karena ia takut melawan Ken Arok, sebab meskipun

anak itu mempunyai daya tahan yang tiada taranya, tetapi ia

pingsan juga karena pukulan Aji Bajang.

Tetapi kini ia menghadapi dua orang yang mempunyai

kelebihanya masing-masing. Empu Gandring dengan kerisnya yang

berwarna hijau suram dan Ken Arok yang seakan-akan menyimpan

tujuh nyawa rangkap di dalam dirinya

Karena itu, maka Kebo Sindet mengambil keputusan untuk

melepaskan saja lawannya. Lebih baik ia pergi meninggalkan setansetan

Panawijen itu. Lebih baik ia masih sempat menikmati

kemenangannya. Menyembunyikan Mahisa Agni untuk memeras Ken

Dedes dengan segala macam kelicikan.

“Tetapi setan-setan ini menjadi saksi bahwa Empu Sada tidak ada

di sini” katanya di dalam hati, “tetapi tidak apa. Muridnya telah

mereka lihat. Mudah-mudahan mereka berpendapat bahwa

kehadiranku ini adalah karena permintaan Empu Sada. Bukankah

Empu Gandring pernah juga bertemu dengan Empu Sada di Padang

Karautan.

Akhirnya keputusan Kebo Sindet pun menjadi bulat. Ia

mengangap bahwa Kuda Sempana telah cukup jauh mengambil

jarak seandainya Empu Gandring akan mengejar mereka.

Tiba-tiba Kebo Sindet itu pun memberi isyarat kepada adiknya.

Dengan serta merta mereka berloncatan mundur, meskipun mereka

masih tetap berkelahi.

Empu Gandring yang melihat sikap itu menjadi semakin marah.

Alangkah licik lawannya. Mereka akan meninggalkan gelanggang

meskipun mereka telah berkelahi berpasangan.

Dan apa yang diduga itupun segera terjadilah. Kedua orang

itupun segera berloncatan meninggalkan halaman, melangkahi

dinding batu. Tetapi sudah tentu Empu Gandring tidak

membiarkannya. Segera ia mengejarnya. Namun kedua iblis dari

Kemundungan itu tidak banyak menemukan kesukaran. Sambil

melawan mereka kemudian sempat mencapai kuda-kuda mereka.

Bergantian mereka meloncat ke atas punggung-punggung kuda itu,

dan sejenak kemudian terdengar derap kedua kuda itu memecah

sepi malam.

“Pengecut” Empu Gandring berteriak mengatasi derap kaki-kaki

kuda itu. Tetapi suara itu disahut oleh suara tertawa Wong

Sarimpat, berkepanjangan menyusur sepanjang jalan padukuhan

Panawijen.

Ken Arok melihat juga kelicikan itu. Kemarahan yang memang

sudah menyala di dalam dadanya serasa berkobar semakin besar.

Tanpa disadarinya, iapun segera meloncat ingin mengejar mereka.

Tetapi segera langkahnya terhenti. Dadanya serasa akan pecah, dan

tulang-tulang iganya seolah-olah sudah tidak terpaut lagi di

dadanya.

Baru kini terdengar ia mengaduh perlahan-lahan sekali.

Ditekankannya kedua telapak tangannya pada dadanya. Perasaan

sakit itu seakan-akan dengan tiba-tiba saja menerkamnya. Perasaan

itu serasa baru saja melanda dirinya.

Ken Arok berdiri dengan menahan sakitnya. Ia tidak dapat berlari

mengejar orang-orang yang melarikan Mahisa Agni. Karena itu

betapa ia menyesal.

Dadanya berdentang keras sekali ketika ia melihat Empu

Gandring dengan tergesa-gesa kembali. Tetapi ketika orang tua itu

melihatnya, maka iapun berhenti.

“Kenapa engkau Ngger?” bertanya Empu Gandring.

Nafas Ken Arok menjadi semakin deras mengalir. Terputus-putus

ia menyahut, “dadaku Empu”.

Empu Gandring menjadi cemas melihat keadaan Ken Arok.

Karena itu maka anak muda itu pun didekatinya “Bagaimana dengan

dadamu?”

Ken Arok menggigit bibirnya. Tetapi ketika disadarinya bahwa

Empu Gandring agaknya bermaksud mengejar kedua orang

Kemundungan itu, maka jawabnya, “Tidak apa-apa Empu, hanya

sedikit terasa nyeri”.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menjadi

bingung. Apakah ia akan meninggalkan Ken Arok yang sedang

terluka itu, ataukah ia harus membiarkan Mahisa Agni hilang dibawa

oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat?”.

Agaknya Ken Arok melihat kebimbangan di hati orang tua itu,

maka katanya, “Empu, tinggalkanlah aku disini. Barangkali Empu

Gandring dapat menyusul Kebo Sindet, setidak-tidaknya Empu

mengetahui kemana Mahisa Agni itu dibawa. Kalau benar ia dibawa

ke Kemundungan, maka besok Kemundungan akan aku kepung

dengan prajurit Tumapel segelar sepapan. Meskipun di dalam

sarang mereka ada Kebo Sindet, Wong Sarimpat dan Empu Sada

sekalipun, namun prajurit-prajurit Tumapel cukup banyak untuk

merampok mereka, seperti orang-orang padesan merampok macan.

Empu Gandring masih ragu-ragu sejenak. Dan Ken Arok berkata

pula, “Marilah Empu, aku ikut. Tetapi barangkali aku tidak dapat

berkuda terlampau cepat. Biarlah Empu pergi lebih dahulu. Aku

harap di sepanjang perjalanan sakitku sudah jauh berkurang,

sehingga apabila perlu aku masih dapat membantu Empu

menghadapi orang-orang itu.

“Jangan Ngger. Sembuhkan dahulu lukamu”.

“Jangan hiraukan aku Empu. Setan-setan itu akan menjadi

semakin jauh”.

Empu Gandring termenung sejenak. Anak muda yang bernama

Ken Arok ini memang sangat mengherankan baginya. Anak muda itu

sama sekali tidak memuntahkan darah dari mulut dan hidungnya.

Justru karena itu, maka Empu Gandring merasa tidak berkeberatan

untuk meninggalkannya menyusul Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.

Tetapi, meskipun demikian, untuk sejenak Empu Gandring berdiri

termangu-mangu. Ditatapnya saja Ken Arok yang masih menekan

dadanya dengan kedua telapak tangannya. Namun Ken Aroklah

yang mendesaknya, “Silahkan Empu, silahkan Empu mendahului.

Aku akan segera menyusul”.

Empu Gandring itu seperti tersedar dari mimpinya. Maka

jawabnya sambil meloncat mencari kudanya, “Baiklah Ngger. Aku

akan pergi dahulu. Tetapi kalau Angger masih merasa sakit,

sebaiknya Angger beristirahat”

Dengan tergesa-gesa Empu Gandring pergi ke tempat kudanya

ditambatkan. Sejenak ia masih harus membenahi pelana kuda itu,

dan sejenak kemudian terdengar kaki-kaki kuda itu berderap

meninggalkan halaman padepokan Empu Purwa.

“Mereka menuju ke arah ini” desis Empu Gandring yang dengan

serta merta melecut kudanya yang terasa terlampau lambat berlari.

Ken Arok kini masih tegak seorang diri di halaman padepokan

Empu Purwa. Setelah keadaan menjadi agak reda, maka barulah

satu dua orang cantrik berani mendekatinya. Salah seorang dari

mereka bertanya “Apakah tuan terluka?”

“Ambilkan aku air “desis Ken Arok.

“Air apa?”

“Air. Air dingin”.

Cantrik itupun segera berlari-lari mengambil sebuah gendi yang

berisi air. Sementara itu Ken Arok minta kepada seorang cantrik

yang lain untuk menyiapkan kudanya.

“Inilah air itu tuan”.

Ken Arok menerima gendi itu. Ia tidak tahu, apakah obat yang

paling baik untuk menyembuhkan luka-lukanya. Tetapi ia ingin

minum, dan mudah-mudahan air yang dingin itu dapat meringankan

sakit dadanya itu.

Perlahan-lahan Ken Arok mengangkat gendi itu. Perlahan-lahan

sekali karena gerak tangannya ternyata menyebabkan dadanya

semakin sakit. Diangkatnya wajahnya, dan dengan hati-hati

dituangkannya air gendi itu ke dalam mulutnya.

“Hem,” desisnya, “alangkah segarnya”.

Tetapi, anak muda itu pun terkejut ketika tiba-tiba rasa sakit di

dadanya menjadi agak berkurang oleh segarnya air yang

diminumnya. Sekali lagi ia mengangkat gendi itu. Kini gerak

langannya telah tidak terasa terlampau sakit, dan diteguknya air itu

sehingga habis,

“Heh” ia menarik nafas dalam-dalam. Rasa nyeri pada dada itu

sudah sangat berkurang. Diberikannya kendi itu kepada cantrik yang

membawanya sambil bertanya “Air apakah ini?”.

“Air. Air dingin biasa tuan”.

“Alangkah segar air dari padepokan Panawijen. Air itu ternyata

telah mengurangi rasa sakit pada dadaku. Terima kasih. Kini aku

telah mampu berkuda menyusul Empu Gandring”.

“Kemanakah mereka itu tuan?”.

“Aku tidak tahu. Dan aku ingin mengetahuinya”.

Ken Arok itu pun kemudian perlahan-lahan berjalan ke arah

kudanya.

“Dadaku sudah agak baik” katanya kepada para cantrik yang

mengerumuninya, “aku akan pergi menyusul Empu Gandring.

Terima kasih, agaknya air padepokan ini memang mengandung

obat. Aku hampir sembuh”.

Ken Arok itu pun kemudian menyentuh perut kudanya. Perlahanlahan

kuda itu berjalan meninggalkan halaman padepokan itu.

Semakin lama semakin kencang. Ketika Ken Arok merasa bahwa

sakit dadanya tidak menjadi semakin parah karena darap kudanya,

maka kuda itu pun kemudian meluncur lebih cepat. Meskipun

demikian sekali-kali Ken Arok masih harus meraba dada itu dengan

tangannya. Kadang-kadang masih terasa nyeri-nyeri di dalamnya.

Tetapi agaknya angin malam yang sejuk telah banyak membantu

meringankan rasa sakit itu.

Dalam keheningan malam terdengar hiruk pikuk derap kaki-kaki

kuda. Orang-orang yang membenamkan dirinya di bawah selembar

kain karena dingin dan ketakutan menjadi semakin menggigil

karenanya. Mereka mendengar derap kuda berturutan. Semula

mereka mendengar seekor kuda lari seperti di kejar hantu. Kuda itu

adalah kuda yang dilarikan oleh Kuda Sempana membawa Mahisa

Agni. Kemudian disusul oleh kuda-kuda Wong Sarimpat dan Kebo

Sindet. Sejenak kemudian sekali lagi mereka mendengar derap kaki

kuda. Agaknya kuda itu adalah kuda Empu Gandring. Dan kini lagi

mereka bergetar karena suara kaki-kaki kuda yang berlari kencang.

Sedang dalam pada itu, orang-orang laki-laki yang mencoba

melihat apa yang terjadi dan melihat perkelahian di padepokan

Empu Purwa dari kejauhan, satu demi satu keluar dari

persembunyian mereka. Dengan hati yang cemas mereka

memperbincangkan apa yang telah mereka lihat. Tetapi mereka

tidak jelas atas apa yang terjadi. Mereka tidak banyak mengerti,

bagaimana akhir dari perkelahian itu. Tetapi ketiga orang yang telah

menjemput Mahisa Agni yang mengintip lewat dinding batu halaman

padepokan itu dapat mengatakan apa yang dilihatnya. Meskipun

mereka tidak tahu seluruhnya, tetapi mereka melihat Mahisa Agni

menjadi pingsan dan dibawa oleh Kuda Sempana. Setelah itu maka

yang terjadi adalah keributan yang tidak dimengertinya. Mereka

tahu bahwa Empu Gandring bertempur melawan Kebo Sindet dan

Wong Sarimpat, tetapi yang mereka lihat seolah-olah hanyalah

sebuah angin pusaran yang dahsyat.

Malam yang dingin menjadi semakin dingin. Di langit bintangbintang

bertaburan merata disegenap penjuru. Sekali-sekali

selembar awan putih yang lembut mengucap wajah langit yang biru,

membelai gemerlapnya bintang-bintang yang bergayutan.

Tetapi Kuda Sempana sama sekali, tidak menghiraukannya.

Seperti orang yang kehilangan akal ia berpacu ke Kemundungan.

Mahisa Agni yang pingsan masih juga tersangkut di punggung kuda

itu pula. Sejenak kemudian ia telah meninggalkan padukuhan

Panawijen. Namun, ia sama sekali tidak menyangka bahwa dari

jurusan yang berlawanan sedang berpacu pula seekor kuda menuju

kepadukuban Panawijen.

Demikianlah, di dalam malam yang semakin jauh itu, berpacu

beberapa ekor kuda saling berkejaran. Mereka sama sekali tidak

menghiraukan dinginnya angin malam. Betapa tubuh-tubuh mereka

basah oleh keringat dan embun.

Tetapi kuda yang datang dari arah yang berlawanan itu pun

berpacu pula seperti angin. Penunggangnya adalah seorang tua

yang menjinjing sebuah tongkat panjang. Orang itu adalah Empu

Sada. Setiap kali ia melecut kudanya, supaya berlari lebih cepat.

Orang itu seakan-akan takut kehilangan waktu walaupun hanya

sekejap.

Karena itulah maka jarak antara Empu Sada dan Kuda Sempana

menjadi sangat cepat surut. Keduanya berpacu dalam satu jalur

jalan, namun pada arah yang berlawanan. Yang satu meninggalkan

Panawijen sedang yang lain menuju ke Panawijen.

Akhirnya, ketika jarak itu menjadi semakin dekat, maka Empu

Sada menengadahkan wajahnya. Lamat-lamat ia mendengar derap

kaki kuda dihadapannya. Semakin lama menjadi semakin dekat.

“Hem“ desis orang tua itu, “mudah-mudahan aku berjumpa

dengan mereka”.

Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Dihirupnya udara malam

sepuas-puasnya, seakan-akan untuk yang terakhir kalinya.

Diamatinya bintang-bintang dilangit satu demi satu. Tetapi bintangbintang

itu terlampau banyak. Ribuan, jutaan dan bahkan tidak

terhitung.

Tiba-tiba dada Empu Sada berdesir. Ia melihat bulan tua yang

baru tumbuh mengambang di langit. Kemudian dilihatnya pula

sebuah lingkaran yang luas di sekitar bulan yang sudah tua itu.

“Bulan berkalang“ desisnya pula, “agak tidak lazim. Biasanya

bulan purnama lah yang berkalang. Tetapi kini, bulan yang sudah

tipis, setipis alis perawan, berkalang pula”.

Tetapi Empu Sada tidak memperlambat langkah kudanya. Bahkan

berkali-kali ia melecut kuda itu. Dan kuda itu menjadi semakin

menggila. Ditembusnya keremangan malam dengan derapnya yang

hiruk-pikuk.

“Kuda itu semakin dekat. Tetapi tidak lebih dari seekor“ gumam

Empu Sada kepada diri sendiri.

Tiba-tiba Empu Sada menarik tali kekang kudanya. Dan Kudanya

pun mengurangi kecepatan lajunya.

“Lebih baik aku menunggu“ gumam Empu Sada itu pula.

Tetapi ternyata penunggang kuda yang datang dari arah yang

berlawanan itupun telah mendengar langkah kudanya. Dengan hati

yang berdebar-debar Kuda Sempana mencoba meyakinkan

pendengarannya. Dan kemudian ia pun pasti, bahwa derap kuda itu

adalah derap kuda dihadapannya, bukan kuda yang menyusul di

belakang.

“Siapakah yang berkuda itu?” desisnya.

“Persetan” Kuda Sempana menggeretakan giginya. Tanpa

sesadarnya tangannya telah meraba hulu pedangnya, “mungkin aku

akan bertemu dengan seseorang yang ingin membunuh dirinya”.

Kuda Sempana sama sekali tidak memperlambat langkah kaki

kudanya. Bahkan dibiarkannya kudanya berlari semakin kencang

seakan-akan berpacu dengan angin malam yang silir. Namun

meskipun demikian, terasa debar jantungnya pun menjadi semakin

cepat.

Tetapi, Kuda Sumpana itu pun kemudian mengerinyitkan alisnya.

Suara derap kuda yang didengarnya tiba-tiba berhenti seperti

ditelan hantu.

“Apakah telingaku sudah tidak beres lagi“ desis Kuda Sempana,

“tetapi mungkin orang yang berkuda itu berhenti setelah mendengar

derap kudaku. Atau mungkin bersembunyi”.

Karena angan-angannya itu maka tiba-tiba Kuda Sempana pun

memperlambat kudanya. Ia harus berhati-hati, mungkin seseorang

yang bersembunyi sedang mengintainya, untuk dengan tiba-tiba

menerkam dari balik gerumbul di tepi jalan.

Dengan wajah yang tegang Kuda Sempana mencoba melihat

dalam malam yang semakin remang-remang. Bulan yang tersembul

di langit telah menolong Kuda Sempana untuk dapat melihat agak

lebih terang.

Tiba-tiba darah anak muda itu berdesir. Kini ia melihat sebuah

bayangan yang remang-remang berada di tengah jalan. Orang

berkuda.

“Itulah dia“ desis Kuda Sempana yang darahnya serasa menjadi

semakin cepat mengalir. Tanpa dikehendakinya maka dengan gerak

yang menyentak ia mempercepat lagi langkah kudanya, dan

pedangnya pun telah berada di dalam genggamannya. Dengan

garangnya ia mendekati bayangan yang berhenti tepat di tengahtengah

jalan yang akan dilaluinya.

Sebelum Kuda Sempana melihat jelas siapakah yang berada

dipunggung kuda itu, maka dengan kerasnya ia berteriak sekasar

Wong Sarimpat, “He, siapakah yang berhenti di tengah jalan.

Minggir, supaya kepalamu tidak terinjak kaki-kaki kudaku”.

Dada Empu Sada bergetar mendengar suara itu. Ia segera dapat

mengenal siapakah yang berteriak menyapanya. Tetapi ia terkejut

mendengar nada suara anak muda yang pernah diasuh sebagai

murid yang sangat dimanjakannya. Alangkah kasarnya.

Kuda Sempana kini sudah menjadi semakin dekat, tetapi Empu

Sada masih belum menjawab.

“Minggir“ Empu Sada mendengar Kuda Sempana ber teriak lagi,

“cepat sebelum aku kehabisan kesabaran”.

Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya

tenang, “Berhentilah Kuda Sempana”.

Kini Kuda Sempana lah yang terkejut bukan buatan. Ia pun dapat

mengenali suara itu. Suara gurunya. Karena itu, maka dengan

sekuat tenaganya ia menarik kekang kudanya sambil berdesis,

“Guru. Adakah itu Empu Sada”.

“Ya. Aku adalah gurumu, Kuda Sempana. Apakah kau masih

mengenalku?”.

Kuda Kuda Sempana berhenti beberapa langkah dari kuda

gurunya. Dengan dada yang berdebar-debar Kuda Sempana berkata

terpatah-patah, “Guru. Jadi guru masih hidup?”

“Seperti kau lihat kini Kuda Sempana. Yang duduk di atas

punggung kuda ini sama sekali bukan sebuah kerangka yang hidup.

Tetapi aku adalah Empu Sada yang masih utuh. Yang terdiri dari

kulit daging seperti yang dapat kau lihat, seperti kau, seperti Kebo

Sindet dan Wong Sarimpat”.

Darah Kuda Sempana terasa berdeburan di dalam jantungnya.

Gurunya yang disangkanya sudah mati itu kini berada beberapa

langkah saja dihadapannya. Namun justru karena itu maka seolaholah

membeku di atas punggung kudanya.

Anak muda itu terkejut ketika ia mendengar gurunya bertanya

“Apakah yang kau bawa itu Kuda Sempana?”

Tiba-tiba terasa sepercik kebanggaan di dalam hati anak muda

itu, dengan dada tengadah ia menjawab, “Guru. Setelah kita

berusaha sekian lama dengan sia-sia, akhirnya maksud itu tercapai

juga. Ini adalah tubuh Mahisa Agni”.

“He?” sejenak kemudian Empu Sada itu pun terbungkam. Ia

melihat tubuh terkulai, tersangkut menelungkup di punggung Kuda

Sempana itu pula. Dengan terbata-bata ia kemudian bertanya,

“Apakah anak itu sudah mati?”.

“Belum guru. Ia baru pingsan. Paman Kebo Sindet dan paman

Wong Sarimpat menghendaki ia tetap hidup”.

Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Serasa urat-uratnya

yang menegang itu pun mengendor kembali. Ternyata ia masih

sempat bertemu dengan Mahisa Agni yang masih hidup.

“Jadi Mahisa Agni masih hidup?”.

“Ya guru”.

“Kenapa ia tidak dibunuh saja? Olehmu atau oleh kedua iblis dari

Kemundungan itu?”

“Paman Kebo Sindet dan paman Wong Sarimpat ingin melihat

Mahisa Agni ketakutan. Mati terlampau cepat bagi Mahisa Agni

agaknya terlampau menyenangkan”.

“Apa yang akan mereka kerjakan?”

“Aku akan membuat perhitungan dengan anak ini.

“Apa yang akan kau lakukan?” Kau akan melakukan perang

tanding di bawah saksi pamanmu Kebo Sindet dan Wong Sarimpat?”

Kuda Sempana terdiam sejenak. Ia menjadi ragu-ragu untuk

menjawab. Tetapi gurunya mendesaknya “Begitu?”.

“Tidak guru“ sahut Kuda Sempana, “dalam keadaannya, aku akan

dapat berbuat apa saja atasnya”.

“Dan kau akan melakukannya juga”.

Kuda Sempana merasakan pertanyaan gurunya itu agak aneh. Ia

tidak melihat kegembiraan pada sikap dan kata-kata Empu Sada.

Sejak lama mereka berusaha untuk dapat berbuat seperti ini,

menangkap Mahisa Agni untuk melepaskan dendam yang membara

di hati. Tetapi setelah ia berhasil menangkap anak muda itu, terasa

pertanyaan-pertanyaan gurunya agak sumbang.

“Bagaimana Kuda Sempana, kau akan melakukan?”. Tiba-tiba

Kuda Sempana menjadi demikian bingung. Karena itu maka

jawabnya “Aku tidak tahu, guru”.

“Kuda Sempana“ desis Empu Sada, “sebaiknya kau menilai dirimu

sendiri. Apakah kau dapat bersikap jantan atau tidak. Kalau kau

merasa dirimu laki-laki, jangan kau berbuat seperti itu. Berbuatlah

seperti seorang laki-laki”.

Kuda Sempana bertambah bingung mendengar kata-kata

gurunya. Ia tidak segera menangkap maksudnya. Bukankah

gurunya sendiri pernah berbuat hal-hal yang dapat disebut licik dan

sama sekali tidak jantan. Adalah tidak dapat dibanggakan

kemenangan Empu Sada atas Mahisa Agni seandainya pada saat itu

Empu Gandring tidak hadir dan seandainya saat itu Empu Sada

berhasil menangkap atau membunuh anak muda itu. Sekarang

gurunya itu bertanya tentang kejantanan dan sikapnya sebagai

seorang laki-laki.

Karena Kuda Sempana tidak segera menjawab, maka Empu Sada

berkata selanjutnya, “Kuda Sempana, sebaiknya kau hentikan

perbuatanmu semacam itu. Seperti kau juga kini menyesal, bahwa

aku pernah berbuat gila-gilaan”.

Kuda Sempana tidak segera menjawab, dadanya masih diliputi

oleh perasaan yang bersimpang siur, bahkan tidak di kenalnya sama

sekali. Itulah sebabnya maka ia masih saja duduk mematung.

Empu Sada seterusnya masih berkata pula, “Kuda Sempana.

Apakah kau mengalami berbagai macam peristiwa berurutan itu

hatimu masih jaga membeku sekeras batu?”.

Kuda Sempana masih juga membeku dan Empu Sada masih

melanjutkan, “Apakah yang telah kau mulai dalam perjalanan

hidupmu setelah kau terpisah daripadaku Kuda Sempana?. Di

tanganku kau telah aku jadikan seorang yang licik dan pendendam.

Kemudian kau bergaul dengan orang-orang Kebo Sindet dan Wong

Sarimpat. Apakah kira-kira yang kemudian tergores pada dinding

hatimu? Apakah kau kemudian menyadari keadaanmu atau bahkan

kau menjadi semakin buas dan garang?”.

Kuda Sempana menundukkan wajahnya. Tidak disengajanya ia

memandangi tubuh Mahisa Agni yang masih saja pingsan. Beberapa

hari yang lewat ia kehilangan segala macam pertimbangan dan

kehendak. Bahkan hatinya benar-benar serasa membeku. Bukan

karena ia ingin melakukan apa saja untuk melepaskan dendamnya,

tetapi serasa ia telah kehilangan arah dan pedoman hidupnya. Ia

berbuat apa saja tanpa dapat mempertimbangkan tujuan dan

akibatnya. Ia berbuat seperti alat yang digerakkan oleh tenaga

orang lain. Sehingga akhirnya ia berbasil berhadapan kembali

dengan Mahisa Agni. Ketika ia berkelahi dengan Mahisa Agni itulah,

maka keinginannya untuk membunuh ternyata telah terungkat

kembali. Meskipun tidak sedahsyat semula.

“Kuda Sempana” panggil Empu Sada kemudian.

Kuda Sempana mengangkat wajahnya. Dipadanginya mata

gurunya yang tajam, seakan-akan langsung menembus pusat

jantungnya. Sehingga Kuda Sempana itu pun tiba-tiba

menundukkan kepalanya kembali.

“Berikanlah Mahisa Agni itu kepadaku”.

Kuda Sempana terkejut mendengar permintaan gurunya itu.

Wajahnya menjadi tegang dan jantungnya berdebaran. Bukan saja

karena ia sendiri ingin berbuat sesuatu atas Mahisa Agni, tetapi

Mahisa Agni itu kini seakan-akan bukan miliknya. Mahisa Agni itu

seakan-akan hanyalah barang titipan.

“Kuda Sempana, berikan Mahisa Agni itu kepadaku” ulang

gurunya.

Dalam kesuraman sinar bulan yang tinggal secabik itu Empu

Sada melihat wajah Kuda Sempana memancarkan beribu

pertanyaan. Wajah yang menjadi kian tegang itu sekali-sekali

terangkat dan kemudian kembali menunduk.

“Apakah kau berkeberatan Kuda Sempana?” “bertanya gurunya.

“Guru“ sahut Kuda Sempana kemudian dengan penuh

kebimbangan, “Aku membawa Mahisa Agni atas perintah paman

Kebo Sindet”.

“Hem“ Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya, “karena

perintah Kebo Sindet maka kau tidak akan memberikannya kepada

siapa pun juga, meskipun kepada gurumu? Adakah lebih baik

bagimu melakukan perintah Kebo Sindet atau memenuhi

permintaanku?”.

Sekali lagi Kuda Sempana terbungkam. Ia tidak dapat menjawab

pertanyaan itu. Bahkan terasa jantungnya menjadi semakin keras

berdentang di dalam dadanya dan kepalanya menjadi pening.

“Kuda Sempana“ berkata Empu Sada selanjutnya, “aku tidak

akan memperhitungkan pendirianmu. Aku tetap pada pendirianku

bahwa aku harus mendapatkan Mahisa Agni itu. Kalau perlu dengan

segala macam cara”.

“Guru“ Kuda Sempana hampir menjerit karena ke bingungan dan

sesak yang menyumbat dadanya, “aku tidak tahu apakah yang

sebaiknya aku lakukan”.

“Apakah kau tidak dapat mendengar kata-kataku? Berikan Mahisa

Agni kepadaku. Itulah yang harus kau lakukan”.

“Bagaimana kalau paman Kebo Sindet marah?”.

“Itu tanggung jawabku”.

“Untuk apakah sebenarnya guru memerlukan Mahisa Agni?

Apakah guru ingin membunuhnya?”

“Kau tidak usah bertanya, untuk apakah Mahis Agni itu bagiku.

Tetapi aku tidak akan mempergunakannya untuk memeras bakal

permaisuri yang kau gilai itu. Kau tahu maksudku”.

Kuda Sempana menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Aku tidak

tahu guru”.

“Kau pun telah masuk kedalam perangkapnya. Kalau kau masih

mau mendengarkan nasehatku, serahkan Mahisa Agni kepadaku dan

tinggalkan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat”.

Kuda Sempana terpaku di atas punggung kudanya sejenak. Katakata

gurunya itu amat asing bagi telinganya dan bagi hatinya. Ia

tidak dapat membayangkan, apakah yang akan dilakukan kemudian.

“Bagaimana?“ bertanya Empu Sada, “aku tahu, selama ini kau

pasti mendapat banyak petunjuk dan ajaran-ajaran dari kedua iblis

itu, yang tanpa kau sadari telah ikut berpengaruh membentuk

dirimu. Tetapi itu bukan karena salahmu. Itu juga karena salahku.

Aku telah membuat kau tanah yang subur bagi ajaran-ajaran Kebo

Sindet dan Wong Sarimpat. Tetapi aku sempat melepaskan diri. Aku

harap kau pun mau mendengar kata-kataku.

Kuda Sempana duduk membeku di tempatnya. Serasa ia

mendengar kata-kata gurunya itu di dalam mimpi yang

mengambang. Ia tidak segera menangkap maksud dan maknanya.

Tetapi Empu Sada menjelaskannya, “Maksudku Kuda Sempana.

Hentikan segala kesesatan. Jalan yang kau tempuh telah terlampau

jauh. Sekarang kembalilah. Mari kita mencari jalan bersama-sama.

Jalan yang terang, yang tidak digelimangi oleh segalamacam noda”.

Kuda Sempana merasakan sentuhan kata-kata gurunya. Tetapi

sentuhan itu agak terlampau lemah. Hatinya selama ini telah

menjadi semakin keras, sekeras batu selama ia berada di dalam

lingkungan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.

Namun Kuda Sempana itu menjawab, “Guru, meskipun

seandainya aku ingin kembali mencari jalan lain, aku kira tak ada

dunia yang sanggup menerima aku. Aku telah terdorong dalam

duniaku yang sekarang. Dan aku tidak akan dapat kembali”.

Empu Sada mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Kuda-Sempana,

kau masih cukup muda. Umurmu, menurut tanggapan lahirilah,

masih lebih panjang dari umurku. Tetapi aku merasa, bahwa aku

dapat menemukan jalan itu. Kaupun pasti akan menemukannya. Tak

ada batas yang dapat menutup kemungkinan itu sampai saat

terakhir dari hidup. Selama kita masih sempat merasa diri kita

bersalah dan dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh mengakui

segala kesalahan untuk bertaubat, maka jalan itu selalu terbuka

bagi kita”.

Sekali lagi Kuda Sempana merasakan sentuhan kata-kata itu.

Secercah goresan yang tipis telah mewarnai perasaannya. Sejenak

anak muda itu termenung.

“Pikirkan Kuda Sempana, sementara itu serahkan Mahisa Agni

kepadaku. Aku akan menyelamatkannya. Tidak akan membunuhnya

seperti apa yang akan aku lakukan beberapa waktu yang lampau.

Ini adalah satu bentuk perbuatan yang bersumber pada

penyesalanku itu. Kalau kau sependapat dengan aku maka

lakukanlah hal yang serupa. Maka kau akan sampai ke jalan yang

kau kehendaki, ke dunia yang kau ragukan apakah masih akan

menerima kau kembali”.

Kuda Sempana masih duduk membeku. Wajahnya menjadi

semakin lama semakin tegang, seperti pergolakan yang terjadi di

dalam dadanya, semakin lama semakin dahsyat.

“Kuda Sempana. Kau tidak usah menjadi cemas, seandainya apa

yang kau lakukan itu tidak dapat di mengerti oleh orang lain.

Bahkan seandainya orang lain tetap menganggapmu sebagai

seorang yang bersalah. Tetapi bukankah bentuk duniawi ini kadangkadang

bertentangan dengan kepentingan hidup yang kekal kelak?

Jangan hiraukan sikap orang lain atas keputusanmu untuk

meninggalkan duniamu yang sekarang. Kau akan menemukan jalan

menuju ke dalam ketenteraman dan kedamaian yang abadi.

Seandainya kau tetap dianggap bersalah dan mendapat hukuman

badani, tetapi berbahagialah kau dengan hukuman badani itu. Jika

kau hayati arti dari pengertian itu, maka kau akan menemukan yang

seharusnya kau cari. Yang kekal, bukan yang semu. Akupun sedang

mencari yang kekal itu sekarang”.

Dada Kuda Sempana serasa menjadi semakin sesak, bahkan

serasa akan meledak. Terdengar suara gurunya itu gemuruh di

dalam jantungnya. Tetapi bukan itu saja. Yang terdengar pula

adalah suara gemuruh derap kaki-kaki kuda semakin lama menjadi

semakin dekat.

Ternyata derap kaki kuda itu telah membuatnya terlampau

gugup. Sentuhan kata-kata Empu Sada yang sedikit demi sedikit

tergores dihatnya, tiba-tiba menjadi terpecah-belah, bercerai-berai

seperti asap di hembus angin.

Yang didengarnya kini hanyalah derap kaki-kaki kuda. Kuda

Sempana segera dapat menebak, bahwa deru kaki-kaki kuda itu

adalah Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Tetapi Kuda Sempana tidak

dapat menduga, bagaimanakah akhir dari perkelahian antara kedua

iblis itu dengan kedua lawan-lawannya. Apakah Ken Arok benarbenar

dapat dibunuh oleh Kebo Sindet dan kemudian bersama-sama

dengan Wong Sarimpat membunuh Empu Gandring, atau kedua

hantu itu sekedar menghindari lawan-lawannya.

Empu Sada pun mendengar pula derap kaki-kaki kuda itu. Di

tengadahkannya wajahnya dan perlahan-lahan ia berdesis “Aku kira

yang aku dengar adalah derap dua ekor kuda”.

Tak ada yang menyahut. Kuda Sempana terbungkam seperti

membeku di tempatnya. Hanya desir angin malam yang menyentuh

dedaunan liar terdengar gemerisik, seperti suara orang yang

berbisik di telinga Empu Sada, “Ya, dua ekor kuda”.

“Kuda Sempana“ berkata Empu Sada kemudian, “apakah kau

tahu, siapakah yang kira-kira akan datang?”

Seperti tidak sadar Kuda Sempana menyahut “Paman Kebo

Sindet dan Wong Sarimpat guru”.

“Hem“ Empu Sada mengangguk-anggukan kepalanya. Terasa

jantungnya menjadi semakin cepat berdentang. Apakah ia akan

mengulangi perkelahian yang pernah dilakukannya melawan kedua

orang itu? Kalau sekarang ia harus bertempur melawan keduanya,

maka ia yakin, bahwa ia akan mati terbunuh dengan sia-sia. Tetapi

apakah ia akan lari menghindar? Lalu apakah gunanya ia berpacu

dengan tergesa-gesa dari padepokannya sampai kedaerah

Panawijen ini?.

“Kuda Sempana“ berkata orang tua itu tiba-tiba, “masih ada

kesempatan. Berikan Mahisa Agni kepadaku”.

Sekali lagi terasa dada Kuda Sempana menjadi pepat. Ia tidak

dapat segera mengambil keputusan. Sedang Empu Sada

mendesaknya. “Cepat, sebelum mereka datang”.

“Aku takut guru“ tiba-tiba terdengar suara Kuda Sempana parau.

“Baiklah. Kau takut kepada kedua iblis itu?” geram Empu Sada,

“kalau demikian, akulah yang akan membunuhmu. Bagiku kau

memang sudah tidak ada gunanya lagi”.

“Guru “ suara Kuda Sempana tersekat di kerongkongan.

“Atau kau berikan Mahisa Agni”.

Kuda Sempana tiba-tiba menjadi gemetar. Seperti seseorang

yang sedang berdiri pada tanah yang rapuh di tepi jurang. Sedikit

saja ia bergerak, maka ia akan terperosok ke dalamnya. Maju atau.

mundur.

Tiba-tiba saja, tanpa diketahuinya sendiri, Kuda Sempana

mengharap kuda-kuda yang berderap itu datang semakin cepat. Ia

mengharap bahwa Kebo Sindet dan Wong Sarimpat akan

melindunginya.

“Ayo Kuda Sempana” suara Empu Sada semakin tajam menusuk

jantungnya, “cepat, serahkan Mahisa Agni atau kau aku bunuh

sekarang juga”.

Kini Kuda Sempana benar-benar menggigil karena gelora di

dalam dadanya yang menjadi semakin dahsyat. Apalagi, ketika ia

melihat gurunya mengangkat tongkatnya. Maka darahnya serasa

telah membeku.

“Kau benar-benar akan membunuh dirimu Kuda Sempana”.

Kuda Sempana tidak menjawab. Meskipun sekali dua kali

tangannya menyentuh hulu pedangnya, tetapi ia tidak dapat

berbuat apapun menghadapi gurunya. Seandainya ia ingin melawan,

maka perlawannya itu akan tidak berguna sama sekali. Karena itu

maka anak muda yang telah kehilangan gairah menghadapi masamasa

depannya itu, kini benar-benar menjadi putus asa. Ia tidak

merasa sesuatu kepentingan apapun untuk mempertahankan

dirinya. Apalagi terhadap gurunya. Kalau gurunya menginginkan

Mahisa Agni, biarlah ia dibunuhnya. Itu lebih baik baginya dari pada

ia akan mati dalam kengerian di tangan Kebo Sindet dan Wong

Sarimpat yang pasti menjadi sangat marah.

Dengan demikian, maka Kuda Sempana itu pun menjadi pasrah.

Ia tidak ingin lagi berusaha sesuatu untuk menyelamatkan dirinya.

Dengan dada yang membeku mati ia menundukkan kepalanya. Ia

tidak akan mengelak meskipun ia melihat Empu Sada telah

mengangkat tongkatnya.

Derap kedua ekor kuda yang didengar oleh Empu Sada pun

menjadi semakin dekat. Ia sudah semakin terdesak waktu. Hatinya

yang bergelora telah mendorongnya maju beberapa, langkah. Ia

melihat Mahisa Agni yang pingsan, dan ia mengenangkan semua

peristiwa yang pernah dialaminya. Kini ia sadar sesadar-sadarnya

menghadapi keadaan, ia datang ke Panawijen untuk mengurangi

kesalahannya dan berusaha menyelamatkan Mahisa Agni karena itu

siapa pun yang menghalangnya harus disingkirkan.

Kini yang berada dihadapannya adalah Kuda Sempana yang telah

menundukkan kepalanya. Dengan mudah ia dapat menyentuh

kepala anak itu dengan tongkatnya, dan anak itu akan terpelanting

jatuh. Bahkan mati.

Namun tiba-tiba dadanya menjadi semakin bergelora. Kuda

Sempana itu adalah muridnya. Betapapun juga, maka ia tidak

segera dapat melupakan hubungan yang selama ini telah terjalin.

Dan tiba-tiba pula ia melihat anak muda yang pasrah itu dengan

hati yang jujur. Kesalahan ini tidak seluruhnya dapat ditumpahkan

kepada Kuda Sempana. Justru kesalahan terbesar adalah terletak

pada dirinya sendiri. Ia adalah orang yang harus bertanggung

jawab, kenapa anak muda itu menjadi liar dan buas. Ia adalah

seorang yang patut menanggung segala akibat dari kebinalan Kuda

Sempana karena Kuda Sempana adalah muridnya.

Empu Sada yang sudah mendekati muridnya itu pun menjadi

tertegun. Iapun kemudian membeku seperti Kuda Sempana. Tetapi

kemudian hatinya pun menjadi bulat. Ia tidak akan meletakkan

tanggung jawab kepada Kuda Sempana, tetapi kepada diri sendiri.

Dengan tekad yang menyala didalam dadanya ia bergumam, “Aku

akan hadapi kedua iblis itu dengan mempertaruhkan nyawa”.

Kuda Sempana yang telah menundukkan wajahnya dengan

pasrah, mendengar gumam yang lirih itu , tiba-tiba dada anak muda

itupun terdesir pula. Ia tahu benar arti kata-kata gurunya, sehingga

tanpa dikehendakinya sendiri ia berkata, “Guru, mereka adalah

orang-orang yang sangat buas”.

Empu Sada mengerutkan keningnya. Dipandanginya muridnya

dengan pandangan yang suram. Ternyata betapapun anak itu jauh

tersesat, tetapi ia masih mampu membuat perbedaan antara sifatsifat

seseorang. Dengan nada yang detar Empu Sada menjawab,

“Terima kasih akan peringatamu itu Kuda Sempana. Agaknya kau

masih juga menyayangkan nyawaku. Tetapi aku sudah bertekad

untuk berbuat sesuatu. Aku sudah bertekad untuk menyelamatkan

Mahisa Agni. Nah kemudian terserah padamu. Kalau aku mati dalam

perkelahi ini maka aku akan mati dengan dada yang lapang, sebab

aku mati selagi aku berusaha untuk berbuat sesuatu yang

bermanfaat bagi manusia dan kemanusiaan. Sebab menurut

perhitunganku keselamatan Mahisa Agni bukanlah sekedar Mahisa

Agni seorang, tetapi di belakangnya adalah seluruh penghuni

padukuhan Panawijen yang mengalami kekeringan. Sedang apabila

aku berhasil keluar dari pertempuran ini dengan selamat, aku sudah

memberitahukan kepadamu bahwa aku memerlukan Mahisa Agni

itu”.

Kepala Kuda Sempana terasa menjadi semakin pepat. Semua

yang akan terjadi sama sekali tidak dikehendakinya. Ia tidak ingin

gurunya, Empu Sada itu mati. Tetapi kalau ia hidup, maka Mahisa

Agni itu akan dimintanya. Justru untuk menyelamatkannya. Dalam

kepepatan itu terdengar Empu Sada berkata, “Menepilah Kuda

Sempana. Jadilah saksi perkelahian ini. Kalau aku mati, mungkin kau

masih juga bersedia untuk menguburkan mayatku”.

Kuda Sempan tidak menjawab kata-kata gurunya. Tetapi gelora

di dalam dadanya menjadi kian gumuruh meledak-ledak.

“Menepilah” lagi terdengar suara Empu Sada, “itulah mereka

sudah datang”.

Dengan dada yang hampir meledak Kuda Sempana mendengar

derap kuda semakin dekat. Seperti di dorong oleh sebuah pengaruh

yang tak dimengertinya ia menggerakkan kudanya menepi. Ketika ia

memalingkan kepalanya, maka dilihatnya dua ekor kuda berpacu

dalam kesuraman sinar bulan tua yang kekuning-kuningan. Segera

Kuda Sempana mengetahui kahwa keduanya itu adalah Kebo Sindet

dan Wong Sarimpat.

Sekali lagi, terdorong oleh parasaan yang tak dikenalnya anak

muda itu berdesis “Guru, mereka adalah orang-orang yang sangat

buas”.

“Ya, aku sudah mengenal mereka dengan baik” jawab Empu

Sada, “sekali lagi, terima kasih akan peringatanmu”.

“Sebaiknya guru meniggalkan mereka”.

Empu Sada menggeleng, “Aku akan menyelamatkan Mahisa Agni.

Aku akan berbuat apa saja untuk kepentingan itu. Mungkin aku

akan berbuat curang atau berbuat apa saja. Mungkin juga aku akan

menjadi sangat licik. Aku tidak peduli lagi akan harga diriku Aku

tidak peduli lagi, apakah yang akan dikatakan orang atas diriku.

Tetapi aku sudah mempertimbangkan masak-masak untuk

menyelamatkan Mahisa Agni, maka Empu Sada yang telah penuh

dengan noda-noda di sepanjang hidupnya ini sudah tidak berarti,

tetapi Mahisa Agni adalah lambang dari masa-masa mendatang,

sedang aku adalah cermin dari kerapuhan di masa-masa lalu.”

Kuda Sempana tidak lagi sempat berbuat apapun juga untuk

memperingatkan gurunya. Kedua kuda iblis dari Kemundungan

itupun, sudah menjadi semakin dekat.

Kuda Sempana melihat Empu Sada mempersiapkan diri untuk

menyongsong keduanya. Dan tiba-tiba orang tua itu menggerakkan

kendali kudanya maju beberapa langkah.

Yang terdengar adalah suara Wong Sarimpat berteriak nyaring

“He, bukankah kau Kuda Sempana, kenapa kau berhenti, dan

siapakah orang itu?”.

Tak ada jawaban. Dan yang terdengar adalah suara Wong

Sarimpat itu pula dengan nada yang aneh karena terkejut, “Aku

melihat tongkat panjang itu. Apakah kau Empu Sada?”

Kuda-kuda merekapun menjadi semakin dekat. Tetapi Empu

Sada tidak mau berteriak menjawab pertanyaan Wong Sarimpat.

Dibiarkannya mereka menjadi lebih dekat lagi.

“Setan tua itu agaknya masih hidup“ teriak Wong Sarimpat pula.

Mereka sudah menjadi semakin dekat “tetapi kali ini kau tidak akan

lepas lagi dari tangan kami. He, Empu yang malang. Ternyata

betapa jauh kau bersembunyi, namun tiba-tiba kita telah bertemu

lagi”.

Keduanya kini sudah demikian dekatnya, dan sejenak kemudian

kedua kuda itu pun berhenti.

Empu Sada melihat wajah kedua orang itu di dalam kesamaran

sinar bulan. Tanpa disengajanya ia menengadahkan wajahnya, dan

dilihatnya bulan itu masih saja berkalang. Bahkan semakin jelas.

dada orang tua itu pun tiba-tiba pula berdesir karenanya.

“Hem“ terdengar suara Kebo Sindet menggeram di dalam

perutnya, “ternyata kau masih hidup Empu”.

“Ya, aku masih hidup“ sahut Empu Sada dengan nada yang

datar. “Apakah kau heran?”

Wajah Kebo Sindet yang beku itu sama sekali tidak berubah.

Hanya matanya sajalah yang seolah-olah membara memandangi

Empu Sada yang duduk tenang di atas punggung kudanya.

“Tetapi apakah sekarang kau dengan sengaja menjumpai kami?”

bertanya Kebo Sindet.

“Ya, aku sengaja menjumpai kalian. Aku mendengar cara kalian

memancing Mahisa Agni. Dan aku agaknya dapat memperhitungkan

dengan tepat apa yang akan kalian lakukan atasnya”.

“Sekarang apa maksudmu?”.

“Aku minta Mahisa Agni. Sebenarnya aku dapat merampasnya

dari tangan Kuda Sempana. Tetapi aku masih ingin berhadapan

langsung dengan kalian, supaya aku mendapat kepuasan melihat

hasil usahaku itu”.

Terdengar Keho Sindet menggeram seperti gunung yang akan

meledak. Meskipun wajahnya yang beku tetap membeku, tetapi

nafsu untuk segera membunuh Empu Sada telah memancar dari

kedua biji matanya yang berwarna semakin merah membara.

Namun dalam pada itu terdengar Wong Sarimpat tertawa

menyakitkan hati. Dengan nada tinggi ia berkata, “O, alangkah

malang nasibmu Empu. Kau masih juga tidak menyadari

keadaanmu. Apakah kau akan sekali lagi berkelahi dengan curang?

Meskipun demikian kalau tidak ada setan yang menyembunyikan

kau waktu itu, maka kau pasti akan menjadi bangkai makanan

anjing-anjing liar. Sekarang kau masih juga akan mencobanya lagi.

Apalagi kita berhadapan beradu dada. Maka umurmu tidak akan

lebih dari sepemakan sirih”.

Empu Sada mengangkat alisnya. Dengan tenang ia menjawab

“Apa kita akan berhadapan beradu dada?”.

Wong Sarimpat terdiam sejenak. Tampaklah wajahnya yang

kasar menjadi berkerut-merut. Sejenak ditatapnya wajah Kebo

Sindet yang membeku, seolah-olah ia ingin bertanya, apakah yang

harus dilakukannya. Apakah ia akan melayani tantangan Empu Sada

itu yang maknanya diketahuinya dengan baik.

Namun terdengar Kebo Sindet menjawab dengan kata-kata yang

seolah-olah bergumul di dalam perutnya, “Apakah artinya kau

Empu. Apakah kau sangka bahwa kami menganggap kau cukup

bernilai untuk kami layani dengan menjunjung kehormatan kami,

dengan perang tanding misalnya? Selamanya kau pasti akan

berbuat curang dan licik. Kami sudah mengenal kau dengan baik.

Pada saat yang lampau itu dapat menjadi peringatan bagi kami,

siapakah Empu Sada itu, dan bagaimana kali caranya melayani

lawannya, meskipun lawannya berbuat sejujur-jujurnya. Pada

perkelahian kita yang terakhir itu adalah peringatan yang terakhir

pula bagi kami, bahwa kami untuk seterusnya tidak akan

mempercayai kau lagi, apabila kau masih akan bertemu lagi dengan

kami, seperti saat ini”.

Empu Sada tersenyum mendengar kata-kata Kebo Sindet.

Jawabnya, “Kau dapat berkata demikian kepada orang lain yang

tidak melihat apa yang terjadi sesungguhnya. Kau dapat membual

dan memutar balik keadaan terhadap orang lain. Tetapi jangan

kepadaku. Dan jangan kepada Kuda Sempana. Sebab kalian dan

pasti mengerti bahwa kami, aku dan Kuda Sempana, tahu benar apa

yang telah terjadi. Sehingga ceriteramu itu benar-benar seperti

ceritera yang kau hisap dari ujung kelingkingmu.

Sekali lagi terdengar Kebo Sindet menggeram. Yang menyahut

kemudian adalah Wong Sarimpat “Kakang, kenapa kita membuang

waktu untuk mendengarkan kata-katanya yang tidak berujung

pangkal itu? Seperti yang diigaukan oleh seseorang yang sedang

sekarat. Marilah kita selesaikan saja orang ini. Kita bunuh dan kita

cincang sampai lumat”.

Kebo Sindet tidak menjawab. Tetapi sikapnya yang kaku tegang

menunjukkan, bahwa ia sependapat dengan pikiran adiknya itu.

Dalam pada itu, maka Empu Sada pun berkata, “Apakah sudah

kalian pikirkan masak-masak keputusan kalian itu?”

Terdengar Wong Sarimpat tertawa berkepanjangan. Katanya, “O,

ternyata kau sudah mulai ketakutan. Agaknya kau mengharap

bahwa kau akan dapat mencoba mengungkat harga diri kami, dan

kemudian dengan licik akan kau manfaatkan. Sekarang Empu yang

malang, kau tidak akan dapat lepas lagi dari tangan kami. Nyawamu

benar-benar sudah berada di ujung ubun-ubun. Sebenarnya bagimu

lebih baik kau menyerah saja, dan kau akan mati dengan cepat

tanpa merasakan lelah lebih dahulu, dari pada kau harus bertempur

mati-matian, namun akibatnya tidak akan berbeda. Sebab kali ini

kami sudah tidak akan …“ tiba-tiba kata-kata Wong Sarimpat itu

terputus. Ternyata Empu Sada melakukan apa yang dikatakannya.

Untuk menyelamatkan Mahisa Agni, apapun akan dikorbankannya.

Nyawanya, kehormatannya dan apa saja. Kali ini Empu Sada

menyadari, betapa ia berlaku licik. Tetapi ia sudah tidak

mempertimbangkannya lagi. Dengan serta merta selagi Wong

Sarimpat tertawa berkepanjangan sambil berkata dengan

sombongnya, tiba-tiba orang tua itu melepaskan sebilah keris kecil,

hampir sekecil kelingkingnya. Demikian cepat dan tiba-tiba, serta

dilambari tenaga Empu Sada yang sedang diamuk oleh kebencian,

dendam, kemarahan dan segala macam perasaan, dan bahkan lebih

dari pada itu adalah perasaan bersalah atas tertangkapnya Mahisa

Agni, maka tenaga lontarannya pun seakan-akan menjadi berlipat

ganda.

Kedua iblis dari Kemundungan itu terkejut bukan kepalang. Sekali

lagi mereka didahului oleh kelicikan Empu Sada. Kebo Sindet yang

berwajah beku itupun tampak menggerakkan dahinya sambil

berteriak, “Sarimpat, hindari senjata itu”.

Wong Sarimpat pun melihat sebilah keris yang kecil itu meluncur

ke arahnya. Tetapi demikian tiba-tiba. Hanya karena kelincahan dan

pengalaman yang tidak terhitung itulah, maka ia dapat

menghindarkan senjata itu menembus dada langsung menghunjam

ke jantungnya. Namun meskipun demikian, senjata itu masih juga

mengenai pangkal lengan kirinya.

Terdengar orang itu mengaduh pendek, namun kemudian

terdengar ia mengumpat dengan kata-kata yang kotor.

Tetapi sekali lagi Wong Sarimpat harus menutup mulutnya ketika

dengan dahsyatnya Empu Sada menyerang tanpa mengucapkan

kata-kata apapun. Kali ini tongkat panjangnya menyambar dengan

cepatnya, seperti lidah api meloncat di udara.

Namun sekali lagi Empu Sada berbuat curang. Ternyata ia lidak

menyerang lawannya, tetapi ternyata tongkatnya menyambar kaki

kuda Kebo Sindet. Kuda itu terkejut bukan kepalang. Terdengar ia

meringkik tinggi, namun sejenak kemudian kuda itupun robohlah ke

tanah.

“Setan licik” teriak Wong Sarimpat sambil meraba pangkal

lengannya. Terasa cairan yang hangat meleleh dari lukanya Kini ia

melihat Kebo Sindet tidak berkuda lagi. Tetapi meskipun demikian,

ia merasa mendapat kesempatan untuk mencabut keris yang hampir

tenggelam sampai ke hulu itu dari pangkal lengannya.

Kebo Sindet yang terpaksa meloncat dari kudanya menjadi marah

bukan buatan. Sekilas ia melihat kudanya begetar, namun sejenak

kemudian didengarnya kuda itu meringkik-ringkik. Agaknya kakinya

terasa demikian sakitnya, sehingga kuda itu tidak lagi mampu

berdiri.

Sambil menggenggam goloknya erat-erat Kebo Sindet itu

menggeram, “Kau benar-benar setan yang licik. Pengecut yang tidak

punya malu. Apakah kau sangka caramu itu cukup bernilai untuk

mendapat pelayanan yang jujur. Sekarang aku pun akan berbuat

apa saja untuk membunuhmu”.

Kini Empu Sadalah yang tertawa. Sambil memutar kudanya ia

berkata, “Lakukan apa saja yang dapat kau lakukan, aku pun akan

berbuat serupa licik, pengecut, curang dan apa saja. Kita adalah

orang-orang dari daerah yang hitam. Dari daerah yang penuh

dengan noda. Dimana tidak ada lagi ukuran yang dapat memberi

penilaian terhadap apa yang kita lakukan. Tak ada lagi ikatan-ikatan

dan keharusan, apalagi tata kesopanan. Kebo Sindet dan Wong

Sarimpat. Kita adalah binatang-binatang liar yang buas yang hidup

di tengah-tengah rimba yang lebat. Jangan menyebut-nyebut lagi

tentang kelicikan, kecurangan, pengecut dan sebagainya. Itu adalah

sandangan kita. Itu adalah sikap dan sifat-sifat yang memang kita

miliki sejak lama. Ayo, sekarang, marilah kita berbuat apa saja”.

“Setan alas“ Kebo Sindet itu mengumpat “aku terima

tantanganmu Empu. Kita akan berbuat apa saja”.

Empu Sada tidak menunggu Kebo Sindet itu mengatupkan

mulutnya. Kudanya segera meluncur seperti anak panah menyerang

iblis dari Kemundungan itu. Tetapi kali ini Kebo Sindet sudah bersiap

menerimanya. Goloknya yang besar segera berputar. Ia ingin

berbuat seperti Empu Sada, menjatuhkan kuda lawannya. Tetapi

ternyata tongkat Empu Sada lebih panjang dari goloknya, sehingga

ia tidak sempat maju lebih dekat lagi pada kuda lawannya itu.

Bahkan ia melihat ujung tongkat Empu Sada menyambar kepalanya,

sehingga dengan demikian ia harus menangkisnya.

Terjadilah benturan antara keduanya, dan keduanya merasakan

betapa kekuatan lawannya terpusat pada Senjata-senjata itu,

dilambari oleh kemarahan dan nafsu yang hampir tak terkendali.

Sementara itu Wong Sarimpat sedang sibuk berusaha menarik

keris yang menghunjam dipangkal lengannya. Terdengar ia berdesis

di atas punggung kuda. Ketika ia melihat kakaknya bertempur

dengan gigihnya, maka ia merasa aman untuk melakukannya.

Sambil memejamkan matanya Wong Sarimpat menjepit hulu

keris yang hanya mencuat tidak lebih dari senyari itu, dengan kedua

ujung jarinya. Perlahan-lahan ditariknya keris itu sambil berdesis

menahan sakit. Namun kadang-kadang mulutnya masih juga sempat

mengumpat-umpat dengan kotornya.

“Iblis laknat” orang itu berteriak ketika ia berhasil menarik keris

itu dari pangkal lengannya. Tetapi sejenak kemudian sekali lagi ia

menyeringai kesakitan. Darah yang merah kehitam-hitaman

kemudian bergumpal-gumpal meleleh dari luka yang tidak seberapa

besar itu.

Wong Sarimpat itu mengangkat wajahnya ketika ia mendengar

suara Empu Sada, “Kerisku mengandung warangan yang tajam

Sarimpat. Kau lihatlah darahmu dengan saksama”.

“Aku sudah mengira“ teriak Wong Sarimpat sambil melihat Empu

Sada itu bertempur terus melawan kakaknya. Tetapi Empu Sada

yang berada dipunggung kuda itu masih juga mempunyai

kesempatan lebih banyak. Kebo Sindet, seakan-akan hanya dapat

menunggu serangan-serangan yang datang menyambar-nyambar.

Tetapi ia tidak banyak mendapat kesempatan untuk menyerang

lawannya, karena setiap kali kuda Empu Sada itu menyambar, lalu

dengan cepatnya berlari menjauh untuk kemudian berputar dan

sekali lagi menyambarnya dengan dahsyat seperti badai.

“Tetapi warangan yang betapapun tajamnya tidak akan berarti

apa-apa bagiku Empu“ teriak Wong Sarimpat itu pula.

Empu Sada yang mendengar teriakan itu sempat berpaling.

Dalam kesuraman cahaya bulan yang redup ia melihat Wong

Sarimpat mengambil sebilah pisau. Dengan pisau itu ia melukai

pangkal lengannya sendiri di sekitar lukanya karena keris Empu

Sada; sehingga dengan demikian darah yang merah segar menjadi

semakin banyak mengalir.

“Tak ada gunanya“ berkata Empu Sada, “sentuhan warangan itu

dengan setetes darahmu telah cukup membuatmu, beku”.

Tetapi Empu Sada itu pun kemudian melihat Wong Sarimpat

menelan segumpal obat reramuan pencegah racun. Sambil menelan

orang itu masih juga mengambil raramuan yang lain untuk

diusapkan pada lukanya, sehingga luka itu terasa agak menjadi

dingin.

“O, iblis itu benar-benar telah mempersiapkan diri untuk

menghadapi setiap kemungkinan“ geram Empu Sada di dalam

hatinya.

Dalam pada itu ia mendengar Wong Sarimpat berteriak, “tak ada

racun yang dapat membunuh Wong Sarimpat” katanya, “aku sudah

menemukan obat untuk mengobati segala macam warangan dan

racun karena gigitan ular sekalipun. Bahkan sengatan lebah biru dari

kaki gunung Semeru. Apalagi sejenis warangan mu yang tidak

berarti apa-apa itu bagiku”.

Empu Sada tidak menyahut. Ia memang melihat lamat-lamat

darah semakin banyak mengalir. Dengan demikian, maka racun itu

pun akan dapat dipunahkannya.

Tetapi meskipun demikian, ia telah berhasil melukai Wong

Sarimpat. Luka yang kemudian dibuat menjadi besar oleh orang itu

sendiri. Mengalirkan darah dari tubuhnya, berarti mengurangi

kekuatan tubuh itu dan daya tahannya.

Sejenak kemudian Wong Sarimpat yang merasa, bahwa racun

Empu Sada sudah tidak berbahaya lagi bagi tubuhnya, segera

melumuri lukanya itu dengan semacam obat yang lain, obat yang

dapat menghentikan arus darahnya.

Kemudian terdengar Wong Sarimpat itu tertawa. Digerakkannya

kudanya beberapa langkah maju. Katanya di antara suara

tertawanya yang menyakitkan hati, “Sekarang aku sudah selesai

Empu. Aku akan berkelahi bersama kakang Kebo Sindet, dan

kaupun akan segera mati terbunuh. Begitu?”

Empu Sada sama sekali tidak menjawab kata-kata Wong

Sarimpat. Ia sedang berusaha untuk menekan Kebo Sindet selagi ia

masih mendapat kesempatan. Kudanya masih saja menyambarnyambar

seperti burung elang di udara. Tetapi Kebo Sindet

bukanlah seekor anak ayam yang ketakutan melihat elang. Dengan

garangnya ia menyambut setiap serangan seperti seekor harimau

yang kelaparan.

Demikianlah pertempuran itu semakin lama menjadi semakin

dahsyat. Keduanya adalah orang-orang sakti yang sukar di cari

bandingnya. Adalah suatu keuntungan bagi Empu Sada, bahwa

kelincahan kudanya dapat membantunya mempersulit kedudukan

lawannya. Meskipun demikian Empu Sada masih juga belum

mendapat kesempatan untuk berbuat banyak.

Wong Sarimpat yang telah selesai mengobati luka-lukanya itu

tidak segera masuk kedalam perkelahian. Ia melihat kakaknya masih

akan dapat bertahan seorang diri. Dibiarkannya tubuhnya menjadi

lebih baik dan kuat setelah beberapa saat ia harus berjuang untuk

melawan racun.

Bahkan Wong Sarimpat itu kemudian mendekati Kuda Sempana

yang melihat perkelahian itu dengan mata tanpa berkedip, tetapi

dengan jantung yang berdegupan dengan gemuruh.

Anak muda itu terkejut ketika Wong Sarimpat menggamitnya “He

KudaSempana. Kau lihat perkelahian itu?”

Kuda Sempana mengangguk.

“Katakan, siapakah yang bakal menang?”

Kuda Sempana terbungkam. Ia tidak dapat menjawab pcrtanyaan

itu. Ia mengharap gurunya tidak mati, tetapi ia mengharap pula

bahwa Kebo Sindet akan melindunginya dari keinginan gurunya

untuk menyelamatkan Mahisa Agni. Meskipun ia tidak lagi dapat

mempertimbangkan, apa yang sebaiknya dilakukan atas Mahisa

Agni, tetapi kini yang dipikirkannya adalah, bahwa Mahisa Agni itu

akan selalu merupakan hantu baginya di masa-masa mendatang

apabila ia masih akan tetap hidup. Mahisa Agni akan selalu

membayanginya dengan penuh dendam dan kebencian. Karena itu,

maka baginya kini, lebih baik apabila Mahisa Agni itu lenyap saja

sama sekali.

Karena Kuda Sempana tidak menjawab, maka berkatalah Wong

Sarimpat, “Mungkin kau tidak cukup mampu menilai perkelahian itu

Kuda Sempana. Baiklah aku beritahu bahwa keduanya dalam

keadaan seimbang. Kelebihan Empu Sada hanyalah terletak pada

kudanya itu. Meskipun demikian kudanya itu pun tidak akan banyak

menolong, sebab segala macam geraknya mau tidak mau harus

diperhitungkan pula dengan setiap kemungkinan yang dilakukan

oleh kudanya, sebab kuda itu mempunyai otaknya sendiri. Kalau

kuda itu tidak mempunyai otak dan kemauan sendiri, maka Empu

Sada pasti akan segera memenangkan perkelahian itu.

Kuda-Sempana masih saja berdiam diri.

“Tetapi“ Wong Sarimpat meneruskan, “aku akan segera terjun ke

dalam arena. Nah, kau akan dapat mempertimbangkan, apakah

yang kira-kira akan terjadi. Mungkin kau tidak akan sampai hati

melihat gurumu mati terbunuh, bahkan untuk meyakinkannya,

mungkin aku akan mencincangnya”.

Kuda Sempana sama sekali tidak menjawab.

“Nah“ Wong Sarimpat berkata lebih lanjut, “Apakah kau akan

menyaksikannya, apakah kau akan pergi lebih dahulu membawa

Mahisa Agni itu ke Kemundungan? Atau kau akan mencoba berbuat

sesuatu?”.

Kuda Sempana seolah-olah telah benar-benar membeku di atas

punggung kudanya. Karena itu ia sama sekali tidak menjawab.

“Jangan takut kepada Mahisa Agni. Urat nadinya terganggu

karena sentuhan tangan kakang Kebo Sindet. Ia akan menjadi

sadar, apabila kakang Kebo Sindet menghendakinya”.

Kuda Sempana masih tetap mengatupkan mulutnya.

“Hem, kau menjadi bisu agaknya. Baiklah. Duduk sajalah di situ”.

Wong Sarimpat itu pun kemudian memutar kudanya. Kini ia

melihat perkelahian antara kakaknya melawan Empu Sada telah

bergeser beberapa langkah. Tetapi ia masih melihat bahwa

keduanya sama sekali belum banyak mendapat kemajuan. Meskipun

demikian, agaknya keadaan Empu Sada masih lebih baik dari

kakaknya yang harus berloncatan menghindari derap kuda Empu

Sada dan tongkatnya yang terayun-ayun mengerikan. Sedang Kebo

Sindet itu sendiri hanya mendapat sedikit saja kesempatan

melakukan serangan-serangan atas lawannya,

“Pertempuran itu tidak adil“ desis Wong Sarimpat, “aku harus

membantunya”. Tetapi orang itu tidak pernah mempertimbangkan,

bahwa untuk melawan mereka berdua adalah perbuatan yang tidak

adil pula.

Demikianlah, maka Wong Sarimpat itu perlahan-lahan mendekati

arena perkelahian. Ia melihat sekali-sekali kakaknya terpaksa

meloncat jauh-jauh surut. Sekali-sekali bahkan ia terdorong dengan

kerasnya. Namun meskipun demikian, Kebo Sindet masih juga tetap

memberikan perlawanan yang sengit.

Wong Sarimpat itupun kemudian berhenti beberapa langkah dari

titik pertempuran. Diamatinya keadaan dengan seksama, seperti

seorang saksi yang sedang memperhatikan sebuah perang tanding

yang seru. Diperhatikannya cara Empu Sada menggerakkan

kudanya menyambar lawannya, dan diperhatikannya bagaimana ia

menghindar apabila Kebo Sindet membalas menyerangnya.

“Ternyata Empu tua itu ahli pula bermain-main dengan kuda,

agak lebih baik dari Empu Gandring“ desisnya di dalam hati.

Beberapa langkah lagi ia maju. Hampir pada garis serangan

Empu Sada. Sambil menyeringai maka Wong Sarimpat

menggerakkan pedangnya berputaran.

Empu Sada melibat bagaimana Wong Sarimpat ingin memotong

garis serangannya. Karena itu, maka segera diputarnya kudanya

menghindar, dan ditempuhnya sebuah garis serangan yang lain.

“Huh“ Wong Sarimpat berdesis, “pengecut. Kau tidak berani

menghadapi aku yang sama-sama berada di atas, punggung kuda”.

Tetapi Empu Sada tidak menjawab. Namun segera ia bersiap

untuk menghadapi lawannya yang baru.

Ternyata Wong Sarimpat tidak melepaskan waktu terbuang lebih

banyak. Segera ia menggerakkan kendali kudanya dan kuda itu pun

meluncur dengan cepatnya menyerang Empu Sada. Agaknya kali ini

Wong Sarimpat telah memperhitungkan banyak kemungkinan. Ia

telah memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan untuk

bertempur di atas punggung kudanya. Karena itu, maka kudanya

kali ini diberinya berpelana.

Serangan Wong Sarimpat itu pun cukup dahsyat. Meskipun

pangkal lengan kirinya telah terluka, namun tenaga tangan

kanannya masih cukup menggetarkan tongkat lawannya.

Kini, Empu Sada harus menghadapi dua orang lawan yang

masing-masing memiliki kekuatan setingkat dengan dirinya. Ia

hanya sempat mengurangi kelincahan Wong Sarimpat dengan

melukai tangannya. Meskipun demikian, tetapi Wong Sarimpat

masih tetap garang dan buas.

Untuk menghadapi keduanya maka Empu Sada harus benarbenar

berkelahi dengan licik. Setiap kali ia melawan Wong Sarimpat

sambil berputaran menjauhi Kebo Sindet yang meloncat-loncat

mengejarnya. Tetapi ternyata tenaga kuda Empu Sada masih lebih

cepat dari tenaga wajar Kebo Sindet, sehingga dengan demikian,

maka Kebo Sindet tidak dapat mendekatinya. Setiap kali ia

mendekat, maka Empu Sada mendorong kudanya untuk berlari

menjauh sambil menyerang Wong Sarimpat atau menghindari

serangannya.

“He, Empu Sada“ Kebo Sindet akhirnya tidak dapat menahan

kemarahannya, “kau benar-benar pengecut. Jauh lebih pengecut

lagi dari yang aku sangka. Kau sama sekali tidak berani berhadapan

langsung melawan aku. Kau selalu melarikan kudamu menjauh,

setiap kali menjauh”.

“Jangan berteriak-teriak Kebo Sindet“ jawab Empu Sada, “aku

masih sibuk melayani adikmu yang tangannya hampir menjadi patah

ini”.

“Tutup mulutmu“ teriak Wong Sarimpat, “aku masih mempunyai

kemungkinan yang cukup untuk membelah dadamu yang penuh

dengan kesombongan, tetapi licik, curang, pengecut, penakut,

penipu ..”

Wong Sarimpat tidak sempat meneruskan kata-kata umpatannya.

Tiba-tiba saja tongkat Empu Sada mematuk hampir tepat masuk

kemulutnya. Dengan tergesa-gesa Wong Sarimpat membungkukkan

badannya dan dengan cekatan digerakkan goloknya menangkis

serangan yang datangnya dengan tiba-tiba itu. Hanya oleh

keahliannya mengendalikan kudanya, maka Wong Sarimpat dapat

menghindari serangan Empu Sada berikutnya. Serangan yang

hampir membabi buta. Namun Empu Sada masih memiliki

kesadaran menghadapi kedua iblis yang mengerikan itu.

Demikianlah perkelahian itu menjadi semakin lama semakin seru.

Empu Sada dan Wong Sarimpat bertempur seperti sepasang burung

Rajawali yang sedang berebut sarang. Sedang Kebo Sindet dengan

dada yang bergelora hampir meledak tidak banyak mendapat

kesempatan untuk ikut serta dalam perkelahian berkuda itu. Hanya

kadang-kadang saja ia sempat meloncat pada garis perkelahian itu,

dan dengan goloknya yang dahsyat menyerang Empu Sada. Namun

kuda Empu Sada ternyata dengan lincahnya, selalu menghindarinya.

Berlari dan membuat sebuah putaran yang panjang.

“Empu Sada” Kebo Sindet menjadi semakin marah, “Apakah kau

menyadari apa yang kau lakukan itu? Sebenarnya lebih baik bagimu,

bersembunyi saja di belakang pekiwan dari pada kau datang kemari.

Apakah sebenarnya maksudmu menjumpai aku he? Sekarang kau

selalu menghindari setiap benturan. Benturan kekuatan, ilmu atau

tenaga dan Senjata”.

Empu Sada yang menjadi semakin jauh dari Kebo Sindet masih

saja sibuk melayani serangan-serangan Wong Sarimpat. Keduanya

adalah orang-orang yang hampir mumpuni bermain-main di atas

punggung kuda. Sehingga dengan demikian maka perkelahian itu

pun menjadi semakin seru.

Meskipun demikian Empu Sada masih sempat menjawab, “Kebo

Sindet, jangan tergesa-gesa. Aku bunuh dahulu adikmu. Kemudian

kita akan berhadapan. Dan aku akan segera turun pula dari

kudaku”.

“Persetan” teriak Wong Sarimpat, “mulutmu sama sekali tidak

berarti lagi bagi kami. Mampuslah kau orang tua yang tidak tahu

diri”.

Kuda Sempana yang membeku di atas punggung kudanya

melihat perkelahian itu dengan hati yang bergolak dengan

dahsyatnya, seperti badai yang mengamuk di dalam dadanya.

Gemuruh seolah-olah akan merontokkan tulang-tulang iganya.

Gurunya adalah seorang yang di kenal dan dikaguminya sejak

lama. Tongkat panjangnya itu adalah ciri kebesaran dan

keperkasaannya. Kuda Sempana tidak pernah melihat gurunya

mempergunakan senjata lain daripada tongkat panjang itu. Tongkat

panjang yang telah berada bersama-sama dengan gurunya sejak ia

bertemu untuk pertama kalinya dengan orang itu. Senjata yang

telah mengawaninya melawan seribu macam senjata lawanlawannya.

Dan Kuda Sempana tetap menyangka bahwa tongkat

panjang pusaka gurunya itulah yang tetap bersamanya sampai saat

ini.

Sedang kedua hantu dari Kemundungan itu adalah orang-orang

yang tidak kalah dahsyatnya. Goloknya adalah golok yang luar biasa

pula. Kuda Sempana pernah menyaksikan Kebo Sindet memukul

sebatang besi gligen dengan goloknya itu. Dan besi itupun

terpatahkan, sedang golok itu sama sekali tidak menjadi cacat.

Bahkan semenirpun golok itu tidak gempil.

Kini Kuda Sempana melihat kedua macam senjata itu beradu

dalam genggaman tangan-tangan yang mengerikan.

Kebo Sindet yang akhirnya kehilangan kesabaran, tidak lagi ingin

menunggu lebih lama. Tiba-tiba ia berteriak nyaring sambil

menggetarkan tubuhnya. Dipusatkannya segenap kekuatannya yang

kasat mata dan yang tidak kasat mata. Dengan kemarahan yang

meluap-luap maka disalurkannya kekuatannya yang bersumber pada

kekuatan sesat itu pada tangan kanannya yang menggenggam

goloknya. Dan dengan penuh nafsu ia melenting seperti seekor

bilalang raksasa, melampaui kecepatan loncat seekor kuda

menyerang Empu Sada dengan kekuatan Aji Bajang.

Tetapi Empu Sada yang tua itu telah melihatnya. Dengan

demikian maka ia tidak membiarkan dirinya lumat. Maka di

benturnya Aji Bajang itu dengan kekuatan Ajinya, Kala Bama.

Kedua aji itu adalah kekuatan yang dahsyat, sedahsyat guntur

dan petir. Itulah maka sebabnya ketika Kuda Sempana melihat

keduanya bersiap dalam kekuatan tertingginya, maka hatinya

seakan-akan menjadi meledak pula karenanya. Hampir ia berteriak,

tetapi suaranya tidak terdengar oleh siapapun. Bahkan oleh dirinya

sendiri.

Sementara itu Wong Sarimpat pun mengerutkan keningnya.

Dibiarkannya kakaknya membenturkan Aji Bajang. Ia yakin bahwa

kekuatan Aji Bajang sedemikian dahsyatnya, sehingga hampir tak

dapat dibayangkau akibatnya. Meskipun Wong Sarimpat tahu pula

bahwa Empu Sada pun pasti memiliki simpanan kekuatan, namun

setidak-tidaknya Aji Bajang tidak akan dapat dikalahkan.

“Hanya setan dari Tumapel itu yang tidak lumat karena Aji

Bajang“ desis Wong Sarimpat, “tetapi apabila Aji Bajang itu diulang,

maka prajurit Tumapel yang sombong itu pasti akan menjadi debu”.

Dalam pada itu, Kuda Sempana yang benar-benar membeku itu

melihat Kebo Sindet meloncat seperti petir menyambar di langit.

Namun dalam pada itu ia melihat Empu Sada seperti sebuah gunung

karang yang kokoh kuat, yang tak tergetarkan oleh petir yang

betapapun dahsyatnya.

Demikianlah maka Empu Sada segera menyongsong Kebo Sindet.

Kali ini dihempaskannya segenap kekuatannya pada tongkat

panjangnya. Apapun yang akan terjadi. Ia merasa pula bahwa Kala

Bama tidak akan berada di bawah kekuatan iblis dari Kemundungan

itu.

Sejenak kemudian terjadilah sebuah benturan yang mengerikan.

Demikian kerasnya, sehingga bunga api memercik di udara,

meloncat dari kedua senjata yang sedang beradu.

Sesaat mereka yang menyaksikan benturan itu dicengkam oleh

ketegangan yang memuncak. Seperti mereka pun ikut pula dalam

benturan yang dahsyat itu.

Akibat dari benturan itupun dahsyat pula. Kebo Sindet terlempar

beberapa langkah surut. Dengan kerasnya ia terbanting jatuh.

Beberapa kali ia berguling, kemudian dengan terhuyung-huyung iblis

itu mencoba tegak berdiri. Goloknya yang besar masih berkilat-kilat

di dalam genggamannya.

Sedang Empu Sadapun kemudian terpelanting dari kudanya.

Dengan kerasnya kuda itu meringkik. Terasa pula dorongan

kekuatan benturan itu, sehingga kuda itu tegak berdiri. Namun kuda

itu tidak berlari meninggalkan penunggangnya yang jatuh bergulingguling

di tanah.

Seperti Kebo Sindet, Empu Sada pun segera mencoba berdiri. Ia

masih menggenggam tongkatnya, tetapi ketika ia tegak sambil

mengamati tongkatnya itu, maka dadanya berdesir.

Ia berpaling ketika ia mendengar Wong Sarimpat tertawa

berkepanjangan sambil berteriak-teriak, “He, Empu. Ternyata

tongkatmu terpatahkan”.

Kuda Sempana terkejut mendengar teriakan itu. Ketika ia

memandangi gurunya yang berdiri dengan nafas terengah-engah,

maka dadanya berguncang dengan dahsyat. Iapun kini melihat

bahwa tongkat gurunya, yang selama ini selalu menemaninya,

melawan segala macam senjata yang ada di dunia ini tanpa dapat

dilukai apalagi patah, maka kini dalam benturan dengan golok Kebo

Sindet, tongkat itu patah menjadi dua hampir ditengah-tengah.

Apa yang dilihatnya itu benar telah membuat Kuda Sempana

hampir kehilangan kesadaran. Ia menjadi bingung dan merasa

seakan-akan berada dalam sebuah mimpi, yang dahsyat. Tetapi,

ketika ia melihat gurunya menimang tongkatnya yang patah itu,

segera ia tersadar, bahwa yang terjadi itu bukanlah sebuah mimpi.

Yang terdengar adalah suara tertawa Wong Sarimpat di samping

kata-katanya, “Hayo Empu yang sakti. Apakah sekarang kau masih

juga menyombongkan diri sambil menengadahkan dadamu untuk

melawan sepasang Garuda dari Kemundungan? Menyerahlah,

supaya kau mati dengan tenang”.

Terdengar Empu Sada menggeram. Tetapi segera ia bersiap

menghadapi setiap kemungkinan. Sekali-sekali diamat-amatinya

tongkatnya yang patah itu. Tetapi ia tidak terkejut seperti Kuda

Sempana. Seharusnya ia telah melihat kemungkinan itu dapat

terjadi.

Tetapi Empu Sada tidak sempat merenung terlampau lama. Tibatiba

ia melihat kuda Wong Sarimpat datang menyerangnya benarbenar

seperti seekor Garuda menyambar anak kambing yang

kehilangan induknya. Tetapi Empu Sada bukan seekor anak

kambing. Betapapun juga ia masih mampu menghindari serangan

itu. Dipungutnya potongan tongkatnya yang lain, sehingga dengan

demikian kini ia bersenjata sepasang potongan tongkatnya.

Serangan Wong Sarimpat itu pun kemudian datang

bergelombang seperti ombak di lautan. Beruntun tak henti-hentinya

menghantam tebing, sehingga beberapa kali Empu Sada terdesak

semakin jauh.

Sekali lagi dada Empu Sada berdesir ketika ia melibat Kebo

Sindet dengan tiba-tiba meloncat ke atas punggung kudanya. Ya,

kuda yang telah terlepas dari tanganya karena benturan kekuatan.

Terdengarlah orang tua itu menggeram semakin keras.

Tiba-tiba ia mendengar Kuda Sempana berteriak “Guru, pakailah

kudaku.”

Empu Sada terkejut mendengar teriakan itu. Kemudian disusul

dengan teriakan Kebo Sindet, “Kuda Sempana. Apakah kau sadari

perbuatanmu itu?”.

Dengan tiba-tiba Empu Sada melihat Kuda Sempana telah berada

di sampingnya. Sekali lagi ia berkata, “pakailah kudaku”.

Empu Sada menjadi ragu-ragu. Di atas punggung kuda itu

terdapat Mahisa Agni. Tetapi apakah ia dapat melepaskan diri dari

kedua iblis itu? Apakah dengan demikian ia tidak mempercepat

kematian Mahisa Agni?”.

Dalam keragu-raguan itu ia mendengar muridnya bertanya lirih

“Guru, kenapa tongkat itu terpatahkan?”.

“Jangan heran Kuda Sempana. Tongkat ini bukan tongkat ciri

kebesaranku selama ini. Tongkat itu telah aku serahkan kepada

adikmu, Sumekar. Tongkat ini adalah tongkat rangkapan, yang biasa

kita pakai di padepokan.”

“Oh”, dada Kuda Sempana berdesir, “jadi …”.

“Ya. Aku tidak biasa mempergunakan senjata jenis yang lain.

Tetapi tongkat ini tidak sekuat tongkat ciri kebesaran Empu Sada

sendiri.”

Terasa jantung Kuda Sempana menghentak-hentak di dalam

dadanya. Betapapun ia menjadi sangat cemas melihat gurunya kini

hanya bersenjata tongkatnya yang telah patah menjadi dua. Apalagi

Empu Sada kini sudah tidak berada di punggung kuda, sedang Kebo

Sindet justru telah mendapatkan kudanya. Dengan demikian maka

Empu Sada harus berhadapan dengan dua orang lawan yang

masing-masing memiliki ilmu setingkat dengan dirinya dan mereka

berada di punggung kuda kedua-duanya.

Sementara itu Empu sada sendiri berada dalam keragu-raguan.

Ia mendengar tawaran muridnya untuk mempergunakan kudanya.

Tetapi ia tidak segera dapat menerimannya. Dengan demikian,

maka tindakan Kuda Sempana itu pasti akan menimbulkan

kemarahan yang tak terkendali pada Kebo Sindet dan Wong

Sarimpat atasnya. Kalau Empu Sada tidak berhasil mempertahankan

dirinya, maka Kuda Sempana pun pasti akan menjadi korban.

Mungkin Empu Sada dapat mengambil cara yang lain tanpa

menghiraukan nasib orang lain. Mungkin ia dapat dengan serta

merta melarikan diri sambil membawa tubuh Mahisa Agni yang

pingsan itu. Tetapi dengan demikian ia pasti akan mengorbankan

Kuda Sempana. Ia berhasil menyelamatkan satu nyawa, tetapi ia

akan mengorbankan nyawa seorang yang lain. Meskipun ia dapat

membedakan nilai kedua anak muda itu, tetapi ia masih belum

sampai hati berbuat demikian, betapapun ia menjadi benci dan

muak melihat muridnya itu. Namun pada saat-saat terakhir

muridnya masih juga merasa cemas aka keselamatannya. Dan

agaknya sikap itulah yang telah melunakkan hati Empu Sada atas

Kuda Sempana.

Sejenak Empu Sada berada dalam kebimbangan dan kegelisahan.

Dalam pada itu ia mendengar Kebo Sindet berteriak, “Kuda

Sempana, apakah kau ingin mengalami nasib seperti bekas gurumu

itu nanti? Kalau kau mengurungkan niatmu memberikan kudamu

kepada setan tua itu, maka aku akan memaafkan kesalahanmu”.

Kuda Sempana tidak menjawab. Tiba-tiba iapun dilanda oleh

kecemasan yang tajam. Terasa dadanya bergelora semakin keras.

Dipandanginya gurunya dan kedua hantu Kemundungan itu

berganti-ganti. Sementara bulan yang tua beredar dengan

malasnya, semakin tinggi menggapai puncak langit.

Tiba-tiba Kuda Sempana itu mendengar gurunya berdesis,

“Terima kasih Kuda Sempana. Pikirkanlah nasibmu sendiri. Sokurlah

kalau kau mampu melupakan dendammu kepada Mahisa Agni dan

mencoba menyelamatkannya”.

Yang di dengar adalah suara Wong Sarimpat, sambil berkata

“Apa yang akan kau lakukan Kuda Sempana? Apakah kau akan

mencoba lari? Kau harus menyadari bahwa hal itu akan tidak

berguna sama sekali bagimu. Salah seorang dari kami akan

mengejarmu, menangkap dan menyeret kau di belakang kaki-kaki

kuda sampai kulitmu terkelupas seperti pisang yang telanjang.

Apakah kau pernah membayangkan betapa pedihnya luka-luka itu

apabila di sentuh oleh air asam atau air jeruk dan garam?”.

Bulu-bulu Kuda Sempana meremang mendengar ancaman itu.

Baik Kuda Sempana maupun Empu Sada merasa bahwa hal yang

demikian itu sebenarnya dapat terjadi atas Kuda Sempana apabila ia

melanggar perintah kedua iblis itu. Kebo Sindet dan Wong Sarimpat

sebelumnya akan dapat berlaku apa saja atas seseorang yang

mengecewakannya. Tak ada lagi perasaan apapun pada kedua

orang itu menghadapi kekejaman yang bagaimanapun juga.

Dengan demikian, maka Empu Sada tidak akan sampai hati

membiarkan hal itu terjadi atas Kuda Sempana, betapapun sifat dan

watak anak muda itu.

Namun, Empu Sada itu pun kemudian menjadi semakin bulat

tekatnya menghadapi kedua iblis itu dengan tangannya. Meskipun ia

menyadari bahwa keduanya bukanlah anak-anak yang sedang

belajar bermain-main di atas punggung kuda dengan golok di

tangan, tetapi Empu Sada itu tidak mempunyai pilihan lain.

Sekali lagi ditimang-timangnya kedua potongan senjatanya.

Ternyata tongkatnya tidak dapat bertahan terhadap golok Kebo

Sindet. Meskipun tongkat itu bukan tongkat kebesaran

perguruannya, tetapi Senjata yang patah itu telah menyentuh

perasaannya, seperti ketika ia menengadahkan wajahnya ke langit,

maka bulan masih juga berkalang.

(Bersambung 27)

 

Jilid 27

ALAMAT yang kurang menyenangkan” desis Empu Sada di

dalam hatinya. Tetapi hati itu telah bulat. Tekad di dalam dadanya

telah mengendap.

“Aku akan bertempur sampai aku tidak mampu lagi

menggerakkan tubuhku.” katanya di dalam hati, “aku akan

mempertaruhkan nyawaku untuk menenteramkan perasaanku.

Kematian yang demikian adalah kematian yang paling

menyenangkan”.

Dan tiba-tiba Empu Sada itu berkata, “Minggirlah Kuda Sempana.

Jangan pikirkan aku lagi.”

“Tetapi Empu sekarang tidak bersenjata lagi. Bagaimana Empu

akan melawan ke duanya?”

Dengan wajah yang tegang Empu Sada memandangi ke dua

potongan tongkatnya sambil berdesis, “Aku mengharap bahwa aku

dapat mempergunakannya.”

Dan tiba-tiba saja, tanpa diduga-duga oleh siapa pun, baik oleh

Kuda Sempana maupun oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat maka,

Empu Sada dengan serta merta melemparkan sepotong dari

potongan tongkatnya itu. Demikian keras dan tiba-tiba sehingga,

Wong Sarimpat tidak sempat untuk berbuat sesuatu. Ia melihat

tongkat itu meluncur ke arah pahanya. Demikian cepatnya.

Betapapun ia cakap mengendalikan kudanya, tetapi kali ini ia tidak

sempat apa-apa. Ia hanya mampu menghindarkan pahanya dari

sambaran potongan tongkat Empu Sada.

Namun kedudukannya kurang menguntungkannya. Tongkat itu

menyambar dari sisi sebelah kiri. Meskipun tangan kirinya tidak

kalah cepatnya menggerakkan goloknya dari tangan kanan, tetapi

goloknya saat itu berada di tangan kanannya sehingga, Wong

Sarimpat itu tidak pula sempat menangkis dengan mempergunakan

goloknya. Sehingga, yang terjadi sangat mengejutkannya.

Terdengar kuda Wong Sarimpat itu memekik tinggi kemudian, jatuh

terbanting di tanah. Di lambung kuda itu menancap potongan

tongkat Empu Sada menembus tubuhnya.

Wajah Kebo Sindet yang beku sebeku wajah mayat itu tampak

berkerut melihat kejadian itu. Sejenak ia terpukau di tempatnya

dengan desah nafas yang memburu semakin cepat. Terdengar ia

menggeram dalam nada yang berat.

Sementara itu, Wong Sarimpat telah meloncat turun sambil

mengumpat keras-keras,, “he setan tua yang licik. Kenapa kau

berusaha membunuh hanya seekor binatang. Kenapa kau tidak

membidik kepalaku atau tengkukku?”

“Tak akan ada gunanya” sahut Empu Sada,, “kau pasti mampu

menghindarinya. Tetapi kuda itu tidak. Dan ternyata kau kini sudah

tidak berkuda lagi. Dengan demikian maka pekerjaanku akan

menjadi semakin ringan. Kini aku tinggal berusaha untuk

membunuh kudaku yang di curi oleh Kebo Sindet itu, supaya kita

dapat berhadapan dengan kaki kita masing-masing berjejak di atas

tanah”.

“Persetan dengan seseorahmu. Ayo kita selesaikan persoalan ini”.

“Jangan hanya banyak bicara” potong Empu Sada,, “aku sudah

siap menunggu kalian”.

Wong Sarimpat yang di landa oleh arus kemarahan itu pun maju

setapak demi setapak mendekati Empu Sada. Terdengar ia berkata,,

“Kuda Sempana. Pergilah, supaya aku dapat dengan leluasa

membunuh Empu tua yang tak tahu diri ini”.

Kuda Sempana tidak menyahut. Sekali ia berpaling ke pada Empu

Sada yang berdesis,, “menepilah”.

Tetapi Kuda Sempana masih tetap di tempatnya.

“Empu Sada” berkata Wong Sarimpat,, “selagi tongkatmu masih

utuh, kau tidak mampu melawan kami berdua. Kini tongkatmu itu

tinggal sepotong. Apakah kau masih akan mencoba melawan?

Apalagi salah seorang dari kami berada dipunggung kuda. Nah,

umurmu akan menjadi semakin singkat. Dan kau akan mati dengan

cara yang barangkali belum pernah kau bayangkan”.

Ancaman Wong Sarimpat itu ternyata memberi kesadaran kepada

Empu Sada bahwa, senjatanya memang tidak akan banyak berarti

lagi untuk melawan sepasang golok yang berada di tangan

sepasang hantu dari Kemundungan itu. Tetapi apakah yang akan

dilakukannya? Ia tidak akan dapat mengambil potongan senjatanya

yang lain, sebab potongan itu terletak terlampau jauh dari padanya.

Sementara itu ia melihat kuda Kebo Sindet pun telah bergerak

pula. Bahkan orang itu telah mempersiapkan diri untuk

menyambarnya dengan kuda itu. Sambil mengayun-ayunkan

goloknya Empu Sada melihat Kebo Sindet telah siap menyerangnya.

Dalam waktu yang singkat itu Empu Sada mencoba berpikir

untuk mendapatkan cara yang sebaik-baiknya melawan ke dua

orang yang liar itu. Tongkatnya yang tinggal sepotong itu tidak akan

dapat membantunya. Tetapi apa yang dapat dilakukannya?

Dalam ketegangan itu, maka suasana di cengkam oleh

kesenyapan yang mengerikan. Tak seorang pun yang telah mulai

dengan sergapan dan serangan, seakan-akan mereka menunggu

perkembangan keadaan. Tetapi wajah-wajah mereka menjadi

semakin keras sekeras batu karang. Sedang senjata-senjata mereka

menjadi semakin erat di dalam genggaman.

Ketegangan itu tiba-tiba dipecahkan oleh derap kuda Kebo Sindet

yang meluncur seperti badai menyambar Empu Sada. Golok Kebo

Sindet terayun dengan cepatnya mengarah kepada lawannya.

Namun Empu Sada pun telah bersiap pula menerima serangan

itu. Dengan lincahnya ia meloncat kesamping menghindari

sambaran golok Kebo Sindet, namun kemudian, ia melenting

menyerang dengan potongan tongkatnya.

Tetapi potongan tongkat itu ternyata terlampau pendek.

Meskipun tangannya sudah terjulur lurus, tetapi ujung tongkatnya

yang sepotong itu masih belum mcnyentuh tubuh lawannya sama

sekali meskipun, Kebo Sindet sama sekali tidak berusaha untuk

menangkisnya. Dengan menggeser tubuhnya sedikit saja, maka iblis

itu telah dapat membebaskan dirinya dari lawannya.

Terdengar Empu Sada berdesis. Senjata yang selama ini

dipergunakan adalah sebuah tongkat yang panjang. Sebenarnya, ia

telah meletakkan senjatanya itu. Ia tidak ingin lagi melibatkan diri

dengan persoalan yang harus diselesaikan dengan senjata. Tetapi

persoalan Mahisa Agni, anak Jun Rumanti itu, telah memaksanya

untuk mengangkat sebatang tongkat lagi. Tetapi tongkat itu tidak

dapat membantu sepenuhnya seperti tongkat pusakanya, ciri

kebesarannya.

Sementara, Kebo Sindet memutar kudanya, Wong Sarimpat telah

melompat pula sambil memutar goloknya menyerang Empu Sada

dengan garangnya.

Sekali lagi Empu Sada harus menghindari serangan itu, tetapi ia

tidak sekedar mau menjadi sasaran yang meloncat kian kemari

seperti sedang menari di atas bara. Dengan dahsyatnya ia pun

segera menyerang. Tongkatnya yang sepotong itu mematuk dengan

lincahnya. Tetapi sekali lagi ia menjadi kecewa, bahwa tongkatnya

ternyata terlampau pendek.

“Hem” ia berdesah di dalam hati.

Meskipun demikian, Empu Sada adalah seorang tua yang

memiliki perbendaharaan pengalaman yang banyak sekali. Karena

itu meskipun, setiap kali ia dikecewakan oleh tongkatnya yang

pendek, namun ia masih mampu juga bertahan untuk beberapa

saat.

Tetapi, sejenak kemudian segera terasa, bahwa melawan kedua

hantu dari Kemundungan itu adalah pekerjaan yang berat sekali

baginya. Dan disadarinya bahwa ia tidak akan mampu

melakukannya. Apalagi keadaan kedua orang itu jauh lebih baik dari

padanya. Yang seorang dari mereka berada di punggung kudu yang

dapat menyambarnya seperti seekor Garuda, dan keduanya masih

menggenggam senjata masing-masing. Sedang Empu Sada harus

melawan mereka berdua seorang diri dengan senjata yang telah

patah pula.

Dalam keadaan yang semakin sulit, tiba-tiba Empu Sada itu

meloncat ke arah Kuda Sempana. Dengan serta merta ditariknya

pedang anak muda itu tanpa minta ijin dahulu kepadanya. Alangkah

lerkejut anak muda itu. Tetapi semuanya itu terjadi dalam waktu

yang sangat singkat, dan Kuda Sempana hanya dapat melihat

pedangnya itu sudah berada di tangan Empu Sada.

Kini Empu Sada mempergunakan senjata rangkap pada kedua

belah tangannya. Tangannya yang kiri menggenggam pedang Kuda

Sempana, dan tangannya yang kanan memegang potongan

tongkatnya. Ia masih belum yakin benar terhadap kekuatan pedang

Kuda Sempana. Apakah pedang itu mampu mengalami benturanbenturan

dengan golok kedua orang Kemundungan yang besar dan

tebal, apalagi terbuat dari baja pilihan. Ia masih lebih percaya

kepada tongkatnya yang patah. Tongkat itu kini menjadi pendek.

Karena itu, maka kemungkinan patah pun menjadi semakin kecil.

Dengan sepasang senjata itu lah Empu Sada melawan ke dua

kakak beradik itu. Betapa Empu tua itu masih dapat meloncat-loncat

dengan lincahnya. Menyambar-nyambar dengan penuh nafsu yang

menyala di dalam dadanya, sehingga seolah-olah tenaganya

menjadi bertambah-tambah.

Wong Sarimpat yang kemudian melihat Empu Sada itu bersenjata

pada kedua tangannya, mengumpat tak habis-habisnya. Bahkan ia

berteriak kepada Kuda Sempana, “He, anak yang tidak tahu diri

kenapa pedangmu kau biarkan di ambil oleh setan tua itu?

Sekarang, mumpung belum terlanjur, pergilah. Pergi jauh-jauh atau

kembali ke Kemundungan lebih dahulu”.

Kuda Sempana mendengar teriakan itu. Tetapi ia masih belum

beranjak dari tempatnya. Sementara itu pertempuran masih

berlangsung terus.

“Cepat pergi” bentak Wong Sarimpat, “atau kau ingin aku bunuh

pula”.

Kuda Sempana tidak menjawab, tetapi ia masih belum bergerak.

Kuda Sempana itu berpaling ketika Kebo Sindet tiba-tiba telah

berada di sampingnya, dan membiarkan adiknya bertempur seorang

diri melayani Empu Sada. Dengan nada yang datar ia berkata, “Kuda

Sempana. Sebaiknya kau mendahului kami pergi Kemundungan.

Letakkanlah Mahisa Agni itu di pembaringan, supaya ia tidak

terlanjur mati. Aku memerlukannya hidup-hidup, seperti kau juga.

Bukankah kau ingin melihat anak muda itu mengalami seperti yang

pernah kau alami. Sakit hati yang tidak tersembuhkan”.

Kuda Sempana merasakan suatu perbawa yang tak dapat di

atasinya. Ketika ia perpaling dan menatap wajah Kebo Sindet,

tampaklah sepasang mata iblis itu seolah-olah menyala. Karena itu

maka cepat-cepat Kuda Sempana menundukan kepalanya.

“Aku tidak menyalahkanmu” berkata Kebo Sindet yang suaranya

seolah-olah bergulung-gulung saja didalam perutnya, “memang di

luar kemampuanmu untuk mempertahankan pedangmu itu. Tetapi

sebelum keadaan berkembang semakin jelek, dan Wong Sarimpat

itu menjadi semakin marah, nah pergilah. Pergilah lebih dahulu ke

Kemundungan. Aku merasa bahwa kau tidak akan sampai hati

melihat gurumu terbunuh dengan cara yang diinginkan oleh Wong

Sarimpat. Tetapi aku tidak dapat mencegah adikku itu mendapatkan

permainan yang menyenangkan, apalagi mencegah keinginanku

sendiri. Supaya kau tidak pingsan, maka pergilah. Kecuali kalau kau

menang ingin menyaksikan, bagaimana tubuh gurumu akan menjadi

makanan burung gagak dan anjing-anjing liar”.

Terasa dada Kuda Sempana menjadi semakin pepat. Namun ia

masih saja tidak bergerak. Kata-kata Kebo Sindet yang

diucapkannya perlahan-lahan itu justru terasa betapa

mengerikannya. Tanpa dikehendakinya, maka Kuda Sempana itu

memandangi gurunya yang sedang berkelahi melawan Wong

Sarimpat. Meskipun kemampuannya sama sekali masih kurang

cukup untuk menilai perkelahian itu, tetapi ia dapat merasakan

bahwa gurunya mempunyai beberapa kelebihan dari Wong

Sarimpat. Senjata gurunya di kedua belah tangannya tampak

menyambar-nyambar mengerikan di antara ayunan golok Wong

Sarimpat. Tetapi Empu Sada sendiri dapat pula melihat bahwa

Wong Sarimpat tidak berada dalam puncak kekuatannya. Dan Empu

Sada dapat melihat, bahwa hal itu adalah akibat luka di pangkal

lengannya. Luka itu agaknya selalu mengganggunya. Hanya karena

ketahanan tubuh Wong Sarimpat yang luar biasa, maka luka itu

tidak banyak mempengaruhinya.

Kebo Sindet pun melihat pula hal itu. Tetapi ia sama sekali tidak

mencemaskannya. Ia memang melihat kelemahan adiknya, dan

apabila hal itu dibiarkannya, maka Wong Sarimpat akan lebih dahulu

kehabisan tenaga. Tetapi waktu itu pasti cukup lama. Mungkin

sehari, mungkin dua hari. Dan Kebo Sindet yakin, bahwa sebentar

lagi apabila ia telah kembali ke arena, maka waktu yang diperlukan

akan surut berlipat-lipat. Empu Sada itu pasti akan segera dapat

mereka selesaikan.

Tetapi Kebo Sindet itu ingin supaya Kuda Sempana menjauhkan

dirinya. Kebo Sindet menjadi cemas apabila tiba-tiba saja Empu

Sada mendorong Kuda Sempana dari kudanya, dan kemudian

berusaha melarikan kuda beserta Mahisa Agni. Ia hanya akan dapat

menyusul Empu Sada itu seorang diri karena Wong Sarimpat sudah

tidak berkuda lagi. Apabila mereka harus berkuda berdua, maka

pasti akan memperlambat. Sebab kuda yang di pakai oleh Kuda

Sempana agaknya lebih baik dari kuda Empu Sada yang dipakainya.

Dan ia pun kemudian harus bertempur seorang diri pula di

sepanjang pengejarannya. Dengan demikian, maka Kebo Sindet

tidak yakin sampai berapa lama ia mampu mengalahkan Empu

Sada. Bahkan mungkin sampai ke Tumapel, mereka masih juga

harus bertempur di sepanjang jalan.

Karena itu maka sekali lagi ia berkata, “Kuda Sempana.

Menyingkirlah selagi kau masih mempunyai kesempatan”.

Pengaruh kata-kata Kebo Sindet, serta sorot matanya yang

seakan-akan langsung menembus kejantungnya itu tidak dapat di

hindari oleh Kuda Sempana, sehingga seperti terdorong oleh suatu

tenaga yang tidak dimengertinya, tiba-tiba ia menggerakkan kendali

kudanya. Perlahan-lahan kuda itu berjalan dan kemudian memutar.

“Bagus” desis Kebo Sindet, “dahululah. Jangan terlampau cepat

supaya kami segera dapat menyusulmu”.

Kepala Kuda Sempana yang kosong telah membawanya bcrjalan

perlahan-lahan menjauhi arena. Sekali-sekali ia berpaling, dan kini

dilihatnya Kebo Sindet telah pula menyerang Empu Sada.

Untuk menahan senjata-senjata lawannya, maka kedua senjata

Empu Sada itu berputar seperti baling-baling, sehingga putarannya

menjadi sebuah perisai yang tak akan dapat di tembus oleh ujung

jarum sekalipun.

Tetapi Kuda Sempana itu tertegun sejenak. Bahkan terdengar

mulutnya menggeram. Meskipun demikian ia tidak memutar

kudanya kembali ke arena perkelahian itu.

Dengan dada yang berguncang-guncang ia melihat sekali

gurunya terpelanting ketika ia menahan sergapan tiba-tiba Kebo

Sindet di atas kuda. Tetapi Empu Sada itu masih cukup lincah.

Ketika Wong Sarimpat berusaha menerkamnya, maka orang tua itu

sudah bangun dan sekali lagi diputarnya kedua senjatanya untuk

melindungi dirinya.

Meskipun demikian, segera terasa bahwa perlawanannya itu akan

tidak banyak berarti bagi kedua iblis itu. Sebentar lagi maka ia pasti

akan kehabisan tenaga, dan kedua golok lawannya itu akan

mencincang tubuhnya.

“Hem” Empu Sada menggeram, “kalau yang membawa Mahisa

Agni itu bukan Kuda Sempana, setidak-tidaknya aku mendapat

kesempatan untuk mendapat kawan mati dan bahkan melarikan

kudanya bersama Mahisa Agni. Mungkin aku akan berhasil

memancing salah seorang dari keduanya untuk mengejarku di atas

kudanya”.

Tetapi ia tidak dapat mengingkari kenyataan. Yang duduk di atas

punggung kuda itu adalah Kuda Sempana, seorang dari muridnya.

Perkelahian di arena menjadi semakin sengit. Namun menjadi

semakin jelas pulalah bahwa Empu Sada menjadi semakin terdesak.

Hanya karena tekadnya yang bulat serta hampir-hampir di dasari

oleh keputusasaan, muka justru tenaganya menjadi kian dahsyat.

Tetapi Kuda Sempuna yang semakin jauh dari perkelahian itu masih

juga sempat melihat bahwa gurunya berkali-kali terdorong surut,

bahkan terbanting jatuh. Untuk melawan kedua lawannya itu Empu

Sada benar-benar telah memeras segenap tenaga, kemampuan dan

ilmunya. Jatuh bangun ia berjuang. Terbersit tekad di dalam

dadanya, “Aku akan membawa salah seorang dari mereka untuk

menemaniku meninggalkan dunia yang fana ini”.

Kuda Sempana akhirnya tidak sampai hati lagi melihat gurunya

berjuang mati-matian dalam kesulitan. Ia tidak sampai hati melihat

gurunya terbanting kemudian melenting berdiri untuk segera

terdorong pula surut kebelakang. Sejenak kemudian Empu Sada itu

harus meloncat jauh-jauh mengambil jarak dari kedua lawannya

yang menyerangnya dari jurusan yang berbeda.

Dengan hati yang pedih, lebih pedih dari segala macam

penderitaan yang dialaminya selama ini, Kuda Sempana segera

memukul perut kudanya dengan tumitnya. Kuda itu terkejut dan

segera meloncat seperti gila. Menembus keremangan malam yang di

tandai oleh sesisir bulan yang sedang berkalang. Kuda Sempana

sendiri bagaikan orang gila melecut-lecut kuda itu sekuat-kuat

tenaganya. Ia ingin segera menjauhi tempat jahanam itu. Ia ingin

melupakan apa yang baru saja dilihatnya. Dan ia sama sekali ingin

melenyapkan gambaran-gambaran apa yang akan terjadi atas

gurunya. Karena itulah maka ia berpacu sekuat-kuat kaki kudanya.

Hampir-hampir ia tidak memperhatikan lagi Mahisa Agni yang

tersangkut di punggung kuda itu pula.

Demikianlah, Kuda Sempana berusaha melarikan diri dari

kenangan dan angan-angannya masa-masa lampau dan masa-masa

yang akan datang. Dengan demikian ia pun seakan-akan melupakan

dirinya sendiri masa kini. Ia tidak tahu kemana kudanya akan pergi.

Tetapi kuda itu adalah kuda yang dibawanya dari Kemundungan,

sehingga kuda itu berlari menurut jalan yang dikenalnya.

Kemundungan.

Sedang di belakang Kuda Sempana itu gurunya bertempur antara

hidup dan mati. Disadarinya bahwa nyawanya sebentar lagi akan

meninggalkan tubuhnya. Tetapi ia tidak akan menyerahkan

nyawanya seperti seekor lembu di pembantaian.

Namun tiba-tiba perkelahian yang semakin seru dan semakin

berat sebelah itu terganggu. Telinga-telinga mereka yang tajam itu

mendengar suara derap seekor kuda di kejauhan. Semakin lama

semakin dekat.

Kebo Sindet yang berada di punggung kuda menengadahkan

wajahnya. Perlahan-perlahan ia berdesis seperti kepada diri sendiri,

“apakah yang datang itu pande keris dari Lulumbang?”

Wong Sarimpat pun mengumpat di dalam hatinya. Ia pun

menyangka bahwa yang datang itu pasti Empu Gandring. Karena

itu, maka dengan penuh nafsu ia berteriak, “mari kita selesaikan

tikus tua ini kakang. Sebentar lagi kita bantai orang yang datang

untuk membunuh diri itu”.

Kebo Sindet memandangi Empu Sada yang sedang berusaha

mengelakkan serangan Wong Sarimpat. Dengan suara berat dan

datar ia menjawab, “Huh. Satu lagi datang seorang yang ingin

membunuh Empu Sada itu pula. Wong Sarimpat. Nanti kalau orang

itu datang, biarlah kita bersama-sama menguliti Empu yang malang

ini. Bukankah orang itu Empu Gandring? Ia pasti menyangka bahwa

Empu Sadalah yang menjadi biang keladi dari peristiwa ini. Nah,

kira-kira orang tua itu akan berbuat apa?”

Empu Sada tidak menghiraukan apa yang mereka percakapkan.

Tetapi ia menyerang lawannya sejadi-jadinya, semakin lama

semakin dahsyat, seperti angin pusaran di musim kesanga.

Wong Sarimpat yang lebih banyak menjadi sasaran serangan

Empu Sada itu mengumpat di dalam hati. Tetapi, ia ti dak begitu

yakin akan kata-kata kakaknya. Karena itu, maka baginya, lebih baik

membunuh orang tua ini lebih dahulu dan kemudian membunuh

Empu Gandring bersama-sama pula daripada berteka-teki tentang

apa yang akan dilakukan oleh Empu Gandring. Dengan demikian,

maka tandangnya pun menjadi semakin buas. Ia ingin segera

membinasakan Empu Sada itu secepatnya.

Tetapi, Empu yang tua itu ternyata membuat perhitungan sendiri.

Mungkin Empu Gandring, paman Mahisa Agni itu mendendamnya

dan menyangkanya bahwa ia lah biang keladi dari penculikan

kemenakannya itu. Tetapi yang datang itu benar Empu Gandring

dan melihat perkelahian itu, maka ia pasti akan memihak Empu

Gandring pasti akan memihaknya. Sebab ia adalah pihak yang

lemah. Apabila Empu Gandring itu berhasil keluar dari perkelahian

itu bersamanya, mengalahkan kedua iblis dari Kemundungan dan

seandainya, Empu Gandring masih tetap dalam pendiriannya

menyangka dirinya dengan tuduhan itu, maka lawannya adalah

pihak yang lemah. Bukan kedua orang iblis itu lagi.

Dengan demikian Empu Sada bertekad untuk bertempur terus.

Meskipun Empu Sada itu menjadi semakin terdesak, tetapi ia

mempunyai harapan untuk bertahan sampai kuda itu menjadi

semakin dekat. Segala cara ditempuhnya untuk menyelamatkan

dirinya. Meloncat-loncat, berlari-lari, melingkar-lingkar pada

gerumbul-gerumbul liar. Ia tidak peduli lagi apa yang dikatakan

orang tentang dirinya. Ia akan mempergunakan segala cara.

Kebo Sindet dan Wong Sarimpat mengumpat-umpat di dalam

hati. Bahkan Wong Sarimpat berteriak, “He Empu Sada apakah kau

sudah kehilangan sama sekali harga dirimu. Bagaimana mungkin

seorang Empu yang sakti bertempur dengan cara itu”.

Empu Sada tidak menyahut. Ia bertempur semakin liar. Sama

sekali tak diperhatikannya lagi tata kesopanan di dalam perkelahian.

Sementara itu derap kuda dikejauhan pun menjadi semakin

dekat. Harapan Empu Sada pun menjadi semakin berkembang.

Tetapi Kebo Sindet dan Wong Sarimpat menjadi semakin keras

mengumpat-umpat.

Akhirnya mereka, yang sedang bertempur itu melihat seekor

kuda berpacu seperti angin mendekati titik perkelahian itu.

Dalam pada itu, terdengar Kebo Sindet berkata, “Empu Sada,

kalau Empu Gandring itu menjadi semakin dekat maka nyawamu

pun akan menjadi semakin pendek”.

Empu Sada masih tetap tidak menjawab. Tetapi senjatanya

bergerak semakin mantap.

Kini kuda yang datang itu telah menjadi semakin dekat, dan

sesaat kemudian kuda itu berhenti. Benarlah dugaan Kebo Sindet

dan Wong Sarimpat bahwa penunggangnya adalah Empu Gandring.

Demikian kuda itu berhenti terdengar Wong Sarimpat berteriak,

“Empu Gandring ini kah orangnya yang kau cari?”

Empu Sada segera meloncat jauh kesamping untuk melepaskan

diri dari perkelahian. Dengan sebuah senyuman ia menyambut

kedatangan Empu Gandring, katanya, “Selamat malam Empu, telah

cukup lama kami menunggu kedatanganmu”.

Empu Gandring yang duduk di atas punggung kudanya

termenung sejenak melihat apa yang sedang terjadi. Ia tidak dapat

segera mengerti, mengapa Kebo Sindet dan Wong Sarimpat

bertempur melawan Empu Sada. Yang terdengar kemudian adalah

suara Kebo Sindet kepada Empu Gandring, “Kau telah menemukan

orangnya, sumber bencana yang menimpa Mahisa Agni”.

Tetapi Empu Gandring tidak segera memberi tanggapan. Ia

masih saja duduk membeku di atas punggung kudanya. Sementara

itu Wong Sarimpat berteriak, “Mengapa kau masih saja seperti

patung?”

Kebo Sindetlah yang menyahut, “Apakah kau memerlukan

penjelasan, Empu Gandring?”

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Ia ingin menghadapi

persoalan itu dengan tenang, supaya ia tidak terperosok dalam

suatu sikap yang salah.

Kebo Sindet terdengar berkata lagi, “Empu Gandring apakah kau

masih sangsi bahwa kemanakanmu telah dilarikan oleh murid Empu

Sada. Kau melihat sendiri bahwa Mahisa Agni berada di punggung

kuda yang dipergunakan oleh Kuda Sempana. Memang akulah yang

telah berbuat langsung, tetapi aku hanyalah sekedar alat. Aku tidak

tahu maksud Empu Sada yang sebenarnya, dengan menculik Mahisa

Agni. Baru kemudian aku tahu setelah aku menyerahkannya

kepadanya. Ternyata, dendam murid Empu Sada telah begitu tajam

meracuni hatinya, sehingga kedua guru dan murid ini begitu sampai

hati untuk berbuat di luar perikemanusiaan atas Mahisa Agni.

Sehingga, kami berdua berusaha mencegah. Kemudian yang terjadi

adalah seperti yang kau lihat ini. Kami berdua terpaksa bertempur

melawan Empu Sada. Nah Empu Gandring sekarang terserah

padamu apa yang akan kau lakukan. Kau akan dapat bersama-sama

kami membunuh Empu Sada ini, kemudian bersama-sama kami pula

mengejar Kuda Sempana. Sebab selama kami bertempur Kuda

Sempana telah sempat melarikan Mahisa Agni”.

Empu Gandring masih tetap mematung. dilayangkannya

pandangan matanya mengedari arena perkelahian itu. Dilihatnya

Empu Sada berdiri tegak disisi sebuah parit yang kering. Ketika

pandangan mata mereka beradu maka berkatalah Empu Sada,

“Empu Gandring, kau telah mendengar penjelasan Kebo Sindet dan

Wong Sarimpat. Tetapi apakah kau dapat mempercayainya”.

Empu Gandring masih tetap tidak menjawab. Dan Empu Sada

pun berkata lebih lanjut, “Empu Gandring, aku menyesal bahwa aku

tidak mendengarkan nasihatmu dahulu, seperti Bojong Santi pernah

menasehati aku juga kalau aku berhubungan dengan kedua iblis

dari Kemundungan itu maka aku pasti akan ditelannya. Ternyata

nasihatmu itu benar-benar terjadi, aku kini telah kehilangan

semuanya. Muridku pun telah dirampasnya pula, sedang muridku

yang lain telah dibunuhnya. Empu Gandring, kini Mahisa Agni itu

pun telah diambilnya untuk kepentingan yang kotor. Mereka ingin

mempergunakan Mahisa Agni untuk melakukan pemerasan. Adalah

Kuda Sempana yang memberitahukan kepada mereka, kedua iblis

dari Kemundungan itu, bahwa bakal permaisuri Tunggul Ametung

sangat mengasihi kakaknya, Mahisa Agni”.

“Bohong” potong Kebo Sindet, “jangan mempercayainya”.

“Empu Gandring” berkata Empu Sada pula, “kau telah

mendengar penjelasan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, dan kau

telah mendengar penjelasanku pula. Kemudian ter serah kepadamu

manakah yang menurut pertimbanganmu dapat kau percaya”.

“Hebat” teriak Wong Sarimpat, “pembelaanmu hebat sekali

Empu. Tetapi sayang bahwa hanya anak-anak kecil sajalah yang

mempercayainya. Tetapi sudah tentu bukan Empu Gandring dan

kami berdua yang sudah kenyang makan garam”.

Empu Sada sama sekali tidak menanggapi teriakan Wong

Sarimpat. Ia tidak ingin terlampau banyak berbicara. Tetapi ia yakin

bahwa Empu Gandring dapat melihat keadaan dengan wajar, sebab

orang itu dahulu pernah mengatakan kepadanya sedikit tentang

Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Karena itu maka Empu Sada

membiarkan saja Wong Sarimpat berteriak-teriak terus, “Empu

Gandring apa lagi yang kita tunggu? Marilah kita selesaikan saja

gurunya, kemudian marilah kita susul muridnya kepadepokan Empu

Sada. Mahisa Agni itu pasti dibawanya kesana untuk

diperlakukannya dengan biadab” Wong Sarimpat berhenti sejenak.

Tetapi karena Empu Gandring masih belum menjawab, maka ia

berkata selanjutnya, “atau kau ingin mendahului kami

menyelamatkan kemenakanmu itu. Sementara kami menyelesaikan

orang ini? Nanti sesudah pekerjaan ini selesai, maka kami pun akan

menyusulmu ke Padepokan Empu Sada itu”.

Ketika Wong Sarimpat terdiam, maka kesenyapan segera

menerkam suasana. Kebo Sindet, Wong Sarimpat dan Empu Sada

menjadi tegang menunggu sikap Empu Gandring. Keputusan orang

itu akan menentukan keadaan. Apabila Empu Gandring berpihak

kepada Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, bersama-sama

membinasakan Empu Sada, maka kemudian ia pun pasti akan

binasa pula ditangan kedua iblis itu. Tetapi kalau ia berpihak kepada

Empu Sada, maka keadaannya akan berbeda.

Tetnyata perhitungan Empu Gandring tidak jauh berbeda dengan

perhitungan Empu Sada. Kalau ia berpihak kepada Empu Sada,

maka seandainya ia masih menjumpai persoalan dengan orang itu,

maka kedudukan mereka pasti akan seimbang. Bahkan mungkin tiga

hari, seminggu dan bahkan setahun, mereka tidak akan dapat

menentukan siapakah yang akan menang dan akan kalah. Mungkin

Empu Gandring mempunyai beberapa kelebihan dari Empu Sada,

tetapi dalam perkelahian terbuka, maka kelebihan yang hanya

selapis itu tidak akan banyak berpengaruh. Apalagi melihat cara

Empu Sada berkelahi saat ini. Meloncat-loncat, berlari-lari

bersembunyi dan melingkari pepohonan yang daun-daunnya

menjadi berguguran. Karena itu maka Empu Gandring membulatkan

tekadnya. Ia memilih berpihak kepada Empu Sada. Pengenalannya

kepada mereka, yang sedang berkelahi itu telah mendorongnya

untuk mengambil keputusan itu.

Dalam ketegangan itu Empu Gandring menggerakkan kudanya

beberapa langkah maju. Keris raksasanya ternyata masih saja

berada di dalam genggamannya. Sejenak ia mengawasi ketiga

orang yang tegang mematung.

Akhirnya terdengarlah suaranya membelah kesenyapan, “Empu

Sada, aku berpihak kepadamu. Meskipun setelah pertempuran ini

selesai, entah sehari, atau seminggu, aku masih harus berurusan

dengan kau”.

“Baik Empu” sahut Empu Sada, “aku terima syaratmu. Ternyata

kau cukup bijaksana menentukan pilihan”.

“Persetan kalian” tiba-tiba Kebo Sindet berteriak nyaring. Tanpa

berkata sepatah kata pun lagi, kudanya meluncur dengan cepatnya

menyerang Empu Gandring. Untunglah bahwa selama ini Empu

Gandring tidak meninggalkan kewaspadaan, sehingga ketika golok

iblis itu mematuknya, maka Empu Gandring pun segera

menangkisnya dengan keris raksasanya.

“Hem” Empu Gandring menggeram, “kau segera mulai Kebo

Sindet. Baiklah, aku memang ingin segera menyelesaikan persoalan

ini”.

Kebo Sindet tidak mcnjawab. Kudanya segera berputar untuk

melakukan serangan sekali lagi.

Demikianlah maka Kebo Sindet dan Empu Gandring itu segera

terlibat dalam perkelahian yang seru. Masing-masing adalah orangorang

yang pilih tanding. Meskipun Empu Gandring tidak setangkas

Kebo Sindet bermain-main dengan kuda, tetapi ketangkasannya

menggerakkan senjata dapat mengimbangi kekurangannya,

sehingga perkelahian itu pun menjadi seimbang.

Keduanya sambar menyambar dengan dahsyatnya. Senjatasenjata

mereka terayun-ayun dan berputaran. Seolah-olah di langit

telah berterbangan seribu macam senjata dari kedua jenis senjata

itu. Keris-keris raksasa dan golok-golok yang berkilat-kilat.

Empu Sada masih saja berdiri di sisi sebuah parit yang kering.

Perlahan-lahan ia melangkah maju sambil menarik nafas dalamdalam.

Kini ia mempunyai harapan lagi untuk mempertahankan

hidupnya dan menolong Mahisa Agni. Dengan penuh minat

diperhatikannya perkelahian yang dahsyat antara Empu Gandring

dan Kebo Sindet yang masing-masing berada di punggung kuda.

Seperti sedang melihat sepasang burung garuda yang bertempur di

udara.

Di tempat lain, Wong Sarimpat pun memandang perkelahian itu

dengan penuh gairah. Tanpa disadarinya sekali-sekali tangannya

menyentuh-nyentuh luka di pangkal lengannya. Meskipun luka itu

sudah tidak berdarah lagi, tetapi masih juga terasa, bahwa luka itu

agak mengganggunya. Namun agaknya Wong Sarimpat tidak

mempunyai kesempatan untuk memperhatikan luka itu. Ketika ia

berpaling dilihatnya Empu Sada berjalan perlahan-lahan ke arahnya

sambil berkata, “Wong Sarimpat, kini keadaan menjadi berubah.

Nah, sekarang kau tidak perlu mengumpat-umpat lagi. Aku tidak

akan berlari-lari, meloncat-loncat dan bersembunyi seperti seekor

kera kepanasan”.

“Persetan” sahut Wong Sarimpat, “kau telah berhasil menipu

pande keris itu”.

“He” Empu Sada mengerutkan keningnya, “apakah aku

menipunya? Ah, jangan begitu Wong Sarimpat. Kau tahu apa yang

sebenarnya telah terjadi. Dan kau masih juga berkata aku

menipunya”.

Wong Sarimpat menggeram. Digerakkannya goloknya dan ia pun

maju selangkah demi selangkah menyongsong Empu Sada yang

mendekatinya.

Keadaan menjadi semakin tegang, sejalan dengan langkahlangkah

mereka, Empu Sada dan Wong Sarimpat, yang jaraknya

menjadi semakin dekat. Kini senjata-senjata mereka telah siap

untuk dipergunakan. Sebuah golok besar di tangan Wong Sarimpat

dan Empu Sada masih tetap menggenggam potongan tongkatnya di

tangan kanan dan pedang Kuda Sempana di tangan kirinya.

Ketika jarak mereka sudah tidak lebih dari ampat langkah lagi,

tanpa berjanji, serentak mereka pun berlari. Sejenak mereka saling

berpandangan. Tak sepatah kata pun mereka ucapkan, tetapi lewat

sorot mata mereka melontarlah segala macam kebencian, dendam,

marah bercampur-baur.

Tetapi waktu itu tidak terlampau lama. Sesaat kemudian dengan

sebuah teriakan yang nyaring Wong Sarimpat meloncat menyerang.

Seperti petir menyambar di langit, goloknya menyambar lawannya.

Tetapi Empu Sada telah siap menanti saat yang demikian. Itulah

sebabnya maka ia sama sekali tidak terkejut. Segera ia

menyesuaikan dirinya, sehingga dengan kecepatan yang sama

Empu Sada membebaskan dirinya dari serangan itu. Tetapi sekejap

kemudian, Empu Sada lah yang berganti menyerang. Kedua

senjatanya berderak susul-menyusul, demikian cepatnya bagaikan

berpuluh-puluh ujung scnjata yang ditaburkan bersama-sama.

Mengalami serangan itu, sekali lagi Wong Sarimpat berteriak

nyaring. Ia terpaksa meloncat surut beberapa langkah. Tetapi

sesaat kemudian mereka telah terlibat kembali dalam pertarungan

yang sengit. Pertarungan dari dua orang yang menyimpan dendam

sedalam lautan di dalam dada masing-masing. Dengan demikian

maka pertarungan itu menjadi pertarungan yang sangat dahsyat.

Masing-masing sama sekali sudah kehilangan pengendalian diri.

Yang ada di dalam hati mereka tinggallah nafsu untuk membunuh

lawannya, dengan jalan dan cara apa pun juga. Sehingga

perkelahian itu segera menjadi keras dan kasar, seperti perkelahian

dua ekor harimau yang paling buas di dalam rimba yang sama sekali

tidak pernah bersentuhan dengan peradaban.

Di sisi yang lain dua ekor kuda masih saling menyambar. Dengan

gelora di dalam dada yang tidak kalah serunya, Empu Gandring dan

Kebo Sindet pun bertempur mati-matian. Senjata-senjata mereka

yang terayun-ayun di udara serta benturan-benturan yang terjadi

tak ubahnya seperti lidah api yang berlaga di langit. Percikan bunga

api yang terjadi dalam setiap benturan senjata, seperti bunga-bunga

yang membara yang ditaburkan dari langit.

Sementara itu bulan yang sepotong masih bergayutan di langit.

Sinarnya yang kckuning-kuningan menjadi semakin kabur, di saput

oleh warna kemerah-merahan yang memancar dari timur. Angin

yang silir berhembus lembut, menyentuh dedaunan yang telah

menjadi kekuning-kuningan. Gemerisik suaranya seolah-olah

membawa kabar bahwa sebentar lagi fajar akan segera datang.

Ketika warna merah di punggung bukit di ujung timur menjadi

semakin nyata, maka satu-satu bintang pun mencari tempat

persembunyiannya, supaya wajahnya yang cantik tidak menjadi

terbakar oleh terik matahari yang ganas.

Ternyata mereka yang sedang bertempur pun masih juga

mempunyai kesempatan menyadari bahwa fajar hampir

menyingsing. Tetapi justru karena itu, maka mereka menjadi

gelisah. Apabila hari menjadi pagi, maka ada kemungkinan,

seseorang melihat perkelahian ditengah-tengah padang yang kering

itu. Apabila demikian, maka keadaan akan menjadi berbahaya.

Terutama bagi Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Apalagi, apabila

anak muda yang aneh, yang berpakaian prajurit Tumapel itu datang

pula ke arena ini.

Karena itu, maka baik Kebo Sindet maupun Wong Sarimpat,

kemudian bertempur semakin bernafsu. Mereka ingin segera

menyelesaikan perkelahian itu. Namun lawan-lawan mereka pun

berbuat serupa. Sehingga dengan demikian, maka perkelahian itu

seolah-olah hampir tidak ada perubahan apapun. Perkelahian itu

masih tetap seimbang dan dalam keadaan yang sama seperti

perkelahian itu baru di mulai.

Sekali-kali terbersit ingatan di kepala Kebo Sindet untuk

menghindar saja dari arena, tetapi ia tidak akan dapat

meninggalkan adiknya bertempur sendiri. Karena itu maka tak

habis-habisnya ia mengumpati Empu Sada yang licik, yang ternyata

telah menyerang kuda-kuda mereka sehingga kini Wong Sarimpat

terpaksa bertempur di atas tanah.

Seandainya Kebo Sindet berusaha membawa Wong Sarimpat

bersamanya di atas satu punggung kuda, maka kesempatan itu

sangat berbahaya bagi adiknya. Pada saat adiknya meloncat, maka

Empu Gandring dan Empu Sada dapat menyerang bersama,

sehingga sangat sulitlah untuk menghindarkan diri.

Karena itu, maka tidak ada jalan lain daripada berkelahi terus.

Bahkan Kebo Sindet itu menjadi semakin garang dan semakin

bernafsu, seperti Wong Sarimpat. Bahkan Wong Sarimpat itu telah

hampir sampai kepuncak kemarahannya. Ia menjadi semakin muak

melihat sikap Empu Sada yang di dalam pandangan matanya

menjadi semakin liar. Namun sebaliknya Empu Sada pun menjadi

semakin mendendam Wong Sarimpat yang di dalam pandangan

matanya menjadi semakin buas.

Sebenarnyalah, bahwa kedua orang itu telah sama-sama

kehilangan nilai-nilai tata kesopanan dalam pertarungan tanding.

Mereka berbuat apa saja. Bahkan Wong Sarimpat yang sedang mata

gelap telah berusaha menaburkan segenggarn pasir ke dalam mata

Empu Sada. Untunglah Empu Sada dapat menghindar dengan cepat,

dengan meloncat jauh-jauh ke belakang. Namun Empu Sada pun

telah memukul pula dengan tongkatnya seonggok batu karang yang

diarahkan kepada lawannya. Tetapi Wong Sarimpat pun dengan

lincah dapat pula menghindari. Meskipun karena itu, maka ia

mengumpat-umpat dengan bahasa yang paling kotor yang pernah

dikenalnya.

Akhirnya Wong Sarimpat itu tidak dapat bersabar lagi. Ia merasa

wajib untuk segera memusnakan lawannya. Kalau ia tidak dapat

membinasakannya dengan wajar, maka ia harus mempergunakan

tenaga simpanannya. Aji kebanggannya seperti yang dimiliki oleh

kakaknya, aji Bajang.

Dan Wong Sarimpat merasa, bahwa kini saatnya telah tiba

baginya untuk mempergunakan aji itu. Meskipun ia tahu, bahwa

Empu Sada pun memiliki pula kekuatan yang akan dapat

mengimbangi aji Bajangnya, namun dengan demikian, maka

persoalannya akan lebih cepat selesai. Yang hancur akan lebih cepat

hancur dan yang menang akan lebih cepat melihat kemenangannya.

Namun Wong Sarimpat itu pun mengerti juga, bahwa masih ada

kemungkinan-kemungkinan yang lain. Hancur bersama-sama atau

aji-aji itu tidak berguna sama sekali. Apabila demikian, maka

perkelahian itu akan berlangsung terus.

Mungkin sehari lagi, seminggu atau apabila salah seorang telah

menjadi kelaparan.

Tetapi Wong Sarimpat tidak mau dirisaukan oleh seribu satu

macam pertimbangan. Ia ingin mempergunakan Aji Bajangnya saat

ini. Habis perkara.

Dengan demikian maka Wong Sarimpat itu segera mengambil

jarak dari lawannya. Disilangkannya goloknya di muka dadanya.

Dipusatkannya segenap kekuatan dan dihimpunnya menjadi

kekuatan yang dahsyat. Kekuatan lahir dan batin yang didapatnya

dengan segala macam jalan. Jalan yang hitam. Yang ditemuinya di

bawah kelamnya pohon-pohon tua yang rimbun, di balik batu-batu

yang besar dan di dalam gelapnya goa-goa yang lembab.

Empu Sada pun segera melihat apa yang sedang dihadapinya.

Karena itu ia tidak boleh bermain-main lagi menghadapi sikap

lawannya. Ia pun harus berbuat serupa pula. Menggerakkan

segenap daya dan kekuatan yang ada padanya, memusatkannya

dan kemudian menyalurkannya dalam wujud dan sifatnya yang

dahsyat.

Demikianlah kini kedua-duanya telah berhadapan dalam puncak

kemampuan. Wong Sarimpat telah siap melontarkan Aji Bajang

lewat goloknya yang besar dan Empu Sada pun telah memusatkan

Aji Kala Bama pada tangan kananya yang telah siap mengayunkan

potongan tongkatnya. Kali ini ia mengharap bahwa tongkatnya yang

telah patah dan menjadi pendek itu tidak akan terpatahkan lagi.

Waktu yang mereka perlukan ternyata tidak terlampau banyak.

Segera mereka pun telah berada dalam puncak kesiagaan dalam

ilmu tertinggi. Sekejap kemudian terdengar dua buah teriakan

nyaring yang hampir berbareng meluncur dari mulut Wong Sarimpat

dan Empu Sada. Dan keduanya pun segera berloncatan seperti tatit

yang meloncat dan kemudian bersabung di langit.

Benturan yang terjadi benar-benar sebuah benturan yang

dahsyat. Benturan antara Aji Bajang dan Kala Bama untuk yang

kedua kalinya di malam itu, sesudah Empu Sada membentur Aji

yang sama yang dilontarkan oleh Kebo Sindet.

Kali ini pun akibatnya tidak pula kalah dahsyatnya. Bahkan Kebo

Sindet dan Empu Gandring yang sedang bertempur itu pun tertegun

sejenak. Kuda-kuda mereka pun berhenti berlari-lari dan seolah-olah

mereka pun ingin menyaksikan, apa yang akan terjadi sesudah

benturan itu.

Ternyata Wong Sarimpat dan Empu Sada bersama-sama

terdorong beberapa langkah surut. Mereka seakan-akan terlempar

dan melambung di udara untuk sejenak kemudian terbanting jatuh

di tanah. Namun demikian tubuh-tubuh mereka menyentuh tanah,

maka mereka pun segera melenting bangkit berdiri, dan bersikap

kembali menghadapi setiap kemungkinan.

Meskipun demikian terasa sesuatu pada tubuh mereka. Terasa

tangan-tangan mereka menjadi nyeri karena tekanan senjatasenjata

mereka pada saat benturan terjadi. Hanya tangan-tangan

yang di lambari oleh kekuatan yang sedahsyat kekuatan yang

berbenturan itu lah, yang masih akan mampu bertahan

menggenggem senjata masing-masing. Apabila tangan-tangan itu

adalah tangan-tangan wajar, maka jari-jarinya pasti akan patah

berserakan di tanah, dan tulang-tulang lengannya akan hancur

berkeping-keping. Tetapi tangan-tangan itu ternyata masih utuh

meskipun terasa juga, genggamannya menjadi mengendor.

Empu Sada yang mempergunakan hanya sepotong tongkat,

merasakan, bahwa tekanan ditangannya agak terlampau keras,

meskipun senjatanya tidak terpatahkan lagi. Sedang Wong Sarimpat

pun merasakan sesuatu yang tidak wajar pada pangkal lengannya

yang terluka. Agaknya dalam benturan yang terjadi, oleh desakan

kekuatan yang menghentak, maka luka itu mulai mengalirkan darah

lagi.

“Setan alas” bentak Wong Sarimpat, “tangan ini agaknya akan

mengganggu”.

Sejenak kemudian Wong Sarimpat meraba bumbung kecil di

dalam kantong ikat pinggangnya yang dibuatnya dari kulit. Ia masih

mempunyai beberapa butir reramuan obat di sana. Tetapi Empu

Sada yang melihatnya, tidak ingin memberinya kesempatan sama

sekali. Orang itu telah benar-benar menjadi mata gelap, dendam,

benci, muak dan segala macam perasaan, telah mendorongnya

untuk berbuat dengan nafsu yang meluap-luap. Dengan cepat sekali

lagi ia mempersiapkan Aji Kala Bama. Ia harus cepat menyerang

sebelum Wong Sarimpat sempat menahan arus darah yang meleleh

dari luka di pangkal lengannya itu.

Wong Sarimpat yang melihat sikap itu mengumpat keras-keras.

Tetapi ia sadar, bahwa apabila ia terlambat menyambut. kekuatan

itu, maka ia pun akan menjadi lumat. Karena itu maka niatnya untuk

mengambil obat diurungkannya. Segera ia pun bersiap menyambut

serangan yang bakal datang. Dan serangan itu kini dilakukan oleh

Empu Sada. Bukan oleh dirinya.

Sekali lagi mereka berteriak nyaring. Sekali lagi mereka

berloncatan sambil mengayunkan senjata-senjata mereka. Dan

sekali lagi benturan yang sedahsyat semula itu terjadi.

Namun ternyata akibatnya lebih dahsyat dari pada benturan tang

pertama. Dalam benturan ini, ternyata tangan-tangan mereka sudah

tidak kuasa lagi mempertahankan senjata-senjata mereka tetap di

tangan. Terasa betapa perasaan pedih dan nyeri menyengat

tangan-tangan mereka, dan senjata-senjata mereka yang

berbenturan itu pun meloncatlah bersama-sama dari tangan-tangan

mereka. Meskipun segera mereka bangkit kembali setelah

terbanting jatuh, dan kemudian berdiri berhadapan lagi, tetapi

mereka ternyata sudah tidak bersenjata sama sekali.

Empu Sada pun baru menyadari, bahwa Pedang di tangan kirinya

agaknya telah terlepas pula dari tangannya, pada saat-saat ia

terlempar dan terbanting jatuh di tanah. Dengan demikian maka kini

mereka berhadap-hadapan tanpa sehelai senjata pun. Yang ada

pada mereka hanyalah anggauta badan mereka, tangan, kaki dan

tubuh yang terdiri dari kulit, daging dan tulang belulang itu.

Tetapi ternyata bahwa nafsu kedua-duanya benar-benar tidak

lagi dapat terkendali. Mereka benar-benar sudah tidak dapat berpikir

lagi, apakah yang sebaiknya mereka lakukan. Yang ada di dalam

kepala mereka adalah nafsu untuk membunuh. Membunuh. Tidak

ada yang lain.

Karena itu, maka seperti berjanji mereka pun segera

mempersiapkan diri untuk melontarkan kembali kekuatan ilmu

mereka yang tertinggi.

Empu Gandring dan Kebo Sindet, betapa kemarahan dan

kebencian mereka pun membakar dada, namun mereka masih

sempat menyaksikan perkelahian dua orang yang seakan-akan telah

kehilangan diri pribadi. Seakan-akan mereka telah kepanjingan iblis

yang sedang berlaga di dalam tubuh-tubuh mereka.

Karena itu ketika Kebo Sindet melihat Wong Sarimpat dan Empu

Sada mempersiapkan kekuatan ilmu tertinggi mereka, maka hatinya

pun berdesir. Tanpa dikehendakinya ia berteriak, “Wong Sarimpat,

hati-hati dengan luka ditanganmu. Lebih baik kau memungut

senjatamu”.

Tetapi Wong Sarimpat tidak sempat berbuat sesuatu. Bahkan

kata-kata kakaknya itu seakan-akan tidak didengarnya. Orang itu

sudah tidak lagi sempat berpikir tentang luka-lukanya yang akan

dapat menjadi berbahaya baginya. Sebenarnya dalam keadaannya

Wong Sarimpat lebih baik berusaha membenturkan senjatanya

daripada tubuhnya. Lebih baik pula baginya, bertempur tanpa

benturan-benturan meskipun setiap ayunan dilambari oleh Aji

Pamungkas masing-masing.

Kebo Sindet tidak dapat berbuat apa-apa lagi ketika ia melibat

kedua orang yang seolah-olah telah menjadi gila itu siap untuk

saling menerkam. Ketika ia menggerakkan kudanya, maka Empu

Gandring pun telah bergerak pula. Dengan demikian maka Kebo

Sindet dapat menyadari keadaannya, bahwa Empu Gandring tidak

akan dapat ditinggalkannya, walaupun hanya sejenak.

Maka yang dapat dilakukan hanyalah melihat apa yang bakal

terjadi dengan hati yang berdebar-debar. Dua ekor binatang buas

yang kelaparan sedang berlaga memperebutkan sepotong tulang.

Tak akan ada kekuatan yang dapat memisahkannya, selain maut

telah merenggut jiwa mereka atau salah satu dari padanya.

Sejenak kemudian Empu Gandring dan Kebo Sindet menahan

nafasnya. Seolah-olah mereka sendiri terseret pula di dalam

loncatan yang garang dan kemudian ikut pula dalam benturan yang

segera terjadi.

Tetapi Wong Sarimpat ternyata bukan seorang yang benar telah

menjadi gila. Ia menyadari keadaannya. Keadaan luka di pangkal

lengannya. Karena itu, maka saat mereka telah saling meloncat dan

mengayunkan tangan-tangan mereka, maka Empu Sada melihat,

bahwa tangan Wong Sarimpat itu sengaja tidak membentur

tangannya, tetapi langsung mengarah ke dadanya.

Empu Sada tergagap sesaat menghadapi keadaan itu. Tetapi

keadaan sudah berada di puncak yang paling gawat. Empu Sada

sudah tidak dapat berbuat apapun lagi. Ia tidak mau hanya sekedar

membentur tangan Wong Sarimpat yang mengarah kedadanya,

sebab dengan demikian maka geraknya akan tidak seimbang. Ia

berada pada keadaan sekedar bertahan karena perimbangan gerak

yang menguntungkan Wong Sarimpat. Karena itu, maka Empu Sada

yang sedang menjadi kalap itu pun tidak mau terlampau banyak

berpikir dan menimbang, la tidak lagi memperhitungkan tangan dan

gerak Wong Sarimpat. Letak tangan Wong Sarimpat yang mengarah

ke dadanya itu memberinya kesempatan yang serupa. Dada Wong

Sarimpat pun tidak terlindung karenanya. Karena itu, maka Empu

Sada itu pun memusatkan perhatiannya ke arah dada lawannya. Tak

ada lagi yang nampak di matanya selain dada Wong Sarimpat. Dada

yang selama ini dimuati oleh segala macam nafsu dan kehendak

yang hitam lekam, sifat dan watak yang kotor dan liar.

Benturan yang terjadi kemudian adalah benturan yang

mengerikan. Terdengar mereka berdua berteriak nyaring hampir

bersamaan untuk mentuntaskan segenap kekuatan yang tersimpan

di dalam puncak ilmu masing-masing. Tetapi sejenak kemudian di

susul pula oleh dua buah teriakan yang mengerikan ketika tangantangan

itu telah menghantam dada lawan masing-masing.

Empu Gandring dan Kebo Sindet yang melihat benturan itu

menahan nafas niasing-masing. Benturan itu benar-benara sebuah

benturan yang paling gila yang pernah mereka lihat. Masing-masing

sengaja menghindari sentuhan tangan, tetapi masing-masing

langsung mengarah dan menghantam dada.

Kedua orang itu terlempar jauh-jauh ke belakang. Terdengar

tubuh-tubuh mereka terbanting jatuh di tanah seperti seonggok

pasir.

Demikian keduanya jatuh di tanah, maka keduanya pun sama

sekali sudah tidak bergerak-gerak lagi. Yang terdengar adalah

sebuah teriakan yang mengerikan meloncat dari sela-sela bibir

Wong Sarimpat, umpatan-umpatan yang paling kotor yang pernah

di dengar oleh telinga.

“Wong Sarimpat” Kebo Sindet mcncoba memanggilnya.

Tetapi Wong Sarimpat sudah tidak menjawab lagi. Dan teriakteriakannya

pun telah terdiam pula. Yang terdengar kemudian

adalah sebuah keluhan yang tertahan-tahan. Perlahan-lahan sekali.

“Empu Gandring” berkata Kebo Sindet, “apakah kau dapat

membiarkan aku melihat adikku sejenak?”.

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia bukan

orang yang berhati batu. Ketika ia melihat keadaan itu, maka ia

tidak dapat berkeras hati menolak permintaannya. Maka jawabnya,

“Aku tidak berkeberatan Sindet. Aku pun ingin melihat Empu Sada

itu”.

Kebo Sindet menjadi ragu-ragu sejenak. Dipandanginya Empu

Gandring scolah-olah ingin meyakinkan jawaban orang itu sehingga

Empu Gandring mengulangi, “Lihatlah adikmu, aku akan melihat apa

yang terjadi dengan Empu Sada itu”.

“Baiklah. Kesempatan bagimu untuk membunuhnya dengan

mudah supaya ia tidak mengganggumu lagi. Kemudian kau dapat

mengejar muridnya ke Padepokannya. Apakah kau belum pernah

melihat Padepokan Empu Sada?”

Empu Gandring tidak menjawab. Tak terlintas di dalam kepalanya

untuk berbuat selicik itu. Empu Sada yang sudah berbaring diam

tidak berdaya sama sekali itu pasti tidak akan dapat melawan

seandainya ia membunuhnya. Apalagi dengan kerisnya itu, bahkan

dengan memijat hidungnya saja, maka lama-lama orang itu akan

terputus nafasnya.

Tetapi perbuatan itu adalah perbuatan yang tercela. Apa lagi bagi

seorang Empu seperti Empu Gandring. Karena itu betapapun

besarnya kebencian, kemarahan dan beribu macam tuntutan di

dalam hati, namun tidak sepantasnya ia berbuat demikian.

Kebo Sindet itu pun kemudian perlahan-lahan mendekati adiknya.

Dengan wajah yang tegang ia meloncat turun dari kudanya.

Tampaklah pada wajah yang beku itu beberapa kerut merut

melintang di dahinya. Dan terdengarlah ia menggeram perlahanlahan.

Ketika ia bcrjongkok maka dilihatnya jelas, bahwa dari luka di

pangkal lengan Wong Sarimpat itu, darahnya seakan-akan terperas

habis. Darah yang merah segar.

“Terlambat” desis Kebo Sindet. Tak ada gunanya lagi ia mencoba

menaburkan obat pada luka itu uutuk menahan arus darah yang

mengalir. Sebab nafas Wong Sarimpat hampir-hampir sudah tidak

mengalir sama sekali. Ketika Kebo Sindet meletakkan kupingnya di

dada adiknya, maka ia menarik nafas dalam-dalam.

Tetapi Kebo Sindet itu tiba-tiba menggeram. Sekali loncat ia telah

berdiri. Digenggamnya goloknya erat-erat sambil berkata, “Empu

Gandring. Apakah Empu Sada itu masih hidup?”

Empu Gandring yang sedang berjongkok itu pun berdiri pula. Ia

harus berhati-hati melihat sikap Kebo Sindet yang seolah-olah

menjadi gila.

“Bagaimana he?” desak Kebo Sindet.

“Orang ini masih hidup” sahut Empu Gandring.

“Empu Gandring, marilah kita lupakan persoalan kita. Tetapi

kalau kau tidak mau membunuh setan tua itu, biarlah aku yang

melakukannya. Adikku Wong Sarimpat sudah tidak dapat lagi

diharapkan hidup. Nafasnya telah hampir putus dan darahnya sudah

terlampau banyak yang memancar dari lukanya. Apalagi dadanya

telah mengalami luka yang cukup parah pula.

“Apa yang akan kau lakukan terhadap orang ini?” bertanya Empu

Gandring.

“Orang itu akan aku bawa ke Padepokanku”.

“Untuk apa?”

“Itu adalah urusanku Empu”.

Empu Gandring terdiam sejenak. Dipandanginya wajah Kebo

Sindet yang berdiri beberapa langkah agak jauh dari padanya.

Tetapi ia tidak melihat wajah itu dengan jelas. Yang tampak dalam

kesamaran sinar bulan sepotong hanyalah sikapnya yang

mengerikan.

Tiba-tiba Empu Gandring itu berkata perlahan-lahan, “Tidak Kebo

Sindet. Orang ini adalah tawananku. Aku yang akan mengurus dan

menyelesaikannya”.

“Siapa bilang” teriak Kebo Sindet tiba-tiba, “ia pingsan karena

tangan adikku. Adikkulah yang berhak atasnya. Karena adikku akan

mati, maka akulah yang berhak berbuat apa saja atas setan tua itu

untuk membalas sakit hatiku karena ia telah membunuh adikku.

“Tunggulah sampai ia sembuh kembali. Kelak kau akan dapat

menemuinya dan membuat perhitungan apabila orang ini akan

dapat hidup karena luka-luka yang pernah dideritanya kini.

“Aku tidak sabar menunggu waktu itu. Dan apakah kau

kehilangan sesuatu apabila ia aku bawa pergi? Kau akan menjadi

puas pula. Kau tidak akan terpecik dosanya, tetapi kau pun akan

menemukan mayatnya kelak”.

Empu Gandring menggelengkan kepalanya. Terbayang di dalam

rongga matanya perbuatan Kebo Sindet yang sangat mengerikan.

“Jangan keras kepala Empu” bentak Kebo Sindet, “apakah

permusuhan kita akan kita teruskan”.

“Kebo Sindet” berkata Empu Gandring, “aku membenci Empu

Sada sampai ke ujung ubun-ubunku, karena orang ini adalah orang

yang mencelakai kemenakanku. Orang ini terlampau memanjakan

muridnya, sehingga apa saja yang dikehendaki oleh Kuda Sempana

itu dilakukannya. Sampai berbuat nista sekalipun, menghubungi

orang-orang seperti kau dan adikmu.

“Kau salah sangka. Ia sama sekali bukan karena memanjakan

muridnya, tetapi karena Kuda Sempana itu menjanjikan upah yang

besar kepadanya, dan kepada kami berdua”.

Empu Gandring mengerutkan keningnya, tetapi kemudian

menjawab, “Apalagi demikian, Ia agaknya telah berusaha pula

menjual kemanakanku. Karena itu aku mendendamnya”.

“Nah, apalagi yang kau sayangkan pada tubuh dan nyawa yang

hampir terloncat dari ubun-ubun itu?”

“Tetapi bukan seperti itu caraku untuk membalas. Aku ingin

merawatnya, dan kemudian membuat perhitungan di hari-hari

mendatang dengan orang ini”.

“Aku pun akan berbuat demikian”.

“Aku sangsi, bukan begitu kebiasaan dan sifatmu. Apalagi melihat

pancaran dendam pada sikapmu kali ini. Kau mungkin akan

mencoba membuatnya sadar dan sekedar memperingan lukalukanya.

Tetapi kemudian kau akan membunuhnya dengan cara

yang kau senangi. Atau kau pergunakan untuk kepentingankepentingan

lain, karena muridnya telah melarikan Mahisa Agni.

Tetapi yang paling mungkin kau lakukan, kau akan membunuhnya

dengan perlahan-lahan.

Terdengar Kebo Sindet menggeram, seperti laku seekor serigala

melihat bangkai. Namun Empu Gandring pun telah siap menghadapi

setiap kemungkinan yang bakal terjadi. Kerisnya masih saja berada

di dalam genggamannya, dan setiap saat siap dipergunakannya.

Tetapi ternyata Kebo Sindet tidak segera menyerangnya. Orang

itu masih saja berdiri disamping tubuh adiknya yang diam tidak

bergerak. Bahkan nafasnya pun semakin lama menjadi semakin

tidak teratur.

Sekali lagi Kebo Sindet berpaling memandangi tubuh adiknya

yang terbujur membeku di tanah. Tiba-tiba ia berteriak, “Empu

Gandring. Lihat. Adikku kini telah mati. Apakah kau tidak juga

memberikan Empu Sada itu”.

Empu Gandring tidak segera menjawab. Ia mencoba

memandangi tubuh Wong Sarimpat. Tetapi dari tempatnya berdiri,

ia sama sekali tidak dapat melihat apakah Wong Sarimpat itu telah

mati atau belum.

Namun sebenarnya Wong Sarimpat telah melepaskan nafasnya

yang terakhir. Darah yang terlampau banyak mengalir dari lukanya,

serta bekas tangan Empu Sada yang melepaskan aji Kala Bama

telah merusakkan dadanya pula, sehingga karena kehabisan darah,

maka daya tahan iblis dari Kemundungan itu menjadi jauh susut.

Akhirnya ia tidak dapat mempertahankan hidupnya lagi. Matilah ia di

samping kaki kakaknya yang berdiri tegak bagaikan patung. Namun

dada orang itu bergelora sedahsyat lautan yang sedang dilanda

taufan.

“Bagaimana Empu?” desak Kebo Sindet.

Alangkah marahnya Kebo Sindet ketika ia melihat Empu Gandring

menggeleng sambil berkata, “Jangan Sindet. Akulah yang akan

mengurus orang ini. Sembuh atau tidak sembuh”.

“Setan alas” teriak .Kebo Sindet, “aku telah kehilangan adikku

yang selama ini telah hidup bersamaku bertahun-tahun.

Kematiannya pasti aku bela dengan mengorbankan nyawa pula.

Kalau kau tidak mau menyerahkan Empu Sada, maka kaulah yang

harus aku bunuh untuk mengawani adikku dalam perjalanannya

kealam langgeng. Kaulah yang harus menanggung segala dosa dan

kesalahan yang pernah diperbuat oleh adikku, karena kau akan

menjadi budaknya di sepanjang perjalanannya itu”.

“He?” Empu Gandring mengerutkan keningnya, “jadi kau dapat

juga mengucapkan kata-kata dosa dan kesalahan?”

“Persetan” Kebo Sindet menjadi semakin marah, “setidaktidaknya

Empu, marilah kita mati bersama-sama, seperti Wong

Sarimpat sampyuh mati bersama lawannya”.

“Kalau memang itu yang kau kehendaki Kebo Sindet, aku tidak

akan selak. Adalah menjadi kewajibanku untuk menanggulangi

setiap tantangan serupa itu”.

Kebo Sindet terdiam sejenak. Tetapi ia masih saja menggeram

mengerikan. Bahkan kemudian terdengar giginya gemeretak seperti

orang kedinginan terendam di dalam air. Tampaklah sikapnya

menjadi semakin buas dan liar.

Tetapi Empu Gandring pun telah bersiap sepenuhnya. Setiap saat

iblis itu menerkamnya, maka ia pun akan melawan dengan segenap

kemampuan, bahkan seandainya Kebo Sindet itu sekaligus

melepaskan aji Bajangnya. Namun sudah tentu kalau Empu

Gandring tidak ingin melakukan benturan yang bodoh seperti yang

terjadi atas Empu Sada dan Wong Sarimpat, yang kepalanya sedang

terbakar oleh nafsu yang menyala-nyala, sehingga mereka telah

melupakan segala perhitungan yang mungkin dapat mereka

lakukan.

Beberapa saat Empu Gandring menunggu, tetapi Kebo Sindet

masih berdiri saja disamping mayat adiknya. Sebenarnya orang itu

pun sedang dilanda oleh keragu-raguan. Ia mencoba

memperhitungkan setiap kemungkinan yang dapat terjadi. Tetapi ia

tidak melihat manfaat apa pun apabila ia harus berkelahi melawan

Empu Gandring. Hasil setinggi-tinginya yang dapat dicapainya

adalah mati sampyuh seperti adiknya itu. Dan ia masih belum ingin

mati. Ia masih ingin berbuat sesuatu atas Mahisa Agni yang sedang

dilarikan oleh Kuda Sempana.

Apalagi kemudian Kebo Sindet itu lamat-lamat mendengar derap

kuda dikejauhan. Tanpa dikehendakinya diangkatnya wajahnya

memandang langit, seolah-olah derap kaki-kaki kuda itu menyelusuri

warna-warna merah yang telah memancar di langit.

“Anak setan itu datang lagi” gumamnya.

Empu Gandring pun mendengar derap kaki-kaki kuda itu. Dan ia

pun menyangka bahwa yang datang itu pasti Ken Arok.

“Empu Gandring” berkata Kebo Sindet kemudian, “kalau kau

mendengar juga derap kaki-kaki kuda itu, maka anak iblis itulah

yang pasti akan datang. Sayang, aku tidak punya waktu untuk

menyambutnya. Tetapi meskipun demikian, sampaikan kepadanya,

bahwa aku kagum melihat ketahanan tubuhnya yang luar biasa.

Kalau anak itu akan tetap hidup, maka ia benar-benar akan menjadi

hantu yang menakutkan bagi seluruh Tumapel. Tidak saja Tumapel,

tetapi seluruh Kerajaan Kediri akan mengaguminya”.

Empu Gandring tidak menyahut. Ia pun sebenarnya menjadi

sangat kagum melihat ketahanan tubuh Ken Arok, yang tanpa

kekuatan ilmu apa pun mampu menyelamatkan diri dari sentuhan aji

Bajang.

“Sekarang aku pergi Empu” berkata Kebo Sindet, “tidak ada

gunanya aku melayanimu kali ini. Besok pada saatnya aku akan

menjumpaimu atau Empu Sada itu, untuk membuat perhitungan

dan menuntut hutangmu yang kali ini belum kau lunasi”.

Empu Gandring masih juga berdiam diri. Namun dibiarkannya

ketika Kebo Sindet itu mengangkat mayat adiknya dan

menyangkutkannya di punggung kuda. Kuda itu adalah kuda milik

Empu Sada.

“Selamat tinggal Empu” desis Kebo Sindet sambil meloncat ke

atas punggung kuda. Sesaat kemudian kuda itu pun meloncat

meninggalkan Empu Gandring yang masih berdiri tegak seperti

patung.

Sejenak Empu Gandring dilanda oleh keragu-raguan. Apakah ia

akan mengejar Kebo Sindet, atau ia mempunyai kepentingm dengan

Empu Sada. Empu Gandring itu tidak tahu benar, kemana

sebenarnya Mahisa Agni dibawa. Tetapi menilik bahwa yang

membawa itu adalah Kuda Sempana, murid Empu Sada, maka ia

akan dapat menanyakannya kepada orang yang sedang pingsan itu.

Karena itu maka niatnya untuk mengejar Kebo Sindet

diurungkannya. Empu Gandring mengharap bahwa ia akan

mendapat banyak keterangan dari Empu Sada tentang Mahisa Agni.

Maka Empu Gandring itu pun kembali berlutut di samping Empu

Sada. Dicobanya untuk mengendorkan segenap urat nadinya.

Menggerakkan tangannya, dan memijit-mijit dadanya perlahanlahan.

Karena Empu Gandring tahu, bahwa dada itu sebenarnya

telah terluka di dalam.

Tetapi agaknya luka Empu Sada benar-benar parah. Meskipun

denyut nadinya serta detak jantungnya masih terasa, tetapi

tubuhnya tampak terlampau lemah, dan matanya yang terpejam

sama sekali tidak bergetar.

“Mudah-mudahan aku berhasil” desis Empu Gandring, “aku harus

mendapat keterangan tentang Mahisa Agni”.

Kemudian oleh Empu Gandring diambilnya sebulir obat reramuan

dedaunan yang akan dapat memberikan kesegaran kepada orang

yang sedang mengalami luka di dalam semacam Empu Sada. Tetapi

karena keadaan Empu Sada maka Empu Gandring agak menjadi

bingung, bagaimana memasukkan obat itu supaya dapat di telan

oleh Empu Sada.

“Tak ada jalan lain” desisnya, lalu dimasukkan saja obat itu ke

dalam mulut Empu Sada, dengan harapan bahwa obat itu akan

huncur dan meskipun sedikit-sedikit dan sangat perlahan-lahan,

maka larutan obat itu akan tertelan juga.

Ternyata usaha itu berhasil betapapun lambannya. Sementara itu

suara derap kuda dikejauhan menjadi semakin dekat.

Ketika kuda itu berhenti tepat di belakang Empu Gandring, maka

Empu Sada telah mulai bergerak-gerak. Sehingga Empu Gandring

itu pun kemudian meletakkannya di tanah, dan perlahan-lahan ia

berdiri.

“Siapa Empu?” bertanya orang berkuda yang tidak lain adalah

Ken Arok, sambil meloncat turun.

“Empu Sada”.

“Empu Sada?” Ken Arok menjadi agak terkejut. Orang itu sama

sekali tidak tampak di Panawijen. Yang dilihatnya hanyalah dua

orang yang buas dan liar, yang disebut bernama Kebo Sindet dan

Wong Sarimpat.

Sambil menunjuk kepada bekas-bekas pertempuran Empu

Gandring berkata, “disini baru saja terjadi sebuah permainan yang

membingungkan”.

“Kenapa Empu?”

“Wong Sarimpat telah terbunuh”.

“Empu berhasil membunuhnya?”

Empu Gandring menggelengkan kepalanya, “Tidak, bukan aku”.

“Siapa yang telah melakukannya?”

”Orang ini” sahut Empu Gandring sambil menunjuk ke arah Empu

Sada.

“Empu Sada itu? Bagaimana hal itu dapat terjadi Empu?”

“Itulah yang membingungkan. Ketika aku sampai di sini, Empu

Sada sedang bertempur melawan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat

berdua. Aku pun kemudian memihak kepada Empu Sada untuk

kemudian memperkecil dan mempersempit persoalan. Ternyata

Empu Sada dan Wong Sarimpat telah berbenturan”.

“Dimana Wong Sarimpat dan Kebo Sindet sekarang?”

“Mayat Wong Sarimpat telah dibawa oleh kakaknya, sedang

Mahisa Agni dibawa oleh Kuda Sempana”.

“Hem” Ken Arok menggeram, “kemana kira-kira Kuda Sempana

melarikan diri?”

“Mungkin aku dapat bertanya kepadanya”.

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia

mendekati Empu Sada yang ternyata telah mulai bergerak-gerak

pula.

“Apakah Empu memberinya obat?”

“Ya”.

“Biarlah ia mati pula seperti Wong Sarimpat”.

“Aku memerlukan keterangannya Ngger. Keterangan tentang

Mahisa Agni. Mungkin ia akan bersedia memberitahukan kepadaku

dalam keadaannya itu. Kalau tak ada harapan lagi baginya, maka

aku rasa ia akan melapangkan dadanya, tanpa menyimpan rahasia

lagi pada saat-saat menjelang kematiannya”.

Ken Arok tidak menjawab. Tetapi kerut merut diwajahnya

menyatakan kebenciannya kepada orang yang sedang terbaring

diam itu.

Empu Gandring pun kemudian mendekati Empu Sada itu dan

berjongkok lagi disampingnya. Dilihatnya Empu Sada itu

membukakan matanya dan berdesis, “Siapakah kau?”

“Aku Empu Gandring”.

“Hem” desah orang itu, “ada kesegaran merayapi urat-urat

darahku. Apakah kau memberi aku semacam obat yang dapat

memberi aku kesegaran?”

“Ya”.

“Terima kasih”.

“Empu” berkata Empu Gandring kemudian, “aku ingin

keteranganmu tentang Mahisa Agni. Dimanakah ia dilarikan oleh

muridmu?”

“Oh” Empu Sada memejamkan matanya. Dikumpulkannya

segenap ingatan yang ada padanya. Persoalan-persoalan yang

sedang dihadapi pada saat-saat terakhir.

“Aku juga memerlukan anak itu” desisnya.

“Empu” berkata Empu Gandring, “kau sekarang berada dalam

keadaan parah. Jangan mencoba mempertahankan anak muda itu.

Apakah kau masih juga bernafsu untuk membunuhnya atau untuk

keperluan apapun yang dapat memberi kepuasan kepada muridmu

yang gila itu?”

Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Tetapi tiba-tiba ia

mengerutkan keningnya ketika ia mendengar Ken Arok berkata,

“Hidup matimu berada ditangan Empu Gandring, Empu”.

Empu Sada yang lemah itu mencoba memandang wajah orang

yang berkata kepadanya tentang hidup matinya. Tatapan matanya

masih agak kabur dan cahaya yang kemerah-merahan masih belum

mampu untuk memecahkan kesuraman pagi.

“Siapakah kau?” bertanya Empu Sada dengan suara lirih.

Yang menjawab adalah Empu Gandring, “seorang Pelayan Dalam

dari Istana Tumapel. Namanya Ken Arok”.

“Oh” Empu Sada mencoba menggeliat, tetapi badannya masih

terlampau lemah, “Angger Ken Arok. Bukankah kau kawan

sepekerjaan dengan Kuda Sempana sewaktu muridku itu masih

berada di Istana Tumapel?”

“Ya” sahut Ken Arok singkat.

“Kenapa pula kau disini Agger? Apakah kau mendapat tugas

untuk mencari Kuda Sempana?”

“Ya” sahut Ken Arok sekenanya.

“Sayang” desah Empu Sada, “aku sudah tidak dapat berbuat apaapa

lagi terhadap anak itu”.

Empu Gandring mengerutkan keuingnya. Tetapi orang itu tidak

segera dapat mengambil kesimpulan dari kata-kata Empu Sada,

sehingga ia bertanya, “Apa maksudmu Empu. Apakah karena

keadaanmu yang parah itu ataukah karena hal-hal yang lain maka

kau tidak lagi mampu berbuat apa-apa lagi atas muridmu?”

Empu Sada tidak segera menjawab. Dicobanya untuk mengatur

jalan pernafasannya, supaya luka di dalamnya tidak terasa

sedemikian sakitnya.

Empu Gandring yang menyadari keadaan Empu Sada tidak

mendesaknya. Ia tahu betul, bahwa penderitaan Empu Sada benarbenar

parah. Tetapi, agaknya Ken Arok tidak begitu sabar

menunggunya, sehingga ia mendesaknya, “Empu Sada. Kau jangan

mengingkari tanggung jawab atas muridmu. Sekarang dimana

Mahisa Agni itu dilarikan?”

Sekali lagi Empu Sada mencoba menggeliat. Tetapi sekali lagi ia

menyeringai menahan sakit didadanya. Meskipun demikian ia

berusaha menjawab, “Aku juga akan berusaha mendapatkan Mahisa

Agni apabila aku berhasil memenangkan perjuangan ini. Perjuangan

melawan luka di dalam diriku”.

“Jangan berkeras hati Empu” sahut Ken Arok. Namun sebelum

Ken Arok melanjutkan kata-katanya, maka terasa Empu Gandring

menggamitnya, sehingga karena itu maka Ken Arok pun terdiam.

“Empu Sada” berkata Empu Gandring dengan nada seorang yang

telah dibekali oleh berbagai macam pengalaman yang mengendap,

“apakah kau masih juga memerlukan Mahisa Agni?”

Empu Sada mencoba menganggukkan kepalanya perlahan-lahan,

“Ya” desisnya, “aku tidak dapat membiarkannya berada di tangan

orang lain”.

“Empu Sada” bertanya Empu Gandring kemudian, “apakah kau

berselisih pendapat dengan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat

tentang tawananmu itu?”

“Ya” sahut Empu Sada perlahan-lahan.

“Dan karena itu kau bertempur melawan mereka?”

“Ya”.

“Sekarang Empu, bagaimanakah pendapatmu kalau aku juga

memerlukan Mahisa Agni. Bukankah kau tahu bahwa ia adalah

kemanakanku”.

“Ya, aku tahu Empu. Dan aku pun ingin pula berusaha

mendapatkan kembali Mahisa Agni itu dari tangan Kebo Sindet”.

“Ah” Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali,

“kau masih terlalu bernafsu. Keadaanmu tidak akan memungkinkan

lagi untuk berbuat sesuatu”.

“Tetapi Mahisa Agni itu harus di rebut dari tangan Kebo Sindet”.

“Empu” berkata Empu Gandring, “bukankah yang membawa

Mahisa Agni itu Kuda Sempana? Kenapa kau harus bersusah payah

merebutnya dari tangan Kebo Sindet?”

“Aku tidak lagi dapat menguasai muridku. Mahisa Agni itu

dilarikan oleh Kuda Sempana untuk kepentingan Kebo Sindet”.

Ken Arok menjadi tidak bersabar lagi mendengar jawaban Empu

Sada. Tetapi ia tidak berani mendahului Empu Gandring yang

tampaknya masih cukup sabar. Katanya, “Jangan begitu Empu. Aku

tahu bahwa Kuda Sempana adalah muridmu. Aku tahu bahwa kau

dan Kuda Sempana telah berusaha mati-matian untuk menangkap

Mahisa Agni. Bahkan kemudian kalian telah minta bantuan kepada

Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Bukan itu saja, ceritera tentang

usahamu untuk menculik adik Mahisa Agni itu pun telah pernah aku

dengar. Beruntunglah bahwa pada saat itu Panji Bojong Santi

melihat apa yang sedang terjadi”.

Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Kenangan itu ternyata

menusuk jantungnya jauh lebih parah dari pada sakit di dadanya.

Ternyata bahwa jalan kembali yang akan dicarinya itu tidak selicin

yang disangkanya. Teringatlah ia akan kata-kata Kuda Sempana,

bahwa dunia yang jernih telah tertutup baginya. Dan kini, terasa,

betapa jauh jalan yang harus ditempuhnya untuk dapat kembali ke

dalam dunia yang bersih itu.

Karena Empu Sada tidak segera menjawab, maka Empu Gandring

berkata pula dengan tembung orang tua, “Empu, dalam keadaan

seperti ini seharusnya Empu tidak lagi menambah beban yang akan

dapat membuat jalanmu semakin gelap”.

Alangkah pedihnya kata-kata itu. Justru pada saat ia mencari

jalan yang terang.

Sesaat kemudian maka dengan mengumpulkan segenap

kekuatan dan keteguhan hatinya Empu Sada berkata, “Empu

Gandring. Aku sependapat dengan kau, bahwa dalam keadaan ini

seharusnya aku tidak perlu menambah jalanku menjadi semakin

gelap. Justru karena itulah maka keadaanku menjadi demikian

jeleknya. Bukan salahmu kalau kau tidak dapat mempercayai lagi

kata-kataku. Dan bukan salahmu pula bahwa kau tetap

berpendapat, bahwa Kuda Sempana adalah muridku yang selama ini

aku manjakan. Tetapi persoalan yang sebenarnya mungkin tidak

akan kau mengerti”.

Empu Sada berhenti sejenak. Dicobanya sekali lagi

menggerakkan bagian-bagian dari tubuhnya. Meskipun betapa rasa

sakit menyengat-nyengat dadanya, namun ia telah berhasil

menggeliat sedikit. Tetapi sejenak kemudian terdengar orang tua itu

mengeluh pendek.

“Jangan bergerak terlampau banyak” cegah Empu Gandring.

Bagaimanapun juga ia seakan-akan dapat merasakan, betapa

sakitnya penderitaan Empu Sada saat itu.

Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Dicobanya untuk

meraba sorot mata Empu Gandring. Perasaan apakah yang kira-kira

terpancar dari padanya. Tetapi Empu Sada tidak segera dapat

mengetahuinya.

Namun sementara itu cahaya kemerah-merahan di langit menjadi

semakin lama semakin terang. Ujung Gunung Kawi tampak seperti

segumpal bara raksasa yang menyala memanasi langit. Semakin

lama cahaya kemerah-merahan itu menjadi semburat kuning.

Semakin terang, semakin terang. Dan matahari pun kemudian mulai

menampakkan dirinya dibalik dedaunan di arah Timur.

“Lukamu parah Empu.” berkata Empu Gandring, “tetapi maaf.

Aku memerlukan Mahisa Agni. Aku terpaksa bertanya kepadamu.

Karena itu, supaya aku tidak mengganggumu, katakan ke mana

Kuda Sempana itu pergi?”

“Sudah aku katakan Empu” jawab Empu Sada, “aku tidak lagi

dapat menguasai muridku. Dan aku mengerti bahwa kau tidak akan

mudah mempercayai kata-kataku. Apalagi kalau aku katakan, bahwa

aku pun sedang berusaha untuk membebaskan Mahisa Agni dari

tangan Kebo Sindet, Wong Sarimpat dan Kuda Sempana bukan

karena aku masih di bakar nafsu untuk menguasai anak muda itu

dengan maksud yang jahat”.

Empu Gandring mengerutkan keningnya. Ketika ia berpaling

dilihatnya wajah Ken Arok berkerut-merut. Tetapi sebelum Ken Arok

mengucapkan sesuatu, Empu Gandring telah mendahuluinya, “Hem.

Kau agaknya ingin mempersulit dirimu sendiri. Aku dapat

menolongmu, menyerahkan kau kepada seseorang di jalan yang

akan aku lalui, supaya kau dirawatnya. Dan aku untuk seterusuya

tidak akan mengganggumu apabila kau segera mengatakan di mana

Mahisa Agni. Bukankah kau akan segera bebas dari pertanyaanpertanyaanku

yang barangkali sama sekali tidak menyenangkanmu

ini?”

Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa amat

sulitlah baginya untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya.

Keadaan telah menjadi kalut, dan banyak hal terjadi bersimpangsiur.

Dengan demikian maka pedih luka di dada Empu Sada itu rasarasanya

menjadi bertambah pedih. Ternyata ia telah kehilangan

jalan untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Namun sekali

lagi disadarinya, bahwa bukan salah Empu Gandring apabila orang

itu sudah tidak lagi sanggup mempercayainya.

Perkelahian yang terjadi antara dirinya melawan Kebo Sindet dan

Wong Sarimpat itu bagi Empu Gandring tidak lebih dari perkelahian

para perampok yang berselisih dalam pembagian hasil

rampokannya.

Karena Empu Sada tidak segera menjawab, maka Empu Gandring

pun kemudian mendesaknya, “Bagaimana Empu? Aku ingin

semuanya cepat selesai. Kalau mungkin segalanya dapat selesai

dengan baik. Membatasi sekecil-kecilnya segala macam luapan

dendam dan kebencian. Kalau kau bersedia menolongku Empu,

maka untuk seterusnya kita tidak akan mengalami kesulitan, sebab

kita tidak menaburkan benih-benih dendam yang dapat tumbuh dan

berbuah kelak dengan lebatnya. Setiap persoalan yang sekecilkecilnya

akan dapat menjadi pupuk yang baik bagi pertumbuhan

dan perkembangan dendam itu. Bagi kita Empu, bagi orang tua-tua,

seandainya hati kita akan hangus sekalipun di bakar oleh dendam

dan kebencian, maka akibatnya tidak akan terlampau lama, sebab

umur-umur kita pun tidak akan terlampau lama pula. Tetapi apabila

anak-anak kita, murid-murid kita telah di bakar pula oleh dendam

dan kebencian, maka akibatnya akan sangat panjang dan jauh.

Ketika Empu Gandring berhenti sejenak, maka terdengar Empu

Sada menarik nafas. Dalam sekali, seakan-akan akan dilepaskannya

segala macam perasaan yang menyumbat dadanya. Tetapi ia tidak

mengucapkan kata-kata.

“Bagaimana Empu? Apakah Empu bersedia menolong aku?” desis

Empu Gandring.

Empu Sada telah hampir menjadi putus asa karenanya. Meskipun

demikian dicobanya untuk menjawab sejujurnya, “Empu Gandring.

Aku tidak dapat berkata lain, bahwa sepengetahuanku, Mahisa Agni

itu pasti di bawa ke Kemundungan oleh Kuda Sempana”.

“Oh” Empu Gandring menyeka peluh yang membasahi

keningnya. Ketika ia melihat Ken Arok bergeser maju, maka anak

muda yang hampir kehilangan kesabaran itu digamitnya.,

“Tunggulah Ngger” berkata Empu Gandring.

Empu Sada kini sekali lagi mencoba memandangi wajah Ken

Arok. Wajah seorang anak muda yang tampan dan berwibawa.

Seorang anak muda yang memancarkau keteguhan dan

kemampuan yang melampaui anak-anak sebayanya.

Empu Gandring kemudian bergeser maju sambil berkata, “Empu

kenapa kau masih saja berusaha mengingkari muridmu?”

“Empu Gandring” akhimya Empu Sada berkata dengan nada yang

dalam dan mata yang suram, “maafkan aku Empu. Aku tidak tahu,

apa lagi yang harus aku katakan. Itulah yang aku ketahui. Kalau kau

sayang akan kemenakanmu, kau sebaiknya segera menyusulnya ke

Kemendungan. Tetapi sekali lagi aku katakan, bahwa aku sadar. Kau

tidak akan mudah mempercayai aku”.

“Empu Sada” berkata Empu Gandring, “sebenarnya tanpa kau

beritahu pun aku akan dapat mencarinya, meski pun aku

memerlukan waktu lebih panjang. Tetapi dengan demikian aku

berangkat dengan kemarahan di dalam dadaku. Kalau aku bertemu

dengan muridmu, maka kemarahan itu akan seperti minyak yang

tersentuh api. Mungkin aku akan kehilangan pengamalan diri dan

mungkin aku akan berbuat sesuatu yang tidak kau inginkan atas

muridmu itu Tetapi kalau aku berangkat dengan hati sejuk, maka

akibatnya pun pasti akan berbeda”.

Hati Empu Sada serasa di sentuh dengan tajam sembilu. Sekali

lagi ia berdesah dan menarik nafas dalam-dalam. Tetapi orang tua

itu hampir-hampir menjadi berputus asa. Ia tidak melihat

kemungkinan lagi untuk mendapatkan kepercayaan dari Empu

Gandring.

Dan Empu Gandring itu berkata pula, “Pertimbangkan Empu,

supaya aku tetap dalam kesadaran, bahwa tidak sehurusnya aku

menanam benih dendam di hati orang lain. Tetapi kau pun harus

membantuku”.

“Oh” Empu Sada mengeluh, “hukuman ini terlampau berat

bagiku. Barangkali lebih haik apabila aku mati karena dadaku hancur

oleh tangan Wong Sarimpat”.

“Tidak Empu, sebenarnya kau dapat menghindari hukuman ini.

Kau dapat melepaskan dirimu dari perasaan bersalah yang selalu

mengejarmu. Tetapi agaknya kau tidak bersedia. Agaknya kau akan

membawa rahasia itu sampai saat terakhir. Namun rahasia itu akan

menyumbat jalanmu Empu. Dan kau akan menderita disaat-saat

terakhir. Bukan saja penderitaan badaniah tetapi juga rohaniah.

“Hem” Empu Sada berdesah, “semoga Yang Maha Agung melihat

isi dadaku. Di saat-saat aku mencoba mengurangi beban

perasaanku, maka aku dihadapkan pada keadaan seperti ini. Tetapi

Empu Gandring, aku sudah rela. Aku sudah ikhlas, apa saja yang

akan terjadi atas diriku. Aku ikhlas menerima segala hinaan,

ketidakpercayaan dan kecurigaan ini. Aku telah pasrah diri dalam

segala keadaan kepada Sumber hidupku. Perasaan adalah

kelengkapan dari sentuhan lahiriah. Kalau aku kini mengalami

penderitaan badani dan siksaan parasaan, maka itu pun aku

ikhlaskan pula. Karena aku percaya, bahwa ada yang melihat

keadaanku dan hakekat dari pendirianku, batinku. Dan inilah yang

tidak kau ketahui dan kau lihat Empu Gandring. Sebab tangkapan

pandanganmu sangat terbatas pada tangkapan pandangan lahir

semata-mata”.

Empu Gandring terdiam sejenak. Ia adalah seorang yang telah

menelan pengalaman tiada taranya di sepanjang perjalanan

hidupnya. Tetapi ia masih mengangguk-anggukkan kepalanya

mendengar kata-kata Empu Sada itu. Bahkan ia menjadi heran,

bahwa Empu Sada, yang selama hidupnya berada dalam kesesatan

itu mampu menyimpan pendirian yang demikian dan bahwa

pendirian itu demikian teguhnya terpancang dihatinya.

Empu Gandring bukanlah seorang yang hanya melihat dengan

mata kepalanya saja. Empu Gandring adalah seorang yang selalu

menjajagi setiap persoalan sampai sedalam-dalamnya ia mampu

menyelaminya. Namun, kali ini Empu Sada berkata kepadanya,

bahwa tangkapan pandangan matanya hanya terbatas pada

tangkapan pandangan lahir semata-mata.

Itulah sebabnya maka Empu Gandring mencoba sekali lagi

melihat apa yang telah terjadi. Namun ia tidak menemukan sesuatu

yang baru pada dirinya maupun pada peristiwa yang dihadapinya.

Persoalan itu adalah persoalan yang tampak jelas. Persoalan yang

kasat mata dari setiap bagiannya.

Maka untuk sejenak mereka seakan-akan terbungkam. Empu

Gandring masih berjongkok di samping Empu Sada sambil mencoba

merenungkan kata-kata orang yang sedang terluka itu. Bahkan Ken

Arok yang masih muda itu pun termenung pula.

Tetapi Empu Gandring masih saja diliputi oleh keragu-raguan. Ia

melihat suatu pertentangan yang sulit untuk dimengerti. Menurut

penglihatan dan perhitungannya, maka Empu Sada telah dengan

sengaja menyembunyikan Mahisa Agni. Dengan sengaja menyuruh

Kuda Sempana melarikan Mahisa Agni. Tetapi menilik sikap,

pembicaraan dan ketenangan Empu Sada, bahkan sikap pasrahnya,

maka seakan-akan ia harus mempercayai setiap ucapan orang tua

itu.

Demikianlah maka ketiga orang itu hanyut dalam arus anganangan

masing-masing.

Sementara itu cahaya matahari telah jatuh ke atas tubuh-tubuh

mereka, ke atas pategalan yang kering dan ke atas daun-daun liar

yang kekuning-kuningan. Lamat-lamat terdengar burung-burung liar

mengeluh karena sarang-sarang mereka pun serasa menjadi

gersang. Daun-daun yang melindunginya, satu-satu berguguran di

tanah karena sentuhan angin yang betapa lembutnya.

Tiba-tiba kesepian itu dipecahkan oleh suara Empu Sada yang

menghentak, “He, Empu Gandring, apakah Mahisa Agni itu benar

kemanakanmu?”

Empu Gandring memandangi wajah Empu Sada dengan curiga,

“Apakah kau tidak percaya?”

“Bukan Empu. Bukan maksudku untuk tidak percaya. Tetapi

justru karena aku ingin mendapat kepercayaanmu. Aku ingin katakataku

yang telah aku ucapkan itu dapat kau mengerti dan kau

percaya, supaya kau tidak terlambat mendapatkan Mahisa Agni.

Kalau aku nanti mampu berdiri dan berjalan, aku pun segera akan

menyusulnya, sampai ke ujung dunia sekalipun”.

Empu Gandring mengerutkan keningnya. Namun keraguraguannya

masih mencengkam dadanya.

“Aku tahu, bahwa kau masih tetap ragu-ragu Empu” berkata

Empu Sada, “dan aku pun tahu, hanya orang-orang yang belum

mengenal masa lampau Empu Sada sajalah yang segera dapat

menpercayai kata-kataku. Tetapi seperti yang aku katakan, bahwa

kadang-kadang yang terjadi bukanlah sekedar yang tampak. Ada

sesuatu yang terjadi di dalam hatiku, sehingga aku telah berbuat

sesuatu yang tidak dimengerti oleh orang lain seperti orang lain itu

tidak mengerti dan tidak melihat apa yang telah terjadi di dalam

hatiku itu. Sebab yang terjadi itu tidak dapat sekedar di lihat dengan

mala wadag”.

Empu Gandring tidak menyahut, dan dibiarkan Empu Sada

berkata lebih lanjut, “Empu Gandring. Kalau Mahisa Agni itu

kemanakanmu, apakah kau mengenal seorang perempuan yang

bernama Jun Rumanti?”

Dada Empu Gandring berdesir mendengar pertanyaan itu. Namun

bahkan sejenak ia terdiam membeku.

Pertanyaan Empu Sada itu sama sekali tidak diduga-duganya dan

yang semakin mengherankannya, darimana Empu Sada pernah

mendengar nama Jun Rumanti?

Karena Empu Gandring tidak segera menjawab, maka Empu Sada

bertanya pula, “Bagaimana Empu. Apakah kau mengenalnya?”

Perlahan-lahan penuh kebimbangan Empu Gandring

menganggukkan kepalanya. Dengan nada datar ia menjawab, “Ya

Empu, aku mengenalnya”.

“Jawabmu hambar Empu. Aku ingin mengetahui sebenarnya,

apakah kau mengenal nama itu?”

Debar di dada Empu Gandring terasa semakin cepat. Tetapi ia

pun kemudian ingin mengetahui, apakah maksud Empu Sada

dengan menyebut nama itu. Karena itu maka jawabnya, “Baiklah

aku menjawab dengan mantap Empu. Jun Rumanti adalah adikku.

Ibu Mahisa Agni. Kau puas? Tetapi sekarang akulah yang bertanya,

darimana kau mengenal nama itu dan dari mana kau mendengarnya

Apapula maksudmu dengan menyebut nama itu?”

“Nama itu mempunyai suatu kesan tersendiri di dalam hatiku

Empu. Aku mengenal Jun Rumanti dahulu sebagai seorang gadis.

Tetapi aku tidak pernah mendengar dari padanya, sadar atau tidak

sadar bahwa ia mempunyai seorang saudara laki-laki yang bernama

Empu Gandring dari Lulumbang”.

“Kapan kau mengenal Jun Rumanti?” bertanya Empu Gandring.

“Sebelum ia kawin dan mempunyai seorang anak yang ternyata

bernama Mahisa Agni”.

Empu Gandring mengerutkan keningnya. Lamat-lamat ia teringat

ceritera tentang Jun Rumanti pada masa gadisnya. Meskipun anak

itu sendiri tidak pernah berkata kepadanya atau mengadukan

kesulitan-kesulitannya kepadanya bahkan sepeninggal suaminya,

gadis itu seakan-akan telah menghilang, namun kisah tentang gadis

itu memang pernah didengarnya dari orang lain.

Tetapi itu telah terjadi puluhan tahun yang lampau, pada saat

Mahisa Agni belum lahir sedekat-dekatnya pada saat Mahisa Agni

hilang dibawa oleh ayahnya. Dan di antara kisah itu sama sekali

tidak pernah dijumpainya nama Empu Sada.

Namun keduanya memang belum pernah saling mengenal pada

saat itu, baik orangnya maupun namanya. Seperti Empu Sada, maka

Empu Gandring pun pada saat mudanya masih belum

mempergunakan nama itu.

“Empu Gandring” berkata Empu Sada, “kalau Jun Rumanti itu

dahulu pernah menyebut namamu, maka keadaan Mahisa Agni,

setidak-tidaknya hubungan diantara kita tidak akan menjadi sejelek

ini.

“Apakah huhunganmu dengan Jun Rumanti, Empu?”

Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba ia bertanya,

“Apakah pada masa gadisnya, kau mempergunakan nama lain

Empu?”

Empu Gandring menggeleng, “Ya Empu. Namaku pada waktu itu

adalah Basu Nala”.

“Oh, jadi kaukah itu?, “ Empu Sada terperanjat.

“Apakah kau pernah mengenal nama itu?”

“Baru namanya. Tetapi aku belum mengenal orang yang

bernama Nala, seperti kau pasti juga belum pernah mengenal

seorang anak muda yang saat itu bernama Pranuntaka”.

Wajah Empu Gandring tiba-tiba menjadi berkerut-merut. Tanpa

sesadarnya ia bertanya, “Apakah hubunganmu dengan anak itu?”

“Hubungan itu terlampau erat Empu. Bahkan tak dapat

dipisahkan. Pranuntaka itu adalah Empu Sada, seperti Basu Nala itu

kemudian bernama Empu Gandring”.

“Jadi, kaukah anak muda yang saat itu pergi merantau dan ketika

ia kembali ditemuinya Jun Rumanti telah bersuami dan beranak

seorang laki-laki. Dan kau mempergunakan nama itu?”

“Ya”.

“Lalu laki-laki itu pergi pula membawa luka dihatinya?”

“Ya”.

“Oh, jadi saat itu Pranuntaka pergi meninggalkan Jun Rumanti

dengan dendam yang mengeram di dadanya? Sehingga dendam ini

kemudian melimpah kepada anak laki-lakinya yang bernama Mahisa

Agni?”

“Kau salah Empu. Seperti Jun Rumanti, mula-mula salah pula

menyangka aku berbuat demikian. Justru setelah aku tahu bahwa

Mahisa Agni itu adalah anak Jun Rumanti, seakan-akan aku

menemukan sesuatu yang tidak wajar pada diriku. Selain itu,

pengalamanku dalam hubungan dengan Kebo Sindet dan Wong

Sarimpat telah memberi pula aku kesadaran, bahwa aku akhirnya

harus melepaskan diri dari kesesatan ini. Meskipun semula aku

hanya ingin mencuci tangan, supaya aku tidak tersangkut dalam

kejahatan hilangnya Mahisa Agni”.

Empu Gandring memandangi Empu Sada yang terbaring itu

dengan wajah yang tegang. Ketika ia berpaling, maka dengan

sungguh-sungguh Ken Arok pun sedang mendengarkan ceritera

Empu Sada itu. Meskipun anak muda itu tidak mengenal ujung

pangkal dari ceritera itu, namun dengan demikian maka ceritera itu

telah sangat menarik baginya. Ceritera tentang Mahisa Agni dan

peristiwa-peristiwa yang mendahuluinya.

Dengan singkat Empu Sada mencoba menceriterakan apa yang

pernah terjadi atas dirinya di Kemundungan. Tentang meninggalnya

seorang muridnya dan tentang dirinya sendiri yang hampir mati

pula. Kemudian usahanya memasuki Istana dan bertemu dengan

seorang perempuan yang bernama Jun Rumanti.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Terasa

dalam nada dan tekanan kata-katanya, bahwa Empu Sada itu

berkata dengan jujur, sehingga tak ada alasan baginya untuk tidak

mempercayainya. Sedang Ken Arok lagi sibuk membayangkan,

perempuan yang manakah di dalam Istana Ken Dedes yang kira-kira

bernama Jun Rumanti itu? Tetapi Ken Arok itu tidak berhasil

menemukannya. Empu Sada sama sekali tidak menyebut-nyebut

bahwa perempuan itu adalah emban kinasih dari puteri bakal

permaisuri. Tetapi hal itu kemudian sama sekali tidak dianggap

penting oleh Ken Arok.

Sekali lagi mereka dicengkam oleh angan-angan masing-masing

yang membubung tinggi ke udara. Ken Arok yang muda itu tunduk

termenung seperti orang yang sedang memperhatikan sesuatu di

atas tanah di bawah kakinya, sedang Empu Gandring kini duduk di

tanah sambil memandangi tempat dikejauhan. Sementara itu Empu

Sada yang berbaring diam mengerutkan keningnya beberapa kali.

Tiba-tiba hampir bersamaan Empu Gandring dan Empu Sada itu

tertawa pendek sehingga Ken Arok terperanjat karenanya., “Apakah

yang mereka tertawakan?”

“Empu Gandring” Empu Sada itu berdesis, “aneh sekali. Kenapa

kau menyebut namamu masa kanak-kanak dengan Basu Nala?,

“Apakah itu memang namamu?”

“Ya, Jum Rumanti mengenal namaku Basu Nala”.

“Aku mengenal nama itu Empu. Basu Nala. Tetapi aneh. Aku

sangka Basu Nala bukanlah anak yang bernama Wijang?”

Empu Gandring pun tertawa perlahan-lahan., “Hem” ia menarik

nafas dalam-dalam, “masa kanak-kanak yang aneh. Wijang adalah

nama yang diberikan kepadaku di tempat pengengeran, karena

sejak anak-anak aku tidak tinggal bersama keluargaku, yang

kemudian aku diambilnya menjadi murid. Tetapi bagaimana bisa aku

mengenal kau yang di masa itu mempergunakan nama lain pula

Empu. Bukankah kau menyebut namamu Talam?”

“Itu adalah namaku sebenarnya. Tetapi terhadap seorang gadis

aku ingin namaku agak menjadi baik. Karena itulah aku

memperkenalkan diriku kepada Jun Rumanti dengan nama

Pranuntaka dari Ngarang”.

Keduanya mengangguk-angguk perlahan. Hubungan keduanya

adalah hubungan yang aneh. Mereka mengenal yang satu atas yang

lain dalam keadaan yang agak kalut. Ternyata hubungan yang

demikian itu kini menumbuhkan suatu kenangan yang aneh. Mereka

mengenal yang satu dengan yang lain dengan nama-nama mereka

masing-masing. Dan mereka pernah mendengar nama-nama yang

lain pula, tetapi mereka merasa belum pernah mengenal orangnya,

pada saat mereka meningkat dewasa.

“Kalau aku tahu bahwa Jun Rumanti itu adik seorang yang

bernama Wijang, maka aku akan segera tahu, bahwa kau adalah

paman Mahisa Agni, Empu”.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian

katanya, “Aku sangka bahwa Empu Sada itu hanya sekedar gelar

yaag dipergunakan oleh seorang yang bernama Talam. Ternyata

Empu Sada itu adalah Pranuntaka pula”.

“Akhirnya kita bertemu dalam keadaan ini Empu. Pertemuan

yang lebih baik dari pertemuan kita di Padang Karautan dahulu.

Sekarang kita menjadi lebih banyak mengetahui tentang diri kita

masing-masing. Mungkin kau menganggap bahwa aku memang

tidak jujur sejak aku meningkat dewasa. Ternyata aku telah

mencoba menaikkan nilai harga diriku dengan menipu adikmu,

membuat sebuah nama yang aku anggap lebih baik dari namaku

yang sebenarnya. Seandainya kau tinggal bersama adikmu, atau

kita bertemu pada suatu kesempatan di tempat adikmu, maka aku

pasti akan menjadi sangat malu. Tetapi itu adalah ceritera yang kini

tinggal kenangan yang menyenangkan.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya

perlahan-lahan, “Sekarang aku tahu, kenapa Pranuntaka itu

kemudian dikabarkan mati. Pranuntaka, nama yang khusus dibuat

untuk Jun Rumanti, sehingga ketika Jun Rumanti itu lepas dari

tangannya, maka nama Pranuntaka itu pun sudah tidak berarti lagi.

Tetapi, kepahitan yang dialami tidak dapat mati berkubur bersamasama

dengan nama Pranuntaka itu. Kepahitan itu tetap bersarang di

dalam dada anak muda yang bernama Talam, dan kemudian

bergelar sebagai seorang Empu. Empu Sada. Dan aku pun kini

dapat mengerti pula, kenapa Empu Sada kadang-kadang

berkelakuan aneh, sehingga berkali-kali aku harus mencoba

mencegahnya. Ternyata Empu Sada itu pun tidak mampu

melepaskan dirinya dari seorang anak muda yang bernama Talam

dan khusus melahirkan sebuah nama Pranuntaka untuk seorang

gadis”.

Empu Sada mencoba mengangguk, “Kau benar Empu. Dan

akhirnya adalah yang kau lihat sekarang. Tetapi aku rela

mengalaminya, karena aku sedang dalam perjalanan kembali

setelah aku berpuluh-puluh tahun berada di jalan yang sesat”.

Empu Gandring memandangi wajah Empu Sada yang parah itu

dengan mata yang suram. Kini tumbuhlah kepercayaannya kepada

orang yang terluka di dalam dadanya itu. Sebenarnya anak-anak

yang bernama Talam itu bukanlah seorang anak yang terlampau

nakal. Baru kini Empu Gandring dapat meraba-raba, apakah yang

menyebabkan Talam itu kemudian menjadi seorang Empu Sada.

“Nah Empu Gandring” desis Empu Sada, “aku sudah mencoba

mengatakan semuanya. Bagaimanakah tanggapanmu sekarang?

Apakah kau masih tetap berpendapat bahwa aku sengaja

menyembunyikan Mahisa Agni untuk muridku itu?”

Perlahan-lahan Empu Gandring menggelengkan kepalanya.

Perlahan pula ia berkata, “Tidak Empu. Aku kini percaya kepadamu.

Aku percaya bahwa kau sedang berada di jalan kembali dari jalan

yang sesat yang selama ini kau tempuh”.

“Kalau begitu kau pun percaya bahwa Mabisa Agni dibawa oleh

Kuda-Sempana ke Kemundungan. Kebo Sindet itu pun pasti pergi ke

Kemundungan pula”.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,

“Ya, aku percaya bahwa mereka pergi ke Kemundungan. Untuk

membebaskan Mahisa Agni, maka aku harus pergi ketempat itu

pula”.

“Aku kira memang tidak ada jalan lain Empu. Tetapi apabila aku

dapat sembuh dari luka-luka di dalam ini, aku pun ingin pergi ke

Kemundungan. Aku ingin melepaskan Mahisa Agni dengan

tanganku”.

“Aku takut, dengan demikian kita akan terlambat.” sahut Empu

Gandring, “sebaiknya kau menyembuhkan luka-lukamu. Aku akan

pergi mendahului. Kalau kau sempat, maka susulah aku”.

Empu Sada tidak segera menjawab. Sesaat dicobanya untuk

merasakan nyeri di dalam dadanya. Memang dalam kedaan

demikian tidak mungkin baginya untuk pergi ke Kemundungan

menyusul Kebo Sindet dan Kuda Sempana.

Ken Arok yang selama mendengar pcrcakapan kedua orang itu

menjadi bingung dan kalut oleh nama-nama yang telah mereka

sebutkan, kini menyadari pula, bahwa bahaya telah meraba-raba diri

Mahisa Agni. Kini orang yang mengancam keselamatan anak muda

itu adalah orang yang jauh lebih liar dari Empu Sada. Apalagi orang

itu baru saja kehilangan adiknya, maka banyak hal yang dapat

terjadi atas Mahisa Agni. Kebo Sindet akan dapat melepaskan

kemarahannya kepada anak muda itu. Sedang Kebo Sindel adalah

seorang yang berhati batu, berjantung kayu. Ia dapat mencekik

orang sampai mati dengan tangan kirinya, sedang tangan kanannya

menggenggam makanan yang disuapkannya ke dalam mulutnya.

“Empu” berkata Ken Arok itu kemudian, “aku rasa Mahisa Agni

memang segera memerlukan pertolongan”.

“Ya, aku akan segera mencarinya” sahut Empu Gandring.

“Apakah aku dapat turut serta Empu?”

“Jangan ngger. Kau harus kembali ke Padang Karautan. Kau

harus menggantikan kedudukan Mahisa Agni menyelesaikan

bendungan itu. Bukankah Angger menerima tugas itu pula dari

Tumapel? Dan bukankah angger masih harus membuat sebuah

taman apabila air telah naik? Taman yang akan dihadiahkan oleh

Akuwu Tunggul Ametung kepada Permaisurinya Ken Dedes?”

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Tugas itu memang

harus dilakukan. Tetapi ini tidak dapat melepaskan hasratnya untuk

melihat bagaimanakah nasib Mahisa Agni seterusnya. Karena itu

maka katanya, “Empu, aku hanya akan sekedar mengetahui

keadaan Mahisa Agni. Selanjutnya aku akan kembali ke Padang

Karautan, meneruskan pekerjaan pembuatan bendungan itu”.

“Marilah kita membagi tugas Ngger. Semuanya penting bagi

Angger. Tetapi Mahisa Agni itu dapat Angger serahkan saja

kepadaku. Aku akan pergi ke Kemundungan. Akan aku minta Mahisa

Agni dengan segala cara”.

Ken Arok tidak segera menjawab. Timbulah pertentangan di

dalam dirinya. Keduanya dapat dianggapnya penting. Mencari

Mahisa Agni atau kembali ke Bendungan Karautan. Apakah Empu

Gandring seorang diri akan dapat menyelesaikan pekerjaannya

merebut Mahisa Agni? Ken Arok tahu, bahwa Kebo Sindet dan Empu

Gandring adalah dua kekuatan yang seimbang. Kalau Empu

Gandring memiliki beberapa kelebihan, maka kekasaran Kebo Sindet

akan segera dapat mengimbanginya. Mungkin Empu Gandring akan

dapat mempergunakan pusakanya yang jarang-jarang ditarik dari

wrangkanya, yang telah dipergunakan untuk melawan kedua iblis

dari Kemundungan itu sekaligus. Tetapi keris itu baru akan

bermanfaat apabila dapat terjadi sentuhan dengan tubuh Kebo

Sindet.

Tetapi apabila ia memaksa untuk ikut serta dengan Empu

Gandring karena ia memperhitungkan pula kekuatan Kuda

Sempana, maka bagaimanakah dengan Bendungan itu? Mungkin

prajurit yang telah diserahinya untuk memimpin pekerjaan itu akan

dapat melakukan tugasnya dengan baik, tetapi untuk keseluruhan

tanggung jawab, beserta penyelesaian taman seperti yang

dikehendaki Akuwu Tunggul Ametung, adalah terletak ditangannya.

Dalam keragu-raguan itu ia mendengar Empu Gandring berkata,

“Sudahlah Ngger, Sebaiknya Angger kembali ke Karautan. Pekerjaan

itu sudah hampir sampai pada puncaknya”.

Sebentar lagi air akan segera naik, dan taman itu harus segera

disiapkan pula. Kalau aku segera berhasil menemukan Mahisa Agni,

maka aku akan segera membawanya kembali ke Padang Karautan.

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ia masih

dalam keragu-raguan, tetapi ia tidak membantah.

“Tetapi, sebelum itu Ngger” berkata Empu Gandring, “barangkali

kau bersedia menolong sahabatku ini. Sahabat yang pernah

dipisahkan oleh cara hidup yang berbeda. Tetapi agaknya

persahabatan kami di masa kanak-kanak telah mempertautkan kami

kembali dalam satu pengertian dan kembali memberikan

kepercayaan”.

“Oh” Ken Arok pun kemudian berpaling. Dilihatnya wajah yang

pucat sayu dari seorang tua yang terbaring diam menatap langit

yang menjadi semakin cerah.

“Apakah yang harus aku lakukan?” bertanya Ken Arok.

“Empu Sada” berkata Empu Gandring, “apakah yang harus kami

lakukan apabila kami menolongmu? Bukankah kau masih juga ingin

sembuh dari luka-lukamu dan mencari Kebo Sindet? Bukankah kau

masih belum ingin mengakhiri hidupmu?”

Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, “Itu

adalah keinginanku Empu. Keinginan manusia. Tetapi keputusan

tcrakhir tidak berada di tangan manusia”.

“Ya, ya” Empu Gandring pun mengangguk-angguk pula, “kau

benar Empu. Tetapi usaha apakah yang harus kami jalankan

sebagai ungkapan dari kesungguhan permohonan kami, manusia,

kepada Yang Maha Pencipta?”

Empu Sada tersenyum, jawabnya, “Empu, kalau Angger Ken Arok

berkesempatan, apakah aku sebaiknya dibawa saja kembali ke

Padepokanku?”

“Apakah ada seseorang yang dapat merawatmu Empu?”

“Di Padepokan itu masih ada beberapa orang muridku. Salah

seorang daripadanya cukup dapat aku percaya. Bahkan sebenarnya,

aku telah meletakkan segala macam persoalan padepokanku

kepadanya. Juga ciri kebesaran Empu Sada yang selama ini tidak

pernah terpisah dari padanya”.

“Tongkat panjangmu?”

“Ya. Sebenarnya, karena penyesalan atas kelakuanku setelah aku

mengetahui, betapa sesatnya jalanku, maka aku bertekad untuk

meletakkan senjata itu selamanya. Tetapi aku diragukan oleh

keadaan yang berbahaya bagi Mahisa Agni, sehingga aku terpaksa

mengangkat senjata itu lagi. Tetapi bukan senjataku yang selama

itu tidak pernah terpisah daripadaku. Aku juga membawa sebatang

tongkat panjang, tetapi tongkat itu terpatahkan”.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya.

Kesungguhan dari kata-kata Empu Sada telah mempertebal

kepercayaannya, sehingga tanpa ragu-ragu lagi ia akan dapat pergi

mencari Mahisa Agni dan merebutnya dari tangan Kebo Sindet.

Maka Empu Gandring pun segera membulatkan rencananya, Ken

Arok akan dimintanya untuk mengantarkan Empu Sada, seterusnya

anak muda itu akan kembali ke Padang Karautan, meneruskan

pekerjaan Mahisa Agni yang masih belum selesai. Ia sendiri akan

segera pergi ke Kemundungan menyusul Kebo Sindet untuk

merebut Mahisa Agni.

Ternyata Ken Arok sama sekali tidak berkebaratan untuk

mengantarkan Empu Sada yang terluka itu ke Padepokannya. Tetapi

sebenarnya ia masih tetap pada keinginannya untuk turut mencari

Mahisa Agni. Namun karena Empu Gandring tetap juga

berkeberatan karena beberapa pertimbangan, terutama Bendungan

Padang Karautan, maka Ken Arok tidak dapat memaksanya.

“Kita berpisah di sini Ngger” berkata Empu Gandring, “sudah

tentu apabila aku memerlukan, maka aku akan minta bantuan

Angger. Namun sementara ini, marilah kita membagi tugas”.

“Baiklah Empu. Meskipun, sebenarnya aku ingin pergi bersama

Empu, tetapi biarlah aku mengantarkan Empu Sada ke

Padepokannya, dan kembali ke Padang Karautan. Sementara aku

menunggu Empu di sana, apabila Empu memerlukan, maka aku

akan dapat membawa prajurit Tumapel untuk keperluan itu.

Mungkin tempat Kebo Sindet perlu dihancurkan, atau dikepung

supaya ia tidak dapat melarikan dirinya oleh sepasukan prajurit

pilihan”.

“Ya, ya Ngger. Terima kasih. Aku akan selalu ingat kepada

Angger Ken Arok apabila keadaan memaksa”.

“Baiklah Empu”.

Maka, mereka pun kemudian berpisah. Ken Arok mengantar

Empu Sada yang luka ke Padepokkannya, sedang Empu Gandring

pergi ke Kemundungan. Dari Empu Sada, Empu Gandring mendapat

beberapa petunjuk tentang keadaan di sekitar sarang iblis itu.

“Kau harus berhati-hati sekali Empu” berkata Empu Sada,

“supaya kau tidak dicabik-cabik oleh anjing-anjing liar yang

berkeliaran di sekitar Kemundungan. Apalagi di malam hari”.

“Ya Empu, aku akan berhati-hati” jawab Empu Gandring,

“usahakan agar lukamu segera sembuh. Kalau kau ingin pergi juga

ke Kemundungan, maka mudah-mudahan kita akan dapat bertemu”.

Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya, sebenarnya ia

ingin merebut Mahisa Agni dengan tangannya, sebagai suatu

tebusan atas dosanya, menjerumuskan anak itu ke dalam bencana.

Tetapi, ia tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa keadaanya

tidak memungkinkan. Ia tidak dapat memaksa diri dan berpacu ke

Kemundungan. Seandainya, ia akan sampai ke sana pula, maka itu

hanya berarti, membunuh dirinya sendiri. Karena itu, maka Empu

Sada terpaksa mengendapkan keinginannya untuk sesaat., “Kalau

luka-luka di dada ini dapat sembuh, maka aku masih akan

berusaha” desisnya di dalam hati, “kecuali kalau Empu Gandring

telah mendahului aku”.

Empu Sada itu pun kemudian, diangkut ke atas punggung kuda

oleh Ken Arok, dan kemudian anak muda itu pun naik pula di atas

satu kuda sambil menjaga agar Empu Sada tidak terjatuh. Sedang

dalam pada itu, Empu Gandring telah berpacu menuju ke

Kemundungan.

Sementara itu, Kuda Sempana sedang berpacu pula dengan hati

yang hampa. Ia menurut saja kemana kudanya berlari. Tak ada

niatnya sama sekali untuk menentukan arah perjalanannya. Karena

kudanya lari kea rah Kemundungan, maka Kuda Sempana yang

membawa Mahisa Agni yang sedang pingsan itu pun ke

Kemundungan pula. Tetapi Kuda Sempana sendiri sama sekali tidak

tahu dan tidak berusaha untuk mengetahui, apakah yang seterusnya

akan terjadi atas anak muda yang dibawanya itu dan atas dirinya

sendiri.

Agak jauh di belakang Kuda sempana, Kebo Sindet pun berpacu

seperti dikejar hantu. Orang itu adalah penunggang Kuda yang baik,

sedang kuda yang dipergunakan adalah kuda yang cukup baik pula,

meskipun bukan kudanya sendiri. Maka jarak antara Kebo Sindet

dan Kuda Sempana semakin lama menjadi semakin dekat.

Apalagi kemudian Kuda Sempana tidak berhasrat menguasai

kudanya. Ketika kudanya berlari semakin lamban, maka ia pun tidak

berusaha melecutnya supaya langkahnya menjadi semakin cepat

dan panjang. Dibiarkanya saja kuda itu berlari sekehendak sendiri.

Semakin lama semakin lambat.

Itulah sebabnya, maka jarak antara Kuda Sempana dan Kebo

Sindet pun menjadi semakin dekat. Sehingga ketika matahari

menjadi semakin tinggi memanjat langit, maka dada Kuda Sempana

pun berdesir karenanya. Lamat-lamat ia mendengar derap kaki-kaki

kuda agak jauh di belakangnya. Ketika ia berpaling, maka ia belum

melihat sesuatu. Apalagi kemudian jalan yang ditempuhnya mulai

mendaki bukit-bukit gundul. Jalan yang berliku dan melingkari batubatu

besar yang menjorok. Namun langkah kuda itu semakin lama

menjadi semakin jelas didengarnya.

“Siapakah yang menyusul aku?” desisnya. Tetapi hatinya yang

kosong tidak juga mendorongnya untuk mempercepat lari kudanya.

Meskipun dadanya kemudian menjadi berdebar-debar juga, tetapi ia

masih saja tetap dalam sikap dan keadaannya.

Bahkan akhirnya ia bergumam, “Siapa pun yang menyusul aku

tidak akan ada bedanya. Biarpun ia guru, Empu Sada, biarpun ia

Kebo Sindet atau siapa saja. Justru karena itulah maka Kuda

Sempana sama sekali tidak berhasrat untuk menghindarinya. Ia

telah kehilangan segala macam usaha untuk kepentingan apapun

juga.

Ketika suara kuda itu menjadi semakin dekat, maka tanpa

sesadarnya ia berpaling. Hatinya sama sekali tidak tergerak oleh

penglihatannya, bahwa yang datang itu adalah Kebo Sindet. Hatinya

seolah-olah telah terlanjur membeku. Beku seperti wajah Kebo

Sindet yang menyusulnya.

Sejenak kemudian Kebo Sindet itu pun telah berada di

sampingnya. Katanya bergumam, “Kuda Sempana, lihat, inilah

pamanmu Wong Sarimpat”.

Ketika Kuda Sempana berpaling dan melihat tubuh Wong

Sarimpat tersangkut di punggung kuda seperti tubuh Mahisa Agni,

maka barulah ia terperanjat.

Kebo Sindet melihat wajah Kuda Sempana yang menjadi tegang.

Dipandanginya tubuh Wong Sarimpat yang sudah membeku dingin

di punggung kuda bersama dengan Kebo Sindet.

“Ia sudah mati” desis Kebo Sindet.

“Kenapa?” bertanya Kuda-Sempana.

“Wong Sarimpat mati terbunuh dalam perkelahian melawan

Empu Sada. Sedang aku harus melayani Empu Gandring yang

datang menyusul itu. Aku tidak tahu, apakah ada setan atau hantu

atau iblis yang manjing di dalam diri Empu Sada, sehingga ia

berhasil membunuh Wong Sarimpat.

Kuda Sempana merasa sesuatu melonjak di dalam hatinya.

Gurunya ternyata berhasil membunuh Wong Sarimpat. Tetapi

bagaimanakah nasib gurunya itu kemudian?

“Tetapi” Kebo Sindet meneruskan, “aku kira Empu Sada pun akan

mati pula. Ketika aku meninggalkannya, nafasnya telah tersangkut

di kerongkongannya.

Dada Kuda Sempana berdesir mendengar kata-kata Kebo Sindet

itu. Bagaimanapun juga maka berita tentang gurunya telah

membuatnya semakin kehilangan arah hidupnya. Kini, bagi Kuda

Sempana seolah-olah tidak ada lagi hari depan yang dapat

ditunggunyu. Ia seakan-akan tidak boleh lagi ikut serta mengharap

bahwa besok, lusa dan seterusnya, matahari yang cerah selalu akan

terbit di ujung Timur. Matahari yang terbit, fajar yang cerah penuh

dengan harapan dihari-hari yang bakal datang, sama sekali bukan

miliknya. Itu adalah milik mereka yang hidup dalam ketenteraman

dan kedamaian hati. Tetapi, hidupnya, hari depannya, dan jalan

yang akan dilaluinya, adalah gelap dan kelam.

Kuda Sempana itu terperanjat ketika ia mendengar Kebo Sindet

berkata, “Bagimu Kuda Sempana, kematian kedua orang itu

mempunyai nilai yang berbeda, bahkan berlawanan. Empu Sada,

bekas gurumu itu mati selagi ia berusaha mengkhianati usahanya

sendiri, mengkhianati keinginan muridnya sendiri. Sedang pamanmu

Wong Sarimpat gugur dalam menyelesaikan usaha yang sudah

dirintisnya. Memenuhi keinginanmu, meskipun kau bukan muridnya.

Tetapi ia telah menyerahkan seluruh hidupnya untukmu. Untuk

mendapatkan Mahisa Agni seperti yang kau kehendaki. Kini Mahisa

Agni telah berada ditanganmu. Kau akan dapat berbuat apa saja

atasnya. Tetapi sayang, Wong Sarimpat tidak dapat menyaksikan

kau mengikat Mahisa Agni itu pada sebatang pohon. Melecutnya

dan menyentuh badannya dengan obor yang menyala. Membakar

wajahnya dan kemudian menguliti tubuhnya”.

Terasa seluruh tubuh Kuda Sempana meremang mendengar kata

demi kata yang diucapkan oleh Kebo Sindet itu. Ia sama sekali tidak

dapat mengerti jalan pikiran iblis dari Kemundungan itu.

Penilaiannya atas gurunya dan Wong Sarimpat baginya terasa

terlampau dibuat-buat, meskipun ia tidak tahu apakah yang

sebenarnya telah terjadi antara gurunya dan Kebo Sindet. Ia banya

mendengar satu dua kalimat yang kurang dapat dimengertinya.

Namun ia tidak sependapat dengan kata-kata Kebo Sindet itu.

Meskipun demikian, Kuda Scmpana itu tidak menjawab apalagi

membantah. Dibiarkannya Kebo Sindet mengumpat-umpati Empu

Sada sesuka hatinya.

Tetapi kalau gurunya itu benar-benar mati sampyuh dengan

Wong Sarimpat, maka luka dihatinya akan bertambah parah.

Sejenak mereka kemudian saling berdiam diri. Mereka memanjat

bukit-bukit gundul, berkelok-kelok menurut jalan yang berliku-liku

mendaki.

Namun, tiba-tiba Kebo Sindet itu tertegun sambil memanggil

Kuda Sempana, “He, berhenti dahulu”.

Kuda Sempana pun berhenti pula. Ketika ia melihat wajah Kebo

Sindet yang beku seperti wajah mayat, Kuda Sempana mengerutkan

keningnya. Ia melihat sesuatu pada wajah itu.

“Kuda Sempana” berkata Kebo Sindet, “kita tidak kembali ke

Kemundungan”.

Dengan serta-merta Kuda Sempana bertanya, “Kemana kita akan

pergi?”

“Kita harus bersembunyi untuk sementara” jawab Kebo Sindet,

“Empu Gandring dan prajurit-prajurit Tumapel pasti akan mencari

kita. Kalau gurumu sempat memberitahukan arah kita sebelum ia

mati, atau seandainya gurumu telah mati sekalipun, maka menurut

hematku, Empu Gandring dan prajurit gila dari Tumapel itu pasti

akan datang ke Kemundungan untuk mencari Mahisa Agni. Aku

sudah mengatakan bahwa Mahisa Agni itu kau bawa ke Padepokan

Empu Sada. Tetapi aku tidak tahu, apakah Empu Gandring dapat

mempercayainya. Seandainya ia peryaya, maka setelah Padepokan

itu didatanginya, dan tidak ditemuinya Mahisa Agni di sana ia pasti

akan datang juga ke Kemundungan”.

Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi

hatinya yang beku hampir tidak mengacuhkannya sama sekali,

apakah Empu Gandring akan mengejarnya bersama Ken Arok, dan

bahkan akan mengeroyoknya bersama seluruh prajurit Tumapel

sekalipun.

“Bukankah sebaiknya kita menghindari untuk sementara?”

bertanya Kebo Sindet, “itu bukan berarti kita takut menghadapi

lawan, tetapi kita harus dapat mempertimbangkan kekuatan kita”.

Kuda Sempana mengangguk kosong, jawabnya, “ya paman”.

“Bagus” sahut Kebo Sindet, “kita beralih arah. Kita tidak pergi ke

Kemundungan. Kita mencari tempat untuk mengubur pamanmu

Wong Sarimpat, untuk seterusnya bersembunyi sementara. Aku

tidak akan mencemaskan rumah dan simpananku di Kemundungan.

Meskipun seluruh prajurit Tumapel dikerahkan, aku pasti, bahwa

mereka tidak akan dapat menemukan harta simpananku. Begitu?”

“Baik paman” jawab Kuda Sempana begitu saja meloncat dari

bibirnya.

“Nah, marilah kita berbelok. Kita tinggalkan jalan sempit ini. Kita

melintas lewat padang rumput yang sempit turun di tebing sebelah

dan kemudian menyeberangi hutan sempit di kaki bukit.

Kuda Sempana telah benar-benar menjadi seperti seonggok

benda mati. Ketika Kebo Sindet berbelok arah, maka Kuda Sempana

itu pun mengikut saja dibelakangnya tanpa menyadari tujuannya.

Anak muda itu pun sama sekali tidak ingin untuk mengetahui lebih

banyak lagi, kemana mereka akan pergi.

Demikianlah maka kedua orang itu pun menempuh lintasan

padang rumput di lereng bukit gundul untuk kemudian menuruni

tebing dengan sangat hati-hat. Sejenak kemudian mereka melihat

sebujur hutan yang hijau berada dihadapan mereka. Seperti raksasa

hijau yang sedang berbaring tidur dengan nyenyaknya meskipun

sinar matahari yang cerah telah melimpah ke atas tubuhnya.

“Hutan itu tidak begitu lebat dan tidak terlampau tebal” desis

Kebo Sindet, “tetapi cukup untuk menghilangkan jejak. Mungkin

Empu Gandring seorang ahli mengikuti jejak-jejak kaki kuda.

Dengan memasuki hutan itu, maka jejak kita akan hilang. Sebab

hutan itu adalah hutan yang lembab dan berawa-rawa disana-sini.

Kuda Sempana mengangguk-anggukkan saja kepalanya dengan

hati yang kosong, Ia sama sekali tidak berkepentingan apa pun

dengan hutan yang lebat dan berawa-rawa. Tetapi ia tidak

menjawab.

Kebo Sindet pun kemudian mempercepat cepat kudanya dan

Kuda Sempana tanpa sesadarnya mengikutinya beberapa langkah di

belakangnya masuk ke dalam hutan yang tidak begitu lebat dan

hilang ditelan dedaunan yang hijau.

Matahari di langit mengapung semakin lama semakin tinggi.

Sinarnya yang cerah memercik ke atas dedaunan, rerumputan dan

puncak-puncak bukit. Semakin lama semakin panas. Dan ujungujung

daun alang-alang pun kemudian menunduk lesu karena terik

yang hampir tak tertahankan.

Dalam pada itu seekor kuda berlari dengan kencangnya menuju

ke bukit gundul. Kemudian mendaki lewat jalan berliku-liku

melingkari batu-batu besar yang menjorok. Sinar matahari yang

membakar kulitnya sama sekali tidak dirasakannya. Meskipun

kulitnya yang basah oleh keringat dan kotor karena debu menjadi

semerah tembaga.

Tetapi kudanya berpacu terus.

Sekali-sekali orang tua yang berada di atas punggung kuda itu

mengusap wajahnya dengan lengan bajunya. Dan sekali-sekali

dibetulkannya letak kerisnya yang besar yang tersangkut di

punggungnya. Hulunya yang berukir dan berselut. perak mencuat di

atas pundaknya. Sedang dilambungnya tergantung sebuah keris

yang lebih kecil dari keris yang biasa. Tetapi kasiat keris itulah yang

luar biasa.

Dengan dada yang berdebaran orang itu, Empu Gandring,

memacu kudanya sejadi-jadinnya. Ia ingin segera sampai ke

Kemundungan, menyusul kemenakannya yang dilarikan oleh Kuda

Sempana. Dengan harap-harap cemas ia melihat telapak-telapak

kaki kuda yang masih baru di sepanjang jalan yang dilaluinya. Dan

hatinya melonjak ketika ia melihat bahwa tidak hanya ada seekor

kuda yang baru saja melintasi jalan itu. Tetapi dua.

“Aku kira benar juga kata Empu Sada. Kuda Sempana pergi juga

ke Kemundungan” berkata orang tua itu di dalam hatinya.

Dengan demikian maka Empu Gandring itu pun menjadi semakin

bernafsu. Dipacunya kudanya semakin cepat. Tetapi ia tidak dapat

terlampau cepat, sebab ia harus memperhatikan juga telapaktelapak

kaki kuda yang diikutiya.

Tetapi, tiba-tiba Empu Gandring itu menarik kekang kudanya,

sehingga kudanya menjadi terkejut. Sambil meringkik kuda Empu

Gandring itu berhenti. Namun demikian tiba-tiba, sehingga kuda itu

berdiri di atas kedua kaki belakangnya.

Dengan lembut Empu Gandring menepuk tengkuk kudanya. Dan

sejenak kemudian maka kuda itu pun telah menjadi tenang kembali.

“Telapak kaki-kaki kuda ini berbelok” gumam Empu Gandring

kepada diri sendiri.

Tiba-tiba pula orang tua itu menjadi bimbang. Kemana ia harus

mengikuti jejak orang-orang yang dicarinya? Apakah ia harus

menyelusur jejak yang berbelok itu, atau kah harus langsung pergi

ke Kemundungan?

Sejenak Empu Gandring berhenti sambil merenung. Dadanya

diamuk oleh keragu-raguan. Namun untuk sesaat ia tidak berhasil

mengambil keputusan.

“Aku kira mereka melalui jalan lain” desis Empu Gandring, “Kebo

Sindet pasti mengenal daerah ini sebaik-baiknya. Mungkin ia

sengaja memancing aku kejurusan yang salah. Sementara itu ia

lewat jalan lain kembali ke Kemundungan. Adalah mustahil kalau

orang selicik Kebo Sindet sengaja membuat bekas telapak kaki

sejelas itu.

Meskipun demikian, Empu Gandring tidak tergesa-gesa

mengambil sikap. Dipertimbangkannya segala kemungkinan dan

diperhitungkannya segala macam cara.

“Baiklah aku coba mengikuti jejak ini” katanya kemudian di dalam

hati, “kalau benar dugaanku, maka aku akan sampai juga ke

Kemundungan meskipun aku harus sangat berhati-hati, sebab setiap

kemungkinan dapat terjadi di sepanjang jalan. Mungkin Kebo Sindet

sudah menyediakan tempat untuk menjebakku.

Empu Gandring itu pun kemudian menggerakkan kekang

kudanya, mengikuti jejak-jejak kaki kuda Kebo Sindet dan Kuda

Sempana. Semakin lama derap kaki kudanya semakin cepat karena

bekas-bekas kaki kuda yang diikutinya tampak dengan jelas di atas

padang rumput yang sempit.

Tetapi jalan yang ditempuhnya menjadi semakin sukar. Kuda

Empu Gandring itu pun barus menuruni tebing. Telapak-telapak kaki

kuda yang diikutinya menjadi semakin sukar untuk dikenal karena

batu-batu padas di lereng-lereng bukit gundul. Namun tiap kali

Empu Gandring dapat menemukan kelanjutan dari bekas kaki-kaki

kuda itu, sehingga akhirnya Empu Gandring pun sampai pada lereng

yang menghadap pada pinggiran hutan yang hijau rimbun.

Dada Empu Gandring menjadi berdebar-debar melihat hutan itu.

Hutan akan menjadi tempat yang paling baik untuk menjebaknya.

Dari balik-balik pohon, dari dalam gerumbul-gerumbul yang rimbun,

maka Kebo Sindet akan dapat menyerangnya dengan licik.

“Tetapi apakah aku akan berhenti disini?” desis Empu Gandring di

dalam hatinya, “Tidak. Aku harus mendapatkan kemanakanku itu”.

Dengan demikian maka kuda Empu Gandring itu pun berjalan

terus. Tetapi ketika kuda itu sudah sampai pada mulut hutan, maka

Empu Gandring pun memperlambat langkahnya. Dengan hati-hati

dimasukinya hutan yang tidak terlampau lebat, tetapi cukup rimbun.

Beberapa saat Empu Gandring masih dapat melihat bekas-bekas

telapak kaki kuda yang diikutnya. Sempalan-sempalan ranting dan

dedaunan yang terinjak-injak. Bahkan seolah-olah bekas-bekas kaki

kuda itu menjadi semakin jelas.

“Hem” Empu Gandring menarik nafas dalam, “aku melihat bekas

kaki ini menjadi semakin jelas. Apakah Kebo Sindet dengan sengaja

memancing aku?”

Dalam keragu-raguan itu Empu Gandring menjadi semakin hatihati.

Didengarnya setiap gemersik daun-daun kering yang jatuh

tersentuh angin. Dilihatnya setiap gerak ranting-ranting dan ujung

pepohonan. Semua yang tertangkap oleh inderanya, selalu

mendapat perhatiannya. Sebab dalam hutan yang demikian itu,

bahaya akan dapat berada di setiap punggung dedaunan dan di

setiap sisi pepohonan.

Tetapi, Empu Gandring adalah seorang tua yang telah cukup

menyimpan perbendaharaan pengalaman. Ia seolah-olah dapat

berbicara dengan firasat di dalam dirinya. Dan kali ini ia tidak

menangkap tanda-tanda bahwa ia sedang diintai oleh lawannya itu.

Meskipun demikian, Empu Gandring tidak juga dapat melepaskan

kewaspadaannya. Ia menyadari siapakah yang menjadi lawannya

kini. Iblis Kemundungan itu akan dapat berbuat apa saja tanpa,

menilai harga diri dan kejantanan.

Tetapi Empu Gandring itu tiba-tiba menarik kekang kudanya.

Hatinya menjadi berdebar-debar dan wajahnya menjadi tegang.

Dilihatnya dihadapannya tanah menjadi gembur lembab dan bahkan

dis ana-sini mulai tergenang air.

“O, jadi hutan ini berada di daerah rawa-rawa” desisnya. Dan kini

ia mulai membuat perhitungan yang lain, kenapa Kebo Sindet

menempuh jalan ini , “Ternyata Kebo Sindet berusaha

menghilangkan jejaknya di daerah rawa-rawa ini”.

Empu Gandring pun kemudian berhenti. Telapak-telapak kaki

kuda yang diikutinya memang sengaja masuk ke daerah rawa-rawa.

Empu Gandring itu menggeleng-gelengkan kepalanya, “Adalah

sangat sulit untuk mengikuti jejak di daerah gempur dan berair ini.

Setan itu benar-benar licik”.

Sesaat Empu Gandring duduk mematung di atas punggung

kudanya. Ia melihat telapak kaki kuda memasuki daerah yang

berair. Tetapi apakah ia akan dapat menyelusur dan menemukan

dimana telapak kaki itu keluar dari air? Apakah ia harus mengitari

seluruh hutan dan rawa-rawa ini. Apakah ia harus mengelilingi

setiap pinggiran air yang sekian luasnya? Empu Gandring menyadari

bahwa rawa-rawa ini bukan saja terdiri dari apa yang dilihatnya itu.

Tetapi rawa-rawa ini akan melebar dan sangat luas menjorok masuk

ke daerah hutan ini. Adalah sangat berbahaya baginya untuk

memasukinya. Ia tidak tahu, daerah manakah yang dapat diinjak

oleh kaki-kaki kudanya. Kalau kudanya terperosok pada

bagianbagian yang sangat gembur, maka kuda dan penunggangnya

pasti akan terbenam ke dalam lumpur. Adalah sangat sukar untuk

mencoba berenang pada air yang berlumpur seperti rawa-rawa yang

terbentang dihadapannya, yang ditumbuhi oleh tumbuh-tumbuhan

air dan sulur-sulur yang tergantung pada pepohonan.

Empu Gandring menarik nafas. Sekali lagi dilayangkannya

pandangan matanya berkeliling. Air yang coklat berlumpur, sinar

matahari yang seberkas-seberkas jatuh ke permukaan air.

Pepohonan dan cabang-cabangnya yang rapuh berkait dengan

sulur-sulur yang bergayutan dengan tumbuh-tumbuhan berduri.

“Kebo Sindet mengenal daerah ini seperti ia mengenal rumah

sendiri” desis Empu Gandring kepada diri sendiri, “tetapi aku

menjadi orang asing di sini, “.

Untuk sesaat Empu Gandring masih saja duduk mematung di

atas punggung kudanya. Kini dadanya benar-benar dilanda oleh

kebimbangan dan nafsunya untuk mengejar kemenakannya

bersama-sama. Begitu dahsyat gelora itu mengamuk di dadanya,

sehingga kepala Empu Gandring itu pun kemudian, menjadi pening.

“Hem, apakah yang sebaiknya aku lakukan? Tidak mungkin aku

akan berjalan terus. Aku akan dapat mati tanpa arti di dalam rawarawa

itu. Tetapi aku harus menemukan Mahisa Agni hidup atau

mati.” Namun Empu Gandring masih belum menemukan jalan

manakah yang akan ditempuhnya.

Angin yang silir bertiup di sela-sela pepohonan menggerakkan

daun dan ranting. Bayangan sinar matahari seolah-olah melonjaklonjak

di dalam air yang keruh. Lamat-lamat dikejahan terdengar

burung-burung liar berkicau bersahut-sahutan. Namun udara di

hutan itu masih juga terasa betapa lembabnya.

“Aku harus sampai ke Kemundungan” Empu Gandring itu tibatiba

menggeram, “Kebo Sindet pasti hanya sekedar mengelabuhi

aku. Ia pasti mengambil jalan lain, tetapi akhirnya ia akan sampai

pula ketempat persembunyiannya di Kemundungan”.

Dengan serta-merta Empu Gandring itu pun segera

menggerakkan kendali kudanya, dan kudanya pun segera berputar

pula. Sesaat kemudian, maka kuda itu pun segera meloncat berlari.

Kali ini meluncur keluar dari hutan berawa-rawa itu menuju ke

Kemundungan.

Empu Gandring merasa bahwa ia telah kehilangan waktu sesaat

dengan memasuki hutan itu, sehingga dengan demikian maka ia

harus berpacu untuk mengurangi keterlambatannya. Ia sedapat

mungkin harus sampai ke Kemundungan sebelum Mabisa Agni

mendapat perlakuan yang tidak wajar.

Dengan demikian maka Empu Gandring berusaha untuk secepatcepatnya

mencapai sarang iblis yang liar dan buas itu.

Dipercepatnya lari kudanya. Namun terasa langkah kuda itu seakanakan

menjadi terlampau lamban.

Setiap kali Empu Gandring harus menyentuh perut kuda itu

dengan tumitnya atau menggelitik tengkuknya dengan pangkal

kendali. Dan setiap kali kuda itu pun meloncat semakin cepat.

Namun masih juga terasa, alangkah lambatnya.

Sejenak kemudian Empu Gandring telah lepas dari daerah hutan

yang tidak begitu lebat. Didakinya lereng bukit gundul lewat jalan

yang tadi ditempuhnya dalam arah yang berlawanan. Padang

rumput yang tidak terlampau luas itu pun telah dilintasinya. Dan kini

Empu Gandring telah menemukan kembali jalan yang wajar menuju

ke Kemundungan.

Kudanya pun kemudian dipacunya semakin cepat. Seakan-akan

ia sedang berlomba dengan matahari yang bergerak ke Barat.

Tetapi matahari itu agaknya berjalan terlampau cepat, sehingga

sejenak kemudian bayangan Empu Gandring telah menjadi kian

panjang karena matahari telah menjadi semakin condong ke Barat.

Dengan demikian, maka perjalanan Empu Gandring yang juga

menuju kearah Barat itu pun menjadi silau. Tetapi Empu Gandring

masih berpacu terus.

Akhirnya bukit gundul itu pun dilampauinya. Ketika ia menuruni

lereng di sisi Barat, maka segera Empu Gandring dapat melihat,

dimanakah rumah Kebo Sindet itu.

Kini Empu Gandring mulai memperlambat langkah kudanya.

Hatinya menjadi berdebar-debar. Di dalam hatinya ia mengharap,

mudah-mudahan ia masih dapat menemukan kemanakannya dalam

keadaan hidup.

Tetapi semakin dekat, Empu Gandring itu pun menjadi semakin

curiga. Rumah Kebo Sindet di lereng bukit kecil itu tampaknya masih

terlampau sepi. Pintu lorongnya masih tertutup, dan masih belum

dilihatnya ada tanda-tanda seseorang berada di dalamnya.

“Apakah orang itu masih belum datang?” desis Empu Gandring.

Ketika ia menjadi semakin dekat, maka ia pun menjadi semakin

berhati-hati. Bahkan ketika kudanya mulai menginjakkan kakinya di

dalam lingkungan rumah itu, maka Empu Gandring menarik

kekangnya, dan kuda itu pun berhenti.

Sejenak Empu Gandring berdiam diri seolah-olah membeku di

atas punggung kudanya. Dipandanginya gubug Kebo Sindet itu

dengan tajamnya. Gubug bambu beratap ilalang, berpintu lereg

tidak cukup rapat.

Empu Gandring menarik nafas dalam. Di dalam hatinya ia

bertanya, “Apakah sebenarnya hidup bagi Kebo Sindet? Dengan

susah payah ia mengumpulkan harta benda. Bahkan dengan segala

macam cara. Tetapi apakah arti harta benda itu baginya? Orang itu

tidak beranak tidak beristeri. Tidak juga mempergunakannya sendiri.

Ia hidup di dalam gubug yang hampir roboh, tidak di dalam sebuah

istana yang mewah. Tidak dilingkungi oleh kepuasan lahiriah.

Agaknya ia makan pun tidak teratur pula. Apa saja yang ada pada

hari itu. Lalu apakah gunanya harta benda yang didapatkannya?”

Empu Gandring tidak dapat menemukan jawabnya. Ia

menganggap Kebo Sindet sebagai seorang yang aneh. Seorang

yang tidak wajar seperti kebanyakan orang.

Empu Gandring pernah merasakan dan mengalami berprihatin.

Menjauhkan diri dari kepuasan badani. Tetapi ia sama sekali tidak

selalu di kejar-kejar oleh nafsu untuk mengumpulkan harta benda

sebanyak-banyaknya, bahkan dengan segala macam cara seperti

Kebo Sindet. Membunuh, merampok, memeras dan sebagainya.

Kadang-kadang untuk kepentingan itu, nyawanya dipertaruhkan.

Tetapi kalau harta benda itu sudah dimilikinya, maka orang itu sama

sekali tidak dapat menikmatinya.

“Aku kadang-kadang masih juga ingin makan enak dan tidur

nyenyak di tempat yang nyaman” desis Empu Gandring, “dan

kadang-kadang aku masih juga menyisihkan milikku sedikit-sedikit

untuk kepentingan anak cucu kelak, seperti orang-orang

sewajarnya. Tetapi Kebo Sindet ini terlampau aneh bagiku. Untuk

apakah harta benda yang dikumpulkannya selama ini bersama-sama

dengan adiknya?”

Tetapi Empu Gandring tidak mau dirisaukan oleh pertanyaanpertanyaan

itu. Kini yang penting baginya adalah mencari Mahisa

Agni. Dihadapannya itu adalah rumah Kebo Sindet. Karena itu ia

harus mulai berbuat sesuatu.

Empu Gandring itu pun kemudian meloncat turun dari kudanya.

Perlahan-lahan dan hati-hati ia melangkah maju. Kemudian kudanya

itu pun ditambatkannya pada sebatang pohon. Dan ia pun

melangkah lagi semakin dekat dengan gubug Kebo Sindet.

Meskipun Empu Gandring itu sudah menjadi semakin dekat

namun ia masih belum melihat atau mendengar sesuatu. Rumah itu

terlalu sunyi.

Empu Gandring itu pun kemudian sudah berdiri di muka pintu.

Perlahan-lahan ia mengetuk pintu itu. Tetapi suara ketukannya

hilang saja ditelan sunyi.

Akhirnya Empu Gandring tidak bersabar lagi. Dicobanya untuk

mendorong pintu lereg itu. Ia terkejut ketika dengan mudahnya

pintu pun terbuka.

Kini Empu Gandring dapat melihat isi gubug kecil itu. Hampir tak

ada sesuatu apa pun di dalamnya. Hanya sebuah amben terbujur

membeku. Di sana-sini berceceran alat-alat untuk menggarap tanah.

Cangkul, parang dan sebatang srumbat kelapa dari kayu.

“Kosong” desis Empu Gandring, Ketika dilihatnya benda-benda itu

maka ia pun berguman , “Hem, agaknya orang ini bekerja juga

bercocok tanam”.

Dengan hati-hati Empu Gandring itu melangkah masuk. Rumah

itu benar-benar kosong. Tak ada bekas yang baru di dalam rumah

itu, sehingga menurut dugaan Empu Gandring, belum ada seorang

pun yang baru saja memasukinya.

“Mereka belum datang” desisnya.

Empu Gandring itu pun kemudian terhenyak di atas amben

bambu di dalam rumah itu. Suaranya berderit seperti sebuah

keluhan yang paling pahit.

“Aku harus menunggu sampai mereka datang.” desisnya, “aku

akan memintanya dengan baik. Kalau tidak, terpaksa aku

mempergunakan kekerasan”.

Tetapi Empu Gandring kemudian, tidak merasa tenteram berada

di dalam gubug itu. Ia pun segera berdiri dan melangkah keluar.

“Kalau Kebo Sindet melihat kudaku, mungkin ia tidak akan

memasuki rumahnya ini” katanya di dalam hati.

Maka Empu Gandring itu pun menutup pintu rumah Kebo Sindet

kembali seperti semula. Dibawanya kudanya ke belakang semaksemak

yang agak rimbun. Dari tempat itu pula ia menunggu sambil

mengawasi kalau-kalau Kebo Sindet bersama Kuda Sempana akan

datang.

Tetapi Kebo Sindet ternyata tidak akan datang ke Kemundungan

Kebo Sindet telah memperhitungkan bahwa Empu Gandring pasti

akan menyusulnya. Mungkin dengan prajurit Tumapel yang aneh,

yang kepalanya seakan-akan memancarkan cahaya kemerahmerahan.

Seorang anak muda yang mampu bertahan tidak luluh

oleh kekuatan tertinggmya, Aji Bajang.

Dengan susah payah, Kebo Sindet ternyata berhasil melintasi

hutan dan rawa-rawa yang cukup berbahaya. Tanahnya gembur dan

berlumpur. Tetapi iblis itu mengenal daerah itu dengan baik.

sehingga ia dapat memilih jalan yang paling baik untuk melintasi

daerah itu.

Di seberang rawa-rawa maka hutan menjadi semakin rindang.

Hampir tidak ada pohon-pohon yang cukup besar dan lebat. Tetapi

banyak sekali gerurnbul-gerumbul perdu yang rimbun dan liar

berduri.

“Kita sudah hampir sampai” desis Kebo Sindet.

Kuda Ssmpana tidak menyahut. Sekali ia berpaling, tetapi

kemudian dipandanginya jalan di depan matanya. Yang tampak

hanyalah hijaunya dedaunan dan percikan sinar matahari seberkasberkas

jatuh di atas tanah yang lembab.

“Tak banyak orang yang dapat mencapai tempat ini. Tempat ini

dikelilingi oleh rawa-rawa. Seseorang yang tidak mengenal tempat

ini baik-baik akan dengan mudah terperosok masuk ke dalam tanah

berlumpur. Kalau demikian maka nasibnya akan sangat malang.

Sebab ia pasti tidak akan dapat melepaskan dirinya. Hanya hantu

dan tetekan sajalah yang dapat mencapai tempat ini selain Kebo

Sindet dan Wong Sarimpat.

Kuda Sempana masih berdiam diri.

“Inilah tempat tinggal Kebo Sindet dan Wong Sarimpat yang

sebenarnya. Itulah sebabnya maka aku sama sekali tidak

berkeberatan bahwa rumahku di Kemundungan akan dibongkar oleh

seluruh prajurit Tumapel. Sebab mereka pasti hanya akan

menemukan benda-benda yang sebenarnya kurang berharga

bagiku. Di dalam goa dibelakang gubugku itu tidak akan banyak

dijumpai barang-barang yang penting. Dan kini Kuda Sempana, kau

telah berada di dalam daerah Kebo Sindet yang selama ini tidak

pernah didatangi orang lain”.

Kuda Sempana masih tetap membungkam. Dengan hati yang

kosong ia mengikuti saja Kebo Sindet yang menyusup-nyusup

disela-sela pepohonan. Disana-sini masih juga tergenang air. Tetapi

daerah rawa-rawa yang sebenarnya telah lampau.

“Di ujung yang lain dari hutan ini pun terdiri dari tanah yang

gembur dan berawa-rawa” berkata Kebo Sindet itu pula. Dan Kuda

Sempana pun menganggukkan kepalanya tanpa menyadari arti

kata-kata Kebo Sindet.

Ketika Kuda Sernpana tidak juga menjawab, maka Kebo Sindet

itu berkata, “Kuda Sempana. Aku telah mengatakan kepadamu

keadaan daerah ini. Daerah ini dikelilingi oleh genangan-genangan

air berlumpur. Kadang-kadang di tempat-tempat tertentu air itu

cukup dalam. Setinggi tubuhmu, bahkan ada yang lebih dalam lagi.

Orang-orang yang kurang mengenal daerah ini tidak akan dapat

membedakannya. Karena itu Kuda Sempana tanpa aku kau jangan

mencoba pergi terlampau jauh. Jangan mencoba menjajagi rawarawa

ini. Itu akan sangat berbahaya bagimu. Kau akan tetap tinggal

di sini kecuali aku menghendaki kau meninggalkan tempat ini”.

Baru saat itulah Kuda Sempana menyadari keadaannya. Ternyata

ia telah terperosok ke dalam daerah yang tak dikenalnya. Bukan itu

saja, tetapi ia telah berada di suatu tempat yang tidak dapat

ditinggalkannya. Ini berarti bahwa ia pun telah berada di dalam

kekuasaan Kebo Sindet.

“Kau mengerti maksudku?” bertanya Kebo Sindet.

Kini Kuda Sempana mengangguk. Tetapi keadaan itu pun tidak

banyak berpengaruh atas perasaannya. Dimana saja ia berada dan

dalam keadaan apapun, baginya tidak banyak mempunyai

perbedaan arti. Hidup yang sebenarnya bagi Kuda Sempana seakanakan

telah berhenti. Dan kini hidup baginya hanya sekedar dijalani

tanpa arah, tanpa tujuan dan tanpa cita-cita.

“Bagus” gumam Kebo Sindet kemudian, “kau adalah seorang

anak muda yang patuh”.

Kata-kata itu pun terdengar janggal ditelinga Kuda Sempana.

Tetapi ia sama sekali tidak menjawab.

Demikianlah mereka berjalan terus di atas punggung-punggung

kuda masing-masing. Kuda Sempana kini telah berubah pula

menjadi seorang yang acuh tak acuh atas kedaan sekelilingnya.

Wajahnya tiba-tiba saja menjadi mirip dengan wajah Kebo Sindet.

Beku dan mati, meskipun sebab-sebabnya agak berbeda. Wajah

Kebo Sindet membeku tetapi penuh dibakar oleh. nafsu, sedang

wajah Kuda Sempana membeku mati. Gersang.

“Kita mencari tempat yang baik untuk mengubur Wong Sarimpat”

berkata Kebo Sindet itu kemudian, “sebentar lagi kita akan sampai

ke sebuah Goa. Disitulah aku akan memelihara Mahisa Agni untuk

suatu kepentingan. Ia harus diobati dan disembuhkan dari luka-luka

yang mungkin diderita. Anak muda itu tidak boleh terlampau lama

dalam keadaannya, supaya bagian-bagian tubuhnya tidak ada yang

terlanjur menjadi rusak.

Kuda Sempana hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja.

Meskipun demikian diamat-amatinya juga tubuh Mahisa Agni yang

lemah tergantung di kudanya. Ia mendendam kepada anak muda itu

sejak Mahisa Agni menghalangi keinginannya membawa Ken Dedes

ke Tumapel di pinggir kali di bawah Bendungan. Beberapa kali ia

berkelahi melawan anak muda itu. Beberapa kali ia ingin

melumpuhkan, bahkan membinasakannya. Sehingga gurunya telah

terseret pula ke dalam arus dendamnya yang tiada terkendali.

Namun akibatnya ternyata sama sekali tidak disangkanya. Dua kali

gurunya mengalami bencana, bahkan hampir membunuhnya.

Mungkin kali ini gurunya telah benar-benar meninggal akibat

benturan dan sampyuh melawan Wong Sarimpat. Seandainya

demikian, maka apa yang terjadi benar-benar diluar kehendaknya.

KudaSempana itu berpaling ketika Kebo Sindet berkata pula,

“Lihat Kuda Sempana. Dihadapan kita ada sebatang pohon Randu

Alas yang besar. Disampingnya ada sebatang pohon Jati yang

sebaya umurnya dengan pohon Randu Alas itu. Umur pohon-pohon

itu telah berbilang ratusan tahun. Diantara kedua batang pohon itu

kau akan rnenjumpai sebuah Goa di bawah bukit-bukit batu karang

yang kecil. Disitulah kita akan bersembunyi untuk sementara.

Dibawah pohon Randu Alas akan kita kuburkan Wong Sarimpat”.

Tanpa sesadarnya Kuda Sempana melihat kearah pohon-pohon

yang ditunjuk oleh Kebo Sindet. Tiba-tiba saja tubuhnya meremang.

Sejak semula ia sama sekali tidak memperhatikan apa pun yang ada

di sekitarnya. Juga kedua batang pohon raksasa itu.

Dan kini tiba-tiba saja ia melihat kedua batang pohon itu. Tinggi

menjulang, se-akan-akan menggapai langit yang telah jadi kemerahmerahan.

Mencuat di antara pepohonan yang tidak begitu rapat,

dikitari oleh gerumbul-gerumbul yang rimbun.

Kuda Sempana sendiri menjadi heran. Kenapa ia tidak melihat

kedua batang pohon itu sejak semula? Bukankah kedua batang

pohon itu tampak seperti dua orang raksasa di antara pepohonan

yang lain?

Tetapi sejenak kemudian Kuda Sempana pun telah menjadi acuh

tak acuh pula. Juga kedua pohon raksasa itu tidak akan berarti apaapa

baginya. Goa yang berada di bawah gumuk karang itu pun tidak

berarti pula baginya. Ia sudah kehilangan arti hidupnya, dan

hilanglah semuanya baginya.

Sejenak kemudian mereka pun telah sampai di bawah kedua

batang pohon yang berjarak beberapa puluh langkah itu. Diantara

kedua batang pohon itu terdapat sebuah gumuk batu karang. Dan

di bawah gumuk itu terdapat sebuah Goa.

“Inilah rumah kita untuk sementara” desis Kebo Sindet sambil

meloncat dari kudanya., “Ikatkan kudamu dan angkatlah Mahisa

Agni. Tidurkanlah ia di dalam Goa itu”.

Seperti orang bermimpi Kuda Sempana pun turun dari kudanya.

Diangkatnya tubuh Mahisa Agni seperti yang dikatakan oleh Kebo

Sindet dan dibawanya tubuh itu kemulut Goa. Tetapi ketika ia

melihat ke dalam Goa yang gelap itu, ia menjadi ragu-ragu sejenak.

“Masuklah” berkata Kebo Sindet, “tak ada binatang buas di

dalamnya”.

Kuda Sempana pun kemudian melangkah masuk. Dalam

keremangan cahaya yang masuk dari mulut Goa Kuda Sempana

melihat sebuah amben kayu yang cukup besar, Di amben itu lah

kemudian Mahisa Agni dibaringkannya.

Sejenak kemudian Kebo Sindet pun masuk pula kedalam Goa itu.

Dirabanya tubuh Mahisa Agni. Diurutnya dibeberapa bagian dari

lehernya.

“Ambillah air” berkata Kebo Sindet kepada Kuda Sempana. Tetapi

Kuda Sempana tidak segera beranjak dari tempatnya. Ia tidak tahu

kemana ia harus mengambil air.

“Ambillah air” Kebo Sindet mengulangi.

“Kemana aku harus mengambil air?” bertanya Kuda Sempana

kemudian.

“Oh” desah Kebo Sindet, “di dalam daerah yang penuh dengan

rawa-rawa ini kau bertanya kemana kau harus mengambil air?”

“Apakah aku harus mengambil air berlumpur itu?”

“Bertahun-tahun aku selalu minum air berlumpur itu. Tetapi aku

tidak menjadi sakit-sakitan”.

Kuda Sempana menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia masih

bertanya lagi “dengan apa aku membawa air itu kemari?”

Mata Kebo Sindet itu pun kemudian beredar di sekeliling ruangan

itu. Kemudian katanya sambil menunjuk ke arah sudut ruangan itu,

“Ambillah mangkuk tanah itu. Pakailah untuk mengambil air, dan

cepat”.

Kuda Sempanaun segera pergi ke sudut ruangan itu mengambil

mangkuk tanah yang kotor. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Kotor bagi

Kebo Sindet agaknya tidak menjadi soal lagi.

Kemudian, Kuda Sempana pun pergi keluar Goa, berjalan di selasela

gerumbul-gerumbul liar mengambil air dari rawa-rawa. Air yang

berwarna coklat keputih-putihan.

Sementara itu Kebo Sindet masih memijat-mijat Mahisa Agni.

Sekali-kali dilehernya dan sekali-kali di bagian punggungnya.

“Anak ini terlampau lama pingsan” desisnya, “mudah-mudahan

aku masih dapat membangunkannya. Kalau ia mati, maka aku pun

kehilangan pula. Aku telah kehilangan adikku, dan aku akan

kehilangan kemungkinan untuk mendapatkan harta dari calon

permaisuri Tunggul Ametung itu”.

Sementara itu Kuda Sempana pun datang sambil menjinjing

mangkuk tanah yang berisi air. Tetapi air itu terlampau kotor.

Namun demikian Kebo Sindet sama sekali tidak menghiraukannya.

Dimasukannya sebutir reramuan obat-obatan dan dihancurkannya di

dalam air itu, perlahan-lahan air itu dimasukkan ke dalam mulut

Mahisa Agni. Sedikit demi sedikit.

Sejenak mereka menunggu. Meskipun tak sepatah kata pun yang

mereka ucapkan, namun tampaklah wajah-wajah yang beku itu

menegang. Mereka menunggu, apakah Mahisa Agni masih dapat

sadar kembali seperti semula, meskipun detak jantungnya masih

juga dapat mereka dengar apabila mereka menempelkan telinga

mereka di dada anak itu.

Tetapi sesaat kemudian, Kuda Sempana itu pun mulai dihinggapi

lagi oleh perasaan acuh tak acuhnya. Bahkan ia bertanya di dalam

hati, “Buat apakah sebenarnya aku ikut serta menjadi cemas atas

nasib Mahisa Agni. Hidup atau mati sama sekali tidak ada bedanya

bagiku. Kalau ia mati, biarlah ia mati. Sudah lama aku

menghendakinya supaya ia mati. Tetapi kalau ia dapat hidup lagi,

aku pun tidak akan berkeberatan. Mudah-mudahan aku masih

mempunyai gairah untuk membalas sakit hatiku. Tetapi apakah

.sebenarnya kepentingan Kebo Sindet bersusah payah

mengobatinya. Biar sajalah ia mati, dan kemudian dikuburkan

bersama Wong Sarimpat. Tetapi pertanyaan itu disimpannya saja di

dalam hatinya.

(bersambung ke jilid 28)

 

Jilid 28

KUDA SEMPANA itu berpaling ketika ia melihat Kebo Sindet

menarik nafas dalam-dalam. Anak muda itu menjadi heran ketika ia

melihat dahi Kebo Sindet itu menjadi berkerut-merut. Wajah itu

hampir selamanya membeku. Agaknya masalah Mahisa Agni itu

benar-benar menegangkan urat syarafnya.

“Kuda Sempana” Kebo Sindet itu tiba-tiba memanggilnya,, “lihat

dadanya mulai bergerak”.

Kuda Sempana menganggukkan kepalanya.

“Kau lihat dada itu?” bertanya Kebo Sindet pula,, “aku

mengharap bahwa bagian-bagian badannya masih cukup baik.

Untunglah bahwa daya tahan tubuhnya benar-benar luar biasa.

Orang-orang lain pasti sudah mengalami banyak kerusakan apabila

mengalami keadaan seperti Mahisa Agni. Ia terlalu lama berada

dalam keadaan tidak menyadari dirinya meskipun jantungnya tetap

berdetak. Meskipun demikian, akibat dari keadaan ini akan

ditanggung oleh Mahisa Agni untuk waktu yang cukup lama. Kau

harus telaten memeliharanya sampai ia sembuh benar. Setiap kali

aku pergi, kau harus merawatnya. Jangan kau bunuh dia tanpa

ijinku lebih dahulu, supaya kau tidak aku bunuh pula”.

Dada Kuda Sempana berdesir, tetapi ia tidak menjawab.

“Kalau ia sudah sembuh benar-benar, nah, kau dapat berbuat

sekehendakmu atasnya. Anak itu akan aku ikat pada pohon Randu

Alas itu. Lalu kau boleh berbuat sesuka hatimu atasnya, untuk

membalas sakit hatimu. Tetapi anak ini harus sembuh lebih dahulu”.

Sekali lagi Kuda Sempana mengangguk. Tetapi hatinya masih

saja selalu bertanya-tanya. “Buat apa sebenarnya Kebo Sindet

bersusah payah mengobatinya. Mungkin untuk melakukan

pemerasan atau apapun. Tetapi perbuatan itu benar-benar tidak

pantas dilakukan. Disembuhkannya Mahisa Agni dari sakit dan

penderitaan badaniah untuk kemudian mengalami penderitaan

badaniah yang lain. Bahkan mungkin penderitaan batin untuk

sepanjang umurnya”.

Sementara itu wajah Kebo Sindet pun menjadi semakin kendor

ketika ia melihat tubuh Mahisa Agni mulai dialiri oleh udara yang

hangat. Perlahan-lahan Kebo Sindet melihat anak muda itu

menggerakkan kepalanya. Perlahan-lahan sekali. Namun itu adalah

pertanda yang menyenangkan bagi Kebo Sindet, pertanda bahwa

Mahisa Agni masih dapat dibangunkannya kembali.

“Lihat Kuda Sempana” berkata Kebo Sindet, “anak ini akan

segera menyadari keadaannya. Tetapi ia akan menjadi sangat

lemah. Ia akan memerlukan waktu dua atau tiga minggu untuk

memulihkan kembali tenaganya”.

Kini Kuda Sempana pun memperhatikan keadaan Mahisa Agni itu.

Ia melihat anak muda itu mulai menggerakkan tubuhnya.

Tangannya dan kakinya.

“Bagus” Kebo Sindet berkata lantang, “aku berhasil”.

Kemudian dilumurkannya air sisa dari larutan obat yang

diminumkannya kepada Mahisa Agni itu pada bagian-bagian kaki

dan tangannya, sehingga terasa tubuh itu menjadi semakin hangat.

Sementara itu, di Kemundungan, Empu Gandring menunggu

kedatangan Kebo Sindet di belakang gerumbul yang agak rimbun.

Dari tempatnya itu, ia akan dapat melihat apabila seseorang

memasuki lingkungan rumah Kebo Sindet itu. Tetapi sudah begitu

lama ia menunggu, namun yang ditunggunya masih juga belum

tampak datang.

“Gila benar Kebo Sindet” desahnya, “aku akan menunggu sampai

malam. Sampai tengah malam”.

Dan Empu Gandring kemudian duduk bersandar sebatang pohon.

Dengan gelisah diikutinya matahari yang merayap dengan

lambannya menuju ke Barat, ke balik punggung gunung. Namun

sampai matahari kemudian terbenam, Kebo Sindet dan Kuda

Sempana tidak juga kunjung datang.

“Baiklah” desahnya, “aku akan menunggu di sini sampai kau

datang”.

Tetapi yang ditunggunya tidak juga kunjung datang, sehingga

begitu lelahnya maka Empu Gandring itu pun ingin untuk tidur

sejenak sambil memanjat pohon. “Tak seorang pun yang akan

melihat aku di sini. Mudah-mudahan kudaku pun cukup terlindung

juga”.

Kemudian, pada sebuah dahan yang kuat, maka Empu Gandring

itu pun menyandarkan diri untuk sejenak beristirahat.

Ketika Empu Gandring itu tersadar, maka disekitarnya adalah

gelap gulita. Hanya di langit dapat dilihatnya bintang gemintang

berhamburan.

“Hem” orang tua itu menghela nafas. Ia masih mendengar

dengus nafas kudanya. Tetapi ketika ia memandangi gubug Kebo

Sindet maka gubug itu masih juga sepi dan gelap.

Tetapi apa yang dilihatnya itu belum memberinya keyakinan.

Perlahan-lahan ia turun, dan dengan hati-hati didekatinya gubug itu.

Namun gubug itu masih juga kosong.

“Apakah ia tidak kembali kerumahnya?.” desisnya. Orang tua itu

pun menjadi semakin gelisah. Kalau Mahisa Agni tidak dibawanya

kemari, maka sangatlah sulit baginya untuk menemukannya dalam

keadaan hidup.

“Apakah Kebo Sindet bersembunyi di belakang rawa-rawa itu?”

katanya di dalam hati. Tetapi jawaban atas pertanyaan itu adalah

kegelisahan yang menjadi semakin memuncak.

Tetapi Empu Gandring masih menyabarkan dirinya. Betapa ia

menjadi gelisah dan cemas, namun orang tua itu tidak segera mau

meninggalkan gubug itu. Dengan kesal ia kembali ketempatnya

bersembunyi, memanjat sebatang pohon dan mencoba untuk

menenangkan hatinya, beristirahat mengurangi lelahnya.

Tetapi hampir setiap saat Empu Gandring menyadari

keadaannya. Didengarnya di Pedukuhan kecil yang bernama

Kemundungan ayam jantan berkokok untuk yang pertama kalinya.

Didengarnya ratapan burung hantu dikejauhan, seperti keluh kesah

seorang yang kehilangan anaknya. Didengarnya anjing-anjing liar

berteriak mengerikan, sahut menyahut di atas bukit gundul. Dan

didengarnya pula kokok ayam untuk yang kedua kalinya.

Empu Gandring tidak lagi dapat tidur sekejap pun. Bahkan ia

menjadi ngeri mendengar salak anjing-anjing liar sahut-menyahut.

“Ternyata bukit gundul itu menyimpan bahaya yang sempurna”

desisnya ”iblis dari Kemundungan dan anjing-anjing liar itu.

Keduanya sama-sama berbahaya bagiku”.

Tetapi meskipun kemudian ayam berkokok untuk ketiga kalinya,

dan bayangan merah telah memancar di ujung Timur, namun Empu

Gandring masih tetap menunggu, kalau-kalau tiba-tiba Kebo Sindet

dan Kuda Sempana muncul dari dalam gelap membawa Mahisa

Agni.

“Aku menyesal telah melepaskannya” gumam Empu Gandring

seorang diri. Kenapa aku tidak menahannya? Ternyata Kuda

Sempana telah mengelabui perhitunganku. Aku sangka Kuda

Sempana berbuat untuk gurunya.

Ketika Kemudian matahari menjenguk dari balik-balik dedaunan

di ujung Timur, maka Empu Gandring menjadi tidak bersabar lagi.

“Aku tidak dapat tinggal di sini menunggu Kebo Sindet yang tidak

kunjung datang” katanya, “aku harus mencarinya”.

Empu Gandring itu pun kemudian meloncat turun. Dibenahinya

pakaiannya dan dihampirinya kudanya. Desisnya, “Kita akan

berjalan lagi. Aku tidak tahu, sampai kapan aku akan berhenti.

Mudah-mudahan kita tidak sama-sama menjadi lelah. Bukankah kau

telah makan sekenyang-kenyangmu?”

Kudanya seakan-akan dapat memahami kata-kata Empu

Gandring. Tetapi kuda itu tidak dapat bertanya, “Apakah kau sudah

makan pula Empu?”

Untunglah, bahwa Empu Gandring telah membiasakan dirinya

untuk tidak menyentuh makanan sampai beberapa hari, sehingga

karena kebiasaan itu, ia menjadi sangat tahan untuk menahan lapar

dan dahaga.

Ketika terpandang oleh Empu Gandring tidak jauh dari tempat itu

pedukuhan kecil yang hijau, yang bernama Kemundungan, maka

timbullah keinginannya untuk memasukinya. Mungkin di sana ia

akan mendapat keterangan tentang Kebo Sindet atau Kuda

Sempana. Mungkin orang-orang itu melihat atau pernah mendengar

dimana Kebo Sindet sering bersembunyi apabila ia tidak kembali ke

gubugnya, atau barangkali Kebo Sindet mempunyai rumah yang lain

selain rumahnya itu.

Dengan demikian maka Empu Gandring itu pun segera meloncat

ke punggung kudanya dan kudanya itu pun kemudian berlari ke

Kemundungan. Tetapi kuda itu tidak berlari terlampau kencang.

Empu Gandring tidak ingin membuat orang-orang Kemundungan

menjadi terkejut karenanya.

Ketika Empu Gandring memasuki pedukuhan itu, maka segera ia

mengetahui bahwa padukuhan itu adalah pedukuhan yang sangat

miskin. Tanahnya yang subur tidak cukup luas untuk dapat memberi

mereka makan secukupnya. Meskipun ada juga daerah-daerah yang

dapat ditanami pada musim hujan, tetapi hasilnya tidak cukup

memuaskan. Pedukuhan itu hampir-hampir dikitari oleh bukit-bukit

gundul yang tandus.

“Aneh” gumam Empu Gandring, “ada juga orang yang kerasan

tinggal di daerah seperti ini. Kalau mereka mau pindah ke daerah

Lulumbang, maka di sana akan dapat digarap tanah persawahan

yang cukup baik dibandingkan dengan tanah yang cengkar ini.

Kenapa mereka tidak berusaha seperti orang-orang Panawijen,

membuat bendungan atau apapun yang dapat mengairi tanah di

sekitar padukuhan ini, atau pindah berpencaran mencari tempattempat

baru yang lebih baik?”

Pertanyaan itu telah menyertainya memasuki padesan itu

semakin dalam. Dilewatinya lorong-lorong sempit di antara rumahrumah

kecil dari bambu beratap ilalang. Halaman-halaman berpagar

batu yang dilekatkan dengan tanah yang agak liat.

Sekali-kali Empu Gandring melihat seorang dua orang

menjengukkan kepalanya lewat pintu-pintu yang sudah terbuka,

tetapi kepala-kepala itu pun segera lenyap kembali di balik dinding.

“Aku harus menemukan rumah tetua padesan ini” desis Empu

Gandring seorang diri, “mungkin seorang buyut, atau mungkin

seorang yang sekedar dianggap tertua di padukuhan ini”.

Tetapi Empu Gandring tidak menemukan seorang pun yang

dapat ditanyainya.

Namun akhirnya orang itu menemukan sebuah rumah yang agak

lebih baik dari rumah-rumah di sekitarnya. Agak lebih besar dan

halamannya agak lebih luas. Pada dinding halaman depan

didapatinya sebuah regol yang sangat sederhana, bahkan telah agak

condong terdesak oleh umur.

“Aku harus mendapatkan seseorang yang dapat aku ajak

berbicara. Mungkin di dalam rumah ini”.

Empu Gandring itu pun kemudian turun dari kudanya dan

dituntunnya kudanya memasuki halaman rumah itu. Dengan hatihati

diamatinya segenap bagiannya. Sudut-sudut halaman dan

setiap pepohonan. Ternyata di halaman itu pun tumbuh berbagai

macam tumbuh-tumbuhan liar yang tidak terpelihara.

“Apakah aku salah masuk?” katanya di dalam hati, “tetapi rumah

ini adalah rumah yang terbaik yang terdapat di padesan ini”.

Kemudian Empu Gandring itu pun menambatkan kudanya.

Mengingsar sedikit keris di punggungnya, dan kemudian perlahanlahan

berjalan ke arah pintu yang hanya terbuka sedikit.

Sampai di muka pintu, Empu Gandring itu menjadi ragu-ragu .

Tetapi ia tidak mempunyai cara lain untuk mengetahui serba sedikit

tentang padukuhan itu, bahkan apabila mungkin mengenai Kebo

Sindet dan kebiasaan-kebiasaannya.

Maka Empu Gandring itu pun kemudian melangkah semakin

dekat, dan dengan perlahan-lahan mengetuk pintu rumah itu.

Sekali dua kali, tak ada jawaban dari dalam. Tetapi ketika Empu

Gandring mengetuk semakin keras, maka terdengar suara orang

membentak dari dalam, “He, siapa itu?”

Empu Gandring terkejut mendengar jawaban yang sama sekali

tidak disangkanya. Dari lontaran suaranya maka Empu Gandring

sudah menduga bahwa orang itu sama sekali bukan orang yang

ramah.

“Siapa he?” terdengar teriakan itu lagi.

“Aku” sahut Empu Gandring.

“Aku siapa he, apakah kau tidak mempunyai nama?” Empu

Gandring menarik nafas. Orang apakah yang sedang dihadapinya

kini?

“Aku, Empu Gandring” terpaksa ia menjawab.

“Empu Gandring” suara itu mengulangi, “aku belum pernah

mengenal namamu. Apakah kau bukan orang Kemundungan?”

“Bukan. Aku bukan orang Kemundungan”.

“Persetan dengan kau. Agaknya kau belum mengenal daerah ini”.

Empu Gandring tidak menjawab lagi. Tetapi kata-kata terakhir

orang di dalam rumah itu menarik perhatiannya.

Sesaat kemudian ia melihat seorang yang bertubuh tinggi kekar

muncul dari dalam rumah itu. Wajahnya yang keras dan pandangan

matanya yang penuh mengandung kecurigaan, sama sekali tidak

menyenangkan Tetapi Empu Gandring tidak mau berprasangka,

meskipun ia tidak meninggalkan kewaspadaan.

Dengan tajamnya orang itu memandangi Empu Gandring dari

ujung jari kakinya sampai keujung rambutnya yang telah menjadi

dua warna. Seolah-olah orang itu keheranan, bahwa dihadapannya

berdiri seorang tua yang bernama Empu Gandring.

“Kaukah yang menyebut dirimu Empu Gandring?”

“Ya, Ngger” jawab Empu Gandring.

“Umurku hampir setua umurmu. Kau panggil aku dengan

panggilan itu?”

“Eh, Benarkah? Maaf” sahut Empu Gandring, “kalau begitu kau

benar-benar awet muda. Aku sangka umurmu sebaya dengan umur

anakku wuragil”.

“Persetan. Aku tidak peduli. Tetapi apa maumu datang kemari.

Apa lagi kau berani memasuki daerah Kemundungan dengan

membawa senjata, seolah-olah kau laki-laki sendiri di muka bumi

ini”.

“O, maafkan aku adi” berkata Empu Gandring, “tetapi sebenarnya

senjataku sama sekali tidak berarti. Aku membawanya sebagai

kawan dalam perjalanan apabila aku melewati hutan ilalang, supaya

aku mempunyai alat untuk menebasnya”.

Sejenak orang itu berdiam diri. Tetapi matanya tidak berkedip

memandang hulu keris Empu Gandring yang mencuat dari balik

punggungnya. Namun orang itu kemudian berkata, “Aku tidak peduli

pada macam senjatamu, tetapi kedatanganmu kedaerah ini dengan

senjata itu akan membahayakan nyawamu”.

“Kenapa?” bertanya Empu Gandring.

“Buang saja senjatamu itu ke dalam jurang di pinggiran desa ini.

Kemudian pergilah meninggalkan Kemundungan. Jangan kembali

lagi, supaya kau tidak diterkam anjing hutan”.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia

bertanya, “Bukankah senjata ini betapapun jeleknya, akan berguna

bagi keselamatanku apabila aku bertemu dengan anjing hutan?”

“Tak ada gunanya. Anjing itu tidak hanya satu. Tidak hanya

sepuluh. Bahkan tidak hanya lima belas”.

“Apalagi kalau aku tidak bersenjata” potong Empu Gandring.

“Persetan” teriak orang itu, “tetapi buang senjatamu”.

“Anjing-anjing hutan tidak akan dapat membedakan, apakah

seseorang bersenjata atau tidak”.

“Bodoh kau” orang itu semakin berteriak. Ternyata teriakkannya

telah didengar oleh beberapa orang tetangganya, yang kemudian

menjenguk dari pintu rumahnya atau bahkan keluar halaman

melihat apa yang terjadi, “Bahaya yang dapat menerkam nyawamu

bukan saja anjing-anjing hutan itu”.

Dahi Empu Gandring itu pun berkerut. Tetapi ia mencoba

menghilangkan setiap kesan yang dapat ditangkapnya dari mulut

orang itu di wajahnya. Bahkan ia bertanya, “Bukan saja dari anjing

hutan itu? Lalu dari siapa lagi”.

“Persetan. Dari setan belang atau dari hantu tetekan. Tetapi

bahaya itu akan menerkammu dari segenap arah”.

“Tetapi aku selamat sampai ke tempat ini”.

“O, alangkah bodohnya kau. Alangkah bodohnya kau” orang itu

pun berteriak keras-keras, tetapi tiba-tiba suaranya menurun

perlahan, tetapi masih juga tajam, “Kau bodoh. Adalah kebetulan

bahwa kau selamat sampai padesan ini, meskipun kau bersenjata.

Tetapi senjatamu itu justru berbahaya bagimu. Kau dengar”.

“Ya, ya aku dengar” sahut Empu Gandring. Tiba-tiba kesannya

terhadap orang itu pun berubah. Orang itu memang seorang yang

kasar dan sama sekali tidak ramah. Tetapi maksudnya

memberitahukan kepadanya adanya bahaya yang mengancamnya

itu benar-benar di luar dugaanya. Ternyata orang itu adalah orang

yang baik. Tetapi maksud yang baik itu diungkapkannya dengan

caranya yang kasar dan tidak menyenangkan.

“Kalau kau tidak bersenjata” berkata orang itu, “mungkin kau

akan keluar dengan selamat dari daerah ini. Tetapi kalau masih juga

kau bawa kerismu yang besar dan yang kecil itu. maka bangkaimu

tidak akan dapat diketemukan kembali. Bangkaimu akan

dicincangnya sampai lumat untuk memberi makan anjing-anjing

hutan supaya mereka tidak mengganggu ternak padesan ini yang

tidak seberapa jumlahnya”. Namun dengan demikian Kemendungan

menjadi semakin menarik bagi Empu Gandring.

Empu Gandring masih juga berdiam diri, tegak di tempatnya.

Tanpa sesadarnya ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Samarsamar

ia dapat meraba, apakah sebabnya orang itu berkeras

mengusirnya dan bahkan menyuruhnya membuang senjatanya.

Orang itu sama sekali tidak ingin merampas apalagi memiliki senjata

itu. Tidak pula karena ia ingin mencelakainya. Tetapi bahkan

sebaliknya. Orang yang kasar itu ingin menyelamatkannya.

“He” bentak orang itu, “kenapa kau berdiri saja seperti patung.

Apakah kau menunggu nyawamu dicabut dari tubuhmu?”

“Tidak Ki Sanak” sahut Empu Gandring, “aku dapat mengerti

maksudmu. Karena itu aku mengucapkan terima kasih. Tetapi adi

tidak usah mencemaskan nasibku. Aku akan mencoba untuk

menyelamatkan diriku sendiri”.

“O, kau benar-benar orang gila. Aku bisa memaksamu.

Mengambil senjatamu dan membuangnya jauh-jauh”.

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Memang di

sepanjang hidupnya ia sering menjumpai orang-orang yang

demikian. Orang yang bermaksud baik, tetapi caranya benar-benar

tidak dapat dimengerti. Seperti kanak-kanak yang tidak ingin

melihat adiknya terperosok ke dalam kubangan. Untuk

mencegahnya, kadang-kadang adiknya itu pun dipukulinya.

Meskipun maksudnya baik, tetapi adik itu menangis sejadi-jadinya.

“Apakah kau tuli” teriak orang kasar itu.

“Baiklah Ki Sanak. Aku akan menurut seperti yang kau

nasehatkan itu. Tetapi apakah adi dapat memberitahukan kepadaku,

apakah sebabnya maka aku harus berbuat demikian”.

“Tutup mulutmu” bentak orang itu, “jangan terlampau banyak

bicara. Kau hanya dapat melakukannya”.

“Bukankah lebih baik bagiku apabila aku melakukan sesuatu

dengan pengertian yang baik. Bukan sekedar melakukannya tanpa

mengetahui maksudnya”.

Ternyata orang yang bertubuh kekar itu tidak dapat lagi

mengendalikan kemarahannya. Dengan serta-merta ia meloncat dan

langsung menampar wajah Empu Gandring.

Empu Gandring adalah orang yang hampir mumpuni akan ilmu

kanuragan. Ia melihat gerak orang itu. Ia mengerti apa yang akan

dilakukan. Tetapi Empu Gandring itu tidak beranjak dari tempatnya.

Dibiarkannya tangan orang itu mengenai wajahnya yang sudah

mulai berkerut-merut dilukisi oleh garis-garis umur.

Ketika tangan orang itu hampir menyentuh wajahnya, barulah

Empu Gandring menggerakkan kepalanya, searah dengan gerak

tangan orang itu. Meskipun tangan orang itu merasa mengenai

wajah Empu Gandring, tetapi Empu Gandring hampir-hampir tidak

merasakan sentuhan itu, seperti yang sudah di perhitungkannya.

Namun Empu Gandring itu pun melangkah surut sambil berdesak

pendek. “Jangan adi”.

“Kau tidak mau mendengar kata-kataku” teriak orang kasar itu,

“aku harus memaksamu. Kalau perlu, akulah yang akan

membunuhmu”.

Empu Gandring tahu benar, bahwa orang itu hanya menakutnakutinya.

Tetapi ia memerlukan keterangan tentang Kebo Sindet

segera. Karena itu, maka ia harus segera pula mendapat

kesempatan bertanya. Maka orang tua itu tidak banyak lagi

mempunyai waktu untuk melayaninya. Ia harus langsung mendapat

jalan untuk mendapatkan beberapa keterangan tentang iblis

Kemundungan. Maka katanya, “Adi. Sekali lagi aku mengucapkan

terima kasih. Aku tahu bahwa kau ingin menyelamatkan aku dari

tangan orang yang barangkali ditakuti di daerah ini, bukankah

begitu?”

Orang itu telah mengangkat tangannya kembali, tetapi Empu

Gandring mencegahnya, “Jangan Ki Sanak. Pertanyaan ini adalah

pertanyaan yang terakhir”.

“Itu bukan urusanmu. Pergi atau kau mati di Kemundungan. Kau

telah memasuki daerah ini dengan membawa senjata. Hanya akulah

yang boleh bersenjata di daerah ini meskipun bukan atas

kehendakku sendiri. Aku harus membunuh setiap orang asing yang

aku curigai, apalagi yang membawa senjata. Tetapi lebih baik

bagimu untuk segera pergi dan jangan mencoba kembali. Jangan

bertanya lagi. Kalau kau bertanya lagi, aku akan memukul mulutmu

sampai hancur”.

“Baik” berkata Empu Gandring, “Aku tidak akan bertanya, tetapi

aku akan menebak. Tunggu, jangan terlampau lekas marah.

Bukankah menebak berbeda dengan bertanya? Nah, bukankah kau

harus berbuat demikian itu karena di sebelah padesan ini, di lereng

bukit gundul tinggal orang-orang yang bernama Kebo Sindet dan

Wong Sarimpat?”

Wajah orang itu tiba-tiba menegang. Sejenak ia berdiri diam

tanpa mengucapkan jawaban.

“Kebo Sindet dan Wong Sarimpat ingin merahasiakan dirinya

sejauh-jauh mungkin. Kau, yang agaknya orang terkuat di

Kemundungan, harus membantunya. Kalau tidak maka kau sendiri

akan mengalami bencana. Bukankah begitu? Aku tidak bertanya,

aku hanya menebak”.

Orang itu masih diam mematung. Dipandanginya wajah Empu

Gandring dengan tanpa berkedip.

“Tetapi kau orang baik. Sebenarnya kau tidak ingin berbuat

demikian. Karena itu kau berusaha mengusir aku. Bukankah kau

seharusnya membunuh aku?”

Terdengar gigi orang itu gemeretak. Dengan suara parau ia

berkata, “Mulutmu memang lancang sekali. Kau mengetahui rahasia

yang tersimpan di Kemundungan. Sebenarnya aku sayang akan

nyawamu orang tua. Tetapi karena kau menebak tepat, maka kau

benar-benar akan aku bunuh”.

“Sebaiknya kau tidak melakukannya. Apabila Kebo Sindet marah

karenanya, maka biarlah ia marah kepadaku” sahut Empu Gandring,

“ketahuilah, bahwa aku datang kemari sengaja untuk mencari Kebo

Sindet itu. Tetapi semalam suntuk aku menunggu rumahnya, orang

itu tidak datang. Dengan demikian maka aku akan mencoba mencari

keterangan tentang orang itu di padesan ini”.

Sejenak orang itu seakan-akan membeku. Kata-kata Empu

Gandring itu benar-benar telah menggoncangkan dadanya. Kebo

Sindet dan Wong Sarimpat bagi orang-orang Kemundungan

merupakan hantu yang tidak dapat disentuh meskipun hanya

dengan kata-kata. Tiba-tiba seseorang datang untuk mencarinya.

Dalam kebingungan orang itu bertanya di dalam hatinya, “Apakah

orang ini kawan Kebo Sindet? Kalau demikian, alangkah

mengerikan. Aku telah menampar wajahnya. Mudah-mudahan orang

ini belum mengenal siapa Kebo Sindet itu’.

Karena orang itu tidak segera menjawab, maka Empu Gandring

pun berkata pula, “Bagaimana adi, apakah kau dapat memberi aku

beberapa keterangan mengenai Kebo Sindet dan Wong Sarimpat?”

Orang itu tidak segera Menjawab. Sekali lagi ia memandangi

Empu Gandring dari ujung kakinya sampai keujung rambutnya yang

sudah mulai keputih-putihan.

“Apakah pertanyaanku aneh?” Berkata Empu Gandring pula.

Orang itu menelan ludahnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya,

“Siapakah sebenarnya kau? Apakah kau sudah mengenalnya atau

belum?”

“Aku sudah mengenal Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Aku

sudah bertemu dengan orang-orang itu. Tetapi ketika aku

menungguinya di rumahnya, mereka tidak kunjung datang. Yang

tidak aku ketahui adalah, apakah mereka mempunyai sarang yang

lain selain gubugnya di bukit gundul itu, atau tempat-tempat

persembunyian yang lain? Setidak-tidaknya aku ingin mengerti,

kemana saja orang-orang itu sering pergi dan apa saja yang

dilakukannya setiap hari”.

Orang yang bertubuh kekar itu masih juga dicengkam oleh

keragu-raguanan. Tetapi ia tidak mau menunjukkan kelemahannya

itu. Bahkan kemudian ia masih membentak, meskipun terasa nada

kebimbangannya, “Apakah perlumu mencarinya? Apakah kau ingin

mati? Kalau kau sudah mengenalnya, maka mustahil kau mencari

sampai ke rumahnya. Kau pasti akan lari menjauhi dan bahkan

bersembunyi sepanjang umurmu”.

Empu Gandring dapat mengerti pertanyaan itu. Bagi orang-orang

Kemundungan, maka Kebo Sindet adalah hantu yang paling

menakutkan. Orang-orang di padesan ini pasti tidak akan berani

melanggar pantangan yang diberikan oleh iblis itu. Tetapi ia

memerlukannya, memerlukan keterangan itu.

“Ki Sanak” berkata Empu Gandring, “apakah kau mengetahui

serba sedikit tentang Kebo Sindet?”

“Jangan menggigau” orang itu masih membentak, “pergi dari

sini, atau aku akan membunuhmu?”

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Terasa sulitnya

untuk mendapatkan sedikit saja keterangan tentang orang itu.

Apakah orang itu akan dipaksanya untuk berbicara? Tetapi

bagaimana kalau ia benar-benar tidak tahu apa-apa tentang Kebo

Sindet dan Wong Sarimpat?

Kini Empu Gandring pun menjadi ragu-ragu pula. Ia pasti akan

mampu menankap orang itu, memilin tangannya dan memaksanya

berbicara, tetapi apakah ia akan sampai hati berbuat demikian.

Mungkin orang itu akan berbicara pula, tetapi orang itu untuk

seterusnya pasti akan selalu dibayangi oleh ketakutan dan

kecemasan. Mungkin ia akan kehilangan keseimbangan karena

ketakutannya, sehingga orang itu akan berbuat sesuatu yang tidak

sepantasnya. Membunuh diri atau lari bersembunyi dan tidak berani

muncul kembali diantara manusia.

Tiba-tiba Empu Gandring itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Ia telah menemukan cara itu. Meskipun mungkin agak tidak

disenanginya sendiri. Orang tua itu bukan seorang yang biasa

menyombongkan dirinya, menunjukkan kelebihannya kepada orang

lain. Tetapi cara ini, menyombongkan dirinya, masih lebih baik dari

memaksa dan menyakiti orang itu untuk berbicara.

Karena itulah maka tiba-tiba pula Empu Gandring itu berdiri

bertolak pinggang. Katanya lantang, “He, ki Sanak. Aku sudah

bersabar bertanya kepadamu tentang Kebo Sindet. Tetapi kau sama

sekali tidak menghiraukannya. Bahkan kau selalu mengancam dan

menakut-nakuti aku. Aku bukan anak kecil lagi. Rambutku telah

berubah menjadi dua warna. Wajahku pun telah mulai berkerutmerut.

Karena itu, aku sudah tidak akan mengenal takut lagi.

Umurku sudah sampai pada lingsir sore. Sebentar lagi, ibarat

matahari, pasti akan terbenam. Karena itu, jangan memaksa lagi

aku pergi. Jangan menakut-nakuti aku lagi. Aku tidak takut

meskipun Kebo Sindet itu sendiri yang datang kemari sekarang ini.

Nah, sekarang kau mau apa?”

Wajah orang itu pun segera berubah. Selangkah ia mundur.

Tanpa dikehendakinya sendiri wajahnya pun kemudian beredar ke

halaman rumah-rumah di sekitarnya. Sekilas ia melihat beberapa

orang tetangganya menyaksikan keributan itu. Beberapa orang lakilaki

kurus dengan pakaian yang kumal berdiri dengan gemetar,

sedang beberapa anak muda yang berwajah pucat menyaksikannya

dengan berdebar-debar. Orang yang bertubuh kekar itu adalah

orang yang ditakuti di padepokan itu. Orang itu seakan-akan

menjadi wakil dari Kebo Sindet dan Wong Sarimpat untuk

melakukan semacam pungutan dan sebagainya. Meskipun orang

itulah yang pertama-tama menentang sikap Kebo Sindet, dan

bahkan hanya orang itulah yang berani melawannya, tetapi ia tidak

berdaya menghadapi iblis yang bernama Kebo Sindet dan Wong

Sarimpat. Bahkan dengan licik maka Kebo Sindet dan Wong

Sarimpat telah memaksanya untuk melakukan pekerjaan untuk

mereka, pekerjaan yang justru bertentangan dengan keinginannya

sendiri. Tetapi selagi ia masih ingin hidup, maka ia tidak akan dapat

ingkar. Ia harus melakukan pemerasan dan pemaksaan terhadap

kawan-kawan sedesanya. Namun dalam saat-saat yang

memungkinkan ia masih juga merasa bahwa lingkungannya itu

harus mendapat perlindungan. Tetapi apa yang dilakukannya sama

sekali tidak berarti. Sehingga untuk seterusnya orang itu harus

melakukan pekerjaan yang bertentangan dengan suara batinya.

Tetapi hatinya itu tidak cukup kuat untuk mempertahankan

suaranya, sehingga ia masih mementingkan hidupnya daripada

membela pendiriannya.

Menghadapi Empu Gandring orang itu menjadi ragu-ragu. Ia

ingin mengusir orang yang bernama Empu Gandring untuk

menghindarkan diri dari pertengkaran atau perkelahian. Sebab

adalah menjadi kuwajibannya untuk membunuh orang-orang yang

pantas dicurigai. Kalau ia tidak berbasil, maka nasib orang itu pun

tidak akan menjadi lebih baik. Setiap kali ada orang yang berkeras

kepala, dan ia menjumpai kesulitan untuk mengusirnya maka orang

itu pasti akan mati dengan cara yang menyedihkan. Sebab setiap

kali Kebo Sindet atau Wong Sarimpat pasti akan bertindak sendiri

atas orang itu.

Beberapa puluh kali ia menyaksikan bagaimana Kebo Sindet atau

Wong Sarimpat atau kedua-duanya melakukan hal serupa itu.

Bahkan orang yang tersesat, masuk ke padesan ini untuk bertanya,

akhirnya orang itu tidak lagi dapat keluar dari desa ini. Hanya

orang-orang yang bernasib baik, yang kebetulan segera menjadi

takut kepada orang Kemundungan yang kekar itu dan lari tanpa

dilihat oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat lah yang masih dapat

meninggalkan padesan ini dengan tubuhnya.

Tetapi kini orang Kemundungan yang kekar itu tidak berhasil

menakut-nakuti Empu Gandring. Bahkan orang tua itu kini berdiri

bertolak pinggang dan menantangnya.

Orang yang bertubuh kekar itu tiba-tiba menarik nafas dalamdalam.

Ia sadar sepenuhnya, dengan siapa ia berhadapan. Setelah

beberapa lama ia berbicara serta melihat sikap dan mendengar

kata-kata Empu Gandring, maka orang Kemundungan dapat

menduga, bahwa orang ini bukan orang kebanyakan.

“Bagaimana Ki Sanak?” tiba-tiba Empu Gandring bertanya,

“Apakah kau bersedia memberi aku beberapa penjelasan mengenai

Kebo Sindet?”

Orang yang bertubuh kekar itu menjadi semakin ragu-ragu.

Sekali lagi ia memandangi orang-orang di sekelilingnya. Tetapi ia

masih tetap diam.

Empu Gandring melihat sikap orang itu. Sikap yang bagi Empu

Gandring cukup memberi petunjuk, bahwa orang itu akan dapat

memberikan beberapa isyarat kepada kawan-kawannya.

“Hem” Empu Gandring bergumam, “apa yang akan kau lakukan?”

Orang itu tidak menjawab, tetapi ia mundur selangkah.

“Ki Sanak.” berkata Empu Gandring kemudian, “aku dapat

mengerti hampir sebagian besar dari apa yang sering terjadi disini“

sejenak Empu Gandring berhenti. Ditatapnya wajah orang yang

bertubuh kekar itu. Pengalaman yang mengendap di dalam dada

Empu Gandring ternyata mampu menangkap apa yang sebenarnya

sedang dihadapi. Katanya seterusnya, “Bukankah kau akan

memberikan isyarat bahwa ada seseorang yang tak dapat kau

kuasai? Adi, ternyata kau tidak dapat bersikap dalam pendirianmu

sendiri. Kau masih terombang-ambing di dalam arus angin pusaran.

Kau harus tunduk kemana angin bertiup, supaya kau tidak roboh

karenanya. Tetapi bahwa kau telah berusaha untuk berbuat baik itu

pantas sekali dihargai. Tetapi belum lagi sesilir bawang kau sudah

berpikir untuk memberikan tanda atau isyarat kepada Kebo Sindet

dan Wong Sarimpat. Kau tahu akibat dari isyaratmu atas orang yang

kau anggap tidak dapat kau kuasai itu. Tetapi hal itu kau lakukan

juga karena kau takut dirimu sendiri akan mendapat akibat yang

tidak menyenangkan”.

Orang yang bertubuh kekar itu masih berdiri di tempatnya. Kini

wajahnya menjadi semakin tegang. Hatinya menjadi semakin

bimbang dan bahkan menjadi bingung.

“Tetapi kalau kau berkeras untuk melakukannya, memberi isyarat

itu, maka aku tidak akan berkeberatan. Semalam suntuk aku

menunggunya, tetapi ia tidak kunjung datang. Kalau mendengar

isyaratmu ia akan datang kemari, maka aku akan sangat berterimakasih

kepadamu.

Hati orang itu menjadi semakin berdebar-debar. Agaknya orang

tua ini memang orang tua yang mempunyai beberapa kelebihan.

Tetapi meskipun demikian orang itu tidak segera berbuat sesuatu.

Dipandanginya saja Empu Gandring itu dengan berbagai perasaan

yang aneh di dalam dirinya.

“Kenapa kau masih saja berdiam diri? Ayo, berikan isyarat itu.

Mungkin seseorang akan memanggilnya atau dengan tanda lain,

kentongan misalnya”.

Orang itu menjadi semakin bingung. Belum pernah ia

berhadapan dengan seorang yang dengan beraninya menghadapi

Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Hanya orang-orang yang belum

mengenalnya sajajalah yang berani mencoba melawannya, justru

karena orang-orang itu tidak tahu, siapakah Kebo Sindet dan Wong

Sarimpat. Tetapi orang ini sudah mengenalnya, bahkan

menunggunya semalam suntuk.

“Ayo, apalagi yang kau tunggu?”

Tiba-tiba orang itu menggelengkan kepalanya, katanya, “Tidak.

Aku tidak akan memberikan isyarat apapun”.

“Kenapa?”

“Kau mempunyai kesan yang lain bagiku. Ternyata kau sama

sekali tidak takut terhadap Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.

Mungkin kau adalah seorang yang pilih tanding seperti Kebo Sindet

dan Wong Sarimpat. Tetapi mungkin kau juga belum mengetahui

sepenuhnya tentang orang itu”.

“Aku sudah mengenalnya dengan baik. Aku sudah bertempur

melawannya dan ia melarikan diri”.

Meskipun orang itu sudah menduga bahwa Empu Gandring

termasuk seorang yang pilih tanding, tetapi ketika ia mendengar

bahwa Kebo Sindet melarikan dirinya, maka dadanya berdesir.

“Apakah kau tidak percaya?”

Orang itu tidak menjawab. Tetapi apabila benar demikian, maka

orang ini adalah orang yang aneh. Ia telah menampar wajah orang

itu tanpa berbuat sesuatu. Kenapa ia bersikap demikian? Apabila hal

itu terjadi atas Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, maka akibatnya

sudah dapat dibayangkan. Alangkah malangnya nasib orang yang

demikian.

Tetapi meskipun demikian kecemasannya masih juga

mencengkam hatinya. Apakah orang ini sengaja membiarkannya

dahulu sebelum ia berbuat sesuatu. Memberinya waktu untuk

merasakan betapa sakitnya perasaan takut yang menusuk-nusuk

jantung?

Orang itu terkejut ketika Empu Gandring membentaknya, “He,

kenapa kau diam saja? Ayo, berbuatlah sesuatu. Memberi isyarat

kepada Kebo Sindet, memanggilnya atau kalau kau merasa dirimu

sanggup, lawanlah aku. Bukankah menjadi kewajibanmu untuk

berbuat demikian?” Tetapi karena bukan kebiasaan Empu Gandring

menakut-nakuti orang, maka kata-katanya pun berloncatan seolaholah

tidak tersusun dengan baik. Namun justru karena itu, kesan

yang timbul di dalam hati orang itu menjadi semakin

mencemaskannya.

Sekali lagi orang itu menggeleng, jawabnya, “Tidak. Aku tidak

akan memberinya isyarat apapun”.

“Oh, jadi kau sendiri akan melawan aku berkelahi?”

“Juga tidak” orang itu menggeleng lagi.

“Lalu apa yang akan kau lakukan? Bukankah kau sudah mulai

menampar mukaku. Dan bukankah kau sudah mengancam aku

supaya aku tidak bertanya-tanya lagi?”

Dada orang itu berdesir. Ternyata orang tua itu mulai

mengungkit-ungkit kelancangannya.

“Aku tidak akan berbuat sesuatu” berkata orang itu.

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam mendengar

jawabannya. Maka katanya, “Baiklah, kalau kau tidak ingin berbuat

sesuatu, maka aku pun tidak akan berbuat sesuatu pula atasmu.

Tetapi aku minta kau mengatakan kepadaku, apakah Kebo Sindet

mempunyai tempat yang lain selain gubugnya itu?”

Orang itu pun terdiam. Sekali lagi ia memandangi berkeliling.

Dilihatnya laki-laki kurus, anak-anak muda yang pucat, perempuanperempuan

dikejauhan, masih memandanginya dengan penuh

pertanyaan.

“Hem” Empu Gandring bergumam, “aku tahu, kau takut kepada

Kebo Sindet, tetapi apakah kau tidak takut kepadaku? Kalau aku

mau, aku pun dapat berbuat seperti Kebo Sindet. Menangkapi kau

dan orang-orang Kemundungan, membunuh dengan cara yang

sering dilakukan oleh Kebo Sindet. Bukankah Kebo Sindet sering

membunuh korbannya dengan perlahan-lahan. Mengikatnya di

sarang semut atau memanggangnya di atas api yang tidak cukup

panas untuk mematikannya atau merebus dalam air hangat-hangat?

Nah, manakah yang kau kehendaki?”

Bulu-bulu orang itu meremang. Tiba-tiba ia telah kehilangan

kegarangannya. Belum lagi ia mencoba melawan, tetapi ia sudah

terpengaruh oleh kata-kata Empu Gandring. Meskipun demikian,

orang itu masih tetap ragu-ragu. Apakah benar Empu Gandring

mampu berbuat seperti Kobo Sindet? Antara percaya dan tidak,

maka orang itu berdiri kebingungan.

Empu Gandring dapat melihat keragu-raguan itu. Karena itu

maka ia harus menguasainya. Menghilangkan keragu-raguan itu

tanpa menyakitinya. Karena itu, maka tiba-tiba orang tua itu

melangkah mundur sambil berkata, “He orang Kemundungan. Aku

ingin kau berkata tentang Kebo Sindet. Aku tahu kau takut

kepadanya, tetapi aku pun mampu berbuat seperti orang itu.

Terserah kepadamu, siapakah yang akan kau takuti kemudian.

Tetapi aku peringatkan, apabila kau telah melihat apa yang aku

lakukan, dan kau tidak juga mau berkata tentang Kebo Sindet, maka

kau akan mengalami nasib yang menyedihkan.

Suara Empu Gandring itu menderu di telinga orang yang

bertubuh kekar itu seperti suara guntur yang meledak di langit.

Mengejutkan, menakutkan dan mencemaskan. Tetapi sebelum ia

sempat berbuat sesuatu, ia melibat Empu Gandring meloncat seperti

bilalang. Tanpa mereka lihat dengan mata, keris Empu Gandring

yang besar itu pun telah berada di dalam genggamannya.

“Ayo, katakan” katanya, “apa yang dapat dilakukan oleh Kebo

Sindet? Membelah batu itu, merobohkan pohon nyiur dengan

goloknya atau apa?”

Orang Kemundungan itu justru terbungkam. Tetapi tiba-tiba biji

matanya serasa meloncat dari pelupuknya ketika ia melihat keris

Empu Gandring berputar seperti baling-baling, sehingga Empu

Gandring sendiri seakan-akan hilang ditelan oleh pusaran kerisnya.

Belum lagi debar jantungnya mereda, maka orang itu sekali lagi

dikejutkan oleh suara berderak. Tiba-tiba ia melihat tiga batang

pohon tal roboh bersamaan, disusul oleh sebatang pohon siwalan

yang sedang berbuah lebat.

Kini orang itu seakan-akan membeku karenanya. Bukan saja

orang itu, tetapi orang-orang lain yang melihat pun menjadi ngeri.

Mereka pernah melihat Kebo Sindet membuat pengeram-eram. Dan

mereka pun menjadi ngeri. Tetapi kali ini mereka pun dicengkam

oleh perasaan yang serupa.

Sejenak kemudian orang Kemundungan yang bertubuh tinggi

kekar itu melihat Empu Gandring telah berdiri dihadapannya.

Kerisnya sudah tidak berada di dalam genggamannya lagi. Yang

dilihatnya adalah tangkai keris itu mencuat di belakang pundaknya.

“Apalagi yang dapat dilakukan oleh Kebo Sindet?” bertanya Empu

Gandring.

Dengan gemetar orang itu menjawab, “Tuan, aku mohon maaf

atas kelancanganku tuan. Barangkali tuan sangat marah kepadaku

karenanya”.

“Ya, aku sangat marah” sahut Empu Gandring, tetapi nada

suaranya tidak meyakinkan, “aku ingin membunuhmu,

mencincangmu atau menghukum picis karena kau sudah menampar

mukaku”.

“Ampun tuan. Bunuhlah aku, tetapi jangan dengan cara itu”.

“Sekehendakkulah. Tetapi kalau kau ingin bebas dari

penderitaan, maka katakan saja kepadaku, di mana Kebo Sindet

sering berada selain di dalam rumahnya itu?”

“Tak ada gunanya tuan. Kalau tuan tidak membunuh aku, maka

orang itulah yang akan membunuh aku. Bahkan mungkin dengan

cara yang lebih mengerikan. Karena itu, tolonglah tuan, bunuhlah

aku dengan cara yang agak baik, supaya aku tidak mengalami

penderitaan”.

Empu Ganring terkejut mendengar permintaan orang itu. Orang

itu merasa bahwa dirinya pasti akan mati. Kalau tidak dibunuh oleh

Empu Gandring maka Kebo Sindet lah yang akan membunuhnya.

Sehingga dengan demikian, maka orang itu telah benar-benar

menjadi putus asa. Kehadirannya di Padukuhan Kemundungan

ternyata telah membawa bencana bagi orang itu. Orang yang

sebenarnya baik hati, tetapi karena tekanan keadaan, akhirnya

menjadi seorang yang kasar dan tampak bengis.

Tetapi Empu Gandring tidak ingin membiarkannya ditelan

keputusasaan, sehingga timbulah keinginannya untuk menolong

orang itu, mclepaskannya dari ketakutan.

Empu Gandring itu pun kemudian bertanya, “Ki Sanak, kenapa

kau merasa bahwa kau harus mati? Kenapa kau tidak berbuat

sesuatu supaya kau dapat terlepas karenanya?”

“Tak ada gunanya. Kalau aku berbicara tentang Kebo Sindet

maka aku pasti akan dibunuhnya. Kalau aku tidak mau berbicara

maka tuan akan membunuh aku. Bukankah sudah jelas? Aku tidak

dapat melawan tuan seperti aku tidak akan mampu melawan Kebo

Sindet. Apakah yang dapat aku lakukan?”

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Nah,

kalau demikian, kalau kau sudah pasti bahwa kau akan mati, kenapa

kau masih juga takut kepada Kebo Sindet? Dan bukankah Kebo

Sindet sekarang tidak ada di rumah ini sehingga ia tidak akan tahu

apa yang kau lakukan?”

“Kebo Sindet tahu segala-galanya. Seperti hantu ia tiba-tiba saja

muncul di segala tempat bersama adiknya Wong Sarimpat, atau

salah seorang dari mereka”.

“Omong kosong. Mereka adalah orang-orang biasa, Wong

Sarimpat ternyata dapat mati terbunuh seperti kebanyakan orang”.

“He” wajah orang itu menegang, “Wong Sarimpat terbunuh?”

“Ya” sahut Empu Gandring, “kami berkelahi berpasangan. Aku

berada sepihak dengan Empu Sada melawan kedua iblis. Ternyata

Wong Sarimpat terbunuh oleh lawannya dan Kebo Sindet

menghindari perkelahian”.

Orang yang bertubuh kekar itu terdiam sejenak. Tetapi matanya

memancarkan keragu-raguan. Sehingga, Empu Gandring berkata,

“Jangan ragu-ragu. Wong Sarimpat benar-benar telah terbunuh. Ia

sudah mati. Aku melihat sendiri mayatnya yang membeku akibat

sentuhan Aji Kala Bama”.

Orang yang bertubuh kekar itu masih saja berdiri mematung.

Dan Empu Gandring berkata terus, “Dengan demikian, maka

kekuasaannya di padukuhan ini pun pasti akan goyah”.

“Tetapi” tiba-tiba orang itu berkata, “Kebo Sindet itu pun mampu

melakukannya seorang diri. Membunuh aku dengan caranya”.

“Kau sudah merasa bahwa kau pasti akan mati. Apa lagi yang

kau takuti. Nah, sekarang sebaiknya kau katakan kepadaku apa

yang kau ketahui tentang Kebo Sindet itu”.

Sekali lagi orang itu terbungkam.

Dan Empu Gandring berkata seterusnya, “Berkatalah tentang iblis

itu. Bukankah kau lebih senang mati oleh tanganku dari pada oleh

iblis itu? Kalau kau harus mati juga, maka kau sudah berbuat

sesuatu yang baik bagiku, bagi orang lain dan bagi banyak orang”.

Orang itu masih tetap berdiam diri.

“Apalagi Kebo Sindet tidak berada di tempat ini. Ia tidak akan

tahu apa yang kau katakan kepadaku. Atau, dapatkah kau memilih?

Mati atau pergi bersamaku ke tempat lain . Apakah yang

sebenarnya mengikatmu di Kemundungan?”

Orang itu menggeleng lemah, “Tak ada tempat untuk

bersembunyi di kolong langit ini”.

“Bodoh. Itu terlampau berlebih-lebihan, menganggap Kebo

Sindet seakan-akan seorang yang mampu berbuat apa saja,

mengetahui apa saja. Tidak. Ia seorang biasa yang mengenal takut

dan cemas. Ternyata ia bersembunyi. Nah, apa katamu?”

Orang yang bertubuh kekar itu memandang Empu Gandring

dengan tajamnya. Tetapi kata-kata Empu Gandring yang terakhir itu

telah menyentuh hatinya. Memang, selama ini ia takut bukan buatan

kepada Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, sehingga seolah-olah

kedua orang itu bukan manusia biasa lagi. Tetapi menurut orang

yang berdiri dihadapannya, dan bernama Empu Gandring itu,

ternyata Wong Sarimpat dapat juga terbunuh dan Kebo Sindet

mengenal juga takut dan cemas.

“Bagaimana?” bertanya Empu Gandring, “aku ingin mendengar

serba sedikit tentang Kebo Sindet. Sesudah itu, kalau kau takut

tinggal di sini, pergilah ke Lulumbang, pedukuhan tempat tinggalku.

Kau dapat hidup di sana sebagai seorang petani yang wajar. Kau

akan dapat menjadi seorang yang baik, yang berbuat tanpa

bertentangan dengan panggilan hatimu. Menakut-nakuti orang,

bahkan menyakiti”.

Tiba-tiba orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya,

“Apakah mungkin begitu tuan?”

“Kenapa tidak?”

“Alangkah menyenangkan apabila itu bukan sekedar impian

saja”.

“Kenapa impian?”

“Tuan akan segera membunuh aku setelah aku berkata apa yang

aku ketahui tentang Kebo Sindet”.

“Itu bukan kebiasaanku Ki Sanak” sahut Empu Gandring.

Sekali lagi orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Hidup

sebagai seorang petani yang wajar adalah hidup yang diimpikannya

selama ini. Tetapi ia merasa bahwa hidup yang demikian itu tidak

akan pernah dihayatinya selama Kebo Sindet masih hidup di

Kemundungan. Sebab ia terpaksa melakukan hal-hal di luar

kemauannya sendiri.

“Apakah kau bersedia?” bertanya Empu Gandring.

Agaknya orang itu masih ragu-ragu. Tetapi akhirnya ia

mengangguk, “Marilah, masuklah ke rumah. Barangkali aku dapat

memenuhi keinginan tuan meskipun hanya beberapa hal yang

mungkin tak berarti bagi tuan”.

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Agaknya ia berhasil

memaksa orang itu untuk berbicara dengan caranya. Meskipun nada

suara orang itu masih dipenuhi oleh kebimbangan, namun dengan

beberapa penjelasan nanti ia akan dapat meyakinkan, bahwa Kebo

Sindet kini tidak akan muncul segera di padukuhan ini.

Empu Gandring pun kemudian mengikuti orang itu masuk ke

dalam rumah yang agak lebih baik dari rumah-rumah di sekitarnya,

meskipun rumah itu sendiri adalah rumah gubug yang terlampau

sederhana.

Mereka pun kemudian duduk di atas sehelai tikar pandan yang

diayam kasar, yang terbentang di atas sebuah bale-bale bambu.

Sejenak Empu Gandring memperhatikan isi rumah itu. Tidak jauh

berbeda dengan gubug Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Rumah ini

hampir tidak berisi perabot lain yang lajim di dalam rumah tangga

yang wajar. Tetapi Empu Gandring menyadari, bahwa keadaan yang

sulitlah yang menyebabkan orang-orang di padukuhan ini tidak

sempat mengisi rumahnya dengan beberapa macam alat rumah

tangga yang diperlukan.

Di dalam rumah itu Empu Gandring melihat beberapa alat-alat

pertanian yang sudah usang tersangkut di dinding. Agaknya mereka

pun tidak sempat membuat atau. membeli alat-alat semacam itu.

“Inilah seluruh milikku” desah orang bertubuh kekar itu.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia

bertanya, “Siapakah namamu Ki Sanak?”

Orang itu menarik nafas. Jawabnya, “Namaku Tambi”.

“Tambi” Empu Gandring mengulangi,

“Ya. Aku hidup sendiri di rumah ini. Isteri dan seorang anakku

mati Ketakutan. Mereka tidak tahan hidup seperti yang dialaminya.

Beberapa tahun mereka bertahan. Tetapi akhirnya perempuan itu

tidak kuat lagi. Anaknya masih kecil itu pun mati pula beberapa

bulan kemudian”.

Empu Gandring mengerutkan keningnya. Alangkah pahit hidup

orang yang bernama Tambi ini. Namun kenapa ia masih saja

bertahan tinggal di padukuhan ini?

Tetapi Empu Gandring tidak segera bertanya. Dibiarkannya saja

Tambi itu berbicara terus, “Tuan” berkata orang itu, “aku sendiri

selama ini harus melakukan pekerjaan yang tidak aku ingini. Setiap

kali aku harus bertengkar dengan diri sendiri. Dan setiap kali aku

terdorong dalam suatu tindakan yang sama sekali tidak

menyenangkan bagiku dan bagi keluargaku semasa isteriku masih

hidup. Hal-hal yang demikian itulah yang mempercepat kematian

isteriku”.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia

terkejut ketika ia mendengar Tambi itu berkata, “Ketahuilah tuan,

bahwa isteriku masih mempunyai hubungan keluarga dengan Kebo

Sindet dan Wong Sarimpat”.

“Apakah isterimu itu masih bersaudara dengan keduanya?”

“Isteriku adalah saudara sepupunya. Dan kedua saudara sepupu

yang menurut aliran darah lebih muda itu, telah membuatnya

terlampau susah”.

“Apakah isterimu tidak pernah mencoba menasehatinya?”

bertanya Empu Gandring.

“Tak ada orang yang berani menasehatinya” jawab orang itu,

yang tiba saja menjadi gelisah. Dipandanginya sekeliling ruangan itu

dan dicobanya untuk mendengarkan setiap desir di sekitarnya.

“Kebo Sindet tidak akan segera datang kemari” berkata Empu

Gandring, “apalagi kalau diketahuinya aku berada di sini”.

Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi

kegelisahannya masih terbayang di wajah serta sikapnya.

“Aku sekarang sudah tidak beranak dan beristeri. Seharusnya aku

sudah tidak takut lagi”.

“Memang kau tidak perlu takut, apalagi kalau kau sudah bersedia

untuk mati. Tetapi kau harus berusaha untuk tidak perlu

mengalaminya segera. Bermohonlah kepada Yang Maha Agung.

Namun kau pun harus berbuat. Kau dapat meninggalkan padukuhan

ini”.

Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, aku hanya ingin tahu, di mana Kebo Sindet itu

bersembunyi?”

“Tak seorang pun tahu pasti” jawab Tambi.

Mendengar jawaban itu Empu Gandring menjadi kecewa. Hanya

itulah yang diharapkannya. Tetapi ia merasakan kejujuran jawaban

orang yang bernama Tambi itu.

“Tetapi” berkata Tambi kemudian. “Ia masih saja dikuasai oleh

kebimbangan, “ia sering pergi ke seberang hutan yang berrawarawa

itu”.

Empu Gandring mengerutkan keningnya. Katanya, “Yang kau

maksud hutan di sebelah bukit gundul itu?”

Tambi mengangguk, “Ya. Hutan itu tumbuh di tanah yang

berawa-rawa. Tanah yang sulit sekali untuk dilalui. Orang-orang

Kemundungan pun tidak berani menyeberangi rawa-rawa itu, selain

Kebo Sindet dan Wong Sarimpat”.

“Apakah ada jalan lain kecuali daerah yang berlumpur itu?”

Tambi menggeleng, “Tidak ada. Tempat itu dikelilingi oleh rawarawa

dari mana pun kita mendatanginya”.

“Hem” Empu Gandring menggeram, “setan itu benar-benar licin”.

“Selebihnya aku tidak tahu apa-apa, kecuali pada masa kecilnya”.

“Kau mengenalnya sejak kanak-kanak?”

“Anak itu anak Kemundungan sejak lahir” jawab Tambi, “seperti

aku dan isteriku juga anak Kemundungan sejak lahir. Tetapi kedua

anak itu lama sekali meninggalkan kampung halaman. Ketika

mereka kembali, mereka telah menjadi iblis.” Kata-kata itu seakanakan

terloncat tanpa disadari. Namun sesudah itu, wajah Tambi

menjadi pucat. Sekali lagi ditebarkannya pandangan matanya

berkeliling, seolah-olah Kebo Sindet bersembunyi diantara dindingdinding

bambu yang berlubang-lubang.

Empu Gandring melihat kegelisahan yang masih saja

mencengkam perasaan Tambi. Orang yang kekar itu masih saja

merasa dirinya selalu dibayangi oleh Kebo Sindet dan Wong

Sarimpat, sehingga ia sama sekali tidak dapat melepaskan diri dari

ketakutan dan kecemasan.

Sehingga Empu Gandring terpaksa memperingatkan lagi, “Ki

Sanak, jangan takut. Percayalah bahwa Kebo Sindet saat ini tidak

berada di Kemundungan. Kalau ia berada di sini, maka aku kira aku

tidak akan kemari, bertanya kepadamu tentang setan alasan itu”.

Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Seharusnya

aku sudah tidak boleh takut lagi. Hidupku seolah-olah sudah tidak

berarti sepeninggal isteri dan satu-satunya anakku. Tetapi kadangkadang

aku masih merasa ngeri untuk mengalami dengan cara yang

tidak wajar. Aku tidak akan ingkar seandainya aku akan dipenggal

leherku atau ditusuk langsung kepusat jantung. Tetapi aku merasa

takut apabila aku melihat cara-cara yang sering dipergunakan oleh

kedua kakak beradik itu”.

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Teringatlah ia

bahwa kemenakannya, Mahisa Agni kini berada ditangan iblis itu.

Tetapi menurut ceritera Empu Sada maka ada kemungkinan bahwa

Mahisa Agni tidak akan dibunuh segera oleh Kebo Sindet karena

nafsu orang itu untuk mendapatkan tebusan dari Ken Dedes, bakal

permaisuri Tunggul Ametung yang sangat mencintai kakaknya itu.

“Mudah-mudahan aku akan mendapat kesempatan” desis Empu

Gandring di dalam hatinya.

Sementara itu Tambi masih berbicara selanjutnya, “Apalagi Kebo

Sindet kini telah kehilangan adiknya, maka ia pasti akan menjadi

lebih gila lagi”.

“Tetapi jangan takut. Ia tidak ada disini”.

Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian

”Mungkin tuan benar. Orang itu tidak berada disini”.

“Percayalah. Karena itu katakan apa yang ingin kau katakan

kepadaku tentang Kebo Sindet”.

“Tetapi barangkali tidak akan dapat memberi tuan petunjuk

seperti yang tuan harapkan” jawab Tambi, “Yang aku ketahui justru

keadaan Kebo Sindet pada masa kanak-kanaknya. Ia adalah

seorang anak laki-laki dari keluarga yang sangat miskin di padukuan

ini. Apalagi sejak kelahiran adiknya Wong Sarimpat, maka keadaan

keluarganya menjadi semakin sulit”.

“Daerah ini daerah yang tandus” sela Empu Ganding.

“Sejak aku kanak-kanak” sahut orang itu.

“Kenapa orang-orang di sini kerasan tinggal di padukuhan yang

tandus ini? Kenapa mereka tidak mencari tempat tinggal yang lebih

baik?”

“Tanah ini adalah tanah peninggalan nenek-moyang. Di sini kami

dilahirkan. Dan di sini pula kami ingin dikuburkan”.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Telah sering

benar ia mendengar pernyataan yang demikian. Betapa sulitnya

penghidupan, namun tanah pusaka nenek-moyang merupakan

tanah yang tidak boleh ditinggalkan. Hidup mati tanah itu adalah

tanah yang harus diwarisi, dipelihara dan didiaminya sepanjang

umurnya.

“Demikian juga pendirian keluarga Kebo Sindet itu. Betapa

kesulitan mencekik leher mereka, namun mereka tetap bertahan

hidup di daerah terpencil dan tandus ini.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya, dan Tambi

berbicara terus, “Apalagi pada saat itu ada seorang yang paling

ditakuti di daerah ini. Seorang yang menghisap keringat kami

sampai darah kami pun dihisapnya. Keluargaku dan keluarga Kebo

Sindet harus bekerja, dari matahari terbit sampai matahari

terbenam, namun sebagian dari hasil kerja kami telah masuk ke

dalam lumbung orang yang kami takuti itu. Kami, termasuk Kebo

Sindet dan Wong Sarimpat, hampir-hampir tidak lagi dapat

bertahan. Sehari kami sempat makan satu kali, tetapi di hari

berikutnya kami tidak dapat mengenyam apa pun di mulut kami.

Sehingga akhirnya orang tua Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak

lagi dapat menahan diri. Seorang demi seorang mereka

meninggalkan kedua anaknya yang masih kecil-kecil. Yang mulamula

meninggal adalah ayahnya yang kurus kering dan sakitsakitan.

Kemudian menyusul ibunya. Sehingga dengan demikian

kedua anak itu menjadi yatim piatu. Satu-satunya keluarga yang

berkewajiban memeliharanya adalah orang tua isteriku. Namun

karena keadaannya sendiri yang pahit, maka kedua anak itu pun

dipeliharanya sesuai dengan kemampuannya”.

“Namun pada suatu hari kedua anak yang menjadi besar,

meskipun kurus kering dan pucat itu, menghilang. Tak seorang pun

yang tahu kemana mereka pergi. Keluarga isteriku berusaha

mencarinya juga. Mereka mencemaskannya, seandainya kedua

anak-anak itu diterkam oleh anjing-anjing liar di atas bukit gundul.

Tetapi anak-anak itu tak dapat diketemukan”.

“Tetapi akhirnya kedua anak itu pun dilupakan. Bertahun-tahun

kemudian tidak seorang pun lagi yang pernah menyebut namanya.

Keluarga isteriku pun sudah tidak ingat lagi kepada mereka itu”.

“Namun adalah mengejutkan sekali, ketika kemudian padukuhan

ini didatangi oleh dua orang anak-anak muda yang gagah perkasa.

Dengan dua ekor kuda mereka memecahkan ketenangan

pedukuhan ini. Akhirnya diketahuilah bahwa kedua anak-anak muda

yang perkasa itu adalah Kebo Sindet dan Wong Sarimpat”.

“Mula-mula kedatangannya memberikan harapan kepada kami.

Yang mula-mula dikatakannya, bahkan dijanjikannya, adalah

menyingkirkan keluarga yang telah menghisap darah kami sampai

kering. Semula kami ragu-ragu. Orang itu adalah orang yang pilih

tanding. Sekian lama ia seakan-akan berkuasa di padukuhan ini

tanpa dapat dikalahkan. Apakah kedua anak-anak muda itu mampu

melakukannya?”

“Namun yang dilakukannya telah menggemparkan pedukuhan ini.

Seorang dari mereka, yang pada saat itu dilakukan oleh Wong

Sarimpat, dengan mudahnya dapat mengalahkan orang yang

selama ini berkuasa”. Tambi berhenti sejenak untuk menelan

ludahnya.

Empu Gandring mendengarkan ceritera itu dengan penuh minat.

Mungkin ceritera Tambi itu dapat dipercayanya. Meskipun ceritera

itu sama sekali tidak bersangkut-paut dengan pertanyaannya,

tentang persembunyian Kebo Sindet, namun ceritera itu dapat

memberikan gambaran tentang latar belakang dari kelakuan iblis

yang aneh itu.

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Empu Gandring

berkata, “Apakah Wong Sarimpat berkelahi seorang diri tanpa

bantuan kakaknya ketika ia melawan orang yang sedang berkuasa

itu?”

“Ya” sabut Tambi, “Wong Sarimpat yang sedang tumbuh itu

dengan mudah dapat mengalahkan orang yang sedang berkuasa

itu, yang semakin lama telah menjadi semakin tua. Bahkan

beberapa orang pengikut dan pengawalnya pun dapat

dikalahkannya”.

“Apakah yang kau lakukan waktu itu, Ki Sanak?”

“Aku tidak berani berbuat apa-apa. Aku melihat kekuasaan itu

sejak aku masih kanak-kanak. Aku tidak pernah meninggalkan

padukuhan ini”.

Empu Gandring mengangguk-angguk lagi. Keningnya tampak

berkerut-merut.

“Pada saat-saat yang demikian itu, tumbuhlah harapan di hati

kami, bahwa kami tidak akan mengalami pemerasan lagi. Kami tidak

akan menjadi budak-budak yang tidak dapat berbuat apa-apa,

sebab nyawa kami terancam. Di sini sama sekali tidak ada

perlindungan atas jiwa kami. Kekuasaan orang itu benar-benar

mutlak”.

“Bagaimana dengan kekuasaan Tumapel dan Kediri?”

“Tak seorang pun yang sempat berpikir, bahwa kami dapat

memohon perlindungan. Seperti akhir-akhir ini kami pun tidak tahu

apa yang seharusnya kami lakukan? Tumapel apalagi Kediri

terlampau jauh. Bukan saja jaraknya, tetapi juga jauh dari hati

kami. Seolah-olah kami belum pernah mendengar nama-nama itu”.

Sekali lagi Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi” Tambi meneruskan, “ketika kami melihat apa yang

dilakukan oleh Wong Sarimpat pada saat ia mengakhiri perkelahian,

segera timbul kebimbangan di hati kami”.

“Kami menjadi sangat ngeri melihat Wong Sarimpat melepaskan

dendamnya kepada orang yang sedang berkuasa di padukuhan ini

pada saat itu. Apa yang dilakukannya sama sekali tidak terbayang di

dalam hati kami. Mungkin Wong Sarimpat merasa bahwa hidupnya

benar-benar telah tersia-sia karena perbuatan orang itu. Mungkin

dendam yang tak terbilang telah membakar jantungnya pada saat

itu, karena kematian kedua orang tuanya. Tetapi apa pun yang

menyebabkannya, namun keadaan telah membentuknya menjadi

seorang yang paling buas yang pernah aku lihat”.

Tambi berhenti sejenak. Kemudian sekali lagi ia memandangi

ruangan itu berkeliling. Akhirnya matanya berhenti menatap pintu

rumah yang masih terbuka.

“Sebaiknya aku menutup pintu itu”.

“Tidak perlu” jawab Empu Gandring, “biarlah Kebo Sindet melihat

aku disini apabila ia lewat di jalan di muka rumah ini”.

Tambi terdiam sejenak. Tetapi masih juga terbayang kegelisahan

dan kecemasan diwajahnya. Perlahan-lahan ia bergumam, “Ya, aku

sudah tidak takut lagi, memang seharusnya aku sudah tidak takut.

Tetapi kematian-kematian yang pernah aku saksikan adalah

mengerikan sekali. Atau barangkali tuan ingin membunuh aku saja?”

“Jangan berputus asa dan membunuh diri bagaimana pun

caranya” sahut Empu Gandring, “teruskan saja ceriteramu”.

Sekali lagi Tambi menelan ludahnya, seolah-olah

kerongkongannya tersumbat, “Baiklah” desisnya, “apa yang aku

katakan tadi?”

“Wong Sarimpat membunuh orang yang kalian anggap paling

berkuasa di sini”.

“Ya. Orang itu pun terbunuhlah. Tetapi harapan kami untuk

mendapat kebebasan ternyata sama sekali keliru. Setelah orang itu

mati, meskipun Kebo Sindet dan Wong Sarimpat selalu mengatakan

bahwa kita sudah sampai pada hari-hari yang kita tunggu-tunggu,

pembebasan, namun apa yang kita alami hampir tidak ada bedanya

sama sekali. Pemerasan dan perkosaan atas kebebasan hidup kami

sebagai manusia, Dan kami masih tetap mengalami hidup kami yang

lama. Bekerja dan bekerja. Sedang basil kerja kami harus kami

serahkan kepada Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Namun karena

mereka hanya berdua, dan mereka tidak memiliki lumbung yang

besar, maka untuk hal ini, kami mendapat keringanan. Kami hanya

menyerahkan hasil tanaman kami menurut kebutuhan dan

permintaan mereka. Sehingga dengan demikian, kami mendapat

makanan kami agak lebih banyak dari masa-masa lampau”.

“Kalau demikian apa yang menyulitkan kalian?”

“Tetapi apa yang kami miliki di sini tidak lebih dari sisa-sisa

makanan kami yang kami hasilkan dari tanah yang tandus itu. Tidak

ada lain. Kami tidak akan dapat menukarkan milik kami dengan

benda-benda apapun. Bahkan dengan alat-alat yang kami perlukan

untuk bercocok tanam. Setiap barang yang disenangi oleh kedua

orang itu harus kami serahkan”.

“Juga alat-alat bercocok tanam?”

“Ya, mereka senang menyimpan alat-alat bercocok tanam yang

baik”.

“Aneh. Untuk apakah barang-barang itu?”

“Tak seorang pun yang tahu. Bahkan kadang-kadang kami

terpaksa mengumpulkan hasil tanah kami, untuk kami tukar dengan

barang-barang yang dikehendaki oleh kedua orang-orang itu”.

“Kemanakah kalian menukarkan barang-barang itu?”

“Kebo Sindet membawa beberapa orang kemari untuk menukar

barang-barang itu. Kadang-kadang hasil tanah kami itu benar-benar

dibawa oleh mereka yang menukarnya, tetapi kadang-kadang

orang-orang itu tidak dapat keluar dari padukuhan ini setelah

mereka menyerahkan barang-barang yang seharusnya kami tukar

dengan hasil tanah kami”.

“Perampokan” geram Empu Gandring.

“Ya, lebih dari pada itu. Apalagi apabila mereka mencoba

mempertahankan diri mereka”.

Empu Gandring sudah dapat menangkap kata-kata yang tidak

lengkap itu. Tambi pasti akan berkata, bahwa mereka yang berani

mempertahankan diri, maka nasib mereka akan menjadi lebih jelek.

Seperti yang sudah dikatakan, maka Kebo Sindet akan melakukan

pembunuhan dengan caranya.

Sejenak kini mereka berdiam diri. Angin yang silir berhembus

lewat pintu yang masih terbuka. Diluar, Tambi masih melihat

beberapa orang tetangganya di halaman di seberang halaman

rumahnya berdiri berlindung di balik pepohonan. Adalah menjadi

kebiasaan mereka untuk melihat orang-orang yang datang ke rumah

Tambi. Dan sudah menjadi kebiasaan mereka pula, apabila Tambi

tidak dapat menyelesaikannya sendiri, Tambi pasti memberi mereka

isyarat untuk membunyikan kentongan memanggil salah seorang

atau bahkan keduanya iblis Kemundungan yang bernama Kebo

Sindet dan Wong Sarimpat. Tetapi kali ini Tambi masih belum

memberikan isyarat apa-apa, meskipun tampaknya Tambi sendiri

tidak berbuat apa-apa. Dan bahkan orang yang belum mereka kenal

dan membawa keris dipunggungnya itu dibawanya masuk

kerumahnya.

“Tuan” berkata Tambi ilu lebih lanjut, “tak seorang pun di antara

kami yang berani menentang perbuatan itu. Aku adalah satusatunya

orang yang mencoba melawannya dengan caraku.

Meskipun aku tidak dapat melawan dalam olah kanuragan. Tetapi

akibatnya jelek sekali bagiku. Meskipun keduanya tidak

membunuhku dengan caranya karena aku suami saudara

sepupunya, tetapi tidak banyak bedanya dengan itu. Mereka telah

membunuh isteriku dan anakku perlahan-lahan, meskipun

barangkali tidak mereka sadari seperti apabila mereka membunuh

korbannya. Tetapi adalah suatu kenyataan bahwa isteriku meninggal

justru karena aku mendapat jabatan dari kedua orang itu.

Jabatanku cukup mengerikan. Seperti yang tuan lihat sekarang. Dan

jabatan ini agaknya telah menyiksaku scpanjang umurku”.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahanlahan

ia berdesis, “Kau benar adi. Keadaan telah membuat mereka

menjadi buas. Dendam yang membara di dada mereka, hidup

mereka yang pahit di masa kanak-kanak, ketidak-adilan yang

mencekiknya dalam kepailitan itu, telah menjadikan mereka orang

yang tidak lagi mengenal kasih sesama. Mereka telah kehilangan

segala kepercayaan mereka terhadap orang-orang di sekitarnya.

Mereka menganggap dunia ini seperti sebuah hutan rimba. Siapa

yang kuat ialah yang berkuasa. Mereka tidak mengenal adab lagi

yang mengikat manusia dalam bentuk kemanusiaannya. Tetapi

mereka lebih percaya kepada pedangnya daripada kepada manusia

sesamanya. Mereka lebih mendambakan diri pada benda-benda dan

harta daripada kepada Sumber Hidupnya”.

“Ya tuan. Itu adalah gambaran yang tepat mengenai Kebo Sindet

dan Wong Sarimpat”.

“Itu adalah suatu bentuk yang menyedihkan dari ledakan

perasaan yang merasa tertekan. Tetapi bentuk itu adalah bentuk

yang tidak diharapkan. Seorang yang tidak mau mendapat

perlakuan yang tidak adil, yang telah berusaha untuk melenyapkan

perlakuan itu atas dirinya sendiri, tetapi setelah ia berhasil

melenyapkan kekuasaan yang memperlakukannya tidak adil itu

dengan kekuatan, maka ia sendiri terjerumus dalam kekuasaan yang

serupa. Kekuasaan yang didasari oleh kekuatan, bukan oleh hasrat

hidup bersama dalam adab kemanusiaan. Dan kekuasaan yang

dilandaskan pada kekuatan itu akan berlangsung terus” Empu

Gandring berhenti sejenak untuk menyeka peluhnya yang mengalir

dikeningnya. Dan sesaat kemudian ia berkata lagi, “tetapi aku juga

mengenal bentuk lain dari pada itu. Bentuk yang manis, yang serasi

dengan pancaran sumbernya. Menentang ketidak-adilan justru

untuk menegakkan keadilan. Bukan untuk merubah kekuatan yang

menentukan kekuasaan. Bentuk itu adalah bentuk yang paling

indah, meskipun seolah-olah hanya dapat terjadi di dalam mimpi.

Namun adalah menjadi kewajiban kita bersama untuk berusaha

menemukan bentuk yang paling indah itu. Ketidak-adilan, dan

segala macam bentuk nafsu duniawi akan dapat ditumbangkan oleh

kekuatan yang tidak ada batasnya. Cinta kasih. Cinta kasih diantara

sesama yang dilahirkan di atas bumi ini dari sumber yang sama.

Cinta kasih yang akan dapat melahirkan segala macam pengertian

dan pengekangan diri dalam satu lingkaran hidup yang tenteram

damai. Bukan karena dirinya merasa terikat oleh ancaman yang

merampas kebebasan hidupnya, tetapi bersama-sama dengan tulus

dan ikhlas mengekang diri sendiri dalam lingkaran yang dibuat

bersama-sama”.

Tambi mengerutkan keningnya. Seleret ia dapat mengenali

maksud Empu Gandring, tetapi sebagian daripadanya hanya dapat

dimengertinya samar-samar.

“O” Empu Gandring berdesah, seolah-olah ia baru saja terbangun

dari mimpinya “maafkan aku Ki Sanak. Barangkali aku terlampau

banyak berbicara. Barangkali bicaraku tidak kau harapkan. Tetapi

agaknya aku lebih banyak berbicara kepadaku sendiri. Karena aku

pun melihat betapa banyak kekurangan di dalam diri. Aku dapat

berkata tentang cinta kasih yang melampaui segala kekuatan dan

kekuasaan. Tetapi aku masih mendukung senjata dipunggungku.

Mudah-mudahan senjata tidak salah arah. Mudah-mudahan aku

selalu dapat melihat apakah yang sebenarnya sedang aku hadapi.

Lebih daripada itu, mudah-mudahan aku segera dapat

menanggalkan senjata ini dari tubuhku”.

Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat merasakan

sentuhan yang tajam pada dinding hatinya. Dan tiba-tiba ia

merasakan sesuatu bergerak di dalam hatinya itu. Dan dengan tibatiba

pula ia berkata, “Tuan, aku sekarang tidak takut lagi. Aku tidak

akan lari dari pedukuhan ini. Aku akan tetap tinggal di sini”.

Empu Gandring memandangi orang itu dengan tajamnya

Perlahan-lahan ia berdesis, “Kenapa?”

“Adalah menggelikan sekali bahwa selama ini aku selalu dikejar

oleh ketakutan. Tuan, aku seolah-olah telah menemukan keberanian

yang aku inginkan. Aku tidak takut lagi tuan”.

Empu Gandring tidak segera menyahut. Dipandanginya wajah

orang yang bertubuh kekar itu. Ia melihat perubahan yang

membayang diwajahnya. Tambi itu tiba-tiba telah menjadi seorang

yang seolah-olah lain dari pada orang yang tadi ditemuinya di

halaman. Wajah itu tidak lagi membayangkan kebengisan dan

kekerasan. Kini wajah itu menjadi terang.

“Adalah aneh bahwa tuan telah membuka perasaanku. Aku tidak

tahu, apakah tuan berbuat dengan sengaja atau tidak. Tetapi

ternyata aku menemukan sesuatu setelah aku bertemu dan

berbicara dengan tuan“ berkata Tambi itu kemudian.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya,

“Tak ada yang dapat aku lakukan bagimu Ki Sanak, apalagi

membuka perasaanmu. Hanya pancaran kasih dari Yang Maha

Agung sajalah yang dapat memberimu ketenteraman. Agaknya kau

telah mendapatkan kurnia yaug tiada taranya. Bukan kekuatan

jasmaniah sehingga kau mampu mengalahkan Kebo Sindet, tetapi

justru kekuatan rohaniah. Meskipun jasmaniah kau tidak akan

mampu berbuat apa pun melawan orang itu, tetapi ternyata kau

telah memiliki kekuatan itu. Kau sudah tidak takut lagi melawannya

dengan caramu. Itu adalah kelebihanmu Ki Sanak, kelebibanmu dari

padaku. Aku masih belum menemukan kurnia serupa itu. Aku masih

harus mencoba menghadapi Kebo Sindet dengan Senjata”.

Tambi tertawa. Namun tiba-tiba suara tertawanya itu terputus,

sehingga Empu Gandring terkejut karenanya. Apalagi ketika ia

melibat kening Tambi itu berkerut-merut.

“Kenapa Ki Sanak?”

“Aneh. Aku merasakan keanehan di dalam diriku” gumam Tambi

itu seolah-olah pada diri sendiri, “aku tidak pernah tertawa selama

ini. Sejak aku lepas dari dukungan ibuku, aku hampir tidak pernah

merasakan kesegaran yang tidak dapat membuat aku tertawa. Di

padesan ini, hanyalah anak-anak yang masih menyusu ibunya

sajalah yang dapat tertawa bila ibunya menciumnya, atau tertawa

manis selagi ia bermimpi. Tetapi sejak kami turun dari selendang

ibu, kami sudah harus bekerja membantu orang tua. Di sawah, di

kebun, di rumah dan dimana-mana saja. Itu terjadi sejak aku masih

kecil. Sejak Kebo Sindet masih kecil. Dan itu masih berlangsung

sampai kini”.

“Sekarang apa yang terasa olehmu Ki Sanak?”

“Semua itu tak ubahnya dari pada sebuah mimpi. Pada saatnya

aku akan bangun dari mimpi yang mengerikan ini”.

“Dan kau akan mengalami hidup yang sebenarnya. Bukan suatu

mimpi yang mengerikan lagi. Justru kau akan mendapat

kemenangan dari perjuanganmu yang terjadi di dalam mimpi itu”.

Tambi menarik nafas dalam-dalam. Gumamnya, “Bukankah ini

hanya suatu pemupus? Bukankah dengan demikian aku hanya ingin

menenteramkan hatiku sendiri?”

Empu Gandring menggeleng, “Pemupus adalah salah satu bentuk

dari pada keputus-asaan. Tak ada jalan lain yang dapat ditempuh,

selain apa yang telah terjadi. Tetapi kau tidak berada dalam

keadaan yang demikian. Kau masih mempunyai banyak

kesempatan. Kau masih dapat lari meninggalkan pedukuhan ini.

Misalnya pergi bersamaku ke padukuhanku. Kau akan dapat hidup di

sana dengan tenteram. Aku kira Kebo Sindet tidak akan mencarimu

ke padukuhanku, sebab aku pun sedang mencarinya. Apakah

begitu? Kau pergi ke Lulumbang?”

Tambi menggelengkan kepalanya, “Terima kasih Ki Sanak. Tetapi

aku tidak akan pergi. Kalau aku pergi, maka orang-orang lain akan

menjadi sasaran pertanyaan dan kemarahan Kebo Sindet. Orangorang

lain yang tidak bersalah akan mengalami nasib yang lebih

jelek lagi. Karena itu biarlah aku tinggal di sini. Aku akan

menghadapi segala tanggung jawab. Apa pun yang terjadi atas

diriku, maka aku tidak akan ingkar, sebab aku sudah tidak takut

lagi. Aku ingin segera bangun dari tidur dan mimpi yang mengerikan

ini. Apa yang akan terjadi segeralah terjadi”.

Dada Empu Gandring berdesir mendengar jawaban itu. Tiba-tiba

ia merasa bahwa kedatangannya benar-benar telah menyebabkan

Tambi tersudut dalam keadaannya. Apalagi setelah ia menemukan

suatu keyakinan di dalam dirinya, bahwa ia tidak akan lari. Karena

itu tanpa disadarinya maka Empu Gandring berkata, “Ki Sanak,

apakah kedatanganku telah menyebabkan kau mendapat kesulitan?”

“O, tidak tuan, tidak. Kalau aku ingin melepaskan diri, maka aku

akan dapat berbuat sesuatu. Aku akan dapat memberi isyarat

kepada Kebo Sindet. Ia akan datang kemari dan tanggung jawab

persoalan tuan sudah tidak ada lagi padaku”.

Empu Gandring mengerutkan keningnya.

Dan tiba-tiba ia bertanya, “Kenapa kau tidak berbuat demikian

kali ini?”

“Tuan adalah seorang yang memiliki kelainan dari orang-orang

yang pernah datang kemari. Orang-orang yang datang terdahulu

tidak ada yang dapat memberikan sesuatu kepadaku selain

kemarahan dan kehilangan akal”.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun

kerut-merut di keningnya menjadi semakin dalam. Orang tua itu

ternyata sedang mencoba mencari jalan yang baik baginya dan baik

bagi orang-orang Kemundungan, supaya mereka tidak menjadi

sasaran kemarahan Kebo Sindet.

“Adi,” berkata Empu Gandring kemudian, “apakah kau tidak

bersalah apabila kau tidak memberikan tanda kepada Kebo Sindet?”

“Mungkin demikian tuan. Mungkin ada satu dua orang yang tidak

senang kepadaku akan mengadukan hal itu. Bahwa aku telah

berbicara dengan orang yang tak dikenal, dan bahwa aku tidak

memberikan isyarat untuk memanggil Kebo Sindet”.

“Nah, kalau demikian” berkata Empu Gandring, “bukankah kau

mau menolong aku, sedang kau sendiri akan terlepas dari tuduhan

semacam itu? Ki Sanak, aku minta, berikan isyarat itu”.

Tambi mengerutkan keningnya, jawabnya, “Apakah aku harus

mencelakakan tuan?”

“Bukan salahmu, akulah yang mencari Kebo Sindet.” jawab Empu

Gandring.

Tambi terdiam sejenak. Tetapi diwajahnya membayang

kebimbangan yang mencengkam hatinya. Bagi Tambi, kehadiran

Kebo Sindet akan berarti maut yang mengerikan bagi orang yang

tidak dikenal.

Tetapi ketika disadari bahwa yang ada dihadapannya itu adalah

seorang yang justru mencari Kebo Sindet, maka kesannya menjadi

berbeda. Mungkin akibat yang akan terjadi kali ini berbeda. Namun

kebiasaan yang berulang-kali dilihatnya sama sekali tidak dapat

dilupakannya. Ada juga satu-dua orang yang berani melawan seperti

Empu Gandring ini. Tetapi akibatnya justru lebih mengerikan lagi.

Kebiasaan itu telah terjadi sepanjang Kebo Sindet dan Wong

Sarimpat kembali ke pedukuhan ini. Karena itu keragu-raguarnya

atas kemampuan Empu Gandring masih belum lenyap dari

kepalanya, meskipun ia telah dikagumkan oleh keccpatan gerak,

ketangkasan dan kekuatan Empu Gandring yang sengaja

diperlihatkan.

Melihat keragu-raguan itu, maka Empu Gandring berkata,

“Jangan ragu-ragu. Mungkin kau masih membandingkan

kemungkinan yang ada padaku dan Kebo Sindet. Biarlah aku yang

akan mempertanggung-jawabkan sendiri apa yang akan terjadi

dengan diriku. Tetapi perlu kau percayai bahwa aku telah pernah

berkelahi melawannya, sehingga aku dapat menilai diriku sendiri”.

Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebenarnya cara itu

memberikan kemungkinan-kemungkinan yang baik baginya. Apalagi

seandainya benar-benar Empu Gandring dapat mengalahkan Kebo

Sindet. Tetapi setidak-tidaknya ia akan terlepas dari segala macam

prasangka, meskipun ia kini sudah tidak takut lagi menghadapi

apapun. Sebab ia merasa berdiri pada landasan yang harus

diyakininya. Bahkan untuk seterusnya ia tidak akan lagi melakukan

perbuatan terkutuk atas orang-orang yang datang ke pedukuhan ini,

apalagi orang-orang yang tersesat dan mencari jalan. Meskipun ia

menyadari akibat dari tindakannya itu, namun ia telah menyimpan

keberanian di dalam dirinya.

Kalau kali ini ia masih juga akan memberikan isyarat kepada

Kebo Sindet, itu adalah karena permintaan orang yang tidak dikenal

di pedukuhannya itu sendiri. Justru orang itu mencari orang yang

bernama Kebo Sindet.

“Bagaimana Ki Sanak?” bertanya Empu Gandring.

Tambi menarik nafas dalam-dalam. Desisnya, “Bukankah tuan

yakin bahwa kedatangan Kebo Sindet tidak akan mencelakakan

tuan?”

“Aku mengharap demikian. Tetapi aku tidak tahu, apa yang

dikehendaki oleh Yang Maha Agung atas diriku. Namun aku berdoa

semoga sifat-sifat yang ada pada Kebo Sindet itu segera lenyap dari

antara kita manusia. Mungkin kita terpaksa melenyapkan orangnya

itu pula. Tetapi bukan maksudnya. Dalam bentuknya yang tajam,

aku mengharap bahwa sifat-sifat semacam itu akan dapat

dilenyapkan tanpa menyentuh kulit wadagnya. Tetapi itu hanya

dapat terjadi di dalam mimpi atau karena suatu keajaiban karena

pengaruh kekuatan di luar kekuatan manusia, meskipun kadangkadang

manusia pulalah yang menjadi alatnya”.

Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia makin mengenal

watak dan sifat tamunya itu. Meskipun apa yang didengarnya itu

belum pernah menyentuh telinganya sebelumnya, namun hatinya

seolah-olah menjadi terbuka menghadapi masa depannya dan

menilai masa-masa lampaunya.

“Nah, apakah kau bersedia memberikan isyarat itu?” bertanya

Empu Gandring kemudian.

Tambi masih mengangguk-angguk. Jawabnya, “Baiklah tuan, aku

akan memberikan isyarat. Tetapi hal itu justru karena aku percaya

kepada tuan, bahwa tuan tidak akan mengalami perlakuan yang

tidak aku kehendaki. Aku sudah jemu melihat semua peristiwaperistiwa

dimasa-masa lampau. Aku sudah jemu melihat

Kemundungan ini menjadi tidak ubahnya hutan yang liar. Kekuasaan

di sini sama sekali tidak tumbuh karena keinginan bersama atas

dasar kepercayaan dan kesatuan hasrat dalam hidup bersama untuk

saling menghormati dan mengekang diri dengan tulus seperti kata

tuan, tetapi kekuasaan di sini sama artinya dengan kekuatan”.

“Mudah-mudahan demikianlah hendaknya” sahut Empu Gandring.

“Baiklah tuan. Adalah menjadi kebiasaan orang-orang di

padukuhan ini untuk menunggu aku memberikan isyarat kepada

mereka. Kemudian salah seorang dari mereka akan segera pergi ke

sudut desa, naik ke atas menara bambu yang kita buat sengaja

untuk menggantungkan kentongan”.

“Lakukanlah Ki Sanak. Kalau kau berhasil mengundang Kebo

Sindet aku akan berterima kasih kepadamu”.

Tambi itu pun kemudian berdiri. Beberapa langkah ia maju ke

depan pintu. Kemudian ditebarkannya pandangan matanya

berkeliling. Kehalaman-halaman di sekitar halaman rumahnya.

Dilihatnya beberapa orang berdiri termangu-mangu.

“Mereka lebih senang menunggu apa yang akan terjadi dari pada

pergi ke ladang” gumam Tambi di dalam hatinya, bahkan orang

yang sudah berada di ladang pun tergesa-gesa pulang untuk

melihat peristiwa-peristiwa yang mengerikan.

Sejenak orang-orang itu berdiri termangu-mangu. Mereka melihat

perbedaan dari kejadian-kejadian yang pernah mereka saksikan.

Mereka tidak melihat Tambi berkelahi dengan orang itu. Mereka

hanya melihat orang yang tidak mereka kenal itu bergerak dengan

kecepatan yang tidak dapat mereka bayangkan, menggerakkan

kerisnya, dan tiba-tiba pohon-pohon Tal dan Siwalan itu pun roboh

hampir bersamaan.

“Kakang Tambi tidak berdaya menghadapinya” bisik di antara

mereka. Dan kini mereka melihat Tambi itu berdiri di muka pintu

rumahnya. Biasanya Tambi tidak menunggu terlampau lama, apabila

ia merasa bahwa lawannya tidak dapat dikalahkan, segera ia

memberikan isyarat untuk memanggil Kebo Sindet atau Wong

Sarimpat atau malahan kedua-duanya akan datang bersama-sama.

Tetapi kali ini Tambi masih berdiam diri.

Namun akhirnya orang-orang itu melihat Tambi menggerakkan

tangannya. Gerak yang sudah mereka kenal betul artinya.

Membunyikan isyarat untuk memanggil Kebo Sindet atau Wong

Sarimpat.

Seperti berebutan beberapa orang meloncat berlari-larian ke

menara bambu di sudut desa. Mereka menjadi seperti kanak-kanak

yang sedang berlomba. Kebiasaan itu lambat laun telah

menumbuhkan kesenangan tersendiri. Siapakah yang paling dahulu

mencapai menara dan membunyikan tanda untuk memanggil Kebo

Sindet merasa mendapatkan kepuasan. Seolah-olah ia telah

memberikan jasa yang berharga bagi padukuhannya, meskipun

kemudian apabila mereka melihat mayat yang terkapar di jalan

pedukuhan mereka, mereka masih juga merasa ngeri. Mereka akan

mengeluh berkepanjangan apabila mereka kemudian harus

menggali lubang, mengusung mayat itu dan kemudian

menguburkannya.

Dengan demikian maka hidup mereka selalu diliputi oleh suasana

yang selalu bertentangan. Mereka tidak dapat hidup dalam

keserasian sikap dan perasaan. Bahkan di dalam setiap dada orangorang

Kemundungan itu pun telah tumbuh berbagai pertentangan

yang menjadikan hidup mereka seakan-akan tidak berarti dan tanpa

tujuan.

Demikianlah maka sejenak kemudian terdengar suara kentongan

bergema di padukuhan kecil itu. Suaranya seakan-akan beruntun

melontar kembali setelah membentur dinding-dinding bukit gundul.

Susul-menyusul seperti seperti suara yang memanggil-manggil dari

dunia yang lain.

Tambi sudah terlalu biasa mendengar suara kentongan itu.

Bahkan apabila ia berada dalam kesulitan, maka suara itu dapat

memberinya ketenteraman. Sebab sejenak kemudian pasti akan

datang Kebo Sindet atau Wong Sarimpat atau kedua-duanya yang

akan melepaskannya dari kesulitan itu. Namun kemudian ia terpaksa

menyaksikan peristiwa yang mengerikan. Setiap kali, demikianlah

yang terjadi. Dan setiap kali hatinya menjadi sakit setelah ia

bersenang hati karena ia sendiri dapat dibebaskan dari kesulitannya.

Pertentangan-pertentangan yang terjadi di dalam diri Tambi dan

orang-orang Kemundungan itu telah berlangsung bertahun-tahun.

Setiap kali mereka merasakan pertentangan itu di dalam diri

mereka. Namun lambat-laun perasaan itu seolah-olah menjadi

semakin kebal. Hanya dalam keadaan-keadaan tertentu perasaan itu

masih juga tumbuh di dalam hati mereka. Korban-korban yang

malang, yang sama sekali tidak bersalah dan tidak menyadari

kesalahannya, masih juga menumbuhkan iba di hati mereka yang

sudah mengeras.

Kali ini orang-orang Kemundungan tidak dapat menilai, apakah

orang yang bersenjata keris raksasa dipunggungnya itu pantas

dikasihani atau tidak. Mereka tidak tahu, apakah sudah sepantasnya

orang yang tak dikenal itu akan dihadapkan kepada Kebo Sindet dan

Wong Sarimpat. Sebab meskipun mereka menjadi kagum dan

hampir-hampir tidak mengerti akan apa yang dilihatnya, namun

seolah-olah telah hampir menjadi suatu kepastian, bahwa kehadiran

Kebo Sindet berarti bencana bagi orang yang tidak dikenal yang

masuk ke dalam padesan ini.

Sejenak halaman rumah Tambi itu menjadi sepi tegang. Setiap

orang berdiri kaku di tempatnya, seperti batang-batang pepohonan

yang beku di halaman di sekitarnya. Mereka menunggu apakah

yang akan terjadi kemudian. Apakah yang akan dilakukan oleh Kebo

Sindet dan Wong Sarimpat atas orang tua yang kini duduk di dalam

rumah Tambi itu. Mereka merasa ada kelainan dari peristiwaperistiwa

yang parnah terjadi.

Tambi pun kini menjadi berdebar-debar. Suara kentongan itu

telah menjadikannya muak. Ia yang telah biasa mendengar suara

itu, dan bahkan suara itu dapat memberinya ketenteraman dalam

setiap kesulitan, namun kali ini ia menjadi sedemikian benci

mendengar suara itu. Suara itu di telinganya kini bagaikan suara

iblis yang berteriak-teriak dari lubang kubur.

Tetapi ketika suara itu kemudian berhenti, hati Tambi pun

menjadi semakin berdebar-debar. Biasanya, sesaat kemudian

mereka pasti akan mendengar langkah kuda berderap di atas tanah

berbatu-batu. Dan sesaat berikutnya mereka segera akan melihat

pertunjukan maut.

Kesepian masih mencengkam halaman rumah Tambi dan

halaman-halaman di sekitarnya. Beberapa orang laki-laki kurus

berdiri tegak tanpa bergerak. Sedang anak-anak muda yang pucat

bergerombol di bawah batang-batang pisang. Perempuanperempuan

biasanya hanya mengintip saja dari sela-sela pintu

rumahnya yang tidak terkatub rapat sambil memeluk bayi-bayinya

yang menangis ketakutan.

Sejenak mereka diam menunggu. Empu Gandring pun duduk

dengan hati berdebar-debar pula. Bukan karena cemas, bahwa Kebo

Sindet akan datang, tetapi justru karena teka-teki di dalam hatinya,

apakah Kebo Sindet akan datang atau tidak.

Ketegangan di halaman di sekitar rumah Tambi itu menjadi

semakin memuncak. Mereka benar-benar merasakan perbedaan

keadaan. Sudah beberapa lama bunyi kentongan menggetarkan

lereng bukit gundul, namun mereka sama sekali belum mendengar

kuda berderap. Mereka belum melihat Kebo Sindet atau Wong

Sarimpat datang sambil berteriak-teriak. Mereka belum melihat

sesuatu.

Tambi pun berdebar-debar pula. Kebo Sindet ternyata tidak

segera datang. Dan teringatlah ia kepada kata-kata Empu Gandring,

bahwa Kebo Sindet sedang menyembunyikan diri.

Sebenarnya Tambi sudah sejak beberapa saat menemukan

kepercayaan pada orang tua itu. Kini ia semakin yakin, bahwa

semua kata-katanya bukan sekedar sesuatu sikap untuk

membanggakan diri. Ternyata Kebo Sindet tidak segera datang.

Sudah pasti bahwa Kebo Sindet tidak berani berhadapan dengan

orang yang bernama Empu Gandring itu.

Meskipun demikian Tambi tidak segera berbuat sesuatu.

Ditunggunya saja keadaan berkembang menurut keadaannya.

Beberapa lama ia berdiri di muka pintu rumahnya memandangi

tetangga-tetangganya yang tidak pula kalah tegangnya. Bahkan

seakan mereka telah menggantungkan mata mereka di pagar-pagar

batu yang rendah di sekeliling halaman masing-masing untuk

melihat, apakah segera datang seekor kuda berderap di jalan

berbatu-batu itu.

Namun ternyata Kebo Sindet tidak segera datang.

Orang-orang di padukuhan Kemundungan itu mulai gelisah. Hal

yang serupa jarang-jarang terjadi. Hampir dapat dipastikan bahwa

setiap kentungan itu berbunyi, Kebo Sindet atau Wong Sarimpat

segera akan muncul.

Tetapi sekali hal yang demikian memang pernah terjadi. Kebo

Sindet dan Wong Sarimpat sedang tidak ada di gubuknya. Ketika

kedua orang itu tidak segera datang, maka terdorong oleh rasa

takut kepada mereka, maka Tambi mengambil kebijaksanaan lain.

Sambil berteriak-teriak ia memanggil setiap laki-laki dan anak-anak

muda. Mereka harus membantu Tambi menyelesaikan tugasnya.

Panggilan itu menjalar dari setiap mulut kemulut yang lain. Sejenak

kemudian hampir setiap laki-laki dan anak-anak muda sudah

berkumpul. Bahkan anak-anak tanggung pun berdatangan pula.

Mereka lebih takut kepada Kebo Sindet dari pada orang yang tidak

mereka kenal, yang tidak segera dapat dikalahkan oleh Tambi. Pada

saat itu, orang yang sedang berkelahi melawan Tambi menjadi

cemas nielihat sekian laki-laki dan anak-anak muda, sehingga orang

itu segera melarikan dirinya, sebelum ia melawan orang-orang

Kemundungan itu.

Kini terjadi hal yang serupa. Kentongan itu sudah lama berbunyi.

Tetapi Kebo Sindet masih juga belum datang. Dengan demikian

maka laki-laki yang berada di sekitar halaman rumah Tambi itu

berpikir, apakah Tambi akan mengambil kebijaksanaan yang serupa.

Memanggil mereka, dan mengeroyok beramai-ramai.

Tetapi ternyata Tambi tidak berbuat demikian. Kali ini ia tidak

berteriak-teriak dengan penuh kemarahan. Tidak pula memanggil

orang-orang yang berdiri di halaman di sekitar halaman rumahnya.

Tetapi dengan kepala tunduk Tambi melangkah masuk ke rumahnya

kembali dan kemudian duduk dihadapan Empu Gandring sambil

berdesis, “Tuan agaknya iblis itu tidak berani datang. Mungkin ia

sudah menduga bahwa tuan akan kemari”.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi

menurut pendapatnya, tempat Kebo Sindet itu bersembunyi

agaknya terlampau jauh, sehingga suara kentongan itu tidak dapat

didengarnya. Karena itu maka ia bertanya, “Ki Sanak, apakah suara

kentongan itu dapat melampaui bukit gundul, menembus hutan dan

mencapai rawa-rawa di mana Kebo Sindet itu bersembunyi, apabila

ia benar ia berada di sana?”

Tambi mengerutkan keningnya. Katanya, “Tuan benar. Kalau

tuan memang sudah mencari di gubuknya dan tuan tidak

menemuinya setelah tuan mengejarnya, maka satu-satunya

kemungkinan baginya adalah bersembunyi di tengah rawa-rawa

itu”.

“Jadi tak ada gunanya aku menunggunya di sini”.

“Kalau ia sudah berada di gubugnya, maka ia akan segera datang

kemari, apabila ia mendengar isyarat itu, tuan”.

“Kalau ia tahu bahwa aku lah yang di sini, mungkin ia tidak akan

datang meskipun ia mendengar isyarat itu pula”.

Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan ia melihat wajah

Empu Gandring menjadi kecewa.

“Maaf tuan” berkata Tambi kemudian, “aku tidak dapat

membantu tuan lebih dari pada itu”.

“Oh” sahut Empu Gandring dengan serta-merta, “kau tidak

mengecewakan aku. Kau sudah berbuat apa saja yang dapat kau

lakukan. Tetapi aku kecewa karena Kebo Sindet tidak datang ke

padukuhan ini seperti biasa”.

Tambi tidak menjawab. Ia hanya mengangguk-anggukkan

kepalanya saja.

“Persoalanku dengan Kebo Sindet adalah persoalan yang tidak

dapat dibiarkan. Aku harus menemukan penyelesaian”.

Tambi masih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi apa boleh buat,” gumam Empu Gandring seakan-akan

kepada diri sendiri, “aku harus menemukannya, meskipun aku harus

menyeberangi rawa-rawa itu”.

“Tuan” tiba-tiba Tambi memotong, “kalau tuan mau

mendengarkan permintaanku, jangan tuan mencoba menyeberangi

rawa-rawa itu. Tak seorang pun yang akan pernah berhasil”.

“Kalau Kebo Sindet dapat melakukannya, kenapa aku tidak?”

“Orang itu sudah mengenal betul jalan yang harus dilaluinya.

Mungkin ia mengenal pohon-pohon yang dapat dijadikannya sebagai

ancar-ancar”.

“Bagaimanakah ia untuk pertama kalinya dapat sampai tempat

itu?” bertanya Empu Gandring.

Tambi menggelengkan kepalanya, jawabnya, “Mungkin

seseorang telah menunjukkannya, tetapi mungkin hanya karena

kebetulan saja, atau barangkali sengaja ia menjajagi rawa-rawa itu

setiap hari dengan telaten untuk menemukan jalan memasuki hutan

itu”.

“Aku akan menempuh cara yang terakhir. Aku akan menjajagi

dengan hati-hati, sehingga aku menemukan jalan yang dapat

langsung sampai ke tengah hutan itu”.

“Tuan akan memerlukan waktu yang lama. Tetapi kalau nasib

tuan tidak begitu baik, maka tuan akan terperosok ke dalam lumpur.

Jika demikian maka kemungkinan untuk menarik diri dari dalamnya

adalah sulit sekali”.

“Terima kasih Ki Sanak, tetapi yang menjadi taruhan adalah

sebuah nyawa. Kemanakanku telah dibawa oleh Kebo Sindet. Aku

harus membebaskannya”.

“Tetapi bagaimana dengan nyawa tuan sendiri”.

“Aku sudah tua. Nyawaku sudah tidak begitu berharga dibanding

dengan nyawa kemanakanku yang memiliki hari depan yang masih

panjang”.

“Tetapi kalau tuan gagal menyeberangi rawa-rawa itu, maka

tidak hanya satu nyawa, tetapi kedua-duanya tidak dapat

diselamatkan”.

Empu Gandring terdiam sejenak. Kerut-merut dikeningnya

menjadi kian dalam. Sesaat kemudian ia bergumam, “Aku tidak

boleh menyerah. Aku harus menemukannya. Aku mengharap bahwa

aku akan dapat membebaskannya”.

Tambi menarik nafas dalam-dalam. Agaknya orang tua itu sudah

membulatkan tekadnya, sehingga tidak akan dapat dihalanginya

lagi. Meskipun demikian, sekali lagi ia berkata, “Tuan,

pertimbangkanlah baik-baik. Apakah tuan tidak dapat mencari jalan

lain?”

Empu Gandring menggelengkan kepalanya, “Aku tidak dapat

melihat jalan lain. Mungkin aku dapat menunggu Kebo Sindet keluar

dari persembunyiannya, tetapi waktu itu akan terlampau panjang.

Sadangkan dalam waktu yang panjang itu, segala kemungkinan

dapat terjadi atas kemanakanku”.

“Jadi tuan akan mencoba menyeberangi rawa-rawa berlumpur

itu?”

“Ya”.

Sekali lagi Tambi menarik nafas dalam-dalam, “Tuan akan

mendapatkan kesulitan”.

“Tak ada pilihan lain” Empu Gandring bergumam sambil

bergeser. Tiba-tiba ia berdiri dan berkata, “Sudahlah Ki Sanak. Aku

akan pergi. Doakan saja, semoga aku dapat menyelesaikan

pekerjaanku dengan baik”.

Tambi tidak dapat berbuat lain dari pada menganggukanggukkan

kepalanya. Meskipun wajahnya membayangkan

kecemasan, namun ia berkata, “Mudah-mudahan tuan selamat”.

Empu Gandring tersenyum, “Aku menyerahkan segalanya kepada

Yang Maha Agung. Aku hanya sekedar berusaha. Mudah-mudahan

usahaku dibenarkan-Nya”.

“Ya, mudah-mudahan. Tuan berada dipihak yang benar”.

Sekali lagi Empu Gandring tersenyum, “Baiklah kau di padesan

ini. Mudah-mudahan kau selamat”.

“Mudah-mudahan tuan. Tetapi aku tidak akan menggigil lagi

meskipun aku akan mengalami nasib yang bagaimanapun juga”.

“Apa yang akan kau lakukan”.

“Tentu tidak berarti. Dan barangkali sebelum ada yang dapat aku

lakukan, aku sudah dikejar maut”.

Empu Gandring tertawa perlahan-lahan, “Jalan kita serupa. Aku

pun demikian. Mungkin belum ada yang dapat aku lakukan, dan aku

sudah mati ditelan oleh lumpur itu. Tetapi aku tidak akan mundur.

Aku akan terus berusaha”.

Tambi mengerutkan keningnya. Tetapi sebelum ia menjawab

Empu Gandring telah melangkah keluar rumah itu sambil berkata,

“Kita melakukan pekerjaan kita masing-masing. Kita berada dalam

keadaan yang serupa. Kita saling berdoa, semoga pekerjaan kita

masing mendapat perlindungan-Nya. Nah, selamat tinggal”.

“Terima kasih tuan” gumam Tambi perlahan-lahan.

“Kenapa terima kasih? Akulah yang harus berterima kasih

kepadamu”.

“Karena kehadiran tuan aku menemukan ketenteraman”.

“Ah” Empu Gandring berdesah. Kini ia telah melangkahi tlundak

pintu. Ketika kakinya melangkah turun dari tangga rumah itu, maka

dilihatnya berpasang-pasang mata mengawasinya dengan sorot

mata yang aneh. Sejenak Empu Gandring tertegun. Tetapi sebelum

ia bertanya Tambi telah memberinya keterangan, “Tuan, mereka

heran melihat tuan. Tuan datang ke pedukuhan ini dengan tiba-tiba.

Tuan telah mempertunjukkan suatu keajaiban. Beberapa batang Tal

dan Siwalanku telah tuan tumbangkan hanya dengan sabetan keris.

Sekarang tuan pergi meninggalkan padukuhan ini tanpa berbuat

sesuatu setelah Kebo Sindet tidak hadir meskipun kami telah

memberikan isyarat kepadanya. Hal ini adalah suatu yang jarangjarang

sekali terjadi d isini. Karena itu mereka menjadi heran. Dan

mungkin mereka menunggu apakah yang akan tuan lakukan.

Mungkin mereka menyangka bahwa tuan akan membunuh aku, atau

aku akan memanggil mereka untuk beramai-ramai mengeroyok

tuan”.

Empu Gandring tersenyum. Katanya, “Aku minta diri. Katakanlah

kepada mereka pula. Aku minta pamit. Kedatanganku kemari benarbenar

untuk mencari Kebo Sindet, tanpa maksud yang lain”.

Tambi mengangguk, “Baik tuan”.

Sesaat kemudian mereka melihat Empu Gandring itu berjalan

menuju ke kudanya yang diikatnya di halaman. Perlahan-lahan

orang tua itu meloncat naik. “Selamat tinggal” katanya.

Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya.

Kuda yang ditumpangi oleh orang tua berkeris dipunggungnya itu

segera bergerak melangkah meninggalkan halaman rumah Tambi.

Sesekali Empu Gandring menoleh. Ia masih melibat Tambi berdiri di

halaman rumahnya. Sesudah itu, maka kuda itu pun segera berlari.

Semakin lama semakin kencang meninggalkan Padukuhan

Kemundungan.

Sepeninggal Empu Gandring, orang-orang Kemundungan segera

pergi menemui Tambi dengan tergesa-gesa. Berbagai hal mereka

tanyakan kepada orang yang bertubuh kekar itu. Namun mereka

menjadi heran mendengar jawaban Tambi. Bahkan keterangan

Tambi pun terdengar sangat aneh di telinga mereka. Seolah-olah

Tambi bukanlah Tambi yang mereka kenal sehari-hari. Apakah yang

telah mendorong Tambi untuk berbuat demikian, seolah-olah ia

sama sekali tidak takut lagi kepada Kebo Sindet.

Sementara itu Empu Gandring berpacu meninggalkan padukuhan

kecil yang tandus itu. Ia menjadi agak kecewa karena dari

pedukuhan itu, ia sama sekali tidak mendapat suatu penjelasan apa

pun jang dapat memperingan pekerjaannya. Ia hanja sekedar

mendengar beberapa ceritera lama tentang Kebo Sindet dan Wong

Sarimpat. Namun dengan ceritera itu, Empu Gandring dapat

meraba-raba, kenapa Kebo Sindet dan Wong Sarimpat selama ini

berbuat aneh. Menimbun kekayaan, harta benda dan permata,

tanpa menikmatinja sama sekali. Masa-masa lampau mereka telah

menjadikan mereka ketakutan untuk mengalaminya seperti yang

pernah terjadi itu. Mereka tidak ingin lagi kelaparan, kekurangan

makan dan tidak memiliki selembar pakaianpun. Itulah sebabnya

maka mereka menimbun sebanyak-banyaknya. Pengaruh yang

masih mengendap di sudut relung hatinya, dimasa kanak-kanaknya

telah membuat mereka orang yang aneh.

Kedua orang kakak beradik itu melihat dunia ini dengan hati

mereka yang gelap, seolah-olah dunia ini penuh dengan tindak

kejahatan, kekejaman dan penghisapan dari seorang kepada yang

lain, dari yang kuat atas yang lemah. Supaya mereka pada suatu

ketika tidak akan kehabisan persediaan untuk hidupnya dihari

mendatang, apalagi apabila datang orang baru yang melampaui

kekuatan mereka berdua, maka mereka telah mernpunyai simpanan

yang mereka sembunyikan baik-baik. Dengan demikian, mereka

telah terjerumus dalam cara hidup yang aneh. Siang malam

berusaha untuk menambah timbunan harta benda tanpa pernah

merasakannya. Makan dan pakaian mereka hanya sekedar untuk

mencukupi kebutuhan dalam tataran yang paling rendah, seperti

kebanyak orang-orang Kemundungan yang lain. Kesempatankesempatan

untuk merasakan kenikmatan hidup, terlampau jarang

dihayatinya.

Kedua kakak beradik yang seakan-akan hidup di dunia yang

asing itu sama sekali tidak dapat melihat, apa yang sebenarnya

gumelar di atas bumi ini. Lingkungan mereka adalah lingkungan

yang memaksa mereka untuk menjadi seorang yang berhati hitam.

“Kasihan” tiba-tiba Empu Gandring itu berdesis sambil memacu

kudanya, “orang-orang demikianlah, orang yang sebenarnya harus

dikasihani. Nasibnya terlampau jelek, sehingga hampir-hampir tidak

ada kesempatan untuk bangkit kembali. Nasib Wong Sarimpat

ternyata lebih malang lagi. Ia sudah tidak mendapat kesempatan

untuk berbuat apa-apa lagi. Ia mati dalam keadaan yang kelam.

Tetapi Empu Gandring itu pun segera menarik nafas dalam-dalam

sambil bergumam, “Aku pun kini membawa senjata ini untuk

mencari Kebo Sindet. Apakah senjata ini akan dapat menjadi alat

untuk menolongnya, mengambilnya dari dunianya yang sekarang,

atau justru akan mendorongnya lebih dalam? Tetapi aku tidak dapat

membiarkan Mahisa Agni. Aku harus melepaskannya. Kalau hal ini

akan berakibat buruk bagi Kebo Sindet, maka hal itu sama sekali

bukan tujuanku”.

Empu Gandring mengerutkan keningnya, dan menahan kendali

kudanya sedikit ketika kuda itu mulai mendaki bukit gundul.

Kemudian dengan menebarkan debu yang keputih-putihan kuda itu

berderap di atas padas dan tanah yang kering. Sebentar kemudian

kuda itu telah menuruni tebing yang curam. Empu Gandring

terpaksa menahan kuda itu supaya berjalan perlahan-lahan dan

hati-hati.

Setelah bukit gundul itu dilalui, maka segera Empu Gandring

menuju ke hutan yang berawa-rawa.

Hati orang tua itu mulai berdebar-debar ketika dari kejauhan

dilihatnya hutan yang tidak begitu lebat. Dari sela-sela rimbunnya

dedaunan, sinar matahari yang telah menjadi panas, seolah-olah

bermain-main di atas air yang keruh berlumpur. Angin yang silir

menggerakkan dedaunan dan bayang-bayang di wajah air.

Ketika kudanya telah sampai di bibir rawa-rawa itu, maka Empu

Gandring segera menahan kendali, sehingga kuda itu pun berhenti

sebelum kaki belakangnya menginjak air.

Tetapi injakan kaki depan kuda itu telah mengejutkan Empu

Gandring, karena tiba-tiba kuda itu meringkik dan dengan sekuat

tenaga ditariknya kedua belah kakinya. Tetapi dengan demikian,

maka tenaga kuda itu telah mendorong kaki belakangnya untuk

menginjak air itu pula.

Empu Gandring segera menyadari keadaannya. Sebelum kuda itu

melonjak-lonjak dan justru menjadi semakin ketengah, segera ia

meloncar turun di atas tanah yang tidak tergenang lumpur.

Kemudian diteriak-teriaknya kudanya menepi.

Lambat laun, kuda itu pun berhasil melepaskan kakinya dari

dalam lumpur. Terdengar kuda itu meringkik sekali lagi sambil

mengibas-ibaskan ekornya.

“Hem” Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam, “inilah isi dari

rawa-rawa ini. Tanah berlumpur yang gembur. Tetapi pasti ada

bagian-bagian yang keras, yang dapat dilalui oleh kuda. Sebab

terbukti bahwa Kebo Sindet dapat menyeberangi rawa-rawa ini

pula”.

Empu Gandring masih ingat betul, dimanakah kuda Kebo Sindet

yang diikutinya masuk ke dalam air. Tetapi setelah itu, ia tidak tahu,

arah yang diambil oleh buruannya. Ia akan dapat mengikuti jejak itu

masuk ke dalam rawa-rawa. Namun setelah itu, apakah ia tidak

akan tersesat, terjerumus ke dalam lumpur, bahkan lumpur yang

cukup dalam?

Empu Gandring kini berdiri termangu-mangu. Diingatnya pesan

Tambi, orang yang rumahnya tidak terlalu jauh dari rawa-rawa itu.

Bahwa rawa-rawa itu sangat berbahaya baginya.

“Tetapi aku harus menolong Mahisa Agni.” desisnya.

Sejenak Empu Gandring tidak berbuat sesuatu. Ia masih

memegang kendali kudanya.

“Aku akan menjajagi rawa-rawa itu dengan kaki” gumamnya

kemudian.

Diikatkannya kudanya itu pada sebatang pohon. Diikatkannya

kain panjangnya di lambungnya. Dengan hati-hati kemudian ia pergi

ke tepi rawa itu, tempat bekas-bekas kaki kuda Kebo Sindet lenyap

ditelan air.

“Di sini kuda itu masuk” desisnya kepada diri sendiri, “pasti

bagian ini cukup keras”.

Dengan hati-hati Empu Gandring itu menginjakkan kakinya ke

dalam air yang coklat berlumpur. Ternyata dugaannya benar. Ia

mendapat tempat berpijak yang cukup keras. Setapak lagi ia maju

setelah kakinya meraba-raba. Setapak demi setapak ia maju. Tetapi

pekerjaan itu memakan waktu yang sangat lama. Namun Empu

Gandring sama sekali tidak berputus asa. Ketika tiba-tiba kakinya

tidak menemukan tanah yang keras di depannya, maka beberapa

langkah ia surut sambil mencari bagian2 lain yang dapat diinjaknya.

“Ini adalah jalan satu-satunya” gumamnya.

Tetapi tiba-tiba ia tertegun ketika ia melihat sesuatu yang

bergerak di dalam air. Semakin lama semakin dekat, seolah-olah

sengaja menyerangnya.

Empu Gandring berdiri diam dengan hati yang berdebar. Namun

segera ia melihat, bahwa yang meluncur di dalam air yang keruh itu

adalah seekor ular air hitam. Sejenis ular yang mempunyai bisa

yang tajam.

“Hem” Empu Gandring berdesah, “ternyata rawa ini menyimpan

seribu macam bahaya”.

Tetapi ternyata ular itu tidak langsung menyerangnya. Beberapa

langkah dari Empu Gandring ular itu mengambil arah yang lain.

Meskipun demikian Empu Gandring masih belum bargerak. Ia

menyadari, babwa gerak yang paling kecil sekalipun akan dapat

menarik perhatian ular itu. Namun demikian tangannya telah siap

untuk menarik kerisnya apabila perlu.

Dipandanginya ular yang meluncur tidak jauh disampingnya itu

dengan tanpa berkedip. Setiap saat ular itu dapat berhenti,

berpaling dan meluncur mematuknya. Di tanah yang kering dan

keras ia tidak perlu mencemaskan serangan seekor ular apabila ular

itu dilihatnya. Empu Gandring termasuk salah seorang yang gemar

bermain-main dengan bisa, sesuai dengan pekerjaannya, membuat

keris. Tetapi di dalam air berlumpur, maka ia harus membuat

perhitungan lain. Mungkin selangkah ia bergeser, maka kakinya

akan terhisap masuk ke dalam lumpur. Karena itu, lebih baik ia

berdiri tegak tanpa bergerak sedikit pun dari pada harus melakukan

perlawanan atas ular itu dengan kemungkinan-kemungkinan yang

tidak menyenangkannya.

Ular itu pun meluncur semakin lama semakin jauh. Namun ular

itu telah menimbulkan kesan yang mendebarkan jantung Empu

Gandring. Ternyata ular air hitam itu cukup besar untuk menelan

seekor kelinci.

Sejenak Empu Gandring diam termangu-mangu. Ditatapnya

rawa-rawa yang terbentang dihadapannya. Rawa itu masih cukup

luas. Sedang airnya sama sekali tidak rata. Sebagian terlampau

dangkal sehingga beberapa cengkang tanah kadang-kadang

menonjol ke atas permukaan air. Namun di bagian yang lain

ternyata terlampau dalam.

Tetapi Empu Gandring masih belum berputus asa. Ia masih

mencoba melangkah maju, meraba-raba dengan kakinya. Beberapa

kali ia terpaksa melangkah surut dan mencari tanah yang cukup

keras. Kadang-kadang tanah itu mengeras seperti padas, tetapi

licinnya bukan main. Namun selangkah lagi yang diinjaknya adalah

lumpur yang sangat gembur.

Ketika Empu Gandring berpaling ke tanah yang tidak digenangi

air maka ia menarik nafas dalam-dalam. Ternyata jarak yang

dicapainya sama sekali belum seberapa dibandingkan dengan waktu

yang dipergunakannya Ia masih melihat jelas kudanya makan

rerumputan yang hijau. Bahkan ia masih melihat batang-batang

perdu yang rendah diantara kaki-kaki kudanya itu.

“Aku akan memerlukan waktu berapa hari untuk menemukan

jalan ke seberang” gumamnya, “tetapi apa boleh buat”.

Beberapa kali Empu Gandring mencoba berpegangan pada sulursulur

tumbuh-tumbuhan air yang tampaknya menjadi semakin

garang. Tetapi ia tidak dapat meloncat dari akar-akar sebatang

pohon ke batang yang lain. Bahkan ia juga tidak menemukan

kemungkinan untuk meloncat dari dahan pohon ke dahan

berikutnya, karena jarak yang sama sekali tidak rata.

Ketika Empu Gandring menengadahkan wajahnya, sekali lagi ia

berdesah. Matahari sudah menjadi semakin condong.

“Sebentar lagi hari akan menjadi gelap Dan aku masih belum

berajak dari tempat ini”.

Ketika angin berdesir perlahan-lahan menyentuh dedaunan,

maka Empu Gandring bersandar sebatang pohon, dan berdiri pada

akar-akarnya. Sesaat ia menjadi ragu-ragu. Namun akhirnya ia

mengambil keputusan, bahwa ia harus menunda usahanya itu

sampai besok. Sebelum gelap ia harus sudah berada di luar rawa

itu, supaya ia tidak kehilangan jalan. Di dalam gelap maka bahaya

akan menjadi lebih besar. Ular-ular air dan binatang-binatang

berbisa lainnya. Desir ular-ular yang cukup besar akan dapat

didengarnya, tetapi ular-ular yang kecil sama sekali tidak dapat

diketahuinya. Sedang bisa ular-ular kecil itu pun cukup tajam untuk

membenamkannya ke dalam rawa-rawa dan tidak akan bangkit

kembali. Meskipun Empu Gandring membawa juga beberapa macam

reramuan untuk menawarkan bisa, tetapi obat itu tidak terlampau

banyak, sedang agaknya ular dirawa-rawa ini merupakan penghuni

utamanya.

Lewat tanah-tanah yang telah diingatnya, Empu Gandring

berjalan kembali menepi. Ia dapat berjalan lebih cepat dari pada

ketika ia sedang mencari jalan itu. Meskipun demikian, kadangkadang

ia masih juga merasa kakinya menyentuh lumpur-lumpur

yang lunak di sebelah batu-batu padas yang diinjaknya.

Sebelum gelap Empu Gandring sudah berada di pinggir rawa itu.

Ia sama sekali tidak merasa lapar. Tetapi lehernya rerasa kering.

Sedang air yang dihadapinya adalah air berlumpur.

“Apakah aku harus minum air itu?” pikirnya. Tetapi Empu

Gandring masih mencoba menahan haus. Kalau terpaksa, ia harus

minum air itu juga.

Untuk menghindarkan diri dari serangan binatang-binatang yang

tidak dikenalnya, maka ketika hari menjadi gelap Empu Gandring

memanjat sebatang pohon di tempat yang agak lapang. Di

sekitarnya tidak tumbuh pohon yang rimbun dan lebat. Sedang

kudanya diikatnya di bawah pohon itu.

Empu Gandring adalah seorang yang telah membiasakan diri

hidup dalam keadaan yang sulit. Orang tua itu pun mempunyai

ketahanan tubuh yang luar biasa. Ia mampu berkelahi tidak saja

sehari semalam terus menerus tanpa berhenti, tetapi tiga hari ia

akan dapat melakukannya.

Namun kini terasa tubuhnya menjadi letih. Hatinya juga letih.

Usahanya untuk menemukan jalan menyeberangi rawa-rawa itu

telah menegangkan segala urat syarafnya.

Dengan demikian maka Empu Gandring itu benar-benar ingin

beristirahat untuk menyegarkan tubuhnya kembali. Besok ia masih

harus bekerja keras. Meraba-raba jalan untuk menyeberangi rawarawa

itu. Namun kadang tumbuh juga berbagai macam kecemasan

di dalam hatinya. Ternyata di dalam air itu banyak terdapat ular-ular

air hitam, dan mungkin binatang-binatang air yang lain yang belum

dikenalnya. Kadal air yang berwarna abu-abu kehitam-hitaman pun

mempunyai bisa setajam ular bandotan.

Tetapi yang lebih berbahaya lagi, apabila Kebo Sindet sengaja

menemuinya di dalam rawa-rawa itu. Orang itu telah memiliki

kemenangan pertama dari padanya. Ia jauh lebih mengenal watak

dan sifat dari rawa-rawa berlumpur ini.

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam, “Tetapi aku tidak

akan mundur”.

Dengan demikian maka hatinya menjadi semakin bulat. Dan kini

ia ingin benar-benar melepaskan segala macam ketegangan.

Perlahan-lahan ia berdesah, “Biarlah aku pikirkan besok. Sekarang

aku akan beristirahat, badan dan pikiran”.

Sekali lagi Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Kemudian

diselimutkannya kain panjangnya pada hampir seluruh tubuhnya.

Ternyata di atas dahan itu pun banyak sekali terdapat nyamuk.

Sejenak Empu Gandring itu dapat benar-benar beristirahat.

Matanya terpejam dan nafasnya berjalan dengan teratur. Meskipun

orang tua tidak tertidur nyenyak, karena sebagian dari indranya

masih mampu menangkap getaran-getaran yang terjadi di luar

dirinya meskipun hanya lamat-lamat, namun istirahat yang demikian

telah memberinya kesegaran baru.

Tetapi kesempatan itu ternyata tidak terlampau lama. Empu

Gandring membuka matanya ketika ia mendengar kudanya menjadi

gelisah.

Sejenak Empu Gandring masih berdiam diri. Bahkan seakan-akan

ia tidak banyak menaruh perhatian. Ia menyangka bahwa kudanya

pun telah diganggu oleh semacam nyamuk-nyamuk yang cukup

banyak dan besar di bawah pohon itu.

Namun ternyata kuda itu tidak saja berjalan melingkari pohon itu.

Kemudian di garuk-garukkan kakinya dan sejenak kemudian bahkan

kuda itu meringkik perlahan.

Kini Empu Gandring tidak lagi dapat membiarkan kudanya

menjadi gelisah. Sebagai seorang yang memiliki pengalaman yang

cukup maka segera ia tahu, bahwa kudanya telah mencium bau

atau mendengar suara di sekellingnya.

“Aku menjadi iri pada kuda itu” berkata Empu Gandring di dalam

batinnya, “beberapa tahun aku melatih diri, tetapi aku tidak akan

mempunyai ketajaman firasat seperti seekor kuda. Mungkin seekor

kuda mempunyai daya tangkap atas getaran-getaran yang tidak

dapat dilakukan oleh manusia. Ternyata sampai sekarang aku belum

mendengar, melihat apalagi mencium bau sesuatu yang dapat

membuat aku menjadi gelisah seperti kuda itu”.

Meskipun demikian, meskipun tampaknya Empu Gandring masih

belum beranjak dari tempatnya, bahkan masih belum mengangkat

kepalanya yang diletakkannya di atas sebatang dahan yang

menyalang dahan tempatnya duduk, namun ia telah bersiaga

sepenuhnya. Apabila ada bahaya yang mendatang setiap saat, maka

Empu Gandring telah siap untuk menghadapinya.

Tetapi Empu Gandring masih belum mendengar maupun melihat

sesuatu yang mencurigakannya, selain kudanya yang gelisah.

Dedaunan di sekitarnya seolah-olah tidur dengan nyenyaknya. Tak

ada yang kelihatan bergerak atau terdengar gemerisik di antara

mereka.

Meskipun demikian Empu Gandring sudah tidak lagi dapat

beristirahat dengan tenang. Kudanya yang gelisah itu membuatnya

gelisah pula. Yang pertama-tama mengganggu perasaannya adalah

Kebo Sindet. “Mungkin orang itu akan berusaha untuk mengintai

aku dan kemudian dengan diam menyerang” katanya di dalam hati,

“tetapi mudah-mudahan aku cukup sadar”.

Empu Gandring kemudian tidak lagi berusaha untuk tidur. Bahkan

dipasangnya segenap daya tangkapnya setajam-tajamnya.

Lambat laun, maka orang tua itu berhasil mendengar sesuatu di

antara dedaunan beberapa langkah dari pohon tempat ia memanjat.

Suara gemersik dedaunan, tetapi bukan karena angin malam.

“Apakah ada binatang buas di dalam rimbunnya dedaunan itu”

pikirnya, “apabila demikian, maka binatang itu pasti sedang

mengintai kudaku. Tetapi kalau yang berada di dalam gerumbul itu

Kebo Sindet, maka pasti akulah yang diintainya”.

Sejenak Empu Gandring masih tetap ditempatnya. Ia ingin

mengetahui, siapakah yang berada di dalam gerumbul itu. Akhirnya

ia mengambil kesimpulan, bahwa yang berada di dalam gerumbul

itu pasti bukan seekor binatang buas. Apabila yang bergerak-gerak

itu binatang buas yang mengintai kudanya, maka binatang itu pasti

sudah merayap mendekati, karena kudanya tidak juga pergi

meninggalkan tempatnya karena terikat. Tetapi yang bergerakgerak

itu masih saja berada di tempatnya, bahkan kadang-kadang

Empu Gandring seakan-akan kehilangan pengamatannya, karena

dedaunan itu tiba-tiba sama sekali menjadi diam.

“Baiklah,” berkata Empu Gandring di dalam hatinya, “kita saling

menunggu. Manakah yang lebih sabar berada di tempatnya. Aku

atau orang bersembunyi itu”.

Meskipun demikian Empu Gandring telah membetulkan letak

kerisnya, dan mengikatkan kain panjangnya di lambungnya.

Disingsatkannya ikat pinggangnya dan rambutnya pula.

Orang tua itu kini duduk di atas sebatang dahan. Setiap saat ia

dapat turun meluncur pada batang pohon, atau apabila perlu

meloncat langsung turun di tanah.

Tetapi ia masih belum melihat sesuatu. Namun kudanya semakin

gelisah dan bahkan terdengar kuda itu beberapa kali meringkik.

Tiba-tiba kuda itu melonjak, berdiri pada kaki belakang dan berputar

putar sehingga tali pengikatnya menjadi semakin pendek.

Empu Gandring mengerutkan keningnya. Ternyata orang yang

berada di dalam gerumbul itu sudah mulai. Kudanya menjadi

ketakutan dan berusaha untuk melarikan diri. Karena itu, maka

Empu Gandring tidak akan dapat tetap berada di atas dahan pohon

itu saja. Ia harus segera menghadapi keadaan itu. Tetapi

seandainya yang datang itu Kebo Sindet, maka ia akan berterima

kasih atas kedatangannya, sehingga ia tidak lagi perlu bersusah

payah mencarinya. Tetapi bagaimanakah kalau Mahisa Agni masih

ditinggalkannya di seberang rawa-rawa itu?”

Meskipun Empu Gandring tidak dapat meyakinkan dirinya, bahwa

ia akan dapat mengalahkan Kebo Sindet, tetapi ia harus berusaha

berbuat demikian untuk kepentingan kemenakannya itu. Kalau

akhirnya tidak seperti yang diharapkannya, maka itu adalah akibat

yang dapat saja terjadi. Namun ia percaya kepada Yang Maha

Agung, bahwa akhirnya yang benar juga yang akan dilindunginya.

Ketika kudanya melonjak sekali lagi, maka Empu Gandring pun

segera meloncat turun. Dengan penuh kesiagaan ia berjalan

mendekati kudanya. Ditangkapnya kendali kuda itu, dan dibelainya

lehernya untuk menenangkannya sambil bergumam perlahan,

“Tenanglah. Tak ada bahaya yang berarti bagimu. Orang yang

bersembunyi di dalam gerumbul itu pun tidak akan berbuat jahat

kepadamu”.

Kuda itu pun menjadi tenang. Namun Empu Gandring masih

tetap dalam kesiagaan sepenuhnya meskipun tampaknya ia acuh tak

acuh saja kepada orang yang bersembunyi di dalam gerumbul itu.

Tetapi Empu Gandring pun kemudian berpaling ketika ia

mendengar suara dari dalam gerumbul itu, “Benar Empu, Aku

memang tidak akan berbuat jahat”.

“Hem” Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam, “kenapa kau

bersembunyi? Marilah kita berbicara”.

“Maaf Empu, aku tidak bermaksud bersembunyi. Aku hanya ingin

supaya aku tidak mengejutkan Empu dan kuda itu. Tetapi ternyata

kudamu mempunyai indera yang luar biasa tajamnya, sehingga ia

menjadi gelisah”.

“Ah” Empu Gandring berdesah, “apakah kau ingin mengatakan

bahwa ketajaman inderaku kalah dengan seekor kuda?”

“Eh” sahut suara itu, “jangan terlampau dalam menangkap katakataku.

Aku sesungguhnya bermaksud baik. Tetapi aku memang

tidak ingin mengganggumu. Bukankah kau ingin beristirahat?”

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tidak

peduli apakah orang yang berada di dalam kegelapan gerumbul itu

melihat anggukan kepalanya atau tidak. Tetapi Empu Gandring

menjadi heran ketika ternyata suara itu sama sekali bukan suara

Kebo Sindet.

“Apakah ada orang lain yang akan turut campur dalam persoalan

ini? Mungkin Empu Sada? Tetapi suara itu pun bukan suara Empu

Sada.” Katanya di dalam hati.

Tetapi bagi Empu Gandring lebih baik untuk langsung bertemu

dengan orang yang bersembunyi itu dari pada ia masih harus

berteka-teki. Karena itu maka katanya, “Ki Sanak. Sebaiknya Ki

Sanak tidak bersembunyi saja disitu. Kemarilah, kita berbicara

dengan baik apabila maksudmu benar-benar baik”.

“Baiklah Empu” sahut suara itu, “aku akan datang. Sebenarnya

aku pun akan mendekat, tetapi kudamu terlampau peka terhadap

suara yang bagaimanapun lirihnya”.

“Kudaku sudah tenang Ki Sanak, kemarilah”.

Meskipun percakapan itu terdengar terlampau ramah, namun

Empu Gandring tidak dapat melepaskan kewaspadaannya. Bahkan

kerisnya telah mapan di punggungnya.

Sejenak kemudian ia melihat gerumbul itu bergerak-gerak.

Ternyata orang yang ditunggunya tidak bersembunyi di dalam

gerumbul, tetapi hanya berlindung di belakang. Karena itu maka

suara desir dedaunan yang ditimbulkannya terlampau lemah.

“Maafkan aku Empu, apabila aku mengganggumu”.

Empu Gandring tidak segera menjawab. Dicoba mengamati orang

yang baru muncul dari balik gerumbul itu. Di dalam gelap malam ia

tidak segera dapat melibat dengan jelas, siapa yang berdiri

dihadapannya. Tetapi sudah jelas bahwa orang itu bukan Kebo

Sindet dan juga bukan Empu Sada.

Setapak demi setapak orang itu melangkah maju. Namun

langkah yang setapak-setapak itu memberitahukan kepada Empu

Gandring bahwa orang yang dihadapinya ini adalah seorang yang

tidak kalah berbahaya dari Kebo Sindet. Tetapi orang itu berkata

bahwa ia tidak akan berbuat jahat. Meskipun demikian, karena

Empu Gandring tidak segera dapat mengenalnya, maka ia masih

belum dapat mempercayainya.

“Kemarilah Ki Sanak” berkata Empu Gandring kemudian.

Orang itu melangkah semakin dekat. Dan Empu Gandring melihat

orang itu berjalan semakin lambat.

“Kemarilah” panggil Empu Gandring.

“Terima kasih Empu” sahut orang itu, “mudah-mudahan aku

tidak mengejutkanmu”.

“Tidak, aku tidak terkejut karena kedatanganmu. Ternyata kau

mempunyai cara yang baik sekali untuk mendekati pohon ini tanpa

membangunkan aku. Tetapi aku terkejut karena kudaku yang

menjadi gelisah. Nah, bukankah kudaku yang tidak pernah berlatih

mempergunakan daya tangkap indera yang bagaimanapun juga itu

mampu berbuat melebihi aku”.

“Ah” desah orang itu, “aku memang pernah mendengar ceritera,

bahwa Empu Gandring senang berkelakar. Aku gembira dapat

bertemu Empu lagi kali ini. Kesempatan yang lampau terlalu sedikit

untuk mendengar kelakarmu yang segar.

Empu Gandring mengerutkan keningnya. Orang itu mengenalnya

dengan baik. Bahkan orang itu berkata bahwa ia pernah bertemu

dengan dirinya. “Hem,” Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam,

“aku sudah pikun, dan malam terlampau gelap. Tetapi bagaimana ia

dapat mengenal aku?” katanya di dalam hati.

Dan kini Empu Gandring melihat orang itu berhenti beberapa

langkah dari padanya. Samar-samar Empu Gandring dapat melihat

garis-garis bentuknya sebagai sebuah bayangan yang hitam. Tetapi

wajah orang itu masih belum dilihatnya.

Akhirnya Empu Gandring terpaksa bertanya, “Siapakah kau Ki

Sanak? Dan apakah maksudmu mendekati aku?”

Terdengar orang itu menarik nafas dalam-dalam. Menilik

suaranya maka orang itu pun setidak-tidaknya sudah setua Empu

Gandring sendiri. Perlahan-lahan orang itu berkata dalam nada yang

datar, “Empu, aku ingin mencoba mencegahmu menyeberangi

rawa-rawa ini”.

“He,” dada Empu Gandring berdesir, “kenapa Ki Sanak? Apakah

dengan demikian aku telah mengganggumu”.

“O tidak, tidak Empu. Kau sama sekali tidak mengganggu aku.

Maaf, bahwa akulah yang sebenarnya mengganggumu”.

Empu Gandring mengerutkan keningnya mendengar jawaban

yang ramah sopan itu. Tetapi meskipun demikian ia masih tetap

dalam kewaspadaannya.

“Kalau demikian kenapa Ki Sanak berkeberatan apabila aku

menyebrangi rawa-rawa ini?”

“Aku bermaksud baik Empu. Rawa-rawa ini adalah rawa yang

sangat jahat. Banyak sekali tersimpan bahaya di dalamnya. Mungkin

Empu akan bertemu dengan ular air hitam, mungkin buaya-buaya

kerdil yang sangat buas, yang hidup di dalam air pula.

“Ya, ya. Aku mengenal jenis-jenis binatang berbisa itu”.

“Tetapi Empu tidak menyangka bahwa binatang semacam itu

banyak sekali terdapat di dalam rawa-rawa itu”.

“Aku sudah melihat. Aku sudah bertemu dengan sejenis ular air

hitam sebesar lenganku”.

“Nah, itu adalah suatu contoh saja. Tetapi justru yang kecillah

yang lebih berbahaya, sebab Empu akan dapat melihat kedatangan

binatang-binatang yang cukup besar, tetapi yang kecil-kecil kadangkadang

dapat lepas dari perhatian”.

“Terima kasih Ki Sanak. Tetapi rawa-rawa ini tidak mustahil untuk

diseberangi. Ternyata Kebo Sindet dapat menyeberangi rawa-rawa

ini. Coba bayangkan. Kebo Sindet yang berada di atas punggung

kuda membawa serta pula di atas punggung kuda itu seorang lagi

yang sedang pingsan. Berapakah kira-kira berat beban yang

menekan pada ujung telapak kaki kuda itu di atas tanah di bawah

air rawa-rawa ini? Ternyata beban seberat itu dapat juga lewat.

Apalagi aku seorang diri, berdiri di atas telapak kakiku”.

“Empu, Kebo Sindet telah mengenal rawa-rawa ini sebaik ia

mengenal dirinya sendiri. Ia tahu benar manakah tanah padas yang

dapat diinjak, dan manakah tanah berlumpur yang harus dijauhinya.

Tetapi Empu sama sekali belum mengenal rawa-rawa ini”.

“Tetapi Ki Sanak, ular, buaya-buaya kerdil dan kadal-kadal

berbisa sama sekali tidak dapat membedakan, apakah yang lewat

itu orang yang sudah mengenal tempat ini baik-baik atau bukan”.

Terdengar orang itu tertawa. Jawabnya, “Empu benar. Ular-ular

air dan kadal-kadal yang buas itu tidak akan dapat mengenal

apakah orang yang lewat itu sahabatnya atau bukan, tetapi Kebo

Sindet lah yang telah mengenal dengan baik tiap bunyi dan gerak

dari binatang-binatang berbisa itu. Bahkan orang-orang yang telah

biasa dengan binatang-binatang semacam itu dapat membedakan

lewat penciumannya. Kebo Sindet mengenal pula riak air rawa-rawa

ini. Apakah didekatnya ada ular air atau kadal air yang sedang

meluncur. Dengan demikian ia dapat menyiapkan dirinya. Cara yang

paling baik adalah berdiam diri tanpa bergerak, untuk tidak menarik

perhatian binatang-binatang itu”.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya, jawabnya,

“Aku juga biasa bermain-main dengan binatang-binatang berbisa Ki

Sanak. Mungkin aku akan dapat menyesuaikan diriku dengan

kebiasaan binatang di dalam rawa-rawa ini”.

“O” orang itu terdiam sejenak, kemudian katanya, “ya, aku lupa

bahwa aku berhadapan dengan seorang Empu keris yang

kenamaan. Seorang yang pasti jauh lebih mengenal watak dari

binatang-binatang berbisa daripada aku. Namun meskipun

demikian, aku tetap berpendapat bahwa sebaiknya Empu

mengurungkan niat untuk menyeberangi rawa-rawa ini”.

Empu Gandring tidak segera menjawab. Dicobanya untuk

menatap wajah orang yang berdiri beberapa langkah dari padanya.

Ia sama sekali tidak melihat sikap yang mencurigakan pada orang

itu. Dan kata-katanya pun cukup sopan dan ramah. Bahkan terasa

hasrat yang sebenarnya tersirat pada kata-katanya, seperti yang

pernah didengarnya dari Tambi.

Sejenak Empu Gandring mempertimbangkan nasehat itu. Tetapi

sejenak kemudian perasaannya telah hinggap kembali kepada

hasratnya untuk menolong Mahisa Agni. Ia tidak dapat berbuat lain

dari menyeberangi rawa-rawa itu.

Karena itu, maka kemudian Empu Gandring itu pun berkata,

“Maaf Ki Sanak, aku tidak mempunyai cara lain dari menyeberangi

rawa-rawa ini. Aku harus mendatangi tempat persembunyian Kebo

Sindet untuk mengambil kemanakanku itu”.

“Empu, katakan bahwa Empu dapat melawan segala macam

binatang berbisa karena Empu mempunyai obat penawarnya. Tetapi

berapa lama Empu memerlukan waktu untuk mencari jalan di dasar

rawa-rawa itu?”

“Mungkin sehari, mungkin sebulan dan mungkin setahun. Tetapi

aku bertekad untuk melakukannya”.

“Empu, aku tahu apakah yang telah mendorong Empu untuk

membulatkan tekad menyeberangi rawa-rawa ini. Tetapi sebaiknya

niat itu Empu urungkan saja. Kalau Empu percaya kepadaku,

serahkanlah Mahisa Agni, bukankah kemanakan Empu itu bernama

Mahisa Agni, itu kepadaku. Aku kira cara yang tidak terlampau

mengejut akan lebih baik bagi kemanakan Empu itu, supaya Kebo

Sindet tidak menjadi mata gelap dan mencelakainya. Kita

mempunyai kepentingan yang sama atas anak muda itu”.

Empu Gandring terdiam sejenak. Ia mecoba mengamati

bayangan yang berdiri di dalam gelapnya malam beberapa langkah

dari padanya. Tetapi orang yang berdiri dalam kegelapan itu sama

sekali tidak menumbuhkan kecurigaannya.

“Ki Sanak,” berkata Empu Gandring kemudian, “siapakah

sebenarnya Ki Sanak itu?”

“Kau memang senang bergurau Empu”.

Sekali lagi Empu Gandring terdiam. Dicobanya mengingat orangorang

yang pernah dikenalnya. Orang-orang itu sebenarnya tidak

terlampau banyak. Tetapi suara ini nadanya terlampau dalam.

Empu Gandring perlahan-lahan mengangguk-anggukkan

kepalanya. Ia perlahan-lahan berhasil mengingat gaya bicara yang

demikian. Tetapi nada suaranya sudah agak jauh berubah dari nada

yang pernah dikenalnya. Meskipun demikian maka Empu Gandring

tidak melihat orang lain yang lebih dekat dari dugaannya itu. Apalagi

orang itu pulalah yang memang mempunyai kemungkinan paling

besar untuk berbuat demikian. Meskipun demikian untuk

meyakinkan dugaannya Empu Gandring bertanya, “Ki Sanak.

Sebaiknya Ki Sanak menolong aku. Aku memang sudah pikun.

Apalagi pada saat-saat hatiku gelap seperti saat ini. Aku hampir

tidak berhasil mengingat apapun lagi kecuali berangan-angan

tentang rawa itu”.

“Hem” orang yang berada di dalam kegelapan itu berdesah,

“apakah Empu benar-benar tidak dapat mengenal aku? Mungkin

suaraku agak berubah karena keadaanku akhir-akhir ini. Aku

hampir-hampir tidak pernah lagi berada di dalam lingkungan hidup

sesama. Aku memang ingin mengasingkan diriku di tempat yang

sepi. Mendekatkan diri kepada Yang Maha Agung. Tetapi ternyata

bahwa aku memang belum diperkenankan untuk tinggal berdiam

diri menghadapi keadaan lahir yang penuh dengan noda-noda yang

hitam. Kalau sekali-kali aku melihat keadaan Mahisa Agni, maka

suatu kali aku melihat hal-hal yang tidak wajar yang dapat

membahayakan jiwanya. Itulah sebabnya aku terpaksa wudar dari

pengasinganku untuk membayanginya. Tetapi ternyata aku tidak

mampu mencegah semuanya yang telah terjadi. Bahkan aku sama

sekali tidak berbuat sesuatu. Ternyata Empu Gandring lebih cepat

berbuat dari padaku. Namun Empu Gandring pun telah gagal untuk

mencegah Kebo Sindet membawanya. Tetapi, itu bukan salah

Empu. Empu telah berbuat apa saja yang dapat Empu lakukan

karena Mahisa Agni adalah kemanakan Empu. Namun ternyata

Mahisa Agni sampai kini masih belum dapat diketemukan”.

Empu Gandring memandang bayangan itu semakin tajam. Ia

semakin dapat mengenal gaya bicara orang itu. Bahkan beberapa

kali ia menangkap kepastian, siapakah yang sedang berbicara itu.

Tetapi Empu Gandring itu masih bertanya, “Ki Sanak. Aku tidak

bergurau. Aku tidak segera dapat mengenal Ki Sanak. Aku hanya

dapat menduga-duga. Mungkin Ki Sanak sengaja merubah suara Ki

Sanak dalam nada yang berbeda. Sedang bentuk wajah Ki Sanak di

dalam kegelapan tidak dapat aku lihat dengan jelas. Apakah aku

dapat melangkah mendekat?”

“Empu” jawab orang itu, “sebenarnya aku sudah memutuskan

untuk mengasingkan diri. Aku lebih baik tidak lagi berhubungan

dengan siapa pun kecuali Mahisa Agni dalam hubungannya untuk

melepaskan dari tangan Kebo Sindet”.

“Tetapi sikap Ki Sanak semakin meyakinkan aku, dengan siapa

aku berhadapan”.

“Aku sudah menyangka bahwa Empu dapat mengenal aku.

Tetapi baiklah kita untuk seterusnya tidak usah bertemu lagi.

Sebaiknya Empu kembali ke Lulumbang. Mungkin Empu dapat

singgah sebentar di Karautan, untuk memberitahukan bahwa

seseorang sedang berusaha melepaskan Mahisa Agni apabila

berhasil”.

“Tetapi aku harus mendapat suatu keyakinan bahwa orang yang

mengatakan dirinya bersedia melepaskan Mahisa Agni, setidaktidaknya

berusaha melepaskannya adalah seorang yang dapat aku

percaya”.

“Bukankah Empu telah mengetahui, siapakah yang menyatakan

dirinya akan berusaha melepaskannya?”

Empu Gandring mengangguk anggukkan kepalanya. “Kenapa kau

begitu jauh mengasingkan dirimu?” tiba tiba Empu Gandring

bertanya.

“Tak ada lagi gairah hidupku kini, selain melepaskan Mahisa Agni

itu. Sesudah itu, sesudah aku berhasil melepaskannya, maka aku

tidak akan dapat ditemui lagi oleh siapapun”.

“Apakah semula kau ingin mcnyembunyikan dirimu dalam

pertemuan ini?”

“Sebenarnya, tetapi aku tidak akan dapat memberi Empu

kepercayaan, apabila Empu tidak mengenal aku”.

Empu Gandring mengangguk-angguk pula. Perlahan-lahan ia ia

menarik nafas dalam-dalam sambil bertanya, “Bagaimana Ki Sanak

akan dapat menyeberangi rawa-rawa ini?”

“Aku seorang perantau Empu. Hidupku, apalagi akhir akhirnya ini

sebagian besar adalah di dalam perjalanan. Aku menjajagi rawarawa

ini bukan hanya karena Mahisa Agni. Tetapi sebelumnya aku

pernah melihat Kebo Sindet menyeberangi rawa-rawa ini sambil

membawa barang yang berhasil dirampasnya. Aku tidak hanya

melihatnya satu dua kali. Tetapi beberapa kali bersama Wong

Sarimpat. Maka pada suatu kali tumbuhlah keinginanku untuk

mengikutinya. Tentu saja dengan sangat hati-hati. Akhirnya aku

menemukan jalan juga untuk sampai ke seberang rawa-rawa”.

Empu Gandring mengerutkan keningnya. Tiba tiba ia berkata,

“Apakah kita tidak dapat bersama sama pergi keseberang rawarawa

itu dan mengambil Mahisa Agni dengan kekerasan?”

“Mungkin kita berdua akan dapat mengalahkan Kebo Sindet”

jawab orang itu, “tetapi hal itu akan sangat berbahaya bagi Mahisa

Agni. Kebo Sindet akan dapat mempergunakan Mahisa Agni sebagai

alat untuk menyelamatkan diri atau bahkan membunuh anak muda

itu sama sekali”.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian

katanya, “Jadi bagaimanakah sebaiknya?”

Sejenak orang yang berdiri di dalam kegelapan itu tidak

menjawab, sehingga mereka dicengkam oleh kediaman. Masingmasing

mengikuti arus pikiran sendiri.

Angin malam yang basah bertiup perlahan-lahan menggerakkan

dedaunan yang hijau. Batang-batang pohon bergerak seperti hantuhantu

yang sedang menari-nari dengan malasnya. Sekali-sekali kuda

Empu Gandring menggaruk-garukkan kakinya yang digigit oleh

nyamuk-nyamuk yang besar.

Di langit bintang bergayutan seperti ditaburkan di wajah yang

biru pekat. Dari sela-sela dedaunan yang jarang bintang-bintang itu

mengintip air rawa-rawa yang pekat berlumpur.

Ketika dikejauhan terdengar suara anjing liar menggonggong

maka bertanyalah Empu Gandring mengulang, “Jadi bagaimanakah

sebaiknya?”

“Sebaiknya Empu pulang ke Lulumbang. Akulah yang akan

mengusahakan agar Mahisa Agni dapat lepas dari tangan Kebo

Sindet dengan bahaya yang sekecil-kecilnya bagi anak muda itu

sendiri”.

“Aku akan tinggal di sini bersamamu”.

Orang itu tertawa perlahan-lahan. Jawabnya, “Jangan Empu.

Semakin banyak orang disini, Kebo Sindet akan semakin cepat

mengetahui bahwa ia sedang diintai. Karena itu percayakanlah

Mahisa Agni itu kepadaku”.

Empu Gandring termenung sejenak. Ia percaya kepada orang itu.

Tetapi apakah ia mampu berbuat demikian? Dirinya sendiri sedang

mencobanya pula, tetapi belum berhasil. Dan bagaimanakah dengan

orang itu?

Tetapi selayaknyalah ia mempercayainya. Kesungguhan dan

ketekunannya pasti akan dapat dipertaruhkan.

“Apakah Empu percaya kepadaku?”

Empu Gandring mengangguk, “Ya. Aku percaya”.

“Kalau begitu Empu dapat segera meninggalkan tempat ini”.

Sekali lagi Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya,

“Sekarang, malam ini juga?”

Orang itu tertawa. Jawabnya, “Terserah kepadamu Empu.

Sekarang atau nanti atau besok sesudah matahari terbit”.

Empu Gandring pun tertawa pula. Meskipun hatinya masih

dipenuhi oleh kecemasan tentang nasib kemenakannya, namun

kesanggupan orang itu telah memberinya sedikit ketenteraman.

Karena itu maka Empu Gandring itu pun kemudian berkata,

“Baiklah. Besok aku akan pergi meninggalkan tempat yang penuh

dengan nyamuk-nyamuk yang buas ini”.

“ Aku percaya ke padamu. Aku akan kembali ke Lulumbang dan

aku akan singgah ke Padang Karautan. Memberitahukan kepada

orang-orang Panawijen dan para Prajurit Tumapel yang ikut serta

dalam pembuatan bendungan itu, supaya mereka menunggu Mahisa

Agni dengan sabar. Begitu?”

“Ya Empu.” sahut orang itu perlahan-lahan dalam nada yang

dalam, “seterusnya aku mengucapkan terima kasih ke padamu atas

kepercayaan itu. Hati-hatilah. Disini bukan saja nyamuk-nyamuk dan

Kebo Sindet yang cukup buas, tetapi juga anjing-anjing liar di

malam hari cukup berbahaya bagi kudamu”.

“Terima kasih atas peringatanmu. Mudah-mudahan anjing-anjing

itu tidak datang kemari kali ini”.

“Nah Empu” berkata orang itu kemudian, “aku sudah cukup lama

bercakap-cakap dengan Empu. Baiklah sekarang aku pergi. Aku

masih mempunyai beberapa kepentingan”.

“Malam begini?” bertanya Empu Gandring.

“Ya. Tetapi kepentingan yang sebenarnya tidak penting”.

“Baiklah. Aku akan selalu berdoa mudah-mudahan kau berhasil

melepaskan anak itu. Sampaikan pesanku kepadanya, apabila ia

sempat, supaya segera pergi ke Lulumbang. Sebelum aku

melihatnya, maka aku masih akan selalu diganggu oleh kegelisahan.

Mudah-mudahan usaha itu segera berhasil”.

“Mudah-mudahan.” desis orang itu, yang kemudian

disambungnya, “Selamat malam Empu. Mungkin kita tidak akan

bertemu lagi”.

“Ah, jangan begitu. Tak akan ada pengasingan diri yang mutlak”.

“Ah, kenapa tidak ada?”

“Itu menyalahi kuwajiban kita diantara sesama. Kebajikan hanya

ada di antara sesama”.

“Kau benar Empu. tetapi dosa pun akan mudah tumbuh di dalam

lingkungan sesama. Betapa sudah besar dosaku. Apakah aku masih

harus menambah lagi?”

“Kesadaran dan pengendalian diri akan mengekang segala

perbuatan”.

“Aku kira aku sudah cukup lama hidup di dalam lingkungan

sesama. Aku ingin menemukan kejernihan hati. Aku ingin melihat

diri betapa dosaku telah bertimbun”.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ia

mempunyai pendirian yang agak berbeda, tetapi ia tidak

membantah lagi.

“Sampaikan salamku kepada siapa saja yang pernah mengedal

aku Empu. Aku minta maaf atas segala kesalahan dan kekeliruan

yang pernah aku lakukan atas mereka.

“Baiklah” jawab Empu Gandring, “tetapi percayalah, bahwa tidak

akan ada pengasingan yang mutlak”.

Orang itu tertawa. Kemudian perlahan-lahan ia melangkah surut.

Ketika orang itu berbalik dan melangkah beberapa langkah

menjauh, maka orang itu seakan-akan hilang ditelan gelapnya

malam.

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia masih

saja berdiri memandangi arah orang itu menghilang.

“Hem, begitu besar tekadnya. Tetapi pengasingan diri bukanlah

suatu penyelesaian yang baik. Namun aku tidak tahu apa yang akan

aku lakukan apabila aku mengalaminya?” desisnya lambat.

Empu Gandring itu tersadar ketika ia mendengar kudanya

meringkik kecil. Perlahan-lahan dibelainya suri kuda itu sambil

berbisik, “Besok kita pulang. Aku percaya bahwa Mahisa Agni akan

mendapat pertolongan. Sudah terlampau lama aku meninggalkan

Lulumbang, Perjalanan ini menjadi pengalaman yang menarik

bagiku.”

Meskipun kuda Empu Gandring tidak dapat menjawab. tetapi

tatapan matanya seakan-akan dapat mengerti kata-kata orang tua

itu.

“Kita masih mempunyai waktu sedikit” berkata Empa Gandring

seterusnya, “kita menunggu fajar, supaya kita dapat melihat jalan

yang kita lalui dengan baik”.

Sejenak kemudian, setelah Empu Gandring mengendorkan

kembali tali kudanya yang melingkar-lingkar pada pohon

tambatannya, maka ia pun memanjat pohon itu lagi. Ia masih akan

mempergunakan waktu yang tersisa sebelum fajar untuk

beristirahat. Namun kini ia tidak lagi dapat melupakan persoalannya.

Kadang-kadang hatinya masih disentuh olah keragu-raguan. Apakah

Mahisa Agni akan berhasil dibebaskan?

“Tetapi aku percaya kepadanya” desisnya untuk mencoba

menemtramkan hatinya.

Namun sampai cahaya fajar yang kemarah-merahan membayang

di Timur, Empu Gandring tidak lagi dapat mcmejamkan matanya

sama sekali. Tetapi dengan demikian terasa tubuhnya telah menjadi

agak segar, meskipun lehernya juga kering.

Ketika kemudian langit menjadi semakin terang, Empu Gandring

telah siap di punggung kudanya. Sejenak kemudian kuda itu pun

meluncur meninggalkan hutan yang tidak terlampau lebat itu,

namun digenangi oleh rawa berlumpur yang penuh dengan

bermacam binatang air. Dilaluinya padang rumput yang tidak

terlampau luas dan didakinya beberapa puncak-puncak kecil dari

bukit-bukit gundul yang berpadas-padas dilumuri oleh lumpur pula.

Tetapi Empu Gandring tidak menuju ke Kemundungan. Kudanya

segera menempuh jalan kembali ke Padang Karautan.

Berbagai macam pikiran berkecamuk di kepala orang tua itu. Ia

masih belum dapat melepaskan keragu-raguannya sama sekali.

Tetapi ia selalu berdoa, semoga usaha yang dilakukan untuk

melepaskan Mahisa Agni segera berhasil.

Perjalanan yang ditempuh oleh Empu Gandring ternyata tidak

mengalami kesulitan. Sekali-sekali ia berhenti untuk mencari air.

Bukan saja untuk minum kudanya, tatapi untuk minumnya sendiri

pula. Kemudian sesudah itu, ia langsung menuju ke Padang

Karautan. Kudanya berlari tidak terlampau cepat, tetapi juga tidak

terlampau lamban. Dilaluinya jalan berbatu-batu, padang-padang

perdu dan kemudian dimasukinya Padang Karautan yang kering.

Sinar matahari yang terlampau tinggi terasa menyengat kulit. Debu

yang beterbangan dilemparkan oleh kaki-kaki kuda hinggap pada

tubuh yang basah oleh keringat.

(bersambung ke jilid 29)

 

Jilid 29

APALAGI, setelah dimasukinya Padang Karautan. Padang yang

seakan-akan terbakar oleh sinar matahari. Tetapi, bagaimana pun

juga maka padang itu harus dilintasinya, padang yang seakan-akan

tidak bertepi. Ketika Empu Gandring melayangkan pandangan

matanya jauh-jauh, maka dilihatnya seolah-olah ujung padang itu

bertemu dengan kaki langit.

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. “Panasnya bukan

main,” gumamnya.

Tetapi tak ada jalan lain yang sedekat itu dapat dilaluinya.

Mungkin Empu Gandring dapat memilih lewat tepi-tepi hutan. Tetapi

jarak yang ditempuhnya hampir berlipat dua.

Perjalanan ini merupakan perjalanan yang melelahkan. Haus dan

terik matahari sangat mengganggu. Beberapa kali Empu Gandring

terpaksa beristirahat karena kudanya yang kehausan. Untunglah

bahwa kadang-kadang ditemuinya pohon-pohon perdu meskipun

tidak terlampau rimbun. Tetapi bayang-bayangnya yang pendek

dapat untuk sesaat melindungi Empu Gandring dan kudanya dari

sengatan panas sinar matahari.

Baru setelah matahari condong rendah di barat, perjalanan Empu

Gandring dapat mencapai sungai yang menjelujur di Padang

Karautan itu. Sungai yang pada perpanjangannya dibuat bendungan

oleh orang-orang Panawijen.

Dengan demikian maka perjalanan Empu Gandring seterusnya

adalah menyelusur di sepanjang pinggir sungai itu. Dengan

demikian maka ia lebih banyak mendapat perlindungan dari

pepohonan yang agak rimbun, yang tumbuh di sepanjang tepian

sungai.

Matahari yang menyala di langit, semakin lama menjadi semakin

rendah di ujung barat. Sinarnya yang semakin pudar menjadi

berwarna kemerah-merahan.

“Hem,” Empu Gundring menarik nafas dalam-dalam, “perjalanan

yang cukup berkesan. Sebuah cerita yang menarik bagi Angger Ken

Arok.”

Sementara itu, senja menjadi semakin kelam. Perlahan-lahan

Padang Karautan pun diselimuti oleh warna yang gelap. Tetapi,

perjalanan Empu Gandring ternyata telah hampir sampai pada

tujuannya.

Ternyata, ketika seluruh padang itu telah ditelan oleh kegelapan,

di kejauhan Empu Gandring melihat perapian yang memancar

lemah. Meskipun masih agak jauh, tetapi Empu Gandring sudah

dapat memastikan, bahwa di situlah letak kemah-kemah orangorang

Panawijen dan para prajurit Tumapel di bawah pimpinan Ken

Arok yang aneh.

Tanpa sesadarnya, Empu Gandring mempercepat lari kudanya. Ia

ingin segera sampai di perkemahan itu dan ingin segera bertemu

dengan Ken Arok.

Sisa yang tidak begitu panjang itu ditempuhnya dalam waktu

yang pendek. Ketika kudanya mendekati perkemahan itu, maka

dilihatnya dua orang mendatanginya.

“Siapa?” bertanya salah seorang dari mereka.

“Ternyata orang-orang di perkemahan ini menjadi semakin

berhati-hati,” berkata Empu Gandring di dalam hatinya.

“Siapa?” pertanyaan itu diulangi.

“Aku,” sahut Empu Gandring.

“Aku siapa?”

“Aku Empu Gandring,” sahut Empu Gandring.

Sejenak dua orang itu diam mematung. Kemudian mereka saling

berpandangan dan seorang dari mereka berdesis, “Empu Gandring.”

“Ya, aku Empu Gandring,” sahut Empu Gandring.

“Bukankah tuan paman Mahisa Agni yang pergi bersamanya ke

Panawijen?”

“Ya,” jawab Empu Gandring,

”O,” orang itu terdiam sejenak sedangkan kawannya yang

seorang lagi berkata, “Kami telah menunggu tuan. Marilah, silakan

datang ke gubug Ki Buyut yang menunggu kedatangan tuan dengan

berdebar-debar. Bahkan hampir tidak bersabar lagi.”

“Baiklah,” jawab Empu Gandring sambil melompat turun dari

kudanya. Bersama dengan kedua orang itu ia berjalan ke gubuggubug

yang berdiri berderet-deret di antara timbunan barangbarang

yang akan diletakkan menjadi bagian dari bendungan yang

masih belum jadi itu.

“Ki Buyut ada di dalam gubugnya,” desis salah seorang dari

kedua orang itu.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah,”

jawabnya. “Aku akan menemuinya. Tetapi apakah Angger Ken Arok

telah kembali kemari pula?”

“Ya, ia sudah kembali,” jawabnya. “Bukankah yang tuan maksud

Ken Arok pemimpin para prajurit dari Tumapel?”

“Ya.”

“Mungkin ia berada bersama Ki Buyut pula. Kalau tidak, maka

biarlah aku memberitahukan kepadanya, bahwa tuan telah datang.”

“Baiklah,” jawab Empu Gandring.

Maka kemudian ditambatkannya kudanya pada sebuah patok.

Per-lahan-lahan ia mendekati gubug Ki Buyut Panawijen. Kemudian

diketoknya salah sebuah dari tiang-tiangnya yang rendah.

Ki Buyut yang duduk beristirahat di dalam gubugnya mengangkat

kepalanya. Diamatinya bayangan di luar gubugnya, di dalam

keremangan sinar pelita.

“Siapa?!” bertanya Ki Buyut.

“Aku Ki Buyut, Empu Gandring.”

“O, marilah Empu,” Ki Buyut tergopoh-gopoh berdiri dan

menyambut Empu Gandring di luar gubugnya, “marilah, silakanlah.”

Empu Gandring pun kemudian masuk ke dalam gubug itu dan

duduk di atas sehelai tikar yang dibentangkan di atas setumpuk

rumput kering.

“Ah,” Ki Buyut itu berdesah, “kami hampir tidak sabar lagi

menunggu kedatangan Empu. Bagaimanakah dengan perjalanan

Empu ke Kemundungan? Kenapa Empu datang seorang diri tanpa

Angger Mahisa Agni? Apakah terjadi sesuatu dengan anak muda

itu?”

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Tetapi sebelum ia

menjawab, Ki Buyut telah mendahuluinya pula, “Bukankah Empu

pergi menyusul kemanakan Empu itu? Sedangkan Angger Ken Arok

pergi mengantarkan Empu Sada? Kini Angger Ken Arok telah berada

di sini. Banyak yang diberitahukannya kepada kami tentang Empu

dan tentang Angger Mahisa Agni.”

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan

didengarnya Ki Buyut masih juga berkata terus, “Kami mengharap

bahwa Empu akan berhasil membawa kembali Angger Mahisa Agni.

Tetapi kini aku lihat Empu datang seorang diri. Apakah Angger

Mahisa Agni masih menunggu di luar?”

Tetapi Empu Gundring tidak mendapat kesempatan untuk

menjawab. Buyut Panawijen yang tua itu ternyata telah dicekam

oleh kegelisahan dan kecemasan yang amat sangat sehingga tanpa

sesadarnya telah mempergunakan segala kesempatan untuk

berbicara sendiri.

Namun akhirnya Ki Buyut itu berhenti juga bertanya ketika ia

melihat Ken Arok dengan tergesa-gesa memasuki ruang itu pula.

Sebelum ia duduk, maka ia telah bertanya, “Bagaimana dengan

usaha Empu untuk menebaskan Mahisa Agni?”

“Duduklah Ngger,” Empu Gandring mempersilakannya. Sambil

menarik nafas dalam-dalam maka Ken Arok itu pun kemudian duduk

di sampingnya. Dipandanginya wajah Empu Gandring yang tenang,

namun mengandung seribu macam teka-teki yang tidak segera

dapat ditebaknya.

“Apakah usaha Empu berhasil?” bertanya Ken Arok itu kemudian.

Kali ini Empu Gandringlah yang menarik nafas dalam-dalam.

Jawabnya, “Sebagian Ngger. Sebagian berhasil tetapi hasil

selengkapnya masih belum dapat kita pastikan.”

Ken Arok mengerutkan keningnya sedangkan Ki Buyut Panawijen

memandangi wajah Empu Gandring dengan gelisahnya.

“Aku tidak meneruskan usaha itu dengan tenagaku sendiri,”

berkata Empu Gandring seterusnya.

“Jadi?” bertanya Ken Arok.

Empu Gandring menggeser duduknya sejengkal. Kemudian

diangkatnya wajahnya memandangi pelita yang tersangkut pada

tiang bambu gubug itu. Perlahan-lahan ia mulai mengisahkan

perjalanannya, sejak ia berpisah dengan Ken Arok, mengikuti jejak

Kebo Sindet, hingga ia memerlukan singgah ke Kemundungan.

Akhirnya diceriterakannya bahwa ia mempercayakan usaha

melepaskan Mahisa Agni kepada orang lain, orang yang mempunyai

kewajiban pula seperti dirinya sendiri.

“Oh,” Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya sedangkan Ki

Buyut Panawijen diam terpekur. Di luar gubug itu beberapa orang

telah berkerumun untuk mendengarkan keterangan itu pula.

Beberapa orang saling berbisik sedangkan yang lain menjadi sedih.

Mereka menyesalkan betapa Mahisa Agni itu mengalami berbagai

macam kejadian yang pahit. Sedangkan tenaganya sebenarnya

sangat diperlukan saat ini oleh orang-orang Panawijen yang sedang

membangun bendungan itu. Untunglah bahwa di antara mereka

telah hadir seorang yang bernama Ken Arok, menggantikan

kedudukan Mahisa Agni yang dapat selalu membakar niat orangorang

Panawijen untuk menyelesaikan bendungannya.

Sesaat kemudian cerita tentang Mahisa Agni itu telah menjalar ke

seluruh sudut perkemahan itu. Setiap orang kemudian

mendengarnya. Orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel.

Beberapa orang menjadi terharu dan iba sedangkan beberapa orang

lain menyimpan dendam di dalam hatinya. “Terlalu. Kuda Sempana

ternyata telah memperalat ayahnya yang tua untuk mencelakai

Mahisa Agni. Dosa anak itu ternyata memercik kepada ayahnya

pula, yang seharusnya berusaha mencegahnya.”

Tetapi semuanya sudah telanjur. Semuanya sudah terjadi

sehingga mereka hanya dapat berdesah di antara mereka sendiri.

Di dalam gubug Ki Buyut, Ken Arok menekurkan kepalanya.

Keningnya tampak berkerut-merut. Wajah anak muda itu benarbenar

menjadi tegang.

Tiba-tiba ia mengangkat wajahnya sambil menggeram, “Aku akan

mengambil pasukan ke Tumapel. Prajurit segelar sepapan. Aku

kepung daerah berawa-rawa itu. Mustahil kalau kita tidak akan

dapat menyeberang. Aku mengenal beberapa macam rawa-rawa.

Mungkin aku akan dapat mengenal tempat-tempat yang gembur

berlumpur dan tempat-tempat yang keras. Hampir sepanjang

umurku aku hidup di daerah-daerah yang tidak keruan. Hutan,

Padang Karautan ini, dan rawa-rawa.”

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Sareh ia berkata,

“Terima kasih Ngger. Tetapi sebaiknya maksud itu jangan tergesagesa

dilakukan. Biarlah usaha membebaskan Mahisa Agni dengan

cara yang lain itu dilakukan. Tidak dengan kekerasan, justru untuk

menjaga keselamatan Mahisa Agni itu sendiri. Sebab kini Mahisa

Agni telah telanjur dikuasai oleh Kebo Sindet. Aku sependapat

dengan cara ini Ngger.”

Kening Ken Arok menjadi semakin berkerut. Tetapi kemudian ia

menggigit bibirnya sambil kemudian bergumam, “Apa boleh buat

apabila Empu tidak sependapat.”

“Aku berterima kasih kepadamu Ngger,” sahut Empu Gandring,

“tetapi biarlah cara itu dicobanya dahulu. Apabila tidak berhasil,

maka kita akan mencari jalan lain.”

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah

Empu. Tetapi setiap saat apabila Empu memerlukan aku, aku akan

selalu menyediakan diri. Akuwu Tumapel pasti tidak akan

berkeberatan aku membawa sepasukan prajurit dan pelayanpelayan

dalam untuk membebaskannya apabila diperlukan. Sebab

Mahisa Agni adalah kakak terkasih dari bakal permaisuri.”

Empu Gandring mengangguk pula, “Terima kasih,” ulangnya.

“Aku akan selalu menghubungi Angger dalam setiap keperluan.

Terutama tentang Mahisa Agni.”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia sama sekali

tidak bersabar menunggu cara yang dianggapnya terlampau lamban

itu. Tetapi Empu Gandring adalah orang yang lebih berhak

menentukan apa yang sebaiknya dilakukan atas Mahisa Agni itu.

Sejenak kemudian mereka yang berada di ruang itu saling

berdiam diri. Mereka membiarkan angan-angan masing-masing

menelusuri sepinya.

Ketika di kejauhan terdengar gonggong anjing liar yang lamatlamat,

maka kulit Empu Gandring serasa berkuit. Anjing-anjing itu

sedang bertengkar berebut tubuh Mahisa Agni yang telah

dilemparkan oleh Kebo Sindet kepada gerombolan anjing-anjing itu.

“Mudah-mudahan tidak terjadi,” desis Empu Gandring. ”Kebo

Sindet masih memerlukannya.”

Kesepian itu pun kemudian dipecahkan oleh suara Ken Arok.

“Empu, aku masih belum mengirimkan laporan yang lengkap

tentang hilangnya Mahisa Agni ke Tumapel. Aku takut apabila berita

itu dapat mengejutkan Tuan Puteri Ken Dedes dan dapat berakibat

mengganggu persiapan-persiapan perkawinannya dengan Akuwu

Tunggul Ametung. Aku mengharap bahwa Mahisa Agni segera dapat

dibebaskan. Tetapi apabila ternyata keadaan menjadi demikian,

maka sebaiknya aku mengirimkan orang untuk menyampaikannya

kepada Tuanku Akuwu Tunggul Ametung, supaya aku tidak

dipersalahkannya karena aku seakan-akan mengabaikan persoalan

keselamatannya. Sebab Mahisa Agni itu pasti akan segera dipanggil

pula menghadap sebelum semua persiapan perkawinan yang akan

segera diselenggarakan itu selesai.”

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Sesaat ia

tidak menjawab. Ia menjadi cemas apabila dalam pembicaraan

selanjutnya Ken Arok dan Akuwu Tunggul Ametung sependapat

untuk mengepung Kebo Sindet dengan sepasukan prajurit, karena

mereka tergesa-gesa untuk segera menemukan Mahisa Agni untuk

kepentingan persiapan perkawinan itu. Tetapi dengan demikian,

maka justru Mahisa Agni berada dalam bahaya.

“Apakah Empu sependapat?” bertanya Ken Arok.

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia masih

ragu-ragu. Dipandanginya wajah Ki Buyut Panawijen yang suram.

Tetapi ia tidak menemukan apa pun pada wajah itu.

“Angger Ken Arok,” berkata Empu Gandring kemudian perlahanlahan,

“mungkin kau tidak akan dapat berbuat lain daripada itu.

Bagaimanapun juga maka peristiwa ini seluruhnya pasti akan

didengar oleh kalangan istana, juga oleh Tuan Puteri Ken Dedes.

Tetapi meskipun demikian, aku masih tetap mengharap, bahwa baik

Angger sendiri maupun Tuanku Akuwu Tunggul Ametung tidak

melakukan tindakan yang tergesa-gesa, yang akan dapat

membahayakan Mahisa Agni sendiri.”

Ken Arok mengangguk kecil sambil menggigit bibirnya. Anak

muda itu dapat mengerti kenapa Empu Gandring berpendirian

demikian menurut nalarnya, tetapi rasa-rasanya cara itu terlampau

lambat baginya sehingga perasaannya berpendapat lain. Namun kali

ini Ken Arok dapat menguasai perasaannya dengan nalarnya.

“Baiklah Empu,” jawabnya, “aku akan memberi penjelasan

kepada orang yang akan pergi ke Tumapel, bahwa tindakan yang

demikian akan sangat berbahaya. Aku akan mengharap bahwa

segala tindakan harus dipertimbangkan bersama Empu Gandring,

paman Mahisa Agni. Bukankah begitu?”

Empu Gandring tidak segera menyahut. Ia menjadi ragu-ragu.

Apakah ia harus menunggu persoalan ini sampai selesai di Padang

Karautan ini? Lalu bagaimana dengan padepokannya sendiri,

Lulumbang? Berapa lama ia harus menunggu? Berbeda halnya

apabila ia sendiri yang berusaha membebaskan Mahisa Agni. Maka

ia akan disibukkan oleh usahanya itu. Tetapi usaha itu sudah

dilakukan oleh orang lain. Ia tidak akan dapat duduk saja bertopang

dagu sambil menunggu tanpa bekerja apa pun di Padang Karautan.

Seandainya ia turut membantu membuat bendungan, maka

tenaganya akan tidak seimbang dibandingkan dengan kerjanya

sendiri yang memang telah menunggu. Tenaganya seorang itu tidak

akan banyak berpengaruh bagi bendungan ini. Apalagi setelah Ken

Arok dan prajurit-prajurit Tumapel berada di Padang Karautan ini

pula.

Karena itu maka yang paling baik baginya adalah menunggu

persoalan itu di padepokannya sendiri sambil melakukan

pekerjaannya sehari-hari. Membuat keris.

“Angger Ken Arok,” jawab Empu Gandring itu kemudian, “baiklah

aku selalu ikut serta dalam penyelesaian ini, karena itu adalah

kewajibanku. Tetapi aku sudah mempercayakannya kepada

seseorang sehingga kerjaku seolah-olah hanya tinggal menunggu

hasil dari usaha itu. Untuk itu aku akan menunggu di padepokanku

sendiri, di Lulumbang, sementara itu aku dapat bekerja seperti biasa

sehari-hari. Untuk itu aku minta tolong kepadamu Ngger, apabila

ada perkembangan baru, sukalah Angger menyuruh seorang dua

orang ke Lulumbang. Aku akan berbuat sesuai dengan

kemampuanku.”

Ken Arok mengerutkan keningnya sedangkan Ki Buyut Panawijen

dengan serta merta bertanya, “Apakah Empu akan meninggalkan

kami di sini?”

“Aku harus melihat padepokan yang sudah agak lama aku

tinggalkan Ki Buyut.”

“Lalu, bagaimakah dengan kami seandainya ada bahaya yang

mendatangi.”

“Ah,” Empu Gandring tersenyum, “bukankah Ki Buyut berada di

tengah-tengah sepasukan prajurit yang tangguh. Jangankan prajurit

yang sekian banyaknya, sedangkan Angger Ken Arok sendiri akan

dapat berbuat banyak melindungi Ki Buyut dan orang-orang

Panawijen.”

“Oh,” Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya sedangkan

Ken Arok berdesah sambil bergumam, “Hem, Empu terlalu memuji.”

“Tidak, tidak Ngger. Aku tidak memuji. Tetapi Angger supaya

menyadari bahwa Angger mempunyai ciri-ciri yang aneh. Aku tidak

dapat mengatakan apa aneh itu. Namun Angger mempunyai

kelebihan dari orang-orang lain.”

“Ah,” sekali lagi Ken Arok berdesah, “apakah yang aneh padaku?

Aku sama sekali tidak berdaya menghadapi iblis dari Kemundungan

itu.”

“Tetapi akan datang saatnya Angger dapat mengalahkan Kebo

Sindet.”

“Bagaimana mungkin hal itu terjadi Empu. Aku tidak pernah

berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mempelajari ilmu tata

beladiri.”

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Gumamnya,

“Itulah salah satu keanehan Angger. Tanpa mempelajari dengan

sungguh-sungguh, Angger telah mampu bertahan tanpa cedera

yang berarti atas aji yang nggegirisi yang dilepaskan oleh iblis dari

Kemundungan itu atas Angger.”

“Dadaku serasa remuk Empu.”

“Tetapi Angger tidak apa-apa sampai sekarang.”

“Aku masih mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung,”

sahut Ken Arok.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi

keajaiban yang ada dalam diri Ken Arok masih tetap merupakan

teka-teki bagi Empu Gandring.

Sejenak kemudian mereka saling berdiam diri. Terasa angin

padang menyentuh tubuh-tubuh mereka. Silir, namun semakin lama

semakin dingin meresap ke dalam kulit daging.

Gubug-gubug kini telah menjadi semakin sepi. Beberapa orang

telah jatuh tertidur karena kelelahan sedangkan beberapa orang lagi

sedang bercakap-cakat tentang Mahisa Agni yang belum berhasil

dibebaskan dari tangan Kebo Sindet. Di luar gubug Ki Buyut

Panawijen pun telah menjadi sepi pula.

Orang-orang yang semula berkerumun mendengarkan cerita

Empu Gandring telah pergi meninggalkan gubug itu kembali ke

tempat masing-masing.

Sejenak kemudian Ken Arok berdiri sambil berkata, “Aku akan

memanggil dua orang prajurit yang besok harus menghadap Akuwu

ke Tumapel. Mungkin Empu dapat memberi mereka itu pesan

langsung. Mungkin ada hal-hal yang perlu Empu beritahukan supaya

semuanya dapat berjalan dengan baik, tanpa membahayakan

Mahisa Agni dan tidak terlampau mengejutkan Tuanku Akuwu

Tunggul Ametung dan Tuan Puteri Ken Dedes.”

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya,

“Baiklah Ngger.”

Ken Arok pun kemudian pergi meninggalkan Empu Gandring dan

Ki Buyut Panawijen untuk memanggil dua orang prajurit yang akan

diperintahkannya ke Tumapel.

Sejenak kemudian Ken Arok telah datang kembali bersama

prajurit yang dimaksudkannya.

“Dengarlah baik-baik,” desis Ken Arok, “supaya kau tidak

membuat kesalahan. Dengan demikian kau akan langsung

mendengar dari Empu Gandring dan dari aku sendiri. Bukan hanya

sekadar desas-desus yang sudah bertambah atau berkurang dari

peristiwa yang sebenarnya terjadi.”

Dan kedua prajurit itu kemudian mendengarkan penjelasan Empu

Gandring dengan ceritanya. Beberapa kali Ken Arok memberinya

pesan tentang cerita itu. Dan Empu Gandring pun mengatakan

semuanya yang diketahuinya. Dikatakannya pula beberapa hal

tentang Empu Sada. Bahwa orang itu sama sekali tidak bertanggung

jawab lagi tentang hilangnya Mahisa Agni.

“Tetapi hati-hatilah,” pesan Ken Arok, “jangan mengejutkan Tuan

Puteri Ken Dedes.”

Kedua prajurit Tumapel itu mengangguk-anggukkan kepala

mereka. Mereka mendengarkan keterangan Empu Gandring dengan

saksama, dan mereka mendengarkan pesan Ken Arok baik-baik

supaya mereka nanti tidak salah menyampaikan keterangan tentang

Mahisa Agni dan pesan-pesan yang harus dilakukannya.

“Jangan lupa sampaikan kepada Tuanku Akuwu Tunggul

Ametung bahwa segala usaha untuk menghindari peristiwa itu

sudah dilakukan, bahkan paman Mahisa Agni, Empu Gandring,

sendiri telah ikut serta mencoba melepaskan Mahisa Agni. Tetapi

kami tidak berhasil. Meskipun demikian, sampai saat ini usaha untuk

melepaskan Mahisa Agni masih dilakukan,” pesan Ken Arok

seterusnya kepada kedua prajurit itu. “Sampaikan pula bahwa usaha

dengan kekerasan untuk sementara sebaiknya tidak dilakukan

mengingat keselamatan Mahisa Agni sendiri. Sedangkan kerja di

Padang Karautan sama sekali tidak terganggu karenanya. Kami di

sini berusaha untuk segera menyelesaikannya beserta taman yang

dikehendaki oleh Tuanku Akuwu Tunggul Ametung yang akan

dihadiahkan kepada Tuan Puteri Ken Dedes nanti.”

Sekali lagi kedua prajurit itu mengangguk-angguk.

“Kau mengerti?” bertanya Ken Arok kemudian.

“Ya,” jawab kedua prajurit itu hampir bersamaan.

“Baiklah,” berkata Ken Arok selanjutnya, ”besok pagi-pagi kalian

berangkat. Usahakan supaya kau dapat menghadapi secepatnya dan

segera kembali.”

“Baik,” sahut keduanya.

“Sekarang kalian boleh pergi tidur, supaya kalian besok tidak

terlampau malas berangkat.”

Kedua prajurit itu pun segera meninggalkan ruangan itu.

Kemudian Ken Arok dan Empu Gandring pun pergi pula ke tempat

masing-masing untuk beristirahat.

Di dalam gubugnya, Empu Gandring masih juga selalu dikejarkejar

oleh kecemasan dan keragu-raguan tentang kepastian nasib

Mahisa Agni. Sehingga dengan demikian maka dengan gelisahnya,

ia duduk di atas sehelai tikar pandan yang kumal. Sekali-sekali ia

berdiri dan berjalan mondar-mandir. Sejenak kemudian kembali ia

duduk. Ketika seseorang datang kepadanya dan meletakkan

sebungkus makanan dan minuman hangat, maka Empu Gandring

tidak segera beranjak dari tempatnya.

“Letakkanlah di situ,” katanya.

“Baik Empu,” jawab orang itu, yang kemudian segera pergi

meninggalkannya.

Tetapi ketika dilihatnya uap air yang panas itu mengepul, timbul

pulalah selera Empu Gandring untuk meminumnya. Apalagi ketika

kemudian terasa bahwa perutnya pun mulai disentuh oleh rasa

lapar.

Namun akhirnya Empu Gandring itu hanya dapat menyerahkan

segala persoalan kepada Yang Maha Agung. Disertai doa dan puji

semoga kemenakannya itu dilepaskan dari segala macam bencana.

Ketika kemudian fajar pecah di Timur, maka langit di atas Padang

Karautan seolah-olah jadi membara. Warna merah yang tersirat dari

cakrawala memancar menyelubungi seluruh padang yang luas,

semakin lama menjadi semakin cerah.

Dalam kesibukan persiapan untuk melakukan kerja

menyelesaikan bendungan, orang Panawijen dan para prajurit

Tumapel melihat dua ekor kuda dan kedua penunggangnya berlari

meninggalkan perkemahan itu. Debu yang tipis dan kerikil-kerikil

yang lembut berloncatan dari kaki-kuda-kuda itu.

Ken Arok, Ki Buyut Panawijen, dan Empu Gandring berdiri tegak

seperti patung memandangi kedua ekor kuda yang semakin lama

menjadi semakin kecil menuju ke ujung padang.

“Mudah-mudahan tidak mengejutkan Tuan Puteri,” gumam Ken

Arok.

“Mudah-mudahan,” sahut Ki Buyut Panawijen, “gadis itu sangat

mengasihi kakaknya, seperti juga sebaliknya.” Orang tua itu

berhenti sesaat. Tiba-tiba ia berdesah, “Kalau anakku masih ada.”

Ken Arok yang mendengar desah itu menarik nafas dalam. Ia

tahu benar apa yang telah terjadi dengan putera Ki Buyut Panawijen

itu. Sekilas ia berpaling memandangi wajah Ki Buyut yang tua, yang

sudah dipenuhi oleh kerut-merut garis-garis umur. Tapi Ken Arok

tidak berkata sepatah kata pun.

Empu Gandring hanya berdiam diri, ia pun pernah mendengar jua

apa yang telah terjadi atas anak laki-laki Ki Buyut Panawijen.

“Tetapi beruntunglah bahwa Ken Dedes kemudian terlepas dari

Kuda Sempana, bahkan kepahitan yang dialami itu dapat menjadi

pupuk bagi kesuburan jalan hidupnya. Apabila tidak demikian, maka

ia tidak akan sampai ke Istana Tumapel. Aku pun menjadi ikut

berbahagia dengan kebahagiaan gadis itu. Aku juga pasti tidak akan

rela melihat apabila gadis itu benar-benar menjadi isteri pelarian

dari Kuda Sempana,” Ki Buyut melanjutkan desahnya dalam nada

yang dalam.

Ken Arok dan Empu Gandring masih saja berdiam diri. Terasa

seolah-olah pedih hati orang tua itu terungkat kembali dengan tibatiba.

Apalagi bila kemudian Mahisa Agni tidak dapat diselamatkan

maka ia pun akan merasa kehilangan, sebab bagi Ki Buyut

Panawijen, Mahisa Agni seakan-akan telah menjadi ganti anaknya

yang hilang.

Dan dengan tiba-tiba saja ia bertanya, “Empu, apakah Empu

yakin bahwa Mahisa Agni akan selamat?”

Empu Gandring menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi

dipaksakannya mulutnya menjawab, “Aku yakin Ki Buyut.”

Ki Buyut itu pun kini terdiam pula. Ia masih memandang kuda

yang kini menjadi semakin kecil. Sekecil sebuah noktah di wajah

langit yang luas.

Untuk sesaat, kini ketiganya saling berdiam diri. Di belakang

mereka orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel telah

menjadi sibuk dengan segala macam persiapan. Alat-alat dan

keperluan-keperluan yang akan dikerjakan hari ini telah mereka

kumpulkan dan mereka bawa beramai-ramai ke tepi sungai di mana

bendungan itu dibuat.

Bintik-bintik di cakrawala yang menjadi semakin kecil itu pun

kemudian hilang bersama dengan pancaran sinar matahari yang

pertama, menyiram wajah Padang Karautan yang kekuningkuningan.

Warna fajar pun kemudian menjadi semakin terdesak

oleh cerahnya sinar matahari. Kuning keputih-putihan.

Ketika wajah Ki Buyut yang berkeriput itu merasa tersentuh oleh

hangatnya matahari pagi, maka orang tua itu pun menarik nafas

dalam-dalam. Dipalingkan wajahnya dan dilihatnya orang-orang

Panawijen dan para prajurit Tumapel telah sibuk mempersiapkan

diri untuk mulai bekerja.

“Kita hampir mulai,” gumam Ki Buyut itu kemudian.

Ken Arok pun kemudian berpaling. Terdengar ia berdesis,

“Mereka sudah siap Ki Buyut.”

“Marilah, aku akan minum wedang jaheku dahulu,” sahut Ki

Buyut. Kepada Empu Gandring Ki Buyut itu mempersilahkan,

“Marilah Empu. Minumlah dahulu.”

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya pelahan.

Namun kemudian ia berkata, “Ki Buyut, terima kasih. Tetapi hari ini

aku terpaksa mohon diri.”

Ki Buyut terkejut dan bahkan Ken Arok pun terkejut pula. “Begitu

tergesa-gesa,” hampir bersamaan mereka berdua bertanya.

“Ya. Aku kira lebih baik bagiku. Aku akan segera tenggelam

dalam kerja yang sudah lama aku tinggalkan. Aku sudah terlampau

rindu kepada padepokanku.”

Ki Buyut dan Ken Arok saling berpandangan sejenak. Kemudian

berkatalah Ki Buyut Panawijen, “Apakah Empu tidak ingin melihat air

sungai itu naik ke parit-parit yang sudah disiapkan menerima

limpahannya itu?”

“Memang, melihat air itu turun ke parit-parit untuk pertama

kalinya adalah suatu kebanggaan yang mengharukan. Tetapi aku

terlampau rindu kepada kampung halaman. Biarlah aku akan kemari

lagi beberapa minggu yang akan datang. Mudah-mudahan aku

dapat turut melihat bendungan itu mengangkat air.”

“Kami di sini menunggu Empu,” berkata Ken Arok, “kami merasa

Empu ikut serta menyiapkan bendungan ini. Sejak Mahisa Agni

sedang mencari tempat ini, bukankah Empu telah membantunya

seperti yang sering disebut-sebut Mahisa Agni.”

“Ah. Adalah kebetulan bahwa Agni itu kemenakanku. Tetapi

baiklah, aku akan mencoba melihat air dari sungai itu melimpah ke

parit-parit untuk yang pertama kalinya.”

“Kemudian Empu akan melihat aku membangun sebuah taman

yang indah sekali,” berkata Ken Arok, “indah sekali menurut

keinginan Tuanku Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi aku tidak tahu,

apakah selera keindahanku akan serupa dengan keinginan Akuwu.”

“Ya, ya. Aku akan melihat taman itu kelak. Mudah-mudahan aku

berkesempatan.”

“Tentu. Empu tentu berkesempatan.”

“Begitulah yang aku inginkan. Tetapi kadang-kadang yang terjadi

bukanlah keinginan kita masing-masing.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Ia tahu benar arti kata-kata

itu. Tetapi ia tidak mengerti kenapa Empu Gandring

mengucapkannya.

“Empu,” berkata Ken Arok kemudian, “taman itu tidak akan

terlalu lama siap. Lihat, di ujung dari parit induk ini, yang kelak akan

terletak di luar daerah persawahan yang akan dibuat oleh orangorang

Panawijen, telah aku gali sebuah sendang buatan. Beberapa

macam pepohonan telah aku tanam sejak kini, meskipun setiap sore

masih harus disiram dan masih harus dilindungi dari terik matahari

sampai air ini mengalir ke sana. Di sekitar sendang itulah nanti akan

dibuat sebuah taman dengan kebun bunga yang indah. Beberapa

jenis pohon pelindung telah pula aku tanam sejak sekarang.”

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya, aku

ingin sekali melihat taman itu kelak.”

“Empu Gandring harus melihatnya dan memujinya. Biar orang

lain, Tuanku Akuwu sendiri nanti mencelanya.”

Empu Gandring tersenyum. “Akuwu akan memuji bukan sekadar

untuk menyenangkan hati Angger. Tetapi aku yakin sejak sekarang,

bahwa taman itu akan menjadi taman yang paling indah di seluruh

Tumapel dan bahkan seluruh Kediri. Sebab taman itu dipersiapkan

pada tanah yang masih kosong, yang dapat dibuat benar-benar

menurut rencana.”

“Tetapi rencananyalah yang jelek Empu.”

Empu Gandring, Ki Buyut Panawijen, dan bahkan Ken Arok

sendiri tertawa.

“Empu,” berkata Ken Arok tiba-tiba, “aku telah mendengar bahwa

Empu adalah seorang pembuat keris yang jarang ada duanya.

Mungkin suatu ketika aku akan datang kepada Empu, untuk

mendapatkan sebuah kenang-kenangan. Seperti Empu lihat, sampai

kini aku belum mempunyai sebuah keris yang belum berarti bagiku.

Apalagi sebuah keris yang disebut pusaka. Karena itu, pada suatu

saat aku mengharap, bahwa Empu akan memberi aku sipat kandel.

“Ah,” Empu Gandring berdesah. “Aku tidak lebih dari seorang

pande besi biasa Ngger. Tetapi aku mengharap Angger datang ke

padepokanku. Lulumbang. Mungkin aku dapat membuat sesuatu

untuk Angger. Tetapi sama sekali bukan sebuah pusaka. Apabila

Angger menghendaki sekadar pisau untuk menebas alang-alang,

nah, aku akan bersedia.”

“Empu terlampau merendahkan diri.”

“Tidak Ngger. Supaya Angger tidak kecewa kelak.”

Ken Arok tersenyum. Katanya, “Baiklah. Suatu ketika aku pasti

datang ke Lulumbang. Tetapi sebaiknya Empulah yang datang lebih

dahulu kemari, melihat taman yang akan aku persembahkan kepada

Tuanku Tunggul Ametung yang akan dijadikannya hadiah untuk

permaisurinya tercinta. Tuanku Putri Ken Dedes.”

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Sambil

mengangguk-angguk lemah ia memandangi padang yang luas itu.

Jauh di atas pandangan matanya ia melihat langit seolah-olah

bertemu dengan padang rumput yang kering itu. Terpercik di

dadanya serasa ia tidak akan dapat melihat padang itu lagi kelak.

Empu Gandring terkejut ketika ia kemudian mendengar Ken Arok

berkata kepadanya, “Kalau Empu tidak lagi dapat kami tahan,

baiklah aku mengucapkan selamat jalan. Tetapi sebaiknya Empu

menyiapkan dahulu bekal di perjalanan. Barangkali Ki Buyut dapat

membantunya. Sekarang, maaf Empu, aku harus mulai bekerja

bersama para prajurit Tumapel yang sudah memencar diri.”

“O, silakan, silakan Ngger. Mudah-mudahan kita dapat bertemu

lagi di kesempatan lain.”

“Kami di sini selalu menunggu kedatangan Empu. Kalau Empu

tidak juga datang, maka aku akan datang ke Lulumbang.”

Empu Gandring tersenyum, “Aku pun selalu menunggu

kedatanganmu Ngger. Dan aku juga selalu menunggu setiap berita

tentang Mahisa Agni.”

“Baik Empu. Aku akan selalu mengirimkan orangku ke Lulumbang

apabila terjadi perkembangan keadaan. Nah, sekarang, maaf, aku

harus mulai.”

“Silakan Ngger,” sahut Empu Gandring.

Ken Arok itu pun kemudian meninggalkan Empu Gandring dan Ki

Buyut Panawijen. Sejenak ia mengawasi para prajurit Tumapel yang

berpencaran. Sebagian dari mereka telah membawa pedati ke ujung

induk susukan, untuk menyiapkan sebuah sendang buatan.

Sebagian lagi menaikkan batu-batu bersama orang-orang Panawijen

yang berani melintasinya karena cerita tentang hantu Karautan yang

menakutkan. Tetapi kini, di sisi padang ini, berkeliaran orang-orang

Panawijen, prajurit-prajurit, dan pelayan dalam dari Tumapel yang

sedang sibuk bekerja menyelesaikan bendungan dan sebuah taman

buatan.

Tetapi sebentar kemudian Ken Arok itu pun berjalan cepat-cepat

ke bendungan yang sudah mulai dikerjakan. Ternyata ia tahu benar

maksud Mahisa Agni. Seolah-olah Ken Arok itu turut serta

merencanakan pembuatannya, sehingga meskipun Mahisa Agni

tidak ada, namun pembuatan bendungan itu sama sekali tidak

terganggu dan berjalan seperti yang dikehendakinya.

Dalam pada itu, Ki Buyut masih belum meninggalkan Empu

Gandring yang segera akan meninggalkan Padang Karautan.

Dipersilakannya Empu Gandring untuk menyiapkan beberapa

macam bekal makanan dan bumbung-bumbung air.

“Aku akan menyusur sungai ini Ki Buyut, sehingga aku tidak perlu

membawa terlampau banyak persedian air.”

“O,” Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya.

Ketika matahari merambat semakin tinggi, maka Empu Gandring

pun telah siap di atas punggung kudanya. Sekali lagi ia minta diri

kepada Ki Buyut Panawijen yang menungguinya. “Salamku buat

orang-orang Panawijen dan para prajurit,” katanya.

“Terima kasih dan selamat jalan Empu,” desis Ki Bu yut

Panawijen.

“Terima kasih,” jawab Empu Gandring, “semoga kita masingmasing

mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung.”

Sesaat kemudian maka kuda Empu Gandring pun mulai bergerak.

Ditinggalkannya perkemahan yang sedang sibuk dengan kerja.

Beberapa pasang mata masih sempat melihat kuda itu menaburkan

debu yang tipis. Semakin lama semakin jauh.

Sekali-sekali Empu Gandring pun berpaling pula. Dilihatnya

betapa kerja yang dimulai oleh Mahisa Agni itu menjadi semakin

sibuk. Orang-orang Panawijen dan para prajurit berpencaran dalam

kerja masing-masing. Bendungan, parit-parit, dan sebuah taman

seperti yang dihendaki oleh Tuanku Tunggul Ametung, agak jauh ke

tengah padang.

“Beberapa tahun lagi maka daerah ini akan menjadi sebuah

padukuhan yang ramai. Panawijen sendiri akan segera dilupakan

orang. Mereka akan meninggalkan padesan yang semakin lama

menjadi kering, sedangkan daerah di sepanjang sungai ini adalah

daerah yang masih sedang berkembang,” gumam Empu Gandring

kepada diri sendiri. Terbayang di matanya, induk susukan yang

membelah daerah persawahan yang subur. Kemudian sebuah

pategalan dan yang kelak akan menjadi padesan. Di sebelah

padukuhan itu dibangun sebuah taman yang indah. Bukan saja

untuk kepentingan padukuhan atau padepokan yang akan lahir

nanti, tetapi taman itu adalah Taman Akuwu Tumapel. Bukankah

dengan demikian jalan antara Karautan dan Tumapel akan menjadi

ramai pula? Jalan yang menghubungkan istana dan sebuah

kenangan tentang tempat asal Ken Dedes, meskipun bukan yang

sebenarnya, karena tempat yang sebenarnya sudah menjadi kering.

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam.

“Tetapi apakah orang yang telah meletakkan hasrat yang

pertama kali membuat bendungan di Padang Karautan itu kelak

akan dapat melihatnya pula?”

Sebuah desir yang lembut telah menggores jantung Empu

Gandring. Namun kemudian, sekali lagi ia mencoba menguasai

perasaannya. “Semuanya berada di tangan Yang Maha Agung.

Apalagi nasib Mahisa Agni sedangkan nasibku sendiri pun tidak aku

ketahui. Apakah aku masih juga diberi kesempatan untuk bertemu

dengan kemenakanku itu atau tidak, aku tidak tahu.”

Ketika Empu Gandring sekali lagi berpaling, maka perkemahan di

tepi sungai itu seolah-olah telah menjadi bintik-bintik yang sangat

kecil. Ia sudah tidak lagi dapat melihat orang-orang yang sedang

berpencaran bekerja di bawah sinar matahari yang sudah mulai

menggatalkan kulit.

“Mudah-mudahan semuanya terjadi seperti yang dikehendaki,”

desisnya, ”semoga Yang Maha Agung memperkenankan.”

Sekali Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Kemudian

disentuhnya perut kudanya dengan sebuah ranting kecil yang

dipakainya sebagai cemeti.

Kuda itu pun kemudian berlari semakin kencang membelah

Padang Karautan yang sepi.

Sementara itu matahari pun merayap perlahan-lahan menyusuri

jalannya di langit. Semakin lama semakin tinggi. Ketika dicapainya

puncak ketinggian, maka ditempuhnya jalannya di belahan langit di

sebelah barat. Semakin lama semakin rendah.

Selembar-selembar awan hanyut di permukaan wajah yang biru.

Dan burung-burung berkeliaran menyambar makanannya.

Dalam pada itu, dua ekor kuda sedang berpacu memasuki jalan

kota di Tumapel. Derap kakinya menghentak-hentak di atas tanah

berbatu-batu. Segumpal-segumpal debu yang putih melontar di

udara.

Dua orang penunggang kuda yang tubuhnya basah oleh keringat

telah memasuki gerbang kota. Keduanya adalah prajurit yang

mendapat perintah dari Ken Arok, menyampaikan laporan kepada

Akuwu Tunggul Ametung.

Di regol pertama Istana Tumapel, keduanya berhenti. Para

penjaga yang melihat kedua prajurit yang tubuhnya menjadi kelabu

karena debu yang melekat, tersenyum sambil bertanya. “He, apakah

kau baru saja berguling-guling di atas pasir?”

“Uh,” sahut salah seorang dari mereka, “panasnya bukan main.

He, apakah masih ada sisa makanan di sini?”

Prajurit-prajurit yang berada di regol itu tertawa. “Apakah kau

tidak membawa bekal apa pun dari Panawijen.”

“Aku tidak datang dari Panawijen, aku datang dari Padang

Karautan.”

“Ya, begitulah maksudku.”

“Yang ada di padang itu hanyalah rumput-rumput kering dan

batu-batu padas bergumpal-gumpal.”

“Bohong,” sahut salah seorang prajurit yang bertugas di regol

halaman luar, “kau sangka aku tidak tahu, berapa pedati penuh

dengan beras dan jagung yang kalian bawa ke padang itu?”

“Tetapi aku tidak sempat membawa barang segumpal pun.

Sekarang beri aku makan.”

Para penjaga regol itu tertawa. Dibawanya kedua kawannya ke

gardu mereka.

“Aku masih mempunyai sebungkus meniran jagung.”

“Jadilah. Sementara itu sampaikan lewat pelayan dalam yang

bertugas, bahwa kami berdua ingin menghadap Akuwu Tunggul

Ametung. Kami membawa pesan dari Ken Arok yang memimpin

kami di Padang Karautan.”

“Telanlah makanan itu dahulu. Kalau tiba-tiba Akuwu

memanggilmu saat ini juga, kau tidak akan menghadap sambil

mengunyah meniran jagung.”

“Akuwu tidak akan menerima aku segera. Aku masih akan

sempat mandi dahulu.”

“Pantas.”

“Apa yang pantas?”

“Kalau kau memang bermaksud mandi dahulu, seharusnya kau

mandi sebelum makan.”

“Sama saja. Mandi lalu makan atau makan lalu mandi.”

Para prajurit itu pun tertawa. Mereka membiarkan kedua

kawannya makan sekenyang-kenyangnya. Sementara itu salah

seorang dari mereka pergi ke halaman dalam. Menyampaikan

permohonan kedua prajurit itu untuk menghadap lewat mereka

yang bertugas di dalam.

Ternyata dugaan kedua prajurit yang datang dari Padang

Karautan itu meleset. Ternyata, begitu Akuwu mendengar

permohonan itu, segera berkata, “Bawa mereka kemari.”

Prajurit yang sedang makan itu pun menjadi tergesa-gesa. Ketika

mereka menelan gumpalan meniran jagung yang terakhir, maka

mereka memerlukan hampir sekendi air untuk mendorong gumpalan

itu masuk ke dalam perut mereka.

Dengan tergesa-gesa mereka menyeka badan mereka yang

kotor, membenahi pakaian mereka, dan dengan tergesa-gesa pula

mereka berjalan masuk lewat pintu regol halaman dalam.

“Akuwu hampir tidak sabar menunggu kalian,” berkata prajurit

yang berada di regol halaman dalam.

“Aku baru makan,” sahut kedua prajurit itu sambil berjalan cepat.

Sejenak kemudian kedua prajurit itu telah duduk tumungkul di

hadapan Akuwu Tunggul Ametung di ruang belakang. Sekali-sekali

mereka menekan perut mereka yang terasa sakit di arah lambung

karena mereka baru saja makan kenyang-kenyang.

“Apakah kalian membawa pesan dari Ken Arok,” bertanya Akuwu

Tunggul Ametung.

“Hamba tuanku,” sahut kedua prajurit itu.

“Tentang bendungan dan taman?”

“Hamba tuanku, tetapi juga tentang yang lain.”

“Yang lain itulah yang pasti akan menarik perhatian. Tentang

bendungan dan taman, bukankah kau akan berkata bahwa

keduanya telah dikerjakan dengan lancar?”

“Hamba tuanku.”

“Nah, kalau begitu, tentang yang lain itulah yang aku ingin

mendengar. Coba katakan, tentang apa? Kekurangan makan?

Penyakit?”

“Tidak tuanku.”

“Kalau begitu tentang apa?”

“Tentang Kakanda Tuan Puteri Ken Dedes.”

“Mahisa Agni?”

“Ya.”

“Kenapa Mahisa Agni? Apakah Ken Dedes perlu mendengarnya

juga?”

“Hamba tuanku. Tetapi hamba tidak tahu, apakah Tuan Puteri

Ken Dedes dapat langsung mendengarnya dari mulutku.”

Tunggul Ametung mengerutkan alisnya. Terasa sesuatu yang

tidak wajar telah terjadi. Dan tiba-tiba ia teringat kepada

permintaan Ken Dedes beberapa saat yang lalu. Gadis itu

mengatakan bahwa kakaknya sedang terancam oleh kedua orang

yang mengerikan, Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Gadis itu

pernah berkata kepadanya dan minta perlindungan bagi kakaknya

dari kedua iblis dari Kemundungan itu.

Dengan demikian maka Akuwu Tunggul Ametung itu menjadi

berdebar-debar. Wajahnya yang keras tampak menjadi tegang.

Sedangkan kedua prajurit yang menghadapnya, duduk tumungkul

dalam-dalam.

Tetapi kedua prajurit itu terkejut dan hampir saja mereka

terlonjak ketika tiba-tiba Akuwu Tunggul Ametung membentaknya,

“Kenapa kalian diam saja he? Soal yang lain itu soal apa?”

“Oh,” sahut salah seorang dari kedua prajurit itu.

“Ampun tuanku. Maksud hamba, apakah hamba harus

menyampaikan sekarang, atau hamba masih harus menunggu Tuan

Puteri Ken Dedes.”

Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia

berpikir. Lalu katanya, “Katakan. Katakan sekarang.”

Sejenak kedua prajurit itu saling berpandangan. Namun sekali

lagi mereka terkejut ketika Akuwu itu berteriak, “Sekarang. Kau

dengar.”

“Ya, ya tuanku,” berkata prajurit itu. Meskipun ia sudah biasa

melihat sikap Tunggul Ametung, namun terasa tangannya masih

juga gemetar, “hamba mendapat pesan dari Kakang Ken Arok untuk

hamba persembahkan kepada Tuanku Akuwu Tunggul Ametung,

berita tentang kakanda Tuan Puteri Ken Dedes.”

“Sudah kau katakan. Sudah kau katakan,” potong Tunggul

Ametung, “tentang Mahisa Agni. Kenapa Mahisa Agni itu?”

Prajurit itu menggigit bibirnya. Namun kawannya cepat-cepat

menyambung, “Hamba tuanku. Sebenarnyalah memang soal

Kakanda Tuan Puteri yang sedang berada dalam bahaya.”

“Aku sudah mengerti. Kalau tidak demikian kalian tidak akan

datang kemari. Tetapi bahaya itu bahaya apa?”

“Tuanku,” sahut prajurit yang seorang, “Telah lama kakanda

Tuan Puteri Ken Dedes dibayangi oleh dua orang yang berbahaya

baginya, yang selama ini berusaha untuk menangkap Mahisa Agni.”

“Maksudmu Kebo Sindet dan Wong Sarimpat?”

Kedua prajurit itu saling berpandangan sejenak. Ternyata Akuwu

Tunggul Ametung telah mendengar nama itu.

“Benar?”

“Hamba tuanku,” hampir bersamaan kedua prajurit itu menyahut,

“Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.”

“Dan kini Mahisa Agni berhasil ditangkapnya?”

“Hamba tuanku.”

“Setan alas,” Akuwu Tunggul Ametung itu mengumpat keraskeras

sambil meloncat berdiri. Tangannya mengepal dan giginya

gemeretak. Sambil mengayun-ayunkan tangannya dekat sekali di

atas kepala kedua prajurit yang tunduk itu Akuwu Tunggul Ametung

berteriak, “Bukankah di Padang Karautan ada sepasukan prajurit

Tumapel di bawah pimpinan Ken Arok? Prajurit macam kalian ini?

Lalu apakah gunanya kalian berada di padang itu, he? Apakah kalian

tidur saja atau kalian berlari ketakutan hanya karena mendengar

nama Kebo Sindet dan Wong Sarimpat? O, alangkah malunya aku

mempunyai prajurit seperti kalian. Kalian yang hanya dapat makan

dan tidur, tetapi tidak berani menengadahkan dada di hadapan

Kebo Sindet dan Wong Sarimpat?”

Kedua prajurit itu tidak segera menjawab. Mereka telah mengerti

benar-benar sifat Akuwunya. Apabila mereka berani memotong

kata-kata itu, maka kepala mereka pasti akan disentuh oleh tinju

yang sedang terayun-ayun. Karena itu maka mereka membiarkan

saja Akuwu Tunggul Ametung itu berbicara terus.

Akhirnya Akuwu Tunggul Ametung itu terdiam juga.

“Ampun tuanku,” berkata seorang dari kedua prajurit itu setelah

Akuwu Tunggul Ametung terdiam diri, “yang terjadi itu benar-benar

di luar kemungkinan pertolongan kami.”

Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. “Kenapa?”

desisnya.

“Kebo Sindet berhasil menangkap Mahisa Agni tidak di Padang

Karautan, tetapi di Padepokan Panawijen.”

“Apakah Mahisa Agni berada di Padepokan Panawijen?”

“Hamba tuanku,” jawab prajurit itu.

“Bagaimana hal itu bisa terjadi?”

Maka prajurit itu pun kemudian menyampaikan pesan Ken Arok

dan Empu Gandring kepada Akuwu Tunggul Ametung. Dengan hatihati

dikatakannya peristiwa itu berurutan seperti yang mereka

dengar. Dikatakannya pula bahwa Wong Sarimpat kini telah

terbunuh, dalam perkelahian melawan Empu Sada, guru Kuda

Sempana yang ingin juga membebaskan Mahisa Agni.

Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia

kini telah duduk kembali. Dengan wajah yang tegang ia mencoba

membayangkan apa yang telah terjadi atas Mahisa Agni.

“Ah,” desahnya, “anak itu kurang hati-hati. Kenapa ia tidak

membawa beberapa orang prajurit bersamanya ketika ia pergi ke

Panawijen?”

Sekali lagi Akuwu berdiri dengan gelisahnya. Sambil berpaut

tangan di punggungnya, ia berjalan hilir mudik di dalam ruangan itu.

Kepalanya ditundukkannya, seolah-olah sedang memandangi ujungujung

kakinya berganti-ganti.

Tiba-tiba Akuwu itu berhenti, berputar menghadap ke arah kedua

prajurit itu. “Sst,” desisnya, “jangan terlampau keras. Nanti Ken

Dedes mendengarnya. Ia tidak boleh menjadi gelisah karenanya.

Aku sendirilah yang akan menyampaikan berita ini kepadanya

dengan hati-hati, supaya ia tidak menjadi bingung dan cemas.

Rencana yang sudah aku susun selama ini tidak boleh terganggu

karenanya.”

Kedua prajurit itu tersenyum di dalam hati. Bukankah Akuwu

Tunggul Ametung sendiri yang berteriak-teriak demikian kerasnya?

Tetapi kedua prajurit itu menjawab hampir bersamaan, “Hamba

tuanku.”

“Bagus. Para tetua Tumapel sudah sibuk menentukan hari

perkawinanku dengan gadis itu. Hilangnya Mahisa Agni jangan

menjadi sebab tertundanya perkawinan itu.”

Akuwu itu terdiam sejenak. Alisnya menjadi berkerut-merut. Dan

tiba-tiba ia berteriak, “He, aku akan menyiapkan pasukan segelar

sepapan. Mahisa Agni harus diketemukan segera. Witantra sendiri

harus memimpin pasukan itu.”

Kedua prajurit itu sama sekali tidak terkejut. Mereka sudah

menyangka bahwa Akuwu akan mengambil sikap itu dengan sertamerta.

Dan kedua prajurit itu mendengar Akuwu melanjutkan, “Ah,

tidak, tidak perlu segelar sepapan. Bukankah yang dihadapi

hanyalah seorang Kebo Sindet. Sebenarnya prajurit-prajurit yang

ada di Padang Karautan saja telah cukup untuk menangkapnya.

Apalagi di sana ada pula Empu Gandring.”

Kedua prajurit itu tidak segera menjawab. Mareka masih

menundukkan kepala mereka.

“He, kenapa kalian diam saja? Bagaimana pendapatmu?”

“Ampun tuanku,” sahut salah seorang dari mereka.

“Sebenarnya kami di Padang Karautan pun akan mampu

menangkapnya bersama kakang Ken Arok dan Empu Gandring

apabila persembunyiannya telah kami ketemukan.”

“Jadi persembunyian itu belum kalian temukan? Jadi bagaimana

katamu tadi? Bukankah kau berkata bahwa persembunyian Kebo

Sindet itu telah diketahui, diputari sebuah rawa-rawa yang

berlumpur?”

“Hamba tuanku. Maksud hamba, bahwa sebenarnya tuanku tidak

perlu menyiapkan sepasukan yang lain.”

“Tetapi bagaimana yang terjadi. Apakah kalian berbuat sesuatu

atas Mahisa Agni? Kalau kalian dapat mengatasi persoalan itu

sendiri, kalian tidak akan berlari-lari datang kemari melaporkan hal

itu kepadaku. Kalian pasti akan bertindak dahulu, baru setelah

semuanya selesai, kalian mempertanggungjawabkannya kepadaku.

Tetapi sekarang kalian berlari kepadaku mengadukan persoalan itu.

Nah, apa katamu?”

“Ampun tuanku,” jawab salah seorang prajurit itu, “hamba telah

menyampaikan pesan dari kakang Ken Arok dan Empu Gandring,

bahwa saat ini kekerasan tidak akan menguntungkan bagi Mahisa

Agni itu sendiri.”

Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Sambil

mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Ya, ya. Aku

mendengar. Tetapi apakah Mahisa Agni itu akan dibiarkan saja

dalam keadaannya. Sedangkan orang yang akan berusaha

membebaskannya itu akan dapat melakukan pekerjaannya berapa

bulan, berapa tahun lagi? Itu akan terlampau lama. Sebentar lagi

aku akan melangsungkan upacara kenegaraan. Apabila saat itu

Mahisa Agni masih belum diketemukan, maka aku menjadi cemas,

bahwa Ken Dedes akan terganggu perasaan dan kegembiraannya.”

Kedua prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun

salah seorang dari mereka mencoba berkata, “Tetapi tuanku,

apabila terjadi sesuatu yang lebih dahsyat pada Mabisa Agni itu,

maka Tuan Puteri akan menjadi lebih berduka.”

“Ya, ya. Kau benar.” Akuwu Tunggul Ametung itu berhenti

sejenak. Ia kini berdiri di muka kedua prajurit yang duduk

menunduk dalam-dalam, “peristiwa ini adalah peristiwa yang pahit

bagiku. Tetapi upacara kenegaraan dari perkawinan Akuwu Tumapel

tidak boleh tertunda. Sebagian dari persiapan telah dilakukan dan

para tetua Tumapel pun telah menentukan waktunya.”

Kedua prajurit itu tidak menyahut.

“Lalu bagaimana menurut pendapatmu?” bertanya Akuwu itu

tiba-tiba.

Kedua prajurit itu saling berpandangan. Mereka sama sekali tidak

mengerti bagaimana mereka menjawab pertanyaan itu.

Mereka mengangguk-anggukkan kepalanya ketika mereka

mendengar Akuwu itu berkata, “Ya, ya. Tidak seharusnya aku

bertanya mengenai hal-hal yang sulit kepada kalian. Nah, sekarang

kalian boleh beristirahat. Laporan kalian telah aku terima dan pesan

Empu Gandring dan Ken Arok dapat aku mengerti. Aku tidak akan

segera mempergunakan kekerasan. Tetapi aku perintahkan kepada

Ken Arok untuk berusaha menurut jalan yang sebaik-baiknya, agar

Mahisa Agni dapat segera diselamatkan. Dan, sesuai dengan

perintahku yang dahulu, taman yang sedang kalian kerjakan itu pun

harus segera selesai pula.”

“Hamba tuanku,” sembah kedua orang prajurit itu, “taman itu

telah kami kerjakan. Beberapa jenis pohon-pohonan yang akan

menjadi pelindung telah tumbuh subur.”

“Bagus. Bagus. Aku percaya kepada kalian dan Ken Arok.

Sekarang pergilah. Sore ini aku harus bertemu dengan Ken Dedes.

Ia tidak boleh terkejut. Aku akan mencoba mengatakan kepadanya.”

“Hamba tuanku, berkata salah seorang prajurit itu,

“perkenankanlah hamba mohon diri.”

“Pergilah. Kau harus segera kembali ke Padang Karautan. Kau

tidak perlu menghadap aku lagi kecuali apabila aku memanggil

kalian.”

“Hamba tuanku.”

“Kebutuhan kalian tidak pernah dilupakan. Kalau kalian

memerlukan orang-orang baru, maka segera aku akan

mengirimkan.”

“Kakang Ken Arok tidak berpesan demikian tuanku.”

“Baik. Pergilah. Taman itu tidak boleh terlambat.”

Kedua prajurit itu pun kemudian meninggalkan istana. Di

halaman luar mereka mengambil kuda-kuda mereka.

“Terima kasih atas makanan yang kalian berikan,” berkata

prajurit itu kepada penjaga.

“Kau tidak mandi dahulu?” bertanya salah seorang prajurit yang

berjaga-jaga di regol itu.

“Buat apa aku mandi sekarang. Aku sudah menghadap Akuwu

meskipun tubuhku seperti gadung yang dilumuri abu.”

“Lalu sekarang kau mau apa?”

“Kembali,” sahut kedua prajurit itu hampir bersamaan.

“Kembali ke Padang Karautan?”

“Oh, aku masih belum gila,” sahut salah seorang prajurit itu,

”kembali pulang. Menemui anak isteri. Mandi, makan yang baik tidak

tergesa-gesa dengan lauk yang lezat. Minum wedang jae, lalu tidur

nyenyak. Besuk aku baru kempali ke padang yang kering dan panas

itu.”

Sesaat kemudian prajurit-prajurit itu pun meninggalkan regol

istana, menyusur jalan-jalan kota, pulang ke rumah masing-masing.

Mereka mempergunakan malam untuk berkumpul di antara keluarga

mereka yang selama ini mereka tinggalkan, berjemur di siang hari,

dan berembun di malam hari di Padang Karautan.

Di istana, Akuwu Tunggul Ametung berjalan hilir-mudik dengan

gelisahnya di biliknya. Hilangnya Mahisa Agni akan dapat

mengganggu rencana perkawinan yang telah dipersiapkan oleh

orang-orang tua Istana Tumapel.

Sebenarnya, apabila Akuwu menghendaki, maka perubahan itu

tidak akan dapat dihalangi oleh siapa pun. Namun Akuwu sendiri

sama sekali tidak ingin perkawinannya tertunda. Karena itu, maka ia

harus mencari akal, supaya semua rencananya dapat berlangsung.

Tanpa sesadarnya maka Akuwu Tunggul Ametung itu telah

mengumpat di dalam hatinya. Mengumpati Kuda Sempana, Kebo

Sindet, Wong Sarimpat, dan orang-orang yang telah mereka peralat

untuk memancing Mahisa Agni.

“Tetapi ternyata Mahisa Agni itu terlampau bodoh,” desisnya, “ia

mau saja dituntun seperti seekor kerbau yang telah dicocok

hidungnya, masuk ke dalam perangkap. O, alangkah bodohnya.”

Dan tiba-tiba Akuwu Tunggul Ametung itu mengepalkan tangannya

dan ditinjunya telapak tangan kirinya sendiri kuat-kuat. “Bodoh,

bodoh,” desisnya pula, “bukan saja Mahisa Agni, tetapi Ken Arok

juga bodoh. Dan Empu Gandring itu juga bodoh. Mereka bertiga

bersama-sama masuk ke dalam perangkap yang telah dipasang oleh

Kebo Sindet. Hanya orang-orang sebodoh Mahisa Agni, Empu

Gandring, dan Ken Arok sajalah yang dapat dipancing seperti itu.”

Nafas Akuwu Tunggul Ametung itu menjadi semakin cepat

mengalir.

“Persetan. Persetan,” dan Akuwu Tunggul Ametung itu mencoba

merebahkan dirinya di atas pembaringannya. Tetapi sejenak

kemudian ia sudah berdiri lagi dan berjalan mondar-mandir.

Tiba-tiba ia tidak tahan lagi. Terdengar suaranya menggelegar

memanggil pelayan yang sedang berjaga-jaga di bawah tangga

serambi istana. “He, siapa yang berada di situ?”

Berhari-jari pelayan itu naik dan duduk di depan pintu bilik

Akuwu Tunggul Ametung.

Tetapi pelayan itu terkejut ketika ia mendengar Akuwu itu

berteriak lagi, “He, apakah pelayan-pelayan itu sudah tuli?”

Tanpa sesadarnya, maka dengan serta-merta pelayan itu

menyahut cukup keras. “Hamba tuanku. Hamba telah menghadap.”

Maka Akuwu Tunggul Ametunglah yang terkejut. Tidak disangkasangkanya

bahwa di belakang pintu itu sudah duduk seorang

pelayan yang menjawab panggilannya dengan keras pula.

“Apa,” teriak Akuwu itu tiba-tiba, “kau berani membentak aku?”

“Ampun, ampun tuanku,” pelayan itu tergagap. “Hamba tidak

sengaja. Hamba terkejut dan karena itu maka suara hamba menjadi

agak terlampau keras.”

“Masuklah,” suara Akuwu Tunggul Ametung pun menjadi rendah

dan lambat.

Pelahan-lahan pelayan itu mendorong pintu bilik Akuwu Tunggul

Ametung, kemudian duduk bersimpuh sambil menundukkan

kepalanya.

“Katakanlah kepada emban pemomong Ken Dedes, aku ingin

bertemu.”

Pelayan itu menyembah, katanya, “Hamba tuanku. Apakah Tuan

Puteri Ken Dedes harus menghadap?”

Akuwu Tunggul Ametung berpikir sejenak.

“Tidak,” katanya sambil menggelengkan kepalanya, “aku akan

datang kepadanya sebentar lagi.”

“Hamba tuanku,” sembah pelayan itu, yang kemudian

meninggalkan ruangan itu untuk menyampaikan pesan Akuwu

Tunggul Ametung kepada Ken Dedes.

Ketika pelita dan lampu-lampu di dalam Istana Tumapel sudah

mulai dinyalakan, serta para pelayan sudah selesai membenahi bilikbilik

dan ruangan-ruangan di dalam istana itu, maka Akuwu Tunggul

Ametung berjalan menyusur ruang dalam pergi ke bilik Ken Dedes.

Dengan hati yang gelisah Akuwu melangkah setapak demi setapak.

Direka-rekanya kalimat-kalimat yang akan disampaikannya kepada

Ken Dedes supaya berita tentang hilangnya Mahisa Agni bagi Ken

Dedes tidak mengejutkan dan seakan-akan hanya merupakan

sesuatu peristiwa kecil saja.

Debar di dada Akuwu Tunggul Ametung menjadi semakin cepat

ketika ia melihat Ken Dedes telah menunggunya di ruang tengah di

depan biliknya.

Dengan hormatnya gadis itu duduk bersimpuh di atas sehelai

tikar pandan yang dianyam berbunga-bunga. Di belakangnya duduk

emban tua pemomong-nya yang setia, yang hampir tidak pernah

terpisah dari padanya.

“Silakan tuanku,” Ken Dedes mempersilakan Akuwu yang masih

saja berdiri. Debar jantungnya hampir-hampir tidak dapat

disembunyikannya lagi.

Namun dicobanya untuk tetap tenang. Pelahan-lahan

diletakkannya tubuhnya di atas sebuah tempat duduk rendah

persegi empat yang terbuat dari kayu berukir. Namun sejenak

Akuwu itu sama sekali tidak mengucapkan kata-kata. Mulutnya

serasa menjadi berat, dan darahnya menjadi seolah-olah semakin

cepat mengalir.

Ken Dedes dan emban tua pemomong-nya merasa aneh melihat

sikap Akuwu Tunggul Ametung itu. Sikap yang tidak biasa dalam

hidupnya sehari-hari. Namun justru karena itu Ken Dedes menjadi

segan dan takut untuk bertanya lebih dahulu.

Baru sejenak kemudian, setelah jantung Akuwu Tunggul

Ametung menjadi agak tenang, ia berkata, “Ken Dedes,

kedatanganku ini sama sekali tidak membawa suatu persoalan yang

penting. Aku masih belum mengambil keputusan-keputusan baru.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Ia tidak segera tahu arah

pembicaraan Akuwu Tunggul Ametung yang tidak tentu ujung dan

pangkalnya itu.

Karena itu, maka untuk sejenak Ken Dedes masih saja berdiam

diri sambil menunggu Akuwu Tunggul Ametung menjelaskan

maksudnya. Tetapi Akuwu Tunggul Ametung itu pun kemudian

berdiam diri sambil duduk tepekur. Ia sedang mencari kata-kata

yang sebaik-baiknya untuk memberitahukan kepada Ken Dedes

tentang kakaknya yang hilang.

Dengan demikian maka ruangan itu menjadi sepi. Hanya desah

nafas mereka sajalah yang terdengar seolah-olah saling bersahutan.

Betapa debar jantung Ken Dedes menjadi semakin cepat, tetapi ia

tidak berani bertanya sesuatu kepada Akuwu, yang agaknya sedang

disaput oleh kekalutan pikiran.

Baru sejenak kemudian Akuwu itu berkata, “Ken Dedes. Aku

hanya ingin memberitahukan kepadamu, bahwa persiapan hari

perkawinan itu berjalan dengan lancar.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi terasa

bahwa bukan itu yang ingin dikatakan oleh Akuwu Tunggul

Ametung. Meskipun demikian ia menjawab, “Hamba tuanku.”

“Apakah kau bergembira karenanya?”

“Hamba tuanku. Tentu hamba bergembira karenanya.”

“Aku sudah menyangka,” gumam Akuwu seolah-olah kepada diri

sendiri.

Tetapi Akuwu itu sekali lagi terdiam. Dengan kaku ia duduk

menundukkan kepalanya. Ia masih belum juga menemukan katakata

yang dianggapnya baik untuk memberitahukan kepada Ken

Dedes tentang Mahisa Agni.

Dalam pada itu, Ken Dedes pun menjadi semakin tegang. Terasa

sesuatu yang baginya pasti cukup penting.

“Ken Dedes,” tiba-tiba Akuwu Tunggul Ametung berdesis, “hari

perkawinan itu sudah ditentukan oleh tetua Tumapel. Kira-kira

setengah bulan lagi akan dilakukan upacara kenegaraan. Aku sama

sekali tidak ingin saat-saat yang kita tunggu-tunggu itu terganggu

oleh apa pun juga. Bukankah begitu? Kau akan segera menjadi

seorang permaisuri, bukan sekadar calon permaisuri. Kedudukanmu

di dalam istana ini menjadi jelas. Tidak seperti sekarang. Kau masih

seorang bakal permaisuri yang tidak mempunyai kekuasaan

sepenuhnya. Para emban dan pelayan masih saja menganggapmu

orang asing di sini.”

Ken Dedes mengangguk hormat sambil menjawab, “Hamba

tuanku. Hamba akan berterima kasih sekali atas perhatian tuanku.

Tetapi sebenarnyalah bahwa para emban dan pelayan bersikap

sangat baik kepadaku.”

“Ya…, ya,” Akuwu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak

kemudian ia berkata, “Aku memang mengharap demikian, tetapi kau

akan menjadi lebih mantap berada di istana ini sebagai seorang

permaisuri. Seorang yang berhak sepenuhnya atas Istana Tumapel.

Dan tak seorang pun yang akan berani membantah perintahmu.

Sebab kekuasaanmu tidak ada bedanya dengan kekuasaanku sendiri

di dalam istana ini. Apakah kau dapat mengerti Ken Dedes?”

Ken Dedes menjadi heran mendengar pertanyaan itu. Hampirhampir

ia tidak dapat menahan perasaannya. Ia menjadi semakin

yakin bahwa ada sesuatu yang masih belum diucapkan oleh Akuwu

Tunggul Ametung. Tetapi ia tidak mempunyai cukup keberanian

untuk mendesaknya.

Akuwu Tunggul Ametung itu berkata pula dengan nada yang

datar, “Karena itu, semuanya harus berlangsung tepat pada

waktunya. Apa pun yang terjadi.” Tiba-tiba suaranya meninggi,

“Bukankah begitu Ken Dedes?”

Ken Dedes yang menjadi semakin gelisah menyahut, “Hamba

tuanku. Hamba menjunjung segala titah tuanku.”

Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Bagus, bagus Ken Dedes. Tetapi …,” kata-kata Akuwu Tunggul

Ametung terputus.

Namun dengan demikian Ken Dedes benar-benar tidak dapat

menahan diri lagi. Betapa ia dicekam oleh keseganan dan

ketakutan, namun terdorong juga pertanyaan dari mulutnya,

“Tuanku, apakah sebenarnya yang ingin tuanku katakan?”

“Hem,” Akuwu Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam.

Tiba-tiba ia berdiri dan berjalan hilir-mudik di ruangan itu. Sekalisekali

dipandanginya wajah Ken Dedes dan sekali-sekali wajah

embanpemomong -nya. Mula-mula ia ingin menyuruh emban itu

pergi, tetapi niat itu diurungkannya. Mungkin Ken Dedes

memerlukannya untuk menghiburnya apabila ia menjadi terkejut

karenanya.

Namun dalam pada itu, terasa dada Akuwu Tunggul Ametung

sendiri menjadi pepat. Ia ingin segera mengatakannya kepada Ken

Dedes, tetapi ia tidak segera menemukan cara yang baik.

Tetapi dalam pada itu, Ken Dedes telah mendesaknya lagi,

“Tuanku, apakah tuanku akan mengatakan sesuatu?”

“Ya, ya,” jawab Tunggul Ametung, “ada yang akan aku katakan

kepadamu.”

“Hamba telah bersedia menerima titah tuanku.”

“Baik, baik,” jawab Tunggul Ametung.

Tetapi Tunggul Ametung tidak segera mengatakan sesuatu.

Tunggul Ametung masih saja berjalan mondar-mandir sambil

mempermainkan jari-jari tangannya.

Demikianlah maka ruangan itu menjadi sepi tegang. Wajahwajah

mereka yang berada dalam ruangan itu menjadi tegang pula.

Bahkan dada Akuwu Tunggul Ametung serasa hampir meledak.

Kini, Ken Dedes menjadi yakin bahwa ada sesuatu yang penting

baginya. Karena Akuwu Tunggul Ametung tidak segera

mengatakannya, maka dicobanya untuk menyelusur setiap

persoalan yang ada padanya. Persoalan-persoalan tentang dirinya,

tentang hubungannya dengan Akuwu Tunggul Ametung, dan

tentang setiap orang yang ada di sekitarnya. Bahkan Ken Dedes itu

menyangka, bahwa ada orang-orang yang tidak menyukai

kehadirannya di dalam istana ini. Mungkin para emban dan mungkin

para pelayan. Sekilas teringatlah ia kepada seorang dukun tua, Nyai

Puroni. Apakah ada hubungannya dengan orang itu?

Namun tiba-tiba, seperti petir yang meledak di atas kepalanya, ia

mendengar suara Akuwu yang sendat, namun seakan-akan begitu

saja meloncat dari mulutnya. “Ken Dedes, soal itu adalah soal

Mahisa Agni.”

Justru sejenak Ken Dedes terbungkam. Segera ia

menghubungkan persoalan Mahisa Agni itu dengan kecemasan dan

ketakutan yang selama ini membayanginya. Padang Karautan yang

ganas dan orang-orang yang selalu mengancamnya.

Namun bukan saja Ken Dedes yang menjadi cemas dan gemetar.

Tetapi emban tua pemomong Ken Dedes itu pun menjadi gemetar

pula. Terasa dadanya bergolak dan seluruh tubuhnya menjadi

dingin. Hampir saja terloncat dari mulutnya, pertanyaan tentang

keadaan anak muda itu selanjutnya. Untunglah bahwa ia masih

mampu menguasai dirinya, sehingga betapapun juga ia masih tetap

berdiam diri.

Kesenyapan sekali lagi mencekam ruangan itu. Akuwu Tunggul

Ametung kini duduk mematung sedangkan Ken Dedes dan emban

pemomong-nya dengan gelisah dan cemas, menunggu apa yang

akan dikatakan oleh Akuwu itu lebih lanjut.

“Ken Dedes,” suara Akuwu itu kemudian memecah sepi meskipun

belum dapat disusunnya dengan baik, “tetapi jangan menjadi cemas

dan takut. Mahisa Agni adalah seorang anak muda yang tangguh

tanggon, sehingga ia pasti akan mampu menolong dirinya sendiri.

Apalagi apabila ada orang lain yang membantunya, maka ia pasti

akan segera melepaskan diri.”

Meskipun Akuwu Tunggul Ametung belum mengatakannya,

namun segera Ken Dedes dapat menangkap maksudnya. Karena itu

maka dengan gemetar Ken Dedes berkata, “Tuanku, apakah

maksud tuanku, bahwa kakang Mahisa Agni telah jatuh ke tangan

orang-orang yang selama ini memusuhinya?”

Akuwu Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia

ragu-ragu, tetapi kemudian ia menganggukkan kepalanya sambil

bergumam, “Benar, Ken Dedes.”

“O,” sekali lagi Ken Dedes terbungkam.

Wajahnya yang tegang menjadi semakin tegang. Dan tiba-tiba

saja terasa setitik air mengambang di matanya.

“Jadi,” katanya, “sekarang kakang Mahisa Agni tidak berada di

antara orang-orang Panawijen?”

Akuwu Tunggul Ametung menganggukkan kepalanya pula.

Jawabnya, “Ken Dedes. Ternyata orang-orang yang ingin

mencelakainya mempunyai seribu macam cara. Tetapi jangan takut,

di Padang Karautan terdapat sepasukan prajurit Tumapel. Empu

Gandring, paman kakakmu itu, ada di sana pula. Sebentar lagi

mereka pasti akan berhasil melepaskan Mahisa Agni dari tangan

para penjahat itu.”

“Tetapi ternyata para prajurit dan Empu Gandring tidak dapat

melindunginya.”

“Jangan takut. Empu Sada, Empu Purwa, Panji Bojong Santi akan

membantu melepaskannya. Aku akan minta kepada Witantra untuk

menghubungi gurunya itu,” berkata Akuwu tanpa

dipertimbangkannya dalam-dalam. “Seandainya mereka tidak

berhasil, maka aku sendiri akan mencarinya Tetapi …”

“Tetapi,” Ken Dedes mengulangi.

“Ken Dedes,” berkata Akuwu Tunggul Ametung, “hilangnya

Mahisa Agni jangan menjadi sebab terganggunya upacara yang

telah ditentukan oleh para tertua Tumapel.”

Dengan serta-merta Ken Dedes mengangkat wajahnya. Tetapi

wajah itu segera tunduk kembali. Namun betapa perasaan kecewa

menyala di dadanya. Dalam kekalutan perasaan itu ia masih juga

mendengar Akuwu Tunggul Ametung berkata tentang diri sendiri.

Tentang kepentingannya sendiri. Apakah ia akan dapat berbuat

seperti itu. Duduk bersanding dalam upacara kebesaran, dihadap

oleh para tetua, para pemimpin pemerintahan, para senopati, dan

kemudian dielu-elukan oleh rakyat Tumapel, sedangkan saat itu

nyawa kakaknya terancam? Meskipun Mahisa Agni bukan kakaknya

sendiri, tetapi keadaannya sama sekali tidak berbeda. Apalagi telah

beberapa kali Mahisa Agni langsung menyelamatkannya dari

bencana yang pada saat-saat itu selalu membayanginya. Bukankah

bahaya yang selalu mengikuti kemana Mahisa Agni pergi sekarang

ini adalah akibat dari keadaan pada waktu itu? Akibat dari nafsu

yang gila dari Kuda Sempana?

Terasa betapa dadanya menjadi pepat. Kekecewaan, kecemasan,

dan ketakutan bergulat di dalam dadanya. Ketika ia mencoba sekali

lagi mengangkat wajahnya memandangi Akuwu Tunggul Ametung,

maka dilihatnya Akuwu itu kini telah berdiri di muka pintu,

memandangi titik-titik di kejauhan. Seolah-olah belum pernah

dilihatnya ukiran pada tiang-tiang istana dan dinding-dinding

sentong-sentong-nya. Dalam sorot lampu yang kemerah-merahan,

wajah Akuwu yang tegang itu tampak membeku seperti sebuah

patung tembaga.

Dan, Ken Dedes pun telah dapat menyelesaikan sendiri kalimat

Akuwu Tunggul Ametung yang terputus, “Tetapi, hal itu akan aku

lakukan setelah upacara kebesaran.”

Tetapi waktu itu masih cukup lama. Hampir sebulan.

Apakah dalam waktu yang selama itu, tidak terjadi kemungkinankemungkinan

yang berbahaya bagi Mahisa Agni?

Dalam kekalutan perasaan, Ken Dedes mendengar Akuwu

Tunggul Ametung berkata, “Ken Dedes. Sebenarnya aku dapat

mengerahkan segenap pasukanku untuk mencari Mahisa Agni.

Tetapi Empu Gandring berpendapat lain. Hal itu akan dapat

membahayakan nasib Mahisa Agni sendiri.”

Tunggul Ametung berhenti sejenak. Kini ia berputar dan berjalan

mendekati Ken Dedes, “Ken Dedes. Kau tahu apakah maksud Kebo

Sindet mengambil Mahisa Agni? Orang itu sama sekali tidak

mempunyai persoalan dengan kakakmu. Ia mengambil Mahisa Agni

untuk memerasmu. Kebo Sindet pasti akan menukarkan Mahisa Agni

dengan harta benda yang akan disebutkannya kelak. Karena itu

jangan takut bahwa Mahisa Agni akan terbunuh. Ia pasti akan tetap

hidup. Kebo Sindet pasti sedang sibuk mencari jalan untuk dapat

menghubungimu. Mungkin ia akan mempergunakan Kuda Sempana

atau orang Kemundungan yang lain.”

Ken Dedes tidak menjawab. Terasa titik-titik air di matanya

menjadi semakin deras. Betapa ia mencoba menahannya, namun

terasa beberapa tetes jatuh di tangannya yang gemetar.

“Kau dapat mengulur waktu. Kalau permintaannya tidak

terlampau gila, maka kita akan segera dapat memenuhi tanpa

banyak persoalan. Tetapi kalau perlu, pasukanku siap untuk

berbuat.”

Terasa dada Ken Dedes menjadi semakin tergetar. Ia dapat

mengerti dengan sebaik-baiknya maksud Akuwu Tunggul Ametung,

meskipun cara mengatakannya tidak berurutan dan kurang teratur

karena jantung Akuwu Tunggul Ametung sendiri berdentangan tidak

henti-hentinya.

Ken Dedes tahu benar, bahwa ia harus mengulur waktu supaya

Mahisa Agni selamat sampai upacara perkawinannya selesai.

Sesudah itu barulah dipikirkan, cara untuk membebaskannya. Tetapi

Akuwu Tunggul Ametung tidak memikirkannya, bagaimanakah

akibatnya apabila Kebo Sindet berbuat sesuatu sebelum waktu itu

tiba. Kebo Sindet tidak mau menunggu sampai hari perkawinan itu

selesai. Bahkan seandainya Kebo Sindet dapat dipaksanya untuk

membiarkan persoalan itu sampai sesudah upacara perkawinannya,

maka apakah ia dapat duduk bersanding sebagai seorang mempelai

yang paling terhormat di seluruh Tumapel, sedangkan kakaknya,

Mahisa Agni, berada di ujung maut?”

Dalam keheningan itu, yang terdengar hanyalah desah nafas Ken

Dedes yang semakin cepat. Ketika ia berpaling, dilihatnya emban

pemomong-nya duduk seperti sebuah patung yang beku. Tetapi

yang kemudian dengan tergesa-gesa menyeka matanya yang basah.

“Emban itu menangis juga,” desis Ken Dedes di dalam hatinya,

“ia pun pasti merasa iba. Ia mengenal Mahisa Agni sejak kanakkanak.

Karena itu, maka ia pun pasti merasa kehilangan.”

Namun Ken Dedes tidak berani terlampau banyak berbuat.

Akuwu Tunggul Ametung mempunyai kekuasaan yang tidak terbatas

di Tumapel.

Meskipun demikian, diberanikan dirinya untuk sekadar bertanya,

“Tuanku. Bagaimanakah seandainya terjadi sesuatu atas kakang

Mahisa Agni sebelum perkawinan dan upacara kenegaraan itu

berlangsung?”

“Tidak. Tidak akan terjadi,” sahut Tunggul Ametung.

“Tetapi apakah aku akan menjadi seorang mempelai tanpa

seorang anggota keluargaku yang masih tersisa menunggui aku?”

Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Tetapi

kemudian ia menggeleng, “Itu tidak penting Ken Dedes. Kau akan

menjadi seorang permaisuri. Tak ada persoalan yang dapat

mengganggu-gugat kedudukanmu. Aku memegang seluruh

kekuasaan di Tumapel.”

“Hamba tuanku, namun perasaan hamba selalu terganggu,

sehingga hamba tidak merasa tenteram.”

“Lupakan semuanya. Hari-harimu sendiri lebih penting dari

segalanya.”

Dada Ken Dedes berdesir. Sekali lagi Akuwu berpikir tentang

dirinya sendiri tanpa mengingat keadaan orang lain.

“Tuanku,” Ken Dedes kini mencoba untuk mencari jalan lain

untuk menyelamatkan Mahisa Agni, ”tak ada orang lain tempat

hamba mengadu kecuali kepada tuanku Akuwu Tunggul Ametung.

Kepada tuanku pula hamba mohon perlindungan atas kakakku itu,

seperti yang pernah hamba katakan sebelumnya. Karena itu tuanku,

apakah tuanku tidak dapat mengusahakan agar kakang Mahisa Agni

dapat terlepas dari tangan orang-orang yang memusuhinya itu

sebelum hari perkawinan itu tiba?”

Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Jawabnya,

“Aku pasti akan berusaha. Tetapi aku tidak tahu apakah usahaku itu

berhasil. Aku telah memerintahkan kepada para prajurit di Padang

Karautan, supaya mereka berusaha secepatanya membebaskan

Mahisa Agni. Tetapi Empu Gandring menolak kekerasan.” Lalu nada

suara Akuwu itu merendah, “Dan aku belum menemukan cara lain

yang sebaik-baiknya.”

“Bagaimanakah kalau kakang Mahisa Agni itu tidak dapat

dibebaskan, tuanku?”

“Ken Dedes, aku sudah mengatakan,” berkata Akuwu kemudian,

“pikirkan dirimu lebih dahulu. Perkawinan di antara kita adalah

persoalan seluruh tanah Tumapel. Kau harus dapat menilai

persoalan ini menurut pertimbangan yang wajar. Sedangkan Mahisa

Agni bukanlah persoalan Tumapel. Karena itu, maka persoalan yang

besar tidak akan dapat diganggu oleh persoalan-persoalan yang

kecil, yang tidak mempengaruhi keadaan Tumapel keseluruhan.”

Betapa kecewa Ken Dedes mendengar jawaban itu. Tanpa

sesadarnya maka air matanya menjadi semakin deras mengalir. Ia

tidak dapat mengesampingkan begitu saja satu-satunya sisa

keluarganya, Mahisa Agni. Betapa kebahagiaan dan keluhuran yang

akan diterima karena perkawinan itu, namun Mahisa Agni adalah

seorang yang cukup penting di dalam hidupnya.

Dalam pada itu, Akuwu yang gelisah menjadi semakin gelisah. Ia

memang sudah menyangka bahwa Ken Dedes akan bersedih

karenanya. Tetapi baginya, tidaklah sewajarnya bahwa upacara

kenegaraan itu akan terganggu karena hilangnya Mahisa Agni.

Karena itu, ketika ia melihat Ken Dedes menangis, maka ia berkata

pula, “Ken Dedes, aku minta kau mengerti. Aku tidak memperkecil

arti Mahisa Agni bagi hidupmu, tetapi kau pun harus tidak

memperkecil arti upacara kenegaraan yang telah menjadi keputusan

Akuwu Tunggul Ametung atas nasihat dan saran para tetua di

Tumapel.”

Kini, harapan Ken Dedes menjadi kian tipis. Akuwu Tunggul

Ametung tidak dapat mencurahkan perhatiannya kepada Mahisa

Agni. Seandainya Mahisa Agni itu tidak segera diketemukan, bahkan

apabila bencana yang sebenarnya menimpanya, maka tak ada

harapan bagi Ken Dedes untuk menunda hari perkawinan yang

sudah ditentukan itu. Namun ia tidak berani untuk bertanya dan

menyatakan pendapatnya terlampau banyak. Ia tahu benar bahwa

Akuwu Tunggul Ametung adalah seorang yang memegang segenap

kekuasaan di Tumapel. Apabila Akuwu itu merasa dirinya terganggu,

maka ia pasti akan mempergunakan kekuasaan untuk memaksanya.

Itulah sebabnya maka Ken Dedes merasa bahwa tak ada gunanya

untuk merengek-rengek lebih lanjut. Sehingga dengan demikian

maka gadis itupun kini duduk temungkul dalam-dalam. Dicobanya

untuk menahan air matanya sekuat-kuat tenaganya.

“Bagaimana Ken Dedes?” bertanya Akuwu Tunggul Ametung.

“Apakah kau dapat mengerti?”

Tak ada jawaban lain yang dapat diucapkan kecuali, “Hamba

tuanku, hamba mengerti.”

Mendengar jawaban Ken Dedes itu, Akuwu Tunggul Ametung

mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ia menyadari bahwa

Ken Dedes tidak berkata dengan segenap hatinya, tetapi ia

mengharap bahwa lambat-laun gadis akan dapat mengerti

sepenuhnya. Karena itu maka Akuwu Tunggul Ametung itu pun

menganggap bahwa tidak ada gunanya lagi untuk berbicara lebih

lama. Ia akan memberi kesempatan kepada Ken Dedes untuk

mempertimbangkannya sendiri dan mengerti maksudnya.

Maka sejenak kemudian Akuwu itu pun berkata “Ken Dedes,

timbangkanlah baik-baik. Tetapi jangan kau sangka bahwa aku

hanya akan berdiam diri selama ini. Seandainya ada jalan bagiku

untuk membebaskannya dalam waktu yang pendek, itu akan aku

lakukan. Namun apabila aku gagal, maka kau sudah dapat mengatur

perasaanmu dan tidak terlampau banyak terpengaruh olehnya.”

Sekali lagi Ken Dedes menyembah sambil menjawab, “Hamba

tuanku.”

Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,

“Baiklah, aku akan kembali ke bilikku. Pikirkanlah baik-baik. Jangan

terlampau terbenam di dalam perasaan.”

“Hamba tuanku.”

Kemudian kepada emban tua yang duduk di belakang Ken Dedes,

Akuwu Tunggul Ametung berkata, “Emban, kau sudah cukup

mampu untuk mengendapkan perasaanmu. Meskipun kau agaknya

bersedih juga atas hilangnya Mahisa Agni, tetapi aku harap kau

dapat menenangkan hati momongan-mu.”

Emban tua itu menyembah sambil membungkuk dalam-dalam.

“Hamba tuanku. Akan hamba lakukan titah tuanku.”

“Baiklah,” gumam Akuwu Tunggul Ametung meskipun ia tidak

yakin bahwa hal itu akan terjadi sebaik-baiknya, “beristirahatlah.

Aku akan kembali ke bilikku. Kau akan menghadapi saat-saat yang

berat sebelum menghadapi perkawinan. Tiga orang dukun

pengantin akan merawatmu menjelang perkawinanmu.”

Tak ada lain yang diucapkan oleh Ken Dedes, katanya, “Hamba

tuanku. Hamba selalu menjunjung titah tuanku.”

Sejenak kemudian maka Akuwu Tunggul Ametung meninggalkan

ruangan itu. Sekali ia berpaling, namun kemudian ia pun hilang di

balik pintu.

Begitu Akuwu Tunggul Ametung tidak tampak lagi di mata Ken

Dedes, maka tiba-tiba gadis itu memutar tubuhnya, dan dengan

serta-merta dipeluknya emban tua pemomong-nya. Betapapun ia

mencoba menahan diri, tetapi air matanya tercurah tanpa dapat

dibendungnya. Dibenamkannya kepalanya di dalam emban tua itu,

seperti pada masa kanak-kanaknya. Terdengar di sela-sela isaknya

ia berkata, “Bibi, bagaimanakah dengan kakang Mahisa Agni?”

Kini, emban tualah yang harus berjuang melawan perasaannya

sendiri. Betapa dadanya seperti terbelah oleh kecemasan dan

kegelisahan atas hilangnya Mahisa Agni, tetapi ia harus tabah dan

mampu menahan dirinya. Ia harus menghibur momongan-nya

supaya gadis itu tidak menjadi semakin dalam tenggelam dalam

duka. Sudah tentu emban tua itu tidak dapat berkata kepada Ken

Dedes, bahwa ia sendiri sedang bersusah hati, sebab Mahisa Agni

adalah anaknya. Satu-satunya anaknya.

emban itu menggeleng lemah. Sekuat tenaga ia berjuang untuk

tidak hanyut dalam arus perasaannya. Meskipun demikian setetessetetes

air matanya jatuh membasahi rambut Ken Dedes yang hitam

lebat. Namun emban tua itu berusaha untuk berkata, “Sudahlah

nini. Jangan terlampau bersedih. Aku tahu, bahwa kau merasa

kehilangan. Angger Mahisa Agni adalah tidak ubahnya seperti kakak

kandungmu sendiri, pengganti orang tuamu. Tetapi dengan

demikian kau akan kehilangan gairah menyambut hari-harimu yang

cerah.”

“Apakah artinya kebahagiaan yang semu ini bibi,” jawab Ken

Dedes tiba-tiba.

emban tua itu mengerutkan keningnya. Pelahan-lahan ia berkata,

“Tidak nini. Kebahagiaan yang sudah berada di ambang pintu

adalah suatu kenyataan. Bukan sekadar semu. Apabila kau dapat

menghayatinya, maka kau akan merasakannya sebagai suatu kurnia

tiada taranya. Kau harus lebih banyak mempergunakan

pertimbangan nalar daripada tekanan perasaan.”

“Bibi, apakah aku dapat berbuat demikian? Berpikir tentang diriku

sendiri, sedangkan kakang Mahisa Agni yang selama ini selalu

melindungi aku berada dalam bahaya?”

emban tua itu mengerutkan keningnya. Kata-kata Ken Dedes itu

langsung menyentuh perasaan sendiri. Mahisa Agni berada di dalam

bahaya.

Namun dari sela-sela bibir yang tipis, terdengar kata-katanya

bergetar, “Nini, serahkanlah semuanya kepada Yang Maha Agung.

DaripadaNya dunia ini terbentang. Maka kepadaNya pula kita

menyerahkan nasib. Kita hanya dapat berusaha, tetapi yang terakhir

adalah kehendakNyalah yang terjadi.”

Kata-kata emban tua itu menjadi semakin lirih. Sebenarnyalah

kata-kata itu lebih banyak ditujukan kepada diri sendiri daripada

kepada orang lain.

Tetapi Ken Dedes mendengar pula kata-kata itu. Ternyata katakata

itu dapat memberinya sekadar ketenteraman. Sedikit demi

sedikit tangisnya mereda.

“Marilah nini,” berkata emban tua itu, “masuklah ke dalam

bilikmu. Mungkin seorang emban atau pelayan atau juru panebah

akan lewat di ruangan ini. Mereka akan melihat kau menangis dan

mereka akan bertanya-tanya di dalam hati, apakah kiranya yang

telah terjadi.”

Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Kemudian ia pun berdiri.

Dibimbing oleh emban pemomong -nya, Ken Dedes melangkah

masuk ke dalam biliknya, langsung merebahkan diri di

pembaringannya.

Sejenak emban tua pemomong -nya duduk di samping

pembaringannya sambil mengucapkan kata-kata yang dapat

membesarkan hati momongan-nya. Ketika hati gadis itu sudah

menjadi agak lilih, maka ditinggalkannya Ken Dedes seorang diri.

Dengan tergesa-gesa emban itu pergi ke biliknya sendiri. Ternyata

ia tidak dapat lebih lama menahan desakan kepahitan yang

tersimpan di dalam dadanya.

Ketika emban tua itu memasuki biliknya sendiri, maka masih

dicobanya untuk bertahan. Untuk tidak tenggelam dalam genangan

duka. Tetapi ia tidak berhasil. Dadanya yang selama ini selalu

mencoba bertahan atas segala macam keadaan, maka kini seolaholah

meledak dengan dahsyatnya.

Emban tua itupun menelungkup di pembaringannya. Air matanya

lepas seperti bendungan pecah.

“Anakku,” desisnya.

Emban tua ini menangisi satu-satunya anaknya. Anak yang hilang

pada masa kecilnya dibawa oleh ayahnya tanpa setahunya. Dengan

segala macam cara ia berhasil menemukan anak itu kembali. Tetapi

ia tidak dapat menyatakan dirinya sebagai seorang ibu. Meskipun

demikian ia berhasil menunggui anaknya setiap hari. Betapa ia

berbangga hati ketika ia melihat anaknya tumbuh subur seperti

sebatang pohon beringin di tengah-tengah Padukuhan Panawijen.

Ternyata anaknya, seperti juga gurunya, mampu memberi

pangayoman kepada orang-orang di sekelilingnya, kepada

Padukuhan Panawijen.

Tetapi anak itu kini hilang lagi. Hilang dalam kabut yang kelam.

Tak seorang pun yang mengetahui, apakah yang berada di balik

kabut hitam itu, seolah-olah kabut itu sendiri merupakan rahasia

yang penuh menyimpan bahaya.

Dengan sekuat tenaga ia bertahan di hadapan Ken Dedes,

bahkan ia dapat menghibur hati gadis yang duka itu. Tetapi ia tidak

mampu menghibur dirinya sendiri. Ia dapat menerima segala

pengaduan gadis itu, sehingga hati Ken Dedes menjadi agak lapang.

Dan emban tua itu dapat memberinya ketenteraman.

Tetapi emban tua itu tidak mempunyai tempat untuk

menumpahkan himpitan perasaan. Ia tidak mempunyai kawan untuk

membagi duka. Tak seorang pun yang dapat diajaknya berbicara

tentang anaknya yang hilang. Tentang anaknya yang ditangkap oleh

seorang yang mengerikan, iblis dari Kemundungan.

Dengan demikian ia harus menelan kepahitan itu seorang diri.

Menanggungnya sendiri dan menahankannya seorang diri pula.

Sementara itu, malam pun menjadi semakin malam. Di kejauhan

terdengar suara cengkerik berderik-derik di antara gemersik daundaun

kering yang terbang oleh sentuhan angin malam yang basah.

Dingin malam merayap menembus dinding-dinding kayu Istana

Tumapel, menyentuh kulit.

Tetapi emban tua itu tidak juga dapat memejamkan matanya

yang masih saja dibasahi air mata. Bahkan masih juga terdengar

isak-tangisnya tertahan-tahan.

Tetapi ternyata bukan emban tua itu saja yang malam itu tidak

dapat tidur. Ken Dedes malam itu sama sekali juga tidak dapat

tidur. Bahkan Akuwu Tunggul Ametung pun selalu dibayangi oleh

kegelisahan. Meskipun Ken Dedes tidak menyangkal tentang saatsaat

perkawinan yang sudah ditentukan, tetapi agaknya bukan

karena ia menerima hal itu dengan ikhlas. Agaknya Ken Dedes

hanya menuruti kemauannya karena takut. Meskipun demikian,

Akuwu tetap pada keinginannya. Upacara itu tidak dapat tertunda.

Mungkin Ken Dedes akan bersedih untuk beberapa lama. Tetapi

apabila kelak Mahisa Agni telah dapat dibebaskan, maka kesedhihan

itu pun akan berangsur hilang.

“Tetapi bagaimana kalau Mahisa Agni itu terbunuh?” tiba-tiba

tumbuh pertanyaan di dalam hatinya, “apakah ia tidak akan

menyesal sepanjang hidupnya?”

Akuwu menggigit bibirnya. Tiba-tiba ia bangkit dari

pembaringannya dan berjalan mondar-mandir di dalam biliknya.

“Tetapi aku tidak sempat memikirnya sekarang,” desisnya,

“semua orang sudah sibuk dengan persiapan hari perkawinan itu.”

Akhirnya Akuwu mencoba menenangkan dirinya sendiri. Betapa

ia kesal atas peristiwa-peristiwa yang sebenarnya tidak bersangkutpaut

langsung dengan kepentingannya, tetapi akan dapat

mengganggunya.

“Soal itu adalah soal kecil bagi seorang Akuwu Tumapel,”

gumamnya, “kalau aku harus mengurusi rakyatku seorang demi

seorang maka aku akan mati kelelahan dan kebingungan. Mahisa

Agni memang harus mendapat perlindungan. Tetapi jangan

memecahkan otakku.”

Namun kemudian ia berdesis, “Tetapi Mahisa Agni mempunyai

kekhususan. Ia langsung berhubungan dengan bakal permaisuriku.”

Akuwu Tunggul Ametung terhenyak di pembaringannya. Ia sekali

lagi mencoba berbaring dan memejamkan matanya. Tetapi ia tidak

segera dapat tertidur.

Di Lulumbang, Empu Gandring pun tidak juga dapat tidur

Meskipun ia sudah berada di tengah-tengah keluarganya, namun ia

masih belum dapat melupakan kemenakannya. Empu Gandring

sendiri mempunyai beberapa ikatan yang tidak dapat selalu

ditinggalkannya. Ia harus mengerjakan pekerjaan sebagai seorang

empu keris. Ia harus mengurusi padepokannya dan beberapa orang

cantriknya. Karena itu maka ia tidak dapat meninggalkan

padepokannya terlampau lama. Namun untuk melupakan Mahisa

Agni, agaknya terlampau sulit baginya. Karena itulah maka ia selalu

saja merasa gelisah. Setiap ia berbaring dan memejamkan matanya,

maka wajah kemenakannya itu justru terbayang terlampau jelas.

Wajah yang pucat-pasi. Wajah yang diam dan beku.

“Kasihan,” desisnya, “mudah-mudahan usaha untuk

membebaskannya itu berhasil. Ia pasti akan lebih daripada aku

sendiri. Menurut keterangannya, maka rawa-rawa itu sudah

dikenalnya dengan baik.”

Ternyata Mahisa Agni malam itu telah menimbulkan kegelisahan

di mana-mana. Ken Dedes, emban tua pemomong -nya, Akuwu

Tunggul Ametung, Empu Gandring, dan Ken Arok yang berdiri

tegang di Padang Karautan. Sambil menatap bintang yang

bergayutan di langit, ia menghirup udara malam yang dingin. Tetapi

ia tidak ingin segera masuk ke dalam kemahnya. Terasa udara di

dalam gubugnya terlampau panas. Seperti hatinya yang terbakar

oleh kekecewaan. Kenapa ia tidak mampu berbuat apa-apa dengan

pasukannya itu untuk melindungi Mahisa Agni? Ia menyesal bahwa

ketika Mahisa Agni pergi ke Panawijen, ia tidak berkeras untuk

membawa beberapa orang prajurit bersamanya. Tetapi semua itu

sudah telanjur. Semua sudah terjadi.

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Udara malam yang dingin

menyentuh seluruh isi dadanya yang gelisah. Sedangkan di

hadapannya terbentang kewajiban yang tidak dapat diabaikan.

Bendungan yang ditinggalkan oleh Mahisa Agni, susukan induk,

parit-parit, sawah, dan pategalan yang baru mulai ditanami dengan

pohon-pohon pelindung dan pohon buah-buahan, kemudian yang

tidak kalah pentingnya bagi Ken Arok sendiri adalah taman yang

pada saatnya harus dipersembahkan kepada Akuwu Tunggul

Ametung. Taman yang kelak akan dihadiahkan kepada

permaisurinya, Ken Dedes.

“Hari perkawinan itu menjadi semakin dekat,” desis Ken Arok.

“Sebelum enam bulan dari hari perkawinan itu, taman itu harus

sudah siap. Harus sudah berwujud.”

Ken Arok menggigit bibirnya. Ia akan banyak kehilangan waktu

apabila ia tenggelam dalam persoalan Mahisa Agni saja. Karena itu

maka kedua-duanya harus mendapat perhatiannya.

“Aku harus bekerja siang dan malam. Kalau tidak, maka

semuanya tidak akan selesai dalam waktu enam bulan lagi. Tapi

apakah orang-orang Panawijen mampu bekerja secara demikian?

Aku yakin bahwa prajurit Tumapel akan dapat melakukannya.

Sebaiknya aku minta beberapa orang baru dengan perbekalan dan

peralatan baru. Mudah-mudahan enam bulan lagi pohon-pohon

yang sudah mulai tumbuh itu sudah menjadi cukup rimbun,

pategalan sudah mulai tampak hijau, dan tanah-tanah yang akan

disiapkan menjadi tanah persawahan sudah dapat mulai digenangi

air.”

Ken Arok itu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berdesis,

“Orang-orang baru itu akan dapat melakukannya di dalam hari

bergiliran. Dengan demikian waktu yang singkat ini seolah-olah akan

menjadi berlipat.”

Terasa dada Ken Arok menjadi agak lapang dengan

keputusannya itu. Ia mengharap tidak mengecewakan Akuwu

Tunggul Ametung. Ia tidak ingin mengundur waktu yang sudah

ditetapkan. Enam bulan sesudah hari perkawinan, Akuwu akan

membawa permaisurinya ke taman yang sedang dibuatnya itu.

“Mudah-mudahan daerah ini telah menjadi daerah yang hijau,”

desisnya kemudian.

Tetapi angan-angan Ken Arok itu tiba-tiba menjadi terganggu. Ia

melihat bayangan tiga sosok tubuh mendekatinya. Ia segera

mengenal, bahwa dua orang di antara mereka pasti para pengawal

yang bertugas berjaga-jaga malam ini. Tetapi siapakah yang

seorang?

Ken Arok masih berdiri di tempatnya, di sisi gubugnya.

Dibiarkannya orang-orang itu menjadi semakin dekat.

Ketika jarak mereka menjadi semakin pendek, maka bertanyalah

Ken Arok itu, “Siapa?”

“Kami para peronda,” sahut salah seorang dari mereka.

“Ya, aku mengenal kau berdua, tetapi yang seorang?”

“Seorang tamu.”

“Tamu? Siapakah yang dicarinya? Aku?”

“Ya.”

Ken Arok menjadi berdebar-debar sejenak. Tetapi kemudian ia

terperanjat ketika ia mendengar orang itu berkata, “Aku Ken Arok.

Apakah kau sudah lupa kepadaku. Kepada ayahmu?”

Terasa darah Ken Arok menjadi semakin cepat mengalir. Ia

mengenal suara itu. Suara yang telah lama tidak didengarnya,

namun yang kini tiba-tiba telah menyentuh telinganya.

Tanpa sesadarnya ia berdesis, “Ayah, Bango Samparan.”

Orang itu tertawa, “Ha, kau masih mengenal aku dengan baik.

Ya, aku ayahmu, Bango Samparan.”

Wajah Ken Arok tiba-tiba menjadi tegang. Ia tidak menyangka

sama sekali, bahwa ia akan bertemu dengan ayah angkatnya di

saat-saat seperti ini. Namun lebih daripada itu, ada perasaan ganjil

yang melonjak-lonjak di dalam dadanya. Sebenarnya lebih baik

baginya apabila ia tidak pernah lagi bertemu dengan orang itu,

dengan Bango Samparan. Tetapi orang itu telah berdiri di

hadapannya, dan ia tidak lagi dapat menolak.

“Aku senang sekali dapat menemuimu di sini, Ken Arok,” berkata

Bango Samparan.

“Ya ayah,” begitu saja meluncur jawaban dari mulut Ken Arok.

Kini ketiga orang itu telah berdiri benar-benar di hadapannya. Ia

melihat kedua peronda dan Bango Samparan berhenti sejenak.

Namun kemudian ayah angkatnya itu melangkah maju, mendekap

pundaknya, dan berkata, “Kau gagah benar anakku. Aku tidak

menyangka bahwa kau akan menjadi seorang pelayan dalam yang

baik. Bahkan seorang prajurit yang mumpuni.”

“Terima kasih ayah,” sahut Ken Arok,

“Lama sekali aku mencari. Hampir seluruh negeri aku jelajahi.

Tetapi aku baru menemukan di sini, setelah namamu dikenal oleh

hampir setiap orang. Sebelum ini, Ken Arok, aku sudah menyangka

bahwa kau tinggal di Padang Karautan ini pula. Tetapi tidak sebagai

seorang prajurit? Benarkah begitu? Apakah benar bahwa yang

ditakuti . . . .”

“Ayah,” potong Ken Arok tiba-tiba, “marilah, aku persilakan ayah

masuk ke dalam gubugku.” Kemudian kepada kedua peronda yang

mengantar Bango Samparan itu, Ken Arok berkata, “Tinggalkanlah

tamuku di sini.”

Kedua peronda itu pun kemudian pergi meninggalkan Bango

Samparan yang segera dibawa masuk ke dalam gubug Ken Arok.

Mereka duduk di atas tikar pandan kasar yang dibentangkan di

atas setumpuk rumput-rumput kering.

“Aku gembira sekali dapat menemukan kau kembali, Ken Arok.”

“Ya ayah,” jawab Kon Arok, ”aku juga gembira bertemu ayah

kembali.”

Terdengar Bango Samparan tertawa. Suaranya menggelegar di

kesunyian padang, sehingga beberapa orang yang sedang tertidur di

gubug-gubug sebelah terbangun karenanya.

“Eh, apakah dugaanku benar, bahwa kau yang pernah

menghantui Padang Karautan ini dahulu?”

“Ah,” desah Ken Arok, “mungkin ayah salah. Tetapi seandainya

benar, karena aku pernah juga berada di sini, sebaiknya semuanya

itu sudah harus dilupakan.”

Sekali lagi Bango Samparan tertawa sehingga tubuhnya

terguncang-guncang. Beberapa kali ia menyeka air matanya yang

meleleh di pipinya yang gembung.

“Kenapa Ken Arok?” ia bertanya, “Kenapa hal itu harus

dilupakan.”

“Sebuah kenangan yang menyakitkan hati,” jawab Ken Arok.

“Tidak. Kau tidak boleh melupakan semuanya. Kau harus tetap

mengingat dan mengenang semua yang pernah kau alami. Dengan

demikian kau akan mendapat kebanggaan diri. Ken Arok, anak

Gajah Para dan Ken Endog, yang dipelihara oleh seorang pencuri

yang bernama Lembong, yang kemudian menjadi anak angkat dari

seorang penjudi besar bernama Bango Samparan.”

“Sudah ayah, sudah,” potong Ken Arok.

“He, jangan memotong kata-kataku. Aku sedang membangkitkan

kenanganmu atas dirimu supaya kau tahu apa yang harus kau

lakukan. Nah, dengarlah anak Pangkur, bahwa kau ternyata memiliki

nasib yang baik sekali. Seorang anak yang lahir di padesan yang

kecil, kini menjadi seorang pelayan dalam yang dekat dengan

seorang Akuwu.”

“Ya, ya ayah. Aku berterima kasih kepada Yang Maha Agung,

bahwa aku mendapat nasib yang baik.”

“Apakah kau puas dengan keadaanmu sekarang?”

“Tentu ayah. Aku puas sekali dengan keadaanku sekarang.

Seperti ayah katakan bahwa aku adalah seorang anak yang

terbuang di masa kecilku. Aku tidak pernah mengetahui siapakah

ayahku, karena ayah meninggal di masa aku belum dilahirkan.”

“Belum cukup. Harus kau lanjutkan, yang ketika masih bayi

dibuang di kuburan. Ditemukan oleh seorang pencuri ulung yang

bernama Lembong. Dipelihara, tetapi kemudian menghancurkan

hidup mereka karena kau menghilangkan beberapa ekor lembu milik

Buyut ing Lebak. Lembong suami-isteri harus mengganti. Karena

kekayaannya tidak cukup, maka mereka berdua harus melunasinya

dengan menggadaikan diri mereka.”

“Ayah benar. Ayah pernah menceriterakan semua itu kepadaku.

Aku memang anak yang ditemukan di pekuburan. Dan aku telah

berbuat hal-hal yang kurang baik di masa-masa lalu. Tetapi apakah

maksud ayah mengatakan hal itu?”

Bango Samparan itu tertawa lagi. Suaranya benar-benar

membangunkan orang-orang yang sedang tertidur nyenyak. Bahkan

satu-dua orang keluar dari gubugnya dan memerlukan melihat,

siapakah yang sedang tertawa di gubug Ken Arok.

“Siapakah tamu itu,” bertanya salah seorang dari mereka.

Yang lain menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu.”

Mereka pun kemudian pergi sambil menggerutu. Mereka ingin

tidur untuk beristirahat, sebab besok mereka harus turun lagi ke

bendungan atau ke sendang buatan agak jauh ke tengah Padang

Karautan.

“Ken Arok,” berkata Bango Samparan kemudian, “sudah aku

katakan bahwa aku sedang membangkitkan kenanganmu atas

masa-masa lampaumu.”

“Ya ayah, tetapi sesudah aku mengenang kembali semuanya itu,

lalu apa yang akan terjadi?”

Bango Samparan mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian

katanya, “Aku hanya ingin ikut mengenyam kepuasanmu Ken Arok.

Sebagai orang tua yang tidak dapat berbuat apa-apa untuk

kemajuanmu, aku hanya dapat berdoa supaya segala cita-citamu

dapat kau capai.”

“Terima kasih ayah,” sahut Ken Arok. Namun anak muda itu

dapat merasakan, bahwa masih ada sesuatu yang tersembunyi.

Karena itu, maka hatinya menjadi kian berdebar-debar.

Sebenarnya ia tidak senang mendengarkan ayah angkatnya itu

berceritera tentang masa lampaunya. Masa-masa yang pahit dan

menyakitkan hati. Dunianya yang pada saat itu hitam kelam, sama

sekali tidak ada secerceh sinar pun yang dapat menerangi jalannya.

Ia mendengar kalimat-kalimat yang aneh, yang menyentuh hatinya

seperti embun di malam yang panas, adalah dari mulut guru Mahisa

Agni. Kemudian pertemuannya dengan seorang Brahmana telah

membawanya ke jalan yang terang, yang sekarang ini sedang

dilaluinya. Tiba-tiba ayahnya, ayah yang memeliharanya di dunia

yang kelam itu, kini datang lagi kepadanya.

Tiba-tiba Ken Arok melihat Bango Samparan menggeser

duduknya setapak maju. Terdengar orang itu menarik nafas dalamdalam.

Kemudian patah-patah ia berkata, “Eh, Arok. Setelah kau

menjadi orang yang terhormat sekarang ini, apakah kau sudah

benar-benar menjadi puas.”

“Tentu ayah. Sudah aku katakan.”

Bango Samparan mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Ken Arok. Aku kira tidak ada seorang pun di dunia yang

nasibnya sebaik nasib yang kau bawa itu. Kau ingat pada saat aku

menemukanmu?”

Ken Arok menganggukkan kepalanya. “Ya,” jawabnya singkat.

Bagaimanapun ia tidak senang mendengar kata-kata ayah

angkatnya itu, tetapi ia tidak dapat mencegahnya.

“Pada waktu itu,” Bango Samparan meneruskan, “aku sedang

prihatin. Harta-bendaku habis ditelan oleh permainan judi, sehingga

aku lari dari Karuman karena aku tidak dapat membayar

kekalahanku. Pada waktu itu aku hampir-hampir membunuh diriku

dalam persembunyianku di Rabut Jalu. Ketika aku menemukanmu

pada saat itu Arok, tiba-tiba timbul kembali gairahku untuk menebus

kekalahanku. Ternyata, dengan membawamu kembali ke medan

perjudian, aku mendapatkan kembali semua kekalahanku. Kau

ingat.”

Ken Arok mengangguk, tetapi wajahnya menjadi semakin buram.

“Kemudian keadaanmu sendiri. Setelah kau meninggalkan ibu

angkatmu, Genuk Buntu, maka kau hilang dari keluargaku. Jangan

kau sangka bahwa aku tidak mencarimu Arok. Sebab aku masih

memerlukanmu.”

“Hanya supaya ayah selalu menang berjudi.”

Bango Samparan tertawa. “Sebagian, tetapi ibu angkatmu sangat

merindukanmu. Mungkin kau tidak dapat hidup bersama-sama

dengan anak-anak isteriku yang muda itu. Tetapi apabila kau sekali

menjenguk ibu angkatmu, ia pasti akan bergembira sekali.”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Bukan karena ia tidak

mengenal terima kasih, tetapi ia tahu benar sifat-sifat ayah

angkatnya. Kini ia berada di jalan yang terang. Yang tidak dibayangi

oleh perasaan cemas, gelisah, dan perasaan bersalah.

Kalau ia tidak ingin bertemu lagi dengan ayah angkatnya, karena

ia tidak mau lagi dipengaruhi oleh keadaannya.

“Aku masih belum dapat mempercayai keteguhan hatiku sendiri,”

desis Ken Arok di dalam hatinya.

“Ken Arok,” berkata Bango Samparan itu kemudian, “apakah kau

benar-benar sudah melupakan ibu angkatmu?”

“Tidak ayah,” sahut Ken Arok, “aku tidak pernah melupakannya.”

“Kenapa kau tidak pernah mengunjunginya?”

“Aku belum sempat ayah.”

Bango Samparan tertawa. Katanya, “Apakah kau terlampau sibuk

sehingga kau tidak dapat menyisihkan waktu seminggu atau dua

minggu saja?”

“Bendungan ini tidak dapat aku tinggalkan.”

Bango Samparan mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya

kemudian, “Sebelum ini kau juga tidak pernah ke rumah. Apalagi

setelah kau menjadi seorang pemimpin pelayan-dalam Istana

Tumapel, yang kali ini dipercaya untuk memimpin sepasukan

prajurit, bukan saja pelayan-dalam dan prajurit-prajurit pengawal

istana.”

Ken Arok menggigit bibirnya. Tetapi ia masih berdiam diri.

“Seharusnya ibumu melihat kau dalam keadaanmu sekarang.

Gagah dan tampan. Sepantasnya kau bukan anak angkatku, tetapi

kau lebih pantas menjadi anak kandungku. Keperkasaanmu,

ketampananmu lebih mirip aku daripada orang tuamu sendiri.”

Ken Arok masih berdiam diri.

“Arok,” berkata Bango Samparan seterusnya, “apakah kau dapat

mengunjungi aku beberapa hari saja?”

“Lain kali ayah,” akhirnya Ken Arok menjawab. Bango Samparan

mengerutkan alisnya. “Keadaanku sudah terlampau parah.”

“Kenapa?”

“Seperti pada saat aku menemukan kau. Nah, apabila kau berada

bersamaku ke medan perjudian, maka aku mengharap kekalahanku

itu akan dapat aku ambil kembali.”

“Ah,” desah Ken Arok, “ayah terlampau mempercayai keajaiban.

Pada waktu itu aku kira hanya suatu kebetulan saja, bahwa ayah

memenangkan kembali kekalahan itu. Sama sekali bukan karena

ayah pergi bersamaku.”

“Tidak Arok, tidak. Kaulah yang telah menyebabkan aku

memenangkan perjudian itu. Aku yakin. Seolah-olah aku mendengar

suara dari tempat yang tidak aku mengerti, yang mengatakan

bahwa kau memang mempunyai nasib yang baik.”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia menjawab,

“Seandainya demikian, maka aku pun tidak akan pergi.”

Bango Samparan membelalakkan matanya. “Kenapa? O, Ngger.

Aku sudah menempuh jalan yang sulit untuk menemukanmu.

Sekarang apakah tanggapanmu itu cukup sepadan?”

“Maaf ayah,” sahut Ken Arok, “aku sama sekali tidak

mengabaikan kedatangan ayah. Tetapi aku tidak dapat memenuhi

permintaan itu, apabila ayah hanya membutuhkan aku sekadar

untuk memenangkan perjudian.”

“O, itulah kenyataan yang aku hadapi sekarang. Ken Arok,

memang jauh berbeda kasih seorang ayah dan ibu kepada anaknya

dibandingkan dengan keadaan sebaliknya. Seorang ayah dan ibu

kadang-kadang mengorbankan apa saja yang dimilikinya untuk

kepentingan anaknya. Tetapi anak kadang-kadang acuh tak acuh

saja kepada orangtuanya.”

Ken Arok mengerutkan dahinya. Sejenak ia berdiam diri sambil

merenungi wajah ayahnya. Bango Samparan kini sudah tidak

tertawa dan tidak tersenyum lagi.

“Ayah,” berkata Ken Arok, “ayah jangan salah mengerti. Aku

memang tidak dapat memenuhi permintaan ayah. Kalau aku pergi

juga dan justru karena kehadiranku itu ayah dapat memenangkan

perjudian, maka akulah yang berdosa. Aku telah mendorong ayah

semakin dalam masuk ke arena perjudian. Ayah menjadi semakin

lekat dengan kesenangan ayah yang tercela itu.”

“O, Ngger, Ngger,” potong Bango Samparan, “kau dapat berkata

demikian setelah kau mengenakan pakaian seorang pelayan dalam.

Apakah yang dahulu pernah kau lakukan? Judi, merampas,

merampok, memerkosa, dan segala macam kejahatan yang lain.”

“Ya ayah,” sahut Ken Arok. Terasa dadanya bergolak, namun ia

masih cukup menguasai dirinya sendiri, “aku memang pernah

melakukannya. Namun pada suatu saat aku sampai pada suatu

batas di mana aku menyesali semuanya itu. Aku menyesal dan

bertobat. Itulah yang terjadi ayah. Sehingga dengan demikian aku

berusaha untuk tidak lagi terjerumus ke dalamnya.”

“Hem,” Bango Samparan berdesah sambil menghela nafas dalam

sekali, “jadi kau benar-benar tidak mau menolongku.”

“Bukan maksudku ayah,” sahut Ken Arok, “aku selalu bersedia

menolong ayah dalam batas kemampuan. Baiklah aku akan

berusaha menolong ayah sesuai dengan kekuatanku untuk

meringankan beban hidup ayah sehari-hari, ayah dan adik-adik di

Karuman. Tetapi tidak untuk berjudi. Tak ada judi yang dapat

membahagiakan hidup seseorang. Seandainya seseorang

memenangkan perjudian, maka yang didapatnya itu adalah perasan

milik orang lain. Yang didapatnya itu adalah karena kerugian orang

lain. Meskipun yang terjadi itu seolah-olah atas persetujuan

bersama, tetapi tak seorang pun yang ikhlas atas setiap kekalahan.

Ketidakikhlasan akan ikut serta pada setiap kemenangan yang

didapat di medan perjudian. Nah, milik yang didapat dengan cara

demikian, tanpa keikhlasan, tidak akan membahagiakan hidup kita.”

Wajah Bango Samparan menjadi semakin berkerut-merut.

Dengan tajamnya dipandanginya wajah anak angkatnya itu. Namun

betapa ia menahan rasa kecewa yang berkecamuk di dadanya.

Untuk sesaat, penjudi dari Karuman itu berdiam diri.

Tetapi bibirnya berkumat-kamit tidak henti-hentinya. Seolah-olah

ada yang masih tersimpan di dalam mulut itu, tetapi tidak dapat

dikatakannya.

Ken Arok pun kini duduk sambil merenungi kegelapan di luar

gubuknya. Sejenak kenangannya berlarilarian di masa lampaunya, di

masa kecilnya yang pahit. Hidup di dalam lingkungan kejahatan.

Pencuri dan perampas. Ayah angkatnya yang lain, Lembong, adalah

seorang pencuri. Bahkan ia kadang-kadang harus ikut serta dengan

ayah angkatnya itu. Kemudian, lepas dari seorang pencuri, ia jatuh

ke tangan Bango Samparan, seorang penjudi dan seorang perampok

pula. Kemudian dijelajahinya hidup dalam kegelapan. Ditelusurinya

Padang Karautan, setelah ia tidak dapat menyembunyikan diri lagi di

padesan, karena hampir setiap orang mencarinya. Mencarinya

sebagai seorang penjahat yang harus ditangkap dan bahkan

dibunuh. Ternyata kejahatan yang dilakukan telah melampaui

kejahatan kedua ayah angkatnya, bahkan digabung sama sekali.

Pencuri Lembong dan penjudi Bango Samparan.

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. “Untunglah, aku bertemu

dengan orang-orang yang berhasil menarik aku keluar dari dunia

yang hitam pekat itu.”

Anak muda itu terkejut ketika ia mendengar ayah angkatnya

bergumam lirih, “Aku tidak mengerti.”

Ken Arok berpaling, “Apa yang tidak ayah mengerti?”

“Kau.”

“Kenapa aku?”

“Kau benar-benar melupakan aku dan ibumu. Apalagi adikadikmu.”

“Sudah aku katakan ayah, aku akan memberi ayah bantuan

sesuai dengan kekuatanku.”

“Huh, apa yang dapat kau berikan? Kau tidak lebih dari seorang

pelayan dalam. Kedudukanmu masih belum cukup tinggi. Seorang

perwira rendahan. Coba apa yang akan kau berikan kepadaku. Uang

setiap selapan? Atau mungkin akan membeli sawah untuk aku? Atau

apa?” Bango Samparan berhenti sejenak, “tidak ada gunanya.

Berapa banyak kau akan memberikan uang kepadaku, apabila kau

tidak ikut serta ke perjudian, maka uang itu akan habis tidak sampai

satu malam. Sawah? Aku tidak biasa bekerja di sawah. Yang selalu

kulakukan adalah duduk di medan judi. Atau, kalau aku sudah

kehabisan akal, aku akan dapat merampas milik orang lain.

Merampok di jalan-jalan sunyi atau di rumah-rumah orang kaya,

seperti yang pernah kau lakukan.”

Ken Arok sekali lagi menggigit bibirnya sampai pedih. Tetapi tidak

sepedih hatinya.

“Ayah,” berkata Ken Arok, “kalau ayah mau mendengar katakataku,

semuanya jangan ayah lakukan. Ayah akan berhadapan

dengan prajurit Tumapel. Sedangkan aku adalah satu di antara

mereka. Seandainya tidak demikian, seandainya tidak berhadapan

dengan prajurit Tumapel sekalipun, maka hidup ayah akan menjadi

semakin kisruh. Ayah tidak akan dapat lagi merasakan kehidupan

keluarga.”

“Kalau kau salah seorang dari prajurit Tumapel, kau mau apa?”

desis Bango Samparan, “apakah kau akan menangkap aku?”

Ken Arok menggelengkan kepalanya. “Tidak ayah. Tetapi ayah

menempatkan aku pada keadaan yang sulit.”

“Huh,” sahut Bango Samparan, “kau hanya memikirkan dirimu

sendiri. Kau tidak memikirkan aku dan keluargaku. Adik-adikmu dan

ibu angkatmu yang telah memeliharamu pada saat kau hampir mati

kelaparan.”

“Apakah dengan demikian ayah juga tidak hanya memikirkan diri

ayah sendiri. Coba, seperti ceritera ayah sendiri, seandainya ayah

tidak seolah-olah mendengar suara dari langit bahwa seorang anak

yang hampir mati kelaparan yang ayah temui itu akan dapat

memberikan nasib yang baik bagi ayah, apakah kira-kira ayah akan

mau memeliharanya? Sedangkan ayah sendiri pada waktu itu

hampir membunuh diri karena kekalahan ayah yang tidak

tertanggungkan. Dan sekarang, bukankah ayah juga hanya

memikirkan diri ayah sendiri tanpa memperhitungkan bagaimanakah

aku, dan sedang dalam kewajiban apakah aku sekarang? Ayah

hanya ingin, supaya aku datang ke Karuman, menunggui ayah

berjudi seperti pada saat aku masih terlampau muda untuk mengerti

tentang diri sendiri, pada saat aku masih kanak-kanak? Sedangkan

aku sekarang adalah seorang pelayan-dalam Istana Tumapel. Coba

ayah bayangkan, apakah aku akan dapat duduk diam di belakang

ayah yang lagi berjudi? Padahal di lambungku tersangkut pedang

seorang pelayan-dalam.”

Bango Samparan mengerutkan dahinya. Sekali lagi ia terdiam

meskipun bibirnya selalu bergerak-gerak. Ia tidak dapat mengatasi

kata-kata anak angkatnya itu. Karena itu maka harapannya untuk

membawa Ken Arok ke arena perjudian menjadi semakin kabur.

Ternyata Ken Arok telah benar-benar meninggalkan cara hidupnya

yang lama.

Tiba-tiba Bango Samparan itu mengangguk-anggukkan

kepalanya. Katanya kemudian pelahan-lahan, “Jadi aku sudah tidak

akan dapat mengharapkan kau lagi, Ken Arok?”

“Untuk kepentingan yang ayah maksudku, sayang ayah, aku kira

ayah memang sudah tidak dapat mengharapkan aku lagi.”

“Kalau begitu, baiklah Ken Arok. Aku akan mencari jalan untuk

melepaskan diri dari kesulitanku kali ini.”

“Apakah yang akan ayah lakukan?”

“Entahlah?”

“Melakukan kejahatan?”

“Tidak. Bukankah kau tidak sependapat?”

“Lalu apa?”

“Mungkin aku akan pergi ke Rabut Jalu.”

“Untuk apa? Apakah ayah akan bertapa lagi di sana?”

“Aku sudah tidak mempunyai harapan. Dahulu aku bertapa di

Rabut Jalu, bahkan hampir aku membunuh diri dengan caraku.

Tetapi waktu itu aku menemukan seorang anak yang bernama Ken

Arok. Sekarang aku tidak akan dapat menemukannya lagi.”

“Lalu, untuk apa ayah pergi ke Rabut Jalu?”

“Aku akan melakukan yang dahulu tidak sempat aku lakukan.

Lebih baik aku mati daripada melihat keluargaku yang akan mati

kelaparan.”

Dada Ken Arok berdesir mendengar kata-kata ayah angkatnya

itu. Sejenak ia berdiam diri memandangi wajah Bango Samparan

yang menjadi buram. Namun dalam pada itu, Ken Arok masih

sempat menangkap kesan-kesan tentang wajah itu. Kasar dan

bahkan keras. Sehingga timbul kebimbangan di dalam hati. “Apakah

orang sekasar dan sekeras itu benar-benar akan membunuh diri?”

Ken Arok menggeleng. “Tidak,” dijawabnya pertanyaan itu sendiri

di dalam hatinya, “ia tidak bersungguh-sungguh. Ia hanya ingin

menekankan kehendaknya. Aku kira dahulu pun ia tidak akan

membunuh dirinya di Rabut Jalu. Mungkin ia hanya menjadi bingung

dan bertapa di tempat itu.”

Sejenak mereka saling berdiam diri. Wajah Bango Samparan

yang keras dan kasar itu tampak sedih. Mulutnya masih saja

berkumat-kamit, tetapi tidak sepatah kata pun yang terloncat dari

mulutnya itu.

Baru sejenak kemudian ia berkata, “Baiklah Ken Arok. Pertemuan

ini adalah pertemuan yang terakhir. Mungkin besok atau lusa kau

akan mendengar kabar bahwa seorang laki-laki yang bernama

Bango Samparan telah membunuh dirinya karena anaknya yang

dikasihinya sama sekali tidak mau lagi memperhatikannya. Anak itu

bernama Ken Arok.”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba menenangkan

hatinya. Namun demikian kata-katanya meloncat juga dari

mulutnya, “Ayah, apakah ayah ingin mencoba memaksa aku dengan

cara itu? Seandainya ayah ingin membunuh diri, apakah itu juga

bukan salah satu bentuk dari suatu sikap mementingkan diri sendiri.

Ayah tidak mau memperhatikan keluarga ayah. Dan ini berlangsung

sejak dahulu, sejak aku berada di rumah ayah. Sekarang ayah akan

membunuh diri. Itu pun suatu cara ayah menghindari tanggung

jawab ayah terhadap keluarga. Kemudian sesudah itu, ayah jangan

mengharapkan orang percaya bahwa ayah mati karena aku tidak

memperhatikannya lagi. Setiap orang, apalagi orang Karuman dan

sekitarnya, pernah mendengar nama Bango Samparan, seorang

penjudi. Apa kata orang apabila mereka menemukan mayat ayah di

pinggir jurang di Rabut Jalu?”

“Cukup, cukup,” potong Bango Samparan. Wajahnya menjadi

merah membara. Ia benar-benar menjadi marah. Hampir-hampir ia

meloncat dan menampar wajah Ken Arok. Tetapi ia sempat

mengurungkan niatnya. Ken Arok sekarang bukan kanak-kanak lagi.

Ia adalah seorang prajurit. Dengan demikian maka Bango Samparan

itu hanya dapat menggeretakkan giginya sambil menggigil seperti

orang kedinginan.

“Maaf ayah,” berkata Ken Arok, “aku tidak bermaksud untuk

membuat ayah marah. Aku ingin memberikan beberapa pendapat

tentang diri ayah. Jangan marah ayah. Hanya seorang anak yang

mengerti tentang dirinya, mau mengatakan hal itu kepada ayahnya

yang dikasihinya supaya ayahnya tidak telanjur tersesat semakin

jauh. Alangkah sakitnya melihat cacat sendiri. Tetapi dengan

demikian ayah akan mendapat kesempatan untuk mengobatinya.”

Terdengar Bango Samparan mengatupkan giginya. Namun tibatiba

wajah yang merah padam itu mengangguk-angguk. Dengan

tangan menekan dadanya ia berkata, “Ya, aku harus sabar

menghadapi kau Ken Arok, sejak kecil. Sejak kau masih kurus

kering, kau memang anak yang keras kepala. Berani dan kadangkadang

menyakitkan hati. Sekarang sifat-sifat itu masih tampak ada

padamu meskipun kau sudah dewasa dan bahkan sudah menjadi

seorang pelayan dalam.”

”Maaf ayah,” sahut Ken Arok, “seandainya demikian, maka itulah

yang namanya pembawaan. Pembawaan yang ada padaku sejak

aku lahir. Mungkin aku selalu menyakitkan hati ayah sejak aku

berada di rumah ayah.”

“Ya, kau memang berbuat demikian.” tiba-tiba Bango Samparan

itu tersenyum, “tetapi nasibmu memang baik Ken Arok.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Ia justru merasa aneh melihat

Bango Samparan itu tiba-tiba saja tersenyum. Namun ia tidak ingin

terlampau lekas berprasangka.

“Ken Arok,” berkata Bango Samparan itu kemudian, “apa yang

akan kau berikan sebagai bantuanmu atas keluargaku?”

“Menurut kekuatanku ayah. Aku masih belum dapat mengatakan

sekarang. Kita akan melihat kemungkinan lebih dahulu.”

“Kau akan memberi aku setiap sepekan, sepuluh hari, atau

selapan kali.”

“Ah,” Ken Arok berdesah, “itu kurang bermanfaat bagi ayah.

Sebaiknya ayah mendapatkan sebidang tanah. Ayah harus mulai

dengan kerja. Bukan sekadar berjudi dan berkeliaran.”

Sekali lagi warna merah membersit di wajah Bango Samparan.

Tetapi wajah itu segera dibayangi oleh sebuah senyum. “Ken Arok.

Aku tidak biasa mengerjakan sawah. Bagaimana hal itu mungkin aku

lakukan.”

“Ayah harus mencoba.”

“Terlambat. Aku menjadi semakin tua.”

“Buat apa ayah melahirkan anak-anak ayah itu, para Panji.

Bukankah putera-putera ayah itu kini sudah cukup besar. Sudah

sebesar aku ini pula. Panji Bawuk, Panji Kuncang, Panji Kunal, dan

Panji Kenengkung. Apakah mereka tidak dapat membantu ayah

bekerja di sawah?”

“Mereka tidak dapat aku harapkan Ken Arok.”

“Kenapa?”

“Mereka menjadi binal. Sama sekali tidak terkendali. Mereka

adalah anak-anak yang sama sekali tidak sopan, tidak tahu terima

kasih, tidak aturan dan tidak bertanggung jawab.”

“Siapakah yang bersalah?”

“He?”

”Siapakah yang bersalah sehingga anak-anak itu menjadi binal?”

“Hem,” Bango Samparan menarik nafas dalam-dalam. Kini ia

benar-benar mengekang dirinya. Dan bahkan sekali lagi ia

tersenyum dan berkata, “Akulah yang bersalah, Ken Arok. Tetapi

mereka tidak bercermin kepadamu. Kepada kakaknya yang bernasib

cemerlang. Bango Samparan itu berhenti sejenak lalu tiba-tiba, ”Eh,

Ken Arok. Apakah kau benar-benar sudah puas dengan keadaanmu

sekarang. Seorang pelayan dalam saja?”

Ken Arok menjadi berdebar-debar mendengar pertanyaan itu.

Terasa sesuatu tersembunyi di balik pertanyaan yang aneh itu.

Sejenak ia terdiam. Dicobanya untuk mengatur hatinya, supaya ia

tidak terkejut apabila ayah angkatnya mengatakan maksud

sebenarnya.

Bango Samparan pun berdiam diri sejenak. Ia menunggu

jawaban anaknya. Tetapi jawaban itu tidak segera didengarnya,

sehingga ia merasa perlu untuk mengulangnya, “Ken Arok,

bagaimana? Apakah kau sudah puas dengan kedudukanmu

sekarang?”

Ken Arok menarik nafas panjang. Diaturnya perasaannya, dan

pelahan-lahan ia menjawab, “Sudah aku katakan ayah. Aku sudah

puas dengan kedudukanku sekarang. Aku merasa telah berhasil

keluar dari lumpur yang pekat. Apalagi yang akan aku inginkan?”

Bango Samparan mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian

dengan nada yang dalam ia berkata, “Nasibmu memang terlampau

baik.”

“Ya, aku bernasib baik. Dan karena itu aku wajib berterima kasih

kepada Yang Maha Agung.”

“Tetapi kau kekasih Yang Maha Agung, anakku.”

“Seperti juga setiap manusia adalah kekasih Yang Maha Agung.”

“Tidak. Kau salah Ken Arok. Ada manusia yang dibenci oleh Yang

Maha Agung. Ternyata ada orang yang bernasib terlampau buruk.

Bahkan ada orang yang sama sekali tidak dihiraukan-Nya.”

“Ayah keliru. Tak ada orang yang dibenci oleh Yang Maha Agung.

Yang Maha Agung mempunyai sifat kasih tiada terbatas. Seperti

jarak ujung barat dari ujung timur yang tidak terukur jauhnya,

demikian kasih Yang Maha Agung itu terhadap manusia, titahnya

yang paling mulia.”

Bango Samparan tiba-tiba tertawa. Suara tertawanya semakin

lama semakin keras, sehingga tubuhnya terguncang-guncang

karenanya.

“Kau dapat berkata demikian setelah kau menikmati lezatnya

makanan di Istana Tumapel. Setelah kau mengenakan pakaian

pelayan dalam yang kau bangga-banggakan itu. Ken Arok, coba

kenanglah, apakah pada saat-saat kau berkeliaran di arena

perjudian, di jalan-jalan sepi di mana kau mencegat orang-orang

yang lewat, bahkan gadis-gadis yang kau perkosa, dan apakah pada

saat kau tinggal di Padang Karautan ini sebagai hantu yang

menakutkan, kau dapat berkata seperti itu? Kau dapat berkata

bahwa nasib setiap manusia itu baik karena sifat Yang Maha Agung

itu Maha Pengasih?”

“Ya ayah.”

“Bohong. Aku tidak pernah mendengar kau mengucapkan

sepatah kata pun tentang kasih Yang Maha Agung kepadamu.”

“Memang aku tidak pernah mengucapkannya karena

kebodohanku. Karena kepicikan pengetahuanku. Tetapi itu bukan

berarti bahwa Yang Maga Agung tidak menaruh kasih kepadaku.

Bahkan melimpah-limpah. Adalah salah manusia sendiri apabila ia

menolak kasih Yang Maha Agung. Menjauhkan diri dari padanya dan

hidup dalam kegelapan tanpa mengenal terima kasih.”

Suara tertawa Bango Samparan menjadi semakin keras, sehingga

Ken Arok perlu memperingatkan, “Ayah, suara tertawa ayah akan

dapat mengganggu orang-orang yang sedang tidur.”

“Eh,” Bango Samparan berusaha menahan suara tertawanya,

“kau aneh anakku. Tetapi agaknya kau telah melupakan keadaanmu

sendiri. Bagaimana mungkin kau dapat berkata, bahwa pada saat itu

kasih Yang Maha Agung melimpah-limpah kepadamu? Sedangkan

hidupmu sendiri tidak lebih baik dari binatang buruan yang

bersembunyi di dalam semak-semak di Padang Karautan ini?”

“Ayah,” Ken Arok bergeser setapak untuk menyembunyikan

kegelisahannya, “justru pada saat aku hidup sebagai binatang

buruan itulah aku melihat kasih yang berlimpah-limpah. Bukankah

ayah sendiri berkata bahwa nasibku teramat baik. Bukankah ayah

mengatakan bahwa karena ayah membawa aku berjudi, maka

nasibku yang baik itu telah melimpah kepada ayah? Itu adalah nasib

yang baik. Dan itu adalah kasih Yang Maha Agung. Tetapi akulah

yang terlampau bodoh. Sehingga aku tidak mengetahuinya dan

tidak berterima kasih kepada-Nya. Kemudian, bukankah kasih itu

nampak pula semakin jelas padaku di akhir-akhir pengembaraanku.

Yang Maha Agung telah membuka mata hatiku dengan lantaran

beberapa orang yang mengenalnya lebih baik dari padaku. Nah,

apakah aku tidak harus mengucapkan terima kasih?”

“Hem,” Bango Samparan menarik nafas dalam-dalam, “kau benar

anakku. Kau memang kekasih Yang Maha Agung.”

“Seperti juga ayah, orang lain, dan semua orang di muka bumi.”

Wajah Bango Samparan berkerut-merut. Tetapi ia tidak segera

menyahut meskipun mulutnya berkumat-kamit.

“Karena itu kita wajib berterima kasih.”

“Tetapi,” Bango Samparan berhenti sejenak, “bagaimana dengan

orang-orang yang miskin, bahkan yang hampir mati kelaparan?”

“Itukah ukuran ayah tentang kasih?” Ken Arok menyahut sambil

mengerutkan keningnya yang telah menjadi basah oleh keringat,

“Kalau ukuran ayah tentang kasih adalah keadaan lahiriah, maka

aku dapat mengerti jalan pikiran ayah, kenapa ayah menganggap

bahwa nasib manusia itu ditentukan menurut kesukaan Yang Maha

Agung seperti kesukaan kita. Apabila kita tidak senang terhadap

seseorang maka kita akan mengasingkannya.”

Bango Samparan memandangi anak angkatnya. Wajahnya

menjadi semakin tidak mengerti.

“Ukuran kasih adalah ketenteraman rohaniah, ayah. Rasa damai

dan dekat dengan Yang Maha Agung itu.”

“O, aku tidak mengerti Ken Arok. Tetapi baiklah aku tidak

membantah. Mudah-mudahan lain kali aku dapat mengerti

maksudmu.” Bango Samparan berhenti lagi untuk sesaat, ”Tetapi

bagaimana dengan penyataanku? Apabila kau merasa dekat dengan

Yang Maha Agung dalam kasihnya, eh, kenapa kau tidak memohon

untuk mendapat kurnia lebih banyak lagi?”

Wajah Ken Arok menegang. Kini ia merasa bahwa ayahnya

hampir sampai pada maksud yang sebenarnya di samping

keinginannya untuk mendapat kemenangan di medan perjudian

dengan mengajaknya ikut berjudi.

Sejenak Bango Samparan pun terdiam. Ketika ia melihat wajah

Ken Arok yang menjadi kemerah-merahan seperti tembaga karena

sinar lampu minyak serta ketegangan, maka Bango Samparan

mencoba untuk menjadi lebih berhati-hati.

“Ken Arok,” berkata Bango Samparan itu pula, ”dahulu, sebelum

kau menjadi seorang yang baik dalam penilaian orang-orang di

sekitarmu seperti sekarang ini, kau telah mendapat nasib yang baik.

Apalagi sekarang, setelah kau mengenal Yang Maha Agung lebih

baik, dan kau menjadi lebih tekun berbakti kepadaNya. Nah, apakah

kasih itu tidak akan menjadi berlipat ganda.”

“Kasih itu tidak terbatas ayah.”

“Bagus,” berkata Bango Samparan, “kalau begitu kau akan dapat

mohon lebih banyak lagi.”

“Itu adalah pertanda bahwa kita tidak berterima kasih atas apa

yang sudah kita miliki.”

“O, tidak Ken Arok, tidak. Setiap manusia ingin mencapai segala

macam kebutuhannya sampai ke puncak. Kalau ia memerlukan

pangkat, maka ia ingin mencapai pangkat yang setinggi-tingginya.

Kalau ia ingin kaya, ia pasti ingin menjadi kaya sekaya-kayanya.

Nah, apakah kau termasuk perkecualian.”

“Mungkin ayah.”

Bango Samparan menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak

Ken Arok. Cita-cita seorang tidak boleh berhenti. Cita-cita ia harus

meluncur jauh di depan kita, supaya kita tidak berhenti. Berhenti

berusaha dan berhenti berjuang. Tanpa cita-cita gairah hidup kita

pun akan lenyap, dan kita akan menjadi beku.”

“Tetapi cita-cita harus seimbang dengan kenyataan ayah. Apabila

cita-cita itu tidak seimbang dengan kenyataan diri, maka seseorang

akan mudah tergelincir. Mungkin menjadi patah, tetapi mungkin

juga akan melakukan hal-hal yang tidak baik.”

“O, ternyata kau bukan seorang yang berhati baja.”

“Apakah maksud ayah?”

“Hatimu miyur. Kau sekadar mendapat makan dan pangkat yang

kecil, kau sudah mandeg. Berhenti di jalan. Sedangkan orang lain

akan terus berlari meninggalkan kau jauh di belakang. Padahal

belum pasti bahwa nasibmu kalah baik dengan nasib orang lain.”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Ia kini mengerti kehendak

ayahnya. Ayahnya menghendaki sesuatu yang terlampau berlebihlebihan

dari padanya. Dan ia tidak lagi terkejut ketika Bango

Samparan berkata, “Ken Arok. Kalau kau mendapat pangkat yang

tinggi, jauh lebih tinggi dari pangkatmu sekarang, kau akan menjadi

kaya. Kau akan dapat membantu aku sepekan sekali. Dan aku tidak

akan mati kelaparan sekeluarga.”

“Dan hampir sepekan sekali ayah tetap bisa berada di medan

judi.”

Bango Samparan mengernyitkan alisnya. Kemudian ia tersenyum,

“Begitulah kira-kira. Tetapi kalau kau masih saja seperti sekarang,

maka bantuan yang dapat kau berikan akan menjadi seperti sebutir

garam yang kau tebarkan di lautan. Tetapi kalau kau menjadi

seorang yang berpangkat tinggi, Ken Arok, kau akan menjadi kaya,

dan kau tidak perlu lagi menghitung-hitung berapa uang yang kau

berikan kepadaku. Dan aku tidak akan lagi mengejarmu untuk

membawa kau turut ke arena perjudian lagi.”

Nafas Ken Arok tiba-tiba menjadi sesak, dan wajahnya yang

tegang menjadi semakin tegang. Meskipun ia sudah mengira bahwa

akhirnya akan sampai pula pada persoalan itu, namun hatinya masih

juga merasa sakit. Ayah angkatnya benar-benar tidak dapat

mengerti keadaan dan perasaan orang lain. Ia hanya berpikir

tentang kesenangannya saja.

“Tambahan lagi anakku. Apabila kau menjadi seorang pemimpin,

maka aku pun akan menjadi seorang yang terhormat pula.

Kehormatan sangat penting artinya di dalam perjudian. Seandainya

aku sedikit-sedikit mengelabui lawanku dengan akal, maka ia tidak

akan menjadi lekas marah. Seandainya aku kalah dan masih belum

dapat membayar kekalahanku itu, maka tak seorang pun yang

berani memaksaku seperti dahulu dan baru-baru ini, sehingga aku

harus bersembunyi di Rabut Jalu.”

Dada Ken Arok menjadi semakin bergolak, sehingga mulutnya

bahkan serasa terbungkam.

“Anakku,” berkata Bango Samparan itu. Nada suaranya

merendah dibuat-buat. “Tak ada orang lain tempat aku

menumpangkan nasib selain kepadamu. Sejak aku menemukan kau

Arok, aku sudah yakin, bahwa hanya kaulah yang akan dapat

menjunjung martabatku. Aku tidak sekadar menjadi penjudi kecil

yang kadang-kadang diusir dari arena karena aku tidak banyak

mempunyai modal. Nah, dengan demikian, aku tidak akan

memaksamu lagi untuk mengikuti aku ke perjudian. Apakah kau

dapat mengerti? Aku tidak akan mengganggu pekerjaan yang

semakin banyak. Apakah kau mengerti?”

Ken Arok menggigit bibirnya, “Aku mengerti ayah,” sahutnya

sambil menahan hati.

“Bagus, bagus, kau memang anak laki-laki yang luar biasa.

Kekasih Yang Maha Agung. Nah, apakah yang akan kau lakukan?”

“Yang akan aku lakukan adalah mempersilakan ayah

meninggalkan tempat ini.”

“He,” Bango Samparan terlonjak. Wajahnya menegang dan

mulutnya ternganga. Kemudian terbata-bata ia berkata, “Apa

katamu he?”

“Aku tak akan sampai hati mempersilakan ayah meninggalkan

tempat ini seandainya ayah dapat mengerti keadaanku.”

“O, itukah balasanmu Ken Arok? He? Itukah?”

“Maaf ayah. Bukan maksudku. Tetapi aku harap ayah mengerti

keadaanku.”

Bango Samparan termenung sejenak. Dipandanginya lampu

minyak yang bergerak-gerak ditiup angin yang menyusup lewat

dinding yang tidak rapat.

“Ken Arok. Aku mimpikan kau yang bernasib terlampau baik itu

menjadi seorang pemimpin seluruh prajurit Tumapel. Eh, tidak

bahkan menjadi seorang akuwu. Tidak, tidak. Tetapi kau menjadi

seorang raja di Kediri.”

Dada Ken Arok berdesir tajam mendengar kata-kata ayah

angkatnya itu. Dipandanginya wajah Bango Samparan seolah-olah

baru saja dilihatnya hari ini, sehingga Bango Samparan itu terpaksa

menundukkan kepalanya menghindari tatapan mata Ken Arok yang

seolah-olah menyala. Dengan nada yang berat Ken Arok berkata,

“Ayah, aku akan benar-benar mempersilakan ayah meninggalkan

tempat ini kalau ayah masih saja membuat hatiku kisruh.”

“Tidak anakku. Aku jangan kau usir malam ini. Meskipun hantu

Padang Karautan sekarang telah menjadi jinak, tetapi aku tidak mau

mati kedinginan.”

Terdengar Ken Arok menggeram. Tetapi ayah angkatnya berkata

meneruskan, “Maksudku baik Ken Arok.”

“Tidak. Ayah benar seorang yang hanya mengerti tentang

kepentingan diri sendiri. Ayah seorang yang terlampau

mementingkan diri ayah sendiri.”

“O, kau salah tangkap Ken Arok. Aku juga berpikir tentang kau,

tentang nasibmu yang baik itu.”

“Dalam hubungan kepentingan ayah.”

“Hem,” Bango Samparan menarik nafas dalam-dalam, “mimpiku

tidak pernah salah. Dahulu aku juga serasa bermimpi, o, tidak,

bahkan seolah-olah aku mendengar suara dari langit tentang

seorang anak yang hampir mati kelaparan. Dan aku benar-benar

menemukan kau yang ketakutan karena dihantui oleh perbuatanperbuatanmu

sendiri, tetapi setelah itu kau juga tidak berhenti

merampok, memerkosa, dan bahkan membunuh,” Bango Samparan

mengangkat tangannya ketika Ken Arok akan memotong katakatanya,

“jangan, jangan kau potong kata-kataku, aku belum

selesai.” Bango Samparan menelan ludahnya, lalu melanjutkan,

“Sekarang aku bermimpi kau menjadi seorang maharaja. Eh, siapa

tahu, bahwa hal itu akan terjadi. Kalau kau berhasil memanjat dari

jabatanmu sekarang menjadi akuwu, misalnya, kemudian kau akan

mendapat kesempatan yang lebih baik.”

“O,” Ken Arok tidak dapat menahan perasaannya lagi. Tiba-tiba ia

berdiri dan berjalan mondar-mandir. “Cukup ayah, cukup. Aku tidak

mau mendengar lagi. Itu adalah impian yang gila.”

“Ah, jangan terlampau memandang hari depan terlampau suram.

Siapa tahu. Ya, siapa tahu. Siapa tahu kalau anak yang hampir mati

kelaparan itu sekarang memimpin sepasukan prajurit. Siapakah

yang menyangka bahwa hantu Karautan yang dikejar-kejar orang

dan akan dibunuh oleh siapa pun juga, termasuk prajurit-prajurit

Tumapel, kini justru memimpin prajurit-prajurit itu sendiri.”

“Cukup, cukup,” Ken Arok hampir berteriak. Tanpa diketahuinya

maka bulu-bulu di seluruh tubuhnya terasa meremang. Dengan

lantang ia berkata, “Lupakan mimpi yang gila itu. Aku bukan

termasuk orang yang tidak mengenal terima kasih. Aku tidak akan

ikut serta bermimpi seperti ayah. Sekarang silakan ayah

meninggalkan tempat ini.”

“Ken Arok.”

“Aku tidak mau lagi mendengar mimpi yang gila yang tidak

masuk akal. Apakah ayah sengaja membuat aku gila pula?”

“O, kau salah terima anakku. Kau salah terima. Aku hanya ingin

mengatakan….”

“Cukup, cukup,” kini Ken Arok benar-benar berteriak. Beberapa

orang yang sedang tidur terbangun karenanya. Bahkan ada di

antara mereka yang tanpa sengaja bangun dan memandangi

pedang-pedang mereka yang tersangkut di dinding, di atas

pembaringannya.

Tetapi sejenak kemudian suasana malam menjadi sunyi kembali.

Tidak terdengar lagi suara Ken Arok membentak-bentak.

Bango Samparan terkejut juga mendengar Ken Arok itu berteriak,

memotong kata-katanya. Agaknya kali ini anaknya tidak sedang

bermain-main. Ken Arok telah benar-benar menjadi marah. Karena

itu maka Bango Samparan pun terdiam.

Dengan jantung yang berdegup keras, Ken Arok berjalan

mondar-mandir di dalam gubugnya yang sempit. Sekali-sekali ia

berhenti. Mulutnya terkatup rapat-rapat, tetapi matanya seolah-olah

menyala.

Sejenak mereka saling berdiam diri dalam ketegangan perasaan

masing-masing. Tetapi Bango Samparan benar-benar tidak berani

lagi berbicara berkepanjangan. Kepalanya tertunduk dan bahkan

tangannya menjadi gemetar. Namun ia masih belum beranjak dari

tempatnya.

Ketika di kejauhan terdengar anjing-anjing liar menyalak, maka

Ken Arok berdesis, “Tinggalkan aku sendiri.”

“Ken Arok.”

“Aku persilakan ayah meninggalkan tempat ini.”

“O, malam terlampau gelap di Padang Karautan.”

“Ayah datang kemari tanpa mengenal takut. Seharusnya ayah

juga tidak takut meninggalkan tempat ini.”

“Tetapi ketika aku datang, hari belum terlampau malam.”

“Tak ada bedanya bagi Padang Karautan.”

“Ada anakku. Anjing-anjing itu? Apakah kau ingin dagingku hacur

disayat-sayat anjing liar itu? Jangan Ken Arok. Aku minta maaf

kepadamu kalau aku membuatmu marah. Tetapi aku jangan kau

usir dari tempat ini malam ini. Besok pagi buta aku akan pergi.”

“Tetapi aku tidak tahan mendengar ayah berbicara tanpa ujung

pangkal. Membuat aku gila karena mimpi yang gila itu. Dan anjing

itu berada di tempat yang jauh, di seberang sungai. Mereka tidak

akan datang kemari.”

“Tidak, aku tidak akan berbicara lagi tentang mimpi itu. Tentang

akuwu dan tentang maharaja di Kediri.”

Ken Arok terdiam sejenak. Ketika dilihatnya wajah Bango

Samparan yang ketakutan, maka timbullah ibanya. Meskipun

hatinya masih juga belum lilih benar, tetapi ia berkata, “Kalau ayah

berjanji tidak akan menyebut-nyebut mimpi itu, aku akan

membiarkan ayah bermalam di sini.”

(Bersambung 30)

Jilid 30

AKU akan membiarkan ayah bermalam di sini. Besok pagi-pagi

buta ayah harus sudah meninggalkan padang.”

“Baik, baik Ken Arok. Terima kasih,” Bango Samparan menelan

ludahnya. Tetapi ia mendengar Ken Arok berkata, “Sebenarnya aku

tidak percaya bahwa ayah tidak berani melewati padang ini. Hampir

setiap malam ayah berkeliaran dari satu arena perjudian ke arena

yang lain, bahkan di tempat-tempat yang paling ditakuti orang.

Meskipun demikian, biarlah ayah beristirahat. Tetapi ingat, jangan

menyebut lagi tentang mimpi yang gila itu.”

Bango Samparan mengangguk-anggukkan kepalanya. Wajahnya

yang memucat kini menjadi agak merah kembali. Dengan tergagap

ia berkata, “Terima kasih Ken Arok. Ternyata kau benar-benar

anakku yang baik. Memang aku selalu berkeliaran dari satu tempat

judi ke tempat yang lain, tetapi tidak di Padang Karautan. Kecuali

mungkin aku bertemu dengan anjing-anjing liar itu, aku juga tidak

tahan dingin.”

“Udara malam ini terlampau panas,” sahut Ken Arok acuh tak

acuh.

“O,” Bango Samparan terdiam sejenak, kemudian, “ya, ya, udara

memang terlampau panas.”

“Tidurlah,” desis Ken Arok.

“Ya, ya terima kasih. Aku akan segera tidur. Aku memang tidak

ingin lagi berkata tentang mimpi itu, kalau kau memang tidak

senang mendengarnya, meskipun dapat menumbuhkan anganangan

yang menyenangkan. Akuwu, Maharaja.”

Ken Arok sudah tidak tahan lagi. Dengan serta-merta ia berdiri

dan melangkah pergi.

“Ken Arok, ke mana kau?” panggil ayah angkatnya.

“Aku akan keluar. Ayah tidak berani pergi dari tempat ini. Akulah

yang akan pergi.”

“Ke mana kau akan pergi?”

“Ke bendungan.”

“Kenapa?”

Ken Arok tidak menjawab, tetapi ia melangkah terus

meninggalkan Bango Samparan di dalam gubugnya. Demikian ia

lepas dari gubug itu, terasa dadanya menjadi lapang. Dilihatnya

langit yang hitam terbentang dari segala ujung penjuru. Bintang

yang berkilat-kilat bergayutan tak terbilang banyaknya.

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah akan

dihisapnya udara di atas Padang Karautan itu habis-habis.

Tanpa sesadarnya maka ia pun melangkah, berjalan di antara

gubug-gubug yang bertebaran. Angin yang lembut mengusap

wajahnya pelahan-lahan.

Ketika ia lepas dari deretan gubug-gubug itu, dilihatnya parit

induk yang terbujur membelah padang menjorok ke tengah. Di

ujung parit itu terdapat sebuah sendang buatan. Tetapi malam itu

Ken Arok tidak dapat melihat sendang itu dari tempatnya. Seolaholah

sendang diselimuti oleh sebuah permadani yang hitam. Namun

demikian, terbayang di rongga matanya, tanaman-tanaman yang

sudah mulai menghijau di sekitar sendang itu, meskipun setiap hari

masih harus disiram air. Kemudian batu-batu yang sudah mulai

teratur rapih. Puntuk-puntuk kecil dan kemudian parit-parit yang

menyilang taman itu. Sebuah gunung kecil di tengah-tengah

sendang.

“Mudah-mudahan sendang itu menyenangkan hati Akuwu

Tumapel,” gumam Ken Arok di dalam hatinya.

Tiba-tiba terbersit pertanyaan di dalam hatinya, “Kenapa setiap

orang harus membuat Akuwu menjadi senang?” Tetapi Ken Arok itu

menggeleng-gelengkan kepalanya ketika tiba-tiba pula tumbuh

perasaan di dalam dadanya, “Alangkah senangnya menjadi seorang

Akuwu. Kekuasaan di Tumapel ini berpusat padanya. Apa pun yang

dikehendaki, hampir pasti dapat terpenuhi.”

“Tidak, tidak,” Ken Arok itu menggeram sambil menggeretakkan

giginya. “Pikiran gila ini telah mengotori dadaku. Tidak.”

Ken Arok itu kemudian berdiri dengan tegangnya. Tangannya

mengepal dan kakinya seolah-olah menghujam jauh ke dalam

tanah. “Aku tidak boleh diracuni oleh pikiran-pikiran gila itu. Kalau

sekali lagi Bango Samparan menyebut-nyebut mimpinya, aku cekik

ia sampai mati.”

Sekali lagi Ken Arok menggeram. Tiba-tiba untuk mengusir

perasaannya itu ia meloncat berlari masuk ke dalam hitamnya

malam. Seperti seorang yang dikejar hantu, ia berlari tidak ke

bendungan, tetapi ke sendang yang sedang dibuatnya.

“Tidak, tidak,” ia masih menggeram, “aku harus melakukan

perintah Akuwu, sendang itu harus siap pada saatnya.”

Ketika ia sampai ke tepi sendang yang masih belum siap itu,

nafasnya menjadi terengah-engah. Wajahnya membayangkan

ketakutan atas dirinya sendiri. Ia tidak mau mendengar mimpi itu

lagi, meskipun perasaannya sendiri yang menyebut-nyebutnya.

Mimpi tentang dirinya dan Akuwu Tumapel.

“Tidak, tidak,” tiba-tiba ia berteriak. Suaranya yang parau

melayang di udara padang yang sepi, seolah-olah menggetarkan

seluruh Padang Karautan, bahkan seluruh Tumapel.

Ketika sekali lagi perasaannya diganggu oleh mimpi Bango

Samparan itu, maka Ken Arok pun segera meloncat. Diraihnya batubatu

yang masih bertebaran di pinggir taman. Dengan mengatupkan

mulutnya rapat-rapat, ia mengangkat sebongkah batu,

dilontarkannya kuat-kuat. Batu-batu itu besok memang harus

disusun menjadi sebuah dinding yang akan mengelilingi taman.

Sekali, dua kali, tiga kali. Dan seterusnya. Dilontarkannya batubatu

itu ke tempat yang besok harus dibangun dinding.

Dikerjakannya pekerjaan prajurit-prajurit Tumapel yang harus

dilakukannya besok. Dengan wajah yang tegang dan gigi gemeretak

ia melempar-lemparkan batu-batu itu. Tenaganya seolah olah

menjadi berlipat-lipat dan kekuatannya serta ketahanannya pun

menjadi berganda.

Maka terdengarlah kemudian gemeretak batu-batu yang

terlempar oleh Ken Arok itu memecahkan kesenyapan Padang

Karautan. Susul-menyusul tidak habis-habisnya, seolah-olah

pekerjaan itu telah dilakukan oleh sepuluh orang bersama-sama.

Namun betapa kuat dan kokohnya tubuh Ken Arok, akhirnya

sampai juga ke batasnya. Tenaganya semakin lama menjadi

semakin kendor. Lontarannya sudah tidak lagi mencapai jarak yang

diperlukan, sehingga lambat-laun, ia pun menjadi semakin lelah.

Meskipun demikian, Ken Arok tidak mau berhenti. Ia tidak mau

membiarkan kesempatan sekejap pun untuk mengenang kembali

mimpi ayah angkatnya yang gila. Ia tidak mau batinnya diracuni

oleh perasaan itu. Karena itu, betapa ia menjadi lelah dan lemah,

namun masih juga dicobanya untuk mengangkat dan kemudian

melemparkan bongkahan batu-batu yang besar itu.

Tetapi akhirnya Ken Arok itu sudah tidak mampu lagi

melakukannya. Tulang-tulangnya seraya menjadi lemas, dan

nafasnya sudah menyesak di dadanya.

Dengan lemahnya ia tertunduk di antara batu-batu yang masih

berserakan. Bahkan kemudian ia membaringkan dirinya. Betapa

lelah mengganggu tubuhnya, sehingga scjcnak kemudian Ken Arok

itu diserang oleh perasaan kantuk yang luar biasa. Ketika angin

padang membelai tubuhnya, terasa kesegaran merayapi kulit

dagingnya. Namun dengan demikian maka Ken Arok itu pun jatuh

tertidur.

Ken Arok tidak dapat mengetahui betapa lama ia tertidur di

padang itu, di bawah atap langit yang biru hitam, serta di bawah

bintang yang bergayutan tanpa dapat dihitung jumlahnya.

Anak muda itu terperanjat ketika ia mendengar gemeletuk batu

tersentuh kaki. Dengan sigapnya ia meloncat bangun. Namun tibatiba

matanya menjadi silau, ternyata matahari telah merayapi langit.

“Hem,” Ken Arok menarik nafas dalam-dalam sambil menggosok

matanya yang kesilauan, ”aku tertidur.”

“Kami mencarimu,” sahut orang yang membangunkannya,

seseorang prajurit Tumapel, “kami hampir menjadi putus asa. Aku

sangka kau hilang seperti Mahisa Agni.”

“Sebelum udara di dalam gubugku terlampau panas. Aku

berjalan-jalan keluar, dan akhirnya aku sampai ke tempat ini. Di sini

udara terasa segar sekali. Dan aku jatuh tertidur.”

Prajurit itu tidak mempunyai syak-wasangka. Karena itu ia

menjawab, “Semuanya menunggu kedatanganmu dengan cemas.

Untung-untungan aku mencoba mencarimu di sini, di antara batubatu

ini. Ternyata kau tertidur.”

Sekali lagi Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. “Aku lelah

sekali,” desisnya.

Tanpa disengaja, Ken Arok memandangi batu-batu yang masih

bertebaran. Prajurit itu pun mengikuti arah pandangan Ken Arok.

Namun tiba-tiba prajurit itu mengerutkan keningnya. Ia melihat

batu-batu yang dipersiapkan untuk dinding taman telah berpindah

hampir di sepanjang sebelah sisi yang akan didirikan dinding untuk

taman itu. Kemarin batu-batu ini masih tertumpuk.

Wajah prajurit itu menjadi berkerut-kerut. Ketika ia melihat

pakaian Ken Arok yang kusut dan tubuhnya yang kotor karena debu

dan lumpur, maka tumbuhlah pertanyaan di dalam dirinya. Apakah

yang sudah dilakukannya? Begitu mendesak pertanyaan itu di dalam

dadanya sehingga terloncat kata-katanya, “Batu-batu ini telah

berpindah.”

Ken Arok berpaling. Dipandanginya wajah prajurit itu, tetapi ia

menjawab, “Orang-orang terakhir kemarin telah mulai

memindahkan batu-batu itu.”

Wajah prajurit itu menjadi semakin aneh. Dengan terheran-heran

ia berkata, “Aku adalah orang yang terakhir meninggalkan

pekerjaan kemarin. Aku masih sempat melihat batu-batu yang

tertimbun di sini. Tetapi pagi ini aku lihat batu-batu itu sudah

berserakan di sepanjang batas dinding taman yang akan dibangun.

Hampir di sepanjang sisi sebelah ini.”

Wajah Ken Arok itu pun kini menjadi berkerut-merut. Sejenak ia

tidak menjawab. Namun kemudian ia berkata, “Mari, aku akan

kembali ke perkemahan. Mereka terlalu lama menunggu, dan kerja

hari ini akan terlampau lama terlambat mulai.”

Prajurit itu terdiam. Wajahnya masih diliputi oleh pertanyaanpertanyaannya

tentang batu-batu yang berpindah itu. Meskipun

demikian ia telah menyangka bahwa Ken Arok telah melakukan

pekerjaan itu.

“Tetapi hampir tidak masuk akal,” berkata prajurit itu di dalam

hatinya, “aku masih melihat Ken Arok itu masuk ke dalam

gubugnya. Seandainya ia datang kemari, maka pasti tidak sejak

sore. Sedangkan pekerjaan yang sepantasnya dilakukan oleh dua

tiga orang sehari penuh.”

Prajurit itu terkejut ketika Ken Arok berkata, “Mari, apa lagi yang

kau tunggu?”

Tanpa sesadarnya prajurit itu berguman, “Agaknya Hantu

Karautan lah yang telah memindahkan batu-batu ini.”

Wajah Ken Arok menegang mendengar kata-kata itu. Tetapi

segera ia berhasil menguasai dirinya. Prajurit itu pasti dengan

sengaja menyebut Hantu Karautan, dan pasti tidak mencoba

menghubungkannya dengan dirinya, meskipun sebenarnya bahwa

yang telah melakukan pekerjaan itu adalah Hantu Karautan.

Sejenak kemudian maka mereka berdua segera meninggalkan

tempat itu dengan tergesa-gesa. Orang-orang Panawijen dan para

prajurit Tumapel sudah menunggu Ken Arok dengan gelisah.

Bahkan seperti yang dikatakan oleh prajurit itu, ada di antara

mereka yang menyangka bahwa Ken Arok hilang seperti Mahisa

Agni.

Namun di sepanjang jalan, prajurit Tumapel itu tidak dapat

melupakan apa yang telah dilihatnya. Batu-batu yang telah

berpindah tempat. Tak ada orang lain di tempat itu selain Ken Arok.

Apalagi pakaian Ken Arok tampak lusuh dan tubuhnya dikotori oleh

debu dan keringat. Adalah mustahil apabila sejak kemarin, sejak

sore kemarin, Ken Arok tidak mandi dan membersihkan tubuhnya.

Karena itu, maka prajurit itu berketetapan, “Ken Arok telah

melakukannya. Alangkah dahsyat tenaganya. Ternyata anak muda

itu benar seorang yang melampaui sesamanya.”

Dan, ternyata prajurit itu kemudian tidak dapat menyimpan

pertanyaan dan kekaguman itu di dalam hatinya. Satu-satu akhirnya

setiap orang mendengar apa yang telah terjadi, meskipun hanya

bisikan-bisikan di setiap telinga.

Ketika Ken Arok melihat orang-orang Panawijen dan prajuritprajurit

Tumapel telah mempersiapkan diri untuk bekerja, serta

melihat bayangan kegelisahan di wajah-wajah mereka, menjadi

agak menyesal. Ia telah memperlambat kerja hari ini. Karena itu,

demikian ia berdiri di hadapan mereka dan Ki Buyut Panawijen,

segera berkata, “Mulailah. Aku akan segera menyusul.”

Orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel segera

meninggalkan perkemahan dan berpencaran ke tempat kerja

masing-masing. Sebagian pergi ke bendungan yang sudah menjadi

semakin tinggi, sebagian memperdalam parit induk yang membelah

Padang Karautan, sebagian memperpanjang parit yang silangmenyilang

yang kelak akan mengairi sawah-sawah, dan sebagian

dari para prajutit Tumapel meneruskan kerja mereka, membuat

sendang dan taman. Ketika mereka yang bekerja di sendang buatan

itu sampai ke tempat kerja mereka, maka mereka benar-benar

menjadi heran. Mereka melihat batu-batu yang telah berpindah dari

tempatnya kemarin, seperti desas-desus yang mereka dengar.

“Semalam Ken Arok lah yang tidur di sini,” gumam salah seorang

dari padanya.

“Luar biasa. Ia mampu melakukannya seorang diri.”

“Mungkin ia mempunyai sababat hantu-hantu padang.”

Kawannya hanya dapat mengangkat bahunya. Namun

kekaguman mereka terhadap Ken Arok menjadi bertambah-tambah.

Ketika perkemahan itu kemudian menjadi sepi karena orangorang

yang menghuninya telah pergi ke tempat kerja mereka, maka

segera Ken Arok kembali ke dalam gubugnya. Di sana-sini ia hanya

melihat satu-dua orang yang bertugas menjaga perkemahan itu.

Tubuhnya kini sama sekali sudah tidak merasa lelah lagi. Tidurnya

ternyata telah dapat memulihkan seluruh tenaga yang telah

diperasnya semalam.

Dengan tergesa-gesa ia harus menyiapkan diri. Mandi dan

makan-minum sebelum berangkat menyusul kawan-kawannya yang

sedang bekerja.

Tetapi ketika ia memasuki gubugnya, ia merasa ada sesuatu

yang kurang. Tiba-tiba ia teringat kepada ayah angkatnya, Bango

Samparan. Ternyata orang itu sudah tidak ada.

“Apakah benar semalam ayah Bango Samparan itu datang

kemari?” desisnya.

Tetapi gubugnya benar-benar telah sepi. Ia tidak melihat bekasbekas

yang dapat mengatakan kepadanya, bahwa semalam benarbenar

telah ada seorang tamu.

Tiba-tiba Ken Arok menjadi berdebar-debar. “Ah, aku pasti.

Semalam ayah datang kemari. Apakah ia telah pergi sebelum pagi

seperti katanya semalam.” Ken Arok menjadi bingung. “Tidak, aku

kira ia akan menunggu aku. Ayah memerlukan uang sekadarnya.”

Ken Arok segera keluar dari gubugnya. Dipandanginya keadaan

di sekelilingnya, kalau-kalau Bango Samparan sedang berjalan-jalan

di antara gubug-gubug di dalam perkemahan itu. Tetapi orang itu

tidak dilihatnya. Bahkan Ken Arok tidak segera menjadi puas.

Dengan tergesa-gesa ia melangkah di antara gubug yang

bertebaran, kalau-kalau ia dapat menemukan ayah angkatnya.

Namun Bango Samparan sama sekali tidak diketemukannya.

Ketika ia melihat seorang yang sedang berjaga-jaga sambil

menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak untuk makan siang,

Ken Arok bertanya, “Apakah kau melihat seseorang di dalam

gubugku?”

Orang itu mengerutkan keningnya. Kemudian menggeleng.

“Tidak. Aku tadi juga lewat di samping gubug itu, tetapi aku tidak

melihat seorang pun.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Tetapi jawaban yang seorang

ini tidak dapat dijadikannya pegangan. Ia merasa pasti bahwa

semalam ayah angkatnya itu datang kepadanya dan menceritakan

tentang mimpinya yang gila.

Karena itu maka segera ditinggalkannya orang itu. Dengan

kepala tunduk Ken Arok berjalan di antara gubug-gubug mencari

orang lain yang masih berada di perkemahan. Ketika ia melihat dua

orang sedang menyalakan api untuk masak, maka segera

didekatinya orang itu sambil bertanya, “He, apakah kau melihat

seseorang yang belum kau kenal berada di perkemahan ini atau di

dalam gubugku?”

Kedua orang itu saling berpandangan. Namun kemudian

keduanya menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku tidak melihat

seorang pun kecuali orang-orang Panawijen dan prajurit-prajurit

Tumapel.”

“Bukan mereka. Aku mempunyai tamu seorang yang belum

kalian kenal. Tubuhnya agak gemuk, pendek. Wajahnya keras dan

sorot matanya tajam.”

Sekali lagi keduanya saling memandang, dan sekali lagi keduanya

menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak. Kami tidak melihatnya.”

Ken Arok menggigit bibirnya. Wajahnya menjadi tegang dan

giginya gemeretak. Dengan tergesa-gesa pula ditinggalkan kedua

orang itu, yang kemudian menjadi keheran-heranan.

“Siapa yang dicarinya?” desis yang seorang.

Kawannya menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu.”

Dalam pada itu, Ken Arok sama sekali masih belum puas. Ia

masih ingin menanyakannya kepada orang lain lagi.

Adalah mungkin sekali bahwa orang-orang itu tidak melihat

kedatangan Bango Samparan, karena mereka telah tertidur.

Akhirnya Ken Arok melihat seorang berdiri di ujung perkemahan.

Dijinjingnya dua buah lodong air. Agaknya orang itu akan pergi ke

sungai untuk mengambil air, yang akan direbus untuk minum orangorang

yang sedang bekerja.

“He,” panggil Ken Arok. Orang itu adalah seorang dari Panawijen.

Ketika ia melihat Ken Arok bergegas mendatanginya, maka orang itu

menjadi berdebar-debar.

“Apakah kau melihat Bango Samparan?” bertanya Ken Arok

dengan wajah yang tegang dan nafas terengah-engah.

“Siapa?” bertanya orang itu kembali.

“Bango Samparan.”

Orang Panawijen itu menggelengkan kepalanya. “Aku belum

pernah mendengar nama itu. Bango Samparan.”

“Semalam ia berada di sini.”

Orang Panawijen itu masih terheran-heran.

“Apakah kau tidak melihatnya?”

“Seandainya aku melihatnya, aku juga belum mengenalnya.”

jawab orang Panawijen itu.

“Kalau kau melihat orang asing di sini, bertubuh gemuk agak

pendek, berwajah keras, itulah dia. Bango Samparan. Apakah kau

melihat?”

Orang Panawijen yang membawa lodong bambu itu berpikir

sejenak. Dicobanya untuk mengingat-ingat apakah ia melihat orang

seperti yang dikatakan oleh Ken Arok itu. Tetapi akhirnya ia

menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Tidak. Aku tidak

melihatnya.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Wajahnya menjadi semakin

tegang. Terbata-bata ia bertanya, “Benarkah itu? Kau tidak

melihatnya di sini?”

Sekali lagi orang itu menggeleng. “Tidak, aku tidak melihatnya.”

Sorot mata Ken Arok menjadi semakin aneh. Tiba-tiba saja ia

memutar tubuhnya dan berjalan tergesa-gesa kembali ke gubugnya.

Orang Panawijen yang membawa lodong bambu itu berdiri

ternganga-nganga. Ia tidak tahu apakah yang sedang bergolak di

hati anak muda itu. Sambil memiringkan kepalanya, ia mengangkat

bahu. Kemudian meneruskan langkahnya ke sungai untuk

mengambil air.

Ken Arok yang menjadi semakin bingung itu segera masuk ke

dalam gubugnya. Dibantingnya tubuhnya di atas pembaringannya.

Sehelai tikar pandan yang kasar.

“Apakah aku telah didatangi oleh hantu Karautan, yang

sebenarnya hantu?” desisnya.

“Tidak,” pertanyaan itu dibantahnya sendiri, “dalam

pengembaraanku di padang ini, aku belum pernah menemui hantu

itu. Yang ada adalah Hantu Karautan yang dikenal oleh orang-orang

di sekitar padang ini. Hantu Karautan, Ken Arok. Tidak ada hantu

yang lain.”

Dengan gelisahnya Ken Arok itu bangkit, berdiri, dan berjalan

mondar-mandir.

“Gila. Apakah aku sudah gila dan di dalam kegilaanku itu aku

bermimpi bertemu dengan Bango Samparan yang sedang bermimpi

pula? Tetapi mimpi Bango Samparan itu jauh lebih gila dari mimpiku

sendiri.”

“Tidak, tidak,” tiba-tiba Ken Arok itu berdesis, “aku tidak mau

mendengar mimpi yang terlampau gila itu. Apakah mimpi itu

disampaikan oleh Bango Samparan sendiri, atau hanya sekadar di

dalam mimpiku, atau oleh hantu Karautan sekalipun.”

Tiba-tiba Ken Arok teringat bahwa semalam Bango Samparan itu

datang bersama dua orang pengawal, dan bahkan beberapa orang

yang berada di dalam gubug di sekitarnya terbangun karena suara

tertawa Bango Samparan. Beberapa orang terbatuk-batuk, dan

beberapa orang yang lain mendehem keras-keras.

Sekali lagi Ken Arok meloncat keluar dari gubugnya Ia ingin

mendapat kepastian tentang Bango Samparan. Tetapi ia menjadi

kecewa ketika ia melihat gubug-gubug di sekitar gubugnya telah

menjadi kosong. Orang-orang itu telah pergi ke tempat pekerjaan

mereka masing-masing.

“Hem,” Ken Arok menggeram, “aku harus menemukan kedua

orang pengawal itu. Jika mereka semalam bertugas, maka pagi ini

mereka mendapat kesempatan beristirahat. Mereka pasti tidak ikut

bekerja dengan kawan-kawan mereka.”

Maka kini dengan cepatnya ia melangkah ke gubug kedua orang

pengawal yang semalam telah membawa Bango Samparan

kepadanya. Dengan serta-merta ia menyuruk lewat lubang pintu

yang rendah, masuk ke dalamnya. Ketika dilihatnya seorang tidur

membujur di pojok gubug itu, maka segera ia berkata lantang, “He,

kaukah yang mengawal ke perkemahan semalam?”

Orang yang sedang tidur berselimut kain panjang itu terkejut.

Cepat ia meloncat bangun sambil menggosok matanya. Tetapi yang

dilihatnya berdiri di muka pintu adalah Ken Arok.

Namun Ken Arok menjadi kecewa melihat orang itu. Orang itu

bukan salah seorang dari kedua orang yang mengantarkan Bango

Samparan kepadanya.

Meskipun demikian ia bertanya sekali lagi, “Apakah semalam kau

bertugas?”

“Ya,” sahut orang itu.

“Di sisi mana?”

“Di sisi utara,” jawab orang itu.

“Di mana kedua kawanmu yang bertugas di sisi selatan, yang

telah membawa seorang tamu kepadaku.”

“Mereka sedang pergi ke sungai.”

“Bukankah mereka mendapat istirahat hari ini?”

“Ya, mereka sedang mandi dan mencuci pakaian mereka.”

“Hem,” Ken Arok menarik nafas dalam-dalam, “apakah mereka

tidak mengatakan kepadamu tentang seorang tamu yang mereka

bawa kepadaku semalam?”

Orang itu menggelengkan kepalanya. “Tidak, mereka tidak

mengatakan apa-apa kepadaku.”

“Gila, sungguh-sungguh gila,” Ken Arok mengumpat di dalam

hatinya sambil keluar dari gubug itu, tanpa mengucapkan kata-kata

lagi. Orang di dalam gubug itu pun menjadi terheran-heran melihat

tingkah lakunya, pakaiannya yang kusut, dan tubuhnya yang kotor

oleh keringat dan debu.

“Dari manakah ia semalam?” bertanya orang itu di dalam hatinya,

“setiap orang mencarinya. Bahkan Ki Buyut Panawijen telah menjadi

ketakutan, kalau-kalau ia hilang pula seperti Mahisa Agni.”

Dengan lesu Ken Arok itu melangkah kembali ke gubugnya.

Pikirannya menjadi semakin kalut. Apabila semalam Bango

Samparan tidak datang sesungguhnya kepadanya, maka Ken Arok

pasti menjadi sangat cemas tentang dirinya sendiri. “Apakah aku

sudah menjadi gila?” pertanyaan itu selalu mengganggunya.

Di gubugnya ia pun menjadi sangat gelisah. Sekali ia bangkit

berdiri, berjalan mondar-mandir, kemudian terduduk dengan

lesunya.

Tiba-tiba saja ia teringat akan kewajibannya. Ia sudah berjanji

untuk menyusul orang-orang Panawijen dan prajurit Tumapel ke

tempat mereka bekerja. Hari ini ia akan menunggui orang-orang

yang sedang menyelesaikan bendungan. Karena Itu maka segera ia

bangkit dan mengibas-ibaskan pakaiannya. “Persetan dengan Bango

Samparan,” gumamnya, “aku harus bekerja. Orang-orang itu pasti

menunggu. Aku harus segera pergi kepada mereka.”

Sejenak Ken Arok menjadi ragu-ragu. Apakah ia harus berganti

pakaian lebih dahulu, ataukah ia akan pergi dengan pakaian yang

sudah dipakainya itu. Pakaian yang lusuh dan kotor.

“Kalau aku berganti pakaian, mandi, dan membersihkan diri lebih

dahulu, maka sebentar lagi aku akan menjadi kotor lagi. Tetapi

kalau tidak, terasa tubuhku gatal-gatal karena debu yang

mengendap di wajah kulit ini.”

Akhirnya Ken Arok memutuskan untuk begitu saja pergi ke

bendungan. Ia tidak akan berganti pakaian. Dengan pakaian yang

kusut itu ia akan bekerja bersama-sama orang-orang Panawijen dan

para prajurit Tumapel.

“Di bendungan aku dapat membersihkan badanku, mengeringkan

di sinar matahari, lalu mulai bekerja bersama-sama dengan

mereka.”

Sejenak kemudian Ken Arok pun melangkah keluar gubugnya

sambil menyambar sepotong ubi rebus. Sambil mengunyah ia

berjalan meninggalkan gubugnya. Kepada seorang pengawal yang

dijumpainya ia berkata, “Aku pergi ke bendungan. Kalau kau melihat

orang asing di sini, bertanyalah kepadanya, apakah namanya Bango

Samparan.”

Pengawal itu mengangguk, “Baik,” jawabnya.

“Kalau orang itu menunggu aku, biarlah ia menunggu di gubugku

sampai aku pulang.”

“Baik.”

Ken Arok pun segera pergi ke bendungan menyusul orang-orang

Panawijen dan para prajurit Tumapel yang bekerja di sana.

Sementara itu para prajurit yang bekerja di sendang buatan

menjadi saling bertanya-tanya, “Kekuatan apakah yang tersembunyi

di dalam diri Ken Arok.”

“Kita mengenal beberapa orang sakti,” gumam salah seorang

prajurit yang bekerja di sendang, “mungkin beberapa orang guru

yang tinggal di padepokan-padepokan. Tetapi kita tidak menjadi

heran melihat kelebihan-kelebihan mereka. Seolah-olah sudah

seharusnya mereka memiliki kelebihan dari kita. Tetapi kita menjadi

heran melihat orang-orang muda yang luar biasa seperti pemimpin

para prajurit pengawal istana, Witantra. Kemudian adik

seperguruannya, Mahendra dan Kebo Ijo. Kita heran juga melihat

beberapa orang yang lain. Tetapi keheranan kita tidak melonjaklonjak

seperti kali ini.

Kawannya yang diajak berbicara mengangguk-anggukkan

kepalanya. Kemudian katanya, “Ada dua orang sepengetahuanku

yang telah membingungkan nalarku.”

“Siapa? Witantra itu?”

“Bukan. Betapa saktinya kakang Witantra, tetapi aku masih dapat

mencapainya dengan nalar dan pertimbangan.”

“Lalu siapa?”

“Yang pertama adalah Akuwu Tunggul Ametung. Kau ingat,

ketika dengan tangannya ia membunuh seekor harimau?”

“Ya, harimau yang membunuh seorang srati gajah itu.”

“Ya, akibatnya gajahnya mengamuk. Gajah yang bodoh itu tidak

tahu, siapakah yang bersalah. Gajah itu tidak tahu bahwa

sebenarnya Akuwu Tunggul Ametung menolong srati-nya, tetapi

justru gajah menyerang Akuwu. Bukankah begitu?”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya, ya aku ingat.

Hampir saja Akuwu mati terinjak gajah itu.”

“Tetapi hal itu tidak terjadi. Dan itulah ajaibnya. Tiba-tiba Akuwu

pun marah. Dengan penggada-nya yang kuning berkilauan, Akuwu

memukul kaki gajah itu. Kaki depannya. Seketika itu gajah yang

mengamuk itu jatuh terjerembab. Lumpuh.”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya, gajah itu

lumpuh. Seandainya Akuwu menjadi mata gelap, maka ia akan

mampu membunuh gajah yang sudah lumpuh itu.”

“Ya, ia adalah orang yang aneh yang pertama aku lihat.”

“Dan yang lain? Yang seorang lagi?”

“Yang seorang adalah orang ini, Ken Arok. Adalah tidak masuk

akal bahwa seorang diri ia dapat memindahkan batu-batu sekian

banyaknya. Bukan saja sedemikian banyaknya, tetapi lihatlah. Batubatu

sebesar itu, batu-batu yang harus dipikul oleh dua-tiga orang.”

Orang itu menggelengkan kepalanya, “Mustahil, mustahil.”

“Tetapi hal itu sudah terjadi.”

“Ya,” kawannya terdiam. Dipandanginya batu-batu yang besar itu

dengan sorot mata yang aneh.

Sedangkan kawannya yang lain bergumam, “Ada dua orang aneh

di Istana Tumapel. Tetapi yang seorang adalah Akuwu Tumapel

sedangkan yang lain hanyalah seorang pelayan dalam, yang kali ini

mendapat kepercayaan memimpin pembuatan bendungan dan

sendang.”

Para prajurit itu menarik nafas dalam-dalam. Mereka mengangkat

pundak mereka sambil berdesis, “Aneh.”

Beberapa orang masih juga mencoba menjajagi kekuatan Ken

Arok dengan mencoba mengangkat batu-batu yang besar dan berat.

Tetapi bertiga, batu itu baru terangkat. Kemudian mereka harus

memindahkan batu-batu itu dan memasang pada dinding yang

sedang mereka buat, maka mereka memanggul batu-batu itu

dengan tali dan sepotong kayu. Bersama-sama enam orang

sekaligus.

Namun kekaguman itu telah mendorong para prajurit Tumapel

untuk bekerja semakin keras. Beberapa orang menganggap bahwa

Ken Arok telah marah kepada mereka karena mereka bekerja

terlampau lamban. Tetapi anak muda itu tidak mau menyatakan

kemarahannya. Karena itu maka disindirnya para prajurit itu dengan

suatu perbuatan yang aneh. Memindahkan batu-batu besar dan

kecil yang cukup banyak itu seorang diri. Seolah-olah ia ingin

berkata, “Beginilah cara kita bekerja. Jangan terlampau lamban dan

malas.”

Sementara itu, Ken Arok sendiri telah berada di bendungan.

Sejenak ia membersihkan dirinya kemudian berjemur sejenak sambil

melihat orang-orang yang sedang bekerja. Ketika tubuhnya telah

kering dan kesegaran pagi telah menjalar ke segenap urat nadinya,

maka mulai pulalah ia bekerja. Tetapi apa yang dilakukan kali ini

sama sekali tidak ada bedanya dengan kerja yang dilakukan oleh

orang-orang lain. Mengangkat brunjung-brunjung bambu kecil yang

sudah berisi batu bersama-sama dengan lima atau enam orang.

Mengangkat batu-batu besar untuk diletakkan di antara brunjungbrunjung

itu bersama-sama dengan dua-tiga orang. Sama sekali

tidak nampak kelebihannya dari orang-orang lain yang bekerja

bersamanya.

Ketika Ken Arok telah tenggelam di dalam kerja, maka untuk

sejenak ia melupakan Bango Samparan dan melupakan mimpi ayah

angkatnya yang gila itu. Dicurahkannya segenap perhatiannya ke

bendungan, susukan induk, dan parit-parit. Hatinya seolah-olah

membusung apabila dilihatnya pedati-pedati yang memuat batu,

tanah, dan segala macam perlengkapan, kemudian orang-orang

Panawijen bersama-sama dengan para prajurit Tumapel melunakkan

tanah dengan banyak-banyak. Sebagian lagi mengisi brunjungbrunjung

bambu dengan batu dan meletakkannya di bendungan

yang sudah menjadi semakin tinggi.

“Bendungan itu hampir selesai,” berkata Ken Arok di dalam

hatinya, “aku selanjutnya akan dapat mempergunakan orang-orang

itu untuk menyelesaikan sendang dan taman buatan itu. Orangorang

Panawijen pasti akan bersedia membantu, sedangkan yang

sebagian lagi mulai membajak tanah untuk persawahan.”

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku harus

menyiapkan semuanya tepat pada waktunya.”

Demikianlah maka orang-orang Panawijen dan para prajurit

Tumapel itu bekerja keras untuk membangunkan suatu harapan

bagi masa depan. Bagi anak cucu. Mereka tidak sekedar berpikir

tentang diri mereka. Tetapi yang penting bagi mereka adalah,

mereka telah berbuat. Mereka telah memberikan sesuatu bagi anak

cucu mereka. Dengan demikian maka kehadiran mereka dalam

urutan turun-tumurun tidak akan membuat anak cucu mereka

menyesal. Anak cucu mereka tidak akan mengatakan, bahwa

tataran keturunan yang ini adalah tataran yang paling jelek di

antara garis keturunan karena telah mengabaikan usaha untuk anak

cucu mereka.

Orang-orang yang bekerja itu sama sekali tidak menghiraukan

ketika matahari memanjat semakin tinggi. Mereka tidak

menghiraukan terik yang seakan-akan membakar punggung mereka

yang telanjang.

Sedangkan matahari pun merayap semakin tinggi. Setelah

dilampauinya puncak langit, maka datanglah saatnya perjalanan itu

berganti menurun. Semakin lama semakin rendah, sehingga

akhirnya cahayanya menjadi kemerah-merahan.

Orang-orang yang sedang bekerja di bendungan, di parit-parit,

dan di taman pun sampai pada batas waktu mereka. Mereka akan

segera beristirahat. Setelah mengeringkan keringat mereka, maka

beramai-ramai mereka mandi. Sejenak kemudian maka bendungan

itu telah menjadi sepi. Orang-orang Panawijen dan para prajurit

Tumapel telah kembali ke gubug masing-masing. Mengambil makan

mereka, kemudian duduk-duduk beristirahat sambil bercakap-cakap

tentang banyak hal yang dapat menghibur kelelahan mereka.

Dalam pada itu, dua ekor kuda berlari tidak terlampau cepat

mendekati bendungan yang telah menjadi sepi itu. Beberapa ratus

langkah dari bendungan itu, keduanya berhenti. Samar-samar dalam

cahaya senja, salah seorang dari mereka berkata, “Apakah

bendungan itu tidak dijaga?”

Yang lain menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu paman.”

Orang yang pertama, yang masih saja berusaha mencari jalan

untuk dapat menghubungi bakal permaisuri Tumapel,

menengadahkan wajahnya. Dan dilihatnya langit menjadi semakin

suram.

“Aku tidak segera dapat berhubungan dengan seseorang yang

dapat aku percaya. Seharusnya kau, bekas seorang pelayan dalam,

akan dapat lebih mudah melakukannya. Tetapi ternyata aku

terlampau bodoh.”

“Namaku telah dikenal oleh hampir setiap orang Tumapel. Aku

kira mereka pun sekarang mengetahui apa yang telah terjadi

dengan diriku, sehingga tidak seorang pun lagi akan mempercayai

aku.”

Yang lain, yang berwajah beku, mengangguk-anggukkan

kepalanya. “Ya, aku dapat mengerti Kuda Sempana.” Orang itu,

Kebo Sindet, terdiam sejenak. Kemudian ia melanjutkan,

“Bagaimana dengan Ken Arok?”

“Aku kira kita tidak akan mendapat kesempatan,” jawab Kuda

Sempana, “aku belum demikian mengenalnya.”

“Dengan upah yang cukup tinggi? Atau dalam pembagian yang

adil?”

Kuda Sempana menggeleng. “Aku tidak tahu. Tetapi ternyata

anak muda itu kini mendapat kepercayaan dari Akuwu Tunggul

Ametung. Mungkin ia berpendirian teguh dan kita akan terjebak

karenanya.”

Kebo Sindet tidak menjawab. Dipandanginya arah bendungan

yang menjadi semakin kabur.

“Aku akan pergi ke Tumapel untuk mencari orang-orang yang

dapat bekerja bersama dengan aku, menjual Mahisa Agni kepada

adiknya,” berkata Kebo Sindet dalam nada yang datar.

Ternyata Kuda Sempana pun kini wajahnya telah hampir

membeku pula. Kesan dari kata-kata itu sama sekali tidak tampak di

wajahnya. Dengan nada datar pula ia bertanya, “Apakah aku harus

ikut serta bersama paman?”

“Ya, kau harus pergi bersamaku. Selalu. Aku tidak dapat

meninggalkan kau sendiri di goa itu. Aku tidak ingin kau membunuh

Mahisa Agni yang masih lemah.”

“Aku tidak akan membunuhnya dan Mahisa Agni sudah menjadi

cukup segar.”

“Kau ingin berkelahi melawannya?”

“Tidak.”

“Tetapi aku tidak percaya kepadamu, sebab kau menyimpan

dendam yang tidak terkatakan. Kau harus pergi bersamaku. Kau

tidak boleh bertemu Mahisa Agni tanpa aku. Sedangkan Mahisa Agni

sementara ini harus tetap hidup.”

Kuda Sempana tidak menjawab. Ia kini sama sekali sudah tidak

mempedulikan lagi terhadap Mahisa Agni, terhadap bendungan,

terhadap Ken Dedes, dan bahkan terhadap diri sendiri.

“Marilah, jangan risaukan Mahisa Agni. Ia tidak akan dapat keluar

dari daerah rawa-rawa. Ia tahu apa yang tersembunyi di dalam air

itu. Lumpur dan binatang-binatang berbisa. Hanya akulah yang

mengenal jalan yang paling aman. Kau pun tidak.”

Kuda Sempana tidak menjawab. Sedangkan wajahnya pun tidak

menunjukkan kesan apa pun. Beku, hampir seperti wajah Kebo

Sindet, meskipun kadang-kadang wajah itu masih juga bergerak dan

memberikan kesan.

Kedua ekor kuda itu mulai bergerak lagi. Mereka tidak mendekati

bendungan dan perkemahan orang-orang Panawijen, tetapi mereka

menyusur sungai di seberang perkemahan.

“Aku harus menemukan seseorang yang dapat menyampaikan

penawaran kepada calon permaisuri itu,” gumam Kebo Sindet,

“apakah di perkemahan itu tidak ada seorang pun yang dapat

dipercaya dan dibawa bekerja bersama?”

Kuda Sempana menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu.”

“Kita janjikan upah setinggi-tingginya. Kalau perlu apa saja yang

diminta akan kita penuhi.”

“Kalau permintaanya tidak masuk akal, dan melampaui

kemampuan paman, bahkan melebihi tawaran yang akan paman

terima dari Ken Dedes?”

Kebo Sindet terdiam sejenak, tetapi ia berpaling memandangi

Kuda Sempana yang berkata di sampingnya. Kemudian terdengar

orang itu berdesis dengan suara yang dalam, yang seolah-olah

hanya melingkar-lingkar di dalam perutnya. “Kau memang bodoh

sekali. Lebih bodoh dari yang aku duga. Baik Ken Arok maupun

orang lain tidak akan mengurangi pendapatan kita.”

Kuda Sempana menjadi heran mendengar jawaban itu. Tetapi ia

tidak bertanya. Dibiarkannya Kebo Sindet memberinya penjelasan.

“Mereka tidak akan pernah mengenyam hasil dari jerih-payah

mereka.”

“Kenapa?” akhirnya terdengar Kuda Sempana berdesis.

“Mereka akan mati demikian pekerjaan mereka selesai.”

“Mereka akan paman bunuh?”

“Tentu. Mereka akan mati. Semua hasilnya akan jatuh ke tangan

kita. Kau mengerti?”

Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya tetapi

dadanya terasa berdesir. Ternyata Kebo Sindet memang benarbenar

seorang yang gila. Ia tidak memperhitungkan cara apa pun

yang dipergunakannya untuk mendapatkan harta. Sedangkan hartabenda

dan kekayaan yang tidak terkira itu hanya ditimbunnya saja

di dalam goa yang terasing.

“Tidak masuk akal,” desis Kuda Sempana di dalam hatinya,

“orang ini benar-benar sudah tidak waras. Ia tidak beranak-isteri,

tidak ber-sanak-kadang. Buat apa ia menimbun segala macam

harta-benda di dalam goa itu?”

Namun Kuda Sempana sendiri menyadari kemungkinankemungkinan

yang bakal dialami. Apabila pekerjaan tentang Mahisa

Agni ini selesai, maka ia pun akan mengalami nasib serupa dengan

orang-orang yang sedang dicari oleh Kebo Sindet. Kali ini ia masih

mungkin untuk diperalat, menghubungi orang-orang dalam yang

bersedia berkhianat dengan janji yang menyenangkan. Tetapi orang

itu kemudian akan mati, dan ia sendiri pun akan mati pula.

Sejenak kemudian mereka pun saling berdiam diri. Dengan agak

ragu-ragu Kebo Sindet meninggalkan bendungan dan menjauhi

perkemahan orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel.

Ternyata Kuda Sempana tidak dapat menghubungkannya dengan

siapa pun dari perkemahan ini. Juga Ken Arok sangat

meragukannya. Apakah anak muda itu dapat dikail dengan janji.

Tetapi Kebo Sindet tidak perlu tergesa-gesa. Kalau mungkin

hubungan itu dapat dilakukan sebelum hari perkawinan, tetapi kalau

gagal, maka sesudah Ken Dedes menjadi permaisuri pun, pasti akan

berhasil juga. Mungkin Ken Dedes akan dapat dijadikannya sapi

perahan. Setiap kali dituntutnya sejumlah uang dan perhiasan,

tetapi Mahisa Agni tidak juga dilepaskan untuk mengajukan

tuntutan-tuntutan berikutnya. Ken Dedes dapat mempercayakan

kepada orang hambanya, untuk melihat di tempat-tempat tertentu,

sudah tentu tidak di sarangnya, bahwa Mahisa masih betul-betul

hidup. (penafsiran karena kata tidak terbaca)

Kebo Sindet kadang-kadang tersenyum sendiri di dalam hati,

meskipun wajahnya tetap membeku. Rencana ini ternyata masih

lebih baik dengan rencananya untuk mempergunakan nama Empu

Sada.

“Persetan dengan Empu gila itu,” katanya di dalam hati, “asal

saja ia tidak menghalangi.”

Kuda-kuda itu berjalan semakin lama semakin jauh. Tidak

terlampau cepat. Bahkan seakan-akan mereka sedang

bercengkerama di luasnya padang rumput yang berwarna kekuningkuningan.

Sekali-sekali mereka melewati gerumbul-gerumbul perdu

yang berwarna kelam.

Tiba-tiba Kebo Sindet bergumam, “Kuda Sempana. Kita akan

sering melewati tempat ini. Siapa tahu, suatu ketika kita akan

bertemu dengan seseorang yang dapat kita jadikan alat, untuk

menyampaikan penawaran kita kepada Ken Dedes.”

Kuda Sempana tidak menjawab. Dan Kebo Sindet pun tidak

berbicara lagi. Sambil berdiam diri mereka meneruskan perjalanan

mereka ke Tumapel untuk melihat-lihat saja kemungkinan yang

dapat mereka lakukan.

Sementara itu Ken Arok sedang marah-marah di dalam

gubugnya. Ketika ia pulang dari bendungan, maka segera ia ingin

berganti pakaian karena pakaiannya telah menjadi sangat kusut dan

kotor. Semalam pakaian itu telah dipakainya untuk melontarlontarkan

batu, dan sehari ini dipakainya untuk bekerja di

bendungan. Karena itu maka pakaiannya itu telah penuh dengan

debu.

Tetapi ketika ia membuka seikat bungkusan di sudut gubugnya,

tempat ia menyimpan pakaian, maka tiba-tiba ia mengumpat.

Ternyata di dalam bungkusan itu hanya terdapat seonggok rumput

kering.

“Hem, siapakah yang telah membuat gila ini?” tanpa sesadarnya

Ken Arok berteriak.

Beberapa orang mendengar suara teriakan itu dan dengan

tergesa-gesa mereka mendatangi. Mereka tertegun melihat

bungkusan rumput kering di sudut gubug Ken Arok, di samping

pembaringannya.

“Siapa he, siapa yang telah berbuat gila? Apakah aku harus

bertindak kasar?”

Tak seorang pun yang menjawab.

“Panggil pengawal,” teriak Ken Arok marah.

Beberapa orang dengan tergesa-gesa mencari prajurit yang siang

ini bertugas mengawal perkemahan ini.

Sedangkan beberapa orang lain berkerumun, saling berguman di

antara mereka, siapakah yang telah berbuat tidak sepantasnya itu.

Seandainya orang itu bermaksud membuat suatu lelucon, maka

sendau-gurau yang demikian itu sangat melampaui batas. Apalagi

apabila ada di antara mereka yang sengaja mengambil pakaian Ken

Arok yang hanya beberapa lembar, maka perbuatan itu akan

merupakan cela bagi seluruh prajurit Tumapel atau orang-orang

Panawijen.

Ketika dua orang pengawal datang ke gubug itu dan melihat

orang berkerumun, hatinya menjadi berdebar-debar. Apalagi ketika

mereka masuk ke dalam gubug itu. Dengan lantangnya Ken Arok

berteriak, “Lihat, lihat?”

Mata kedua orang itu terbelalak ketika mereka melihat sebungkus

rumput kering di sudut gubug Ken Arok, di samping

pembaringannya. Mula-mula mereka tidak mengerti, apakah maksud

Ken Arok dengan menunjuk seonggok tumput kering itu. Namun

kemudian mereka mengerti, bahwa seharusnya pakaianlah yang

pantas dibungkus di tempat itu.

“Apakah kau sudah melihat?”

“Ya,” hampir bersamaan kedua prajurit itu menjawab.

“Lalu apa katamu?” bertanya Ken Arok pula.

Keduanya menggelengkan kepalanya. Salah seorang dari mereka

berkata, “Aku tidak dapat mengerti. Aku mengawal perkemahan ini

dengan baik. Aku tidak melihat seorang pun masuk atau keluar dari

gubug ini. Seandainya itu karena kekhilafanku, maka aku dapat

menunjukkan siapa saja yang hari ini bertugas di perkemahan, di

dapur, dan mereka yang sedang beristirahat karena semalam

mereka bertugas.”

“Panggil mereka,” berkata Ken Arok. Nadanya meninggi dan

wajahnya menjadi tegang, “panggil mereka. Aku tidak senang

dengan lelucon yang tidak pantas ini.”

Kedua pengawal itu mengangguk. Salah seorang di antaranya

menjawab, “Baik. Kami akan memanggil mereka semua.”

Kedua orang itu pun kemudian keluar dari gubug Ken Arok.

Beberapa orang lain membantunya memanggil orang-orang yang

oleh kedua pengawal itu disebut namanya.

Di dalam gubugnya Ken Arok hampir tidak sabar menunggu

kedatangan kedua orang pengawal itu. Ketika keduanya datang,

maka orang-orang yang mereka panggil pun satu-satu segera

menyusul masuk ke dalam gubug itu.

Hampir saja Ken Arok membentak-bentak mereka dengan

marahnya seandainya Ki Buyut Panawijen tidak segera masuk ke

dalam gubug itu pula. Ternyata peristiwa itu sudah pula terdengar

oleh orang-orang Panawijen sehingga wajah Ken Arak menjadi agak

kemerah-merahan.

“Maaf Ki Buyut, aku sedang mengurus sesuatu peristiwa yang

memalukan. Sebenarnya aku hanya ingin mengatakan kepada

mereka, bahwa hal yang demikian sebaiknya tidak terulang.

Permainan yang keterlaluan.”

Ki Buyut Panawijen yang telah lanjut itu mengangguk-anggukan

kepalanya. Ia pun agaknya tidak senang melihat kejadian itu.

Kejadian itu akan dapat menimbulkan ketegangan-ketegangan di

dalam perkemahan ini. Tetapi orang tua itu tidak segera

mencampuri persoalannya, karena Ki Buyut menganggap bahwa

persoalan itu masih terbatas pada prajurit-prajurit Pajang sendiri.

Meskipun demikian Ki Buyut itu berkata, “Kejadian ini patut

disesalkan Ngger.”

“Ya, Ki Buyut. Aku harus sekali-sekali bertindak terhadap orangorang

yang tidak dapat menempatkan dirinya, menyesuaikan diri

dengan keadaan.”

Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya, Sementara itu

orang-orang yang dipanggil oleh Ken Arok telah berkumpul berjejaljejal

di dalam gubug itu. Tetapi karena di dalam gubug itu pula ada

Ki Buyut Panawijen, maka Ken Arok bersikap agak hati-hati.

“Apakah kalian berada di perkemahan siang ini?” ia bertanya.

Orang-orang itu menganggukkan kepala mereka. Beberapa di

antara mereka menjawab, “Ya, kami siang ini berada di sini.”

“Lihat, apakah yang terjadi di sini?”

Tak seorang pun yang menyahut. Mereka melihat seonggok

rumput kering.

”Ketika aku meninggalkan gubug ini, sebagai orang yang terakhir

karena kelambatanku, bungkusan ini adalah bungkusan pakaian.

Tetapi sekarang yang ada di sini adalah seonggok rumput. Aku tidak

menyayangkan pakaianku yang hilang, sebab aku akan dapat

meminjam salah seorang dari kalian dan besok akan dapat

memohon ganti kepada Akuwu, tetapi sendau-gurau yang demikian

sangat menyakitkan hati. Aku minta siapa yang telah berbuat,

segera menyatakan dirinya. Kali ini aku tidak akan berbuat apa-apa,

tetapi ingat, hal ini tidak boleh terulang.”

Orang-orang itu saling berpandangan. Tetapi wajah-wajah

mereka menunjukkan perasaan mereka yang menjadi cemas.

Sejenak mereka tidak dapat berkata sepatah kata pun sehingga

mereka mendengar Ken Arok berkata, “Jangan menunggu aku

mengambil tindakan.”

Salah seorang prajurit yang sudah setengah umur kemudian

menjawab, “Aku kira, tidak seorang pun dari kami yang berbuat

demikian. Kami tahu menempatkan diri kami. Meskipun kadangkadang

kami bergurau hampir tidak terkendali, tetapi kami tidak

akan sampai tindakan sejauh itu.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Ia dapat memahami jawaban

itu. Tetapi ia tidak dapat mengerti bahwa hal itu dapat terjadi.

Sejenak Ken Arok berdiam diri sambil memandangi wajah-wajah

yang ada di sekitarnya. Ketika terpandang olehnya wajah dua orang

yang semalam mengawal perkemahan, dan sehari ini beristirahat di

perkemahan, maka tiba-tiba ia berkata, “Baik. Baik. Semua keluar

dari gubug ini. Semuanya, kecuali kedua orang ini.”

Kedua pengawal itu mengerutkan kening mereka. Pada mereka

menjadi berdebar-debar. Sedangkan beberapa orang kawan mereka

pun memandang mereka dengan penuh pertanyaan. “Apakah yang

telah mereka lakukan?”

Sesaat kemudian satu-satu orang-orang di dalam ruangan itu

mengalir keluar. Yang tinggal di dalam gubug itu kemudian

tinggallah kedua pengawal itu, Ken Arok, dan Ki Buyut Panawijen.

Meskipun demikian para prajurit yang berkerumun masih saja

berkerumun. Mereka berdiri berjejal-jejal di luar pintu gubug Ken

Arok.

Tetapi agaknya Ken Arok tidak senang melihat mereka. Karena

itu maka ia melangkah ke muka pintu sambil berkata, “Sudahlah.

Kembalilah kalian ke dalam gubug kalian masing-masing. Aku kira

tidak ada lagi yang akan aku persoalkan. Aku tahu bahwa tidak ada

di antara kalian yang telah melakukannya.”

Sejenak para prajurit itu saling berpandangan. Dan mereka

mendengar Ken Arok berkata selanjutnya, “Kembalilah dan

beristirahatlah. Lupakan peristiwa ini. Aku akan menyelesaikannya

sendiri tanpa mengganggu kalian lagi.”

Meskipun hati para prajurit itu masih diganggu oleh berbagai

pertanyaan, terutama tentang kedua kawannya yang masih berada

di dalam gubug Ken Arok, namun mereka terpaksa meninggalkan

tempat itu kembali ke dalam gubug masing-masing, meskipun

mereka masih tetap menunggu apa yang akan terjadi atas kedua

kawannya.

Setelah para prajurit meninggalkan tempat itu, maka Ken Arok

pun kembali masuk ke dalam ruangan gubugnya yang diterangi oleh

sebuah pelita minyak yang tersangkut pada tiang bambu. Sinarnya

yang redup berguncang ditiup angin padang yang agak keras.

Sejenak ruangan itu dicekam oleh kesepian. Namun kesepian

yang tegang. Kedua prajurit yang semalam mengawal perkemahan

itu masih berdiri tegak seperti tonggak. Sekali-kali mereka saling

berpandangan. Namun kemudian mereka kembali mendengar

jantung masing-masing berdebaran.

Mereka terkejut ketika tiba-tiba Ken Arok memecah kesepian.

Justru dengan nada yang rendah perlahan-lahan, “Duduklah.”

Sekali lagi mereka saling berpandangan. Dan sekali lagi mereka

mendengar suara Ken Arok lunak, “Duduklah.” Kemudian kepada Ki

Buyut Panawijen, Ken Arok mempersilakan pula, “Silakan Ki Buyut,

duduklah.”

Mereka berempat kemudian duduk berkeliling. Sejenak mereka

saling berdiam diri, namun kemudian Ken Arok mulai berbicara

kepada kedua prajurit itu, “Apakah kalian semalam mengawal

perkemahan ini?”

Hampir bersamaan mereka menjawab, “Ya, kami mengawal

perkemahan ini semalam.”

“Ya, aku bertemu kalian semalam,” sahut Ken Arok. Tetapi

sejenak ia menjadi ragu-ragu. Ia ingin bertanya kepada kedua

pengawal itu tentang seorang yang bernama Bango Samparan.

Namun ia takut mendengar jawabannya. Seandainya kedua prajurit

itu menggelengkan kepala mereka dan berkata, bahwa mereka tidak

melihat seorang pun, maka itu berarti bahwa otaknya sendiri sudah

tidak wajar lagi. Karena itu untuk sesaat Ken Arok terdiam.

Dipertimbangkannya baik-baik pertanyaan-pertanyaan yang bergelut

di dalam dadanya, supaya tidak meluncur berdesak-desakan

sehingga membayangkan kegelisahannya.

Baru sejenak kemudian Ken Arok itu bertanya, “Kau hari ini

beristirahat?”

Keduanya rnengangguk-anggukkan kepalanya dengan ragu-ragu,

“Ya,” jawab mereka.

“Bukankah kau semalam datang kepadaku ketika aku berjalanjalan

di luar gubug ini?”

“Ya. Kami memang datang kemari.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Sekali lagi ia menjadi raguragu.

Kenapa ia mesti bertanya. Kenapa kedua orang itu tidak

berkata kepadanya bahwa semalam mereka mengantarkan

seseorang kepadanya.

“Semalam udara di dalam gubug terlampau panas. Aku berjalan

keluar ketika kalian datang. Bukankah begitu?”

Kedua prajurit itu menjadi heran mendengar pertanyaan Ken

Arok yang melingkar-lingkar itu. Namun mereka menjawab pula,

“Ya, udara memang terlampau panas semalam.”

“Oh,” desah Ken Arok di dalam hatinya. Tetapi akhirnya ia tidak

sabar lagi menunggu kedua orang itu berkata dengan sendirinya

tentang peristiwa semalam yang dapat menjawab pertanyaanpertanyaan

di dalam hatinya. Jawaban kedua orang itu tidak dapat

disimpulkannya, apakah mereka datang hanya berdua atau dengan

seseorang lain. Karena itu maka Ken Arok tidak lagi menunggu.

Langsung ia bertanya dengan dada yang berdebar-debar, “Apakah

kau semalam membawa seseorang kepadaku? Seorang tamu?”

Wajah Ken Arok menjadi tegang selama ia menunggu kedua

orang itu menjawab. “Kalau mereka menggeleng,” berkata Ken Arok

di dalam hatinya, “ternyata aku telah menjadi gila. Aku telah melihat

apa yang sebenarnya tidak pernah ada.”

Hampir terlonjak Ken Arok ketika mendengar orang itu

menjawab, ”Ya, kami semalam mengantarkan seseorang kemari.

Seorang tamu.”

“Oh,” Ken Arok menundukkan kepalanya. Kedua tangannya

menyangga keningnya seolah-olah kepala itu menjadi terlampau

berat.

Kedua prajurit itu, Ki Buyut Panawijen, menjadi heran melihat

tingkah lakunya, sehingga orang tua itu bertanya, ”Apa yang telah

terjadi, Ngger.”

“Oh,” tergagap Ken Arok menjawab, “tidak apa-apa Ki Buyut. Aku

hanya dibingungkan oleh perasaanku sendiri.” Kemudian kepada

kedua prajurit itu ia ingin meyakinkan dirinya sendiri, “Jadi kalian

semalam telah membawa Bango Samparan kepadaku?”

“Ya, seseorang,” jawab mereka. “Bukan orang Panawijen dan

bukan dari Tumapel.”

“Ya, ya. Orang itu adalah Bango Samparan.” Ken Arok menarik

nafas dalam-dalam.

“Aku tidak gila,” katarya di dalam hati, ”aku tidak gila. Bango

Samparan lah yang gila.”

Meskipun demikian, Ken Arok tidak dapat ingkar kepada diri

sendiri, bahwa apa yang telah terjadi itu, kegelisahan, kebingungan,

dan keragu-raguan, adalah akibat dari mimpi yang gila yang

didengarnya dari mulut Bango Samparan. Seandainya ia tidak

pernah mendengar mimpi itu, maka ia tidak akan bingung

seandainya Bango Samparan itu benar-benar tidak pernah datang

sekalipun.

Tetapi Bango Samparan itu ternyata benar-benar telah datang di

gubugnya. Bango Samparan itu telah berceritera kepadanya tentang

sesuatu yang telah membuatnya gelisah. Kalau tidak, maka ia tidak

akan bingung bertanya kepada orang-orang yang dijumpainya

tentang seseorang yang bernama Bango Samparan. Kalau

pikirannya tidak sedang dikacaukan oleh angan-angan yang gila

yang diucapkan oleh Bango Samparan itu, maka ia akan cukup

tenang untuk bertanya kepada orang-orang yang langsung

berkepentingan.

Kedua orang prajurit itu masih saja duduk dengan penuh

menyimpan pertanyaan di dalam dadanya. Ia masih belum tahu

hubungan yang jelas antara seonggok rumput itu dengan tamu Ken

Arok semalam.

Sejenak mereka saling berdiam diri. Ki Buyut Panawijen hanya

mengangguk-anggukkan kapalanya saja, karena ia tidak tahu ujung

pangkal dari pembicaraan mereka tentang tamu yang dibawa oleh

kedua prajurit itu.

Yang mula-mula memecah kesepian adalah suara Ken Arok datar,

“Aku minta maaf kepada kalian. Mungkin kalian menjadi gelisah

atau cemas. Aku memang terlampau tergesa-gesa.”

Kedua prajurit itu saling berpandangan, tetapi keduanya tidak

menjawab.

Dan karena keduanya diam saja, maka Ken Arok meneruskan,

“Sampaikan pula kepada setiap prajurit Panawijen yang ikut menjadi

gelisah pula seperti kalian. Aku yakin bahwa mereka kini masih saja

diliputi oleh pertanyaan tentang diri kalian berdua. Nah, sekarang

kembalilah kalian ke gubug kalian. Sampaikan permintaan maafku

kepada semua prajurit.”

Sekali lagi kedua prajurit itu saling berpandangan. Salah seorang

dari mereka bertanya, “Apakah yang sebenarnya telah terjadi?”

Ken Arok berpaling sejenak, memandangi seonggok rumput di

samping pembaringannya. Katanya, “Dalam kegelisahan aku

terlampau cepat menjadi marah. Apa yang kalian lihat di sini

sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kalian. Kalian tidak usah

berpikir tentang rumput kering itu. Itu pasti pokal tamu semalam.

Aku kira ia pergi ketika aku sedang berada di sendang yang sedang

dibuat itu. Dan tamuku itu pulalah yang telah membawa seluruh

pakaianku dan menggantinya dengan seonggok rumput kering.”

Kedua prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil

menarik nafas dalam-dalam, sedangkan Ki Buyut Panawijen

mengangguk-anggukkan pula sambil berkata, “Oh, jadi semalam

Angger kedatangan seorang tamu yang pergi tanpa pamit?”

“Begitulah Ki Buyut.”

“Siapakah tamu Angger itu? Dan apakah Angger yakin bahwa

tamu Angger itu yang telah berbuat?”

Ken Arok terdiam sejenak. Ia menjadi ragu-ragu untuk

mengatakan hubungan antara dirinya dengan Bango Samparan. Ia

sendiri sebenarnya tidak ingin mendengar tentang hubungan yang

pernah terjadi itu.

Bukan karena ia ingkar dan tidak mengenal terima kasih tetapi ia

ingin menjauhkan diri dari setiap pengaruh yang akan dapat

menyeretnya ke dalam dunia yang hitam. Kalau ia kini terseret ke

dalam dunianya yang lama, maka kejahatan yang akan dapat

dilakukan pasti akan lebih dahsyat dari masa-masa sebelumnya. Ia

kini memiliki pedang di lambung, memiliki kekuasaan meskipun

tidak terlampau besar, dan memiliki pengaruh yang cukup atas

beberapa orang prajurit.

Tetapi ia harus menjawab pertanyaan Ki Buyut Panawijen

sehingga sekenanya ia bergumam, “Bango Samparan adalah

seorang kawan, Ki Buyut.”

“Em,” Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya. Sama sekali

tidak terlintas sejumput prasangka pun atas jawaban itu. Namun

Ken Arok yang merasa tidak mengatakan sebenarnya itu menjadi

semakin gelisah. Tanpa sesadarnya ia menyambung, “Kawan yang

agak dekat di masa-masa lalu. Tetapi kami tidak sejalan dalam

angan-angan dan perbuatan.”

“Em” Ki Buyut masih saja mengangguk-anggukkan kepalanya.

Dan Ken Arok masih saja diburu oleh kegelisahannya sendiri.

“Tetapi, kami sudah lama sekali berpisah Ki Buyut,” tergagap Ken

Arok berkata terus, “dan sebenarnya aku tidak ingin lagi bertemu

dengan orang itu.”

“Em,” Ki Buyut mengangguk-angguk terus.

“Aku menyesal bahwa ia datang kemari semalam. Orang itu

benar-benar gila. Ia datang dengan kegilaannya.”

“Em,” Ki Buyut masih mengangguk-angguk, tetapi ia heran

melihat sikap Ken Arok yang tiba-tiba menjadi semakin tegang.

Keheranan Ki Buyut Panawijen itu terpancar di dalam sorot

matanya. Namun Ken Arok menangkap sorot mata itu dengan alas

kegelisahan, sehingga Ken Arok merasa, seakan-akan Ki Buyut

Panawijen itu tidak mempercayainya.

“Ki Buyut, aku berkata sebenarnya. Aku berkata apa yang

sebenarnya terjadi.”

Ki Buyut menjadi semakin heran. Namun ia tidak segera

menjawab.

“Kenapa Ki Buyut tidak percaya, he?”

“Oh,” Ki Buyut terkejut mendengar pertanyaan itu sehingga

hampir-hampir ia terlonjak dari duduknya. Kening yang telah mulai

berkerut dilukisi oleh garis-garis ketuaannya, menjadi semakin

berkerut-merut.

“Kenapa aku tidak percaya Ngger, kenapa? Aku percaya kepada

Angger. Bahkan aku mempercayakan seluruhnya kepadamu.

Sepeninggal Mahisa Agni, maka segenap kepercayaan ada padamu,

Ngger.”

“Tetapi sorot mata Ki Buyut itu.”

“Oh,” Ki Buyut menjadi semakin bingung, “bagaimana dengan

sorot mataku. Apakah sorot mataku mengatakan kepadamu bahwa

aku tidak mempercayaimu? Oh, aku tidak tahu bagaimana aku harus

memandang Angger.”

Jawaban itu terasa telah menghujam ke dalam jantung Ken Arok.

Sejenak Ken Arok terbungkam. Ia dapat merasakan kejujuran yang

terpancar dari jawaban Ki Buyut yang tua itu. Sehingga karena itu,

maka disadarinya, betapa ia menjadi cemas dan bingung karena

Bango Samparan.

Terpatah-patah Kep Arok itu kemudian berkata, “Maaf Ki Buyut,

maaf. Aku telah bena-benar menjadi bingung.”

Ki Buyut Panawijen tidak segera menyahut. Dipandanginya saja

anak muda itu dengan beribu pertanyaan di dalam dadanya. Tetapi

kemudian orang tua itu pun dapat menangkap kegelisahan yang

sangat telah mengganggu Ken Arok.

Tiba-tiba orang-orang yang berada di dalam gubug itu terkejut

ketika Ken Arok berkata, “Tinggalkan aku sendiri. Tinggalkan aku

sendiri.”

Prajurit yang berada di dalam gubug itu saling berpandangan.

Dan mereka mendengar Ken Arok berkata, “Kenapa kalian berdua

belum juga meninggalkan tempat ini? Aku sudah minta maaf kepada

kalian, bahkan aku pesan kepadamu berdua, aku minta maaf pula

kepada setiap prajurit yang menjadi gelisah dan tersinggung karena

sikapku. Aku sudah berkata pula, bahwa yang mengambil semua

pakaianku dan menggantinya dengan rumput-rumput kering adalah

tamuku semalam. Nah, tinggalkan aku.” Ken Arok berhenti sejenak,

lalu suaranya menurun lemah, “Tetapi semuanya ini bukan lelucon

yang menyenangkan.”

Kedua prajurit itu pun kemudian berdiri sambil berkata, “Kami

minta diri.”

“Silakan. Aku minta maaf untuk kesekian kalinya.”

Kedua prajurit itu pun kemudian meninggalkan gubug itu.

Beberapa langkah mereka berpaling. Ketika sekali lagi mereka saling

berpandangan, maka merekapun menggeleng-gelengkan kepala

masing-masing. Mereka seolah-olah saling bertanya, apakah yang

sebenarnya telah terjadi, tetapi mereka pun bersama-sama

menyadari bahwa mereka tidak tahu apa-apa tentang Ken Arok dan

tamunya.

Meskipun kedua prajurit itu telah meninggalkan gubug Ken Arok,

namun Ki Buyut masih saja duduk di samping Ken Arok. Ia

sebenarnya ingin mengetahui, kenapa anak muda itu menjadi

sangat gelisah. Tetapi Ki Buyut tidak berani bertanya kepadanya.

Sesaat mereka duduk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Kepala-kepala mereka menunduk dan angan-angan mereka

mengembara ke dunia yang tidak dapat mereka jajagi.

Malam yang sepi itu pun menjadi semakin sepi. Nyala pelita

minyak masih saja berayun-ayun dibelai padang. Lamat-lamat di

kejauhan terdengar derik belalang, dan sekali-sekali terdengar

lolong anjing liar dan keluhan burung kedasih.

Tetapi betapa malam diselimuti oleh kesenyapan yang ngelangut,

namun Ken Arok masih juga dikejar oleh kegelisahannya. Dengan

sekuat tenaga ia mencoba menguasai dirinya supaya tidak lagi

menyinggung perasaan orang lain yang tidak bersangkut-paut dan

tidak mengerti sama sekali persoalan Bango Samparan.

Ki Buyut Panawijen, seorang yang telah cukup banyak makan

asin pahitnya kehidupan, dapat menghubungkan kegelisahan Ken

Arok itu dengan tamunya semalam, yang menurut dugaan Ken Arok

telah membawa segenap sisa pakaiannya, kecuali yang dipakainya

itu. Tetapi Ki Buyut pun menyangka, bahkan hampir meyakininya,

bahwa sebenarnya kegelisahan Ken Arok bukan hanya sekadar

karena pakaiannya itu lenyap. Anak muda itu telah berkata, bahwa

ia akan dapat meminjam kepada orang lain kemudian kembali ke

Tumapel untuk mengambil pakaiannya yang lain atau minta kepada

Akuwu Tunggul Ametung.

Tetapi yang lain itulah yang agaknya tidak hendak dikatakannya.

Yang lain itu pulalah yang sangat menggelisahkannya.

Namun ternyata Ken Arok yang hampir tidak pernah menahan

sesuatu perasaan apa pun di masa lampaunya, terlampau sukar

untuk menyembunyikan kegelisahannya. Di masa lampau ia akan

berbuat apa saja yang terbersit dibatinya. Ia akan berteriak apabila

ia ingin berteriak. Ia akan berkelahi apabila ia ingin berkelahi. Ia

akan mencegat dan menangkap gadis-gadis apabila dikehendaki.

Bahkan ia akan membunuh apabila keinginan itu timbul di dalam

benaknya. Perlahan-lahan ia telah berhasil menyingkir dari dunianya

yang kelam itu. Namun untuk menahan dadanya digetarkan oleh

perasaan gelisah dan pepat, adalah terlampau sulit baginya.

Karena itu, maka tanpa disangka-sangka oleh Ki Buyut

Panawijen, Ken Arok itu kemudian berkata, “Ki Buyut, aku telah

berbohong. Aku telah mencoba membohongi Ki Buyut.”

Ki Buyut mengangkat wajahnya. Kini ia tahu, kenapa Ken Arok

menyangkanya, bahwa ia tidak mempercayahi kata-kata anak muda

itu. Orang yang telah cukup berumur itu segera dapat mengerti apa

yang menyebabkan Ken Arok berbuat demikian. Perasaannya

sendirilah yang mengatakannya bahwa ia telah berbohong, bahwa

kata-katanya itu tidak dapat dipercaya. Namun karena itu pula Ki

Buyut Panawijen menjadi kagum akan kejujuran hatinya. Hatinya

yang masih cukup terbuka dalam kesederhanaannya.

“Ki Buyut,” berkata Ken Arok terbata-bata. “Bango Samparan

sama sekali bukan hanya sekadar temanku.”

Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya Bango

Samparan itu mempunyai kedudukan yang khusus di hati Ken Arok,

sehingga kehadirannya telah membuat anak muda itu kebingungan.

Dan sebelum Ki Buyut berkata, Ken Arok meneruskan, “Tetapi

bahwa ia yang telah mengambil pakaianku dapat aku yakini. Bango

Samparan memang mempunyai sifat yang demikian. Dan itulah

yang menakutkan aku. Aku tidak mau lagi disentuh oleh racun-racun

yang pernah menghujam di dalam benakku di masa kanak-kanakku.

Ki Buyut, Bango Samparan seorang penjudi besar, tetapi seorang

perampok kecil-kecilan itu, adalah ayah angkatku.”

Ki Buyut Fanawijen masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia

menjadi semakin jelas akan persoalan anak muda itu. Anak muda

yang ketakutan melihat bayang-bayang yang pernah

menyelimutinya di masa kanak-kanak, dan yang kini tiba-tiba saja

telah muncul kembali.

Tetapi Ki Buyut Panawijen masih belum menanggapinya. Ia

masih saja berdiam diri sambil memperhatikan setiap kata yang

diucapkan oleh Ken Arok.

Dan Ken Arok itu berkata terus, “Dan ayah angkatku itu, seperti

ayah angkatku yang lain, Lembong, telah membentukku menjadi

seekor serigala yang liar, yang hidup berkeliaran tanpa landasan.

Sekali-sekali aku jumpai juga orang-orang yang baik, seorang yang

mengajarku mengenai beberapa hal, bahkan sampai pada masalah

kepandaian ilmu dan kesusasteraan. Tetapi tak seorang pun yang

langsung memperhatikan masalah kerokhanian. Sehingga suatu

ketika aku bertemu dengan orang-orang yang aku anggap aneh,

yang memberikan pengertian yang lain, yang belum pernah aku

dengar sebelumnya. Namun, kini tiba-tiba orang semacam Bango

Samparan itu muncul kembali.”

Ki Buyut mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan orang tua itu

berkata, “Anakmas, kehadiran orang-orang yang tidak kau

kehendaki itu, jadikanlah alat untuk melihat diri sendiri. Bukankah

kehadiran Bango Samparan dapat memberikan sekadar kenangan

atas masa lampau itu. Dan Angger sudah menyadari bahwa masa

lampau itu sama sekali tidak menyenangkan? Nah, dengan demikian

maka Angger akan dapat semakin menjauhkan diri dari kehidupan

masa lampau itu, dengan menghayati hidup ini dengan sebaikbaiknya.

Hidup yang telah kau ketemukan dengan cara dan jalan

yang kau kehendaki.”

Kini Ken Aroklah yang mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia

mencoba untuk memahami kata-kata orang tua itu.

Mempergunakan keadaan ini untuk semakin meyakini jalan

hidupnya yang kini menjadi semakin baik dan terang.

Ken Arok mengatupkan giginya rapat-rapat ketika terngiang

kembali suara Bango Samparan, “Nasibmu terlampau baik Ken

Arok.” Dan Bango Samparan itu menganggapnya menyia-nyiakan

nasib yang baik itu. Nasib yang terlampau baik.

“Anakmas,” berkata Ki Buyut, “memang kita seakan-akan

dibiarkan berdiri di persimpangan jalan. Kita di-wenang-kan untuk

memilih sendiri jalan yang harus kita tempuh. Tetapi kita sudah

mendapat petunjuk, ke mana jalan-jalan itu akan menuju.”

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia pernah juga

mendengar dahulu pada saat ia masih mengembara di Padang

Karautan, bahwa jalan yang menuju ke arah keselamatan abadi,

bukanlah jalan yang paling luas dan rata. Bukan pula jalan yang

dianut oleh jumlah yang lebih banyak. Tetapi adalah suatu

keyakinan tentang keselamatan abadi, betapapun jeleknya yang

harus dilalui, betapapun sunyinya, namun keyakinan itu harus

digenggamnya.

Beribu-ribu orang yang lebih senang melalui jalan yang dipenuhi

oleh kenikmatan duniawi, tetapi hanya satu-dua orang saja yang

meletakkan harapannya pada kenikmatan abadi.

Kenangan itu, serta kata-kata Ki Buyut yang telah menanjak

menginjak hari-hari tuanya, ternyata mampu memberikan

ketenteraman hati anak muda itu. Ia tidak lagi takut mendengar

kata-kata Bango Samparan. Seandainya kini Bango Samparan

datang lagi kepadanya dan mengulangi semua kata-katanya, maka

hati Ken Arok tidak akan goncang lagi. Ia tidak perlu takut lagi

seandainya mendengar Bango Samparan berkata kepadanya, bahwa

nasibnya terlampau baik, sehingga hampir setiap keinginannya

terpenuhi. Bahkan seandainya ia ingin menjadi seorang Akuwu atau

Maharaja Kediri sekalipun.

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi heran sendiri,

bahwa ia menjadi sedemikian bingung menghadapi Bango

Samparan, sehingga hampir-hampir saja ia kehilangan

keseimbangannya. Sebagai seorang yang bertanggung jawab atas

suatu tugas yang berat, maka keadaannya itu sangat

membahayakannya. Bukan saja atas dirinya sendiri, tetapi atas

seluruh pekerjaan dan orang-orang yang berada di dalam tanggung

jawabnya.

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, Ken Arok kemudian

berkata, “Terima kasih Ki Buyut. Aku mengucapkan terima kasih.

Mudah-mudahan aku akan selalu dapat mempertimbangkan

keseimbangan perasaanku.”

Kini, Ki Buyut yang selama itu menjadi tegang, tampak

tersenyum. Perlahan-lahan ia berkata, “Ah, sudahlah Angger. Setiap

peristiwa akan dapat dijadikan pengalaman yang baik asal kita

dapat menempatkan pada tempat yang wajar. Selamat malam, aku

akan kembali dan beristirahat. Besok kita masih harus bekerja keras.

Bendungan itu hampir siap. Kalau air sudah mengalir lewat induk

susukan yang membelah padang ini, maka kita tidak perlu

mengangkat air dengan lodong-lodong bambu untuk setiap hari

menyiram pepohonan yang sudah mulai rimbun itu, terutama di

taman yang sedang dipersiapkan.”

“Ya Ki Buyut,” sahut Ken Arok yang wajahnya pun kini menjadi

terang, “aku mengharap demikian. Aku mengharap bahwa enam

bulan lagi pepohonan itu telah menjadi cukup rimbun. Sawah-sawah

telah dapat digenangi air, dan pategalan telah menjadi hijau.

Meskipun tanaman-tanamannya belum cukup tinggi, tetapi

pemandangan di daerah ini telah berubah sama sekali. Semuanya

akan tampak hijau segar.”

“Begitulah Ngger. Mudah-mudahan,” desis Ki Buyut. “Dan kini

aku minta diri.”

Ki Buyut itu pun kemudian meninggalkan Ken Arok seorang diri.

Sesaat Ken Arok masih duduk tepekur di tempatnya. Ia mencoba

mencernakan pengalaman yang aneh ini. Tetapi kemudian ia berdiri

sambil bergumam, “Suatu pelajaran yang baik.”

Tanpa disadarinya maka mulailah tangannya menyambar

makanan yang disediakan untuknya. Ia belum sempat memakannya,

karena sejak ia kembali ke gubugnya, ia menjadi sibuk karena

seonggok rumput kering.

“Gila benar Bango Samparan,” Ken Arok menggerutu. Tetapi kali

ini tidak karena kata-katanya yang dapat meracuni dirinya, tetapi

karena tubuhnya yang menjadi gatal-gatal.

“Aku harus mencari ganti pakaian,” gumamnya kemudian sambil

mengunyah makanannya. “Kalau tidak maka sisa malam ini tidak

akan dapat aku pergunakan sebaik-baiknya untuk beristirahat.”

Dan malam itu Ken Arok terpaksa membangunkan seorang

prajurit yang terdekat dari gubugnya untuk meminjam pakaian.

Tetapi agaknya prajurit itu terlampau malas sehingga pakaiannya

yang tidak dipakainya semuanya masih belum dicucinya, kecuali

sepasang yang akan dipakainya sendiri besok.

Sambil bersungut-sungut Ken Arok terpaksa membangunkan

orang lain dan meminjam pakaian dari padanya.

Hari-hari berikutnya maka Ken Arok seolah-olah mendapat

dorongan untuk bekerja lebih keras. Dari hari ke hari, maka

kedatangan Bango Samparan telah dilupakannya.

Ia telah mendengar laporan dari kedua orang prajurit yang

melaporkan hilangnya Mahisa Agni ke Tumapel. Dan ia telah

menyuruh dua orang yang lain untuk mengambil pakaiannya yang

ditinggalkannya di baraknya di Tumapel.

Bahkan Ken Arok telah mengirim orang yang lain untuk

menyampaikan rencananya kepada Akuwu Tunggul Ametung

supaya pekerjaannya tidak terlambat. Ken Arok minta dikirim

beberapa kelompok prajurit untuk membantunya, mengerjakan

pekerjaannya yang akan dilakukannya siang dan malam.

Sehari demi sehari telah terlampaui. Saat perkawinan agung

menjadi semakin dekat. Betapa hati Ken Dedes menjadi semakin

sedih, namun ia tidak dapat menunda hari-hari yang telah

ditentukan, bahkan sudah mulai dipersiapkan dengan teliti. Setiap

kali ia hanya dapat menumpahkan kepahitan hatinya kepada emban

pemomong-nya yang dibawanya dari Panawijen. Terhadap emban

yang lain, bahkan terhadap Madri yang selalu melayaninya dengan

baik, ia tidak mengatakan sepatah kata pun.

Emban tua yang dibawanya dari Panawijen itu selalu berusaha

untuk menghiburnya, membesarkan hatinya, dan menasihatinya

supaya gadis itu mendapatkan ketenteraman.

“Adalah lebih baik demikian Tuan Puteri,” berkata emban itu

suatu kali, “lebih baik perkawinan itu segera terjadi. Bukankah Tuan

telah berada di sini cukup lama? Apakah kata orang apabila hal itu

akan berkepanjangan. Betapapun juga Akuwu adalah seorang lakilaki

muda, sedangkan Tuan Puteri adalah seorang gadis yang

cantik.”

“Ah,” Ken Dedes berdesah, tetapi emban tua itu segera

memotongnya, “sudah tentu Tuan Puteri dan Tuanku Akuwu

Tunggul Ametung akan menjaga diri masing-masing. Namun orangorang

di luar istana, apalagi yang tidak senang melihat kehadiran

Tuan Puteri di sini, akan dapat mengatakan hal-hal yang tidak baik.

Seolah-olah Tuanku bukanlah seorang permaisuri. Seolah-olah Tuan

Puteri hanya sekadar seorang selir.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya, dan ia dapat mengerti katakata

emban pemomong-nya. Apabila demikian, sejenak ia dapat

menahan hatinya, pasrah diri dalam kepahitan. Namun setiap kali,

kerinduannya kepada kakaknya, yang dianggap tinggal satu-satunya

keluarganya itu sangat mengganggunya. Dalam upacara agung,

maka kenang-kenangan yang demikian pasti tidak akan dapat

disingkirkannya, sehingga dalam keramaian peralatan agung, dalam

kerinduan dan kegembiraan yang meluap-luap di seluruh Tumapel,

ia akan merasa semakin sepi.

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Terdengar ia

berdesis, “Ya bibi, mudah-mudahan aku dapat menemukan

perasaan itu. Mudah-mudahan aku dapat melepaskan rinduku

kepada kakang Mahisa Agni setelah aku mempunyai seorang

suami.”

Emban tua itu menelan ludahnya yang seolah-olah menyumbat

kerongkongan. “Demikianlah hendaknya Tuan Puteri,” katanya,

namun hatinya menjerit setinggi langit. Apakah benar-benar terjadi,

Mahisa Agni akan dilupakannya? O, alangkah malang nasib anak itu.

Dalam pada itu, Ken Dedes sendiri seolah-olah menemukan suatu

anggapan baru tentang Akuwu Tunggul Ametung. Kekecewaannya

telah mendorongnya untuk menganggap bahwa Akuwu Tunggul

Ametung adalah seseorang yang terlampau mementingkan diri

sendiri.

Tetapi tak seorang pun yang dapat menahan majunya waktu.

Hari-hari pun telah terlampaui, dan saat yang telah ditunggu-tunggu

oleh segenap rakyat Tumapel itu terjadilah.

Datanglah saatnya Tumapel mengadakan peralatan agung.

Tuanku Akuwu Tunggul Ametung mengambil seorang permaisuri.

Putra seorang pendeta dari Padepokan Panawijen.

Namun beberapa mulut berdesah di antara rakyat Tumapel,

“Sayang bahwa gadis itu seorang gadis yatim-piatu. Ibunya sudah

tidak ada lagi, dan ayahnya hilang tidak diketahui ke mana perginya.

Satu-satunya kakaknya pun hilang ditelan oleh para penjahat.”

Tetapi dengan demikian, dengan perasaan iba di hati, rakyat

Panawijen menyambut bakal permaisurinya dengan ikhlas. Bahkan

beberapa orang menganggap bahwa keprihatinan gadis bakal

permaisuri itu pasti akan bermanfaat bagi Tumapel.

Dalam upacara-upacara yang besar itu, Ken Dedes selalu

berusaha untuk menahan gelora perasaannya. Untuk

menyembunyikan kepahitan hati serta kerinduannya kepada

keluarganya. Kadang-kadang ia tidak dapat menahan desakan air

matanya, sehingga setitik-setitik menetes di pangkuannya. Kadangkadang

bayangan wajah ayahnya yang tua membayanginya,

kemudian disusul oleh kenangan atas Mahisa Agni yang kekar dan

perkasa, yang telah melepaskannya dari berbagai macam bencana.

Terbayang pula masa kanak-kanaknya yang riang penuh gairah di

Padepokan Panawijen bersama para endang. Bermain-main di

tepian sambil melihat gemerciknya air sungai yang mengalir lambat

di antara batu-batu yang menjorok. Mencuci sambil berdendang di

bendungan. Sayup-sayup terdengar seruling para gembala di antara

gemersiknya angin pagi.

Ken Dedes merasakan kenikmatan hidup dalam kesederhanaan

itu. Dan kini ia harus mencoba menikmati hidup dalam kemewahan

duniawi yang melimpah-limpah.

Pada hari-hari upacara perkawinan agung itu, seluruh Tumapel

seolah-olah telah diselimuti oleh kegembiraan yang merata. Seolaholah

tidak ada lagi kesedihan, duka, dan kepahitan hidup. Rakyat

yang paling miskin sampai yang paling kaya, mencoba untuk

bergembira menyambut perkawinan Akuwu Tunggul Ametung.

Tujuh hari tujuh malam Tumapel bermandikan suasana

perkawinan. Hampir di setiap banjar padesan dan padukuhan

terdapat berbagai macam keramaian. Umbul-umbul dan rontek

berjajar di sepanjang jalan dari ujung ke ujung. Di pinggir-pinggir

desa anak-anak meneriakkan keriangan hati mereka sambil

menggenggam berbagai macam makanan dan permainan. Regolregol

desa dihiasi dengan berbagai macam bentuk hiasan janur dan

dedaunan.

Setiap wajah rakyat Tumapel menjadi cerah. Mereka tidak

memikirkan kesulitan hidup yang kadang-kadang mereka jumpai.

Mereka melupakan sejenak kesibukan mereka sehari-hari. Kesibukan

kerja untuk menghidupi keluarga mereka.

Tetapi wajah Ken Dedes sendiri tidak secerah wajah rakyat yang

menyambut pengangkatannya menjadi seorang permaisuri. Setiap

saat dikenangnya ayahnya, ibunya yang tidak dapat diingatnya

dengan jelas. Dan yang menyedihkan baginya adalah Mahisa Agni

yang hidup dan matinya masih belum dapat diketahui.

“Kalau kakang Mahisa Agni ada, maka ia sedikit banyak akan

dapat ikut menikmati kemeriahan hari-hari perkawinan ini,”

desisnya, “tetapi aku tidak tahu apa yang telah terjadi dengan

dirinya saat-saat ini. Mungkin ia masih terikat pada sebatang

tonggak. Mungkin ia baru mengalami siksaan badani, dan bahkan

mungkin di luar kekuatan daya tahannya. Atau mungkin juga ia

sudah terbujur mati tanpa seorang pun yang mengurusnya.”

Hati Ken Dedes menjadi semakin pedih ketika ternyata Akuwu

Tunggul Ametung tidak dapat ikut mengerti kepahitan yang

dirasakannya. Bahkan sekali-sekali Tunggul Ametung menegurnya,

“Ken Dedes, setiap orang di Tumapel merayakan hari bahagia ini.

Setiap orang bergembira. Tetapi kau sendiri ternyata menyambut

hari-hari yang cerah ini dengan wajah yang kusut.”

Ken Dedes tidak dapat mengatakan sepatah kata pun. Setiap kali

ia mencoba untuk menunjukkan kegembiraannya. Apalagi di

hadapan para tamu-tamu agung yang berdatangan ke istana pada

upacara-upacara resmi. Para pendeta, para pemimpin

pemerintahan, para panglima dan senapati, dan para tamu dari luar

Tumapel yang ikut merayakan hari yang berbahagia itu.

Tetapi apabila upacara-upacara semacam itu sudah selesai.

Apabila para tamu telah tidak ada lagi di Istana Tumapel dan tidak

lagi terdengar suara gamelan yang mengiringi gadis-gadis

menarikan tari-tari yang riang penuh gairah hidup menyambut

perkawinan agung, maka Ken Dedes kembali ke dalam biliknya

dengan wajah yang suram. Setelah para emban membantunya

melepaskan pakaian kebesaran yang berkilauan seperti matahari,

setelah para emban membantunya mengenakan pakaian sehari-hari

seorang permaisuri, maka Ken Dedes itu menelungkupkan

kepalanya di pangkuan pemomong-nya. Para emban yang

meninggalkannya di dalam biliknya berdua dengan emban tua yang

dibawanya dari Panawijen, masih mendengar gadis itu terisak-isak.

Namun sambil tersenyum para emban itu saling berbisik, “Oh,

alangkah bahagianya gadis Panawijen itu. Ia menangisi kurnia yang

tidak pernah diimpikannya di masa kanak-kanak. Sebagai seorang

gadis padepokan yang terpencil, maka ia kini berada di sentong

tengen Istana Tumapel. Kegembiraan yang meledak telah

menyebabkan ia tidak dapat menahan diri. Bukankah kalian

mendengar Tuan Puteri itu menangis?”

“Ah, bukankah itu sudah sewajarnya? Kau pun akan menangis

seandainya tiba-tiba kau diambil menjadi seorang isteri senapati

saja. Apalagi menjadi seorang permaisuri. Kau, pasti tidak akan

dapat merasakan betapa bahagianya, sebab kau akan mati

membeku karena kegirangan.”

“Uh, kalau benar aku menjadi isterti seorang senapati maka kau

aku beri anugerah. Prajurit suamiku yang paling tampan akan

mengambilmu menjadi selirnya.”

“Ah, tidak mau.”

Para emban itu pun kemudian tertawa. Meskipun mereka

mencoba untuk menahan suara tertawa mereka, namun para

prajurit yang berada di belakang istana mendengarnya. Ketika

prajurit-prajurit itu berpaling, dilihatnya beberapa orang emban

lewat melintasi halaman belakang.

“Uh,” desah salah seorang dari prajurit-prajurit itu, “kalian

mengenakan pakaian yang paling indah yang kalian punyai. Tetapi

kalian tidak membawa makanan yang paling enak untuk kami yang

bertugas di gardu-gardu perondan.”

“Kami tidak mengurusi makanmu,” sahut salah seorang emban

itu.

“Ya, mungkin lain kali kau akan mengurusi makananku.”

“Tidak mungkin. Aku bukan emban madaran. ”

“Siapa tahu kalau kau kelak menjadi isteriku.”

“Hus, jangan terlampau perasa. Bercerminlah di belumbang

sebelah. Kau akan melihat wajahmu sendiri yang jelek itu.”

Prajurit itu tidak marah. Tetapi justru ia tertawa lebih keras dari

suara para emban.

Pemimpin peronda istana pada saat itu mendengar suara tertawa

prajuritnya. Tetapi kali ini dibiarkannya saja para prajurit dan emban

tertawa terlampau keras. Seluruh Tumapel memang sedang

tertawa. Di alun-alun di muka istana itu pun sedang diadakan

berbagai macam pertunjukan. Di bawah pohon beringin.

Di malam hari Tumapel memancarkan sinar beribu-ribu obor di

sepanjang jalan, di regol-regol, dan di banjar-banjar. Seolah-olah

Tumapel ingin bersaing dengan wajah langit yang biru, yang

ditaburi oleh berjuta-juta bintang-bintang yang gemerlapan.

Tetapi Tumapel tidak mendengarkan suara hati seorang gadis

yang sedang disambutnya. Hanya emban tua pemomong-nya

sajalah yang dapat ikut menitikkan air mata. Tetapi air mata itu

adalah juga air mata kesedihannya sendiri, karena ia pun sedang

menangisi anak satu-satunya yang hilang tak tentu lintang bujurnya.

Demikianlah maka wajah dan hati keputren Istana Tumapel itu

tidak sejalan. Wajah yang cerah bercahaya karena rerangken dan

perhiasan yang cemerlang. Tetapi hati permaisuri itu sendiri menjadi

suram.

Namun setiap kali emban pemomong-nya berkata, “Tuan Puteri,

lambat-laun Tuan Puteri pasti akan menemukan kegembiraan Tuan

kembali. Kesibukan Tuan Puteri sebagai seorang permaisuri pasti

akan mendesak segala macam kerinduan Tuan Puteri kepada orangorang

yang Tuan kasihi. Ayah bunda dan kakanda Tuan yang hilang

itu.”

“Mungkin bibi,” sahut Ken Dedes, “tetapi hanya untuk sementara.

Setiap kali aku pasti akan teringat kepada mereka itu. Mereka yang

hanya dapat merasakan pahit dan getirnya, tetapi mereka tidak

sempat ikut merasakan kesenangan ini.”

“Itu adalah suatu sikap yang dapat Tuan anggap bahwa mereka

telah melakukan mesu-diri, berprihatin untuk Tuan Puteri.

Merekalah yang menanam dan menyiangi. Kini Tuan Puterilah yang

memetik buahnya.”

“Itulah yang menyedihkan bibi. Mereka hanya menanam saja.

Menanam, mengairi, menyiangi, dan memelihara. Tetapi mereka

tidak ikut memetik buahnya.”

“Buah itu telah melimpah kepada puterinya, kepada adiknya yang

dikasihi. Apalagi?”

Ken Dedes tidak menyahut. Ia mencoba meresapkan kata-kata

emban tua pemomong-nya itu. Ia mencoba menerima kejadian itu

dengan wajar, dan ia mencoba melupakan orang-orang yang

dikasihinya. Tetapi hal itu tidak mungkin dilakukannya.

Sedangkan emban itu sendiri, serasa dadanya menjadi pepat.

Setiap ia mengucapkan kata-kata penghibur bagi Ken Dedes, maka

kata-kata itu bagaikan jarum-jarum yang menusuk hatinya sendiri.

Pedih.

Tetapi kegembiraan di Tumapel berlangsung terus. Seperti yang

direncanakan. Tujuh hari tujuh malam. Hampir tidak ada saat-saat

terluang dari berbagai macam kesenangan dan kegembiraan.

Barong di sepanjang jalan diiringi dengan gamelan berirama cepat.

Di banjar-banjar dan di pura-pura, gadis-gadis menari berebutan.

Namun juga berbagai macam perjudian seolah-olah mendapat

kesempatan tanpa terkendali. Adu ayam, jengkerik, dan burung

gemak. Anak-anak bermain binten di perapatan. Gadis-gadis desa

bermain jirak hampir semalam-suntuk dengan lampu-lampu obor

yang menyala di setiap sudut halaman.

Tetapi ternyata bahwa Akuwu Tumapel tidak juga melupakan

para prajurit yang berada di Padang Karautan. Beberapa hari

sebelum hari perkawinan itu, Ken Arok telah mengirimkan dua orang

prajurit untuk datang menghadap, mohon agar Akuwu berkenan

mengirimkan beberapa orang baru untuk menambah tenaga dan

perbekalan di Padang Karautan. Orang-orang baru dengan alat-alat

yang baru. Ken Arok telah menyampaikan rencananya untuk

melakukan pekerjaannya siang dan malam, supaya sendang itu

dapat siap pada waktunya. Sebelum enam bulan sejak hari

perkawinan ini.

Akuwu Tumapel sama sekali tidak berkeberatan. Bahkan kepada

Ken Arok, Akuwu telah mengirimkan pesan, supaya pada saat-saat

Tumapel merayakan hari-hari perkawinannya, Ken Arok dapat ikut

menyaksikannya.

Tetapi kemudian datang seorang prajarit dari Padang Karautan

yang menyampaikan pesan Ken Arok, bahwa Ken Arok ingin

merayakan hari-hari yang berbahagia itu di Padang Karautan,

bersama dengan para prajurit dan orang-orang Panawijen. Sebab

orang-orang Panawijen adalah orang-orang yang merasa paling

berbahagia atas perkawinan itu. Ken Dedes adalah gadis dari

Panawijen.

“Kalau begitu,” berkata Akuwu Tumapel, “pada saat itu aku akan

mengirimkan prajurit-prajurit seperti yang diminta oleh Ken Arok,

bahan-bahan makanan untuk masa-masa kerja yang lama itu dan

bahan-bahan beserta jurumasak-jurumasak yang paling pandai

untuk menyediakan makanan yang paling enak di hari-hari yang

bahagia itu. Para prajurit yang sedang bekerja beserta orang-orang

Panawijen harus menikmatinya pula kesenangan tujuh hari tujuh

malam. Selama hari-hari itulah maka jurumasak-jurumasak yang

pandai dari Tumapel akan menyediakan makan dan minum bagi

para prajurit dan orang-orang Panawijen yang sedang bekerja

membuat bendungan, parit-parit, dan sendang buatan.”

Demikianlah maka pada hari-hari perkawinan yang dirayakan

tujuh hari tujuh malam itu, maka Padang Karautan pun seolah-olah

dibanjiri oleh makan dan minum tiada taranya. Setiap orang akan

dapat menikmati makanan menurut seleranya. Berbagai macam

makanan telah disiapkan untuk mereka. Berlebih-lebihan sehingga

bersisa terlampau banyak.

“Kita kirimkan sebagian dari makanan ini ke Panawijen,” berkata

salah seorang dari mereka, “orang-orang yang tinggal di Panawijen

pun harus menikmati kegembiraan ini. Kawan-kawan bermain Ken

Dedes semasa kecil, para endang, dan para cantrik.”

“Bagus,” sahut Ki Buyut, “anak-anak pun harus ikut

merayakannya.”

“Ya,” teriak seseorang, “aku di sini makan makanan yang paling

enak, bahkan yang seumur hidupku belum pernah aku cicipi, tetapi

anak-anakku hampir tidak makan di rumah.”

Maka diputuskannya untuk mengirimkan makanan secukupnya

bagi orang-orang Panawijen. Makanan yang seenak-enaknya

meskipun tidak untuk tujuh hari tujuh malam. Tetapi mereka harus

ikut bergembira di antara daun-daun yang menjadi semakin

menguning dan tanah persawahan yang menjadi semakin kering.

Tetapi kali ini Ken Arok tidak mau mengorbankan orang baru lagi

seandainya mereka bertemu dengan Kebo Sindet dan Kuda

Sempana. Karena itu, maka ketika beberapa orang berangkat

mengantar makanan itu, Ken Arok telah menyediakan sejumlah

prajurit yang akan mengawalnya, yang tidak akan mungkin dapat

dikalahkan oleh Kebo Sindet.

Kedatangan orang-orang Panawijen yang membawa makanan

sedemikian banyaknya di atas punggung-punggung kuda dan

pedati-pedati yang ditarik oleh lembu beserta beberapa orang

prajurit, ternyata telah mengejutkan perempuan dan anak-anak.

Tetapi ketika mereka tahu apa yang telah dibawa oleh orang-orang

itu, maka meledaklah kegembiraan tiada taranya. Sehingga sertamerta

Panawijen yang kering itu telah ikut pula merayakan

perkawinan Ken Dedes dalam upacara agung di Istana Tumapel.

Sejenak orang-orang Panawijen melupakan pepohonan yang

meratapi diri dalam kekeringan. Pepohonan yang daun-daunnya

berguguran semakin lama semakin banyak.

Anak-anak yang sejak lama tidak berlari-larian dan bermain-main

di sudut desa, sejenak dapat menikmati kegembiraan. Setelah

sekian lamanya Panawijen menjadi desa yang seakan-akan mati,

maka untuk sesaat dapat menikmati hidupnya kembali.

Para endang dan para cantrik pun ikut pula bergembira Mereka

saling berceritera tentang masa lampau mereka, selagi Ken Dedes

masih berada di padepokan.

“Ken Dedes tidak pernah melupakan aku,” berkata salah seorang

endang , “ke mana pun ia pergi, aku pasti dibawanya.”

“Aku masih menyimpan sehelai kain panjang,” sahut yang lain,

“kain panjang pemberian Ken Dedes yang dahulu dipakainya. Kain

panjang itu kini menjadi kenang-kenangan yang sangat berharga

bagiku.”

“O,” berkata yang lain lagi, “kenang-kenangan yang ada padaku

bukan sekadar sehelai kain. Tetapi rambut Ken Dedes yang kini

telah aku sisir halus. Cemara itu panjangnya hampir sedepa. Setiap

kali aku menyisir rambutnya yang hitam lebat itu, dahulu aku selalu

menyimpan rambutnya yang rontok. Sekarang rambut itu menjadi

sehelai cemara,” rambut yang panjang.

Seorang endang yang lain dengan sedih bergumam, “Aku tidak

mempunyai kenang-kenangan sama sekali dari padanya. Sehelai

selendang pun tidak. Tetapi aku mempunyai bekas luka di

lenganku.”

“Apa hubungannya antara bekas luka itu dengan Ken Dedes?”

“Aku pernah berkelahi dengannya ketika kami masih agak kecil.

Aku digigitnya sampai luka berdarah. Bekas luka itu masih ada

sampai kini.”

“Oh,” desah beberapa emban hampir bersamaan, “kenangkenangan

yang paling mengesankan.”

“Kalau tahu ia akan menjadi seorang permaisuri, maka aku akan

membalasnya, menggigit lengannya supaya ia tidak akan pernah

melupakan aku.”

“Jadi kau tidak membalasnya saat kau digigitnya?”

“Aku tidak berani, aku hanya menangis melolong-lolong.”

Para endang itu pun kemudian terdiam. Tetapi mulut mereka

masih mengunyah berbagai macam makanan yang diperuntukkan

bagi mereka. Di ruang lain para cantrik pun sedang menikmati

makanan yang serupa. Tetapi agaknya para cantrik itu lebih cepat

hampir dua kali lipat menghabiskan makanan mereka.

“Besok kita akan mendapat lagi,” gumam salah seorang cantrik,

“dua hari dua malam kita akan menikmati makanan seperti ini.

Bahkan mungkin lebih lama lagi.”

Tak ada yang sempat menjawab karena mulut mereka sedang

dipenuhi oleh berbagai macam makanan yang belum pernah mereka

nikmati sepanjang umur mereka. Makanan yang disesuaikan dengan

selera juru madaran dari Istana Tumapel.

Di Padang Karautan, kegembiraan yang serupa agaknya tidak

kalah meriahnya. Para prajurit menari-nari sesuka hati. Ada

beberapa di antara mereka memang seorang penari. Tetapi karena

tidak ada gamelan, maka mereka menari tanpa irama diiringi oleh

kawan-kawannya yang mencoba menirukan suara gamelan dengan

mulutnya.

Namun demikian hal itu sangat menggembirakan. Mereka

tertawa sambil mengunyah makanan dan minum minuman yang

selama ini tidak pernah mereka nikmati. Mereka selama berada di

Padang Karautan hanya minum air sungai, atau air panas yang

direndami daun sere dan gula kelapa.

Prajurit-prajurit yang masih segar, yang baru datang di padang

itu pun mencoba untuk bergembira. Meskipun sebenarnya mereka

lebih senang merayakan hari perkawinan Akuwu itu di Tumapel.

Namun mereka tidak dapat menyanggah perintah atasannya, bahwa

mereka harus berangkat ke Padang Karautan, sambil membawa

bekal dan makanan khusus selama hari-hari peralatan.

Pada hari yang ketiga maka Padang Karautan menjadi lebih

meriah lagi. Mereka melihat pemimpin rombongan telah datang

bersama beberapa orang pengawal. Pemimpin rombongan prajuritprajurit

yang diperbantukan kepada Ken Arok, yang menurut

perintah Akuwu maka pemimpin rombongan itu akan menjadi

pembantu Ken Arok pula. Sebab menurut Akuwu Tunggul Ametung,

maka Ken Arok tidak akan dapat terus-menerus mengawasi

pekerjaan yang akan dilakukan sehari semalam bergantian.

“He,” teriak salah seorang prajurit, “lihat, pemimpin kita itu telah

datang. Rombongan kecil itu pasti membawa makanan lebih banyak

lagi.”

Hampir berbareng kawan-kawannya pun tertawa. Berkata salah

seorang, “Apakah perutmu masih belum penuh juga?”

“Perutku dapat menggelembung. Karena itu maka perut ini tidak

pernah penuh berapa pun makanan aku masukkan.”

Kawan-kawannya sekali lagi tertawa. Bahkan Ki Buyut Panawijen

yang duduk-duduk di antara mereka bersama orang-orang

Panawijen pun ikut tertawa juga.

“Jangan malu Ki Buyut,” teriak prajurit itu pula, “kalau Ki Buyut

dan orang-orang Panawijen malu, maka bukan salah kami apabila

kalian tidak mendapat bagian. Kalau besok juru madaran itu kembali

ke Tumapel, maka kita akan mengalami masa paceklik lagi. Makan

nasi kurang matang, sambal wijen, dan jangan keluwih. Nah, lihat,

itu orang-orang baru telah berdatangan lagi. Mereka pasti

membawa makanan lebih banyak dan lebih enak.”

Meledaklah suara tertawa seolah-olah membelah Padang

Karautan. Kegembiraan yang tidak tertahankan setelah mereka

bekerja keras tanpa mengenal istirahat.

Ken Arok sendiri duduk di atas sebuah batu beberapa langkah

dari Ki Buyut Panawijen. Tampaklah ia tersenyum-senyum melihat

tingkah-laku prajurit-prajuritnya dan orang-orang Panawijen yang

sedang bergembira. Selama ini ia tidak dapat memaksa mereka

bekerja. Tiga hari bendungan itu seolah-olah tidak disentuhnya.

sendang dan susukan induk itu pun dibiarkannya tidak digarap

selama ini untuk memberi kesempatan kepada orang-orangnya

menikmati kegembiraan.

Ken Arok mengharap, mudah-mudahan kegembiraan ini akan

dapat menjadi pendorong kerja yang akan datang. Kerja yang lebih

keras. Apalagi dengan orang-orang baru yang masih segar.

Dengan wajah yang masih dihiasi dengan sebuah senyuman, Ken

Arok menatap Padang Karautan yang berwarna kekuning-kuningan.

Semakin lama rombongan kecil prajurit-prajurit Tumapel itu menjadi

semakin dekat. Debu yang tipis mengepul di belakang kaki-kaki

kuda yang berlari tidak terlampau cepat melintas padang rumput

yang luas.

“Siapakah yang akan dikirim oleh Akuwu untuk membantu aku di

sini?” bertanya Ken Arok kepada salah seorang prajurit yang baru

datang tiga hari yang lampau.

Tetapi prajurit itu menggeleng sambil menjawab, “Kami tidak

tahu, siapakah yang akan datang itu. Tetapi pemimpin pasukan

yang membawa kami kemarin berkata, bahwa tiga hari lagi akan

datang perwira yang akan diperbantukan dalam pembuatan

bendungan ini.”

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia masih

tetap bertanya-tanya di dalam hati, “Siapakah orang yang akan

datang itu?” Ken Arok mengharap bahwa orang itu akan dapat

diajaknya bekerja bersama. Seorang yang mengerti arti dari

kerjanya.

Ketika rombongan itu menjadi semakin dekat, maka tampaklah

wajah Ken Arok menjadi semakin berkerut. Di antara mereka yang

datang itu tampaklah seorang perwira remaja yang belum lama

mendapat wisuda kenaikan tingkat.

“Hem,” Ken Arok menarik nafas dalam-dalam, “kenapa anak itu

yang dikirim kemari?”

Tetapi Ken Arok tidak dapat berbuat apa-apa. Ia harus menerima

tenaga yang dikirimkan oleh Akuwu Tunggul Ametung kepadanya.

“Bukankah ia hanya membantu aku mengawasi para prajurit

yang sedang bekerja? Mudah-mudahan sikapnya tidak

mengendorkan hasrat dari setiap orang di sini. Mulutnya agak

terlampau lancang. Dan sikapnya yang kekanak-kanakan kurang

meyakinkan sikap seorang pemimpin,” desisnya di dalam hati.

Ketika rombongan itu sudah menjadi dekat benar, maka Ken

Arok pun berdiri menyambutnya bersama dengan Ki Buyut

Panawijen dan beberapa orang prajurit. Tampaklah wajah anak

muda itu berseri-seri meskipun dibasahi oleh keringat yang meleleh

dari kening. Dengan lantangnya ia berkata hampir berteriak, “Ah,

padang ini telah membakar kulitku kakang.”

Ken Arok mencoba tersenyum. Jawabnya, “Besok kau akan dapat

merendam dirimu di dalam air.”

Perwira yang masih muda dalam usia maupun dalam jabatan itu

tertawa. Katanya, “Ya, aku akan merendam diri. Apakah sendang

yang kau buat itu sudah berair?”

Ken Arok menggeleng, “Belum,” jawabnya, “tetapi kau dapat

merendam diri di bendungan.”

“Bendungan yang dibuat oleh Mahisa Agni?”

“Ya,” sahut Ken Arok, “sekarang adalah tugas kita untuk

menyelesaikan bendungan itu sepeninggal Mahisa Agni.”

Perwira muda itu mengerutkan keningnya. Kemudian ia bertanya,

“Apakah kau ikut membuat bendungan itu pula bersama para

prajurit?”

“Tentu,” sahut Ken Arok.

Ken Arok terkejut ketika perwira itu kemudian berkata, “Aku

hanya mendapat tugas membantumu membuat sendang buatan itu.

Bendungan itu adalah pekerjaan orang-orang Panawijen. Prajuritprajurit

yang aku bawa dan yang mendahului aku adalah tenagatenaga

yang diperbantukan kepadamu untuk sendang buatan itu.”

“Ah,” Ken Arok berdesah. Dengan serta-merta ia memandangi

wajah Ki Buyut Panawijen yang berkerut. Tetapi Ken Arok itu segera

menyahut, “Ya, begitulah. Aku memang meminta kepada Akuwu

tenaga yang akan membantuku menyelesaikan sendang itu.

Sedangkan bendungan dan parit-paritnya akan dilakukan oleh

orang-orangku yang lama. Yang telah berada di padang ini sebelum

kalian datang.”

Perwira itu ingin membantah kata-kata Ken Arok, tetapi segera

Ken Arok menyambung kata-katanya. “Turunlah. Inilah Ki Buyut

Panawijen.”

“O,” anak muda itu mengangguk kecil. Perlahan-lahan ia turun

dari kudanya. Tampaklah betapa malasnya ia berjalan mendekati

Ken Arok.

“Jadi orang tua inilah Ki Buyut Panawijen?” ia bertanya kepada

Ken Arok.

“Ya, Ngger. Akulah Buyut Panawijen,” orang tua itu mengangguk

dengan hormat.

Sekali lagi anak muda itu mengangguk kecil, katanya, “Namaku

Kebo Ijo, Ki Buyut.”

“O, jadi Angger bernama Kebo Ijo?”

“Ya,” sahut Kebo Ijo pendek, kemudian kepada Ken Arok ia

berkata, “di manakah sendang buatan itu?”

“Itu,” Ken Arok menunjuk agak ke tengah, “agaknya pepohonan

yang aku tanam telah tumbuh baik meskipun masih harus disiram

setiap hari.”

Kebo Ijo mengangguk-anggukkan kepalanya. “Apakah hari ini

kalian tidak bekerja?” ia bertanya.

“Kami di sini sedang beristirahat merayakan perkawinan Akuwu.”

Kebo Ijo mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kenapa kau tidak

pergi ke Tumapel menyaksikan perkawinan itu?”

“Aku lebih senang berada di sini. Di antara batu-batu dan

brunjung-brunjung bambu. Di antara tanaman-tanaman yang telah

mulai tumbuh ngrembaka. Di antara para prajurit yang menari-nari

menurut irama yang khusus.”

“Sayang kau tidak melihatnya,” desis Kebo Ijo.

“Kenapa?”

“Gadis Panawijen itu memang cantik. Cantik sekali.

Sepantasnyalah, bahwa kakang Mahendra pernah tergila-gila

kepadanya, dan Kuda Sempana benar-benar menjadi gila. Apakah

kau belum pernah melihat wajah gadis itu?”

“Sudah, tetapi hanya sekilas,” jawab Ken Arok. ”Aku sama sekali

tidak melihat kelebihan dari gadis-gadis cantik yang lain. Tetapi

entahlah dalam pakaian kebesarannya.”

Mendengar jawaban Ken Arok itu Kebo Ijo tertawa terbahakbahak,

sehingga tubuhnya berguncang-guncang. Beberapa orang

prajurit berpaling memandanginya. Dan Ki Buyut Panawijen pun

mengerutkan keningnya. Orang tua itu dalam sekilas dapat melihat

perbedaan antara kedua pemimpin yang mendapat tugas untuk

menyelesaikan pekerjaan yang berat itu. Meskipun keduanya masih

muda, tetapi Ken Arok tampak jauh lebih matang dari pemimpin

yang bernama Kebo Ijo itu.

Di sela-sela suara tertawanya terdengar ia berkata, “Sudah

sepantasnyalah kau ditempatkan di Padang Karautan ini. Setiap hari

kau hanya bergaul dengan batu-batu, brunjung-brunjung bambu,

pedati, waluku, dan lembu.”

“Kenapa?” Ken Arok mengerutkan keningnya.

“Seandainya kau berada di Tumapel pun kau tidak akan dapat

menilai seorang gadis. Ternyata kau tidak melihat kelebihan yang

tidak ternilai pada permaisuri Akuwu Tunggul Ametung itu.”

“Sudah aku katakan. Aku hanya melihatnya sekilas. Pertamatama

aku melihatnya pada saat Akuwu mengambilnya di Padukuhan

Panawijen. Kemudian hampir tidak pernah lagi aku melihatnya

cukup lama.

Sekali lagi Kebo Ijo tertawa. “Mungkin,” katanya, “pada saat kau

mengambilnya di Panawijen maka gadis itu adalah gadis padepokan.

Pakaiannya adalah pakaian padesan sehari-hari. Tetapi setelah ia

mengenakan pakaian seorang puteri keraton, maka wajahnya

memancar seperti matahari.”

Kemudian sambil berpaling kepada Ki Buyut Panawijen, ia

berkata, “Kau dapat juga berbangga Ki Buyut, bahwa dari

padukuhanmu yang kering itu telah lahir seorang gadis yang cantik

seperti matahari. Tetapi sinarnya yang panas telah mengeringkan

padukuhanmu sehingga kau harus bersusah-payah membuat

bendungan baru di sini.”

“Ah,” Ken Arok memotong, “kau masih juga senang bergurau.

Beristirahatlah. Mungkin kau haus atau lapar. Silakan. Orangorangmu

sudah tahu, ke mana kau harus pergi sekarang. Telah

disediakan sebuah gubug untukmu.”

“Apa aku dapat beristirahat di tempat serupa kandang kambing

ini?”

“Sekian lamanya aku di sini, aku selalu dapat tidur nyenyak,”

sahut Ken Arok.

Sejenak Kebo Ijo menebarkan pandangan matanya berkeliling.

Tampaklah keningnya berkerut-merut dan mulutnya bergerak-gerak.

Tetapi ia masih berdiam diri.

“Apakah yang membuatmu heran?” bertanya Ken Arok.

“Hem,” anak muda itu bersungut-sungut, “ternyata aku telah

dilemparkan ke dalam neraka. Kenapa aku yang mendapat tugas di

padang panas ini, kenapa bukan orang lain?”

“Di sini tidak ada sesuatu yang dapat menyegarkan hati. Tidak

ada gadis-gadis cantik, tidak ada penari yang lincah, tidak ada

selingan apa pun kecuali batu melulu.”

“Aku di sini jauh lebih lama daripadamu,” sahut Ken Arok, “tetapi

aku tidak mengeluh.”

“Mungkin kau sudah biasa hidup di Padang Karautan sejak

sebelum kau menjadi pelayan dalam di Tumapel.”

Terasa dada Ken Arok berdesir mendengar kata-kata Kebo Ijo itu

Tetapi ketika ia melihat wajah Kebo Ijo, maka segera ia menyadari

bahwa Kebo Ijo sama sekali tidak bersungguh-sungguh. Ia berkata

apa saja sekehendak hatinya tanpa menghiraukan perasaan orang

lain. Karena itu maka Ken Arok itu bahkan tersenyum sambil

menjawab, “Ya, mungkin aku memang dilahirkan di Padang

Karautan. Tetapi kau pun harus berusaha menyesuaikan dirimu.

Seorang prajurit pada suatu saat akan berada di suatu tempat yang

sama sekali tidak menyenangkan. Dalam peperangan mungkin kau

harus berada di tanah yang berlumpur, atau mungkin di padang

yang lebih panas dari Karautan, atau mungkin di lereng-lereng

bukit.”

“Dalam peperangan hal itu wajar sekali terjadi. Tetapi di masamasa

orang lain bergembira ria di jalan-jalan Kota Tumapel, aku

harus berada di dalam tungku yang panasnya bukan main.”

“Ah,” desah Ken Arok, “jangan mengeluh saja. Kau harus

memberi contoh kepada prajurit-prajuritmu, bahwa mereka harus

tahan menghadapi keadaan.”

Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Kemudian ia berpaling

memandangi prajurit-prajurit yang duduk bergerombol-bergerombol

di antara gubug-gubug yang bertebaran. Beberapa orang pengawal

yang datang bersamanya masih saja berdiri di belakangnya.

“Mereka pun sebenarnya tidak senang terdampar di padang

kering ini.”

“Mungkin,” sahut Ken Arok, “tetapi kau dan aku harus

menumbuhkan kegairahan kerja. Jangan mengendorkan nafsu

bekerja mereka. Beberapa hari lagi kau dan prajuritmu akan dapat

menyesuaikan dirinya dengan udara padang yang kering ini. Dan

kau seharusnya tidak mengeluh lagi.”

Kebo Ijo menarik nafas dalam-dalam. “Di mana aku harus

beristirahat.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Sikap Kebo Ijo tidak begitu

menyenangkannya. Tetapi ia memanggil juga seorang prajurit dan

berkata kepadanya, “Bawalah tamu-tamumu ini ke tempat yang

sudah disediakan.”

“He,” potong Kebo Ijo, “kau sangka aku di sini sekadar menjadi

tamumu? Tidak, aku di sini menjadi tawananmu yang mulai besok

atau lusa harus bekerja berat di atas api neraka.”

Ken Arok tersenyum, tetapi ia tidak menyahut. Prajurit yang

dipanggilnya segera membawa Kebo Ijo dan para pengawalnya ke

tempat yang memang sudah disediakan. Beberapa buah gubug kecil

dengan sehelai tikar pandan yang masih baru.

“Ah,” sekali lagi Kebo Ijo berdesah, “macam inikah tempat yang

diperuntukkan bagi kami?”

“Semuanya hanya seperti ini,” sahut prajurit itu.

“Bagaimana dengan Ken Arok?”

“Tak ada bedanya, bahkan tikar yang dipakainya adalah tikar

yang sudah usang.”

Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Dipandanginya prajurit itu

dengan pandangan yang aneh, sehingga prajurit itu menundukkan

kepalanya.

“Apa kau bilang?” desis Kebo Ijo, “Ken Arok justru memakai tikar

yang usang?”

“Ya,” sahut prajurit itu.

“Bodoh, bodoh sekali,” gumam Kebo Ijo, “sebagai pimpinan ia

berhak memilih. Bukan hanya sekadar soal tikar, tetapi soal apa pun

juga.”

Mata Kebo Ijo terbelalak ketika ia mendengar prajurit itu

menjawab, “Ya, memang ia berhak untuk memilih dalam hal apa

pun. Tetapi itu tidak pernah dilakukannya. Ia tidak pernah memilih.

Yang selalu dipakainya adalah yang tersisa setelah para prajuritnya

memilih lebih dahulu.”

“Huh,” geram Kebo Ijo, “ia telah menghilangkan kewibawaannya

sebagai seorang pemimpin. Salahnyalah kalau bawahannya kelak

tidak lagi menghormatinya dan tidak mematuhinya.”

Prajurit itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak berani

menjawab. Namun dengan demikian maka ia mendapat kesan

bahwa pemimpinnya yang baru ini agak berbeda sifat dan tabiatnya

dengan pemimpinnya yang lama, Ken Arok.

Bagi prajurit itu, sikap Ken Arok sama sekali tidak merendahkan

dirinya atau menghilangkan kewibawaannya. Tetapi justru para

prajurit menjadi segan dan hormat kepadanya, tanpa membuat

garis pemisah antara pemimpin dan yang dipimpin. Keakraban di

antara mereka telah mendorong mereka untuk berbuat banyak

dengan penuh kerelaan. Bukan sekadar memenuhi kewajiban

sebagai bawahan yang harus patuh terhadap atasan. Tetapi ada

dorongan dari dalam diri sendiri untuk bekerja keras bersama-sama

dengan penuh keikhlasan.

“Agaknya tidak demikian dengan pemimpin yang baru ini,” desah

prajurit itu di dalam hatinya, kemudian, “tetapi ia hanya sekadar

membantu Ken Arok. Segalanya masih tetap ada di dalam tanggung

jawab pemimpin yang lama itu.”

Kebo Ijo itu pun kemudian masuk ke dalam gubug kecil yang

diperuntukkannya sendiri. Di sampingnya adalah gubug yang agak

besar yang diperuntukkan bagi para prajurit yang mengawalnya

pada saat ia datang ke Padang Karautan. Namun agaknya Kebo Ijo

sama sekali kurang puas terhadap keadaan ini. Gubug ini terlampau

jelek. Tak ada apa-apa di dalamnya selain sebuah gendi air, sebuah

tikar, dan sebuah bancik lampu yang dipergunakan di malam hari.

“Di mana aku harus meletakkan ganti pakaianku?” tiba-tiba Kebo

Ijo itu berteriak.

Prajurit yang mengantarnya masih berdiri di luar gubug itu.

Ketika ia mendengar Kebo Ijo berteriak, maka segera ia

mendekatinya.

“Di mana aku harus menyimpan pakaianku? Apakah di sini tidak

ada glodok, atau paga, atau apa pun?”

Prajurit itu menggeleng, “Tidak.”

“Apa yang diperbuat Ken Arok dengan pakaiannya?”

“Dibungkus, dan diletakkan di samping pembaringannya.”

“Ah,” Kebo Ijo berdesah, “malas sekali. Di sini ada bambu, ada

tenaga, ada tali. Kenapa tidak disuruhnya membuat paga atau apa

pun?”

Prajurit itu tidak menjawab.

“Yang pertama-tama dilakukan oleh prajurit-prajuritku adalah

membuat paga.”

Kebo Ijo itupun kemudian tergesa-gesa keluar dari gubugnya dan

pergi mendapatkan sekelompok prajurit yang sedang makan sambil

berbicara seenaknya. Mereka tertawa sepuas-puasnya. Seorang dari

mereka yang cukup jenaka, ternyata baru berceritera tentang

pengalaman mereka yang lucu.

Suara tertawa itu terputus ketika mereka mendengar Kebo Ijo

yang tiba-tiba saja berada di samping mereka, berteriak, “Berhenti.

Apa yang kalian lakukan selama tiga hari di sini mendahului aku?

Kalian tidak dapat mempersiapkan tempat untukku dengan baik.

Sekarang buatlah sebuah paga untukku. Lihat di sana ada setumpuk

bambu. Cepat. Hari ini paga itu harus sudah siap untuk tempat

pakaianku.”

Para prajurit itu terkejut. Sejenak mereka saling berpandangan.

Namun terdengar suara Kebo Ijo, “Cepat. Lakukan perintahku.”

Tetapi para prajurit itu masih saja duduk keheranan.

Dipandanginya wajah Kebo Ijo yang tegang. Dan sekali lagi mereka

mendengar Kebo Ijo berteriak, “Cepat. Ayo lakukan perintahku.

Membuat sebuah paga untukku. Jumlah kalian telah cukup banyak

untuk melakukannya. Kalian tidak perlu mencari orang lain lagi.

Coba berapa orang yang bergerombolan disini. Sebelas, ah,

malahan dua belas orang.”

Tiba-tiba salah seorang dari mereka bertanya, “Apakah kami

harus membuatnya sekarang?”

“Oh, ternyata kau tuli. Aku sudah bilang, selesaikan paga itu hari

ini juga.”

“Tetapi kami bukan prajurit-prajurit yang baru datang tiga hari

yang lalu. Kami telah lama berada di Padang Karautan ini.”

“Aku tidak peduli. Lakukan perintahku. Aku adalah orang kedua

sesudah Ken Arok di sini. Semua harus tunduk pada perintahku.

Baik ia baru datang tiga hari yang lalu, maupun sudah lama berada

di sini.”

Sekali lagi prajurit-prajurit itu saling berpandangan. Tetapi satudua

dari mereka telah berdiri, meskipun sambil bersungut-sungut di

dalam hati. Hari ini mereka sebenarnya masih diizinkan untuk

beristirahat. Tetapi ketika mereka mulai melangkah, maka langkah

itu pun terhenti. Mereka melihat Ken Arok berjalan mendatanginya.

Dengan nada datar ia bertanya, “Ada apa dengan kalian?”

“Aku memerintahkan kepada mereka untuk membuat sebuah

paga,” sahut Kebo Ijo.

“O,” Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya, “kau perlu

sekali dengan paga itu?”

“Ya, aku harus meletakkan pakaianku. Di dalam gubugku sama

sekali tidak ada tempat yang pantas.”

Ken Arok menjadi ragu-ragu sejenak. Para prajurit itu sebenarnya

masih harus menikmati masa istirahatnya untuk menyambut harihari

gembira. Tetapi ia tidak dapat menolak perintah Kebo Ijo

meskipun ia berwenang. Dengan demikian maka ia akan membuat

anak muda itu malu dan seterusnya mengurangi kepatuhan para

prajurit terhadapnya. Dalam keadaan yang demikian, maka Kebo Ijo

pasti akan berusaha untuk menebus kewibawaannya dengan

perbuatan yang aneh-aneh yang barangkali terlampau keras.

Sejenak Ken Arok berdiri saja dengan penuh kebimbangan.

Apakah sebaiknya yang pantas dilakukan. Ia harus cukup bijaksana

sehingga persoalan itu dapat dipecahkannya tanpa membuat pihakpihak

yang bersangkutan menjadi kecewa.

Tetapi belum lagi Ken Arok mendapatkan cara yang dianggapnya

baik, maka sekali lagi ia mendengar Kebo Ijo membentak, “Ayo,

cepat. Apalagi yang kau tunggu? Aku memerlukan paga itu segera.”

Seperti digerakkan oleh sebuah tenaga, maka para prajurit itupun

bersama-sama berpaling memandangi Ken Arok seakan minta

pertimbangan kepadanya, apakah saat-saat yang terasa sangat

menggembirakan itu harus segera diputuskan hanya karena sebuah

paga.

Ken Arok merasakan betapa tatapan mata para prajuritnya itu

bertanya kepadanya, dan lebih daripada itu menunggu

keputusannya. Namun sekali lagi hatinya tersentuh pula oleh

kewajibannya untuk mempertahankan kewibawaan Kebo Ijo. Kalau

ia membatalkan perintah itu berdasarkan wewenangnya, maka hal

yang serupa akan menjadi kebiasaan para prajurit itu.

Karena itu maka Ken Arok kemudian menganggukkan kepalanya

sambil berkata, “Ya, baiklah. Lakukanlah perintah itu.”

Alangkah kecewanya hati para prajurit itu. Tanpa mereka sengaja

mereka menebarkan pandangan mereka ke arah kelompokkelompok

yang lain yang masih dengan gembira menikmati masamasa

istirahat mereka. Perasaan yang selama ini tidak pernah

tumbuh di dalam dada mereka, terasa kini mulai menjamah hati

mereka. Iri. Mereka merasa iri bahwa kawan-kawan mereka itu

masih dapat duduk sambil bergurau dan menikmati makanan yang

melimpah-limpah. Tetapi mereka sekelompok yang hanya kebetulan

saja duduk di dekat gubug Kebo Ijo, tiba-tiba saja telah mendapat

pekerjaan yang menjemukan.

Membuat paga. Seandainya hari itu juga mereka harus

melanjutkan kerja mereka bersama-sama, maka mereka tidak akan

merasa malas seperti itu.

Tetapi Ken Arok telah membenarkan perintah Kebo Ijo, sehingga

karena itu maka mereka terpaksa juga melangkahkan kaki-kaki

mereka yang serasa menjadi terlampau berat, ke arah setumpuk

bambu di sebelah perkemahan itu.

Tetapi sekali lagi mereka tertegun ketika mereka mendengar Ken

Arok berkata, “He, apakah tidak ada yang kalian lupakan?”

Salah seorang dari mereka bertanya, ” Apakah yang tertinggal?”

“Tidak ada seorang pun diantara kalian yang membawa alat

untuk memotong, memecah, dan meraut bambu.”

“Oh,” para prajurit itu pun kemudian berdesah.

“Ambillah,” berkata salah seorang di antara mereka kepada

prajurit yang paling muda.

Dengan malasnya prajurit muda itu berjalan ke dalam gubug

tempat menyimpan segala macam alat-alat. Langkahnya satu-satu

seperti anak itu sedang kelaparan.

“He, inikah cara kalian bekerja,” bentak Kebo Ijo, “langkahmu

seperti cacing kelaparan. Kau sama sekali tidak mencerminkan sikap

seorang prajurit Tumapel yang perkasa.”

Prajurit itu tcrkejut. Kemudian dengan tergesa-gesa ia melangkah

mengambil segala macam alat yang mereka perlukan. Ketika ia

berlari-lari kembali, maka didukungnya berbagai macam pisau dan

kelewang.

“Cepat, lakukan perintahku,” teriak Kebo Ijo sambil bertolak

pinggang.

Sikapnya telah menumbuhkan kesan yang kurang menyenangkan

bagi para prajurit Tumapel yang berada di Padang Karautan itu.

Namun ketika mereka sedang melangkah beberapa langkah lagi,

mereka mendengar Ken Arok berkata pula, “He, kalian masih juga

kelupaan sesuatu.”

“Apa lagi?” bertanya salah seorang dari mereka. Ken Arok

tcrsenyum ketika ia mendengar Kebo Ijo menggeram. Agaknya Kebo

Ijo menjadi jengkel juga terhadap Ken Arok yang seolah-olah

sengaja menghambat para prajurit itu.

“Itu,” Ken Arok menjawab sambil menunjuk makanan yang masih

berserakan, “kalian boleh membawa makanan itu, supaya kalian

dapat bekerja dengan tenang. Hari ini adalah hal yang sangat

khusus. Di hari-hari di mana kalian bekerja, maka aku akan

mengambil tindakan apabila aku melihat salah seorang dari kalian

ternyata membawa makanan. Tetapi di hari istirahat ini pekerjaan

kalian adalah makan, sedangkan pekerjaan yang lain itu adalah

pekerjaan sambilan. Tetapi ingat. Hari ini paga itu harus sudah siap.

Tetapi itu bukan berarti bahwa kalian harus bekerja dengan wajah

berduka. Tidak ada larangan buat tertawa. Asal tertawa itu tidak

memperlambat pekerjaan kalian.”

Para prajurit itu sejenak tertegun diam. Namun tiba-tiba mereka

itu tersenyum. Bahkan prajurit yang paling muda, yang dengan

malasnya telah mengambil alat-alat mereka, kini dengan sigapnya

meloncat dan memungut beberapa macam makanan yang

disukainya.

“Bawa semuanya. Serahkan alat-alat itu kepada orang lain.”

Perintah ini pun dilakukannya dengan cepatnya. Jauh lebih cepat

daripada saat ia berlari-lari ke tempat simpanan alat-alat.

“Nah, cepat. Sekarang pergi ke timbunan bambu, secepat kalian

mengambil makanan itu.”

Para prajurit itu tidak dapat menahan tawa mereka. Tetapi sikap

mereka pun kini segera berubah. Dengan lincahnya mereka

melangkah ke arah setumpuk bambu. Dan kemudian dengan cepat

pula mereka mengerjakannya. Membuat sebuah paga. Namun

tangan mereka tidak henti-hentinya menyuapi mulut mereka. Ada

satu-dua di antara mereka yang memecah bambu sambil

berdendang. Ada yang meraut belahan bambu sambil berkelakar.

Sesaat Kebo Ijo dan Ken Arok masih memandangi mereka dari

kejauhan. Mereka melihat para prajurit itu bekerja dengan cekatan.

Meskipun pekerjaan itu bukan pekerjaan mereka, tetapi ada di

antara mereka yang memang cukup cakap untuk mengerjakan

pekerjaan-pekerjaan dari bambu.

Beberapa orang prajurit yang lain, yang juga duduk di dalam

kelompok-kelompok, akhirnya melihat juga kawan-kawannya yang

sibuk membuat paga. Beberapa dari antara mereka mendatangi

para prajurit yang sedang bekerja itu sambil bertanya, “Apakah

yang kalian lakukan?”

Salah seorang dari mereka menjawab, “Membuat paga.”

“Buat apa?”

“Tempat pakaian.”

“He,” prajurit yang bertanya itu membelalakkan matanya, “baru

sekarang kau berpikir untuk membuat tempat pakaian? Agaknya kau

menunggu pakaianmu menjadi kumal, baru kau buat rak-rakan

untuk menyimpannya.”

“Hus,” desis prajurit yang sedang bekerja itu, “bukan untuk kami

sendiri. Tetapi kami membuat untuk pemimpin kami yang seorang

itu, yang akan membantu Ken Arok memimpin kami. Kebo Ijo.”

“O,” prajurit itu tiba-tiba menutup mulutnya. Ketika ia berpaling,

ia masih melihat Kebo Ijo berdiri bertolak pinggang di tempat yang

agak jauh.

“Ia pasti tidak mendengar,” desis prajurit itu pula.

“Tetapi sikapmu pasti membuatnya marah. Orang itu agaknya

pemarah dan keras.”

“Oh,” tiba-tiba prajurit itu pun berjongkok pula di antara mereka

yang sedang bekerja, “aku akan ikut membantu kalian. Apakah

kalian tidak menghabiskan hari istirahat ini, dan membuat paga ini

besok.”

“Paga ini harus jadi hari ini juga.”

“Bukan main.”

Beberapa orang prajurit yang semula hanya berdiri saja melihatlihat

satu demi satu ikut pula berjongkok dan membantu membuat

paga itu. Ada yang membantu meraut bambu-bambu yang telah

dibelah, ada yang mengerat dan membuat lubang-lubang purus.

Ada yang membuat tali dan ada yang mulai nglanji potonganpotongan

bambu itu.

Di kejauhan Ken Arok yang masih berdiri di samping Kebo Ijo

berkata, “Lihat, pekerjaan itu akan cepat selesai. Yang turut bekerja

menjadi semakin banyak. Kini telah lebih dari duapuluh lima orang

berjongkok di sana meskipun sebagian dari mereka hanya dudukduduk

sambil berbicara. Tetapi suasananya menjadi lebih jernih.”

“Kau terlalu memanjakan prajurit-prajuritmu,” sahut Kebo Ijo,

”sebenarnya kau tidak perlu terlampau bermanis-manis. Sejak aku

datang, aku sudah melihat kelemahanmu. Apalagi ketika prajurit

yang mengantarkan aku berkata serba sedikit tentang kau. Katanya,

kau selalu mengalah terhadap prajurit-prajuritmu. Untuk segala hal

kau lebih senang mempergunakan sisa dari prajurit-prajuritmu.

Seharusnya kau tidak berbuat demikian. Dan aku tidak akan berbuat

demikian. Aku akan bersikap seperti sikap seorang perwira,

sebenarnya perwira. Aku tidak akan terlampau lunak dan

memanjakan prajurit-prajuritku. Supaya mereka tahu bagaimana

mereka harus bersikap terhadap atasannya.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Tetapi ia menjawab, “Bagiku

sikap yang berlebih-lebihan itu tidak perlu. Aku ingin mengendalikan

mereka sebaik-baiknya. Tidak dengan kekerasan seperti yang kau

bayangkan. Lihat, bukankah pekerjaan itu selesai juga dengan

caraku. Dan para prajurit itu tidak merasa tersinggung dan

terganggu.”

“Tetapi setiap kali kita harus bermanis-manis. Setiap kali kita

harus berpura-pura meskipun sebenarnya dada kita bengkah karena

kemarahan atas sikap mereka yang memuakkan, kita harus

tersenyum-senyum dan tertawa-tawa. Coba lihat prajurit-prajuritmu

yang telah lama berada di Padang Karautan ini. Mereka terlampau

malas seperti cacing kelaparan. Tetapi kalau mereka mendapat

makanan, maka mereka berebutan seperti serigala.”

“Ah,” Ken Arok semakin tidak senang mendengar kata-kata Kebo

Ijo. Ia tahu sifat dan watak anak muda itu. Meskipun perkenalannya

dengan adik seperguruan Witantra ini belum terlampau akrab, tetapi

ia sudah membayangkan, alangkah jauh sifat dan wataknya dari

kakak seperguruannya itu.

“Lihat,” berkata Kebo Ijo, “kau akan melihat perbedaan sikap

mereka setelah aku berada di sini.”

“Aku tidak menghendaki,” sahut Ken Arok, “aku menghendaki

suasana di padang rumput Karautan ini tetap seperti semula.”

Kebo Ijo terkejut mendengar jawaban Ken Arok sehingga ia

berpaling. Tetapi dilihatnya Ken Arok masih tetap berdiri dengan

tenangnya memandangi orang-orang yang sedang bekerja membuat

paga untuk Kebo Ijo itu.

“Kau akan tetap memelihara prajurit-prajuritmu menjadi

pemalas,” bertanya Kebo Ijo.

“Kau belum pernah melihat mereka bekerja di bendungan.”

“Di bendungan?:

“Ya, di bendungan dan sendang buatan itu.”

“O, jadi prajurit-prajuritmu juga kau pekerjakan di bendungan

itu.”

“Ya.”

“Itu pun tidak akan aku lakukan. Prajurit-prajurit dari Tumapel

hanya boleh bekerja di sendang buatan. Bendungan itu adalah

tugas orang-orang Panawijen. Kalau semua kau kerjakan, lalu

apakah kerja orang-orang Panawijen? Tidur dan menghabiskan

bekal makanan kita?”

“Seharusnya kau tidak mengucapkan kata-kata itu,” sahut Ken

Arok, “kau harus melihat dulu. Baru kau menilai apa yang kau lihat.”

“Aku sudah melihat cara mereka bekerja. Dan aku sudah dapat

menilai. Juga tentang orang-orang Panawijen ini.”

“Kalau bendungan itu tidak siap, dari mana sendang itu akan

mendapat air?”

Kebo Ijo terdiam sejenak. Tampaklah wajahnya berkerut-merut.

Lalu katanya, “Ya, barangkali begitu, tetapi baik terhadap orangorang

Panawijen dan kepada para prajurit, kita harus bersikap

keras. Kita jangan membuat kebiasaan jelek antara bawahan dan

atasannya.”

“Apakah aku juga harus bersikap demikian terhadapmu?”

pertanyaan itu benar-benar mengejutkan Kebo Ijo sehingga

dadanya serasa berdentang.

Sejenak prajurit muda itu justru terbungkam. Tetapi matanya

seolah-olah hendak menyala. Wajahnya yang tegang menjadi

kemerah-merahan seperti bara.

Dengan nafas yang seakan-akan menyumbat kerongkongan ia

bertanya, “Apakah maksudmu?”

Tetapi Ken Arok masih tetap tenang. Ia masih saja memandangi

orang yang bekerja membuat paga bagi Kebo Ijo. Dengan nada

datar ia berkata, “Kau ingin aku bersikap keras tehadap bawahanku.

Kalau kau tidak sependapat dengan aku, maka apakah kau juga

bermaksud supaya aku memaksamu.”

Dada Kebo Ijo kini benar berdentangan. Ia tidak menyangka

bahwa Ken Arok akan bersikap demikian terhadapnya. Selama ini ia

menganggap bahwa Ken Arok adalah seorang pelayan dalam yang

tidak begitu penting. Adalah kebetulan saja bahwa ia mendapat

tugas di Padang Karautan. Seperti biasanya Akuwu kadang-kadang

tidak terlampau panjang berpikir tentang sesuatu masalah yang

tidak dianggapnya penting. Misalnya tentang pembuatan sendang

dan taman di Padang Karautan, sehingga ia menunjuk saja orang

yang terdekat pada saat keinginannya itu tumbuh. Agaknya saat itu

Ken Arok lah yang lagi menghadapnya, sehingga anak itulah yang

diserahi untuk melakukan tugas itu. Kebo Ijo tidak pernah berpikir

bahwa Akuwu Tunggul Ametung pernah menyaksikan sendiri,

bagaimana Ken Arok berkelahi melawan Mahisa Agni ketika mereka

sedang melarikan Ken Dedes, dan bagaimana anak muda itu dengan

sebuah gerakan yang sama sekali tak terduga-duga telah

membunuh seorang prajurit. Apa yang dilihat itu ternyata tetap

teringat oleh Akuwu Tunggul Ametung yang senang sekali melihat

keperkasaan para prajurit dan pelayan dalamnya. Dan karena

keperkasaannya pulalah maka Witantra berada di dekat Akuwu itu,

dan dahulu juga Kuda Sempana. Karena hal yang serupa pula maka

Kebo Ijo tepat mendapat wisuda dan bahkan kemudian diserahi

untuk memimpin sejumlah prajurit menyusul Ken Arok di Padang

Karautan ini.

Tetapi kini tiba-tiba Kebo Ijo menghadapi sikap pelayan dalam

yang dianggapnya tidak penting itu, betapa menyakitkan hatinya.

Sehingga untuk sejenak justru mulutnya terbungkam dan tubuhnya

menjadi gemetar seperti kedinginan.

Selama itu Ken Arok hanya berdiam diri saja. Ia masih saja

memandangi orang-orangnya yang sedang bekerja. Seolah-olah ia

acuh tak acuh saja atas sikap Kebo Ijo yang menjadi sangat marah

kepadanya.

Sejenak kemudian maka terdengar Kebo Ijo menggeram, “Kau

tidak akan dapat menakut-nakuti aku.”

“Aku tidak menakut-nakutimu. Aku hanya ingin mendengar

pendapatmu tentang dirimu sendiri. Aku kira kau pasti tidak senang

mendapat perlakuan yang tidak semestinya. Terlampau keras dan

kasar, tanpa mendapat kesempatan untuk menyatakan

pendapatnya. Tanpa kesempatan untuk beristirahat dan tertawa.”

“Ternyata kau pengecut,” sahut Kebo Ijo yang hampir tidak

dapat mengendalikan kemarahannya, “kau tidak berani

mempertanggungjawabkan kata-katamu sendiri.”

“Kenapa?” bertanya Ken Arok masih dalam sikapnya.

“Aku kira kau juga hanya dapat menakut-nakuti para prajurit itu

sehingga kau tidak berani bertindak keras terhadap mereka.

Sedangkan apabila para prajurit itu berani menentangmu, maka kau

surut tidak hanya satu-dua langkah. Tetapi kau surut sampai ke

batas yang paling aman bagimu.”

Kini Ken Arok memalingkan kepalanya. Masih dalam nada yang

datar ia bertanya, “Apakah maksudmu?”

“Kau pengecut,” Kebo Ijo mengulangi. “Kau tidak berani

memberikan perintah sebagai seorang pemimpin. Kau hanya berani

membujuk mereka dengan kemanjaan yang berlebih-lebihan supaya

mereka tidak marah kepadamu.”

“Kau yakin begitu?” bertanya Ken Arok.

“Aku yakin,” jawab Kebo Ijo, “sekarang kau mencoba menakutnakuti

aku. Tetapi kau tidak berani mempertanggungjawabkan.

Dengan licik kau memutarbalikkan arti kata-katamu.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Sedangkan Kebo Ijo berbicara

terus, “Apalagi kau sama sekali tidak berhak berbuat apa pun juga

atasku. Aku mendapat perintah langsung dari Tuanku Akuwu.”

“Bagaimana bunyi perintah itu?”

Kebo Ijo terdiam sejenak. Tetapi kamudian ia menjawab, “Aku

mendapat perintah untuk membantumu. Hanya membantu. Dan itu

tidak berarti bahwa aku berada di bawah perintahmu.”

“Kau berada di bawah perintahku,” sahut Ken Arok tegas.

Sekali lagi Kebo Ijo terdiam. Sekali lagi darahnya serasa mendidih

dan wajahnya merah membara.

Namun selama itu ternyata Ken Arok telah mengambil keputusan

untuk berbuat sesuatu atas anak yang agaknya keras kepala ini. Ia

harus menunjukkan kewibawaannya atasnya menurut cara yang

diingini oleh Kebo Ijo sendiri. Selama ia belum berbuat sesuatu,

maka Kebo Ijo pasti masih akan merupakan penghalang bagi setiap

rencana dan pelaksanaannya sesuai dengan cara yang selama ini

telah ditempuhnya dengan hasil yang cukup baik. Ia tidak senang

sama sekali apabila Kebo Ijo tiba-tiba saja telah mengubah suasana

yang baik di dalam kerja yang berat ini. Karena itu, maka ia akan

berbuat sesuai dengan keinginan Kebo Ijo sendiri.

Sejenak kemudian terdengar Kebo Ijo itu menggeram.

“Kau akan membuktikan bahwa kau bukan seorang pengecut?”

“Bukan itu soalnya. Tetapi sesuai dengan pendapatmu sendiri,

aku akan berbuat sesuatu atasmu apabila kau tidak tunduk akan

perintahku.”

“Apa yang akan kau lakukan?” suara Ilebo Ijo gemetar.

“Memaksamu.”

“Oh,” tiba-tiba Kebo Ijo menyingsingkan kain panjangnya dan

menyangkutkannya pada ikat pinggangnya yang lebar dan terbuat

dari kulit ular, “itukah keinginanmu?”

Tetapi Ken Arok masih tetap berdiam diri. Bahkan kini ia telah

memandangi para prajurit yang bekerja itu lagi, seolah-olah ia tidak

tanggap apa yang dilakukan oleh Kebo Ijo.

“He,” berkata Kebo Ijo itu lantang, “ayo, apakah yang kau

kehendaki?”

Ken Arok berpaling. Bahkan ia bertanya, “Apa yang sedang kau

lakukan?”

Mata Kebo Ijo terbelalak karenanya. Jawabnya, “Bukankah kau

akan mencoba memaksakan pendirianmu kepada Kebo Ijo yang kau

sangka akan bertekuk-lutut dan menyembah kepadamu. Ayo,

lakukan kalau kau ingin memaksa aku.”

“Ya, aku memang ingin memaksamu. Jadi kau harus tunduk

kepada perintahku. Itu saja.”

“Aku tidak mau.”

“Bagaimana kalau prajuritmu berbuat seperti kau. Tidak mau

tunduk kepadamu.”

Kemarahan Kebo Ijo ternyata telah membakar kepalanya

sehingga hampir-hampir tidak terkendali. Bahkan tiba-tiba saja

timbul keinginannya untuk menunjukkan kepada Ken Arok, bahwa ia

memang tidak dapat ditakut-takuti atau diancam dengan cara apa

pun. Ia akan tetap pada pendiriannya.

“Kalau prajuritku tidak tunduk kepadaku, aku pukul ia sampai

pingsan.”

“Bagaimana kalau ia melawan?”

“Aku ikat dan aku seret di belakang punggung kuda. Nah,

bukankah kau akan melakukannya atasku yang kau anggap

bawahanmu?”

“Bagiku tidak perlu. Aku dapat melaporkan hal itu kepada

atasanku. Bukankah kau sekarang prajurit pengawal istana?

Bukankah menurut susunan keprajuritan, kau termasuk dalam

lingkungan kekuasaan kakak seperguruanmu, Witantra?”

“Itulah sebabnya kau tidak berhak memerintah aku.”

“Tetapi pimpinan di sini adalah aku. Aku dapat melaporkan apa

yang terjadi atasmu. Kepada kakang Witantra dan bahkan mungkin

langsung kepada Akuwu Tunggul Ametung.”

“Setan alas,” Kebo Ijo menggeram, “kau memang pengecut. Kau

tidak berani bertindak dengan kekuatanmu sendiri. Kau akan

menyalahgunakan kekuasaan yang ada padamu.

“Itulah yang sebaik-baiknya. Aku tidak ingin bertindak sendiri.

Aku tidak ingin memutuskan hukuman yang memang bukan

wewenangku. Dan aku tidak ingin berbuat sewenang-wenang.”

“Aku sangka bahwa kau adalah seorang laki-laki. Ternyata kau

lebih dari betina pengecut yang sama sekali tidak berarti.”

Ken Arok kini mengerutkan keningnya. Wajahnya menegang,

tetapi ia masih tetap berusaha untuk tidak bertindak tergesa-gesa.

“Kau baru saja datang di Padang Karautan. Jangan membuat

persoalan. Kau seorang prajurit yang tahu kewajiban seorang

prajurit. Kalau kau melakukan perintahku, maka itu sudah cukup.

Kau tidak perlu berbuat aneh-aneh di sini. Sekarang beristirahatlah.

Besok kau akan mulai melakukan kewajibanmu. Tetapi ingat, akulah

pemimpin di sini.”

“Aku tidak peduli,” jawab Kebo Ijo yang benar-benar sudah

tenggelam dalam kemarahannya, “aku tidak mau tunduk kepadamu.

Bahkan aku ingin membuktikan bahwa kau benar-benar seorang

pengecut.”

“Bagaimana kau akan membuktikan?”

“Aku mengharap kau berani bertindak atas wewenang yang

menurut perasaanmu telah kau terima. Ayo, kau harus memaksa

aku. Kalau perlu dengan kekerasan. Sesudah itu terserah

kepadamu, apakah kau akan melaporkannya kepada kakang

Witantra atau kepada Akuwu Tunggul Ametung. Aku tidak

berkeberatan untuk digantung seandainya aku dianggap bersalah

menentang sikapmu yang cengeng terhadap anak buahmu?”

“Maksudmu kau ingin berkelahi?”

Dada Kebo Ijo tergetar. Meskipun maksudnya memang demikian

tetapi keterus-terangan itu telah menghentak jantungnya. Namun

akhirnya ia menjawab, “Ya, aku ingin berkelahi.”

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Iapun ingin

berbuat demikian. Tetapi ia tidak mau dihanyutkan oleh

kemarahannya saja. Ia harus tetap menyadari apa yang akan

dilakukannya, supaya ia tidak terlepas dari pengendalian diri. Maka

katanya kemudian, “Apakah kau sudah berpikir masak-masak?”

“Seribu kali kuulangi. Aku tetap dalam pendirianku. Aku ingin

melihat apakah orang yang ditempatkan di Padang Karautan ini

sudah tepat.”

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baiklah kalau kau

memang ingin berbuat demikian.”

“Bagus,” hampir berteriak Kebo Ijo menyahut. Tetapi ia masih

melihat Ken Arok berdiri saja dengan tenangnya, meskipun

wajahnya menjadi semakin tegang.

“Ayo bersiaplah.”

“Aku bukan seorang yang terlampau bodoh untuk melakukannya

sekarang. Para prajurit itu akan melihat kita berkelahi. Mereka akan

kehilangan kepercayaannya kepada pemimpinnya.”

Sekali lagi mata Kebo Ijo terbelalak. Dengan gagap ia bertanya,

“Lalu, apakah maksudmu sebenarnya?”

“Aku memang tidak berkeberatan kita mencoba untuk sekalisekali

berkelahi. Tetapi tidak di hadapan para prajurit. Sungguh

memalukan. Menang atau kalah, kita sudah kehilangan kewibawaan

atasnya. Selanjutnya akan memberikan contoh yang sama sekali

tidak baik atas mereka, dan mereka pun akan saling berkelahi satu

sama lain sebagai cara untuk menyelesaikan setiap persoalan.”

“Jadi, bagaimana?”

“Aku masih ingin memisahkan masalahnya. Aku kira aku dapat

menganggap bahwa persoalan ini adalah persoalan kita. Katakanlah

kita yang masih terlampau muda. Aku akan menarik garis pemisah

antara persoalan ini dengan kedudukan kita masing-masing. Aku

mengharap kau tidak akan dianggap bersalah. Tetapi kita harus

bersikap jantan. Siapa yang kalah harus mengakui kekalahannya.”

“Itu sama sekali tidak menarik. Kita harus mempertaruhkan

sesuatu untuk setiap kemenangan dan kekalahan. Mungkin jabatan,

mungkin kehormatan, di hadapan saksi-saksi.”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Kebo Ijo adalah

seorang yang terlampau yakin akan dirinya dan justru keyakinannya

itulah yang telah mendorongnya untuk bersombong diri. Ia

menyadari benar-benar kelebihan-kelebihan yang ada di dalam

dirinya, dan ia ingin melihat orang lain mengagumi kelebihannya itu.

Tetapi Ken Arok tidak ingin menanggapi sikap yang demikian. Ia

masih mementingkan kewajibannya sebagai seorang pemimpin. Ia

harus mempertahankan kepercayaan orang-orangnya dan

memelihara ketertiban sejauh mungkin tanpa menunjukkan

kekuasaan dan apalagi kekerasan terhadap bawahannya.

“Apa katamu sekarang?” bentak Kebo Ijo ketika Ken Arok tidak

segera menjawab, “Kita jadikan para prajurit itu saksi. Siapakah di

antara kita yang berhak untuk mendapat taruhan.”

“Sudah aku katakan,” sahut Ken Arok, “perbuatan yang demikian

adalah perbuatan yang terlampau bodoh. Kita tidak perlu saksisaksi.

Kita percaya kepada kejujuran dan kejantanan diri. Ayo,

apakah yang ingin kita pertaruhkan?

“Terserah kepadamu,” sahut Kebo Ijo.

“Kau yang menentukan.”

“Bagus. Kita pertaruhkan jabatan kita. Kalau kau kalah, maka

akulah yang memimpin prajurit-prajurit Tumapel di sini. Kau harus

tunduk kepada semua perintahku. Kau menjadi pembantuku di sini

meskipun Akuwu Tumapel tidak mengingininya.”

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Taruhannya cukup

bernilai. Tetapi Ken Arok harus cukup sadar, bahwa ia akan

menghadapi perkembangan keadaan yang mungkin saja tidak

dikehendaki. Kebo Ijo yang terlampau membiarkan perasaannya

berbicara itu akan cepat kehilangan kesadaran dan perkelahian yang

demikian akan berkembang tak terkendali. Tetapi ia tidak dapat

mencari seorang saksi pun dalam perkelaihan itu. Satu orang sudah

cukup banyak untuk menyebarkan hal itu kepada seluruh prajurit di

Padang Karautan dan orang-orang Panawijen, dan bahkan seluruh

prajurit Tumapel. Lalu apa kata mereka tentang para pemimpin

mereka. Para perwira yang bertengkar satu sama lain, bahkan

berkelahi.

“He,” Kebo Ijo membentak sekali lagi, “kenapa kau diam saja?

Apakah kau menjadi cemas, bahwa suatu ketika kau akan mendapat

perintah yang berlebih-lebihan daripadaku? Aku tidak sekejam itu

terhadap bawahanku yang tunduk kepadaku. Kau pun tidak akan

aku perlakukan terlampau keras seandainya kau tidak selalu

menentang keputusan-keputusan yang aku buat.”

“Hem,” Ken Arok menggelengkan kepalanya, “Witantra pun tidak

akan berbuat serupa kau ini meskipun ia kakak seperguruanmu. Kau

terlampau meyakini kelebihanmu. Mungkin akhir-akhir ini kau

mendapat banyak kemajuan. Tetapi jangan terlampau berbangga.”

“Jangan banyak berbicara,” potong Kebo Ijo, “kita buktikan saja.

Aku telah menemukan kekuatan di dalam diriku. Kekuatan yang

hampir tidak pernah dapat diungkapkan. Aku akan segera

melampaui kakang Witantra. Mungkin kakang Mahendra kini sudah

tidak dapat mengalahkan aku.”

Terasa sebuah gejolak melanda dinding-dinding jantung Ken

Arok. Ia pun masih cukup muda. Untunglah bahwa ia menyadari

dirinya. Dirinya yang baru saja bangkit dari reruntuhan yang

mengerikan dari watak dan sifat orang-orang tua yang

mengasuhnya. Untunglah bahwa ia menyadari bahwa kadangkadang

ia masih juga dapat lupa diri dan berbuat kasar, sekasar

pada saat-saat ia berkeliaran di Padang Karautan. Tetapi kali ini ia

cukup sadar. Cukup berusaha untuk tidak kehilangan kesadaran itu.

(bersambung 31)