Jilid 26
KEN AROK
itu pun kemudian
mendengar Mahisa Agni
menjawab, “Tidak cantrik. Aku sudah lama tinggal di dalam
sanggar”.
“Oh, baiklah” sahut cantrik itu.
“Kini aku akan kembali ke serambi samping”.
“Marilah”.
Keduanya pun kemudian berjalan meninggalkan sanggar itu
beriringan setelah Mahisa Agni menutup pintu rapat-rapat. Mahisa
Agni berjalan di depan dan cantrik itu berjalan di belakang. Dalam
keremangan sinar pelita di kejauhan Ken Arok melihat keduanya
semakin lama semakin jauh dari padanya.
Tetapi, darah Ken Arok itupun kemudian seakan-akan berhenti
mengalir. Kali ini ia melihat sesosok bayangan yang mengendapendap
di belakang Mahisa Agni dan cantrik yang mengikutinya.
Bayangan itu meloncat dari sisi sanggar ke tempat terlindung yang
lain di belakang cantrik yang berjalan di belakang Mahisa Agni.
Sebelum Ken Arok sempat berbuat sesuatu, ia melihat bayangan itu
menyambar cantrik yang berjalan di belakang Mahisa Agni tanpa
menimbulkan suara apapun.
Ken Arok adalah seorang yang memiliki tanggapan yang cepat
menghadapi persoalan yang demikian. Ia adalah seorang pelayan
dalam istana Tumapel dan sebelum itu ia adalah seorang hantu
yang menakutkan. Karena itu segera ia tahu, bahwa sekejap lagi,
maka Mahisa Agni lah yang akan mendapat sergapan dari bayangan
itu.
Karena itu dengan serta merta ia berteriak, “Agni. Awas di
belakangmu. Aku kira ia bukan seorang cantrik”.
Dengan gerak naluriah, segera Mahisa Agni yang mendengar
teriakan Ken Arok meloncat ke samping. Dengan serta pula
tangannya menarik hulu pedangnya dan terjulur lurus, tepat ke arah
bayangan yang handak menerkamnya.
Dalam pada itu tubuh cantrik yang berjalan di belakang Mahisa
Agni telah terbaring di tanah. Terdengar ia merintih, tetapi suara
itu
pun segera berhenti.
Dada Mahisa Agni yang memang telah di liputi oleh kemarahan
dan kegelisahan itu rasa-rasanya meledak melihat kehadiran orang
yang sama sekali tak dikehendakinya. Apalagi ketika ia melihat
cantrik yang sama sekali tidak tahu menahu tentang segala macam
persoalan itu terbaring diam di tanah. Meskipun Mahisa Agni masih
mendengar deru nafasnya, namun serangan yang licik itu telah
membakar segenap urat darahnya.
Dengan suara bergetar terdengar Mahisa Agni bertanya,
“Siapakah kau?”
Orang-orang yang berdiri di hadapannya itu tidak segera
menjawab. Dalam keremangan tampaklah wajahnya membeku
seperti wajah sesosok mayat. Selangkah orang itu maju, dan
selangkah Mahisa Agni surut.
“Siapa kau?”
Orang itu masih juga berdiam diri. Wajahnya masih juga
membeku mengerikan.
Ken Arok yang melihat kehadiran orang itu tidak dapat tinggal
diam. Namun, ketika ia akan melangkahkan kakinya terdengar desis
di belakangnya, “Kau akan kemana anak muda?”
Pertanyaan itu pun telah benar-benar mengejutkan hati Ken
Arok. Cepat ia meloncat dan memutar tubuhnya. Kini ia berdiri
berhadapan dengan seorang yang bertubuh kekar meskipun tidak
cukup tinggi. Wajahnya yang kasar memancarkan sinar kebencian.
Tetapi orang itu tertawa. Katanya pula, ”jangan terkejut, apakah
kau belum pernah mengenal aku?”
Ken Arok tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah itu
dengan tajamnya. Ternyata sinar mata Ken Arok tidak dapat
ditundukkan oleh orang itu, sehingga orang itu berhenti tertawa.
Terdengar suaranya parau, “He, anak muda. Sebut namamu”.
Ken Arok masih tetap tidak menyahut. Kakinya yang merenggang
seolah-olah dalam-dalam menghunjam kepusat bumi. Tangannya
tanpa sesadarnya telah berada dihulu pedangnya.
“Kau tidak mau menjawab“ bentak orang yang berdiri di hadapan
Ken Arok itu, ”Baik. Kalau kau tidak mau menjawab, akulah yang
akan menyebutkan namaku. Wong Sarimpat”.
“Hem“ Ken Arok menggeram. Segera ia menyangka bahwa yang
berdiri di hadapan Mahisa Agni adalah Kebo Sindet. Karena itu maka
hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Kecemasan dan
kegelisahan yang dirasakannya sejak mereka berangkat dari padang
Karautan kini ternyata terjadi.
Dalam pada itu Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak segera
berbuat sesuatu. Mereka masih saja berdiri di tempatnya. Agaknya
mereka masih menunggu.
“Mereka menunggu Empu Sada“ pikir Ken Arok. “Hem, apakah
Mahisa Agni harus mengalami bencana itu.
Tiba-tiba Ken Arok terkejut ketika Wong Sarimpat sekali lagi
membentaknya keras-keras, “Ayo, sebut namamu “.
Ken Arok yang berdiri seperti batu karang itu masih berdiam diri.
Ia tidak beranjak dari tempatnya ketika Wong Sarimpat maju
selangkah mendekatinya.
Tetapi langkah Wong Sarimpat tiba-tiba terhenti ia mendengar
seseorang menegurnya “Wong Sarimpat, tunggu. Jangan hanya
berani mengganggu anak-anak”.
Kini Wong Sarimpat lah yang memutar tubuhnya menghadap
suara itu. Dari dalam kegelapan ia melihat sesosok tubuh berjalan
dengan tenang mendekatinya. Empu Gandring.
“Hem, kau pande keris itu pula”. desis Wong Sarimpat.
“Ya”.
Tiba-tiba mereka mendengar Kebo Sindet berkata, “Nah.
Sekarang sudah lengkap. Kami sengaja menunggu Empu Gandring,
supaya kami tidak kau sangka hanya berani mengganggu anakanak”.
“Jadi bagaimana?“ sahut Empu Gandring. Dilihatnya beberapa
langkah dari padanya, Kebo Sindet berdiri berhadapan dengan
Mahisa Agni yang seolah-olah membeku dengan pedang terjulur.
Empu Gandring segera dapat menduga, apa yang kira-kira akan
terjadi atas kemanakannya. Sekali dipandanginya Pelayan dalam
yang bernama Ken Arok itu. Apakah berdua dengan Mahisa Agni
mereka mampu setidak-tidaknya menyelamatkan diri mereka?
Tetapi, ia tidak dapat berbuat lain dari menghadapi kenyataan
itu. Meskipun Empu Gandring tampaknya masih tenang-tenang saja,
namun gejolak di dalam dadanya terasa menyentuh-nyentuh
dinding jantungnya. Bahaya yang kini dihadapinya, bukan sekedar
bermain-main seperti pada saat ia menghadapi seorang Wong
Sarimpat dan seorang Empu Sada. Ia masih sempat mengganggu
kedua orang itu sebelum mereka harus bertempur.
Kini, yang dihadapi adalah dua orang sekaligus. Wong Sarimpat
dan Kebo Sindet, bahkan mungkin Empu Sada yang segera akan
menyusul.
“Empu Gandring“ terdengar suara Kebo Sindet dalam nada yang
datar, “aku sebenarnya tidak ingin mengganggumu. Aku hanya akan
mengambil Mahisa Agni. Kali ini, kau jangan menghalangi aku lagi.
Sebab, pasti tidak akan ada gunanya. Dengarlah, jangan menjawab
dahulu. Kalau kau melawan, dan kita berkelahi, maka sementara
kau melawan Wong Sarimpat, maka aku telah sempat membunuh
anak muda dari istana Tumapel itu. Kemudian membuat Mahisa
Agni lumpuh. Sesudah itu kami berdua, aku dan Wong Sarimpat
akan membunuhmu bersama-sama. Nah bagaimana
pertimbanganmu Empu Gandring?”.
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia
menjawab masih dalam ketenangan “Rencana itu kedengarannya
baik sekali. Beberapa hari kau perlukan waktu untuk menyusun
rencana itu? Aku kira kau telah mengaturnya jauh sebelum hari ini.
Sejak lumbung itu terbakar. Kemudian kau membuat orang-orang
Panawijen gelisah dan menjemput Mahisa Agni ke Padang Karautan.
Akhirnya rencana itu sampai pada puncaknya seperti yang kau
katakan itu”.
“Tepat“ jawab Kebo Sindet singkat.
“Dan kau merasa bahwa kau mampu melakukannya?”
“Bagaimana penilaianmu Empu?”
Yang menyahut kemudian adalah Ken Arok. Suaranya bergetar
seperti guruh yang menggetarkan udara, “Hem. Ternyata kalian
berhasil menyelesaikan sebagian dari rencana itu, tetapi bagaimana
selanjutnya?”
Kebo Sindet tidak segera menjawab. Terasa di dadanya pengaruh
suara Ken Arok yang agak aneh. Anak muda itu ternyata memiliki
beberapa kelainan dengan anak-anak muda sebayanya. Dengan
Mahisa Agni misalnya, atau Kuda-Sempana.
Tetapi sebelum Kebo Sindet menyahut, terdengar suara tertawa
Wong Sarimpat, “O, kau juga berani mengucapkan kata-kata itu?
Kau benar-benar anak yang luar biasa”.
Ken Arok tidak menyahut. Ditatapnya wajah Wong Sarimpat yang
kasar dan liar itu.
Yang berkata kemudian adalah Kebo Sindet. Suaranya bergulunggulung
seolah-olah melingkar-lingkar saja di dalam perutnya,
“Jangan mengungkiri kenyataan. Kalian akan mati hari ini. Kau anak
muda, kaupun akan mati pula apabila kau berpihak kepada Mahisa
Agni”.
Belum lagi mulut Kebo Sindet terkatup rapat, orang itu menjadi
terkejut. Ternyata Ken Arok tidak mau terlampau banyak berbicara.
Seperti tatit ia meloncat menyerang, bukan Wong Sarimpat tetapi
justru Kebo Sindet yang berdiri agak jauh dari padanya.
Dalam waktu yang pendek itu, Ken Arok berusaha membuat
pertimbangan. Baginya lebih baik melepaskan Wong Sarimpat yang
sudah berdiri berhadapan dengan Empu Gandring. Ia percaya
bahwa Empu Gandring akan mampu menyelesaikannya, setidaknya
untuk mengikat demit dari Kemundungan itu. Sedang di pihak lain
Mahisa Agni benar-benar berada dalam bahaya. Meskipun dirinya
sendiri tidak yakin bahwa ia dapat bertahan melawan Kebo Sindet,
namun ia mengharap bahwa berdua dengan Mahisa Agni, ia dapat
menggabungkan kekuatan.
Kebo Sindet sendiri terkejut bukan buatan menerima serangan
itu. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa anak muda itu mampu
membuat gerakan demikian cepatnya. Jauh lebih cepat dari apa
yang dapat di lakukan oleh Kuda-Sempana.
Tetapi, Kebo Sindet adalah setan tua yang memiliki pengalaman
sedalam lautan. Dengan cekatan pula ia meloncat menghindari
serangan Ken Arok. Bahkan dengan menjejakkan kakinya, ia
melingkar dan alangkah anehnya gerak Kebo Sindet itu. Sebelum
Ken Arok mampu berdiri tegak di atas tanah, maka serangan
lawannya itu telah melandanya seperti angin taufan.
Alangkah dahsyatnya serangan itu. Empu Gandring masih sempat
melihat apa yang terjadi. Seperti Kebo Sindet, ia heran melihat
kemampuan Ken Arok. Tetapi keheranan dan kekagumannya itu
dibarengi oleh perasaan cemas yang menghentak dadanya. Ia tahu
akibat dari perbuatan anak muda itu. Kebo Sindet pasti akan marah
dan setan tua yang berwajah beku itu akan segera memberikan
serangan balasan. Tidak tanggung-tanggung. Serangan itu pasti
serangan mematikan.
Dan kini ia melihat Kebo Sindet benar-benar berbuat demikian. Ia
melihat tangan Kebo Sindet terayun dengan kecepatan yang luar
biasa. Sudah pasti di luar kemampuan Ken Arok untuk
menghindarinya. Orang tua itu hanya dapat menahan nafasnya.
Jarak antara keduanya tidak terlampau dekat, sedang di
sampingnya berdiri Wong Sarimpat yang pasti akan mampu
menghalanginya apabila ia ingin berbuat sesuatu.
Serasa dada Empu Gandring itulah yang tersentuh tangan Kebo
Sindet. Dengan wajah yang tegang ia melihat apa yang akan terjadi
atas anak muda dari istana Tumapel itu. Apa lagi ketika ia
mendengar ledakan tertawa Wong Sarimpat yang gila.
Tetapi, tiba-tiba suara tertawa Wong Sarimpat terputus.
Selangkah ia maju dengan mata yang menyala. Bahkan tanpa
sesadarnya Empu Gandring pun meloncat maju mendekati Ken Arok
yang terbanting di atas tanah kerena sentuhan tangan Kebo Sindet.
Kedua orang tua yang telah masak itu hampir-hampir tidak
percaya melihat apa yang terjadi. Bahkan Kebo Sindet sendiri
seolah-olah terpaku di tempatnya. Adalah tidak mungkin sama sekali
bahwa ia melihat anak muda yang bernama Ken Arok, yang
terbanting dengan kerasnya karena dorongan tangan Kebo Sindet
yang sedang marah, setelah terguling beberapa kali, segera
berusaha bangun kembali.
Meskipun mula-mula Ken Arok kehilangan keseimbangannya dan
terhuyung-huyung hampir terjatuh lagi, tetapi akhirnya ia mampu
tegak berdiri dengan garangnya seperti batu karang di tengahtengah
lautan. Dengan tangannya ia mengusap dadanya yang
terasa panas bukan buatan seperti terbakar karena sentuhan tangan
Kebo Sindet yang sedang marah. Namun, lambat laun ia berhasil
menguasai rasa sakit itu.
Ketika Ken Arok itu telah berhasil berdiri tegak kembali, maka
tanpa sesadarnya terdengar Kebo Sindet berdesis, “Setan manakah
yang manjing ke dalam tubuhmu itu anak muda. Kau berhasil
menyelamatkan dirimu meskipun aku dapat menyentuh tubuhmu.
Kalau kau tidak bernyawa rangkap, maka hal itu tidak akan mungkin
terjadi pada seorang manusia biasa. Bahkan Empu Gandring pun
pasti tidak akan mampu bertahan apabila tanganku berhasil
mengenai dadanya.”
Ken Arok yang masih berdiri tegak itu menggeram. Kini,
kemarahannya pun memuncak sampai ke ubun-ubun. Tubuhnya
yang dibakar oleh kemarahan itu menggigil seperti orang
kedinginan. Perlahan-lahan mulutnya bergerak dan terdengarlah ia
berkata. Mahisa Agni yang seakan-akan membeku di tempatnya
melihat peristiwa itu menjadi terkejut. Yang didengarnya itu adalah
suara yang pernah didengarnya di Padang Karautan. Suara hantu
yang menakutkan.
“Kebo Sindet,“ suara itu terdengar parau dan dalam. Lontaran
getarannya menghantam dada mereka yang mendengarnya,
“jangan menyombongkan diri dengan kekuatan aji-ajimu. Meskipun
aku tidak memiliki ilmu macam apapun, tetapi kejahatan yang kau
lakukan pasti akan mencelakakanmu. Kalau tidak saat ini, pasti akan
datang suatu ketika kau hancur menjadi debu”.
“Ancaman seseorang yang telah berputus asa“ jawab Kebo
Sindet dalam nada datar. Kata-kata ita seakan-akan bergulunggulung
saja di dalam perutnya, “adalah hanya kebetulan saja bahwa
kau terlepas dari bahaya maut. Tetapi kalau aku mengulangnya
sekali lagi, maka kau tidak akan lagi dapat menyebut nama ayah
bundamu.”
Ken Arok tidak menjawab. Dengan tangan gemetar dijulurkannya
pedangnya sambil berkata, “Aku sudah siap”.
Agaknya kemarahan Kebo Sindet sudah tidak tertahankan lagi.
Hampir tak tertangkap oleh pandangan mata biasa ia melenting,
meloncat ke arah Ken Arok. Demikian cepatnya sehinga kali ini pun
Ken Arrok tidak sempat berbuat banyak. Ia hanya mampu
menggerakkan ujung pedangnya mengarah kepada lawannya.
Tetapi, sekali lagi gerakan Kebo Sindet tak dapat diikutinya.
Sekali
lagi Kebo Sindet melenting, dan kali ini Ken Arok benar-benar tidak
mampu mengikuti kecepatan gerak itu.
Empu Gandring berdesis perlahan. Terasa bulu-bulunya
meremang membayangkan kemungkinan yang dapat terjadi atas
Ken Arok. Kini ia ingin mencoba mempengaruhi gerak Kebo Sindet,
tetapi dengan tiba-tiba Wong Sarimpat menghalangnya dengan
sebuah sambaran kaki pada lambung Empu Gandring. Terpaksa
Empu Gandring menghindari serangan itu, dan terpaksa ia tidak
dapat berbuat sesuatu atas Kebo Sindet. Yang dilihatnya adalah
sekali lagi Ken Arok terpelanting jatuh sesudah pedangnya terloncat
dari tangannya.
Mahisa Agni masih saja berdiri membeku. Kesadarannya seolaholah
terhisap habis-habis oleh peristiwa itu. Ia hanya mampu
menggerakkan biji-biji matanya, mengikuti bayangan Ken Arok
terbanting jatuh.
Tetapi, sekali lagi mereka menjadi heran dan kagum bercampurbaur.
Mereka melihat Ken Arok itu berguling beberapa kali. Lalu
dengan tertatih-tatih ia berdiri di atas kedua lututnya. Bahkan
kemudian anak muda itu telah tegak kembali. Tegak seperti tonggak
baja yang kokoh kuat.
Orang-orang tua yang melihat peristiwa itu hampir tidak dapat
mempercayai penglihatannya. Mereka melihat tata gerak Ken Arok
tidak terlampau jauh terpaut dari Mahisa Agni dan anak-anak muda
yang memiliki kelebihan yang lain. Tetapi bahwa Ken Arok tidak
lumat karena tangan Kebo Sindet adalah benar-benar di luar
dugaan.
Kebo Sindet sendiri yang telah dua kali mengenainya, sejenak
terpaku seperti patung. Bahkan tanpa sesadarnya ia berdesis, “Luar
biasa. Anak itu benar-benar anak setan”.
Yang terdengar kemudian adalah gemeretak gigi Ken Arok.
Suaranya menjadi semakin parau dan dalam, sedang nyala matanya
menjadi semakin membara. Seperti mengambang di udara
terdengar suaranya, “Marilah Agni, marilah kita hadapi jahanam ini.
Ternyata hidup dan mati sama sekali tidak berada di dalam
kekuasaan tangannya yang telah bernoda itu”.
Mahisa Agni benar-benar seperti terbangun dari mimpi. Dua kali
ia melihat Ken Arok terpelanting. Dua kali ia melihat anak itu
bangkit. Dan ia sendiri belum berbuat apa-apa. Karena itu, maka
dengan dada yang bergelora ia menyahut, “Aku sudah siap Ken
Arok”. Kalau saja kulitnya tidak kebal oleh senjatanya.
Belum lagi Kebo Sindet sempat menyahut, maka Ken Arok itu
pun telah meloncat menyerang. Kini sikapnya menjadi semakin
garang. Ia sama sekali tidak memungut pedangnya yang terjatuh,
tetapi di tangannya tergenggam sebilah pisau belati yang kasar.
“Pisau itu“ desis Mahisa Agni di dalam hatinya yang berdesir
“pisau itu adalah pisau hantu Karautan”.
Kebo Sindet yang memiliki berbagai macam ilmu itu tidak lengah
sama sekali dengan cekatan ia menghindarinya. Namun kali ini
serangan Ken Arok benar-benar seperti angin ribut. Geraknya
semakin lama menjadi semakin bertambah kasar. Meskipun Mahisa
Agni tidak lagi melihat gerakan yang mengerikan seperti ketika ia
berkelahi melawan anak itu di Padang Karautan, tetapi kini ia
melihat gerak-gerak yang serupa, bahkan bersumber pada
gerakangerakan
yang aneh itu, namun dalam tingkatan yang lebih dahsyat.
Meskipun Kebo Sindet adalah seorang yang telah menyimpan
perbendaharaan pengalaman hampir tak terhitung jumlahnya,
teetapi ia terkejut melihat tandang lawannya. Ia tidak melihat
unsur-unsur yang tersusun rapi betapapun kasarnya, tetapi ia
merasakan bahaya yang mematuknya. Karena itu maka ia pun
berkata di dalam hatinya, “Anak ini benar anak setan atau jin
tetekan. Bagaimana mungkin ia bisa berkelahi dengan cara itu”.
Kini, Kebo Sindet tidak hanya merasakan seorang anak muda
yang sombong sedang membunuh dirinya. Tetapi ia kini berasa
berhadapan dengan anak iblis yang mengerikan. Karena itu, maka
orang tua itu segera melayaninya dengan penuh kemarahan.
Sejenak, Mahisa Agni melihat keduanya yang sedang bertempur
itu. Ia melihat Ken Arok tidak sebagai seorang prajurit atau
seorang
pelayan-dalam yang berkelahi sebagai seorang prajurit dengan
pedangnya. Tetapi kini Mahisa Agni melihat hantu Karautan hidup
kembali, berkelahi dengan sebilah pisau di tangan.
Namun, Mahisa Agni tidak dapat berdiam diri lebih lama lagi.
Betapa kecil kemampuannya, ia merasa wajib untuk ikut serta dalam
pertempuran yang dahsyat itu. Karena itu, maka dengan hati-hati ia
mendekat, menjulurkan pedangnya, dan sejenak kemudian maka
pedang itu pun mulai bergetar. Dengan bekal ilmu yang dimilikinya
dari gurunya ia ikut bertempur, dipusatkannya segenap kemampuan
lahir dan batin, tersalur dalam jalur-jalur urat-nadinya,
menggerakkan pedang di dalam genggamannya. Meskipun Mahisa
Agni adalah seorang anak kecil saja dibandingkan dengan Kebo
Sindet, namun terasa juga serangannya agak mengganggu selagi
setan tua dari Kemundungan itu berusaha membinasakan hantu dari
Padang Karautan.
Tetapi, setiap kali Kebo Sindet menjadi kecewa. Selanjutnya ia
belum berbasil mengenai lawannya tepat seperti yang
dikehendakinya. Bahkan tenaga lawannya yang semakin liar itu pun
serasa menjadi semakin bertambah.
“Kekuatan apakah yang telah menyelusup ke dalam tubuh setan
kecil ini“ Kebo Sindet mengumpat-umpat di dalam hatinya. Sekalikali
ia berhasil menyentuh tubuh Ken Arok sehingga anak itu
terpental beberapa langkah, tetapi setiap kali anak muda itu
langsung meloncatinya kembali dengan ujung pisau di tangan
kanannya dan ujung kuku-kuku jari tangan kirinya.
Dengan demikian maka kemarahan Kebo Sindet pun semakin
menjadi-jadi. Sekali dua kali ia harus menghindari pedang Mahisa
Agni. Tetapi ia tidak menyerangnya. Betapa gelap hatinya namun ia
masih berusaha membiarkan saja anak muda itu. Sebab apabila ia
membalasnya dengan serangan-serangan ia takut apabila ia tidak
berhasil menguasai tenaganya, sehingga Mahisa Agni itu justru yang
terbunuh.
Wong Sarimpat dan Empu Gandring untuk beberapa saat masih
berdiri keheranan. Bahkan, tanpa dikehendakinya Wong Sarimpat
berdesis, “Apakah yang telah menggerakkan anak itu sehingga ia
dapat berkelahi dengan cara itu?”
Empu Gandring tanpa sesadarnya menyahut, “Alangkah keras
dan kasar unsur-unsur yang dipergunakannya. Bahkan jauh lebih
kasar dari Empu Sada. Hampir sekasar kau dan kakakmu Kebo
Sindet”.
“Tidak“ gumam Wong Sarimpat, “lihat, betapa kasarnya. Tidak
kalah kasar dari kakang Kebo Sindet. Tetapi yang gila adalah
simpanan tenaga dan kekuatan, sehingga ia mampu bertahan
terhadap sentuhan tangan kakang Kebo Sindet”.
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya dan Wong
Sarimpat memandanginya dengan mata yang hampir tidak berkedip.
Mereka melihat betapa perkelahian antara Kebo Sindet melawan
Ken Arok dan Mahisa Agni menjadi semakin dahsyat. Setelah
mapan, maka tandang Mahisa Agni pun menjadi bertambah lincah.
Pedangnya menyambar-nyambar dari berbagai arah, sehingga mau
tidak mau Kebo Sindet harus memperhitungkannya. Tetapi ia tidak
dapat dengan garang menyerang kembali anak muda itu. Kebo
Sindet yang sedang berkelahi itu merasa sangat sulit untuk
mengukur tenaganya, sehingga Mahisa Agni tidak terbunuh oleh
sentuhan tangannya. Seandainya ia tidak sedang berkelahi dengan
iblis yang kasar itu, maka ia akan segera dapat menjajagi kekuatan
tubuh Mahisa Agni. Ia akan dapat mengendalikan tangannya,
menyentuh urat nadi kesadaran Mahisa Agni sehingga anak itu
pingsan. Tetapi tidak mati.
Tetapi kini ia berkelahi dengan anak muda yang tidak dapat
diduga kekuatannya. Meskipun ia hampir mempergunakan segenap
kekuatannya, namun anak muda yang bernama Ken Arok itu tidak
hancur lumat. Tulang-tulang iganya tidak menjadi rontok karenanya.
Bahkan setiap kali ia berhasil menghindarkan simpul-simpul sarafnya
yang berbahaya dari sentuhan tangan Kebo Sindet, sehingga setiap
kali ia terbanting jatuh, setiap kali ia dapat bangun kembali.
Justru
semakin sering ia terpelanting, maka tubuhnya seakan-akan menjadi
semakin liat, dan semakin cepatlah ia bangkit kembali meloncat
dengan garang dan liar, menyerang membabi buta.
“Tidak” desis. Kebo Sindet di dalam hatinya, “anak itu tidak
membabi buta. Tetapi ilmu yang gila ini belum pernah aku kenal.
Belum pernah aku temui seorang sakti yang berkelahi dengan cara
ini.”
Dengan demikian, maka Mahisa Agni itu bagi Kebo Sindet terasa
benar-benar mengganggu usahanya membinasakan Ken Arok.
Karena itu maka tiba-tiba ia berteriak nyaring “Kuda-Sempana,
jangan bersembunyi saja. Ini, aku sudah berhasil memanggil orang
yang selama ini kau cari. Kau tidak usah menunggu gurumu.
Selesaikan Mahisa Agni ini lebih dahulu. Tetapi ingat, biarkan ia
hidup. Ia akan mengalami masa-masa yang tidak dikehendakinya”.
Panggilan itu benar menggetarkan dada Empu Gandring, Mahisa
Agni dan Ken Arok. Mereka merasa bahwa bahaya semakin lama
akan menjadi semakin besar. Menurut dugaan mereka, sebentar lagi
akan datang Empu Sada, guru Kuda-Sempana untuk membantu
mereka menangkap Mahisa Agni.
Belum lagi mereka sempat mempertimbangkan sesuatu, maka
dari dalam kegelapan meloncatlah sesosok tubuh yang telah
menggenggam pedang di tangan. Orang itu adalah Kuda Sempana.
Sejenak ia berdiri dengan penuh kebimbangan. Betapa dendam dan
bencinya kepada Mahisa Agni pada saat-saat yang lampau. Betapa
ia ingin membunuh dan mencincangnya. Tetapi tiba-tiba kini,
setelah ia berhadapan di bawah lindungan kedua iblis dari
Kemundungan, nafsunya itu susut hampir kering sama sekali.
Tetapi seperti apa yang selama ini dilakukannya. Berbuat apa
saja yang dikatakan oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Demikian
pula kali ini. Menurut Kebo Sindet ia harus bertempur melawan
Mahisa Agni. Karena itu, maka segera iapun mencoba membulatkan
hatinya. Bertempur tanpa sesuatu tujuan.
Mahisa Agni yang melihat kehadiran Kuda Sempana
menggeretakkan giginya. Ia tidak dapat melupakan apa yang telah
dilakukan oleh anak muda itu, sehingga keadaan menjadi semakin
lama semakin jelek. Tidak saja baginya sendiri, tetapi juga bagi
seluruh Panawijen. Dan kini, Kuda Sempana itu datang lagi,
membuat orang-orang Panawijen ketakutan.
Karena itu, ketika kemudian Kuda Sempana menyerangnya, maka
dengan serta-merta ditinggalkannya Kebo Sindet yang masih
berkelahi dengan Ken Arok dalam nada yang semakin lama semakin
kasar dan liar. Keduanya adalah hantu-hantu yang mengerikan, dan
keduanya dapat berbuat di luar bemampuan orang-orang biasa.
Sejenak kemudian Mahisa Agni telah terlibat dalam perkelahian
dengan Kuda Sempana. Kuda Sempana yang semula ragu-ragu, kini
ia harus menghadapi serangan Mahisa Agni yang membadai.
Serangan-serangan yang dilambari oleh berbagai perasaan
bercampur baur. Kebencian kemarahan dan kegelisahan. Namun
justru karena itu, maka kejernihan hatinya menjadi agak terganggu.
Tata geraknya menjadi tergesa-gesa dan dalam beberapa
kesempatan, ia membuat kesalahan-kesalahan. Tetapi berhadapan
dengan Kuda Sempana Mahisa Agni masih mempunyai kesempatan.
Betapa Kuda Sempana dapat menambah ilmunya dengan ilmu yang
diberikan oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, namun melawan
Mahisa Agni ia masih harus berbuat terlampau banyak. Apalagi pada
saat-saat perkelahian itu dimulai. Kuda Sempana bertempur asal
saja ia tidak tertusuk oleh ujung pedang lawannya. Namun semakin
lama nafsunya perlahan-lahan tumbuh kembali. Bukan sekedar
menyelamatkan diri, tetapi dalam lingkaran perkelahian, maka
hasratnya untuk membinasakan lawannya terasa seperti api tertiup
angin. Semakin lama menjadi semakin menyala di dalam dadanya.
Peristiwa itu telah membuat Ken Arok menjadi semakin marah.
Setiap kali ia terlempar jatuh, setiap kali ia merasa bahwa tenaga
yang tersimpan di dalam tubuhnya mengalir menyelusuri urat-urat
nadinya. Semakin besar nyala kemarahannya, maka tubuhnya
terasa semakin ringan dan geraknya pun menjadi semakin cepat.
Tetapi yang dihadapinya adalah Kebo Sindet. Betapa besar
kemampuan yang tersimpan di dalam dirinya, namun Ken Arok bagi
Kebo Sindet seolah-olah tidak lebih dari sebutir kemiri dalam
permainan jirak. Sekali terlempar ke samping, sekali terdorong
surut
dan sekali terbanting jatuh.
Meskipun demikian Ken Arok masih juga mampu bangkit berdiri,
melenting dan meloncat menyerang dengan liarnya. Kuku-kukunya
mengembang seperti kuku seekor garuda yang buas, sedang
ditangan yang lain sebilah pisau seakan-akan melekat pada jari-jari
tangannya, sehingga pisau itu tidak dapat terpelanting lepas dari
genggamannya.
Apa yang dilakukan Ken Arok itu benar-benar tidak dapat di
mengerti nalar orang-orang tua yang mengitarinya. Wong Sarimpat,
Empu Gandring dan Kebo Sindet sendiri. Bagaimana mungkin, Ken
Arok itu mampu bertahan lama melawan Kebo Sindet.
Menilik tata gerak dan unsur-unsur yang dipergunakan oleh Ken
Arok, maka mereka merasakan, betapa sedikit pengertian yang
dimilikinya. Menurut perhitungan mereka, ilmu yang dimiliki oleh
Ken Arok dalam tata gerak dan tata berkelahi, tidak banyak terpaut
dari Mahisa Agni, meskipun dalam bentuk yang berbeda. Tetapi
kekuatan tenaga, kecepatan bergerak dan ketahanan tubuhnya,
benar-benar mengagumkan. Dan orang-orang tua itu menganggap
bahwa semuanya itu lama sekali bukan dilambari oleh sesuatu ilmu
apapun, tetapi apa yang dimilikinya itu adalah pembawaan sejak ia
dilahirkan.
Dalam keheranan dan kekagumannya, maka Wong Sarimpat dan
Empu Gandring masih saja berdiri tegak. Wong Sarimpat tidak lagi
menyerang Empu Gandring selagi Empu Gandring tidak berusaha
membantu Ken Arok atau Mahisa Agni.
Meskipun demikian, Empu Gandring masih juga selalu di
selubungi oleh perasaan cemas dan gelisah. Betapa ketahanan
tubuh Ken Arok itu, namun serangan Kebo Sindet yang datang
seperti badai, menghantam terus-menerus itu suatu ketika pasti
akan dapat melumpuhkan Ken Arok. Bahkan mungkin
membunuhnya.
Orang tua itu masih saja melihat Ken Arok terlempar, terbanting
dan berguling-guling menghindari serangan lawannya. Sekali ia
melenting sambil menerkam lawannya, untuk kemudian terlempar
kembali beberapa langkah.
Sekali-kali terdengar ia mengeluh pendek, tetapi lambat laun
suara itu terdengar seperti hantu yang sedang marah.
Tiba-tiba Empu Gandring menjadi tegang ketika ia melihat
sesuatu. Darahnya serasa berhenti mengalir. Selangkah ia maju
sambil menajamkan matanya. Bukan saja mata wadagnya, tetapi
juga mata batinnya. Terasa dadanya kemudian bergetar semakin
cepat. Tanpa sesadarnya ia berpaling memandangi wajah Wong
Sarimpat. Dan wajah itu pun menegang seperti seutas tali yang
hampir putus karena tarikan kedua ujungnya.
“He, tukang keris“ Wong Sarimpat itu hampir berteriak, “kau lihat
itu?”
Empu Gandring tidak segera menyahut. Ternyata Wong Sarimpat
betapapun kasarnya, namun ia telah berhasil melihat pula. Agaknya
kekuatan yang tersimpan di dalam diri orang itu pun telah mampu
menerima getaran yang aneh, yang memancar dari diri Ken Arok.
“Ternyata anak itu benar-benar anak setan”.
“Kau melihatnya?” desis Empu Gandring.
“Ya. Itulah sebabnya maka tubuhnya kuat seperti seekor gajah
kerdil”.
Empu Gandring terdiam. Tetapi debar di dalam dadanya menjadi
semakin lama semakin cepat. Dan apa yang dilihatnya menjadi
semakin jelas. Tidak sekedar dengan mata wadagnya.
Dengan jantung yang bergolak Empu Gandring dan Wong
Sarimpat melihat sebuah bayangan warna kemerah-merahan yang
seakan-akan memancar dari ubun-ubun Ken Arok. Tidak begitu
jelas. Tetapi keduanya yakin bahwa mereka telah melihatnya.
Seperti yang pernah dilihat oleh Empu Purwa di Padang Karautan.
Perlahan-lahan Empu Gandring berdesis, “Adalah manusia yang
terpilihlah yang memiliki tanda-tanda demikian”.
“Anak iblis “geram Wong Sarimpat.
Empu Gandring tidak menjawab. Namun timbullah sedikit
harapan padanya, bahwa Ken Arok memiliki kelebihan yang
meyakinkan dari anak-anak muda sebayanya. Tanda itu telah
memberitahukan kepadanya, bahwa Ken Arok bukanlah anak-anak
muda kebanyakan saja meskipun tandangnya kasar sekasar Kebo
Sindet dan Wong Sarimpat.
Wong Sarimpat pun melihat kelebihan itu, meskipun Dengan
mulut yang mengumpat-umpat. Ia tidak tahu pasti, apakah yang
telah menimbulkan bayangan kemerahan di atas ubun-ubun anak
itu. Tetapi, iapun pernah mendengar dongeng-dongeng tentang
anak-anak terpilih. Karena itu, maka ia menjadi sedemikian
marahnya, bahwa anak muda yang memiliki kelebihan itu memihak
Mahisa Agni.
“He, pande keris“ teriaknya “apakah kau sangka warna itu akan
dapat menyelamatkannya?”
“Aku tidak tahu“ sahut Empu Gandring, “warna itu adalah warna
keberanian”.
“Setan, iblis“ lagi-lagi orang itu mengumpat-umpat dengan
mulutnya yang kotor, “ia akan mati terbunuh oleh kakang Kebo
Sindet, dan warna itu akan padam dari kepalanya”.
“Marilah kita lihat”.
“Tidak. Aku tidak hanya ingin sekedar melihat, tetapi aku ingin
berkelahi seperti orang lain. Ayo, bersiaplah Empu tua”.
Belum lagi Empu Gandring menjawab, Wong Sarimpat telah
melompat menyerangnya sambil berteriak, “Aku akan segera
membunuhmu. Kemudian aku ingin turut membuktikan, apakah
anak muda itu benar-benar tak dapat dicincang kulit dagingnya”.
Tetapi Empu Gandring pun telah cukup mempersiapkan diri.
Karena itu, maka ia pun sempat menghindari serangan Wong
Sarimpat. Bahkan dengan cepatnya, tangannya menyambar tengkuk
lawannya.
“Kaupun anak setan“ teriak Wong Sarimpat ketika terasa sebuah
sambaran tangan Empu Gandring hampir menyentuh tengkuknya,
Orang itu terpaksa menghindar, sehingga hampir-hampir, ia
kehilangan keseimbangan. Tetapi ia tidak meneruskan kata-katanya,
sebab ia melihat Empu Gandring tidak membiarkannya. Orang itu
pun segera bersiap untuk menghindari serangan-serangan
berikutnya, yang datang seperti banjir menghantam tebing.
“Kau pun menjadi gila dan liar“ teriak Wong Sarimpat. Tetapi
dirinya sendirilah yang menjadi semakin liar dan buas. Tata
geraknya segera menjadi kasar, sekasar kakaknya Kebo Sindet.
Namun Empu Gandring tidak menjadi bingung. Ia tahu, apa yang
harus dilakukan melawan orang-orang liar seperti Kebo Sindet dan
Wong Sarimpat, sehingga betapa liarnya lawannya, namun Empu
Gandring masih juga tetap tenang. Sekali-kali ia sempat melihat
perkembangan keadaan Ken Arok dan Kebo Sindet yang bertempur
semakin ribut.
Kebo Sindet sendiri, yang berkelahi dengan Ken Arok tidak
segera melihat warna kemerah-merahan di ubun-ubun lawannya.
Dengan penuh kemarahan Kebo Sindet berusaha melumatkan
lawannya dengan tangannya. Meskipun berkali-kali ia tidak berhasil
memecahkan dada anak muda itu, tetapi ia masih percaya bahwa
Ken Arok tak akan dapat dihancurkannya. Itulah sebabnya Kebo
Sindet masih saja berkelahi dengan tangannya. Ia tahu benar
bahwa ilmu lawannya sama sekali tidak berarti untuk melawannya.
Namun ketahanan tubuh anak itu benar-benar memusingkan
kepalanya. Bahkan kadang-kadang timbul kecemasan di dalam
dirinya, apakah ilmunya telah lebur?”
Demikianlah, maka perkelahian itu menjadi kian seru. Tandang
Ken Arok benar-benar menjengkelkan sekali bagi Kebo Sindet yang
garang dan buas. Seakan-akan ia sedang berhadapan Dengan Aji
Candra Birawa. Ia pernah mendengar, bahwa seseorang mampu
membangunkan kekuatan yang tanpa batas. Kadang-kadang dapat
berwujud seorang raksasa. Kalau, raksasa itu terbunuh, maka
mayatnya akan membelah, dan datanglah kemudian dua orang
raksasa. Demikianlah setiap kali dibinasakan, maka kekuatan itu pun
menjadi berlipat.
“Apakah anak ini memiliki aji ini?” desisnya di dalam hati, “Setiap
kali kekuatannya terhantam, maka seakan-akan tubuhnya menjadi
semakin kuat. Kalau ia terbanting jatuh, maka segera ia bangkit
dengan kesigapan yang berlipat.
“Tetapi anak setan ini harus mati“ geramnya sambil
mempertajam serangan-serangannya, sehingga semakin lama
menjadi semakin dahsyat.
Namun akhirnya Kebo Sindet itu mampu melihat bayangan
kemerah-merahan di atas ubun-ubun Ken Arok. Semula orang itu
menyangka, bahwa kemarahannya telah menumbuhkan bayanganbayangan
yang tak dikenalnya. Tetapi ternyata warna merah itu
meloncat, melontar dan meluncur bersama-sama dengan kepala
lawannya. Warna itu memancar dari ubun-ubun kepala itu.
“Gila“ desisnya, “apakah anak ini anak pilihan?”
Kebo Sindet mengumpat-umpat di dalam hatinya. Selama ini ia
tidak pernah memikirkan persoalan serupa itu. Ia tidak mengenal
kepada kekuatan-kekuatan di luar dirinya dan lingkungannya yang
kasat mata maupun yang tidak kasat mata. Tetapi ia tidak mengenal
suatu kekuasaan yang Agung meskipun pernah didengarnya. Tibatiba
sekarang ia berhadapan dengan warna itu. Menurut dongeng
yang pernah didengarnya, warna yang memancar dari ubun-ubun
adalah pertanda bahwa orang itu adalah orang pilihan. Orang piniji.
Itulah sebabnya maka ia memiliki kekuatan dan ketahanan tubuh
melampui manusia biasa.
Sejenak, perasaan Kebo Sindet dilanda oleh kebimbangan.
Namun kembali ia menguatkan hatinya. Dengan gigi gemeretak ia
menggeram di dalam dadanya “Betapapun juga, ia adalah manusia.
Berapa kuat ketahanan tubuhnya, tetapi kulit dagingnya pasti akan
dapat menjadi lumat”.
Dengan demikian, maka tandang Kebo Sindet menjadi semakin
buas dan liar. Demikian juga Ken Arok. Semakin garang ia berkelahi,
nyala di atas ubun-ubunnya seolah-olah menjadi semakin terang.
Disisi lain, Kuda Sempana pun berkelahi dengan nafsu yang
semakin menyala. Kini ia tidak lagi sekedar digerakkan oleh
perintah
Kebo Sindet, tetapi ia benar-benar berusaha membunuh Mahisa
Agni. Ia tidak lagi mengingat apakah dendamnya bertimbun setinggi
gunung, namun dalam perkelahian ini, ia ingin membunuh
secepatcepatnya.
Tetapi Mahisa Agni pun berkelahi dengan kemarahan yang
meluap-luap. Ia ingin menghentikan petualangan anak muda itu. Ia
ingin Kuda Sempana tidak lagi dapat melakukan kejahatan. Baik
terhadap dirinya sendiri, terhadap Ken Dedes, terhadap, orangorang
Panawijen maupun terhadap bendungan yang sedang
dikerjakannya. Karena itu, maka ia harus dapat melumpuhkan
lawannya. Menangkap atau kalau terpaksa anak muda itu terbunuh,
adalah bukan semata-mata karena kebencian dan dendam, tetapi ia
didorong oleh suatu kuwajiban untuk suatu kepentingan yang lebih
besar dari kepentingannya sendiri.
Dorongan itulah yang telah memaksa Mahisa Agni bertempur
mati-matian. Apalagi kalau diingatnya, bahwa sebentar lagi,
tangantangan
Kebo Sindet atau Wong Sarimpat pasti akan mencekiknya.
Itulah sebabnya, ia merasa bahwa ia harus segera menyelesaikan
tugasnya sebelum Ken Arok tidak lagi berdaya melawan Kebo
Sindet.
Tetapi Kuda Sempana sekarang sudah lain dengan Kuda
Sempana yang selalu dikalahkannya. Kuda Sempana kini, adalah
Kuda Sempana yang menjadi bertambah kasar, liar tetapi
bertambah kuat dan cekatan. Kuda Sempana itu mampu meloncat
secepat burung sikatan dan menyambar segarang elang di udara.
Merangsangnya seliar serigala dan menerkam sebuas harimau lapar.
Dengan demikian maka Mahisa Agni itu pun harus bertempur
sekuat tenaganya, setinggi kemampuannya. Dikerahkannya segenap
ilmunya lahir dan batin untuk mengalahkan lawannya. Tetapi
pekerjaan itu bukanlah pekerjaan yang mudah, semudah memijat
wohing ranti. Tetapi ia harus berjuang memeras segenap
kemampuan yang ada padanya. Namun sampai beberapa lama, ia
sama sekali belum melihat tanda-tanda bahwa usahanya itu akan
segera berhasil. Bahkan setiap kali ia harus meloncat menghindari
ujung pedang Kuda Sempana yang mematuk-matuk seperti seribu
kepala ular yang menyerangnya bersama-sama dari segala penjuru.
Tetapi, Kuda Sempana pun telah dibasahi oleh keringat yang
mengalir dari segenap lubang kulitnya. Betapa ia berusaha
membinasakan lawannya, tetapi lawannya bukan dengan suka rela
menyerahkan kepalanya, pasrah pati-urip. Karena itu, maka
pekerjaannya adalah sesulit menangkap kijang di padang rumput
dengan tangannya.
Tidak kalah ributnya adalah Wong Sarimpat. Sekali-kali terdengar
orang itu berteriak nyaring, sehingga suaranya membentur
dindingdinding
halaman, melingkar-lingkar memenuhi padukuhan yang
sepi. Namun sejenak kemudian Panawijen itu telah diterkam oleh
ketakutan yang amat sangat. Beberapa orang akhirnya mendengar
hiruk pikuk perkelahian dan teriakan-teriakan Wong Sarimpat yang
liar itu.
Mereka yang terbangun mula-mula menjadi bingung. Mereka
belum tahu, suara apakah yang memecah sepinya malam,
melingkar-lingkar di seluruh padepokannya.
Beberapa orang laki-laki tua keluar dari rumah-rumah mereka,
membawa golok dan parang pembelah kelapa dan kayu.
Mengendap-endap mereka pergi ke arah suara yang hiruk pikuk dan
ribut di padepokan Empu Purwa. Tetapi ketika mereka menjadi
semakin dekat, maka tubuh mereka menjadi gemetar. Dalam
keremangan cahaya pelita di halaman padepokan itu, mereka
melihat lingkaran-lingkaran perkelahian. Perkelahian yang belum
pernah mereka lihat.
Sejenak, mereka terpaku di balik dinding halaman. Sekali-kali
mereka mengintip dari atas dinding sambil berdiri di atas bongkahan
batu padas. Namun kemudian mereka pun kembali bersembunyi di
balik dinding-dinding itu. Tak sepatah kata yang dapat mereka
ucapkan di antara mereka. Sekali-kali mereka saling berpandangan.
Namun kemudian mereka menggigil ketakutan.
Dada mereka serasa akan pecah ketika tiba-tiba mereka
mendengar teriakan Wong Sarimpat nyaring, “He yang berdiri di
balik dinding. Ayo, jangan bersembunyi. Kalau kalian cukup jantan.
Inilah Wong Sarimpat dari Kemundungan”.
Tetapi kata-kata itu terhenti ketika serangan Empu Gandring
hampir merobek mulutnya. Dengan lincahnya ia meloncat mundur.
Golok yang kini telah berada di tangannya berputar seperti
balingbaling.
Tetapi setiap kali bunga api memercik tinggi apabila golok itu
membentur keris Empu Gandring. Keris yang tidak kalah besarnya
dari golok itu.
Ketika ketiga orang yang menjemput Mahisa Agni sampai di
tempat itu pula, maka mereka menjadi gemetar. Teringatlah apa
yang dirisaukan oleh orang tua yang ternyata adalah paman Mahisa
Agni dan pemimpin prajurit dari Tumapel. Kini mereka menyadari
kebenaran dari kecemasan orang-orang itu. Sehingga karena itu,
maka alangkah mereka menyesal. Apabila terjadi sesuatu atas
Mahisa Agni, maka mereka menjadi salah satu sebab dari bencana
itu.
“Siapakah mereka?” bisik salah seorang dari ketiga orang itu.
Kawannya menggelengkan kepalanya. Tetapi kembali mereka
terkejut ketika Wong Sarimpat sempat menjawab sambil bertiak
“Kami adalah Wong Sarimpat, Kebo Sindet dan Kuda Sempana dari
Kemundungan”.
Ketiga orang itu terbungkam. Tetapi di samping ketakutan dan
kecemasannya, terbayanglah wajah ayah Kuda Sempana yang
seolah-olah telah mendorong mereka menjemput Mahisa Agni dan
kini tiba-tiba mereka mendengar bahwa di antara mereka terdapat
Kuda Sempana.
Ketiga orang-orang tua yang menjemput Mahisa Agni ke Padang
Karautan itu merasakan sesuatu yang tidak pada tempatnya dengan
ayah Kuda Sempana. Apakah ayah Kuda Sempana itu telah menjadi
alat anaknya untuk menciderai Mahisa Agni?
Tiba-tiba salah seorang dari mereka menggamit kawannya.
Kawannya itupun mengangguk dan mereka bertiga pun
meninggalkan tempat itu.
Setelah cukup jauh dari padepokan Empu Purwa, maka salah
seorang dari mereka berkata, “Kita ke rumah ayah Kuda Sempana.
Ia harus bertanggung jawab atas semua peristiwa ini.”
“Marilah kakang“ jawab yang lain, tetapi nada suaranya terasa
diselubungi oleh kebimbangan, “tetapi apakah tidak ada orang lain
di rumah itu. Kawan-kawan orang yang datang dari Kemundungan
itu?”
Yang lain menjadi ragu-ragu pula, katanya, “Ya, apakah di rumah
itu tidak ada orang lain lagi yang akan dapat memenggal leher
kami”.
Sejenak mereka berdiam diri. Hanya langkah-langkah mereka
sajalah yang terdengar gemerisik di atas tanah berbatu. Lamatlamat
mereka masih mendengar suara Wong Sarimpat menjeritjerit.
Dan tiba-tiba Kuda Sempana yang menjadi semakin kasar pun
sekali-kali memekik tinggi pula.
Tetapi, orang-orang tua itupun kemudian dijalari oleh perasaan
yang aneh. Karena mereka merasa, bahwa mereka telah turut serta
menjerumuskan Mahisa Agni, maka mereka pun seakan-akan
mendapat suatu keberanian untuk berbuat sesuatu. Mereka yang
selama ini tidak pernah menggenggam senjata, kini parang
pembelah kayu itu merupakan senjata yang memberi mereka
ketabahan. “Ayah Kuda Sempana harus bertanggung jawab“ desis
mereka di dalam hati.
Dengan hati-hati mereka berjalan menyelusuri jalan-jalan
padukuhan menuju ke rumah Kuda Sempana. Karena di dalam
perkelahian itu hadir Kuda Sempana, maka mereka mengharap
bahwa ayahnya akan dapat mereka temui seorang diri.
Dari kejauhan mereka melibat pelita yang menyala di dalam
rumah Kuda Sempana. Beberapa berkas sinarnya melontar
menyelusup lubang-lubang dinding jatuh di halaman yang gelap
gulita.
Rumah itu tidak terlampau besar, tetapi juga tidak terlampau
kecil. Pada saat Kuda Sempana masih seorang pelayan dalam, maka
rumah itupun tampak terpelihara baik. Tetapi kini, semak-semak
yang liar tumbuh di sekeliling halaman. Bahkan regol dan pintunya
kini sama sekali sudah hampir tidak terbentuk lagi.
“Mudah-mudahan orang itu ada di rumahnya“ gumam salah
seorang.
“Aku kira ia ada di rumah“ sahut yang lain.
Perlahan-lahan, mereka mendekati pintu rumah itu. Salah
seorang dari mereka mencoba mengintip ke dalamnya lewat lubang
dinding yang menganga selebar hitam mata. Tetapi tak sesuatu
yang dilihatnya.
“Apakah kita ketuk pintunya?” bertanya salah seorang.
“Ketuklah pintu “sahut yang lain.
Salah seorang dari mereka pun segera mengetuk pintu. Sekali
dua kali, tetapi tidak terdengar jawaban.
“Apakah orang itu sudah tidur?”
Yang lain tidak sabar lagi. Diketuknya semakin keras. Namun
masih belum ada jawaban.
Akhirnya mereka tidak dapat menahan diri. Sejenak mereka
berbincang. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk memecah.
pintu itu dengan paksa.
Meskipun dengan agak bersusah payah, akhirnya ketiganya
berhasil merusak pintu. Dengan hati-hati mereka masuk ke
dalamnya. Senjata-senjata mereka telah berada di dalam
genggaman, seperti seorang pahlawan yang sedang mencari
lawannya yang bersembunyi.
Tetapi ternyata rumah itu telah menjadi kosong. Mereka sama
sekali tidak menemukan seorang pun di dalamnya.
“Kosong“ desis salah seorang dari mereka.
“Mungkin bersembunyi“ sahut yang lain.
Dengan sangat hati-hati mereka bertiga mencari ayah Kuda
Sempana. Beriringan kesegenap sudut. Namun meskipun pelita
terpasang hampir di setiap ruang, mereka tidak menemukan
seorang pun.
“Gila. Orang itu telah merasa dirinya bersalah. Karena itu maka ia
melarikan dirinya”.
“Hem“ yang lain menggeram. Tetapi tidak ada sesuatu yang
dapat dilakukannya.
Meskipun demikian sekali lagi mereka meneliti setiap sudut. Di
bawah kolong-kolong amben, di belakang geledeg dan di sisi-sisi
paga. Tetapi mereka tetap tidak menemukan seseorang.
“Lalu“ desis salah seorang dari mereka, “apa yang akan kita
kerjakan?”
Sejenak mereka bertiga terdiam. Sementara itu angin malam
berhembus masuk kedalam rumah itu lewat pintu yang masih
menganga. Di luar gelap yang pekat seakan-akan menyumbat setiap
lubang dinding rumah.
“Kita kembali“ tiba-tiba salah seorang berkata.
“Kembali kemana?” bertanya yang lain.
“Kembali ke tempat perkelahian tadi. Kuda Sempana lah yang
harus bertanggung jawab atas semua peristiwa ini. Karena
kebodohan kita, maka kita telah menjadi alatnya. Maka kita pun
harus menebus kebodohan itu.
“Apa yang akan kita lakukan?”
“Membunuh Kuda Sempana”.
“He?” “seorang yang lain menjadi ngeri mendengar jawaban itu,
seakan-akan mereka mampu membunuh Kuda Sempana.
“Ya. Kita membunuh Kuda Sempana bersama angger Mahisa
Agni”.
“Anak itu bukan lawan kita”.
“Kita hanya membantu. Membantu angger Mahisa Agni.
Betapapun lemah tenaga kita, tetapi kita akan dapat membantu
mengurangi kesungguhan perhatian Kuda Sempana atas Mahisa
Agni”.
Tetapi bukan sekedar menarik perhatiannya, bahkan mungkin
ujung pedangnya.
“Kalau ujung pedangnya menghunjam ke dada kita itu adalah
sekedar akibat dari kebodohan kita. Kenapa kita telah memanggil
angger Mahisa Agni kepedukuhan ini?”
Kedua kawannya yang lain menjadi tegang. Namun kemudian
mereka pun berkata, ”Mari. Kita kembali kepadepokan Empu Purwa.
Kita lihat, siapakah yang menang dalam perkelahian itu.”
“Kita tidak akan hanya sekedar melihat”.
“Baik. Kita ikut berkelahi”.
“Sampai akibat yang paling parah”.
“Sampai mati”.
Maka bulatlah tekad mereka untuk bertempur membantu Mahisa
Agni. Mereka merasa, bahwa mereka telah menyeret Mahisa Agni
kedalam bencana.
Dengan tergesa-gesa, mereka meninggalkan rumah Kuda
Sempana. Dibiarkannya pintu rumah itu menganga. Dan
dibiarkannya lampu-lampu rumah itu menyala sebesar-besarnya.
Sejenak kemudian mereka pun telah sampai kembali di tempat
perkelahian antara raksasa-raksasa itu terjadi. Perlahan-lahan
mereka mendekati dinding halaman Padepokan Empu Purwa.
Beberapa orang masih saja mengerumuni tempat itu dari jauh.
Mereka tidak berani mendekat, apalagi melihat. Tetapi mereka pun
tidak mau meninggalkannya, karena mereka ingin tahu, apakah
yang akan terjadi.
Ketika mereka bertiga, mencongakkan kepala-kepala mereka
hampir saja mereka terpelanting jatuh ketika mereka mendengar
suara Wong Sarimpat, “Ayo, siapa yang akan membantu,
Kemarilah”.
Ketiganya menjadi seakan-akan membeku pada dinding halaman.
Kebulatan tekad mereka sama sekali tidak lagi mereka ingat. Apalagi
turut berkelahi di pihak Mahisa Agni, sedang melihat kilatan
senjata
mereka yang sedang berkelahi itu pun mereka seolah-olah telah
menjadi mati kaku.
Meskipun demikian, mereka masih sempat melihat perkelahian
yang mengerikan itu. Mereka masih melihat betapa Ken Arok
berkelahi seperti orang kesurupan. Tanpa menghiraukan apapun
anak muda itu mengamuk sejadi-jadinya. Meloncat menerkam,
memukul, menerjang dan segala macam gerak yang memusingkan
kepala. Kebo Sindet pun menjadi pusing pula karenanya. Hampirhampir
ia kehilangan akal untuk menjatuhkan lawannya yang gila
dan liar. Lebih liar dan buas dari dirinya sendiri.
“Anak setan ini benar-benar mengerikan“ desis Kebo Sindet di
dalam hatinya. Meskipun demikian, ia sama sekali belum
mempergunakan senjatanya. Kini keinginannya bukan saja ingin
menghancurkan dan membunuh lawannya, namun timbul pula
keinginannya untuk melihat, sampai dimana kekuatan dan
ketahanan tubuh anak muda yang ubun-ubunnya bercahaya
kemerah-merahan. Karena itu, betapapun juga, Kebo Sindet masih
saja melawannya dengan anggauta badannya. Sekali-kali
dihantamnya dada anak muda itu sehingga terpelanting beberapa
langkah. Baru saja anak muda itu melenting berdiri, maka kakinya
telah mengenai lambungnya, sehingga Ken Arok terangkat
tinggitinggi,
melayang di udara untuk jatuh seperti sepotong tonggak
yang basah. Tetapi sekali lagi ia meloncat bangkit dengan pisaunya
ditangan kanan dan kuku-kukunya yang mengembang di tangan
kiri.
“Gila. Benar-benar gila“ Kebo Sindet menggeram. Ia adalah
seorang yang pilih tanding. Seorang yang sudah kenyang mencicipi
segala macam bentuk kehidupan. Yang paling lunak sampai yang
paling kasar. Tetapi belum pernah dijumpainya sejenis manusia
seperti yang kini sedang dilawannya.
Orang yang kini berkelahi melawannya dan bernama Ken Arok itu
memiliki ketabahan tubuh yang luar biasa. Namun justru karena itu,
maka ia menjadi semakin tertarik kepada anak muda itu. Semakin
sulit ia menjatuhkan lawannya, semakin tajam keinginannya untuk
mengukur titik akhir dari ketahanan tubuh Ken Arok.
Tetapi, akhirnya Kebo Sindet menyadari, bahwa kunci dari
pertempuran itu ada padanya. Adiknya, Wong Sarimpat yang
bertempur melawan Empu Gandring. Rasa-rasanya tidak akan
segera dapat mengakhiri perkelahian. Bahkan menurut penilaian
Kebo Sindet, maka sampai seminggu pun adiknya tidak akan
memenangkan pertempuran itu. Menilik ketenangan dan keyakinan
setiap geraknya, maka agaknya Empu Gandring masih lebih banyak
menyimpan tenaga daripada adiknya. Sehingga apabila perkelahian
itu dibiarkannya sampai sehari dua hari, maka adiknya, Wong
Sarimpatlah yang akan lebih dahulu susut tenaganya.
Sedang Kuda Sempana pasti tidak akan dapat mengalahkan
Mahisa Agni. Kebo Sindet masih sempat melihat sekilas-sekilas
perkelahian antara kedua anak muda itu. Dan Kebo Sindet masih
melihat beberapa kekurangan Kuda Sempana.
Dengan demikian, maka ia harus segera mengakhiri perkelahian
itu. Kalau ia berhasil melumpuhkan lawannya atau membunuhnya
sekali, maka ia akan segera dapat membantu kawan-kawannya
yang lain.
Tiba-tiba Kebo Sindet itu pun menggeram. Ia kini tidak mau
bermain-main lagi. Ia sudah cukup lama merasakan keliatan tubuh
lawannya. Dan kini ia benar-benar ingin menghancurkannya. Tetapi
tidak dengan senjata tajam. Ken Arok harus lumat dengan
tangannya.
Kebo Sindet itu pun segera memusatkan segenap kekuatan lahir
dan kekuatan yang tersimpan di dalam dirinya. Kekuatan yang
bersumber pada kekuatan sesat. Meskipun dalam ungkapannya,
seakan-akan ia memiliki kelebihan dari orang-orang lain, tetapi
kelebihannya itu didapatkannya dari dunia yang hitam; yang
bertentangan dengan jalan yang seharusnya dilalui oleh manusia,
titah Yang Maha Agung.
Demikianlah maka Kebo Sindet telah membangun kekuatannya.
Kekuatan yang dinamainya sendiri Aji Bajang. Kekuatan yang tidak
kasat mata, tetapi mempunyai akibat yang mengerikan.
Ketika tiba-tiba tubuh Kebo Sindet itu bergetar dan kedua
tangannya mengembang, maka berdesirlah dada Empu Gandring.
Orang tua itu tahu betapa mengerikan akibat sentuhan kekuatan
raksasa yang tersimpan dalam Aji yang justru dinamainya Aji
Bajang. Hanya mereka yang menyimpan kekuatan-kekuatan yang
seimbang sajalah yang akan menyelamatkan diri dari pada kekuatan
itu meskipun tidak akan dapat terlepas dari luka-luka di dalam
tubuhnya. Apabila seseorang yang memiliki kekuatan seimbang dan
sempat melawan Aji itu dengan kekuatan yang sama, maka
benturan yang terjadi itupun akan berakibat pula bagi orang itu.
Apalagi mereka yang tidak memiliki daya tahan yang cukup, maka ia
akan hancur lumat menjadi ndeg-pangamun-amun.
Karena itu, maka meskipun dirinya sendiri sibuk melayani Wong
Sarimpat yang melibatnya seperti angin pusaran, namun sempat
pula ia berteriak, “Angger Ken Arok. Hindarilah tangannya. Orang
itu
siap melontarkan kekuatan terakhirnya”.
Ken Arok yang sedang waringuten itupun mendengar teriakan
itu. Terasa dadanya yang sedang bergelora itu pun berdesir.
Sejenak ia memandang lawannya yang bergetar seperti orang
kedinginan. Tangannya mengembang dan matanya menjadi merah
menyala.
Sejenak Ken Arok yang liar itu tertegun diam. Meskipun ia tidak
tahu, kekuatan apa yang akan memancar dari tangan Kebo Sindet,
namun terasa pula olehnya bahwa kekuatan itu adalah kekuatan
yang akan dapat menentukan hidup matinya.
Tetapi, Ken Arok sama sekali tidak ingin menghindarinya.
Tekadnya telah bulat untuk melawan Kebo Sindet itu sampai
kekuatannya yang terakhir. Sebagai hantu yang pernah hidup di
Padang Karautan yang buas, maka Ken Arok telah menjadi seorang
yang sama sekali tidak mengenal takut. Hidupnya dimasa lampau
yang penuh dengan kekerasan, liar dan buas, kini seakan-akan telah
muncul lagi ke atas permukaan sikapnya. Namun demikian ada
sesuatu yang lain tersimpan di dalam hatinya. Yang justru dahulu
belum pernah dikenalnya, meskipun pernah dirasakannya. Ia pernah
terlepas dari kepungan orang-orang yang marah kepadaya, karena
ia mencuri di Pamalantenan. Hanya dengan dua helai daun tal ia
berhasil menyeberangi sebuah sungai dan lari ke Nagamasa.
Saat itu ia sama sekali tidak tahu, kenapa ia dapat berbuat
demikian. Dan ia sama sekali tidak tahu, suara apakah yang
didengarnya dan memberinya petunjuk itu.
Tetapi sekarang ia telah mengenalnya. Dari Empu Purwa, guru
Mahisa Agni, ia pernah mendapatkan setitik terang yang kemudian
menjadi semakin jelas baginya ketika ia bertemu dengan seorang
Brahmana yang bernama Lohgawe, yang membawanya ke Istana
Tumapel, dan menyerahkannya sebagai seorang abdi dari Akuwu
Tunggul Ametung.
Dengan demikian, maka ia sama sekali tidak gentar melihat sikap
Kebo Sindet. Ia sama sekali tidak gentar, seandainya ia akan hancur
lumat dan mati. Tak pernah ia berbuat seperti saat ini. Pasrah
kepada Kekuasaan Tertinggi. Pasrah, sama sekali pasrah. Ken Arok
merasa pernah dilepaskan dari maut justru sebelum ia mengenal-
Nya. Kalau kini ia harus hancur dan lumat menjadi debu, maka
apapun yang dilakukannya, justru lari sekalipun, maka ia pasti
tidak
akan terhindar dari padanya.
Ken Arok sendiri tidak sadar, apa yang kemudian dilakukannya.
Tiba-tiba saja, tanpa dikehendakinya sendiri, ia berdiri tegak pada
kedua kakinya. Dengan pasrah diri sepasrah-pasrahnya, ia
memusatkan segenap daya rasa dan nalarnya. Tanpa sesadarnya
pula ia telah membangunkan segenap kekuatan yang ada padanya
dalam pemusatan diri di luar kehendaknya. Itu adalah suatu bentuk
pemusatan kekuatan yang justru dilambari oleh kepercayaan yang
bulat kepada Yang Maha Agung, tanpa dimengertinya sendiri.
Justru Empu Gandring lah yang menjadi sangat cemas melihat
sikap Ken Arok yang sama sekali tidak berusaha untuk menghindar.
Bahkan, orang tua itu melihat Ken Arok dengan tenangnya menanti
serangan Kebo Sindet. Hilanglah kesan yang liar dan buas dari
wajah anak itu, justru pada saat ia menghadapi kekuatan terakhir
dari hantu Kemudungan. Wajah itu kini memancarkan keagungan
dan kesentausaan tiada taranya.
Wong Sarimpat yang melibat kakaknya telah membangunkan
kekuatan terakhir itu menjadi berdebar-debar pula. Apakah anak
muda serupa itu benar-benar anak pilihan yang tiada tara
bandingnya, sehingga seorang Kebo Sindet perlu mempergunakan
Aji Bajangnya? Wong Sarimpat masih melihat cahaya kemerahmerahan
di atas kepala Ken Arok, seolah-olah bahkan menjadi
semakin terang.
Dalam pada itu, karena kedua-duanya ingin melihat akibat dari
benturan Aji Bajang, maka tanpa berjanji perkelahian antara Empu
Gandring dan Wong Sarimpat itu pun menjadi semakin kendor, dan
bahkan akhirnya berhenti sama sekali.
Hanya Kuda Sempana dan Mahisa Agnilah yang kemudian masih
saja bertempur dengan sengitnya desak-mendesak, seperti
sepasang Garuda yang berlaga di udara.
Pada saat yang demikian itulah, Kebo Sindet meloncat, mirip
dengan seekor burung Alap-alap yang menyambar mangsanya di
langit, menukik dan tangannya terayun deras sekali ke dada
lawannya yang kini masih saja berdiri mematung.
Empu Gandring dan Wong Sarimpat menahan nafasnya. Sejenak
kemudian mereka seakan-akan membeku melihat akibat dari
pukulan Aji Bajang. Ketika tangan Kebo Sindet menyentuh dada Ken
Arok, maka seakan-akan terjadilah sebuah benturan yang
mengerikan. Kebo Sindet, hantu Kemundungan yang mengerikan itu
tergetar dan terpaksa meloncat beberapa langkah surut untuk
menyalurkan tekanan pada pangkal tangannya.
Sedang dalam pada itu Ken Arok terlempar beberapa langkah
dan dengan kerasnya ia terbanting di atas tanah. Bulat-bulat
seperti
sebuah batu yang besar. Sama sekali tidak terdengar ia mengaduh
atau berteriak kesakitan. Tak ada sama sekali terdengar ia
mengeluh atau mengumpat.
Empu Gandring yang melihat anak muda itu terbanting jatuh
tanpa sesadarnya, segera meloncat memburu. Dengan serta merta
ia berjongkok di sampingnya dan memegang tangannya. Perlahanlahan
ia berdesis “Angger?”
Ken Arok tidak menjawab. Wajahnya pucat pasi, seperti mayat.
Tetapi Empu Gandring masih saja melihat warna yang kemerahmerahan
itu tidak padam. Karena itu, harapannya masih tebal di
dalam dadanya, bahwa anak itu masih mendapat perlindungan dari
Yang Maha Agung.
Sejenak kemudian Empu Gandring mendengar Ken Arok menarik
nafas perlahan-lahan. Sangat perlahan-lahan. Tetapi sejalan dengan
itu, harapan Empu Gandring pun menjadi semakin tebal. Dicobanya
menempelkan telinganya pada dada anak itu, dan ia masih
mendengar jantungnya berdetak.
“Ia masih hidup“ desis Empu Gandring.
Tetapi dengan demikian Empu Gandring menjadi lengah. Ia
masih akan mendengar dan sempat membela diri seandainya Kebo
Sindet dan Wong Sarimpat menyerangnya bersama-sama. Tetapi
tidak demikian yang terjadi. Empu Gandring hanya sejenak
mendengar keributan. Terlampau pendek. Dan ketika ia meloncat
bangkit, darahnya benar-benar serasa terhenti. Yang dilihatnya
adalah Mahisa Agni yang pingsan berada ditangan Kebo Sindet.
“Gila kau“ teriak Empu Gandring “lepaskan anak itu. Marilah kita
bertempur secara jantan, meskipun seandainya kau berdua akan
berkelahi berpasangan”.
Wajah Kebo Sindet sama sekali tidak bergerak. Beku. Tetapi yang
terdengar adalah suara tertawa Wong Sarimpat, “Apakah kau
sedang mengigau Empu. Sekian lama kita berkelahi, tetapi tak
seorang pun yang dapat mengalahkan lawannya. Kini kau
menantang kami berdua melawanmu. Apakah kau benar-benar akan
membunuh dirimu”.
“Aku tidak peduli apa yang terjadi. Tetapi lepaskan anak itu“
suara Empu Gandring terasa bergetar karena kemarahannya.
Senjatanya, sebilah keris raksasa tiba-tiba menjadi bergetar pula.
Kebo Sindet yang berwajah beku seperti mayat itu menjawab
dengan suara yang bergulung-gulung di dalam perutnya, “Empu
Gandring, kami tidak mempunyai kepentingan dengan kau. Karena
itu pergilah. Jangan ganggu kami lagi”.
“Aku berkepentingan dengan anak itu. Ia adalah ke manakanku.
Kalau kau bergerak selangkah membawanya pergi, maka aku tidak
tahu, apakah aku akan berbuat curang pula seperti kalian”.
Kebo Sindet dan Wong Sarimpat saling berpandangan sejenak.
Mereka tidak dapat membayangkan, apa yang dapat dilakukan oleh
Empu Gandring, meskipun dirinya sendiri menyebutnya curang.
Namun dengan demikian kemarahan Kebo Sindet menjadi semakin
menyala di dalam dadanya. Sehingga karena itu maka katanya
“Baik. Baik Empu gila. Aku dan adikku akan bersama-sama
membunuhmu. Tetapi jangan kau sangka, bahwa aku akan
melepaskan kemanakanmu ini“ Kebo Sindet diam sejenak. Lalu
katanya kepada Kuda Sempana, “Bawa anak ini dengan kudamu
mendahului kami ke Kemundungan. Aku akan segera menyusul.
Pekerjaan kami tidak lagi begitu berat. Membunuh Empu gila ini
berdua”.
Kuda Sempana tidak menjawab sepatah kata pun. Di terimanya
tubuh Mahisa Agni yang lepas dari tangan Kebo Sindet.
“Gila. Kau benar-benar setan alasan“ teriak Empu Gandring
sambil selangkah maju. Tetapi Wong Sarimpat telah berdiri
dimukanya dengan golok ditangannya, “Jangan maju lagi Empu”.
“Persetan. Aku penggal lehermu”.
“Lakukanlah”.
Empu Gandring yang marah itu maju setapak lagi. Seakan-akan
ia sama sekali tidak menghiraukan Wong Sarimpat. Dengan
marahnya ia menggeram, “Aku tidak peduli, apakah aku berbuat
curang atau kejam atau liar. Tetapi jagalah, sentuhan seujung
rambut dari kerisku yang satu ini telah cukup mencabut nyawamu“.
Dan ternyata di tangan kiri orang tua itu telah tergenggam sebilah
keris yang kecil.
Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tertegun melihat keris itu. Keris
itu agak lebih kecil dari keris biasa, tetapi keris yang kecil itu
seakan-akan memancarkan cahaya yang hijau suram.
Kedua hantu dari Kemendungan itu segera tahu pula, bahwa
pada keris yang kecil itu tersimpan semacam bisa yang tajamnya
melampaui bisa ular. Itulah sebabnya maka sejenak mereka menjadi
ragu-ragu.
“Aku tidak pernah bermimpi untuk mempergunakan keris ini“
desis Empu Gandring “karena itu maka keris ini tidak pernah
terpisah dari padaku, supaya keris ini tidak jatuh ketangan orang
lain. Tetapi, mungkin aku sekarang benar-benar telah menjadi gila.
Aku terpaksa nganggar keris ini. Meskipun demikian aku masih
cukup sadar memberi kalian peringatan”.
Terdengar Kebo Sindet menggeram. Tetapi wajah bekunya masih
juga membeku. Namun terdengar ia menjawab “Jangan menakutnakuti
kami seperti menakut-nakuti anak-anak dengan kelabang.
Betapa tajamnya racun kerismu itu Empu, namun keris itu tidak
akan dapat menyentuh tubuhku”.
“Jangan terlalu sombong“ sahut Empu Gandring “kau sudah
dapat menduga babwa keris ini mengandung bisa. Memang, aku
telah memberi bisa yang setajam-tajamnya pada keris ini, sekedar
sebagai suatu percobaan. Tetapi menghadapi setan-setan tidak
berjantung seperti kalian, maka aku terpaksa mempergunakannya.
Semoga aku tidak terkutuk karenanya”.
Kebo Sindet dan Wong Sarimpat masih ragu-ragu sejenak.
Tetapi, ketika mereka menyadari bahwa Kuda Sempana belum
beranjak dari tempatnya, maka Kebo Sindet itu pun membentak
“Ayo, lekas bawa anak itu pergi supaya bukan kau yang akan
menjadi korban pertama dari keris itu”.
Kuda Sempana terkejut. Sejenak ia ragu-ragu, tetapi kemudian ia
melangkah pergi.
“Berhenti“ teriak Empu Gandring.
“Jangan hiraukan“ sahut Kebo Sindet.
Dalam kebimbangan dan keragu-raguan, Kuda Sempana berjalan
menuju ke tempat kudanya disembunyikan.
Dalam pada itu Empu Gandring sudah tidak bersabar lagi. Cepat
ia meloncat menyerang Kebo Sindet dengan sepasang keris di kedua
tangannya. Sebilah keris raksasa di tangan kanan, dan sebilah keris
yang berwarna hijau suram di tangan kirinya.
Tetapi lawannya adalah sepasang bantu dari Kemundungan.
Hantu yang telah kenyang menghisap darah dan keringat sesama.
Itulah sebabnya, maka serangannya yang pertama itu tidak
mengenai serangannya. Sedang kedua iblis itu pun segera
berloncatan memencar. Ketika kemudian perkelahian pula dengan
sengitnya, di tangan Kebo Sindet telah tergenggam sebilah golok.
Empu Gandring yang tua, yang dibakar oleh kemarahan itu pun
bertempur dengan sepenuh kemampuan dan ilmunya. Sedang
kedua lawannya yang berkelahi berpasangan itu pun terlampau
bernafsu pula untuk segera membunuh Empu Gandring.
Dengan demikian maka perkelahian itu pun menjadi semakin
dahsyat. Tenaga mereka bagaikan angin taufan yang saling
berbenturan di atas lautan, sehingga kemudian timbullah gelombang
yang mengerikan, hantam-menghantam, hempas-menghempas
tiada henti-hentinya.
Tetapi Empu Gandring bertempur seorang diri. Lawannya, dua
iblis dari Kemundungan itu berkelahi berpasangan. Hanya karena
senjatanya yang mengerikan itu sajalah maka Empu Gandring masih
tetap mampu bertahan. Betapa berani dan gilanya Wong Sarimpat
dan Kebo Sindet, namun mereka benar-benar tidak mau tersentuh
oleh keris Empu Gandring yang berwarna bijau suram itu. Itu
pulalah sebabnya maka Empu Gandring masih mampu bertahan
melawan keduanya. Setiap kali kerisnya itu menyambar seperti
sikatan, sedang kerisnya yang lain menebas seperti baling-baling.
Namun bagaimanapun juga, ternyata kekuatan kedua orang
lawannya, Kebo Sindet dan Wong Sarimpat yang bergabung itu,
terlampau sukar ditandinginya. Setelah beberapa saat mereka
bertempur, maka terasa, bahwa akhirnya Empu Gandring itu pun
terdesak mundur. Dengan demikian maka ia tidak segera berhasil
menahan Kuda Sempana, bahkan untuk mempertahankan dirinya
sendiri pun, orang tua itu harus bertempur mati-matian.
Dengan hati yang pedih, Empu Gandring terpaksa membiarkan
Kuda Sempana menghilang membawa Mahisa Agni yang sedang
pingsan. Sejenak kemudian ia mendengar kaki kuda berderap, dan
lenyap pulalah semua harapannya untuk menyelamatkan anak muda
itu.
Tetapi dengan demikian, kemarahannya menjadi semakin
memuncak membakar ubun-ubunnya. Orang tua itu seolah-olah
tidak lagi menghiraukan keseimbangan perkelahian itu. Seperti
Orang yang kesurupan, Empu Gandring mengamuk sejadi-jadinya.
Dan justru karena itulah, maka kedua lawannya terpaksa
mengerahkan kemampuan mereka pula. Apalagi menghadapi keris
yang satu yang berwarna hijau suram itu.
Perkelahian itupun kemudian menjadi semakin mengerikan.
Orang-orang yang menyaksikannya dari kejauhan menggigil
ketakutan. Mereka melihat dedaunan berguguran di tanah dan
pepohonan menjadi tumbang, seperti padepokan itu sedang dilanda
oleh angin taufan yang maha dahsyat.
Tetapi mereka yang bertempur itu tiba-tiba terkejut ketika
mereka melihat Ken Arok yang terbaring diam itu mulai bergerak.
Perlahan-lahan ia menggeliat, dan tiba-tiba saja ia bangkit
berdiri.
Sekali lagi anak muda itu mengeliat. Seperti orang yang baru
terbangun dari tidurnya ia memandang berkeliling. Ketika tiba-tiba
dilihatnya Empu Gandring yang sedang bertempur melawan kedua
bantu dari Kemundungan itu, tampak wajahnya menjadi tegang.
Ken Arok yang bangkit dengan serta merta itu benar-benar
mengejutkan ketiga orang-orang tua yang sedang berkelahi. Mereka
menganggap bahwa hal itu tidak akan mungkin dapat terjadi. Anak
muda itu baru saja terbanting jatuh dan pingsan. Bahkan hampir
mati. Nafasnya hanya terdengar lemah sekali, dan detak jantungnya
hampir berhenti. Tetapi tiba-tiba saja ia bangkit dan seperti
bangun
saja dari tidur yang nikmat.
Apa yang terjadi atas diri Ken Arok itu, benar-benar telah
menggetarkan jantung Kebo Sindet. Dengan kekuatan yang selama
ini dibanggakan ia memukul dada Ken Arok tanpa perlawanan yang
berarti. Ia melihat anak itu terlempar dan terbanting jatuh. Tetapi
tiba-tiba anak itu bangun kembali hanya dalam waktu yang tidak
terlalu lama.
“Anak setan” Kebo Sindet mengumpat di dalam hatinya ”apakah
dadanya berlapis baja?”.
Namun dengan dengan demikian orang yang selama ini hidup di
dalam dunia yang kelam, di dalam lingkungan yang liar dan buas,
sebuas rimba belantara, hampir setiap hari bermain-main dengan
maut, tetapi menghadapi Ken Arok terasa kengerian merayapi
hatinya. Bukan karena ia takut melawan Ken Arok, sebab meskipun
anak itu mempunyai daya tahan yang tiada taranya, tetapi ia
pingsan juga karena pukulan Aji Bajang.
Tetapi kini ia menghadapi dua orang yang mempunyai
kelebihanya masing-masing. Empu Gandring dengan kerisnya yang
berwarna hijau suram dan Ken Arok yang seakan-akan menyimpan
tujuh nyawa rangkap di dalam dirinya
Karena itu, maka Kebo Sindet mengambil keputusan untuk
melepaskan saja lawannya. Lebih baik ia pergi meninggalkan
setansetan
Panawijen itu. Lebih baik ia masih sempat menikmati
kemenangannya. Menyembunyikan Mahisa Agni untuk memeras Ken
Dedes dengan segala macam kelicikan.
“Tetapi setan-setan ini menjadi saksi bahwa Empu Sada tidak ada
di sini” katanya di dalam hati, “tetapi tidak apa. Muridnya telah
mereka lihat. Mudah-mudahan mereka berpendapat bahwa
kehadiranku ini adalah karena permintaan Empu Sada. Bukankah
Empu Gandring pernah juga bertemu dengan Empu Sada di Padang
Karautan.
Akhirnya keputusan Kebo Sindet pun menjadi bulat. Ia
mengangap bahwa Kuda Sempana telah cukup jauh mengambil
jarak seandainya Empu Gandring akan mengejar mereka.
Tiba-tiba Kebo Sindet itu pun memberi isyarat kepada adiknya.
Dengan serta merta mereka berloncatan mundur, meskipun mereka
masih tetap berkelahi.
Empu Gandring yang melihat sikap itu menjadi semakin marah.
Alangkah licik lawannya. Mereka akan meninggalkan gelanggang
meskipun mereka telah berkelahi berpasangan.
Dan apa yang diduga itupun segera terjadilah. Kedua orang
itupun segera berloncatan meninggalkan halaman, melangkahi
dinding batu. Tetapi sudah tentu Empu Gandring tidak
membiarkannya. Segera ia mengejarnya. Namun kedua iblis dari
Kemundungan itu tidak banyak menemukan kesukaran. Sambil
melawan mereka kemudian sempat mencapai kuda-kuda mereka.
Bergantian mereka meloncat ke atas punggung-punggung kuda itu,
dan sejenak kemudian terdengar derap kedua kuda itu memecah
sepi malam.
“Pengecut” Empu Gandring berteriak mengatasi derap kaki-kaki
kuda itu. Tetapi suara itu disahut oleh suara tertawa Wong
Sarimpat, berkepanjangan menyusur sepanjang jalan padukuhan
Panawijen.
Ken Arok melihat juga kelicikan itu. Kemarahan yang memang
sudah menyala di dalam dadanya serasa berkobar semakin besar.
Tanpa disadarinya, iapun segera meloncat ingin mengejar mereka.
Tetapi segera langkahnya terhenti. Dadanya serasa akan pecah, dan
tulang-tulang iganya seolah-olah sudah tidak terpaut lagi di
dadanya.
Baru kini terdengar ia mengaduh perlahan-lahan sekali.
Ditekankannya kedua telapak tangannya pada dadanya. Perasaan
sakit itu seakan-akan dengan tiba-tiba saja menerkamnya. Perasaan
itu serasa baru saja melanda dirinya.
Ken Arok berdiri dengan menahan sakitnya. Ia tidak dapat berlari
mengejar orang-orang yang melarikan Mahisa Agni. Karena itu
betapa ia menyesal.
Dadanya berdentang keras sekali ketika ia melihat Empu
Gandring dengan tergesa-gesa kembali. Tetapi ketika orang tua itu
melihatnya, maka iapun berhenti.
“Kenapa engkau Ngger?” bertanya Empu Gandring.
Nafas Ken Arok menjadi semakin deras mengalir. Terputus-putus
ia menyahut, “dadaku Empu”.
Empu Gandring menjadi cemas melihat keadaan Ken Arok.
Karena itu maka anak muda itu pun didekatinya “Bagaimana dengan
dadamu?”
Ken Arok menggigit bibirnya. Tetapi ketika disadarinya bahwa
Empu Gandring agaknya bermaksud mengejar kedua orang
Kemundungan itu, maka jawabnya, “Tidak apa-apa Empu, hanya
sedikit terasa nyeri”.
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menjadi
bingung. Apakah ia akan meninggalkan Ken Arok yang sedang
terluka itu, ataukah ia harus membiarkan Mahisa Agni hilang dibawa
oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat?”.
Agaknya Ken Arok melihat kebimbangan di hati orang tua itu,
maka katanya, “Empu, tinggalkanlah aku disini. Barangkali Empu
Gandring dapat menyusul Kebo Sindet, setidak-tidaknya Empu
mengetahui kemana Mahisa Agni itu dibawa. Kalau benar ia dibawa
ke Kemundungan, maka besok Kemundungan akan aku kepung
dengan prajurit Tumapel segelar sepapan. Meskipun di dalam
sarang mereka ada Kebo Sindet, Wong Sarimpat dan Empu Sada
sekalipun, namun prajurit-prajurit Tumapel cukup banyak untuk
merampok mereka, seperti orang-orang padesan merampok macan.
Empu Gandring masih ragu-ragu sejenak. Dan Ken Arok berkata
pula, “Marilah Empu, aku ikut. Tetapi barangkali aku tidak dapat
berkuda terlampau cepat. Biarlah Empu pergi lebih dahulu. Aku
harap di sepanjang perjalanan sakitku sudah jauh berkurang,
sehingga apabila perlu aku masih dapat membantu Empu
menghadapi orang-orang itu.
“Jangan Ngger. Sembuhkan dahulu lukamu”.
“Jangan hiraukan aku Empu. Setan-setan itu akan menjadi
semakin jauh”.
Empu Gandring termenung sejenak. Anak muda yang bernama
Ken Arok ini memang sangat mengherankan baginya. Anak muda itu
sama sekali tidak memuntahkan darah dari mulut dan hidungnya.
Justru karena itu, maka Empu Gandring merasa tidak berkeberatan
untuk meninggalkannya menyusul Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.
Tetapi, meskipun demikian, untuk sejenak Empu Gandring berdiri
termangu-mangu. Ditatapnya saja Ken Arok yang masih menekan
dadanya dengan kedua telapak tangannya. Namun Ken Aroklah
yang mendesaknya, “Silahkan Empu, silahkan Empu mendahului.
Aku akan segera menyusul”.
Empu Gandring itu seperti tersedar dari mimpinya. Maka
jawabnya sambil meloncat mencari kudanya, “Baiklah Ngger. Aku
akan pergi dahulu. Tetapi kalau Angger masih merasa sakit,
sebaiknya Angger beristirahat”
Dengan tergesa-gesa Empu Gandring pergi ke tempat kudanya
ditambatkan. Sejenak ia masih harus membenahi pelana kuda itu,
dan sejenak kemudian terdengar kaki-kaki kuda itu berderap
meninggalkan halaman padepokan Empu Purwa.
“Mereka menuju ke arah ini” desis Empu Gandring yang dengan
serta merta melecut kudanya yang terasa terlampau lambat berlari.
Ken Arok kini masih tegak seorang diri di halaman padepokan
Empu Purwa. Setelah keadaan menjadi agak reda, maka barulah
satu dua orang cantrik berani mendekatinya. Salah seorang dari
mereka bertanya “Apakah tuan terluka?”
“Ambilkan aku air “desis Ken Arok.
“Air apa?”
“Air. Air dingin”.
Cantrik itupun segera berlari-lari mengambil sebuah gendi yang
berisi air. Sementara itu Ken Arok minta kepada seorang cantrik
yang lain untuk menyiapkan kudanya.
“Inilah air itu tuan”.
Ken Arok menerima gendi itu. Ia tidak tahu, apakah obat yang
paling baik untuk menyembuhkan luka-lukanya. Tetapi ia ingin
minum, dan mudah-mudahan air yang dingin itu dapat meringankan
sakit dadanya itu.
Perlahan-lahan Ken Arok mengangkat gendi itu. Perlahan-lahan
sekali karena gerak tangannya ternyata menyebabkan dadanya
semakin sakit. Diangkatnya wajahnya, dan dengan hati-hati
dituangkannya air gendi itu ke dalam mulutnya.
“Hem,” desisnya, “alangkah segarnya”.
Tetapi, anak muda itu pun terkejut ketika tiba-tiba rasa sakit di
dadanya menjadi agak berkurang oleh segarnya air yang
diminumnya. Sekali lagi ia mengangkat gendi itu. Kini gerak
langannya telah tidak terasa terlampau sakit, dan diteguknya air
itu
sehingga habis,
“Heh” ia menarik nafas dalam-dalam. Rasa nyeri pada dada itu
sudah sangat berkurang. Diberikannya kendi itu kepada cantrik yang
membawanya sambil bertanya “Air apakah ini?”.
“Air. Air dingin biasa tuan”.
“Alangkah segar air dari padepokan Panawijen. Air itu ternyata
telah mengurangi rasa sakit pada dadaku. Terima kasih. Kini aku
telah mampu berkuda menyusul Empu Gandring”.
“Kemanakah mereka itu tuan?”.
“Aku tidak tahu. Dan aku ingin mengetahuinya”.
Ken Arok itu pun kemudian perlahan-lahan berjalan ke arah
kudanya.
“Dadaku sudah agak baik” katanya kepada para cantrik yang
mengerumuninya, “aku akan pergi menyusul Empu Gandring.
Terima kasih, agaknya air padepokan ini memang mengandung
obat. Aku hampir sembuh”.
Ken Arok itu pun kemudian menyentuh perut kudanya. Perlahanlahan
kuda itu berjalan meninggalkan halaman padepokan itu.
Semakin lama semakin kencang. Ketika Ken Arok merasa bahwa
sakit dadanya tidak menjadi semakin parah karena darap kudanya,
maka kuda itu pun kemudian meluncur lebih cepat. Meskipun
demikian sekali-kali Ken Arok masih harus meraba dada itu dengan
tangannya. Kadang-kadang masih terasa nyeri-nyeri di dalamnya.
Tetapi agaknya angin malam yang sejuk telah banyak membantu
meringankan rasa sakit itu.
Dalam keheningan malam terdengar hiruk pikuk derap kaki-kaki
kuda. Orang-orang yang membenamkan dirinya di bawah selembar
kain karena dingin dan ketakutan menjadi semakin menggigil
karenanya. Mereka mendengar derap kuda berturutan. Semula
mereka mendengar seekor kuda lari seperti di kejar hantu. Kuda itu
adalah kuda yang dilarikan oleh Kuda Sempana membawa Mahisa
Agni. Kemudian disusul oleh kuda-kuda Wong Sarimpat dan Kebo
Sindet. Sejenak kemudian sekali lagi mereka mendengar derap kaki
kuda. Agaknya kuda itu adalah kuda Empu Gandring. Dan kini lagi
mereka bergetar karena suara kaki-kaki kuda yang berlari kencang.
Sedang dalam pada itu, orang-orang laki-laki yang mencoba
melihat apa yang terjadi dan melihat perkelahian di padepokan
Empu Purwa dari kejauhan, satu demi satu keluar dari
persembunyian mereka. Dengan hati yang cemas mereka
memperbincangkan apa yang telah mereka lihat. Tetapi mereka
tidak jelas atas apa yang terjadi. Mereka tidak banyak mengerti,
bagaimana akhir dari perkelahian itu. Tetapi ketiga orang yang
telah
menjemput Mahisa Agni yang mengintip lewat dinding batu halaman
padepokan itu dapat mengatakan apa yang dilihatnya. Meskipun
mereka tidak tahu seluruhnya, tetapi mereka melihat Mahisa Agni
menjadi pingsan dan dibawa oleh Kuda Sempana. Setelah itu maka
yang terjadi adalah keributan yang tidak dimengertinya. Mereka
tahu bahwa Empu Gandring bertempur melawan Kebo Sindet dan
Wong Sarimpat, tetapi yang mereka lihat seolah-olah hanyalah
sebuah angin pusaran yang dahsyat.
Malam yang dingin menjadi semakin dingin. Di langit bintangbintang
bertaburan merata disegenap penjuru. Sekali-sekali
selembar awan putih yang lembut mengucap wajah langit yang biru,
membelai gemerlapnya bintang-bintang yang bergayutan.
Tetapi Kuda Sempana sama sekali, tidak menghiraukannya.
Seperti orang yang kehilangan akal ia berpacu ke Kemundungan.
Mahisa Agni yang pingsan masih juga tersangkut di punggung kuda
itu pula. Sejenak kemudian ia telah meninggalkan padukuhan
Panawijen. Namun, ia sama sekali tidak menyangka bahwa dari
jurusan yang berlawanan sedang berpacu pula seekor kuda menuju
kepadukuban Panawijen.
Demikianlah, di dalam malam yang semakin jauh itu, berpacu
beberapa ekor kuda saling berkejaran. Mereka sama sekali tidak
menghiraukan dinginnya angin malam. Betapa tubuh-tubuh mereka
basah oleh keringat dan embun.
Tetapi kuda yang datang dari arah yang berlawanan itu pun
berpacu pula seperti angin. Penunggangnya adalah seorang tua
yang menjinjing sebuah tongkat panjang. Orang itu adalah Empu
Sada. Setiap kali ia melecut kudanya, supaya berlari lebih cepat.
Orang itu seakan-akan takut kehilangan waktu walaupun hanya
sekejap.
Karena itulah maka jarak antara Empu Sada dan Kuda Sempana
menjadi sangat cepat surut. Keduanya berpacu dalam satu jalur
jalan, namun pada arah yang berlawanan. Yang satu meninggalkan
Panawijen sedang yang lain menuju ke Panawijen.
Akhirnya, ketika jarak itu menjadi semakin dekat, maka Empu
Sada menengadahkan wajahnya. Lamat-lamat ia mendengar derap
kaki kuda dihadapannya. Semakin lama menjadi semakin dekat.
“Hem“ desis orang tua itu, “mudah-mudahan aku berjumpa
dengan mereka”.
Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Dihirupnya udara malam
sepuas-puasnya, seakan-akan untuk yang terakhir kalinya.
Diamatinya bintang-bintang dilangit satu demi satu. Tetapi
bintangbintang
itu terlampau banyak. Ribuan, jutaan dan bahkan tidak
terhitung.
Tiba-tiba dada Empu Sada berdesir. Ia melihat bulan tua yang
baru tumbuh mengambang di langit. Kemudian dilihatnya pula
sebuah lingkaran yang luas di sekitar bulan yang sudah tua itu.
“Bulan berkalang“ desisnya pula, “agak tidak lazim. Biasanya
bulan purnama lah yang berkalang. Tetapi kini, bulan yang sudah
tipis, setipis alis perawan, berkalang pula”.
Tetapi Empu Sada tidak memperlambat langkah kudanya. Bahkan
berkali-kali ia melecut kuda itu. Dan kuda itu menjadi semakin
menggila. Ditembusnya keremangan malam dengan derapnya yang
hiruk-pikuk.
“Kuda itu semakin dekat. Tetapi tidak lebih dari seekor“ gumam
Empu Sada kepada diri sendiri.
Tiba-tiba Empu Sada menarik tali kekang kudanya. Dan Kudanya
pun mengurangi kecepatan lajunya.
“Lebih baik aku menunggu“ gumam Empu Sada itu pula.
Tetapi ternyata penunggang kuda yang datang dari arah yang
berlawanan itupun telah mendengar langkah kudanya. Dengan hati
yang berdebar-debar Kuda Sempana mencoba meyakinkan
pendengarannya. Dan kemudian ia pun pasti, bahwa derap kuda itu
adalah derap kuda dihadapannya, bukan kuda yang menyusul di
belakang.
“Siapakah yang berkuda itu?” desisnya.
“Persetan” Kuda Sempana menggeretakan giginya. Tanpa
sesadarnya tangannya telah meraba hulu pedangnya, “mungkin aku
akan bertemu dengan seseorang yang ingin membunuh dirinya”.
Kuda Sempana sama sekali tidak memperlambat langkah kaki
kudanya. Bahkan dibiarkannya kudanya berlari semakin kencang
seakan-akan berpacu dengan angin malam yang silir. Namun
meskipun demikian, terasa debar jantungnya pun menjadi semakin
cepat.
Tetapi, Kuda Sumpana itu pun kemudian mengerinyitkan alisnya.
Suara derap kuda yang didengarnya tiba-tiba berhenti seperti
ditelan hantu.
“Apakah telingaku sudah tidak beres lagi“ desis Kuda Sempana,
“tetapi mungkin orang yang berkuda itu berhenti setelah mendengar
derap kudaku. Atau mungkin bersembunyi”.
Karena angan-angannya itu maka tiba-tiba Kuda Sempana pun
memperlambat kudanya. Ia harus berhati-hati, mungkin seseorang
yang bersembunyi sedang mengintainya, untuk dengan tiba-tiba
menerkam dari balik gerumbul di tepi jalan.
Dengan wajah yang tegang Kuda Sempana mencoba melihat
dalam malam yang semakin remang-remang. Bulan yang tersembul
di langit telah menolong Kuda Sempana untuk dapat melihat agak
lebih terang.
Tiba-tiba darah anak muda itu berdesir. Kini ia melihat sebuah
bayangan yang remang-remang berada di tengah jalan. Orang
berkuda.
“Itulah dia“ desis Kuda Sempana yang darahnya serasa menjadi
semakin cepat mengalir. Tanpa dikehendakinya maka dengan gerak
yang menyentak ia mempercepat lagi langkah kudanya, dan
pedangnya pun telah berada di dalam genggamannya. Dengan
garangnya ia mendekati bayangan yang berhenti tepat di tengahtengah
jalan yang akan dilaluinya.
Sebelum Kuda Sempana melihat jelas siapakah yang berada
dipunggung kuda itu, maka dengan kerasnya ia berteriak sekasar
Wong Sarimpat, “He, siapakah yang berhenti di tengah jalan.
Minggir, supaya kepalamu tidak terinjak kaki-kaki kudaku”.
Dada Empu Sada bergetar mendengar suara itu. Ia segera dapat
mengenal siapakah yang berteriak menyapanya. Tetapi ia terkejut
mendengar nada suara anak muda yang pernah diasuh sebagai
murid yang sangat dimanjakannya. Alangkah kasarnya.
Kuda Sempana kini sudah menjadi semakin dekat, tetapi Empu
Sada masih belum menjawab.
“Minggir“ Empu Sada mendengar Kuda Sempana ber teriak lagi,
“cepat sebelum aku kehabisan kesabaran”.
Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya
tenang, “Berhentilah Kuda Sempana”.
Kini Kuda Sempana lah yang terkejut bukan buatan. Ia pun dapat
mengenali suara itu. Suara gurunya. Karena itu, maka dengan
sekuat tenaganya ia menarik kekang kudanya sambil berdesis,
“Guru. Adakah itu Empu Sada”.
“Ya. Aku adalah gurumu, Kuda Sempana. Apakah kau masih
mengenalku?”.
Kuda Kuda Sempana berhenti beberapa langkah dari kuda
gurunya. Dengan dada yang berdebar-debar Kuda Sempana berkata
terpatah-patah, “Guru. Jadi guru masih hidup?”
“Seperti kau lihat kini Kuda Sempana. Yang duduk di atas
punggung kuda ini sama sekali bukan sebuah kerangka yang hidup.
Tetapi aku adalah Empu Sada yang masih utuh. Yang terdiri dari
kulit daging seperti yang dapat kau lihat, seperti kau, seperti
Kebo
Sindet dan Wong Sarimpat”.
Darah Kuda Sempana terasa berdeburan di dalam jantungnya.
Gurunya yang disangkanya sudah mati itu kini berada beberapa
langkah saja dihadapannya. Namun justru karena itu maka seolaholah
membeku di atas punggung kudanya.
Anak muda itu terkejut ketika ia mendengar gurunya bertanya
“Apakah yang kau bawa itu Kuda Sempana?”
Tiba-tiba terasa sepercik kebanggaan di dalam hati anak muda
itu, dengan dada tengadah ia menjawab, “Guru. Setelah kita
berusaha sekian lama dengan sia-sia, akhirnya maksud itu tercapai
juga. Ini adalah tubuh Mahisa Agni”.
“He?” sejenak kemudian Empu Sada itu pun terbungkam. Ia
melihat tubuh terkulai, tersangkut menelungkup di punggung Kuda
Sempana itu pula. Dengan terbata-bata ia kemudian bertanya,
“Apakah anak itu sudah mati?”.
“Belum guru. Ia baru pingsan. Paman Kebo Sindet dan paman
Wong Sarimpat menghendaki ia tetap hidup”.
Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Serasa urat-uratnya
yang menegang itu pun mengendor kembali. Ternyata ia masih
sempat bertemu dengan Mahisa Agni yang masih hidup.
“Jadi Mahisa Agni masih hidup?”.
“Ya guru”.
“Kenapa ia tidak dibunuh saja? Olehmu atau oleh kedua iblis dari
Kemundungan itu?”
“Paman Kebo Sindet dan paman Wong Sarimpat ingin melihat
Mahisa Agni ketakutan. Mati terlampau cepat bagi Mahisa Agni
agaknya terlampau menyenangkan”.
“Apa yang akan mereka kerjakan?”
“Aku akan membuat perhitungan dengan anak ini.
“Apa yang akan kau lakukan?” Kau akan melakukan perang
tanding di bawah saksi pamanmu Kebo Sindet dan Wong Sarimpat?”
Kuda Sempana terdiam sejenak. Ia menjadi ragu-ragu untuk
menjawab. Tetapi gurunya mendesaknya “Begitu?”.
“Tidak guru“ sahut Kuda Sempana, “dalam keadaannya, aku akan
dapat berbuat apa saja atasnya”.
“Dan kau akan melakukannya juga”.
Kuda Sempana merasakan pertanyaan gurunya itu agak aneh. Ia
tidak melihat kegembiraan pada sikap dan kata-kata Empu Sada.
Sejak lama mereka berusaha untuk dapat berbuat seperti ini,
menangkap Mahisa Agni untuk melepaskan dendam yang membara
di hati. Tetapi setelah ia berhasil menangkap anak muda itu, terasa
pertanyaan-pertanyaan gurunya agak sumbang.
“Bagaimana Kuda Sempana, kau akan melakukan?”. Tiba-tiba
Kuda Sempana menjadi demikian bingung. Karena itu maka
jawabnya “Aku tidak tahu, guru”.
“Kuda Sempana“ desis Empu Sada, “sebaiknya kau menilai dirimu
sendiri. Apakah kau dapat bersikap jantan atau tidak. Kalau kau
merasa dirimu laki-laki, jangan kau berbuat seperti itu. Berbuatlah
seperti seorang laki-laki”.
Kuda Sempana bertambah bingung mendengar kata-kata
gurunya. Ia tidak segera menangkap maksudnya. Bukankah
gurunya sendiri pernah berbuat hal-hal yang dapat disebut licik dan
sama sekali tidak jantan. Adalah tidak dapat dibanggakan
kemenangan Empu Sada atas Mahisa Agni seandainya pada saat itu
Empu Gandring tidak hadir dan seandainya saat itu Empu Sada
berhasil menangkap atau membunuh anak muda itu. Sekarang
gurunya itu bertanya tentang kejantanan dan sikapnya sebagai
seorang laki-laki.
Karena Kuda Sempana tidak segera menjawab, maka Empu Sada
berkata selanjutnya, “Kuda Sempana, sebaiknya kau hentikan
perbuatanmu semacam itu. Seperti kau juga kini menyesal, bahwa
aku pernah berbuat gila-gilaan”.
Kuda Sempana tidak segera menjawab, dadanya masih diliputi
oleh perasaan yang bersimpang siur, bahkan tidak di kenalnya sama
sekali. Itulah sebabnya maka ia masih saja duduk mematung.
Empu Sada seterusnya masih berkata pula, “Kuda Sempana.
Apakah kau mengalami berbagai macam peristiwa berurutan itu
hatimu masih jaga membeku sekeras batu?”.
Kuda Sempana masih juga membeku dan Empu Sada masih
melanjutkan, “Apakah yang telah kau mulai dalam perjalanan
hidupmu setelah kau terpisah daripadaku Kuda Sempana?. Di
tanganku kau telah aku jadikan seorang yang licik dan pendendam.
Kemudian kau bergaul dengan orang-orang Kebo Sindet dan Wong
Sarimpat. Apakah kira-kira yang kemudian tergores pada dinding
hatimu? Apakah kau kemudian menyadari keadaanmu atau bahkan
kau menjadi semakin buas dan garang?”.
Kuda Sempana menundukkan wajahnya. Tidak disengajanya ia
memandangi tubuh Mahisa Agni yang masih saja pingsan. Beberapa
hari yang lewat ia kehilangan segala macam pertimbangan dan
kehendak. Bahkan hatinya benar-benar serasa membeku. Bukan
karena ia ingin melakukan apa saja untuk melepaskan dendamnya,
tetapi serasa ia telah kehilangan arah dan pedoman hidupnya. Ia
berbuat apa saja tanpa dapat mempertimbangkan tujuan dan
akibatnya. Ia berbuat seperti alat yang digerakkan oleh tenaga
orang lain. Sehingga akhirnya ia berbasil berhadapan kembali
dengan Mahisa Agni. Ketika ia berkelahi dengan Mahisa Agni itulah,
maka keinginannya untuk membunuh ternyata telah terungkat
kembali. Meskipun tidak sedahsyat semula.
“Kuda Sempana” panggil Empu Sada kemudian.
Kuda Sempana mengangkat wajahnya. Dipadanginya mata
gurunya yang tajam, seakan-akan langsung menembus pusat
jantungnya. Sehingga Kuda Sempana itu pun tiba-tiba
menundukkan kepalanya kembali.
“Berikanlah Mahisa Agni itu kepadaku”.
Kuda Sempana terkejut mendengar permintaan gurunya itu.
Wajahnya menjadi tegang dan jantungnya berdebaran. Bukan saja
karena ia sendiri ingin berbuat sesuatu atas Mahisa Agni, tetapi
Mahisa Agni itu kini seakan-akan bukan miliknya. Mahisa Agni itu
seakan-akan hanyalah barang titipan.
“Kuda Sempana, berikan Mahisa Agni itu kepadaku” ulang
gurunya.
Dalam kesuraman sinar bulan yang tinggal secabik itu Empu
Sada melihat wajah Kuda Sempana memancarkan beribu
pertanyaan. Wajah yang menjadi kian tegang itu sekali-sekali
terangkat dan kemudian kembali menunduk.
“Apakah kau berkeberatan Kuda Sempana?” “bertanya gurunya.
“Guru“ sahut Kuda Sempana kemudian dengan penuh
kebimbangan, “Aku membawa Mahisa Agni atas perintah paman
Kebo Sindet”.
“Hem“ Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya, “karena
perintah Kebo Sindet maka kau tidak akan memberikannya kepada
siapa pun juga, meskipun kepada gurumu? Adakah lebih baik
bagimu melakukan perintah Kebo Sindet atau memenuhi
permintaanku?”.
Sekali lagi Kuda Sempana terbungkam. Ia tidak dapat menjawab
pertanyaan itu. Bahkan terasa jantungnya menjadi semakin keras
berdentang di dalam dadanya dan kepalanya menjadi pening.
“Kuda Sempana“ berkata Empu Sada selanjutnya, “aku tidak
akan memperhitungkan pendirianmu. Aku tetap pada pendirianku
bahwa aku harus mendapatkan Mahisa Agni itu. Kalau perlu dengan
segala macam cara”.
“Guru“ Kuda Sempana hampir menjerit karena ke bingungan dan
sesak yang menyumbat dadanya, “aku tidak tahu apakah yang
sebaiknya aku lakukan”.
“Apakah kau tidak dapat mendengar kata-kataku? Berikan Mahisa
Agni kepadaku. Itulah yang harus kau lakukan”.
“Bagaimana kalau paman Kebo Sindet marah?”.
“Itu tanggung jawabku”.
“Untuk apakah sebenarnya guru memerlukan Mahisa Agni?
Apakah guru ingin membunuhnya?”
“Kau tidak usah bertanya, untuk apakah Mahis Agni itu bagiku.
Tetapi aku tidak akan mempergunakannya untuk memeras bakal
permaisuri yang kau gilai itu. Kau tahu maksudku”.
Kuda Sempana menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Aku tidak
tahu guru”.
“Kau pun telah masuk kedalam perangkapnya. Kalau kau masih
mau mendengarkan nasehatku, serahkan Mahisa Agni kepadaku dan
tinggalkan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat”.
Kuda Sempana terpaku di atas punggung kudanya sejenak. Katakata
gurunya itu amat asing bagi telinganya dan bagi hatinya. Ia
tidak dapat membayangkan, apakah yang akan dilakukan kemudian.
“Bagaimana?“ bertanya Empu Sada, “aku tahu, selama ini kau
pasti mendapat banyak petunjuk dan ajaran-ajaran dari kedua iblis
itu, yang tanpa kau sadari telah ikut berpengaruh membentuk
dirimu. Tetapi itu bukan karena salahmu. Itu juga karena salahku.
Aku telah membuat kau tanah yang subur bagi ajaran-ajaran Kebo
Sindet dan Wong Sarimpat. Tetapi aku sempat melepaskan diri. Aku
harap kau pun mau mendengar kata-kataku.
Kuda Sempana duduk membeku di tempatnya. Serasa ia
mendengar kata-kata gurunya itu di dalam mimpi yang
mengambang. Ia tidak segera menangkap maksud dan maknanya.
Tetapi Empu Sada menjelaskannya, “Maksudku Kuda Sempana.
Hentikan segala kesesatan. Jalan yang kau tempuh telah terlampau
jauh. Sekarang kembalilah. Mari kita mencari jalan bersama-sama.
Jalan yang terang, yang tidak digelimangi oleh segalamacam noda”.
Kuda Sempana merasakan sentuhan kata-kata gurunya. Tetapi
sentuhan itu agak terlampau lemah. Hatinya selama ini telah
menjadi semakin keras, sekeras batu selama ia berada di dalam
lingkungan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.
Namun Kuda Sempana itu menjawab, “Guru, meskipun
seandainya aku ingin kembali mencari jalan lain, aku kira tak ada
dunia yang sanggup menerima aku. Aku telah terdorong dalam
duniaku yang sekarang. Dan aku tidak akan dapat kembali”.
Empu Sada mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Kuda-Sempana,
kau masih cukup muda. Umurmu, menurut tanggapan lahirilah,
masih lebih panjang dari umurku. Tetapi aku merasa, bahwa aku
dapat menemukan jalan itu. Kaupun pasti akan menemukannya. Tak
ada batas yang dapat menutup kemungkinan itu sampai saat
terakhir dari hidup. Selama kita masih sempat merasa diri kita
bersalah dan dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh mengakui
segala kesalahan untuk bertaubat, maka jalan itu selalu terbuka
bagi kita”.
Sekali lagi Kuda Sempana merasakan sentuhan kata-kata itu.
Secercah goresan yang tipis telah mewarnai perasaannya. Sejenak
anak muda itu termenung.
“Pikirkan Kuda Sempana, sementara itu serahkan Mahisa Agni
kepadaku. Aku akan menyelamatkannya. Tidak akan membunuhnya
seperti apa yang akan aku lakukan beberapa waktu yang lampau.
Ini adalah satu bentuk perbuatan yang bersumber pada
penyesalanku itu. Kalau kau sependapat dengan aku maka
lakukanlah hal yang serupa. Maka kau akan sampai ke jalan yang
kau kehendaki, ke dunia yang kau ragukan apakah masih akan
menerima kau kembali”.
Kuda Sempana masih duduk membeku. Wajahnya menjadi
semakin lama semakin tegang, seperti pergolakan yang terjadi di
dalam dadanya, semakin lama semakin dahsyat.
“Kuda Sempana. Kau tidak usah menjadi cemas, seandainya apa
yang kau lakukan itu tidak dapat di mengerti oleh orang lain.
Bahkan seandainya orang lain tetap menganggapmu sebagai
seorang yang bersalah. Tetapi bukankah bentuk duniawi ini
kadangkadang
bertentangan dengan kepentingan hidup yang kekal kelak?
Jangan hiraukan sikap orang lain atas keputusanmu untuk
meninggalkan duniamu yang sekarang. Kau akan menemukan jalan
menuju ke dalam ketenteraman dan kedamaian yang abadi.
Seandainya kau tetap dianggap bersalah dan mendapat hukuman
badani, tetapi berbahagialah kau dengan hukuman badani itu. Jika
kau hayati arti dari pengertian itu, maka kau akan menemukan yang
seharusnya kau cari. Yang kekal, bukan yang semu. Akupun sedang
mencari yang kekal itu sekarang”.
Dada Kuda Sempana serasa menjadi semakin sesak, bahkan
serasa akan meledak. Terdengar suara gurunya itu gemuruh di
dalam jantungnya. Tetapi bukan itu saja. Yang terdengar pula
adalah suara gemuruh derap kaki-kaki kuda semakin lama menjadi
semakin dekat.
Ternyata derap kaki kuda itu telah membuatnya terlampau
gugup. Sentuhan kata-kata Empu Sada yang sedikit demi sedikit
tergores dihatnya, tiba-tiba menjadi terpecah-belah, bercerai-berai
seperti asap di hembus angin.
Yang didengarnya kini hanyalah derap kaki-kaki kuda. Kuda
Sempana segera dapat menebak, bahwa deru kaki-kaki kuda itu
adalah Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Tetapi Kuda Sempana tidak
dapat menduga, bagaimanakah akhir dari perkelahian antara kedua
iblis itu dengan kedua lawan-lawannya. Apakah Ken Arok benarbenar
dapat dibunuh oleh Kebo Sindet dan kemudian bersama-sama
dengan Wong Sarimpat membunuh Empu Gandring, atau kedua
hantu itu sekedar menghindari lawan-lawannya.
Empu Sada pun mendengar pula derap kaki-kaki kuda itu. Di
tengadahkannya wajahnya dan perlahan-lahan ia berdesis “Aku kira
yang aku dengar adalah derap dua ekor kuda”.
Tak ada yang menyahut. Kuda Sempana terbungkam seperti
membeku di tempatnya. Hanya desir angin malam yang menyentuh
dedaunan liar terdengar gemerisik, seperti suara orang yang
berbisik di telinga Empu Sada, “Ya, dua ekor kuda”.
“Kuda Sempana“ berkata Empu Sada kemudian, “apakah kau
tahu, siapakah yang kira-kira akan datang?”
Seperti tidak sadar Kuda Sempana menyahut “Paman Kebo
Sindet dan Wong Sarimpat guru”.
“Hem“ Empu Sada mengangguk-anggukan kepalanya. Terasa
jantungnya menjadi semakin cepat berdentang. Apakah ia akan
mengulangi perkelahian yang pernah dilakukannya melawan kedua
orang itu? Kalau sekarang ia harus bertempur melawan keduanya,
maka ia yakin, bahwa ia akan mati terbunuh dengan sia-sia. Tetapi
apakah ia akan lari menghindar? Lalu apakah gunanya ia berpacu
dengan tergesa-gesa dari padepokannya sampai kedaerah
Panawijen ini?.
“Kuda Sempana“ berkata orang tua itu tiba-tiba, “masih ada
kesempatan. Berikan Mahisa Agni kepadaku”.
Sekali lagi terasa dada Kuda Sempana menjadi pepat. Ia tidak
dapat segera mengambil keputusan. Sedang Empu Sada
mendesaknya. “Cepat, sebelum mereka datang”.
“Aku takut guru“ tiba-tiba terdengar suara Kuda Sempana parau.
“Baiklah. Kau takut kepada kedua iblis itu?” geram Empu Sada,
“kalau demikian, akulah yang akan membunuhmu. Bagiku kau
memang sudah tidak ada gunanya lagi”.
“Guru “ suara Kuda Sempana tersekat di kerongkongan.
“Atau kau berikan Mahisa Agni”.
Kuda Sempana tiba-tiba menjadi gemetar. Seperti seseorang
yang sedang berdiri pada tanah yang rapuh di tepi jurang. Sedikit
saja ia bergerak, maka ia akan terperosok ke dalamnya. Maju atau.
mundur.
Tiba-tiba saja, tanpa diketahuinya sendiri, Kuda Sempana
mengharap kuda-kuda yang berderap itu datang semakin cepat. Ia
mengharap bahwa Kebo Sindet dan Wong Sarimpat akan
melindunginya.
“Ayo Kuda Sempana” suara Empu Sada semakin tajam menusuk
jantungnya, “cepat, serahkan Mahisa Agni atau kau aku bunuh
sekarang juga”.
Kini Kuda Sempana benar-benar menggigil karena gelora di
dalam dadanya yang menjadi semakin dahsyat. Apalagi, ketika ia
melihat gurunya mengangkat tongkatnya. Maka darahnya serasa
telah membeku.
“Kau benar-benar akan membunuh dirimu Kuda Sempana”.
Kuda Sempana tidak menjawab. Meskipun sekali dua kali
tangannya menyentuh hulu pedangnya, tetapi ia tidak dapat
berbuat apapun menghadapi gurunya. Seandainya ia ingin melawan,
maka perlawannya itu akan tidak berguna sama sekali. Karena itu
maka anak muda yang telah kehilangan gairah menghadapi masamasa
depannya itu, kini benar-benar menjadi putus asa. Ia tidak
merasa sesuatu kepentingan apapun untuk mempertahankan
dirinya. Apalagi terhadap gurunya. Kalau gurunya menginginkan
Mahisa Agni, biarlah ia dibunuhnya. Itu lebih baik baginya dari
pada
ia akan mati dalam kengerian di tangan Kebo Sindet dan Wong
Sarimpat yang pasti menjadi sangat marah.
Dengan demikian, maka Kuda Sempana itu pun menjadi pasrah.
Ia tidak ingin lagi berusaha sesuatu untuk menyelamatkan dirinya.
Dengan dada yang membeku mati ia menundukkan kepalanya. Ia
tidak akan mengelak meskipun ia melihat Empu Sada telah
mengangkat tongkatnya.
Derap kedua ekor kuda yang didengar oleh Empu Sada pun
menjadi semakin dekat. Ia sudah semakin terdesak waktu. Hatinya
yang bergelora telah mendorongnya maju beberapa, langkah. Ia
melihat Mahisa Agni yang pingsan, dan ia mengenangkan semua
peristiwa yang pernah dialaminya. Kini ia sadar sesadar-sadarnya
menghadapi keadaan, ia datang ke Panawijen untuk mengurangi
kesalahannya dan berusaha menyelamatkan Mahisa Agni karena itu
siapa pun yang menghalangnya harus disingkirkan.
Kini yang berada dihadapannya adalah Kuda Sempana yang telah
menundukkan kepalanya. Dengan mudah ia dapat menyentuh
kepala anak itu dengan tongkatnya, dan anak itu akan terpelanting
jatuh. Bahkan mati.
Namun tiba-tiba dadanya menjadi semakin bergelora. Kuda
Sempana itu adalah muridnya. Betapapun juga, maka ia tidak
segera dapat melupakan hubungan yang selama ini telah terjalin.
Dan tiba-tiba pula ia melihat anak muda yang pasrah itu dengan
hati yang jujur. Kesalahan ini tidak seluruhnya dapat ditumpahkan
kepada Kuda Sempana. Justru kesalahan terbesar adalah terletak
pada dirinya sendiri. Ia adalah orang yang harus bertanggung
jawab, kenapa anak muda itu menjadi liar dan buas. Ia adalah
seorang yang patut menanggung segala akibat dari kebinalan Kuda
Sempana karena Kuda Sempana adalah muridnya.
Empu Sada yang sudah mendekati muridnya itu pun menjadi
tertegun. Iapun kemudian membeku seperti Kuda Sempana. Tetapi
kemudian hatinya pun menjadi bulat. Ia tidak akan meletakkan
tanggung jawab kepada Kuda Sempana, tetapi kepada diri sendiri.
Dengan tekad yang menyala didalam dadanya ia bergumam, “Aku
akan hadapi kedua iblis itu dengan mempertaruhkan nyawa”.
Kuda Sempana yang telah menundukkan wajahnya dengan
pasrah, mendengar gumam yang lirih itu , tiba-tiba dada anak muda
itupun terdesir pula. Ia tahu benar arti kata-kata gurunya,
sehingga
tanpa dikehendakinya sendiri ia berkata, “Guru, mereka adalah
orang-orang yang sangat buas”.
Empu Sada mengerutkan keningnya. Dipandanginya muridnya
dengan pandangan yang suram. Ternyata betapapun anak itu jauh
tersesat, tetapi ia masih mampu membuat perbedaan antara sifatsifat
seseorang. Dengan nada yang detar Empu Sada menjawab,
“Terima kasih akan peringatamu itu Kuda Sempana. Agaknya kau
masih juga menyayangkan nyawaku. Tetapi aku sudah bertekad
untuk berbuat sesuatu. Aku sudah bertekad untuk menyelamatkan
Mahisa Agni. Nah kemudian terserah padamu. Kalau aku mati dalam
perkelahi ini maka aku akan mati dengan dada yang lapang, sebab
aku mati selagi aku berusaha untuk berbuat sesuatu yang
bermanfaat bagi manusia dan kemanusiaan. Sebab menurut
perhitunganku keselamatan Mahisa Agni bukanlah sekedar Mahisa
Agni seorang, tetapi di belakangnya adalah seluruh penghuni
padukuhan Panawijen yang mengalami kekeringan. Sedang apabila
aku berhasil keluar dari pertempuran ini dengan selamat, aku sudah
memberitahukan kepadamu bahwa aku memerlukan Mahisa Agni
itu”.
Kepala Kuda Sempana terasa menjadi semakin pepat. Semua
yang akan terjadi sama sekali tidak dikehendakinya. Ia tidak ingin
gurunya, Empu Sada itu mati. Tetapi kalau ia hidup, maka Mahisa
Agni itu akan dimintanya. Justru untuk menyelamatkannya. Dalam
kepepatan itu terdengar Empu Sada berkata, “Menepilah Kuda
Sempana. Jadilah saksi perkelahian ini. Kalau aku mati, mungkin kau
masih juga bersedia untuk menguburkan mayatku”.
Kuda Sempan tidak menjawab kata-kata gurunya. Tetapi gelora
di dalam dadanya menjadi kian gumuruh meledak-ledak.
“Menepilah” lagi terdengar suara Empu Sada, “itulah mereka
sudah datang”.
Dengan dada yang hampir meledak Kuda Sempana mendengar
derap kuda semakin dekat. Seperti di dorong oleh sebuah pengaruh
yang tak dimengertinya ia menggerakkan kudanya menepi. Ketika ia
memalingkan kepalanya, maka dilihatnya dua ekor kuda berpacu
dalam kesuraman sinar bulan tua yang kekuning-kuningan. Segera
Kuda Sempana mengetahui kahwa keduanya itu adalah Kebo Sindet
dan Wong Sarimpat.
Sekali lagi, terdorong oleh parasaan yang tak dikenalnya anak
muda itu berdesis “Guru, mereka adalah orang-orang yang sangat
buas”.
“Ya, aku sudah mengenal mereka dengan baik” jawab Empu
Sada, “sekali lagi, terima kasih akan peringatanmu”.
“Sebaiknya guru meniggalkan mereka”.
Empu Sada menggeleng, “Aku akan menyelamatkan Mahisa Agni.
Aku akan berbuat apa saja untuk kepentingan itu. Mungkin aku
akan berbuat curang atau berbuat apa saja. Mungkin juga aku akan
menjadi sangat licik. Aku tidak peduli lagi akan harga diriku Aku
tidak peduli lagi, apakah yang akan dikatakan orang atas diriku.
Tetapi aku sudah mempertimbangkan masak-masak untuk
menyelamatkan Mahisa Agni, maka Empu Sada yang telah penuh
dengan noda-noda di sepanjang hidupnya ini sudah tidak berarti,
tetapi Mahisa Agni adalah lambang dari masa-masa mendatang,
sedang aku adalah cermin dari kerapuhan di masa-masa lalu.”
Kuda Sempana tidak lagi sempat berbuat apapun juga untuk
memperingatkan gurunya. Kedua kuda iblis dari Kemundungan
itupun, sudah menjadi semakin dekat.
Kuda Sempana melihat Empu Sada mempersiapkan diri untuk
menyongsong keduanya. Dan tiba-tiba orang tua itu menggerakkan
kendali kudanya maju beberapa langkah.
Yang terdengar adalah suara Wong Sarimpat berteriak nyaring
“He, bukankah kau Kuda Sempana, kenapa kau berhenti, dan
siapakah orang itu?”.
Tak ada jawaban. Dan yang terdengar adalah suara Wong
Sarimpat itu pula dengan nada yang aneh karena terkejut, “Aku
melihat tongkat panjang itu. Apakah kau Empu Sada?”
Kuda-kuda merekapun menjadi semakin dekat. Tetapi Empu
Sada tidak mau berteriak menjawab pertanyaan Wong Sarimpat.
Dibiarkannya mereka menjadi lebih dekat lagi.
“Setan tua itu agaknya masih hidup“ teriak Wong Sarimpat pula.
Mereka sudah menjadi semakin dekat “tetapi kali ini kau tidak akan
lepas lagi dari tangan kami. He, Empu yang malang. Ternyata
betapa jauh kau bersembunyi, namun tiba-tiba kita telah bertemu
lagi”.
Keduanya kini sudah demikian dekatnya, dan sejenak kemudian
kedua kuda itu pun berhenti.
Empu Sada melihat wajah kedua orang itu di dalam kesamaran
sinar bulan. Tanpa disengajanya ia menengadahkan wajahnya, dan
dilihatnya bulan itu masih saja berkalang. Bahkan semakin jelas.
dada orang tua itu pun tiba-tiba pula berdesir karenanya.
“Hem“ terdengar suara Kebo Sindet menggeram di dalam
perutnya, “ternyata kau masih hidup Empu”.
“Ya, aku masih hidup“ sahut Empu Sada dengan nada yang
datar. “Apakah kau heran?”
Wajah Kebo Sindet yang beku itu sama sekali tidak berubah.
Hanya matanya sajalah yang seolah-olah membara memandangi
Empu Sada yang duduk tenang di atas punggung kudanya.
“Tetapi apakah sekarang kau dengan sengaja menjumpai kami?”
bertanya Kebo Sindet.
“Ya, aku sengaja menjumpai kalian. Aku mendengar cara kalian
memancing Mahisa Agni. Dan aku agaknya dapat memperhitungkan
dengan tepat apa yang akan kalian lakukan atasnya”.
“Sekarang apa maksudmu?”.
“Aku minta Mahisa Agni. Sebenarnya aku dapat merampasnya
dari tangan Kuda Sempana. Tetapi aku masih ingin berhadapan
langsung dengan kalian, supaya aku mendapat kepuasan melihat
hasil usahaku itu”.
Terdengar Keho Sindet menggeram seperti gunung yang akan
meledak. Meskipun wajahnya yang beku tetap membeku, tetapi
nafsu untuk segera membunuh Empu Sada telah memancar dari
kedua biji matanya yang berwarna semakin merah membara.
Namun dalam pada itu terdengar Wong Sarimpat tertawa
menyakitkan hati. Dengan nada tinggi ia berkata, “O, alangkah
malang nasibmu Empu. Kau masih juga tidak menyadari
keadaanmu. Apakah kau akan sekali lagi berkelahi dengan curang?
Meskipun demikian kalau tidak ada setan yang menyembunyikan
kau waktu itu, maka kau pasti akan menjadi bangkai makanan
anjing-anjing liar. Sekarang kau masih juga akan mencobanya lagi.
Apalagi kita berhadapan beradu dada. Maka umurmu tidak akan
lebih dari sepemakan sirih”.
Empu Sada mengangkat alisnya. Dengan tenang ia menjawab
“Apa kita akan berhadapan beradu dada?”.
Wong Sarimpat terdiam sejenak. Tampaklah wajahnya yang
kasar menjadi berkerut-merut. Sejenak ditatapnya wajah Kebo
Sindet yang membeku, seolah-olah ia ingin bertanya, apakah yang
harus dilakukannya. Apakah ia akan melayani tantangan Empu Sada
itu yang maknanya diketahuinya dengan baik.
Namun terdengar Kebo Sindet menjawab dengan kata-kata yang
seolah-olah bergumul di dalam perutnya, “Apakah artinya kau
Empu. Apakah kau sangka bahwa kami menganggap kau cukup
bernilai untuk kami layani dengan menjunjung kehormatan kami,
dengan perang tanding misalnya? Selamanya kau pasti akan
berbuat curang dan licik. Kami sudah mengenal kau dengan baik.
Pada saat yang lampau itu dapat menjadi peringatan bagi kami,
siapakah Empu Sada itu, dan bagaimana kali caranya melayani
lawannya, meskipun lawannya berbuat sejujur-jujurnya. Pada
perkelahian kita yang terakhir itu adalah peringatan yang terakhir
pula bagi kami, bahwa kami untuk seterusnya tidak akan
mempercayai kau lagi, apabila kau masih akan bertemu lagi dengan
kami, seperti saat ini”.
Empu Sada tersenyum mendengar kata-kata Kebo Sindet.
Jawabnya, “Kau dapat berkata demikian kepada orang lain yang
tidak melihat apa yang terjadi sesungguhnya. Kau dapat membual
dan memutar balik keadaan terhadap orang lain. Tetapi jangan
kepadaku. Dan jangan kepada Kuda Sempana. Sebab kalian dan
pasti mengerti bahwa kami, aku dan Kuda Sempana, tahu benar apa
yang telah terjadi. Sehingga ceriteramu itu benar-benar seperti
ceritera yang kau hisap dari ujung kelingkingmu.
Sekali lagi terdengar Kebo Sindet menggeram. Yang menyahut
kemudian adalah Wong Sarimpat “Kakang, kenapa kita membuang
waktu untuk mendengarkan kata-katanya yang tidak berujung
pangkal itu? Seperti yang diigaukan oleh seseorang yang sedang
sekarat. Marilah kita selesaikan saja orang ini. Kita bunuh dan
kita
cincang sampai lumat”.
Kebo Sindet tidak menjawab. Tetapi sikapnya yang kaku tegang
menunjukkan, bahwa ia sependapat dengan pikiran adiknya itu.
Dalam pada itu, maka Empu Sada pun berkata, “Apakah sudah
kalian pikirkan masak-masak keputusan kalian itu?”
Terdengar Wong Sarimpat tertawa berkepanjangan. Katanya, “O,
ternyata kau sudah mulai ketakutan. Agaknya kau mengharap
bahwa kau akan dapat mencoba mengungkat harga diri kami, dan
kemudian dengan licik akan kau manfaatkan. Sekarang Empu yang
malang, kau tidak akan dapat lepas lagi dari tangan kami. Nyawamu
benar-benar sudah berada di ujung ubun-ubun. Sebenarnya bagimu
lebih baik kau menyerah saja, dan kau akan mati dengan cepat
tanpa merasakan lelah lebih dahulu, dari pada kau harus bertempur
mati-matian, namun akibatnya tidak akan berbeda. Sebab kali ini
kami sudah tidak akan …“ tiba-tiba kata-kata Wong Sarimpat itu
terputus. Ternyata Empu Sada melakukan apa yang dikatakannya.
Untuk menyelamatkan Mahisa Agni, apapun akan dikorbankannya.
Nyawanya, kehormatannya dan apa saja. Kali ini Empu Sada
menyadari, betapa ia berlaku licik. Tetapi ia sudah tidak
mempertimbangkannya lagi. Dengan serta merta selagi Wong
Sarimpat tertawa berkepanjangan sambil berkata dengan
sombongnya, tiba-tiba orang tua itu melepaskan sebilah keris kecil,
hampir sekecil kelingkingnya. Demikian cepat dan tiba-tiba, serta
dilambari tenaga Empu Sada yang sedang diamuk oleh kebencian,
dendam, kemarahan dan segala macam perasaan, dan bahkan lebih
dari pada itu adalah perasaan bersalah atas tertangkapnya Mahisa
Agni, maka tenaga lontarannya pun seakan-akan menjadi berlipat
ganda.
Kedua iblis dari Kemundungan itu terkejut bukan kepalang. Sekali
lagi mereka didahului oleh kelicikan Empu Sada. Kebo Sindet yang
berwajah beku itupun tampak menggerakkan dahinya sambil
berteriak, “Sarimpat, hindari senjata itu”.
Wong Sarimpat pun melihat sebilah keris yang kecil itu meluncur
ke arahnya. Tetapi demikian tiba-tiba. Hanya karena kelincahan dan
pengalaman yang tidak terhitung itulah, maka ia dapat
menghindarkan senjata itu menembus dada langsung menghunjam
ke jantungnya. Namun meskipun demikian, senjata itu masih juga
mengenai pangkal lengan kirinya.
Terdengar orang itu mengaduh pendek, namun kemudian
terdengar ia mengumpat dengan kata-kata yang kotor.
Tetapi sekali lagi Wong Sarimpat harus menutup mulutnya ketika
dengan dahsyatnya Empu Sada menyerang tanpa mengucapkan
kata-kata apapun. Kali ini tongkat panjangnya menyambar dengan
cepatnya, seperti lidah api meloncat di udara.
Namun sekali lagi Empu Sada berbuat curang. Ternyata ia lidak
menyerang lawannya, tetapi ternyata tongkatnya menyambar kaki
kuda Kebo Sindet. Kuda itu terkejut bukan kepalang. Terdengar ia
meringkik tinggi, namun sejenak kemudian kuda itupun robohlah ke
tanah.
“Setan licik” teriak Wong Sarimpat sambil meraba pangkal
lengannya. Terasa cairan yang hangat meleleh dari lukanya Kini ia
melihat Kebo Sindet tidak berkuda lagi. Tetapi meskipun demikian,
ia merasa mendapat kesempatan untuk mencabut keris yang hampir
tenggelam sampai ke hulu itu dari pangkal lengannya.
Kebo Sindet yang terpaksa meloncat dari kudanya menjadi marah
bukan buatan. Sekilas ia melihat kudanya begetar, namun sejenak
kemudian didengarnya kuda itu meringkik-ringkik. Agaknya kakinya
terasa demikian sakitnya, sehingga kuda itu tidak lagi mampu
berdiri.
Sambil menggenggam goloknya erat-erat Kebo Sindet itu
menggeram, “Kau benar-benar setan yang licik. Pengecut yang tidak
punya malu. Apakah kau sangka caramu itu cukup bernilai untuk
mendapat pelayanan yang jujur. Sekarang aku pun akan berbuat
apa saja untuk membunuhmu”.
Kini Empu Sadalah yang tertawa. Sambil memutar kudanya ia
berkata, “Lakukan apa saja yang dapat kau lakukan, aku pun akan
berbuat serupa licik, pengecut, curang dan apa saja. Kita adalah
orang-orang dari daerah yang hitam. Dari daerah yang penuh
dengan noda. Dimana tidak ada lagi ukuran yang dapat memberi
penilaian terhadap apa yang kita lakukan. Tak ada lagi
ikatan-ikatan
dan keharusan, apalagi tata kesopanan. Kebo Sindet dan Wong
Sarimpat. Kita adalah binatang-binatang liar yang buas yang hidup
di tengah-tengah rimba yang lebat. Jangan menyebut-nyebut lagi
tentang kelicikan, kecurangan, pengecut dan sebagainya. Itu adalah
sandangan kita. Itu adalah sikap dan sifat-sifat yang memang kita
miliki sejak lama. Ayo, sekarang, marilah kita berbuat apa saja”.
“Setan alas“ Kebo Sindet itu mengumpat “aku terima
tantanganmu Empu. Kita akan berbuat apa saja”.
Empu Sada tidak menunggu Kebo Sindet itu mengatupkan
mulutnya. Kudanya segera meluncur seperti anak panah menyerang
iblis dari Kemundungan itu. Tetapi kali ini Kebo Sindet sudah
bersiap
menerimanya. Goloknya yang besar segera berputar. Ia ingin
berbuat seperti Empu Sada, menjatuhkan kuda lawannya. Tetapi
ternyata tongkat Empu Sada lebih panjang dari goloknya, sehingga
ia tidak sempat maju lebih dekat lagi pada kuda lawannya itu.
Bahkan ia melihat ujung tongkat Empu Sada menyambar kepalanya,
sehingga dengan demikian ia harus menangkisnya.
Terjadilah benturan antara keduanya, dan keduanya merasakan
betapa kekuatan lawannya terpusat pada Senjata-senjata itu,
dilambari oleh kemarahan dan nafsu yang hampir tak terkendali.
Sementara itu Wong Sarimpat sedang sibuk berusaha menarik
keris yang menghunjam dipangkal lengannya. Terdengar ia berdesis
di atas punggung kuda. Ketika ia melihat kakaknya bertempur
dengan gigihnya, maka ia merasa aman untuk melakukannya.
Sambil memejamkan matanya Wong Sarimpat menjepit hulu
keris yang hanya mencuat tidak lebih dari senyari itu, dengan kedua
ujung jarinya. Perlahan-lahan ditariknya keris itu sambil berdesis
menahan sakit. Namun kadang-kadang mulutnya masih juga sempat
mengumpat-umpat dengan kotornya.
“Iblis laknat” orang itu berteriak ketika ia berhasil menarik keris
itu dari pangkal lengannya. Tetapi sejenak kemudian sekali lagi ia
menyeringai kesakitan. Darah yang merah kehitam-hitaman
kemudian bergumpal-gumpal meleleh dari luka yang tidak seberapa
besar itu.
Wong Sarimpat itu mengangkat wajahnya ketika ia mendengar
suara Empu Sada, “Kerisku mengandung warangan yang tajam
Sarimpat. Kau lihatlah darahmu dengan saksama”.
“Aku sudah mengira“ teriak Wong Sarimpat sambil melihat Empu
Sada itu bertempur terus melawan kakaknya. Tetapi Empu Sada
yang berada dipunggung kuda itu masih juga mempunyai
kesempatan lebih banyak. Kebo Sindet, seakan-akan hanya dapat
menunggu serangan-serangan yang datang menyambar-nyambar.
Tetapi ia tidak banyak mendapat kesempatan untuk menyerang
lawannya, karena setiap kali kuda Empu Sada itu menyambar, lalu
dengan cepatnya berlari menjauh untuk kemudian berputar dan
sekali lagi menyambarnya dengan dahsyat seperti badai.
“Tetapi warangan yang betapapun tajamnya tidak akan berarti
apa-apa bagiku Empu“ teriak Wong Sarimpat itu pula.
Empu Sada yang mendengar teriakan itu sempat berpaling.
Dalam kesuraman cahaya bulan yang redup ia melihat Wong
Sarimpat mengambil sebilah pisau. Dengan pisau itu ia melukai
pangkal lengannya sendiri di sekitar lukanya karena keris Empu
Sada; sehingga dengan demikian darah yang merah segar menjadi
semakin banyak mengalir.
“Tak ada gunanya“ berkata Empu Sada, “sentuhan warangan itu
dengan setetes darahmu telah cukup membuatmu, beku”.
Tetapi Empu Sada itu pun kemudian melihat Wong Sarimpat
menelan segumpal obat reramuan pencegah racun. Sambil menelan
orang itu masih juga mengambil raramuan yang lain untuk
diusapkan pada lukanya, sehingga luka itu terasa agak menjadi
dingin.
“O, iblis itu benar-benar telah mempersiapkan diri untuk
menghadapi setiap kemungkinan“ geram Empu Sada di dalam
hatinya.
Dalam pada itu ia mendengar Wong Sarimpat berteriak, “tak ada
racun yang dapat membunuh Wong Sarimpat” katanya, “aku sudah
menemukan obat untuk mengobati segala macam warangan dan
racun karena gigitan ular sekalipun. Bahkan sengatan lebah biru
dari
kaki gunung Semeru. Apalagi sejenis warangan mu yang tidak
berarti apa-apa itu bagiku”.
Empu Sada tidak menyahut. Ia memang melihat lamat-lamat
darah semakin banyak mengalir. Dengan demikian, maka racun itu
pun akan dapat dipunahkannya.
Tetapi meskipun demikian, ia telah berhasil melukai Wong
Sarimpat. Luka yang kemudian dibuat menjadi besar oleh orang itu
sendiri. Mengalirkan darah dari tubuhnya, berarti mengurangi
kekuatan tubuh itu dan daya tahannya.
Sejenak kemudian Wong Sarimpat yang merasa, bahwa racun
Empu Sada sudah tidak berbahaya lagi bagi tubuhnya, segera
melumuri lukanya itu dengan semacam obat yang lain, obat yang
dapat menghentikan arus darahnya.
Kemudian terdengar Wong Sarimpat itu tertawa. Digerakkannya
kudanya beberapa langkah maju. Katanya di antara suara
tertawanya yang menyakitkan hati, “Sekarang aku sudah selesai
Empu. Aku akan berkelahi bersama kakang Kebo Sindet, dan
kaupun akan segera mati terbunuh. Begitu?”
Empu Sada sama sekali tidak menjawab kata-kata Wong
Sarimpat. Ia sedang berusaha untuk menekan Kebo Sindet selagi ia
masih mendapat kesempatan. Kudanya masih saja menyambarnyambar
seperti burung elang di udara. Tetapi Kebo Sindet
bukanlah seekor anak ayam yang ketakutan melihat elang. Dengan
garangnya ia menyambut setiap serangan seperti seekor harimau
yang kelaparan.
Demikianlah pertempuran itu semakin lama menjadi semakin
dahsyat. Keduanya adalah orang-orang sakti yang sukar di cari
bandingnya. Adalah suatu keuntungan bagi Empu Sada, bahwa
kelincahan kudanya dapat membantunya mempersulit kedudukan
lawannya. Meskipun demikian Empu Sada masih juga belum
mendapat kesempatan untuk berbuat banyak.
Wong Sarimpat yang telah selesai mengobati luka-lukanya itu
tidak segera masuk kedalam perkelahian. Ia melihat kakaknya masih
akan dapat bertahan seorang diri. Dibiarkannya tubuhnya menjadi
lebih baik dan kuat setelah beberapa saat ia harus berjuang untuk
melawan racun.
Bahkan Wong Sarimpat itu kemudian mendekati Kuda Sempana
yang melihat perkelahian itu dengan mata tanpa berkedip, tetapi
dengan jantung yang berdegupan dengan gemuruh.
Anak muda itu terkejut ketika Wong Sarimpat menggamitnya “He
KudaSempana. Kau lihat perkelahian itu?”
Kuda Sempana mengangguk.
“Katakan, siapakah yang bakal menang?”
Kuda Sempana terbungkam. Ia tidak dapat menjawab pcrtanyaan
itu. Ia mengharap gurunya tidak mati, tetapi ia mengharap pula
bahwa Kebo Sindet akan melindunginya dari keinginan gurunya
untuk menyelamatkan Mahisa Agni. Meskipun ia tidak lagi dapat
mempertimbangkan, apa yang sebaiknya dilakukan atas Mahisa
Agni, tetapi kini yang dipikirkannya adalah, bahwa Mahisa Agni itu
akan selalu merupakan hantu baginya di masa-masa mendatang
apabila ia masih akan tetap hidup. Mahisa Agni akan selalu
membayanginya dengan penuh dendam dan kebencian. Karena itu,
maka baginya kini, lebih baik apabila Mahisa Agni itu lenyap saja
sama sekali.
Karena Kuda Sempana tidak menjawab, maka berkatalah Wong
Sarimpat, “Mungkin kau tidak cukup mampu menilai perkelahian itu
Kuda Sempana. Baiklah aku beritahu bahwa keduanya dalam
keadaan seimbang. Kelebihan Empu Sada hanyalah terletak pada
kudanya itu. Meskipun demikian kudanya itu pun tidak akan banyak
menolong, sebab segala macam geraknya mau tidak mau harus
diperhitungkan pula dengan setiap kemungkinan yang dilakukan
oleh kudanya, sebab kuda itu mempunyai otaknya sendiri. Kalau
kuda itu tidak mempunyai otak dan kemauan sendiri, maka Empu
Sada pasti akan segera memenangkan perkelahian itu.
Kuda-Sempana masih saja berdiam diri.
“Tetapi“ Wong Sarimpat meneruskan, “aku akan segera terjun ke
dalam arena. Nah, kau akan dapat mempertimbangkan, apakah
yang kira-kira akan terjadi. Mungkin kau tidak akan sampai hati
melihat gurumu mati terbunuh, bahkan untuk meyakinkannya,
mungkin aku akan mencincangnya”.
Kuda Sempana sama sekali tidak menjawab.
“Nah“ Wong Sarimpat berkata lebih lanjut, “Apakah kau akan
menyaksikannya, apakah kau akan pergi lebih dahulu membawa
Mahisa Agni itu ke Kemundungan? Atau kau akan mencoba berbuat
sesuatu?”.
Kuda Sempana seolah-olah telah benar-benar membeku di atas
punggung kudanya. Karena itu ia sama sekali tidak menjawab.
“Jangan takut kepada Mahisa Agni. Urat nadinya terganggu
karena sentuhan tangan kakang Kebo Sindet. Ia akan menjadi
sadar, apabila kakang Kebo Sindet menghendakinya”.
Kuda Sempana masih tetap mengatupkan mulutnya.
“Hem, kau menjadi bisu agaknya. Baiklah. Duduk sajalah di situ”.
Wong Sarimpat itu pun kemudian memutar kudanya. Kini ia
melihat perkelahian antara kakaknya melawan Empu Sada telah
bergeser beberapa langkah. Tetapi ia masih melihat bahwa
keduanya sama sekali belum banyak mendapat kemajuan. Meskipun
demikian, agaknya keadaan Empu Sada masih lebih baik dari
kakaknya yang harus berloncatan menghindari derap kuda Empu
Sada dan tongkatnya yang terayun-ayun mengerikan. Sedang Kebo
Sindet itu sendiri hanya mendapat sedikit saja kesempatan
melakukan serangan-serangan atas lawannya,
“Pertempuran itu tidak adil“ desis Wong Sarimpat, “aku harus
membantunya”. Tetapi orang itu tidak pernah mempertimbangkan,
bahwa untuk melawan mereka berdua adalah perbuatan yang tidak
adil pula.
Demikianlah, maka Wong Sarimpat itu perlahan-lahan mendekati
arena perkelahian. Ia melihat sekali-sekali kakaknya terpaksa
meloncat jauh-jauh surut. Sekali-sekali bahkan ia terdorong dengan
kerasnya. Namun meskipun demikian, Kebo Sindet masih juga tetap
memberikan perlawanan yang sengit.
Wong Sarimpat itupun kemudian berhenti beberapa langkah dari
titik pertempuran. Diamatinya keadaan dengan seksama, seperti
seorang saksi yang sedang memperhatikan sebuah perang tanding
yang seru. Diperhatikannya cara Empu Sada menggerakkan
kudanya menyambar lawannya, dan diperhatikannya bagaimana ia
menghindar apabila Kebo Sindet membalas menyerangnya.
“Ternyata Empu tua itu ahli pula bermain-main dengan kuda,
agak lebih baik dari Empu Gandring“ desisnya di dalam hati.
Beberapa langkah lagi ia maju. Hampir pada garis serangan
Empu Sada. Sambil menyeringai maka Wong Sarimpat
menggerakkan pedangnya berputaran.
Empu Sada melibat bagaimana Wong Sarimpat ingin memotong
garis serangannya. Karena itu, maka segera diputarnya kudanya
menghindar, dan ditempuhnya sebuah garis serangan yang lain.
“Huh“ Wong Sarimpat berdesis, “pengecut. Kau tidak berani
menghadapi aku yang sama-sama berada di atas, punggung kuda”.
Tetapi Empu Sada tidak menjawab. Namun segera ia bersiap
untuk menghadapi lawannya yang baru.
Ternyata Wong Sarimpat tidak melepaskan waktu terbuang lebih
banyak. Segera ia menggerakkan kendali kudanya dan kuda itu pun
meluncur dengan cepatnya menyerang Empu Sada. Agaknya kali ini
Wong Sarimpat telah memperhitungkan banyak kemungkinan. Ia
telah memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan untuk
bertempur di atas punggung kudanya. Karena itu, maka kudanya
kali ini diberinya berpelana.
Serangan Wong Sarimpat itu pun cukup dahsyat. Meskipun
pangkal lengan kirinya telah terluka, namun tenaga tangan
kanannya masih cukup menggetarkan tongkat lawannya.
Kini, Empu Sada harus menghadapi dua orang lawan yang
masing-masing memiliki kekuatan setingkat dengan dirinya. Ia
hanya sempat mengurangi kelincahan Wong Sarimpat dengan
melukai tangannya. Meskipun demikian, tetapi Wong Sarimpat
masih tetap garang dan buas.
Untuk menghadapi keduanya maka Empu Sada harus benarbenar
berkelahi dengan licik. Setiap kali ia melawan Wong Sarimpat
sambil berputaran menjauhi Kebo Sindet yang meloncat-loncat
mengejarnya. Tetapi ternyata tenaga kuda Empu Sada masih lebih
cepat dari tenaga wajar Kebo Sindet, sehingga dengan demikian,
maka Kebo Sindet tidak dapat mendekatinya. Setiap kali ia
mendekat, maka Empu Sada mendorong kudanya untuk berlari
menjauh sambil menyerang Wong Sarimpat atau menghindari
serangannya.
“He, Empu Sada“ Kebo Sindet akhirnya tidak dapat menahan
kemarahannya, “kau benar-benar pengecut. Jauh lebih pengecut
lagi dari yang aku sangka. Kau sama sekali tidak berani berhadapan
langsung melawan aku. Kau selalu melarikan kudamu menjauh,
setiap kali menjauh”.
“Jangan berteriak-teriak Kebo Sindet“ jawab Empu Sada, “aku
masih sibuk melayani adikmu yang tangannya hampir menjadi patah
ini”.
“Tutup mulutmu“ teriak Wong Sarimpat, “aku masih mempunyai
kemungkinan yang cukup untuk membelah dadamu yang penuh
dengan kesombongan, tetapi licik, curang, pengecut, penakut,
penipu ..”
Wong Sarimpat tidak sempat meneruskan kata-kata umpatannya.
Tiba-tiba saja tongkat Empu Sada mematuk hampir tepat masuk
kemulutnya. Dengan tergesa-gesa Wong Sarimpat membungkukkan
badannya dan dengan cekatan digerakkan goloknya menangkis
serangan yang datangnya dengan tiba-tiba itu. Hanya oleh
keahliannya mengendalikan kudanya, maka Wong Sarimpat dapat
menghindari serangan Empu Sada berikutnya. Serangan yang
hampir membabi buta. Namun Empu Sada masih memiliki
kesadaran menghadapi kedua iblis yang mengerikan itu.
Demikianlah perkelahian itu menjadi semakin lama semakin seru.
Empu Sada dan Wong Sarimpat bertempur seperti sepasang burung
Rajawali yang sedang berebut sarang. Sedang Kebo Sindet dengan
dada yang bergelora hampir meledak tidak banyak mendapat
kesempatan untuk ikut serta dalam perkelahian berkuda itu. Hanya
kadang-kadang saja ia sempat meloncat pada garis perkelahian itu,
dan dengan goloknya yang dahsyat menyerang Empu Sada. Namun
kuda Empu Sada ternyata dengan lincahnya, selalu menghindarinya.
Berlari dan membuat sebuah putaran yang panjang.
“Empu Sada” Kebo Sindet menjadi semakin marah, “Apakah kau
menyadari apa yang kau lakukan itu? Sebenarnya lebih baik bagimu,
bersembunyi saja di belakang pekiwan dari pada kau datang kemari.
Apakah sebenarnya maksudmu menjumpai aku he? Sekarang kau
selalu menghindari setiap benturan. Benturan kekuatan, ilmu atau
tenaga dan Senjata”.
Empu Sada yang menjadi semakin jauh dari Kebo Sindet masih
saja sibuk melayani serangan-serangan Wong Sarimpat. Keduanya
adalah orang-orang yang hampir mumpuni bermain-main di atas
punggung kuda. Sehingga dengan demikian maka perkelahian itu
pun menjadi semakin seru.
Meskipun demikian Empu Sada masih sempat menjawab, “Kebo
Sindet, jangan tergesa-gesa. Aku bunuh dahulu adikmu. Kemudian
kita akan berhadapan. Dan aku akan segera turun pula dari
kudaku”.
“Persetan” teriak Wong Sarimpat, “mulutmu sama sekali tidak
berarti lagi bagi kami. Mampuslah kau orang tua yang tidak tahu
diri”.
Kuda Sempana yang membeku di atas punggung kudanya
melihat perkelahian itu dengan hati yang bergolak dengan
dahsyatnya, seperti badai yang mengamuk di dalam dadanya.
Gemuruh seolah-olah akan merontokkan tulang-tulang iganya.
Gurunya adalah seorang yang di kenal dan dikaguminya sejak
lama. Tongkat panjangnya itu adalah ciri kebesaran dan
keperkasaannya. Kuda Sempana tidak pernah melihat gurunya
mempergunakan senjata lain daripada tongkat panjang itu. Tongkat
panjang yang telah berada bersama-sama dengan gurunya sejak ia
bertemu untuk pertama kalinya dengan orang itu. Senjata yang
telah mengawaninya melawan seribu macam senjata lawanlawannya.
Dan Kuda Sempana tetap menyangka bahwa tongkat
panjang pusaka gurunya itulah yang tetap bersamanya sampai saat
ini.
Sedang kedua hantu dari Kemundungan itu adalah orang-orang
yang tidak kalah dahsyatnya. Goloknya adalah golok yang luar biasa
pula. Kuda Sempana pernah menyaksikan Kebo Sindet memukul
sebatang besi gligen dengan goloknya itu. Dan besi itupun
terpatahkan, sedang golok itu sama sekali tidak menjadi cacat.
Bahkan semenirpun golok itu tidak gempil.
Kini Kuda Sempana melihat kedua macam senjata itu beradu
dalam genggaman tangan-tangan yang mengerikan.
Kebo Sindet yang akhirnya kehilangan kesabaran, tidak lagi ingin
menunggu lebih lama. Tiba-tiba ia berteriak nyaring sambil
menggetarkan tubuhnya. Dipusatkannya segenap kekuatannya yang
kasat mata dan yang tidak kasat mata. Dengan kemarahan yang
meluap-luap maka disalurkannya kekuatannya yang bersumber pada
kekuatan sesat itu pada tangan kanannya yang menggenggam
goloknya. Dan dengan penuh nafsu ia melenting seperti seekor
bilalang raksasa, melampaui kecepatan loncat seekor kuda
menyerang Empu Sada dengan kekuatan Aji Bajang.
Tetapi Empu Sada yang tua itu telah melihatnya. Dengan
demikian maka ia tidak membiarkan dirinya lumat. Maka di
benturnya Aji Bajang itu dengan kekuatan Ajinya, Kala Bama.
Kedua aji itu adalah kekuatan yang dahsyat, sedahsyat guntur
dan petir. Itulah maka sebabnya ketika Kuda Sempana melihat
keduanya bersiap dalam kekuatan tertingginya, maka hatinya
seakan-akan menjadi meledak pula karenanya. Hampir ia berteriak,
tetapi suaranya tidak terdengar oleh siapapun. Bahkan oleh dirinya
sendiri.
Sementara itu Wong Sarimpat pun mengerutkan keningnya.
Dibiarkannya kakaknya membenturkan Aji Bajang. Ia yakin bahwa
kekuatan Aji Bajang sedemikian dahsyatnya, sehingga hampir tak
dapat dibayangkau akibatnya. Meskipun Wong Sarimpat tahu pula
bahwa Empu Sada pun pasti memiliki simpanan kekuatan, namun
setidak-tidaknya Aji Bajang tidak akan dapat dikalahkan.
“Hanya setan dari Tumapel itu yang tidak lumat karena Aji
Bajang“ desis Wong Sarimpat, “tetapi apabila Aji Bajang itu
diulang,
maka prajurit Tumapel yang sombong itu pasti akan menjadi debu”.
Dalam pada itu, Kuda Sempana yang benar-benar membeku itu
melihat Kebo Sindet meloncat seperti petir menyambar di langit.
Namun dalam pada itu ia melihat Empu Sada seperti sebuah gunung
karang yang kokoh kuat, yang tak tergetarkan oleh petir yang
betapapun dahsyatnya.
Demikianlah maka Empu Sada segera menyongsong Kebo Sindet.
Kali ini dihempaskannya segenap kekuatannya pada tongkat
panjangnya. Apapun yang akan terjadi. Ia merasa pula bahwa Kala
Bama tidak akan berada di bawah kekuatan iblis dari Kemundungan
itu.
Sejenak kemudian terjadilah sebuah benturan yang mengerikan.
Demikian kerasnya, sehingga bunga api memercik di udara,
meloncat dari kedua senjata yang sedang beradu.
Sesaat mereka yang menyaksikan benturan itu dicengkam oleh
ketegangan yang memuncak. Seperti mereka pun ikut pula dalam
benturan yang dahsyat itu.
Akibat dari benturan itupun dahsyat pula. Kebo Sindet terlempar
beberapa langkah surut. Dengan kerasnya ia terbanting jatuh.
Beberapa kali ia berguling, kemudian dengan terhuyung-huyung iblis
itu mencoba tegak berdiri. Goloknya yang besar masih berkilat-kilat
di dalam genggamannya.
Sedang Empu Sadapun kemudian terpelanting dari kudanya.
Dengan kerasnya kuda itu meringkik. Terasa pula dorongan
kekuatan benturan itu, sehingga kuda itu tegak berdiri. Namun kuda
itu tidak berlari meninggalkan penunggangnya yang jatuh
bergulingguling
di tanah.
Seperti Kebo Sindet, Empu Sada pun segera mencoba berdiri. Ia
masih menggenggam tongkatnya, tetapi ketika ia tegak sambil
mengamati tongkatnya itu, maka dadanya berdesir.
Ia berpaling ketika ia mendengar Wong Sarimpat tertawa
berkepanjangan sambil berteriak-teriak, “He, Empu. Ternyata
tongkatmu terpatahkan”.
Kuda Sempana terkejut mendengar teriakan itu. Ketika ia
memandangi gurunya yang berdiri dengan nafas terengah-engah,
maka dadanya berguncang dengan dahsyat. Iapun kini melihat
bahwa tongkat gurunya, yang selama ini selalu menemaninya,
melawan segala macam senjata yang ada di dunia ini tanpa dapat
dilukai apalagi patah, maka kini dalam benturan dengan golok Kebo
Sindet, tongkat itu patah menjadi dua hampir ditengah-tengah.
Apa yang dilihatnya itu benar telah membuat Kuda Sempana
hampir kehilangan kesadaran. Ia menjadi bingung dan merasa
seakan-akan berada dalam sebuah mimpi, yang dahsyat. Tetapi,
ketika ia melihat gurunya menimang tongkatnya yang patah itu,
segera ia tersadar, bahwa yang terjadi itu bukanlah sebuah mimpi.
Yang terdengar adalah suara tertawa Wong Sarimpat di samping
kata-katanya, “Hayo Empu yang sakti. Apakah sekarang kau masih
juga menyombongkan diri sambil menengadahkan dadamu untuk
melawan sepasang Garuda dari Kemundungan? Menyerahlah,
supaya kau mati dengan tenang”.
Terdengar Empu Sada menggeram. Tetapi segera ia bersiap
menghadapi setiap kemungkinan. Sekali-sekali diamat-amatinya
tongkatnya yang patah itu. Tetapi ia tidak terkejut seperti Kuda
Sempana. Seharusnya ia telah melihat kemungkinan itu dapat
terjadi.
Tetapi Empu Sada tidak sempat merenung terlampau lama. Tibatiba
ia melihat kuda Wong Sarimpat datang menyerangnya benarbenar
seperti seekor Garuda menyambar anak kambing yang
kehilangan induknya. Tetapi Empu Sada bukan seekor anak
kambing. Betapapun juga ia masih mampu menghindari serangan
itu. Dipungutnya potongan tongkatnya yang lain, sehingga dengan
demikian kini ia bersenjata sepasang potongan tongkatnya.
Serangan Wong Sarimpat itu pun kemudian datang
bergelombang seperti ombak di lautan. Beruntun tak henti-hentinya
menghantam tebing, sehingga beberapa kali Empu Sada terdesak
semakin jauh.
Sekali lagi dada Empu Sada berdesir ketika ia melibat Kebo
Sindet dengan tiba-tiba meloncat ke atas punggung kudanya. Ya,
kuda yang telah terlepas dari tanganya karena benturan kekuatan.
Terdengarlah orang tua itu menggeram semakin keras.
Tiba-tiba ia mendengar Kuda Sempana berteriak “Guru, pakailah
kudaku.”
Empu Sada terkejut mendengar teriakan itu. Kemudian disusul
dengan teriakan Kebo Sindet, “Kuda Sempana. Apakah kau sadari
perbuatanmu itu?”.
Dengan tiba-tiba Empu Sada melihat Kuda Sempana telah berada
di sampingnya. Sekali lagi ia berkata, “pakailah kudaku”.
Empu Sada menjadi ragu-ragu. Di atas punggung kuda itu
terdapat Mahisa Agni. Tetapi apakah ia dapat melepaskan diri dari
kedua iblis itu? Apakah dengan demikian ia tidak mempercepat
kematian Mahisa Agni?”.
Dalam keragu-raguan itu ia mendengar muridnya bertanya lirih
“Guru, kenapa tongkat itu terpatahkan?”.
“Jangan heran Kuda Sempana. Tongkat ini bukan tongkat ciri
kebesaranku selama ini. Tongkat itu telah aku serahkan kepada
adikmu, Sumekar. Tongkat ini adalah tongkat rangkapan, yang biasa
kita pakai di padepokan.”
“Oh”, dada Kuda Sempana berdesir, “jadi …”.
“Ya. Aku tidak biasa mempergunakan senjata jenis yang lain.
Tetapi tongkat ini tidak sekuat tongkat ciri kebesaran Empu Sada
sendiri.”
Terasa jantung Kuda Sempana menghentak-hentak di dalam
dadanya. Betapapun ia menjadi sangat cemas melihat gurunya kini
hanya bersenjata tongkatnya yang telah patah menjadi dua. Apalagi
Empu Sada kini sudah tidak berada di punggung kuda, sedang Kebo
Sindet justru telah mendapatkan kudanya. Dengan demikian maka
Empu Sada harus berhadapan dengan dua orang lawan yang
masing-masing memiliki ilmu setingkat dengan dirinya dan mereka
berada di punggung kuda kedua-duanya.
Sementara itu Empu sada sendiri berada dalam keragu-raguan.
Ia mendengar tawaran muridnya untuk mempergunakan kudanya.
Tetapi ia tidak segera dapat menerimannya. Dengan demikian,
maka tindakan Kuda Sempana itu pasti akan menimbulkan
kemarahan yang tak terkendali pada Kebo Sindet dan Wong
Sarimpat atasnya. Kalau Empu Sada tidak berhasil mempertahankan
dirinya, maka Kuda Sempana pun pasti akan menjadi korban.
Mungkin Empu Sada dapat mengambil cara yang lain tanpa
menghiraukan nasib orang lain. Mungkin ia dapat dengan serta
merta melarikan diri sambil membawa tubuh Mahisa Agni yang
pingsan itu. Tetapi dengan demikian ia pasti akan mengorbankan
Kuda Sempana. Ia berhasil menyelamatkan satu nyawa, tetapi ia
akan mengorbankan nyawa seorang yang lain. Meskipun ia dapat
membedakan nilai kedua anak muda itu, tetapi ia masih belum
sampai hati berbuat demikian, betapapun ia menjadi benci dan
muak melihat muridnya itu. Namun pada saat-saat terakhir
muridnya masih juga merasa cemas aka keselamatannya. Dan
agaknya sikap itulah yang telah melunakkan hati Empu Sada atas
Kuda Sempana.
Sejenak Empu Sada berada dalam kebimbangan dan kegelisahan.
Dalam pada itu ia mendengar Kebo Sindet berteriak, “Kuda
Sempana, apakah kau ingin mengalami nasib seperti bekas gurumu
itu nanti? Kalau kau mengurungkan niatmu memberikan kudamu
kepada setan tua itu, maka aku akan memaafkan kesalahanmu”.
Kuda Sempana tidak menjawab. Tiba-tiba iapun dilanda oleh
kecemasan yang tajam. Terasa dadanya bergelora semakin keras.
Dipandanginya gurunya dan kedua hantu Kemundungan itu
berganti-ganti. Sementara bulan yang tua beredar dengan
malasnya, semakin tinggi menggapai puncak langit.
Tiba-tiba Kuda Sempana itu mendengar gurunya berdesis,
“Terima kasih Kuda Sempana. Pikirkanlah nasibmu sendiri. Sokurlah
kalau kau mampu melupakan dendammu kepada Mahisa Agni dan
mencoba menyelamatkannya”.
Yang di dengar adalah suara Wong Sarimpat, sambil berkata
“Apa yang akan kau lakukan Kuda Sempana? Apakah kau akan
mencoba lari? Kau harus menyadari bahwa hal itu akan tidak
berguna sama sekali bagimu. Salah seorang dari kami akan
mengejarmu, menangkap dan menyeret kau di belakang kaki-kaki
kuda sampai kulitmu terkelupas seperti pisang yang telanjang.
Apakah kau pernah membayangkan betapa pedihnya luka-luka itu
apabila di sentuh oleh air asam atau air jeruk dan garam?”.
Bulu-bulu Kuda Sempana meremang mendengar ancaman itu.
Baik Kuda Sempana maupun Empu Sada merasa bahwa hal yang
demikian itu sebenarnya dapat terjadi atas Kuda Sempana apabila ia
melanggar perintah kedua iblis itu. Kebo Sindet dan Wong Sarimpat
sebelumnya akan dapat berlaku apa saja atas seseorang yang
mengecewakannya. Tak ada lagi perasaan apapun pada kedua
orang itu menghadapi kekejaman yang bagaimanapun juga.
Dengan demikian, maka Empu Sada tidak akan sampai hati
membiarkan hal itu terjadi atas Kuda Sempana, betapapun sifat dan
watak anak muda itu.
Namun, Empu Sada itu pun kemudian menjadi semakin bulat
tekatnya menghadapi kedua iblis itu dengan tangannya. Meskipun ia
menyadari bahwa keduanya bukanlah anak-anak yang sedang
belajar bermain-main di atas punggung kuda dengan golok di
tangan, tetapi Empu Sada itu tidak mempunyai pilihan lain.
Sekali lagi ditimang-timangnya kedua potongan senjatanya.
Ternyata tongkatnya tidak dapat bertahan terhadap golok Kebo
Sindet. Meskipun tongkat itu bukan tongkat kebesaran
perguruannya, tetapi Senjata yang patah itu telah menyentuh
perasaannya, seperti ketika ia menengadahkan wajahnya ke langit,
maka bulan masih juga berkalang.
(Bersambung 27)
Jilid 27
“ALAMAT yang kurang menyenangkan” desis Empu Sada di
dalam hatinya. Tetapi hati itu telah bulat. Tekad di dalam dadanya
telah mengendap.
“Aku akan bertempur sampai aku tidak mampu lagi
menggerakkan tubuhku.” katanya di dalam hati, “aku akan
mempertaruhkan nyawaku untuk menenteramkan perasaanku.
Kematian yang demikian adalah kematian yang paling
menyenangkan”.
Dan tiba-tiba Empu Sada itu berkata, “Minggirlah Kuda Sempana.
Jangan pikirkan aku lagi.”
“Tetapi Empu sekarang tidak bersenjata lagi. Bagaimana Empu
akan melawan ke duanya?”
Dengan wajah yang tegang Empu Sada memandangi ke dua
potongan tongkatnya sambil berdesis, “Aku mengharap bahwa aku
dapat mempergunakannya.”
Dan tiba-tiba saja, tanpa diduga-duga oleh siapa pun, baik oleh
Kuda Sempana maupun oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat maka,
Empu Sada dengan serta merta melemparkan sepotong dari
potongan tongkatnya itu. Demikian keras dan tiba-tiba sehingga,
Wong Sarimpat tidak sempat untuk berbuat sesuatu. Ia melihat
tongkat itu meluncur ke arah pahanya. Demikian cepatnya.
Betapapun ia cakap mengendalikan kudanya, tetapi kali ini ia tidak
sempat apa-apa. Ia hanya mampu menghindarkan pahanya dari
sambaran potongan tongkat Empu Sada.
Namun kedudukannya kurang menguntungkannya. Tongkat itu
menyambar dari sisi sebelah kiri. Meskipun tangan kirinya tidak
kalah cepatnya menggerakkan goloknya dari tangan kanan, tetapi
goloknya saat itu berada di tangan kanannya sehingga, Wong
Sarimpat itu tidak pula sempat menangkis dengan mempergunakan
goloknya. Sehingga, yang terjadi sangat mengejutkannya.
Terdengar kuda Wong Sarimpat itu memekik tinggi kemudian, jatuh
terbanting di tanah. Di lambung kuda itu menancap potongan
tongkat Empu Sada menembus tubuhnya.
Wajah Kebo Sindet yang beku sebeku wajah mayat itu tampak
berkerut melihat kejadian itu. Sejenak ia terpukau di tempatnya
dengan desah nafas yang memburu semakin cepat. Terdengar ia
menggeram dalam nada yang berat.
Sementara itu, Wong Sarimpat telah meloncat turun sambil
mengumpat keras-keras,, “he setan tua yang licik. Kenapa kau
berusaha membunuh hanya seekor binatang. Kenapa kau tidak
membidik kepalaku atau tengkukku?”
“Tak akan ada gunanya” sahut Empu Sada,, “kau pasti mampu
menghindarinya. Tetapi kuda itu tidak. Dan ternyata kau kini sudah
tidak berkuda lagi. Dengan demikian maka pekerjaanku akan
menjadi semakin ringan. Kini aku tinggal berusaha untuk
membunuh kudaku yang di curi oleh Kebo Sindet itu, supaya kita
dapat berhadapan dengan kaki kita masing-masing berjejak di atas
tanah”.
“Persetan dengan seseorahmu. Ayo kita selesaikan persoalan ini”.
“Jangan hanya banyak bicara” potong Empu Sada,, “aku sudah
siap menunggu kalian”.
Wong Sarimpat yang di landa oleh arus kemarahan itu pun maju
setapak demi setapak mendekati Empu Sada. Terdengar ia berkata,,
“Kuda Sempana. Pergilah, supaya aku dapat dengan leluasa
membunuh Empu tua yang tak tahu diri ini”.
Kuda Sempana tidak menyahut. Sekali ia berpaling ke pada Empu
Sada yang berdesis,, “menepilah”.
Tetapi Kuda Sempana masih tetap di tempatnya.
“Empu Sada” berkata Wong Sarimpat,, “selagi tongkatmu masih
utuh, kau tidak mampu melawan kami berdua. Kini tongkatmu itu
tinggal sepotong. Apakah kau masih akan mencoba melawan?
Apalagi salah seorang dari kami berada dipunggung kuda. Nah,
umurmu akan menjadi semakin singkat. Dan kau akan mati dengan
cara yang barangkali belum pernah kau bayangkan”.
Ancaman Wong Sarimpat itu ternyata memberi kesadaran kepada
Empu Sada bahwa, senjatanya memang tidak akan banyak berarti
lagi untuk melawan sepasang golok yang berada di tangan
sepasang hantu dari Kemundungan itu. Tetapi apakah yang akan
dilakukannya? Ia tidak akan dapat mengambil potongan senjatanya
yang lain, sebab potongan itu terletak terlampau jauh dari padanya.
Sementara itu ia melihat kuda Kebo Sindet pun telah bergerak
pula. Bahkan orang itu telah mempersiapkan diri untuk
menyambarnya dengan kuda itu. Sambil mengayun-ayunkan
goloknya Empu Sada melihat Kebo Sindet telah siap menyerangnya.
Dalam waktu yang singkat itu Empu Sada mencoba berpikir
untuk mendapatkan cara yang sebaik-baiknya melawan ke dua
orang yang liar itu. Tongkatnya yang tinggal sepotong itu tidak
akan
dapat membantunya. Tetapi apa yang dapat dilakukannya?
Dalam ketegangan itu, maka suasana di cengkam oleh
kesenyapan yang mengerikan. Tak seorang pun yang telah mulai
dengan sergapan dan serangan, seakan-akan mereka menunggu
perkembangan keadaan. Tetapi wajah-wajah mereka menjadi
semakin keras sekeras batu karang. Sedang senjata-senjata mereka
menjadi semakin erat di dalam genggaman.
Ketegangan itu tiba-tiba dipecahkan oleh derap kuda Kebo Sindet
yang meluncur seperti badai menyambar Empu Sada. Golok Kebo
Sindet terayun dengan cepatnya mengarah kepada lawannya.
Namun Empu Sada pun telah bersiap pula menerima serangan
itu. Dengan lincahnya ia meloncat kesamping menghindari
sambaran golok Kebo Sindet, namun kemudian, ia melenting
menyerang dengan potongan tongkatnya.
Tetapi potongan tongkat itu ternyata terlampau pendek.
Meskipun tangannya sudah terjulur lurus, tetapi ujung tongkatnya
yang sepotong itu masih belum mcnyentuh tubuh lawannya sama
sekali meskipun, Kebo Sindet sama sekali tidak berusaha untuk
menangkisnya. Dengan menggeser tubuhnya sedikit saja, maka iblis
itu telah dapat membebaskan dirinya dari lawannya.
Terdengar Empu Sada berdesis. Senjata yang selama ini
dipergunakan adalah sebuah tongkat yang panjang. Sebenarnya, ia
telah meletakkan senjatanya itu. Ia tidak ingin lagi melibatkan
diri
dengan persoalan yang harus diselesaikan dengan senjata. Tetapi
persoalan Mahisa Agni, anak Jun Rumanti itu, telah memaksanya
untuk mengangkat sebatang tongkat lagi. Tetapi tongkat itu tidak
dapat membantu sepenuhnya seperti tongkat pusakanya, ciri
kebesarannya.
Sementara, Kebo Sindet memutar kudanya, Wong Sarimpat telah
melompat pula sambil memutar goloknya menyerang Empu Sada
dengan garangnya.
Sekali lagi Empu Sada harus menghindari serangan itu, tetapi ia
tidak sekedar mau menjadi sasaran yang meloncat kian kemari
seperti sedang menari di atas bara. Dengan dahsyatnya ia pun
segera menyerang. Tongkatnya yang sepotong itu mematuk dengan
lincahnya. Tetapi sekali lagi ia menjadi kecewa, bahwa tongkatnya
ternyata terlampau pendek.
“Hem” ia berdesah di dalam hati.
Meskipun demikian, Empu Sada adalah seorang tua yang
memiliki perbendaharaan pengalaman yang banyak sekali. Karena
itu meskipun, setiap kali ia dikecewakan oleh tongkatnya yang
pendek, namun ia masih mampu juga bertahan untuk beberapa
saat.
Tetapi, sejenak kemudian segera terasa, bahwa melawan kedua
hantu dari Kemundungan itu adalah pekerjaan yang berat sekali
baginya. Dan disadarinya bahwa ia tidak akan mampu
melakukannya. Apalagi keadaan kedua orang itu jauh lebih baik dari
padanya. Yang seorang dari mereka berada di punggung kudu yang
dapat menyambarnya seperti seekor Garuda, dan keduanya masih
menggenggam senjata masing-masing. Sedang Empu Sada harus
melawan mereka berdua seorang diri dengan senjata yang telah
patah pula.
Dalam keadaan yang semakin sulit, tiba-tiba Empu Sada itu
meloncat ke arah Kuda Sempana. Dengan serta merta ditariknya
pedang anak muda itu tanpa minta ijin dahulu kepadanya. Alangkah
lerkejut anak muda itu. Tetapi semuanya itu terjadi dalam waktu
yang sangat singkat, dan Kuda Sempana hanya dapat melihat
pedangnya itu sudah berada di tangan Empu Sada.
Kini Empu Sada mempergunakan senjata rangkap pada kedua
belah tangannya. Tangannya yang kiri menggenggam pedang Kuda
Sempana, dan tangannya yang kanan memegang potongan
tongkatnya. Ia masih belum yakin benar terhadap kekuatan pedang
Kuda Sempana. Apakah pedang itu mampu mengalami benturanbenturan
dengan golok kedua orang Kemundungan yang besar dan
tebal, apalagi terbuat dari baja pilihan. Ia masih lebih percaya
kepada tongkatnya yang patah. Tongkat itu kini menjadi pendek.
Karena itu, maka kemungkinan patah pun menjadi semakin kecil.
Dengan sepasang senjata itu lah Empu Sada melawan ke dua
kakak beradik itu. Betapa Empu tua itu masih dapat meloncat-loncat
dengan lincahnya. Menyambar-nyambar dengan penuh nafsu yang
menyala di dalam dadanya, sehingga seolah-olah tenaganya
menjadi bertambah-tambah.
Wong Sarimpat yang kemudian melihat Empu Sada itu bersenjata
pada kedua tangannya, mengumpat tak habis-habisnya. Bahkan ia
berteriak kepada Kuda Sempana, “He, anak yang tidak tahu diri
kenapa pedangmu kau biarkan di ambil oleh setan tua itu?
Sekarang, mumpung belum terlanjur, pergilah. Pergi jauh-jauh atau
kembali ke Kemundungan lebih dahulu”.
Kuda Sempana mendengar teriakan itu. Tetapi ia masih belum
beranjak dari tempatnya. Sementara itu pertempuran masih
berlangsung terus.
“Cepat pergi” bentak Wong Sarimpat, “atau kau ingin aku bunuh
pula”.
Kuda Sempana tidak menjawab, tetapi ia masih belum bergerak.
Kuda Sempana itu berpaling ketika Kebo Sindet tiba-tiba telah
berada di sampingnya, dan membiarkan adiknya bertempur seorang
diri melayani Empu Sada. Dengan nada yang datar ia berkata, “Kuda
Sempana. Sebaiknya kau mendahului kami pergi Kemundungan.
Letakkanlah Mahisa Agni itu di pembaringan, supaya ia tidak
terlanjur mati. Aku memerlukannya hidup-hidup, seperti kau juga.
Bukankah kau ingin melihat anak muda itu mengalami seperti yang
pernah kau alami. Sakit hati yang tidak tersembuhkan”.
Kuda Sempana merasakan suatu perbawa yang tak dapat di
atasinya. Ketika ia perpaling dan menatap wajah Kebo Sindet,
tampaklah sepasang mata iblis itu seolah-olah menyala. Karena itu
maka cepat-cepat Kuda Sempana menundukan kepalanya.
“Aku tidak menyalahkanmu” berkata Kebo Sindet yang suaranya
seolah-olah bergulung-gulung saja didalam perutnya, “memang di
luar kemampuanmu untuk mempertahankan pedangmu itu. Tetapi
sebelum keadaan berkembang semakin jelek, dan Wong Sarimpat
itu menjadi semakin marah, nah pergilah. Pergilah lebih dahulu ke
Kemundungan. Aku merasa bahwa kau tidak akan sampai hati
melihat gurumu terbunuh dengan cara yang diinginkan oleh Wong
Sarimpat. Tetapi aku tidak dapat mencegah adikku itu mendapatkan
permainan yang menyenangkan, apalagi mencegah keinginanku
sendiri. Supaya kau tidak pingsan, maka pergilah. Kecuali kalau kau
menang ingin menyaksikan, bagaimana tubuh gurumu akan menjadi
makanan burung gagak dan anjing-anjing liar”.
Terasa dada Kuda Sempana menjadi semakin pepat. Namun ia
masih saja tidak bergerak. Kata-kata Kebo Sindet yang
diucapkannya perlahan-lahan itu justru terasa betapa
mengerikannya. Tanpa dikehendakinya, maka Kuda Sempana itu
memandangi gurunya yang sedang berkelahi melawan Wong
Sarimpat. Meskipun kemampuannya sama sekali masih kurang
cukup untuk menilai perkelahian itu, tetapi ia dapat merasakan
bahwa gurunya mempunyai beberapa kelebihan dari Wong
Sarimpat. Senjata gurunya di kedua belah tangannya tampak
menyambar-nyambar mengerikan di antara ayunan golok Wong
Sarimpat. Tetapi Empu Sada sendiri dapat pula melihat bahwa
Wong Sarimpat tidak berada dalam puncak kekuatannya. Dan Empu
Sada dapat melihat, bahwa hal itu adalah akibat luka di pangkal
lengannya. Luka itu agaknya selalu mengganggunya. Hanya karena
ketahanan tubuh Wong Sarimpat yang luar biasa, maka luka itu
tidak banyak mempengaruhinya.
Kebo Sindet pun melihat pula hal itu. Tetapi ia sama sekali tidak
mencemaskannya. Ia memang melihat kelemahan adiknya, dan
apabila hal itu dibiarkannya, maka Wong Sarimpat akan lebih dahulu
kehabisan tenaga. Tetapi waktu itu pasti cukup lama. Mungkin
sehari, mungkin dua hari. Dan Kebo Sindet yakin, bahwa sebentar
lagi apabila ia telah kembali ke arena, maka waktu yang diperlukan
akan surut berlipat-lipat. Empu Sada itu pasti akan segera dapat
mereka selesaikan.
Tetapi Kebo Sindet itu ingin supaya Kuda Sempana menjauhkan
dirinya. Kebo Sindet menjadi cemas apabila tiba-tiba saja Empu
Sada mendorong Kuda Sempana dari kudanya, dan kemudian
berusaha melarikan kuda beserta Mahisa Agni. Ia hanya akan dapat
menyusul Empu Sada itu seorang diri karena Wong Sarimpat sudah
tidak berkuda lagi. Apabila mereka harus berkuda berdua, maka
pasti akan memperlambat. Sebab kuda yang di pakai oleh Kuda
Sempana agaknya lebih baik dari kuda Empu Sada yang dipakainya.
Dan ia pun kemudian harus bertempur seorang diri pula di
sepanjang pengejarannya. Dengan demikian, maka Kebo Sindet
tidak yakin sampai berapa lama ia mampu mengalahkan Empu
Sada. Bahkan mungkin sampai ke Tumapel, mereka masih juga
harus bertempur di sepanjang jalan.
Karena itu maka sekali lagi ia berkata, “Kuda Sempana.
Menyingkirlah selagi kau masih mempunyai kesempatan”.
Pengaruh kata-kata Kebo Sindet, serta sorot matanya yang
seakan-akan langsung menembus kejantungnya itu tidak dapat di
hindari oleh Kuda Sempana, sehingga seperti terdorong oleh suatu
tenaga yang tidak dimengertinya, tiba-tiba ia menggerakkan kendali
kudanya. Perlahan-lahan kuda itu berjalan dan kemudian memutar.
“Bagus” desis Kebo Sindet, “dahululah. Jangan terlampau cepat
supaya kami segera dapat menyusulmu”.
Kepala Kuda Sempana yang kosong telah membawanya bcrjalan
perlahan-lahan menjauhi arena. Sekali-sekali ia berpaling, dan kini
dilihatnya Kebo Sindet telah pula menyerang Empu Sada.
Untuk menahan senjata-senjata lawannya, maka kedua senjata
Empu Sada itu berputar seperti baling-baling, sehingga putarannya
menjadi sebuah perisai yang tak akan dapat di tembus oleh ujung
jarum sekalipun.
Tetapi Kuda Sempana itu tertegun sejenak. Bahkan terdengar
mulutnya menggeram. Meskipun demikian ia tidak memutar
kudanya kembali ke arena perkelahian itu.
Dengan dada yang berguncang-guncang ia melihat sekali
gurunya terpelanting ketika ia menahan sergapan tiba-tiba Kebo
Sindet di atas kuda. Tetapi Empu Sada itu masih cukup lincah.
Ketika Wong Sarimpat berusaha menerkamnya, maka orang tua itu
sudah bangun dan sekali lagi diputarnya kedua senjatanya untuk
melindungi dirinya.
Meskipun demikian, segera terasa bahwa perlawanannya itu akan
tidak banyak berarti bagi kedua iblis itu. Sebentar lagi maka ia
pasti
akan kehabisan tenaga, dan kedua golok lawannya itu akan
mencincang tubuhnya.
“Hem” Empu Sada menggeram, “kalau yang membawa Mahisa
Agni itu bukan Kuda Sempana, setidak-tidaknya aku mendapat
kesempatan untuk mendapat kawan mati dan bahkan melarikan
kudanya bersama Mahisa Agni. Mungkin aku akan berhasil
memancing salah seorang dari keduanya untuk mengejarku di atas
kudanya”.
Tetapi ia tidak dapat mengingkari kenyataan. Yang duduk di atas
punggung kuda itu adalah Kuda Sempana, seorang dari muridnya.
Perkelahian di arena menjadi semakin sengit. Namun menjadi
semakin jelas pulalah bahwa Empu Sada menjadi semakin terdesak.
Hanya karena tekadnya yang bulat serta hampir-hampir di dasari
oleh keputusasaan, muka justru tenaganya menjadi kian dahsyat.
Tetapi Kuda Sempuna yang semakin jauh dari perkelahian itu masih
juga sempat melihat bahwa gurunya berkali-kali terdorong surut,
bahkan terbanting jatuh. Untuk melawan kedua lawannya itu Empu
Sada benar-benar telah memeras segenap tenaga, kemampuan dan
ilmunya. Jatuh bangun ia berjuang. Terbersit tekad di dalam
dadanya, “Aku akan membawa salah seorang dari mereka untuk
menemaniku meninggalkan dunia yang fana ini”.
Kuda Sempana akhirnya tidak sampai hati lagi melihat gurunya
berjuang mati-matian dalam kesulitan. Ia tidak sampai hati melihat
gurunya terbanting kemudian melenting berdiri untuk segera
terdorong pula surut kebelakang. Sejenak kemudian Empu Sada itu
harus meloncat jauh-jauh mengambil jarak dari kedua lawannya
yang menyerangnya dari jurusan yang berbeda.
Dengan hati yang pedih, lebih pedih dari segala macam
penderitaan yang dialaminya selama ini, Kuda Sempana segera
memukul perut kudanya dengan tumitnya. Kuda itu terkejut dan
segera meloncat seperti gila. Menembus keremangan malam yang di
tandai oleh sesisir bulan yang sedang berkalang. Kuda Sempana
sendiri bagaikan orang gila melecut-lecut kuda itu sekuat-kuat
tenaganya. Ia ingin segera menjauhi tempat jahanam itu. Ia ingin
melupakan apa yang baru saja dilihatnya. Dan ia sama sekali ingin
melenyapkan gambaran-gambaran apa yang akan terjadi atas
gurunya. Karena itulah maka ia berpacu sekuat-kuat kaki kudanya.
Hampir-hampir ia tidak memperhatikan lagi Mahisa Agni yang
tersangkut di punggung kuda itu pula.
Demikianlah, Kuda Sempana berusaha melarikan diri dari
kenangan dan angan-angannya masa-masa lampau dan masa-masa
yang akan datang. Dengan demikian ia pun seakan-akan melupakan
dirinya sendiri masa kini. Ia tidak tahu kemana kudanya akan pergi.
Tetapi kuda itu adalah kuda yang dibawanya dari Kemundungan,
sehingga kuda itu berlari menurut jalan yang dikenalnya.
Kemundungan.
Sedang di belakang Kuda Sempana itu gurunya bertempur antara
hidup dan mati. Disadarinya bahwa nyawanya sebentar lagi akan
meninggalkan tubuhnya. Tetapi ia tidak akan menyerahkan
nyawanya seperti seekor lembu di pembantaian.
Namun tiba-tiba perkelahian yang semakin seru dan semakin
berat sebelah itu terganggu. Telinga-telinga mereka yang tajam itu
mendengar suara derap seekor kuda di kejauhan. Semakin lama
semakin dekat.
Kebo Sindet yang berada di punggung kuda menengadahkan
wajahnya. Perlahan-perlahan ia berdesis seperti kepada diri
sendiri,
“apakah yang datang itu pande keris dari Lulumbang?”
Wong Sarimpat pun mengumpat di dalam hatinya. Ia pun
menyangka bahwa yang datang itu pasti Empu Gandring. Karena
itu, maka dengan penuh nafsu ia berteriak, “mari kita selesaikan
tikus tua ini kakang. Sebentar lagi kita bantai orang yang datang
untuk membunuh diri itu”.
Kebo Sindet memandangi Empu Sada yang sedang berusaha
mengelakkan serangan Wong Sarimpat. Dengan suara berat dan
datar ia menjawab, “Huh. Satu lagi datang seorang yang ingin
membunuh Empu Sada itu pula. Wong Sarimpat. Nanti kalau orang
itu datang, biarlah kita bersama-sama menguliti Empu yang malang
ini. Bukankah orang itu Empu Gandring? Ia pasti menyangka bahwa
Empu Sadalah yang menjadi biang keladi dari peristiwa ini. Nah,
kira-kira orang tua itu akan berbuat apa?”
Empu Sada tidak menghiraukan apa yang mereka percakapkan.
Tetapi ia menyerang lawannya sejadi-jadinya, semakin lama
semakin dahsyat, seperti angin pusaran di musim kesanga.
Wong Sarimpat yang lebih banyak menjadi sasaran serangan
Empu Sada itu mengumpat di dalam hati. Tetapi, ia ti dak begitu
yakin akan kata-kata kakaknya. Karena itu, maka baginya, lebih baik
membunuh orang tua ini lebih dahulu dan kemudian membunuh
Empu Gandring bersama-sama pula daripada berteka-teki tentang
apa yang akan dilakukan oleh Empu Gandring. Dengan demikian,
maka tandangnya pun menjadi semakin buas. Ia ingin segera
membinasakan Empu Sada itu secepatnya.
Tetapi, Empu yang tua itu ternyata membuat perhitungan sendiri.
Mungkin Empu Gandring, paman Mahisa Agni itu mendendamnya
dan menyangkanya bahwa ia lah biang keladi dari penculikan
kemenakannya itu. Tetapi yang datang itu benar Empu Gandring
dan melihat perkelahian itu, maka ia pasti akan memihak Empu
Gandring pasti akan memihaknya. Sebab ia adalah pihak yang
lemah. Apabila Empu Gandring itu berhasil keluar dari perkelahian
itu bersamanya, mengalahkan kedua iblis dari Kemundungan dan
seandainya, Empu Gandring masih tetap dalam pendiriannya
menyangka dirinya dengan tuduhan itu, maka lawannya adalah
pihak yang lemah. Bukan kedua orang iblis itu lagi.
Dengan demikian Empu Sada bertekad untuk bertempur terus.
Meskipun Empu Sada itu menjadi semakin terdesak, tetapi ia
mempunyai harapan untuk bertahan sampai kuda itu menjadi
semakin dekat. Segala cara ditempuhnya untuk menyelamatkan
dirinya. Meloncat-loncat, berlari-lari, melingkar-lingkar pada
gerumbul-gerumbul liar. Ia tidak peduli lagi apa yang dikatakan
orang tentang dirinya. Ia akan mempergunakan segala cara.
Kebo Sindet dan Wong Sarimpat mengumpat-umpat di dalam
hati. Bahkan Wong Sarimpat berteriak, “He Empu Sada apakah kau
sudah kehilangan sama sekali harga dirimu. Bagaimana mungkin
seorang Empu yang sakti bertempur dengan cara itu”.
Empu Sada tidak menyahut. Ia bertempur semakin liar. Sama
sekali tak diperhatikannya lagi tata kesopanan di dalam
perkelahian.
Sementara itu derap kuda dikejauhan pun menjadi semakin
dekat. Harapan Empu Sada pun menjadi semakin berkembang.
Tetapi Kebo Sindet dan Wong Sarimpat menjadi semakin keras
mengumpat-umpat.
Akhirnya mereka, yang sedang bertempur itu melihat seekor
kuda berpacu seperti angin mendekati titik perkelahian itu.
Dalam pada itu, terdengar Kebo Sindet berkata, “Empu Sada,
kalau Empu Gandring itu menjadi semakin dekat maka nyawamu
pun akan menjadi semakin pendek”.
Empu Sada masih tetap tidak menjawab. Tetapi senjatanya
bergerak semakin mantap.
Kini kuda yang datang itu telah menjadi semakin dekat, dan
sesaat kemudian kuda itu berhenti. Benarlah dugaan Kebo Sindet
dan Wong Sarimpat bahwa penunggangnya adalah Empu Gandring.
Demikian kuda itu berhenti terdengar Wong Sarimpat berteriak,
“Empu Gandring ini kah orangnya yang kau cari?”
Empu Sada segera meloncat jauh kesamping untuk melepaskan
diri dari perkelahian. Dengan sebuah senyuman ia menyambut
kedatangan Empu Gandring, katanya, “Selamat malam Empu, telah
cukup lama kami menunggu kedatanganmu”.
Empu Gandring yang duduk di atas punggung kudanya
termenung sejenak melihat apa yang sedang terjadi. Ia tidak dapat
segera mengerti, mengapa Kebo Sindet dan Wong Sarimpat
bertempur melawan Empu Sada. Yang terdengar kemudian adalah
suara Kebo Sindet kepada Empu Gandring, “Kau telah menemukan
orangnya, sumber bencana yang menimpa Mahisa Agni”.
Tetapi Empu Gandring tidak segera memberi tanggapan. Ia
masih saja duduk membeku di atas punggung kudanya. Sementara
itu Wong Sarimpat berteriak, “Mengapa kau masih saja seperti
patung?”
Kebo Sindetlah yang menyahut, “Apakah kau memerlukan
penjelasan, Empu Gandring?”
Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Ia ingin menghadapi
persoalan itu dengan tenang, supaya ia tidak terperosok dalam
suatu sikap yang salah.
Kebo Sindet terdengar berkata lagi, “Empu Gandring apakah kau
masih sangsi bahwa kemanakanmu telah dilarikan oleh murid Empu
Sada. Kau melihat sendiri bahwa Mahisa Agni berada di punggung
kuda yang dipergunakan oleh Kuda Sempana. Memang akulah yang
telah berbuat langsung, tetapi aku hanyalah sekedar alat. Aku tidak
tahu maksud Empu Sada yang sebenarnya, dengan menculik Mahisa
Agni. Baru kemudian aku tahu setelah aku menyerahkannya
kepadanya. Ternyata, dendam murid Empu Sada telah begitu tajam
meracuni hatinya, sehingga kedua guru dan murid ini begitu sampai
hati untuk berbuat di luar perikemanusiaan atas Mahisa Agni.
Sehingga, kami berdua berusaha mencegah. Kemudian yang terjadi
adalah seperti yang kau lihat ini. Kami berdua terpaksa bertempur
melawan Empu Sada. Nah Empu Gandring sekarang terserah
padamu apa yang akan kau lakukan. Kau akan dapat bersama-sama
kami membunuh Empu Sada ini, kemudian bersama-sama kami pula
mengejar Kuda Sempana. Sebab selama kami bertempur Kuda
Sempana telah sempat melarikan Mahisa Agni”.
Empu Gandring masih tetap mematung. dilayangkannya
pandangan matanya mengedari arena perkelahian itu. Dilihatnya
Empu Sada berdiri tegak disisi sebuah parit yang kering. Ketika
pandangan mata mereka beradu maka berkatalah Empu Sada,
“Empu Gandring, kau telah mendengar penjelasan Kebo Sindet dan
Wong Sarimpat. Tetapi apakah kau dapat mempercayainya”.
Empu Gandring masih tetap tidak menjawab. Dan Empu Sada
pun berkata lebih lanjut, “Empu Gandring, aku menyesal bahwa aku
tidak mendengarkan nasihatmu dahulu, seperti Bojong Santi pernah
menasehati aku juga kalau aku berhubungan dengan kedua iblis
dari Kemundungan itu maka aku pasti akan ditelannya. Ternyata
nasihatmu itu benar-benar terjadi, aku kini telah kehilangan
semuanya. Muridku pun telah dirampasnya pula, sedang muridku
yang lain telah dibunuhnya. Empu Gandring, kini Mahisa Agni itu
pun telah diambilnya untuk kepentingan yang kotor. Mereka ingin
mempergunakan Mahisa Agni untuk melakukan pemerasan. Adalah
Kuda Sempana yang memberitahukan kepada mereka, kedua iblis
dari Kemundungan itu, bahwa bakal permaisuri Tunggul Ametung
sangat mengasihi kakaknya, Mahisa Agni”.
“Bohong” potong Kebo Sindet, “jangan mempercayainya”.
“Empu Gandring” berkata Empu Sada pula, “kau telah
mendengar penjelasan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, dan kau
telah mendengar penjelasanku pula. Kemudian ter serah kepadamu
manakah yang menurut pertimbanganmu dapat kau percaya”.
“Hebat” teriak Wong Sarimpat, “pembelaanmu hebat sekali
Empu. Tetapi sayang bahwa hanya anak-anak kecil sajalah yang
mempercayainya. Tetapi sudah tentu bukan Empu Gandring dan
kami berdua yang sudah kenyang makan garam”.
Empu Sada sama sekali tidak menanggapi teriakan Wong
Sarimpat. Ia tidak ingin terlampau banyak berbicara. Tetapi ia
yakin
bahwa Empu Gandring dapat melihat keadaan dengan wajar, sebab
orang itu dahulu pernah mengatakan kepadanya sedikit tentang
Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Karena itu maka Empu Sada
membiarkan saja Wong Sarimpat berteriak-teriak terus, “Empu
Gandring apa lagi yang kita tunggu? Marilah kita selesaikan saja
gurunya, kemudian marilah kita susul muridnya kepadepokan Empu
Sada. Mahisa Agni itu pasti dibawanya kesana untuk
diperlakukannya dengan biadab” Wong Sarimpat berhenti sejenak.
Tetapi karena Empu Gandring masih belum menjawab, maka ia
berkata selanjutnya, “atau kau ingin mendahului kami
menyelamatkan kemenakanmu itu. Sementara kami menyelesaikan
orang ini? Nanti sesudah pekerjaan ini selesai, maka kami pun akan
menyusulmu ke Padepokan Empu Sada itu”.
Ketika Wong Sarimpat terdiam, maka kesenyapan segera
menerkam suasana. Kebo Sindet, Wong Sarimpat dan Empu Sada
menjadi tegang menunggu sikap Empu Gandring. Keputusan orang
itu akan menentukan keadaan. Apabila Empu Gandring berpihak
kepada Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, bersama-sama
membinasakan Empu Sada, maka kemudian ia pun pasti akan
binasa pula ditangan kedua iblis itu. Tetapi kalau ia berpihak
kepada
Empu Sada, maka keadaannya akan berbeda.
Tetnyata perhitungan Empu Gandring tidak jauh berbeda dengan
perhitungan Empu Sada. Kalau ia berpihak kepada Empu Sada,
maka seandainya ia masih menjumpai persoalan dengan orang itu,
maka kedudukan mereka pasti akan seimbang. Bahkan mungkin tiga
hari, seminggu dan bahkan setahun, mereka tidak akan dapat
menentukan siapakah yang akan menang dan akan kalah. Mungkin
Empu Gandring mempunyai beberapa kelebihan dari Empu Sada,
tetapi dalam perkelahian terbuka, maka kelebihan yang hanya
selapis itu tidak akan banyak berpengaruh. Apalagi melihat cara
Empu Sada berkelahi saat ini. Meloncat-loncat, berlari-lari
bersembunyi dan melingkari pepohonan yang daun-daunnya
menjadi berguguran. Karena itu maka Empu Gandring membulatkan
tekadnya. Ia memilih berpihak kepada Empu Sada. Pengenalannya
kepada mereka, yang sedang berkelahi itu telah mendorongnya
untuk mengambil keputusan itu.
Dalam ketegangan itu Empu Gandring menggerakkan kudanya
beberapa langkah maju. Keris raksasanya ternyata masih saja
berada di dalam genggamannya. Sejenak ia mengawasi ketiga
orang yang tegang mematung.
Akhirnya terdengarlah suaranya membelah kesenyapan, “Empu
Sada, aku berpihak kepadamu. Meskipun setelah pertempuran ini
selesai, entah sehari, atau seminggu, aku masih harus berurusan
dengan kau”.
“Baik Empu” sahut Empu Sada, “aku terima syaratmu. Ternyata
kau cukup bijaksana menentukan pilihan”.
“Persetan kalian” tiba-tiba Kebo Sindet berteriak nyaring. Tanpa
berkata sepatah kata pun lagi, kudanya meluncur dengan cepatnya
menyerang Empu Gandring. Untunglah bahwa selama ini Empu
Gandring tidak meninggalkan kewaspadaan, sehingga ketika golok
iblis itu mematuknya, maka Empu Gandring pun segera
menangkisnya dengan keris raksasanya.
“Hem” Empu Gandring menggeram, “kau segera mulai Kebo
Sindet. Baiklah, aku memang ingin segera menyelesaikan persoalan
ini”.
Kebo Sindet tidak mcnjawab. Kudanya segera berputar untuk
melakukan serangan sekali lagi.
Demikianlah maka Kebo Sindet dan Empu Gandring itu segera
terlibat dalam perkelahian yang seru. Masing-masing adalah
orangorang
yang pilih tanding. Meskipun Empu Gandring tidak setangkas
Kebo Sindet bermain-main dengan kuda, tetapi ketangkasannya
menggerakkan senjata dapat mengimbangi kekurangannya,
sehingga perkelahian itu pun menjadi seimbang.
Keduanya sambar menyambar dengan dahsyatnya. Senjatasenjata
mereka terayun-ayun dan berputaran. Seolah-olah di langit
telah berterbangan seribu macam senjata dari kedua jenis senjata
itu. Keris-keris raksasa dan golok-golok yang berkilat-kilat.
Empu Sada masih saja berdiri di sisi sebuah parit yang kering.
Perlahan-lahan ia melangkah maju sambil menarik nafas dalamdalam.
Kini ia mempunyai harapan lagi untuk mempertahankan
hidupnya dan menolong Mahisa Agni. Dengan penuh minat
diperhatikannya perkelahian yang dahsyat antara Empu Gandring
dan Kebo Sindet yang masing-masing berada di punggung kuda.
Seperti sedang melihat sepasang burung garuda yang bertempur di
udara.
Di tempat lain, Wong Sarimpat pun memandang perkelahian itu
dengan penuh gairah. Tanpa disadarinya sekali-sekali tangannya
menyentuh-nyentuh luka di pangkal lengannya. Meskipun luka itu
sudah tidak berdarah lagi, tetapi masih juga terasa, bahwa luka itu
agak mengganggunya. Namun agaknya Wong Sarimpat tidak
mempunyai kesempatan untuk memperhatikan luka itu. Ketika ia
berpaling dilihatnya Empu Sada berjalan perlahan-lahan ke arahnya
sambil berkata, “Wong Sarimpat, kini keadaan menjadi berubah.
Nah, sekarang kau tidak perlu mengumpat-umpat lagi. Aku tidak
akan berlari-lari, meloncat-loncat dan bersembunyi seperti seekor
kera kepanasan”.
“Persetan” sahut Wong Sarimpat, “kau telah berhasil menipu
pande keris itu”.
“He” Empu Sada mengerutkan keningnya, “apakah aku
menipunya? Ah, jangan begitu Wong Sarimpat. Kau tahu apa yang
sebenarnya telah terjadi. Dan kau masih juga berkata aku
menipunya”.
Wong Sarimpat menggeram. Digerakkannya goloknya dan ia pun
maju selangkah demi selangkah menyongsong Empu Sada yang
mendekatinya.
Keadaan menjadi semakin tegang, sejalan dengan langkahlangkah
mereka, Empu Sada dan Wong Sarimpat, yang jaraknya
menjadi semakin dekat. Kini senjata-senjata mereka telah siap
untuk dipergunakan. Sebuah golok besar di tangan Wong Sarimpat
dan Empu Sada masih tetap menggenggam potongan tongkatnya di
tangan kanan dan pedang Kuda Sempana di tangan kirinya.
Ketika jarak mereka sudah tidak lebih dari ampat langkah lagi,
tanpa berjanji, serentak mereka pun berlari. Sejenak mereka saling
berpandangan. Tak sepatah kata pun mereka ucapkan, tetapi lewat
sorot mata mereka melontarlah segala macam kebencian, dendam,
marah bercampur-baur.
Tetapi waktu itu tidak terlampau lama. Sesaat kemudian dengan
sebuah teriakan yang nyaring Wong Sarimpat meloncat menyerang.
Seperti petir menyambar di langit, goloknya menyambar lawannya.
Tetapi Empu Sada telah siap menanti saat yang demikian. Itulah
sebabnya maka ia sama sekali tidak terkejut. Segera ia
menyesuaikan dirinya, sehingga dengan kecepatan yang sama
Empu Sada membebaskan dirinya dari serangan itu. Tetapi sekejap
kemudian, Empu Sada lah yang berganti menyerang. Kedua
senjatanya berderak susul-menyusul, demikian cepatnya bagaikan
berpuluh-puluh ujung scnjata yang ditaburkan bersama-sama.
Mengalami serangan itu, sekali lagi Wong Sarimpat berteriak
nyaring. Ia terpaksa meloncat surut beberapa langkah. Tetapi
sesaat kemudian mereka telah terlibat kembali dalam pertarungan
yang sengit. Pertarungan dari dua orang yang menyimpan dendam
sedalam lautan di dalam dada masing-masing. Dengan demikian
maka pertarungan itu menjadi pertarungan yang sangat dahsyat.
Masing-masing sama sekali sudah kehilangan pengendalian diri.
Yang ada di dalam hati mereka tinggallah nafsu untuk membunuh
lawannya, dengan jalan dan cara apa pun juga. Sehingga
perkelahian itu segera menjadi keras dan kasar, seperti perkelahian
dua ekor harimau yang paling buas di dalam rimba yang sama sekali
tidak pernah bersentuhan dengan peradaban.
Di sisi yang lain dua ekor kuda masih saling menyambar. Dengan
gelora di dalam dada yang tidak kalah serunya, Empu Gandring dan
Kebo Sindet pun bertempur mati-matian. Senjata-senjata mereka
yang terayun-ayun di udara serta benturan-benturan yang terjadi
tak ubahnya seperti lidah api yang berlaga di langit. Percikan
bunga
api yang terjadi dalam setiap benturan senjata, seperti bunga-bunga
yang membara yang ditaburkan dari langit.
Sementara itu bulan yang sepotong masih bergayutan di langit.
Sinarnya yang kckuning-kuningan menjadi semakin kabur, di saput
oleh warna kemerah-merahan yang memancar dari timur. Angin
yang silir berhembus lembut, menyentuh dedaunan yang telah
menjadi kekuning-kuningan. Gemerisik suaranya seolah-olah
membawa kabar bahwa sebentar lagi fajar akan segera datang.
Ketika warna merah di punggung bukit di ujung timur menjadi
semakin nyata, maka satu-satu bintang pun mencari tempat
persembunyiannya, supaya wajahnya yang cantik tidak menjadi
terbakar oleh terik matahari yang ganas.
Ternyata mereka yang sedang bertempur pun masih juga
mempunyai kesempatan menyadari bahwa fajar hampir
menyingsing. Tetapi justru karena itu, maka mereka menjadi
gelisah. Apabila hari menjadi pagi, maka ada kemungkinan,
seseorang melihat perkelahian ditengah-tengah padang yang kering
itu. Apabila demikian, maka keadaan akan menjadi berbahaya.
Terutama bagi Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Apalagi, apabila
anak muda yang aneh, yang berpakaian prajurit Tumapel itu datang
pula ke arena ini.
Karena itu, maka baik Kebo Sindet maupun Wong Sarimpat,
kemudian bertempur semakin bernafsu. Mereka ingin segera
menyelesaikan perkelahian itu. Namun lawan-lawan mereka pun
berbuat serupa. Sehingga dengan demikian, maka perkelahian itu
seolah-olah hampir tidak ada perubahan apapun. Perkelahian itu
masih tetap seimbang dan dalam keadaan yang sama seperti
perkelahian itu baru di mulai.
Sekali-kali terbersit ingatan di kepala Kebo Sindet untuk
menghindar saja dari arena, tetapi ia tidak akan dapat
meninggalkan adiknya bertempur sendiri. Karena itu maka tak
habis-habisnya ia mengumpati Empu Sada yang licik, yang ternyata
telah menyerang kuda-kuda mereka sehingga kini Wong Sarimpat
terpaksa bertempur di atas tanah.
Seandainya Kebo Sindet berusaha membawa Wong Sarimpat
bersamanya di atas satu punggung kuda, maka kesempatan itu
sangat berbahaya bagi adiknya. Pada saat adiknya meloncat, maka
Empu Gandring dan Empu Sada dapat menyerang bersama,
sehingga sangat sulitlah untuk menghindarkan diri.
Karena itu, maka tidak ada jalan lain daripada berkelahi terus.
Bahkan Kebo Sindet itu menjadi semakin garang dan semakin
bernafsu, seperti Wong Sarimpat. Bahkan Wong Sarimpat itu telah
hampir sampai kepuncak kemarahannya. Ia menjadi semakin muak
melihat sikap Empu Sada yang di dalam pandangan matanya
menjadi semakin liar. Namun sebaliknya Empu Sada pun menjadi
semakin mendendam Wong Sarimpat yang di dalam pandangan
matanya menjadi semakin buas.
Sebenarnyalah, bahwa kedua orang itu telah sama-sama
kehilangan nilai-nilai tata kesopanan dalam pertarungan tanding.
Mereka berbuat apa saja. Bahkan Wong Sarimpat yang sedang mata
gelap telah berusaha menaburkan segenggarn pasir ke dalam mata
Empu Sada. Untunglah Empu Sada dapat menghindar dengan cepat,
dengan meloncat jauh-jauh ke belakang. Namun Empu Sada pun
telah memukul pula dengan tongkatnya seonggok batu karang yang
diarahkan kepada lawannya. Tetapi Wong Sarimpat pun dengan
lincah dapat pula menghindari. Meskipun karena itu, maka ia
mengumpat-umpat dengan bahasa yang paling kotor yang pernah
dikenalnya.
Akhirnya Wong Sarimpat itu tidak dapat bersabar lagi. Ia merasa
wajib untuk segera memusnakan lawannya. Kalau ia tidak dapat
membinasakannya dengan wajar, maka ia harus mempergunakan
tenaga simpanannya. Aji kebanggannya seperti yang dimiliki oleh
kakaknya, aji Bajang.
Dan Wong Sarimpat merasa, bahwa kini saatnya telah tiba
baginya untuk mempergunakan aji itu. Meskipun ia tahu, bahwa
Empu Sada pun memiliki pula kekuatan yang akan dapat
mengimbangi aji Bajangnya, namun dengan demikian, maka
persoalannya akan lebih cepat selesai. Yang hancur akan lebih cepat
hancur dan yang menang akan lebih cepat melihat kemenangannya.
Namun Wong Sarimpat itu pun mengerti juga, bahwa masih ada
kemungkinan-kemungkinan yang lain. Hancur bersama-sama atau
aji-aji itu tidak berguna sama sekali. Apabila demikian, maka
perkelahian itu akan berlangsung terus.
Mungkin sehari lagi, seminggu atau apabila salah seorang telah
menjadi kelaparan.
Tetapi Wong Sarimpat tidak mau dirisaukan oleh seribu satu
macam pertimbangan. Ia ingin mempergunakan Aji Bajangnya saat
ini. Habis perkara.
Dengan demikian maka Wong Sarimpat itu segera mengambil
jarak dari lawannya. Disilangkannya goloknya di muka dadanya.
Dipusatkannya segenap kekuatan dan dihimpunnya menjadi
kekuatan yang dahsyat. Kekuatan lahir dan batin yang didapatnya
dengan segala macam jalan. Jalan yang hitam. Yang ditemuinya di
bawah kelamnya pohon-pohon tua yang rimbun, di balik batu-batu
yang besar dan di dalam gelapnya goa-goa yang lembab.
Empu Sada pun segera melihat apa yang sedang dihadapinya.
Karena itu ia tidak boleh bermain-main lagi menghadapi sikap
lawannya. Ia pun harus berbuat serupa pula. Menggerakkan
segenap daya dan kekuatan yang ada padanya, memusatkannya
dan kemudian menyalurkannya dalam wujud dan sifatnya yang
dahsyat.
Demikianlah kini kedua-duanya telah berhadapan dalam puncak
kemampuan. Wong Sarimpat telah siap melontarkan Aji Bajang
lewat goloknya yang besar dan Empu Sada pun telah memusatkan
Aji Kala Bama pada tangan kananya yang telah siap mengayunkan
potongan tongkatnya. Kali ini ia mengharap bahwa tongkatnya yang
telah patah dan menjadi pendek itu tidak akan terpatahkan lagi.
Waktu yang mereka perlukan ternyata tidak terlampau banyak.
Segera mereka pun telah berada dalam puncak kesiagaan dalam
ilmu tertinggi. Sekejap kemudian terdengar dua buah teriakan
nyaring yang hampir berbareng meluncur dari mulut Wong Sarimpat
dan Empu Sada. Dan keduanya pun segera berloncatan seperti tatit
yang meloncat dan kemudian bersabung di langit.
Benturan yang terjadi benar-benar sebuah benturan yang
dahsyat. Benturan antara Aji Bajang dan Kala Bama untuk yang
kedua kalinya di malam itu, sesudah Empu Sada membentur Aji
yang sama yang dilontarkan oleh Kebo Sindet.
Kali ini pun akibatnya tidak pula kalah dahsyatnya. Bahkan Kebo
Sindet dan Empu Gandring yang sedang bertempur itu pun tertegun
sejenak. Kuda-kuda mereka pun berhenti berlari-lari dan seolah-olah
mereka pun ingin menyaksikan, apa yang akan terjadi sesudah
benturan itu.
Ternyata Wong Sarimpat dan Empu Sada bersama-sama
terdorong beberapa langkah surut. Mereka seakan-akan terlempar
dan melambung di udara untuk sejenak kemudian terbanting jatuh
di tanah. Namun demikian tubuh-tubuh mereka menyentuh tanah,
maka mereka pun segera melenting bangkit berdiri, dan bersikap
kembali menghadapi setiap kemungkinan.
Meskipun demikian terasa sesuatu pada tubuh mereka. Terasa
tangan-tangan mereka menjadi nyeri karena tekanan senjatasenjata
mereka pada saat benturan terjadi. Hanya tangan-tangan
yang di lambari oleh kekuatan yang sedahsyat kekuatan yang
berbenturan itu lah, yang masih akan mampu bertahan
menggenggem senjata masing-masing. Apabila tangan-tangan itu
adalah tangan-tangan wajar, maka jari-jarinya pasti akan patah
berserakan di tanah, dan tulang-tulang lengannya akan hancur
berkeping-keping. Tetapi tangan-tangan itu ternyata masih utuh
meskipun terasa juga, genggamannya menjadi mengendor.
Empu Sada yang mempergunakan hanya sepotong tongkat,
merasakan, bahwa tekanan ditangannya agak terlampau keras,
meskipun senjatanya tidak terpatahkan lagi. Sedang Wong Sarimpat
pun merasakan sesuatu yang tidak wajar pada pangkal lengannya
yang terluka. Agaknya dalam benturan yang terjadi, oleh desakan
kekuatan yang menghentak, maka luka itu mulai mengalirkan darah
lagi.
“Setan alas” bentak Wong Sarimpat, “tangan ini agaknya akan
mengganggu”.
Sejenak kemudian Wong Sarimpat meraba bumbung kecil di
dalam kantong ikat pinggangnya yang dibuatnya dari kulit. Ia masih
mempunyai beberapa butir reramuan obat di sana. Tetapi Empu
Sada yang melihatnya, tidak ingin memberinya kesempatan sama
sekali. Orang itu telah benar-benar menjadi mata gelap, dendam,
benci, muak dan segala macam perasaan, telah mendorongnya
untuk berbuat dengan nafsu yang meluap-luap. Dengan cepat sekali
lagi ia mempersiapkan Aji Kala Bama. Ia harus cepat menyerang
sebelum Wong Sarimpat sempat menahan arus darah yang meleleh
dari luka di pangkal lengannya itu.
Wong Sarimpat yang melihat sikap itu mengumpat keras-keras.
Tetapi ia sadar, bahwa apabila ia terlambat menyambut. kekuatan
itu, maka ia pun akan menjadi lumat. Karena itu maka niatnya untuk
mengambil obat diurungkannya. Segera ia pun bersiap menyambut
serangan yang bakal datang. Dan serangan itu kini dilakukan oleh
Empu Sada. Bukan oleh dirinya.
Sekali lagi mereka berteriak nyaring. Sekali lagi mereka
berloncatan sambil mengayunkan senjata-senjata mereka. Dan
sekali lagi benturan yang sedahsyat semula itu terjadi.
Namun ternyata akibatnya lebih dahsyat dari pada benturan tang
pertama. Dalam benturan ini, ternyata tangan-tangan mereka sudah
tidak kuasa lagi mempertahankan senjata-senjata mereka tetap di
tangan. Terasa betapa perasaan pedih dan nyeri menyengat
tangan-tangan mereka, dan senjata-senjata mereka yang
berbenturan itu pun meloncatlah bersama-sama dari tangan-tangan
mereka. Meskipun segera mereka bangkit kembali setelah
terbanting jatuh, dan kemudian berdiri berhadapan lagi, tetapi
mereka ternyata sudah tidak bersenjata sama sekali.
Empu Sada pun baru menyadari, bahwa Pedang di tangan kirinya
agaknya telah terlepas pula dari tangannya, pada saat-saat ia
terlempar dan terbanting jatuh di tanah. Dengan demikian maka kini
mereka berhadap-hadapan tanpa sehelai senjata pun. Yang ada
pada mereka hanyalah anggauta badan mereka, tangan, kaki dan
tubuh yang terdiri dari kulit, daging dan tulang belulang itu.
Tetapi ternyata bahwa nafsu kedua-duanya benar-benar tidak
lagi dapat terkendali. Mereka benar-benar sudah tidak dapat
berpikir
lagi, apakah yang sebaiknya mereka lakukan. Yang ada di dalam
kepala mereka adalah nafsu untuk membunuh. Membunuh. Tidak
ada yang lain.
Karena itu, maka seperti berjanji mereka pun segera
mempersiapkan diri untuk melontarkan kembali kekuatan ilmu
mereka yang tertinggi.
Empu Gandring dan Kebo Sindet, betapa kemarahan dan
kebencian mereka pun membakar dada, namun mereka masih
sempat menyaksikan perkelahian dua orang yang seakan-akan telah
kehilangan diri pribadi. Seakan-akan mereka telah kepanjingan iblis
yang sedang berlaga di dalam tubuh-tubuh mereka.
Karena itu ketika Kebo Sindet melihat Wong Sarimpat dan Empu
Sada mempersiapkan kekuatan ilmu tertinggi mereka, maka hatinya
pun berdesir. Tanpa dikehendakinya ia berteriak, “Wong Sarimpat,
hati-hati dengan luka ditanganmu. Lebih baik kau memungut
senjatamu”.
Tetapi Wong Sarimpat tidak sempat berbuat sesuatu. Bahkan
kata-kata kakaknya itu seakan-akan tidak didengarnya. Orang itu
sudah tidak lagi sempat berpikir tentang luka-lukanya yang akan
dapat menjadi berbahaya baginya. Sebenarnya dalam keadaannya
Wong Sarimpat lebih baik berusaha membenturkan senjatanya
daripada tubuhnya. Lebih baik pula baginya, bertempur tanpa
benturan-benturan meskipun setiap ayunan dilambari oleh Aji
Pamungkas masing-masing.
Kebo Sindet tidak dapat berbuat apa-apa lagi ketika ia melibat
kedua orang yang seolah-olah telah menjadi gila itu siap untuk
saling menerkam. Ketika ia menggerakkan kudanya, maka Empu
Gandring pun telah bergerak pula. Dengan demikian maka Kebo
Sindet dapat menyadari keadaannya, bahwa Empu Gandring tidak
akan dapat ditinggalkannya, walaupun hanya sejenak.
Maka yang dapat dilakukan hanyalah melihat apa yang bakal
terjadi dengan hati yang berdebar-debar. Dua ekor binatang buas
yang kelaparan sedang berlaga memperebutkan sepotong tulang.
Tak akan ada kekuatan yang dapat memisahkannya, selain maut
telah merenggut jiwa mereka atau salah satu dari padanya.
Sejenak kemudian Empu Gandring dan Kebo Sindet menahan
nafasnya. Seolah-olah mereka sendiri terseret pula di dalam
loncatan yang garang dan kemudian ikut pula dalam benturan yang
segera terjadi.
Tetapi Wong Sarimpat ternyata bukan seorang yang benar telah
menjadi gila. Ia menyadari keadaannya. Keadaan luka di pangkal
lengannya. Karena itu, maka saat mereka telah saling meloncat dan
mengayunkan tangan-tangan mereka, maka Empu Sada melihat,
bahwa tangan Wong Sarimpat itu sengaja tidak membentur
tangannya, tetapi langsung mengarah ke dadanya.
Empu Sada tergagap sesaat menghadapi keadaan itu. Tetapi
keadaan sudah berada di puncak yang paling gawat. Empu Sada
sudah tidak dapat berbuat apapun lagi. Ia tidak mau hanya sekedar
membentur tangan Wong Sarimpat yang mengarah kedadanya,
sebab dengan demikian maka geraknya akan tidak seimbang. Ia
berada pada keadaan sekedar bertahan karena perimbangan gerak
yang menguntungkan Wong Sarimpat. Karena itu, maka Empu Sada
yang sedang menjadi kalap itu pun tidak mau terlampau banyak
berpikir dan menimbang, la tidak lagi memperhitungkan tangan dan
gerak Wong Sarimpat. Letak tangan Wong Sarimpat yang mengarah
ke dadanya itu memberinya kesempatan yang serupa. Dada Wong
Sarimpat pun tidak terlindung karenanya. Karena itu, maka Empu
Sada itu pun memusatkan perhatiannya ke arah dada lawannya. Tak
ada lagi yang nampak di matanya selain dada Wong Sarimpat. Dada
yang selama ini dimuati oleh segala macam nafsu dan kehendak
yang hitam lekam, sifat dan watak yang kotor dan liar.
Benturan yang terjadi kemudian adalah benturan yang
mengerikan. Terdengar mereka berdua berteriak nyaring hampir
bersamaan untuk mentuntaskan segenap kekuatan yang tersimpan
di dalam puncak ilmu masing-masing. Tetapi sejenak kemudian di
susul pula oleh dua buah teriakan yang mengerikan ketika
tangantangan
itu telah menghantam dada lawan masing-masing.
Empu Gandring dan Kebo Sindet yang melihat benturan itu
menahan nafas niasing-masing. Benturan itu benar-benara sebuah
benturan yang paling gila yang pernah mereka lihat. Masing-masing
sengaja menghindari sentuhan tangan, tetapi masing-masing
langsung mengarah dan menghantam dada.
Kedua orang itu terlempar jauh-jauh ke belakang. Terdengar
tubuh-tubuh mereka terbanting jatuh di tanah seperti seonggok
pasir.
Demikian keduanya jatuh di tanah, maka keduanya pun sama
sekali sudah tidak bergerak-gerak lagi. Yang terdengar adalah
sebuah teriakan yang mengerikan meloncat dari sela-sela bibir
Wong Sarimpat, umpatan-umpatan yang paling kotor yang pernah
di dengar oleh telinga.
“Wong Sarimpat” Kebo Sindet mcncoba memanggilnya.
Tetapi Wong Sarimpat sudah tidak menjawab lagi. Dan
teriakteriakannya
pun telah terdiam pula. Yang terdengar kemudian
adalah sebuah keluhan yang tertahan-tahan. Perlahan-lahan sekali.
“Empu Gandring” berkata Kebo Sindet, “apakah kau dapat
membiarkan aku melihat adikku sejenak?”.
Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia bukan
orang yang berhati batu. Ketika ia melihat keadaan itu, maka ia
tidak dapat berkeras hati menolak permintaannya. Maka jawabnya,
“Aku tidak berkeberatan Sindet. Aku pun ingin melihat Empu Sada
itu”.
Kebo Sindet menjadi ragu-ragu sejenak. Dipandanginya Empu
Gandring scolah-olah ingin meyakinkan jawaban orang itu sehingga
Empu Gandring mengulangi, “Lihatlah adikmu, aku akan melihat apa
yang terjadi dengan Empu Sada itu”.
“Baiklah. Kesempatan bagimu untuk membunuhnya dengan
mudah supaya ia tidak mengganggumu lagi. Kemudian kau dapat
mengejar muridnya ke Padepokannya. Apakah kau belum pernah
melihat Padepokan Empu Sada?”
Empu Gandring tidak menjawab. Tak terlintas di dalam kepalanya
untuk berbuat selicik itu. Empu Sada yang sudah berbaring diam
tidak berdaya sama sekali itu pasti tidak akan dapat melawan
seandainya ia membunuhnya. Apalagi dengan kerisnya itu, bahkan
dengan memijat hidungnya saja, maka lama-lama orang itu akan
terputus nafasnya.
Tetapi perbuatan itu adalah perbuatan yang tercela. Apa lagi bagi
seorang Empu seperti Empu Gandring. Karena itu betapapun
besarnya kebencian, kemarahan dan beribu macam tuntutan di
dalam hati, namun tidak sepantasnya ia berbuat demikian.
Kebo Sindet itu pun kemudian perlahan-lahan mendekati adiknya.
Dengan wajah yang tegang ia meloncat turun dari kudanya.
Tampaklah pada wajah yang beku itu beberapa kerut merut
melintang di dahinya. Dan terdengarlah ia menggeram perlahanlahan.
Ketika ia bcrjongkok maka dilihatnya jelas, bahwa dari luka di
pangkal lengan Wong Sarimpat itu, darahnya seakan-akan terperas
habis. Darah yang merah segar.
“Terlambat” desis Kebo Sindet. Tak ada gunanya lagi ia mencoba
menaburkan obat pada luka itu uutuk menahan arus darah yang
mengalir. Sebab nafas Wong Sarimpat hampir-hampir sudah tidak
mengalir sama sekali. Ketika Kebo Sindet meletakkan kupingnya di
dada adiknya, maka ia menarik nafas dalam-dalam.
Tetapi Kebo Sindet itu tiba-tiba menggeram. Sekali loncat ia telah
berdiri. Digenggamnya goloknya erat-erat sambil berkata, “Empu
Gandring. Apakah Empu Sada itu masih hidup?”
Empu Gandring yang sedang berjongkok itu pun berdiri pula. Ia
harus berhati-hati melihat sikap Kebo Sindet yang seolah-olah
menjadi gila.
“Bagaimana he?” desak Kebo Sindet.
“Orang ini masih hidup” sahut Empu Gandring.
“Empu Gandring, marilah kita lupakan persoalan kita. Tetapi
kalau kau tidak mau membunuh setan tua itu, biarlah aku yang
melakukannya. Adikku Wong Sarimpat sudah tidak dapat lagi
diharapkan hidup. Nafasnya telah hampir putus dan darahnya sudah
terlampau banyak yang memancar dari lukanya. Apalagi dadanya
telah mengalami luka yang cukup parah pula.
“Apa yang akan kau lakukan terhadap orang ini?” bertanya Empu
Gandring.
“Orang itu akan aku bawa ke Padepokanku”.
“Untuk apa?”
“Itu adalah urusanku Empu”.
Empu Gandring terdiam sejenak. Dipandanginya wajah Kebo
Sindet yang berdiri beberapa langkah agak jauh dari padanya.
Tetapi ia tidak melihat wajah itu dengan jelas. Yang tampak dalam
kesamaran sinar bulan sepotong hanyalah sikapnya yang
mengerikan.
Tiba-tiba Empu Gandring itu berkata perlahan-lahan, “Tidak Kebo
Sindet. Orang ini adalah tawananku. Aku yang akan mengurus dan
menyelesaikannya”.
“Siapa bilang” teriak Kebo Sindet tiba-tiba, “ia pingsan karena
tangan adikku. Adikkulah yang berhak atasnya. Karena adikku akan
mati, maka akulah yang berhak berbuat apa saja atas setan tua itu
untuk membalas sakit hatiku karena ia telah membunuh adikku.
“Tunggulah sampai ia sembuh kembali. Kelak kau akan dapat
menemuinya dan membuat perhitungan apabila orang ini akan
dapat hidup karena luka-luka yang pernah dideritanya kini.
“Aku tidak sabar menunggu waktu itu. Dan apakah kau
kehilangan sesuatu apabila ia aku bawa pergi? Kau akan menjadi
puas pula. Kau tidak akan terpecik dosanya, tetapi kau pun akan
menemukan mayatnya kelak”.
Empu Gandring menggelengkan kepalanya. Terbayang di dalam
rongga matanya perbuatan Kebo Sindet yang sangat mengerikan.
“Jangan keras kepala Empu” bentak Kebo Sindet, “apakah
permusuhan kita akan kita teruskan”.
“Kebo Sindet” berkata Empu Gandring, “aku membenci Empu
Sada sampai ke ujung ubun-ubunku, karena orang ini adalah orang
yang mencelakai kemenakanku. Orang ini terlampau memanjakan
muridnya, sehingga apa saja yang dikehendaki oleh Kuda Sempana
itu dilakukannya. Sampai berbuat nista sekalipun, menghubungi
orang-orang seperti kau dan adikmu.
“Kau salah sangka. Ia sama sekali bukan karena memanjakan
muridnya, tetapi karena Kuda Sempana itu menjanjikan upah yang
besar kepadanya, dan kepada kami berdua”.
Empu Gandring mengerutkan keningnya, tetapi kemudian
menjawab, “Apalagi demikian, Ia agaknya telah berusaha pula
menjual kemanakanku. Karena itu aku mendendamnya”.
“Nah, apalagi yang kau sayangkan pada tubuh dan nyawa yang
hampir terloncat dari ubun-ubun itu?”
“Tetapi bukan seperti itu caraku untuk membalas. Aku ingin
merawatnya, dan kemudian membuat perhitungan di hari-hari
mendatang dengan orang ini”.
“Aku pun akan berbuat demikian”.
“Aku sangsi, bukan begitu kebiasaan dan sifatmu. Apalagi melihat
pancaran dendam pada sikapmu kali ini. Kau mungkin akan
mencoba membuatnya sadar dan sekedar memperingan lukalukanya.
Tetapi kemudian kau akan membunuhnya dengan cara
yang kau senangi. Atau kau pergunakan untuk kepentingankepentingan
lain, karena muridnya telah melarikan Mahisa Agni.
Tetapi yang paling mungkin kau lakukan, kau akan membunuhnya
dengan perlahan-lahan.
Terdengar Kebo Sindet menggeram, seperti laku seekor serigala
melihat bangkai. Namun Empu Gandring pun telah siap menghadapi
setiap kemungkinan yang bakal terjadi. Kerisnya masih saja berada
di dalam genggamannya, dan setiap saat siap dipergunakannya.
Tetapi ternyata Kebo Sindet tidak segera menyerangnya. Orang
itu masih saja berdiri disamping tubuh adiknya yang diam tidak
bergerak. Bahkan nafasnya pun semakin lama menjadi semakin
tidak teratur.
Sekali lagi Kebo Sindet berpaling memandangi tubuh adiknya
yang terbujur membeku di tanah. Tiba-tiba ia berteriak, “Empu
Gandring. Lihat. Adikku kini telah mati. Apakah kau tidak juga
memberikan Empu Sada itu”.
Empu Gandring tidak segera menjawab. Ia mencoba
memandangi tubuh Wong Sarimpat. Tetapi dari tempatnya berdiri,
ia sama sekali tidak dapat melihat apakah Wong Sarimpat itu telah
mati atau belum.
Namun sebenarnya Wong Sarimpat telah melepaskan nafasnya
yang terakhir. Darah yang terlampau banyak mengalir dari lukanya,
serta bekas tangan Empu Sada yang melepaskan aji Kala Bama
telah merusakkan dadanya pula, sehingga karena kehabisan darah,
maka daya tahan iblis dari Kemundungan itu menjadi jauh susut.
Akhirnya ia tidak dapat mempertahankan hidupnya lagi. Matilah ia di
samping kaki kakaknya yang berdiri tegak bagaikan patung. Namun
dada orang itu bergelora sedahsyat lautan yang sedang dilanda
taufan.
“Bagaimana Empu?” desak Kebo Sindet.
Alangkah marahnya Kebo Sindet ketika ia melihat Empu Gandring
menggeleng sambil berkata, “Jangan Sindet. Akulah yang akan
mengurus orang ini. Sembuh atau tidak sembuh”.
“Setan alas” teriak .Kebo Sindet, “aku telah kehilangan adikku
yang selama ini telah hidup bersamaku bertahun-tahun.
Kematiannya pasti aku bela dengan mengorbankan nyawa pula.
Kalau kau tidak mau menyerahkan Empu Sada, maka kaulah yang
harus aku bunuh untuk mengawani adikku dalam perjalanannya
kealam langgeng. Kaulah yang harus menanggung segala dosa dan
kesalahan yang pernah diperbuat oleh adikku, karena kau akan
menjadi budaknya di sepanjang perjalanannya itu”.
“He?” Empu Gandring mengerutkan keningnya, “jadi kau dapat
juga mengucapkan kata-kata dosa dan kesalahan?”
“Persetan” Kebo Sindet menjadi semakin marah, “setidaktidaknya
Empu, marilah kita mati bersama-sama, seperti Wong
Sarimpat sampyuh mati bersama lawannya”.
“Kalau memang itu yang kau kehendaki Kebo Sindet, aku tidak
akan selak. Adalah menjadi kewajibanku untuk menanggulangi
setiap tantangan serupa itu”.
Kebo Sindet terdiam sejenak. Tetapi ia masih saja menggeram
mengerikan. Bahkan kemudian terdengar giginya gemeretak seperti
orang kedinginan terendam di dalam air. Tampaklah sikapnya
menjadi semakin buas dan liar.
Tetapi Empu Gandring pun telah bersiap sepenuhnya. Setiap saat
iblis itu menerkamnya, maka ia pun akan melawan dengan segenap
kemampuan, bahkan seandainya Kebo Sindet itu sekaligus
melepaskan aji Bajangnya. Namun sudah tentu kalau Empu
Gandring tidak ingin melakukan benturan yang bodoh seperti yang
terjadi atas Empu Sada dan Wong Sarimpat, yang kepalanya sedang
terbakar oleh nafsu yang menyala-nyala, sehingga mereka telah
melupakan segala perhitungan yang mungkin dapat mereka
lakukan.
Beberapa saat Empu Gandring menunggu, tetapi Kebo Sindet
masih berdiri saja disamping mayat adiknya. Sebenarnya orang itu
pun sedang dilanda oleh keragu-raguan. Ia mencoba
memperhitungkan setiap kemungkinan yang dapat terjadi. Tetapi ia
tidak melihat manfaat apa pun apabila ia harus berkelahi melawan
Empu Gandring. Hasil setinggi-tinginya yang dapat dicapainya
adalah mati sampyuh seperti adiknya itu. Dan ia masih belum ingin
mati. Ia masih ingin berbuat sesuatu atas Mahisa Agni yang sedang
dilarikan oleh Kuda Sempana.
Apalagi kemudian Kebo Sindet itu lamat-lamat mendengar derap
kuda dikejauhan. Tanpa dikehendakinya diangkatnya wajahnya
memandang langit, seolah-olah derap kaki-kaki kuda itu menyelusuri
warna-warna merah yang telah memancar di langit.
“Anak setan itu datang lagi” gumamnya.
Empu Gandring pun mendengar derap kaki-kaki kuda itu. Dan ia
pun menyangka bahwa yang datang itu pasti Ken Arok.
“Empu Gandring” berkata Kebo Sindet kemudian, “kalau kau
mendengar juga derap kaki-kaki kuda itu, maka anak iblis itulah
yang pasti akan datang. Sayang, aku tidak punya waktu untuk
menyambutnya. Tetapi meskipun demikian, sampaikan kepadanya,
bahwa aku kagum melihat ketahanan tubuhnya yang luar biasa.
Kalau anak itu akan tetap hidup, maka ia benar-benar akan menjadi
hantu yang menakutkan bagi seluruh Tumapel. Tidak saja Tumapel,
tetapi seluruh Kerajaan Kediri akan mengaguminya”.
Empu Gandring tidak menyahut. Ia pun sebenarnya menjadi
sangat kagum melihat ketahanan tubuh Ken Arok, yang tanpa
kekuatan ilmu apa pun mampu menyelamatkan diri dari sentuhan aji
Bajang.
“Sekarang aku pergi Empu” berkata Kebo Sindet, “tidak ada
gunanya aku melayanimu kali ini. Besok pada saatnya aku akan
menjumpaimu atau Empu Sada itu, untuk membuat perhitungan
dan menuntut hutangmu yang kali ini belum kau lunasi”.
Empu Gandring masih juga berdiam diri. Namun dibiarkannya
ketika Kebo Sindet itu mengangkat mayat adiknya dan
menyangkutkannya di punggung kuda. Kuda itu adalah kuda milik
Empu Sada.
“Selamat tinggal Empu” desis Kebo Sindet sambil meloncat ke
atas punggung kuda. Sesaat kemudian kuda itu pun meloncat
meninggalkan Empu Gandring yang masih berdiri tegak seperti
patung.
Sejenak Empu Gandring dilanda oleh keragu-raguan. Apakah ia
akan mengejar Kebo Sindet, atau ia mempunyai kepentingm dengan
Empu Sada. Empu Gandring itu tidak tahu benar, kemana
sebenarnya Mahisa Agni dibawa. Tetapi menilik bahwa yang
membawa itu adalah Kuda Sempana, murid Empu Sada, maka ia
akan dapat menanyakannya kepada orang yang sedang pingsan itu.
Karena itu maka niatnya untuk mengejar Kebo Sindet
diurungkannya. Empu Gandring mengharap bahwa ia akan
mendapat banyak keterangan dari Empu Sada tentang Mahisa Agni.
Maka Empu Gandring itu pun kembali berlutut di samping Empu
Sada. Dicobanya untuk mengendorkan segenap urat nadinya.
Menggerakkan tangannya, dan memijit-mijit dadanya perlahanlahan.
Karena Empu Gandring tahu, bahwa dada itu sebenarnya
telah terluka di dalam.
Tetapi agaknya luka Empu Sada benar-benar parah. Meskipun
denyut nadinya serta detak jantungnya masih terasa, tetapi
tubuhnya tampak terlampau lemah, dan matanya yang terpejam
sama sekali tidak bergetar.
“Mudah-mudahan aku berhasil” desis Empu Gandring, “aku harus
mendapat keterangan tentang Mahisa Agni”.
Kemudian oleh Empu Gandring diambilnya sebulir obat reramuan
dedaunan yang akan dapat memberikan kesegaran kepada orang
yang sedang mengalami luka di dalam semacam Empu Sada. Tetapi
karena keadaan Empu Sada maka Empu Gandring agak menjadi
bingung, bagaimana memasukkan obat itu supaya dapat di telan
oleh Empu Sada.
“Tak ada jalan lain” desisnya, lalu dimasukkan saja obat itu ke
dalam mulut Empu Sada, dengan harapan bahwa obat itu akan
huncur dan meskipun sedikit-sedikit dan sangat perlahan-lahan,
maka larutan obat itu akan tertelan juga.
Ternyata usaha itu berhasil betapapun lambannya. Sementara itu
suara derap kuda dikejauhan menjadi semakin dekat.
Ketika kuda itu berhenti tepat di belakang Empu Gandring, maka
Empu Sada telah mulai bergerak-gerak. Sehingga Empu Gandring
itu pun kemudian meletakkannya di tanah, dan perlahan-lahan ia
berdiri.
“Siapa Empu?” bertanya orang berkuda yang tidak lain adalah
Ken Arok, sambil meloncat turun.
“Empu Sada”.
“Empu Sada?” Ken Arok menjadi agak terkejut. Orang itu sama
sekali tidak tampak di Panawijen. Yang dilihatnya hanyalah dua
orang yang buas dan liar, yang disebut bernama Kebo Sindet dan
Wong Sarimpat.
Sambil menunjuk kepada bekas-bekas pertempuran Empu
Gandring berkata, “disini baru saja terjadi sebuah permainan yang
membingungkan”.
“Kenapa Empu?”
“Wong Sarimpat telah terbunuh”.
“Empu berhasil membunuhnya?”
Empu Gandring menggelengkan kepalanya, “Tidak, bukan aku”.
“Siapa yang telah melakukannya?”
”Orang ini” sahut Empu Gandring sambil menunjuk ke arah Empu
Sada.
“Empu Sada itu? Bagaimana hal itu dapat terjadi Empu?”
“Itulah yang membingungkan. Ketika aku sampai di sini, Empu
Sada sedang bertempur melawan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat
berdua. Aku pun kemudian memihak kepada Empu Sada untuk
kemudian memperkecil dan mempersempit persoalan. Ternyata
Empu Sada dan Wong Sarimpat telah berbenturan”.
“Dimana Wong Sarimpat dan Kebo Sindet sekarang?”
“Mayat Wong Sarimpat telah dibawa oleh kakaknya, sedang
Mahisa Agni dibawa oleh Kuda Sempana”.
“Hem” Ken Arok menggeram, “kemana kira-kira Kuda Sempana
melarikan diri?”
“Mungkin aku dapat bertanya kepadanya”.
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia
mendekati Empu Sada yang ternyata telah mulai bergerak-gerak
pula.
“Apakah Empu memberinya obat?”
“Ya”.
“Biarlah ia mati pula seperti Wong Sarimpat”.
“Aku memerlukan keterangannya Ngger. Keterangan tentang
Mahisa Agni. Mungkin ia akan bersedia memberitahukan kepadaku
dalam keadaannya itu. Kalau tak ada harapan lagi baginya, maka
aku rasa ia akan melapangkan dadanya, tanpa menyimpan rahasia
lagi pada saat-saat menjelang kematiannya”.
Ken Arok tidak menjawab. Tetapi kerut merut diwajahnya
menyatakan kebenciannya kepada orang yang sedang terbaring
diam itu.
Empu Gandring pun kemudian mendekati Empu Sada itu dan
berjongkok lagi disampingnya. Dilihatnya Empu Sada itu
membukakan matanya dan berdesis, “Siapakah kau?”
“Aku Empu Gandring”.
“Hem” desah orang itu, “ada kesegaran merayapi urat-urat
darahku. Apakah kau memberi aku semacam obat yang dapat
memberi aku kesegaran?”
“Ya”.
“Terima kasih”.
“Empu” berkata Empu Gandring kemudian, “aku ingin
keteranganmu tentang Mahisa Agni. Dimanakah ia dilarikan oleh
muridmu?”
“Oh” Empu Sada memejamkan matanya. Dikumpulkannya
segenap ingatan yang ada padanya. Persoalan-persoalan yang
sedang dihadapi pada saat-saat terakhir.
“Aku juga memerlukan anak itu” desisnya.
“Empu” berkata Empu Gandring, “kau sekarang berada dalam
keadaan parah. Jangan mencoba mempertahankan anak muda itu.
Apakah kau masih juga bernafsu untuk membunuhnya atau untuk
keperluan apapun yang dapat memberi kepuasan kepada muridmu
yang gila itu?”
Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Tetapi tiba-tiba ia
mengerutkan keningnya ketika ia mendengar Ken Arok berkata,
“Hidup matimu berada ditangan Empu Gandring, Empu”.
Empu Sada yang lemah itu mencoba memandang wajah orang
yang berkata kepadanya tentang hidup matinya. Tatapan matanya
masih agak kabur dan cahaya yang kemerah-merahan masih belum
mampu untuk memecahkan kesuraman pagi.
“Siapakah kau?” bertanya Empu Sada dengan suara lirih.
Yang menjawab adalah Empu Gandring, “seorang Pelayan Dalam
dari Istana Tumapel. Namanya Ken Arok”.
“Oh” Empu Sada mencoba menggeliat, tetapi badannya masih
terlampau lemah, “Angger Ken Arok. Bukankah kau kawan
sepekerjaan dengan Kuda Sempana sewaktu muridku itu masih
berada di Istana Tumapel?”
“Ya” sahut Ken Arok singkat.
“Kenapa pula kau disini Agger? Apakah kau mendapat tugas
untuk mencari Kuda Sempana?”
“Ya” sahut Ken Arok sekenanya.
“Sayang” desah Empu Sada, “aku sudah tidak dapat berbuat apaapa
lagi terhadap anak itu”.
Empu Gandring mengerutkan keuingnya. Tetapi orang itu tidak
segera dapat mengambil kesimpulan dari kata-kata Empu Sada,
sehingga ia bertanya, “Apa maksudmu Empu. Apakah karena
keadaanmu yang parah itu ataukah karena hal-hal yang lain maka
kau tidak lagi mampu berbuat apa-apa lagi atas muridmu?”
Empu Sada tidak segera menjawab. Dicobanya untuk mengatur
jalan pernafasannya, supaya luka di dalamnya tidak terasa
sedemikian sakitnya.
Empu Gandring yang menyadari keadaan Empu Sada tidak
mendesaknya. Ia tahu betul, bahwa penderitaan Empu Sada benarbenar
parah. Tetapi, agaknya Ken Arok tidak begitu sabar
menunggunya, sehingga ia mendesaknya, “Empu Sada. Kau jangan
mengingkari tanggung jawab atas muridmu. Sekarang dimana
Mahisa Agni itu dilarikan?”
Sekali lagi Empu Sada mencoba menggeliat. Tetapi sekali lagi ia
menyeringai menahan sakit didadanya. Meskipun demikian ia
berusaha menjawab, “Aku juga akan berusaha mendapatkan Mahisa
Agni apabila aku berhasil memenangkan perjuangan ini. Perjuangan
melawan luka di dalam diriku”.
“Jangan berkeras hati Empu” sahut Ken Arok. Namun sebelum
Ken Arok melanjutkan kata-katanya, maka terasa Empu Gandring
menggamitnya, sehingga karena itu maka Ken Arok pun terdiam.
“Empu Sada” berkata Empu Gandring dengan nada seorang yang
telah dibekali oleh berbagai macam pengalaman yang mengendap,
“apakah kau masih juga memerlukan Mahisa Agni?”
Empu Sada mencoba menganggukkan kepalanya perlahan-lahan,
“Ya” desisnya, “aku tidak dapat membiarkannya berada di tangan
orang lain”.
“Empu Sada” bertanya Empu Gandring kemudian, “apakah kau
berselisih pendapat dengan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat
tentang tawananmu itu?”
“Ya” sahut Empu Sada perlahan-lahan.
“Dan karena itu kau bertempur melawan mereka?”
“Ya”.
“Sekarang Empu, bagaimanakah pendapatmu kalau aku juga
memerlukan Mahisa Agni. Bukankah kau tahu bahwa ia adalah
kemanakanku”.
“Ya, aku tahu Empu. Dan aku pun ingin pula berusaha
mendapatkan kembali Mahisa Agni itu dari tangan Kebo Sindet”.
“Ah” Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali,
“kau masih terlalu bernafsu. Keadaanmu tidak akan memungkinkan
lagi untuk berbuat sesuatu”.
“Tetapi Mahisa Agni itu harus di rebut dari tangan Kebo Sindet”.
“Empu” berkata Empu Gandring, “bukankah yang membawa
Mahisa Agni itu Kuda Sempana? Kenapa kau harus bersusah payah
merebutnya dari tangan Kebo Sindet?”
“Aku tidak lagi dapat menguasai muridku. Mahisa Agni itu
dilarikan oleh Kuda Sempana untuk kepentingan Kebo Sindet”.
Ken Arok menjadi tidak bersabar lagi mendengar jawaban Empu
Sada. Tetapi ia tidak berani mendahului Empu Gandring yang
tampaknya masih cukup sabar. Katanya, “Jangan begitu Empu. Aku
tahu bahwa Kuda Sempana adalah muridmu. Aku tahu bahwa kau
dan Kuda Sempana telah berusaha mati-matian untuk menangkap
Mahisa Agni. Bahkan kemudian kalian telah minta bantuan kepada
Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Bukan itu saja, ceritera tentang
usahamu untuk menculik adik Mahisa Agni itu pun telah pernah aku
dengar. Beruntunglah bahwa pada saat itu Panji Bojong Santi
melihat apa yang sedang terjadi”.
Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Kenangan itu ternyata
menusuk jantungnya jauh lebih parah dari pada sakit di dadanya.
Ternyata bahwa jalan kembali yang akan dicarinya itu tidak selicin
yang disangkanya. Teringatlah ia akan kata-kata Kuda Sempana,
bahwa dunia yang jernih telah tertutup baginya. Dan kini, terasa,
betapa jauh jalan yang harus ditempuhnya untuk dapat kembali ke
dalam dunia yang bersih itu.
Karena Empu Sada tidak segera menjawab, maka Empu Gandring
berkata pula dengan tembung orang tua, “Empu, dalam keadaan
seperti ini seharusnya Empu tidak lagi menambah beban yang akan
dapat membuat jalanmu semakin gelap”.
Alangkah pedihnya kata-kata itu. Justru pada saat ia mencari
jalan yang terang.
Sesaat kemudian maka dengan mengumpulkan segenap
kekuatan dan keteguhan hatinya Empu Sada berkata, “Empu
Gandring. Aku sependapat dengan kau, bahwa dalam keadaan ini
seharusnya aku tidak perlu menambah jalanku menjadi semakin
gelap. Justru karena itulah maka keadaanku menjadi demikian
jeleknya. Bukan salahmu kalau kau tidak dapat mempercayai lagi
kata-kataku. Dan bukan salahmu pula bahwa kau tetap
berpendapat, bahwa Kuda Sempana adalah muridku yang selama ini
aku manjakan. Tetapi persoalan yang sebenarnya mungkin tidak
akan kau mengerti”.
Empu Sada berhenti sejenak. Dicobanya sekali lagi
menggerakkan bagian-bagian dari tubuhnya. Meskipun betapa rasa
sakit menyengat-nyengat dadanya, namun ia telah berhasil
menggeliat sedikit. Tetapi sejenak kemudian terdengar orang tua itu
mengeluh pendek.
“Jangan bergerak terlampau banyak” cegah Empu Gandring.
Bagaimanapun juga ia seakan-akan dapat merasakan, betapa
sakitnya penderitaan Empu Sada saat itu.
Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Dicobanya untuk
meraba sorot mata Empu Gandring. Perasaan apakah yang kira-kira
terpancar dari padanya. Tetapi Empu Sada tidak segera dapat
mengetahuinya.
Namun sementara itu cahaya kemerah-merahan di langit menjadi
semakin lama semakin terang. Ujung Gunung Kawi tampak seperti
segumpal bara raksasa yang menyala memanasi langit. Semakin
lama cahaya kemerah-merahan itu menjadi semburat kuning.
Semakin terang, semakin terang. Dan matahari pun kemudian mulai
menampakkan dirinya dibalik dedaunan di arah Timur.
“Lukamu parah Empu.” berkata Empu Gandring, “tetapi maaf.
Aku memerlukan Mahisa Agni. Aku terpaksa bertanya kepadamu.
Karena itu, supaya aku tidak mengganggumu, katakan ke mana
Kuda Sempana itu pergi?”
“Sudah aku katakan Empu” jawab Empu Sada, “aku tidak lagi
dapat menguasai muridku. Dan aku mengerti bahwa kau tidak akan
mudah mempercayai kata-kataku. Apalagi kalau aku katakan, bahwa
aku pun sedang berusaha untuk membebaskan Mahisa Agni dari
tangan Kebo Sindet, Wong Sarimpat dan Kuda Sempana bukan
karena aku masih di bakar nafsu untuk menguasai anak muda itu
dengan maksud yang jahat”.
Empu Gandring mengerutkan keningnya. Ketika ia berpaling
dilihatnya wajah Ken Arok berkerut-merut. Tetapi sebelum Ken Arok
mengucapkan sesuatu, Empu Gandring telah mendahuluinya, “Hem.
Kau agaknya ingin mempersulit dirimu sendiri. Aku dapat
menolongmu, menyerahkan kau kepada seseorang di jalan yang
akan aku lalui, supaya kau dirawatnya. Dan aku untuk seterusuya
tidak akan mengganggumu apabila kau segera mengatakan di mana
Mahisa Agni. Bukankah kau akan segera bebas dari
pertanyaanpertanyaanku
yang barangkali sama sekali tidak menyenangkanmu
ini?”
Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa amat
sulitlah baginya untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
Keadaan telah menjadi kalut, dan banyak hal terjadi bersimpangsiur.
Dengan demikian maka pedih luka di dada Empu Sada itu rasarasanya
menjadi bertambah pedih. Ternyata ia telah kehilangan
jalan untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Namun sekali
lagi disadarinya, bahwa bukan salah Empu Gandring apabila orang
itu sudah tidak lagi sanggup mempercayainya.
Perkelahian yang terjadi antara dirinya melawan Kebo Sindet dan
Wong Sarimpat itu bagi Empu Gandring tidak lebih dari perkelahian
para perampok yang berselisih dalam pembagian hasil
rampokannya.
Karena Empu Sada tidak segera menjawab, maka Empu Gandring
pun kemudian mendesaknya, “Bagaimana Empu? Aku ingin
semuanya cepat selesai. Kalau mungkin segalanya dapat selesai
dengan baik. Membatasi sekecil-kecilnya segala macam luapan
dendam dan kebencian. Kalau kau bersedia menolongku Empu,
maka untuk seterusnya kita tidak akan mengalami kesulitan, sebab
kita tidak menaburkan benih-benih dendam yang dapat tumbuh dan
berbuah kelak dengan lebatnya. Setiap persoalan yang
sekecilkecilnya
akan dapat menjadi pupuk yang baik bagi pertumbuhan
dan perkembangan dendam itu. Bagi kita Empu, bagi orang tua-tua,
seandainya hati kita akan hangus sekalipun di bakar oleh dendam
dan kebencian, maka akibatnya tidak akan terlampau lama, sebab
umur-umur kita pun tidak akan terlampau lama pula. Tetapi apabila
anak-anak kita, murid-murid kita telah di bakar pula oleh dendam
dan kebencian, maka akibatnya akan sangat panjang dan jauh.
Ketika Empu Gandring berhenti sejenak, maka terdengar Empu
Sada menarik nafas. Dalam sekali, seakan-akan akan dilepaskannya
segala macam perasaan yang menyumbat dadanya. Tetapi ia tidak
mengucapkan kata-kata.
“Bagaimana Empu? Apakah Empu bersedia menolong aku?” desis
Empu Gandring.
Empu Sada telah hampir menjadi putus asa karenanya. Meskipun
demikian dicobanya untuk menjawab sejujurnya, “Empu Gandring.
Aku tidak dapat berkata lain, bahwa sepengetahuanku, Mahisa Agni
itu pasti di bawa ke Kemundungan oleh Kuda Sempana”.
“Oh” Empu Gandring menyeka peluh yang membasahi
keningnya. Ketika ia melihat Ken Arok bergeser maju, maka anak
muda yang hampir kehilangan kesabaran itu digamitnya.,
“Tunggulah Ngger” berkata Empu Gandring.
Empu Sada kini sekali lagi mencoba memandangi wajah Ken
Arok. Wajah seorang anak muda yang tampan dan berwibawa.
Seorang anak muda yang memancarkau keteguhan dan
kemampuan yang melampaui anak-anak sebayanya.
Empu Gandring kemudian bergeser maju sambil berkata, “Empu
kenapa kau masih saja berusaha mengingkari muridmu?”
“Empu Gandring” akhimya Empu Sada berkata dengan nada yang
dalam dan mata yang suram, “maafkan aku Empu. Aku tidak tahu,
apa lagi yang harus aku katakan. Itulah yang aku ketahui. Kalau kau
sayang akan kemenakanmu, kau sebaiknya segera menyusulnya ke
Kemendungan. Tetapi sekali lagi aku katakan, bahwa aku sadar. Kau
tidak akan mudah mempercayai aku”.
“Empu Sada” berkata Empu Gandring, “sebenarnya tanpa kau
beritahu pun aku akan dapat mencarinya, meski pun aku
memerlukan waktu lebih panjang. Tetapi dengan demikian aku
berangkat dengan kemarahan di dalam dadaku. Kalau aku bertemu
dengan muridmu, maka kemarahan itu akan seperti minyak yang
tersentuh api. Mungkin aku akan kehilangan pengamalan diri dan
mungkin aku akan berbuat sesuatu yang tidak kau inginkan atas
muridmu itu Tetapi kalau aku berangkat dengan hati sejuk, maka
akibatnya pun pasti akan berbeda”.
Hati Empu Sada serasa di sentuh dengan tajam sembilu. Sekali
lagi ia berdesah dan menarik nafas dalam-dalam. Tetapi orang tua
itu hampir-hampir menjadi berputus asa. Ia tidak melihat
kemungkinan lagi untuk mendapatkan kepercayaan dari Empu
Gandring.
Dan Empu Gandring itu berkata pula, “Pertimbangkan Empu,
supaya aku tetap dalam kesadaran, bahwa tidak sehurusnya aku
menanam benih dendam di hati orang lain. Tetapi kau pun harus
membantuku”.
“Oh” Empu Sada mengeluh, “hukuman ini terlampau berat
bagiku. Barangkali lebih haik apabila aku mati karena dadaku hancur
oleh tangan Wong Sarimpat”.
“Tidak Empu, sebenarnya kau dapat menghindari hukuman ini.
Kau dapat melepaskan dirimu dari perasaan bersalah yang selalu
mengejarmu. Tetapi agaknya kau tidak bersedia. Agaknya kau akan
membawa rahasia itu sampai saat terakhir. Namun rahasia itu akan
menyumbat jalanmu Empu. Dan kau akan menderita disaat-saat
terakhir. Bukan saja penderitaan badaniah tetapi juga rohaniah.
“Hem” Empu Sada berdesah, “semoga Yang Maha Agung melihat
isi dadaku. Di saat-saat aku mencoba mengurangi beban
perasaanku, maka aku dihadapkan pada keadaan seperti ini. Tetapi
Empu Gandring, aku sudah rela. Aku sudah ikhlas, apa saja yang
akan terjadi atas diriku. Aku ikhlas menerima segala hinaan,
ketidakpercayaan dan kecurigaan ini. Aku telah pasrah diri dalam
segala keadaan kepada Sumber hidupku. Perasaan adalah
kelengkapan dari sentuhan lahiriah. Kalau aku kini mengalami
penderitaan badani dan siksaan parasaan, maka itu pun aku
ikhlaskan pula. Karena aku percaya, bahwa ada yang melihat
keadaanku dan hakekat dari pendirianku, batinku. Dan inilah yang
tidak kau ketahui dan kau lihat Empu Gandring. Sebab tangkapan
pandanganmu sangat terbatas pada tangkapan pandangan lahir
semata-mata”.
Empu Gandring terdiam sejenak. Ia adalah seorang yang telah
menelan pengalaman tiada taranya di sepanjang perjalanan
hidupnya. Tetapi ia masih mengangguk-anggukkan kepalanya
mendengar kata-kata Empu Sada itu. Bahkan ia menjadi heran,
bahwa Empu Sada, yang selama hidupnya berada dalam kesesatan
itu mampu menyimpan pendirian yang demikian dan bahwa
pendirian itu demikian teguhnya terpancang dihatinya.
Empu Gandring bukanlah seorang yang hanya melihat dengan
mata kepalanya saja. Empu Gandring adalah seorang yang selalu
menjajagi setiap persoalan sampai sedalam-dalamnya ia mampu
menyelaminya. Namun, kali ini Empu Sada berkata kepadanya,
bahwa tangkapan pandangan matanya hanya terbatas pada
tangkapan pandangan lahir semata-mata.
Itulah sebabnya maka Empu Gandring mencoba sekali lagi
melihat apa yang telah terjadi. Namun ia tidak menemukan sesuatu
yang baru pada dirinya maupun pada peristiwa yang dihadapinya.
Persoalan itu adalah persoalan yang tampak jelas. Persoalan yang
kasat mata dari setiap bagiannya.
Maka untuk sejenak mereka seakan-akan terbungkam. Empu
Gandring masih berjongkok di samping Empu Sada sambil mencoba
merenungkan kata-kata orang yang sedang terluka itu. Bahkan Ken
Arok yang masih muda itu pun termenung pula.
Tetapi Empu Gandring masih saja diliputi oleh keragu-raguan. Ia
melihat suatu pertentangan yang sulit untuk dimengerti. Menurut
penglihatan dan perhitungannya, maka Empu Sada telah dengan
sengaja menyembunyikan Mahisa Agni. Dengan sengaja menyuruh
Kuda Sempana melarikan Mahisa Agni. Tetapi menilik sikap,
pembicaraan dan ketenangan Empu Sada, bahkan sikap pasrahnya,
maka seakan-akan ia harus mempercayai setiap ucapan orang tua
itu.
Demikianlah maka ketiga orang itu hanyut dalam arus anganangan
masing-masing.
Sementara itu cahaya matahari telah jatuh ke atas tubuh-tubuh
mereka, ke atas pategalan yang kering dan ke atas daun-daun liar
yang kekuning-kuningan. Lamat-lamat terdengar burung-burung liar
mengeluh karena sarang-sarang mereka pun serasa menjadi
gersang. Daun-daun yang melindunginya, satu-satu berguguran di
tanah karena sentuhan angin yang betapa lembutnya.
Tiba-tiba kesepian itu dipecahkan oleh suara Empu Sada yang
menghentak, “He, Empu Gandring, apakah Mahisa Agni itu benar
kemanakanmu?”
Empu Gandring memandangi wajah Empu Sada dengan curiga,
“Apakah kau tidak percaya?”
“Bukan Empu. Bukan maksudku untuk tidak percaya. Tetapi
justru karena aku ingin mendapat kepercayaanmu. Aku ingin
katakataku
yang telah aku ucapkan itu dapat kau mengerti dan kau
percaya, supaya kau tidak terlambat mendapatkan Mahisa Agni.
Kalau aku nanti mampu berdiri dan berjalan, aku pun segera akan
menyusulnya, sampai ke ujung dunia sekalipun”.
Empu Gandring mengerutkan keningnya. Namun keraguraguannya
masih mencengkam dadanya.
“Aku tahu, bahwa kau masih tetap ragu-ragu Empu” berkata
Empu Sada, “dan aku pun tahu, hanya orang-orang yang belum
mengenal masa lampau Empu Sada sajalah yang segera dapat
menpercayai kata-kataku. Tetapi seperti yang aku katakan, bahwa
kadang-kadang yang terjadi bukanlah sekedar yang tampak. Ada
sesuatu yang terjadi di dalam hatiku, sehingga aku telah berbuat
sesuatu yang tidak dimengerti oleh orang lain seperti orang lain
itu
tidak mengerti dan tidak melihat apa yang telah terjadi di dalam
hatiku itu. Sebab yang terjadi itu tidak dapat sekedar di lihat
dengan
mala wadag”.
Empu Gandring tidak menyahut, dan dibiarkan Empu Sada
berkata lebih lanjut, “Empu Gandring. Kalau Mahisa Agni itu
kemanakanmu, apakah kau mengenal seorang perempuan yang
bernama Jun Rumanti?”
Dada Empu Gandring berdesir mendengar pertanyaan itu. Namun
bahkan sejenak ia terdiam membeku.
Pertanyaan Empu Sada itu sama sekali tidak diduga-duganya dan
yang semakin mengherankannya, darimana Empu Sada pernah
mendengar nama Jun Rumanti?
Karena Empu Gandring tidak segera menjawab, maka Empu Sada
bertanya pula, “Bagaimana Empu. Apakah kau mengenalnya?”
Perlahan-lahan penuh kebimbangan Empu Gandring
menganggukkan kepalanya. Dengan nada datar ia menjawab, “Ya
Empu, aku mengenalnya”.
“Jawabmu hambar Empu. Aku ingin mengetahui sebenarnya,
apakah kau mengenal nama itu?”
Debar di dada Empu Gandring terasa semakin cepat. Tetapi ia
pun kemudian ingin mengetahui, apakah maksud Empu Sada
dengan menyebut nama itu. Karena itu maka jawabnya, “Baiklah
aku menjawab dengan mantap Empu. Jun Rumanti adalah adikku.
Ibu Mahisa Agni. Kau puas? Tetapi sekarang akulah yang bertanya,
darimana kau mengenal nama itu dan dari mana kau mendengarnya
Apapula maksudmu dengan menyebut nama itu?”
“Nama itu mempunyai suatu kesan tersendiri di dalam hatiku
Empu. Aku mengenal Jun Rumanti dahulu sebagai seorang gadis.
Tetapi aku tidak pernah mendengar dari padanya, sadar atau tidak
sadar bahwa ia mempunyai seorang saudara laki-laki yang bernama
Empu Gandring dari Lulumbang”.
“Kapan kau mengenal Jun Rumanti?” bertanya Empu Gandring.
“Sebelum ia kawin dan mempunyai seorang anak yang ternyata
bernama Mahisa Agni”.
Empu Gandring mengerutkan keningnya. Lamat-lamat ia teringat
ceritera tentang Jun Rumanti pada masa gadisnya. Meskipun anak
itu sendiri tidak pernah berkata kepadanya atau mengadukan
kesulitan-kesulitannya kepadanya bahkan sepeninggal suaminya,
gadis itu seakan-akan telah menghilang, namun kisah tentang gadis
itu memang pernah didengarnya dari orang lain.
Tetapi itu telah terjadi puluhan tahun yang lampau, pada saat
Mahisa Agni belum lahir sedekat-dekatnya pada saat Mahisa Agni
hilang dibawa oleh ayahnya. Dan di antara kisah itu sama sekali
tidak pernah dijumpainya nama Empu Sada.
Namun keduanya memang belum pernah saling mengenal pada
saat itu, baik orangnya maupun namanya. Seperti Empu Sada, maka
Empu Gandring pun pada saat mudanya masih belum
mempergunakan nama itu.
“Empu Gandring” berkata Empu Sada, “kalau Jun Rumanti itu
dahulu pernah menyebut namamu, maka keadaan Mahisa Agni,
setidak-tidaknya hubungan diantara kita tidak akan menjadi sejelek
ini.
“Apakah huhunganmu dengan Jun Rumanti, Empu?”
Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba ia bertanya,
“Apakah pada masa gadisnya, kau mempergunakan nama lain
Empu?”
Empu Gandring menggeleng, “Ya Empu. Namaku pada waktu itu
adalah Basu Nala”.
“Oh, jadi kaukah itu?, “ Empu Sada terperanjat.
“Apakah kau pernah mengenal nama itu?”
“Baru namanya. Tetapi aku belum mengenal orang yang
bernama Nala, seperti kau pasti juga belum pernah mengenal
seorang anak muda yang saat itu bernama Pranuntaka”.
Wajah Empu Gandring tiba-tiba menjadi berkerut-merut. Tanpa
sesadarnya ia bertanya, “Apakah hubunganmu dengan anak itu?”
“Hubungan itu terlampau erat Empu. Bahkan tak dapat
dipisahkan. Pranuntaka itu adalah Empu Sada, seperti Basu Nala itu
kemudian bernama Empu Gandring”.
“Jadi, kaukah anak muda yang saat itu pergi merantau dan ketika
ia kembali ditemuinya Jun Rumanti telah bersuami dan beranak
seorang laki-laki. Dan kau mempergunakan nama itu?”
“Ya”.
“Lalu laki-laki itu pergi pula membawa luka dihatinya?”
“Ya”.
“Oh, jadi saat itu Pranuntaka pergi meninggalkan Jun Rumanti
dengan dendam yang mengeram di dadanya? Sehingga dendam ini
kemudian melimpah kepada anak laki-lakinya yang bernama Mahisa
Agni?”
“Kau salah Empu. Seperti Jun Rumanti, mula-mula salah pula
menyangka aku berbuat demikian. Justru setelah aku tahu bahwa
Mahisa Agni itu adalah anak Jun Rumanti, seakan-akan aku
menemukan sesuatu yang tidak wajar pada diriku. Selain itu,
pengalamanku dalam hubungan dengan Kebo Sindet dan Wong
Sarimpat telah memberi pula aku kesadaran, bahwa aku akhirnya
harus melepaskan diri dari kesesatan ini. Meskipun semula aku
hanya ingin mencuci tangan, supaya aku tidak tersangkut dalam
kejahatan hilangnya Mahisa Agni”.
Empu Gandring memandangi Empu Sada yang terbaring itu
dengan wajah yang tegang. Ketika ia berpaling, maka dengan
sungguh-sungguh Ken Arok pun sedang mendengarkan ceritera
Empu Sada itu. Meskipun anak muda itu tidak mengenal ujung
pangkal dari ceritera itu, namun dengan demikian maka ceritera itu
telah sangat menarik baginya. Ceritera tentang Mahisa Agni dan
peristiwa-peristiwa yang mendahuluinya.
Dengan singkat Empu Sada mencoba menceriterakan apa yang
pernah terjadi atas dirinya di Kemundungan. Tentang meninggalnya
seorang muridnya dan tentang dirinya sendiri yang hampir mati
pula. Kemudian usahanya memasuki Istana dan bertemu dengan
seorang perempuan yang bernama Jun Rumanti.
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Terasa
dalam nada dan tekanan kata-katanya, bahwa Empu Sada itu
berkata dengan jujur, sehingga tak ada alasan baginya untuk tidak
mempercayainya. Sedang Ken Arok lagi sibuk membayangkan,
perempuan yang manakah di dalam Istana Ken Dedes yang kira-kira
bernama Jun Rumanti itu? Tetapi Ken Arok itu tidak berhasil
menemukannya. Empu Sada sama sekali tidak menyebut-nyebut
bahwa perempuan itu adalah emban kinasih dari puteri bakal
permaisuri. Tetapi hal itu kemudian sama sekali tidak dianggap
penting oleh Ken Arok.
Sekali lagi mereka dicengkam oleh angan-angan masing-masing
yang membubung tinggi ke udara. Ken Arok yang muda itu tunduk
termenung seperti orang yang sedang memperhatikan sesuatu di
atas tanah di bawah kakinya, sedang Empu Gandring kini duduk di
tanah sambil memandangi tempat dikejauhan. Sementara itu Empu
Sada yang berbaring diam mengerutkan keningnya beberapa kali.
Tiba-tiba hampir bersamaan Empu Gandring dan Empu Sada itu
tertawa pendek sehingga Ken Arok terperanjat karenanya., “Apakah
yang mereka tertawakan?”
“Empu Gandring” Empu Sada itu berdesis, “aneh sekali. Kenapa
kau menyebut namamu masa kanak-kanak dengan Basu Nala?,
“Apakah itu memang namamu?”
“Ya, Jum Rumanti mengenal namaku Basu Nala”.
“Aku mengenal nama itu Empu. Basu Nala. Tetapi aneh. Aku
sangka Basu Nala bukanlah anak yang bernama Wijang?”
Empu Gandring pun tertawa perlahan-lahan., “Hem” ia menarik
nafas dalam-dalam, “masa kanak-kanak yang aneh. Wijang adalah
nama yang diberikan kepadaku di tempat pengengeran, karena
sejak anak-anak aku tidak tinggal bersama keluargaku, yang
kemudian aku diambilnya menjadi murid. Tetapi bagaimana bisa aku
mengenal kau yang di masa itu mempergunakan nama lain pula
Empu. Bukankah kau menyebut namamu Talam?”
“Itu adalah namaku sebenarnya. Tetapi terhadap seorang gadis
aku ingin namaku agak menjadi baik. Karena itulah aku
memperkenalkan diriku kepada Jun Rumanti dengan nama
Pranuntaka dari Ngarang”.
Keduanya mengangguk-angguk perlahan. Hubungan keduanya
adalah hubungan yang aneh. Mereka mengenal yang satu atas yang
lain dalam keadaan yang agak kalut. Ternyata hubungan yang
demikian itu kini menumbuhkan suatu kenangan yang aneh. Mereka
mengenal yang satu dengan yang lain dengan nama-nama mereka
masing-masing. Dan mereka pernah mendengar nama-nama yang
lain pula, tetapi mereka merasa belum pernah mengenal orangnya,
pada saat mereka meningkat dewasa.
“Kalau aku tahu bahwa Jun Rumanti itu adik seorang yang
bernama Wijang, maka aku akan segera tahu, bahwa kau adalah
paman Mahisa Agni, Empu”.
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian
katanya, “Aku sangka bahwa Empu Sada itu hanya sekedar gelar
yaag dipergunakan oleh seorang yang bernama Talam. Ternyata
Empu Sada itu adalah Pranuntaka pula”.
“Akhirnya kita bertemu dalam keadaan ini Empu. Pertemuan
yang lebih baik dari pertemuan kita di Padang Karautan dahulu.
Sekarang kita menjadi lebih banyak mengetahui tentang diri kita
masing-masing. Mungkin kau menganggap bahwa aku memang
tidak jujur sejak aku meningkat dewasa. Ternyata aku telah
mencoba menaikkan nilai harga diriku dengan menipu adikmu,
membuat sebuah nama yang aku anggap lebih baik dari namaku
yang sebenarnya. Seandainya kau tinggal bersama adikmu, atau
kita bertemu pada suatu kesempatan di tempat adikmu, maka aku
pasti akan menjadi sangat malu. Tetapi itu adalah ceritera yang
kini
tinggal kenangan yang menyenangkan.
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya
perlahan-lahan, “Sekarang aku tahu, kenapa Pranuntaka itu
kemudian dikabarkan mati. Pranuntaka, nama yang khusus dibuat
untuk Jun Rumanti, sehingga ketika Jun Rumanti itu lepas dari
tangannya, maka nama Pranuntaka itu pun sudah tidak berarti lagi.
Tetapi, kepahitan yang dialami tidak dapat mati berkubur
bersamasama
dengan nama Pranuntaka itu. Kepahitan itu tetap bersarang di
dalam dada anak muda yang bernama Talam, dan kemudian
bergelar sebagai seorang Empu. Empu Sada. Dan aku pun kini
dapat mengerti pula, kenapa Empu Sada kadang-kadang
berkelakuan aneh, sehingga berkali-kali aku harus mencoba
mencegahnya. Ternyata Empu Sada itu pun tidak mampu
melepaskan dirinya dari seorang anak muda yang bernama Talam
dan khusus melahirkan sebuah nama Pranuntaka untuk seorang
gadis”.
Empu Sada mencoba mengangguk, “Kau benar Empu. Dan
akhirnya adalah yang kau lihat sekarang. Tetapi aku rela
mengalaminya, karena aku sedang dalam perjalanan kembali
setelah aku berpuluh-puluh tahun berada di jalan yang sesat”.
Empu Gandring memandangi wajah Empu Sada yang parah itu
dengan mata yang suram. Kini tumbuhlah kepercayaannya kepada
orang yang terluka di dalam dadanya itu. Sebenarnya anak-anak
yang bernama Talam itu bukanlah seorang anak yang terlampau
nakal. Baru kini Empu Gandring dapat meraba-raba, apakah yang
menyebabkan Talam itu kemudian menjadi seorang Empu Sada.
“Nah Empu Gandring” desis Empu Sada, “aku sudah mencoba
mengatakan semuanya. Bagaimanakah tanggapanmu sekarang?
Apakah kau masih tetap berpendapat bahwa aku sengaja
menyembunyikan Mahisa Agni untuk muridku itu?”
Perlahan-lahan Empu Gandring menggelengkan kepalanya.
Perlahan pula ia berkata, “Tidak Empu. Aku kini percaya kepadamu.
Aku percaya bahwa kau sedang berada di jalan kembali dari jalan
yang sesat yang selama ini kau tempuh”.
“Kalau begitu kau pun percaya bahwa Mabisa Agni dibawa oleh
Kuda-Sempana ke Kemundungan. Kebo Sindet itu pun pasti pergi ke
Kemundungan pula”.
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,
“Ya, aku percaya bahwa mereka pergi ke Kemundungan. Untuk
membebaskan Mahisa Agni, maka aku harus pergi ketempat itu
pula”.
“Aku kira memang tidak ada jalan lain Empu. Tetapi apabila aku
dapat sembuh dari luka-luka di dalam ini, aku pun ingin pergi ke
Kemundungan. Aku ingin melepaskan Mahisa Agni dengan
tanganku”.
“Aku takut, dengan demikian kita akan terlambat.” sahut Empu
Gandring, “sebaiknya kau menyembuhkan luka-lukamu. Aku akan
pergi mendahului. Kalau kau sempat, maka susulah aku”.
Empu Sada tidak segera menjawab. Sesaat dicobanya untuk
merasakan nyeri di dalam dadanya. Memang dalam kedaan
demikian tidak mungkin baginya untuk pergi ke Kemundungan
menyusul Kebo Sindet dan Kuda Sempana.
Ken Arok yang selama mendengar pcrcakapan kedua orang itu
menjadi bingung dan kalut oleh nama-nama yang telah mereka
sebutkan, kini menyadari pula, bahwa bahaya telah meraba-raba diri
Mahisa Agni. Kini orang yang mengancam keselamatan anak muda
itu adalah orang yang jauh lebih liar dari Empu Sada. Apalagi orang
itu baru saja kehilangan adiknya, maka banyak hal yang dapat
terjadi atas Mahisa Agni. Kebo Sindet akan dapat melepaskan
kemarahannya kepada anak muda itu. Sedang Kebo Sindel adalah
seorang yang berhati batu, berjantung kayu. Ia dapat mencekik
orang sampai mati dengan tangan kirinya, sedang tangan kanannya
menggenggam makanan yang disuapkannya ke dalam mulutnya.
“Empu” berkata Ken Arok itu kemudian, “aku rasa Mahisa Agni
memang segera memerlukan pertolongan”.
“Ya, aku akan segera mencarinya” sahut Empu Gandring.
“Apakah aku dapat turut serta Empu?”
“Jangan ngger. Kau harus kembali ke Padang Karautan. Kau
harus menggantikan kedudukan Mahisa Agni menyelesaikan
bendungan itu. Bukankah Angger menerima tugas itu pula dari
Tumapel? Dan bukankah angger masih harus membuat sebuah
taman apabila air telah naik? Taman yang akan dihadiahkan oleh
Akuwu Tunggul Ametung kepada Permaisurinya Ken Dedes?”
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Tugas itu memang
harus dilakukan. Tetapi ini tidak dapat melepaskan hasratnya untuk
melihat bagaimanakah nasib Mahisa Agni seterusnya. Karena itu
maka katanya, “Empu, aku hanya akan sekedar mengetahui
keadaan Mahisa Agni. Selanjutnya aku akan kembali ke Padang
Karautan, meneruskan pekerjaan pembuatan bendungan itu”.
“Marilah kita membagi tugas Ngger. Semuanya penting bagi
Angger. Tetapi Mahisa Agni itu dapat Angger serahkan saja
kepadaku. Aku akan pergi ke Kemundungan. Akan aku minta Mahisa
Agni dengan segala cara”.
Ken Arok tidak segera menjawab. Timbulah pertentangan di
dalam dirinya. Keduanya dapat dianggapnya penting. Mencari
Mahisa Agni atau kembali ke Bendungan Karautan. Apakah Empu
Gandring seorang diri akan dapat menyelesaikan pekerjaannya
merebut Mahisa Agni? Ken Arok tahu, bahwa Kebo Sindet dan Empu
Gandring adalah dua kekuatan yang seimbang. Kalau Empu
Gandring memiliki beberapa kelebihan, maka kekasaran Kebo Sindet
akan segera dapat mengimbanginya. Mungkin Empu Gandring akan
dapat mempergunakan pusakanya yang jarang-jarang ditarik dari
wrangkanya, yang telah dipergunakan untuk melawan kedua iblis
dari Kemundungan itu sekaligus. Tetapi keris itu baru akan
bermanfaat apabila dapat terjadi sentuhan dengan tubuh Kebo
Sindet.
Tetapi apabila ia memaksa untuk ikut serta dengan Empu
Gandring karena ia memperhitungkan pula kekuatan Kuda
Sempana, maka bagaimanakah dengan Bendungan itu? Mungkin
prajurit yang telah diserahinya untuk memimpin pekerjaan itu akan
dapat melakukan tugasnya dengan baik, tetapi untuk keseluruhan
tanggung jawab, beserta penyelesaian taman seperti yang
dikehendaki Akuwu Tunggul Ametung, adalah terletak ditangannya.
Dalam keragu-raguan itu ia mendengar Empu Gandring berkata,
“Sudahlah Ngger, Sebaiknya Angger kembali ke Karautan. Pekerjaan
itu sudah hampir sampai pada puncaknya”.
Sebentar lagi air akan segera naik, dan taman itu harus segera
disiapkan pula. Kalau aku segera berhasil menemukan Mahisa Agni,
maka aku akan segera membawanya kembali ke Padang Karautan.
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ia masih
dalam keragu-raguan, tetapi ia tidak membantah.
“Tetapi, sebelum itu Ngger” berkata Empu Gandring, “barangkali
kau bersedia menolong sahabatku ini. Sahabat yang pernah
dipisahkan oleh cara hidup yang berbeda. Tetapi agaknya
persahabatan kami di masa kanak-kanak telah mempertautkan kami
kembali dalam satu pengertian dan kembali memberikan
kepercayaan”.
“Oh” Ken Arok pun kemudian berpaling. Dilihatnya wajah yang
pucat sayu dari seorang tua yang terbaring diam menatap langit
yang menjadi semakin cerah.
“Apakah yang harus aku lakukan?” bertanya Ken Arok.
“Empu Sada” berkata Empu Gandring, “apakah yang harus kami
lakukan apabila kami menolongmu? Bukankah kau masih juga ingin
sembuh dari luka-lukamu dan mencari Kebo Sindet? Bukankah kau
masih belum ingin mengakhiri hidupmu?”
Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, “Itu
adalah keinginanku Empu. Keinginan manusia. Tetapi keputusan
tcrakhir tidak berada di tangan manusia”.
“Ya, ya” Empu Gandring pun mengangguk-angguk pula, “kau
benar Empu. Tetapi usaha apakah yang harus kami jalankan
sebagai ungkapan dari kesungguhan permohonan kami, manusia,
kepada Yang Maha Pencipta?”
Empu Sada tersenyum, jawabnya, “Empu, kalau Angger Ken Arok
berkesempatan, apakah aku sebaiknya dibawa saja kembali ke
Padepokanku?”
“Apakah ada seseorang yang dapat merawatmu Empu?”
“Di Padepokan itu masih ada beberapa orang muridku. Salah
seorang daripadanya cukup dapat aku percaya. Bahkan sebenarnya,
aku telah meletakkan segala macam persoalan padepokanku
kepadanya. Juga ciri kebesaran Empu Sada yang selama ini tidak
pernah terpisah dari padanya”.
“Tongkat panjangmu?”
“Ya. Sebenarnya, karena penyesalan atas kelakuanku setelah aku
mengetahui, betapa sesatnya jalanku, maka aku bertekad untuk
meletakkan senjata itu selamanya. Tetapi aku diragukan oleh
keadaan yang berbahaya bagi Mahisa Agni, sehingga aku terpaksa
mengangkat senjata itu lagi. Tetapi bukan senjataku yang selama
itu tidak pernah terpisah daripadaku. Aku juga membawa sebatang
tongkat panjang, tetapi tongkat itu terpatahkan”.
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya.
Kesungguhan dari kata-kata Empu Sada telah mempertebal
kepercayaannya, sehingga tanpa ragu-ragu lagi ia akan dapat pergi
mencari Mahisa Agni dan merebutnya dari tangan Kebo Sindet.
Maka Empu Gandring pun segera membulatkan rencananya, Ken
Arok akan dimintanya untuk mengantarkan Empu Sada, seterusnya
anak muda itu akan kembali ke Padang Karautan, meneruskan
pekerjaan Mahisa Agni yang masih belum selesai. Ia sendiri akan
segera pergi ke Kemundungan menyusul Kebo Sindet untuk
merebut Mahisa Agni.
Ternyata Ken Arok sama sekali tidak berkebaratan untuk
mengantarkan Empu Sada yang terluka itu ke Padepokannya. Tetapi
sebenarnya ia masih tetap pada keinginannya untuk turut mencari
Mahisa Agni. Namun karena Empu Gandring tetap juga
berkeberatan karena beberapa pertimbangan, terutama Bendungan
Padang Karautan, maka Ken Arok tidak dapat memaksanya.
“Kita berpisah di sini Ngger” berkata Empu Gandring, “sudah
tentu apabila aku memerlukan, maka aku akan minta bantuan
Angger. Namun sementara ini, marilah kita membagi tugas”.
“Baiklah Empu. Meskipun, sebenarnya aku ingin pergi bersama
Empu, tetapi biarlah aku mengantarkan Empu Sada ke
Padepokannya, dan kembali ke Padang Karautan. Sementara aku
menunggu Empu di sana, apabila Empu memerlukan, maka aku
akan dapat membawa prajurit Tumapel untuk keperluan itu.
Mungkin tempat Kebo Sindet perlu dihancurkan, atau dikepung
supaya ia tidak dapat melarikan dirinya oleh sepasukan prajurit
pilihan”.
“Ya, ya Ngger. Terima kasih. Aku akan selalu ingat kepada
Angger Ken Arok apabila keadaan memaksa”.
“Baiklah Empu”.
Maka, mereka pun kemudian berpisah. Ken Arok mengantar
Empu Sada yang luka ke Padepokkannya, sedang Empu Gandring
pergi ke Kemundungan. Dari Empu Sada, Empu Gandring mendapat
beberapa petunjuk tentang keadaan di sekitar sarang iblis itu.
“Kau harus berhati-hati sekali Empu” berkata Empu Sada,
“supaya kau tidak dicabik-cabik oleh anjing-anjing liar yang
berkeliaran di sekitar Kemundungan. Apalagi di malam hari”.
“Ya Empu, aku akan berhati-hati” jawab Empu Gandring,
“usahakan agar lukamu segera sembuh. Kalau kau ingin pergi juga
ke Kemundungan, maka mudah-mudahan kita akan dapat bertemu”.
Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya, sebenarnya ia
ingin merebut Mahisa Agni dengan tangannya, sebagai suatu
tebusan atas dosanya, menjerumuskan anak itu ke dalam bencana.
Tetapi, ia tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa keadaanya
tidak memungkinkan. Ia tidak dapat memaksa diri dan berpacu ke
Kemundungan. Seandainya, ia akan sampai ke sana pula, maka itu
hanya berarti, membunuh dirinya sendiri. Karena itu, maka Empu
Sada terpaksa mengendapkan keinginannya untuk sesaat., “Kalau
luka-luka di dada ini dapat sembuh, maka aku masih akan
berusaha” desisnya di dalam hati, “kecuali kalau Empu Gandring
telah mendahului aku”.
Empu Sada itu pun kemudian, diangkut ke atas punggung kuda
oleh Ken Arok, dan kemudian anak muda itu pun naik pula di atas
satu kuda sambil menjaga agar Empu Sada tidak terjatuh. Sedang
dalam pada itu, Empu Gandring telah berpacu menuju ke
Kemundungan.
Sementara itu, Kuda Sempana sedang berpacu pula dengan hati
yang hampa. Ia menurut saja kemana kudanya berlari. Tak ada
niatnya sama sekali untuk menentukan arah perjalanannya. Karena
kudanya lari kea rah Kemundungan, maka Kuda Sempana yang
membawa Mahisa Agni yang sedang pingsan itu pun ke
Kemundungan pula. Tetapi Kuda Sempana sendiri sama sekali tidak
tahu dan tidak berusaha untuk mengetahui, apakah yang seterusnya
akan terjadi atas anak muda yang dibawanya itu dan atas dirinya
sendiri.
Agak jauh di belakang Kuda sempana, Kebo Sindet pun berpacu
seperti dikejar hantu. Orang itu adalah penunggang Kuda yang baik,
sedang kuda yang dipergunakan adalah kuda yang cukup baik pula,
meskipun bukan kudanya sendiri. Maka jarak antara Kebo Sindet
dan Kuda Sempana semakin lama menjadi semakin dekat.
Apalagi kemudian Kuda Sempana tidak berhasrat menguasai
kudanya. Ketika kudanya berlari semakin lamban, maka ia pun tidak
berusaha melecutnya supaya langkahnya menjadi semakin cepat
dan panjang. Dibiarkanya saja kuda itu berlari sekehendak sendiri.
Semakin lama semakin lambat.
Itulah sebabnya, maka jarak antara Kuda Sempana dan Kebo
Sindet pun menjadi semakin dekat. Sehingga ketika matahari
menjadi semakin tinggi memanjat langit, maka dada Kuda Sempana
pun berdesir karenanya. Lamat-lamat ia mendengar derap kaki-kaki
kuda agak jauh di belakangnya. Ketika ia berpaling, maka ia belum
melihat sesuatu. Apalagi kemudian jalan yang ditempuhnya mulai
mendaki bukit-bukit gundul. Jalan yang berliku dan melingkari
batubatu
besar yang menjorok. Namun langkah kuda itu semakin lama
menjadi semakin jelas didengarnya.
“Siapakah yang menyusul aku?” desisnya. Tetapi hatinya yang
kosong tidak juga mendorongnya untuk mempercepat lari kudanya.
Meskipun dadanya kemudian menjadi berdebar-debar juga, tetapi ia
masih saja tetap dalam sikap dan keadaannya.
Bahkan akhirnya ia bergumam, “Siapa pun yang menyusul aku
tidak akan ada bedanya. Biarpun ia guru, Empu Sada, biarpun ia
Kebo Sindet atau siapa saja. Justru karena itulah maka Kuda
Sempana sama sekali tidak berhasrat untuk menghindarinya. Ia
telah kehilangan segala macam usaha untuk kepentingan apapun
juga.
Ketika suara kuda itu menjadi semakin dekat, maka tanpa
sesadarnya ia berpaling. Hatinya sama sekali tidak tergerak oleh
penglihatannya, bahwa yang datang itu adalah Kebo Sindet. Hatinya
seolah-olah telah terlanjur membeku. Beku seperti wajah Kebo
Sindet yang menyusulnya.
Sejenak kemudian Kebo Sindet itu pun telah berada di
sampingnya. Katanya bergumam, “Kuda Sempana, lihat, inilah
pamanmu Wong Sarimpat”.
Ketika Kuda Sempana berpaling dan melihat tubuh Wong
Sarimpat tersangkut di punggung kuda seperti tubuh Mahisa Agni,
maka barulah ia terperanjat.
Kebo Sindet melihat wajah Kuda Sempana yang menjadi tegang.
Dipandanginya tubuh Wong Sarimpat yang sudah membeku dingin
di punggung kuda bersama dengan Kebo Sindet.
“Ia sudah mati” desis Kebo Sindet.
“Kenapa?” bertanya Kuda-Sempana.
“Wong Sarimpat mati terbunuh dalam perkelahian melawan
Empu Sada. Sedang aku harus melayani Empu Gandring yang
datang menyusul itu. Aku tidak tahu, apakah ada setan atau hantu
atau iblis yang manjing di dalam diri Empu Sada, sehingga ia
berhasil membunuh Wong Sarimpat.
Kuda Sempana merasa sesuatu melonjak di dalam hatinya.
Gurunya ternyata berhasil membunuh Wong Sarimpat. Tetapi
bagaimanakah nasib gurunya itu kemudian?
“Tetapi” Kebo Sindet meneruskan, “aku kira Empu Sada pun akan
mati pula. Ketika aku meninggalkannya, nafasnya telah tersangkut
di kerongkongannya.
Dada Kuda Sempana berdesir mendengar kata-kata Kebo Sindet
itu. Bagaimanapun juga maka berita tentang gurunya telah
membuatnya semakin kehilangan arah hidupnya. Kini, bagi Kuda
Sempana seolah-olah tidak ada lagi hari depan yang dapat
ditunggunyu. Ia seakan-akan tidak boleh lagi ikut serta mengharap
bahwa besok, lusa dan seterusnya, matahari yang cerah selalu akan
terbit di ujung Timur. Matahari yang terbit, fajar yang cerah penuh
dengan harapan dihari-hari yang bakal datang, sama sekali bukan
miliknya. Itu adalah milik mereka yang hidup dalam ketenteraman
dan kedamaian hati. Tetapi, hidupnya, hari depannya, dan jalan
yang akan dilaluinya, adalah gelap dan kelam.
Kuda Sempana itu terperanjat ketika ia mendengar Kebo Sindet
berkata, “Bagimu Kuda Sempana, kematian kedua orang itu
mempunyai nilai yang berbeda, bahkan berlawanan. Empu Sada,
bekas gurumu itu mati selagi ia berusaha mengkhianati usahanya
sendiri, mengkhianati keinginan muridnya sendiri. Sedang pamanmu
Wong Sarimpat gugur dalam menyelesaikan usaha yang sudah
dirintisnya. Memenuhi keinginanmu, meskipun kau bukan muridnya.
Tetapi ia telah menyerahkan seluruh hidupnya untukmu. Untuk
mendapatkan Mahisa Agni seperti yang kau kehendaki. Kini Mahisa
Agni telah berada ditanganmu. Kau akan dapat berbuat apa saja
atasnya. Tetapi sayang, Wong Sarimpat tidak dapat menyaksikan
kau mengikat Mahisa Agni itu pada sebatang pohon. Melecutnya
dan menyentuh badannya dengan obor yang menyala. Membakar
wajahnya dan kemudian menguliti tubuhnya”.
Terasa seluruh tubuh Kuda Sempana meremang mendengar kata
demi kata yang diucapkan oleh Kebo Sindet itu. Ia sama sekali tidak
dapat mengerti jalan pikiran iblis dari Kemundungan itu.
Penilaiannya atas gurunya dan Wong Sarimpat baginya terasa
terlampau dibuat-buat, meskipun ia tidak tahu apakah yang
sebenarnya telah terjadi antara gurunya dan Kebo Sindet. Ia banya
mendengar satu dua kalimat yang kurang dapat dimengertinya.
Namun ia tidak sependapat dengan kata-kata Kebo Sindet itu.
Meskipun demikian, Kuda Scmpana itu tidak menjawab apalagi
membantah. Dibiarkannya Kebo Sindet mengumpat-umpati Empu
Sada sesuka hatinya.
Tetapi kalau gurunya itu benar-benar mati sampyuh dengan
Wong Sarimpat, maka luka dihatinya akan bertambah parah.
Sejenak mereka kemudian saling berdiam diri. Mereka memanjat
bukit-bukit gundul, berkelok-kelok menurut jalan yang berliku-liku
mendaki.
Namun, tiba-tiba Kebo Sindet itu tertegun sambil memanggil
Kuda Sempana, “He, berhenti dahulu”.
Kuda Sempana pun berhenti pula. Ketika ia melihat wajah Kebo
Sindet yang beku seperti wajah mayat, Kuda Sempana mengerutkan
keningnya. Ia melihat sesuatu pada wajah itu.
“Kuda Sempana” berkata Kebo Sindet, “kita tidak kembali ke
Kemundungan”.
Dengan serta-merta Kuda Sempana bertanya, “Kemana kita akan
pergi?”
“Kita harus bersembunyi untuk sementara” jawab Kebo Sindet,
“Empu Gandring dan prajurit-prajurit Tumapel pasti akan mencari
kita. Kalau gurumu sempat memberitahukan arah kita sebelum ia
mati, atau seandainya gurumu telah mati sekalipun, maka menurut
hematku, Empu Gandring dan prajurit gila dari Tumapel itu pasti
akan datang ke Kemundungan untuk mencari Mahisa Agni. Aku
sudah mengatakan bahwa Mahisa Agni itu kau bawa ke Padepokan
Empu Sada. Tetapi aku tidak tahu, apakah Empu Gandring dapat
mempercayainya. Seandainya ia peryaya, maka setelah Padepokan
itu didatanginya, dan tidak ditemuinya Mahisa Agni di sana ia pasti
akan datang juga ke Kemundungan”.
Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi
hatinya yang beku hampir tidak mengacuhkannya sama sekali,
apakah Empu Gandring akan mengejarnya bersama Ken Arok, dan
bahkan akan mengeroyoknya bersama seluruh prajurit Tumapel
sekalipun.
“Bukankah sebaiknya kita menghindari untuk sementara?”
bertanya Kebo Sindet, “itu bukan berarti kita takut menghadapi
lawan, tetapi kita harus dapat mempertimbangkan kekuatan kita”.
Kuda Sempana mengangguk kosong, jawabnya, “ya paman”.
“Bagus” sahut Kebo Sindet, “kita beralih arah. Kita tidak pergi ke
Kemundungan. Kita mencari tempat untuk mengubur pamanmu
Wong Sarimpat, untuk seterusnya bersembunyi sementara. Aku
tidak akan mencemaskan rumah dan simpananku di Kemundungan.
Meskipun seluruh prajurit Tumapel dikerahkan, aku pasti, bahwa
mereka tidak akan dapat menemukan harta simpananku. Begitu?”
“Baik paman” jawab Kuda Sempana begitu saja meloncat dari
bibirnya.
“Nah, marilah kita berbelok. Kita tinggalkan jalan sempit ini. Kita
melintas lewat padang rumput yang sempit turun di tebing sebelah
dan kemudian menyeberangi hutan sempit di kaki bukit.
Kuda Sempana telah benar-benar menjadi seperti seonggok
benda mati. Ketika Kebo Sindet berbelok arah, maka Kuda Sempana
itu pun mengikut saja dibelakangnya tanpa menyadari tujuannya.
Anak muda itu pun sama sekali tidak ingin untuk mengetahui lebih
banyak lagi, kemana mereka akan pergi.
Demikianlah maka kedua orang itu pun menempuh lintasan
padang rumput di lereng bukit gundul untuk kemudian menuruni
tebing dengan sangat hati-hat. Sejenak kemudian mereka melihat
sebujur hutan yang hijau berada dihadapan mereka. Seperti raksasa
hijau yang sedang berbaring tidur dengan nyenyaknya meskipun
sinar matahari yang cerah telah melimpah ke atas tubuhnya.
“Hutan itu tidak begitu lebat dan tidak terlampau tebal” desis
Kebo Sindet, “tetapi cukup untuk menghilangkan jejak. Mungkin
Empu Gandring seorang ahli mengikuti jejak-jejak kaki kuda.
Dengan memasuki hutan itu, maka jejak kita akan hilang. Sebab
hutan itu adalah hutan yang lembab dan berawa-rawa disana-sini.
Kuda Sempana mengangguk-anggukkan saja kepalanya dengan
hati yang kosong, Ia sama sekali tidak berkepentingan apa pun
dengan hutan yang lebat dan berawa-rawa. Tetapi ia tidak
menjawab.
Kebo Sindet pun kemudian mempercepat cepat kudanya dan
Kuda Sempana tanpa sesadarnya mengikutinya beberapa langkah di
belakangnya masuk ke dalam hutan yang tidak begitu lebat dan
hilang ditelan dedaunan yang hijau.
Matahari di langit mengapung semakin lama semakin tinggi.
Sinarnya yang cerah memercik ke atas dedaunan, rerumputan dan
puncak-puncak bukit. Semakin lama semakin panas. Dan ujungujung
daun alang-alang pun kemudian menunduk lesu karena terik
yang hampir tak tertahankan.
Dalam pada itu seekor kuda berlari dengan kencangnya menuju
ke bukit gundul. Kemudian mendaki lewat jalan berliku-liku
melingkari batu-batu besar yang menjorok. Sinar matahari yang
membakar kulitnya sama sekali tidak dirasakannya. Meskipun
kulitnya yang basah oleh keringat dan kotor karena debu menjadi
semerah tembaga.
Tetapi kudanya berpacu terus.
Sekali-sekali orang tua yang berada di atas punggung kuda itu
mengusap wajahnya dengan lengan bajunya. Dan sekali-sekali
dibetulkannya letak kerisnya yang besar yang tersangkut di
punggungnya. Hulunya yang berukir dan berselut. perak mencuat di
atas pundaknya. Sedang dilambungnya tergantung sebuah keris
yang lebih kecil dari keris yang biasa. Tetapi kasiat keris itulah
yang
luar biasa.
Dengan dada yang berdebaran orang itu, Empu Gandring,
memacu kudanya sejadi-jadinnya. Ia ingin segera sampai ke
Kemundungan, menyusul kemenakannya yang dilarikan oleh Kuda
Sempana. Dengan harap-harap cemas ia melihat telapak-telapak
kaki kuda yang masih baru di sepanjang jalan yang dilaluinya. Dan
hatinya melonjak ketika ia melihat bahwa tidak hanya ada seekor
kuda yang baru saja melintasi jalan itu. Tetapi dua.
“Aku kira benar juga kata Empu Sada. Kuda Sempana pergi juga
ke Kemundungan” berkata orang tua itu di dalam hatinya.
Dengan demikian maka Empu Gandring itu pun menjadi semakin
bernafsu. Dipacunya kudanya semakin cepat. Tetapi ia tidak dapat
terlampau cepat, sebab ia harus memperhatikan juga telapaktelapak
kaki kuda yang diikutiya.
Tetapi, tiba-tiba Empu Gandring itu menarik kekang kudanya,
sehingga kudanya menjadi terkejut. Sambil meringkik kuda Empu
Gandring itu berhenti. Namun demikian tiba-tiba, sehingga kuda itu
berdiri di atas kedua kaki belakangnya.
Dengan lembut Empu Gandring menepuk tengkuk kudanya. Dan
sejenak kemudian maka kuda itu pun telah menjadi tenang kembali.
“Telapak kaki-kaki kuda ini berbelok” gumam Empu Gandring
kepada diri sendiri.
Tiba-tiba pula orang tua itu menjadi bimbang. Kemana ia harus
mengikuti jejak orang-orang yang dicarinya? Apakah ia harus
menyelusur jejak yang berbelok itu, atau kah harus langsung pergi
ke Kemundungan?
Sejenak Empu Gandring berhenti sambil merenung. Dadanya
diamuk oleh keragu-raguan. Namun untuk sesaat ia tidak berhasil
mengambil keputusan.
“Aku kira mereka melalui jalan lain” desis Empu Gandring, “Kebo
Sindet pasti mengenal daerah ini sebaik-baiknya. Mungkin ia
sengaja memancing aku kejurusan yang salah. Sementara itu ia
lewat jalan lain kembali ke Kemundungan. Adalah mustahil kalau
orang selicik Kebo Sindet sengaja membuat bekas telapak kaki
sejelas itu.
Meskipun demikian, Empu Gandring tidak tergesa-gesa
mengambil sikap. Dipertimbangkannya segala kemungkinan dan
diperhitungkannya segala macam cara.
“Baiklah aku coba mengikuti jejak ini” katanya kemudian di dalam
hati, “kalau benar dugaanku, maka aku akan sampai juga ke
Kemundungan meskipun aku harus sangat berhati-hati, sebab setiap
kemungkinan dapat terjadi di sepanjang jalan. Mungkin Kebo Sindet
sudah menyediakan tempat untuk menjebakku.
Empu Gandring itu pun kemudian menggerakkan kekang
kudanya, mengikuti jejak-jejak kaki kuda Kebo Sindet dan Kuda
Sempana. Semakin lama derap kaki kudanya semakin cepat karena
bekas-bekas kaki kuda yang diikutinya tampak dengan jelas di atas
padang rumput yang sempit.
Tetapi jalan yang ditempuhnya menjadi semakin sukar. Kuda
Empu Gandring itu pun barus menuruni tebing. Telapak-telapak kaki
kuda yang diikutinya menjadi semakin sukar untuk dikenal karena
batu-batu padas di lereng-lereng bukit gundul. Namun tiap kali
Empu Gandring dapat menemukan kelanjutan dari bekas kaki-kaki
kuda itu, sehingga akhirnya Empu Gandring pun sampai pada lereng
yang menghadap pada pinggiran hutan yang hijau rimbun.
Dada Empu Gandring menjadi berdebar-debar melihat hutan itu.
Hutan akan menjadi tempat yang paling baik untuk menjebaknya.
Dari balik-balik pohon, dari dalam gerumbul-gerumbul yang rimbun,
maka Kebo Sindet akan dapat menyerangnya dengan licik.
“Tetapi apakah aku akan berhenti disini?” desis Empu Gandring di
dalam hatinya, “Tidak. Aku harus mendapatkan kemanakanku itu”.
Dengan demikian maka kuda Empu Gandring itu pun berjalan
terus. Tetapi ketika kuda itu sudah sampai pada mulut hutan, maka
Empu Gandring pun memperlambat langkahnya. Dengan hati-hati
dimasukinya hutan yang tidak terlampau lebat, tetapi cukup rimbun.
Beberapa saat Empu Gandring masih dapat melihat bekas-bekas
telapak kaki kuda yang diikutnya. Sempalan-sempalan ranting dan
dedaunan yang terinjak-injak. Bahkan seolah-olah bekas-bekas kaki
kuda itu menjadi semakin jelas.
“Hem” Empu Gandring menarik nafas dalam, “aku melihat bekas
kaki ini menjadi semakin jelas. Apakah Kebo Sindet dengan sengaja
memancing aku?”
Dalam keragu-raguan itu Empu Gandring menjadi semakin hatihati.
Didengarnya setiap gemersik daun-daun kering yang jatuh
tersentuh angin. Dilihatnya setiap gerak ranting-ranting dan ujung
pepohonan. Semua yang tertangkap oleh inderanya, selalu
mendapat perhatiannya. Sebab dalam hutan yang demikian itu,
bahaya akan dapat berada di setiap punggung dedaunan dan di
setiap sisi pepohonan.
Tetapi, Empu Gandring adalah seorang tua yang telah cukup
menyimpan perbendaharaan pengalaman. Ia seolah-olah dapat
berbicara dengan firasat di dalam dirinya. Dan kali ini ia tidak
menangkap tanda-tanda bahwa ia sedang diintai oleh lawannya itu.
Meskipun demikian, Empu Gandring tidak juga dapat melepaskan
kewaspadaannya. Ia menyadari siapakah yang menjadi lawannya
kini. Iblis Kemundungan itu akan dapat berbuat apa saja tanpa,
menilai harga diri dan kejantanan.
Tetapi Empu Gandring itu tiba-tiba menarik kekang kudanya.
Hatinya menjadi berdebar-debar dan wajahnya menjadi tegang.
Dilihatnya dihadapannya tanah menjadi gembur lembab dan bahkan
dis ana-sini mulai tergenang air.
“O, jadi hutan ini berada di daerah rawa-rawa” desisnya. Dan kini
ia mulai membuat perhitungan yang lain, kenapa Kebo Sindet
menempuh jalan ini , “Ternyata Kebo Sindet berusaha
menghilangkan jejaknya di daerah rawa-rawa ini”.
Empu Gandring pun kemudian berhenti. Telapak-telapak kaki
kuda yang diikutinya memang sengaja masuk ke daerah rawa-rawa.
Empu Gandring itu menggeleng-gelengkan kepalanya, “Adalah
sangat sulit untuk mengikuti jejak di daerah gempur dan berair ini.
Setan itu benar-benar licik”.
Sesaat Empu Gandring duduk mematung di atas punggung
kudanya. Ia melihat telapak kaki kuda memasuki daerah yang
berair. Tetapi apakah ia akan dapat menyelusur dan menemukan
dimana telapak kaki itu keluar dari air? Apakah ia harus mengitari
seluruh hutan dan rawa-rawa ini. Apakah ia harus mengelilingi
setiap pinggiran air yang sekian luasnya? Empu Gandring menyadari
bahwa rawa-rawa ini bukan saja terdiri dari apa yang dilihatnya
itu.
Tetapi rawa-rawa ini akan melebar dan sangat luas menjorok masuk
ke daerah hutan ini. Adalah sangat berbahaya baginya untuk
memasukinya. Ia tidak tahu, daerah manakah yang dapat diinjak
oleh kaki-kaki kudanya. Kalau kudanya terperosok pada
bagianbagian yang sangat gembur, maka kuda dan penunggangnya
pasti akan terbenam ke dalam lumpur. Adalah sangat sukar untuk
mencoba berenang pada air yang berlumpur seperti rawa-rawa yang
terbentang dihadapannya, yang ditumbuhi oleh tumbuh-tumbuhan
air dan sulur-sulur yang tergantung pada pepohonan.
Empu Gandring menarik nafas. Sekali lagi dilayangkannya
pandangan matanya berkeliling. Air yang coklat berlumpur, sinar
matahari yang seberkas-seberkas jatuh ke permukaan air.
Pepohonan dan cabang-cabangnya yang rapuh berkait dengan
sulur-sulur yang bergayutan dengan tumbuh-tumbuhan berduri.
“Kebo Sindet mengenal daerah ini seperti ia mengenal rumah
sendiri” desis Empu Gandring kepada diri sendiri, “tetapi aku
menjadi orang asing di sini, “.
Untuk sesaat Empu Gandring masih saja duduk mematung di
atas punggung kudanya. Kini dadanya benar-benar dilanda oleh
kebimbangan dan nafsunya untuk mengejar kemenakannya
bersama-sama. Begitu dahsyat gelora itu mengamuk di dadanya,
sehingga kepala Empu Gandring itu pun kemudian, menjadi pening.
“Hem, apakah yang sebaiknya aku lakukan? Tidak mungkin aku
akan berjalan terus. Aku akan dapat mati tanpa arti di dalam
rawarawa
itu. Tetapi aku harus menemukan Mahisa Agni hidup atau
mati.” Namun Empu Gandring masih belum menemukan jalan
manakah yang akan ditempuhnya.
Angin yang silir bertiup di sela-sela pepohonan menggerakkan
daun dan ranting. Bayangan sinar matahari seolah-olah
melonjaklonjak
di dalam air yang keruh. Lamat-lamat dikejahan terdengar
burung-burung liar berkicau bersahut-sahutan. Namun udara di
hutan itu masih juga terasa betapa lembabnya.
“Aku harus sampai ke Kemundungan” Empu Gandring itu tibatiba
menggeram, “Kebo Sindet pasti hanya sekedar mengelabuhi
aku. Ia pasti mengambil jalan lain, tetapi akhirnya ia akan sampai
pula ketempat persembunyiannya di Kemundungan”.
Dengan serta-merta Empu Gandring itu pun segera
menggerakkan kendali kudanya, dan kudanya pun segera berputar
pula. Sesaat kemudian, maka kuda itu pun segera meloncat berlari.
Kali ini meluncur keluar dari hutan berawa-rawa itu menuju ke
Kemundungan.
Empu Gandring merasa bahwa ia telah kehilangan waktu sesaat
dengan memasuki hutan itu, sehingga dengan demikian maka ia
harus berpacu untuk mengurangi keterlambatannya. Ia sedapat
mungkin harus sampai ke Kemundungan sebelum Mabisa Agni
mendapat perlakuan yang tidak wajar.
Dengan demikian maka Empu Gandring berusaha untuk secepatcepatnya
mencapai sarang iblis yang liar dan buas itu.
Dipercepatnya lari kudanya. Namun terasa langkah kuda itu
seakanakan
menjadi terlampau lamban.
Setiap kali Empu Gandring harus menyentuh perut kuda itu
dengan tumitnya atau menggelitik tengkuknya dengan pangkal
kendali. Dan setiap kali kuda itu pun meloncat semakin cepat.
Namun masih juga terasa, alangkah lambatnya.
Sejenak kemudian Empu Gandring telah lepas dari daerah hutan
yang tidak begitu lebat. Didakinya lereng bukit gundul lewat jalan
yang tadi ditempuhnya dalam arah yang berlawanan. Padang
rumput yang tidak terlampau luas itu pun telah dilintasinya. Dan
kini
Empu Gandring telah menemukan kembali jalan yang wajar menuju
ke Kemundungan.
Kudanya pun kemudian dipacunya semakin cepat. Seakan-akan
ia sedang berlomba dengan matahari yang bergerak ke Barat.
Tetapi matahari itu agaknya berjalan terlampau cepat, sehingga
sejenak kemudian bayangan Empu Gandring telah menjadi kian
panjang karena matahari telah menjadi semakin condong ke Barat.
Dengan demikian, maka perjalanan Empu Gandring yang juga
menuju kearah Barat itu pun menjadi silau. Tetapi Empu Gandring
masih berpacu terus.
Akhirnya bukit gundul itu pun dilampauinya. Ketika ia menuruni
lereng di sisi Barat, maka segera Empu Gandring dapat melihat,
dimanakah rumah Kebo Sindet itu.
Kini Empu Gandring mulai memperlambat langkah kudanya.
Hatinya menjadi berdebar-debar. Di dalam hatinya ia mengharap,
mudah-mudahan ia masih dapat menemukan kemanakannya dalam
keadaan hidup.
Tetapi semakin dekat, Empu Gandring itu pun menjadi semakin
curiga. Rumah Kebo Sindet di lereng bukit kecil itu tampaknya masih
terlampau sepi. Pintu lorongnya masih tertutup, dan masih belum
dilihatnya ada tanda-tanda seseorang berada di dalamnya.
“Apakah orang itu masih belum datang?” desis Empu Gandring.
Ketika ia menjadi semakin dekat, maka ia pun menjadi semakin
berhati-hati. Bahkan ketika kudanya mulai menginjakkan kakinya di
dalam lingkungan rumah itu, maka Empu Gandring menarik
kekangnya, dan kuda itu pun berhenti.
Sejenak Empu Gandring berdiam diri seolah-olah membeku di
atas punggung kudanya. Dipandanginya gubug Kebo Sindet itu
dengan tajamnya. Gubug bambu beratap ilalang, berpintu lereg
tidak cukup rapat.
Empu Gandring menarik nafas dalam. Di dalam hatinya ia
bertanya, “Apakah sebenarnya hidup bagi Kebo Sindet? Dengan
susah payah ia mengumpulkan harta benda. Bahkan dengan segala
macam cara. Tetapi apakah arti harta benda itu baginya? Orang itu
tidak beranak tidak beristeri. Tidak juga mempergunakannya sendiri.
Ia hidup di dalam gubug yang hampir roboh, tidak di dalam sebuah
istana yang mewah. Tidak dilingkungi oleh kepuasan lahiriah.
Agaknya ia makan pun tidak teratur pula. Apa saja yang ada pada
hari itu. Lalu apakah gunanya harta benda yang didapatkannya?”
Empu Gandring tidak dapat menemukan jawabnya. Ia
menganggap Kebo Sindet sebagai seorang yang aneh. Seorang
yang tidak wajar seperti kebanyakan orang.
Empu Gandring pernah merasakan dan mengalami berprihatin.
Menjauhkan diri dari kepuasan badani. Tetapi ia sama sekali tidak
selalu di kejar-kejar oleh nafsu untuk mengumpulkan harta benda
sebanyak-banyaknya, bahkan dengan segala macam cara seperti
Kebo Sindet. Membunuh, merampok, memeras dan sebagainya.
Kadang-kadang untuk kepentingan itu, nyawanya dipertaruhkan.
Tetapi kalau harta benda itu sudah dimilikinya, maka orang itu sama
sekali tidak dapat menikmatinya.
“Aku kadang-kadang masih juga ingin makan enak dan tidur
nyenyak di tempat yang nyaman” desis Empu Gandring, “dan
kadang-kadang aku masih juga menyisihkan milikku sedikit-sedikit
untuk kepentingan anak cucu kelak, seperti orang-orang
sewajarnya. Tetapi Kebo Sindet ini terlampau aneh bagiku. Untuk
apakah harta benda yang dikumpulkannya selama ini bersama-sama
dengan adiknya?”
Tetapi Empu Gandring tidak mau dirisaukan oleh pertanyaanpertanyaan
itu. Kini yang penting baginya adalah mencari Mahisa
Agni. Dihadapannya itu adalah rumah Kebo Sindet. Karena itu ia
harus mulai berbuat sesuatu.
Empu Gandring itu pun kemudian meloncat turun dari kudanya.
Perlahan-lahan dan hati-hati ia melangkah maju. Kemudian kudanya
itu pun ditambatkannya pada sebatang pohon. Dan ia pun
melangkah lagi semakin dekat dengan gubug Kebo Sindet.
Meskipun Empu Gandring itu sudah menjadi semakin dekat
namun ia masih belum melihat atau mendengar sesuatu. Rumah itu
terlalu sunyi.
Empu Gandring itu pun kemudian sudah berdiri di muka pintu.
Perlahan-lahan ia mengetuk pintu itu. Tetapi suara ketukannya
hilang saja ditelan sunyi.
Akhirnya Empu Gandring tidak bersabar lagi. Dicobanya untuk
mendorong pintu lereg itu. Ia terkejut ketika dengan mudahnya
pintu pun terbuka.
Kini Empu Gandring dapat melihat isi gubug kecil itu. Hampir tak
ada sesuatu apa pun di dalamnya. Hanya sebuah amben terbujur
membeku. Di sana-sini berceceran alat-alat untuk menggarap tanah.
Cangkul, parang dan sebatang srumbat kelapa dari kayu.
“Kosong” desis Empu Gandring, Ketika dilihatnya benda-benda itu
maka ia pun berguman , “Hem, agaknya orang ini bekerja juga
bercocok tanam”.
Dengan hati-hati Empu Gandring itu melangkah masuk. Rumah
itu benar-benar kosong. Tak ada bekas yang baru di dalam rumah
itu, sehingga menurut dugaan Empu Gandring, belum ada seorang
pun yang baru saja memasukinya.
“Mereka belum datang” desisnya.
Empu Gandring itu pun kemudian terhenyak di atas amben
bambu di dalam rumah itu. Suaranya berderit seperti sebuah
keluhan yang paling pahit.
“Aku harus menunggu sampai mereka datang.” desisnya, “aku
akan memintanya dengan baik. Kalau tidak, terpaksa aku
mempergunakan kekerasan”.
Tetapi Empu Gandring kemudian, tidak merasa tenteram berada
di dalam gubug itu. Ia pun segera berdiri dan melangkah keluar.
“Kalau Kebo Sindet melihat kudaku, mungkin ia tidak akan
memasuki rumahnya ini” katanya di dalam hati.
Maka Empu Gandring itu pun menutup pintu rumah Kebo Sindet
kembali seperti semula. Dibawanya kudanya ke belakang semaksemak
yang agak rimbun. Dari tempat itu pula ia menunggu sambil
mengawasi kalau-kalau Kebo Sindet bersama Kuda Sempana akan
datang.
Tetapi Kebo Sindet ternyata tidak akan datang ke Kemundungan
Kebo Sindet telah memperhitungkan bahwa Empu Gandring pasti
akan menyusulnya. Mungkin dengan prajurit Tumapel yang aneh,
yang kepalanya seakan-akan memancarkan cahaya kemerahmerahan.
Seorang anak muda yang mampu bertahan tidak luluh
oleh kekuatan tertinggmya, Aji Bajang.
Dengan susah payah, Kebo Sindet ternyata berhasil melintasi
hutan dan rawa-rawa yang cukup berbahaya. Tanahnya gembur dan
berlumpur. Tetapi iblis itu mengenal daerah itu dengan baik.
sehingga ia dapat memilih jalan yang paling baik untuk melintasi
daerah itu.
Di seberang rawa-rawa maka hutan menjadi semakin rindang.
Hampir tidak ada pohon-pohon yang cukup besar dan lebat. Tetapi
banyak sekali gerurnbul-gerumbul perdu yang rimbun dan liar
berduri.
“Kita sudah hampir sampai” desis Kebo Sindet.
Kuda Ssmpana tidak menyahut. Sekali ia berpaling, tetapi
kemudian dipandanginya jalan di depan matanya. Yang tampak
hanyalah hijaunya dedaunan dan percikan sinar matahari
seberkasberkas
jatuh di atas tanah yang lembab.
“Tak banyak orang yang dapat mencapai tempat ini. Tempat ini
dikelilingi oleh rawa-rawa. Seseorang yang tidak mengenal tempat
ini baik-baik akan dengan mudah terperosok masuk ke dalam tanah
berlumpur. Kalau demikian maka nasibnya akan sangat malang.
Sebab ia pasti tidak akan dapat melepaskan dirinya. Hanya hantu
dan tetekan sajalah yang dapat mencapai tempat ini selain Kebo
Sindet dan Wong Sarimpat.
Kuda Sempana masih berdiam diri.
“Inilah tempat tinggal Kebo Sindet dan Wong Sarimpat yang
sebenarnya. Itulah sebabnya maka aku sama sekali tidak
berkeberatan bahwa rumahku di Kemundungan akan dibongkar oleh
seluruh prajurit Tumapel. Sebab mereka pasti hanya akan
menemukan benda-benda yang sebenarnya kurang berharga
bagiku. Di dalam goa dibelakang gubugku itu tidak akan banyak
dijumpai barang-barang yang penting. Dan kini Kuda Sempana, kau
telah berada di dalam daerah Kebo Sindet yang selama ini tidak
pernah didatangi orang lain”.
Kuda Sempana masih tetap membungkam. Dengan hati yang
kosong ia mengikuti saja Kebo Sindet yang menyusup-nyusup
disela-sela pepohonan. Disana-sini masih juga tergenang air. Tetapi
daerah rawa-rawa yang sebenarnya telah lampau.
“Di ujung yang lain dari hutan ini pun terdiri dari tanah yang
gembur dan berawa-rawa” berkata Kebo Sindet itu pula. Dan Kuda
Sempana pun menganggukkan kepalanya tanpa menyadari arti
kata-kata Kebo Sindet.
Ketika Kuda Sernpana tidak juga menjawab, maka Kebo Sindet
itu berkata, “Kuda Sempana. Aku telah mengatakan kepadamu
keadaan daerah ini. Daerah ini dikelilingi oleh genangan-genangan
air berlumpur. Kadang-kadang di tempat-tempat tertentu air itu
cukup dalam. Setinggi tubuhmu, bahkan ada yang lebih dalam lagi.
Orang-orang yang kurang mengenal daerah ini tidak akan dapat
membedakannya. Karena itu Kuda Sempana tanpa aku kau jangan
mencoba pergi terlampau jauh. Jangan mencoba menjajagi rawarawa
ini. Itu akan sangat berbahaya bagimu. Kau akan tetap tinggal
di sini kecuali aku menghendaki kau meninggalkan tempat ini”.
Baru saat itulah Kuda Sempana menyadari keadaannya. Ternyata
ia telah terperosok ke dalam daerah yang tak dikenalnya. Bukan itu
saja, tetapi ia telah berada di suatu tempat yang tidak dapat
ditinggalkannya. Ini berarti bahwa ia pun telah berada di dalam
kekuasaan Kebo Sindet.
“Kau mengerti maksudku?” bertanya Kebo Sindet.
Kini Kuda Sempana mengangguk. Tetapi keadaan itu pun tidak
banyak berpengaruh atas perasaannya. Dimana saja ia berada dan
dalam keadaan apapun, baginya tidak banyak mempunyai
perbedaan arti. Hidup yang sebenarnya bagi Kuda Sempana seakanakan
telah berhenti. Dan kini hidup baginya hanya sekedar dijalani
tanpa arah, tanpa tujuan dan tanpa cita-cita.
“Bagus” gumam Kebo Sindet kemudian, “kau adalah seorang
anak muda yang patuh”.
Kata-kata itu pun terdengar janggal ditelinga Kuda Sempana.
Tetapi ia sama sekali tidak menjawab.
Demikianlah mereka berjalan terus di atas punggung-punggung
kuda masing-masing. Kuda Sempana kini telah berubah pula
menjadi seorang yang acuh tak acuh atas kedaan sekelilingnya.
Wajahnya tiba-tiba saja menjadi mirip dengan wajah Kebo Sindet.
Beku dan mati, meskipun sebab-sebabnya agak berbeda. Wajah
Kebo Sindet membeku tetapi penuh dibakar oleh. nafsu, sedang
wajah Kuda Sempana membeku mati. Gersang.
“Kita mencari tempat yang baik untuk mengubur Wong Sarimpat”
berkata Kebo Sindet itu kemudian, “sebentar lagi kita akan sampai
ke sebuah Goa. Disitulah aku akan memelihara Mahisa Agni untuk
suatu kepentingan. Ia harus diobati dan disembuhkan dari luka-luka
yang mungkin diderita. Anak muda itu tidak boleh terlampau lama
dalam keadaannya, supaya bagian-bagian tubuhnya tidak ada yang
terlanjur menjadi rusak.
Kuda Sempana hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja.
Meskipun demikian diamat-amatinya juga tubuh Mahisa Agni yang
lemah tergantung di kudanya. Ia mendendam kepada anak muda itu
sejak Mahisa Agni menghalangi keinginannya membawa Ken Dedes
ke Tumapel di pinggir kali di bawah Bendungan. Beberapa kali ia
berkelahi melawan anak muda itu. Beberapa kali ia ingin
melumpuhkan, bahkan membinasakannya. Sehingga gurunya telah
terseret pula ke dalam arus dendamnya yang tiada terkendali.
Namun akibatnya ternyata sama sekali tidak disangkanya. Dua kali
gurunya mengalami bencana, bahkan hampir membunuhnya.
Mungkin kali ini gurunya telah benar-benar meninggal akibat
benturan dan sampyuh melawan Wong Sarimpat. Seandainya
demikian, maka apa yang terjadi benar-benar diluar kehendaknya.
KudaSempana itu berpaling ketika Kebo Sindet berkata pula,
“Lihat Kuda Sempana. Dihadapan kita ada sebatang pohon Randu
Alas yang besar. Disampingnya ada sebatang pohon Jati yang
sebaya umurnya dengan pohon Randu Alas itu. Umur pohon-pohon
itu telah berbilang ratusan tahun. Diantara kedua batang pohon itu
kau akan rnenjumpai sebuah Goa di bawah bukit-bukit batu karang
yang kecil. Disitulah kita akan bersembunyi untuk sementara.
Dibawah pohon Randu Alas akan kita kuburkan Wong Sarimpat”.
Tanpa sesadarnya Kuda Sempana melihat kearah pohon-pohon
yang ditunjuk oleh Kebo Sindet. Tiba-tiba saja tubuhnya meremang.
Sejak semula ia sama sekali tidak memperhatikan apa pun yang ada
di sekitarnya. Juga kedua batang pohon raksasa itu.
Dan kini tiba-tiba saja ia melihat kedua batang pohon itu. Tinggi
menjulang, se-akan-akan menggapai langit yang telah jadi
kemerahmerahan.
Mencuat di antara pepohonan yang tidak begitu rapat,
dikitari oleh gerumbul-gerumbul yang rimbun.
Kuda Sempana sendiri menjadi heran. Kenapa ia tidak melihat
kedua batang pohon itu sejak semula? Bukankah kedua batang
pohon itu tampak seperti dua orang raksasa di antara pepohonan
yang lain?
Tetapi sejenak kemudian Kuda Sempana pun telah menjadi acuh
tak acuh pula. Juga kedua pohon raksasa itu tidak akan berarti
apaapa
baginya. Goa yang berada di bawah gumuk karang itu pun tidak
berarti pula baginya. Ia sudah kehilangan arti hidupnya, dan
hilanglah semuanya baginya.
Sejenak kemudian mereka pun telah sampai di bawah kedua
batang pohon yang berjarak beberapa puluh langkah itu. Diantara
kedua batang pohon itu terdapat sebuah gumuk batu karang. Dan
di bawah gumuk itu terdapat sebuah Goa.
“Inilah rumah kita untuk sementara” desis Kebo Sindet sambil
meloncat dari kudanya., “Ikatkan kudamu dan angkatlah Mahisa
Agni. Tidurkanlah ia di dalam Goa itu”.
Seperti orang bermimpi Kuda Sempana pun turun dari kudanya.
Diangkatnya tubuh Mahisa Agni seperti yang dikatakan oleh Kebo
Sindet dan dibawanya tubuh itu kemulut Goa. Tetapi ketika ia
melihat ke dalam Goa yang gelap itu, ia menjadi ragu-ragu sejenak.
“Masuklah” berkata Kebo Sindet, “tak ada binatang buas di
dalamnya”.
Kuda Sempana pun kemudian melangkah masuk. Dalam
keremangan cahaya yang masuk dari mulut Goa Kuda Sempana
melihat sebuah amben kayu yang cukup besar, Di amben itu lah
kemudian Mahisa Agni dibaringkannya.
Sejenak kemudian Kebo Sindet pun masuk pula kedalam Goa itu.
Dirabanya tubuh Mahisa Agni. Diurutnya dibeberapa bagian dari
lehernya.
“Ambillah air” berkata Kebo Sindet kepada Kuda Sempana. Tetapi
Kuda Sempana tidak segera beranjak dari tempatnya. Ia tidak tahu
kemana ia harus mengambil air.
“Ambillah air” Kebo Sindet mengulangi.
“Kemana aku harus mengambil air?” bertanya Kuda Sempana
kemudian.
“Oh” desah Kebo Sindet, “di dalam daerah yang penuh dengan
rawa-rawa ini kau bertanya kemana kau harus mengambil air?”
“Apakah aku harus mengambil air berlumpur itu?”
“Bertahun-tahun aku selalu minum air berlumpur itu. Tetapi aku
tidak menjadi sakit-sakitan”.
Kuda Sempana menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia masih
bertanya lagi “dengan apa aku membawa air itu kemari?”
Mata Kebo Sindet itu pun kemudian beredar di sekeliling ruangan
itu. Kemudian katanya sambil menunjuk ke arah sudut ruangan itu,
“Ambillah mangkuk tanah itu. Pakailah untuk mengambil air, dan
cepat”.
Kuda Sempanaun segera pergi ke sudut ruangan itu mengambil
mangkuk tanah yang kotor. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Kotor bagi
Kebo Sindet agaknya tidak menjadi soal lagi.
Kemudian, Kuda Sempana pun pergi keluar Goa, berjalan di selasela
gerumbul-gerumbul liar mengambil air dari rawa-rawa. Air yang
berwarna coklat keputih-putihan.
Sementara itu Kebo Sindet masih memijat-mijat Mahisa Agni.
Sekali-kali dilehernya dan sekali-kali di bagian punggungnya.
“Anak ini terlampau lama pingsan” desisnya, “mudah-mudahan
aku masih dapat membangunkannya. Kalau ia mati, maka aku pun
kehilangan pula. Aku telah kehilangan adikku, dan aku akan
kehilangan kemungkinan untuk mendapatkan harta dari calon
permaisuri Tunggul Ametung itu”.
Sementara itu Kuda Sempana pun datang sambil menjinjing
mangkuk tanah yang berisi air. Tetapi air itu terlampau kotor.
Namun demikian Kebo Sindet sama sekali tidak menghiraukannya.
Dimasukannya sebutir reramuan obat-obatan dan dihancurkannya di
dalam air itu, perlahan-lahan air itu dimasukkan ke dalam mulut
Mahisa Agni. Sedikit demi sedikit.
Sejenak mereka menunggu. Meskipun tak sepatah kata pun yang
mereka ucapkan, namun tampaklah wajah-wajah yang beku itu
menegang. Mereka menunggu, apakah Mahisa Agni masih dapat
sadar kembali seperti semula, meskipun detak jantungnya masih
juga dapat mereka dengar apabila mereka menempelkan telinga
mereka di dada anak itu.
Tetapi sesaat kemudian, Kuda Sempana itu pun mulai dihinggapi
lagi oleh perasaan acuh tak acuhnya. Bahkan ia bertanya di dalam
hati, “Buat apakah sebenarnya aku ikut serta menjadi cemas atas
nasib Mahisa Agni. Hidup atau mati sama sekali tidak ada bedanya
bagiku. Kalau ia mati, biarlah ia mati. Sudah lama aku
menghendakinya supaya ia mati. Tetapi kalau ia dapat hidup lagi,
aku pun tidak akan berkeberatan. Mudah-mudahan aku masih
mempunyai gairah untuk membalas sakit hatiku. Tetapi apakah
.sebenarnya kepentingan Kebo Sindet bersusah payah
mengobatinya. Biar sajalah ia mati, dan kemudian dikuburkan
bersama Wong Sarimpat. Tetapi pertanyaan itu disimpannya saja di
dalam hatinya.
(bersambung ke jilid 28)
Jilid 28
KUDA SEMPANA
itu berpaling ketika ia
melihat Kebo Sindet
menarik nafas dalam-dalam. Anak muda itu menjadi heran ketika ia
melihat dahi Kebo Sindet itu menjadi berkerut-merut. Wajah itu
hampir selamanya membeku. Agaknya masalah Mahisa Agni itu
benar-benar menegangkan urat syarafnya.
“Kuda Sempana” Kebo Sindet itu tiba-tiba memanggilnya,, “lihat
dadanya mulai bergerak”.
Kuda Sempana menganggukkan kepalanya.
“Kau lihat dada itu?” bertanya Kebo Sindet pula,, “aku
mengharap bahwa bagian-bagian badannya masih cukup baik.
Untunglah bahwa daya tahan tubuhnya benar-benar luar biasa.
Orang-orang lain pasti sudah mengalami banyak kerusakan apabila
mengalami keadaan seperti Mahisa Agni. Ia terlalu lama berada
dalam keadaan tidak menyadari dirinya meskipun jantungnya tetap
berdetak. Meskipun demikian, akibat dari keadaan ini akan
ditanggung oleh Mahisa Agni untuk waktu yang cukup lama. Kau
harus telaten memeliharanya sampai ia sembuh benar. Setiap kali
aku pergi, kau harus merawatnya. Jangan kau bunuh dia tanpa
ijinku lebih dahulu, supaya kau tidak aku bunuh pula”.
Dada Kuda Sempana berdesir, tetapi ia tidak menjawab.
“Kalau ia sudah sembuh benar-benar, nah, kau dapat berbuat
sekehendakmu atasnya. Anak itu akan aku ikat pada pohon Randu
Alas itu. Lalu kau boleh berbuat sesuka hatimu atasnya, untuk
membalas sakit hatimu. Tetapi anak ini harus sembuh lebih dahulu”.
Sekali lagi Kuda Sempana mengangguk. Tetapi hatinya masih
saja selalu bertanya-tanya. “Buat apa sebenarnya Kebo Sindet
bersusah payah mengobatinya. Mungkin untuk melakukan
pemerasan atau apapun. Tetapi perbuatan itu benar-benar tidak
pantas dilakukan. Disembuhkannya Mahisa Agni dari sakit dan
penderitaan badaniah untuk kemudian mengalami penderitaan
badaniah yang lain. Bahkan mungkin penderitaan batin untuk
sepanjang umurnya”.
Sementara itu wajah Kebo Sindet pun menjadi semakin kendor
ketika ia melihat tubuh Mahisa Agni mulai dialiri oleh udara yang
hangat. Perlahan-lahan Kebo Sindet melihat anak muda itu
menggerakkan kepalanya. Perlahan-lahan sekali. Namun itu adalah
pertanda yang menyenangkan bagi Kebo Sindet, pertanda bahwa
Mahisa Agni masih dapat dibangunkannya kembali.
“Lihat Kuda Sempana” berkata Kebo Sindet, “anak ini akan
segera menyadari keadaannya. Tetapi ia akan menjadi sangat
lemah. Ia akan memerlukan waktu dua atau tiga minggu untuk
memulihkan kembali tenaganya”.
Kini Kuda Sempana pun memperhatikan keadaan Mahisa Agni itu.
Ia melihat anak muda itu mulai menggerakkan tubuhnya.
Tangannya dan kakinya.
“Bagus” Kebo Sindet berkata lantang, “aku berhasil”.
Kemudian dilumurkannya air sisa dari larutan obat yang
diminumkannya kepada Mahisa Agni itu pada bagian-bagian kaki
dan tangannya, sehingga terasa tubuh itu menjadi semakin hangat.
Sementara itu, di Kemundungan, Empu Gandring menunggu
kedatangan Kebo Sindet di belakang gerumbul yang agak rimbun.
Dari tempatnya itu, ia akan dapat melihat apabila seseorang
memasuki lingkungan rumah Kebo Sindet itu. Tetapi sudah begitu
lama ia menunggu, namun yang ditunggunya masih juga belum
tampak datang.
“Gila benar Kebo Sindet” desahnya, “aku akan menunggu sampai
malam. Sampai tengah malam”.
Dan Empu Gandring kemudian duduk bersandar sebatang pohon.
Dengan gelisah diikutinya matahari yang merayap dengan
lambannya menuju ke Barat, ke balik punggung gunung. Namun
sampai matahari kemudian terbenam, Kebo Sindet dan Kuda
Sempana tidak juga kunjung datang.
“Baiklah” desahnya, “aku akan menunggu di sini sampai kau
datang”.
Tetapi yang ditunggunya tidak juga kunjung datang, sehingga
begitu lelahnya maka Empu Gandring itu pun ingin untuk tidur
sejenak sambil memanjat pohon. “Tak seorang pun yang akan
melihat aku di sini. Mudah-mudahan kudaku pun cukup terlindung
juga”.
Kemudian, pada sebuah dahan yang kuat, maka Empu Gandring
itu pun menyandarkan diri untuk sejenak beristirahat.
Ketika Empu Gandring itu tersadar, maka disekitarnya adalah
gelap gulita. Hanya di langit dapat dilihatnya bintang gemintang
berhamburan.
“Hem” orang tua itu menghela nafas. Ia masih mendengar
dengus nafas kudanya. Tetapi ketika ia memandangi gubug Kebo
Sindet maka gubug itu masih juga sepi dan gelap.
Tetapi apa yang dilihatnya itu belum memberinya keyakinan.
Perlahan-lahan ia turun, dan dengan hati-hati didekatinya gubug
itu.
Namun gubug itu masih juga kosong.
“Apakah ia tidak kembali kerumahnya?.” desisnya. Orang tua itu
pun menjadi semakin gelisah. Kalau Mahisa Agni tidak dibawanya
kemari, maka sangatlah sulit baginya untuk menemukannya dalam
keadaan hidup.
“Apakah Kebo Sindet bersembunyi di belakang rawa-rawa itu?”
katanya di dalam hati. Tetapi jawaban atas pertanyaan itu adalah
kegelisahan yang menjadi semakin memuncak.
Tetapi Empu Gandring masih menyabarkan dirinya. Betapa ia
menjadi gelisah dan cemas, namun orang tua itu tidak segera mau
meninggalkan gubug itu. Dengan kesal ia kembali ketempatnya
bersembunyi, memanjat sebatang pohon dan mencoba untuk
menenangkan hatinya, beristirahat mengurangi lelahnya.
Tetapi hampir setiap saat Empu Gandring menyadari
keadaannya. Didengarnya di Pedukuhan kecil yang bernama
Kemundungan ayam jantan berkokok untuk yang pertama kalinya.
Didengarnya ratapan burung hantu dikejauhan, seperti keluh kesah
seorang yang kehilangan anaknya. Didengarnya anjing-anjing liar
berteriak mengerikan, sahut menyahut di atas bukit gundul. Dan
didengarnya pula kokok ayam untuk yang kedua kalinya.
Empu Gandring tidak lagi dapat tidur sekejap pun. Bahkan ia
menjadi ngeri mendengar salak anjing-anjing liar sahut-menyahut.
“Ternyata bukit gundul itu menyimpan bahaya yang sempurna”
desisnya ”iblis dari Kemundungan dan anjing-anjing liar itu.
Keduanya sama-sama berbahaya bagiku”.
Tetapi meskipun kemudian ayam berkokok untuk ketiga kalinya,
dan bayangan merah telah memancar di ujung Timur, namun Empu
Gandring masih tetap menunggu, kalau-kalau tiba-tiba Kebo Sindet
dan Kuda Sempana muncul dari dalam gelap membawa Mahisa
Agni.
“Aku menyesal telah melepaskannya” gumam Empu Gandring
seorang diri. Kenapa aku tidak menahannya? Ternyata Kuda
Sempana telah mengelabui perhitunganku. Aku sangka Kuda
Sempana berbuat untuk gurunya.
Ketika Kemudian matahari menjenguk dari balik-balik dedaunan
di ujung Timur, maka Empu Gandring menjadi tidak bersabar lagi.
“Aku tidak dapat tinggal di sini menunggu Kebo Sindet yang tidak
kunjung datang” katanya, “aku harus mencarinya”.
Empu Gandring itu pun kemudian meloncat turun. Dibenahinya
pakaiannya dan dihampirinya kudanya. Desisnya, “Kita akan
berjalan lagi. Aku tidak tahu, sampai kapan aku akan berhenti.
Mudah-mudahan kita tidak sama-sama menjadi lelah. Bukankah kau
telah makan sekenyang-kenyangmu?”
Kudanya seakan-akan dapat memahami kata-kata Empu
Gandring. Tetapi kuda itu tidak dapat bertanya, “Apakah kau sudah
makan pula Empu?”
Untunglah, bahwa Empu Gandring telah membiasakan dirinya
untuk tidak menyentuh makanan sampai beberapa hari, sehingga
karena kebiasaan itu, ia menjadi sangat tahan untuk menahan lapar
dan dahaga.
Ketika terpandang oleh Empu Gandring tidak jauh dari tempat itu
pedukuhan kecil yang hijau, yang bernama Kemundungan, maka
timbullah keinginannya untuk memasukinya. Mungkin di sana ia
akan mendapat keterangan tentang Kebo Sindet atau Kuda
Sempana. Mungkin orang-orang itu melihat atau pernah mendengar
dimana Kebo Sindet sering bersembunyi apabila ia tidak kembali ke
gubugnya, atau barangkali Kebo Sindet mempunyai rumah yang lain
selain rumahnya itu.
Dengan demikian maka Empu Gandring itu pun segera meloncat
ke punggung kudanya dan kudanya itu pun kemudian berlari ke
Kemundungan. Tetapi kuda itu tidak berlari terlampau kencang.
Empu Gandring tidak ingin membuat orang-orang Kemundungan
menjadi terkejut karenanya.
Ketika Empu Gandring memasuki pedukuhan itu, maka segera ia
mengetahui bahwa padukuhan itu adalah pedukuhan yang sangat
miskin. Tanahnya yang subur tidak cukup luas untuk dapat memberi
mereka makan secukupnya. Meskipun ada juga daerah-daerah yang
dapat ditanami pada musim hujan, tetapi hasilnya tidak cukup
memuaskan. Pedukuhan itu hampir-hampir dikitari oleh bukit-bukit
gundul yang tandus.
“Aneh” gumam Empu Gandring, “ada juga orang yang kerasan
tinggal di daerah seperti ini. Kalau mereka mau pindah ke daerah
Lulumbang, maka di sana akan dapat digarap tanah persawahan
yang cukup baik dibandingkan dengan tanah yang cengkar ini.
Kenapa mereka tidak berusaha seperti orang-orang Panawijen,
membuat bendungan atau apapun yang dapat mengairi tanah di
sekitar padukuhan ini, atau pindah berpencaran mencari tempattempat
baru yang lebih baik?”
Pertanyaan itu telah menyertainya memasuki padesan itu
semakin dalam. Dilewatinya lorong-lorong sempit di antara
rumahrumah
kecil dari bambu beratap ilalang. Halaman-halaman berpagar
batu yang dilekatkan dengan tanah yang agak liat.
Sekali-kali Empu Gandring melihat seorang dua orang
menjengukkan kepalanya lewat pintu-pintu yang sudah terbuka,
tetapi kepala-kepala itu pun segera lenyap kembali di balik
dinding.
“Aku harus menemukan rumah tetua padesan ini” desis Empu
Gandring seorang diri, “mungkin seorang buyut, atau mungkin
seorang yang sekedar dianggap tertua di padukuhan ini”.
Tetapi Empu Gandring tidak menemukan seorang pun yang
dapat ditanyainya.
Namun akhirnya orang itu menemukan sebuah rumah yang agak
lebih baik dari rumah-rumah di sekitarnya. Agak lebih besar dan
halamannya agak lebih luas. Pada dinding halaman depan
didapatinya sebuah regol yang sangat sederhana, bahkan telah agak
condong terdesak oleh umur.
“Aku harus mendapatkan seseorang yang dapat aku ajak
berbicara. Mungkin di dalam rumah ini”.
Empu Gandring itu pun kemudian turun dari kudanya dan
dituntunnya kudanya memasuki halaman rumah itu. Dengan hatihati
diamatinya segenap bagiannya. Sudut-sudut halaman dan
setiap pepohonan. Ternyata di halaman itu pun tumbuh berbagai
macam tumbuh-tumbuhan liar yang tidak terpelihara.
“Apakah aku salah masuk?” katanya di dalam hati, “tetapi rumah
ini adalah rumah yang terbaik yang terdapat di padesan ini”.
Kemudian Empu Gandring itu pun menambatkan kudanya.
Mengingsar sedikit keris di punggungnya, dan kemudian perlahanlahan
berjalan ke arah pintu yang hanya terbuka sedikit.
Sampai di muka pintu, Empu Gandring itu menjadi ragu-ragu .
Tetapi ia tidak mempunyai cara lain untuk mengetahui serba sedikit
tentang padukuhan itu, bahkan apabila mungkin mengenai Kebo
Sindet dan kebiasaan-kebiasaannya.
Maka Empu Gandring itu pun kemudian melangkah semakin
dekat, dan dengan perlahan-lahan mengetuk pintu rumah itu.
Sekali dua kali, tak ada jawaban dari dalam. Tetapi ketika Empu
Gandring mengetuk semakin keras, maka terdengar suara orang
membentak dari dalam, “He, siapa itu?”
Empu Gandring terkejut mendengar jawaban yang sama sekali
tidak disangkanya. Dari lontaran suaranya maka Empu Gandring
sudah menduga bahwa orang itu sama sekali bukan orang yang
ramah.
“Siapa he?” terdengar teriakan itu lagi.
“Aku” sahut Empu Gandring.
“Aku siapa he, apakah kau tidak mempunyai nama?” Empu
Gandring menarik nafas. Orang apakah yang sedang dihadapinya
kini?
“Aku, Empu Gandring” terpaksa ia menjawab.
“Empu Gandring” suara itu mengulangi, “aku belum pernah
mengenal namamu. Apakah kau bukan orang Kemundungan?”
“Bukan. Aku bukan orang Kemundungan”.
“Persetan dengan kau. Agaknya kau belum mengenal daerah ini”.
Empu Gandring tidak menjawab lagi. Tetapi kata-kata terakhir
orang di dalam rumah itu menarik perhatiannya.
Sesaat kemudian ia melihat seorang yang bertubuh tinggi kekar
muncul dari dalam rumah itu. Wajahnya yang keras dan pandangan
matanya yang penuh mengandung kecurigaan, sama sekali tidak
menyenangkan Tetapi Empu Gandring tidak mau berprasangka,
meskipun ia tidak meninggalkan kewaspadaan.
Dengan tajamnya orang itu memandangi Empu Gandring dari
ujung jari kakinya sampai keujung rambutnya yang telah menjadi
dua warna. Seolah-olah orang itu keheranan, bahwa dihadapannya
berdiri seorang tua yang bernama Empu Gandring.
“Kaukah yang menyebut dirimu Empu Gandring?”
“Ya, Ngger” jawab Empu Gandring.
“Umurku hampir setua umurmu. Kau panggil aku dengan
panggilan itu?”
“Eh, Benarkah? Maaf” sahut Empu Gandring, “kalau begitu kau
benar-benar awet muda. Aku sangka umurmu sebaya dengan umur
anakku wuragil”.
“Persetan. Aku tidak peduli. Tetapi apa maumu datang kemari.
Apa lagi kau berani memasuki daerah Kemundungan dengan
membawa senjata, seolah-olah kau laki-laki sendiri di muka bumi
ini”.
“O, maafkan aku adi” berkata Empu Gandring, “tetapi sebenarnya
senjataku sama sekali tidak berarti. Aku membawanya sebagai
kawan dalam perjalanan apabila aku melewati hutan ilalang, supaya
aku mempunyai alat untuk menebasnya”.
Sejenak orang itu berdiam diri. Tetapi matanya tidak berkedip
memandang hulu keris Empu Gandring yang mencuat dari balik
punggungnya. Namun orang itu kemudian berkata, “Aku tidak peduli
pada macam senjatamu, tetapi kedatanganmu kedaerah ini dengan
senjata itu akan membahayakan nyawamu”.
“Kenapa?” bertanya Empu Gandring.
“Buang saja senjatamu itu ke dalam jurang di pinggiran desa ini.
Kemudian pergilah meninggalkan Kemundungan. Jangan kembali
lagi, supaya kau tidak diterkam anjing hutan”.
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia
bertanya, “Bukankah senjata ini betapapun jeleknya, akan berguna
bagi keselamatanku apabila aku bertemu dengan anjing hutan?”
“Tak ada gunanya. Anjing itu tidak hanya satu. Tidak hanya
sepuluh. Bahkan tidak hanya lima belas”.
“Apalagi kalau aku tidak bersenjata” potong Empu Gandring.
“Persetan” teriak orang itu, “tetapi buang senjatamu”.
“Anjing-anjing hutan tidak akan dapat membedakan, apakah
seseorang bersenjata atau tidak”.
“Bodoh kau” orang itu semakin berteriak. Ternyata teriakkannya
telah didengar oleh beberapa orang tetangganya, yang kemudian
menjenguk dari pintu rumahnya atau bahkan keluar halaman
melihat apa yang terjadi, “Bahaya yang dapat menerkam nyawamu
bukan saja anjing-anjing hutan itu”.
Dahi Empu Gandring itu pun berkerut. Tetapi ia mencoba
menghilangkan setiap kesan yang dapat ditangkapnya dari mulut
orang itu di wajahnya. Bahkan ia bertanya, “Bukan saja dari anjing
hutan itu? Lalu dari siapa lagi”.
“Persetan. Dari setan belang atau dari hantu tetekan. Tetapi
bahaya itu akan menerkammu dari segenap arah”.
“Tetapi aku selamat sampai ke tempat ini”.
“O, alangkah bodohnya kau. Alangkah bodohnya kau” orang itu
pun berteriak keras-keras, tetapi tiba-tiba suaranya menurun
perlahan, tetapi masih juga tajam, “Kau bodoh. Adalah kebetulan
bahwa kau selamat sampai padesan ini, meskipun kau bersenjata.
Tetapi senjatamu itu justru berbahaya bagimu. Kau dengar”.
“Ya, ya aku dengar” sahut Empu Gandring. Tiba-tiba kesannya
terhadap orang itu pun berubah. Orang itu memang seorang yang
kasar dan sama sekali tidak ramah. Tetapi maksudnya
memberitahukan kepadanya adanya bahaya yang mengancamnya
itu benar-benar di luar dugaanya. Ternyata orang itu adalah orang
yang baik. Tetapi maksud yang baik itu diungkapkannya dengan
caranya yang kasar dan tidak menyenangkan.
“Kalau kau tidak bersenjata” berkata orang itu, “mungkin kau
akan keluar dengan selamat dari daerah ini. Tetapi kalau masih juga
kau bawa kerismu yang besar dan yang kecil itu. maka bangkaimu
tidak akan dapat diketemukan kembali. Bangkaimu akan
dicincangnya sampai lumat untuk memberi makan anjing-anjing
hutan supaya mereka tidak mengganggu ternak padesan ini yang
tidak seberapa jumlahnya”. Namun dengan demikian Kemendungan
menjadi semakin menarik bagi Empu Gandring.
Empu Gandring masih juga berdiam diri, tegak di tempatnya.
Tanpa sesadarnya ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Samarsamar
ia dapat meraba, apakah sebabnya orang itu berkeras
mengusirnya dan bahkan menyuruhnya membuang senjatanya.
Orang itu sama sekali tidak ingin merampas apalagi memiliki senjata
itu. Tidak pula karena ia ingin mencelakainya. Tetapi bahkan
sebaliknya. Orang yang kasar itu ingin menyelamatkannya.
“He” bentak orang itu, “kenapa kau berdiri saja seperti patung.
Apakah kau menunggu nyawamu dicabut dari tubuhmu?”
“Tidak Ki Sanak” sahut Empu Gandring, “aku dapat mengerti
maksudmu. Karena itu aku mengucapkan terima kasih. Tetapi adi
tidak usah mencemaskan nasibku. Aku akan mencoba untuk
menyelamatkan diriku sendiri”.
“O, kau benar-benar orang gila. Aku bisa memaksamu.
Mengambil senjatamu dan membuangnya jauh-jauh”.
Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Memang di
sepanjang hidupnya ia sering menjumpai orang-orang yang
demikian. Orang yang bermaksud baik, tetapi caranya benar-benar
tidak dapat dimengerti. Seperti kanak-kanak yang tidak ingin
melihat adiknya terperosok ke dalam kubangan. Untuk
mencegahnya, kadang-kadang adiknya itu pun dipukulinya.
Meskipun maksudnya baik, tetapi adik itu menangis sejadi-jadinya.
“Apakah kau tuli” teriak orang kasar itu.
“Baiklah Ki Sanak. Aku akan menurut seperti yang kau
nasehatkan itu. Tetapi apakah adi dapat memberitahukan kepadaku,
apakah sebabnya maka aku harus berbuat demikian”.
“Tutup mulutmu” bentak orang itu, “jangan terlampau banyak
bicara. Kau hanya dapat melakukannya”.
“Bukankah lebih baik bagiku apabila aku melakukan sesuatu
dengan pengertian yang baik. Bukan sekedar melakukannya tanpa
mengetahui maksudnya”.
Ternyata orang yang bertubuh kekar itu tidak dapat lagi
mengendalikan kemarahannya. Dengan serta-merta ia meloncat dan
langsung menampar wajah Empu Gandring.
Empu Gandring adalah orang yang hampir mumpuni akan ilmu
kanuragan. Ia melihat gerak orang itu. Ia mengerti apa yang akan
dilakukan. Tetapi Empu Gandring itu tidak beranjak dari tempatnya.
Dibiarkannya tangan orang itu mengenai wajahnya yang sudah
mulai berkerut-merut dilukisi oleh garis-garis umur.
Ketika tangan orang itu hampir menyentuh wajahnya, barulah
Empu Gandring menggerakkan kepalanya, searah dengan gerak
tangan orang itu. Meskipun tangan orang itu merasa mengenai
wajah Empu Gandring, tetapi Empu Gandring hampir-hampir tidak
merasakan sentuhan itu, seperti yang sudah di perhitungkannya.
Namun Empu Gandring itu pun melangkah surut sambil berdesak
pendek. “Jangan adi”.
“Kau tidak mau mendengar kata-kataku” teriak orang kasar itu,
“aku harus memaksamu. Kalau perlu, akulah yang akan
membunuhmu”.
Empu Gandring tahu benar, bahwa orang itu hanya menakutnakutinya.
Tetapi ia memerlukan keterangan tentang Kebo Sindet
segera. Karena itu, maka ia harus segera pula mendapat
kesempatan bertanya. Maka orang tua itu tidak banyak lagi
mempunyai waktu untuk melayaninya. Ia harus langsung mendapat
jalan untuk mendapatkan beberapa keterangan tentang iblis
Kemundungan. Maka katanya, “Adi. Sekali lagi aku mengucapkan
terima kasih. Aku tahu bahwa kau ingin menyelamatkan aku dari
tangan orang yang barangkali ditakuti di daerah ini, bukankah
begitu?”
Orang itu telah mengangkat tangannya kembali, tetapi Empu
Gandring mencegahnya, “Jangan Ki Sanak. Pertanyaan ini adalah
pertanyaan yang terakhir”.
“Itu bukan urusanmu. Pergi atau kau mati di Kemundungan. Kau
telah memasuki daerah ini dengan membawa senjata. Hanya akulah
yang boleh bersenjata di daerah ini meskipun bukan atas
kehendakku sendiri. Aku harus membunuh setiap orang asing yang
aku curigai, apalagi yang membawa senjata. Tetapi lebih baik
bagimu untuk segera pergi dan jangan mencoba kembali. Jangan
bertanya lagi. Kalau kau bertanya lagi, aku akan memukul mulutmu
sampai hancur”.
“Baik” berkata Empu Gandring, “Aku tidak akan bertanya, tetapi
aku akan menebak. Tunggu, jangan terlampau lekas marah.
Bukankah menebak berbeda dengan bertanya? Nah, bukankah kau
harus berbuat demikian itu karena di sebelah padesan ini, di lereng
bukit gundul tinggal orang-orang yang bernama Kebo Sindet dan
Wong Sarimpat?”
Wajah orang itu tiba-tiba menegang. Sejenak ia berdiri diam
tanpa mengucapkan jawaban.
“Kebo Sindet dan Wong Sarimpat ingin merahasiakan dirinya
sejauh-jauh mungkin. Kau, yang agaknya orang terkuat di
Kemundungan, harus membantunya. Kalau tidak maka kau sendiri
akan mengalami bencana. Bukankah begitu? Aku tidak bertanya,
aku hanya menebak”.
Orang itu masih diam mematung. Dipandanginya wajah Empu
Gandring dengan tanpa berkedip.
“Tetapi kau orang baik. Sebenarnya kau tidak ingin berbuat
demikian. Karena itu kau berusaha mengusir aku. Bukankah kau
seharusnya membunuh aku?”
Terdengar gigi orang itu gemeretak. Dengan suara parau ia
berkata, “Mulutmu memang lancang sekali. Kau mengetahui rahasia
yang tersimpan di Kemundungan. Sebenarnya aku sayang akan
nyawamu orang tua. Tetapi karena kau menebak tepat, maka kau
benar-benar akan aku bunuh”.
“Sebaiknya kau tidak melakukannya. Apabila Kebo Sindet marah
karenanya, maka biarlah ia marah kepadaku” sahut Empu Gandring,
“ketahuilah, bahwa aku datang kemari sengaja untuk mencari Kebo
Sindet itu. Tetapi semalam suntuk aku menunggu rumahnya, orang
itu tidak datang. Dengan demikian maka aku akan mencoba mencari
keterangan tentang orang itu di padesan ini”.
Sejenak orang itu seakan-akan membeku. Kata-kata Empu
Gandring itu benar-benar telah menggoncangkan dadanya. Kebo
Sindet dan Wong Sarimpat bagi orang-orang Kemundungan
merupakan hantu yang tidak dapat disentuh meskipun hanya
dengan kata-kata. Tiba-tiba seseorang datang untuk mencarinya.
Dalam kebingungan orang itu bertanya di dalam hatinya, “Apakah
orang ini kawan Kebo Sindet? Kalau demikian, alangkah
mengerikan. Aku telah menampar wajahnya. Mudah-mudahan orang
ini belum mengenal siapa Kebo Sindet itu’.
Karena orang itu tidak segera menjawab, maka Empu Gandring
pun berkata pula, “Bagaimana adi, apakah kau dapat memberi aku
beberapa keterangan mengenai Kebo Sindet dan Wong Sarimpat?”
Orang itu tidak segera Menjawab. Sekali lagi ia memandangi
Empu Gandring dari ujung kakinya sampai keujung rambutnya yang
sudah mulai keputih-putihan.
“Apakah pertanyaanku aneh?” Berkata Empu Gandring pula.
Orang itu menelan ludahnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya,
“Siapakah sebenarnya kau? Apakah kau sudah mengenalnya atau
belum?”
“Aku sudah mengenal Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Aku
sudah bertemu dengan orang-orang itu. Tetapi ketika aku
menungguinya di rumahnya, mereka tidak kunjung datang. Yang
tidak aku ketahui adalah, apakah mereka mempunyai sarang yang
lain selain gubugnya di bukit gundul itu, atau tempat-tempat
persembunyian yang lain? Setidak-tidaknya aku ingin mengerti,
kemana saja orang-orang itu sering pergi dan apa saja yang
dilakukannya setiap hari”.
Orang yang bertubuh kekar itu masih juga dicengkam oleh
keragu-raguanan. Tetapi ia tidak mau menunjukkan kelemahannya
itu. Bahkan kemudian ia masih membentak, meskipun terasa nada
kebimbangannya, “Apakah perlumu mencarinya? Apakah kau ingin
mati? Kalau kau sudah mengenalnya, maka mustahil kau mencari
sampai ke rumahnya. Kau pasti akan lari menjauhi dan bahkan
bersembunyi sepanjang umurmu”.
Empu Gandring dapat mengerti pertanyaan itu. Bagi orang-orang
Kemundungan, maka Kebo Sindet adalah hantu yang paling
menakutkan. Orang-orang di padesan ini pasti tidak akan berani
melanggar pantangan yang diberikan oleh iblis itu. Tetapi ia
memerlukannya, memerlukan keterangan itu.
“Ki Sanak” berkata Empu Gandring, “apakah kau mengetahui
serba sedikit tentang Kebo Sindet?”
“Jangan menggigau” orang itu masih membentak, “pergi dari
sini, atau aku akan membunuhmu?”
Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Terasa sulitnya
untuk mendapatkan sedikit saja keterangan tentang orang itu.
Apakah orang itu akan dipaksanya untuk berbicara? Tetapi
bagaimana kalau ia benar-benar tidak tahu apa-apa tentang Kebo
Sindet dan Wong Sarimpat?
Kini Empu Gandring pun menjadi ragu-ragu pula. Ia pasti akan
mampu menankap orang itu, memilin tangannya dan memaksanya
berbicara, tetapi apakah ia akan sampai hati berbuat demikian.
Mungkin orang itu akan berbicara pula, tetapi orang itu untuk
seterusnya pasti akan selalu dibayangi oleh ketakutan dan
kecemasan. Mungkin ia akan kehilangan keseimbangan karena
ketakutannya, sehingga orang itu akan berbuat sesuatu yang tidak
sepantasnya. Membunuh diri atau lari bersembunyi dan tidak berani
muncul kembali diantara manusia.
Tiba-tiba Empu Gandring itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
Ia telah menemukan cara itu. Meskipun mungkin agak tidak
disenanginya sendiri. Orang tua itu bukan seorang yang biasa
menyombongkan dirinya, menunjukkan kelebihannya kepada orang
lain. Tetapi cara ini, menyombongkan dirinya, masih lebih baik dari
memaksa dan menyakiti orang itu untuk berbicara.
Karena itulah maka tiba-tiba pula Empu Gandring itu berdiri
bertolak pinggang. Katanya lantang, “He, ki Sanak. Aku sudah
bersabar bertanya kepadamu tentang Kebo Sindet. Tetapi kau sama
sekali tidak menghiraukannya. Bahkan kau selalu mengancam dan
menakut-nakuti aku. Aku bukan anak kecil lagi. Rambutku telah
berubah menjadi dua warna. Wajahku pun telah mulai berkerutmerut.
Karena itu, aku sudah tidak akan mengenal takut lagi.
Umurku sudah sampai pada lingsir sore. Sebentar lagi, ibarat
matahari, pasti akan terbenam. Karena itu, jangan memaksa lagi
aku pergi. Jangan menakut-nakuti aku lagi. Aku tidak takut
meskipun Kebo Sindet itu sendiri yang datang kemari sekarang ini.
Nah, sekarang kau mau apa?”
Wajah orang itu pun segera berubah. Selangkah ia mundur.
Tanpa dikehendakinya sendiri wajahnya pun kemudian beredar ke
halaman rumah-rumah di sekitarnya. Sekilas ia melihat beberapa
orang tetangganya menyaksikan keributan itu. Beberapa orang
lakilaki
kurus dengan pakaian yang kumal berdiri dengan gemetar,
sedang beberapa anak muda yang berwajah pucat menyaksikannya
dengan berdebar-debar. Orang yang bertubuh kekar itu adalah
orang yang ditakuti di padepokan itu. Orang itu seakan-akan
menjadi wakil dari Kebo Sindet dan Wong Sarimpat untuk
melakukan semacam pungutan dan sebagainya. Meskipun orang
itulah yang pertama-tama menentang sikap Kebo Sindet, dan
bahkan hanya orang itulah yang berani melawannya, tetapi ia tidak
berdaya menghadapi iblis yang bernama Kebo Sindet dan Wong
Sarimpat. Bahkan dengan licik maka Kebo Sindet dan Wong
Sarimpat telah memaksanya untuk melakukan pekerjaan untuk
mereka, pekerjaan yang justru bertentangan dengan keinginannya
sendiri. Tetapi selagi ia masih ingin hidup, maka ia tidak akan
dapat
ingkar. Ia harus melakukan pemerasan dan pemaksaan terhadap
kawan-kawan sedesanya. Namun dalam saat-saat yang
memungkinkan ia masih juga merasa bahwa lingkungannya itu
harus mendapat perlindungan. Tetapi apa yang dilakukannya sama
sekali tidak berarti. Sehingga untuk seterusnya orang itu harus
melakukan pekerjaan yang bertentangan dengan suara batinya.
Tetapi hatinya itu tidak cukup kuat untuk mempertahankan
suaranya, sehingga ia masih mementingkan hidupnya daripada
membela pendiriannya.
Menghadapi Empu Gandring orang itu menjadi ragu-ragu. Ia
ingin mengusir orang yang bernama Empu Gandring untuk
menghindarkan diri dari pertengkaran atau perkelahian. Sebab
adalah menjadi kuwajibannya untuk membunuh orang-orang yang
pantas dicurigai. Kalau ia tidak berbasil, maka nasib orang itu pun
tidak akan menjadi lebih baik. Setiap kali ada orang yang berkeras
kepala, dan ia menjumpai kesulitan untuk mengusirnya maka orang
itu pasti akan mati dengan cara yang menyedihkan. Sebab setiap
kali Kebo Sindet atau Wong Sarimpat pasti akan bertindak sendiri
atas orang itu.
Beberapa puluh kali ia menyaksikan bagaimana Kebo Sindet atau
Wong Sarimpat atau kedua-duanya melakukan hal serupa itu.
Bahkan orang yang tersesat, masuk ke padesan ini untuk bertanya,
akhirnya orang itu tidak lagi dapat keluar dari desa ini. Hanya
orang-orang yang bernasib baik, yang kebetulan segera menjadi
takut kepada orang Kemundungan yang kekar itu dan lari tanpa
dilihat oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat lah yang masih dapat
meninggalkan padesan ini dengan tubuhnya.
Tetapi kini orang Kemundungan yang kekar itu tidak berhasil
menakut-nakuti Empu Gandring. Bahkan orang tua itu kini berdiri
bertolak pinggang dan menantangnya.
Orang yang bertubuh kekar itu tiba-tiba menarik nafas dalamdalam.
Ia sadar sepenuhnya, dengan siapa ia berhadapan. Setelah
beberapa lama ia berbicara serta melihat sikap dan mendengar
kata-kata Empu Gandring, maka orang Kemundungan dapat
menduga, bahwa orang ini bukan orang kebanyakan.
“Bagaimana Ki Sanak?” tiba-tiba Empu Gandring bertanya,
“Apakah kau bersedia memberi aku beberapa penjelasan mengenai
Kebo Sindet?”
Orang yang bertubuh kekar itu menjadi semakin ragu-ragu.
Sekali lagi ia memandangi orang-orang di sekelilingnya. Tetapi ia
masih tetap diam.
Empu Gandring melihat sikap orang itu. Sikap yang bagi Empu
Gandring cukup memberi petunjuk, bahwa orang itu akan dapat
memberikan beberapa isyarat kepada kawan-kawannya.
“Hem” Empu Gandring bergumam, “apa yang akan kau lakukan?”
Orang itu tidak menjawab, tetapi ia mundur selangkah.
“Ki Sanak.” berkata Empu Gandring kemudian, “aku dapat
mengerti hampir sebagian besar dari apa yang sering terjadi disini“
sejenak Empu Gandring berhenti. Ditatapnya wajah orang yang
bertubuh kekar itu. Pengalaman yang mengendap di dalam dada
Empu Gandring ternyata mampu menangkap apa yang sebenarnya
sedang dihadapi. Katanya seterusnya, “Bukankah kau akan
memberikan isyarat bahwa ada seseorang yang tak dapat kau
kuasai? Adi, ternyata kau tidak dapat bersikap dalam pendirianmu
sendiri. Kau masih terombang-ambing di dalam arus angin pusaran.
Kau harus tunduk kemana angin bertiup, supaya kau tidak roboh
karenanya. Tetapi bahwa kau telah berusaha untuk berbuat baik itu
pantas sekali dihargai. Tetapi belum lagi sesilir bawang kau sudah
berpikir untuk memberikan tanda atau isyarat kepada Kebo Sindet
dan Wong Sarimpat. Kau tahu akibat dari isyaratmu atas orang yang
kau anggap tidak dapat kau kuasai itu. Tetapi hal itu kau lakukan
juga karena kau takut dirimu sendiri akan mendapat akibat yang
tidak menyenangkan”.
Orang yang bertubuh kekar itu masih berdiri di tempatnya. Kini
wajahnya menjadi semakin tegang. Hatinya menjadi semakin
bimbang dan bahkan menjadi bingung.
“Tetapi kalau kau berkeras untuk melakukannya, memberi isyarat
itu, maka aku tidak akan berkeberatan. Semalam suntuk aku
menunggunya, tetapi ia tidak kunjung datang. Kalau mendengar
isyaratmu ia akan datang kemari, maka aku akan sangat
berterimakasih
kepadamu.
Hati orang itu menjadi semakin berdebar-debar. Agaknya orang
tua ini memang orang tua yang mempunyai beberapa kelebihan.
Tetapi meskipun demikian orang itu tidak segera berbuat sesuatu.
Dipandanginya saja Empu Gandring itu dengan berbagai perasaan
yang aneh di dalam dirinya.
“Kenapa kau masih saja berdiam diri? Ayo, berikan isyarat itu.
Mungkin seseorang akan memanggilnya atau dengan tanda lain,
kentongan misalnya”.
Orang itu menjadi semakin bingung. Belum pernah ia
berhadapan dengan seorang yang dengan beraninya menghadapi
Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Hanya orang-orang yang belum
mengenalnya sajajalah yang berani mencoba melawannya, justru
karena orang-orang itu tidak tahu, siapakah Kebo Sindet dan Wong
Sarimpat. Tetapi orang ini sudah mengenalnya, bahkan
menunggunya semalam suntuk.
“Ayo, apalagi yang kau tunggu?”
Tiba-tiba orang itu menggelengkan kepalanya, katanya, “Tidak.
Aku tidak akan memberikan isyarat apapun”.
“Kenapa?”
“Kau mempunyai kesan yang lain bagiku. Ternyata kau sama
sekali tidak takut terhadap Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.
Mungkin kau adalah seorang yang pilih tanding seperti Kebo Sindet
dan Wong Sarimpat. Tetapi mungkin kau juga belum mengetahui
sepenuhnya tentang orang itu”.
“Aku sudah mengenalnya dengan baik. Aku sudah bertempur
melawannya dan ia melarikan diri”.
Meskipun orang itu sudah menduga bahwa Empu Gandring
termasuk seorang yang pilih tanding, tetapi ketika ia mendengar
bahwa Kebo Sindet melarikan dirinya, maka dadanya berdesir.
“Apakah kau tidak percaya?”
Orang itu tidak menjawab. Tetapi apabila benar demikian, maka
orang ini adalah orang yang aneh. Ia telah menampar wajah orang
itu tanpa berbuat sesuatu. Kenapa ia bersikap demikian? Apabila hal
itu terjadi atas Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, maka akibatnya
sudah dapat dibayangkan. Alangkah malangnya nasib orang yang
demikian.
Tetapi meskipun demikian kecemasannya masih juga
mencengkam hatinya. Apakah orang ini sengaja membiarkannya
dahulu sebelum ia berbuat sesuatu. Memberinya waktu untuk
merasakan betapa sakitnya perasaan takut yang menusuk-nusuk
jantung?
Orang itu terkejut ketika Empu Gandring membentaknya, “He,
kenapa kau diam saja? Ayo, berbuatlah sesuatu. Memberi isyarat
kepada Kebo Sindet, memanggilnya atau kalau kau merasa dirimu
sanggup, lawanlah aku. Bukankah menjadi kewajibanmu untuk
berbuat demikian?” Tetapi karena bukan kebiasaan Empu Gandring
menakut-nakuti orang, maka kata-katanya pun berloncatan seolaholah
tidak tersusun dengan baik. Namun justru karena itu, kesan
yang timbul di dalam hati orang itu menjadi semakin
mencemaskannya.
Sekali lagi orang itu menggeleng, jawabnya, “Tidak. Aku tidak
akan memberinya isyarat apapun”.
“Oh, jadi kau sendiri akan melawan aku berkelahi?”
“Juga tidak” orang itu menggeleng lagi.
“Lalu apa yang akan kau lakukan? Bukankah kau sudah mulai
menampar mukaku. Dan bukankah kau sudah mengancam aku
supaya aku tidak bertanya-tanya lagi?”
Dada orang itu berdesir. Ternyata orang tua itu mulai
mengungkit-ungkit kelancangannya.
“Aku tidak akan berbuat sesuatu” berkata orang itu.
Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam mendengar
jawabannya. Maka katanya, “Baiklah, kalau kau tidak ingin berbuat
sesuatu, maka aku pun tidak akan berbuat sesuatu pula atasmu.
Tetapi aku minta kau mengatakan kepadaku, apakah Kebo Sindet
mempunyai tempat yang lain selain gubugnya itu?”
Orang itu pun terdiam. Sekali lagi ia memandangi berkeliling.
Dilihatnya laki-laki kurus, anak-anak muda yang pucat,
perempuanperempuan
dikejauhan, masih memandanginya dengan penuh
pertanyaan.
“Hem” Empu Gandring bergumam, “aku tahu, kau takut kepada
Kebo Sindet, tetapi apakah kau tidak takut kepadaku? Kalau aku
mau, aku pun dapat berbuat seperti Kebo Sindet. Menangkapi kau
dan orang-orang Kemundungan, membunuh dengan cara yang
sering dilakukan oleh Kebo Sindet. Bukankah Kebo Sindet sering
membunuh korbannya dengan perlahan-lahan. Mengikatnya di
sarang semut atau memanggangnya di atas api yang tidak cukup
panas untuk mematikannya atau merebus dalam air hangat-hangat?
Nah, manakah yang kau kehendaki?”
Bulu-bulu orang itu meremang. Tiba-tiba ia telah kehilangan
kegarangannya. Belum lagi ia mencoba melawan, tetapi ia sudah
terpengaruh oleh kata-kata Empu Gandring. Meskipun demikian,
orang itu masih tetap ragu-ragu. Apakah benar Empu Gandring
mampu berbuat seperti Kobo Sindet? Antara percaya dan tidak,
maka orang itu berdiri kebingungan.
Empu Gandring dapat melihat keragu-raguan itu. Karena itu
maka ia harus menguasainya. Menghilangkan keragu-raguan itu
tanpa menyakitinya. Karena itu, maka tiba-tiba orang tua itu
melangkah mundur sambil berkata, “He orang Kemundungan. Aku
ingin kau berkata tentang Kebo Sindet. Aku tahu kau takut
kepadanya, tetapi aku pun mampu berbuat seperti orang itu.
Terserah kepadamu, siapakah yang akan kau takuti kemudian.
Tetapi aku peringatkan, apabila kau telah melihat apa yang aku
lakukan, dan kau tidak juga mau berkata tentang Kebo Sindet, maka
kau akan mengalami nasib yang menyedihkan.
Suara Empu Gandring itu menderu di telinga orang yang
bertubuh kekar itu seperti suara guntur yang meledak di langit.
Mengejutkan, menakutkan dan mencemaskan. Tetapi sebelum ia
sempat berbuat sesuatu, ia melibat Empu Gandring meloncat seperti
bilalang. Tanpa mereka lihat dengan mata, keris Empu Gandring
yang besar itu pun telah berada di dalam genggamannya.
“Ayo, katakan” katanya, “apa yang dapat dilakukan oleh Kebo
Sindet? Membelah batu itu, merobohkan pohon nyiur dengan
goloknya atau apa?”
Orang Kemundungan itu justru terbungkam. Tetapi tiba-tiba biji
matanya serasa meloncat dari pelupuknya ketika ia melihat keris
Empu Gandring berputar seperti baling-baling, sehingga Empu
Gandring sendiri seakan-akan hilang ditelan oleh pusaran kerisnya.
Belum lagi debar jantungnya mereda, maka orang itu sekali lagi
dikejutkan oleh suara berderak. Tiba-tiba ia melihat tiga batang
pohon tal roboh bersamaan, disusul oleh sebatang pohon siwalan
yang sedang berbuah lebat.
Kini orang itu seakan-akan membeku karenanya. Bukan saja
orang itu, tetapi orang-orang lain yang melihat pun menjadi ngeri.
Mereka pernah melihat Kebo Sindet membuat pengeram-eram. Dan
mereka pun menjadi ngeri. Tetapi kali ini mereka pun dicengkam
oleh perasaan yang serupa.
Sejenak kemudian orang Kemundungan yang bertubuh tinggi
kekar itu melihat Empu Gandring telah berdiri dihadapannya.
Kerisnya sudah tidak berada di dalam genggamannya lagi. Yang
dilihatnya adalah tangkai keris itu mencuat di belakang pundaknya.
“Apalagi yang dapat dilakukan oleh Kebo Sindet?” bertanya Empu
Gandring.
Dengan gemetar orang itu menjawab, “Tuan, aku mohon maaf
atas kelancanganku tuan. Barangkali tuan sangat marah kepadaku
karenanya”.
“Ya, aku sangat marah” sahut Empu Gandring, tetapi nada
suaranya tidak meyakinkan, “aku ingin membunuhmu,
mencincangmu atau menghukum picis karena kau sudah menampar
mukaku”.
“Ampun tuan. Bunuhlah aku, tetapi jangan dengan cara itu”.
“Sekehendakkulah. Tetapi kalau kau ingin bebas dari
penderitaan, maka katakan saja kepadaku, di mana Kebo Sindet
sering berada selain di dalam rumahnya itu?”
“Tak ada gunanya tuan. Kalau tuan tidak membunuh aku, maka
orang itulah yang akan membunuh aku. Bahkan mungkin dengan
cara yang lebih mengerikan. Karena itu, tolonglah tuan, bunuhlah
aku dengan cara yang agak baik, supaya aku tidak mengalami
penderitaan”.
Empu Ganring terkejut mendengar permintaan orang itu. Orang
itu merasa bahwa dirinya pasti akan mati. Kalau tidak dibunuh oleh
Empu Gandring maka Kebo Sindet lah yang akan membunuhnya.
Sehingga dengan demikian, maka orang itu telah benar-benar
menjadi putus asa. Kehadirannya di Padukuhan Kemundungan
ternyata telah membawa bencana bagi orang itu. Orang yang
sebenarnya baik hati, tetapi karena tekanan keadaan, akhirnya
menjadi seorang yang kasar dan tampak bengis.
Tetapi Empu Gandring tidak ingin membiarkannya ditelan
keputusasaan, sehingga timbulah keinginannya untuk menolong
orang itu, mclepaskannya dari ketakutan.
Empu Gandring itu pun kemudian bertanya, “Ki Sanak, kenapa
kau merasa bahwa kau harus mati? Kenapa kau tidak berbuat
sesuatu supaya kau dapat terlepas karenanya?”
“Tak ada gunanya. Kalau aku berbicara tentang Kebo Sindet
maka aku pasti akan dibunuhnya. Kalau aku tidak mau berbicara
maka tuan akan membunuh aku. Bukankah sudah jelas? Aku tidak
dapat melawan tuan seperti aku tidak akan mampu melawan Kebo
Sindet. Apakah yang dapat aku lakukan?”
Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Nah,
kalau demikian, kalau kau sudah pasti bahwa kau akan mati, kenapa
kau masih juga takut kepada Kebo Sindet? Dan bukankah Kebo
Sindet sekarang tidak ada di rumah ini sehingga ia tidak akan tahu
apa yang kau lakukan?”
“Kebo Sindet tahu segala-galanya. Seperti hantu ia tiba-tiba saja
muncul di segala tempat bersama adiknya Wong Sarimpat, atau
salah seorang dari mereka”.
“Omong kosong. Mereka adalah orang-orang biasa, Wong
Sarimpat ternyata dapat mati terbunuh seperti kebanyakan orang”.
“He” wajah orang itu menegang, “Wong Sarimpat terbunuh?”
“Ya” sahut Empu Gandring, “kami berkelahi berpasangan. Aku
berada sepihak dengan Empu Sada melawan kedua iblis. Ternyata
Wong Sarimpat terbunuh oleh lawannya dan Kebo Sindet
menghindari perkelahian”.
Orang yang bertubuh kekar itu terdiam sejenak. Tetapi matanya
memancarkan keragu-raguan. Sehingga, Empu Gandring berkata,
“Jangan ragu-ragu. Wong Sarimpat benar-benar telah terbunuh. Ia
sudah mati. Aku melihat sendiri mayatnya yang membeku akibat
sentuhan Aji Kala Bama”.
Orang yang bertubuh kekar itu masih saja berdiri mematung.
Dan Empu Gandring berkata terus, “Dengan demikian, maka
kekuasaannya di padukuhan ini pun pasti akan goyah”.
“Tetapi” tiba-tiba orang itu berkata, “Kebo Sindet itu pun mampu
melakukannya seorang diri. Membunuh aku dengan caranya”.
“Kau sudah merasa bahwa kau pasti akan mati. Apa lagi yang
kau takuti. Nah, sekarang sebaiknya kau katakan kepadaku apa
yang kau ketahui tentang Kebo Sindet itu”.
Sekali lagi orang itu terbungkam.
Dan Empu Gandring berkata seterusnya, “Berkatalah tentang iblis
itu. Bukankah kau lebih senang mati oleh tanganku dari pada oleh
iblis itu? Kalau kau harus mati juga, maka kau sudah berbuat
sesuatu yang baik bagiku, bagi orang lain dan bagi banyak orang”.
Orang itu masih tetap berdiam diri.
“Apalagi Kebo Sindet tidak berada di tempat ini. Ia tidak akan
tahu apa yang kau katakan kepadaku. Atau, dapatkah kau memilih?
Mati atau pergi bersamaku ke tempat lain . Apakah yang
sebenarnya mengikatmu di Kemundungan?”
Orang itu menggeleng lemah, “Tak ada tempat untuk
bersembunyi di kolong langit ini”.
“Bodoh. Itu terlampau berlebih-lebihan, menganggap Kebo
Sindet seakan-akan seorang yang mampu berbuat apa saja,
mengetahui apa saja. Tidak. Ia seorang biasa yang mengenal takut
dan cemas. Ternyata ia bersembunyi. Nah, apa katamu?”
Orang yang bertubuh kekar itu memandang Empu Gandring
dengan tajamnya. Tetapi kata-kata Empu Gandring yang terakhir itu
telah menyentuh hatinya. Memang, selama ini ia takut bukan buatan
kepada Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, sehingga seolah-olah
kedua orang itu bukan manusia biasa lagi. Tetapi menurut orang
yang berdiri dihadapannya, dan bernama Empu Gandring itu,
ternyata Wong Sarimpat dapat juga terbunuh dan Kebo Sindet
mengenal juga takut dan cemas.
“Bagaimana?” bertanya Empu Gandring, “aku ingin mendengar
serba sedikit tentang Kebo Sindet. Sesudah itu, kalau kau takut
tinggal di sini, pergilah ke Lulumbang, pedukuhan tempat tinggalku.
Kau dapat hidup di sana sebagai seorang petani yang wajar. Kau
akan dapat menjadi seorang yang baik, yang berbuat tanpa
bertentangan dengan panggilan hatimu. Menakut-nakuti orang,
bahkan menyakiti”.
Tiba-tiba orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya,
“Apakah mungkin begitu tuan?”
“Kenapa tidak?”
“Alangkah menyenangkan apabila itu bukan sekedar impian
saja”.
“Kenapa impian?”
“Tuan akan segera membunuh aku setelah aku berkata apa yang
aku ketahui tentang Kebo Sindet”.
“Itu bukan kebiasaanku Ki Sanak” sahut Empu Gandring.
Sekali lagi orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Hidup
sebagai seorang petani yang wajar adalah hidup yang diimpikannya
selama ini. Tetapi ia merasa bahwa hidup yang demikian itu tidak
akan pernah dihayatinya selama Kebo Sindet masih hidup di
Kemundungan. Sebab ia terpaksa melakukan hal-hal di luar
kemauannya sendiri.
“Apakah kau bersedia?” bertanya Empu Gandring.
Agaknya orang itu masih ragu-ragu. Tetapi akhirnya ia
mengangguk, “Marilah, masuklah ke rumah. Barangkali aku dapat
memenuhi keinginan tuan meskipun hanya beberapa hal yang
mungkin tak berarti bagi tuan”.
Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Agaknya ia berhasil
memaksa orang itu untuk berbicara dengan caranya. Meskipun nada
suara orang itu masih dipenuhi oleh kebimbangan, namun dengan
beberapa penjelasan nanti ia akan dapat meyakinkan, bahwa Kebo
Sindet kini tidak akan muncul segera di padukuhan ini.
Empu Gandring pun kemudian mengikuti orang itu masuk ke
dalam rumah yang agak lebih baik dari rumah-rumah di sekitarnya,
meskipun rumah itu sendiri adalah rumah gubug yang terlampau
sederhana.
Mereka pun kemudian duduk di atas sehelai tikar pandan yang
diayam kasar, yang terbentang di atas sebuah bale-bale bambu.
Sejenak Empu Gandring memperhatikan isi rumah itu. Tidak jauh
berbeda dengan gubug Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Rumah ini
hampir tidak berisi perabot lain yang lajim di dalam rumah tangga
yang wajar. Tetapi Empu Gandring menyadari, bahwa keadaan yang
sulitlah yang menyebabkan orang-orang di padukuhan ini tidak
sempat mengisi rumahnya dengan beberapa macam alat rumah
tangga yang diperlukan.
Di dalam rumah itu Empu Gandring melihat beberapa alat-alat
pertanian yang sudah usang tersangkut di dinding. Agaknya mereka
pun tidak sempat membuat atau. membeli alat-alat semacam itu.
“Inilah seluruh milikku” desah orang bertubuh kekar itu.
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia
bertanya, “Siapakah namamu Ki Sanak?”
Orang itu menarik nafas. Jawabnya, “Namaku Tambi”.
“Tambi” Empu Gandring mengulangi,
“Ya. Aku hidup sendiri di rumah ini. Isteri dan seorang anakku
mati Ketakutan. Mereka tidak tahan hidup seperti yang dialaminya.
Beberapa tahun mereka bertahan. Tetapi akhirnya perempuan itu
tidak kuat lagi. Anaknya masih kecil itu pun mati pula beberapa
bulan kemudian”.
Empu Gandring mengerutkan keningnya. Alangkah pahit hidup
orang yang bernama Tambi ini. Namun kenapa ia masih saja
bertahan tinggal di padukuhan ini?
Tetapi Empu Gandring tidak segera bertanya. Dibiarkannya saja
Tambi itu berbicara terus, “Tuan” berkata orang itu, “aku sendiri
selama ini harus melakukan pekerjaan yang tidak aku ingini. Setiap
kali aku harus bertengkar dengan diri sendiri. Dan setiap kali aku
terdorong dalam suatu tindakan yang sama sekali tidak
menyenangkan bagiku dan bagi keluargaku semasa isteriku masih
hidup. Hal-hal yang demikian itulah yang mempercepat kematian
isteriku”.
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia
terkejut ketika ia mendengar Tambi itu berkata, “Ketahuilah tuan,
bahwa isteriku masih mempunyai hubungan keluarga dengan Kebo
Sindet dan Wong Sarimpat”.
“Apakah isterimu itu masih bersaudara dengan keduanya?”
“Isteriku adalah saudara sepupunya. Dan kedua saudara sepupu
yang menurut aliran darah lebih muda itu, telah membuatnya
terlampau susah”.
“Apakah isterimu tidak pernah mencoba menasehatinya?”
bertanya Empu Gandring.
“Tak ada orang yang berani menasehatinya” jawab orang itu,
yang tiba saja menjadi gelisah. Dipandanginya sekeliling ruangan
itu
dan dicobanya untuk mendengarkan setiap desir di sekitarnya.
“Kebo Sindet tidak akan segera datang kemari” berkata Empu
Gandring, “apalagi kalau diketahuinya aku berada di sini”.
Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi
kegelisahannya masih terbayang di wajah serta sikapnya.
“Aku sekarang sudah tidak beranak dan beristeri. Seharusnya aku
sudah tidak takut lagi”.
“Memang kau tidak perlu takut, apalagi kalau kau sudah bersedia
untuk mati. Tetapi kau harus berusaha untuk tidak perlu
mengalaminya segera. Bermohonlah kepada Yang Maha Agung.
Namun kau pun harus berbuat. Kau dapat meninggalkan padukuhan
ini”.
Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Nah, aku hanya ingin tahu, di mana Kebo Sindet itu
bersembunyi?”
“Tak seorang pun tahu pasti” jawab Tambi.
Mendengar jawaban itu Empu Gandring menjadi kecewa. Hanya
itulah yang diharapkannya. Tetapi ia merasakan kejujuran jawaban
orang yang bernama Tambi itu.
“Tetapi” berkata Tambi kemudian. “Ia masih saja dikuasai oleh
kebimbangan, “ia sering pergi ke seberang hutan yang berrawarawa
itu”.
Empu Gandring mengerutkan keningnya. Katanya, “Yang kau
maksud hutan di sebelah bukit gundul itu?”
Tambi mengangguk, “Ya. Hutan itu tumbuh di tanah yang
berawa-rawa. Tanah yang sulit sekali untuk dilalui. Orang-orang
Kemundungan pun tidak berani menyeberangi rawa-rawa itu, selain
Kebo Sindet dan Wong Sarimpat”.
“Apakah ada jalan lain kecuali daerah yang berlumpur itu?”
Tambi menggeleng, “Tidak ada. Tempat itu dikelilingi oleh rawarawa
dari mana pun kita mendatanginya”.
“Hem” Empu Gandring menggeram, “setan itu benar-benar licin”.
“Selebihnya aku tidak tahu apa-apa, kecuali pada masa kecilnya”.
“Kau mengenalnya sejak kanak-kanak?”
“Anak itu anak Kemundungan sejak lahir” jawab Tambi, “seperti
aku dan isteriku juga anak Kemundungan sejak lahir. Tetapi kedua
anak itu lama sekali meninggalkan kampung halaman. Ketika
mereka kembali, mereka telah menjadi iblis.” Kata-kata itu
seakanakan
terloncat tanpa disadari. Namun sesudah itu, wajah Tambi
menjadi pucat. Sekali lagi ditebarkannya pandangan matanya
berkeliling, seolah-olah Kebo Sindet bersembunyi diantara
dindingdinding
bambu yang berlubang-lubang.
Empu Gandring melihat kegelisahan yang masih saja
mencengkam perasaan Tambi. Orang yang kekar itu masih saja
merasa dirinya selalu dibayangi oleh Kebo Sindet dan Wong
Sarimpat, sehingga ia sama sekali tidak dapat melepaskan diri dari
ketakutan dan kecemasan.
Sehingga Empu Gandring terpaksa memperingatkan lagi, “Ki
Sanak, jangan takut. Percayalah bahwa Kebo Sindet saat ini tidak
berada di Kemundungan. Kalau ia berada di sini, maka aku kira aku
tidak akan kemari, bertanya kepadamu tentang setan alasan itu”.
Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Seharusnya
aku sudah tidak boleh takut lagi. Hidupku seolah-olah sudah tidak
berarti sepeninggal isteri dan satu-satunya anakku. Tetapi
kadangkadang
aku masih merasa ngeri untuk mengalami dengan cara yang
tidak wajar. Aku tidak akan ingkar seandainya aku akan dipenggal
leherku atau ditusuk langsung kepusat jantung. Tetapi aku merasa
takut apabila aku melihat cara-cara yang sering dipergunakan oleh
kedua kakak beradik itu”.
Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Teringatlah ia
bahwa kemenakannya, Mahisa Agni kini berada ditangan iblis itu.
Tetapi menurut ceritera Empu Sada maka ada kemungkinan bahwa
Mahisa Agni tidak akan dibunuh segera oleh Kebo Sindet karena
nafsu orang itu untuk mendapatkan tebusan dari Ken Dedes, bakal
permaisuri Tunggul Ametung yang sangat mencintai kakaknya itu.
“Mudah-mudahan aku akan mendapat kesempatan” desis Empu
Gandring di dalam hatinya.
Sementara itu Tambi masih berbicara selanjutnya, “Apalagi Kebo
Sindet kini telah kehilangan adiknya, maka ia pasti akan menjadi
lebih gila lagi”.
“Tetapi jangan takut. Ia tidak ada disini”.
Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian
”Mungkin tuan benar. Orang itu tidak berada disini”.
“Percayalah. Karena itu katakan apa yang ingin kau katakan
kepadaku tentang Kebo Sindet”.
“Tetapi barangkali tidak akan dapat memberi tuan petunjuk
seperti yang tuan harapkan” jawab Tambi, “Yang aku ketahui justru
keadaan Kebo Sindet pada masa kanak-kanaknya. Ia adalah
seorang anak laki-laki dari keluarga yang sangat miskin di padukuan
ini. Apalagi sejak kelahiran adiknya Wong Sarimpat, maka keadaan
keluarganya menjadi semakin sulit”.
“Daerah ini daerah yang tandus” sela Empu Ganding.
“Sejak aku kanak-kanak” sahut orang itu.
“Kenapa orang-orang di sini kerasan tinggal di padukuhan yang
tandus ini? Kenapa mereka tidak mencari tempat tinggal yang lebih
baik?”
“Tanah ini adalah tanah peninggalan nenek-moyang. Di sini kami
dilahirkan. Dan di sini pula kami ingin dikuburkan”.
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Telah sering
benar ia mendengar pernyataan yang demikian. Betapa sulitnya
penghidupan, namun tanah pusaka nenek-moyang merupakan
tanah yang tidak boleh ditinggalkan. Hidup mati tanah itu adalah
tanah yang harus diwarisi, dipelihara dan didiaminya sepanjang
umurnya.
“Demikian juga pendirian keluarga Kebo Sindet itu. Betapa
kesulitan mencekik leher mereka, namun mereka tetap bertahan
hidup di daerah terpencil dan tandus ini.
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya, dan Tambi
berbicara terus, “Apalagi pada saat itu ada seorang yang paling
ditakuti di daerah ini. Seorang yang menghisap keringat kami
sampai darah kami pun dihisapnya. Keluargaku dan keluarga Kebo
Sindet harus bekerja, dari matahari terbit sampai matahari
terbenam, namun sebagian dari hasil kerja kami telah masuk ke
dalam lumbung orang yang kami takuti itu. Kami, termasuk Kebo
Sindet dan Wong Sarimpat, hampir-hampir tidak lagi dapat
bertahan. Sehari kami sempat makan satu kali, tetapi di hari
berikutnya kami tidak dapat mengenyam apa pun di mulut kami.
Sehingga akhirnya orang tua Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak
lagi dapat menahan diri. Seorang demi seorang mereka
meninggalkan kedua anaknya yang masih kecil-kecil. Yang mulamula
meninggal adalah ayahnya yang kurus kering dan sakitsakitan.
Kemudian menyusul ibunya. Sehingga dengan demikian
kedua anak itu menjadi yatim piatu. Satu-satunya keluarga yang
berkewajiban memeliharanya adalah orang tua isteriku. Namun
karena keadaannya sendiri yang pahit, maka kedua anak itu pun
dipeliharanya sesuai dengan kemampuannya”.
“Namun pada suatu hari kedua anak yang menjadi besar,
meskipun kurus kering dan pucat itu, menghilang. Tak seorang pun
yang tahu kemana mereka pergi. Keluarga isteriku berusaha
mencarinya juga. Mereka mencemaskannya, seandainya kedua
anak-anak itu diterkam oleh anjing-anjing liar di atas bukit
gundul.
Tetapi anak-anak itu tak dapat diketemukan”.
“Tetapi akhirnya kedua anak itu pun dilupakan. Bertahun-tahun
kemudian tidak seorang pun lagi yang pernah menyebut namanya.
Keluarga isteriku pun sudah tidak ingat lagi kepada mereka itu”.
“Namun adalah mengejutkan sekali, ketika kemudian padukuhan
ini didatangi oleh dua orang anak-anak muda yang gagah perkasa.
Dengan dua ekor kuda mereka memecahkan ketenangan
pedukuhan ini. Akhirnya diketahuilah bahwa kedua anak-anak muda
yang perkasa itu adalah Kebo Sindet dan Wong Sarimpat”.
“Mula-mula kedatangannya memberikan harapan kepada kami.
Yang mula-mula dikatakannya, bahkan dijanjikannya, adalah
menyingkirkan keluarga yang telah menghisap darah kami sampai
kering. Semula kami ragu-ragu. Orang itu adalah orang yang pilih
tanding. Sekian lama ia seakan-akan berkuasa di padukuhan ini
tanpa dapat dikalahkan. Apakah kedua anak-anak muda itu mampu
melakukannya?”
“Namun yang dilakukannya telah menggemparkan pedukuhan ini.
Seorang dari mereka, yang pada saat itu dilakukan oleh Wong
Sarimpat, dengan mudahnya dapat mengalahkan orang yang
selama ini berkuasa”. Tambi berhenti sejenak untuk menelan
ludahnya.
Empu Gandring mendengarkan ceritera itu dengan penuh minat.
Mungkin ceritera Tambi itu dapat dipercayanya. Meskipun ceritera
itu sama sekali tidak bersangkut-paut dengan pertanyaannya,
tentang persembunyian Kebo Sindet, namun ceritera itu dapat
memberikan gambaran tentang latar belakang dari kelakuan iblis
yang aneh itu.
Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Empu Gandring
berkata, “Apakah Wong Sarimpat berkelahi seorang diri tanpa
bantuan kakaknya ketika ia melawan orang yang sedang berkuasa
itu?”
“Ya” sabut Tambi, “Wong Sarimpat yang sedang tumbuh itu
dengan mudah dapat mengalahkan orang yang sedang berkuasa
itu, yang semakin lama telah menjadi semakin tua. Bahkan
beberapa orang pengikut dan pengawalnya pun dapat
dikalahkannya”.
“Apakah yang kau lakukan waktu itu, Ki Sanak?”
“Aku tidak berani berbuat apa-apa. Aku melihat kekuasaan itu
sejak aku masih kanak-kanak. Aku tidak pernah meninggalkan
padukuhan ini”.
Empu Gandring mengangguk-angguk lagi. Keningnya tampak
berkerut-merut.
“Pada saat-saat yang demikian itu, tumbuhlah harapan di hati
kami, bahwa kami tidak akan mengalami pemerasan lagi. Kami tidak
akan menjadi budak-budak yang tidak dapat berbuat apa-apa,
sebab nyawa kami terancam. Di sini sama sekali tidak ada
perlindungan atas jiwa kami. Kekuasaan orang itu benar-benar
mutlak”.
“Bagaimana dengan kekuasaan Tumapel dan Kediri?”
“Tak seorang pun yang sempat berpikir, bahwa kami dapat
memohon perlindungan. Seperti akhir-akhir ini kami pun tidak tahu
apa yang seharusnya kami lakukan? Tumapel apalagi Kediri
terlampau jauh. Bukan saja jaraknya, tetapi juga jauh dari hati
kami. Seolah-olah kami belum pernah mendengar nama-nama itu”.
Sekali lagi Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Tetapi” Tambi meneruskan, “ketika kami melihat apa yang
dilakukan oleh Wong Sarimpat pada saat ia mengakhiri perkelahian,
segera timbul kebimbangan di hati kami”.
“Kami menjadi sangat ngeri melihat Wong Sarimpat melepaskan
dendamnya kepada orang yang sedang berkuasa di padukuhan ini
pada saat itu. Apa yang dilakukannya sama sekali tidak terbayang di
dalam hati kami. Mungkin Wong Sarimpat merasa bahwa hidupnya
benar-benar telah tersia-sia karena perbuatan orang itu. Mungkin
dendam yang tak terbilang telah membakar jantungnya pada saat
itu, karena kematian kedua orang tuanya. Tetapi apa pun yang
menyebabkannya, namun keadaan telah membentuknya menjadi
seorang yang paling buas yang pernah aku lihat”.
Tambi berhenti sejenak. Kemudian sekali lagi ia memandangi
ruangan itu berkeliling. Akhirnya matanya berhenti menatap pintu
rumah yang masih terbuka.
“Sebaiknya aku menutup pintu itu”.
“Tidak perlu” jawab Empu Gandring, “biarlah Kebo Sindet melihat
aku disini apabila ia lewat di jalan di muka rumah ini”.
Tambi terdiam sejenak. Tetapi masih juga terbayang kegelisahan
dan kecemasan diwajahnya. Perlahan-lahan ia bergumam, “Ya, aku
sudah tidak takut lagi, memang seharusnya aku sudah tidak takut.
Tetapi kematian-kematian yang pernah aku saksikan adalah
mengerikan sekali. Atau barangkali tuan ingin membunuh aku saja?”
“Jangan berputus asa dan membunuh diri bagaimana pun
caranya” sahut Empu Gandring, “teruskan saja ceriteramu”.
Sekali lagi Tambi menelan ludahnya, seolah-olah
kerongkongannya tersumbat, “Baiklah” desisnya, “apa yang aku
katakan tadi?”
“Wong Sarimpat membunuh orang yang kalian anggap paling
berkuasa di sini”.
“Ya. Orang itu pun terbunuhlah. Tetapi harapan kami untuk
mendapat kebebasan ternyata sama sekali keliru. Setelah orang itu
mati, meskipun Kebo Sindet dan Wong Sarimpat selalu mengatakan
bahwa kita sudah sampai pada hari-hari yang kita tunggu-tunggu,
pembebasan, namun apa yang kita alami hampir tidak ada bedanya
sama sekali. Pemerasan dan perkosaan atas kebebasan hidup kami
sebagai manusia, Dan kami masih tetap mengalami hidup kami yang
lama. Bekerja dan bekerja. Sedang basil kerja kami harus kami
serahkan kepada Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Namun karena
mereka hanya berdua, dan mereka tidak memiliki lumbung yang
besar, maka untuk hal ini, kami mendapat keringanan. Kami hanya
menyerahkan hasil tanaman kami menurut kebutuhan dan
permintaan mereka. Sehingga dengan demikian, kami mendapat
makanan kami agak lebih banyak dari masa-masa lampau”.
“Kalau demikian apa yang menyulitkan kalian?”
“Tetapi apa yang kami miliki di sini tidak lebih dari sisa-sisa
makanan kami yang kami hasilkan dari tanah yang tandus itu. Tidak
ada lain. Kami tidak akan dapat menukarkan milik kami dengan
benda-benda apapun. Bahkan dengan alat-alat yang kami perlukan
untuk bercocok tanam. Setiap barang yang disenangi oleh kedua
orang itu harus kami serahkan”.
“Juga alat-alat bercocok tanam?”
“Ya, mereka senang menyimpan alat-alat bercocok tanam yang
baik”.
“Aneh. Untuk apakah barang-barang itu?”
“Tak seorang pun yang tahu. Bahkan kadang-kadang kami
terpaksa mengumpulkan hasil tanah kami, untuk kami tukar dengan
barang-barang yang dikehendaki oleh kedua orang-orang itu”.
“Kemanakah kalian menukarkan barang-barang itu?”
“Kebo Sindet membawa beberapa orang kemari untuk menukar
barang-barang itu. Kadang-kadang hasil tanah kami itu benar-benar
dibawa oleh mereka yang menukarnya, tetapi kadang-kadang
orang-orang itu tidak dapat keluar dari padukuhan ini setelah
mereka menyerahkan barang-barang yang seharusnya kami tukar
dengan hasil tanah kami”.
“Perampokan” geram Empu Gandring.
“Ya, lebih dari pada itu. Apalagi apabila mereka mencoba
mempertahankan diri mereka”.
Empu Gandring sudah dapat menangkap kata-kata yang tidak
lengkap itu. Tambi pasti akan berkata, bahwa mereka yang berani
mempertahankan diri, maka nasib mereka akan menjadi lebih jelek.
Seperti yang sudah dikatakan, maka Kebo Sindet akan melakukan
pembunuhan dengan caranya.
Sejenak kini mereka berdiam diri. Angin yang silir berhembus
lewat pintu yang masih terbuka. Diluar, Tambi masih melihat
beberapa orang tetangganya di halaman di seberang halaman
rumahnya berdiri berlindung di balik pepohonan. Adalah menjadi
kebiasaan mereka untuk melihat orang-orang yang datang ke rumah
Tambi. Dan sudah menjadi kebiasaan mereka pula, apabila Tambi
tidak dapat menyelesaikannya sendiri, Tambi pasti memberi mereka
isyarat untuk membunyikan kentongan memanggil salah seorang
atau bahkan keduanya iblis Kemundungan yang bernama Kebo
Sindet dan Wong Sarimpat. Tetapi kali ini Tambi masih belum
memberikan isyarat apa-apa, meskipun tampaknya Tambi sendiri
tidak berbuat apa-apa. Dan bahkan orang yang belum mereka kenal
dan membawa keris dipunggungnya itu dibawanya masuk
kerumahnya.
“Tuan” berkata Tambi ilu lebih lanjut, “tak seorang pun di antara
kami yang berani menentang perbuatan itu. Aku adalah satusatunya
orang yang mencoba melawannya dengan caraku.
Meskipun aku tidak dapat melawan dalam olah kanuragan. Tetapi
akibatnya jelek sekali bagiku. Meskipun keduanya tidak
membunuhku dengan caranya karena aku suami saudara
sepupunya, tetapi tidak banyak bedanya dengan itu. Mereka telah
membunuh isteriku dan anakku perlahan-lahan, meskipun
barangkali tidak mereka sadari seperti apabila mereka membunuh
korbannya. Tetapi adalah suatu kenyataan bahwa isteriku meninggal
justru karena aku mendapat jabatan dari kedua orang itu.
Jabatanku cukup mengerikan. Seperti yang tuan lihat sekarang. Dan
jabatan ini agaknya telah menyiksaku scpanjang umurku”.
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahanlahan
ia berdesis, “Kau benar adi. Keadaan telah membuat mereka
menjadi buas. Dendam yang membara di dada mereka, hidup
mereka yang pahit di masa kanak-kanak, ketidak-adilan yang
mencekiknya dalam kepailitan itu, telah menjadikan mereka orang
yang tidak lagi mengenal kasih sesama. Mereka telah kehilangan
segala kepercayaan mereka terhadap orang-orang di sekitarnya.
Mereka menganggap dunia ini seperti sebuah hutan rimba. Siapa
yang kuat ialah yang berkuasa. Mereka tidak mengenal adab lagi
yang mengikat manusia dalam bentuk kemanusiaannya. Tetapi
mereka lebih percaya kepada pedangnya daripada kepada manusia
sesamanya. Mereka lebih mendambakan diri pada benda-benda dan
harta daripada kepada Sumber Hidupnya”.
“Ya tuan. Itu adalah gambaran yang tepat mengenai Kebo Sindet
dan Wong Sarimpat”.
“Itu adalah suatu bentuk yang menyedihkan dari ledakan
perasaan yang merasa tertekan. Tetapi bentuk itu adalah bentuk
yang tidak diharapkan. Seorang yang tidak mau mendapat
perlakuan yang tidak adil, yang telah berusaha untuk melenyapkan
perlakuan itu atas dirinya sendiri, tetapi setelah ia berhasil
melenyapkan kekuasaan yang memperlakukannya tidak adil itu
dengan kekuatan, maka ia sendiri terjerumus dalam kekuasaan yang
serupa. Kekuasaan yang didasari oleh kekuatan, bukan oleh hasrat
hidup bersama dalam adab kemanusiaan. Dan kekuasaan yang
dilandaskan pada kekuatan itu akan berlangsung terus” Empu
Gandring berhenti sejenak untuk menyeka peluhnya yang mengalir
dikeningnya. Dan sesaat kemudian ia berkata lagi, “tetapi aku juga
mengenal bentuk lain dari pada itu. Bentuk yang manis, yang serasi
dengan pancaran sumbernya. Menentang ketidak-adilan justru
untuk menegakkan keadilan. Bukan untuk merubah kekuatan yang
menentukan kekuasaan. Bentuk itu adalah bentuk yang paling
indah, meskipun seolah-olah hanya dapat terjadi di dalam mimpi.
Namun adalah menjadi kewajiban kita bersama untuk berusaha
menemukan bentuk yang paling indah itu. Ketidak-adilan, dan
segala macam bentuk nafsu duniawi akan dapat ditumbangkan oleh
kekuatan yang tidak ada batasnya. Cinta kasih. Cinta kasih diantara
sesama yang dilahirkan di atas bumi ini dari sumber yang sama.
Cinta kasih yang akan dapat melahirkan segala macam pengertian
dan pengekangan diri dalam satu lingkaran hidup yang tenteram
damai. Bukan karena dirinya merasa terikat oleh ancaman yang
merampas kebebasan hidupnya, tetapi bersama-sama dengan tulus
dan ikhlas mengekang diri sendiri dalam lingkaran yang dibuat
bersama-sama”.
Tambi mengerutkan keningnya. Seleret ia dapat mengenali
maksud Empu Gandring, tetapi sebagian daripadanya hanya dapat
dimengertinya samar-samar.
“O” Empu Gandring berdesah, seolah-olah ia baru saja terbangun
dari mimpinya “maafkan aku Ki Sanak. Barangkali aku terlampau
banyak berbicara. Barangkali bicaraku tidak kau harapkan. Tetapi
agaknya aku lebih banyak berbicara kepadaku sendiri. Karena aku
pun melihat betapa banyak kekurangan di dalam diri. Aku dapat
berkata tentang cinta kasih yang melampaui segala kekuatan dan
kekuasaan. Tetapi aku masih mendukung senjata dipunggungku.
Mudah-mudahan senjata tidak salah arah. Mudah-mudahan aku
selalu dapat melihat apakah yang sebenarnya sedang aku hadapi.
Lebih daripada itu, mudah-mudahan aku segera dapat
menanggalkan senjata ini dari tubuhku”.
Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat merasakan
sentuhan yang tajam pada dinding hatinya. Dan tiba-tiba ia
merasakan sesuatu bergerak di dalam hatinya itu. Dan dengan
tibatiba
pula ia berkata, “Tuan, aku sekarang tidak takut lagi. Aku tidak
akan lari dari pedukuhan ini. Aku akan tetap tinggal di sini”.
Empu Gandring memandangi orang itu dengan tajamnya
Perlahan-lahan ia berdesis, “Kenapa?”
“Adalah menggelikan sekali bahwa selama ini aku selalu dikejar
oleh ketakutan. Tuan, aku seolah-olah telah menemukan keberanian
yang aku inginkan. Aku tidak takut lagi tuan”.
Empu Gandring tidak segera menyahut. Dipandanginya wajah
orang yang bertubuh kekar itu. Ia melihat perubahan yang
membayang diwajahnya. Tambi itu tiba-tiba telah menjadi seorang
yang seolah-olah lain dari pada orang yang tadi ditemuinya di
halaman. Wajah itu tidak lagi membayangkan kebengisan dan
kekerasan. Kini wajah itu menjadi terang.
“Adalah aneh bahwa tuan telah membuka perasaanku. Aku tidak
tahu, apakah tuan berbuat dengan sengaja atau tidak. Tetapi
ternyata aku menemukan sesuatu setelah aku bertemu dan
berbicara dengan tuan“ berkata Tambi itu kemudian.
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya,
“Tak ada yang dapat aku lakukan bagimu Ki Sanak, apalagi
membuka perasaanmu. Hanya pancaran kasih dari Yang Maha
Agung sajalah yang dapat memberimu ketenteraman. Agaknya kau
telah mendapatkan kurnia yaug tiada taranya. Bukan kekuatan
jasmaniah sehingga kau mampu mengalahkan Kebo Sindet, tetapi
justru kekuatan rohaniah. Meskipun jasmaniah kau tidak akan
mampu berbuat apa pun melawan orang itu, tetapi ternyata kau
telah memiliki kekuatan itu. Kau sudah tidak takut lagi melawannya
dengan caramu. Itu adalah kelebihanmu Ki Sanak, kelebibanmu dari
padaku. Aku masih belum menemukan kurnia serupa itu. Aku masih
harus mencoba menghadapi Kebo Sindet dengan Senjata”.
Tambi tertawa. Namun tiba-tiba suara tertawanya itu terputus,
sehingga Empu Gandring terkejut karenanya. Apalagi ketika ia
melibat kening Tambi itu berkerut-merut.
“Kenapa Ki Sanak?”
“Aneh. Aku merasakan keanehan di dalam diriku” gumam Tambi
itu seolah-olah pada diri sendiri, “aku tidak pernah tertawa selama
ini. Sejak aku lepas dari dukungan ibuku, aku hampir tidak pernah
merasakan kesegaran yang tidak dapat membuat aku tertawa. Di
padesan ini, hanyalah anak-anak yang masih menyusu ibunya
sajalah yang dapat tertawa bila ibunya menciumnya, atau tertawa
manis selagi ia bermimpi. Tetapi sejak kami turun dari selendang
ibu, kami sudah harus bekerja membantu orang tua. Di sawah, di
kebun, di rumah dan dimana-mana saja. Itu terjadi sejak aku masih
kecil. Sejak Kebo Sindet masih kecil. Dan itu masih berlangsung
sampai kini”.
“Sekarang apa yang terasa olehmu Ki Sanak?”
“Semua itu tak ubahnya dari pada sebuah mimpi. Pada saatnya
aku akan bangun dari mimpi yang mengerikan ini”.
“Dan kau akan mengalami hidup yang sebenarnya. Bukan suatu
mimpi yang mengerikan lagi. Justru kau akan mendapat
kemenangan dari perjuanganmu yang terjadi di dalam mimpi itu”.
Tambi menarik nafas dalam-dalam. Gumamnya, “Bukankah ini
hanya suatu pemupus? Bukankah dengan demikian aku hanya ingin
menenteramkan hatiku sendiri?”
Empu Gandring menggeleng, “Pemupus adalah salah satu bentuk
dari pada keputus-asaan. Tak ada jalan lain yang dapat ditempuh,
selain apa yang telah terjadi. Tetapi kau tidak berada dalam
keadaan yang demikian. Kau masih mempunyai banyak
kesempatan. Kau masih dapat lari meninggalkan pedukuhan ini.
Misalnya pergi bersamaku ke padukuhanku. Kau akan dapat hidup di
sana dengan tenteram. Aku kira Kebo Sindet tidak akan mencarimu
ke padukuhanku, sebab aku pun sedang mencarinya. Apakah
begitu? Kau pergi ke Lulumbang?”
Tambi menggelengkan kepalanya, “Terima kasih Ki Sanak. Tetapi
aku tidak akan pergi. Kalau aku pergi, maka orang-orang lain akan
menjadi sasaran pertanyaan dan kemarahan Kebo Sindet. Orangorang
lain yang tidak bersalah akan mengalami nasib yang lebih
jelek lagi. Karena itu biarlah aku tinggal di sini. Aku akan
menghadapi segala tanggung jawab. Apa pun yang terjadi atas
diriku, maka aku tidak akan ingkar, sebab aku sudah tidak takut
lagi. Aku ingin segera bangun dari tidur dan mimpi yang mengerikan
ini. Apa yang akan terjadi segeralah terjadi”.
Dada Empu Gandring berdesir mendengar jawaban itu. Tiba-tiba
ia merasa bahwa kedatangannya benar-benar telah menyebabkan
Tambi tersudut dalam keadaannya. Apalagi setelah ia menemukan
suatu keyakinan di dalam dirinya, bahwa ia tidak akan lari. Karena
itu tanpa disadarinya maka Empu Gandring berkata, “Ki Sanak,
apakah kedatanganku telah menyebabkan kau mendapat kesulitan?”
“O, tidak tuan, tidak. Kalau aku ingin melepaskan diri, maka aku
akan dapat berbuat sesuatu. Aku akan dapat memberi isyarat
kepada Kebo Sindet. Ia akan datang kemari dan tanggung jawab
persoalan tuan sudah tidak ada lagi padaku”.
Empu Gandring mengerutkan keningnya.
Dan tiba-tiba ia bertanya, “Kenapa kau tidak berbuat demikian
kali ini?”
“Tuan adalah seorang yang memiliki kelainan dari orang-orang
yang pernah datang kemari. Orang-orang yang datang terdahulu
tidak ada yang dapat memberikan sesuatu kepadaku selain
kemarahan dan kehilangan akal”.
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun
kerut-merut di keningnya menjadi semakin dalam. Orang tua itu
ternyata sedang mencoba mencari jalan yang baik baginya dan baik
bagi orang-orang Kemundungan, supaya mereka tidak menjadi
sasaran kemarahan Kebo Sindet.
“Adi,” berkata Empu Gandring kemudian, “apakah kau tidak
bersalah apabila kau tidak memberikan tanda kepada Kebo Sindet?”
“Mungkin demikian tuan. Mungkin ada satu dua orang yang tidak
senang kepadaku akan mengadukan hal itu. Bahwa aku telah
berbicara dengan orang yang tak dikenal, dan bahwa aku tidak
memberikan isyarat untuk memanggil Kebo Sindet”.
“Nah, kalau demikian” berkata Empu Gandring, “bukankah kau
mau menolong aku, sedang kau sendiri akan terlepas dari tuduhan
semacam itu? Ki Sanak, aku minta, berikan isyarat itu”.
Tambi mengerutkan keningnya, jawabnya, “Apakah aku harus
mencelakakan tuan?”
“Bukan salahmu, akulah yang mencari Kebo Sindet.” jawab Empu
Gandring.
Tambi terdiam sejenak. Tetapi diwajahnya membayang
kebimbangan yang mencengkam hatinya. Bagi Tambi, kehadiran
Kebo Sindet akan berarti maut yang mengerikan bagi orang yang
tidak dikenal.
Tetapi ketika disadari bahwa yang ada dihadapannya itu adalah
seorang yang justru mencari Kebo Sindet, maka kesannya menjadi
berbeda. Mungkin akibat yang akan terjadi kali ini berbeda. Namun
kebiasaan yang berulang-kali dilihatnya sama sekali tidak dapat
dilupakannya. Ada juga satu-dua orang yang berani melawan seperti
Empu Gandring ini. Tetapi akibatnya justru lebih mengerikan lagi.
Kebiasaan itu telah terjadi sepanjang Kebo Sindet dan Wong
Sarimpat kembali ke pedukuhan ini. Karena itu keragu-raguarnya
atas kemampuan Empu Gandring masih belum lenyap dari
kepalanya, meskipun ia telah dikagumkan oleh keccpatan gerak,
ketangkasan dan kekuatan Empu Gandring yang sengaja
diperlihatkan.
Melihat keragu-raguan itu, maka Empu Gandring berkata,
“Jangan ragu-ragu. Mungkin kau masih membandingkan
kemungkinan yang ada padaku dan Kebo Sindet. Biarlah aku yang
akan mempertanggung-jawabkan sendiri apa yang akan terjadi
dengan diriku. Tetapi perlu kau percayai bahwa aku telah pernah
berkelahi melawannya, sehingga aku dapat menilai diriku sendiri”.
Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebenarnya cara itu
memberikan kemungkinan-kemungkinan yang baik baginya. Apalagi
seandainya benar-benar Empu Gandring dapat mengalahkan Kebo
Sindet. Tetapi setidak-tidaknya ia akan terlepas dari segala macam
prasangka, meskipun ia kini sudah tidak takut lagi menghadapi
apapun. Sebab ia merasa berdiri pada landasan yang harus
diyakininya. Bahkan untuk seterusnya ia tidak akan lagi melakukan
perbuatan terkutuk atas orang-orang yang datang ke pedukuhan ini,
apalagi orang-orang yang tersesat dan mencari jalan. Meskipun ia
menyadari akibat dari tindakannya itu, namun ia telah menyimpan
keberanian di dalam dirinya.
Kalau kali ini ia masih juga akan memberikan isyarat kepada
Kebo Sindet, itu adalah karena permintaan orang yang tidak dikenal
di pedukuhannya itu sendiri. Justru orang itu mencari orang yang
bernama Kebo Sindet.
“Bagaimana Ki Sanak?” bertanya Empu Gandring.
Tambi menarik nafas dalam-dalam. Desisnya, “Bukankah tuan
yakin bahwa kedatangan Kebo Sindet tidak akan mencelakakan
tuan?”
“Aku mengharap demikian. Tetapi aku tidak tahu, apa yang
dikehendaki oleh Yang Maha Agung atas diriku. Namun aku berdoa
semoga sifat-sifat yang ada pada Kebo Sindet itu segera lenyap dari
antara kita manusia. Mungkin kita terpaksa melenyapkan orangnya
itu pula. Tetapi bukan maksudnya. Dalam bentuknya yang tajam,
aku mengharap bahwa sifat-sifat semacam itu akan dapat
dilenyapkan tanpa menyentuh kulit wadagnya. Tetapi itu hanya
dapat terjadi di dalam mimpi atau karena suatu keajaiban karena
pengaruh kekuatan di luar kekuatan manusia, meskipun kadangkadang
manusia pulalah yang menjadi alatnya”.
Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia makin mengenal
watak dan sifat tamunya itu. Meskipun apa yang didengarnya itu
belum pernah menyentuh telinganya sebelumnya, namun hatinya
seolah-olah menjadi terbuka menghadapi masa depannya dan
menilai masa-masa lampaunya.
“Nah, apakah kau bersedia memberikan isyarat itu?” bertanya
Empu Gandring kemudian.
Tambi masih mengangguk-angguk. Jawabnya, “Baiklah tuan, aku
akan memberikan isyarat. Tetapi hal itu justru karena aku percaya
kepada tuan, bahwa tuan tidak akan mengalami perlakuan yang
tidak aku kehendaki. Aku sudah jemu melihat semua
peristiwaperistiwa
dimasa-masa lampau. Aku sudah jemu melihat
Kemundungan ini menjadi tidak ubahnya hutan yang liar. Kekuasaan
di sini sama sekali tidak tumbuh karena keinginan bersama atas
dasar kepercayaan dan kesatuan hasrat dalam hidup bersama untuk
saling menghormati dan mengekang diri dengan tulus seperti kata
tuan, tetapi kekuasaan di sini sama artinya dengan kekuatan”.
“Mudah-mudahan demikianlah hendaknya” sahut Empu Gandring.
“Baiklah tuan. Adalah menjadi kebiasaan orang-orang di
padukuhan ini untuk menunggu aku memberikan isyarat kepada
mereka. Kemudian salah seorang dari mereka akan segera pergi ke
sudut desa, naik ke atas menara bambu yang kita buat sengaja
untuk menggantungkan kentongan”.
“Lakukanlah Ki Sanak. Kalau kau berhasil mengundang Kebo
Sindet aku akan berterima kasih kepadamu”.
Tambi itu pun kemudian berdiri. Beberapa langkah ia maju ke
depan pintu. Kemudian ditebarkannya pandangan matanya
berkeliling. Kehalaman-halaman di sekitar halaman rumahnya.
Dilihatnya beberapa orang berdiri termangu-mangu.
“Mereka lebih senang menunggu apa yang akan terjadi dari pada
pergi ke ladang” gumam Tambi di dalam hatinya, bahkan orang
yang sudah berada di ladang pun tergesa-gesa pulang untuk
melihat peristiwa-peristiwa yang mengerikan.
Sejenak orang-orang itu berdiri termangu-mangu. Mereka melihat
perbedaan dari kejadian-kejadian yang pernah mereka saksikan.
Mereka tidak melihat Tambi berkelahi dengan orang itu. Mereka
hanya melihat orang yang tidak mereka kenal itu bergerak dengan
kecepatan yang tidak dapat mereka bayangkan, menggerakkan
kerisnya, dan tiba-tiba pohon-pohon Tal dan Siwalan itu pun roboh
hampir bersamaan.
“Kakang Tambi tidak berdaya menghadapinya” bisik di antara
mereka. Dan kini mereka melihat Tambi itu berdiri di muka pintu
rumahnya. Biasanya Tambi tidak menunggu terlampau lama, apabila
ia merasa bahwa lawannya tidak dapat dikalahkan, segera ia
memberikan isyarat untuk memanggil Kebo Sindet atau Wong
Sarimpat atau malahan kedua-duanya akan datang bersama-sama.
Tetapi kali ini Tambi masih berdiam diri.
Namun akhirnya orang-orang itu melihat Tambi menggerakkan
tangannya. Gerak yang sudah mereka kenal betul artinya.
Membunyikan isyarat untuk memanggil Kebo Sindet atau Wong
Sarimpat.
Seperti berebutan beberapa orang meloncat berlari-larian ke
menara bambu di sudut desa. Mereka menjadi seperti kanak-kanak
yang sedang berlomba. Kebiasaan itu lambat laun telah
menumbuhkan kesenangan tersendiri. Siapakah yang paling dahulu
mencapai menara dan membunyikan tanda untuk memanggil Kebo
Sindet merasa mendapatkan kepuasan. Seolah-olah ia telah
memberikan jasa yang berharga bagi padukuhannya, meskipun
kemudian apabila mereka melihat mayat yang terkapar di jalan
pedukuhan mereka, mereka masih juga merasa ngeri. Mereka akan
mengeluh berkepanjangan apabila mereka kemudian harus
menggali lubang, mengusung mayat itu dan kemudian
menguburkannya.
Dengan demikian maka hidup mereka selalu diliputi oleh suasana
yang selalu bertentangan. Mereka tidak dapat hidup dalam
keserasian sikap dan perasaan. Bahkan di dalam setiap dada
orangorang
Kemundungan itu pun telah tumbuh berbagai pertentangan
yang menjadikan hidup mereka seakan-akan tidak berarti dan tanpa
tujuan.
Demikianlah maka sejenak kemudian terdengar suara kentongan
bergema di padukuhan kecil itu. Suaranya seakan-akan beruntun
melontar kembali setelah membentur dinding-dinding bukit gundul.
Susul-menyusul seperti seperti suara yang memanggil-manggil dari
dunia yang lain.
Tambi sudah terlalu biasa mendengar suara kentongan itu.
Bahkan apabila ia berada dalam kesulitan, maka suara itu dapat
memberinya ketenteraman. Sebab sejenak kemudian pasti akan
datang Kebo Sindet atau Wong Sarimpat atau kedua-duanya yang
akan melepaskannya dari kesulitan itu. Namun kemudian ia terpaksa
menyaksikan peristiwa yang mengerikan. Setiap kali, demikianlah
yang terjadi. Dan setiap kali hatinya menjadi sakit setelah ia
bersenang hati karena ia sendiri dapat dibebaskan dari
kesulitannya.
Pertentangan-pertentangan yang terjadi di dalam diri Tambi dan
orang-orang Kemundungan itu telah berlangsung bertahun-tahun.
Setiap kali mereka merasakan pertentangan itu di dalam diri
mereka. Namun lambat-laun perasaan itu seolah-olah menjadi
semakin kebal. Hanya dalam keadaan-keadaan tertentu perasaan itu
masih juga tumbuh di dalam hati mereka. Korban-korban yang
malang, yang sama sekali tidak bersalah dan tidak menyadari
kesalahannya, masih juga menumbuhkan iba di hati mereka yang
sudah mengeras.
Kali ini orang-orang Kemundungan tidak dapat menilai, apakah
orang yang bersenjata keris raksasa dipunggungnya itu pantas
dikasihani atau tidak. Mereka tidak tahu, apakah sudah sepantasnya
orang yang tak dikenal itu akan dihadapkan kepada Kebo Sindet dan
Wong Sarimpat. Sebab meskipun mereka menjadi kagum dan
hampir-hampir tidak mengerti akan apa yang dilihatnya, namun
seolah-olah telah hampir menjadi suatu kepastian, bahwa kehadiran
Kebo Sindet berarti bencana bagi orang yang tidak dikenal yang
masuk ke dalam padesan ini.
Sejenak halaman rumah Tambi itu menjadi sepi tegang. Setiap
orang berdiri kaku di tempatnya, seperti batang-batang pepohonan
yang beku di halaman di sekitarnya. Mereka menunggu apakah
yang akan terjadi kemudian. Apakah yang akan dilakukan oleh Kebo
Sindet dan Wong Sarimpat atas orang tua yang kini duduk di dalam
rumah Tambi itu. Mereka merasa ada kelainan dari peristiwaperistiwa
yang parnah terjadi.
Tambi pun kini menjadi berdebar-debar. Suara kentongan itu
telah menjadikannya muak. Ia yang telah biasa mendengar suara
itu, dan bahkan suara itu dapat memberinya ketenteraman dalam
setiap kesulitan, namun kali ini ia menjadi sedemikian benci
mendengar suara itu. Suara itu di telinganya kini bagaikan suara
iblis yang berteriak-teriak dari lubang kubur.
Tetapi ketika suara itu kemudian berhenti, hati Tambi pun
menjadi semakin berdebar-debar. Biasanya, sesaat kemudian
mereka pasti akan mendengar langkah kuda berderap di atas tanah
berbatu-batu. Dan sesaat berikutnya mereka segera akan melihat
pertunjukan maut.
Kesepian masih mencengkam halaman rumah Tambi dan
halaman-halaman di sekitarnya. Beberapa orang laki-laki kurus
berdiri tegak tanpa bergerak. Sedang anak-anak muda yang pucat
bergerombol di bawah batang-batang pisang. Perempuanperempuan
biasanya hanya mengintip saja dari sela-sela pintu
rumahnya yang tidak terkatub rapat sambil memeluk bayi-bayinya
yang menangis ketakutan.
Sejenak mereka diam menunggu. Empu Gandring pun duduk
dengan hati berdebar-debar pula. Bukan karena cemas, bahwa Kebo
Sindet akan datang, tetapi justru karena teka-teki di dalam
hatinya,
apakah Kebo Sindet akan datang atau tidak.
Ketegangan di halaman di sekitar rumah Tambi itu menjadi
semakin memuncak. Mereka benar-benar merasakan perbedaan
keadaan. Sudah beberapa lama bunyi kentongan menggetarkan
lereng bukit gundul, namun mereka sama sekali belum mendengar
kuda berderap. Mereka belum melihat Kebo Sindet atau Wong
Sarimpat datang sambil berteriak-teriak. Mereka belum melihat
sesuatu.
Tambi pun berdebar-debar pula. Kebo Sindet ternyata tidak
segera datang. Dan teringatlah ia kepada kata-kata Empu Gandring,
bahwa Kebo Sindet sedang menyembunyikan diri.
Sebenarnya Tambi sudah sejak beberapa saat menemukan
kepercayaan pada orang tua itu. Kini ia semakin yakin, bahwa
semua kata-katanya bukan sekedar sesuatu sikap untuk
membanggakan diri. Ternyata Kebo Sindet tidak segera datang.
Sudah pasti bahwa Kebo Sindet tidak berani berhadapan dengan
orang yang bernama Empu Gandring itu.
Meskipun demikian Tambi tidak segera berbuat sesuatu.
Ditunggunya saja keadaan berkembang menurut keadaannya.
Beberapa lama ia berdiri di muka pintu rumahnya memandangi
tetangga-tetangganya yang tidak pula kalah tegangnya. Bahkan
seakan mereka telah menggantungkan mata mereka di pagar-pagar
batu yang rendah di sekeliling halaman masing-masing untuk
melihat, apakah segera datang seekor kuda berderap di jalan
berbatu-batu itu.
Namun ternyata Kebo Sindet tidak segera datang.
Orang-orang di padukuhan Kemundungan itu mulai gelisah. Hal
yang serupa jarang-jarang terjadi. Hampir dapat dipastikan bahwa
setiap kentungan itu berbunyi, Kebo Sindet atau Wong Sarimpat
segera akan muncul.
Tetapi sekali hal yang demikian memang pernah terjadi. Kebo
Sindet dan Wong Sarimpat sedang tidak ada di gubuknya. Ketika
kedua orang itu tidak segera datang, maka terdorong oleh rasa
takut kepada mereka, maka Tambi mengambil kebijaksanaan lain.
Sambil berteriak-teriak ia memanggil setiap laki-laki dan anak-anak
muda. Mereka harus membantu Tambi menyelesaikan tugasnya.
Panggilan itu menjalar dari setiap mulut kemulut yang lain. Sejenak
kemudian hampir setiap laki-laki dan anak-anak muda sudah
berkumpul. Bahkan anak-anak tanggung pun berdatangan pula.
Mereka lebih takut kepada Kebo Sindet dari pada orang yang tidak
mereka kenal, yang tidak segera dapat dikalahkan oleh Tambi. Pada
saat itu, orang yang sedang berkelahi melawan Tambi menjadi
cemas nielihat sekian laki-laki dan anak-anak muda, sehingga orang
itu segera melarikan dirinya, sebelum ia melawan orang-orang
Kemundungan itu.
Kini terjadi hal yang serupa. Kentongan itu sudah lama berbunyi.
Tetapi Kebo Sindet masih juga belum datang. Dengan demikian
maka laki-laki yang berada di sekitar halaman rumah Tambi itu
berpikir, apakah Tambi akan mengambil kebijaksanaan yang serupa.
Memanggil mereka, dan mengeroyok beramai-ramai.
Tetapi ternyata Tambi tidak berbuat demikian. Kali ini ia tidak
berteriak-teriak dengan penuh kemarahan. Tidak pula memanggil
orang-orang yang berdiri di halaman di sekitar halaman rumahnya.
Tetapi dengan kepala tunduk Tambi melangkah masuk ke rumahnya
kembali dan kemudian duduk dihadapan Empu Gandring sambil
berdesis, “Tuan agaknya iblis itu tidak berani datang. Mungkin ia
sudah menduga bahwa tuan akan kemari”.
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi
menurut pendapatnya, tempat Kebo Sindet itu bersembunyi
agaknya terlampau jauh, sehingga suara kentongan itu tidak dapat
didengarnya. Karena itu maka ia bertanya, “Ki Sanak, apakah suara
kentongan itu dapat melampaui bukit gundul, menembus hutan dan
mencapai rawa-rawa di mana Kebo Sindet itu bersembunyi, apabila
ia benar ia berada di sana?”
Tambi mengerutkan keningnya. Katanya, “Tuan benar. Kalau
tuan memang sudah mencari di gubuknya dan tuan tidak
menemuinya setelah tuan mengejarnya, maka satu-satunya
kemungkinan baginya adalah bersembunyi di tengah rawa-rawa
itu”.
“Jadi tak ada gunanya aku menunggunya di sini”.
“Kalau ia sudah berada di gubugnya, maka ia akan segera datang
kemari, apabila ia mendengar isyarat itu, tuan”.
“Kalau ia tahu bahwa aku lah yang di sini, mungkin ia tidak akan
datang meskipun ia mendengar isyarat itu pula”.
Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan ia melihat wajah
Empu Gandring menjadi kecewa.
“Maaf tuan” berkata Tambi kemudian, “aku tidak dapat
membantu tuan lebih dari pada itu”.
“Oh” sahut Empu Gandring dengan serta-merta, “kau tidak
mengecewakan aku. Kau sudah berbuat apa saja yang dapat kau
lakukan. Tetapi aku kecewa karena Kebo Sindet tidak datang ke
padukuhan ini seperti biasa”.
Tambi tidak menjawab. Ia hanya mengangguk-anggukkan
kepalanya saja.
“Persoalanku dengan Kebo Sindet adalah persoalan yang tidak
dapat dibiarkan. Aku harus menemukan penyelesaian”.
Tambi masih mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Tetapi apa boleh buat,” gumam Empu Gandring seakan-akan
kepada diri sendiri, “aku harus menemukannya, meskipun aku harus
menyeberangi rawa-rawa itu”.
“Tuan” tiba-tiba Tambi memotong, “kalau tuan mau
mendengarkan permintaanku, jangan tuan mencoba menyeberangi
rawa-rawa itu. Tak seorang pun yang akan pernah berhasil”.
“Kalau Kebo Sindet dapat melakukannya, kenapa aku tidak?”
“Orang itu sudah mengenal betul jalan yang harus dilaluinya.
Mungkin ia mengenal pohon-pohon yang dapat dijadikannya sebagai
ancar-ancar”.
“Bagaimanakah ia untuk pertama kalinya dapat sampai tempat
itu?” bertanya Empu Gandring.
Tambi menggelengkan kepalanya, jawabnya, “Mungkin
seseorang telah menunjukkannya, tetapi mungkin hanya karena
kebetulan saja, atau barangkali sengaja ia menjajagi rawa-rawa itu
setiap hari dengan telaten untuk menemukan jalan memasuki hutan
itu”.
“Aku akan menempuh cara yang terakhir. Aku akan menjajagi
dengan hati-hati, sehingga aku menemukan jalan yang dapat
langsung sampai ke tengah hutan itu”.
“Tuan akan memerlukan waktu yang lama. Tetapi kalau nasib
tuan tidak begitu baik, maka tuan akan terperosok ke dalam lumpur.
Jika demikian maka kemungkinan untuk menarik diri dari dalamnya
adalah sulit sekali”.
“Terima kasih Ki Sanak, tetapi yang menjadi taruhan adalah
sebuah nyawa. Kemanakanku telah dibawa oleh Kebo Sindet. Aku
harus membebaskannya”.
“Tetapi bagaimana dengan nyawa tuan sendiri”.
“Aku sudah tua. Nyawaku sudah tidak begitu berharga dibanding
dengan nyawa kemanakanku yang memiliki hari depan yang masih
panjang”.
“Tetapi kalau tuan gagal menyeberangi rawa-rawa itu, maka
tidak hanya satu nyawa, tetapi kedua-duanya tidak dapat
diselamatkan”.
Empu Gandring terdiam sejenak. Kerut-merut dikeningnya
menjadi kian dalam. Sesaat kemudian ia bergumam, “Aku tidak
boleh menyerah. Aku harus menemukannya. Aku mengharap bahwa
aku akan dapat membebaskannya”.
Tambi menarik nafas dalam-dalam. Agaknya orang tua itu sudah
membulatkan tekadnya, sehingga tidak akan dapat dihalanginya
lagi. Meskipun demikian, sekali lagi ia berkata, “Tuan,
pertimbangkanlah baik-baik. Apakah tuan tidak dapat mencari jalan
lain?”
Empu Gandring menggelengkan kepalanya, “Aku tidak dapat
melihat jalan lain. Mungkin aku dapat menunggu Kebo Sindet keluar
dari persembunyiannya, tetapi waktu itu akan terlampau panjang.
Sadangkan dalam waktu yang panjang itu, segala kemungkinan
dapat terjadi atas kemanakanku”.
“Jadi tuan akan mencoba menyeberangi rawa-rawa berlumpur
itu?”
“Ya”.
Sekali lagi Tambi menarik nafas dalam-dalam, “Tuan akan
mendapatkan kesulitan”.
“Tak ada pilihan lain” Empu Gandring bergumam sambil
bergeser. Tiba-tiba ia berdiri dan berkata, “Sudahlah Ki Sanak. Aku
akan pergi. Doakan saja, semoga aku dapat menyelesaikan
pekerjaanku dengan baik”.
Tambi tidak dapat berbuat lain dari pada menganggukanggukkan
kepalanya. Meskipun wajahnya membayangkan
kecemasan, namun ia berkata, “Mudah-mudahan tuan selamat”.
Empu Gandring tersenyum, “Aku menyerahkan segalanya kepada
Yang Maha Agung. Aku hanya sekedar berusaha. Mudah-mudahan
usahaku dibenarkan-Nya”.
“Ya, mudah-mudahan. Tuan berada dipihak yang benar”.
Sekali lagi Empu Gandring tersenyum, “Baiklah kau di padesan
ini. Mudah-mudahan kau selamat”.
“Mudah-mudahan tuan. Tetapi aku tidak akan menggigil lagi
meskipun aku akan mengalami nasib yang bagaimanapun juga”.
“Apa yang akan kau lakukan”.
“Tentu tidak berarti. Dan barangkali sebelum ada yang dapat aku
lakukan, aku sudah dikejar maut”.
Empu Gandring tertawa perlahan-lahan, “Jalan kita serupa. Aku
pun demikian. Mungkin belum ada yang dapat aku lakukan, dan aku
sudah mati ditelan oleh lumpur itu. Tetapi aku tidak akan mundur.
Aku akan terus berusaha”.
Tambi mengerutkan keningnya. Tetapi sebelum ia menjawab
Empu Gandring telah melangkah keluar rumah itu sambil berkata,
“Kita melakukan pekerjaan kita masing-masing. Kita berada dalam
keadaan yang serupa. Kita saling berdoa, semoga pekerjaan kita
masing mendapat perlindungan-Nya. Nah, selamat tinggal”.
“Terima kasih tuan” gumam Tambi perlahan-lahan.
“Kenapa terima kasih? Akulah yang harus berterima kasih
kepadamu”.
“Karena kehadiran tuan aku menemukan ketenteraman”.
“Ah” Empu Gandring berdesah. Kini ia telah melangkahi tlundak
pintu. Ketika kakinya melangkah turun dari tangga rumah itu, maka
dilihatnya berpasang-pasang mata mengawasinya dengan sorot
mata yang aneh. Sejenak Empu Gandring tertegun. Tetapi sebelum
ia bertanya Tambi telah memberinya keterangan, “Tuan, mereka
heran melihat tuan. Tuan datang ke pedukuhan ini dengan tiba-tiba.
Tuan telah mempertunjukkan suatu keajaiban. Beberapa batang Tal
dan Siwalanku telah tuan tumbangkan hanya dengan sabetan keris.
Sekarang tuan pergi meninggalkan padukuhan ini tanpa berbuat
sesuatu setelah Kebo Sindet tidak hadir meskipun kami telah
memberikan isyarat kepadanya. Hal ini adalah suatu yang
jarangjarang
sekali terjadi d isini. Karena itu mereka menjadi heran. Dan
mungkin mereka menunggu apakah yang akan tuan lakukan.
Mungkin mereka menyangka bahwa tuan akan membunuh aku, atau
aku akan memanggil mereka untuk beramai-ramai mengeroyok
tuan”.
Empu Gandring tersenyum. Katanya, “Aku minta diri. Katakanlah
kepada mereka pula. Aku minta pamit. Kedatanganku kemari benarbenar
untuk mencari Kebo Sindet, tanpa maksud yang lain”.
Tambi mengangguk, “Baik tuan”.
Sesaat kemudian mereka melihat Empu Gandring itu berjalan
menuju ke kudanya yang diikatnya di halaman. Perlahan-lahan
orang tua itu meloncat naik. “Selamat tinggal” katanya.
Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya.
Kuda yang ditumpangi oleh orang tua berkeris dipunggungnya itu
segera bergerak melangkah meninggalkan halaman rumah Tambi.
Sesekali Empu Gandring menoleh. Ia masih melibat Tambi berdiri di
halaman rumahnya. Sesudah itu, maka kuda itu pun segera berlari.
Semakin lama semakin kencang meninggalkan Padukuhan
Kemundungan.
Sepeninggal Empu Gandring, orang-orang Kemundungan segera
pergi menemui Tambi dengan tergesa-gesa. Berbagai hal mereka
tanyakan kepada orang yang bertubuh kekar itu. Namun mereka
menjadi heran mendengar jawaban Tambi. Bahkan keterangan
Tambi pun terdengar sangat aneh di telinga mereka. Seolah-olah
Tambi bukanlah Tambi yang mereka kenal sehari-hari. Apakah yang
telah mendorong Tambi untuk berbuat demikian, seolah-olah ia
sama sekali tidak takut lagi kepada Kebo Sindet.
Sementara itu Empu Gandring berpacu meninggalkan padukuhan
kecil yang tandus itu. Ia menjadi agak kecewa karena dari
pedukuhan itu, ia sama sekali tidak mendapat suatu penjelasan apa
pun jang dapat memperingan pekerjaannya. Ia hanja sekedar
mendengar beberapa ceritera lama tentang Kebo Sindet dan Wong
Sarimpat. Namun dengan ceritera itu, Empu Gandring dapat
meraba-raba, kenapa Kebo Sindet dan Wong Sarimpat selama ini
berbuat aneh. Menimbun kekayaan, harta benda dan permata,
tanpa menikmatinja sama sekali. Masa-masa lampau mereka telah
menjadikan mereka ketakutan untuk mengalaminya seperti yang
pernah terjadi itu. Mereka tidak ingin lagi kelaparan, kekurangan
makan dan tidak memiliki selembar pakaianpun. Itulah sebabnya
maka mereka menimbun sebanyak-banyaknya. Pengaruh yang
masih mengendap di sudut relung hatinya, dimasa kanak-kanaknya
telah membuat mereka orang yang aneh.
Kedua orang kakak beradik itu melihat dunia ini dengan hati
mereka yang gelap, seolah-olah dunia ini penuh dengan tindak
kejahatan, kekejaman dan penghisapan dari seorang kepada yang
lain, dari yang kuat atas yang lemah. Supaya mereka pada suatu
ketika tidak akan kehabisan persediaan untuk hidupnya dihari
mendatang, apalagi apabila datang orang baru yang melampaui
kekuatan mereka berdua, maka mereka telah mernpunyai simpanan
yang mereka sembunyikan baik-baik. Dengan demikian, mereka
telah terjerumus dalam cara hidup yang aneh. Siang malam
berusaha untuk menambah timbunan harta benda tanpa pernah
merasakannya. Makan dan pakaian mereka hanya sekedar untuk
mencukupi kebutuhan dalam tataran yang paling rendah, seperti
kebanyak orang-orang Kemundungan yang lain. Kesempatankesempatan
untuk merasakan kenikmatan hidup, terlampau jarang
dihayatinya.
Kedua kakak beradik yang seakan-akan hidup di dunia yang
asing itu sama sekali tidak dapat melihat, apa yang sebenarnya
gumelar di atas bumi ini. Lingkungan mereka adalah lingkungan
yang memaksa mereka untuk menjadi seorang yang berhati hitam.
“Kasihan” tiba-tiba Empu Gandring itu berdesis sambil memacu
kudanya, “orang-orang demikianlah, orang yang sebenarnya harus
dikasihani. Nasibnya terlampau jelek, sehingga hampir-hampir tidak
ada kesempatan untuk bangkit kembali. Nasib Wong Sarimpat
ternyata lebih malang lagi. Ia sudah tidak mendapat kesempatan
untuk berbuat apa-apa lagi. Ia mati dalam keadaan yang kelam.
Tetapi Empu Gandring itu pun segera menarik nafas dalam-dalam
sambil bergumam, “Aku pun kini membawa senjata ini untuk
mencari Kebo Sindet. Apakah senjata ini akan dapat menjadi alat
untuk menolongnya, mengambilnya dari dunianya yang sekarang,
atau justru akan mendorongnya lebih dalam? Tetapi aku tidak dapat
membiarkan Mahisa Agni. Aku harus melepaskannya. Kalau hal ini
akan berakibat buruk bagi Kebo Sindet, maka hal itu sama sekali
bukan tujuanku”.
Empu Gandring mengerutkan keningnya, dan menahan kendali
kudanya sedikit ketika kuda itu mulai mendaki bukit gundul.
Kemudian dengan menebarkan debu yang keputih-putihan kuda itu
berderap di atas padas dan tanah yang kering. Sebentar kemudian
kuda itu telah menuruni tebing yang curam. Empu Gandring
terpaksa menahan kuda itu supaya berjalan perlahan-lahan dan
hati-hati.
Setelah bukit gundul itu dilalui, maka segera Empu Gandring
menuju ke hutan yang berawa-rawa.
Hati orang tua itu mulai berdebar-debar ketika dari kejauhan
dilihatnya hutan yang tidak begitu lebat. Dari sela-sela rimbunnya
dedaunan, sinar matahari yang telah menjadi panas, seolah-olah
bermain-main di atas air yang keruh berlumpur. Angin yang silir
menggerakkan dedaunan dan bayang-bayang di wajah air.
Ketika kudanya telah sampai di bibir rawa-rawa itu, maka Empu
Gandring segera menahan kendali, sehingga kuda itu pun berhenti
sebelum kaki belakangnya menginjak air.
Tetapi injakan kaki depan kuda itu telah mengejutkan Empu
Gandring, karena tiba-tiba kuda itu meringkik dan dengan sekuat
tenaga ditariknya kedua belah kakinya. Tetapi dengan demikian,
maka tenaga kuda itu telah mendorong kaki belakangnya untuk
menginjak air itu pula.
Empu Gandring segera menyadari keadaannya. Sebelum kuda itu
melonjak-lonjak dan justru menjadi semakin ketengah, segera ia
meloncar turun di atas tanah yang tidak tergenang lumpur.
Kemudian diteriak-teriaknya kudanya menepi.
Lambat laun, kuda itu pun berhasil melepaskan kakinya dari
dalam lumpur. Terdengar kuda itu meringkik sekali lagi sambil
mengibas-ibaskan ekornya.
“Hem” Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam, “inilah isi dari
rawa-rawa ini. Tanah berlumpur yang gembur. Tetapi pasti ada
bagian-bagian yang keras, yang dapat dilalui oleh kuda. Sebab
terbukti bahwa Kebo Sindet dapat menyeberangi rawa-rawa ini
pula”.
Empu Gandring masih ingat betul, dimanakah kuda Kebo Sindet
yang diikutinya masuk ke dalam air. Tetapi setelah itu, ia tidak
tahu,
arah yang diambil oleh buruannya. Ia akan dapat mengikuti jejak itu
masuk ke dalam rawa-rawa. Namun setelah itu, apakah ia tidak
akan tersesat, terjerumus ke dalam lumpur, bahkan lumpur yang
cukup dalam?
Empu Gandring kini berdiri termangu-mangu. Diingatnya pesan
Tambi, orang yang rumahnya tidak terlalu jauh dari rawa-rawa itu.
Bahwa rawa-rawa itu sangat berbahaya baginya.
“Tetapi aku harus menolong Mahisa Agni.” desisnya.
Sejenak Empu Gandring tidak berbuat sesuatu. Ia masih
memegang kendali kudanya.
“Aku akan menjajagi rawa-rawa itu dengan kaki” gumamnya
kemudian.
Diikatkannya kudanya itu pada sebatang pohon. Diikatkannya
kain panjangnya di lambungnya. Dengan hati-hati kemudian ia pergi
ke tepi rawa itu, tempat bekas-bekas kaki kuda Kebo Sindet lenyap
ditelan air.
“Di sini kuda itu masuk” desisnya kepada diri sendiri, “pasti
bagian ini cukup keras”.
Dengan hati-hati Empu Gandring itu menginjakkan kakinya ke
dalam air yang coklat berlumpur. Ternyata dugaannya benar. Ia
mendapat tempat berpijak yang cukup keras. Setapak lagi ia maju
setelah kakinya meraba-raba. Setapak demi setapak ia maju. Tetapi
pekerjaan itu memakan waktu yang sangat lama. Namun Empu
Gandring sama sekali tidak berputus asa. Ketika tiba-tiba kakinya
tidak menemukan tanah yang keras di depannya, maka beberapa
langkah ia surut sambil mencari bagian2 lain yang dapat diinjaknya.
“Ini adalah jalan satu-satunya” gumamnya.
Tetapi tiba-tiba ia tertegun ketika ia melihat sesuatu yang
bergerak di dalam air. Semakin lama semakin dekat, seolah-olah
sengaja menyerangnya.
Empu Gandring berdiri diam dengan hati yang berdebar. Namun
segera ia melihat, bahwa yang meluncur di dalam air yang keruh itu
adalah seekor ular air hitam. Sejenis ular yang mempunyai bisa
yang tajam.
“Hem” Empu Gandring berdesah, “ternyata rawa ini menyimpan
seribu macam bahaya”.
Tetapi ternyata ular itu tidak langsung menyerangnya. Beberapa
langkah dari Empu Gandring ular itu mengambil arah yang lain.
Meskipun demikian Empu Gandring masih belum bargerak. Ia
menyadari, babwa gerak yang paling kecil sekalipun akan dapat
menarik perhatian ular itu. Namun demikian tangannya telah siap
untuk menarik kerisnya apabila perlu.
Dipandanginya ular yang meluncur tidak jauh disampingnya itu
dengan tanpa berkedip. Setiap saat ular itu dapat berhenti,
berpaling dan meluncur mematuknya. Di tanah yang kering dan
keras ia tidak perlu mencemaskan serangan seekor ular apabila ular
itu dilihatnya. Empu Gandring termasuk salah seorang yang gemar
bermain-main dengan bisa, sesuai dengan pekerjaannya, membuat
keris. Tetapi di dalam air berlumpur, maka ia harus membuat
perhitungan lain. Mungkin selangkah ia bergeser, maka kakinya
akan terhisap masuk ke dalam lumpur. Karena itu, lebih baik ia
berdiri tegak tanpa bergerak sedikit pun dari pada harus melakukan
perlawanan atas ular itu dengan kemungkinan-kemungkinan yang
tidak menyenangkannya.
Ular itu pun meluncur semakin lama semakin jauh. Namun ular
itu telah menimbulkan kesan yang mendebarkan jantung Empu
Gandring. Ternyata ular air hitam itu cukup besar untuk menelan
seekor kelinci.
Sejenak Empu Gandring diam termangu-mangu. Ditatapnya
rawa-rawa yang terbentang dihadapannya. Rawa itu masih cukup
luas. Sedang airnya sama sekali tidak rata. Sebagian terlampau
dangkal sehingga beberapa cengkang tanah kadang-kadang
menonjol ke atas permukaan air. Namun di bagian yang lain
ternyata terlampau dalam.
Tetapi Empu Gandring masih belum berputus asa. Ia masih
mencoba melangkah maju, meraba-raba dengan kakinya. Beberapa
kali ia terpaksa melangkah surut dan mencari tanah yang cukup
keras. Kadang-kadang tanah itu mengeras seperti padas, tetapi
licinnya bukan main. Namun selangkah lagi yang diinjaknya adalah
lumpur yang sangat gembur.
Ketika Empu Gandring berpaling ke tanah yang tidak digenangi
air maka ia menarik nafas dalam-dalam. Ternyata jarak yang
dicapainya sama sekali belum seberapa dibandingkan dengan waktu
yang dipergunakannya Ia masih melihat jelas kudanya makan
rerumputan yang hijau. Bahkan ia masih melihat batang-batang
perdu yang rendah diantara kaki-kaki kudanya itu.
“Aku akan memerlukan waktu berapa hari untuk menemukan
jalan ke seberang” gumamnya, “tetapi apa boleh buat”.
Beberapa kali Empu Gandring mencoba berpegangan pada sulursulur
tumbuh-tumbuhan air yang tampaknya menjadi semakin
garang. Tetapi ia tidak dapat meloncat dari akar-akar sebatang
pohon ke batang yang lain. Bahkan ia juga tidak menemukan
kemungkinan untuk meloncat dari dahan pohon ke dahan
berikutnya, karena jarak yang sama sekali tidak rata.
Ketika Empu Gandring menengadahkan wajahnya, sekali lagi ia
berdesah. Matahari sudah menjadi semakin condong.
“Sebentar lagi hari akan menjadi gelap Dan aku masih belum
berajak dari tempat ini”.
Ketika angin berdesir perlahan-lahan menyentuh dedaunan,
maka Empu Gandring bersandar sebatang pohon, dan berdiri pada
akar-akarnya. Sesaat ia menjadi ragu-ragu. Namun akhirnya ia
mengambil keputusan, bahwa ia harus menunda usahanya itu
sampai besok. Sebelum gelap ia harus sudah berada di luar rawa
itu, supaya ia tidak kehilangan jalan. Di dalam gelap maka bahaya
akan menjadi lebih besar. Ular-ular air dan binatang-binatang
berbisa lainnya. Desir ular-ular yang cukup besar akan dapat
didengarnya, tetapi ular-ular yang kecil sama sekali tidak dapat
diketahuinya. Sedang bisa ular-ular kecil itu pun cukup tajam untuk
membenamkannya ke dalam rawa-rawa dan tidak akan bangkit
kembali. Meskipun Empu Gandring membawa juga beberapa macam
reramuan untuk menawarkan bisa, tetapi obat itu tidak terlampau
banyak, sedang agaknya ular dirawa-rawa ini merupakan penghuni
utamanya.
Lewat tanah-tanah yang telah diingatnya, Empu Gandring
berjalan kembali menepi. Ia dapat berjalan lebih cepat dari pada
ketika ia sedang mencari jalan itu. Meskipun demikian, kadangkadang
ia masih juga merasa kakinya menyentuh lumpur-lumpur
yang lunak di sebelah batu-batu padas yang diinjaknya.
Sebelum gelap Empu Gandring sudah berada di pinggir rawa itu.
Ia sama sekali tidak merasa lapar. Tetapi lehernya rerasa kering.
Sedang air yang dihadapinya adalah air berlumpur.
“Apakah aku harus minum air itu?” pikirnya. Tetapi Empu
Gandring masih mencoba menahan haus. Kalau terpaksa, ia harus
minum air itu juga.
Untuk menghindarkan diri dari serangan binatang-binatang yang
tidak dikenalnya, maka ketika hari menjadi gelap Empu Gandring
memanjat sebatang pohon di tempat yang agak lapang. Di
sekitarnya tidak tumbuh pohon yang rimbun dan lebat. Sedang
kudanya diikatnya di bawah pohon itu.
Empu Gandring adalah seorang yang telah membiasakan diri
hidup dalam keadaan yang sulit. Orang tua itu pun mempunyai
ketahanan tubuh yang luar biasa. Ia mampu berkelahi tidak saja
sehari semalam terus menerus tanpa berhenti, tetapi tiga hari ia
akan dapat melakukannya.
Namun kini terasa tubuhnya menjadi letih. Hatinya juga letih.
Usahanya untuk menemukan jalan menyeberangi rawa-rawa itu
telah menegangkan segala urat syarafnya.
Dengan demikian maka Empu Gandring itu benar-benar ingin
beristirahat untuk menyegarkan tubuhnya kembali. Besok ia masih
harus bekerja keras. Meraba-raba jalan untuk menyeberangi rawarawa
itu. Namun kadang tumbuh juga berbagai macam kecemasan
di dalam hatinya. Ternyata di dalam air itu banyak terdapat
ular-ular
air hitam, dan mungkin binatang-binatang air yang lain yang belum
dikenalnya. Kadal air yang berwarna abu-abu kehitam-hitaman pun
mempunyai bisa setajam ular bandotan.
Tetapi yang lebih berbahaya lagi, apabila Kebo Sindet sengaja
menemuinya di dalam rawa-rawa itu. Orang itu telah memiliki
kemenangan pertama dari padanya. Ia jauh lebih mengenal watak
dan sifat dari rawa-rawa berlumpur ini.
Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam, “Tetapi aku tidak
akan mundur”.
Dengan demikian maka hatinya menjadi semakin bulat. Dan kini
ia ingin benar-benar melepaskan segala macam ketegangan.
Perlahan-lahan ia berdesah, “Biarlah aku pikirkan besok. Sekarang
aku akan beristirahat, badan dan pikiran”.
Sekali lagi Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Kemudian
diselimutkannya kain panjangnya pada hampir seluruh tubuhnya.
Ternyata di atas dahan itu pun banyak sekali terdapat nyamuk.
Sejenak Empu Gandring itu dapat benar-benar beristirahat.
Matanya terpejam dan nafasnya berjalan dengan teratur. Meskipun
orang tua tidak tertidur nyenyak, karena sebagian dari indranya
masih mampu menangkap getaran-getaran yang terjadi di luar
dirinya meskipun hanya lamat-lamat, namun istirahat yang demikian
telah memberinya kesegaran baru.
Tetapi kesempatan itu ternyata tidak terlampau lama. Empu
Gandring membuka matanya ketika ia mendengar kudanya menjadi
gelisah.
Sejenak Empu Gandring masih berdiam diri. Bahkan seakan-akan
ia tidak banyak menaruh perhatian. Ia menyangka bahwa kudanya
pun telah diganggu oleh semacam nyamuk-nyamuk yang cukup
banyak dan besar di bawah pohon itu.
Namun ternyata kuda itu tidak saja berjalan melingkari pohon itu.
Kemudian di garuk-garukkan kakinya dan sejenak kemudian bahkan
kuda itu meringkik perlahan.
Kini Empu Gandring tidak lagi dapat membiarkan kudanya
menjadi gelisah. Sebagai seorang yang memiliki pengalaman yang
cukup maka segera ia tahu, bahwa kudanya telah mencium bau
atau mendengar suara di sekellingnya.
“Aku menjadi iri pada kuda itu” berkata Empu Gandring di dalam
batinnya, “beberapa tahun aku melatih diri, tetapi aku tidak akan
mempunyai ketajaman firasat seperti seekor kuda. Mungkin seekor
kuda mempunyai daya tangkap atas getaran-getaran yang tidak
dapat dilakukan oleh manusia. Ternyata sampai sekarang aku belum
mendengar, melihat apalagi mencium bau sesuatu yang dapat
membuat aku menjadi gelisah seperti kuda itu”.
Meskipun demikian, meskipun tampaknya Empu Gandring masih
belum beranjak dari tempatnya, bahkan masih belum mengangkat
kepalanya yang diletakkannya di atas sebatang dahan yang
menyalang dahan tempatnya duduk, namun ia telah bersiaga
sepenuhnya. Apabila ada bahaya yang mendatang setiap saat, maka
Empu Gandring telah siap untuk menghadapinya.
Tetapi Empu Gandring masih belum mendengar maupun melihat
sesuatu yang mencurigakannya, selain kudanya yang gelisah.
Dedaunan di sekitarnya seolah-olah tidur dengan nyenyaknya. Tak
ada yang kelihatan bergerak atau terdengar gemerisik di antara
mereka.
Meskipun demikian Empu Gandring sudah tidak lagi dapat
beristirahat dengan tenang. Kudanya yang gelisah itu membuatnya
gelisah pula. Yang pertama-tama mengganggu perasaannya adalah
Kebo Sindet. “Mungkin orang itu akan berusaha untuk mengintai
aku dan kemudian dengan diam menyerang” katanya di dalam hati,
“tetapi mudah-mudahan aku cukup sadar”.
Empu Gandring kemudian tidak lagi berusaha untuk tidur. Bahkan
dipasangnya segenap daya tangkapnya setajam-tajamnya.
Lambat laun, maka orang tua itu berhasil mendengar sesuatu di
antara dedaunan beberapa langkah dari pohon tempat ia memanjat.
Suara gemersik dedaunan, tetapi bukan karena angin malam.
“Apakah ada binatang buas di dalam rimbunnya dedaunan itu”
pikirnya, “apabila demikian, maka binatang itu pasti sedang
mengintai kudaku. Tetapi kalau yang berada di dalam gerumbul itu
Kebo Sindet, maka pasti akulah yang diintainya”.
Sejenak Empu Gandring masih tetap ditempatnya. Ia ingin
mengetahui, siapakah yang berada di dalam gerumbul itu. Akhirnya
ia mengambil kesimpulan, bahwa yang berada di dalam gerumbul
itu pasti bukan seekor binatang buas. Apabila yang bergerak-gerak
itu binatang buas yang mengintai kudanya, maka binatang itu pasti
sudah merayap mendekati, karena kudanya tidak juga pergi
meninggalkan tempatnya karena terikat. Tetapi yang bergerakgerak
itu masih saja berada di tempatnya, bahkan kadang-kadang
Empu Gandring seakan-akan kehilangan pengamatannya, karena
dedaunan itu tiba-tiba sama sekali menjadi diam.
“Baiklah,” berkata Empu Gandring di dalam hatinya, “kita saling
menunggu. Manakah yang lebih sabar berada di tempatnya. Aku
atau orang bersembunyi itu”.
Meskipun demikian Empu Gandring telah membetulkan letak
kerisnya, dan mengikatkan kain panjangnya di lambungnya.
Disingsatkannya ikat pinggangnya dan rambutnya pula.
Orang tua itu kini duduk di atas sebatang dahan. Setiap saat ia
dapat turun meluncur pada batang pohon, atau apabila perlu
meloncat langsung turun di tanah.
Tetapi ia masih belum melihat sesuatu. Namun kudanya semakin
gelisah dan bahkan terdengar kuda itu beberapa kali meringkik.
Tiba-tiba kuda itu melonjak, berdiri pada kaki belakang dan
berputar
putar sehingga tali pengikatnya menjadi semakin pendek.
Empu Gandring mengerutkan keningnya. Ternyata orang yang
berada di dalam gerumbul itu sudah mulai. Kudanya menjadi
ketakutan dan berusaha untuk melarikan diri. Karena itu, maka
Empu Gandring tidak akan dapat tetap berada di atas dahan pohon
itu saja. Ia harus segera menghadapi keadaan itu. Tetapi
seandainya yang datang itu Kebo Sindet, maka ia akan berterima
kasih atas kedatangannya, sehingga ia tidak lagi perlu bersusah
payah mencarinya. Tetapi bagaimanakah kalau Mahisa Agni masih
ditinggalkannya di seberang rawa-rawa itu?”
Meskipun Empu Gandring tidak dapat meyakinkan dirinya, bahwa
ia akan dapat mengalahkan Kebo Sindet, tetapi ia harus berusaha
berbuat demikian untuk kepentingan kemenakannya itu. Kalau
akhirnya tidak seperti yang diharapkannya, maka itu adalah akibat
yang dapat saja terjadi. Namun ia percaya kepada Yang Maha
Agung, bahwa akhirnya yang benar juga yang akan dilindunginya.
Ketika kudanya melonjak sekali lagi, maka Empu Gandring pun
segera meloncat turun. Dengan penuh kesiagaan ia berjalan
mendekati kudanya. Ditangkapnya kendali kuda itu, dan dibelainya
lehernya untuk menenangkannya sambil bergumam perlahan,
“Tenanglah. Tak ada bahaya yang berarti bagimu. Orang yang
bersembunyi di dalam gerumbul itu pun tidak akan berbuat jahat
kepadamu”.
Kuda itu pun menjadi tenang. Namun Empu Gandring masih
tetap dalam kesiagaan sepenuhnya meskipun tampaknya ia acuh tak
acuh saja kepada orang yang bersembunyi di dalam gerumbul itu.
Tetapi Empu Gandring pun kemudian berpaling ketika ia
mendengar suara dari dalam gerumbul itu, “Benar Empu, Aku
memang tidak akan berbuat jahat”.
“Hem” Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam, “kenapa kau
bersembunyi? Marilah kita berbicara”.
“Maaf Empu, aku tidak bermaksud bersembunyi. Aku hanya ingin
supaya aku tidak mengejutkan Empu dan kuda itu. Tetapi ternyata
kudamu mempunyai indera yang luar biasa tajamnya, sehingga ia
menjadi gelisah”.
“Ah” Empu Gandring berdesah, “apakah kau ingin mengatakan
bahwa ketajaman inderaku kalah dengan seekor kuda?”
“Eh” sahut suara itu, “jangan terlampau dalam menangkap katakataku.
Aku sesungguhnya bermaksud baik. Tetapi aku memang
tidak ingin mengganggumu. Bukankah kau ingin beristirahat?”
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tidak
peduli apakah orang yang berada di dalam kegelapan gerumbul itu
melihat anggukan kepalanya atau tidak. Tetapi Empu Gandring
menjadi heran ketika ternyata suara itu sama sekali bukan suara
Kebo Sindet.
“Apakah ada orang lain yang akan turut campur dalam persoalan
ini? Mungkin Empu Sada? Tetapi suara itu pun bukan suara Empu
Sada.” Katanya di dalam hati.
Tetapi bagi Empu Gandring lebih baik untuk langsung bertemu
dengan orang yang bersembunyi itu dari pada ia masih harus
berteka-teki. Karena itu maka katanya, “Ki Sanak. Sebaiknya Ki
Sanak tidak bersembunyi saja disitu. Kemarilah, kita berbicara
dengan baik apabila maksudmu benar-benar baik”.
“Baiklah Empu” sahut suara itu, “aku akan datang. Sebenarnya
aku pun akan mendekat, tetapi kudamu terlampau peka terhadap
suara yang bagaimanapun lirihnya”.
“Kudaku sudah tenang Ki Sanak, kemarilah”.
Meskipun percakapan itu terdengar terlampau ramah, namun
Empu Gandring tidak dapat melepaskan kewaspadaannya. Bahkan
kerisnya telah mapan di punggungnya.
Sejenak kemudian ia melihat gerumbul itu bergerak-gerak.
Ternyata orang yang ditunggunya tidak bersembunyi di dalam
gerumbul, tetapi hanya berlindung di belakang. Karena itu maka
suara desir dedaunan yang ditimbulkannya terlampau lemah.
“Maafkan aku Empu, apabila aku mengganggumu”.
Empu Gandring tidak segera menjawab. Dicoba mengamati orang
yang baru muncul dari balik gerumbul itu. Di dalam gelap malam ia
tidak segera dapat melibat dengan jelas, siapa yang berdiri
dihadapannya. Tetapi sudah jelas bahwa orang itu bukan Kebo
Sindet dan juga bukan Empu Sada.
Setapak demi setapak orang itu melangkah maju. Namun
langkah yang setapak-setapak itu memberitahukan kepada Empu
Gandring bahwa orang yang dihadapinya ini adalah seorang yang
tidak kalah berbahaya dari Kebo Sindet. Tetapi orang itu berkata
bahwa ia tidak akan berbuat jahat. Meskipun demikian, karena
Empu Gandring tidak segera dapat mengenalnya, maka ia masih
belum dapat mempercayainya.
“Kemarilah Ki Sanak” berkata Empu Gandring kemudian.
Orang itu melangkah semakin dekat. Dan Empu Gandring melihat
orang itu berjalan semakin lambat.
“Kemarilah” panggil Empu Gandring.
“Terima kasih Empu” sahut orang itu, “mudah-mudahan aku
tidak mengejutkanmu”.
“Tidak, aku tidak terkejut karena kedatanganmu. Ternyata kau
mempunyai cara yang baik sekali untuk mendekati pohon ini tanpa
membangunkan aku. Tetapi aku terkejut karena kudaku yang
menjadi gelisah. Nah, bukankah kudaku yang tidak pernah berlatih
mempergunakan daya tangkap indera yang bagaimanapun juga itu
mampu berbuat melebihi aku”.
“Ah” desah orang itu, “aku memang pernah mendengar ceritera,
bahwa Empu Gandring senang berkelakar. Aku gembira dapat
bertemu Empu lagi kali ini. Kesempatan yang lampau terlalu sedikit
untuk mendengar kelakarmu yang segar.
Empu Gandring mengerutkan keningnya. Orang itu mengenalnya
dengan baik. Bahkan orang itu berkata bahwa ia pernah bertemu
dengan dirinya. “Hem,” Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam,
“aku sudah pikun, dan malam terlampau gelap. Tetapi bagaimana ia
dapat mengenal aku?” katanya di dalam hati.
Dan kini Empu Gandring melihat orang itu berhenti beberapa
langkah dari padanya. Samar-samar Empu Gandring dapat melihat
garis-garis bentuknya sebagai sebuah bayangan yang hitam. Tetapi
wajah orang itu masih belum dilihatnya.
Akhirnya Empu Gandring terpaksa bertanya, “Siapakah kau Ki
Sanak? Dan apakah maksudmu mendekati aku?”
Terdengar orang itu menarik nafas dalam-dalam. Menilik
suaranya maka orang itu pun setidak-tidaknya sudah setua Empu
Gandring sendiri. Perlahan-lahan orang itu berkata dalam nada yang
datar, “Empu, aku ingin mencoba mencegahmu menyeberangi
rawa-rawa ini”.
“He,” dada Empu Gandring berdesir, “kenapa Ki Sanak? Apakah
dengan demikian aku telah mengganggumu”.
“O tidak, tidak Empu. Kau sama sekali tidak mengganggu aku.
Maaf, bahwa akulah yang sebenarnya mengganggumu”.
Empu Gandring mengerutkan keningnya mendengar jawaban
yang ramah sopan itu. Tetapi meskipun demikian ia masih tetap
dalam kewaspadaannya.
“Kalau demikian kenapa Ki Sanak berkeberatan apabila aku
menyebrangi rawa-rawa ini?”
“Aku bermaksud baik Empu. Rawa-rawa ini adalah rawa yang
sangat jahat. Banyak sekali tersimpan bahaya di dalamnya. Mungkin
Empu akan bertemu dengan ular air hitam, mungkin buaya-buaya
kerdil yang sangat buas, yang hidup di dalam air pula.
“Ya, ya. Aku mengenal jenis-jenis binatang berbisa itu”.
“Tetapi Empu tidak menyangka bahwa binatang semacam itu
banyak sekali terdapat di dalam rawa-rawa itu”.
“Aku sudah melihat. Aku sudah bertemu dengan sejenis ular air
hitam sebesar lenganku”.
“Nah, itu adalah suatu contoh saja. Tetapi justru yang kecillah
yang lebih berbahaya, sebab Empu akan dapat melihat kedatangan
binatang-binatang yang cukup besar, tetapi yang kecil-kecil
kadangkadang
dapat lepas dari perhatian”.
“Terima kasih Ki Sanak. Tetapi rawa-rawa ini tidak mustahil untuk
diseberangi. Ternyata Kebo Sindet dapat menyeberangi rawa-rawa
ini. Coba bayangkan. Kebo Sindet yang berada di atas punggung
kuda membawa serta pula di atas punggung kuda itu seorang lagi
yang sedang pingsan. Berapakah kira-kira berat beban yang
menekan pada ujung telapak kaki kuda itu di atas tanah di bawah
air rawa-rawa ini? Ternyata beban seberat itu dapat juga lewat.
Apalagi aku seorang diri, berdiri di atas telapak kakiku”.
“Empu, Kebo Sindet telah mengenal rawa-rawa ini sebaik ia
mengenal dirinya sendiri. Ia tahu benar manakah tanah padas yang
dapat diinjak, dan manakah tanah berlumpur yang harus dijauhinya.
Tetapi Empu sama sekali belum mengenal rawa-rawa ini”.
“Tetapi Ki Sanak, ular, buaya-buaya kerdil dan kadal-kadal
berbisa sama sekali tidak dapat membedakan, apakah yang lewat
itu orang yang sudah mengenal tempat ini baik-baik atau bukan”.
Terdengar orang itu tertawa. Jawabnya, “Empu benar. Ular-ular
air dan kadal-kadal yang buas itu tidak akan dapat mengenal
apakah orang yang lewat itu sahabatnya atau bukan, tetapi Kebo
Sindet lah yang telah mengenal dengan baik tiap bunyi dan gerak
dari binatang-binatang berbisa itu. Bahkan orang-orang yang telah
biasa dengan binatang-binatang semacam itu dapat membedakan
lewat penciumannya. Kebo Sindet mengenal pula riak air rawa-rawa
ini. Apakah didekatnya ada ular air atau kadal air yang sedang
meluncur. Dengan demikian ia dapat menyiapkan dirinya. Cara yang
paling baik adalah berdiam diri tanpa bergerak, untuk tidak menarik
perhatian binatang-binatang itu”.
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya, jawabnya,
“Aku juga biasa bermain-main dengan binatang-binatang berbisa Ki
Sanak. Mungkin aku akan dapat menyesuaikan diriku dengan
kebiasaan binatang di dalam rawa-rawa ini”.
“O” orang itu terdiam sejenak, kemudian katanya, “ya, aku lupa
bahwa aku berhadapan dengan seorang Empu keris yang
kenamaan. Seorang yang pasti jauh lebih mengenal watak dari
binatang-binatang berbisa daripada aku. Namun meskipun
demikian, aku tetap berpendapat bahwa sebaiknya Empu
mengurungkan niat untuk menyeberangi rawa-rawa ini”.
Empu Gandring tidak segera menjawab. Dicobanya untuk
menatap wajah orang yang berdiri beberapa langkah dari padanya.
Ia sama sekali tidak melihat sikap yang mencurigakan pada orang
itu. Dan kata-katanya pun cukup sopan dan ramah. Bahkan terasa
hasrat yang sebenarnya tersirat pada kata-katanya, seperti yang
pernah didengarnya dari Tambi.
Sejenak Empu Gandring mempertimbangkan nasehat itu. Tetapi
sejenak kemudian perasaannya telah hinggap kembali kepada
hasratnya untuk menolong Mahisa Agni. Ia tidak dapat berbuat lain
dari menyeberangi rawa-rawa itu.
Karena itu, maka kemudian Empu Gandring itu pun berkata,
“Maaf Ki Sanak, aku tidak mempunyai cara lain dari menyeberangi
rawa-rawa ini. Aku harus mendatangi tempat persembunyian Kebo
Sindet untuk mengambil kemanakanku itu”.
“Empu, katakan bahwa Empu dapat melawan segala macam
binatang berbisa karena Empu mempunyai obat penawarnya. Tetapi
berapa lama Empu memerlukan waktu untuk mencari jalan di dasar
rawa-rawa itu?”
“Mungkin sehari, mungkin sebulan dan mungkin setahun. Tetapi
aku bertekad untuk melakukannya”.
“Empu, aku tahu apakah yang telah mendorong Empu untuk
membulatkan tekad menyeberangi rawa-rawa ini. Tetapi sebaiknya
niat itu Empu urungkan saja. Kalau Empu percaya kepadaku,
serahkanlah Mahisa Agni, bukankah kemanakan Empu itu bernama
Mahisa Agni, itu kepadaku. Aku kira cara yang tidak terlampau
mengejut akan lebih baik bagi kemanakan Empu itu, supaya Kebo
Sindet tidak menjadi mata gelap dan mencelakainya. Kita
mempunyai kepentingan yang sama atas anak muda itu”.
Empu Gandring terdiam sejenak. Ia mecoba mengamati
bayangan yang berdiri di dalam gelapnya malam beberapa langkah
dari padanya. Tetapi orang yang berdiri dalam kegelapan itu sama
sekali tidak menumbuhkan kecurigaannya.
“Ki Sanak,” berkata Empu Gandring kemudian, “siapakah
sebenarnya Ki Sanak itu?”
“Kau memang senang bergurau Empu”.
Sekali lagi Empu Gandring terdiam. Dicobanya mengingat orangorang
yang pernah dikenalnya. Orang-orang itu sebenarnya tidak
terlampau banyak. Tetapi suara ini nadanya terlampau dalam.
Empu Gandring perlahan-lahan mengangguk-anggukkan
kepalanya. Ia perlahan-lahan berhasil mengingat gaya bicara yang
demikian. Tetapi nada suaranya sudah agak jauh berubah dari nada
yang pernah dikenalnya. Meskipun demikian maka Empu Gandring
tidak melihat orang lain yang lebih dekat dari dugaannya itu.
Apalagi
orang itu pulalah yang memang mempunyai kemungkinan paling
besar untuk berbuat demikian. Meskipun demikian untuk
meyakinkan dugaannya Empu Gandring bertanya, “Ki Sanak.
Sebaiknya Ki Sanak menolong aku. Aku memang sudah pikun.
Apalagi pada saat-saat hatiku gelap seperti saat ini. Aku hampir
tidak berhasil mengingat apapun lagi kecuali berangan-angan
tentang rawa itu”.
“Hem” orang yang berada di dalam kegelapan itu berdesah,
“apakah Empu benar-benar tidak dapat mengenal aku? Mungkin
suaraku agak berubah karena keadaanku akhir-akhir ini. Aku
hampir-hampir tidak pernah lagi berada di dalam lingkungan hidup
sesama. Aku memang ingin mengasingkan diriku di tempat yang
sepi. Mendekatkan diri kepada Yang Maha Agung. Tetapi ternyata
bahwa aku memang belum diperkenankan untuk tinggal berdiam
diri menghadapi keadaan lahir yang penuh dengan noda-noda yang
hitam. Kalau sekali-kali aku melihat keadaan Mahisa Agni, maka
suatu kali aku melihat hal-hal yang tidak wajar yang dapat
membahayakan jiwanya. Itulah sebabnya aku terpaksa wudar dari
pengasinganku untuk membayanginya. Tetapi ternyata aku tidak
mampu mencegah semuanya yang telah terjadi. Bahkan aku sama
sekali tidak berbuat sesuatu. Ternyata Empu Gandring lebih cepat
berbuat dari padaku. Namun Empu Gandring pun telah gagal untuk
mencegah Kebo Sindet membawanya. Tetapi, itu bukan salah
Empu. Empu telah berbuat apa saja yang dapat Empu lakukan
karena Mahisa Agni adalah kemanakan Empu. Namun ternyata
Mahisa Agni sampai kini masih belum dapat diketemukan”.
Empu Gandring memandang bayangan itu semakin tajam. Ia
semakin dapat mengenal gaya bicara orang itu. Bahkan beberapa
kali ia menangkap kepastian, siapakah yang sedang berbicara itu.
Tetapi Empu Gandring itu masih bertanya, “Ki Sanak. Aku tidak
bergurau. Aku tidak segera dapat mengenal Ki Sanak. Aku hanya
dapat menduga-duga. Mungkin Ki Sanak sengaja merubah suara Ki
Sanak dalam nada yang berbeda. Sedang bentuk wajah Ki Sanak di
dalam kegelapan tidak dapat aku lihat dengan jelas. Apakah aku
dapat melangkah mendekat?”
“Empu” jawab orang itu, “sebenarnya aku sudah memutuskan
untuk mengasingkan diri. Aku lebih baik tidak lagi berhubungan
dengan siapa pun kecuali Mahisa Agni dalam hubungannya untuk
melepaskan dari tangan Kebo Sindet”.
“Tetapi sikap Ki Sanak semakin meyakinkan aku, dengan siapa
aku berhadapan”.
“Aku sudah menyangka bahwa Empu dapat mengenal aku.
Tetapi baiklah kita untuk seterusnya tidak usah bertemu lagi.
Sebaiknya Empu kembali ke Lulumbang. Mungkin Empu dapat
singgah sebentar di Karautan, untuk memberitahukan bahwa
seseorang sedang berusaha melepaskan Mahisa Agni apabila
berhasil”.
“Tetapi aku harus mendapat suatu keyakinan bahwa orang yang
mengatakan dirinya bersedia melepaskan Mahisa Agni, setidaktidaknya
berusaha melepaskannya adalah seorang yang dapat aku
percaya”.
“Bukankah Empu telah mengetahui, siapakah yang menyatakan
dirinya akan berusaha melepaskannya?”
Empu Gandring mengangguk anggukkan kepalanya. “Kenapa kau
begitu jauh mengasingkan dirimu?” tiba tiba Empu Gandring
bertanya.
“Tak ada lagi gairah hidupku kini, selain melepaskan Mahisa Agni
itu. Sesudah itu, sesudah aku berhasil melepaskannya, maka aku
tidak akan dapat ditemui lagi oleh siapapun”.
“Apakah semula kau ingin mcnyembunyikan dirimu dalam
pertemuan ini?”
“Sebenarnya, tetapi aku tidak akan dapat memberi Empu
kepercayaan, apabila Empu tidak mengenal aku”.
Empu Gandring mengangguk-angguk pula. Perlahan-lahan ia ia
menarik nafas dalam-dalam sambil bertanya, “Bagaimana Ki Sanak
akan dapat menyeberangi rawa-rawa ini?”
“Aku seorang perantau Empu. Hidupku, apalagi akhir akhirnya ini
sebagian besar adalah di dalam perjalanan. Aku menjajagi rawarawa
ini bukan hanya karena Mahisa Agni. Tetapi sebelumnya aku
pernah melihat Kebo Sindet menyeberangi rawa-rawa ini sambil
membawa barang yang berhasil dirampasnya. Aku tidak hanya
melihatnya satu dua kali. Tetapi beberapa kali bersama Wong
Sarimpat. Maka pada suatu kali tumbuhlah keinginanku untuk
mengikutinya. Tentu saja dengan sangat hati-hati. Akhirnya aku
menemukan jalan juga untuk sampai ke seberang rawa-rawa”.
Empu Gandring mengerutkan keningnya. Tiba tiba ia berkata,
“Apakah kita tidak dapat bersama sama pergi keseberang rawarawa
itu dan mengambil Mahisa Agni dengan kekerasan?”
“Mungkin kita berdua akan dapat mengalahkan Kebo Sindet”
jawab orang itu, “tetapi hal itu akan sangat berbahaya bagi Mahisa
Agni. Kebo Sindet akan dapat mempergunakan Mahisa Agni sebagai
alat untuk menyelamatkan diri atau bahkan membunuh anak muda
itu sama sekali”.
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian
katanya, “Jadi bagaimanakah sebaiknya?”
Sejenak orang yang berdiri di dalam kegelapan itu tidak
menjawab, sehingga mereka dicengkam oleh kediaman. Masingmasing
mengikuti arus pikiran sendiri.
Angin malam yang basah bertiup perlahan-lahan menggerakkan
dedaunan yang hijau. Batang-batang pohon bergerak seperti
hantuhantu
yang sedang menari-nari dengan malasnya. Sekali-sekali kuda
Empu Gandring menggaruk-garukkan kakinya yang digigit oleh
nyamuk-nyamuk yang besar.
Di langit bintang bergayutan seperti ditaburkan di wajah yang
biru pekat. Dari sela-sela dedaunan yang jarang bintang-bintang itu
mengintip air rawa-rawa yang pekat berlumpur.
Ketika dikejauhan terdengar suara anjing liar menggonggong
maka bertanyalah Empu Gandring mengulang, “Jadi bagaimanakah
sebaiknya?”
“Sebaiknya Empu pulang ke Lulumbang. Akulah yang akan
mengusahakan agar Mahisa Agni dapat lepas dari tangan Kebo
Sindet dengan bahaya yang sekecil-kecilnya bagi anak muda itu
sendiri”.
“Aku akan tinggal di sini bersamamu”.
Orang itu tertawa perlahan-lahan. Jawabnya, “Jangan Empu.
Semakin banyak orang disini, Kebo Sindet akan semakin cepat
mengetahui bahwa ia sedang diintai. Karena itu percayakanlah
Mahisa Agni itu kepadaku”.
Empu Gandring termenung sejenak. Ia percaya kepada orang itu.
Tetapi apakah ia mampu berbuat demikian? Dirinya sendiri sedang
mencobanya pula, tetapi belum berhasil. Dan bagaimanakah dengan
orang itu?
Tetapi selayaknyalah ia mempercayainya. Kesungguhan dan
ketekunannya pasti akan dapat dipertaruhkan.
“Apakah Empu percaya kepadaku?”
Empu Gandring mengangguk, “Ya. Aku percaya”.
“Kalau begitu Empu dapat segera meninggalkan tempat ini”.
Sekali lagi Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya,
“Sekarang, malam ini juga?”
Orang itu tertawa. Jawabnya, “Terserah kepadamu Empu.
Sekarang atau nanti atau besok sesudah matahari terbit”.
Empu Gandring pun tertawa pula. Meskipun hatinya masih
dipenuhi oleh kecemasan tentang nasib kemenakannya, namun
kesanggupan orang itu telah memberinya sedikit ketenteraman.
Karena itu maka Empu Gandring itu pun kemudian berkata,
“Baiklah. Besok aku akan pergi meninggalkan tempat yang penuh
dengan nyamuk-nyamuk yang buas ini”.
“ Aku percaya ke padamu. Aku akan kembali ke Lulumbang dan
aku akan singgah ke Padang Karautan. Memberitahukan kepada
orang-orang Panawijen dan para Prajurit Tumapel yang ikut serta
dalam pembuatan bendungan itu, supaya mereka menunggu Mahisa
Agni dengan sabar. Begitu?”
“Ya Empu.” sahut orang itu perlahan-lahan dalam nada yang
dalam, “seterusnya aku mengucapkan terima kasih ke padamu atas
kepercayaan itu. Hati-hatilah. Disini bukan saja nyamuk-nyamuk dan
Kebo Sindet yang cukup buas, tetapi juga anjing-anjing liar di
malam hari cukup berbahaya bagi kudamu”.
“Terima kasih atas peringatanmu. Mudah-mudahan anjing-anjing
itu tidak datang kemari kali ini”.
“Nah Empu” berkata orang itu kemudian, “aku sudah cukup lama
bercakap-cakap dengan Empu. Baiklah sekarang aku pergi. Aku
masih mempunyai beberapa kepentingan”.
“Malam begini?” bertanya Empu Gandring.
“Ya. Tetapi kepentingan yang sebenarnya tidak penting”.
“Baiklah. Aku akan selalu berdoa mudah-mudahan kau berhasil
melepaskan anak itu. Sampaikan pesanku kepadanya, apabila ia
sempat, supaya segera pergi ke Lulumbang. Sebelum aku
melihatnya, maka aku masih akan selalu diganggu oleh kegelisahan.
Mudah-mudahan usaha itu segera berhasil”.
“Mudah-mudahan.” desis orang itu, yang kemudian
disambungnya, “Selamat malam Empu. Mungkin kita tidak akan
bertemu lagi”.
“Ah, jangan begitu. Tak akan ada pengasingan diri yang mutlak”.
“Ah, kenapa tidak ada?”
“Itu menyalahi kuwajiban kita diantara sesama. Kebajikan hanya
ada di antara sesama”.
“Kau benar Empu. tetapi dosa pun akan mudah tumbuh di dalam
lingkungan sesama. Betapa sudah besar dosaku. Apakah aku masih
harus menambah lagi?”
“Kesadaran dan pengendalian diri akan mengekang segala
perbuatan”.
“Aku kira aku sudah cukup lama hidup di dalam lingkungan
sesama. Aku ingin menemukan kejernihan hati. Aku ingin melihat
diri betapa dosaku telah bertimbun”.
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ia
mempunyai pendirian yang agak berbeda, tetapi ia tidak
membantah lagi.
“Sampaikan salamku kepada siapa saja yang pernah mengedal
aku Empu. Aku minta maaf atas segala kesalahan dan kekeliruan
yang pernah aku lakukan atas mereka.
“Baiklah” jawab Empu Gandring, “tetapi percayalah, bahwa tidak
akan ada pengasingan yang mutlak”.
Orang itu tertawa. Kemudian perlahan-lahan ia melangkah surut.
Ketika orang itu berbalik dan melangkah beberapa langkah
menjauh, maka orang itu seakan-akan hilang ditelan gelapnya
malam.
Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia masih
saja berdiri memandangi arah orang itu menghilang.
“Hem, begitu besar tekadnya. Tetapi pengasingan diri bukanlah
suatu penyelesaian yang baik. Namun aku tidak tahu apa yang akan
aku lakukan apabila aku mengalaminya?” desisnya lambat.
Empu Gandring itu tersadar ketika ia mendengar kudanya
meringkik kecil. Perlahan-lahan dibelainya suri kuda itu sambil
berbisik, “Besok kita pulang. Aku percaya bahwa Mahisa Agni akan
mendapat pertolongan. Sudah terlampau lama aku meninggalkan
Lulumbang, Perjalanan ini menjadi pengalaman yang menarik
bagiku.”
Meskipun kuda Empu Gandring tidak dapat menjawab. tetapi
tatapan matanya seakan-akan dapat mengerti kata-kata orang tua
itu.
“Kita masih mempunyai waktu sedikit” berkata Empa Gandring
seterusnya, “kita menunggu fajar, supaya kita dapat melihat jalan
yang kita lalui dengan baik”.
Sejenak kemudian, setelah Empu Gandring mengendorkan
kembali tali kudanya yang melingkar-lingkar pada pohon
tambatannya, maka ia pun memanjat pohon itu lagi. Ia masih akan
mempergunakan waktu yang tersisa sebelum fajar untuk
beristirahat. Namun kini ia tidak lagi dapat melupakan
persoalannya.
Kadang-kadang hatinya masih disentuh olah keragu-raguan. Apakah
Mahisa Agni akan berhasil dibebaskan?
“Tetapi aku percaya kepadanya” desisnya untuk mencoba
menemtramkan hatinya.
Namun sampai cahaya fajar yang kemarah-merahan membayang
di Timur, Empu Gandring tidak lagi dapat mcmejamkan matanya
sama sekali. Tetapi dengan demikian terasa tubuhnya telah menjadi
agak segar, meskipun lehernya juga kering.
Ketika kemudian langit menjadi semakin terang, Empu Gandring
telah siap di punggung kudanya. Sejenak kemudian kuda itu pun
meluncur meninggalkan hutan yang tidak terlampau lebat itu,
namun digenangi oleh rawa berlumpur yang penuh dengan
bermacam binatang air. Dilaluinya padang rumput yang tidak
terlampau luas dan didakinya beberapa puncak-puncak kecil dari
bukit-bukit gundul yang berpadas-padas dilumuri oleh lumpur pula.
Tetapi Empu Gandring tidak menuju ke Kemundungan. Kudanya
segera menempuh jalan kembali ke Padang Karautan.
Berbagai macam pikiran berkecamuk di kepala orang tua itu. Ia
masih belum dapat melepaskan keragu-raguannya sama sekali.
Tetapi ia selalu berdoa, semoga usaha yang dilakukan untuk
melepaskan Mahisa Agni segera berhasil.
Perjalanan yang ditempuh oleh Empu Gandring ternyata tidak
mengalami kesulitan. Sekali-sekali ia berhenti untuk mencari air.
Bukan saja untuk minum kudanya, tatapi untuk minumnya sendiri
pula. Kemudian sesudah itu, ia langsung menuju ke Padang
Karautan. Kudanya berlari tidak terlampau cepat, tetapi juga tidak
terlampau lamban. Dilaluinya jalan berbatu-batu, padang-padang
perdu dan kemudian dimasukinya Padang Karautan yang kering.
Sinar matahari yang terlampau tinggi terasa menyengat kulit. Debu
yang beterbangan dilemparkan oleh kaki-kaki kuda hinggap pada
tubuh yang basah oleh keringat.
(bersambung ke jilid 29)
Jilid 29
APALAGI, setelah dimasukinya Padang Karautan. Padang yang
seakan-akan terbakar oleh sinar matahari. Tetapi, bagaimana pun
juga maka padang itu harus dilintasinya, padang yang seakan-akan
tidak bertepi. Ketika Empu Gandring melayangkan pandangan
matanya jauh-jauh, maka dilihatnya seolah-olah ujung padang itu
bertemu dengan kaki langit.
Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. “Panasnya bukan
main,” gumamnya.
Tetapi tak ada jalan lain yang sedekat itu dapat dilaluinya.
Mungkin Empu Gandring dapat memilih lewat tepi-tepi hutan. Tetapi
jarak yang ditempuhnya hampir berlipat dua.
Perjalanan ini merupakan perjalanan yang melelahkan. Haus dan
terik matahari sangat mengganggu. Beberapa kali Empu Gandring
terpaksa beristirahat karena kudanya yang kehausan. Untunglah
bahwa kadang-kadang ditemuinya pohon-pohon perdu meskipun
tidak terlampau rimbun. Tetapi bayang-bayangnya yang pendek
dapat untuk sesaat melindungi Empu Gandring dan kudanya dari
sengatan panas sinar matahari.
Baru setelah matahari condong rendah di barat, perjalanan Empu
Gandring dapat mencapai sungai yang menjelujur di Padang
Karautan itu. Sungai yang pada perpanjangannya dibuat bendungan
oleh orang-orang Panawijen.
Dengan demikian maka perjalanan Empu Gandring seterusnya
adalah menyelusur di sepanjang pinggir sungai itu. Dengan
demikian maka ia lebih banyak mendapat perlindungan dari
pepohonan yang agak rimbun, yang tumbuh di sepanjang tepian
sungai.
Matahari yang menyala di langit, semakin lama menjadi semakin
rendah di ujung barat. Sinarnya yang semakin pudar menjadi
berwarna kemerah-merahan.
“Hem,” Empu Gundring menarik nafas dalam-dalam, “perjalanan
yang cukup berkesan. Sebuah cerita yang menarik bagi Angger Ken
Arok.”
Sementara itu, senja menjadi semakin kelam. Perlahan-lahan
Padang Karautan pun diselimuti oleh warna yang gelap. Tetapi,
perjalanan Empu Gandring ternyata telah hampir sampai pada
tujuannya.
Ternyata, ketika seluruh padang itu telah ditelan oleh kegelapan,
di kejauhan Empu Gandring melihat perapian yang memancar
lemah. Meskipun masih agak jauh, tetapi Empu Gandring sudah
dapat memastikan, bahwa di situlah letak kemah-kemah orangorang
Panawijen dan para prajurit Tumapel di bawah pimpinan Ken
Arok yang aneh.
Tanpa sesadarnya, Empu Gandring mempercepat lari kudanya. Ia
ingin segera sampai di perkemahan itu dan ingin segera bertemu
dengan Ken Arok.
Sisa yang tidak begitu panjang itu ditempuhnya dalam waktu
yang pendek. Ketika kudanya mendekati perkemahan itu, maka
dilihatnya dua orang mendatanginya.
“Siapa?” bertanya salah seorang dari mereka.
“Ternyata orang-orang di perkemahan ini menjadi semakin
berhati-hati,” berkata Empu Gandring di dalam hatinya.
“Siapa?” pertanyaan itu diulangi.
“Aku,” sahut Empu Gandring.
“Aku siapa?”
“Aku Empu Gandring,” sahut Empu Gandring.
Sejenak dua orang itu diam mematung. Kemudian mereka saling
berpandangan dan seorang dari mereka berdesis, “Empu Gandring.”
“Ya, aku Empu Gandring,” sahut Empu Gandring.
“Bukankah tuan paman Mahisa Agni yang pergi bersamanya ke
Panawijen?”
“Ya,” jawab Empu Gandring,
”O,” orang itu terdiam sejenak sedangkan kawannya yang
seorang lagi berkata, “Kami telah menunggu tuan. Marilah, silakan
datang ke gubug Ki Buyut yang menunggu kedatangan tuan dengan
berdebar-debar. Bahkan hampir tidak bersabar lagi.”
“Baiklah,” jawab Empu Gandring sambil melompat turun dari
kudanya. Bersama dengan kedua orang itu ia berjalan ke gubuggubug
yang berdiri berderet-deret di antara timbunan barangbarang
yang akan diletakkan menjadi bagian dari bendungan yang
masih belum jadi itu.
“Ki Buyut ada di dalam gubugnya,” desis salah seorang dari
kedua orang itu.
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah,”
jawabnya. “Aku akan menemuinya. Tetapi apakah Angger Ken Arok
telah kembali kemari pula?”
“Ya, ia sudah kembali,” jawabnya. “Bukankah yang tuan maksud
Ken Arok pemimpin para prajurit dari Tumapel?”
“Ya.”
“Mungkin ia berada bersama Ki Buyut pula. Kalau tidak, maka
biarlah aku memberitahukan kepadanya, bahwa tuan telah datang.”
“Baiklah,” jawab Empu Gandring.
Maka kemudian ditambatkannya kudanya pada sebuah patok.
Per-lahan-lahan ia mendekati gubug Ki Buyut Panawijen. Kemudian
diketoknya salah sebuah dari tiang-tiangnya yang rendah.
Ki Buyut yang duduk beristirahat di dalam gubugnya mengangkat
kepalanya. Diamatinya bayangan di luar gubugnya, di dalam
keremangan sinar pelita.
“Siapa?!” bertanya Ki Buyut.
“Aku Ki Buyut, Empu Gandring.”
“O, marilah Empu,” Ki Buyut tergopoh-gopoh berdiri dan
menyambut Empu Gandring di luar gubugnya, “marilah, silakanlah.”
Empu Gandring pun kemudian masuk ke dalam gubug itu dan
duduk di atas sehelai tikar yang dibentangkan di atas setumpuk
rumput kering.
“Ah,” Ki Buyut itu berdesah, “kami hampir tidak sabar lagi
menunggu kedatangan Empu. Bagaimanakah dengan perjalanan
Empu ke Kemundungan? Kenapa Empu datang seorang diri tanpa
Angger Mahisa Agni? Apakah terjadi sesuatu dengan anak muda
itu?”
Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Tetapi sebelum ia
menjawab, Ki Buyut telah mendahuluinya pula, “Bukankah Empu
pergi menyusul kemanakan Empu itu? Sedangkan Angger Ken Arok
pergi mengantarkan Empu Sada? Kini Angger Ken Arok telah berada
di sini. Banyak yang diberitahukannya kepada kami tentang Empu
dan tentang Angger Mahisa Agni.”
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan
didengarnya Ki Buyut masih juga berkata terus, “Kami mengharap
bahwa Empu akan berhasil membawa kembali Angger Mahisa Agni.
Tetapi kini aku lihat Empu datang seorang diri. Apakah Angger
Mahisa Agni masih menunggu di luar?”
Tetapi Empu Gundring tidak mendapat kesempatan untuk
menjawab. Buyut Panawijen yang tua itu ternyata telah dicekam
oleh kegelisahan dan kecemasan yang amat sangat sehingga tanpa
sesadarnya telah mempergunakan segala kesempatan untuk
berbicara sendiri.
Namun akhirnya Ki Buyut itu berhenti juga bertanya ketika ia
melihat Ken Arok dengan tergesa-gesa memasuki ruang itu pula.
Sebelum ia duduk, maka ia telah bertanya, “Bagaimana dengan
usaha Empu untuk menebaskan Mahisa Agni?”
“Duduklah Ngger,” Empu Gandring mempersilakannya. Sambil
menarik nafas dalam-dalam maka Ken Arok itu pun kemudian duduk
di sampingnya. Dipandanginya wajah Empu Gandring yang tenang,
namun mengandung seribu macam teka-teki yang tidak segera
dapat ditebaknya.
“Apakah usaha Empu berhasil?” bertanya Ken Arok itu kemudian.
Kali ini Empu Gandringlah yang menarik nafas dalam-dalam.
Jawabnya, “Sebagian Ngger. Sebagian berhasil tetapi hasil
selengkapnya masih belum dapat kita pastikan.”
Ken Arok mengerutkan keningnya sedangkan Ki Buyut Panawijen
memandangi wajah Empu Gandring dengan gelisahnya.
“Aku tidak meneruskan usaha itu dengan tenagaku sendiri,”
berkata Empu Gandring seterusnya.
“Jadi?” bertanya Ken Arok.
Empu Gandring menggeser duduknya sejengkal. Kemudian
diangkatnya wajahnya memandangi pelita yang tersangkut pada
tiang bambu gubug itu. Perlahan-lahan ia mulai mengisahkan
perjalanannya, sejak ia berpisah dengan Ken Arok, mengikuti jejak
Kebo Sindet, hingga ia memerlukan singgah ke Kemundungan.
Akhirnya diceriterakannya bahwa ia mempercayakan usaha
melepaskan Mahisa Agni kepada orang lain, orang yang mempunyai
kewajiban pula seperti dirinya sendiri.
“Oh,” Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya sedangkan Ki
Buyut Panawijen diam terpekur. Di luar gubug itu beberapa orang
telah berkerumun untuk mendengarkan keterangan itu pula.
Beberapa orang saling berbisik sedangkan yang lain menjadi sedih.
Mereka menyesalkan betapa Mahisa Agni itu mengalami berbagai
macam kejadian yang pahit. Sedangkan tenaganya sebenarnya
sangat diperlukan saat ini oleh orang-orang Panawijen yang sedang
membangun bendungan itu. Untunglah bahwa di antara mereka
telah hadir seorang yang bernama Ken Arok, menggantikan
kedudukan Mahisa Agni yang dapat selalu membakar niat orangorang
Panawijen untuk menyelesaikan bendungannya.
Sesaat kemudian cerita tentang Mahisa Agni itu telah menjalar ke
seluruh sudut perkemahan itu. Setiap orang kemudian
mendengarnya. Orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel.
Beberapa orang menjadi terharu dan iba sedangkan beberapa orang
lain menyimpan dendam di dalam hatinya. “Terlalu. Kuda Sempana
ternyata telah memperalat ayahnya yang tua untuk mencelakai
Mahisa Agni. Dosa anak itu ternyata memercik kepada ayahnya
pula, yang seharusnya berusaha mencegahnya.”
Tetapi semuanya sudah telanjur. Semuanya sudah terjadi
sehingga mereka hanya dapat berdesah di antara mereka sendiri.
Di dalam gubug Ki Buyut, Ken Arok menekurkan kepalanya.
Keningnya tampak berkerut-merut. Wajah anak muda itu benarbenar
menjadi tegang.
Tiba-tiba ia mengangkat wajahnya sambil menggeram, “Aku akan
mengambil pasukan ke Tumapel. Prajurit segelar sepapan. Aku
kepung daerah berawa-rawa itu. Mustahil kalau kita tidak akan
dapat menyeberang. Aku mengenal beberapa macam rawa-rawa.
Mungkin aku akan dapat mengenal tempat-tempat yang gembur
berlumpur dan tempat-tempat yang keras. Hampir sepanjang
umurku aku hidup di daerah-daerah yang tidak keruan. Hutan,
Padang Karautan ini, dan rawa-rawa.”
Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Sareh ia berkata,
“Terima kasih Ngger. Tetapi sebaiknya maksud itu jangan tergesagesa
dilakukan. Biarlah usaha membebaskan Mahisa Agni dengan
cara yang lain itu dilakukan. Tidak dengan kekerasan, justru untuk
menjaga keselamatan Mahisa Agni itu sendiri. Sebab kini Mahisa
Agni telah telanjur dikuasai oleh Kebo Sindet. Aku sependapat
dengan cara ini Ngger.”
Kening Ken Arok menjadi semakin berkerut. Tetapi kemudian ia
menggigit bibirnya sambil kemudian bergumam, “Apa boleh buat
apabila Empu tidak sependapat.”
“Aku berterima kasih kepadamu Ngger,” sahut Empu Gandring,
“tetapi biarlah cara itu dicobanya dahulu. Apabila tidak berhasil,
maka kita akan mencari jalan lain.”
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah
Empu. Tetapi setiap saat apabila Empu memerlukan aku, aku akan
selalu menyediakan diri. Akuwu Tumapel pasti tidak akan
berkeberatan aku membawa sepasukan prajurit dan pelayanpelayan
dalam untuk membebaskannya apabila diperlukan. Sebab
Mahisa Agni adalah kakak terkasih dari bakal permaisuri.”
Empu Gandring mengangguk pula, “Terima kasih,” ulangnya.
“Aku akan selalu menghubungi Angger dalam setiap keperluan.
Terutama tentang Mahisa Agni.”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia sama sekali
tidak bersabar menunggu cara yang dianggapnya terlampau lamban
itu. Tetapi Empu Gandring adalah orang yang lebih berhak
menentukan apa yang sebaiknya dilakukan atas Mahisa Agni itu.
Sejenak kemudian mereka yang berada di ruang itu saling
berdiam diri. Mereka membiarkan angan-angan masing-masing
menelusuri sepinya.
Ketika di kejauhan terdengar gonggong anjing liar yang lamatlamat,
maka kulit Empu Gandring serasa berkuit. Anjing-anjing itu
sedang bertengkar berebut tubuh Mahisa Agni yang telah
dilemparkan oleh Kebo Sindet kepada gerombolan anjing-anjing itu.
“Mudah-mudahan tidak terjadi,” desis Empu Gandring. ”Kebo
Sindet masih memerlukannya.”
Kesepian itu pun kemudian dipecahkan oleh suara Ken Arok.
“Empu, aku masih belum mengirimkan laporan yang lengkap
tentang hilangnya Mahisa Agni ke Tumapel. Aku takut apabila berita
itu dapat mengejutkan Tuan Puteri Ken Dedes dan dapat berakibat
mengganggu persiapan-persiapan perkawinannya dengan Akuwu
Tunggul Ametung. Aku mengharap bahwa Mahisa Agni segera dapat
dibebaskan. Tetapi apabila ternyata keadaan menjadi demikian,
maka sebaiknya aku mengirimkan orang untuk menyampaikannya
kepada Tuanku Akuwu Tunggul Ametung, supaya aku tidak
dipersalahkannya karena aku seakan-akan mengabaikan persoalan
keselamatannya. Sebab Mahisa Agni itu pasti akan segera dipanggil
pula menghadap sebelum semua persiapan perkawinan yang akan
segera diselenggarakan itu selesai.”
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Sesaat ia
tidak menjawab. Ia menjadi cemas apabila dalam pembicaraan
selanjutnya Ken Arok dan Akuwu Tunggul Ametung sependapat
untuk mengepung Kebo Sindet dengan sepasukan prajurit, karena
mereka tergesa-gesa untuk segera menemukan Mahisa Agni untuk
kepentingan persiapan perkawinan itu. Tetapi dengan demikian,
maka justru Mahisa Agni berada dalam bahaya.
“Apakah Empu sependapat?” bertanya Ken Arok.
Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia masih
ragu-ragu. Dipandanginya wajah Ki Buyut Panawijen yang suram.
Tetapi ia tidak menemukan apa pun pada wajah itu.
“Angger Ken Arok,” berkata Empu Gandring kemudian perlahanlahan,
“mungkin kau tidak akan dapat berbuat lain daripada itu.
Bagaimanapun juga maka peristiwa ini seluruhnya pasti akan
didengar oleh kalangan istana, juga oleh Tuan Puteri Ken Dedes.
Tetapi meskipun demikian, aku masih tetap mengharap, bahwa baik
Angger sendiri maupun Tuanku Akuwu Tunggul Ametung tidak
melakukan tindakan yang tergesa-gesa, yang akan dapat
membahayakan Mahisa Agni sendiri.”
Ken Arok mengangguk kecil sambil menggigit bibirnya. Anak
muda itu dapat mengerti kenapa Empu Gandring berpendirian
demikian menurut nalarnya, tetapi rasa-rasanya cara itu terlampau
lambat baginya sehingga perasaannya berpendapat lain. Namun kali
ini Ken Arok dapat menguasai perasaannya dengan nalarnya.
“Baiklah Empu,” jawabnya, “aku akan memberi penjelasan
kepada orang yang akan pergi ke Tumapel, bahwa tindakan yang
demikian akan sangat berbahaya. Aku akan mengharap bahwa
segala tindakan harus dipertimbangkan bersama Empu Gandring,
paman Mahisa Agni. Bukankah begitu?”
Empu Gandring tidak segera menyahut. Ia menjadi ragu-ragu.
Apakah ia harus menunggu persoalan ini sampai selesai di Padang
Karautan ini? Lalu bagaimana dengan padepokannya sendiri,
Lulumbang? Berapa lama ia harus menunggu? Berbeda halnya
apabila ia sendiri yang berusaha membebaskan Mahisa Agni. Maka
ia akan disibukkan oleh usahanya itu. Tetapi usaha itu sudah
dilakukan oleh orang lain. Ia tidak akan dapat duduk saja bertopang
dagu sambil menunggu tanpa bekerja apa pun di Padang Karautan.
Seandainya ia turut membantu membuat bendungan, maka
tenaganya akan tidak seimbang dibandingkan dengan kerjanya
sendiri yang memang telah menunggu. Tenaganya seorang itu tidak
akan banyak berpengaruh bagi bendungan ini. Apalagi setelah Ken
Arok dan prajurit-prajurit Tumapel berada di Padang Karautan ini
pula.
Karena itu maka yang paling baik baginya adalah menunggu
persoalan itu di padepokannya sendiri sambil melakukan
pekerjaannya sehari-hari. Membuat keris.
“Angger Ken Arok,” jawab Empu Gandring itu kemudian, “baiklah
aku selalu ikut serta dalam penyelesaian ini, karena itu adalah
kewajibanku. Tetapi aku sudah mempercayakannya kepada
seseorang sehingga kerjaku seolah-olah hanya tinggal menunggu
hasil dari usaha itu. Untuk itu aku akan menunggu di padepokanku
sendiri, di Lulumbang, sementara itu aku dapat bekerja seperti
biasa
sehari-hari. Untuk itu aku minta tolong kepadamu Ngger, apabila
ada perkembangan baru, sukalah Angger menyuruh seorang dua
orang ke Lulumbang. Aku akan berbuat sesuai dengan
kemampuanku.”
Ken Arok mengerutkan keningnya sedangkan Ki Buyut Panawijen
dengan serta merta bertanya, “Apakah Empu akan meninggalkan
kami di sini?”
“Aku harus melihat padepokan yang sudah agak lama aku
tinggalkan Ki Buyut.”
“Lalu, bagaimakah dengan kami seandainya ada bahaya yang
mendatangi.”
“Ah,” Empu Gandring tersenyum, “bukankah Ki Buyut berada di
tengah-tengah sepasukan prajurit yang tangguh. Jangankan prajurit
yang sekian banyaknya, sedangkan Angger Ken Arok sendiri akan
dapat berbuat banyak melindungi Ki Buyut dan orang-orang
Panawijen.”
“Oh,” Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya sedangkan
Ken Arok berdesah sambil bergumam, “Hem, Empu terlalu memuji.”
“Tidak, tidak Ngger. Aku tidak memuji. Tetapi Angger supaya
menyadari bahwa Angger mempunyai ciri-ciri yang aneh. Aku tidak
dapat mengatakan apa aneh itu. Namun Angger mempunyai
kelebihan dari orang-orang lain.”
“Ah,” sekali lagi Ken Arok berdesah, “apakah yang aneh padaku?
Aku sama sekali tidak berdaya menghadapi iblis dari Kemundungan
itu.”
“Tetapi akan datang saatnya Angger dapat mengalahkan Kebo
Sindet.”
“Bagaimana mungkin hal itu terjadi Empu. Aku tidak pernah
berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mempelajari ilmu tata
beladiri.”
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Gumamnya,
“Itulah salah satu keanehan Angger. Tanpa mempelajari dengan
sungguh-sungguh, Angger telah mampu bertahan tanpa cedera
yang berarti atas aji yang nggegirisi yang dilepaskan oleh iblis
dari
Kemundungan itu atas Angger.”
“Dadaku serasa remuk Empu.”
“Tetapi Angger tidak apa-apa sampai sekarang.”
“Aku masih mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung,”
sahut Ken Arok.
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi
keajaiban yang ada dalam diri Ken Arok masih tetap merupakan
teka-teki bagi Empu Gandring.
Sejenak kemudian mereka saling berdiam diri. Terasa angin
padang menyentuh tubuh-tubuh mereka. Silir, namun semakin lama
semakin dingin meresap ke dalam kulit daging.
Gubug-gubug kini telah menjadi semakin sepi. Beberapa orang
telah jatuh tertidur karena kelelahan sedangkan beberapa orang lagi
sedang bercakap-cakat tentang Mahisa Agni yang belum berhasil
dibebaskan dari tangan Kebo Sindet. Di luar gubug Ki Buyut
Panawijen pun telah menjadi sepi pula.
Orang-orang yang semula berkerumun mendengarkan cerita
Empu Gandring telah pergi meninggalkan gubug itu kembali ke
tempat masing-masing.
Sejenak kemudian Ken Arok berdiri sambil berkata, “Aku akan
memanggil dua orang prajurit yang besok harus menghadap Akuwu
ke Tumapel. Mungkin Empu dapat memberi mereka itu pesan
langsung. Mungkin ada hal-hal yang perlu Empu beritahukan supaya
semuanya dapat berjalan dengan baik, tanpa membahayakan
Mahisa Agni dan tidak terlampau mengejutkan Tuanku Akuwu
Tunggul Ametung dan Tuan Puteri Ken Dedes.”
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya,
“Baiklah Ngger.”
Ken Arok pun kemudian pergi meninggalkan Empu Gandring dan
Ki Buyut Panawijen untuk memanggil dua orang prajurit yang akan
diperintahkannya ke Tumapel.
Sejenak kemudian Ken Arok telah datang kembali bersama
prajurit yang dimaksudkannya.
“Dengarlah baik-baik,” desis Ken Arok, “supaya kau tidak
membuat kesalahan. Dengan demikian kau akan langsung
mendengar dari Empu Gandring dan dari aku sendiri. Bukan hanya
sekadar desas-desus yang sudah bertambah atau berkurang dari
peristiwa yang sebenarnya terjadi.”
Dan kedua prajurit itu kemudian mendengarkan penjelasan Empu
Gandring dengan ceritanya. Beberapa kali Ken Arok memberinya
pesan tentang cerita itu. Dan Empu Gandring pun mengatakan
semuanya yang diketahuinya. Dikatakannya pula beberapa hal
tentang Empu Sada. Bahwa orang itu sama sekali tidak bertanggung
jawab lagi tentang hilangnya Mahisa Agni.
“Tetapi hati-hatilah,” pesan Ken Arok, “jangan mengejutkan Tuan
Puteri Ken Dedes.”
Kedua prajurit Tumapel itu mengangguk-anggukkan kepala
mereka. Mereka mendengarkan keterangan Empu Gandring dengan
saksama, dan mereka mendengarkan pesan Ken Arok baik-baik
supaya mereka nanti tidak salah menyampaikan keterangan tentang
Mahisa Agni dan pesan-pesan yang harus dilakukannya.
“Jangan lupa sampaikan kepada Tuanku Akuwu Tunggul
Ametung bahwa segala usaha untuk menghindari peristiwa itu
sudah dilakukan, bahkan paman Mahisa Agni, Empu Gandring,
sendiri telah ikut serta mencoba melepaskan Mahisa Agni. Tetapi
kami tidak berhasil. Meskipun demikian, sampai saat ini usaha untuk
melepaskan Mahisa Agni masih dilakukan,” pesan Ken Arok
seterusnya kepada kedua prajurit itu. “Sampaikan pula bahwa usaha
dengan kekerasan untuk sementara sebaiknya tidak dilakukan
mengingat keselamatan Mahisa Agni sendiri. Sedangkan kerja di
Padang Karautan sama sekali tidak terganggu karenanya. Kami di
sini berusaha untuk segera menyelesaikannya beserta taman yang
dikehendaki oleh Tuanku Akuwu Tunggul Ametung yang akan
dihadiahkan kepada Tuan Puteri Ken Dedes nanti.”
Sekali lagi kedua prajurit itu mengangguk-angguk.
“Kau mengerti?” bertanya Ken Arok kemudian.
“Ya,” jawab kedua prajurit itu hampir bersamaan.
“Baiklah,” berkata Ken Arok selanjutnya, ”besok pagi-pagi kalian
berangkat. Usahakan supaya kau dapat menghadapi secepatnya dan
segera kembali.”
“Baik,” sahut keduanya.
“Sekarang kalian boleh pergi tidur, supaya kalian besok tidak
terlampau malas berangkat.”
Kedua prajurit itu pun segera meninggalkan ruangan itu.
Kemudian Ken Arok dan Empu Gandring pun pergi pula ke tempat
masing-masing untuk beristirahat.
Di dalam gubugnya, Empu Gandring masih juga selalu dikejarkejar
oleh kecemasan dan keragu-raguan tentang kepastian nasib
Mahisa Agni. Sehingga dengan demikian maka dengan gelisahnya,
ia duduk di atas sehelai tikar pandan yang kumal. Sekali-sekali ia
berdiri dan berjalan mondar-mandir. Sejenak kemudian kembali ia
duduk. Ketika seseorang datang kepadanya dan meletakkan
sebungkus makanan dan minuman hangat, maka Empu Gandring
tidak segera beranjak dari tempatnya.
“Letakkanlah di situ,” katanya.
“Baik Empu,” jawab orang itu, yang kemudian segera pergi
meninggalkannya.
Tetapi ketika dilihatnya uap air yang panas itu mengepul, timbul
pulalah selera Empu Gandring untuk meminumnya. Apalagi ketika
kemudian terasa bahwa perutnya pun mulai disentuh oleh rasa
lapar.
Namun akhirnya Empu Gandring itu hanya dapat menyerahkan
segala persoalan kepada Yang Maha Agung. Disertai doa dan puji
semoga kemenakannya itu dilepaskan dari segala macam bencana.
Ketika kemudian fajar pecah di Timur, maka langit di atas Padang
Karautan seolah-olah jadi membara. Warna merah yang tersirat dari
cakrawala memancar menyelubungi seluruh padang yang luas,
semakin lama menjadi semakin cerah.
Dalam kesibukan persiapan untuk melakukan kerja
menyelesaikan bendungan, orang Panawijen dan para prajurit
Tumapel melihat dua ekor kuda dan kedua penunggangnya berlari
meninggalkan perkemahan itu. Debu yang tipis dan kerikil-kerikil
yang lembut berloncatan dari kaki-kuda-kuda itu.
Ken Arok, Ki Buyut Panawijen, dan Empu Gandring berdiri tegak
seperti patung memandangi kedua ekor kuda yang semakin lama
menjadi semakin kecil menuju ke ujung padang.
“Mudah-mudahan tidak mengejutkan Tuan Puteri,” gumam Ken
Arok.
“Mudah-mudahan,” sahut Ki Buyut Panawijen, “gadis itu sangat
mengasihi kakaknya, seperti juga sebaliknya.” Orang tua itu
berhenti sesaat. Tiba-tiba ia berdesah, “Kalau anakku masih ada.”
Ken Arok yang mendengar desah itu menarik nafas dalam. Ia
tahu benar apa yang telah terjadi dengan putera Ki Buyut Panawijen
itu. Sekilas ia berpaling memandangi wajah Ki Buyut yang tua, yang
sudah dipenuhi oleh kerut-merut garis-garis umur. Tapi Ken Arok
tidak berkata sepatah kata pun.
Empu Gandring hanya berdiam diri, ia pun pernah mendengar jua
apa yang telah terjadi atas anak laki-laki Ki Buyut Panawijen.
“Tetapi beruntunglah bahwa Ken Dedes kemudian terlepas dari
Kuda Sempana, bahkan kepahitan yang dialami itu dapat menjadi
pupuk bagi kesuburan jalan hidupnya. Apabila tidak demikian, maka
ia tidak akan sampai ke Istana Tumapel. Aku pun menjadi ikut
berbahagia dengan kebahagiaan gadis itu. Aku juga pasti tidak akan
rela melihat apabila gadis itu benar-benar menjadi isteri pelarian
dari Kuda Sempana,” Ki Buyut melanjutkan desahnya dalam nada
yang dalam.
Ken Arok dan Empu Gandring masih saja berdiam diri. Terasa
seolah-olah pedih hati orang tua itu terungkat kembali dengan
tibatiba.
Apalagi bila kemudian Mahisa Agni tidak dapat diselamatkan
maka ia pun akan merasa kehilangan, sebab bagi Ki Buyut
Panawijen, Mahisa Agni seakan-akan telah menjadi ganti anaknya
yang hilang.
Dan dengan tiba-tiba saja ia bertanya, “Empu, apakah Empu
yakin bahwa Mahisa Agni akan selamat?”
Empu Gandring menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi
dipaksakannya mulutnya menjawab, “Aku yakin Ki Buyut.”
Ki Buyut itu pun kini terdiam pula. Ia masih memandang kuda
yang kini menjadi semakin kecil. Sekecil sebuah noktah di wajah
langit yang luas.
Untuk sesaat, kini ketiganya saling berdiam diri. Di belakang
mereka orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel telah
menjadi sibuk dengan segala macam persiapan. Alat-alat dan
keperluan-keperluan yang akan dikerjakan hari ini telah mereka
kumpulkan dan mereka bawa beramai-ramai ke tepi sungai di mana
bendungan itu dibuat.
Bintik-bintik di cakrawala yang menjadi semakin kecil itu pun
kemudian hilang bersama dengan pancaran sinar matahari yang
pertama, menyiram wajah Padang Karautan yang kekuningkuningan.
Warna fajar pun kemudian menjadi semakin terdesak
oleh cerahnya sinar matahari. Kuning keputih-putihan.
Ketika wajah Ki Buyut yang berkeriput itu merasa tersentuh oleh
hangatnya matahari pagi, maka orang tua itu pun menarik nafas
dalam-dalam. Dipalingkan wajahnya dan dilihatnya orang-orang
Panawijen dan para prajurit Tumapel telah sibuk mempersiapkan
diri untuk mulai bekerja.
“Kita hampir mulai,” gumam Ki Buyut itu kemudian.
Ken Arok pun kemudian berpaling. Terdengar ia berdesis,
“Mereka sudah siap Ki Buyut.”
“Marilah, aku akan minum wedang jaheku dahulu,” sahut Ki
Buyut. Kepada Empu Gandring Ki Buyut itu mempersilahkan,
“Marilah Empu. Minumlah dahulu.”
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya pelahan.
Namun kemudian ia berkata, “Ki Buyut, terima kasih. Tetapi hari ini
aku terpaksa mohon diri.”
Ki Buyut terkejut dan bahkan Ken Arok pun terkejut pula. “Begitu
tergesa-gesa,” hampir bersamaan mereka berdua bertanya.
“Ya. Aku kira lebih baik bagiku. Aku akan segera tenggelam
dalam kerja yang sudah lama aku tinggalkan. Aku sudah terlampau
rindu kepada padepokanku.”
Ki Buyut dan Ken Arok saling berpandangan sejenak. Kemudian
berkatalah Ki Buyut Panawijen, “Apakah Empu tidak ingin melihat air
sungai itu naik ke parit-parit yang sudah disiapkan menerima
limpahannya itu?”
“Memang, melihat air itu turun ke parit-parit untuk pertama
kalinya adalah suatu kebanggaan yang mengharukan. Tetapi aku
terlampau rindu kepada kampung halaman. Biarlah aku akan kemari
lagi beberapa minggu yang akan datang. Mudah-mudahan aku
dapat turut melihat bendungan itu mengangkat air.”
“Kami di sini menunggu Empu,” berkata Ken Arok, “kami merasa
Empu ikut serta menyiapkan bendungan ini. Sejak Mahisa Agni
sedang mencari tempat ini, bukankah Empu telah membantunya
seperti yang sering disebut-sebut Mahisa Agni.”
“Ah. Adalah kebetulan bahwa Agni itu kemenakanku. Tetapi
baiklah, aku akan mencoba melihat air dari sungai itu melimpah ke
parit-parit untuk yang pertama kalinya.”
“Kemudian Empu akan melihat aku membangun sebuah taman
yang indah sekali,” berkata Ken Arok, “indah sekali menurut
keinginan Tuanku Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi aku tidak tahu,
apakah selera keindahanku akan serupa dengan keinginan Akuwu.”
“Ya, ya. Aku akan melihat taman itu kelak. Mudah-mudahan aku
berkesempatan.”
“Tentu. Empu tentu berkesempatan.”
“Begitulah yang aku inginkan. Tetapi kadang-kadang yang terjadi
bukanlah keinginan kita masing-masing.”
Ken Arok mengerutkan keningnya. Ia tahu benar arti kata-kata
itu. Tetapi ia tidak mengerti kenapa Empu Gandring
mengucapkannya.
“Empu,” berkata Ken Arok kemudian, “taman itu tidak akan
terlalu lama siap. Lihat, di ujung dari parit induk ini, yang kelak
akan
terletak di luar daerah persawahan yang akan dibuat oleh orangorang
Panawijen, telah aku gali sebuah sendang buatan. Beberapa
macam pepohonan telah aku tanam sejak kini, meskipun setiap sore
masih harus disiram dan masih harus dilindungi dari terik matahari
sampai air ini mengalir ke sana. Di sekitar sendang itulah nanti
akan
dibuat sebuah taman dengan kebun bunga yang indah. Beberapa
jenis pohon pelindung telah pula aku tanam sejak sekarang.”
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya, aku
ingin sekali melihat taman itu kelak.”
“Empu Gandring harus melihatnya dan memujinya. Biar orang
lain, Tuanku Akuwu sendiri nanti mencelanya.”
Empu Gandring tersenyum. “Akuwu akan memuji bukan sekadar
untuk menyenangkan hati Angger. Tetapi aku yakin sejak sekarang,
bahwa taman itu akan menjadi taman yang paling indah di seluruh
Tumapel dan bahkan seluruh Kediri. Sebab taman itu dipersiapkan
pada tanah yang masih kosong, yang dapat dibuat benar-benar
menurut rencana.”
“Tetapi rencananyalah yang jelek Empu.”
Empu Gandring, Ki Buyut Panawijen, dan bahkan Ken Arok
sendiri tertawa.
“Empu,” berkata Ken Arok tiba-tiba, “aku telah mendengar bahwa
Empu adalah seorang pembuat keris yang jarang ada duanya.
Mungkin suatu ketika aku akan datang kepada Empu, untuk
mendapatkan sebuah kenang-kenangan. Seperti Empu lihat, sampai
kini aku belum mempunyai sebuah keris yang belum berarti bagiku.
Apalagi sebuah keris yang disebut pusaka. Karena itu, pada suatu
saat aku mengharap, bahwa Empu akan memberi aku sipat kandel.
”
“Ah,” Empu Gandring berdesah. “Aku tidak lebih dari seorang
pande besi biasa Ngger. Tetapi aku mengharap Angger datang ke
padepokanku. Lulumbang. Mungkin aku dapat membuat sesuatu
untuk Angger. Tetapi sama sekali bukan sebuah pusaka. Apabila
Angger menghendaki sekadar pisau untuk menebas alang-alang,
nah, aku akan bersedia.”
“Empu terlampau merendahkan diri.”
“Tidak Ngger. Supaya Angger tidak kecewa kelak.”
Ken Arok tersenyum. Katanya, “Baiklah. Suatu ketika aku pasti
datang ke Lulumbang. Tetapi sebaiknya Empulah yang datang lebih
dahulu kemari, melihat taman yang akan aku persembahkan kepada
Tuanku Tunggul Ametung yang akan dijadikannya hadiah untuk
permaisurinya tercinta. Tuanku Putri Ken Dedes.”
Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Sambil
mengangguk-angguk lemah ia memandangi padang yang luas itu.
Jauh di atas pandangan matanya ia melihat langit seolah-olah
bertemu dengan padang rumput yang kering itu. Terpercik di
dadanya serasa ia tidak akan dapat melihat padang itu lagi kelak.
Empu Gandring terkejut ketika ia kemudian mendengar Ken Arok
berkata kepadanya, “Kalau Empu tidak lagi dapat kami tahan,
baiklah aku mengucapkan selamat jalan. Tetapi sebaiknya Empu
menyiapkan dahulu bekal di perjalanan. Barangkali Ki Buyut dapat
membantunya. Sekarang, maaf Empu, aku harus mulai bekerja
bersama para prajurit Tumapel yang sudah memencar diri.”
“O, silakan, silakan Ngger. Mudah-mudahan kita dapat bertemu
lagi di kesempatan lain.”
“Kami di sini selalu menunggu kedatangan Empu. Kalau Empu
tidak juga datang, maka aku akan datang ke Lulumbang.”
Empu Gandring tersenyum, “Aku pun selalu menunggu
kedatanganmu Ngger. Dan aku juga selalu menunggu setiap berita
tentang Mahisa Agni.”
“Baik Empu. Aku akan selalu mengirimkan orangku ke Lulumbang
apabila terjadi perkembangan keadaan. Nah, sekarang, maaf, aku
harus mulai.”
“Silakan Ngger,” sahut Empu Gandring.
Ken Arok itu pun kemudian meninggalkan Empu Gandring dan Ki
Buyut Panawijen. Sejenak ia mengawasi para prajurit Tumapel yang
berpencaran. Sebagian dari mereka telah membawa pedati ke ujung
induk susukan, untuk menyiapkan sebuah sendang buatan.
Sebagian lagi menaikkan batu-batu bersama orang-orang Panawijen
yang berani melintasinya karena cerita tentang hantu Karautan yang
menakutkan. Tetapi kini, di sisi padang ini, berkeliaran
orang-orang
Panawijen, prajurit-prajurit, dan pelayan dalam dari Tumapel yang
sedang sibuk bekerja menyelesaikan bendungan dan sebuah taman
buatan.
Tetapi sebentar kemudian Ken Arok itu pun berjalan cepat-cepat
ke bendungan yang sudah mulai dikerjakan. Ternyata ia tahu benar
maksud Mahisa Agni. Seolah-olah Ken Arok itu turut serta
merencanakan pembuatannya, sehingga meskipun Mahisa Agni
tidak ada, namun pembuatan bendungan itu sama sekali tidak
terganggu dan berjalan seperti yang dikehendakinya.
Dalam pada itu, Ki Buyut masih belum meninggalkan Empu
Gandring yang segera akan meninggalkan Padang Karautan.
Dipersilakannya Empu Gandring untuk menyiapkan beberapa
macam bekal makanan dan bumbung-bumbung air.
“Aku akan menyusur sungai ini Ki Buyut, sehingga aku tidak perlu
membawa terlampau banyak persedian air.”
“O,” Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya.
Ketika matahari merambat semakin tinggi, maka Empu Gandring
pun telah siap di atas punggung kudanya. Sekali lagi ia minta diri
kepada Ki Buyut Panawijen yang menungguinya. “Salamku buat
orang-orang Panawijen dan para prajurit,” katanya.
“Terima kasih dan selamat jalan Empu,” desis Ki Bu yut
Panawijen.
“Terima kasih,” jawab Empu Gandring, “semoga kita masingmasing
mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung.”
Sesaat kemudian maka kuda Empu Gandring pun mulai bergerak.
Ditinggalkannya perkemahan yang sedang sibuk dengan kerja.
Beberapa pasang mata masih sempat melihat kuda itu menaburkan
debu yang tipis. Semakin lama semakin jauh.
Sekali-sekali Empu Gandring pun berpaling pula. Dilihatnya
betapa kerja yang dimulai oleh Mahisa Agni itu menjadi semakin
sibuk. Orang-orang Panawijen dan para prajurit berpencaran dalam
kerja masing-masing. Bendungan, parit-parit, dan sebuah taman
seperti yang dihendaki oleh Tuanku Tunggul Ametung, agak jauh ke
tengah padang.
“Beberapa tahun lagi maka daerah ini akan menjadi sebuah
padukuhan yang ramai. Panawijen sendiri akan segera dilupakan
orang. Mereka akan meninggalkan padesan yang semakin lama
menjadi kering, sedangkan daerah di sepanjang sungai ini adalah
daerah yang masih sedang berkembang,” gumam Empu Gandring
kepada diri sendiri. Terbayang di matanya, induk susukan yang
membelah daerah persawahan yang subur. Kemudian sebuah
pategalan dan yang kelak akan menjadi padesan. Di sebelah
padukuhan itu dibangun sebuah taman yang indah. Bukan saja
untuk kepentingan padukuhan atau padepokan yang akan lahir
nanti, tetapi taman itu adalah Taman Akuwu Tumapel. Bukankah
dengan demikian jalan antara Karautan dan Tumapel akan menjadi
ramai pula? Jalan yang menghubungkan istana dan sebuah
kenangan tentang tempat asal Ken Dedes, meskipun bukan yang
sebenarnya, karena tempat yang sebenarnya sudah menjadi kering.
Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam.
“Tetapi apakah orang yang telah meletakkan hasrat yang
pertama kali membuat bendungan di Padang Karautan itu kelak
akan dapat melihatnya pula?”
Sebuah desir yang lembut telah menggores jantung Empu
Gandring. Namun kemudian, sekali lagi ia mencoba menguasai
perasaannya. “Semuanya berada di tangan Yang Maha Agung.
Apalagi nasib Mahisa Agni sedangkan nasibku sendiri pun tidak aku
ketahui. Apakah aku masih juga diberi kesempatan untuk bertemu
dengan kemenakanku itu atau tidak, aku tidak tahu.”
Ketika Empu Gandring sekali lagi berpaling, maka perkemahan di
tepi sungai itu seolah-olah telah menjadi bintik-bintik yang sangat
kecil. Ia sudah tidak lagi dapat melihat orang-orang yang sedang
berpencaran bekerja di bawah sinar matahari yang sudah mulai
menggatalkan kulit.
“Mudah-mudahan semuanya terjadi seperti yang dikehendaki,”
desisnya, ”semoga Yang Maha Agung memperkenankan.”
Sekali Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Kemudian
disentuhnya perut kudanya dengan sebuah ranting kecil yang
dipakainya sebagai cemeti.
Kuda itu pun kemudian berlari semakin kencang membelah
Padang Karautan yang sepi.
Sementara itu matahari pun merayap perlahan-lahan menyusuri
jalannya di langit. Semakin lama semakin tinggi. Ketika dicapainya
puncak ketinggian, maka ditempuhnya jalannya di belahan langit di
sebelah barat. Semakin lama semakin rendah.
Selembar-selembar awan hanyut di permukaan wajah yang biru.
Dan burung-burung berkeliaran menyambar makanannya.
Dalam pada itu, dua ekor kuda sedang berpacu memasuki jalan
kota di Tumapel. Derap kakinya menghentak-hentak di atas tanah
berbatu-batu. Segumpal-segumpal debu yang putih melontar di
udara.
Dua orang penunggang kuda yang tubuhnya basah oleh keringat
telah memasuki gerbang kota. Keduanya adalah prajurit yang
mendapat perintah dari Ken Arok, menyampaikan laporan kepada
Akuwu Tunggul Ametung.
Di regol pertama Istana Tumapel, keduanya berhenti. Para
penjaga yang melihat kedua prajurit yang tubuhnya menjadi kelabu
karena debu yang melekat, tersenyum sambil bertanya. “He, apakah
kau baru saja berguling-guling di atas pasir?”
“Uh,” sahut salah seorang dari mereka, “panasnya bukan main.
He, apakah masih ada sisa makanan di sini?”
Prajurit-prajurit yang berada di regol itu tertawa. “Apakah kau
tidak membawa bekal apa pun dari Panawijen.”
“Aku tidak datang dari Panawijen, aku datang dari Padang
Karautan.”
“Ya, begitulah maksudku.”
“Yang ada di padang itu hanyalah rumput-rumput kering dan
batu-batu padas bergumpal-gumpal.”
“Bohong,” sahut salah seorang prajurit yang bertugas di regol
halaman luar, “kau sangka aku tidak tahu, berapa pedati penuh
dengan beras dan jagung yang kalian bawa ke padang itu?”
“Tetapi aku tidak sempat membawa barang segumpal pun.
Sekarang beri aku makan.”
Para penjaga regol itu tertawa. Dibawanya kedua kawannya ke
gardu mereka.
“Aku masih mempunyai sebungkus meniran jagung.”
“Jadilah. Sementara itu sampaikan lewat pelayan dalam yang
bertugas, bahwa kami berdua ingin menghadap Akuwu Tunggul
Ametung. Kami membawa pesan dari Ken Arok yang memimpin
kami di Padang Karautan.”
“Telanlah makanan itu dahulu. Kalau tiba-tiba Akuwu
memanggilmu saat ini juga, kau tidak akan menghadap sambil
mengunyah meniran jagung.”
“Akuwu tidak akan menerima aku segera. Aku masih akan
sempat mandi dahulu.”
“Pantas.”
“Apa yang pantas?”
“Kalau kau memang bermaksud mandi dahulu, seharusnya kau
mandi sebelum makan.”
“Sama saja. Mandi lalu makan atau makan lalu mandi.”
Para prajurit itu pun tertawa. Mereka membiarkan kedua
kawannya makan sekenyang-kenyangnya. Sementara itu salah
seorang dari mereka pergi ke halaman dalam. Menyampaikan
permohonan kedua prajurit itu untuk menghadap lewat mereka
yang bertugas di dalam.
Ternyata dugaan kedua prajurit yang datang dari Padang
Karautan itu meleset. Ternyata, begitu Akuwu mendengar
permohonan itu, segera berkata, “Bawa mereka kemari.”
Prajurit yang sedang makan itu pun menjadi tergesa-gesa. Ketika
mereka menelan gumpalan meniran jagung yang terakhir, maka
mereka memerlukan hampir sekendi air untuk mendorong gumpalan
itu masuk ke dalam perut mereka.
Dengan tergesa-gesa mereka menyeka badan mereka yang
kotor, membenahi pakaian mereka, dan dengan tergesa-gesa pula
mereka berjalan masuk lewat pintu regol halaman dalam.
“Akuwu hampir tidak sabar menunggu kalian,” berkata prajurit
yang berada di regol halaman dalam.
“Aku baru makan,” sahut kedua prajurit itu sambil berjalan cepat.
Sejenak kemudian kedua prajurit itu telah duduk tumungkul di
hadapan Akuwu Tunggul Ametung di ruang belakang. Sekali-sekali
mereka menekan perut mereka yang terasa sakit di arah lambung
karena mereka baru saja makan kenyang-kenyang.
“Apakah kalian membawa pesan dari Ken Arok,” bertanya Akuwu
Tunggul Ametung.
“Hamba tuanku,” sahut kedua prajurit itu.
“Tentang bendungan dan taman?”
“Hamba tuanku, tetapi juga tentang yang lain.”
“Yang lain itulah yang pasti akan menarik perhatian. Tentang
bendungan dan taman, bukankah kau akan berkata bahwa
keduanya telah dikerjakan dengan lancar?”
“Hamba tuanku.”
“Nah, kalau begitu, tentang yang lain itulah yang aku ingin
mendengar. Coba katakan, tentang apa? Kekurangan makan?
Penyakit?”
“Tidak tuanku.”
“Kalau begitu tentang apa?”
“Tentang Kakanda Tuan Puteri Ken Dedes.”
“Mahisa Agni?”
“Ya.”
“Kenapa Mahisa Agni? Apakah Ken Dedes perlu mendengarnya
juga?”
“Hamba tuanku. Tetapi hamba tidak tahu, apakah Tuan Puteri
Ken Dedes dapat langsung mendengarnya dari mulutku.”
Tunggul Ametung mengerutkan alisnya. Terasa sesuatu yang
tidak wajar telah terjadi. Dan tiba-tiba ia teringat kepada
permintaan Ken Dedes beberapa saat yang lalu. Gadis itu
mengatakan bahwa kakaknya sedang terancam oleh kedua orang
yang mengerikan, Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Gadis itu
pernah berkata kepadanya dan minta perlindungan bagi kakaknya
dari kedua iblis dari Kemundungan itu.
Dengan demikian maka Akuwu Tunggul Ametung itu menjadi
berdebar-debar. Wajahnya yang keras tampak menjadi tegang.
Sedangkan kedua prajurit yang menghadapnya, duduk tumungkul
dalam-dalam.
Tetapi kedua prajurit itu terkejut dan hampir saja mereka
terlonjak ketika tiba-tiba Akuwu Tunggul Ametung membentaknya,
“Kenapa kalian diam saja he? Soal yang lain itu soal apa?”
“Oh,” sahut salah seorang dari kedua prajurit itu.
“Ampun tuanku. Maksud hamba, apakah hamba harus
menyampaikan sekarang, atau hamba masih harus menunggu Tuan
Puteri Ken Dedes.”
Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia
berpikir. Lalu katanya, “Katakan. Katakan sekarang.”
Sejenak kedua prajurit itu saling berpandangan. Namun sekali
lagi mereka terkejut ketika Akuwu itu berteriak, “Sekarang. Kau
dengar.”
“Ya, ya tuanku,” berkata prajurit itu. Meskipun ia sudah biasa
melihat sikap Tunggul Ametung, namun terasa tangannya masih
juga gemetar, “hamba mendapat pesan dari Kakang Ken Arok untuk
hamba persembahkan kepada Tuanku Akuwu Tunggul Ametung,
berita tentang kakanda Tuan Puteri Ken Dedes.”
“Sudah kau katakan. Sudah kau katakan,” potong Tunggul
Ametung, “tentang Mahisa Agni. Kenapa Mahisa Agni itu?”
Prajurit itu menggigit bibirnya. Namun kawannya cepat-cepat
menyambung, “Hamba tuanku. Sebenarnyalah memang soal
Kakanda Tuan Puteri yang sedang berada dalam bahaya.”
“Aku sudah mengerti. Kalau tidak demikian kalian tidak akan
datang kemari. Tetapi bahaya itu bahaya apa?”
“Tuanku,” sahut prajurit yang seorang, “Telah lama kakanda
Tuan Puteri Ken Dedes dibayangi oleh dua orang yang berbahaya
baginya, yang selama ini berusaha untuk menangkap Mahisa Agni.”
“Maksudmu Kebo Sindet dan Wong Sarimpat?”
Kedua prajurit itu saling berpandangan sejenak. Ternyata Akuwu
Tunggul Ametung telah mendengar nama itu.
“Benar?”
“Hamba tuanku,” hampir bersamaan kedua prajurit itu menyahut,
“Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.”
“Dan kini Mahisa Agni berhasil ditangkapnya?”
“Hamba tuanku.”
“Setan alas,” Akuwu Tunggul Ametung itu mengumpat keraskeras
sambil meloncat berdiri. Tangannya mengepal dan giginya
gemeretak. Sambil mengayun-ayunkan tangannya dekat sekali di
atas kepala kedua prajurit yang tunduk itu Akuwu Tunggul Ametung
berteriak, “Bukankah di Padang Karautan ada sepasukan prajurit
Tumapel di bawah pimpinan Ken Arok? Prajurit macam kalian ini?
Lalu apakah gunanya kalian berada di padang itu, he? Apakah kalian
tidur saja atau kalian berlari ketakutan hanya karena mendengar
nama Kebo Sindet dan Wong Sarimpat? O, alangkah malunya aku
mempunyai prajurit seperti kalian. Kalian yang hanya dapat makan
dan tidur, tetapi tidak berani menengadahkan dada di hadapan
Kebo Sindet dan Wong Sarimpat?”
Kedua prajurit itu tidak segera menjawab. Mereka telah mengerti
benar-benar sifat Akuwunya. Apabila mereka berani memotong
kata-kata itu, maka kepala mereka pasti akan disentuh oleh tinju
yang sedang terayun-ayun. Karena itu maka mereka membiarkan
saja Akuwu Tunggul Ametung itu berbicara terus.
Akhirnya Akuwu Tunggul Ametung itu terdiam juga.
“Ampun tuanku,” berkata seorang dari kedua prajurit itu setelah
Akuwu Tunggul Ametung terdiam diri, “yang terjadi itu benar-benar
di luar kemungkinan pertolongan kami.”
Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. “Kenapa?”
desisnya.
“Kebo Sindet berhasil menangkap Mahisa Agni tidak di Padang
Karautan, tetapi di Padepokan Panawijen.”
“Apakah Mahisa Agni berada di Padepokan Panawijen?”
“Hamba tuanku,” jawab prajurit itu.
“Bagaimana hal itu bisa terjadi?”
Maka prajurit itu pun kemudian menyampaikan pesan Ken Arok
dan Empu Gandring kepada Akuwu Tunggul Ametung. Dengan hatihati
dikatakannya peristiwa itu berurutan seperti yang mereka
dengar. Dikatakannya pula bahwa Wong Sarimpat kini telah
terbunuh, dalam perkelahian melawan Empu Sada, guru Kuda
Sempana yang ingin juga membebaskan Mahisa Agni.
Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia
kini telah duduk kembali. Dengan wajah yang tegang ia mencoba
membayangkan apa yang telah terjadi atas Mahisa Agni.
“Ah,” desahnya, “anak itu kurang hati-hati. Kenapa ia tidak
membawa beberapa orang prajurit bersamanya ketika ia pergi ke
Panawijen?”
Sekali lagi Akuwu berdiri dengan gelisahnya. Sambil berpaut
tangan di punggungnya, ia berjalan hilir mudik di dalam ruangan
itu.
Kepalanya ditundukkannya, seolah-olah sedang memandangi ujungujung
kakinya berganti-ganti.
Tiba-tiba Akuwu itu berhenti, berputar menghadap ke arah kedua
prajurit itu. “Sst,” desisnya, “jangan terlampau keras. Nanti Ken
Dedes mendengarnya. Ia tidak boleh menjadi gelisah karenanya.
Aku sendirilah yang akan menyampaikan berita ini kepadanya
dengan hati-hati, supaya ia tidak menjadi bingung dan cemas.
Rencana yang sudah aku susun selama ini tidak boleh terganggu
karenanya.”
Kedua prajurit itu tersenyum di dalam hati. Bukankah Akuwu
Tunggul Ametung sendiri yang berteriak-teriak demikian kerasnya?
Tetapi kedua prajurit itu menjawab hampir bersamaan, “Hamba
tuanku.”
“Bagus. Para tetua Tumapel sudah sibuk menentukan hari
perkawinanku dengan gadis itu. Hilangnya Mahisa Agni jangan
menjadi sebab tertundanya perkawinan itu.”
Akuwu itu terdiam sejenak. Alisnya menjadi berkerut-merut. Dan
tiba-tiba ia berteriak, “He, aku akan menyiapkan pasukan segelar
sepapan. Mahisa Agni harus diketemukan segera. Witantra sendiri
harus memimpin pasukan itu.”
Kedua prajurit itu sama sekali tidak terkejut. Mereka sudah
menyangka bahwa Akuwu akan mengambil sikap itu dengan sertamerta.
Dan kedua prajurit itu mendengar Akuwu melanjutkan, “Ah,
tidak, tidak perlu segelar sepapan. Bukankah yang dihadapi
hanyalah seorang Kebo Sindet. Sebenarnya prajurit-prajurit yang
ada di Padang Karautan saja telah cukup untuk menangkapnya.
Apalagi di sana ada pula Empu Gandring.”
Kedua prajurit itu tidak segera menjawab. Mareka masih
menundukkan kepala mereka.
“He, kenapa kalian diam saja? Bagaimana pendapatmu?”
“Ampun tuanku,” sahut salah seorang dari mereka.
“Sebenarnya kami di Padang Karautan pun akan mampu
menangkapnya bersama kakang Ken Arok dan Empu Gandring
apabila persembunyiannya telah kami ketemukan.”
“Jadi persembunyian itu belum kalian temukan? Jadi bagaimana
katamu tadi? Bukankah kau berkata bahwa persembunyian Kebo
Sindet itu telah diketahui, diputari sebuah rawa-rawa yang
berlumpur?”
“Hamba tuanku. Maksud hamba, bahwa sebenarnya tuanku tidak
perlu menyiapkan sepasukan yang lain.”
“Tetapi bagaimana yang terjadi. Apakah kalian berbuat sesuatu
atas Mahisa Agni? Kalau kalian dapat mengatasi persoalan itu
sendiri, kalian tidak akan berlari-lari datang kemari melaporkan
hal
itu kepadaku. Kalian pasti akan bertindak dahulu, baru setelah
semuanya selesai, kalian mempertanggungjawabkannya kepadaku.
Tetapi sekarang kalian berlari kepadaku mengadukan persoalan itu.
Nah, apa katamu?”
“Ampun tuanku,” jawab salah seorang prajurit itu, “hamba telah
menyampaikan pesan dari kakang Ken Arok dan Empu Gandring,
bahwa saat ini kekerasan tidak akan menguntungkan bagi Mahisa
Agni itu sendiri.”
Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Sambil
mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Ya, ya. Aku
mendengar. Tetapi apakah Mahisa Agni itu akan dibiarkan saja
dalam keadaannya. Sedangkan orang yang akan berusaha
membebaskannya itu akan dapat melakukan pekerjaannya berapa
bulan, berapa tahun lagi? Itu akan terlampau lama. Sebentar lagi
aku akan melangsungkan upacara kenegaraan. Apabila saat itu
Mahisa Agni masih belum diketemukan, maka aku menjadi cemas,
bahwa Ken Dedes akan terganggu perasaan dan kegembiraannya.”
Kedua prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun
salah seorang dari mereka mencoba berkata, “Tetapi tuanku,
apabila terjadi sesuatu yang lebih dahsyat pada Mabisa Agni itu,
maka Tuan Puteri akan menjadi lebih berduka.”
“Ya, ya. Kau benar.” Akuwu Tunggul Ametung itu berhenti
sejenak. Ia kini berdiri di muka kedua prajurit yang duduk
menunduk dalam-dalam, “peristiwa ini adalah peristiwa yang pahit
bagiku. Tetapi upacara kenegaraan dari perkawinan Akuwu Tumapel
tidak boleh tertunda. Sebagian dari persiapan telah dilakukan dan
para tetua Tumapel pun telah menentukan waktunya.”
Kedua prajurit itu tidak menyahut.
“Lalu bagaimana menurut pendapatmu?” bertanya Akuwu itu
tiba-tiba.
Kedua prajurit itu saling berpandangan. Mereka sama sekali tidak
mengerti bagaimana mereka menjawab pertanyaan itu.
Mereka mengangguk-anggukkan kepalanya ketika mereka
mendengar Akuwu itu berkata, “Ya, ya. Tidak seharusnya aku
bertanya mengenai hal-hal yang sulit kepada kalian. Nah, sekarang
kalian boleh beristirahat. Laporan kalian telah aku terima dan
pesan
Empu Gandring dan Ken Arok dapat aku mengerti. Aku tidak akan
segera mempergunakan kekerasan. Tetapi aku perintahkan kepada
Ken Arok untuk berusaha menurut jalan yang sebaik-baiknya, agar
Mahisa Agni dapat segera diselamatkan. Dan, sesuai dengan
perintahku yang dahulu, taman yang sedang kalian kerjakan itu pun
harus segera selesai pula.”
“Hamba tuanku,” sembah kedua orang prajurit itu, “taman itu
telah kami kerjakan. Beberapa jenis pohon-pohonan yang akan
menjadi pelindung telah tumbuh subur.”
“Bagus. Bagus. Aku percaya kepada kalian dan Ken Arok.
Sekarang pergilah. Sore ini aku harus bertemu dengan Ken Dedes.
Ia tidak boleh terkejut. Aku akan mencoba mengatakan kepadanya.”
“Hamba tuanku, berkata salah seorang prajurit itu,
“perkenankanlah hamba mohon diri.”
“Pergilah. Kau harus segera kembali ke Padang Karautan. Kau
tidak perlu menghadap aku lagi kecuali apabila aku memanggil
kalian.”
“Hamba tuanku.”
“Kebutuhan kalian tidak pernah dilupakan. Kalau kalian
memerlukan orang-orang baru, maka segera aku akan
mengirimkan.”
“Kakang Ken Arok tidak berpesan demikian tuanku.”
“Baik. Pergilah. Taman itu tidak boleh terlambat.”
Kedua prajurit itu pun kemudian meninggalkan istana. Di
halaman luar mereka mengambil kuda-kuda mereka.
“Terima kasih atas makanan yang kalian berikan,” berkata
prajurit itu kepada penjaga.
“Kau tidak mandi dahulu?” bertanya salah seorang prajurit yang
berjaga-jaga di regol itu.
“Buat apa aku mandi sekarang. Aku sudah menghadap Akuwu
meskipun tubuhku seperti gadung yang dilumuri abu.”
“Lalu sekarang kau mau apa?”
“Kembali,” sahut kedua prajurit itu hampir bersamaan.
“Kembali ke Padang Karautan?”
“Oh, aku masih belum gila,” sahut salah seorang prajurit itu,
”kembali pulang. Menemui anak isteri. Mandi, makan yang baik tidak
tergesa-gesa dengan lauk yang lezat. Minum wedang jae, lalu tidur
nyenyak. Besuk aku baru kempali ke padang yang kering dan panas
itu.”
Sesaat kemudian prajurit-prajurit itu pun meninggalkan regol
istana, menyusur jalan-jalan kota, pulang ke rumah masing-masing.
Mereka mempergunakan malam untuk berkumpul di antara keluarga
mereka yang selama ini mereka tinggalkan, berjemur di siang hari,
dan berembun di malam hari di Padang Karautan.
Di istana, Akuwu Tunggul Ametung berjalan hilir-mudik dengan
gelisahnya di biliknya. Hilangnya Mahisa Agni akan dapat
mengganggu rencana perkawinan yang telah dipersiapkan oleh
orang-orang tua Istana Tumapel.
Sebenarnya, apabila Akuwu menghendaki, maka perubahan itu
tidak akan dapat dihalangi oleh siapa pun. Namun Akuwu sendiri
sama sekali tidak ingin perkawinannya tertunda. Karena itu, maka ia
harus mencari akal, supaya semua rencananya dapat berlangsung.
Tanpa sesadarnya maka Akuwu Tunggul Ametung itu telah
mengumpat di dalam hatinya. Mengumpati Kuda Sempana, Kebo
Sindet, Wong Sarimpat, dan orang-orang yang telah mereka peralat
untuk memancing Mahisa Agni.
“Tetapi ternyata Mahisa Agni itu terlampau bodoh,” desisnya, “ia
mau saja dituntun seperti seekor kerbau yang telah dicocok
hidungnya, masuk ke dalam perangkap. O, alangkah bodohnya.”
Dan tiba-tiba Akuwu Tunggul Ametung itu mengepalkan tangannya
dan ditinjunya telapak tangan kirinya sendiri kuat-kuat. “Bodoh,
bodoh,” desisnya pula, “bukan saja Mahisa Agni, tetapi Ken Arok
juga bodoh. Dan Empu Gandring itu juga bodoh. Mereka bertiga
bersama-sama masuk ke dalam perangkap yang telah dipasang oleh
Kebo Sindet. Hanya orang-orang sebodoh Mahisa Agni, Empu
Gandring, dan Ken Arok sajalah yang dapat dipancing seperti itu.”
Nafas Akuwu Tunggul Ametung itu menjadi semakin cepat
mengalir.
“Persetan. Persetan,” dan Akuwu Tunggul Ametung itu mencoba
merebahkan dirinya di atas pembaringannya. Tetapi sejenak
kemudian ia sudah berdiri lagi dan berjalan mondar-mandir.
Tiba-tiba ia tidak tahan lagi. Terdengar suaranya menggelegar
memanggil pelayan yang sedang berjaga-jaga di bawah tangga
serambi istana. “He, siapa yang berada di situ?”
Berhari-jari pelayan itu naik dan duduk di depan pintu bilik
Akuwu Tunggul Ametung.
Tetapi pelayan itu terkejut ketika ia mendengar Akuwu itu
berteriak lagi, “He, apakah pelayan-pelayan itu sudah tuli?”
Tanpa sesadarnya, maka dengan serta-merta pelayan itu
menyahut cukup keras. “Hamba tuanku. Hamba telah menghadap.”
Maka Akuwu Tunggul Ametunglah yang terkejut. Tidak
disangkasangkanya
bahwa di belakang pintu itu sudah duduk seorang
pelayan yang menjawab panggilannya dengan keras pula.
“Apa,” teriak Akuwu itu tiba-tiba, “kau berani membentak aku?”
“Ampun, ampun tuanku,” pelayan itu tergagap. “Hamba tidak
sengaja. Hamba terkejut dan karena itu maka suara hamba menjadi
agak terlampau keras.”
“Masuklah,” suara Akuwu Tunggul Ametung pun menjadi rendah
dan lambat.
Pelahan-lahan pelayan itu mendorong pintu bilik Akuwu Tunggul
Ametung, kemudian duduk bersimpuh sambil menundukkan
kepalanya.
“Katakanlah kepada emban pemomong Ken Dedes, aku ingin
bertemu.”
Pelayan itu menyembah, katanya, “Hamba tuanku. Apakah Tuan
Puteri Ken Dedes harus menghadap?”
Akuwu Tunggul Ametung berpikir sejenak.
“Tidak,” katanya sambil menggelengkan kepalanya, “aku akan
datang kepadanya sebentar lagi.”
“Hamba tuanku,” sembah pelayan itu, yang kemudian
meninggalkan ruangan itu untuk menyampaikan pesan Akuwu
Tunggul Ametung kepada Ken Dedes.
Ketika pelita dan lampu-lampu di dalam Istana Tumapel sudah
mulai dinyalakan, serta para pelayan sudah selesai membenahi
bilikbilik
dan ruangan-ruangan di dalam istana itu, maka Akuwu Tunggul
Ametung berjalan menyusur ruang dalam pergi ke bilik Ken Dedes.
Dengan hati yang gelisah Akuwu melangkah setapak demi setapak.
Direka-rekanya kalimat-kalimat yang akan disampaikannya kepada
Ken Dedes supaya berita tentang hilangnya Mahisa Agni bagi Ken
Dedes tidak mengejutkan dan seakan-akan hanya merupakan
sesuatu peristiwa kecil saja.
Debar di dada Akuwu Tunggul Ametung menjadi semakin cepat
ketika ia melihat Ken Dedes telah menunggunya di ruang tengah di
depan biliknya.
Dengan hormatnya gadis itu duduk bersimpuh di atas sehelai
tikar pandan yang dianyam berbunga-bunga. Di belakangnya duduk
emban tua pemomong-nya yang setia, yang hampir tidak pernah
terpisah dari padanya.
“Silakan tuanku,” Ken Dedes mempersilakan Akuwu yang masih
saja berdiri. Debar jantungnya hampir-hampir tidak dapat
disembunyikannya lagi.
Namun dicobanya untuk tetap tenang. Pelahan-lahan
diletakkannya tubuhnya di atas sebuah tempat duduk rendah
persegi empat yang terbuat dari kayu berukir. Namun sejenak
Akuwu itu sama sekali tidak mengucapkan kata-kata. Mulutnya
serasa menjadi berat, dan darahnya menjadi seolah-olah semakin
cepat mengalir.
Ken Dedes dan emban tua pemomong-nya merasa aneh melihat
sikap Akuwu Tunggul Ametung itu. Sikap yang tidak biasa dalam
hidupnya sehari-hari. Namun justru karena itu Ken Dedes menjadi
segan dan takut untuk bertanya lebih dahulu.
Baru sejenak kemudian, setelah jantung Akuwu Tunggul
Ametung menjadi agak tenang, ia berkata, “Ken Dedes,
kedatanganku ini sama sekali tidak membawa suatu persoalan yang
penting. Aku masih belum mengambil keputusan-keputusan baru.”
Ken Dedes mengerutkan keningnya. Ia tidak segera tahu arah
pembicaraan Akuwu Tunggul Ametung yang tidak tentu ujung dan
pangkalnya itu.
Karena itu, maka untuk sejenak Ken Dedes masih saja berdiam
diri sambil menunggu Akuwu Tunggul Ametung menjelaskan
maksudnya. Tetapi Akuwu Tunggul Ametung itu pun kemudian
berdiam diri sambil duduk tepekur. Ia sedang mencari kata-kata
yang sebaik-baiknya untuk memberitahukan kepada Ken Dedes
tentang kakaknya yang hilang.
Dengan demikian maka ruangan itu menjadi sepi. Hanya desah
nafas mereka sajalah yang terdengar seolah-olah saling bersahutan.
Betapa debar jantung Ken Dedes menjadi semakin cepat, tetapi ia
tidak berani bertanya sesuatu kepada Akuwu, yang agaknya sedang
disaput oleh kekalutan pikiran.
Baru sejenak kemudian Akuwu itu berkata, “Ken Dedes. Aku
hanya ingin memberitahukan kepadamu, bahwa persiapan hari
perkawinan itu berjalan dengan lancar.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi terasa
bahwa bukan itu yang ingin dikatakan oleh Akuwu Tunggul
Ametung. Meskipun demikian ia menjawab, “Hamba tuanku.”
“Apakah kau bergembira karenanya?”
“Hamba tuanku. Tentu hamba bergembira karenanya.”
“Aku sudah menyangka,” gumam Akuwu seolah-olah kepada diri
sendiri.
Tetapi Akuwu itu sekali lagi terdiam. Dengan kaku ia duduk
menundukkan kepalanya. Ia masih belum juga menemukan katakata
yang dianggapnya baik untuk memberitahukan kepada Ken
Dedes tentang Mahisa Agni.
Dalam pada itu, Ken Dedes pun menjadi semakin tegang. Terasa
sesuatu yang baginya pasti cukup penting.
“Ken Dedes,” tiba-tiba Akuwu Tunggul Ametung berdesis, “hari
perkawinan itu sudah ditentukan oleh tetua Tumapel. Kira-kira
setengah bulan lagi akan dilakukan upacara kenegaraan. Aku sama
sekali tidak ingin saat-saat yang kita tunggu-tunggu itu terganggu
oleh apa pun juga. Bukankah begitu? Kau akan segera menjadi
seorang permaisuri, bukan sekadar calon permaisuri. Kedudukanmu
di dalam istana ini menjadi jelas. Tidak seperti sekarang. Kau
masih
seorang bakal permaisuri yang tidak mempunyai kekuasaan
sepenuhnya. Para emban dan pelayan masih saja menganggapmu
orang asing di sini.”
Ken Dedes mengangguk hormat sambil menjawab, “Hamba
tuanku. Hamba akan berterima kasih sekali atas perhatian tuanku.
Tetapi sebenarnyalah bahwa para emban dan pelayan bersikap
sangat baik kepadaku.”
“Ya…, ya,” Akuwu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak
kemudian ia berkata, “Aku memang mengharap demikian, tetapi kau
akan menjadi lebih mantap berada di istana ini sebagai seorang
permaisuri. Seorang yang berhak sepenuhnya atas Istana Tumapel.
Dan tak seorang pun yang akan berani membantah perintahmu.
Sebab kekuasaanmu tidak ada bedanya dengan kekuasaanku sendiri
di dalam istana ini. Apakah kau dapat mengerti Ken Dedes?”
Ken Dedes menjadi heran mendengar pertanyaan itu. Hampirhampir
ia tidak dapat menahan perasaannya. Ia menjadi semakin
yakin bahwa ada sesuatu yang masih belum diucapkan oleh Akuwu
Tunggul Ametung. Tetapi ia tidak mempunyai cukup keberanian
untuk mendesaknya.
Akuwu Tunggul Ametung itu berkata pula dengan nada yang
datar, “Karena itu, semuanya harus berlangsung tepat pada
waktunya. Apa pun yang terjadi.” Tiba-tiba suaranya meninggi,
“Bukankah begitu Ken Dedes?”
Ken Dedes yang menjadi semakin gelisah menyahut, “Hamba
tuanku. Hamba menjunjung segala titah tuanku.”
Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Bagus, bagus Ken Dedes. Tetapi …,” kata-kata Akuwu Tunggul
Ametung terputus.
Namun dengan demikian Ken Dedes benar-benar tidak dapat
menahan diri lagi. Betapa ia dicekam oleh keseganan dan
ketakutan, namun terdorong juga pertanyaan dari mulutnya,
“Tuanku, apakah sebenarnya yang ingin tuanku katakan?”
“Hem,” Akuwu Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam.
Tiba-tiba ia berdiri dan berjalan hilir-mudik di ruangan itu.
Sekalisekali
dipandanginya wajah Ken Dedes dan sekali-sekali wajah
embanpemomong -nya. Mula-mula ia ingin menyuruh emban itu
pergi, tetapi niat itu diurungkannya. Mungkin Ken Dedes
memerlukannya untuk menghiburnya apabila ia menjadi terkejut
karenanya.
Namun dalam pada itu, terasa dada Akuwu Tunggul Ametung
sendiri menjadi pepat. Ia ingin segera mengatakannya kepada Ken
Dedes, tetapi ia tidak segera menemukan cara yang baik.
Tetapi dalam pada itu, Ken Dedes telah mendesaknya lagi,
“Tuanku, apakah tuanku akan mengatakan sesuatu?”
“Ya, ya,” jawab Tunggul Ametung, “ada yang akan aku katakan
kepadamu.”
“Hamba telah bersedia menerima titah tuanku.”
“Baik, baik,” jawab Tunggul Ametung.
Tetapi Tunggul Ametung tidak segera mengatakan sesuatu.
Tunggul Ametung masih saja berjalan mondar-mandir sambil
mempermainkan jari-jari tangannya.
Demikianlah maka ruangan itu menjadi sepi tegang. Wajahwajah
mereka yang berada dalam ruangan itu menjadi tegang pula.
Bahkan dada Akuwu Tunggul Ametung serasa hampir meledak.
Kini, Ken Dedes menjadi yakin bahwa ada sesuatu yang penting
baginya. Karena Akuwu Tunggul Ametung tidak segera
mengatakannya, maka dicobanya untuk menyelusur setiap
persoalan yang ada padanya. Persoalan-persoalan tentang dirinya,
tentang hubungannya dengan Akuwu Tunggul Ametung, dan
tentang setiap orang yang ada di sekitarnya. Bahkan Ken Dedes itu
menyangka, bahwa ada orang-orang yang tidak menyukai
kehadirannya di dalam istana ini. Mungkin para emban dan mungkin
para pelayan. Sekilas teringatlah ia kepada seorang dukun tua, Nyai
Puroni. Apakah ada hubungannya dengan orang itu?
Namun tiba-tiba, seperti petir yang meledak di atas kepalanya, ia
mendengar suara Akuwu yang sendat, namun seakan-akan begitu
saja meloncat dari mulutnya. “Ken Dedes, soal itu adalah soal
Mahisa Agni.”
Justru sejenak Ken Dedes terbungkam. Segera ia
menghubungkan persoalan Mahisa Agni itu dengan kecemasan dan
ketakutan yang selama ini membayanginya. Padang Karautan yang
ganas dan orang-orang yang selalu mengancamnya.
Namun bukan saja Ken Dedes yang menjadi cemas dan gemetar.
Tetapi emban tua pemomong Ken Dedes itu pun menjadi gemetar
pula. Terasa dadanya bergolak dan seluruh tubuhnya menjadi
dingin. Hampir saja terloncat dari mulutnya, pertanyaan tentang
keadaan anak muda itu selanjutnya. Untunglah bahwa ia masih
mampu menguasai dirinya, sehingga betapapun juga ia masih tetap
berdiam diri.
Kesenyapan sekali lagi mencekam ruangan itu. Akuwu Tunggul
Ametung kini duduk mematung sedangkan Ken Dedes dan emban
pemomong-nya dengan gelisah dan cemas, menunggu apa yang
akan dikatakan oleh Akuwu itu lebih lanjut.
“Ken Dedes,” suara Akuwu itu kemudian memecah sepi meskipun
belum dapat disusunnya dengan baik, “tetapi jangan menjadi cemas
dan takut. Mahisa Agni adalah seorang anak muda yang tangguh
tanggon, sehingga ia pasti akan mampu menolong dirinya sendiri.
Apalagi apabila ada orang lain yang membantunya, maka ia pasti
akan segera melepaskan diri.”
Meskipun Akuwu Tunggul Ametung belum mengatakannya,
namun segera Ken Dedes dapat menangkap maksudnya. Karena itu
maka dengan gemetar Ken Dedes berkata, “Tuanku, apakah
maksud tuanku, bahwa kakang Mahisa Agni telah jatuh ke tangan
orang-orang yang selama ini memusuhinya?”
Akuwu Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia
ragu-ragu, tetapi kemudian ia menganggukkan kepalanya sambil
bergumam, “Benar, Ken Dedes.”
“O,” sekali lagi Ken Dedes terbungkam.
Wajahnya yang tegang menjadi semakin tegang. Dan tiba-tiba
saja terasa setitik air mengambang di matanya.
“Jadi,” katanya, “sekarang kakang Mahisa Agni tidak berada di
antara orang-orang Panawijen?”
Akuwu Tunggul Ametung menganggukkan kepalanya pula.
Jawabnya, “Ken Dedes. Ternyata orang-orang yang ingin
mencelakainya mempunyai seribu macam cara. Tetapi jangan takut,
di Padang Karautan terdapat sepasukan prajurit Tumapel. Empu
Gandring, paman kakakmu itu, ada di sana pula. Sebentar lagi
mereka pasti akan berhasil melepaskan Mahisa Agni dari tangan
para penjahat itu.”
“Tetapi ternyata para prajurit dan Empu Gandring tidak dapat
melindunginya.”
“Jangan takut. Empu Sada, Empu Purwa, Panji Bojong Santi akan
membantu melepaskannya. Aku akan minta kepada Witantra untuk
menghubungi gurunya itu,” berkata Akuwu tanpa
dipertimbangkannya dalam-dalam. “Seandainya mereka tidak
berhasil, maka aku sendiri akan mencarinya Tetapi …”
“Tetapi,” Ken Dedes mengulangi.
“Ken Dedes,” berkata Akuwu Tunggul Ametung, “hilangnya
Mahisa Agni jangan menjadi sebab terganggunya upacara yang
telah ditentukan oleh para tertua Tumapel.”
Dengan serta-merta Ken Dedes mengangkat wajahnya. Tetapi
wajah itu segera tunduk kembali. Namun betapa perasaan kecewa
menyala di dadanya. Dalam kekalutan perasaan itu ia masih juga
mendengar Akuwu Tunggul Ametung berkata tentang diri sendiri.
Tentang kepentingannya sendiri. Apakah ia akan dapat berbuat
seperti itu. Duduk bersanding dalam upacara kebesaran, dihadap
oleh para tetua, para pemimpin pemerintahan, para senopati, dan
kemudian dielu-elukan oleh rakyat Tumapel, sedangkan saat itu
nyawa kakaknya terancam? Meskipun Mahisa Agni bukan kakaknya
sendiri, tetapi keadaannya sama sekali tidak berbeda. Apalagi telah
beberapa kali Mahisa Agni langsung menyelamatkannya dari
bencana yang pada saat-saat itu selalu membayanginya. Bukankah
bahaya yang selalu mengikuti kemana Mahisa Agni pergi sekarang
ini adalah akibat dari keadaan pada waktu itu? Akibat dari nafsu
yang gila dari Kuda Sempana?
Terasa betapa dadanya menjadi pepat. Kekecewaan, kecemasan,
dan ketakutan bergulat di dalam dadanya. Ketika ia mencoba sekali
lagi mengangkat wajahnya memandangi Akuwu Tunggul Ametung,
maka dilihatnya Akuwu itu kini telah berdiri di muka pintu,
memandangi titik-titik di kejauhan. Seolah-olah belum pernah
dilihatnya ukiran pada tiang-tiang istana dan dinding-dinding
sentong-sentong-nya. Dalam sorot lampu yang kemerah-merahan,
wajah Akuwu yang tegang itu tampak membeku seperti sebuah
patung tembaga.
Dan, Ken Dedes pun telah dapat menyelesaikan sendiri kalimat
Akuwu Tunggul Ametung yang terputus, “Tetapi, hal itu akan aku
lakukan setelah upacara kebesaran.”
Tetapi waktu itu masih cukup lama. Hampir sebulan.
Apakah dalam waktu yang selama itu, tidak terjadi
kemungkinankemungkinan
yang berbahaya bagi Mahisa Agni?
Dalam kekalutan perasaan, Ken Dedes mendengar Akuwu
Tunggul Ametung berkata, “Ken Dedes. Sebenarnya aku dapat
mengerahkan segenap pasukanku untuk mencari Mahisa Agni.
Tetapi Empu Gandring berpendapat lain. Hal itu akan dapat
membahayakan nasib Mahisa Agni sendiri.”
Tunggul Ametung berhenti sejenak. Kini ia berputar dan berjalan
mendekati Ken Dedes, “Ken Dedes. Kau tahu apakah maksud Kebo
Sindet mengambil Mahisa Agni? Orang itu sama sekali tidak
mempunyai persoalan dengan kakakmu. Ia mengambil Mahisa Agni
untuk memerasmu. Kebo Sindet pasti akan menukarkan Mahisa Agni
dengan harta benda yang akan disebutkannya kelak. Karena itu
jangan takut bahwa Mahisa Agni akan terbunuh. Ia pasti akan tetap
hidup. Kebo Sindet pasti sedang sibuk mencari jalan untuk dapat
menghubungimu. Mungkin ia akan mempergunakan Kuda Sempana
atau orang Kemundungan yang lain.”
Ken Dedes tidak menjawab. Terasa titik-titik air di matanya
menjadi semakin deras. Betapa ia mencoba menahannya, namun
terasa beberapa tetes jatuh di tangannya yang gemetar.
“Kau dapat mengulur waktu. Kalau permintaannya tidak
terlampau gila, maka kita akan segera dapat memenuhi tanpa
banyak persoalan. Tetapi kalau perlu, pasukanku siap untuk
berbuat.”
Terasa dada Ken Dedes menjadi semakin tergetar. Ia dapat
mengerti dengan sebaik-baiknya maksud Akuwu Tunggul Ametung,
meskipun cara mengatakannya tidak berurutan dan kurang teratur
karena jantung Akuwu Tunggul Ametung sendiri berdentangan tidak
henti-hentinya.
Ken Dedes tahu benar, bahwa ia harus mengulur waktu supaya
Mahisa Agni selamat sampai upacara perkawinannya selesai.
Sesudah itu barulah dipikirkan, cara untuk membebaskannya. Tetapi
Akuwu Tunggul Ametung tidak memikirkannya, bagaimanakah
akibatnya apabila Kebo Sindet berbuat sesuatu sebelum waktu itu
tiba. Kebo Sindet tidak mau menunggu sampai hari perkawinan itu
selesai. Bahkan seandainya Kebo Sindet dapat dipaksanya untuk
membiarkan persoalan itu sampai sesudah upacara perkawinannya,
maka apakah ia dapat duduk bersanding sebagai seorang mempelai
yang paling terhormat di seluruh Tumapel, sedangkan kakaknya,
Mahisa Agni, berada di ujung maut?”
Dalam keheningan itu, yang terdengar hanyalah desah nafas Ken
Dedes yang semakin cepat. Ketika ia berpaling, dilihatnya emban
pemomong-nya duduk seperti sebuah patung yang beku. Tetapi
yang kemudian dengan tergesa-gesa menyeka matanya yang basah.
“Emban itu menangis juga,” desis Ken Dedes di dalam hatinya,
“ia pun pasti merasa iba. Ia mengenal Mahisa Agni sejak kanakkanak.
Karena itu, maka ia pun pasti merasa kehilangan.”
Namun Ken Dedes tidak berani terlampau banyak berbuat.
Akuwu Tunggul Ametung mempunyai kekuasaan yang tidak terbatas
di Tumapel.
Meskipun demikian, diberanikan dirinya untuk sekadar bertanya,
“Tuanku. Bagaimanakah seandainya terjadi sesuatu atas kakang
Mahisa Agni sebelum perkawinan dan upacara kenegaraan itu
berlangsung?”
“Tidak. Tidak akan terjadi,” sahut Tunggul Ametung.
“Tetapi apakah aku akan menjadi seorang mempelai tanpa
seorang anggota keluargaku yang masih tersisa menunggui aku?”
Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Tetapi
kemudian ia menggeleng, “Itu tidak penting Ken Dedes. Kau akan
menjadi seorang permaisuri. Tak ada persoalan yang dapat
mengganggu-gugat kedudukanmu. Aku memegang seluruh
kekuasaan di Tumapel.”
“Hamba tuanku, namun perasaan hamba selalu terganggu,
sehingga hamba tidak merasa tenteram.”
“Lupakan semuanya. Hari-harimu sendiri lebih penting dari
segalanya.”
Dada Ken Dedes berdesir. Sekali lagi Akuwu berpikir tentang
dirinya sendiri tanpa mengingat keadaan orang lain.
“Tuanku,” Ken Dedes kini mencoba untuk mencari jalan lain
untuk menyelamatkan Mahisa Agni, ”tak ada orang lain tempat
hamba mengadu kecuali kepada tuanku Akuwu Tunggul Ametung.
Kepada tuanku pula hamba mohon perlindungan atas kakakku itu,
seperti yang pernah hamba katakan sebelumnya. Karena itu tuanku,
apakah tuanku tidak dapat mengusahakan agar kakang Mahisa Agni
dapat terlepas dari tangan orang-orang yang memusuhinya itu
sebelum hari perkawinan itu tiba?”
Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Jawabnya,
“Aku pasti akan berusaha. Tetapi aku tidak tahu apakah usahaku itu
berhasil. Aku telah memerintahkan kepada para prajurit di Padang
Karautan, supaya mereka berusaha secepatanya membebaskan
Mahisa Agni. Tetapi Empu Gandring menolak kekerasan.” Lalu nada
suara Akuwu itu merendah, “Dan aku belum menemukan cara lain
yang sebaik-baiknya.”
“Bagaimanakah kalau kakang Mahisa Agni itu tidak dapat
dibebaskan, tuanku?”
“Ken Dedes, aku sudah mengatakan,” berkata Akuwu kemudian,
“pikirkan dirimu lebih dahulu. Perkawinan di antara kita adalah
persoalan seluruh tanah Tumapel. Kau harus dapat menilai
persoalan ini menurut pertimbangan yang wajar. Sedangkan Mahisa
Agni bukanlah persoalan Tumapel. Karena itu, maka persoalan yang
besar tidak akan dapat diganggu oleh persoalan-persoalan yang
kecil, yang tidak mempengaruhi keadaan Tumapel keseluruhan.”
Betapa kecewa Ken Dedes mendengar jawaban itu. Tanpa
sesadarnya maka air matanya menjadi semakin deras mengalir. Ia
tidak dapat mengesampingkan begitu saja satu-satunya sisa
keluarganya, Mahisa Agni. Betapa kebahagiaan dan keluhuran yang
akan diterima karena perkawinan itu, namun Mahisa Agni adalah
seorang yang cukup penting di dalam hidupnya.
Dalam pada itu, Akuwu yang gelisah menjadi semakin gelisah. Ia
memang sudah menyangka bahwa Ken Dedes akan bersedih
karenanya. Tetapi baginya, tidaklah sewajarnya bahwa upacara
kenegaraan itu akan terganggu karena hilangnya Mahisa Agni.
Karena itu, ketika ia melihat Ken Dedes menangis, maka ia berkata
pula, “Ken Dedes, aku minta kau mengerti. Aku tidak memperkecil
arti Mahisa Agni bagi hidupmu, tetapi kau pun harus tidak
memperkecil arti upacara kenegaraan yang telah menjadi keputusan
Akuwu Tunggul Ametung atas nasihat dan saran para tetua di
Tumapel.”
Kini, harapan Ken Dedes menjadi kian tipis. Akuwu Tunggul
Ametung tidak dapat mencurahkan perhatiannya kepada Mahisa
Agni. Seandainya Mahisa Agni itu tidak segera diketemukan, bahkan
apabila bencana yang sebenarnya menimpanya, maka tak ada
harapan bagi Ken Dedes untuk menunda hari perkawinan yang
sudah ditentukan itu. Namun ia tidak berani untuk bertanya dan
menyatakan pendapatnya terlampau banyak. Ia tahu benar bahwa
Akuwu Tunggul Ametung adalah seorang yang memegang segenap
kekuasaan di Tumapel. Apabila Akuwu itu merasa dirinya terganggu,
maka ia pasti akan mempergunakan kekuasaan untuk memaksanya.
Itulah sebabnya maka Ken Dedes merasa bahwa tak ada gunanya
untuk merengek-rengek lebih lanjut. Sehingga dengan demikian
maka gadis itupun kini duduk temungkul dalam-dalam. Dicobanya
untuk menahan air matanya sekuat-kuat tenaganya.
“Bagaimana Ken Dedes?” bertanya Akuwu Tunggul Ametung.
“Apakah kau dapat mengerti?”
Tak ada jawaban lain yang dapat diucapkan kecuali, “Hamba
tuanku, hamba mengerti.”
Mendengar jawaban Ken Dedes itu, Akuwu Tunggul Ametung
mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ia menyadari bahwa
Ken Dedes tidak berkata dengan segenap hatinya, tetapi ia
mengharap bahwa lambat-laun gadis akan dapat mengerti
sepenuhnya. Karena itu maka Akuwu Tunggul Ametung itu pun
menganggap bahwa tidak ada gunanya lagi untuk berbicara lebih
lama. Ia akan memberi kesempatan kepada Ken Dedes untuk
mempertimbangkannya sendiri dan mengerti maksudnya.
Maka sejenak kemudian Akuwu itu pun berkata “Ken Dedes,
timbangkanlah baik-baik. Tetapi jangan kau sangka bahwa aku
hanya akan berdiam diri selama ini. Seandainya ada jalan bagiku
untuk membebaskannya dalam waktu yang pendek, itu akan aku
lakukan. Namun apabila aku gagal, maka kau sudah dapat mengatur
perasaanmu dan tidak terlampau banyak terpengaruh olehnya.”
Sekali lagi Ken Dedes menyembah sambil menjawab, “Hamba
tuanku.”
Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,
“Baiklah, aku akan kembali ke bilikku. Pikirkanlah baik-baik.
Jangan
terlampau terbenam di dalam perasaan.”
“Hamba tuanku.”
Kemudian kepada emban tua yang duduk di belakang Ken Dedes,
Akuwu Tunggul Ametung berkata, “Emban, kau sudah cukup
mampu untuk mengendapkan perasaanmu. Meskipun kau agaknya
bersedih juga atas hilangnya Mahisa Agni, tetapi aku harap kau
dapat menenangkan hati momongan-mu.”
Emban tua itu menyembah sambil membungkuk dalam-dalam.
“Hamba tuanku. Akan hamba lakukan titah tuanku.”
“Baiklah,” gumam Akuwu Tunggul Ametung meskipun ia tidak
yakin bahwa hal itu akan terjadi sebaik-baiknya, “beristirahatlah.
Aku akan kembali ke bilikku. Kau akan menghadapi saat-saat yang
berat sebelum menghadapi perkawinan. Tiga orang dukun
pengantin akan merawatmu menjelang perkawinanmu.”
Tak ada lain yang diucapkan oleh Ken Dedes, katanya, “Hamba
tuanku. Hamba selalu menjunjung titah tuanku.”
Sejenak kemudian maka Akuwu Tunggul Ametung meninggalkan
ruangan itu. Sekali ia berpaling, namun kemudian ia pun hilang di
balik pintu.
Begitu Akuwu Tunggul Ametung tidak tampak lagi di mata Ken
Dedes, maka tiba-tiba gadis itu memutar tubuhnya, dan dengan
serta-merta dipeluknya emban tua pemomong-nya. Betapapun ia
mencoba menahan diri, tetapi air matanya tercurah tanpa dapat
dibendungnya. Dibenamkannya kepalanya di dalam emban tua itu,
seperti pada masa kanak-kanaknya. Terdengar di sela-sela isaknya
ia berkata, “Bibi, bagaimanakah dengan kakang Mahisa Agni?”
Kini, emban tualah yang harus berjuang melawan perasaannya
sendiri. Betapa dadanya seperti terbelah oleh kecemasan dan
kegelisahan atas hilangnya Mahisa Agni, tetapi ia harus tabah dan
mampu menahan dirinya. Ia harus menghibur momongan-nya
supaya gadis itu tidak menjadi semakin dalam tenggelam dalam
duka. Sudah tentu emban tua itu tidak dapat berkata kepada Ken
Dedes, bahwa ia sendiri sedang bersusah hati, sebab Mahisa Agni
adalah anaknya. Satu-satunya anaknya.
emban itu menggeleng lemah. Sekuat tenaga ia berjuang untuk
tidak hanyut dalam arus perasaannya. Meskipun demikian
setetessetetes
air matanya jatuh membasahi rambut Ken Dedes yang hitam
lebat. Namun emban tua itu berusaha untuk berkata, “Sudahlah
nini. Jangan terlampau bersedih. Aku tahu, bahwa kau merasa
kehilangan. Angger Mahisa Agni adalah tidak ubahnya seperti kakak
kandungmu sendiri, pengganti orang tuamu. Tetapi dengan
demikian kau akan kehilangan gairah menyambut hari-harimu yang
cerah.”
“Apakah artinya kebahagiaan yang semu ini bibi,” jawab Ken
Dedes tiba-tiba.
emban tua itu mengerutkan keningnya. Pelahan-lahan ia berkata,
“Tidak nini. Kebahagiaan yang sudah berada di ambang pintu
adalah suatu kenyataan. Bukan sekadar semu. Apabila kau dapat
menghayatinya, maka kau akan merasakannya sebagai suatu kurnia
tiada taranya. Kau harus lebih banyak mempergunakan
pertimbangan nalar daripada tekanan perasaan.”
“Bibi, apakah aku dapat berbuat demikian? Berpikir tentang diriku
sendiri, sedangkan kakang Mahisa Agni yang selama ini selalu
melindungi aku berada dalam bahaya?”
emban tua itu mengerutkan keningnya. Kata-kata Ken Dedes itu
langsung menyentuh perasaan sendiri. Mahisa Agni berada di dalam
bahaya.
Namun dari sela-sela bibir yang tipis, terdengar kata-katanya
bergetar, “Nini, serahkanlah semuanya kepada Yang Maha Agung.
DaripadaNya dunia ini terbentang. Maka kepadaNya pula kita
menyerahkan nasib. Kita hanya dapat berusaha, tetapi yang terakhir
adalah kehendakNyalah yang terjadi.”
Kata-kata emban tua itu menjadi semakin lirih. Sebenarnyalah
kata-kata itu lebih banyak ditujukan kepada diri sendiri daripada
kepada orang lain.
Tetapi Ken Dedes mendengar pula kata-kata itu. Ternyata katakata
itu dapat memberinya sekadar ketenteraman. Sedikit demi
sedikit tangisnya mereda.
“Marilah nini,” berkata emban tua itu, “masuklah ke dalam
bilikmu. Mungkin seorang emban atau pelayan atau juru panebah
akan lewat di ruangan ini. Mereka akan melihat kau menangis dan
mereka akan bertanya-tanya di dalam hati, apakah kiranya yang
telah terjadi.”
Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Kemudian ia pun berdiri.
Dibimbing oleh emban pemomong -nya, Ken Dedes melangkah
masuk ke dalam biliknya, langsung merebahkan diri di
pembaringannya.
Sejenak emban tua pemomong -nya duduk di samping
pembaringannya sambil mengucapkan kata-kata yang dapat
membesarkan hati momongan-nya. Ketika hati gadis itu sudah
menjadi agak lilih, maka ditinggalkannya Ken Dedes seorang diri.
Dengan tergesa-gesa emban itu pergi ke biliknya sendiri. Ternyata
ia tidak dapat lebih lama menahan desakan kepahitan yang
tersimpan di dalam dadanya.
Ketika emban tua itu memasuki biliknya sendiri, maka masih
dicobanya untuk bertahan. Untuk tidak tenggelam dalam genangan
duka. Tetapi ia tidak berhasil. Dadanya yang selama ini selalu
mencoba bertahan atas segala macam keadaan, maka kini seolaholah
meledak dengan dahsyatnya.
Emban tua itupun menelungkup di pembaringannya. Air matanya
lepas seperti bendungan pecah.
“Anakku,” desisnya.
Emban tua ini menangisi satu-satunya anaknya. Anak yang hilang
pada masa kecilnya dibawa oleh ayahnya tanpa setahunya. Dengan
segala macam cara ia berhasil menemukan anak itu kembali. Tetapi
ia tidak dapat menyatakan dirinya sebagai seorang ibu. Meskipun
demikian ia berhasil menunggui anaknya setiap hari. Betapa ia
berbangga hati ketika ia melihat anaknya tumbuh subur seperti
sebatang pohon beringin di tengah-tengah Padukuhan Panawijen.
Ternyata anaknya, seperti juga gurunya, mampu memberi
pangayoman kepada orang-orang di sekelilingnya, kepada
Padukuhan Panawijen.
Tetapi anak itu kini hilang lagi. Hilang dalam kabut yang kelam.
Tak seorang pun yang mengetahui, apakah yang berada di balik
kabut hitam itu, seolah-olah kabut itu sendiri merupakan rahasia
yang penuh menyimpan bahaya.
Dengan sekuat tenaga ia bertahan di hadapan Ken Dedes,
bahkan ia dapat menghibur hati gadis yang duka itu. Tetapi ia tidak
mampu menghibur dirinya sendiri. Ia dapat menerima segala
pengaduan gadis itu, sehingga hati Ken Dedes menjadi agak lapang.
Dan emban tua itu dapat memberinya ketenteraman.
Tetapi emban tua itu tidak mempunyai tempat untuk
menumpahkan himpitan perasaan. Ia tidak mempunyai kawan untuk
membagi duka. Tak seorang pun yang dapat diajaknya berbicara
tentang anaknya yang hilang. Tentang anaknya yang ditangkap oleh
seorang yang mengerikan, iblis dari Kemundungan.
Dengan demikian ia harus menelan kepahitan itu seorang diri.
Menanggungnya sendiri dan menahankannya seorang diri pula.
Sementara itu, malam pun menjadi semakin malam. Di kejauhan
terdengar suara cengkerik berderik-derik di antara gemersik
daundaun
kering yang terbang oleh sentuhan angin malam yang basah.
Dingin malam merayap menembus dinding-dinding kayu Istana
Tumapel, menyentuh kulit.
Tetapi emban tua itu tidak juga dapat memejamkan matanya
yang masih saja dibasahi air mata. Bahkan masih juga terdengar
isak-tangisnya tertahan-tahan.
Tetapi ternyata bukan emban tua itu saja yang malam itu tidak
dapat tidur. Ken Dedes malam itu sama sekali juga tidak dapat
tidur. Bahkan Akuwu Tunggul Ametung pun selalu dibayangi oleh
kegelisahan. Meskipun Ken Dedes tidak menyangkal tentang saatsaat
perkawinan yang sudah ditentukan, tetapi agaknya bukan
karena ia menerima hal itu dengan ikhlas. Agaknya Ken Dedes
hanya menuruti kemauannya karena takut. Meskipun demikian,
Akuwu tetap pada keinginannya. Upacara itu tidak dapat tertunda.
Mungkin Ken Dedes akan bersedih untuk beberapa lama. Tetapi
apabila kelak Mahisa Agni telah dapat dibebaskan, maka kesedhihan
itu pun akan berangsur hilang.
“Tetapi bagaimana kalau Mahisa Agni itu terbunuh?” tiba-tiba
tumbuh pertanyaan di dalam hatinya, “apakah ia tidak akan
menyesal sepanjang hidupnya?”
Akuwu menggigit bibirnya. Tiba-tiba ia bangkit dari
pembaringannya dan berjalan mondar-mandir di dalam biliknya.
“Tetapi aku tidak sempat memikirnya sekarang,” desisnya,
“semua orang sudah sibuk dengan persiapan hari perkawinan itu.”
Akhirnya Akuwu mencoba menenangkan dirinya sendiri. Betapa
ia kesal atas peristiwa-peristiwa yang sebenarnya tidak
bersangkutpaut
langsung dengan kepentingannya, tetapi akan dapat
mengganggunya.
“Soal itu adalah soal kecil bagi seorang Akuwu Tumapel,”
gumamnya, “kalau aku harus mengurusi rakyatku seorang demi
seorang maka aku akan mati kelelahan dan kebingungan. Mahisa
Agni memang harus mendapat perlindungan. Tetapi jangan
memecahkan otakku.”
Namun kemudian ia berdesis, “Tetapi Mahisa Agni mempunyai
kekhususan. Ia langsung berhubungan dengan bakal permaisuriku.”
Akuwu Tunggul Ametung terhenyak di pembaringannya. Ia sekali
lagi mencoba berbaring dan memejamkan matanya. Tetapi ia tidak
segera dapat tertidur.
Di Lulumbang, Empu Gandring pun tidak juga dapat tidur
Meskipun ia sudah berada di tengah-tengah keluarganya, namun ia
masih belum dapat melupakan kemenakannya. Empu Gandring
sendiri mempunyai beberapa ikatan yang tidak dapat selalu
ditinggalkannya. Ia harus mengerjakan pekerjaan sebagai seorang
empu keris. Ia harus mengurusi padepokannya dan beberapa orang
cantriknya. Karena itu maka ia tidak dapat meninggalkan
padepokannya terlampau lama. Namun untuk melupakan Mahisa
Agni, agaknya terlampau sulit baginya. Karena itulah maka ia selalu
saja merasa gelisah. Setiap ia berbaring dan memejamkan matanya,
maka wajah kemenakannya itu justru terbayang terlampau jelas.
Wajah yang pucat-pasi. Wajah yang diam dan beku.
“Kasihan,” desisnya, “mudah-mudahan usaha untuk
membebaskannya itu berhasil. Ia pasti akan lebih daripada aku
sendiri. Menurut keterangannya, maka rawa-rawa itu sudah
dikenalnya dengan baik.”
Ternyata Mahisa Agni malam itu telah menimbulkan kegelisahan
di mana-mana. Ken Dedes, emban tua pemomong -nya, Akuwu
Tunggul Ametung, Empu Gandring, dan Ken Arok yang berdiri
tegang di Padang Karautan. Sambil menatap bintang yang
bergayutan di langit, ia menghirup udara malam yang dingin. Tetapi
ia tidak ingin segera masuk ke dalam kemahnya. Terasa udara di
dalam gubugnya terlampau panas. Seperti hatinya yang terbakar
oleh kekecewaan. Kenapa ia tidak mampu berbuat apa-apa dengan
pasukannya itu untuk melindungi Mahisa Agni? Ia menyesal bahwa
ketika Mahisa Agni pergi ke Panawijen, ia tidak berkeras untuk
membawa beberapa orang prajurit bersamanya. Tetapi semua itu
sudah telanjur. Semua sudah terjadi.
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Udara malam yang dingin
menyentuh seluruh isi dadanya yang gelisah. Sedangkan di
hadapannya terbentang kewajiban yang tidak dapat diabaikan.
Bendungan yang ditinggalkan oleh Mahisa Agni, susukan induk,
parit-parit, sawah, dan pategalan yang baru mulai ditanami dengan
pohon-pohon pelindung dan pohon buah-buahan, kemudian yang
tidak kalah pentingnya bagi Ken Arok sendiri adalah taman yang
pada saatnya harus dipersembahkan kepada Akuwu Tunggul
Ametung. Taman yang kelak akan dihadiahkan kepada
permaisurinya, Ken Dedes.
“Hari perkawinan itu menjadi semakin dekat,” desis Ken Arok.
“Sebelum enam bulan dari hari perkawinan itu, taman itu harus
sudah siap. Harus sudah berwujud.”
Ken Arok menggigit bibirnya. Ia akan banyak kehilangan waktu
apabila ia tenggelam dalam persoalan Mahisa Agni saja. Karena itu
maka kedua-duanya harus mendapat perhatiannya.
“Aku harus bekerja siang dan malam. Kalau tidak, maka
semuanya tidak akan selesai dalam waktu enam bulan lagi. Tapi
apakah orang-orang Panawijen mampu bekerja secara demikian?
Aku yakin bahwa prajurit Tumapel akan dapat melakukannya.
Sebaiknya aku minta beberapa orang baru dengan perbekalan dan
peralatan baru. Mudah-mudahan enam bulan lagi pohon-pohon
yang sudah mulai tumbuh itu sudah menjadi cukup rimbun,
pategalan sudah mulai tampak hijau, dan tanah-tanah yang akan
disiapkan menjadi tanah persawahan sudah dapat mulai digenangi
air.”
Ken Arok itu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berdesis,
“Orang-orang baru itu akan dapat melakukannya di dalam hari
bergiliran. Dengan demikian waktu yang singkat ini seolah-olah akan
menjadi berlipat.”
Terasa dada Ken Arok menjadi agak lapang dengan
keputusannya itu. Ia mengharap tidak mengecewakan Akuwu
Tunggul Ametung. Ia tidak ingin mengundur waktu yang sudah
ditetapkan. Enam bulan sesudah hari perkawinan, Akuwu akan
membawa permaisurinya ke taman yang sedang dibuatnya itu.
“Mudah-mudahan daerah ini telah menjadi daerah yang hijau,”
desisnya kemudian.
Tetapi angan-angan Ken Arok itu tiba-tiba menjadi terganggu. Ia
melihat bayangan tiga sosok tubuh mendekatinya. Ia segera
mengenal, bahwa dua orang di antara mereka pasti para pengawal
yang bertugas berjaga-jaga malam ini. Tetapi siapakah yang
seorang?
Ken Arok masih berdiri di tempatnya, di sisi gubugnya.
Dibiarkannya orang-orang itu menjadi semakin dekat.
Ketika jarak mereka menjadi semakin pendek, maka bertanyalah
Ken Arok itu, “Siapa?”
“Kami para peronda,” sahut salah seorang dari mereka.
“Ya, aku mengenal kau berdua, tetapi yang seorang?”
“Seorang tamu.”
“Tamu? Siapakah yang dicarinya? Aku?”
“Ya.”
Ken Arok menjadi berdebar-debar sejenak. Tetapi kemudian ia
terperanjat ketika ia mendengar orang itu berkata, “Aku Ken Arok.
Apakah kau sudah lupa kepadaku. Kepada ayahmu?”
Terasa darah Ken Arok menjadi semakin cepat mengalir. Ia
mengenal suara itu. Suara yang telah lama tidak didengarnya,
namun yang kini tiba-tiba telah menyentuh telinganya.
Tanpa sesadarnya ia berdesis, “Ayah, Bango Samparan.”
Orang itu tertawa, “Ha, kau masih mengenal aku dengan baik.
Ya, aku ayahmu, Bango Samparan.”
Wajah Ken Arok tiba-tiba menjadi tegang. Ia tidak menyangka
sama sekali, bahwa ia akan bertemu dengan ayah angkatnya di
saat-saat seperti ini. Namun lebih daripada itu, ada perasaan
ganjil
yang melonjak-lonjak di dalam dadanya. Sebenarnya lebih baik
baginya apabila ia tidak pernah lagi bertemu dengan orang itu,
dengan Bango Samparan. Tetapi orang itu telah berdiri di
hadapannya, dan ia tidak lagi dapat menolak.
“Aku senang sekali dapat menemuimu di sini, Ken Arok,” berkata
Bango Samparan.
“Ya ayah,” begitu saja meluncur jawaban dari mulut Ken Arok.
Kini ketiga orang itu telah berdiri benar-benar di hadapannya. Ia
melihat kedua peronda dan Bango Samparan berhenti sejenak.
Namun kemudian ayah angkatnya itu melangkah maju, mendekap
pundaknya, dan berkata, “Kau gagah benar anakku. Aku tidak
menyangka bahwa kau akan menjadi seorang pelayan dalam yang
baik. Bahkan seorang prajurit yang mumpuni.”
“Terima kasih ayah,” sahut Ken Arok,
“Lama sekali aku mencari. Hampir seluruh negeri aku jelajahi.
Tetapi aku baru menemukan di sini, setelah namamu dikenal oleh
hampir setiap orang. Sebelum ini, Ken Arok, aku sudah menyangka
bahwa kau tinggal di Padang Karautan ini pula. Tetapi tidak sebagai
seorang prajurit? Benarkah begitu? Apakah benar bahwa yang
ditakuti . . . .”
“Ayah,” potong Ken Arok tiba-tiba, “marilah, aku persilakan ayah
masuk ke dalam gubugku.” Kemudian kepada kedua peronda yang
mengantar Bango Samparan itu, Ken Arok berkata, “Tinggalkanlah
tamuku di sini.”
Kedua peronda itu pun kemudian pergi meninggalkan Bango
Samparan yang segera dibawa masuk ke dalam gubug Ken Arok.
Mereka duduk di atas tikar pandan kasar yang dibentangkan di
atas setumpuk rumput-rumput kering.
“Aku gembira sekali dapat menemukan kau kembali, Ken Arok.”
“Ya ayah,” jawab Kon Arok, ”aku juga gembira bertemu ayah
kembali.”
Terdengar Bango Samparan tertawa. Suaranya menggelegar di
kesunyian padang, sehingga beberapa orang yang sedang tertidur di
gubug-gubug sebelah terbangun karenanya.
“Eh, apakah dugaanku benar, bahwa kau yang pernah
menghantui Padang Karautan ini dahulu?”
“Ah,” desah Ken Arok, “mungkin ayah salah. Tetapi seandainya
benar, karena aku pernah juga berada di sini, sebaiknya semuanya
itu sudah harus dilupakan.”
Sekali lagi Bango Samparan tertawa sehingga tubuhnya
terguncang-guncang. Beberapa kali ia menyeka air matanya yang
meleleh di pipinya yang gembung.
“Kenapa Ken Arok?” ia bertanya, “Kenapa hal itu harus
dilupakan.”
“Sebuah kenangan yang menyakitkan hati,” jawab Ken Arok.
“Tidak. Kau tidak boleh melupakan semuanya. Kau harus tetap
mengingat dan mengenang semua yang pernah kau alami. Dengan
demikian kau akan mendapat kebanggaan diri. Ken Arok, anak
Gajah Para dan Ken Endog, yang dipelihara oleh seorang pencuri
yang bernama Lembong, yang kemudian menjadi anak angkat dari
seorang penjudi besar bernama Bango Samparan.”
“Sudah ayah, sudah,” potong Ken Arok.
“He, jangan memotong kata-kataku. Aku sedang membangkitkan
kenanganmu atas dirimu supaya kau tahu apa yang harus kau
lakukan. Nah, dengarlah anak Pangkur, bahwa kau ternyata memiliki
nasib yang baik sekali. Seorang anak yang lahir di padesan yang
kecil, kini menjadi seorang pelayan dalam yang dekat dengan
seorang Akuwu.”
“Ya, ya ayah. Aku berterima kasih kepada Yang Maha Agung,
bahwa aku mendapat nasib yang baik.”
“Apakah kau puas dengan keadaanmu sekarang?”
“Tentu ayah. Aku puas sekali dengan keadaanku sekarang.
Seperti ayah katakan bahwa aku adalah seorang anak yang
terbuang di masa kecilku. Aku tidak pernah mengetahui siapakah
ayahku, karena ayah meninggal di masa aku belum dilahirkan.”
“Belum cukup. Harus kau lanjutkan, yang ketika masih bayi
dibuang di kuburan. Ditemukan oleh seorang pencuri ulung yang
bernama Lembong. Dipelihara, tetapi kemudian menghancurkan
hidup mereka karena kau menghilangkan beberapa ekor lembu milik
Buyut ing Lebak. Lembong suami-isteri harus mengganti. Karena
kekayaannya tidak cukup, maka mereka berdua harus melunasinya
dengan menggadaikan diri mereka.”
“Ayah benar. Ayah pernah menceriterakan semua itu kepadaku.
Aku memang anak yang ditemukan di pekuburan. Dan aku telah
berbuat hal-hal yang kurang baik di masa-masa lalu. Tetapi apakah
maksud ayah mengatakan hal itu?”
Bango Samparan itu tertawa lagi. Suaranya benar-benar
membangunkan orang-orang yang sedang tertidur nyenyak. Bahkan
satu-dua orang keluar dari gubugnya dan memerlukan melihat,
siapakah yang sedang tertawa di gubug Ken Arok.
“Siapakah tamu itu,” bertanya salah seorang dari mereka.
Yang lain menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu.”
Mereka pun kemudian pergi sambil menggerutu. Mereka ingin
tidur untuk beristirahat, sebab besok mereka harus turun lagi ke
bendungan atau ke sendang buatan agak jauh ke tengah Padang
Karautan.
“Ken Arok,” berkata Bango Samparan kemudian, “sudah aku
katakan bahwa aku sedang membangkitkan kenanganmu atas
masa-masa lampaumu.”
“Ya ayah, tetapi sesudah aku mengenang kembali semuanya itu,
lalu apa yang akan terjadi?”
Bango Samparan mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian
katanya, “Aku hanya ingin ikut mengenyam kepuasanmu Ken Arok.
Sebagai orang tua yang tidak dapat berbuat apa-apa untuk
kemajuanmu, aku hanya dapat berdoa supaya segala cita-citamu
dapat kau capai.”
“Terima kasih ayah,” sahut Ken Arok. Namun anak muda itu
dapat merasakan, bahwa masih ada sesuatu yang tersembunyi.
Karena itu, maka hatinya menjadi kian berdebar-debar.
Sebenarnya ia tidak senang mendengarkan ayah angkatnya itu
berceritera tentang masa lampaunya. Masa-masa yang pahit dan
menyakitkan hati. Dunianya yang pada saat itu hitam kelam, sama
sekali tidak ada secerceh sinar pun yang dapat menerangi jalannya.
Ia mendengar kalimat-kalimat yang aneh, yang menyentuh hatinya
seperti embun di malam yang panas, adalah dari mulut guru Mahisa
Agni. Kemudian pertemuannya dengan seorang Brahmana telah
membawanya ke jalan yang terang, yang sekarang ini sedang
dilaluinya. Tiba-tiba ayahnya, ayah yang memeliharanya di dunia
yang kelam itu, kini datang lagi kepadanya.
Tiba-tiba Ken Arok melihat Bango Samparan menggeser
duduknya setapak maju. Terdengar orang itu menarik nafas
dalamdalam.
Kemudian patah-patah ia berkata, “Eh, Arok. Setelah kau
menjadi orang yang terhormat sekarang ini, apakah kau sudah
benar-benar menjadi puas.”
“Tentu ayah. Sudah aku katakan.”
Bango Samparan mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Ken Arok. Aku kira tidak ada seorang pun di dunia yang
nasibnya sebaik nasib yang kau bawa itu. Kau ingat pada saat aku
menemukanmu?”
Ken Arok menganggukkan kepalanya. “Ya,” jawabnya singkat.
Bagaimanapun ia tidak senang mendengar kata-kata ayah
angkatnya itu, tetapi ia tidak dapat mencegahnya.
“Pada waktu itu,” Bango Samparan meneruskan, “aku sedang
prihatin. Harta-bendaku habis ditelan oleh permainan judi, sehingga
aku lari dari Karuman karena aku tidak dapat membayar
kekalahanku. Pada waktu itu aku hampir-hampir membunuh diriku
dalam persembunyianku di Rabut Jalu. Ketika aku menemukanmu
pada saat itu Arok, tiba-tiba timbul kembali gairahku untuk menebus
kekalahanku. Ternyata, dengan membawamu kembali ke medan
perjudian, aku mendapatkan kembali semua kekalahanku. Kau
ingat.”
Ken Arok mengangguk, tetapi wajahnya menjadi semakin buram.
“Kemudian keadaanmu sendiri. Setelah kau meninggalkan ibu
angkatmu, Genuk Buntu, maka kau hilang dari keluargaku. Jangan
kau sangka bahwa aku tidak mencarimu Arok. Sebab aku masih
memerlukanmu.”
“Hanya supaya ayah selalu menang berjudi.”
Bango Samparan tertawa. “Sebagian, tetapi ibu angkatmu sangat
merindukanmu. Mungkin kau tidak dapat hidup bersama-sama
dengan anak-anak isteriku yang muda itu. Tetapi apabila kau sekali
menjenguk ibu angkatmu, ia pasti akan bergembira sekali.”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Bukan karena ia tidak
mengenal terima kasih, tetapi ia tahu benar sifat-sifat ayah
angkatnya. Kini ia berada di jalan yang terang. Yang tidak
dibayangi
oleh perasaan cemas, gelisah, dan perasaan bersalah.
Kalau ia tidak ingin bertemu lagi dengan ayah angkatnya, karena
ia tidak mau lagi dipengaruhi oleh keadaannya.
“Aku masih belum dapat mempercayai keteguhan hatiku sendiri,”
desis Ken Arok di dalam hatinya.
“Ken Arok,” berkata Bango Samparan itu kemudian, “apakah kau
benar-benar sudah melupakan ibu angkatmu?”
“Tidak ayah,” sahut Ken Arok, “aku tidak pernah melupakannya.”
“Kenapa kau tidak pernah mengunjunginya?”
“Aku belum sempat ayah.”
Bango Samparan tertawa. Katanya, “Apakah kau terlampau sibuk
sehingga kau tidak dapat menyisihkan waktu seminggu atau dua
minggu saja?”
“Bendungan ini tidak dapat aku tinggalkan.”
Bango Samparan mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya
kemudian, “Sebelum ini kau juga tidak pernah ke rumah. Apalagi
setelah kau menjadi seorang pemimpin pelayan-dalam Istana
Tumapel, yang kali ini dipercaya untuk memimpin sepasukan
prajurit, bukan saja pelayan-dalam dan prajurit-prajurit pengawal
istana.”
Ken Arok menggigit bibirnya. Tetapi ia masih berdiam diri.
“Seharusnya ibumu melihat kau dalam keadaanmu sekarang.
Gagah dan tampan. Sepantasnya kau bukan anak angkatku, tetapi
kau lebih pantas menjadi anak kandungku. Keperkasaanmu,
ketampananmu lebih mirip aku daripada orang tuamu sendiri.”
Ken Arok masih berdiam diri.
“Arok,” berkata Bango Samparan seterusnya, “apakah kau dapat
mengunjungi aku beberapa hari saja?”
“Lain kali ayah,” akhirnya Ken Arok menjawab. Bango Samparan
mengerutkan alisnya. “Keadaanku sudah terlampau parah.”
“Kenapa?”
“Seperti pada saat aku menemukan kau. Nah, apabila kau berada
bersamaku ke medan perjudian, maka aku mengharap kekalahanku
itu akan dapat aku ambil kembali.”
“Ah,” desah Ken Arok, “ayah terlampau mempercayai keajaiban.
Pada waktu itu aku kira hanya suatu kebetulan saja, bahwa ayah
memenangkan kembali kekalahan itu. Sama sekali bukan karena
ayah pergi bersamaku.”
“Tidak Arok, tidak. Kaulah yang telah menyebabkan aku
memenangkan perjudian itu. Aku yakin. Seolah-olah aku mendengar
suara dari tempat yang tidak aku mengerti, yang mengatakan
bahwa kau memang mempunyai nasib yang baik.”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia menjawab,
“Seandainya demikian, maka aku pun tidak akan pergi.”
Bango Samparan membelalakkan matanya. “Kenapa? O, Ngger.
Aku sudah menempuh jalan yang sulit untuk menemukanmu.
Sekarang apakah tanggapanmu itu cukup sepadan?”
“Maaf ayah,” sahut Ken Arok, “aku sama sekali tidak
mengabaikan kedatangan ayah. Tetapi aku tidak dapat memenuhi
permintaan itu, apabila ayah hanya membutuhkan aku sekadar
untuk memenangkan perjudian.”
“O, itulah kenyataan yang aku hadapi sekarang. Ken Arok,
memang jauh berbeda kasih seorang ayah dan ibu kepada anaknya
dibandingkan dengan keadaan sebaliknya. Seorang ayah dan ibu
kadang-kadang mengorbankan apa saja yang dimilikinya untuk
kepentingan anaknya. Tetapi anak kadang-kadang acuh tak acuh
saja kepada orangtuanya.”
Ken Arok mengerutkan dahinya. Sejenak ia berdiam diri sambil
merenungi wajah ayahnya. Bango Samparan kini sudah tidak
tertawa dan tidak tersenyum lagi.
“Ayah,” berkata Ken Arok, “ayah jangan salah mengerti. Aku
memang tidak dapat memenuhi permintaan ayah. Kalau aku pergi
juga dan justru karena kehadiranku itu ayah dapat memenangkan
perjudian, maka akulah yang berdosa. Aku telah mendorong ayah
semakin dalam masuk ke arena perjudian. Ayah menjadi semakin
lekat dengan kesenangan ayah yang tercela itu.”
“O, Ngger, Ngger,” potong Bango Samparan, “kau dapat berkata
demikian setelah kau mengenakan pakaian seorang pelayan dalam.
Apakah yang dahulu pernah kau lakukan? Judi, merampas,
merampok, memerkosa, dan segala macam kejahatan yang lain.”
“Ya ayah,” sahut Ken Arok. Terasa dadanya bergolak, namun ia
masih cukup menguasai dirinya sendiri, “aku memang pernah
melakukannya. Namun pada suatu saat aku sampai pada suatu
batas di mana aku menyesali semuanya itu. Aku menyesal dan
bertobat. Itulah yang terjadi ayah. Sehingga dengan demikian aku
berusaha untuk tidak lagi terjerumus ke dalamnya.”
“Hem,” Bango Samparan berdesah sambil menghela nafas dalam
sekali, “jadi kau benar-benar tidak mau menolongku.”
“Bukan maksudku ayah,” sahut Ken Arok, “aku selalu bersedia
menolong ayah dalam batas kemampuan. Baiklah aku akan
berusaha menolong ayah sesuai dengan kekuatanku untuk
meringankan beban hidup ayah sehari-hari, ayah dan adik-adik di
Karuman. Tetapi tidak untuk berjudi. Tak ada judi yang dapat
membahagiakan hidup seseorang. Seandainya seseorang
memenangkan perjudian, maka yang didapatnya itu adalah perasan
milik orang lain. Yang didapatnya itu adalah karena kerugian orang
lain. Meskipun yang terjadi itu seolah-olah atas persetujuan
bersama, tetapi tak seorang pun yang ikhlas atas setiap kekalahan.
Ketidakikhlasan akan ikut serta pada setiap kemenangan yang
didapat di medan perjudian. Nah, milik yang didapat dengan cara
demikian, tanpa keikhlasan, tidak akan membahagiakan hidup kita.”
Wajah Bango Samparan menjadi semakin berkerut-merut.
Dengan tajamnya dipandanginya wajah anak angkatnya itu. Namun
betapa ia menahan rasa kecewa yang berkecamuk di dadanya.
Untuk sesaat, penjudi dari Karuman itu berdiam diri.
Tetapi bibirnya berkumat-kamit tidak henti-hentinya. Seolah-olah
ada yang masih tersimpan di dalam mulut itu, tetapi tidak dapat
dikatakannya.
Ken Arok pun kini duduk sambil merenungi kegelapan di luar
gubuknya. Sejenak kenangannya berlarilarian di masa lampaunya, di
masa kecilnya yang pahit. Hidup di dalam lingkungan kejahatan.
Pencuri dan perampas. Ayah angkatnya yang lain, Lembong, adalah
seorang pencuri. Bahkan ia kadang-kadang harus ikut serta dengan
ayah angkatnya itu. Kemudian, lepas dari seorang pencuri, ia jatuh
ke tangan Bango Samparan, seorang penjudi dan seorang perampok
pula. Kemudian dijelajahinya hidup dalam kegelapan. Ditelusurinya
Padang Karautan, setelah ia tidak dapat menyembunyikan diri lagi di
padesan, karena hampir setiap orang mencarinya. Mencarinya
sebagai seorang penjahat yang harus ditangkap dan bahkan
dibunuh. Ternyata kejahatan yang dilakukan telah melampaui
kejahatan kedua ayah angkatnya, bahkan digabung sama sekali.
Pencuri Lembong dan penjudi Bango Samparan.
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. “Untunglah, aku bertemu
dengan orang-orang yang berhasil menarik aku keluar dari dunia
yang hitam pekat itu.”
Anak muda itu terkejut ketika ia mendengar ayah angkatnya
bergumam lirih, “Aku tidak mengerti.”
Ken Arok berpaling, “Apa yang tidak ayah mengerti?”
“Kau.”
“Kenapa aku?”
“Kau benar-benar melupakan aku dan ibumu. Apalagi adikadikmu.”
“Sudah aku katakan ayah, aku akan memberi ayah bantuan
sesuai dengan kekuatanku.”
“Huh, apa yang dapat kau berikan? Kau tidak lebih dari seorang
pelayan dalam. Kedudukanmu masih belum cukup tinggi. Seorang
perwira rendahan. Coba apa yang akan kau berikan kepadaku. Uang
setiap selapan? Atau mungkin akan membeli sawah untuk aku? Atau
apa?” Bango Samparan berhenti sejenak, “tidak ada gunanya.
Berapa banyak kau akan memberikan uang kepadaku, apabila kau
tidak ikut serta ke perjudian, maka uang itu akan habis tidak
sampai
satu malam. Sawah? Aku tidak biasa bekerja di sawah. Yang selalu
kulakukan adalah duduk di medan judi. Atau, kalau aku sudah
kehabisan akal, aku akan dapat merampas milik orang lain.
Merampok di jalan-jalan sunyi atau di rumah-rumah orang kaya,
seperti yang pernah kau lakukan.”
Ken Arok sekali lagi menggigit bibirnya sampai pedih. Tetapi tidak
sepedih hatinya.
“Ayah,” berkata Ken Arok, “kalau ayah mau mendengar katakataku,
semuanya jangan ayah lakukan. Ayah akan berhadapan
dengan prajurit Tumapel. Sedangkan aku adalah satu di antara
mereka. Seandainya tidak demikian, seandainya tidak berhadapan
dengan prajurit Tumapel sekalipun, maka hidup ayah akan menjadi
semakin kisruh. Ayah tidak akan dapat lagi merasakan kehidupan
keluarga.”
“Kalau kau salah seorang dari prajurit Tumapel, kau mau apa?”
desis Bango Samparan, “apakah kau akan menangkap aku?”
Ken Arok menggelengkan kepalanya. “Tidak ayah. Tetapi ayah
menempatkan aku pada keadaan yang sulit.”
“Huh,” sahut Bango Samparan, “kau hanya memikirkan dirimu
sendiri. Kau tidak memikirkan aku dan keluargaku. Adik-adikmu dan
ibu angkatmu yang telah memeliharamu pada saat kau hampir mati
kelaparan.”
“Apakah dengan demikian ayah juga tidak hanya memikirkan diri
ayah sendiri. Coba, seperti ceritera ayah sendiri, seandainya ayah
tidak seolah-olah mendengar suara dari langit bahwa seorang anak
yang hampir mati kelaparan yang ayah temui itu akan dapat
memberikan nasib yang baik bagi ayah, apakah kira-kira ayah akan
mau memeliharanya? Sedangkan ayah sendiri pada waktu itu
hampir membunuh diri karena kekalahan ayah yang tidak
tertanggungkan. Dan sekarang, bukankah ayah juga hanya
memikirkan diri ayah sendiri tanpa memperhitungkan bagaimanakah
aku, dan sedang dalam kewajiban apakah aku sekarang? Ayah
hanya ingin, supaya aku datang ke Karuman, menunggui ayah
berjudi seperti pada saat aku masih terlampau muda untuk mengerti
tentang diri sendiri, pada saat aku masih kanak-kanak? Sedangkan
aku sekarang adalah seorang pelayan-dalam Istana Tumapel. Coba
ayah bayangkan, apakah aku akan dapat duduk diam di belakang
ayah yang lagi berjudi? Padahal di lambungku tersangkut pedang
seorang pelayan-dalam.”
Bango Samparan mengerutkan dahinya. Sekali lagi ia terdiam
meskipun bibirnya selalu bergerak-gerak. Ia tidak dapat mengatasi
kata-kata anak angkatnya itu. Karena itu maka harapannya untuk
membawa Ken Arok ke arena perjudian menjadi semakin kabur.
Ternyata Ken Arok telah benar-benar meninggalkan cara hidupnya
yang lama.
Tiba-tiba Bango Samparan itu mengangguk-anggukkan
kepalanya. Katanya kemudian pelahan-lahan, “Jadi aku sudah tidak
akan dapat mengharapkan kau lagi, Ken Arok?”
“Untuk kepentingan yang ayah maksudku, sayang ayah, aku kira
ayah memang sudah tidak dapat mengharapkan aku lagi.”
“Kalau begitu, baiklah Ken Arok. Aku akan mencari jalan untuk
melepaskan diri dari kesulitanku kali ini.”
“Apakah yang akan ayah lakukan?”
“Entahlah?”
“Melakukan kejahatan?”
“Tidak. Bukankah kau tidak sependapat?”
“Lalu apa?”
“Mungkin aku akan pergi ke Rabut Jalu.”
“Untuk apa? Apakah ayah akan bertapa lagi di sana?”
“Aku sudah tidak mempunyai harapan. Dahulu aku bertapa di
Rabut Jalu, bahkan hampir aku membunuh diri dengan caraku.
Tetapi waktu itu aku menemukan seorang anak yang bernama Ken
Arok. Sekarang aku tidak akan dapat menemukannya lagi.”
“Lalu, untuk apa ayah pergi ke Rabut Jalu?”
“Aku akan melakukan yang dahulu tidak sempat aku lakukan.
Lebih baik aku mati daripada melihat keluargaku yang akan mati
kelaparan.”
Dada Ken Arok berdesir mendengar kata-kata ayah angkatnya
itu. Sejenak ia berdiam diri memandangi wajah Bango Samparan
yang menjadi buram. Namun dalam pada itu, Ken Arok masih
sempat menangkap kesan-kesan tentang wajah itu. Kasar dan
bahkan keras. Sehingga timbul kebimbangan di dalam hati. “Apakah
orang sekasar dan sekeras itu benar-benar akan membunuh diri?”
Ken Arok menggeleng. “Tidak,” dijawabnya pertanyaan itu sendiri
di dalam hatinya, “ia tidak bersungguh-sungguh. Ia hanya ingin
menekankan kehendaknya. Aku kira dahulu pun ia tidak akan
membunuh dirinya di Rabut Jalu. Mungkin ia hanya menjadi bingung
dan bertapa di tempat itu.”
Sejenak mereka saling berdiam diri. Wajah Bango Samparan
yang keras dan kasar itu tampak sedih. Mulutnya masih saja
berkumat-kamit, tetapi tidak sepatah kata pun yang terloncat dari
mulutnya itu.
Baru sejenak kemudian ia berkata, “Baiklah Ken Arok. Pertemuan
ini adalah pertemuan yang terakhir. Mungkin besok atau lusa kau
akan mendengar kabar bahwa seorang laki-laki yang bernama
Bango Samparan telah membunuh dirinya karena anaknya yang
dikasihinya sama sekali tidak mau lagi memperhatikannya. Anak itu
bernama Ken Arok.”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba menenangkan
hatinya. Namun demikian kata-katanya meloncat juga dari
mulutnya, “Ayah, apakah ayah ingin mencoba memaksa aku dengan
cara itu? Seandainya ayah ingin membunuh diri, apakah itu juga
bukan salah satu bentuk dari suatu sikap mementingkan diri sendiri.
Ayah tidak mau memperhatikan keluarga ayah. Dan ini berlangsung
sejak dahulu, sejak aku berada di rumah ayah. Sekarang ayah akan
membunuh diri. Itu pun suatu cara ayah menghindari tanggung
jawab ayah terhadap keluarga. Kemudian sesudah itu, ayah jangan
mengharapkan orang percaya bahwa ayah mati karena aku tidak
memperhatikannya lagi. Setiap orang, apalagi orang Karuman dan
sekitarnya, pernah mendengar nama Bango Samparan, seorang
penjudi. Apa kata orang apabila mereka menemukan mayat ayah di
pinggir jurang di Rabut Jalu?”
“Cukup, cukup,” potong Bango Samparan. Wajahnya menjadi
merah membara. Ia benar-benar menjadi marah. Hampir-hampir ia
meloncat dan menampar wajah Ken Arok. Tetapi ia sempat
mengurungkan niatnya. Ken Arok sekarang bukan kanak-kanak lagi.
Ia adalah seorang prajurit. Dengan demikian maka Bango Samparan
itu hanya dapat menggeretakkan giginya sambil menggigil seperti
orang kedinginan.
“Maaf ayah,” berkata Ken Arok, “aku tidak bermaksud untuk
membuat ayah marah. Aku ingin memberikan beberapa pendapat
tentang diri ayah. Jangan marah ayah. Hanya seorang anak yang
mengerti tentang dirinya, mau mengatakan hal itu kepada ayahnya
yang dikasihinya supaya ayahnya tidak telanjur tersesat semakin
jauh. Alangkah sakitnya melihat cacat sendiri. Tetapi dengan
demikian ayah akan mendapat kesempatan untuk mengobatinya.”
Terdengar Bango Samparan mengatupkan giginya. Namun tibatiba
wajah yang merah padam itu mengangguk-angguk. Dengan
tangan menekan dadanya ia berkata, “Ya, aku harus sabar
menghadapi kau Ken Arok, sejak kecil. Sejak kau masih kurus
kering, kau memang anak yang keras kepala. Berani dan kadangkadang
menyakitkan hati. Sekarang sifat-sifat itu masih tampak ada
padamu meskipun kau sudah dewasa dan bahkan sudah menjadi
seorang pelayan dalam.”
”Maaf ayah,” sahut Ken Arok, “seandainya demikian, maka itulah
yang namanya pembawaan. Pembawaan yang ada padaku sejak
aku lahir. Mungkin aku selalu menyakitkan hati ayah sejak aku
berada di rumah ayah.”
“Ya, kau memang berbuat demikian.” tiba-tiba Bango Samparan
itu tersenyum, “tetapi nasibmu memang baik Ken Arok.”
Ken Arok mengerutkan keningnya. Ia justru merasa aneh melihat
Bango Samparan itu tiba-tiba saja tersenyum. Namun ia tidak ingin
terlampau lekas berprasangka.
“Ken Arok,” berkata Bango Samparan itu kemudian, “apa yang
akan kau berikan sebagai bantuanmu atas keluargaku?”
“Menurut kekuatanku ayah. Aku masih belum dapat mengatakan
sekarang. Kita akan melihat kemungkinan lebih dahulu.”
“Kau akan memberi aku setiap sepekan, sepuluh hari, atau
selapan kali.”
“Ah,” Ken Arok berdesah, “itu kurang bermanfaat bagi ayah.
Sebaiknya ayah mendapatkan sebidang tanah. Ayah harus mulai
dengan kerja. Bukan sekadar berjudi dan berkeliaran.”
Sekali lagi warna merah membersit di wajah Bango Samparan.
Tetapi wajah itu segera dibayangi oleh sebuah senyum. “Ken Arok.
Aku tidak biasa mengerjakan sawah. Bagaimana hal itu mungkin aku
lakukan.”
“Ayah harus mencoba.”
“Terlambat. Aku menjadi semakin tua.”
“Buat apa ayah melahirkan anak-anak ayah itu, para Panji.
Bukankah putera-putera ayah itu kini sudah cukup besar. Sudah
sebesar aku ini pula. Panji Bawuk, Panji Kuncang, Panji Kunal, dan
Panji Kenengkung. Apakah mereka tidak dapat membantu ayah
bekerja di sawah?”
“Mereka tidak dapat aku harapkan Ken Arok.”
“Kenapa?”
“Mereka menjadi binal. Sama sekali tidak terkendali. Mereka
adalah anak-anak yang sama sekali tidak sopan, tidak tahu terima
kasih, tidak aturan dan tidak bertanggung jawab.”
“Siapakah yang bersalah?”
“He?”
”Siapakah yang bersalah sehingga anak-anak itu menjadi binal?”
“Hem,” Bango Samparan menarik nafas dalam-dalam. Kini ia
benar-benar mengekang dirinya. Dan bahkan sekali lagi ia
tersenyum dan berkata, “Akulah yang bersalah, Ken Arok. Tetapi
mereka tidak bercermin kepadamu. Kepada kakaknya yang bernasib
cemerlang. Bango Samparan itu berhenti sejenak lalu tiba-tiba, ”Eh,
Ken Arok. Apakah kau benar-benar sudah puas dengan keadaanmu
sekarang. Seorang pelayan dalam saja?”
Ken Arok menjadi berdebar-debar mendengar pertanyaan itu.
Terasa sesuatu tersembunyi di balik pertanyaan yang aneh itu.
Sejenak ia terdiam. Dicobanya untuk mengatur hatinya, supaya ia
tidak terkejut apabila ayah angkatnya mengatakan maksud
sebenarnya.
Bango Samparan pun berdiam diri sejenak. Ia menunggu
jawaban anaknya. Tetapi jawaban itu tidak segera didengarnya,
sehingga ia merasa perlu untuk mengulangnya, “Ken Arok,
bagaimana? Apakah kau sudah puas dengan kedudukanmu
sekarang?”
Ken Arok menarik nafas panjang. Diaturnya perasaannya, dan
pelahan-lahan ia menjawab, “Sudah aku katakan ayah. Aku sudah
puas dengan kedudukanku sekarang. Aku merasa telah berhasil
keluar dari lumpur yang pekat. Apalagi yang akan aku inginkan?”
Bango Samparan mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian
dengan nada yang dalam ia berkata, “Nasibmu memang terlampau
baik.”
“Ya, aku bernasib baik. Dan karena itu aku wajib berterima kasih
kepada Yang Maha Agung.”
“Tetapi kau kekasih Yang Maha Agung, anakku.”
“Seperti juga setiap manusia adalah kekasih Yang Maha Agung.”
“Tidak. Kau salah Ken Arok. Ada manusia yang dibenci oleh Yang
Maha Agung. Ternyata ada orang yang bernasib terlampau buruk.
Bahkan ada orang yang sama sekali tidak dihiraukan-Nya.”
“Ayah keliru. Tak ada orang yang dibenci oleh Yang Maha Agung.
Yang Maha Agung mempunyai sifat kasih tiada terbatas. Seperti
jarak ujung barat dari ujung timur yang tidak terukur jauhnya,
demikian kasih Yang Maha Agung itu terhadap manusia, titahnya
yang paling mulia.”
Bango Samparan tiba-tiba tertawa. Suara tertawanya semakin
lama semakin keras, sehingga tubuhnya terguncang-guncang
karenanya.
“Kau dapat berkata demikian setelah kau menikmati lezatnya
makanan di Istana Tumapel. Setelah kau mengenakan pakaian
pelayan dalam yang kau bangga-banggakan itu. Ken Arok, coba
kenanglah, apakah pada saat-saat kau berkeliaran di arena
perjudian, di jalan-jalan sepi di mana kau mencegat orang-orang
yang lewat, bahkan gadis-gadis yang kau perkosa, dan apakah pada
saat kau tinggal di Padang Karautan ini sebagai hantu yang
menakutkan, kau dapat berkata seperti itu? Kau dapat berkata
bahwa nasib setiap manusia itu baik karena sifat Yang Maha Agung
itu Maha Pengasih?”
“Ya ayah.”
“Bohong. Aku tidak pernah mendengar kau mengucapkan
sepatah kata pun tentang kasih Yang Maha Agung kepadamu.”
“Memang aku tidak pernah mengucapkannya karena
kebodohanku. Karena kepicikan pengetahuanku. Tetapi itu bukan
berarti bahwa Yang Maga Agung tidak menaruh kasih kepadaku.
Bahkan melimpah-limpah. Adalah salah manusia sendiri apabila ia
menolak kasih Yang Maha Agung. Menjauhkan diri dari padanya dan
hidup dalam kegelapan tanpa mengenal terima kasih.”
Suara tertawa Bango Samparan menjadi semakin keras, sehingga
Ken Arok perlu memperingatkan, “Ayah, suara tertawa ayah akan
dapat mengganggu orang-orang yang sedang tidur.”
“Eh,” Bango Samparan berusaha menahan suara tertawanya,
“kau aneh anakku. Tetapi agaknya kau telah melupakan keadaanmu
sendiri. Bagaimana mungkin kau dapat berkata, bahwa pada saat itu
kasih Yang Maha Agung melimpah-limpah kepadamu? Sedangkan
hidupmu sendiri tidak lebih baik dari binatang buruan yang
bersembunyi di dalam semak-semak di Padang Karautan ini?”
“Ayah,” Ken Arok bergeser setapak untuk menyembunyikan
kegelisahannya, “justru pada saat aku hidup sebagai binatang
buruan itulah aku melihat kasih yang berlimpah-limpah. Bukankah
ayah sendiri berkata bahwa nasibku teramat baik. Bukankah ayah
mengatakan bahwa karena ayah membawa aku berjudi, maka
nasibku yang baik itu telah melimpah kepada ayah? Itu adalah nasib
yang baik. Dan itu adalah kasih Yang Maha Agung. Tetapi akulah
yang terlampau bodoh. Sehingga aku tidak mengetahuinya dan
tidak berterima kasih kepada-Nya. Kemudian, bukankah kasih itu
nampak pula semakin jelas padaku di akhir-akhir pengembaraanku.
Yang Maha Agung telah membuka mata hatiku dengan lantaran
beberapa orang yang mengenalnya lebih baik dari padaku. Nah,
apakah aku tidak harus mengucapkan terima kasih?”
“Hem,” Bango Samparan menarik nafas dalam-dalam, “kau benar
anakku. Kau memang kekasih Yang Maha Agung.”
“Seperti juga ayah, orang lain, dan semua orang di muka bumi.”
Wajah Bango Samparan berkerut-merut. Tetapi ia tidak segera
menyahut meskipun mulutnya berkumat-kamit.
“Karena itu kita wajib berterima kasih.”
“Tetapi,” Bango Samparan berhenti sejenak, “bagaimana dengan
orang-orang yang miskin, bahkan yang hampir mati kelaparan?”
“Itukah ukuran ayah tentang kasih?” Ken Arok menyahut sambil
mengerutkan keningnya yang telah menjadi basah oleh keringat,
“Kalau ukuran ayah tentang kasih adalah keadaan lahiriah, maka
aku dapat mengerti jalan pikiran ayah, kenapa ayah menganggap
bahwa nasib manusia itu ditentukan menurut kesukaan Yang Maha
Agung seperti kesukaan kita. Apabila kita tidak senang terhadap
seseorang maka kita akan mengasingkannya.”
Bango Samparan memandangi anak angkatnya. Wajahnya
menjadi semakin tidak mengerti.
“Ukuran kasih adalah ketenteraman rohaniah, ayah. Rasa damai
dan dekat dengan Yang Maha Agung itu.”
“O, aku tidak mengerti Ken Arok. Tetapi baiklah aku tidak
membantah. Mudah-mudahan lain kali aku dapat mengerti
maksudmu.” Bango Samparan berhenti lagi untuk sesaat, ”Tetapi
bagaimana dengan penyataanku? Apabila kau merasa dekat dengan
Yang Maha Agung dalam kasihnya, eh, kenapa kau tidak memohon
untuk mendapat kurnia lebih banyak lagi?”
Wajah Ken Arok menegang. Kini ia merasa bahwa ayahnya
hampir sampai pada maksud yang sebenarnya di samping
keinginannya untuk mendapat kemenangan di medan perjudian
dengan mengajaknya ikut berjudi.
Sejenak Bango Samparan pun terdiam. Ketika ia melihat wajah
Ken Arok yang menjadi kemerah-merahan seperti tembaga karena
sinar lampu minyak serta ketegangan, maka Bango Samparan
mencoba untuk menjadi lebih berhati-hati.
“Ken Arok,” berkata Bango Samparan itu pula, ”dahulu, sebelum
kau menjadi seorang yang baik dalam penilaian orang-orang di
sekitarmu seperti sekarang ini, kau telah mendapat nasib yang baik.
Apalagi sekarang, setelah kau mengenal Yang Maha Agung lebih
baik, dan kau menjadi lebih tekun berbakti kepadaNya. Nah, apakah
kasih itu tidak akan menjadi berlipat ganda.”
“Kasih itu tidak terbatas ayah.”
“Bagus,” berkata Bango Samparan, “kalau begitu kau akan dapat
mohon lebih banyak lagi.”
“Itu adalah pertanda bahwa kita tidak berterima kasih atas apa
yang sudah kita miliki.”
“O, tidak Ken Arok, tidak. Setiap manusia ingin mencapai segala
macam kebutuhannya sampai ke puncak. Kalau ia memerlukan
pangkat, maka ia ingin mencapai pangkat yang setinggi-tingginya.
Kalau ia ingin kaya, ia pasti ingin menjadi kaya sekaya-kayanya.
Nah, apakah kau termasuk perkecualian.”
“Mungkin ayah.”
Bango Samparan menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak
Ken Arok. Cita-cita seorang tidak boleh berhenti. Cita-cita ia
harus
meluncur jauh di depan kita, supaya kita tidak berhenti. Berhenti
berusaha dan berhenti berjuang. Tanpa cita-cita gairah hidup kita
pun akan lenyap, dan kita akan menjadi beku.”
“Tetapi cita-cita harus seimbang dengan kenyataan ayah. Apabila
cita-cita itu tidak seimbang dengan kenyataan diri, maka seseorang
akan mudah tergelincir. Mungkin menjadi patah, tetapi mungkin
juga akan melakukan hal-hal yang tidak baik.”
“O, ternyata kau bukan seorang yang berhati baja.”
“Apakah maksud ayah?”
“Hatimu miyur. Kau sekadar mendapat makan dan pangkat yang
kecil, kau sudah mandeg. Berhenti di jalan. Sedangkan orang lain
akan terus berlari meninggalkan kau jauh di belakang. Padahal
belum pasti bahwa nasibmu kalah baik dengan nasib orang lain.”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Ia kini mengerti kehendak
ayahnya. Ayahnya menghendaki sesuatu yang terlampau berlebihlebihan
dari padanya. Dan ia tidak lagi terkejut ketika Bango
Samparan berkata, “Ken Arok. Kalau kau mendapat pangkat yang
tinggi, jauh lebih tinggi dari pangkatmu sekarang, kau akan menjadi
kaya. Kau akan dapat membantu aku sepekan sekali. Dan aku tidak
akan mati kelaparan sekeluarga.”
“Dan hampir sepekan sekali ayah tetap bisa berada di medan
judi.”
Bango Samparan mengernyitkan alisnya. Kemudian ia tersenyum,
“Begitulah kira-kira. Tetapi kalau kau masih saja seperti sekarang,
maka bantuan yang dapat kau berikan akan menjadi seperti sebutir
garam yang kau tebarkan di lautan. Tetapi kalau kau menjadi
seorang yang berpangkat tinggi, Ken Arok, kau akan menjadi kaya,
dan kau tidak perlu lagi menghitung-hitung berapa uang yang kau
berikan kepadaku. Dan aku tidak akan lagi mengejarmu untuk
membawa kau turut ke arena perjudian lagi.”
Nafas Ken Arok tiba-tiba menjadi sesak, dan wajahnya yang
tegang menjadi semakin tegang. Meskipun ia sudah mengira bahwa
akhirnya akan sampai pula pada persoalan itu, namun hatinya masih
juga merasa sakit. Ayah angkatnya benar-benar tidak dapat
mengerti keadaan dan perasaan orang lain. Ia hanya berpikir
tentang kesenangannya saja.
“Tambahan lagi anakku. Apabila kau menjadi seorang pemimpin,
maka aku pun akan menjadi seorang yang terhormat pula.
Kehormatan sangat penting artinya di dalam perjudian. Seandainya
aku sedikit-sedikit mengelabui lawanku dengan akal, maka ia tidak
akan menjadi lekas marah. Seandainya aku kalah dan masih belum
dapat membayar kekalahanku itu, maka tak seorang pun yang
berani memaksaku seperti dahulu dan baru-baru ini, sehingga aku
harus bersembunyi di Rabut Jalu.”
Dada Ken Arok menjadi semakin bergolak, sehingga mulutnya
bahkan serasa terbungkam.
“Anakku,” berkata Bango Samparan itu. Nada suaranya
merendah dibuat-buat. “Tak ada orang lain tempat aku
menumpangkan nasib selain kepadamu. Sejak aku menemukan kau
Arok, aku sudah yakin, bahwa hanya kaulah yang akan dapat
menjunjung martabatku. Aku tidak sekadar menjadi penjudi kecil
yang kadang-kadang diusir dari arena karena aku tidak banyak
mempunyai modal. Nah, dengan demikian, aku tidak akan
memaksamu lagi untuk mengikuti aku ke perjudian. Apakah kau
dapat mengerti? Aku tidak akan mengganggu pekerjaan yang
semakin banyak. Apakah kau mengerti?”
Ken Arok menggigit bibirnya, “Aku mengerti ayah,” sahutnya
sambil menahan hati.
“Bagus, bagus, kau memang anak laki-laki yang luar biasa.
Kekasih Yang Maha Agung. Nah, apakah yang akan kau lakukan?”
“Yang akan aku lakukan adalah mempersilakan ayah
meninggalkan tempat ini.”
“He,” Bango Samparan terlonjak. Wajahnya menegang dan
mulutnya ternganga. Kemudian terbata-bata ia berkata, “Apa
katamu he?”
“Aku tak akan sampai hati mempersilakan ayah meninggalkan
tempat ini seandainya ayah dapat mengerti keadaanku.”
“O, itukah balasanmu Ken Arok? He? Itukah?”
“Maaf ayah. Bukan maksudku. Tetapi aku harap ayah mengerti
keadaanku.”
Bango Samparan termenung sejenak. Dipandanginya lampu
minyak yang bergerak-gerak ditiup angin yang menyusup lewat
dinding yang tidak rapat.
“Ken Arok. Aku mimpikan kau yang bernasib terlampau baik itu
menjadi seorang pemimpin seluruh prajurit Tumapel. Eh, tidak
bahkan menjadi seorang akuwu. Tidak, tidak. Tetapi kau menjadi
seorang raja di Kediri.”
Dada Ken Arok berdesir tajam mendengar kata-kata ayah
angkatnya itu. Dipandanginya wajah Bango Samparan seolah-olah
baru saja dilihatnya hari ini, sehingga Bango Samparan itu terpaksa
menundukkan kepalanya menghindari tatapan mata Ken Arok yang
seolah-olah menyala. Dengan nada yang berat Ken Arok berkata,
“Ayah, aku akan benar-benar mempersilakan ayah meninggalkan
tempat ini kalau ayah masih saja membuat hatiku kisruh.”
“Tidak anakku. Aku jangan kau usir malam ini. Meskipun hantu
Padang Karautan sekarang telah menjadi jinak, tetapi aku tidak mau
mati kedinginan.”
Terdengar Ken Arok menggeram. Tetapi ayah angkatnya berkata
meneruskan, “Maksudku baik Ken Arok.”
“Tidak. Ayah benar seorang yang hanya mengerti tentang
kepentingan diri sendiri. Ayah seorang yang terlampau
mementingkan diri ayah sendiri.”
“O, kau salah tangkap Ken Arok. Aku juga berpikir tentang kau,
tentang nasibmu yang baik itu.”
“Dalam hubungan kepentingan ayah.”
“Hem,” Bango Samparan menarik nafas dalam-dalam, “mimpiku
tidak pernah salah. Dahulu aku juga serasa bermimpi, o, tidak,
bahkan seolah-olah aku mendengar suara dari langit tentang
seorang anak yang hampir mati kelaparan. Dan aku benar-benar
menemukan kau yang ketakutan karena dihantui oleh
perbuatanperbuatanmu
sendiri, tetapi setelah itu kau juga tidak berhenti
merampok, memerkosa, dan bahkan membunuh,” Bango Samparan
mengangkat tangannya ketika Ken Arok akan memotong katakatanya,
“jangan, jangan kau potong kata-kataku, aku belum
selesai.” Bango Samparan menelan ludahnya, lalu melanjutkan,
“Sekarang aku bermimpi kau menjadi seorang maharaja. Eh, siapa
tahu, bahwa hal itu akan terjadi. Kalau kau berhasil memanjat dari
jabatanmu sekarang menjadi akuwu, misalnya, kemudian kau akan
mendapat kesempatan yang lebih baik.”
“O,” Ken Arok tidak dapat menahan perasaannya lagi. Tiba-tiba ia
berdiri dan berjalan mondar-mandir. “Cukup ayah, cukup. Aku tidak
mau mendengar lagi. Itu adalah impian yang gila.”
“Ah, jangan terlampau memandang hari depan terlampau suram.
Siapa tahu. Ya, siapa tahu. Siapa tahu kalau anak yang hampir mati
kelaparan itu sekarang memimpin sepasukan prajurit. Siapakah
yang menyangka bahwa hantu Karautan yang dikejar-kejar orang
dan akan dibunuh oleh siapa pun juga, termasuk prajurit-prajurit
Tumapel, kini justru memimpin prajurit-prajurit itu sendiri.”
“Cukup, cukup,” Ken Arok hampir berteriak. Tanpa diketahuinya
maka bulu-bulu di seluruh tubuhnya terasa meremang. Dengan
lantang ia berkata, “Lupakan mimpi yang gila itu. Aku bukan
termasuk orang yang tidak mengenal terima kasih. Aku tidak akan
ikut serta bermimpi seperti ayah. Sekarang silakan ayah
meninggalkan tempat ini.”
“Ken Arok.”
“Aku tidak mau lagi mendengar mimpi yang gila yang tidak
masuk akal. Apakah ayah sengaja membuat aku gila pula?”
“O, kau salah terima anakku. Kau salah terima. Aku hanya ingin
mengatakan….”
“Cukup, cukup,” kini Ken Arok benar-benar berteriak. Beberapa
orang yang sedang tidur terbangun karenanya. Bahkan ada di
antara mereka yang tanpa sengaja bangun dan memandangi
pedang-pedang mereka yang tersangkut di dinding, di atas
pembaringannya.
Tetapi sejenak kemudian suasana malam menjadi sunyi kembali.
Tidak terdengar lagi suara Ken Arok membentak-bentak.
Bango Samparan terkejut juga mendengar Ken Arok itu berteriak,
memotong kata-katanya. Agaknya kali ini anaknya tidak sedang
bermain-main. Ken Arok telah benar-benar menjadi marah. Karena
itu maka Bango Samparan pun terdiam.
Dengan jantung yang berdegup keras, Ken Arok berjalan
mondar-mandir di dalam gubugnya yang sempit. Sekali-sekali ia
berhenti. Mulutnya terkatup rapat-rapat, tetapi matanya seolah-olah
menyala.
Sejenak mereka saling berdiam diri dalam ketegangan perasaan
masing-masing. Tetapi Bango Samparan benar-benar tidak berani
lagi berbicara berkepanjangan. Kepalanya tertunduk dan bahkan
tangannya menjadi gemetar. Namun ia masih belum beranjak dari
tempatnya.
Ketika di kejauhan terdengar anjing-anjing liar menyalak, maka
Ken Arok berdesis, “Tinggalkan aku sendiri.”
“Ken Arok.”
“Aku persilakan ayah meninggalkan tempat ini.”
“O, malam terlampau gelap di Padang Karautan.”
“Ayah datang kemari tanpa mengenal takut. Seharusnya ayah
juga tidak takut meninggalkan tempat ini.”
“Tetapi ketika aku datang, hari belum terlampau malam.”
“Tak ada bedanya bagi Padang Karautan.”
“Ada anakku. Anjing-anjing itu? Apakah kau ingin dagingku hacur
disayat-sayat anjing liar itu? Jangan Ken Arok. Aku minta maaf
kepadamu kalau aku membuatmu marah. Tetapi aku jangan kau
usir dari tempat ini malam ini. Besok pagi buta aku akan pergi.”
“Tetapi aku tidak tahan mendengar ayah berbicara tanpa ujung
pangkal. Membuat aku gila karena mimpi yang gila itu. Dan anjing
itu berada di tempat yang jauh, di seberang sungai. Mereka tidak
akan datang kemari.”
“Tidak, aku tidak akan berbicara lagi tentang mimpi itu. Tentang
akuwu dan tentang maharaja di Kediri.”
Ken Arok terdiam sejenak. Ketika dilihatnya wajah Bango
Samparan yang ketakutan, maka timbullah ibanya. Meskipun
hatinya masih juga belum lilih benar, tetapi ia berkata, “Kalau
ayah
berjanji tidak akan menyebut-nyebut mimpi itu, aku akan
membiarkan ayah bermalam di sini.”
(Bersambung 30)
Jilid 30
“AKU akan membiarkan ayah bermalam di sini. Besok pagi-pagi
buta ayah harus sudah meninggalkan padang.”
“Baik, baik Ken Arok. Terima kasih,” Bango Samparan menelan
ludahnya. Tetapi ia mendengar Ken Arok berkata, “Sebenarnya aku
tidak percaya bahwa ayah tidak berani melewati padang ini. Hampir
setiap malam ayah berkeliaran dari satu arena perjudian ke arena
yang lain, bahkan di tempat-tempat yang paling ditakuti orang.
Meskipun demikian, biarlah ayah beristirahat. Tetapi ingat, jangan
menyebut lagi tentang mimpi yang gila itu.”
Bango Samparan mengangguk-anggukkan kepalanya. Wajahnya
yang memucat kini menjadi agak merah kembali. Dengan tergagap
ia berkata, “Terima kasih Ken Arok. Ternyata kau benar-benar
anakku yang baik. Memang aku selalu berkeliaran dari satu tempat
judi ke tempat yang lain, tetapi tidak di Padang Karautan. Kecuali
mungkin aku bertemu dengan anjing-anjing liar itu, aku juga tidak
tahan dingin.”
“Udara malam ini terlampau panas,” sahut Ken Arok acuh tak
acuh.
“O,” Bango Samparan terdiam sejenak, kemudian, “ya, ya, udara
memang terlampau panas.”
“Tidurlah,” desis Ken Arok.
“Ya, ya terima kasih. Aku akan segera tidur. Aku memang tidak
ingin lagi berkata tentang mimpi itu, kalau kau memang tidak
senang mendengarnya, meskipun dapat menumbuhkan anganangan
yang menyenangkan. Akuwu, Maharaja.”
Ken Arok sudah tidak tahan lagi. Dengan serta-merta ia berdiri
dan melangkah pergi.
“Ken Arok, ke mana kau?” panggil ayah angkatnya.
“Aku akan keluar. Ayah tidak berani pergi dari tempat ini. Akulah
yang akan pergi.”
“Ke mana kau akan pergi?”
“Ke bendungan.”
“Kenapa?”
Ken Arok tidak menjawab, tetapi ia melangkah terus
meninggalkan Bango Samparan di dalam gubugnya. Demikian ia
lepas dari gubug itu, terasa dadanya menjadi lapang. Dilihatnya
langit yang hitam terbentang dari segala ujung penjuru. Bintang
yang berkilat-kilat bergayutan tak terbilang banyaknya.
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah akan
dihisapnya udara di atas Padang Karautan itu habis-habis.
Tanpa sesadarnya maka ia pun melangkah, berjalan di antara
gubug-gubug yang bertebaran. Angin yang lembut mengusap
wajahnya pelahan-lahan.
Ketika ia lepas dari deretan gubug-gubug itu, dilihatnya parit
induk yang terbujur membelah padang menjorok ke tengah. Di
ujung parit itu terdapat sebuah sendang buatan. Tetapi malam itu
Ken Arok tidak dapat melihat sendang itu dari tempatnya. Seolaholah
sendang diselimuti oleh sebuah permadani yang hitam. Namun
demikian, terbayang di rongga matanya, tanaman-tanaman yang
sudah mulai menghijau di sekitar sendang itu, meskipun setiap hari
masih harus disiram air. Kemudian batu-batu yang sudah mulai
teratur rapih. Puntuk-puntuk kecil dan kemudian parit-parit yang
menyilang taman itu. Sebuah gunung kecil di tengah-tengah
sendang.
“Mudah-mudahan sendang itu menyenangkan hati Akuwu
Tumapel,” gumam Ken Arok di dalam hatinya.
Tiba-tiba terbersit pertanyaan di dalam hatinya, “Kenapa setiap
orang harus membuat Akuwu menjadi senang?” Tetapi Ken Arok itu
menggeleng-gelengkan kepalanya ketika tiba-tiba pula tumbuh
perasaan di dalam dadanya, “Alangkah senangnya menjadi seorang
Akuwu. Kekuasaan di Tumapel ini berpusat padanya. Apa pun yang
dikehendaki, hampir pasti dapat terpenuhi.”
“Tidak, tidak,” Ken Arok itu menggeram sambil menggeretakkan
giginya. “Pikiran gila ini telah mengotori dadaku. Tidak.”
Ken Arok itu kemudian berdiri dengan tegangnya. Tangannya
mengepal dan kakinya seolah-olah menghujam jauh ke dalam
tanah. “Aku tidak boleh diracuni oleh pikiran-pikiran gila itu.
Kalau
sekali lagi Bango Samparan menyebut-nyebut mimpinya, aku cekik
ia sampai mati.”
Sekali lagi Ken Arok menggeram. Tiba-tiba untuk mengusir
perasaannya itu ia meloncat berlari masuk ke dalam hitamnya
malam. Seperti seorang yang dikejar hantu, ia berlari tidak ke
bendungan, tetapi ke sendang yang sedang dibuatnya.
“Tidak, tidak,” ia masih menggeram, “aku harus melakukan
perintah Akuwu, sendang itu harus siap pada saatnya.”
Ketika ia sampai ke tepi sendang yang masih belum siap itu,
nafasnya menjadi terengah-engah. Wajahnya membayangkan
ketakutan atas dirinya sendiri. Ia tidak mau mendengar mimpi itu
lagi, meskipun perasaannya sendiri yang menyebut-nyebutnya.
Mimpi tentang dirinya dan Akuwu Tumapel.
“Tidak, tidak,” tiba-tiba ia berteriak. Suaranya yang parau
melayang di udara padang yang sepi, seolah-olah menggetarkan
seluruh Padang Karautan, bahkan seluruh Tumapel.
Ketika sekali lagi perasaannya diganggu oleh mimpi Bango
Samparan itu, maka Ken Arok pun segera meloncat. Diraihnya batubatu
yang masih bertebaran di pinggir taman. Dengan mengatupkan
mulutnya rapat-rapat, ia mengangkat sebongkah batu,
dilontarkannya kuat-kuat. Batu-batu itu besok memang harus
disusun menjadi sebuah dinding yang akan mengelilingi taman.
Sekali, dua kali, tiga kali. Dan seterusnya. Dilontarkannya
batubatu
itu ke tempat yang besok harus dibangun dinding.
Dikerjakannya pekerjaan prajurit-prajurit Tumapel yang harus
dilakukannya besok. Dengan wajah yang tegang dan gigi gemeretak
ia melempar-lemparkan batu-batu itu. Tenaganya seolah olah
menjadi berlipat-lipat dan kekuatannya serta ketahanannya pun
menjadi berganda.
Maka terdengarlah kemudian gemeretak batu-batu yang
terlempar oleh Ken Arok itu memecahkan kesenyapan Padang
Karautan. Susul-menyusul tidak habis-habisnya, seolah-olah
pekerjaan itu telah dilakukan oleh sepuluh orang bersama-sama.
Namun betapa kuat dan kokohnya tubuh Ken Arok, akhirnya
sampai juga ke batasnya. Tenaganya semakin lama menjadi
semakin kendor. Lontarannya sudah tidak lagi mencapai jarak yang
diperlukan, sehingga lambat-laun, ia pun menjadi semakin lelah.
Meskipun demikian, Ken Arok tidak mau berhenti. Ia tidak mau
membiarkan kesempatan sekejap pun untuk mengenang kembali
mimpi ayah angkatnya yang gila. Ia tidak mau batinnya diracuni
oleh perasaan itu. Karena itu, betapa ia menjadi lelah dan lemah,
namun masih juga dicobanya untuk mengangkat dan kemudian
melemparkan bongkahan batu-batu yang besar itu.
Tetapi akhirnya Ken Arok itu sudah tidak mampu lagi
melakukannya. Tulang-tulangnya seraya menjadi lemas, dan
nafasnya sudah menyesak di dadanya.
Dengan lemahnya ia tertunduk di antara batu-batu yang masih
berserakan. Bahkan kemudian ia membaringkan dirinya. Betapa
lelah mengganggu tubuhnya, sehingga scjcnak kemudian Ken Arok
itu diserang oleh perasaan kantuk yang luar biasa. Ketika angin
padang membelai tubuhnya, terasa kesegaran merayapi kulit
dagingnya. Namun dengan demikian maka Ken Arok itu pun jatuh
tertidur.
Ken Arok tidak dapat mengetahui betapa lama ia tertidur di
padang itu, di bawah atap langit yang biru hitam, serta di bawah
bintang yang bergayutan tanpa dapat dihitung jumlahnya.
Anak muda itu terperanjat ketika ia mendengar gemeletuk batu
tersentuh kaki. Dengan sigapnya ia meloncat bangun. Namun tibatiba
matanya menjadi silau, ternyata matahari telah merayapi langit.
“Hem,” Ken Arok menarik nafas dalam-dalam sambil menggosok
matanya yang kesilauan, ”aku tertidur.”
“Kami mencarimu,” sahut orang yang membangunkannya,
seseorang prajurit Tumapel, “kami hampir menjadi putus asa. Aku
sangka kau hilang seperti Mahisa Agni.”
“Sebelum udara di dalam gubugku terlampau panas. Aku
berjalan-jalan keluar, dan akhirnya aku sampai ke tempat ini. Di
sini
udara terasa segar sekali. Dan aku jatuh tertidur.”
Prajurit itu tidak mempunyai syak-wasangka. Karena itu ia
menjawab, “Semuanya menunggu kedatanganmu dengan cemas.
Untung-untungan aku mencoba mencarimu di sini, di antara batubatu
ini. Ternyata kau tertidur.”
Sekali lagi Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. “Aku lelah
sekali,” desisnya.
Tanpa disengaja, Ken Arok memandangi batu-batu yang masih
bertebaran. Prajurit itu pun mengikuti arah pandangan Ken Arok.
Namun tiba-tiba prajurit itu mengerutkan keningnya. Ia melihat
batu-batu yang dipersiapkan untuk dinding taman telah berpindah
hampir di sepanjang sebelah sisi yang akan didirikan dinding untuk
taman itu. Kemarin batu-batu ini masih tertumpuk.
Wajah prajurit itu menjadi berkerut-kerut. Ketika ia melihat
pakaian Ken Arok yang kusut dan tubuhnya yang kotor karena debu
dan lumpur, maka tumbuhlah pertanyaan di dalam dirinya. Apakah
yang sudah dilakukannya? Begitu mendesak pertanyaan itu di dalam
dadanya sehingga terloncat kata-katanya, “Batu-batu ini telah
berpindah.”
Ken Arok berpaling. Dipandanginya wajah prajurit itu, tetapi ia
menjawab, “Orang-orang terakhir kemarin telah mulai
memindahkan batu-batu itu.”
Wajah prajurit itu menjadi semakin aneh. Dengan terheran-heran
ia berkata, “Aku adalah orang yang terakhir meninggalkan
pekerjaan kemarin. Aku masih sempat melihat batu-batu yang
tertimbun di sini. Tetapi pagi ini aku lihat batu-batu itu sudah
berserakan di sepanjang batas dinding taman yang akan dibangun.
Hampir di sepanjang sisi sebelah ini.”
Wajah Ken Arok itu pun kini menjadi berkerut-merut. Sejenak ia
tidak menjawab. Namun kemudian ia berkata, “Mari, aku akan
kembali ke perkemahan. Mereka terlalu lama menunggu, dan kerja
hari ini akan terlampau lama terlambat mulai.”
Prajurit itu terdiam. Wajahnya masih diliputi oleh
pertanyaanpertanyaannya
tentang batu-batu yang berpindah itu. Meskipun
demikian ia telah menyangka bahwa Ken Arok telah melakukan
pekerjaan itu.
“Tetapi hampir tidak masuk akal,” berkata prajurit itu di dalam
hatinya, “aku masih melihat Ken Arok itu masuk ke dalam
gubugnya. Seandainya ia datang kemari, maka pasti tidak sejak
sore. Sedangkan pekerjaan yang sepantasnya dilakukan oleh dua
tiga orang sehari penuh.”
Prajurit itu terkejut ketika Ken Arok berkata, “Mari, apa lagi yang
kau tunggu?”
Tanpa sesadarnya prajurit itu berguman, “Agaknya Hantu
Karautan lah yang telah memindahkan batu-batu ini.”
Wajah Ken Arok menegang mendengar kata-kata itu. Tetapi
segera ia berhasil menguasai dirinya. Prajurit itu pasti dengan
sengaja menyebut Hantu Karautan, dan pasti tidak mencoba
menghubungkannya dengan dirinya, meskipun sebenarnya bahwa
yang telah melakukan pekerjaan itu adalah Hantu Karautan.
Sejenak kemudian maka mereka berdua segera meninggalkan
tempat itu dengan tergesa-gesa. Orang-orang Panawijen dan para
prajurit Tumapel sudah menunggu Ken Arok dengan gelisah.
Bahkan seperti yang dikatakan oleh prajurit itu, ada di antara
mereka yang menyangka bahwa Ken Arok hilang seperti Mahisa
Agni.
Namun di sepanjang jalan, prajurit Tumapel itu tidak dapat
melupakan apa yang telah dilihatnya. Batu-batu yang telah
berpindah tempat. Tak ada orang lain di tempat itu selain Ken Arok.
Apalagi pakaian Ken Arok tampak lusuh dan tubuhnya dikotori oleh
debu dan keringat. Adalah mustahil apabila sejak kemarin, sejak
sore kemarin, Ken Arok tidak mandi dan membersihkan tubuhnya.
Karena itu, maka prajurit itu berketetapan, “Ken Arok telah
melakukannya. Alangkah dahsyat tenaganya. Ternyata anak muda
itu benar seorang yang melampaui sesamanya.”
Dan, ternyata prajurit itu kemudian tidak dapat menyimpan
pertanyaan dan kekaguman itu di dalam hatinya. Satu-satu akhirnya
setiap orang mendengar apa yang telah terjadi, meskipun hanya
bisikan-bisikan di setiap telinga.
Ketika Ken Arok melihat orang-orang Panawijen dan prajuritprajurit
Tumapel telah mempersiapkan diri untuk bekerja, serta
melihat bayangan kegelisahan di wajah-wajah mereka, menjadi
agak menyesal. Ia telah memperlambat kerja hari ini. Karena itu,
demikian ia berdiri di hadapan mereka dan Ki Buyut Panawijen,
segera berkata, “Mulailah. Aku akan segera menyusul.”
Orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel segera
meninggalkan perkemahan dan berpencaran ke tempat kerja
masing-masing. Sebagian pergi ke bendungan yang sudah menjadi
semakin tinggi, sebagian memperdalam parit induk yang membelah
Padang Karautan, sebagian memperpanjang parit yang silangmenyilang
yang kelak akan mengairi sawah-sawah, dan sebagian
dari para prajutit Tumapel meneruskan kerja mereka, membuat
sendang dan taman. Ketika mereka yang bekerja di sendang buatan
itu sampai ke tempat kerja mereka, maka mereka benar-benar
menjadi heran. Mereka melihat batu-batu yang telah berpindah dari
tempatnya kemarin, seperti desas-desus yang mereka dengar.
“Semalam Ken Arok lah yang tidur di sini,” gumam salah seorang
dari padanya.
“Luar biasa. Ia mampu melakukannya seorang diri.”
“Mungkin ia mempunyai sababat hantu-hantu padang.”
Kawannya hanya dapat mengangkat bahunya. Namun
kekaguman mereka terhadap Ken Arok menjadi bertambah-tambah.
Ketika perkemahan itu kemudian menjadi sepi karena orangorang
yang menghuninya telah pergi ke tempat kerja mereka, maka
segera Ken Arok kembali ke dalam gubugnya. Di sana-sini ia hanya
melihat satu-dua orang yang bertugas menjaga perkemahan itu.
Tubuhnya kini sama sekali sudah tidak merasa lelah lagi. Tidurnya
ternyata telah dapat memulihkan seluruh tenaga yang telah
diperasnya semalam.
Dengan tergesa-gesa ia harus menyiapkan diri. Mandi dan
makan-minum sebelum berangkat menyusul kawan-kawannya yang
sedang bekerja.
Tetapi ketika ia memasuki gubugnya, ia merasa ada sesuatu
yang kurang. Tiba-tiba ia teringat kepada ayah angkatnya, Bango
Samparan. Ternyata orang itu sudah tidak ada.
“Apakah benar semalam ayah Bango Samparan itu datang
kemari?” desisnya.
Tetapi gubugnya benar-benar telah sepi. Ia tidak melihat bekasbekas
yang dapat mengatakan kepadanya, bahwa semalam benarbenar
telah ada seorang tamu.
Tiba-tiba Ken Arok menjadi berdebar-debar. “Ah, aku pasti.
Semalam ayah datang kemari. Apakah ia telah pergi sebelum pagi
seperti katanya semalam.” Ken Arok menjadi bingung. “Tidak, aku
kira ia akan menunggu aku. Ayah memerlukan uang sekadarnya.”
Ken Arok segera keluar dari gubugnya. Dipandanginya keadaan
di sekelilingnya, kalau-kalau Bango Samparan sedang berjalan-jalan
di antara gubug-gubug di dalam perkemahan itu. Tetapi orang itu
tidak dilihatnya. Bahkan Ken Arok tidak segera menjadi puas.
Dengan tergesa-gesa ia melangkah di antara gubug yang
bertebaran, kalau-kalau ia dapat menemukan ayah angkatnya.
Namun Bango Samparan sama sekali tidak diketemukannya.
Ketika ia melihat seorang yang sedang berjaga-jaga sambil
menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak untuk makan siang,
Ken Arok bertanya, “Apakah kau melihat seseorang di dalam
gubugku?”
Orang itu mengerutkan keningnya. Kemudian menggeleng.
“Tidak. Aku tadi juga lewat di samping gubug itu, tetapi aku tidak
melihat seorang pun.”
Ken Arok mengerutkan keningnya. Tetapi jawaban yang seorang
ini tidak dapat dijadikannya pegangan. Ia merasa pasti bahwa
semalam ayah angkatnya itu datang kepadanya dan menceritakan
tentang mimpinya yang gila.
Karena itu maka segera ditinggalkannya orang itu. Dengan
kepala tunduk Ken Arok berjalan di antara gubug-gubug mencari
orang lain yang masih berada di perkemahan. Ketika ia melihat dua
orang sedang menyalakan api untuk masak, maka segera
didekatinya orang itu sambil bertanya, “He, apakah kau melihat
seseorang yang belum kau kenal berada di perkemahan ini atau di
dalam gubugku?”
Kedua orang itu saling berpandangan. Namun kemudian
keduanya menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku tidak melihat
seorang pun kecuali orang-orang Panawijen dan prajurit-prajurit
Tumapel.”
“Bukan mereka. Aku mempunyai tamu seorang yang belum
kalian kenal. Tubuhnya agak gemuk, pendek. Wajahnya keras dan
sorot matanya tajam.”
Sekali lagi keduanya saling memandang, dan sekali lagi keduanya
menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak. Kami tidak melihatnya.”
Ken Arok menggigit bibirnya. Wajahnya menjadi tegang dan
giginya gemeretak. Dengan tergesa-gesa pula ditinggalkan kedua
orang itu, yang kemudian menjadi keheran-heranan.
“Siapa yang dicarinya?” desis yang seorang.
Kawannya menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu.”
Dalam pada itu, Ken Arok sama sekali masih belum puas. Ia
masih ingin menanyakannya kepada orang lain lagi.
Adalah mungkin sekali bahwa orang-orang itu tidak melihat
kedatangan Bango Samparan, karena mereka telah tertidur.
Akhirnya Ken Arok melihat seorang berdiri di ujung perkemahan.
Dijinjingnya dua buah lodong air. Agaknya orang itu akan pergi ke
sungai untuk mengambil air, yang akan direbus untuk minum
orangorang
yang sedang bekerja.
“He,” panggil Ken Arok. Orang itu adalah seorang dari Panawijen.
Ketika ia melihat Ken Arok bergegas mendatanginya, maka orang itu
menjadi berdebar-debar.
“Apakah kau melihat Bango Samparan?” bertanya Ken Arok
dengan wajah yang tegang dan nafas terengah-engah.
“Siapa?” bertanya orang itu kembali.
“Bango Samparan.”
Orang Panawijen itu menggelengkan kepalanya. “Aku belum
pernah mendengar nama itu. Bango Samparan.”
“Semalam ia berada di sini.”
Orang Panawijen itu masih terheran-heran.
“Apakah kau tidak melihatnya?”
“Seandainya aku melihatnya, aku juga belum mengenalnya.”
jawab orang Panawijen itu.
“Kalau kau melihat orang asing di sini, bertubuh gemuk agak
pendek, berwajah keras, itulah dia. Bango Samparan. Apakah kau
melihat?”
Orang Panawijen yang membawa lodong bambu itu berpikir
sejenak. Dicobanya untuk mengingat-ingat apakah ia melihat orang
seperti yang dikatakan oleh Ken Arok itu. Tetapi akhirnya ia
menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Tidak. Aku tidak
melihatnya.”
Ken Arok mengerutkan keningnya. Wajahnya menjadi semakin
tegang. Terbata-bata ia bertanya, “Benarkah itu? Kau tidak
melihatnya di sini?”
Sekali lagi orang itu menggeleng. “Tidak, aku tidak melihatnya.”
Sorot mata Ken Arok menjadi semakin aneh. Tiba-tiba saja ia
memutar tubuhnya dan berjalan tergesa-gesa kembali ke gubugnya.
Orang Panawijen yang membawa lodong bambu itu berdiri
ternganga-nganga. Ia tidak tahu apakah yang sedang bergolak di
hati anak muda itu. Sambil memiringkan kepalanya, ia mengangkat
bahu. Kemudian meneruskan langkahnya ke sungai untuk
mengambil air.
Ken Arok yang menjadi semakin bingung itu segera masuk ke
dalam gubugnya. Dibantingnya tubuhnya di atas pembaringannya.
Sehelai tikar pandan yang kasar.
“Apakah aku telah didatangi oleh hantu Karautan, yang
sebenarnya hantu?” desisnya.
“Tidak,” pertanyaan itu dibantahnya sendiri, “dalam
pengembaraanku di padang ini, aku belum pernah menemui hantu
itu. Yang ada adalah Hantu Karautan yang dikenal oleh orang-orang
di sekitar padang ini. Hantu Karautan, Ken Arok. Tidak ada hantu
yang lain.”
Dengan gelisahnya Ken Arok itu bangkit, berdiri, dan berjalan
mondar-mandir.
“Gila. Apakah aku sudah gila dan di dalam kegilaanku itu aku
bermimpi bertemu dengan Bango Samparan yang sedang bermimpi
pula? Tetapi mimpi Bango Samparan itu jauh lebih gila dari mimpiku
sendiri.”
“Tidak, tidak,” tiba-tiba Ken Arok itu berdesis, “aku tidak mau
mendengar mimpi yang terlampau gila itu. Apakah mimpi itu
disampaikan oleh Bango Samparan sendiri, atau hanya sekadar di
dalam mimpiku, atau oleh hantu Karautan sekalipun.”
Tiba-tiba Ken Arok teringat bahwa semalam Bango Samparan itu
datang bersama dua orang pengawal, dan bahkan beberapa orang
yang berada di dalam gubug di sekitarnya terbangun karena suara
tertawa Bango Samparan. Beberapa orang terbatuk-batuk, dan
beberapa orang yang lain mendehem keras-keras.
Sekali lagi Ken Arok meloncat keluar dari gubugnya Ia ingin
mendapat kepastian tentang Bango Samparan. Tetapi ia menjadi
kecewa ketika ia melihat gubug-gubug di sekitar gubugnya telah
menjadi kosong. Orang-orang itu telah pergi ke tempat pekerjaan
mereka masing-masing.
“Hem,” Ken Arok menggeram, “aku harus menemukan kedua
orang pengawal itu. Jika mereka semalam bertugas, maka pagi ini
mereka mendapat kesempatan beristirahat. Mereka pasti tidak ikut
bekerja dengan kawan-kawan mereka.”
Maka kini dengan cepatnya ia melangkah ke gubug kedua orang
pengawal yang semalam telah membawa Bango Samparan
kepadanya. Dengan serta-merta ia menyuruk lewat lubang pintu
yang rendah, masuk ke dalamnya. Ketika dilihatnya seorang tidur
membujur di pojok gubug itu, maka segera ia berkata lantang, “He,
kaukah yang mengawal ke perkemahan semalam?”
Orang yang sedang tidur berselimut kain panjang itu terkejut.
Cepat ia meloncat bangun sambil menggosok matanya. Tetapi yang
dilihatnya berdiri di muka pintu adalah Ken Arok.
Namun Ken Arok menjadi kecewa melihat orang itu. Orang itu
bukan salah seorang dari kedua orang yang mengantarkan Bango
Samparan kepadanya.
Meskipun demikian ia bertanya sekali lagi, “Apakah semalam kau
bertugas?”
“Ya,” sahut orang itu.
“Di sisi mana?”
“Di sisi utara,” jawab orang itu.
“Di mana kedua kawanmu yang bertugas di sisi selatan, yang
telah membawa seorang tamu kepadaku.”
“Mereka sedang pergi ke sungai.”
“Bukankah mereka mendapat istirahat hari ini?”
“Ya, mereka sedang mandi dan mencuci pakaian mereka.”
“Hem,” Ken Arok menarik nafas dalam-dalam, “apakah mereka
tidak mengatakan kepadamu tentang seorang tamu yang mereka
bawa kepadaku semalam?”
Orang itu menggelengkan kepalanya. “Tidak, mereka tidak
mengatakan apa-apa kepadaku.”
“Gila, sungguh-sungguh gila,” Ken Arok mengumpat di dalam
hatinya sambil keluar dari gubug itu, tanpa mengucapkan kata-kata
lagi. Orang di dalam gubug itu pun menjadi terheran-heran melihat
tingkah lakunya, pakaiannya yang kusut, dan tubuhnya yang kotor
oleh keringat dan debu.
“Dari manakah ia semalam?” bertanya orang itu di dalam hatinya,
“setiap orang mencarinya. Bahkan Ki Buyut Panawijen telah menjadi
ketakutan, kalau-kalau ia hilang pula seperti Mahisa Agni.”
Dengan lesu Ken Arok itu melangkah kembali ke gubugnya.
Pikirannya menjadi semakin kalut. Apabila semalam Bango
Samparan tidak datang sesungguhnya kepadanya, maka Ken Arok
pasti menjadi sangat cemas tentang dirinya sendiri. “Apakah aku
sudah menjadi gila?” pertanyaan itu selalu mengganggunya.
Di gubugnya ia pun menjadi sangat gelisah. Sekali ia bangkit
berdiri, berjalan mondar-mandir, kemudian terduduk dengan
lesunya.
Tiba-tiba saja ia teringat akan kewajibannya. Ia sudah berjanji
untuk menyusul orang-orang Panawijen dan prajurit Tumapel ke
tempat mereka bekerja. Hari ini ia akan menunggui orang-orang
yang sedang menyelesaikan bendungan. Karena Itu maka segera ia
bangkit dan mengibas-ibaskan pakaiannya. “Persetan dengan Bango
Samparan,” gumamnya, “aku harus bekerja. Orang-orang itu pasti
menunggu. Aku harus segera pergi kepada mereka.”
Sejenak Ken Arok menjadi ragu-ragu. Apakah ia harus berganti
pakaian lebih dahulu, ataukah ia akan pergi dengan pakaian yang
sudah dipakainya itu. Pakaian yang lusuh dan kotor.
“Kalau aku berganti pakaian, mandi, dan membersihkan diri lebih
dahulu, maka sebentar lagi aku akan menjadi kotor lagi. Tetapi
kalau tidak, terasa tubuhku gatal-gatal karena debu yang
mengendap di wajah kulit ini.”
Akhirnya Ken Arok memutuskan untuk begitu saja pergi ke
bendungan. Ia tidak akan berganti pakaian. Dengan pakaian yang
kusut itu ia akan bekerja bersama-sama orang-orang Panawijen dan
para prajurit Tumapel.
“Di bendungan aku dapat membersihkan badanku, mengeringkan
di sinar matahari, lalu mulai bekerja bersama-sama dengan
mereka.”
Sejenak kemudian Ken Arok pun melangkah keluar gubugnya
sambil menyambar sepotong ubi rebus. Sambil mengunyah ia
berjalan meninggalkan gubugnya. Kepada seorang pengawal yang
dijumpainya ia berkata, “Aku pergi ke bendungan. Kalau kau melihat
orang asing di sini, bertanyalah kepadanya, apakah namanya Bango
Samparan.”
Pengawal itu mengangguk, “Baik,” jawabnya.
“Kalau orang itu menunggu aku, biarlah ia menunggu di gubugku
sampai aku pulang.”
“Baik.”
Ken Arok pun segera pergi ke bendungan menyusul orang-orang
Panawijen dan para prajurit Tumapel yang bekerja di sana.
Sementara itu para prajurit yang bekerja di sendang buatan
menjadi saling bertanya-tanya, “Kekuatan apakah yang tersembunyi
di dalam diri Ken Arok.”
“Kita mengenal beberapa orang sakti,” gumam salah seorang
prajurit yang bekerja di sendang, “mungkin beberapa orang guru
yang tinggal di padepokan-padepokan. Tetapi kita tidak menjadi
heran melihat kelebihan-kelebihan mereka. Seolah-olah sudah
seharusnya mereka memiliki kelebihan dari kita. Tetapi kita menjadi
heran melihat orang-orang muda yang luar biasa seperti pemimpin
para prajurit pengawal istana, Witantra. Kemudian adik
seperguruannya, Mahendra dan Kebo Ijo. Kita heran juga melihat
beberapa orang yang lain. Tetapi keheranan kita tidak
melonjaklonjak
seperti kali ini.
Kawannya yang diajak berbicara mengangguk-anggukkan
kepalanya. Kemudian katanya, “Ada dua orang sepengetahuanku
yang telah membingungkan nalarku.”
“Siapa? Witantra itu?”
“Bukan. Betapa saktinya kakang Witantra, tetapi aku masih dapat
mencapainya dengan nalar dan pertimbangan.”
“Lalu siapa?”
“Yang pertama adalah Akuwu Tunggul Ametung. Kau ingat,
ketika dengan tangannya ia membunuh seekor harimau?”
“Ya, harimau yang membunuh seorang srati gajah itu.”
“Ya, akibatnya gajahnya mengamuk. Gajah yang bodoh itu tidak
tahu, siapakah yang bersalah. Gajah itu tidak tahu bahwa
sebenarnya Akuwu Tunggul Ametung menolong srati-nya, tetapi
justru gajah menyerang Akuwu. Bukankah begitu?”
Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya, ya aku ingat.
Hampir saja Akuwu mati terinjak gajah itu.”
“Tetapi hal itu tidak terjadi. Dan itulah ajaibnya. Tiba-tiba Akuwu
pun marah. Dengan penggada-nya yang kuning berkilauan, Akuwu
memukul kaki gajah itu. Kaki depannya. Seketika itu gajah yang
mengamuk itu jatuh terjerembab. Lumpuh.”
Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya, gajah itu
lumpuh. Seandainya Akuwu menjadi mata gelap, maka ia akan
mampu membunuh gajah yang sudah lumpuh itu.”
“Ya, ia adalah orang yang aneh yang pertama aku lihat.”
“Dan yang lain? Yang seorang lagi?”
“Yang seorang adalah orang ini, Ken Arok. Adalah tidak masuk
akal bahwa seorang diri ia dapat memindahkan batu-batu sekian
banyaknya. Bukan saja sedemikian banyaknya, tetapi lihatlah.
Batubatu
sebesar itu, batu-batu yang harus dipikul oleh dua-tiga orang.”
Orang itu menggelengkan kepalanya, “Mustahil, mustahil.”
“Tetapi hal itu sudah terjadi.”
“Ya,” kawannya terdiam. Dipandanginya batu-batu yang besar itu
dengan sorot mata yang aneh.
Sedangkan kawannya yang lain bergumam, “Ada dua orang aneh
di Istana Tumapel. Tetapi yang seorang adalah Akuwu Tumapel
sedangkan yang lain hanyalah seorang pelayan dalam, yang kali ini
mendapat kepercayaan memimpin pembuatan bendungan dan
sendang.”
Para prajurit itu menarik nafas dalam-dalam. Mereka mengangkat
pundak mereka sambil berdesis, “Aneh.”
Beberapa orang masih juga mencoba menjajagi kekuatan Ken
Arok dengan mencoba mengangkat batu-batu yang besar dan berat.
Tetapi bertiga, batu itu baru terangkat. Kemudian mereka harus
memindahkan batu-batu itu dan memasang pada dinding yang
sedang mereka buat, maka mereka memanggul batu-batu itu
dengan tali dan sepotong kayu. Bersama-sama enam orang
sekaligus.
Namun kekaguman itu telah mendorong para prajurit Tumapel
untuk bekerja semakin keras. Beberapa orang menganggap bahwa
Ken Arok telah marah kepada mereka karena mereka bekerja
terlampau lamban. Tetapi anak muda itu tidak mau menyatakan
kemarahannya. Karena itu maka disindirnya para prajurit itu dengan
suatu perbuatan yang aneh. Memindahkan batu-batu besar dan
kecil yang cukup banyak itu seorang diri. Seolah-olah ia ingin
berkata, “Beginilah cara kita bekerja. Jangan terlampau lamban dan
malas.”
Sementara itu, Ken Arok sendiri telah berada di bendungan.
Sejenak ia membersihkan dirinya kemudian berjemur sejenak sambil
melihat orang-orang yang sedang bekerja. Ketika tubuhnya telah
kering dan kesegaran pagi telah menjalar ke segenap urat nadinya,
maka mulai pulalah ia bekerja. Tetapi apa yang dilakukan kali ini
sama sekali tidak ada bedanya dengan kerja yang dilakukan oleh
orang-orang lain. Mengangkat brunjung-brunjung bambu kecil yang
sudah berisi batu bersama-sama dengan lima atau enam orang.
Mengangkat batu-batu besar untuk diletakkan di antara
brunjungbrunjung
itu bersama-sama dengan dua-tiga orang. Sama sekali
tidak nampak kelebihannya dari orang-orang lain yang bekerja
bersamanya.
Ketika Ken Arok telah tenggelam di dalam kerja, maka untuk
sejenak ia melupakan Bango Samparan dan melupakan mimpi ayah
angkatnya yang gila itu. Dicurahkannya segenap perhatiannya ke
bendungan, susukan induk, dan parit-parit. Hatinya seolah-olah
membusung apabila dilihatnya pedati-pedati yang memuat batu,
tanah, dan segala macam perlengkapan, kemudian orang-orang
Panawijen bersama-sama dengan para prajurit Tumapel melunakkan
tanah dengan banyak-banyak. Sebagian lagi mengisi brunjungbrunjung
bambu dengan batu dan meletakkannya di bendungan
yang sudah menjadi semakin tinggi.
“Bendungan itu hampir selesai,” berkata Ken Arok di dalam
hatinya, “aku selanjutnya akan dapat mempergunakan orang-orang
itu untuk menyelesaikan sendang dan taman buatan itu. Orangorang
Panawijen pasti akan bersedia membantu, sedangkan yang
sebagian lagi mulai membajak tanah untuk persawahan.”
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku harus
menyiapkan semuanya tepat pada waktunya.”
Demikianlah maka orang-orang Panawijen dan para prajurit
Tumapel itu bekerja keras untuk membangunkan suatu harapan
bagi masa depan. Bagi anak cucu. Mereka tidak sekedar berpikir
tentang diri mereka. Tetapi yang penting bagi mereka adalah,
mereka telah berbuat. Mereka telah memberikan sesuatu bagi anak
cucu mereka. Dengan demikian maka kehadiran mereka dalam
urutan turun-tumurun tidak akan membuat anak cucu mereka
menyesal. Anak cucu mereka tidak akan mengatakan, bahwa
tataran keturunan yang ini adalah tataran yang paling jelek di
antara garis keturunan karena telah mengabaikan usaha untuk anak
cucu mereka.
Orang-orang yang bekerja itu sama sekali tidak menghiraukan
ketika matahari memanjat semakin tinggi. Mereka tidak
menghiraukan terik yang seakan-akan membakar punggung mereka
yang telanjang.
Sedangkan matahari pun merayap semakin tinggi. Setelah
dilampauinya puncak langit, maka datanglah saatnya perjalanan itu
berganti menurun. Semakin lama semakin rendah, sehingga
akhirnya cahayanya menjadi kemerah-merahan.
Orang-orang yang sedang bekerja di bendungan, di parit-parit,
dan di taman pun sampai pada batas waktu mereka. Mereka akan
segera beristirahat. Setelah mengeringkan keringat mereka, maka
beramai-ramai mereka mandi. Sejenak kemudian maka bendungan
itu telah menjadi sepi. Orang-orang Panawijen dan para prajurit
Tumapel telah kembali ke gubug masing-masing. Mengambil makan
mereka, kemudian duduk-duduk beristirahat sambil bercakap-cakap
tentang banyak hal yang dapat menghibur kelelahan mereka.
Dalam pada itu, dua ekor kuda berlari tidak terlampau cepat
mendekati bendungan yang telah menjadi sepi itu. Beberapa ratus
langkah dari bendungan itu, keduanya berhenti. Samar-samar dalam
cahaya senja, salah seorang dari mereka berkata, “Apakah
bendungan itu tidak dijaga?”
Yang lain menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu paman.”
Orang yang pertama, yang masih saja berusaha mencari jalan
untuk dapat menghubungi bakal permaisuri Tumapel,
menengadahkan wajahnya. Dan dilihatnya langit menjadi semakin
suram.
“Aku tidak segera dapat berhubungan dengan seseorang yang
dapat aku percaya. Seharusnya kau, bekas seorang pelayan dalam,
akan dapat lebih mudah melakukannya. Tetapi ternyata aku
terlampau bodoh.”
“Namaku telah dikenal oleh hampir setiap orang Tumapel. Aku
kira mereka pun sekarang mengetahui apa yang telah terjadi
dengan diriku, sehingga tidak seorang pun lagi akan mempercayai
aku.”
Yang lain, yang berwajah beku, mengangguk-anggukkan
kepalanya. “Ya, aku dapat mengerti Kuda Sempana.” Orang itu,
Kebo Sindet, terdiam sejenak. Kemudian ia melanjutkan,
“Bagaimana dengan Ken Arok?”
“Aku kira kita tidak akan mendapat kesempatan,” jawab Kuda
Sempana, “aku belum demikian mengenalnya.”
“Dengan upah yang cukup tinggi? Atau dalam pembagian yang
adil?”
Kuda Sempana menggeleng. “Aku tidak tahu. Tetapi ternyata
anak muda itu kini mendapat kepercayaan dari Akuwu Tunggul
Ametung. Mungkin ia berpendirian teguh dan kita akan terjebak
karenanya.”
Kebo Sindet tidak menjawab. Dipandanginya arah bendungan
yang menjadi semakin kabur.
“Aku akan pergi ke Tumapel untuk mencari orang-orang yang
dapat bekerja bersama dengan aku, menjual Mahisa Agni kepada
adiknya,” berkata Kebo Sindet dalam nada yang datar.
Ternyata Kuda Sempana pun kini wajahnya telah hampir
membeku pula. Kesan dari kata-kata itu sama sekali tidak tampak di
wajahnya. Dengan nada datar pula ia bertanya, “Apakah aku harus
ikut serta bersama paman?”
“Ya, kau harus pergi bersamaku. Selalu. Aku tidak dapat
meninggalkan kau sendiri di goa itu. Aku tidak ingin kau membunuh
Mahisa Agni yang masih lemah.”
“Aku tidak akan membunuhnya dan Mahisa Agni sudah menjadi
cukup segar.”
“Kau ingin berkelahi melawannya?”
“Tidak.”
“Tetapi aku tidak percaya kepadamu, sebab kau menyimpan
dendam yang tidak terkatakan. Kau harus pergi bersamaku. Kau
tidak boleh bertemu Mahisa Agni tanpa aku. Sedangkan Mahisa Agni
sementara ini harus tetap hidup.”
Kuda Sempana tidak menjawab. Ia kini sama sekali sudah tidak
mempedulikan lagi terhadap Mahisa Agni, terhadap bendungan,
terhadap Ken Dedes, dan bahkan terhadap diri sendiri.
“Marilah, jangan risaukan Mahisa Agni. Ia tidak akan dapat keluar
dari daerah rawa-rawa. Ia tahu apa yang tersembunyi di dalam air
itu. Lumpur dan binatang-binatang berbisa. Hanya akulah yang
mengenal jalan yang paling aman. Kau pun tidak.”
Kuda Sempana tidak menjawab. Sedangkan wajahnya pun tidak
menunjukkan kesan apa pun. Beku, hampir seperti wajah Kebo
Sindet, meskipun kadang-kadang wajah itu masih juga bergerak dan
memberikan kesan.
Kedua ekor kuda itu mulai bergerak lagi. Mereka tidak mendekati
bendungan dan perkemahan orang-orang Panawijen, tetapi mereka
menyusur sungai di seberang perkemahan.
“Aku harus menemukan seseorang yang dapat menyampaikan
penawaran kepada calon permaisuri itu,” gumam Kebo Sindet,
“apakah di perkemahan itu tidak ada seorang pun yang dapat
dipercaya dan dibawa bekerja bersama?”
Kuda Sempana menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu.”
“Kita janjikan upah setinggi-tingginya. Kalau perlu apa saja yang
diminta akan kita penuhi.”
“Kalau permintaanya tidak masuk akal, dan melampaui
kemampuan paman, bahkan melebihi tawaran yang akan paman
terima dari Ken Dedes?”
Kebo Sindet terdiam sejenak, tetapi ia berpaling memandangi
Kuda Sempana yang berkata di sampingnya. Kemudian terdengar
orang itu berdesis dengan suara yang dalam, yang seolah-olah
hanya melingkar-lingkar di dalam perutnya. “Kau memang bodoh
sekali. Lebih bodoh dari yang aku duga. Baik Ken Arok maupun
orang lain tidak akan mengurangi pendapatan kita.”
Kuda Sempana menjadi heran mendengar jawaban itu. Tetapi ia
tidak bertanya. Dibiarkannya Kebo Sindet memberinya penjelasan.
“Mereka tidak akan pernah mengenyam hasil dari jerih-payah
mereka.”
“Kenapa?” akhirnya terdengar Kuda Sempana berdesis.
“Mereka akan mati demikian pekerjaan mereka selesai.”
“Mereka akan paman bunuh?”
“Tentu. Mereka akan mati. Semua hasilnya akan jatuh ke tangan
kita. Kau mengerti?”
Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya tetapi
dadanya terasa berdesir. Ternyata Kebo Sindet memang benarbenar
seorang yang gila. Ia tidak memperhitungkan cara apa pun
yang dipergunakannya untuk mendapatkan harta. Sedangkan hartabenda
dan kekayaan yang tidak terkira itu hanya ditimbunnya saja
di dalam goa yang terasing.
“Tidak masuk akal,” desis Kuda Sempana di dalam hatinya,
“orang ini benar-benar sudah tidak waras. Ia tidak beranak-isteri,
tidak ber-sanak-kadang. Buat apa ia menimbun segala macam
harta-benda di dalam goa itu?”
Namun Kuda Sempana sendiri menyadari kemungkinankemungkinan
yang bakal dialami. Apabila pekerjaan tentang Mahisa
Agni ini selesai, maka ia pun akan mengalami nasib serupa dengan
orang-orang yang sedang dicari oleh Kebo Sindet. Kali ini ia masih
mungkin untuk diperalat, menghubungi orang-orang dalam yang
bersedia berkhianat dengan janji yang menyenangkan. Tetapi orang
itu kemudian akan mati, dan ia sendiri pun akan mati pula.
Sejenak kemudian mereka pun saling berdiam diri. Dengan agak
ragu-ragu Kebo Sindet meninggalkan bendungan dan menjauhi
perkemahan orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel.
Ternyata Kuda Sempana tidak dapat menghubungkannya dengan
siapa pun dari perkemahan ini. Juga Ken Arok sangat
meragukannya. Apakah anak muda itu dapat dikail dengan janji.
Tetapi Kebo Sindet tidak perlu tergesa-gesa. Kalau mungkin
hubungan itu dapat dilakukan sebelum hari perkawinan, tetapi kalau
gagal, maka sesudah Ken Dedes menjadi permaisuri pun, pasti akan
berhasil juga. Mungkin Ken Dedes akan dapat dijadikannya sapi
perahan. Setiap kali dituntutnya sejumlah uang dan perhiasan,
tetapi Mahisa Agni tidak juga dilepaskan untuk mengajukan
tuntutan-tuntutan berikutnya. Ken Dedes dapat mempercayakan
kepada orang hambanya, untuk melihat di tempat-tempat tertentu,
sudah tentu tidak di sarangnya, bahwa Mahisa masih betul-betul
hidup. (penafsiran karena kata tidak terbaca)
Kebo Sindet kadang-kadang tersenyum sendiri di dalam hati,
meskipun wajahnya tetap membeku. Rencana ini ternyata masih
lebih baik dengan rencananya untuk mempergunakan nama Empu
Sada.
“Persetan dengan Empu gila itu,” katanya di dalam hati, “asal
saja ia tidak menghalangi.”
Kuda-kuda itu berjalan semakin lama semakin jauh. Tidak
terlampau cepat. Bahkan seakan-akan mereka sedang
bercengkerama di luasnya padang rumput yang berwarna
kekuningkuningan.
Sekali-sekali mereka melewati gerumbul-gerumbul perdu
yang berwarna kelam.
Tiba-tiba Kebo Sindet bergumam, “Kuda Sempana. Kita akan
sering melewati tempat ini. Siapa tahu, suatu ketika kita akan
bertemu dengan seseorang yang dapat kita jadikan alat, untuk
menyampaikan penawaran kita kepada Ken Dedes.”
Kuda Sempana tidak menjawab. Dan Kebo Sindet pun tidak
berbicara lagi. Sambil berdiam diri mereka meneruskan perjalanan
mereka ke Tumapel untuk melihat-lihat saja kemungkinan yang
dapat mereka lakukan.
Sementara itu Ken Arok sedang marah-marah di dalam
gubugnya. Ketika ia pulang dari bendungan, maka segera ia ingin
berganti pakaian karena pakaiannya telah menjadi sangat kusut dan
kotor. Semalam pakaian itu telah dipakainya untuk melontarlontarkan
batu, dan sehari ini dipakainya untuk bekerja di
bendungan. Karena itu maka pakaiannya itu telah penuh dengan
debu.
Tetapi ketika ia membuka seikat bungkusan di sudut gubugnya,
tempat ia menyimpan pakaian, maka tiba-tiba ia mengumpat.
Ternyata di dalam bungkusan itu hanya terdapat seonggok rumput
kering.
“Hem, siapakah yang telah membuat gila ini?” tanpa sesadarnya
Ken Arok berteriak.
Beberapa orang mendengar suara teriakan itu dan dengan
tergesa-gesa mereka mendatangi. Mereka tertegun melihat
bungkusan rumput kering di sudut gubug Ken Arok, di samping
pembaringannya.
“Siapa he, siapa yang telah berbuat gila? Apakah aku harus
bertindak kasar?”
Tak seorang pun yang menjawab.
“Panggil pengawal,” teriak Ken Arok marah.
Beberapa orang dengan tergesa-gesa mencari prajurit yang siang
ini bertugas mengawal perkemahan ini.
Sedangkan beberapa orang lain berkerumun, saling berguman di
antara mereka, siapakah yang telah berbuat tidak sepantasnya itu.
Seandainya orang itu bermaksud membuat suatu lelucon, maka
sendau-gurau yang demikian itu sangat melampaui batas. Apalagi
apabila ada di antara mereka yang sengaja mengambil pakaian Ken
Arok yang hanya beberapa lembar, maka perbuatan itu akan
merupakan cela bagi seluruh prajurit Tumapel atau orang-orang
Panawijen.
Ketika dua orang pengawal datang ke gubug itu dan melihat
orang berkerumun, hatinya menjadi berdebar-debar. Apalagi ketika
mereka masuk ke dalam gubug itu. Dengan lantangnya Ken Arok
berteriak, “Lihat, lihat?”
Mata kedua orang itu terbelalak ketika mereka melihat sebungkus
rumput kering di sudut gubug Ken Arok, di samping
pembaringannya. Mula-mula mereka tidak mengerti, apakah maksud
Ken Arok dengan menunjuk seonggok tumput kering itu. Namun
kemudian mereka mengerti, bahwa seharusnya pakaianlah yang
pantas dibungkus di tempat itu.
“Apakah kau sudah melihat?”
“Ya,” hampir bersamaan kedua prajurit itu menjawab.
“Lalu apa katamu?” bertanya Ken Arok pula.
Keduanya menggelengkan kepalanya. Salah seorang dari mereka
berkata, “Aku tidak dapat mengerti. Aku mengawal perkemahan ini
dengan baik. Aku tidak melihat seorang pun masuk atau keluar dari
gubug ini. Seandainya itu karena kekhilafanku, maka aku dapat
menunjukkan siapa saja yang hari ini bertugas di perkemahan, di
dapur, dan mereka yang sedang beristirahat karena semalam
mereka bertugas.”
“Panggil mereka,” berkata Ken Arok. Nadanya meninggi dan
wajahnya menjadi tegang, “panggil mereka. Aku tidak senang
dengan lelucon yang tidak pantas ini.”
Kedua pengawal itu mengangguk. Salah seorang di antaranya
menjawab, “Baik. Kami akan memanggil mereka semua.”
Kedua orang itu pun kemudian keluar dari gubug Ken Arok.
Beberapa orang lain membantunya memanggil orang-orang yang
oleh kedua pengawal itu disebut namanya.
Di dalam gubugnya Ken Arok hampir tidak sabar menunggu
kedatangan kedua orang pengawal itu. Ketika keduanya datang,
maka orang-orang yang mereka panggil pun satu-satu segera
menyusul masuk ke dalam gubug itu.
Hampir saja Ken Arok membentak-bentak mereka dengan
marahnya seandainya Ki Buyut Panawijen tidak segera masuk ke
dalam gubug itu pula. Ternyata peristiwa itu sudah pula terdengar
oleh orang-orang Panawijen sehingga wajah Ken Arak menjadi agak
kemerah-merahan.
“Maaf Ki Buyut, aku sedang mengurus sesuatu peristiwa yang
memalukan. Sebenarnya aku hanya ingin mengatakan kepada
mereka, bahwa hal yang demikian sebaiknya tidak terulang.
Permainan yang keterlaluan.”
Ki Buyut Panawijen yang telah lanjut itu mengangguk-anggukan
kepalanya. Ia pun agaknya tidak senang melihat kejadian itu.
Kejadian itu akan dapat menimbulkan ketegangan-ketegangan di
dalam perkemahan ini. Tetapi orang tua itu tidak segera
mencampuri persoalannya, karena Ki Buyut menganggap bahwa
persoalan itu masih terbatas pada prajurit-prajurit Pajang sendiri.
Meskipun demikian Ki Buyut itu berkata, “Kejadian ini patut
disesalkan Ngger.”
“Ya, Ki Buyut. Aku harus sekali-sekali bertindak terhadap
orangorang
yang tidak dapat menempatkan dirinya, menyesuaikan diri
dengan keadaan.”
Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya, Sementara itu
orang-orang yang dipanggil oleh Ken Arok telah berkumpul
berjejaljejal
di dalam gubug itu. Tetapi karena di dalam gubug itu pula ada
Ki Buyut Panawijen, maka Ken Arok bersikap agak hati-hati.
“Apakah kalian berada di perkemahan siang ini?” ia bertanya.
Orang-orang itu menganggukkan kepala mereka. Beberapa di
antara mereka menjawab, “Ya, kami siang ini berada di sini.”
“Lihat, apakah yang terjadi di sini?”
Tak seorang pun yang menyahut. Mereka melihat seonggok
rumput kering.
”Ketika aku meninggalkan gubug ini, sebagai orang yang terakhir
karena kelambatanku, bungkusan ini adalah bungkusan pakaian.
Tetapi sekarang yang ada di sini adalah seonggok rumput. Aku tidak
menyayangkan pakaianku yang hilang, sebab aku akan dapat
meminjam salah seorang dari kalian dan besok akan dapat
memohon ganti kepada Akuwu, tetapi sendau-gurau yang demikian
sangat menyakitkan hati. Aku minta siapa yang telah berbuat,
segera menyatakan dirinya. Kali ini aku tidak akan berbuat apa-apa,
tetapi ingat, hal ini tidak boleh terulang.”
Orang-orang itu saling berpandangan. Tetapi wajah-wajah
mereka menunjukkan perasaan mereka yang menjadi cemas.
Sejenak mereka tidak dapat berkata sepatah kata pun sehingga
mereka mendengar Ken Arok berkata, “Jangan menunggu aku
mengambil tindakan.”
Salah seorang prajurit yang sudah setengah umur kemudian
menjawab, “Aku kira, tidak seorang pun dari kami yang berbuat
demikian. Kami tahu menempatkan diri kami. Meskipun kadangkadang
kami bergurau hampir tidak terkendali, tetapi kami tidak
akan sampai tindakan sejauh itu.”
Ken Arok mengerutkan keningnya. Ia dapat memahami jawaban
itu. Tetapi ia tidak dapat mengerti bahwa hal itu dapat terjadi.
Sejenak Ken Arok berdiam diri sambil memandangi wajah-wajah
yang ada di sekitarnya. Ketika terpandang olehnya wajah dua orang
yang semalam mengawal perkemahan, dan sehari ini beristirahat di
perkemahan, maka tiba-tiba ia berkata, “Baik. Baik. Semua keluar
dari gubug ini. Semuanya, kecuali kedua orang ini.”
Kedua pengawal itu mengerutkan kening mereka. Pada mereka
menjadi berdebar-debar. Sedangkan beberapa orang kawan mereka
pun memandang mereka dengan penuh pertanyaan. “Apakah yang
telah mereka lakukan?”
Sesaat kemudian satu-satu orang-orang di dalam ruangan itu
mengalir keluar. Yang tinggal di dalam gubug itu kemudian
tinggallah kedua pengawal itu, Ken Arok, dan Ki Buyut Panawijen.
Meskipun demikian para prajurit yang berkerumun masih saja
berkerumun. Mereka berdiri berjejal-jejal di luar pintu gubug Ken
Arok.
Tetapi agaknya Ken Arok tidak senang melihat mereka. Karena
itu maka ia melangkah ke muka pintu sambil berkata, “Sudahlah.
Kembalilah kalian ke dalam gubug kalian masing-masing. Aku kira
tidak ada lagi yang akan aku persoalkan. Aku tahu bahwa tidak ada
di antara kalian yang telah melakukannya.”
Sejenak para prajurit itu saling berpandangan. Dan mereka
mendengar Ken Arok berkata selanjutnya, “Kembalilah dan
beristirahatlah. Lupakan peristiwa ini. Aku akan menyelesaikannya
sendiri tanpa mengganggu kalian lagi.”
Meskipun hati para prajurit itu masih diganggu oleh berbagai
pertanyaan, terutama tentang kedua kawannya yang masih berada
di dalam gubug Ken Arok, namun mereka terpaksa meninggalkan
tempat itu kembali ke dalam gubug masing-masing, meskipun
mereka masih tetap menunggu apa yang akan terjadi atas kedua
kawannya.
Setelah para prajurit meninggalkan tempat itu, maka Ken Arok
pun kembali masuk ke dalam ruangan gubugnya yang diterangi oleh
sebuah pelita minyak yang tersangkut pada tiang bambu. Sinarnya
yang redup berguncang ditiup angin padang yang agak keras.
Sejenak ruangan itu dicekam oleh kesepian. Namun kesepian
yang tegang. Kedua prajurit yang semalam mengawal perkemahan
itu masih berdiri tegak seperti tonggak. Sekali-kali mereka saling
berpandangan. Namun kemudian mereka kembali mendengar
jantung masing-masing berdebaran.
Mereka terkejut ketika tiba-tiba Ken Arok memecah kesepian.
Justru dengan nada yang rendah perlahan-lahan, “Duduklah.”
Sekali lagi mereka saling berpandangan. Dan sekali lagi mereka
mendengar suara Ken Arok lunak, “Duduklah.” Kemudian kepada Ki
Buyut Panawijen, Ken Arok mempersilakan pula, “Silakan Ki Buyut,
duduklah.”
Mereka berempat kemudian duduk berkeliling. Sejenak mereka
saling berdiam diri, namun kemudian Ken Arok mulai berbicara
kepada kedua prajurit itu, “Apakah kalian semalam mengawal
perkemahan ini?”
Hampir bersamaan mereka menjawab, “Ya, kami mengawal
perkemahan ini semalam.”
“Ya, aku bertemu kalian semalam,” sahut Ken Arok. Tetapi
sejenak ia menjadi ragu-ragu. Ia ingin bertanya kepada kedua
pengawal itu tentang seorang yang bernama Bango Samparan.
Namun ia takut mendengar jawabannya. Seandainya kedua prajurit
itu menggelengkan kepala mereka dan berkata, bahwa mereka tidak
melihat seorang pun, maka itu berarti bahwa otaknya sendiri sudah
tidak wajar lagi. Karena itu untuk sesaat Ken Arok terdiam.
Dipertimbangkannya baik-baik pertanyaan-pertanyaan yang bergelut
di dalam dadanya, supaya tidak meluncur berdesak-desakan
sehingga membayangkan kegelisahannya.
Baru sejenak kemudian Ken Arok itu bertanya, “Kau hari ini
beristirahat?”
Keduanya rnengangguk-anggukkan kepalanya dengan ragu-ragu,
“Ya,” jawab mereka.
“Bukankah kau semalam datang kepadaku ketika aku berjalanjalan
di luar gubug ini?”
“Ya. Kami memang datang kemari.”
Ken Arok mengerutkan keningnya. Sekali lagi ia menjadi raguragu.
Kenapa ia mesti bertanya. Kenapa kedua orang itu tidak
berkata kepadanya bahwa semalam mereka mengantarkan
seseorang kepadanya.
“Semalam udara di dalam gubug terlampau panas. Aku berjalan
keluar ketika kalian datang. Bukankah begitu?”
Kedua prajurit itu menjadi heran mendengar pertanyaan Ken
Arok yang melingkar-lingkar itu. Namun mereka menjawab pula,
“Ya, udara memang terlampau panas semalam.”
“Oh,” desah Ken Arok di dalam hatinya. Tetapi akhirnya ia tidak
sabar lagi menunggu kedua orang itu berkata dengan sendirinya
tentang peristiwa semalam yang dapat menjawab pertanyaanpertanyaan
di dalam hatinya. Jawaban kedua orang itu tidak dapat
disimpulkannya, apakah mereka datang hanya berdua atau dengan
seseorang lain. Karena itu maka Ken Arok tidak lagi menunggu.
Langsung ia bertanya dengan dada yang berdebar-debar, “Apakah
kau semalam membawa seseorang kepadaku? Seorang tamu?”
Wajah Ken Arok menjadi tegang selama ia menunggu kedua
orang itu menjawab. “Kalau mereka menggeleng,” berkata Ken Arok
di dalam hatinya, “ternyata aku telah menjadi gila. Aku telah
melihat
apa yang sebenarnya tidak pernah ada.”
Hampir terlonjak Ken Arok ketika mendengar orang itu
menjawab, ”Ya, kami semalam mengantarkan seseorang kemari.
Seorang tamu.”
“Oh,” Ken Arok menundukkan kepalanya. Kedua tangannya
menyangga keningnya seolah-olah kepala itu menjadi terlampau
berat.
Kedua prajurit itu, Ki Buyut Panawijen, menjadi heran melihat
tingkah lakunya, sehingga orang tua itu bertanya, ”Apa yang telah
terjadi, Ngger.”
“Oh,” tergagap Ken Arok menjawab, “tidak apa-apa Ki Buyut. Aku
hanya dibingungkan oleh perasaanku sendiri.” Kemudian kepada
kedua prajurit itu ia ingin meyakinkan dirinya sendiri, “Jadi
kalian
semalam telah membawa Bango Samparan kepadaku?”
“Ya, seseorang,” jawab mereka. “Bukan orang Panawijen dan
bukan dari Tumapel.”
“Ya, ya. Orang itu adalah Bango Samparan.” Ken Arok menarik
nafas dalam-dalam.
“Aku tidak gila,” katarya di dalam hati, ”aku tidak gila. Bango
Samparan lah yang gila.”
Meskipun demikian, Ken Arok tidak dapat ingkar kepada diri
sendiri, bahwa apa yang telah terjadi itu, kegelisahan,
kebingungan,
dan keragu-raguan, adalah akibat dari mimpi yang gila yang
didengarnya dari mulut Bango Samparan. Seandainya ia tidak
pernah mendengar mimpi itu, maka ia tidak akan bingung
seandainya Bango Samparan itu benar-benar tidak pernah datang
sekalipun.
Tetapi Bango Samparan itu ternyata benar-benar telah datang di
gubugnya. Bango Samparan itu telah berceritera kepadanya tentang
sesuatu yang telah membuatnya gelisah. Kalau tidak, maka ia tidak
akan bingung bertanya kepada orang-orang yang dijumpainya
tentang seseorang yang bernama Bango Samparan. Kalau
pikirannya tidak sedang dikacaukan oleh angan-angan yang gila
yang diucapkan oleh Bango Samparan itu, maka ia akan cukup
tenang untuk bertanya kepada orang-orang yang langsung
berkepentingan.
Kedua orang prajurit itu masih saja duduk dengan penuh
menyimpan pertanyaan di dalam dadanya. Ia masih belum tahu
hubungan yang jelas antara seonggok rumput itu dengan tamu Ken
Arok semalam.
Sejenak mereka saling berdiam diri. Ki Buyut Panawijen hanya
mengangguk-anggukkan kapalanya saja, karena ia tidak tahu ujung
pangkal dari pembicaraan mereka tentang tamu yang dibawa oleh
kedua prajurit itu.
Yang mula-mula memecah kesepian adalah suara Ken Arok datar,
“Aku minta maaf kepada kalian. Mungkin kalian menjadi gelisah
atau cemas. Aku memang terlampau tergesa-gesa.”
Kedua prajurit itu saling berpandangan, tetapi keduanya tidak
menjawab.
Dan karena keduanya diam saja, maka Ken Arok meneruskan,
“Sampaikan pula kepada setiap prajurit Panawijen yang ikut menjadi
gelisah pula seperti kalian. Aku yakin bahwa mereka kini masih saja
diliputi oleh pertanyaan tentang diri kalian berdua. Nah, sekarang
kembalilah kalian ke gubug kalian. Sampaikan permintaan maafku
kepada semua prajurit.”
Sekali lagi kedua prajurit itu saling berpandangan. Salah seorang
dari mereka bertanya, “Apakah yang sebenarnya telah terjadi?”
Ken Arok berpaling sejenak, memandangi seonggok rumput di
samping pembaringannya. Katanya, “Dalam kegelisahan aku
terlampau cepat menjadi marah. Apa yang kalian lihat di sini
sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kalian. Kalian tidak usah
berpikir tentang rumput kering itu. Itu pasti pokal tamu semalam.
Aku kira ia pergi ketika aku sedang berada di sendang yang sedang
dibuat itu. Dan tamuku itu pulalah yang telah membawa seluruh
pakaianku dan menggantinya dengan seonggok rumput kering.”
Kedua prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil
menarik nafas dalam-dalam, sedangkan Ki Buyut Panawijen
mengangguk-anggukkan pula sambil berkata, “Oh, jadi semalam
Angger kedatangan seorang tamu yang pergi tanpa pamit?”
“Begitulah Ki Buyut.”
“Siapakah tamu Angger itu? Dan apakah Angger yakin bahwa
tamu Angger itu yang telah berbuat?”
Ken Arok terdiam sejenak. Ia menjadi ragu-ragu untuk
mengatakan hubungan antara dirinya dengan Bango Samparan. Ia
sendiri sebenarnya tidak ingin mendengar tentang hubungan yang
pernah terjadi itu.
Bukan karena ia ingkar dan tidak mengenal terima kasih tetapi ia
ingin menjauhkan diri dari setiap pengaruh yang akan dapat
menyeretnya ke dalam dunia yang hitam. Kalau ia kini terseret ke
dalam dunianya yang lama, maka kejahatan yang akan dapat
dilakukan pasti akan lebih dahsyat dari masa-masa sebelumnya. Ia
kini memiliki pedang di lambung, memiliki kekuasaan meskipun
tidak terlampau besar, dan memiliki pengaruh yang cukup atas
beberapa orang prajurit.
Tetapi ia harus menjawab pertanyaan Ki Buyut Panawijen
sehingga sekenanya ia bergumam, “Bango Samparan adalah
seorang kawan, Ki Buyut.”
“Em,” Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya. Sama sekali
tidak terlintas sejumput prasangka pun atas jawaban itu. Namun
Ken Arok yang merasa tidak mengatakan sebenarnya itu menjadi
semakin gelisah. Tanpa sesadarnya ia menyambung, “Kawan yang
agak dekat di masa-masa lalu. Tetapi kami tidak sejalan dalam
angan-angan dan perbuatan.”
“Em” Ki Buyut masih saja mengangguk-anggukkan kepalanya.
Dan Ken Arok masih saja diburu oleh kegelisahannya sendiri.
“Tetapi, kami sudah lama sekali berpisah Ki Buyut,” tergagap Ken
Arok berkata terus, “dan sebenarnya aku tidak ingin lagi bertemu
dengan orang itu.”
“Em,” Ki Buyut mengangguk-angguk terus.
“Aku menyesal bahwa ia datang kemari semalam. Orang itu
benar-benar gila. Ia datang dengan kegilaannya.”
“Em,” Ki Buyut masih mengangguk-angguk, tetapi ia heran
melihat sikap Ken Arok yang tiba-tiba menjadi semakin tegang.
Keheranan Ki Buyut Panawijen itu terpancar di dalam sorot
matanya. Namun Ken Arok menangkap sorot mata itu dengan alas
kegelisahan, sehingga Ken Arok merasa, seakan-akan Ki Buyut
Panawijen itu tidak mempercayainya.
“Ki Buyut, aku berkata sebenarnya. Aku berkata apa yang
sebenarnya terjadi.”
Ki Buyut menjadi semakin heran. Namun ia tidak segera
menjawab.
“Kenapa Ki Buyut tidak percaya, he?”
“Oh,” Ki Buyut terkejut mendengar pertanyaan itu sehingga
hampir-hampir ia terlonjak dari duduknya. Kening yang telah mulai
berkerut dilukisi oleh garis-garis ketuaannya, menjadi semakin
berkerut-merut.
“Kenapa aku tidak percaya Ngger, kenapa? Aku percaya kepada
Angger. Bahkan aku mempercayakan seluruhnya kepadamu.
Sepeninggal Mahisa Agni, maka segenap kepercayaan ada padamu,
Ngger.”
“Tetapi sorot mata Ki Buyut itu.”
“Oh,” Ki Buyut menjadi semakin bingung, “bagaimana dengan
sorot mataku. Apakah sorot mataku mengatakan kepadamu bahwa
aku tidak mempercayaimu? Oh, aku tidak tahu bagaimana aku harus
memandang Angger.”
Jawaban itu terasa telah menghujam ke dalam jantung Ken Arok.
Sejenak Ken Arok terbungkam. Ia dapat merasakan kejujuran yang
terpancar dari jawaban Ki Buyut yang tua itu. Sehingga karena itu,
maka disadarinya, betapa ia menjadi cemas dan bingung karena
Bango Samparan.
Terpatah-patah Kep Arok itu kemudian berkata, “Maaf Ki Buyut,
maaf. Aku telah bena-benar menjadi bingung.”
Ki Buyut Panawijen tidak segera menyahut. Dipandanginya saja
anak muda itu dengan beribu pertanyaan di dalam dadanya. Tetapi
kemudian orang tua itu pun dapat menangkap kegelisahan yang
sangat telah mengganggu Ken Arok.
Tiba-tiba orang-orang yang berada di dalam gubug itu terkejut
ketika Ken Arok berkata, “Tinggalkan aku sendiri. Tinggalkan aku
sendiri.”
Prajurit yang berada di dalam gubug itu saling berpandangan.
Dan mereka mendengar Ken Arok berkata, “Kenapa kalian berdua
belum juga meninggalkan tempat ini? Aku sudah minta maaf kepada
kalian, bahkan aku pesan kepadamu berdua, aku minta maaf pula
kepada setiap prajurit yang menjadi gelisah dan tersinggung karena
sikapku. Aku sudah berkata pula, bahwa yang mengambil semua
pakaianku dan menggantinya dengan rumput-rumput kering adalah
tamuku semalam. Nah, tinggalkan aku.” Ken Arok berhenti sejenak,
lalu suaranya menurun lemah, “Tetapi semuanya ini bukan lelucon
yang menyenangkan.”
Kedua prajurit itu pun kemudian berdiri sambil berkata, “Kami
minta diri.”
“Silakan. Aku minta maaf untuk kesekian kalinya.”
Kedua prajurit itu pun kemudian meninggalkan gubug itu.
Beberapa langkah mereka berpaling. Ketika sekali lagi mereka saling
berpandangan, maka merekapun menggeleng-gelengkan kepala
masing-masing. Mereka seolah-olah saling bertanya, apakah yang
sebenarnya telah terjadi, tetapi mereka pun bersama-sama
menyadari bahwa mereka tidak tahu apa-apa tentang Ken Arok dan
tamunya.
Meskipun kedua prajurit itu telah meninggalkan gubug Ken Arok,
namun Ki Buyut masih saja duduk di samping Ken Arok. Ia
sebenarnya ingin mengetahui, kenapa anak muda itu menjadi
sangat gelisah. Tetapi Ki Buyut tidak berani bertanya kepadanya.
Sesaat mereka duduk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Kepala-kepala mereka menunduk dan angan-angan mereka
mengembara ke dunia yang tidak dapat mereka jajagi.
Malam yang sepi itu pun menjadi semakin sepi. Nyala pelita
minyak masih saja berayun-ayun dibelai padang. Lamat-lamat di
kejauhan terdengar derik belalang, dan sekali-sekali terdengar
lolong anjing liar dan keluhan burung kedasih.
Tetapi betapa malam diselimuti oleh kesenyapan yang ngelangut,
namun Ken Arok masih juga dikejar oleh kegelisahannya. Dengan
sekuat tenaga ia mencoba menguasai dirinya supaya tidak lagi
menyinggung perasaan orang lain yang tidak bersangkut-paut dan
tidak mengerti sama sekali persoalan Bango Samparan.
Ki Buyut Panawijen, seorang yang telah cukup banyak makan
asin pahitnya kehidupan, dapat menghubungkan kegelisahan Ken
Arok itu dengan tamunya semalam, yang menurut dugaan Ken Arok
telah membawa segenap sisa pakaiannya, kecuali yang dipakainya
itu. Tetapi Ki Buyut pun menyangka, bahkan hampir meyakininya,
bahwa sebenarnya kegelisahan Ken Arok bukan hanya sekadar
karena pakaiannya itu lenyap. Anak muda itu telah berkata, bahwa
ia akan dapat meminjam kepada orang lain kemudian kembali ke
Tumapel untuk mengambil pakaiannya yang lain atau minta kepada
Akuwu Tunggul Ametung.
Tetapi yang lain itulah yang agaknya tidak hendak dikatakannya.
Yang lain itu pulalah yang sangat menggelisahkannya.
Namun ternyata Ken Arok yang hampir tidak pernah menahan
sesuatu perasaan apa pun di masa lampaunya, terlampau sukar
untuk menyembunyikan kegelisahannya. Di masa lampau ia akan
berbuat apa saja yang terbersit dibatinya. Ia akan berteriak
apabila
ia ingin berteriak. Ia akan berkelahi apabila ia ingin berkelahi.
Ia
akan mencegat dan menangkap gadis-gadis apabila dikehendaki.
Bahkan ia akan membunuh apabila keinginan itu timbul di dalam
benaknya. Perlahan-lahan ia telah berhasil menyingkir dari dunianya
yang kelam itu. Namun untuk menahan dadanya digetarkan oleh
perasaan gelisah dan pepat, adalah terlampau sulit baginya.
Karena itu, maka tanpa disangka-sangka oleh Ki Buyut
Panawijen, Ken Arok itu kemudian berkata, “Ki Buyut, aku telah
berbohong. Aku telah mencoba membohongi Ki Buyut.”
Ki Buyut mengangkat wajahnya. Kini ia tahu, kenapa Ken Arok
menyangkanya, bahwa ia tidak mempercayahi kata-kata anak muda
itu. Orang yang telah cukup berumur itu segera dapat mengerti apa
yang menyebabkan Ken Arok berbuat demikian. Perasaannya
sendirilah yang mengatakannya bahwa ia telah berbohong, bahwa
kata-katanya itu tidak dapat dipercaya. Namun karena itu pula Ki
Buyut Panawijen menjadi kagum akan kejujuran hatinya. Hatinya
yang masih cukup terbuka dalam kesederhanaannya.
“Ki Buyut,” berkata Ken Arok terbata-bata. “Bango Samparan
sama sekali bukan hanya sekadar temanku.”
Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya Bango
Samparan itu mempunyai kedudukan yang khusus di hati Ken Arok,
sehingga kehadirannya telah membuat anak muda itu kebingungan.
Dan sebelum Ki Buyut berkata, Ken Arok meneruskan, “Tetapi
bahwa ia yang telah mengambil pakaianku dapat aku yakini. Bango
Samparan memang mempunyai sifat yang demikian. Dan itulah
yang menakutkan aku. Aku tidak mau lagi disentuh oleh racun-racun
yang pernah menghujam di dalam benakku di masa kanak-kanakku.
Ki Buyut, Bango Samparan seorang penjudi besar, tetapi seorang
perampok kecil-kecilan itu, adalah ayah angkatku.”
Ki Buyut Fanawijen masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia
menjadi semakin jelas akan persoalan anak muda itu. Anak muda
yang ketakutan melihat bayang-bayang yang pernah
menyelimutinya di masa kanak-kanak, dan yang kini tiba-tiba saja
telah muncul kembali.
Tetapi Ki Buyut Panawijen masih belum menanggapinya. Ia
masih saja berdiam diri sambil memperhatikan setiap kata yang
diucapkan oleh Ken Arok.
Dan Ken Arok itu berkata terus, “Dan ayah angkatku itu, seperti
ayah angkatku yang lain, Lembong, telah membentukku menjadi
seekor serigala yang liar, yang hidup berkeliaran tanpa landasan.
Sekali-sekali aku jumpai juga orang-orang yang baik, seorang yang
mengajarku mengenai beberapa hal, bahkan sampai pada masalah
kepandaian ilmu dan kesusasteraan. Tetapi tak seorang pun yang
langsung memperhatikan masalah kerokhanian. Sehingga suatu
ketika aku bertemu dengan orang-orang yang aku anggap aneh,
yang memberikan pengertian yang lain, yang belum pernah aku
dengar sebelumnya. Namun, kini tiba-tiba orang semacam Bango
Samparan itu muncul kembali.”
Ki Buyut mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan orang tua itu
berkata, “Anakmas, kehadiran orang-orang yang tidak kau
kehendaki itu, jadikanlah alat untuk melihat diri sendiri. Bukankah
kehadiran Bango Samparan dapat memberikan sekadar kenangan
atas masa lampau itu. Dan Angger sudah menyadari bahwa masa
lampau itu sama sekali tidak menyenangkan? Nah, dengan demikian
maka Angger akan dapat semakin menjauhkan diri dari kehidupan
masa lampau itu, dengan menghayati hidup ini dengan sebaikbaiknya.
Hidup yang telah kau ketemukan dengan cara dan jalan
yang kau kehendaki.”
Kini Ken Aroklah yang mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia
mencoba untuk memahami kata-kata orang tua itu.
Mempergunakan keadaan ini untuk semakin meyakini jalan
hidupnya yang kini menjadi semakin baik dan terang.
Ken Arok mengatupkan giginya rapat-rapat ketika terngiang
kembali suara Bango Samparan, “Nasibmu terlampau baik Ken
Arok.” Dan Bango Samparan itu menganggapnya menyia-nyiakan
nasib yang baik itu. Nasib yang terlampau baik.
“Anakmas,” berkata Ki Buyut, “memang kita seakan-akan
dibiarkan berdiri di persimpangan jalan. Kita di-wenang-kan untuk
memilih sendiri jalan yang harus kita tempuh. Tetapi kita sudah
mendapat petunjuk, ke mana jalan-jalan itu akan menuju.”
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia pernah juga
mendengar dahulu pada saat ia masih mengembara di Padang
Karautan, bahwa jalan yang menuju ke arah keselamatan abadi,
bukanlah jalan yang paling luas dan rata. Bukan pula jalan yang
dianut oleh jumlah yang lebih banyak. Tetapi adalah suatu
keyakinan tentang keselamatan abadi, betapapun jeleknya yang
harus dilalui, betapapun sunyinya, namun keyakinan itu harus
digenggamnya.
Beribu-ribu orang yang lebih senang melalui jalan yang dipenuhi
oleh kenikmatan duniawi, tetapi hanya satu-dua orang saja yang
meletakkan harapannya pada kenikmatan abadi.
Kenangan itu, serta kata-kata Ki Buyut yang telah menanjak
menginjak hari-hari tuanya, ternyata mampu memberikan
ketenteraman hati anak muda itu. Ia tidak lagi takut mendengar
kata-kata Bango Samparan. Seandainya kini Bango Samparan
datang lagi kepadanya dan mengulangi semua kata-katanya, maka
hati Ken Arok tidak akan goncang lagi. Ia tidak perlu takut lagi
seandainya mendengar Bango Samparan berkata kepadanya, bahwa
nasibnya terlampau baik, sehingga hampir setiap keinginannya
terpenuhi. Bahkan seandainya ia ingin menjadi seorang Akuwu atau
Maharaja Kediri sekalipun.
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi heran sendiri,
bahwa ia menjadi sedemikian bingung menghadapi Bango
Samparan, sehingga hampir-hampir saja ia kehilangan
keseimbangannya. Sebagai seorang yang bertanggung jawab atas
suatu tugas yang berat, maka keadaannya itu sangat
membahayakannya. Bukan saja atas dirinya sendiri, tetapi atas
seluruh pekerjaan dan orang-orang yang berada di dalam tanggung
jawabnya.
Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, Ken Arok kemudian
berkata, “Terima kasih Ki Buyut. Aku mengucapkan terima kasih.
Mudah-mudahan aku akan selalu dapat mempertimbangkan
keseimbangan perasaanku.”
Kini, Ki Buyut yang selama itu menjadi tegang, tampak
tersenyum. Perlahan-lahan ia berkata, “Ah, sudahlah Angger. Setiap
peristiwa akan dapat dijadikan pengalaman yang baik asal kita
dapat menempatkan pada tempat yang wajar. Selamat malam, aku
akan kembali dan beristirahat. Besok kita masih harus bekerja
keras.
Bendungan itu hampir siap. Kalau air sudah mengalir lewat induk
susukan yang membelah padang ini, maka kita tidak perlu
mengangkat air dengan lodong-lodong bambu untuk setiap hari
menyiram pepohonan yang sudah mulai rimbun itu, terutama di
taman yang sedang dipersiapkan.”
“Ya Ki Buyut,” sahut Ken Arok yang wajahnya pun kini menjadi
terang, “aku mengharap demikian. Aku mengharap bahwa enam
bulan lagi pepohonan itu telah menjadi cukup rimbun. Sawah-sawah
telah dapat digenangi air, dan pategalan telah menjadi hijau.
Meskipun tanaman-tanamannya belum cukup tinggi, tetapi
pemandangan di daerah ini telah berubah sama sekali. Semuanya
akan tampak hijau segar.”
“Begitulah Ngger. Mudah-mudahan,” desis Ki Buyut. “Dan kini
aku minta diri.”
Ki Buyut itu pun kemudian meninggalkan Ken Arok seorang diri.
Sesaat Ken Arok masih duduk tepekur di tempatnya. Ia mencoba
mencernakan pengalaman yang aneh ini. Tetapi kemudian ia berdiri
sambil bergumam, “Suatu pelajaran yang baik.”
Tanpa disadarinya maka mulailah tangannya menyambar
makanan yang disediakan untuknya. Ia belum sempat memakannya,
karena sejak ia kembali ke gubugnya, ia menjadi sibuk karena
seonggok rumput kering.
“Gila benar Bango Samparan,” Ken Arok menggerutu. Tetapi kali
ini tidak karena kata-katanya yang dapat meracuni dirinya, tetapi
karena tubuhnya yang menjadi gatal-gatal.
“Aku harus mencari ganti pakaian,” gumamnya kemudian sambil
mengunyah makanannya. “Kalau tidak maka sisa malam ini tidak
akan dapat aku pergunakan sebaik-baiknya untuk beristirahat.”
Dan malam itu Ken Arok terpaksa membangunkan seorang
prajurit yang terdekat dari gubugnya untuk meminjam pakaian.
Tetapi agaknya prajurit itu terlampau malas sehingga pakaiannya
yang tidak dipakainya semuanya masih belum dicucinya, kecuali
sepasang yang akan dipakainya sendiri besok.
Sambil bersungut-sungut Ken Arok terpaksa membangunkan
orang lain dan meminjam pakaian dari padanya.
Hari-hari berikutnya maka Ken Arok seolah-olah mendapat
dorongan untuk bekerja lebih keras. Dari hari ke hari, maka
kedatangan Bango Samparan telah dilupakannya.
Ia telah mendengar laporan dari kedua orang prajurit yang
melaporkan hilangnya Mahisa Agni ke Tumapel. Dan ia telah
menyuruh dua orang yang lain untuk mengambil pakaiannya yang
ditinggalkannya di baraknya di Tumapel.
Bahkan Ken Arok telah mengirim orang yang lain untuk
menyampaikan rencananya kepada Akuwu Tunggul Ametung
supaya pekerjaannya tidak terlambat. Ken Arok minta dikirim
beberapa kelompok prajurit untuk membantunya, mengerjakan
pekerjaannya yang akan dilakukannya siang dan malam.
Sehari demi sehari telah terlampaui. Saat perkawinan agung
menjadi semakin dekat. Betapa hati Ken Dedes menjadi semakin
sedih, namun ia tidak dapat menunda hari-hari yang telah
ditentukan, bahkan sudah mulai dipersiapkan dengan teliti. Setiap
kali ia hanya dapat menumpahkan kepahitan hatinya kepada emban
pemomong-nya yang dibawanya dari Panawijen. Terhadap emban
yang lain, bahkan terhadap Madri yang selalu melayaninya dengan
baik, ia tidak mengatakan sepatah kata pun.
Emban tua yang dibawanya dari Panawijen itu selalu berusaha
untuk menghiburnya, membesarkan hatinya, dan menasihatinya
supaya gadis itu mendapatkan ketenteraman.
“Adalah lebih baik demikian Tuan Puteri,” berkata emban itu
suatu kali, “lebih baik perkawinan itu segera terjadi. Bukankah
Tuan
telah berada di sini cukup lama? Apakah kata orang apabila hal itu
akan berkepanjangan. Betapapun juga Akuwu adalah seorang lakilaki
muda, sedangkan Tuan Puteri adalah seorang gadis yang
cantik.”
“Ah,” Ken Dedes berdesah, tetapi emban tua itu segera
memotongnya, “sudah tentu Tuan Puteri dan Tuanku Akuwu
Tunggul Ametung akan menjaga diri masing-masing. Namun orangorang
di luar istana, apalagi yang tidak senang melihat kehadiran
Tuan Puteri di sini, akan dapat mengatakan hal-hal yang tidak baik.
Seolah-olah Tuanku bukanlah seorang permaisuri. Seolah-olah Tuan
Puteri hanya sekadar seorang selir.”
Ken Dedes mengerutkan keningnya, dan ia dapat mengerti katakata
emban pemomong-nya. Apabila demikian, sejenak ia dapat
menahan hatinya, pasrah diri dalam kepahitan. Namun setiap kali,
kerinduannya kepada kakaknya, yang dianggap tinggal satu-satunya
keluarganya itu sangat mengganggunya. Dalam upacara agung,
maka kenang-kenangan yang demikian pasti tidak akan dapat
disingkirkannya, sehingga dalam keramaian peralatan agung, dalam
kerinduan dan kegembiraan yang meluap-luap di seluruh Tumapel,
ia akan merasa semakin sepi.
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Terdengar ia
berdesis, “Ya bibi, mudah-mudahan aku dapat menemukan
perasaan itu. Mudah-mudahan aku dapat melepaskan rinduku
kepada kakang Mahisa Agni setelah aku mempunyai seorang
suami.”
Emban tua itu menelan ludahnya yang seolah-olah menyumbat
kerongkongan. “Demikianlah hendaknya Tuan Puteri,” katanya,
namun hatinya menjerit setinggi langit. Apakah benar-benar terjadi,
Mahisa Agni akan dilupakannya? O, alangkah malang nasib anak itu.
Dalam pada itu, Ken Dedes sendiri seolah-olah menemukan suatu
anggapan baru tentang Akuwu Tunggul Ametung. Kekecewaannya
telah mendorongnya untuk menganggap bahwa Akuwu Tunggul
Ametung adalah seseorang yang terlampau mementingkan diri
sendiri.
Tetapi tak seorang pun yang dapat menahan majunya waktu.
Hari-hari pun telah terlampaui, dan saat yang telah ditunggu-tunggu
oleh segenap rakyat Tumapel itu terjadilah.
Datanglah saatnya Tumapel mengadakan peralatan agung.
Tuanku Akuwu Tunggul Ametung mengambil seorang permaisuri.
Putra seorang pendeta dari Padepokan Panawijen.
Namun beberapa mulut berdesah di antara rakyat Tumapel,
“Sayang bahwa gadis itu seorang gadis yatim-piatu. Ibunya sudah
tidak ada lagi, dan ayahnya hilang tidak diketahui ke mana
perginya.
Satu-satunya kakaknya pun hilang ditelan oleh para penjahat.”
Tetapi dengan demikian, dengan perasaan iba di hati, rakyat
Panawijen menyambut bakal permaisurinya dengan ikhlas. Bahkan
beberapa orang menganggap bahwa keprihatinan gadis bakal
permaisuri itu pasti akan bermanfaat bagi Tumapel.
Dalam upacara-upacara yang besar itu, Ken Dedes selalu
berusaha untuk menahan gelora perasaannya. Untuk
menyembunyikan kepahitan hati serta kerinduannya kepada
keluarganya. Kadang-kadang ia tidak dapat menahan desakan air
matanya, sehingga setitik-setitik menetes di pangkuannya.
Kadangkadang
bayangan wajah ayahnya yang tua membayanginya,
kemudian disusul oleh kenangan atas Mahisa Agni yang kekar dan
perkasa, yang telah melepaskannya dari berbagai macam bencana.
Terbayang pula masa kanak-kanaknya yang riang penuh gairah di
Padepokan Panawijen bersama para endang. Bermain-main di
tepian sambil melihat gemerciknya air sungai yang mengalir lambat
di antara batu-batu yang menjorok. Mencuci sambil berdendang di
bendungan. Sayup-sayup terdengar seruling para gembala di antara
gemersiknya angin pagi.
Ken Dedes merasakan kenikmatan hidup dalam kesederhanaan
itu. Dan kini ia harus mencoba menikmati hidup dalam kemewahan
duniawi yang melimpah-limpah.
Pada hari-hari upacara perkawinan agung itu, seluruh Tumapel
seolah-olah telah diselimuti oleh kegembiraan yang merata.
Seolaholah
tidak ada lagi kesedihan, duka, dan kepahitan hidup. Rakyat
yang paling miskin sampai yang paling kaya, mencoba untuk
bergembira menyambut perkawinan Akuwu Tunggul Ametung.
Tujuh hari tujuh malam Tumapel bermandikan suasana
perkawinan. Hampir di setiap banjar padesan dan padukuhan
terdapat berbagai macam keramaian. Umbul-umbul dan rontek
berjajar di sepanjang jalan dari ujung ke ujung. Di pinggir-pinggir
desa anak-anak meneriakkan keriangan hati mereka sambil
menggenggam berbagai macam makanan dan permainan. Regolregol
desa dihiasi dengan berbagai macam bentuk hiasan janur dan
dedaunan.
Setiap wajah rakyat Tumapel menjadi cerah. Mereka tidak
memikirkan kesulitan hidup yang kadang-kadang mereka jumpai.
Mereka melupakan sejenak kesibukan mereka sehari-hari. Kesibukan
kerja untuk menghidupi keluarga mereka.
Tetapi wajah Ken Dedes sendiri tidak secerah wajah rakyat yang
menyambut pengangkatannya menjadi seorang permaisuri. Setiap
saat dikenangnya ayahnya, ibunya yang tidak dapat diingatnya
dengan jelas. Dan yang menyedihkan baginya adalah Mahisa Agni
yang hidup dan matinya masih belum dapat diketahui.
“Kalau kakang Mahisa Agni ada, maka ia sedikit banyak akan
dapat ikut menikmati kemeriahan hari-hari perkawinan ini,”
desisnya, “tetapi aku tidak tahu apa yang telah terjadi dengan
dirinya saat-saat ini. Mungkin ia masih terikat pada sebatang
tonggak. Mungkin ia baru mengalami siksaan badani, dan bahkan
mungkin di luar kekuatan daya tahannya. Atau mungkin juga ia
sudah terbujur mati tanpa seorang pun yang mengurusnya.”
Hati Ken Dedes menjadi semakin pedih ketika ternyata Akuwu
Tunggul Ametung tidak dapat ikut mengerti kepahitan yang
dirasakannya. Bahkan sekali-sekali Tunggul Ametung menegurnya,
“Ken Dedes, setiap orang di Tumapel merayakan hari bahagia ini.
Setiap orang bergembira. Tetapi kau sendiri ternyata menyambut
hari-hari yang cerah ini dengan wajah yang kusut.”
Ken Dedes tidak dapat mengatakan sepatah kata pun. Setiap kali
ia mencoba untuk menunjukkan kegembiraannya. Apalagi di
hadapan para tamu-tamu agung yang berdatangan ke istana pada
upacara-upacara resmi. Para pendeta, para pemimpin
pemerintahan, para panglima dan senapati, dan para tamu dari luar
Tumapel yang ikut merayakan hari yang berbahagia itu.
Tetapi apabila upacara-upacara semacam itu sudah selesai.
Apabila para tamu telah tidak ada lagi di Istana Tumapel dan tidak
lagi terdengar suara gamelan yang mengiringi gadis-gadis
menarikan tari-tari yang riang penuh gairah hidup menyambut
perkawinan agung, maka Ken Dedes kembali ke dalam biliknya
dengan wajah yang suram. Setelah para emban membantunya
melepaskan pakaian kebesaran yang berkilauan seperti matahari,
setelah para emban membantunya mengenakan pakaian sehari-hari
seorang permaisuri, maka Ken Dedes itu menelungkupkan
kepalanya di pangkuan pemomong-nya. Para emban yang
meninggalkannya di dalam biliknya berdua dengan emban tua yang
dibawanya dari Panawijen, masih mendengar gadis itu terisak-isak.
Namun sambil tersenyum para emban itu saling berbisik, “Oh,
alangkah bahagianya gadis Panawijen itu. Ia menangisi kurnia yang
tidak pernah diimpikannya di masa kanak-kanak. Sebagai seorang
gadis padepokan yang terpencil, maka ia kini berada di sentong
tengen Istana Tumapel. Kegembiraan yang meledak telah
menyebabkan ia tidak dapat menahan diri. Bukankah kalian
mendengar Tuan Puteri itu menangis?”
“Ah, bukankah itu sudah sewajarnya? Kau pun akan menangis
seandainya tiba-tiba kau diambil menjadi seorang isteri senapati
saja. Apalagi menjadi seorang permaisuri. Kau, pasti tidak akan
dapat merasakan betapa bahagianya, sebab kau akan mati
membeku karena kegirangan.”
“Uh, kalau benar aku menjadi isterti seorang senapati maka kau
aku beri anugerah. Prajurit suamiku yang paling tampan akan
mengambilmu menjadi selirnya.”
“Ah, tidak mau.”
Para emban itu pun kemudian tertawa. Meskipun mereka
mencoba untuk menahan suara tertawa mereka, namun para
prajurit yang berada di belakang istana mendengarnya. Ketika
prajurit-prajurit itu berpaling, dilihatnya beberapa orang emban
lewat melintasi halaman belakang.
“Uh,” desah salah seorang dari prajurit-prajurit itu, “kalian
mengenakan pakaian yang paling indah yang kalian punyai. Tetapi
kalian tidak membawa makanan yang paling enak untuk kami yang
bertugas di gardu-gardu perondan.”
“Kami tidak mengurusi makanmu,” sahut salah seorang emban
itu.
“Ya, mungkin lain kali kau akan mengurusi makananku.”
“Tidak mungkin. Aku bukan emban madaran. ”
“Siapa tahu kalau kau kelak menjadi isteriku.”
“Hus, jangan terlampau perasa. Bercerminlah di belumbang
sebelah. Kau akan melihat wajahmu sendiri yang jelek itu.”
Prajurit itu tidak marah. Tetapi justru ia tertawa lebih keras dari
suara para emban.
Pemimpin peronda istana pada saat itu mendengar suara tertawa
prajuritnya. Tetapi kali ini dibiarkannya saja para prajurit dan
emban
tertawa terlampau keras. Seluruh Tumapel memang sedang
tertawa. Di alun-alun di muka istana itu pun sedang diadakan
berbagai macam pertunjukan. Di bawah pohon beringin.
Di malam hari Tumapel memancarkan sinar beribu-ribu obor di
sepanjang jalan, di regol-regol, dan di banjar-banjar. Seolah-olah
Tumapel ingin bersaing dengan wajah langit yang biru, yang
ditaburi oleh berjuta-juta bintang-bintang yang gemerlapan.
Tetapi Tumapel tidak mendengarkan suara hati seorang gadis
yang sedang disambutnya. Hanya emban tua pemomong-nya
sajalah yang dapat ikut menitikkan air mata. Tetapi air mata itu
adalah juga air mata kesedihannya sendiri, karena ia pun sedang
menangisi anak satu-satunya yang hilang tak tentu lintang bujurnya.
Demikianlah maka wajah dan hati keputren Istana Tumapel itu
tidak sejalan. Wajah yang cerah bercahaya karena rerangken dan
perhiasan yang cemerlang. Tetapi hati permaisuri itu sendiri
menjadi
suram.
Namun setiap kali emban pemomong-nya berkata, “Tuan Puteri,
lambat-laun Tuan Puteri pasti akan menemukan kegembiraan Tuan
kembali. Kesibukan Tuan Puteri sebagai seorang permaisuri pasti
akan mendesak segala macam kerinduan Tuan Puteri kepada orangorang
yang Tuan kasihi. Ayah bunda dan kakanda Tuan yang hilang
itu.”
“Mungkin bibi,” sahut Ken Dedes, “tetapi hanya untuk sementara.
Setiap kali aku pasti akan teringat kepada mereka itu. Mereka yang
hanya dapat merasakan pahit dan getirnya, tetapi mereka tidak
sempat ikut merasakan kesenangan ini.”
“Itu adalah suatu sikap yang dapat Tuan anggap bahwa mereka
telah melakukan mesu-diri, berprihatin untuk Tuan Puteri.
Merekalah yang menanam dan menyiangi. Kini Tuan Puterilah yang
memetik buahnya.”
“Itulah yang menyedihkan bibi. Mereka hanya menanam saja.
Menanam, mengairi, menyiangi, dan memelihara. Tetapi mereka
tidak ikut memetik buahnya.”
“Buah itu telah melimpah kepada puterinya, kepada adiknya yang
dikasihi. Apalagi?”
Ken Dedes tidak menyahut. Ia mencoba meresapkan kata-kata
emban tua pemomong-nya itu. Ia mencoba menerima kejadian itu
dengan wajar, dan ia mencoba melupakan orang-orang yang
dikasihinya. Tetapi hal itu tidak mungkin dilakukannya.
Sedangkan emban itu sendiri, serasa dadanya menjadi pepat.
Setiap ia mengucapkan kata-kata penghibur bagi Ken Dedes, maka
kata-kata itu bagaikan jarum-jarum yang menusuk hatinya sendiri.
Pedih.
Tetapi kegembiraan di Tumapel berlangsung terus. Seperti yang
direncanakan. Tujuh hari tujuh malam. Hampir tidak ada saat-saat
terluang dari berbagai macam kesenangan dan kegembiraan.
Barong di sepanjang jalan diiringi dengan gamelan berirama cepat.
Di banjar-banjar dan di pura-pura, gadis-gadis menari berebutan.
Namun juga berbagai macam perjudian seolah-olah mendapat
kesempatan tanpa terkendali. Adu ayam, jengkerik, dan burung
gemak. Anak-anak bermain binten di perapatan. Gadis-gadis desa
bermain jirak hampir semalam-suntuk dengan lampu-lampu obor
yang menyala di setiap sudut halaman.
Tetapi ternyata bahwa Akuwu Tumapel tidak juga melupakan
para prajurit yang berada di Padang Karautan. Beberapa hari
sebelum hari perkawinan itu, Ken Arok telah mengirimkan dua orang
prajurit untuk datang menghadap, mohon agar Akuwu berkenan
mengirimkan beberapa orang baru untuk menambah tenaga dan
perbekalan di Padang Karautan. Orang-orang baru dengan alat-alat
yang baru. Ken Arok telah menyampaikan rencananya untuk
melakukan pekerjaannya siang dan malam, supaya sendang itu
dapat siap pada waktunya. Sebelum enam bulan sejak hari
perkawinan ini.
Akuwu Tumapel sama sekali tidak berkeberatan. Bahkan kepada
Ken Arok, Akuwu telah mengirimkan pesan, supaya pada saat-saat
Tumapel merayakan hari-hari perkawinannya, Ken Arok dapat ikut
menyaksikannya.
Tetapi kemudian datang seorang prajarit dari Padang Karautan
yang menyampaikan pesan Ken Arok, bahwa Ken Arok ingin
merayakan hari-hari yang berbahagia itu di Padang Karautan,
bersama dengan para prajurit dan orang-orang Panawijen. Sebab
orang-orang Panawijen adalah orang-orang yang merasa paling
berbahagia atas perkawinan itu. Ken Dedes adalah gadis dari
Panawijen.
“Kalau begitu,” berkata Akuwu Tumapel, “pada saat itu aku akan
mengirimkan prajurit-prajurit seperti yang diminta oleh Ken Arok,
bahan-bahan makanan untuk masa-masa kerja yang lama itu dan
bahan-bahan beserta jurumasak-jurumasak yang paling pandai
untuk menyediakan makanan yang paling enak di hari-hari yang
bahagia itu. Para prajurit yang sedang bekerja beserta orang-orang
Panawijen harus menikmatinya pula kesenangan tujuh hari tujuh
malam. Selama hari-hari itulah maka jurumasak-jurumasak yang
pandai dari Tumapel akan menyediakan makan dan minum bagi
para prajurit dan orang-orang Panawijen yang sedang bekerja
membuat bendungan, parit-parit, dan sendang buatan.”
Demikianlah maka pada hari-hari perkawinan yang dirayakan
tujuh hari tujuh malam itu, maka Padang Karautan pun seolah-olah
dibanjiri oleh makan dan minum tiada taranya. Setiap orang akan
dapat menikmati makanan menurut seleranya. Berbagai macam
makanan telah disiapkan untuk mereka. Berlebih-lebihan sehingga
bersisa terlampau banyak.
“Kita kirimkan sebagian dari makanan ini ke Panawijen,” berkata
salah seorang dari mereka, “orang-orang yang tinggal di Panawijen
pun harus menikmati kegembiraan ini. Kawan-kawan bermain Ken
Dedes semasa kecil, para endang, dan para cantrik.”
“Bagus,” sahut Ki Buyut, “anak-anak pun harus ikut
merayakannya.”
“Ya,” teriak seseorang, “aku di sini makan makanan yang paling
enak, bahkan yang seumur hidupku belum pernah aku cicipi, tetapi
anak-anakku hampir tidak makan di rumah.”
Maka diputuskannya untuk mengirimkan makanan secukupnya
bagi orang-orang Panawijen. Makanan yang seenak-enaknya
meskipun tidak untuk tujuh hari tujuh malam. Tetapi mereka harus
ikut bergembira di antara daun-daun yang menjadi semakin
menguning dan tanah persawahan yang menjadi semakin kering.
Tetapi kali ini Ken Arok tidak mau mengorbankan orang baru lagi
seandainya mereka bertemu dengan Kebo Sindet dan Kuda
Sempana. Karena itu, maka ketika beberapa orang berangkat
mengantar makanan itu, Ken Arok telah menyediakan sejumlah
prajurit yang akan mengawalnya, yang tidak akan mungkin dapat
dikalahkan oleh Kebo Sindet.
Kedatangan orang-orang Panawijen yang membawa makanan
sedemikian banyaknya di atas punggung-punggung kuda dan
pedati-pedati yang ditarik oleh lembu beserta beberapa orang
prajurit, ternyata telah mengejutkan perempuan dan anak-anak.
Tetapi ketika mereka tahu apa yang telah dibawa oleh orang-orang
itu, maka meledaklah kegembiraan tiada taranya. Sehingga sertamerta
Panawijen yang kering itu telah ikut pula merayakan
perkawinan Ken Dedes dalam upacara agung di Istana Tumapel.
Sejenak orang-orang Panawijen melupakan pepohonan yang
meratapi diri dalam kekeringan. Pepohonan yang daun-daunnya
berguguran semakin lama semakin banyak.
Anak-anak yang sejak lama tidak berlari-larian dan bermain-main
di sudut desa, sejenak dapat menikmati kegembiraan. Setelah
sekian lamanya Panawijen menjadi desa yang seakan-akan mati,
maka untuk sesaat dapat menikmati hidupnya kembali.
Para endang dan para cantrik pun ikut pula bergembira Mereka
saling berceritera tentang masa lampau mereka, selagi Ken Dedes
masih berada di padepokan.
“Ken Dedes tidak pernah melupakan aku,” berkata salah seorang
endang , “ke mana pun ia pergi, aku pasti dibawanya.”
“Aku masih menyimpan sehelai kain panjang,” sahut yang lain,
“kain panjang pemberian Ken Dedes yang dahulu dipakainya. Kain
panjang itu kini menjadi kenang-kenangan yang sangat berharga
bagiku.”
“O,” berkata yang lain lagi, “kenang-kenangan yang ada padaku
bukan sekadar sehelai kain. Tetapi rambut Ken Dedes yang kini
telah aku sisir halus. Cemara itu panjangnya hampir sedepa. Setiap
kali aku menyisir rambutnya yang hitam lebat itu, dahulu aku selalu
menyimpan rambutnya yang rontok. Sekarang rambut itu menjadi
sehelai cemara,” rambut yang panjang.
Seorang endang yang lain dengan sedih bergumam, “Aku tidak
mempunyai kenang-kenangan sama sekali dari padanya. Sehelai
selendang pun tidak. Tetapi aku mempunyai bekas luka di
lenganku.”
“Apa hubungannya antara bekas luka itu dengan Ken Dedes?”
“Aku pernah berkelahi dengannya ketika kami masih agak kecil.
Aku digigitnya sampai luka berdarah. Bekas luka itu masih ada
sampai kini.”
“Oh,” desah beberapa emban hampir bersamaan, “kenangkenangan
yang paling mengesankan.”
“Kalau tahu ia akan menjadi seorang permaisuri, maka aku akan
membalasnya, menggigit lengannya supaya ia tidak akan pernah
melupakan aku.”
“Jadi kau tidak membalasnya saat kau digigitnya?”
“Aku tidak berani, aku hanya menangis melolong-lolong.”
Para endang itu pun kemudian terdiam. Tetapi mulut mereka
masih mengunyah berbagai macam makanan yang diperuntukkan
bagi mereka. Di ruang lain para cantrik pun sedang menikmati
makanan yang serupa. Tetapi agaknya para cantrik itu lebih cepat
hampir dua kali lipat menghabiskan makanan mereka.
“Besok kita akan mendapat lagi,” gumam salah seorang cantrik,
“dua hari dua malam kita akan menikmati makanan seperti ini.
Bahkan mungkin lebih lama lagi.”
Tak ada yang sempat menjawab karena mulut mereka sedang
dipenuhi oleh berbagai macam makanan yang belum pernah mereka
nikmati sepanjang umur mereka. Makanan yang disesuaikan dengan
selera juru madaran dari Istana Tumapel.
Di Padang Karautan, kegembiraan yang serupa agaknya tidak
kalah meriahnya. Para prajurit menari-nari sesuka hati. Ada
beberapa di antara mereka memang seorang penari. Tetapi karena
tidak ada gamelan, maka mereka menari tanpa irama diiringi oleh
kawan-kawannya yang mencoba menirukan suara gamelan dengan
mulutnya.
Namun demikian hal itu sangat menggembirakan. Mereka
tertawa sambil mengunyah makanan dan minum minuman yang
selama ini tidak pernah mereka nikmati. Mereka selama berada di
Padang Karautan hanya minum air sungai, atau air panas yang
direndami daun sere dan gula kelapa.
Prajurit-prajurit yang masih segar, yang baru datang di padang
itu pun mencoba untuk bergembira. Meskipun sebenarnya mereka
lebih senang merayakan hari perkawinan Akuwu itu di Tumapel.
Namun mereka tidak dapat menyanggah perintah atasannya, bahwa
mereka harus berangkat ke Padang Karautan, sambil membawa
bekal dan makanan khusus selama hari-hari peralatan.
Pada hari yang ketiga maka Padang Karautan menjadi lebih
meriah lagi. Mereka melihat pemimpin rombongan telah datang
bersama beberapa orang pengawal. Pemimpin rombongan
prajuritprajurit
yang diperbantukan kepada Ken Arok, yang menurut
perintah Akuwu maka pemimpin rombongan itu akan menjadi
pembantu Ken Arok pula. Sebab menurut Akuwu Tunggul Ametung,
maka Ken Arok tidak akan dapat terus-menerus mengawasi
pekerjaan yang akan dilakukan sehari semalam bergantian.
“He,” teriak salah seorang prajurit, “lihat, pemimpin kita itu
telah
datang. Rombongan kecil itu pasti membawa makanan lebih banyak
lagi.”
Hampir berbareng kawan-kawannya pun tertawa. Berkata salah
seorang, “Apakah perutmu masih belum penuh juga?”
“Perutku dapat menggelembung. Karena itu maka perut ini tidak
pernah penuh berapa pun makanan aku masukkan.”
Kawan-kawannya sekali lagi tertawa. Bahkan Ki Buyut Panawijen
yang duduk-duduk di antara mereka bersama orang-orang
Panawijen pun ikut tertawa juga.
“Jangan malu Ki Buyut,” teriak prajurit itu pula, “kalau Ki Buyut
dan orang-orang Panawijen malu, maka bukan salah kami apabila
kalian tidak mendapat bagian. Kalau besok juru madaran itu kembali
ke Tumapel, maka kita akan mengalami masa paceklik lagi. Makan
nasi kurang matang, sambal wijen, dan jangan keluwih. Nah, lihat,
itu orang-orang baru telah berdatangan lagi. Mereka pasti
membawa makanan lebih banyak dan lebih enak.”
Meledaklah suara tertawa seolah-olah membelah Padang
Karautan. Kegembiraan yang tidak tertahankan setelah mereka
bekerja keras tanpa mengenal istirahat.
Ken Arok sendiri duduk di atas sebuah batu beberapa langkah
dari Ki Buyut Panawijen. Tampaklah ia tersenyum-senyum melihat
tingkah-laku prajurit-prajuritnya dan orang-orang Panawijen yang
sedang bergembira. Selama ini ia tidak dapat memaksa mereka
bekerja. Tiga hari bendungan itu seolah-olah tidak disentuhnya.
sendang dan susukan induk itu pun dibiarkannya tidak digarap
selama ini untuk memberi kesempatan kepada orang-orangnya
menikmati kegembiraan.
Ken Arok mengharap, mudah-mudahan kegembiraan ini akan
dapat menjadi pendorong kerja yang akan datang. Kerja yang lebih
keras. Apalagi dengan orang-orang baru yang masih segar.
Dengan wajah yang masih dihiasi dengan sebuah senyuman, Ken
Arok menatap Padang Karautan yang berwarna kekuning-kuningan.
Semakin lama rombongan kecil prajurit-prajurit Tumapel itu menjadi
semakin dekat. Debu yang tipis mengepul di belakang kaki-kaki
kuda yang berlari tidak terlampau cepat melintas padang rumput
yang luas.
“Siapakah yang akan dikirim oleh Akuwu untuk membantu aku di
sini?” bertanya Ken Arok kepada salah seorang prajurit yang baru
datang tiga hari yang lampau.
Tetapi prajurit itu menggeleng sambil menjawab, “Kami tidak
tahu, siapakah yang akan datang itu. Tetapi pemimpin pasukan
yang membawa kami kemarin berkata, bahwa tiga hari lagi akan
datang perwira yang akan diperbantukan dalam pembuatan
bendungan ini.”
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia masih
tetap bertanya-tanya di dalam hati, “Siapakah orang yang akan
datang itu?” Ken Arok mengharap bahwa orang itu akan dapat
diajaknya bekerja bersama. Seorang yang mengerti arti dari
kerjanya.
Ketika rombongan itu menjadi semakin dekat, maka tampaklah
wajah Ken Arok menjadi semakin berkerut. Di antara mereka yang
datang itu tampaklah seorang perwira remaja yang belum lama
mendapat wisuda kenaikan tingkat.
“Hem,” Ken Arok menarik nafas dalam-dalam, “kenapa anak itu
yang dikirim kemari?”
Tetapi Ken Arok tidak dapat berbuat apa-apa. Ia harus menerima
tenaga yang dikirimkan oleh Akuwu Tunggul Ametung kepadanya.
“Bukankah ia hanya membantu aku mengawasi para prajurit
yang sedang bekerja? Mudah-mudahan sikapnya tidak
mengendorkan hasrat dari setiap orang di sini. Mulutnya agak
terlampau lancang. Dan sikapnya yang kekanak-kanakan kurang
meyakinkan sikap seorang pemimpin,” desisnya di dalam hati.
Ketika rombongan itu sudah menjadi dekat benar, maka Ken
Arok pun berdiri menyambutnya bersama dengan Ki Buyut
Panawijen dan beberapa orang prajurit. Tampaklah wajah anak
muda itu berseri-seri meskipun dibasahi oleh keringat yang meleleh
dari kening. Dengan lantangnya ia berkata hampir berteriak, “Ah,
padang ini telah membakar kulitku kakang.”
Ken Arok mencoba tersenyum. Jawabnya, “Besok kau akan dapat
merendam dirimu di dalam air.”
Perwira yang masih muda dalam usia maupun dalam jabatan itu
tertawa. Katanya, “Ya, aku akan merendam diri. Apakah sendang
yang kau buat itu sudah berair?”
Ken Arok menggeleng, “Belum,” jawabnya, “tetapi kau dapat
merendam diri di bendungan.”
“Bendungan yang dibuat oleh Mahisa Agni?”
“Ya,” sahut Ken Arok, “sekarang adalah tugas kita untuk
menyelesaikan bendungan itu sepeninggal Mahisa Agni.”
Perwira muda itu mengerutkan keningnya. Kemudian ia bertanya,
“Apakah kau ikut membuat bendungan itu pula bersama para
prajurit?”
“Tentu,” sahut Ken Arok.
Ken Arok terkejut ketika perwira itu kemudian berkata, “Aku
hanya mendapat tugas membantumu membuat sendang buatan itu.
Bendungan itu adalah pekerjaan orang-orang Panawijen.
Prajuritprajurit
yang aku bawa dan yang mendahului aku adalah tenagatenaga
yang diperbantukan kepadamu untuk sendang buatan itu.”
“Ah,” Ken Arok berdesah. Dengan serta-merta ia memandangi
wajah Ki Buyut Panawijen yang berkerut. Tetapi Ken Arok itu segera
menyahut, “Ya, begitulah. Aku memang meminta kepada Akuwu
tenaga yang akan membantuku menyelesaikan sendang itu.
Sedangkan bendungan dan parit-paritnya akan dilakukan oleh
orang-orangku yang lama. Yang telah berada di padang ini sebelum
kalian datang.”
Perwira itu ingin membantah kata-kata Ken Arok, tetapi segera
Ken Arok menyambung kata-katanya. “Turunlah. Inilah Ki Buyut
Panawijen.”
“O,” anak muda itu mengangguk kecil. Perlahan-lahan ia turun
dari kudanya. Tampaklah betapa malasnya ia berjalan mendekati
Ken Arok.
“Jadi orang tua inilah Ki Buyut Panawijen?” ia bertanya kepada
Ken Arok.
“Ya, Ngger. Akulah Buyut Panawijen,” orang tua itu mengangguk
dengan hormat.
Sekali lagi anak muda itu mengangguk kecil, katanya, “Namaku
Kebo Ijo, Ki Buyut.”
“O, jadi Angger bernama Kebo Ijo?”
“Ya,” sahut Kebo Ijo pendek, kemudian kepada Ken Arok ia
berkata, “di manakah sendang buatan itu?”
“Itu,” Ken Arok menunjuk agak ke tengah, “agaknya pepohonan
yang aku tanam telah tumbuh baik meskipun masih harus disiram
setiap hari.”
Kebo Ijo mengangguk-anggukkan kepalanya. “Apakah hari ini
kalian tidak bekerja?” ia bertanya.
“Kami di sini sedang beristirahat merayakan perkawinan Akuwu.”
Kebo Ijo mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kenapa kau tidak
pergi ke Tumapel menyaksikan perkawinan itu?”
“Aku lebih senang berada di sini. Di antara batu-batu dan
brunjung-brunjung bambu. Di antara tanaman-tanaman yang telah
mulai tumbuh ngrembaka. Di antara para prajurit yang menari-nari
menurut irama yang khusus.”
“Sayang kau tidak melihatnya,” desis Kebo Ijo.
“Kenapa?”
“Gadis Panawijen itu memang cantik. Cantik sekali.
Sepantasnyalah, bahwa kakang Mahendra pernah tergila-gila
kepadanya, dan Kuda Sempana benar-benar menjadi gila. Apakah
kau belum pernah melihat wajah gadis itu?”
“Sudah, tetapi hanya sekilas,” jawab Ken Arok. ”Aku sama sekali
tidak melihat kelebihan dari gadis-gadis cantik yang lain. Tetapi
entahlah dalam pakaian kebesarannya.”
Mendengar jawaban Ken Arok itu Kebo Ijo tertawa terbahakbahak,
sehingga tubuhnya berguncang-guncang. Beberapa orang
prajurit berpaling memandanginya. Dan Ki Buyut Panawijen pun
mengerutkan keningnya. Orang tua itu dalam sekilas dapat melihat
perbedaan antara kedua pemimpin yang mendapat tugas untuk
menyelesaikan pekerjaan yang berat itu. Meskipun keduanya masih
muda, tetapi Ken Arok tampak jauh lebih matang dari pemimpin
yang bernama Kebo Ijo itu.
Di sela-sela suara tertawanya terdengar ia berkata, “Sudah
sepantasnyalah kau ditempatkan di Padang Karautan ini. Setiap hari
kau hanya bergaul dengan batu-batu, brunjung-brunjung bambu,
pedati, waluku, dan lembu.”
“Kenapa?” Ken Arok mengerutkan keningnya.
“Seandainya kau berada di Tumapel pun kau tidak akan dapat
menilai seorang gadis. Ternyata kau tidak melihat kelebihan yang
tidak ternilai pada permaisuri Akuwu Tunggul Ametung itu.”
“Sudah aku katakan. Aku hanya melihatnya sekilas. Pertamatama
aku melihatnya pada saat Akuwu mengambilnya di Padukuhan
Panawijen. Kemudian hampir tidak pernah lagi aku melihatnya
cukup lama.
Sekali lagi Kebo Ijo tertawa. “Mungkin,” katanya, “pada saat kau
mengambilnya di Panawijen maka gadis itu adalah gadis padepokan.
Pakaiannya adalah pakaian padesan sehari-hari. Tetapi setelah ia
mengenakan pakaian seorang puteri keraton, maka wajahnya
memancar seperti matahari.”
Kemudian sambil berpaling kepada Ki Buyut Panawijen, ia
berkata, “Kau dapat juga berbangga Ki Buyut, bahwa dari
padukuhanmu yang kering itu telah lahir seorang gadis yang cantik
seperti matahari. Tetapi sinarnya yang panas telah mengeringkan
padukuhanmu sehingga kau harus bersusah-payah membuat
bendungan baru di sini.”
“Ah,” Ken Arok memotong, “kau masih juga senang bergurau.
Beristirahatlah. Mungkin kau haus atau lapar. Silakan. Orangorangmu
sudah tahu, ke mana kau harus pergi sekarang. Telah
disediakan sebuah gubug untukmu.”
“Apa aku dapat beristirahat di tempat serupa kandang kambing
ini?”
“Sekian lamanya aku di sini, aku selalu dapat tidur nyenyak,”
sahut Ken Arok.
Sejenak Kebo Ijo menebarkan pandangan matanya berkeliling.
Tampaklah keningnya berkerut-merut dan mulutnya bergerak-gerak.
Tetapi ia masih berdiam diri.
“Apakah yang membuatmu heran?” bertanya Ken Arok.
“Hem,” anak muda itu bersungut-sungut, “ternyata aku telah
dilemparkan ke dalam neraka. Kenapa aku yang mendapat tugas di
padang panas ini, kenapa bukan orang lain?”
“Di sini tidak ada sesuatu yang dapat menyegarkan hati. Tidak
ada gadis-gadis cantik, tidak ada penari yang lincah, tidak ada
selingan apa pun kecuali batu melulu.”
“Aku di sini jauh lebih lama daripadamu,” sahut Ken Arok, “tetapi
aku tidak mengeluh.”
“Mungkin kau sudah biasa hidup di Padang Karautan sejak
sebelum kau menjadi pelayan dalam di Tumapel.”
Terasa dada Ken Arok berdesir mendengar kata-kata Kebo Ijo itu
Tetapi ketika ia melihat wajah Kebo Ijo, maka segera ia menyadari
bahwa Kebo Ijo sama sekali tidak bersungguh-sungguh. Ia berkata
apa saja sekehendak hatinya tanpa menghiraukan perasaan orang
lain. Karena itu maka Ken Arok itu bahkan tersenyum sambil
menjawab, “Ya, mungkin aku memang dilahirkan di Padang
Karautan. Tetapi kau pun harus berusaha menyesuaikan dirimu.
Seorang prajurit pada suatu saat akan berada di suatu tempat yang
sama sekali tidak menyenangkan. Dalam peperangan mungkin kau
harus berada di tanah yang berlumpur, atau mungkin di padang
yang lebih panas dari Karautan, atau mungkin di lereng-lereng
bukit.”
“Dalam peperangan hal itu wajar sekali terjadi. Tetapi di masamasa
orang lain bergembira ria di jalan-jalan Kota Tumapel, aku
harus berada di dalam tungku yang panasnya bukan main.”
“Ah,” desah Ken Arok, “jangan mengeluh saja. Kau harus
memberi contoh kepada prajurit-prajuritmu, bahwa mereka harus
tahan menghadapi keadaan.”
Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Kemudian ia berpaling
memandangi prajurit-prajurit yang duduk bergerombol-bergerombol
di antara gubug-gubug yang bertebaran. Beberapa orang pengawal
yang datang bersamanya masih saja berdiri di belakangnya.
“Mereka pun sebenarnya tidak senang terdampar di padang
kering ini.”
“Mungkin,” sahut Ken Arok, “tetapi kau dan aku harus
menumbuhkan kegairahan kerja. Jangan mengendorkan nafsu
bekerja mereka. Beberapa hari lagi kau dan prajuritmu akan dapat
menyesuaikan dirinya dengan udara padang yang kering ini. Dan
kau seharusnya tidak mengeluh lagi.”
Kebo Ijo menarik nafas dalam-dalam. “Di mana aku harus
beristirahat.”
Ken Arok mengerutkan keningnya. Sikap Kebo Ijo tidak begitu
menyenangkannya. Tetapi ia memanggil juga seorang prajurit dan
berkata kepadanya, “Bawalah tamu-tamumu ini ke tempat yang
sudah disediakan.”
“He,” potong Kebo Ijo, “kau sangka aku di sini sekadar menjadi
tamumu? Tidak, aku di sini menjadi tawananmu yang mulai besok
atau lusa harus bekerja berat di atas api neraka.”
Ken Arok tersenyum, tetapi ia tidak menyahut. Prajurit yang
dipanggilnya segera membawa Kebo Ijo dan para pengawalnya ke
tempat yang memang sudah disediakan. Beberapa buah gubug kecil
dengan sehelai tikar pandan yang masih baru.
“Ah,” sekali lagi Kebo Ijo berdesah, “macam inikah tempat yang
diperuntukkan bagi kami?”
“Semuanya hanya seperti ini,” sahut prajurit itu.
“Bagaimana dengan Ken Arok?”
“Tak ada bedanya, bahkan tikar yang dipakainya adalah tikar
yang sudah usang.”
Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Dipandanginya prajurit itu
dengan pandangan yang aneh, sehingga prajurit itu menundukkan
kepalanya.
“Apa kau bilang?” desis Kebo Ijo, “Ken Arok justru memakai tikar
yang usang?”
“Ya,” sahut prajurit itu.
“Bodoh, bodoh sekali,” gumam Kebo Ijo, “sebagai pimpinan ia
berhak memilih. Bukan hanya sekadar soal tikar, tetapi soal apa pun
juga.”
Mata Kebo Ijo terbelalak ketika ia mendengar prajurit itu
menjawab, “Ya, memang ia berhak untuk memilih dalam hal apa
pun. Tetapi itu tidak pernah dilakukannya. Ia tidak pernah memilih.
Yang selalu dipakainya adalah yang tersisa setelah para prajuritnya
memilih lebih dahulu.”
“Huh,” geram Kebo Ijo, “ia telah menghilangkan kewibawaannya
sebagai seorang pemimpin. Salahnyalah kalau bawahannya kelak
tidak lagi menghormatinya dan tidak mematuhinya.”
Prajurit itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak berani
menjawab. Namun dengan demikian maka ia mendapat kesan
bahwa pemimpinnya yang baru ini agak berbeda sifat dan tabiatnya
dengan pemimpinnya yang lama, Ken Arok.
Bagi prajurit itu, sikap Ken Arok sama sekali tidak merendahkan
dirinya atau menghilangkan kewibawaannya. Tetapi justru para
prajurit menjadi segan dan hormat kepadanya, tanpa membuat
garis pemisah antara pemimpin dan yang dipimpin. Keakraban di
antara mereka telah mendorong mereka untuk berbuat banyak
dengan penuh kerelaan. Bukan sekadar memenuhi kewajiban
sebagai bawahan yang harus patuh terhadap atasan. Tetapi ada
dorongan dari dalam diri sendiri untuk bekerja keras bersama-sama
dengan penuh keikhlasan.
“Agaknya tidak demikian dengan pemimpin yang baru ini,” desah
prajurit itu di dalam hatinya, kemudian, “tetapi ia hanya sekadar
membantu Ken Arok. Segalanya masih tetap ada di dalam tanggung
jawab pemimpin yang lama itu.”
Kebo Ijo itu pun kemudian masuk ke dalam gubug kecil yang
diperuntukkannya sendiri. Di sampingnya adalah gubug yang agak
besar yang diperuntukkan bagi para prajurit yang mengawalnya
pada saat ia datang ke Padang Karautan. Namun agaknya Kebo Ijo
sama sekali kurang puas terhadap keadaan ini. Gubug ini terlampau
jelek. Tak ada apa-apa di dalamnya selain sebuah gendi air, sebuah
tikar, dan sebuah bancik lampu yang dipergunakan di malam hari.
“Di mana aku harus meletakkan ganti pakaianku?” tiba-tiba Kebo
Ijo itu berteriak.
Prajurit yang mengantarnya masih berdiri di luar gubug itu.
Ketika ia mendengar Kebo Ijo berteriak, maka segera ia
mendekatinya.
“Di mana aku harus menyimpan pakaianku? Apakah di sini tidak
ada glodok, atau paga, atau apa pun?”
Prajurit itu menggeleng, “Tidak.”
“Apa yang diperbuat Ken Arok dengan pakaiannya?”
“Dibungkus, dan diletakkan di samping pembaringannya.”
“Ah,” Kebo Ijo berdesah, “malas sekali. Di sini ada bambu, ada
tenaga, ada tali. Kenapa tidak disuruhnya membuat paga atau apa
pun?”
Prajurit itu tidak menjawab.
“Yang pertama-tama dilakukan oleh prajurit-prajuritku adalah
membuat paga.”
Kebo Ijo itupun kemudian tergesa-gesa keluar dari gubugnya dan
pergi mendapatkan sekelompok prajurit yang sedang makan sambil
berbicara seenaknya. Mereka tertawa sepuas-puasnya. Seorang dari
mereka yang cukup jenaka, ternyata baru berceritera tentang
pengalaman mereka yang lucu.
Suara tertawa itu terputus ketika mereka mendengar Kebo Ijo
yang tiba-tiba saja berada di samping mereka, berteriak, “Berhenti.
Apa yang kalian lakukan selama tiga hari di sini mendahului aku?
Kalian tidak dapat mempersiapkan tempat untukku dengan baik.
Sekarang buatlah sebuah paga untukku. Lihat di sana ada setumpuk
bambu. Cepat. Hari ini paga itu harus sudah siap untuk tempat
pakaianku.”
Para prajurit itu terkejut. Sejenak mereka saling berpandangan.
Namun terdengar suara Kebo Ijo, “Cepat. Lakukan perintahku.”
Tetapi para prajurit itu masih saja duduk keheranan.
Dipandanginya wajah Kebo Ijo yang tegang. Dan sekali lagi mereka
mendengar Kebo Ijo berteriak, “Cepat. Ayo lakukan perintahku.
Membuat sebuah paga untukku. Jumlah kalian telah cukup banyak
untuk melakukannya. Kalian tidak perlu mencari orang lain lagi.
Coba berapa orang yang bergerombolan disini. Sebelas, ah,
malahan dua belas orang.”
Tiba-tiba salah seorang dari mereka bertanya, “Apakah kami
harus membuatnya sekarang?”
“Oh, ternyata kau tuli. Aku sudah bilang, selesaikan paga itu hari
ini juga.”
“Tetapi kami bukan prajurit-prajurit yang baru datang tiga hari
yang lalu. Kami telah lama berada di Padang Karautan ini.”
“Aku tidak peduli. Lakukan perintahku. Aku adalah orang kedua
sesudah Ken Arok di sini. Semua harus tunduk pada perintahku.
Baik ia baru datang tiga hari yang lalu, maupun sudah lama berada
di sini.”
Sekali lagi prajurit-prajurit itu saling berpandangan. Tetapi
satudua
dari mereka telah berdiri, meskipun sambil bersungut-sungut di
dalam hati. Hari ini mereka sebenarnya masih diizinkan untuk
beristirahat. Tetapi ketika mereka mulai melangkah, maka langkah
itu pun terhenti. Mereka melihat Ken Arok berjalan mendatanginya.
Dengan nada datar ia bertanya, “Ada apa dengan kalian?”
“Aku memerintahkan kepada mereka untuk membuat sebuah
paga,” sahut Kebo Ijo.
“O,” Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya, “kau perlu
sekali dengan paga itu?”
“Ya, aku harus meletakkan pakaianku. Di dalam gubugku sama
sekali tidak ada tempat yang pantas.”
Ken Arok menjadi ragu-ragu sejenak. Para prajurit itu sebenarnya
masih harus menikmati masa istirahatnya untuk menyambut harihari
gembira. Tetapi ia tidak dapat menolak perintah Kebo Ijo
meskipun ia berwenang. Dengan demikian maka ia akan membuat
anak muda itu malu dan seterusnya mengurangi kepatuhan para
prajurit terhadapnya. Dalam keadaan yang demikian, maka Kebo Ijo
pasti akan berusaha untuk menebus kewibawaannya dengan
perbuatan yang aneh-aneh yang barangkali terlampau keras.
Sejenak Ken Arok berdiri saja dengan penuh kebimbangan.
Apakah sebaiknya yang pantas dilakukan. Ia harus cukup bijaksana
sehingga persoalan itu dapat dipecahkannya tanpa membuat pihakpihak
yang bersangkutan menjadi kecewa.
Tetapi belum lagi Ken Arok mendapatkan cara yang dianggapnya
baik, maka sekali lagi ia mendengar Kebo Ijo membentak, “Ayo,
cepat. Apalagi yang kau tunggu? Aku memerlukan paga itu segera.”
Seperti digerakkan oleh sebuah tenaga, maka para prajurit itupun
bersama-sama berpaling memandangi Ken Arok seakan minta
pertimbangan kepadanya, apakah saat-saat yang terasa sangat
menggembirakan itu harus segera diputuskan hanya karena sebuah
paga.
Ken Arok merasakan betapa tatapan mata para prajuritnya itu
bertanya kepadanya, dan lebih daripada itu menunggu
keputusannya. Namun sekali lagi hatinya tersentuh pula oleh
kewajibannya untuk mempertahankan kewibawaan Kebo Ijo. Kalau
ia membatalkan perintah itu berdasarkan wewenangnya, maka hal
yang serupa akan menjadi kebiasaan para prajurit itu.
Karena itu maka Ken Arok kemudian menganggukkan kepalanya
sambil berkata, “Ya, baiklah. Lakukanlah perintah itu.”
Alangkah kecewanya hati para prajurit itu. Tanpa mereka sengaja
mereka menebarkan pandangan mereka ke arah kelompokkelompok
yang lain yang masih dengan gembira menikmati masamasa
istirahat mereka. Perasaan yang selama ini tidak pernah
tumbuh di dalam dada mereka, terasa kini mulai menjamah hati
mereka. Iri. Mereka merasa iri bahwa kawan-kawan mereka itu
masih dapat duduk sambil bergurau dan menikmati makanan yang
melimpah-limpah. Tetapi mereka sekelompok yang hanya kebetulan
saja duduk di dekat gubug Kebo Ijo, tiba-tiba saja telah mendapat
pekerjaan yang menjemukan.
Membuat paga. Seandainya hari itu juga mereka harus
melanjutkan kerja mereka bersama-sama, maka mereka tidak akan
merasa malas seperti itu.
Tetapi Ken Arok telah membenarkan perintah Kebo Ijo, sehingga
karena itu maka mereka terpaksa juga melangkahkan kaki-kaki
mereka yang serasa menjadi terlampau berat, ke arah setumpuk
bambu di sebelah perkemahan itu.
Tetapi sekali lagi mereka tertegun ketika mereka mendengar Ken
Arok berkata, “He, apakah tidak ada yang kalian lupakan?”
Salah seorang dari mereka bertanya, ” Apakah yang tertinggal?”
“Tidak ada seorang pun diantara kalian yang membawa alat
untuk memotong, memecah, dan meraut bambu.”
“Oh,” para prajurit itu pun kemudian berdesah.
“Ambillah,” berkata salah seorang di antara mereka kepada
prajurit yang paling muda.
Dengan malasnya prajurit muda itu berjalan ke dalam gubug
tempat menyimpan segala macam alat-alat. Langkahnya satu-satu
seperti anak itu sedang kelaparan.
“He, inikah cara kalian bekerja,” bentak Kebo Ijo, “langkahmu
seperti cacing kelaparan. Kau sama sekali tidak mencerminkan sikap
seorang prajurit Tumapel yang perkasa.”
Prajurit itu tcrkejut. Kemudian dengan tergesa-gesa ia melangkah
mengambil segala macam alat yang mereka perlukan. Ketika ia
berlari-lari kembali, maka didukungnya berbagai macam pisau dan
kelewang.
“Cepat, lakukan perintahku,” teriak Kebo Ijo sambil bertolak
pinggang.
Sikapnya telah menumbuhkan kesan yang kurang menyenangkan
bagi para prajurit Tumapel yang berada di Padang Karautan itu.
Namun ketika mereka sedang melangkah beberapa langkah lagi,
mereka mendengar Ken Arok berkata pula, “He, kalian masih juga
kelupaan sesuatu.”
“Apa lagi?” bertanya salah seorang dari mereka. Ken Arok
tcrsenyum ketika ia mendengar Kebo Ijo menggeram. Agaknya Kebo
Ijo menjadi jengkel juga terhadap Ken Arok yang seolah-olah
sengaja menghambat para prajurit itu.
“Itu,” Ken Arok menjawab sambil menunjuk makanan yang masih
berserakan, “kalian boleh membawa makanan itu, supaya kalian
dapat bekerja dengan tenang. Hari ini adalah hal yang sangat
khusus. Di hari-hari di mana kalian bekerja, maka aku akan
mengambil tindakan apabila aku melihat salah seorang dari kalian
ternyata membawa makanan. Tetapi di hari istirahat ini pekerjaan
kalian adalah makan, sedangkan pekerjaan yang lain itu adalah
pekerjaan sambilan. Tetapi ingat. Hari ini paga itu harus sudah
siap.
Tetapi itu bukan berarti bahwa kalian harus bekerja dengan wajah
berduka. Tidak ada larangan buat tertawa. Asal tertawa itu tidak
memperlambat pekerjaan kalian.”
Para prajurit itu sejenak tertegun diam. Namun tiba-tiba mereka
itu tersenyum. Bahkan prajurit yang paling muda, yang dengan
malasnya telah mengambil alat-alat mereka, kini dengan sigapnya
meloncat dan memungut beberapa macam makanan yang
disukainya.
“Bawa semuanya. Serahkan alat-alat itu kepada orang lain.”
Perintah ini pun dilakukannya dengan cepatnya. Jauh lebih cepat
daripada saat ia berlari-lari ke tempat simpanan alat-alat.
“Nah, cepat. Sekarang pergi ke timbunan bambu, secepat kalian
mengambil makanan itu.”
Para prajurit itu tidak dapat menahan tawa mereka. Tetapi sikap
mereka pun kini segera berubah. Dengan lincahnya mereka
melangkah ke arah setumpuk bambu. Dan kemudian dengan cepat
pula mereka mengerjakannya. Membuat sebuah paga. Namun
tangan mereka tidak henti-hentinya menyuapi mulut mereka. Ada
satu-dua di antara mereka yang memecah bambu sambil
berdendang. Ada yang meraut belahan bambu sambil berkelakar.
Sesaat Kebo Ijo dan Ken Arok masih memandangi mereka dari
kejauhan. Mereka melihat para prajurit itu bekerja dengan cekatan.
Meskipun pekerjaan itu bukan pekerjaan mereka, tetapi ada di
antara mereka yang memang cukup cakap untuk mengerjakan
pekerjaan-pekerjaan dari bambu.
Beberapa orang prajurit yang lain, yang juga duduk di dalam
kelompok-kelompok, akhirnya melihat juga kawan-kawannya yang
sibuk membuat paga. Beberapa dari antara mereka mendatangi
para prajurit yang sedang bekerja itu sambil bertanya, “Apakah
yang kalian lakukan?”
Salah seorang dari mereka menjawab, “Membuat paga.”
“Buat apa?”
“Tempat pakaian.”
“He,” prajurit yang bertanya itu membelalakkan matanya, “baru
sekarang kau berpikir untuk membuat tempat pakaian? Agaknya kau
menunggu pakaianmu menjadi kumal, baru kau buat rak-rakan
untuk menyimpannya.”
“Hus,” desis prajurit yang sedang bekerja itu, “bukan untuk kami
sendiri. Tetapi kami membuat untuk pemimpin kami yang seorang
itu, yang akan membantu Ken Arok memimpin kami. Kebo Ijo.”
“O,” prajurit itu tiba-tiba menutup mulutnya. Ketika ia berpaling,
ia masih melihat Kebo Ijo berdiri bertolak pinggang di tempat yang
agak jauh.
“Ia pasti tidak mendengar,” desis prajurit itu pula.
“Tetapi sikapmu pasti membuatnya marah. Orang itu agaknya
pemarah dan keras.”
“Oh,” tiba-tiba prajurit itu pun berjongkok pula di antara mereka
yang sedang bekerja, “aku akan ikut membantu kalian. Apakah
kalian tidak menghabiskan hari istirahat ini, dan membuat paga ini
besok.”
“Paga ini harus jadi hari ini juga.”
“Bukan main.”
Beberapa orang prajurit yang semula hanya berdiri saja melihatlihat
satu demi satu ikut pula berjongkok dan membantu membuat
paga itu. Ada yang membantu meraut bambu-bambu yang telah
dibelah, ada yang mengerat dan membuat lubang-lubang purus.
Ada yang membuat tali dan ada yang mulai nglanji potonganpotongan
bambu itu.
Di kejauhan Ken Arok yang masih berdiri di samping Kebo Ijo
berkata, “Lihat, pekerjaan itu akan cepat selesai. Yang turut
bekerja
menjadi semakin banyak. Kini telah lebih dari duapuluh lima orang
berjongkok di sana meskipun sebagian dari mereka hanya dudukduduk
sambil berbicara. Tetapi suasananya menjadi lebih jernih.”
“Kau terlalu memanjakan prajurit-prajuritmu,” sahut Kebo Ijo,
”sebenarnya kau tidak perlu terlampau bermanis-manis. Sejak aku
datang, aku sudah melihat kelemahanmu. Apalagi ketika prajurit
yang mengantarkan aku berkata serba sedikit tentang kau. Katanya,
kau selalu mengalah terhadap prajurit-prajuritmu. Untuk segala hal
kau lebih senang mempergunakan sisa dari prajurit-prajuritmu.
Seharusnya kau tidak berbuat demikian. Dan aku tidak akan berbuat
demikian. Aku akan bersikap seperti sikap seorang perwira,
sebenarnya perwira. Aku tidak akan terlampau lunak dan
memanjakan prajurit-prajuritku. Supaya mereka tahu bagaimana
mereka harus bersikap terhadap atasannya.”
Ken Arok mengerutkan keningnya. Tetapi ia menjawab, “Bagiku
sikap yang berlebih-lebihan itu tidak perlu. Aku ingin
mengendalikan
mereka sebaik-baiknya. Tidak dengan kekerasan seperti yang kau
bayangkan. Lihat, bukankah pekerjaan itu selesai juga dengan
caraku. Dan para prajurit itu tidak merasa tersinggung dan
terganggu.”
“Tetapi setiap kali kita harus bermanis-manis. Setiap kali kita
harus berpura-pura meskipun sebenarnya dada kita bengkah karena
kemarahan atas sikap mereka yang memuakkan, kita harus
tersenyum-senyum dan tertawa-tawa. Coba lihat prajurit-prajuritmu
yang telah lama berada di Padang Karautan ini. Mereka terlampau
malas seperti cacing kelaparan. Tetapi kalau mereka mendapat
makanan, maka mereka berebutan seperti serigala.”
“Ah,” Ken Arok semakin tidak senang mendengar kata-kata Kebo
Ijo. Ia tahu sifat dan watak anak muda itu. Meskipun perkenalannya
dengan adik seperguruan Witantra ini belum terlampau akrab, tetapi
ia sudah membayangkan, alangkah jauh sifat dan wataknya dari
kakak seperguruannya itu.
“Lihat,” berkata Kebo Ijo, “kau akan melihat perbedaan sikap
mereka setelah aku berada di sini.”
“Aku tidak menghendaki,” sahut Ken Arok, “aku menghendaki
suasana di padang rumput Karautan ini tetap seperti semula.”
Kebo Ijo terkejut mendengar jawaban Ken Arok sehingga ia
berpaling. Tetapi dilihatnya Ken Arok masih tetap berdiri dengan
tenangnya memandangi orang-orang yang sedang bekerja membuat
paga untuk Kebo Ijo itu.
“Kau akan tetap memelihara prajurit-prajuritmu menjadi
pemalas,” bertanya Kebo Ijo.
“Kau belum pernah melihat mereka bekerja di bendungan.”
“Di bendungan?:
“Ya, di bendungan dan sendang buatan itu.”
“O, jadi prajurit-prajuritmu juga kau pekerjakan di bendungan
itu.”
“Ya.”
“Itu pun tidak akan aku lakukan. Prajurit-prajurit dari Tumapel
hanya boleh bekerja di sendang buatan. Bendungan itu adalah
tugas orang-orang Panawijen. Kalau semua kau kerjakan, lalu
apakah kerja orang-orang Panawijen? Tidur dan menghabiskan
bekal makanan kita?”
“Seharusnya kau tidak mengucapkan kata-kata itu,” sahut Ken
Arok, “kau harus melihat dulu. Baru kau menilai apa yang kau
lihat.”
“Aku sudah melihat cara mereka bekerja. Dan aku sudah dapat
menilai. Juga tentang orang-orang Panawijen ini.”
“Kalau bendungan itu tidak siap, dari mana sendang itu akan
mendapat air?”
Kebo Ijo terdiam sejenak. Tampaklah wajahnya berkerut-merut.
Lalu katanya, “Ya, barangkali begitu, tetapi baik terhadap
orangorang
Panawijen dan kepada para prajurit, kita harus bersikap
keras. Kita jangan membuat kebiasaan jelek antara bawahan dan
atasannya.”
“Apakah aku juga harus bersikap demikian terhadapmu?”
pertanyaan itu benar-benar mengejutkan Kebo Ijo sehingga
dadanya serasa berdentang.
Sejenak prajurit muda itu justru terbungkam. Tetapi matanya
seolah-olah hendak menyala. Wajahnya yang tegang menjadi
kemerah-merahan seperti bara.
Dengan nafas yang seakan-akan menyumbat kerongkongan ia
bertanya, “Apakah maksudmu?”
Tetapi Ken Arok masih tetap tenang. Ia masih saja memandangi
orang yang bekerja membuat paga bagi Kebo Ijo. Dengan nada
datar ia berkata, “Kau ingin aku bersikap keras tehadap bawahanku.
Kalau kau tidak sependapat dengan aku, maka apakah kau juga
bermaksud supaya aku memaksamu.”
Dada Kebo Ijo kini benar berdentangan. Ia tidak menyangka
bahwa Ken Arok akan bersikap demikian terhadapnya. Selama ini ia
menganggap bahwa Ken Arok adalah seorang pelayan dalam yang
tidak begitu penting. Adalah kebetulan saja bahwa ia mendapat
tugas di Padang Karautan. Seperti biasanya Akuwu kadang-kadang
tidak terlampau panjang berpikir tentang sesuatu masalah yang
tidak dianggapnya penting. Misalnya tentang pembuatan sendang
dan taman di Padang Karautan, sehingga ia menunjuk saja orang
yang terdekat pada saat keinginannya itu tumbuh. Agaknya saat itu
Ken Arok lah yang lagi menghadapnya, sehingga anak itulah yang
diserahi untuk melakukan tugas itu. Kebo Ijo tidak pernah berpikir
bahwa Akuwu Tunggul Ametung pernah menyaksikan sendiri,
bagaimana Ken Arok berkelahi melawan Mahisa Agni ketika mereka
sedang melarikan Ken Dedes, dan bagaimana anak muda itu dengan
sebuah gerakan yang sama sekali tak terduga-duga telah
membunuh seorang prajurit. Apa yang dilihat itu ternyata tetap
teringat oleh Akuwu Tunggul Ametung yang senang sekali melihat
keperkasaan para prajurit dan pelayan dalamnya. Dan karena
keperkasaannya pulalah maka Witantra berada di dekat Akuwu itu,
dan dahulu juga Kuda Sempana. Karena hal yang serupa pula maka
Kebo Ijo tepat mendapat wisuda dan bahkan kemudian diserahi
untuk memimpin sejumlah prajurit menyusul Ken Arok di Padang
Karautan ini.
Tetapi kini tiba-tiba Kebo Ijo menghadapi sikap pelayan dalam
yang dianggapnya tidak penting itu, betapa menyakitkan hatinya.
Sehingga untuk sejenak justru mulutnya terbungkam dan tubuhnya
menjadi gemetar seperti kedinginan.
Selama itu Ken Arok hanya berdiam diri saja. Ia masih saja
memandangi orang-orangnya yang sedang bekerja. Seolah-olah ia
acuh tak acuh saja atas sikap Kebo Ijo yang menjadi sangat marah
kepadanya.
Sejenak kemudian maka terdengar Kebo Ijo menggeram, “Kau
tidak akan dapat menakut-nakuti aku.”
“Aku tidak menakut-nakutimu. Aku hanya ingin mendengar
pendapatmu tentang dirimu sendiri. Aku kira kau pasti tidak senang
mendapat perlakuan yang tidak semestinya. Terlampau keras dan
kasar, tanpa mendapat kesempatan untuk menyatakan
pendapatnya. Tanpa kesempatan untuk beristirahat dan tertawa.”
“Ternyata kau pengecut,” sahut Kebo Ijo yang hampir tidak
dapat mengendalikan kemarahannya, “kau tidak berani
mempertanggungjawabkan kata-katamu sendiri.”
“Kenapa?” bertanya Ken Arok masih dalam sikapnya.
“Aku kira kau juga hanya dapat menakut-nakuti para prajurit itu
sehingga kau tidak berani bertindak keras terhadap mereka.
Sedangkan apabila para prajurit itu berani menentangmu, maka kau
surut tidak hanya satu-dua langkah. Tetapi kau surut sampai ke
batas yang paling aman bagimu.”
Kini Ken Arok memalingkan kepalanya. Masih dalam nada yang
datar ia bertanya, “Apakah maksudmu?”
“Kau pengecut,” Kebo Ijo mengulangi. “Kau tidak berani
memberikan perintah sebagai seorang pemimpin. Kau hanya berani
membujuk mereka dengan kemanjaan yang berlebih-lebihan supaya
mereka tidak marah kepadamu.”
“Kau yakin begitu?” bertanya Ken Arok.
“Aku yakin,” jawab Kebo Ijo, “sekarang kau mencoba menakutnakuti
aku. Tetapi kau tidak berani mempertanggungjawabkan.
Dengan licik kau memutarbalikkan arti kata-katamu.”
Ken Arok mengerutkan keningnya. Sedangkan Kebo Ijo berbicara
terus, “Apalagi kau sama sekali tidak berhak berbuat apa pun juga
atasku. Aku mendapat perintah langsung dari Tuanku Akuwu.”
“Bagaimana bunyi perintah itu?”
Kebo Ijo terdiam sejenak. Tetapi kamudian ia menjawab, “Aku
mendapat perintah untuk membantumu. Hanya membantu. Dan itu
tidak berarti bahwa aku berada di bawah perintahmu.”
“Kau berada di bawah perintahku,” sahut Ken Arok tegas.
Sekali lagi Kebo Ijo terdiam. Sekali lagi darahnya serasa mendidih
dan wajahnya merah membara.
Namun selama itu ternyata Ken Arok telah mengambil keputusan
untuk berbuat sesuatu atas anak yang agaknya keras kepala ini. Ia
harus menunjukkan kewibawaannya atasnya menurut cara yang
diingini oleh Kebo Ijo sendiri. Selama ia belum berbuat sesuatu,
maka Kebo Ijo pasti masih akan merupakan penghalang bagi setiap
rencana dan pelaksanaannya sesuai dengan cara yang selama ini
telah ditempuhnya dengan hasil yang cukup baik. Ia tidak senang
sama sekali apabila Kebo Ijo tiba-tiba saja telah mengubah suasana
yang baik di dalam kerja yang berat ini. Karena itu, maka ia akan
berbuat sesuai dengan keinginan Kebo Ijo sendiri.
Sejenak kemudian terdengar Kebo Ijo itu menggeram.
“Kau akan membuktikan bahwa kau bukan seorang pengecut?”
“Bukan itu soalnya. Tetapi sesuai dengan pendapatmu sendiri,
aku akan berbuat sesuatu atasmu apabila kau tidak tunduk akan
perintahku.”
“Apa yang akan kau lakukan?” suara Ilebo Ijo gemetar.
“Memaksamu.”
“Oh,” tiba-tiba Kebo Ijo menyingsingkan kain panjangnya dan
menyangkutkannya pada ikat pinggangnya yang lebar dan terbuat
dari kulit ular, “itukah keinginanmu?”
Tetapi Ken Arok masih tetap berdiam diri. Bahkan kini ia telah
memandangi para prajurit yang bekerja itu lagi, seolah-olah ia
tidak
tanggap apa yang dilakukan oleh Kebo Ijo.
“He,” berkata Kebo Ijo itu lantang, “ayo, apakah yang kau
kehendaki?”
Ken Arok berpaling. Bahkan ia bertanya, “Apa yang sedang kau
lakukan?”
Mata Kebo Ijo terbelalak karenanya. Jawabnya, “Bukankah kau
akan mencoba memaksakan pendirianmu kepada Kebo Ijo yang kau
sangka akan bertekuk-lutut dan menyembah kepadamu. Ayo,
lakukan kalau kau ingin memaksa aku.”
“Ya, aku memang ingin memaksamu. Jadi kau harus tunduk
kepada perintahku. Itu saja.”
“Aku tidak mau.”
“Bagaimana kalau prajuritmu berbuat seperti kau. Tidak mau
tunduk kepadamu.”
Kemarahan Kebo Ijo ternyata telah membakar kepalanya
sehingga hampir-hampir tidak terkendali. Bahkan tiba-tiba saja
timbul keinginannya untuk menunjukkan kepada Ken Arok, bahwa ia
memang tidak dapat ditakut-takuti atau diancam dengan cara apa
pun. Ia akan tetap pada pendiriannya.
“Kalau prajuritku tidak tunduk kepadaku, aku pukul ia sampai
pingsan.”
“Bagaimana kalau ia melawan?”
“Aku ikat dan aku seret di belakang punggung kuda. Nah,
bukankah kau akan melakukannya atasku yang kau anggap
bawahanmu?”
“Bagiku tidak perlu. Aku dapat melaporkan hal itu kepada
atasanku. Bukankah kau sekarang prajurit pengawal istana?
Bukankah menurut susunan keprajuritan, kau termasuk dalam
lingkungan kekuasaan kakak seperguruanmu, Witantra?”
“Itulah sebabnya kau tidak berhak memerintah aku.”
“Tetapi pimpinan di sini adalah aku. Aku dapat melaporkan apa
yang terjadi atasmu. Kepada kakang Witantra dan bahkan mungkin
langsung kepada Akuwu Tunggul Ametung.”
“Setan alas,” Kebo Ijo menggeram, “kau memang pengecut. Kau
tidak berani bertindak dengan kekuatanmu sendiri. Kau akan
menyalahgunakan kekuasaan yang ada padamu.
“Itulah yang sebaik-baiknya. Aku tidak ingin bertindak sendiri.
Aku tidak ingin memutuskan hukuman yang memang bukan
wewenangku. Dan aku tidak ingin berbuat sewenang-wenang.”
“Aku sangka bahwa kau adalah seorang laki-laki. Ternyata kau
lebih dari betina pengecut yang sama sekali tidak berarti.”
Ken Arok kini mengerutkan keningnya. Wajahnya menegang,
tetapi ia masih tetap berusaha untuk tidak bertindak tergesa-gesa.
“Kau baru saja datang di Padang Karautan. Jangan membuat
persoalan. Kau seorang prajurit yang tahu kewajiban seorang
prajurit. Kalau kau melakukan perintahku, maka itu sudah cukup.
Kau tidak perlu berbuat aneh-aneh di sini. Sekarang
beristirahatlah.
Besok kau akan mulai melakukan kewajibanmu. Tetapi ingat, akulah
pemimpin di sini.”
“Aku tidak peduli,” jawab Kebo Ijo yang benar-benar sudah
tenggelam dalam kemarahannya, “aku tidak mau tunduk kepadamu.
Bahkan aku ingin membuktikan bahwa kau benar-benar seorang
pengecut.”
“Bagaimana kau akan membuktikan?”
“Aku mengharap kau berani bertindak atas wewenang yang
menurut perasaanmu telah kau terima. Ayo, kau harus memaksa
aku. Kalau perlu dengan kekerasan. Sesudah itu terserah
kepadamu, apakah kau akan melaporkannya kepada kakang
Witantra atau kepada Akuwu Tunggul Ametung. Aku tidak
berkeberatan untuk digantung seandainya aku dianggap bersalah
menentang sikapmu yang cengeng terhadap anak buahmu?”
“Maksudmu kau ingin berkelahi?”
Dada Kebo Ijo tergetar. Meskipun maksudnya memang demikian
tetapi keterus-terangan itu telah menghentak jantungnya. Namun
akhirnya ia menjawab, “Ya, aku ingin berkelahi.”
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Iapun ingin
berbuat demikian. Tetapi ia tidak mau dihanyutkan oleh
kemarahannya saja. Ia harus tetap menyadari apa yang akan
dilakukannya, supaya ia tidak terlepas dari pengendalian diri. Maka
katanya kemudian, “Apakah kau sudah berpikir masak-masak?”
“Seribu kali kuulangi. Aku tetap dalam pendirianku. Aku ingin
melihat apakah orang yang ditempatkan di Padang Karautan ini
sudah tepat.”
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baiklah kalau kau
memang ingin berbuat demikian.”
“Bagus,” hampir berteriak Kebo Ijo menyahut. Tetapi ia masih
melihat Ken Arok berdiri saja dengan tenangnya, meskipun
wajahnya menjadi semakin tegang.
“Ayo bersiaplah.”
“Aku bukan seorang yang terlampau bodoh untuk melakukannya
sekarang. Para prajurit itu akan melihat kita berkelahi. Mereka
akan
kehilangan kepercayaannya kepada pemimpinnya.”
Sekali lagi mata Kebo Ijo terbelalak. Dengan gagap ia bertanya,
“Lalu, apakah maksudmu sebenarnya?”
“Aku memang tidak berkeberatan kita mencoba untuk sekalisekali
berkelahi. Tetapi tidak di hadapan para prajurit. Sungguh
memalukan. Menang atau kalah, kita sudah kehilangan kewibawaan
atasnya. Selanjutnya akan memberikan contoh yang sama sekali
tidak baik atas mereka, dan mereka pun akan saling berkelahi satu
sama lain sebagai cara untuk menyelesaikan setiap persoalan.”
“Jadi, bagaimana?”
“Aku masih ingin memisahkan masalahnya. Aku kira aku dapat
menganggap bahwa persoalan ini adalah persoalan kita. Katakanlah
kita yang masih terlampau muda. Aku akan menarik garis pemisah
antara persoalan ini dengan kedudukan kita masing-masing. Aku
mengharap kau tidak akan dianggap bersalah. Tetapi kita harus
bersikap jantan. Siapa yang kalah harus mengakui kekalahannya.”
“Itu sama sekali tidak menarik. Kita harus mempertaruhkan
sesuatu untuk setiap kemenangan dan kekalahan. Mungkin jabatan,
mungkin kehormatan, di hadapan saksi-saksi.”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Kebo Ijo adalah
seorang yang terlampau yakin akan dirinya dan justru keyakinannya
itulah yang telah mendorongnya untuk bersombong diri. Ia
menyadari benar-benar kelebihan-kelebihan yang ada di dalam
dirinya, dan ia ingin melihat orang lain mengagumi kelebihannya
itu.
Tetapi Ken Arok tidak ingin menanggapi sikap yang demikian. Ia
masih mementingkan kewajibannya sebagai seorang pemimpin. Ia
harus mempertahankan kepercayaan orang-orangnya dan
memelihara ketertiban sejauh mungkin tanpa menunjukkan
kekuasaan dan apalagi kekerasan terhadap bawahannya.
“Apa katamu sekarang?” bentak Kebo Ijo ketika Ken Arok tidak
segera menjawab, “Kita jadikan para prajurit itu saksi. Siapakah di
antara kita yang berhak untuk mendapat taruhan.”
“Sudah aku katakan,” sahut Ken Arok, “perbuatan yang demikian
adalah perbuatan yang terlampau bodoh. Kita tidak perlu saksisaksi.
Kita percaya kepada kejujuran dan kejantanan diri. Ayo,
apakah yang ingin kita pertaruhkan?
“Terserah kepadamu,” sahut Kebo Ijo.
“Kau yang menentukan.”
“Bagus. Kita pertaruhkan jabatan kita. Kalau kau kalah, maka
akulah yang memimpin prajurit-prajurit Tumapel di sini. Kau harus
tunduk kepada semua perintahku. Kau menjadi pembantuku di sini
meskipun Akuwu Tumapel tidak mengingininya.”
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Taruhannya cukup
bernilai. Tetapi Ken Arok harus cukup sadar, bahwa ia akan
menghadapi perkembangan keadaan yang mungkin saja tidak
dikehendaki. Kebo Ijo yang terlampau membiarkan perasaannya
berbicara itu akan cepat kehilangan kesadaran dan perkelahian yang
demikian akan berkembang tak terkendali. Tetapi ia tidak dapat
mencari seorang saksi pun dalam perkelaihan itu. Satu orang sudah
cukup banyak untuk menyebarkan hal itu kepada seluruh prajurit di
Padang Karautan dan orang-orang Panawijen, dan bahkan seluruh
prajurit Tumapel. Lalu apa kata mereka tentang para pemimpin
mereka. Para perwira yang bertengkar satu sama lain, bahkan
berkelahi.
“He,” Kebo Ijo membentak sekali lagi, “kenapa kau diam saja?
Apakah kau menjadi cemas, bahwa suatu ketika kau akan mendapat
perintah yang berlebih-lebihan daripadaku? Aku tidak sekejam itu
terhadap bawahanku yang tunduk kepadaku. Kau pun tidak akan
aku perlakukan terlampau keras seandainya kau tidak selalu
menentang keputusan-keputusan yang aku buat.”
“Hem,” Ken Arok menggelengkan kepalanya, “Witantra pun tidak
akan berbuat serupa kau ini meskipun ia kakak seperguruanmu. Kau
terlampau meyakini kelebihanmu. Mungkin akhir-akhir ini kau
mendapat banyak kemajuan. Tetapi jangan terlampau berbangga.”
“Jangan banyak berbicara,” potong Kebo Ijo, “kita buktikan saja.
Aku telah menemukan kekuatan di dalam diriku. Kekuatan yang
hampir tidak pernah dapat diungkapkan. Aku akan segera
melampaui kakang Witantra. Mungkin kakang Mahendra kini sudah
tidak dapat mengalahkan aku.”
Terasa sebuah gejolak melanda dinding-dinding jantung Ken
Arok. Ia pun masih cukup muda. Untunglah bahwa ia menyadari
dirinya. Dirinya yang baru saja bangkit dari reruntuhan yang
mengerikan dari watak dan sifat orang-orang tua yang
mengasuhnya. Untunglah bahwa ia menyadari bahwa kadangkadang
ia masih juga dapat lupa diri dan berbuat kasar, sekasar
pada saat-saat ia berkeliaran di Padang Karautan. Tetapi kali ini
ia
cukup sadar. Cukup berusaha untuk tidak kehilangan kesadaran itu.
(bersambung 31)